Darah Ksatria 2 [cersil lagi]

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 28 September 2011

” Kelihatan ia lemah lagi kurus, tapi waktu berbicara sikapnya kelihatan berwibawa.
“Lima laksa tahil emas memang tidak sedikit, tapi jumlah sebesar itu tidak terpandang dalam
mataku.”
“Dari mana kau menduga kalau aku difitnah orang?”
Pemakan garam menjelaskan, “Karena aku percaya kepada Ji Ngo. Kalau bukan terfitnah, maka
dialah orang pertama yang akan membunuhmu.”
“Kau siapa?” tanya Ma Ji-liong.
“Seperti kau, aku juga sering difitnah orang, seorang yang kepalanya berharga ribuan tahil, seorang
yang terpaksa menyembunyikan diri seperti tikus yang takut dilihat orang. Kami belum ingin mati,
kami ingin membersihkan diri, umpama akhirnya mati juga harus mempertahankan nama baik,
maka sebelum masuk liang kubur, kami harus membongkar dulu kasus itu, membekuk orang yang
memfitnah kami, menangkap biang keladinya.”
Pemakan garam tertawa besar, tawa yang getir lagi memilukan, “Tentang siapa namaku, lebih baik
kau tidak tahu.”
Ma Ji-liong menatapnya lekat sekian lama, lalu menoleh ke arah pembeli garam, katanya, “Aku
percaya kau tak akan mengkhianati aku.”
“Aku juga percaya padamu,” ujar pemakan garam sambil mengulurkan tangannya.
Seperti juga telapak tangan pembeli garam, jari dan telapak tangan pemakan garam ini pun kasar,
besar lagi dingin. Waktu Ji-liong bergenggam tangan dengan orang, timbul rasa hangat di dalam
dadanya.
Pemakan garam tertawa lebar, katanya, “Pergilah, aku tidak merintangimu.”
“Kalau kalian memerlukan garam, aku tidak akan banyak usil lagi.”
Pemakan garam mengawasinya, lalu menghela napas, ujarnya, “Sayang baru hari ini kita bertemu,
aku terluka dalam separah ini, mungkin aku takkan bisa membersihkan nama baikku, membongkar
fitnah keji itu. Kalau bisa bertahan hidup lebih lama lagi, aku ingin bersahabat dengan engkau.”
“Sekarang belum terlambat kau bersahabat denganku, bersahabat dengan kawan tidak harus saling
memperalat, tetapi harus saling membantu.”
Pemakan garam bergelak tawa, suaranya serak lagi pendek, ternyata ia tidak bisa tertawa lagi, tapi
sikap dan perbawanya kelihatan gagah dan berwibawa, katanya, “Aku tidak perduli apakah kau Ma
Ji-liong atau bukan. Perduli siapa kau, aku suka dan senang bersahabat dengan engkau.”
Koleksi Kang Zusi
Dengan kencang Ma Ji-liong menggenggam tangan orang, “Aku juga tidak perduli siapa kau, aku
pun senang bersahabat dengan kau.”
-----------------------------ooo00ooo------------------------------
Saat itu belum terang tanah, cuaca masih gelap, hawa dingin sekali.
Tapi perasaan Ma Ji-liong amat hangat, sekujur badan terasa panas, dadanya seperti dibakar. Hari
ini, tepatnya pagi ini, ia bersahabat dengan seorang gagah, laki-laki jantan, kawan setia.
Bersahabat dengan seorang yang tidak dikenal asal-usulnya, tanpa perduli apa akibat dan
bagaimana tanggung-jawabnya, tapi mereka benar-benar tahu sama tahu, seia sekata, kawan karib,
sahabat sejati. Jika menemukan dan bersahabat dengan kawan seperti itu, maka ia akan dapat
menyelami perasaan Ji-liong.
Sayang sekali, jarang ada manusia di dunia ini yang bisa bersahabat seperti jalinan batin pemakan
garam dengan Ma Ji-liong.
-------------------------------ooo00oo-------------------------------
“Kau bersahabat dengan dia,” Cia Giok-lun belum tidur. Pertanyaan pertama yang diajukan sejak
mendengar laporan Ma Ji-liong. “Padahal siapa dia kau tidak tahu, tapi kau mau berkenalan dan
bersahabat dengan dia?”
Ma Ji-liong berkata, “Biar seluruh umat manusia di dunia ini menganggap dia sebagai musuh,
semua orang ingin mencincang atau mencacah tubuhnya, aku tetap bersahabat dan rela berkorban
untuknya.”
“Lho, kenapa?” Cia Giok-lun menegas dengan nada tidak mengerti.
“Tidak kenapa.”
Tidak kenapa. Dua patah kata yang besar maknanya, dua patah kata yang menjalin persahabatan
dua insan manusia yang berbeda. Jika 'karena sesuatu' kau bersahabat dengan orang, sahabat macam
apakah kenalan baikmu itu? Terhitung teman macam apa pula kau ini?
----------------------------ooo00ooo-------------------------------
Cahaya sudah tampak memutih di luar jendela. Ma Ji-liong duduk di bawah jendela, Cia Giok-lun
mengangkat kepala mengawasinya dengan badan miring. Lama sekali baru ia menghela napas,
katanya, “Aku tahu maksudmu, tapi aku tak bisa berbuat seperti itu.”
Seorang gadis muda yang dapat memahami segi-segi kehidupan yang serba ruwet tentang citra rasa
dan perasaan memang jarang ada, memang jarang ada orang yang bisa berbuat seperti itu.
Mendadak Cia Giok-lun bertanya, “Tahukah kau kenapa temanmu itu harus makan garam?”
Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak tahu karena tidak bertanya.
“Aku tahu,” ujar Cia Giok-lun. “Karena terkena pukulan Sam-yang-coat-hu-jiu.”
Koleksi Kang Zusi
“Sam-yang-coat-hu-jiu,” Ma Ji-liong adalah keturunan keluarga persilatan, namun belum pernah ia
mendengar nama ilmu pukulan keji itu.
“Ilmu pukulan yang sudah lama putus turunan, maksudnya sudah lama tidak pernah dipelajari
manusia lagi. Orang yang terkena pukulan ini sekujur badannya akan kehilangan kadar air, kulit
badan akan mengering dan merekah, lebih celaka lagi sekujur badan pati rasa, keinginannya hanya
makan garam melulu. Makin banyak garam yang dimakan, makin banyak air yang ia butuhkan, luka
dalamnya juga akan lebih parah. Bila mati, sekujur badan akan pecah, seperti roti kering yang
merekah karena dipanggang terlalu lama di perapian yang bersuhu tinggi,” sejenak Cia Giok-lun
termenung, lalu melanjutkan, “Makan telur ayam memang lebih baik dibanding minum air, tapi
paling lama hanya bisa memperpanjang usianya setengah bulan, akhirnya akan tetap mampus juga.”
“Mutlak tidak bisa ditolong?” tanya Ma Ji-liong.
Tidak menjawab pertanyaan Ma Ji-liong, Cia Giok-lun malah balas bertanya, “Orang macam
apakah temanmu itu? Bagaimana tampang dan perawakannya?”
“Kupikir semula dia seorang laki-laki kekar, perawakannya tinggi tegap, kedua pundaknya setengah
kaki lebih besar dibanding pundak orang biasa, tangan besar kaki gede, pukulan tenaga luarnya
tentu diyakinkan dengan sempurna,” demikian tutur Ma Ji-liong. “Walau dia terluka parah hampir
mati, waktu bicara dan gerak-geriknya tetap kelihatan gagah dan berwibawa.”
Sorot mata Cia Giok-lun seperti bercahaya, “Sudah terpikir siapa dia,” katanya.
“Siapa?”
Cia Giok-lun tidak menjawab langsung, “Ilmu pukulan jenis ini jauh lebih keji, lebih dahsyat
dibanding Sam-im-coat-hu-jiu dari keluarga Im dan Cui, jauh lebih sukar diyakinkan, karena orang
yang meyakinkan ilmu ini selama hidup tidak boleh bergaul dengan perempuan.”
Selama hidup tidak boleh bergaul dengan perempuan maksudnya adalah tidak pernah kawin, alias
tidak punya bini, berapa banyakkah orang-orang Kangouw yang jejaka kecuali Hwesio?
“Menurut apa yang kutahu,” ujar Cia Giok-lun lebih lanjut. “Selama lima puluh tahun ini, yang
meyakinkan ilmu ganas dan keji itu hanya seorang.”
“Siapa?” Ma Ji-liong mendesak.
“Coat-taysu,” ucap Cia Giok-lun. “Coat-taysu selalu bertindak tegas dan tuntas dalam perkara.
Setiap musuh yang dianggap jahat, tidak pernah diberi ampun, tapi jarang menggunakan ilmu
pukulan keji yang amat dirahasiakan itu. Kecuali lawan memang gembong silat yang benar-benar
lihai dan menakutkan, itu pun kalau dia kepepet dan kewalahan baru melancarkan ilmu pukulan
itu.”
Sudah lazim bahwa tokoh silat kosen di Kangouw menyembunyikan ilmu tunggal yang
diyakinkannya. Jika jiwa tak terancam bahaya, tidak akan mengeluarkan ilmu kebanggaannya.
Apalagi ilmu pukulan jahat seperti Sam-yang-coat-hu-jiu harus diyakinkan dengan syarat tidak
boleh kawin selama hidup.
Bagi kaum persilatan yang punya kedudukan dan nama besar di Bulim, bila selama hidup tidak
bergaul dengan perempuan alias tidak kawin, tentu dipandang tidak wajar dan aib, orang akan
Koleksi Kang Zusi
membayangkannya sebagai laki-laki tidak normal, laki-laki mandul, lelaki impoten, mana ada tokoh
silat yang mau dipandang sebagai pendekar impoten.
“Jika tidak terpaksa terdesak oleh keadaan hingga tiada pilihan lain, Coat-taysu takkan melancarkan
Sam-yang-coat-hu-jiu,” kata Cia Giok-lun, lalu ia bertanya pada Ma Ji-liong, “Berapa banyak jago
silat di Kangouw yang bisa menyudutkan Coat-taysu hingga ia bernasib mengenaskan?”
“Ya, hanya beberapa orang saja,” sahut Ma Ji-liong.
“Pernah dengar nama besar Hoan-thian-hu-te (Membalik Langit Mengaduk Bumi) Thiat Tin-
thian?” Cia Giok-lun bertanya. “Dia masuk hitungan tidak?”
Ma Ji-liong tahu dan sadar bahwa air mukanya pasti berubah waktu mendengar nama julukan orang
itu. Sebagai insan persilatan, wajar kalau Ji-liong pernah mendengar ketenaran nama Hoan-thian-
hu-te Thiat Tin-thian, tokoh legendaris yang sudah malang melintang sejak dua puluh tahun yang
lalu, membunuh orang seperti membabat rumput, tak terhitung jumlah korban jiwa di tangannya,
perkaranya menumpuk bagai gunung. Betapa banyak kaum persilatan yang ingin memenggal
kepalanya, umpama tidak ribuan pasti ada ratusan banyaknya, tokoh besar atau penjahat yang
ditakuti orang, tingkat kejahatan yang pernah ia lakukan tak berlebih kalau dijuluki Membalik
Langit Mengaduk Bumi.
Jejak Hoan-thian-hu-te bagai mega, orang sukar mengikuti jejaknya, apalagi ilmu silatnya amat
tinggi, hati kejam tangan telengas, orang-orang yang kesamplok atau musuh yang menemukan
jejaknya juga pasti tergetar bubar sukmanya, kalau kepala tidak pecah tentu badan yang terpukul
remuk oleh telapak tangan besinya.
“Coba pikir, mungkin tidak temanmu itu adalah Thiat Tin-thian?” tanya Cia Giok-lun.
Ma Ji-liong menunduk, mulutnya bungkam.
Orang itu jelas adalah Thiat Tin-thian. “Selama dua puluh tahun, betapa banyak orang yang ingin
memenggal kepalaku, ratusan lipat lebih banyak dibanding musuh yang menginginkan jiwamu.
Lima laksa tahil emas tidak terpandang dalam mataku”. Kecuali Thiat Tin-thian, siapa lagi yang
berani mengucapkan kata-kata demikian. Tapi ia pun pernah berkata begini, “Bagaimana rasanya
difitnah orang, aku juga sudah mengalaminya.”
Mendadak Ma Ji-liong mengangkat kepala, katanya lantang, “Aku tidak perduli siapa dia, perduli
apa yang pernah ia lakukan, kupikir ada latar belakang yang tidak diketahui orang sehingga
terpaksa melakukan kejahatan. Situasi mendesak dan memojokkan dirinya, terpaksa ia bertindak
lebih ganas, lebih banyak korban jatuh, dipandang dari kaca mata kaum pendekar, ia adalah
gembong penjahat yang harus ditumpas.”
“Apakah Coat-taysu juga memfitnah orang baik?” tanya Cia Giok-lun.
Ma Ji-liong tertawa dingin, katanya, “Orang-orang yang ia fitnah bukan hanya Thiat Tin-thian
saja.”
Cia Giok-lun menghela napas, katanya, “Kau ini memang orang baik. Bisa berkenalan dengan kau,
siapa pun akan merasa beruntung, sayang sekali persahabatan kalian tidak akan bertahan lama.”
“Apa betul luka dalamnya tak bisa ditolong lagi?”
Koleksi Kang Zusi
Tawar suara Cia Giok-lun, “Kalau aku adalah Toa-siocia dari keluarga Cia, mungkin aku bisa
menolongnya.” Sengaja ia menghela napas, “Sayang, aku hanya bini seorang pemilik toko yang
sakit-sakitan, berjalan juga tidak mampu, penyakitku sendiri tak mampu kuobati, bagaimana
mungkin mengobati orang lain?”
Ma Ji-liong kehabisan kata. Dia maklum apa yang dimaksud Cia Giok-lun. Kalau ia membeberkan
duduk persoalannya, mungkin Cia Giok-lun mau menolong Thiat Tin-thian. Tapi kalau ia berbuat
demikian, itu berarti ia ingkar terhadap Toa-hoan, juga mengkhianati Ji Ngo, mereka juga teman
baiknya.
Cia Giok-lun membalikkan badan, mungkur ke arah dinding, katanya, “Kau sudah lelah, tidurlah.”
Ma Ji-liong tidak tidur, ia tahu dirinya pasti tak bisa tidur.
Entah pura-pura tidur atau benar-benar sudah lelap, ternyata Cia Giok-lun tidak bergerak, juga tidak
mengajak bicara lagi.
Fajar baru saja menyingsing, di luar masih belum terdengar suara orang. Perlahan Ma Ji-liong
mendorong pintu, dengan kalem ia melangkah keluar.
Bab 20: Tiada Pilihan Lain
Beberapa langkah setelah meninggalkan rumah, baru Ma Ji-liong mendengar suara tangis bayi dari
rumah seberang. Beberapa langkah kemudian, sebuah pintu kecil yang ditempel kertas gambar
malaikat rejeki terbuka.
Nyonya muda dengan perutnya yang buncit itu sedang berdiri di depan pintu, mengantar suaminya
yang masih muda tegap berangkat kerja di ladang.
Ma Ji-liong sengaja pura-pura tidak melihat. Suami muda itu juga tidak menoleh ke kanan kiri, dia
beranjak pergi sambil menjinjing buntalan dan memanggul pacul. Nyonya muda itu juga tidak
memperhatikan Ma Ji-liong, ia memutar tubuh terus merapatkan pintu.
Bagai anak panah terlepas dari busurnya, mendadak Ma Ji-liong menjejakkan kaki, tubuhnya
melejit ke depan, beberapa kali lompatan langsung menerobos ke pekarangan belakang To Po-gi.
Ada suara di dapur, suara ketikan batu untuk menyalakan api, lalu suara membasuh beras hendak
menanak nasi. Isteri To Po-gi memang perempuan yang rajin dan setia, tahu apa kewajibannya,
sepagi ini sudah siap menanak nasi untuk suami yang akan bekerja di kantor.
Ma Ji-liong tidak perduli, tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya, To Po-gi pernah berlatih
silat, dulu mungkin pernah menjadi anak buah Thiat Tin-thian, tidak perlu kuatir dirinya kepergok
oleh suami isteri itu. Dengan kecepatan tinggi, Ji-liong bergerak lincah melompat ke dalam sumur.
---------------------------------ooo00ooo-----------------------------------
Sekati arak beras sudah diminum habis, pembeli garam kelihatan lebih segar meski semalam suntuk
tidak tidur, ia sedang membenahi pembaringan temannya.
Koleksi Kang Zusi
Pemakan garam juga tidak tidur, sisa setengah bungkus garam tadi sudah dimakan lagi hingga
tinggal seperempat. Melihat kedatangan Ji-liong, mereka tidak menunjukkan sikap kaget atau heran,
seolah-olah sudah tahu bahwa Ma Ji-liong bakal kembali lagi.
Begitu kakinya menginjak dasar sumur, Ma Ji-liong langsung bertanya, “Kau adalah Thiat Tin-
thian, bukan?”
“Betul,” sahut pemakan garam, suaranya tegas dan gamblang. “Aku adalah rampok besar Thiat Tin-
thian yang gemar membunuh orang.”
“Kau terpukul Sam-yang-coat-hu-jiu Coat-taysu?”
“Betul,” sikapnya tampak heran dan kaget, tapi Thiat Tin-thian tidak balas bertanya dari mana Ma
Ji-liong mendapat tahu.
“Luka dalammu masih bisa ditolong?” tanya Ji-liong pula.
Kali ini Thiat Tin-thian balas bertanya, “Kenapa kau mencampuri urusanku?”
“Karena kau adalah temanku.”
“Kau sudah tahu kalau aku adalah Thiat Tin-thian, masih berani kau berkawan dengan aku?”
“Aku sudah bersahabat denganmu. Perduli siapa kau, sikapku tidak berubah.”
Thiat Tin-thian menatapnya lekat-lekat, mendadak ia tertawa lebar, “Selama hidup betapa banyak
kesalahan yang pernah dilakukan Thiat Tin-thian, tapi belum pernah keliru bersahabat dengan
orang.”
Thiat Tin-thian benar-benar tertawa, tawa yang riang. Setelah bersahabat dengan seorang kawan,
umpama dirinya terbunuh juga akan mati dengan meram, tidak menyesal.
Pembeli garam menyeletuk, “Selama hidup dia memang banyak melakukan kesalahan, karena
berwatak kasar, berangasan, gegabah dan emosional. Demi membela seorang teman, perbuatan apa
pun berani dilakukannya.” Dengan suara tandas pembeli garam meneruskan, “Kali ini pasti tidak
berbuat salah.”
Apa yang ia lakukan kali ini? Bagaimana sampai difitnah orang?
Ji-liong mengulangi pertanyaannya tadi, ia percaya orang ini, “Luka-lukamu bisa disembuhkan?”
“Bisa,” sahut pembeli garam. “Hanya sejenis obat di dunia ini yang dapat menolong jiwanya.”
“Obat apa?”
Pembeli garam menghela napas, roman mukanya guram, katanya, “Kujelaskan juga tidak berguna,
karena obat itu mutlak tidak bisa kami peroleh.” Dengan tertawa getir ia menambahkan, “Bukan
saja sukar untuk memperolehnya, dicuri juga tidak bisa, direbut apa lagi, kalau bisa tentu sudah
kurebut atau kucuri.” Untuk menolong jiwa temannya, umpama harus mencuri dan merebut milik
orang lain, apakah perbuatan itu terhitung salah?
Ma Ji-liong tertawa pula, “Obat yang kalian maksud apakah bisa diperoleh dari keluarga Cia?”
Koleksi Kang Zusi
Terbeliak mata si pembeli garam, suaranya juga meninggi, “Dari mana kau tahu kalau keluarga itu
she Cia?” Perubahan roman mukanya terlalu cepat, menyolok dan aneh.
“Kenapa aku tidak bisa tahu?”
“Karena.......” suaranya terhenti, sikapnya bimbang.
Untuk membeberkan rahasia, jelas tidak berani berterus terang.
Dengan suara keras Thiat Tin-thian menimbrung, “Orang itu tidak mau orang luar tahu dirinya she
Cia. Dulu ia pernah mengalami pukulan batin yang menyedihkan. Siapa saja, bila menyinggung
perkara lama, pasti tak diberi ampun.”
“Siapakah dia?” desak Ma Ji-liong.
“Bik-giok Hujin dari Bik-giok-san-ceng, lukaku hanya dapat disembuhkan dengan Bik-giok-cu
milik keluarganya.”
Ma Ji-liong melenggong.
Bik-giok Hujin ternyata she Cia, pernah ada hubungan apa Cia Giok-lun dengan Bik-giok Hujin?
Apa gadis itu ada hubungannya dengan Bik-giok-san-ceng? Mendadak Ji-liong sadar, urusan ini
pasti ada latar belakang yang ruwet lagi genting. Dulu tak pernah ia memikirkan persoalan ini, tapi
sekarang harus memutar otak.
Sekonyong-konyong seseorang tertawa dingin dan berkata di mulut sumur di sebelah atas, “Thian
Tin-thian, kau tak bisa lolos dari sini. Thiat Coan-gi, kau juga menyerah saja, jiwamu boleh
diampuni.”
Para pengejar itu akhirnya menemukan sumur ini, jejak mereka sudah ketahuan. Bila buronan
berada di dalam sumur, umpama ikan di dalam kuali, jelas takkan bisa lolos lagi, memangnya ke
mana mereka bisa melarikan diri?
Perasaan Ma Ji-liong seberat batu yang tenggelam ke dasar air dingin. Ia kenal suara orang yang
bicara di mulut sumur, bukan lain ialah Pang Tio-hoan. Kalau Pang Tio-hoan sudah datang, Coat-
taysu pasti juga berada di sini, demikian pula Cia-go Hwesio dan Giok-tojin pasti ikut datang.
Umpama bukan dirinya yang menjadi buronan, dirinya juga bisa keluar dari tempat ini.
Ma Ji-liong sudah akan bicara, mendadak Thiat Tin-thian mendekap mulutnya dengan sebelah
tangan. Dengan tangan yang lain dia menjejalkan garam ke dalam mulut sendiri. Setelah garam
tertelan, baru ia bergelak tawa, serunya, “Betul, aku memang ada di sini, adikku juga ada, kami
menunggumu.”
Sesaat tidak terdengar jawaban dari atas. Orang-orang di atas seperti sedang heran dan bingung,
kenapa Thiat Tin-thian belum mampus setelah terpukul Sam-yang-coat-hu-jiu yang ganas itu? Nada
bicaranya juga masih segar dan bertenaga.
Sesaat kemudian baru terdengar Coat-taysu berkata dengan nada dingin, “Thiat Tin-thian, naiklah
ke atas, jiwa Thiat Coan-gi akan kuampuni.”
Thiat Coan-gi adalah pembeli garam, “Kami bersaudara sudah seia sekata, bersumpah setia, sehidup
semati, kalau harus mati biarlah kami mati bersama.”
Koleksi Kang Zusi
“Bagus,” teriak Thiat Tin-thian bergelak tawa. “Ayolah turun kalau kalian hendak menagih jiwa
kami berdua.”
Coat-taysu tidak turun, tiada orang yang berani turun. Sumur itu memang buntu, tiada jalan lain
untuk meloloskan diri, tapi siapa yang berani turun pasti mengantarkan jiwa dengan percuma.
“Mana mereka berani turun,” Thiat Tin-thian merendahkan suara setengah mengejek. “Mereka
diagulkan sebagai pendekar besar, buat apa gagah-gagahan di sini.”
“Ya, mereka yakin kita tak dapat melarikan diri,” Thiat Coan-gi juga bicara dengan suara rendah.
“Mereka pasti menunggu di atas.”
“Tetapi mereka pasti tak mau menunggu lama,” ujar Thiat Tin-thian. “Pasti mencari akal untuk
memancing kita keluar, entah menyerang dengan api atau asap, mengguyur air ke dalam sumur atau
dengan cara keji lainnya.”
Ma Ji-liong berkata, “Sebagai pendekar yang diagulkan, apakah mereka juga berbuat sekeji dan
sekotor itu?”
Thiat Tin-thian menyeringai, katanya, “Berani saja, namanya saja pendekar, padahal perbuatannya
tidak beda dengan bajingan, apalagi punya alasan untuk berbuat demikian.” Senyum wajahnya
dilembari cemoohan dan rasa sedih serta penasaran. “Menghadapi kawanan penjahat kejam seperti
kita, cara apa pun berani mereka lakukan, sebab diagulkan sebagai pendekar, orang lain tidak
menganggap perbuatan mereka rendah. Tapi kalau kami yang menggunakan cara seperti itu
terhadap mereka, nilainya tentu berbeda.” Mendadak ia menggenggam tangan Ma Ji-liong. “Apa
betul kau sahabatku?” tanyanya tegas.
“Sudah pasti,” sahut Ma Ji-liong tegar.
“Usiaku jauh lebih tua, pantas tidak kau tunduk padaku?” ujar Thiat Tin-thian dengan nada tinggi.
“Menghadapi situasi genting ini, kau harus patuh terhadapku.”
“Kasus apa yang kau maksud?”
“Mereka akan menyerang entah dengan api atau air, kami akan menerjang ke atas.”
“Bagus,” tanpa sangsi Ma Ji-liong berkata. “Sekarang juga kita bisa menerjang keluar bersama.”
“Kami yang kumaksud adalah aku dan Thiat Coan-gi, adikku, bukan dengan engkau,” suara Thiat
Tin-thian lebih lirih. “Mereka hanya tahu aku dan Coan-gi bersembunyi di sini, tapi pasti tidak tahu
ada orang ketiga berada di sini.”
“Ya, mereka pasti tidak menduga majikan toko serba ada di kampung ini juga berada di sini, apalagi
bersahabat dan menjadi kawan rampok besar macam Thiat Tin-thian yang ditakuti dan dibenci
orang banyak.”
“Yang akan mereka bekuk adalah kami berdua. Bila berhasil mereka pasti segera berlalu, takkan
memeriksa tempat ini.”
“Setelah mereka pergi, kau boleh keluar dan mengundurkan diri,” Thiat Tin-thian menggenggam
tangan Ji-liong lebih kencang. “Perpisahan kita hari ini, mungkin menjadi perpisahan untuk
selamanya. Aku tidak ingin kau menuntut balas bagi kematianku, juga tidak minta kau mencuci
Koleksi Kang Zusi
bersih nama baikku, membongkar kasus terpendam itu hingga fitnah ini tersingkap tabirnya. Aku
hanya berharap kau bertahan hidup, menyelamatkan diri, berarti kau sudah bertanggung jawab
terhadapku.”
Untuk apa ia berkawan dengan Ma Ji-liong? Tidak untuk apa-apa. Dalam batin ia berdoa supaya
temannya ini selamat, karena dia tahu ada sementara orang, kalau bertahan hidup adalah suatu
usaha, suatu perjuangan yang serba sulit.
Ma Ji-liong hanya mendengarkan saja, diam tanpa memberi reaksi, juga tidak berbicara. Banyak
yang ingin diucapkan, tapi sepatah kata pun tidak keluar karena ia merasa tak perlu melimpahkan isi
hatinya. Dalam hati diam-diam ia sudah mengambil keputusan.
Thiat Tin-thian juga tidak bicara lagi, kembali ia melalap segenggam garam, segenggam demi
segenggam terus dijejalkan ke dalam mulut dan langsung ditelannya. Selama hayat masih
dikandung badan, selama dirinya masih bernapas, masih bisa berjuang, ia berani dan harus mengadu
jiwa. Wataknya mirip Ma Ji-liong, dua orang yang berwatak sama seperti sengaja dipertemukan di
dasar sumur.
-------------------ooo00ooo-------------------------------------
Sudah sekian lama belum ada gerakan apa-apa di atas sumur, sudah pasti orang di dasar sumur
takkan bisa melarikan diri, Coat-taysu memang orang yang sabar, tahan uji dan ulet.
Dari ikat pinggangnya Thiat Coan-gi meloloskan sebilah Bian-to, perlahan ia mengelus mata golok
tipis itu dengan jari-jarinya yang panjang. Mendadak ia mendesis penuh kebencian, “Biar tubuhnya
tercacah hancur, aku akan berusaha mengganyangnya lebih dulu.”
“Siapa yang hendak kau ganyang?” tanya Thiat Tin-thian.
“Siapa lagi, To Po-gi tentunya,” sahut Thiat Coan-gi dengan penuh dendam.
“Jangan, tidak boleh kau membunuhnya.”
“Dia telah mengkhianati kita, kenapa aku tak boleh mengganyangnya?”
“Karena dia sudah berkeluarga, punya bini yang akan melahirkan keturunannya. Bukan To Po-gi
seorang yang mengkhianati temannya di dunia Kangouw, bukan hanya sekali ini kau dan aku
dikhianati teman, lalu kenapa kau harus membunuhnya?” mendaak ia menghela napas panjang,
“Kalau kau ingin membunuh orang, pertama yang harus kau bunuh sekarang bukanlah To Po-gi,
tapi aku.”
“Kau?” teriak Thiat Coan-gi terbelalak.
“Jika bukan lantaran diriku, nasibmu takkan sejelek ini.”
Thiat Coan-gi memandang saudaranya dengan tatapan tajam, mendadak ia terloroh-loroh, serunya,
“Betul, kau memang betul, kalau tiada kau, mana mungkin keadaanku menjadi begini. Ayah-
bundaku disembelih, isteriku digagahi secara bergiliran, anakku pun dibantai. Para pendekar itu
beranggapan, kejadian itu adalah akibat perbuatan jahatku sendiri, ganjaran atas dosa-dosaku, aku
harus menelan karma, menerima pembalasan atas kejahatanku. Bila tiada kau, siapa yang
membantu aku menuntut balas, melampiaskan dendam kesumatku? Aku.......” Makin bicara makin
emosi, suaranya menjadi serak dan tersendat. Kulit mukanya mengkeret basah oleh air mata,
Koleksi Kang Zusi
mendadak ia melompat berdiri sambil meraung, “Thiat Tin-thian malang-melintang selama hidup,
aku membunuh orang tak terhitung banyaknya, hari ini umpama batok kepalaku terpenggal, biar
kujual kepada kalian, apa salahnya jiwaku melayang? Lekaslah kalian ambil saja.”
Padahal dia Thiat Coan-gi, bukan Thiat Tin-thian. Ia berkata demikian hanya ingin menerjang
keluar lebih dulu, biar orang lain mengira dirinya Thiat Tin-thian dan mengincar jiwanya, biar
dirinya berkorban asal saudaranya lolos dan selamat. Dia tidak memikirkan lagi mati hidupnya.
Ji-liong tahu maksudnya, demikian pula Thiat Tin-thian juga maklum. Mendadak ia bergelak tawa,
“Kau tak boleh rebutan dengan aku. Kalau harus mati, biar aku yang gugur lebih dulu. Selama hayat
masih dikandung badan, siapa pun jangan harap mengusik dirimu.” Di tengah gelak tawanya yang
panjang, tubuhnya yang kurus kering mirip tengkorak hidup, mendadak menubruk ke depan bagai
harimau mengamuk. Sebelah kakinya menginjak pundak Thiat Coan-gi, sekali jejak tubuhnya lantas
melesat mumbul keluar mulut sumur.
Kejap lain, terdengar kumandang jeritan yang mengerikan dari mulut sumur.
Tangkas sekali Thiat Coan-gi juga ikut melompat keluar. Tidak perduli siapa mati duluan atau mati
belakangan, mereka harus mati bersama.
Kalau kejadian ini berlangsung setahun yang lalu, melihat teman segagah dan begitu perwira, air
mata tentu berkaca-kaca di pelupuk mata, tapi sekarang air mata tidak berlinang, hanya darah yang
bergolak di rongga dada.
Darah panas mendidih, seorang yang sudah bertekad mengucurkan darah, biasanya takkan
mengucurkan air mata lagi. Dia tahu, apa yang dikatakan Thiat Tin-thian memang tidak salah.
“Jika Ji-liong mau bersembunyi di dasar sumur, setelah kedua sahabatnya itu mati, musuh tentu
akan pergi, dirinya akan punya waktu untuk meloloskan diri dan selamat pulang ke tokonya.
Hari-hari selanjutnya takkan ada orang yang membeli garam sebanyak itu, rahasia dirinya tetap
adalah rahasia. Dia bisa melupakan peristiwa ini, melupakan orang yang bernama Thiat Tin-thian
dan lupa bahwa dirinya pernah mengenal seorang penjahat yang berjiwa ksatria.
Sebaliknya kalau sekarang ia ikut menerjang keluar, maka dirinya akan gugur bersama Thiat Tin-
thian. Maklum bila dirinya keluar dari sumur, Coat-taysu dan begundalnya tentu akan mengeroyok,
dan akan ketahuan pula siapa dia sebenarnya.
Seorang pemilik sebuah toko, hidup tenteram dan rukun, pasti tak mau membela Thiat Tin-thian
yang terkenal jahat dan ganas, apalagi mau mempertaruhkan jiwa raga sendiri. Demikian pula
seorang yang berpikiran sehat dan punya akal budi lumrah, pasti tak mau melakukan perbuatan
bodoh, mengorbankan jiwa sendiri secara percuma.
Ji-liong bukan orang bodoh. Ia juga tahu, cara bagaimana harus mempertahankan jiwa raga sendiri.
Manusia hanya hidup sekali, hanya punya satu jiwa. Seperti juga manusia umumnya, ia pasti sayang
dan ingin mempertahankan hidupnya.
Sayang sekali pada detik-detik yang genting ini, mendadak Ji-liong sadar, ia menemukan sesuatu
yang lebih berharga dibandingkan dengan jiwa orang hidup di dunia ini.
-------------------------------------ooo00ooo------------------------------------
Koleksi Kang Zusi
Coat-taysu memang menduga di dalam sumur hanya ada dua orang saja. Jika ada orang yang
mendadak menerjang keluar, mereka pasti amat kaget. Di saat mereka kaget itulah, kesempatan
yang amat berharga untuk Ma Ji-liong turun tangan.
Meski hanya sedikit kesempatan, Ma Ji-liong takkan mengabaikannya. Umpama tak ada
kesempatan, Ji-liong tetap akan menerjang keluar melabrak musuh. Maka dengan tekad bulat,
dengan mengerahkan seluruh kekuatan, ia pun menerjang keluar.
Bab 21: Kesetiaan Yang Teruji
Manusia kenapa harus mempertahankan hidup? Apakah karena ia ingin melaksanakan tugas dan
kewajiban yang harus dilakukan? Kalau seorang beranggapan tugas yang mutlak ia kerjakan tak
mampu ia lakukan, lalu apa artinya ia bertahan hidup?
Sumur itu terletak di tengah pekarangan. Mentari pagi sudah memancarkan cahayanya yang
benderang, hawa sejuk dan nyaman, tampak merah darah. Darah memang berceceran di tanah.
Darah orang lain, juga darah dari tubuh Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi.
Waktu Thiat Tin-thian menerjang keluar, sebilah Bian-to menyongsong batok kepalanya. Golok
tipis itu membacok lurus dengan jurus lihai, namun sekali raih sambil menundukkan kepala, Thiat
Tin-thian berhasil menangkap pergelangan tangan orang terus dipelintirnya ke kiri, berbareng
tangan yang lain mencengkeram pundaknya. Di tengah raungan gusarnya, lengan orang ini ia betot
hingga putus seperti pengemis menarik paha ayam panggang layaknya. Sayang yang menjadi
korban kelihaian permainan telapak tangannya bukan Coat-taysu, juga bukan Pang Tio-hoan, tapi
seorang jago silat yang tidak terkenal.
Di luar pintu dapur ditaruh dua kursi, Coat-taysu dan Pang Tio-hoan tampak bercokol dengan
kereng tanpa bergerak. Dengan dingin mereka mengawasi buronan yang mirip tikus di tengah jalan
raya, terkepung rapat dan tak mampu melarikan diri. Jumlah orang yang berkumpul di sini tidak
sedikit, mereka adalah orang-orang yang ingin mengganyang gembong iblis pembunuh saudara atau
keluarganya, maka mereka pula yang harus beraksi, berebut pahala. Kecuali menuntut balas, Coat-
taysu dan Pang Tio-hoan segan turun tangan, mereka menjaga gengsi, tidak mau menghadapi lawan
yang sudah terluka.
Coat-taysu, Pang Tio-hoan dan lain-lain memang tidak menyangka kalau di bawah sumur masih ada
orang ketiga. Setiap manusia, siapa pun orangnya, bila menghadapi suatu peristiwa di luar dugaan
atau di luar perhitungannya, sedikit banyak tentu akan terkejut. Begitu lena sekejap saja, maka akan
mengundang kesalahan yang fatal akibatnya.
Mumpung ada kesempatan, sebetulnya Ma Ji-liong sudah siap memberikan sergapan yang
mematikan. Asal seorang di antara dua gembong silat ini berhasil dilumpuhkan, itu berarti ia punya
harapan dan peluang untuk merobohkan lagi yang lain.
Sayang sekali perhitungan Ma Ji-liong meleset jauh dari dugaan semula. Begitu ia menerjang
keluar, ternyata Coat-taysu dan Pang Tio-hoan jauh beberapa tombak dari mulut sumur. Namun Ma
Ji-liong sudah terlanjur bertindak, sudah terlanjur bergerak, maka ia tetap menerjang ke sana. Ia
sudah bertekad berbuat sesuai rencana dan keinginan hatinya, tidak memikirkan gagal atau berhasil.
Apalagi keadaan segenting ini, ia tidak boleh berhenti atau membatalkan rencana.
Ma Ji-liong masih berpakaian hitam dari kain kasar, kedok kepalanya yang hitam entah sejak kapan
sudah ia tanggalkan, mungkin waktu pertama kali ia terjun ke dasar sumur tadi.
Koleksi Kang Zusi
Selama berkecimpung di kalangan Kangouw, belum pernah Ma Ji-liong merasa gentar menghadapi
persoalan pelik, sekalipun di saat dirinya masih normal, normal dalam arti dirinya adalah Ma Ji-
liong tulen, bukan Thio Eng-hoat seperti sekarang. Wajah yang sekarang sudah tentu bukan wajah
Ma Ji-liong yang pernah dikenal oleh Coat-taysu, Thio Eng-hoat tidak dikenal atau pernah dilihat
oleh orang persilatan di mana pun.
Bahwasanya kepandaian Ma Ji-liong belum terhitung kelas wahid atau jago kosen kalangan
Kangouw, tapi sejak ia mulai belajar berjalan, ayah bundanya sudah melatih dirinya hingga umur
tujuh tahun mulai dipupuk dasar pelajaran silat. Ilmu silat Ji-liong mungkin tak sejajar dengan ilmu
silat Siau-lim dan Bu-tong yang sudah tercatat dalam lembaran sejarah sebagai aliran silat yang
ternama, perguruan besar yang disegani dan ditakuti, namun ilmu silat Thian-ma-tong mempunyai
ciri khas dan keistimewaan sendiri.
Seseorang bila berhasil dan sukses mengejar karir hingga terkenal, kuat bertahan sampai lama, pasti
mempunyai kemampuan yang luar biasa, keistimewaan yang boleh diagulkan, terutama Ginkang
dari keluarganya, ilmu ringan tubuh dari Thian-ma-tong.
Sudah puluhan tahun, turun temurun Ginkang Thian-ma-tong malang melintang, bagai kuda terbang
yang melesat di udara. Di kala menyergap musuh dari udara, perbawanya memang amat
mengejutkan.
Seorang laki-laki baju hitam yang kelihatan kasar, sederhana dengan gerak tubuh secepat kilat
mendadak menerjang keluar dari dalam sumur yang semula dikira tidak ada orangnya lagi, langsung
menubruk ke arah dirinya, sudah tentu Coat-taysu amat kaget dan heran. Menghadapi kejadian di
luar dugaan, siapa pun pasti kaget dan panik, apalagi penyergap ini memiliki Ginkang yang tinggi.
Sigap sekali Thiat Tin-thian melemparkan korbannya ke samping. Dengan raungan keras ia
menjejakkan kaki, tubuhnya melesat ke depan mengejar Ma Ji-liong dengan tubrukan katak, kedua
tangannya ternyata dapat mulur beberapa senti lebih panjang. Tangkas sekali ia berhasil
mencengkeram ikat pinggang Ma Ji-liong, berbareng jari telunjuk dan jari tengahnya menutuk Hiat-
to di belakang pinggangnya. Di saat suara raungannya belum sirap, sekuat tenaga ia menarik dan
melemparkan Ma Ji-liong ke belakang dari atas kepalanya. Mati pun Thiat Tin-thian tidak rela
sahabatnya ini berkorban untuk dirinya, ia harus mencegah perbuatan nekad Ji-liong.
Di saat Ma Ji-liong menyergap dari udara, dilihatnya Coat-taysu sudah berdiri sambil mengulurkan
kedua tangannya ke depan. Telapak tangannya dengan jari-jari setengah tertekuk bagai cakar elang
sudah berubah dua kali, dari warna hijau pupus menjadi merah maron, demikian pula urat hijau di
punggung tangannya juga berubah merah kuning, mirip cahaya matahari di kala tenggelam ke
peraduannya, mulai redup tapi gemerdep.
Tidak ada orang lain yang lebih paham kecuali Thiat Tin-thian, betapa mengerikan pukulan Sam-
yang-coat-hu-jiu itu. Secara lahir batin Thiat Tin-thian sudah merasakan betapa besar siksa derita
orang yang terkena pukulan keji ini, maka ia harus mencegah Ma Ji-liong menyerempet bahaya
demi dirinya.
Coat-taysu yang sudah berjingkrak berdiri dan siap menyerang dengan kedua telapak tangannya,
kini menurunkan lagi kedua tangannya, lalu duduk pula di tempatnya, tatapan matanya dingin,
“Siapa orang ini?” pertanyaannya dingin kaku.
“Seorang kawan,” sahut Thiat Tin-thian.
“Hm, kau juga punya kawan?” jengek Coat-taysu.
Koleksi Kang Zusi
Thiat Tin-thian tertawa latah, serunya, “Orang she Thiat membunuh orang tak terhitung banyaknya,
musuh tersebar luas di seluruh pelosok dunia, tapi yakin kawanku tidak kalah banyak dibanding
kau. Apalagi kawan seperti dia, aku yakin selama hidupmu kau justru tak pernah punya kawan
seperti kawanku yang satu ini.”
Lama Coat-taysu menatapnya dengan memicingkan mata, perlahan ia menoleh ke arah Ma Ji-liong
yang berdiri tak jauh di pinggir sana. “Apa betul kau kawannya?”
“Betul,” tegas jawaban Ma Ji-liong.
“Apa betul kau rela berkorban untuk kawanmu ini?”
Ma Ji-liong menjawab, “Aku berani berkorban untuk diriku sendiri, jiwaku berani kupertaruhkan.”
Ia tidak sengaja merubah suara, tapi suaranya memang berubah.
Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-long yang lihai bukan saja merubah bentuk wajahnya, dia
juga merubah suaranya.
Sudah tentu Coat-taysu juga tidak kenal suaranya, maka ia bertanya pula, “Tahukah kau, kenapa
aku hendak membunuhnya?”
Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia memang tidak tahu.
Coat-taysu bertanya pula, “Tahukah kau siapa tiga saudara Nyo yang dijuluki orang 'teman bak
saudara, setia dan adil tiada bandingan'?”
Ma Ji-liong tahu. Meski tidak kenal, ia pernah mendengar kebesaran nama Nyo bersaudara ini.
Mereka tinggal di Ho-tiong, keluarga besar persilatan ini sudah turun temurun menjagoi daerah itu
dengan kekayaan yang berlimpah-limpah. Meski tiga saudara, namun mereka hidup akur dan rukun,
tri-tunggal yang kokoh kuat dan tak tergoyahkan, punya uang, ternama, berkuasa, berjiwa besar,
luhur budi, setia kawan, berbakti, suka membela keadilan. Tiga saudara dengan keluarga masing-
masing tinggal di dalam satu perkampungan besar, secara bergilir mereka meladeni ayah bundanya
yang sudah lanjut usia.
Sikap Coat-taysu tampak prihatin, berat dan sedih, katanya pula, “Nah, dua puluh sembilan orang
anggota keluarga marga Nyo itu, besar kecil, tua muda, seluruhnya mati dalam sekejap mata oleh
golok Thiat Tin-thian. Tujuh belas perempuan muda yang masih hidup, ia jual ke markas tentara di
perbatasan untuk dijadikan babu dan pelampias nafsu tentara yang rakus berahi itu.”
Mendadak Thiat Coan-gi meraung gusar sambil memburu ke depan, “Jangan kau mengoceh demi
kebenaranmu sendiri. Tahukah kau kenapa ia berbuat demikian?” Suaranya beringas dan
memilukan, “Tahukah kau dengan cara bagaimana ketiga saudara Nyo itu menyiksa dan membunuh
ayah bundaku? Menggagahi isteriku dan membantai putra-putriku?”
Coat-taysu menyeringai dingin, jengeknya, “Itulah pembalasan atas perbuatanmu.”
“Betul, juga pembalasan atas perbuatan mereka!” hardik Thiat Tin-thian. “Tiga saudara Nyo dan
seluruh keluarganya, akulah yang membunuhnya. Aku yang berbuat, aku yang bertanggung-jawab,
tiada sangkut-paut dengan orang lain.” Lalu ia menuding beberapa orang yang tersebar di
pekarangan, mereka adalah murid-murid berbagai perguruan yang dibawa Coat-taysu untuk
menuntut balas, mereka siap menjagal Thiat Tin-thian dan Thiat Coan-gi, “Orang-orang ini tentu
sanak-kadang atau teman baik keluarga Nyo, mereka sudah tahu kalau aku telah terluka oleh Sam-
Koleksi Kang Zusi
yang-coat-hu-jiu. Mereka juga tahu, bila dapat membunuh aku, nama mereka akan terangkat dan
boleh menepuk dada di muka umum sebagai penumpas kejahatan. Sebaliknya kau adalah pendekar
besar, Coat-taysu yang tersohor, tidak perlu kau ikut rebutan pahala, celaka kalau kau gugur di
tanganku.”
Coat-taysu diam saja, hanya sorot matanya tampak gusar dan beringas.
Thiat Tin-thian juga makin beringas, lebih emosi, teriaknya, “Tapi aku belum mampus, kalian ingin
merenggut jiwaku, maka kau undang orang-orang bodoh yang gila jasa ini, tapi yakinlah, sebelum
aku ajal, aku masih mampu memelintir putus leher beberapa orang, memukul remuk badan
mereka.”
Coat-taysu menyeringai, katanya, “Mereka membela keadilan, mengejar kebajikan, mati demi
menuntut balas sakit hati teman, tidak perlu dibuat menyesal, aku tidak bisa dan takkan mencegah
mereka berjuang demi kemuliaan.”
Thiat Tin-thian berkata, “Baiklah, aku akan menyempurnakan mereka sekuat tenagaku.” Lalu ia
menuding Ji-liong, “Apa yang pernah kulakukan sedikit pun tiada sangkut-pautnya dengan orang
ini. Asal kau membiarkan dia pergi, terserah siapa yang kau suruh memenggal leherku, aku pasti
takkan membalas.”
Lama Coat-taysu mengawasinya dengan mata terpicing, sekilas ia menoleh ke arah Ma Ji-liong,
“Sebelum hari ini, aku belum pernah melihat kau, kelihatannya kau bukan orang jahat.”
Ma Ji-liong hanya mendengar, tidak bicara, tidak bertanya, tidak membantah juga tidak memberi
komentar.
“Sejak kapan kau berkenalan dengan Thiat Tin-thian?” tanya Coat-taysu.
“Baru saja,” sahut Ma Ji-liong.
“Ya, kapan?” desak Coat-taysu.
Thiat Tin-thian menimbrung, “Belum setengah hari ia kenal denganku.”
Coat-taysu menghela napas, katanya, “Kenal belum setengah hari tapi sudah rela mengadu jiwa
untuk orang lain? Memang jarang ada manusia seperti dirimu.” Mendadak ia menoleh ke arah Ma
Ji-liong, lalu katanya sambil mengulapkan tangan, “Kau pergi saja.”
----------------------ooo00ooo------------------------------------
Ma Ji-liong tetap berdiri di tempatnya, berdiri tegak tidak bergeming.
Coat-taysu menatapnya lagi sekian lama, kemudian ia bertanya, “Kau tak mau pergi?”
“Aku tidak akan pergi,” sahut Ma Ji-liong tegas. “Pasti takkan pergi.”
That Tin-thian meraung lagi, “Kau harus pergi, lekas pergi.”
“Hanya ada satu cara untuk memaksa aku pergi,” suara Ma Ji-liong lantang tapi tenang dan wajar,
tegas lagi berani, “Bunuh aku dan gotong pergi.”
Koleksi Kang Zusi
Memicing mata Coat-taysu, jengeknya, “Tidak sukar membunuhmu. Tadi kalau dia tidak
menarikmu, sekarang kau sudah digotong pergi, tahu.”
“Aku tahu.”
“Kau ingin digotong pergi?”
“Ya, bila perlu dan terpaksa.”
“Kenapa kau ngotot ingin membela mereka?”
“Tidak kenapa.”
Bahwasanya jawaban ini tidak kena sasaran. Seseorang boleh 'tidak kenapa' berkenalan dan
bersahabat dengan orang lain yang dianggap cocok, tidak memikirkan untung ruginya, tidak perduli
akibatnya, juga tiada maksud dan tujuan tertentu. Tetapi setelah berkenalan dan bersahabat dengan
orang itu, apa yang ia lakukan untuk temannya, bukan lagi dinilai dengan dua buah kata 'tidak
kenapa', tapi lantaran suatu ikatan atau tepatnya karena adanya jalinan persahabatan yang meresap
akrab lahir batin, yang pasti jalinan persahabatan itu sukar dijelaskan bentuknya.
Karena suatu tujuan lantas berbuat atau melakukan, demi keadilan berani melakukan, keberanian
yang ditunjang kesetiaan, untuk memberikan pertanggungan jawab terhadap nurani dan rohani,
supaya dirinya tidak bisa tidur di tengah malam mana kala sedang bermimpi buruk. Supaya dirinya
tidak berdosa, menanggung beban batin di kala hidup, biar mati juga lega, mati dengan tenteram.
Kenapa bisa terjadi 'tidak kenapa'? Kalau sukses bagaimana? Kalau gagal kenapa pula? Kalau hidup
kenapa? Kalau mati bagaimana?
Sukses atau gagal, mati atau hidup tetap takkan goyah, terus maju tak mau berpaling, tidak mau
menundukkan kepala.
Bab 22: Bukan Kabut Bukan Halimun
Ma Ji-liong mengangkat kepala, sinar mentari menyorot mukanya. Walau wajahnya bukan lagi
muka yang gagah dan tampan, bukan wajah yang bisa mempesona para gadis hingga jatuh cinta
padanya, tapi siapa pun yang melihatnya, sikapnya pasti hormat dan serius.
Thiat Tin-thian mengawasinya, “Transaksiku tadi sebetulnya cukup baik, boleh sekarang juga teken
kontrak, kenapa kau malah tidak setuju?”
“Karena aku juga akan menawarkan transaksi yang lebih baik untuk mereka, kutanggung bila
syaratnya sudah kujelaskan, mereka akan menerima dengan senang hati,” demikian bantah Ji-liong.
“Transaksi apa?” tanya Coat-taysu. “Ada persoalan apa yang lebih baik daripada transaksi yang ia
tawarkan tadi?”
“Mereka mempertaruhkan dua jiwa untuk menebus diriku,” demikian ujar Ma Ji-liong tertawa.
“Jelas transaksi ini mengundang kerugian, kenapa aku setuju?”
“Lalu bagaimana dengan transaksimu?” tanya Coat-taysu.
“Kebalikannya, yaitu dengan satu jiwa menebus dua jiwa mereka,” sahut Ma Ji-liong.
Koleksi Kang Zusi
Coat-taysu menyeringai dingin, “Transaksimu tak bisa diterima.”
“Lho, kenapa?”
“Tidak ada orang yang dapat menebus jiwa kedua orang ini,” sinis nada perkataan Coat-taysu.
“Tidak ada jiwa seseorang di dunia ini yang bernilai setinggi itu.”
“Ada, hanya seorang saja,” seru Ji-liong. “Aku tahu ada seorang yang cukup setimpal untuk
menebus jiwa mereka berdua.”
“Siapa dia?” tanya Coat-taysu.
“Ma Ji-liong.”
Memicing mata Coat-taysu begitu mendengar nama Ma Ji-liong, dahi pun berkerut.
Ma Ji-liong alias Thio Eng-hoat ini juga memicingkan mata. “Aku tahu orang yang ingin kalian cari
bukan Thiat Tin-thian, Ma Ji-liong adalah buronan kalian yang utama.”
Coat-taysu mengangguk.
“Dengan jiwa Ma Ji-liong, setimpal tidak untuk menebus jiwa mereka?”
“Ya, cukup setimpal,” ujar Coat-taysu, jelas sekali perubahan mimik mukanya berusaha menekan
emosi. “Sayang sekali siapa pun tidak bisa menemukan jejak Ma Ji-liong.”
“Ada orang yang bisa menemukan dan menunjukkan di mana sekarang ia berada,” seru Ma Ji-liong
lantang. “Paling sedikit ada seorang yang dapat menunjukkannya.”
“Siapa yang bisa menunjukkan jejak Ma Ji-liong?”
“Aku!” teriak Ma Ji-liong lantang, jelas ia pun berusaha mengendalikan diri. “Bila kalian
membebaskan kedua orang ini, aku tanggung kalian akan menemukan Ma Ji-liong.”
Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Kau memang kawan baik, transaksimu juga bagus
sekali, sayang siapa pun takkan mau meneken kontrak yang kau tawarkan itu.” Suaranya serak dan
tersendat. “Siapa mau percaya obrolanmu.”
Coat-taysu diam saja, tidak perduli. Ma Ji-liong juga tidak menghiraukan ocehan Thiat Tin-thian.
Dua orang ini berhadapan, bertatap muka, saling pandang, meski mata memicing, tapi sorot mata
mereka setajam jarum.
Sepatah demi sepatah Ma Ji-liong berkata, “Kau tentu tahu dan yakin, bahwa apa yang kuucapkan
bukan obrolan. Aku tidak membual.”
“Ya, aku tahu,” sahut Coat-taysu. “Tapi aku tak bisa dan tidak akan membebaskan mereka lebih
dulu sebelum memperoleh jaminan atau bukti.”
“Kau tidak percaya kepadaku?”
“Bila kau serahkan Ma Ji-liong, mereka segera kubebaskan.”
Koleksi Kang Zusi
“Aku saksinya,” seru Pang Tio-hoan dari samping.
Ma Ji-liong menyeringai, “Kalian tidak percaya kepadaku, kenapa aku harus percaya kepada
kalian?”
“Karena aku adalah Pang Tio-hoan dan dia adalah Coat-taysu, sebaliknya kau adalah manusia yang
belum dikenal asal-usulnya.” Sebetulnya alasannya kurang tepat, tapi justru merupakan jawaban
yang kena sasaran.
“Kalau kau ingin aku teken kontrak, kau harus patuh kepada kami,” demikian Coat-taysu
menegaskan. “Kalau tidak, terpaksa kami bunuh Thiat Tin-thian lebih dulu, lalu membunuhmu.”
Pernyataan yang tegas, memang Coat-taysu orang yang serba tegas, hatinya kaku, pendiriannya
tidak pernah goyah, perasaannya beku, membunuh orang tanpa kenal kasihan.
Ji-liong tersudut, tiada pilihan lain, “Baiklah.” Sambungnya kemudian, “Aku percaya padamu.”
Tinjunya mengepal, “Aku adalah orang yang kalian cari.”
“Jadi kaulah Ma Ji-liong.”
“Aku adalah Ma Ji-liong.”
Laki-laki setengah baya pemilik toko serba ada ini adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong menyerahkan
diri sendiri, mengkhianati diri sendiri. Kalau ada orang yang bertanya, “Kenapa kau menyerahkan
diri?” Ma Ji-liong pasti tak bisa menjawab, karena tidak mungkin ia bilang 'tidak kenapa' lagi.
Padahal Ji-liong sendiri tidak sadar, tidak tahu apa yang mendorong ia berbuat demikian. Mungkin
karena emosi? Atau karena darah yang mendidih di rongga dada? Karena setia kawan? Atau karena
kobaran semangat dan ingin menjebol belenggu keadilan yang tak terpecahkan?
Kenapa orang disebut manusia, karena manusia punya perasaan, punya peri-kemanusiaan. Peri
kemanusiaan yang paling diagungkan di dalam kemanusiaan itu sendiri justru sering tak bisa
dijelaskan, susah dimengerti.
Ma Ji-liong mengangkat kepalanya, cahaya mentari masih menyinari mukanya, “Kau tidak
mengenalku karena wajahku sudah dirias orang,” demikian ucap Ma Ji-liong. “Di sini aku
bersembunyi sebagai pemilik toko serba ada, cukup lama orang tidak menemukan jejakku.” Karena
tidak bisa memperlihatkan aslinya, terpaksa Ma Ji-liong membuka rahasia sendiri, soalnya Ji-liong
tidak mampu mencuci bersih atau merubah wajahnya yang sudah dipermak menjadi wajah Ma Ji-
liong yang asli. Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-long-nya telah merubah kulit wajahnya
dengan operasi yang tak mampu dilakukan orang lain. Namun rahasia ini tak mungkin Ji-liong
jelaskan secara terperinci, karena rahasia orang lain pantang ia bocorkan. Tapi dalam perkara yang
dihadapinya ini, Ma Ji-liong telah bicara dengan jujur, setiap patah kata adalah kenyataan. Maka ia
bertanya, “Sekarang, apakah kalian mau membebaskan mereka?”
Coat-taysu menoleh ke arah Pang Tio-hoan, Pang Tio-hoan juga sedang mengawasinya. Rona muka
mereka tidak kelihatan berubah.
“Bagaimana menurut pendapatmu?” tanya Coat-taysu.
“Bagaimana pendapatmu?” Pang Tio-hoan malah balas bertanya. “Kalau benar dia adalah Ma Ji-
liong, apa alasan dia berkorban untuk menolong Thiat Tin-thian?”
Koleksi Kang Zusi
“Ya, tiada alasan,” ujar Coat-taysu. “Sedikit pun tidak ada alasannya.”
Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Aku tahu kau tidak akan dapat menipu mereka, aku juga
tahu siapa pun takkan mau percaya obrolanmu.” Begitu keras ia tertawa sampai napasnya sesak,
mulut pun megap-megap.
Ma Ji-liong juga ingin tertawa, tertawa sepuas-puasnya, tapi ia tidak bisa tertawa. Ucapannya bukan
bualan, setiap patah kata yang ia ucapkan adalah kenyataan, tetapi tidak ada orang yang percaya
kepadanya. Bukankah kejadian ini amat lucu dan menggelikan? Kejadian yang mengundang gelak
tawa orang hingga air mata meleleh.
Kalau Ji-liong bisa tertawa, kalau air matanya meleleh, termasuk jenis apakah air matanya?
Thiat Tin-thian masih berloroh-loroh, tampak air matanya sudah meleleh di pipi, termasuk jenis apa
pula air matanya?
“Kau adalah keroco yang tidak diketahui asal-usulnya, tapi aku adalah Hoan-thian-hu-te, perampok
besar yang kejam, umpama jiwamu rangkap sepuluh juga takkan dapat menukar satu jiwaku, lekas
kau pergi saja.”
Ma Ji-liong membandel, dia tidak mau pergi.
Loroh tawa Thiat Tin-thian mendadak berhenti, mendadak ia meraung, “Kontrak dagangmu jelas
gagal, kenapa tidak lekas kau enyah dari sini?”
“Karena ia adalah kawanmu, kawanmu adalah sahabat baikmu,” dingin suara Coat-taysu. “Sebagai
sahabat baik, ia bertekad untuk mengiringi kematianmu di sini.”
Mendadak Thiat Tin-thian membalikkan tubuh, menatapnya dengan beringas, sorot matanya
memancarkan sinar gusar, ngeri dan panik. “Tadi kau bilang suruh dia pergi.”
“Ya, aku pernah bilang, kusuruh dia pergi.”
“Sekarang apakah kau tetap menyuruhnya pergi?”
“Bukan aku yang melarang dia pergi, tapi dia sendiri yang tidak mau pergi,” dingin suara Coat-
taysu. “Tidak pernah aku memaksa orang, maka siapa pun kularang memaksa dia pergi. Kalau ada
yang berani memaksa dia pergi, biar aku yang membunuhnya lebih dulu.”
Melotot bola mata Thiat Tin-thian, ujung matanya seperti hampir merekah, “Aku mengerti, aku
sudah mengerti.” Desis suaranya setengah memekik sedih, “Sekarang aku sudah tahu.”
“Kau tahu apa?” tanya Coat-taysu.
Gemertak gigi Thiat Tin-thian, tinjunya terkepal, desisnya geram, “Jiwamu sempit pikiran cupat,
hati kejam tangan gapah. Aku masih menganggap kau sebagai manusia lumrah, tapi kau tidak bisa
membedakan atau tidak mau membedakan salah dan benar, main bunuh habis perkara, aku tetap
menganggapmu sebagai manusia. Thiat Tin-thian malang melintang seumur hidup, tak terhitung
manusia yang terbunuh oleh kedua tanganku, bukan mustahil aku pernah salah membunuh orang
yang tidak berdosa, membunuh orang yang terfitnah, lalu apa artinya kalau suatu ketika aku juga
difitnah orang, umpama terpenggal batok kepala atau hancur luluh tubuhku juga lumrah.” Dengan
Koleksi Kang Zusi
nada tinggi dan beringas, ia meraung pula, “Tapi sekarang aku tahu, kenyataan membuktikan bahwa
kau bukanlah manusia.”
Coat-taysu mendengarkan sambil memicingkan mata, lalu ia bertanya, “Kau ingin melihat
kawanmu mati lebih dulu? Atau ingin membiarkan temanmu melihat kau mampus dengan konyol?”
Mendadak Thiat Tin-thian memekik keras, bagai serigala kelaparan ia menjejakkan kaki terus
menubruk dengan kalap ke arah Coat-taysu. Tenaganya sudah hampir habis, tapi tubrukan kalap
dengan sisa tenaganya ini seperti singa mengamuk.
Pada saat genting itulah, dari luar pekarangan mendadak berkumandang suara merdu yang
melengking tajam, “Semua orang ingin hidup sehat, kenapa di sini ada orang yang ingin mati?”
Di saat nada tinggi merdu itu bergema di udara, dari luar tembok tampak muncul segumpal halimun
tebal yang melayang kencang ditiup angin, halimun tebal warna hijau pupus yang melebar secara
cepat itu ternyata berbau harum seperti kembang melati.
Bila beberapa patah kata ucapan merdu tadi selesai diucapkan, halimun tebal tadi sudah berubah
menjadi kabut hijau yang berkembang luas, setebal asap cerobong tungku besar yang bergulung-
gulung ke empat penjuru. Padahal halimun hijau itu bukan kabut, kabut hijau itu bukan halimun.
Tak ada kabut warna hijau di dunia ini, tapi kelihatan bahwa yang tertiup oleh hembusan angin lalu
itu adalah kabut. Dalam jarak dekat, orang yang terbungkus dalam kabut tidak bisa melihat orang
atau keadaan di sekitarnya.
Seumpama Ma Ji-liong betul adalah Ma Ji-liong, tapi kalau dipandang dan diamat-amati ternyata
tidak mirip dan bukan Ma Ji-liong.
Bab 23: Orang Jujur Yang Tidak Jujur
Tubrukan nekat Thiat Tin-thian sebetulnya merupakan tubrukan mengadu jiwa dengan sisa tenaga
terakhir, sergapan yang akan menentukan mati atau hidup. Thiat Tin-thian sudah bertekad mati, rela
berkorban untuk menyelamatkan Ma Ji-liong, tetapi ia tidak mati, karena di saat tubuhnya terapung
di udara, tahu-tahu tubuhnya malah tertarik mundur ke belakang.
Ternyata berbareng dengan tubrukan Thiat Tin-thian itu, Ma Ji-liong juga menubruk di
belakangnya. Dengan kedua tangan ia cengkeram ikat pinggangnya serta menarik sekuat tenaga. Di
sana Coat-taysu juga sudah siap menyambut tubrukannya, tapi ia tidak jadi melontarkan
pukulannya.
Begitu suara merdu itu bergema, kabut pun datang, gerakannya pun terhenti, wajah yang semula
kaku mendadak menunjukkan mimik aneh, romannya kelihatan ganjil.
Hanya sekejap Coat-taysu sudah tidak melihat Thiat Tin-thian lagi, kabut hijau itu seperti
terhembus keluar dari mulut iblis raksasa, seakan-akan pekarangan kecil itu mendadak ditelan
bulat-bulat. Kecuali kabut tebal itu, apa pun tidak terlihat lagi.
Lekas Ma Ji-liong membawa Thiat Tin-thian pulang kembali ke toko serba ada miliknya itu.
Coat-taysu dan kawan-kawannya juga tidak bisa melihat apa pun, sudah tentu mereka tidak berani
sembarangan bertindak, demikian pula Ma Ji-liong yang seperti orang buta di tempat itu. Tapi
sebagai penduduk yang sudah sekian bulan tinggal di daerah itu, sedikit banyak ia sudah hafal
Koleksi Kang Zusi
keadaan sekelilingnya, apalagi ia pernah beberapa kali dolan ke rumah To Po-gi. Maka Ji-liong
tidak kuatir dirinya salah langkah seperti yang dikuatirkan Coat-taysu. Ia tidak takut dibokong, juga
tidak takut menumbuk tembok hingga tulang patah dan kepala bocor. Seorang yang sudah berani
mempertaruhkan jiwa raga, sudah siap berlaga dan mati di medan perang, lalu apa lagi yang
ditakuti? Dengan leluasa Ji-liong sampai di rumah tanpa kurang suatu apa pun.
-----------------------------------ooo00ooo--------------------------------------
Umumnya kalau orang tidur agak dini tentu bangunnya juga lebih pagi. Penduduk kampung itu
kebanyakan tidur sore-sore, biasanya begitu kokok ayam mulai bersahutan penduduk sudah banyak
yang bangun. Begitu fajar menyingsing, toko serba ada itu juga sudah buka pintu.
Tapi hari ini agak berbeda, keadaan tidak seperti biasanya.
Dengan menggendong Thiat Tin-thian, Ma Ji-liong melompat masuk lewat pintu samping.
Sebelumnya ia sudah putar kayun keluar masuk lorong-lorong kampung yang sempit, jorok dan bau
untuk menghilangkan jejak dari pengejaran musuh. Setelah yakin dirinya tidak dikuntit, langsung ia
berputar ke belakang dan melompat masuk dari tembok belakang.
Begitu diturunkan, Thiat Tin-thian tampak lemah dan lesu, mirip orang lumpuh. Walau sergapannya
tadi berhasil digagalkan oleh Ji-liong, tapi dia sudah terlanjur mengerahkan seluruh sisa tenaganya,
kini tenaga seperti lepas dari badan sehingga sekujur tubuh terasa lemas lunglai.
Waktu Ma Ji-liong menyeretnya lari tadi, terpaksa dia menurut saja, padahal dia tidak bisa
melupakan saudaranya, Thiat Coan-gi. Walau Thiat Coan-gi bukan saudara kandungnya, tapi
selama beberapa tahun belakangan ini mereka berjuang bersama dan bertempur berdampingan, mati
hidup juga harus bersama. Di antara dua saudara ini sudah terjalin ikatan batin yang kental,
persahabatan yang kekal, lebih kental dibanding kentalnya darah.
“Aku tak boleh meninggalkan Coan-gi di sana,” demikian desis Thiat Tin-thian waktu dirinya
digendong Ma Ji-liong. “Kita harus kembali dan menolongnya juga.”
Kalau saat itu putar balik bukan saja sudah tidak keburu, salah-salah jejak mereka bisa ketahuan
musuh pula.
“Yang diburu Coat-taysu bukan dia,” demikian bujuk Ma Ji-liong. “Sebelum kau jatuh ke tangan
mereka, mereka pasti tidak akan membunuhnya.”
Pekarangan belakang toko serba ada ini, bentuk dan luasnya mirip dan sama dengan pekarangan
rumah To Po-gi, cuma di sini tidak ada sumur. Di tengah pekarangan dibangun sebuah rumah
tambahan di mana Thio-lausit tidur. Kamar tempat tinggal Thio-lausit tampak terbuka, Thio-lausit
tidak berada di kamarnya, juga tidak ada di dapur, sementara pintu kamar mandi terpalang dari luar.
Umpama belum tidur pulas, Cia Giok-lun tentu terlena meski hanya sekejap, demikian batin Ma Ji-
liong. Perlahan-lahan dan dengan sangat hati-hati, Ma Ji-liong mendorong daun pintu, lalu
menyelinap masuk. Tiada gangguan atau suara lirih sekalipun yang dapat mengejutkan seseorang
sehingga terjaga dari tidurnya.
Setelah diturunkan, Thiat Tin-thian dibimbing duduk di kursi rotan di mana ia biasa duduk istirahat.
Lalu ia berlari ke toko untuk mengambil segentong garam dan sekeranjang telur ayam, ditaruh di
dekat Thiat Tin-thian. Bayangan Thio-lausit ternyata juga tidak kelihatan di dalam toko.
Koleksi Kang Zusi
Setelah melalap beberapa genggam garam dan dua butir telur ayam, keadaan Thiat Tin-thian
kelihatan lebih segar, barulah ia bicara, “Ini toko serba ada milikmu?”
“Ehm,” Ma Ji-liong mengiakan.
“Siapakah perempuan di atas ranjang itu?” tanya Thiat Tin-thian. “Binimu?”
Susah Ji-liong menjawab pertanyaan orang. Ia tidak ingin membohongi Thiat Tin-thian, namun ia
juga tidak tahu, pantaskah ia mengakui hal itu? Atau harus menyangkal? Hakikatnya ia tidak tahu
bagaimana harus menjawab.
Untung Thiat Tin-thian tidak bertanya lagi, ia menghela napas, “Seharusnya kau tidak membawa
aku ke tempat ini, tidak pantas aku berada di sini.”
“Bukan saja kau harus kubawa ke mari, aku pun harus menyelamatkan jiwamu.”
“Kenapa?” tanya Thiat Tin-thian tidak habis mengerti.
“Karena di sini ada seseorang yang mungkin dapat menyembuhkan lukamu.”
Bercahaya bola mata Thiat Tin-thian, betapa pun ia senang, bergairah dan menyala semangatnya.
Asal ada orang yang dapat menyembuhkan luka-lukanya, itu berarti ia punya keyakinan lagi untuk
menghadapi Coat-taysu, menuntut balas sakit hatinya. Dulu ia terlalu percaya diri, terlalu yakin
bahwa dirinya mampu dan kuat, sepenuh tenaga pukulan mengadu kekuatan melawan Coat-taysu,
umpama bukan tandingan juga harus gugur bersama. Kini setelah pengalaman membuktikan dirinya
bukan tandingan lawan, bahkan terluka parah lagi, maka Thiat Tin-thian tidak berani mengulangi
kesalahan, memburu keinginan yang belum pasti.
“Siapa yang dapat menyembuhkan lukaku?” ingin Thiat Tin-thian bertanya, tapi belum ia membuka
suara, seseorang sudah menyeletuk bicara.
Ma Ji-liong mengira Cia Giok-lun yang diam tak bergerak itu sudah tertidur pulas, tapi mendadak ia
bersuara, “Memang tidak pantas kau membawa orang ini ke sini. Ketahuilah, di sini pasti tiada
orang yang bisa menyembuhkan luka-lukanya. Kecuali keluarga Cia dan orang-orangnya, siapa pun
takkan dapat menolong jiwanya.”
“Tapi kau........”
Mendadak Cia Giok-lun melotot, serunya, “Aku bukan anggota keluarga Cia yang kau maksud, aku
adalah bini pemilik toko serba ada ini.”
Cia Giok-lun tahu, inilah kesempatan dirinya untuk memaksa Ma Ji-liong membeberkan kenyataan,
sudah tentu ia tidak mau mengabaikan peluang baik ini.
Mendadak Thiat Tin-thian berdiri, ia mencomot lagi beberapa genggam garam serta ditelannya, lalu
mencaplok dua butir telur ayam, “Biar aku pergi saja.” Lalu ia betul-betul melangkah pergi. Sudah
dua puluh tahun ia malang melintang, ia tahu di balik persoalan dan keadaan di rumah ini, pasti
terselip sesuatu yang tidak boleh dijelaskan. Ia tidak ingin menyudutkan Ma Ji-liong, membuatnya
serba susah. Ia tidak mau dan pantang membuat teman yang mempercayai dirinya susah.
Jikalau kau ingin bersahabat dengan seorang teman, kau harus mengukir perkataan ini di dalam
sanubarimu. Seorang kawan sejati, pasti tak membiarkan kawannya susah, apalagi menderita.
Koleksi Kang Zusi
Cia Giok-lun tidak memberi kesempatan Ma Ji-liong bicara, katanya, “Kau memang harus lekas
pergi, sekarang juga.”
Tidak dinyana Thiat Tin-thian malah duduk kembali, “Aku tidak boleh pergi.”
“Kenapa?” tanya Cia Giok-lun.
Jawaban Thiat Tin-thian justru ditujukan pada Ma Ji-liong. “Biar aku tinggal di sini. Bila mereka
meluruk ke mari, aku akan membantu kalian menghalau mereka atau mengadu jiwa.”
“Mencari aku?” Ji-liong menegas dengan bingung. “Mana mungkin mereka mencari aku?”
“Bukankah Ma Ji-liong adalah buronan mereka yang utama, maka sekarang kaulah orang yang
mereka cari dan uber.”
Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak mengerti.
Thiat Tin-thian menghela napas, katanya, “Apa kau kira mereka tidak percaya pada perkataanmu
tadi?”
“Kau kira mereka percaya?”
“Pasti percaya, percaya sekali.”
“Tapi, bukankah mereka tidak mau menerima usulku?”
“Jangan bodoh. Kalau mereka menerima usulmu dan mengakui bahwa kau benar adalah Ma Ji-
liong, maka mereka harus membebaskan kami berdua,” ujar Thiat Tin-thian sambil menyeringai
dingin. “Kita bertiga sudah terkepung, seumpama burung dalam sangkar, siapa pun tak mampu lari
atau meloloskan diri, kenapa mereka harus menerima persyaratanmu? Kenapa harus membebaskan
aku?”
Ma Ji-liong melenggong, berdiri menjublek sekian saat, mulutnya bungkam tak bisa tertawa.
Sekarang ia sadar dan mengerti, betapa keji dan culas hati manusia yang sudah berkecimpung di
Kangouw, lika-liku kehidupan kaum Bulim kadang kala sukar dibayangkan dengan nalar sehat.
Sejak tadi Cia Giok-lun diam dan mengawasi Ma Ji-liong, mendadak ia meronta bangun dan duduk,
serunya, “Jadi kau inilah Ma Ji-liong, penjahat besar yang buron itu?” Suaranya serak, “Kau inikah
Ma Ji-liong yang durjana dan sudah kelewat batas melakukan kejahatan itu?”
Darah seperti mendidih di rongga dada Ma Ji-liong, amarahnya berkobar, rasa penasaran membuat
ia naik pitam, “Betul, aku adalah Ma Ji-liong,” suaranya juga serak. “Aku adalah Ma Ji-liong,
keparat yang telah banyak melakukan kejahatan.”
Thiat Tin-thian menjublek di atas kursi.
Tahun-tahun belakangan ini, jarang ada kejadian apa pun di dunia ini yang bisa membuatnya kaget,
apalagi menjublek. Tapi perempuan ini seharusnya adalah bini Ma Ji-liong, kenapa dia tidak tahu
kalau Ma Ji-liong adalah Ma Ji-liong?
Ternyata Cia Giok-lun juga menjublek di tempatnya, lama sekali baru dia menarik napas panjang,
desisnya perlahan, “Kau bukan Ma Ji-liong.”
Koleksi Kang Zusi
“Akulah Ma Ji-liong, Ma Ji-liong tulen.”
“Kau bukan Ma Ji-liong, bukan Ma Ji-liong!” demikian teriak Cia Giok-lun, tegas suaranya. “Ma
Ji-liong adalah penjahat keji lagi telengas, perbuatan kotor apa pun berani dan pernah ia
lakukan......” Mendadak suaranya berubah halus dan lembut, “Tapi sudah tiga bulan dua puluh hari
aku tinggal di sini berdampingan denganmu, aku tahu dan yakin kau pasti bukan orang jahat, kau
alim dan bajik, jujur lagi.”
Ji-liong diam saja, ia memang tak mampu bicara, tenggorokannya seakan tersumbat. Sejak kasus ini
terjadi, ia sudah mulai biasa dihina, dicaci maki, difitnah. Rasa kasihan dan simpati orang lain
terhadapnya malah mengundang rasa sedih, murung dan masygul serta membuat hatinya mendelu.
Pada saat itulah di dalam toko mendadak terdengar suara orang, suara Thio-lausit. Ji-liong sungkan
berhadapan dengan Cia Giok-lun, maka ia segera memburu keluar.
Ternyata Thio-lausit memang ada di dalam toko, sedang menyapu lantai, gelagatnya ia siap
membuka toko.
Ma Ji-liong menatapnya beberapa kejap. “Kau sudah pulang?” tanyanya.
“Aku tidak pulang,” sahut Thio-lausit. “Aku tidak pernah keluar, kenapa harus pulang?”
Apa betul dia tidak keluar? Jelas tadi dia tidak berada di dalam rumah, juga tidak ada di dapur, di
toko juga tidak kelihatan bayangannya. “Tadi aku berada di kakus,” demikian Thio-lausit
menerangkan.
Padahal pintu kakus dipalang dari luar, itu berarti dia juga tidak berada di sana. Siapa pun pasti
maklum, orang yang membuang hajat tentu menutup dan memalang daun pintu dari dalam, hal ini
sudah diperiksa dan diperhatikan oleh Ma Ji-liong.
Setelah mengalami musibah ini, Ma Ji-liong sudah belajar banyak, sudah pandai memperhatikan
urusan-urusan kecil, karena sekarang ia sudah tahu, banyak urusan besar berhasil dilihat, dinilai dan
dibongkar dari urusan kecil yang tidak berarti. Kini diam-diam Ji-liong merasa bahwa pegawainya
yang setia ini ternyata tidak jujur.
Bab 24: Langganan Lama Dan Pemborong
Pada umumnya sebelum membuka pintu, toko serba ada perlu mengadakan pemeriksaan pada
barang-barang persediaannya, barang apa yang kurang dan perlu ditambah, menata kembali secara
rapi dan lain sebagainya, persiapan selalu diperlukan demi memberikan pelayanan yang baik.
Sebagai pegawai lama dan sudah berpengalaman, Thio-lausit setiap pagi mengerjakan semua itu
dengan rapi dan beres. Apalagi sudah delapan belas tahun sejak toko serba ada ini dibuka Thio-
lausit sudah bekerja di sini, ia rajin bekerja, jujur dan setia, pengadaan barang berada dalam
tangannya, kalau di dalam toko mendadak kehilangan segentong garam dan sekeranjang telur ayam,
tidak mungkin ia tidak tahu.
Tapi Thio-lausit justru diam saja, seperti sudah tahu di mana barang itu berada, maka ia bersikap
adem-ayem saja.
Kemarin sore turun hujan lebat, lumpur di jalan kampung itu cukup tebal dan becek. Sepatu Thio-
lausit juga kelihatan berlumpur meski sedikit, belum kering juga, ini menandakan bahwa barusan ia
berada di jalanan. Apa betul barusan ia keluar? Ke mana? Kenapa tidak berterus terang?
Koleksi Kang Zusi
Mendadak Ma Ji-liong sadar, bukan saja pegawainya ini tidak jujur, gerak-geriknya juga misterius,
aneh dan patut dicurigai.
Sudah dua kali Ma Ji-liong dihinggapi perasaan seperti ini.
Thio-lausit sudah siap membuka daun pintu.
Tapi baru saja tangan Thio-lausit menurunkan palang pintu, Ma Ji-liong mendadak berkata, “Hari
ini kita tutup toko saja.”
Thio-lausit menoleh dengan memiringkan kepala, katanya kemudian, “Apakah hari ini hari besar?”
“Bukan.”
“Hari ini kita merayakan sesuatu?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa kita tidak membuka toko?”
Sudah tentu Ma Ji-liong tidak bisa memberikan penjelasan, juga tak bisa mengarang cerita untuk
mencari alasan. Ji-liong memang bukan pembual. “Toko ini adalah milikku, aku yang berkuasa di
sini,” terpaksa Ma Ji-liong mengada-ada. “Kalau aku bilang hari ini tutup, maka toko tidak buka.”
Thio-lausit menundukkan kepala, beberapa kejap ia terpekur. Alasan yang dikemukakan
majikannya sebetulnya tidak tepat, tapi sebagai pegawai ia harus tunduk dan patuh pada perintah
majikan. Tapi nyonya majikan yang berada di kamar justru menentang.
“Hari ini toko kita tetap buka seperti biasa, apa yang ia katakan jangan dituruti.” Itulah suara Cia
Giok-lun. Di mana-mana, omongan juragan perempuan memang jauh lebih manjur, lebih
berwibawa dan disegani dibanding juragan sendiri.
Ma Ji-liong memburu masuk, ia mulai naik pitam, “Kenapa omonganku tak boleh dituruti? Kenapa
kau mencampuri urusanku?”
“Bukannya aku mencampuri urusanmu, tapi temanmu ini yang meminta aku turut campur,”
demikian sahut Cia Giok-lun.
Thiat Tin-thian berkata, “Toko serba ada ini harus dibuka seperti biasa.”
Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak mengerti.
“Sekarang mereka sudah tahu bahwa pemilik toko serba ada ini adalah Ma Ji-liong. Setiap saat
mereka bisa meluruk ke sini, kenapa aku harus membuka pintu mengundang mereka masuk?”
“Justru mereka sudah tahu kau ada di sini, maka kau harus tetap membuka toko seperti biasa.”
“Kenapa?”
“Kalau toko serba ada ini tutup, mereka pasti meluruk ke mari dan menerjang masuk dengan
kekerasan, dengan menjebol pintu,” demikian kata Thiat Tin-thian. “Biar kita buka saja pintu toko
Koleksi Kang Zusi
seperti biasa. Mereka belum tahu bagaimana keadaan kita di sini, aku berani menjamin mereka
takkan berani sembarangan bertindak.”
Dengan suara dingin Cia Giok-lun menimbrung, “Kelihatannya setiap orang yang ada di sini dapat
berpikir lebih cermat dibanding engkau.”
Terpaksa Ma Ji-liong mengancing mulut, terpaksa ia harus mengakui apa yang dipikir Cia Giok-lun
dan Thiat Tin-thian memang lebih cermat dan teliti, tapi bagaimana dengan Thio-lausit? Apakah
pegawai yang belum pernah berkecimpung di Kangouw ini juga memikirkan hal ini?
------------------------------------ooo00ooo-------------------------------------
Empat lembar daun pintu sudah diturunkan dan ditaruh di pinggir, toko serba ada dibuka seperti
biasa. Thio-lausit memegang sapu, melanjutkan pekerjaannya membersihkan lantai dan barang-
barang dalam toko dibetulkan letaknya, seolah-olah ia sudah menyadari sebentar lagi toko ini akan
dibanjiri pembeli yang royal membuang duit, maka ia rajin bekerja sebagai tanda hormat untuk
menyambut mereka.
Suasana di jalan kampung ternyata tenang-tenang saja, tidak terdengar suara apa pun.
Waktu Cukat Bu-hou (Cukat Liang) di jaman Sam Kok merancang muslihat kota kosong yang
terkenal itu, bukankah ia juga menyuruh tentara-tentara yang lanjut usia dan cacat badan untuk
membersihkan jalan dan membuka pintu kota untuk menyambut kedatangan Suma Gi?
Bukankah Suma Gi yang banyak curiga itu tak berani menerjang masuk ke dalam kota setelah
melihat keadaan itu?
Demikian pula peristiwa hari ini, bukankah seperti kenyataan dulu, padahal hikayat kuno itu sampai
sekarang masih sering dipuji dan diperbincangkan orang banyak, siapa pun mengacungkan jempol
memuji kecerdikan Cukat Liang. Pembuat karya cerita ini jelas juga seorang cerdik pandai.
Mendadak Thiat Tin-thian bertanya, “Orang yang menyapu di luar itu, apakah dia pegawaimu?”
“Ya, pegawai lama.”
“Orang macam apa dia?”
“Orang jujur, pegawai setia,” seolah-olah Ma Ji-liong sedang membohongi diri sendiri. “Ia bernama
Thio-lausit.”
Bercahaya bola mata Thiat Tin-thian, katanya, “Aku suka orang jujur.” Omongannya mengandung
arti 'hanya orang jujur yang bisa menipu orang-orang jahat, keji dan banyak curiga'. Ia menyeringai
dingin, “Coat-taysu yang terkenal di seluruh jagad sebagai kuncu itu, jelas adalah manusia rendah
yang jahat dan banyak curiga.”
Ji-liong meresapi perkataan orang, betapa berang hatinya.
“Ia percaya kalau kau adalah Ma Ji-liong, ia bisa membunuh Thiat Tin-thian lebih dulu baru
menjagal Ma Ji-liong. Kalau ia berani berbuat demikian, aku malah kagum dan memujinya,” Thiat
Tin-thian tertawa dingin, sambungnya, “Tapi ia tidak berani, di hadapan orang banyak ia tidak akan
melakukan perbuatan yang ingkar janji dan menjilat ludah sendiri, ia harus bersikap sedemikian
rupa supaya orang tahu bahwa ia betul-betul gembongnya yang membenci kejahatan.” Dengan
Koleksi Kang Zusi
kencang ia mengepalkan tinju dan mengacungkannya di atas kepala, “Sungguh gemas dan benci,
kenapa aku tidak dapat mencacah hancur Kuncu palsu itu, ingin aku memberantas jiwa munafik
orang-orang yang berkedok Kuncu.”
Mendadak Cia Giok-lun menghela napas panjang, katanya, “Sayang sekali kau tidak mampu
membunuhnya, tiada seorang pun Kuncu yang pernah kau bunuh, kau sendiri malah yang akan
mampus.”
Kenyataan memang demikian, siapa pun tidak akan membantah, kenyataan tak pernah kenal
kasihan. Betulkah kenyataan itu kejam?
Cia Giok-lun berkata pula, “Umpama mereka tak tahu keadaan di sini, belum berani sembarangan
bergerak, tapi toko serba ada ini tentu diawasi, sudah dikepung, jangan harap kalian bisa
meloloskan diri dari tempat ini.” Suaranya mengandung makna yang aneh. Entah merasa kasihan?
Sedih atau menyindir? “Kalian dipaksa menunggu di sini, aku pun dipaksa menunggu bersama
kalian. Tapi pasti, entah cepat atau lambat mereka akan menyerbu, bukan mustahil sekarang juga
sudah mengutus orang untuk menyelidiki keadaan di sini. Tidak sukar untuk mencari tahu keadaan
kalian, karena tempat ini adalah toko serba ada, siapa pun boleh ke mari pura-pura membeli ini dan
itu.” Dengan suara tawar, Cia Giok-lun melanjutkan, “Bila mereka meluruk datang, mungkin aku
harus mampus bersama kalian, aku akan mati konyol dan penasaran.”
Ini pun kenyataan, tidak bisa dibantah. Cia Giok-lun mengawasi Ma Ji-liong, “Aku tidak perduli
apa dulu kau pernah melakukan kejahatan. Aku ingin tanya kepadamu.” Pertanyaannya ini terasa
seperti pecut, “Kau menyeret aku ke dalam kancah ini, mati secara penasaran, apakah dalam
sanubarimu tidak merasa berdosa?”
Begitu pertanyaan itu dilontarkan, pecut seperti menghajar tubuh Ma Ji-liong. Tidak boleh, ia tidak
boleh berbuat dosa terhadap gadis yang tidak bersalah, maka Ma Ji-liong berkata, “Aku akan
memberitahu kepada mereka bahwa kau tidak bersalah, tidak tahu apa-apa, tiada sangkut-paut
dengan kasus ini.” Serak gemetar suaranya, lanjutnya, “Aku bisa mengantar kau keluar lebih dulu.”
Cia Giok-lun menyeringai dingin, “Ke mana kau bisa menyingkirkan aku? Mereka mau percaya
bahwa aku tidak terlibat dalam kasus ini? Agaknya kau ingin melihat mereka menyeret diriku
seperti mencincang anjing kurap ke tempat jagal? Supaya aku disiksa dan dikompas?”
Ma Ji-liong sudah merasa dirinya seperti disiksa dan dikompas, ia kehabisan akal, “Memangnya apa
yang harus dilakukan?”
“Bukan aku ini suka ribut dan bikin gara-gara, aku hanya menuntut beberapa hak milikku saja.”
“Hak milik apa? Apa yang harus kukembalikan?”
“Kembalikan wajah asliku, pulihkan kondisi badan dan ilmu silatku,” mendadak Cia Giok-lun
memekik dengan luapan amarah yang tak terbendung. “Entah dengan cara apa kau membuatku
begini. Jika kau seorang bajik, masih punya nurani, sekarang juga pulihkan keadaanku.”
Sudah tentu Ma Ji-liong mati kutu, mana mungkin ia mengembalikan apa yang dituntut oleh Cia
Giok-lun itu? Karena tak berani beradu pandang, Ji-liong melengos ke arah lain. Ia tahu dirinya
mirip maling kesiangan, dalam hati ia berharap gadis yang satu ini memegang cemeti, ia rela
dirinya dihajar dan disiksa dengan cara yang paling kejam daripada memikul beban batin yang tak
berujung pangkal.
Koleksi Kang Zusi
Di tengah keheningan itulah, tiba-tiba Thiat Tin-thian buka suara dengan nada rendah,
“Kelihatannya langganan pertama sudah datang untuk berbelanja.”
Setiap pembeli, entah siapa pun dia, mungkin adalah utusan Coat-taysu atau mata-mata yang
ditugaskan untuk menyelidiki keadaan di sini.
Otot hijau di jidat Thiat Tin-thian tampak merongkol keluar, “Coba kau dengar, dia membeli apa?
Apa betul membeli barang-barang keperluan yang dibutuhkan? Atau akan membeli jiwa kita?”
Yang datang adalah nyonya muda yang sedang hamil tua itu.
Sebelum keluar Ma Ji-liong sudah mendengar tawa cekikikan nyonya centil itu. Di sekitar kampung
ini, nyonya muda ini memang terkenal cerewet dan suka mencampuri urusan orang lain. Kecuali
suka mengobrol, ia juga perempuan yang paling suka tertawa.
Hari ini dia kelihatan riang, senyum lebar selalu menghiasi wajahnya, riang dan senang karena
benih-benih kehidupan yang dikandungnya genap sembilan bulan, tak lama lagi bakal lahir dari
rahimnya.
Ma Ji-liong tidak keluar, ia berdiri di belakang pintu. Terhadap orang yang satu ini, ia boleh merasa
lega. “Dia langganan lama yang tinggal di sebelah, setiap hari dia datang membeli ini itu.”
“Setiap hari datang? Membeli apa?” tanya Thiat Tin-thian.
“Paling sering membeli gula merah,” tutur Ma Ji-liong. “Ia berpendapat gula merah seperti Jin-som,
bukan saja dapat menambah kesehatan badan, juga bisa menyembuhkan berbagai penyakit.”
Orang biasa tidak mampu membeli Jin-som karena mahal harganya, terpaksa mereka membeli gula
merah. Jin-som dan gula merah sama-sama adalah kepercayaan hidup manusia, seperti orang yang
memuja malaikat dewata, ada pula yang memuja roh suci.
Di luar dugaan, nyonya muda yang hamil tua itu hari ini bukan membeli gula merah. Ma Ji-liong
mendengar ia sedang bicara dengan Thio-lausit, “Aku tahu kau pasti heran,” demikian katanya
merdu dengan cekikikan, “Karena hari ini aku tak membeli gula merah seperti biasanya.”
“Kau mau beli apa?” Thio-lausit bertanya.
“Beli garam,” sahut nyonya muda itu.
Di toko ini memang ada menjual garam, setiap keluarga setiap harinya membutuhkan garam, maka
tidak perlu dibuat heran kalau ada orang yang membeli garam.
“Beli berapa?” tanya Thio-lausit pula.
“Malam nanti aku akan membikin dendeng dan telur asin, makin asin makin enak, rasanya
tanggung lezat,” nyonya muda itu sengaja memberi penjelasan. “Aku beli tiga puluh kati garam.”
Setiap hari banyak penduduk kampung yang membeli garam untuk masak atau keperluan lain,
namun jarang ada yang sekaligus beli tiga puluh kati. Padahal toko serba ada di mana pun jarang
ada yang menyediakan garam lebih dari dua puluh lima kati, persediaan sebanyak itu pun sebulan
baru habis terjual.
Koleksi Kang Zusi
Suasana menjadi tegang di dalam rumah. Otot hijau di jidat Thiat Tin-thian tampak lebih besar.
“Suruh dia masuk ke mari,” desisnya dengan suara gemetar. “Kalau dia tidak mau masuk, bekuk
dan seret dia.”
Ma Ji-liong tidak bergerak dari tempatnya, ia hanya menggelengkan kepala.
“Kenapa kau tidak keluar?”
“Perutnya besar,” ucap Ma Ji-liong tegas.
Ada sementara persoalan dalam keadaan bagaimana pun tidak boleh dilakukan, tidak mau
melakukan. Biar mati tetap tidak akan dilakukan.
Tin-thian menatapnya sekian lama. Mendadak ia menghela napas dengan lesu, ujarnya, “Kau
memang orang yang baik, belum pernah aku melihat orang sebaik kau, sayang jarang ada manusia
seperti kau di dunia ini, umpama ada jumlahnya juga sangat sedikit.”
Tiba-tiba Cia Giok-lun juga menghela napas gegetun, katanya, “Betul, aku pun tak pernah melihat
orang sebaik dia.”
---------------------------------ooo00ooo-----------------------------------------
Nyonya muda itu sudah pergi sambil membusungkan perutnya yang besar. Thio-lausit sudah
memberitahu kepadanya, “Garam sudah terjual habis, persediaan belum datang, lebih baik nanti
sore kau kembali lagi.”
Sebelum pergi nyonya muda itu cekikikan geli. Agaknya ia merasa lucu, toko serba ada sampai
kehabisan bahan persediaan, tidak heran kalau ia cekikikan geli.
Thiat Tin-thian berkata, “Kau biarkan dia pergi, berarti kau memberitahu Coat-taysu bahwa aku ada
di sini, karena garam yang ada di toko ini diperuntukkan buatku.”
Sudah tentu Ma Ji-liong maklum dan tahu akan hal ini.
Thiat Tin-thian berkata pula, “Oleh karena itu, aku berani bertaruh, tokomu akan kebanjiran
pembeli, daganganmu akan laris.”
Ramalan Thiat Tin-thian memang menjadi kenyataan. Tak lama kemudian, pembeli kedua pun
datang. Orang ini adalah pemborong. Dengan lagak seperti cukong, ia melangkah masuk ke dalam
toko, katanya dengan suara agak rendah sambil bertolak pinggang, “Aku membutuhkan banyak
barang, persediaan barang apa saja yang ada di toko ini, semua kuborong.”
“Setiap barang yang tersedia di sini akan kau beli?” tanya Thio-lausit.
“Ya, semua kubeli,” ucap orang itu. “Semua kuborong.”
Bab 25: Ketemu Batunya
Kalau ada orang yang mau memborong dagangan, berarti jualannya laris. Dagang adalah dagang,
kau punya barang apa, orang beli apa, apa yang orang ingin beli, kau harus menjualnya. Berapa
banyak orang yang ingin beli, selama persediaan lengkap, kau harus melayaninya.
Koleksi Kang Zusi
Tampak oleh Ji-liong, roman muka Thiat Tin-thian mulai berubah, Ji-liong sendiri juga merasakan
air mukanya berubah.
Sayang ia tidak melihat roman muka Thio-lausit, namun ia mendengar Thio-lausit berkata, “Toko
serba ada ini tidak besar, namun persediaan yang ada tidak kecil jumlahnya. Barang yang kami
sediakan juga banyak ragamnya. Kau seorang diri mana mampu membawa sekian banyak?”
“Aku akan menyuruh orang bantu mengangkutnya dengan cikar,” demikian jawab pemborong itu.
“Kau sebut saja berapa harganya, aku akan bayar tanpa menawar, nanti akan kusuruh orang ke mari
mengangkutnya.” Suruh orang mengangkut, siapa yang akan disuruh mengangkut? Mengangkut
barang dagangan? Atau mengangkut jiwa mereka?
Ma Ji-liong tetap tidak mau keluar menghapi pemborong itu. Mendadak ia merasa adanya sesuatu
yang ganjil. Ia yakin Thio-lausit yang ada di luar mempunyai akal untuk melayani dan menghadapi
pemborong itu.
Didengarnya Thio-lausit sedang berkata, “Aku hanya pegawai toko. Urusan jual-beli dalam jumlah
sebesar itu, tak berani aku memutuskan.”
“Siapa yang bisa memberi keputusan?” tanya pemborong itu.
“Sudah tentu juragan kami,” sahut Thio-lausit.
“Juraganmu ada tidak?”
“Ada di dalam, kau boleh masuk dan langsung bicara dengan beliau.”
“Aku tidak mau masuk, suruh saja dia keluar.”
“Lho, kenapa kau tidak mau masuk?”
“Kenapa bukan dia saja yang keluar?” sikap pemborong ini mulai kaku dan ketus.
Jawaban Thio-lausit lebih ketus lagi, “Karena dia adalah juragan. Perduli juragan besar atau juragan
kecil, ia punya gengsi sebagai juragan.”
Pemborong itu agaknya kurang senang, katanya, “Kalau dia tidak mau keluar, aku batal membeli.”
Tiba-tiba Thio-lausit memberi pernyataan lantang, “Kau sudah datang ke mari, kau sendiri yang
menyatakan akan memborong seluruh isi toko ini, sebagai laki-laki, bicara mengapa plintat-plintut,”
demikian tegur Thio-lausit. “Oleh karena itu, kau harus masuk.”
Sepenuh perhatian Thiat Tin-thian mendengarkan percakapan mereka, sorot matanya menampilkan
rasa ragu, seperti menyelidik dan mengingat-ingat. Suara percakapan Thio-lausit berdua tidak lirih,
setiap patah kata terdengar jelas dari dalam, sebetulnya tidak perlu ia pasang kuping, apalagi
mendengarkan dengan seksama. Agaknya ia sedang membedakan, berusaha mengenali suara
pemborong itu, mungkin ia pernah mendengar atau kenal suara pemborong itu.
Ji-liong siap bertanya apakah ia tahu asal-usul pemborong itu, mendadak Thiat Tin-thian sudah
berseru, “Ong Ban-bu!” Suaranya tegang dan panik, “Awas, kedua lengan pegawaimu itu.”
Koleksi Kang Zusi
Dalam Bulim hanya ada satu Ong Ban-bu, Hun-kin-joh-kut-jiu dan Tay-lik-eng-jiau-kang yang
diyakinkan Ong Ban-bu menjagoi Kangouw, keculasan hati dan kegapahan tangannya serasi dengan
ilmu silat yang ia latih, kedua ilmu tunggal itu dikuasai dengan sempurna dan terkenal tak pernah
mendapat tandingan. Bila ia turun tangan, yang diserang adalah sendi tulang atau Hiat-to lawan
yang penting dan mematikan, lawan yang terserang kalau tidak lumpuh seketika, cacat seumur
hidup, jiwa pasti melayang.
Pemborong alias Ong Ban-bu yang berada di luar itu agaknya sudah turun tangan. Peringatan Thiat
Tin-thian terlambat. Belum habis ia bicara, Ji-liong sudah mendengar suara tulang patah. Suara
yang lirih, tapi cukup menusuk pendengaran, dari telinga langsung menusuk ke sanubari, menusuk
perut meresap ke tulang.
Seketika Ma Ji-liong merasa perutnya mengkeret, tubuhnya mengejang kaku, sendi tulang sekujur
badan mendadak linu. Perduli Thio-lausit seorang jujur tulen atau pura-pura jujur, jelek-jelek dia
adalah pegawainya, selama tiga bulan dua puluh satu hari hidup bersama di dalam satu rumah.
Anehnya kupingnya hanya menangkap suara tulang patah, tapi tidak mendengar jeritan atau keluh
kesakitan.
Hanya ada dua macam orang yang kuat menahan siksa dan kesakitan tanpa mengeluarkan jeritan.
Orang pertama adalah laki-laki yang keras kepala, keras tulangnya, teguh pendirian. Macam kedua
adalah orang yang sudah mati, atau orang yang mendadak semaput dan hampir mampus.
Ma Ji-liong sudah siap menerjang keluar, demikian pula Thiat Tin-thian sudah melompat berdiri
hendak menerobos keluar. Tapi sebelum mereka bergerak lebih lanjut, seseorang sudah menyelinap
masuk lebih dulu.
Orang ini masuk dengan mundur, lengannya tampak terjuntai sebatas sikut, ternyata sendi tulang di
sikut kirinya terpelintir putus. Saking kesakitan, peluh dingin bercucuran di selebar mukanya,
sekujur badan juga basah kuyup seperti ayam kecemplung ke air, namun dia menggertak gigi tanpa
merintih.
Orang ini memang laki-laki jantan, laki-laki sejati. Insan persilatan di Kangouw, siapa yang tidak
tahu bahwa Ong Ban-bu adalah laki-laki tabah, keras kepala dan tahan uji.
Yang berjalan mundur ke dalam bukan Thio-lausit yang mereka kuatirkan, sebaliknya Ong Ban-bu
yang lihai dan telengas, Ong Ban-bu yang tersohor karena Hun-kin-joh-kut-jiu tidak pernah
dikalahkan musuh, jago nomor satu yang termasyhur di Bulim, berkuasa di wilayah Hoay-lam, Ong
Ban-bu yang pernah memelintir putus lengan dan mematahkan tulang rusuk jago-jago kosen, tak
terhitung jumlah musuh yang kecundang di tangannya.
Sekarang lengannya malah yang putus, dipelintir oleh Thio-lausit, pegawai toko di sebuah kampung
yang tidak ternama. Sudah tentu ia amat penasaran, namun bukti menunjukkan bahwa lengan
kirinya putus. Demikian pula Thiat Tin-thian yang tahu pribadinya, Ma Ji-liong juga tidak percaya,
tidak menduga bahwa pegawainya itu ternyata memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Peristiwa yang dianggap tak mungkin terjadi sudah menjadi kenyataan. Memang tiada sesuatu yang
mutlak di dunia ini. Satu hal harus dicatat, diukir dalam sanubari setiap orang, kalau sesuatu yang
dianggap tidak mungkin terjadi suatu ketika betul-betul terjadi, maka akan merasa kaget, heran dan
menderita. Karena bila peristiwa yang dianggap tidak mungkin itu betul-betul terjadi, maka
peristiwa itu pasti mengundang siksa derita. Ada kalanya derita itu jauh lebih besar dibandingkan
siksa patah lengan atau putus kaki.
Koleksi Kang Zusi
-------------------------------ooo00ooo-------------------------------------
Bukan hanya mengunjuk rasa heran, rona muka Ong Ban-bu juga mengunjuk rasa sakit, kaget dan
takut. Selama hidup, belum pernah ia merasa takut seperti sekarang. Tapi pegawai toko serba ada
yang tak dikenalnya ini benar-benar membuatnya jeri.
Hun-kin-joh-kut-jiu (Gerakan Memelintir Tulang dan Mengunci Urat Nadi) dan Tay-lik-eng-jiau-
kang (Ilmu Cakar Elang Bertenaga Raksasa) adalah ilmu tunggal ciptaan Eng-jiau-ong (Raja Cakar
Elang) dari Hoay-lam yang tiada taranya. Ong Ban-bu adalah ahli waris murni Eng-jiau-ong yang
lurus, jago kosen nomor satu dari Hoay-lam-bun.
Tak pernah terbayang dalam benaknya, hari ini, di saat dirinya akan menggasak korban yang tak
dikenal dan tidak ternama ini, dirinya malah kecundang. Hanya satu gebrak setengah jurus, pegawai
toko ini sudah mengunci gerakannya dan menutup jalan mundur dirinya, sekaligus memelintir putus
lengannya.
Selangkah demi selangkah ia mundur, mundur karena didesak dan diancam oleh Thio-lausit,
mundur ke dalam rumah lewat pintu kecil yang berkain tirai itu.
Kain tirai menjuntai turun. Pegawai jujur yang bertampang biasa itu tidak kelihatan ikut masuk.
Ong Ban-bu terus mundur tanpa memperhatikan bahwa di belakang dan di sekitarnya ada beberapa
orang yang sedang memperhatikan dirinya, mengawasi dengan pandangan kaget, heran dan tak
habis mengerti. Sorot mata Ong Ban-bu kelihatan amat sedih, kesakitan yang amat sangat, matanya
lurus menatap ke depan seperti tidak melihat keadaan sekitarnya.
Mendadak Thiat Tin-thian maju selangkah seraya mengulurkan tangan menarik pundak orang
sehingga Ong Ban-bu jatuh terduduk di kursi rotan itu.
Semestinya Ong Ban-bu mengenal Thiat Tin-thian, mereka pernah menjadi teman baik, kawan
seperjuangan, tapi akhirnya mereka berselisih dan menjadi musuh bebuyutan, musuh besar jelas
lebih sukar dilupakan daripada kawan. Tapi ia seperti tidak kenal, tidak melihat orang yang berdiri
di depannya ini adalah Thiat Tin-thian, musuh yang ia segani dan takuti, seolah-olah matanya sudah
buta tapi melek, tidak melihat ada orang berdiri di depannya.
Keringat masih bercucuran dari jidatnya, membasahi selembar mukanya, mulutnya mengigau
seperti orang bermimpi, “Siapakah dia? Siapakah orang itu?”
Sudah tentu besar pula hasrat Thiat Tin-thian untuk mengetahui siapa sebenarnya pegawai toko itu,
maka ia berpaling dan bertanya pada Ma Ji-liong, “Siapa sebenarnya pegawaimu itu?”
Ma Ji-liong menggelengkan kepala, ia tidak bisa menjawab. Ia pun tidak tahu siapa dan bagaimana
asal-usul pegawainya. Ia hanya tahu pegawainya itu bernama Thio-lausit, seorang yang jujur dan
setia, tindak-tanduknya mirip orang linglung. Dulu ia tidak punya pengalaman gemilang, kelak juga
takkan punya masa depan cemerlang, seakan hidupnya cukup makan minum sampai mati di dalam
toko serba ada yang makin kotor dan jorok ini.
Tiada orang yang kenal asal-usulnya, namun hanya dalam segebrak saja ia mampu melumpuhkan
Ong Ban-bu, jago kosen yang sudah menggetarkan Bulim.
Ma Ji-liong juga tidak habis mengerti, maklum Thio Eng-hoat atau juragan toko serba ada yang
sekarang bukan juragan yang lama, demikian pula pegawai yang satu ini juga bukan Thio-lausit
yang asli, bukan pegawai lama yang jujur itu.
Koleksi Kang Zusi
Seharusnya Ma Ji-liong bisa menduga hal ini sejak mula, namun kenyataan memang susah
dimengerti, siapa sebetulnya pegawai ini. Ji-liong betul-betul tidak tahu.
-------------------------------------ooo00ooo----------------------------------------
Wajah Ong Ban-bu basah karena keringat, mulutnya terus mengigau, entah sudah berapa kali
mengulangi pertanyaan yang sama.
Mendadak Thiat Tin-thian mengayunkan tangan menggampar mukanya. Selama hidup Ong Ban-bu
mungkin tidak pernah digampar orang, apalagi setelah dia menduduki jabatan tinggi dari
perguruannya. Patah sikutnya betul-betul membuatnya patah semangat, malu dan jatuh mental,
sehingga dia mengigau seperti hilang ingatan. Namun tamparan Thiat Tin-thian cukup membuatnya
kaget dan sadar. Seperti orang baru terjaga dari mimpi yang lelap, dia celingukan melihat orang-
orang yang berdiri di sekitarnya. Begitu melihat Thiat Tin-thian, matanya lantas memicing,
bayangan ngeri terunjuk pada mimik mukanya. Kejadian masa lalu, kenangan lama segera
terbayang di dalam benaknya.
“Engkau........” desis Ong Ban-bu. “Engkau.......... di sini.”
“Ya, aku di sini,” suara Thiat Tin-thian seperti tertelan dalam tenggorokan, jelas ia juga teringat
akan masa lalu. “Seharusnya kau tahu kalau aku ada di sini.”
Beberapa kejap Ong Ban-bu mengawasi, sorot matanya berubah makin sedih dan tersiksa, katanya,
“Aku tahu kau ada di sini, aku ke mari juga lantaran ingin merenggut nyawamu. Aku tahu aku
pernah bersalah terhadapmu, aku pernah memfitnahmu, mengkhianatimu. Oleh karena itu aku
makin membencimu, hasratku lebih besar lagi untuk membunuhmu.” Cukup tegas apa yang ia
ucapkan, tapi kenyataan memang demikian.
Jika kau pernah mengkhianati orang, maka kau pasti membenci orang itu, kau akan berusaha
membunuh dan melenyapkan dia dari hadapanmu. Selama dia masih hidup, hatimu takkan pernah
tenteram. Selama hidup kau akan merasa berdosa, dibayangi oleh kesalahanmu sendiri. Setelah
keadaan berlarut sejauh itu, yang kau benci mungkin bukan dia lagi, tapi dirimu sendiri.
“Sepuluh tahun yang lalu,” demikian kata Ong Ban-bu dengan suara bergetar. “Aku pernah
memfitnah engkau, karena saat itu aku pernah melakukan kesalahan terhadapmu, aku takut kau tahu
perbuatanku yang terkutuk itu, maka........ maka aku ingin meminjam golok orang lain untuk
membunuh engkau.”
“Aku tahu,” kereng suara Thiat Tin-thian.
“Kalau betul kau tahu, kenapa tidak kau bunuh aku waktu itu?” sikap Ong Ban-bu kelihatan lebih
tersiksa. “Aku rela mati di tanganmu. Kalau waktu itu kau bunuh aku, nasibku takkan seperti ini.”
Ini pun kenyataan. Dapat gugur di tangan Hoan-thian-hu-te, rampok besar Thiat Tin-thian, jauh
lebih mending dibandingkan kecundang di tangan seorang pegawai toko.
Kekalahan yang terlalu fatal, teramat runyam, sangat mengenaskan. Thiat Tin-thian meresapi
perasaannya, tahu betapa besar derita batinnya. Pengalaman masa lalu sudah lewat, namun duka
lara tetap abadi sepanjang masa.
Di luar tidak terdengar suara apa pun, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Thio-lausit juga
tidak masuk, tetap di luar menjaga toko, mirip seorang jujur, duduk di kursi yang berada di pinggir
Koleksi Kang Zusi
pintu, bekerja rajin dan setia menunggu barang dagangan, tiada orang yang tahu bahwa dia seorang
jago silat kelas wahid yang memiliki ilmu silat tinggi.
Siapakah dia? Kenapa dia menemani Ma Ji-liong bersembunyi di toko ini? Mendadak Ma Ji-liong
menerobos keluar, hasratnya lebih besar untuk mendapatkan jawaban itu dibanding Thiat Tin-thian.
Thio-lausit duduk tenang dan tegak di atas kursi, di mana dia biasa duduk. Keadaan toko ini pun
seperti biasa, tapi keadaan di luar rumah justru berbeda dengan biasanya. Dalam waktu seperti itu,
biasanya jalan kampung yang jorok dan becek kalau hujan itu selalu ramai, di sana kucing di sini
anjing, keadaan biasanya ramai dan hiruk-pikuk. Meski jalan kampung ini dalam wilayah yang
berpenduduk miskin, tapi kehidupan di sini tetap diliputi suasana riang gembira. Namun keadaan
yang biasanya ramai itu kini berubah menjadi sepi lengang, bayangan seorang pun tidak kelihatan
di luar rumah, anjing dan kucing juga tidak tampak. Jalan kampung ini mendadak berubah menjadi
jalan mati, seperti tiada kehidupan di daerah sekitarnya.
Bab 26: Daerah Mati
Berbeda dengan lazimnya, toko serba ada yang satu ini tidak mirip dengan toko yang lain. Di toko
lain ada meja dan lemari kasir. Di sini hanya ada sejilid buku yang sudah lusuh dan luntur warna
sampulnya dan sebuah meja kecil yang berlaci satu untuk menyimpan uang--itulah meja kasir.
Ma Ji-liong menarik kursi lalu duduk di meja kasir. Dari tempat duduknya ia memperhatikan Thio-
lausit.
Seperti biasanya Thio-lausit tetap lugu, reaksinya lamban, wajahnya jarang menampilkan mimik
perasaan hatinya. Sekarang dia tetap dalam keadaan demikian. Kalau ada orang bilang dalam
sekejap tadi dia mampu mengalahkan Ong Ban-bu yang tersohor sebagai jago nomor satu dari
Hoay-lam, orang pasti tidak percaya.
Apakah wajahnya juga pernah divermak dengan tata rias Giok Ling-long dengan Giok-jiu-ling-
longnya?
Siapakah dia sebenarnya?
Ada beberapa tokoh besar dalam Bu-lim ini yang mampu mengalahkan Ong Ban-bu dalam
segebrak saja?
Lama Ma Ji-liong terpekur sambil memperhatikan orang ini. Mendadak ia membuka mulut
memanggil nama orang, “Toa-hoan.”
“Toa-hoan?” Thio-lausit tampak gelagapan, gerak-geriknya seperti orang linglung, “Kau minta Toa-
hoan (mangkuk besar)? Mangkuk besar ada di dapur, apa perlu aku mengambilnya?”
“Tidak,” sahut Ji-liong. “Toa-hoan yang kumaksud adalah nama seseorang.”
“O, nama orang?”
“Kau tidak pernah melihatnya?”
“Toa-hoan yang pernah kulihat adalah mangkuk besar--bukan manusia.”
Koleksi Kang Zusi
Ma Ji-liong menghela napas, perlahan ia berdiri lalu menghampiri sampai di depan orang.
Mendadak ia turun tangan, dengan dua jari telunjuk dan jari tengah ia mencolok kedua mata Thio-
lausit.
Mata Thio-lausit segera terpejam. Hanya itu reaksinya. Kecuali kedua matanya, sekujur badannya
tak memberi reaksi apa-apa.
Sudah tentu Ji-liong tidak menyerang sungguhan. Mendadak ia sadar bahwa dirinya adalah orang
bodoh. Umpama Thio-lausit betul adalah orang jujur, betapapun tentu sudah tahu bahwa juragannya
takkan turun tangan keji terhadap dirinya yang setia dan rajin bekerja, tiada alasan membuat dirinya
cidera, sudah tentu ia takkan berhasil memancingnya mengeluarkan ilmu silat.
Ditanya tidak menjawab, dicoba juga gagal, lalu dengan akal apa baiknya? Di kala Ma Ji-liong
sedang bingung, tidak tahu bagaimana ia harus bertindak lebih jauh, dilihatnya ada dua orang
mendatangi dari ujung jalan kampung sebelah timur.
-------------------------ooo00ooo------------------------
Tok, tok, tok itulah suara sentuhan tongkat kayu yang beradu dengan tanah, dari kejauhan sudah
terdengar jelas.
Yang datang ada dua orang, dua-duanya timpang, maka kedua orang ini memakai tongkat. Kalau
dipandang dari jauh, badan bagian atasnya saja, kelihatan seperti terdiri satu orang.
Maklum wajah, pakaian, sikap dan bentuk tubuh mereka mirip satu dengan yang lain, seperti pinang
dibelah dua, keduanya sama-sama memiliki kaki yang cacat, buntung dan tergantung di udara,
betapa jijik dan jelek tampaknya.
Tapi rona muka dan sikap kedua orang cacat ini amat serius, sinar mata mereka dilembari
keyakinan. Hanya ada satu perbedaan dari kedua orang ini, cacat kaki mereka yang satu di sebelah
kiri, yang lain di sebelah kanan.
Melihat keadaan kedua orang ini, Ma Ji-liong lantas teringat kisah lama, kisah yang sudah lama
tersiar luas di kalangan Bu-lim, yaitu dua tokoh besar yang sudah punya nama gemilang di masa
silam. Di ujung utara Sing-siok-hay di puncak Kun-lun san, ada sepasang saudara kembar yang
cacat badannya, mereka bernama Thian-jan dan Te-coat.
Karena cacat, mereka berjiwa aneh, sepak terjangnya menyeleweng dari kebiasaan umum, demikian
pula ilmu silat mereka juga serong, murid-murid yang mereka terima juga harus saudara kembar
yang cacat pula, anak-anak kembar dan cacat sejak dilahirkan.
Kaum persilatan angkatan tua banyak yang tahu tentang mereka, namun jarang ada yang pernah
melihat atau berhadapan langsung dengan mereka. Murid-murid Sing-siok-hay juga jarang
berkecimpung di Kangouw. Sudah beberapa tahun belakangan ini, tidak ada murid mereka yang
datang ke Kanglam.
Berita yang tersiar luas di luar itu simpang siur, berbeda satu dengan yang lain. Ada sementara
pihak yang bilang, pakaian murid-murid Sing-siok-hay mewah lagi mahal. Namun potongan atau
modelnya lucu dan tidak lazim dipandang mata. Malah katanya ada murid Sing-siok-hay yang
mengenakan jubah mutiara, maksudnya jubah yang dibuat dari rangkaian mutiara besar kecil.
Maklum cacat badan membuat mereka rendah diri, aneh dan suka melakukan sesuatu yang
Koleksi Kang Zusi
menonjol, mereka senang menonjolkan diri dengan cara-cara yang tidak lumrah bagi pandangan
manusia normal.
Berbeda dengan kedua pemuda cacat ini, pakaian mereka biasa saja, tiada sesuatu yang luar biasa
pada kedua pemuda ini, tak berbeda banyak dibandingkan manusia umumnya.
Konon murid-murid Sing-siok-hay hanya boleh berkecimpung di Kangouw setelah mereka lulus
ujian. Bila guru mereka beranggapan mereka cukup tangguh dan takkan kalah melawan jago-jago
silat aliran lain, baru mereka diizinkan turun gunung, mengembara di Bu-lim mencari pengalaman.
Sebagai orang cacat, dalam meyakinkan ilmu silat sudah tentu jauh lebih sukar, makan tenaga dan
memeras otak, jauh lebih menderita. Bila mereka lulus ujian dan mulai berkecimpung di Kangouw,
tentu usianya sudah cukup tua.
Tapi kedua pemuda cacat kembar ini masih muda, gagah dan tampan, paling banyak berusia 24
tahun. Mungkinkah dalam usia semuda itu mereka mampu meyakinkan ilmu tunggal Sing-siok-
hay? Sudah yakin bahwa mereka tak terkalahkan?
Semua yang diuraikan di atas adalah berita yang tersebar luas di kalangan Kangouw, namun berita
itu sudah meresap, sudah berakar di sanubari orang-orang yang pernah mendengar tentang kisah
mereka, kejadian sering kali lebih nyata dari sesungguhnya, jauh lebih mudah diterima oleh orang
lain.
Ketika suara tongkat berhenti, kedua orang itu pun sudah berada di depan mata. Ma Ji -liong
bangkit perlahan, lalu berputar menghadapi mereka. Dalam hati ia menduga, bahwa kedua pemuda
cacat ini memang benar adalah murid Sing-siok-hay, tapi ia bertanya dengan suara lantang, "Kalian
mau membeli apa?"
"Kami tidak akan berbelanja," yang cacat kaki kirinya berbicara lebih dulu, lalu yang kaki kanannya
cacat menimbrung,"Kami hanya ingin melihat-lihat dan membuktikan sebetulnya kau ini orang
macam apa, dengan cara apa kau mampu menawan Ong Ban-bu?" Mereka bicara blak-blakan, terus
terang menyatakan maksud kedatangannya, tidak bermuka-muka juga tidak pasang aksi.
"Aku she Sun bernama Ca," yang cacat kaki kirinya bicara. "Dia adalah saudara kembarku,
bernama Sun Jia."
"Soalnya aku dilahirkan sedikit lambat," yang cacat kaki kanannya menambahkan.
Nama mereka sangat sederhana, nama yang umum dan sering terdengar di kalangan rakyat jelata,
tidak seperti murid-murid Sing-siok-hay yang sering berbuat aneh, mengada-ada dan tindak-
tanduknya misterius.
Sun Ca berkata, "Kami terlihat seperti murid-murid Sing-siok-hay."
Sun Jia meneruskan pula, "Oleh karena itu, kau pasti juga beranggapan bahwa kami adalah murid
Sing-siok-hay."
"Tapi kalau kau beranggapan demikian, kau keliru," ucap Sun Ca. "Dengan Sing-siok-hay,
hakikatnya kami tidak punya hubungan."
"Sepuluh tahun yang lalu, pernah kami meluruk ke Sing-siok-hay," Sun Jia berkata. "Kami juga
ingin mencari orang aneh yang diagulkan dalam berita itu, kami mengharap beliau suka mengajar
Koleksi Kang Zusi
ilmu silat yang lihai kepada kami, supaya kami memiliki kepandaian yang tiada taranya dan malang
melintang di dunia Kangouw."
"Tapi kami amat kecewa, kami gagal menemui mereka."
"Puncak gunung itu hanya tanah belukar yang tidak pernah dijelajahi manusia. Musim panas
mentari amat terik laksana bara, musim dingin hawa membuat beku tulang sumsum, orang biasa
jelas takkan hidup di tempat itu."
"Kami menjelaskan tentang kenyataan ini, hanya supaya kau tahu ilmu silat yang kami yakinkan
sekarang adalah berkat latihan kami sendiri, latihan yang rajin dan tekun."
"Oleh karena itu, kau tak usah kuatir dan jangan menganggap kami orang cacat, maka kau sungkan
turun tangan."
Ma Ji-liong mendengarkan mereka bicara sampai habis, dalam hati ia meresapi sesuatu. Mereka
adalah anak-anak muda, mereka tidak pura-pura, tidak bermuka-muka, tidak bertingkah, bersikap
tegas tidak aleman dan sungguh-sunguh. Mereka ingin memperjuangkan hidup sendiri, mengangkat
nama tanpa mendapat bantuan pihak lain. Walau mereka cacat badan, ternyata tak rendah diri, juga
tidak uring-uringan dan gampang mengumbar adat.
Ma Ji-liong tidak ingin bermusuhan dengan kedua pemuda cacat ini. " Aku tidak ada maksud
menahan kalian," katanya dengan suara tawar. "Setiap waktu kalian boleh datang ke mari, juga
boleh pergi sesuka hati kalian."
Mereka tidak pergi. Sepasang kembar yang cacat ini menatap Ji-liong dengan pandangan yang
sama, tajam dan mengancam, sorot mata mereka tampak ganjil.
Sun Ca pula yang membuka suara lebih dulu, "Kami tahu dan merasakan, kau tidak menganggap
kami sebagai musuh. Sayang sekali kau adalah Ma Ji-liong. Kalau orang lain, kami ingin bersahabat
denganmu."
"Ternyata kau bukan manusia rendah budi, bukan orang jahat yang berhati kejam seperti yang
mereka gambarkan," demikian ucap Sun Jia. "Sayang sekali kau adalah Ma Ji-liong yang harus
dibekuk dan dihukum."
Dua saudara kembar ini sama-sama menghela napas, sama-sama membalik badan, "tok, tok, tok",
tongkat mereka berbunyi serempak, agaknya mereka siap meninggalkan tempat itu, seakan-seakan
mereka segan atau tidak akan bermusuhan lagi dengan Ma Ji-liong. Tapi mereka tidak keluar,
karena di saat tongkat mereka bergerak ketiga kalinya, baru saja ujung tongkat menyentuh lantai,
tangan Thio-lausit mendadak bergerak.
Ma Ji-liong hanya mendengar desir angin tajam memecah udara, dua batang tongkat yang dipegang
dua saudara kembar itu mendadak patah persis di bagian tengah, menyusul dua benda kecil
menggelundung jatuh bersama tongkat yang patah itu. Waktu Ji-liong melirik ke sana, ternyata dua
butir kacang tanah yang mematahkan tongkat kayu sebesar lengan bayi itu.
Thio-lausit gemar minum arak, kacang tanah adalah kawan intim bagi seorang yang suka minum
arak, makan kacang supaya tidak lekas mabuk.
Koleksi Kang Zusi
Di atas meja Thio-lausit selalu bertumpuk kacang tanah. Thio-lausit mampu menimpuk patah
tongkat kayu sebesar lengan bayi yang montok, padahal dibacok golok pun tongkat itu takkan putus
seketika.
Sun Ca dan Sun Jia tidak menduga. Walau mereka tidak jatuh karenanya, mereka masih berdiri
dengan sebelah kakinya yang utuh, bendiri tegak seperti terpukau atau berakar di bumi. Tapi roman
muka mereka tampak berubah hebat, demikian pula rona muka Ma Ji-liong juga berubah. "Apa
yang kau lakukan?" serunya spontan.
"Terpaksa aku harus menahan mereka," sahut Thio-lausit, wajahnya tidak menunjukkan perubahan
apa-apa. "Kau tak mau bertindak, biar aku yang menahan mereka."
Ma Ji-liong tidak sempat bertanya 'kenapa' lagi, karena dalam sekejap mata, ia merasakan
datangnya perubahan pada ujung jari tangan dan kaki, mulut serta ujung mata dan setiap tempat
yang peka. Begitu cepat perubahan terjadi, kejap lain ia merasakan juga badannya mulai kejang dan
pati rasa.
Hanya sekejap setelah tongkat mereka patah, Sun Ca dan Sun Jia tiba-tiba melambung tinggi ke
udara. Meski hanya menjejak dengan sebelah kaki, tapi tubuh mereka meluncur kencang bagai
panah ke arah luar pintu.
Walau cacat badan, tapi di kala tubuh mereka melesat di udara, bukan saja gayanya indah,
kecepatannya pun bagai elang mengejar burung dara. Meski kedua pemuda ini tuna raga, dari
gerakan itu dapat dinilai betapa tinggi Ginkang mereka, jarang ada jago silat semuda mereka dapat
menandingi kemampuannya.
-------------------------ooo00ooo------------------------
Menurut cerita, dalam jangka tiga ratus tahun mendatang, orang yang mempunyai telinga paling
tajam di seluruh dunia persilatan adalah seorang tuli. Seorang tuli benar-benar, tuli tulen, namun
dalam jarak tiga puluh tombak, dia bisa mendengar bisikan orang (baca Pukulan Si Kuda Binal).
Maklum dia bukan mendengar dengan telinga, tapi mendengar dengan mata. Cukup dia melihat
gerak bibir seseorang, bentuk mulut waktu orang bicara, maka dia dapat mendengar apa yang
diucapkan orang itu. ltulah ilmu tunggal orang tuli itu, kepandaian khusus yang tidak mungkin
dimiliki atau diyakinkan orang lain, ilmu hasil latihan dan gemblengan berat. Karena dia tuli, maka
dia berhasil meyakinkan ilmu tunggal yang tiada bandingannya.
Seseorang bila tubuhnya mempunyai ciri, entah ciri apa pun, jika dia bisa memanfaatkan
kekurangannya sendiri, sering terjadi usaha yang tak kenal lelah, jerih payahnya akan
mendatangkan sukses yang gemilang.
Bahwa Sun Ca dan Sun Jia yang tuna raga mampu meyakinkan Ginkang setinggi itu juga lantaran
mereka tapa daksa. Karena tahu dirinya tuna raga, maka mereka mau menggembleng diri, latihan
yang mereka lakukan jelas lebih sukar, lebih berat dan lebih menyiksa.
Secara mendadak tubuh mereka melambung tinggi begitu saja, seperti kaki mereka dipasang pegas,
gerakan keduanya pun serasi, cepat, indah lagi mempesona.
Gerak tujuan mereka ke arah luar pintu. Namun di saat tubuh mereka melorot turun, ternyata
kakinya tetap menginjak lantai di dalam toko. Begitu kaki anjlok ke bawah dan menginjak tanah,
lalu tak mampu melompat lagi. Bukan hanya tidak mampu melompat, mereka pun tidak bisa
Koleksi Kang Zusi
bergerak, berdiri kaku seperti patung, ada empat Hiat-to di tubuh mereka tertutuk. Delapan butir
kacang tanah menggelinding di lantai.
Tokoh silat kosen yang memiliki kepandaian sejati, meski hanya menggunakan kelopak kembang
juga dapat melukai musuh, maka tidak perlu beran bila dengan kacang tanah seseorang yang
memiliki ilmu silat tinggi dapat menutuk Hiat-to di tubuh orang.
Namun belum ada orang tahu bahwa Thio-lausit yang pegawai toko ini adalah seorang jago kosen
yang memiliki kepandaian tinggi.
Kapan dan bagaimana Thio-lausit menyambitkan kacang tanah, bagaimana pula Sun Ca dan
saudara kembarnya kecundang? Ma Ji-liong tidak tahu, juga tidak sempat menyaksikan karena
keadaan dirinya juga sudah gawat, pandangannya mulai kabur, sekujur badan sudah mengejang
kaku.
Ma Ji-liong tak merasakan, Thio-lausit segera berdiri dan menghampiri dirinya, dari dalam kantung
Sun Ca dia merogoh keluar sebotol obat. Dari botol kecil itu ia menuang dua butir pil lalu dijejalkan
ke mulut Ma Ji-liong, selang beberapa saat kemudian baru Ma Ji-liong mulai pulih kesadarannya.
Sikap Thio-lausit biasa saja, tidak menunjukkan rasa tegang, senang atau kaget, namun ia bertanya
dengan suara tawar, "Sekarang tentu kau sudah tahu kenapa aku menahan mereka."
Ma Ji-liong sudah tahu. Ada beberapa adegan tidak sempat ia saksikan tadi, tapi ia maklum banyak
peristiwa yang terjadi di dunia ini, tak usah kau saksikan sendiri pun kau bisa maklum sendiri.
Ia maklum kenapa dirinya mendadak kejang dan pati rasa, karena terkena racun jahat yang
ditaburkan Sun Ca dan Sun Jia. Jenis racun yang tidak kelihatan, tidak bisa dirasakan dan tidak
berwarna, ternyata lihai juga saudara kembar cacat ini menggunakan racun. Apa yang mereka
ucapkan tadi mungkin setulus hati, hanya omongan jujur untuk menarik perhatian orang, hanya
dengan bersikap jujur maka lawan dapat dibuat lena.
Di kala mereka bersikap tidak bermusuhan, saat itulah mereka menyerang dengan cara mereka yang
khas dengan racun jahat. Tanpa bayangan, juga tidak menunjukkan gerakan yang mencurigakan.
Umpama orang menganggap orang lain sebagai teman baiknya, tanpa hubungan yang baik, takkan
ada kesempatan dia mengkhianati temannya itu.
-------------------------ooo00ooo------------------------
Bukan berarti Ma Ji-liong tahu jelas duduknya persoalan, tapi setelah ia bisa buka suara, ia lantas
berkata, "Bebaskan mereka, sekarang juga biarkan mereka pergi."
"Kenapa kau melepaskan mereka?" tanya Thio-lausit heran.
"Karena aku adalah Ma Ji-liong. Karena melaksanakan tugas, mereka pantas berbuat demikian."
Mereka juga masih muda, sepak terjang anak muda umumnya memang demikian, mereka ingin
terkenal, mendapat kedudukan dan disegani, ingin menjadi orang yang sukses, orang besar, maka
mereka tidak salah. Seorang pemuda harus punya cita-cita, mengejar nama, maka usahanya itu pasti
tidak salah.
Koleksi Kang Zusi
Setelah Hiat-to yang ditutuk di tubuhnya dibebaskan, Sun Ca dan Sun Jia segera beranjak keluar,
Waktu berjalan pergi, Sun Ca dan Sun Jia tidak berpaling, melirik pun tidak ke arah Ma Ji-liong,
mereka juga tidak menghaturkan terima kasih.
Ma Ji-liong juga sengaja melengos ke jurusan lain, ia tidak ingin menambah beban batin dan rasa
malu mereka. la bertanya pada Thio-lausit, "Apa betul kau tidak pernah melihat Toa-hoan? Juga
tidak tahu siapa dia? Apa betul kau sudah menjadi pegawai toko serba ada ini selama delapan belas
tahun?"
Thio-lausit tidak menjawab, ia membungkuk badan memungut kacang tanah yang berserakan di
lantai, satu persatu diambil, dikuliti dan langsung dijejalkan ke dalam mulut. Sambil mengunyah
kacang tanah di dalam mulutnya, ia menghela napas, lalu bergumam, "Persoalan yang harus dia
ketahui tidak ditanyakan, kepada siapa dia harus bertanya juga tidak diperhatikan, malah bertanya
persoalan yang tak berguna kepadaku."
"Aku tahu aku harus bertanya kepada Ong Ban-bu," demikian ucap Ma Ji-liong. "Berapa banyak
orang mereka yang meluruk ke tempat ini? Siapa pemimpinnya dan tokoh-tokoh silat siapa saja
yang ikut datang? Begitu?"
"Kalau sudah tahu, kenapa tidak kau tanya kepadanya?"
"Karena pertanyaanku yang kuajukan kepadamu kurasa lebih penting."
"Penting, apanya yang penting?" Thio-lausit menghela napas pula. "Memangnya kenapa kalau aku
pernah melihat Toa-hoan? Bagaimana pula kalau tidak pernah melihatnya? Kenapa kau justru
bertanya hal ini?"
"Karena aku ingin tahu sekarang dia di mana," tegas jawaban Ma Ji-liong. "Aku benar-benar ingin
tahu."
"Dia ada di mana, apa sangkut-pautnya denganmu?"
"Sudah tentu ada sangkut-pautnya," Ma Ji-liong menatap Thio-lausit. "Jika kau juga pernah
merindukan seseorang, kau pasti tahu dan maklum perasaanku sekarang.”
Wajah Thio-lausit tetap tidak menunjukkan perubahan apa-apa, tapi sisa kacang tanah yang masih
digenggam di telapak tangannya mendadak berjatuhan di atas lantai. Bergegas ia berjongkok
memungutinya lagi, seperti sengaja menghindari tatapan mata Ma Ji-liong yang tajam dan hangat
bagaikan bara.
Di saat Ma Ji-liong berdiri menjublek, dari dalam rumah berkumandang teriakan Cia Giok-lun,
"Kalau kau ingin tahu tentang Toa-hoan, kenapa tidak kau tanya kepadaku."
Bergegas Ji-liong melangkah ke dalam. Di saat ia membalik badan menutup kain tirai, mendadak
dilihatnya sebaris orang dengan derap langkah lembut masuk ke jalan kampung dari arah utara.
Barisan ini terdiri dari 28 orang, muda, kekar, gerak- geriknya lincah dan tangkas, gerak kaki dan
tangan mereka amat rapi dan rata. Ke-28 pemuda itu seluruhnya berpakaian hitam ketat dengan
potongan dan model yang sama, dengan gerak kaki setinggi lutut berderap maju dengan rajin,
tangan kiri mereka menjinjing kantong kain hitam yang bentuk dan besarnya sama.
Koleksi Kang Zusi
Apa isi kantong kain hitam itu? Apa kerja ke-28 pemuda berpakaian hitam itu di tempat ini? Setiap
orang pasti tertarik dan ingin tahu bila melihat barisan serapi itu. Yang sedang ber jalan menoleh,
yang sedang bekerja berhenti, semua memperhatikan barisan yang menyolok pandangan, entah apa
maksud kedatangan mereka.
Ternyata Ma Ji-liong tidak peduli, dia tetap melangkah ke dalam. Hanya sekilas ia menoleh dan
menatap keluar, lalu menyingkap tirai menyelinap masuk. Kecuali Toa-hoan, orang lain, urusan
lain, seperti tidak menarik perhatiannya.
Cia Giok-lun meronta berduduk, mimik mukanya kelihatan aneh, entah marah, derita atau
penasaran? Mungkin juga sedih? Berbagai perasaan campur aduk dalam relung hatinya. Dengan
melotot ia mengawasi Ji-liong. "Kau kenal Toa-hoan? Bukankah kalian bersekongkol, mengatur
rencana busuk ini untuk mencelakai aku?"
Ma Ji-liong diam, tidak menyangkal, juga tidak membantah. Ia tidak ingin berdebat. Dalam keadaan
seperti ini ia tidak bisa menyangkal, juga tidak perlu menyangkal.
Jari-jari Cia Giok-lun yang kurus kering itu mencengkeram ujung selimut kapas yang tebal itu,
kelihatan tubuhnya gemetar.
"Selama beberapa bulan ini, kau selalu merindukan dia?" suara Cia Giok-lun berubah serak terisak.
"Tiga bulan lebih kau mendampingi aku, tapi setiap hari kau malah merindukan dia?"
Ma Ji-liong tidak mungkir, hal ini memang tidak perlu dibantah.
Tubuh Cia Giok-lun berguncang lebih keras. "Kenapa kau merindukan dia? Apa kau mencintai
wanita jelek itu?"
Pertanyaan ini setiap hari mengganjal dalam benak Ma Ji-liong. Kenapa aku selalu merindukan dia?
Apa betul aku sudah kasmaran kepadanya? Kalau lagi kasmaran, maka perasaannya bukan lagi
suka, tapi dirinya sudah jatuh cinta. Karena cinta maka ia kuat bertahan sekian lama
menyembunyikan diri sebagai pemilik toko serba ada, karena cinta pula sehingga amat keras dan
begitu besar rasa rindunya. Tapi hal ini tak pernah Ji-liong pikirkan, Ji-liong memang tak habis
mengerti, kenapa dirinya punya pikiran demikian.
Mendadak Cia Giok-lun menghentikan isak tangisnya, badan juga tidak gemetar lagi, jengeknya
sambil menyeringai dingin, "Ingin tidak kau tahu siapa dia?"
"Ingin sekali," jawab Ma Ji-liong dengan tegas, tanpa tedeng aling-aling.
"Jika kau tahu siapa dia sebenarnya, aku yakin kau akan kecewa;"
"Tidak, pasti tidak," tegas dan jelas jawaban Ma Ji-liong. "Peduli siapa dia, sikapku terhadapnya
takkan pernah berubah."
"Baiklah, biar kujelaskan," suara Cia Giok-lun seperti memekik. "Dia adalah babu di rumahku."
Ma Ji-liong tetap bersikap tenang dan wajar, "Kau adalah Toa-siocia, nona besar, dia adalah
babumu. Engkau seorang gadis cantik, sebaliknya dia buruk rupa. Tapi peduli kau siapa dan dia
siapa, aku tetap merindukan dia." Habis bicara ia beranjak keluar pula.
"Kembali kau!" pekik Cia Giok-lun. "Masih ada yang akan kuberitahukan kepadamu."
Koleksi Kang Zusi
Ma Ji-liong tidak berbalik, juga tidak berpaling. Apa pun yang akan dikatakan Cia Giok-lun, ia
tidak mau mendengar lagi.
Dengan gemas Cia Giok-lun menjatuhkan diri, menyusupkan kepala ke bawah bantal, lalu
menangis gerung-gerung, menangis dengan sedih. Sebagai Toa-Siocia, atau nona besar, ia memang
amat binal, lebih brengsek dibandingkan putri raja, lebih agung dibanding bidadari. Belum pernah
ada orang yang melihat ia mencucurkan air mata. Apa pun yang ia minta, apa pun yang ia inginkan
di rumah maupun di luar, belum pernah tidak terkabul. Tapi kenapa kali ini ia menangis? Karena
apa ia mencucurkan air mata?
Thio Eng-hoat duplikat Ma Ji-liong ini hanya juragan toko serba ada di kampung di mana sebagian
besar penduduknya adalah kalangan rendah. Ma Ji-liong tidak lebih hanya keparat yang berani
melakukan kejahatan, seorang buronan yang akan dijatuhi hukuman mati oleh kaum pendekar.
Peduli untuk siapa dan kepada siapa, tidak pantas Cia Giok-lun mencucurkan air mata.
-------------------------ooo00ooo------------------------
Sejak tadi Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu hanya menonton saja dari samping, diam, bersikap
dingin. Mendadak Thiat Tin-thian menghela napas, "Aku ini laki-laki bergajul, laki-laki yang suka
pelesir, selama hidup entah berapa ratus perempuan yang pernah tidur denganku."
"Aku pun kira-kira demikian," ucap Ong Ban-bu.
“Tapi sejak mula hingga yang terakhir, belum pernah aku memahami jiwa mereka, menyelami hati
perempuan, seumur hidupku mungkin tak bisa memahami hati wanita."
Ong Ban-bu juga menghela napas, katanya gegetun, "Aku pun demikian."
-------------------------ooo00ooo------------------------
Ma Ji-liong berada di luar, tidak mendengar percakapan mereka. Begitu berada di luar, ia kaget dan
menjublek oleh perubahan yang terjadi di jalanan. Belum pernah ia membayangkan di lorong yang
jorok dan kotor serta becek itu, bisa menyaksikan perubahan yang benar-benar mengejutkan.
Hanya Thio-lausit saja yang tidak berubah. Gelagatnya pegawai ini sudah terpengaruh oleh arak
yang masuk ke perutnya. Poci arak sudah kosong dan menggeletak miring di atas meja yang sudah
reyot. Thio-lausit mendekam di meja, entah masih sadar atau sudah tertidur? Sudah mabuk atau lagi
sedih?
Keadaan biasa memang demikian, kejadian hari ini bukan untuk yang pertama kali. Perubahan yang
mengejutkan telah terjadi dalam kampung yang berpenduduk serba kekurangan ini. Bayangan
manusia dan hewan sudah tidak kelihatan lagi, penduduk yang tinggal di gubuk-gubuk reyot
sepanjang kampung itu entah sudah lari ke mana. Rumah mereka yang terbuat dari papan beratap
rumbia itu pun sudah tidak kelihatan, entah kapan dibongkar atau dipindah ke mana. Tanah
kampung itu kini telah kosong.
Hanya sekejap mata, dalam waktu singkat, rumah-rumah penduduk di sekeliling toko serba ada ini
telah dibongkar bersih. Dibongkar oleh ke-28 pemuda baju hitam yang berperawakan tegap, kekar
dan kuat. Isi kantong hitam yang mereka bawa ternyata alat pertukangan, digunakan untuk
menjebol dan membongkar rumah-rumah itu.
Koleksi Kang Zusi
Gerak mereka rapi, hati-hati, kuat lagi cekatan. Genteng satu persatu dilempar ke bawah, demikian
pula papan dinding satu persatu dipreteli, paku satu persatu dicabut. Lekas sekali bangunan rumah
yang sudah dibongkar dipindahkan ke lain tempat.
Demikian pula perabot rumah tangga. Dari meja, kursi, almari, mainan anak-anak, harta benda
besar maupun kecil, seluruhnya diangkut dan habis. Penduduk kampung ini dari keluarga miskin,
namun dalam pandangan mereka, betapapun reyot dan miskin keadaan rumah mereka, setelah
sekian tahun tinggal di tempat itu, berteduh dari teriknya matahari dan hujan lebat, berat dan sayang
untuk meninggalkan tempat ini. Tidak sedikit malah penduduk kampung yang dilahirkan di sini,
kampung halaman di mana mereka tumbuh dewasa dan tua. Tapi sekarang rumah mereka
dibongkar, lenyap begitu saja, seluruh rumah di daerah ini sudah dirobohkan. Perkampungan ini
sudah bukan lagi kampung. Jalan sempit itu juga bukan jalan kampung lagi. Segala apa yang ada di
sini sudah berubah, semuanya sudah dipindahkan.
Dalam sekejap mata, perkampungan telah berubah menjadi tanah lapang yang kosong, tanah lapang
yang sebagian berlumpur. Tanah kosong, tanah mati, daerah mati, tiada kehidupan lagi di tempat
ini.
Bab 27: Batu Hitam
Mega putih, langit membiru. Di kejauhan masih ada bangunan rumah, ada toko, suara orang dan
keributan yang lazim terjadi dalam perkampungan. Langit tetap membiru, kehidupan dalam toko itu
pun masih berlangsung, tapi kehidupan dalam toko serba ada ini bukan lagi milik Ma Ji-liong
sendiri, seolah kehidupan sejati makin jauh meninggalkan Ma Ji-liong.
Selepas mata Ma Ji-liong memandang, yang terlihat hanya tanah kosong belaka. Sekian lama ia
menjumblek, kaget dan tidak mengerti, bagaimana perubahan ini berlangsung. Waktu ia menoleh,
dilihat Thio-lausit sedang menggeliat dan menguap, seperti baru sadar dari pulasnya, entah sadar
karena mabuk, atau karena sedih dan mendelu? Atau dari tidur pulas sungguhan? Ada kalanya
orang sadar lebih celaka daripada tidur, lebih enak mabuk saja, karena begitu ia membuka mata,
seketika ia membelalak, kecuali kaget, heran dan juga ngeri.
Ma Ji-liong bertanya kepada Thio-lausit, "Apa yang kau saksikan?"
"Tidak ada yang kusaksikan," sahut Thio-lausit. "Apa pun tidak menyaksikan." Tidak menyaksikan
apa pun adalah amat menakutkan dibanding kau melihat sesuatu yang mengerikan, tidak tahu
seolah-olah ditakdirkan menjadi ketakutan yang terbesar dan mendalam dalam kehidupan manusia.
Ma Ji-liong berkata pula, "Umpama mereka mengurung kita hingga mati kelaparan di sini,
sebetulnya tak perlu membongkar rumah-rumah penduduk itu, mereka kan bisa bersembunyi di
rumah-rumah itu untuk menyelidik keadaan kita di sini dari dekat." Ma Ji-liong tak habis mengerti,
kenapa rumah-rumah penduduk dibongkar hingga rata dengan tanah dan daerah perkampungan itu
menjadi tanah kosong. Dengan mengajukan pertanyaan, Ji-liong berharap Thio-lausit bisa memberi
keterangan kepadanya, ikut memecahkan teka-teki ini.
Belum Thio-lausit menjawab, dari arah barat muncul barisan 28 pemuda berpakaian hitam ketat,
mereka muncul dengan berbaris rajin dan rapi, langsung menuju ke depan tokonya. Ma Ji-liong
dapat membedakan ke-28 pemuda yang ini bukan barisan yang tadi, namun mereka terdiri pemuda-
pemuda kekar dan kuat juga, sama-sama berseragam hitam, hanya pakaian mereka masih kering,
belum basah oleh keringat, karena mereka belum bekerja berat. Yang mereka bawa juga bukan
kantong kain hitam, tapi keranjang bambu hitam.
Koleksi Kang Zusi
Keranjang bambu ini kelihatan lebih berat karena isinya batu-batu hitam berbentuk bulat seperti
bola hitam mengkilap hingga kelihatan seperti mutiara hitam. Sudah dua puluh tahun lebih Ji-liong
hidup di dunia ini, tak pemah ia melihat batu seperti itu, susah ia mengenali anak buah siapakah
pemuda-pemuda gagah tegap dan cekatan ini. Batu hitam bulat dan mengkilap seperti itu jelas susah
ditemukan meski hanya satu atau dua butir saja. Gembong-gembong silat Kangouw yang mampu
memelihara atau mendidik pemuda-pemuda berseragam hitam seperti mereka juga hanya beberapa
gelintir saja.
Yang lebih aneh lagi, pemuda-pemuda itu menata batu-batu dalam keranjang bambu itu di atas
tanah secara teratur, rapi dan rapat baris demi baris, mirip petani yang sedang menanam padi di
sawah. Gerakan mereka rapi dan rajin serta seirama lagi cepat, tanah kosong yang berlumpur itu
seketika tertutup oleh taburan batu hitam itu.
Lekas sekali keranjang bambu para pemuda Itu sudah kosong, kejap lain mereka sudah berlari pergi
dengan derap yang tetap rapi. Belum lenyap bayangan ke-28 pemuda yang ini, dari arah Timur
muncul lagi 28 pemuda lain dalam bentuk barisan yang sama, berseragam hitam juga membawa
keranjang bambu hitam berisi batu-batu bulat warna hitam mengkilap pula, derap langkah mereka
mirip pasukan kerajaan yang sedang mengadakan upacara di halaman istana.
Ma Ji-liong ingin bertanya pada Thio-lausit, apakah ia tahu anak buah siapa gerangan para pemuda
ini? Atau menerka dari mana asal mereka? Entah apa yang sedang dilakukan oleh para pemuda itu?
Ma Ji-liong belum sempat bertanya karena mendadak dilihatnya perubahan yang ganjil pada wajah
Thio-lausit. Sejak tadi Thio-lausit bersikap acuh tak acuh, malas dan mengantuk, namun sorot mata
yang tadi guram kini mencorong terang dengan menampilkan rasa takut dan ngeri. Tanpa diperintah
atau diminta oleh Ma Ji-liong, mendadak ia memburu keluar. Dengan kecepatan yang luar biasa,
satu persatu ia pasang daun pintu toko serba ada dan menutupnya rapat. Padahal tadi ia bersikap
bandel untuk tetap membuka toko ini seperti biasa supaya tidak menarik kecurigaan musuh,
mengapa sekarang tanpa diminta ia malah menutup toko?
Ma Ji-liong melenggong, diam saja mengawasi kelakuan pegawainya yang aneh. Tiba-tiba Thio-
lausit menarik lengannya terus diseret masuk ke dalam rumah. Hanya sinar pelita yang menerangi
keadaan rumah itu, remang-remang saja di dalam. Tiga orang yang ada di dalam rumah kelihatan
amat lesu dan kuyu. Tanpa bicara, begitu masuk Thio-lausit merogoh kantong di balik bajunya
mengeluarkan sebuah botol hitam dari kayu, langsung ia angsurkan kepada Thiat Tin-thian. "Ini
untukmu," suaranya gugup gelisah. "Makan dulu separuh, sisanya makan lagi setengah jam
kemudian, kunyah dulu baru ditelan."
Sudah tentu Thiat Tin-thian bertanya, "Ini apa?"
"Itulah Bik-giok-cu," ujar Thio-lausit. "Dalam jangka setengah jam setelah kau makan obat itu, luka
dalammu yang parah akan sembuh setengah bagian. Menjelang magrib nanti kau telan lagi sisanya
yang separuh, tengah malam nanti kekuatanmu akan pulih delapan bagian dari keadaan semula."
Mendadak ia menghela napas, lalu katanya pula, "Semoga kau kuat bertahan hingga saatnya nanti."
Mendengar 'Bik-giok-cu', bola mata Thiat Tin-thian seketika bercahaya. Tubuhnya bergetar keras,
ia tahu obat dalam botol kayu hitam yang ia pegang sekarang adalah obat mujarab, satu-satunya
obat penyembuh yang dapat menolong dirinya di kolong langit ini, obat mujizat yang tak ternilai
harganya. Tetapi Thiat Tin-thian tidak segera menelannya, ada beberapa persoalan yang ingin ia
ketahui lebih dulu, maka ia bertanya, "Siapa kau?" Pertanyaan itu ditujukan kepada Thio-lausit, lalu
sambungnya, "Dari mana kau bisa memiliki Bik-giok-cu ini?"
Koleksi Kang Zusi
"Semua itu tiada sangkut-pautnya dengan kau. Pokoknya lekas kau makan obat itu dan sembuh,
titik."
"Siapa bilang tiada sangkut pautnya," tegas jawaban Thiat Tin-thian. "Selama hidup belum pernah
Thiat Tin-thian menerima kebaikan atau bantuan orang lain. Kalau aku tidak tahu kau siapa, mana
boleh aku menerima obatmu?" Laki-laki yang tegas membedakan budi dan dendam, lebih rela mati
daripada hutang budi kepada orang lain, mati pun tidak mau berhutang budi kepada orang yang
tidak dikenalnya.
Mendadak Ma Ji-liong menyeletuk, "Kau boleh menerima obatnya, juga harus menerima budi
pertolongannya, malah tidak perlu kau membalas kebaikannya."
"Kenapa?" tanya Thiat Tin-thian.
"Karena dia adalah temanku, demikian pula kau," tandas ucapan Ma Ji-liong." Antara kawan, peduli
siapa untuk siapa, tidak perlu menyinggung soal balas membalas kebaikan."
Tanpa bicara lagi, Thiat Tin-thian membuka tutup botol, lain menuang separuh isi obat di dalamnya
ke mulut serta ditelan begitu saja.
Mendadak Ong Ban-bu menghela napas lega, katanya pula, "Thiat Tin-thian, sekarang boleh kau
bunuh aku saja, sekarang mati pun aku tidak menyesal." Sekarang ia sudah tahu, orang yang
mengalahkan dirinya jelas bukan tokoh sembarangan, karena hanya murid Bik-giok Hujin yang
mempunyai Bik-giok-cu. Kalah di tangan anak murid Bik-giok Hujin jelas bukan peristiwa yang
memalukan. Kenyataan dirinya sudah kalah, kecundang, mati pun tak perlu menyesal.
Walau Ong Ban-bu tidak menjelaskan, namun Thiat Tin-thian cukup maklum perasaan hatinya.
Kini siapa pun berani memastikan bahwa Thio-lausit adalah anak murid Bik-giok Hujin. Selama
seratus tahun terakhir ini, belum pernah ada berita yang menyatakan Bik-giok Hujin menerima
murid laki-laki, maka dapat dipastikan bahwa Thio-lausit yang satu ini adalah penyamaran seorang
perempuan, seorang gadis.
Ma Ji-liong menatapnya lekat, sepatah demi sepatah ia berkata, "Sekarang apakah belum tiba
saatnya kau berterus terang?"
"Berterus terang tentang apa?" tanya Thio-lausit.
"Berterus terang bahwa kau adalah Toa-hoan."
Akhirnya Thio-lausit menghela napas panjang, ujarnya kemudian, "Betul, aku memang Toa-hoan."
Pegawai jujur yang tidak jujur ini memang betul adalah Toa-hoan. Bukan Toa-hoan yang berarti
mangkuk besar, mangkuk besar yang sering dipakai nyonya rumah di dapur, tapi Toa-hoan yang
satu ini adalah nama seorang gadis, gadis yang berdarah daging, manusia tulen, gadis yang berani
berbuat berani bertanggung jawab, Toa-hoan yang selama ini membuat Ma Ji-liong rindu, gadis
jelek yang membuat Ma Ji-liong kasmaran.
Apa selama ini Toa-hoan juga merindukan Ma Ji-liong? Jika muda-mudi ini sama-sama merindukan
lawan jenisnya, kenapa selama tiga bulan lebih ia tega merahasiakan dirinya, tidak memberitahu
kepada Ma Ji-liong-liong bahwa dirinya menyaru menjadi Thio-lausit, pegawainya yang jujur dan
setia?
Koleksi Kang Zusi
Ma Ji-liong tidak habis mengerti, hati perempuan memang sukar dijajaki, tak mudah diselami.
Toa-hoan sudah mengulur tangannya. Begitu ujung jarinya menyentuh tangan Ma Ji-liong, lekas ia
menyurut mundur lagi. Tidak ada orang yang lebih kuasa mengendalikan perasaan hatinya seperti
dia. "Tenaga Thiat Tin-thian akan segera pulih, Ong Ban-bu tidak perlu mati, demikian pula
engkau," suara Toa-hoan dingin. "Asal ada kesempatan, kalian harus menerjang keluar."
Ma Ji-liong juga berusaha menahan gejolak hatinya, tapi tak tahan ia bertanya, "Dan kau
bagaimana?"
"Aku......" Toa-hoan tergagap.
Mendadak Cia Giok-lun berteriak, "He, kenapa kalian tak bertanya pada diriku? Bagaimana nasibku
nanti?"
Pelahan Toa-hoan membalik badan menghadapi Cia Giok-lun. Cia Giok-lun melotot gusar penuh
emosi, wajahnya dilembari dendam dan kebencian. "Kenapa kau membuatku celaka begini rupa?"
pekiknya dengan suara tersendat.
"Aku memang bersalah, berdosa terhadapmu," kata Toa-hoan. "Tapi kau harus percaya kepadaku,
maksudku baik, aku tidak akan membuatmu celaka."
"Tapi kenapa kau lakukan semua ini?"
"Supaya tugas yang kuemban tidak sia-sia, dapat menunaikan tugas dengan baik, aku harus
mencegah kau menikah dengan Khu Hong-seng," demikian jawab Toa-hoan. "Sejak kecil kita
dibesarkan bersama, maka aku tidak boleh berpeluk tangan melihat kau menikah dengan orang yang
keji, licik dan munafik itu."
Ma Ji-liong memekik kaget, "Jadi dia ini putri kesayangan Bik-giok Hujin?"
"Betul," sahut Toa-hoan. "Cia-hujin mengundang kalian berempat berkumpul di Han bwe-kok,
maksudnya untuk memilih seorang di antara kalian sebagai calon menantunya."
"Jadi hari itu kau juga berada di Han-bwe-kok?" tanya Ma Ji-liong.
Toa-hoan manggut, "Ya, aku ada di sana waktu kejadian itu berlangsung, aku mengikuti seluruh
peristiwa itu."
Siapa saja bila menyaksikan peristiwa itu serta mengikuti perkembangan selanjutnya, pasti
berkesimpulan dan menuduh Ma Ji-liong sebagai pembunuhnya, biang keladi dari rentetan kasus
yang berbuntut panjang itu.
Toa-hoan berkata, "Tapi aku berpendapat, dari pengamatanku di belakang tabir, di balik peristiwa
ini tentu ada muslihat keji yang terselubung."
"Kenapa kau berkesimpulan demikian?" tanya Ma Ji-liong.
"Karena kejadian yang berlangsung secara 'kebetulan' dalam peristiwa itu terlalu banyak," Toa-hoan
menjelaskan. "Aku tidak percaya kejadian yang selalu kebetulan." Liang lahat di tanah bersalju,
batu jade milik Siau-hoan, tusukan tombak Kim Tin-lin yang tepat mengenai mainan kalung, Coat-
taysu dan Peng Tio-hoan muncul pada saat yang tepat dan lain-lain, semua itu terjadi secara
Koleksi Kang Zusi
kebetulan. Peristiwa yang terjadi secara kebetulan, umumnya sudah diatur secara rapi, sudah
direncanakan dengan sempurna.
Lebih lanjut Toa-hoan berkata, "Cia-hujin mengutus aku sebagai juri dengan tugas memilih calon
menantunya. Aku mendapat kepercayaan penuh, tugas dan kewajibanku tidak ringan, apalagi
peristiwa ini menyangkut masa depan Toa-siocia, maka aku hrus bekerja secara hati-hati dan teliti.
Setelah menghadapi persoalan rumit itu, aku tak berani mengambil keputusan." Toa-hoan
mengawasi Ji-liong, "Oleh karena itu, sengaja kubiarkan kau melarikan diri, aku belum yakin
bahwa kaulah biang keladi kasus ini, aku masih ingin memancing dan mencoba dirimu, aku ingin
tahu dari dekat, orang macam apa sebetulnya kau ini?"
Terpendam di bawah salju, sengaja memperlihatkan rambut kepala sambil merintih lemah, itulah
percobaan pertama. "Kalau kau tidak berhenti dan menolong aku dari timbunan salju itu, hari itu
juga aku sudah membunuhmu."
Pembunuh yang lagi buron pasti tak mau menolong gadis jelek yang tidak pernah dikenalnya,
menyelamatkan jiwa sendiri lebih penting, apalagi Ji-liong menyerahkan jaket berbulu dan kudanya
kepada orang yang telah ditolongnya.
Tapi percobaan pertama belum memuaskan, belum meyakinkan bahwa Ji-liong bukan
pembunuhnya, maka perlu dilanjutkan dengan percobaan demi percobaan.
"Setelah beberapa kali kucoba, akhirnya aku percaya kau bukan orang jahat, kau orang baik, hanya
sifatmu saja yang terlalu angkuh. Aku menjadi curiga terhadap Khu Hong-seng," demikian tutur
Toa-hoan lebih lanjut. "Rencananya memang amat rapi dan sempurna, susah aku melihat titik
kelemahan muslihatnya. Walau aku tahu kau terfitnah dalam kasus ini, namun aku tak berdaya
menolong kau membersihkan diri." Setelah menghela napas panjang Toa-hoan melanjutkan, " Aku
tak punya bukti. Untuk membuat Cia-hiujin percaya bahwa kau tidak berdosa dalam kasus ini, aku
harus punya bukti."
Ma Ji-liong menyengir tawa, tawa yang getir, "Umpama Cia-hujin percaya, Coat-taysu dan lain-lain
pasti tidak mau percaya. Aku tetap menjadi kambing hitam di tangan mereka."
Seorang yang sudah dianggap atau dituduh pembunuh kejam oleh orang-orang gagah dan pendekar,
apalagi tokoh seperti Coat-taysu yang disegani dalam Bu-lim, mana mungkin menjadi calon
menantu Bik-giok Hujin.
"Belakangan baru aku tahu," tutur Toa-hoan lebih lanjut. "Di saat aku menguntit dirimu, sebelum
tugas selesai, penyelidikanku juga belum mencapai hasil, kudengar Cia-hujin sudah mengambil
keputusan untuk memilih Khu Hong-seng sebagai calon menantu, malah hari pernikahan juga sudah
ditetapkan."
Mendadak Ong Ban-bu menyeletuk, "Aku juga mendengar berita itu."
"Putusan yang sudah ditentukan Cia-hujin, jarang diubah, meski nasi sudah menjadi bubur juga
tidak menyesal," demikian ucap Toa-hoan sinis. "Kecuali aku dapat mencari bukti bahwa peristiwa
ini adalah rencana busuk Khu Hong-seng, Khu Hong-seng adalah biang keladi atau pembunuh
utamanya."
Toa-hoan sudah bekerja keras, dibantu Ji Ngo lagi, namun sukar baginya menemukan bukti yang
diharapkan.
Koleksi Kang Zusi
Khu Hong-seng memang cerdik pandai, ia bekerja secara rapi dan penuh perhitungan, orang sukar
menemukan kesalahannya. Lebih hebat lagi secara gamblang ía sudah memaparkan kunci persoalai
peristiwa ini, secara blak-blakan bicara dengan Ma Ji-liong, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Umpama Ji- liong ganti memaparkan persoalan ini seperti apa yang diakui Khu Hong-seng kepada
orang lain, penegak hukum pun takkan mau percaya. Memang sulit bagi Ji-liong untuk
mengetengahkan alasannya. Bukan saja tak percaya, orang lain justru beranggapan Ji-liong sengaja
memfitnah Khu Hong-seng, bahkan akan lebih meyakinkan lagi bahwa dialah pembunuh atau biang
keladi dalam kasus ini.
Khu Hong-seng memang cerdas, sengaja ia meletakkan dirinya pada posisi yang paling celaka, pada
kedudukan yang tidak menguntungkan, lalu secara licin meloloskan diri tanpa meninggalkan jejak,
karena ia tahu dan mahfum titik kelemahan sifat manusia umumnya.
Toa-hoan menghela napas pula, “Rencana itu bukan saja rapi dan sempurna, juga telak, untuk itu
harus diacungi jempol. Meski gagal menemukan bukti, gagal membongkar kejahatan Khu Hong-
seng, aku tidak rela dan tidak boleh berpeluk tangan menyaksikan Toa-siocia dipersunting oleh
keparat itu.”
Mendadak Cia Giok-lun menghela napas, “Waktu ibu mengumumkan pilihannya, aku sudah
berangkat dari Bik-giok-san ceng. Bukan mencari Khu Hong-seng, tapi mencari kau.”
“Aku mengerti,” lembut suara Toa-hoan. “Meski perkataanmu kasar, sikapmu garang, namun aku
tahu di dalam hatimu kau masih menganggap aku sebagai saudara kandungmu sendiri.”
Cia Giok-lun menyengir kecut, katanva, “Tapi mimpi pun aku tidak menduga, mendadak kau
menutuk Hiat-toku.”
“Untuk menjernihkan suasana, untuk menunda perkembangan lebih lanjut, terpaksa aku harus
mengamankan kau lebih dulu,” demikian Toa-hoan menjelaskan.
Toa-hoan perlu waktu untuk mencari bukti, ia bekerja sepenuh tenaga untuk membongkar kasus ini,
maka jalan pendek yang perlu segera dilakukan adalah mengamankan Cia Giok-lun, memaksa Cia-
hujin mengulur waktu atau menunda pernikahan putrinya. Jika mempelai perempuan mendadak
lenyap tak keruan parannya, upacara nikah tentu tak bisa dilangsungkan.
"Setelah kupikir-pikir, cara yang terbaik adalah kalian harus disembunyikan bersama. Kecuali orang
banyak sukar menemukan kalian, sekaligus kalian bisa bertatap muka, berkumpul dan hidup dalam
satu rumah. Aku yakin dengan cara yang kugunakan ini, kau akan memperoleh kesempatan
menyelami dan memahami orang macam apa sebetulnya Ma Ji-liong," ujar Toa-hoan lebih lanjut.
"Sengaja pula kuberi kesempatan padanya supaya tahu kau adalah gadis jelita, perempuan
sempurna, maksudku untuk mencoba dia pula dalam kamar gelap itu, apakah dia kuat menguasai
dirinya."
"Untuk menjaga segala sesuatu, maka kau ikut menyamar dan tinggal di sini juga," ujar Cia Giok-
lun. "Agaknya kau belum lega, kau masih kuatir, maka kau masih harus mengawasi dari dekat."
Toa-hoan mengangguk, katanya, "Kalau dia berani berbuat tidak senonoh terhadap kau, aku tidak
akan membiarkan dia hidup sampai sekarang."
Mendadak Cia Giok-lun menghela napas. "Kau tidak salah menilai dia," suaranya mendadak
berubah menjadi halus. "Dia memang bukan orang jahat."
Koleksi Kang Zusi
Ma Ji-liong pasang kuping, mendengarkan saja, kunci persoalan berlika-liku, sekarang ia baru
mengerti duduknya persoalan.
Thiat Tin-thian mendadak menghela napas, katanya, "Dia memang orang baik, kejadian ini
sebetulnya kejadian baik, sayang sekali dia berkenalan dengan orang jahat."
"Kawan adalah kawan," Ma Ji-liong memberi komentar. "Kawan tidak perlu diperdebatkan baik
atau buruk, karena kawan hanya ada satu macam. Jika ia bersalah terhadapku, mengkhianati aku,
maka ia tak setimpal menjadi kawanku, tidak patut ia disebut kawan." Sikapnya serius lagi keren,
lanjutnya, "Aku tidak percaya adanya setan atau malaikat, aku hanya percaya kepada kawan."
Ji-liong percaya kepada kawan, karena dia tidak pernah keliru mengartikan makna dari kebesaran
dan keluhuran 'kawan' itu. Kawan memang hanya sebuah kata, satu pengertian yang agung, suci dan
serius. Kawan tak boleh diartikan secara bengkok, juga tidak boleh dianggap remeh.
"Aku tahu maksudmu," kata Thiat Tin-thian. "Tapi kalau kau tidak punya kawan seperti aku,
penyamaranmu takkan terbongkar, sekarang kau masih aman sebagai pemilik toko ini. Apa yang
telah terjadi, akulah yang membuatmu celaka."
"Apakah kau menyesal berkawan dengan aku?” tanya Ma Ji-liong. "Atau kau akan memaksa aku
menyesal telah berkawan denganmu?"
“Aku tidak menyesal," ujar Thiat Tin-thian. " Aku tahu kau pun pasti tidak menyesal."
Didorong oleh 'persahabatan' yang kekal, mereka memang tidak kenal apa artinya 'menyesal'.
Tiba-tiba Ong Ban-bu menghela napas, "Melihat persahabatan dua kawan seperti kalian, aku baru
sadar, selama aku hidup hingga sekarang belum pernah aku punya kawan sejati."
-------------------------ooo00ooo------------------------
Rahasia penyamaran Ma Ji-liong memang terbongkar lantaran Thiat Tin-thian, lalu bagaimana
dengan Toa-hoan? Kalau bukan karena Ma Ii-liong, siapa yang tahu Thio-lausit adalah samaran
Toa-hoan? Siapa pula yang tahu kalau dia adalah murid Bik-giok-san-ceng? Kalau bukan karena
Ma Ji-liong, mana mungkin rencananya terbengkalai dan gagal di tengah jalan? Tapi ia tidak marah,
tidak mengomel, juga tidak menyesal. Kalau bukan karena Ma Ji-liong, bahwasanya ia tidak akan
melakukan semua ini.
Ma Ji-liong bertanya, "Waktu kami terkepung, kaukah yang menolong kami dengan kabut hijau
itu?"
"Ya," Toa-hoan menerangkan. "Kabut hijau itu dinamakan Jiu-han-yam buatan Bik-giok-san-ceng,
lebih tebal dari kabut, juga lebih cepat buyar dibanding kabut. Bila asap dingin itu berkembang, apa
pun tidak kelihatan meski jarimu sendiri."
"Karena kau menggunakan Jiu-han-yam, maka mereka tahu di sini ada orang Bik-giok-san-ceng,"
Ma Ji-liong mencari tahu.
"Betul, setelah mereka tahu ada orang Bik-giok-san-ceng di sini, mereka tidak berani bertindak
secara gegabah," Toa-hoan berkata. "Selama mereka tidak beraksi, asal bisa mengulur waktu,
mungkin kita punya kesempatan meloloskan diri. Sayang sekali keadaan sudah jauh berbeda, kita
sudah tidak punya peluang untuk mengundurkan diri dari sini."
Koleksi Kang Zusi
"Kenapa?" tanya Ma Ji-liong.
"Apa yang kau lihat di luar?" Toa-hoan balas bertanya.
"Kulihat puluhan pemuda berseragam hitam," sahut Ma Ji-liong.
"Apa kerja mereka di luar?" tanya Toa-hoan.
"Mereka menata batu-batu hitam bulat di atas tanah."
Bab 28: Rahasia Lembah Kematian
Apa yang menakutkan dari batu-batu hitam itu?
Asal orang tidak memaksa kau menelan batu itu, juga tiada orang yang menimpukkan batu itu di
atas kepalamu, perduli apa bila batu itu putih, hitam, biru atau kuning? Batu hitam itu meski
bentuknya bulat aneh tapi kan tidak perlu dibuat takut?
Anehnya Toa-hoan justru memperlihatkan rasa takut dan ngeri, demikian pula Cia Giok-lun setelah
mendengar adanya batu-batu hitam bulat itu menunjukkan rasa takut dan panik.
Mendadak Cia Giok-lun bertanya, “Batu-batu bulat yang kau lihat itu, apakah hitam legam? Bundar
lagi mengkilap?”
“Ya.”
“Di mana kau lihat batu-batu itu?” tanya Cia Giok-lun.
“Dibawa pemuda-pemuda berseragam hitam itu,” sahut Ji-liong. “Setiap pemuda membawa
sekeranjang batu hitam.”
“Lalu?”
“Satu persatu batu bulat hitam yang sama besar kecilnya itu ditata di atas tanah dengan rapi.”
Cia Giok-lun tidak bertanya lagi. Mulutnya terkancing, sorot matanya seperti membayangkan
peristiwa yang mengerikan. Sikap dan mimiknya seperti Toa-hoan, bak bocah yang mendadak
melihat atau berhadapan dengan setan-iblis yang pernah disaksikannya dalam mimpi buruk.
Kenapa kedua nona ini begitu takut terhadap batu-batu hitam itu?
Thiat Tin-thian menjadi tertarik, maka ia bertanya, “Di daerah ini apakah ada batu-batu seperti itu?”
“Tidak ada, pasti tidak ada,” sahut Ji-liong. “Umpama ada batu bulat di sini juga tidak sebesar itu,
hitam lagi warnanya.”
Ong Ban-bu mendadak menambahkan, “Waktu aku datang, sebelumnya sudah kuperiksa beberapa
li di sekitar kampung ini. Batu macam apa saja ada, tapi yang bundar hitam dan mengkilap, jelas tak
pernah kulihat meski hanya sebutir saja.”
“Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa batu-batu hitam itu jelas diangkut ke mari dari daerah
yang jauh dari sini.”
Koleksi Kang Zusi
“Ya, pasti dari jauh.”
Thiat Tin-thian heran, “Kenapa bersusah-payah mengangkut batu-batu sebanyak itu dari jauh ke
mari serta menatanya rapi di depan pintu?”
Sebetulnya tidak ada orang yang bisa menjawab pertanyaan ini, tetapi Toa-hoan segera
menjelaskan, “Karena dia seorang gila. Orang gila kan bisa melakukan apa saja yang tidak mungkin
dilakukan orang lumrah.”
Apa betul orang gila harus ditakuti?
Banyak orang gila di dunia ini, berbagai macam orang gila. Asal kau tidak mengusik atau
mengganggu dia, dia tidak usah ditakuti. Banyak orang yang tidak gila, orang waras di dunia ini,
justru lebih menakutkan dibanding orang gila.
Toa-hoan menerangkan, “Orang yang betul-betul gila tidak perlu ditakuti. Yang menakutkan adalah
orang yang kelihatan waras, lebih normal dibanding orang biasa, padahal dia seorang yang betul-
betul gila.”
Lebih jauh Toa-hoan menjelaskan, “Biasanya kau lihat dia bekerja secara sopan, teratur dan rapi.
Sikapnya juga ramah tamah, tutur katanya lembut, tapi bila penyakit gilanya kumat, perbuatan apa
pun berani dilakukan. Perbuatan yang tidak mungkin dilakukan orang gila juga bisa dia lakukan.”
Lebih menakutkan lagi karena siapa pun tidak tahu kapan dia akan gila. Tidak bisa ditebak kapan
sakit gilanya itu kumat, maka orang takkan siaga, tidak menduga. Di saat kau kira dia waras dan
normal, mungkin saat itulah dia akan memotong hidungmu untuk umpan anjing. Setelah hidungmu
hilang, kau masih juga tak percaya bahwa dia benar-benar telah gila, dia yang telah melukai dirimu.
“Begitulah gambaran orang gila yang kumaksud, orang gila yang menakutkan,” Toa-hoan
mengakhiri ceritanya.
“Kau pernah melihatnya?” Thiat Tin-thian bertanya.
“Aku tidak pernah melihatnya. Semula kukira selama hidup aku tak akan melihatnya,” setelah
menghela napas, Toa-hoan menambahkan, “Sayang sekali, tak lama lagi aku akan melihatnya,
bahkan berhadapan langsung dengan dia.”
Mendadak Cia Giok-lun mengulurkan tangan menarik lengannya, “Apa betul dia ke mari?”
“Dia pasti datang,” ujar Toa-hoan. “Jui-ham-yan telah mengundangnya ke mari.”
“Setelah kau melihat batu hitam itu, kau tahu bahwa dia sudah datang?” tanya Ma Ji-liong.
“Betul,” sahut Toa-hoan. “Di kolong langit ini, batu-batu hitam bulat seperti itu hanya ada di tempat
tinggalnya sana.”
“Dia tinggal di mana?” tanya Ji-liong.
“Di lembah mati,” sahut Toa-hoan. “Lembah mati yang tak ada apa-apanya, yang ada hanya batu-
batu bulat hitam mengkilap.”
Koleksi Kang Zusi
Dengan suara tertekan ia bercerita lebih jauh, “Lembah itu tak pernah diinjak manusia, lembah yang
kering kerontang, burung juga susah hidup di sana, apalagi manusia. Tetapi berbeda dengan
manusia yang satu itu, ternyata dia bisa bertahan hidup, malah hidup panjang hingga sekarang.”
“Kenapa dia tinggal di lembah seperti itu?”
“Manusia adalah manusia. Meski dia gila, sebetulnya tidak mau dan tak rela tinggal di lembah mati
itu, tapi ada orang yang memaksanya.”
“Siapa yang memaksa dia?”
“Di dunia ini hanya seorang yang bisa dan mampu memaksa dia,” demikian tutur Toa-hoan. “Hanya
orang itu yang bisa memaksa dia melakukan apa yang tidak ingin dia lakukan,” tuturnya. Mendadak
Toa-hoan bertanya, “Tahukah kalian, tiga puluh tahun yang lalu, di kalangan Kangouw pernah
muncul seorang tokoh besar bernama Bu-cap-sah?”
“Bu-cap-sah?” Ma Ji-liong mengulang nama itu.
“Ya, Bu-cap-sah, artinya Tiga Belas Tidak Punya.”
“Kenapa dia bernama Bu-cap-sah?”
“Katanya dia tidak punya she, tidak punya nama, tidak punya ayah, tidak punya ibu, tidak punya
abang, tidak punya adik laki, tidak punya kakak, tidak punya adik perempuan, tidak punya bini,
tidak punya putra, tidak punya putri dan tidak punya kawan.”
“Kan hanya dua belas 'tidak punya'?” tanya Ma Ji-liong. “Satu lagi tidak punya apa?”
“Tidak punya tandingan.”
“Tidak punya tandingan?” Ma Ji-liong tidak percaya. “Betulkah dia tidak punya tandingan?”
“Tiga puluh tahun yang lalu, dalam usia dua puluh tiga tahun, dia sudah menyapu jagat tanpa
menemukan tandingan, kepandaian silatnya tiada bandingan di seluruh dunia.”
Ma Ji-liong masih tidak percaya, “Peristiwa yang terjadi tiga puluh tahun yang lalu sebetulnya
masih belum terlalu lama, kenapa sampai sekarang belum ada orang yang tahu?”
Mendadak Thiat Tin-thian menimbrung, “Ada orang yang tahu, banyak yang tahu, aku juga tahu.”
Thiat Tin-thian berkata penuh keyakinan. “Tahun itu kebetulan aku berusia 19 tahun, tepatnya hari
raya Ciong-yang, aku mendengar orang membicarakan tentang dirinya.”
“Kau masih ingat dengan jelas?” tanya Ma Ji-liong.
“Sudah tentu jelas, karena hari itu kebetulan hari kelahiranku,” Thiat Tin-thian bercerita. “Pada hari
ulang tahunku itu, kebetulan dia berhasil mengalahkan Lian San-hun.”
Lian San-hun adalah jago silat paling top masa itu. Dengan Heng-hun-jik-jit dan Si-cap-kau-kiam,
dia malang melintang di Kangouw, terutama 49 Jurus Ilmu Pedang Penyapu Mega Menutup
Matahari itu teramat lihai, jelas tidak asor dibanding Wi-hong-bu-liu Si-cap-kau-kiam ciptaan Ko-
tojin dari Pa-san.
Koleksi Kang Zusi
“Setelah berhadapan, belum sempat dia melancarkan ilmu pedangnya yang 49 jurus itu, Lian San-
hun sudah roboh binasa secara mengenaskan. Dikalahkan oleh pemuda yang baru terjun di dunia
persilatan.”
“Lian San-hun dikalahkan oleh Bu-cap-sah?” tanya Ma Ji-liong.
“Waktu itu aku tidak tahu siapa dia, aku hanya mendengar ada seorang jago pedang tersohor di
seluruh jagat bernama Yan Cap-sah. Tapi tiga bulan kemudian, aku selalu mendengar orang
bercerita tentang Bu-cap-sah seorang,” tutur Thiat Tin-thian, lalu ia menekankan, “Tiga bulan tepat,
sembilan puluh hari.”
Tak tahan Ma Ji-liong bertanya lagi, “Bagaimana kau ingat bahwa tepat sembilan puluh hari dia
menggegerkan dunia persilatan?”
“Karena dari hari raya Ciong-yang hingga tanggal 8 bulan 11 tepat 90 hari. Dalam jangka waktu 90
hari itu dia berhasil mengalahkan 43 jago-jago silat kosen yang paling terkenal pada masa itu,”
demikian tutur Thiat Tin-thian. “Yang terakhir dia kalahkan adalah Ciangbunjin Thiat-kiam-bun.
Saat itu dia sedang berkumpul dengan anak muridnya, akan berpesta makan bubur ayam campur
tiram. Belum ada satu gebrakan, Ciangbunjin Thiat-kiam-bun ini dikalahkan lalu dijungkir-balikkan
ke dalam wajan di mana bubur ayam sedang dimasak.”
“Selanjutnya bagaimana?”
“Selanjutnya tidak ada.”
“Tidak ada? Apa maksudnya tidak ada?”
“Tidak ada, maksudnya sejak hari itu Bu-cap-sah tidak pernah muncul lagi,” Thiat Tin-thian
bercerita. “Selanjutnya, tiada orang persilatan yang mendengar kabar beritanya, tiada orang yang
pernah melihat jejaknya.”
“Apa betul tiada orang yang tahu ke mana dia pergi?”
“Ya, tidak ada.”
“Ada,” tiba-tiba Toa-thoan menyeletuk. “Ada orang yang tahu di mana dia berada, akulah
orangnya.”
Apa yang aku tahu, orang lain pasti tidak tahu.
Suatu hari, entah dengan cara apa Bu-cap-sah berhasil menemukan Bik-giok-san-ceng dan meluruk
ke sana. Sehari menjelang tutup tahun, jadi pada saat orang-orang mempersiapkan diri untuk
menyambut datangnya tahun baru, Bu-cap-sah menantang bertanding Bik-giok Hujin di Pui-kui-
poh di luar Bik-giok-san-ceng.
Bik-giok Hujin memiliki kepandaian silat yang tiada taranya, tiada kaum persilatan yang tahu
sampai di mana taraf kepandaiannya. Yang pasti, belum pernah ada tokoh lihai mana pun yang
mampu mengalahkan dia. Maka dalam duel seru di luar Bik-giok-san-ceng itu, Bu-cap-sah akhirnya
kalah setelah bertempur ratusan jurus. Kemampuan Bu-cap-sah sudah memecahkan rekor dari para
lawan yang pernah berhadapan dengan Bik-giok Hujin. Tidak ada orang yang bisa mengalahkan
dirinya, sejak dulu hingga saat ini, belum ada yang mampu mengalahkan dia.
Koleksi Kang Zusi
Anehnya, di luar kebiasaan, Bik-giok Hujin tidak membunuh lawannya yang kurang ajar ini, tapi
hanya mengurung atau tepatnya menghukumnya di dalam lembah mati. Bu-cap-sah diharuskan
bersumpah selama hidup takkan keluar dari lembah itu dan membuat onar lagi di luar.
Rumput atau pohon tidak tumbuh, burung pun tidak bisa hidup di lembah itu. Seperti juga Sing-
siok-hay yang terletak di kutub utara, dingin lagi belukar, belum pernah ada manusia yang hidup di
tempat itu.
Sejak saat itu Bu-cap-sah tidak pernah muncul lagi. Riwayatnya menjadi legenda kaum persilatan,
namun lekas sekali keperkasaannya sudah dilupakan orang.
Toa-hoan berkata, “Tapi aku tidak pernah melupakan dia, karena Hujin sering bilang kepada kami,
di dunia ini hanya ada seorang yang bisa hidup di lembah mati, orang itu pasti hanya Bu-cap-sah
saja. Kalau dia mampu bertahan hidup di sana, bila dia merasa dirinya sudah mampu menuntut
balas, akan datang suatu hari dia pasti akan melanggar sumpah, keluar dari lembah dan merajalela
di dunia Kangouw.”
Ma Ji-liong berkata, “Apakah lembah mati itu hanya dihuni dia seorang saja?”
“Ya, hanya dia seorang,” sahut Toa-hoan.
“Tapi kenyataannya ia punya delapan puluh empat orang anak buah yang cekatan.”
Toa-hoan menghela napas, katanya, “Mungkin Hujin sendiri tidak menduga, entah bagaimana dia
bertahan hidup di lembah itu, juga takkan menyangka orang-orang itu juga bisa hidup di tempat
gersang itu. Tapi Hujin juga pernah bilang, suatu yang tidak bisa dilakukan orang lain, Bu-cap-sah
pasti bisa dan mampu melakukannya.”
-------------------------------------ooo00ooo-------------------------------------------
Keadaan di luar semula amat tenang dan sepi. Mendadak berkumandang tawa seseorang yang
lantang. Dengan nada riang dan bangga, seseorang berkata di luar, “Banyak terima kasih atas pujian
Toa-siocia dan Toa-kohnio. Sebetulnya aku tidak bisa melakukan apa-apa, hanya saja nasibku
memang jauh lebih mujur dibanding orang lain, itu saja.”
Dari suaranya, dapat diperkirakan jarak pembicaraan dengan rumah ini masih cukup jauh, tapi
setiap patah kata yang diucapkannya dapat didengar dengan jelas oleh semua orang yang ada di
dalam rumah.
Setiap patah kata pembicaraan Ma Ji-liong dengan Toa-hoan di dalam rumah juga ternyata dapat
didengarnya dengan jelas.
Sambil mendongak, Toa-hoan bertanya, “Kaukah Bu-cap-sah?” Sengaja ia bicara dengan nada
rendah, suaranya tidak keras.
“Ya, aku di sini,” sahut orang di luar itu.
Sengaja Toa-hoan menghela napas, katanya, “Kupingmu sungguh tajam, lebih tajam dibanding
telinga kelinci.”
Toa-hoan sengaja memancing amarah orang di luar itu, supaya orang menerjang masuk ke dalam
dan mudah disergap atau dijebak. Ternyata orang di luar juga cerdik, dia hanya bergelak tawa, tawa
Koleksi Kang Zusi
yang riang malah, “Telingaku memang amat tajam, hasil latihanku selama beberapa tahun di
lembah yang sepi itu. Aku hidup sebatang kara dua puluh tahun di lembah mati, suara apa pun tidak
kudengar. Saking sebal dan pengap hampir gila rasanya, maka aku berdaya upaya untuk
mendengarkan suara yang tidak mungkin didengar orang lain.”
“Suara apa?” tanya Toa-hoan.
“Umpamanya suara sepasang ular yang lagi bermain cinta di lubang istananya, kutu cilik yang
merayap di tanah, ular menelan katak, rayap menggerogoti akar pohon, suara kura-kura yang
sedang bertelur,” sambil tertawa Bu-cap-sah berkata dengan bangga, “Pernahkah kalian mendengar
suara-suara itu? Sungguh mengasyikkan.”
“Tidak ada, pasti tidak ada orang yang dapat mendengar ular bermain cinta dan kura-kura bertelur.”
Terdengar Bu-cap-sah berkata pula, “Tapi sekarang aku bisa mendengar semua, malah mendengar
dengan jelas sekali.”
Bila manusia bisa mendengar suara-suara yang mendekati gaib itu secara jelas, suara apa pula yang
tidak bisa dia dengar?
Lebih jauh Bu-cap-sah berkata, “Untung sekarang aku tak perlu mendengarkan suara-suara itu.”
“Lho, kenapa? Kau tidak suka lagi?” tanya Toa-hoan.
“Ya, aku tidak perlu mendengarnya lagi. Sejak lima tahun yang lalu, aku sudah punya banyak
teman untuk kuajak bicara,” demikian kata Bu-cap-sah. “Lembah mati yang semula tidak pernah
dihuni manusia dan hewan, sekarang ada delapan ratus dua puluh empat orang yang bisa kuajak
bicara di sana. Kusuruh mereka bilang apa, mereka mengatakan apa. Aku ingin bilang apa, mereka
segera mengutarakan isi hatiku.”
“Bagaimana kau bisa mencari orang sebanyak itu untuk menemani kau bicara?” tanya Toa-hoan.
“Karena nasibku amat mujur,” Bu-cap-sah tertawa riang. “Kecuali batu hitam, dalam lembah itu
masih ada benda lain yang lebih berharga.”
“Benda apa?” Toa-hoan ingin tahu.
“Emas, emas murni,” amat riang suara Bu-cap-sah. “Kutanggung, seumur hidup kalian belum
pernah melihat logam mulia sebanyak itu.”
Kalau seseorang memiliki sebongkah logam mulia bagaikan gunung, kerja apa saja yang tidak dapat
dia lakukan?
Bu-cap-sah berkata lagi, “Setelah memiliki harta sebanyak itu, dari hari ke hari hidupku makin
gembira, senang dan tenteram. Ilmu silatku juga setingkat lebih maju, maka timbul keinginanku
keluar melihat keramaian dunia. Tujuanku yang utama sudah tentu untuk menengok Cia-hujin dan
Toa-siocia. Jika bukan lantaran dia, bagaimana aku bisa kaya-raya seperti sekarang?”
Tidak tahan Toa-hoan bertanya pula, “Dari mana kau tahu Toa-siocia berada di sini?”
“Sudah tentu aku tahu,” ujar Bu-cap-sah tertawa. “Seorang yang sudah memiliki emas banyak,
jarang ada persoalan di dunia ini yang tidak diketahuinya.”
Koleksi Kang Zusi
“Kenapa kau tak masuk ke mari menengoknya?” Toa-hoan memancing.
“Buat apa tergesa-gesa. Sudah dua puluh tahun aku menunggu, apa salahnya aku menunggu
beberapa hari lagi?”
“Apa yang kau tunggu?”
“Aku sudah menyuruh orang membeli sutera dan kain halus lainnya. Sudah kupanggil tukang jahit
pakaian yang paling ahli untuk mengukur dan menjahit pakaian baru untuk Toa-siocia. Sengaja
kusuruh orang ke kotaraja untuk membeli bahan-bahan rias yang termahal buatan Pek-sek-cay,”
demikian ujar Bu-cap-sah dengan tawa lebar. “Setelah Toa-siocia berganti pakaian, berdancan dan
dirias, aku pasti akan masuk dan bertemu dengannya. Sekarang aku tidak perlu buru-buru, aku tidak
suka perempuan yang kotor.”
-------------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------------
Riang gembira nada suaranya, tutur katanya juga sopan lagi halus. Tapi perasaan Toa-hoan seperti
batu yang kecemplung air dingin. Ia tahu makna menakutkan dari perkataan Bu-cap-sah.
Bu-cap-sah menyenangi gadis yang didandani, gadis yang sudah bersolek, molek jelita. Bila Cia
Giok-lun sudah kelihatan ayu, ia siap mempersuntingnya. Biasanya kaum lelaki hanya memakai
satu cara untuk menyenangkan perempuan. Demikian pula bila lelaki akan memberi hajaran,
menuntut balas kepada perempuan, juga menggunakan cara yang satu ini.
Sudah tentu Thiat Tin-thian maklum cara apa yang akan digunakan orang gila itu. Mendadak ia
bertanya pada Toa-hoan, “Apakah dia manusia?”
“Kelihatannya mirip,” sahut Toa-hoan.
“Bagus sekali,” seru Thiat Tin-thian. “Kalau dia manusia, aku juga manusia, kenapa aku tidak
keluar menemuinya?”
Bu-cap-sah yang ada di luar segera berkata, “Silakan keluar, lekas keluar, di sini aku sudah
menyiapkan sebuah meja perjamuan. Kutunggu kehadiran kalian di luar.”
Thiat Tin-thian tertawa besar, katanya, “Memang aku ingin makan minum dengan lahap dan
sepuasnya.” Mendadak ia bertanya pada Ong Ban-bu, “Kau ikut tidak?”
Ong Ban-bu segera berdiri, katanya, “Aku juga ingin makan.”
Bab 29: Perjamuan Besar
Meja perjamuan tidak kelihatan. Bahwasanya tiada meja perjamuan di luar rumah. Tanah kosong
yang semula becek itu kini ditaburi batu-batu hitam mengkilap. Di tengah taburan batu hitam bulat
mengkilap itu hanya ada sebuah dipan kecil yang terbuat dari kayu cendana berbentuk persegi,
terukir indah seluas satu meter persegi.
Di bagian belakang dipan persegi dengan ukiran antik itu, berdiri dua tiang kayu setinggi satu
meter. Tiang kayu untuk tempat sangkutan kelambu yang menjuntai turun. Seorang laki-laki tinggi
gede bercambang dengan telanjang dada berdiri di belakang dipan sambil membusungkan dada.
Dari tampang dan kalung bundar besar yang menggelantung di telinga kirinya, dapat diperkirakan
bahwa laki-laki gede ini adalah bangsa Persia. Pengawal Persia ini bermata biru melotot bundar
Koleksi Kang Zusi
dengan topi pendek warna merah terbuat dari beludru, di pinggir kanan dihiasi pita biru yang
melambai ditiup angin, jaket sutera pendek ketat tanpa kancing berwarna hitam disulam garis-garis
benang emas tersingkap di bawah ketiaknya. Ikat pinggangnya lebar lagi tebal berwarna merah
maron, tangannya memegang gagang golok melengkung yang terselip di pinggangnya.
Bu-cap-sah duduk di atas dipan berkasur empuk, berbantal dua dan berkopiah mewah seperti
hartawan yang suka pamer kekayaan. Dari tampang dan sikapnya, orang ini tidak mirip orang yang
sebatang kara atau anak yang tidak beribu bapak, bukan orang yang tidak punya she, wajahnya yang
halus putih bersih pasti tidak mirip orang gila.
Roman muka laki-laki yang duduk di atas dipan itu putih, kalau tidak mau dikatakan pucat, tapi
kelihatan tampan. Sikapnya lembut tapi gagah. Dari mukanya yang pucat itu, sukar orang menebak
berapa usianya. Gerak-gerik dan senyumnya menarik simpati orang lain, apalagi berpakaian mewah
dan mahal. Orang akan silau oleh dandanan dan sikapnya yang perkasa, sehingga tidak
memperhatikan lagi usianya.
Mungkin meja perjamuan belum dipersiapkan, padahal tamu yang hadir sudah cukup banyak. Coat-
taysu dah kawan-kawannya, seperti juga orang lain, mereka berdiri berkeliling di sekitar dipan kayu
itu. Kecuali dipan atau ranjang persegi itu, hakikatnya tiada meja kursi di tempat itu, juga tiada
benda apa pun untuk mereka duduk kecuali duduk bersimpuh di atas batu-batu bulat hitam itu.
Tapi setelah Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu beranjak keluar, laki-laki di atas ranjang dengan
sikapnya yang sopan dan ramah mempersilahkan para tamunya untuk duduk. Lalu ia menoleh
kepada pengawal Persia itu, katanya, “Menurut pendapatmu, apakah masih ada tamu-tamu lain
yang akan datang?”
“Kurasa tidak ada lagi, sekian saja sudah cukup,” sahut pengawal Persia itu.
Sekali lagi Bu-cap-sah yang sedang berbaring di atas dipan itu mengangkat sebelah tangannya
menyilakan hadirin duduk. Kelakuannya persis seperti seorang cukong yang mengundang tamu-
tamunya berpesta di restoran. Lalu dengan sikap dibuat-buat ia berkata, “Silakan duduk, silakan
mencari tempat duduk. Sambil makan minum, boleh kita mengobrol.” Orang pertama yang duduk
ternyata adalah Coat-taysu. Ia maju selangkah lalu duduk di atas kursi yang sama sekali tidak ada,
kursi yang tidak kelihatan. Pantatnya bergantung di udara, namun gayanya persis seorang yang
duduk santai di atas kursi sungguhan. Sesuai wataknya yang kaku, sikap dan rona mukanya juga
kaku, namun kepandaiannya memang mengagumkan. Kuda-kuda kakinya memang kokoh kuat.
Dengan cara jongkok seperti itu, sedikit pun ia tak kelihatan payah atau lelah.
Setelah ada contoh, maka orang banyak lantas meniru perbuatan Coat-taysu. Mereka pun duduk
bergaya seperti Coat-taysu. Hanya Thiat Tin-thian yang tetap berdiri tegak di tempatnya.
Bu-cap-sah berpaling ke arahnya, lalu bertanya dengan nada tinggi, “He, kenapa tuan tidak duduk?”
“Aku suka makan sambil berdiri,” Thiat Tin-thian menjawab. “Makan sambil berdiri bukankah
dapat gegares lebih banyak?”
“Masuk akal,” seru Bu-cap-sah sambil keplok. “Nah, kalian juga harus makan lebih banyak. Hari
ini sengaja aku siapkan hidangan istimewa. Ikan hitam dari Tang-hay, ikan terbang dari Pak-hay,
sarang burung dan udang galah dari Lamhay, sate kambing dari kotaraja dengan panggang
bebeknya sekalian, ikan asin dari Kanglam, kepiting goreng dari Tiangkang, dan masih ada lagi
panggang sapi dan kambing bakar utuh. Kurasa hidangan ini cukup kusediakan untuk makan
kenyang kita semua.”
Koleksi Kang Zusi
Bahwasanya menu yang diucapkan tadi tidak ada barangnya, tapi dia menyilakan para tamunya
makan dengan sikap ramah, membujuk supaya makan lebih banyak. Kecuali beberapa menu yang
disebutkan tadi, Bu-cap-sah juga menjelaskan tiga macam menu yang khusus disiapkan untuk Coat-
taysu, hidangan vegetarian.
-----------------------------------------ooo00ooo-----------------------------------------------
Orang pertama yang bergaya dan bertingkah seperti orang makan ternyata juga Coat-taysu. Karena
Coat-taysu sudah mulai makan, sudah tentu orang lain sungkan untuk diam saja. Padahal yang hadir
adalah gembong-gembong silat yang pernah menggetarkan Bulim di wilayah masing-masing,
orang-orang gagah dan ksatria Bulim. Tapi tingkah laku mereka sekarang mirip bocah yang lain
mainan, semua bergaya duduk dan menggerakkan kedua tangan seperti gerak orang yang
memegang sumpit dan mangkuk serta makan dengan lahapnya. Duduk di kursi yang tidak
kelihatan, makan dan menyikat.
Ada satu perbedaan dengan mainan anak-anak yang lagi bersandiwara di panggung umpamanya.
Orang tua atau tokoh-tokoh silat ini seperti tidak merasa bahwa kelakuan mereka amat lucu dan
menggelikan, namun sikap dan mimik mereka kelihatan amat prihatin dan was-was. Kecuali Coat-
taysu, rona muka hadirin seperti orang yang tercekik lehernya oleh sepasang tangan iblis yang tidak
kelihatan.
Wajah Coat-taysu tidak menunjukkan perubahan. Sumpit di tangannya bergerak naik-turun seperti
lazimnya orang yang lagi menjejalkan nasi dan lauk di dalam mangkuk ke mulutnya. Tidak jarang
sumpitnya diulur ke depan seperti mengambil sayuran, ikan dan daging. Dengan lahap mulutnya
bergoyang, lidah menari menikmati makanan yang dikunyah dengan penuh selera. Entah yang
dikunyah itu amarah, penasaran atau ketakutan? Atau mungkin air liur yang getir?
Sejak Coat-taysu terkenal dan disegani orang, kapan pernah berlaku runyam di hadapan orang
banyak, memalukan sekali. Tapi sekarang ia mengunyah dan menelan nama besar yang diperoleh
dengan cucuran keringat dan jerih payah selama puluhan tahun, selahap orang yang melalap
hidangan yang betul-betul sedap.
-----------------------------------ooo00ooo------------------------------------------------
Merinding sekujur badan Thiat Tin-thian menyaksikan kenyataan yang lucu ini. Ia tidak habis
mengerti kenapa Coat-taysu sudi dan rela berbuat serendah itu? Sebagai pendekar, entah dibuang ke
mana jiwa ksatrianya, kenapa begitu takut terhadap si gila yang satu ini?
Tapi lamat-lamat Thiat Tin-thian akhirnya mengerti, orang gila macam apa sebetulnya Bu-cap-sah.
Tadi Toa-hoan sudah menggambarkan secara jelas, tapi Thiat Tin-thian baru sekarang betul-betul
maklum. Padahal betapa jelas keterangan Toa-hoan tadi, tapi belum cukup menggambarkan betapa
menakutkannya kegilaan orang ini. Bu-cap-sah mengawasi Thiat Tin-thian. Hanya Thiat Tin-thian
yang berdiri diam, tidak menggerakkan tangan, tidak makan atau minum. “Kenapa kau tidak
makan?” tanyanya kemudian dengan nada serak.
“Makan apa?” Thiat Tin-thian balas bertanya.
“Lihat, sate kambing dan ikan asin dari Kanglam ini, sedap rasanya. Panggang bebek ini juga harus
dimakan mumpung masih hangat,” Bu-cap-sah mengoceh penuh semangat.
“Masa kau tak melihat hidangan sebanyak ini?” tanya Bu-cap-sah.
Koleksi Kang Zusi
“Aku tidak melihat apa-apa.”
“Ah, orang lain bisa melihat, kenapa kau tidak lihat?”
“Ya, mungkin aku tidak sepandai mereka. Makanan yang kau sebut tadi hanya dihidangkan untuk
orang-orang pandai, hanya bisa dilihat oleh orang pandai.”
Bu-cap-sah menatapnya sekian saat, mendadak ia bergelak tawa, “Ternyata kau ini orang pikun.
Hidangan enak sebanyak ini, hanya orang pikun yang tidak bisa melihatnya.” Mendadak suaranya
terputus, roman mukanya berubah beringas. Dengan melotot ia berpaling ke arah Pang Tio-hoan
yang kebetulan berada di sampingnya, semprotnya dengan gusar, “Kenapa kau berbuat sekasar ini?”
“Aku berbuat apa?” tanya Pang Tio-hoan melenggong.
“Sekian banyak hidangan kusediakan di sini, kenapa kau justru merebut anak anjing bakar
kesenanganku?”
“Anak anjing bakar apa?” Pang Tio-hoan berseru nyaring dengan nada tidak mengerti apa yang
dimaksud orang. “Di mana ada anjing bakar?”
“Barusan ditaruh di pinggir sini. Tapi barusan telah kau gares, kulit, tulang dan dagingnya kau telan
bulat-bulat,” kelihatannya ia bukan saja marah dan penasaran, ia pun amat sedih seperti anak kecil
yang kehilangan boneka kesayangannya. “Anjing kecil itu sudah kupelihara sekian tahun,
kupandang seperti anakku sendiri, gemuk dan banyak dagingnya, kenapa kau mengganyangnya?
Kenapa kau rebut anjing bakarku?”
Berubah air muka Pang Tio-hoan. Hong-seng-thian Tayhiap Pang Tio-hoan sudah terkenal sejak
tiga puluh tahun yang lalu. Dengan sepasang Gun-goan-thi-pay (Sepasang Tameng Besi) yang
beratnya enam puluh tiga kati, ia malang melintang di antara gunung dan sungai, peristiwa apa yang
tak pernah ia alami dan saksikan? Sudah tentu ia maklum bahwa Bu-cap-sah sengaja mencari gara-
gara hendak mempersulit dirinya.
Sekilas Tio-hoan melirik ke arah Coat-taysu, ia harap temannya itu mau bantu bicara membela
dirinya, bila perlu adu jiwa bersama si gila ini. Sudah sekian puluh tahun mereka sebagai kawan
seperjuangan, apalagi sejak belasan tahun yang lalu mereka tidak pernah berpisah. Sebagai sahabat
kental, pantasnya Coat-taysu campur bicara membela dirinya, memberi penjelasan umpamanya.
Tapi tidak pernah ia bayangkan, bukan Coat-taysu si sahabat kental yang pertama membantu bicara
atau membela dia, tetapi sebaliknya Thiat Tin-thian, musuh yang ia benci dan ia uber-uber selama
ini.
Thiat Tin-thian berkata, “Bahwasanya di sini tiada hidangan seperti yang kau sebut tadi, apalagi
anjing bakar segala. Tidak ada.”
“Kau orang pikun, orang pikun takkan melihat hidanganku,” Bu-cap-sah berteriak sambil menuding
Thiat Tin-thian. “Aku sendiri melihat anjing bakar itu ditaruh di sini, pasti tidak keliru.”
“Mungkin kau salah lihat, kau melihat setan,” jengek Thiat Tin-thian.
“Jadi kau yakin di sini tidak ada hidangan anjing bakar?” damprat Bu-cap-sah.
“Pasti tidak ada. Yang bilang ada adalah orang gila!” teriak Thiat Tin-thian, ia pun mulai emosi.
Koleksi Kang Zusi
“Tapi aku bilang ada, sudah ditelan bulat-bulat ke dalam perut orang ini,” wajah Bu-cap-sah
menampilkan senyum gaib, senyum yang menggiriskan, “Kau berani bertaruh denganku?”
“Berani saja, bertaruh apa?”
“Bertaruh dengan batok kepalamu, kalau anjing bakar itu berada di dalam perutnya.”
Seketika Thiat Tin-thian merasa kaki tangannya menjadi dingin, perut mengkeret, isi perut hendak
tumpah. Kecuali bergidik, Thiat Tin-thian juga ngeri, ia sudah meraba apa yang akan dilakukan si
gila ini.
Sudah tentu Pang Tio-hoan juga maklum. Mendadak ia meraung, dengan kalap ia menerkam ke
arah Bu-cap-sah.
Hou-jiu-kun dan Gun-goan-thi-pay adalah dua ilmu tunggal yang diyakinkan Pang Tio-hoan. Di
samping sepasang tameng besi, ilmu cakar harimaunya juga pernah menggetarkan Koan-tang.
Sebelum kejadian, Pang Tio-hoan sudah dipengaruhi oleh suasana. Di saat kepepet dan terdesak
lagi, pikirannya menjadi kacau dan kalap. Orang kalap selalu ceroboh, bertindak gegabah. Saking
murka karena kalapnya, ia menerkam ke arah Bu-cap-sah tanpa memperhatikan keadaan
sekelilingnya, tanpa siaga bahwa di belakang Bu-cap-sah berdiri pengawal Persia yang perkasa itu.
Begitu Pang Tio-hoan meraung kalap, berubah rona muka Coat-taysu, betapapun ia masih
memperhatikan keselamatan temannya. Mendadak ia menjerit gugup, “Berhenti, lekas berhenti!”
Sayang peringatannya terlambat.
Begitu Pang Tio-hoan menerkam maju, golok melengkung di pinggang pengawal Persia yang
berdiri di belakang Bu-cap-sah segera terayun. Sinar golok berkelebat, darah pun muncrat seperti
hujan deras.
Hanya ada satu cara untuk membuktikan apakah seseorang betul menelan seekor anjing kecil, yaitu
dengan cara yang paling liar, cara liar yang dilakukan orang purba jaman dulu, menyembelih hewan
buruannya dengan membedah perutnya. Cara menjagal binatang yang paling kejam dan keji, cara
yang dilakukan oleh orang buas, manusia sinting. Kali ini orang gila alias Bu-cap-sah
mempraktekkan cara liar itu di sini, terhadap Pang Tio-hoan.
Sudah tiga puluh tahun Pang Tio-hoan malang melintang di Kangouw, namun hanya dalam sekali
sabet perut hingga dadanya telah robek dan merekah besar oleh golok melengkung orang. Isi perut
pun berhamburan. Pang Tio-hoan menjerit ngeri dan mampus terkapar di tanah.
Wajah hadirin segera berubah. Yang tidak tahan sudah tumpah-tumpah, yang bernyali kecil segera
melompat mundur dan lari. Ada juga yang menubruk ke depan secara nekat, daripada mati konyol
lebih baik melawan sekuat tenaga.
Bu-cap-sah terloroh-loroh, tawa latah yang mengerikan. Siapa yang mendengar suara tawanya pasti
merinding dan mengkirik bulu kuduknya. Selama hidup takkan melupakan loroh tawa yang ganjil
dan menggiriskan itu.
Tidak ada orang yang mampu menyelamatkan diri dari tebasan golok sabit pengawal Persia itu. Di
saat golok melengkung itu bergerak, sebutir batu hitam kecil tentu melesat lebih dulu dengan
kecepatan kilat. Batu hitam yang dijentik jari tangan Bu-cap-sah. Si gila ini menjentik batu hitam
dengan jari tengah. Begitu batu menderu kencang dan deras, batu tepat menutuk Hiat-to lawan
Koleksi Kang Zusi
sehingga lawan tak berkutik lagi. Saat itulah golok melengkung pengawal Persia menyambar
lehernya.
Hanya Coat-taysu dan Thiat Tin-thian serta dua-tiga orang lagi yang mampu menyelamatkan diri,
tapi mereka tidak mampu mendekati ranjang untuk menyerang Bu-cap-sah. Sinar golok dan
muncratnya darah mengaburkan pandangan mereka. Boleh dikata mereka tidak melihat lagi
bayangan Bu-cap-sah.
Pada saat kritis itulah, mendadak mereka melihat Ma Ji-liong.
Ma Ji-liong terjun ke kancah pertarungan, menerjang ke dalam sinar golok dan tabir darah yang
berhamburan. Bukan mengantar jiwa, tapi keluar untuk menolong orang. Walau ia sendiri tidak
yakin dapat menyelamatkan diri, mundur secara utuh, tapi untuk menyelamatkan kawan, ia harus
berani menyerempet bahaya.
Tidak ada orang yang bisa mencegah dia, tidak ada orang yang bisa menariknya mundur. Biar diri
sendiri berkorban, ia tidak bisa berpeluk tangan menyaksikan pembantaian kejam itu berlangsung.
Orang-orang itu harus ditolong, mereka yang masih hidup harus dibebaskan dari renggutan elmaut.
Dalam waktu sekejap, hakikatnya Ma Ji-liong tidak memikirkan mati hidupnya sendiri.
--------------------------------------ooo00ooo--------------------------------------------
Ma Ji-liong tidak mati, malah tidak terluka atau cedera. Meski sekujur badan berlepotan darah,
namun ia berhasil menolong beberapa orang. Tapi begitu ia masuk ke dalam toko serba ada, begitu
pintu tertutup, Ma Ji-liong lantas roboh terlentang dengan napas ngos-ngosan. Ia nekat,
menyerempet bahaya, mempertaruhkan jiwa raga, lalu siapa saja yang berhasil ditolong oleh Ma Ji-
liong?
Bab 30: Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu
Ma Ji-liong akhirnya sadar. Kegaduhan sudah sirap, alam semesta seperti dilingkupi keheningan
yang membeku. Kini Ji-liong rebah di atas ranjang besar itu, ranjang satu-satunya yang ada di
rumah itu. Sejak beberapa bulan yang lalu, baru pertama kali ini ia rebah di atas ranjang.
Cia Giok-lun duduk di samping mengawasinya dengan rasa kuatir dan penuh perhatian. Di dalam
rumah itu hanya ada mereka berdua saja. Ma Ji-liong berusaha tersenyum, tapi senyumnya getir dan
nyengir, segera ia bertanya, “Mana orangnya?”
“Orang siapa?” Cia Giok-lun balas bertanya.
“Orang-orang yang kutolong itu?”
Cia Giok-lun tidak menjawab, ia malah balas bertanya, “Tahukah kau siapa saja yang kau tolong?”
“Aku tahu,” sahut Ma Ji-liong. “Thiat Tin-thian kembali bersama aku.”
“Kecuali dia, masih ada siapa lagi?”
“Masih ada Coat-taysu,” sikap Ma Ji-liong kelihatan tenang dan wajar. “Coat-taysu kembali
bersama kami.”
Koleksi Kang Zusi
Cia Giok-lun malah emosi, serunya, “Sadarkah kau bahwa orang yang kau tolong adalah Coat-
taysu?”
“Bagaimana aku tidak sadar?” Ma Ji-liong tertawa lebar. Kenapa ada sementara orang yang bisa
tertawa di saat tidak pantas tertawa?
“Kau sadar?” Cia Giok-lun memekik sambil terisak. Ia tak dapat mengekang perasaannya lagi,
suaranya melengking, “Kau sadar bahwa dialah yang menguber dirimu, orang yang hendak
membunuhmu sehingga kau menjadi buronan yang kepepet dan menghadapi jalan buntu? Tapi kau
masih mau menolongnya?”
“Yang kutolong adalah manusia,” sahut Ma Ji-liong tegas. “Asal dia manusia, perduli siapa dia, tak
boleh aku berpangku tangan melihat dia mati di tangan si gila itu. Perduli dia temanku atau musuh
yang hendak menuntut jiwaku, sikapku takkan berubah, aku tetap menolongnya tanpa kecuali.”
Cia Giok-lun menatapnya dengan pandangan aneh. Lama sekali baru ia bertanya, “Kau bicara jujur?
Atau sengaja bermuka-muka di hadapanku?”
Ma Ji-liong tak menjawab, ia menolak memberikan jawaban.
“Kau betul-betul baik hati, kau tidak berpura-pura,” desis Cia Giok-lun. “Tadi kau betul-betul
mempertaruhkan jiwa untuk menolong mereka.” Mendadak ia menghela napas, lalu lanjutnya,
“Sebetulnya aku tidak percaya bahwa kau orang baik, tapi sekarang aku percaya.”
----------------------------------------ooo00ooo--------------------------------------------
Sejak tadi Coat-taysu berdiri mematung di pinggir rak toko di pojok sana. Sejak ia masuk ke dalam
toko serba ada ini, ia berdiri di sana, tidak pernah pindah atau bergerak, juga tidak bersuara, melirik
pun tidak kepada orang lain. Tapi badannya penuh berlepotan darah, pakaian sobek, badan pun
terluka. Tapi ia tetap bersikap tenang dan wajar, luka-luka juga tidak diobati, darah dibiarkan
mengalir.
Masih ada dua kerabatnya yang tertolong bersama Coat-taysu. Kecuali Thiat Tin-thian, ada dua
orang yang ikut mengeroyok di rumah To Po-gi itu, tapi kedua orang ini menganggap tidak pernah
melihat Coat-taysu berada di dalam rumah itu. Sikap mereka seperti jijik, seakan-akan bila didekati
Hwesio yang satu ini, maka mereka akan ketularan penyakit jahat yang bisa merenggut jiwa
mereka. Sudah tentu mereka tahu orang-orang yang ada di toko ini adalah musuh besar Coat-taysu,
jelas kedua orang ini takut tersangkut oleh permusuhan kedua pihak.
Coat-taysu tidak memperdulikan orang lain. Pandangannya kosong, ia berdiri menjublek mirip
orang linglung.
Setelah hening sekian lama, tiba-tiba Toa-hoan bersuara lebih dulu, “Aku tahu, setelah kejadian ini
hatimu pasti mendelu. Asal kau mau berada di sini, kami pasti takkan mengusirmu.”
Coat-taysu tetap bungkam, tidak memberi reaksi.
Toa-hoan berkata pula, “Apakah kau ingin berbicara?”
“Ya,” tiba-tiba Coat-taysu berkata. “Tapi aku hanya ingin bicara dengan seorang saja.”
“Bicara dengan siapa?”
Koleksi Kang Zusi
“Aku akan bicara dengan Ma Ji-liong saja.”
Rumah kecil di tengah pekarangan itu dalam keadaan kalang kabut, kotor dan tidak pernah
dibersihkan. Di dalam rumah yang jorok itulah Toa-hoan sebagai Thio-lausit menetap empat bulan
lamanya. Sungguh heran bahwa gadis yang biasanya suka kebersihan ini tahan tinggal di tempat
yang kotor seperti kandang hewan itu. Kini ada dua orang yang sedang bicara di rumah kecil itu.
Akhirnya Coat-taysu bertatap muka dengan Ma Ji-liong.
“Tadi kau telah menolongku,” demikian Coat-taysu membuka kata. “Jikalau bukan karena
pertolonganmu, saat ini aku takkan berada di sini. Kalau aku tidak berada di sini, seperti juga orang-
orang itu, pasti sudah mampus di luar sana.” Suaranya kalem, lalu ia melanjutkan, “Tapi urusanmu
dengan aku belum selesai, persoalan itu tetap harus dibereskan. Sehari aku belum mati dan kau
belum mampus, aku tetap akan membuat perhitungan dengan kau.”
Ma Ji-liong tertawa, katanya tawar, “Aku menolong kau bukan menuntut imbalan, bukan lantaran
kau adalah Coat-taysu yang menuntut jiwaku. Aku tak akan memaksa kau untuk membatalkan
urusanmu dengan aku, menuntut imbalan kepadamu. Kalau aku punya maksud demikian, buat apa
aku menolongmu?”
“Akan tetapi, persoalan itu belum boleh dianggap beres.”
“Betul. Aku tidak perduli bagaimana sikapmu terhadapku sebelum ini, karena kita belum tentu
dapat mempertahankan hidup sampai besok.”
“Tetapi sekarang kita belum mati,” Coat-taysu berkata. “Penjahit belum datang, pupur dan gincu
juga belum diantar, si gila takkan menerjang ke mari dalam waktu dekat ini.”
“Ya, semoga demikian.”
“Tapi memang demikian,” ucap Coat-taysu. “Aku paham sepak terjang si gila itu. Ia anggap kita
sebagai ikan dalam jaring, maka tidak perlu ia merenggut jiwa kita secara tergesa-gesa.” Demikian
katanya pula, “Oleh karena itu, bukan mustahil kita masih punya kesempatan untuk meloloskan diri,
maka aku ingin bicara dengan kau. Entah selanjutnya kita menjadi kawan atau lawan, dalam jangka
waktu dekat ini, aku Sin Coat-cu akan tunduk pada perintah seorang yang bernama Ma Ji-liong saja.
Selama hidupku, belum pernah tunduk apalagi diperintah orang, namun kali ini terkecuali.”
Ma Ji-liong menatapnya lekat. Lama sekali baru ia bertanya, “Untuk hal itukah kau ingin bicara
dengan aku?”
“Ya,” pendek jawaban Coat-taysu.
Kecuali Thiat Tin-thian dan Coat-taysu, yang ditolong Ma Ji-liong masih ada dua orang lagi.
Seorang adalah Ong Ban-bu. Meski sebelah lengannya dipelintir putus oleh Toa-hoan yang
menyaru sebagai Thio-lausit, untung dia tidak mampus oleh sambaran golok sabit yang tidak
mampu dikelit orang lain itu.
Di saat Coat-taysu berbicara dengan Ma Ji-liong, Toa-hoan bertanya kepada Thiat Tin-thian, “Aku
tahu saudara angkatmu jatuh ke tangan Coat-taysu, apa kau tidak ingin tahu bagaimana nasib
saudaramu itu?”
“Sudah tentu aku ingin tahu,” sahut Thiat Tin-thian.
Koleksi Kang Zusi
“Kenapa tidak kau tanyakan kepadanya?” kata Toa-hoan.
“Aku tidak mau tanya, juga tidak ingin tanya,” tertekan suara Thiat Tin-thian. “Aku takut dia sudah
mati di tangan Hwesio gundul itu.”
Jika benar Thiat Coan-gi sudah ajal ditangan Coat-taysu, Thiat Tin-thian harus menuntut balas,
pasti takkan membiarkan Coat-taysu berdiri di rumah itu.
“Tapi aku tak boleh membunuhnya,” demikian kata Thiat Tin-thian lebih jauh. “Dengan
mempertaruhkan jiwa, Ma Ji-liong menolongnya, maka aku tidak boleh melukainya, meski hanya
seujung rambutnya saja.”
Saat mana Ma Ji-liong sudah kelihatan keluar dari rumah kecil itu, Ong Ban-bu mendadak berkata
kepada Toa-hoan, “Aku juga ingin bicara empat mata dengan dia.”
“Dengan siapa?” tanya Toa-hoan. “Bicara dengan Ma Ji-liong?”
“Betul,” sahut Ong Ban-bu.
“Kau juga ingin omong?” Toa-hoan bertanya. “Apa yang ingin kau katakan apakah hanya boleh
diketahui dia saja?”
Ong Ban-bu menganggukkan kepala. Di waktu mengangguk, matanya mengawasi Thiat Tin-thian,
karena ia tahu Thiat Tin-thian pasti ingin bicara dengannya.
Thiat Tin-thian memang bertanya, “Tahukah kau kenapa kau belum mati?”
Ong Ban-bu menyahut, “Aku belum mati, karena kau melindungi aku. Dahulu kita memang kawan
juga musuh, sekarang kau anggap aku sebagai teman baik lagi.”
“Tapi apa yang ingin kau katakan hanya boleh didengar Ma Ji-liong saja, kenapa kau tidak bicara
dengan aku? Jelas kau tidak percaya kepadaku?”
“Aku percaya kepadamu, tapi aku lebih percaya kepada Ma Ji-liong.”
“Kenapa kau lebih percaya kepadanya?” desak Thiat Tin-thian.
“Karena Coat-taysu percaya kepadanya. Apakah Coat-taysu kawan baiknya?”
“Bukan.”
“Musuh besar dan kawan-kawan pun percaya kepada Ma Ji-liong, kenapa orang lain tidak boleh
percaya kepadanya?”
Mendadak Thiat Tin-thian bergelak tawa, “Bagus,” serunya memuji. “Bagus sekali ucapanmu itu.”
Dengan keras ia menepuk pundak Ong Ban-bu, “Baiklah, kau boleh bicara empat mata dengan dia.”
-------------------------------------ooo00ooo-----------------------------------------------
Ma Ji-liong tidak mengira bahwa Ong Ban-bu ingin bicara dengan dia, lebih tak diduganya lagi
kalau persoalan yang dibicarakan Ong Ban-bu adalah rahasia yang sebetulnya tidak boleh diketahui
orang lain.
Koleksi Kang Zusi
“Aku belum mati bukan karena Thiat Tin-thian melindungi aku,” Ong Ban-bu berkata. “Aku belum
mati karena Bu-cap-sah tidak ingin membunuh aku.” Lebih jauh ia membeberkan rahasia Bu-cap-
sah. “Kepandaian Tan-ci-sin-thong atau Jentikan Batu Menutuk Hiat-to yang diyakinkan Bu-cap-
sah memang sudah sempurna. Betapa cepat sambaran golok pengawal Persia itu juga lebih unggul
dibanding orang lain, akan tetapi orang-orang yang mati oleh tebasan golok sabit itu bukan
seluruhnya gugur oleh timpukan batu dan terbacok golok pengawal Persia itu.”
“O, tidak seluruhnya?”
“Orang-orang yang mati itu, sebagian besar adalah mereka yang mau diperbudak dan disogok oleh
harta dan kedudukan,” demikian Ong Ban-bu menjelaskan lebih lanjut. “Thio-sam adalah kawan
baik Li-si, mereka datang bersama. Thio-sam mau diperbudak setelah disiksa dan diancam jiwanya
oleh Bu-cap-sah, hal ini di luar tahu Li-si. Begitu golok melengkung di tangan pengawal Persia
menyabet, batok kepala Li-si terpenggal dan mati. Bukankah orang lain beranggapan bahwa
kematian Li-si lantaran tidak mampu menyelamatkan jiwanya dari sambaran golok musuh?”
“Ya, pasti demikian anggapan orang,” ujar Ma Ji-liong.
“Apalagi orang lain melihat Bu-cap-sah menjentik jari dan batu pun terbang, apakah tidak
beranggapan bahwa kematian Li-si lantaran tersambit Hiat-tonya oleh jentikan batu Bu-cap-sah?”
“Ya, betul.”
“Tapi kenyataannya bukan demikian,” tutur Ong Ban-bu. “Sebenarnya Hiat-to mereka bukan
tertutuk oleh sambitan batu Bu-cap-sah, namun Hiat-to mereka tertutuk oleh kawan sendiri di saat
keadaan sedang ribut. Li-si mati karena sebelumnya Hiat-tonya sudah ditutuk oleh Thio-sam, sudah
tentu dia tidak mampu menyelamatkan diri dari tebasan golok melengkung itu.” Sampai di sini Ong
Ban-bu menghela napas, “Aku membocorkan rahasia ini kepadamu karena aku tidak ingin kau
menilai ilmu silat Bu-cap-sah terlalu tinggi. Kuharap kau tidak memandangnya sebagai malaikat
yang digdaya.”
Ma Ji-liong bertanya, “Bagaimana kau tahu tentang rahasia ini?”
“Karena aku juga diperbudak oleh Bu-cap-sah,” Ong Ban-bu mengaku terus terang. “Sebagai salah
satu alatnya yang terpercaya, maka aku tidak mati di arena pertempuran tadi.”
“Lalu kenapa kau membongkar rahasia ini kepadaku?” tanya Ma Ji-liong.
“Karena aku mempercayaimu,” kata Ong Ban-bu. “Sekarang aku sudah yakin, engkau pasti takkan
mengkhianati orang lain.”
Kecuali Coat-taysu, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu, masih ada seorang lagi yang ditolong oleh Ma
Ji-liong.
Usia orang keempat ini belum terlalu tua kalau tidak mau dibilang masih setengah baya, tapi juga
tidak muda lagi. Dilihat tampangnya, wajahnya tidak tampan, tapi juga tidak jelek, pakaiannya tidak
mewah, namun pasti tidak sembarangan. Setiap hari di mana saja kau bisa bertemu banyak orang
seperti laki-laki setengah baya ini. Mungkin karena kelihatannya dia biasa saja, tiada tanda-tanda
yang menyolok pada dirinya.
Menjadi orang 'biasa' kadang kala juga merupakan suatu cara yang baik untuk mengelabui orang,
suatu cara untuk menyelamatkan diri.
Koleksi Kang Zusi
Jelas dan gamblang Toa-hoan adalah salah satu jenis orang seperti itu. Sejak tadi dia
memperhatikan orang biasa ini, mendadak ia bertanya, “She apakah engkau?”
Orang 'biasa' ini hanya tertawa lebar, manggut-manggut lalu menggelengkan kepala pula, tingkah
dan sikapnya seperti orang pikun dan linglung.
Toa-hoan bertanya pula, “Kau tidak mendengar pertanyaanku? Atau tidak bisa bicara?”
Orang 'biasa' ini tetap tidak bersuara. Kembali ia manggut-manggut lalu menggelengkan kepala
pula, namun mimik mukanya selalu tersenyum ramah.
Tiada orang yang tahu apa arti kelakuannya yang jenaka ini, demikian pula Toa-hoan juga tidak
habis mengerti. Mungkin orang 'biasa' ini sengaja bertingkah dengan lucu dan penuh teka-teki
supaya orang lain tidak tahu.
Mendadak Toa-hoan tertawa juga meniru sikap dan tingkah orang, “Kau jelas bukan orang tuli dan
bisu, namun kau tidak mau memperkenalkan diri,” suaranya tawar. “Memang kau boleh tidak
menjawab setiap pertanyaanku, tapi kalau orang lain yang bertanya kepadamu, kalau kau tidak
memberi keterangan, kan berabe jadinya.”
Mendadak orang itu bersuara, ia balas bertanya, “Bukankah kalian sedang menunggu seseorang?”
“Menunggu seseorang? Ah, tidak,” ujar Toa-hoan menggelengkan kepala.
“Lho, sudah lupa? Kalian kan menunggu tukang jahit,” demikian kata orang itu. “Tukang jahit
utusan Bu-cap-sah untuk mengukur dan menjahit pakaian pengantin she Cia di sini.”
Toa-hoan menatap tajam, “Dari mana kau tahu kalau Bu-cap-sah mengutus seorang tukang jahit ke
mari? Dari mana pula kau tahu kalau kami sedang menunggu dia?”
“Kenapa aku tidak tahu,” ucap orang itu. “Aku malah tahu bahwa penjahit itu sekarang sudah
datang. Bukan saja kain, gincu dan pupur sudah dibawa, ia pun membawa sebuah tandu berhias
kembang untuk menjemput mempelai perempuan.”
“Di mana penjahit itu sekarang?” tanya Toa-hoan.
“Berada di sini,” orang biasa itu mendadak mengunjuk tawa yang tidak biasa. “Aku adalah penjahit
utusan Bu-cap-sah.”
Kalau dipandang dengan seksama, orang ini memang mirip penjahit. Tapi bila kau perhatikan lebih
lanjut, kau akan merasa dia tidak mirip apa pun. Terserah kau mau bilang dia tukang apa atau ahli
apa, orang lain pasti tak curiga.
Dalam setiap usaha yang ada di dunia ini, pasti ada orang sejenis dia, biasa dan awam. Tampang
biasa, sikap dan tingkah laku biasa, sederhana dan ramah tamah serta murah senyum.
“Aku adalah penjahit yang baik. Seratus li di daerah ini, aku yakin tiada penjahit lain yang lebih
baik dari aku,” demikian kata orang 'biasa' itu dengan senyum simpul. “Hasil karyaku cocok dan
memenuhi selera, model mutakhir dan potongan pun memenuhi selera.”
Koleksi Kang Zusi
Penjahit yang baik memang selalu disenangi dan banyak langganannya. Kecuali penjahit yang satu
ini, dalam keadaan dan situasi begini, di tempat ini lagi, pasti tak ada orang yang senang kepadanya,
tiada orang yang mau menerima kehadirannya.
Tawa Toa-hoan kelihatan dipaksakan, katanya, “Aku juga bisa melihat kau memang seorang
penjahit yang baik. Tapi betapapun baik seorang penjahit, tanpa ada bahan untuk bekerja, dia tetap
takkan bisa membuat pakaian.”
Bila pakaian selesai dijahit, Bu-cap-sah takkan memberi kesempatan kepada mereka untuk duduk
dan mengobrol secara santai begitu. Maka mereka mengharap penjahit ini tak bisa menunaikan
tugasnya, pakaian tidak rampung dijahit, karena jelas orang ini tidak membawa kain dan benang,
jarum atau gunting.
Tukang jahit itu berkata, “Tadi aku sudah bilang, kain sudah kubawa, kutanggung mutunya juga
yang terbagus, warnanya baik, coraknya juga indah, mutunya tinggi. Kutanggung takkan luntur
meski dicuci seratus kali.”
“Di manakah bahan pakaian yang kau bawa itu?”
Bab 31: Penjahit Luar Biasa
“Tadi aku sudah bilang kubawa, tentu ada di sini.”
Toa-hoan, Cia Giok-lun, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu menyaksikan penjahit ini tidak membawa
apa-apa, bertangan kosong, tetapi sambil bicara ia berputar satu lingkaran. Waktu ia menghadap
pula ke arah mereka, tangannya sudah memegang dua blok kain. Satu blok kain sutera di tangan
kanannya berdasar merah, malah tersulam kembang mawar kuning emas.
Sudah tentu Toa-hoan berempat berdiri melongo. Tak ada di antara mereka yang melihat jelas
dengan cara apa penjahit ini menyembunyikan dan mengeluarkan dua blok kain sutera itu. Seperti
main sulap saja, tahu-tahu bahan pakaian sudah tersedia. Beruntun penjahit itu mengeluarkan lagi
sebungkus pupur wangi, gincu dan minyak wangi. Sukar orang membayangkan dan rasanya tidak
masuk akal, barang sebanyak itu entah di mana ia sembunyikan.
Thiat Tin-thian berkata setelah menghela napas, “Sungguh tak dinyana, kami gembong-gembong
silat yang sudah kawakan berkecimpung di Kangouw juga dapat kau kelabui dengan cara yang
begini sepele. Aku rasa saudara tentu seorang kosen juga.”
Dengan senyum manis penjahit itu menggelengkan kepala, katanya, “Aku bukan orang kosen,
sedikit pun aku tidak kosen. Yang pasti kau berperawakan lebih tinggi gede dibanding aku. Orang
yang bertubuh gede akan makin gagah dan enak dipandang bila mengenakan pakaian karyaku.”
Dari atas sampai bawah ia memperhatikan tubuh Thiat Tin-thian, “Hanya sayang pakaian yang
melekat di tubuhmu sekarang jelek jahitannya, tidak cocok dengan potongan tubuhmu. Lain kali
kalau ada waktu, akan kubuatkan beberapa perangkat pakaian untukmu.”
“Kalau tidak salah tadi aku mendengar kau bilang membawa juga tandu pengantin?” tanya Thiat
Tin-thian.
“Kalau sudah tiba saatnya, tandu pengantin pasti akan ke mari,” demikian ujar penjahit itu.
“Mempelai laki dan perempuan saja tidak gugup, tidak ingin lekas kawin, kenapa justru kalian yang
terburu nafsu.”
Koleksi Kang Zusi
Mendengar penjahit ini bicara tentang 'mempelai laki dan perempuan', roman muka semua orang
pun berubah hebat. Terutama Cia Giok-lun, tubuhnya bergoncang dan berkeringat dingin.
Dugaan mereka tidak keliru. Ambisi Bu-cap-sah tidak kecil. Jika ia mempersunting puteri tunggal
Bik-giok-san-ceng, Bik-giok Hujin pasti bisa mati saking marahnya. Toa-hoan juga harus bunuh
diri dengan menumbukkan kepala ke dinding karena gagal menunaikan tugasnya.
Mendadak Thiat Tin-thian bertanya kepada Toa-hoan, “Apakah kita biarkan saja orang ini membuat
pakaian untuk nona Cia?”
“Tidak boleh, jangan beri peluang dia bekerja di sini,” sahut Toa-hoan.
“Adakah penjahit di dunia ini yang tidak bisa membikin pakaian orang?”
“Kurasa ada, hanya dengan satu macam cara untuk membuat penjahit tidak bisa bekerja.”
“Dengan satu cara? Lalu penjahit macam apa yang takkan bisa bekerja itu?”
“Penjahit yang sudah putus jiwanya.”
Ternyata penjahit itu bersikap tenang dan wajar. Dengan asyik ia mendengarkan percakapan mereka
dengan tersenyum ramah, seperti orang linglung yang tidak mengerti apa arti percakapan mereka.
Akhirnya dia berkata, “Aku bukan penjahit mampus. Sekarang aku masih segar bugar, penjahit
bagus yang selalu bekerja penuh gairah.”
“Sayang sekali, betapapun penjahit bagus akhirnya akan mampus juga,” demikian jengek Thiat Tin-
thian. Perlahan ia mengulurkan tangannya ke depan. Luka-lukanya sudah hampir sembuh. Di mana
telapak tangan besinya terangkat, ruas tulang tubuhnya mendadak berkeratakan seperti petasan.
Umpama penjahit itu orang pikun, manusia goblok, pasti juga paham apa maksud perkataan Thiat
Tin-thian. Mendadak ia berseru sambil mengangkat sebelah tangan, “Tunggu dulu, aku masih ingin
bicara.”
“Katakan, lekas.”
“Persoalan yang ingin kubicarakan, hanya akan kubicarakan empat mata saja dengan Ma Ji-liong,”
demikian kata penjahit itu.
“Dia tidak akan mendengarkan obrolanmu,” jengek Thiat Tin-thian sambil mendesak dua langkah.
“Aku tahu dia tidak akan mau mendengar.”
Mendadak Ji-liong menepuk bahu penjahit itu lalu menggandengnya keluar, ke belakang. Tidak ada
yang mencegah, tidak ada orang yang berani menentang. Suatu yang diputuskan Ma Ji-liong, tidak
ada orang yang berani menentang.
Rahasia apa yang dibicarakan penjahit itu dengan Ma Ji-liong? Kenapa hanya boleh dibicarakan
dengan Ma Ji-liong seorang saja?
Tidak ada orang yang tahu, tiada orang yang ingin tahu. Semua orang percaya kepada Ma Ji-liong,
seperti mereka percaya kepada diri sendiri. Siapa pun tidak tahu jelas, sejak kapan keadaan seperti
ini terjadi dan seperti menjadi ketentuan di sini, yang jelas keadaan sekarang memang sudah
demikian.
Koleksi Kang Zusi
----------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------
Cukup lama kemudian baru kelihatan Ma Ji-liong memasuki rumah besar pula. Toa-hoan berlari
menyongsong sambil bertanya, “Mana penjahit itu?”
“Di belakang sedang mengukur badan Cia Giok-lun dan membikin pakaian.”
“Kenapa kau memberi izin dia bekerja?”
“Dia seorang penjahit, kehadirannya di sini untuk membuat pakaian. Lebih dulu mengukur badan,
memotong kain lalu menjahit,” demikian ucap Ma Ji-liong kalem. “Kan bukan hanya dia seorang
tukang jahit yang ada di dunia ini, kalau aku tidak memberi izin kepadanya, penjahit lain juga bisa
diutus ke mari.”
Penjelasan Ma Ji-liong tidak memuaskan, hati orang tidak lega dan puas. Sekarang mereka perlu
mengejar waktu, semenit lebih cepat, semenit lebih banyak peluang mereka.
Pantasnya Ma Ji-liong tahu akan hal ini, sayang ia justru berbuat bodoh, pura-pura tidak mengerti?
Di saat orang-orang di dalam toko serba ada itu menghela napas gegetun, Bu-cap-sah yang ada di
luar toko malah bergelak tawa, “Sudah lama aku tidak pernah merasa kagum dan memuji orang
lain,” demikian serunya. “Sekarang aku harus memuji kau.”
“Kau kagum padaku?” tanya Ma Ji-liong. “Kenapa kau memuji aku?”
“Karena kau adalah Ma Ji-liong. Laki-laki gundul itu adalah musuh besarmu, sejak lama dia ingin
membekuk dan menguburmu hidup-hidup,” demikian ucap Bu-cap-sah lantang. “Tapi sekarang
mereka tunduk kepadamu, rahasia apa pun hanya dibicarakan denganmu seorang saja. Umpama
tahu apa yang kau lakukan adalah perbuatan seorang goblok, namun tiada orang yang menentang.
Orang macam dirimu sebetulnya tidak setimpal mampus bersama mereka.”
“Memangnya aku harus bagaimana?” tanya Ma Ji-liong.
“Kau harus keluar, berhadapan dengan aku dan menjadi sahabatku. Hanya kau yang setimpal
menjadi sahabatku.”
Ma Ji-liong segera menjawab dengan tegas, “Baik, aku segera keluar.”
Habis bicara Ma Ji-liong melangkah keluar. Siapa pun tak menduga bahwa Ma Ji-liong berani
keluar dan betul-betul keluar, Bu-cap-sah sendiri juga tidak mengira.
Tapi Ma Ji-liong betul-betul melakukan perbuatan yang tidak mampu dilakukan orang lain meski di
alam mimpi sekalipun. Apa betul ia ingin bersahabat dengan si gila itu? Apakah ia tidak tahu,
begitu keluar jiwanya mungkin akan melayang di tangan si gila?
Apakah Ma Ji-liong juga seorang gila, gila seperti Bu-cap-sah? Biasanya ia kelihatan waras,
padahal ia juga gila, orang edan?
-----------------------------------------------ooo00ooo---------------------------------------------------
Setelah Ma Ji-liong membuka pintu kecil di samping pojok sana, baru orang banyak terbelalak
kaget. Toa-hoan memburu maju hendak menariknya, tapi batal. Thiat Tin-thian mengawasi Toa-
Koleksi Kang Zusi
hoan, Toa-hoan juga mengawasinya. Kedua orang ini seperti tak percaya bahwa Ma Ji-liong
mendadak berubah menjadi manusia gila.
“Apakah dia juga sudah gila?”
“Kelihatannya tidak.”
Sebetulnya hanya Toa-hoan seorang di antara mereka yang paling paham tentang pribadi Ma Ji-
liong, menyelami watak dan jiwanya, tapi sekarang Toa-hoan pun bimbang, ia tidak yakin apakah
yang dirasakan selama ini pada pemuda yang satu ini adalah benar dan sehat.
“Kelihatannya dia bukan orang bodoh.”
“Otaknya memang amat cerdas.”
“Lalu kenapa dia keluar?”
“Hanya Thian yang tahu.”
Kejadian yang susah dimengerti, susah diterima nalar begini memang hanya bisa diketahui oleh
Thian saja, kenapa hal ini harus terjadi?
Mendadak Thiat Tin-thian bertanya, “Menurut pendapatmu, apakah penjahit itu tidak
mencurigakan?”
“Ya, aneh dan patut dicurigai, harus diawasi.”
Terhadap siapa saja, kalau seseorang dalam sekejap dapat menyulap dua blok kain hanya dengan
sekali putar badan, mengeluarkan dua blok kain sutera sebesar itu dari dalam pakaiannya, maka dia
pasti bukan orang biasa.
“Aku tahu di kalangan Kangouw ada sejenis ilmu yang dinamakan Sip-sim-sut (ilmu sihir),
penonton dikelabui oleh kekuatan gaibnya sehingga pandangan kabur dan pikiran ngelantur.”
“Ya, memang ada ilmu seperti itu.”
“Menurut pendapatmu, apakah Ma Ji-liong bukan terpengaruh oleh ilmu sihir itu? Maka ia
mendadak berubah gila?”
Dugaan itu mungkin tepat, mungkin juga keliru. Tapi masih ada kemungkinan lain, yaitu penjahit
itu tengah menyandera Cia Giok-lun, lalu Ma Ji-liong diancam dan dipaksa melakukan
permintaannya.
Agaknya jalan pikiran Thiat Tin-thian dan Toa-hoan sama. Tanpa berjanji kedua orang ini serempak
menerjang ke dalam lewat pintu kecil bertirai itu. Tapi begitu berada di dalam, seketika mereka
tertegun kaget, jauh lebih kaget dibanding waktu melihat Ma Ji-liong membuka pintu dan beranjak
keluar tadi, lebih kaget dibanding bila mereka melihat setan yang mengerikan.
Sudah puluhan tahun Thiat Tin-thian malang melintang di Kangouw, kejadian apa saja pernah ia
hadapi, tapi belum pernah ia menghadapi kejadian yang mengejutkan seperti kali ini. Mereka
hampir tidak percaya oleh pandangan matanya sendiri, tidak percaya menghadapi kenyataan.
Koleksi Kang Zusi
----------------------------------ooo00ooo-------------------------------------------
Mereka melihat apa?
Bab 32: Tangan Yang Mengejutkan
Keadaan di dalam rumah sudah berbeda dibanding waktu mereka meninggalkan tempat ini.
Ranjang besar yang terletak di tengah ruang sudah dibongkar dan disingkirkan ke pinggir. Cia
Giok-lun yang semula harus meronta-ronta untuk berganti pakaian dan membersihkan badan itu
sekarang sudah berdiri tegak, berjalan atau bergerak dengan leluasa seperti orang sehat.
Tapi ini bukan sebab utama kenapa Thiat Tin-thian dan Toa-hoan kaget setengah mati. Mereka
kaget karena di dalam rumah melihat Ma Ji-liong lagi. Yang berdiri jajar di pinggir Cia Giok-lun
ternyata bukan penjahit tadi, tetapi adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong masih dalam penyamarannya
sebagai Thio Eng-hoat.
Padahal mata mereka belum lamur, melihat dengan nyata, dengan gamblang bahwa Ma Ji-liong
lewat di depan mereka, tapi sekarang mereka melihat dengan jelas pula seorang Thio Eng-hoat alias
Ma Ji-liong berdiri segar bugar di hadapan mereka.
---------------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------------
Ternyata Thio Eng-hoat alias Ma Ji-liong yang mereka lihat beranjak keluar tadi bukan Ma Ji-liong
yang asli. Jadi dua kali mereka melihat Thio Eng-hoat, padahal dalam kesan mereka Thio Eng-hoat
adalah samaran Ma Ji-liong, dwi tunggal, dua orang yang menjadi satu. Kini di dalam rumah
mereka saksikan lagi seorang Thio Eng-hoat, padahal laki-laki ini tadi sudah keluar rumah. Lalu
dari mana dia masuk dan tahu-tahu sudah berada di dalam rumah pula. Lalu di mana tukang jahit
tadi?
Karena ranjang besar itu dibongkar dan disingkirkan, kamar itu menjadi luang dan lebar. Bukan
duduk atau mondar-mandir, ternyata Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun berdiri diam penuh perhatian di
tempat itu, di mana tadi ranjang itu berada. Mata mereka tertuju ke lantai, penuh perhatian mereka
mengawasi lantai kosong itu. Begitu Toa-hoan dan Thiat Tin-thian menerobos masuk, Ma Ji-liong
segera mengangkat jari telunjuk mendekap mulut, memberi isyarat dengan maksud supaya mereka
tidak bersuara.
Syukur Toa-hoan dan Thiat Tin-thian adalah orang-orang yang tabah. Meski menghadapi kejadian
yang mengejutkan, mereka tidak berteriak kaget. Agaknya mereka tidak lupa bahwa si gila mampu
mendengar ular yang lagi bermain cinta dan kura-kura bertelur.
Sigap sekali Toa-hoan berlari keluar. Waktu masuk lagi dia membawa kertas dan alat tulis. Dengan
tulisan ia bertanya pada Ma Ji-liong, “Siapa kau?”
Agaknya susah baginya membedakan apakah Thio Eng-hoat yang satu ini betul adalah samaran Ma
Ji-liong tulen.
Orang ini betul adalah Ma Ji-liong. Cia Giok-lun memberikan kesaksian.
“Siapakah orang yang keluar tadi?” tanya pula Toa-hoan dengan tulisan.
“Tukang jahit itu,” kembali Cia Giok-lun yang menjawab, sudah tentu dengan tulisan pula.
Koleksi Kang Zusi
Walau sudah menduga hal itu, tetapi Toa-hoan dan Thiat Tin-thian tak mau percaya begitu saja,
“Bagaimana tukang jahit itu bisa berubah menjadi Thio Eng-hoat?”
Kali ini Ma Ji-liong tertawa. Dengan alat tulis ia menjawab pertanyaan itu, tulisannya bergaya
indah, “Kalau dia mampu mengubah aku menjadi Thio Eng-hoat, kenapa dia sendiri tidak mampu
merubah dirinya menjadi Thio Eng-hoat?”
Toa-hoan melongo. Ia betul-betul kaget dan heran, juga amat senang. Sungguh tak pernah terbayang
dalam benaknya kalau orang ini bisa datang ke mari. Sekarang ia paham apa yang telah terjadi.
Tapi Thiat Tin-thian masih belum mengerti. “Siapakah orang yang kalian bicarakan itu?” tanyanya
dengan tulisan juga.
Toa-hoan segera menulis 'Giok-jiu-ling-long Giok Ling-long, tokoh besar yang misterius, namanya
sudah menggetarkan dunia persilatan sejak enam puluh tahun yang lalu.
-------------------------------------------ooo00ooo------------------------------------------
Persoalan yang kelihatannya ruwet dan mengejutkan, kalau sudah terbongkar, jawabannya ternyata
amat mudah, sederhana dan sepele.
Sekarang Thiat Tin-thian juga sudah mengerti. Ling-long-giok-jiu Giok Ling-long, nama yang
cukup memberi jaminan, memberi penjelasan tuntas.
Dengan tata rias yang tiada banding di dunia ini, menyamar menjadi seorang tukang jahit yang
kelihatannya biasa dan tidak menarik perhatian orang, sebagai tukang jahit undangan Bu-cap-sah ia
menyelundup ke mari. Tiada orang yang menduga bahwa ia akan dan sudah berada di sini, oleh
karena itu tiada orang yang melihat gejala-gejala yang mencurigakan pada dirinya.
Kesempatan waktu ia berhadapan empat mata dengan Ma Ji-liong tadi, ia merubah dirinya menjadi
seorang Thio Eng-hoat yang lain dengan bahan-bahan make-up yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Baru sekarang Toa-hoan membayangkan, wajah tukang jahit tadi lapat-lapat memang ada sedikit
mirip dengan Thio Eng-hoat, beberapa segi malah ada titik persamaannya. Dengan kemampuannya
yang luar biasa, hanya sekedar memproses sini dan memperbaiki sana, dengan keahlian kedua
tangannya, lekas sekali wajahnya sudah berubah menjadi Thio Eng-hoat. Jelas hal ini juga sudah ia
rencanakan lebih dulu.
Kenapa Giok Ling-long berbuat demikian? Kenapa ia menampilkan diri pula dalam percaturan
Kangouw sebagai Ma Ji-liong, berani keluar untuk menemui dan berhadapan langsung dengan Bu-
cap-sah? Toa-hoan tidak habis mengerti, Thiat Tin-thian juga bingung.
Lantai kosong di mana ranjang besar tadi berada, kecuali debu kotoran yang tidak pernah disapu,
tidak ada barang apa pun di lantai itu. Lalu apa yang dilihat dan diperhatikan oleh Ma Ji-liong dan
Cia Giok-lun?
Kenapa ranjang besar itu mereka bongkar? Toa-hoan dan Thiat Tin-thian juga merasa bingung.
Mereka bertanya dengan tulisan pada Ma Ji-liong, tapi yang ditanya hanya tertawa-tawa saja, tawa
yang penuh mengandung arti. Terpaksa mereka hanya ikut berdiri melongo seperti orang bodoh
mengawasi lantai kosong yang tidak ada apa-apanya yang bisa ditonton itu.
Koleksi Kang Zusi
Di saat Toa-hoan dan Thiat Tin-thian menghela napas, merasa dirinya seperti orang bodoh,
mendadak mereka berjingkat mundur. Kembali mereka menyaksikan kejadian luar biasa yang
mengejutkan.
--------------------------------------ooo00ooo-----------------------------------------------
Mereka berjingkat karena melihat sebuah tangan, tangan manusia. Lantai kosong yang semula tiada
apa-apanya itu, mendadak tanahnya kelihatan bergerak-gerak lalu mencuat minggir seperti digali
oleh seekor tikus dari dalam tanah, lalu muncul sebuah tangan manusia dari bawah tanah.
Tangan manusia yang kelihatan kasar, kekar lagi penuh tenaga, mirip benih pohon yang mulai
bersih mencuat keluar dari dalam tanah. Jari tengah, jari manis dan jari kelingking tegak berdiri,
sementara jari telunjuk berpadu dengan ibu jari membuat lingkaran. Gaya tangan seperti itu
umumnya memberi tanda bahwa segala urusan sudah beres, berarti dia sudah menunaikan tugas
dengan baik, segala persoalan tidak perlu dikuatirkan.
Tangan siapakah yang muncul dari dalam tanah ini? Bagaimana mungkin tangan manusia muncul
dari bawah tanah? Toa-hoan dan Thiat Tin-thian tidak ragu dan bimbang bahwa tangan itu benar
milik manusia hidup. Tangan orang mati tak mungkin bisa bergerak dan memberi tanda dengan
gerakan.
Sudah berapa lama Toa-hoan tinggal di rumah ini, tak pernah tahu ada sesuatu gejala yang
mencurigakan bahwa di bawah tanah ini ada dihuni orang. Dengan kemampuan Toa-hoan, tidak
mungkin diketahui bila ada manusia hidup dan tinggal di bawah tanah di mana mereka bertempat
tinggal.
Toa-hoan dan Thiat Tin-thian amat kaget begitu melihat tangan itu muncul dari dalam tanah, tetapi
Ma Ji-liong dan Cia Giok-lun ternyata bersikap adem-ayem, tidak kaget sama sekali, Cia Giok-lun
malah tersenyum lega.
Ma Ji-liong maju selangkah lalu membungkuk badan, tangannya diulur, dengan jari telunjuk ia
menutul tiga kali di ujung jari tengah tangan itu. Selang beberapa saat ia menutul tiga kali, beruntun
ia menutul tiga kali tiga sama dengan sembilan kali.
Tangan yang mengejutkan itu mendadak mengkeret masuk ke dalam tanah. Tanah kosong yang
tiada apa-apanya itu kini betul-betul menjadi kosong, hanya bertambah sebuah lubang. Lubang yang
cukup besar untuk tangan orang diulur keluar atau tangan yang merogoh masuk ke dalam lubang.
Tangan itu sudah lenyap, tiada kelihatan, tapi lubang itu masih menganga meski lubangnya tidak
lebar.
-----------------------------------------------ooo00ooo----------------------------------------------------
Tangan keluar dari dalam lubang, lalu dari mana datangnya lubang itu? Tanah di bawah rumah ini
jelas bersatu dengan bumi, tanah di bawah rumah ini jelas tidak berbeda dengan tanah di lain
tempat. Di sini mungkin kau bisa menanam pohon atau rumput, pohon juga bisa tumbuh
berkembang dan berbuah, tapi tak mungkin tanpa sebab mendadak bolong atau berlubang. Lubang
yang sembarang waktu bisa dilalui tangan yang keluar dan masuk.
Toa-hoan mengawasi Thiat Tin-thian, Thiat Tin-thian juga mengawasi Toa-hoan, lalu mereka
menoleh bersama ke arah Ma Ji-liong. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, namun mereka
yakin Ma Ji-liong bisa memberi penjelasan.
Koleksi Kang Zusi
Ma Ji-liong masih asyik memperhatikan lubang itu, tidak memandang mereka, melihat pun tidak,
seluruh perhatian ditujukan ke arah lubang itu.
Lubang itu semula selebar mulut gelas, mendadak tampak berubah makin besar, tanah di sekitar
lubang mendadak bergerak seperti beriak. Makin lama riak gelombang makin besar, tanah juga
berguguran ke bawah hingga bergolak seperti air mendidih di dalam kuali.
Mendadak tanah yang bergolak itu seluruhnya amblas ke bawah, lubang kecil itu mendadak
berubah menjadi lubang gede, lubang sebesar permukaan meja bundar. Begitu lubang menjadi
besar, dari bawah tanah muncullah seseorang, seorang berwajah persegi yang berlepotan tanah,
namun cahaya matanya bersinar terang. Pertama dia mengawasi Ma Ji-liong sambil tertawa, lalu
berganti menatap Cia Giok-lun, Toa-hoan dan Thiat Tin-thian.
Tetapi keempat orang ini tiada yang mengenalnya, sudah tentu laki-laki ini juga tidak mengenal
mereka. Kedua pihak sama-sama belum pernah kenal, belum pernah bertemu apalagi kenal.
Orang itu melompat keluar dari dalam lubang, lalu membersihkan tanah di atas badannya, berdiri di
pinggir lubang yang dibuatnya. Sambil tersenyum puas ia mengawasi lubang besar itu, sorot
matanya tampak riang, puas dan bangga, seperti seniman yang sedang menikmati buah karyanya
yang paling diagulkan.
Lama ia menikmati buah karyanya itu baru membalikkan badan. Alat tulis dan kertas masih ada di
atas meja, ia mengambil pena lalu menulis, “Silakan tuan-tuan masuk.”
Lubang itu tidak begitu dalam, membelok lurus ke arah timur, mirip lubang gua yang amat dalam
dan panjang. Sebetulnya lubang ini tidak mirip gua, lebih tepat kalau dikatakan gorong-gorong,
lorong di bawah tanah yang sempit dan lembab.
Anda sedang membaca artikel tentang Darah Ksatria 2 [cersil lagi] dan anda bisa menemukan artikel Darah Ksatria 2 [cersil lagi] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/darah-ksatria-2-cersil-lagi.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Darah Ksatria 2 [cersil lagi] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Darah Ksatria 2 [cersil lagi] sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Darah Ksatria 2 [cersil lagi] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/darah-ksatria-2-cersil-lagi.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar