Misteri Pulau Neraka 2

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 13 September 2011

"Bila kedatangan boanpwe ditengah malam buta ini
mengganggu ketenangan kalian, harap kalian sudi
memaafkan !"
Ucapannya sangat merendah dan cukup tahu sopan.
"Silahkan duduk !" kata Cui-sian sangjin sambil tertawa.
Nyoo Ban-bu membungkukkan badannya memberi hormat,
lalu duduk disebuah kursi yang berada barisan paling bawah.
Dengan kening berkerut, ketua Hna-san pay si Kakek
pedang pengejar angin Bwee Kun-peng menegur :
"Keponakan Nyoo, ada urusan apa kau muncul secara tibatiba
disini ......?"
Nyoo Ban-bu tertawa.
"Boanpwe mempunyai persoalan yang serasa mengganjal
dalam hatiku, sebelum persoalan itu menjadi terang, sukar
rasanya bagiku untuk tidur dengan nyenyak dan makan
dengan nikmat, itulah sebabnya boanpwe sengaja datang
kemari untuk memohon petunjuk dari taysu sekalian !"
"Masalah pelik apakah yang sedang Nyoo sicu hadapi?"
tanya Hiang-leng totiang dari Bu-tong-pay sambil tertawa.
Sekilas perasaan gusar bercampur sedih menghiasi wajah
Nyoo Ban-bu, kemudian katanya :
"Boanpwe ingin bertanya tentang kisah terbunuhnya
mendiang ayahku!"
"Nyoo sicu, apakah kau sudah tahu Kakek malaikat
dibunuh oleh siapa?" tanya Hian-leng totiang lagi serius.
Nyoo Ban-bu segera menggelengkan kepalanya berulang
kali.
"Justru persoalan inilah yang membuat boanpwe merasa
kesal, murung dan sedih!"
"Omintohud! Mengapa siau-sicu mest kesal?" ucap ketua
Siau-lim-pay Hui-lin-tasyu.
"Pembunuh keji itu terlampau licik, dia menyangkal
melakukan pembunuhan tersebut, meski boanpwe dibara oleh
api dendam, sayang sekali kekurangan bukti untuk
menantangnya berduel.........."
"Kalau kudengar dari perkataan siau-sicu itu, tampaknya
kau sudah mengetahui siapakah pembunuh keji itu?"
"Benar, boanpwe memang sudah tahu !"
"Siapakah dia?" cepat Hian-leng totiang bertanya.
"Hui Lok !"
Mungkinkan ia Kakek pelenyap hati Hui Lok ?
Untuk sementara waktu Hui-sin taysu berempat berdiri
tertegun dengan wajah melongo.
"Siau-sicu, apakah kau percaya dengan perkataan dari
Cen-thian-kui-ong (raja setan penggetar langit) dengan begitu
saja ?" kata Cui-sian sangjin tiba-tiba sambil tertawa hambar.
"Boanpwe sudah mempunyai bukti yang bisa ditelusuri!"
Nyoo Ban-bu dengan gusar. "Hui Lok benar-benar merupakan
manusia yang pantas dicurigai!"
"Bukti apa yang bisa ditelusuri !"
"Sewaktu mendiang ayahku terbunuh, Hui Lok pernah
muncul di ibu kota !"
"Siapa yang melihat ?"
"Kit Bun-siu tayhiap !"
"Si kutu buku itu?" Han-sian-hui-kim Wici Bin agak tertegun
setelah mendengar nama tersebut.
"Yaa, si kutu buku pena emas Kit tay-hiap yang
menyaksikan hal ini !"
Tiba-tiba Hu-sin siansu berkata sambil tertawa :
Meskipun hui sicu pernah muncul di ibukota, belum tentu
dia ada kaitannya dengan terbunuhnya Kakek malaikat. Lebih
baik siau-sicu bersikap lebih teliti !"
"Ciangbun tasysu hanya tahu satu tidak mengetahui
kedua," ucap Nyoo Ban-bu sambil tertawa dingin, "bukan saja
Hut Lok telah muncul di ibukota waktu itu, bahkan keesokan
harinya dia pergi dari kota itu dengan tergesa-gesa !"
Tiba-tiba Bwe Kunpeng tertawa seram lalu katanya :
"Apabila dia mempunyai urusan penting, tentu saka harus
berlalu dengan tergesa-gesa."
Kembali Nyoo-Bau bu tertawa dingin.
"Aaah, masa ada kejadian yang begitu kebetulannya di
dunia ini ? Adalagi pelatih dari keluarga boanpwe Toh-minhuan
(panji sakti perenggut nyawa) Ku Bun-wi pernah bersua
muka dengannya waktu itu !"
"Sungguhkah perkataan dari siau-sicu ini ?" Hian leng
totiang menjerit kaget.
"Tiada kepentingan bagi boanpwe untuk berbohong,
sekarang Ku Bun-wi masih berada dalam gedung siau-honghu,
tidak ada salahnya kalau ciangbunjin berlima mengikuti
boanpwe untuk berkunjung ke sana dan menanyakan sendiri
masalah tersebut!"
"Lohu memang akan ke sana untuk menanyakan persoalan
ini !" kata Bwe Kun-peng dengan marah, "seandainya Ku Bunwi
benar-benar pernah tertemu dengan Hui Lok maka
sembilan puluh persen Kakek malaikat tewas oleh Hui Lok."
Sekilas rasa girang segera menghiasi wajah Nyoo Ban-bu."
Sayang sekali ke lima orang ciangbunjin itu tidak melihat
akan perubahan ini.
Hui-sin taysu menghela napas rendah, kemudian berkata :
"Lolap tidak mengira kalau Hui sicu adalah manusia yang
berhati keji......"
"Taysu, jangan kau lupakan julukannya si kakek pelenyap
hati !" seru Wici Bin sambil tertawa dingin, "jikalau kakek
malaikat memang terbunuh olehnya, ini berarti peristiwa
berdarah lainnyapun sembilan puluh persen merupakan hasil
karya iblis tua ini juga."
Cui-sian sangjin mengerutkan keningnya, setelah
merenung sejenak ia berkata :
"Aku lihat peristiwa ini perlu diselidiki dulu hingga jelas dan
terang !"
"Sejak kematian mendiang ayahku, hingga kini masalahnya
belum pernah jelas. Hal mana membuat boanpwe tak pernah
merasa tenang," kata Nyoo Ban-bu lagi dengan penuh
kebencian," ciangbun taysu berilmu, kalian adalah tokoh-tokoh
persilatan yagn selalu menjunjung tinggi keadilan dan
kebenaran dalam dunia persilaan, oleh sebab itulah boanpwe
sengaja datang mengganggu di tengah malam buta ini dengan
harapan ciang bun taysu berilmu sudi mencarikan keadilan
bagi boanpwe."
Hian-leng totiang segera manggut-manggut.
"Siau-sicu, di dalam persoalan ini tentu saja pinto sekalian
tak bisa berpelak tangan belaka !"
Bwe Ku-peng tertawa terbahak-bahak pula seraya berkata :
"Lohu berlima sempat menyaksikan akiat dari keempat
peristiwa pembunuhan itu, meski keponakan Nyoo tidak
kemari, lohu sekalipun tak nanti akan berpeluk tangan belaka
!"
Lima orang ciangbunjin ini memang cukup jujur dan
terbuka......
Mereka selalu tidak percaya kalau Hui Lok adalah seorang
pembunuh keji, mereka selalu berusaha untuk membelai Hui
Lok, tapi begitu kenyataan sudah muncul di depan mata,
merekapun segera melepaskan pendapatnya tersebut,
mereka ingin menegakkan keadilan dan kebenaran bagi umat
persilatan...
Agaknya Nyoo Ban-bu sudah menduga akan hasil yang
akan dicapai dalam kunjungannya kali ini.
Hanya saja, sia tak mengira kalau hasil tersebut bisa diraih
olehnya dengan cara yang begitu mudah.
"Kesedihan cianpwe sekalian untuk membantu diriku dalam
persoalan ini, sungguh membuat boanpwe merasa berterima
kasih sekali, budi kebaikan ini entah sampai kapan baru dapat
kubayar ........."
@oodwoo@
Jilid : 17
"Omintohud, perkataan sicu terlampau serius!" kata Hui-in
taysu sambil merangkap tangannya didepan dada, "ayah mu
telah memberikan kebahagiaan bagi umat persilatan, budi
kebaikannya tersebar sampai dimana-mana, bagaimana
mungkin lolap sekalian akan berpeluk tangan belaka dalam
peristiwa ini? Asalkan dapat membalaskan dendam bagi
kematian Kakel malaikat, meski lolap sekalian harus
mengorbankan selembar jiwapun kami bela......"
Sekilas warna semu merah menghiasi pula wajah Hansian-
hui-kiam Wici Bin, agaknya diapun agak emosi.
"Saudara Nyoo, mari kita berangkat sekarang juga ke
ibokota!" serunya.
Seraya berkata dia lantas melompat bangun.
"Wici lote," kata Cui-sian siangjin sambil tertawa, "apakah
kau akan pergi tanpa pamit dulu dengan tuan rumah?"
Wici Bin tertawa dingin.
"Taysu, apa sih maksud kedatagnan kita kemari?
Memangnya kita datang untuk memberi muka kepada
manusia malaikat berpenyakitan Lamkiong Ceng? Berapa
besar sih pamor dari Lamkiong Ceng tersebut .....?"
"Tentu saja, pamornya tak pantas untuk kita hormati,"
sambung Bwee Kun-peng sambil tertawa.
"Yaa, rasanya pinto sekalian memang belum perlu untuk
mencari muka dengan mereka!" sambung Hiang-leng tootiang
sambil tertawa pula.
"Itulah sebabnya aku rasa lebih baik kita tak usah
berpamitan lagio dengan mereka"sambung wici Bin cepat
sambil tertawa dingin.
Cui-siun sanjin memandang sekejap kearah Hui sin taysu,
kemudian setelah tertawa getir dia berkata :
"Bila pergi tanpa pamit, apakah perbuatan ini tidak akan
menurunkan derajat sendiri?"
"Kalau begitu tinggalkan saja beberapa tulisan?" ucap Huisin
taysu kemudian sambil tertawa sedih.
Baru selesai dia berkata, Wici Bin telah menyambar pena
yang berada di meja dan menulis beberapa huruf besar di atas
dinding ruangan :
"Kami hatuskan banyak terima kasih atas pelayanan anda
!"
Kemudian sambil tertawa dia berseru:
"Ayo berangkat !"
Tanpa mengucapkan sesuatu lagi berangkatlah ke enam
sosok bayangan manusia itu meninggalkan tempat tersebut.
Kepergian ke lima ciangbunjin dan majikan muda gedung
Sian-hon-hu pedang kilat naga sakti Nyoo Ban-bu tanpa pamit
sama sekali tidak menggemparkan tuan rumah maupun para
tamu yang berada di perkampungan Siu-ning-ceng.
Perjamuan yang meriah berlangsung terus menerus
sampai setengah bulan lamanya.
Kian hari pari jago persilatan yang menghadiri perjamuan
pun semakin bertambah kurang.
Tapi jago-jago dari golongan rimba hijau justru makin hari
semakin bertambah banyak.
Ketika mencapai hari yang ke lima belas, satu-satunya jago
persilatan yang belum pergi dari situ hanyalah Pat-huang-itkoay
kakek setan berhati cacad Siau Lun seorang.
Mungkin gembong iblis tua ini ingin berkumpul lebih lama
lagi dengan sobat lamanya yang mengangkat nama bersamasama
dia, si kakek pelenyap hati Hui Lok, oleh sebab itu dia
tetap tinggal disitu.
Kit Hu-seng, Ciu It-ceng dan Leng Seng luan telah
berpamitan pada hari ke empat.
Oh Put-kui dan Lok Sin-kay berpamitan pada hari ke
sepuluh.
Sewaktu hendak pergi meninggalkan tempat, secara
khusus Jian-lihu-siu (kakek menyender) Leng Siau-tian
menghantar mereka sampai sejauh sepuluh li.
Leng lojin minta kepada Oh Put-ui agar seusainya
melakukan pekerjaan sudi mampir di Bu-lim-tit-it-po (Beteng
nomor wahid dunia persilatan), karena tempat itu tak jauh
letaknya dari Ci-lian san, sedang Oh Put-kui hendak pergi ke
bukit Ci-lian-san.
Oh Put-kui mengabulkan permintaan tersebut.
Hal ini bukan dikarenakan Leng lojin mendesaknya terus.
Rupanya ada sepasang masa yang jeli dan bening secara
diam-siam memohon kepadanya, dia tak tega untuk
menampik permintaan dari pemilik sepasang mata yang jeli
itu.
Oleh sebab itu dia mengabulkan permintaan mana.
Dia berjanji akan berkunjung ke Bu-lim-tit-it-poo seusainya
melakukan pekerjaan di bukit Ci-lian-san nanti.
Oh put-kui tidak terbiasa menunggang kuda, ia terbiasa
berkelana, terbiasa pula berjalan kaki.
Baginya menunggang kuda malah sangat merepotkan.
Si Pengemis pikun menunggang kuda sambil membawakan
lagu Lian-hoa-lok, sambil menyanyi mulutnya tak henti sibuk
pula mengunyah kueh yang diperolehnya dair perkampungan
Siu-ning-ceng tadi.
Bayangkan saja kalau ada orang mengunyah makanan
sambil menyanyi, hancur pasti suara nyanyiannya.
Maka tak heran kalau nyanyian Lian-hoa-lok yang
dibawakan olehnya itu membuat orang merasa bising dan
kesal.
Oh Put-kui benar-benar tak kuat menahan kesemuanya itu.
Baginya jauh lebih enak mendengar suara ranting yang
bergoyang terhembus angin ketimbang mendengarkan suara
sengak yang tak sedap didengar itu.
Dua ekor kuda jempolan membawa dua tokoh persilatan
yang gagah perkasa, tidak sampai seharian sampailah mereka
di pegunungan Ci-lian-san.
Dengan hadiah sekeping uang perak, Oh Put-kui
menitipkan kudanya di rumah seorang petani, lalu
menghembuskan napas panjang, kepada si Pengemis pikun
serunya sambil tertawa.
"Lok loko, waaah.....binatang itu benar-benar telah
menyiksa aku !"
"Lote, dasar kau memang ditakdirkan bernasib kere, ada
binatang yang mewakili kakimu, kau malah merasa
tersiksa.....huuuhh, dasar jiwa kera....." seru Pengemis pikun
setelah tertegun beberapa saat.
Oh Put Kui tertawa.
"Meskipun jiwa siaute jiwa kere, aku mah enggan untuk
menjadi ketua Kay-pang."
Tak tahan Pengemis pikun tertawa terbahak-bahak setelah
mendengar perkataan itu.
"Saudaraku, kau memang terlalu besar ambisi, siapa sih
yang menyuruh kau menjadi ketua Kay-pang ? Kalau kau
sampai menjadi ketua kami, waaahh....anggotanya bisa lebih
miskin lagi sampai membeli celanapun tak punya uang !"
"Haaahh......haaahhh.......haaahh.....benar, tepat sekali
ucapanmu itu." Oh Put Kui tertawa terbahak-bahak, "coba
balau bukan demikian, aku tentu akan mencoba untuk menjadi
ketua Kay-pang...."
"Lebih baik jangan kau coba, kalau tidak bisa jadi aku
pengemis tua terpaksa harus berkhianat"
Sambil bergurau mereka berdua meneruskan
perjalanannya menelusuri jalan setapak menuju ke atas
gunung.
Setelah melalui empat buah tebing rendah habis sudah
kesabaran pengemis pikun.
"Saudaraku, mungkinkah keparat she Ban itu tak akan
datang kemarin.....?
Oh Put Kui segera menggeleng.
Seandainya kau, mungkinkah kau tak akan kemari ?"
"Mengapa tidak datang ? Memangnya dalam loteng kecil itu
terdapat sesuatu yang bisa diharapkan ?" sahut pengemis
pikun sambil tertegun.
"Nah, itulah dia ! Makanya kakek Ban pasti akan datang
kemari......"
"Kalau datang seharusnya sudah datang, jangan-jangan dia
menunggu kita dimulut lembah Sin-mo-kok ?"
"Bisa jadi demikian....." Oh Put Kui tertawa.
Belum habis dia berkata, mendadak tampak sesosok
bayangan manusia meluncur datang dari tengah udara.
Pengemis pikun yang berada di depan menjadi amat
terperanjat, buru-buru dia mengayunkan telapak tangannya
melancarkan sebuah pukulan ke depan.
"Bluuuuukkk........."
Bayangan manusia yang meluncur datang dari tengah
udara itu segera terhajar telak dadanya oleh tenaga pukulan
dari Pengemis pikun tersebut.
Namun anehnya, meskipun serangan dari Pengemis pikun
itu bersarang telak ditubuh lawan, namun alhasil bagaikan
menghantam diatas sebuah benda yang sama sekali tak
bertenaga.
Baru saja Pengemis pikun berseru tertahan, bayangan
manusia itu sudah meluncur kembali ke tengah udara.
Tiba-tiba saja bayangan hitam itu menerkam lagi dengan
kecepatan luar biasa.
Tergopoh-gopoh Pengemis pikun mengayunkan sepasang
telapan tangannya ke depan, sepenuh tenaga dia
menghantam bayangan hitam tersebut.
Tapi bayangan hitam itu sudah menerjang lagi dengan
kecepatan bagaikan sambaran petir.
Seketika itu juga sekujur badan Pengemis pikun terkurung
oleh bayangan hitam tadi.
Oh-put-kui yang berada disisi arena sampai tertegun
menyaksikan peristiwa ini.
Sebab semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu
singkat, belum sempat dia menggerakkan badannya pengemis
pikun itu sudah tercengkeram oleh bayangan hitam itu.
Kalau dibilang tercengkeram maka lebih tepat kalau seluruh
badan pengemis pikun itu terkurung ketat.
Waktu itu, bayangan hitam tadi sudah mengurung sekujur
badan pengemis pikun sehingga tak terlihat lagi.
Dengusan bergema dari mulut si pengemis pikun, dengan
terkejut buru-buru Oh put-kui siap melancarkan serangan
untuk menolong.
"Bocah muda, jangan urusi dia, biar pengemis busuk ini
merasakan sedikit pelajaran, siapa suruh dia menyebutku tua
bangka dibelakang orang !"
Kalau didengar dari suaranya, ternyata orang itu adalah
kakek latah awet muda.
Oh Put-kui segera menarik kembali tangannya yang siap
melancarkan serangan itu.
Berpaling kemuka, ia melihat diatas sebatang pohon siong
raksasa lebih kurang tiga kaki di hadapannya duduk seorang
kakek berambut putih yang berjubah panjang, dia tak lain
adalah Bau Sik thong adanya.
Sambil menggantungkan kakinya kebawah dan memutar
sepasang tangannya, dia membuat muka setan kearah Oh
Put-kui.
Ketika Oh Put-kui berpaling ke arah pengemis pikun, waktu
itu sang pengemis pikun, sedang dibuat kalang kabut
setengah mati, sementara dari balik hitam itu menongol
sebuah kepala.
Oh Put kui tak bisa menahan rasa gelinya lagi, dia segera
tertawa terbahak-bahak.
Ternyata gumpalan bayangan hitam itu tak lain adalah
sebuah pakaian milik Put-lo hu ang-siu (kakek latah awet
muda).
Sekalipun begitu, pengemis pikun sudah cukup dibuat
kalang kabut tak karuan.
Sambil tertawa terbahak-bahak Put-lo-hu ang-su menuding
ke arah pengemis pikun sembari berseru :
"Pengemis busuk, tenaga pukulanmu masih terlampau
cetek....."
Sementara itu pengemis pikun telah berhasil melepaskan
jubah panjang tersebut dari atas kepalanya, kontan saja dia
mencak-mencak sambil mengumpat :
"Sialan, kau berani mempermainkan aku...."
Belum habis dia berkata, tiba-tiba jubah panjang yang
berada ditangannya itu melayang kembali ke udara.
Pengemis pikun sudah merasakan penderitaan oleh jubah
mana, maka melihat jubah tersebut melayang ke udara, kotan
saja dia menjatuhkan diri bergelinding di atas tanah.
Pada dasarnya dia berperawakan rendah lagi kurus,
apalagi sedang merendahkan tubuhnya, maka gelindingannya
itu mirip sekali dengan baskom air, dalam waktu singkat dia
sudah berada sejauh dua kaki lebih dari tempat semula.
Sambil tertawa terbahak-bahak Put-lo-hu ang-siu berseru
kepada Oh Put-kui :
"Haaahhh.....haaahh........haaaahhhhh.....bocah muda,
pernah melihat telur busuk menggelinding? Permainan dari
pengemis busuk itu memang indah sekali ?"
Ditengah gelak tertawanya, jubah hitam jadi tahu-tahu
sudah melayang kembali ke tangannya.
"Ban tua," ujar Oh Put Kui kemudian sambil tertawa,
"permainan jubah panjang jaring terbang menangkap kurakura
emasmu sungguh hebat ! Baru pertama kali ini selama
hidup boanpwe menyaksikan demonstrasi yang begitu indah."
"Haaahh........haaahh......haaahh.....bocah muda, julukanmu
memang tepat sekali," seru Put-lo-huagn-siu, "jubah panjang
jaring terbang menangkap kura-kura emas....tepat ! Tepat
sekali ! Pengemis busuk itu memang seekor kura-kura emas !"
Tapi sejenak kemudian dia sudah berteriak kembali :
"Kurang cocok, kurang cocok ! Gara-gara pengemis busuk
ini menggelinding di atas tanah, jubah panjang baruku menjadi
hitam dan kotor. Dia harus disebut kura-kura busuk !"
Mendadak itu, Oh Put Kui tertawa terpingkal-pingkal
sampai terbungkuk-bungkuk.
Tapi pengemis pikun Lok Jin ki yang baru saja merangkak
bangun menjadi sewot dan mencak-mencak sambil mencaci
maki.
"Sialan, sialan, kurang ajar betul.....................kalian yang
tua maupun yang muda sama-sama telur busuknya !"
Menyaksikan keadaan pengemis pikun Lok Jin-ki yang
mengenaskan itu, gelak tertawa Oh Put Kui yang sebenarnya
mulai mereda, sekarang meledak dan berderai kembali.
Dengan langkah lebar Put-lo-huang-siu berjalan kehadapan
pengemis pikun, kemudian sekali mencengkeram dia
mengangkat tubuhnya seperti menangkap anak ayam saja.
Kini Oh Put Kui baru tahu kalau perawakan tubuh Kakek
latah awet muda Ban Sik-hong ini satu kali lipat lebih besar
daripada perawatak tubuh pengemis pikun.
"Ayo jawab, kau masih berani mengumpat lagi tidak?
Pengemis busuk....." hardiknya.
Dicengkeram macam anak ayam, pengemis pikun menjadi
ketakutan setengah mati, buru-buru dia menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Tidak..........tidak.......tidak berani !"
Put-long-huang-siu segera menggetarkan tangannya, tubuh
pengemis pikun segera terlempar ke udara sehingga jatuh
berjumpalitan.
"Sudah berapa ratus kali kuampuni kau si....si pengemis
busuk....?" teriak Put lo-huagn-siu sambil menarik-narik
rambut ubannya.
Pengemis pikun melejit dan melompat bangun dari atas
tanah, kemudian setelah membersihkan tubuhnya dari debu,
dengan mata melotot dan sikap rikuh sahutnya sambil tertawa
:
"Agaknya...........agaknya keseratus tiga puluh tujuh
kalinya......"
Put-lo-huang-siu tertawa tergelak.
"Haaahh............haaahh............haaahh............betul ini
adalah yang keseratus tiga puluh tujuh kalinya, bagaimanapun
juga umurmu memang masih muda enam puluh sembilan
tahun daripada aku, tentu saja daya ingatmu jauh lebih baik
daripada aku sendiri."
Oh-put-kui yang mendengar perkataan itu tak bisa
menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahak-bahak.
Mungkin pengemis pikun tidak berani melawan Put-lohuang-
siu, tapi tidak demikian dengan Oh-put-kui.
Begitu anak muda tersebut tertawa, kontan saja dia
melototkan sepasang matanya bulat.
"Saudaraku, rupanya kau senang melihat aku menderita ?
Baik, tunggu saja nanti ! Asal kau berani berkumpul bersama
tua bangka celaka ini, pasti ada permainan yang sedan untuk
kau nikmati."
"Mungkin hal itu benar." Oh Put Kui menggeleng, tapi
paling tidak bukan berada di depan mata sekarang !"
"Bocah muda, perkataanmu itu memang benar," sela Putlo-
huang-situ dengan cepat, "apabila kau ingin bermain
kembangan, bila kau telah dewasa nanti, aku pasti akan
melayanimu sampai puas."
"Nah bagaimana?" ejek pengemis pikun sambil tertawa
tergelak, "tunggu saja tanggal mainnya saudaraku !"
Oh Put Kui masih saja tertawa hambar.
"Bila urusan yang penting telah selesai, boanpwe pasti
akan menemani Ban tua buat bermain-main !" ucapnya.
Put-lo-huang-siu yang mendengar ucapan itu lantas saja
menjadi mencak-mencak kegusaran.
"Bocah keparat, tampaknya kau lebih becus ketimbang
pengemis busuk itu ! Hei pengemis busuk, kau dengar tidak ?
Orang lain begitu gagah, tidak pengecut macam kau saja !"
Pengemis pikun bertepuk tangan sambil bersorak sorai.
"Asalkan kau tidak mencariku, soal becus atau tidak bukan
masalah buat aku si pengemis...."
"Itu tak mungkin, aku sudah terbiasa bergaul dengan kaum
miskin, jadi meskipun kau tidak ingin berhubungan dengan
akupun tak mungkin, lohu akan segera menjadi hu-ting Beng
untuk minta orang.....
Oh Put Kui tertawa sendiri setelah mendengar perkataan
itu, pikirnya kemudian.
"Orang tua itu benar-benar berhati lurus orang lain enggan
berhubungan dengannya, teryata dia hendak mencari
ketuanya untuk menuntut orang......"
Pada saat itulah pengemis pikun buru-buru berseru :
"Sayang sekali locianpwe, guru aku si pengemis tua sudah
tidak menerima tamu lagi."
"Benarkah begitu?" Put-lo-huang-siu tertawa, "pengemis
cilik, apakah gurumu tidak menjadi ciangbunjin lagi ?"
Mendengar ucapan mana, dengan wajah serius Pengemis
pikun menyahut :
"Gutuku sudah mengundurkan diri !"
"Gurumu itu benar-benar tak becus, kalau tidak menjadi
ketua, dia ingin menjadi apa ?"
"Guruku suka akan kebebasan, oleh sebab itu dia tak ingin
menjadi seorang ketua yang terikat gerak-geriknya......"
Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........kehidupa
n bebas kentut anjing, paling-paling dia malas dan ogak
bekerja."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan mata melotot
besar dia berkata lagi :
"Lantas siapa yang telah menjabat kedudukkan sebagai
ciangbujin ?"
"Konsun toa-suheng !"
Kembali kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........begitu
gurunya begitu pula penggantinya. Hu Teng-beng memang
rongsokan yang tak becus, maka dia mencari Konsun Lian
yang tidak doyan tertawa utnuk meneruskan jabatannya !
Coba kalau aku, sudah pasti aku akan mencari ji-suhengmu
pengemis pengembara Lui Sian-bu untuk memangku jabatan
itu............."
"Untung saja bukan kau yang memilih.........."
"Hmmm, memangnya aku tidak berhak untuk melakukan
pemilihan tersebut ?"
Dipelototi oleh kakek tersebutm pengemis pikun menjadi
amat terperanjat, buru-buru dia berkata :
"Berhak, berhak ! Kau orang tua adalah seorang tokoh silat
yang berkedudukan tinggi, kedudukannya diatas semua ketua
dari pelbagai partai tentu saja kau sangat berhak............."
Jangan dilihat pengemis pikun itu bodoh, ucapan yang
diutarakan kontan saja membuat Put-lo-huang siu senangnya
setengah mati.
Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak :
"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........sangat
berarti, sangat berarti ! Pengemis busuk, coba kau lihat,
apakah gayaku mirip sekali dengan gaya seorang tokoh silat
yang berkedudukan diatas para ciangbunjin lainnya ?"
Sambil berkata dia mencabut tiga lembar rambut putih dari
atas kepalanya.
Kemudian setelah membenahi jubahnya dan
membusungkan dada, dengan gaya yang dibuat-buat dia maju
beberapa langkah ke arah depan.
"Nah, mirip tidak ?" serunya.
Pengemis pikun segera menutupi mulutnya menahan rasa
geli, kemudian setelah mendengus sahutnya :
"Mirip ! Mirip sekali ! Pada hakekatnya mirip malaikat dari
kahyangan....."
Dengan bangga Put-lo-huagn-situ tertawa tergelak,
kemudian sambil berpaling ke arah Oh Put Kui katanya pula :
"Bocah muda, bagiamana penurut pendapatmu ?"
Waktu itu Oh Put Kui sudah kegelian setengah mati hingga
napasnya seperti menjadi sesak, mendengar pertanyaan
tersebut, sahutnya dengan cepat :
"Meski tidak tepat keseluruhannya.....tapi berbeda pun tidak
banyak......."
"Kenapa? Kau tidak puas?" Put-lo huang-siu merasa agak
tertegun oleh perkataan mana.
Oh Put Kui tertawa.
"Bukan begitu.......cuma kau kelewat kurus lagi jangkung,
tidak mencerminkan wajah orang yang punya rejeni
besar........."
Put-lo-huang-sia segera tertawa tergelak.
"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........cuma
begitu saja ?"
"Begitupun sebenarnya sudah lebih dari cukup......" pikir Oh
Put Kui dihati.
Namun diluar segera sahutnya :
"Yaaa, hanya dalam hal itu saja yang agak mirip."
"Kalau cuma itu mah gampang sekali, aku akan segera
berubah sedikit bentuk wajah dan perawakanku !"
Ucapan ini segera membuat Oh Put Kui terkejut.
Dia tidak habis mengerti dengan cara apakah tua bangka
ini akan merubah dirinya ?
Maka dengan perasaan tercengang dan ingin tahu dia
berseru :
"Kau orang tua dapat merubah diri ?"
"Tentu saja! Kalau tidak mana mungkin aku bisa dikatakan
sebagai manusia yang serba bisa?"
Pengemis pikun yang berada disisi arena segera bertepuk
tangan sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........kalau
begitu beribahlah, berubahlah menjadi seekor kurakura..........."
Belum habis kata tersebut diutarakan, cepat-cepat dia
menutup mulutnya kembali.
Untung saja Oh Put Kui menimpali :
"Boanpwe sangat tidak percaya dengan ucapanmu itu."
Tiba-tiba Put-lo-huang-siu tertawa aneh, kemudian ujarnya
sambil tersenyum :
"Bocah muda, kau ingin membuktikan sendiri perkataanku
tadi.............?"
Oh Put Kui memang ingin membuktikan dengan mata
kepala sendiri atas ucapannya itu.
Put-lo-huang-sium tertawa terbahak-bahak, mendadak ia
menggetarkan sepasang bajunya, rambut putihnya bergetar
keras dan tubuhnya yang jangkung lagi kurus itu tiba-tiba saja
menyusut menjadi satu depa lebih pendek.
Bukan begitu saja, dengan makin pendeknya sang tubuh
maka badannyapun makin menjadi gemuk.
Dengan perasaan terkesiap Oh Put Kui tertawa, lalu
serunya :
"Ban tua, ilmu sakti perubah bentuk badan ini sungguh
hebat dan luar biasa!"
"Bocah busuk, kau bilang ilmu apa ? Ilmu perubah bentuk
badan........?"
"Memangnya masih ada nama lain ?"
"Tentu saja, kepandaian sakti itu bernama Tah-thian sinkang
(ilmu sakti perogoh langit)!"
"Ilmu sakti perogoh langit?" Oh Put Kui tertegun dan berdiri
melongo.
Ia belum pernah mendengar nama tersebut, pada
hakekatnya mendengar orang berkatapun tidak.
Bukan cuma dia, pengemis pikun sendiripun dibikin berdiri
bodoh.....
Sejak kapan dalam dunia persilatan terdapat ilmu sakti
perogoh langit?
"Boanpwe kurang berpengalaman sehingga nama itu belum
pernah kudengar....Ban tua apakah kau orang tua yang
memberi nama sendiri atas kepandaianmu itu ?"
Put-lo-huang-situ tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........memang
nya tidak boleh untuk memberi nama atas sebuah kepandaian
yang diciptakannya sendiri ?"
Oh Put Kui tertawa.
"Apabila orang persilatan dapat menciptakan semacam
kepandaian sakti, maka hal mana merupakan suatu peristiwa
besar yang pantas dikagumi. Mengapa sih kau orang tua
mencurigai sikap orang lain......?"
"Kalau kudengar dari nada pembicaraanmu itu, tampaknya
kau tak percaya dengan perkataan lohu !"
"Boanpwe tidak brani, boanpwe justru sangat kagum dan
hormat padamu."
"Haaaahhh...........haaaahhh.........haaaahhh..........sudah
seharusnya memang demikian !"
Sikapnya saat ini berbeda sekali dengan sikapnya tadi,
memang tak salah lagi kalau dia nampak keren dan
berwibawa sekali, cuma wajahnya masih tetap memancarkan
sifat kekanak-kanakan.
Pengemis pikun yang berada di sisinya kembali menyindir :
"Loacianpwe, tampangmu sekarang memang mirip sekali
dengan tampang tokoh silat yang dikagumi dan dihormati
orang !"
Pengemis pikun mengerling sekejap ke arahnya, kemucian
berkata :
"Pengemis busuk, aku tahu kalau perkataanmu itu macam
kentut anjing semua!"
Lalu sambil berpaling ke arah Oh Put Kui katanya lebih jauh
:
"Bagaimana menurut pendapatmu bocah muda ?"
Oh Put Kui tertawa.
"Yaa, memang rada miri ! Cuma.........."
Belum habis perkataan itu diutarakan, si kakek sudah
berkerut kening.
"Cuma kenapa lagi? Aaaai....si bocah muda benar-benar
sukar dihadapi....."
Oh Put Kui yang mendengar perkataan tersebut segera
tertawa geli dibuatnya.
Sulit untuk dihadapi ?
Kau mirip dengan tokoh silat atau tidak, apa pula sangkut
pautnya denganku ?
Cuma diluaran ia tetap berkata :
"Aku lihat wajahmu itu menunjukkan sikap yang kelewat
binal......."
Put-lo-huang-siu tertawa geli oleh perkataan itu.
"Waaah, kalau soal ini mah tak bisa di rubah lagi, bocah
muda, lohu sudah hidup hampir tiga kali enam puluh tahun,
tapi penyakit diwajahku ini tak pernah berhasil kurobah."
"Locianpwe polos dan jujur, tentu saja hal ini sukar untuk
dirubah......."
"Haaahhh................haaahhhh............
haaahhhh............benar-benar sekali, aku memang polos dan
jujur, Put-lo-huang-siu tertawa tergelak, "bocah mudah,
bagaimana kalau kita membentuk partai jujur dan polos ? Kau
sebagai ketuanya dan aku......"
Setelah termenung sejenak, dia melanjutkan sambil tertawa
:
"Biar aku sebagai pembantunya saja !"
Baru saja Oh Put Kui hendak membuka mulut, Pengemis
pikun yang berada disisinya sudah berteriak keras :
"Kau seharusnya menjadi Tay-sang ciang-bunjin !"
Tiba-tiba paras musa Put-lo-huagn-siu berubah menjadi
merah padam, serunya :
"Waaah, hal ini mana boleh jadi? Lohu sangat senang
dengan bocah muda ini, apabila aku menjadi Tay-sang
ciangbunjin, toh akibatnya aku tak dapat duduk sejajar
dengannya? Dia pasti akan bersikap hormat, gugup dan
munduk-munduk bila bertemu aku.......waaah, ini kurang
sedap! Pengemis busuk, idemu itu kurang cocok dan
berkenan dihati......"
Oh Put Kui yang mendengar ocehannya itu diam-diam
merasa kegelian sendiri.
Ban Sik-thong benar-benar seorang manusia yang polos
dan lucu.....
Untuk mendirikan suatu partai dalam dunia persilatan
sesungguhnya bukan suatu pekerjaan yang gampang, tapi
kakek itu berbicara dengan begitu santai, bukanlah hal ini
merupakan sesuatu kejadian yang lucu sekali?
Sambil tertawa pengemis pikun berkata lagi :
"Locianpwe, jika kau mesti menjadi pembantunya, Oh Lote,
ini baru mengenaskan namanya!"
Dengan cepat Put-lo-hung-siu menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya:
"Mati demi rekan adalah sesuatu yang luhur, pengemis
busuk, sia-sia saja kehidupanmu di dunia ini, masa teori
semacam inipun tidak kau pahami? Sungguh tak berguna......"
"Baik, kalau begitu aku si pengemis akan memberi
kedudukan lain untukmu...." seru pengemis pikun lagi.
Lagaknya kali ini pada hakekatnya jauh lebih besar
daripada Put-lo-huang-siu.
Oh Put Kui menjadi geli rasanya, dia segera berpikir :
"Pengemis pikun ini seharusnya dirubah menjadi pengemis
pikun latah......"
Sementara itu Put-lo-huang-siu dibikin kegirangan
setengah mati, dia segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh..........bagus,
bagus sekali, pengemis busuk! Coba katakanlah idemu itu !"
"Lebih baik kau jadi ciangbunjin, saudara cilik ini menjadi
pembantumu, sedangkan aku menjadi kasir saja, bagaimana
?"
"Kau sebagai kasir? Buat apa kita mempunyai kasir?" seru
Put-lo-huang siu sambil berkerut kening.
Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.
"Sewaktu pembukaan nanti, orang pasti akan memberi
hadiah padamu, bila ak ada seorang kasir yang bisa
dipercaya, bukanlah urusan akan berabe ?"
"Tidak bisa," Put-lo-huang-siu menggeleng, "kalau kau si
pengemis yang menjadi kasir, itu namanya memendam bakat
bagus, lebih baik aku mencarikan kedudukan lain saja
bagimu......."
"Tidak, aku tidak mau, aku ingin menjadi kasir saja." Ngotot
pengemis pikun sambil menggeleng.
Bagaikan sedang membujuk anak kecil. Put-lo-huang-siu
segera berseru :
"Lok kecil, pengemis baik.....percuma menjadi kasir. Meski
kedudukannya lumayan tapi tergantung dari paras muka
orang, bila orang-orang tak senang hati, jau harus
membungkukkan badan sambil tertawa, pengemis, masa kau
tahan ? Itu bukan pekerjaan yang enak..........."
"Tidak ! Tidak ! Aku harus menjadi kasir, aku harus menjadi
kasir !" ngotot pengemis pikun.
Melihat dua orang kakek berusia ratusan tahun masih
bersikap macam anak kecil saja. Oh Put Kui menjadi meringis
sambil menahan gelinya.
Diam-diam dia tertawa terpingkal-pingkal.
Agaknya Put-lo-hung-siu sudah kehabisan akal, sambil
tertawa dia lantas berkata :
"Pengemis cilik, apa sih enaknya menjadi seorang kasir?
Aaaai.........kau memang............."
"Sebagai seorang kasir tentu saja ada enaknya !" kata
pengemis pikun sambil mencibir.
"Coba katakan apa enaknya ? Kalau ada kebaikannya saja,
aku pasti akan setuju!"
Tiba-tiba paras muka pengemis pikun berubah menjadi
merah padam, katanya :
"Dalam hidupku aku belum banyak mengenal barangbarang
berharga, maka jika aku si pengemis sudah menjadi
kasir, pasti akan kupelajari lebih mendalam benda-benda bulat
yang berharga itu, sehingga kalau dikemudian hari aku
berkesempatan mendapatnya, benda itu tak sampai kubuang
dengan percuma."
Kali ini Oh Put Kui tak sanggup menahan diri lagi, dia
tertawa terpingkal-pingkal sampai terduduk dikursi.
Gelak tertawa Put-lo-huagn-siu pun amat keras sampai
menggetarkan seluruh angkasa.
Hanya pengemis pikun seorang tidak tertawa, dia malah
bertanya keheranan :
"Mengapa kalian tertawa kegelian? Aku toh berbicara
dengan sejujurnya?"
Benar, ia memang berbicara dengan sejujurnya.
Tapi di dunia ini memang banyak terdapat kejadian aneh.
Semakin jujur seseorang berbicara, sering kali justru
semakin membuat sakitnya perut orang yang tertawa kegelian.
Semakin tidak jujur seseorang berbicara malahan sering
kali akan kelihatan kesudian dan keangkerannya.
Setengah harian kemudian, Oh Put Kui baru dapat
menahan rasa gelinya, ia lantas berkata :
"Lok loko, kalau hanya ingin mempelajari soal mutiara atau
permata, tidak usah mesti jadi kasir, kau toh bisa minta
petunjuk dari orang lain ?"
"Tidak!" kembali pengemis pikun menggeleng, "apabila
kedudukanku hanya sedikit dibawah kalian berdua saja,
sangat memalukan bila aku mesti belajar dari orang lain cuma
dikarenakan pengetahuan semacam itu....."
"Apakah kau kuatir orang lain memandang rendah kau si
pengemis....."
Sekali lagi paras muka pengemis pikun berubah menjadi
merah padam karena jengah sahutnya lagi :
"Kalau cuma dipandang rendah mah urutan kecil, vila
pamor lote dan Ban tua sampai merosot, apakah aku si
pengemis bisa menahan diri?"
Mendengar perkataan tersebut, Oh Put Kui segera tertawa.
"Nah, begitu baru enak didengar....."
"Apanya yang enak didengar?" tiba-tiba Put-lo-huang-siu
mengumpat, "pengemis cilik, tampaknya kau masih
mempunyai sesuatu maksud tertentu!"
"Darimana kau bisa tahu?" pengemis pikun agak tertegun.
Tapi setelah berbicara, dia baru tahu salah.
Kalau toh dia memang mempunyai maksud lain, apakah hal
ini boleh diutarakan kepada orang lain?"
Oleh sebab itu dia lantas membungkam dalam seribu
bahasa dan tidak berbicara lagi.
"Bagaimana? Sudah mengaku?" ejek Put-lo-huang-siu lagi
sambil tertawa tergelak.
Kali ini pengemis pikun benar-benar tak dapat berbicara
lagi....
Put-lo-huang-siu yang menyaksikan hal ini segera tertawa
terbahak-bahak.
"Haaahhh................haaahhhh............
haaahhhh............sudahlah, jangan harap kau bisa menjadi
kasir dalam sepanjang hidupmu, hmmm! partai belum
didirikan, kau si pengemis sudah berniat jahat dengan maksud
hitam makan hitam, hal ini mana boleh jadi?"
Kemudian sambil mencibirkan bibir serunya lagi.
"Sudahlah, aku tidak jadi mendirikan partai polos dan jujur
lagi......lebih baik bubar saja."
Oh Pu Kui yang mendengar perkataan itu kontan saja
tertawa terbahak-bahak, pikirnya :
"Ini memang tindakan yang bagus, didirikan cepat,
dibubarkannya lebih cepat lagi....."
"Bubar ya bubar !" kata pengemis pikun sambil mencibir,
"biar miskin aku si pengemis tak akan sampai miskinya luar
biasa, apalagi dalam sakuku masih ada beberapa lembar
ribuan tail emas !"
Rupanya dia teringat kembali dengan lembaran uang emas
yang berada di dalam sakunya.
Tiba-tiba Put-lo-huang-siu tertawa dingin, serunya :
"Aku tak kepingin, akupun punya........"
Sambil berkata dia mengeluarkan kembali mata uang
tembaga yang akan dipakai buat bertaruh lagi dengan pedang
sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia itu.
Lalu kepada Oh Put Kui katanya sambil tertawa :
"Bocah muda, coba kau lihat, bukanlah uang tembagaku
jauh lebih banyak ketimbang uang kertas itu ?"
Oh Put Kui tak mampu menjawab.
Bertemu dengan dua manusia macam mereka, dia cuma
dapat tertawa getir belaka.
Sementara itu pengemis pikun telah mengeluarkan
lembaran uang lima ribu tail emas yang masih tersisa dalam
sakunya, kemudian setelah digapai-gapaikan di tengah udara,
dia mencium uang kertas itu dengan mesra sebelum
dimasukkan lagi ke dalam sakunya.
Sayang sekali perbuatannya itu sama sekali tak
diperhatikan oleh Put-lo-huang-siu.
Sorot mata kakek bersipat kanak-kanak ini hanya
mengawasi mata uang tembaganya itu tanpa berkedip.
Berapa saat kemudian, Put-lo-huang-siu baru menghela
napas panjang, ujarnya :
"Uang, okh uang......bila kau tak dapat mengungguli Kit Putsia
lagi, aku akan menggigitmu sampai hancur berkepingkeping......"
"Ban tua, kali ini kau pasti unggul !" seru Oh Put Kui sambil
tertawa.
"Sungguh ?"
Put-lo-huang-siu benar-benar merasa girang sekali.
"Bocah muda, moga-moga saja ucapanmu itu benar, ayo
berangkat......."
Begitu bilang berangkat, dia benar-benar berangkat,
tampak bayangan hitam berkelebat lewat tahu-tahu bayangan
tubuhnya sudah berada sepuluh kaki dari tempat semula.
Oh Put Kui mengelapkan tangannya ke arah pengemis
pikus, kemudian tak berayal dia mengejar dibelakang Put-lohuang-
siu.
GERAKAN tubuh Put-lo-huang-siu benar-benar cepat
bagaikan sambaran kilat.
Meskipun Oh Put Kui dan pengemis pikun sudah
mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki, toh masih tetap
ketinggalan sejauh puluhan kaki dibelakangnya, mereka tak
pernah berhasil menyusuli kakek berambut putih itu.
Terutama sekali pengemis pikun, bukan saja ia tertinggal
sejauh puluhan kaki dibelakang Put-lo-huang-siu, bahkan
masih ketinggalan sejauh sepuluh kaki lebih dibelakang Oh
Put Kui.
Sesampainya dimulut lembah Sin-mo-kek, mereka baru
berhasil menyusul kakek ini.
Bukan, bukan mereka berhasil menyusul Put-lo-huang-siu,
melainkan Ban Sik-thong yang duduk menunggu kedatangan
mereka.
"Sudah sampai !"
Oh Put Kui mendongakkan kepalanya memandang puncak
Thian-cu-hong yang dilapisi salju di depan sana, lalu
memandang puncak Gin-yu-hong disisi kananya, dia tahu
mereka sudah sampai ditempat tujuan.
"Biar boanpwe yang berjalan dimuka sebagai pembawa
jalan......."
Oh Put Kui tersenyum, dia segera bergerak lebih dulu
menuju kedalam mulut lembah yang diapit dua buah bukit itu.
"Tunggu dulu," mendadakPut-lo-huang-siu menghalangi
jalan perginya," mari kita beristirahat dulu."
"Boanpwe tidak lelah!"
"Kau mungkin tidak lelah, tapi orang lain sudah kepayahan
hampir modar......"
Mendengar ucapan mana, Oh Put Kui segera menyadari
apa gerangan yang dimaksudkan.
Dia berpaling kearah pengemis pikun, dijumpainya
pengemis itu sedang bermandikan keringat.
Maka sambil tertawa hambar dia duduk :
"Boanpwe turut perintah!"
Waktu itu Put-lo-huang-siu sedang duduk diatas sebuah
batu gunung dekat mulut lembah, memandang jalan setapak
yang membentang hingga kedalam lembah tersebut,
mendadak ujarnya sambil tertawa :
"Dua puluh tahun lewat dengan cepat sekali......."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya sesudah
menghala napas :
"Kesalahan bukan dipihak lohu, siapa sih yang bisa
menahan diri .......?"
Oh Put Kui membungkam dalam seribu bahasa, dia sedang
mengatur napas.
Sebaliknya pengemis pikun berbaring dengan napas yang
terengah-engah.
Mereka semua membungkam, tak seorangpun yang
menjawab pertanyaan dari Put-lo-huang-siu tersebut.
Lebih kurang sepertanak nasi kemudian, mendadak Put-lohuang-
siu tertawa terbahak-bahak sambil berkata lagi.
"Nah anak muda sekalian, sudah cukup, kita harus
berangkat !"
Oh Put Kui dan pengemis pikun bersama-sama membuka
sepasang mata mereka.
Mendadak sekilas senyuman menghiasi sorot mata Oh Put
Kui.
"Kau orang tua."
Ternyata Put-lo-huang-siu yang berada dihadapannya lagilagi
sudah berubah benduk.
Kini dia berubah menjadi lebih pendek lebih gemuk.
"Sewaktu aku berjumlah dengan Kit Put-sia tempo hari,
beginilah tampang wajahku, maka hari ini akupun ingin
menjumpainya lagi dengan tampang semacam ini, hei bocah
muda, kau keheranan ?"
"Tidak, aku tak merasa heran !" sahut Oh Put Kui sambil
tertawa, "cuma ilmu Toh thian-sin kang milik kau orang tua ini
benar-benar memiliki perubahan yang luar biasa sekali,
membuat boanpwe merasa bingung saja."
Put lo-huang-siu tertawa aneh.
"Ilmu kepandaian Toh-thian-sin-kang milikku ini memiliki
kemampuan untuk merogoh langit mencipta bumi, tentu saja
luar biasa sekali, bocah muda, inginkah kau belajar
kepandaian ini ?"
"Aaah, boanpwe merasa kalau diriku ini bodoh, kau orang
tua tak usah memikirkannya."
Terbelalak lebar mata Put-lo-huang-siu setelah mendengar
perkataan itu.
Rupanya dia tak mengira kalau Oh Put Kui bakal menampik
tawarannya itu.
"Hei bocah muda, kau sombong amat!" serunya dengan
mata melotot.
"Boanpwe tidak sombong, melainkan menyadari akan
keterbatasan kemampuan sendiri, oleh karena itu tak berani
memikirkan hal yang bukan-bukan !"
"Heeehh.......heeehh............ heeehh............jadi kau tak
mau mempelajari kepandaian ini?" Put-lo-huang-siu tertawa
seram.
"Tak ingin !"
Mendadak berkilat sepasang mata Put-lo-huang-siu,
katanya lagi sambil tertawa:
"Tampaknya kau anak muda pernah mempelajari ilmu Sutkut-
sin-kang (ilmu sakti menyusut tulang?")
"Yaa, betul,"
"Kau yakin sudah mencapai berapa bagian tingkat
kesempurnaan ?"
Walaupun Oh Put Kui tidak mengerti apa sebabnya Put-lohuang-
siu mengajukan pertanyaan tersebut, namun dia tetap
menjawab dengan sejujurnya :
"Apabila boanpwe mengerahkan segenap tenaga yang
kumiliki maka tubuhku bisa menyusut sampai tiga depa lebih !"
Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh..........tidak
bisa dianggap jelek, bocah muda, dapatkah kau menggunakan
tenaga saktimu itu untuk menambah perawakan sendiri ?"
"Boanpwe tidak memiliki kepandaian tersebut." Oh Put Kui
menggeleng.
Put-lo-huang-siu segera tertawa misterius dan tak
mendesak lebih jauh, hanya ujarnya :
"Mari berangkat, kita menangkan dulu Kit Put-sia sebelum
membicarakan masalah lain !"
Lagak dari pihak Huang-si-sia (Kota kematian) sungguh
besar sekali.
Baru masuk lembah sedalam setengah li, sudan nampak
dinding kota yang tinggi sepanjang lima li.
Diam-diam Oh Put Kui mencoba untuk mengukur luas kota
tersebut, ia merasa paling tidak mencapai berapa ribu bau.
Diatas bukti ci-lian-san ternyata memiliki tanah lembah
yang begini luas, benar-benar suatu kejadian yang sama
sekali diluar dugaan siapapun.
Tiba dipinggiran kota, diam-diam Oh Put Kui semakin
terperanjat lagi.
Tinggi dinding kota tersebut ternyata mencapai empat kaki
lebih.....
Ditambah pula dengan sungai pelindung kota yang digali
dengan tenaga manusia, bila ada orang ingin melewati sungai
dan memanjat dinding kota itu, paling tidak dia harus mampu
melompati sejauh tujuh kaki lebih.
Tak heran kalau kota kematian ini dianggap sementara
umat persilatan sebagai daerah terlarang.
Sekalipun hanya ingin masuk saja sulitnya bukan main.
Kini, mereka berdiri disamping jembatan gantung ditepi
sebuah pintu gerbang.
Diatas pintu gerbang tersebut tercantum sebuah papan
nama besar yang bertuliskan tiga huruf besar :
"TIANG-SENG-SIA".
Untuk beberapa saat dia berdiri tertegun, Tiang-seng-sia?
Bukankah mereka hendak mengunjungi kota kematian ?
"Ban tua, jangan-jangan kita salah tempat?" kata Oh Put
Kui kemudian," bukankah kita akan berkunjung ke kota
kematian? Tapi.......coba kau lihat, bukanlah papan nama
diatas pintu kota itu beraksara tiang-seng-sia?"
Put-lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.............haaahhhh...........haaahhhh..........sesungg
uhnya kota ini aslinya bernama Tiang-seng-sia, soal nama
kota kematian tak lain hanya merupakan julukan yang
diberikan sahabat persilatan atas tempat ini !"
Oh Put Kui segera tertawa, ia baru mengerti apa gerangan
yang sesungguhnya terjadi.
"Oooh, rupanya kesalahan berita saja....."
Ia jadi teringat dengan julukan pulau neraka, bukankah
pulau tersebut sebenarnya bukan bernama pulau neraka ?
Maka dengan cepat dia dapat memahami hubungan antara
kota kematian dengan kota Tiang-seng-sia tersebut.
Berbeda sekali dengan reaksi si pengemis pikun.
"Saudara cilik, aku si pengemis benar-benar dibuat
kebingungan, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"
serunya.
"Mungkin orang yang bisa memasuki kota ini jarang sekali
bisa keluar dengan selamat, maka beginilah jadinya !"
Pengemis pikun semakin tertegun lagi setelah mendengar
ucapan tersebut.
"Meskipun begitu, toh tidak seharusnya berubah nama
suatu kota dengan sekehendak hatinya sendiri, teriaknya.
"Mengapa tidak bisa?" Put-lo-huang-siu melotot besar,
"pengemis goblok, coba bayangkan saja, barang siapa
memasuki kota ini pasti akan mati penasaran,apakah tidak
cocok kalau kota ini disebut kota kematian?"
"Ooooh.....rupanya cuma begitu ?" seru pengemis pikun
setelah kena damprat.
Yaa, sesungguhnya memang cuma begitu.
Tapi kalau Put-lo-huang-siu tidak berkata mungkin
sepanjang hidupnya pengemis pikun tak akan mengerti.
Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli karena sikap pengemis
tersebut.....
Dengan nada mangkel Put-lo-huang-siu mengumpat lagi.
"Sebenarnya memang hanya begitu saja, sayang sekali otak
kau si pengemis adalah otak udang, maka teori yang begini
sederhana pun tidak kau pahami......"
Pengemis pikun menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya sambil tertawa:
"Umpatan dari kau orang tua memang tepat sekali, aku si
pengemis memang berotak udang, benar-benar tak
berguna....."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba dari
arah kota bergema, suara ledakan mercon.
Disusun kemudian dengan dua ledakan.
Kalau mercon dibunyikan dalam lembah yang bergaung,
bayangkan saja betapa nyaringnya suara tersebut.
Oleh karena itu si pengemis pikun dibuat terperanjat sekali.
"Waaah, apa-apaan itu ?"
Put-lo-huang-siu tampak bangga sekali, sahutnya dengan
cepat :
"Mercon itu dibunyikan sebagai tanda menyambut
kedatanganku, lihat saja nanti, Kit Put-sia akan segera
munculkan diri."
Berbicara sampai disitu dia lantas mendongakkan
kepalanya dan berteriak keras:
"Kit-Put-sia wahai Kit Put-sia, kau bocah dungu tak nanti
akan berhasil membelengguku kali ini !"
"Yaa, kau orang tua pasti akan menang!" timbrung Oh Put
Kui sambil tertawa.
"Bocah muda, aku betul-betul tak boleh kalah kali ini !"
Pada saat itulah.....Pintu baca yang tebalnya setengah
depa itu sudah terbentang lebar.
Tiga orang kakek berusia di atas delapan puluhan
munculkan diri dari balik pintu.
Satu diantaranya segera menjura sambil tertawa tergelak,
sapanya :
"Ban tua, selamat bersua kembali !"
Put-lo-huagn siu tidak membalas hormat malah serunya
sambil tertawa aneh :
Keparat, kau sudah menangkan uang tembagaku,
mengurungku selama dua puluh tahunan, hari ini baru
bertemu sudah menyindir diriku habis-habisan, hal ini benarbenar
membuat aku tak tahan!"
Sambil mengomel dia langsung melompat naik keatas
jembatan gantung dan bergerak ke depan.
Oh Put Kui dan pengemis pikun segera mengikuti
dibelakangnya dengan ketat.
Sementara itu, Oh Put kui sudah memperhatikan sekejap
wajah si kakek yang menjura sambil berbicara itu.
Tampaknya pemilik kota kematian yang disebut orang iblis
diantara iblis, pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia ini
jauh berbeda dengan putranya si singa latah pedang iblis.
Dia termasuk seorang kakek ceking yang kurus mana
kering lagi tubuhnya.
Ketinggian badannya tidak sampai setengah depa dari si
pengemis pikun.
Wajahnya kurus, alisnya botak, kepalanya gundul dan
jenggot kambingnya sepanjang tiga inci persis menutupi
mulutnya yang penyok karena ompong.
Ia mengenakan baju mera yang dibagian dadanya
bersulamkan seekor rajawali emas yang sedang mementang
sayap.
@oodwoo@
JILID : 18
Rasanya kecuali sulaman si rajawali emas yang
mementang sayap itu boleh dibilang kakek ceking seperti kena
serangan penyakit t.b.c, ini tiada pancaran kegagahan sebagai
seorang iblis diatas iblis........
Sementara itu mereka sudah sampai dihadapan si iblis
diantara iblis pedang sakti bertenaga raksasa Kit Put-sia, tuan
rumahpun menjura sambil mempersilahkan tamunya masuk,
sedang matanya mengawasi wajah Oh Put Kui beberapa
kejap.
Walaupun wajahnya memperlihatkan rasa kaget dan
tercengang, namun ia sama sekali tak mengajukan sepatah
katapun.
Dalam pada itu Put-lo-huang-siu telah memasuki ke dalam
kota, maka sambil membusungkan dada Oh Put Kui dan
pengemis pikun ikut mengangkat dada sambil menyusul
dibelakangnya.
"Bagus sekali ! Tempat ini benar-benar merupakan sebuah
kota yang amat ramai."
Setelah masuk ke dalam kota, pengemis pikun
menyaksikan kedua belah sisi jalan terdapat anyak orang
yang berjual beli, sehingga tak kuasa lagi ia berteriak keras.
Oh Put Kui sendiripun merasa terkejut dengan kejadian
tersebut. Ia tak menyangka kalau kota kematian ternyata
hanya nama belaka, sedangkan kenyataannya berupa sebuah
kota sungguhan,
Walaupun para pedagang yang berjualan serta para
langganan yang belanja disitu hampir semuanya temasuk
gembong-gembong iblis dari dunia persilatan, namun dilihat
suadana pasar yang terbentang disitu, sudah cukup membuat
orang melupakan segala peristiwa yang berhubungan dengan
pembunuhan dan darah.
Yang lebih membuat orang tercengang adalah penghuni
dari kota tersebut. Ternyata seratus persen penghuninya
adalah para gembong iblis yang dapat membunuh orang
tanpa berkedip.
Dari sini dapatlah disimpulkan kalau Kit Put-sia memang
seorang manusia yang luar biasa.
Dengan cepat mereka sudah melalui tiga buah jalanan
besar sebelum tiba di tempat kediaman Kit Put-sia.
Tempat tinggal gembong iblis ini sekali lagi membuat Oh
Put Kui merasa terkejut sekali.
Semula dia mengira siraja iblis diantara iblis ini pasti
berdiam di dalam sebuah bangunan rumah yang megah dan
mewah melebihi sebuah istana raja.
Sekalipun tidak lebih mewah daripada sebuah keraton,
paling tidak rumahnya akan lebih megah daripada rumah
seorang hartawan atau rakyat disekitarnya.
Tapi setelah Kit-Put-sia mempersilahkan mereka memasuki
sebuah bangunan rumah, Oh Put Kui baru melongo.
Ternyata rumah yang didiami oleh Raja diraja dari kaum
iblis ini tak lebih hanya sebuah rumah biasa, rumah sederhana
seperti kebanyakan pedagang.
Sedangkan si iblis itu sendiri pun seorang pedagang beras
yang memakai merek:
Warung beras Put-sia.
Peristiwa ini benar-benar diluar dugaan siapapun juga.
Pengemis pikun yang menyaksikan kejadian tersebut
segera menggelengkan kepalanya berulang kali, cuma dia
sungkan untuk mengutarakan keluar maka selama ini tiada
komentar yang kedengaran.
Dagang beras milik Kit-put-sia memang cukup besar dan
ramai, pembantunya saja sudah mencapai belasan orang,
bahkan langganan yang membeli beras seperti sedang antri
karcis saja penuh sesak dan amat ramai..
Beginikah bentuk kota kematian yang digembar gemborkan
orang sebagai kota yang mengerikan ?
Benarkah Kit Put sia adalah raja diraja diantara iblis yang
menjadi pemilik kota kematian ini ?
Di tengah keheningan yang mencekam, mereka telah
diundang masuk ke ruangan tamu. Dengan penuh keramahan
Kit Put-sia mempersilahkan mereka duduk, tak lama kemudian
hidangan lezatpun dihidangkan.
Setelah suasana hening sejenak. Kit Put sia segera bangun
berdiri dan menjura keempat penjuru, lalu ucapnya sambil
tertawa.
"Ban tua, mari kita bersantap dulu sampai kenyang
sebelum membicarkaan lagi taruhan kita dua puluh tahun
berselang !"
Put-lo-huang-siu memang sudah dua puluh tahunan hidup
menyendiri dan dihari-hari biasa hanya makan buah-biahan
serta air tawar untuk melanjutkan hidupnya.
Begitu mengendus bau harumnya hidangan, tanpa banyak
bicara lagi ia langsung menyikat hidangan tersebut dengan
rakusnya.
"Bagus, bagus sekali, biar kita bersantap dulu sebelum
berbicara lebih jauh..."
Semenatara itu Oh Put Kui sudah memperhatikan keadaan
disekeliling sana, terutama dua orang kakek lain yang turut
hadir pula di dalam meja perjamuan.
Yang seorang berperut gemuk, berwajah soleh dan
bermuka bulat, dandangan seorang pedagang besar.
Sedangkan yang lain berjenggot panjang dan berwajah
cerah, wajah seorang guru sekolah.
Ia belum pernah mendengar tentang kedua orang tersebut,
maka dia ingin menanyakan hal ini kepada si pengemis pikun.
Sayang ia tak sempat untuk banyak bertanya, sebab si
pengemis pikun sudah keburu terlelap dalam hidangan yang
berlimpah ruah.
ENTAH berapa puluh cawan arah sudah berpindah ke
perut Put-lo-huagn-siu, mendadak ia seperti teringat akan
sesuatu, sambil meletakkan kembali cawannya, ia menuding
kearah Oh Put Kui seraya berkata :
"Kit Put-sia bocah keparat, bila aku datang mengajak dua
teman, harap kau jangan gusar !"
Kit Pus-sia segera tersenyum.
"Sahabat Ban tua berarti sahabatku pula, aku merasa
bangga bisa memperoleh kunjungan ini, masa aku marah ?"
Put-lo-huang-siu kembali tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaaahhhh...........haaaaahhh..........haaaaahhh..........be
tul, watak macam inilah yang amat mencocoki seleraku !"
Setelah berhenti sejenak dan mencomot sebuah paha
ayam, dia berkata lagi :
"Bocah keparat, justru karena watakmu itu pula, aku
sampai terperangkap oleh tipu muslihatmu !"
Kit Put-shia tetap tertawa hambar.
"Mana mungkin kau Ban tua bisa tertipu olehku?
Kemenangan yang berhasil Kit Put-shia peroleh tempo hari,
tak lebih hanya suatu kemenangan untung-untungan saja."
Sebuah umpakan yang gampang mengena sasaran.
"Hei, bocah keparat, apakah kau jujur?"
Put-lo-huang-siu segera menegur sambil tertawa senang.
Rupanya dia menganggap Kit-put-sia telah berbicara
dengan sejujurnya.
Untung Oh Put Kui cepat-cepat menyumbat mulutnya
dengan sepotong daging ang-sio bak, coba kalau tidak, nasi
semalam tentu akan turut menyembur keluar saking gelinya.
Ia tidak menduga kalau dikolong langit terdapat manusia
yang begitu gobloknya.
Sementara itu Kit-put-sia telah berkata lagi :
"Ban-tua, bagaimana dengan nasibmu hari ini ?"
"Bagus sekali, ini kali kau si bocah keparat tentu akan
menderita kekalahan total!"
Berbicara sampai disitu, sambil tertawa Put-lo-huagn-siu
berpaling kearah, Oh Put Kui, lalu katanya lagi :
"Hei, anak muda! Bagaimana nasibku menurut
pendapatmua?"
"Tentu saja baik sekali," sahut Oh Put Kui tertawa.
Walaupun Oh Put Kui tersenyum, namun hati kecilnya
merasa amat terperanjat, sekarang ia telah mengetahui
betapa lihaynya Kit Put-sia untuk mempergunakna titik
kelemahan lawannya untuk memancing musuh masuk
perangkap, hal mana membuatnya menggelengkan kepala
dan menghela napas panjang....
Kelicikan dan kelihayan Kit Put sia benar-benar
menakutkan sekali.....
Sementara itu Put-lo-huang-siu telah berhenti tertawa
tergelak, kemudian ujarnya secara tiba-tiba :
"Kit Put-sia, tahukah kau siapakah kedua orang sahabatku
ini....?"
"Boanpwe tahu," Kit Put-sia tertawa hambar.
Jawaban ini membuat Put-lo-huang-siu tertegun.
"Kau tahu? Kalian pernah bersua? Pernah kenal?"
Sambil tertawa Kit Put-sia menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Boanpwe belum pernah berjumpa dengan kedua sahabat
ini, namun nama besar mereka sudah cukup terdengar
dimana-mana, apalagi dapat menempuh perjalanan bersama
kau orang tua, sudah pasti mereka memiliki nama tenar di
dunia ini."
Umpakan tersebut sekali lagi menyenangkan hati Put-lohuang-
siu, serunya cepat.
"Bocah keparat, kau memang hebat, kau memang betulbetul
sangat hebat !"
Sekali lagi Kut Put-sia tertawa.
"Ban tua, sahabat muda ini adalah orang yang paling
tersohor di kolong langit dewasa ini. Long-cu-koay-hiap
(Pendekar aneh gelandangan) Oh Put Kui, bukanlah begitu?"
Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaaahhhh........haaaaahhh..........haaaaahhh..........betu
l, betul sekali..." serunya.
Tapi kemudian dengan wajah tertegun dia berpaling ke
arah Oh Put Kui sambil bertanya pula :
"Bocah muda, kau bernama Pendekat aneh gelandangan?"
Oh Put Kui sendiripun merasa terperanjat sekali setelah ia
mendengar Kit Put-sia bisa menyebutkan namanya lengkap
julukannya secara jitu. Ia baru merasa sekarang, Kit Put sia
benar-benar seorang manusia yang luar biasa hebatnya...
Itulah sebabnya Oh Put Kui segera berkerut kening dan
termangu-mangu.
Menati Put-lo-huang-siu menegurnya sekali lagi, ia baru
terkejut dan menyahut sambil tertawa :
"Soal ini boanpwe sendiripun kurang tahu, mungkin sobatsobat
dunia persilatan yang memberikan julukan itu kepadaku
!"
"Hei bocah muda, tak nyana kalau kau mempunyai nama
besar," seru Put-lo-huang-siu sambil tertawa," kalau begitu
aku telah memandang rendah akan ditimu!"
Oh Put Kui segera tersenyum.
"Kau orang tua jangan menyindir aku terus
menerus....."serunya cepat.
Dalam pada itu Kut Put sia telah menjura kepada si
pengemis pikun sambil berseru:
Aku pikir kau adalah Lok sin-kay (pengemis sakti Lok)
bukan.....?"
Sebuah panggilan yang amat sedap didengar, bukan saja
setengah mengumpat, kata "pikun" pun turut dilenyapkan.
Pengemis pikun berkerut kening lalu meneguk secawan
arak, sambil manggut-manggur ia menyahut :
"Yaa, memang aku si pengemis, Kit sia-cu ternyata masih
ingat dengan diriku, sungguh merupakan suatu kebanggaan
bagiku."
Terhadap sikap si pengemis pikun yang angkuh itu. Kit Putsia
sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap, malahan
sambil tertawa nyaring ia berkata lagi :
"Perkataan dari sin-kay sungguh membuat aku tak berani
menanggungnya."
Pengemis pikun tertawa hambar tanpa menjawab, dia
memusatkan kembali perhatiannya untuk meneguk arak.
Kit Put-shia sama sekali tidak kehilangan sikapnya sebagai
seorang tuan rumah, sorot matanya kembali dialihkan ke
wajah Oh Put Kui, kemudian katanya lagi sambil tertawa :
"Oh sauhiap, nama besarmu sudah tersebar sampai
dimana-mana belakangan ini, terutama sekali atas
keberanianmu untuk mengunjungi pulau neraka, benar-benar
merupakan tindakan yang luar biasa sekali....."
Oh Put Kui tersenyum.
"Pujian dari Kit siacu membuat aku merasa malu....."
"Hei, bocah cilik, apa sih pulau neraka itu?" mendadak Putlo-
huang-siu bertanya.
Oh Put Kui merasa enggan untuk memberi keterangan
mengenai pulau neraka tersebut, maka sambil tertawa dan
menggelengkan kepalanya berulang kali katanya :
"Aaaaah, itu mah nama dari sebutan pulau neraka kecil
ditengah lautan timur..."
Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........apa sih
arti dari sebuah pulau kecil? Di lautan timur memang banyak
terdapat pulau-pulau kecil, bocah kecil, kau tak berlagak sok
rahasia."
"Justru jalan pemikiran boanpwe persis dengan jalan
pemikiran kau orang tua!" Oh Put Kui tertawa.
Baru selesai dia berkata, Kit Put-shia telah berseru lagi
sambil tertawa :
"Ban tua, pulau ini bukan pulau sembarangan, pulau
tersebut aneh sekali! Seandainya oh sauhiap hendak
berkunjung kesitu, mungkin hingga hari ini belum ada orang
yang berani berkunjung kesana......."
Perkataan ini dengan cepat menarik perhatian Put-lohuangsiu,
cepat-cepat katanya :
"Aaaaah, masa ada kejadian seperti ini ? mengapa kau
belum pernah mendengarnya?"
Oh Put Kui tertawa geli, pikirnya :
"Sialan benar orang ini, dua puluh tahun tak pernah
meninggalkan bangunan loteng tersebut, bagaimana mungkin
kau bisa mengetahui persoalan-persoalan yang terjadi di
dalam dunia persilatan ?"
Berbeda sekali dengan niat Kit Put-shia, dia memang ingin
menggunakan kisah cerita tersebut untuk membikin Ban Siktong
si kakek latah ini menjadi kelagapan.
"Ban tua, aku mengetahui akan hal ini dengan jelas,"
serunya kemudian.
Menyusul diapun menceritakan keadaan dari pulau neraka
tersebut disamping menambah bumbu dan kecap disana sini.
Sehingga orang-orang penghuni pulau tersebut dilukiskan jauh
lebih hebat daripada siluman.
Setelah itu diapun menyanjung Oh Put Kui setinggi langit.
Oh Put Kui segera berkerut kening setelah mendengar
perkataan itu, namun ia tetap membungkam tidak
mengucapkan sepatah katapun juga.
Sebaliknya pengemis pikun tertawa terkekeh-kekeh sampai
sakit perutnya.
Hanya Put-lo-huang siu seorang yang nampak tertarik dan
kesamaan dengan kisah cerita tersebut, tanyanya tiba-tiba :
"Bocah muda, makhluk macam apa sih yang berdiam di
pulau itu ?"
Pertanyaan ini ditujukan kepada Oh Put Kui, dan bila
didengar dari kata "makhluk" yang digunakan, bisa diketahui
bahwa Put-lo-huang-siu sudah mempercayai delapan puluh
persen kalau manusia yang berdiam di pulau tersebut bukan
manusia baik-baik.
Oh Put Kui tertawa hambar.
"Hanya tujuh orang kakek !"
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........hanya
tujuh orang kakek?" Kakek latah awet muda tertawa tergelak.
Oh Put Kui manggut-manggut.
Sebaliknya raja diraja dari kaum iblis Kit Put-sia merasa
agak terperanjat, demikian pula dengan dua orang kakek yang
duduk di sisinya. Wajah mereka nampak agak berubah !
"Hei, bocah muda, apakah tujuh siluman tua?" terdengar
Put-lo-huang-siu bertanya lagi dengan mata melotot.
Paras muka Oh Put Kui agak berubah, serunya cepat :
"Bukan siluman, melainkan tujuh pendekar besar dari dunia
persilatan !"
"Tujuh pendekar besar?" Kakek latah awet muda tertawa
terbahak-bahak," haaahhh........belum pernah kudengar ada
jago-jago sebangsa pendekar besar tinggal ditengah lautan
timur, hei bocah muda, pandai amat kau berbohong?"
"Aku berbicara dengan jujur, kalau tak percaya tanya saja
kepada Lo-sin-kay, dia yang menemani aku berkunjung ke
situ!" Oh Put Kui berkata sambil tertawa.
Sambil tertawa terbahak-bahak Put-lo-huang-siu lantas
berpaling, kemudian tanyanya :
"Hei pengemis cilik, benar ah itu?"
Pengemis pikun mendengus sambil manggut-manggut.
"Benar, cuma tujuh orang kakek !"
"Tujuh orang? Tujuh orang yang mana?" teriak kakek latah
dengan mata semakin melotot," pengemis cilik, kau tak usah
menjual lagak dihadapanku, kau pasti mengetahui penyakitku
bukan? Nah, lebih baik jangan belajar yang jelek!"
Buru-buru pengemis pikun menghabiskan sepotong paha
ayam, lalu katanya :
"Mereka adalah Bu-lim-jit-koay (tujuh manusia aneh dari
dunia persilatan) yang termashur sekali dimasa lalu."
"Siapa?"
"Bu-lim-jit-koay!"
Kembali Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak :
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........rupanya
rombongan anak muda itu......haaahhh....sungguh menarik,
sungguh menarik, sejak dulu aku sudah bilang ke tujuh orang
bocah muda itu memang berbakat bagus, nyatanya sekarang
mereka dapat menakut-nakuti orang lain."
Perkataan semacam ini segera membuat Oh Put Kui
menggelengkan kepalanya berulang kali.
Sedangkan Kit-put-sia berubah wajahnya, ia berseru keras
:
"Aaaah, sungguh tak nyana kalau orang yang berdiam di
pulau tersebut adalah Kuloko sekalian tujuh bersaudara...."
"Hei bocah muda, bila urusan disini telah selesai,
bagaimana kalau kita bermain-main kesitu?" ajak Put-lohuang-
siu," sudah lama aku tak pernah bersua dengan ketujuh
orang sobat kecil yang berhubungan akrab dengan diriku itu!"
"Boanpwe turut perintah!"
Setelah tahu kalau Put-lo-huang-siu kenal baik dengan
ketujuh kakek tersebut, tentu saja sikapnya menjadi lebih
sungkan, bagai mana tidak? Sebab diantara tujuh orang itu
terdapat pula ayahnya.
Sambil tersenyum Ki put-sia berkata pula
"Oh sauhiap, sudah setengah harian kita berbincangbincang
namun belum berkesempatan untuk memperkenalkan
kedua orang sahabat karibku ini."
Sambil menuding kakek gemuk yang berdiri disisinya, dia
berkata :
"Ini adalah peronda dari Tiang-seng sis kami ini, orang
menyebutnya sebagai Liong-sia-siang-in (Saudagar sakti dari
kota naga) Ku Yu-gi, Ku tayhiap, pernahkah lote mendengar
akan nama ini.........?"
Agak geli juga Oh Put Kui setelah mendengar nama itu,
pikirnya kemudian :
"Kalau dilihat dari tampangnya, dia memang lebih mirip
seorang saudagar!"
Buru-buru sahutnya merendah:
"Selamat bersuo!"
Lalu Kit Put-sia mengalihkan kembali sorot matanya kearah
rekannya yang lain, lalu berkata lagi :
"Dan dia adalah salah seorang pelindung kota ini, Tanggay-
jut-su (Pertama dari tebing timur) Leng Bwee-siang!"
Nama besar Leng Bwee-siang sudah pernah didengar oleh
Oh Put Kui, dia adalah salah seorang tionglo kaum preman
dari perguruan Siau-lim-pay.
Sambil tertawa dan menjura dia lantas berkata pula :
"Selamat bersua!"
"Nama besar Oh lote pun sudah lama aku dengar!" kata
Leng Bwee siang pula sambil tertawa hambar.
Pengemis pikun memang sudah pernah bersua dengan
kedua orang ini, dengna cepat mereka terlibat dalam
Pembicaraan yang asyik.
Berbeda sekali dengan si Kakek latah awet muda, dia
sudah kehabisan kesabaran.
"Bocah muda she Kit, mari kita bertarus lagi!"
"Kau sudah kenyang belum?" tanya Kit Put-sia tertawa.
"Terhadap hidangan yang diberikan secara gratis, aku tak
pernah mencicipi saja tak usah membuang banyak waktu lagi,
sekarang aku sudah tak sabar lagi untuk mulai bertaruh....."
Dari sakunya dia mengambil keluar sepuluh biji mata uang
tembaganya sambil bersiap-siap bertaruh.
Melihat ke sepuluh biji mata uang tersebut, Kit Put-sia
segera tertawa tergelak.
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........Ban tua,
nampaknya kau sudah menyimpan ke sepuluh biji mata uang
tersebut hampir selama dua puluh tahun lamanya?"
"Coba kau lihat tulisan diatasnya, sudah pada luntur, tanpa
usia dua puluh tahun, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?"
jawab Kakek latah pula sambil tertawa.
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........betul,
cepat sekali...."
Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak dia
menggelengkan kepalanya berulang kali seraya berkata lagi :
"Ban tua, kali ini kita harus menggunakan mata uang
tembaga yang baru."
"Mengapa?" tanya Kakek latah tertegun.
"Tulisan diatas uang logam tersebut sudah tidak jelas dan
buram, apalagi bobotnya berkurang, oleh karena itu boanpwe
rasa untuk adilnya kita mesti mengganti dengan uang
tembaga baru."
Tanpa berpikir panjang si Kakek latah segera tertawa
tergelak.
"Betul, betul sekali ! Asal adil, aku pasti setuju !"
Kit Put-sia segera berpaling kepada si petapa dari tebing
timur Lang Bwee siang, kemudian katanya sambil tertawa :
"Saudara Leng, tolong ambillah sepuluh biji mata logam
untuk kupinjamg sebentar!"
Sambil tertawa Leng Bwee-siang mengiakan dan berlalu
dari ruangan tersebut.
Kit Put-shia segera menitahkan kepada anak buahnya
untuk membereskan semua mangkok piring dengan
menggantinya secawan air teh wangi....
Tak selang beberapa saat kemudian si pertapa dari tebing
timur Leng Bwee-siang telah muncul kembali dengan
membawa sepuluh biji mata uang logam.
Dengan sorot mata yang tajam Oh Put Kui segera
memperhatikan sekejap kesepuluh biji mata uang logam itu.
Ia tidak menemukan sesuatu gejala yang mencurigakan,
kesepuluh biji mata uang itu memang mata uang logam asli.
Ia tahu, Kit Put-shia adalah seorang manusia yang licik
dengan tipu muslihat yang sangat banyak, mustahil dia akan
bermain gila terhadap mata uang tersebut, ini menunjukkan
kalau permainan setannya sudah pasti berada ditangannya.
Dalam pada itu si kakek latah awet muda telah menyambar
mata uang itu serta dicobanya beberapa kali, kemudian
sahutnya sambil manggut-manggut :
"Bagus sekali ! nah, bocah muda, siapa yang akan
melemparkan mata uang ini lebih dulu ?"
"Setiap orang memperoleh kesempatan untuk melempar
tiga kali, siapa dahulu siapa belakangan sama-sama saja,"
sahut Kit Put shia tertawa.
"Tapi kita harus ada yang mulai dulu, bukan?"
"Kalau begitu, kau saja yang mulai lebih dulu !"
Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........jangan
lupa anak muda, kita sedang bertaruh, jadi kau tak udah
sungkan lagi......"
Kit put-sia tertawa.
"Boanpwe bukannya bersungkan kepadamu, oleh sebab
tempo hari aku sudah meraih kemenangan, maka kali ini
sudah sopan tasnya kalau engkau yang melemparkan lebih
dulu, apalagi seandainya boanpwe yang kalah, paling banter
cuma rugi, sepuluh biji mata uang logam tersebut, berbeda
sekali bila kau yang kalah....."
"Bocah keparat, kau anggap pasti kalah?" Put -lo huang-siu
semakin gusar.
Tampaknya ia benar-benar dibuat gusar sekali oleh
perkataan tersebut.
Kejadian ini dengan cepat menimbulkan pula rasa was-was
Oh Put Kui terhadap segala tipu muslihat Kit-put-sia.
Tampaknya Kit-put-sia memang selalu berhasil
mengendalikan perasaan dari si kakek latah awet muda,
dalam keadaan gusar bagaimana mungkin si kakek latah
mengungguli Kit-put-sia yang selalu dapat menguasai
perasaan hatinya ?
Diam-diam Oh Put Kui semakin meningkatkan kejelian
matanya dan kewaspadaannya atas keadaan disekeliling
tempat itu.
Dalam pada itu Kit Put-sia telah berkata lagi sambil tertawa
:
"Aaaah, masa boanpwe berani mengatakan kau orang tua
pasti akan kalah? Cuma kau pikir terlalu tidak adil bila kita
mesti bertaruh kau akan berdiam dua puluh tahun lagi di
dalam bangunan loteng tersebut...."
"Kit Put-sia, aku toh bersedia melakukan hal ini dengan
kemauan sendiri !"
Kit Put sia segera tersenyum licik, sebab apa yang menjadi
tujuannya telah tercapai.
"Kegagahan locianpwe sungguh jarang ditemukan dalam
kolong langit dewasa ini," serunya kemudian. "Ban tua,
silahkan kau melempar lebih dulu!"
Oleh ucapan demi ucapan yang diutarakan oleh Kit Put-sia
tersebut, disamping Put lo huang-siu merasa amat gusar,
diapun dibikin girang oleh umpakan lawan.
Begitu lawan mempersilahkan dia untuk mulai, dengan
tergesa-gesa dia mengambil mata uang logam itu kemudian
membaliknya dengan huruf "Nian" menghadap semua keatas.
Oh Put Kui yang bermata jeli segera dapat melihat sesuatu
yang kurang menguntungkan, sebab ketika ke sepuluh biji
mata uang tersebut berada di tangannya, berarti seluruh
telapan sampai ujung jari tengah dan telunjuknya dipenuhi
oleh mata uang dengan bobor yang berbeda.
Ini berarti pula setelah mata uang dilemparkan, tenaganya
menjadi tidak seimbang.
Agaknya si kakek latah tidak berpikir sampai ke sana.
Dengan perasaan gelisah Oh Put Kui mencoba untuk
memberi petunjuk kepada kakek tersebut, maka ujarnya
sambil tertawa :
"Ban tua, apakah mata uang tersebut tak bisa kau
lemparkan ke atas meja ?"
"Siapa yang bilang ?"
"Kalau memang begitu, mengapa kau tak mencoba untuk
melemparkannya ke luar ?"
Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak.
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........bocah
muda, kalau aku melemparkan kelewat keras, niscaya mata
uang tersebut akan membalik sampai dua kali."
Oh Put Kui kembali tertawa, ia tahu jalan pikiran si kakek
latah kelewat sempit, ia hanya kuatir kalau mata uangnya
sampai terbalik sehingga menunjukkan permukaan yang
merupakan kebalikannya.
Padahal seandainya kakek itu dapat berpikir untuk
melemparkan secara lurus keatas udara, bukankah semua
mata uang akan melayang turun juga secara lurus ?
Sambil tertawa hambar kembali ucapnya :
"Mengapa kau tidak mencoba melemparkannya ke atas ?"
"Tidak usah dicoba lagi, aku sudah dua puluh tahun
berpengalaman dalam soal lempar melempar ini."
Selesai berkata iapun melemparkan mata uang tersebut ke
atas meja.
Alhasil dari sepuluh mata uang tersebut, hanya tujuh biji
yang menghadap secara benar, sedangkan tiga lainnya
menunjukkan permukaan yang berhuruf "nian".
Dengan kening berkerut kakek latah awet muda segera
berguman agak mendongkol :
"Sialan, mengapa hanya tujuh biji ? Pada hal tempo hari
bisa mencapai delapan biji, benar-benar kelewat sial aku
ini......"
Dalam pada itu Kit Put-shia telah mengambil mata-mata
uang tersebut dan meletakkannya keatas tangan.
Oh Put Kui segera mengerahkan tenaga dalamnya pula
bersiap-siap mengacau...
"Kit Put-shia segera menyebarkan mata uang itu
kemeja......
"Delapan!" teriak Put-lo-huang-siu tertawa tergelak," hei
bocah keparat, kali ini kau melempar jauh lebih jelek dari pada
dulu, sepuluh dikurangi dua menjadi delapan biji saja."
Paras muka Kit Put-shia nampak aneh sekali, ia tertawa
dan menyahut :
"Yaa, lain dulu lain sekarang, tampaknya bakal menang kali
ini......."
"Nasibku memang lagi mujur kali ini, tanggung akan kuraih
hasil secara penuh......"
Kakek latah segera mengambil kembali mata uang itu dan
melemparkannya keatas meja.
"Kali ini memperoleh angka sepuluh !" tiba-tiba Oh Put Kui
berseru sambil berseru sambil tertawa hambar.
"Benarkah itu?" Kakek latah tertawa tergelak.
Ketika dia mengalihkan sorot matanya ke meja, betul juga,
kesepuluh biji mata uang tersebut semuanya menunjukkan
angka "sepuluh".
Tak terlukiskan rasa gembira kakek latah awet muda
setelah menyaksikan kejadian ini, kontan ia berteriak :
"Bagaimana sekarang, Kit Put shia ?"
"Tampaknya kau memang akan memenangkan taruhan
ini....." sahut Kit-put-shia dengan kening berkerut.
"Ayo cepat lempar, aku sudah tidak sabar untuk
mengungguli dirimu," teriak Put-lo-huang-siu lagi.
Kit-put-sia tertawa hambar, dipungutnya mata uang itu,
diletakkan ditangan kemudian dilemparkan ke atas meja.
Sambil memandang kearah meja, tiba-tiba Oh Put Kui
berseru sambil tertawa :
"Sembilan!"
Ternyata mata uang itu memang hanya sembilan biji yang
menunjukkan "sepuluh"
Agak tertegun Kit-put-sia berdiri ditempat, keningnya
berkerut, tapi kemudian katanya sambil tertawa :
"Ban tua, ini berarti seri buat dua babak pertama, nah
babak yang terakhir ini akan menentukan menang kalah kita
berdua."
Kakek latah awet muda nampak gembira sekali, dia tertawa
terbahak-bahak.
"Pada dua babak pertama aku sudah mengungguli dirimu,
asal babak ketiga ini berakhir dengan seri saja berarti aku
sudah dapat mengungguli.....nah lihatlah hasilnya..."
Sambil berkata dia mengambil mata-mata uang itu dan
melemparkan untuk ketiga kalinya.
"Lagi-lagi angka sepuluh!" teriak Oh Put Kui lantang.
Dengan paras muka berubah Kit Put-sia segera
mengalihkan perhatiannya ke atas meja.
Benar juga, lagi-lagi mencapai angka sepuluh.
Ditengah gelak tertawa Put-lo huang-siu yang diliputi
kegembiraan, Kit Put-sia menggelengkan kepalanya sambil
menghela napas, katanya :
"Ban tua, kau yang telah memenangkan taruhan kali ini !"
Sambil berkata ia lantas mendorong kesepuluh biji mata
uang tersebut ke hadapan lawannya.
Dalam pada itu si kakek latah awet muda hanya
mengawasi kesepuluh biji mata uang tersebut dengan mata
melotot dan sama sekali tak berkedip.
Melihat itu, Pengemis pikun segera berteriak keras-keras di
tepi telinganya :
"Hei, si jenggot putih, kau telah menang !"
Teriakan ini keras sekali ibarat guntur yang membelah bumi
di siang hari bolong.
Namun Kakek latah awet muda tidak kaget atau terkejut,
dia malahan menghela napas panjang.
"Duapuluh tahun........duapuluh tahun........akhirnya aku
berhasil menang !"
"Ban tua, setelah unggul seharusnya kau merasa gembira."
Kata Oh Put Kui tertawa.
Dalam dugaannya semula, setelah berhasil menangkan
taruhan ini niscaya Kakek latah awet muda akan mencakmencak
kegirangan, bahkan bisa jadi akan tertawa tergelak
seperti orang gila. Tapi kenyataannya, apa yang terjadi sama
sekali diluar dugaan semula.
Kakek awet muda tidak melompat-lompat, tidak pula
berteriak-teriak.
Hingga Oh Put Kui menyadarkan dirinya, ia tetap tidak
terpengaruh oleh emosi.
"Hei, bocah muda, apakah lohu sudah boleh melihat
matahari...."
"Tentu saja!" Oh Put Kui sambil tertawa. "Kau telah
menangkan pertaruhan ini."
Kakek latah awet muda manggut-manggut kembali katanya
:
"Bocah muda, aku tak perlu kembali lagi ke loteng kecil di
perkampungan Sii-ning-ceng bukan ?"
"Ooooh, tentu saja !"
Mendadak kakek latah awet muda memejamkan matanya
rapat-rapat, lalu berkata:
"Anak muda, tahukah kau betapa sulitnya kehidupan
selama dua puluh tahunan ini?"
Oh Put Kui tertawa.
"Walaupun boanpwe tidak ikut merasakannya, namun
dapat kubayangkan sampai dimanakah penderitaan tersebut !"
Put-lo-huang-siu tertawa rawan.
"Anak muda, bagaimana mungkin kau bayangkan? Aaaai,
perasaannya waktu itu........aaai, semisalnya secara tiba-tiba
lohu teringat bermain layang-layang di musim semi,
menangkap jangkrik di musim paras, dan mencuri buah tomat
dimusim gugur dan berperang-perangan salju dimusim dingin,
tapi.......kemanakah aku harus mencari? Kemana aku harus
melihat. Seorang diri aku mesti duduk dalam loteng kecil
sambil menahan rasa dongkol, melotot pemandangan di
depan mata namun tak berani membayangkannya...."
"Mengapa tak berani membayangkannya?" tanya Oh Put
Kui sambil tertawa geli.
"Sebab bila aku sampai membayangkannya, niscaya aku
tak akan tahan untuk hidup terus di dalam bangunan loteng
ini."
Diam-diam Oh Put Kui merasa kagum atas kejujuran kakek
ini untuk menepati janji, maka katanya kemudian :
"Kau orang tua benar-benar memegang janji !"
Kakek latah awet muda mengalihkan sorot matanya
memandang sekeliling tempat itu, kemudian sambil mengelus
jenggot dia berkata lagi dengan suara rendah :
"Bocah muda, meskipun aku tak berani melongok keluar
dari jendela tersebut, namun aku mampunyai akal lain,
tahukah kau bagaimana caranya ......"
"Boanpwe ingin tahu !" ucap Oh Put Kui tertawa.
Setelah tertawa misterius Kakek latah awet muda berkata :
"Aku tak dapat meninggalkan bangunan loteng itu, namun
ingin pula menyaksikan pemandangan di luar sana, maka
saban hari akupun membuka atap loteng itu separuh
bagian....."
Mendengar sampai disitu, Oh Put Kui sudah tak dapat
menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa terbahak-bahak.
"Caramu itu memang sangat jitu, membuka atap loteng
memang suatu akal yang hebat."
Kakek latah awet muda tertawa.
"Bocah muda, aku percaya selain aku Ban Sik thong, tak
nanti ada orang lain yang dapat menemukan cara seperti itu.
Walaupun tetap duduk tak bergerak di dalam loteng, namun
dunia luas telah berada dibawah pandangan mataku."
Dalam pada itu si Raja diraja dari kaum iblis, pedang sakti
bertenaga raksana Kit Put-sia telah berkata kepada si Kakek
latah dengan senyum aneh menghiasi wajahnya :
"Ban tua, kesepuluh mata uang tersebut akan menjadi
milikmu untuk selamanya."
Setelah menyambut uang perak tersebut, Put lo-huang-siu
segera menekan mata uang tadi kuat-kuat. Tak ampun uang
logam rangkap sepuluh tersebut hancur lebur menjadi bubuk.
"Ilmu Toa-lek-kim-kong-jiu yang sangat hebat !" puji Oh Put
Kui sambil tertawa.
Perlu diketahui, bagi seorang yang bertenaga dalam
sempurna, untuk melebur emas meretakkan batu bukan halhal
yang menyulitkan. Tapi untuk menghancurkan baja dan
logam menjadi bubuk tanpa mengalami kehancuran lebih dulu
bukan suatu pekerjaan yang gampang.
Agak emosi Kit Put-sia berseru pula sambil tertawa :
"Aku pikir tiada manusia kedua di dunia saat ini yang
mampu mencapai tigkat kesempurnaan dalam ilmu jari seperti
apa yang Ban tua miliki...."
Selesai meremukkan logam-logam tersebut, Kakek latah
awet muda baru berseru sambil tertawa terbahak-bahak :
"Kit Put-sia, akhirnya aku berhasil mengungguli dirimu!"
"Nasib mujur memang berada dipihak kau orang tua, tentu
saja boanpwe harus mengaku kalah."
Umpakan ini kembali menyenangkan hati kakek latah.
"Siapa bilang tidak? Kalau diantara kalian ada yang berani
bertaruh lagi kepadaku, pasti akan kulayani tantangan
tersebut."
"Aaaahh, tidak berani ! Tidak berani ! Sekalipun boanpwe
ingin mengajak bertarus lagi, ini tentu kulakukan bila nasib kau
orang tua sedang jelek, kalau tidak, aku bisa menggadaikan
celana karena kalah ditanganmu."
Lagi-lagi umpakan tersebut mengena di hati kakek latah,
kontan dia memicinkan mata sambil tertawa tergelak.
"Kit Put-sia, tak nyana kaupun akan menjumpai hari naas
seperti hari ini!"
"Ban tua, tiada manusia yang tidak takut kalah di dunia ini?"
Ucapan ini segera mengundang gelak tertawa riuh dari
semua hadirin yang berada dalam ruangan.
Mendadak Kakek latah awet muda berhenti tertawa,
kemudian sambil menyodorkan tangannya kehadapan Kit Putsia,
katanya :
"Kit Put-sia, aku ingin meminjam sesuatu benda darimu!"
"Kau ingin meminjam apa?" Kit-put-sia tertawa," bila kau
orang tua berminat mengunjungi kota Tiang-seng ini, selesai
bersantap malam nanti boanpwe bersedia menemani kau
orang tua bersama Oh lote dan pengemis sakit Lok untuk
berjalan-jalan."
Dengan cepat kakek latah awet muda manggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Bukan, aku cuma ingin menyaksikan sebuah benda
mestika mu saja..."
"Aaaah, mestika apa yang bisa menarik perhatian kau
orang tua.....?"
"Kudengar, tusuk konde menghancurkan tulang yang
merupakan salah satu dari Bulum jit-tin sudah terjatuh
ditanganmu, sudah lama kudengar nama besarnya tanpa
sempat melihatnya, maka aku ingin sekali melihatnya
sekejap.:
"Perkataan ini sama sekali diluar dugaan Oh Put Kui, dia
tak menyangka kalau kakek latah akan mendahului dia untuk
mengajukan permintaan tersebut.
Dengan perasaan berterima kasih dia memandang sekejap
kearah kakeh latah awet muda, bahkan setelah itu mengawasi
pula perubahan wajah Raja si raja dari kaum iblis Kit Put-shia.
Gembong iblis itu memang sangat lihay, mendengar
ucapan tersebut ia lantas tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........Ban tua,
kalau cuma masalah sekecil ini, mengapa tidak kau ucapkan
sedari tadi ?"
Setelah berhenti sejenak ia bangkit berdiri dan berkata
kembali :
"Tusuk konde penghancur tulang boanpwe simpan dikamar
baca, harap kau orang tua duduk menanti, boanpwe akan
segera mengambilkan, harap kau orang tua jangan
mentertawakan setelah melihatnya nanti......"
Belum selesai dia berkata, dengan langkah lebah dia sudah
berjalan menuju kesisi kiri.
Tidak sampai seperminum teh kemudian, Kit Put-shia
sudah muncul kembali dengan membawa sebuah kotak kecil
berwarna emas.
"Ban tua!" ucapnya kemudian. "Inilah tusuk konde
penghancur tulang...."
Sambil berkata dia membuka penutup kotak itu dan
mempersembahkan isinya kehadapan Put-lo-huang-siu.
Sekali lagi Oh Put Kui dibuat tertegun, kejadian ini sama
sekali diluar dugaannya.
Ia tak mengira kalau Kit Put-shia akan bersikap supel dan
berlapang dada, bahkan benar-benar mengeluarkan tusuk
konde penghancur tulang miliknya.
Kakek latah awet muda menyambut kotak emas itu dan
memandang sekejap tusuk konde penghancur tulang tersebut,
tiba-tiba katanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kit Put-shia, darimana kau membeli tusuk konse kemala
ini?"
"Aaaai......masa dibeli?" seru Kit Put-shia sambil
menggeleng.
"Konon racun dari tusuk konde ini ganas sekali, bila
bertemu darah segera akan menghancurkan tulang, benarkah
demikian ? Kit Put-shia, darimana kau peroleh benda berharga
itu?"
"Boanpwee berhasil merampasnya dari tangan seorang
gembong iblis," kata Kit Put-shia tertawa.
Sudah merampas, berani mengaku di depan umum,
kejujuran Kit Put-shia benar-benar mengagumkan.
"Bocah keparat, kau tidak kuatir akan dituntut orang karena
main rampas?" teriak kakek latah sambil tertawa tergelak.
Kit-put-sia ikut tertawa.
"Ban tua, orang tesebut merupakan seseorang gembong
iblis besar ! Boanpwe sadar atas kejahatan serta kekejaman
orang ini, bila benda seperti itu terjatuh ketangan gembong
iblis macam begini, niscaya banyak korban yang akan jatuh
diantara umat persilatan !"
"Maka kau pun merebutnya dari tangan orang itu?"
sambung kakek latah sambil tertawa.
"Padahal bukan terhitung dirampas, sebab boanpwe telah
membinasakan gembong iblis tersebut !"
"Siapa sih orang itu?" tanya kakek latah awet muda dengan
kening berkerut.
"Caycu dari delapan markas bukit kunsan ditelaga Tongting-
ou, Liong-li ci-ciu "naga merah ditengah ombak" Ciu
Khong!"
Kakek latah segera menggelengkan kepalanya berulang
kali.
"Ehmm, belum pernah kudengar tentang orang ini, agaknya
dia cuma seorang manusia tak bernama...Kit put-sia,
pernahkan kau bertanya darimana dia peroleh tusuk konde
penghancur tu ang ini ?"
Kembali Kit-put-sia tertawa :
"Boanpwe sih pernah bertanya dan Ciu Khong pernah
memberitahu kepadaku, dia adalah Thian-be-kim clong
"tombak emas kuda langit" Im Tiong-hok yang menghadiahkan
benda tersebut kepadanya sebagai hadiah ulang tahunnya
yang ke empat puluh !"
Baru selesai ucapan tersebut diutarakan, Oh Put Kui sudah
dibuat tertegun.
Sedangkan si pengemis sakti menggaruk-garuk telinganya
yang sebetulnya tidak gatal.
Sedang kakek latah awet muda malah tertawa terbahakbahak.
"Manusia macam apa sih Im Tiong-hok tersebut?"
"Liok-lim Bengcu dari tujuh propinsi di wilayah selatan!"
"Waaah, kalau begitu belum terhitung seorang manusia luar
biasa....."
"Di dalam pandangan kau orang tua, tentu saja Im Tionghok
bukan terhitung seorang manusia luar biasa."
"Tentunya kaupun tak akan memandang sebelah matapun
kepadanya bukan?"
Baru selesai dia berkata, tusuk konde kemala berbentuk
tiga inci panjangnya itu sudah diambil keluar dan diperlihatkan
dihadapan Oh Put Kui, lalu katanya lagi sambil tertawa :
"Bocah muda, bagaimana kalau kita mencari kelinci
percobaan untuk menjajal keampuhan dari benda ini ?"
"Tidak usah dicoba lagi," Oh Put Kui menggeleng," kalau
cuma untuk membuktikan saja kita mesti membunuh orang,
waah.....rasanya boanpwe tidak tega !"
Put-lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.
"Tampaknya kau sudah dididik menjadi jelek oleh gurumu
itu, kelewat sok alim!"
"Aaaah, masa kau orang tua tidak percaya dengan
perkataan dari Sia-cu?" kata Oh Put Kui sambil tertawa
hambar.
Kakek latah awet muda tertawa.
Yaa, aku memang kurang percaya...."
"Tapi boanpwe justru amat mempercayai perkataan dari
Siacu ini," seru Oh Put Kui.
Kakek latah awet muda mengerutkan dahinya sejenak,
akhirnya ia tertawa tergelak :
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........kalau toh
kau bocah muda sudah percaya, apa lagi yang mesti lohu
katakan ?"
Ia masukkan kembali tusuk konde tersebut ke dalam kotak
emas lalu menutup kembali kotak itu dan katanya kepada Kit
Put-sia sambil tertawa aneh :
"Ambillah kembali bocah keparat dan simpan baik-baik,
siapa tahu suatu hari aku membutuhkan tusuk konde ini?
Sampai waktunya kau jangan pelit lho !"
"Haaaaahhhh.....haaaaahhh.......haaaaahhh..........asal kau
orang tua mau pakai, sekarangpun boleh membawanya pergi."
Seru Kit Put-sia sambil tertawa tergelak.
Kebesaran jiwa kit Put-sia sungguh membuat orang merasa
terperanjat.
"Aaah, tidak usah, aku mah tak pingin mencari kesulitan
macam begitu, bila sampai berita tersebut tersiar dalam dunia
persilatan, kawan manusia yang tak punya mata niscaya akan
mengatur rencana untuk mengerjai diriku, nah kalau sampai
begini, aku akan kehabisan daya untuk mencegah
mereka......"
"Kalau memang begitu, biar boanpwe simpankah dahulu
untukmu."
Setelah menyimpan kembali kotak emas tersebut, sambil
tertawa katanya kepada si Pengemis dari kota naga Ku Yu Gi :
"Saudara Ku, umumkan kepada semua sahabat di dalam
kota ini, Sia-cu tidak menerima tamu !"
"Kit-put-sia, masa kau menerima tamu sampai jauh
malam?" sela kakek latah sambil tertawa.
Kit-put sia tertawa.
"Bila rakyat dalam kota menemui kesulitan, kebanyakan
mereka akan datang mencariku di saat malam telah tiba. Oleh
sebab malam ini kau orang tua dan Oh lote sekalian berada di
sini, maka boanpwe sudah sepantasnya melayani kau orang
tua. Jadi tak ada waktu lagi bagiku untuk menemui mereka."
Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali dan
tertawa tergelak Kakek latah awet muda berkata :
"Tidak usah, tidak usah. Lohu akan pergi sekarang juga!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Kit Put-sia, katanya
buru-buru sambil tertawa :
"Sepeninggal kau orang tua nanti, entah sampai kapan
baru akan berkunjung. Apa salahnya kalau kau menginap
untuk beberapa hari lagi disini? Lagipula Oh Lote dan Lok sinkay
baru pertama kali berkunjung kemari....."
Pengemis pikun yang selama ini cuma membungkam terus
segera menimbrung setelah mendengar ucapan itu :
"Kit siacu, kami masih ada urusan lain"
"Tepat sekali perkataan si pengemis cilik." sambung kakek
latah awet muda sambil tertawa tergelak," kami masih ada
urusan penting, sehingga tak bisa tinggal lebih lama lagi
disini......"
Kakek berambur putih ini memang aneh sekali wataknya,
begitu berkata hendak pergi ia segera berangkat
meninggalkan ruangan tersebut dan beranjak keluar.
Tentu saja Oh Put Kui dan pengemis pikun harus mengikuti
pula di belakangnya.
Sekilas senyuman sinis dan licik sempat memancar keluar
dari balik wajah Kit Put-sua, namun dengan cepat ia menjura
sembari berkata :
"Kalau memang begitu, biar boanpwe mengantar kau orang
tua sampai keluar dari kota....."
Sepeninggal kota kematian, pengemis pikun sudah ribut
hendak mengambil kuda tunggangannya.
Tapi Oh Put Kui tidak setuju.
Kakek latah awet muda lebih-lebih tidak setuju.
@oodwoo@
Jilid : 19
Dengan demikian, terpaksa si pengemis pikun harus
mengikuti dibelakang mereka berdua dengan napas terengah
- engah.
Setelah berjalan keluar dari tanah perbukitan Ci-lian san,
mendadak Oh Put Kui teringat dengan janjinya dengan Jian Jihu
su (Kakek menyendiri seribu Ji) Leng Siau Thian.
Maka pikirannya kemudian :
"Dari sini menuju ke bukit Ho lan-San tidak terlampau jauh,
lagipula memang searah, mengapa aku tidak sekalian
berkunjung ke situ ?"
Berpikir demikian, dia pun lantas berkata :
"Ban Tua, boanpwa ingin berkunjung sebentar ke bukit Holan-
san .......!"
"Mau apa kau ke bukit Ho-lan-san ?" Tanya kakek latah
awet muda agak tertegun.
"Menyambangi seorang tokoh dari dunia persilatan !"
"Tokoh dunia Persilatan?" Kakek latah berkerut kening
sambil tertawa.
"Benar !"
Setelah termenung sejenak, kakek itu bertanya lagi :
"Sadari kapan sih bukit Ho-lan-san dihuni seorang tokoh
persilatan ? Siapa orangnya ?"
"Leng Siau-thian !"
Kontan saja kakek latah tertawa terbahak - bahak.
"Uuuuhhh, si Leng Siau-thian juga terhitung tokoh
persilatan ? Bocah muda, kau memandang orang itu kelewat
tinggi."
"Benteng kuno yang didiami Leng Siau-thian, belakangan
ini sudah dianggap oleh kawan kawan persilatan sebagai
Benteng nomor saru dari dunia persilatan, jadi ia sendiri pun
sudah termasuk dalam deretan orang-orang terhormat !"
"Waaduh, waaduh ... baru dua puluh tahun tak muncul,
nampaknya dunia persilatan telah berubah sama sekali, si
anjing. Si kucing pun berani menganggap diri sok jagoan."
"Sepuluh Tahun bida merubah arus sungai dari timur
kebarat, apalagi manusia ?"
Kakek latah awat muda agak tertegun, tiba-tiba saj dia
meghela napas panjang :
"Aaaai, inilah yang dinamakan ombak belakang sungai
Tiang Kang mendorong ombak didepannya, orang baru
menggantikan orang lama. Anak muda, kalau toh kau merasa
perlu berkunjung kesana, baiklah, akan kutemani."
"Terima kasih..."
"Berhubung mereka harus berbicara sambil meneruskan
perjalanan, maka gerak itu tubuh mereka menjadi lambat,
dengan cepatnya si pengemis pikun berhasil menyusul
mereka."
"Lote apa yang kau terima kasihmu ? memang kau berhasil
memperoleh kebaikan ?" teriaknya langsung.
Oh Put Kui segera tertawa tergelak setelah m,endengar
ucapan itu :
"Waah .... Nampakanya sifat rakus dab tamak Lok jian hari
kian bertambah besar saja."
Tentu saja, aku si pengemis kan rutin dan hidup sengsara...
hei empek jenggot putih, bila kau memberi kebaikan buat si
bocah muda itu, jangn lupa bagian untuk aku si pengemiscilik!"
"Aaah, kau si pengemis cilik betul-betul tak becus," kakek
latah kontan melotot, "sekalipun aku ingin memberi sesuatu
kebaikan untukmu, paling tidak mesti kupertimbangkan dulu
tiga samapi lima tahun lamany."
"Waaah, mana mungkin ?" pengemis pikun menjulurkan
lidahnya, "kalau mesti menunggu samapai tiga lima tahun,
jenggotku bisa pada memutih semua."
"KALAU mau menunggu, silahkan saja menunggu, kalau
enggan menunggu, aku toh tidak memaksamu !" Kakek latah
tertawa."
Pengemis pikun kembali menghela napas.
"Aaaai, baiklah akan ku tunggu..."
Kemudian sambil berpaling kearah Oh Put Kut, bisiknya
lirih :
" Lote, sebenarnya kebaikan apa sih yang kau peroleh
darinya ?"
Oh Put Kui tertawa tergelak dan menggeleng kepalanya
berulang kali :
"Kebaikan apa sih? Siaute Cuma berterima kasih lantaran
Ban tua bersedia menemani aku mengunjungi benteng nomor
wahid dari dunia persilatan di bukit Ho-lan-san !"
Mendengar ucapan tersebut, pengemis pikun kontan
berhenti dan tak mau berjalan lagi 1"
"Lagi-lagi naik gunung? Waah, lote ! Payah, payah ... aku
sudah tak kuat berjalan lagi !"
Terpaksa Oh Put Kui menghentikan pula langkahnya,
kemudian ujarnya sambil tertawa :
"Lok loko, masa kau lupa ? Bukankah Leng tua meminta
kita berkunjung bersama kesana ?"
"Ogah, aku sudah tak mampu berjalan lagi ..." pengemis
pikun gelengkan kepalanya berulang kali.
"Loko, nampaknya kau memang sengaja hendak merusak
pusaranku didepan orang ?"
"Siapa sih yang akan merusak pasaranmu ? Toh di kelurga
leng tak ada nona cakep yang menungguku, buat apa aku
mesti kesana ? Lote, aku belum menegurmu atas ........."
Belum habis di aberkata, kakek latah awet muda yang
sudah berjalan satu didepan dan sewaktu tidak melihat kedua
orang rekannya menyusul belakangnya, tahu-tahu sudah
muncul pula dihadapan mereka.
"Hei penegemis cilik, mau apa kau ?" tegurnya dengan
suara menggeledek.
"Aku sudah mampu berjalan lagi, tapi bocah muda ini
memaksaku hendak naik kebukit Ho-lan-san, maka aku
menolak ajakannya, aku ingin beristirahat saja dulu ..."
"Hmmmm, kau sipengemis cilik pingin molor rupanya ?"
teriak si kakek latah dengan mata melotot.
"Tidak ... aku benar - benar sudah tak kuat berjalan lagi ..."
"Benar-benar sudah tidak kuat coba kau lihat, kakiku sudah
pada melepuh aduuuh ... aduuuh .... Sakit amat !"
"Oooh sakit ? Mari, biar kuperiksa ..."
Sambil berkata di membungkukkan badan dan siap
mengangkat kaki kanan pengemis pikun.
Begitu melihat kelima jari tangansi Kakek latah yang
hendak memegang kakinya menggunakan ilmu Ki-na-jiu hoat
yang lihay. Serta merta wajah pengemis pikun berubah hebat.
Dengan cepat di melompat setinggi delapan kaki, kemudian
teriaknya keras-keras .
"Sudah cukup, cukup, aku aku dapat berjalan lagi ....!"
"Haaahh ....haaahh .... Haaahh aku sudah tahu, kau pasti
akan sembuh dan pasti bisa melanjutkan perjalanan kembali
.....!
Benteng nomor wahid dari dunia persilatan terletak di
punggung bukit Ho-Lan san.
Tempat itu merupakan sebuah bukit yang curam, suatu
tempat dengan medan yang amat berbahaya.
Kalau dibilang tempat tersebut merupakan benteng
terbesar dalam dunia persilatan, mungkin orang akan tertawa
geli sampai copot giginya. Sebab seluruh bangunan tidka lebih
hanya terdiri dari belasan rumah. Tapi kalau dibilang benteng
ini merupakan benteng terkokoh pertahannya dan paling sukar
ditembusi, hal ini memang cocok benar dengan keadaanya.
Sebab dinding di sekeliling bangunan benteng itu berupa
tebing karang yang kokoh dan curam. Bila seseorang ingin
memasuki benteng tersebut, maka di harus menyebrangi
dahulu jembatan gantung yang berada di antara sela-sela
dinding karang.
Waktu itu, si kakek latah awet muda, Oh Put Kui serta
pengemis pikun bertiga telah tiba di bawah tobing curam yang
tingginy mencapai sepuluhribu kaki itu. Memandang ke atas
ternyata mereka tak berhasil menemukan jalan menuju
benteng.
Melihat keadaan tersebut, kakek latah awet muda
menggelangkan kepalanya berulang kali sambil berkata :
"Banyak benar penyakit yang di diindap Leng Siauw thian
ini, masa mau membangun rumahpun di bangun di atas
puncak karang yang dikelilingi tebing terjal, apa tak repot
untuk naik turun ?"
Sambil tertawa Oh Put Kui menyahut :
"Biarpun untuk naik turun tidak leluasa, namun tempat ini
berbahaya dan strategis. Bila ada orang ingin berniat jelek
terhadap majikan dalam benteng, tidak gampang baginya
untuk menyerang masuk."
"Ehmm, mungkin benar ucapanmu itu ..... aaai, tapi
bagaimana cara kita untuk menyuruh mereka membuka pintu
?"
Baru saja Oh Put Kui tertawa, pengemis pikun sudah
berteriak keras-keras :
"Lebih baik kita naik keatas tebing karang ini lebih dul, toh
kita tak usah takuti karang tersebut ?"
"Betul, memang betuk, kau si pengemis cilik memang
sangat menyenangkan di bidang ini." Puji kakek latah sambil
tertawa tergelak.
Tapi Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya
berulang berulang kali, katanya :
"Ban tua, boanpwe rasa lebih baik kita berteriak dulu
beberapa kali, atau......."
Setelah berhenti sejenak, lanjutanya samabil tertawa :
"Menurut aturan, dibawah sisni mestinya terdapat bagian
pintu atau tempat untuk memberi tanda akan datangnya tamu,
kalau tidak, semisalnya ada yang berkunjung kemari,
bagaimana mungkin orang didalam benteng bisa
mengetahuinya ?"
Kakek latah mengangguk berulang kali.
"Ehmmm, memang masuk diakal juga perkataan bocah
muda ini, bagaimana kalau kita segera mencarinya ?"
Kemudian seperti orang bermain petak saja. Dia mulai
meraba-raba diseputar tabing karang tersebut.
Pengemis pikun tidak turut membantu, dia malah duduk di
tanah sambil memejamkan matanya ?"
Sambil tersenyum Oh Put Kui mengalihkan sorot matanya
sambil memeriksa sekitar dinding karang disitu.
Kemudian secara tiba-tiba saja dia berjalan menuju
kedepan dinding batu yang ditumbuhi rumput dan semak
belukar yang lebat.
Rupanya diatas dinding batu karang tersebut terdapat
ksebuah gelang tembaga yang bersinar terang.
Tapi, oleh sebab tetutup dibalik semak belukar yang lebat
maka seandainya tidak diperhatikan dengan seksama,
memang sukar untuk menemukannya.
Oh Put Kui segera memegang gelang tembaga tersebut
dan mencoba untuk membetotnya, lalu sambil tertawa ia
berkata :
"ban tua, boanpwe sudah berhasil menemukannya !"
Dalam pada itu Put-Lo huang-siu telah mengerahkan
tenaga saktinya dengan menempelkan seluruh badannya
diatas diding batu yang licin dan berkilat itu, kemudian sambil
meluncur kesana dan kemari, ia tertawa cekikikan tiada
hentinya.
Begitu Oh Put Kui tertawa tergelak, serentak sepasang
telapak tangannya di tarik kembali sehingga tubuhnya
meluncur jatuh kebawah dengan cepat.
Biarpun terperosok jatuh kebawah, namun bukan berarti
tubuhnya terbanting mencium tanah. Menggunakan
kesempatan tersebut dia malah bersalto bebrapa kali
sehingga dapat hinggap di tanah dengan manis dan indah.
"Hei anak muda, kau berhasil menemukannya ? Coba lihat
bagaimana dengan ilmu kecapung berjumpalitanku tadi ? bila
kau pingin belajar. Akan kuajarkan kepadamu secara gratis."
"Waaah, kalau boanpwe sih tidak berani mempelajari ilmu
semacam itu." Tampik Oh Put Kui sambil menggelengkan
kepalanya berulang kali, "sebab kalau benar-benar ingin
belajar, sudah seharusnya belajar ilmu capung terbang ke
angkasa .... Apalagi boanpwe pun tak berdaya melalap begitu
banyak hidangan yang enak dan lezat-lezat."
"Hei anak muda apa hubungannya antara kecapung
dengan hidangan lezat ?"
"Kalau aku mesti belajar kecapung berjumpalitan, itu berarti
kepalaku mesti ada di bawah dan kakiku di atas, apa hidangan
lezat yang kumakan tak bakal tumpah keluar semua ?"
Put-Lo huang-siu menjadi tertegun.
"Ohh... betul juga perkataanmu itu, heran mengapa belum
pernah kupikirkan hal tersebut ?"
Belum selesai dia berkata, mendadak dari atas tebing
karang sana, telah berkumandang suara bentakan nyaring.
"Siapa di situ ?!"
Sambil mendongakkan kepalanya Oh Put Kui segera
menyahut :
"Oh Put Kui dari bukit Gan tang-san sengaja dating
menyambangi poocu !"
Orang yang berada diatas tebing itu berseru tertahan
kemudian cepat-cepat menarik kembali kepalanya.
Tak selang berapa saat kemudian, sebuah tangga
diturunkan dari atas tebing karang tersebut.
"Poocu mempersilakan kalian untuk naik !" teriakan nyaring
bergema lagi dari atas tebing.
Oh Put Kui berkerut kening, tapi tanpa banyak berbicara dia
segera merambut naik ke atas bukit dengan mendaki pada
anak tangga tersebut.
Put-Lo-huang-siu tertawa terbahak-bahak, ia tidak mendaki
malalui tangga yang tersedia sebaliknya malahan mendaki
lewat tebing karang yang tegak lurus lagi licin itu.
Setiap kali kakinya menginjak, guguran bubuk batu
berhamburan ke mana-mana.
Pengemis pikun yang melihat kejadian ini kontan saja
bersorak memuji, tapi sayang dia tak berkemapuan untuk
berbuat demikian, maka terpaksa ia mengikuti jejak Oh Put kui
dengan selangkah demi selangkah merambat naik melalui
anak tangga yang tersedia.
Tak lama kemudian, mereka bertiga telah sampai di puncak
tebing karang tersebut.
Ternyata tangga yang diturunkan kebawah tadi tergantung
langsung dari depan pintu gerbang benteng itu.
Jadi ketika Oh Put Kui dan pegemis pikun sampai di ujung
tengga tersebut, mereka telah mencapai pintu benteng.
Sebaliknya Put-lo huang-siu tidak melewati pintu gerbang,
melainkan langsung memangati dinding benteng tersebut.
"Hoi anak muda" serunya, "aku akan langsung melewati
dinding tembok dan masuk ke dalam sana akan kutunggu
kedatangan di depan situ .........!"
Begitu selesai berkata, bayangkan tubuhnya sudah lenyap
dari pandangan mata.
Oh Put Kui berdiri termenung didalam pintu sambil berputar
otak tiada hentinya, dia heran apa sebabnya tidak
menyaksikan, Leng-siau-thian menampilkan diri.
Sudah barang tentu dia pun tidak menjumpai Leng Cui cui
yang penuh daya tarik tersebut.
Di balik pintu gerbang hanya berdiri tegak empat lelaki
kekar dengan pedang terhunus.
Dandanan ke empat orang ini tidak jauh berbeda dengan
dandanan dari para busu pelindung rumah-rumah orang kaya.
"Apakah Leng Poocu ada di rumah ?" tegur Oh Put Kui
kemudian sambil berkerut kening.
Berhubung di melihat ketidak beresan wajah ke empat
orang ini, maka caranya berbicara pun tidak sungkansungkan.
"Ada!" sahut salah seorang dari keempat lekaki tersebut.
"Apakah kalian bisa memberitahukan ke dalam, katakan
kalau Oh Put Kui datang berkunjung ......." Kata Oh Put Kui
lagi sambil ketawa.
Salah seorang dari ke empat lelaki itu kembali menggeleng.
"Tidak lebih baik kana sendiri saja yang masuk ke dalam !"
"Sialan, beginikah sara kalian menerima tamu ?" tegur
pemuda itu mulai naik pitam. Tiba-tiba lelaki kekar itu tertawa
dingin.
"Heeehhh ...... heeeeehhhh ...... heeeeehhhh ...... aku toh
bukan anak buah dari keluarga Leng. Lebih baik cara
berbicara kalian sedikitlah lebih hati-hati !"
"Apa?" penegmis pikun tertegun, kalian bukan anak buah
keluarga Leng? Lantas maua apa berdiri di situ ?"
Kembali lelaki kekar itu tertawa seram.
"Heeehhh ...... heeeeehhhh ...... heeeeehhhh ......
Buat apa kau banyak bertanya ? Masuk saja dan periksa
sendiri !"
Oh Put Kui mulai terperanjat setelah menyaksikan kejadian
ini, dia lantas menegur pula.
"Kalian berempat berasal dari mana ? Apakah ada sakit
hati dengan Leng poocu?"
"Majikan kami berada di dalam, masuk saja ke sana. Kau
akan segera tahu dengan lebih jelas lagi."
Oh Put Kui semakin terperanjat lagi, di kuatir benteng ini
sudah tertimpa suatu bencana.
Tapi yang membuatnya agak lega adalah ke empat orang
ini tidak sampai encegah dirinya masuk ke dalam. Ini
menunjukan kalau mereka yang datang belum tentu
adalahkaum sesat atau kaum iblis, kalau tidak mustahil
mereka akan membiarkan dirinya masuk ke dalam.
Pengemis pikun segera mendengus dingin
"Hmmm, kau anggap akau si pengemis benar-benar tak
berani masuk kedalam ? Hm"
Begitu selesai berkata, dia segeramelangkah maju ke
depan, melalui tengah-tengah ke empat lelaki kekar itu dan
menuju ke ruangan dalam.
Oh Put Kui segera menjura pula kepada ke empat orang
itu, kemudian meyusul pula ke dalam.
Ketika mereka mereka berdua memasuki ruang tengah
yang luasnya Cuma dua kaki itu, dengan cepat disaksikan
dalam ruangan berdiri berderet lima orang lelaki kekar dengan
dandanan yang tak jauh berbeda dengan dandanan ke empat
orang tadi.
Sewaktu mereka berdua masuk ke dalam, ternyata ke lima
orang lelaki itu tidak menggubris bahkan seakan-akan tidak
melihat kehadiran mereka disitu.
Sambil tersenyum Oh Put Kui menembusi pintu ruangan
dan masuk ke dalam.
Pengemis pikun segera menyusul dibelakangnya.
Dibelakang ruangan tengah adalah sederet bangunan
rumah yang terdiri dari tiga bilik.
Disitu berdiri pula laki-laki kekar berpakaian ringkas,
jumlahnya mencapai sembilan orang lebih.
Sedang dalam ruangan penuh dihadiri manusia-manusia
berwajah seram.
Pemilik benteng nomor wahid dari dunia persilatan si kakek
menyendiri seriba li Leng shiu-thian duduk disisi kir ruangan,
dibelakangnya berdiri seorang lelaki dan seorang perempuan.
Yang perempuan memakai baju berwarna hijau pupus,
rambutnya panjang terurai sebahu, waktu itu dengan wajah
gusar dan tangan meraba gagang pedang yang tersoren
dipinggangnya sedang melototi sembilan orang yang duduk
disebelah kanan dengan, wajah penuh kegusaran ......"
Oh Put Kui cukup kenal perempuan ini, sebab dia adalah
Leng Cui-cui berdiri pula seorang sastrawan yang berusia tiga
puluh tahunan.
Ia berdiri sambil bergendong tangan, wajahnya menunjukan
sikap yang sangat hambar.
Sedang disisi kanan ruangan itu hadir ke lima orang kakek.
Dari kelima orang kakek tersebut, Oh Put Kui hanya kenal
seorang saja yaitu Cu-ihmo-kiam (pedang iblis berbaju merah)
Suma Hian, sedang ke empat lainnya tak pernah di jumpai
....,...
Tapi si pengemis pikun itu agaknya seperti mengenali
mereka.
Sebab setelah berseru kaget, tiba-tiba ia berseru sambil
tertawa tergelak.
"Heeehhh ...... heeeeehhhh ...... heeeeehhhh ...... bagus
sekali, tampaknya kalian semua si anak iblis telah berkumpul
disini...."
Belum habis pengemis pikun berbicara Leng Siau-thian
telah bangkit berdiri.
Hawa amarah dan perasaan tak senang menyelimuti
wajahnya kini sudah tersapu lenyap hingga tak berbekas.
"Oh lote !" serunya cepat. "kan benar-benar seorang yang
bisa dipercaya, aku malah mengira kau takkan kemari !"
Buru-buru Oh Put Kui menjura dan menyambut sambil
tertawa.
"Sepanjang perjalanan tanpa berhenti boanpwe datang
kemari, siapa sangka gara-gara ada peristiwa lain, aku sampai
tertunda perjalananku selama empat lima hari !"
Dengan langkah lebar dia masuk keruang dalam.
Dia pun dengan berani sekali menyambut sambutan hangat
dari sepasang mata yang indah dan jeli tersebut.
Senyuman Leng Cui-cui betul-betul sangat indah, manis
dan hangat......
Sedang kelima orang kakek disisi kanan kelihatan agak
tertegun, agaknya kemunculan Oh Put Kui dan pengemis
pikun secara tiba-tiba disana sama sekali diluar dugaan
mereka.
Terutama sekali bagi si pedang iblis berbaju merah suma
hitam.
Sesudah tertegun beberapa saat, dia lantas membisikan
sesuatu disisi telinga dua orang kakek berbaju hitam yang
duduk di sampingnya.
"Terhadap gerak gerik mereka itu, Oh Put Kui berlagak
seolah-olah tidak melihatnya.
Tanpa sungkan ia segera mengambil tempat duduk di
samping Jian-hu-siu.
Pengemis tua lebih hebat lagi, tanpa banyak bicara dia pun
duduk disamping ke-lima orang kakek itu.
Setelah memandang sekeja sekeliling arena dengan sorot
mata yang tajam, tiba-tiba Oh Put Kui berkata dengan kening
berkerut :
"Leng tua, sewaktu masuk benteng tadi boanpwe seperti
tidak bertemu dengan seorang anak buahpun, apakah di
dalam benteng telah timbul suatu kejadian ?"
Jiau lihu-siu Leng Siau-thian tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ........haaahhh...... haaahh...... dugaan lote memang
tepat sekali, dalam benteng kami memang telah timbul suatu
kejadian besar."
Oh Put Kui mengerti, sudah pasti peristiwa ini timbul karena
ulah dari pedang iblis berbaju merah Suma Hian, walaupun
demikian ia toh tetap bertanyalagi :
"Leng tu, sebetulnya apa yang telah terjadi dengan benteng
kalian ini ?"
Leng Sia-thian mengalihkan sorot matanya dan
memandang sekejab ke lima orang kakek itu, lalu sahutnya
sambil tertawa :
"Gedung Sian hong-hu yang menggetarkan seluruh dunia
persilatan telah datang mencari gara-gara dengan diriku !
"Gedung Sian hong-hu ?" kali ini Oh Put Kui benar-benar
dibikin tertegun, dia tidak habis mengerti apa sebabnya pihak
Sian-hong-datang mencari cari gara-gara dengan pihak Bulim-
tit-it-poo.
Maka setelah termangu beberapa saat, dia bertanya lagi ;
"Perselisihan apa sih yang telah terjalin antara Leng tua
dengan si kakek malaikat?"
"Aku sama sekali tidak mempunyai perselisihan apa-apa
dengan Sengsiu." Leng Siau thian mengeleng. "kejadian ini
timbul dikarenakan padang Hiam-peng-kiam tersebut ...... aku
tak pernah mengira kalau benda mestika milik keluarga kami
ini bisa mendatangkan banyak kesulitan bagi kami semua."
Oh Put Kui tersenyum.
"Aoooh, aku pun tidak menyangka kalau pihak Sian hong
hu ikut serta di dalam persoalan ini!"
Pada saat itulah, si kakek yang duduk di tengah diantara
lima orang laiannya tertawa dingin secara tiba-tiba, kemudian
berkata :
"Pedang Hian-peng-kiam adalah milik Seng-siu, aku harap
pembicaraanmu jangan bernada menyindir."
Baru sekarang Oh Put Kui memperhatikan sekejap wajah si
kakek tersebut.
Ia saksikan kakek ini berwajah antik, alis matanya putih,
kepalanya botak dan wajahnya bersih, sama sekali tidak
mencerminkan hawa sesat barang sedikitnya jua.
Sambil tertawa hambar dia lantas menegur
"Siapa sih ka orang tua ?"
Kakek beralis putih itu mendengus dingin
"Hmmmm, kalua aku saja tidak kau kenal, ini menandakan
kalu pengalaman serta pengetahuan betul-betul sangat cupat
!"
Kalau didengar dari nada pe,bicaraannya kakek ini mungkin
bernama besar.
Oh put Kui tertawa seram.
"Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., sebenarnya aku memang
seorang yang pengetahuan cetek namun bila nama besarmu
betul-betul seperti nada pembicaraanmu tadi, semestinya aku
pun pernah mendengarkannnya."
"Kurang ajar !" teriak kakekk beralis putih itu dengan
mencorong sinar biru dari balik matanya. "Bocah keparat,
besar amat nyalimu ...."
"Bila nyaliku kecil, tak nanti tak berani didatangani orang
lain !"
Ucapan tersebut segera membuat si kakek beralis putih itu
tertegun, lalu seruya sambil tertawa dingn :
"Apakah kau adalah sang pemuda yang telah berkunjung
kepulau neraka tersebut ? sungguh beruntung aku bisa
bertemu dengan kaku pada hari ini ! Meski begitu ...."
Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa terbahak-bahak
dia melanjutkan :
"hei boacah keparat,kau bisa berkunjng ka pulau beraka
dengan selamat hal ini hanya satu kebetulan saja, siapa saya
sudi melukai seorang pemuda berbakatbagus seperti kau ?"
Atau dengan perkataan lain,a di hendak menegaskan
kepada Oh Put Kui bahwa keberhasilan lolos dari pulau
tersebut tak lain karena dia mengandalkan bakatnya yang
baik.
Kontan saja Oh Put Kui mendengus.
Hmmmm, kalu begitu kau tentu sudah pernah berknjung
kepulau itu ?"
"Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., aku sih belum sudi untuk
berkunjung kesana !" Kakek beralis putih itu tertawa dingin.
"Haaaahhh...haaaaahh...haaaaahh...., saudara benar-benar
terlalu menilai tinggi kemampuan sendiri !"
"Oh lote," tiba-tiba Leng Siau-thian berkata sambil tertawa
terbahak-bahak. "Kakek ini adalah pelatih kepala dari gedung
Sian-hong-hu, orang menyebutnya Toh-min-sin.-huan (panji
sakti penrenggut nyawa) Ku Bun-wi !"
Tampaknya Leng Siau-thian tak ingin kedua orang itu
saling menyindir tiada hentinya, maka dia sengaja
memperkenalkan orang itu.
Oh Put Kui sama sekali tidak menunjukan perubahan
apapun, hanya ujarnya sambil tertawa hambar :
"Ooooh..... rupanya Ki-sik-sancu ! kalau begitu aku telah
bersikap kurang hormat ?"
Mendengar itu, iar muka panji sakti perenggut nyawa Ku
Bun-wi segera terlintas sedikit perasaan gembira.
Sudah cukup lama sebutan "Ki-sik-sancu" tersebut tak
pernah disinggung orang lain.
Tapi kenyataan sekarang. Oh Put Kui dapat menyebut
nama tersebut, ini menunjukan kalu angakatan tua dari
pemuda ini tertu sudah pernah membicarakan hal-hal yang
menyangkut kehebatannya di masa silam.
Berpikir begitu, dengan wajah yang jauh lebih cerah kakek
itu berkata sambil tertawa :
"Kalau dilhat dari kemampuan untuk menyebutkan
julukanku di masa lampau, hal ini menandakan kalau kau
meang mempunyai sedikit asal usul yang mengagumkan"
Oh Put Kui tertawa tergelak
"Haaahh ....haaahh .... Haaahh.......... Sudah lama ku
dengar asala usul saudara, yaa, sipaa yang tidak kenal
denganpengalima perang nomor satu dari Cengthian-kui-ong,
(raja setan penggetar langit) Wi Thian yang?"
Rupanya tertawa Ku Bun-wi segera menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Dunia meang selalu berputar, kau tak usah menyindir
diriku lagi"
Tiba-tiba nada suaranya berubah menajdi lembut dan
halus. Hal ini kembali membuat Oh Put Kui tercengang.
"Saudara telah bergabung dengan pihak Sian-hong-hu,
semestinya kau harus memahami watak dari Wan-sing-sengsiu,
apakah cara kalian mengincar barang mestika milik orang
lain tidak menyimpang dari pesan terakhir Seng-siu?"
Tiba-tiba Oh Put Kui telah membawa pokok pembicaraan
kembali ke amsalah semula
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali dia
menambahkab :
"Sebelum kedatangan saudara kemari, sudahkah kau
mendapatkan persetujuan dari anak keturunan Seng-siu ?"
Si Panji sakti pereggut nyawa Ku Bun-wi tertawa hambar.
"Tanpa persetujuan dari majikan muda kami, masa akua
berani datang kemari ?"
Oh Put Kui segera berkerut kening.
"Sepengetahuanku, pedang Hian-peng-kiam adalah milik
keluarga Leng. Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan
sebagai milik Wan-sing-seng-siu ? Aku benar-benar merasa
tidak habis mengerti ......"
Ku Bun-wi tertawa lagi.
"Aku rasa, Leng Siau-thian pasti akan lebih mengerti
ketimbang kau sendiri."
Dengan kening berkerut, Oh Put Kui segera berpaling ke
arah Leng Siau-thia, kemudian tanyanya :
"Leng tua, sebenarnya apa sih yang telah terjadi?"
Leng Siau-thian menghela napas dan menggelangkan
kepalanya berulang kali :
"Aaaai ..... apabila kejadian ini dibicarakan kembali,
sungguh akan membangkitkan rasa diriku saja."
"Kalau memang begitu, kau tak usah menyinggung lagi
masalah terebut !"
"Lote, kau tak usah membantu lagi untuk menutup-nutupi
kejadian terebut."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia meneruskan :
"Semata aku masih muda dulu, aku telah kehilangan
pedang ini di bukit Thay-san."
"Kepandaian silat yang kau miliki waktu itu, sudah pasti tak
bisa dibandingkan dengan kemampuan sekarang bukan ?"
salah Oh Put Kui sambil tertawa.
"Yan, memang begitulah, dikerubuti oleh tiga orang
gombong iblis yang sangat lihay akhirnya aku menderita luka
parah dan kehilangan pedang Hian-peng-kiam milik
keluargaku itu, kemudian ke tiga orang gembong iblis tewas
pula ditangan Wan-sin-sang-siu Nyoo tayhiap. Sedang saat
itulah pedang Hian-peng-kiam menjadi milik Wan-sin-sang-siu
!"
"Leng tua, bukankah Ceng-thian-kui ong juga pernah
menuntut pedang tersebut dari tanganmu?" ucap Oh Put Kui
sambil tertawa.
Leng Siau-thian menghela napas panjang.
"Aaaai, sejak Nyoo thayhiap mendapat pedang itu, dia
merasa sayang sekali dengan benda ini sebelum akhirnya
dihadiahkan kepada putri kesayangannya Nyoo Sian -sian,
tapi gara-gara pedangan itu nyaris nona Nyoo Sian-sian
kehilangan nyawanya !"
"Waaah, kalau begitu pedang tersebut memang membawa
firasat kurang baik." Ucap Oh Put Kui pula sambil
menggelangkan kepalanya.
"Pengalaman yang dialami nona Nyoo hampir serupa
dengan diriku, dalam keadaan terluka parah ia kehilangan
pedang tersebut tapi kemudaian ke liam orang yangmerebut
pedang milik nona Nyoo itu terbunuh ditangan si raja setan ...."
"Oooh, jadi pedang Hian-peng kiam tersebut jatuh ketangan
si raja setan ?"
"Benar !" Leng Siau-thian manggut-manggut.
"Kalau begitu, kedatangan cong-huhoat dari Siang-hong-hu
juga dikarenkan pedang Hian-peng-kiam tersbut ?"
Nada lain dari perkataan itu adalah seakan-akan dia tak
percaya kalau kedatang Ku Bun-wi hanya dukarenakan
hednak meminta kembali pedang tersebut.
Leng Siau thian menggut-manggut berulang kali.
"Yaa, betul, Ku huhoat memang datang kemari untuk
meminta kembali pedang tersebut."
Sekali lagi Oh Put Kui memandang sekejab sekeliling
arena, kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Kalau begitu. Ketua
dari Su tay-kiam -wi pelaya pedang" dibawah pimpinan Raja
setan pengetar langit Wi Thian-yang, si pedang iblis berbaju
merah Su-ma Hian ayhiap juga datang karena ingin minta
kemabli pedang itu ?"
Begitu pertanyaan tersebut diantarakan, Ku-Bun-wi segera
menjadi tertegun, rupanya pertanyaan ini sama sekali diluar
dugaannya
"Hei, anak muda! Kau kenal dengan Su-maHian?"
"Apakah saudara tidak menyangka?" Oh Put Kui tertawa .
Dengan kening berkerut Toh-Mia-Siu-huan
Segera berkata :
"Saudara datang kemari sebagai tamu, aku pun datang
kemri sebagai tamu, mengapa tudan rumah belum berkata
apapun, kau malah mengoceh tida hentinya?"
Agaknya Ku Bun-wi merasa keheranan apa sebabnya Oh
Put Kui seperti sentimen dengannya. Bahkan Ji-li-hu-siu
sendiripun seolah-olah bersedia tunduk di bawah
perkataannya.
Mendengar pertanyaan itu. Oh Put Kui segera tertawa
terbahak-bahak :
"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Sekarang kau tak
usah keheranan, kau toh akan mengetahui dengan sendirinya
......"
Lalu sambil berpaling katanya pula kepada Suma Hian :
"Suma Hian, baik-baiklah kau selama ini?"
Terhadap Leng Siau-thian sekeluarga maupun terhadap
pengemis pikun yang duduk tak jau dari sisinya, boleh dibilang
si pedang iblis berbaju merah Suma Hian tidak merasa takut,
tapi terhadap Oh Put Kui yang pernah mengndurkan dirinya
dan mengusir Tiang-siau-san-ang dari perkampungan Tangmo-
sen-ceng ini dia betul betul merasa amat keder.
Oleh sebab itu terpaksa dia harus memnyahut sambil
tertawa :
"Oh sauhiap. Baik baikkah kau ?"
"Suma Hian, agaknya aku harus menyampaikan ucapan
selamat lebih dulu kepadamu."
"Apa maksud sauhip berkata demikian ?" Suam Hian
tertegun.
"Bukankah majikan kalian telah muncul kembali didalam
dunia persilatan ? Apa hal semacam ini tidak pantas untuk
diberi selamat,.....?"
Suma Hian segera tersenyum.
"Ooooh, rupanya kejadian ini yang sauhiap maksudkan !
Aku pernah dengar orang bilang kalu majikan kami telah lolos
dari kurungan, tapi hingga kini aku belum penah berjumpa
dengan majikan kami itu....!"
"Ooooh, bukan ! Bukan !" Suam Hiat menggelengkan
kepalanya berulangkali, "Aku datang kemari atas undangan
dari saudaraku !"
"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Kalu begitu aku telah
salah menduga !"
Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba tiba katanya lagi
kepada Ku Bun-wi :
"Ku Tayhiap, aku belum pernah bertemu dengan beberapa
orang rekaman itu!"
Suatu perkataan yang amat sombong, sudah jelas dia
mengharapkan perkenalan dengan ketiga orang kakek itu,
namun tidaksudi mempergunakan kata memohon.
Ku Bun-wi segera berkerut kening, lalu katanya :
"Ooooh, kau ingin aku perkenalkan dengan rekan-rekanku
ini ?"
"Aku tak ingin berbicara dengan orangorang tak bernama !"
Ucapan ini lebih angkuh lagi, sedemikan angkuhnya
sehingga si pengemis pikun pun sedikit agak tertegun.
Walaupun dia sudah bekumpul selma banyakwaktu dengan
pemuda ini, namun ia tahu bahwa pemuda yang tangguh ini
bukan seorang manusia yang tinggi lain.
Tapi kenyataannya sekarang, dia seolah olah telah berganti
menjadi orang lain.
Sudah barang tentu pengemis pikun tak dapat menduga
apa yang sedang dipikirkan oleh Oh Put Kui sekarang.
Agaknya Oh Put Kui telah melihat kalu Bu-lim-tit-it-poo sedang
terancam oleh bahsa maut yang amat gawat.
Maksud kedatangandari Ku Bun-wi sekalian agakanya
bukan untuk minta pedang tersebut, ia percaya majikan muda
dari gedung Sian-hong-hu, si naga sakti pedang kilat Nyoo
Ban-wi telah melihat bagaima di mengambil pedang Hian-pngkiam
tersebut dan menghadiahkan sepada Lamkiong Ceng
suami istri.
Tapi kenyataan sekarang, dia justru telah mengutus KU
Bun-wi untuk meminta kembali pedang tersebut, bukan hal ini
jelas ada udang di balik batu ?
Oleh sebab itu dia megambil keputusan untuk meghadapi
KU Bun-wi dengan sepenuh tenaga.
Bahkan ia tak segan-segan untuk bertarung mati-matian
didalm benteng ini.
Dan sekarang, tiga orang kakek yang duduk tak jauh dari
ku bun-wi telah menunjukkan sikap gusar, enam pasang mata
mereka yang memancarkan cahaya api mengawasi Oh Put
Kui tanpa berkedip.
Dengan alis mata berkenyit KU Bun-wi membentak nyaring
:
"Kau si bocah keparat benar-benar kelewat jamawa......."
Tapi setelah berhenti sejenak. Dia menuding kearah ke tiga
orang kakek itu sambil berkata :
"Kedua orang kakek berbaju hitam ini adalah saudara
angkat dari Suma Hian, orang menyebutnya Ci-sim thi kiam
(peang baja berhati merah) Hui wong-ki dan Lui-ing-Huangkiam
(pedang latah irama guntar) The tay-hong ......
Berkilat sepasang mata Oh Put Kui setelah mendengar
nama itu, katanya kemudian sambil tertawa :
"Bagus sekali, tampaknya tiga dari empat pelayan pedang
telah hadir disini !"
Sementara itu KU Bun-wi telah menuding lagi kearah kakek
berjubag abu-abu lainnya semabari berkata :
"Sedangkan dia adlah Hek-pek-sin-kiam "pedang sakti
hitam putih" Pak Cau-kun yang amat tersohor namanya
didalam dunia persilatan ....."
"Betul," kali ini Oh Put Kui menjura, "Pak tayhiap memang
seorang yang ternama, aku senang berjumpa denganmu !"
Dalam dunia persilatan Pak Cau-kun terhitung seorang
manusia yang adil dan bijaksana, sekalipun pada mulanya di
turut di buat gusar oleh sikap Oh Put Kui yang jumawa, namun
setelah menyaksikan pemuda itu hanya menjura kepadanya
seorang, seketika itu juga rasa gusarnya hilang lenyap tak
berbekas.
Kakek bercambang yang gagah perkasa in kembali tertaw
nyaring, katanya :
"Terima kasih Oh sauhiap !"
Oh Put Kui kembali tertawa.
"Aku tahu, Pak tayhiap selama ini termashur karena berhati
baja, tidak pandangbulu adil dan menghadapi setiap persoalan
dengan adil dan bijaksana, bolehkah aku tahu kedatanganmu
pada hari ini dengan membawa maksud apa ? Ataukah Pak
tayhiap pun menganggap pedang Hiam-peng-kiam tersebut
memang sudah sepantasnya menjadi milik Sian-Houng-hu
........?"
Pak Cau kun tidak menyangka kalua Oh Put Kui akan
mengajukan pertanyaan tersebut untuk beberapa saat dia
menjadi tergagu dan mukanya berubah menjadi marah
padam.
Untuk beberapa saat lamanya kakek yang bijaksana ini tak
mampu mengucapkan sepatah katapun.
Oh Put Kui takut Pak Cau-kun kehilangan muka, maka
sambil tertawa kembali ketanya kepada KU Bun-wi :
"Ku sauhiap, tahukah kalian bahwa kedatangan kamu
semua utuk minta kembali pedang tersebut dari tangan Leng
poocu adalah suatu tindkan yang keliru ?"
Ku Bun-wi tertawa dingin.
"Bocah muda, tampaknya kau memang sengaja hendak
mencari gara-gara denganku ?"
"Itu mah tidak, sebab semenjak setengah bulan berselang
pedang Hian-peng-kiam tersebut berhasil kurebut dari tangan
seorang jago jihay dan kini telah kuhadiahkan pula kepada
orang lain !"
"Apa kau bilang ?!" Seru Ku Bun-wi tertegun.
"Pedang Hian-peng-kiam tersebut telah kuhadiahkan
kepada siapa?"
"Soal ini tak usah kau tanya, pokoknya kalu kau
menginginkan pedang tersebut, tak salah lagi kalau
memintanya dariku .....,"
"Huuuh, kau ini terhitung manusia apa?"
Belum habis KU Bun-wi berbicara, tiba-tiba saja dia
melompat bangaun dari kursinya.
Kemudian dengan wajah berubah menjadi amat
menyeramkan dia menuding Oh Put Kui sambil mengumpat :
"Manusia yang tak tahu diri, kau berhasil melukai akua .....
Umpatan dari KU Bun-wi ini disambut oleh Oh Put Kui
dengan wajah tertegun .
"Aku sama sekali tidak menggerakkan Ku bin wi ini
disambut oleh Oh Put kui dengan wajah tertergun.
"Aku sama sekali tidak menggerakkan tubuhku, sejak
kapan aku telha melukaimu?" serunya.
Dari dalam mulutnya Ku bun wi mengngeluarkan separuh
potong giginya yang patah kemudian berteriak:
"Coba lihat apakah ini bukan hasil perbuatanmu? Aku ......"
mendadak dia membungkam.
Sebab dia teringat sewaktu sedang mengumpat Oh Put kui
tadi, si anak muda itu memang tetap duduk di tempat tanpa
bergerak barang sedikitpun jua.
Ini berarti ada orang lain yang telah menyerangnya secara
diam - diam.
Tapi siapakah dia?
Setelah berhasil menenangkan diri, mendadak bentaknya
keras - keras;
"Leng Siau-thian, sebenarnya kau telah menyembunyikan
manusia keledai didalam bentengmu dan berani menyerang
diriku secara diam-diam......"
Mendengar perkataan tersebut, Leng Siau-thian tertegun.
"Saudara Ku. Untuk menghadapi kau. Aku leng Siau-thian
tidak usah memakai cara seperti ini......."
Dengan jawaban tersebut, KU Bun-wi menjadi tergagap
dan tak mampu menjawab lagi.
Tapi tak tahan kemudian ia memandang sekejab di
sekeliling tempat itu, kemudian umpatnya :
"Bangsa tikus tak bermata manakah yang berani ......"
Belum lagi perkataan itu selesai diucapkan, mendadak
seluruh tubuh KU Bun-wi berjungkal dari atas kursinya.
Menyusul suara tertawa aneh bergema memecahkan
keheningan diseluruh ruangan tersebut.
Mendengar suara tertawa mana , Oh Put kui segera
tertawa.
Sejak ia mendeugar suara tguran dari KU Bun-wi tadi, ia
sudah mengetahui siapakah yang telah melakukan perbuatan
tersebut.
Semenjak masuk kedalam benteng. Dia tidak meliahat Putlo-
huang-siu Ban Sik-thong sedang menampakan diri. Maka
dia segra mengarti kalau kakek terebut sedang bermain gila.
Betul juga dugaanya, dia mencari gara-gara dengan Ku
Bun-wi.
Bantingan yang menyebabkan KU Ban-wi terjengkal ke
atas tanah kali ini benar-benar tidak ringan.
Ku Bun-wi segera merangkak bangun dari atas tanah,
kemudian denagn perasaan mendongkol dia mencak-mencak
sambil megumpat kalang kabut.
Tiba-tiba bayangan manusia berkelabat lewat, dari atas
sebatang pohon siong melayang turun se sosok bayngan
manusia, bayangan itu muncul bagaika malaikat langit turun
dari khayangan, setelah menampakan diri maka tampaklah
bahwa orang tersebut tak lain adalah Put-lo-huang-siu..
Begitu mencapai permukaan tanah, kakek itu lantas
menuding keara KU Bun-wi dan berseru sambil tertawa
terbahak-bahak.
"Haaahhh ....haaaahh .... Haaaahh.... Siau- kokoay,
jumpalitanmu kali ini kurang menarik .... Bagaimana kalau
diulang sekali lagi
Tatkala si kakek sedang melayang turun ke atas
permukaan tanah tadi, sebenarnya Ku Bun-wi masih mencakmencak
sambil mengumpat kalang kabut dengan gusarnya,
bahkan dengan sepenuh tenaga menerkam orang itu seraya
melancarkan dua pukulan.
Tapi setelah mendengar sebutan "Siau-kokoay" tersebut, ia
benar-benar meraskan sukmanya serasa melayang
meninggalkan rasanya.
Tubuh yang semula masih melncur kedepan sambil
melancarkan kedepan sambil melancarkan terkaman, kini
merosot turun ke bawah dengan cepat.
Bukan hanya merosot ke bawah saja. Bahkan begitu
mencapai tanah ia lantas menjejak kakinya ke bumi dan
melejit kebelakang sejauh beberapa kaki.
Tentu saja ia berbuat demikian karena tak ingin dibikin
jumpalitan sekali lagi.
"Put-lo-huang-siu kah disitu....." suara teguran dari Ku bunwi
kedengaran setengah parau.
Ia berdiri sejauh dua kaki lebih dari posisi semula dan
mengawasi Put-lo huang siu dengan pandangan termangumangu
"Bagaimana ? sudah tidak kenal lagi dengan diriku?" tegur
Put-lo-huang-siu sambil tertawa.
"Terhadap kau orang tua, masa boanpwe bisa tidak
mengenali ?" sahut Ku Bun-wi dengan alis mata berkenyit.
"Heeeehhh...heeehh...heeeehh..., kalau toh kenal,
mengapa masih berani mencaci maki ?"
"Tadinya boanpwe tidak tahu kalau kau orang tua yang
datang!" suara Ku Bun-Wi kedengaran jauh lebih lirih.
"Kau benar benar tidak tahu ?"
Agaknya Ku Bun-wi cukup mengenali tabiat dari si orang
tua ini, kalau tidakbiarpun boanpwe punya nyali setinggi langit
pun takkan berani bersikap kurang ajar kepadamu ....."
Memandang paras muka Ku Bun-wi yang begitu
mengenaskan, mendadak Pui-lo-huang siu tertawa terbahakbahak,
katanya kemudian :
"Siau- kukoay, aku hanya menggodamu saja, sana,
pulanglah ke tempat dudukmu semula"
Seusai berkata, dengan langkah lebar dia berjalan ke kursi
utama dan duduk tanpa sungkan-sungkan, setelah itu ujarnya
kepada Oh Put Kui sambil tertawa :
"Hei anak muda, kau benar-benar kelewajumawa!"
"ban tua" On Put Kui tertawa, "bagi boat anpwee, semakin
jumawa orang yang kujumpai. Aku pun bersikap lebih jumawa
lagi"
"Benar! Benar! Cara ini memang paling manjur kalau
digunakan untuk menghadapi mereka yang jumawa, tempo
hari justru dengan kubikin Thian-tok-siang ciat setengah mati
saking mendongkolnya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba sapanya pula
kepada Legn Siau-thian.
"Leng Siau-thian baru maju kedepan untuk memberi
hormat, sahutnya :
"Berkat doa restu kau orang tua, aku selalu berada dalam
keadaan sehat wal'afiat."
Put lo-huang-siu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ....haaahh .... Haaahh.......... Kau memang jujur.
Wahai Leng Siau thian, bila aku tidak datang saat ini, benteng
yang kau sebut sebagai Bu-lim-tit-it-poo ini pasti tak akan
berada dalam keadaan aman tentram lagi."
Leng Siau-thian tertawa jengah.
"Yaa, kesemuanya ini memang berkat kasih sayang kau
orang tua terhadap boanpwe."
Put-lo-huang siu segera menggelengkan kepalanya
berulang kali sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh ....haaahh .... Haaahh...... tidak usah, sekarang
Lohu sudah mempunyai pengganti !"
Leng Siau thian tertegun, sebelum ia mengucapkan
sesuatu, kakek itu sudah menuding kearah Oh Put Kui sambil
berkatalagi :
"Segala sesuatunya akan diselenggarakan oleh anak muda
itu, tak usah kuatir."
"ooooh, rupanya kau orang tua hendak melepaskan diri dari
sampur tangan persoalan ini ?"
"Haaahh ....haaahh .... Haaahh...... tepat, tepat sekali !
Dengan kehadiran Oh Put Kui si bocah ini, aku boleh berpeluk
tangan belaka dengan hati lega, coba lihatlah, bukankah si
anak muda tersebut jauh lebih jumawa ketimbang akua ?"
@oodwoo@
Jilid : 20
"OH LOTE ADALAH SEORANG jago muda yang berbakat
hebat, biarpun jumawa tidak berarti kurang sedap di pandang."
"Betul, hei anak muda, sudah kau dengar itu ? Leng Siauthian
mengatakan kejumawaanmu itu amat menawan hati !
Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ..... anak muda,
nampaknya aku memang tak salah memilih orang !"
Oh Put Kui segera tertaw hambar.
"kau orang tua jangan kelewat awal mengutarakan katakata
semacam itu, ketahuilah tidak sedikit penyakit yang
boanpwee miliki ......!"
Put-lo-huong-siu segera tertawa terkekeh-kekeh.
"Hanya manusia yang punya penyakit barulah memiliki
watak, anak muda, aku tak bakal menyesal !"
Dari perkataan tersebut, seakan akan dia sudah
menegaskan kalau Oh Put Kui sudah pasti akan menjadi
penggantinya.
Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya berulang
kali.
"Locianpwee, kau anggap boanpwee benar-benar akan
menjadi penggatimu ?"
"Siapa sih yang sedang bergurau denganmu ?" Put lohuang-
siu menedlik besar.
"Tapi, tidaklah kau orang tua bertanya kepada boanpwee,
bersedia, bersedia ataukah tidak."
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., buat apa mesti
ditanyakan lagi? Bagi kau si orang muda, apakah hal ini bukan
berarti pucuk dicinta ulam tiba ?"
Mendadak Oh Put Kui mendongakan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Ban tua
anggapanmu itu keliru besar."
"Kenapa?" Put-lo-huang-siu tertegun, "Jadi kan benarbenar
tidak bersedia?"
"Memang begitulah maksudku!"
Mendadak Put-lo-huang-siu melompat bangun dan melejit
kehadapan Oh Put Kui, kemudian jeritnya.
"Kau berani ?"
"Mengapa boanpwee tidak berani ?"
"Kau tidak takut lohu akan memunahkan semua
kepandaian silat yan kau miliki ?" Put lo-huang-siu mencoba
untuk mengertak.
Oh Put Kui tertawa hambar.
"Boanpwee toh tidka menyusahi dirimu, mengapa kau
orang tua hendak memusnahkan ilmu silat yang boanpwee
miliki ?"
"Jika kau tidak menyanggupi permintaan lohu, ini berarti
kalau telah menyalahi diriku, hei anak muda, kau jangan
anggap setelah mempunyai dua orang tulang punggung maka
bisa berbuat semaunya sendiri. Ketahuilah akupun sama saja
tak sungkan-sungkan terhadp tay-gi maupun Thian-liong !"
Oh Put Kui tertawa.
"Boanpwee sudah tahu, guruku dan susiok memang
seringkali menyinggung tentang dirimu." perkataan ini benarbenar
menimbulkan perasaan gembira bagi Put-lo-Huang-siu.
Jelaslah sudah, biarpun diluarnya Put-lo Huang-siu
Mengatakan akan bersikap begini begitu terhadap Tay-gi
sangjin serta Tiang-liong sanjin, padahal dia merasa kagum
dan hormat sekali terhadap ke dua orang tokoh persilatan
tersebut.
Pelan-pelan paras muka kakek itu berubah menjadi lunak
kembali, katanya kemudian sambil tertawa :
"Biarpun mereka sering menyinggung tentang diriku
dihadapanmu ...."
"Suhu dan susiok bukan Cuma seringkali menyinggung
tentang kau orangtua dihadapan boanpwee, bahkan berpesan
kepada boanpwee agar didalam tindak-tandukku dimasa
depan harus banyak belajar dari kau oarang tua."
"Sungguhkah itu ?" si kakek bertambah gembira "Wah anak
muda, gurumu memang cukup memahami perasaanku."
Dalam hati kecilnya Oh Put Kui meras geli, tapi di luar dia
berkata lagi :
Guru boanpwee pernah hilang, kau adalah seorang tua
yang tak suka mengikuti peraturan dan adat istiadat, setiap
tindakan dan perbuatan yang dilakukan tak pernah melanggar
kebesaran dan ajaran Thian, pada hakekatnya kau merupakan
seorang tokoh berhati mulia."
Mendadak Put-lo-huang-siu tertawa.
"Bocah muda, gurumu melukiskan diriku keliwat baik!"
"Ban tua, apakah kau pernah melakukan perbuatan yang
melanggar ajaran Thian ?" tiba-tiba pemuda itu bertanya.
Cepat-cepat Put-lo-hiang siu menggelang.
"Tentu saja tidak pernah, sejak dilahirkan didunia ini, belum
pernah kulukai seorang manusia pun !"
Mendengar perkataan mana, Oh Put Kui segera ikut
menggelengkan kepalanya :
"Sewaktu berada di loteng kecil tempo hari, bukankah kau
pernah bilang selama terkurung disitu maka kau membunuh
orang untuk mengisi waktu tenggang? Mengapa kau
mengatakan tak pernah membunuh orang semasa hidupnya
?"
Merah jengah se ember wajah Put lo-huang-siu, katanya
kemudian sambil tertawa :
"Anak muda, terus terang sajakau bilang, tempo hari aku
hanya mengibul !"
"Mengibul ? jadi kau benra-benar tak pernah membunuh
orang?"
"Selama ini aku Cuma menakut-nakuti orang lain saja,
biar[un menghadapi manusia bengis berhati kejipun, paling
bater aku hanya menusnahkan ilmu silatnya saja!"
Mendadak Oh Put Kui tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Ban tua, apakah
boanpwee termasuk seorang manusia bengis keji ?"
Cepat-cepat Put-lo-hiang-siu menggeleng.
"Tentu saja bukan, masa kau manusia bengis berhati keji
....?"
"Nah, itulah dia, kalau toh memang begitu apa sebabnya
kau hendak memusnahkan ilmu silatku ?"
"Soal ini ... dengan memerah kakek itu tertawa jengah,
"Aku Cuma ingin menggertakmu !"
"Untung aku tidak takut digertak, coba tidak, bukankah bida
berabe jadinya?"
Put-lo-hiang-siu menghela napas panjang.
"Aaaai... betul juga, kau si anak muda memang tidak
samapai kena digertak, tampaknya aku bakal menggung
kecewa !"
"Kau orang tua tak perlu kecewa, asal kau ingin meminta
bantuanku, sudah pasti akan kulaksanakan perintahmu
tersebut!"
"Sungguh ?" teriak kakek ituamat girang.
"Selamanya apa yang telah kuucapakan tentu
kulaksanakan dengan sungguh-sungguh!
"Aaaai ..." kembali kakek itu menghela napas panjang.
"anak muda, kalau kau megatakan hal ini sadari tadi,
bukankah sudah beres ? Bikin aku merasa kuatir saja ..."
Berbicara sampai disitu, dia lantas melompat balik ke
kursinya dan duduk kembali.
Oh Put Kui tertawa geli di hatio, pikirnya :
"Sikakek ini benar-benar, lucu dan menawan hati ..."
Biarpun demikian, ia toh menyahut juga :
"Ban tua, sekarang perintah apa yang hendak kau
sampaikan kepadku?"
Sambil memejamkan matanya rapat-rapat, Put-lo-huang-siu
berkata :
"hei anak muda, hari ini akan kusuruh kau laksanakan
permintaanku yang pertama!"
"Katakanlah!"
"Bereskan kesulitan yang sedang dialami Leng-Siau Thian!"
"Tak usah disuruhpun aku juga akan berbuat demikian,"
batin Oh Put Kui.
Namun shutnya juga :
"Aku turut perintah!"
Waktu itu Leng Siauw-yhian sudah balik kembali ketempat
semula, mendengar perkataan itu buru-buru dia bangkit berdir
sembari ujarnya :
"Aaaah, mana boleh jadi, lebih baik biar aku sendiri yang
merundingkan persoalan tersebut dengan sandara Ku!"
Mendadak Oh Put Kui berkata sambil tertawa :
"Leng tua, pedang Hian-peng-kiam tersebut telah
kuhadiahkan kepada putri dan menantumu sebagai hadiah
perkawinan mereka, tapi sekarang muncul segelincir manusia
yang ingin merampas pedang tersebut, sewajarnya kalu
akupula yang tampilkan diri untuk menyelesaikan masalah
tersebut."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berpaling kearah
KU Bun-wi sekalian berlima sembari berkata :
"Bukankah kedatangan kalian berlima untuk mendapatkan
pedang ini ? Aku bersedia untuk menyelesaikan maslah ini
dengan kalian ...."
Menghadapi keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya
ini, Ku Bun-wi sudah mempunyai rencana untuk
mengundurkan diri dari tempat tersebut.
Dia tahu, dengan kepandaian yang dimiliki mereka berlima,
tak nanti bisa menandingi kehebatan dari Put-lo-huang-siu.
Sekalipun demikian, dia enggan menunjukkan
kelemahannya dihadapan Oh Put Kui, mendengar ucapan
mana, katanya sambil tertawa hambar :
"Apabila kau ingin melibatkan diri dalam kasus ini, terpaksa
aku harus menyalahi dirimu."
Mendadak dia memandang sekejab kearah Put-lo-huangsiu,
kemudian melanjutkan :
"Cuma saja, memandang diatas wajah emas dari Ban tua,
hari ini kita sudahi masalah tersebut samapai disini!"
Tampaknya saja dia seperti bersedia mengalah, tapi tak
sudi memberi muka untuk Oh Put Kui.
"Ku tayhiap, apa maksud perkataanmu itu"" desak Oh Put
Kui tiba-tiba.
Ku Bun-wi tertawa dingin.
"Selewatnya hari ini, dimana kita bersua di situ kita
selesaikan perselisihan perselisihan kita ini."
Mendengar perkataan tersebut, Oh Put Kui segera tertawa
terbahak-bahak :
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalian takut ban
Locianpwee melibatkan diri didalam persoalan ini sehingga
lebih suka mengundurkan diri saja dari sini?"
Ku-Bun-wi tertawa dingin pula :
"Justru karena kami menghormati Ban Locianpwee !"
Belum selesai Ku Bun-wi berkata, Put-lo-huang-siu sudah
tertawa terbagak-bahak.
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., Siau-kukoay, aku
akan mencampuri urusan kalian semua, apapun yangkalian
suka lakuakan, silahkan saja melakukannya, tak usah kuatir
aku akan mencampuri urursan ini!"
Oh Put Kui juga berkata lagi sambil tertawa terbahak-bahak
:
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kecuali kalian
semua tidak akan menyinggung lagi masalah pedang Hianpeng-
kiam tersebut, kalau tidak semua perselisihan bersedia
kuselesaikan pada hari ini juga!"
Ku Bun-wi berkerut kening, lalu katanya ketus :
"Tampaknya kau tak ingin melepaskan kami semua
meninggalkan tempat ini ?"
"Aku hanya berharap semua masalah dapat dijelaskan
sehingga duduknya perkara menjadi terang."
"Majikanmuda kami bertekad hendak mendapatkan pedang
Hian Peng Kiam tersebut!" ujar Ku Bun-wi kemudian samabil
tertawa dingin.
"Sungguhkah itu?"
"Aku pun tidak terhitung seorang manusia yang suka
berbicara mencla-mencle, lihat saja nanti !"
"Aku tak akan menunggu sampai nanti, sekarang juga
persoalannya akan kubikin jelas !"
"Bagaimana caranya untuk bikin jelas ?" tanya Ku Bun-wi
agak tertegun. "kau hendak menyuruh aku mengakui apa?
Tak bakal ku kabulkan permintaan itu."
"Tidak megabulkan poun harus dikabulkan juga!" tukas Oh
Put Kui sambil tertawa dingin.
oooooOooooo
Bebera kata dari Oh Put Kui ini diutarakan dengan nada
yang amat ketus.
Seolah-olah dia menganggap bagaimanpun jua, si panji
sakti perenggut Nyawa Ku Bun-wi pasti akan menyanggupi
permintaannya ini.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ku Bun-wi, dengan
gusar teriaknya :
"Jika aku tak akan mengabulkan, mau apa kau?"
Oh Put Kui seger tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalau begitu
terpaksa kalian akan kutahan disini samapi kau berlima
menyanggupi permintaan itu."
Kontan saja Ku Bun-wi melotot besar, sedangkan Hakim
sakti hitam putih Pak Cau Kun melotot marah, rambut dan
cambangnya pada berdiri tegak semua bagaikan landak.
"Bocah ingusan yang masih bau tetek, kau berani amat
ngebacot yang bukan-bukan !"
"Jika kau tidak percaya, mengapa tidak di coba saja ?"
Hek-pek-sin-poan Pak Cau-kun terhitung seorang lelaki
berhati keras yangtak pernah tunduk pada siapapun, selama
tiga puluh tahun ini dia tak pernah mau bersikap lunak kepada
oranglain. Entah beberapa banyak manusia jumawa yang
telah disikat olehnya.
Maka dari itu, begitu Oh Put Kui menyelesaikan katakatanya,
ia segera bangkit berdiri, kemudian serunya sambil
tertawa dingin :
"Aku justru tidak percaya !" sambil berkata, dengan langkah
lebar dia berjalan menuju kedepan ......
Oh Put Kui tertawa dingin, secepat sambaran kilat dia
menyelinap kedepan.
"Sebelum kau memberikan janjian, jangan harap bisa
meninggalkan tempat ini barang selangkahpun !" serunya.
Tahu-tahu dia sudah menghadang dihadangan Hek-peksin-
poan Pak Cau-kun.
Hek-pek-sin-poan Pak Cau-kun mendongakkan kepalanya
lalu tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., kalau kau mah
belum pantas, ayo cepat enyah dari sini!"
Sebuah pukulan segera dilontarkan keatas Oh Put Kui.
Oh Put Kui sama sekali tidak bergerak dari
posisinyasemula, katanya sambil tertawa dingin :
"Kecuali kau annggap untuk membunuh aku dalam sekali
pukulan saja, kalau tidak, kau harus tetap tinggal disisni !"
"Bluukkk ..... !"
Pukulan tersebut benar-benar bersarang telak ditubuhnya,
tapi serangan tersebut sama sekali tidak memberikan hasil
apa-apa.
Oh Put Kui masih tetap berdiri tegak seperti bukit karang.
Sebaliknya Hek-pek-sin-poan Pak Cau Kun justru
memperlihatkan rasa terkejut dan tercengangnya yang luar
biasa.
Jangan-jangan sianak muda ini berotot kawat tulangbesi ?
Klau tidak, mengapa serangannya tidak mempan sama sekali
?
Padahal Pak Cau kun cukup mengetahui daya kekuatan
dari serangan sendiri, biarpun baja yang keras pun pasti akan
terhajar menajdi tujuh pasti akan terhajar menjadi tujuh
delapan bagaian oleh tenaga pukulannya yang maha dahsyat
tersebut ......
Menyaksikan sikap Hek-pek-sin poan Pak Cau Kun yang
berdiri melongo seperti orang bodoh itu, Oh Put Kui segera
berkata sambil tertawa :
"Serangan yang kau lakukan ternyata tidak mampu
membodohkan aku, lebih baik kau pulang dan duduk kembali!"
Hekpen-sin poan tertegun untuk beberapa saat lamanya,
kemudian ia baru berkata lagi :
"Sungguh ,... sngguh suat kejadian yang aneh ...."
"Kau tak usah keheranan, sejak kecil aku sudah hidup
bersama binatang buas, jadi akupun sudah terlatih ilmu kebal,
yang mampu manahan serangan lawan, pukulanmu tadi sih
belum berarti apa-apa bagi dirku!"
Hek-pek-poan Pak Cau Kun menggelangkan kepalanya
berulang kali sambil tertawa dingn :
"Aku tidak percaya, aku tidak percaya..."
"Kalau tidak percaya, mengapa tidak mencoba sekali lagi?"
"betul! Aku memang justru akan mencoba sekali lagi...."
Begitu selesai berkata, sebuah pukulan kembali dilontarkan
ke depan.
Dalam serangan yang dilancarkan olehnya kali ini, dia telah
sertakan tenaga sebesar dua belas bagian.
Diam-diam Pak Cau Kun berpikir :
"Biarpun kau si bocah berotot kawat tulang besi, sembilan
puluh persen tak akan dengan menyambut seranganku ini
keras lawan keras."
Didalam waktu singkat tepi telapak tangannya telah
menyentuh bahu kanan Oh Put Kui.
Mendadak .....
Hek-pek-sin-poan membentak gusar, tubuhnya melompat
mundur ke belakang dengan sangat cepat.
Mundurnya kalai mencapai jarak sejah dua kali lebih.
"Kau....kau... kepandaian silat apakah itu?" seru Pak Cau
Kun tertegun.
Serangan yang dilancarkan dengan tenaga sebesar dua
belas bagaian itu ternyata barhasil dipunahkan oleh Oh Put
Kui sehingga hilang lenyap tak berbekas.
Bukan begitu saja. Lamat-lamat dia merasakan badannya
sehingga nyaris terbang ke angkasa, coba kalau tenaga dalam
yang dimilikinya tidak terlalu tinggi, sudah pasti kerugian yang
dideritanya akan semakin bertambah besar.
Sambil tertawa hambar Oh Put Kui berkata :
"Sekarang kau tentunya sudah percaya bukan?"
"Tidak, aku tetap tidak percaya !" seru Hek-pek-sin-poan
dengan mata melotot dan teramat gusar.
Manusia ini betul-betul keras kepala, mendadak dari balik
jubag panjangnya dia mencabut keluar sebatang pena emas
yang panjangnya beberapa depan. Kemudian sambil tertawa
dingin dia maju kearah Oh Put Kui dengan langkah lebar.
Melihat itu, sambil tertawa Oh Put Kui berkata :
"Saudara disebut si pena sakti. Itu berarti kepandaian
silatmu dalam permainan poan koan pit pasti hebat, aku
bersedia mencoba kelihayan ilmu silatmu dengan tangan
kosong!"
Sikap dari si anak muda ini ternyata lebih keras kepala lagi.
Sekalipun musuh yang dihadapinya adlah seorang jago
lihay kelas satu didalam dunia persilatan,namun dia tak
bersedia mengahadapinya dengan mempergunakan senjta
tajam.
Saking mendongkolnya Hek-pek-siu-poan Pak Cau Kun
sampai melotot besar landak, bentaknya dengan marah :
"Bocah keparat, kau tak usah takabur!"
Secepat kilat pena emasnya diayunkan kedepan dan
mengurung lima buah jalan darah penting didepan dada Oh
Put Kui.
Oh Put Kui tertawa hamabar, menddak kelima jari
tangannya dipentangkan lebar-lebar, kemudian sambil
mengerahkan ilmu Hun kong-cho-im (memisah cahaya
menangkap bayangan ) dia cengkeram pena ems la.
Hek-pek-siu-poan sangat terperanjat, tiba-tiba pena
emasnya ditekan kearah bawah.
Ditengah gelak tertawa Oh Put Kui yang amat nyaring,
mendadak Pak Cau Kun kehilangan bayangan tubuh
lawannya.
Kenyataan tersebut tentu saja disambut Hek-pek-siu-poan
Pak Cau Kun dengan perasaan amat terperanjat.
"Aaah. Ilmu langkah Tay-siu Huan-ipoh!" pekiknya dihati.
Namun gerakan tubuhnya sama sekali tidk berhenti,
secepat kilat dia memutar badannya kemudian penanya
disodok kedepan dengan cepat.
Didalam perkiraannya, kali ini Oh Put Kui psti
mengandalkan ilmu langkah tay Siu-huan im-poh nya untuk
menyelinap kebelakang tubuhnya, maka sewaktu
membalikkan badan, pena emasnya kembali disodokkan ke
muka.
Siapa tah ketika badannya berputar sambil melancarkan
serangan tadi, dari belakang tubuhnya kembali bergema suara
tertaw ringan dari Oh Put Kui telah balik kembali ke posisinya
semuala.
Dengan perasaan terkesiap Hek-pek-siu-poan berseru :
"Apa hubunganmu dengan Mi-sim-kui-to (sitosu setan
pembingung hati)
"Sahabat!" sahut Oh Put Kui tersenyum.
Hek-pek-siu-poan segera mneunjukan sikap sama sekali
tidak percaya, serunya cepat :
"Kau tidak terlalu jujur!"
Nada suara dari Pak Cau Kun saat ini sama sekali telah
berubah, kesombongannya sudah bekurang separuhnya.
Sambil tertawa Oh Put Kui segera berkata :
"Tampaknya kau tidak mau percaya engan begitu saja
terhadap setiap masalah yang dijumapai, apapun yang
dikatakan lawan, aku tetap akan mempercayainya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba ia menarik
wajahnya seraya berkata lagi :
"Kedudukan Pak Tayhiap dalam dunia persilatan cukup
bersih, aku benar-benar tak tega untuk memberi kejelakan
yang kulewat batas kepdamu apabila Pak tayhiap masih
mendesak terus, terpaksa aku harus melakukan yang lebih
kasar, tapi bila kua tahu harap Pak Tayhiap jangan marah."
Nada suara dari Oh Put Kui pun turut berubah menjadi jauh
lebih sungkan.
Tapi nada suaranya masih tetap membikin hari orang puas
dan tidak tahan.
Sesudah tertegun beberapa saat lamanya.
Hek-pek-siu-poan baru berkata :
"Mau apa kau? Masa aku takut kepadamu ?"
"Kalau begitu Pak Tayhiap tak sudi kembali ke tempat
duduk semula ....?" Kata Oh Put Kui sambil tertawa dingin.
Oh Put Kui segera terbahak-bahak :
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., sekalipun aku
seorang manusi rudhiu , namun belum sampai sehina itu
derajatku sehingga mesti menjadi seorang kuli pemikul tandu
!"
"Belum habis di berkata, mendadak telinganya menangkap
suara bisikan dari Put-lo-huang-siu Ban Sik-tong yang berkata
dengan ilmu menyampaikan suara :
"Bocah muda, bekuk saja orang tua itu dan kembalikan
kebangkannya!"
Oh Put Kui menjadi tertegun sesudah mendengar
perkataan tersebut, segera pikirnya:
"Memangnya pekerjaan yang gampang untuk
mencengkeramnya dan di kembalikan kebangku semula?"
Dia cukup sadar, tenaga dalam yang dimilikinya masih
belum mencapai ketingkatan yang sedemikian tingginya itu.
Sementara dia masih berpikir dengan sangsi terdengar
suara bisikan dari kakek itu berkumandang lagi :
"Hey anak muda, mengapa kau tidak mencobanya?"
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Oh Put Kui,
dia tahu sudah pasti Put-lo-huang-siu telah bersedia
membantunya secara diam-diam.
Sorot matanya segera dialihkan kembali ke arena, baru
saja dia hendak berbicara ....
Tiba tiba Hek pek sin-poan (hakim sakti hitam putih) telah
berkata lagi :
"Hey bocah keparat, kalau toh kau enggan menggotong
kembali aku ke tempat semula, aku pun bersumpah tak akan
balik sendiri ke situ ...."
"Bagus sekali," Pikir Oh Put Kui segera,
"Kau telah memberi kesempatan kepadaku untuk dapat
berbicara lagi."
Maka sambil tertawa hambar katanya :
"Tampaknya saudara benra-benar keras kepala dan kolot!"
Seusai berkata, Oh Put Kui melayangkan pandangan
matanya dengan sinar tajam, kemudian bentaknya keraskeras
:
"Silahkan saudara kembali ke tempat duduk sendiri!"
Sepasang tangannya digetarkan bersama kemuka,
kesepuluh jari tangannya dari jarak beberapa kaki segera
dilakukan tiga kali segerakan mencengkeram ke tubuh si
Hakim saksi hitam putih Pak Kun-jau tersebut.....
Pak Kun-jiau tertawa tergelak :
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., bocah keparat,
kepandaian silat yang kau miliki itu masih belum cukup
tangguh untuk memindahkan aku ...."
Tapi sebelum perkataan itu selesai diutarakan, dia sudh
membungkam dalam seribu bahasa.
Sebab pada saat itu Pak Kun-Jiau telah menjumpai
tubuhnya sudah meninggalkan permukaan tanah setinggi tiga
depan lebih dan melayang kedepan.
Sekuat dia berusaha untuk meronta dan melepaskan diri
dari pengaruh cengkeman tersebut, namun sayang usahanya
itu sama sekali tidak memberikan hsil apa-apa, tubuhnya tetap
melayang kedepan dan kembali ke bangkunya semua.
Setelah lawannya di kirim balik ke kursi semuala, Oh Put
Kui baru menurunkan kembali tangannya dan berkata sambil
tertawa hambar :
"Nah saudara, coba kau lihat bagaimanakah kemampuanku
ini...,"
Hakim sakti hitam ptih Pak kun-jai seger terbungkam dalam
seribu bahasa .
Sudah jelas si kakek yang keras kepala ini sudah dibikin
jengkel sampai hampir semaput rasanya.
Si pengemis sinting yang duduk disampingnya kontan saja
menggelengkan kepalanya sambil tertawa tergelak :
"Haaahhh ..... haaahhh..... haaahhh ....., lote, wahai loteku,
jangan bicara terus menerus, tahukah kau bahwa Pak Tayhiap
sudah hampir semaput lantaran dongkolnya ....?"
"Lok loko, Jangan salahkan aku, siapa suruh dia tak tahu
diri dan mencari penyakit buat diri sendiri...." Kata Oh Put Kui
sambil menggelangkan kepalannya dan menghela napas.
"Lote, aku rasa kau pun kelewat batas dengan seranganmu
itu."
"Aaaah, apakah lok lote merasa kasihan kepadanya?" kata
Oh Put Kui sambil tertawa.
"Aku si pengemis memang selamanya berbelas kasihan
kepada siapa saja, tapi lote... aku kan tidak berbelas kasihan
kepada Pak Kun-jiau, aku Cuma meras tua bangkotan
tersebut mengenaskan sekali dan patut dikasihani."
Oh Put Kui tertawa hambar.
Ia tidak menggubris si pengemis sinting lagi, sambil
berpaling kearah KU Bun-wi, katanya kemudian :
"ku congkau-lian, bagaimana dengan persoalan pedang
Hian-peng-kiam tersebut ?"
Panji sakti pencabut nyawa Ku Bun-wi mengerutkan
dahinya, dia memandang sekejab kearah pedang setan baju
merah Suma Hian serta dua orang berpedang lainnya, lalu
sambil tertawa katanya :
"Aku tahu lote memiliki ilmu silat yang luar biasa
semestinya aku harus memenuhi janji ...."
"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu."
Tapi secara tiba-tiba si panji sakti pencabut nyawa
menggelengkan kepalanya lagi sambil berkata :
Hanya saja, perintah dari atasan kami sukar dibantah, oleh
sebab itulah kami pun sulit untuk memenuhi janji tersebut !"
"Jadi kalian ber empat mempunyai jalan pemikiran yang
sama seperti Pak tayhiap?" tanya Oh Put Kui pelan sambil
memejamkan matanya rapat-rapat.
Sikapnya yang sombong dan tinggi hati ini pada
hakekatnya seperti tak memandang sebelah mata pun
terhadap Ku Bun-wi sekalian.
Sementara itu Leng Cui-cui sudah meras kan hatinya
berdebar keras, keringat dingin bercucuran keluar
membasahai seluruh tubuhny, ia benar benrta merasa kuatir
sekali.
Sebab dia tahu ke empat orang itu memiliki kepandaian
silat yang amat hebat, bahkan ayahnya pun hanya bisa
bertarung seimbang bila seorang melawa seorang.
Namun kenyataannya sekarang, disaat Oh Put Kui jelas
tahu kalau pihak lawan sengaja mencari gara-gara
dengannya, ia justru memejamkan matanya rapat-rapat,
bukankah tindakan ini jelas sudah melanggar pantangan
terbesar bagi seorang umat persilatan ?
Betul juga apa yang dia duga, baru saja Oh Put Kui
memejamkan matanya rapat-rapat, empat sosok bayangan
manusia sudah menerjang ke muka dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat.
Ku Bun-wi, Suma Hian, Hui Bong Ki dan The Tay hong
serentak menyerbu ke muka, delapan buah telapak tangan
mereka bagaikan segulung dinding angin pukulan langsung
mengurung seluruh tubuh Oh Put Kui rapat-rapat.
Pad saat itu pula Oh Put Kui membuka matanya lebarlebar.
Dia segera tertawa seram, kemudian tubuhnya melejit
ketengah udara dengan kecepatan tinggi.
Kembali leng Cui-cui menjerit kaget:" Oh kungcu, kau ...."
Dia telah melihat bahwa tindakan Oh Put Kui yang melejit
ketengah udara itu lagi-lagi merupakan suatu pelanggaran
yang besar sekali ....
Sandainya empat orang musuhnya menyerang bersama
secara ganas. Bukankah Oh Put Kui akan mengalami
kesulitan untuk menghindarkan diri?
Oleh sbab itulah dia menjerit saking kagetnya.
Tapi kenyataannya sama sekali tidak sejelek apa yang
dibayangkan semula:
Baru saja Oh Put Kui melejit ketengah udara, keempat
orang itu benar-benar membalikkan telapak tangannya sambil
melepaskan serangan bersama.
Tapi kenyataannya Oh Put Kui telah bertindak jauh lebih
pintar dari pada musuh-musuhnya itu.
Disaat keempat gulung angin pukulan itu dilontarkan
kepadanya, secepat sambaran anak panah dia meluncur
kembali ke atas permukaan tanah.
Dengan tindakan yang diambil olehnya itu, secara otomatis
angin pukulan yang di lontarkan keempat orang itupun
mengenai sasaran yang kosong.
Bukan Cuma begitu, berhubung sepasang tangan keempat
orang itu sedang diayunkan keatas, dengan sndirinya
pertahanan pada bagian dadanya menjadi sama sekali
terbuka.
Begitu turun kembali keatas permukaan tanah. Oh Put Kui
segera tertawa keras.
Ditengah gelak tertawa yang amat keras itulah, secepat
kilat dia berputar satu lingkaran didepan keempat orang itu."
Plaaaakk ..........plaaaakk.......... plaaaakk...."
Terdengar tiga kali suara benturan yang amat nyaring.
Tahu-tahu masing-masing orang sudah termakan oleh sebuah
pukulan.
Namun saja, biarpun suara benturan itu kedengarannya
sangat nyaring, sesungguhnya kekuatan yang dipergunakan
amat lemah.
Oleh sebab itulah kendatipun setiap serangan bersarang
telak diatas bagian yang mematikan diatas dada mereka,
namun bagi keempat orang jago lihay tersbut, keadaan itu
Cuma menimbulkan sedikit rasa sakit saja, bagaikan anak
kecil yang memukul nyamuk diatas tubuh mereka ...,.
"Aaaah, Oh kongcu! Kau memang benar-benar sangat
hebat...." tanpa sadar Leng Cui-cui berseru memuji.
Oh Put Kui segera berpaling dan melemparkan sebuah
senyuman kearahnya
Jangan dilihat senyuman tersebut hanya senyuman bias,
namun bagi pandangan Leng Cui-cui yang menaruh hati
kepada lawan, senyuman tersebut bagaikan runtuhnya
sebuah bukit karang, sangat menggetarkan perasaan hatinya.
Kontan saja selembar pipinya berubah menjadi merah
padam karena jengah .....
Sementara itu jantungnya turut berdebar keras, mukanya
teras merah dan kepalanya tertunduk rendah-rendah .....
Namun dia toh tak tahan sempat melirik sekejap ke arah
pemuda itu dengan pandangan penuh perasaan cinta.
Sayang sekali Oh Put Kui tak sampai lagi memperhatikan
kadaan tersebut, sebab keempat lawannya telah menyerang
lagi secara ganas dan membabi buta.
Biarpun Oh Put Kui hanya menepuk dada mereka secra
pelan dengan maksud untuk menggertak mereka. Agar orangorang
itu tahu diri dna segera mengundurkan diri. Namun
kejadian ini diterima oleh keempat orang tersebut sebagai
suatu penghinaan yang amat besar, jauh lebih nista dari pada
membinaskan mereka sekaligus.
Itulah sebabnya didalam keadaan gusar dan malunya,
mereka jadi nekad dan segera menyerang dengan cara
beradu jiwa.
Agaknya Oh Put Kui pun sudah menduga bakal terjadi
akibat seperti ini, oleh sebab itu disaat empat musuhnya
menyerang secara membabi buta, dia justru menghadapi
mereka secara tenang dan santai.
Dengan mengandalkan ilmu gerakan tubuh Tay-siu-huanim-
poh, seperti setan gentayangan saja tubuhnya bergerak
kian kemari, sebentar kedepan sebentar ke belakang, dia
selalu berkelabatan di antara serangan-serangan empat
lawannya.
Melihat seperti apa yang diharapkan, Suma Hian segera
bekaok kaok penuh kegusaran.
Si pedang latah irama guntur The tay-hong juga melototkan
sepasang matanya yag ber api-api sambil berteriak seperti
orang gila.
Sayangnya biarpun mereka berkaok-kaok dengan suara
yang keras, jangan lagi merobohkan lawannya, untuk menjawil
ujung baju dari Oh Put kui pun tak pernah berhasil.
Sehingga kurang tepatlah kalau dikatakan pertaruhkan
tersebut merupakan suatu pertarungan adu jiwa yang
mempertaruhkan mati dan hidup mereka.
Pada hakekatnya keadaan tersebut lebih mirip dengan Oh
Put Kui yang memipin ke empat orang itu untuk bermain petak
dan berlarian kian kemari.
Pengemis sinting tak bisa menahan diri lagi, akhirnya dia
bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak:
"Haaahhh......haaahhh...... haaahhh...... lote, nampaknya
kau sedang melihat monyet bermain akrobat ? Kali ini, aku si
pengemis tua benar.
The Tay hong dikenal orang sebagai si pedang latah irama
guntur, sudah barang tentu dia memiliki kekuatan yang luar
biasa dilancarkan segera terasa deruan angin dan guntur yang
sangat memekikkan telinga.
Oh put kui yang menjumpai keadaan tersebut tertawa
terbahak-bahak :
"Haaahh... haaahhh... haaahhh.... Suatu permainan ilmu
pedang yang sangat hebat, tidak malu disebut sebagai
pedang latah irama guntur!"
Dalam pembicaraan tersebut, Oh Put kui telah
menghindarkan diri dari serangan pedang The Tay hong itu.
Sementara itu Mi-ih-mo-kiam Suma Hiang telah meloloskan
pula pedang andalannya.
Serangan gencar yang kemudian dilancarkan oleh kedua
bilah pedang tersebut tak ....
Benar terbuka sepasang mataku, ternyata ke empat
pengawal pedang dari Ceng-thian-kui-ong tidak lebih hanya
sekawanan monyet yang pandai bermain akrobatik saja..."
Ejekan dari si pengemis sinting ini kontan saja membuat Ku
Bun-wi berempat murka, ia makin kehilangan muka.
-ooo0dw0ooo-
Mendadak terdengar pedang latah irama guntur The Tayhong
membentak keras.
"Bocah keparat, aku akan beradu jiwa denganmu!"
Dengan cepat dia memutar tangan kanannya, kemudian
meloloskan pedangnya.
Cahaya emas segera memancar ke empat penjuru, secara
beruntun lima buah serangan berantai telah dilancarkan, bisa
dibandingkan dengan enteng dan ringannya serangan pukulan
tadi.
Di dalam keadaan seperti ini, jangan harap Oh Put Kui bisa
melayani datangnya semua ancaman tersebut dengan
mengandalkan ilmu langkah Tay-siu-huan-im-poh saja.
Selain desingan angin pedang yang menderu-deru dan
amat menyayat badan, diapun harus waspada untuk
menghadapi serangan-serangan gencar dari Ku Ban-wi dan
Hu Bong-ki dengan pukulan tangan kosongnya...
Satu ingatan segera melintas dalam benak Oh Put Kui,
tiba-tiba dia berpekik nyaring lalu tubuh nya meluncur keluar
dari arena
Si pedang latah irama guntur The tay-hong mengira Oh Pot
K"i hendak berusaha untuk melarikan diri, ia segera
membentak keras.
"Pingin kabur? Jangan bermimpi di liang hari bolong bocah
keparat."
Bagaikan seekor burung elang dia segera melejit ke tengah
udara dan langsung mengejar kearah Oh Put Kui.
Biarpun gerakan tubuh Oh Put Kui sangat cepat,
pengejaran yang dilakukan olehnyapun tidak terhitung lambat.
Tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau Oh Put Kui
sebenarnya tidak bermaksud untuk melarikan diri.
Apa yang dilakukan pemuda tersebut tak lebih hanya
mengulurkan tangannya mengambil sesuatu dari atas kursi
yang semula di dudukinya.
Selain itu, diapun segera membalikkan badannya sambil
menubruk kembali.
Dengan tindakan yang dilakukan olehnya itu, berarti dia
saling bertemu dengan si pedang latah irama guntur The Tay
Hong.
Hanya kali ini, didalam genggaman Oh Put Kui telah
bertambah dengan sebilah pedang berkarat
Dan pedang karat tersebut secara kebetulan sekali
menyambut datangnya bacokan pedang Lui-ing Kiam dari The
Tay hong.
Menyaksikan kejadian ini, The Tay-hong merasa gembira,
segera serunya:
"Bocah keparat, nampaknya kau sedang mencari
mampus!"
Pedang Lui-lng Kiam adalah sebilah pedang mestika yang
tajamnya luar biasa, jangan lagi hanya sebilah pedang karat,
biar pun sebilah pedang mestika pun niscaya akan kutung bila
terpapas.
The Tay-hong merasa sangat yakin bahwa pedang karat
milik Oh-put Kui tersebut pasti akan terpapas kutung menjadi
dua oleh bacokan senjatanya, dan sampai waktunya
"Sudah pasti bocah keparat itu akan menemui suatu
musibah yang luar biasa."
Sebab menurut perhitungannya, dengan kekuatan
serangan pedangnya, bisa jadi pergelangan tangan kanan Oh
Put Kui akan turut terpapas kutung oleh bacakan pedangnya
itu.
Tak heran kalau dia segera bersorak kegirangan
"Traaang tranng trring !"
Dengan cepat ke dua bilah pedang itu sudah saling beradu
satu sama lainnya sehingga menimbulkan suara dentingan
yang amat nyaring.
Bersamaan dengan menggemanya suara dentingan keras
itu, The Tay-hong mundur beberapa langkah ke belakang
dengan ketakutan.
Ternyata pedang karat dari Oh Put Ku tidak kutung seperti
apa yang diduganya semula.
Dengan perasaan terkesiap bercampur cemas cepat-cepat
dia menarik kembali pedang Lui-ing-kiam nya sambil mundur
kebelakang,
Apa yang kemudian terlihat?
Ternyata diatas tubuh pedang Lui-ing kiam nya telah
muncul dua buah gumpilan yang cukup besar, ini berarti
pedang mestikanya telah berubah menjadi pedang cacad
irama guntur.
The Tay-hong sungguh dibuat tertegun oleh kejadian
tersebut.
Didalam keadaan seperti ini, sekalipun Oh Put Kai
memenggal batok kepalanya sekalipun, sudah pasti dia tidak
akan merasakannya.
Tentu saja Oh Put Kai tak akan melakukan perbuatan
seperti ini.
"Sungguh tajam pedang dari The tayhiap " tanpa
menggerakkan tubuhnya Oh Put Kui memperdengarkan suara
tertawanya yang kering namun penuh dengan ejekan itu.
The Tay-hong masih juga tidak bergerak, dia masih juga
mengawasi pedang andalannya dengan wajah tertegun,
seakan-akan tidak merasa apa gerangan yang terjadi.
Dengan cepat Suma Hian, Hai Bong-ki dan Ko Ban-wi
berlarian mendatang, mereka bukannya kuatir Oh Put Kui
bakal melancarkan serangan berikut untuk melukai li pa-dang
latah irama guntur The Tay-hong.
Mereka hanya merasa tercengang apa sebabnya The Tayhong
sampai berdiri termangu-mangu.
Sebab di dalam pertarungan yang sedang berlangsung
seru tadi, secara tiba-tiba saja mereka telah kehilangan jejak
Oh Put Kui menanti mereka membalikkan badan untuk
mencari Oh Put Kui. lawannya itu sudah beradu pedang
dengan The Tay-hong.
Bentrokan tersebut tidak lebih hanya berlangsung satu kali
saja. tapi apa sebabnya The tay-hong berdiri termangu?
Tanpa terasa ke enam buah sorot mati mereka bersamasama
dialihkan ke arah pe dang irama guntur tersabet.
Tiba-tiba paras muka mereka bertiga pula turut berubah
sangat hebat.
Kemudian terdengar Ku Bun wi berseru tertahan:
"Apakah pedang saudara The menjadi gumpil?"
Sedangkan Hui Bong-ki dengan kening berkerut segera
mengawasi pedang karat milik Oh Put Kui itu lekat-lekat,
kemudian katanya dengan suara dalam :
"Apakah pedangmu itu adalah pedang karat Cing-peng
kiam milik Thian yang-yu-cu (pengembara dari ujung langit)
Oh Sian tay hiap dimasa lalu?"
Begitu mendengar nama pedang karat "Cing peng-kiam",
semua hadirin segera dibuat tertegun dan gempar.
Bahkan Put lo noangsiu (kakek latah awet muda) pun ikut
membuka matanya sambil menegur.
"Hei anak muda, apakah pedang itu milik gurumu?"
"Betul!" sahut Oh Put Kui sambil tertawa Mendadak si
kakek latah awet muda itu tertawa tergelak:
"Hey anak muda, kau tidak sepantasnya mempergunakan
pedang tersebut dalam kejadian semacam ini."
"Mengapa?" tanya pemuda itu melongo.
Sekali lagi Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak:
"Anak muda, selama pedang tersebut berada di tangan
gurumu, dalam sepanjang hidup nya ia hanya pernah
mempergunakan sekali saja."
"Boanpwe tidak mengetahui tentang persoalan ini, tapi
kapan sih guruku pernah mempergunakannya?"
"Kejadian ini berlangsung sebelum dia mencukur gundul
kepalanya, dengan pedang tersebut ia telah bertarung
melawan golok nomor wahid dari kolong langit yang disebut
Golok penggetar langit milik Cian Thian-oh seorang tokoh silat
yang disebut orang Rasul sakti dari jagad."
"Siapa yang menangkan pertarungan itu?
Bagaimana pun dia tak ingin nama perguruannya ternoda,
karena itu dia ingin mengetahui hasil dari pertarungan
tersebut.
"Sudah barang tentu Oh Sian yang unggul" jawab kakek
latah awet muda sambil tertawa, "kalau tidak, bagaimana
mungkin Cian Thian-oh bisa mengundurkan diri sedemikian
ini? Kalau dihitung-hitung, peristiwa itu sudah berlangsung
delapan puluh tahun lamanya."
Apakah maksudmu mengutarakan kisah tersebut adalah
minta kepada boanpwee agar tidak sembarangan
mempergunakan pedang karat milik guruku ini apabila tidak
terpaksa karena menghadapi musuh yang benar-benar
tangguh ?"
"Kau memang cerdik sekali, coba bayangkan sendiri,
dengan kemampuan yang kau miliki, pedang biasa yang
berada ditanganpun tak kalah dengan pedang mestika,
mengapa kau mesti mengandalkan pedang karat Cing- pengkiam
yang tajam untuk meraih kemenangan ?"
Oh Put Kui lantas tertawa terbahak-bahak, dia segera
melontarkan pedang karat tersebut ke arah kakek itu.
"Kakek Ban !" serunya, "kuserahkan pedang ini kepadamu
untuk kau simpan bila kau menganggap boanpwe pantas
memakainya, serahkanlah kepada boanpwee nanti nya."
"Tepat sekali" kakek latah awet muda tertawa, baiklah,
akan kusimpankan untukmu. Karena tindakanmu ini tepat
sekali, aku yakin tak akan ada yang berani merampasnya. Hey
bocah cilik, kan ternyata licik sekali."
"Boanpwee tidak licik, cuma aku mau memakai wibawamu
untuk menakut-nakuti orang."
Kakek latah awet muda segera tertawa terpingkal-pingkal,
serunya kemudian:
"Baik, baik, aku akan menyimpankan untukmu !"
"Terima kasih banyak !" Kemudian pemuda itu berpaling ke
arah Leng Siau-thian sambil katanya pula :
"Kakak Leng, bolehkah boanpwee meminjam sebilah
pedang ?"
Sebelum Leng Siau-thian menjawab, Leng Cui-cui telah
menyela:
"Oh kongcu, biar kupinjamkan pedangku ini . . ."
Dia segera meloloskan pedang milik sendiri dan segera
disodorkan ke muka.
Sambil tertawa Oh Put Kui manggut-manggut, lalu sambil
menerima pedang itu katanya :
"Banyak terima kasih nona !" Dengan wajah memerah Leng
Cui-cui tertawa. katanya :
"Gara-gara urusan keluargaku kongcu tat segan-segan
bermusuhan dengan orang lain apa salahnya kalau aku
meminjamkan sebilah pedang untuk kongcu? Apalagi
memang sudah sewajarnya kalau kuucapkan banyak terima
kasih atas bantuan kongcu....,."
Hampir saja Oh Put Kui dibuat tergiur oleh sikap si nona
yang halus lembut dan penuh daya tarik itu.
Untung saja Leng Cui-cui telah memberi hormat dan segera
membalikkan badan untuk beranjak pergi dari situ.
Saat itulah Oh Put Kai baru menggetarkan pedangnya,
segera terasa olehnya pedang itu beratnya hanya sepertiga
daripada berat pedang karat Cing-peng-kiam yang
dipergunakan olehnya tadi.
Tak tahun dia merasa tertawa geli sendiri sambil berpikir:
"Enteng benar pedang yang dipergunakan oleh kaum
wanita,..."
Sementara dia masih termenung memikirkan persoalan
tersebut, mendadak ia mendengar si pedang latah irama
guntur The tay-hong sedang menangis tersedu-sedu.
Oh Put Kui menghadapi kejadian tersebut menjadi tertegun,
dia benar-benar dibuat keheranan oleh kejadian tersebut.
Padahal orang itu sudah tua kalau tak bila dibilang sudah
kakek-kakek, tapi mengapa dia masih juga menangis? "Yaa,
kakek itu nampak menangis sangat sedih, bahkan sedihnya
bukan alang kepalang
The Tay-hong telah berjuang hampir sepanjang hidupnya
dengan mengandalkan pedang irama guntur untuk
memperoleh gelar sebagai si pedang latah irama guntur,
sungguh tak disangka pedang irama gunturnya telah dibuat
cacat oleh seorang bocah muda, bayangkan saja siapa yang
tak akan sedih menghadapi keadaan seperti ini?
Isak tangis The Tay-hong yang begitu memedihkan hati itu
kontan saja membuat amarah yang semula menyelimuti wajah
Ka Bun wi hilang lenyap tak berbekas.
Dia se olah-olah telah kehilangan semangat nya untuk
bertempur.
Bahkan si pedang iblis baju merah Suma Hianpun ikat
menghela napas sambil menggelengkan kepalanya berulang
kali.
Hanya si pedang baja berhati merah Hui Bong-ki seorang
masih tetap mencerminkan kemarahan yang membara.
Ditatapnya Oh Put Kui sekejap, kemudian katanya sambil
mendengus dingin:
Dengan mengandalkan senjata mestika kau telah membuat
gumpilnya pedang mestika Hong-te ku, kemenangan
semacam itu tak bisa dibilang suatu kemenangan yang
gemilang, Hui Bong Ki memang seorang manusia yang tak
becus, namun ingin Sekali kucoba berapa jurus ilmu
pedangmu yang hebat, itu!"
"Oooh, Hui tayhiap bermaksud menantangku bertarung?
Boleh-boleh saja, tentu akan kulayani keinginanmu itu!" kata
Oh-Put Kai sambil tertawa.
Dia segera mempersiapkan pedangnya, lalu berkata lagi:
"Pedang ini bukan termasuk pedang mestika yang tajam,
apakah Hui tayhiap setuju bila kupergunakannya?"
Hui Bong Ki tertawa dingin:
Heehhh...heehh...heeehhh... pedang itu toh sudah berada
dalam genggamanmu, buat apa kau mesti banyak bertanya?"
Dengan kening berkerut tiba-tiba saja dia meloloskan
senjata andalannya.
"Criinggg"
Serentetan cahaya merah segera memancar ke empat
penjuru.
Agaknya inilah pedang andalan Hui Bong-ki yang disebut
pedang baja hati merah.
Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli di dalam hati, pikirnya:
@oodwoo@
Jilid : 21
"Benar benar sebilah pedang mestika, meski Hui Bong-ki
nampaknya saja seorang yang kasar dan tak berotak. ternyata
dia jauh lebih cermat dan licik ketimbang The Tay-hong
"Dia melarangku mempergunakan pedang mestika,
padahal pedang yang ia pergunakan justru merupakan
pedang mestika, benar- benar suatu tindakan yang luar
biasa..."
Meskipun dalam hati kecilnya berpikir demikian, namun
diluaran dia justru berkata sambil tertawa hambar:
"Tampaknya pedang baja milik Hui-tayhiappun termasuk
semacam benda yang amat termashur"
"Termashur atau tidak. asal sudah dicoba kau toh akan
mengetahui dengan sendirinya" jengek Hui Bong-ki sambil
tertawa dingin.
Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja pedangnya digetarkan
melancarkan seranganoh
Put Kui masih tetap berdiri tenang ditempat semula
tanpa bergerak barang Sedikitpun jua .
Kembali Hui Bong-ki tertawa dingin sambi membentak:
"Hey, hati-hati..."
Pedang bajanya segera memancarkan selapis cahaya
merah yang segera menyelimuti seluruh angkasa.
oh Put Kui mencoba untuk melayangkan pandangan
matanya kesekeliling tempat itu, dia jumpai getaran dari
pedang Hui Bong-ki tersebut dapat menciptakan dua puluh
satu buah cahaya pedang yang bersama-sama menyerang
kearahnya, diam-diam ia mengangguk kagum atas
kemampuan tersebut.
Namun pedang yang berada ditangannya masih tetap
dihadapkan kebawah tanpa bergerak.
Menanti ujung pedang dari HuBong-ki tersebut sudah
hampir mencapai depan dadanya, baru dia bertindak.
Tidak nampak dia menggerakkan lengannya, tahu-tahu
saja pergelangan tangannya miring kesamping lalu pedangnya
ditusukkan kearah atas... "Traaanggg...."
Secara tepat sekali ujung pedangnya itu mencukil tubuh
pedang Hui Bong-ki sehingga mencelat kesamping.
Tindakan oh Put Kui yang menghadapi musuh dengan
ketengangan ini segera memanding tempik sorak dari Leng
cui-cui
Seban dari kedua puluh satu kuntum bunga pedang yang
dilancarkan oleh Hui Bong-ki itu, bunga pedang manakah
yang merupakan serangan sebenarnya merupakan suatu hal
yang sulit untuk ditentukan secara tepat sekali.
Kecuali bila kau berani menggerakkan pedangnya dan
menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan keras
lawan keras.
Sudah barang tentu oh Put Kui enggan menghamburkan
tenaga dengan begitu saja.
Itulah sebabnya dia menantikan gerakan musuh berikutnya
dengan suatu sikap yang sangat tenang.
Dan kenyataannya, dengan mengandalkan suatu kebasan
yang sangat ringan saja dia telah memberikan hasil yang
gemilang.
Pada saat itulah sipedang baja hati merah Hui Bong Ki
merasakan tenaga getaran yang terpancar keluar dari
pergelangan tangan oh Put Kui itu besarnya bukan kepalang,
hal ini sungguh membuat hatinya merasa terkejut sekali.
Sekrang dia tak berani bertindak secara gegabah lagi.
Pedang bajanya segera diputar, kemudian secara beruntun
dia melancarkan tujuh buah serangan berantai
Kali ini oh Put Kui sama sekali tidak mengangkat
pedangnya, dia cuma menggerakkan tubuhnya sambil
menghindar ke samping, lalu dalam tiga langkah saja dia
sudah melepaskan diri dari ancaman serangan musuh...
Kemudian katanya sambil tersenyum: "Sungguh cepat
gerakan pedang dari Hui tayhiap"
Ketika melihat ketujuh buah serangan pedangnya
mengalami kegagalan total, Hui Bong Ki merasakan hatinya
amat terkesiap. Tapi ia merasa tak puas, dengan segera
teriaknya lagi:
"Hey, bocah keparat, apakah gurumu hanya mengajarkan
kau untuk menghindarkan diri?"
Mendingan kalau dia tidak mengucapkan kata-kata
tersebut, begitu perkataan diucapkan, bencana pun segera
muncul didepan mata.
oh Put Kui memang seorang pemuda yang tidak gampang
marah, akan tetapi jikalau ada orang berani memandang hina
atau mencemooh angkatan tuanya, maka dia bisa gampang
marah jauh melebihi siapa pun.
Apa yang dikatakan Hui Bong Ki tersebut sama artinya
seperti memaki gurunya, bayangkan saja apakah dia bisa
menerima keadaan tersebut dengan begitu saja? Tiba-tiba
mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu dengan suara
dingin berkata: "Hui Bong Ki, pada hakekatnya kau sedang
mencari penyakit buat diri sendiri.." Begitu selesai berkata
pedangnya yang tipis itu tiba-tiba diangkat ke atas. Sementara
itu sorot matanya yang tajam mengawasi musuhnya itu tanpa
berkedip.
sementara itu Hui Bong Ki masih belum tahu kalau oh Put
Kui telah dibikin gusar oleh ulahnya, dia pun tidak tahu kalau
perkataan yang diucapkan tanpa sengaja tadi telah
menimbulkan amarah dari si gembong iblis kecil ini.
Bukannya tahu diri, Hui Bong Ki justru bersikap lebih kaku,
tiba-tiba dia membentak lagi:
"Bocah keparat, tak usah ngebacot dulu coba kita lihat saja
nanti siapa yang lagi mencari penyakit buat diri sendiri."
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tapi yang jelas orang itu
bukan aku"
Begitu selesai berkata, pedangnya sudah diangkat hingga
mencapai batas alis mata.
Hui Bong-ki tak mau menunjukkan kelemahannya diapun
tertawa dingin sembari berseru:
"Hey keparat, buat apa sih kau banyak berlagak di
hadapanku?"
Dalam pada itu, pedang dari oh Put Kui sudah diangkat
hingga mencapai alis matanya dan tidak diangkat lebih keatas
lagi.
Begitu perkataan lawan selesai diutarakan, dia segera
menjawab dengan suara hambar: "Orang she Hui, kalian
empat jago pedang termashur karena permainan pedangnya,
aku percaya kalian pasti memiliki ilmu pedang yang jauh
melebihi orang lain bukan?"
"Tentu saja" sahut Hui Bong ki sambil tertawa seram. oh
Put Kui manggut-manggut, katanya lebih jauh:
"Hari ini, aku akan menyuruh kalian empat jago pedang
menyaksikan sesuatu agar menambah pengetahuan kalian-"
"Pengetahuan apa?"jengek Hui Bong-ki sambil tertawa
dingin. "Apakah menyaksikan jurus sakti mengangkat pedang
menutupi mataharimu ini...?"
oh Put Kui segera tertawa dingin:
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... tepat sekali
perkataanmu itu, aku akan menyuruh kau menyaksikan jurus
seranganku ini, bahkan aku akan membuat kau sipedang baja
hati merah kehilangan pedang dan kehilangan jari tangan
didalam satu gebrakan ini juga"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... betul- betul tekebur," Hui
Bong-ki tertawa tergelak. "siapa yang mau percaya kalau kau
sanggup menjatuhkan pedangku dan mengutungi jari
tanganku dalam satu jurus saja? Hmmm. biar setanpun pasti
tak akan percaya. Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong"
Tiba-tiba oh Put Kui berkata sambil tertawa hambar:
"Hui Bong-ki, tiba-tiba saja aku merasa kasihan kepadamu,
seandainya kukutungi jari jari tanganmu itu, bukankah
selanjutnya kau tak akan mampu mengunakan pedang lagi?
Aku merasa cara semacam ini sedikit kelewat keji..."
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... jadi kau menaruh belas
kasihan kepadaku" gelak tertawa Hui Bong kisemakin keras.
Oh Put Kui balas tertawa:
"Itulah sebabnya aku ingin mengubah dalam satu gebrakan
membuatmu kehilangan pedang terpapas rambutnya,
bagaimana menurut pendapatmu?"
Rupanya manusia yang bernama pedang baja hati merah
Hui Bong ki ini tak berbeda keadaannya dengan sipengemis
sinting, mempunyai rambut yang kusut dan awut awutan tak
karuan, bukan saja tidak disisir bahkan dibiarkan tergantung
begitu saja dibelakang bahunya.
Dalam satu gebrakan bisa memaksa orang untuk
melepaskan pedang dan kehilangan jari tanganpun sudah
merupakan suatu kejadian yang sulit untuk dipercayai.
Apalagi oh Put Kui mengatakan sekarang bahwa di dalam
satu gebrakan saja dia akan memapas rambut dari si pedang
baja hati merah Hui Bong ki, bukankah ucapan semacam itu
lebih mendekati sebagai bualan belaka...?
Oleh karena itulah Hui Bong Ki tertawa tergelak tiada
hentinya...
"Bocah keparat, aku ingin sekali mengetahui sampai
dimanakah kehebatanmu itu" katanya kemudian-
Oh Put Kui masih tetap tersenyum tenang:
"Sebetulnya aku memang berniat untuk menambah
pengetahuan kalian, cuma saja, aku mempunyai syarat."
"Syarat apa?" tanya Hui Bong Ki tertegun. "ataukah kau
sudah sadar kalau bualanmu terlampau tinggi sehingga
sekarang ingin mencari alasan untuk menyulitkan diriku
sekalian, dengan begitu kau bisa memperoleh alasan untuk
mengundurkan diri?"
oh Put Kui tertawa dingin-
"Lebih baik kau jangan menilai maksud baik seseorang dari
balik kacamata kepicikan dan kemunafikanmu itu"
Kemudian dengan wajah serius, dia berkata lebih jauh:
"Andaikata dalam satu gebrakan nanti aku berhasil
memaksa Hui tayhiap melepaskan pedang dan memapas
kutung rambutmu itu, aku mengharap kalian berjanji untuk
melanjutkan tak akan menyinggung masalah pedang Hian
Peng Kiam lagi, dan lagi kalian pun harus berjanji untuk tidak
mencari kesulitan lagi terhadap seluruh keluarga Leng dan
orang yang memegang pedang Hian Peng Kiam tersebut"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... baik, aku setuju," Hui
Bong Ki tertawa tergelak^ "bukan cuma soal itu saja, sekalipun
kau menghendaki batok kepalakupun aku pasti akan
menyanggupi, sebab aku sudah tahu, bualan dari kau si bocah
keparat sudah keterlaluan sekali"
Dari perkataan tersebut dapat diketahui kalau dia memang
sama sekali tak percaya kalau oh put Kui memiliki
kemampuan tersebut.
Bukan cuma tak percaya kalau oh Put Kui mempunya
kemampuan itu, bahkan di dalam anggapan si Pedang baja
berhati merah Hui Bong Ki, biarpun si kakek latah awet muda
turun tangan sendiripun belum tentu ia mampu berbuat
demikian. Tak heran kalau ia segera menyanggupi permintaan
mana tanpa pikir panjang lagi.
oh Put Kui tertawa hambar tiba-tiba ia berpaling ke arah Ku
Bun-wi sambil bertanya pula:
"Bagaimana dengan Ku tayhiap?"
Sekalipun Ku Bun-wi tahu dengan pasti bahwa oh Put Kui
memiliki kepandaian silat yang sangat hebat, namun ia
memiliki jalan pikiran yang sama seperti Hui Bong Ki, dia
menganggap mustahil kemampuan oh Put Kui untuk
memaksa Hui Bong Ki melepaskan pedang dalam satu
gebrakan saja, apa lagi memapas rambutnya.
Maka sewaktu oh Put Kui mengajukan pertanyaannya, dia
pun menjawab dengan segera: "Aku setuju"
Belum lagi oh Put Kui bertanya kepada si Pedang iblis
berbaju merah Suma Hian, orang she Suma itu sudah berseru
dengan suara lantang:
"Aku dan The sute setuju sekali, cuma bagaimana
andaikata kau gagal memaksa Hui Samte melepaskan
pedangnya dan memapas kutung rambutnya dalam satu
geberakan?"
oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... aku segera akan
membalikkan badan dan berlalu dari sini, dan tak akan pernah
mencampuri urusanmu dengan keluarga Leng lagi"
"Bagus sekali, kita tetapkan dengan sepatah kata itu saja"
seru Suma Hian sambil tertawa tergelak.
"Hmmm, cuma kuperingatkan, setelah menyanggupi kalian
jangan menyesal dibelakang hari." dengus sang pemuda lagi.
"Kami semua belum pernah mengingkari janji yang telah
diucapkan sendiri"
"Bagus sekali Nah, Hui tayhiap. kau harus berhati-hati"
Begitu selesai berkata, tiba-tiba saja tangan kirinya
memencet tombol pada gagang pedang yang diangkat
setengah depa diatas alis mata itu sehingga menimbulkan
suara dengungan yang keras dan amat memekikkan telinga.
"Banyak betul penyakit dari bocah keparat ini"pikir Hui
Bong-ki dengan kening berkerut.
Belum sempat mengucapkan sesuatu, tahu tahu oh Put Kui
sudah menggerakkan senjatanya. Tiba-tiba saja
mengayunkan tangan kanannya kedepan dengan kecepatan
tinggi...
Pedang tersebut segera memapas kedepan dan segera
menutul keatas pedang yang berada dalam genggaman Hui
Bong-ki.
Menyaksikan serangan ini, diam diam Hui Bong-ki tertawa
geli, pikirnya:
"Dengan mengandalkan jurus serangan yang begitu
lamban, bagaimana mungkin..."
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba saja
pandangan matanya menjadi silau.
Dengan perasaan terkesiap dia hendak mundur
kebelakang, tapi secara tiba tiba saja tangan kanannya seperti
ditindih dengan suatu kekuatan yang berpuluh laksa kati
beratnya. "Traaaanggg..."
Seluruh lengan kanan Hui Bong-ki menjadi kaku,
kesemutan dan seolah-olah kehilangan rasa.
Belum sempat dia menghindarkan diri dari ancaman itu,
kembali batok kepalanya terasa dingin seperti disambar
dengan angin yang sangat tajam.
Entah apa yang sesungguhnya telah terjadi, terbukti
pedangnya benar-benar sudah mencelat sejauh berapa kaki
dan terlepas dari genggamannya.
Bukan cuma begitu, malah segenggam rambutnya turut
terpapas kutung dan beterbangan menjatuhi seluruh tubuh
sendiri.
Hui Bong-ki benar-benar tertegun, berdiri bedoh dengan
mata mendelong sekujur badannya betul-betul merasa lemas
sekali seperti tak bertenaga. Sebaliknya oh Put Kui masih
tetap berdiri ditempat semula dengan senyum dikulum.
Pedangnya masih juga dijulurkan kebawah persis seperti
posisi semula, seakan-akan dia sama sekali tidak pernah
menggerakkan senjata tersebut untuk melancarkan seranganlmu
pedang yang demikian cepat dan mengerikan hati itu
kontan saja membuat Leng Siauw-thian sekalian berdiri
termangu dengan mulut terbUka lebar-lebar dan mata melotot
besar.
Lama kemudian baru terdengar Leng cui-cui menjerit kaget
: "ooooh... suatu ilmu pedang yang sangat hebat"
Sedangkan kakek latah awet muda berkata pula sambil
tertawa terbahak bahak:
"Hey anak muda, apakah jurus serangan yang kau
pergunakan itu adalah Thian-Lui-it ki (Gempuran hebat guntur
langit)...?" oh Put Kui segera tertawa tergelak pula:
"Ban tua, tampaknya kau seperti mengenali setiap jenis
ilmu silat yang berada dikolong langit ini. Betul sekali, jurus
serangan yang boanpwee pergunakan ini adalah jurus
gempuran hebat guntur langit"
"Hey bocah muda, memangnya kau lupa? Akukan tahu
segala-galanya..."
"Waaah, tampaknya nama besarmu itu memang bukan
cuma nama kosong belaka"
"Haaahhh... haah... haaah... sudah sepantasnya bila kau
mempercayai hal tersebut semenjak dulu, cuma kau merasa
amat heran, darimana kau pelajari ilmu pedang guntur langit
itu?"
"Boanpwee berhasil mempelajari dari pulau neraka"
"Aaah, betul mengapa aku sampai lupa kesitu..." kakek
latah awet muda segera termanggut- manggut.
Dalam pada itu, sipedang baja berhati merah Hui Bong Ki
telah membungkukkan badan dan memungut kembali pedang
bajanya.
"Nah, sekarang kalian boleh pergi dari sini." kata oh Put Kui
kemudian kepada keempat orang lawannya sambil tertawa,
"aku percaya kalian tentu tak akan mengingkari janji"
Sekarang The Tay-hong sudah berhenti menangis, paling
tidak ia merasa keadaannya jauh lebih baik ketimbang
keadaan yang dialami sipedang baja berhati merah. Tiba-tiba
terdengar Ku Bun-wi menghela napas panjang sembari
berkata:
"Kesaktian ilmu pedang yang saudara miliki sungguh
mengagumkan sekali, apa yang sudah kami janjikan, sudah
barang tentu akan kami laksanakan pula, namun kami harnya
bisa menjamin kami sendiri dan tak bisa bertanggung jawab
atas usaha dari anggota Sian-hong-hu yang lain bila mereka
datang lagi kemari..."
oh Put Kui yang mendengar ucapan tersebut segera
mengerutkan dahinya rapat rapat. Pada saat itulah sipedang
iblis berbaju merah Suma Hian telah berkata pula:
"Apa yang saudara Ku ucapkan memang merupakan suatu
kenyataan, sekalipun oh kongcu menahan kami berlima disini
pun, kami hanya bisa berjanji bahwa kami berlima tidak akan
mencampuri urusan ini lagi, sedangkan mengenai jalan
pemikiran dari majikan muda istana Sian hong-hu... yaa,
bagaimana mungkin kami bisa menghalangi segala
tindakannya...?"
oh Put Kui manggut-manggut pelan, dia tahu apa yang
diucapkan ke lima orang kakek itu memang benar dan tak bisa
disalahkan. Maka sambil tersenyum katanya:
"Baiklah, aku setuju dengan apa yang kalian katakan, cuma
aku berharap sekembalinya kalian ke istana nanti, sampaikan
kepada Nyoo Ban-bu, lebih baik dia tahu diri daripada kedua
belah pihak saling bentrok lebih jauh"
"Apa yang oh sanhiap ucapkan tentu akan kusampaikan"
sahut Ku Bun-wi cepat.
Kemudian setelah berhenti sejenak. dia berkata kepada di
Hakim sakti hitam putih Pak Kun jiu yang masih duduk dikursi
sambil tertawa: "Saudara Pak. mari kita pulang saja"
Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan
beranjak pergi lebih dulu.
Tanpa banyak berbicara Pak Kun jin, Suma Hian, Hui Bong
Ki, The Tay-hong serta kesembilan orang lelaki kekar yang
berada di luar ruangan itu bersama-sama berangkat
meninggalkan Benteng nomor wahid dari dunia persilatan-
Ancaman bahaya maut akhirnya dapat dilalui dengan
selamat, rasa terima kasih yang menggelora didalam dada
Leng Siau-thian sungguh tak dapat diucapkan dengan katakata.
Perasaan Leng cui-cuipun bagaikan bunga yang sedang
mekar, sekulum senyuman manis yang penuh pancaran rasa
cinta memancar keluar dari wajahnya yang ditujukan semua
kepada oh Put Kui.
Sedangkan oh Put Kui sendiri justru secara diam- diam
merasa amat terkejut.
Dalam keadaan begini dia tak dapat menerima limpahan
cinta kasih muda mudi, sebab diatas bahunya masih memikul
beban pembalasan dendam atas terbunuhnya kedua orang
tua
Sekalipun berbicara yang sesungguhnya, dia sendiripun
merasa senang sekali dapat bertemu dengan nona tersebut...
Diantara sekian orang yang hadir, hanya sipengemis sinting
seorang nampak paling santai, tiada hentinya dia
mengacungkan ibu jarinya sambil memuji kelihayan dan
kehebatan dari jurus pedang yang dipergunakan oh Put Kui
tadi.
Si kakek latah awet muda hanya memeluk pedang karat
yang dititipkan kepadanya itu sambil tertawa tergelak..
Tak lama setelah semua anggota istana sian-hong-hu
berlalu, kakek menyendiri seribu li Leng Siau thian baru
teringat kalau putranya belum kenal dengan oh Put Kui
sekalian-
Sambil mengumpat kepikunan sendiri, cepat-cepat dia
menyuruh putranya Leng Yok peng untuk menjumpai ketiga
orang itu.
Leng Yok-peng yang mempunyai julukan sebagai Tui-simsin-
jin (tangan sakti penghancur hati) ini benar- benar
mempunyai kesan persis seperti namanya, dingin dan kaku
tanpa basa basi.
Begitu selesai memberi hormat kepada tiga orang tamunya,
tanpa banyak cincong dia segera mengundurkan diri dari situ.
Leng Siau-thian yang menyaksikan kejadian tersebut hanya
bisa menggelengkan kepalanya sambil berkata,
"Ban tua, saudara Lok oh sauhiap. harap kalian hangan
marah, anakku yang satu ini memang tidak suka bergaul
dengan siapapun, orangnya kolot dan suka menyendiri"
Mendengar perkata an, sikakek latah awet muda segera
mendelik besar sambil berkata:
"Setiap orang mempunyai kemauan sendiri-sendiri kenapa
sih kau mesti mengurusi kemauanmu? Leng Siau-thian, kau
jangan lagi menganggap anakmu itu masih anak kecil, biarkan
saja dia pergi dari sini..."
"Kalau Ban tua-pun berkata demikian, apa lagi yang bisa
boanpwee katakan?" kata Leng siauw thian sambil tertawa
sesudah mendengar perkataan itu. "aku hanya kuatir, dengan
watak anakku yang dingin dan kaku itu, bisa jadi dia akan
menderita kerugian besar dikemudian hari"
"Leng tua tak usah kuatir" kata oh Put Kuipula sambil
tertawa, "justru sikap hidup putramu itu tidak sudi mencari
pamor dan rebutan nama dan kedudukan dengan orang lain
merupakan suatu tindakan yang terpuji, keadaannya inijauh
lebih baik daripada mereka yang mempunyai banyak kawan di
dalam dunia persilatan"
Leng Siauw-thian tertawa terbahak=bahak:
"Haaahh... haaahh... haaahhh... semoga saja apa yang
dikatakan oh sauhiap memang terwujud"
Tiba-tiba pengemis sinting mengerutkan keningnya secara
mendadak lalu berkata:
"Tauke Leng, aku si pengemis memang kere, dapatkah kau
menghadiahkan semangkuk nasi lebih dulu untukku?"
Sudah jelas perutnya mulai lapar sehingga dia berkaok
kaok tanpa rikuh...
Merah jengah selembar wajah Leng Siauw-thian setelah
mendengar perkataan itu, cepat-cepat serunya:
"Aku benar-benar sudah lupa... maaf maaf... biar sekarang
juga kuperintahkan mereka untuk mempersiapkan sayur dan
arak yang hangat..."
"Ayah, biar aku saja yang pergi" cepat cepat Leng cui-cui
berkata sambil tertawa. Dia membalikkan badan lalu kabur
dari situ dengan cepat. Leng Siauw-thian segera berkata lagi
dengan nada minta maaf: "Saudara Liok, maaf kalau siaute
telah melupakan hal ini..."
"Tidak usah minta maaf" pengemis sinting tertawa aneh,
"Leng loko, asal ada makanan saja, aku si pengemis tua
tak pernah marah kepada orang lain..."
Ucapan tersebut kontan saja diambut oleh kakek latah awet
muda sekalian bertiga dengan gelak tertawa yang keras.
ooo0dw0ooo
Pemilik benteng nomor wahid dari dunia persilatan Leng
Siau-thian mengumumkan secara tiba tiba kepada dunia
persilatan bahwa ia akan mengundurkan diri bahkan menutup
bentengnya yang disebut benteng nomor wahid tersebut.
Tentu saja, kejadian ini segera menggemparkan seluruh
umat persilatan yang mengetahuinya .
Mengapa Leng Siau-thian hendak mengundurkan diri?
Mengapa dia hendak menghapus nama bentengnya
sebagai benteng nomor wahid dari dunia persilatan?
Dengan nama besar dan kedudukan Leng Siau-thian dalam
dunia persilatan, siapa yang berani mengusik dan
mengganggunya?
Setiap orang yang berperasaan tajam segera merasa
bahwa dibalik peristiwa tersebut tentu ada sesuatu yang tidak
beres. Tapi, mereka tak berhasil menggali keluar alasan
tersebut.
Mungkin, kecuali Leng Siau-thian seorang siapapun tidak
tahu apa sebabnya bisa begitu.
Atau paling tidak masih ada juga yang tahu, meski sedikit
sekali
Dan mereka lain adalah oh Put Kui, pengemis sinting dan
kakek latah awet muda.
Sebab berbicara yang sebenarnya, ide tersebut justru
muncul dari benak oh Put Kui.
Ia merasa bahwa tujuan dan sasaran dari pihak istana sianhong-
hu dan Raja setan penggetar langit wi Thian-yang
adalah nama besar Benteng nomor wahid dari dunia
persilatan, itu berarti selama Leng Siau-thian sekalian
bersama anak buahnya bila masih berdiam dibukit Ho lan-san,
maka cepat atau lambat akhirnya tentu akan bentrok juga
dengan pihak mereka.
Padahal pihak lawan mempunyai kekuatan yangj auh lebih
besar dan kedatangan merekapun tak bisa diduga
sebelumnya, bagaimana akibatnya sunguh amat sulit untuk
diramalkan sebelumnya.
Sebagai seorang lelaki sejati yang pandai dan tahu
keadaan, sudah barang tentu mereka tak ingin mengorbankan
diri secara konyol, karena itu satu-satunya jalan adalah
menghindarkan diri dari sana.
Maka diapun menganjurkan kepada Leng Siau-thian agar
untuk sementara waktu pindah dulu keperkampungan Siuleng-
ceng milik Lamkiong ceng...
Ternyata usul tersebut disetujui oleh Leng Siau-thian,
sebagai seorang jago silat kawakan dia cukup memahami
maksud baik dari oh Put Kui tersebut.
Begitulah, nama besar Benteng nomor wahid dalam dunia
persilatanpun segera terhapus dari keramaian dunia.
Dan Leng Siau-thianpun mengumumkan pengunduran
dirinya.
Setelah berdiam dibukit Ho lan san selama tiga hari, oh Put
Kui pun segera memohon diri.
Dia bersama kakek latah awet muda dan pengemis sinting
meneruskan perjalanannya menuju ke selatan.
Sedangkan sang tuan rumah Leng Siau-thian segera
memboyong keluarganya pindah rumah.
Adapun perjalanan oh Put Kui menuju ke selatan kali ini
adalah untuk mencari si Bangau sakti dibalik mega.
Ia merawa wajib untuk mencari tahu dulu masalah sekitar
siapa yang telah mengambil tusuk konde penghancur tulang
dari tubuh ibunya, sebelum ia dapat mengembara dalam dunia
persilatan dan membalas dendam dengan perasaan tenang.
oleh sebab itu, dia bersikeras hendak menemukan si
Bangau sakti dibalik mega lebih dulu.
Markas besar dari Liok- lim Bangau tujuh propinsi diwilayah
Kanglam ini terletak di gedung Tiong-gi-hu dalam kota Lamcong.
Kakek latah awet muda segera mengusulkan untuk
mengambil jalan darat sampai di Kang ciu, lalu dari Kang-ciu
berganti lewat jalan air menuju kota Lam cong dengan
melewati telaga Phoa-yang-oh dan menelusuri sungai ci
ciang-kang.
Sudah barang tentu pengemis sinting menyatakan
persetujuannya, terhadap setiap perkataan dari kakek latah
awet muda ia memang tak pernah barani mengucapkan kata
"tidak".
Bagi oh Put Kui hal tersebut sama saja, baginya entah
lewat jalanan yang manapun, yang penting asal dapat
bertemu dengan im Tlong-hok seCepatnya sehingga musuh
besat pembunuh ibunya juga seCepatnya diketahui.
Tak sampai sepuluh hari kemudian, mereka sudah tiba di
kota Kang ciu. tapi mereka justru tak berhasil menyewa
sebuah perahupun di dermaga kota Kang ciu yang begitu
besar. Hal ini tentu saja membuat si kakek latah awet muda
merasa sangat berduka hati. orang tua ini bukan cuma
bersedih hati saja, bahkan amarahnya segera berkobar.
Semakin tidak berhasil mendapat sewaan perahu, dia
semakin bertekad untuk mencari perahu hingga dapat.
Sebenarnya oh Put Kui hendak berganti melewati jalan
darat saja, namun kakek latah awet muda bersikeras dengan
pendiriannya.
Akibatnya terpaksa mereka harus beristirahat semalam di
kota Kang ciu tersebut.
oh Put- kui minta kepada pemilik rumah penginapan untuk
mengusahakan perahu sewaan, namun alhasil gagal juga
usaha tersebut, konon semua perahu yang ada telah diberong
oleh seseorang dengan biaya sewa yang tinggi.
Mengenai siapa yang telah memborong semua perahu
sewaan tersebut, ternyata pemilik rumah penginapan tersebut
tidak berhasil untuk memperoleh keterangan.
Mengetahui keadaan tersebut, kontan saja kakek latah
awet muda mencak-mencak sambil mengumpat.
Sebaliknya oh Put Kui dengan kening berkerut dan wajah
masgul duduk termenung tanpa bicara.
Namun akhirnya dia berhasil mendapatkan sebuah jalan
baik, ujarnya kemudian: "Lloktua, apakah dikota Kang- ciu
inipun terdapat anggota Kay-pang..."
Pertanyaan tersebut dengan cepat menyadarkan kembali
sipengemis sinting. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang
tidak gatal, segera serunya keras keras:
"Aaaai, aku sipengemis betul-betul sangat bodoh, mengapa
tidak pernah kupikir sampai kesitu? Yaa, nampaknya makin
tua aku sipengemis semakin pikun... biar aku segera pergi
mencari mereka"
Sambil menggerutu dia segera beranjak pergi dari situ.
Seperminum teh kemudian, sipengemis sinting telah
muncul kembali dengan disertai seorang pengemis setengah
umur.
"Ban tua, oh lote, orang ini adalah tongcu dari kantor
cabang Kay-pang untuk kota Kang- ciu yang disebut orang si
ular aneh Wan Sam"
Kemudian kepada pengemis setengah umur itu bentaknya :
"Ayoh cepat menjumpai Ban locianpwee dan oh lote ku"
Dengan hormat sekali pengemis setengah umur itu menjura
kepada kedua orang itu, kemudian katanya :
"Boanpwee Wan Sam menjumpai cianpwee berdua"
oh Put Kui mengangguk tanda membalas hormat,
sebaliknya kakek latah awet muda tetap tak berkutik dari
posisi semula, malahan teriaknya keras keras : "Apakah kau
adalah kongcu dari kantor cabang kota Kang ciu?"
"Benar" sahut Wan Sam sambil menundukkan kepalanya.
"Mengapa disekitar wilayah Kang ciu tidak dijumpai sebuah
perahu pun yang dapat disewa?"
"Menurut apa yang boanpwee ketahui, semua perahu yang
ada dikota Kang ciu ini sudah disegel secara paksa oleh
orang"
"Apa? Siapa yang begitu berani?"
"Menurut apa yang hamba ketahui, orang itu adalah putri
kesayangan dari pemilik istana Sian hong-hu di ibu kota"
Sian hong-hu? Lagi lagi ulah istana Sian hong-hu? Lantas
permainan apakah dibalik kesemuanya ini?
Untuk sesaat mereka bertiga sama sama dibuat tertegun...
Dalam tertegunnya oh Put Kui segera bertanya :
"Wan tong cu, benarkah kau tahu secara pasti bahwa
semua perahu yang berada di Kang ciu ini telah disegel
secara paksa oleh orang-orang yang dikirim pihak Sian honghu?
Mengapa pemilik rumah penginapan ini bilang kalau
semua perahu disewa orang?"
Wan Sam segera tertawa.
"Dalam persoalan ini, pihak Sian- hong-hu telah bekerja
secara cermat dan rahasia, semua pemilik perahu dibikin takut
oleh gertak sambal orang-orang Sian- hong-hu yang berilmu
silat tinggi, karenanya terpaksa mereka beralasan perahunya
sudah disewa orang"
"Lantas darimana kau bisa mengetahui, kejadian ini
semakin jelasnya?" tanya kakek latah awet muda.
"Anak buah hamba banyak yang bekerja sebagai kuli kasar
diperahu, oleh karena itulah Boanpwee mengetahui dengan
jelas, bahkan sebagian besar telah menyaksikan dengan mata
kepala sendiri bagaimana orang-orang Sian hong-hu
menggertak pemilik-pemilik perahu itu, dengan demikian
boanpwee pun dapat mengetahui keadaan tersebut dengan
sejelas-jelasnya"
"Keluarga Nyoo tersebut betul-betul keluarga telur busuk"
umpat kakek latah awet muda penuh rasa geram.
"Ban tua, berbicara sesungguhnya Nyoo Thian wi adalah
orang baik," pengemis sinting segera berkata sambil tertawa,
"cuma sayang orang yang baik hatinya selalu diberkahi usia
yang pendek. Wan-sin-seng-siu (kakek suci berhati mulia)
telah menjadi kakek mampus"
"Yaaa..." sambung oh Put Kui sambil menghela napas,
"siapa yang mengira kalau keturunannya justru menjadi
seorang manusia lalim yang tidak tahu diri."
"Huuh, kentut anjing" seru kakek latah awet muda sambil
tertawa dingin, "siapa bilang dia kakek suci berhati mulia?
Seandainya Nyoo Thian-wi betul-betul berhati mulia, mau apa
dia berdiam di ibu kota? Saban hari mengandaikan
hubungannya dengan pembesar kerajaan ching untuk berbuat
semena-mena dimana-mana masih berani memakai gelar
berhati mulia? Huuuh, mau muntah rasaku setelah mendengar
kata-kata tersebut."
Satu ingatan segera melintas di dalam benak oh Put
Kuisesudah mendengar perkataan itu.
Sebaliknya pengemis sinting segera berkata sambil tertawa
:
"Ban lopek, siapa tahu kalau Nyoo Thian-wi mempunyai
maksud tujuan yang lain?"
"Aaah, kau cuma tahu berkentut," seru kakek latah awet
muda sambil tertawa dingin lagi, "seandainya Nyoo Ban-wi
betul-betul seorang lelaki berhati mulia dan bijaksana,
mengapa dia tak pernah mengadakan hubungan dengan si
tamu baju putih Ibun Hau?"
Seketika itu juga pengemis sinting dibuat terbungkam
dalam seribu bahasa oleh ucapan kakek latah tersebut.
Yaa, berbicara yang sebenarnya, mengapa si kakek suci
berhati mulia Nyoo Thian-wi tak pernah mengadakan
hubungan dan pergaulan dengan orang orang dari golongan
lurus?
Bukan begitu saja, bisa dipikirkan kembali, Nyoo Thian wi
malahan tak pernah berhubungan pula dengan orang orang
dari istana ceng-thian ciangkun yang berada di ibu kota.
Bukankah kejadian ini aneh sekali ?
Kali ini, sipengemis sinting benar benar dibuat "sinting" oleh
kejadian tersebut.
Sebaliknya oh Put- kui yang menjumpai pengemis sinting
segera dibuat terbungkam dengan kening berkerut setelah
mendengar perkataan tersebut menjadi terCengang dan
keheranan.
Dia tak mengerti, mengapa Nyoo Thian wi tak dapat
dianggap seorang lelaki setia yang mulia dan bijaksana
karena dia tak mempunyai hubungan dengan si tamu baju
putih Ibun Hau. Apakah si tamu baju putih Ibun Hau
melambangkan sesuatu? Pikir punya pikir, akhirnya dia tak
bisa menahan diri lagi dan segera bertanya: "Ban tua, siapa
sih ibun Hau tersebut?"
oh Put Kui hanya tahu sitamu baju putih ibun Hau serta
kakek bayangan semu berbaju hijau Samwan To disebut
orang sebagai Sepasang kakek sakti dari Thian-tok dan
berdiam di puncak Thian-tok- hong bukit Hang san.
Dan lagi diapun tahu kalau kedua orang ini memiliki ilmu
silat yang betul-betul sangat lihay.
Selain itu, dia boleh dibilang tidak mengetahui apa- apa.
Mendengar pertanyaannya itu, tiba tiba saja kakek latah
awet muda berkata sambil tertawa aneh :
"Bocah muda, apakah sampai sekarang suhu dan
susiokmu belum pernah menyinggung soal kedua orang kakek
ini dihadapanmu? Tampaknya gurumu itupun orang bodoh."
"Belum pernah suhu membicarakan masalah asal usul
tokoh persilatan dengan boanpwee" kata oh Put Kui sambil
tertawa.
"Beginipun ada baiknya juga, dari pada kau menaruh
hormat kepada orang lain setelah kau mengetahui asal usul
mereka, bukan begitu?" ucap kakek latah sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali, "aaaai, muridnya
saja begitu latah, apalagi gurunya..."
oh Put Kui segera tertawa geli:
"Suhu enggan membicarakan asal usul tokoh persilatan
dengan boanpwee, hal ini dikarenakan suhu tak ingin
boanpwee terlibat didalam urusan budi dan dendam orangorang
persilatan-"
"Tapi benarkah begitu? Bagaimana buktinya sekarang?
Bukankah kaupun terlibat juga?"
"Walaupun boanpwe terlibat juga, namun hal ini muncul
karena kemauan boanpwee sendiri," kata oh Put Kui sambil
menghela napas. Kontan saja kakek latah awet muda
mendelik besar :
"Mana mungkin ada orang melibatkan diri dalam urusan
dunia persilatan karena kemauan sendiri? Hey anak muda,
kadangkala kau kelihatan amat pintar dan hebat, mengapa
ada kalanya justru begitu pikun dan sangat bodoh?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, kakek itu berkata lebih
jauh dengan wajah bersungguh-sungguh : "Nah anak muda,
dengarkan baik-baik..."
Melihat sikap tersebut oh Put Kui segera tertawa :
Jarang sekali dia melihat si kakek latah awet muda ini
berbicara dengan wajah begitu serius, sehingga nampaknya
sekarang ia sangat lucu dan menggelikan hati.
"Boanpwee akan mendengarkan dengan seksama"
sahutnya dengan cepat.
Kakek latah awet muda mengangkat kepalanya dan
menghela napas panjang, kemudian ujarnya dengan suara
pelan :
"Anak muda, si tamu baju putih ibun Hau adalah Kaisar dari
dinasti yang lalu"
oh Put Kui benar-benar sudah menyangka akan persoalan
ini.
Semenjak ia mengunjungi Permaisuri Thian-hiang, ia sudah
mengetahui bahwa banyak sekali umat persilatan yang
bercita-cita hendak menegakkan kembali kejayaan serta
kekuasaan dinasti yang lampau.
oleh sebab itulah dia sudah menduga kalau ibun Hau
adalah seorang tokoh silat dari golongan tersebut.
"Ban tua, bagaimana sih kedudukan lojin ini
didalampemerintahan dinasti yang lalu?"
Menurut dugaan oh Put Kui si tamu baju putih ibun Hau
tentu seorang menter atau pembesar kerajaan.
Namun jawaban dari Kakek latah awet muda justru
membUatnya sangat tercengang :
"Anak muda, ibun Hau tidak lebih cuma seorang penyusun
naskah kuno dari gedung Han-lim-wan"
"Lantas yang satunya lagi?" tanya oh Put- kui dengan
kening berkerut kencang.
"Siapa yang kau maksudkan? Kalau tanya, bertanyalah
dengan jelas..." kata Kakek latah sambil tertawa.
"Boanpwee maksudkan Samwan lojin tersebut."
"oooh, kau maksudkan si kakek bayangan semu baju hijau
Samwan To...?"
"Betul"
"Samwan To adalah teman membaca dari Kaisar Huntiong-
liat..."
Sekarang oh Put-kui baru paham, ternyata sepasang
manusia sakti dari Thian tok ini tidak memiliki kedudukan yang
tinggi, tapi justru merupakan seorang kawan dekat kaisar.
Tak heran kalau kakek latah awet muda menuduh Nyoo
Thian-wi sebagai kurang "bijaksana dan setia" lantaran dia
tidak mempunyai hubungan dengan si tamu baju putih ibun
Hau.
Ini berarti hanya manusia sebangsa ibun Hau saja baru
pantas menyandang gelar "bijaksana dan setia".
Sambil tertawa hambar oh Put- kui segera berkata :
"Kalau begitu, Nyoo Thian-wi benar- benar seorang
manusia yang patut dicugigai." Kakek latah awet muda tertawa
terbahak-bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh..., soal mencurigakan atau
tidak merupakan satu persoalan yang lain, sekarang orangnya
sudah mati, pada hakekatnya tak mungkin bisa diselidiki
kembali, cuma yang paling menggemaskan adalah aku sudah
hidup terkurung selama sepuluh tahun lebih di loteng tingkat
dua, kalau tidak..."
Mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, sambil
melompat bangun segera serunya. "Habis sudah riwayatku,
aku sudah terkena siasat busuk dari Kit Put-sia"
"Kau orang tua terkena siasat busuk macam apa dari Kit
Put-sia...?" tanya oh Put=kui terkejut.
Sambil memukul dada sendiri saking mendongkolnya,
kakek latah awet muda berkata :
"Seandainya aku tidak terkurung selama dua puluh tahun,
asal usul dari Nyoo Thian-wi sudah pasti telah berhasil
kuselidiki... tapi akhirnya, aaaai... hanya disebabkan dorongan
emosi saat muda, aku dibuat tak karuan jadinya..."
"Jadi semenjak dua puluhan tahun berselang kau orang tua
sudah menaruh curiga terhadap Nyoo Thian-wi?" satu ingatan
segera melintas da lam benak oh Put- kui. Kakek latah awet
muda tertawa dingin:
"Nyoo Thian-wi berusaha menarik simpatik umat persilatan
dengan menggunakan budi yang kecil. Didepan mata orang
lain, memang dia pantas disebut kakek suci, tapi dalam
pandanganku justru tak ada harganya seperti kentut anjing.
Coba bayangkan, kapan dia pernah memotong batok kepala
gembong iblis atau pembunuh keji mana pun dari persilatan?"
"Ban tua bukankah dia pernah membunuh seorang
gembong iblis yang bernama Raja Setan Penggetar Langit?"
"Anak muda, seandainya pada empat puluh tahun
berselang Nyo Thain-wi pernah melenyapkan Raja Setan
Penggetar Langit, mengapa empat puluh tahun kemudian kau
justru telah berjumpa lagi dengan Raja Setan Penggetar
Langit di perkampungan Siu-ning-ceng? Mungkinkah orang itu
gadungan? Kalau tidak, bukankah orang yang terbunuh pada
empat puluh tahun berselang adalah gadungan?"
Pertanyaan yang diajukan oleh kakek latah tersebut kontan
saja membuat oh Put Kui menjadi tertegun.
Peristiwa semacam ini memang belum pernah dibayangkan
sebelumnya... Mendadak kakek latah awet muda berteriak
kembali dengan suara yang keras : "Anak muda, apakah kau
sudah mengerti?"
"Masih belum begitu mengerti"
"Tidak begitu mengerti?" kakek latah awet muda berkerut
kening, "jadi kau tidak percaya dengan dugaanku ini?"
"Aah, masa boanpwee berani tak percaya? cuma masih
ada banyak hal yang sangat mencurigakan. "
"Tentu saja. kalau masih tiada kecurigaan, masa aku berani
mengatakan hanya dugaan?"
oh Put Kui merasa apa yang dikatakan memang
merupakan suatu perkataan yang Sejujurnya.
Sekalipun demikian, dimulut dia berkata juga :
"Ban tua, bila dibicarakan menurut keadaan didepan mata,
Nyoo Thian-wi yang sudah mati sudah tentu tak perlu kita
urusi lagi, tapi paling tidak keturunan dari Nyoo Thian-wi telah
menunjukkan perlakuan yang salah dan melakukan perbuatan
jahat."
"Bagaimana kalau kita kuntil mereka?" kata kakek latah
awet muda sambil manggut-manggut.
"Menguntit mereka?" Oh put-kui tertegun, "tapi Boanpwee
hendak pergi ke Lam-cong."
"Anak muda. paling tidak kita harus membuat jelas duduk
persoalan tentang kapal-kapal yang disegel di Kang-Ciu ini
sebelum pergi."
Kemudian tanpa memperdulikan Oh Put-kui lagi, ia segera
berpaling ke arah si Ular Aneh Wan-sam sambil membentak,
"Tahukah kau apa sebabnya orang she Nyo itu menyegel
semua perahu yang ada disini?"
"Boanpwee dengar, hal ini sengaja dilakukan karena
hendak menghadapi perkumpulan Pay-kau." Jawab Wan-sam
perlahan, jangankan bersuara keras, mau menghembuskan
napas keras-keras pun tak berani.
"Hahaha, perselisihan apa yang telah terjadi antara pihak
Sian-Hong hu dengan Pay-kau?"
"Menurut laporan yang boanpwee terima, persoalan ini
timbul karena perselisihan murid pertama ketua Pay-kau yang
disebut si Tamu Tanpa Bayangan penghancur hati Ciu It-Cing
dengan majikan muda dari Sian-Hing hu, Nyo Ban-bu."
Mendengar perkataan itu, diam-diam Oh Put Kui terkesiap.
Padahal antara Ciu It-cing dan Nyo Ban-Bu tidak terjadi
sesuatu perselisihan yang terlau besar ketika berada dalam
perkampungan Siu-ning-ceng, tapi kenyataan Nyoo Ban-bu
begitu menaruh dendam sehingga tidak segan-segan
melakukan tindakan pembalasan secara besar-besaran, ini
berarti dibalik kesemuanya itu sudah pasti masih terselip halhal
lain yang luar biasa. Sementara itu kakek latah awet muda
telah berkata sambil tertawa tergelak : "Wan Sam, apakah
markas besar perkumpulan Pay Kau berada di Seng- ciu...?"
"Benar, berada di Seng- ciu"
"Sungguh aneh sekali, mengapa orang she Nyoo itu justru
menyegel semua kapal yang berada di Kang ciu?"
"Sebab Kaucu dari Pey-kau sudah berada di Kang ciu
sekarang" sahut Wan Sam sambil tertawa.
Kakek latah awet muda kontan saja tertawa tergelak :
"Haaahhh... haaahh... haaahh...jadi Li cing-siu pun sudah
datang ke Kang ciu? Kalau begitu tak ada yang aneh lagi Wan
Sam, tahukah kau mengapa Li cing siu bisa datang ke Kang
ciu ini?"
Kelihatan sekali kalau Wan Sam banyak tahu tentang
persoalan dunia persilatan, dari sini dapat dibuktikan betapa
tajamnya pendengaran dari orang-orang Kay pang, mungkin
jauh melebihi perkumpUlan manapun juga.
Baru selesai si kakek latah awet muda berkata, Wan Sam
telah menyahut sambil tertawa:
"Li KaucU datang kemari berhubung sejumlah barang
kiriman telah ditahan orang secara paksa, karenanya dia
khusus datang sendiri untuk menyelesaikan persoalan
tersebut."
Baru selesai Wan Sam berkata, si Pengemis pikun dengan
kening berkerut telah menggeleng sambil berkata: " Wantongcu,
siapa yang punya nyali sedemikian besarnya hingga
berani membegal barang milik Pay-Kau?"
"Betul" kata Kakek latah pula. "Siapa yang begitu bernyali
sehingga berani mengusik Li Cing-Siu?"
@oodwoo@
Jilid : 22
"Konon orang itu adalah Tiga padri dari See-ih!" bisik Wan
Sam dengan wajah agak takut.
"Apa? Tiga orang hweesio pelindung hukum dari kuil
Bhudala-si?" seru pengemis sinting terperanjat.
"Yaa, hambapun mendengar hal ini dari anggota Pay-kau!"
"Aneh sekali, kenapa padri dari See-ih itu jauh-jauh datang
ke Tionggoan hanya berniat membegal barang milik Pay-kau?
Betul-betul suatu kejadian yang aneh sekali."
"Wan Sam," kata kakek latah kemudian sambi tertawa,
"apakah ketiga orang hweesio yang kau maksudkan itu benarbenar
berasal dari wilayah Tibet?"
"Boanpwee mendapat kabar ini dari anggota Pay-kau,
rasanya tak bakal salah lagi!"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu pasti akan
ramai sekali!" seru kakek latah awet muda sambil tertawa
tergelak.
Sebaliknya Oh Put Kui bertanya dengan kening berkerut :
"Ban tua, siapa sih ketiga padri dari See-ih itu?"
"Aku sendiripun tidak tahu, aku cuma tahu ilmu Tay-jiu-eng
dari para lhama Tibet merupakan semacam ilmu silat yang
betul-betul luar biasa, hanya saja mereka amat jarang
berkunjung ke daratan Tionggoan dimasa lalu, sehingga aku
sendiripun belum sempat menyaksikan kehebatan dari ilmu
silat mereka!"
"Ban tua, selama dua puluh tahun belakangan ini, mereka
sudah beberapa kali berkunjung kemari !"
"Benarkah itu? Apakah ilmu Tay-jiu-eng masih bisa
ditandingkan dengan ilmu Hud-im-hian-hong-jiu?"
"Selisih jauh sekali!"
"Waaah, kalau begitu tiada sesuatu yang istimewa..."
gairah kakek latah segera berkurang setelah mendengar
perkataan itu.
"Cuma saja..." pengemis sinting segera menambahkan
sambil tertawa, "jagoan yang kujumpai tempo hari hanya
golongan kelas tiga dan empat saja."
"Kalau begitu, bukankah ilmu Tay-jiu-eng terhitung cukup
hebat juga?" seru kakek latah cepat sambil tertawa tergelak.
"Sudah barang tentu begitu, aku tahu ilmu silat dari
golongan Mi-tiong termasuk ilmu silat tingkat atas."
"Bagus sekali, aku ingin sekali mengetahui sampai
dimanakah kelihayan dari kaum lhama tersebut."
"Ban tua, besok kita harus melanjutkan perjalanan," Oh Put
Kui segera menyela dengan kening berkerut.
"Eeeh... kau tak usah terburu napsu," seru kakek latah
sambi lmenggeleng, "keramaian semacam ini harus kuhadiri
untuk turut menyaksikannya..."
----------------------
"Ban tua, kalau begitu terpaksa boanpwee harus berangkat
seorang diri lebih dulu," ucap Oh Put Kui kemudian dengan
perasaan apa boleh buat.
Kakek latah awet muda menjadi tertegun tapi sejenak
kemudian serunya lagi sambil tertawa tergelak :
"Kau berani?"
"Mengapa boanpwee tak berani?" Oh Put Kui balas berseru
setelah sempat tertegun sejenak.
"Sebelum memperoleh persetujuanku, kau harus tetap
tinggal disini secara baik-baik."
Sebetulnya Oh Put-kui hendak membantah ucapannya itu,
tapi diapun mengerti bahwa berdebat hanya berarti
membuang tenaga dengan percuma, sudah pasti kakek tua
yang kolot ini tak akan memberi ijin kepadanya.
Terpaksa ujarnya sambil tertawa getir:
"Ban tua, aku harus menunggu sampai kapan lagi?"
"Aku sendiripun tidak tahu!" sahut si kakek latah sambil
tertawa senang.
Mendadak orang tua itu teringat akan sesuatu, maka
kepada si ular aneh Wan Sam katanya pula:
"Wan Sam, tahukah kau kapan pihak Sian-hong-hu hendak
melancarkan serangannya terhadap pihak perkumpulan Paykau?"
"Malam nanti!"
"Apa? Mengapa tidak kau katakan semenjak tadi?" teriak
kakek awet muda dengan marah. "atau mungkin kau memang
sengaja hendak mempermainkan diriku?"
Pucat pias selembar wajah Wan Sam karena kaget
bercampur takut, buru-buru dia menyahut:
"Boanpwee tidak berani!"
Kalau begitu, ayoh cepat suruh pelayan mempersiapkan
hidangan..." kata kakek latah awet muda kemudian sambil
mengulapkan tangannya kepada pengemis sinting.
Sang pengemis menyahut dan segera beranjak pergi dari
situ.
Ketika Oh Put-kui mendengar bahwa peristiwa itu akan
berlangsung malam nanti, dalam hati kecilnya dia merasa
gembira sekali, katanya kemudian sambil tertawa:
"Ban tua, kau tak usah terburu napsu, sekarang toh baru
mendekati tengah hari..."
"Bocah muda, tahukah kau berapa jauhkah jarak antara
tempat ini dengan tempat berlangsungnya pertarungan itu?"
seru sang kakek sambil tertawa dingin.
Oh Put-kui menjadi tertegun, lalu pikirnya:
"Bagaimana mungkin aku bisa tahu?"
Karena itu diapun menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kalau toh tidak mengetahui berapa jauh tempat tersebut,
bila kita tidak berangkat sekarang juga, memangnya kau
anggap masih keburu sampai di situ?"
Oh Put-kui kembali menggelengkan kepalanya berulang
kali.
Sambil tertawa Wan Sam segera menyela
"Locianpwee, boanpwee pun sudah menyelidiki tempat
yang hendak mereka pergunakan untuk bertarung itu!"
"Waaah, tampaknya kau si pengemis kecil pandai juga
untuk bekerja, ayoh cepat katakan kepadaku, dimanakah
peristiwa itu hendak berlangsung?" seru kakek latah
kegirangan.
"Kuil Pau-in-si diluar kota Kang-ciu!"
"Dekatkah tempat itu?"
"Dekat sekali, paling banter cuma tiga li dari batas kota!"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau begitu masih
keburu..."
Tapi kemudian secara tiba-tiba kakek itu berkata lagi:
"Wan Sam, tahukah kau kapan waktu yang telah mereka
tentukan?"
"Kentongan ke dua nanti!"
Kakek latah awet muda segera tertawa tanpa
mengucapkan kata-kata lagi, sedangkan Oh Put-kui segera
menyela pula:
"Wan tongcu, perjanjian di kuil Pau-in-si ini ditentukan oleh
siapa? Aapakah pihak keluarga Nyoo yang menentukan?"
"Bukan! Tantangan itu dibuat antara pihak Pay Kau dengan
tiga padri dari wilayah See-ih!"
"Kalau begitu pihak Sian-hong-hu yang sedang bermain
setan dibalik kesemuanya itu," kata Oh Put Kui tertawa.
"Boanpwe pun menduga sampai ke situ, itulah sebabnya
boanpwe telah mengutus anggota kantor cabang kamu untuk
bersembunyi lebih dulu di sekitar kuil Pau-in-si pada malam
nanti, bilamana pergi kami siap akan membantu pihak Pay
Kau!"
"Wah, tidak kusangka kau si pengemis kecil pun masih tahu
soal setia kawan!" kakek latah segera menghentikan
tertawanya.
"Selama ini perkampungan kami mempunyai hubungan
yang sangat erat dan akrab dengan pihak Pay Kau, oleh
sebab itu walaupun boanpwe tahu kalau tindakan yang
kuambil merupakan tindakan yang tahu diri, namun kamu pun
tak bisa berpeluk tangan belaka membiarkan rekan kami di
gontok orang habis-habisan."
"Wan tongcu, apakah kau sudah tidak percaya lagi
terhadap pihak Sian-hong-hu?" tiba tiba Oh Put Kui menyela
sambil tertawa.
Pertanyaan ini sudah jelas mengundang maksud dan
tujuan yang amat dalam.
Sebab bagaimanapun juga orang-orang dari pihak Sianhong-
hu merupakan anak murid Kakek suci, paling tidak,
mereka adalah orang-orang yang pantas dihormati dan
disegani oleh setiap anggota perkumpulan dan partai mana
pun yang ada dikolong langit, andaikata, terjadi persoalan
maka sudah sewajarnya bila anggota partai lain membantu
pihaknya.
Akan tetapi kenyataannya sekarang, pihak kay-pang lebih
suka membantu Pay-kau untuk memusuhi para anak murid
dari kakek suci, hal ini menunjukkan kalau si ular aneh Wan
Sam sudah menaruh rasa tak percaya lagi terhadap tingkah
laku dan perbuatan dari orang-orang Sian-hong-hu, paling
tidak perintah ini diturunkan dari markas besar perkumpulan
Kay-pang.
Kalau bukan begiut, sudah pasti Wan Sam tak akan berani
mencampuri perselisihan semacam itu.
Benar juga, baru saja Oh Put Kui menyelesaikan
perkataannya, Wan Sam segera berkata sambil tertawa :
"Apa yang diucapkan kongcu memang benar, semenjak
boanpwee mengetahui kalau kuku garuda dari Sian-hong-hu
banyak melakukan perbuatan terhina dengan menindas kaum
lemah dan rakyat kecil, boanpwee segera mangambil
keputusan untuk membantu pihak Pay-kau dengan sepenuh
tenaga..."
Berhubung pengemis sinting membahasai Oh Put Kui
sebagai saudara, oleh karena itu dia pun harus membahasai
diri sendiri sebagai boanpwee.
Oh Put Kui kembali tertawa hambar:
"Apakah pihak markas besar perkumpulanmu mengetahui
tentang keputusan yang kau ambil ini?"
"Tidak tahu," Wan Sam menggeleng.
"Seandainya kau telah menyalahi pihak Sian-hong-hu,
apakah pangcu mu tak akan menyalahi dirimu?"
Tiba-tiba Wan sam tertawa tergelak dengan suara yang
amat nyaring, kemudian serunya:
"Selamanya boanpwe bekerja hanya berdasarkan atas
kebenaran, entah pihak itu dari golongan mana pun, yang
salah harus ditindak dengan tegas. Andaikata setelah kejadian
tersebut pangcu menegurku, boanpwe pun berani menerima
segala resiko dan akibatnya!"
Mendengar sampai disini, Oh Put Kui segera tertawa
terbahak-bahak, lalu pujinya:
"Betul-betul seorang lelaki sejati!"
Sebaliknya kakek latah awet muda ikut berkata pula sambil
tertawa tergelak:
"Laksanakan saja dengan hati tenang, biarpun ada kejadian
yang bagaimana pun besarnya, biar aku yang tanggung!"
Wan Sam menjadi kegirangan setengah mati, cepat-cepat
dia berseru sambil tertawa:
"Banyak terima kasih loocianpwe... cuma boanpwe pun
percaya, sekalipun boanpwe melakukan perbuatan ini, pangcu
kami tentu tak akan menegur apalagi menyalahkan tindakanku
ini."
"Betul. aku tahu Kongcu Liang si bocah kecil itu cukup
pandai membedakan persoalan..."
--------------------
Kentongan pertama sudah lewat.
Cahaya lentera bersinar amat terang disekitar kuil Pau-in-si
yang terletak diluar kota Kang-ciu
Tapi suasana disitu amat sepi, tidak terdengar suara genta,
tidak terdengar suara orang membaca doa, tidak terdengar
pula manusia yang hiruk pikuk.
Suasana dalam ruangan Wau-tong-poo-tiang pun sunyi
senyap tak kedengaran sedikit suara pun.
Hanya asap dupa dari balik hiolo yang mengepulkan asap
harumnya memenuhi seluruh ruangan,
Didepan ruangan dekat hiolo tersebut, duduk tiga orang
lhama berbaju kuning.
Tampaknya mereka sedang bersemedi, sehingga
keadaannya tidak berbeda dengan orang mati.
Pada saat itulah...
Tampak dua sosok bayangan manusia melayang turun dari
tengah udara dengan gagah dan angkernya.
Gerakan tubuh dari kedua sosok bayangan manusia itu
sungguh amat cepat, mereka bukannya melayang turun
keatas permukaan tanah, melainkan meluncur masuk kebalik
rimbunnya dedaunan ditengah pelataran tersebut.
Meskipun gerakan tubuh kedua orang itu cepat sekali,
namun didalam kenyataannya sama sekali tidak menimbulkan
sedikit suara pun, bahkan dedaunan dibalik pepohonan itupun
tidak sampai bergetar, dari sini dapatlah disimpulkan bahwa
kepandaian silat yang dimiliki kedua orang itu benar-benar
hebat sekali.
Begitu melayang masuk kebalik dedaunan, kedua orang itu
segera menyembunyikan diri baik-baik.
Kemudian salah seorang diantaranya segera menongolkan
kepalanya
Ternyata orang itu adalah Oh Put Kui.
Lantas siapakah seorang yang lain ? Kakek latah awet
muda atau pengemis sinting?
Setelah menongolkan kepalanya dan memeriksa sekejap
keadaan disekeliling tempat itu, Oh Put Kui segera berkata
kepada rekannya itu:
"Ban tua, kalau ditinjau dari sikap ketiga orang lhama yang
sedang bersemedi itu nampak begitu tenang, bisa diduga
kalau ilmu silat yang dimiliki tentu hebat sekali, delapan puluh
persen dia adalah jago lihay kelas satu dari golongan Mi
tiong!"
Rupanya rekan yang seorang lagi adalah Kakek latah awet
muda.
Kakek latah awet muda manggut-mangut, lalu dengan ilmu
menyampaikan suara pula dia menjawab:
"Hey anak muda, kau harus baik-baik mempersiapkan diri,
aku akan periksa keadaan disekeliling tempat ini, daripada
setelah sampai waktunya untuk turun tangan nanti, kau belum
selesai mempersiapkan diri!"
"Ban tua, memangnya kau anggap boanpwee adalah
manusia yang tak berguna?" seru Oh Put Kui sambil tertawa.
Sementara itu, dari atas atap ruang tengah telah melongok
keluar pula sebuah kepala manusia.
Ternyata orang itu adalah si pengemis sinting.
Rupanya dia sadar kalau ilmu meringankan tubuh yang
dimilikinya kurang sempurna sehingga tak berani
menyembunyikan diri diatas pohon tersebut, untuk
menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terpaksa dia
mendaki ke atas atap ruangan dan menyembunyikan diri
disana.
Kakek latah awet muda dan Oh Put Kui segera dapat
menjumpai jejaknya.
Cuma mereka sama sekali tidak menyapa, sebab Oh Put
Kui kuatir kepandaian silat yang dimiliki ketiga orang Lhama
itu terlalu tinggi sehingga sapaannya akan segera
mengejutkan mereka bertiga.
Pada saat itulah kakek latah awet muda menangkap suara
langkah serombongan manusia yang datang dari kejauhan.
Pada mulanya ida mengira rombongan manusia itu tentulah
Li Cing-siu dan anak buahnya dari perkumpulan Pay kau.
Tapi setelah diamati lagi dengan seksama, segera
ditemukan olehnya bahwa gerak gerik kawanan manusia itu
sangat mencurigakan bahkan seakan-akan berusaha untuk
menyembunyikan diri dari pandangan orang lain...
Menyaksikan hal ini, kakek latah awet muda segera tertawa
tergelak kegelian.
Kalau ditinjau dari gerak gerik mereka itu, sudah jelas
rombongan manusia itu adalah orang-orang dari istana Sianhong-
hu...
Diam diam ia bersyukur karena mereka bertiga datang
selangkah lebih awal, kalau tidak, sudah pasti tempat
persembunyian mereka akan diketahui oleh orang orang dari
Sian-hong hu.
Tampaknya Oh Put Kui juga sudah mengetahui akan
kehadiran mereka, ia segera berbisik:
"Ban tua nampaknya ada orang sedang menyembunyikan
diri disekeliling tempat ini!"
"Yaa, nampaknya orang-orang dari Sian-hong-hu!"
Pada saat itulah dari kejauhan sana kembali
berkumandang datang suara langkah kaki manusia.
Lalu nampak munculnya belasan pedang obor yang
menerangi serombongan manusia mereka berjalan langsung
menuju ke kuil Pau-in-si.
Agaknya rombongan yang datang kali ini adalah orangorang
dari pihak Pay Kau.
Dengan sorot mata Oh Put Kui yang tajam, segera terlihat
olehnya bahwa rombongan Pay Kau terdiri dari dua puluhan
orang.
Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu cepat, jarak
sejauh dua li tersebut ditempuh dalam waktu seperminum teh
lamanya.
Menanti rombongan tersebut sudah berada didepan kuil,
Oh Put Kui baru dapat melihat dengan jelas wajah-wajah
rombongan tersebut.
Sebagai pemimpin rombongan adalah seorang kakek
berambut putih yang mengenakan jubah seorang imam.
Dia mempunyai raut wajah yang bersih dan sikap yang
lembut, langkah tubuhnya sangat ringan, sikapnya berwibawa
sehingga memberi kesan anggun bagi siapapun yang
melihatnya.
Oh Put-kui tahu, orang itu tentulah Huan-im cinjin Li Cingsiu
dari Pay-kau.
Dibelakang kakek itu adalah dua orang kakek berusia tujuh
puluh tahunan, seorang berpakaian imam dan seorang lagi
berpakaian preman.
Dibelakang kedua orang kakek itu adalah tamu tanpa
bayangan penghancur hati Ciu It-cing.
Dibelakang Ciu It-cing adalah seorang tosu setengah umur
dan seorang sastrawan setengah umur.
Sedangkan dibelakang kedua orang itu adalah kawanan
lelaki kekar berdandan kelasi.
Tatkala rombongan tersebut tiba didepan ruangan, dari
kejauhan sana terdengar suara kentongan berbunyi dua kali.
Mendadak tiga orang lhama itu membuka matanya
bersama-sama...
Salah seorang diantaranya, seorang pendeta berusia tujuh
puluh tahunan yang bermuka dingin menyeramkan segera
berseru sambil tertawa seram:
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... Li sicu benar-benar
seorang yang memegang janji, datang tepat pada saatnya...!"
Kakek berambut putih yang berbaju imam itu segera
tertawa hambar:
"Untuk memenuhi undangan dari siansu bertiga, tentu saja
aku tak berani datang terlambat."
"Li sicu pandai juga merendah..." kata lhama itu kemudian
sambil tertawa, lalu sambil menuding ke sebuah kasur
ditengah ruangan, katanya lagi:
"Silahkan duduk dulu sebelum berbincang bincang!"
Kakek berdandan tosu dan dua kakek di belakangnya
segera mengambil tempat duduk dibantal bantal yang sudah
tersedia di hadapan ketiga orang lhama itu.
Sedangkan Siu It-cing sekalian berdiri berjalan ketiga orang
kakek itu.
Sesudah mengambil tempat duduk, kaucu dari Pay Kau, Li
Cing-siu baru berkata dengan suara dalam:
"Tentang kehadiran Pu Khong siansu bertiga di daratan
Tiong-gona sudah lama kudengar, hanya tidak kupahami apa
sebabnya siansu justru menyegel beratus buah kapal dari
perkumpulan kami yang ada di Kang-ciu sekarang sehingga
menyebabkan perkumpulan kami menderita kerugian yang
cukup besar?"
Put-khong lhama segera tertawa tergelak"
"Haaahhh... haaahhh...haaahhh.... Li sicu, berbicara yang
sebenarnya, tindakan lolap dengan menyegel beratus buah
kapal kalian itu merupakan suatu transaksi perdagangan."
"Transaksi perdagangan?" tanya Li Cing-siu menjadi
tertegun, "harap siansu jangan bergurau, tahukah kau bahwa
gara-gara ulahmu itu menyebabkan perkumpulan kami telah
kehilangan langganan terbesar dari kota Kim-leng? Hmmm,
masa siansu masih berkata demikian, bukankah perbuatanmu
ini sama artinya dengan mengejek diriku?"
Dari perkataan itu bisa diketahui kalau kaucu dari Pay-kau
ini benar-benar sudah amat gusar, hanya saja dia masih
berusaha untuk mengendalikan diri agar amarahnya tidak
sampai meledak...
Put-khong siansu kembali tertawa licik:
"Li sicu, lolap akan membeli semua perahumu itu!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Li Cing-siu setelah
mendengar perkataan itu, dengan lantang diapun berkata:
"Kalau begitu siansu memang benar-benar bermaksud
untuk mencari gara-gara dengan perkumpulan kami."
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... apakah kaucu merasa
keberatan untuk menjual perahu-perahumu itu?"
"Semua kayu dari perahu-perahu tersebut merupakan
pesanan dari seorang langgananku, bagaimana mungkin aku
boleh menjualnya lagi kepadamu? Apalagi si pemesanpun
belum tentu akan menyetujui jual beli ini?"
"Aaah, soal si pemesan sih urusan kecil, lolap pasti dapat
memaksanya untuk menyetujui."
Tiba-tiba Li Cing-siu menarik muka lalu berkata:
"Menurut peraturan dari perkumpulan kami, bilamana
barang pesanan belum tiba ditempat tujuan maka siapapun
tak boleh mengusiknya, jikalau siansu bersikeras hendak
membelinya, tunggulah sampai aku mengirim semua perahu
itu ke Kim-leng dan menyerahkan kepada pemesannya,
kemudian siansu baru mengadakan jual beli sendiri dengan
pemilik barang itu."
"Hmmm, sayang sekali lolap tidak mempunyai banyak
waktu..." kata Put-khong siansu sambil tertawa dingin.
Ki Siu-cing tertawa dingin pula:
"Sebelum barang pesanan itu tiba ditempat tujuan, bila
siansu memaksa terus sama artinya dengan ingin
bermusuhan dengan perkumpulan kami."
Baru saja perkataan dari Li Siu cing itu selesai diutarakan,
lhama tua bertubuh kurus yang duduk disisi kiri Put-khong
siansu itu sudah tertawa panjang sambil menyela:
"Sejak kedatangan Li Kaucu dengan memimpin segenap
kekuatan, kau telah menganggap lolap sebagai musuh!"
"Apakah Wi cay siansu tidak menganggap perkataanmu itu
ingin mencari menangnya sendiri," kata Li Cing-siu dengan
suara dalam.
Oh Put Kui yang mendengarkan pembicaraan tersebut,
diam-diam segera berpikir :
"Kalau didengar dari nama yang mereka pergunakan itu,
nampaknya mereka melepaskan diri dari kependetaannya dan
kembali menjadi orang swasta..."
Belum habis Oh Put Kui berpikir, Wi-cay siansu telah
berkata lagi dengan suara keras:
"Kapan sih lolap ingin mencari menangnya sendiri?"
Sambil tertawa dingin Li CIng-siu berseru:
"Tanpa sebab musabab kalian menahan semua barang
kami, bukankah tindakan tersebut sudah jelas mencerminkan
sikap permusuhan kalian terhadap perkumpulan kami? Hari ini
aku datang kemari sebetulnya berniat untuk menyelesaikan
persoalan secara baik-baik..."
Wi-cay siansu tertawa terbahak-bahak, sebelum dia sempat
berkata lagi, si lhama gemuk yang duduk di sebelah kanan Put
Khoong-siansu telah berkata pula smabil tertawa terkekehkekeh
:
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... Li Kaucu, aku si hwesio
gemuk paling suka untuk berbicara secara baik baik, coba kau
terangkan dulu bagaimana cara penyelesaianmu yang kau
anggap baik?"
"Biala Ha-ha siancu memang suka penyelesaian secara
baik-baik, hal ini tentu saja lebih baik," seru Li Cing-siu dengan
kening berkerut dan suara keras, "sekarang harap kalian
bertiga untuk menurunkan perintah kepada anak buahmu
untuk mengembalikan semua barang milik kami, sekalipun
kami terlambat lima hari dari batas waktu penyerahan yang
telah ditetapkan, tak nanti aku akan menuntut ganti kerugian
dari kalian bertiga."
Oh Put Kui tertawa geli, pikirnya tiba-tiba:
"Hwesio ini memang tepat jika dipanggil Ha-ha siansu,
nyatanya dia memang suka sekali tertawa haha hihi..."
Sementara itu Ha-ha siansu telah menggelengkan
kepalanya sambil berkata:
"Tidak bia, cara penyelesaian kami yang dianggap baik
hanya satu saja."
"Penyelesaian yang bagaimana?" tanya Lo Cing-siu marah.
Kembali Ha-ha siansu tertawa terbahak bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... jual semua barang itu
kepada lolap, bukan saja lolap akan membayar semua
harganya, bahkan akan kubayar beaya pengiriman lima kali
lipat lebih besar."
Li Cing-siu segera melompat bangun, lalu sambil menuding
ke tiga orang pendeta itu serunya:
"Tampaknya kalian bertiga hendak mengandalkan ilmu silat
dari golongan Mi-tiong untuk berbuat semena-mena sehingga
tidak memandang sebelah matapun kepadaku, tapi aku perlu
memberitahukan kepada kalian, jika kalian beranggapan
demikian maka anggapan kalian itu keliru besar sekali."
-----------------------
Ha ha siansu kontan saja melompat dari tempat duduknya
dan bersiap sedia untuk melancarkan serangan.
Begitu ia bangun berdiri, maka tampaklah perawakan
tubuhnya yang bulat persis seperti bola daging.
Berbicara soal tinggi badan, dia sebanding dengan
pengemis sinting, tapi perawakan tubuhnya justru empat kali
lipat lebih besar daripada tubuh si pengemis sinting.
Oh Put Kui yang menyaksikan hal tersebut hampir saja
tertawa tergelak saking gelinya.
Ha-ha siansu kembali berseru sambil tertawa tergelak:
"Jadi Li kaucu bersikeras tak mau menjualnya?"
"Lebih baik siansu tak usah bersilat lidah lagi," tukas Li
Cing-siu sambil tertawa dingin.
Baru selesai ia berkata, kakek berbaju hitam yang berada
disisinya telah membentak gusar:
"Kaucu, bekuk saja ketiga orang keledai gundul ini, masa
dia tak akan membebaskan barang-barang kita?"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Tio Sian-hau,
nampaknya bacotmu makin lama semakin bertambah besar,"
kata Ha-ha siansu tiba-tiba, "aku lihat dulunya kau toh belum
pernah mempunyai nyali sedemikian besarnya..."
Selama ini Oh Put Kui merasa tidak habis mengerti apa
sebabnya ketiga orang pendeta dari tibet ini bisa berbicara
bahasa Han dengan begitu luwes dan lancar.
Baru sekarang dia dapat menemukan sedikit titik terang
tentang persoalan tersebut.
Jangan-jangan ketiga orang hwesio itu sesungguhnya
memang orang Tionggoan yang kemudian pergi ke Tibet ?
Sementara itu, kakek berbaju hitam yang sebenarnya
bernama kakek baju hitam Tio Sian-hau itu sudah berseru
dengan penuh amarah:
"Aku akan segera membekukmu lebih dulu!"
Tubuhnya segera berkelebat maju kedepan lalu dengan
kesepuluh jari tangan yang dipentangkan lebar-lebar dia
cengkeram jalan darah cian-keng-hiat di atas bahu Ha ha
siansu
Ha-ha siansu tertawa nyaring kemudian berputar badan
dan menyelinap ke belakang tubuh si kakek baju hitam Tio
Sian-hau, sementara itu tangan kanannya diayunkan ke muka
menghantam tubuh musuh.
"Tio sicu" bentaknya kemudian, "biar lolap menghantar kau
pulang ke langit barat lebih dulu..."
Sejak Ha-ha siansu menyelinap kebelakang tubuhnya tadi,
Tio Sian-hau sudah menduga dan berjaga-jaga atas tindakan
yang akan dilakukan musuhnya ini.
Oleh karena itulah disaat Ha-ha siansu melancarkan
serangan mautnya itu, dengan cekatan pula Tio Sian-hau
melayang maju sejauh tiga depa dari posisi semula.
Kemudian diiringi bentakan amarah, dia melepaskan lima
buah serangan secara beruntun.
Pertarungan yang amat serupun segera berlangsung,
namun kedua belah pihak bertarung seimbang dan samasama
tak ada yang berhasil merobohkan lawannya.
Namun Oh Put Kui yang menyembunyikan diri sambil
menyaksikan jalannya pertarungan itu sudah dapat
menentukan siapa yang telah unggul diantara mereka berdua.
Walaupun tenaga pukulan dari Tio sian-hau sangat kuat
dan berat, namun dia seakan-akan tidak mampu untuk
mendesak Ha-ha siansu apalagi mengancam keselamatan
jiwanya.
Sebaliknya Ha ha siansu yang bertarung sambil tertawa
mengejek, meski kadangkala melepaskan pukulan ataupun
tendangan, namun setiap serangannya selalu berhasil
mendesak Tio Sian-hau untuk mundur dan menghindar.
Tiga puluh jurus kemudian, Tio Sian-hau membentak penuh
amarah.
Tiba-tiba sepasang tangannya diputar dan dirangkapkan
didepan dada kemudian tubuhnya melompat mundur sejauh
satu kaki lima depa ke belakang.
Setelah menghimpun seluruh kekuatan yang dimilikinya,
sepasang telapak tangan itu didorong ke muka.
Dalam melancarkan serangannya kali ini, si kakek berbaju
hitam Tio Sian-hau telah mempergunakan segenap kekuatan
yang dimilikinya.
Senyuman yang semula menghiasi wajah Ha-ha siansu
segera hilang lenyap tak berbekas, sementara mukanya
bertambah serius.
Cepat-cepat dia mengayunkan lengan pendeknya keatas
dengan telapak tangannya menghadap keluar, disambutnya
serangan maut dari Tio Sian-hau yang mempergunakan
tenaga sebesar dua belas bagian itu dengan keras lawan
keras.
"Blaaaammm..."
Tenaga pukulan yang saling membentur satu sama lainnya
itu segera menimbulkan suara ledakan keras yang
memekikkan telinga.
Dalam bentrokan yang begitu keras, tubuh Tio Sian-hau
terdorong mundur sejauh satu langkah.
Sebaliknya tubuh Ha-ha siansu cuma sedikit bergetar saja
akibat bentrokan ini.
Dengan penuh amarah Tio Sian-hau segera membentak
keras:
"Sungguh sebuah ilmu pukulan tay-jiu-eng yang sangat
kuat..."
Sepasang lengannya segera diputar lalu melepaskan
sebuah pukulan lagi dengan sepenuh tenaga.
Ha-ha siansu tertawa sinis, dengan cepat dia menyambut
pula datangnya ancaman tersebut dengan kekerasan.
"Blaaaammmm...."
Sekali lagi terjadi bentrokan kekerasan yang memekikkan
telinga, dalam bentrokan itu Ha-ha siansu hanya terdorong
mundur sejauh satu langkah.
Sebaliknya Tio Sian-hau terdorong mundur sampai sejauh
lima langkah lebih sebelum berhasil berdiri tegak.
Walaupun Tio Sian-hau tahu kalau tenaga dalam yang
dimiliki lawan masih jauh lebih unggul dari kemampuan
sendiri, namun ia tidak putus asa, setelah menarik napas
panjang-panjang, sekali lagi dia memutar badan sambil
melepaskan sebuah pukulan.
Menyaksikan datangnya ancaman ini, tiba tiba saja dari
balik mata Ha-ha siansu yang kecil itu mencorong keluar sinar
mata yang tajam dan menggidikkan hati.
Sepasang telapak tangannya segera dirangkap menjadi
satu, lalu diayunkan ke muka menyongsong datangnya
serangan maut dari Tio Sian-hau itu.
"Wahai orang she Tio" teriaknya lantang, "Hud-ya segera
akan mengirim kau pulang ke rumah nenek..."
Tampaknya jurus serangan kali ini merupakan pertarungan
adu jiwa yang akan menentukan nasib mereka selanjutnya.
Tio Sian-hau menerjang kedepan sambil melepaskan
pukulan mautnya, secara otomatis tenaga yang dihasilkan pun
satu kali lipat lebih hebat.
Tapi Ha-ha siansu pun bukan seorang manusia yang
mudah diperdaya lawan, dia pun menghimpun semua
kekuatannya untuk menyongsong datangnya ancaman ini.
Tatkala kekuatan serangan dari kedua belah pihak saling
membentur satu sama lainnya, tidak terdengar suara apapun
disekitar arena.
Tapi tiba-tiba saja tubuh Tio Sian-hau melayang naik ke
tengah udara.
Li Cing-siu segera melotot matanya bulat bulat, kemudian
menjejakkan badannya sambil meluncur ke muka.
Dia bermaksud untuk menyelamatkan jiwa Tio Sian-hau
dari ancaman tersebut.
Sayang sekali tindakan yang dilakukan olehnya ini sudah
terlambat selangkah.
Kendatipun dia berhasil menerima tubuh sikakek baju hitam
Tio sian-hau yang terbanting kebawah, namun tak berhasil
menyelamatkan selembar jiwa dari kakek baju hitam Tio Sianhau
tersebut.
Disaat kekuatan dari kedua belah pihak saling membentur
satu sama lainnya tadi ilmu pukulan Tay-jiu-eng dari Ha-ha
siansu telah menggetarkan nadi Tio Sian-hau sehingga putus.
Akhir dari pertarungan ini sama sekali di luar dugaan Oh
Put Kui, dia tidak menyangka kalau ilmu pukulan Tay jin eng
mempunyai daya penghancur yang begitu dahsyatnya.
Tahu begini, dia bersama kakek latah awet muda pasti
cepat turun tangan untuk menyelamatkan jiwa dari Tio Sian
hau.
Sekalipun demikian, tenaga pukulan yang dilepaskan kakek
baju hitam Tio Sian-hau pun berhasil juga menghantam tubuh
Ha-ha siansu secara telak.
Sementara itu Ha-ha siansu sedang berusaha dengan
sekuat tenaga untuk mengendalikan gejolak hawa darah
panas yang mendidih didalam dadanya, dia duduk bersemedi,
hal ini membuktikan pula kalau luka yang dideritanyapun
termasuk parah.
Seorang tianglo dari perkumpulan Pay-kau ternyata
menemui ajalnya ditangan Ha-ha siansu, salah seorang dari
tiga padri See-ih yang berilmu silat paling cetek dalam empat
puluh gebrakan saja, kenyataan ini benar-benar membuat Li
Cing-siu merasa terkejut sekali.
Dengan termangu-mangu dia memandangi jenasah Tio
Sian-hau yang masih bermandikan cucuran darah dari tujuh
lubang inderanya itu, kemudian menitahkan anak buahnya
untuk menggotong pergi dari sana, setelah mendehem berat,
dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri Put-khong
siansu.
Melihat kedatangan lawannya itu, Put-khong siansu segera
mengejek sambil tertawa sinis:
"Li sicu, siapa yang tahu keadaan dialah lelaki yang pandai,
sekarang Tio Sian-hau sudah mati, lolap percaya Li sicu tentu
tidak berharap ada orang yang mengalami nasib seperti ini
lagi bukan!"
Perkataan dari hwesio ini benar-benar seenaknya sendiri,
seakan-akan terbunuhnya seorang jago lihay itu merupakan
kesalahan yang diperbuat oleh sang korban sendiri.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Li Cing-siu sesudah
mendengar ucapan ini, dia mendengus dingin, lalu katanya:
"Put-khong, aku tak ingin melukai mereka yang tak
berdosa, lebih baik persoalan hari ini kita selesaikan sendiri
saja."
Put-khong siansu kembali tertawa dingin:
"Li sicu, sayang sekali kau enggan menerima nassehatku
dan menghindari pertarungan yang tak berguna... aaai, aku
cuma kuatir bilamana salah turun tangan sehingga melukai
dirimu nanti, sudah pasti lolap akan menyesal sekali..."
Biarpun ucapan tersebut diutarakan dengan suara yang
pelan dan lembut, akan tetapi nadanya justru sangat tajam
dan penuh berisikan ejekan dan penghinaan.
Li Cing-siu betul-betul gusar sekali, sampai semua
rambutnya yang telah berubah berdiri kaku semua bagaikan
landak.
Dengan penuh rasa gusar dan dendam, ia berteriak:
"Put-khong! Sejak kehadiran kalian bertiga didaratan
Tionggoan pada sepuluh tahun berselang, belum pernah
sekalipun aku bersikap kurang hormat kepadamu, tapi kali ini
kau mendesak dan memojokkan posisiku terus menerus,
sebetulnya apa sih niatmu? Aku percaya belum pernah
mempunyai perselisihan atau permusuhan dengan umat
persilatan manapun, sebenarnya atas perintah siapa sih kalian
sengaja mencari gara-gara dengan kami?"
Put-khong siansu segera tertawa seram:
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... menurut Li sicu,
memangnya lolap adalah manusia yang mau diperintah orang
lain?"
Kontan saja Li Cing-siu tertawa dingin:
"Lantas memangnya antara aku dengan pihak Tibet pernah
terjalin hubungan permusuhan atau perselisihan.
"Dengan pihak kami sih sicu tak ada perselisihan apa-apa,
cuma kayu-kayu yang dibuat dalam perahu kalian itu adalah..."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, mendadak saja Put
khong siansu menutup kembali mulutnya rapat-rapat.
Sesungguhnya persoalan apa yang terselip dibalik
pengiriman kayu-kayu itu
Oleh karena dia enggan mengutarakannya keluar, sudah
barang tentu tak ada yang mengetahuinya pula.
Paras muka Li Cing-siu segera saja berubah sangat hebat.
Dia mencoba untuk menelusuri arti kata dari Put-khong
siansu yang belum habis diutarakan keluar itu, seakan-akan
dibalik kiriman kayu-kayu tersebut masih terselip suatu rahasia
besar yang menyangkut dunia persilatan, dan rahasia tersebut
rupanya sudah mereka ketahui.
Seandainya hal ini benar, sudah barang tentu mereka
selalu berupaya agar rahasia ini jangan sampai bocor apalagi
tersebar luas sampai dimana-mana.
Kalau tidak, sekalipun berhasil menghadapi ketiga orang
pendeta dari See-ih malam ini, mungkin perjalanan
selanjutnya akan menjumpai banyak sekali ancaman mara
bahaya.
Berpikir sampai disini, Li Cing-siu segera mengambil
keputusan didalam hatinya.
Dia tidak ingin bertanya lebih jauh, tapi pertarungan harus
diselesaikan dengan secepatnya.
Setelah tertawa tergelak, Li Cing siu segera memberi
hormat seraya berkata:
"Put-khong, aku bersedia untuk bertarung melawan taysu
untuk menyelesaikan persoalan ini!"
Put-khong siansu segera tertawa dingin:
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... L sicu, tahukah kau
bahwa lolap sudah bertekad untuk memperoleh barang
tersebut entah dengan pengorbanan apapun?"
Li Cing-siu baru terkejut sesudah mendengar perkataan ini,
sebab ucapan dari Put-khong siansu ini mengandung nada
yang berat sekali."
Itu berarti sekalipun ia berhasil mengungguli lawan, tak
nanti lawan akan melepaskan barang-barang yang mereka
begal itu... jelas persoalan ini merupakan suatu masalah yang
pelik dan merepotkan sekali.
Sementara Li Cing-siu masih termenung memikirkan
persoalan tersebut, Put Khong siansu telah berkata lagi
dengan suara yang menyeramkan:
"Apa yang dapat lolap ucapkan sudah kuutarakan, Li sicu,
seandainya kau ingin bertarung maka lolap akan melayani
kehendakmu itu setiap saat..."
Selesai berkata ia bangkit, berdiri dari tempat duduknya.
Dalam keadaan demikian, tiada pilihan lain bagi Li Cing-siu
setelah menerima tantangan tersebut.
Sebab satu satunya jalan baginya adalah menaklukan
ketiga orang pendeta tersebut secepatnya.
Setelah tertawa dingin Li Cing-siu segera berseru:
"Silahkan!"
Begitu selesai berkata, secara beruntun dia melancarkan
tiga buah serangan berantai yang gencar.
Ketiga buah serangan tersebut dilancarkan dengan suatu
gerakan yang sangat aneh, seakan-akan mengurung
sekeliling tubuh Put-khong siansu hingga kemanapun pihak
lawan akan menghindarkan diri, sulit baginya untuk
meloloskan diri dari ancaman mana.
Berkilat sorot mata Put khong siansu menghadapi kejadian
tersebut, tiba-tiba saja tubuhnya melejit ke tengah udara.
Memang inilah satu-satunya cara baginya untuk
menghindarkan diri dari serangan yang maha dahsyat
tersebut.
Sudah barang tentu cara menghindar semacam ini justru
akan membuka semua pertahanan tubuhnya serta
memperlihatkan titik-titik kelemahan dari jurus serangannya.
Betul juga, dia segera melejit ke tengah udara untuk
menghindarkan diri dari ancaman ini.
Serta merta Li Cing-siu melontarkan lagi sepasang telapak
tangannya ke tengah udara, dan menghantam ke tubuh Putkhong
siansu yang sedang melejit itu.
"Tenaga serangan ini amat kuat dan dahsyat, bahkan
secara lamat-lamat terdengar pula suara desingan angin dan
sambaran guntur.
Akan tetapi tampaknya pula Put-khong siansu sudah
menduga akan datangnya serangan tersebut.
Begitu badannya melejit ke tengah udara tadi, bukannya
mundur dia justru mendesak maju ke muka dan langsung
menerkam ke belakang tubuh Li Cing-siu.
Gerakan yang dilakukan oleh Put-khong siansu ini boleh
dibilang sangat menyerempet bahaya.
Hanya selisih beberapa milimeter saja, nyaris tubuhnya
termakan oleh serangan dahsyat Li Cing-siu.
Begitu lolos dari ancaman bahaya maut itu, Put-khong
siansu kontan saja membentak keras sambil melancarkan
serangan balasan.
Diam-diam Li Cing-siu harus memuji pula akan ketelitian
serta kejelian pikiran Put-khong siansu, dengan cepat dia
mengembangkan gerakan tubuhnya dan mengurung tubuh
Put-khong siansu dibawah lapisan bayangan serangannya
dengan mengeluarkan ilmu pukulan Hua-im-ciang yang amat
tangguh itu.
Oh Put Kui yang berada diatas pohon segera manggutmanggut
sesudah menyaksikan serangan tersebut, bisiknya
kemudian dengan ilmu menyampaikan suara:
"Ban tua, coba kau lihat betapa hebat dan luar biasanya
ilmu pukulan dari kaucu itu!"
Kakek latah awet muda segera tertawa:
"Itulah ilmu pukulan Hua-im-ciang dari Li Cing-siu,
keistimewaan dari ilmu pukulan ini adalah cepat dalam
perubahan dan tepat pada sasaran sehingga membuat orang
sukar untuk meraba arah tujuannya, cuma aku lihat Li Cing siu
masih belum mempergunakan seluruh kemampuan yang
dimilikinya!"
"Ban tua, Put-khong hwesio ini sudah pasti bukan
tandingan dari Li Kaucu!" kata Oh Put Kui tertawa.
"Memangnya kau anggap nama besar Li Cing-siu cuma
nama kosong belaka?" kata kakek latah awet muda pula
sambil tertawa, "coba kau lihat anak muda, tak sampai
sepuluh begrakan lagi, Put Khong hwesio pasti dapat
diringkus..."
Padahal tak usah menunggu sampai sepuluh gebrakan
lagi...
Baru saja kakek latah awet muda menyelesaikan
perkataannya, mendadak dari tengah ruangan sudah
berkumandang suara bentakan nyaring dari Lin CIng-siu :
"Roboh kau!"
"Bluuuukk...!" disusul kemudian terdengar suara benturan
yang amat nyaring.
Ternyata Put-khong hwesio menurut sekali, dia benarbenar
roboh terjengkang keatas tanah.
Wi-cay siansu yang selama ini cuma duduk saja tiba-tiba
melejit ke udara dan meluncur ke depan.
"Li Cing-siu, lihat serangan!" bentaknya.
Pendeta yang bermuka bengis ini ternyata bersikap cukup
jantan, sebelum serangan dilancarkan, dia lebih dulu
membentak keras.
Li Cing-siu tertawa dingin, telapak tanannya segera
diayunkan pula ke depan untu menyambut datangnya
ancaman tersebut.
Bila dibandingkan dengan Put khong siansu, maka
kekuatan tenaga pukulan yang dimiliki Wi-cay siansu masih
lebih tangguh dan hebat berapa kali lipat.
Akan tetapi dia masih tetap bukan tandingan dari Li Cing
siu yang memang termashur sangat tangguh itu.
Dua puluh gebrakan belum habis, dia sudah kena dihajar
jalan darahnya oleh serangan Li Cing-siu sehingga roboh
terjengkang keatas tanha.
Dengan demikian, dari tiga padri See-ih, dua orang berhasil
ditangkap dan seorang lagi masih duduk mengatur
pernapasan.
Namun Li Cing-siu sama sekali tidak mengusik mereka,
sebagai seorang kongcu dari suatu perkumpulan besar, tentu
saja dia tak ingin mencelakai seseorang yang sama sekali tak
bertenaga untuk melakukan perlawanan lagi.
Tapi pada saat itulah anggota perkumpulan yang
membopong jenasah dari kakek baju hitam Tio Sian-hau telah
mengayunkan tangannya dan melemparkan jenasah yang
berada dalam bopongannya itu keatas tubuh Ha-ha Siansu.
"Blaaammm....!"
Seketika itu juga percikan darah segar memancar kemanamana,
jeritan ngeri yang memilukan hatipun berkumandang
memecahkan keheningan...
Rupanya tulang bahu dari kakek baju hitam Tio Sian-hau
yang sudah tewas berapa waktu itu telah menumbuk diatas
ubun-ubun Ha-ha siansu yang masih duduk bersemedi itu.
Tak ampun lagi tewaslah Ha-ha siansu seketika itu juga.
@oodwoo@
Jilid : 23
Setelah tewas, dalam kenyataan Tio Sian-hau berhasil
membalas sendiri sakit hatinya, rasanya biarpun dia sudah
berada di alam baka, arwahnya tentu akan peroleh
ketenangan.
Oh Put-kui yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa
menggelengkan kepalanya sambil berbisik :
"Ban tua, kejam amat perasaan anggota Pay-kau itu!"
"Siapakah yang tak ingin membalaskan dendam bagi
kematian gurunya?" kata kakek latah awet muda sambil
tertawa, "hey anak muda, andaikata kau yang menjumpai
keadaan tersebutpun tentu kau akan berbuat yang sama!"
Tapi Oh Put-kui segera menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya:
"Seandainya boanpwee yang menghadapi kejadian seperti
ini, tak nanti boanpwee akan mempergunakan kesempatan
dalam kesempitan dengan menyerangnya disaat orang belum
siap, boanpwee tentu akan menunggu sampai hwesio itu
mendapatkan kembali tenaga dalamnya, kemudian baru
menantangnya secara jantan!"
Kembali kakek latah awet muda tertawa:
"Hey anak muda, bayangkan saja gurunya pun masih
bukan tandingan lawan bagaimana mungkin dia berani
menantang musuhnya secara blak-blakan untuk membalaskan
dendam bagi kematian gurunya? Sekalipun tindakan yang
dilakukan kurang terhormat, tapi demi membalaskan dendam
bagi kematian gurunya, dia telah mempersilahkan jenasah
gurunya untuk balas dendam sendiri, atas perbuatannya ini
kita wajib memberi maaf yang sebesar-besarnya..."
Belum selesai kakek latah awet muda berbicara, dipihak
lain Li Cing-siu telah mengumpat orang tersebut dengan
penuh amarah.
Tapi si tosu tua yang berada disamping Li Cing-siu segera
memintakan ampun sambil berkata:
"Sekalipun apa yang diperbuat Siu Kong-cuan kurang
terhormat, tapi tindakan tersebut dilakukan demi
membalaskan dendam bagi kematian gurunya, perbuatan
tersebut amat simpatik dan perlu kita maklumi, harap kaucu
jangan gusar, apa salahnya bila sekembalinya ke rumah nanti,
kita beri hukuman kerja paksa selama dua tahun sebagai
hukumannya...?"
Padahal Li Cing-siu sendiripun memahami alasan tersebut,
hanya saja sebagai seorang kaucu, sudah barang tentu ia
harus menunjukkan sikap demikian.
Setelah mendengar perkataan tersebut, katanya kemudian
sambil menghela nafas panjang:
"Kalau toh Cu sute sudah mintakan maaf baginya, baiklah
kita jatuhi hukuman sesuai dengan apa yang diaktakan sute!"
Baru sekarang Oh Put Kui mendapat tahu kalau tojin
berambut putih itu adalah jago tangguh dari Pay-kau yang
disebut orang Leng-ho totiang Cu Kong-to.
Sementara itu dari pihak Pay-kau telah muncul beberapa
orang yang segera menggotong pergi jenasah dari Ha-ha
siansu.
Sedangkan jenasah dari kakek baju hitam masih tetap
digendong oleh Sin Kong-coan.
Sedangkan doa orang pendeta See-ih yang lain segera
digotong oleh empat orang lelaki kekar.
Li Cing-siu mengalihkan pandangannya dan memandang
sekejap kesekeliling tempat itu, lalu ujarnya kepada Ciu Itcing:
"Beritahu kepada hontiang kuil ini, bahwa aku minta maaf
karena mengganggu ketenangan mereka pada malam ini,
selain itu juga minta maaf karena tak dapat menyambanginya
berhubung masih ada urusan penting lainnya..."
Ciu It cing mengiakan dan siap beranjak pergi dari tempat
tersebut...
Mendadak...
Suara tertawa dingin yang amat menggidikkan hati
berkumandang datang dari sudut ruangan kuil.
Ciu It-cing nampak tertegun, kemudian secepat kilat
menerjang maju ke muka.
"Anak Cing, jangan gegabah..." Li Cing siu segera
membentak dengan suara rendah.
Secepat kilat dia menyambar tangan muridnya itu serta
ditarik kembali kebelakang.
Sementara itu suara tertawa dingin yang bergema tadi
sudah tak terdengar lagi.
Dengan sorot mata yang berkilat Li Cing-siu
memperhatikan sekejap lagi sekitar situ, kemudian tegurnya
lantang:
"Jago lihay dari manakah yang berada di situ, silahkan
untuk menampakkan diri!"
Bersamaan dengan selesainya perkataan tersebut, tampak
sesosok bayangan manusia munculkan diri dari balik
kegelapan.
Begitu berjumpa dengan orang yang baru munculkan diri
itu, tiba-tiba saja Li Cing-siu merasakan sekujur badannya
bergetar keras.
Serta merta Oh Put Kui mengalihkan pula pandangan
matanya untuk mengawasi orang tersebut...
Orang itu mengenakan jubah panjang berwarna hijau
dengan sebuah ikat pinggang berbenang emas menghiasi
pingganggnya, kepalanya memakai topi pelajar berwarna putih
dan sepatunya berwarna putih juga.
Orang ini memiliki raut wajah yang halus, tampan dan
lembut, usianya kurang lebih empat puluh tahunan.
Tapi air mukanya justru sangat dingin dan kaku persis
seperti sebongkah es batu.
Oh Put Kui yang menyaksikan wajah itupun diam-diam
merasakan hatinya bergidik...
Dalam pada itu, orang tadi sudah berhenti tepat dihadapan
Li Cing-siu, jaraknya hanya satu kaki saja.
Dengan sorot matanya yang dingin bagaikan es dia awasi
Li Cing-siu tanpa berkedip sementara sekulum senyuman
yang amat dingin menghiasi ujung bibirnya.
Sejak munculkan diri sampai sekarang, dia tak pernah
mengucapkan sepatah katapun.
Setelah mengerutkan dahinya rapat-rapat, Li Cing-siu
segera menjura dan menyapa sambil tertawa:
"Oooh, rupanya saudara Ang!"
Manusia berbaju hijau itu masih tetap membisu dan berdiri
tak bergerak disana.
---------------------
Agaknya Li Cing-siu cukup mengetahui tabiat dari orang itu,
kembali ujarnya sambil tertawa:
"Saudara Ang, kau bukannya hidup bahagia di Lo-hu,
mengapa jauh-jauh datang ke Kang-ciu? Sebenarnya
dikarenakan persoalan apa sih...?"
"Karena kau!"
Akhirnya orang berbaju hijau itu bicara juga, namun raut
wajahnya masih tetap dingin tanpa berubah.
Akan tetapi Li Cing-siu justru dibuat tertegun oleh
jawabannya tersebut.
Tapi sambil tertawa segera katanya pula:
"Masalah apa sih yang telah merepotkan saudara Ang
untuk mengunjungi aku di Kang-ciu ini?"
Tiba-tiba manusia berbaju hijau itu mendengus dingin lalu
mendongakkan kepalanya dengan angkuh.
Kalau orang lain yang menyaksikan ulah dan keangkuhan
manusia berbaju hijau itu, niscaya mereka akan dibuat kheki
dan mendongkolnya setengah mati.
Akan tetapi Li Cing-siu, kaucu dari perkumpulan Pay-kau ini
tidak menjadi gusar karena persoalan tersebut.
Kembali dia menjura seraya berkata:
"Seandainya saudara Ang tidak bersedia menjawab, tentu
saja akupun tak berani mengganggu, berhubung kami masih
ada urusan lain yang harus diselesaikan,maaf bila kumohon
diri lebih dulu dari saudara Ang..."
Seusai berkata dia lantas membalikkan badan dan siap
meninggalkan tempat tersebut.
Tiba-tiba manusia berbaju hijau itu membentak sambil
tertawa dingin tiada hentinya:
"Kau tidak usah pergi!"
Paras muka Li Cing-siu kembali berubah hebat sesudah
mendengar perkataan itu.
Diapun balas mendengus dingin sambil katanya:
"Apa maksud saudara Ang berkata demikian? Atau
mungkin saudara Ang memang satu aliran denga Put-khong
siansu?"
"Huuuh, aku mah tak sudi bergaul dengan manusia
rongsokan macam mereka!" kata manusia baju hijau itu sinis,
dia segera mengangkat kepalanya lagi dengan angkuh.
Jawaban tersebut semakin mengejutkan Li Cing-siu:
"Lalu mengapa saudara Ang berbuat demikian?"
Mendadak manusia berbajuhijau itu memejamkan matanya
rapat-rapat dan menunjukkan sikap sama sekali tidak
menggubris atas pertanyaan dari Li Cing-siu tersebut.
Lama kelamaan Li Cing-siu dibuat gusar juga oleh ulah
lawannya yang sangat angkuh itu:
"Saudara Ang, mengapa sih kau bersikap begitu tak tahu
diri terhadapku?"
Kembali manusia berbaju hijau itu membuka matanya
lebar-lebar...
Dengan cepat Oh Put Kui menjumpai bahwa sorot mata
manusia baju hijau she Ang itu benar-benar tajam sekali
bagaikan sambaran petir saja.
Diam-diam ia terkejut bercampur keheranan, sejak kapan
pihak siau-hong-hu memiliki jagoan yang demikian hebatnya?
Bila ditinjau dari kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki
manusia she ang ini, sudah jelas kepandaian silatnya masih
jauh diatas kemampuan dari Ku Bun-wi.
Sementara itu dengan sorot mata yang tajam bagaikan
sembilu manusia berbaju hijau itu melotot sekejap kearah Li
Cing-siu.
Hanya anehnya, dia masih tetap membungkam dalam
seribu bahasa.
Atas kejadian tersebut, jago tanpa bayangan penghancur
hati Ciu It-cing menjadi gusar sekali dibuatnya.
Mendadak saja dia membentak dengan penuh kegusaran:
"Ang Yok-su, julukanmu Kin-huan-gi-in belum tentu bisa
membuat jerinya orang lain, kau juga seorang manusia,
mengapa sih berlagak aneh sehingga sama sekali tidak
berbau kemanusiaan?"
Diam diam Oh Put-kui bersorak gembira atas umpatan
tersebut, pikirnya dihati:
"Benar-benar sebuah umpatan yang sangat tepat!"
Tapi sebaliknya Li Cing-siu bukannya memuji, sebaliknya
justru menegur Ciu It-cing:
"Anak cing, mengapa kau bersikap kurang ajar terhadap
seorang cianpwe? Ayoh cepat mundur dari sini!"
Dengan gemas Ciu It-cing mendepak-depakkan kakinya
keatas tanah lalu mengundurkan diri sejauh tiga langkah ke
belakang.
Sebaliknya manusia berbaju hijau itu kembali berkata
"Oooh, diakah murid didikan saudara Li? Hmmm, hukuman
seratus cambuk kulit ular harus kau laksanakan di istana Kiuhuan-
kiong di Lo-hu dalam dua puluh hari mendatang!"
"Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong..." teriak Ciu Itcing
sambil tertawa dingin.
Li Cing-siu segera mendelik dan sekali lagi mencegah Ciu It
cing untuk berbicara lebih jauh.
Sebaliknya manusia berbaju hijau itu memandang sekejap
kearah Li Cing-siu dengan pandangan dingin, lalu katanya:
"Terserah kau sendiri, sampai waktunya lewat aku mah tak
bisa menunggu lagi..."
Kalau didengar dari nada suaranya itu, seakan-akan justru
orang lainlah yang memohon agar bisa diberi hukuman
olehnya.
Oh Put Kui hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang
kali setelah mendengar perkataan tesebut.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau tokoh silat nomor
wahid diwilayah barat daya yang dikenal orang sebagai tabib
sakti Ang Yok-su adalah seorang manusia yang begitu dingin
dan kaku.
Sebaliknya Kakek latah awet muda segera berkata sambil
tertawa:
"Tepat, bagus sekali! Tampaknya bocah keparat ini makin
lama semakin latah..."
Dalam pada itu Li Cing siu telah berkata sambil tersenyum:
"Saudara Ang, dalam soal ini aku tentu akan membereskan
dengan sebaiknya, cuma saja ingin kuketahui sebenarnya
karena persoalan apa saudara Ang datang kemari? Saat ini
aku harus pulang dengan segera, bila saudara Ang ada
urusan bagaimana kalau kita bersua lagi di kuil yang sama
pada tengah hari besok?"
"Tiak usah, besok aku masih ada urusan!" tukas manusia
berbaju hijau itu dingin.
"Mengapa sih saudara Ang memojokkan diriku terus
menerus?" tanya Li Cing-siu kemudian dengan kening
berkerut.
Oh Put Kui yang menyaksikan hal ini benar benar merasa
keheranan, dia tidak mengerti apa sebabnya kaucu dari
perkumpulan Pay-kau ini bersedia menahan diri untuk
bersikap mengalah dan bersabar terhadap tabib sakti Ang
Yok-su yang dingin, angkuh dan kaku itu?
Dia tak percaya kalau ilmu silat yang dimiliki Li Cing-siu
belum mampu menandingi Ang Yok-su.
Bila ditinjau dari kepunyaannya sewaktu membekuk dua
orang pendeta dari wilayah See-ih tadi, bisa jadi kepandaian
silatnya justru masih berada diatas kemampuan dari Ang Yoksu.
Menghadapi persoalan yang aneh dan membuatnya tidak
habis mengerti ini, dia ingin sekali bertanya kepada Kakek
latah awet muda.
Kebetulan sekali kakek latah awet muda pun sedang
berkata kepadanya dengan ilmu menyampaikan suara:
"Anak muda, mungkin kau merasa keheranan bukan apa
sebabnya Li Cing-siu tak berani mengumbar hawa
amarahnya?"
"Yaa, boanpwee memang sangat keheranan" sahut Oh
Put-kui sambil tertawa.
"Tidak aneh, dia bersedia mengalah Ang Yok-su pernah
menyelamatkan jiwa Li Cing-siu!"
"Oooh... rupanya begitu!" baru sekarang Oh Put Kui
menjadi paham.
Tapi ia menggelengkan kepalanya lagi sambil menghela
napas, lalu ujarnya lebih jauh:
"Ban tua, si tabib sakti Ang Yok-su ini telah melepaskan
budi lalu mencoba mempermainkan seorang ketua dari suatu
perkumpulan besar, aku rasa perbuatannya itu sangat
keterlaluan sekali"
"Hey anak muda, apakah kau beranggapan ilmu silat yang
dimiliki Ang Yok-su tak mampu menandingi kehebatan dari
ketua Pay Kau ini, sehingga kau mempunyai pendapat
demikian?" kata kakek latah awet muda sambil tertawa.
"Boanpwe memang berpendapat demikian!"
"Kalau begitu coba kau tebak, tenaga dalam siapakah
diantara mereka berdua yang jauh lebih sempurna?"
"Ang Yok su!" sahut Oh Put Kui sambil tertawa.
"Darimana kau bisa menduga sampai kesitu?"
Oh PUt Kui kembali tertawa.
"Manusia yang berwatak sangan aneh macam Ang Yo-su
sudah pasti jarang sekali melakukan perbuatan-perbuatan
yang melanggar hukum dan susila dalam dunia persilatan,
atau dengan perkataan lain dia pasti lebih mengutamakan soal
berlatih ilmu silat daripada masalah lain, sudah barang tentu
tenaga dalamnya jauh lebih sempurna daripada orang lain."
"Bagus sekali, nyatanya kau memang tidak tolol."
"Tapi bilamana dugaanku tidak salah, Li kaucu dari
perkumpulan Pay-kau justru memiliki ilmu pukulan yang jauh
lebih hebat daripada Ang Yok-su!" kata Oh Put-kui lebih jauh.
"Ehmm, memang begitulah kenyataannya."
Mendadak Oh Put-kui seperti teringat akan sesuatu, sambil
tertawa katanya kemudian:
"Ban tua, mengapa Ang Yok su ini bisa mempunyai
hubungan dengan pihak Sian-hong-hu?"
"Pertanyaan yang amat bagus, aku justru hendak
menanyakan persoalan ini kepadamu...."
Oh Put-kui menjadi tertegun sesudah mendengar ucapan
tersebut, padahal Kakek latah awet muda terkenal sebagai
seorang kakek yang tahu akan segala-galanya, tapi
sekarang... nyatanya dia sendiripun tidak tahu.
Sementara kedua orang itu sedang berbincang bincang
dengan ilmu menyampaikan suara, dipihak lain Ang Yok-su
sudah tiga kali mendongakkan kepalanya ke angkasa tanpa
menggubris perkataan dari Li Cing-siu.
Betapapun baiknya kesabaran dari Li Cing-siu, lama
kelamaan habis juga kesabaran tersebut.
Tiba-tiba saja rambutnya yang beruban bergetar keras,
mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu dengan
lantang dia berseru:
"Dulu, aku she Li pernah berhutang budi kepada saudara
Ang karena berkat memberikan pil mestikamu maka racun
jahat yang mengeram dalam tubuhku bisa dipunahkan. Tapi
sekarang kau berusaha menghalangi kepergianku, semestinya
aku harus menuruti perkataanmu itu sebagai pembalasan
budi... hanya saja, persoalan yang terjadi hari ini menyangkut
soal nama baik Pay-kau dimasa mendatang, aku tak bisa
mengalah terus kepadamu demi kepentinganku pribadi
sehingga harus mengorbankan nama baik dan kepercayaan
orang terhadap perkumpulan kami, oleh sebab itu sekali lagi
kumohon pengertian dari saudara Ang..."
Ketika berbicara sampai disitu, sekali lagi kaucu dari Paykau
ini menghela napas sambil berkata lebih jauh:
"Saudara Ang, bagaimana kalau kau tunggu kedatanganku
besok saja untuk sekalian minta maaf kepadamu?"
Nada suaranya penuh dengan permohonan membuat
orang yang mendengarkan ikut merasa beriba hati.
Seharusnya, tabib sakti Kiu-huan-gi-in Ang Yok-su akan
memenuhi keinginannya itu.
Tapi dalam kenyataannya, Ang Yok-su tetap tidak
menggubris akan perkataan tersebut.
Sikapnya sekarang seakan-akan merasa tidak tertarik
untuk berbicara dengan siapapun.
Li Cing-siu menunggu lagi beberapa saat, ketika belum
juga memperoleh jawaban dari si tabib sakti Ang Yok-su,
akhirnya dia berkerut kening dan mencorong sinar kegusaran
dari balik matanya, dengan suara lantang dia berseru:
"Demi nama baik perkumpulan kami, terpaksa aku she Li
harus berbuat lancang terhadap saudara Ang pada malam ini,
selesai peristiwa ini, aku tentu akan mengajak semua muridmuridku
untuk minta maaf kepadamu di Lo-hu."
Selesai berkata dia lantas menyelinap keluar dari ruangan
tersebut...
Semula Oh Put Kui mengira Ang Yok-su pasti akan
menghalangi kepergian orang itu.
Tapi tidak demikian dengan kenyataannya, kali ini Ang Yoksu
sama sekali tidak berbuat sesuatu, bahkan tertawa
dinginpun tidak, dia masih tetap mempertahankan posisinya
yang berdiri sambilmengangkat kepala, sama sekali tidak
bergerak barang sedikitpun jua.
Dia seakan-akan sudah lupa kalau kedatangannya kemari
adalah menghalangi Li Cing-siu meninggalkan tempat
tersebut.
Pada mulanya tentu saja Li Cing-siu sendiripun turut dibuat
tertegun oleh kejadian ini.
Menanti ia sudah tiba di pelataran dan Ang Yok-su masih
juga tidak bergerak dari posisinya semula, dia baru merasa
lega, diam-diam pikirnya dengan perasaan geli.
"Rupanya saudara Ang sedang bergurau denganku!"
Dengan cepat dia mengulapkan tangannya memberi tanda
kepada semua anggota perkumpulannya...
Leng ho cinjin Cu Kong-to dengan memimpin segenap
anggota perkumpulannya segera menggotong kedua orang
pendeta dari See-ih itu dan menuju kepelataran muka dengan
langkah lebar.
Pada saat itulah Li Cings-siu baru menjura kepada Ang
Yok-su sambil berkata dengan nada terima kasih:
"Terima kasih banyak atas kesediaan saudara Ang untuk
memenuhi keinginanku!"
Selesai berkata diapun membalikkan badan dan siap
meninggalkan tempat tersebut...
Mendadak...
Dari depan pintu gerbang kuil Pau-in-si muncul tiga sosok
bayangan manusia.
Ternyata ketiga orang itu semuanya adalah kaum wanita.
Dari ketiga orang perempuan tersebut, Oh Put Kui hanya
kenal seorang diantaranya, dia tak lain adalah Leng Sang-luan
yang pernah dijumpainya sewaktu berada di perkampungan
Siu-ning-ceng.
Sedangkan dari dua orang yang lain, seorang adalah
perempuan setengah umur yang berdandan sebagai
perempuan dusun, sedangkan yang lain adalah seorang gadis
berwajah cantik, bergaun panjang dan berambut panjang
sebahu.
Oh Put Kui tidak kenal siapakah kedua orang itu, tapi dia
menduga gadis baju ungu berambut panjang itu delapan puluh
persen adalah putri kesayangan dari sikakek suci berhati
mulia Nyoo Thian-wi.
Dengan langkah yang sangat pelan ketiga orang itu
berjalan menuju kepelataran luar.
Sebaliknya Li Cing-siu justru berdiri tak bergerak ditempat,
dia seakan-akan merasa terkejut bercampur keheranan, tapi
seperti juga tidak mengerti akan kehadiran dari ketiga orang
perempuan tersebut...
Pada saat itulah perempuan petani berusia setengah umur
itu telah menegur sambil tertawa:
"Li kaucu, masih kenal dengan aku?"
"Terhadap Lam-wan-nong hu (perempuan petani dari Lamwan)
Ku Giok hun tentu saja aku masih ingat baik, nona Ku,
angin apa yang telah membawamu datang ke Kang-ciu ini?"
"Angin apa lagi? Li kaucu, tentu saja hembusan anginmu
itu," sahut perempuan petani dari Lam-wan Ku Giok-hun
sambil tertawa manis.
Meskipun umurnya sudah mencapai setengah umur dan
lagi berpakaian sangat sederhana, namun berhubung
wajahnya ayu dan menawan hati, tak heran kalau
senyumannya ini sangat menarik hati.
DIam-diam Oh Put-kui pun merasa sangat terkejut, dia
kenal perempuan petani dari Lam wan adalah seorang
perampok yang selalu bekerja sendiri diwilayah Shia kam,
sungguh tak disangka kalau perampok ulung inipun telah
menggabungkan diri dengan pihak istana Sian-hong hu.
Semakin dipikir Oh Put-kui merasa hatinya semakin tidak
tenang...
Sewaktu ketua Pay kau, Li Cing-siu mendengar jawaban
dari Ku Giok-hun pun nampak terkejut dan sedikit diluar
dugaan, tapi segera ujarnya sambil tertawa:
"Nona Ku, rupanya kau memang khusus datang karena
diriku?"
Kembali Ku Giok-hun tertawa.
"Kalau bukan lantaran kau, apa salahnya bila aku hidup
bahagia di Lan-ciu?"
"Lantas ada urusan apa nona Ku mencari diriku?"
"Bukan aku yang hendak mencarimu, melainkan nona Nyoo
ini."
"Oooh...?" Li Cing-siu agak tertegun, "jadi nona Nyoo
hendak mencari diriku?"
Ku Giok-hun kembali tertawa hambar.
"Kaucu, mari kuperkenalkan mereka kepadamu...
Setelah berhenti sejenak, dia menunjuk ke arah gadis
berambut panjang itu sambil berkata:
"Dia adalah nona Nyoo, putri kesayangan dari kakek suci
berhati mulia Nyoo lojin yang disebut orang Hian-leng-giok-li
Nyoo Siau-sian, pernahkah kau mendengar nama ini?"
Dengan perasaan bergetar keras buru-buru Li Cing-siu
menjura seraya berkata:
"Oooh, rupanya putri kesayangan dari Kakek suci, maaf,
maaf..."
Hian-leng-giok-li Nyoo Siau-sian cuma mencibirkan bibirnya
sambil tertawa.
Ku Giok-hun segera menunjuk kembali ke nona yang lain
sambil berkata lebih jauh:
"Dan dia aalah Leng Seng-luan, nona Leng!"
Sekali lagi Li Cing-siu merasa terkejut, buru-buru katanya:
"Sudah lama aku pun mengagumi nama besar nona Leng!"
"Nama besar kaucu jauh lebih termasyur bagi diriku!" sahut
Leng Seng-luan ketus.
Li Cing-siu tertawa getir:
"Nona Leng terlalu memuji!"
Setelah berhenti sejenak, dia berpaling ke arah Ang Yok-su
sekejap lalu sambil menjura lagi kepada Hian-leng-giok-li
Nyoo Siau-sian, katanya pelan:
"Aku sungguh merasa terkejut bercampur sedih ketika
mendengar berita duka atas kematian ayahmu, tapi sayang
urusan dalam perkumpulan membuatku tak dapat ikut berbela
sungkawa, atas kejadian itu harap nona sudi memaafkan!"
Belum selesai perkataan itu diutarakan, Nyo Siau-sian
sudah mengucurkan air matanya dengan sedih.
Sesungguhnya dia memang seorang gadis yang cantik
jelita, apalagi setelah pipinya dibasahi air mata, keadaannya
menjadi amat mengenaskan dan cukup membuat orang
merasa iba disamping kasihan.
Menyaksikan kejadian tersebut, buru-buru Li Cing-siu
berkata:
"Aaah, tentu perkataanku yang kurang tepat sehingga
memancing kembali rasa sedih nona, maaf... maaf..."
Pelan-pelang Nyoo Siau-sian mengangkat tangannya dan
menyeka air mata dengan ujung bajunya.
Dengan perasaan tak tenang Li Cing-siu memandang
sekejap ke arah perempuan petani dai Lam wan, lalu katanya
lirih :
"Nona Ku, tahukah kau ada urusan apa nona Nyoo datang
mencari diriku?"
Ku Giok-hun mengerling sekejap ke arahnya, lalu tanpa
memperdulikan kesedihan dari Nyoo siau-sian, dia segera
tertawa cekikikan:
"Dia berharap kau suka membawa segenap anggota
perkumpulanmu untuk berangkat ke istana Sian-hong-hu!"
Kontan saja Li Cing-siu berdiri tertegun seperti patung,
demikian juga Cu Kong-to bahkan segenap anggota
perkumpulan Pay-kau ikut berdiri termangu-mangu.
Bukan cuma mereka, malahan kakek latah awet muda Ban
Sik-tong, Oh Put-kui dan pengemis sinting yang berada diatap
ruangan pun ikut dibuat melongo.
Sebenarnya apa maksud dan tujuan dari istana Sian-honghu
dengan perbuatannya iut?
Menyandera mereka? Atau menahan mereka secara
halus?
Atau mungkin maksud tujuan mereka serupa dengan ketiga
pendeta dari See-ih, yaitu mengincar ratusan buah kayu yang
dibuat dalam perahu-perahu pihak pay-kau?
Segenap anggota Pay-kau dari ketuanya sampai
anggotanya menjadi termangu semua, sehingga untuk
beberapa saat suasana menjadi hening dan tak kedengaran
sedikit suarapun.
Perempuan petani dari Lam wan, Ku Giok-hun yang
menyaksikan kejadian tersebut segera menegur dengan
kening berkerut:
"Li kaucu, mengapa kau?"
Teguran tersebut segera menyadarkan kembali Li Cing-siu
dari lamunannya, dia segera berkata:
"Nona Ku, rupanya kau sedang bergurau dengan aku?"
Sudah jelas Li Cing-siu merasa tidak percaya dengan apa
yang barusan didengarnya itu.
Tiba-tiba Ku Giok-hun berseru sambil tertawa dingin :
"Biarpun aku bernyali lebih besarpun, tak akan berani
bergurau dengan seorang tokoh silat termashur semacam
kau, Li kaucu, apa kau belum percaya?"
Yaa. aku kurang percaya!" Li Cing-siu tertawa.
--------------------
"Jika kau tidak percaya, tanyakan saja kepada nona
Nyoo..."
Ternyata sikap Li Cing-siu terhadap putri kesayangan dari
kakek suci berhati mulia ini sangat hormat dan tunduk, baru
selesai Ku Giok-hun berbicara, dia sudah berpaling kearah
Hian-leng-giok-li Nyoo Siau-sian dan berkata sambil tertawa:
"Nona Nyoo, ada urusan apa sih kau mencari diriku?"
Sementara itu Nyoo Siau-sian sedang menyeka air
matanya, namun wajahnya masih kentara sekali diliputi
perasaan sedih yang amat sangat...
Ketika Li Cing-siu mengajukan pertanyaan tersebut,
mendadak dari balik matanya yang jeli memancar keluar
cahaya amarah yang amat tebal, wajahnya berubah menjadi
merah bersinar, sahutnya nyaring:
"Aku hendak mengundangmu untuk berkunjung ke ibu
kota!"
Li Cing-siu jadi tertegun sambil berpikir:
"Waaah, kalau begitu memang sungguhan,"
Meski dalam hati berpikir demikian namun diluaran dia
berkata lagi sambil tersenyum:
"Mau apa nona mengajak diriku pergi ke ibu kota?"
"Tentu saja ada urusan!"
Kalau didengar dari caranya berbicara, tampaknya gadis ini
belum pernah bergaul dengan siapapun.
Di dalam kenyataan, dia memang belum pernah bergaul
dengan siapapun.
Selama ini pihak Sian-hong-hu selalu memisahkan dia dari
pergaulan dunia luar, disamping itu segenap pelayan dan
dayang dari istana pun selalu menyanjung sebagai bintang di
langit.
Oleh karena itu boleh dibilang dia tak pernah belajar
bagaimana caranya bergaul dengan orang lain.
Sudah barang tentu Li Cing-siu tidak akan mengetahui
akan kebiasaan manja dari gadis tersebut, oleh karena itu
untuk sesaat dia menjadi tertegun dan melongo setelah
mendengar jawaban dari lawan itu.
"Nona, kau hendak mengajak aku pergi ke ibu kota?"
tanyanya kemudian.
"Yaa, kalian segenap anggota Pay-kau harus turut aku
semua berangkat ke ibu kota!"
Kalau didengar dari perkataannya ini, hakekatnya seperti
sebuah perintah saja.
"Nona, beginikah caramu berbicara denganku?" tegur Li
Cing-siu dengan kening berkerut.
"Kalau bukan berbicara denganmu, lantas dengan siapa?
Apakah kau tak mengerti apa maksud perkataanku itu?" sahut
Nyoo Siau-sian sambil mendelik.
Li Cing-siu tak sanggup menahan diri lagi, dia segera
tertawa dingin seraya berseru:
"Maaf nona, numpang lewat, aku harus pergi dari sini!"
"Kau hendak pergi kemana?" tanya Nyoo Siau-sian agak
tertegun, mendadak dia seperti teringat akan sesuatu, kembali
ujarnya:
"Kau hendak pergi ke ibu kota?"
Dengan ketus Li Cing-siu menggelengkan kepalanya
berulang kali:
"Tidak, aku hendak pulang ke kota Kang-ciu!"
Sekarang Nyoo Siau-sian baru mengerti, rupanya orang tua
ini enggan menuruti perkataannya.
"Kau berani pergi dari sini?" bentaknya dengan marah.
Li Cing-siu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak-abahk : "Haaahhh.. haaahhh... haaahhh... perlu
kuberikan kepada nona, apa yang ingin kukerjakan selamanya
belum pernah ada yang berani menghalanginya."
"Kau bilang aku tak berani? Baik, akan kubuktikan..." teriak
Nyoo SIau-sian gusar.
Kalau nona yang manja ini mulai mengumbar amarahnya,
maka akan tampak begitu galak dan julasnya dia.
Oh Put-kui yang menyaksikan kejadian tersebut dari atas
pohon cuma bisa menggelengkan kepalanya berualng kali,
namun ia toh akan tahan untuk melirik beberapa kejap lagi ke
arahnya.
Dia memang amat cantik... bahkan cantik dan suci...
Tiba-tiba terdenagr kakek latah awet muda berbisik kepada
pemuda itu sambil tertawa:
"Bocah perempuan itu masih polos dan lugu, tapi aneh
mengapa dia justru membawa pasukannya untuk membuat
keonaran dengan pihak Pay-kau? Anak muda, aku duga
dibalik kesemuanya ini tentu ada hal hal yang kurang beres!"
Sebagai seorang pemuda yang cerdik tentu saja Oh Put
Kui pun sudah pikir sampai di situ, katanya sambil tertawa:
"Ban tua, persoalan ini sudah jelas sekali, nona Nyoo Siausian
itu masih polos dan belum tahu tata cara pergaulan, ini
berarti dibelakangnya pasti terdapat seseorang yang mengatur
segala sesuatunya ini..."
Belum selesai dia berkata, dari arah pelataran sudah
terdengar Li Cing-siu sedang berkata sambil tertawa tergelak.
"Nona, semasa kakek suci masih hidup pun, dia tak akan
berani berbicara macam begini kepadaku!"
Mendengar nama ayahnya disebut kembali, Nyoo Siau-sian
sekali lagi merasa amat sedih.
Tapi dengan air mata bercucuran ia segera membentak
marah:
"Sebetulnya kau bersedia untuk pergi atau tidak?"
"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu!"
Tiba-tiba Nyoo Siau-sian mengayunkan tangannya untuk
menampar wajah Li Cing-siu.
Tampaknya dia sudah terbiasa menempeleng orang,
karena itu tamparannya terhadap Li Cing-siu dilakukan
olehnya dengan sangat leluasa dan indah.
"Bagaimana pun juga kau harus pergi..." serunya nyaring.
Tempelengan itu dilancarkan sangat mendadak, lagipula
dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat, sehingga
membuat orang tak berani mempercayainya.
Mimpipun Li Cing-siu tidak menyangka kalau dia bakal
ditempeleng gadis tersebut secara tiba-tiba, dalam keadaan
tak menyangka dan kagetnya orang tua ini tak sempat lagi
untuk menghindarkan diri.
"Plaaakkk!"
Tempelengan tersebut dengan tepat bersarang diatas
pipinya.
Masih untung saja tamparan tersebut tidak disertai dengan
tenaga dalam, sehingga tidak sampai menimbulkan perasaan
sakit bagi orang tua tersebut.
Kendatipun begitu, peristiwa tersebut sudah cukup
membuat Li Cing-siu untuk menderita sepanjang hidup.
Oh Put kui yang berada diatas pohon menjadi terkejut
sekali setelah menyaksikan peristiwa ini, dia segera bertanya:
"Ban tua, ilmu gerakan tubuh apakah itu? Tampaknya tidak
lebih lama daripada ilmu langkah Tay-siu-huan-im poh yang
kupelajari dari Mi-sim-kui-to tempo hari."
"Tentu saja," sahut kakek latah sambil tertawa.
"Jadi kau kenal dengan ilmu gerakan tubuh itu?"
"Kenal!"
Mendadak Oh Put Kui merasa terkejut, segera pikirniya:
"Heran, mengapa dengan si kakek latah? Dia seperti acuh
tak acuh? mengapa sih hari ini?"
Dengan cepat dia berpaling...
Ternyata kakek latah awet muda sedang memejamkan
mata rapat-rapat sementara air matanya jatuh bercucuran.
Oh Put Kui benar-benar terperanjat sekali oleh kejadian
tersebut, ia segera menegur:
"Ban tua, mengapa kau?"
Baru pertama kali ini dia menyaksikan kakek berambut
putih ini murung dan mengucurkan air mata.
Sambil menahan sesenggukannya kakek latah berkata:
"Anak muda, aku sedang teringat akan seorang sahabat
intimku."
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Oh Put Kui,
segera ujarnya lagi:
"Siapakah orang itu? Apakah ada hubungan dengan nona
Nyoo?"
Dengan air mata bercucuran sahut kakek latah awet muda:
"Yaa, ilmu gerakan tubuh yang digunakan budak itu mirip
sekali dengan kepandaian yang dimiliki sahabat karibku itu...
aaai, memang ilmu gerakan tubuh tersebut yang dipergunakan
olehnya..."
Perkataan si kakek yang tiada ujung pangkalnya ini, segera
membuat Oh Put Kui menjadi bingung dan tidak habis
mengerti.
"Ban tua, ilmu gerakan tubuh apakah itu? Siapa pula
sahabat karibmu itu?"
"Hian-hian... Hian-hian..." tiba-tiba kakek latah awet muda
bergumam dengan air mata bercucuran.
Kali ini si kakek lupa mempergunakan ilmu menyampaikan
suaranya, tak heran kalau Oh Put-kui menjadi sangat terkejut
sehingga buru-buru mendekap mulut kakek itu sambil berbisik:
"Ban tua, saat ini kita masih belum boleh menampakkan
diri!"
Kakek latah awet muda baru terkejut sesudah mendengar
teguran itu, cepat-cepat dia menutup mulut.
Kemudian setelah menyeka air matanya dan
menggelengkan kepalanya sambil tertawa, kembali dia
berkata:
"Anak muda, kenapa sih aku ini?"
"Kau sedang menggumamkan nama Hian-hian!" sahut Oh
Put-kui sambil tertwa getir.
"Benarkah itu?" kakek latah awet muda tertawa aneh.
"tampaknya aku benar-benar makin tua makin pikun."
"Ban tua, siapa sih Hian hian itu?" tanya Oh Put-kui
kemudian dengan perasaan tidak mengerti.
"Nama seorang perempuan."
"Apakah dia adalah kekasihmu?"
Dengan perasaan rikuh kakek latah awet muda segera
manggut-manggut...
"Kau sudah begini tua, aku rasa kekasihmu itu pasti sudah
berusia lanjut bukan?" kata Oh Put kui lagi sambil tertawa.
"Dia lebih muda sepuluh tahun dariku!"
"Lalu dimanakah locianpwee itu sekarang?"
"Dia sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia, dan
hidup membujang dalam biara!"
"Oooh, dia sudah menjadi pendeta?" tanya Oh Put-kui
dengan perasaan terejut.
Kembali kakek latah awet muda manggut-manggut,
kemudian katanya sambil tertawa:
"Anak muda, bagaimana kalau kita jangan membicarakan
persoalan itu saja? Tentang ilmu gerakan tubuh yang
dipergunakan budak kecil she Nyoo itu, aku mengenalinya
sebagai ilmu gerakan tubuh "Beng-in-wan-wa-sin-hot" (ilmu
gerakan tubuh melupakan diri)...!"
"Benar-benar sebuah nama yang sangat aneh!" seru Oh
Put-kui sambil tertawa.
"Tentu saja, dia khusus menciptakan gerakan tersebut
dengan maksud untuk menghindari diriku, lagipula diapun
ingin membujukku agar tahu keadaan serta melupakan dia!"
Diam-diam Oh Put-kui mengangguk, tampaknya dibalik
ilmu gerakan tubuh tersebut tterkandung suatu kisah cinta
yang penuh dengan kesedihan dan air mata.
"Ban tua, apakah Hian-hian locianpwe itu adalah gurunya
nona Nyoo...?" tanyanya kemudian.
Mendadak kakek latah awet muda mendelik besar.
"Hey anak muda, nama Hian-hian bukan sembarangan
orang boleh menyebutnya. kau hanya boleh memanggilnya
sebagai Wi-in sinni!"
Begitu mendengar nama "Wi-in sinnni" kontan saja Oh Put
Kui merasa terkejut sekali.
Nama besar dari Wi-in sinni, pemimpin kuil Hian-leng-an
dibukit Tay-soat-san memang tidak lebih kecil daripada nama
besar gurunya maupun Thian-liong susiok.
Tidak heran kalau kaucu dari Pay Kau, Ling-siu tidak
mampu menghindarkan diri dari tempelengan Nyoo Siau-sian.
hal ini jelas disebabkan Nyoo Siau-sian adalah murid dari Wiin
sinni.
Sementara kakek latah awet muda dan Oh Put-kui yang
berada diatas pohon berbicara setengah harian, situasi
dipelataran itu pun sudah terjadi perubahan yang amat
besar...
Setelah kena ditempeleng tadi, Li Cing-siu baru mengetahui
bahwa putri kesayangan Kakek suci berhati mulia yang
nampaknya lemah lembut itu, sesungguhnya adalah seorang
jago yang berilmu silat sangat hebat...
Tapi, dia tak dapat menahan diri terhadap tempelengan
yang telah diterimanya itu.
Diiringi dua kali bentakan gusar, suatu pertarungan yang
amat seru segera berkobar.
Nyoo Siau-sian sendiri tidak turun tangan.
Sebaliknya si perempuan petani dari Lam Wan Ku Giokhun
telah bertarung melawan Li Cing-siu.
Sedangkan Leng Seng luan telah bertarung melawan Lengho
cinjin Cu Kong-to.
Dalam waktu singkat angin pukulan dan bayangan telapak
tangan telah menyelimuti seluruh angkasa.
Nyo Siau-sian sendiri cuma berdiri disisi arena sambil
menyaksikan keempat orang itu bertarung dengan seru, dia
tidak nampak emosi atau pun menunjukkan suatu perasaan,
sebab perasaannya memang kosong baagikan selembar
kertas.
Dan pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia
pelan pelan bergerak mendekatnya.
Gerakan orang itu pelan sekali... pelan dan sangat berhatihati...
Satu depa demi satu depa... makin lama selisih jarak
mereka semakin dekat...
Waktu itu, semua perhatian orang sedang tertuju pada
keempat orang yang sedang bertarung sengit ditengah arena,
oleh sebab itu tak seorangpun yang menyaksikan kalau ada
orang sedang bergerak mendekati Hian-leng-giok-li Nyoo
Siau-sian.
Dalam pada itu sebuah tanganpun bergerak pelan
kedepan, satu inci demi satu inci diulurkan kemuka...
Mendadak...
Sebuah jeritan kaget diiringi bentakan nyaring bergema
memecahkan keheningan:
"Kalian semua berhenti bertarung, nona Nyoo telah jatuh
kedalam cengkeramanku..."
Mendengar bentakan yang menggelegar itu, Ku Giok hun
dan Leng Seng luan segera menarik kembali serangannya
dan melompat mundur ke belakang...
Sedangkan Li Cing-siu serta Cu Kong to segera berpaling
ke arah mana berasalnya suara itu.
Pada saat itulah, mereka saksikan Nyoo Siau-sian sedang
berteriak sambil mengernyitkan alis matanya:
"Lepaskan aku, apa yang hendak kau lakukan?"
Ternyata tangannya telah dicengkeram orang erat erat,
sehingga orang yang mencengkeram dirinya adalah si tamu
tanpa bayangan penghancur hati Cin It-cing.
Rupanya secara diam-diam ia telah mendekati Nyoo Siausian,
lalu dengan mempergunakan ilmu Thian-ciat-jiu dari
perguruannya mencengkeram tubuh Hian leng-giok-li Nyoo
Siau sian itu secara mudah.
Percuma saja Nyoo Siau-sian memiliki ilmu silat yang
hebat, namun sama sekali kehilangan tenaganya, dalam
gelisahnya dengan muka merah iapun menegur pemuda
tersebut.
Sambil tertawa hambar sahut Ciu It-cing:
"Nona, terpaksa aku akan menyiksamu berapa saat!"
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata pula
kepada Li Cing-siu dengan nada hormat:
"Suhu, lebih baik kau bicarakan dulu persoalan ini hingga
jelas dengan nona Nyoo, tempat ini tak boleh ditinggali terlalu
lama.."
Saat itu bukan saja Li Cing-siu merasa agak diluar dugaan
atas terjadinya peristiwa tersebut, agaknya diapun merasa
gembira sekali atas kecekatan serta kecerdasan murid
andalannya ini.
Sambil tersenyum diapun berseru kemudian:
"Anak Cing, kau tak boleh melukai nona Nyoo!"
"Murid mengerti!"
Nyoo Siau-sian masih mencoba untuk meronta, selama
hidupnya belm pernah pergelangan tangannya dicengkeram
orang lelaki asing seperti apa yang dialaminya sekarang, tak
heran kalau dia merasa gelisah bercampur gusar, tapi diapun
tak bisa berbuat apa-apa.
Terdengar Li Cing-siu berkata lagi:
"Nona Nyoo, antara aku dengan pihakmu sama sekali tak
pernah terjalin perselisihan apa-apa, tapi hari ini nona Nyoo
datang secara mendadak bahkan memaksa aku untuk ikut
pergi ke istanamu, sebenarnya karena persoalan apa?"
Nyoo Siau-sian membungkam diri dalam seribu bahasa, dia
sama sekali tidak menggubris pertanyaan dari Li Cing-siu
tersebut, jelas sudah kalau gadis itu sedang mengambek.
Yaa, kalau seorang gadis sedang mengambek, biasa dia
tak akan memperdulikan orang lain.
Li Cing-siu segera mengernyitkan alis matanya, dia
memandang sekejap ke arah Ku Giok-hun dan Leng Sengluan
yang sedang memperhatikan dirinya dengan wajah gusar
dan perasaan tak tenang itu, kemudian berpaling pula ke arah
Ang Yok-su...
Hingga detik itu, Ang Yok-su masih belum bergerak dari
posisinya semula, bahkan berpaling pun tidak, seolah olah
semua peristiwa yang terjadi disitu tak ada ubungan dengan
dirinya.
Li Cing-siu segera dibuat serba salah dan tak tahu apa
yang harus diperbuatnya.
Tentu saja tak mungkin baginya untuk turun tangan dan
memaksa Nyoo Siau-sian untuk berbicara.
Oleh sebab itulah dia cuma bisa berkerut kening sambil
menghela napas panjang...
Agaknya Ciu It-cing mengetahui akan kesulitan yang
dihadapi gurunya, sebagai seorang ketua dari suatu
perkumpulan besar, lagi pula sebagai seorang angkatan tua,
tentu saja ia tak boleh memaksa Nyoo Siau-sian untuk
berbicara, apalagi mempergunakan kekerasan.
Sedangkan dia, sebagai seorang anak muda yang
sederajat dengan nona itu, sudah barang tentu ia tak usah
menguatirkan tentang masalah semacam ini.
Tiba-tiba Ciu It-cing tertawa dingin lalu berkata dengan
suara dalam:
"Nona Nyoo, bila kau tahu diri lebih baik jelaskan saja
duduknya persoalan, menurut apa yang kuketahui, antara
nona Nyoo dengan perkumpulan kami telah terjadi kesalahan
paham!"
"Siapa bilang salah paham?" seru Nyoo Siau-sian sambil
menggigit bibirnya, "apa yang telah kalian lakukan masa tidak
kalian pahami...?"
Ciu It-cing jadi melongo dibuatnya:
"Perbuatan apa sih yang telah dilakukan perkumpulan kami
terhadap istana kalian?"
"Kalian hendak mungkir?"
Tampaknya Ciu It-cing telah naik pitam oleh perkataannya
itu, tiba-tiba saja dia menggencet tangan nona itu lebih keras.
Kontan saja Nyoo Siau-sian mengerutkan dahinya dengan
keringat bercucuran keras namun ia tetap menggigit bibirnya
kencang kencang sehingga tak kedengaran sedikit suara
rintihanpun.
Li Cing-siu yang menyaksikan kejadian ini segera
membentak:
"Anak Cing, jangan berbuat kurang ajar!"
"Dia toh yang kurang ajar lebih dulu suhu, tecu benar-benar
tak dapat menahan diri lagi," seru Ciu It-cing dengan gusar.
@oodwoo@
Jilid ke : 24
Dari nada pembicaraan itu, bisa disimpulkan bahwa dia
hendak memaksa Nyoo Siau-sian berbicara dengan
menggunakan kekerasan.
Li Cing-siu segera menggelengkan kepalanya berulang kali
sambil berseru:
"Anak Cing... kau tak boleh berbuat begitu..."
Belum selesai dia berkata, mendadak dengan mulut
membungkam dia mundur selangkah ke belakang.
Cahaya hijau berkilauan lalu disusul munculnya sesosok
bayangan manusia dari tengah udara.
"Siapa dirimu?" dengan perasaan terkesiap Ciu It-cing
menarik Nyoo Siau-sian mundur setengah langkah ke
belakang dan menghardik keras-keras:
"Saudara Ciu. Belum lama kita berpisah, masa kau sudah
tidak kenal lagi dengan diriku?" seseorang menyahut dengan
lantang.
Ternyata orang yang munculkan diri itu tak lain adalah Oh
Put Kui...
Dengan senyum dikulum Ciu It-cing segera berseru.
"saudara Oh, sungguh tak kusangka akan bersua
denganmu disini..."
Oh Put Kui tertawa hambar.
"Dapatkan saudara Ciu melepaskan nona Nyoo lebih
dulu?" katanya tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan tersebut mula-mula Ciu It-cing
nampak agak tertegun, tapi kemudian dia menampilkan
perasaan keberatan dan serba salah.
Tapi akhirnya sambil tertawa nyaring dia berkata:
"Perintah dari saudara Oh tak berani kubangkang!"
Bersama dengan selesainya perkataan tersebut, secepat
kilat dia melepaskan cengkeramannya.
Hian-leng-giok-li Nyoo Siau-sian yang menghadapi kejadian
ini menjadi tertegun lalu dengan termangu mangu mengawasi
lawannya tanpa berkedip, untuk sesaat dia seperti lupa
dengan pergelangan tangan kanannya yang sakit.
Demikian pula dengan Li Cing-siu, dia dibuat tertegun dan
tidak habis mengerti.
--------------------
Ia tak habis mengerti, mengapa muridnya tidak menuruti
perkataan sendiri sebaliknya malah menuruti perkataan orang
lain, bahkan orang itu nampaknya masih begitu muda dan
begitu rudin.
Selain itu diapun kuatir kalau tindakan melepaskan harimau
pulang gunung ini akan berbalik merugiakn pihaknya.
Oleh sebab itulah tanpa terasa dia berjalan ke depan dan
mendekati Nyoo Siau-sian.
Disaat Ciu It-cing melepaskan cekalannya tadi, Oh Put Kui
segera berseru sambil tertawa:
"Terima kasih banyak atas kesediaan saudara Ciu memberi
muka kepadaku..."
Lalu secara tiba-tiba dia maju selangkah ke depan dan
menghadang dimuka Li Cing-siu, sambil menjura katanya
pula:
"Oh Put Kui menjumpai Li kaucu!"
Kemudian dia menjura dalam-dalam, sikapnya amat
menghormat.
Li Cing-siu segera menghentikan langkahnya dan balas
memberi hormat sambil katanya:
"Oooh, rupanya Oh sauhiap, maaf... maaf..."
Agaknya orang tua inipun mengetahui siapa yang sedang
berada dihadapannya.
"Kaucu terlalu serius..." Oh Put Kui tertawa.
Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling sana,
ujarnya lebih jauh:
"Ketika boanpwe meminta kepada saudara Ciu untuk
membebaskan nona Nyoo tadi, sebetulnya kemungkinan
sekali hal ini akan berakibat tidak menguntungkan diri kaucu,
tapi nyatanya kaucu tidak berusaha untuk menghalangi, hal
mana menunjukkan kalau kaucu memang seorang lelaki sejati
yang mengutamakan kebenaran, sikap kaucu itu sungguh
mengagumkan boanpwee!"
Sekalipun Li Cing-siu merasa ucapan ini sangat
bertentangan dengan jalan pemikiranya, namun dia toh
menjawab juga sambil tertawa:
"Perkataan dari sauhiap itu hanya membuat aku merasa
malu saja.. muridku yang bodoh telah menyergap orang
secara diam-diam, tidakan semacam ini sudah jelas
melanggar peraturan, sekembalinya nanti aku tentu akan
menjatuhi hukuman yang berat kepadanya..."
"Harap kaucu jangan menghukum saudara Ciu," ucap Oh
Put Kui segera sambil menggeleng. "seandainya orang lain
yang menjumpai kejadian semacam inipun boanpwee percaya
dia akan berbuat yang sama seperti apa yang telah diperbuat
saudara Ciu..."
Kemudian setelah memandang sekejap ke arah Ciu It cing,
kembali katanya:
"Ternyata saudara Ciu telah memberi muka untuk ku pada
saat yang terakhir, bukan saja hal ini membuat siaute merasa
kagum, dari sinipun terbukti kalau saudara Ciu adalah seorang
lelaki terbuka yang berjiwa besar!"
"Saudara Oh jangan berkata lebih jauh, siaute akan malu
untuk mendengarkannya lebih jauh..." seru Cu It-cing sambil
tersenyum.
"Baik, siaute tak akan menyinggung lagi persoalan ini..."
kata Oh Put Kui kemudian.
Pelan-pelan dia membalikkan badan, lalu terhadap Hianleng-
giok-li Nyoo Siau-sian yang sedang memikirkan sesuatu
katanya pula sambil tertawa rendah:
"Nona Nyoo, aku adalah Oh Put Kui!"
Dengan wajah memerah karena jengah Nyoo Siau-sian
menjawab:
"Aku tahu... nama besar Oh kongcu sudah lama
kudengar..."
"Terima kasih banyak atas pujian dari nona!" Oh Put Kui
tersenyum ramah.
Kemudian ia berkelebat maju setengah langkah dan
berkata lebih lanjut:
"Entah dikarenakan persoalan apa nona Nyoo sampai
bermusuhan dengan Li kaucu?"
Berbicara sesungguhnya, Li Cing siu sendiripun ingin
mengetahui duduknya persoalan sampai jelas.
Nyoo Siau sian segera menundukkan kepalanya dan
menghela napas sedih, katanya lirih:
"Mereka telah mencuri barang milik kami!"
Oh Put Kui yang mendengar perkataan tersebut menjadi
tertegun, dengan cepat dia berpaling ke arah Li Cing-siu dan
mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Li Cing-siu yang mendengar ucapan itu segera menyambut
sambil tertawa:
"Nona, anggota perkumpulan kami selalu memegang
peraturan secara ketat, entah benda mestika apakah milik
nona yang hilang sehingga kau tak segan membawa semua
anggotamu datang ke Kang-ciu?"
Kalau berbicara dengan Oh Put Kui, maka Nyoo Siau-sian
selalu menunjukkan sikap yang lemah lembut, sebaliknya
kalau berbicara dengan orang lain justru memperlihatkan
sikap dan wataknya sebagai seorang nona yang anggun.
Dia mendengus dingin lalu berkata:
"Kau masih mencoba menyangkal? Aku telah kehilanan
ruyung penakluk iblis Mu-ni-ciang-mo-pian!"
Mendengar nama benda itu, paras muka Li Cing-siu segera
berubah sangat hebat.
Sebab benda yang dimaksudkan itu tak lain adalah salah
satu diantara tujuh macam mestika dari dunia persilatan.
Konon ruyung tersebut merupakan benda mestika andalan
dari Wi-in sinie dalam menaklukan kaum iblis, mungkinkan
Hian-leng giok-li Nyoo Siau sian adalah anak murid dari Wi-in
sinnie?
Dengan perasaan terkesiap Li Cing siu segera bertanya:
"Apakah nona adalah anak murid dari Wi in sinni?"
"Kalau benar mau apa kau?" sehut Nyoo Siau-sian dengan
suara ketus.
"Bila kau berlaku lancang tadi, harap nona sudi
memaafkan..." Li Cing siu segera tertawa paksa.
Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan kening
berkerut katanya lebih jauh:
"Nona, bagaimana ceritanya sehingga kau bisa kehilangan
ruyung penakluk iblis Mu ni-ciang-mo-pian tersebut?"
Paras muka Nyoo Siau-sian diliputi kembali hawa
amarahnya yang membara, bentaknya keras-keras:
"Buat apa kau berpura-pura bertanya lagi kepadaku?
Bukankah kau lebih mengerti daripada aku sendiri?"
Dengan perasaan keheranan Li Cing siu segera berpikir:
"Aneh sekali, mengapa dia justru menuduhku sebagai
pencurinya...?"
Sekalipun dalam hati berpikir demikian diluar dia tersenyum
dan berkata sambil menggelengkan kepala:
"Nona, aku berani bersumpah dihadapan bahwa aku tak
pernah melihat ruyung tersebut!"
"Benarkah itu?" Nyoo Siau-sian melotot besar.
"Buat apa aku mesti berbohong?" Li Cing siu balik bertanya
dengan senyuman dikulum.
Dengan ketus Nyoo Siau-sian mendesis, lalu serunya
sambil tertawa terkekeh kekeh:
"Li kaucu, memangnya kau anggap semua anggota Sianhong-
hu adalah gentong nasi yang tak becus?"
Kembali Li Cing-siu tertawa terbahak-bakhak:
"Haaahhh... haaahhh.. haaahhh... perkataan dari nona
terlampau serius, masa berani aku shi Li bersikap begitu
latah? Justru akulah yang ingin bertanya kepada nona,
darimana kau peroleh berita tersebut sehingga bersikeras
menuduh akulah yang telah mencuri ruyung penakluk iblis Mu
ni-ciang-mo-pian tersebut?"
Nyoo Siau-sian segera mengerlingkan matanya yang jeli
kewajah tabib sakti Ang Yok-su, lalu katanya lagi sambil
tertawa:
"Soal itu mah tak usah Li kaucu ketahui, aku cuma
berharap Li kaucu bersedia mengembalikan ruyungku itu,
tentang permintaan maafku... aku pikir..."
Setelah mengerlingkan sekejap ke arah Oh Put Kui dengan
tersipu-sipu, dia meneruskan:
"Memandang diatas wajah Oh kongcu, aku rasa persoalan
tersebut tak perlu dibicarakan lagi!"
Menurut anggapannya, keputusan yang diambilnya
tersebut sudah cukup berarti.
Sebaliknya Li Cing-siu justru dibuat serba salah, menangis
tak bisa tertawa pun tak dapat.
Selang beberapa saat kemudian ia baru bisa berkata:
Nona, kau terus menerus menuduh aku sebagai pelaku
pencurian tersebut, mengapa kau tidak memberi kesempatan
kepadaku untuk mendebat ataupun membantah?"
Tiba-tiba perempuan petani dari Lam-wan Ku Giok-hun
yang selama ini membungkam terus membentak dengan
keras:
"Li kaucu, dengan kedudukanmu dan nama besarmu
seharusnya apa yang telah kau lakukan harus berani diakui
secara ksatria, tapi kenyataannya kau menyangkal terus
menerus, apakah kau tidak takut ditertawakan orang...?"
Dari ucapannya yang begitu tegas dan yakin, perempuan
ini seakan-akan menuduh bahwa Li Cing-siu lah pelaku yang
sebenarnya atas pencurian terhadap ruyung Mu-ni-ciang mo
pian tersebut.
Sekali lagi hawa amarah menyelimuti wajah Li Cing-siu,
segera serunya dengan lantang:
"Nona Ku, apakah kalian mempunyai bukti yang bisa
menunjukkan bahwa akulah yang telah mencuri ruyung
mestika tersebut?"
"Tentu saja dapat!" jawab Ku Giok-hun sambil tertawa
seram.
"Mengapa tidak nona Ku pelihatkan?"
Sambil tertawa dingin Ku Giok-hun segera berseru:
"Tampaknya Li kaucu tak akan menyerah sebelum melihat
bukti tersebut..."
Tiba-tiba dia berpaling kearah Nyoo Siau-sian dan berkata
lebih jauh:
"Nona, perlihatkan benda itu kepadanya!"
Sambil tertawa Nyoo Siau-sian merogoh ke dalam sakunya
dan mengeluarkan sebuah sampul surat yang kemudian
diperlihatkan kepada Li Cing-siu sambil katanya:
"Ini dia, bukti berada disini"
"Apakah itu?" tanya Li Cing siu sambil berkerut kening.
"Surat yang ditinggalkan pencuri ruyung tersebut!"
"Bersediakah nona untuk membacakan isi surat itu?"
"Apakah salahnya? Bibi Ku, coba kau saja yang membaca
isi surat tersebut..."
Ku Giok-hun menyahut dan menerima surat itu, kemudian
setelah melotot sekejap ke arah Li Cing-siu, segera bacanya:
"Bila menginginkan kembali ruyung penakluk iblis, datang
ke Seng ciu menjumpai Pay-ku."
Ketika Ku Giok-hun selesai membaca isi surat itu, Nyoo
Siau-sian segera berseru sambil tertawa dingin:
"Kalau toh kalian mempunyai keberanian untuk
meninggalkan surat tersebut, mengapa hari ini tak berani
mengakuinya?"
Li Cing-siu yang mendengar ucapan tersebut segera
tertawa terbahak-bahak:
"Haaahhh... haaahhh.. haaahhh... nona, betulkah surat
tersebut bisa dipergunakan sebagai bukti bahwa akulah yang
telah mencuri ruyung tersebut? Tidakkah nona pernah
pikirkan, bahwa ada kemungkinan orang lain sengaja
memfitnah perkumpulan kami?"
"Mengapa orang lain harus memfitnah?" Nyoo Siau-sian
balik bertanya sambil tertawa cekikikan.
"Andaikata aku pun tahu, bukankah persoalan ini tidak
bakal terjadi?"
"Hmmm, omong kosong..." nona itu segera mendengus
dingin.
Pada saat itulah tiba-tiba Oh Put Kui menyela:
"Nona Nyoo, apa yang dikatakan Li kaucu ada benarnya
juga!"
"Jadi kau... Oh kongcu percaya kepadanya?" tanya Nyoo
Siau sian agak tertegun.
Oh Put Kui segera tertawa:
"Aku cukup mengetahui bagaimanakah watak dari Li kaucu
dimasa lampau, aku rasa lenyapnya ruyung milik nona itu
delapan puluh persen dilakukan seseorang yang sengaja
mengadu domba kalian."
Nyoo Siau sian segera mengerutkan dahinya rapat rapat.
Ia tak habis mengerti mengapa terhadap ucapan dari Oh
Put Kui tersebut, dia seakan akan tidak berkemampuan untuk
memberikan perlawanan, dia seakan akan lemah sekali dan
tidak memiliki pendirian. Dengan wajah sangat gelisah Ku
Giok-hun segera menyela:
"Siau sian, siapa tahu orang she Oh itu satu komplotan
dengan Pay-kau."
Dengan perasaan terkejut Nyoo Siau-sian segera
mendongakkan kepalanya, lalu menegur:
"Oh kongcu, benarkah kaupun anggota Pay kau?"
Oh Put-kui segera tertawa tergelak:
"Haah.. haah.. aku adalah seoarang pengembara, tak
pernah terikat dalam satu partai atau perkumpulan macam
apapun!"
"Itu lebih bagus lagi..." seru Nyoo Siau-sian girang, lalu
sambil berpaling serunya pula, "bibi Ku, dia bukan..."
Nona ini begitu polos dan lugu, andaikata ada orang
berusaha untuk mempengaruhi jalan pikirannya, sudah pasti
tak perlu membuang banyak pikiran dan upaya lagi untuk
berhasil mempengaruhinya.
Sambil tertawa Ku Giok-hun kembali berkata:
"Siau-sian, dia memang bukan anggota Pay-kau, tapi
mereka berasal dari satu komplotan yang sama, coba lihat,
bukankah dia lebih membantu mereka daripada membantu
pihak kita?"
"Aaah, tidak benar!" Nyoo Siau-sian menggeleng, "bibi Ku,
sendainya Oh kongcu membantu mereka, maka apa
sebabnya dia meminta mereka melepaskan aku ketika baru
munculkan diri tadi?"
Menghadapi perkataan tersebut, kontan saja Ku Giok-hun
dibuat terbungkam dalam seribu bahasa.
sebaliknya Oh Put Kui segera berkata lagi sambil tertawa
hambar:
"Aaai, bagaimana pun juga nona memang seorang gadis
yang pandai sekali..."
"Kongcu terlalu memuji..."
Oh Put Kui kembali tertawa.
Mendadak... dari arah ruangan berkumandang datang
suara seseorang yang tertawa dingin tiada hentinya.
Kemudian disusul suara Ang Yok-su berseru dengan
lantang:
"Nona Nyoo, kau sudah terperangkap oleh siasat bocah
keparat itu!"
Dengan cepat Nyoo siau-sian berpaling lalu tanyanya:
"Ang lopek mengatakan aku sudah tertipu Oh kongcu?"
"Betul!"
"Ang lopek, kapan sih aku tertipu?" Nyoo Siau-sian
bertanya lagi sambil tertawa.
"Bocah keparat itu telah memutar balikkan keadaan,
padahal Li Cing-siu lah si pencuri ruyung mestika itu, kau
jangan sekali kali melepaskan penyelidikanmu gara-gara
percaya dengan perkataan dari bocah keparat tersebut"
Nyoo Siau sian betul-betul seorang yang masih polos, serta
merta ia berpaling ke arah Oh Put Kui dan bertanya lagi:
"Oh kongcu, benarkah kau... kau sedang membohongi
aku?"
Oh Put Kui kembali tertawa.
"Aku dan nona belum pernah bersua sebelumnya, kenapa
aku mesti membohongimu?"
"Betul, kau memang tak punya alasan untuk membohongi
aku..." Nyoo Siau-sian tersenyum manis.
Tiba-tiba Ang Yok-su berseru lagi sambil tertawa dingin:
"Siau-sian, jangan percaya kepadanya..."
Mendadak segulung bayangan hitam meluncur masuk ke
dalam mulut Ang Yok su, seketika itu juga perkataan yang
belum selesai diutarakan itu terputus sampai ditengah jalan
dan tak mampu dilanjutkan lebih jauh.
Disusul kemudian terdengar seseorang muntah-muntah
keras...
Keadaan yang begitu mengenaskan dari Ang Yok-su
tersebut membuat segenap anggota Pay-kau yang melihatnya
segera tertawa terpingkal pingkal saking gelinya.
Tabib sakti Kiu-huan gi-in Ang Yok su harus muntah
setengah harian lamanya baru dapat menyeka mulutnya
kembali, lalu sambil berpekik nyaring dia melompat naik ke
atap ruangan tengah itu.
Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, dia
periksa sekeliling tempat itu dengan seksama, tapi sayang
sekali ia tak berhasil menjumpai sesuatu apapun.
Dalam amarahnya yang membara, Ang Yok-su segera
tertawa dingin tiada hentinya
Begitu keras suara tertawanya sehingga seluruh atap dan
bangunan ruangan itu turut bergetar keras.
Oh Put-kui yang menjumpai hal tersebut diam-diam
mengerutkan dahinya kencang-kencang.
Baru sekarang dia tahu kalau Kiu-huan gi-in Ang Yok-su
sebetulnya adalah seorang jago kelas satu dalam dunia
persilatan, terutama dalam suara tertawanya yang
mengandung tenaga dalam ini, jelas kalau kemampuannya
sama sekali tak berada dibawah kemampuan dari Leng Siauthian.
Setelah selesai tertawa, tiba-tiba Ang Yok su membentak
keras dengan suara yang dingin menyeramkan:
"Manusia darimana yang berani mempermainkan orang?
Ayoh cepat menggelinding keluar dari tempat
persembunyianmu!"
Setelah bentakan tersebut menggelegar, Oh Put-kui baru
paham apa gerangan yang telah terjadi.
Rupanya baru saja Ang Yok-su menderita kerugian yang
besar sekali.
Dia tahu, perbuatan semacam ini tak terlepas dari orang
lain, seratus persen tentu hasil karya dari si pengemis sinting
Liok-jin ki yang bersembunyi diatap ruangan.
Ternyata apa yang diduga memang betul!
Bersamaan dengan bergemanya suara bentakan dari Kiuhuan-
gi-in tadi, pengemis sinting Liok Jin-ki segera munculkan
diri dari balik atap rumah sambil tertawa cengar cengir,
serunya kemudian:
"Hey tabib Ang, aku si pengemis lagi tidur disini, mengapa
sih kau berteriak teriak macam kambing kebakaran jenggot
saja?"
Tabib sakti Kiu-huan-gi-in Ang Yok-su sama sekali tidak
mengira kalau dirinya tak berhasil mengetahui akan kehadiran
lawannya yang berada diatas ruangan, ia merasa bahwa
peristiwa ini sangat memalukan dirinya.
--------------------
Tatkala dia sudah melihat dengan jelas siapa gerangan
orang yang menampakkan diri itu, kontan saja hawa
amarahnya sirap lima bagian.
Sambil tertawa dingin Ang Yok-su segera berseru
"Hmmm... kukira siapa yang datang, rupanya kau si telur
busuk yang tak tahu diri..."
"Tabib Ang," seru pengemis sinting sambil tertawa. "kau
termashur sebagai Kiu-huan gi-in, tentunya kau tahu bukan
bahwa aku sipengemis mengindap penyakit pikun dan sinting,
dapatkah kau mencarikan akal untuk menyembuhkan
penyakitku itu?"
"Liok Jin-ki, kau boleh saja berlagak konyol dihadapan
orang lain, tapi jangan mencoba menggunakan cara itu untuk
menghadapi aku!" teriak Ang Yok-su dengan penuh amarah
dan kening berkerut.
Pengemis sinting tertawa tergelak kembali:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... baik, baik aku tak akan
berlagak lagi, ayoh kita berbincang dibawa saja..."
Sembari berkata dia segera melompat turun dari atas atap
ruangan itu..
Ang Yok-su segera menyusul dari belakangnya, sementara
sebuah tangannya diangkat ke atas.
Cuma, dia sama sekali tidak melepaskan serangan apa
pun, kalau tidak, bukankah pengemis sinting segera akan
berubah menjadi pengemis gepeng...?
Begitu mereka berdua melayang turun ke atas permukaan
tanah, Ang Yok-su segera menegur lagi sambil tertawa dingin:
"Liok Jin-ki kaukah yang barusan mempermainkan aku?"
Rupanya orang ini pun tidak yakin seratus persen bahwa
perbuatan perbuatan tadi dilakukan oleh pengemis sinting
tersebut.
Sebaliknya pengemis sinting pun segera memanfaatkan
kesempatan tersebut untuk menyangkal perbuatan tadi,
katanya cepat cepat:
"Hey tabib Ang, bukankah aku si pengemis sudah bilang
semenjak tadi, aku sedang tertidur nyenyak, andaikata bukan
mendengar gelak tertawa setanmu tadi, paling tidak aku si
pengemis akan tidur sampai matahari terbenam ke pantai baru
bangun..."
"Lebih baik kau tak usah bergelak edan dihadapanku!"
bentak Ang Yok-su lagi dengan gemas.
"Andaikata aku hendak berlagak edan, paling tidak harus
melihat lihat sasarannya dulu bukan? Kalau bertemu dengan
manusia semacam kau, biar pun aku si pengemis berlagak
edan pun, belum tentu mampu untuk berlagak dengan sebaikbaiknya."
"Hmmm, asal kau sudah tahu diri, hal ini lebih baik," jengek
Ang Yok-su sambil tertawa dingin.
Pengemis sinting tertawa lagi:
"Selamanya aku si pengemis selalu sinting, tapi bilamana
tak tahu diri, seratus orang pengemis pun tak nanti bisa hidup
sampai hari ini... bukankah begitu?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba serunya pula
kepada Oh Put Kui:
"Lote, mari kau jumpai Ang Yok-su yang mempunyai nama
yang amat termashur ini..."
Sambil tersenyum Oh Put Kui maju ke muka, tanpa
menjura dia menyapa dengan suara hambar:
"Selamat bersua..."
Ang Yok-su sudah mendongakkan kepalanya bersiap-siap
menerima penghormatan lawan.
Tapi akhirnya dia merasakan hatinya tak karuan setelah
melihat Oh Put-kui hanya menyapanya secara hambar.
Dengan sorot mata yang tajam dan tertawa dingin tiada
hentinya dia segera menegur:
"Betul-betul seorang manusia yang tahu sopan santun!"
Mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba saja Oh Put-kui
tertawa terbahak-bahak.
Semenjak masih bersembunyi diatas pohon tadi, ia sudah
menaruh perasaan tak puas terhadap sikap Ang Yok su yang
angkuh, dingin dan ketus itu.
Apalagi sesudah mendengar cara Ang Yok su menghasut
serta mengadu domba Nyoo Siau-sian dengan Li cing-siu,
andaikata pengemis sinting yang bersembunyi diatas atap
rumah tidak menghadiahkan segumpal lumut kedalam
mulutnya, bisa jadi Nyoo Siau-sian sudah dibuat percaya oleh
perkataannya.
Oleh sebab itu diapun bertekad untuk bertarung melawan
Ang Yok-su yang sombong ini serta memberi pelajaran yang
setimpal kepada dirinya.
Justru karena tekadnya itulah, maka Oh Put-kui sengaja
berlagak hambar, tinggi hati serta sinis.
Dengan kening berkerut dan wajah penuh amarah Ang
Yok-su segera membentak keras
"Hey, apa yang sedang kau tertawakan?"
"Aku sedang mentertawakan kesombonganmu serta
sikapmu yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi!"
Hawa napsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh
wajah Ang Yok-su, dia mendengus dingin lalu serunya:
"Manusia yang tak tahu diri, nampaknya kau sudah bosan
hidup di dunia ini?"
"Haaahhh...haaahhh... haaahhh... anda toh belum pernah
pergi ke akherat, dari siapa kau pelajari kata kata dari raja
akherat itu? Apakah aku sudah bosan hidup atau tidak, aku
rasa kau belum berhak untuk mengusirnya, mengerti?"
Beberapa patah kata ini seketika itu juga semakin
mengobarkan hawa amarah dari Ang Yok-su, sampai
sepasang matanya melotot keluar sebesar gundu.
Tiba-tiba Ang Yok su tertwa seram, lalu bentaknya:
"Bocah keparat, hari ini aku mesti memberi pelajaran yang
setimpal kepadamu..."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, tanpa
memperdulian peraturan dunia persilatan lagi, dia langsung
menyentilkan jari tangannya ke arah Oh Put Kui.
Menghadapi ancaman tersebut, Oh Put-kui tertawa
terbahak-bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... sayang sekali cakar
setan gantungmu itu masih belum mencapai tingkatan
kesempurnaan!"
Ditengah gelak tertawa tersebut, tangan kanannya segera
bergerak sangat cepat.
Jangan dilihat tangan kanan itu cuma diangkat keatas saja,
ternyata tenaga serangan ilmu Tan ci-sin-tong yang
dilancarakan Ang Yok-su itu hilang lenyap dengan begitu saja
oleh gerakan sederhana tadi.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ang Yok su
menyaksikan kejadian ini, sambil tertawa dingin segera
serunya
"Tak aneh kalau kau bernyali begitu besar, rupanya kau
mengandalkan ilmu Mi-lek sin-kang..."
Padahal ilmu yang digunakan oleh Oh Put-kui bernama
Hud-im-hian-kong-ciang (pukulan cahaya suci bayangan
Buddha) kontan saja menyebutnya sebagai Mi-lek-sin-kang
(ilmu sakti Mi-lek). kontan saja hal ini membuat pengemis
sinting yang mendengarkan segera tertawa terpingkal-pingkal
sampai perut pun turut terasa sakit.
"Hey, apa yang sedang kau tertawakan?" dengan penuh
amarah Ang Yok-su melotot kearahnya.
Pengemis sinting segera menggelengkan kepalanya
berulang kali, dengan napas tersengkal-sengkal katanya:
"Ooo... tidak apa-apa... tidak apa-apa..."
Walaupun dimulut dia berkata begitu, namun ia tak berhasil
menghentikan suara tertawanya, gelak tertawa yang amat
keras bergema terus tiada hentinya.
Ang Yok-su segera berkelebat kedepan, dengan
meninggalkan Oh Put-kui dia langsung menerkam kearah
pengemis sinting.
"Pengemis cebol, aku mesti memberi pelajaran untukmu..."
Kelima jari tangan kanannya segera dipentangkan lebarlebar
lalu secara langsung mencengkeram bahu kiri si
pengemis.
"Ah, belum tentu kau berhasil!"
Tiba-tiba sesosok bayangan manusia berkelebat lewat,
ternyata bayangan tubuh sipengemis sinting sudah lenyap dari
pandangan mata.
Tapi dengan cepatnya Ang Yok-su menemukan bahwa
tangan kanan sendiri sedang mencengkeram diatas bahu Oh
Put-kui.
Kejadian yang sama sekali diluar dugaan ini segera itu juga
membuat hatinya amat terperanjat.
Namun secara diam diampun ia merasa bergirang hati,
pikirnya:
"Asalkan kelima jari tanganku ini kukerahkan sedikit tenaga,
niscaya peredaran darah dari bocah keparat ini akan
tersumbat dan akibatnya dia akan menjadi lumpuh sebelum
akhirnya mampus..."
Berpikir sampai disitu, mencorong sinar buas dari balik
matanya itu.
Peristiwa mana dengan cepat mengejutkan dan
mencemaskan kaucu dari perkumpulan Pay-kau.
Tapi mencemaskan pula Hian-leng-giok-li Nyoo Siau-sian,
sehingga tanpa terasa dia menjerit keras:
"Empek Ang, jangan kau lukai dirinya..."
Nada suaranya begitu menaruh perhatian dan
mencemaskan keselamatan jiwa pemuda tersebut.
Tapi justru sikapnya yang penuh perhatian ini, membuat
Ang Yok-su semakin bertekad untuk menghabisi nyawa
lawannya ini.
Sambil tertawa seram Ang Yok-su segera berseru:
"Nona, bocah keparat ini tak boleh dibiarkan hidup terus, ia
harus disingkirkan secepatnya..."
Mendadak tenaga dalamnya disalurkan ke luar, lalu dengan
ganasnya mencengkeram bahu lawan kuat-kuat.
Oh Put-kui segera tertawa hambar sembari mengejek:
"Sayang seribu kali sayang saudara, aku toh sudah bilang
kesempurnaan ilmu silatmu masih ketinggalan amat jauh."
Rupanya ilmu Kim kong ci yang diperkirakan Ang Yok-su
sanggup menghancur lumatkan tubuh lawannya itu ternyata
tidak berhasil mencapai apa yang bisa diharapkan, bukan saja
ia gagal menghancurkan tulang bahu Oh Put-kui, bahkan tak
berhasil pula untuk memutuskan saluran urat nadinya.
Untuk sesaat Ang Yok-su dibuat tertegun dan tarmangumangu
seperti patung.
Sebaliknya sebuah tangan Oh Put-kui justru secara pelanpelan
telah menekan keatas dada Ang Yok-su.
Pada saat itulah Nyoo Siau-sian bagaikan seekor kupukupu
telah melayang datang sambil menegur dengan penuh
perhatian:
"Oh kongcu... kau... kau tidak apa-apa bukan?"
Setelah pertanyaan tersebut diajukan, dia baru melihat
secara pasti bahwa orang yang sebetulnya terancam bahaya
bukan Oh Put-kui, melainkan si tabib sakti Ang Yok-su yang
sombong, dingin dan kejam itu...
Dengan senyum dikulum diapun berseru:
"Kongcu... kau... aaah, kaupun jangan melukai empek
Ang... kasihan dia..."
Andaikata telapak tangan dari Oh Put-kui dilanjutkan
tekanannya ke depan, sudah dapat dipastikan Ang Yok-su
akan mampus seketika itu juga.
Tapi beberapa patah kata dari Nyoo Siau sian telah
menyelamatkan selembar jiwanya.
sambil tertawa Oh Put-kui segera menarik kembali telapak
tangannya itu.
"Aku akan menuruti permintaan nona!" katanya sambil
menggerakkan badan dan mundur selangkah.
Sebaliknya Kiu huan-gi-in Ang Yok-su harus mundur sejauh
delapan langkah dengan sempoyongan sebelum berhasil
untuk berdiri secara tegak. Dari sini dapat diketahui betapa
dahsyatnya tenaga serangan dari anak muda tersebut.
Nyoo Siau-sian nampak agak tertegun, lalu sambil
membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar dia berseru:
"Kongcu, apakah kau telah melukai empek Ang?
"Memukulnya mundur sih betul, tapi tak sampai
melukainya," sahut Oh Put-kui sambil tertawa. "Kiu-huan-gi-in
Ang Yok-su yang begitu tersohor namanya dalam dunia
persilatan, semestinya bukan manusia yang gampang
dirobohkan dalam sekali gebrakan bukan!"
Dengan perasaan terkesiap bercampur girang Nyoo Siausian
melirik sekejap kearahnya, kemudian pelan-pelan
berjalan menghampiri Ang ok-su yang masih berdiri termangu
ditempat.
Sedangkan pengemis sinting segera berseru pula sambil
tertawa tergelak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tabib Ang, diatas langit
masih ada langit, diatas manusia tangguh masih ada manusia
yang lebih tangguh, tenaga pantulan yang dihasilkan dari ilmu
Thian-liong-sian kang tentunya masih lebih hebat dari pada
ilmu Hian-im-sin-kang mu bukan...?"
Merah padam selembar wajah Ang Yok-su karena jengah
setelah mendengar ejekan itu.
Sikapnya yang semula sombong, dingin dan kaku itu, kini
sudah semakin tawar.
Sebagai gantinya selapis perasaan duka dan pedih
menyelimuti seluruh wajahnya
Dengan penuh perasaan kuatir dan perhatian yang besar
Nyoo Siau-sian bertanya:
"Empek Ang, apakah kau terluka..."
Dengan perasaan amat menderita dan pedih Ang Yok-su
memandang sekejap ke arahnya, namun tidak mengucapkan
sepatah kata pun.
Tiba tiba saja dia berpekik nyaring, lalu tubuhnya melejit ke
tengah udara dengan kecepatan luar biasa.
Hanya didalam sekejap mata saja, bayangan tubuhnya
sudah hilang lenyap tak berbekas.
Dia telah pergi, pergi dengan membawa rasa malu dan aib
yang sangat besar, pergi tanpa mengucapkan sepatah
katapun, tampaknya rasa malu yang luar biasa membuatnya
tak punya muka untuk berbicara lagi.
Untuk sesaat Nyoo Siau-sian cuma berdiri tertegun dengen
mata terbelalak lebar kemudian serunya keras keras:
"Empek Ang, kau jangan pergi..."
Tapi apa gunanya dia berteriak, karena waktu itu Ang Yoksu
sudah berada berapa li jauhnya dari tempat itu.
Gerakan tubuh dari Kiu-huan-gi-in Ang Yok-su memang
cepatnya mengejutkan hati.
Dengan perasaan amat sedih Nyoo Siau-sian
mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke udara,
kemudian pelan-pelan berjalan kembali ke samping Oh Putkui,
lalu setelah tertawa pedih, ujarnya lirih:
"Oh Kongcu, apa yang harus kuperbuat sekarang?"
Hampir saja Oh PUt-kui tertawa geli mengehadapi
pertanyaan itu, masa pertanyaan semacam itupun ditanyakan
kepadanya?"
Tentu saja ia tak sampai tertawa, karena gerak-gerik Nyoo
Siau-sian yang begitu mengenaskan dan patut dikasihani
ditambah pula ucapannya yang begitu polos dan suci,
membuat ia tak tega untuk mentertawakannya.
Maka sambil menggelengkan kepalanya ia berkata:
"Nona, darimana aku bisa tahu apa yang mesti diperbuat?"
Agaknya Nyoo Siau-sian dibuat terkejut oleh jawaban
tersebut, segera ujarnya lirih:
"Kongcu, bukankah kau mengatakan bahwa ruyung Mu nipian
ku itu bukan dicuri oleh pihak Pay-kau?"
"Aku rasa memang demikian!"
"Kalau bukan mereka, lantas siapa yang telah melakukan
perbuatan tersebut?"
Sebenarnya Oh Put-kui hendak menjawab begini:
Darimana aku bisa tahu? Tapi belum sampai meluncur keluar
dari mulutnya, ia sudah merubahnya dengan segera:
"Nona, bolehkah kau pinjamkan surat tersebut kepadaku?"
Nyoo Siau-sian mengangguk, kepada Giok-hun serunya:
"Bibi Ku, coba perlihatkan surat tersebut kepada kongcu!"
Dengan perasaan berat hati Ku Giok-hun segera
menyodorkan surat itu ke depan, sementara sepasang
matanya yang jeli melotot sekejap kearah Ph Put Kui dan
pengemis sinting dengan perasaan gemas.
Oh Put Kui bergelak seakan-akan tidak melihat akan hal itu,
setelah menyambut surat tersebut segera ditelitinya isi surat
itu dengan seksama.
Tiba-tiba dia berkerut kening, lalu serunya kepada Ciu Itting:
"Saudara Ciu, coba kau kemari sebentar!"
Dengan langkah lebar Ciu It-cing segera datang mendekat,
tanyanya sambil tertawa:
"Apakah saudara Oh telah berhasil menyaksikan sesuatu
yang mencurigakan?"
Oh Put Kui menggeleng.
"Tidak, aku hanya ingin saudara Ciu memeriksa isi surat ini,
lalu coba pikirkan adakah diantara jago jago perkumpulan
kalian yang mempunyai gaya tulisan demikian?"
Mendengar perkataan tersebut, Ciu It-cing segera meneliti
isi surat itu dengan seksama dan penuh perhatian.
Akhirnya dia menggelengkan kepalanya berulang kali:
"Saudara Oh, diantara jago-jago dalam perkumpulan kami,
rasanya tiada orang yang mempunyai gaya tulisan begitu."
Sementara itu Li Cing-siu juga telah datang mendekat,
katanya kemudian:
"Oh sauhiap, aku rasa bila kita ingin menyelidiki persoalan
ini lewat gaya tulisan, niscaya tak akan mendatangkan hasi
yang diharapkan..."
"Aaah, boanpwee pun cuma berusaha untuk mencobanya
saja!" kata Oh Put Kui tertawa.
Tiba tiba serunya lagi Nyoo Siau-sian:
"Nona, sejak kapan kau kehilangan ruyung mestika itu?"
"Kurang lebih satu bulan berselang!"
"Jam berapa?"
"Kurang lebih tengah malam."
"Dimana?"
Agak memerah selembar wajah Nyoo Siau-sian, tapi
segera jawabnya pula:
"Di dalam kamar tidurku..."
Oh Put Kui kembali mengernyitkan alis matanya rapat
rapat, sebab kejadian tersebut hampir mustahil bisa terjadi.
Kalau ingin dicari siapakah jago yang paling tangguh dalam
perkumpulan Pay-ku, maka orang itu tak hanya kaucunya
seorang.
Tapi menurut perhitungannya, bila Li Cing-siu ingin
menyusup masuk ke dalam kamar tidur Hian-leng-giok-li Nyoo
Siau-sian dan mencuri benda mestika miliknya tanpa diketahui
oleh gadis tersebut, jelas perbuatan tersebut bukan suatu
pekerjaan yang mudah.
Berpikir sampai disini, tiba tiba dia berseru kepada Nyoo
Siau sian sambil tertawa:
"Benarkah guru nona adalah Wi-in sinie?"
Nyoo Siau-sian mengangguk.
"Betul, apakah kongcu kenal dengan guruku?"
"Oooh tidak" Oh Put Kui menggeleng. "cuma nama besar
gurumu seringkali disinggung oleh guruku, cuma sayang
selama ini belum sempat kujumpai beliau..."
"Oh kongcu, bila ada kesempatan bagaimana kalau siaumoay
mengajakmu pergi menjumpainya?"
"Yaa. memang sudah sepantasnya bila kusambangi
sinnie...."
Baru pada saat itulah Nyoo Siau-sian seperti teringat akan
sesuatu, ia segera bertanya:
"Kongcu, apakah gurumu adalah Thian liong sangjin?"
"Oooh Sangjin adalah paman guruku, sedangkan guruku
bergelar Tay-gi-siansu..."
"Oooh... rupanya Gi-supek adalah gurumu..." Nyoo Siausian
berseru gembira.
"Betul, apakah nona pernah bertemu dengan guruku?"
Nyoo Siau sian segera tertawa cekikian:
"Tentu saja pernah. Gi supek amat sayang kepadaku..."
Mendadak mukanya berubah menjadi merah padam,
dengan tersipu-sipu ia segera menundukkan kepalanya
rendah rendah.
Mungkin nona itu merawa kalau sikapnya sudah kelewat
batas sehingga lupa akan keadaan...
Sambil tertawa Oh Put Kui segera berkata:
"Nona, kalau toh kau adalah murid dari sahabat guruku,
maka jangan marah kalau selanjutnya kusebut sumoay
kepadamu."
"Tentu saja kau harus berbuat demikian..." kata Nyoo Siau
sian dengan perasaan bergetar, "tapi bagaimana dengan aku?
Tentunya aku harus memanggil engkoh Oh kepadamu
bukan?"
"Terserah pada sumoay, apapun yang ingin kau gunakan,
aku menurut saja..."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan wajah
bersungguh-sungguh katanya lagi:
"Sumoay, bagaimana kalau soal hilangnya ruyung itu
serahkan saja penyelesaiannya kepadaku?"
"Aku harus merepotkan dirimu..." nona itu tersenyum.
"Ataukah mungkin sumoay kurang percaya kepadaku?"
"Tidak, aku... aku cuma tak berani merepotkan engkoh Oh!"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh.... sumoay menganggap
orang luar kepadaku nampaknya..."
Sambil menutup mulutnya dan tertawa cekikikan Nyoo
Siau-sian segera berkata:
"Baiklah engkoh Oh, kalau begitu persoalan ini siaumoay
serakan penyelesaiannya kepadamu!"
Baru selesai berkata, tiba-tiba ia berkata pula:
"Engkoh Oh, dengan cara apa kau hendak menyelidiki
persoalan ini...?"
Padahal Oh Put-kui sendiripun tidak tahu bagaimana harus
bertindak untuk menyelidiki peristiwa pencurian tersebut, ia
berbuat demikian tak lain karena ingin mencegah perselisihan
paham antara Nyoo Siau-sian dengan pihak Pay-kau.
Selain daripada itu, diapun percaya kalau Li Cing-siu tidak
bakal melakukan perbuatan semacam ini, itulah sebabnya ia
bersedia untuk memikul tanggung jawab tersebut.
Menghadapi pertanyaan yang diajukan oleh Nyoo Siau-sian
tersebut, terpaksa ujarnya sambil tertawa:
"Biarlah kuselidiki secara pelan-pelan, toh akhirnya
persoalan ini tentu akan menjadi beres dan terang kembali."
"Betul, akhirnya semua persoalan akan menjadi terang
dengan sendirinya!" dukung Nyoo Siau-sian dengan perasaan
puas.
Nada suaranya sekarang amat lembut dan halus, jauh
berbeda dengan nada suaranya ketika baru datang tadi.
Berubah paras muka perempuan petani dari Lam-wan, Ku
Giok-hun setelah menyaksikan perkembangan tersebut,
cepat-cepat dia berseru:
"Nona, mengapa kau berbuat demikian? Bukankah benda
itu kau butuhkan untuk segera dipakai?"
Nyoo Siau-sian segera menggeleng:
"Bibi Ku, sekalipun tanpa ruyung Mu-ni-pian, akupun tidak
takut dengan Kiau Hui-hui!"
--------------------
"Nona, ilmu silat yang dimiliki Yu-kok cian-li Kiau Hui-hui
lihaynya luar biasa!" kembali Ku Giok-hun berseru dengan
cemas.
"Aku tidak takut kepadanya, bibi Ku, kau tak usah
mengurusi diriku lagi," bentak Nyoo siau-sian sambil mendelik.
Lagi-lagi dia mengubur watak sebagai seorang nona
terhormat, atau mungkin memang beginilah ciri khas dari
seorang siocin ningrat...?
"Semenjak kapan sih Nyoo sumoay bermusuh dengan iblis
perempuan itu?" tiba tiba Oh Put Kui bertanya sambil tertawa.
"Semanjak setengah tahun berselang!"
"Lantas kapan perjanjianmu dengan dirinya?"
"Akhir bulan nanti!"
"Hari ini baru tanggal lima, waah... masih cukup waktu bagi
kita untuk mempersiapkan diri."
Nyoo Siau-sian menjadi tertegun:
"Engkoh Oh, maksudmu sebelum kupenuhi perjanjian
tersebut, kemungkinan besar ruyung mestika itu sudah
berhasil diperoleh kembali?"
"Yaa, aku memang berpendapat demikian." Oh Put Kui
mengangguk.
"Hoore... bagus sekali kalau begitu, kalau tidak, aku benarbenar
merasa kuatir..."
"Nona bajingan yang berada didepan mata kau biarkan
kabur, kau betul-betul..." seruan Ku Giok-hun itu diakhiri
dengan suara tertawa dingin tiada hentinya.
Nyoo Siau-sian segera mengerutkan dahinya sesudah
mendengar perkataan itu.
Sebaliknya Oh Put Kui berkata sambil tertawa hambar:
"Tampaknya nona Ku seperti mempunyai kesan yang
kurang baik terhadap diriku?"
Ku Giok-hun segera mendengus dingin
"Betul, aku memang tidak percaya dengan dirimu!"
"Sayang sekali aku justru tidak membutuhkan kepercayaan
nona terhadap diriku!" jawab Oh Put Kui tertawa hambar.
Kontan saja Ku Giok-hun tertawa dingin:
"Hmm, kau jangan harap selama hidup... lelaki semacam ini
paling tak bisa dipercaya!"
Sekali lagi Oh Put Kui tertawa terbahk-bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... betul, aku memang tak
bisa dipercaya, cuma saja cara kerjaku justru berbeda dengan
sementara orang yang secara diam diam menggunakan akal
licik dan siasat busuk untuk mengacau ketenangan dunia."
Paras muka Ku Giok-hun kembali berubah hebat setelah
mendengar perkataan itu, teriaknya gusar:
"Siapa yang kau maksudkan menggunakan akal licik dan
tipu muslihat untuk mengacau ketenangan dunia?"
"Siapa yang dalam hatinya ada setan, dia pula yang
kumaksudkan..."
"Bila kau punya nyali ayoh katakan secara terus terang!"
teriak Ku Giok-hun dengan keras.
Tapi Oh Put Kui segera menggeleng:
"Orang budiman cuma berusaha melenyapkan kejahatan
menegakkan kebaikan, aku tak ingin berbuat seperti seorang
siaujin, karena itu akupun tak ingin membongkar rencana
busuk dari sementara orang..."
Belum selesai perkataan itu diutarakan, Nyoo Siau-sian
telah berkata dengan lembut
"Engkoh Oh, kau tak usah berbicara lagi!"
Kemudian sambil berpaling ke arah Ku Giok-hun,
bentaknya keras keras:
"Bibi Ku, apakah kau sengaja hendak menyusahkan
diriku?"
Dengan perasaan gemas Ku Giok-hun mendengus:
"Nona, bocah keparat ini..."
"Siapa suruh kau berbicara lagi?" tukas Nyoo Siau-sian
dengan gusar pula, "bibi Ku, jika kau berani menyusahkan aku
lagi, maka aku akan segera..."
Sebelum perkataan selanjutnya diutarakan, Ku Giok-hun
sudah membalikkan badan dan beranjak pergi dari situ.
Begitu perempuan petani dari Kam-wan itu angkat kaki,
Leng Seng-luan juga turut angkat kaki, bahkan puluhan jago
yang mengepung kuil Pau-in-si pun turut angkat kaki dari situ.
Kemudian dari kejauhan sana tersengar seseorang berseru
dengan lantang:
"Nona, kami akan menantimu didalam kota..."
Mendadak Nyoo Siau-sian menjawab dengan keras:
"Kalian tak usah menunggu aku lagi, kalian boleh pulang
lebih dahulu..."
Begitu teriakan tersebut diutarakan, Oh Put Kui segera
dibuat tertegun.
Mengapa gadis itu tidak pulang bersama rombongannya?
Hendak kemanakah dia? Atau mungkin akan bergabung
dengan dirinya? Tapi, hal ini mana boleh jadi?
Tanpa terasa Oh Put Kui segera mengerutkan dahinya...
Pada saat itulah pengemis sinting berkata:
"Nona Nyoo, ada satu persoalan apakah kau tahu?"
Sekalipun Nyoo Siau-sian tidak kenal dengan pengemis
sinting, namun pernah mendengar tentang namanya,
mendengar pertanyaan itu segera sahutnya sambil tertawa:
"Persoalan apa yang kau maksudkan?"
"Apakah kau telah menyuruh mereka untuk menyegel
semua perahu yang berada dikota Kang-ciu ini?" tanya
pengemis sinting sambil tertawa.
"Tidak!" sahut gadis itu tersenyum, "aku hanya suruh
mereka menyewa semua perahu yang ada dengan harga
tinggi, karena aku berniat menggunakan perahu-perahu itu
untuk menyeberang sungai dan berangkat menuju ke ibu
kota."
"Nona, mereka bukan menyewa perahu-perahu itu dengan
harga tinggi, sebaliknya justru menyegel semua perahu itu!"
kata pengemis sinting tiba-tiba sambil tertawa.
Berkilat sepasang mata Nyoo Siau-sian sesudah
mendengar perkataan itu segera serunya:
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Kalau tidak percaya, tanyakan saja kepada Oh lote!"
Nyoo Siau-sian segera berpaling kearah Oh Put-kui dan
bertanya lagi:
"Engkoh Oh, benarkah ada kejadian seperti ini?"
"Benar, apa yang dikatakan pengemis Liok tepat sekali!"
sahut Oh Put-kui tertawa:
Mendadak Nyoo Siau-sian menutupi bibir sendiri sambil
berseru tertahan:
"Aaah, kalau begitu mereka semua telah menipu aku..."
"Sumoay, persoalan yang mereka tipu masih banyak
sekali."
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Nyoo Siausian,
setelah tertawa dingin katanya:
@oodwoo@
Jilid ke : 25
"Oh koko, aku tak dapat mengampuni mereka... aku harus
pergi mencari mereka..."
Belum habis ia berkata, tubuhnya sudah melompat keluar
dari kuil tersebut.
Sekali lagi Oh Put-kui dibuat tertegun oleh kejadian ini.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan pergi
sedemikian cepatnya, padahal dia sudah menaruh suatu
perasaan aneh terhadap gadis tersebut.
Sebaliknya pengemis sinting segera berseru sambil
tertawa:
"Lote, aku telah membantunya untuk terlepas dari
kesulitan!?
Oh Put Kui yang mendengar ucapan tersebut kembali
merasakan hatinya bergetar keras.
Tampaknya bila persoalan sudah mencapai pada
puncaknya, si pengemis sinting ini sedikitpun tidak sinting.
Ia tak mengira kalau pengemis tersebut dapat
menggunakan siasat semacam ini untuk memaksa Nyoo Siausian
meninggalkan tempat tersebut...
Karenanya untuk beberapa saat dia hanya bisa mengawasi
pengemis sinting dengan wajah termangu mangu.
Pada saat itulah Li CIng-siu telah menjura dan berkata
sambil tertawa:
"Terima kasih banyak atas bantuan Oh sauhiap untuk
melepaskan kami dari kesulitan, budi kebaikan ini pasti tak
akan kulupakan untuk selamanya. Sekarang aku masih ada
urusan lain yang harus diselesaikan, bila suatu ketika lote
lewat di Seng-ciu, harap mampir ke markas kami, berilah
kesempatan kepadaku untuk menjadi tuan rumah yang baik..."
Tidak sampai Li Cing-siu menyelesaikan kata katanya, Oh
Put Kui telah menjura dan menukas:
"Boanpwee dan Ciu lote merasa cocok satu sama lainnya,
sudah sepantasnya bila boanpwee menyumbang sedikit
tenaga demi perkumpulan kalian, bila kau bersikap begitu
sungkan, boanpwee malah merasa tak berani untuk
menerimanya."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh:
"Bila kau masih ada urusan silahkan saja untuk
diselesaikan, bila Ku Giok-hun sekalian sudah mengetahui
tentang kayu-kayu balok itu sehingga mencampurinya, tentu
banyak kesulitan yag akan dijumpai..."
Li Cing-siu tertawa penuh rasa terima kasih, setelah
mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Oh Put Kui, dia
baru mengajak semua anggota perkumpulannya dan
menggotong dua pendeta dari See-ih untuk berangkat
meninggalkan tempat itu.
Tak lama setelah kepergian mereka, kakek latah awet
muda baru melayang turun ke atas tanah sambil tertawa.
"Huuuh, hampir saja aku mati karena gelisah!"
"Ban tua, bagaimana pendapatmu tentang penyelesaian
boanpwee atas kejadian yang berlangsung malam ini?" tanya
Oh Put Kui kemudian sambil tertawa.
Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:
"Kalau berbicara soal masalahnya, keadaan sekarang
malah bertambah rumit."
Oh Put Kui menjadi tertegun, ia balik bertanya:
"Ban tua, apakah ada hal-hal yang tidak memuaskan
hatimu?"
"Tentu saja, kau telah mendatangkan kesulitan yang besar
sekali, masa kau belum tahu?"
"Haaahhh... haaahhh.... haaahhh... Ban tuan, kalau cuma
Ang Yok-su mah belum sanggup berbuat apa-apa
terhadapku!"
"Ang Yok-su?" kakek latah awet muda tertawa tergelak,
"kau anggap yang kumaksudkan adalah Ang Yok-su?"
"Selain dia, boanpwee akan peroleh kesulitan dari siapa
lagi...?"
Sambil menggelengkan kepalanya kakek latah awet muda
menghela napas panjang:
"Aaai... anak muda, persoalan apapun boleh kau lakukan,
tapi tidak seharusnyakau akui sumoay mu yang bakal
bebanmu untuk selamanya..."
"Kau maksudkan Nyoo Siau-sian?"
"Kalau bukan dia lantas siapa lagi?"
Oh Put Kui kembali tertawa tergelak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bukankah dia sudah
terusir oleh kata-kata pengemis sakti?"
"Betul," sambung pengemis sinting, "Ban lopek, mulai hari
ini tentunya kau bersedia mengakui gelarku sebagai si
pengemis cerdik bukan? Kalau bukan lantaran siasatku tadi
masa dia mau angkat kaki dengan begitu saja?"
Kakek latah awet muda segera melotot besar:
"Hey pengemis cilik, justru karena siasatmu itu urusan
bertambah runyam, kau anggap dirimu itu pintar?"
"Kalau berbicara kau mesti berdasarkan suara hati yang
sebetulnya..." protesnya Pengemis sinting sambil menjulurkan
lidahnya.
"Kurang ajar, kapan sih aku tak berbicara menurut suara
hati? Rupanya kau pingin digebuk?" kakek latah awet muda
semakin naik darah lagi.
Mendengar ancaman tersebut, cepat-cepat pengemis
sinting memeluk kepala senidri dan kabur sejauh tiga kaki
lebih dari posisi semula...
"Ban lopek," teriaknya kemudian, "anggap saja apa yang
diucapkan aku si pengemis adalah kentut busuk..."
Oh Put-kui tak bisa menahan rasa gelinya setelah
menyaksikan kejadian ini, katanya kemudian:
"Ban tua, boanpwee rasa siasat dari Liok sinkay tadi
termasuk hebat juga."
"Hey anak muda, memang hebat untuk saat ini, tapi kau tak
usah kuatir, bila budak itu tidak akan menyusulmu kembali
dengan segera silahkan kau potong lidahku ini!"
"Lantas... lantas... baaa... bagaimana baiknya?" tanya Oh
Put-kui tertegun.
"Sama sekali tak ada cara lain, anak muda, perempuan itu
adalah murid seorang sahabat karibku, dia pasti berasal dari
golongan lurus, seandainya dia tidak menemukan kalau
orang-orang dari keluarganya sedang membohonginya,
mungkin dia tak akan meninggalkan rumah, tapi bila dia
jumpai kalau keluarganya ada persoalan besar, bayangkan
sendiri anak muda, apakah dia tak akan segera datang untuk
mencarimu?"
Setelah mendengar keterangan dari kakek latah awet
muda, Oh Put-kui baru sadar bahwa siasat yang diterapkan
pengemis sinting tersebut sesungguhnya telah menanamkan
akibat yang fatal bagi dirinya.
Maka sambil tertawa getir ujarnya:
"Ban tua, tampaknya boanpwee harus berupaya untuk
menghindari dirinya..."
"Menghindari?" Kakek latah awet muda segera tertawa
tergelak, "suhumu yang sudah menjadi hwesio pun tak mampu
menghindari apakah kau bisa?"
Kali ini Oh Put-kui betul-betul dibuat berdiri bodoh.
Akhirnya setelah menghela napas panjang dia berkata:
"Ban tua, kalau toh tak bisa dihindari, yaa biarkan saja apa
yang hendak diperbuatnya, asal aku kurangi berbicra
dengannya, niscaya dia akan bosan sendiri, toh sebagai
seorang anak dara, dia tak bisa menguntil diriku terus
menerus?"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... itu sih belum tentu..."
Setelah berhenti sejenak, dengan mengernyitkan alis
matanya yang putih ia berkata kembali:
"Anak muda, tadi kau telah melupakan satu persoalan!"
"Melupakan soal apa? Kau orang tua kan tak pernah
berpesan apa apa kepadaku?" Oh Put Kui dengan wajah
tertegun.
Kakek latah awet muda kembali tertawa:
"Memangnya setiap persoalan harus kupesankan dulu
kepadamu? Anak muda, tentang tekad dari ketiga padri See-Ih
yang berupaya untuk membeli ratusan buah balok kayu yang
dikirim oleh pihak Pay-kau ke kota Kim-leng, pernahkah kau
pikirkan dengan seksama bahwa dibalik kesemuanya itu
kemungkinan besar masih terdapat hal-hal yang tidak
beres...?"
"Betul," Oh Put Kui mengangguk, "seandainya kau tidak
menyinggung kembali, boanpwee benar benar akan
melupakan hal ini."
"Menurut dugaanku, dibalik kayu-kayu tersebut pasti
terdapat sesuatu yang aneh, kalau tidak, mustahil Put-khong
hwesio sekalian bertiga bersedia membelinya dengan harga
yang tinggi, bahkan gagal untuk membelinya, mereka
pergunakan kekerasan..."
"Yaa, dugaanmu memang benar," Oh Put Kui tertawa,
"hanya saja ilmu silat yang dimiliki ketiga orang hwesio itu
sungguh teramat tak becus..."
"Anak muda, kau jangan salah melihat," kakek latah awet
muda menggelengkan kepalanya berulang kali, "bukan
kepandaian silat mereka yang tak becus, justru ilmu silat yang
dimiliki Li Cing-siulah yang kelewat hebat sehingga sama
sekali diluar duagaan."
Dengan nada kurang percaya Oh Put Kui berkata lagi:
"Boanpwee rasa sehebat-hebatnya Li Cing-siu, dia tak akan
lebih hebat daripada Suma Hian sekalian."
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... dugaanmu kali ini salah
besar anak muda, tapi kau memang tak bisa disalahkan,
sebab selama ini Li Cing-siu memang selalu menyembunyikan
kepandaian silat yang sebenarnya, dikemudian hari kau tentu
akan menjumpai bahwa ilmu menepuk jalan darah..."
Tiba-tiba perkataannya terhenti sampai ditengah jalan, lalu
mencorong sinar tajam dari balik mata Kakek latah awet muda
teriaknya kemudian:
"Celaka, kita harus segera berangkat ke tepi sungai anak
muda, kalau terlambat bisa berabe!"
Begitu selesai berkata, tubuhnya segera berkelebat
kedepan dan lenyap dari pandangan mata.
Dengan perasaan terkejut Oh Put Kui dan pengemis sinting
segera ikut berangkat pula menyusul dibelakang Kakek latah
awet muda.
Ketika Oh Put Kui dan pengemis sinting menyusul sampai
diluar kuil, bayangan tubuh kakek latah awet muda sudah
tinggal setitik bayangan semu di tempat kejauah sana.
Oh Put Kui segera berpekik nyaring lalu mengejar dengan
mengerahkan seluruh tenaga yang dimiliki.
Kasihan si pengemis sinting, dia harus mempertaruhkan
selembar jiwa tua nya untuk bisa menyusul rekan rekannya
itu.
Tampak tiga sosok bayangan manusia, secepat sambaran
petir dan saringan asap tipis meluncur keluar kota Kang ciu
langsung menuju ke dermaga.
Seperminum teh kemudian, dermaga sudah muncul di
depan mata.
Tiba tiba saja Kakek latah awetmuda memperlambat
gerakan tubuhnya...
Dalam waktu singkat Oh Put Kui dan pengemis sinting
sudah menyusul sampai disisi kakek tersebut.
"Lebih baik kita jangan memperlihatkan diri lebih dulu anak
muda, ayoh kita mencari tempat untuk menyembunyikan diri
lebih dulu."
Rupanya kedatangan mereka bertiga terlampau cepat.
Sekalipun dermaga itu bermandikan cahaya lentera, namun
cuma terdapat enam tujuh orang hwesio berbaju kuning yang
berjalan mondar mandir disana sambil menjaga tumpukan
kayu yang berjajar-jajar ditepi sungai.
Sedangkan orang-orang dari Perkumpulan Pay-kau belum
seorang pun yang tiba disitu.
Sambil tertawa Oh Put-kui segera berkata
"Ban tua, menurut pendapat boanpwee bila kita dapat
bersembunyi dibalik tumpukan pagoda kayu tersebut, tentu hal
itu lebih menguntungkan."
Rupanya kayu-kayu yang berada disitu ditumpukkan satu
dengan yang lainnya dalam posisi berdiri, setiap kelompok
terdiri dari empat puluh batang, sehingga dari kejauhan
nampak seperti sebuah pagoda saja.
--------------------
"Kalau ingin bersembunyi, kita harus mencari yang paling
tinggi!" kata kakek latah.
"Tentu saja."
Baru saja pemuda itu hendak membalikkan tubuh dan
beranjak pergi dari situ, tiba-tiba pengemis sinting berkata
sambil tertawa:
"Ban lopek, mengapa sih kau menyusul ketepi sungai
secara tiba-tiba, apakah kau telah menemukan sesuatu
persoalan yang tidak beres? Ataukah Li CIng-siu ada hal-hal
yang mencurigakan?"
"Betul, kali ini anggap saja perkataanmu tepat sekali," sahut
Kakek latah awet muda sambil mengangguk, "ayoh sana,
cepat sembunyikan diri, mereka sudah datang... selain itu, hey
pengemis cilik, nanti kau hanya boleh menonton, jangan
mencoba coba untuk bersuara, mengerti?"
Penemis sinting menjulurkan lidahnya dan cepat-cepat
ngeloyor pergi dari situ.
Kalau dibilang ngeloyor pergi, maka lebih tepat kalau
dikatakan merangkak, dengan rangkakan yang berhati-hati
sekali dan menyusup kebalik tumpukan kayu itu.
Oh Put Kui dan kakek latah awet muda segera mengincar
pula suatu tempat yang dianggap ideal, lalu dengan
mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dia menyelinap ke
depan.
Dengan kesempurnaan ilmu meringankan tubuh yang
mereka miliki, biarpun kawanan hwesio itu melihat bayangan
tubuh merekapun, niscaya akan menduga ada dua ekor
kelelawar yang sedang terbang lewat.
Belum lama mereka bertiga menyembunyikan diri, ketua
Pay-kau beserta anak buahnya sudah muncul disitu.
Betapa terkejutnya kawanan lhama yang ditugaskan
menjaga tumpukan kayu itu ketika melihat munculnya ketua
Pay-kau secara mendadak, sedemikian terkejutnya sampai
mereka lupa untuk turun tangan menghalangi perjalanan
mereka.
Apalagi setelah mereka saksikan Put-khong hwesio dan
Wi-cay hwesio, kedua orang pelindung hukum mereka yang
berilmu silat tinggi telah ditawan musuh dalam keadaan hiduphidup,
mereka semakin ketakutan hingga lemas semua
badannya.
Sambil tersenyum Li Cing-siu segera mengulapkan
tangannya kepada seorang anak buahnya yang berada
dibelakang lalu berkata:
"Giring mereka semua masuk ke balik tumpukan kayu!"
Lelaki itu menyahut dan segera mengumpulkan beberapa
orang rekannya, lalu seperti gembala yang menggiring
kawanan itik, mereka membawa beberapa orang lhama itu
masuk kebalik tumpukan kayu.
Setelah itu Li Cing-siu baru berkata kepada Ciu It cing
sambil tertawa:
"Anak Cing, bebaskan totokan darah dari Put-khong!"
Ciu It-cing menyahut dan segera menepuk bebas jalan
darah Put-khong hwesio yang tertotok.
Tak lama kemudian tersengar Put-khong hwesio menghela
napas panjang, kemudian pelan-pelan membuka matanya.
Mendadak dia merentangkan sepasang lengannya dan siap
melompat bangun.
Agaknya Ciu It cing sudah berjaga jaga terhadap tindakan
lawannya itu, serta merta dia menekuk lengan kirinya dan...
"Duuuk!" sikutnya persis menghantam jalan darah cian-kenghiat
dibahu Put khong hwesio.
Kontan saja hwesio tersebut tak sanggup berdiri lagi,
kembali ita jatuh tertunduk di atas tanah.
"Lebih baik tak usah berpikiran lain," tegur Ciu It-cing
dengan suara ketus, "kalau tidak, kau si keledai gundul akan
menderita paling dulu!"
Put-khong siansu segera membalikkan sepasang matanya
yang kecil dan mendengus dingin, mulutnya tetap
membungkam dalam seribu bahasa.
Pelan-pelan Li Cing-siu berjalan menuju kehadapan Putkhong
siansu, kemudian dengan wajah membesi bentaknya:
"Put-khong, aku hendak mengajukan beberapa buah
pertanyaan kepadamu, harap kau suka menjawab dengan
sejujurnya!"
Put-khong siansu masih tetap membungkam dalam seribu
bahasa.
Sambil tertawa hambar Li Cing-siu segera berkata:
"Setelah terjatuh ketanganku, lebih baik kau tak usah
berlagak menjadi seorang enghiong lagi, apalai pertanyaan
yang hendak kuajukan pun sama sekali tak ada sangkut
pautnya denagn aliran Tibet kalian. Bilamana siansu adalah
seseorang yang tahu diri, tentunya kau akan mengerti bahwa
ucapanku bukan bohong..."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih
jauh:
"Sebetulnya aku tak ingin menodai sepasang tanganku
dengan ayirnya darah, akan tetapi bilamana siansu tak tahu
diri dan keras kepala terus, apa boleh buat, terpaksa aku akan
melanggar pantangan denagn mengerjai dirimu habishabisan..."
Perkataan ini sungguh amat hebat, selain bernada lembut
penuh bujukan, terselip pula nada ketus dan keras yang
penuh berisikan ancaman...
Sepasang mata Put-khong siansu yang semula terpejam
rapat, tiba-tiba saja dipentangkan lebar-lebar.
"Apakah taysu sudah pikirkan persoalan ini sampai jelas?"
tanya Li Cing-siu lagi sambil tertawa.
dengan wajah kaku tanpa emosi Put-khong siansu
mengangguk:
"Sekarang aku sudah terjatuh ke tangan kaucu, berarti aku
sudah bukan seseorang yang bebas, masa aku kurang jelas?"
Li Cing-siu tertawa hambar:
Put-khong siansu cuma tertawa dingin tanpa memberi
komentar ap-apa...
Sambil tertawa Li Cing-siu kembali berkata
"Bila dicari penyebab dari persoalan ini, semestinya
taysulah si penyebab tersebut, kalau tidak, tentunya akupun
tak akan jauh-jauh berangkat kekuil Budha la-si di Tibet untuk
mencari kalian bertiga bukan...?"
Setelah berhenti sejenak, dengan sorot mata yang
memancarkan sinar aneh dia berkata lebih jauh:
"Taysu, sebenarnya karena persoalan apakah sehingga
taysu begitu bertekad hendak mendapatkan kayu-kayu ini?"
"Bukankah kaucu sudah tahu tapi pura-pura bertanya lagi?"
seru Put-khong siansu sambil tertawa dingin.
Dengan cepat Li Cing-siu menggelengkan kepalanya
berulang kali:
"Bila aku tahu, buat apa mesti membuang waktu untuk
bersilat lidah denganmu?"
Put-khong siansu kelihatan agak ragu, lalu dengan kening
berkerut katanya:
"Lolap tidak percaya kalau kaucu tidak mengentahui
tentang persoalan ini!"
"Bila taysu tidak mau percaya kepadaku, sesungguhnya
tindakanmu ini merupakan suatu penghinaan terhadap sobatsobat
persilatan lainnya, bayangkan sendiri, aku sebagai
seoarang ketua dari suatu perkumpulan besar, masa mau
berbicara sembarangan sehingga tak dipercaya orang?"
Kalau didengar dari nada suaranya, dia memang mirip
sebagai seorang ketua dari suatu perkumpulan besar.
Tapi Oh put-kui yang berada ditempat persembunyian
justru merasa geli sekali, dia tak mengira kalau orang itu akan
meminjam nama umat persilatan untuk menggertak hwesio
dari Tibet ini sehingga bersedia membongkar latar belakang
dari persoalan tersebut, bagaimana pun juga tindakannya ini
memang sedikit kelewatan.
Berkilat sorot mata Put-khong siansu oleh perkataan itu,
katanya kemudian dingin:
"Bila kaucu memang benar-benar tidak tahu, memang
kurang baik bila lolap tidak mengungkap hal ini kepadamu."
"Aku akan mendengarkan dengan seksama."
"Sesungguhnya lolap membegal kiriman kayu-kayu ini,
karena lolap hendak mengambil sebuah benda mestika dari
situ."
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh.... taysu, apakah kau tidak
salah?"
Put-khong siansu segera menggeleng:
"Tidak mungkin salah, lolap telah menerima surat dari
pelindung hukum kuil kami Hian-kong siansu!"
"Mana mungkin didalam kayu kayu yang kukirim ini
terdapat senjata mestika?"
"Bukankah kayu-kayu ini kaucu angkut dari tempat
penggergajian kayu keluarga Seng di Si-kui?"
"Betul kayu-kayu tersebut memang kuangkut dari tempat
penggergajian kayu keluarga Seng!"
"Bukankah kayu itu hendak dikirim ke perusahaan kayu
Seng-ki di kota Kim leng?" kembali Put-khong siansu
bertanya.
Sekali lagi Li Cing-siu mengangguk.
"Yaa, benar!"
"Kalau begitu tak bakal salah lagi!"
"Maksud taysu, didalam kayu-kayu tersebut disimpan
senjata mestika...?"
"Tepat sekali," Put-khong taysu tertawa dingin. "kalau tidak
buat apa lolap sekalian datang ke daratan Tionggoan untuk
mencegat kayu-kayu kirimanmu?"
Setelah mendengar perkataan tersebut, paras muka Li Cing
siu baru kelihatan agak berubah.
Namun dengan cepat dia mengunakan nada amarah untuk
menutupi gejolak emosi dalam hatinya.
"Taysu, lebih baik kau jangan berbicara sembarang!"
bentaknya keras keras.
"Selamanya lolap tak pernah bohong apalagi berbicara
sembarangan!" sahut Put-khong sinsu tak kalah gusarnya.
"Aku tetap tidak percaya kalau taysu mengatakan bahwa
dibalik kayu-kayu tersebut disembunyikan sebuah senjata
mestika."
"Perbuatan itu justru dikerjakan oleh cong huhoat kami Hian
kong sian-su sendiri, bagaimana mungkin bisa salah?"
"Sungguhkah itu?"
Tampaknya dia tidak menyangka kalau Hian-kong siansu
telah muncul pula didaratan Tionggoan, namun dari nada
suaranya yang agak gemetar, bisa diduga kalau perasaannya
sedang bergoncang keras.
Sambil tertawa dingin kembali Put-khong taysu berkata:
"Dengan mata kepala cong-huhoat kami Hian-kong siansu
melihat ada orang memasukkan senjata mestika itu ke dalam
salah satu dari kayu-kayu besar itu, masa hal inipun salah?"
"Lantas dimanakah kayu tersebut sekarang?" seru Li Cingsiu
tanpa sadar.
"Ditepi sungai sana!"
Tanpa terasa Li Cing-siu berpaling kebelakang dan
memandang sekejap jajaran kayu yang berada ditepi sungai.
Tapi kemudian dengan kening berkerut katanya:
"Maksud taysu, kayu itu sudah dicampukan ke dalam
tumpukan kayu yang dikirim kemari ini?"
"Menurut petunjuk dari Hian-kong siancu, memang
demikianlah keadaannya."
"Perkataan dari taysu ini sungguh membuat orang merasa
keheranan!" kata Li Cing-siu kemudian sambil tertawa.
"Apanya yang mengherankan? Lolap toh suah berbicara
secara jelas sekali?"
Li Cing-siu menggelengkan kepalanya berulang kali, lalu
berkata:
"Kalau toh Hian-kong hoatsu sudah mengetahui kalau
senjata mestika itu disimpan orang didalam kayu, mengapa
dia tidak mengambilnya pada saat itu juga?"
"Lolap tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan
oleh kaucu ini..."
Li Cing-siu segera tertawa tereglak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kalau toh Hian Khong
hoatsu berkeinginan untuk mendapatkan senjata mestika itu,
sekalipun dia tidak mengambilnya pada waktu itu, setelah
kejadian toh bisa mengambilnya, mengapa pula dia mesti
menulis surat ke Tibet dan minta kepada kalian untuk datang
ke daratan Tionggoan hanya bermaksud mencegat kayu-kayu
ini? Bukankah pekerjaan ini tertalu membuat waktu? Lagipula
bisa jadi akan tersiar sampai di mana-mana?"
Pertanyaan yang diajukan itu, seketika itu juga membuat
Put Khong siansu menjadi melongo dan tak samggup
menjawab.
"Lolap sendiripun pernah mengajukan pertanyaan ini,"
ujarnya selang beberapa sat kemudian, "tapi, kalau toh conghuhoat
kami Hian Khong hoatsu hendak berbuat demikian,
sudah pasti dia mempunyai alasan tertentu."
"Taysu begitu mempercayai Hian Khong hoatsu, tentu saja
kau boleh melaksanakan tugas sesuai dengan perintahnya,
tapi tidak demikian dengan diriku..."
Setelah berhenti sejenak, dengan sorot mata memancarkan
sinar tajam dia meneruskan:
"Bila taysu tidak bersedia memberitahukan keadaan yang
sebenarnya, mungkin hal ini tidak akan menguntungkan bagi
taysu sendiri.
Kontan saja Put Khong siansu tertawa seram.
"Li kaucu tak usah menggertak lolap, selamanya lolap tak
pernah berbohong dengan siapapun."
"Baik, biarlah aku mempercayai perkataanmu itu..."
Lalu dengan alis mata berkenyit dan sorot mata berkelit, dia
menambahkan :
"Tahukah taysu, senjata mestika itu berupa benda apa?"
Put-khong siansu tertawa dingin.
"Benda itu tak lain adalah ruyung mestika Mu-ni-ciang-mopian
dari Wi-in sinnie yang berdiam di kuil Hian-leng-an
puncak bukit Kun-lun-san."
Begitu mendengar nama "Mu-ni-ciang-mo-pian," paras
muka Li Cing-siu segera berubah hebat.
Oh Put-kui, kakek latah awet muda dan pengemis sinting
bertiga pun sama-sama turut merasa terkejut.
Mereka sama seklai tidak menyangka kalau ruyung mu-nipian
tersebut dapat disembunyikan orang didalam tumpukan
kayu.
Tak heran kalau pihak istana Siang-hong-hu pun turut
mengincar kayu-kayu tersebut.
Meski begitu, masih ada satu hal yang tidak dipahami Oh
Put-kui, yaitu siapa yang telah mencuri ruyung Mu-ni-pian
tersebut? Dan setelah berhasil mencurinya, mengapa harus
disembunyikan didalam kayu besar tersebut?
Selain itu, bukankah kayu itu hendak dijual kepada
perusahaan kayu? Bahkan pengirimannya diatur oleh pihak
Pay-kau?
Yang membuat Oh Put-kui terkejut bercampur keheranan
adalah, si pencuri ruyung tersebut telah meninggalkan surat
yang mengatakan bahwa Mu-ni-ciang-mo-pian telah dicuri
oleh orang-orang Pay-kau, sebenarnya apa maksud dan
tujuannya dengan berbuat demikian?
Kalau dibilang memfitnah pun rasanya tidak mirip.
Sebab kalau tujuannya memfitnah,mengapa ia tidak secara
langsung mengirim Mu-ni-pian tersebut kedalam markas besar
perkumpulan Pay-kau? Atau kalau lebih keji lagi, ruyung
mestika itu diikatkan ke tubuh salah seorang jago lihay dari
Pay kau, kemudian menghajar jago itu sampai terluka parah
atau tewas, bukankah tindakan ini jauh lebih sempurna lagi ?
Nyatanya orang itu tidak mengambil tindakan demikian, hal
ini membuktikan kalau tujuannya bukan memfitnah.
Oh Put-kui mencoba untuk memutar otaknya sedapat
mungkin, namun dia tetap tak berhasil menemukan alasannya.
Pada saat itulah Li Cing-siu telah berkata lagi dengan suara
dalam dan berat:
"Put-khong, tindak tanduk yang telah terjadi ini apakah
merupakan siasat yang sengaja diatur oleh pihak Tibet
kalian?"
"Li kaucu, bila ingin berbicara janganlah sekali-kali
menghina pihak kami!" seru Put khong siansu dengan gusar.
"Put Khong, seandainya kalian tidak sengaja bermaksud
menjebak orang, mengapa anak murid Wi-in sinni pun pada
malam ini bisa datang pula ke Kang-ciu serta meminta kembali
ruyung itu dariku?"
"Apa?" Put Khong siansu nampak agak tertegun. "anak
murid dari Wi-in sinni pun telah datang?"
Rupanya ia sudah tertotok jalan darah pingsannya
sehingga sama sekali tidak mengetahui kejadian yang telah
berlangsung.
"Hampir saja aku kehilangan muka karena peristiwa itu..."
kata Li Cing-siu lagi.
Mendadak dia menghela napas panjang, lalu tambahnya:
"Put Khong, apakah semua pengakuanmu itu tidak
bohong?"
"Kalau bohong, buat apa lolap berusaha untuk
menghadang pengiriman kayumu itu?"
Pelan-pelan air muka Li Cing-siu berubah menjadi tenang
kembali, ia tertawa lalu katanya:
"Pernahkah Hian Kong hoatsu menjelaskan siapa yang
telah menyembunyikan ruyung mestika itu?"
"Tidak!"
"Apakah di atas kayu yang digunakan untuk
menyembunyikan ruyung mestika itu, Hian Kong hoatsu telah
meninggalkan sesuatu tanda...?"
"Tidak!"
Kemudian sambil tertawa dingin hwesio itu melanjutkan:
"Sandainya kayu itu sudah diberi tanda, buat apa pula lolap
sekalian harus berdiam selama lima hari dikota Kang-ciu ini
sehingga berhasil kalian susul dan mengacaukan semua
rencana dari pihak kami...?"
Mendengar jawaban ini Li Cing-siu segera tertawa:
"Tampaknya perkataan dari taysu ini sangat meyakinkan!"
Put Khong siansu kembali menghela napas:
"Aaai, perhitungan manusia memang tak bisa mengungguli
perhitungan langit, terpaksa lolap pasrah kepada nasib. Nah Li
kaucu, apa yang lolap ketahui telah kujelaskan semua, bila
kau bermaksud hendak turun tangan terhadap diriku, silahkan
segera bertindak."
Tampak hwesio ini sudah mengambil keputusan untuk
menerima keadaan apapun termasuk tindakan pembantaian
terhadap dirinya.
Oh Put Kui segera bersorak memuji setelah melihat sikap
tersebut, dia sangat mengagumi sikap perkasa dari hwesio
tersebut.
Siapa tahu Li Cing siu malah tertawa tergelak sesudah
mendengar perkataan itu, katanya kemudian:
"Mengapa taysu berkata begitu? Memangnya kau anggap
aku aalah seorang manusia buas yang gemar membunuh?"
Berkilat sepasang mata Put-khong siansu, katanya
kemudian sambil tertawa dingin:
"Apakah kaucu tidak kuatir lolap akan membawa orang
untuk membalas dendam?"
Li Cing-siu segera mendongakkan kepalanya dan tertawa
terbahak-bahak, katanya:
"Apabila aku takut, tak nanti akan kubebaskan kalian
semua..."
Kemudian setelah berhenti sejenak, ditatapnya pendeta itu
sambil berkata lebih jauh:
"Aku toh tak bermaksud melukai atau mencelakai
kalian,mengapa pula harus takut terhadap pembalasan
dendam dari kalian?"
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... kaucu memang tak malu
disebut seorang ketua dari suatu perkumpulan besar!" sejenak
Put-khong siansu sambil tertawa dingin.
"Taysu terlampau memuji," Li Cing-siu tertawa hambar.
Berbicara sampai disitu, diapun segera berpaling ke arah
Ciu It-cing yang berdiri di belakangnya dan berseru:
"Anak Cing, bebaskan jalan darah Wi-cay siansu yang
tertotok, lalu wakili aku untuk menghantar kedua orang siansu
itu masih ke kota."
Ciu It-cing menyambut dengan hormat kemudian menepuk
bebas jalan arah Wi-cay siansu yang tergeletak disisinya,
kemudian menitahkan seorang lelaki kekar untuk membopong
pendeta tersebut.
Sementara itu Put-khong siansu telah bengkit berdiri pula
dari atas tanah.
Dia memandang sekejap semua yang hadir disitu, lalu
katanya:
"Lolap akan memohon diri lebih dulu!"
-----------------------
"Taysu, baik-baiklah menjaga diri, semoga kita dapat
berjumpa lagi dilain waktu." kata Li Cing siu tertawa.
Kembali Put-khong siansu tertawa dingin:
"Li kaucu, disaat kita bersua kembali, justru lolap berharap
kaucu bisa baik-baik menjaga diri."
Nyata sekali kalau pendeta ini bernyali amat besar,
sekalipun masih berada disarang harimau, dia sama sekali
tidak menunjukkan perasaan gentarnya.
Li Cing-siu tersenyum.
"Terima kasih banyak atas peringatan taysu, cuma aku
tidak memerlukan perhatian khususmu itu!"
Put-khong siansu tertawa seram, lalu menyambut tubuh Wicay
taysu dari tangan lelaki kekar tersebut, tanpa
mengucapkan sepatah katapun dia segera membalikkan
badan dan beranjak pergi dari situ.
Ciu It-cing berniat menghantar kepergian mereka, tapi baru
saja berjalan dua langkah Li Cing-siu telah berseru kembali:
"Anak Cing, kau tak usah menghantar mereka!"
Ciu It-cing mengiakan dan segera mengundurkan diri dari
situ.
Pelan-pelang Li Cing-siu mengalihkan pandangan matanya
memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian katanya
sambil tertawa:
"Anak Cing, turunkan perintahku dengan lencana Hua-im
thian-ciat, perintahkan kepada segenap anggota dari kantor
cabang Si-kui agar secepatnya menyiapkan kayu-kayu yang
baru dan segera kirim ke perusahaan kayu Seng-ki di kota
Kim leng!"
Ciu It-cing menyahut dan segera berlalu tak lama kemudian
dia sudah balik kembali. Bahkan sambil memandang kayukayu
yang bertumpuk ditepi sungai, katanya sambil tertawa:
"Suhu, bagaimana dengan kayu-kayu ini?"
"Kumpulkan semua pekerja kasar yang ada di kota Kang
ciu dan beri waktu selama tiga jam untuk mengangkut
semuanya ke atas daratan, lalu gergaji semua batang kayu itu
sehingga setiap batang berukuran delapan depa!"
Dia tahu senjata mestika Mu-ni-pian tersebut panjangnya
satu kaki, itu berarti jikalau disimpan dalam balok kayu itu,
paling tidak kayu tersebut harus mempunyai kepanjangan satu
kaki lebih, oleh sebab itu bilamana kayu-kayu itu digergaji
menjadi delapan depa saja, niscaya benda mestika itu akan
terlihat dengan sendirinya.
Sambil tertawa Ciu It-cing bertanya lagi
"Suhu, apakah semua kayu-kayu yang ada harus dipotong
semua?"
"Yaa, potong terus sampai ruyung mestika tersebut
ditemukan!"
sekali lagi Ciu It-cing tertawa, katanya lagi:
"Suhu, setelah ruyung mestika itu berhasil kita peroleh,
apakah harus dikembalikan ke istana Sian-hong hu?"
Pertanyaan itu justru merupakan masalah yang sedang
dipoikirkan oleh Oh Put Kui sekalian, karenanya mereka
segera memasang telinga baik-baik dan mendengarkan
dengan seksama.
Apakah Li Cing-siu akan mengembalikan ruyun mestika
tersebut kepada pemiliknya yang sah?
Tentu saja mereka tak dapat menduga sendiri.
Sementara itu terdengar Li Cing-siu telah menyahut sambil
tertawa terbahak-bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tentu saja harus
dikembalikan kepada pihak istana Sian-hong-hu, anak Cing,
orang kuno bilang siapa yang menyimpan mestika, dia akan
tertimpa bencana, aku mah tak ingin mencari kesulitan buat
diri sendiri..."
Tapi sesudah berhenti sejenak, tiba-tiba dia menghela
napas sambil menggelengkan kepalanya berulang kali,
kemudian katanya lebih lanjut:
"Tampaknya aku harus berangkat sendiri menuju ke ibu
kota!"
"Suhu, mengapa kau harus berangkat ke ibu kota?" tanya
Ciu It-cing dengan hormat
Li Cing-siu tertawa:
"Anak bodoh, coba bayangkan betapa berharganya ruyung
penakluk iblis Mu-ni-ciang-mo-pian yang merupakan salah
satu diantara tujuh mestika dunia persilatan, apabila sebelum
dikirim ke istana Sian-hong-hu telah terjadi sesuatu peristiwa,
bukankah aku bakal ditertawakan oleh seluruh orang dunia
ini? Itulah sebabnya aku punya rencana untuk mengembalikan
sendiri mestika itu kepada pemiliknya."
Leng-ho cinjin Cu Kong-to yang selama ini berdiri
disamping arena dan membungkam terus dalam seribu
bahasa, tiba tiba berkata pula sambil tertaa:
"Kaucu, menurut siaute lebih baik kau tak usah bersusuh
payah sendiri, mengapa tidak menyuruh keponakan Cing saja
untuk menghantar benda tersebut ke ibu kota?"
"Betul suhu, perkataan susiok memang benar, tecu berjanji
tak akan memalukan dirimu!" kata Ciu It-cing segera sambil
tertawa.
Li Cing-siu mengalihkan sorot matanya dan memandang
sekejap wajah kedua orang itu, kemudian ujarnya sambil
tertawa:
"Ruyung nya saja belum ditemukan, lebih baik kita jangan
membicarakan persoalan ini lebih dulu!"
Leng-ho cinjin Cu Kong-to segera mengangguk:
"Benar, perkataan kaucu memang tepat..."
Mereka bertiga pun tidak berbicara lagi, mereka segera
memerintahkan semua orang yang ada diarena untuk
memotong setiap batang kayu yang berada disitu.
Sepertanak nasi kemudian, dari kejauhan sana muncul
kembali lima ratusan orang pekerja kasar.
Orang-orang tersebut dapat dikumpulkan dalam waktu
yang relatip amat singkat, bagaimana pun juga kejadian ini
segera mengejutkan hati Oh Put Kui, diam diam diapun
memuji atas kepemimpinan Pay-ku yang mempunyai disiplin
sangat ketat.
Dengan kehadiran pekerja-pekerja kasar itu, maka suasana
ditepi sungai pun semakin bertambah ramai.
Dalam waktu singkat suasana disitu sudah diramaikan
dengan suara kayu yang dinagkut naik ke atas daratan serta
suara gergeji dan kapak yang bergema silih berganti.
Berapa jam kemudian, semua kayu-kayu itu sudah dikirim
ke atas daratan...
Dan pekerja pekerja itu pun semakin mempergiat kerjanya.
Entah berapa saat kemudian, fajar mulai menyingsing
diufuk sebelah timur sana...
Mendadak Oh Put Kui mendengar suara kakek latah awet
muda yang sedang berbisik dengan ilmu menyampaikan
suara:
"Hey anak muda, apakah kau sudah berhasil menemukan
ruyung mestika penakluk iblis itu?"
Oh Put Kui segera dibuat tertegun oleh ucapan mana.
Sebab ditinjau dari perkataan si kakek latah awet muda
tersebut, seakan akan dia telah berhasil menemukan ruyung
penakluk iblis itu.
Dengan sorot matanya yang tajam dia segera mencoba
untuk mencari disekitar kayu-kayu tadi, namun tak berhasil
menemukan jejak ruyung penakluk iblis yang dimaksud.
Terdengar kakek latah awet muda berkata lagi dengan ilmu
menyampaikan suaranya:
"Anak muda, kau tak usah mencaarinya lagi, arah yang kau
tuju sama sekali keliru besar, tak nanti kau akan
menemukannya. Aku lihat orang yang telah menyembunyikan
ruyung penakluk iblis itu ke dalam kayu, bukan saja memiliki
ilmu silat yang hebat bahkan memiliki kecerdikan yang luar
biasa pula, agaknya dia hendak menyruuh si pencari mestika
tersebut bukan saja menggergaji semua kayu yang ada.
bahkan harus menghancurkannya sama sekali sebelum dapat
menemukan ruyung tadi..."
Oh Put Kui merasa tidak percaya, tapi mau tak mau diapun
harus mempercayainya juga.
Dalam pada itu, Li kaucu yang telah berubah itupun
nampak mulai dicekam perasaan tegang, tiada hentinya dia
berjalan mondar mandir disekeliling pekerja tersebut sambil
meneliti setiap potong kayu yang telah selesai dipotong,
namun Ok Put Kui tahu bahwa Li Cing-siu sedang merasa
gelisah sebab hingga menjelang fajar menyingsing, ruyung
mestika yang sedang dicari belum juga ditemukan...
Terlebih-lebih anak murid dari ketua Pay-kau itu, sitamu
tanpa bayangan penghancur hati Ciu It cing, dia nampak lebih
emosi dan tidak tenang. walaupun mengikuti dibelakang
gurunya, namun sorot matanya celingukan kesana kemari
tiada hentinya.
Bukan cuma begitu, dibalik sorot matanya itu justru
terpancar keluar sinar dingin yang menggidikkan hati.
Oh Put Kui yang menyaksikan hal tersebut, hatinya menjadi
bingung dan tidak habis mengerti.
Namun diapun tidak berhasil menemukan seseuatu hal
yang aneh dibalik kesemuanya itu.
Matahari sudah muncul dilangit timur, sinar keperakperakan
mulai memancar menyeinari permukaan sungai.
Ratusan batang kayu itu sekarang telah terurai menjadi
ribuan potong, hampir semuanya telah terpotong menjadi
berapa bagian.
Akan tetapi ruyung penakluk iblis Mu-ni-cang-mo-pian
tersebut justru belum nampak jejaknya.
Akhirnya Li Cing-siu mulai mengerutkan dahinya rapat
rapat.
Sedangkau Ciu It-cingpun mulai habis kesabarannya,
dengan suara rendah dia mengumpat:
"Suhu, kita sudah ditipu mentah mentah oleh pendeta asing
itu!"
Sambil tertawa getir Li Cing-siu menggelengkan kepalanya
berulang kali, lalu katanya:
"Sekalipun Put Khong siansu berasal dari aliran sesat,
namun orangnya tidak termasuk manusia licik yang tidak
dapat dipercaya... anak Cing, nampaknya kita harus bekerja
lebih keras sebelum bisa memperoleh mestika itu."
"Bekerja lebih keras? Suhu, maksudmu potongan kayukayu
itu harus dipotong lebih pendek lagi?"
"Yaa, aku rasa memenag perlu berbuat demikian..."
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya:
"Tampaknya orang yang menyembunyikan ruyung tersebut
kedalam kayu telah menekuk ruyung tadi menjadi berapa
bagian sebelum diamblaskan kedalam batang kayu, itu berarti
jika kita memotong kayu ini menjadi delapan depa, akan sulit
juga untuk menemukannya..."
"Suhu, tampaknya orang itu mempunyai muslihat yang
hebat sekali..." kata Ciu It-cing tertawa.
"Akupun beru sekarang berpikir sampai ke situ. tampaknya
orang yang menyembunyikan ruyung itu memang sengaja
menyulitkan para pencari, agar mereka harus memotong
semua bagian kayu itu menjadi potongan yang kecil sebelum
dapat menemukannya, otomatis pekerjaan semacam ini akan
membutuhkan waktu yang sangat lama..."
"Suhu, siapa tahu kalau dibalik kesemuanya ini terselip
suatu siasat lain yang amat keji?" tiba-tiba Ciu It-cing berseru
dengan sorot mata berkilat.
"Yaa, sulit untuk dikatakan, mungkin juga..."
Belum selesai dia berkata, mendadak terdengar Leng-ho
cinjin Cu Kong-to menjerit kaget:
"Kaucu, ruyung mestika tersebut berada disini..."
Li Cing-siu segera menyelinap maju ke depan, paras
mukanya berubah menjadi aneh sekali, agak gugup tanyanya:
"Di mana?"
Sekali ayunan tangan dia telah mencengkeram potongan
kayu yang beratnya paling tidak mencapai ratusan kati itu.
Sementara itu Ciu It-cing telah melayang datang pula
ketempat kejadian.
Ketika sorot matanya memandang kearah bongkahan kayu
yang berada ditangan Li Cing-siu itu, mendadak ia berseru
sambil tertawa gembira:
"Yaa benar, ruyung mestika itu memang berada disini..."
Belum selesai dia berkata, sepasang tangannya sudah
bekerja cepat dan menghantam potongan kayu yang berada
ditangan Li Cing-siu sehingga hancur berkeping-keping.
Dengan perasaan terkejut Li Cing siu segera berseru:
"Anak Cing, kau..."
Belum habis bentakan itu, Tamu tanpa bayangan
penghancur hati Ciu It cing telah berhasil mencengkeram
ruyung Mu-ni-pian tersebut dan mendongakkan kepalanya
sambil tertawa terbahak-bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Li Cing siu, kau sudah
tertipu!"
"Anak Cing, mengapa kau?" seru Li Cing siu agak tertegun.
Leng-ho cinjin Cu Kong-to membentak pula dengan suara
dalam
"Ciu It-cing apakah kau berniat untuk menghianati
perkumpulan? Mengapa kau bersikap begitu kurangajar
dihadapan gurumu? Ayoh cepat lepaskan ruyung mestika itu
dan nantikan hukuman!"
Mendengar ucapan mana, sekali lagi Ciu It-cing tertawa
seram:
"Cu Kong-to, kau tak usah bermimpi di siang hari bolong...
siapa sih yang menjadi anak muridmu?"
Secara tiba-tiba suara pembicaraaan dari Ciu It-cing telah
berubah menjadi amat menyeramkan dan menggidikkan hati.
Sudah jelas orang itu bukan Ciu It cing!
Oh Put Kui yang bersembunyi ditempat itu pun merasa
amat terperanjat, sekarang dia baru teringat kalau suara
pembicaraan dari Ciu It cing hari ini memang kedengaran
agak parau.
Rupanya dia adalah Ciu It cing gadungan.
Leng-ho cinjin Cu Kong-to ikut tertegun pula dengan wajah
berubah hebat.
Mendadak Li Cing-siu tertawa terbahak-bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... anak Cing, apakah kau
sudah gila? Masa dengan Cu susiok pun tidak kenal?"
Sambil berkata pelan-pelan dia berjalan mendekati pemuda
tersebut, kembali katanya:
"Anak Cing, ayoh cepat minta maaf kepada Cu susiok!"
Kata-kata yang terakhir ini diucapkan Li Cing-siu dengan
suara yang keras, dan setengah membentak.
Ciu It-cing segera tertawa dingin:
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... kau tak usah berlagak
sok dihadapanku, Li Cing-siu tujuanku tak lain adalah untuk
memperoleh ruyung Mu-ni-pian ini sekalian memenggal batok
kepala kalian, sekarang aku telah berubah pikiran"
Kemudian sesudah tertawa seram dia menerukan:
"Aku rasa kurang baik untuk berjalan sambil membawa
batok kepala, karena hal ini pasti akan mendatangkan bau
amis yang tak sedap diendus, oleh sebab itu aku telah
mengembil keputusan, bila ruyung ini telah kutemukan, maka
kalian semua akan kupendam disini saja..."
Leng-ho cinjin Cu Kong-to benar-benar amat gusar setelah
mendengar perkataan ini, semua rambutnya berdiri kaku
bagaikan landak, kemudian dengan suara mengeeledek
bentaknya:
"Manusia durhaka, aku akan mencabut nyawamu!"
Cahaya tajam berkilauan, dia telah meloloskan senjatanya.
Tiba tiba Ciu It-cing berkata sambil tertawa hambar:
"Cu Kong-to, kepandaian silatmu masih ketinggalan sangat
jauh..."
Didalam tertawanya itu jari tangannya segera disentilkan
kedepan, tahu tahu saja pedang yang berada dalam
genggaman Cu Kong-to tersebut memperdengarkan suara
dengungan yang sangat memekikkan telinga, dari sini dapat
diketahui sampai dimanakah kehebatan dari sentilan jari
tangannya itu.
Dengan wajah berubah hebat Cu Kong-to segera menegur:
"Siapakah kau?"
Ciu It cing tertawa angkuh, ruyung penakluk iblis yang
berada dalam genggamannya itu segera digetarkan keraskeras.
"Plaaaakk...!"
Bagaikan bunyi genta yang memekikkan telinga, hampir
semua orang yang berada di situ merasakan telinganya amat
sakit.
"Kau masih belum pantas untuk mengetahui namaku!" kata
Ciu It cing kemudian angkuh.
Li Cing-siu benar benar seorang ketua suatu perkumpulan
besar yang sangat hebat, walaupun dia menjumpai anak
muridnya telah berubah menjadi gadungan, paras mukanya
tidak berubah sedikitpun juga, malah ujarnya sambil tertawa:
"Anak cing, agaknya kau sudah dibuat linglung karena
hawa sesat ruyung tersebut? Bawa kemari, coba aku
periksakan denyutan nadimu, atau mungkin ada sesuatu yang
tak beres..."
Sembari berkata, kembali tubuhnya melangkah maju
kedepan.
Mendadak Ciu It-cing tertawa dingin dengan suara yang
menyeramkan, lalu berseru:
"Li Cing-siu, gara-gara untuk memperoleh ruyung mestika
ini, aku sudah mengganggumu sebagai seorang cianpwee
selama sehari setengah, penderitaan tersebut sudah cukup
memuakkan hatiku, dan sekarang..."
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik matanya, lalu
katanya lagi sambil tertawa seram:
"Mulai saat ini aku hendak mengembalikan wajah asliku!"
Hingga detik ini Li Cing-siu baru benar-benar tertegun
dibuatnya, ia lantas berseru:
"Jadi kau bukan Ciu It-cing?"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... kau pernah mendengar
tentang Tongkat emas tangan sakti Sik Keng-seng?"
"Jadi kau adalah wakil ketua Sik dari perkumpulan Ho-hapkau?"
seru Li Cing-siu dengan wajah berubah.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tidak kusangka Li kaucu
mempunyai pengetahuan yang cukup luas!"
"Nama besar Sik hu-kaucu tentu saja kukenal" kata Li Cingsiu
kemudian sembil tersenyum "hanya saja, aku tidak habis
mengerti apa sebabnya kau enggan menjadi wakil kaucu,
justru datang menyaru sebagai muridku, apakah perbatanmu
tersebut hanya dikarenakan..."
Belum selesai Li Cing-siu berkata, Sik Keng-seng telah
menukas lagi sambil tertawa:
"Padahal Li kaucu tak perlu mengajukan pertanyaan seperti
ini, kini ruyung Mu-ni-pian telah terjatuh ke tanganku, segala
sesuatunya pun sudah jelas, apa gunanya kau banyak
bertanya lagi?"
Sambil tertawa Li Cing siu manggut-manggut:
"Benar juga perkataan dari Sik hu-kaucu. memang
pertanyaanku ini tak ada gunanya."
Tapi setelah berhenti sejenak, dengan kening berkerut dia
berkata kembali:
"Sudah lama kudengar tentang keahlian Sik hu-kaucu
dalam ilmu menyaru muka, hanya aku tidak mengerti, selain
kau bisa menyaru sebagai muridku, mengapa kaupun bisa
mengetahui segala seluk beluk tentang perkumpulanku tanpa
meninggalkan titik kecurigaan apapun?"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... tentu saja aku
mempunyai sistim dan cara yang amat jitu," kata Sik Keng
seng sambil tertawa tergelak, "Li kaucu, kau tak usah kuatir,
terus terang saja kuberitahukan kepadamu, Ciu It-cing sama
sekali tidak menderita luka apapun..."
"Benarkah?" tiba-tiba Li Cing-siu tertawa "tapi bagaimana
mungkin aku bisa percaya kepadamu kalau kau tidak melukai
muridku itu...?"
@oodwoo@
Jilid ke : 26
"Buat apa aku mesti turun tangan terhadap seorang
angkatan muda ?" Sik Keng-seng balik bertanya dengan sorot
mata berkilat.
"Lantas dimanakah bocah itu sekarang ?"
"Aku telah mengutus orang untuk menghantarnya pulang
ke markas besar perkumpulanmu!"
Tiba-tiba saja paras muka Li Ceng-siu berubah hebat
setelah mendengar perkataan itu, serunya tanpa terasa :
"Kau telah menghantarnya pulang ke Seng-ciu?"
"Bila tidak percaya, kau akan mengetahui sendiri setibanya
dirumah nanti.........."
Belum habis ia berkata, Li Ceng-siu telah membentak
dengan penuh amarah:
"Kau benar-benar telur busuk !"
Umpatan tersebut kontan saja membuat Sik Keng-seng
menjadi tertegun dan melongo, pikirnya kemudian :
"Li Ceng-siu benar-benar seorang telur busuk tua........"
Belum habis ingatan tersebut melintas lewat, tiba-tiba
sesosok bayangan manusia telah melintas lewat
dihadapannya, hal ini membuat hatinya amat terkejut.
Bentakan gusar dan gelak tertawa keras segera bergema
silih berganti.
ooooooooooo0dw0oooooooooo
Oh Put Kui yang menyaksikan kejadian tersebut segera
memancarkan sinar matanya yang tajam untuk mengikuti
semua gerakan tersebut.
Ternyata Li Cing-siu telah mempergunakan gerakan
tubuhnya yang paling hebat untuk menyambar ruyung Mu-nipian
tersebut dari tangan Sik Keng-seng.
Sedemikian cepat dan hebatnya gerakan tersebut, sampaisampai
dia tak sempat melihat dengan jelas gerakan apakah
yang telah dipergunakan oleh Li Ceng-siu itu.
Pada saat itulah, dia mendengar Kakek latah awet muda
berbisik:
"Hey anak muda, apakah kau merasa terkejut?"
"Ban-tua, boanpwe benar-benar merasa kagum atas
kelihayan tenaga dalam yang dimiliki Li Kaucu ini!" bisik Oh
Put Kui dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara
pula.
"Tentu saja, ilmu silat yang dimiliki Li Kaucu ini sudah tidak
berada dibawah tiga kakek iblis dari dunia persilatan,
bagaimana mungkin kau tidak merasa kagum?"
"Ban tua, siapa sih yang kau maksudkan sebagai tiga
kakek iblis dari dunia persilatan itu?" tanya Oh Put Kui dengan
perasaan tidak habis mengerti.
"Ooooh, julukan itu mah pemberianku sendiri untuk mereka
bertiga, ketiga manusia itu adalah kakek setan berhati cacad
Siau Lun, Kakek patah hati Hui Lok dan kakek pengejut
manusia Siau Hian!"
"Boanpwe rasa tidak mungkin, kakek Ban terlalu menilai
tinggi kemampuan dari Li Kaucu itu," seru Oh Put Kui terkejut
bercampur keheranan.
"Kalau kau tidak percaya anak muda, sebentar saksikan
sendiri!"
Sementara pembicaraan berlangsung sampai disitu, dalam
arena kembali telah terjadi perubahan.
Rupanya Sik Keng-seng telah mengayunkan telapak
tangannya dan melepaskan sebuah serangan dahsyat kearah
Li Cing-siu.
"Li Cing-siu!" terdengar ia berkaok-kaok, "sebetulnya aku
tidak berniat membunuhmu, tapi kalau toh kau ingin mencari
mampus, terpaksa aku harus memenuhi keinginanmu itu...."
Angin pukulan yang menderu deru dengan membawa
kekuatan yang sangat dahsyat segera menggulung kedepan.
Li Ceng-siu kembali tertawa nyaring:
"Haaaahh.....haaaahhhh..... Sik Keng-seng, kali ini tiba
giliranmu yang sedang bermimpi!"
Tubuhnya segera miring kesamping buat menghindari
serangan dahsyat dari Sik Keng-seng, kemudian tangan
kirinya berputar dan melilitkan ruyung penakluk iblis tersebut
keatas pinggangnya.
Setelah itu dia baru berkata lagi sambil tertawa:
"Sik Keng-seng, selama hidup kerja adalah berburu burung
manyar, memangnya kau anggap mataku mudah dipatuk oleh
burung manyar semacam dirimu itu? Kalau sampai begitu,
apakah orang persilatan tak akan mentertawakan aku sampai
copot giginya?"
Setelah serangannya mengenai sasaran yang kosong,
sekali lagi paras muka Sik Keng-seng berubah hebat.
Bagaimanapun juga dia tak menyangka kalau Li Cing-siu
adalah seorang jago yang memiliki ilmu silat jauh diluar
perhitungannya semula.....
"Li Cing-siu, aku telah menilaimu terlalu rendah....."
teriaknya.
Sambil berkata, sebuah pukulan dahsyat sekali lagi
dilontarkan kemuka.
Berkilat sepasang mata Li Cing-siu menghadapi kejadian
tersebut, tiba-tiba dia tertawa nyaring, kemudian tangan
kirinya diayunkan kemuka untuk menyambut datangnya
serangan dahsyat dari Sik Keng-seng itu, sementara tangan
kirinya dibalik dan tiba-tiba menekan kebawah, bentaknya
keras:
"Sik Keng-seng, coba kaupun rasakan kelihayan dari ilmu
pukulan penghancur bukitku ini!"
Angin pukulan yang menderu-deru dan amat memekikan
telinga segera meluncur ketengah udara.
Sik Keng-seng terkesiap sekali, sekuat tenaga dia
melompat mundur sejauh satu lima depa sambil berseru:
"Kau... kau bukan Li Cing-siu.....?"
Agaknya perkataan "ilmu pukulan penghancur bukit" telah
memecahkan nyalinya.
Secara tiba-tiba saja dia teringat akan seorang gembong
iblis yang mempunyai kedudukan dan nama besar jauh
melebihi dirinya, sudah barang tentu ia tak berani menerima
serangan tersebut dengan keras melawan keras.
Disamping itu, diapun tak tahan segera membentak.......
Li Ceng-siu tertawa seram:
"Sik Keng-seng, tentang keahlianmu dalam ilmu menyaru
muka sudah lama kudengar, tapi bila kau ingin mengandalkan
sedikit kepandaianmu itu untuk bermain gila dihadapanku,
maka kau masih ketinggalan jauh sekali, sekalipun aku bukan
cikal bakalnya penemu ilmu menyaru muka, namun dalam
dunia persilatan saat ini, aku masih pantas disebut rajanya
raja ilmu menyaru muka...... Hmmm, kalau manusia macam
kau mah belum pantas memusuhi diriku, bahkan menjadi cucu
muridkupun belum pantas..."
Kata-kata tersebut amat sombong dan tekebur, seakan
akan dia tidak memandang sebelah matapun terhadap orang
lain.
Oh Put Kui tidak kenal dengan manusia itu, sudah barang
tentu diapun tidak mengetahui apakah kata-kata itu kelewat
tekebur atau memang demikianlah sesungguhnya.
Berbeda sekali dengan Sik Keng-seng, dia justru kenal baik
dengan orang itu.
Dari nada pembicaraan Li Cing-siu tadi, ia sudah menduga
siapa gerangan lawannya ini.
"Bukankah kau adalah kakek penggetar langit Siau Hian?"
sapanya kemudian.
Kalau tadi sikap Sik Keng-seng begitu sombong dan
tekebur, maka saat ini semua keangkuhannya telah hilang
lenyap tak berbekas, sebagai gantinya dia tampak mundukmunduk
dan patut dikasihani.
Manusia yang nampaknya sedang menyaru sebagai Li
Cing-siu, ketua Pay-kau ini segera mengernyitkan alis
matanya yang putih dan tertawa terbahak bahak:
"Haaaahhhh..... haaahhhh.... haaahhhh..... tak nyana kau
manusia she Sik masih tahu diri, hanya sayangnya ruyung
mestika Mu-ni-ciang-mo-pian ini sudah terjatuh ketanganku,
jadi terpaksa kau hanya bisa menggigit jari saja......"
Pelan-pelan Sik Keng-seng bangkit berdiri, lalu ujarnya
sambil tersenyum:
"Kalau toh kau orang tua sudah datang, apalagi yang dapat
boanpwe katakan?"
Kemudian setelah berhenti sejenak, sambil menjura
katanya pula:
"Siau tua, setelah ruyung mestika itu kau dapatkan,
boanpwe tak berani berangan-angan lagi......"
"Seharusnya kau sudah tahu diri sedari tadi!" bentak kakek
penggetar langit Siau Hian dengan marah.
Meskipun Sik Keng-seng merasa terkejut, namun dia
berkata juga sambil tersenyum:
"Kalau semenjak tadi boanpwe sudah tahu akan kehadiran
cianpwe, tentu saja boanpwe tak akan berani mencampuri
urusan ini lagi, Siau tua, sekarang kau telah memperoleh
ruyung mestika itu, bagaimana kalau boanpwe mohon diri
lebih dahulu?"
Sikap maupun caranya berbicara makin lama semakin
mengenaskan sehingga patut dikasihani.
Oh Put Kuipun sama sekali tidak menyangka kalau
pengaruh dari Kakek penggetar langit ini tidak berada dibawah
pengaruh kakek setan berhati cacad Siau Lun serta kakek
patah hati.
Tidak heran kalau kakek latah awet muda menyebut
mereka bertiga sebagai tiga kakek iblis dari dunia persilatan.
Sementara itu kakek penggetar langit Siau Hian telah
berkata lagi dengan suara dalam:
"Sik Keng-seng, bila kau ingin pergi, akupun tidak berusaha
menghalangimu, tapi aku perlu memberitahukan satu hal
kepadamu, andaikata didalam dunia persilatan ada orang
yang mengetahui bahwa ruyung tersebut berada ditanganku,
haaaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh... Sik Keng-seng, sampai
waktunya aku percaya kau tentu mengetahui apa yang bakal
kuperbuat terhadap dirimu......"
Sik Keng-seng benar-benar merasa terkejut sekali oleh
perkataan tersebut.
"Siauw tua, tentang persoalan ini boanpwe tak berani
bertanggung jawab, apalagi orang yang menyaksikan
peristiwa ini paling tidak ada lima ratus orang lebih,
seandainya ada diantara mereka yang membocorkan rahasia
ini, bukankah aku yang harus menanggung resikonya....?"
"Kau tidak usah kuatir," kakek penggetar langit Siau Hian
tertawa dingin, "tak seorangpun diantara mereka yang hadir
dalam arena sekarang mempunyai kesempatan untuk
membocorkan rahasia ini."
"Haaahhh.... haaahhhh.... haaaahhhh.... maksudmu, kau
hendak membantai mereka semua sampai habis?" tanya Sik
Keng-seng dengan mata berkilat tajam.
"Anggap saja kau memang pandai, dugaanmu memang
tepat sekali....."
Gelak tertawa yang keras itu segera menyadarkan kembali
Leng ho cinjin Cu Kong-to yang selama ini dibikin
kebingungan dan tak tahu apa yang telah terjadi itu.
Manusia memang mempunyai firasat yang tajam terhadap
setiap ancaman kematian.
"Haaahhh..... haaaahhhh Cu Kong-to, seandainya aku
benar-benar menjadi ketua kalian, mungkin Pay-kau sudah
mempunyai kedudukan jauh diatas lima partai besar dan
termashur diseluruh dunia persilatan....."
Kemudian setelah berhenti sejenak dan mengalihkan
pandangannya ke wajah ratusan orang pekerja yang masih
bekerja memotongi kayu itu, dia berkata lagi sambil tertawa
seram:
"Celakanya aku hanya bersedia menyaru selama sehari
setengah, tapi hitung-hitung akupun telah membantu kalian
untuk melenyapkan tiga orang musuh tangguh dari Tibet
sehingga menghindarkan perkumpulan kalian dari
kemusnahan, bila beratus lembar jiwa kalian kutuntut sebagai
pembayarannya, toh transaksi perdagangan ini masih tetap
meenguntungkan pihakmu?"
Semakin mendengarkan pembicaraan tersebut, Cu Kong to
merasa hatinya semakin tak karuan, akhirnya dia membentak
gusar lalu sambil menayunkan pedangnya menuding Kakek
penggetar langit, teriaknya keras keras :
"Siau Hian, orang lain mungkin tidak takut kepadamu, tapi
pinto tak akan takut menghadapimu, tinggalkan ruyung Mu-niciang-
mo pian itu, memandang pada nama besarmu dimasa
silam, pinto bersedia melepaskan kau pergi dari sini."
Sekalipun orang ini berbicara dengan nada sungguhsungguh
dan sejujurnya, namun Oh Put Kui yang ikut
mendengarkan perkataan itu hampir saja tertawa tergelak
saking gelinya.
Tentu saja Kakek penggetar langit Siauw Hian lebih-lebih
tak sanggup menahan rasa gelinya, dia segera
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak:
"Haaahhh... haaahhh... haaah... Cu Kong to, kalau ingin
berbicara, coba kencing dulu dan gunakan air kencingmu
untuk bercermin, sekarang ruyung Mu-ni-ciang mo pian telah
berada ditanganku, bila kau ingin menahannya, itu mah
gampang sekali, aku akan meletakkan ruyung tersebut satu
kaki dihadapanku, bila kau mampu mendapatkannya, aku
segera akan tepuk pantat dan angkat kaki dari sini,
bagaimana?"
Walaupun Cu Kong to dipaksa oleh keadaan sehingga
mesti mengucapkan kata-kata yang kaku tadi, namun
sesungguhnya dia cukup mengerti tentang keadaan yang
sebenarnya.
Bila sungguh sungguh bertarung mungkin Kakek penggetar
langit hanya cukup membutuhkan lima gebrakan saja untuk
menghabisi selembar jiwanya.
Tapi diapun tidak mengira kalau Kakek penggetar langit
Siau Hian justru berbuat begitu tekebur dengan memberi
kesempatan semacam ini kepadanya, sudah barang tentu dia
tak akan melepaskan kesempatan yang sangat baik itu
dengan begitu saja.
"Baik, baik, pinto sangat setuju dengan usulmu itu," seru Cu
Kong-to kemudian dengan lantang.
Kakek penggetar langit Siau Hian tertawa terbahak-bahak,
dia segera melepaskan kembali ruyung Mu-ni-pian yang hitam
pekat tanpa sesuatu keistimewaan itu, kemudian betul-betul
diletakkan pada jarak satu kaki dari hadapannya.
Kemudian diapun berseru:
"Nah Cu Kong-to, sekarang kau boleh mencobanya!"
Pelan pelan Leng-co cinjin Cu Kong-to mengalihkan sorot
matanya dan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu,
tiba-tiba saja dia merasa bahwa tanggung jawab yang
diletakkan diatas bahunya benar-benar amat berat, sebab lima
ratusan lembar jiwa telah berada dalam cengkeramannya dan
tergantung hasil pertaruhan ini.
Diam-diam ia bertekad untuk mendapatkan ruyung
tersebut, entah dengan cara apapun.
Oleh sebab itu begitu Kakek penggetar langit selesai
berkata, dia sama sekali tidak turun tangan segera.
Melihat itu, Kakek penggetar langit segera berseru sambil
tertawa seram:
"Cu Kong-to, aku tidak mempunyai cukup waktu untuk
menantimu...!"
Cu Kong-to cukup sadar, berhasil atau gagal semua
tergantung pada tindakan yang bakal dilakukannya nanti.
Dia menjadi nekad, sambil berpekik nyaring tiba-tiba saja
tubuhnya melejit kemuka dan menerjang ke arah ruyung Mu ni
ciang mo pian tersebut.
Ketika tangannya hampir menyentuh ujung ruyung tersebut,
tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi silau, dan ruung
Mu-ni-pian tersebut telah melayang kearah tangan Siau Hian.
Menyaksikan keadaan ini, Cu Kong-to menghela napas
panjang dan segera menghentikan langkahnya.
Dengan cepat dia meloloskan pedangnya dan siap
digorokkan ke leher sendiri untuk mengakhiri hidupnya...
Tapi... pada saat itu pula terdengar Siau Hian sedang
membentak penuh amarah:
"Siapa yang berani bermain setan dihadapanku?"
Dengan perasaan terkejut Cu Kong to segera berpaling
kearah mana berasalnya suara itu.
Ternyata ruyung Mu-ni-pian tersebut telah terhenti di
tengah udara dan sama sekali tak berkutik lagi.
Sebaliknya Kakek penggetar langit Siau Hian dengan
rambut berdiri kaku seperti landak sedang menggerakkan
tangannya berulang kali untuk menangkap kembali ruyung itu.
Sayang sekali, bagaimana pun dia telah berusaha untuk
menangkap ruyung itu, nyatanya ruyung tersebut sama sekali
tidak bergerak.
Sekulum senyuman dengan cepat menghiasi wajah Cu
Kong to, dia tahu disitu telah hadir kembali seorang jago yang
amat lihay.
Pada saat itulah dari balik tumpukan kayu berjalan keluar
tiga sosok bayangan manusia.
Kakek latah awet muda berjalan ditengah Oh Put Kui
disebelah kanan dan pengemis sinting berada disebelah kiri.
Dari ketiga orang itu, ternyata tak seorang pun diantara
mereka yang menggerakkan tangannya.
Sekalipun begitu, nyatanya ruyung itu masih tetap terhenti
di tengah udara seakan akan terhisap oleh sesuatu kekuatan
yang amat besar, kendati pun Kakek penggetar langit Siau
Hian telah berusaha menghisapnya kembali dengan
mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, namun
ruyung itu masih tetap tak berkutik dari posisi semula.
Begitu munculkan diri, dengan langkah lebar Oh Put Kui
segera berjalan menghampiri ruyung mestika tersebut.
Kemudian sambil berpaling ke arah Siau Hian, katanya
sambil tertawa lebar:
"Siau lojin, bagaimana kalau kuwakilimu untuk mengambil
kembali ruyung ini?"
Kemudian tanpa menanti jawaban dari Siau Hian, dia
rentangkan sepasang lengannya melejit dua kaki ke udara,
kemudian tangan kanannya cepat menyambar ruyung Mu-nipian
tersebut dan melayang turun kembali ke atas tanah.
Pada saat inilah Kakek penggetar langit Siau Hian
merasakan tenaga murni yang dipancarkan olehnya seakaknakan
kena digempur oleh guntur yang maha dahsyat,
andaikata reaksinya tidak cepat, hampir saja dia tak mampu
untuk berdiri.
Tentu saja Siau Hian merasa terkejutnya bukan alang
kepalang...
Namun ketika dia melihat jelas siapa gerangan kakek
berambut putih itu, semua amarah dan rasa kagetnya seketika
hilang lenyap seperti terhembus angin lembut.
Malahan sambil menjura dia berkata sungkan-sungkan:
"Oooh, rupangan Ban tua pun ikut datang Siau Hian benar
benar punya mata tak mengenali bukit Thay san!"
Setelah berpaling pula ke arah Oh Put Kui, kembali dia
berkata:
"Saudara cilik, atas budi kebaikanmu ketika berada dalam
kuil Thay siang-kok-si tempo hari, kuucapkan pula banyak
terima kasih..."
Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... Siau Hian,
kepandaianmu yang biasanya menggetarkan langit,
menggemparkan bumi, kali ini benar benar sudah ketanggor
batunya."
"Selama berada dihadapan kau orang tua, mana mungkin
Siau Hian masih mempunyai tempat?" sahut Siauw Hian
sambil tertawa paksa, : bukan cuma ketanggor batunya saja,
sekalipun kau orang tua menghendaki selembar nyawa aku
orang she Siau pun, apa pula yang berani kukatakan?"
Ditinjau dari nada pembicaraannya, orang ini benar-benar
lebih rendah dan tak tahu malu ketimbang Sik Keng-seng tadi
Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak:
"Siau Hian, apakah kau masih menginginkan ruyung
mestika ini?"
"Tentu saja masih..." jawab Siau Hian tanpa sadar.
Tapi begitu ucapan tersebut diutarakan, ia segera
menyadari akan kesalahannya.
Kontan saja Kakek latah awet muda tertawa keras:
"Siau Hian, beginikah caramu berbicara denganku?"
Cepat-cepat Siau Hian menggelengkan kepalanya berulang
kali, lalu ujarnya:
"Aku hanya salah berbicara... harap Ban tua memaafkan,
aku ... aku tak ingin mendapatkan ruyung itu lagi..."
"Nah, begitu baru bagus..." seru kakek latah sambil tertawa
dalam.
Sementara itu Oh Put Kui telah menekuk ruyung itu
menjadi tiga bagian dan diserahkan kepada pengemis sinting,
kemudian dia menyela:
"Siau lojin, bagaimana dengan kelima ratus lembar jiwa dari
orang-orang Pay-kau?"
"Ruyung mestika saja sudah tidak kumaui, tentu saja
transaksi perdagangan ini kuanggap batal." sahut Siau Hian
sambil tertawa.
Oh Put Kui segera manggut-manggut:
"Ehmm, Siau tua memang tidak malu disebut seorang
gembong iblis yang perkasa."
"Harap Oh sauhiap jangan mentertawakan..." Siau Hian
mengernyitkan alis matanya.
Oh Put Kui tertawa hambar, kembali ujarnya:
"Siau lojin, kau bisa datang dengan menyamar sebagai
ketua Pay-kau Li Cing siu, tolong tanya Li Cing-siu pribadi
berada di mana sekarang..."
"Di Seng-ciu!"
"Kau telah melukainya?" tanya Oh Put Kui terkejut.
"Tidak, aku hanya menotok jalan darah tidurnya, agar dia
bisa beristirahat sehari penuh!"
Oh Put Kui baru merasa berlega hati setelah mendengar
jawaban tersebut.
Sebaliknya Kakek latah awet muda segera membentak
pula
Siau Hian, mengapa secara tiba-tiba kau menyamar
sebagai ketua Pay-kau? Apakah kau sudah mengetahui kalau
ruyung Mu ni pian tersebut memang disembunyikan orang
didalam balok kayu?"
"Benar, sekalipun boanpwee mengetahui akan hal ini...
cuma kurang jelas!"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... betul dengan menyamar
sebagai kaucu dari Pay-kau, tentunya kau berniat hendak
mengorek keterangan dari tiga pendeta asing itu bukan?"
tanya Kakek latah sambil tertawa tergelak.
"Benar."
"Lantas siapa yang memberitahukan soal ini kepadamu?"
"Wi Thian-yang!"
"Siapa?" Oh Put Kui ikut bertanya dengan perasaan
terperanjat.
"Oh lote, tentunya kau pernah mendengar tentang Raja
setan penggetar langit Wi Thian Yang bukan? Aku telah
bertemu dengannya dibukit Hu gou-san dan ia
memberitahukan soal ini kepadaku cuma saja Wi Thian-yang
sendiripun tidak begitu jelas, dia hanya bilang dibalik kayu
kayu yang dikirim pihak Pay-kau terdapat salah satu diantara
tujuh mestika dunia persilatan, dan mestika tersebut telah
diketahui pendeta pendeta dari Tibet yang sedang mengatur
penghadangan di kota Kang-ciu, dia minta kepadaku untuk
menyaru sebagai Li Cing-siu dan mencoba adu untung."
Mendengar keterangan tersebut, Kakek latah awet muda
segera tertawa tergelak:
"Nyatanya kau benar-benar telah datang, cuma... Siau
Hian, akhir dari peristiwa ini ternyata jauh diluar dugaanmu,
apakah kau tidak merasa bahwa kejadian ini sangat merusak
pemandangan?"
Siau Hian tertawa getir:
"Aku orang she Siau memang tidak menyangka kalau kau
orang tua bakal ikut serta didalam persoalan ini, semestinya
dengan aku menyaru sebagai Li Cing-siu, maka setelah ketiga
pendeta dari See-ih itu dibekuk, yang tertinggal hanya
penyelesaian soal urusan dalam perkumpulan Pay-kau saja,
seharusnya kau orang tuapun tak akan menyusulku sampai di
sini, apalagi aku sudah menerangkan bahwa pihak kami
belum pernah menjumpai ruyung Mu-ni-pian tersebut, tapi
anehnya mengapa pengakuanku yang bisa memperoleh
kepercayaan dari si nona istana Sian-hong-hu itu, justru tak
mampu mengelabuhi dirimu?"
"Haaah... haaah... haaah... hal ini disebabkan kau telah
melalaikan satu hal."
"Di manakah kesalahanku?"
"Coba bayangkan sendiri, sampai dimanakah kehebatan
dari ilmu silat yang dimiliki tiga pendeta dari Tibet itu?"
"Mereka mampu menandingi jago lihay kelas satu dari
daratan Tionggoan!"
"Nah, itulah dia! Li Cing-siu tak lebih hanya seorang lihay
kelas satu, bagaimana mungkin ia sanggup merobohkan dua
orang jago silat yang memiliki ilmu silat hampir seimbang
dengannya secara santai dan mudah?"
Siau Hian segera tertawa tertahan, serunya tanpa terasa:
"Yaa betul, rupanya aku sudah melupakan hal tersebut
pada waktu itu..."
Sambil berpaling ke arah Cu Kong-to, kembali kakek latah
awet muda berseru sambil tertawa tergelak:
"Yang paling menggelikan lagi adalah adik seperguruan
dari Li Cing siu yang bernama Cu Kong-to ini, masa kau tidak
mengetahui sampai dimanakah kemampuan ilmu silat yang
dimiliki Li Cing-siu?"
ooooooooooOoooooooooo
Dengan wajah merah padam karena jengah, Cu Kong-to
segera menyambut:
"Boanpwee mengira suheng memang sengaja
menyembunyikan ilmu silatnya dihari-hari biasa atau mungkin
juga suhu telah mewariskan kepandaian lain yang hebat
kepadanya karena dia adalah seorang ketua dari suatu
perkumpulan besar, maka sama sekali tidak menaruh
kecurigaan apa-apa"
"Kau benar benar kelewat jujur dan polos sehingga
menggelikan sekali..."
Siau Hian berkata pula sambil tertawa:
"Ban tua, sewaktu aku tutun tangan tadi, gerak seranganku
itu kulakukan amat cepat, rasanya selain kau orang tua, siapa
pun tak akan mengetahui kalau aku telah pergunakah ilmu jari
penghancur hati Jui-sim-sin ci."
"Seandainya ilmu Jui-sim-sin-ci itu tidak kau pergunakan
kelewat awal, mungkin aku sendiripun turut kau kelabuhi,
inilah yang dinamakan terburu napsu membawa akibat celaka,
kalau tidak, bukankah ruyung Mu-ni-pian ini sudah menjadi
milikmu?"
"Ban tua, memang kejadian didunia ini tak bisa diramalkan
sebelumnya, aku akui nasibku memang belum untung."
"Kalau tahu diri, memang itu paling baik," kata Kakek latah
sambil tertawa.
Kemudian sambil berpaling ke arah Cu Kong-to, serunya
lagi:
"Cepat suruh orang-orang itu menghentikan pekerjaan,
memangnya kayu kayu tersebut sudah tidak terpakai lagi?"
Setelah didengar, CU Kong-to baru teringat akan persoalan
ini, maka dia segera berteriak
"Hentikan semua pekerjaan, kayu-kayu yang telah
digergaji, singkirkan kesamping."
Kawanan pekerja kasar itu tersentak menghentikan
pekerjaannya dan membereskan kayu-kayu tersebut.
Pada saat itulah Oh Put Kui baru berpaling kearah Sik
Keng-seng sambil membentak:
"Sobat she Sik, kau telah apakan Ciu It-cing?"
Semenjak tadi Sik Keng seng sudah dibikin terbungkam
dalam seribu bahasa, bahkan berkentutpun tidak berani.
Ketika Oh Put Kui mengajukan pertanyaan kepadany, dia
segera menjawab dengan segera:
"Sudah dikirim kembali ke Seng-ciu!"
"Apakah kau telah melukainya?"
"Aku dengannya sama sekali tidak terikat dengan sakit hati
apa pun, kenapa mesti melukainya?"
Semenjak berada di perkampungan Siu-cing-ceng, Oh Put
Kui sudah menaruh kesan yang baik terhadap Ciu It-cing, oleh
sebab itu dia menaruh perhatian khusus kepadanya. itulah
sebabnya sekalipun Sik Keng seng tidak sampai melukainya,
namun Oh Put Kui masih tetap merasa tidak lega hati.
Mendadak dengan kening berkerut dia bertanya lagi:
"Sobat Sik, sewaktu berada di kuil Tay-siang kok-si tadi,
darimana kau bisa mengetahui namaku?"
Sik Keng-seng segera tertawa:
"Ketika Lamkiong ceng kawin tempo hari, aku dan Oh
sauhiap duduk bertetangga meja, oleh sebab itu aku cukup
mengetahui tentang hubungan antara Oh sauhiap dengan Ciu
It-cing."
"Kalau begitu kau benar-benar seorang yang mempunyai
tujuan!" seru Oh Put Kui sambil tertawa.
Sik Keng-seng turut tertawa.
"Pada mulanya aku hanya merasa kaget dan kagum atas
kepandaian silat yang diperlihatkan siauhiap."
Tiba-tiba Oh Put Kui teringat lagi akan suatu persoalan,
sambil tertawa katanya kemudian:
"Sahabat Sik, darimana kau memperoleh berita tentang
disembunyikannya mestika tersebut dalam kayu yang dikirim
pihak Pay-kau?"
"Nyoo Ban-bu yang memberitahukan persoalan ini
kepadaku."
"Apa? Nyoo Ban-bu yang memberitahukan kepadamu?"
tanya Oh Put Kui dengan tubuh bergetar keras.
"Betul, memang Nyoo Ban bu yang memberitahukan
kepadaku."
"Sahabat Sik, apakah kau tidak lagi mengaco belo disini?"
Oh Put Kui mengejek secara tiba-tiba sambil tertawa dingin:
"Mengapa aku mesti mengaco belo?" tanya Sik Keng seng
sambil berkerut kening.
"Seandainya Nyoo Ban-bu mengetahui kalau didalam kayu
yang diangkut pihak Pay-kau terdapat benda mestika milik
adiknya, mengapa dia tidak menyinggung persoalan ini
kepada nona Nyoo, sebaliknya justru mengungkap masalah ini
kepadamu?"
"Soal ini mah... aku tidak tahu," kata Sik Keng seng sambil
menggelengkan kepalanya.
"Aku rasa sahabat Sik masih berbohong..." jengek Oh Put
Kui sambil tertawa hambar.
Tiba-tiba Sik Keng seng tertawa dingin, lalu serunya:
"Sekalipun ilmu silat yang kumiliki belum mampu memadahi
sauhiap, tapi aku belum pernah berbohong kepada siapapun!"
Dari perubahan mimik mukanya, Oh Put Kui dapat melihat
bahwa orang itu memang tidak bohong.
Kenyataan tersebut tentu saja amat memusingkan
pikirannya.
Bila ditinjau dari perkembangan yang terjadi sampai
sekarang, agaknya Nyoo Ban bu sudah tahu siapakah yang
telah mencuri ruyung Mu-ni-pian milik Nyoo Siau-sian, tapi dia
sengaja merahasiakan persoalan ini terhadap adiknya.
Tapi anehnya, bukan saja ia tidak memberitahukan soal ini
kepada Nyoo Siau-sian, sebaliknya dia justru membeberkan
rahasia ini kepada orang lain, lantas apakah maksu dan
tujuannya berbuat begiut?
Mungkinkah dibalik perbuatannya itu terselip suatu rencana
yang keji?
Untuk sesaat lamanya dia terbungkam dalam seribu
bahasa.
Bagaimana pun juga dia mencoba untuk memutar otak,
alhasil tak satu titik terang pun yang berhasil ditemukan.
Pada saat itulah, tiba tiba dia mendengar Kakek latah awet
muda sedang berseru lantang kepada Kakek penggetar langit:
"siau Hian, saat ini Wi Thian-yang berada dimana?"
Kakek penggetar langit menggelengkan kepalanya
berulang kali, sahutnya:
"Semenjak berpisah di Hu-gou-san, dia mengatakan
hendak memenuhi suatu perjanjian yang dibuat pada empat
puluh tahun berselang, sedangkan aku yang waktu itu ingin
cepat-cepat mendapatkan mestika tersebut, tak berminat pula
bertanya lebih jauh kepadanya."
"Kau betul-betul seorang tolol," umpat kakek latah awet
muda sambil berkerut ekning, "coba pikirkan bagaimanakah
watak dari Wi Thian-yang itu, apakah dia tak ingin
memperoleh mestika tersebut seandainya berita itu benarbenar
tak mengandung tujuan lain?"
Untuk sesaat kakek penggetar langit termenung sambil
memutar otak, kemudian dia baru berkata dengan suara pelan
dan masgul:
"Betul, perkataanmu memang benar, heran, mangapa
secara tiba-tiba Wi Thian-yang dapat bersikap begitu sosial?
Jangan-jangan sekapannya selama empat tahun ini telah
merubah wataknya sama sekali?"
"Siau Hian, siapapun dapat merubah wataknya," kata kakek
latah awet muda sambil tertawa. "tapi cuma Wi Thian-yang
sibocah keparat ini saja yang berani kutanggung tak mungkin
dapat merubah watak setannya itu
"Menurut pendapat kau orang tua, apa sebabnya Wi Thianyang
memberitahukan soal senjata mestika itu kepadaku?"
tanya Siau Hian kemudian sambil menggelengkan kepalanya
dan tertawa.
"Haaah... haaah... haah... bisa jadi hal ini merupakan
sebuah perangkap..."
"Tidak mungkin!" seru Siau Hian tidak percaya.
"Darimana kau bisa tahu kalau hal ini tidak mungkin?"
"Aku dengan dia sama sekali tidak pernah terjalin
perselisihan apapun, lagipula aku she Siau sama sekali tidak
memandang sebelah matapun terhadap kepandaian silat yang
dimilikinya, buat apa dia mesti mencari penyakit buat diri
sendiri?"
"Kau anggap dia takut kepadamu?"
"Ban tua, aku orang she Siau lebih-lebih tidak takut
kepadanya!" Siau Hian tergelak.
"Itu sih susah untuk dibicarakan, berbicara seperti apa yang
kau alami sekarang, andaikata aku tidak melepaskan dirimu
sekarang, apa pula yang dapat kau perbuat? Apakah ingin
beradu jiwa? Bersediakah kau untuk melakukannya?"
Siau Hian seketika itu juga dibuat tertegun.
Betul juga, pada hakekatnya hal ini merupakan suatu
jebakan yang berbahaya sekali.
Tapi, dimanakah maksud dan tujuan Wi Thian-yang dengan
perbuatannya itu?
Pertanyaan yang sama, namun tak berhasil memperoleh
jawaban yang pasti.
Siau Hian telah pergi, pergi dengan membawa kecurigaan
dan kemasgulan yang sangat tebal.
Sik Keng-seng pun telah pergi, namun dia pergi dengan
membawa perasaan murung bercampur kesal.
Leng-ho cinjin Cu Kong-to juga telah pergi.
Ia pergi bersama sama segenap anggota perkumpulan paykau
nya dengan perasaan terharu dan penuh rasa terima
kasih.
Oh Put Kui, pengemis sinting dan Kakek latah awet muda
tidak pergi dari situ, mereka masih tetap tinggal di Kang ciu.
Sebab Oh Put Kui tidak menyangka kalau persoalan "muni-
pian" telah mendatangkan banyak kesulitan dan persoalan
bagi mereka bertiga.
Sebilah pedang Cing-peng-siu-kiam sudah cukup
memusingkan kepalanya, apalagi ditambah dengan ruyung
mestika Mu-ci-ciang-mo-pian yang begitu berharga.
Maka secara berpisah pun mereka berangkat untuk
menelusuri jejak Nyoo Siau-sian.
Alhasil, si ular aneh Wan Sam lah yang berhasil
menemukan kabar berita tentang nona tersebut.
Ternyata Nyoo Siau-sian telah pergi dari situ.
Dia pergi bersama-sama dengan Perempuan petani dari
Lam-wan Ku Giok-hun, Leng Seng-luan dan segenap jago dari
istana Sian-hong-hu.
Mungkinkah mereka berangkat ke ibu kota?
Sayang sekali Wan Sam tidak berhasil memperoleh kabar
kepastian tentang soal ini.
Tanpa terasa Oh Put Kui yang mendapat kabar itu
menghela napas panjang.
Sebaliknya kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak
sambil berkata:
"Anak muda, lebih baik jangan mencari kesulitan buat diri
sendiri, perempuan adalah makhluk yang sangat berbahaya
untuk didekati, sekali didekati, maka selama hidup kau si
bocah muda akan terikat dan dipenuhi berbagai kesulitan."
Pemandangan alam di telaga Phoa-yang-oh termasuk
sangat indah dan menawan sekali, kesulitan dan kemurungan
yang mencekam perasaan Oh Put Kui pun sudah jauh
berkurang.
Sambil meneguk arak menghibur diri, pemuda itu dapat
menyerap dan menikmati keindahan alam yang terbentang
disekelilingnya.
Bagi pengemis sinting, asalkan tersedia arak maka
persoalan apapun tak akan dicampuri olehnya.
Untuk kesekian kalinya Kakek latah awet muda mendesak
Oh Put Kui untuk mempelajari kepandaian "merebut langit
mengetahui segala urusan" andalannya.
Tapi kembali tawaran tersebut ditampik oleh Oh Put Kui
Tentu saja kakek latah awet muda dibuat apa boleh buat
dan kehabisan daya, terpaksa dia hanya bisa tertawa getir
belaka.
Benak Oh Put Kui saat itu hanya dipenuhi oleh satu
masalah, yakni dendam kesumat dari ibunya.
"Mungkinkah Im-tiong-hok adalah manusia semacam itu?
Rasanya hal ini mustahil"
Pikir punya pikir, akhirnya ia berhasil juga menarik sebuah
kesimpulan.
Setiap persoalaln yang dijumpainya belakangnan ini,
hampir boleh dibilang demikian semuanya.
Sekalipun terdapat setitik petunjuk terang namun gagal
untuk menemukan kunci pemecahannya.
Hasil semacam ini membuat Oh Put Kui terpaksa hanya
mengisi waktunya dengan meneguk arak.
Sedang kakek latah awet muda dengan perasaan kurang
senang hanya bisa mengawasinya dengan kening berkerut.
Orang tua ini memang tak bisa dibiarkan menganggur saja,
dia selain ingin mencari persoalan untuk mengisi waktu.
Tapi suasana tiap malam di telaga Phoa-yang-oh selain
hening, sepi, sepi tenang dan tak ada sesuatu apa pun.
Akhirnya Kakek latah awet muda tak dapat menahan diri
lagi, dia menghela napas panjang:
"Pemandangan alam begini indah, cuaca begini cerah,
namun tiada orang yang dapat menikmatinya, sungguh..."
Belum selesai dia berkata, mendadak dari kejauhan sana
berkumandang datang suara pekikan panjang yang amat
keras.
Disusul kemudian terdengar seseorang bersenandung
dengan suara yang amat nyaring.
"Tepukan mabuk mencari kenangan indah."
Perpisahan meninggalkan sedih dan duka.
Rumpu liar tumbuh setiap tahun.
Sinar matahari senja menyinari ujung loteng..."
Senandung itu merdu dan menawan hati, pekikan itupun
nyaring menembusi awan.
Oh Put Kui segera dibuat tertegun oleh munculnya suarasuara
tersebut.
Malam sudah begini kelam, dari mana datangnya seniman
yang menikmati keheningan malam tersebut?
Sebaliknya kakek latah awet muda telah berseru sambil
tertawa terbahak-bahak:
"Haaah... haaah... haaah... bagus, bagus sekali, baru saja
bincang jago lihay, si jago lihay sudah muncul, hey tukang
perahu ayoh dayung agak cepat, kita harus menemui seniman
tadi."
Mendengar ucapan tersebut, si tukang perahu segera
mendayung perahunya keras-keras dan meluncur kearah
mana berasalnya suara tertawa tadi.
Dalam pada itu si Kakek latah awet muda telah berlarian
menuju keujung geladak.
Oh Put Kui segera mengikuti pula di belakangnya...
Tak sampai seperminum teh kemudian, mereka telah
melihat dibawah sinar rembulan tampak sebuah perahu
sedang bergerak menuju ke tengah telaga.
Tak lama kemudian kedua buah perahu itu sudah saling
beriringan satu dengan lainnya.
Dari jarak sejauh sepuluh kaki, Kakek latah awet muda
segera berseru sambil tertawa tergelak:
"Sobat yang bersenandung diperahu depan, bagaimana
kalau munculkan diri untuk bersua?"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, dari perahu
seberang telah muncul dua sosok bayangan manusia.
Ketika Oh Put Kui mengamati orang tersebut dengan
seksama, ternyata mereka adalah dua orang kakek.
Yang berada disebelah kiri mengenakan baju biru, kepala
botak dan beralis mata putih, jenggotnya keren dan gerak
geriknya anggun.
Dia membawa sebuah tongkat kayu.
Disebelah kanan adalah seorang kakek berjubah panjang
warna abu-abu, mukanya bulat seperti rembulan dan matanya
tajam bagaikan bintang, alis matanya tajam dengan hidung
yang mancung.
Orang ini membawa sebilah pedang.
Begitu munculkan diri diujung geladak, kedua orang itu
segera tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba terdengar suara kakek berbaju putih itu menegur:
"Apakah orang yang berada diperahu depan adalah
saudara Ban?"
Oh Put Kui yang mendengar seruan tersebut diam-diam
berkerut kening sambil pikirnya:
"Ternyata mereka adalah sobat karib!"
Sementara itu Kakek latah awet muda pun sudah melihat
jelas siapa gerangan kedua orang itu, dia segera tertawa
tergelak pula:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... mimpi pun tidak
menyangka kalau yang datang adalah kalian berdua, sungguh
tak nyana kalau Sau Suma dan Han Lim-kong mempunyai
jiwa seni yang begitu tinggi, bermain sampan sambil
bersenandung, sungguh amat santai hidup kalian"
Belum habis dia berkata, Kakek berbaju hijau itu sudah
berkata sambil tertawa tergelak:
"Saudara Ban, sebagai menteri dari negara yang telah
punah, darimana datangnya pangkat dan kedudukan lagi? Bila
kau hendak mengumpat kami mengapa belum juga mampus,
tak ada salahnya untuk diumpatkan secara langsung, agar
kami pun turut merasa terlampiaskan, kalau tidak... bila loko
sampai mendongkol, kami bisa berabe dibuatnya."
Kakek latah awet muda tertawa aneh.
"Rupanya Sau-suma takut diumpat? Sampai sekarang aku
baru tahu akan hal ini, sayang sekali aku adalah rakyat jelata
dari luar daerah, kalau tidak... haaah... haaahhh... aku tentu
akan mengumpat lebih hebat lagi."
Kakek berjubah putih yang berada diperahu seberang
segera berseru sambil tertawa:
"Saudara Ban, banyak tahun tak bersua, tampaknya
penyakit lamamu belum juga berubah!"
Kakek latah awet muda tertawa terbahak-bahak:
"Inikah yang dinamakan "Perangai sukar dirubah"... aaai,
sekarang aku baru teringat, bukankah kalian hidup santai di
Thian-tok? Mengapa muncul di Phoa-yang sekarang? Ada
urusan apa sih?"
"Haaah... haaah... haaaaahhhh... kami sedang memenuhi
undangan dari seorang sahabat!" kata Kakek berbaju hijau itu
sambil tertawa.
"Wah, siapa sih sahabat karibmu itu?"
Kakek berbaju putih tertawa dingin lalu menjawab:
"Wi Thian-yang!"
ooooooooooOoooooooooo
Nama dari "Wi Thian yang" tersebut dengan cepat
membuat Oh Put Kui merasa tertegun.
Sebaliknya Kakek latah awet muda segera tertawa
menghina.
"Kalian berdua benar benar memandang tinggi orang
tersebut, dengan kemampuan Wi Thian-yang, masa kalianpun
bersedia menuruti kemauannya? Sungguh mengenaskan..."
"Saudara Ban, kau jangan memandang rendah
kemampuan dari manusia she Wi tersebut," seru kakek
berbaju putih sambil tertawa.
"Hmm, dengan mengandalkan kemampuannya apakah aku
harus memandang hormat kepadanya? Jangan bermimpi
disiang hari bolong..."
Sementara itu Oh Put Kui sedang memutar otak sambil
mencari tahu asal usul dari kedua orang kakek tersebut.
Kalau ditinjau dari sikap mereka yang memanggil Kakek
latah awet muda sebagai saudara, sudah jelas merekapun
terhitung seorang tokoh sakti dari dunia persilatan, hanya saja
dia tidak tahu siapa gerangan mereka berdua?
Sementara itu kedua buah perahu itu sudah semakin
mendekat satu sama lainnya.
Sambil menjura kakek berbaju putih itu segera berkata:
"Saudara Ban, bagaimana kalau menyeberang kemari
untuk berbincang-bingang?"
"Tentu saja harus menyeberang ke perahumu, cuma kami
bertiga.................."
"Sahabat dari saudara Ban, tentu saja merupakan tamu
agung kami, silahkan.................."
Saat itulah si Kakek latah awet muda baru berpaling dan
serunya sambil tertawa.
"Anak muda, panggil si pengemis untuk turut serta..."
Selesai berkata dia sudah menyeberang lebih dulu.
Hanya didalam tiga langkah saja dia sudah menyeberang
ke atas perahu lawan.
Diam diam Oh Put Kui berpekik memuji dia tak mengira
kalau kemampuan dari Kakek tersebut benar benar sudah
mencapai tingkatan yang luar biasa.
Kakek berbaju hijau itupun berseru sambil tertawa
terbahak-bahak:
"saudara Ban, tampaknya ilmu Leng-siu-pohmu semakin
lama semakin sempurnya saja!"
"Bagaimana jika dibandingkan dengan Huan im-poh mu?
Masih selisih berapa jauh?"
"Nah... nah... kembali saudara Ban mengumpat orang!"
seru si Kakek baju hijau itu sambil menggelengkan kepalanya
dan tertawa.
Ditengah gelak tertawa dari ketiga orang Kakek itu, Oh Put
Kui serta pengemis sinting yang masih terkantuk-kantuk
karena mabuk itu sudah menyeberang semua ke perahu
seberang.
Setibanya diruang perahu, baru saja Oh Put Kui hendak
melangkah masuk, mendadak tampak olehnya si pengemis
sinting telah melompat kedepan lalu berlutut dihadapan kedua
orang Kakek tersebut sambil berkata:
"Boanpwee Liok Jin-ki dari Kay-pang menjumpai
locianpwee berdua................."
Sekali lagi Oh Put Kui dibuat tertegun.
Sudah jelas si pengemis sinting tidak mabuk barang
sedikitpun juga, bahkan dia sadar dan berpikiran jernih
sehingga dapat megenali siapa gerangan kedua orang Kakek
itu.
Saat itulah si Kakek berbaju hijau itu mengulapkan
tangannya seraya berkata:
"Ayoh cepat bangun, baik baikkah Kong-sun pangcu?"
Pengemis sinting menyahut dan bangkit berdiri, lalu dengan
sikap yang sangat hormat jawabnya:
"Pangcu kami sudah banyak tahun menutup diri untuk
berlatih keras............."
"Apakah Kongsun Liang telah berhasil menemukan kitab
pusaka tentang ilmu tongkat iblis tersebut?" tanya Kakek baju
putih itu sambil tertawa.
"Sudah!"
"Nyatanya Kongsun pangcu memang tidak menyia nyiakan
harapan dari banyak orang....................."
Dalam pada itu, Kakek latah awet muda telah menggapai
ke arah Oh Put Kui sambil serunya:
"Hey anak muda, ayoh masuk!"
Dengan langkah pelan Oh Put Kui berjalan masuk dan
menuju ke hadapan ketiga orang itu.
Sambil menuding ke arah dua orang Kakek itu, kata Kakek
latah awet muda sambil tertawa:
"Anak muda, kedua orang Kakek ini adalah dua tokoh sakti
dunia persilatan yang tinggal di puncak Thian tok-hong disebut
orang sebagai Thian-tok-siang-coat (sepasang manusia sakti
dari Thain-tok), mereka adalah Kakek tanpa bayangan baju
hijau Samwan To dan Kakek tanpa kemurungan berbaju putih
Ibun Hau!"
Oh Put Kui segera merasakan hatinya bergetar keras
sesudah mendengar nama kedua orang itu.
Rupanya mereka adalah dua orang pendekar aneh yang
luar biasa dan bernama besar itu.
Tapi dengan cepat pula dia teringat akan suatu persoalan
yang lain.................."
Ayahnya yang berada di Pulau Neraka tak lain disekap
disitu selama delapan belas tahun karena desakan dari kedua
oarng Kakek ini bersama tiga dewa dari luar jagad.
Oleh karena itu selain menaruh hormat dan kagum kepada
kedua orang Kakek ini didalam hati kecilnya pun timbul suatu
perasaan yang menentang, sekalipun perasaan menentang
tersebut berhasil ditawarkan sedikit oleh penjelasan dan
petunjuk dari Thian-hian Hui-cui, akan tetapi dia tak pernah
dapat melupakan kejadian ini, sebab dia sangat merindukan
ayahnya.
Oh Put Kui memandang sekejap kedua orang Kakek yang
duduk dihadapannya, kemudian sambil menjura katanya:
"Boanpwee Oh Put Kui menjumpai kalian dua orang jago!"
Ternyata pemuda itu enggan menggunakan kata
"locianpwee" untuk membahasai kedua orang itu.
Dengan perasaan tercengang dan sedikit diluar dugaan,
Kakek latah awet muda melotot sekejap ke arah Oh Put Kui.
Namun Thian tok siang coat sama sekali tidak menjadi
marah karenanya, mereka malah tertawa.
Dengan kening berkenyit Kakek tanpa bayangan berbaju
hijau berkata sambil tertawa:
"Bukankah kau adalah Oh Put Kui? Benar benar seorang
manusia yang berbakat bagus sekali dan jarang ditemui dalam
seabad ini!"
Oh Put Kui tertegun, diam diam ia merasa sangat
keheranan, dia tak mengira kalau orang tua tersebut
mengetahui namanya dengan begitu jelas.
"Benar, memang boanpwee adanya!" sahut pemuda itu
kemudian.
Sambil tertawa nyaring Ibun Hau berkata pula:
"Ceng-thian lote suami istri benar benar telah melahirkan
seorang anak berbakat yang luar biasa dan berguna bagi
dunia persilatan... saudara Sam-wan, tampaknya persoalan
yang kita hadapi sudah ada penerusnya!"
Ucapan dari Ibun Hau tersebut segera menimbulkan
perasaan tak senang dalam hati kecil Oh Put Kui, keningnya
segera berkerut dan pikirnya dengan gusar:
"Perkataan macam apakah itu............."
Dalam pada itu Samwan To telah berkata pula sambil
tertawa:
@oodwoo@
Jilid ke : 27
"Ucapan saudara Ibun memang benar, kalau tidak saudara
Oh Sian dan saudara Thian-liong tak akan membuang tenaga
dan pikiran yang banyak untuk menciptakan bocah ini........."
Setelah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan:
"Saudara Ban, bagaimana dengan kau? Bocah ini telah
memperlajari apa saja darimu?"
Kakek latah awet muda menggelengkan kepalanya sambil
tertawa aneh, sahutnya:
"Mempelajari apa? Dia tak sudi mempelajari apapun,
bahkan orang lain memohon pun tak berhasil, dia anggap
seolah-olah tak berguna pelajaranku, aaai, aku dibuat mati
kutu olehnya."
"Benarkah begitu?" Ibun Hau tertawa tergelak, "masa
saudara Ban pun bisa dibuat mati kutu olehnya?"
"Haaaaahhhh........ haaaaaahhhhh........
hhaaaaaahhhhh........ Ibun lote, aku Ban Sik-tek bukan
melalaikan atau lupa, justru bocah inilah tindak tanduknya
maupun cara berbicaranya membawa tiga bagian hawa
dewa........."
"Baru pertama kali ini kudengar saudara Ban mengucapkan
perkataan semacam ini," seru Samwan To sambil tertawa.
Kakek latah awet muda tertawa aneh.
"Seandainya bocah muda itu tak pernah muncu, selama
hidup pun aku tak akan mengucapkan perkataan semacam
ini..."
Selama pembicaraan masih berlangsung, Oh Put Kui
sendiri hanya tersenyum hambar tanpa mengucapkan sepatah
kata pun.
Baru sekarang Ibun Hau menemukan kalau si pengemis
sinting masih berlutut diatas tanah, katanya kemudian sambil
tertawa:
"Liok Jin Ki, ayoh cepat bangun dan duduk!"
Pengemis sinting baru bangkit berdiri dan mengambil
tempat duduk...
Sementara itu Samwan To juga telah mempersilahkan Oh
Put Kui untuk mengambil tempat duduk.
Tapi tawaran tersebut segera ditampik oleh Oh Put Kui.
Dengan perasaan tidak habis mengerti Kakek latah awet
muda segera bertanya sambil tertawa:
"Hey anak muda, mengapa sih kau ini? Kenapa sikapmu
tak bisa gagah dan bebas?"
Dengan hambar Oh Put Kui menggelengkan kepalanya
berulang kali, kemudian menjawab lirih:
"Dalam hati kecil boanpwee masih terdapat satu masalah
yang rasanya masih mengganjal di dalam hati!"
"Kau begitu duduklah lebih dulu sebelum dibicarakan."
Tapi Oh Put Kui kembali menggeleng:
"Persoalan ini sudah sepantasnya bila kuajukan sambil
berdiri daja..."
Jawaban tersebut tentu saja membuat Kakek latah awet
muda menjadi tertegun.
Bahkan Samwan To dan Ibun Hau pun ikut dibuat tertegun
dan penuh perasaan tidak mengerti.
Hanya si pengemis sinting seorang yang memahami
beberapa bagian atas peristiwa tersebut.
"Hey anak muda, penyakit apa sih yang telah menyerang
dirimu kali ini?" tegur Kakek latah kemudian.
"Berhubung persoalan itu menyangkut soal ayahku oleh
sebab itu sudah seharusnya bila dibicarakan sambil berdiri..."
"Banyak amat tingkah lakumu!" sambil tertawa getir Kakek
latah awet muda menggelengkan kepalanya berulang kali,
"ada kalanya aku lihat kau si anak muda kolot dan amat keras
kepala..."
Namun berbeda sekali dengan pendapat dari Samwan To
serta Ibun Hau dua orang kakek ini.
Sebagaimana diketahui, Samwan To selalu pernah menjadi
teman baca dari kaisar Tiong-cong. lagipula pernah menjabat
sebagai seorang pembesar dibidang militer, sedangkan Ibun
Hau pun merupakan seorang pembesar kerajaan, oleh sebab
itu mereka sangat menghormati tata cara. itulah sebabnya
sikap yang ditampilkan Oh Put Kui saat ini seratus persen
cocok dengan selera mereka.
"Nak, kau memang tidak kehilangan kesopanan seorang
manusia sejati..." kata dua orang Kakek itu sambil tertawa.
"Terima kasih banyak atas pujian lojin berdua!" sahut Oh
Put Kui dengan hambar.
Kemudian dengan mata berkilat teriaknya lagi:
"Tentunya kalian berdua kenal dengan ayahku bukan?"
"Sebagai sobat karib selama banyak tahun, masa kami
tidak saling mengenal?" jawab Ibun Hau tertawa.
"Bagaimana dengan Samwan lojin?" tiba tiba Oh Put Kui
bertanya lagi sambil tertawa hambar.
Sesungguhnya pertanyaan itu merupakan suatu
pertanyaan yang berlebihan dan sama sekali tak berguna.
Tapi Samwan To tidak menjadi marah, malahan sahutnya
sambil tertawa ramah:
"Ceng-thian lote dengan aku boleh dibilang bersahabat
karib!"
Sorot mata penuh kepedihan segera memancar keluar dari
balik mata Oh Put Kui, sebetulnya dia ingin mendongakkan
kepalanya dan tertawa panjang, tapi ia tak tega untuk berbuat
demikian, sebab ia merasa bahwa kedua orang Kakek itu
termasuk orang baik.
"Kalau toh lojin berdua bersahabat karib dengan ayahku,
tentunya kalian tahu bukan kalau ayahku disekap di Pulau
Neraka?"
"Tentu saja tahu!" jawab Samwan To dan Ibun Hau
bersama-sama.
"Tahukah lojin berdua, siapa yang telah memaksa ayahku
untuk hidup mengasingkan diri di pulau neraka tersebut?"
"Haaah.. haaah... haaah... hiantit memang bertanya kepada
orang yang tepat, sebab memang aku bersama saudara
Samwan dan tiga dewa Hong-gwa-sam-sian yang
mengundang ayahmu sekalian untuk menetap di pulau
tersebut."
Sekalipun Oh Put Kui sudah mengetahui tentang kejadian
ini, namun tak urung dibuat tertegun juga setelah mendengar
pengakuan tersebut.
Karena menurut perkiraannya, kedua orang Kakek itu pasti
tak akan mengakui secara terus terang, bahkan menurut
perhitungannya sekalipun kedua orang Kakek itu akhirnya
mengaku juga, hal ini dikarenakan desakannya yang bertubitubi.
Tapi kenyataannya sekarang, pihak lawan telah
memberikan jawaban secara sportip dan jujur.
Hal ini membuatnya mengambil dua kesimpulan atas
kejadian tersebut...
Kesatu, pihak lawan merasa menyesal karena
perbuatannya itu, dan kedua pihak lawan terlalu tinggi hati
sehingga pada hakekatnya tidak memandang sebelah
matapun terhadap diri dan ketujuh orang Kakek tersebut.
Sekalipun demikian, dia merasa kedua macam alasan ini
sama-sama membuatnya merasa tak tahan untuk berdiam diri
saja.
Maka dengan suara yang sangat dingin ia berkata lagi:
"Apakah ayahku telah banyak melakukan kejahatan atau
mempunyai nama jelek di dalam dunia persilatan?"
"Cong-thian lote sama sekali tidak mempunyai nama jelek!"
jawab Samwan To tertawa.
"Bagaimana pula dengan keenam orang lainnya..."
"Nama jelek sih tak ada, cuma cara kerjanya saja terlalu
menuruti adat..."
"Apakah dikarenakan cara kerja mereka terlalu menuruti
adat, maka kalian lantas memaksa mereka untuk hidup
mengasingkan diri di pulau neraka?"
Sekarang Samwan to dan Ibun Hau baru memahami
maksud tujuan dari Oh Put Kui, rupanya pemuda tersebut
merasa tak puas karena mereka telah memaksa ayahnya
untuk hidup mengasingkan diri di pulau tepencil tersebut.
Samwan To segera tertawa terbahak-bahak:
"Haaahh... haaahh.. haaahh.. ucapanmu memang benar
sekali nak!"
"Tidakkah kalian berdua rasakan bahwa tindakan tersebut
terlalu keji dan buas?" desak Oh Put Kui lebih jauh dengan
kening berkerut.
Samwan To segera tertawa.
"Nak, apakah kau beranggapan bahwa tidak seharusnya
kami mendesak ayahmu sekalian untuk hidup terpencil di
pulau neraka?"
"Bagaimanapun juga, boanpwee menganggap tindakan
yang dilakukan kalian berdua kelewat batas!"
"Nak, aku rasa tindakan ini tidak kelewat batas.." kata
Samwan lojin sambil tertawa.
Kakek latah awet muda yang ikut mendengarkan dari
samping segera mengernyitkan alis matanya yang putih
sambil menyela:
"Anak muda, sebenarnya apa yang sedang kalian
bicarakan?"
Oh Put Kui tertawa hambar dan secara ringkas
menceritakan bagaimana ayahnya bertujuh dipaksa hidup
terpencil di Pulau Neraka dan baru boleh meninggalkan pulau
itu bila ia sudah mengunjungi mereka.
Ketika selesai mendengarkan penjelasan tersebut, Kakek
latah awet muda nampak tertegun, lalu serunya kepada
Samwan To:
"Lote berdua benar-benar gemar mencari urusan, buat apa
sih kalian mesti berbuat begitu?"
"Saudara Ban. ha! ini terjadi karena ada suatu alasan
tertentu," kata Samwan To sambil tertawa.
Ibun Hau ikut menimbrung pula dengan senyum dikulum:
"Saudara Ban, bagaimanakah keadaan yang
sesungguhnya kurang leluasa untuk dibicarakan pada saat ini,
tapi aku berani menjamin kehidupan mereka selama delapan
belas tahun di pulau terpencil tersebut justru mendatangkan
keuntungan yang besar bagi ketujuh manusia aneh dari dunia
persilatan itu."
"Apa maksud perkataanmu itu?" seru Kakek latah awet
muda sambil tertegun, "masa seseorang yang disekap dalam
pulau terpencil justru mendatangkan keuntungan baginya,
mana ada kejadian semacam ini?"
Tiba tiba Ibun Hau berpaling kearah Oh Put Kui dan
berkata sambil tertawa:
"Bukankah keponakan telah berkunjung ke pulau tersebut?
Tentunya kau mengetahui bukan sampai dimanakah
kepandaian silat yang dimiliki ketujuh orang Kakek tersebut?"
"Yaa, ilmu silat mereka telah mencapai tingkatan yang
paling sempurna!"
"Nah bagaimana saudara Ban?" Ibun Hau tertawa,
"bagaimana pula dengan ilmu silat yang mereka miliki tempo
dulu? Bukan aku sengaja menghina, tapi kenyataanya saja
meski mereka tergolong jago kelas satu di dalam dunia
persilatan, namun belum mencapai tingkatan yang sempurna,
tapi sekarang andaikata aku diharuskan bertarung satu lawan
satu, belum tentu aku dapat menangkan pertarungan itu."
Kemudian setelah ebrhenti sejenak, katanya pula kepada
Oh Put Kui sambil tersenyum:
"Keponakanku, tahukah kau sebelum mereka disekap
dalam pulau neraka, dengan kemampuanku seorang masih
sanggup untuk mengungguli kerubutan mereka bertiga
sekalipun!"
Oh Put Kui segera mengerutkan dahinya.
Ia jadi teringat dengan perkataan dari Thian-hiang Huicu
yang berpesan agar dia tidak menjemput ketujuh orang Kakek
itu sebelum sembahyang Bakcang, mungkinkah mereka
memang mempunyai suatu maksud tujuan tertentu?"
Sementara dia masih termenung, Kakek latah awet muda
telah berkata sambil tertawa:
"Tampaknya lote berdua telah membantu ketujuh manusia
aneh itu untuk memenuhi pengharapan mereka?"
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... saudara Ban,
kesemuanya ini bukan jasa kami," kata Samwan To sambil
tertawa tergelak. "melainkan pemberian dari toa kuncu..."
Tapi secara tiba tiba dia menggeleng dan berkata lagi
sambil tertawa:
"Aaaai, aku memang sukar untuk merubah panggilan itu...
Kakek latah awet muda yang mendengar ucapan tersebut
segera tertawa tergelak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... apa salahnya
memanggil? Asalkan saja tidak salah menyebut sewaktu
berada di ibu kota, aku percaya tak akan ada orang yang
mencap dirimu sebagai penghianat..."
Sambil tertawa Ibun Hau segera berkata:
"Saudara Ban, sebagai pembesar dari negara yang telah
ditumpas, lebih baik kalau tidak mempergunakan sebutan
semacam itu lagi."
"Terserah kalian. pokoknya aku memang tak pernah suka
dengan cara semacam itu!"
"Tentang urusan tujuh manusia aneh dari dunia persilatan,
kalau toh nona Ki sudah memberi petunuk, aku rasa tak bakal
salah lagi."
Tiba tiba Oh Put Kui berkata sambil tertawa:
"Ban tua, Ki locianpwee pernah berpesan kepada
boanpwee agar datang lebih lambat ke pulau tersebut."
-oo0dw0oo"
Benarkah? Bukankah kau pernah bilang kalau bapakmu
telah membangun pagoda menanti putra di pulau tersebut?
Mengapa kau justru agak terlambat kesana? Lagipula
bukankah barusan kau seperti hendak mencari gara gara
dengan kedua orang bekas pembesar ini sebenarnya karena
apa sih?"
Sambil tertawa Oh Put Kui menyahut:
"Sebelum duduknya persoalan menjadi jelas, sedikit
banyak boanpwee merasa tak senang hati juga karena
persoalan itu..."
Samwan To segera tertawa tergelak:
"Haaaahhh... haaahhh... haaahh... sebagai anak muda,
tidak seharusnya kau kaya akan perasaan permusuhan,
tentunya keponakan sudah paham bukan sekarang?"
"Ya, setelah mendengar menjelasan dari locianpwee
berdua, ditambah lagi dengan pesan dari Ki locianpwee serta
bukti bahwa ayah bertujuh yang tinggal di pulau neraka
memang memiliki kepandaian silat yang amat sempurna,
maka aku percaya bahwa apa yang telah dijelaskan
locianpwee berdua memang tidak bermaksud untuk
membohongi boanpwee..."
Ibun Hau segera tertawa tergelak:
"Haaah... haaah... haaahh.. jika keponakan masih belum
juga mengerti, aku berdua tentu akan kena didamprat..."
Merah padam selembar wajah Oh Put Kui dibuatnya, baru
saja dia hendak mengucapkan terima kasih, tiba-tiba Kakek
latah awet muda telah berseru kepada Samwan To dan Ibun
Hau sambil tertawa:
"Nah mereka telah datang!"
"Siapa?" tanya Ibun Hau tanpa terasa.
"Siapa lagi, tentu saja sahabat yang mengundang
kedatangan kalian berdua!"
"Aaah betul, ternyata sudah datang..." kata Samwan To
pula sambil tertawa.
Sementara itu Oh Put Kui juga sudah merasa kalau dari
kejauhan saja berkumandang datang suara air yang memecah
kesepian.
Dengan kening berkenyit Ibun Hau kembali berkata:
"Saudara Samwan, tampaknya Wi Thian-yang tidak datang
seorang diri..."
"Setelah menderita kerugian satu kali, mana mungkin Wi
Thian-yang sudi tertipu lagi? Mungkin kedatangannya hari ini
disertai dengan suatu perencanaan yang matang..."
Kalau memang demikian, hal ini lebih baik lagi." kata Ibun
Hau tertawa tergelak, "siaute memang ingin sekali
menyaksikan kawanan setan dan kepala kerbau mukakuda
dari Tong-thiau-kui-hu, ingin kulihat sampai dimanakah
kemampuan yang mereka miliki."
Belum habis Ibun hau berbicara, dari kejauhan sana telah
berkumandang datang suara tertawa dingin.
Sekalipun suara tertawa dingin itu tidak begitu keras,
namun cukup membuat kelima orang yang berada dalam
ruang perahu itu berubah wajahnya.
Sambil tertawa Kakek latah awet muda segera berkata:
"Sungguh tak disangka setelah berpisah selama empat
puluh tahun, kemampuannya bisa bisa berubah menjadi begini
sempurnanya..."
Rupanya suara tertawa dingin tadi telah dipancarkan
dengan disisipkan dalam pancaran hawa murni, membuat
kawanan jago tersebut merasakan hatinya sangat bergetar.
Benarkah Wi Thian yang memiliki kemampuan yang begitu
sempurna?
Tak aneh kalau Kakek latah awet muda pun merasa kurang
percaya dengan kenyataan tersebut.
"Hal ini sulit untuk dikatakan..." kata samwan To sambil
menggelengkan kepalanya
Tapi Ibun Hau segera menyela sambil tertawa:
"Saudara Ban, orang ini bukan Wi Thian-yang!"
"Kalau bukan Wi Thian-yang lantas siapa?" tanya Kakek
latah awet muda dengan wajah tertegun.
"Sekalipun Wi Thian-yang pernah memperoleh pengalaman
luar biasa, namun sulit baginya untuk menguasai hawa murni
Hian-im-cing-khi tersebut hingga mencapai tingkat macam ini,
karena itu kuyakin suara tertawa dingin itu berasal dari orang
lain..."
Belum selesai dia berkata, seseorang telah menyambung:
"Tak nyana kalau jago tanpa kemurungan berbaju putih
Ibun Hau memiliki kemampuan yang begitu hebat, bilamana
ada kesempatan aku harus meminta petunjuk darimu..."
"Haaah... haaah... haaahh... saudara terlalu memuji, Ibun
Hau pasti akan mengulangi setiap saat..." jawab Ibun Hau
sambil tertawa keras.
Sementara pembicaraan masih berlangsung, dua buah
peranu besar telah meluncur mendekat.
Cahaya lentera yang terang benderang menerangi seluruh
perahu besar itu.
Ketika jaraknya tinggal dua kaki perahu itu telah berhenti
berlayar bahkan menurukan jangkar.
Menyusul kemudian Raja setan penggetar langit Wi Thianyang
dengan perawakan tubunya yang tinggi besar telah
munculkan diri diujung geladak.
Pada saat itulah Kakek latah awet muda berkata kepada
sepasang jago dari Thian-tok ini sambil tertawa.
"Lote berdua, aku tak usah munculkan diri daripada pihak
lawan menuduh kita mengandalkan jumlah yang banyak,
cuma kau boleh saja mengajak serta bocah muda ini..."
"Apa yang diperintahkan saudara Ban tentu akan kami
turuti!" sahut Samwan To tertawa.
Ibun Hau juga segera bertanya kepada Oh Put Kui sambil
tertawa:
"Keponakanku, pernahkah kau berjumpa dengan Wi Thianyang
sebelum pertemuan hari ini?"
"Pernah, bahkan sudah pernah bentrok satu kali."
"Kalau didegnar dari nada pembicaraan keponakan,
tampaknya Wi Thian yang tidak berhasil mendapatkan
keuntungan apa-apa?"
Oh Put Kui hanya tertawa hambar tanpa menjawab.
Sambil manggut-manggut Ibun Hau segera berkata:
"Kalau begitu akupun tak usah kuatir..."
Tampaknya dia tetap menguatirkan kepandaian silat dari
Oh Put Kui, takut dia sebagai seorang pemuda yang berdarah
panas akan mencari gara-gara sehingga merugikan pihaknya
sendiri, bila pemuda itu sampai celaka, niscaya merekalah
yang akan merasa tak enak.
Sementara itu Samwan To telah berkata pula lirih:
"Keponakanku, andaikata jago lihay yang tak diketahui
namanya munculkan diri nanti, harap kau jangan berkeras
kepala untuk menghadapinya lebih dulu, tampaknya
kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki orang itu tidak
berada dibawah kemampuan Kakek Ban."
"Boanpwee mengerti," Oh Put Kui tertawa hambar.
Padahal pikirannya berpendapat lain, dia justru ingin
mencari kesempatan untuk mencoba kemampuan yang
dimiliki orang yang memperdengarkan suara tertawa dingin
tadi.
Baru selesai mereka bertiga berbicara, dari arah seberang
telah terdengar lagi suara Wi Thian-yang sedang berkata
sambil tertawa:
"Samwan To, Ibun Hau, mengapa kalian berdua belum juga
menampakkan diri? Apakah kalian berdua tahu diri dan
bersedia menerima hukuman dariku?"
Sambil tertawa terbahak-bahak Samwan To segera
munculkan diri dari perahunya, lalu sambil mengelus
jenggotnya dia berkata:
"Wi lote, hadiah sebuah jari tanganku ternyata tak pernah
kau lupakan selama empat puluh tahun terakhir ini, daya
ingatmu yang begitu hebat dan tekadmu yang begitu membara
sungguh membuat aku merasa amat kagum!"
Kemudian setelah berhenti sejenak dan kembali tertawa
tergelak, terusnya:
"setelah kau undang kehadiran kami hari ini, bisakah
kutahu dengan cara bagaimana kau hendak menyelesaikan
perselisihan ini?"
Raja setan penggetar langit Wi Thian-yang tertawa seram:
"Bagaimana pula menurut penapat saudara Samwan untuk
menyelesaikan perselisihan ini?"
"Haaah... haaah... haaah... masa aku yang mesti
memutuskan penyelesaian persoalan ini? Bila kuusulkan
untuk menyudahi saja peristiwa tersebut, apakah kau bisa
menyanggupinya?"
"Keterus terangan saudara ternyata masih tetap seperti
sedia kala, sungguh mengagumkan hati orang saja," Wi Thianyang
tertawa, "kalau toh saudara Samwan enggan
mengajukan usul, baiklah kalau aku saja yang mengajukan
suatu usul untuk menyelesaikan masalah ini, bagaimana
menurut pendapatmu?"
"Aku akan mendengarkan dengan seksama!"
Setelah tertawa seram raja setan penggetar langit berkata
lagi:
"Dahulu saudara Samwan telah melukai diriku dengan ilmu
Sam-yang-ci, maka hari ini akupun bersedia mempergunakan
ilmu Tong-thian-ci untuk bertempur melawan saudara
Samwan."
"Baik, baik sekali, aku setuju!"
Kemudian setelah berhenti sejenak terusnya:
"Cuma perlu kutanyakan, pertarungan ini dibatasi saling
menutul ataukah bertarung sampai salah satu diantara kita
mampus?"
Raja setan penggetar langit Wi Thian-yang tertawa nyaring:
"Tempo hari saudara hanya melukai aku, mengapa pula
pertarungan yang akan berlangsung hari ini harus diakhiri bila
satu pihak sudah mampus? Tapi, bila saudara Samwan
berkeinginan untuk melangsungkan pertarungan ini sampai
ada yang mampus, sudah barang tentu aku bersedia
mengiringinya."
Oh Put Kui yang mencuri dengar pembicaraan tersebut dari
balik perahu menjadi terkejut bercampur keheranan.
Bagaimana pun juga ia dapat menangkap betapa liciknya
manusia yang bernama Wi Thian-yang ini.
Seolah-olah saja dia datang karena memenuhi undangan,
sehingga bagaimanakah akhir dari pertarungan tersebut ia
melepaskan diri dari segala pertanggungan jawabnya.
Dari sini pula bisa disimpulkan betapa licik, berbahaya dan
menakutkannya orang ini.
Selain itu, Oh Put Kui pun teringat kembali dengan masalah
tentang ruyung Mu-ni-ciang-mo-pian tersbut.
Tiba-tiba saja dia seperti mendapat suatu firasat, bahwa
antara Wi Thian-yang dengan majikan muda dari Sian honghu
yaitu Nyoo Ban-bu pasti mempunyai suatu hubungan yang
luar biasa.
Baru saja ingatan tersebut melintas lewat, dari luar ruang
perahu telah berkumandang datang suara gelak tertawa
Samwan To yang amat keras:
"Wi lote, setelah memunculkan diri kembali ke dalam dunia
persilatan, mengapa caramu berbicara berubah menjadi begini
merendah? Tampaknya aku harus meningkatkan
kewaspadaanku..."
Mendengar hal itu, Wi Thian-yang segera tertawa:
"Saudara Samwan, setelah empat puluh tahun lamanya
duduk menghadap ke dinding, manusia baja pun pasti akan
berubah menjadi manusia tanah liat, semua keberangasan
dan kekejamanku dulu, kini sudah tersapu habis bersamaan
dengan berputarnya waktu selama empat puluh tahun."
Samwan To merasa amat gembira sekali, segera ujarnya
cepat:
"Buddha berkata: Siapa yang bersedia meletakkan golok
pembunuh, dia akan diterima kembali sebagai murid Buddha,
bila Wi lote benar-benar sudah berubah menjadi seorang yang
lain karena hidup dalam pengasingan selama empat puluh
tahun, bukan saja aku perlu bersyukur demi kebahagiaan
umat persilatan, terlebih-lebih harus mengucapkan selamat
buat Wi lote sendiri!"
"Saudara Samwan terlalu memuji!" tukas Wi Thian-yang
sambil tertawa.
Kembali Samwan To tertawa terbahak-bahak:
"Kalau toh Wi lote sudah dapat melenyapkan sifat dan
perangaimu yang dahulu, menurut pendapatku lebih baik
anggap saja aku yang kalah dalam pertarungan hari ini dan
anggap saja urusan dulu sebagai sudah beres, entah
bagaimana menurut pendapatmu?"
Ternyata nada pembicaraan dari Samwan To ikut pula
berubah menjadi amat sungkan.
"Haaahhh... haaahh... haaahh... tidak bisa jadi!" seru Wi
Thian yang kembali sambil tertawa, "sebab niat pertamaku
setelah terjun kembali ke dunia persilatan adalah
membereskan masalah budi dan dendamku di masa lalu,
siapa yang merasa berhutang, dia harus membayar kembali
hutang tersebut..."
Belum selesai ucapan tersebut diutarakan, Samwan To
kembali telah menyela:
"Wi lote, buat apa sih kau mesti berbuat demikian? Masalah
budi dan dendam akan beres dan terselesaikan dengan
sendirinya, bila kita bersedia untuk berlapang dada, bila
urusan semacam inipun masih diributkan, bukankah hal ini
akan merusak suasana?"
"Biarpun segala sesuatunya akan menjadi hambar, soal
budi dan dendam harus diselesaikan dahulu hingga tuntas!"
teriak Wi Thian-yang dengan suara lantang.
Kemudian setelah berhenti sejenak tiba-tiba dia menjura
kepada Samwan To sambil ujarnya lagi:
"Saudara Samwan, bagaimana kalau kita selesaikan
dahulu perselisihan tersebut?"
Melihat kekerasan kepala orang, Samwan To menghela
napas panjang:
"Aaai, kalau toh Wi lote bersikeras hendak menyelesaikan
dahulu perselisihan tersebut, sudah barang tentu aku tak
dapat menampik terus, tapi bagaimanakah cara kita untuk
bertarung diatas permukaan air telaga ini?"
"Bagaimana kalau kita saling melancarkan ilmu jari kita ke
tengah udara dalam jarak dua kaki ini?"
Samwan To yang mendengar usul tersebut, diam-diam
kembali merasa terkejut.
Dia tahu kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya
masih jauh melebihi gembong iblis tersebut.
Tapi kenyataannya sekarang, gembong iblis itu berani
menantangnya untuk saling beradu ilmu jari ditengah udara,
itu berarti seandainya ia tidak peroleh kemajuan yang sangat
pesat dalam ilmu silatnya selama empat puluh tahun
belakangan ini, sudah jelas iblis tersebut telah berhasil
memperlajari sejenis ilmu silat yang lain.
Tentu saja diapun sudah mempertimbangkan bahwa cara
ini dipergunakan karena gembong iblis ini telah bertobat
sehingga dia mengajak penyelesaian cara begitu untuk
membereskan persoalannya secara damai saja.
Berpikir demikian, Samwan To pun segera berkata sambil
tertawa nyaring:
"Setelah hidup mengasingkan diri selama empat puluh
tahunan dipegunungan yang terpencil. aku kira ilmu silat yang
dimiliki Wi lote pasti sudah peroleh kemajuan yang pesat,
padahal aku sudah lama melalaikan latihanku. karenanya
didalam pertarungan yang berlangsung hari ini, kuharap lote
sudi melepaskan budi untukku."
Selesai berkata, dia segera menghimpun segenap
kekuatan yang dimilikinya dan bersiap sedia menghadapi
segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
"Nah, berhati-hatilah saudara Samwan!" seru Wi Thianyang
kemudian dengan lantang.
Seusai berkata, dia segera melepaskan sebuah serangan
jari kearah depan.
Tiba-tiba Samwan To berkelebat kesamping dan berseru
sambil tertawa :
"Wi lote, kita harus membuat suatu perjanjian lebih dulu
sebelum melangsungkan pertarungan ini."
Gagal dengan serangannya, Wi Thian-yang menegur:
"Perjanjian apa lagi?""
"Kita harus membatasi masing-masing pihak dengan
berapa jurus serangan saja."
"Betul, kita memang harus membuat pembatasan."
Kemudian setelah berpikir sebentar katanya lagi:
"Samwan To, bagaimana kalau kita membatasi dengan
sepuluh jurus serangan sjaa?"
"Sepuluh jurus? Menurut pendapatku, lima juruspun sudah
lebih dari cukup!"
"Baik, kalau begitu kita tetapkan lima jurus saja!"
"Wi lote" Samwan To kembali berkata, "kita akan
melancarkan serangan bersama-sama ataukah setiap orang
dibatasi dengan lima buah serangan lebih dulu?"
"Haaah... haaah... haaah... paling baik kalau kita
melancarkan serangan bersama-sama, selain itu..."
Tiba-tiba dia tertawa seram dan menambahkan:
"Sewaktu pihak lawan melancarkan serangannya, maka
dilarang untuk menghindarkan diri."
Dari perkataan tersebut, Samwan To mengetahui kalau
lawannya sedang mengejek dirinya karena menghindarkan diri
tadi.
Namun Samwan To sama sekali tidak menggubris ejekan
itu, katanya segera:
"Tentu saja, aku menyetujuinya sama sekali."
"Haaahhh.. haaahh... haaahh... kalau begitu maaf saudara
Samwan!"
Tiba-tiba saja dia melancarkan sebuah serangan jari
tangan ke arah depan.
Samwan To tertawa hambar, diapun menggerakkan jari
tangannya sambil balas melancarkan sebuah serangan.
Tenaga serangan yang dihasilkan dari lima Sam-yang ci ini
benar-benar sangat hebat, diiringi desingan suara yang amat
tajam dan menggidikkan hati, angin serangan tersebut
meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa.
Namun tenaga serangan dari Tong-thian-ci ternyata tidak
menimbulkan bekas apapun.
Dalam waktu singkat tenaga serangan keras dan lunak itu
telah saling bertemu satu sama lainnya pada jarak berapa kaki
ditengah udara...
"Bluuukkk!"
Diiringi suara benturan keras, kedua belah pihak samasama
tertawa lebar.
Samwan To segera berseru:
"Wi lote benar-benar hebat, tampaknya empat puluh tahun
hidup mengasingkan diri membuat tenaga seranganmu dalam
ilmu Tong-thian-ci ini bertambah sempurna, mau tak mau aku
harus menyatakan juga akan kekagumanku..."
Wi Thian-yang segera berseru pula dengan suara keras:
"Ilmu jari Sam-yang-ci dari saudara Samwan jauh lebih
menggidikkan hatiku!"
Kemudian setelah berhenti sejenak, diiringi suara tertawa
yang memanjang ia berseru kembali:
"Saudara Samwan, lihatlah serangan jariku yang kedua!"
Baru selesai dia berkata, angin serangan telah memancar
keluar dengan hebatnya.
"Saudara benar-benar sangat hebat!" bentak Samwan-to
dengan sorot mata berkilat.
Tangan kanannya segera diayunkan ke muka, dengan
mengerahkan seluruh kekuatan Sam-yang-ci nya dia
melepaskan sebuah totokan kilat.
"Blummm..."
Lagi-lagi bentrokan tersebut menghasilkan keadaan yang
seimbang alias setali tiga uang.
Pada saat itulah mendadak sekulum senyuman licik
tersungging diujung bibir Wi Thian-yang.
"Saudara Samwan," katanya, "aku lihat susah juga buat kita
untuk menentukan siapa menang siapa kalah dalam
pertarungan ini... aaai, aku sungguh merasa malu dan
menyesal, ternyata latihan tekunku selama empat puluh tahun
belum berhasil juga membawa kepandaian silatku mencapai
puncak kesempurnaan!"
Samwan-to segera tertawa tergelak:
Wi lote, kalau toh kau sudah mengerti bahwa menang kalah
adalah sudah ditentukan, bagaimana kalau kita sudahi saja
pertarungan ini sampai disini saja?"
"Tidak bisa, budi harus dibalas budi, dendam harus dibayar
dendam, hutangmu dulu harus dibayar dulu sampai lunas!"
Kembali dia melepaskan serangan ilmu Tong-thian-ci untuk
ketiga kalinya.
"Berhati-hatilah saudara!" serunya keras.
Setelah dua kali bentrokan tadi, Samwan-to telah
mengetahui bahwa ilmu jari Tong-thian-ci dari lawannya ini
meski tangguh manum masih belum mampu untuk
mengungguli kehebatan dari Sam-yang-ci andalannya.
Oleh sebab itu sahutnya sambil tersenyum:
"Wi lote, tampaknya pertarungan ini pun harus diakhiri
dengan seimbang dan sama kuat."
Tapi secara tiba-tiba saja perkataan dari Samwan to itu
terhenti sampai ditengah jalan.
Disusul kemudian ia membentak penuh kegusaran:
"Besar amat nyalimu, kau berani bemain gila denganku..."
"Blaaammm..."
Tahu-tahu saja tubuh Samwan-to yang itnggi besar itu
sudah roboh terjengkang ke atas geladak.
Sedangkan Wi Thian-yang yang berada di perahu seberang
segera tertawa seram:
"Samwan-to, kau tak menyangka akan mengalami nasib
seperti hari ini bukan..."
Ketika peristiwa yang berlangsung digeladak tersebut
terlihat oleh Ibun Hau, tokoh sakti yang gemar mengenakan
baju berwarna putih ini benar-benar merasa amat terkejut.
Sebenarnya permainan setan apakah yang sedang
dilakukan oleh Wi Thian-yang?
-oo0dw0oo-
Secepat sambaran petir Ibun Hau menyelinap keluar dari
ruangan perahu.
Oh Put Kui ikut menerjang keluar dari tempat
persembunyiannya dan langsung menghampiri Samwan-to
yang terluka.
Ketika denyut nadinya diperiksa, ia segera berseru dengan
wajah berubah:
"Ibuh cianpwee, Samwan lojin terkena racun hawa dingin!"
Ibun Hau mendengus dingin, lalu katanya:
"Nak, bopong dia masuk kedalam, Ban tua pasti dapat
menyembuhkan lukanya..."
Oh Put Kui mengangguk dan segera membopong masuk
Samwan-to kedalam ruang perahu.
Sedangkan Ibun Hau sendiri dengan wajah dingin bagaikan
es dan hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya
membentak kearah Wi Thian-yang dengan suara keras:
"Wi Thian-yang, kau betul-betul tak tahu malu!"
"Saudara Ibun, mengapa kau berkata demikian?" seru Wi
Thian-yang sambil tertawa seram, "bukankah tempo hari
Samwan-to juga melukai dengan serangan ilmu jarinya? Tidak
pantaskah bila empat puluh tahun kemudian Wi Thian-yang
balas melukainya dengan ilmu jariku?"
Ibun Hau tertawa dingin, tegurnya lagi:
"Wi Thian-yang, ilmu jari apakah yang barusan kau
pergunakan...?"
"Ilmu jari Tong thian ci!"
"Betulkah ilmu jari Tong-thian-ci?" seru Ibun Hau sambil
tertawa dingin, "aku yakin kau lebih mengerti daripadaku,
belum pernah kudengar kalau dibalik kekuatan ilmu jari Tongthian-
ci, terselip pula hawa dingin beracun Peng-pok-han tok!"
"Haaah... haaah... haaah... saudara Ibun, ilmu jari Tongthian-
ci ku ini memang jauh berbeda dengan kepandaian lain,
selain terselip hawa murni cing-khi yang murni, sesungguhnya
terselip juga hawa dingin beracun Peng-pok-han-tok..."
Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali katanya
sambil tertawa dingin:
"samwan-to terlalu sombong dan ingin mencari penyakit
buat diri sendiri, apa sangkut pautnya denganku?"
"Enak amat pembicaraan itu... sayang sekali Ibun Hau rada
kurang percaya."
"Kalau kurang percaya lantas apa yang hendak kau
perbuat?" seru Wi Thian-yang sambil tertawa dingin.
"Aku ingin sekali mencoba kelihayan ilmu jari Tong-thian-ci
mu itu..."
"Haaah... haaah... haaah... apakah kau memang lebih
hebat daripada Samwan-to? Ibun Hau, bukan aku she Wi
sengaja memandang rendah dirimu, tapi aku yakin kau pun
tak nanti mampu untuk bertahan atas serangan jariku ini..."
Belum habis perkataan tersebut diucapkan, tiba-tiba saja
Ibun Hau telah berkerut kening.
Lalu ujung bajunya dikebaskan kedepan dan segulung
tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan amukan ombak
besar ditengah samudra langsung menyambar kedepan.
Bersamaan itu juga terdengar Ibun Hau membentak keras:
"Wi Thian-yang, kau harus merasakan dulu kelihayanku
ini..."
Perkataan dari Wi Thian-yang yang belum selesai
diutarakan itu segera berhenti di tengah jalan, cepat-cepat dia
mengebaskan pula sepasang ujung bajunya dengan mata
melotot besar.
Sekalipun begitu, dia toh belum juga mampu untuk
menahan serangan dahsyata dari Ibun Hau, seketika itu juga
tubuhnya tergetar mundur sejauh tiga langkah kebelakang.
Akibatnya Wi Thian-yang menjadi naik pitam, seluruh
rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku semua bagaikan
landak.
"Ibun Hau, main sergap secara licik seperti apa yang kau
lakukan hanya akan memalukan dirimu, apakah kau tidak
kuatir merosotkan pamormu?"
Ditengah bentakan tersebut, tiba-tiba tubuhnya maju ke
muka, lalu dengan telapak tangan di katan dan jari tangan di
kiri, dia serang dada Ibun Hau dengan dahsyatnya.
Baru saja Ibun Hau tertawa tergelak sambil membentak:
"Wi Thian-yang, kau tak usah berlagak..."
Mendadak... sesosok bayangan manusia dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat telah menyusup ke
hadapan tubuhnya.
Kebasan ujung baju dari Ibun Hau segera ditarik kembali
dengan cepat, ringan dan indah.
Kemudian sambil bergendong tangan ternyata dia
mengundurkan diri kesamping.
Dengan demikian, pukulan telapak tangan dan serangan
jari tangan dari Wi Thian-yang tersebut langsung menghantam
keatas bayangan tubuh yang menerjang tiba itu.
Disaat tubuhnya hampir termakan oleh serangan musuh
yang maha dahsyat itu, ternyata dia malahan berpekik
nyaring.
Bahkan pekikan tersebut keras dan kuat, ditengah
keheningan malam yang mencekam telaga Phoa-yang-oh
tersebut, suaranya dapat berkumandang sampai jarak sejauh
sepuluh li lebih.
Tanpa terasa Wi Thian-yang mengerutkan dahinya.
Siapa gerangan orang itu?
Dengan cepat dia mendongakkan kepalanya sambil
memperhatikan orang tersebut dengan seksama, tapi dengan
cepat paras mukanya berubah sangat hebat.
Oh Put Kui...
Hampir saja dia berteriak keras, tapi bagaimana mungkin
bocah keparat itu bisa berada bersama-sama Thian tok-siangcoat?
Wi Thian-yang dengan julukannya si Raja setan memang
tak perlu takut terhadap Thian-tok-siang-coat, tapi terhadap
Oh Put Kui yang cuma seorang berandal dunia persilatan ini
justru merasa segan untuk memusuhinya.
Tanpa terasa dengan kening berkerut dia termenung sambil
memutar otak.
Apakah dia harus memanfaatkan peluang di saat masih
berpekik nyaring itu diam diam ia lepaskan sebuah
serangan...?
Tapi akhirnya dia berhasil mengendalikan diri dan tidak
melepaskan serangan mautnya.
Sebab dia cukup tahu diri bagaimana pun dia
menyergapnya tak mungkin bocah tersebut dapat dilukainya.
Dalam pada itu suara pekikan panjang dari Oh Put Kui
telah terhenti.
Dengan sorot mata yang tajam ditatapnya wajah Wi Thianyang
tajam-tajam, lalu tegurnya sambil tertawa:
"Wi tua, baik-baikkah kau selama ini?"
Wi Thian-yang tertawa tergelak:
"Lote, mengapa kaupun datang ke Phoa-yang-oh? Kau
tentu merasa gembira bukan dengan arak kegirangan di
perkampungan Sin-ling-ceng? Apakah Siau lojin datang
bersamamu?"
"Siau tua masih berada di perkampungan Sin-ling-ceng..."
sahut Oh Put Kui sambil tertawa.
Selintas rasa girang segera menghiasi wajah Wi Thianyang.
Oleh karena Siau Lun tidak datang, maka dia merasa
nyalinya semakin berani.
Sudah barang tentu dia tak pernah menyangka kalau
dibelakang Oh Put Kui masih terdapat seseorang yang berapa
kali lipat lebih tangguh dan hebat daripada Siau Lun yang saat
itu sedang mengawasinya dengan seksama, serta
menunggunya mengalami kejelekan...
"Kenapa Siau lojin tidak ikut kemari?"
Wi Thian-yang tak dapat menahan rasa gembiranya lagi,
dia segera tertawa tergelak sambil katanya:
"Siau-lote, barusan kau telah menampilkan diri dan
mewakili Ibun Hau untuk menerima pukulan dan totokan
jariku, apakah kau hendak mewakili Ibun Hau untuk..."
"Kalau benar kenapa?" sahut Oh Put Kui sambil tersenyum.
Wi Thian yang menjadi tertegun.
"Apakah siau-lote tidak menganggap tindakanmu itu
kelewat latah dan ceroboh?"
"Haaah... haaah... haaah... seingatku, kaupun pernah
mengucapkan kata yang sama ketika berada di
perkampungan Sin-ling-ceng tempo hari..."
"Heeeh... heeeh... heeeh... itu mah persoalan lalu, sebab
aku tak ingin melakukan kesalahan terhadap Siau Lun."
"Ooh, jadi rupanya kau takut terhadap Siau Lun?"
Paras muka Wi Thian-yang segera berubah menjadi amat
rikuh, malu dan sangat tak sedap dipandang.
Dapatkah dia mengakui rasa "takut"nya itu?
"Ngaco belo, siapa bilang aku takut kepadanya? Cuma saja
aku tak ingin bermusuhan apalagi mencari gara-gara
dengannya..."
"Wi tua, jadi kau telah bertekad akan mencari gara-gara
denganku hari ini...?"
"Heeeh... heeehh... heeeh.. andaikata Siau lote
beranggapan demikian, akupun tak akan menolak!" sahut Wi
Thian-yang sambil tertawa seram.
Oh Put Kui kembali tertawa hambar:
"Wi tua memang seorang yang berlapang dada..."
Lalu setelah berhenti sejenak, terusnya:
"Tapi sebelum kita saling berhadapan sebagai musuh, ada
satu hal yang ingin kutanyakan dahulu kepadamu!"
"Soal apa?"
"Nyoo Siau-sian dari Istana Sian-hong hu telah kehilangan
sebuah senjata mestikanya Mu-ni-ciang-mo-pian, aku ingin
bertanya apakah Wi tua yang mengambil benda tersebut?"
Wi Thian-yang segera merasakan hatinya terkesiap
sesudah mendengar perkataan tersebut, namun diluarannya
dia berdiri seakan-akan seseorang yang sedang tertegun.
"Siau-lote, mengapa kau memfitnah orang semuanya
sendiri sehingga aku pun kau tuduh yang bukan-bukan?"
"Jadi bukan kau yang mengambil?" ejek Oh Put Kui sambil
tertawa.
Dengan cepat Wi Thian-yang menggelengkan kepalanya
berulang kali:
"Aku toh bukan manusia sembarangan, buat apa sih
mencuri sebuah senjata milik seorang boanpwee?"
"Haaah... haaah... haaah..." Oh Put Kui tertawa tergelak,
"aku justru beranggapan bahwa sembilan puluh persen
peristiwa pencurian itu merupakan hasil perbuatanmu."
"Lote!" tegur Wi Thian-yang dengan kening berkerut, atas
dasar apa kau berani mengatakan begitu?"
"Aku pernah bersua dengan Kakek penggetar langit Siau
Hian ketika berada di kota Kang-ciu!"
Kali ini Wi Thian yang kelihatan benar-benar sangat
terkejut.
"Siau Hian? Apa yang telah diocehkan tua bangka tersebut
kepadamu........"
Dia masih juga tidak mengakui bahkan sikapnya seolaholah
berlagak pilon.
Oh Put Kui tertawa dingin:
"Siau tua memberitahukan kepadaku bahwa kau pernah
memberi kabar kepadanya kalau senjata Mu-ni-pian telah
terjatuh di tangan tiga pendeta dari Tibet..."
"Sialan........." umpat Wi Thian-yang tanpa terasa, "Siau
Hian betul-betul seorang manusia bedebah yang tolol........"
"Wi tua, ternyata persoalaln tersebut sama sekali tak
pernah kau duga bukan?" ejek Oh Put Kui sambil melototkan
matanya.
"Hal inipun belum dapat membuktikan kalau akulah yang
telah mencuri ruyung tersebut." kata Wi Thian-yang dengan
gusar, "kau harus tahu Hian-long lhama dari Tibet sendiripun
tidak tahu ruyung tersebut sudah terjatuh ke tangan siapa?"
"Betul, Lhama dari Tibet itu hanya pantas dicurigai saja."
"Lote, mengapa kau tidak pergi mencari mereka?" jengek
Wi Thian-yang sambil tertawa seram.
"Aku percaya Put-khong siansu, seorang dari tiga pelindung
hukum aliran Tibet tidak akan membohongi diriku, karenanya
akupun membebaskan mereka bertiga..."
Dalam pada itu sorot mata yang memancar keluar dari balik
mata Wi Thian-yang berkilat tak menentu.
Ia sudah dapat mendengar arti lain dari perkataan Oh Put
Kui tersebut, seakan-akan ketiga pendeta dari Tibet itu telah
membeberkan segala sesuatunya, namun dia tak ingin
mengakui sesuatau persoalan pun sebelum posisinya betulbetul
terdesak dan menjumpai jalan buntu.
Karena itu sambil tertawa seram kembali katanya:
"Lote, tampaknya kau seperti menuduh aku!"
"Itu mah hanya saudara sendiri yang mengerti, apakah
tuduhan tersebut betul atau salah" sambung Oh Put Kui
tertawa.
"Lote, aku perlu menjelaskan kepadamu, bukan saja aku
tak pernah mencuri ruyung Mu-ni-pian tersebut, sekalipun aku
pernah mencuri benda itu, atas dasar apa pula lote mencari
gara gara dan permusuhan denganku."
Oh Put Kui tertawa tergelak:
"Haaaaaahhhh......... haaaaahhhhh........
hhaaaaaahhhhh........ aku mah tiada maksud untuk meminta
kembali ruyung tersebut darimu......."
"Lantas buat apa lote mencampuri urusan ini?" tanya Wi
Thian-yang tertegun.
"Aku cuma ingin tahu, sesungguhnya siapa yang telah
mencuri ruyung mestika itu?"
Berkilat sepasang mata Wi Thian-yang sehabis mendengar
perkataan itu, ia tertawa tergelak:
"Lote, apakah sekarang kau sudah tahu?"
"Betul, aku memang sudah tahu!"
Mendadak Wi Thian-yang mendehem berulang kali, lalu
katanya:
"Lote, persoalan apa lagi yang hendak kau utarakan?"
"Ada, yaitu aku pingin tahu benarkah Nyoo Ban-bu adalah
muridmu...?"
"Bukan!" sahut Wi Thian-yang sambil menggeleng.
"Sudah lamakah kalian berkenalan?"
"Tidak lama!"
"Saudara, jawabmu keterlaluan, janganlah berbohong untuk
mempermainkan orang."
"Lote, belum lama aku terlepas dari sekapan, tahukah kau
akan hal ini?" Wi Thian-yang balik bertanya sambil tertawa.
"Aku tentu saja tahu, tapi hal inipun bukan berarti kau sama
sekali tidak mempunyai kesempatan untuk berkenalan dengan
Nyoo Ban-bu, lagi pula mesti saudara agak lambat keluar
gunung, namun melepaskan diri dari kurungan justru sudah
sangat lama."
Padahal apa yang diucapkan hanya merupakan semacam
rabaan atau dugaan belaka.
Dugaan tersebut berdasarkan bahwa Nyoo Ban-bu dan Wi
Thian-yang bersama-sama mengetahui kalau ruyung Mu-nipian
sudah berada didalam kiriman kayu dari pihak Pau kau
namun kenyataannya mereka tak berani mengambilnya dan
malahan memberitahukan soal ini kepada orang lain.
Dari sini dapatlah diketahui bahwa dibalik peristiwa itu jelas
tersembunyi semacam tipu muslihat yang amat jahat........ dan
tipu muslihat itu pastilah hasil perbuatan dari mereka
berdua.......
Sementara itu Wi Thian-yang telah tertawa lebar:
"Lote, kau benar-benar amat pintar berbicara ngaco belo
tak karuan........"
"Jadi kau beranggapan aku sedang mengaco belo?" Oh
Put Kui balik bertanya sambil tertawa.
"Apa yang lote katakan, hampir semuanya berupa dugaan
yang sama sekali tanpa dasar."
Tiba-tiba berkilat sepasang mata Oh Put Kui setelah
mendengar perkataan itu, setelah tertawa hambar katanya:
"Tahukah saudara bahwa Nyoo Ban-bu pun juga tahu kalau
Mu-ni-pian sudah terjatuh ketangan Pay-kau? Lagipula dia
memberitahukan persoalan ini kepada si toya emas tangan
sakti Sik Keng-seng........"
"Lote, apa salahnya dengan peristiwa ini? soal Nyoo Banbu
pun mengetahui persoalan ini, apa pula sangkut pautnya
denganku? Apalagi kalau toh orang she Nyoo itupun tahu,
bukankah hal ini berarti lebih banyak orang yang pantas
dicurigai?"
"Hhaaaaahh........ haaahhhh......... haaahhhh......... memang
begitulah Nyoo Ban-bu memang sangat mencurigakan.........."
Lalu setelah berhenti sejenak, tiba-tiba katanya lagi sambil
tertawa dingin:
"Seandainya kau tidak mempunyai hubungan apa-apa
dengan Nyoo Ban-bu, mengapa pula kau belum pernah
menyinggung soal dendam lamamu dimana hampir saja kau
mampus ditangan ayahmu tempo hari?"
Pertanyaan semacam ini betul-betul merupakan suatu
pertanyaan yang hebat dan sangat memojokkan posisi orang.
Akan tetapi Wi Thian-yang sama sekali tidak ambil perduli,
malahan katanya pula sambil tertawa:
"Lote, kau sudah menganggap aku ini sebagai manusia
apa? Memangnya aku adalah seorang pembunuh yang sudi
turun tangan terhadap seorang boanpwee?"
Jawaban yang diberikan pun sangat tepat dan mantap.
Oh Put Kui segera berseru sambil tertawa dingin:
"Jadi anda tidak mau mengakui kalau kalian sudah lama
saling berkenalan?"
"Dalam kenyataan memang begitu, tapi mereka justru
bersikeras menambahkan nama kepadaku, apakah lote
memang berniat untuk melakukan sesuatu tindakan
kepadaku......."
"Haaahhhh...... haaahhhh...... haaahhhh....... menurut
pendapat saudara, tindakan apa yang hendak kulakukan?
Malah saudara pernah menuduh Hut Lok sebagai pembunuh
Nyoo Thian-wi, tentang hal inipun aku sudah tidak percaya."
"Mau percaya atau tidak, tak perlu kurisaukan, aku cuma
ingin mencari Hui Lok dan menuntut balas dengan
kemampuan sendiri..."
"Maksud dan tujuan saudara ini benar-benar membuat hati
orang merasa terkejut bercampur keheranan!" Oh Put Kui
tertawa hambar.
"Hhaaaaaahhhhh...... haaaaahhhhh....... haaahh...... sejak
dulu cara kerjaku memang sukar diraba orang......"
Kemudian setelah berhenti sejenak, terusnya:
"Apakah benda itu adalah Mu-ni-pian yang menjadi senjata
mestika Wi-in-loni?"
"Yaa betul, memang ruyung tersebut!"
@oodwoo@
Jilid ke : 28
Tiba-tiba Ibun Hau tertawa hambar dan berkata kepada Wi
Thian-yang:
"Mengapa Wi lote pun ikut melakukan perbuatan tengik
macam pencuri saja? Atau mungkin pemunculanmu untuk
kedua kalinya ini telah membuat kau merubah lebih rendah
dan hina daripada dulu?"
Raja setan penggetar langit Wi Thian-yang tertawa seram:
"Ibun Hau, kau pun sudah mulai belajar memfitnah orang?
Kau anggap aku orang she Wi akan memandang sebelah
matapun terhadap ruyung Mu-ni-ciang-mo-pian tersebut?"
Berkilat sepasang mata Ibun Hau, serunya pula sambil
tertawa dingin:
"Wi Thian-yang, apakah kau tidak merasa kalau bacotmu
itu kelewat latah?"
"Haaahh... haaahh... haaahh... dengan mata kepala sendiri
aku orang she Wi menyaksikan ruyung tersebut
disembunyikan kedalam balok kayu, tapi aku menganggapnya
seperti tak berarti malahan sengaja kusampaikan rahasia
tersebut kepada orang lain, bagaimana mungkin aku bisa
dibilang latah?"
Baru selesai Wi Thian-yang tertawa, Oh Put Kui telah
menyambung sambil tertawa:
"Ternyata cara kerja anda benar-benar sukar diraba.."
Pada saat itulah Ibun Hau yang berdiri disampingnya
sambil berpeluk tangan itu berkata sambil tertawa:
"Keponakanku, buat apa sih kau mesti banyak berbicara
dengannya?"
"Boanpwee hanya ingin membuktikan suatu persoalan..."
kata Oh Put Kui sambil tersenyum.
"Persoalan apa? Apakah hiantit sudah berhasil
membuktikannya?"
"Boanpwee telah berhasil membuktikan delapan-sembilan
puluh persen, aku yakin ruyung Mu-ni-ciang-mo-pian yang
hilang dari Istana Siang-hong-hu adalah merupakan hasil
curian dari Nyoo Ban bu dan Wi Thian-yang yang berkomplot."
-oo0dw0oo-
"Dapatkah perkataannya dipercaya?"
Baru selesai Ibun Hau berkata, Oh Put Kui telah
menyambung dengan cepat:
"Ibun tua, kali ini pengakuan Wi-thian-yang adalah
sejujurnya!"
"Apa? Kau percaya kalau ia tidak berniat mengincar ruyung
mestika itu?"
"Tidak..." Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang
kali, "aku bukan bermaksud demikian, Wi thian-yang bukan
lantaran mengincar ruyung tersebut maka dia mencuri benda
mestika itu, sebaliknya ia berbuat demikian karena
mempunyai suatu rencana busuk."
"Oya...?" Ibun Hau segera tertawa dingin.
Sebaliknya Wi-thian-yang tertawa seram:
"Bocah keparat, kau benar-benar menurut suara hati sendiri
tanpa memperdulikan bagaimana pendapat orang."
"Aku rasa justru kau sendiri yang terlalu menuruti suara hati
sendiri tanpa memperdulikan bagaimana pendapat orang lain,"
seru Oh Put Kui sambil tertawa, "coba bayangkan saja caramu
memfitnah orang, tak segan mengadu domba sesama umat
persilatan, tidakkah kau rasakan betapa keji dan buasnya
tindakan tersebut."
Tiba-tiba Wi-thian yang mendongakkan kepalanya dan
tertawa keras:
"Orang yang berjiwa sempit bukan seorang Kuncu, orang
yang tidak berhati keji bukan seorang lelaki sejati, bocah
keparat, kau masih ketinggalan jauh sekali..."
"Wi Thian-yang, tampaknya kau benar-benar berniat
mencelakai umat persilatan lagi?" tiba-tiba Ibun Hau menegur
sambil tertawa dingin.
"Demi rejeki atau demi keuntungan hanya selisih dalam
satu ingatan, saudara Ibun darimana kau tahu kalau semua
perbuatanku ini bukan demi melenyapkan bibit bencana dari
dunia persilatan?"
Jago tanpa kemurungan berbaju putih Ibun Hau
mengelengkan kepalanya seraya tertawa sahutnya:
"Andaikan Raja setan penggetar langit yang dimasa lalu
banyak melakukan kejahatan dan kekejaman pun berniat
melenyapkan bibit bencana dari dunia persilatan, aku jadi tak
tahu manusia manakah dalam dunia persilatan ini yang bisa
dikatakan sebagai orang jahat lagi?"
"Saudara Ibun terlalu memandang hina diriku...!" pekik Wi
Thian-yang tertawa.
Kemudian sambil berpaling pada Oh Put Kui, kembali
serunya sambil tertawa:
"Bocah keparat, hari ini kau telah mencari gara-gara
denganku."
Setelah berhenti sebentar, ia baru berkata lagi pada Ibun
Hau sambil tertawa seram:
"Saudara Ibun, anda tak usah melotot penuh amarah,
malam ini sudah pasti ada orang yang akan menemani kau
mampus di atas telaga Pho yang Oh ini, dan sekarang aku
hendak beradu kemampuan lebih dulu dengan bocah keparat
ini."
"Haaahh... haaahh... haaahh sejak tadi aku sudah tahu
kalau didalam ruang perahumu masih hadir seseorang yang
lain," ucap Ibun Hau sambil tertawa terbahak-bahak, "Wi
Thian-yang, kalau toh kalian sudah datang, mengapa harus
malu bersembunyi, takut berjumpa dengan orang?"
Baru selesai ucapan itu diutarakan, dari balik ruang perahu
itu sudah berkumandang suara tertawa dingin:
Menyusul bergemanya suara tertawa dingin itu, dari ujung
geladak telah muncul seorang tua berjenggot putih yang
bertubuh kurus kering.
Berkilat sepasang mata Oh Put Kui melihat kemunculan
orang itu, segera diamatinya sekejap kakek tersebut dengan
pandangan seksama.
Ternyata orang itu berambut putih berjenggot putih, berbaju
putih dan bersepatu putih, seluruh tubuhnya berwarna putih
semua.
Sekalipun wajahnya keren dan gagah, namun terselip juga
sikap dingin dan ketus yang menyeramkan.
Begitu melihat kemunculan Kakek tersebut, diam-diam Ibun
Hau segera berkerut kening.
Kemudian umpatnya di dalam hati:
"Sialan betul orang she Wi itu..."
sementara itu Oh Put Kui telah berseru:
"Ibun tua, orang ini sangat licik dan amat berbahaya,
menurut pendapat boanpwee, sudah seharusnya kalau kita
manfaatkan keadaan dan saat seperti ini untuk mendesaknya
agar berbicara sampai jelas..."
"Tidak usah!" sahut Ibun Hau sambil tertawa dingin.
"Jika membiarkan harimau pulang gunung, bencana
dikemudian hari tentu besar sekali..." kata Oh Put Kui sambil
berkerut kening.
Belum selesai dia berkata, Wi thian-yang telah membentak
keras:
"Lote, sebenarnya apa maksudmu? Apakah kau sengaja
hendak bermusuhan dengan aku?"
"Kapan sih aku memusuhi dirimu?" tanya Oh Put Kui
tertawa, "buktinya justru kaulah yang licik dan berbahaya, Oh
Put Kui tak lebih hanya ingin membantu sahabat dunia
persilatan untuk melenyapkan bibit bencana bagi mereka
dikemudian hari."
Kata-kata tersebut sungguh membuat Wi Thian-yang naik
darah dan merasa gusar sekali.
Selapis hawa napsu membunuh yang tebal dan
menyeramkan segera menghias wajah Raja setan penggetar
langit.
Dipandangnya Oh Put Kui sekejap dengan penuh
kebencian, lalu serunya keras-keras:
"Hati-hati kau bajingan cilik..."
Dalam pada itu, Ibun Hau yang melihat kemunculan Kakek
berambut putih itu sudah berpikir:
"Tak nyana kalau iblis tua ini belum mampus bahkan
membantu berbuat kejahatan benar-benar hal ini tidak
kusangka, tampaknya dunia persilatan akan sulit peroleh
ketenangan untuk selamanya..."
Setibanya diujung perahu, Kakek berambut putih itu
memandang sekejap kearah Ibun Hau, kemudian katanya
sambil tertawa dingin:
"Ibun Hau, kita telah bersua kembali."
Sekalipun dalam hati kecilnya merasa terkejut, namun
diluarnya Ibun Hau tetap bersikap santai dan tenang.
Mendengar ucapan mana, dia segera tertawa tergelak
sambil menyahut:
"Aku mengira siapa yang berada dalam ruang perahu,
rupanya jago seribu li penggait sukma Pek loko, tak aneh
kalau Wi-thian-yang secara tiba-tiba bernyali besar..."
Mendengar nama "jago seribu li penggait sukma", paras
muka Oh Put Kui segera berubah hebat.
Ia pernah mendengar susioknya, Thian-liong sangjin
menyinggung nama gembong iblis tua ini.
Konon Thian liong sangjin sendiripun pernah menderita
kekalahan ditangannya tempo hari.
Nama aslinya adalah Pek Biau-peng, dan nama tersebut
jauh lebih termashur daripada tiga Kakek iblis dunia persilatan.
Tiba-tiba saja Oh Put Kui mulai merasa tidak tenang
hatinya.
Ia tak bisa menduga, pun tak dapat memperhitungkan
secara tepat apakah Kakek latah awet muda sanggup
menandingi kehebatan dari si Jago seribu li penggait sukma
ini.
Oleh sebab itulah baru pertama kali ini dia merasakan
hatinya amat kuatir semenjak pertama kali terjun kedalam
dunia persilatan...
Dalam pada itu si Jago seribu li penggait sukma Pek Biaupeng
telah berkata dengan suara dalam:
"Ibun Hau, setelah berpisah selama puluhan tahun, aku
rasa ilmu Hian-goan-cing-khi mu yang pernah termashur di
daratan Tionggoan telah mencapai tingkatan yang sempurna
bukan?"
Ibun Hau tertawa tergelak:
"Aku rasa masih jauh ketinggalan bila dibandingkan ilmu
Hian-im cing-khi dari Pek loko."
"Heeehh... heeehh... heeehh... pandai amat kau
merendahkan diri."
Kemudian setelah berhenti sebentar, ia berpaling kearah
Wi Thian-yang dan serunya lagi sambil tertawa:
"Wi Thian-yang, mundurlah agak jauh!"
Kali ini Wi Thian-yang menunjukkan sikap yang sangat
penurut, mendengar perintah tersebut dia benar-benar mundur
dua langkah ke belakang.
Tapi Oh Put Kui yang melihat hal itu kembali mengacau:
"Wi Thian-yang, bukankah kau menantang aku untuk adu
kepandaian? Tapi bilamana kau tak lebih hanya manusia
cecunguk yang mudah dibentak dan diperintah orang
semaunya, aku mah tak sudi lagi bertarung melawanmu."
Umpatan yang begitu pedas dan sangat menghina ini tentu
saja tak mampu diterima oleh Wi thian-yang dengan begitu
saja.
Kontan saja mukanya berubah menjadi merah, matanya
melotot besar dan wajahnya menyeringai menyeramkan,
dengan suara menggeledek teriaknya keras-keras:
"Bajingan keparat, kau sudah bosan hidup nampaknya!"
"Benarkah begitu? Hmmm... aku rasa justru kaulah yang
sudah bosan hidup."
Belum selesai pemuda itu berbicara, tiba-tiba Pek Biaupeng
telah tertawa dingin lagi, dan terdengar ia menegur:
"Hey anak muda, kau berasal dari perguruan mana?"
"Kau sedang bertanya padaku?" tanya Oh Put Kui dengan
wajah tertegun penuh keheranan.
"Kalau bukan bertanya kepadamu lantas kepada siapa?"
sahut si Jago seribu li pengait sukma Pek Bian peng dengan
ketusnya, "bocah keparat, kulihat nyalimu benar-benar besar
sekali."
Oh Put Kui tertawa hambar:
"Aku bernama Oh Put Kui, guruku adalah Tay-gi sangjin,
nah, sudahkah cukup jelas?"
Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, belum pernah Pek
Biau-peng diperlakukan orang semacam ini apalagi oleh
seorang anak muda semacam Oh Put Kui, tidak heran kalau
sepasang matanya segera berkilat tajam, bahkan dibalik sorot
matanya terselip pula pancaran hawa amarah yang membara.
"Jadi kau adalah murid Oh Sian? Rupanya kau sedang
gagah-gagahan dengan membonceng ketenarannya."
Ia segera mendongakkan kepala dan tertawa terbahakbahak,
terusnya:
"Bocah keparat, kali ini kau telah salah alamat besar,
jangan lagi baru gurumu, bahkan sucoumu hidup kembalipun
aku tak akan memandang sebelah mata kepadanya..."
Oh Put Kui kontan saja naik pitam, mukanya terasa merah
membara karena hatinya panas.
Sekalipun diapun tahu bahwa gembong iblis tua ini tidak
gampang untuk dihadapi, akan tetapi diapun tak dapat
berpeluk tangan belaka membiarkan guru dan Kakek gurunya
dihina serta dicemooh orang lain, sambil mendengus dingin
segera serunya:
"Kurangajar, tua-tua bangka, kau berani menghina dan
mencemoh guru dan Kakek guruku? Manusia semacam kau
tak bisa diampuni lagi..."
Pek Biau-peng yang mendengar ucapan tersebut kontan
saja mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaah... haaah... kau tak mau mengampuni
aku? Apa sih yang dapat kau perbuat?"
"Kau harus minta maaf kepadaku!"
"Kentut busuknya makmu!" umpat Pek Biau-peng penuh
amarah, "huuuh... kau ini manusia macam apa? Kau suruh
aku minta maaf kepadamu? Jangan bermimpi disiang hari
bolong!"
"Bila kau enggan minta maaf, terpaksa aku akan
memaksamu dengan mempergunakan kekerasan," ancam
pemuda itu sambil tertawa dingin.
"Haaahh... haaahh... haaahh... gampang sekali bila kau
ingin mempergunakan kekerasan, aku hanya kuatir kau tak
mampu menahan sepuluh jurus seranganku!"
Dengan nama dan kedudukan Pek Biau-peng dalam dunia
persilatan, sesungguhnya kata-kata semacam ini sudah
merupakan suatu sikap yang amat sungkan.
Sebab Pek biau-peng pun sadar bahwa ia tak boleh
memandang terlalu enteng terhadap lawannya ini, karena
bagaimanapun juga Oh Put Kui adalah anak murid dari Tay-gi
sangjin.
Coba kalau bukan begitu, dia cukup mengandalkan satu
gebrakan saja sudah cukup untuk mengirim anak muda
tersebut ke neraka, bahkan dalam anggapannya tak seorang
anak mudapun didunia ini yang mampu menghadapi setengah
gebrakanpun darinya.
Sebaliknya Oh Put Kui justru tertawa senang di dalam hati,
sebab apa yang dicita-citakan telah terpenuhi, dan dia merasa
perlu untuk mengikat lawannya dengan perkataannya itu.
Dengan suara keras katanya:
"Seandainya dalam sepuluh gebrakan nanti aku berhasil
mempertahankan diri, apakah kaupun akan meminta maaf
kepadaku?"
"Tentu saja," jawab Pek Biau-peng dengan geram, "apa
yang telah kuucapkan selamanya akan kupenuhi!"
"Baik, kalau begitu aku harus memaksamu untuk meminta
maaf kepadaku..."
"Sudahlah, tak usah banyak bicara, silahkan melancarkan
serangan lebih dulu!"
"Turun tangan?" tiba-tiba Oh Put Kui tertawa hambar,
"apakah kita harus saling bertarung dengan begini saja?"
"Kau ingin bertarung dengan cara apa?"
"Selisih jarak kita demikian jauhnya, aku takut kau
membuang tenaga terlalu banyak."
Pek Biau-peng sungguh dibuat sangat mendongkol sampai
jenggot putihnya bergetar keras.
Mendadak saja dia berpekik keras lalu melompat kearah
ujung geladak perahu yang ditumpangi Oh Put Kui.
"Bocah keparat, aku tahu akan maksud jahatmu itu, tapi
aku tak akan kuatir untuk menghadapi rencana busuk apapun
darimu, bagaimana? Kita harus bertarung sekarang juga?"
Tiba-tiba terdengar Ibun Hau berkata sambil tertawa:
"Keponakanku, minggirlah kau..."
Oh Put Kui yang menjumpai Pek Biau-peng sudah masuk
perangkap. tentu saja tak mau mengundurkan diri dengan
begitu saja.
"Ibun tua, boanpwee yakin masih mampu untuk
menghadapinya!" dia berseru cepat.
Kemudian tidak menunggu jawaban dari Ibun Hau, dia telah
berpaling kembali ke arah Pek Biau-peng dan katanya sambil
tertawa:
"Disaat batas waktu sepuluh jurus sudah lewat, pada saat
itulah anda akan mendapat malu."
"Haaahh... haaahh... haaahh... selembar mulutmu sungguh
amat tajam bagaikan pisau, sayang sekali aku segan untuk
banyak berbicara denganmu." ucap Pek Biau-peng sambil
tertawa seram. "bila kau enggan melancarkan serangan lebih
dulu, jangan salahkan kalau aku pun enggan bertarung lebih
lanjut."
Mendengar perkataan itu, Oh Put Kui tertawa tergelak:
"Aku memang sudah tahu kalau nyalimu kecil dan sekarang
kau lagi merasa ketakutan setengah mati."
Pek Biau-peng kembali tertawa seram:
"Bocah keparat, kau tidak usah membuat perhitungan yang
kelewat indah dihadapanku, andaikata orang di dunia ini dapat
membuat aku masuk perangkap dan menjadi naik darah,
maka orang itu tentunya kaulah orangnya."
Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli, namun diluar dia
menjawab dengan berterus terang:
"Mungkin saja begitu..."
Belum selesai dia berkata, tiba-tiba saja sebuah pukulan
keras telah dilontarkan ke depan.
Pek Biau-peng mengira dia masih hendak mengucapkan
sesuatu, maka pada hakekatnya dia tidak melakukan
persiapan apapun.
Menanti dia sadar akan datangnya serangan dahsyat dari
lawannya, kesempatan baginya untuk menghindar pun sudah
tidak ada lagi.
Sekalipun demikian, dia sama sekali tidak memandang
sebelah matapun terhadap serangan yang dilancarkan oleh
Oh Put Kui tersebut.
Begitu tangannya digerakkan, dia langsung membabat ke
arah pergelangan tangan kanan dari Oh Put Kui.
Tiba-tiba saja Oh Put Kui menarik kembali tangannya
sambil mundur setengah langkah, lalu katanya sambil tertawa:
"Jurus pertama!"
Rupanya bacokan telapak tangan yang dilontarkan Pek
Biau-peng tersebut sama sekali mengenai sasaran yang
kosong.
Pek Biau-peng yang menjumpai keadaan tersebut segera
mengejek sambil tertawa dingin:
"Kau tak usah keburu merasa bangga, aku masih
mempunyai sembilan kali kesempatan untuk merenggut
nyawamu."
"Benarkah begitu? Sayang sekali aku..."
Belum habis dia berkata, sepasang lengannya kembali
dilontarkan bersama melepaskan bacokan pertama.
Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat bagaikan
amukan ombak ditengah samudra langsung saja melanda
tiba.
Menghadapi datangnya ancaman yang begitu dahsyat,
mau tak mau Pek Biau-peng merasa terkejut juga.
Dia sama sekali tidak mengira kalau bocah muda tersebut
benar benar memiliki kepandaian silat yang dahsyat.
Dalam keadaan demikian terpaksa ia harus mengebaskan
ujung bajunya berulang kali untuk memudahkan datangnya
ancaman dari Oh Put Kui tersebut.
Akibat dari bentrokan kekerasan yang kemudian terjadi,
kedua belah pihak sama sama bertahan pada posisi semula.
"Saudara, lagi-lagi kau kehilangan sebuah kesempatan
yang baik untuk membinasakan aku..." jengek Oh Put Kui
sambil tertawa lebar.
Tidak sampai lawannya berbicara, tiba tiba saja Oh Put Kui
telah melepaskan kembali tiga buah serangan berantai.
Ketiga buah serangan tersebut boleh dibilang
mempergunakan jurus-jurus silat yang belum pernah
digunakan Oh Put Kui selama ini.
Segulung desingan tajam bagaikan suara sempritan dari
bambu, segera bergema diatas permukaan telaga itu.
Menyusul desingan itu, menyambarlah ketiga buah
serangan Oh Put Kui yang tidak nampak kekuatan
sambarannya tapi justru mengandung kekuatan maha dahsyat
yang mengerikan hati itu.
Pek Biau-peng segera mengerutkan dahinya rapat-rapat.
Untuk menghindarkan diri dari ancaman tersebut, terpaksa
dia harus mempergunakan gerakan tubuh yang terhebat dan
tenaga pukulan yang paling hebat untuk memutar badan
sambil secara berurutan melancarkan tiga pukulan dan tiga
kelitan sebelum berhasil meloloskan diri dari ancaman mana.
Selintas perasaan kaget segera memancar keluar dari balik
mata Kakek tersebut, serunya tanpa terasa:
"It-ing-ci!"
"Haaahh... haaahh... haaahh... rupanya luas juga
pengetahuanmu, nah saudara, lagi lagi kau sudah kehilangan
kesempatan untuk mencelakai diriku!"
Oh Put Kui tahu, dengan tenaga serangan It-ing-ci yang
dimilikinya sekarang, masih belum mampu untuk melukai
gembong iblis tua tersebut, oleh karenanya dia tidak
melancarkan serangan dengan seluruh kekuatan
Akan tetapi hal tersebutpun sudah cukup memusingkan
kepala Pek Biau-peng
Dengan sorot mata berkelit dan diiringi suara tertawa yang
menyeramkan, tiba-tiba dia menggerakkan sepasang
tangannya sambil melepaskan tiga buah serangan beruntun.
Dalam waktu singkat, permukaan telaga Phoa-yang oh
tersebut sudah dicekam oleh angin puyuh yang maha dahsyat.
Permukaan air telaga sekitar tiga kaki dari posisi Oh Put
Kui berdiri, tiba-tiba saja dikurung oleh amukan ombak
setinggi berapa depa...
Oh Put Kui sama sekali tidak menyangka kalau Pek Biaupeng
memiliki tenaga pukulan yang begitu dahsyat dan
mengerikan.
Serta merta dia menghimpun tenaga murninya, lalu
mengerahkan ilmu Kiu-coan-tay-sian sinkang untuk
melindungi seluruh badan, bukannya mundur dia justru
mendesak maju ke depan dan menyusup ke balik tenaga
serangan dari Pek Biau-peng.
Ibun Hau yang menyaksikan kejadian itu menjadi terkejut,
bentaknya tanpa terasa:
"Hiantit, kau tak boleh bertindak gegabah...!"
Akan tetapi bayangan tubuh Oh Put Kui telah menyusup
masuk kedalam lingkaran tenaga pukulan lawan.
"Blaaammm...!"
Ditengah bentrokan yang amat memekikan telinga, Oh Put
Kui telah melayang mundur kembali ke belakang.
Ibun Hau sungguh merasa terkejut sekali hingga dia hanya
bisa menggelengkan kepalanya sambil menghela napas
panjang, pikirnya:
"Bocah ini benar-benar bernyali besar untuk menyerempet
bahaya."
Hanya saja suara helaan napas panjangnya hanya sempat
diutarakan sampai setengah jalan saja lalu berhenti tiba-tiba.
Tampaknya si Jago seribu li penggait sukma Pek Biaupeng
pun terdorong mundur sejauh dua langkah lebih sebelum
berhasil berdiri dengan tenang, malahan dengan wajah
terkesiap, teriaknya:
"Kau si bocah keparat bukan manusia!"
"Yaa, berbicara yang sebenarnya dia memang tidak mirip
manusia melainkan seperti dewa..."
Tubuhnya yang masih melambung ditengah udara, dalam
waktu singkat telah balik kembali keatas perahu.
-oo0dw0oo-
Nyatanya pemuda tersebut sama sekali tidak menderita
luka, bahkan dengan senyuman dikulum katanya:
"Saudara, apakah ketiga buah serangan berantaimu tadi
dapat terhitung sebagai tiga jurus serangan?"
Pek Biau-peng tak sanguup menahan gejolak emosinya,
dengan penuh amarah dia mendengus dingin:
"Betul, dianggap tiga jurus, tapi..."
Mendadak sepasang matanya melotot besar, lalu sambil
mengebaskan tangannya ke depan dia berseru:
"Lihat serangan..."
"Blaaamm!"
Tubuh Oh Put Kui segera terlempar sejauh satu kaki lebih
hingga terlempar kearah telaga, namun dengan amat cekatan
sekali pemuda itu menjejakkan kakinya keatas permukaan
telaga kemudian segera balik kembali ke atas perahu.
Rupanya dalam pembicaraan tersebut, Oh Put Kui kembali
termakan sebuah pukulannya.
Tapi sayang sekali tenaga pukulan yang dilancarkan Pek
Biau-peng itu gagal melukai Oh Put Kui sebaliknya
menimbulkan sebuah lubang sebesar berapa depa diatas
papan geladak perahu itu.
Oh Put Kui segera tertawa tergelak sambil mengejek:
"Nah saudara, apakah jurus yang terakhir inipun masih
akan kau lepaskan?"
Kali ini Pek Biau-peng benar benar merasa gusarnya luar
biasa, namun diapun merasa terkesiap bercampur terkejut.
Bagaimanapun juga dia sama sekali tidak menyangka
kalau ilmu silat yang dimiliki Oh Put Kui telah mencapai
tingkatan yang demikian hebatnya.
Padahal menurut perkiraannya semula, sekalipun Tay-gi
sangjin turun tangan sendiri pun tak mungkin akan jauh lebih
hebat dari pada kemampuan yang dimilikinya, sudah barang
tentu kemampuan dari muridnya tak mungkin lebih hebat
daripada gurunya.
Padahal dia mana tahu kalau kemampuan yang dimiliki
Tay-gi sangjin terutama setelah mempelajari ilmu Kiu-pian-taysian
sinkang, telah mencapai tingkatan yang sedemikian
dahsyatnya hingga sukar untuk dicarikan tandingannya
didunia ini?
Pek Biau-peng mengerutkan dahinya lalu berkata sambil
tertawa menyeramkan:
"Dalam seranganku yang terakhir ini, aku akan mencabut
selembar jiwamu..."
Tiba-tiba saja tangan kanannya digetarkan ke muka...
telapak tangannya menghadap ke depan dan pelan-pelan
digerakkan dengan sikap mengamcam.
Dalam sekejap mata, telapak tangan itu sudah berubah
menjadi semu keabu-abuan.
Oh Put Kui yang melihat gerakan mana segera berkata
sambil tertawa mengejek:
"Tak nyana kalau saudara mempunyai begitu banyak
gaya..."
Sebaliknya Ibun Hau yang menyaksikan kejadian ini segera
berseru dengan kaget:
"Keponakanku, iblis tua ini sudah berhasil memiliki ilmu
Hian-im-tou-kut-toh-mia-ciang (pukulan hawa dingin
penembus tulang pencabut nyawa), kau jangan bertindak
gegabah sehingga membiarkan tubuhmu tersambar angin
pukulan..."
"Ibun tua tak usah kuatir, boanpwee tidak takut
kepadanya!"
Mendengar jawaban tersebut Ibun Hau semakin gelisha
lagi, kembali ujarnya:
"Hiantit, ilmu pukulan semacam ini bukan saja disertai
dengan tenaga dalam yang kuat, lagipula amat beracun..."
"Kau orang tua tak usah kuatir..."
Pada saat itulah...
Mendadak terdengar Pek Biau-peng membentak keras:
"Bocah keparatm pergilah menjumpai Kakek moyangmu!"
Didalam gusarnya yang luar biasa, rupanya Kakek itu tak
mampu menahan diri lagi sehingga umpatan dengan kata-kata
yang kasarpun segera berhamburan keluar.
Bahkan telapak tangan kanannya segera diayunkan pula ke
depan melancarkan sebuah serangan maut.
Sementara Oh PUt Kui telah menghimpun ilmu Kiu-piantay-
sian-sinkang nya untuk melindungi seluruh badan, berada
dalam keadaan seperti ini, maka lima depa disekeliling
tubuhnya sudah terlindung tenaga murni sehingga berbagai
racun tak akan mampu menyelusup kedalam tubuhnya lagi.
Dalam keadaan demikian, dia hanya menguatirkan satu hal
saja, yaitu apabila tenaga serangannya kelewat dahsyat.
Asalkan tenaga pukulan lawan tidak lebih tangguh satu kali
lipat daripada kemampuan yang dimilikinya, maka dia masih
mampu menghadapi serangan lawan dengan mengandalkan
ilmu Kiu-pian-tay-sian-sinkang nya itu.
Namun nyatanya ilmu pukulan hawa dingin penembus
tulang pencabut nyawa itu benar-benar sangat tangguh, kuat
dan menggidikkan hati.
Seketika itu juga Oh Put Kui merasakan sekujur badannya
gemetar keras sekali.
Sekalipun demikian, akhirnya toh dia tak sampai mundur
kebelakang...
Tenaga serangan dari Pek Biau-peng tersebut selain
membuat sekujur tubuhnya gemetar keras, nyatanya tidak
mendatangkan reaksi apapun...
Oh Put Kui segera mengetahui bahwa kemenangan berada
di pihaknya...
"Saudara, sepuluh jurus sudah lewat..." serunya kemudian
dengan lantang.
Pek Biau-peng menjadi tertegun dan termangu-mangu
sampai setengah harian lamanya.
Hingga Ibun Hau yang berada disisinya ikut
memperdengarkan suara tertawanya yang keras, ia baru
sadar kembali seraya menegur:
"Ibun Hau, apa yang sedang kau tertawakan?"
"Aku mentertawakan kau sebagai seorang tua bangka yang
tidak memegang janji."
"Kapan sih aku tidak memegang janji?"
"Sepuluh jurus sudah lewat, apakah kau masih ingin
mungkir?"
"Haaah... haaah... haaah... Ibun Hau, kau terlalu
memandang rendah diriku..." seru Pek Biau-peng sambil
tertawa tergelak.
"Kapan sih aku mungkir?" kembali gembong iblis itu
berpaling.
"Kau sudah seharusnya mengaku kalah."
Pek Biau-peng manggut-manggut:
"Yaa, aku bukannya tak mau mengaku kalah, hanya aku
sadar bahwa diriku tertipu mentah-mentah."
"Kau pun bisa tertipu?" Ibun Hau tergelak.
Pek Biau-peng mengalihkan sorot matanya ke wajah Oh
Put Kui, kemudian katanya:
"Tidak kusangka sama sekali kalau bocah muda ini telah
berhasil melatih ilmu sian kang tingkat atas dari golongan
Buddha, sehingga ilmu pukulan hawa dingin penembus tulang
pencabut nyawa ku sama sekali tidak mendatangkan
ancaman apapun pada dirinya."
"Haaahhh.. haaahhh... haahh... hal ini mah hanya bisa
menyalahkan kepada saudara, mengapa kekurangan
pengalaman untuk menilai kemampuan lawan."
Kemudian setelah berhenti sejenak, tiba-tiba katanya lagi
dengan wajah yang serius:
"Persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan
soal kalah menang, lebih baik saudara bersikaplah jantan..."
Baru selesai Ibun Hau berkata, tiba-tiba saja Oh Put Kui
telah menyambung:
"Ibun tua tak usah memaksa Pek lojin ini mengaku kalah,
sebab kalau kudengar dari pembicaraannya, dia seperti
menganggap sepuluh jurus kelewat sedikit, boanpwee
memutuskan untuk bertarung lagi selama ratusan jurus lagi."
Kedengarannya saja perkataan itu begitu gagah dan
terbuka, padahal arti yang sebenarnya amat memojokkan
posisi Pek Biau-peng, bahkan lebih tak sedap didengar
daripada nya yang diucapkan Ibun Hau tadi.
Sambil tertawa Ibun Hau segera berseru:
"Bagus sekali, kalau begitu ditambah lagi dengan seratus
gebrakan...!"
Sudah barang tentu Pek Biau-peng sebagai seorang jago
yang punya nama, tak sudi kehilangan muka dengan begitu
saja.
Dengan penuh amarah yang membara dan rambut yang
berdiri kaku seperti landak, dia segera berseru keras:
"Ibun Hau, kau tak usah bermain setan lagi dengan bocah
keparat tersebut, urusan pada hari ini kita akhiri sampai disini
saja, bila bersua lagi dikemudian hari, kalian mesti lebih
berhati-hati..."
Anda sedang membaca artikel tentang Misteri Pulau Neraka 2 dan anda bisa menemukan artikel Misteri Pulau Neraka 2 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/misteri-pulau-neraka-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Misteri Pulau Neraka 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Misteri Pulau Neraka 2 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Misteri Pulau Neraka 2 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/misteri-pulau-neraka-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar