Pendekar Bayangan Setan 2

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 13 September 2011

"Perhatian dari Loocianpwee ini sudah tentu boanpwee merasa amat berterima kasih sekali!" ujar Tan Kia-beng sambil mengangguk Tetapi maaf aku orang she Tan tidak bisa mengikuti nasehatmu itu aku belum pernah berbuat salah lalu apa gunanya bersembunyi sembunyi? apalagi dipikir menghindar pun bukan suatu cara yang baik."
Pek-tok Cuncu yang telah lama tidak angkat bicara mendadak mendengus dingin.
"Beberapa orang itu menganggap kepandaian silat yang dimilikinya sudah cukup dahsyat dan bisa menghadapi segalanya dengan sukses. Hmmm! setiap kali ada urusan penting mereka pada berdatangan dengan berkerumun salah mereka sendiri tidak suka menggunakan otak! bilamana mereka berani datangcari gara gara biarlah aku kasih sedikit hajaran buat dirinya."
Ha ha ha.... akupun sangat setuju sekali dengan perkataan dari Toa ko itu, kalau memangnya tidak pernah membunuh orang baik buat apa harus menghindar? sekalipun kau pernah berbuat sebagai seorang enghiong hoo han dan lelaki sejati berani berbuat tentu berani bertanggung jawab, apanya yang perlu ditakutkan lagi? kini urusan sudah jadi begini bilamana bisa diberi penjelasan sudah tentu hal itu amat bagus sekali, tetapi bilamana mereka tidak suka pada aturan maka aku akan hajar mereka kocar kacir dan kalang kabut."
Beberapa perkataan ini segera membuat Si kakek bertongkat perak menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aah.... payah, payah! pengacau cilik ini sudah diliputi oleh dosa membunuh yang bertumpuk tumpuk?" pikirnya. Kini ditambah lagi dengan kedua orang siluman tua itu di sisinya, bilamana tidak dibimbing dengan baik maka suatu ombak belum tenang angin taupan yang lebih dahsyat bakal melanda, heeei...."
Berpikir sampai situ si kakek bertongkat perak lantas merasa tak ada persoalan lain lagi yang bisa ditanyakan diapun lantas bangun berdiri.
"Si pengemis aneh serta Hong Jen Sam Yu telah berangkat terlebih dulu ke depan dia meminta loolap untuk sampaikan pada Siauwhiap akan beberapa patah kata, dia bilang semua urusan harus bertindak menurut keadaan yang
menguntungkan, dan jangan sampai salah melangkah, kini peristiwa tersebut sudah menggetarkan semua jago Bulim ia berkat urusan tidak lama kemudian akan terungkap, dia minta engkoh cilik suka bersabar sejenak.... perkataan loolap sudah selesai sekarang juga aku mohon diri dulu."
"Terima kasih atas perhatian dari Loocianpwee aku merasa sangat berterima kasih sekali" seru Tan Kia-beng sambil merangkap tangannya memberi hormat "Sejak ini hari bila tidak sampai urusan amat penting boanpwee tidak bentrok dengan orang lain."
Si kakek bertongkat perak itupun lantas merangkap tangan menjura kepada kedua siluman tua tersebut, kemudian dengan menutulkan ujung tongkatnya ke atas tanah tubuhnya berkelebat melalui tembok pekarangan berlalu dari sana.
setelah si kakek bertongkat perak pergi dengan rasa kecewa Pek-tok Cuncu si Rasul Racun mengulet.
"Haayaa.... setelah mendegnar perkataan dari si pengemis tua yang kecewa itu maka rasa tegang dan semangatkupun jadi kendor kembali Kini tak ada urusan lagi disini ayoh cepat berangkat, buat apa kita tetap tinggal disini?"
Su Hay Sin Tou si pencuri sakti yang kesenangannya kena dihapus oleh omongan si pengemis tua itupun dengan ogah ogahan melirik sekejap ke arah sang pemuda kemudian bangun berdiri siap-siap buat apa meninggalkan tempat tersebut.
Sebaliknya Tan Kia-beng sudah terjerumus ke dalam lamunan, dia merasa amat gusar sekali dengan terjadinya peristiwa ini, dia tidak perduli bagaimana akhirnya kesalahpahaman partai Bulim terhadap dirinya, demi
ditegakkannya keadilan dia harus campur tangan di dalam urusan ini.
Bersamaan itu pula dia merasa yakin kalau peristiwa ini bukan hasil perbuatan dari si Penjagal Selaksa Li Hu Hong.
Untuk mencuci bersih kesalah pahaman jago-jago Bulim terhadap partai Teh-leng-bun dia harus ikut campur di dalam urusan ini sehingga dapat menjadi jelas.
Sewaktu dilihatnya su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si Rasul Racun sudah pada bangun berdiri mendadak dia berkata, "Bilamana kalian berdua ada urusan silahkan berlalu terlebih dulu, bagaimana akibatnya cayhe tetap akan turun tangan mengadakan penyelidikan hingga urusan ini jadi jelas, disamping itu akupun hendak mencari suatu kesempatan untuk bergebrak melawan majikan kereta kencana yang amat misterius itu; aku mau lihat apakah orang itu benar-benar memiliki kepandaian yang amat dahsyat sehingga patut mendapatkan pujian."
"Haa.... haa.... bagus! bagus sekali!" teriak Su Hay Sin Tou si pengemis sakti sembari tertawa terbahak-bahak. "Selama beberapa hari ini aku si pencuri tua memangnya lagi murung, bilamana Toa ko mempunyai maksud untuk berbuat begini aku si pencuri tua pasti akan mengiringinya dengan senang hati, buat apa aku meninggalkan Toako?"
"Hmm! loohu rada tidak percaya kalau cuma dikarenakan seorang kakek tua celaka serta seorang siluman perempuan sudah cukup untuk mengacau seluruh Bulim jadi kocar kacir dan kalang kabut." seru Pek-tok Cuncu si Rasul Racun dengan seramnya Menurut penglihatanku dibalik seluruh peristiwa ini pasti ada orak pemimpinnya, ada kemungkinan juga peristiwa ini adalah suatu rencana busuk yang maha besar sekali, hmmm, cuma sayang sifat loohu paling tidak suka campur
tangan di dalam urusan orang lain, kalau tidak akupun ingin pergi mencari gara-gara dengan otak pemimpin yang menyusun seluruh rencana busuk ini"
"Haaa.... haa apa kau kira si pencuri sakti tidak mempunyai pikiran seperti kau?" seru Su Hay Sin Tou si pencuri sakti lagi sambil tertawa tergelak, “Tetapi kau harus tahu kita berdua sudah tua bangka sedangkan Toako mirip Sang Surya yang baru saja terbit di ufuk Timur, kini kita sudah bersahabat dengan dirinya, ada seharusnya kitapun turun tangan membantu dirinya melenyapkan kejahatan di dalam Bulim dan bantu dirinya angkat nama di dalam dunia kangouw"
Di atas wajah Pek-tok Cuncu si Rasul Racun yang hijau pucat dan amat menyeramkan itu mendadak terlintaslah satu cahaya terang.
"Perkataanmu sedikitpun tidak salah, kalau begitu kita kerjakan demikian saja!" teriaknya.
Nada suaranya amat teguh dan tegas, jelas persahabatan antara sisiluman tua yang memusingkan kepala orang Bulim dengan Tan Kia-beng ini dari suatu perkenalan yang aneh kini barulah menjadi ikatan persahabatan yang akrab sekali.
Su Hay Sin Tou si pencuri sakti yang melihat perkataannya berhasil menggerakkan hati Pek-tok Cuncu si Rasul Racun dia kembali berkata, "Hey siular beracun. kepandaian silatmu dan kepandaian silatku adalah seimbang sehingga selamanya sukar untuk menentukan siapa menang siapa kalah, bagaimana kalau sekarang kita mengadakan suatu taruhan lagi?"
"Pada waktu seperti ini siapa yang punya waktu untuk bertanding dan bertaruh dengan dirimu? lebih baik kita bicarakan urusan penting yang ada dihadapan mata?"
---0-dewi-0---
JILID: 17
"Taruhan yang kau katakan justru ada sangkut pautnya dengan urusan ini, beranikah kau bertanding dan bertaruh kembali dengan aku si pencuri tua?"
"Hmm kapan loohu pernah menghindari pertandingan dengan dirimu?" seru Pek-tok Cuncu si Rasul Racun sambil mendengus berat, asalkan tidak sampai menyalahi urusan penting kau boleh ajukan persoalan loohu pasti akan menerima tantanganmu tersebut"
"Haa.... haa.... aku si pencuri tua tidak takut berani menolak" kata Su Hay sin Tou si pencuri sakti sambil tertawa terbahak-bahak.
Sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas tubuh sang pemuda dan memandangnya sekejap.
"Bukankah saat ini Toako lagi murung karena munculnya kereta kencana berulang kali sambil melukai orang sehingga kesalah pahaman ini terjatuh ketangan kita? Toako! kau tidak usah kuatir, mulai kini secara berpisah kita masing-masing mengadakan penyelidikan sendiri siapakah sebenarnya orang yang sudah mengacau secara diam-diam itu, bersamaan itu pula kita tentukan di dalam sepuluh hari ini siapakah yang berhasil memperoleh berita dahulu dialah yang menang bagaimana maksudmu?"
"Bagus! kita tentukan demikian saja, sepuluh hari kemudian kita bertemu kembali disini!"
Tan Kia-beng yang melihat mereka berdua begitu simpatik di dalam urusan dirinya dalam hati benar-benar merasa amat berterima kasih.
Loocianpwee berdua suka begitu menaruh perhatian di dalam urusan ini cayhe merasa benar-benar amat berterima kasih ujarnya sambil merangkap tangannya memberi hormat, Cuma saja kalian berdua bebas laksana burung bangau yang terbang diangkasa, kenapa kalian harus melibatkan diri di dalam kancah tersebut hanya dikarenakan urusan pribadi cayhe?"
"Haaa.... haa.... Toako kau terlalu merendah teriak mereka berdua berbareng. Tempo hari Liuw Kwan serta Thio tiga orang angkat saudara bersumpah sehidup semati, apakah hal itu bisa dibuat mainan? urusanmu kini adalah urusan kami juga, bilamana kau berkata begitu bukankah sama saja kau memandang kami seperti orang luar saja? apa lagi Locianpwee tiga kata itu.... waah.... waah.... kami tidak berani untuk menerimanya dan kau yang berkata harus dihantam kini waktu sudah mendesak kitapun harus berangkat dulu!"
Sehabis berkata mereka mengenjotkan tubuhnya, satu ke arah Timur yang lain ke arah Barat hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap tak berbekas.
Tan Kia-beng yang mendengar perkataan mereka berdua itu segera merasakan darah panas bergolak dengan hebatnya di dalam rongga dada, dia benar-benar merasa terharu.
Sejak ia terjunkan dirinya ke dalam dunia kangouw apa yang dialaminya selama ini hanyalah kekerasan, pembunuhan pengerubutan, jarang sekali ada orang yang suka mengikat persahabatan yang demikian akrabnya dengan dia.
Tidak disangka maksud guyonnya dengan kedua siluman tua itu ternyata mendapat anggapan yang ada diluar dugaan, walaupun sifat mereka rada kukoay dan aneh (eksentrik) tetapi rasanya mereka bukanlah seorang kawan yang tidak patut diajak bersahabat malah justru spontanitas dari mereka melebihi orang lain
Waktu itu kentongan kedua sudah menjelang, dengan terharunya dia menghela napas panjang.
Ia merasa walaupun Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si Rasul Racun yang gagah dan bersedia membantu dia untuk menyelidiki urusan ini tapi teringat akan banyaknya jago-jago lihay dari partai besar Bulim dia merasa apakah mereka berdua berhasil mengetahui jelas urusan ini dalam waktu yang amat singkat
Walaupun mereka berdua pendekar kukoay yang amat terkenal di dalam Bulim tentu usaha mereka itu bisa mencapai tujuan dengan lancar, apalagi urusan pribadinya mana boleh minta bantuan dengan orang lain?
Teringat akan hal ini dalam hati dia lantas mengambil keputusan untuk pergi ke markas besar perkumpulan Kay-pang, dia ingin mengetahui peristiwa apa yang sudah terjadi waktu itu kemudian dari hal hal yang penting ia hendak mencari titik titik kelemahan serta hal hal yang mencurigakan.
Sewaktu tubuhnya meloncat ke luar dari kebun bobrok itulah, tiba-tiba.... serentetan suara berputarnya roda kereta berkumandang masuk ke dalam telinganya, mendadak dia merasa hatinya berdetak.
Bagaimana mungkin pada waktu sepagi ini ada kereta yang dilarikan begitu kencang? Apa mungkin kereta kencana pembawa maut itu? pikirnya.
Tubuhnya dengan cepat laksana meluncurnya anak panah terlepas dari busurnya menya ke arah dimana berasalnya suara kereta tersebut.
Jarak antara bangunan kuno serta jalan raya tidak terlalu jauh, hanya di dalam beberapa kali loncatan saja dia sudah menemukan sebuah kereta kencana yang amat mewah dengan amat cepatnya meluncur datang dari arah Timur debu mengepul memenuhi angkasa diselingi suara bergetarnya cambuk memecahkan kesuyian
Dalam keadaan samar-samar itulah mendadak dia menemukan kusir kereta tersebut ternyata bukan lain adalah si kakek tua berkerudung hitam itu.
Dengan penemuan ini seketika itu juga sang pemuda merasa terkejut bercampur girang.
"Berhenti...." bentaknya keras.
"Sreeet....!?" dengan cepatnya dia mengenjotkan tubuhnya melayang ke depan untuk mengadakan pengejaran
Ilmu meringankan tubuh "Poh Poh Cim Im" yang digunakan Tan Kia-beng ini adalah sebuah ilmu meringankan tubuh yang amat dahsyat sekali di dalam Bulim hanya di dalam sekejap saja dia sudah berhasil menyandak tepat di belakang kereta kencana tersebut.
Agaknya penghuni kereta tersebut merasa adanya orang yang lagi mengadakan pengejaran, larinya kudapun semakin dipercepat lagi.
Terdengar suara berputarnya roda yang amat membisingkan telinga kereta tersebut dengan amat cepatnya menerjang masuk ke dalam sebuah hutan pohon siong.
Dikarenakan adanya pengalaman tempo hari kali ini Tan Kia-beng tidak berani berlaku gegabah lagi hawa murninya ditarik panjang panjang sehingga kecepatan gerakannyapun bertambah hanya di dalam sekejap saja diapun ikut menerjang masuk ke dalam hutan
hutan pohon siong ini amat rapat dan gelap sedikit sinarpun tidak ada yang memancar masuk ke dalam sehingga suasana menjadi gelap gulita.
Sebentar saja dia telah kehilangan jejak dari kereta kencana tersebut.
Tapi tiba-tiba dia menemukan kereta itu kembali muncul diluar hutan hatinya jadi mendongkol sehingga tak kuasa lagi bentaknya keras, "Malam ini sekalipun kau terbang kelangit siauw yamu tetap akan melakukan pengejaran."
Dengan menggunakan gerakan Uh Huan Sing Ih atau barang berpindah bintang bergeser dia meluncur ke dalam hutan semakin cepat untuk kemudian menubruk ke arah kereta kencana itu.
Waktu itu kereta kencana sedang menaiki sebuah bukit kecil dengan kecepatan yang luar biasa, tetapi jelas kelihatan bergoyang keras seperti kehilangan kendali
Baru saja Tan Kia-beng berhasil menubruk ke atas kereta, kuda itu sudah lari miring kesamping....
Pemuda yang memangnya merupakan seorang penunggang kuda jempolan dengan sebatnya melayang ke depan kereta, waktu itulah dia baru menemukan kalau sang kusir sudah lenyap tak berbekas.
Tanpa pikir panjang lagi sepasang tangannya lantas menyambar tali les dan menggetarkannya kembali ke jalan
yang sebetulnya, dengan begitu kereta tersebut kembali jadi tenang
Setelah keadaan bisa dikuasai dengan telapak tangan melindungi dada Tan Kia-beng mulai memeriksa seluruh ruangan dari kereta itu.
Jelas tak usah diterangkan si kakek tua berkerudung hitam itu tentunya sudah melompat naik ke atas pohon sewaktu melewati hutan pohon siong yang gelap tadi, karena dirinya kurang waspada sudah terkena siasat orang lain membuat pemuda ini jadi cemas bercampur gusar.
Kedua ekor kuda yang menarik kereta kencana itu adalah kuda kuda jempolan yang bisa lari seribu satu hari, setelah keadaan jadi tenang kembali iapun lantas berlari ke dalam hutan.
Pada saat sang pemuda lagi kebingungan dan ragu ragu itulah mendadak sebuah jala yang amat besar jatuh dari atas dan mengurung seluruh kereta tersebut kencang kencang.
Tidak lama jala itu jatuh dari atas pohon mengurung kereta tersebut kembali tampak berkelebatnya sinar kebiru biruan disusul meluncurnya sesosok bayangan manusia menjebol jala tersebut.
Kiranya Tan Kia-beng sudah mencabut keluar pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya dan menghancurkan jala tersebut sewaktu dia merasa terkurung
Dengan ketajaman pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam yang amat tajam itu sudah tentu tidak sulit baginya untuk membuat satu lubang pada jala itu.
Baru saja tubuhnya melayang ke atas permukaan tanah, dari empat penjuru segera berkumandang keluar suara
bentakan yang amat ramai disusul dengan munculnya berpuluh puluh orang disana.
Orang pertama yang unjukkan dirinya bukan lain adalah Hwee Im Poocu Ong Cang bersama seorang nenek tua berambut putih yang mencekal sebuah tongkat.
Sambil menuding ke arah Tan Kia-beng mendadak dia memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.
“Aku orang she Ong ada dendam apa dengan kau? kenapa kau membunuhi anggota bentengku menggunakan kesempatan sewaktu tak ada di dalam Benteng? kau bangsat anak jadah! aku bunuh kau!"
Tan Kia-beng jadi melengak belum sempat dia mengucapkan sepatah katapun mendadak dari samping kalangan muncul kembali seorang pemuda tampan berusia tujuh delapan belas tahunan yang sudah menyambung dengan suara dingin.
Di tengah malam membunuh orang di tengah angin kencang membakar semua rumah semuanya adalah perbuatan seorang bajingan, tidak kusangka perbuatan itu bisa muncul di tangan pemuda seperti kau.... hoo.... aku ikut merasa sayang buat dirimu"
"Omong kosong!" bentak Tan Kia-beng sambil mengerutkan alisnya rapat rapat. "Aku orang she Tan bukanlah manusia macam itu!"
"Haa haa aku orang she Sak paling tidak suka ikut campur urusan orang lain, urusan ini tidak usah kita bicarakan lagi, sekarang aku mau tanya orang yang menunggang kereta mengacau di kuil Sam Cing Kong di gunung Bu-tong-san apakah kalian suhu murid berdua?"
Belum sempat Tan Kia-beng menjawab mendadak dari tengah hutan kembali terdengat suara bentakan yang amat nyaring seorang Tootiang tua yang menyoren pedang sambil membaca doa muncul di tengah kalangan dengan langkah yang amat perlahan.
Tootiang ini bukan lain adalah Loo Hu Cu salah satu anggota Go-bie Ngo cu, dengan wajah dingin menyeramkan dia memandang ke arah sang pemuda tanpa berkedip, lalu sambil merangkap tangannya dia memberi hormat kepada pemuda tampan tersebut.
Kepada Hwee Im Poocu diapun kemudian mengangguk.
"Ouw.... Ong heng juga sudah datang?"
Mendadak dia menemukan si nenek tua yang ada disamping Hwee Im Poo cu itu dengan wajah penuh perasaan terperanjat dia merangkap tangannya memberi hormat.
“Oouw, kiranya Ih Bok Popo juga ada di sini."
Ih Bok Popo ini adalah istri dari "Gak Yang Kiam Khek atau dengan perkataan lain adalah Sunyio dari Hwee Im Poocu kedudukannya di dalam Bulim sangat tinggi jadi orang pun amat sombong dan berangasan, sedikit salah lantas dia sudah turun tangan membunuh orang.
Kini melihat Loo Hu Cu menyapa terhadap dirinya dia pun lantas mengangguk.
"Ada urusan apa yang begitu penting sehingga mengagetkan ciangbunjin dari Go-bie pay untuk turun tangan sendiri?" ujarnya.
Sikapnya kembali jadi sombong kembali.
Dengan sinar mata penuh perasaan benci dan mendendam Loo Hu Cu melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng kemudian menghela napas panjang.
Teringat olehnya akan kedahsyatan dan ketenaran nama Go-bie Ngo Cu tempo hari di dalam Bulim tidak disangka ini hari hanya tertinggal dia seorang saja seketika itu juga membuat semangat serta nafsu untuk merebut gelar jagoan nomor wahid diseluruh dunia kangouwpun ikut terhapus musnah saat ini yang dpikirkan hanyalah bagaimana mencari balas atas kematian kawan kawannya.
Ih Bok Popo yang melihat lama sekali Loo Hu Cu tidak mengucapkan kata-kata kembali dia mendengus dengan amat dinginnya.
"Aku sebetulnya sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia kangouw dan tidak ingin mencampuri urusan keduniawian lagi, kali ini Jiang jie terus menerus mengundang dan mendesak aku suruh turun gunung satu kali untuk bergebrak melawan si iblis tua, tidak disangka orang itu tidak lebih cuma seorang bocah ingusan! Jiang jie kau sungguh keterlaluan"
Di dalam ucapannya seorang Hwee Im Pocu yang begitu terhormat dan mempunyai nama terkenal di dalam Bulim sudah berubah menjadi sebutan Jiang jin apa lagi terhadap Tan Kia-beng sama sekali memandang rendah, walaupun pada mulanya Loo cu tidak berbicara tetapi dalam hati diam-diam mendengus dingin, pikirnya, "Nenek tua kau tidak usah berjual lagak lagi nanti kau bakal tahu sendiri kalau si bocah ingusan inipun sama saja tidak gampang untuk dilayani!"
---0-dewi-0---
Kita kembali pada si pemuda tampan yang ketanggor batu dengan Loo Hu Cu, dalam hati dia merasa amat gusar sekali.
Dia sebenarnya adalah murid kesayangan dari Thian Bok Tootiang dari Bu-tong-pay dan merupakan sekuntum bunga yang paling aneh diantara angkatan muda.
Dia bernama Sak Ie dan mempunyai kedudukan yang sederajat dengan Leng Hong Tootiang itu ciangbunjin dari Bu-tong-pay bilamana membicarakan soal tingkat kedudukan sebetulnya dia tidaklah berada dibawah Loo Hu Cu.
Diapun seorang yang amat sombong dan jumawa, melihat Loo Hu Cu sama sekali tidak mengambil gubris dirinya mendadak dia putar badan mendesak ke arah Tan Kia-beng dan memperhatikan pemuda tersebut dengan amat teliti.
Beberapa saat kemudian Sak Ie lantas merasa si pemuda tampan ini sangat gagah dan sama sekali tidak mirip dengan seorang yang gemar berbuat jahat sehingga dalam hati tidak terasa amat keheranan
“Orang macam begini bagaimana mungkin bisa disebut sebagai iblis?” pikirnya.
Dikarenakan dalam hati dia merasa curiga dan ragu ragu maka itu nada suaranya pun tanpa terasa sudah berubah jadi semakin halus.
Dia lantas merangkap tangannya menjura.
"Jien heng apakah sianakan iblis yang dihebohkan orang-orang dunia kangouw itu? Bilamana dipandang dari dandanan serta sikapmu sangat tidak sesuai, kenapa kau hendak berbuat jahat di dalam dunia persilatan”
Tan Kia-beng pun hanya di dalam sekejap itu sudah meneliti pihak dia merasa pemuda ini sangat berbeda sekali
dengan Pek Lok Suseng sekalian, mungkin karena sikapnya yang ramah itulah dalam hati dia lantas menaruh rasa simpatik
Dengan cepat diapun merangkap tangannya membalas hormat.
“Siapakah nama besar dari saudara dan berasal dari mana? Mengenai apa yang disiarkan di dalam Bulim semuanya hanya dikarenakan kesalah pahaman saja bilamana Cun heng merasa tidak keberatan cayhe sanggup untuk menjelaskan."
“Cayhe she Sak bernama Ie, merupakan anak murid dari Bu-tong-pay, bilamana saudara mempunyai sesuatu yang hendak diucapkan cayhe tentu akan mendengarkan dengan penuh perhatian."
Pada saat itulah Hwee Im Poocu dengan membawa serta anak buahnya pada berjalan mendekati Tan Kia-beng dengan sikap yang amat kasar sekali.
Tan Kia-beng tetap berdiri tegak! Sinar mata dengan dingin menyapu sekejap kesekeliling tempat itu kemudian memperdengarkan suara tertawa dingin yang amat menyeramkan.
Sak Ie yang ada disisinya jadi melengak dia merasa sangat tidak puas dengan situasi yang dihadapinya saat ini, dengan dinginnya ia mendengus.
Belum sempat Sak Ie mengucapkan kata-kata untuk mencegah Loo Hu Cu mendadak berjalan maju ke depan.
"Hey! orang muda ayoh cepat menyingkir!" bentaknya kasar. "Tempat ini bukanlah tempat untuk mengikat persahabatan cepat menggelinding sana biar pinto turun tangan kasih sedikit hajaran buat dirinya"
Sak Ie yang tadi ketanggor batu ditangan kini melihat sikapnya sama sekali tidak pakai aturan semakin dibuat gusar lagi.
"Eee.... heee.... tempat ini bukanlah kuil Kun Yuan Koan di atas gunung Go-bie san, kenapa kau tidak memperkenankan aku untuk angkat bicara?" serunya sambil tertawa dingin.
Loo Hu cu yang melihat seorang pemuda dari angkatan rendah berani menyindir dirinya seketika itu juga naik darah.
"Siapa namamu dan berasal dari partai mana?" teriaknya keras. "Sungguh besar nyalimu berani berlaku kurang ajar dengan pinto"
"Cayhe adalah Sak Ie dari partai Bu-tong-pay"
"Bagaimana sebutanmu dengan Leng Hong Tootiang?"
"Dia adalah suhengku!"
Kembali Loo Hu Cu tertawa dingin.
"Heee, heee kiranya kau mengandalkan nama besar Bu-tong-pay serta kedudukanmu yang tinggi lalu berani bertindak kurang ajar dengan pinto?"
“Cayhe sama sekali tidak mengandalkan apa untuk menghina orang lain tetapi cayhepun tidak akan jual mahal dihadapan orang lain, bilamana kau ingin menghadapi orang ini maka urusan harus dijelaskan dulu, kalau tidak.... Hmmm jangan salahkan aku main kasar dengan kalian....”
“agaimanapun juga Bu-tong-pay adalah sebuah partai besar yang pengaruhnya amat luas, walaupun di dalam hati Loo Hu Cu merasa teramat gusar tetapi diapun tidak ingin banyak berurusan dengan dirinya.
Setelah tertegun beberapa saat lamanya akhirnya dia membentak kembali dengan suara yang amat keras, "Urusan yang sebenarnya buat apa dibicarakan lagi? coba kau lihat bukankah di atas roda kereta itu membawa bekas darah?”
Dengan adanya peringatan dari dirinya ini maka semua orang tak terasa lagi sudah pada mengalihkan sinar matanya ke atas kereta kencana tersebut.
Sebuah kereta kencana yang amat mewah kini sudah dikotori dengan percikan darah segar.
Melihat begitu banyaknya noda darah di atas kereta seketika itu juga membuat rasa dendam serta marah dari orang-orang itu lebih mendalam satu tingkat lagi.
Terdengar Hwee Im Poocu berteriak keras.
"Tootiang harap kau suka berjaga jaga di luar kalangan, biarlah aku orang she Ong mencoba-coba kepandaian silat dari aliran Teh-leng-bun ini."
Loo Hu Cu pun tahu kalau pemuda ini sulit untuk dihadapi, karena itu dengan mengikuti aliran air mendorong perahu dia lantas menyingkir ke samping membuka suatu tempat yang kosong.
Sepasang mata Hwee Im Poocu memancarkan sinar yang amat buas, dengan perlahan pedangnya dicabut keluar dari dalam sarungnya.
Ayoh cepat cabut keluar pedangmu." teriaknya sambil menuding ke arah Tan Kia-beng, Aku akan suruh kau mati dengan jelas."
"Hmmm! Lebih baik kalian sedikit tahu diri,” ujar Tan Kia-beng sambil melirik sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin, "Kereta kencana ini bukanlah cayhe yang kemudikan
cayhe tidak lebih hanyalah salah satu pengejar belaka aku nasehati kalian lebih baik jangan mendesak keterlaluan, haruslah kalian ketahui sabar itu ada batasnya."
Hwee Im Poocu yang lagi merasa gusar mana suka mendengarkan perkataannya, kembali dia membentak keras, “Siapa yang mau mendengarkan omongan setanmu itu?”
Sreeet! dengan disertai suara desiran yang amat tajam pedang tersebut dengan sejajar dada meluncur ke depan.
Hwee Im Poocu sebagai seorang poocu dari suatu Benteng, sudah tentu memiliki kepandaian silat yang amat dahsyat pedangnya dengan memancarkan cahaya keperak perakan meluncur dengan cepatnya ke arah sebelah depan.
Dalam hati Tan Kia-beng tahu bilamana dia menerima datang serangan tersebut maka suatu pertempuran yang sengit dan bakal menimbulkan banjir darah akan berlangsung dihadapan mata dia benar-benar tidak suka menimbulkan urusan lagi.
Dengan cepat kakinya sedikit digerakkan ke arah samping kira-kira tiga depa jauhnya.
"Tahan!" bentaknya keras. "Aku orang she Tan sama sekali tidak takut dengan dirimu, cuma di dalam urusan ini ada sedikit kesalah pahaman apa kalian benar-benar tidak suka memberi kesempatan kepadaku untuk mengucapkan beberapa patah kata?
Hwee Im Poocu yang sudah peras keringat dan otak untuk membalas dendam buat anggota Benteng Hwee Im poonya dengan tidak mudah mengumpulkan seluruh jagoan berkepandaian tinggi dari bentengnya untuk menjerat kereta kuda tersebut dengan menggunakan jala dan telah menemukan pula kalau orang itu bukan lain adalah murid dari
Si Penjagal Selaksa Li sudah tentu tidak akan lepas tangan begitu saja.
Apalagi kini sudah ada sunionya disana, keinginan untuk merebut pedang pusaka tersebutpun muncul pula dihatinya.
Terang terangan dia mendengar suara bentakan dari Tan Kia-beng tetapi justru pura pura tidak mendengar.
Sinar pedang berkelebat menyilaukan mata, dengan disertai desiran tajam pedang tersebut menyambar ke arah pinggang sang pemuda.
Tan Kia-beng yang melihat datangnya serangan itu segera mengerutkan alis rapat rapat, dia mendengus dingin dan siap-siap turun tangan.
Sekonyong konyong....
Bayangan biru berkelebat. Sak Ie meoncat ke depan dengan menggunakan jurus Hun Kuang Lieh Im atau Sinar berpisah, Bayangan berkelebat, tangannya laksana kilat cepatnya menjepit ke arah datangnya serangan pedang tersebut.
Jurus Hun Kuang Lieh Im ini adalah salah satu jurus yang terlihay dari partai Bu-tong-pay, kedahsyatannya luar biasa!
Hwee Im Poocu yang lagi melancarkan serangan dengan sekuat tenaga mendadak dari samping tubuhnya melayang datang seorang yang menjepit pedangnya, di dalam keadaan gugup lantas menarik napas panjang, pedangnya ditarik ke belakang kemudian tubuhnya mundur lima depa jauhnya.
Ketika dapat dilihat orang yang baru saja merebut pedangnya itu bukan lain adalah itu sianak muda murid Bu-tong-pay, air mukanya berubah hebat.
"Apa artinya ini? apa kau hendak membantu dirinya?"
Sak Ie lantas angkat kepalanya tertawa panjang.
"Ada pepatah mengatakan kepalan dikeluarkan cengli akan tertutup, sekalipun poocu memiliki kepandaian silat yang amat dahsyat seharusnya mengerti untuk berbicara kata cengli! cayhe bukannya bermaksud untuk menolong Heng thay ini, cuma urusan harus kita bikin terang dulu kemudian baru mengambil tindakan!"
"Haa.... haa.... bagus, bagus sekali!" teriak Hwee Im Poocu sambil tertawa seram, "Tidak kusangka anak murid Butong pay ternyata berani turun tangan membantu bangsat itu berbicara. Hmm! Aku merasa amat sayang buat nama baik Butong pay!"
Mendadak dia menarik kembali suara tertawanya.
"Memandang di atas wajah Leng Hong Tootiang aku tidak akan banyak cari urusan dengan dirimu ayoh cepat menggelinding pergi dari sini....!" bentaknya keras.
Dengan perasaan amat gusar dia melangkah ke samping siap-siap melancarkan serangan kembali ke arah Tan Kia-beng.
Sak Ie sama sekali tidak jadi mundur karena melihat kegusaran dia, seperti tak pernah terjadi urusan dia putar badan dan menghadap ke arah Tan Kia-beng
Tan Kia-beng yang melihat pemuda dari Bu-tong-pay ini suka turun tangan mengambil tindakan dalam hati merasa terharu bercampur terima kasih dan merangkap tangannya menjura.
"Tindakan hengtay ini sungguh membuat cayhe merasa terharu, tetapi cayhe benar-benar tidak ingin dikarenakan urusan cayhe ini menyeret sekalian heng cayhe dalam kancah
kekacauan ini lebih baik biarlah aku sendiri yang menghadapi mereka.
"Kau tidak usah merasa sungkan sungkan!" seru Sak Ie sambil tertawa dingin. "Tindakan cayhe ini kesemuanya bukan dikarenakan dirimu, lebih baik kau terus terang saja ceritakanlah persoalan ini, bilamana berani berbohong jangan salahkan pedang cayhe tidak akan mengampuni orang."
Waktu itu Hwee Im Poocu kembali sudah menerjang kehadapannya, dia tidak ingin sampai mengikat permusuhan dengan pihak Bu-tong-pay, tetapi bilamana keadaan terpaksa diapun hendak mencari satu cara yang baik untuk menyingkir.
Karena itulah dia sama sekali tidak langsung mencari gara gara dengan anak murid Bu-tong-pay ini, tubuhnya berputar ke samping menghindari Sak Ie dan menyerang kembali ke arah Tan Kia-beng.
Tiba-tiba....
Bayangan manusia kembali berkelebat sekali lagi Sak Ie menghadang dihadapannya.
"Cayhe masih tetap seperti perkataan semula" ujarnya dingin. "Biarlah aku bikin urusan ini jadi jelas dulu baru bicara lagi bilamana kau begitu berangasan tidak pakai aturan maka aku orang she Sak terpaksa harus melayani beberapa jurus dengan dirimu!"
Loo Hu Cu yang berdiri disamping sejak tadi sudah merasa tidak puas terhadap Sak Ie, kini melihat dia menantang Hwee Im Poocu bertempur lantas merasa inilah satu kesempatan yang baik buat dirinya untuk munculkan dirinya ambil tindakan pikirnya.
"Sekalipun dia memperoleh pelajaran ilmu silat yang dahsyat tetapi tidak bakal bisa lebih hebat dari Leng Hong tootiang ciangbunjin Bu-tong-pay, terhadap Leng Hong saja Too ya tidak takut apalagi untuk membereskan dirinya?"
Perhitungannya adalah biar dia yang membereskan Sak Ie sehingga memberi kesempatan buat Hwee Im Poocu untuk melancarkan serangan ke arah Tan Kia-beng.
Menanti masing-masing pihak sudah bertempur hingga lelah maka dia mempunyai kesempatan untuk turun tangan merebut pedang.
Bilamana pedang pusaka tersebut berhasil dia dapatkan maka pada pertemuan puncak para jago digunung Ui San kemudian hari dia mempunyai satu bagian harapan untuk memperoleh kemenangan.
Karenanya baru saja Sak Ie selesai berbicara dia sudah melayang kehadapannya.
"Tujuh partai besar di dalam Bulim selamanya bermaksud satu dan tidak pernah ada manusia yang bandel seperti kau" bentaknya dengan keras. "Keadaan saat ini sudah amat mendesak, pinto terpaksa mau tak mau akan mewakili Leng Hong Tootiang untuk kasi sedikit pelajaran kepadamu"
"Hmm! sekalipun ini hari dewa atau kaisar langit yang turun dari kahyanganpun bilamana tak pakai aturan aku orang she Sak tetap bertindak tidak sungkan sungkan terhadap dirinya" seru Sak Ie sambil mendengus dingin.
Perkataan yang diucapkan sangat kasar ini seketika itu juga membuat Loo Hu Cu saking khe kinya jadi marah, matanya berapi api wajahnya berubah merah padam.
"Manusia yang tidak tau diri" teriaknya keras. "Bilamana malam ini pinto tidak kasi sedikit hajaran kepadamu maka kau pasti tidak akan tahu seberapa tingginya langit dan tebalnya tanah".
Telapak tangannya berputar satu lingkaran lalu dibabat ke arah bawah.
Dia sebagai Ciangbunjin suatu partai besar tentu memiliki tenaga dalam seimbang dengan Ci Si Sangjien sudah tentu serangan yang kini dilancarkan amat dahsyat bagaikan ambruknya gunung Thay-san.
Diam-diam Tan Kia-beng merasa kuatir buat keselamatan Sak Ie, maka tubuhnya maju ke depan siap-siap mewakili pemuda Bu-tong-pay itu menerima datangnya serangan tersebut.
Tetapi pada saat yang bersamaan pula mendadak Hwee Im Poocu membentak keras, pedangnya laksana menyambarnya petir berturut turut melancarkan tusukan dahsyat.
Seketika itu juga seluruh kalangan dipenuhi dengan hawa pedang yang mengerikan beberapa depa disekitar tubuh Tan Kia-beng sudah terbungkus rapat oleh lapisan bayangan pedang yang mengaburkan pandangan.
Air muka Tan Kia-beng segera berubah hebat, nafsu membunuh mulai melapisi wajahnya hawa amarah dengan perlahan mulai menjalar ke atas benaknya.
"Hee.... hee.... hee.... kau kira siauw yamu sungguh sungguh tidak berani bergebrak dengan dirimu?" serunya sambil tertawa.
Belum habis dia berkata mendadak di tengah arena berkumandanglah suara tertawa yang amat dan tampak dua
sosok bayangan manusia bagaikan kilat cepatnya menerjang datang, yang satu menubruk Loo Hu Cu sedang yang lain menyusup ke dalam bayangan pedang Hwee Im Poocu
"Braaak....!" dengan disertai suara bentrokan yang keras orang itu sudah menerima datangnya angin pukulan dari Loo Hu Cu tersebut.
Debu serta batu kerikil pada beterbangan memenuhi angkasa, masing-masing pihak pada mundur dia lengkah ke belakang.
Loo Hu cu segera merasa tenaga dalam dari orang itu amat dahsyat sekali tidak berada dibawah tenaga dalamnya sendiri, dalam hati diam-diam merasa bergidik juga.
Ketika matanya bisa menangkap siapakah orang itu hatinya semakin terperanjat lagi karena dia bukan lain adalah si siluman aneh yang membuat orang-orang kangouw jadi pusing kepala, si rasul Pek-tok Cuncu adanya.
Dia sangat tidak mengharapkan sampai bentrok dengan manusia racun ini, karenanya dengan wajah dihiasi senyuman paksaan dia tertawa terbahak-bahak.
"Pinto dengan Cuncu selamanya tidak pernah mengikat permusuhan apa apa, apa maksud dari tindakan Cuncu ini?"
“Hmmm! selamanya loohu tidak pernah mencampuri utusan Bulim dan tidak pernah mengadakan hubungan dengan orang-orang kangouw, ini hari aku cuma ada satu perkataan saja, Toakoku bukanlah simajikan kereta kencana itu, bilamana siapa saja yang berani turun tangan terhadap dirinya maka aku serta si pencuri tua tidak akan sungkan sungkan terhadap kalian."
Loo Hu Cu yang mendengar perkataan itu segera salah menganggap yang dimaksudkan sebagai Toakonya adalah si "Penjagal Selaksa Li" Hu Hong, dia jadi terperanjat.
"Seorang Penjagal Selaksa Li Hu Hong saja sudah cukup mengacau dan mengaduk aduk seluruh dunia persilatan, apalagi bilamana ditambah lagi dengan kedua orang siluman tua itu, maka hal ini semakin luar biasa lagi, pikirnya.
Otaknya dengan cepat berputar memikirkan akal sedang matanya dengan diam-diam melirik sekejap ke arah Su Hay Sin Tou si pencuri sakti itu.
Tampaklah sepasang telapak tangannya bagaikan cakar burung elang dengan dahsyatnya mendesak Hwee Im Poocu sehingga mundur terus menerus sedang dari mulut tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa aneh yang amat menyeramkan.
"Hee.... hee.... sungguh memalukan, sungguh memalukan!" teriaknya keras. "Hanya mengandalkan sedikit kepandaian yang tidak berarti itu kau sudah berani mencari balas dengan toako kami, sungguh tidak tahu kekuatan sendiri."
Dengan munculnya dua orang siluman tua disana maka situasi seketika itu juga berubah, Hwee Im Poocu serta Loo Hu Cu yang semula bersemangat dan bernafsu kini pada meringkik tak berani banyak berkutik.
Walaupun Loo Hu Cu tidak ingin berbuat dosa terhadap si Rasul Racun ini tetapi telapak tangan dari si raja racun ini sudah mendesak ke arahnya disertai tenaga penuh.
Tan Kia-beng sejak tadi sudah tidak ingin beribut dengan orang-orang ini, kini melihat munculnya kedua orang siluman tua itu secara mendadak dan tanpa banyak cakap sudah turun tangan walaupun dalam hati merasa kurang puas mendadak
dia membentak keras, "Tahan! kalian berdua tahan dulu, aku ada perkataan yang hendak disampaikan."
Jika dibicarakan sungguh aneh sekali, Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cown Cu si Rasul yang amat sombong kukoay dan eksentrik itu ternyata sangat penurut sekali.
Mendadak mereka menarik kembali serangannya dan melomcat ke samping kanan dan samping kiri Tan Kia-beng.
Terhadap manusia manusia yang tidak pakai aturan dan jumawa ini buat apa toako berlaku sungkan sungkan?" teriak mereka berbareng.
Dengan air muka keren Tan Kia-beng menggelengkan kepalanya.
Saat itu suasana di tengah kalangan sudah memberat, masing-masing orang dengan pandangan terperanjat memandang ke arah Tan Kia-beng dengan pandangan pandangan melongo sampai Sak Ie itu anak murid Bu-tong-pay yang memiliki kepandaian silat amat tinggi itupun tidak terkecuali.
Kenapa tidak? pemuda yang mempunyai julukan sebagai anakan iblis ini bukan saja mempunyai asal usul yang aneh, kepandaian silat yang aneh bahkan manusianyapun amat aneh! mereka sama sekali tidak menyangka kalau dia sudah menjadi toako dari dua orang siluman tua yang paling membuat orang kangouw pusing kepala.
Setelah memanggil kembali kedua orang siluman tua itu ke samping tubuhnya Tan Kia-beng lantas menyapu sekejap keseluruh ruangan, teriaknya dengan keras, "Cayhe she Tan bernama Kia-beng, suhuku adalah si "Ban Lie Im Yen" Lok
Tong, kemudian mengangkat Teh Leng Kauwcu Han Tan Loojien sebagai guruku yang kedua"
Dari dalam sakunya dia mengambil keluar seruling Pek Giok Siauwnya dan digetarkan di tengah udara.
"Inilah senjata yang digunakan dia orang tua tempo hari, atau dengan perkataan lain cayhe sudah memperoleh seluruh ilmu silat aliran Teh-leng-bun".
Kembali dia berhenti sebentar untuk tukar napas, lalu sambungnya;
"Mungkin ada beberapa orang kawan kangouw yang sudah menaruh kesalah pahaman terhadap diri cayhe dan urusan ini terjadi menyangkut soal kereta kencana itu.
"Peristiwa yang terjadi pada mulanya memang adalah perbuatan dari suhengku si Penjagal Selaksa Li Hu Hong tetapi peristiwa yang terjadi dibelakang hari adalah perbuatan orang lain yang sengaja hendak memfitnah dirinya, cukup dengan bukti peristiwa malam ini saja, kereta kencana ini cayhe dapatkan di tengah jalan cuma sayang orang yang mengendarai kereta ini berhasil melarikan diri.
"Perkataan dari cayhe cukup sampai disini saja, kalian suka percaya atau tidak itu bukan urusan diri cayhe lagi."
Ih Bok Popo yang selama ini berdiam diri mendadak mengayunkan tongkatnya dan berjalan ke depan.
"Heee, heee, beberapa perkataanmu itu cuma bisa digunakan untuk menipu bocah umur tiga tahun saja tetapi jangan harap bisa main gila terhadap loo nio" teriaknya sambil tertawa dingin, "Teh Leng kauwcu sewaktu munculkan dirinya dalam dunia kangouw waktu itu dia sudah berusia tujuh, delapan puluh tahunan, kini loo nio sudah berusia delapan dua
tahun, Hmm! apa dia bisa hidup selama seratus lima, enam puluh tahunan? kau jangan berbohong!"
Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi;
"Urusan lain tidak usah kita bicarakan lagi, hutang darah pada benteng Hwee Im Poo harus dibayar dengan menggunakan darah pula, perduli iblis tua itu suhengmu atau suhumu malam ini loo nio akan jagal dulu dirimu!"
Tidak menanti jawaban lagi tongkatnya sudah diangkat ke atas lalu dengan disertai tenaga sambaran yang dahsyat menghantam ke arah bawah.
Jangan dilihat tongkat besinya itu amat tipis tetapi sewaktu dihantamkan beratnya laksana gunung Thay-san bahkan disertai sambaran angin yang mengejutkan.
Pek-tok Cuncu si Rasul Racun maupun Su Hay Sin Tou si pencuri sakti yang melihat kejadian ini bersama jadi amat gusar.
"Kau berani?" bentaknya berbareng.
Masing-masing orang menggerakkan telapak tangannya siap turun tangan.
Tetapi tubuh Tan Kia-beng jauh lebih cepat dari mereka berdua, teriaknya, “Kalian mundur, biar aku yang menyambut serangannya.”
Diapun melancarkan satu pukulan dahsyat ke arah depan, serangan tongkat yang berat dan disertai suatu dengungan keras itu seketika itu juga tergetar pental kesamping.
Walaupun di dalam pertaruhan tempo hari kedua orang siluman tua itu sudah jatuh kecundang ditangan pemuda ini tetapi mereka sama sekali belum pernah benar-benar menjajal kepandaian silatnya kini melihat dia turun tangan dengan
begitu dahsyatnya dalam hati baru merasa kalau tenaga dalam Toako mereka ini benar luar biasa, sehingga dalam hati mereka merasa bertambah kagum.
Tan Kia-beng yang serangan telapaknya berhasil mementalkan serangan tongkat Ih Bok Popo lantas membentak keras, “Sekali lagi cayhe terangkan, munculnya kereta bencana beberapa hari ini aku orang she Tan pun pernah mendengar dan kini sedang melakukan penyelidikan tetapi haruslah kalian ketahui bahwa peristiwa ini bukanlah perbuatan dari suhengku Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong harap kalian jangan salah paham.”
Sifat Ih Bok Popo sangat berangasan dan tidak mau mengalah, kini sudah turun tangan sudah tentu tidak akan suka mendengarkan perkataannya lagi.
Di tengah menggetarnya tongkat besi yang berat dan keras itu segera menimbulkan angin sambaran yang tajam membuat pasir serta kerikil pada beterbangan memenuhi angkasa.
Tan Kia-beng tidak bisa menahan sabar lagi, mendadak dia tertawa panjang.
"Haaa.... haaa.... kau orang tua sungguh kasar dan berangasan, kau kira siauw yamu takut dengan dirimu? Hmmm! Kalau memangnya kau kepingin bergebrak biarlah aku suruh kau merasakan kelihayan dari siauw yamu ini!"
Tubuhnyapun maju ke depan lalu dengan kecepatan luar biasa berputar dan menerjang keangkasa.
Diantara berkelebatnya cahaya terang yang menyilaukan mata seruling Pek Giok Siauw yang menggetarkan seluruh dunia kangouw sudah dicabut keluar.
Diantara tutulan serta babatan tongkat besi itu kembali berhasil digetarkan pental dari hadapannya.
Mendadak tubuhnya semakin maju mendesak ke depan, seruling Pek Giok Siauwnya dengan disertai suara suitan yang amat aneh dan membetot hati hanya di dalam sekejap sudah melancarkan tiga serangan sekaligus.
Ih Bok Popo ini sejak masa mudanya sudah mempunyai nama besar di dalam dunia persilatan, semasa tuanya tutup pintu berlatih diri sudah tentu kepandaian silat yang dimilikinya kini amat dahsyat sekali cuma saja sifatnya yang kasar dan berangasan selamanya tidak bisa diubah.
Melihat datangnya serangan seruling dari Tan Kia-beng, ini bukannya menyingkir atau menghindar sebaliknya melintangkan tongkat besinya ke depan.
"Ting.... ting.... Traang!" dengan keras dia menangkis datangnya ketiga serangan tersebut diikuti balas melancarkan serangan ke depan.
Tongkat besi adalah termasuk senjata berat dan setiap serangan tentu disertai suara desiran angin yang tajam.
Tampaklah seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan sambaran angin serangan, bayangan tongkat berkelebat rapat laksana gunung hanya di dalam sekejap saja Tan Kia-beng sudah terkurung di dalam bayangan tongkat tersebut.
Tan Kia-beng yang selama satu malaman harus menahan diri bersabar saat ini tidak kuat sudah untuk menahan sabarnya lagi, dengan cepat dia melantirkan keluar seluruh kepandaian silat yang diperoleh dari peninggalan Han Tan Loojien.
Tubuhnya dengan cepat menerjang diantara bayangan tongkat lalu menerjang kekiri dan kekanan dengan gerakan bagaikan kilat.
Suatu pertempuran yang amat seru, seram dan amat berbahaya inipun segera berlangsung setiap serangan serta setiap gerakan yang dilancarkan tentu merupakan jurus yang ganas dan telengas sehingga boleh dikata pertempuran ini mirip dengan suatu pertempuran mengadu jiwa.
Pada mulanya jurus jurus serangan yang dilancarkan masing-masing pihak masih kelihatan dengan jelas tetepi lama kelamaan jurus serangannya semakin cepat dan semakin santer.
Tampak dua sosok bayangan manusia saling menyambar tanpa hentinya yang semakin lama bertambah semakin cepat, angin serangan yang ditimbulkan oleh serangan seruling itu pun dengan cepat menggetarkan seluruh kalangan membuat rerumputan serta pasir pada beterbangan.
Su Hay Sin Tou serta Pek-to un cu walau pun sudah berkelana selamanya dalam dunia kangouw saat ini hatinya terasa terkejut oleh kedahsyatan serta keseruan pertempuran ini, tak terasa lagi mereka sudah menggerakkan kakinya maju ke depan.
Sedang Hwee Im Poocu hatinya semakin bertambah kuatir, pedangnya dicekal kencang kencang sedang matanya tak berkedip memperhatikan terus ke tengah kalangan dia bersiap-siap setiap melancarkan serangan untuk menolong Sunionya itu.
Loo Hu Cu yang sejak dahulu mempunyai maksud untuk merebut gelar jagoan nomor wahid diseluruh Bulim kini setelah melihat pertempuran yang sangat seru antara Tan Kia-
beng dengan Ih Bok Popo rasa berdesir berkecamuk dihatinya dia tidak berani membayangkan bagaimana akibatnya bilamana dia kini yang turun tangan sendiri.
Saat ini di tengah kalangan pertempuran masing-masing pihak masih melancarkan serangan dengan gerakan cepat bagaikan kilat, hanya dalam sekejap saja tiga puluh jurus sudah berlalu.
Wajah Ih Bok Popo kini sudah berubah amat menyeramkan, rambutnya yang beruban awut awutan tidak karuan, sembari menggerakkan tongkat besinya dia berteriak, “Coba kau rasakan ilmu tongkat Ci Ci Tiong Liuw dari Loo nio ini.”
Di tengah suara suitan yang amat aneh gerakan tongkatnya berubah dengan gaya menotok, memukul, menyapu serta membabat berturut turut dia melancarkan serangan serangan gencar mendesak pihak musuhnya.
Seketika itu juga angin menyambar nyambar saling susul menyusul, bagaikan menggulung ombak di tengah amukan angin taufan dengan cepatnya melanda ke depan.
Dalam keadaan kepepet Tan Kia-beng segera terdesak mundur beberapa langkah ke belakang.
Melihat kejadian itu air muka Su Hay Sin Tou serta Pek-tok Cuncu berubah hebat, masing-masing mengangkat tangannya siap-siap melancarkan serangan.
Hwee Im Poocu pun dengan cepat menggetarkan pedangnya membentuk bunga bunga pedang.
"Haaa.... haah....bagaimana? Ingin main keroyok?" serunya sambil tertawa tergelak.
Tubuhnya dengan cepat meloncat ke depan sedang para jago Hwee Im Poo pun masing-masing menyahut keluar
pedangnya dan mengerubut maju ke depan, agaknya suatu pengeroyokan secara massal bakal berlangsung
Mendadak tampaklah Tan Kia-beng mengerutkan alisnya rapat rapat, dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat tajam sekali.
"Hmm! ilmu toya Ci Ci Tong Liuw tidak lebih cuma demikian saja" ejeknya. Sekarang coba kau rasakan kelihayan dari ilmu Uh Yeh Cing Hun dari siauwyamu ini"
Hanya di dalam sekejap saja seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan suara suitan yang menggetarkan hati tampak serentetan cahaya terang membumbung keangkasa lalu berpisahan menjadi berjuta juta titik terang menggulung ke arah depan.
Ilmu seruling Uh Yeh Cing Hun ini benar-benar amat dahsyat sekali dan cukup membuat sebuah gunung Thay-san dihajar ambruk, hanya di dalam sekejap saja Ih Bok Popo kena didesak sehingga mundur ke belakang sejauh satu kaki delapan depa.
Ih Bok Popo yang berhati berangasan suka menang sendiri melihat dia berada di dalam keadaan bahaya hatinya gemas serasa diiris iris, sambil menggigit kencang bibirnya dia memutar toyanya lebih santar lagi.
Tetapi jurus serangan yang amat aneh dan sakti ini mana bisa dipencahkan dengan begitu mudah, di tengah berkelebat bayangan seruling diantara sembaran toya terdengar suara mendengus berat bergema memenuh iangkasa, bagaikan disengat ular Ih Bok Popo mengundurkan diri sejauh satu kaki.
Air mukanya berubah amat menyeramkan setelah melemparkan toya besinya ke atas tanah seperti orang kalap ia melarikan diri ke tengah hutan yang amat gelap itu, tidak
salah lagi dia sudah kena jatuh kecundang di tangan pemuda tersebut.
Sedih marah, gemas dan perih bercampur aduk di dalam hatinya yang kemudian dikeluarkan semua bersamaan dengan daya lempar toya tersebut.
Dengan dahsyatnya toya itu menamcap di atas tanah sehingga seluruhnya lenyap dari pandangan, cukup hal ini saja sudah menunjukkan betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dia miliki.
Ih Popo yang namanya menggetarkan dunia kangouw sudah kalah, nama besar serta kecemerlangan yang dipupuk selama puluhan tahun inipun ikut musnah terkubur ditepi hutan pohon siong tersebut.
Para jago yang hadir di tengah kalangan itu pada terperanjat semua, saking kagetnya mereka pada saling bertukar pandangan.
Dengan perlahan Tan Kia-beng menyimpan kembali seruling Pek Giok Siauwnya ke arah pinggang lalu dia gelengkan kepalanya.
Dia yang sudah memperoleh kemenangan sama sekali tidak menunjukkan kecongkakkannya, sebaliknya dalam hati merasa menyesal karena sudah menghancurkan nama baik seorang yang telah dipupuk selama puluhan tahun lamanya.
Su Hay Sin Tou yang melihat Toakonya saking girangnya lantas bertepuk tangan.
“Hooree.... Toako menang! jurus "Hong Bok Han Pei" atau angin dingin mengandung kesedihanmu itu benar-benar membuat dia menderita kekalahan dengan puas!” serunya.
Dengan perlahan Tan Kia-beng menoleh sekejap ke arah Hwee Im Poocu lalu tersenyum tawar.
"Toako!" tiba-tiba terdengar Pek-tok Cuncu berkata, "kau pulanglah dulu untuk beristirahat, biar aku serta si pencuri tua ini menyusul dari belakang."
Dengan perlahan Tan Kia-beng mengangguk, mendadak dia mengenjotkan tubuhnya melayang ke tengah hutan.
Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si Rasul Racun saling bertukar pandangan sesaat dengan misterius lalu putar badan dan berlalu juga dari sana.
Tak seorangpun yang turun tangan menghalangi, tetapi tak seorangpun yang suka percaya terhadap apa yang diucapkan oleh Tan Kia-beng tadi, terkejut! seram! marah sedih! bercampur baur di dalam benak setiap orang.
Dengan sedihnya Hwee Im Poocu menundukkan kepala dan menghela napas panjang, sedang Loo Hu Cu dengan wajah menyengir kejam memandang ke arah dimana lenyapnya bayangan punggung Tan Kia-beng.
Rakus! iri! dengki! bercampur baur dihatinya, otaknya dengan cepat berputar.
“Dengan cara apa aku baru bisa melenyapkan dirinya? dengan cara apa aku baru bisa memperoleh pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya?”
Pada saat itulah mendadak dari balik hutan muncullah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang amat dipercaya orang-orang Bulim serta istrinya yang cantik Lie Hua Hweecu, sedang disisinya kelebihan seorang siucay berusia pertengahan yang mencekal sebuah kipas besar.
Wajahnya masih tetap tersungging senyuman yang menarik kepada para jago yang hadir di tengah kalangan dia merangkap tangannya memberi hormat.
"Haa.... haa.... kalian sungguh menyenangkan sekali" serunya sambil tertawa terbahak-bahak. "Di tengah malam buta begini masih menikmati rembulan di tengah hutan."
Hwee Im Poocu yang dikarenakan pernah bentrok dengan dia lantas angkat kepalanya memandang sekejap ke arahnya tapi tak mengucapkan sepatah katapun.
Sebaliknya pada wajah Loo Hu Cu segera terlintaslah satu cahaya kegembiraan, dengan terburu-buru dia merangkap tangannya membalas hormat.
"Terus terang saja Bok Heng, kami sekalian baru saja jatuh kecundang ditangan bangsat cilik itu!"
"Aaakh! di dalam dunia kangouw ternyata masih ada orang bisa memaksa Tootiang sekalian jatuh kecundang?" seru Bok Thian-hong pura pura terperanjat.
Boh hong buat apa kau menempeli wajah pinto dengan emas?"
Dia lantas menuding ke arah kereta kencana itu dan ujarnya lagi, "Walaupun kereta kencana tersebut berhasil ditahan oleh Ong heng dari benteng Hwee Im Poo tapi manusianya berhasil meloloskan diri tanpa ada yang bisa menahan dirinya."
"Kalau begitu dia tentunya datang bersama-sama?"
Yang tua tidak kelihatan, cuma si anakan iblis itu saja."
Dia menghela napas dengan perlahan lalu tambahnya.
"Kepandaian silat dari anakan iblis ini amat aneh dan dahsyat, sampai Ih Bok Popo yang amat terkenal itupun dikalahkan ditangannya. Heey.... kedua orang iblis ini bilamana tidak cepat-cepat dibasmi maka orang-orang Bulim tidak bakal bisa hidup dengan tenang!"
"Walaupun cayhe mempunyai maksud untuk menyapu kawanan iblis menegakkan keadilan di dalam Bulim tetapi justru kekurangan kawan kawan sejalan dan sependirian" ujar Bok Thian-hong sambil menghela napas pula, "Heei.... kini penjagalan manusia secara besar besaran sudah berlangsung, kita tak boleh berpeluk tangan terus."
Dari sepasang mata Loo Hu Cu mendadak memancar keluar sinar yang amat aneh.
"Nama besar Bok heng sudah terkenal di seluruh Bulim, cukup kau mengundang para jago sudah pasti akan berdatangan, pinto tidak becus, bilamana Bok heng suka menerima pekerjaan ini tentu aku bantu sepenuh tenaga."
Berbicara sampai disini dia lantas memberi hormat kepada Hwee Im Poocu yang lagi berdiri termangu-mangu itu.
"Ong heng! bagaimana kalau kaupun ikut kemari untuk bercakap-cakap!"
Hwee Im Poocu yang lagi merasa sedih dan kecewa atas kekalahan tadi saat ini memangnya lagi memikirkan cara untuk mencari bala bantuan guna menghadapi majikan kereta berdarah tersebut.
Tetapi berhubung dia sudah pernah bentrok dengan Thay Gak Cungcu maka dalam hati merasa sungkan untuk ikut maju kesana.
Tetapi kini sesudah mendengar suara sapaan dari Loo Hu Cu diapun dengan langkah lebar berjalan mendekat,
Thay Gak Cungcu dengan wajah penuh senyuman seperti belum pernah terjadi sesuatu urusan maju menyambut.
“Haa.... haa.... selama ini apakah Ong heng baik-baik saja?" tanyanya sambil merangkap tangannya menjura.
"Terima kasih, terima kasih, segalanya masih seperti sedia kala, cuma, cuma.... Heee! urusan sukar untuk dibicarakan!"
"Apa yang sudah terjadi di dalam benteng Hwee Im Poo cayhe sudah dengar orang berkata" hibur Thay Gak Cungcu dengan cepat. Terus terang aku beritahukan kepada heng thay sekalian, mengenai sarang iblis itu setelah mengalami penyelidikan yang cukup sulit dari orang-orangku kini sudah memperoleh sedikit kabar bilamana orang-orang kita sudah cukup maka kita segera berangkat menghancurkan iblis iblis pengacau Bulim itu"
Diapun lantas memperkenalkan siucay berusia pertengahan itu kepada mereka berdua.
"Saudara ini adalah "Mo Pek Miauw Sit Suseng" atau sastrawan berseruling bagus dari daerah gurun pasir Bun Ih Ping yang sengaja datang kemari untuk menyambangi kawan kawan dari seluruh dunia persilatan."
Loo Hu Cu serta Ong Jian terburu-buru lantas maju ke depan memberi hormat.
Sikap serta tindak tanduk dari sastrawan berusia pertengahan itu amat dingin dan congkak, dia hanya sedikit menganggukkan kepalanya dan tetap menggoyang goyangkan kepalanya.
Sedang matanya dengan pandangan yang amat aneh dialihkan ke atas tubuh Sak Ie itu jagoan dari Bu-tong-pay yang lagi berdiri sambil bergendong tangan disamping kalangan
Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang melihat Sak Ie lantas menunjukkan sikap yang luar biasa sekali seperti baru saja mendapatkan harta pusaka.
"Ee.... siapakah Jien heng ini? kau anak murid diapa?” tanyanya dengan terburu-buru
Loo Hu Cu yang hawa amarahnya masih belum sirap mendengus dingin.
"Sute dari Leng Hong Tootiang, Sak Ie adanya!" sahutnya.
Sekali pandang saja Thay Gak Cungcu ini lantas mengerti kalau diantara mereka berdua pasti pernah terjadi satu urusan yang tidak menyenangkan, dengan cepat dia maju ke depan dan menyapa dengan suara ramah.
"Lama sekali mengagumi Sak heng bagaikan naga diantara manusia, pertemuan kita ini hari sangat mengasikkan sekali, aku orang she Bok benar-benar merasa kagum terhadap dirimu."
---0-dewi-0---
JILID: 18
Sak Ie jadi orang amat cekatan dan tajam penglihatannya, walaupun selama ini dia berdiri termangu-mangu tetapi sejak semula sudah bisa melihat seluruh keadaan dengan amat jelas.
Dia merasa Bok Thian-hong ini walaupun diluarnya bicara gagah dan penuh disertai maksud demi tegaknya keadilan, padahal di dalam hatinya amat licik dan berbahaya.
Ketika dengan penuh perhatian dia lagi mendengarkan perbuatan apa yang dia lakukan mendadak dia memperkenalkan Miauw Pit suseng, Bun Ih peng kepada semua orang hatinya jadi rada tertarik.
Kini melihat Bok Thian-hong berjalan mendekati dirinya dia lantas menjawab dengan suara yang amat dingin.
"Aku orang she Sak belum lama berkelana di dalam dunia kangouw, tidak berani aku menerima pujianmu yang begitu tinggi itu."
"Haaa.... haaa.... Sak heng terlalu merendah bilamana kau pandang remeh diriku bagaimana kalau kaupun ikut duduk disana untuk bercakap-cakap?"
Dengan tawarnya Sak Ie lantas menyahut kemudian dengan mengikuti Bok Thian-hong berjalan kesisi Loo Hu Cu sekalian dan duduk di atas tanah.
Demikianlah mereka lantas duduk disana sambil bercakap-cakap, dengan menggunakan kesempatan itulah Bok Thian-hong mulai membual tentang kekuatan yang ada di Bulim dewasa ini serta seluruh kejadian besar kecil yang pernah dia ketahui.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu semakin mendengar semakin tertarik sedangkan Sak Ie sendiri jadi semakin menaruh curiga.
Akhirnya bahan pembicaraan dialihkan kembali kepersoalan yang sebenarnya.
"Sungguh sukar untuk memperoleh kepercayaan dari saudara saudara terhadap diriku" ujarnya mendadak. "Tempat ini bukanlah tempat yang cocok untuk bercakap-cakap bagaimana kalau kita ikut serta diriku untuk duduk duduk di dalam perkampungan Thay Gak Cung?"
Maksud Bok heng.... seru Loo Hu Cu sambil mengelus jenggotnya yang panjang.
Pada saat itulah dari tengah hutan mendadak terdengar suara seram yang amat mendirikan bulu roma.
Air muka Bok Thian-hong pun segera berubah hebat.
“Siapa....?” bentaknya keras.
Di tengah suara bentakan yang amat keras dengan cepat dia menubruk ke arah tengah hutan.
Begitu dia bergerak Miauw Pit suseng yang ada disisinyapun ikut mengenjotkan tubuhnya menubruk ke arah dalam hutan.
Bok Thian-hong yang menggerakkan badannya terlebih dulu sudah tentu tiba lebih pagi dari dirinya, siapa sangka baru saja tubuhnya melayang datang terasa ada segulung angin tajam berkelebat lewat disisinya.
Melihat adanya sambaran dari sesosok bayangan manusia Bok Thian-hong jadi terperanjat dalam keadaan terburu-buru dia mengirimkan satu pukulan dahsyat ke arah depan.
Bagaimana manusia itu sewaktu melihat mendadak dia melancarkan serangan tubuhnya berputar satu lingkaran di tengah udara kemudian menyambar dari sisinya dan meluncur dengan cepatnya ke dalam hutan yang lebat itu.
Di tengah malam yang buta musuh berada di tempat yang terang sedang dia berada di dalam kedudukan gelap sekalipun
Bok Thian-hong memiliki kepandaian silat yang amat tinggi diapun tidak berani mengejar secara gegabah.
Pada saat itulah Miauw Pit Suseng pun sudah mengejar ketepi hutan, dia yang melihat berkelebatnya sesosok bayangan hitam menerjang ke arahnya dengan cepat kakinya dipercepat sedang sepasang telapak tangannya dengan dahsyatnya mencengkeram ke arah bayangan hitam itu.
Agaknya seluruh gerak gerik bayangan hitam itu amat cepat dan gesit sekali, baru saja tangannya menempel ujung baju lawannya mendadak terasalah segulung hawa dingin meresap ke dalam jari tangannya untuk kemudian menyusup ke dalam tubuh hatinya jadi terperanjat sekali sehingga terburu-buru dia menarik kembali telapak tangannya ke belakang.
Dan pada saat dia sedikit berayal itulah bayangan hitam itu sudah lenyap tak berbekas.
Dalam keadaan gusar dia bersuit aneh badannya bergerak siap mengadakan pengejaran.
Bok Thian-hong yang waktu itu sudah tiba dibelakang tubuhnya dengan cepat berteriak mencegah.
"Musuh gelap kita berada dalam kedudukan terang, Bun heng jangan gegabah biarlah dia pergi."
Mereka berdua yang menubruk tempat kosong sambil menundukkan kepala lantas mengundurkan diri keluar hutan.
Loo Hu Cu sekalian yang melihat mereka berdua keluar dari hutan lantas pada menyongsong ke depan.
"Bok heng apa menemukan sesuatu?” tanyanya.
"Hmm!! dia berhasil meloloskan diri" seru Thay Gak Cungcu dengan wajah seram sekali.
Dengan nama serta kepandaian dari Bok Thian-hong yang amat terkenal itu pihak lawan ternyata berhasil juga meloloskan diri, cukup dari hal ini bisa diketahui kalau kepandaian silat orang itu amat dahsyat sekali.
"Aduh celaka! cayhe kena jatuh kecundang!” tiba-tiba terdengar Miauw Pit Suseng Bun Ih Beng mendengus dingin
"Apa? Bun heng kena diselomoti orang?" teriak Bok Thian-hong terkejut.
"Coba kau lihat, ilmu kepandaian macam apakah ini?" seru Miauw Pit suseng Bun Ih Peng sambil memperhatikan telapak tangannya.
Bok Thian lantas menarik Bun Ih Peng ke bawah, sorotan sinar rembulan kemudian memeriksa telapak tangannya.
Tampaklah di atas telapak tangannya yang putih bersih itu kini sudah berubah jadi hitam pekat disertai suatu jalur hitam yang memanjang hingga sampai dibawah ketiak.
"Aaakh.... kau bukan dilukai dengan ilmu silat melainkan terkena racun!" teriaknya keras. "Mari kita cepat-cepat kembali ke dalam perkampungan! racun ini tidak boleh terlambat lagi."
Miauw Pit suseng Ben Ih Peng pun sejak tadi sudah merasa keadaan rada tidak beres terburu-buru dia menutup jalan darahnya untuk mencegah menjalarnya racun tersebut ke tempat yang lebih luas.
Kini melihat wajah Bok Thian-hong berubah amat terperanjat tidak kuasa lagi sudah tertawa panjang.
"Haaa.... haa.... cuma terkena sedikit racun begini tidak bakal sampai maut nyawa aku orang she Bun, cuma saja aku tidak menyangka kalau di daerah Tionggoan ada orang yang berani menggunakan racun untuk melukai orang manusia
kerdil dan laknat semacam ini benar-benar membuat cayhe merasa cemas.
"Aah.... aku sekarang sudah paham!" tiba-tiba teriak Loo Hu Cu seperti telah memahami sesuatu urusan, Racun ini pasti hasil perbuatan dari siluman tua itu"
"Siapakah orang itu?” tanya Miauw Pit suseng dengan gugup.
Orang itu bukan lain adalah siluman tua yang disebut orang-orang kangouw sebagai Pek-tok Cuncu si Rasul Racun. Kepandaiannya bermain racun sangat dahsyat sekali, kini dia sudah menjadi kaki tangan dari anak iblis itu.
Mendengar perkataan tersebut Miauw Pit suseng segera melototkan sepasang matanya lebar-lebar lalu memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang amat menyeramkan.
"Pada suatu hari bilamana ia bertemu dengan aku orang she Bun aku mau suruh dia merasakan kelihayan aku orang she Bun
Waktu itu cuaca sudah hampir terang tanah, sekali lagi Bok Thian-hong mengajak semua orang untuk melakukan perjalanan.
Dengan cara iring iringan mereka lantas berlalu dari sana dan hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap di tengah kegelapan menjelang pagi hari itu
---0-dewi-0---
Kita balik pada Tan Kia-beng, sekembalinya ke dalam rumah penginapan....
Dengan amat telitinya dia mulai memikirkan seluruh kejadian yang baru saja dialaminya itu, dia merasa urusan itu
terlalu jelas dan terang terangan bisa diketahui dengan sekali pandang saja.
Cuma sayang dendam dari Loo Hu Cu sekalian terhadap dirinya terlalu mendalam sehingga terhadap penjelasannya sama sekali tidak mau terima.
Kereta kencana itu secara tiba-tiba bisa muncul disana tanpa pengemudi, hal ini berarti pula sipengacau tersebut pasti ada di sekeliling tempat itu.
Di dalam hati dia lantas mengambil satu keputusan untuk tinggal lebih lama satu hari lagi disana untuk secara diam-diam mengadakan penyelidikan lebih teliti lagi.
Sedang dia duduk termenung seorang diri itulah mendadak terdengar suara ujung baju yang tersempok angin bergema masuk ke dalam telinganya.
Dengan cepat dia bangun berdiri mengadakan persiapan!!
Mendadak terasa bayangan manusia berkelebat Sak Ie itu anak murid dari Bu-tong-pay yang ditemuinya sewaktu di dalam hutan kini sudah muncul di dalam kamarnya.
Terhadap orang ini dalam hati Tan Kia-beng memangnya sudah menaruh rasa simpatik, dengan cepat dia bangun berdiri dan menjura ke arahnya.
oOo
Sak Heng malam malam datang kemari entah ada urusan apa?
Sak Ie sedikitpun tidak berlaku sungkan begitu masuk ke dalam kamar dia lantas mengambil tempat duduk.
"Sengaja aku hendak menemui Heng thay dan membicarakan persoalan persoalan yang rumit," sahutnya.
Tidak menanti Tan Kia-beng menjawab dia kembali menyambung, "Perkataan yang heng thay katakan sewaktu berada di dalam hutan tadi siauwte amat mempercayainya, jika dipikirkan pada saat aku merasa dugaan dari heng thay serta rasa curiga dari siauwte adalah sama."
Tan Kia-beng tidak mengerti apa yang sedang diucapkan olehnya sepasang matanya melotot lebar-lebar menanti ucapan selanjutnya.
Bukan saja siauwte menaruh curiga ada orang mengacau dari dalam bahkan siapakah orang yang sudah mengacau secara diam-diam pun bisa diduga beberapa bagian mulai sekarang," sambung Sak Ie lebih lanjut.
Waktu itulah Tan Kia-beng baru sadar apa yang dimaksud.
"Sak heng tidak malu disebut anak murid partai kenamaan, setiap urusan bisa dia pecahkan dengan begitu jelas...." ujarnya memuji. Pertemuan kita yang kebetulan ini merupakan jodoh sehingga ikatan persahabatan diantara kita terasa semakin akrab bagaimana kalau kita masing-masing menulis nama orang yang kita curigai di atas telapak tangan masing-masing coba kita lihat sama tidak dugaan kita."
"Bagus. bagus sekali!” seru Sak Ie sambil tertawa terbahak-bahak.
Demikianlah berdua lalu menulis beberapa hurup di atas telapak tangan masing-masing lalu dibuka bersama-sama di bawah sorotan lampu lentera.
Tetapi sebentar kemudian mereka sudah pada tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
Kiranya apa yang ditulis mereka berdua adalah sama, “Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong."
"Sebetulnya cayhe tidak menaruh curiga sampai disitu," ujar Sak Ie secara tiba-tiba, “Cuma saja dengan secara mendadak dia itu memperkenalkan seorang Miauw Pit suseng Bun Ih Peng yang datang dari daerah Me pak maka dalam hati cayhe baru merasa curiga.
“Orang yang datang dari Me Pak?...." seru Tan Kia-beng mendadak
“Suhuku Thia Bok Tootiang bersama-sama dengan Cu Swee Tiang Cing Tan Cia Liang serta Leng Siauw Khek dari gunung Cing Shia setelah pergi ke Mo Pak hingga kini tiada kabar beritanya, sebetulnya Siauwte bermaksud hendak berangkat ke gurun pasir mencari jejak mereka, tetapi berhubung munculnya peristiwa kereta kencana di dalam Bulim yang membuat dunia kangouw kacau balau dan banjir darah maka cayhe bermaksud mencari beberapa orang kawan lagi untuk diajak berangkat bersama-sama siapa tahu kini muncul orang yang berasal dari gurun pasir bahkan bersama-sama Bok Thian-hong, hal ini membuat hatiku menaruh rasa curiga."
“Setelah diangkat oleh Sak Ie Tan Kia-beng pun lantas menaruh rasa rindu terhadap suhunya "Ban Lie Im Yen" Lok Tong.”
Tak kuasa lagi dia menghela napas panjang,
"Heei.... Siauwte pun mempunyai perasaan begitu, suhuku si Ban Lie Im Yen Lok Tong setelah berangkat ke daerah Mo Pak hingga kini tak ada kabar beritanya hal ini membuat cayhe merasa makan tak tenang tidurpun tak nyenyak, bilamana heng thay juga mempunyai maksud demikian bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama setelah waktunya tiba?”
"Terus terang saja cayhe katakan, kali ini siauwte bersama-sama dengan Loo Hu Cu sekalian sudah memperoleh
undangan dari Thay Gak Cungcu untuk mengunjungi perkampungan Thay Gak Cung ujar Sak Ie sambil bangun berdiri, sekarangpun aku diam-diam mencuri keluar sewaktu mereka lagi beristirahat, maaf siauwte tidak bisa berdiam lebih lama lagi, lain hari nanti bilamana hendak berangkat ke gurun pasir kita bicarakan kembali"
Sudah amat lama sekali Tan Kia-beng punya maksud untuk menyelidiki perkampungan Thay Gak Cung tersebut, setelah mendengar perkataan itu hatinya rada bergerak
"Sak heng bagaimana kalau secara diam-diam aku membuntutimu?" serunya.
Sak Ie termenung sebentar, kemudian sahutnya, "Musuh musuh heng thay tersebar diseluruh penjuru, urusan yang demikian bahayanya ini tidak seharusnya heng thay ikut pergi tetapi bilamana heng thay ngotot mau pergi juga boleh saja aku kabulkan"
Dengan menggunakan air teh dia lantas melukis sebuah tanda yang amat aneh sekali di atas meja
"Tanda ini adalah tanda yang biasa digunakan partaiku untuk minta bantuan, bilamana heng thay benar-benar bermaksud hendak pergi secara diam-diam kau boleh mengikuti tanda tanda ini, tapi kau harus ingat Thay Gak Cungcu adalah seorang yang amat licik secara diam-diam dia pasti sudah kirim orang untuk mengadakan pengawasan, harap heng thay suka bekerja lebih berhati-hati lagi."
“Cayhe sudah tentu akan selalu waspada," sahut Tan Kia-beng sambil mengangguk berulang, "Tetapi heng thay yang memasuki sarang macanpun harus lebih berhati-hati lagi”
“Cayhe sudah punya maksud untuk memasuki sarang macan, sudah tentu terhadap urusan mati hidup tak terpikir dalam hati" sahut Sak Ie sambil tertawa tergelak.
Dia lantas merangkap tangannya memberi hormat dan berlalu dari sana dengan meloncat keluar dari jendela kamar.
Tan Kia-beng yang secara tidak sengaja sudah memperoleh kesempatan untuk memasuki perkampungan Thay Gak Cung dalam hati merasa amat girang sekali bersamaan itu pula dia merasa terharu oleh kegagahan dari Sak Ie pikirnya.
"Kini aku tak ada urusan yang lain, demi kawan yang gagah seharusnya akupun ikut menerjang ke tempat bahaya untuk memberi bantuan kepadanya bilamana perlu.
Dengan terburu-buru dia lantas membereskan buntalannya meletakkan sekeping perak di atas meja dan siap-siap meloncat keluar dari kamar.
Mendadak....
Terdengar suara menyambarnya ujung baju tersampok angin, dua sosok bayangan manusia yang tinggi besar dengan cepatnya sudah menerjang masuk ke dalam kamar.
Kini musuh tangguh tersebut diempat penjuru apa lagi pada saat itu Tan Kia-beng berada di dalam keadaan tidak bersiap sedia terburu-buru dia kebaskan tangannya memadamkan lampu lentera tubuhnya menying ke samping siap-siap menanti serangan musuh.
"Toako apakah sampai aku si pencuri tua pun kau sudah tidak kenal?" tiba-tiba terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak.
Terburu-buru Tan Kia-beng menarik kembali serangannya dan menyingkir kesamping.
Menanti kedua orang siluman tua itu masuk ke dalam kamar diapun lalu menceritakan undangan Thay Gak Cungcu terhadap Lo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sekalian untuk mengunjungi perkampungan Thay Gak Cung, dan bagaimana dia bermaksud untuk menguntit secara diam-diam.
Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si Rasul Racun lalu saling bertukar pandang sekejap kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Haaa haaa.... urusan ini aku serta siluman siracun ini sudah tahu sejak tadi" sahutnya Bukan hanya begitu saja, bahkan kami pun sudah berguyon sebentar dengan diri mereka
Dan dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah medali pualam yang memancarkan cahaya terang dan diserahkan ketangan Tan Kia-beng
Medali pualam itu aku si pencuri tua dapatkan dari badan Bok Thian-hong untuk sementara baiknya disimpan disaku Toa ko saja.
Tan Kia-beng lantas menerima medali pualam itu dan diperiksanya dengan teliti.
Tampaklah luas medali pualam itu ada dua Cun dengan di atasnya terlukis banyak lukisan yang jeals di tengah-tengah medali terukir sebuah lukisan kelabang emas yang lagi mementangkan giginya dengan piliknya terukir delapan buah tulisan, "Tiong Ci Jen Jiang, Sim Si Tan Tan"
Untuk berberapa saat lamanya pemuda ini tak mengerti apa maksud dari tulisan tersebut, tetapi dia menduga benda tersebut tentulah suatu tanda kepercayaan dari golongan tertentu karenanya dia lantas masukkan benda itu ke dalam sakunya.
"Toako!" tiba-tiba Pek-tok Cuncu menegur, "Bilamana kau hendak menguntit Bok Thian-hong sekalian pergilah dengan berhati-hati, kamipun harus berangkat dulu."
Sehabis berkata dia meloncat keluar dari jendela dan berlalu terlebih dulu.
Su Hay Sin Tou si pencuri saktipun lantas tertawa terbahak-bahak.
"Haaa.... haaa.... ada kemungkinan kita bertiga bisa kembali bersama-sama, aku si pencuri tua berangkat lebih dulu"
Diantara berkelebatnya bayangan hitam diapun berlalu dengan amat cepatnya dari sana.
Tan Kia-beng tahu diantara mereka berdua sudah terikat pertandingan sepuluh hari dan kini sedang mengadu kepandaian karenanya dia tidak mencegah. Sambil tersenyum tubuhnyapun berkelebat keluar dari jendela kamar itu.
Dengan emngikuti arah yang ditunjuk oleh Sak Ie dia berlari terus ke arah depan. Ternyata sedikitpun tidak salah tidak jauh setelah dia meninggalkan kota dengan mudahnya dia mendapatkan tanda rahasia Bu-tong-pay yang ditinggalkan oleh Sak Ie
Dengan mengikuti arah yang ditunjuk itulah Tan Kia-beng melanjutkan perjalanannya ke arah depan.
Mendadak tanda itu berubah arah dan menuju ke arah suatu tempat yang amat asing sekali, hal ini membuat hati pemuda tersebut jadi amat cemas.
Pertama dia menaruh rasa kuatir atas keselamatan dari kawannya yang baru Sak Ie keduanya dia merasa undangan Bok Thian-hong terhadap Loo Hu Cu, Hwee Im Poocu serta
orang dari gunung pasit itu walaupun kedengarannya soal hubungan pribadi padahal yang sebenarnya menyangkut mati hidupnya orang Bulim.
Karena itu dia harus cepat-cepat memecahkan rahasia ini dan membuat urusan jadi lebih jelas.
Dengan mengikuti tanda rahasia yang ditinggalkan Sak Ie kembali Tan Kia-beng melakukan perjalanan selama satu jam, mendadak dia menemukan tanda rahasia yang ditinggalkan jagoan Bu-tong-pay itu terputus sampai di tengah jalan dan tak ditemukan kembali sedikit jejakpun disekitar tempat itu.
Hatinya jadi amat terperanjat sekali.
"Celaka! apa mungkin Sak Ie sudah menemui bencana?" pikirnya dalam hati.
Dengan cepatnya dia melakukan pemeriksaan di sekeliling tempat itu tetapi hasil yang diperolehnya adalah nihil hatinya mulai ragu ragu dan menaruh rasa cemas.
Ditinjau dari keadaan ini maka cuma ada dua kemungkinan saja.
Pertama, Sak Ie sudah tidak memperoleh kesempatan lagi untuk meninggalkan tanda rahasia partainya.
Kedua, tanda rahasia yang ditinggalkan olehnya sudah diketahui oleh orang-orang perkampungan Thay Gak Cung sehingga dimusnahkan dengan cepat.
Hal ini membuat hatinya semakin cemas lagi pikirnya, "Sekalipun jejak mereka lebih rahasiapun tidak mungkin kalau sampai benar-benar lenyap, aku tidak percaya kalau tidak berhasil menemukan mereka."
Walaupun di dalam hati dia lagi berpikir tetapi sepasang matanya dengan amat tajam memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat memandang si Pek Ih Loo Sat Hu Siau Cian dengan cepatnya sudah muncul dihadapannya.
"Tan Kia-beng, kau pun ikut datang?" terdengar gadis itu berteriak kegirangan sewaktu dilihatnya pemuda itu bukan lain adalah Tan Kia-beng, idaman hatinya.
Dengan cepatnya ia lari ke depan dan memeluk tubuh pemuda itu erat-erat.
Kepalanya direbahkan ke dalam pangkuan sang pemuda sedang tangannya merangkul erat-erat, saking girangnya sehingga setengah harian lamanya dia tak dapat mengucapkan sepatah katapun
Beberapa waktu ini diapun benar-benar sangat kasihan sekali ayahnya "Si Penjagal Selaksa Li" Hu Hong dikarenakan hendak menghadapi musuh musuhnya telah menitipkan dirinya dirumah seorang sahabat karib tetapi kawannya itu mempunyai sifat yang amat kukoay selama setahun lamanya jarang sekali berbicara sepatah katapun dengan orang.
Coba bayangkan dengan sifat Hu Siauw-cian yang amat lincah dan suka bergerak ini mana dia merasa kerasan untuk hidup bersama-sama dengan siluman tua yang membisu seperti orang mati itu?
Tidak sampai berapa hari lamanya secara diam-diam dia sudah mencuri keluar dari tempat tersebut.
Tetapi di dalam dunia kangouw dia tak berkawan, apalagi jejak musuh tersebar di setiap tempat dan keadaannya
disetiap waktu amat berbahaya membuat dia benar-benar terasa tersiksa.
Dengan kakunya Tan Kia-beng berdiri tegak disana dan membiarkan gadis itu memeluk dirinya kencang kencang.
Terasa bau harum tersiar masuk ke dalam hidungnya membuat dia tanpa terasa sudah menunjukkan reaksi sepasang tangannya pun dengan cepat balas memeluk pinggangnya erat-erat.
Tindakannya ini dilakukan tanpa sadar dan muncul dari reaksi seorang lelaki terhadap lawan jenisnya, demikianlah mereka berdua pun saling berpeluk selama seperminuman teh lamanya.
Mendadak Tan Kia-beng sadar kembali, pikirnya dihati,
"Celaka, bagaimana aku bisa jadi begini?"
Terburu-buru dia lepas tangan dan hendak mendorong dirinya, tetapi sepasang wajahnya yang cantik kini sudah penuh dibasahi oleh butiran air mata membuat dia merasa kasihan.
Tan Kia-beng tidak ingin melukai hatinya lagi, dia tahu gadis ini tak mempunyai seorang kawanpun dalam dunia kangouw, bilamana kini dia berbuat demikian kasar terhadapnya, bagaimana perasaan hatinya waktu itu?
Maka tangannya dengan perlahan membelai rambutnya yang halus itu sedang mulutnya tiada hentinya menghibur.
“Siauw Cian, bagaimana keadaanmu dalam waktu mendekat ini? apakah kau sudah bertemu dengan ayahmu?"
Dengan perlahan Hu Siauw-cian dongakkan kepalanya yang dipenuhi dengan air mata itu kemudian dengan sedihnya dia menggeleng kepala.
---0-dewi-0---
Bulan lima adalah musim panas sehingga hawa terasa amat panas, saat ini gadis tersebut hanya memakai dua lapis kain putih yang amat tipis sehingga membuat bentuk serta liku liku tubuhnya tertera amat jelas apalagi saat ini tubuh mereka saling bergesek hal ini membuat Tan Kia-beng merasa hatinya bergolak.
Berapa kali dia kepingin menundukkan kepalanya mencium kedua belah bibirnya yang mungil dan berwarna merah segar itu
Tetapi bagaimanapun dia seorang lelaki yang memegang taguh adat kesopanan merasa hatinya berdebar keras terburu-buru dia pusatkan pikirannya yang membuang jauh jauh maksud jahat itu setelah itu dengan halusnya dia mendorong tubuh gadis itu menjauh.
"Kini suasana di dalam Bulim amat tegang dan berbahaya apalagi ayahmu tak ada disini, lebih baik kau jangan lari sembarangan, bagaimana misalnya bila kau sampai bertemu dengan musuh tangguh?" serunya perlahan.
Mendadak Hu Siauw-cian mendorong dia ke belakang dan tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
“Apanya yang aneh! bilamana belum bertemu dengan orang-orang yang berkepandaian biasa maka itulah nasib mereka harus mati yang mereka cari jalan maut buat dirinya sendiri bilamana bertemu dengan jago-jago berkepandaian lihay, biarlah aku adu jiwa yang selalu sial ini, haa haa."
Tertawanya mengandung nada kesedihan jelas kalau suara tertawanya kali ini bukan dikarenakan kesombongan hatinya tetapi karena desakan batin yang mendesak terus jiwanya.
Sesudah tertawa seram beberapa saat lamanya dia putar badan dan menghela napas panjang.
“Bagaimanapun juga orang semacam aku ini sekalipun mati juga tak ada orang yang ikut merasa sedih”
Tan Kia-beng yang melihat secara tiba-tiba dia merasa sedih terburu-buru ia maju ke depan dan hiburnya dengan suara perlahan, “Tidak seharusnya kau berpikir demikian kau harus tahu bagaimanakah cintanya ayahmu terhadap dirimu? bilamana kau benar-benar menemui bencara atau bahaya dia pasti merasa amat sedih.”
"Hei.... urusan ini tidak bisa dihindari lagi, aku masih muda, sekalipun aku tidak mau, hal ini juga tidak mungkin tak menjadi aku tidak akan mengorbankan seluruh kebahagiaan di atas gunung yang sunyi dan tak bermanusia ini, apalagi akupun merasa tidak lega atas keselamatanmu, keadaanmu jauh lebih berbahaya daripada diriku apalagi kaupun tidak memiliki sedikit pengalaman di dalam dunia kangouw, hal ini benar-benar membuat aku merasa cemas,d an kuatir!"
Bilamana ucapan ini didengar tempo dulu mungkin Tan Kia-beng tidak akan terharu seperti ini hari, tetapi kini keadaan sudah lain, dia dengan Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong mempunyai ikatan perguruan yang erat, atau dengan perkataan lain mereka adalah satu keluarga.
Ditambah lagi jika membicarakan soal tingkatan Siauw Cian seharusnya adalah sutit linya, karena itu diapun ikut bertanggung jawab terhadap dirinya.
Kini melihat gadis tersebut menaruh rasa kuatir buat keselamatannya dalam hati dia merasa benar-benar amat terharu, dengan perlahan dia membelai rambutnya yang panjang dan berkata, "Kau tidak usah menaruh rasa kuatir
terhadap keselamatanku. Kau sendirilah yang harus lebih waspada lebih baik kau pulanglah! Menanti urusan sudah menjadi terang aku akan datang mencari dirimu."
"Tidak! Tidak! Aku mau melakuakn perjalanan bersama-sama dengan kau" seru gadis itu sambil menggoyangkan kepalanya.
Hal ini membuat Tan Kia-beng jadi serba susah mengetahui perjalanannya kali ini amat berbahaya sekali.
Bilamana dirinya yang menemui bencana masih tidak mengapa, tetapi bilamana dia membawa serta gadis tersebut dan menemui bencana bagaimana dia harus bertanggung jawab kepada suhengnya si Penjagal Selaksa Li dikemudian hari?
Apalagi tujuan semua orang adalah mereka ayah beranak, bilamana dia harus melakukan perjalanan bersama dengan gadis itu maka jejaknya mudah diketahui orang, karena itu untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.
Mendadak Hu Siauw-cian putar badan dan berseru dengan amat sedihnya, "Aku tahu kau pasti tidak mau, tetapi sejak pertemuan kita untuk pertama kalinya aku selalu memikirkan dirimu, aku tak ingin berpisah dengan dirimu lagi. Heeii inilah yang dinamakan mencari kesulitan buat diri sendiri...."
Dengan perlahan dia melangkah menuju kesebuah pohon besar perkataan yang baru saja diutarakan ini amat jelas sekali dan tanpa disadari diapun sudah memperlihatkan perasaan hatinya yang sesungguhnya.
Tan Kia-beng yang mendengar perkataan tersebut kontan jadi melengak dan berdiri termangu-mangu, dalam hati dia benar-benar merasa amat kaget.
"Aduh celaka!” pikirnya, “Kiranya dia sudah jatuh hati kepadaku! tetapi, tetapi.... heeei...."
Pada waktu itulah dia dapat melihat dari kedua kelopak mata gadis tersebut dengan perlaahn menetes keluar butiran air mata dengan derasnya keadaan yang amat menyedihkan ini seketika itu juga membuat hatinya tergetar dan merasa tidak tega.
Dia mengerti jelas kalau gadis yang sombong seperti dia sudah tidak seharusnya membuka rahasia hatinya dengan terang terangan apalagi bilamana kini dia menusuk hati lagi, mudah sekali memancing dia untuk mengambil keputusan pendek karena itu dengan cepat dia berjalan ke samping tubuhnya.
"Bukannya aku tidak suka mengajak kau melakukan perjalanan bersama-sama" hibunya. "Tetapi justru perjalananku kali ini sangat berbahaya sekali kau tidak seharusnya ikut ak umenemui bencana bersama-sama
Mendengar perkataan itu mendadak Hu Siauw-cian putar badannya dan berseru dengan amat girang.
"Kau sudah setuju?”
Nada suaranya penuh disertai rasa terkejut dan girang, agaknya dia sama sekali tidak pernah berpikir bagaimana bahayanya perjalanan yang akan ditempuh pemuda itu.
Dengan perlahan Tan Kia-beng menghela napas panjang kemudian mengangguk tak sepatah katapun diucapkan keluar.
Beberapa saat kemudian mendadak terdengar suara ujung baju yang tersempok angin berkumandang datang.
Sreet! Sreeet! Sreeet! tiga sosok bayangan manusia bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya sudah meluncur datang.
“Bangsat cilik, kiranya kau ada disini," terdengar suara bentakan yang amat keras berkumandang datang diiringi berkelebatnya bayangan manusia itu.
Tan Kia-beng berdua jadi amat kaget buru-buru memisah ke samping untuk menghindar.
Di tengah berkibarnya ujung baju, Pek Ih Loo Sat sudah melayang ke depan sedang telapak tangannya berturut turut melancarkan tiga buah serangan dahsyat mendesak ke arah orang itu.
Sekali pandang saja Tan Kia-beng sudah dapat melihat kalau mereka bertiga bukan lain "Hong Jen Sam Yu" sedang orang yang baru saja membentak tidak lain adalah si hweesio yang terkenal akan berangasannya itu.
Terburu-buru dia lantas berteriak, "Siau Cian tahan! orang sendiri."
Tetapi si hweesio berangasan itu sudah keburu didesak mundur sejauh tujuh delapan langkah oleh serangan yang amat gencar yang membuat dia saking khekinya sepasang matanya dipentangkan bulat bulat.
"Budak liar, kau sungguh mau bergebrak melawan aku si hweesio?" teriaknya marah.
Pada saat itulah Tan Kia-beng sudah maju ke depan melerai dan menarik Hu Siauw-cian ke belakang.
"Kau budai cilik, tak nyana semakin hari bertambah liar haa.... haaa...." terdengar supengemis aneh menggoda sambil tertawa terbahak-bahak.
Sejak Hu Siauw-cian mengerti urusan apa yang dialami olehnya kalau bukan bertempur tentulah saling bunuh membunuh, apalagi setiap tahun musim semi sewaktu berpesiar menunggang kereta sedikit dikit lantas berkelahi dengan orang lain, hal ini membuat dia berprasangka kalau setiap kali ada orang yang datang mencari dirinya tentulah merupakan musuh musuh yang membenci dia.
Oleh sebab itulah secara tidak sadar di dalam tubuhnya sudah terdidik suatu perasaan waspada yang amat tajam serta reaksi yang cepat.
Kini melihat dia sudah salah menyerang kawan engkoh Bengnya tidak terasa ia jadi tertegun apalagi kini digoda oleh pengemis aneh itu membuat dia jadi jengah dan kemudian bersembunyi di belakang tubuh Tan Kia-beng sambil tertawa cekikikan.
Sikap serta gerak geriknya mirip dengan seorang gadis yang untuk pertama kalinya muncul di depan orang.
Waktu itulah Tan Kia-beng pun lantas memperlihatkan sikapnya sebagai seorang susiok, serunya dengan serius, "Sudah begitu besar masih bersikap kekanak kanakan ayoh cepat kemari! Dan hunjuk hormat kepada ketiga orang cianpwee ini mereka berdua adalah si hweesio berangasan serta si toosu dengkil dari Hong Jan sam Yu!”
"Hmm! siapa yang masih seperti bocah?” seru Hu Siauw-cian sambil mencibirkan bibirnya.
Dengan genitnya dia lantas berjalan ke depan dan dengan hormatnya menghunjuk hormat kepada ketiga orang itu.
Dengan perbuatannya ini maka sifat berangasan dari si hweesio yang sudah semakin menjadi jadi sirap kembali.
"Tidak usah! tidak usah!” serunya sambil menggaruk garku kepalanya yang gatal. "Anggap saja gebukanmu ini hari adalah begukan sia-sia!"
"Hiii.... hiii.... kau orang tua berkepandaian amat tinggi, cuma kena digebuk oleh boanpwee mana bisa bisa terasa?” seru Siauw Cian sambil tertawa cekakakan.
Si hweesio berangasan paling suka memakai topi tinggi, justru Siauw Cian sendiri paling suka mencari hati dengan hati orang lain, dengan sikapnya yang genit dan panggilan Loocianpwee dengan suara halus membuat si hweesio berangasan itu benar-benar merasa kegirangan, tak kuasa lagi dia lantas tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha.... bagus! bagus sekali, hitung hitung perkataanmu memang cengli gebukanmu tadi anggap saja hadiah perkenalanmu terhadap aku si hweesio!"
Setelah perkataan itu diucapkan keluar maka kontan dia memancing rasa geli dari semua orang, suara tertawa semakin keras lagi bergema diseluruh angkasa.
Suasana yang tidak menyenangkan dengan cepatnya sudah tersapu bersih dari angkasa kini tampaklah si pengemis aneh dengan tajamnya memperhatikan Tan Kia-beng beberapa saat kemudian sambil mengerutkan alisnya rapat rapat katanya, "Suara angin pada waktu mendekat ini semakin santar, apalagi beberapa hari yang lalu, Loote kenapa kau melepaskan kembali penyamaran itu? apalagi kedua buah barang pusaka yang paling mudah menarik perhatian orang itu justru kau gembol diluar tubuh?"
Jika didengar dari suara teguran dari dia jelas menunjukkan kalau si pengemis ini benar-benar menaruh rasa kuatir terhadap diri pemuda tersebut.
"Teguran dari Toako sedikitpun tidak salah" sahut Tan Kia-beng sambil tersenyum "Tetapi tindakan siauwte ini bukan muncul dari hatiku sendiri sebaliknya maksud hati dari Su Hay Sin Tou si pencuri sakti serta Pek-tok Cuncu si Rasul Racun, mereka menganggap diriku yang tidak pernah berbuat sesuatu urusan yang merugikan orang lain kenapa harus menyembunyikan asal usul yang sebenarnya? isauw te setuju dengan perkataan kedua orang 'Loote' itu makanya aku lantas copot kembali penyamaranku coba bayangkan aku orang she Tan adalah seorang lelaki sejati yang tidak jeri terhadap apapun, kenapa tindakanku harus bersembunyi sembunyi?"
"Kau bilang apa? kedua orang siluman tua itu adalah Lootemu?" seru si pengemis aneh yang secara tiba-tiba sambil mebelalakkan matanya.
Bukan saja si pengemis aneh yang merasa kebingungan sekalipun si toosu dengkil serta si hweesio berangasanpun merasa keheranan
Sambil tertawa Tan Kia-beng pun lantas menceritakan seluruh kisahnya bagaimana dia bia berkenalan dengan dua orang siluman tua itu, akhirnya dia menambahkan, "Saat ini mereka berdua lagi bertaruhan untuk menyelidiki siapakah majikan kereta kencana yang palsu itu dan rencana busuk apa yang sedang dia susun, kedua orang tua itu benar-benar menaruh perhatian untuk membantu diriku."
Kembali si pengemis aneh itu tertawa,
"Aku si pengemis tua cuma tahu kalau tindakan kedua orang siluman tua itu amat kukoay, tidak disangka manusia manusia seperti itu suka membantu dirimu, eei.... kau harus tahu mereka berdua adalah tenaga penting bagimu untuk memulihkan kembali Teh-leng-bun dikemudian hari."
Dia berhenti sejenak untuk kemudian dengan wajah serius sambungnya;
"Aku si pengemis tua memang lagi mencari dirimu, untuk merundingkan satu urusan yang maha penting, disini bukanlah tempat yang baik untuk bercakap-cakap, mari ikut aku!"
Beberapa orang itupun lantas pada mengikuti si pengemis aneh berkelebat menuju ke sebuah kuil bobrok yang kecil, sewaktu memasuki pintu kuil segera terciumlah bau arak yang semerbak menusuk hidung.
Kiranya pada pojokan kuil tersebut sudah tersedia arak serta ayam yang lagi dipanggang di atas api unggun.
"Hii hii haa haa hitung hitung ini hari kalian berdua sangat beruntung sekali" terdengar si pengemis itu tertawa terbahak-bahak, "Aku pengemis tua memangnya kebetulan lagi memanggang seekor ayam dan menyediakan segentong arak, mari sembari makan kita bercakap-cakap!"
Beberapa orang itupun lantas mulai menggerakkan tangannya menyikat ayam yang ada di atas panggang api itu
"Hoore.... sungguh wangi baunya, baru pertama kali ini aku merasakan kesedapannya" teriak Siauw Cian sambil bertepuk tangan gembira.
Si hweesio berangasanpun lantas mencari dua buah cawan bobrok untuk diisi penuh dengan arak dan diminum beramai2.
Tampaklah pengemis aneh sambil minum arak dan menyikat ayam panggang itu ujarnya.
"Kau datang kemari apakah lagi menguntit jejak dari Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong?"
Tan Kia-beng mengangguk, diapun lantas menceritakan kisah pertemuannya dengan Sak Ie anak murid Bu-tong-pay serta rasa curiga yang meliputi dirinya.
"Sejak semula aku si pengemis tua sudah menaruh curiga kalau orang ini amat berbahaya, dilaurnya baik padahal hatinya licik dan keji bagaikan serigala, dia pasti bukan jago kangouw seperti yang disiarkan di dalam Bulim" kata Si pengemis aneh itu, "Kali ini dia mengundang Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sekalian untuk mengunjungi perkampungan Thay Gak Cung tentunya sedang mengadakan suatu perundingan rahasia yang akan mengacau dunia persilatan."
"Eeei, bagaimana toako bisa tahu akan urusan ini?" tanya pemuda itu keheranan.
"Dikarenakan urusan kereta kencana ini hampir membuat kakiku jadi lumpuh saking lelahnya,” sambung si toosu dekil dengan cepat. "Bilamana cuma urusan ini saja tidak tahu bukankah sama saja nama dari Hong Jan Sam Yu jadi jatuh kecundang!"
Lalu dia mengambil cawan yang berisi untuk diteguknya hingga puas, setelah itu baru sambungnya, "Aku beritahu lagi satu berita penting kepadamu! Chuan Tiong Ngo Su yang menjagoi dua daerah besar itu kini sudah pada berangkat ke Barat untuk mencari perhitungan dengan orang-orang perkampunan Thay Gak Cung keramaian ini patutlah kita tonton!"
"Apakah Chuan Tiong Ngo Su yang membinasakan raja muda she Mo itu?"
"Kalau bukan mereka lalu ada siapa lagi" Tan Kia-beng seketika itu juga mengerutkan alisnya rapat rapat, hatinya benar-benar merasa amat gemas.
Dikarenakan hubungannya dengan Mo Tan-hong membuat diapun menaruh perhatian penuh terhadap pembalasan dendam atas kematian raja muda tersebut.
Si pengemis aneh yang melihat perubahan air mukanya segera mengetahui apa yang sedang dipikirkan di dalam hati.
"Kau jangan keburu nafsu dulu" serunya tiba-tiba. "Untuk sementara waktu lebih baik kita menonton saja jalannya pertempuran itu kemudian baru turun tangan sesuai dengan keadaan pada saat itu"
Tan Kia-beng yang melihat urusan yang dihadapinya semakin hari semakin bertambah kacau hatinya merasa benar-benar bingung.
Setelah mendengar perkataan itu dengan perlahan dia dongakkan kepalanya dan bertanya, "Cianpwee, cayhe ada beberapa persoalan yang tidak paham, harap Toako suka memberi petunjuk. Pertama, orang yang menyaru sebagai si Penjagal Selaksa Li Hu Hong itu mengapa harus berbuat demikian? bilamana dikatakan memfitnah mata atau dua kali sudah lebih dari cukup, kenapa dia terus menerus berbuat demikian, apakah dia tidak takut menimbulkan rasa gusar dari seluruh jago Bulim? Kedua bilamana orang yang menyaru itu benar-benar adalah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong, lalu apakah tujuannya dia berbuat demikian? Ketiga, kenapa Chuan Tiong Ngo Su mencelakai raja muda she Mo? Padahal raja muda she Mo itu adalah seorang yang patut dihormati dan anak buahnya tidak ada yang seberapa lihay...?”
Belum habis dia berkata si pengemis aneh itu sudah tertawa terbahak-bahak memutuskan perkataannya.
"Sudah cukup! sudah cukup! cukup tiga macam persoalan itu saja sudah mengharuskan aku si pengemis tua harus bercerita selama tiga malam lamanya."
"Soal pertama, perkataanmu sedikitpun tidak salah, bilamana dia bermaksud untuk memfitnah maka satu, dua kali sudah lebih dari cukup buat dia memancing timbulnya amarah dari para jago Bulim? soal ini aku si pengemis tua mengira ada dua kemungkinan, Pertama, untuk menutupi sesuatu rencana busuk yang lebih besar dia sengaja berbuat demikian agar perhatian dari pada jago-jago Bulim dari setiap partai besar tercurah di dalam peristiwa ini.
Kedua ada kemungkinan dia berbuat demikian untuk membalas dendam.
Sedang mengenai pertanyaanmu yang kedua hal itu cuma dugaan saja.
Bok Thian-hong memang mempunyai hal hal yang patut dicurigai tapi belum tentu dia yang berbuat, orang ini sering disebut sebagai Thay Gak Cungcu tetapi dimanahak perkampungan Thay Gak Cung yang sebenarnya?" bilamana dia benar-benar adalah orang dari kalangan lurus kenapa alamat perkampungannya tidak diberitahukan kepada orang-orang Bulim?
Disamping itu orang ini berwajah jujur tetapi hatinya amat licik dan keji apakah julukan "Cun Hong Hung Yu"nya itu didapatkan dari maha liciknya! sejak perbuatannya dengan Cun-cu palsu serta memancing para jago Bulim untuk mengangkat dia sebagai beng cu maka seluruh siasat liciknya sudah ketahuan, kali ini dengan amat rahasia dia membawa datang seorang tetamu dari gurun pasir hal ini semakin mencurigakan lagi kedudukannya.
Sedang mengenai urusan yang menyangkut raja muda she Mo biarlah aku si pengemis tua sedikit menceritakan sejarah dari raja muda tersebut, ada kemungkinan dari hal ini kau bisa memperoleh sedikit banyak keterangan buat dirimu.
Raja muda she Mo ini adalah menantu dari kaisar yang dengan menguasahi tiga daerah besar, dengan kedudukan serta hubungannya yang erat dengan kaisar sudah tentu pengaruh serta hartanya pun melebihi orang lain. Heei.... tidak disangka setelah raja muda itu meninggal kini cuma tinggal seorang perempuan yang lemah serta seorang kakek tua yang sudah pikun pula....
Apalagi dengan banyaknya para jago Bulim yang berhubungan dan bersahabat dengan raja muda itu, seharusnya dia tidak sampai menemui ajalnya dengan begitu mudah ditangan Chuan Tiong Ngo Su!"
“Menurut dugaanku si pengemis tua, ada dua kemungkinan yang menyelimuti hal ini.
Pertama, diantara anak buah dibawah pimpinan raja muda she Mo tentu ada orang yang secara diam-diam mengadakan hubungan dengan Chuan Tiong Ngo Su sehingga mereka bisa berhasil dengan amat mudah.
Kedua, anak buah yang tertinggal dibangunan raja muda di kota Tiang-sah itu begitu mendengar berita matinya raja mudanya sudah pada merampok seluruh harta kekayaannya sehingga ludes dan tertinggallah seorang gadis yang lemah gemulai....”
Berbicara sampai disitu dia berhenti karena pengemis aneh dapat melihat selama ini Tan Kia-beng mendengarkan dengan amat tanpa mengajukan mengajukan pertanyaan pertanyaan yang merugikan hatinya.
"Beberapa patah kata ini hanyalah menurut pandangan kasar dari aku si pengemis tua" sambungnya dengan cepat. "Urusan yang sebetulnya tidak sedemikian mudahnya, lain kali kau saja selidiki dengan perlahan-lahan".
Waktu itu arak sebanyak satu guci sudah tersikat habis, tampaklah si hweesio berangasan sambil berdiri menepuk nepuk perutnya dia berseru, "Perut sudah kenyang seharusnya cepat berangkat. hey pengemis busuk buat apa kau banyak bicara, ayoh jalan!"
Si pengemis aneh itupun segera bangun berdiri.
"Lebih baik kita berangkat secara berpisah saja!" katanya terhadap pemuda tersebut, "biar aku si pengemis tua berangkat satu tindak terlebih dulu dan akan meninggalkan tanda tanda rahasia disepanjang jalan, dan kalian menyusullah perlahan-lahan dari belakang urusan ini mempunyai sangkut paut yang amat besar dengan peristiwa di dalam Bulim harap kalian suka bertindak waspada."
Setelah memberi petuah seperlunya mereka bertiga baru meloncat dan berlalu dari sana
Dengan aras-arasan si "Pek Ih Loo Sat" Hu Siauw-cian pun bangun berdiri.
"Eeei, sebenarnya si pengemis aneh itu lagi membicarakan soal penting apa? sungguh membosankan sekali" omelnya.
Keadaan dari Tan Kia-beng jauh berbeda dengan keadaannya, dia yang mempunyai rasa tidak puas atas kejadian yang menimpa di dalam Bulim, walaupun hanya mendengar sepintas lalu saja terhadap perkataan dari pengemis tua itu tetapi dia bisa mendapatkan beberapa titik terang.
Oleh karena itu pikirannyapun tak terasa sudah terjerumus di dalam persoalan yang rumit itu.
Kini setelah mendengar omelan dari Hu Siauw-cian pikirannyapun jadi sadar kembali cepat-cepat dia meloncat bangun.
"Walaupun biasanya si pengemis aneh ini suka geguyon tetapi beberapa patah perkataannya itu sangat cengli bersamaan itu pula sudah memberi suatu bahan pertimbangan buat kita untuk memahami urusan yang sebenarnya"
Dengan cepat mereka berduapun meninggalkan kuil bobrok itu melanjutkan kejarannya ke depan dengan mengikuti tanda tanda rahasia yang ditinggalkan oleh si pengemis aneh itu.
Semakin lama keadaanpun semakin berbahaya, di tengah jalan sering sekali mereka berdua bertemu dengan jejak musuh hanya untung ilmu meringankan tubuh mereka sudah mencapai taraf kesempurnaan dan jauh berada di atas Bok Thian-hong sendiri sehingga walaupun di tengah jalan banyak halangan atau cegat cegatan maka dapat dilalui mereka dengan amat mudahnya.
Menanti senja sudah menjelang merekapun telah tiba disebuah mulut gunung yang amat curam dan berbahaya tanda rahasia yang ditinggalkan sipenemis aneh itupun mendadak lenyap tak berbekas.
Dengan terburu-buru Tan Kia-beng menarik tangan Hu Siauw-cian ke samping dan bisiknya dengan suara yang lirih.
"Sarang markas dari Tay Gak Cungcu ada kemungkinan terletak di dalam mulut lembah itu, kita harus bertindak lebih berhati-hati lagi untuk merembes masuk."
"Hmm! kalau memang kita masuk ke dalam masuklah dengan terang terangan dan menerjang dengan gagah buat apa sembunyi seperti cucu kura kura!" tegur Hu Siauw-cian sambil mencibirkan bibirnya.
Mendengar teguran itu Tan Kia-beng merasa hatinya sangat tidak puas.
"Bilamana kita tidak berbuat demikian bagaimana bisa berhasil menghasil rahasia mereka?" serunya.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara langkah yang amat ramai berkumandang datang semakin mendekat.
Mereka berdua dengan cepat merapatkan badannya ke belakang pepohonan untuk sembunyi.
Sreet!.... sreet! berturut turut lima sosok bayangan manusia dengan amat cepat laksana larinya sang kuda berkelebat masuk ke dalam mulut lembah itu.
"Apa mungkin Chuan Tiong Ngo Su sudah tiba?" pikir pemuda itu diam-diam.
Baru saja kelima sosok bayangan manusia itu tiba di depan mulut lembah mendadak dibalik batu terdengar suara bentakan yang amat keras bergema datang.
"Kawan kangouw darimana yang sudah datang? harap menghentikan langkahnya"
"Cuan Tiong Ngo Hiong!" sahut salah seorang diantara mereka berlima dengan suara berat.
Walaupun mulutnya menjawab tapi kakinya sama sekali tidak berhenti, mereka tetap melanjutkan gerakannya menerjang ke dalam mulut lembah tersebut.
Tampaklah dari balik tempat kegelapan berkelebat bayangan manusia berturut turut muncullah puluhan orang berbaju merah yang menghalangi perjalanan mereka.
"Cepat berhenti!" terdengar suara bentakan berkumandang keluar lagi. "Kalau tidak jangan salahkan kami akan menyalahi kawan kawan sekalian."
Tetapi mereka berlima bagaikan kilat cepatnya meneruskan terjangannya ke dalam.
Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema saling susul menyusul diikuti dengan rubuhnya berpuluh puluh sosok tubuh ke atas tanah, hanya di dalam sekejap saja mulut lembah itu kembali menjadi sunyi senyap sedang kelima sosok bayangan manusia tersebut tetap meneruskan gerakannya meluncur masuk ke dalam lembah.
Tan Kia-beng yang melihat kejadian yang amat mengerikan itu tidak kuasa menahan kegusaran hatinya.
"Hmm! sungguh kejam tindakannya".
Dengan meminjam kesempatan inilah cepat-cepat dia menarik tangan Siauw Cian dan bagaikan menggulungnya angin berlalu ikut menerjang masuk ke dalam lembah tersebut.
Setelah masuk ke dalam mulut lembah sampailah mereka disebuah selat yang penuh ditumbuhi pepohonan yang rindang, diantara pepohonan itu secara samar-samar terlihatlah sebuah bangunan perkampungan yang tinggi besar dengan mendiami tanah yang amat luas sekali.
Ketika memandang lagi ke arah lima sosok bayangan hitam itu kini sudah lenyap tak berbekas, diam-diam ia merasa terperanjat juga terhadap kedahsyatan dari ilmu silat Chuan
Tiong Ngo Kui ini, cukup ditinjau dari ilmu meringankan tubuhnya saja sudah lebih dari cukup untuk menjagoi Bulim.
Yang paling aneh lagi adalah sejak halangan yang pertama tadi hingga tiba di depan pintu perkampungan sama sekali tidak ditemui lagi para penjaga yang bersembunyi.
Hu Siauw-cian yang mempunyai hati paling cemas dengan cepat melayang melewati tembok bangunan itu dan berkelebat ke atas sebuah bangunan yang terang benderang.
Tan Kia-beng yang menyusul dari belakang, setelah dilihatnya situasi disekitar tempat itu dia menyusul Siauw Cian meloncat ke depan.
Bangunan perkampungan itu sekalipun besar tapi bukanlah tempat penting dari Thay Gak Cungcu, setiap bilik di setiap ruangan semuanya berada di dalam keadaannya begitu tenang dan sunyi sehingga terasa amat menyeramkan.
Dengan amat ringannya mereka berdua meloncat ke atas wuwungan rumah dan menengok kekiri kekanan untuk memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.
Tampaklah disebuah ruangan besar yang terang benderang duduklah berpuluh puluh orang jago Bulim diantara mereka kelihatan Ciangbunjin dari Go-bie pay, Loo Hu Cu, "Hwee Im Poocu" Ong Ciang, Sak Ie itu anak murid dari Bu-tong-pay, Chiet Poh Tui Hun, Tiauw Tong, Im Yang Siauwsu, Hauw Cian, Jien Liong So, Ong Hong Ci, serta Sin ci Lie Ie sian sekalian.
"Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong Le Han Hwecu serta tetamu dari gurun pasir itupun kelihatan ada di dalam ruangan kelihatannya mereka lagi merundingkan suatu urusan yang amat penting.
Terdengar Bok Thian-hong tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Haa.... haa.... bagaimana sikap aku orang she Bok terhadap kawan kawan Bulim siapapun tahu pertama aku tidak suka mencari keuntungan diri sendiri dan berharap kalau situasi di dalam dunia persilatan selalu tenang aman dan terhindar dari segala perbuatan jahat saling bunuh membunuh, karena itulah cayhe memberanikan diri untuk mengajukan diri memimpin saudara saudara sekalian untuk melenyapkan banjir darah yang sedang mencengkeram seluruh dunia kangouw.
"Heeei.... tetapi kalau memangnya kawan kawan Bulim pada menaruh curiga kalau ak uorang she Bok bermaksud untuk merajai Bulim maka hal itu adalah suatu kejadian yang benar-benar menyedihkan sekali.
“Hmm! selama ini tujuh partai besar Bulim selalu bekerja sama di dalam menghadapi segala urusan" sambung Loo Hu Cu dengan gemas bercampur gusar. "siapa sangka kali ini ada berjalan menurut rencana sendiri sendiri bahkan ada orang yang memaki pinto tidak mengerti urusan. Hmmm! hmmm! sungguh kurang ajar sekali!"
Hwee Im Poocu pun tertawa dingin.
"Selama ini tujuh partai besar selalu memimpin Bulim dan tidak pandang sebelah matapun kepada orang lain" katanya. "Menurut penglihatan cayhe ciangbunjin ciangbunjin dari tujuh partai besar itu tak ada yang bisa dihormati, bukannya aku orang she Ong mencarimuka, terus terang saja aku katakan Bok Cuncu lah orang pertama yang paling aku kagumi dan merasa pantas untuk menjabat sebagai pimpinan di dalam usaha pengamanan dunia persilatan.
"Haa.... bagus, bagus!" teriak Bok Thian-hong kegiranan, "Ong heng benar-benar terlalu memandang tinggi diri cayhe!
sejarah dari tujuh partai besar sudah lama dan banyak terdapat jago-jago berbakat dalam hal ini benar-benar patut dikagumi, sebaliknya aku orang she Bok tidak lebih cuma manusia yang punya nama kosong belaka kali ini aku memberanikan diri untuk mengumpulkan seluruh kekuatan Bulim untuk bersama-sama menghadapi majikan kereta kencana kesemuanya ini adalah demi kebaikan kita bersama.
---0-dewi-0---
JILID: 19
Untung saja saudara saudara suka memandang muka cayhe dengan mempercayakan urusan ini kepadaku, semoga sama usaha kita untuk melenyapkan iblis tua itu berhasil dengan sukses dengan demikian aku orang she Bok pun bisa bertanggung jawab dihadapan umum."
Tampaklah tetamu dari gurun pasir itu Bun Ih Peng dengan pandangan yang tajam menyapu sekejap keseluruh kalangan, baru saja dia bermaksud berkata, mendadak suara suitan aneh yang amat menyeramkan berkumandang datang disusul berkelebatnya lima gulung bayangan hitam dari tengah udara dan menancap di atas meja persegi delapan di tengah ruangan besar itu.
Kelima gulungan bayangan hitam itu bukan lain adalah lima buah panji kecil berdasar warna hitam dengan tulisan warna putih, di tengahnya terukirlah dua karat tulang putih yang berbentuk "X", keadaan yang amat menyeramkan itu seketika itu juga membuat suasana di tengah kalang jadi kagum sedang air muka para jagopun pada berubah hebat.
Tetapi paras muka Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong masih tetap tenang-tenang saja, diapun lantas bangkit berdiri dan menjura.
"Saudara berlima dari Chung Tiong sudah datang mengapa tidak unjukkan diri untuk bertemu?" serunya sambil tertawa.
Baru saja dia habis berkata diempat penjuru ruangan besar itu muncullah suara tertawa yang amat menyeramkan disusul dengan munculnya lima orang manusia aneh di tengah kalangan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun.
Bukan para jago yang hadir di tengah kalangan saja, sekalipun Tan Kia-beng serta Hu Siauw-cian yang bersembunyi dibalik wuwunganpun tidak mengetahui bagaimana mereka bisa muncul secara tiba-tiba di tengah kalangan itu.
"Hee.... hee.... tidak kusangka orang-orang Bulim di daerah Tionggoan tidak lebih hanyalah manusia manusia tikus yang beraninya sembunyi sembunyi seperti cucu kura kura hal ini sungguh membuat aku orang she Bun merasa geli sampai sakit perut" seru Bun Ih Peng sitetamu dari gurun pasir itu sambil tertawa dingin.
"Ooow begitu?" teriak seorang kakek tua berperawakan tinggi besar, berwajah putih pucat sambil tertawa seram,
Ujung bajunya dikebutkan ke depan segulung angin dingin yang membawa bau amis yang menusuk hidung segera menggulung dengan hebatnya ke depan.
Dengan dinginnya Bun Ih Peng mendengus, tanpa bangun berdiri lagi dia membabatkan telapak tangannya ke depan melancarkan satu pukulan yang jauh lebih dahsyat lagi.
"Braaak....!" dengan cepat kedua gulung angin pukulan yang santer itu terbentur satu sama lain sehingga
menimbulkan angin kencang di tengah ruangan seketika itu juga beberapa batang lilin besar yang terpasang di dalam ruangan bergoyang tiada hentinya hampir hampir dibuat padam.
Air muka Bun Ih Peng segera berubah hebat mendadak dia meloncat bangun sedang tempat duduknya sudah terpukul hancur menjadi beberapa bagian dan rubuh ke atas tanah.
Hanya karena kurang waspada dan berlaku sedikit gegabah dia sudah menderita kerugian besar sudah tentu membuat hati tetamu dari gurun pasir ini merasa tidak terima, air mukanya yang dingin kaku secara sama-sama muncullah napsu untuk membunuh.
Tubuhnya dengan cepat bergerak maju telapak tangannya disilangkan di depan dada siap melancarkan serangan balasan.
Pada saat itulah Bok Thian-hong mendadak bertindak maju mencegah, "Haa.... haa.... kita semua adalah kawan, harap Bun heng jangan salah paham!"
Sembari berkata dia lantas kirim dua kerlingan ke arah tetamu dari gurun pasir ini
Orang yang baru saja turun tangan ini bukan lain adalah lootoa dari "Chuan Tiong Ngo Su" dengan gelar "Siauw Bian Coa Sim" atau simuka riang berhati ular Go Tou Seng, dia jadi orang teramat kejam, licik dan banyak akal.
Sewaktu dilihatnya Bok Thian-hong unjukkan dirinya tidak terasa lagi dia sudah tertawa dingin.
"Heee.... hee.... sungguh enak sekali perkataan dari Bok heng, tanpa sebab kau menggunakan nama dari anak buahku, "Chuan Lam Sam Sah" untuk menipu kitab pusaka "Sin Tok
Poo Liok" Hmm! dengan perbuatan itu apakah masih memandang sebelah mata kepada Chuan Tiong Ngo Kiat?"
Bok Thian-hong yang begitu mendengar dia mengungkat kembali persoalan ini dalam hati diam-diam merasa amat terperanjat.
Pengaruh Chuan Tiong Ngo Kui di daerah Si Lam amat kuat dan luas sekali kali ini mereka sengaja datang mencari balas bukan saja akan merusak rencananya yang sudah disusun masak masak bahkan telah memecahkan rahasianya sekalian, hal ini bilamana tidak cepat-cepat dihadapi ada kemungkinan seluruh usahanya selama ini akan menemui kegagalan total.
Walaupun dalam hati dia merasa terperanjat tetapi tidak sampai ditunjukkan pada paras mukanya, malu terdengar dia berbatuk batuk ringan.
"Tentang urusan ini harap Go heng jangan salah paham!” serunya. “Coba bayangkan sendiri saja raja muda Mo sangat setia dan bakti terhadap negara, tidak disangka Chung Lam Sam sah membinasakah juga bilamana cayhe tidak menghukum mereka bagaimana tanggapan orang-orang Bulim terhadap sikapku ini? sedang mengenai anggapan saudara cayhe telah menggunakan nama anak buahmu untuk menipu kitab pusaka Sian Tok Poo Liok hal ini sama sekali tidak benar cayhe rasa kalian tentunya sudah menaruh rasa kesalah pahaman terhadap diriku."
"Heee.... heee.... tindakanku untuk membela pembesar setia boleh dibuktikan hadapan umum, kalau kau tidak percaya tanyakan kepada para jago-jago Bulim lainnya."
Terang terangan raja muda Mo mati di tangan Chuan Tiong Ngo Kui tapi dengan halus Bok Thian-hong sudah singkirkan tanggung jawab itu ke atas tubuh Chung Lam Sam sah
sekalipun Chuan Tiong Ngo Kui lebih ganaspun sudah tentu tidak suka mengaku terus terang kesalahannya dihadapan para jago Bulim, kini mendengar perkataan Bok Thian-hong sangat tepat sekali merekapun tidak leluasa untuk mengumbar hawa napsunya selanjutnya.
Karena itu terdengar dia tertawa dingin kembali.
"Sekalipun maksud Bok heng adalah menguntungkan kami tetapi haruslah kau ketahui negara memiliki peraturan negara sedang rumah mempunyai peraturan rumah yang tersendiri, sekalipun Chuan Lam Sam sah telah berbuat jahat seharusnyalah kami bersaudara yang turun tangan memberi hukuman, kenapa kau ikut campur di dalam urusan ini? karena itu malam ini sengaja kami datang kemari untuk minta beberapa petunjuk dari Bok heng."
Walaupun nada ucapannya masih keras dan amat mendesak tetapi jika dibandingkan dengan nada suara semula jauh lebih lunak beberapa bagian.
Bok Thian-hong yang mengerti akan hal ini mana suka melepaskan kesempatan itu dengan demikian saja, buru-buru dia merangkap tangannya menjura.
Urusan itu kesemuanya telah cayhe perbuat dengan memberanikan diri harap saudara berlima suka memaafkan kesalahanku itu!"
Biji matanya berputar putar memandang sekeliling tempat itu lalu sambungnya lagi, "Kini Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong beserta anak muridnya Tan Kia-beng yang dengan mengandalkan senjata pusaka Kiem Ceng Giok Hua Kiam sudah turun tangan menjagali seluruh jago juga lihay dari Bulim kami sekalian kini lagi merasa murung akan urusan tersebut.
Disamping itu putri dari raja muda Mo sudah memperoleh kitab pusaka Sian Tok Poo Liok serta ilmu silat dari Ui Liong-ci sihidung kerbau itu, lain kali bilamana dia mendapat berita tentang terbunuhnya orang tua serta keluarganya dia pastilah akan menaruh kesalah pahaman juga kepada saudara berlima harap di dalam urusan ini kalian bisa berjaga jaga.
Mendengar perkataan itu simuka berseri Go Toa Seng mendengus dengan dinginnya sinar matanya yang tajam dengan perlahan menyapu sekejap ke arah empat kawan lainnya, hanya dalam sekejap itulah dia sudah bertukar pendapat dengan saudara saudara lainnya.
Bok Thian-hong yang melihat perkataannya yang halus itu sudah memperoleh hasil, kembali ia menghela napas panjang.
“Menurut berita yang tersiar Mo Cuncu serta si anakan iblis Tan Kia-beng ada ikatan percintaan yang mesrah diantara mereka berdua yang satu memiliki pedang pusaka yang lain memiliki kitab pusaka bilamana dikemudian hari mereka terjunkan diri bersama-sama ke dalam dunia kangouw keadaan tentu akan semakin runyam lagi, saudara berlima pada memiliki ilmu silat yang amat lihay, harap kalian suka unjukkan diri untuk ikut membantu kami demi tertumpasnya bibit bencana bagi seluruh keselamatan dunia kangouw.”
Dia sengaja mengucapkan kata-kata "Pedang Pusaka" serta "Kitab Pusaka" dengan kata-kata berat dan tegas justru menginginkan agar kelima orang tikus itu memperhatikan lebih jauh.
“Padahal sejak semula Chuan Tiong Ngo Kui sudah mendengar munculnya pedang pusaka Kiem Cing Giok Hun Kiam di dalam dunia kangauw, apalagi kitab pusaka Sian Tok Poo Liok itupun merupakan barang yang diinginkan dan diincar mereka sejak dulu, hanya saja pada tempo dulu
mereka berluma lagi berlatih sebuah barusan yang bernama Ngo Kui Im Hong Kiam Tin" sebagai pertemuan puncak para jago digunung Ui san pada kemudian hari maka tak ada kesempatan buat mereka untuk ikut campur.”
“Kali ini mereka menuju ke Barat untuk mencari balas dendam dengan Thay Gak Cungcu justru hanya ingin mencari tahu jejak dari barang-barang pusaka itu.”
Kini setelah mendengar perkataan dari Thay Gak Cungcu yang justru merupakan apa yang ingin diketahui dalam hati lantas mereka rada berdebar.
Maka terdengarlah Loo toa dari Chuan Tiong Ngo Kui itu kembali tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haa haa haaa.... Ih heng mengandalkan kepandaian apa untuk ikut memberi bantuan menjaga keamanan dari Bulim, tetapi bilamana Bok heng punya maksud begini maka Ih heng sekalian suka juga mengiringi dari samping untuk bersama-sama pergi menghadapi iblis pengacau ketenteraman Bulim itu."
Tan Kia-beng yang menonton semua kejadian ini dari samping lantas merasakan hatinya amat gemas.
"Hmm! hawa bau kalau bertemu tentu akan melengket sungguh tepat sekali perkataan ini" makinya dalam hati.
Tetapi dari hal ini pula dia lebih mengetahui bagaimanakah sifat yang sebenarnya dari Thay Gak Cungcu ini.
Waktu itulah di tengah ruangan besar sudah ramai dengan suara tertawa yang memekikkan telinga, waktu itulah Bok Thian-hong lagi memperkenalkan Ngo Kui kepada para jago lainnya.
Hu Siauw-cian adalah seorang gadis yang suka bergerak, setelah melihat keadaan tersebut sejak semula merasa rada tidak sabar apalagi kini beberapa kali Bok Thian-hong bermaksud hendak menghadapi mereka ayah beranak, hatinya jadi semakin gusar lagi.
Beberapa kali dia bermaksud untuk loncat turun, tapi untung keburu dicegah oleh Tan Kia-beng.
Masih untung saja karena suasana yang ramai dibawah ruangan itu membuat mereka pada tidak tahu kalau di atas atap masih ada orang lagi mengintip.
---0-dewi-0---
Baru saja mereka duduk kembali ke tempatnya masing-masing mendadak terasa ada segulung angin berlalu, tampaklah seorang gadis mua berbaju hijau bagaikan seekor burung walet dengan gesitnya sudah melayang rurun masuk ke dalam ruangan itu.
Melihat munculnya gadis tersebut dalam hati Tan Kia-beng merasa rada bergera, "Nukankah gadis ini adalah gadis yang memaki dirimu sebagai anakan iblis sewaktu berada diloteng arak tempo hari?"
Cuma saja tempo hari dia membelakangi dirinya sehingga tak bisa melihat dengan jelas bagaimana wajahnya.
Tetapi kini dia bisa melihat dengan terangnya bagaimana wajah cantik dari gadis berbaju hijau itu.
Tampaklah gadis itu mempunyai paras yang patut disayangi, cuma sayang alisnya melentik sehingga kelihatannya agak dingin dan suram, wajahnya kaku tak berperasan sedang sepasang matanya yang besar bulat dengan tawarnya menyapu sekejap keseluruh ruangan.
Begitu melihat munculnya gadis terburu-buru Bok Thian-hong bangun berdiri dan menjura.
"Nona Hong sudah datang!” serunya.
Dia tidak melanjutkan kata-kata selanjutnya lalu menyingkir ke samping sedang si tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng pun waktu sudah bangun berdiri dan menjura dengan hormatnya terhadap gadis tersebut.
Dengan gaya yang amat jumawa gadis itu mengulapkan tangannya mengundurkan ke kedua orang itu.
"Dari mana datangnya orang-orang ini?" tanyanya dengan dingin.
Terburu-buru Bok Thian-hong kembali memperkenalkan para jago itu kepada gadis tersebut.
"Toosu ini adalah ciangbunjin dari Go-bie pay, saudara berlima ini adalah Chuan Tiong Ngo Kui, saudara itu adalah...."
Loo Hu Cu jadi orang paling licik, sewaktu dilihatnya Bok Thian-hong sangat menaruh hormat kepada gadis itu, dalam hati dia lantas tahu kalau orang ini tentu mempunyai asal usul yang besar, karenanya dia pun lantas bangun berdiri dan menjura.
Si Siauw Biau Bian Coa Sim dari Chuan Tiong Ngo Kui yang selalu tersungging senyuman pada wajahnyapun lantas mengangguk pula untuk memberi hormat kepada gadis itu.
Diantara mereka cuma Sak Ie itu anak murid Bu-tong-pay saja yang melengos ke samping dan mendengus sewaktu diperkenalkan kepadanya, agaknya sejak tadi dia sudah merasa tidak kerasan dengan sikap congkak dari gadis berbaju hijau itu sehingga hatinya terasa amat gemas.
Dengan gusarnya gadis berbaju hijau itu segera menerjang kehadapannya.
"Siapakah kau? Berani betul, menghina nonamu!" bentaknya.
"Siapakah cayhe adanya, kaupun tak usah banyak urus, aku merasa tidak ada keharusan untuk melaporkan namaku!"
"Aku beritahu padamu.... lain kali lebih baik kau sedikit berhati-hati. Hmm! Bilamana sampai menggusarkan nonamu lagi jangan harap ada kebaikan buat dirimu."
"Haa haa haa kenapa kau tak bilang saja bilamana sampai menggusarkan Toa yamu, sama saja tak ada kebaikan buat dirimu?"
Sejak mendatangi daerah Tionggoan ini belum pernah gadis berbaju hijau ini menemui orang yang berani begitu kurang ajar terhadap dirinya saking kekinya dia lantas angkat tangannya mengirim satu gaplokan ke atas pipi Sak Ie.
Sak Ie yang sejak kecil memperoleh didikan keras dari Thian Bok Tootiang selama terjun di dalam dunia kangouw pun belum pernah mendapatkan gangguan apapun sudah tentu diapun tidak memandang sebelah matapun terhadap budak liar dari gurun pasir ini.
Dan begitu melihat datangnya tamparan tersebut dengan gesitnya dia lantas menyingkirkan kesamping.
"Heee.... heee.... kau sungguh sungguh bermaksud untuk menantang Toa yamu?" serunya sambil tertawa dingin.
Kini air muka gadis berbaju hijau itu sudah berubah jadi hijau membesi, tak sepatah katapun diucapkan keluar.
"Ciiinng....!" medadak dia mencabut keluar pedang yang tersoren pada punggungnya lalu berturut turut melancarkan tiga serangan dahsyat membabat ketubuh Sak Ie.
Kecepatan gerakannya luar biasa sekali, jurus serangannya dan aneh, buas dan telengas jauh berbeda dengan ilmu pedang aliran Tionggoan
Walapun Sak Ie sendiri adalah seorang ahli ilmu pedang saat itupun kena didesak mundur sejauh tujuh delapan depa hingga dipojok ruangan dia baru berhasil mencabut keluar pedangnya.
Nona itu sama sekali tidak mengalah kepada siapapun, pedangnya kembali berkelebat melancarkan tiga serangan dahsyat membabat tubuhnya.
Seketika itu juga seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan hawa pedang yang menyeramkan, angin dingin menyambar dan menderu deru menggigilkan tubuh, dua kaki di sekeliling tempat itu kontan diliputi oleh selapis dinding pedang yang amat kuat.
Sak Ie yang melihat nona itu berhasil menyalurkan hawa murninya diantara berkelebatnya sang pedang dalam hati merasa rada bergidik, seluruh perhatiannya segera dipusatkan menjadi satu sedang pedangnya pun mulai bergerak melancarkan serangan balasan.
Setengah sinar hijau yang menyilaukan mata dengan cepatnya sudah meluncur ke tubuh gadis tersebut.
Perduli bagaimanapun juga Sak Ie tetap merupakan seorang jagoan pedang yang kenamaan walaupun hawa pedang yang dilancarkan gadis itu memenuhi seluruh angkasa tetapi berhasil juga dihalangi oleh sinar hijau tersebut pada jarak tiga depa dari tubuhnya.
Thay Gak Cungcu yang melihat mereka berdua sudah bergebrak dengan amat serunya tanpa berhasil dicegah, terburu-buru dia berjalan maju ke depan sambil goyangkan tangannya berulang kali
"Berhenti.... berhenti.... apa urusan biarkan kita bicarakan baik-baik saja, buat apa bergebrak menggunakan kekerasan? Sak heng cepatlah berhenti, kita bicarakan secara baik-baik saja...."
"Heee.... heee.... Bok heng tidak usah mencegah lagi!" tegur sitetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng secara tiba-tiba dengan suara yang amat dingin. "Biarlah kawan kawan Tionggoan pada mengerti bagaimana dahsyatnya ilmu sakti dari luar daerah. Heee heee."
Jika didengar dari nada suaranya yang dingin sombong dan penuh kepercayaan itu agaknya ia sudah merasa yakin kalau malam ini Sak Ie pasti menemui kekalahan.
Tan Kia-beng yang mengerti dan memahami ilmu pedang dari berbagai aliran cukup sekali pandang tentu mengerti dimana letaknya kehebatan ilmu pedang tersebut, tetapi saat ini dia tidak mengerti ilmu pedang apakah yang digunakan nona berbaju hijau ini
Dia cuma merasa ilmu pedang yang digunakan ini sangat berlainan sekali dengan ilmu pedang dari Tionggoan, bukan saja gerakannya amat ganas bahkan telengas banyak jurus jurus serangan yang sebenarnya tidak mungkin bisa digunakan mendadak dia dapat melancarkan gerakan tersebut dengan dahsyatnya.
Ketika memandang pula ke arah Sak Ie tampaklah paras mukanya kini sudah berubah menjadi amat keren dan serius, gerak geriknya mantap dan berat, setiap serangannya pasti
menggunakan jurus jurus serangan aliran Bu-tong-pay yang maha dahsyat gerakannyapun merupakan kebalikan dari ilmu pedang pihak lawan, hal ini membuat hatinya diam-diam memuji.
"Ilmu pedang yang bagus!"
Masing-masing pihak dengan seru dan dahsyatnya laksana curahan hujan badai saling serang menyerang sebanyak tiga puluh jurus tanpa dapat diketahui siapa yang menang siapa yang kalah.
Pada biasanya cukup gadis berbaju hijau itu melancarkan tiga jurus atau paling banyak lima gerakan pihak lawan sudah tentu menemui ajalnya, tidak disangka ini hari sekalipun ia sudah menggunakan seluruh kepandaiannya belum juga berhasil mengalahkan pemuda dihadapannya ini, tak terasa dia jadi cemas bercampur gusar.
"Aku tidak percaya kalau tidak berhasil membereskan kau bajingan kecil" bentaknya nyaring.
Gerakan pedangnya segera berubah, mendadak di dalam sekejap mata dia melancarkan tujuh serangan dahsyat membuat seluruh angkasa dipenuhi dengan suara desiran yang amat tajam.
Setelah mengalami pertempuran yang amat sengit ini terhadap ilmu pedang pihak lawan Sak Ie sudah rada memahami mendadak dia tertawa panjang
“Haaa.... haaa.... aku orang she Sak pun tidak mau percaya dengan mengandalkan beberapa jurus dalam ilmu cakar ayammu itu bisa mengapa apakan diriku!"
Pergelangannya kembali digerakkan diantara suara suitan nyaring sinar hijau kembali memanjang ke depan sedang
suara babatan pedangpun menderu deru laksana tiupan topan menggulung ke arah datangnya serangan nona berbaju hijau itu.
Sak Ie yang merupakan murid termuda dari Thiat Bok Tootiang tetapi karena memiliki bakat yang luar biasa apalagi kini dia sudah memperoleh rahasia ilmu pedang Bu-tong-pay yang paling lihay membuat usianya sekalipun masih muda tetapi ilmu pedangnya jauh lebih tinggi satu tingkat dari Leng Hong Tootiang itu ciangbunjin dari Bu-tong-pay.
Dalam keadaan gusar kini dia melancarkan serangannya dengan sepenuh tenaga seketika itu juga membuat seluruh angkasa dipenuhi dengan desiran angin serangan laksana mengamuknya naga di tengah samudra, sungguh amat dahsyat sekali.
Tidak sampai tiga, lima jurus nona berbaju hijau itu sudah kena didesak mundur sejau lima, enam langkah ke belakang dalam keadaan payah sekali.
Si tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng yang berdiri ditepi kalangan sewaktu dilihatnya keadaan dari gadis itu amat menyedihkan paras mukanya berubah hebat, diantara berkelebatnya sinar yang menyilaukan mata kipas yang terbuat dari besi baja itu sudah berada ditangannya.
Sak Ie yang melihat kejadian itu segera tertawa dingin hawa murninya ditarik panjang panjang dari dalam pusar mengelilingi seluruh tubuh
Ilmu pusaka aliran Bu-tong-pay yang paling dahsyatnya Jan Jan Pek Swie Siuw Tiong Han dengan cepat dilancarkan ke depan.
Sinar pedang menyilauka mata hawa pedang berdesir menderu deru serentetan sinar hijau yang amat tajam dengan hebatnya mengurung seluruh tubuh gadis berbaju hijau itu.
Bun Ih Peng jadi semakin cemas lagi, terburu-buru dia maju ke depan sambil membentak keras.
"Jangan turun tangan jahat aku orang she Bun datang minta pengejaran!"
Dengan dahsyatnya kipas besi yang dipentangkan lalu melancarkan tiga jurus serangan mengancam jalan darah "Hong Wi" "Kwan Peng" serta "Cing Cu" tiga jalan darah penting, dan angin serangan ia mendesir tajam yang membentuk sinar kalur di tengah udara.
Dan pada saat yang bersamaan pula, sekonyong konyong.
Sinar emas berkemilauan, tiba-tiba nona berbaju hijau itu sudah mencabut keluar sebuah senjata yang aneh sekali mengelilingi seluruh tubuhnya dengan disertai suara desiran keras.
Seketika itu juga sinar emas memenuhi angkasa kemudian dengan cepat mengurung seluruh tubuh Sak Ie
Inilah senjata rahasia yang paling lihay dari perbatasan senjata rahasia jarum "Pek Bu Kiem Uh Yen Wie Ciam" dimana ujung senjata itu sudah dipolesi dengan racun dahsyat yang bisa disembunyikan dibalik cambuk Kiem Uh Pian sehingga dapat melukai orang yang ada di tempat jauh.
Sak Ie yang sedang menggunakan jurus yang terlihay dari ilmu pedang Jan Pek Swie Siauw Tiong Han" untuk mengalahkan nona berbaju hijau itu mendadak melihat Bun Ih Peng melancarkan serangan dari sisinya memaksa dia mau tak mau harus membubarkan jurus serangannya untuk melindungi
diri sendiri, dengan menggunakan kesempatan yang luang itulah nona berbaju hijau itu sudah mengeluarkan cambuk kelabang emasnya dan sebatang jarum emas ke depan.
Masing-masing pihak berdiri pada jarak yang amat dekat apalagi masih berada di dalam keadaan kepepet, dengan cepat Sak Ie memutar pedangnya melindungi wajahnya sedang tangan serta kakinya sudah kena dihajar oleh beberapa batang senjata itu
Jarum beracun ini amat lihat sekalidaya bekerjanya, begitu terkena seluruh tubuh terasa jadi kaku, Sak Ie amat terperanjat dengan cepat dia kerahkan tenaga dalam untuk menutup jalan darahnya agar racun tidak menjalar ke tempat lain.
Sitetamu dari gurun pasir sewaktu melihat Sak Ie sudah kena dihajar oleh senjata rahasia kipas besinya dengan dahsyatnya melancarkan kembali tiga serangan gencar mendadak tubuhnya sedangkan nona berbaju hijau itupun dengan paras muka penuh dengan napsu membunuh membabatkan cambuknya ke arah depan.
Sak Ie tidak menyangka kalau mereka berhati kejam sangat telengas, di dalam keadaan cemas bercampur gusar dia membentak keras.
Pedangnya digetarkan membentuk sinar hijau yang amat tajam.
"Traaang.... trang....!" dengan keras lawan keras dia menangkis datang serangan keras dari Bun Ih Peng.
Walaupun tenaga dalam yang dimilikinya amat dahsyat tetapi berhubung saat ini dia lagi menutup jalan darahnya, membuat Sak Ie jadi menemui kerugian pedangnya kena
digetarkan oleh kipas besi Bun Ih Peng segera miring ke samping dan mendengus tiada hentinya.
Bersamaan waktu itu pula pedang dari nona berbaju hijau itu sudah meluncur datang ke depan dadanya.
Peristiwa ini terjadi bersamaan waktunya sekalipun kepandaian silat Sak Ie amat tinggipun belum tentu bisa menolong dirinya dari serangan tersebut.
Kelihatannya pemuda dari Bu-tong-pay bakal mati dibawah serangan tiga jurus dari pihak lawan, tiba-tiba....
"Kalian berdua mengerubuti seorang pemuda, sungguh tidak tahu malu" terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari tengah udara
Tampaklah bayangan putih berkelebat segulung angin pukulan berhawa dingin dengan cepat menekan ke arah bawah
Gadis berbaju hijau yang melihat bilamana dirinya tidak lekas lekas menarik serangan dan mundur ke belakang akan terluka dibawah serangan pukulan berhawa dingin itu terburu-buru menarik kembali senjatanya ke belakang dan meloncat mundur sejauh lima depa.
Dan bersamaan dengan munculnya angin pukulan berhawa dingin itulah segulung angin pukulan yang jauh lebih dahsyat lagi sudah menggulung ke arah Bun Ih Peng sehingga tubuhnya tergetar mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan
Para jago yang sedang asyik menonton jalannya pertempuran sengit di tengah kalanan itu tanpa ada seorangpun yang turun tangan mencegah terjadinya peristiwa yang menyedihkan ini mendadak melihat munculnya sepasang
muda mudi dari atas wuwungan mendadak mundur gadis berbaju hijau serta Bun Ih Peng tak terasa pada menjerit kaget
Sekali pandang saja Hwee Im Poocu sudah mengenali kembali kalau orang yang baru saja datang itu bukan lain adalah Hu Siauw-cian serta Tan Kia-beng tidak kuasa lagi dia menjerit kaget.
"Siluman perempuan...."
“Hmmm! anakan iblis sungguh nyalimu amat besar!" dengus Loo Hu Cu pula dengan dingin.
Diantara orang-orang yang hadir di sana Hu Siau Cian paling membenci Thay Gak Cungcu itu ilmu pukulan Tok Yen Mo Ciang nya sesudah berhasil mendesak mundur gadis berbaju hijau itu dia lantas berkelebat ke depan menubruk ke arah Bok Thian-hong.
Mendadak di tengah kalangan berkumandang kembali dua bentakan nyaring, Jen Liong So, Ong Hong Kie serta Sin ci Lie Ih Sian bersama-sama sudah meloncat ke depan menghalangi perjalanannya.
Sie poa besi ditangan Lie Ih Sian dengan disertai suara yang nyaring mengancam kepalanya sedang cakar setan dari Oh Hong Kie mencengkeram ke arah dadanya.
Melihat kejadian itu Hu Siauw-cian jadi amat gusar napsu membunuh mulai melintasi wajahnya.
"He he hee.... kalian mencari mati ya? hee he...." serunya sambil tertawa dingin. "Hmm! jangan menyalahkan nonamu akan turun tangan kejam terhadap kalian!"
Tubuhnya yang langsing bagaikan putaran roda kereta dengan cepatnya meluncur ke depan, sepasang telapak tangannya didorong ke depan menghajar musuhnya.
Kepandaian silatnya ini bukan saja diperoleh dari ibunya Ling Lang Sian Ci bahkan memperoleh juga didikan keras dari ayahnya si Penjagal Selaksa Li Hu Hong
Oleh karenanya walaupun berada dibawah kerubutan dua orang jagoan berkepandaian tinggi dengan gesitnya dia masih bisa melawan dengan seenaknya.
Sebaliknya Tan Kia-beng setelah meloncat turun dari wuwungan rumah dan mendesak mundur Bun Ih Peng dia lantas berjalan ke sisi Sak Ie
"Su heng bagaimana dengan keadaan lukamu? tidak mengapa bukan?
Untuk sementara waktu masih bisa dipertahankan! sahut Sak Ie sambil menggigit kencang bibirnya.
Padahal waktu itu wajahnya sudah berubah jadi menghijau, tubuhnya bergoyang tiada hentinya, dengan cepat Tan Kia-beng merangkul dirinya.
“Mari aku bopong kau untuk meninggalkan tempat ini!”
Gadis berbaju hijau itu sewaktu melihat munculnya Tan Kia-beng disana segera menjerit kaget.
"Aaa.... kau?!!"
Dari nada ucapannya seperti pernah berkenalan saja
Tan Kia-beng yang sama sekali tidak kenal dia segera mendengus dingin dia pun tak mengucapkan sepatah katapun.
Si tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng yang kena didesak mundur oleh Tan Kia-beng di hadapan umum mana sudi
menyerah kalah dengan begitu saja, maka kembali dia membentak keras dan mendesak maju lagi ke depan.
"Jangan pergi dulu" teriaknya, “Aku orang she Bun ingin minta beberapa petunjuk darimu"
Telapak tangannya didorong ke depan melancarkan satu angin pukulan yang amat cepat dan dahsyat laksana gulungan ombak di tengah samudra, agaknya dia bermaksud untuk mengembalikan rasa malunya tadi dengan pukulan ini karena itu tenaga dalamnya sudah dikerahkan mencapai sepuluh bagian.
Tan Kia-beng yang lagi membimbing tubuh Sak Ie karena takut pukulan tersebut mengenai tubuhnya dengan cepat dia miring ke samping telapak tangannya dengan membentuk setengah lingkaran dibabat ke depan menyambut datangnya serangan itu.
Pukulannya kali ini dia sudah mengerahkan delapan, sembilan bagian tenaga dalamnya.
“Braaak!" di tengah suara benturan yang amat dahsyat Bun Ih Peng tergetar mundur empat lima langkah ke belakang dengan sempoyongan, sedang Tan Kia-beng yang sedang membimbing tubuh Sak Ie hanya kena didesak mundur dua langkah saja.
Bun Ih Peng yang berturut turut mendapat malu di depan umum sifat buasnya mulai nampak kipas besinya dengan cepat dipentangkan lebar-lebar siap melancarkan serangan dahsyat.
Tunggu dulu! Aku ada perkataan yang mau ditanyakan" tiba-tiba gadis berbaju hijau itu membentak keras.
Diantara berkelebatnya bayangan tubuh dia sudah meloncat ke depan tubuh Tan Kia-beng
"Siapakah namamu?" teriaknya sambil menuding sambil menggunakan ujung pedangnya.
"Siauw ya adalah Tan Kia-beng" sahut pemuda itu dingin.
Mendadak ujung pedang gadis itu dengan lemasnya menunjuk ke bawah, dia menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Kenapa kau bersikap begitu galak dengan diriku?" tanyanya.
"Haa.... haa.... pertempuran diantara senjata tajam buat apa membicarakan soal sikap? apalagi diantara kita berdua ini tidak saling mengenal"
"Tetapi kawanmu itu sudah terkena jarum rahasia Pek Cu Kim Uh Yen Wie Cian yang amat lihay, bilamana tidak cepat-cepat diobati maka di dalam dua belas jam seluruh tubuhnya akan membusuk dan mati"
"Budak rengah sungguh kejam perbuatanmu, kau berani menggunakna senjata rahasia yang demikian berbahaya untuk melukai orang".
Karena hatinya cemas Tan Kia-beng sama sekali lupa kalau dia lagi membimbing tubuh Sak Ie
Mendadak tubuhnya bergerak maju ke depan mencengkeram pergelangan tangan kiri nona berbaju hijau itu gerakannya yang dilancarkan cepat bagaikan kilat ditambah pula nona tersebut berada di dalam keadaan tidak siap sedia maka segera kena dicengkeram.
Sewaktu dia lagi mengerahkan tenaga dalamnya siap memaksa dia untuk menyerahkan obat pemunah itulah
mendadak terdengar suara jatuhnya sesuatu benda, Sak Ie yang berada dibelakangnya sudah rubuh ke atas tanah.
Melihat Sak Ie jatuh si tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng bagaikan segulung angin dengan cepat menubruk ke arahnya.
Melihat kejadian itu Tan Kia-beng jadi amat terperanjat, tanpa perduli diri nona berbaju hijau itu lagi mendadak tubuhnya berputar dan membentak keras, telapak tangannya dengan dahsyat dibabat ke arah Bun Ih Peng sedang tangannya yang lain membimbing kembali Sak Ie.
Sak Ie yang baru saja rubuh ke atas tanah kesadarannyapun agak pulih kembali, dengan menggunakan pedangnya ia memperhatikan diri sambil merintih.
"Tan heng silahkan menghadapi mereka dengan sepenuh tenaga, siauwte masih bisa mempertahankan diri untuk beberapa saat bilamana keadaan tidak sanggup lagi maka harap Tan heng suka kirim surat kepada suhengku di gunung Bu tong cukup dengan perbuatanmu itu siauwte sudah merasa sangat berterima kasih sekali"
---0-dewi-0---
Pada waktu ini gadis berbaju hijau tersebut sudah menjadi gusar oleh karena serangan Jien Nah So Hoan yang amat lihay itu, bersama-sama denan Bun Ih Peng mereka kembali melancarkan serangan serangan dahsyat ke depan.
Tan Kia-beng tidak sempat menjawab perkataan dari Sak Ie lagi, sepasang telapak tangannya dipentangkan keluar berturut turut melancarkan tujuh buah serangan babatan menangkis datangnya serangan dari kiri serta kanan.
Tetapi kedua orang muda mudi dari gurun pasir ini bukanlah manusia manusia lihay kepandaian biasa, apalagi
waktu ini bekerja sama dengan begitu ketatnya hawa pukulan yang dihasilkan benar-benar sangat dahsyat sekali.
Seketika itu juga di tengah kalangan kembali terjadi suatu pertempuran yang dahsyat.
---0-dewi-0---
Kita balik pada si "Pek Ih Loo Sat" Hu Siauw-cian yang ditahan serangannya oleh sepasang cakar besi dari Jien Liong So serta Sie poa besi dari Sin Sie Ci, saat itu dia tidak dapat melancarkan serangan ke arah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong juga tidak berhasil pula menolong Tan Kia-beng saking cemasnya seluruh wajahnya berubah memerah hawa napsu membunuh sudah melintasi seluruh wajahnya sehingga menembus ke alis.
Di tengah suara bentakannya yang amat keras mendadak jurus ilmu pukulannya berubah, tampaklah tangannya yang putih halus berkelebat tiada hentinya memaksa si "Jien Liong So" Ong Hong Kie terpukul dan mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan.
Mendadak tubuhnya melompat ke depan menerjang keluar dari tengah kalangan dan menerjang ke arah Tan Kia-beng
Tetapi di tengah kalangan terdapat begitu banyak jago-jago lihay yang mengepung tempat itu rapat rapat, mana mereka suka membiarkan dirinya lolos dari kepungan? terdengar suara bentakan yang ramai bergema memenuhi seluruh angkasa.
Chiet Poh Tui Hun Tiauw Tong, si Im Yang Siauw So Hauw Cian, Hwee Im Poocu Ong Jian masing-masing pada meninggalkan tempat duduknya melancarkan serangan menghadang jalan perginya.
Hwee Im Poocu yang menaruh rasa dendam yang paling mendalam terhadap gadis itu begitu turun tangan pedangnya segera melanvarkan serangan yang amat dahsyat sekali dengan menggunakan jurus Kui Ci Sing cing atau setan menangkis malaikat terkejut.
Hawa pedang yang memenuhi seluruh angkasa berubah jadi bintik bintik cahaya yang amat tajam lalu dengan dahsyatnya mengurung seluruh tubuh gadis tersebut, jurus ini adalah jurus simpanan dari Hwee Im Poocu, kehebatannya benar-benar luar biasa.
Si "Pek Ih Loo Sat" yang tubuhnya masih ada di tengah udara, tidak berani menerima datangnya serangan itu dengan keras lawan keras, maka ujung bajunya dikebutkan ke depan tubuhnya tahu-tahu sudah mencelat tiga depa lebih tinggi lalu melayang turun disebelah kanan.
Baru saja sepasang kakinya menginjak permukaan tanah, kembali si tujuh tindak pencabut nyawa Tiauw Tong serta Im Yang Siauw su menubruk ke arah depan.
Keadaan semakin lama semakin tegang, situasi buat si "Pek Ih Loo Sat" serta Tan Kia-beng pun semakin lama semakin terdesak dan berada dalam keadaan yang berbahaya.
Waktu itulah mendadak dari atas wuwungan rumah berkumandang datang suara tertawa aneh yang menyeramkan sesosok bayangan manusia yang tinggi besar bagaikan seekor burung elang dengan gesitnya meluncur masuk ke dalam ruangan.
Suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi ruangan, si tujuh tindak pencabut nyawa Tiauw tahu-tahu sudah kena dihajar oleh pukulan orang tersebut sehingga tubuhnya terpental sejauh satu kaki dan membentur dinding ruangan.
Seketika itu juga orang itu menemui ajalnya, dari tujuh lobang badannya mengucur keluar darah hitam.
Setelah berhasil menghajar mati si tujuh tindak pencabut nyawa orang itu kembali memperdengarkan suara tertawanya yang sangat aneh, seram, berat dan mengerikan.
Seketika itu juga seluruh ruangan diliputi suasana yang amat seram dan penuh diliputi oleh ketegangan dan nafsu membunuh.
Dengan adanya kejadian ini seluruh jago yang hadir dalam ruangan pada terperanjat dan menoleh ke arah mana, tetapi sebentar kemudian suara jeritan kaget sudah memenuhi seluruh angkasa.
Kiranya orang itu bukan lain adalah si "Penjagal Selaksa Li" Hu Hong yang paling dibenci dan ditakuti oleh setiap orang-orang kangouw.
Di dalam waktu yang bersamaan si "iblis tua" si "Siluman perempuan" dan "anakan iblis" bersama-sama sudah hadir disana, walaupun Thay Gak Cun-cu Bok Thian-hong mempunyai nyali yang besarpun pada waktu ini rada bergidik juga.
Hu Siauw-cian yang melihat ayahnya muncul secara tiba-tiba disana tidak bisa menahan sabar lagi, teriaknya dengan manja, "Ayah...."
Bagaikan seekor burung walet dengan gesitnya dia berkelebat jatuhkan diri ke dalam pelukan ayahnya.
Dengan perlahan si Penjagal Selaksa Li Hu Hong mendorong badannya ke depan.
"Cian jie jangan bersifat kekanak kanakan lagi" tegurnya, “Aku harus membereksan dulu urusan yang ada disini, sebentar lagi empek "Su Im" bakal datang juga.”
Mendengar perkataan itu terburu-buru Hu Siauw-cian menoleh ke atas wuwungan rumah, tampaklah di tengah kegelapan berdirilah seorang tua berdandankan sastrawan yang waktu ini sedang bergendong tangan dan mulutnya kemak kemik seperti lagi membaca sesuatu.
Dia segera mencibirkan bibirnya dan tertawa cekikikan.
“Apa yang lagi dihapalkan dia? sungguh lucu sekali,” serunya.
Suasana yang meliputi ruangan besar itu kini berubah amat tegang, para jago mulai menyalurkan hawa murninya ke atas telapak masing-masing siap-siap menghadapi serangan bokongan, sampai sampai Chuan Tiong Ngo Kui yang selama ini menonton jalannya pertempuran disampingpun sikapnya berubah jadi amat tegang.
Wajah si Penjagal Selaksa Li Hu Hong masih tetap tenang-tenang saja, dengan langkah yang lebar dia berjalan kehadapan Thay Gak Cungcu lalu tertawa seram.
"Tindakan saudara benar-benar amat lihay sekali, sindirnya dengan suara yang amat dingin. Tetapi jikalau kau mengira perbuatanmu itu bisa menutupi seluruh mata jago-jago dikolong langit, maka hal itu masih terpaut amat jauh, aku orang she Hu sudah berhasil mengetahui asal usul serta tujuanmu, sekarang, aku mau tanya padamu, bergebrak mati matian pada hari ni juga atau lain waktu?
Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong yang mendengar perkataan tersebut diam2 dalam hati merasa amat terkejut,
karena ia takut Hu Hong melanjutkan kembali kata-katanya buru-buru dia menyambung sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... perbuatan dari aku orang she Bok setiap harinya jelas dan terang laksana matahari disiang hari dan rembulan dimalam hari, siapapun tahu akan hal ini, tetapi saudara dengan mengandalkan kepandaian silatmu yang lihay itu sudah menjagali kawan kawan Bulim, tindakan serta perbuatanmu amat kejam dan patut dikutuk oleh siapapun hee.... hee.... Bangungan Cun Hoa inilah merupakan tempat kuburmu buat malam ini."
Tidak menanti Hu Hong menjawab dia sudah berteriak kembali dengan suara yang amat keras;
"Berkat kebaikan dari Thian secara kebetulan siiblis bangsat ayah beranak serta muridnya pada berkumpul disini, saudara saudara yang mempunyai dendam serta sakit hati silahkan mulai turun tangan untuk menuntut balas. dendam berdarah harus dibayar dengan darah, hutang uang harus bayar dengan uang. ayoh! serbu, kita basmi dan bunuh bangsat bangsat ini....!"
Di tengah suara bentakan yang amat keras si "Thiat sie cie" Lie Ih Sian serta "Jien Liong So" Ong Hong Kie sudah menubruk ke depan dari arah kiri serta kanan, sedang Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sambil menyambut keluar pedangnya menerjang dari tengah.
Diantara mereka cuma Chuan Tiong Ngo Kui yang masih tenang-tenang saja menanti seluruh perhatian para jago dicurahkan pada Hu Hong ayah beranak, secara diam-diam mereka mulai meninggalkan tempatnya lalu dengan wajah seram berjalan mendekati Tan Kia-beng.
Si "Pek Ih Loo Sat" Hu Siauw-cian yang melihat orang-orang itu tanpa mengucapkan sepatah katapun mendadak pada mengerubut maju hatinya jadi amat khe kie wajahnya segera berubah amat dingin sedang matanya melotot berapi api.
"Tidak tahu malu!" bentaknya dengan keras.
Tubuhnya dengan cepat merendah siap-siap melancarkan serangan menyambut datangnya pukulan pukulan pihak musuh.
Tiba-tiba dari atas wuwungan rumah kembali terdengar suara seseorang yang sangat aneh sekali.
"Manusia manusia golok yang sudah dicekoki obat pemabok ini benar-benar sangat menjengkelkan sekali, biarlah dia merasakan sedikit penderitaan, Hu heng! buat apa kita harus ribut ribut dengan mereka? ayoh jalan! kita tinggalkan tempat ini".
Agaknya si "Penjagal Selaksa Li" Hu Hong sangat menuruti perkataan dari sastrawan tua itu, begitu mendengar perkataan itu dia lantas menarik tangan Hu Siauw-cian dan melompat ke atas meloloskan diri dari kepungan.
Sambil melayang ke atas wuwungan rumah dia menoleh ke arah Tan Kia-beng dan berteriak, "Eeei kawanmu sudah terkena racun yang amat jahat, lebih baik cepat-cepat tinggalkan tempat ini! kalau sedikit berayal akan terlambat".
Sembari bergebrak Tan Kia-beng lantas melirik sekejap ke arah muka Sak Ie, sedikit pun tidak salah keadaannya makin lama semakin payah dan berbahaya sekali.
Setelah mendapat peringatan dari Hu Hong ini pikirannya jadi sadar kembali, di tengah suara bentakannya yang amat
keras telapak tangannya dibabat ke depan dengan menggunakan jurus "Jiet Ceng Tiong Thian"
serangan yang dilancarkan dengan menggunakan seluruh tenaga ini benar-benar luar biasa pengaruhnya, angin taupan bertiup menderu deru bagaikan ombak di tengah samudra menggulung ke depan dengan cepatnya.
Keanehan dari ilmu pukulan serta kedahsyatan dari tenaga serangan seketika itu juga mendesak nona berbaju hijau serta Bun Ih Peng mundur sempoyongan.
Mengambil kesempatan yang luang inilah pemuda itu lantas menyambar tubuh Sak Ie dan meloncat naik ke atas wuwungan rumah.
Saat itu suasana di dalam ruangan benar-benar amat kacau dan gaduh, suasana bentakan gusar bergema memenuhi angkasa diselingi suara jeritan marah dari "Lei Hun Hwee Ci"
"Cepat kejar! jangan sampai bajingan bajingan itu berhasil meloloskan diri! ayoh cepat kejar dan bunuh mereka."
Dan bayangan manusiapun berkelebat tiada hentinya, para jago dengan kecepatan yang luar biasa pada meloncat ke atas wuwungan rumah.
Si sastrawan tua yang berdiri di atas wuwungan rumah mendadak berseru dengan suara yang lantang.
"Srigala yang tidak ganas adalah janggal, harimau tidak keren tidak menakutkan, kasihan kalian kura kura goblok, sampai mati pun tidak bakal sadar
Ujung jubahnya yang dekil segera dikebutkan ke depan, terdengar suara jeritan kaget memenuhi angkasa kiranya para jago yang sedang meloncat ke atas wuwungan rumah kena
terhalang oleh sebuah dinding hawa khi kang yang lihay sehingga terdesak kembali ke dalam ruangan.
Menanti mereka meloncat naik ke atas wuwungan rumah untuk kedua kalinya si Penjagal Selaksa Li Hu Hong si Pek Ih Loo Sat Hu Siauw-cian serta sastrawan tua itu telah lenyap tak berbekas.
---0-dewi-0---
Kita balik pada Tan Kia-beng yang melarikan diri dari ruangan perkampungan Thay Gak Cung dan menggendong tubuh Sak Ie.
Bagaikan kilat cepatnya dia meluncur ke depan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh "Poh Poh Ciang Im"nya yang amat lihay, hanya dalam sekejap saja mereka sudah sampai disuatu tempat pegunungan yang sunyi sekali.
Dengan cepat dia menghentikan larinya dan meletakkan tubuh Sak Ie ke atas tanah.
"Sak heng.... panggilnya sambil menggoyangkan tubuhnya.
Tetapi Sak Ie tidak menyahut, waktu ini dia berada dalam keadaan tak sadarkan diri.
Tan Kia-beng yang tidak memiliki pengalaman untuk mengobati luka dan kini sudah menemui kejadian seperti ini dia benar-benar dibuat kebingungan.
Kini dia tidak mendengar suara jawaban dari Sak Ie walaupun sudah dipanggil beberapa kali hatiya semakin gugup lagi, teringat akan kejujuran serta kejantanan dari orang itu apalagi dengan dirinya pun mempunyai ikatan persahabatan yang akrab pikirannya jadi semakin kacau.
Dia merasa bilamana dirinya merasa tidak berhasil menolong dia untuk memunahkan racun yang mengeram di
dalam badannya bagaimana perasaannya waktu itu terhadap orang?
Setelah bermenung dan berpikir beberapa saat lamanya pemuda itu merasa satu satunya jalan adalah pergi mencari nona berbaju hijau untuk paksa dia menyerahkan obat pemunah.
Berpikir sampai disitu dia putar tubuhnya dan siap-siap enjotkan badan berlalu dari sana, tetapi sebentar kemudian satu pikiran kembali berkelebat di dalam benaknya.
"Aah, tidak baik.... saat ini Sak heng lagi berada dalam keadaan tidak sadar bilamana aku pergi siapa yang hendak mengurus dirinya?
“Seorang diri seperti semut dikuali panas dia berjalan bolak balik dengan cemas,” pikirannya benar-benar sangat bingung sekali.
Kurang lebih seperminum teh lalu mendadak tampaklah sesosok bayangan manusia melayang datang dihadapannya sambil berteriak.
"Toako! pertemuan para jago pada malam ini sudah kedatangan banyak sekali manusia lihay dari Bulim, kenapa kau seorang berdiri terpekur di tempat ini?"
Tan Kia-beng yang melihat orang tersebut bukan lain adalah si Rasul Racun Pek-tok Cuncu hatinya jadi girang.
"Akhh, kedatanganmu sunggu kebetulan sekali, tolong kau jagakan dirinya sebentar. Kini Sak heng lagi terluka! Biarlah aku pergi sebentar akan kembali lagi."
“Dia terluka?”
“Benar dia sudah terhajar jarum beracun Pek Cu Kiem Uh Yen Wie Ciam dari sibudak tersebut, keduanya sangat berbahaya sekali.”
“Lalu Toako hendak pergi kemana?....”
“Pergi mencari budak itu untuk dimintai obat pemunahnya.”
“Kau tidak usah pergi lagi, biarlah loohu yang memeriksa lukanya.”
“Kau bisa memunahkan racun itu?”
Tiba-tiba Pek-tok Cuncu si Rasul Racun ini tertawa tergelak dengan gelinya.
“Haa.... haa.... aku percaya hanya sedikit racun yang tak berarti ini tidak bakal menyusahkan diri loohu,” serunya.
Waktu itulah Tan Kia-beng baru sadar kembali, kalau dia punya julukan sebagai "Pek-tok Cuncu" si Rasul Racun, sudah tentu pandai pula mengobati luka yang kena racun!
Sewaktu Tan Kia-beng lagi kegirangan itulah si Pek-tok Cuncu si Rasul Racun itu sudah berjalan ke samping tubuh Sak Ie dan membuka pakaiannya untuk mengadakan pemeriksaan.
Setelah itu dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah besi sembrani berwarna hitam pekat untuk ditekankan pada mulut luka dan menghisap keluar seluruh jarum-jarum beracun itu.
Dari mulut luka yang kecil bagaikan bulu segera menetes keluar darah hitam mengiringi tercabutnya jarum-jarum tersebut.
Setelah Pek-tok Cuncu berhasil mencabut keluar jarum Yen Wie Ciam itu dia lantas mencium beberapa kali ujung jarum yang beracun itu dan diperiksanya dengan teliti.
Akhirnya dia tertawa dingin dengan amat seram.
"Hee.... hee.... budah rendah itu sungguh berhati keji, racun yang digunakan untuk mempolesi jarum itu benar-benar merupakan racun jahat, bilamana bukannya bertemu dengan loohu pada malam ini si bocah cilik ini tidak bakal bisa hidup lebih lama!"
Dan dari sakunya dia lantas mengambil keluar sebuah botol yang terbuat dari porselen hijau dan mengambil keluar empat butir pil putih sebesar kedelai lalu dijejalkan ke dalam mulut Sak Ie.
Setelah itu dari sakunya kembali dia mengambil keluar sebuah cupu cupu dan membuka penutupnya.
"Tempat ini tak ada air, terpaksa biarlah gunakan arak pribadi loohu ini untuk menggantikannya".
Tan Kia-beng segera merasakan arak yang tercium keluar dari cupu cupu itu benar-benar sangat keras dan wangi sekali, sekalipun orang yang tak pandai minum saat ini juga pasti merasa kepingin.
Pek-tok Cuncu sesudah membantu Sak Ie untuk kmeneguk dua tegukan tak tertahan lagi dia sendiripun menegak isi arak tersebut.
"Toako" ujarnya kemudian sambil menghembuskan napas panjang.
"Tolong gunakan tenaga hawa Yang dibadanmu untuk bantu dia mendesak keluar sisa sisa racun yang masih mengeram di dalam tubuhnya.
Walaupun dia tidak tahu kalau Tan Kia-beng pernah menelan pil dari ular raksasa berumur selaksa tahun tetapi dia
mengerti kalau di dalam badan pemuda ini memiliki suatu kekuatan untuk melawan daya bekerjanya racun.
Tan Kia-bengpun menurut saja, diapun lantas mengerahkan tenaga dalam Pek Tiap Sin Kang"nya kepada Sak Ie.
Segulung hawa panas yang aneh dan tak terkira nyamannya mengalir keluar dari telapak tangan menembus tubuh pemuda itu dan mengalir masuk melalui pusar menuju ke Khi Hay dan menembus dua belas rintangan itu hingga mencapai jalan darah "Pek Huy" lalu mengalir turun kembali ke bawah.
Terhadap kawan pemuda itu paling menaruh perhatian, karena dia takut tenaga dalammya sendiri tidak cukup untuk mendesak racun itu keluar maka begitu mengerahkan tenaga dalam dia lantas menggunakan tenaga sakti "Pek Tiap Sin Kang" untuk menolong.
Hanya di dalam sekejap saja sembab sembab bekas terkena racun ditubuh Sak Ie sudah kempes kembali bahkan sudah berubah jadi sedia kala.
Melihat akan hal ini Pek-tok Cuncu lalu berteriak, "Sudah cukup! dengan perbuatan itu bukan saja seluruh racun yang mengeram di dalam tubuh bocah ini sudah lenyap, mungkin dikarenakan bencana, malah malah mendapatkan rejeki.
Mendengar perkatan tersebut Tan Kia-beng baru menarik kembali telapak tangannya dan bangkit perlahan-lahan lalu memandang ke arah Sak Ie.
Tampaklah pada keningnya sudah dibasahi oleh keringat, pada saat itupun baru saja membuka matanya.
"Sak heng untuk sementara waktu kau jangan bergerak dulu" cegahnya gugup. "Cukup kau salurkan dulu hawa
murnimu satu kali bilamana tidak ada halangan kau barulah bangun."
Sak Ie menurut dan diam-diam mulai menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh, segera terasalah seluruh tubuhnya amat nyaman sekali bahkan tenaga dalamnya memperoleh kemajuan pesat jika dibandingkan sebelum terluka.
Saking girang dan terharunya terburu-buru dia meloncat bangun dan menjura dengan hormatnya kepada Tan Kia-beng.
"Terima kasih Tan heng suka menyembuhkan lukaku, siaute benar-benar merasa amat berterima kasih."
Terburu-buru Tan Kia-beng menyingkir ke samping,
"Eei.... jangan mengucapkan terima kasih kepadaku, kesemuanya ini berkat bantuan pil pemunah racun dari Pek-tok Cuncu!" serunya.
Sedikitpun tidak salah, Sak Ie bisa sembuh dengan demikian cepatnya sebagaian besar memang dikarenakan daya bekerja dari pil pemunah racun dari Pek-tok Cuncu ini.
Memang Sak Ie terjunkan diri ke dalam Bulim jauh lebih pagi dari Tan Kia-beng ditambah pula dia sering mendapatkan petunjuk dari para suhengnya, maka terhadap orang-orang Bulim sudah tentu dia jauh lebih banyak yang tahu.
Telah lama dia mendengar kalau di dalam dunia kangouw ada seorang yang bernama Pek-tok Cuncu dan sangat pandai menggunakan beratus macam racun, hanya saja sifatnya rada aneh dan kukoay.
Kini melihat kakek tua yang ada dihadapannya itu bukan lain adalah si Rasul Racun terburu-buru dia lalu menjura untuk memberi hormat.
"Sak Ie mengucapkan terima kasih atas bantuan loocianpwee yang suka menyembuhkan luka racun dari boanpwee!" serunya.
Pek-tok Cuncu dengan angkuhnya segera dongakkan kepalanya ke atas.
"Kau tidak usah berterima kasih dengan diriku" serunya dingin, "Selama ini aku tidak mempunyai ikatan persahabatan apa apa dengan pihak Bu-tong-pay, perbuatanku tadi pun semua dikarenakan memandang wajah Toako bilamana kau hendak mengucapkan terima kasih sampaikan saja kepada Toako! Loohu tidak suka menerima ucapan terima kasih dari orang lain dengan percuma.
sak Ie yang mendengar perkataan tersebut kontan jadi melengak.
Tan Kia-beng yang takut dia jadi merasa malu, buru-buru ujarnya.
---0-dewi-0---
JILID: 20
"Sak heng kau tidak tersinggung, si Rasul Racun ini memang punya sifat begitu dia tidak suka diucapkan terima kasih yaa sudahlah!"
Bagaimanapun juga Sak Ie adalah seorang pemuda yang berhati panas, sekalipun dia tidak mengucapkan sesuatu apapun tetapi hatinya rada tidak enak, setelah tertegun beberapa saat lamanya mendadak dia merangkap tangannya menjura.
"Bantuan dari saudara berdua tidak akan aku lupakan untuk selama lamanya, saat ini siauwte masih ada urusan yang
harus diselesaikan apalagi peristiwa inipun harus dilaporkan cepat-cepat kepada suheng, maaf siauwte mohon diri dulu," katanya.
Selesai berkata dia enjotkan badannya berlalu dari tempat itu dan hanya di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.
Dengan tajam Pek-tok Cuncu memperhatikan tempat dimana bayangan Sak Ie lenyap, sesaat kemudian dari dalam sakunya mendadak dia mengeluarkan sebuah botol kecil dan diserahkan kepada pemuda itu.
"Toako! Botol porselin ini berisikan pil pemunah racun yang amat mujarab, bukannya Loohu sengaja bicara besar, perduli racun yang bagaimana ganaspun asalkan menelan dua butir pil ini maka seketika itu juga racun akan dipunahkan, nyawapun bisa dipertahankan kembali."
Tan Kia-beng pun tak menolak lebih lanjut, dia lantas menerima pemberian itu dan dimasukkan ke dalam sakunya.
Mendadak Pek-tok Cuncu si Rasul Racun itu tertawa tergelak kembali dengan kerasnya.
"Ha haa.... ini hari sudah tanggal enam belas, jarak dengan perjanjian kitapun tinggal empat hari lagi, sampai waktunya aku mau lihat si pencuri tua hendak melaporkan secara bagaimana."
Agaknya dia merasa kemenangan pasti berada ditangannya sehingga dalam hati merasa amat bangga!
Tan Kia-beng pun tahu kalau apa yang baru saja diucapkan adalah mengartikan pertaruhannya dengan si Su Hay Sin Tou si pencuri sakti, terburu-buru tanyanya, “Apakah kau sudah memperoleh berita tentang kereta iblis itu?"
“Sekalipun belum begitu pasti tetapi kiranya lumayan juga!"
Pek-tok Cuncu setelah selesai mengucapkan kata-kata itu dia lantas meloncat pergi sejauh tiga puluh kaki lebih.
Betul juga, dia hendak pergi, mendadak terdengar suara tertawa kembali berkumandang datang.
"Haa haa.... biarkanlah dia merasa bangga dulu! Aku si pencuri tua belum tentu bisa dikalahkan olehnya."
Tan Kia-beng pun segera menoleh tampaklah Su Hay Sin Tou si pencuri sakti dengan wajah penuh kebanggaan berjalan mendatang.
Tidak terasa lagi dia lantas tertawa geli serunya, "Semoga saja kalian berdua bisa mendapatkan hasil, dengan begitu akupun tidak usah susah susah lagi."
Su Hay Sin Tou si pencuri sakti sama sekali tidak menjawab perkataannya, dan dari dalam saku dia mengambil keluar sebuah medali pualam dan diangsurkan ke depan.
"Apakah Toako kenal dengan benda ini?” tanyanya.
Tan Kia-beng yang melihat medali pualam itu bentuk maupun guratan guratannya sama seperti medali yang didapatkan dari saku Bok Thian-hong tempo hari segera dia mengambil keluar medali dari dalam sakunya dan disosokkan dengan medali pualam ditangan si pencuri sakti itu.
"Hii?! benda ini kau dapatkan dari mana lagi?" tanyanya keheranan.
Su Hay Sin Tou si pencuri sakti itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... rahasia langit tidak boleh dibocorkan, harap Toako suka bersabar untuk beberapa lagi."
Dia berhenti sebentar, lalu dengan wajah yang bersungguh sungguh tambahnya lagi, "Angin dan taupan yang melanda Bulim pada beberapa hari ini rada mengencang dari daerah Kiang Ham pun sudah kedatangan lagi berpuluh puluh orang jagoan lihay gerak gerik dari Toako lebih baik sedikit berhati-hati lagi!"
"Soal ini pun sudah merasakannya" sahut Tan Kia-beng sambil mengangguk.
"Kau berlegalah hati! rasanya urusan urusan ini masih cukup dan bisa aku hadapi seorang diri."
Su Hay sin Tou pun mengetahui kalau Toakonya mempunyai kemantapan hati yang luar biasa, mendengar perkataan itu diapun lantas tersenyum.
Kalau begitu aku pergi dulu, beberapa hari lagi kita tiga bersaudara berkumpul kembali dengan hati gembira!"
Selesai berkata tubuhnyapun segera berkelebat dan hanya di dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.
Dua orang siluman tua ternyata suka bekerja baginya dengan sepenuh tenaga hal ini membuat Tan Kia-beng merasa amat terharu, bersamaan itu pula beberapa urusan yang ada di depan matanya berubah semakin jelas lagi.
Pertama Thay Gak Cungcu secara tiba-tiba mengundang datang begitu banyak jago untuk berkumpul diruangan Cun Hoa nya guna adakan suatu perunding rahasia, dalam hal ini pastilah lagi menyusun suatu rundingan besar yang amat busuk.
Tapi apakah yang sedang dirundingkan oleh mereka?
Kedua. Apa hubungan serta sangkut pautnya antara sitetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng serta Bok Thian-hong?
dan dari mana asal usul dari sinona berbaju hijau itu? kenapa Bok Thian-hong bersikap begitu menghormat terhadap dirinya apakah Bok Thian-hong pun merupakan satu keluarga dengan dirinya atau dia hanya seorang kaki tangannya saja?
Ketiga. Selamanya Chuan Tiong Ngo Kui jarang sekali berkelana di dalam dunia kangouw kali ini mereka bersama-sama berangkat ke daerah Barat bahkan dengan begitu cepatnya suka bergabung dengan Bok Thian-hong, sudah tentu ada suatu maksud tertentu.
Apakah maksud tujuan mereka?
Keempat. Sejak Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong munculkan dirinya di tempat itu berita yang menyangkut soal kereta kencana tidak kedengaran lagi, apakah mungkin si kakek tua berkerudung hitam itu adalah hasil penyamaran dari Bok Thian-hong?
Dengan seorang Tan Kia-beng putar otak memikirkan urusan ini selama beberapa waktu lamanya, dia merasa apa yang diduga olehnya ini ada kemungkinan semua.
Diam-diam pikirnya di dalam hati, "Sekarang Sak Ie sudah tak ada persoalan lagi, biarlah aku kembali kebangunan Cun Hoa itu untuk mengadakan penyelidikan!"
Berpikir sampai disini mendadak dia teringat kembali akan Hong Jen Sam Yu yang berangkat lebih dulu, kenapa mereka tidak munculkan dirinya? apakah di tengah perjalanan sudah menemui bencana?
Tetapi teringat akan kepandaian silat yang dimiliki oleh Hong Jen Sam pemuda itu pun merasa rada lega.
Dengan pengalaman serta kepandaian mereka bertiga tidak mungkin bisa menemukan bahaya tentunya mereka di tengah
jalan sudah menemui sesuatu peristiwa yang menyolok sehingga sudah merubah rencana.
Waktu itu hari sudah menunjukkan kentongan ketiga, rembulan yang bulat itu pun memancarkan cahaya keperak perakan dan jauh berada di tengah awang awang angin malam berhembus sepoi sepoi, suara jangkrik berbunyi mengiringi malam nan sunyi.... suasana waktu itu betul-betul amat nyaman.
ooOoo
Tan Kia-beng mulai menggeserkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu
Mendadak. dari empat penjuru berkumandang suara tertawa yang amat seram disusul dengan munculnya Chuan Tiong Ngo Kui di tengah sorotan sinar rembulan dan dengan perlahan mendekati ke arahnya.
Sinar mata pemuda itu berkelebat menyapu sekejap ke arah orang-orang itu lalu menghentikan langkahnya.
"Heee.... heee.... aku masih belum ada waktu untuk mencari kalian membikin perhitungan tidak disangka kalian malah mencari aku terlebih dahulu" serunya dengan dingin. Hmm! begitupun baik juga, malam ini kita membuat keputusan di tengah tanah kuburan ini saja!
Chuan Tiong Ngo Kui sama sekali tidak kenal dengan pemuda ini kedatangan mereka kali ini pun disebabkan oleh karena mengincar pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam tersebut tidak disangka tiba-tiba saja mereka dikatai demikian tak kuasa lagi pada melengak dibuatnya.
Si Toa Kui Siauw Bian Coan atau si wajah riang berhati ular Go Touw Seng memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.
"Heee.... heee.... toa yamu tidak saling kenal dengan dirimu darimana datangnya ganjalan hati.... heee.... hee.... lebih baik kau tidak usah banyak sembarangan bicara saja" katanya.
Dari sepasang mata Tan Kia-beng pun mendadak memancarkan cahaya yang amat tajam, selangkah demi selangkah dia mendesak lebih mendekat lagi.
“Hmm! apakah kalian sudah melupakan peristiwa terbunuhnya raja muda Mo? malam ini siauw yamu akan membalaskan dendam berdarah dari terbunuhnya Mo Cun Ong itu!”
Siauw Bian Coa Sim yang jadi orang sangat ganas dan buas inipun kini dibuat terperanjat dari pemuda tersebut, tak kuasa lagi dia mundur beberapa langkah ke belakang.
Jie kui, si "Sya Hun Bu Ciang" atau Setan Gantung Pengikat Sukma mendadak tertawa dingin.
"Buddha tanah menyeberangi sungai untuk menjaga diripun belum tentu bisa masih ingin membalaskan dendam dari si setan tua itu. Hmm, heee.... lebih baik juga nyawamu sendiri," sindirnya dengan suara yang amat dingin.
Sam Kui, Cui Ming Kei" atau si Setan Pengejar Nyawa Ong Kiam segera mengangkat medali pengejar nyawanya ke atas, mendadak bentaknya, “Berhenti! bilamana kau berani maju setindak lagi, ya yamu segera akan mengetuk hancur sepasang kakimu"
Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng segera memutar badannya.
"Kedatangan kalian pada malam ini mencari siauw yamu sebenarnya ada urusan apa?"
Si wajah riang berhati ular Gow Touw Seng pada saat inilah baru sadar dan menyesali sikapnya yang terlalu lunak, mendengar pertanyaan itu dia lantas menyahut dengan suara dingin dan seram.
“Chuan Tiong Ngo Kiat selamanya tidak suka berbuat pekerjaan dengan sembunyi sembunyi kedatangan kami pada malam ini hendak meminta pedang Giok Hun Kiam yang ada pada pinggangmu itu, bilamana kau menginginkan bisa terhindari bencana malam ini lebih baik menurut saja untuk serahkan pedang tersebut, kalau tidak heee heee.... barisan Ngo Kui Im Hong Kiam Tin tidak akan enak rasanya."
Sekalipun si setan pertama dari Chuan Ngo Kui in imenyebutkan Tan Kia-beng pun bisa menebak beberapa bagian maksud tujuan dari kedatangan mereka malam ini, kini setelah mendengar perkataan tersebut hawa amarahnya segera berkobar memenuhi seluruh benaknya.
Sebetulnya dia memang ada maksud untuk mencari kelima orang setan ini untuk mewakili Mo Tan-hong membalaskan dendam sakit hati terbunuhnya raja muda Mo kini melihat mereka berlima sudah datang mencari dirinya sudah tentu lebih kebetulan sekali.
Alisnya dikerutkan rapat rapat napsu membunuh berkilas memnuhi wajahnya, pipinya mulai memerah kemudian diantara suara tertawanya yang amat nyaring mendadak dia maju mendesak ke depan sepasang telapak tangannya didorong ke depan melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat sekali.
Walaupun si setan berwajah riang berhati ular itu menduduki sebagai pemimpin dari kelima orang setan itu waktu ini tidak berani menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras, maka kakinya dengan cepat berkelebat ke samping sejauh tiga depa.
Pada saat yang bersamaan pula empat orang setan lainnya sudah mulai menggerakkan senjatanya masing-masing maju mengerubuti.
Jie Kui dengan senjatanya tongkat pengikat sukma dengan dahsyatnya menghajar ke arah batok kepala sang pemuda, medali penghadang nyawa dari Sam Kui menyapu ke arah pinggang sedang pit pengikat sukma dari Su Kui bagaikan kilat cepatnya menotok jalan darah Sian Khei serta "Kie Ciat dua buah jalan darah kematian dan terakhir golok bergerigi dari Ngo Kui dengan disertai sambaran angin tajam membabat tubuh bagian bawah dari Tan Kia-beng.
Tenaga dalam dari Chuan Tiong Ngo Kui amat dahsyat sekali dan masing-masingpun memiliki tenaga latihan selama empat, lima puluh tahun lamanya, maka dengan kesempurnaan tenaga lweekang mereka ini kini bersama-sama melancarkan serangan mengerubut keadaannya benar-benar luar biasa sekali.
Hanya di dalam sekejap saja angin pukulan berhawa dingin menyambar laksana kilat dan menggulung tiada hentinya di tengah udara.
Dalam hati Tan Kia-beng benar-benar merasa amat terperanjat, tubuhnya berputar lalu menerjang ke tengah angkasa dan melayang di atas sebuah batu nisan dari kuburan yang ada didekat tempat itu.
"Heee, heee, kepandaian dari Chuan Tiong Ngo Kui kiranya cuma demikian saja sungguh menggelikan sekali!" ejeknya sambil tertawa dingin.
Di atas wajah Siauw Bian Coa Sim yang amat dingin dan kaku perlahan-lahan terlintaslah satu senyuman yang amat menyeramkan.
"Selamanya Chuan Tiong Ngo Kiat bertempur secara bersama-sama menghadapi selaksa pun sama saja. Bilamana kau bangsat cilik sudah merasa takut lebih baik cepat-cepatlah berlutut dan serahkan pedang itu kepada kami, Yayamu pasti akan membuka sedikit kemurahan dengan mengampuni nyawa anjingmu itu." katanya.
Sebaliknya Tan Kia-beng jadi amat gusar.
"Nenek kura kura" bentaknya keras.
Kemudian tubuhnya meloncat dengan gaya menggunting sedang telapak tangannya bagaikan seekor burung elang menubruk ke bawah dengan amat dahsyatnya.
Dengan gusarnya Chuan Tiong Ngo Kui membentak bersama-sama, masing-masing orang mengerakkan senjatanya sendiri sendiri untuk melindungi bagian kepala lalu bersama-sama pula melancarkan satu pukulan ke atas.
Dengan bersusah payah akhirnya mereka berhasil juga menghindarkan diri dari serangan itu. Walaupun begitu tubuh mereka sudah terdesak mundur ke belakang dalam keadaan sempoyongan.
Dengan adanya kejadian ini Chuan Tiong Ngo Kui semakin dibuat gusar lagi tidak menanti pemuda itu berdiri tegak dengan santernya mereka sudah menubruk ke depan melancarkan serangan serangan mematikan
Nama besar Chuan Tiong Ngo Kui ternyata bukan nama kosong belaka, serangan yang dilancarkan untuk kedua kalinya ini benar-benar luar biasa sekali tanah kalangan seluas lima kaki hampir hampir boleh dikata berada dibawah lingkungan serta kekuasaan angin pukulan serta bayangan senjata mereka.
Musuh tangguh kin isudah berada di depan mata maka Tan Kia-beng tidak berani berlaku ayal lagi, seluruh perhatiannya dipusatkan untuk menghadapi serangan serangan musuh.
Di bawah sorotan sinar rembulan tampaklah enam sosok bayangan hitam berkelebat saling silih berganti, keadaan benar-benar amat menyeramkan!!
Angin pukulan menderu deru, cahaya terang berkelebat laksana petir ada kalanya diselingi dengan suara bentakan bentakan yang amat keras membuat suasana dimalam yang amat sunyi itu penuh diliputi oleh hawa pembunuhan!!
Hanya di dalam sekejap saja masing-masing pihak sudah saling bergebrak sebanyak seratus jurus lebih serangan serangan dari Chuan Tiong Ngo Kui pun semakin lama semakin mencapai pada puncak kedahsyatannya, terasa hawa tekanan yang menyelimuti empat penjuru kalangan peretmpuran semakin lama hatinya makin merasa cemas, pikirnya, "Kekuatan dari tenaga gabungan mereka berlima benar-benar amat dahsyat sekali. bilamana aku tidak menggunakan jurus jurus aneh untuk merebut kemenangan maka akhirnya aku akan kepayahan dan mati karena kelelahan."
Demikianlah secara diam-diam dia mulai menyalurkan hawa saktinya hingga dua bagian dengan menggunakan hawa pukulan Im serta Yang yang dipisahkan telapak kirinya mulai
dibabat ke depan dengan menggunakan jurus serangan dari ilmu Tok Yen Mo Ciang."
Terasalah segulung hawa pukulan yang maha dingin bagaikan angin taupan menggulung ke depan.
Diikuti hawa murninya disalurkan melalui pusar keseluruh badan, sambil membentak keras telapak kanannya berputar melancarkan satu pukulan menggunakan jurus "Jiet Ceng Tiong Thian"
Tampaklah segulung tenaga pukulan berhawa khie kang dengan diselingi suara ledakan guntur yang memekikkan telinga bergabung dengan pukulan hawa Im tadi menghajar ke depan.
Chuan Tiong Ngo Kui yang sedang kena pukulan berhawa dingin tadi tubuhnya sudah tergetar, kini melihat datangnya hawa pukulan yang begitu dahsyat laksana sambaran angin topan jadi amat kaget sekali.
Si Setan Gantung Pengikat Sukma Ong Thian serta si Setan Pengejar Nyawa Ong Kiam yang menerjang palig depan segera memperdengarkan suara jeritan yang seram dan mendirikan bulu roma tubuhnya beserta senjata ditangannya kena digulung sehingga mencelat sejauh tiga kaki dan rubuh ke dalam rerumputan dengan amat kerasnya.
Melihat kejadian itu si Siauw Bian Coa Sim jadi amat terperanjat sekali dengan cepat dia menarik kembali serangannya dan mundur delapan depa ke belakang.
“Siapkan pedang!” bentaknya keras.
Dari punggungnya sendiri ia mencabut keluar sebilah pedang kematian yang amat lebar dan dikebas kebaskan di
atas udara, selapis hawa membunuh dengan perlahan tersungging pada wajahnya.
Dari tadi Tan Kia-beng sudah mendengar nama dari barisan pedang Ngo Kui Im Hong Kiam Tin tersebut cuma saja dia tidak tahu bagaimanakah lihaynya barisan tersebut kini melihat dia mencabut keluar pedang kematian tersebut dengan telitinya pemuda itu memperhatikan terus
Tampaklah pedang tersebut berwarna hitam dan memancarkan yang amat terang sekali, di tengah-tengah tubuh pedang kematian tersebut terdapat lekukan berwarna merah darah dengan banyak lubang, lubang tersebar di atasnya cuma dia tidak mengetahui apakah keistimewaan dari pedang itu tetapi sewaktu mendengar nada suara mereka yang begitu mantap terpaksa dia pun lantas mencabut keluar seruling Pek Giok Siauw nya.
Saat ini jaraknya dengan Siauw Bian Coa Sim tidak lebih cuma lima depa mendadak terdengar suara jeritan yang mendirikan bulu roma.... Sreeet sreeet! bagaikan kilat cepatnya dia sudah melancarkan delapan tusukan dahsyat.
Jie Kui yang ada dibelakangnya hampir pada saat yang bersamaan melancarkan serangan pula ke depan,
Seketika itu juga seluruh angkasa telah dipenuhi dengan kabut cahaya pedang yang menyilaukan mata diselingi suara dengusan yang mendebarkan hati hawa dingin terasa menusuk tulang makin lama semakin menebal membuat tubuhnya hampir hampir membeku.
Waktu inilah Tan Kia-beng baru tahu kalau Chuan Tiong Ngo Kui sebetulnya sudah melatih semacam ilmu yang sangat beracun.
Sewaktu melancarkan serangan pedang secara diam-diam mereka mengerahkan tenaga dalam ke dalam tubuh pedang lalu menggunakan lubang lubang kecil yang ada di atas pedang itu untuk menimbulkan hawa dingin serta suara dengusan yang dapat mengacaukan pikiran musuh.
Tetapi perduli mereka berbuat demikian serangan serangan pedang yang laksana menyambarnya selaksa batang anak panah itu tidak boleh dipandang rendah.
Terburu-buru Tan Kia-beng pusatkan seluruh perhatiannya menanti kesempatan yang lebih baik, seruling pualamnya diputar balik menimbulkan cahaya yang tamam untuk mengelilingi seluruh tubuhnya.
Dengan tiadanya gerakan dari pemuda itu maka hal ini memberi kesempatan buat ketiga orang setan itu untuk menduduki kedudukan segi tiga dan mengurung Tan Kia-beng rapat rapat.
Serangan serangan pedang yang dilancarkan pun bertambah jurus bertambah lihay barisan tersebut dengan membentuk suatu jaringan dinding bersinar merah yang amat rapat dan mengaburkan pandangan mata
Tan Kia-beng yang kena dikurung di tengah kalangan mulai merasakan napasnya sesak, bau busuk semakin menusuk hidung maka serulingnya dengan payah dan ngotot terus menerus dibolang balingkan menangkisi setiap serangan yang ditujukan kepadanya.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian mendadak terdengar dua rentetan suara suitan yang amat keras berkumandang datang, si Setan Gantung Pengikat Sukma Ong Thian yang tadi kena dipukul pental oleh tenaga pukulan kini sudah berhasil memulihkan kembali tenaganya dan sekarang
pada menubruk ke depan ikut ambil bagian di dalam kancah pertempuran tersebut.
Barisan Ngo Kui Im Hong Kiam Tin ini haru smembutuhkan kerja sama dari lima setan baru bisa memperlihatkan pengaruhnya yang dahsyat, dan kini dengan ikut ambil bagiannya dua orang setan lainnya keadaan benar-benar berubah, kedahsyatanpun meningkat sedang angin serta kabut berhawa dingin yang mengurung kalanganpun mencapai seluas lima kaki lebih.
Siauw Bian Coa Sim yang melihat kedua orang saudaranya sudah pulih kembali dan ikut ambil bagian di dalam serangan tersebut hatinya benar amat girang mendadak dia bersuit rendah barisan pedang itu pun mulai berputar kesamping.
Tampaklah lima sosok bayangan hitam dengan memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan mata melayang tiada hentinya sebentar ke atas sebentar ke bawah, suara jeritan setan yang amat menyeramkan mengiringi gerakan tersebut.
Angin dingin serta kabut gelap mengurung seluruh kalangan, semakin dahsyat lagi terasalah suasana waktu itu amat seram, ngeri membuat berdiri bulu roma
Tan Kia-beng yang rada berayal sedikit sehingga kena direbut posisi baiknya oleh pihak lawan saat ini benar-benar amat payah, walaupun ilmu seruling "Teh Leng Kiu Tah Pek Giok Tie nya amat sempurna dan merupakan serangkaian ilmu seruling yang paling rapat pertahanannya tetapi tak ada kesempatan baginya untuk melancarakan serangan balasan, hatinya mulai merasa cemas sekali.
Pada saat yang tegang itulah mendadak terdengarlah suara berputarnya roda kereta berkumandang dari tempat kejauhan,
dibawah sorotan cahaya rembulan tampaklah sebuah kereta kencana yang amat mewah dengan ditarik oleh dua ekor kuda meluncur datang dengan cepatnya.
Di atas kursi duduklah seorang gadis berbaju putih yang berkerudung, agaknya gadis itupun telah menemukan kalau ditanah kuburan tersebut sedang terjadi suatu pertempuran yang amat sengit mendadak dia menarik tali les kudanya yang sedang lari cepat itu sehingga pada meringkik panjang dan meloncat berdiri, hampir saja kereta tersebut terguling oleh tindakannya yang mendadak itu.
Tetapi gadis tersebut kiranya sudah mempunyai persiapan akan hal tersebut, mendadak ujung bajunya dikebutkan ke depan melancarkan satu pukulan tak berwujud menahan kembali kereta itu yang miring kesamping.
---0-dewi-0---
Waktu itu suasana di dalam kalangan sedang mencapai pada puncak ketegangan, Tan Kia-beng yang sedang terkurung sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk melihat situasi diluar kalangan, sedang Chuan Tiong Ngo Kui yang lagi kesemsem dengan pedang pusaka ditangan pemuda itu sama sekali tidak menggubris keadaan di sekelilingnya, oleh karena itulah walaupun gadis berkerudung putih itu sudah lama tiba di ari tak seorang pun yang tahu
Tiba-tiba....
Serentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata menerjang keluar dari antara kepungan kabut hitam itu yang disusul dengan suara bentrokan senjata tajam dan suara jeritan yang amat keras
Si Setan Pengejar Nyawa Ong Kiam dan si setan pengikat sukma Ong Thian sambil mencekal pedangnya yang tinggal sepotong munduk ke belakang dengan sempoyongan.
Gadis berkerudung putih itupun menjerit kaget sewaktu melihat kejadian itu.
“Iiih?!! Kiranya benar-benar dia adanya!!”
Diantara berkelebatnya bayangan putih gadis itu sudah melayang ke tengah kalangan cambuk ditangannya segera dibabat ke kiri kanan memperdengarkan suara ledakan yang amat keras
“Tahan!” bentaknya.
Padahal tidak perlu dia menjerit, masing-masing pihak pun sudah pasti akan berhenti dengan sendirinya, karena di dalam keadaan gusar tadi Tan Kia-beng sudah mengeluarkan pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya yang dengan cepat berhasil membabat putus dua bilah pedang dari Chuan Tiong Ngo Kui.
Dalam keadaan amat terperanjat sekali Chuan Tiong Ngo Kui lantas mengundurkan diri siap-siap ngeloyor pergi dari sana kini begitu mendengar suara bentakan dari gadis itu terburu lantas menarik diri dan menoleh.
Tetapi sebentar kemudian mereka pun sudah merasa terperanjat kembali.
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau kereta kencana serta bayangan iblis yang paling ditakuti oleh orang-orang kangouw pada saat ini sudah munculkan dirinya disitu, apalagi waktu itu mereka belum berhasil memperoleh pedang Giok Hun Kiam itu sudah tentu tak ingin mereka mengikat kerepotan lagi.
Tampaklah Siauw Bian Coa Sim segera maju ke depan mejura ke arah gadis berbaju putih itu.
“Urusan malam ini dikarenakan sudah ada campur tangan dari nona biar kami sudahi sampai disini saja" ujarnya.
Terburu-buru dia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung, lalu dengan memimpin empat setan lainnya berlalu dari sana.
Saat ini Tan Kia-beng boleh dikata sudah melupakan peristiwa yang baru terjadi dengan Chuan Tiong Ngo Kui itu karena seluruh perhatiannya sudah ditumpahkan pada kereta kencana serta gadis berbaju putih itu.
Kereta kencana serta gadis berkerudung putih itu tidak bakal bisa salah lagi! kini yang kurang hanyalah si kakek berkerudung hitam itupun muncul juga pada saat ini maka suatu peristiwa yang maha besar bakal tersingkap
Sewaktu gadis berkerudung putih itu melihat Tan Kia-beng melototi dirinya dengan tak berkedip mendadak dia lantas tertawa cekikikan.
"Eee! mari sini dan bantu nonamu jadi kusir kereta” ujarnya sambil menyapa "Saat ini memangnya lagi kekurangan seorang kusir kereta!"
“Heee.... heee.... kau tidak usah merasa bangga dulu" sela Tan Kia-beng sambil tertawa dingin, "Malam ini bilamana aku orang she Tan tidak berhasil membuka kedok yang kau pakai itu aku akan merasa malu terhadap kepandaian silat sendiri"
Mendadak tubuhnya berkelebat maju menyambar ke atas kerudung yang dikenakan di atas wajah gadis itu
Dengan gesitnya gadis berkerudung putih itu menyingkir kesamping, cambuk yang ada ditangannya dengan gesitnya
laksana seekor ular menggulung ke atas pergelangan tangannya.
“Hi hi.... belum tahu!” ejeknya sambil tertawa cekikikan.
Dengan cepat Tan Kia-beng miringkan tubuh dan mendayungkan tangannya dengan menggunakan gerakan Huan Im Hu Yu sambil melesat maju dan melangkah ke depan tangannya menyambar ke atas cambuk tersebut.
"Hati-hati dengan kaki anjingmu!” tiba-tiba maki gadis kerudung putih sambil tertawa.
Pergelangan tangannya mendadak ditekan ke bawah cambuknya bagaikan seekor ular segera menggulung ke arah sepasang kaki dari pemuda tersebut.
Gerakannya ini dilakukan amat gesit dan cepat lincah bagaikan seekor kijang.
Diam-diam Tan Kia-beng merasa amat kaget dengan kejadian ini pinggangnya ditarik ke depan sedang tubuhnya melayang sejauh lima depa untuk menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Gadis itu sama sekali tidak mengejar ke depan pinggangnya sedikit ditekuk dan kembali tertawa dengan gelinya.
Melihat dirinya diejek Tan Kia-beng jadi amat gusar, kembali tubuhnya berkelebat ke depan sepasang tangannya dipentangkan lebar-lebar melancarkan serangan gencar dengan menggunakan cara cara yang termuat dalam Kitab pusaka "Teh Leng Ciu Kong"
Gadis itupun segera memperlihatkan gerakan gerakannya yang gesit, cambuk ditangannya segera menggulung dan menyambar dengan amat hebatnya, setiap serangan tak ada
yang terlepas dari ancaman sepasang tangan serta kaki dari pemuda itu.
Dengan cepatnya diantara mereka berdua terjadi suatu pertempuran yang amat seru, walaupun sudah lewat beberapa saat lamanya Tan Kia-beng tidak berhasil meraba kerudung yang dikenakan oleh gadis tersebut.
Sedangkan cambuk dari gadis itupun tidak berhasil menempel ujung baju dari pemuda itu.
Dalam keadaan yang amat cemas itulah mendadak Tan Kia-beng teringat akan sesuatu siasat yang licik, diam-diam dia mengerahkan hawa murninya keseluruh tubuh lalu sengaja memperlambat gerakannya.
Dengan gerakan tubuh sang gadis yang begitu cepat dan gesitnya untuk sesaat lamanya tak berhasil juga menahan serangan cambuk itu, tapi tahu-tahu cambuk itu sudah melibat dikaki si pemuda, dan sulit ditarik kembali.
"Haa.... haa.... kau kena tertipu!” teriak Tan Kia-beng sambil tertawa tawar.
Tubuhnyapun dengan meminjam kesempatan menarik ke belakang dengan kerasnya sehingga membentur tubuh gadis itu, sedang tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar ke atas kerudung yang dikenakan olehnya.
Menurut keadaan seharusnya.... ya gadis itu tentu akan menjerit keras karena kena ditipu oleh lawannya, siapa sangka bukannya dia merasa terkejut atau gugup tapi malah cambuknya dilepaskan sedang sepasang tangannya yang putih halus itu melingkar pada lehernya.
Perbuatannya benar-benar berada diluar dugaan Tan Kia-beng di dalam keadaan tertegun dengan cepat dia menyingkap kain kerudung itu.
"Haa.... haa.... kurangajar! kiranya kau"
Wajahnya dengan cepat ditempelkan pada pipi gadis tersebut dan menciumnya dengan bernapsu.
Gadis tersebut menurut saja dan membiarkan pemuda itu menciumi dirinya dengan bernapsu.
Bercium.... cium sehingga bibir bertemu dengan bibir dan menempelkan amat lama sekali, mereka mulai menjalankan tindakan sebagai manusia purba.
---0-dewi-0---
Lama lama sekali, dengan rasa malu gadis berbaju putih itu baru mendongakkan kepalanya dan mendorong dia kesamping.
"Kau manusia jahat, sungguh jahat sekali" serunya manja.
Tetapi Tan Kia-beng tetap memeluk pinggangnya erat-erat, diapun tersenyum.
"Tahun lalu aku sudah jadi kusirmu selama dua bulan apakah masih tidak cukup? kenapa malam ini kembali kau suruh aku menjadi kusirmu lagi?”
"Emmm,” seru gadis berbaju putih itu sambil tertawa cekikikkan
Tan Kia-beng menggoyang goyangkan kepalanya dan memperlihatkan sikapnya apa boleh buat.
Para pembaca sekilas tentunya bisa menduga bukan siapakah gadis berbaju putih itu? dia bukan lain adalah
kekasih yang dirindukan oleh Tan Kia-beng siang malam Mo Tan-hong adanya!
Tampaknya dengan gerakan yang gesit dia meloncat naik ke atas kereta sebuah jubah hitam serta secarik kain hitam dan dua utas jenggot palsu kepada pemuda tersebut.
“Cepat kau kenakan semua barang-barang itu, semakin cepat semakin baik.”
"Eei.... apa yang hendak kau perbuat?”
“Tidak usah banyak tanya lagi, ayoh cepat kenakan barang-barang tersebut!”
Tan Kia-beng tidak bisa berbuat apa apa lagi, terpaksa dia menurut dan mengenakan barang-barang tersebut.
Mo Tan-hong pun segera menyerahkan cambuk itu kepadanya.
“Cepat jalankan kereta menuju jalan besar dan lari ke sebelah Barat. Ingat! cambuk harus dibunyikan senyaring mungkin dan kereta harus dijalan amat kencang, semakin menarik perhatian banyak orang semakin baik.”
Tan Kia-beng tidak tahu apa yang sebenarnya lagi diperbuat oleh gadis tersebut, dalam hati pemuda itu cuma merasa keheranan.
Orang lain sudah mencurigai dirinya mempunyai hubungan dengan majikan kereta kencana itu bagaimana boleh dirinya menyamar seperti ini untuk mencari gara gara?
Tetapi dia menurut saja melarikan keretanya ke arah jalan raya dengan amat cepat.
Sembari melakukan perjalanan tanyanya kemudian, "Sebenarnya ide dari siapakah ini?"
"Suhuku!!"
"Ui Liong Tootiang?"
"Bukan, dia adalah Sam Kuang"
"Sam Kuan sin nie? lalu apakah Ui Liong-ci tidak memberi pelajaran ilmu silat kepadamu".
"Soal ini tak ada waktu untuk dibicarakan pada waktu ini, pokoknya lain kali kau bakal tahu sendiri."
Kereta berlari dengan amat cepatnya membuat suasana jadi gaduh dan dipenuhi dengan suara putaran roda serta bunyi cambuk yang amat ramai.
Tan Kia-beng menunggang kereta ini adalah untuk kedua kalinya bersama-sama dengan Mo Tan-hong, cuma saja keadaan dari sekarang dan dulu adalah sama sekali berbeda.
Tetapi kali ini mereka berdua pada memiliki kepandaian silat yang amat lihay hingga tidak takut lagi kalau ada orang yang datang mencari gara gara dengan mereka.
Sedikitpun tidak salah, dengan munculnya kereta kencana itu maka dengan cepat sudah memancing perhatian orang-orang Bulim.
Sewaktu pagi hari menjelang orang-orang yang menguntit dari belakang kereta itupun semakin lama semakin banyak.
Tan Kia-beng yang melihat kejadian itu hatinya mulai merasa tidak tenang, tetapi Mo Tan-hong yang ada di dalam ruangan kereta terburu-buru memberi peringatan, "Coba kau bersabarlah untuk menjalankan tugas, tidak sampai setengah hari lagi kita bakal tiga di tempat tujuan."
Tan Kia-beng waktu itu benar-benar merasa tidak sabar lagi, cambuknya diayunkan semakin kencang membuat larinya keretapun semakin cepat.
Beberapa saat kemudian kereta itu sudah tiba disebuah mulut lembah yang penuh dengan pepohonan yang tinggi besar....
Tidak usah ragu ragu lagi larikan kereta ke dalam buru-buru Mo Tan-hong memberi peringatan "Mulai sekarang harap kau suka bersabar menjalankan tugas, bila keadaan tidak sampai kepepet lebih baik jangan turun tangan."
Tan Kia-beng hanya mengangguk, cambuknya diayjnkan dengan nyaringnya melarikan kereta tersebut menuju kemulut lembah itu.
Baru saja mereka tiba dimulut lembah, mendadak....
Suara berputarnya roda kereta kencana dari mulut lembah sebelah Timur, di atas kereta itupun duduklah seorang kakek tua berjubah hitam yang berkerudung.
Melihat munculnya si kakek berjubah hitam itu darah panas bergolak dengan kerasnya di dada pemuda tersebut.
"Hmm! ini hari ketemu juga kau ditangan siauw yamu" serunya sambil mendengus dingin.
Mo Tan-hong yang takut dia mengikuti hawa nafsunya sehingga dapat merusak rencananya yang sudah diatur itu buru-buru kembali bisiknya, "Sebelum suhuku munculkan diri, kau dilarang turun tangan, dengar?"
"Heeei.... tidak boleh aku turun tangan bagaimana bisa?"
Baru saja dia selesai berkata dari mulut gunung sebelah Selatan kembali muncul sebuah kereta kencana diselingi dengan suara cambuk yang amat nyaring.
Orang yang ada di atas kereta itu pun seorang kakek tua berjubah hitam yang memakai kerudung pula.
Melihat kejadian itu Tan Kia-beng jadi keheranan.
“Iiih? bagaimana bisa muncul begitu banyak kereta kencana?” serunya.
Sewaktu dia bermaksud hendak menanyakan persoalan ini kepada Mo Tan-hong itulah kembali terdengar suara ringkikan kuda yang memanjang disusul munculnya sebuah kereta kencana dari mulut gunung sebelah Timur.
Orang yang mengurusi kereta itupun merupakan seorang kakek tua berkerudung hitam secara samar-samar dapat melihat di dalam ruangan kereta itu duduklah seorang gadis berkerudung putih.
Seluruh kereta kencana yang munculkan dirinya itu pada berlari menuju ke sebuah kuil besar di tengah lembah tersebut.
Dengan adanya kejadian ini Tan Kia-beng benar-benar dibuat kebingungan.
"Eei.... jangan ragu ragu lagi" teriak Mo Tan-hong dari dalam ruangan kereta. Cepat larikan kereta ke depan, semua orang sudah hampir tiba!"
Terpaksa Tan Kia-beng putar cambuk dan melarikan keretanya kembali menuju ke arah kuil tersebut.
Sewaktu keretanya tiba di depan kuil tersebut tampaklah ketiga buah kereta kencana lainnya juga sudah berhenti di depan kuil tersebut tetapi dak seorangpun yang turun dari keretanya.
Sewaktu pemuda itu menyapu kembali keadaan di sekeliling tempat itu terlihatlah di belakang setiap kereta kencana
berdirilah puluhan orang jagoan Bulim tidak terkecuali dibelakang kereta kencana sendiri.
Sedang keadaan dari kuil itu amat angker sekali, di atas pintu masuk terpancanglah sebuah papan nama yang berukiran kata-kata, "YA HU SI" tiga kata besar yang terbuat dari emas.
Seorang hweesio gemuk yang perutnya gemuk dengan memakai lhasa berwarna merah darah memegang sebuah tongkat dengan pemimpin empat orang hweesio gundul lainnya berjalan keluar dari ruangan dengan langkah lebar.
Tapi sewaktu dilihatnya barisan yang ada di depan matanya jelas kelihatan dia rada terperanjat, lalu sambil tertawa, serunya, "Selama ini Pinceng tidak pernah mencampuri urusan dunia kangouw, entah kawan kawan sekalipun ada keperluan apa pada berdatangan kemari!”
Tiba-tiba.... dari dalam kereta kencana yang berhenti disebelah selatan terdengar suara bentakan keras laksana halilintar.
"Biarlah aku keluar dari kereta untuk menghilangkan rasa mangkel dari aku si hweesio gundul!" serunya.
Sreeet dari atas atap kereta kencana itu mendadak meloncat keluar seorang hweesio gemuk seorang pengemis yang amat dengkil diikuti si kakek berbaju hitam yang ada di depan keretapun melepaskan kerudungnya yang ternyata bukan lain adalah si toosu dengkil.
Hong Jan Sam Yu sudah lama berkelana di dalam dunia kangouw, tindak tanduknya aneh kini begitu melihat munculnya mereka dari balik kereta kencana tak terasa lagi membuat para jago ini jadi terperanjat.
"Iih?!.... suara jeritan kaget segera bergema memenuhi angkasa.
Air muka si pengemis aneh sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun sebaliknya si hweesio berangasan itu sudah tertawa terbahak-bahak.
"Terus terang aku beritahu kepadamu! kawan kawan Bulim yang ada diempat penjuru pada saat in hanya datang karena sedang mengejar kereta kencana ini, urusan ini tiada sangkut pautnya dengan dirimu."
Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambil menuding ke arah kereta kencana yang lain dia berseru kembali.
"Cuma salah satu kereta dari antara kereta ini saja yang sengaja datang kemari untuk mencari gara gara dengan dirimu atau dengan perkataan lain orang itu benar-benar bermaksud mencari dirimu adalah majikan kereta kencana yang amat kejam dan terkutuk!"
Sepasang mulut si Toosu dengkil itu paling tidak bisa berdiam, cepat-cepat dia menyambung kembali perkataan dari si hweesio berangasan itu sambil tertawa aneh, "Hee.... hee.... orang budiman tidak akan melakukan pekerjaan yang merugikan orang lain, hanya penjahat saja yang kaget bilamana diketuk pintunya di tengah malam, bilamana aku belum pernah melakukan perbuatan jahat kenapa saat ini merasa begitu takut?"
Hweesio gemuk yang berdiri di depan kuil dalam hati sebenarnya sudah punya perasaan yang tidak beres, kini begitu mendengar kalau majikan kereta kencana bermaksud hendak mencari gara gara, air mukanya sudah berubah amat hebat.
"Oorang.... orang beribadat.... tidak.... tidak pernah ber.... berbuat jaaa.... jahat...." serunya gemetar.
Baru saja hweesio itu selesai berkata mendadak terdengar suara tertawa aneh berkumandang keluar dari kereta kencana sebelah Utara, seorang tua berjubah hitam itu mendadak melompat ke atas udara dan menerjang ke arah kereta kencana yang ada di sebelah Timur.
Tubuhnya belum tiba telapak tangannya dengan dahsyat sudah melancarkan satu pukulan ke arah si kakek berjubah hitam yang ada di sebelah Timur itu, agaknya dia merasa amat benci sekali terhadap orang itu.
Melihat datangnya serangan tersebut kakek berjubah hitam yang ada di atas kereta sebelah Timur buru-buru menyentak tali les kudanya hingga kereta itu lari ke depan.
Dengan demikian pukulan yang amat dahsyat itu berhasil dihindari.
Si kakek berjubah hitam yang ada di tengah udara sewaktu melihat serangannya tidak mencapai sasarannya segera membentak keras.
"Ini hari loohu mau lihat kau bisa berubah jadi apa lagi".
Mendadak tubuhnya menerjang ke depan lima jarinya dipentangkan lebar-lebar dan menghajar wajah dari si orang tua itu.
Pada waktu itu si kakek tua yang ada disebelah utara melancarkan serangan itulah Hong Jen Sam Yu pun bersama-sama meloncat ke depan dan mengurung kereta kencana yang ada di sebelah Timur itu dengan rapat rapat.
"Ini hari kami mau lihat kau hendak melarikan diri kemana lagi?" bentaknya berbareng.
Mo Tan-hong yang ada dikereta kencana sebelah Barat setelah melihat kejadian itu segera menjerit, "Kereta kencana itu adalah kereta yang sesungguhnya, dan dialah orang yang sudah menyaru dengan berbuat jahat, ayoh cepat kita kesana untuk menangkap dirinya"
Demikianlah mereka berdua segera melepaskan kain kerudung yang ada di atas wajahnya dan meloncat ke arah kereta itu dari belakang Hong Jen Sam Yu.
Seluruh kejadian itu berlangsung hanya di dalam sekejap mata saja si kakek berkerudung hitam yang ada di atas kereta disebelah Timur itu sama sekali tidak jadi gugup, dengan cepat diapun melepaskan kain kerudungnya.
"Hmm! pencuri berteriak pencuri, apakah kalian mengira dengan berbuat demikian sudahbisa mengelabuhi orang lain" serunya sambil tertawa dingin.
Para jago lainnya sewaktu melihat orang itu melepaskan kain kerudungnya segera pada menjerit kaget;
"Iiih! sungguh aneh sekali, bagaimana mungkin bisa dia?"
Kiranya si manusia berkerudung hitam itu bukan lain adalah Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong yang namanya amat terkenal di seluruh kolong langit itu.
Si kakek tua berjubah hitam yang ada di atas kereta kencana di sebelah Utara itu sama sekali tidak jadi terperanjat oleh kejadian ini, dengan gerakan yang tetap dia meneruskan terjangannya melancarkan serangan.
Sedang Hong Jen Sam Yu pun sama sekali tidak merasa ada diluar dugaan, dengan memecahkan diri dalam posisi segitiga mereka mengawasi seluruh tindak tanduk dari Thay Gak Cungcu itu.
Tan Kia-beng serta Mo Tan-hong pun pada saat yang bersamaan sudah tiba dihadapan Thay Gak Cungcu.
Setelah Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong selesai mengucapkan kata-kata itu tubuhnya dengan cepat menyingkir dari serangan yang dilancarkan oleh si kakek berkerudung hitam dari kereta sebelah utara itu.
"Bajingan iblis! ayoh cepat lepaskan kain kerudungmu, biar kawan kawan Bulim pada tahu siapakah sebenarnya aku" bentaknya kembali.
Si kakek tua berjubah hitam yang lagi melancarkan serangan segera dongakkan kepalanya.
"Cepat la lepas kenapa harus takut? apa kau kira aku orang she Hu pernah melakukan pekerjaan yang memalukan?
Ketika kain penutup itu terbuka maka tampaklah kalau orang itu bukan lain adalah si Penjagal Selaksa Li Hu Hong adanya.
Mendadak....
Tampaklah bayangan putih berkelebat diantara siluman mata tampaklah dua sosok bayangan putih melayang ke tengah kalangan dan masing-masing pada melepaskan kain kerudung.
Gadis yang ada disamping Bok Thian-hong bukan lain adalah Bok Hujien, Lei Hun Hwee ci sedang gadis yang ada di samping Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong bukan lain adalah si Pek Ih Loo Sat Hu Siauw-cian!
Kejadian ini benar-benar amat mengherankan sekali, sewaktu Hu Hong dan Hu Siauw-cian melepaskan kain kerudungnya itulah di tengah kalangan sudah berubah jadi gaduh, bahkan ada beberapa orang yang mulai menjerit keras.
"Aakh.... iblis tua? tidak salah, dia memangnya iblis tua yang telah banyak melakukan kejahatan itu".
"Akh.... siluman perempuan? siluman perempuan.... aakh!! sianakan iblispun sudah tiba, ini hari jangan membiarkan mereka lolos, ayoh serbu!"
Melihat suasana yang amat kacau itu si hweesio berangasan jadi amat gusar, mendadak bentaknya, "Tutup mulut! orang yang benar-benar telah melakukan kejahatan dialah si Thay Gak Cungcu, Bok Thain Hong yang biasanya kelihatan ramah dan sopan tetapi dihati binatang itu."
Si hweesio berangasan ini jadi orang sangat kasar, suaranyapun laksana halilintar, apa yang diucapkan olehnya pada saat ini segera berkumandang keseluruh angkasa membuat para jago jadi amat kaget dan bungkam.
Tetapi, walaupun nama Hong Jen Sam Yu sudah terkenal diseluruh Bulim tetapi nama tersebut tidak secemerlang Cun Hong Hua Yu empat kata, dari antar para jago yang hadir pada waktu itu kecuali menaruh rasa jeri dan kaget disana sini masih terdengar suara menggerutu jelas perkataan dari si hweesio berangasan in sama sekali tidak mendapat kepercayaan seratus persen dari para jago.
Waktu itu Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong ayah beranak serta Hong Jen Sam Yu dan Tan Kia-beng, Mo Tan-hong dengan tajamnya mengawasi terus seluruh gerak gerik dari Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong.
Sebaliknya air muka Bok Thian-hong itu cungcu dari perkampungan Thay Gak Cung sama sekali tidak berubah, wajahnya tetapi tersungging suatu senyuman dan berdiri disana sambil bergendong tangan.
Sebaliknya Lie Hun Hweeci dengan wajah diliputi ketegangan bersandar di tubuh suaminya.
Suasana kembali jadi hening setelah para jago dapat dibuat tenang si pengemis aneh itu baru tertawa terbahak-bahak sambil menuding ke arah Bok Thian-hong.
Ha ha ha.... aku si pengemis tua melakukan pengejaran sejauh laksaan li dan lari sama lari sehingga hampir kakinya terasa putus, tidak disangka angin topan serta banjir darah yang terjadi di dalam Bulim adalah hasil perbuatan dari kalian suami istri, ha ha.... hati manusia sungguh sukar diduga!"
Air muka Lei Hun Hweeci segera berubah jadi hijau membesi, dia menjerit gusar, “Kau jangan sembarangan berbicara, kami suami istri sengaja menyaru dan menguntit siang malam justru hendak mengejar iblis bangsat ini, siapa tahu kau pengemis busuk ternyata membolak balikkan persoalan dan menuduh kami yang jadi pembunuh Hmm! kau kira orang-orang dari perkampungan Thay Gak Cung boleh diganggu seenaknya?”
“Hooo hooo hooo.... urusan sudah menjadi begini, apakah kau masih hendak mungkir?" seru si pengemis aneh sambil memutar biji matanya.
Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong masih bersikap dingin dan kaku terhadap semua urusan yang sudah terjadi dia merasa seperti tidak ada hubungannya dengan dia, sepasang matanya yang tajam dan seram memancarkan sinar yang amat menakutkan dan melototi Thay Gak Cungcu tanpa berkedip.
“Hmm! Sudah, loohu bermaksud mencari dirimu untuk mengadu jiwa, cuma saja kau amat licik dan setiap kali berhasil lolos, hee hee.... ini hari aku mau suruh kau merasakan lagi bagaimana rasanya ilmu Swie Soat Peng Hun
Sam Tiap Sah dariku ini!” serunya sambil setindak demi setindak mendesak lebih mendekat.
Mendengar perkataan tersebut Bok Thian-hong segera dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.
"Sepasang tanganmu sudah dinodai darah segar, dosamupun sudah bertumpuk tumpuk, setiap orang Bulim pada bermaksud untuk melenyapkan dirimu dari muka bumi ini. Walaupun aku orang she Bok punya hati welas tapi tidak bisa juga mengampuni kau manusia jahanam yang berhati kejam, baiklah ini hari kita membuat suatu keputusan dihadapan para jago Bulim"
Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong mulai menyengir buas, dia tak berbicara lagi cuma sepasang telapak tangannya dengan perlahan diangkat di depan dada siap-siap melancarkan serangan.
Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang menghadapi musuh tangguh dihadapannya tidak berani berlaku ayal lagi, air mukanya berubah serius, sedang hawa murninya secara diam-diam mulai disalurkan keseluruh tubuh siap menerima serangan dari pihak musuh.
Para jago yang hadir di tengah kalangan saat ini sama sekali tidak dibuat tenang oleh situasi yang penuh ketegangan itu, sebaliknya keadaan jadi bertambah gaduh.
Mendadak dari antara para jago yang hadir disana munculnya segerombolan manusia manusia termasuk para jago dari siauw lim Bu-tong-pay, Kay-pang, Benteng Hwee Im Poo Go-bie pay dan para jago lainnya dari kalangan Liok lim.
Gerombolan manusia manusia itu dengan perlahan mulai mendesak ke depan dengan tegaknya, sudah tentu tujuannya
adalah si Penjagal Selaksa Li Hu Hong, Pek Ih Loo Sat, Hu Siauw-cian dan Tan Kia-beng tiga orang.
Melihat kejadian ini si pengemis aneh jadi cemas sekali, mendadak teriaknya keras, “Peristiwa yang terjadi hari ini bilamana tidak dibikin jelas maka orang-orang kangouw selamanya akan buta dalam urusan ini"
Kepada Hu Siauw-cian diapun lantas berbisik, "Cepat cegah ayahmu, katakan saja untuk sementara bersabar, menanti setelah urusan dibikin jelas untuk hajar dia masih banyak waktu"
Sejak Tan Kia-beng munculkan dirinya di dalam kalangan selama ini belum pernah dia mengucapkan sepatah katapun, kini setelah mengetahui kalau kakek tua berkerudung hitam yang diemuinya berulang kali ternyata bukan lain adalah Bok Thian-hong dalam hati lantas merasa bagaimana pun juga orang-orang Bulim harus dijelaskan dulu bagaimana licik dan jahatnya Bok Thian-hong kalau tidak urusan ini tak bakal jadi jelas kembali.
Karenanya mendadak dia maju ke depan dan berdiri diantara Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong serta Thay Gak Cungcu.
"Suheng untuk sementara waktu kau bersabarlah sebentar, biarlah aku yang maju," katanya.
Walaupun Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong berada dalam keadaan gusar tetapi sangat penurut sekali, begitu mendengar perkataan tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia sudah loncat mundur ke belakang.
Setelah Tan Kia-beng berhasil mencegah Hu Hong, mendadak dia mengambil keluar medali pualam yang
didapatkan dari si pencuri sakti itu dan diperlihatkan di depan mata Bok Thian-hong
"Tahukah kau benda apakah ini?"
Thay Gak Cungcu yang melihat mukanya segera berubah hebat, tapi bagaimanapun juga adalah seorang yang berhati licik sekalipun dalam hati merasa terperanjat tapi dengan berusaha keras wajahnya tetap dipertahankan kemenangannya.
"Cayhe tidak kenal dengan benda benda yang ada ditangan iblis." serunya dingin.
Mendengar perkataan Tan Kia-beng segera tersenyum.
"Haa.... haa.... bilamana aku menggunakan benda ini untuk memberi perintah kepadamu apakah kau berarti melanggar?"
Sekali lagi Bok Thian-hong dibuat terperanjat oleh perkataan tersebut, selintas napsu membunuh menyelimuti wajahnya, tetapi dia tidak berani memperlihatkan di wajahnya.
"Aduuuh celaka! bilamana bangsat itu benar-benar memberi perintah dengan menggunakan medali pualam itu, aku harus berbuat bagaimana?" pikirnya.
Sekalipun di dalam otaknya berpikir begitu tetapi mulutnya masih tersungging senyuman yang amat tawar.
"Medali pualam bukan benda dari perkampungan kami, kenapa bisa mengikat aku orang she Bok?" katanya.
Perkataan tersebut amat tepat sekali, artinya bisa mengaku bisa pula tidak mengaku, dengan mudahnya dia berhasil menghindarkan diri dari pertanyaan itu.
Tan Kia-beng pun semula hanya bermaksud untuk mengetahu bagaimana jawabannya, melihat dia berbicara
begitu pemuda itupun tidak suka bertanya lebih lanjut, sambil menyimpan kembali medali pualam itu dia menoleh ke arah si pengemis aneh
“Loo Ko Ko, kita hendak menghukum bajingan ini dengan cara apa?” tanyanya.
"Umumkan seluruh kesalahannya dihadapan jago-jago Bulimdan suruh dia turun tangan untuk membinasakan diri!" sahut si pengemis aneh itu dengan keren.
Mendadak dari antara para jago yang hadir di tempat itu berkumandang datang suara seorang yang amat seram sekali
"Hey pengemis tua, pinto lihat semakin tolol buat apa kau bergaul dengan ketiga orang manusia bangsat yang sudah banyak berbuat dosa itu?”
Dia berhenti sebentar untuk kemudian sambil mempertinggi suaranya melanjutkan kembali, "Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong ayah beranak bersifat buas dan kejam suka membunuh orang, Bok Thian-hong suami istri sebagai jagoan berhati jujur dengan menyaru hendak membasmi bibit bencana bukannya dipuji kau malah menganggapnya sebagai pembunuh, perkataan ini siapa yang mau percaya? aku menasehati dirimu, lebih baik cepat-cepatlah meninggalkan tempat ini dan memberi kesempatan buat kawan kawan Bulim untuk membasmi ketiga orang bajingan bangsat itu dari muka bumi."
Si pengemis aneh segere memutar sepasang matanya memandang ke arah orang yang baru saja berbicara itu, orang itu bukan lain adalah Loo Hu Cu Ciangbunjin dari Go-bie pay, tak terasa lagi sepasang matanya segera mendelik bulat bulat.
"Hee.... hee.... bilamana aku si pengemis tidak suka bagaimana?" serunya sambil tertawa dingin.
"Kalau begitu kau adalah kawan saja lain dengan Si Penjagal Selaksa Li, kawan kawan Bulim akan memusnahkan sekalian dirimu.
"Omong kosong!" bentak si hweesio berangasan sambil maju ke depan. "kau termasuk manusia tidak genah, bergaul dengan manusia yang sok gagah dan pura pura bersifat jantan!"
Perkataan dari si hweesio ini benar-benar amat tajam, bahkan secara diam-diam mulai menyalurkan hawa murninya ke arah tangan.
"Hee.... hee.... apakah kau bermaksud hendak turun tangan?" seru Loo Hu Cu sambil tertawa dingin tiada hentinya.
"Mungkin!"
Tubuh si hweesio berangasan yang amat gemuk dan besar itu segera bergeser dua langkah ke depan.
---0-dewi-0---
JILID: 21
Mendadak....
Bayangan manusia berkelebat tahu-tahu Bok Thian-hong sudah berdiri diantara mereka berdua.
“Kalian berdua tak usah beribut dulu!" cegahnya dengan suara yang amat keras.
“Keadilan ada dihati tiap orang masing-masing! baiknya kita mengajukan urusan ini kehadapan kawan kawan Bulim diseluruh kolong langir dan biarlah mereka yang bertindak sebagai penuntut!"
Di atas jalan raya Cing Siang, tulang putih bertumpuk tumpuk, di dalam benteng Hwee Im Poo mayat laksana gunung, di atas gunung Bu-tong-san jejak darah masih baru, kesemuanya ini adalah bukti yang nyata, apakah soal ini bisa dipungkiri lagi? saudara saudara sejalan dan sealiran, ayoh serbu! kita tawan dulu ketiga orang bajingan iblis itu kemudian baru tuntut mereka di depan umum!”
Sampai waktu ini Hwee Im Poocu benar-benar tidak kuat menahan sabarnya, sambil membentak keras dia sudah menyerbu ke depan.
Di dalam hati kecil para jago selama ini terus menerus terbayang Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong adalah seorang iblis jahat yang melakukan perbuatan busuk macam apapun, bayangan ini sukar untuk terhapus dari benaknya, Kini sesudah dibakar hatinya oleh Bok Thian-hong keadaanpun mulai jadi gaduh
Di dalam sekejap saja bayangan manusia berkelebat memenuhi kalangan, suara bentakan serta teriakan bergema tiada hentinya, masing-masing jago dengan ganasnya pada menyerbu ke depan.
Kelihatannya suatu pertempuran yang mengerikan kembali akan berlangsung di tempat ini
Bok Thian-hong dengan wajah yang masih tersungging satu senyuman dingin segera mengajak Lei Hun Hwee ci mundur ke samping kalangan untuk menonton.
Pada saat saat yang kritis itulah mendadak kembali terdengar suara ringkikan kuda yang amat ramai sebuah kereta kencana bagaikan kilat cepatnya sudah muncul di tengah kalangan.
Kusir yang ada dikereta kencana itupun merupakan seorang kakek tua berjubah hitam yang berperawakan tinggi besar.
Kedatangan dari kereta kencana itu amat cepat bahkan aneh sekali seketika itu juga membuat para jago yang hadir disana dibuat kebingungan dan berdiri melongo
Kereta kencana itu setelah tiba di tengah kalangan sedikitpun tidak berhenti, dengan cepatnya kereta itu menerjang dari antara para jago dan berhenti di depan pintu kuil
Pada saat itulah si kakek berjubah hitam yang ada di depan kereta mendadak meloncat bangun dan melepaskan kain kerudung yang ada di depan wajahnya.
"Akh! Liok lim Sin Ci...." teriak para jago yang hadir disana dengan perasaan terperanjat
Dikuti dari kereta itu berkelebat keluar sosok bayangan abu abu tahu-tahu di depan kereta sudah muncul seorang nikouw tua yang berwajah merah.
Sam kuang Sinnie! kembali dari antara para jago lalu serunya dengan suara teriakan
Dengan angkernya Liok lim Sin Ci berdiri di atas kereta, sedang matanya dengan amat tajam menyapu sekejap ke arah para jago lalu serunya dengan suara keras, “Kawan kawan Bulim sekalian tentunya sudah merasa cemas dan ingin cepat-cepat mengetahui siapakah majikan kereta kencana yang berulang kali melakukan kejahatan itu bukan?”
Walaupun para jago yang hadir di tengah kalangan itu pada mengira kalau orang yang melakukan kejahatan berulang kali itu pasti adalah si Penjagal Selaksa Li Hu Hong ayah beranak serta Tan Kia-beng tetapi setelah mendengar tuduhan dari
Hong Jen Sam Yu, sedikit banyak dalam hati mulai menaruh curiga juga.
Kini secara tiba-tiba mendengar Liok lim Sin Ci mengajukan pertanyaan tersebut seluruh kalangan segera diliputi oleh suasana yang amat sunyi setiap orang dengan mata terbelalak memandang ke arahnya.
"Sungguh tidak disangka orang itu bukan lain adalah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong!"
Setiap kata diucapkan dengan begitu tegas dan bertenaganya dari mulut Liok lim Sin Ci sehingga membuat para jago yang mendengarnya merasa amat terperanjat sekali.
Sinar mata dari Liok lim Sin Ci kembali menyapu sekejap keseluruh kalangan lalu sambungnya.
"Ada kemungkinan diantara kalian masih menaruh rasa ragu serta heran dengan perbuatan serta nama dari orang she Bok di dalam Bulim tempo hari mana mungkin bi melakukan perbuatan ini? Sekarang Loo hu bisa memberitahukan kepada saudara saudara sekalian, sebenarnya Bok Thian-hong adalah seorang manusia licik yang sangat berbahaya bagi keselamatan dunia kangouw, kadang kadang dia bisa menggunakan sedikit budi atau kebaikan untuk menipu orang lain dan menutupi seluruh kejahatan yang dilakukan sibalik semuanya itu.... maka kalian jangan terlalu percaya dengan manusia she Bok itu! dia adalah orang bangsat yang berhati licik bagaikan ular berbisa!"
Kedudukan dari Liok lim Sin Ci di dalam dunia kangouw sangat terhormat sekali perkataannya jauh lebih dihormati dan dipandang oleh para jago.
Kini setelah mendengar perkataannya itu walaupun dalam hati para jago masih diliputi oleh rasa curiga tetapi tidak urung
sinar matanya bersama-sama dialihkan ke atas wajah Thay Gak Cungcu suami istri.
Sebaliknya Bok Thian-hong masih tetap berdiri dengan amat tenangnya, dengan pandangan dingin dan jumawa dia menyapu ke arah para jago yang sedang memandang ke arahnya lalu dialihkan ke atas wajah Liok lim Sin Ci.
Loo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay yang terkenal akan kelicikannya sampai saat ini dia sebagai pembunuh yang sesungguhnya, mendadak dia majukan dirinya ke depan dan membantah, "Apakah perkataan dari Sin Ci ini tidak sedikit keterlaluan berdasarkan dari bukti
Sepasang mata dari Liok lim Sin Ci segera berkelebat memancar cahaya yang sangat tajam, dia dongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak, suaranya yang keras itu dengan cepatnya bergema keseluruh lembah membuat para jago merasakan terlinganya mendengus tiada hentinya.
Jelas kalau Liok lim Sin Ci ini sudah dibuat gusar oleh perkataan dari Loo Hu Cu itu.
Sudah tentu dia harus merasa gusar karena ciangbunjin dari Go-bie pay yang terdahulu Luok Oh Tootiang adalah sahabat karibnya, waktu itu Loo Hu Cu tidak lebih hanyalah seorang toosu cilik, tidak disangka ini hari ternyata berani menggunakan nada suara yang begitu kasar untuk mengadakan pembicaraan dengan angkatan tua, saking khekinya seolah ingin meledak jantungnya.
Sam Koan Sin nie tahu kalau Liok lim Sin Cie sudah dibuat gusar oleh pertanyaan dari Loo Hu Cu yang amat kasar itu, diam-diam dia memuji keagungan Budha.
Omintohud! Pada beberapa waktu ini orang-orang kangouw pada mengerti ada seorang yang bernama Thay Gak Cungcu
Bok Thian-hong yang melakukan beberapa pekerjaan mulia" katanya perlahan "Tetapi apakah kalian ada yang tahu dari manakah asal usulnya? terletak dimanakah perkampungan Thay Gak Cung yang amat terkenal itu? Menurut penglihatan Pinnie seseorang jagoan gagah yang benar-benar bermaksud mulia dan luhur tidak akan menyembunyikan asal usul serta tempat tinggalnya kepada orang banyak!
Sejak munculnya peristiwa peristiwa ngeri yang dilakukan oleh kereta kencana, pie nie serta Sin Ci tiada tahu lelah telah terjunkan diri ke dalam dunia persilatan untuk mengadakan pemeriksaan, setelah berdaya upaya beberapa waktu lamana terakhir Pinnie baru berhasil memperoleh bukti bagi kawan kawan Bulim siapakah sebetulnya pembunuh yang maha kejam dan buas itu karenanya Pinnie lantas mengundang Hong Jen Sam hiap serta muridku Mo Tan-hong untuk menyaru sebagai pemilik kereta kencana dan memancing kedatangan kalian kemari.
Sehabis Sam Kuang Sin nie mengucapkan kata-kata tersebut para jago pada saling tukar pandangan dengan mulut mulut melongo, ternyata mereka tidak seorang pun yang tahu bagaimanakah sebenarnya Thay Gak Cungcu hati mereka pada mulai merasa kecewa karena sampai Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sendiripun tidak tahu dari manakah asal usulnya.
Karena itu suasana di tengah kalangan jadi amat gaduh, bahkan ada beberapa orang yang mempunyai rasa dendam dengan majikan kereta kencana itu pada mencabut senjata masing-masing dan memandang ke arah Bok Thian-hong suami istri dengan pandangan gusar.
Dengan gerakan yang amat ringan Liok lim Sin Ci segera meloncat ke depan dan melayang turun ke depan kereta
kencana yang dinaiki oleh Thay Gak Cungcu lalu teriaknya keras sambil menuding ke arah ruangan kereta itu,
"Sewaktu bajingan iblis itu melakukan kejahatan dikuil Sam Cing Kong digunung Bu-tong-san Loohu sudah datang sedikit terlambat sehingga tidak berhasil menghalangi kereta tersebut untuk melaksanakan kejahatan walaupun begitu di belakang kereta itu sudah aku hantam satu bekas telapak tangan dengan menggunakan ilmu pukulan Toa Loo Thian Kang Ciang sebagai pertanda untuk memudahkan dicari dikemudian hari!
Sehabis berkata ujung bajunya segera dikebutkan, kayu pada rontok dan terlihatlah di atas ruangan kereta yang berwarna merah darah itu terteralah sebuah telapak tangan yang amat dalam sekali.
Mendadak dari sepasang mata Liok lim Sin Ci memancarkan cahaya yang amat tajam, dengan pandangan berapi api dia melototi Thay Gak Cungcu.
Bok Thian-hong, kau ada perkataan apa lagi sebagai pembelaan?" bentaknya keras.
Paras muka Bok Thian-hong masih tetap tenang-tenang saja, kepalanya didongakkan ke atas sedang dari mulutnya tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Dosa yang dituduhkan waktu ini aku tidak bisa menerimanya, walaupun aku orang she Bok tidak berani menuduh kalau perbuatan ini adalah siasat buruk yang kelian persiapkan terlebih dulu untuk mencelakai kami suami istri berdua tapi semoga saja dengan nama kosongnya tempo hari aku masih bisa membuktikan kebersihan diri aku yang menghadapi urusan ini."
Mendadak Hwee Im Poocu tertawa terbahak-bahak dengan suara yang amat keras, "Haaa.... haaa.... pendapat dari para
enghiong selamanya sama, cayhepun mempunyai perasaan demikian sejak semula!"
Loo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay semakin gusar lagi dibuatnya, terdengar dia membentak nyaring, "Benteng Hwee Im Poo serta partai Go-bie adalah orang-orang yang menderita siksaan akibat perbuatan yang terkutuk itu, bilamana Thay Gak Cungcu benar-benar adalah pembunuhnya bagaimana mungkin dia suka membela diri kami mati matian? apalagi ilmu silat aliran Teh-leng-bun tidak ada persamaannya dengan ilmu silat Tionggoan siapa saja yang melihat tentu akan mengetahui dengan jelas, hee, hee disini pinto hanya memberi peringatan kepada saudara saudara sekalian janganlah sampai tertutup matanya oleh perkataan dari pembunuh yang sebetulnya"
Setelah mendengar perkataan tersebut suasana yang semula tegang dengan perlahan reda kembali hati para jagoanpun dibuatnya ragu ragu.
Saat ini si pengemis aneh tidak bisa menahan sabar lagi, mendadak dia maju dua langkah ke depan dan tertawa aneh dengan seramnya.
"Urusan orang lain aku si pengemis tua tidak akan perduli, tetapi nyawa dari anak murid Kay-pang, yang mendekati seratus orang, aku tidak boleh melepaskan dengan begitu saja heee.... heee.... Bok Thian-hong, bilamana kau betul-betul seorang lelaki sejati janganlah coba-coba menghindarkan diri dari beban ini."
"Heee.... heee.... kau anjing pengemis tidak usah main kekerasan disini!” ejek Bok Thian-hong sambil melirik sekejap ke arahnya. “Orang lain takut Hong Jen Sam Yu tapi aku Bok Thian-hong tidak akan memandang sebelah matapun kepada kalian."
Mendengar perkataan yang amat menghina itu hweesio berangasan jadi lebih gusar mendadak dia meloncat maju ke depan dan melancarkan satu babatan dahsyat
"Aku akan babat hancur kau anjing keparat yang tak berperikemanusiaan!” bentaknya keras.
Angin pukulan laksana taupan yang menderu deru, dengan dahsyat segera menyapu ke arah depan.
Bok Thian-hong mendengus dan telapak tangannya dengan ringan disapu ke depan sedang tubuhnya mengambil kesempatan ini maju dua langkah.
Si hweesio berangasan yang melihat pukulannya tidak mencapai hasil tubuhnya dengan cepat menubruk ke depan lagi sambil kirimkan satu pukulan dahsyat keluar.
Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat Loo Hu Cu tahu-tahu sudah berdiri menghalangi perjalanannya.
"Peristiwa yang sesungguhnya belum selesai diselidiki, tindakan saudara itu apakah tidak merasa terlalu berangasan?"
"Selamanya Hong Jen Sam Yu melakukan tindakan dengan adil dan benar, kenapa ini hari begitu ngotot mencari muka buat orang lain? cayhe ingin minta beberapa petunjuk seru Hwee Im Poocu Ong Jiang secara mendadak sambil meloncat maju
Melihat situasi yang sangat tegang dan tidak menguntungkan bagi dirinya buru-buru si pengemis aneh meloncat ke samping tubuh si hweesio berangasan lalu tertawa terbahak-bahak dengan amat seramnya.
"Haaa.... haaa.... kalian bukannya menyelidiki dan membalaskan dendam bagi kematian anak buah dari
perguruannya masing-masing sebaliknya malah membelai pihak musuh aku si pengemis tidak akan sebodoh kalian, peristiwa ini hari sudah ada kenyataan dihadapan mata siapapun yang akan ajukan diri jangan harap bisa menghalangi maksud dari perkumpulan Kay-pang kami untuk menuntut balas.
Jadi kalian bertiga benar-benar mau mencari gara gara sehingga urusan akan berkahir dengan suatu akibat yang mengerikan
"Nyawa seratus orang anak murid Kay-pang tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa dituntut balas!"
"Kalau orang betul-betul begitu keras kepala, biarlah pinto minta beberapa petunjuk dari kalian!" serunya dingin.
Begitu melihat dirinya ditantang, si pengemis aneh segera tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya.
"Haaa.... haaa.... sudah lama aku mendengar kehebatan ilmu Kiam hoat dari Go-bie pay, ini hari aku si pengemis tua kepingin juga minta beberapa jurus pengajaran darimu!
Sewaktu keadaan mencapai pada puncak yang amat kritis itulah mendadak dari antara gerombolan para jago itu berkumandanglah keluar suara pujian Buddha, seorang hweesio yang berwajah merah bercahaya dengan memakai sebuah jubah yang longgar berjalan keluar melerai mereka berdua, katanya, "Peristiwa ini hari tidak bisa dibereskan dengan suatu pertempuran yang menggunakan kekerasan, menurut pinceng dengan kedudukan serta nama besar dari Liok lim Sin Ci loocianpwee perkataan yang diucapkan tidak bakal bohong, harap Too yu suka berpikir tiga kali sebelum mengambil tindakan."
Hweesio yang baru saja mengajukan dirinya ke depan ini bukan lain adalah Hu Cin Hweesio yang menjabat sebagai ketua dari ruangan kitab suci di dalam kuil Siauw Lim amat tinggi sekali bahkan boleh dikata satu tingkatan dengan Ci Si Sangjien itu Ciangbunjin dari Siauw-lim-pay.
Walaupun Loo Hu cu jadi orang amat sombong dan jumawa sekali tapi terhadap hweesio ini dia tidak berani berlaku kurang hormat buru-buru ia merangkap tangannya memberi hormat.
"Perkataan dari Sin Ci ada kemungkinan memang benar tapi pinto tidak akan mempercayai kalau Bok Cungcu sebagai pendekar sejati yang berhati luhur bisa jadi seorang pembunuh yang gemar membunuhapalagi nama jahat dari Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong sudah terkenal dimana mana, bagaimana mungkin aku tidak boleh bertanya?"
Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong yang selama ini hanya berdiri disamping saat ini sudah tidak sabar lagi, sewaktu mendengar Loo Hu Cu sekalian menyebut nyebut namanya dalam hati merasa amat gusar, dengan beratnya dia mendengus dan siap-siap melancarkan serangan.
Tan Kia-beng yang melihat situasi ini hari ini sangat ruwet sehingga dengan nama serta kedudukan dari Liok lim Sin Ci serta Sam Kuang Sin nie pun sulit untuk memaksa orang menaruh percaya dalam hati lantas mengerti kalau nama besar dari Bok Thian-hong benar-benar telah dihormati oleh setiap jago.
Hu Hong ayah beranak kini sudah mengikat tali permusuhan yang amat mendalam sekali dengan orang-orang Bulim, bilamana mereka tidak bisa menahan sabar untuk menanti keputusan sehingga terjadi bentrokan maka kesalah pahaman ini selamanya tidak bakal dibersihkan lagi.
Karenanya sewaktu melihat Hu Hong sudah dibikin gusar oleh situasi saat ini buru-buru ia menarik ujung bajunya sembari berbisik, “Harap suheng suka bersabar lagi, jangan sekali kali bermaksud turun tangan!”
Dan kini Si penjagal selaka li dibuat tidak bisa berbuat apa apa lagi terpaksa dia harus menahan rasa gusar dihatinya saja sambil berdiam diri.
Terdengar Hu Cin Hweesio dari Siauw-lim-pay kembali berkata dengan suara yang perlahan!
Peristiwa mengenai perbuatan Hu sicu untuk sementara waktu pinceng tidak ambil gugat dulu, tetapi ini hari pinceng langsung mengejar sendiri kereta kencana yang ditumpangi oleh Bok Thian-hong ini sejak dari bangunan cun Hoanya yang misterius itu hingga sampai disini, bahkan di tengah jalan pinceng dapat mengetahui kalau maksud tujuannya adalah hendak membasmi hweesio dari kuil Ya Hu Sie ini, jelas sekali apakah maksudnya untuk menggunakan kereta kencana ini kiranya kalian sudah mengetahui sendiri bukan?"
"Soal itu apanya yang sudah untuk dijelaskan" sambung si pengemis aneh itu dengan tertawa dingin. Sudah tentu tujuannya adalah bermaksud memfitnah Hu Hong ayah beranak!"
Selama beberapa ratus tahun ini partai Siauw lim selalu memimpin Bulim dengan nama besarnya yang sangat cemerlang serta peraturan pengurus yang amat keras dengan kedudukan Hu Cin hweesio sebagai ketua ruangan penyimpanan kitab di dalam Siauw lim pasti apa yang diucapkan bisa mengambil kepercayaan dari para jago.
Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang jadi orang selalu berhati licik sekalipun terang terangan tahu kalau situasi ini
hari sangat tidak menguntungkan dirinya tapi dia masih tetap berlagak pilon juga.
Dalam hati ia mengerti kalau dendam dari para partai di Bulim itu terhadap Hu Hong ayah beranak sudah sangat mendalam sekali, sekalipun ada Liok lim Sin Ci Sam Kuang Sin nie beserta Hong Jen Sam Yu yang bersusah untuk mencuci bersihkan noda noda hitam itu tetapi suatu dendam sedalam lautan tidak bakal bisa dihapus hana dengan dua tiga patah kata saja.
Sebaliknya nama besar dari Thay Gak Cungcu selama sepuluh tahun ini sudah mempunyai bayangan yang mendalam di dalam benak orang-orang kangouw. untuk menyapu bersih di dalam beberapa waktu saja tidak bakal mungkin bisa terlaksana.
Karena itu dengan ngototnya dia tetap mempertahankan perkataannya itu sekalipun semua orang memakin dan menuduh dirinya dengan perkataan apapun dia tetap tenang-tenang saja, tidak menjawab juga tak melarikan diri dari sana, karena dia merasa bilamana dirinya melarikan diri maka hal ini mengartikan kalau dia sudah mengakui seluruh perbuatannya.
Para jago yang sedang berkumpul dilapangan luas di depan kuil Ya Hu Sie pada hari ini mencapai seratus orang lebih, ada yang datang karena mengejar kereta dari Hong Jen Sam Yu ada juga yang datang karena mengikuti kereta dari Bok Thian-hong suami istri adalah para jago-jago lihay dari partai Siauw lim saja.
Saat ini terlihatlah para jago mulai berjalan mendekati Bok Thian-hong suami istri.
Sedang orang-orang Kay-pang pun dengan perlahan sudah mulai bergerak siap-siap melancarkan penyerbuan secara besar besaran
Situasi di tengah kalangan seketika itu juga sudah berubah menjadi amat hebat, jelas kalau hujan badai yang amat dahsyat bakal menyerang datang.
Mendadak Loo Hu Cu menggetarkan pedang panjangnya di tengah udara, lalu berteriak, "Perduli partai mana saja yang berani tanpa sebab menyerbu orang-orang Thay Gak Cung, maka dari pihak kami partai Go-bie akan menganggap dirinya sebagai musuh partai kami juga."
Hwee Im Poocu pun mencabut keluar pedangnya dan meloncat ke samping tubuh Thay Gak Cungcu.
"Hee.... heee...." serunya sambil tertawa dingin. Kami dari Benteng Hwee Im Poo pun berada disatu jalan dengan partai Go-bie saudara saudara yang keras kepala boleh mulai coba-coba!"
Dengan adanya kejadian ini maka situasi berubah semakin menegangkan lagi pada saat itulah terdengar Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong berteriak dengan suara yang amat keras.
"Aku orang she Bok merasa setiap pekerjaan yang aku lakukan selama beberapa tahun ini tak ada yang menyalahi kawan Bulim tidak disangka kawan kawan kangouw ternyata ada juga yang menuduhku orang she Bok dengan perkataan semacam itu, hal ini benar-benar membuat aku merasa amat sedih sekali"
Liok lim Sin Ci serta Sam Kuang Sinnie sebagai orang-orang kangouw dari angkatan tua, biasanya memperoleh kepercayaan serta penghormatan yang luar biasa dari orang-
orang Bulim tidak disangka di dalam urusan Hu Hong ini sekalipu mereka berdua sudah munculkan dirinya bersama-sama bukan saja tidak berhasil menyelesaikan urusan ini bahkan situasi berubah semakin buruk lagi membuat hati mereka berdua merasa amat menyesal.
Bagi Sam Kuang Sin nie yang beriman kuat hal ini masih tak mengapa, tetapi buat Liok lim Sin Ci hatinya berdebar debar telah dibuat gusar sekali.
Mendadak dia meloncat ke depan dan menerjang kehadapan Loa Hu Cu lalu bentaknya keras, "Hmmm! loohu merasa amat sayang buat Lok Oh Tootiang yang ternyata bisa memperoleh seorang murid yang demikian goblok dan tololnya seperti kau, ayoh cepat menggelinding dari sini!
Tubuhnya pun menerjang ke depan melancarkan satu cengkeraman mengancam pergelangan tangan dari Thay Gak Cungcu gerakannya ini dilakukannya amat cepat sekali bagaikan sambaran kilat.
Bok Thian-hong sejak semula sudah mengerti kalau keadaannya sangat berbahaya sekali karena itu diam-diam tenaga murninyapun sudah disalurkan memenuhi tubuh dan melihat Liok lim Sin Ci melancarkan serangan maka dengan cepat dia meloncat ke samping menghindarkan diri dengan gerakan yang amat aneh, saking anehnya sampai Loo Hu Cu yang ada disampingnya tidak melihat dengan jelas.
Kembali Liok lim Sin Ci membentak keras, mendadak serangan cengkeramannya sudah berubah jadi gaplokan menghajar ke atas punggung Bok Thian-hong dengan kecepatan yang luar biasa.
Dengan kesempurnaan dari tenaga dalamnya ditambah pula ilmu pukulan Toa Loo Thian Kang Ciangnya yang merupakan
suatu ilmu maha sakti, sekalipun Bok Thian-hong memiliki kepandaian yang amat dahsyatpun jangan harap bisa menghindarkan diri dari serangan itu.
Pada saat yang amat kritis itulah mendadak tampak bayangan hijau berkelebat bagaikan pelangi panjang meluncur datang
Bersamaan dengan berkelebatnya bayangan tersebut terasalah suatu bau harum yang sangat aneh menyambut datangnya angin pukulan dari Liok lim Sin Ci yang amat dahsyat itu.
Seketika itu juga terdengar Liok lim Sin Ci mendengus berat, tubuhnya tidak kuasa lagi mundur lima enam langkah ke belakang segumpal darah merah yang gelap muncrat keluar dari mulutnya bagaikan gerimis.
Melihat kejadian itu para jago dibuat amat terperanjat sekali, karena usia Liok lim Sin Ci sudah mencapai seratus tahun ilmu pukulan Toa Loo Thian Kang Ciangnya pun sudah menjagoi seluruh dunia persilatan, tidak disangka belum mencapai satu jurus dia sudah menderita kekalahan di tangan pihak musuh.
"Cepat menyingkir!" terdengar Sam Kuang nio membentak keras.
Tampak sesosok bayangan abu abu berkelebat bagaikan sambaran kilat, nikouw tersebut sudah menubruk ke arah Liok lim Sin Ci sedang ujung bajunya berturut turut melancarkan delapan buah yang mematikan.
Kiranya bersamaan dengan munculnya kabut berwarna hijau tua itu dari samping kuil mendadak meluncur dua
rentetan cahaya keemas emasan yang menyilaukan mata menerjang ke tengah kalangan.
Seketika itu juga suara jeritan ngeri memenuhi angkasa, paling sedikit kini sudah sepertiga dari jago yang ada di tengah kalangan sudah menderita luka parah.
Untung saja suara peringatan dari Sam Kuang sinnie diucapkan dengan amat cepat sehingga sisanya bisa menggunakan tenaga pukulan maupun senjata tajam untuk melindungi tubuhnya sendiri dari serangan bokongan tersebut.
Sewaktu Liok lim Sin Ci melancarkan serangan ke arah Bok Thian-hong tadi secara samar-samar Tan Kia-beng sudah melihat adanya sesosok bayangan hijau yang sangat tawar menerjang ke dalam kalangan.
Belum sempat hatinya bergerak tahu-tahu tubuh Liok lim Sin Ci sudah terkena pukulan sehingga luka dalam, melihat kejadian itu dia segera membentak keras dan menubruk ke arah bayangan hijau tersebut.
Tetapi bagaimanapun juga tindakannya ini rada terlambat satu tindak, waktu dia sedang menubruk maju ke depan itulah seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan cahaya keemas emasan yang menyilaukan mata menerjang ke depan.
Tetapi sewaktu berada dibangunan Cun Hoa tempo hari pemuda tersebut pernah menemui senjata rahasia semacam ini karena itu sekali pandangan dia sudah mengetahui kalau benda tersebut bukan lain adalah senjata rahasia "Pek Cu Kiam Uh Yen Wei Ciam", maka seruling pualamnya dengan cepat dicabutnya keluar dan diputar sedemikian rupa sehingga membentuk serangkaian cahaya putih yang amat rapat.
Hanya di dalam waktu yang amat singkat itu jarum-jarum tersebut sudah berhasil kena dihantam jatuh semua, tetapi
waktu itu pula bayangan hijau tersebut sudah lenyap tak berbekas.
Sewaktu suasana di tengah kalangan amat kacau itulah dengan mengambil kesempatan ini Bok Thian-hong suami isteri pun sudah melarikan dirinya tak berbekas.
Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong yang melihat Bok Thian-hong sudah melarikan diri tak berbekas dia lantas tertawa aneh dengan seramnya sambil menarik tangan Hu Siauw-cian si Pek Ih Loo Sat bentaknya, “Ayoh jalan!”
Tubuhnya pun dengan cepat meloncat ke dalam kereta kencana dan melarikan kudanya dengan amat cepat, di tengah suara berputarnya roda kereta serta sentakan cambuk yang nyaring hanya di dalam sekejap merekapun sudah pergi tak berbekas
Kembali Liok lim Sin Ci dengan perlahan membuka matanya, tetapi sewaktu dilihatnya situasi sangat tidak menguntungkan dia menghela napas panjang dan berlalu dari sana.
Dengan menggunakan sedikit waktu yang luang itulah Sam Kuang Sin nie lantas berjalan mendekati Tan Kia-beng dan memuji keagungan Buddha, "Omintohud Siauw sicu, apakah kau bisa melihat jelas siapakah orang yang baru datang itu?"
Harus diketahui Sam Kuang Sinnie merupakan seorang pendekar aneh dari angakatan tua, kini dia suka menurunkan derajatnya sendiri dengan bertanya begitu merendah terhadap sang pemuda hal ini cukup memperlihatkan kalau nikouw itu menaruh sikap yang sangat hormat terhadapnya.
Tan Kia-beng mengerutkan alisnya lalu menggeleng, "Aku cuma menemukan sebuah bayangan hijau saja, entah dia adalah seorang lelaki ataukah seorang perempuan, tetapi
senjata rahasia yang mereka gunakan, boanpwee pernah menemuinya sekali, senjata tersebut sangat beracun sekali yang dibawa oleh tetamu dari gurun pasir dan bernama Pek Cu Kiem Uh Yen Wei Ciam"
"Di tempat manakah kau sudah pernah bertemu dengan tetamu dari gurun pasir itu?"
Di dalam bangunan rumah Cun Hoa dari Bok Thian-hong, disana cayhe sudah bertemu dengan dua orang tetamu yang datang dari gurun pasir yang satu adalah Miauw Pit Suseng Bun Ih Peng sedang yang lain adalah seorang gadis berbaju hijau yang bernama nona Hong tetapi aku berani memastikan kalau diantara mereka berdua tak ada yang memiliki tenaga dalam yang dimiliki orang berbaju hijau tadi."
Mengungkat soal yang menyangkut tamu dari gurun pasir, air muka Sam Kuan Sin nie pun segera berubah jadi amat tegang, lama sekali dia baru menghela napas panjang.
"Sejak semula Pinnie sudah menduga akan datang hari seperti ini, cuma sayang para kawan kawan sealiran dari berbagai partai besar masih berada di dalam keadaan terbius agaknya di dalam Bulim bakal terjadi berpuluh puluh urusan yang amat mebingungkan.
Mendadak dia menoleh ke arah Mo Tan-hong yang ada disisinya lalu berkata lagi, "Pinnie masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan dengan cepat untuk sementara waktu lebih baik kau berkelana di dalam Bulim bersama-sama Tan Siauwhiap saja ada kemungkinan dalam waktu dekat ini Ui Liong Too yu akan mencari kalian berdua."
Sehabis berkata dia lantas mengangguk kepada Hong Jen Sam Yu, dan diantara berkelebatnya bayangan abu abu tahu-tahu dia sudah berkelebat sejauh dua puluh kaki lebih
Suasana di tengah kalangan pada saat ini sangat mengenaskan sekali Lo Hu Cu serta Hwe Im Pocu yang tidak memperoleh keuntungan sudah tentu cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut sedang sisanya para jago yang hadir sebagian yang pergi mengejar Bok Thian-hong suami istri ada juga yang tetap tinggal di dalam kalangan untuk menolong kawan kawannya yang terluka maupun yang mati.
Dengan wajah yang amat gusar Hong Jen Sam Yu tampak berdiri termangu-mangu disamping kalangan setelah melihat Sam Kuang Sin nie meninggalkan tempat itu merekapun berjalan mendekati sang pemuda
"Hee.... tidak disangka kawan kawan Bulim kiranya begitu tolol semua, kesempatan yang begitu baik untuk melenyapkan musuh besar sudah dilepaskan dengan percuma sehingga bajingan itu berhasil meloloskan diri" seru si pengemis aneh secara tiba-tiba sambil meghela napas panjang
"Heee, heee kini semua orang sudah tahu kalau Bok Thian-hong adalah pembunuh yang asli, apakah kau kira sejak ini hari dia bisa lolos dari kurungan?" seru Tan Kia-beng sambil tertawa.
Mendengar perkataan dari pemuda tersebut agaknya dalam hati pengemis aneh itu dan tertawa dingin tiada hentinya.
"Nama kosong dari Hong Jen Sam Yu tidak akan terkubur dengan begini saja” serunya. "Perduli Bok Thian-hong mempunyai saudara yang bagaimana lihaynyapun aku si pengemis tua akan bergebrak dengan dirinya."
Pada saat ini Hong Jen Koay hiap sudah penuh dibakar dengan hawa amarahnya belum habis si pengemis aneh itu berbicara si hweesio berangasan maupun sitosu dekil sudah berlari terlebih dulu ke depan.
Dengan termangu-mangu Mo Tan-hong memperhatikan bayangan tubuh Hong Jen Sam Yu yang mulai menghilang, mendadak dia menarik tangan Tan Kia-beng.
"Engkoh Beng, ayoh kita pergi!"
Dengan seenaknya saja Tan Kia-beng mengangguk, dan dengan cepat Mo Tan-hong sudah meloncat ke depan kereta kencana dan melepaskan kedua ekor kudanya yang ada di depan setelah itu dia melemparkan salah satu tali les ke arah Tan Kia-beng sedang dia sendiri dengan cepatnya meloncat ke atas kuda dan melarikan diri.
Kembali kedua orang itu satu di depan dan satu dibelakang dengan cepatnya melakukan perjalanan sejauh lima enam li, mendadak Mo Tan-hong menarik kembali tali les kudanya lalu berbisik kepada pemuda itu, "Mari kita beristirahat sebentar, bagaimana kalau malam ini kita pergi mengadakan penyelidikan kembali ke dalam kuil Ya Hu Sie tersebut? aku lagi berpikir dengan kuil Ya Hu sie yang tak bernama di dalam Bulim kenapa Thay Gak Cungcu bermaksud menyerang mereka? di dalam hal ini tentu ada sebab sebabnya".
Dengan cepat Tan Kia-beng mengangguk tanda setuju.
"Aku lihat Mey Ling Hweesio itupun pasti bukan manusia baik-baik, karena tadi kita lagi repot untuk mempersoalkan siapakah pembunuh sebenarnya untuk sementara sudah melupakan dirinya aku rasa orang yang menyelidiki kuil tersebut pada malam ini bukanlah diri kita saja."
Mereka berdua sembari bercakap-cakap menalikan kudanya pada pohon siong di jalan kemudian baru duduk di atas tanah rerumputan, karena selama ini mereka berdua lagi mempeributkan teka teki yang menyelimuti kereta kencana itu
maka tidak ada waktu lagi bagi mereka untuk membicarakan soal pribadi.
Boleh dikata saat inilah merupakan suatu kesempatan yang baik bagi mereka untuk melaksanakan niatnya.
Dengan hati yang penuh rasa cinta Mo Tan-hong menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan pemuda tersebut dan beristirahatlah beberapa saat lamanya, tetapi mendadak dia mendongakkan kepalanya dan berkata, “Engkoh Beng, pil pemberianmu itu sangat bagus sekali! setelah kutelan maka tenaga dalamku memperoleh kemajuan yang pesat, suhu yang melihat kejadian ini benar-benar merasa terperanjat sekali, dia bilang tenaga dalamku paling sedikit sudah memperoleh kemajuan sebanyak tiga puluh tahun hasil latihan"
Jika dengar dari nada ucapannya dia merasa amat bangga sekali, sebaliknya Tan Kia-beng yang sudah mengetahui urusan ini dari surat peninggalan Han Tan Loojien sama sekali tidak jadi terperanjat dan keheranan, sekalipun begitu hatinya merasa kegirangan juga.
Tak terasa lagi sambil mencekal erat-erat sepasang telapak tangannya yang halus dia tersenyum.
"Kalau begitu tenaga dalam Pek Tiap Sin Kang mu memperoleh kemajuan yang amat pesat bukan?" ujarnya.
"Suhuku merasa kagum sekali dengan kedahsyatan dari ilmu lweekang Pek Tiap Sin Kang itu, dia merasa ilmu tersebut jauh lebih sempurna jika dibandingkan dengan tenaga dalam Siauw Jan Tan Kang dari perguruannya, karena itu kini aku sudah mempelajari kedua ilmu lweekang tersebut dari suhu."
"Saat itu, sewaktu berada di dalam bangunan Cun Ong-hu bukankah Ui Liong Tootiang bermaksud hendak membawa kau untuk berguru bukan? kenapa tidak jadi?"
Mendengar pertanyaan tersebut tak tertahan lagi Mo Tan-hong segera tertawa cekikikan.
"Hiii.... hiii.... jika dibicarakan sungguh menggelikan sekali! Suhu yang dimaksudkan oleh Ui Liong-ci bukan lain adalah suhuku sekarang ini, karena sewaktu berguru tempo hari suhu datang sendiri kebangunan S*ng Su H* untuk mencari diriku, dia bilang tempo hari beliau kenal dengan ayahku dan saat ini berusaha hendak membalas budi kebaikannya dahulu dengan mendidik diriku sebagai seorang jagoan.
Tetapi sewaktu aku dibawa ke dalam kuilnya pada waktu itulah aku baru mengerti kalau orang yang dimaksudkan oleh Ui Liong-ci ternyata bukan lain adalah suhuku sendiri"
"Kalau begitu kau belum mempelajari ilmu silat yang termuat di dalam pusaka Sian Tok Poo Liok itu?
"Ui Liong Supek bilang menanti setahun kemudian setelah tenaga lweekang Pek Tiap sin Kang ku memperoleh dasar yang kuat baru bersama-sama dengan dirimu mempelajari kitab tersebut".
"Berlatih bersama-sama aku?" seru pemuda tersebut keheranan, agaknya dia merasa perkataan itu jauh berada didugaannya.
"Apa kau merasa tidak senang?" balas teriak gadis itu sambil menggoyang goyangkan tangan Tan Kia-beng dengan keras hatinya benar-benar kegirangan, "Ui Liong supek sangat suka kepadamu!"
Bilamana Tan Kia-beng menaruh perhatian yang lebih mendalam lagi, pasti dia bisa mendengar kalau di dalam kegembiraan hatinya itu masih terkandung suatu maksud tertentu karena Ui Liong-ci adalah kawan yang paling akrab dengan Raja Muda Mo Cun-ong tempo hari, sudah tentu dia
berkewajiban pula untuk melindungi gadis tersebut apalagi terhadap kebahagiaan itu untuk selanjutnya.
Sudah tentu gembira sekali" jawab Tan Kia-beng kemudian sambil mengangguk. Cuma aku rasa bagiku tiada kesempatan lagi untuk mempelajari isi kitab, karena aku harus segera berangkat ke gurun pasir."
"Pergi ke gurun pasir?"
"Ehmm."
"Kenapa?"
Mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang datang disusul suara deheman yang keras muncul dari samping tempat itu.
"Siapa?" teriak Tan Kia-beng sambil meloncat bangun dari tempat duduknya.
"Toako, aku!"
Diantara suara jawaban tersebut orang itu sudah muncul dihadapannya, ternyata bukan lain adalah seorang kakek tua yang memakai jubah berwarna kuning.
Mo Tan-hong yang mendengar suara jawaban itu hatinya terperanjat dan dengan mata terbelalak lebar-lebar memperhatikan diri pemuda tersebut, dia merasa tidak paham bagaimana mungkin seorang kakek tua yang rambutnya dan jenggotnya sudah pada memutih semua itu bisa memanggil pemuda tersebut dengan sebutan Toako.
Melihat keheranan dari gadis itu buru-buru Tan Kia-beng memperkenalkan kepadanya, "Lootoa ini adalah si "Su Hay Sin Tou" si pencuri sakti Loocianpwee yang namanya sudah amat kesohor di dalam dunia kangouw."
Dari mulut Sam Kuang Sin Mio, gadis itu pun pernah mendengar nama si Pendekar aneh dari dunia persilatan ini, maka buru-buru dia maju ke depan untuk memberi hormat.
"Mo Tan-hong menghunjuk hormat buat Sin Tou loocianpwee!"
Su Hay Sin Tou agaknya sudah mengerti hubungannya dengan Tan Kia-beng, maka begitu mendengar perkataan itu dia segera tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haaa.... haa.... Locianpwee? aku tidak berani menerima sebutan tersebut, baiknya kau panggil aku dengan sebutan Sam ko saja!"
Seketika itu juga gadis tersebut dibuatnya semakin kebingungan, bilamana suruh dirinya memanggil dengan sebutan Toako masih mendingan, kenapa justru harus memanggil dia dengan sebutan Sam ko atau kakak ketiga?
Padahal maksud yang sebenarnya oleh Su Hay Sin Tou adalah berdasarkan urutannya dengan Pek-tok Cuncu serta Tan Kia-beng, dia yang jauh lebih muda dua tahun dari si Rasul Racun itu sudah seharusnya menduduki sebagai Loo sam, tapi buat Mo Tan-hong mana dia bisa tahu akan hal ini?
Setelah Su Hay Sin Tou mengucapkan kata-kata itu diapun tidak berguyon lebih lanjut, mendadak wajahnya berubah serius dan menghela napas panjang.
"Heei.... aku si pencuri tua sama sekali tidak menyangka kalau urusan ini menyangkut soal pembunuhan masal yang mengancam seluruh Bulim" katanya.
"Apa maksud perkataanmu itu?" kata Tan Kia-beng dengan gusar.
Kembali dari tempat kejauhan terdengar suara tertawa gelak yang amat nyaring menyambung perkataan dari si pencuri sakti itu.
“Haaa.... haaa.... pencuri tua, kiranya kaupun sudah memperoleh berita tersebut."
Selesai suara itu berkumandang datang, tampaklah Pek-tok Cuncu si Rasul Racun itu dengan wajah penuh bercahaya sudah muncul ditempatnya.
Terburu-buru si pengemis aneh memperkenalkan Mo Tan-hong.
Dengan berkumpulnya kedua orang siluman tua ini, maka mereka pun mulai membicarakan soal taruhan diantara mereka berdua tempo hari, ternyata berita yang didapatkan oleh mereka berdua adalah sama dua berarti keadaan mereka kembali seimbang.
Tan Kia-beng yang tidak paham teka teki apa yang sedang disimpan oleh kedua orang siluman tua itu hatinya jadi cemas
“Eei! sebetulnya kalian sudah memperoleh berita apa?" tanyanya dengan cepat, "Menurut apa yang aku ketahui majikan dari kereta kencana itu benar-benar adalah Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong!"
Diapun lalu menceritakan seluruh kejadian yang menegangkan siang tadi kepada mereka.
Selesai mendengarkan kisah itu Su Hay Sin Tou si pencuri sakti lalu mengaku.
"Peristiwa mengerikan yang beberapa kali terjadi memang hasil perbuatan dari Bok Thian-hong, tapi dia sendiripun tidak lain hanya menerima perintah dari seseorang, di balik
kesemuanya ini masih tersimpan satu kekuatan pengaruh yang maha dahsyat."
"Apakah urusan ini benar-benar?" tanya Tan Kia-beng terkejut.
Pek-tok Cuncu si Rasul Racun itu segera tersenyum dingin tiada hentinya.
"Siasat licik dan permainan setan semacam ini mana mungkin bisa mengelabuhi diri loohu?" serunya dingin. "Pada mulanya Loohu mengira maksud tujuannya hanya hendak mencelakai Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong, tapi urusan selanjutnya setelah mengadakan penyelidikan yang lebih seksama loohu baru bisa menemukan kalau setiap orang setiap partai yang kena dicelakai pastilah mempunyai hubungan yang amat erat sekali dengan raja muda Mo Cun-ong tempo hari, bahkan semuanya merupakan jago-jago dari partai besar di dalam dunia kangouw.
Jika mengandalkan kekuatan dari Bok Thian-hong seorang diri saja pastilah tidak bakal terjadi peristiwa semacam ini karena itu loohu menduga dibalik kesemuanya ini pastilah Thay Gak Cungcu sudah memperoleh sandaran yang besar bahkan sedang melakukan suatu tindakan sesuai dengan rencana dari seseorang itu"
"Aku si pencuri tua serta situa bangka beracun selamanya tidak pernah menaruh perhatian terhadap persoalan Bulim," sambung Su Hay Sin Tou si pencuri sakti itu dengan cepat. "Kali sudah melanggar kebiasaan tersebut dengan mengambil bagian di dalam urusan ini, sebetulnya menganggap hal ini hanyalah menyangkut dendam sakit hati seseorang, sungguh tak disangka peristiwa ini mempunyai hubungan yang erat dengan mati hidupnya Bulim dikemudian hari bahkan kesempurnaan ilmu silat dari orang dibelakang layar itu benar-
benar luar biasa sekali, hanya saja tidak tahu mengapa mereka hanya membunuhi jago-jago Bulim yang mengikuti raja muda Mo menyerbu ke daerah suku Biauw tempo hari?"
Mendadak Pek-tok Cuncu si Rasul Racun mendengus amat dingin.
"Menurut pendapat loohu suatu pembunuhan berdarah yang amat dahsyat bakal menjelang datang dan melanda seluruh Bulim!” katanya.
Tan Kia-beng yang melihat mereka sudah saling beribut sendiri dengan amat ramainya seperti lagi menebak teka teki maka tanpa terasa lagi ia sudah bertanya, “Jie ko! bagaimana kau bisa tahu kalau suatu bencana serta angin topan yang bakal menimbulkan banjir darah bakal berlangsung di dalam Bulim?"
"Soal ini mudah sekali untuk menjelaskan" jawab Pek-tok Cuncu sambil tertawa dingin. "Kali ini kereta kencana bikin gara gara dimanapun, ada kemungkinan tujuannya hanya ingin menyelidiki kekuatan yang sebetulnya dari orang-orang Bulim mengejek orang-orang kangouw yang tidak memiliki seorang pemimpin pun yang becus untuk membasmi kawanan iblis walaupun Liok lim Sin Ci mempunyai maksud untuk menegakkan keadilan dengan menampilkan dirinya tetapi tidak kuat menahan satu pukulan dari orang berbaju hijau itu. Dengan adanya kejadian serta situasi yang sangat menguntungkan bagi mereka apaka kawanan iblis itu tidak akan mempercepat gerakannnya menjagali orang-orang Bulim?"
Tan Kia-beng yang bersifat pendekar dan mempunyai sifat suka membela yang lemah dan menegakkan keadilan maka setelah habis mendengar perkataan dari Pek-tok Cuncu ini
alisnya segera dikerutkan rapat rapat, saking gemasnya dia lantas tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa.... haa.... aku paling tidak percaya akan keanehan, bilamana ada kesempatan untuk menemui orang berbaju hijau pasti akan kucari dia untuk bergebrak dengan dirinya."
Selamanya Su Hay Sin Tou paling tidak suka mengalah kepada siapapun juga tetapi terhadap Toako nya ini benar-benar amat kagum dan takluk, oleh karena itu takut pemuda itu jadi kheki sehingga mencari gara gara buru-buru hiburnya, “Menurut penglihatan aku si pencuri tua, urusan ini tidak akan segampang itu, lebih baik Toako berpikir tiga kali sebelum melakukan suatu tindakan, walaupun aku si pencuri tua tidak pernah mencampuri urusan kangouw tetapi dalam hatiku masih menaruh curiga juga atas ketidak kembalian Chu Swie Tiang Cing, Tan Ci Lian, Thiat Bok Tootiang dari Bu-tong-pay serta Leng Siauw Kiam Khek dari gunung Cing Shia setelah pergi ke gurun pasir, dari peristiwa yang lalu ini kita bisa tarik kesimpulan kalau nona berbaju hijau serta Miauw Pit suseng yang datang dari gurun pasir itu ada kemungkinan merupakan manusia manusia dibelakang layar yang memerintah Bok Thian-hong melakukan tindakan. Pengaruh dari gurun pasir ini mau tidak mau harus kita jaga dan persiapkan mulai saat ini."
Mengungkap kembali peristiwa gurun pasir mendadak Tan Kia-beng teringat kembali akan nasib suhunya "Ban Li Im Yen" hingga saat ini tak ada kabar beritanya, perisiwa ini semakin membuktikan kalau urusan yang terjadi beberapa hari bukanlah peristiwa yang biasa.
Dalam hati Tan Kia-beng lalu merasa perkataan dari Su Hay Sin Tou ini amat cengli, buru-buru dia merangkap tangannya menjura dengan penuh perasaan terharu.
"Perkataan emas dari Sanko benar-benar membuat aku sadar dari lamunan, tapi hanya aku yang selalu memperoleh warisan dari seluruh kepandaian silat suhuku tempo hari, maka seharusnya dengan mengandalkan sedikit modal ini pergi membasmi kawanan siluman iblis itu guna melenyapkan bencana."
"Haa.... haa.... bersemangat! perkataan bagus, perkataan bagus, teriak Su Hay Sin Tou sambil terawa dingin.
Setelah itu dia mengajak Pek-tok Cuncu untuk bersama-sama menjura ke arah Tan Kia-beng dan berkata kembali, "Kami berdua sudah dikenal orang-orang kangouw sebagai siluman tua yang selama sepuluh tahun lamanya jarang menemui musuh tangguh kali ini setelah mengikuti Toako menyelidiki peristiwa yang menyangkut kereta kencana ini dalam hati baru mengerti kalau kepandaian yang ada pada kami bukanlah suatu yang amat dahsyat untuk dipamerkan, karena itu untuk sementara waktu biarlah kami berpisah dengan Toako untuk lebih memperdalam lagi beberapa macam kepandaian silat lain kali ini bila Toako mengadakan gerakan untuk membasmi kawanan iblis kami pasti akan datang untuk memberi bantuan!"
Sehabis berkata mereka berdua pada menjura lalu loncat pergi dari sana.
Tan Kia-beng yang melihat mereka berdua sudah berlalu dari sana segera mengingat ingat kembali perkataan yang baru saja diucapkan oleh mereka, dalam hati dia merasa amat terharu sekali, dan dia merasa justru manusia manusia bersifat kukoay-lah yang paling setia kawan daripada orang lain.
Sejak kedatangan Su Hay Sin Tou tadi Mo Tan-hong belum pernah mengucapkan sepatah kata pun, maka kini melihat Tan Kia-beng berdiri termangu-mangu seorang diri dengan
perlahan ia lantas maju ke depan menegur, "Engkoh Beng, kau lagi memikirkan apa?"
"Aku lagi berpikir setelah kelaliman dari Bok Thian-hong terbongkar entah dia hendak memperlihatkan permainan setan apa lagi?"
Mendadak Mo Tan-hong menghela napas panjang.
"Ayahku selamanya bertindak jujur dan sangat ramah terhadap siapapun, setiap orang kangouw yang mempunyai kepandaian asalkan mengunjungi bangunan kami tentu akan dilayani sebagai tetamu terhormat, entah bagaimana mungkin bisa mengikat permusuhan dengan Chuan Tiong Ngo Kui."
“Menurut penglihatanku urusan ini tidak mungkin terjadi dari Chuan Tiong Ngo Kui sendiri, coba bayangkan Chuan Tiong Ngo Kui sebagai bajingan rendahan di dunia kangouw ini dan cuma tahunya berbuat jahat bagaimana mungkin bisa bertindak sebagai pimpinan untuk menyusun siasat dan mengadakan permusuhan dengan berpuluh puluh orang tetamu terhormat dari Cun-ong?"
"Heee.... urusan ini bukannya bila dibikin paham oleh pikiran kita berdua, aku lihat lebih baik kita menanti kedatangan dari Ui Liong supek saja, untuk kemudian bertanya lebih jelas lagi dari mulutnya, kini waktu sudah tidak pagi lagi, mari kita cepat-cepat bernagkat ke kuil Ya Hu Sie untuk melihat keramaian."
Dengan perlahan Tan Kia-beng dongakkan kepalanya memandang sekejap keadaan cuaca waktu itu, setelah dirasakannya waktu hampir mendekati kentongan pertama diapun lantas mengajak gadis itu berangkat menuju ke kuil Ya Hu Sie.
Sesampainya di dalam kuil itu terasalah suasana di tempat itu diliputi oleh kegelapan dan amat sunyi sekali keadaannya, sedikit pun tidak mirip dengan keadaan dari suatu kuil angker.
Baru saja Mo Tan-hong bermaksud untuk mengajukan pertanyaan mendadak terasalah Tan Kia-beng menyikut iganya dan berbisik dengan suara yang amat perlahan, "Hweesio hweesio di dalam kuil ini masih mengadakan perondaan yang amat ketat sekali!"
Mo Tan-hong pun segera mendongakkan kepalanya memandang keadaan di sekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah di tengah kegelapan secara samar-samar tampaklah seperti ada kepala gundul lagi bergoyang goyang perlahan, tidak terasa lagi dia merasa amat kagum sekali atas ketajaman mata Tan Kia-beng
Dengan perlahan-lahan mereka berdua berjalan mengitari tempat gelap tersebut lalu baru meloncat naik ke atas sebuah pohon siong yang rindang di depan kuil itu.
"Sreet....!" tampaklah dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan yang luar biasa meluncur ke depan kuil tersebut setelah memeriksa sebentar keadaan di sekeliling tempat itu maka dengan amat ringannya bagaikan dua lembar kapas saja dengan cepatnya meloncat naik ke atas wuwungan bangunan besar itu dan berkelebat menuju ke arah belakang kuil.
"Kejar!" seru Tan Kia-beng cepat.
Sambil menarik tangan Mo Tan-hong bagaikan serentetan cahaya orang mereka berkelebat ke atas wuwungan rumah pula dan meloncat ke belakang.
Tetapi hanya terpaut sedikit waktu itulah mereka sudah kehilangan jejak dari kedua sosok bayangan manusia itu.
Di dalam sebuah bangunan yang amat bersih serta memancarkan sinar lampu yang ternag mereka berdua lalu dapat melihat Mey Leng Hweesio yang ditemuinya siang tadi lagi mengadakan pembicaraan rahasia dengan orang kakek tua berdandankan pemilik rumah penginapan, di atas meja masih tampak sisa dari sayuran.
Begitu Mo Tan-hong melihat si kakek tua itu parasnya kontan berubah jadi merah padam, sepasang matanya memancarkan sinar berapi api bersamaan pula tubuhnya gemetar dengan amat kerasnya.
Tan Kia-beng yang begitu melihat paras mukanya rada aneh dia segera tahu kalau gadis itu tentu sudah kenal dengan si orang tua itu, berhubung situasi tidak mengijinkan maka dia tidak bertanya kepada sang gadis tetapi matanya dengan tajam sudah menyapu sekejap ke arahnya.
Tampaklah orang itu mempunyai kepala kecil bermata tikus dengan sinar mata yang tidak beres, jelas sifatnya amat amat licik dan pengecut.
Terdengarlah orang itu gelengkan kepala lalu mendengarkan suara tertawa yang amat licik sekali, "Hweesio gede kau boleh legakan hati, tidak perduli siapakah majikan kereta kencana itu aku berani memastikan kalau dia tak akan berani datang lagi mencari gara gara kekuil ini, apalagi kitapun bukan manusia manusia yang takut akan urusan, bukannya Cau Phoa berbicara besar, di dalam Bulim waktu ini ada berapa orang yang patut dihargai olehku untuk menaruh rasa takut kepadanya!"
Kenyataan yang ada tidak bisa diucapkan dengan begitu mudah," seru Mey Leng Hweesio sambil kerutkan alisnya yang tebal. Jago-jago Bulim serta manusia manusia aneh yang dikumpulkan oleh raja muda she Mo tempo hari amat banyak
sekali sampai tak terhitung, bilamana mereka sampai tahu kalau kita sudah membinasakan penguasa gudang dan merampok seluruh intan permata yang sudah tentu mereka tidak akan berdiam diri lagi, bersamaan itu pula suasana dalam dunia kangouw beberapa hari ini amat tegang yang diliputi oleh napsu membunuh, dan kini yang matipun kebanyakan adalah orang-orang pengikut raja muda yang tempo hari sewaktu menyerbu ke suku Biauw, coba kau bayangkan bagaimana mungkin pinceng bisa enak makan tidur."
Mendadak Cau Phoa seperti sudah teringat akan sesuatu, lanjutnya tiba-tiba, "Menurut berita yang tersiar seaktu Mo Cun-ong mengadakan pengamatan ke daerah Si Chuan pernah dia memperoleh sebuah daftar nama nama para pendekar yang mengikuti gerakan tersebut dari kaisar, tetapi mendadak daftar tersebut telah lenyap entah akhirnya sudah ditemukan oleh siapa?"
"Haa, haa, di atas daftar itu nama dari siapapun terdaftar justru cuma nama dari pinceng seorang yang tak ada. Kata Mey Leng Hweesio kembali sambil tertawa terbahak-bahak. Oleh karena itu di dalam keadaan gusar aku sudah lantas melenyapkannya, siapa tahu setelah kejadian itu aku menemukan banyak orang yang sedang mencari daftar nama ini, kau lihat aneh sekali tidak?"
---0-dewi-0---oo
Mendadak....
"Soal itu apanya yang aneh?" terdengar suara yang aneh berkumandang datang deselingi dengan suara tertawa yang menyeramkan. Setiap orang yang namanya terdaftar dalam daftar nama itu sama saja sudah ikut tercatat di dalam kitab
kematian dari Raja Akhirat sekalipun kalian berdua juga jangan harap bisa lolos dari bencana kematian ini hari."
“Siapa?” bentak Cau Phoa dengan keras, tubuhnya dengan cepat menerjang keluar dari jendela diikuti dengan bayangan merah berkelebat pula, kiranya Mey Leng Hweesio yang gemuk itu ikut meloncat keluar.
Tan Kia-beng cuma merasa suara yang ada diluar jendela itu sudah sangat dikenal, maka sewaktu matanya memandang lebih tajam lagi terlihatlah orang itu bukan lain adalah Bok Thian-hong suami istri yang saat itu lagi berdiri diluar jendela dengan pandangan yang amat dingin.
Terhadap dia agaknya Mey Leng hweesio menaruh rasa yang amat jeri, terlihatlah air mukanya segera berubah hebat sekali.
Sebaliknya Cau Phoa dengan wajah seram mata berapi api memperdengarkan suara tertawa yang dingin mengerikan.
"Hee.... hee.... Bok Toa Cungcu malam malam buta begini mendatangi kuil Ya Hu Sie ini entah ada petunjuk apa?"
Lei Hun Hweeci yang ada disisi suaminya segera memperdengarkan suara tertawa cekikikan yang amat merdu....
---0-dewi-0---
JILID: 22
"Hee hee kau sungguh pintar sekali, kiranya seluruh harta kekayaan raja muda she Mo sudah kau rampok habis, tapi.... hee.... heee.... apakah kau tidak merasa terlalu serakah?"
"Akh! apakah ada peristiwa semacam ini? Hujien! kau jangan sembarangan menimpah dosa kepada orang lain” seru Cau Phoa sengaja sambil memperlihatkan perasaan yang amat kaget.
Terdengarlah Bok Thian-hong mendengus dingin.
"Hmm! bilamana kau anggap orang lain tidak tahu kecuali dirimu merasa kepandaian silat yang kau miliki paling lihay. Hee.... heee.... bilamana malam ini kau tidak terangkan dimanakah letanya tempat penyimpanan harta kerajaan itu, aku rasa tidak ada kebaikan lagi buat dirimu."
Sehabis berkata tubuhnya melompat kehadapan Mey Leng Hweesio dan ulurkan tangannya ke depan.
“Bawa kemari!” perintahnya.
"Kau suruh aku serahkan barang apa?" teriak Mey Leng Hweesio dengan amat terperanjatnya.
"Hmm! kau jangan pura pura bodoh lagi serahkan daftar nama namanya!"
"Buat apa Cungcu meminta daftar daftarnya"
"Kau tidak usah perduli, pokoknya lekas kau serahkan daftar itu padaku"
Seketika itu juga wajah Mey Leng hweesio diliputi oleh silat yang menyengir licik, buru-buru dia mengundurkan diri dua langkah ke belakang.
"Baik! Baik! biarlah pinceng pergi mengambil"
Lie Hun Hwee ci segera berkelebat menghalangi perjalanan mundur dari hweesio tersebut, serunya sambil tertawa dingin, “Kau jangan harap bisa main setan di depan kami suami istri,
bilamana kau berbuat demikian maka sama saja dengan mencari gara gara buat dirimu sendiri"
Pada saat itulah terdengar suara bentakakn nyaring bergema memenuhi angkasa dari empat penjuru telah menerjang keluar hweesio hweesio yang bersenjatakan toya, dibawah sorotan sinar rembulan tampaklah hweesio hweesio tersebut dengan perlahan berjalan mendekati Bok Thian-hong suami istri.
Mey Leng hweesio pun dari perasaan jeri kini jadi bernyali kembali, dia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa haa Bok Thian-hong!! perbuatan jahatmu sudah cukup sampai disini saja, malam ini kuil Ya Hu Sie ini adalah tempat bagimu untuk mengubur tubuh selanjutnya, bilamana kau mempunyai pesan pesan terakhir boleh diserahkan mulai sekarang!"
Tan Kia-beng yang melihat kawanan hweesio itu pada berwajah beringas dan buas dalam hati lantas tahu kalau mereka bukanlah manusia manusia baik pikirnya segera berputar, batinnya.
"Bagaimanapun juga hweesio hweesio ini bukanlah manusia baik-baik, lebih baik secara diam-diam aku melihat mereka dengan cara apakah Bok Thian-hong hendak turun tangan kejam menghadapi mereka."
Demikianlah secara diam-diam dia lantas kirim kedipan mata kepada Mo Tan-hong untuk memberi pesan agar dia jangan terburu turun tangan.
Ternyata Mo Tan-hong sangat penurut, dengan cepat tubuhnya menjatuhkan diri ke depan pelukan pemuda tersebut untuk merasakan kehangatan badan dari Tan Kia-beng. Walaupun pada saat ini dia menghadapi dua orang penjahat
yang merampok harta kekayaannya tetapi dalam hati sama sekali tak bermaksud untuk turun tangan.
Pada saat itulah suasana di tengah kalangan sudah berubah amat tegang sekali Cau Phoa serta Mey Leng Hweesio yang bermaksud untuk melenyapkan Bok Thian-hong suami istri untuk tutup mulut, wajahnya segera terlintaslah napsu membunuh, diam-diam tenaga murni segera disalurkan memenuhi seluruh tubuhnya siap-siap melancarkan serangan.
Bok Thian-hong suami istri yang memiliki kepandaian silat amat tinggi itu sudah tentu tidak akan memandang sebelah mata pun terhadap mereka berdua, asalkan mereka berdua bisa memperoleh barang yang ditemui sudah tentu mereka tak bermaksud turun tangan dengan cepat. Tapi kini melihat mereka berdua sudah bermaksud untuk turun tangan, sifat buaspun mulai menyelimuti wajahnya.
Kembali terdengar suara tertawa seram memenuhi angkasa kini tampaklah bayangan manusia berkelebat tubuh Mey Leng Hweesio yang gemuk itu sudah kena dilemparkan sejauh tujuh delapan depa dan jatuh terbanting ke atas dengan amat kerasnya.
Dan bersamaan dengan terlemparnya tubuh Mey Leng Hweesio ke tengah udara terdengarlah suara jeritan memenuhi angkasa hweesio hweesio yang mengurung di sekeliling tempat itu segera kena pukul rubuh hampir sebagian besar.
Tubuh Mey Leng Hweesio yang kena dirubuhkan dengan cepat bergelinding dan meloncat bangun kembali, tampaklah waktu itu Cau Phoa sedang bergebrak dengan amat serunya melawan Lie Hun Hwee ci sedang Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong dengan wajah amat seram dan penuh diliputi oleh
napsu membunuh berdiri jumawa disana menyapu sekejap ke arah hweesio yang lagi mengundurkan diri dengan serabutan.
Suara tertawa dingin yang amat menyeramkan tiada hentinya bergema memenuhi angkasa.
Sewaktu dilihatnya Mey Leng Hweesio mendadak merangkak bangun kembali dia pun maju ke depan sambil membentak dengan suara yang amat dingin.
"Kau tidak suka menerima arak kehormatan sebaliknya memilih arak hukuman kalau tidak kau serahkan daftar nama itu baik-baik jangan salahkan aku segera turun tangan kejam terhadap dirimu."
Dengan mulut masih berlepotan darah Mey Leng Hweesio merangkak bangun, tubuhnya rada berkerut sedikit lalu menggeleng berulang kali.
"Daftar itu benar-benar tidak berada di tanganku pinceng!" serunya.
"Heee, heee.... apakah kau benar-benar kepingin merasakan totokan melepaskan otot membetot tulang serta jalan darah dimasuki selaksa semut?" ancam Bok Thian-hong sambil tertawa dingin, dan dari sepasang matanya memancarkan sinar yang amat buas
Baru saja dia selesai tertawa dingin mendadak terdengar suara dengusan berat bergema datang, dan tubuh Cau Phoa dengan sempoyongan mundur sejauh lima, enam langkah ke belakang kiranya dia sudah kena dihantam oleh Lei Hun Hwee ci pada jalan darah Cian Ching Hiat nya sehingga terluka dalam, darah segarpun muncrat keluar dari ujung bibirnya.
Sampai detik itu pihak kuil Ya Hu Sie telah menemui kekalahan total. Mey Leng Hweesio dengan menahan rasa
sakit pada luka dalamnya menarik napas panjang panjang setelah termenung sebentar dia mengambil keputusan juga di dalam hatinya terdengar ia tertawa seram.
"Ini hari pinceng baru tahu kalau tindakan dari Thay Gak Cungcu amat ganas dan kejam. aku tahu maksudmu merebut harta kekayaan ini adalah untuk meluaskan anak buah dan memperlebar pengaruh dalam Bulim, sedang kau mencari daftar nama nama pasti bermaksud hendak melenyapkan seluruh pengikut raja muda Mo tempo hari, heee.... heee.... sekalipun aku Mey Leng harus mati jangan harap benda benda tersebut suka aku serahkan kepadamu."
"Heee.... heee.... hiii.... hiii, Hm! aku tidak percaya kalau kau adalah seorang manusia yang terbuat dari otot besi tulang baja!" ejek Lei Hun hweeci sambil tertawa cekikikkan.
Tubuhnya dengan cepat berkelebat ke depan, laksana segulung awan hitam mendadak menerjang ke arah tubuh Mey Leng hweesio.
Agaknya Mey Leng hweesiopun tahu kalau malam ini sulit untuk meloloskan diri dari bahaya sehabis mengucapkan kata-kata tadi diam-diam dia sudah kerahkan tenaga dalamnya bersiap sedia.
Kini melihat datangnya serangan tersebut mendadak ia membentak keras, sepasang telapak tangannya bersama-sama didorongkan ke depan melancarkan babatan....
Pukulannya ini telah menggunakan seluruh tenaga murni yang dimilikinya selama ini, kedahsyatannya sudah tentu luar biasa sekali.
Lei Hun Hwee ci sama sekali tidak menduga kalau dia berani melancarkan serangan terhadap dirinya sehingga hampir pukulan tersebut bersarang pada tubuhnya maka
dengan cepat ia meloncat ke tengah udara untuk berjumpalitan, diantara berkelebatnya ujung baju yang tertiup angin itu mendadak telapan tangannya melayang ke depan dengan amat ringannya.
Melihat gerakan ilmu pukulan tersebut Tan Kia-beng yang lagi bersembunyi jadi amat terperanjat.
“Aaakh.... ilmu gerakan Mao Ho Sin Lie," serunya tak tertahan lagi.
Sewaktu Mey Leng hweesio ngotot melancarkan serangan itulah mendadak terdengar Thay Gak Cungcu membentak keras, "Kau mencari mati!"
Pukulannya dengan disertai hawa tenaga dahsyat menyambut kedatangan serangan musuh, segulung angin pukulan berhawa dingin tanpa menimbulkan sedikit suarapun sudah menerjang ke depan disusul dengan suara jeritan ngeri dari Mey Leng Hweesio lalu rubuh ke atas tanah.
“Akh! Ilmu pukulan Tok Yen Mo ciang!” kembali Tan Kia-beng berseru dengan kagetnya.
Pada saat ini dalam hatinya benar-benar sudah yakin kalau Bok Thian-hong adalah anak murid dari Teh-leng-bun.
Sewaktu dia bermaksud untuk menampilkan diri itulah mendadak.... dari atas wuwungan rumah terdengar suara tertawa terbahak-bahak yang amat seram berkumandang datang.
Disusul dengan berkelebatnya tiga sosok bayangan manusia melayang turun ke atas permukaan tanah, kiranya mereka bukan lain adalah Hong Jen Sam Yu.
Si pengemis aneh dengan cepat maju setindak kehadapan Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong lantas tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa, haa, aku si pengemis tua sudah menduga kalau ini malam kau akan mendatangi kuil Ya Hu Sie ini lagi untuk melakukan kejahatan hee.... heee.... tidak kusangka kedatanganku masih terlambat setindak, di atas jalan menuju ke akhirat sudah kebanyakan beberapa setan, kesepian lagi.
Dengan perlahan Bok Thian-hong putar tubuhnya dan memandang ke arah Hong Jien Sam Yu dengan pandangan sinis.
"Aku rasa setan kesepian yang bakal memenuhi jalan menuju keakhirat bukan mereka melainkan Hong Jien Sam Yu" serunya ketus
Sembari berbicara selintas napsu membunuh terbayang di atas wajahnya.
Tan Kia-beng yang menonton dari samping diam-diam sudah menemukan kalau secara diam-diam Bok Thian-hong sudah kerahkan tenaga lweekang "Sian Im Kong Sah Mo Kan" sampai sembilan bagian hatinya jadi terjotos ia bermaksud untuk menyampaikan diri tetapi karena takut membuat Hong Jien Sam Yu kehilangan muka akhirnya dia batalkan juga niatnya.
Dan si hweesio berangasan yang paling tidak sabaran waktu itu benar-benar amat marah sekali menanti perkataan dari Bok Thian-hong selesai diucapkan dia sudah membentak keras sedang tubuhnya menerjang ke depan melancarkan serangan dahsyat.
Selama ini hweesio itu sudah amat benci sekali dengan tindakan Bok Thian-hong yang licik, karenanya begitu turun
tangan dia sudah kerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.
Angin pukulan menderu deru laksana menggulungnya ombak di tengah samudra, dengan diselingi suara ledakan halilintar yang dahsyatnya menggulung ke arah Thay Gak Cungcu.
Dengan wajah yang amat tenang Bok Thian-hong berdiri tak bergerak ditempatnya semula menanti serangan tersebut hampir mendekati tubuhnya ia baru membentak keras
"Hujien! baik-baiklah kau menjaga kedua orang bajingan itu, biarlah aku minta sedikit pelajaran dari Hong Jien Sam Yu yang memiliki sedikit nama kosong di dalam dunia kangouw ini, aku mau lihat apakah mereka benar-benar mempunyai kepandaian yang luar biasa untuk dipamerkan dihadapanku".
Selesai berkata tubuhnya segera melayang ke depan menghindarkan diri dari serangan hweesio berangasan itu dan telapaknya berputar mendadak dia menerjang ke arah si pengemis aneh dan sebentar kemudian tubuhnya sudah berada di depan tubuh si toosu dengkil sambil menyentilkan jarinya melancarkan dua serangan gencar.
Sejak menghindarkan diri dari serangan hweesio berangasan sehingga melancarkan serangan ke arah pengemis aneh serta toosu dengkil seluruh gerakannya ini dilakukan dengan sangat cepat sekali bahkan hampir hampir boleh dikata hanya dilakukan dalam sekejap saja.
Hal ini seketika itu juga membuat si pengemis aneh jadi terperanjat sekali.
Maksud Bok Thian-hong untuk melancarkan serangan seorang diri melawan Hong Jien Sam Yu justru ingin supaya mereka kehilangan muka tetapi Hong Jien Sam Yu pun bukan
manusia sembarangan, sudah tentu mereka tidak akan termakan oleh pancingan ini
Maka terdengarlah si pengemis aneh itu tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
"Haa, haaa kalian berdua jagalah disamping kalangan, biar aku si pengemis tua menerima beberapa serangannya.
Tidak menanti Bok Thian-hong melancarkan serangan untuk kedua kalinya dia sudah menerjang ke depan menyambut datangnya serangan tersebut, sepasang tangannya yang hitam dan kotor serta lima tendangan yang gencar.
Hanya di dalam sekejap saja angin pukulan kembali menderu deru menerjang kesana kemari laksana tiupan anign taupan menjelang hujan badai, keadaan waktu ini sudah amat mengerikan
Bok Thian-hong pun dengan cepat memainkan telapak tangannya kesana kemari menerjang keluar dari antara sambaran angin pukulan yang sangat hebat itu.
Mendadak terdengar ia tertawa dingin, tubuh mereka berdua pada berpisah ke belakang sepasang mata si pengemis aneh melotot keluar dengan murkanya, rambutnya yang pendek pada berdiri laksana kawat, jelas di dalam pertempuran barusan dia sudah menderita sedikit kerugian
Diantara mereka Tan Kia-beng lah yang paling terkejut bercampur keheran heranan dia dapat melihat ilmu silat dari Bok Thian-hong kecuali berasal dari aliran Teh-leng-bun diantaranya masih terselip berbagai jurus serangan yang amat aneh.
Walaupun pemuda itu sangat paham terhadap ilmu silat berbagai partai tetapi selamanya ini belum pernah ia menemui jurus serangan yang begitu aneh.
Mendadak dia dapat melihat kalau si pengemis aneh itu kembali bergerak maju siap melancarkan serangan kembali, hatinya jadi cemas sambil meloncat keluar dari tempat persembunyiannya dia berseru lantang, "Toako jangan bergebrak dulu, cayhe ada beberapa perkataan yang hendak diajukan kepadanya."
Terlihatlah sesosok bayangan manusia dengan diiringi suara bentakan yang nyaring sudah menghadang di depan tubuhnya,
Dengan cepat si pengemis aneh dongakkan kepalanya memandang, kiranya orang itu bukan lain adalah Tan Kia-beng, hatinya jadi girang sekali.
Dalam hati dia mengerti dengan kekuarannya seorang diri ada kemungkinan nama besar Hong Jen Sam Yu malam ini akan hancur ditangan orang lain walaupun dia mengerti tiada gunanya berbuat begitu tetapi demi menjaga nama baiknya tak urung dia harus bergebrak sampai titik darah penghabisan.
Kini dengan munculnya Tan Kia-beng memberi kesempatan yang baik buat dirinya untuk mengundurkan diri, dan bersamaan itu diapun percaya kalau hanya pemuda ini saja merupakan tandingan dari manusia licik tersebut.
Bok Thian-hong yang melihat munculnya Tan Kia-beng serta seorang nona berbaju merah ke dalam kalangan, air mukanya segera berubah hebat tidak terasa lagi dia sudah mengundurkan diri dan langkah ke belakang.
“Heee.... hee.... tidak disangka kembali kita bertemu muka disini" seru Tan Kia-beng sambil tertawa dingin sepasang
matanya dengan dinginnya melirik sekejap ke arah Thay Gak Cungcu.
"Hmm!...."
"Sewaktu masih ada digunung Gak Lok san aku sudah menaruh curiga kalau kau adalah anak murid dari Teh-leng-bun ini malam aku baru tahu kalau dugaanku sama sekali tidak meleset. Hay! kenalkah kau dengan benda ini.
Dibawah sorotan sinar rembulan tampaklah cahaya terang berkelebat Tan Kia-beng sudah mengangkat seruling pualam tanda kepercayaan dari Teh Leng Kauwcu yang telah menggetarkan seluruh dunia kangouw itu ke atas udara
Maksudnya bilamana Bok Thian-hong dengan benda tersebut maka orang itu bukan lain adalah murid kedua dari Teh-leng-bun yang menghianati sesuai dengan pesan terakhir dari Han Tan Loo jien itu dia berharap dengan adanya seruling pualam itu bisa memaksa dia untuk berubah sifat seperti halnya dengan Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong tempo hari.
Siapa sangka setelah Bok Thian-hong melihat seruling pualam itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun dia hanya tertawa dingin semakin menyeramkan.
"Heee.... heee.... kau tak usah menggunakan benda dari setan tua itu untuk menakut nakuti Cungcumu, aku orang she Bok sejak semula sudah lepaskan diri dari Teh-leng-bun dan angkat orang lain sebagai guru."
Pengakuannya yang secara terus terang ini benar-benar merupakan suatu hal yang tidak pernah diduga sebelumnya oleh Tan Kia-beng, dia tidak menyangka kalau Bok Thian-hong berani begitu terus terang mengakui penghianatannya terhadap perguruan Teh-leng-bun.
Tampaklah paras muka Bok Thian-hong mendadak berubah jadi ramah sekali
"Tetapi aku pun boleh dikata mempunyai ikatan persaudaraan dengan dirimu" katanya sambil tertawa terbahak-bahak, "Aku orang she Bok benar-benar tidak ingin kau pun ikut terdaftar diakhirat sebagai seorang anggota baru bagaimana kita dua bersaudara suka bekerja sama bukankah seluruh dunia kangouw bisa kita kuasahi?"
Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaa, haaa.... aku sih tidak akan percaya ada orang yang berani mengapa apakan diriku, aku rasa malam ini yang sudah mendaftarkan diri di dunia akhirat bukannya diriku melainkan kau bukan?"
Dengan kecerdasan Bok Thian-hong tentu dia mengerti apa maksud dari perkataan pemuda tersebut, maka air mukanya masih tenang-tenang saja.
“Aku rasa orang she Bok sama sekali tidak suka mendengar omongan besar yang bisanya cuma menakut nakuti orang saja" katanya perlahan, "Situasi Bulim waktu ini amat dahsyat sekali tujuh partai besar pada saling baku hantam untuk merebut nama serta kekuasaan dalam soal ini tentunya kau telah melihat sendiri bukan? Hee.... heee.... Liok lim Sin Ci yang dikatakan sebagai Rasul dari seluruh dunia persilatan tidak lebih merupakan manusia manusia yang tidak kuat menerima sekali pukulan, pentolannya saja tidak becus apalagi partai partai lainnya, haaa.... haaa...."
"Maka itu kau rela menjadi kaki tangan orang lain untuk menjalankan siasat busuk memancing datangnya hujan badai di dalam dunia persilatan?"
"Kau jangan terlalu menghina diriku, haruslah kau ketahui aku bicara begitu adalah bermaksud baik buat dirimu, aku rasa kepandaian silat yang kau peroleh saat ini tak mudah untuk didapatkan bilamana harus membuang nyawa dengan percuma rasanya terlalu sayang sekali."
Baru saja Bok Thian-hong selesai berkata mendadak terasa bau harum berkelebat datang kiranya Lei Hun Hweeci sambil tersenyum genit sudah berjalan mendekat.
"Akh.... kiranya kau adalah siau sute kami. Sute!! Perkataan dari suhengmu ini tidak salah, coba kau bayangkan di dalam dunia kangouw pada saat ini mana ada orang baik? Bukan saja para jago bahkan sampai Ci Si Sangjien pun sudah mengincar pedang pusakamu.... lebih baik kau pindah keperkampungan Thay Gak Cung kami saja!
---0-dewi-0---
Tan Kia-beng seorang yang suka mengingat ingat hubungannya dengan orang lain walaupun dia mengetahui kalau suami istri itu baik diluar, jahat di dalam dan saat ini lagi bermaksud untuk membaiki dirinya tapi untuk sesaat tak dapat mengumbar hawa amarahnya maka dia hanya tertawa saja.
"Maksud baik dari kalian berdua aku menerimanya dihati saja." ujarnya dingin. "Tetapi aku orang she Tan bersifat sombong, semakin sulit orang itu dihadapi, semakin besar niatku untuk bergebrak dengan dirinya, aku cuma tahu menegakkan keadilan dan membasmi kejahatan dari muka bumi, urusan mati atau hidup sudah bukan suatu persoalan yang besar bagiku!"
Beberapa patah kata ini diucapkan dengan sangat tegas dan bersemangat sehingga membuat si pengemis aneh yang
mendengar dari samping merasa amat kagum sekali mendadak dia tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haa haa haa..... bagus, sungguh memuaskan! Sungguh memuaskan! Tidak malu kalau disebut sebagai ahli waris dari Teh Leng Kau cu"
Sejak munculnya Tan Kia-beng di tempat itu perhatian semua orang sudah ditujukan kepadanya dan untuk sementara sudah melupakan Cao Phoa yang sedang menderita luka parah itu.
Penjahat dari Liok lim yang gemar akan harta ini memang dasarnya bersifat licik, diluaran sekalipun pura pura menderita luka parah padahal di dalam hati mulai memikirkan cara untuk melarikan diri dari sana
Matanya dengan cepat melirik sekejap ke samping dilihatnya Lei Hun Hwee ci yang mengawasi dirinya sudah berjalan dihadapan Tan Kia-beng maka ia lalu meloncat bangun dari atas tanah kemudian sambil mencengkeram tubuh Mey Leng Hweesio yang hampir mati itu putar badan melarikan diri
Dia sama sekali tidak menduga kalau Mo Tan-hong yang ada dibelakang tubuh Tan Kia-beng terus menerus lagi mengawasi seluruh gerak geriknya.
Memang selama ini gadis tersebut tidak maju melakukan pemeriksaan dikarenakan dia merasa kuatir terhadap keselamatannya Tan Kia-beng dia takut dengan kekuatan seorang Tan Kia-beng sulit untuk menahan serangan gabungan dari Bok Thian-hong suami isteri.
Dan kini melihat kedua orang cecunguk Bulim itu hendak melarikan diri sudah tentu ia tidak suka lepas tangan begitu saja.
"Berhenti!!!" bentaknya nyaring.
Laksana sekuntum mega berwarna merah yang melayang di tengah udara mendadak ia meloncat ke depan menghalang perjalanannya sambil menggetarkan pedang yang ada ditangan bentaknya, “Cau Phoa, kau masih kenal dengan nonamu bukan?”
Pertama memang tempo hari Mo Cuncu selalu berdiam diruangan belakang dan jarang sekali berhubungan dengan orang-orang luar. Kedua waktu itu ia hanyalah orang putri raja muda yang lemah dan tak berilmu silat, maka sewaktu munculkan diri tadi Cau Phoa tidak menaruh perhatian.
Tapi kini sesudah mendengar bentakan yang amat keras itu dia baru mengenali kembali kalau nona yang dihadapannya pada saat ini bukan lain adalah putri dari majikannya dulu, kontan dia jadi ketakutan setengah mati.
"Oooh.... kiranya Cuncu sudah tiba Cay Phoa memang seorang manusia berdosa yang patut dihukum serunya buru-buru sambil bungkukkan badannya memberi hormat.
Pada saat Mo Tan-hong maju menghalangi Cau Phoa itulah Lei Hun Hweeci pun sudah merasa sehingga dengan cepat dia sudah mengikuti dari belakangnya.
Hanya saja dikarenakan Mo Tan-hong bergerak lebih dulu maka saat ini dirinya menghadang dihadapan Cau Phoa sedang sewaktu ia tiba disana tepat manusia dari Liok lim itu sedang menghunjuk hormat.
Menggunakan kesempatan inilah mendadak ia kibaskan ujung bajunya ke depan dengan menggunakan menggunakan ilmu "Sian Im Kong Sah Mo Kang
Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati tubuh Cau Phoa sudah kena dihantam sehingga terlempar satu kaki ke tengah udara dan rubuh ke atas tanah menubruk batu hijau di atas pelataran, dan seketika itu ia jatuh tak sadarkan diri.
Walapun Cau Phoa jadi orang amat licik dan rakus akan harta bagaimanapun jua dia adalah anggota dari bangunan raja muda tempo hari dan perbuatan dimana Lei Hun Hwee ci yang mengirim satu pukulan menghajar tubuh Cau Phoa ini seketika itu juga memancing datangnya hawa amarah di hati Mo Tan-hong.
Terdengar dia membentak keras, pedangnya digetarkan ke depan sehingga mendengung lalu melancarkan satu babatan yang amat tajam ke depan dan sejak menelan pil mujarab dari Han Tan Loojien tenaga dalamnya sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga sudah dengan sendirinya babatan pedang kali ini amat dahsyat sekali laksana rentetan pelangi merah dengan cepatnya menggulung ke depan.
Walaupun Lei Hun Hwee ci memiliki ilmu iblis yang amat sakti tetapi waktu ini ia tidak berani memandang gegabah, buru-buru dia enjotkan badannya mengundurkan diri sejauh delapan depa ke belakang
Mo Tan-hong mana suka melepaaskan dirinya begitu saja, jurus serangannya dilancarkan semakin gencar dan hanya di dalam sekejap saja sudah melancarkan delapan serangan dahsyat
Ilmu pedang San Kuan Kiam Hoat dari San Kuan Sin nie sangat aneh dan sukar diduga, hanya di dalam sekejap saja cahaya hijau memancar keluar memenuhi angkasa hawa pedang berdesir mengelilingi daerah sekitar dua kaki.
Dengan terjadinya pertempuran yang amat seru ini adu mulut antara Bok Thian-hong serta Tan Kia-beng sekalipun segera berakhir, merekapun bersama-sama jalan mendekati kalangan pertempuran
Bok Thian-hong mengerti sama sekali akan kemampuan dari ilmu silat yang dimiliki oleh Lei Hun Hweeci, walaupun untuk sementara waktu ia kena didesak pada paras mukanya sama sekali tidak tampak rasa kuatir.
Sebaliknya Tan Kia-beng sendiripun bisa melihat walaupun hawa pedang yang dilancarkan oleh Mo Tan-hong gencar laksana pelangi dan berusaha merebut posisi yang baik tetapi pengalamannya yang tidak cukup membuat banyak kesempatan baik disia-siakan, bagaimanapun pada akhirnya bakal menemui kekalahan
Karena itu paras mukanya berubah jadi amat berat dan tegang sekali.
Waktu itu si pengemis aneh telah berhasil menenangkan golakan darah di dalam rongga dadanya, mendadak dia maju ke depan dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaa, haaaa, Bok CUg cu kau jangan menganggur saja aku si penemis tua masih ingin minta beberapa petunjuk dari ilmu silat aliran Teh-leng-bun."
Perkataan "Teh-leng-bun" ini diucapkan sangat menusuk telinga sehingga membuat Tan Kia-beng pun merasakan hatinya seperti ditusuk dengan jarum tajam, mendadak dia dongakkan kepala dan dari matanya memancarkan keluar cahaya yang sangat tajam.
"Toako kau tidak usah buang tenaga lagi" serunya. Murid murid ini biarlah aku saja yang turun tangan membereskannya!"
Sambil bergendong tangan dengan perlahan ia berjalan mendekati Bok Thian-hong.
"Maaf aku orang she Tan terpaksa harus turun tangan untuk menuntut balas bagi sukma sukma yang sudah berangkat terlebih dulu ditanganmu!"
"Haaa.... haa.... kalau bicara jangan begitu sombong, kau kira aku orang she Bok benar-benar takut padamu?" seru Bok Thian-hong sambil tertawa terbahak-bahak, "Justru karena aku melihat usiamu yang masih muda dan memperoleh kepandaian silat yang demikian tingginya dengan tidak gampang, maka sengaja mengalah tiga bagian kepada dirimu, kalau kau belum suka sadar juga he, he jangan salahkan aku Bok Thian-hong turun tangan kejam!"
Selesai berkata sepasang telapak tangannya segera dilintangkan di depan dada melancarkan serangan, sebaliknya Tan Kia-beng masih tetap tenang-tenang saja dan memandang ke arahnya dengan dingin.
Sejak saat ia majukan dirinya ke depan Bok Thian-hong memang terus menerus mengawasi keadaan di dalam kalangan pertempuran, saat itu dapat melihat keadaan dari Lei Hun Hweeci yang masih seimbang dimana kedua ujung baju berkelebat laksana ular berusaha menggetarkan gerakan pedang dari Mo Tan-hong sehingga berdengung, dia tahu bilamana dirinya tidak maju lagi maka keadaan akan menjadi semakin payah
Karena itu dengan cepat dia membentak keras, "Tahan!!"
Lei Hun Hweeci sendiripun tahu kalau rencana yang dipersiapkan malam ini sudah sulit untuk diteruskan, maka walaupun tangannya masih berkelebat melancarkan serangan tapi matanya terus menerus mengawasi gerak gerik dari Bok
Thian-hong, kini mendengar bentakan buru-buru menarik serangannya kembali dan melayang kesisi Bok Thian-hong.
"Hey bangsat! malam ini biarlah aku lepaskan dirimu dan memberi kesempatan untuk merasa bangga" seru Bok Thian-hong sambil tertawa dingin tiada hentinya. "Nanti pada suatu hari kau bakal merasa menyesak karena tidak suka mendengar nasehat dari aku orang she Bok malam ini."
Sehabis berkata dengan segera dia memutar badannya bersama-sama dengan Lei Hun Hweeci enjotkan badannya berkelebat menuju keluar ruangan.
Tan Kia-beng sama sekali tidak menyangka kalau dia berkata hendak pergi lantas pergi menanti dia merasa dan siap-siap untuk melakukan pengejaran keadaan sudah terlambat.
Terlihatlah sinar rembulan memancarkan cahayanya laksana matahari suasana begitu sunyi sedang bayangan dari mereka berduapun sudah lenyap tak berbekas.
Pada saat itulah terdengar Mo Tan-hong yang ada dibawah sudah berteriak, "Engkoh Beng! tidak usah dikejar lagi, biarkan mereka pergi!"
Tujuannya memanggil kembali Tan Kia-beng adalah ia bermaksud mencari tahu keadaan yang sebenarnya dari Cau Phoa maupun Mey Leng Hweesio dua orang.
Karenanya begitu pemuda tersebut meloncat turun buru-buru dia berteriak kembali, “Kau cepatlah kemari dan periksa apakah mereka berdua masih hidup ataukah sudah mati?”
Tan Kia-beng menurut dan berjalan kehadapan Mey Leng Hweesio untuk mencekal urat nadinya, waktu itu denyutan
jantungnya sudah berhenti jelas kalau ia telah mati beberapa saat lamanya.
“Periksa sakunya!” teriak Mo Tan-hong lagi, setelah diperingatkan oleh gadis itu pemuda itu baru teringat kalau Bok Thian-hong suami istri pun tadi lagi memeriksa dirinya untuk menyerahkan daftar nama-nama.
Maka dengan cepat dia merogoh sakunya dan mengambil keluar sejilid kitab yang di depannya tertera sebuah cap kerajaan yang sangat besar, buru-buru dia memeriksa sekejap kemudian dimasukkan ke dalam sakunya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke arah Cau Phoa.
Waktu itu Cau Phoa masih merintih kesakitan dan berusaha bangun berdiri dengan terhuyung huyung, dari saku bajunya tiba-tiba dia mengambil keluar sebuah sapu tangan yang diserahkan kepada Mo Tan-hong.
Beberapa saat lamanya orang itu memperhatikan gadis tersebut lalu ujarnya dengan nada gemetar.
Hamba telah mendapatkan budi kebaikan dari Cun-ong tempo hari, hanya dikarenakan serakah dengan harta kini sudah melakukan perbuatan yang menghianati dirinya sehingga memperoleh akhir yang demikian mengenaskan, walaupun kini merasa menyesal tetapi sudah tiada gunanya lagi! harta kekayaan yang ada di dalam istana kecuali sebagaian kena dirampok oleh pelayan pelayan sebagian besar berhasil hamba angkut pergi dan ditanam disuatu tempat yang amat rahasia sapu jagad tangan ini adalah peta dari pencarian harta tersebut harap Cuncu suka menerimanya."
Mo Tan-hong benar-benar merasa sedih dan terharu mendengar perkataan itu, diapun lantas menerima sapu tangan itu dan dipandangnya sekejap.
Sehabis mengucapkan kata-kata tadi kembali Cau Phoa muntahkan darah segar lalu batuk dengan krasnya, setelah termenung beberapa saat lamanya kembali ujarnya lagi, "Menurut dugaan.... dugaan ham.... hamba.... ini.... iblis yang.... memusuhi Cun.... Cun-ong.... kee.... kepandaian sii.... silat orang.... orang ini lii.... lihay sekali harap.... Sun.... Cuncu suu.... suka ber.... berhati.... berhati-hati...."
Dengan paksakan diri ia menerik nepas panjang panjang lalu tubuhnya ke atas tanah, dari tujuh lubang dibadannya mengucur keluar darah segar dan putuslah nyawanya.
Walaupun Cau Phoa jadi orang tidak jujur dan bersifat licik tetapi sesaat menjelang kematiannya dia dapat berkata demikian hal ini menunjukkan kalau pada saat saat terakhir dia sudah bertobat Mo Tan-hong yang merupakan seorang gadis berhati lemah sudah tentu sangat merasa, belum habis Cau Phoa selesai berkata tadi dia sudah menangis tersedu sedu.
Pada saat semua orang lagi dibikin sedih oleh suasana yang amat berat ini mendadak dari ruangan tengah berhembus datang segulung angin yang harum baunya, tampak sesosok bayangan tahu-tahu sapu tangan yang ada di tangan Mo Tan-hong sudah kena dirampas oleh orang itu.
Tan Kia-beng yang berdiri paling dekat dengan gadis itu melihat peta itu dirampas orang segera membentak keras, mendadak tangannya menaymbar ke depan menggunakan gerakan yang amat gesit sekali.
Breeet....! sakin kerasnya tenaga betotan itu tak tertahan lagi sapu tangan kontan robek menjadi dua.
Tan Kia-beng yang melihat benda yang ada dihadapannya hendak direbut orang sudah tentu tidak akan berdiam diri
begitu saja, maka sepasang lengannya mendadak dibabat ke depan dengan menggunakan gerakan I Hok Cong Thian atau burung bangau menerjang ke langit tubuhnya melayang keluar ruangan kuil dan menyapu sekejap keadaan di sekeliling tempat itu.
Tampaklah disebelah Tenggara terdapat sesosok bayangan manusia yang sedang berkelebat dengan cepat, segera iapun mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya Poh poh Cing Im meloncat setinggi tujuh delapan kaki dan meluncur bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya menerjang ke arah orang itu.
Kurang lebih beberapa kaki jauhnya dia melakukan pengejaran waktu itulah baru dapat dilihat kalau orang itu berbadan langsing dan berkelebat dengan gaya yang amat indah sekali, sekalipun begitu gerakannya jauh lebih cepat lagi dari keadaan semula.
Saking cemasnya seluruh wajah pemuda itu berubah jadi merah padam bagaikan kepiting rebus, ia membentak keras lelu mengerahkan tenaganya hingga mencapai dua belas bagian.
Dengan beberapa kali loncatan dia menerjang semakin cepat lagi ke depan, saking cepatnya hampir hampir boleh dikata seperti terbang di tengah angkasa.
Demikianlah mereka berdua saling kejar mengejar sejauh ratusan kaki jauhnya, mendadak tampak bayang manusia berkelebat disusul dengan suara yang nyaring dari seseorang yang lagi tertawa cekikikan.
"Eei orang lain lagi bergurau dengan dirimu, buat apa kau begitu cemas sehingga sedemikian rupa?"
Tan Kia-beng yang lagi melakukan pengejaran sekuat tenaga sama sekali tidak menyangka kalau orang lain dapat menghentikan larinya secara tiba-tiba, hampir hampir tubuhnya menerjang ke dalam pelukan orang tersebut.
Buru-buru dia meloncat ke tengah udara sedang telapak tangannya melancarkan satu pukulan ke tengah udara, dengan meminjam tenaga pantulan itulah dia bersalto sejauh delapan depa dan melayang turun ke atas permukaan tanah.
Pada detik itulah dia dapat melihat kalau orang yang ada dihadapannya saat ini bukan lain adalah seorang gadis berbaju hijau yang baru berusia enam tujuh belas tahunan.
wajah gadis itu cantik sekali dengan kulit badan berwarna putih, dan sorotan matanya memancarkan suatu wibawa yang besar.
Ketika nona itu melihat sikap yang tegang dari pemuda itu segera tertawa cekikikan.
Eei.... aku tidak lagi menantang berkelahi, buat apa kau merasa demikian tegangnya?"
Tan Kia-beng yang melihat gadis itu sama sekali tidak menggubris dirinya sebaliknya dia sendiri merasa begitu tegang dalam hati mereka amat malu, apalagi kini mendengar godaan dari dara itu semakin membuat harga dirinya ikut tersinggung, maka seketika itu juga dia mengerutkan alisnya dan tertawa dingin tiada hentinya.
"Hee.... hee jangan bicara sembarangan, separuh sapu tangan itu apa kau yang rebut?" bentaknya.
Eeh! cuma aku sama sekali tidak tertarik akan harta kekayaan tersebut, bilamana kau bermaksud minta kembali aku bisa berikan kepadamu dengan mudah!?"
Sapu tangan itu adalah milikku, sudah seharusnya dikembalikan kepadaku! apakah harus menggunakan syarat syarat juga?"
"Syarat sih tidak ada, hanya saja aku mengharapkan kau suka serahkan daftar nama hitam yang kau dapatkan dari Mey Leng Hweesio itu kepadaku!"
"Daftar nama hitam?"
"Benar! didaftar nama yang di atasnya ada cap kerajaannya itu, benda tersebut sama sekali tidak berguna bagimu, sedang aku amat membutuhkannya."
“Bilamana aku tidak suka mengabulkan?”
“Mungkin karena persoalan itu nyawamu akan ikut lenyap."
“Waah, kalau begitu aneh sekali!” seru Tan Kia-beng, sambil dia tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
“Apakah kau kira dengan mengandalkan kepandaian silatmu sudah lebih dari cukup untuk membinasakan cayhe?” katanya.
“Bagi aku pribadi sama sekali tidak bermaksud jahat terhadap dirimu, tetapi orang-orang dari Isana Kelabang Emas tidak bakal mengampuni dirimu!”
Tan Kia-beng yang mempunyai sifat sombong dan congkak, seketika itu juga dibuat marah sekali setelah mendengar perkataan yang mengandung ancaman ini, maka dengan dinginnya dia tertawa keras.
“Haa.... haa.... Cayhe pun boleh terus terang memberi tahu kepadamu, barang siapa saja yang bermaksud untuk mendapatkan daftar nama tersebut sama saja lagi bermimpi di siang hari bolong, dan kini akupun hendak peringatkan kepadamu bilamana kau tidak suka menyerahkan separuh dari
sapu tangan itu maka jangan harap bisa meninggalkan tempat ini."
Mendengar perkataan tersebut tiba-tiba Dara Berbaju Hijau itu tertawa cekikikan dan berkata, "Agaknya kau menaruh kepercayaan besar terhadap kepandaian silat yang kau miliki menurut pandanganku."
Berbicara sampai disini dia menghentikan kata-katanya sedang sepasang biji matanya yang bulat berkedip kedip tiada hentinya, jelas perkataan selanjutnya adalah perkataan yang tidak enak didengar.
Di dalam sekejap itu dalam hati pemuda itu mulai menaruh perasaan curiga terhadap gadis yang amat misterius ini, sejak semula munculkan dirinya di dalam dunia kangouw walaupun pernah bertemu dengan puluhan orang jagoan Bulim tetapi belum pernah menemui seorang jagoan yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu tinggi sehingga dirinya sendiri pun tidak sanggup untuk menandingi.
Teringat akan baju berwarna hijau yang dikenakan dara tersebut mendadak dalam pikirannya berkelebat satu ingatan, pikirnya, "Apakah dia yang telah melukai Liok lim Sin Ci tempo hari?"
Si dara yang barbaju hijau yang melihat lama sekali pemuda itu tak mengucapkan sepatah katapun dalam hati lantas mengira kalau perkataan tadi sudah menusuk perasaannya, tidak terasa lagi dengan wajah penuh kesesalan dia berjalan mendekat ke samping badannya.
"Apakah kau sedang marah karena aku berkata kalau kepandaian silatmu tidak lihay?" tanyanya dengan halus. Sebenarnya kepandaian silat yang kau miliki boleh dihitung nomor wahid di dalam Bulim dan merupakan seorang jagoan
lihay. Heei, bukannya aku terlalu memandang hina dirimu, yang benar orang-orang dari Isana Kelabang Emas bukanlah tandinganmu!
Di dalam anggapan perkataanmu yang baru diucapkan cukup untuk meredakan hawa amarah dihatinya, siapa tahu justru karena perkataan itu harga dirinya semakin tersinggung dan membuat hawa amarahnya semakin berkobar, terdengar pemuda itu mendengus dingin dengan beratnya.
“Cuma sayang kau bukan orang yang berasal dari Isana Kelabang Emas, kalau tidak?"
"Kalau tidak gimana?”
“Segera minta beberapa jurus petunjuk dan coba-coba siapakah yang lebih berhasil!”
“Kau bermaksud untuk turun tangan melawanku?”
"Tidak salah, bagaimana kau tidak serahkan sapu tangan yang tinggal separuh itu sekalipun kau bukan anggota Isana Kelabang Emas cayhe pun terpaksa ingin minta beberapa jurus petunjuk."
Mendadak Dara Berbaju Hijau itu tertawa cekikikan lagi, ujarnya, “Sebenarnya aku bermaksud untuk mengembalikan separuh dari sapu tangan ini, tetapi kini kau sudah memasuki hatiku, maka aku ingin melihat apa yang dapat kau lakukan terhadap diriku!"
Selesai berkata dia lantas bertolak pinggang dan berdiri tegak dihadapannya.
Walaupun dalam hati Tan Kia-beng merasa amat gusar tetapi menyuruh dia turun tangan terlebih dulu untuk menyerang bocah perempuan yang dua tiga tahun lebih muda dari dirinya sudah tentu tidak sanggup.
Seketika itu juga pemuda itu jadi melengak dibuatnya, lama sekali tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Mendadak segulung angin malam bertiup datang membuat ujung baju serta ikat pinggang dari gadis berbaju hijau itu beterbangan menampar wajah pemuda tersebut.
Bersamaan itu pula tersiarkan segulung hawa yang amat harum tapi aneh sekali menusuk hidung.
Tak terasa lagi pemuda itu jadi tergetar dia teringat kalau bau harum ini pernah terasa olehnya disuatu tempat hanya saja dimanakah tempat itu tak teringat kembali olehnya.
Melihat lama sekali pemuda itu tidak turun tangan mendadak Dara Berbaju Hijau itu tertawa
"Eeei....! kalau kau tidak suka turun tangan, maka aku mau pergi dulu lho!
Mendadak tubuhnya berkelebat melayang ke arah depan.
Melihat kejadian itu Tan Kia-beng segera merasakan hatinya amat cemas.
"Berhenti!” bentaknya keras.
Dengan segera dia enjotkan badannya mengikuti dari belakang, siapa sangka waktu itulah dia sudah kehilangan bayangan dan jejak dari gadis itu, dan membikin dia jadi semakin terperanjat.
Bagaimana juga dia merasa tidak percaya kalau gadis itu mempunyai kepandaian yang demikian lihay sehingga hanya di dalam sekejap saja sudah kehilangan jejaknya.
Dengan hati mangkel terpaksa ia melayang turun kembali ke tempatnya semula.
Tapi baru saja dia melayang turun mendadak dari belakang tubuhnya terdengarlah suara tertawa cekikikan yang amat merdu, dengan rasa amat terperanjat buru-buru dia balikkan badannya.
Tampaklah gadis berbaju hijau itu dengan wajah penuh senyum masih berdiri di tempat semula.
Kiranya Dara Berbaju Hijau itu sangat licik dan pintar sekali.
Tadi sewaktu Tan Kia-beng dengan hati cemas melakukan pengejaran itulah mendadak ia membuyarkan hawa murni di dalam tubuhnya dan dengan paksakan diri menarik kembali badannya ke tempat semula, karena pemuda itu agak gegabah maka saat ini kena dikibuli olehnya.
Tan Kia-beng yang beberapa kali kena dipermainkan olehnya dalam hati jadi amat gusar sekali, bentaknya keras, "Apakah kau bermaksud akan mempermainkan diriku?"
"Itupun hampir hampir mirip!"
Dengan menggunakan kesempatan itulah si Dara Berbaju Hijau itu menubruk ke depan, diantara berkelebatnya telapak tangan di dalam sekejap saja ia sudah melancarkan tujuh belas serangan berantai, setiap jurus serangannya amat aneh dan sakti sekali.
Terasalah empat penuru dikitari oleh bayangan hijau yang berputar laksana roda, di tengah kabut hijau yang amat tebal secara samar-samar terasa ada beribu ribu telapak tangan melancarkan serangan bersamaan hanya di dalam sekejap saja pemuda itu sudah kena dibikin kacau balau dan kalang kabut sendiri.
Sejak terjunkan dirinya ke dalam dunia kangouw belum pernah pemuda itu menemui kekalahan seperti pada malam
ini, saking cemasnya seluruh air mukanya berubah merah padam, dia membentak keras lalu dengan menggunakan jurus "Jiet Ceng Thian" dari ilmu telapak Siauw Siang Chiet Cian, dengan sepenuh tenaga menyerang ke depan.
Diantara berkelebatnya bayangan telapak hanya dalam sekejap saja dia sudah melancarkan delapan buah serangan berantai.
Terasalah angin pukulan segulung demi segulung saling menyambung laksana tiupan angin taupan serta hujan kencang, tetapi walaupun dia sudah gunakan tenaga yang bagaimana dahsyatnyapun asalkan terkurung oleh kabut hijau kontan terpukul buyar tak berbekas.
Lama kelamaan pemudia itu mulai terdesak, akhirnya jadi amat terkejut sekali
Mendadak....
Bayangan manusia berkelebat, Dara Berbaju Hijau itu sudah balik tangannya memunahkan seluruh serangan yang mengancam datang lalu tertawa cekikikan.
"Tenaga dalammu sungguh mengejutkan sekali, cuma sayang salah di dalam penggunaannya."
Tidak menanti dia memberi jawaban, sambungnya lagi, "Perkataan yang kukeluarkan tadi adalah perkataan yang sungguh sungguh mau percaya atau tidak itu urusanmu, kini kau tidak suka menyerahkan daftar nama kepadaku aku tidak akan memaksa, semoga saja kau suka menghadapi dengan berhati-hati, sapu tangan yang hanya separuh lagi ini biarlah aku simpan untuk sementara waktu, selamat tinggal!
Selesai berkata tampaklah bayangan hijau berkelebat, tahu-tahu dia sudah berada kurang lebih sepuluh jauhnya, ilmu
meringankan badan yang demikian dahsyatnya ini sungguh sungguh mengejutkan sekali membikin pemuda itu berdiri melongo longo beberapa saat lamanya kemudian baru menghela napas panjang.
Sewaktu dia bermaksud hendak berlalu dari sana itulah mendadak kembali muncul dua sosok bayangan manusia berkelebat datang.
"Engkoh Beng, berhasilkan kau mendadak diriya?” tanya salah seorang dari kejauhan.
Dengan kakunya Tan Kia-beng meggeleng, bayangan itu bukan lain adalah Mo Tan-hong yang sambil berbicara bagaikan seekor kupu kupu melayang kehadapannya, melihat air muka pemuda itu rada aneh dia melongo keheranan.
Tapi sekejap kemudian dia sudah tersenyum kembali dan berseru dengan nada kegirangan.
“Engkoh Beng, Ui Liong Supek dia taupan sudah datang,"
Waktu itulah Tan Kia-beng baru sadar kembali dari lamunannya, sedikitpun tidak salah Ui Liong-ci sambil mengelus elus jenggotnya lagi memandang dirinya.
Buru-buru dia mendekat dan bungkukkan badannya menjura
"Tootiang bagaimana kau bisa tahu kalau boanpwee sekalian ada disini?" tanyanya.
Air muka Ui Liong-ci diliputi oleh keangkatan dan ketegangan, bukannya menjawab sebaliknya tanyanya, "Apakah daftar nama itu kena direbut?"
Dengan terperanjat Tan Kia-beng gelengkan kepalanya, Ui Liong-ci bukannya menanyakan apakah sapu tangan itu berhasil direbut kembali sebaliknya malah menanyakan apakah
daftar nama itu kena direbut atau tidak, hal ini di dalam pandangan Tan Kia-beng boleh dikata merupakan suatu hinaan terhadap dirinya dan sebaliknya sudah memandang terlalu tinggi keadaan tinggi.
Karena sikap dari Ui Liong-ci yang amat aneh ini membuat suasana jadi kurang enak, tampak Toosu itu dengan pandangan yang amat tajam meyapu sekejap ke arah kedua orang itu lalu ujarnya dengan dingin, "Tempat ini bukanlah suatu tempat yang cocok untuk berbicara, kalian ikutilah diriku,"
Segera dia meloncat ke depan lebih dulu dan melakukan perjalanan cepat.
Tan Kia-beng lantas bertukar pandangan sekejap dengan Mo Tan-hong mereka merasa pendekar aneh dan sakti ini rada aneh sikapnya.
Walaupun begitu mereka tidak berani banyak bertanya, dengan cepat tubunya ikut berkelebat melakukan perjalanan.
Demikianlah dengan cepat tiga puluh li sudah dilalui. Tan Kia-beng yang memiliki tenaga dalam yang amat lihay masih tidak seberapa merasa, sebaliknya Mo Tan-hong sudah merasa amat lelah sekali, wajahnya berubah memerah sedang keringat mengucur dengan deras bilamana bukannya ada Tan Kia-beng yang tentu menarik dirinya ada kemungkinan sejak semula sudah tidak kuat.
Agaknya Ui Liong-ci pun merasa kalau Mo Tan-hong sudah kepayahan mendadak dia menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Tahanlah sebentar lagi. Tinggal melakukan perjalanan sejah tujuh delapan li, dan sampailah disebuah lembah yang amat misterius sekali, keadaan di dalam lembah itu penuh
dengan batu batu cadas yang berserakan dan berpuluh puluh mata air yang memancarkan air membuat pemandangan yang amat indah sekali.
Ui Liong-ci dengan memimpin kedua orang itu berjalan masuk ke dalam sebuah gua alam yang amat besar kemudian baru berhenti melakukan perjalanan.
"Hong Jie tentu kau amat lelah bukan?" tanyanya sambil tertawa.
"Akh.... untung masih baik-baik saja" sahut Mo Tan-hong sambil membereskan rambutnya yang awut awutan.
Dengan menggunakan kesempatan sewaktu mereka berdua lagi tanya jawab Tan Kia-beng mulai memeriksa keadaan di dalam gua itu, tampaklah tempat itu walaupun amat luas tapi sama sekali tidak terdapat sesuatu apapun, selagi hatinya keheranan Ui Liong-ci sudah putar badannya dan ujarnya, "Kalian berdua tentunya menaruh curiga pada pinto mengapa membawa kalian kemari bukan? Tapi kalian tidak tahu untuk mencari tempat yang demikian baiknya sudah membuang waktu yang tidak sedikit."
Mo Tan-hong yang memiliki kecerdasan luar biasa lalu mengerti apa maksud dari perkataan itu, buru-buru dia mengucapkan terima kasih.
"Supek sudah mencarikan kita tempat yang demikian bagus untuk berlatih silat. kami haru smengucapkan banyak terima kasih kepadamu," katanya.
“Haa.... haa.... hitung hitung saja kau memang amat cerdik" ujar Ui Liong-ci sambil tertawa terbahak-bahak. "Agar kalian bisa mempelajari ilmu silat yang ada di dalam kitab Sian Tok Poo Liok ini sebenarnya memang pinto carikan satu tempat yang sesuai."
Sehabis berkata dia lalu mengajak kedua orang itu untuk menuju kegua belakang, di dalam sana ada alat alat keperluan, misalnya pembaringan dan lain lain lagi keperluan yang penting.
Sesudah mempersilahkan kedua orang itu duduk Ui Liong-ci baru bertanya pada pemuda itu, "Yang baru saja kau jumpai tadi apakah seorang Dara Berbaju Hijau yang amat cantik?"
“Benar!” jawab pemuda itu mengangguk.
"Apakah dia pernah mengajukan permintaannya mendapatkan daftar nama?"
"Benar! Tapi Tecu tidak mengabulkan permintaannya itu."
“Lalu kalian bergebrak?"
“Dia hanya menyerang beberapa jurus saja lalu berhenti dan ditinggal pergi."
“Pergi?” teriak Ui Liong-ci sambil mementangkan matanya lebar-lebar, agaknya dia merasa ada sedikit diluar dugaan.
“Benar, sebelum pergi dia malah sudah pesan wanti wanti agar kau suka berhati-hati katanya ada golongan Isana Kelabang Emas yang lagi mengincar daftar nama itu."
Sembari berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar daftar nama yang didapatkan dari saku Mey Leng Hweesio itu untuk diansurkan kepada Ui Liong-ci.
Terhadap Dara Berbaju Hijau itu agaknya Ui Liong-ci menaruh perhatian yang amat besar sehingga terhadap perkataan yang diucapkan oleh pemuda itupun didengarnya dengan amat hati-hati sehingga lupa untuk menerima daftar itu.
Tan Kia-beng yang melihat dia tak suka menerima daftar nama itu lantas membukanya pada halaman pertama.
Nama pertama yang tertulis dipaling atas adalah Ui Liong-ci disusul Chu Swei Tiang C*ng, Tan Ci Liang Leng Siauw Kiam Khek dari gunung Cing Shia, Thiat Bok Tootiang dari Bu-tong-pay dan berturut turut seratus orang banyaknya.
Selagi pemuda itu membaca nama nama tersebut dengan penuh perhatian itulah mendadak terdengar Ui Liong-ci menepuk meja dengan amat keras.
“Benar, pastilah dia!” teriaknya.
Tindakannya yang amat aneh ini kontan membuat Tan Kia-beng maupun Mo Tan-hong jadi kebingungan dan terperanjat.
Dengan cepat Ui Liong-ci menoleh ke arah Tan Kia-beng dan tanyanya, “Sewaktu kau bergebrak dengan dirinya apakah ada segulung hawa hijau yang muncul dari badannya?”
“Benar, hawa berwarna hijau itu amat aneh dan luar biasa, sewaktu angin pukulan menembusi kabut tersebut segera berhasil dipunahkan tak berbekas, entah ilmu kepandaian macam apakah itu?”
"Itulah semacam ilmu saktinya yang amat dahsyat yang disebut Hong Mong Ci Khie ilmu ini dapat lunak dapat pula keras sesuai dengan kemauannya sendiri, tenaga keras kuat tak tertembus, tenaga lunak melukai orang tak berwujud. Pinto menaruh curiga ada kemungkinan Liok lim Sin Ci pun terluka di tangan gadis tersebut."
Tan Kia-beng yang melihat dia memandang ilmu Hong Mong Ci Khei itu begitu tinggi dan anehnya dalam hati merasa sangat tidak puas, maka tanyanya tak terasa, "Entah ilmu
Hong Mong Ci Khie itu mana lebih lihay jika dibandingkah dengan Pek Tiap Sin Kang ku itu?
“Semuanya merupakan ilmu sakti, hanya saja ilmu Hong Mong Ci Khei ini jauh lebih tinggi satu tingkat."
Sehabis berkata dia menghela napas panjang dan menerima daftar nama itu untuk dilihat sebentar, dan kemudian dilemparkan ke atas tanah kembali.
"Supek!" akhirnya Mo Tan-hong tidak dapat menahan sabar lagi dan berseru. "Dari manakah asal usul perempuan berbaju hijau ini? apa kegunaannya untuk mencari daftar nama ini?"
"Heeeii.... walaupun pinto tidak begitu tahu tapi meraba sedikit asal usulnya" sahut Ui Liong-ci sambil menghela nafas panjang "Urusan ini dikemudian hari kalianpun bakal tahu sendiri, sedangkan mengenai daftar nama hitam itu sendiri, bibit ini ditimbulkan sewaktu mengadakan pembasmian terhadap suku Biauw tempo hari"
"Dara Berbaju Hijau itu apa mungkin datang dari daerah Mo Pak?" sela Tan Kia-beng tiba-tiba. Yang dimaksudkan sebagai Isana Kelabang Emas mungkin merupakan suatu partai atau perkumpulan di Bulim?'
Ui Liong-ci mengangguk lalu sahutnya dengan serius, “Masa pembunuhan secara besar besaran sudah berlangsung di dalam Bulim, karenanya pinto sengaja mengundang kalian berdua datang kemari untuk ikut berlatih ilmu silat yang ada di dalam kitab pusaka Sian Tok Poo Liok, karena hanya dengan mengandalkan ilmu silat yang ada di dalam kitab itu saja baru bisa menenteramkan pembunuhan secara besar besaran ini, maka mulai besok pagi kalian berdua harus membuang seluruh pikiran yang mengacau hati kalian perhatian harus dipusatkan untuk berlatih ilmu. Walaupun ilmu Hong Mong Ci
Khei" itu sangat luar biasa tapi belum tentu tak ada ilmu yang bisa memecahkannya."
---0-dewi-0---
JILID: 23
Selesai berkata dia penjamkan matanya dan tidak berbicara lagi.
Tan Kia-beng berduapun tidak berani bertanya lebih lanjut merekapun lalu pada beristirahat sendiri sendiri.
Keesokan harinya Ui Liong-ci mengundang Tan Kia-beng kehadapannya dan mengambil keluar sebuah kitab yang berisikan rahasia rahasia berlatih silat lalu diserahkan kepadanya.
"Nasibmu amat mujur" katanya perlahan. Bahkan memperoleh pil sakti dari ular raksasa dan tenaga murni hasil latihan selama ratusan tahun dari Han Tan Loojien, walaupun seluruh tenaga belum lumer menjadi satu karena waktu yang amat singkat tapi di dalam tubuhmu sudah ada dua buah tenaga murni yang berbeda, karenanya aku hendak memberi satu pelajaran gabungan yang bernama Jie Khek Kun Yen Kan Kun So terdiri dari hawa Im serta hawa Yang, ilmu semacam ini membutuhkan tenaga dalam yang berbeda tapi harus bersatu padu disatu tempat justru ilmu ini sangat jarang sekali ada yang mempelajarinya maka kedahsyatannya tak bisa dibayangkan lagi, dan hanya dengan ilmu gabungan Im Yang ini saja ilmu Hong Mong Ci Khie bisa terpecahkan.”
Sehabis berkata dia lantas membawa Tan Kia-beng menuju ke dalam sebuah gua yang kecil dan menyuruh dia masuk ke dalam terakhir pesannya wanti wanti, “Mulai saat ini kau boleh
duduk bersemedhi selama empat puluh sembilan hari untuk melatih ilmu tenaga gabungan Jie Khek Kun Yen Kan Kun So ini, pinto akan melindungi dirimu selama ini dan perduli sudah terjadi peristiwa apapun kau tidak usah urus harap kau suka baik-baik berlatih."
Tan Kia-beng mengiakan, demikianlah Ui Liong-ci pun lalu membantu dirinya menutup pintu batu itu dan membawa Mo Tan-hong berlalu dari sana.
Seperginya Ui Liong-ci dengan perlahan Tan Kia-beng mulai membuka halaman pertama kitab pusaka itu dan mempelajarinya dengan seksama, dia merasa ilmu gabungan "Jie Khek Kun Yeng Kan Kun So" ini benar-benar luar biasa sekali, bilamana harus berganti dengan orang lain mungkin tidak bakal berhasil walaupun sudah peras seluruh tenaga yang dimilikinya.
Sebaliknya pada dirinya hal ini bukanlah merupakan satu persoalan yang sukar, asalkan dia bisa menggabungkan aliran tenaga dalamnya menurut *ek Tiap Sin Kang dan Sian Im Kong Sah Mo Kang maka dengan cepatnya ia bisa berlatih sesuai dengan ajaran di dalam kitab itu.
Mulai saat ini pemuda itu berlatih sesuai dengan apa yang tercantum di dalam kitab itu walaupun ilmunya yang luar biasa ini amat sukar untuk dipelajari tapi dengan kecerdikan yang dimiliki Tan Kia-beng tidak sukar juga untuk mengetahui dasarnya.
Beberapa hari kemudian dia berhasil mencapai pada taraf yang paling genting dimana terasalah hawa murni yang ada di dalam tubuhnya bergolak laksana berjuta juta ekor kuda yang menerjang bersama-sama dengan perlahan sinar merah yang tebal mulai meliputi seluruh ruangan sehingga akhirnya berubah jadi merah laksana api di dalam tungku saking
panasnya keringat sebesar kedelai mengucur keluar dengan amat derasnya.
Perubaan semacam ini sebelum berlatih telah terbaca di dalam kitab itu karenanya pemuda tersebut tidak merasa begitu terperanjat, demikianlah pada hari kedua mendadak cahaya merah lenyap berganti dengan kabut hijau yang amat tebal dan dingin, seketika itu juga seluruh gua telah membeku bagaikan es membuat pemuda itu saking dinginnya jadi menggigil
Kurang lebih tiga puluh hari lamanya panas dingin menyerang saling susul menyusul yang lama kelamaan menjadi tenang kembali, hawa panas maupun hawa dingin yang ada di dalam tubuhnya mulai bergabung menjadi satu dan dapat dikerahkan sesuai kemauan hatinya.
Karena mengetahui dirinya telah memperoleh sedikit hasil, pemuda itupun baru mulai berlatih ilmu serangan sesuai dengan kitab tersebut.
Ilmu Kan Kun So yang kelihatannya amat gampang ini ternyata amat sukar sewaktu dilatih dan ruwet sekali, untung saja otaknya cerdik dan sudah memiliki dasar belajar silat yang mendalam, maka di dalam waktu yang ditentukan dia dapat menghapal seluruh gerakan itu dengan sendirinya sehingga kepandaiannyapun memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali
Empat puluh sembilan hari berlalu dengan cepatnya, seluruh ilmu silat yang termuat di dalam kitab itupun sudah berhasil dipelajari seluruhnya dengan matang
Hari itulah tiba-tiba dari luar gua terdengar suara percakapan serta tertawa dari Ui Liong-ci serta Mo Tan-hong
disusul pandangan jadi terang karena pintu gua telah dibuka lebar-lebar.
Ui Liong-ci sambil tersenyum telah menyambut dirinya dan berkata, "Tidak sampai dua bulan kau telah memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, hal ini benar-benar luar biasa sekali."
Buru-buru Tan Kia-beng bangun berdiri dan merendah
"Tecu tidak berani memastikan apakah ilmu yang dipelajari mendatangkan hasil!" serunya.
Dan dengan segera Mo Tan-hong melompat maju ke depan dan menarik tangannya.
“Engko Beng, kalau kau tak percaya kenapa tidak keluar gua untuk dicoba?"
Tan Kia-beng melirik sekejap ke arah Ui Liong-cie, melihat orang tua itupun lagi memandang mereka berdua sambil tersenyum sehingga tanpa dirasa air mukanya terasa jadi panas tanpa banyak bicara lagi dia lalu mengikuti dari belakang orang tua itu berjalan keluar dari gua.
"Coba kau gunakan pohon siong ini untuk membuktikan ilmu barumu itu! terdengar Ui Liong-ci berseru sambil menuding sebuah pohon siong yang amat besar sekali.
Tan Kia-beng menurut saja, tampaklah dia berdiri tegak dengan sepasang telapak tangannya diangkat dengan gaya Tahy Khek lalu sambil membikikn setengah lingkaran dengan amat perlahannya ditekan ke arah depan.
Seketika itu juga tampaklah dua rentetan cahaya putih dan merah berkelebat ke depan bagaikan kilat, tidak terlihat angin pukulan juga tidak tampak pohon siong itu mereaksi apa apa keadaan tetap tenang-tenang saja tanpa terjadi sesuatupun.
Mo Tan-hong yang melihat kejadian ini segera mencibirkan bibirnya, dia merasa amat kecewa
Tiba-tiba....
Disertai suara ledakan yang amat keras sehingga memekikkan telinga pohon raksasa tersebut dengan perlahan rubuh ke atas tanah dan menggelinding ke arah bawah tebing.
Pasir dan debu pada beterbangan memenuhi angkasa disertai gugurnya dedaunan memenuhi permukaan keadaannya benar-benar luar biasa sekali.
Dengan gesitnya Ui Liong-ci melayang ke samping pohon tersebut dan mencengkeram batang kayu itu untuk diperiksa dengan teliti, mendadak dia tertawa terbahak-bahak kerasnya.
“Haaa.... haa.... dahsyat! Aneh! Hebat!” teriaknya.
Jelas sekali Toosu tua ini merasa sangat bangga sekali dengan hasil yang diperoleh ini
Tan Kia-beng serta Mo Tan-hong pun pada waktu ini bersama-sama turun ke bawah pohon, saat itulah mereka baru menemukan kalau batang pohon yang terkena gempuran tenaga pukulan tadi saat ini sudah hancur menjadi bubuk halus.
Setelah tertawa terbahak-bahak beberapa saat lamanya Ui Liong-ci baru berdiam diri dan katanya dengan serius, "Ilmu aneh yang amat dahsyat dan berkekuatan luar biasa ini tidak boleh digunakan bilamana tidak dalam keadaan terpaksa apalagi terhadap orang-orang Isana Kelabang Emas ilmu ini jangan sekali kali kau gunakan dengan semuanya."
Tan Kia-beng mengiakan, mendadak teringat olehnya dimanakah letaknya Isana Kelabang Emas itu sehingga tak terasa lagi sudah bertanya dengan suara keras, "Supek
apakah kau orang tua tahu dimanakah letaknya Isana Kelabang Emas?"
Ui Liong-ci mengerutkan alisnya dan bungkam diri. Tan Kia-beng yang melihat sikapnya itu segera tidak berani bertanya lebih lanjut.
“Kitab pusaka Lian Tok Poo Liok sudah berhasil kau hapalkan dan untuk mematangkannya sudah tidak sulit lagi" kata Ui Liong-ci lagi secara tiba-tiba, "Kau tidak usah berada disini lagi dan segera turunlah dari gunung dan kau Hong jie masih harus tinggal disini selama beberapa waktu untuk mendalami isi kitab pusaka Sian Tok Poo Liok itu"
Tan Kia-beng jadi melengak dibuatnya belum sempat ia mengucapkan sesuatu Ui Liong-ci telah berjalan masuk ke dalam gua sambil menggandeng tangan Mo Tan-hong.
Melihat kesempatan untuk menyampaikan kata-kata perpisahan Mo Tan-hong pun tidak ada pemuda itu merasa hatinya kurang senang apalagi kini Ui Liong-ci memerintahkan dirinya untuk turun gunung sudah tentu tidak enak untuk ikut masuk ke dalam gua lagi.
Terpaksa sambil menghela napas panjang dia putar badan dan berjalan menuruni gunung itu.
Kiranya Ui Liong-ci telah bisa melihat hubungan yang amat baik antara mereka berdua, dikarenakan dendam berdarah dari Mo Tan-hong belum terbalas dia harus mempelajari terlebih dulu isi dari kitab pusaka "Sian Tok Poo Liok" sehingga nantinya dapat membalas dendam dengan tangannya sendiri maka karena takut adanya pemuda itu disana sehingga dapat mengacaukan pikirannya maka itu dia memerintahkan Tan Kia-beng untuk berangkat terlebih dulu.
Tan Kia-beng yang turun gunung seorang diri di tengah jalan merasakan pikirannya amat kacau sekali, "Isana Kelabang Emas", "Dara Berbaju Hijau", "Daftar hitam." semuanya mempunyai sangkut paut yang amat erat dengan pembunuhan secara besar besaran di dalam Bulim. walaupun begitu tak sebuahpun yang berhasil ia pecahkan dimanakah letaknya sangkut paut tersebut.
Jika ditinjau dari sikap Ui Liong-ci tadi diapun merasa kalau orang tua itu tidak begitu mengetahui jelas cuma ia percaya kalau orang tua jauh lebih mengerti daripada dirinya bahkan jelas dia orang tua amat jeri dengan Dara Berbaju Hijau itu dan Isana Kelabang Emas.
Pikirannya yang kacau itu tiba-tiba teringat kembali akan suatu urusan dimana dia telah mengadakan janji dengan Sak Ih itu anak murid dari Bu-tong-pay, dalam hatipun lalu mengambil keputusan untuk berangkat ke gurun pasir.
Sekeluarnya dari daerah pegunungan Ci Tong sampailah pemuda itu di kota Kiem Hoan Cung, seorang diri ia masuk ke dalam rumah makan untuk bersantap sedang matanya dengan tajam memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Tampaklah orang yang duduk dihadapan mejanya adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahunan dengan lengat dan badan yang kekar, sebilah pedang tersoren pada pinggangnya, waktu itu diapun lagi memandang ke arahnya dengan pandangan tajam.
Tan Kia-beng yang memiliki sifat lapang dada dan suka berkawan lalu merasa simpatik padanya, tidak terasa lagi lagi ia sudah menangguk dan tersenyum
"Heng thay minum arak seorang diri disana, mengapa tidak pindah saja kemari untuk bercakap-cakap?” ujarnya.
Orang itu segera bangun berdiri dan menjura.
"Terima kasih!” sahutnya.
Orang itu lantas mengambil sumpit serta cawannya sendiri untuk pindah semeja dengan pemuda itu, setelah saling memperkenalkan Tan Kia-beng baru tahu kalau orang itu bernama Si Huan yang merupakan anak murid dari Cing-shia-pay.
Mendengar disebutnya partai Cing Shia tiba-tiba Tan Kia-beng merasa hatinya rada bergerak, buru-buru tanyanya, "Bagaimana sebutan heng thay terhadap Leng Siauw Kiam Khek?
“Dia adalah suhuku entah bagaimana heng thay bisa mengenalnya?" sahut orang itu sambil menjura.
“Nama besar suhumu sudah lama tersebar di dalam Bulim, sudah tentu siauwte pun pernah mendengar."
“Lalu Tan heng sendiri dari partai mana? apa maksudmu datang ke kota Kiem Hoan ini?"
"Suhuku adalah Ban Li Im Yen Lok Tong adanya dan tidak berpartai karena siauwte ada janji dengan Sak Ie heng dari Bu-tong-pay untuk bersama-sama berangkat ke gurun pasir maka kini siauwte bermaksud untuk menuju ke Butong san."
"Haaa.... haaa.... kalau begitu sangat kebetulan sekali" seru Si Huan sambil tertawa tergelak. "Kebetulan sekali Siauwte pun punya janji dengan Sak Ih heng untuk bertemu muka di kota Wu Han akhir bulan ini bagaimana kalau kita berangkat bersama-sama menunggu di kota Wu Han saja?"
"Bagus sekali!"
Dengan kejadian ini maka ikatan persahabatan diantara mereka berdua pun jadi semakin erat sehingga tanpa terasa sudah membicarakan soal kepergian ke gurun pasir.
Tiba-tiba terlihatlah Si Huan mengerutkan alisnya rapat rapat dan berseru, "Tempat ini tidak sesuai untuk membicarakan persoalan tersebut, bagaimana kalau kita teruskan perundingan ini di kamar Siauwte saja?"
"Ehmm! Siauwte menurut saja" sahut Tan Kia-beng cepat
Setelah membayar rekening mereka bangun berdiri dan berjalan menuruni tangga loteng. Pada waktu itulah mendadak terdengar suara sapaan dari seorang kakek tua yang amat serak.
“Saudara berdua janganlah pergi dulu, loohu ada urusan yang hendak ditanyakan kepada kalian.”
Dengan cepat mereka dongakkan kepalanya tampaklah orang itu bukan lain adalah si Pendekar Satu Jari Ko Cian Djien adanya.
Tan Kia-beng yang sudah menaruh rasa tidak senang terhadap orang-orang tujuh partai besar segera melirik sekejap ke arahnya.
“Apa kau bermaksud mencari aku orang she Tan untuk berkelahi....?” serunya tidak senang
“Haaa.... haaa.... engkoh cilik kau tidak usah menaruh salah paham terhadap diriku" sahut si Pendekar Satu Jari sambil tertawa tergelak, "Loohu masih tidak setolol mereka mereka itu, ayoh jalan! kita bicarakan persoalan ini dikamar Si heng saja."
Demikianlah mereka bertiga lantas berangkat menuju kekamar Si Huan, setelah menutup pintu si Pendekar Satu Jari
baru berkata dengan wajah serius, "Menurut berita yang tersiar katanya Tan Siauwhiap telah memperoleh daftar nama para jago peninggalan dari meja Mo tempo hari, entah benarkah berita ini?”
Tan Kia-beng yang belum pernah berbohong segera mengangguk.
"Apakah ada yang menguntit dirimu terus?"
"Pernah ada seorang Dara Berbaju Hijau memaksa Cayhe untuk menyerahkan daftar hitam itu, Cayhe tidak gubris dirinya."
"Lalu pernahkah ia mengungkap soal Isana Kelabang Emas?"
"Ehmm! dia memang pernah berkata kalau orang-orang dari Isana Kelabang Emas sangat membutuhkan daftar hitam itu, cuma hingga saat ini Cayhe belum pernah bertemu orang-orang Isana Kelabang Emas.
"Kalau begitu orang-orang Isana Kelabang Emas itu sudah tahu kalau daftar hitam itu kini berada ditanganmu?"
"Ada kemungkinan memang begitu"
Daftar hitam itu adalah bibit bencana yang amat dahsyat, lebih baik kau simpanlah baik-baik bilamana sampai jatuh ketangan orang-orang Isana Kelabang Emas itu maka penjagalan para jago yang bakal berlangsung jauh lebih kejam ganas daripada peristiwa kereta kencana tempo hari.
Untuk kedua kalinya Tan Kia-beng menemui orang yang menaruh perhatian pada daftar hitam itu hatinya merasa jengkel juga.
"Sebenarnya Isana Kelabang Emas itu perkumpulan macam apa? kenapa semua orang begitu takut terhadap mereka?"
serunya kurang puas. "Bilamana pada suatu hari Cayhe bisa bertemu dengan mereka pasti cayhe akan buktikan seberapa lihaynya kepandaian mereka sehingga patut mendapatkan perasaan ngeri dari para jago."
"Menurut apa yang siauwte ketahui!" sambung Si Huan secara tiba-tiba. "Yang dimaksud sebagai Isana Kelabang Emas adalah sebuah perkumpulan rahasia yang jejaknya masih misterius, kepandaian silatnya amat tinggi dan tidnakannya selalu kejam tak berperikemanusiaan, jarang sekali ada yang mengetahui keadaan mereka sebenarnya."
Terdengar si Pendekar Satu Jari menghela napas panjang.
"Heeei.... karena hendak menyelidiki peristiwa kereta kencana loohu sudah melewatkan satu persoalan penting yakni menyelidiki asal usul dari Isana Kelabang Emas itu, titik terang ini loohu dapatkan berhubung menemukan kematiannya ditangan majikan kereta kencana itu kebanyakan adalah orang-orang yang namanya tercantum di dalam daftar hitam itu, karenanya loohu lantas teringat kalau urusan ini pasti ada hubungannya dengan...."
Baru saja berbicara sampai disitu mendadak dia membentak keras, "Siapa yang mencuri dengar diluar?"
Tubuhnya segera meloncat keluar melalui jendela diikuti suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati dan rubuhnya sebuah benda berat ke atas tanah
Tan Kia-beng dan Huan pun buru-buru melompat keluar, tapi sesudah melihat kejadian disana hatinya jadi terperanjat.
Kiranya si Pendekar Satu Jari sudah menemui ajalnya dipermukaan tanah dengan darah hitam mengalir keluar dari tujuh lubangnya jelas dia sudah kena serangan bokongan sesaat melompat keluar dari jendela tadi.
Si Pendekar Satu Jari sebagai Ciangbunjin partai Thian Cong pay dengan kepandaian Jit Ci Tan kan nya yang luar biasa tidak disangka bisa menemui ajalnya ditangan pihak musuh hanya di dalam sekali pukul saja dari hal ini jelas menunjukkan kalau kepandaian silat pihak lawan dahsyat sekali.
"Tindakan yang amat kejam sekali, mari kita cari!” ujar Si Huan sambil meraung gusar.
"Dengan keluar biasanya ilmu silat yang dimilikinya sipembunuh itu entah pada saat ini sudah sampai dimanakah dia!" cegah Tan Kia-beng goyangkan lengannya.
"Sekalipun kau mencari dirinyapun belum tentu bisa ketemu aku lihat lebih baik kita memeriksa lebih dulu keadaan si Pendekar Satu Jari dengan teliti."
Si Huan lalu merasa kalau perkataan itu amat cengli, maka sambil menahan hawa amarahnya bersama-sama dengan Tan Kia-beng berjongkok dan memeriksa mayat dari si Pendekar Satu Jari, terlihatlah jantung dan isi perutnya sudah hancur kena pukulan tenaga dalam pihak lawan yang dahsyat sekali.
Dengan perlahan Tan Kia-beng menoleh ke belakang dan ujarnya pada Si Huan, "Menurut penglihatan siauwte kematian dari Ko Thay hiap pasti ada hubungannya dengan pihak Isana Kelabang Emas kalau tidak mengapa sesaat dia mengucapkan siapakah majikan Isana Kelabang Emas itu mendadak ada orang yang datang dan membinasakan dirinya?"
"Perkataan dari Tan heng sedikitpun tak salah Cayhepun merasa demikian." jawab Si Huan mengangguk.
Demikianlah mereka berdua segera berjalan masuk ke dalam kamar, tapi sebentar kemudian mereka jadi terperanjat di atas meja ada sebuah sampul surat yang berisikan kata-
kata, "Barang siapa berani menyebut keadaan sebenarnya dari Isana Kelabang Emas mati!"
Pada ujung kertas itu terlukislah seekor kepala kelabang emas yang lagi mementangkan cakarnya.
Jika dilihat dari tulisannya yang indah, jelas berasal dari tangan seorang perempuan, Tan Kia-beng yang tiba-tiba merasa dari kertas itu tersiar bau harum yang amat aneh hatinya jadi rada bergerak.
“Apa mungkin dia yang turun tangan....?" pikirnya.
Waktu itulah Si Huan telah gembar gembor dengan amat gusarnya, "Bangsat ini terlalu menghina orang, malam ini kita tinggal disini semalam, urusan ini harus dibikin hingga jelas."
Kembali Tan Kia-beng bungkam diri seribu bahasa dan hanya terlihat ia menggeleng saja sedang dalam hatinya terus menerus lagi memikirkan soal yang menyangkut daftar hitam itu, dia merasa heran mengapa pihak Isana Kelabang Emas itu selalu bermaksud untuk daftar hitam itu? kenapa Bok Thian-hong berkata kalau semua orang yang namanya tercatat di dalam daftar hitam itu sama saja sudah mencatatkan diri diistana akhirat?
Berpuluh puluh persoalan memenuhi seluruh benaknya membuat dia otang untuk beberapa saat lamanya tak berhasil memecahkannya, setelah termenung sebentar dia baru berkata, "Kita tidak usah tinggal disini lagi lebih baik segera berangkat saja kekota Wu Han untuk bertemu dengan Sak Ih heng menurut penglihatan cayhe orang-orang ini pasti selalu mengawasi gerak gerik kita aku mau lihat dengan menggunakan cara apa mereka hendak menghadapi kita."
Demikianlah mereka berduapun dengan mengikuti rencana semula meneruskan perjalanan menuju kekota Wu Han, dan di
dalam beberapa hari ini pula hubungannya dengan Tan Kia-beng semakin erat.
Walaupun keadaan berbahaya sekali dan setiap saat ada kemungkinan dapat menemui serangan bokongan tetapi mereka berdua tak pernah pikirkan dihati, hari itu sampailah mereka berdua disuatu tempat yang jaraknya tinggal dua jam perjalanan sampai kekota Wu Han.
Terdengarlah Si Huan tiba-tiba tertawa tergelak dan berkata, “Cayhe kira disepanjang jalan tentu akan menemui kerepotan tidak disangka setan pun tak ditemui....”
Baru habis dia berkata, tiba-tiba....
Dari tempat kejauhan berkumandang suara suitan aneh yang amat keras dan tinggi melengking serasa menusuk telinga
Begitu mendengar suitan itu Tan Kia-beng segera tertawa dingin.
“Hee.... hee.... mungkin kedua orang itu sengaja datang mencari gara gara dengan aku orang she Tan!" serunya.
Saat ini tiada perbedaan di antara kita siapa saja yang berani mencari gara gara dengan Tan heng sama saja dengan musuh dari aku orang she Si sambung Si Huan dengan amat gusar sedang tangannya mulai meraba raba gagang pedangnya.
"Lebih baik Si heng jangan ikut campur di dalam urusan ini sehingga akan mendatangkan kerepotan buat dirimu! dan cayhe sudah biasa menghadapi kerepotan kerepotan seorang diri” kata pemuda itu tenang-tenang
Pada saat itulah tampak dua sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya meluncur datang, begitu melayang
turun ke atas tanah segera tertawa terkekeh kekeh dengan seramnya.
"Hee.... hee.... siapakah di antara kalian berdua yang bernama Tan Kia-beng?"
Suaranya amat dingin kasar dan tidak pakai aturan membuat Tan Kia-beng yang mendengarkan merasa hatinya amat kheki mendadak dia maju dua langkah ke depan
“Siauw ya adalah orang yang kalian cari. Siapa kalian? “serunya dingin.
Sembari memberi jawaban matanya dengan amat tajam memperhatikan kedua orang baru datang itu.
Kedua orang itu memakai baju hitam dengan wajah amat kurus mengerikan, mirip sekali dengan mayat yang baru saja bangun dari kuburan.
Begitu Tan Kia-beng memperkenalkan asal susulnya, segera terasalah empat rentetan sinar yang buas dan tajam menyapu wajahnya, dan terdengar salah satu diantara mereka memperdengarkan suara tertawanya yang amat seram lalu berkata
"Hee.... heee.... terhadap kami kalian tidak kenal buat apa berkelana di dalam dunia kangouw?"
Tangannya yang kurus kering itu lantas dipentangkan ke depan dan berseru kembali
"Ayo cepat bawa kemari!"
Melihat sikap mereka itu Tan Kia-beng lantas tahu kalau benda yang diminta oleh mereka bukan lain adalah pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya, oleh karena itu sengaja ia berlagak pilon dan tertawa terbahak-bahak.
Apakah kalian hendak memohon siauw yamu memerseni dua tahil perak buat kalian berdua?"
Sepasang manusia mayat hidup ini bukan lain adalah "Thay Heng siang Mo" yang amat terkenal sekali di daerah Si Pak, tindakan mereka bukan saja kejam buas dan ganas serta paling tidak pakai aturan sekalipun begitu jarang sekali mereka berkelana di daerah sekitar Kang Lam.
Si Huang yang terjunkan diri ke dalam dunia kangouw jauh lebih pagian sudah pasti pernah mendengar orang mengungkat soal sepasang mayat hidup ini karenanya begitu melihat dandanan mereka dalam hati sudah merasa amat terperanjat
Dia yang mengira pemuda itu tak kenal mereka dan menemui bencana ditangan mereka maka buru-buru maju ke depan dan berseru;
"Bilamana dugaan cayhe tidak salah, kalian berdua tentunya Thay Heng bersaudara bukan?"
Toa Mo dari Thay Heng Siang Mo ini bersifat amat buas, dan sejak tadi ia sudah dibuat gusar oleh kata-kata Tan Kia-beng yang kasar itu, maka dari matanya segera memancarkan sinar kehijau hijauan yang amat tajam sekali serunya seram, "Yayamu cuma mengingnkan pedang Giok Hun Kiam yang ada pada pinggangmu itu, tetapi nyawamupun sekalian aku mau!"
Tangannya dengan cepat dipentangkan dengan menggunakan cakarnya yang bagaikan kuku garuda menghantam ke depan.
Tan Kia-beng segera tertawa dingin, dengan ringannya dia melayang ke samping untuk menghindarkan diri dari serangan itu.
Toa Mo yang melihat serangannya tidak mengenai sasarannya maka dengan cepat ia maju ke depan serangan kedua bagaikan kilat cepatnya sudah dilancarkan kembali.
Mendadak terasalah hawa pedang mendesir kiranya Si Huan telah mencabut keluar pedangnya. di tengah suara bentakannya yang amat keras dengan dahsyat dia membabat ke depan laksana pelangi yang memanjang angkasa.
Sekalipun Toa Mo sudah memiliki kepandaian iblis yang lihay, tetapi waktu ini tak berani menyambut datangnya serangan tersebut dengan kekasaran; maka sekitar itu juga dia terdesak mundur sejauh tiga empat langkah.
Sifat kuatnya segera meliputi seluruh tubuh, sambil bersuit nyaring tubuhnya dengan cepat menunruk ke arah Si Huan sepasang cakar setannya berturut turut berkelebat laksana kabut hitam yang menutupi seluruh angkasa, dan bau amis yang menusuk hidung pun segera tersiar membuat Si Huan kontan terkurung di dalam sambaran angin serangan tersebut.
Dalam keadaan terperanjat buru-buru Si Huan memperkencang serangan pedangnya sinar hijau memancar memenuhi seluruh angakasa laksana tiupan angin taupan datangnya kabut hitam itu.
Pada saat Toa Mo menubruk ke arah Si Huan itulah Jie Mo sambil membentak keras menubruk pula ke arah Tan Kia-beng.
Thay Heng Siang Mo selamanya paling tidak suka pakai aturan apalagi sifatnya yang ganas itu hal itu membuat Tan Kia-beng jadi gusar juga dibuatnya.
"Hee.... hee.... kalau begitu tidak pakai aturan, jangan salahkan siauwya mu akan turun tangan kejam" serunya sambil tertawa dingin.
Maka dengan segera dia mengirim satu pukulan yang amat dahsyat ke depan.
Seketika itu juga Jie Mo kena didesak mundur delapan depa dengan sempoyongan.
Selama berkelana Thay Heng Siang Mo belum pernah menemui kekalahan semacam ini apalagi hanya di dalam sekali gebrakan saja sudah kena didesak mundur ke belakang, hal ini membuat orang saking khekinya mendelikkan sepasang matanya bulat bulat lalu bersuit panjang dan sekali lagi menubruk ke depan.
Mendadak....
Terdengar suara bentakan yang amat keras berkumandang memenuhi seluruh angkasa diikuti dengan munculnya serombongan manusia yang menerjang ke depan secara bersama-sama.
Berhenti!" bentaknya keras.
Suara itu amat kasar dan tidak pakai aturan, bahkan secara samar-samar disertai dengan nada ingin menguasahi seluruh kolong langit.
Sejak tadi Tan Kia-beng memang tidak bermaksud bergebrak melawan Tay Heng Siang Mo ini, kini mendengar bentakan itu segera dia menarik kembali serangannya dan mundur ke belakang.
Tampaklah orang yang baru saja membentak bukan lain adalah seorang lelaki berusia pertengahan yang memakai jubah hijau dengan wajah bercambang, dari sepasang matanya memancarkan cahaya yang amat tajam sekali.
Di belakang lelaki berbaju hijau itu berdirilah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong Ciangbunjin dari Go-bie Pay Loo Hu
Cu, Hwee Im Poocu, Ong Jiang serta beberapa orang jagoan Bulim yang sudah mempunyai nama besar dikalangan kangouw.
Pemuda itu sama sekali tidak menyangka kalau di tempat ini bisa bertemu muka dengan Thay Gak Cungcu, tidak terasa lagi alisnya sudah dikerutkan rapat rapat cuma saja dia tidak mengumbar hawa amarahnya.
Thay Heng Siang Mo yang biasanya berlaku ganas terhadap siapapun dan karena mendengar pedang pusaka Giok Hun Kiam sudah jatuh ketangan seorang bocah cilik maka jauh jauh dari Thay Heng-san sudah datang karena mau merebut pedang pusaka tersebut.
Siapa sangka baru saja bergerak maju sudah kena terpukul mundur dan ketika hendak menubruk untuk kedua kalinya kena dicegah orang, tak terasa sepasang matanya berputar putar lalu bentaknya dengan seram, "Siapa kau? nyalimu sungguh besar sekali berani mengganggu pekerjaan Thay Heng Siang Mo?"
Si orang lelaki berjubah hijau itu tidak menggubris terhadap perkataannya, sebaliknya mengulapkan tangannya dan berseru.
"Pergi....! pergilah, aku tidak akan mencari gara gara dengan kalian, lebih baik tak usah jual lagak disini."
Jie Mo Ong Kuang yang kena dihajar mundur oleh Tan Kia-beng tadi hatinya sudah merasa amat gusar apalagi kini mendengar sikapnya yang sangat menghina dari lelaki berbaju hijau ini bagaikan api yang bertemu dengan prenium hawa amarahnya semakin memuncak.
Tanpa menanti dia selesai berkata ia sudah meraung keras lalu menubruk ke depan dengan dahsyatnya.
"Kawan, nyalimu sungguh tidak kecil!" bentaknya keras. "Berani sekali jual lagak dihadapan Thay Heng Siang Mo, aku lihat kau sudah bosan hidup lagi."
Lima jarinya dipentangkan bagaikan pancingan lalu dengan cepatnya dibabat ke atas wajah lelaki berbaju hijau itu angin serangan menyambar amat tajam membuat suasana seketika itu juga diliputi oleh desiran angin yang memekikkan telinga.
Tan Kia-beng yang melihat lelaki berbaju hijau itu sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap datangnya serangan tersebut dalam hati lantas mengerti kalau Ong Kuang bakal menderita rugi yang amat besar.
Sedikitpun tidak salah, baru saja lima jari Ong Kuang mendekati batok kepala dari lelaki berbaju hijau itu mendadak.
Segulung kabut berwarna hijau yang amat tebal menyongsong datangnya serangan tersebut diikuti dengan suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi seluruh angkasa, tubuh Jie Mo Ong Kuang bagaikan layang layang yang putus benang dengan kerasnya mencelat ke tengah udara dan darah segarpun muncrat keluar dari mulutnya.
Toa Mo yang melihat adiknya menemui bencana hatinya semakin gusar lagi, sepasang matanya melotot lebar-lebar sedang tangannya diayun semakin gencar lagi sambil menubruk ke arahnya.
Hanya di dalam sekejal saja dia sudah melancarkan tujuh serangan sekaligus dan melancarkan lima tendangan mematikan, seketika itu juga pasir dan batu kerikil beterbangan memnuhi angkasa keadaannya benar-benar amat menyeramkan.
"Kau juga cari mati!" tiba-tiba terdengar lelaki berjubah hijau itu membentak keras.
Ujung bajunya dikebutkan ke depan, segulung kabut hijau yang amat tebal dengan cepat menggulung ke arah depan, di tengah suara jeritan ngeri yang amat keras itulah tubuh Toa Mo terpental sejauh beberapa depa, wajahnya berubah jadi hijau menyeramkan sedang dari mulutnya muntahkan darah segar tiada hentinya.
"Dendam ini hari dikemudian hari pasti kubalas," serunya gemas.
Sehabis berkata sambil mengempit tubuh Jie Mo bagaikan kilat cepatnya berlalu dari sana.
Menanti setelah Thay Heng Siang Mo berlalu dari sana lelaki berbaju hijau itu baru maju dua langkah ke depan dan merangkap tangannya memberi hormat terhadap Tan Kia-beng;
"Saudara apakah benar Tan Siauwhiap yang pada waktu baru baru ini memperoleh pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam?"
"Tidak berani, cayhe memang Tan Kia-beng adanya, entah siapakah saudara sahut Tan Kia-beng sambil membalas hormat. "Apakah kaupun merupakan manusia yang sudah menaruh perhatian terhadap pedang pusaka ini?"
"Cayhe adalah "Ci Lan Pak: atau manusia bercabang hijau Ku Sun Su adanya, Dia anak merupakan anak murid dari Isana Kelabang Emas, heng cay harap suka berlega hati, anak murid Isana Kelabang Emas tidak bakal mempunyai niat untuk merebut pedang pusaka tersebut sebaliknya ada satu permintaan yang kurang patut harap heng thay suka mengabulkannya."
"Apa yang kau maksudkan?"
"Harap heng thay suka menyerahkan itu daftar hitam milih raja muda Mo tempo hari."
Tan Kia-beng yang melihat ilmu Hong Mong Ci Khie yang dilancarkan olehnya tadi dalam hati sudah menebak beberapa bagian, kini mendengar orang itu sudah mengaku sebagai utusan dari Isana Kelabang Emas hatinya semakin tergetar.
Mendadak dia tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
"Haa.... haa.... untuk mendapatkan daftar hitam ini tidak sulit tetapi kau harus memberi tahu kepada cayhe apa kegunaannya?"
Mendadak dia menuding ke arah Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong yang ada dibelakangnya dan berkata kembali, "Apakah dia adalah kuku garuda yang sengaja kalian pelihara? harap heng thay suka memaafkan kalau cayhe berlaku kutang terhormat yang hendak membasmi kaum laknat dari muka bumi ini."
"Ciat Hun Kiam atau si Pendekar pedang menculik sukma Si Huan yang berdiri disampingnya sewaktu melihat Tan Kia-beng memandang Thay Gak Cungcu yang memiliki nama besar itu bagaikan manusia rendah yang tak berguna membuat hatinya rada bingung dan ragu ragu.
Ci Lan Pek yang mengetahui kalau Tan Kia-beng terus menerus ingin mengetahui apa sebabnya Isana Kelabang Emas menghendaki daftar hitam itu, air mukanya rada berubah, ujarnya tiba-tiba dengan serius, "Urusan ini Heng thay tidak usah ikut tahu, pokoknya, kita dari pihak Isana Kelabang Emas sangat membutuhkan daftar itu."
"Bilamana cayhe kukuh tidak suka menyerahkannya?"
"Itu artinya kalian memaksa pihak Isana Kelabang Emas untuk mengambil jalan terakhir,"
Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng segera tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... aku merasa heran, apakah seluruh barang yang aku orang she Tan miliki adalah barang pusaka semua, kenapa setiap orang pada ingin mendapatkan barang-barang milikku? tetapi kalian harus tahu kalau aku orang she Tan punya sifat keras kepala, sekalipun harus korbankan nyawa tak sebuah barangpun bakal aku lepaskan, perduli kalian dari pihak Isana Kelabang Emas mau menggunakan jalan terakhir atau jalan permulaan aku tak bakal akan menggubris."
Alis yang dikerutkan Ci Lan Pek semakin kencang lagi, paras mukanyapun berubah hebat lagi tapi hanya di dalam sekejap saja sudah berubah biasa kembali, ujarnya dengan perlahan ,“Tan heng adalah seorang manusia yang bentrok dengan kami dari pihak Isana Kelabang Emas hanya dikarenakan secarik kertas rongsokan? apalagi Cayhe pun sama sekali tak bermaksud untuk memenuhi Heng Tay."
Tidak menunggu Tan Kia-beng mengucapkan sesuatu sinar matanya kembali menyapu sekejap ke arah Thay Gak Cungcu dan sambungnya, "Sedang mengenai urusan yang menyangkut orang she Bok dan suhengmu Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong ini termasuk urusan dalam perkumpulan Teh Leng kauw kalian. Cayhe pasti tidak mau ikut campur! hanya saja seluruh perbuatannya dulu adalah atas perintah dari Isana Kelabang Emas dan akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak kita,"
Ci Lan Pek adalah seorang yang gagah dan jujur, perkataannya yang baru saja diutarakan sudah membongkar banyak rahasia Bulim selama ini maka seketika itu juga membuat air muka Thay Gak Cungcu berubah hebat, cuma saja dia tak berani membantah.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu pun merupakan jago-jago Bulim yang memiliki pengalaman yang amat luas, walaupun masih belum mengerti jelas keadaan yang sesungguhnya tetapi dalam hati sudah timbul rasa curiga, tak terasa lagi sinar matanya sudah dialihkan ke atas wajah Thay Gak Cungcu.
Tan Kia-beng yang diam-diam meresapi ucapan dari Ci Lan Pek tadi dari hatinya lantas timbul dua persoalan yang mencurigakan.
Pertama, Bok Thian-hong menggunakan kereta kencana memfitnah diri si Penjagal Selaksa Li, kenapa hal itu dikatakan merupakan urusan di dalam perkumpulan Teh Leng Kauw sendiri?
Kedua. Apakah tujuannya Bok Thian-hong menimbulkan bencana pembunuhan massal di dalam Bulim?
Yang paling mengherankan lagi ternyata Ci Lan Pek sudah mengakui kalau semua hal itu Isana Kelabang Emas yang bertanggung jawab? apakah semua kejadian ini dilakukan atas perintah pihak Isana Kelabang Emas?
Setelah termenung beberapa saat lamanya dia baru berkata, "Urusan yang menyangkut soal daftar hitam tidak usah kita bicarakan lagi, menurut pendapat cayhe urusan itu adalah menyangkut keselamatan dari berpuluh puluh nyawa manusia. Siapapun jangan harap bisa mendapatkannya dari tangan cayhe, bilamana pihak Isana Kelabang Emas
bermaksud hendak menggunakan kekerasan, hee.... hee.... cayhepun ingin sekali minta beberapa petunjuk dari ilmu Hong Mong Ci Khie saudara!"
Sengaja dia mengucapkan kata-kata Hong Mong Ci Khie itu dengan keras, seluruh jago yang ada disana kecuali Ci Lan Pek sendiri sampai Thay Gak Cungcu sendiripun dibuat kebingungan, karena siapapun belum pernah mendengar adanya ilmu silat semacam itu.
Sebaliknya Ci Lan Pek yang mendengar Tan Kia-beng sudah mengenali kalau ilmu yang digunakan adalah ilmu Hong Mong Ci Khie hatinya terasa tergetar amat keras tapi sebentar kemudian dia sudah tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... saudara kenal juga dengan ilmu Hong Mong Ci Khie" hal ini membuktikan kalau pengetahuanmu amat luas, aku Kong Sun Su ingin sekali minta beberapa petunjuk dari dirimu."
Dalam hati Tan Kia-beng sendirinya sudah tahu kalau suatu pertempuran sengit tidak bakal terhindar lagi, apalagi setelah dilihatnya kepandaian silat dari Ci Lan Pak amat dahsyat dihatinya sama sekali tidak mempunyai suatu pegangan untuk rebut kemenangan tapi iapun tidak suka memperhatikan kelemahannya.
Dengan langkah lebar ia berjalan maju dua langkah ke depan dan tertawa panjang
"Hong Mong Ci Khie walaupun merupakan ilmu yang amat dahsyat dan cayhe mengerti kalau bukan tandingannya tetapi aku lebih baik mati di atas ceceran darah daripada melihat barang yang ada disakuku kena kau rampas seenaknya. mari! silahkan saudara mulai turun tangan."
Dengan perlahan Ci Lan Pak pun maju ke depan dan tersenyum
"Tan Siauwhiap kau selalu merendah."
Si manusia bercabang hijau Kong Sun Su ini adalah murid tertua dari majikan Isana Kelabang Emas, kepandaian silatnyapun sudah memperoleh seperdelapan dari suhunya, sifatnyapun jujur dan gagah dan tindakannya menunjukkan sebagai seorang enghiong hoohan. hal ini membuat Tan Kia-beng segera merasa kalau dia adalah satu satunya musuh yang paling dikagumi olehnya selama ini.
Masing-masing pihak pada mengerti kalau lawannya kini adalah musuh tangguh, walaupun diluarnya mereka berbicara dengan kata-kata yang lunak padahal dalam hati pasti merasa amat tegang sekali, diam-diam tenaga lweekangnya sudah dikerahkan mengelilingi seluruh tubuh dan siap-siap menantikan serangan pihak musuh.
Si Ciat Hun Kiam, Si Huan, Thay Gak Cungcu, Hwee Im Poocu serta Loo Hu Cu sekalian yang berdiri disamping kalangan pada terbetot perhatiannya oleh pertempuran yang amat dahsyat ini, saking tegangnnya untuk bernafaspun tidak berani.
Walaupun mereka semua merupakan jagoan Bulim yang memiliki kepandaian tinggi tetapi dalam hati pada mengerti bilamana mereka harus dibandingkan dengan dua orang itu maka bedanya amat jauh termasuk Thay Gak Cungcu yang amat terkenal itupun tak terkecuali.
Segulung angin bertiup dengan amat kencangnya membuat rumput dan ranting bergoyang tiada hentinya, suasana terasa semakin tegang lagi dibuatnya.
Pada saat saat yang amat tegang itulah mendadak tampak bayangan hijau dengan sangat cepatnya berkelebat ke dalam kalangan dan berdiri di tengah-tengah antara Ci Lan Pek dan Tan Kia-beng.
Orang itu ternyata bukan lain adalah gadis berbaju hijau, sambil membereskan rambutnya dia tersenyum manis ke arah si pemuda, setelah itu kepada Ci Lan Pak serunya, "Suheng, kenapa kalian berdua jadi bertempur sendiri?"
"Kau.... kau bukankah kau sengaja bertanya walaupun sudah tahu?" seru Ci Lan Pak tertawa pahit, tangannya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Apakah kita orang tak dapat menggunakan cara yang lain untuk melakukan penyelidikan? buat apa harus merebut daftar nama milik orang lain?"
"Maksud dari sumoay?"
"Aku melarang kalian berdua saling bergebrak."
Si "Ciat Hun Kiam" Si Huan yang berada disamping diam-diam merasa amat geli, pikirnya;
"Kau melarang suhengmu untuk turun tangan masih boleh dikatakan cengli, lalu dengan mengandalkan apa melarang orang lainpun untuk mengikuti perkataanmu?"
Agaknya Ci Lan Pak sangat menurut perkataan dari sumoaynya ini, terdengar dia tertawa terbahak-bahak.
“Haa.... haa.... kalau sumoay memangnya melarang aku untuk turun tangan, yaa sudahlah!”
Kakinya dengan amat ringan meluncur ke samping sejauh delapan depa lalu dengan amat tenangnya berdiri tak bergerak.
Dengan perlahan gadis berbaju hijau itu putar badan dan memandang ke arah sang pemuda.
"Bagaimana maksudmu?" tanyanya kemudian.
Sebenarnya Tan Kia-beng sendiripun tidak ingin bergebrak, karena Ui Liong Tootiang pernah memberi pesan wanti wanti kepadanya untuk sementara waktu jangan perlihatkan dulu ilmu barunya Jie Khek Kun Yen Kan Kun So.
Padahal bilamana tidak menggunakan ilmu barunya ini maka tidak bakal ia berhasil pecahkan ilmu "Hong Mong Ci Khei" nya pihak lawan, dengan sendirinya kesempatan untuk merebut kemenanganpun jadi menipis.
Dengan cepat dia anggukkan kepalanya.
"Cayhepun mengikuti saja maksud hati dari nona!” sahutnya.
"Hii.... hii..... agaknya kalian berdua sangat penurut terhadap kata-kataku" tiba-tiba gadis berbaju hijau itu tertawa cekikikan.
Selesai berkata terlintaslah satu senyuman bangga mengatasi wajahnya.
"Hmm! kau tidak usah banyak jual tampang dihadapanku, aku orang she Tan tidak ada sangkut paut apapun dengan dirimu buat apa harus mendengarkan pula perkataanmu?" seru pemuda itu tiba-tiba sambil mendengus dingin.
Dengan cepat gadis berbaju hijau itu menerjang kehadapannya dengan wajah berubah hebat.
“Apa kau kata?” jeritnya keras.
Beberapa patah kata tadi agaknya sudah menyinggung perasaan halusnya sehingga membuat sepasang biji matanya yang bening penuh digenangi dengan air mata.
Tan Kia-beng yang melihat sikapnya amat menyedihkan dalam hati segera merasa tidak tegah.
"Aku cuma bergurau saja, kenapa kau harus menganggapnya sungguh sungguh?” katanya kemudian sambil menghela nafas panjang
“Hmm! siapa yang suka bergurau dengan dirimu!"
Selesai berkata dia putar badan dan kembali tertawa cekikikan.
Tan Kia-beng segera merasa walaupun gadis itu sudah berusia enam, tujuh belasan tetapi sifat kekanak kanakannya masih belum hilang, sikapnya yang pohon dan jenaka itu membuat sang pemuda merasa tidak tegah untuk menyinggung bagi perasaannya.
“Bolehkah cayhe mengetahui nama dari nona?" ujarnya kemudian.
"Kenapa tidak boleh? aku bernama Gui Ci Cian, majikan Isana Kelabang Emas adalah...."
Berbicara sampai disini tiba-tiba dia menutup mulutnya lagi dan tertawa cekikikan.
"Aduh celaka, aku sudah kebanyakan bicara,
Dengan cepat dia putar kepalanya memandang ke arah belakang, tetapi sebentar kemudian ia sudah menemukan kalau Ci Lan Pek sekalian telah berangkat terlebih dulu.
Tan Kia-beng yang telah pusatkan perhatian untuk bercakap-cakap dengan sang nona sehingga melupakan Thay
Gak Cungcu kini melihat mereka sudah pergi tak terasa lagi sudah berseru dengan amat keras, "Aduh celaka, mereka sudah pada pergi!"
Gui Ci Cian yang mendengar perkataan tersebut segera menyangka dia lagi mengartikan suhengnya Ci Lan Pek, tak terasa lagi bibirnya sudah dicibirkan.
“Hmm! kau kira suhengku adalah manusia yang bisa diganggu seenaknya, bilamana ini hari aku tidak datang pada waktunya siapa yang bakal kalah masih sukar ditentukan."
"Suhengmu jadi orang amat jujur dan bersikap gagah, bilamana dia tidak berada pada pihak musuh kepingin sekali cayhe untuk berkenalan dengan dirinya, sampai kini cayhe sama sekali tidak menaruh sikap bermusuhan dengan dirinya. Cuma saja "Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong tidak bisa dilepaskan begitu saja"
"Agaknya kau merasa tidak cocok sekali dengan dirinya?"
Bukannya tidak cocok, manusia tak berguna bagi Bulim seperti dia ini ada seharusnya dibasmi sampai ke akar-akarnya.
"Kau sudah bulatkan tekat untuk membinasakan dirinya?"
"Untuk membalaskan dendam bagi beribu ribu sukma yang mati ditangannya, cayhe terpaksa harus berbuat demikian."
"Baik! ada suatu hari aku akan memberi kesempatan bagimu untuk melaksanakan niatmu ini, dengan demikian kau merasa puas bukan?"
Tan Kia-beng tidak mengerti maksud dari perkataannya ini adalah sungguh sungguh atau sebaliknya untuk beberapa saat lamanya tak diketahui olehnya apa yang harus dikatakan.
Si Ciat Hun Kiam, Si Huan yang selama ini menanti dengan tenangnya disamping mendadak maju ke depan dan menjura.
"Kalian berdua silahkan melanjutkan pembicaraan, Cayhe akan berangkat terlebih dulu, kita bertemu kembali di kota Wu Han!"
Waktu itulah Tan Kia-beng baru merasa kalau dia sudah mengesampingkan dirinya selama pembicaraannya dengan Gui Ci Cian tak terasa lagi paras mukanya berubah memerah, buru-buru serunya.
"Si heng tunggulah sebentar lagi, kita berangkat bersama-sama.
"Haa.... haa.... caramu bersantap kuah dengan kuah ini kurang sedap rasanya, lebih baik kita bertemu kembali sesampainya di kota Wu Han".
Selesai berkata tanpa menanti jawaban Tan Kia-beng lagi dia putar badan dan berlalu dari sana.
Melihat sikap dari Si Huan ini tak terasa lagi Gui Ci Cian segera tertawa cekikikan
“Hii.... hii.... kawanmu itu sungguh menarik sekali" katanya.
Si gadis berbaju hijau itu bisa tertawa senang sebaliknya Tan Kia-beng merasakan kepahitan dihatinya, bukan saja Gui Ci Cian ini bukan kawan perempuannya bahkan ia berada pada kedudukan bermusuhan.
Sikap pihak lawan yang begitu memperhatikan dirinya ini ia sendiripun tak bisa menebak, sungguh sungguhkah itu atau masih ada maksud tertentu, dia tak ingin kesalah pahaman ini berlangsung lebih jauh
Karenanya begitu melihat Si Huan berlalu diapun dengan tergesa gesa merangkap tangannya menjura.
“Cayhepun akan berangkat terlebih dulu lain kali kita berjumpa kembali" serunya cepat-cepat.
Selesai berkata tubuhnya bergerak siap-siap meninggalkan tempat itu.
Mendadak tampaklah bayangan hijau berkelebat. Cui Ci Cian sudah menghalangi kembali jalan perginya.
"Tidak bisa jadi, tidak bisa jadi" katanya dengan manja. "Kita bakal bertemu kembali dimana?"
“Wu Han!" sahut pemuda itu singkat.
Tan Kia-beng benar-benar merasa amat takut untuk bercakap-cakap lebih banyak dengan gadis tersebut, karenanya begitu selesai memberi jawaban dengan cepat ia melayang ke depan dan berkelebat mengejar Si Huan.
Dengan termangu-mangu Gui Ci Cian memandang bayangan punggungnya yang mulai lenyap dari pandangan ia merasa dirinya seperti kehilangan sesuatu, hatinya terasa sangat sedih sekali sehingga tanpa terasa suara helaan napas panjang bergema meemnuhi angkasa.
Ia adalah putri kesayangan dari istana majikan Kelabang Emas, pada hari hari biasanya mendapatkan kemanjaan yang luar biasa dari siapapun, apa yang diinginkan pasti akan terlaksana dan siapapun tak ada yang berani mencegah maksud hatinya, bahkan sampai Ci Lan Pak sebagai murid tertua pun harus mengalah beberapa bagian terhadap dirinya.
Tetapi ini hari untuk pertama kalinya ia sudah menjumpai suatu peristiwa yang tak berhasil memenuhi selera hatinya, dia sendiripun tidak tahu secara bagaimana secara mendadak ia bisa menyukai pemuda tersebut bahkan hal yang paling
menjengkelkan itu ternyata keras kepala dan sama sekali tidak menggubris terhadap rasa cinta yang diperlihatkan olehnya.
Dia merasa mendongkol dan kecewa karena pemuda itu sudah tinggalkan dirinya tanpa mengucapkan sesuatu.
Hal ini membuat perasaan terhormatnya tersinggung, lama sekali dia berdiri termangu-mangu akhirnya sambil mendepak depakkan kakinya ke atas tanah gumamnya seorang diri, "Hmm! aku tidak percaya hatinya sekeras baja, aku harus berhasil mendapatkan dirinya"
Mendadak tubuhnya meloncat ke tengah udara, diantara berkibarnya ujung baju laksana bidadari yang turun dari kahyangan dengan amat gesitnya ia berlalu dari sana.
---0-dewi-0---
Kita balik pada Tan Kia-beng yang dalam hati merasa sangat tidak enak sekali berhubung kepergian dari si "Ciat Hun Kiam" Si Huan meninggalkan dirinya berdua
Dia melakukan perjalanan dengan amat cepat, sedang dalam hati tiada hentinya memikirkan beberapa persoalan.
Pertama;
Berbentuk apakah organisasi Isana Kelabang Emas itu? siapakah majikannya? jika ditinjau dari sikap perkataan serta gerak gerik dari Ci Lan Pek serta si gadis berbaju hijau itu sepertinya tidak kehilangan sikap gagah dari jagoan Bulim dan sama sekali tidak memperlihatkan sikat sebagai iblis iblis yang bermaksud jahat lalu apa tujuan mereka untuk medapatkan daftar nama itu?
Kedua, Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong adalah anak buah dari Isana Kelabang Emas dengan sendirinya perintah untuk membinasakan para jago Bulim dan anggota partai partai
besar datangnya dari Isana Kelabang Emas, apa maksud tujuannya?
Mendadak dia teringat kembali akan perkataan dari Ci Lan Pek, perbuatan Bok Thian-hong menyaru sebagai majikan kereta kencana merupakan urusan rumah tangga Teh Leng Kauw sendiri, dengan demikian jelas sekali menunjukkan kalau Bok Thian-hong bukan lain adalah murid kedua dari Han Tan Loojien atau dengan perkataan lain Ji suhengnya sendiri.
Mungkin dia berbuat demikian berhubung merasa kalau si Penjagal Selaksa Li adalah murid tertua dan ia berhak untuk menjabat sebagai ciangbunjin dari Teh Leng Kauw, asalkan lenyapkan dia dari muka bumi maka dirinya dengan kedudukan sebagai murid kedua secara terbuka bisa menjabat sebagai Ciangbunjin? bukankah hal ini akan menambah kekuatan dan pengaruhnya di dalam percaturan Bulim dikemudian hari?
Semakin dipikir pemuda itu merasa semakin mantap hatinya, dia merasa perasaan curiga yang selama ini terkandung dihatinya sebagian besar adalah cocok dengan keadaan.
Saking bingungnya memikirkan persoalan ini tak terasa lagi Tan Kia-beng sudah salah mengambil jalan, saat ini sampailah dia di tengah sebuah pegunungan yang amat sunyi dengan empat penjuru dipenuhi oleh semak belukar.
Akhirnya sampailah dia disebuah jalan buntu yang penuh dengan akar serabut.
Pada saat dia lagi berdiri tertegun itulah mendadak dari balik semak berkumandang datang suara tertawa cekikikan yang genit disusul munculnya seorang perempuan cantik dengan gaya yang amat mempesonakan.
"Sute, kau seorang diri datang kemari ada keperluan apa? sapanya.
Dengan rasa terperanjat pemuda itu dongakkan kepalanya, tampaklah Lei Hun Hweeci itu istri kesayangan dari Bok Thian-hong sudah muncul dihadapannya dengan gaya yang merangsang.
"Siapakah yang jadi sutemu?” bentaknya dengan wajah adem
"Eeeii.... sute, hawa amarahmu sungguh luar biasa sekali. ensomu apa pernah berbuat salah terhadap dirimu?"
"Hmm! perbuatan kalian suami istri jelas mau tahu tanyalah pada dirimu sendiri, jikalau tahu diri lebih baik menyingkirlah jauh jauh, hati-hati dibawah serangan siauw yamu selamanya tanpa ampun."
"Heei....! Sute, maukah kau bersikap lebih baikan terhadap ensomu yang sudah tua ini? Terus terang kukatakan suhengmupun ada kesulitan yang tak bisa diutarakan! mari, tempat tinggal ensomu tidak jauh dari sini, masuklah kerumahku dan duduklah sebentar sembari minum teh biarlah ensomu memberi keterangan yang jelas!"
Diantara percakapan itu, Lei Hun Hweeci sudah berjalan mendekati pemuda itu kemudian menarik ujung bajunya untuk diajak pergi.
Melihat sikapnya itu Tan Kia-beng kontan mengerutkan alisnya rapat rapat, telapak tangannya dengan tajam membabat ke samping
"Tidak usah tarik bajuku, sana! menggelinding yang jauh!" bentaknya dengan keras.
Di dalam anggapannya perempuan itu tentu akan melepaskan tangannya, siapa tahu dia ternyata sama sekali tidak menggubris, walaupun melihat serangan dari pemuda itu hampir menghajar pergelangan tangannya ia tetap tak menyingkir atau menarik kembali tangannya.
Hal ini membuat pemuda tersebut dengan gugup terpaksa menarik kembali serangannya.
---0-dewi-0---
JILID: 24
"Hey, apa maksudmu yang sebenarnya?" teriaknya dengan mata melotot lebar-lebar.
Saat ini Lei Hun Hweeci telah mengetahui kalau pemuda tersebut tidak bakal mencelakai dirinya, hal ini membuat hatinya semakin mantap
"Hee.... memang nasib kami yang buruk!” ujarnya dengan wajah pura pura sedih, “Sampai antara suheng-te sendiripun tidak bisa memahami keadaan dari suami istri, lebih baik aku mati saja ditanganmu."
Melihat perempuan itu tidak mau juga lepas tangan, Tan Kia-beng benar-benar dibuat amat cemas.
Sebetulnya kau suka lepas tangan atau tidak?" teriaknya lagi sambil mencak mencak saking mendongkolnya.
"Bilamana kau tidak meluluskan permintaanku untuk duduk sebentar di dalam ruangan, sekalipun binasakan dirikupun aku tidak bakal lepas tangan."
"Kau kira aku sungguh sungguh tidak berani hajar dirimu?
"Sreeet....!" dengan sejajar dada dia melancarkan satu pukulan yang amat dahsyat menghajar tubuh pihak lawan.
Terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, tubuh Lei Hun Hweeci sudah kena dihantam terpental ke tengah udara dan jatuh ke dalam semak belukar yang tebal.
"Sute, kau sungguh kejam! kau begitu tega menghantam ensomu sehingga jadi begini" rintihnya dengan lemah. "Heeii!! jauh lebih baik aku mati saja daripada hidup tersia-sia, sute! kirimlah satu pukulan lagi agar aku bisa cepat mati"
Tan Kia-beng yang melancarkan pukulan tadi seaktu melihat Lei Hun Hweeci sama sekali tidak menghindar atau menangkis di dalam keadaan cemas tenaga pukulannya sudah ditarik separuh.
Dikarenakan jaraknya yang amat dekat sekalipun dia sudah berhasil menarik kembali serangannya tidak urung tangannya sudah menekan pula di atas dadanya yang menonjol keluar dan terasa amat empuk.
Dalam keadaan gugup ia lantas meloncat kesamping, walaupun begitu Lei Hun Hweeci tertahan pula sehingga terpental dan menjerit ngeri.
Sekalipun ia merasa sangat benci terhadap mereka suami istri berdua tetapi di dalam keadaan seperti ini hatinya merasa iba juga.
Terburu-buru tubuhnya melayang kesisi tubuhnya dan mengomel dengan nada perlahan;
"Bagaimana dengan lukamu? kenapa kau tidak suka menghindar? heei.... sungguh."
"Maa.... masih rada baaa.... baikkan aku tidak akan menyalahkan dirimu, tolong bimbinglah aku pulang!" rintih Lei Hun Hweeci pura pura kehabisan tenaga.
Dalam keadaan seperti ini Tan Kia-beng merasa tidak enak untuk menolak permintaannya, terpaksa sambil kerutkan alisnya rapat rapat dia membimbing bangun badannya dan dengan perlahan bergerak maju ke depan.
Walaupun usia dari "Thay Gak Cungcu" Bok Thian-hong sudah melampaui setengah abad tetapi istri kesayangannya ini Lei Hun Hwee ci tidak lebih cuma tua dua, tiga tahun dari Tan Kia-beng
Dibawah bimbingan lengan sang pemuda yang kuat dan berotot, Lei Hun Hwee ci segera menjatuhkan seluruh tubuh ke dalam pelukannya.
Segulung bau harum yang semerbak dan terasa amat aneh menusuk hidung Tan Kia-beng membuat sang pemuda yang baru saja menginjak dewasa ini merasakan hatinya berdebar amat keras, napas mulai berjangkit dan hampir hampir tidak kuat menahan diri
Sebetulnya perasaan ini jamak muncul dari tubuh seorang lelaki normal, tidak perduli pemuda maupun pemudi yang manapun asalkan berada di dalam keadaan seperti ini tentu akan merasakan hatinya bergolak amat keras.
Masih untung saja Tan Kia-beng memiliki tenaga dalam yang amat tinggi, tergesa gesa dia menarik napas panjang panjang dan menenangkan hatinya yang lagi bergolak.
"Eee.... Tan Kia-beng.... Tan Kia-beng, sikapmu yang kesemsem dengan perempuan isteri orang lain apakah boleh disebut sebagai sikap seorang lelaki sejati diam-diam dia memperingatkan dirinya sendiri
Perjalanan yang dilakukan amat perlahan ini memakan waktu yang cukup lama, entah berapa saat lamanya terakhir sampailah kedua orang itu di depan sebuah kuil yang amat kecil.
Dengan lemah gemulai Lei Hun Hweeci maju ke depan untuk mengetuk pintu, sebentar kemudian tampaklah pintu kuil terbuka dan muncullah seorang yang bukan merupakan seorang Nikou sebalinya merupakan seorang pelayan muda yang wajahnya penuh perasaan terkejut.
Begitu mereka berdua masuk ke dalam ruangan buru-buru dia menutup kembali pintu itu rapat rapat.
Setelah masuk di dalam biara tersebut dengan sinar mata yang tajam pemuda itu mulai menyapu sekejap memandang sekeliling tempat itu.
Tampaklah di atas meja sembahyang kecuali terletak sebuah patung Koan Im sama sekali tidak nampak barang-barang untuk bersembahyang maupun bayangan dari Nikou walaupun begitu Tan Kia-beng tidak tertarik untuk mengurusinya.
Setelah menghantarkan Lei Hun Hweeci ke belakang ruangan dengan nada yang amat dingin, ujarnya, "Untuk sementara waktu aku lepaskan dirimu, lain kali bilamana berjumpa kembali janganlah salahkan aku akan turun tangan kejam."
Selesai berkata dengan langkah lebar ia berlalu dari tempat itu.
"Sute! kesalah pahamanmu terhadap kami suami istri sudah begitu mendalamnya, hal ini membuat aku susah untuk memberi penjelasan kata Lei Hun Hweeci sambil tertawa
sedih. "Ini hari kau sudah menghantar aku datang kemari, kenapa tidak minum arak dulu baru pergi? urusan selanjutnya kita bicarakan dikemudian hari saja!"
Pada saat itu tampaklah dua orang pelayang berbaju hijau sudah membawa sebuah nampan datang kehadapannya.
Dengan amat sedih sekali Lei Hun Hweeci mengambil sebuah cawan arak lalu diangsurkan kehadapan pemuda itu, ujarnya dengan perasaan murung, "Sute biarlah ensomu menghormati satu cawan dulu kepadamu lain kali bilamana kita berjumpa kembali ada kemungkinan kau akan menganggap aku sebagai musuh besarmu.”
Tan Kia-beng yang melihat arak itu berwarna hijau dan bening tak ada tanda tanda yang mencurigakan ditambah pula yang sikapnya yang terlalu menaruh rasa kasihan kepada orang lain melihat sikap dari Lei Hun Hweeci yang patut dikasihani itu ia merasa tidak tega untuk menolak.
Tanpa pikir panjang lagi dia menerima angsuran cawan itu kemudian meneguknya hingga habis.
Begitu Lei Hun hweeci melihat pemuda itu sudah mengeringkan isi cawan dengan cepat ia merangkak naik ke atas pembaringannya.
"Hiii.... hiii.... beginilah baru suteku yang baik!" serunya sambil tertawa.
Sambil tertawa dia menarik tangan sang pemuda lalu tambahnya lagi, "Setelah minum arak seharusnya berbaring dulu, sute! mari berbaringlah biar ensomu melayani kepuasan lelakimu!"
Tan Kia-beng rada tertegun mendengar perkataan yang tidak dimengerti olehnya itu mendadak dari pusarnya
terasalah segulung hawa panas yang amat aneh bergerak naik ke atas sehingga membuat seluruh pembuluh darahnya ikut menegang.
Suatu perasaan untuk memenuhi sesuatu kebutuhan dengan cepat muncul dari dasar hatinya, ia merasa keadaannya jadi pudar sedang wajahnya berubah jadi merah padam matanya melotot lebar-lebar mulutnya mendesis sehingga keadaannya mirip dengan seekor binatang buas.
Di tengah suara napasnya yang memburu dan pentangkan tangan yang amat lebar dengan perlahan ia bergerak mendekati tubuh Lei Hun hweeci telah tidur terlentang di atas pembaringan itu.
Mendadak tubuhnya menubruk ke depan dan memeluk tubuh perempuan itu kencang terdengarlah Lei Hun Hweeci mendesis perlahan kemudian dengan pasrahnya ia menjatuhkan diri ke dalam tindihan tubuhnya.
Suara sobekan pakaian dengan cepat bergema saling susul menyusul seketika itu juga robekan pakaian beterbangan keempat penjuru
Di tengah tindakan kasar sang pemuda tangannya mulai menggerayangi seluruh tubuh Lei Hun Hweeci yang pada saat itu sudah berada dalam keadaan telanjang bulat.
Di dalam sekejap saja dibawah sorotan sinar lampu tampaklah bukit-bukit putih yang montok dan empuk muncul dihadapan mata ditambah pula likukan lekukan tubuh yang mempesonakan apalagi sebuah lembah yang tak berhutan....
Keadaan dari Lei Hun Hweeci mirip dengan seekor anak kambing....Tidak lebih mirip dengan seekor ular yang tak bertulang menggeliat, bergoyang dan bergerak kesana kemari
tiada hentinya dibawah tindihan dada yang lebar dari sang pemuda
Bibirnya yang kecil dan berwarna merah ternganga lebar-lebar menanti serangan gencar dari sang pemuda....
Tubuh mereka berdua mulai merapat.... semakin melengket dan....
Lampu di tengah ruangan bergoyang ditiup anign, suatu pemandangan yang amat mendebarkan hati, amat indah dan mempersonakan sebentar lagi bakal berlangsung.
Suasana benar-benar mencapai pada ketegangan yang hampir mendekati pada puncaknya.
Sekonyong konyong....
Suara bentakan merdu bergema datang disusul berkelebatnya sesosok bayangan manusia, tampaklah seorang Dara Berbaju Hijau bagaikan kilat cepatnya menerjang masuk ke dalam ruangan melalui jendela
Begitu melihat munculnya sang dara tersebut Lei Hun Hweeci jadi amat terperanjat.
“Aaakh!...." teriaknya dengan amat kaget.
Dengan sekuat tenaga dia merontah dari tindihan dari sang pemuda, begitu terlepas dari pelukan Tan Kia-beng tanpa memakai pakaian lagi dalam keadaan telanjang bulat dia berlari dengan cepatnya meninggalkan tempat itu.
Tan Kia-beng yang sudah kena dicekoki dengan obat pembangkit hawa napsu birahi oleh Lei Hun Hweeci saat ini benar-benar tak kuat untuk tidak mengumbar napsunya binatangnya melihat kelinci buruannya berhasil meloloskan diri dengan kalapnya ia menubruk ke arah Dara Berbaju Hijau yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu.
Pada mulanya gadis berbaju hijau itu tidak mengetahui apa yang telah terjadi sehingga terburu-buru menerjang ke dalam kini melihat pemuda itu dalam keadaan telanjang bulat dengan mata berwarna merah darah dan amat liar menubruk ke arahnya, tak terasa lagi dengan wajah berubah merah jengah ia menjerit kaget.
"Hayaa....!"
Tangannya dengan cepat menutupi seluruh wajah kemudian putar badan dan berlalu dari sana.
Pada saat itulah tiba-tiba pinggangnya terasa dirangkul dengan amat kencangnya oleh lengan sang pemuda yang amat kuat itu diikuti tangan yang lain menyambar dan merobeknya pakaian itu yang dikenakan sehingga bagian dada hingga tubuh bagian bawahnya kelihatan jelas di depan mata
Kepandaian silat yang dimiliki oleh Gui Ci Cian sebetulnya amat lihay sekali, saat ini ia berhasil kena dirangkul oleh Tan Kia-beng justru dikarenakan hatinya bingung dan gugup, tetapi setelah tubuhnya kena dirangkul dan pakaiannya kena dirobek hingga bagian tubuhnya yang terlarang kelihatan ia jadi sadar kembali.
Dengan kecerdikannya sekali pandang ia sudah tahu apa sebabnya pemuda itu jadi begini tangannya dengan cepat berkelebat menotok jalan darah tidur pada tubuh pemuda tersebut kemudian menggendongnya ke atas pembaringan.
Bersamaan itu pula dari sakunya dia mengambil keluar sebuah botol porselen dan mengambil keluar sebutir pil "Swie Nau Kiem Tan" untuk dijejalkan ke dalam mulut Tan Kia-beng.
Pil mujarab "Swie Nau Kiem Tan" ini adalah obat yang paling mujarab dari Isana Kelabang Emas, baru saja gadis itu memasukkan pil itu ke dalam mulutnya mendadak....
Dari luar jendela kembali berkumandang datang suara tertawa dingin yang amat menyeramkan
Dalam keadaan amat terperanjat Gui Ci Cian balikkan badannya melancarkan satu pukulan membebaskan jalan walet dengan gesitnya melayang keluar dari dalam ruangan.
Dibawah sorotan sinar rembulan terlihatlah seorang gadis berbaju putih dengan wajah yang amat dingin menengadah ke atas udara sedang dari mulutnya tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa yang menusuk telinga
"Nonamu adalah Hu Siauw-cian! hmm! maaf, maaf sudah mengacau pekerjaan bagus kalian bukan?" bentak gadis tersebut dengan nyaring.
“Omong kosong!" teriak Gui Ci Cian dengan paras muka berubah jadi merah jengah
Mendadak dia merasa segulung angin dingin berhembus datang membuat dada serta tubuh bagian bawahnya terasa amat dingin buru-buru dia menundukkan kepalanya.
Seketika itu juga gadis itu merasa amat malu sehingga seluruh paras mukanya berubah jadi merah padam, kiranya teteknya pada saat ini sudah menonjol keluar dari balik pakaiannya yang robek keadaannya mirip dengan perempuan yang lagi menyusui anaknya.
Hu Siauw-cian yang melihat sikapnya yang agak kikuk itu tak terasa lagi memperdengarkan kembali suara tertawa dingin yang semakin menyeramkan.
Pada saat itulah kembali terlihatlah sesosok bayangan merah berkelebat mendatang, sewaktu melihat sikap dari kedua orang itu ia rada tertegun dibuatnya.
"Bukankah kau datang bersama-sama dengan engkoh Beng?" tegur "Pek Ih Loo Sat" Hu Siauw-ciang dengan suara yang amat dingin setelah melihat munculnya bayangan merah itu.
Orang yang baru datang ini bukan lain adalah Mo Tan-hong, semula ia datang mencari Tan Kia-beng di dunia kangouw, tak terkira kebetulan sudah lewat di tempat tersebut dan ketemu dengan kedua orang gadis itu.
Kini setelah mendengar suara teguran dari Pek Ih Loo Sat hatinya mulai mengerti kalau di tempat itu sudah terjadi sesuatu.
"Tidak!” jawabnya kemudian. "Dia keluar jauh lebih dulu dari diriku, kau sudah bertemu dengan dirinya?"
"Bertemu sih sudah bertemu, hanya saja saat ini ia sudah dipengaruhi oleh siluman rase!"
Siluman rase? tak terasa lagi dengan mata terbelalak lebar-lebar Mo Tan-hong memperhatikan dirinya.
Tiba-tiba....
Bayangan putih berkelebat tahu-tahu Pek Ih Loo Sat dengan gerakan yang amat gesit telah menghalangi jalan pergi dari Dara Berbaju Hijau itu
“Siluman rase!" bentaknya dengan suara yang amat menyeramkan. Kau sudah membuat engkoh Beng jadi begitu, kini kau hendak melarikan diri pula? Hmm! jangan bermimpi di siang hari bolong."
Terhadap kedua orang gadis ini Gui Ci Cian pernah menemui semua ia tahu kalau merekapun adalah kawan karib dari Tan Kia-beng.
Kini dirinya berada dalam keadaan setengah telanjangan apalagi teteknya keluar sebagian bagaimanapun hal ini membuat ia merasa tidak enak untuk tetap berada disana setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya ia terkahir bermaksud untuk meninggalkan tempat itu.
Siapa sangka baru saja ia menggerakkan badannya telah kena dihalangi oleh si Pek Ih heng Hu Siauw-cian bahkan tiada hentinya dirinya kena dimaki sebagai siluman rase, dia sejak kecil selalu dimanja mana kuat dia menahan cemoohan tersebut?
Dalam keadaan yang amat gusar telapak tangannya dengan cepat dibabat ke depan dan melancarkan satu serangan yang gencar ke arah tubuh Pek Ih Loo Sat.
Dengan kepandaian silatnya yang begitu tinggi seketika itu juga membuat seluruh angkasa dipenuhi dengan bayangan hijau yang menyambar kesana kemari tiada henti hentinya, di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tujuh belas serangan dahsyat.
Hu Siauw-cian adalah seorang bocah perempuan yang suka mencari gara gara, seketika dia melihat sikap yang demikian mesra antara dia dengan Tan Kia-beng, hatinya sudah merasa amat marah.
Ia menyangka sikap pemuda itu terlalu baik terhadap sang gadis perduli peristiwa itu keluar dari hati Tan Kia-beng sendiri atau terpengaruh obat bius dia sendiri sama sekali tidak mau tahu.
Karenanya sewaktu melihat Gui Ci Cian melancarkan serangan ke arahnya dengan cepat dia bergerak maju untuk menyambut.
Mereka berdua sama-sama memiliki bakat baik, ditambah ilmu silat yang dipelajari pun sama-sama lihaynya membuat suasana seketika itu juga berubah jadi amat tegang.
Tampaklah bayangan putih dan hijau saling berputar dan melayang kesana kemari dengan gesitnya sebentar ke atas sebentar ke bawah masing-masing dengan gerakan yang cepat laksana kilat berusaha mengalahkan pihak lawannya.
Mo Tan-hong yang tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya setelah mendengar perkataan terakhir dari Pek Ih Loo Sat salah menyangka kalau Tan Kia-beng sudah terluka ditangan Dara Berbaju Hijau itu, di dalam keadaan yang amat cemas dengan cepatnya menjerit melengking
Budak! kau berani mencelakai engkoh Beng serahkan nyawamu!
Tubuhnya dengan amat cepat bergerak ke depan dan ikut menerjunkan diri ke dalam kancah pertempuran
Dengan demikian dia bersama-sama dengan Pek Ih Loo Sat secara berbareng mengeroyok Dara Berbaju Hijau itu
Sejak dirinya memperoleh pil pencuci tulang dari Ui Liong-ci, tenaga dalamnya sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat kini setelah ia terjunkan diri ke dalam kalangan maka keadaan Gui Ci Cian pun jadi semakin terdesak
Pada saat yang amat tegang itulah mendadak tampak sesosok bayangan manusia dengan jalan rada sempoyongan berlari keluar dari dalam ruangan kuil.
"Jangan berkelahi.... jangan berkelahi, ayoh cepat berhenti!! semuanya adalah orang sendiri" teriaknya keras.
Mereka bertiga yang mendengar perkataan itu segera menghentikan gerakannya dan menoleh ke belakang.
Sebentar kemudian Pek Ih Loo Sat serta Mo Tan-hong sudah menjerit keras dan melengos ke samping dengan wajah berubah merah padam.
Kiranya Tan Kia-beng yang dicekoki dengan sebutir pil "Swie Nau Kiem Tan" sekalipun belum berhasil memunahkan seluruh racun yang mengeram di dalam tubuhnya, tetapi kesadarannya sudah pulih saat ini dengan jalan sempoyongan dan kebingungan ia berlari keluar tanpa penutup badan barang secarik kainpun.
Dalam keadaan telanjang bulat polos seperti jaman hawa sudah tentu membuat para gadis yang ada disana jadi menjerit kaget lalu melengos kesamping.
Dengan meminjam kesempatan itulah mendadak Gui Ci Cian dengan gerakan yang amat cepat laksana sambaran kilat berkelebat ke samping tubuh pemuda itu lalu menotok jalan darahnya kembali, kemudian dengan terburu-buru ia menerjang masuk ke dalam kuil untuk mengambil pakaiannya dan berkelebat lenyap dibalik hutan yang gelap.
Menanti Pek Ih Loo Sat serta Mo Tan-hong segera mendepak depakkan kakinya ke atas tanah dan berseru, "Aduh celaka! engkoh Beng kembali kena diculik oleh siluman rase itu!"
Sebaliknya Pek Ih Loo Sat sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun, ia langsung menerjang masuk ke dalam kuil
SUasana di dalam kuilpun sunyi sekali tak kelihatan sesosok bayangan manusiapun, hal ini membuat gadis itu semakin gusar lagi dengan cepat dia menyambar lilin yang ada dimeja dan membakar setiap benda yang ditemuinya.
Seketika itu juga kuil yang megah sudah berada di tengah lautan api....
Kedua orang gadis itu kembali berjalan keluar dari kuil kemudian sambil berpandangan lama sekali tak mengucapkan sepatah katapun.
Beberapa saat kemudian terdengarlah Mo Tan-hong dengan air mata bercucuran berkata;
"Siluman rase itu adalah orang dari Isana Kelabang Emas, kali ini ia pasti sudah menculik engkoh Beng untuk dibawa kembali keIsana Kelabang Emas."
Dengan pandangan yang dingin Hu Siauw-cian memandang sekejap ke arahnya, mendadak ia enjotkan badannya dan berlalu dari sana dengan amat cepatnya.
Melihat sikap dari Pek Ih Loo Sat ini Mo Tan-hong rada tertegun dibuatnya, akhirnya sambil mengusap kering bekas air mata ia depakkan kakinya ke atas tanah.
"Aku harus mengejar siluman rase itu walaupun sampai keujung langit ataupun kedasar lautan!" gumamnya seorang diri.
Selesai berkata iapun enjotkan badannya untuk berlalu dari sana
Menanti beberapa orang itu telah berlalu dari balik hutan, kelihatanlah berkelebat keluarnya seorang perempuan muda dengan pakaian yang tak keruan, kemudian dengan gemasnya berteriak, “Budak bangsat, tanpa sebab kalian sudah merusak permainan bagus dari Loo nio.... Hmm! Bilamana aku tidak berhasil menghancur leburkan badan kalian aku tidak akan disebut Lei Hun Hweeci"
Selesai berkata iapun melayangkan badannya ke samping dan lenyap dibalik hutan
---0-dewi-0---
Kita balik kepada Gui Ci Cian yang menggunakan kesempatan sewaktu kedua orang gadis lainnya tak waspada telah menculik pergi Tan Kia-beng yang masih belum sadar.
Dengan gerakan yang amat cepat ia maju ke depan beberapa waktu lamanya kemudian ia baru berhenti di tengah sebuah hutan yang amat lebat dan meletakkan tubuh pemuda itu ke atas tanah.
Di dalam hati kecilnya ia merasa bingung haruskah dia membawa pemuda itu kembali keIsana Kelabang Emas ataukah melenyapkan dulu racun yang mengeram di dalam tubuhnya?
Akhirnya rasa cinta menangkan segala galanya ia menghembuskan napas panjang yang bergumam, "Heei....! demi dirinya lebih baik aku berbuat demikian saja, bilamana dikemudian hari ibu menyalahkan aku baiklah aku terima saja!
Dari dalam sakunya kembali ia mengambil keluar sebutir pil Swie Nau Kiem Tan dan dimasukkan ke dalam mulut sang pemuda
Walaupun ia tahu pil ini adalah obet mujarab untuk menyembuhkan luka parah dan sama sekali tidak mendatangkah manfaat yang besar untuk memunahkan racun yang mengeram ditubuh seseorang, tetapi ia tak bisa apa apa selain berbuat demikian.
Akhirnya setelah pil itu dimasukkan ke dalam mulut sang pemuda iapun membebaskan pula jalan darahnya yang tertotok dan menempelkan telapak tangannya pada jalan darah Nau Cung hoat untuk salurkan tenaga dalam Hong Mong Ci Khei nya ke dalam tubuh sang pemuda.
Dengan perlahan hawa murninya mengikuti aliran jalan darah bergerak masuk ke dalam tubuh lalu dengan perlahan
mulai mendesak sisa sisa racun yang masih tertinggal di dalam tubuh Tan Kia-beng.
Sebenarnya dari dalam tubuh Tan Kia-beng sendiri memiliki suatu kemampuan untuk menolak racun, barhubung racun pemabok yang digunakan oleh Lei Hun Hweeci adalah semacam bubuk "Ho Ho Sian Lok" yang amat beracun sekali ditambah pula ia telah mengetahui bagaimana lihaynya tenaga dalam sang pemuda itu sehingga memberi daya racun yang lipat ganda maka sekalipun pemuda itu telah menelan dua butir pil Swie Nau Kiem Tan" belum juga berhasil memunahkan seluruh racun yang ada di dalam tubuhnya.
Kini setelah Gui Ci Cian menyalurkan hawa murni Hong Mong Cie Khei"nya ketubuh Tan Kia-beng, seketika itu juga memancing daya kerja dari kekuatan tubuh sang pemuda tersebut, dari batok kepalanya dengan perlahan mulai mengembanglah asap putih yang secara samar-samar bercampur dengan bau harumnya arak.
Kurang lebih sepertanakan nasi lamanya terakhir Tan Kia-beng baru sadar dari maboknya, sewaktu Gui Ci Cian lagi duduk bersila disisinya sambil membantu ia dengan kekuatan tenaga dalam, dalam hati segera merasa amat menyesal.
Buru-buru ia pejamkan matanya dan mulai menyalurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh tubuhnya satu kali, menanti pemuda itu merasa badannya telah sehat kembali ia beru bangun dari tidur.
Tetapi sebentar kemudian ia sudah menjerit kaget kiranya pada saat ini dirinya telah menemukan kalau ia masih berada dalam keadaan telanjang bulat, sedang pakaiannya bertumpuk disisinya, hal ini membua pemuda itu saking malunya membuat wajah jadi berubah merah padam.
Buru-buru dia mengenakan kembali pakaiannya dan melirik sekejap ke arah Gui Ci Cian
Waktu itu gadis tersebut sedang duduk bersila mengatur pernapasannya teringat perbuatan sang nona yang sudah menolong dia untuk paksa keluar racun dari dalam tubuh, dalam hatinya dia merasa semakin menyesal lagi.
Mendadak dia menemukan kembali satu peristiwa yang mengejutkan hatinya pakaian berwarna hijau yang dikenakan Gui Ci Cian pada saat ini sudah sobek amat besar sehingga kelihatanlah teteknya yang menonjol keluar dari balik robekan kain bahkan sampai tubuh bagian bawahnya yang terlarang pun kelihatan muncul dihadapan mata.
Tanpa dipikir panjang lagi ia sudah tahu kalau peristiwa itu tentu hasil perbuatannya sewaktu berada dalam keadaan tidak sadar hal ini membuat hatinya semakin malu dan menyesal.
Teringat peristiwa yang terjadi dalam kuil itu membuat keringat dingin mengucur keluar dengan amat derasnya bilamana pada waktu itu gadis berbaju hijau ini tidak datang pada waktunya, apakah yang bakal terjadi?
Dengan perlahan wajah Dara Berbaju Hijau itu mulai berubah memerah, pemuda itu tahu sebentar lagi ia tentu bakal sadar kembali tak terasa pikirannya mulai berputar, "Bilamana aku tidak mau pergi dari sekarang, menanti ia sadar kembali bagaimana malunya aku?"
Mendadak ia teringat pula akan janjinya dengan Si Huan, mendadak sambil depakkan kakinya ke atas tanah ia berseru, “Aduuuhh celaka, bagaimana aku boleh mengingkari janji terhadap seorang kawan yang baru saja dikenal?”
Karenanya dalam hati ia semakin mantap untuk tinggalkan Gui Ci Cian sebelum gadis itu sadar dari semedinya.
Buru-buru dengan hormatnya ia menjura ke arah Dara Berbaju Hijau itu.
"Budi dari pertolongan nona akan cayhe ingat terus selama lamanya!”
Selesai berkata laksana kilat cepatnya ia putar badan dan menuju kekota Wu Hoan.
Tan Kia-beng yang melakukan perjalanan cepat, sembari berlari pikirannya tiada hentinya berputar
Teringat akan kejadian di dalam kuil yang hampir hampir membuat ia merasa menyesal selama hidup hatinya merasa rada kecewa, teringat pula akan sikap dari Gui Ci Cian yang tampak memperdulikan kesunyiannya sendiri telah menolong dan melindungi dirinya, perbuatan demikian baiknya ini jelas menunjukkan kalau gadis itu sudah menaruh rasa cinta yang amat mendalam terhadap dirinya.
Tetapi sampai kini ia belum tahu gadis itu berada dalam kedudukan lawan atau kawan bagaimana ia boleh membalas rasa cinta itu?"
Teringat akan persoalan persoalan tersebut tak terasa lagi ia menghela napas panjang.
“Heei.... tidak kusangka persoalan yang paling rumit dibawah kolong langit pada saat ini adalah budi dari wanita cantik, tidak disangka karena berlaku ceroboh telah mengakibatkan datangnya banyak kerepotan."
"Mengetahui begini kenapa tidak mencegah dari dulu?" tiba-tiba terdengar seseorang menyambung sambil tertawa cekikikan.
Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng jadi amat terperanjat, dia tidak menyangka kalau pendengarannya bisa
macet sehingga sama sekali tidak mengetahui tibanya seseorang disamping tubuhnya.
Bilamana orang itu bermaksud jahat apa yang bakal terjadi?
---0-dewi-0---
Dengan gerakan yang amat cepat pemuda itu melayang muncur sejauh tiga depa, sewaktu memandang lebih teliti lagi maka terlihatlah seorang perempuan muda yang memiliki kecantikan yang luar biasa telah berada dihadapannya.
Tubuhnya memakai seperangkat pakaian yang terbuat dari lima warna sehingga menambah kecantikan wajahnya, apalagi ujung bajunya yang tertiup angin membuat keadaannya mirip dengan bidadari yang baru saja turun dari kahyangan
"Hii.... hii..... buat apa kau bersikap demikian gugup?" tegur perempuan muda itu sambil tertawa terkekeh kekeh. "bilamana aku bermaksud jahat terhadap dirinya, sewaktu kau berada dalam keadaan kehilangan sukma aku sudah turun tangan jahat."
"Siapakah saudara? ada maksud apa mencari diri cayhe?" tanya Tan Kia-beng sambil kerutkan alisnya rapat rapat.
"Mungkin kau sudah dibuat takut karena hendak dipukul orang ya? kenapa melihat oran glain sudah ketakutan sedemikan rupa? aku adalah Wu Mey Jien" atau si perempuan cantik dari balik kabut Loo Cui Thay adanya, walaupun tindakanku rada telengas tetapi melihat lihat pula terhadap siapa aku turun tangan! terhadap saudara cilik seperti kau yang begitu penurut dan jujurnya aku sih merasa tidak tega untuk turun tangan jahat!
Tan Kia-beng yang belum lama terjunkan dirinya ke dalam dunia persilatan sama sekali tidak kenal dengan si perempuan
cantik dari balik kabut ini, alisnya dikerutkan semakin mengencang lagi.
"Kalau memangnya kau tak ada urusan yang penting cayhe terpaksa minta diri terlebih dulu tetapi akupun hendak beritahukan satu urusan kepadamu aku orang she Tan bukanlah seorang manusia yang mudah diganggu seenaknya."
Dia yang sudah kena digigit oleh ular, selama sepuluh tahun takut dengan tali tambang, pemuda ini sama sekali tidak ingin berhubungan lagi dengan perempuan yang genit bagaikan ular berbisa ini.
Siapa tahu baru saja tubuhnya bergerak terasalah segulung bau harum menerjang datang, si perempuan cantik dari kabut ini sudah berkelebat menghalangi jalan perginya dan memperlihatkan satu senyuman yang sangat misterius;
"Apakah kau anakan iblis Tan Kia-beng yang samanya pada waktu mendekat ini amat terkenal sekali di dalam Bulim?" tanyanya dengan amat merdu.
Kalau benar ada urusan apa?" dengan perbuatan dari kau bukankah sama dengan sudah tahu pura pura tanya?
“Ehmm!.... kalau begitu begitu anggaplah aku sudah tahu tadi pura pura tanya! Tetapi aku pun boleh bicara terus terang kepadamu, munculnya aku orang she Lo kali ini sebenarnya ada dua maksud tujuan, pertama ingin menemui majikan kereta kencana yang telah membuat seluruh dunia persilatan kacau balau dan hujan darah karena kereta kencananya, yang kedua adalah bertemu dan berkenalan dengan Tan Siauwhiap, yang dikatakan orang-orang sebagai anakan iblis, aku ingin berkenalan dengan adik cilik yang demikian tampan romantisnya ini...."
"Terima kasih atas penghargaan dari dirimu, cuma sayang cayhe tidak sanggup untuk menerima penghargaanmu itu."
"Ooouw.... kau tidak setuju?"
Agaknya perempuan itu merasa jawaban tersebut berada diluar dugaannya.
Si perempuan cantik dari balik kabut ini pada dua puluh tahun yang lalu terkenal sebagai seorang iblis perempuan yang menggemparkan seluruh dunia kangouw, tak ada seorangpun yang tahu dari manakah asal perguruannya dan tak seorangpun yang bisa cocok untuk bersahabat dengan dirinya, kepandaian silat yang dimilikinya benar-benar luar biasa sekali, setiap orang yang berani mencari gara gara dengan dirinya jangan harap bisa hidup dengan tenang terutama sekali terhadap orang-orang yang pernah berbuat cabul dengan perempuan lain, tindakannya semakin telengas lagi.
Karena itulah di dalam dunia kangouw jarang ada orang yang berkenalan dengan dirinya, mereka pada menaruh hormat dan menjauhi perempuan ini.
Tan Kia-beng mana mengetahui akan persoalan ini, ia tetap menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kita sama sekali tidak saling mengenal, soal bersahabat kita bicarakan lain kali saja, sekarang cayhe masih ada urusan penting."
Selesai berkata dia menjura ke arah perempuan itu lalu dengan langkah lebar berjalan ke depan.
Suatu peristiwa yang ada diluar dugaan kembali sudah berlangsung, Wu Mey Jien ternyata tidak menghalangi
perjalanannya malahan menyingkir ke samping untuk memberi jalan padanya.
Tan Kia-beng yang tidak ingin tersanggut kembali dengan urusan yang merepotkan, dengan langkah lebar ia lantas melanjutkan perjalanannya ke depan, waktu itu secara samar-samar telinganya masih bisa menangkap suara helaan napas panjang dari perempuan tersebut.
Mendengar helaan napas itu tak terasa lagi pemuda itu tertawa dingin, pikirnya;
"Hmm! entah siasat setan apa lagi yang hendak dipasang untuk menjebak diriku, aku orang she Tan cukup tertipu satu kali saja, jangan harap bisa membuat aku tertipu untuk kedua kalinya"
Untuk jangan sampai kelihatan hatinya yang lemah selama perjalanan ia selalu menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang paling lihay.
Kurang lebih baru saja dia melakukan perjalanan sejauh tiga, lima puluh langkah mendadak terdengarlah suara tertawa aneh yang amat menyeramkan berkumandang keluar dari sisi tubuhnya.
"Thay Gak Cungcu" Bok Thian-hong Loo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay serta Ong Jian Poocu dari benteng Hwee Im Poo mendadak munculkan dirinya dari balik pohon dan menghalangi perjalanannya.
"Berhenti!" bentaknya dengan keras.
Tan Kia-beng semula rada tertegun, tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa.... haa kiranya kalian bertiga, bagus, bagus sekali, aku orang she Tan memang lagi bersiap untuk mencari kalian" teriaknya.
Waktu ini Bok Thian-hong sudah tidak memperlihatkan lagi wajahnya yang halus berbudi dan patut dihormati, dengan wajah amat dingin dan penuh kedengkian ia membentak keras, "Hee.... hee.... pada waktu waktu mendekat ini kau benar-benar senang sekali ya! sampai saat ini aku orang she Bok baru tahu kalau kaupun merupakan anak murid dari Teh-leng-bun."
Sebetulnya kau harus mengetahui hal ini sejak dahulu! bokonganmu sewaktu ada di gunung Go-bie serta perbuatanmu yang turun jahat terhadap aku serta Toa suheng sewaktu ada digunung Gak Lok San kesemuanya adalah hasil kerjamu! terus terang saja aku katakan sudah lama sekali aku mengetahui kalau kau adalah jie suhengku yang telah murtad dan mengatakan sendiri telah meninggalkan Teh-leng-bun, saat ini aku orang she Tan pun cuma bisa mengeikuti pesan dari suhu tempo dulu, membersihkan perguruan dari murid murid durhaka."
"Tutup bacotmu!" bentak Bok Thian-hong dengan amat keras "Kau sudah mencuri kitab pusaka perguruan Teh Leng Cin Keng" mencuri pula seruling pualam putih milik Kauwcu, bukannya aku orang she Bok yang memaki dan menuntut terhadap dirimu justru dihadapanku orang she Bok kau berani berkata kasar, nyalimu sungguh besar sekali!
Ayoh cepat serahkan kitab pusaka serta seruling pualam itu kepada diriku!
Mendadak ia maju dua langkah ke depan kemudian dengan suara yang amat menyeramkan sambungnya kembali.
"Kau kira setelah ada Hu Hoang si iblis tua itu memegangi pinggangmu dengan tenangnya kau bisa menduduki jabatan sebagai Kauwcu? hmmm! kau jangan bermimpi di siang hari bolong murid murtad itu sejak dulu sudah diusir oleh suhu dari perguruan, urusan inipun ada beberapa orang cianpwee yang bertindak sebagai saksi bersamaan itu pula kau pun harus tahu, yang muda harus mengalah pada yang tua, sekalipun kau telah memperoleh pesan dari suhu untuk masuk jadi anggota perguruan tetapi masih ada satu orang she Bok disini, kau berani mencari gara gara dan menduduki jabatan tersebut?"
Tan Kia-beng yang merasa suling yang ada di dalam sakunya diperoleh atas pesan terakhir dari Han Tan Loojien, sama sekali tidak jadi gusar sekalipun telah mendengar perkataan yang amat kasar dari Bok Thian-hong ini, wajahnya masih tetap tenang-tenang saja tanpa sedikit perubahan apapun.
"Perkataanmu belum tentu tak ada yang cengli" katanya dengan amat tawar. "Bila mana kau adalah seorang lelaki sejati walaupun ada perintah dari suhu mendiang aku orang she Tan pun tidak akan menerima jabatan sebagai Kauwcu bahkan dengan kedua tangan terbuka mengangsurkan jabatan ini kepadamu, tetapi cuma sayang perbuatan amat jahat dan terkutuk hal ini memaksa aku orang she Tan tidak punya muka lagi untuk membiarkan kau tetap hidup di dalam kolong langit, meninggalkan kau dimuka bumi sama saja dengan memelihara bibit penyakit orang-orang dikemudian hari"
Selesai berkata wajahnya berubah jadi amat angker, dari matanya memancarkan cahaya yang amat tajam melototi Bok Thian-hong.
Bok Thian-hong yang sinar matanya terbentur dengan pandangan matanya merasakan hatinya amat terperanjat, tetapi sebentar kemudian dia sudah dongakkan kepalanya tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... binatang! kau tidak menghormati angkatan yang lebih tua bahkan berani berbicara besar dihadapan loohu, terpaksa loohu akan mewakili mendiang suhu untuk membereskan murid murtad semacam kau!"
"Heee.... hee siapa yang jadi murid murtad umum bisa menentukan sendiri!" kata Tan Kia-beng sambil tertawa dingin, "Ini hari kau bersiap-siap hendak menggunakan cara apa untuk menghadapi aku orang she Tan silahkan kau gunakan sepuasnya, bagaimanapun membinasakan manusia jahanam semacam kau tidak bakal berdosa sebaliknya membantu orang Bulim membereskan seorang bibit bencana."
Tempo hari Bok Thian-hong sudah pernah merasakan kelihayan dari pemuda ini tapi ini hari dia tidak merasa jeri berhubung kecuali dirinya masih ada Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang bakal turun tangan memberi bantuan bilamana dirinya terdesak, disamping itu iapun telah menggerakkan hati seorang cianpwee yang tidak lagi bakal tiba disana untuk membantu dirinya.
Dia bersiap-siap turun tangan setelah loocianpwee bala bantuan itu tiba-tiba disana, tetapi perkataan semakin dibicarakan semakin keras mau tak mau dia harus turun tangan juga sebelum saatnya.
Karena itu diam-diam dan mulai menyalurkan hawa murninya memenuhi seluruh tubuh kemudian selangkah demi selangkah mendesak maju ke depan.
Sudah amat lama sekali Tan Kia-beng bermaksud untuk melenyapkan manusia buas yang pura pura alim ini, melihat Bok Thian-hong sudah bersiap-siap hendak turun tangan hatinya jadi amat girang.
Diam-diam iapun mulai menyalurkan hawa murninya keseluruh tubuh, walaupun pada wajahnya masih kelihatan amat tenang dan dingin kaku padahal ia sudah bersiap sedia.
Begitu persiapan telah berhenti suasana mendadak jadi tenang sekali, Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu pun saling bertukar pandangan kemudian dengan langkah perlahan mulai bergerak ke depan
Sekalipun diluar kelihatannya mereka amat menguatirkan keselamatan Bok Thian-hong padahal sebenarnya dalam hati kecil mereka berdua telah tersusuk suatu maksud tertentu.
Teringat peristiwa yang terjadi dilapangan luas kuil Ya Hu Tan Sie dimana secara terbuka rahasia Thay Gak Cungcu sudah disiarkan, dengan pengalaman yang amat luas dari Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu bagaimana mungkin mereka tak mengetahuinya? apa lagi ada Liok Lim Sin Ci serta Sam Kuang Sin nie sebagai saksi sudah tentu hal ini membuat hati mereka semakin mantap.
Hanya saja dikarenakan selama ini mereka berdua selalu mengincar pedang pusaka Giok Hun Kiam serta kitab pusaka "Teh Leng Cin Keng" dari Tan Kia-beng maka sengaja mereka suka bekerja sama dengan Bok Thian-hong, maksud mereka menanti kedua orang itu telah berada dalam keadaan parah, pelayan disamping tinggal memungut hasil saja.
Pada saat suasana mencapai pada saat saat yang amat kritis, mendadak....
Si perempuan cantik dari balik kabut yang pernah ditemui Tan Kia-beng buru saja telah melayang keluar dari balik hutan dan tertawa terkekeh kekeh terhadap Loo Hu Cu.
“Hee.... hee.... kalian berdua saling tukar pandangan bersikap misterius sebetulnya lagi memberi bantuan kepada Thay Gak Cungcu ataukah meminjam kesempatan untuk mencari keuntungan?”
Perkataan yang memecahkan rahasia hati kedua orang itu membuat Loo Hu Cu dan Ong Jian merasa hatinya amat terperanjat, apa lagi setelah mengetahui kalau orang itu bukan lain adalah si iblis wanita yang paling sulit untuk dilayani, hatinya merasa semakin tidak tenteram lagi.
"Hee.... hee.... Loo Li hiap, kau lagi bergurau" serunya berbareng sambil tertawa paksa.
Sekalipun begitu dalam hati mereka diam-diam merasa keheranan, mereka tidak mengira kalau dianakan iblis ini bisa memiliki hubungan yang begitu luas, sampai manusia yang bersifat kukoay dan berkepandaian tinggipun bisa diajak bertemu.
Tempo hari mereka tidak ingin bentrok dengan Pek-tok Cuncu dan Su Hay Sin Tou demikian pula dengan kali ini merekapun tidak ingin sampai bentrok dengan si iblis perempuan itu.
Sudah tentu hal ini bukan dikarenakan mereka takut urusan justru sebagai satu ketua partai mereka tidak ingin mendatangkan kerepotan buat dirinya sendiri.
Selesai mendengar perkataan dari kedua orang itu kembali Wu Mey Jien tertawa terkekeh kekeh.
"Hee.... hee.... kalian jangan Li hiap, Li hiap, turus ratusan sehingga membuat telingaku jadi geli! aku Loo Cui Thay tidak kuat untuk menerima sebutan tersebut asalkan kalian jangan secara diam-diam memaki aku sebagai iblis perempuan itu sudah lebih dari cukup
Ciangbunjin berdua, kalian rasa bukankah begitu.
Dengan perlahan dia menoleh ke arah Tan Kia-beng dan ujarnya lagi sambil tertawa, "Adik cilik, perlukah aku sebagai encimu mewakili dirimu? haruskah kau ketahui bergebrak dengan Thay Gak Cungcu yang amat terkenal inipun merupakan salah satu harapanku."
Tan Kia-beng benar-benar merasa takut bilamana perempuan itu ikut campur di dalam urusan ini sehingga menghilangkan kesempatan untuk membersihkan perguruan dari murid durhaka, mendengar perkataan tersebut ia lantas berteriak.
"Tidak usah kau buang tenaga lagi!"
Telapak tangannya dengan cepat melancarkan satu pukulan dahsyat membabat Bok Thian-hong.
Bok Thian-hong yang menghadapi musuh tangguh sejak semula sudah mengadakan persiapan, sewaktu dirasakan telapak pihak lawan sudah hampir mendekati badannya buru-buru ia menyingkir kesamping, telapaknya diputar setengah lingkaran dan balas menggencet pemuda itu.
Di tengah berkelebatnya bayangan telapak yang menyilaukan mata di dalam sekejap saja ia sudah mengirim tujuh buah pukulan dahsyat yang mematikan.
Begitu ketujuh buah serangan tersebut menyambar seketika itu juga membuat Tan Kia-beng jadi amat terperanjat. dia
sama sekali tidak menyangka kalau ketujuh buah serangan yang dilancarkan oleh Bok Thian-hong ternyata merupakan jurus jurus serangan yang aneh dan lihay sebuahpun tidak mirip dengan ilmu dari Teh-leng-bun.
Waktu itulah ia baru percaya bilamana dia telah berguru dengan orang lain.
Pertempuran sengit yang dialaminya berulang kali membuat tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang pesat, banyak pula jurus jurus ilmu silat yang terbuat di dalam kitab pusaka "Teh Leng Cing Keng" berhasil dipahami, oleh karena itu walaupun ketujuh buah serangan dari Bok Thian-hong amat lihay dan dahsyat, belum berhasil jangan memaksa dirinya mundur barang setengah langkahpun.
Dengan dinginnya Bok Thian-hong mendengus mendadak dia maju ke depan lebih dekat lagi, jari jari tangannya dengan sangat cepat melancarkan satu totokan menghajar jalan darah "Than Tong Hiat" pada tubuh pemuda tersebut.
Walaupun angin serangan sudah terasa menusuk badan.
Diam-diam Tan Kia-beng merasa hatinya terperanjat, telapak tangannya dibalik dengan menggunakan jurus "Po Cau Sing Coa" atau membabat rumput mencari ular sisi telapaknya dibabat ke depan diikuti sambil menekuk dadanya ke belakang dengan melawan serangan menghajar jalan darah "Ci Tong Hiat" pada tubuh Bok Thian-hong.
Jurus serangan dari Bok Thian-hong merupakan sebuah serangan kosong, baru saja jarinya mencapai setengah jalan mendadak dia balik membabat ke arah pundaknya sepasang telapak tangannya bagaikan kilat mengancam kedua belas jalan darah penting pada tubuh pihak lawan sedangkan kakinya laksana putaran roda melancarkan tendangan kilat.
Hanya di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan beberapa serangan gencar membuat Tan Kia-beng dengan repotnya harus menggagalkan seluruh serangan itu dan berturut turut mengundurkan diri sejauh beberapa langkah.
Melihat kejadian itu si perempuan cantik dari balik kabut merasa amat cemas, mendadak tubuhnya bergerak maju ke depan.
"Adik cilik!" serunya dengan amat keras "Kau mundurlah, biarlah aku yang maju!"
Hwee Im Poocu yang ada disampingnya mendadak mencabut keluar pedang panjangnya, diantara berkelebatnya cahaya hijau yang disertai hawa dingin yang menusuk tulang menghalangi jalan pergi dari perempuan itu.
"Hee.... hee.... urusan orang lain buat apa Loo Li hiap pun ikut ambil bagian" serunya sambil tertawa dingin.
Hadangan yang mengandung maksud tantangan ini bilamana pada hari biasanya tentu akan membuat perempuan itu jadi sangat gusar dan turun tangan kosong.
Tetapi pada saat ini hatinya lagi merasa kuatir terhadap keselamatan dari Tan Kia-beng, dengan paksakan diri ia menekan hawa amarah tersebut dan berkelebat ke samping untuk memperhatikan situasi kalangan dengan pandangan tajam.
Tampaklah hanya di dalam sekejap mata pemuda itu dari sikap berjaga telah berubah jadi posisi menyerang, angin pukulan menderu laksana angin topan hingga membuat pasir dan batu kerikil beterbangan ke angkasa.
Setiap angin pukulannya yang luar biasa itu seketika itu juga memaksa Bok Thian-hong balik ke tempat asalnya.
Mereka berdua suheng te yang satu adalah pemuda yang berbakat alam dan berhati sombong sedang yang lain adalah manusia laknat yang pandai membawa diri, pada saat ini telah mengerahkan seluruh kepandaian silatnya untuk bergebrak.
Tampaklah dua sosok bayangan manusia sebentar merapat sebentar berpisah lalu berputar dengan amat kacaunya membuat pandangan jadi kabur dan telinga berdengung.
Sampai pada saat inilah Loo Hu Cu serta Ong Jiang baru dapat mengetahui bagaimanakah sesungguhnya kepandaian silat yang dimiliki oleh Bok Thian-hong pada mulanya mereka menganggap Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong adalah seorang manusia yang paling menakutkan, tetapi kini.... mereka baru mengerti kalau Bok Thian-hong lah sebetulnya manusia yang paling menakutkan.
Kedua orang itu dengan gerakan yang paling cepat dan jurus serangan yang paling ganas saling bergebrak, hanya di dalam sekejap saja empat, lima puluh jurus sudah berlalu tanpa berhasil menentukan siapa yang menang siapa yang kalah.
Tempo dulu Tan Kia-beng pernah bergebrak melawan si Penjagal Selaksa Li Hu Hong, dia merasa Hu Hong di dalam soal tenaga dalam jauh lebih menang satu tingkat dari pada Bok Thian-hong tetapi ada banyak jurus serangan yang aneh tak bisa menandingi Thay Gak Cungcu ini bilamana mereka berdua harus saling bergebrak sukar sekali untuk ditentukan siapa menang siapa kalah.
Kedua orang itu kembali melanjutkan pertempurannya sebanyak sepuluh jurus lebih, di dalam hati Bok Thian-hong mulai merasa cemas karena locianpwee yang diundangnya hingga saat ini belum muncul juga, sedang Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu pun sudah kena ditahan oleh Si perempuan
cantik dari balik kabut, dia tahu bilamana waktu lebih lama lagi ia tentu akan menderita kalah.
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia yang halus lembut meluncur datang sambil membentak keras, "Tahan!"
Sreet! sinar pedang berkelebat laksana rantai, dengan paksa dia menahan serangan dari kedua orang itu.
Buru-buru Tan Kia-beng menarik kembali serangannya ke belakang kemudian dengan tajam memandang ke arah orang itu.
Tampaklah seseorang Dara Berbaju Hijau muda dengan wajah penuh kegusaran sedang membentak ke arah Bok Thian-hong.
"Siapa yang suruh kau bersikap demikian terhadap dirinya? kau sungguh keterlaluan sekali!"
Bok Thian-hong semula rada tertegun tetapi sebentar kemudian wajahnya sudah berubah hebat.
"Urusan ini adalah urusan rumah tangga dari aku she Bok, lebih baik nona Hong tidak usah banyak ikut campur!" bentaknya dengan kasar.
"Hee....hee.... kau sudah menggabungkan diri dengan Isana Kelabang Emas, apakah kau kira dirimu boleh sembarangan bebas semaunya? ayoh cepat menggelinding pergi dari sini!" bentak nona berbaju muda itu lagi sambil tertawa dingin.
"Bilamana kau masih membandel juga jangan salahkan aku Lo Hong-ing akan bertindak kasar terhadap dirimu"
Siapa tahu Bok Thian-hong pada ini hari ternyata bersikap lain dari pada yang lain, bukannya mengundurkan diri sebaliknya malah balas mengejek.
"Kedatangan nona Hong ini hari dikarenakan memperoleh perintah dari medali Kiem Uh Leng Pay ataukah Giok Uh Leng Pay?"
Sang Dara Berbaju Hijau muda Lo Hong-ing yang ditanyai demikian kontan jadi bungkam diri apalagi dari sakunya ia tak dapat mengeluarkan medali apapun.
Melihat kejadian itu Bok Thian-hong segera memperdengarkan suara tertawanya yang tak enak didengar.
Lo Hong-ing jadi amat gusar, pedang di tangannya segera dibalik melancarkan satu babatan ke arah depan.
"Nonamu mengandalkan ini!!" bentaknya dengan gusar.
Walaupun Bok Thian-hong mengetahui gadis itu tak memiliki medali Giok Uh Leng Pay tetapi diapun tidak berani bergebrak secara terang terangan dengan dirinya buru-buru tubuhnya bergerak menghindarkan diri dari serangan pedang itu.
"Apa maksudmu?" teriaknya keras.
Lo Hong-ing yang melihat serangannya tak berhasil mencapai sasarannya dengan cepat putar pedangnya sedemikian rupa sehingga membentuk cahaya pedang yang menyilaukan mata.
Hanya di dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tujuh buah serangan.
Melihat dirinya terus menerus digencet dengan serangan serangan mematikan akhirnya Bok Thian-hong tidak bisa juga menahan hawa amarahnya.
"Nona Hong!" bentaknya dengan keras. "Aku orang she Bok justru karena menghormati kau adalah Toa ci dari nona Gui
maka tidak ingin mencari susah dengan dirimu, apa kau kira aku benar-benar takut dengan kau?"
Lo Hong-ing tetap tidak mengucapkan sepatah katapun, pedangnya digerakkan semakin gencar lagi mengancam seluruh tubuh dari seorang tua itu.
Sampai pada detik itu Bok Thian-hong benar-benar tidak bisa menahan sabar lagi, dia tertawa dingin sedang telapak tangannya berturut turut melancarkan dua buah serangan dahsyat ke arah depan.
Segulung hawa dingin yang menusuk tulang dengan cepat menggulung ke arah depan kemudian laksana berputarnya roda dengan cepat menghantam tubuh Lo Hong-ing.
Kedua buah serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar-benar luar biasa akibatnya. Lo Hong-ing sendiripun lama sekali tidak menyangka kalau dia berani turun tangan balas melancarkan serangan ke arahnya.
Untuk beberapa saat lamanya dia kena didesak mundur sejauh lima enam langkah sedang pedangnya hampir hampir terlepas dari tangannya.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang takut diantara mereka sungguh sungguh bergebrak sehingga melainkan urusan besar, buru-buru pada maju melerai.
"Bok heng! hiburnya. "Ada perkataan baik-baiklah dibicarakan buat apa harus dibereskan dengan kekerasan?"
Lo Hong-ing yang kena terdesak mundur saking khe ki dan cemasnya hampir hampir saja melelehkan air mata, kembali dia membentak keras sedang pedangnya dengan dahsyat melancarkan serangan gencar.
Sekonyong konyong....
Suara hembusan angin bergema datang disusul segulung bau harum menusuk hidung tampaklah sesosok bayangan hijau dengan amat cepatnya menerjang datang.
Hanya di dalam sekejap saja terdengar Bok Thian-hong bertiga pada mendengus berat kemudian dengan terhuyung huyung mundur ke arah belakang.
Lo Hong-ing sendiripun dengan perasaan amat kaget mengundurkan dirinya ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan hawa hijau itu, disusul secara samar-samar terdengar suara bentakan yang amat merdu bergema datang, "Ayoh cepat ikuti aku pergi!"
Tan Kia-beng serta Wu Mey Jien boleh dihitung sebagai jagoan nomor wahid dari Bulim, sekalipun begitu merekapun cuma bisa menangkap dua sosok bayangan manusia yang ramping dengan cepat berkelebat lewat dan hanya di dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.
Kiranya bayangan hijau itu sudah menarik tangan Lo Hong-ing untuk diajak pergi.
Sewaktu melihat kembali ke arah Bok Thian-hong bertiga, tampaklah wajah mereka amat murung sedang dari ujung bibirnya masih menetes titik titik darah segar.
Kiranya mereka semua telah menderita luka dalam yang amat parah sekali!
Peristiwa ini benar-benar amat aneh dan sukar sekali untuk dipercaya, menurut kebiasaan seharusnya Bok Thian-hong adalah manusia yang paling berjasa terhadap Isana Kelabang Emas, bagaimana mungkin saat ini bisa menderita luka karena kena dihajar oleh orang-orang Isana Kelabang Emas?
Dengan kejadian ini Bok Thian-hong sekalianpun tak punya semangat dan tenaga lagi untuk menyerang Tan Kia-beng sedang Tan Kia-beng sendiripun tidak ingin turun tangan melukai musuhnya dengan menggunakan kesempatan sewaktu mereka lagi terluka.
Dengan begitu suasanapun seketika itu juga jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Mendadak terdengar Wu Mey Jien tertawa terkekeh kekeh dengan amat merdunya.
"Hiii.... hiii.... aku mengira Thay Gak Cungcu adalah seorang manusia yang bagaimana luar biasanya, kiranya tidak lebih hanyalah anjing dan penjaga pintu dari orang lain, hmm! sungguh amat rendah kedudukannya itu"
Pada saat itu Bok Thian-hong telah dilukai oleh angin pukulan Hong Mong Ci Khei pihak lawan, sekalipun dalam hatinya merasa kheki, tetapi dia pura pura tidak mendengar dan menutup matanya untuk menyembuhkan penyakit yang sedang dideritanya.
Tiba-tiba terasalah segulung angin menyambar datang, seorang kakek tua berjubah kuning dengan tangannya mencekal sebuah huncwee telah muncul di tengah-tengah kalangan.
"Loohu sudah terlambat datang satu tindak, apakah kau sudah terluka ditangan bangsat cilik itu?" tegurnya dengan suara yang amat dingin.
Pertanyaan ini benar-benar membuat Bok Thian-hong gelagapan, rahasia dimana secara diam-diam dia menerima perintah dari Isana Kelabang Emas tak bisa dibiarkan secara terbuka, terhadap pukulan yang datangnya dari si Si Dara
Berbaju Hijau itupun ia tak berani bicara, hal ini membuat dia jadi bungkam seribu bahasa.
Si kakek tua berjubah kuning yang melihat dia tidak berbicara dalam hati sudah salah sangka kalau dia tak ada muka lagi untuk bicara, saking khekinya ia lantas kebaskan jenggotnya dan maju selangkah ke depan.
---0-dewi-0---
JILID: 25
"Kaukah yang bernama Tan Kia-beng?" tanyanya sambil menudingkan huncweenya ke depan. Sungguh bernyali kau berani melukai suhengmu, hmm.... Kau kira di dalam Teh-leng-bun sudah tak ada lagi orang yang bisa mengatur peraturan perguruan?"
Tan Kia-beng yang secara samar-samar mendengar orang itu agaknya juga anggota Teh-leng-bun, buru-buru merangkap tangannya menjura.
Boanpwee benar-benar adalah Tan Kia-beng entah siapakah sebutan dari loocianpwee?"
"Loohu Pak San tempo hari berkat kemurahan hati Kauwcu menjabat sebagai pengatur peraturan perguruan, tidak disangka akhirnya Kauwcu tinggalkan kawan kawan dan mengasingkan diri, maka dari itu loohupun terpaksa ikut mengundurkan diri dari dunia kangouw dan tak ikut mencampuri lagi."
Sehabis berkata dengan sedinya ia menghela napas sebentar kemudian sehabis menghisap hun cweenya dia berkata lagi, "Pada waktu waktu mendekat ini aku dengar munculnya seorang ahli waris dari Kauwcu bahkan memiliki
pula seruling pualam putih sebagai tanda kepercayaan Kauwcu bahkan begitu saja akupun dengar kalau orang itu hendak membangun kembali Teh Leng Kau. Urusan ini benar membuat loohu kurang percaya, menurut apa yang loohu ketahui Kauwcu semuanya cuma menerima dua orang murid saja, murid pertama Hu Hong telah diusir keluar dari perguruan sedang muridnya yang kedua adalah "Thay Gak Cungcu" Bok Thian-hong, bila mana dikatakan untuk membangun kembali Teh-leng-bun serta menduduki jabatan Kauwcu ada seharusnya dia yang menjabat tidak disangka kau saat ini berani bersikap keras terhadap suhengmu, loohu sebagai seorang tiangloo tidak akan berpeluk tangan di dalam urusan ini"
Tan Kia-beng mengerti kalau orang ini bukan lain adalah cianpwee dari Teh Leng Kauw tempo hari, saat ini tentunya ia sudah kena dikibulin oleh Bok Thian-hong.
Tanpa terasa lagi dia menghela napas panjang dan berkata, “Cianpwee cuma mengetahui satu tetapi tak mengetahui kedua, boanpwee berhasil memperoleh kepandaian silat dari Kauwcu walaupun betul aku memiliki bukti tulisan asli dari Kauwcu yang memerintahkan aku untuk mendirikan kembali perkumpulan ini lain kali setelah tiba saatnya aku tentu akan mengundang seluruh cianpwee serta Teh Su Ci untuk menjadi saksi.”
Berbicara sampai disini mendadak wajahnya berubah amat keren dan sambungnya lagi dengan suara amat keras, "Cuma saja "Thay Gak Cungcu" Bok Thian-hong jadi orang bersifat ganas dan licik, bahkan menerima perintah dari orang lain untuk membunuhi kawan kawan Bulim. urusan ini tak bisa didiamkan lebih lamalagi karena itu ini hari juga aku orang she Tan akan mewakili Kauwcu untuk membersihkan perguruan dari manusia laknat semacam dia!"
Pak San yang secara tiba-tiba mendengar Tan Kia-beng mengungkat nama Teh Leng Su Ci dengan perasaan heran segera bertanya, "Kau sudah bertemu dengan Teh Leng Su Ci?"
"Benar, cayhe pernah bertemu satu kali dengan mereka, sekarang mereka tinggal didusun Tau Siang Cung"
"Heei!" tak kusangka merekapun masih sehat walafiat!" ujar Pak San sambil menghela napas panjang Kalau memangnya dari perguruan Teh-leng-bun masih terdapat begitu banyak cianpwee yang masih hidup, aku pikir urusan ini lebih baik lain kali saja dibicarakan kembali. loohupun merasa tidak berhak untuk mengurusi peristiwa ini, tidak perduli kau yang benar-benar atau dia yang salah, dengan memandang wajah loohu harap untuk sementara waktu kau suka bersabar apalagi saat ini dia sudah terlalu di tanganmu"
"Oow.... mana bisa dia yang lukai?" sela Wu Mey Jien secara tiba-tiba dari samping. "Itulah hadiah yang diberikan majikannya kepada dia!!"
Dengan dinginnya Pak San melirik sekejap ke arah tapi tak sepatah katapun yang diucapkannya dengan perlahan dia putar badan dan ujarnya terhadap Bok Thian-hong, "Urusan ini hari sebetulnya terjadi secara bagaimana loohu sendiripun untuk sementara waktu tidak bisa mengetahui jelas, baiklah urusan ini kita bicarakan kembali setelah loohu bertemu dengan Teh Leng Su Ci; sekarang kau pulanglah!!"
Sebenarnya Thay Gak Cungcu, Bok Thian-hong mengatur suatu siasat yang bagus untuk menghadapi Tan Kia-beng bukan saja ia sudah mengundang datang si orang tua berbaju kuning itu bahkan di sekeliling tempat itu telah dipasangi sejumlah jago-jago lihay yang nantinya akan bersama-sama mengetahui pemuda tersebut.
Siapa sangka di tengah jalan situasi sudah berubah, bahkan dirinya tanpa bisa dicegah telah terluka dibawah serangan ilmu "Hong Mong Ci Khei" dari Dara Berbaju Hijau.
Bukan begitu saja bahkan cianpwee dari Teh-leng-bun yang diundang olehnya berhasil ditundukkan oleh Tan Kia-beng dengan dua tiga patah kata dia tahu bilamana tidak menggunakan kesempatan ini untuk turun dari panggung bilamana Pak San sudah pergi dirinya akan menemui bencana.
Karenanya dengan berpura pura memperlihatkan sikap yang apa boleh buat dengan mengikuti dari belakang tubuh Pak San berlalu dari tempat itu.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang tanpa angin tanpa hujan kena terhantam sehingga terluka parah saat ini melihat Thay Gak Cungcu sudah pergi meninggalkan tempat itu merekapun dengan arak arakan ikut putar badan dan berlalu dari sana.
Hanya di dalam sekejap saja beberapa orang itu telah lenyap dari pandangan.
Kini di tengah kalangan cuma Tan Kia-beng serta si perempuan cantik dari balik kabut dua orang.
Tetapi waktu itu pemuda tersebut telah terjerumus di dalam keadaan lamunan yang memusingkan kepala dia merasa heran terhadap sikap si gadis berbaju hijau Gui Ci Cian yang diperlihatkan ini hari.
Bok Thian-hong adalah kaki tangan dari Isana Kelabang Emas asalkan dia saat munculkan dirinya dan memaki sudah tentu dia tidak bakal berani melawan Lo Hong-ing secara terbuka
Tetapi kenapa dia tanpa mengucapkan sepatah katapun telah melancarkan satu pukulan dahsyat melukai dirinya? bahkan masih ada Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang tak tahu urusan kena dilukai juga?
Urusan ini benar-benar membuat dia jadi kebingungan
Si perempuan cantik dari balik kabut sewaktu melihat pemuda itu melamun, tanpa terasa lagi sudah maju ke depan dan menegur dengan suara yang halus, “Adik cilik, orang lain sudah pergi jauh! buat apa kau melamun saja di tempat ini? apa yang lagi kau pikirkan? apakah kau sudah jatuh cinta di dalam satu kali pandangan terhadap nona berbaju hijau itu?"
"Ehm..... maukah kau bicara yang genah? apa yang aku pikirkan sama sekali buakn urusan yang kau tebak itu!" seru pemuda itu sambil kerutkan alisnya rapat rapat.
"BAIKLAH!! Bagaimana kalau anggap saja perkataan cici yang salah? kini kedua buah harapanku sudah tercapai, akupun harus segera pergi!"
"Kau hendak pergi kemana?"
Perkataan dari Tan Kia-beng ini sebenarnya keluar tanpa disadari olehnya, tetapi bagi si perempuan cantik dari balik kabut pertanyaan ini benar-benar membuat hatinya terhibur
Walaupun pemuda tersebut masih meragukan asal usul serta tindakannya tetapi tanpa disadari ia sudah mengakui juga persahabatan ini.
Dan dengan wajah tersenyum kegirangan ia buru-buru menjawab.
"Encimu tinggal diempat penjuru, jejakku sukar untuk ditentukan. Lalu kau ini hendak kemana?"
"Kekota Wu Han untuk menemui janji dengan Ciat Hun Kiam Si Huan digunung Cing Shia"
Baiklah kita kakak beradik, bertemu kembali di kota Wu Han" seru perempuan itu setelah selesai berkata ia meloncat pergi.
Sepeninggalannya perempuan itu Tan Kia-beng pun dengan langkah cepat melanjutkan perjalanannya menuju kekota Wu Han.
Sejak peristiwa yang terjadi dilapangan luar kuil "Ya Hu Sie" dimana Liok lim Sin Ci membongkar kedok dari "Thay Gak Cungcu" Bok Thian-hong suasana di dalam dunia kangouw terjadi pula kejadian perubahan yang amat besar.
Partai partai besar yang pernah menderita pembunuhan mulai mengalihkan seluruh dendam perhatiannya ke arah "Thay Gak Cungcu" Bok Thian-hong
Tetapi.... dimanakah letaknya perkampungan Thay Gak CUng?
Dan kini Bok Thian-hong telah pergi ke mana? siapapun tak ada yang tahu!
Beberapa waktu akhirnya mendadak dalam Bulim tersiar suatu berita tentang munculnya Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong bersama-sama dengan Lo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay serta Ong Jian poo cu dari benteng Hwee Im poo di luar kota Wu Han.
Dan dengan tersiaranya berita ini maka suasana dalam dunia kangouw pun menjadi gempar kembali para jago Bulim yang melakukan pengejaran mulai melakukan perjalanan jauh dan bersama-sama kumpul di kota Wu Han.
---0-dewi-0---
Yang paling membuat semua orang tidak paham adalah peristiwa pembunuhan oleh kereta kencana pada waktu yang lalu karena jelas partai Go-bie pay serta benteng Hwee Im poo lah yang paling hebat mengapa kini Loo Hu Cu serta Im poocu Ong Ciang dapat bersatu dengan Thay Gak Cungcu?
Dengan pengetahuan maupun pengalaman yang diperolehnya hingga kini terhadap siasat maupun akal licik dari Bok Thian-hong seharusnya mereka sudah mengetahui sedikit jelas. Tetapi kenapa mereka sebaliknya berbuat demikian? sungguh suatu hal ini merupakan suatu peristiwa yang membingungkan sekali.
Sewaktu Tan Kia-beng tiba di kota Wu Han, tepatnya merupakan saat saat yang paling tegang di dalam Bulim. Tetapi ia sama sekali tidak menggubris akan hal itu dan tanpa memperdulikan lagi semua unsur pemuda itu langsung menuju kerumah penginapan Cau Hian untuk menemui Si Huan.
Sewaktu kakinya melangkah masuk ke dalam pintu rumah penginapan itulah terlihat Si Huan serta Sak Ih sudah tiba disana terlebih dahulu. Kecuali mereka berdua masih ada ciangbunjin dari Bu-tong-pay Leng Hong Tootiang ada disitu.
Tan Kia-beng yang dasarnya memang sudah menaruh rasa hormat dan simpatik terhadap Tootiang tua ini maka buru-buru maju memberi hormat.
"Aaakh! Tidak kusangka Tootiangpun muncul di kota Wu Han, selamat datang, selamat datang!"
"Perjalanan Siauwhiap tentu melelahkan silahkan ambil tempat duduk!” balas Leng Hong Tootiang sambil tersenyum.
“Haaa, haaa, si Si Dara Berbaju Hijau dari Isana Kelabang Emas itu apakah tidak ikut datang?" sambung Si Huan sambil tertawa terbahak-bahak.
Kontan paras muka Tan Kia-beng berubah jadi merah jengah.
"Dia telah pergi!" jawabnya malu malu
Mengungkapkan soal Isana Kelabang Emas segera memancing perhatian dari Leng Hong Tootiang.
"Tan Siauwhiap, apakah kau ada hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas?" selanya.
Tidak bisa dikatakan ada hubungan" bantah pemuda itu buru-buru sembari menggeleng. "Kami tidak lebih hanya kenal karena suatu pertemuan saja, entah Tootiang apakah mengerti jelas tentang hal ihwal tentang Isana Kelabang Emas ini? menurut analisa cayhe rasanya seluruh perbuatan maupun tindak tanduk dari "Cay Gak Cungcu" Bok Thian-hong telah menerima petunuk serta perintah dari pihak Isana Kelabang Emas"
Bicara sampai disitu iapun lantas menceritakan ungalamannya dimana Bok Thian-hong mendatangi kuil "Ya Hu Sie" untuk mendapatkan daftar hitam dari Mey Ling Hwesio lalu bagaimana si Si Dara Berbaju Hijau munculkan diri beserta pertemuannya dengan Ci Lan Pek di tengah jalan.
Leng Hong Tootiang termenung berpikir sejenak kemudian baru ujarnya, "Bilamana ditinjau dari perkataanmu itu maka yang jadi pokok persoalan ada kemungkinan dikarenakan daftar hitam itu teringat sewaktu Mo Cun-ong masih hidup, ia sangat menghargai orang-orang Bulim dan hampir sebagian besar jagoan Bulim selalu mengadakan hubungan degnan dirinya. Ketika pada suatu tahun Mo Cun-ong mendapat perintah untuk menyerang daerah Biauw para jagoan Bulim yang ikut sangatlah banyak sekali sehingga aku rasa peristiwa ini tentunya timbul dikarenakan hal ini Maksud Pinto
terbunuhnya Mo Cun-ong pasti ada hubungannya dengan daftar hitam itu."
"Apa mungkin nama yang semula terdaftar di dalam daftar nama itu kemudian terbocor keluar sehingga orang menaruh rasa dendam?” tiba-tiba si Ciat Hun Kiam Si Huan menimbrung dari samping.
“Karena ada nama yang bocor keluar sehingga orang itu mendendam Mo Cun-ong hal ini memang ada kemungkinan. Tetapi apa hubugannya dengan para jago Bulim yang ikut di dalam penyerbuan itu? Kenapa pula ia harus marah kepada semua orang?” kata Leng Hong Tootiang menggeleng.
“Tan heng, tahukah kamu dimanakah letaknya Isana Kelabang Emas itu?" sela Sak Ih pula dengan keras. “Bilamana letaknya ada di daerah Lam Huang, maka ada delapan bagian pekerjaan ini tentu ditimbulkan karena pembalasan dendam dari rakyat suku Biauw”
Mendengar perkataan itu Tan Kia-beng menggeleng tanda tidak tahu.
"Menurut dugaan Pinto agaknya Isana Kelabang Emas letaknya ada di gurun pasir, bahkan ada kemungkinan istana tersebut bukan lain adalah partai misterius di gurun pasir yang didatangi oleh Cu Swie Tiang Ciang, Tan Ci Tiang, Leng Siauw Kiam khek dari Cing-shia-pay serta Thian Bok susiok dari partai kami pada masa yang lalu" ujar Leng Hong Tootiang sambil mengelus elus jenggotnya.
“Perduli benar atau salah, siauwte tentu akan pergi juga ke gurun pasir untuk memberi tahu keadaan dari suhuku, Ban Lie Im Yen atau si asap selaksa Lie Lok Tong.” kata Tan Kia-beng.
"Bilamana Tan heng hendak pergi biarlah siauwte sekalian ikut mengawasi!" teriak Sak Ih Si Huan berbareng.
Buru-buru Leng Hong Tootiang goyangkan tangannya mencegah.
"Untuk sementara waktu tenangkanlah hati kalian, lebih baik bila dalam menanggapi urusan ini dipikirkan lebih teliti lagi karena jelas pihak Isana Kelabang Emas ada maksud untuk mendapatkan daftar hitam itu dari tangan Siauwhiap ditambah pula Tan Siauwhiap kini menggembol pedang pusaka Giok Hun Koam serta kitab pusaka "Teh Leng Cing Keng" yang dincar oleh orang banyak maka lebih baik untuk sementara waktu jangan berangkat dulu. Kini partai partai besar di dalam Bulim sudah mengirim jago-jagonya untuk menguntit Thay Gak Cungcu menurut pandangan pinto lebih baik kita tunggu sampai urusan Thay Gak Cungcu diselesaikan, kalian baru berangkat ke gurun pasir"
Jadi maksud Tootiang agar kita menginap dulu selama beberapa hari di kota Wu Han ini kemudian baru berangkat ke gurun pasir
"Benar!" jawab Leng Hong Tootiang mengangguk, "Tan Siauwhiap sudah melakukan perjalanan jauh, rasanya kini sudah lelah dan harus beristirahat lebih dulu, bagaimana kalau kita bicarakan pada esok hari saja"
Sejak peristiwa yang terjadi dengan Lei Hun Hweeci pemuda ini memang ada dua hari dua malam tidak dapat tidur pulas, maka setelah diikat oleh Leng Hong Tootiang buru-buru ia bangun untuk mengundurkan diri ke dalam kamar yang telah dipesankan terlebih dulu oleh Si Huan sekalian.
Selesai cuci muka dan berganti pakaian pemuda itu lantas minum secangkir teh untuk mengiringi tidurnya.
Pada saat itulah mendadak tampak bayangan manusia berkelebat. "Miauw Pit Suseng" Bun Ih Peng yang pernah
menggebrak dengan dirinya dibangunan "Bun Hoa" tempo hari goyangkan kipasnya telah tindak masuk sambil tertawa
"Haaa.... haaa.... selamat bertemu! selamat bertemu! selama ini apakah Tan heng baik-baik saja?" serunya sambil merangkap tangan memberi hormat dan tertawa terbahak-bahak.
Mendengar teguran itu, hati Tan Kia-beng rada bergerak, berpikir, “Entah permainan kembangan apa lagi yang hendak dipertontonkan?”
Karena itu iapun segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaa, haaa, terima kasih entah apa maksudmu datang kemari?"
“Terus terang saja kedatangan cayhe ini hari adalah dikarenakan menerima perintah dari majikan istana kami untuk menjenguk saudara serta menyampaikan kekaguman majikan kami" kata Bun Ih Peng dengan serius.
Ia rada mendadak sejenak kemudian sambungnya lagi, “Majikan Isana Kelabang Emas merasa amat kagum atas kelihayan ilmu silat yang saudara miliki. Dan bilamana kau suka suka bergabung dengan pihak Isana Kelabang Emas kami, maka majikan kami akan membantu dirimu untuk merebut gelar jagoan nomor wahid dari seluruh kolong langit pada pertemuan puncak para jago yang akan datang digunung Ui San"
"Kini aku memang lagi murung karena tak tahu alamat dari Isana Kelabang Emas itu" pikirnya dihati. "Kenapa aku tidak pancing saja keluar dari mulutnya?"
Oleh karena itu segera Tan Kia-beng pun tertawa terbahak-bahak.
"Siauwte tak berbakat serta bodoh, bagaimana mungkin berani menerima pujian serta penghargaan dari majikan istana kalian. Siauwte takut tenaga mudaku ini tidak bakal bisa memenuhi harapan dari majikan istana kalian."
Bun Ih Peng yang mendengar nada suaranya rada bermaksud menyetujui hatinya jadi amat girang buru-buru jawabnya, "Tenaga sakti Tan heng amat dahsyat dan menjabat sebagai ketua partai Teh Leng Kauw dikemudian hari bilamana usaha kita berhasil kekuasaan seluruh Bulim di daerah Tionggoan ini tentu akan diserahkan semua sedang mengenai diri majikan istana kami tak banyak hanya ingin Tan heng suka mengerjakan suatu tugas saja buat istana kami!”
Bicara sampai disitu dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah medali pualam dan diangsurkan ketangan Tan Kia-beng.
Dengan cepat pemuda itu menerima medali tersebut dan tertawa tergelak gelak.
"Ooow.... ada urusan yang begitu gampangnya?"
Dan dengan amat teliti dia memeriksa medali tersebut, ketika dilihatnya medali pualam itu mirip sekali dengan medali yang diberikan Su Hay Sin Tou kepadanya kembali dia tertawa dan berkata lagi;
Bukankah Thay Gak Cungcu pun mempunyai medali semacam ini? Lalu sebenarnya siapa saja yang berhak memiliki medali ini? dan apa kegunaannya.
"Tan heng jangan terlalu memandang rendah medali ini, dialah benda yang paling penting untuk memasuki Isana Kelabang Emas, kedudukannya ada di atas Tongcu dari ketua cabang, siapa saja yang memiliki medali ini ada hak dan
kekuasaan untuk memerintahkan para siangcu yang ada dibawahnya."
Tan Kia-beng segera menggeleng.
"Cayhe sama sekali tidak tertarik dengan medali ini, lebih baik untuk sementara waktu kau bawa pulang saja!"
Apakah Tan heng merasa kedudukannya terlalu rendah?"
"Cayhe sama sekali tidak pernah memikirkan besar kecilnya kedudukan sebaliknya hanya dikarenakan sudah bertekad bulat untuk membasmi "Thay Gak Cungcu" Bok Thian-hong dari muka bumi bilamana aku sudah menyanggupi undangan dari majikan istana kalian bukankah aku jadi tak leluasa untuk turun tangan terhadap Bok Thian-hong?"
"Haaa.... haaa.... urusan ini adalah suatu pekerjaan yang amat mudah sekali." teriak si "Miauw Pit suseng" Bun Ih Peng sambil tertawa keras. "Bilamana kau memang sungguh sungguh sudah tekad untuk membasmi "Thay Gak Cungcu" Bok Thian-honghe membawa Tan heng pergi keperkampungan Thay Gak Cung?
"Omongan macam apakah itu?” diam-diam maki Tan Kia-beng di dalam hati "kedudukan dari Thay Gak Cungcu sudah ketahuan umum dan tak ada harga untuk digunakan lagi, maka sekarang kalian hendak menyingkirkan orang itu dengan pinjam tanganku Hmm....! suatu siasat keji sungguh!"
Walaupun dalam hati ia berpikir begitu tapi pada luarnya pemuda itu berpura kaget.
"Bilamana berbuat demikian apakah Heng Thay tidak takut dipersalahkan oleh majikan istana kalian?"
"Bok Thian-hong selalu bekerja tak jujur dan selalu berani membangkang perintah dari majikan istana kami, sekalipun
Tan heng tidak turun tangan terhadap dirinya dari pihak istana kamipun akan menjatuhkan hukuman yang berat kepadanya"
"Perbuatan ini apakah menurut maksud dari majikan kalian....?"
Walaupun majikan kami tidak memberi perintah secara jelas tetapi dari Ci Lan Pak sudah ada petunjuk yang jelas!"
"Kalau begitu heng thay silahkan berangkat lebih dulu biarlah aku orang she Tan menyusul dari belakang,"
"Miauw Pit suseng" Bun Ih Peng segera bangun berdiri, lalu menjura dan meloncat keluar dari dalam kamar.
Menanti Miauw Pit suseng sudah pergi, Tan Kia-beng baru mulai mengadakan analisa terhadap apa yang didengarkan barusan ini.
Ia merasa tindakan dari pihak Isana Kelabang Emas ini mempunyai dua maksud.
Pertama, sudah tentu ingin mendapatkan daftar hitam itu.
Kedua sudah tentu karena kepandaian silatnya jauh melebihi Thay Gak Cungcu bahkan tak ketinggalan pula dirinya adalah Teh Leng kauwcu. Harganya sudah tentu jauh melebihi harnya Bok Thian-hong. Biar kehilangan seorang Bok Thian-hong yang sama sekali tak berharga dengan mendapat ganti seorang yang lihay dan sempurna seperti Tan Kia-beng sudah tentu hal ini sangat menyenangkan sekali.
Ketika kentongan kedua sudah tiba Tan Kia-beng segera bersiap-siap dan tanpa membangunkan lagi Leng Hong Tootiang sekalian dengan cepat ia sudah berlari menuju ke arah yang ditempuh Miauw Pit Suseng tadi.
Siapapun tak ada yang menyangka kalau perkampungan "Thay Gak Cung" yang amat misterius itu sebenarnya terletak dekat dengan kota Wu Han.
Di sepanjang jalan dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang amat dahsyat dengan melalui padang rumput dan memasuki hutan yang gelap, tidak lama kemudian di dalam sebuah lembah yang dilingkari dengan bukit bukit yang tinggi pemuda itu menemukan juga sebuah perkampungan yang persis seperti apa yang dikatakan oleh Bun Ih Peng tadi.
Tanpa ragu ragu lagi laksana samburan anak panah Tan Kia-beng meluncur ke arah perkampungan tersebut
Perkampungan itu benar luar biasa besarnya sehingga mirip dengan sebuah kuil, bangungan rumah itu berdiri hampir menggunakan separuh dari lembah itu sendiri.
Selagi pemuda itu bersiap-siap hendak meloncat masuk ke dalam lembah itulah tiba-tiba tampaklah sesosok manusi meluncur ke arahnya sembari memanggil, "Tan heng, ikutilah diriku."
Kiranya suara dari si Miauw Pit Suseng Bun Ih Peng adanya!
Tan Kia-beng yang bernyali dan berkepandaian tinggi sudah tentu tidak akan takut terhadap apapun, maka pikirnya diam-diam, “Perduli kau mau main setan macam apa pun aku tidak percaya kau ia dapat mengapa apakan diriku"
Ia berputar setengah udara kemudian dengan cepatnya menubruk kesisi tubuh Miaw Pit Suseng.
Agaknya si "Miauw Pit suseng" Bun Ih Peng sangat hafal dengan keadaan di dalam perkampungan tersebut! Dan dengan meminjam bayangan pepohonan serta semak belukar yang gelap dengan cepanya berhasil mendekati halaman
kebun di dalam ruangan penerima tamu dari perkampungan Thay Gak Cung tersebut
Waktu suasana di dalam ruangan amat ramai, kecuali Chun Tiong Ngo Kui" Hwee Im Poocu, Loo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay, "Sin Sie Ci" Lie Ih Sian Sian, Jien Liong So Ong Hong Sin serta Im Yang siusu" Ho Cian masih ada banyak sekali orang yang tidak dikenal
"Thay Gak Cungcu" Bok Thian-hong duduk di atas kursi kebesaran yang ada di sebelah kanan, sedang disebelah kirinya duduklah istri kesayangannya Lei Hun Hweeci.
Tan Kia-beng yang melihat Lei Hun hweeci pun ada disana, wajahnya kontan berubah merah.
Terdengarlah Lo Hu Cu sambil memandang wajah Bok Thian-hong bertanya dengan suara keras, “Pinto ada suatu urusan yang sukar untuk dipahami, Kalau memangnya Bok heng ada hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas kenapa si Si Dara Berbaju Hijau itu bisa turun tangan menyerang kita semua?"
"Haa.... haaa.... urusan yang telah lewat lebih baik tidak usah diungkat kembali" sahut Bok Thian-hong sambil tertawa terbahak-bahak. "Kebanyakan orang perempuan sangat sombong dan ingin menang sendiri, mungkin dikarenakan siuwte sudah menghajar dayangnya Lo Hong-ing maka dia jadi marah. Kau serta aku adalah orang-orang yang sudah ada umur buat apa ribut dengan mereka."
"Heee.... heee.... aku lihat soal ini bukanlah merupakan suatu alasan yang kuat! Menurut penglihatanku ada delapan bagian soal ini tentu disebabkan oleh si wajah putih itu." sambung Lei Hun Hweeci sambil tertawa sinis
Agaknya Bok Thian-hong merasa sangat takut untuk membicarakan lagi persoalan yang menyangkut Dara Berbaju Hijau itu, maka dengan cepat ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
“Perduli ia berbuat begitu dikarenakan urusan apa, pokoknya asalkan bukan maksud dari majikan Isana Kelabang Emas itu sendiri sudah cukup!” katanya.
“Soal terluka dalam kalangan Bulim adalah suatu peristiwa yang jamak, karena itu suatu Bok Thian-hong tak ambil pusing soal tersebut, Lo Hu Cu pun tak mengungkapnya kembali.”
Sebaliknya Hwee Im Poocu yang selalu mengingat ingat soal Tan Kia-beng mendadak menimbrung.
"Kemarin malam setelah diganggu oleh nona tersebut sehingga memberi kesempatan yang bagus buat bangsat cilik itu, kini Bok heng ada maksud hendak berbuat gimana?
"Hmm!” dengus Bok Thian-hong dengan gemasnya, napsu membunuhpun mulai meliputi sinar matanya, "Bangsat cilik itu mengandalkan kitab pusaka peninggalan suhuku tempo dulu kini memandang sebelah mata terhadap siauwte bahkan telah sumbar akan mendirikan kembali perkumpulan Teh Leng Kauw. Manusia sesombong itu siauwte bersumpah hendak membunuhnya mati!”
"Heee.... hee.... buat apa kau pentang gaya dirumah saja?” sindir Kai Huan Hweeci sambil tertawa dingin. “Bilamana sungguh sungguh berani cari orangnya, buat apa beraninya omong kosong dibelakang orangnya!"
Mendengar suara sindiran tersebut Bok Thian-hong segera bangun berdiri, dan tertawa dingin tiada hentinya.
"Hee.... heee.... kau kira aku orang she Bok benar-benar tidak bisa membereskan dirinya? Terus terang saja aku beritahu kepadamu, di sekeliling kota Wu Han sudah aku sebar jebakan yang sangat rapat hmm! Kini tidak bakal ia berhasil meloloskan dirinya kembali. Bilamana semisalnya siasat ini tidak berhasil maka aku akan pancing dia mendatangi Isana Kelabang Emas. Dan sampai waktu itu.... heee.... heee.... sekalipun ia memiliki kepandaian yang lihaypun tidak mungkin bisa berhasil meloloskan dirinya lagi."
Tan Kia-beng yang mendengar perkataan tersebut diam-diam tiada hentinya tertawa dingin pikirnya, “Sekarang aku kasih kesempatan bagimu untuk meneruskan omongan besarmu, sampai waktunya aku akan menyuruh kalian rasakan kelihayan dari siauw ya mu."
Sewaktu ia bersiap-siap hendak melakukan gerakan, sekonyong konyong dari pojokan Timur laut berkelebat datang dua sosok tubuh manusia yang merupakan seorang hweesio serta seorang toosu.
Dengan ketajaman dari pandangan mata Tan Kia-beng, sekali pandang saja ia sudah bisa menemukan kalau hweesio serta toosu itu bukan lain adalah orang-orang dari tujuh partai besar, hanya saja ia tak bisa membedakan dari partai manakah mereka itu
Dengan cepatnya kedua orang itu berkelebat ke atas wuwungan rumah dan mulau menyapu ke arah bawah.
Tidak lama hweesio serta toosu itu, tiba-tiba kembali tampak bayangan manusia berkelebat, kiranya dari arah Barat daya muncul lagi tiga sosok bayangan manusia yang dengan gerakan cepat laksana sambaran kilat lenyap di tengah kegelapan.
"Kenapa malam ini ada begitu banyak orang yang mendatangi perkampungan Thay Gak Cung ini?" pikir Tan Kia-beng karena hatinya rada bergerak. "Apa mungkin kedatangan mereka untuk mengejar jejakku?"
Ketika itu pikirannya jadi tergetar, tak terasa lagi ia sudah menoleh ke arah Miauw Pit suseng.
Siapa nyana entah sejak kapan Bun Ih Peng sudah lenyap tak berbekas, tetapi pengalamannya saat ini sudah banyak akalnyapun bertambah cerdik. Sehingga saat ini ia sama sekali tidak kaget oleh kejadian itu, sebaliknya malah ia tidak mau pikirkan dihati.
Hanya sepasang tangannya dengan cepat dikebaskan ke belakang, tubuhnya dengan sengaja menempel ke atas atap kemudian meluncur ke arah sebuah pohon dihadapannya.
Saat ini ia melihat keadaan di dalam ruangan itu lebih jelas lagi.
Terdengar "Siauw Bian Coa Sim" Go To* Seng dari Chuan Tiong Ngo Kui mendadak buka mulut dan berkata, “Menurut berita yang aku dengan daftar nama dari Mo Cun-ong yang lenyap tempo dulu kini sudah terjatuh ketangan bangsat cilik itu, entah saat ini sudah berhasil didapatkan belum oleh pihak Isana Kelabang Emas?"
"Menurut apa yang siauwte ketahui, agaknya daftar tersebut belum berhasil didapatkan sahut Thay Gak Cungcu sambil menggeleng
"Hee.... hee.... suatu petunjuk yang amat menguntungkan kenapa pihak Isana Kelabang Emas menyingkirkannya kesamping?" sambung Setan Pengejar Nyawa Ong Kian dengan seramnya "Apa mungkin mereka sudah mengubah siasat?"
"Jika ditinjau dari keadaannya mungkin si Dara Berbaju Hijau itu sudah mengadakan pengacauan dari dalam tapi keadaan yang sebenarnya siauwte sendiri juga tidak jelas"
"Pada masa mekar ini kelihatannya Bok Heng sangat jarang mengadakan hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas. urusan ini kau harus menaruh perhatian! Jangan sampai dikarenakan persoalan dengan Dara Berbaju Hijau itu lantas memberi kesempatan buat bangsat cilik itu untuk mengadakan hubungan dengan pihak Isana Kelabang Emas. Waktu itu.... hee.... hee.... mungkin susah payahmu selama ini akan berantakan!"
Bok Thian-hong yang dikatai sana sini, hatinya mulai merasa berdebar debar, lama sekali ia berdiri termangu-mangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu yang selama ini berdiri disamping saat ini sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Karena mereka berdua pernah bergerak di dalam istana Mo Cun-ong, dalam hatipun mungkin bisa menduga kalau di atas daftar hitam itu tentu ada tercantum namanya sendiri.
Kini mendengar nada ucapan Chun Tiong Ngo Kui yang rasanya pihak Isana Kelabang Emas menaruh maksud tidak baik terhadap nama nama yang tercantum dalam daftar hitam itu, dalam hati merasa amat terperanjat.
Mereka berdua bukannya merupakan burung-burung yang bodoh, tujuannya saat ini bekerja sama dengan Bok Thian-hong pun tidak lebih hanya bertujuan untuk menghadapi Tan Kia-beng.
Setelah diketahuinya Bok Thian-hong sebenarnya hanyalah anak buah dari Isana Kelabang Emas yang bermaksud tidak
baik terhadap orang-orang Bulim, perasaan waspada muncul pula meliputi hatinya.
Lama seklai Bok Thian-hong termenung. Mendadak sambil meloncat bangun dari tempat duduknya ia berseru dengan amat gemas, "Bernyali kecil bukan lelaki sejati tidak kejam bukannya suami yang baik. Pihak Isana Kelabang Emas bisa bersikap tawar dan tidak senang terhadap diriku semuanya disebabkan pekerjaanku terlalu lamban dan tidak berhasil mendapatkan daftar nama itu. Hee.... hee.... menurut pikiranku lebih baik kita membuat lagi suatu daftar nama menurut ingatan masing-masing kemungkinan bilamana jumlah orangnya masih kurang, bisa kita terangkan nama nama secara sembarangan, pokoknya bisa diserahkan kepada mereka, hal ini kiranya sudah cukup."
"Bok Thian-hong, nyalimu sungguh amat besar! Terdengar suara bentakan yang amat menyeramkan berkumandang keluar memenuhi seluruh ruangan.
Mendengar suara bentakan ini seketika itu juga paras muka Thay Gak Cungcu sudah berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, saking kagetnya ia hadir melongo longo dengan mata terbelalak lebar. Sehingga untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.
Para tetamu yang ada di dalam ruangan sewaktu mendengar dari tempat kegelapan berkumandang datang suara manusia, sebagian besar sudah pada meloncat bangun.
Tetapi sewaktu melihat sikap dari Bok Thian-hong yang kelabakan dan ketakutan setengah mati itu mereka jadi tertegun dan berdiri termangu ditempatnya masing-masing.
Wajah Bok Thian-hong sudah berubah semakin pucat, akhirnya ia menunduk dan menghela napas panjang.
Tan Kia-beng yang mendengar suara betnakan tersebut segera bisa mengetahui kalau suara tersebut tentu berasal dari Miauw Pit suseng" Bun Ih Peng tak terasa lagi hatinya merasa amat terperanjat juga.
Thay Gak Cungcu biasanya bersikap gagah dan berangasan tidak disangka kini bisa begitu takutnya terhadap pihak Isana Kelabang Emas" pikirnya dihati Jika ditinjau dari soal ini terang terangan pengaruh mereka tidaklah kecil.
Selagi pikirannya berputar keras itulah mendadak terdengar suara pujian kepada sang Budha yang gegap gempita kemudian dari atas wuwungan rumah muncullah seorang hweesio tua yang mencekal tongkat serta seorang Tootiang yang pada punggungnya tersoren sebilah pedang panjang.
Para jagoan yang hadir di dalam ruangan semula sudah dibuat terkejut dan hati terasa tidak tenteram oleh suara ****nga Bun Ih Peng tadi, kini mendengar lagi suara pujian kepada sang Budha hatinya semakin terperanjat.
Ketika mereka bersama mendongakkan kepalanya ke atas wuwungan rumah, maka terlihatlah orang itu bukan lain adalah Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay serta Phu Cing Taysu dari Ngo Tay san.
Jangan dilihat sikap Bok Thian-hong yang begitu ketakutan terhadap pihak Isana Kelabang Emas sehingga kini mirip dengan tikus bersemu muka kucing. Tetapi terhadap orang-orang dari tujuh partai besar ia sama sekali tidak memandang sebelah matapun.
Kini melihat munculnya orang-orang itu ia segera menengadah ke atas dan tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... ciang bun jien berdua malam buta mengunjung perkampungan Thay Gak Cung kami entah ada urusan apa yang penting?"
Omintohud! orang beribadat tidak pernah berbohong, kedatangan pinceng hanya khusus buat menyelidiki persoalan berdarah diperkampungan Cui-cu-sian yang dilakukan oleh sicu."
Sepasang mata Kwang Hoat Tootiang laksana sambaran kilat tajamnya menyapu sekejap seluruh ruangan, sewaktu melihat Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu ada disana lantas segera merangkap tangannya menjura.
"Haa.... haa.... kiranya Lho Hu TOo heng serta Ong heng sudah pada datang semua, hal ini sungguh bagus sekali serunya sambil tertawa tawar.
Mereka berdua bukannya telah melupakan peristiwa pembunuhan berdarah yang terjadi di dalam perkampungan Cui-cu-sian, darah belum kering kereta kencana masih segar membekas dibenaknya, merekapun sudah tahu kalau perbuatan itu besar kemungkinan dilakukan oleh Thay Gak Cungcu yang ada di hadapan kini.
Dan kini mendengar persoalan tersebut diungkap kembali oleh Kwang Hoat Tootiang jantungnya terasa tergetar amat keras.
Loo Hu Cu serta Ong Jian semuanya adalah manusia manusia yang berhati licik, walaupun hatinya tergetar tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah.
"Benar.... benar, kenapa kalian berdua tidak turun dulu untuk bercakap-cakap!" sahutnya berbareng.
Malam ini pihak Kun-lun-pay serta Ngo Thay-san sudah pada bulatkan tekad untuk menagih hutang berdarah dengan pihak Thay Gak Cungcu, selesai menjelaskan duduknya persoalan mereka berdua lantas melayang turun ke atas anak tangga di depan pintu ruangan tersebut.
Thay Gak Cungcu yang melihat dari pihak mereka cuma muncul dua orang semakin tidak memandang sebelah matapun terhadap mereka.
Maka begitu melihat munculnya kedua orang itu buru-buru ia merangkap tangannya menjura dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaa.... haa.... kalian berdua hendak mencari pembunuh peristiwa berdarah itu, lalu mengapa kalian mendatangi perkampungan Thay Gak Cung kami ini? Apa mungkin kalian sudah menaruh curiga kalau pembunuhan berdarah itu aku orang she Bok yang melakukan?"
Hati manusia sukar diraba, setelah peristiwa kereta kencana tempo hari, mau tak mau pinceng harus berpikir secara begini!"
"Haa.... haa kalau betul peristiwa berdarah itu aku orang she Bok yang melakukannya, lalu kalian berdua kini punya rencana untuk berbuat apa?"
"Omintohud! Walaupun Sang Buddha berwelas asih tetapi bilamana urusan sudah terdesak hingga pada puncaknya, terpaksa pinceng harus mengambil jalan hutang darah harus dibayar dengan darah!"
Mendengar perkataan itu Bok Thian-hong tertawa semakin keras lagi.
"Haa....haa Thaysu perkataanmu sungguh cepat sekali diucapkan keluar, lalu kita hendak bereskan urusan ini dikemudian hari ataukah ini hari juga?” tantangnya.
Mungkin disebabkan banyaknya urusan yang diluar dugaan terjatuh ke atas kepalanya membuat perasaan halous yang ada pada dirinya tempo hati kini hilang lenyap tak berbekas sama sekali.
Paras muka Bok Thian-hong kini sudah dipenuhi dengan napsu membunuh yang berkobar kobar sinar matanya berkilat tajam kemudian selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati sang hweesio serta sang toosu kedua orang itu.
Perlahan-lahan Kwang Hoat Tootiang mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung, kemudian dengan suara bentaknya, “Ruangan ini sangat luas, dari pada kemudian hari lebih baik kita bereskan pada ini hari juga!"
Waktu itu para jagoan yang ada di dalam ruangan sudah pada meninggalkan tempat duduknya masing-masing dan berdiri dikedua belah sisi Bok Thian-hong. Cuma Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu saja yang paling mengenaskan, terlihatlah mereka berdiri di tempat kejauhan dan rasa bingungnya entah harus berbuat bagaimana baiknya.
Bilamana ditinjau dari keadaan serta situasi pada saat ini keadaan dari Thay Gak Cungcu sangat menguntungkan sekali, tetapi justru Bok Thian-hong ingin menyelesaikan urusan ini dengan suatu akhiran yang buruk. Mendadak merangkap tangannya menjura ke arah mereka berdua dan ujarnya.
"Telah lama aku mendengar akan kedahsyatan dari ilmu pedang aliran Go bi pay yang menjagoi seluruh Bulim, kali ini siauwte ingin sekali minta bantuan terhadap Hoo Hu Too heng
agar susah sedikit berpayah menemani tantangan permainan kali ini."
Beberapa patah perkataan ini begitu diucapkan keluar bukan saja Kwang Hoat Tootiang serta Phu Cing thaysu merasa kaget dan melengak. Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu sendiripun dibuat tertegun. Ia sama sekali tak menyangka kalau Bok Thian-hong bisa melakukan tindakan semacam ini.
Bilamana mengabulkan permintaannya, keretakan antara ketujuh partai selama ini yang belum pernah diakhiri dengan suatu pertumpahan darah mungkin akan merupakan suatu kejadian yang sangat mengerikan. Partai Go-bie pay tidak akan sanggup untuk menahan serangan gabungan dari keenam partai besar lainnya.
Bilamana tidak mengabulkan permintaannya. Seketika itu juga hubungan dengan Bok Thian-hong akan putus, dan berarti susah payahnya selama ini akan sia-sia belaka.
Karena persoalan ini lama sekali toosu tersebut tak mengucapkan sepatah katapun.
Bok Thian-hong yang melihat sikap keragu raguannya itu maka dengan cepat tertawa dingin dengan seramnya.
“Hee.... hee.... bilamana Loo Hu heng ada keberatan di dalam hal ini, maka siauwte harap bagaimana kalau Hwee Im Poocu Ong heng yang menggantikannya?"
Inilah titik kelicikan serta kepandaian dari Bok Thian-hong, sewaktu ia melihat Loo Hu Cu serta Hwee Im Poocu terus menerus membaiki dirinya ia sudah merasa bilamana mereka berdua tentu ada sesuatu maksud tertentu, karena itu kini sengaja memaksa mereka untuk menggantikan dirinya terjun ke dalam kalangan pertempuran.
Walaupun Hwee Im Poocu sudah kenal dengan orang-orang Tujuh partai besar, tetapi hubungannya jauh lebih jarang daripada Loo Hu Cu sendiri.
Maka itu setelah mendengar suara permintaan tersebut sinar matanya menyapu sekejap ke arah Loo Hu Cu kemudian sambil menggigit kencang bibirnya, ia mencabut keluar pedangnya dari dalam sarung dan menubruk ke arah Kwang Hoat Tootiang.
Hanya di dalam sekejap saja, ia sudah kebaskan pedangnya keseluruh pihak musuhnya dan melancarkan tujuh buah serangan sekaligus.
"Bagus! Bagus!" teriak Kwang Hoat Tootiang dengan gusarnya. "Demi keadilan Bulim, terlebih dulu pinto akan membalaskan dendam bagi arwah beratus ratus anggota benteng Hwee Im Poo yang telah mati, setelah itu, baru mencari pembunuh sesungguhnya untuk menuntut balas...."
Pedangnya digetarkan keras membentuk tujuh kuntum bunga pedang untuk memunahkan datangnya ketujuh serangan gencar dari Ong Jian.
Suara desiran seketika itu juga memenuhi angkasa, diantara bekerjanya cahaya keemas emasan yang menyilaukan mata seketika itu juga tubuh Hwee Im Poocu telah terbungkus ke dalam lautan bunga pedang.
Dari antara ketujuh partai besar didaalm Bulim Siauw-lim-pay serta Ngo Thay pay lah yang mengandalkan ilmu pukuklan untuk menjagoi dunia kangouw. kalau partai Tiam-cong-pay mengutamakan ilmu menotok jalan darah, sedang sisanya empat partai lainnya semuanya mengutamakan ilmu pedang.
Kwang Hoat Tootiang yang menjabat sebagai ketua partai diambah pula melancarkan serangan di dalam keadaan gusar kedahsyatannya sungguh luar biasa.
Dia merasa benci gemas dan mendongkol karena Ong Jiang telah melupakan dendam berdarah dari Bentengnya yang kini malah membantu musuh besarnya untuk menghalang halangi dirinya untuk menuntut balas.
Oleh sebab itu begitu turun tangan dia sudah menggunakan jurus serangan yang paling dahsyat.
Dari pihak Hwee Im Poocu sendiri sebenarnya ia tak ada maksud buat bermusuhan dengan pihak Kun-lun-pay, tetapi rasa tamak serta keinginan yang muluk muluk memaksa ia tak dapat melepaskan cita-citanya itu sampai di tengah jalan.
Kini mendengar suara sindiran dari Kwang Hoat Tootiang yang menusuk telinga dalam hati merasa amat sedih seperti diiris iris, belum sempat ia memberi penjelasan tubuhnya sudah terdesak ke dalam keadaan yang sangat berbahaya sekali.
Bok Thian-hong betul-betul merupakan seorang yang amat licik dan kejam, kini melihat Ong Jiang sebentar lagi bakal dapat terluka bukannya memberi bantuan, ia malah melengos ke samping dan berdiri sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Lama kelamaan Loo Hu Cu mulai merasa tidak sabaran, tangannya meraba gagang pedang yang tersoren pada punggungnya dan bersiap-siap untuk maju memberi bantuan.
Mendadak....
"Hee.... hee.... murid durhaka yang menjual nenek moyangnya sendiri, kau bermaksud main kerubut?" bentak seseorang sambil tertawa dingin.
Diantara berkelebatnya cahaya pedang yang menyilaukan mata tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang amat gagah dengan menyilangkan pedangnya dihadapan badannya.
Sekali pandang saja Tan Kia-beng telah dapat menangkap kalau orang itu bukan lain adalah Sak Ih dari Bu-tong-pay pada saat yang bersamaan pula tampak bayangan bayangan manusia lain yang berkelebat Leng Hong Tootiang dari Bu-tong-pay bersama-sama dengan si Ciat Hun Kiam Si Huan pun muncul di tengah kalangan.
Sejak semula Loo Hu Cu memang sudah mendendam terhadap Sak Ih, kini mendengar pemuda memaki semaunya seketika itu juga jadi amat gusar.
Pedangnya dengan disertai suara desiran tajam membabat ke arah depan, bersamaan itu pula bentaknya dengan gusar.
"Bangsat licik yang bermulut kotor, kau berani memaki angkatan yang lebih tua? Kau bangsat yang tak berpendidikan.
Sak Ih yang melihat datangnya serangan babatan itu dengan tepat menangkisnya ke arah depan.
"Hmm! Perbuatan semalam kauj lebih mirip dengan anjing maupun babi!" balas makinya dengan dingin. "Kau masih bisa mengaku dirimu sebagai cianpwee? Hee, hee sungguh tidak mempunyai malu!"
Sreet! Sreet! Hawa pedang berdesir segulung demi segulung, hanya di dalam sekejap mata dia telah melancarkan sembilan buah serangan gencar yang tidak memberi sedikit kesempatanpun baginya untuk bicara.
Loo Hu Cu jadi cemas bercampur gusar, pedangnya mengencang kemudian di tengah suara bentaknya yang amat
nyaring tenaga dalamnya segera disalurkan memenuhi seluruh tubuh.
"Traang! Traang!" dengan menimbulkan percikan bunga bunga api ia sudah menangkis kesembilan buah serangan itu dengan keras lawan keras.
Sak Ih sadar kalau tenaga dalamnya amat sempurnya kini melihat toosu itu mengajak adu tenaga hatinya jadi berdesir.
Maka itu jurus serangan pedangnya segera diubah, dengan mengandalkan kegesitan badannya ia berusaha agar jangan sampai pedangnya terbentur dengan pedang lawan.
Sesaat Sak Ih lagi bergebrak dengan amat ramainya melawan Loo Hu Cu dari tengah kalangan mendadak berkumandang datang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati.
Kiranya lengan si Hwee Pocu Ong Jian berikut pedangnya berhasil terwayat putus oleh serangan Kwan Hoat Tootiang darah segar memancar memenuhi angkasa sehingga hampir hampir saja tubuhnya jatuh rubuh ke atas tanah.
Tetapi ia tidak malu disebut sebagai seorang jagoan Bulim maka dengan wajah sedih ia berusaha menutupi mulut lukanya dengan tangan sebelah dan teriaknya ke arah Kwang Hoat Tootiang.
"Toosu bangsat tindakanmu sungguh kejam! hadiahmu ini hari akan aku orang she Ong kembalikan pada tiga tahun kemudian!
Selesai berkata tubuhnya segera meloncat melewati tembok dan lenyap dari pandangan mata.
"Haa.... haa Ong Poocu kau terlalu berkecil hati betapa berharganya ratusan nyawa manusia kalau diganti dengan
sebuah lengan, apa kau masih tidak terima?" sahut Kwang Hoat Tootiang sambil tertawa dengan terbahak-bahak.
Bagaimanapun Leng Hong Tootiang dari Bu-tong-pay ini jauh lebih berpikir panjang dan tidak berani berani berlaku gegabah melihat Sak Ih serta Loo Hu Cu telah bergerak mencapai pada taraf puncaknya tak terasa dia sudah kerutkan dahi.
"Sute! Cepat berhenti!" bentaknya sambil maju ke depan, dan toosu ini tidak mau melihat diantara ketujuh partai besar saling bunuh membunuh sendiri.
Walaupun Sak Ih masih berada dalam keadaan gusar tetapi dia tidak berani membangkang juga perkataan dari Ciangbun suhengnya, maka itu dengan cepat serangannya ditarik kembali dan mundur sejauh delapan depa ke belakang.
Waktu itulah Leng Hong Tootiang baru maju ke depan menjura ke arah Loo Hu Cu
"Atas tindakan gegabah dari suteku yang menuruti hawa napsu, harap Too heng jangan marah" katanya halus, "Biarlah pinto mewakili sute untuk mohon maaf!"
Dengan wajah penuh kegusaran Loo Hu Cu mendengus berat.
"Tujuh partai besar selamanya bertindak bersama-sama, sekalipun ada kesalah pahaman, tidak sukar untuk diberesakan." ujar Leng Hong Tootiang lagi. "Kenapa Too heng harus bergabung dengan pihak Thay Gak Cungcu? Apakah kau masih tidak mau percaya kalau seluruh pertumpahan darah yang telah terjadi adalah hasil kerjanya?"
Padahal Loo Hu Cu sudah jauh lebih jelas mengetahui urusan ini dari pada orang lain, hanya ia berpura pura pilon
saja Kini setelah ditegur secara terbuka oleh Leng Hong Tootiang kontan saja mulutnya serasa terkunci tak sepatah katapun yang bisa diucapkan keluar.
Semula maksud tujuan Bok Thian-hong adalah ingin mengadu mereka untuk bertarung mati matian terlebih dulu, tetapi kini melihat Loo Hu Cu sudah memperlihatkan sikapnya yang menyesal maka dengan cepat segera bertindak maju ke depan.
"Loo Hu TOo heng! Bilamana kau takut menyinggung pihak Bu-tong-pay sekarang silahkan beristirahat dulu! Biarlah siauwte yang mencoba-coba bagaimanakah kedahsyatan dari ilmu silat aliran Bu-tong-pay."
"Hee.... hee.... kendati mereka sui heng te maju bersama-sama pun belum tentu pinto merasa takut." bantah Loo Hu Cu sambil tertawa dingin. "Cuma saja pinto ingin untuk sementara waktu melepaskan diri dari persoalan ini."
Kemudian ia masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung dan siap-siap untuk mengundurkan diri dari dalam ruangan.
Melihat kejadian itu Bok Thian-hong segera tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
“Haaa.... haa rahasia dari perkampungan Thay Gak Cung ini sudah kau ketahui, apakah malam ini kau sehidung kerbau bermaksud hendak meninggalkan tempat ini?" Loo Hu Cu jadi melengak dibuatnya.
Mendadak Bok Thian-hong menarik kembali suara tertawanya, dan dengan wajah penuh hawa nafsu membunuh bentaknya, "Bawa kemari!"
Dan dari balik ruangan muncullah dua belas orang bocah pemunah hujan yang pada mnyoren pedang, empat yang berada di depan berjalan masuk sambil menggotong seorang lelaki yang tubuhnya sudah berlepotan darah.
Dari tempat kejauhan semua orang bisa mengetahui kalau orang itu bukan lain adalah Hwee Im Poocu, Ong Jiang yang baru saja melarikan diri itu.
Orang lain yang melihat masih tidak merasa seberapa gusar, sebaliknya bagi Loo Hu Cu sangat murka sekali.
"Apa maksudmu?" bentaknya dengan keras
"Hee.... hee.... barang siapa yang bermaksud mencari tahu rahasia perkampungan Thay Gak Cung kami, harus dibunuh!" jawab Bok Thian-hong seram. "Dia sudah dipastikan harus mati disini, demikian juga dengan dirimu, kaupun tidak bakal bisa meloloskan diri dari perkampungan Thay Gak Cung ini dalam keadaan hidup hidup.
Selesai berkata, hawa napsu membunuh mulai meliputi seluruh tubuhnya, para jago yang hadir di dalam ruangan itupun kini mulai menyebar keempat penjuru.
Entah sejak kapan di atas wuwungan rumah pun tampak bayangan manusia berkelebat kiranya seluruh lingkaran tempat itu telah terkurung rapat rapat.
Ketika itu Loo Hu Cu benar-benar merasa amat menyesal bercampur mendongkol, pedang segera dicabut keluar kemudian sambil menuding ke arah Bok Thian-hong makinya.
"Bilamana kau berani mengganggu seujung rambut dari Hwee Im Poocu aku segera maui nyawamu"
"Hii.... hii.... hey toosu bau!" kau berani berbicara begitu sombong apakah tidak takut lidahnya jadi keseleo? baik biarlah loo nio bunuh dirinya terlebih dulu sebagai contoh!"
Dengan langkah yang lemah gemulai ia berjalan langsung kehadapan Hwee Im Poo cu
"Kau berani!" bentaknya keras, karena kegusaran dihati Loo Hu Cu benar-benar telah memuncak.
Pedangnya digetarkan kemudian langsung menubruk ke arah depan.
Tiba-tiba.... segulung angin pukulan berhawa dingin yang berbau amis menggulung datang memaksa ia harus melancaran dua buah serangan untuk memunahkan datangnya serangan itu.
Ketika sinar matanya berputar tampaklah "Chuan Tiong Ngo Kui" sambil mencekal sebilah pedang pencabut nyawa laksana lima orang malaikat dari akhirat menyebar diri ke seluruh ruangan siap-siap melancarkan serangan.
Melihat hal tersebut hatinya segera merasa berdesir juga.
Telah lama toosu ini mendengar bagaimana keji dan dahsyatnya barisan pedang "Ngo Kui Im Hong Kiam Tin" tersebut. kin isudah tentu Loo Hu Cu tak berani menerjang masuk seorang diri.
Maka dengan mengambil kesempatan sewaktu ia rada merandek itulah Lei Hun Hwee ci sudah menerima tubuh Hwee Im Poocu dari tangan keempat orang bocah pelenyap hujan itu.
Sehingga dua belas orang bocah "Hue Yu Tong Ci" bersama-sama mencabut keluar pedang pendeknya dan kontan membentuk barisan pedang di tengah ruangan itu.
Dari pihak tujuh partai besar bersama-sama dengan si Ciat Hun Kiam Si Huan hanya berjumlah enam orang, kalau hanya untuk menghadapi barisan pedang "Ngo Kui Im Hong Kiam Tin" saja masih cukup bertenanga, tetapi kecuali itu masih ada Bok Thian-hong suami istri, Jien Liong so sekalian beserta kedua belas bocah "Hua Yu Tong Ci" hal ini jadi tidak gampang lagi.
Apalagi pihak musuh adalah gelap sedang pihak mereka terang didalamnya masih tersembunyi berapa banyak jagoan lihay mereka sendiripun tidak tahu.
Karena itu walaupun mereka berenam sudah pada mencabut keluar senjata tajamnya tetapi siapapun tak ada yang berani turun tangan terlebih dulu.
Seketika itu juga suasana di dalam ruangan jadi sunyi senyap, dan dibawah sorotan sinar lilin wajah kelima setan itu berubah jadi semakin menyeramkan.
"Bilamana diantara kalian ada yang sayang pada nyawa sendiri lebih baik saat ini juga bersumpah untuk setia dengan aku.... hee.... hee.... sekarang masih belum terlambat!" ujar Bok Thian-hong secara tiba-tiba dengan seramnya.
Baru saja ia selesai berbicara, mendadak terdengar suara jeritan ngeri memenuhi angkasa, kiranya dari atas wuwungan rumah terlempar jatuh sesosok mayat lelaki berbaju hitam yang sudah berlepotan darah segar.
Bok Thian-hong jadi amat terperanjat.
"Kawan dari mana yang telah berkunung datang?” bentaknya gusar.
Tubuhnya segera melayang ke atas wuwungan rumah itu.
Di tengah kegelapan kembali suara jeritan bergema memecahkan kesunyian, Sreeet Sreet! dua sosok bayang dengan cepatnya menubruk datang.
Bok Thian-hong sama sekali tidak mempersiapkan akan hal itu, maka di dalam keadaan gugup telapaknya berturut turut melancarkan dua buah serangan gencar ke depan sedang tubuhnya menggunakan kesempatan itu menyusup ke belakang,
"Platak.... platak....!" darah segar bagaikan curahan hujan memancur keempat penjuru, dua sosok bayangan yang menubruk datang tadi telah tergetar ke belakang sehingga menumpuk ujung wuwungan dan rubuh ke atas genting.
Kiranya kedua sosok bayangan manusia itu bukan lain adalah dua sosok mayat yang tanpa kepala.
Sewaktu Bok Thian-hong terdesak lurus ke atas permukaan tanah itulah tampak sesosok manusia laksana sambaran kilat langsung menubruk ke arah Lei Hun Hweeci.
Terdengarlah suara jeritan kaget dari Lei Hun Hweeci bergema diudara, tubuhnya dengan cepat mengundurkan diri sejauh delapan depa ke belakang.
Dan tubuh Hwee Im Poocu yang ada di tangannya kini sudah kena direbut oleh orang yang baru saja datang itu.
Laksana kitiran Bok Thian-hong berputar di tengah udara kemudian datang menerjang ke arah orang tersebut.
Melihat serangan dari Bok Thian-hong itu orang tadi sambil mengepit tubuh Hwee Im Poocu mendadak melancarkan serangan dahsyat ke depan.
Di tengah suara bentakan yang amat keras, segulung angin pukulan yang serasa membelah bumi membabat laksana roda menghantam ke depan
Dalam keadaan gugup Bok Thian-hong tidak berani menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras, maka tubuhnya segera berjumpalitan di tengah udara dan melayang sejauh lima depa ke belakang.
---0-dewi-0---
JILID: 26
Saat itulah ia baru menemukan kalau orang itu bukan lain adalah Tan Kia-beng sang pemuda yang paling ditakuti olehnya.
Tak terasa lagi dengan wajah menyengir kejam serunya, "Bagus, bagus, aku memang sedang bersiap-siap untuk mencari dirimu, tidak disangka kau malah datang untuk menghantur kematian sendiri!"
Waktu Lei Hun Hweeci pun sudah melihat jelas kalau orang yang datang itu bukan lain adalah Tan Kia-beng, maka wajahnya kontan berubah jadi merah jengah.
"Manusia yang tak punya liang sim, kiranya kau" jeritnya keras.
Wajah Tan Kia-beng pun mulai diliputi dengan napsu membunuh yang berkobar kobar, ia segera tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
“Haa, haaa ini hari adalah waktu buat perkampungan Thay Gak Cung kalian untuk musnah dari muka bumi, tidak usah banyak cingcong lagi cepat-cepatlah mempersiapkan diri!!"
Thian Sie Ci Lie Ih Sian yang masih teringat dendam satu pukulannya segera menggoncangkan sie poa besinya kemudian tertawa dingin tiada hentinya.
Bersama-sama dengan "Jien Liong So" Ong Hong Sin satu dari kiri yang lain dari kanan siap-siap menerjang ke depan.
Darah segar yang berceceran memenuhi ruangan segera memancing pula napsu membunuh dari Chuan Tiong Ngo Kui terdengar kelima orang itu bersama-sama memperdengarkan suara suitannya yang amat aneh dengan barisan pedang Ngo Kui Im Hong Kiam Tin mulai bergerak, dengan menimbulkan suara aneh yang memekakkan telinga seketika itu juga sinar pedang berkelebat memenuhi angkasa dan menerjang ke arah Loo Hu Cu sekalian.
Leng Hong Tootiang segera enjotkan badannya menerjang kesisi Loo Hu Cu bentaknya keras, "Biarlah aku bersama-sama dengan Loo Hu Tooheng menghadapi barisan pedang "Ngo Kui Im Hong Kiam Tin" Sak sute serta Si Siauwhiap pergilah menghadapi kedua belas bocah "Hun Yu Tong Ci" itu!"
Baru saja suara bentakan tersebut selesai diucapkan serangan pedang dari kelima orang setan itu sudah melanda datang, bersamaan pula barisan pedang dari kedua belas orang Hua Yu Tong Ci" bagaikan ambruknya gunung Thay-san sudah menggulung datang.
Seketika itu juga seluruh ruangan telah dipenuhi oleh hawa pedang yang menyilaukan mata, angin pukulan bagaikan ambruknya bukit melanda ke depan tiada hentinya.
Suatu pertempuran sengit segera berkobar dengan ramainya.
Phu Cing Caysu dari Ngo Bay Pa serta Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay yang siap-siap maju untuk membantu Leng
Hong Tootiang sekalian untuk bersama-sama menghadapi barisan pedang Ngo Kui Im Hong Kiam Tin. Tetapi mendadak dari atas wuwungan rumah berkumandang datang suara bentakan keras.
"Im Yang siu siu" Hoa Cian dengan memimpin sejumlah busu busu yang berbaju hitam bersama-sama menerjang datang memaksa kedua orang itu mau tidak mau balikkan badan memberi perlawanan.
Saat itu kecuali Bok Thian-hong suami istri yang berdiri disamping untuk menonton jalannya pertempuran sisanya hampir boleh dikata telah turun tangan.
Tan Kia-beng yang melihat kejadian itu dalam hati merasa amat gusar bercampur mendongkol
Seruling "Pek Giok Tie segera dicabut keluar, di tengah suara suitan yang amat keras dia segera melancarkan serangan dengan menggunakan jurus jurus ilmu seruling "Uh Yeh Cing Hun" yang sangat dahsyat.
Bayangan seruling memenuhi angkasa disertai suara yang ngeri bergema saling susul menyusul, kiranya lengan kanan dari Sin Sie cie berhasil kena dibabat putus menjadi dua.
Saat ini hawa amarahnya sampai pada puncakya, napsu mau membunuhpun sudah memenuhi seluruh benak. Di tengah suara tertawa dinginnya yang amat seram seruling pualam ditangannya laksana kilat meluncur ke depan.
Darah segar keluar memancur memenuhi angkasa, dada "Sin Sie cie Lie Ih Sian kini sudah tertusuk tembus oleh seruling itu
Tan Kia-beng yang melihat serangannya mencapai sasarannya tidak berhenti sampai disitu saja, tubuhnya berputar cepat kemudian membabat ke arah "Jen Liong So"
Serangannya kali ini semakin dahsyat hawa pukulannya telah menggunakan tenaga sebesar sepuluh bagian.
Serangan yang datangnya mendadak membuat "Jien Liong So" tidak sempat menghindar lagi, terpaksa sambil menggigit kencang bibirnya melancarkan satu pukulan untuk menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
Terdengar suara jeritan yang menyayat hati berkumandang keluar, tubuh Jien Liong So kena terpental setinggi satu kaki dan terjatuh ke atas anak tangga di depan pintu.
Darah segar muncrat keluar dari mulutnya mencapai sejauh dua tiga depa, sehingga binasakan dua orang musuh besarnya, semangatnya jadi berkobar kobar sedang napsu membunuhpun mulai meliputi wajahnya.
"Bangsat pembunuh serahkan nyawamu!" bentaknya keras.
Seruling pualamnya dengan disertai cahaya yang menyilaukan mata menerjang ke tengah udara dan menubruk ke arah Bok Thian-hong datangnya serangan ini benar-benar luar biasa sekali.
Bok Thian-hong sebagai seorang Cungcu dari perkampungan yang amat besar melihat datangnya serangan yang amat dahsyat tidak berani ayal lagi, kakinya segera melayang ke samping sejauh delapan depa dan tertawa dingin tiada hentinya.
Bilamana kau memang bermaksud hendak mencari mati, biarlah kini aku orang she Bok penuhi keinginanmu itu!"
Dan sepasang telapak tangannya berputar serta berkelebat di tengah udara kemudian bersama-sama membabatnya ke depan, segulung angin pukulan berhawa dingin yang menusuk tulang laksa tiupan angin salju menggulung ke arah tubuh Tan Kia-beng yang meluncur datang itu.
Pada saat yang bersamaan Lei Hun Hweeci melayang ke samping dan menggencet ke arah pemuda tersebut
Mereka suami istri berdua telah mengetahui kalau mati hidup sukar ditentukan pada malam ini, maka begitu turun tangan mereka telah melancarkan serangan degnan sepenuh tenaga.
Angin pukulan menderu deru menggetarkan seluruh ruangan dinding tembok pada jebol tertembus pukulan, wuwungan dan atap pada rontok membuat debu mengepul menyilaukan mata, keadaannya ini benar-benar sangat berbahaya sekali.
Kini di tengah ruangan besar telah terpecah empat rombongan pertempuran sengit, Kwang Hoat Tootiang serta Phu Cing thay su yang harus melawan musuhnya dalam jumlah yang lebih banyak kini rada ngotot untuk memunahkan datangnya serangan.
Sedang Loo Hu Cu serta Leng Hong Tootiang yang paling payah diantara kesemuanya sejak tempo dulu Chuan Tiong Ngo Kui kecundang dibawah serangan Giok Hun Kiam dari Tan Kia-beng mereka telah barisannya sedemikian rupa hingga kini jauh lebih dahsyat kekuatannya.
Sehingga walaupun Loo Hu Cu adalah jagoan pedang nomor wahid dari lingkungan tujuh partai besar, sedang Leng Hong Tootiang sebagai seorang ciangbunjin Butong pay, tetapi untuk menghadapi serangan yang ganas dari barisan tersebut
untuk sementara waktu tak ada kekuatan untuk balas menyerang.
Tan Kia-beng yang bergebrak melawan Bok Thian-hong sembari bertempur matanya tiada henti melirik ke tengah kalangan ia merasa jumlah orang dari perkampungan Thay Gak Cungcu semakin lama semakin banyak, bahkan sampai sebuah ruangan besar seperti itu terpenuhi dua tiga ratus orang kini sudah terjejal penuh.
Pikirannya jadi berjalan, ia merasa bilamana pertempuran ini dilanjutkan, ada kemungkinan tak akan menguntungkan bagi pihaknya.
Disamping itu dalam hati ia sudah bulatkan tekad untuk melenyapkan Bok Thian-hong malam ini juga, maka hawa murninya segera ditarik dari pusar menuju keseluruh tubuh.
Di tengah suara suitannya yang amat panjang seruling putih ditangan kanannya dialihkan ketangan kiri sedang tangannya yang lain mencabut keluar pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam.
Begitu senjata pusaka ini dicabut keluar dari sarungnya, tampaklah serentetan cahaya kebiru biruan yang menyilaukan mata memantul keluar dari ujung pedang dan kemudian menyebar kemana mana sewaktu pedang tersebut digetarkan.
"Malam ini juga aku orang she Tan hendak mewakili mendiang suhu untuk membersihkan perguruan dari manusia laknat." bentak pemuda itu dengan gusarnya. "Bok Thian-hong! kalian suami istri berdua lebih baik serahkan saja nyawa kalian!"
Dengan tangan kiri mencekal seruling, tangan kanan mencekal pedang tubunya segeramenubruk ke arah depan
Tampaklah cahaya biru dan cahaya putih melesat di tengah udara, laksana seekor ular dengan gesitnya meluncur ke depan dan seketika itu juga mengurung seluruh tubuh Bok Thian-hong suami istri di dalam lingkungan cahaya yang menyilaukan mata.
"Aaaakhh....! suara jeritan kaget meluncur keluar kiranya seutas rambut Lei Hun Hweeci sudah terkena terbabat hingga keakar akarnya hal ini membuat perempuan itu jadi kaget dengan wajah berubah pucat pasi menjauhkan dirinya sejauh satu kaki dua depa ke belakang
Bok Thian-hong yang sedang mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan datangnya serangan gencar dari Tan Kia-beng mendadak mendengar istri kesayangannya menjerit kaget, di dalam hatinya ia sudah mengira istrinya terluka
Maka buru-buru tubuhnya meloncat balik untuk memberi pertolongan, siapa sangka waktu itulah Tan Kia-beng sudah membentak keras, cahaya tajam membelah udara.
Seketika itu juga lengan kiri Cay Gak Cungcu kena terbabat putus jadi dua bagian
Darah segar segera mancur ke tengah udara yang diikuti tubuhnya mundur ke belakang dalam keadaan sempoyongan, dalam hati Bok Thian-hong tahu bila saat ini ia tidak cepat-cepat melarikan diri sukar juga untuk mempertahankan nyawanya lagi.
Maka sambil menggigit bibirnya ia memungut kembali potongan lengannya, kemudian diiringi suara jeritan ngeri yang sangat menyeramkan bersama-sama dengan Lei Hun Hweeci melarikan diri menuju ke belakang perkampungan
Kini napsu membunuh sudah meliputi seluruh wajah Tan Kia-beng, maka begitu melihat Bok Thian-hong suami istri melarikan diri dia segera tertawa tergelak dengan seramnya.
“Haa.... haa tikus tua!! Kau masih ingin melarikan diri?"
Di tengah suara gelak tawanya yang sangat mengerikan itu, mendadak tubuhnya muncul ke tengah udara.
Siapa sangka waktu tubuhnya mencapai pada ketinggian lima depa itulah dari belakang tubuhnya bergema datang suara desiran hawa pedang.
Kiranya Chuan Tiong Ngo Kui" telah meninggalkan Loo Hu Cu serta Leng Hong Tootiang yang kemudian bersama-sama menubruk datang untuk memaksa Tan Kia-beng mau tak mau barus melayang kembali ke atas permukaan tanah.
Bersamaan waktunya pula barisan pedang mereka mulai bergerak dan mengurung pemuda itu rapat rapat.
Tan Kia-beng dengan cepat melancarkan serangan dengan menggunakan seruling serta pedangnya, maka hanya di dalam sekejap saja ia sudah melancarkan sepuluh jurus.
Terasa hawa pedang memenuhi angkasa satu cahaya putih, yang lain cahaya kebiru biruan dua buah rentetan pelangi panjang kelihatan menari nari tiada hentinya diudara yang disertai suara suitan tajam membetot hati, keadaannya benar-benar menyeramkan.
Kali ini Chuan Tiong Ngo Kui sudah lebih berpengalaman, mereka sama sekali tidak membiarkan pedang Siang Bun Kiam nya terbentur dengan pedang Giok Hun Kiam tersebut, karena itu walaupun serangan Tan Kia-beng amat gencar tetapi untuk beberapa saat lamanya tak sanggup juga untuk meloloskan diri dari dalam barisan itu.
Pada saat itulah, tiba-tiba.... Suatu suara bentakan merdu memecahkan kesunyian dan sesosok bayangan merah dengan disertai cahaya tajam yang menyilaukan mata seloncat turun dari atas wuwungan rumah setinggi empat lima kaki itu langsung masuk ke dalam barisan.
Kecepatan gerakan ini laksana kilat dan terdengar suara jeritan ngeri mendirikan bulu roma. Kiranya Si Setan Pengejar Nyawa Ong Kiam sudah kena tertusuk sehingga tembus ke dada, sehingga tubuh rubuh ke atas tanah dengan bermandikan darah.
Ketika melihat serangannya telah mencapai hasil orang itu segera kebutkan pedangnya kembali menggulung ke arah empat setan lainnya.
Dengan ketajaman mata Tan Kia-beng sekali pandang saja ia telah menemukan kalau orang itu adalah Cuncu, Mo Tan-hong maka buru-buru, teriaknya, "Hong moay mereka adalah Chuan Tiong Ngo Kui yang mencelakai ayahmu"
Mendengar jeritan itu dengan sinar mata penuh kegusaran dan wajah yang kaku Mo Tan-hong menjerit keras, "Bilamana ini hari aku tidak berhasil menghancurkan mereka, aku bersumpah tidak akan jadi orang
Walaupun bicara gampang tetapi apakah Chuan Tiong Ngo Kui adalah manusia manusia yang dengan mudah diganggu?
Melihat matanya si Setan Pengejar Nyawa keempat orang setan lainnya sudah dibuat gusar maka bagaikan harimau kalap mereka bersama-sama menubruk ke depan.
Angin pukulan berhawa dingin segulung demi segulung melanda datang Bau amispun memenuhi ruangan suara suara aneh terdengar memekikkan telinga sedang kabut hitam yang sangat tebal meluas hingga mencapai tiga kali lebih
Kini boleh dikata masing-masing pihak telah mengeluarkan seluruh kepandaian silat yang mereka miliki. Tan Kia-beng yang mempunyai maksud untuk bantu Mo Cun-cu membalas dendam disamping melenyapkan pengacau dari muka bumi, maka ujung pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya segera digetarkan hingga mencapai tiga depa lima enam diantara desiran angin yang tajam di dalam sekejap mata ia telah melancarkan lima, enam buah jurus dan terakhir menggunakan jurus Ciong Gwa Su Liuw atau sumber miskin ikut mengalir.
Kontan pinggang Kouw Hun Hui atau si setan penggait sukma Chin wat terbabat putus jadi dua bagian dan di tengah suara jeritan ngeri tubuhnya rubuh di atas tanah dengan usus dan isi perut yang terbabat keempat penjuru.
Hong Tiauw Kui atau si setan romantis Kong It Ming yang melihat kejadian itu hatinya tergetar, tubuhnya buru-buru mundur ke belakang
Siapa tahu cahaya terang berkelebat lewat, dan jalan darah "Kie Bun Hiat"nya kena tertotok keras sehingga belum sempat ia mendengus tubuhnya sudah rubuh binasa.
Hanya di dalam sekejap mata saja dari antara Chuan Tiong Ngo Kui sudah ada tiga orang yang mati sehingga "Siauw Bian Coa Sim" Go Tou Seng serta "*** Hun Bu Biang" Ong Thiu yang melihat saudara saudaranya pada mati hati jadi terkejut bercampur gusar.
Maka dengan gencarnya mereka melancarkan dua tusukan kilat kemudian enjotkan badan melayang keluar dari ruangan tersebut dan melarikan diri cepat-cepat.
Mo Tan-hong mana suka melepaskan mereka dengan begitu saja tubuhnya pun segera iktu berkelebat dari belakangnya.
"Hong moay untuk sementara lepaskan saja mereka pergi buru-buru teriak Tan Kia-beng dengan suara keras. "Lebih baik kita bereskan dulu kawanan bajingan ini"
Di tengah suara jeritannya itu sang tubuh dengan cepat menerjang ke arah kawanan busu busu berbaju hitam diantara kebasan seruling serta babatan pedang suara jeritan ngeri terdengar menggetarkan angkasa potongan potongan lengan dan kutungan kaki berterbangan di tengah udara laksana setan setan yang lagi menari.
Mo Tan-hong yang mendengar teriakan dari Tan Kia-beng tadi tidak membangkang karena ia mengetahui mengejarpun tidak berguna sehingga saat ini gadis tersebut telah mengumbar hawa amarahnya di atas tubuh para busu berbaju hitam.
Sejak ia menelan pil pencuci otot yang dibuat oleh Ui Liong-ci tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang amat pesat apa lagi ditambah pula dengan pemberian beberapa pil mujarab dari Han Tan Loo jien membuat tenaga dalam yang dimilikinya pada saat ini sama dengan hasil latihan selama enam puluh tahun.
Kini napsu membunuh telah memuncak, pedangnya laksana pelangi yang terbang di angkasa berkelebat tiada hentinya kesana kemari, darahpun berceceran laksana aliran air sungai, suara jeritan sambung menyambung mirip dengan paduan suara kumpulan setan serta malaikat.
Jago-jago dari kalangan Hek-to yang ada di dalam perkampungan Thay Gak Cung ini sekalipun sudah jadi
kebiasaan mereka untuk berbuat ganas, tetapi untuk menghadapi serangan serangan gencar dari Leng Hong Tootiang, Kwang Hwat Tootiang Phu Cing Thay su serta Loo Hu Cu beberapa orang sebagai ketua partai besar, semakin lama semakin terdesak juga.
Apa lagi saat ini muncul pula dua orang jagoan kecil yang ganas, keadaannya semakin mendadak, maka hanya di dalam sekejap saja sudah ada dua puluh orang yang menemui ajalnya.
Ketika Tan Kia-beng dengan menggunakan jurus yang terdahsyat untuk menghadapi para busu berbaju hitam itu mendadak matanya menemukan Hwee Im Poocu Ong Jiang berada dalam keadaan sudah payah wajahnya pucat pasi bagaikan mayat dan saat ini dengan mengandalkan tangan tunggalnya untuk menghadapi serbuan dari para bu su berbaju hitam dengan payah hatinya jadi merasa sangat tak tega.
Di tengah suara bentakan yang keras pedangnya dengan membawa cahaya kebiru biruan menubruk ke depan
Sreeet....! sreeet....! Sreeet....! Bagaikan menebang tebu saja, hanya di dalam sekejap, ia sudah membinasakan dua belas orang sehingga sisanya pada melarikan diri keempat penjuru.
Sebenarnya Hwee Im Poocu dapat bertahan hanya karena terpaksa, kini setelah Tan Kia-beng tiba di tempat itu sukar baginya untuk mempertahankan diri, lututnya jadi lemas dan rubuhlah ia ke atas tanah
Tan Kia-beng memang mempunyai watak welas asih, sekalipun ia mengetahui kalau Hwee Im Poocu bukan seorang
manusia yang betul-betul berasal dari kalangan lurus tetapi iapun bukan seorang yang terlalu jahat
Dan melihat mulut luka bekas kutungan lengannya mengucurkan darah terus mengerus segera masukkan kembali pedangnya ke dalam sarung, kemudian laksana sambaran kilat menotok kedua puluh delapan jalan darahnya.
Saat itu di dalam ruangan besar tampak bayangan manusia saling sambar menyambar suara jeritan kalap dan bentakan gusar bercampur baur di dalam perkelahian yang dahsyat
Selesai menotokkan jalan darah pada tubuh Ong Jiang itu Poocu dari benteng Hwee Im Poo, kembali Tan Kia-beng menyalurkan hawa murninya untuk menggerakkan seruling kembali datangnya serbuan yang kalut dari para bu su berbaju hitam.
Loo Hu Cu yang melihat pemuda itu sembari menolong Hwee Im Poocu harus menahan pula serangan dari pihak musuh, rasa tamak kembali meliputi dirinya.
Pedangnya segera dibabatkan ke depan lalu meloncat kesisi Tan Kia-beng bentaknya, “Kawanan tikus, berani menyerang orang lain dalam keadaan siap!”
Pedangnya dengan cepat membabat ke depan sedangkan tangan kirinya laksana sambaran kilat menyambar ke arah pedang Giok Hun Kiam yang ada pada pinggang Tan Kia-beng.
Tan Kia-beng yang sedang menolong Hwee Im Poocu dengan menggunakan Khie Tiauw Yen dari ilmu yang termuat di dalam kitab pusaka "Teh leng Keng" mendengar suara bentakan dari Loo Hu Cu pada mulanya ia mengira dia datang untuk memberi bantuan, sehingga sama sekali tidak menyangka kalau toosu itu ternyata turun tangan untuk merebut pedangnya.
Bersamaan itu pula Hwee Im Poocu baru saja tersadar kembali melihat kejadian itu hatinya jadi amat cemas
Mendadak tubuhnya menubruk ke depan sambil bentaknya dengan keras.
"Loo Hu Too heng apa maksudmu?"
Sreet! segulung angin pukulan dengan amat keras menggulung ke arah pergelangan tangan Loo Hu Cu yang hampir menyentuh gagang pedang Giok Hun Kiam sehingga terpaksa buru-buru ia menarik kembali serangannya dan menoleh ke depan.
Sewaktu ditemukan kalau orang yang melancarkan serangan ke arahnya sehingga maksudnya tak tercapai adalah Hwee Im Poocu hatinya jadi teramat gusar, dan dengan dahsyat ia kirimkan pula satu serangan gencar ke atas tubuhnya.
Hwee Im Poocu yang melihat Tan Kia-beng suka menolong dirinya, dan untuk membalas budi tersebut dengan paksakan diri ia mengirim satu pukulan untuk menghalangi maksud jahat dari Loo Hu Cu, maka kini mana dia tahan untuk menerima datangnya serangan yang amat dahsyat itu?
Di tengah suara bentrokan sepasang tangan yang amat keras terdengarlah suara jeritan ngeri bergema keluar tubuhnya sudah terjengkang sejauh tujuh, delapan depa
Waktu itulah Tan Kia-beng baru sadar apa yang telah terjadi, tubuhnya mendadak berputar ke belakang kemudian dengan sadar mata yang penuh kegusaran bentaknya, "Kau toosu bangsat yang berhati rakus, tidak lebih mirip dengan seekor babi dan anjing siauw ya ini hari juga akan tagih nyawamu!"
Di tengah berkelebatnya cahaya yang menyilaukan mata, seruling pualam tersebut berturut turut melancarkan tiga buah serangan sekaligus.
Dasar sifat Loo Hu Cu memang amat licik, saat itu ia masih pura pura berlagak pilon dengan membentak kebingungan, “Hey apa maksudmu berbuat demikian?”
Pedang kunonya berputar melindungi seluruh tubuh, dengan cepatnya ia berhasil memunahkan datangnya ketiga buah serangan seruling dari Tan Kia-beng itu.
Melihat diantara kawan sendiri terjadi pertarungan buru-buru Leng Hong Tootiang dari Butong pay serta Phu Cing thaysu dari Ngo Thay pay meloncat memisah.
“Urusan yang telah lalu hanyalah kesalah pahaman saja, harap Tan Siauwhiap jangan turun tangan jahat" serunya hampir berbareng.
"Hee.... hee.... urusan tempo dulu memang benar dikarenakan kesalah pahaman, tetapi perbuatannya baru saja untuk mencuri pedangku serta memukul roboh Hwee Im Poocu tidak bisa dipungkiri lagi!" teriak Tan Kia-beng sambil tertawa dingin.
Leng Hong Tootiang serta Phu Cing thaysu yang mendengar perkataan tersebut jadi melengak dibuatnya, dan ketika menoleh lagi ke belakang bayangan dari Loo Hu Cu telah lenyap tak berbekas, kiranya ia mengerti dirinya tak bakal bisa menangkan pemuda itu maka secara diam-diam telah meloyor pergi
Ketika mereka berdua sama-sama menghela napas panjang itulah, mereka pada melihat ke arah Hwee Im Poocu yang kelihatannya majikan dari Benteng Hwee Im Poo ini telah
kempas kempis kehabisan tenaga karena lukanya yang barusan ini
Tan Kia-beng yang melihat dia melindungi pedangnya sehingga jadi terluka demikian parah hatinya jadi merasa terharu, maka iapun segera membungkuk untuk memeriksa lukanya.
Tetapi saat itu Leng Hong Tootiang sudah membentak keras, "Luka dalamnya itu untuk sementara waktu tidak akan membahayakan nyawanya. lebih baik kita bereskan dulu kawanan bajingan ini"
"Baik! sahut Tan Kia-beng sembari menggetarkan seruling pualam di tangannya. "Untuk sementara harap tootiang suka menjaga keselamatan dari Ong Poocu biarlah cayhe turun tangan membereskan bajingan bajingan ini
Tubuhnya meloncat masuk ke dalam kalangan pertempuran dan mulai mengumbarkan hawa amarahnya pada tubuh para bu su berbaju hitam itu.
Di tengah babatan telapak serta hantaman seruling, dimana angin menyambar darah dan daging segera beterbangan diiringi suara jeritan yang mengerikan.
Di dalam sekejap mata kembali, pemuda itu melukai sepuluh orang musuhnya.
Suasana di dalam kalangan pada saat ini benar telah amat kacau, tiga rombongan dan tinggallah serombongan jago-jago yang memiliki kepandaian tinggi serta bersifat ganas.
Tak perduli di tempat itu sudah dipenuhi dengan darah segar serta mayat mayat yang bertumpukan, mereka tetap menerjang terus tiada hentinya.
Di sudut lain kedua belas bocah Hua Yu Tong Ci dengan mengandalkan kedua belas bilah pedang pendeknya mengurung si Ciat Hun Kiam Si Huan serta Sak Ih rapat rapat.
Kedua orang jagoan muda yang berasal dari partai kenamaan ini melihat lama sekali mereka belum juga berhasil membobolkan kepungan dari barisan pedang tersebut hatinya mulai merasa cemas.
Maka sambil menambahi tenaga dalamnya ia mencekal pedangnya semakin erat dan mendadak Si Huan tertawa panjang.
"Haaa.... haa.... bilamana hanya sebuah barisan pedang yang kecil saja tak dapat menerjang jebol, maka julukan si Ciat Hun Kiam dari aku orang she Si jadi sia-sia belaka!” teriaknya.
Di tengah berkelebatnya cahaya hijau, hawa pedang semakin menajam. Dan di dalam waktu singkat itu ia telah membabat delapan buah serangan laksana ombak disamudra tiada hentinya menggulung ke arah kedua belas bocah itu.
Kontan barisan pedang tersebut terpukul dan membuka sebuah celah yang agak lebar.
Mengambil kesempatan yang agak baik ini Sak Ih bersuit nyaring, pedangnya segera melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu pedang Bu-tong-pay yang terlihay "Jan Jan Pek Swie Siauw Tiong Han" sehingga di dalam sekejap mata hawa pedang berdesir disertai sambaran cahaya yang menyilaukan mata.
Suara jeritan ngeri saling susul menyusul, tiga orang bocah kontan kena terbabat putus lengan serta batok kepalanya yang membuat barisan tersebut jadi kacau.
Tepat pada waktunya Tan Kia-beng pun telah menerjang datang di tengah suara bentakan yang amat keras, telapaknya menyapu ke depan dengan menggunakan ilmu sakti "Jie Khek Kun Yen Kan Kun So" yang dahsyat itu. Sekali itu juga sebuah angin taupan bagaikan melanda keluar laksana ambruknya gunung Thaysan merekahnya samudra luas.
Kembali terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, berkumandang di angkasa empat orang bocah Hua Yu Tong Ci kena tersapu hingga mencelat ke tengah dan menumbuk tembok pekarangan.
Seketika itu juga tubuh mereka kena tergencet sehingga berubah jadi empat potong kueh daging yang berlumuran darah
Sisanya beberapa orang tadi pecah nyali dan melarikan diri terbirit birit.
Tan Kia-beng yang mengetahui kedua belas bocah cilik itu merupakan kuku garuda dari pihak Cay Gak Cungcu, dan hampir semua peristiwa berdarah dilakukan oleh mereka Mendadak ia tertawa seram.
“Haaa.... haa.... kalian masih ingin melarikan diri? heee.... heee, urusan tidak akan segampang ini!"
Mendadak seruling Pek Giok Siauw nya dimasukkan kembali ke dalam sakunya. Sepasang telapak dengan tenaga Im dan Yang laksana kilat membentuk gerakan lingkaran gambar Thay Khek lalu ditekan ke tengah angkasa.
Blaaam.... Blaaam....! Di tengah suara dengusan berat lima orang bocah Hua Yu Tong Ci beserta delapan orang Bu su berbaju hitam yang sedang menubruk datang jatuh terjengkang di atas tanah. Dari panca indera mereka
mengucurkan darah hidup yang bagaikan air mancur memancar keseluruh penjuru ruangan.
Ilmu silat yang benar-benar luar biasa ini bukan saja membuat seluruh Bu su berbaju hitam yang terjatuh tersisa di dalam ruangan jadi kaget setengah mati, sekalipun beberapa orang ciangbunjin partai besar yang hadir pun dibuat terkesima oleh kejadian ini.
Kiranya di dalam keadaan gusar dan napsu membunuh meliputi wajahnya, secara tidak sadar Tan Kia-beng sudah mengeluarkan ilmu pukulan "Djie Khek Kun Yen Kan Kun So" nya yang maha dahsyat itu
Dengan pandangan dingin Tan Kia-beng menyapu sekejap ke arah para bu su berbaju hitam yang dibuat berdiri bagaikan patung itu, dan mendadak bentaknya keras, "Aku orang she Tan dengan memandang kemuliaan Thian, kali ini aku ampuni kalian semua tapi bilamana dikemudian hari kalian masih juga mengikuti Bok Thian-hong untuk berbuat jahat dan jadi bibit bencana buat dunia kangouw.... hee.... hee kedua belas bocah Hua Yu Tong Ci adalah suatu contoh yang paling bagus. Sekarang ayoh cepat menggelinding pergi dari sini!"
Tadi, kawanan bajingan ini dengan tidak memperdulikan keselamatannya sendiri menyerbu dan menerjang terus seperti orang kalap kini sesudah melihat ceceran darah segar serta potongan lengan, kaki dan mata yang bergelimpangan memenuhi seluruh ruangan hatinya baru mulai bergidik
Selesai mendengar perkataan dari pemuda tersebut, bagaikan memperoleh pengampunan dari kaisar, mereka putar badan dan melarikan diri terkencing kencing
Mo Tan-hong yang sedang merasa gusar bercampur mangkel kini secara tiba-tiba sudah kehilangan musuhnya, tidak urung kerutkan juga alisnya rapat rapat, mendadak dia melayang kesisi Tan Kia-beng sembari menjerit melengking, "Hmm! Kaupun bisa bertindak seperti orang baik!"
Dengan sedihnya Tan Kia-beng menggeleng dia menghela napas panjang kemudian menuding ke arah mayat serta darah yang berceceran mengotori seluruh ruangan
Cukup sampai disini sudah terasa rada keterlaluan apalagi diantara mereka pun banyak yang bertindak karena keadaan yang terpaksa...." ujarnya.
Perlahan-lahan Mo Tan-hong menunjuk ke atas lantai, tapi sebentar kemudian ia sudah menjerit keras, "Aaaayaaaa.... sungguh menyeramkan!"
Ketika ia meraba badannya sendiri gadis itu baru mengetahui kalau seluruh tubuhnya pada saat ini sudah dibasuhi dengan darah manusia.
Jikalau bukannya pakaiannya yang dikenakan pun berwarna merah, mungkin saat ini ia sudah berubah menjadi seorang manusia berdarah
Mo Tan-hong yang selamanya hidup menjadi istana dan belum pernah mengalami peristiwa pembunuhan yang mengerikan boleh dikata kali ini baru untuk pertama kali ia turun tangan menyambut nyawa orang lain, dalam hati merasa takut bercampur menyesal, sehingga hampir hampir saja air mata mengucur keluar.
"Seram....! sungguh menyeramkan!" serunya dengan nada sedih. "Sungguh tak disangka aku pun bisa jadi seorang algojo aku benar merasa menyesal
"Heee hee Untuk menyesal sih tidak perlu" sela Tan Kia-beng sambil tertawa dingin. "Kalau sudah niat jadi pemuda pemudi Bulim kenapa harus takut saling bunuh membunuh? apakah kau pernah berpikir, bagaimanakah ayahmu menemui ajalnya? peristiwa berdarah yang terjadi diperkampungan Cui Bu Sian hasil kerja siapa? disamping itu berpuluh puluh bahkan beratus ratus macam peristiwa berdarah sudah dilakukan oleh siapa? terus terang saja aku beritahu kepadamu! membiarkan seorang bajingan hidup dimuka bumi berarti pula mengurangi satu bagian kesempatan bagi orang-orang baik, terhadap orang-orang jahat memang sudah seharusnya menggunakan cara bunuh itu untuk menyetop pembunuhan, sudah.... sudahlah kau jangan bersedih hati! Pertumpahan darah sudah mulai berlangsung di dalam Bulim. Sejak ini hari kita seharusnya menggunakan tindakan yang lebih kejam lagi urnuk menghadapi orang-orang semacam mereka itu....! Tahu?
Semakin berbicara semangatnya semakin berkobar sehingga akhirnya sepasang matanya memancarkan cahaya berapi api yang memancar keempat penjuru, membuat setiap orang merasakan hatinya bergidik.
Sak Ie serta Si Huan yang mendengar perkataan itu serentak tertawa bergelak dan bertepuk tangan keras keras.
"Semangat jantan dari Tan heng membuat siauwte sekalian merasa amat kagum" serunya keras. "Kami sangat setuju dengan pendapat Tan heng untuk menggaris bawahi pendapatmu itu"
Lain halnya dengan Leng Hong Tootiang serta Phu Cing Siansu sekalian mereka hanya bisa gelengkan kepala sambil diam-diam berpikir, “Orang ini mempunyai semangat yang
jantan berkepandaian silat amat sempurna cuma sayang napsu membunuhnya terlalu tebal"
Waktu itu suasana di dalam perkampungan Thay Gak Cung sudah berubah jadi sunyi senyap, di dalam ruangan besarpun tinggal mereka bertujuh serta Hwee Im Poocu yang mendekati ajalnya.
Perlahan-lahan Leng Hong Tootiang berjalan kesisinya, lalu sambil gelengkan kepalanya ia menghela napas.
"Hee.... hee bilamana ditinjau dari tindakan orang ini pada waktu waktu mendekat memang seharusnya ia dihukum mati" katanya, "Tetapi demi persahabatan Bulim terpaksa pinto harus menghantarnya kembali ke Benteng Hwee Im Poo"
Mendadak.... Mo Tan-hong seperti sudah teringat akan sesuatu, dengan cepat dia menyambung
"Bilamana bukannya Tootiang mengungkap persoalan ini aku sendiripun hampir hampir melupakannya, dari Ui Liong supek aku telah mendapatkan sebutir pil "Sak Leng Tan" yang sangat mujarab, asalkan pil ini diberikan kepadanya maka seluruh luka yang diderita akan sembuh dengan sangat cepat
Sembari berkata dari dalam sakunya ia mengulurkan sebutir pik berwarna merah darah yang kemudian diberikan ke tangan Leng Hong Tootiang.
Toosu dari Butong pay ini segera menerimanya dan dijejalkan kemulutnya Ong Jiang.
"Bagaimana kalau Tan Siauwhiap sekali lagi bantu menyalurkan hawa murni ke dalam tubuhnya?" ujarnya pula sambil menoleh ke arah pemuda tersebut
Tenaga dalam "It Khie Tiauw Yen" merupakan suatu tenaga yang paling sempurna setelah terjadi pertempuran tadi
sebenarnya Tan Kia-beng tidak ingin menggunakannya kembali. tetapi Leng Hong Tootiang sudah buka mulut membuat ia merasa tidak enak untuk menampik.
Terpaksa dengan langkah perlahan ia bertindak maju untuk membimbing Hwee Im Poocu bangun, setelah diurut sebentar dengan menggunakan cara semula ia mulai menyalurkan hawa murni It Khie Tiauw Yen" nya ke dalam tubuh Ong Jiang.
Pil "Sak Leng Tan" adalah sebuah mujarab yang dibuat Ui Liong-ci menggunakan sisa dari bahan obat pembuat pil pencuci tulang pembersih otot.
Ong Jiang sesudah menelan obat itu ditambah pula Tan Kia-beng sudah bantu salurkan hawa murni ke dalam tubuhnya, boleh dikata luka yang dideritanya sudah hampir sembuh separuh bagian cuma disebabkan banyak darah yang mengalir keluar pada waktu itu air mukanya masih kelihatan pucat pasi bagaikan mayat.
Matanya perlahan-lahan dipentangkan melihat Leng Hong Tootiang sekalian mengerubungi dirinya dan melihat pula wajah Tan Kia-beng memperlihatkan tanda tanda kepayahan bahkan duduk saling berhadap hadapan dengan dirinya, dalam hati dia lantas tahu kalau pemuda yang disebut sebagai "Anakan iblis" ini kembali sudah menolong jiwanya. Budi yang demikian besarnya ini membuat ia jadi terharu tak kuasa lagi dengan sedih Hwee Im Poocu menghela napas panjang "Malam ini aku orang she Ong baru menyadari bila perbuatanku tempo dulu adalah sangat rendah bagaikan babi dan anjing, sungguh menyesal sekali" katanya, "Berkat pertolongan dari Tan Siauwhiap serta saudara saudara sekalian yang sudah menolong jiwaku budi ini dikemudian hari tentu aku orang she Ong balas satu persatu.”
“Kami sih tidak menginginkan pembalasan budi dari dirimu sahut Mo Tan-hong sambil tertawa. Hanya semoga saja kau masih mengingat ingat dendam berdarah yang dialami benteng Hwee Im Poocu kalian hingga jangan sampai bersekongkol kembali dengan pihak musuh dan selalu berusaha merebut pedang pusaka milik orang lain."
Sebetulnya Hwee Im Poocu sudah merasa amat menyesal, kini setelah mendengar pula perkataan dari Mo Tan-hong ia merasa semakin tak punya muka untuk berdiam lama lama disana.
Mendadak ia menghela napas panjang lalu bangun berdiri, sesudah menjura ke arah semua orang dengan jalan sempoyongan dia berlalu dari dalam ruangan. Hanya di dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan
Menanti Hwee Im Poocu sudah lenyap dari pandangan, Tan Kia-beng baru menoleh ke arah sang gadis sambil mengomel.
"Orang ini sudah merasa menyesal, buat apa kau harus menyindir dirinya lagi dengan kata-kata yang begitu pedas?!"
"Hee.... hee.... terhadap manusia yang tidak berperasaan semacam dia, diucapi dengan beberapa patah kata apa tidak boleh?” seru Mo Tan-hong sambil tertawa dingin. "Bilamana dibicarakan sebenarnya ia masih merupakan tamu terhormat dari ayahku, tetapi dengan cara yang rendah dan keji dia masih juga kepingin menipu kitab pusaka Sian Tok Poo Liok dari tangan Ui Liong supekku."
Tan Kia-beng yang mendengar perkataan itu hanya bisa menghela napas sedih, dan ia jadi bungkam sendiri
Pada saat ini perkampungan Thay Gak Cung boleh dikata sudah hancur berantakan, semua orang merasa tiada gunanya lagi untuk berdiam lebih lama disana.
Pertama tama Kwang Hoat Tootiang dari Kun-lun-pay serta Phu Cing Siansu dari Ngo Thay-san yang berpamit dulu untuk berlalu dari sana.
"Peristiwa yang menimpa perkampungan Thay Gak Cung kini sudah selesai pinto pun ada seharusnya buru-buru kembali ke gunung Bu-tong-san guna mempersiapkan pertemuan para jago digunung Ui San yang bakal berlangsung tidak lama lagi" ujar Leng Hong Tootiang kemudian sambil memandang tajam wajah sang pemuda. Apakah partai kami akan mengambil bagian dan siapa yang akan mewakili sampai kini masih belum pinto putuskan, karenanya pinto harus buru-buru kembali ke gunung untuk mengadakan perundingan. Sedangkan mengenai perjalanan ke gurun pasir, pinto masih tetap dengan perkataan semula, harap Siauwhiap suka berpikir dulu tiga kali sebelum melakukan tindakan."
Selesai berkata dengan mengajak Sak Ie serta Si Huan mereka meloncat keluar dari ruangan dan berlalu dari sana.
Mo Tan-hong yang melihat Tan Kia-beng termenung dan berdiri mematung disana, buru-buru mendorong badannya.
"Eeei engkoh Beng, kau lagi marah dengan diriku?" tegurnya.
"Huuss.... kau jangan sembarangan menebak, bagaimana mungkin aku bisa marah terhadap dirimu! Aku sedang memikirkan apakah perlu aku melakukan perjalanan seorang diri ke gurun pasir!"
"Buat apa kau terburu-buru hendak berangkat ke gurun pasir! Walaupun Chuan Tiong Ngo Kui sudah mati tiga, tapi
masih ada dua orang lagi yang berhasil melarikan diri, aku terka mereka tentu sudah melarikan diri dan kembali kemarkasanya di daerah Chuan Tiong, apalagi Thay Gak Cungcu suami istri pun sudah berhasil melarikan diri dan sukar untuk diduga apakah mereka hendak memperlihatkan permainan setan lagi atau tidak. Menurut pikiranku lebih baik kita berangkat dulu ke daerah Chuan Tiong lalu hancurkan sisa sisa dari Chuan Tiong Ngo Kui"
Tidak! Menurut anggapanku Chuan Tiong Ngo Kui tidak lebih cuma bisul dikulit, Isana Kelabang Emas di gurun pasirlah baru benar-benar merupakan musuh besar dari kita orang-orang Bulim di daerah Tionggoan!"
"Hmm! Sekarang aku tahu sudah, tentunya kau hendak mencari Dara Berbaju Hijau itu bukan? Heei! Jikalau kau berubah hati, aku tidak tahu bagaimanakah diriku nantinya. mungkin.... mungkin aku bisa mengadu jiwa dengan dirinya.... mungkin pula aku bisa...."
Teringat pemandangan pada malam itu dimana hampir separuh bagian dari tubuh sang Dara Berbaju Hijau terpentang di depan mata, hatinya segera merasa amat pedih sekali, belum habis mengucapkan perkataan tersebut dua titik air mata telah mengucur membasahi pipinya.
Tan Kia-beng sendiripun tahu kalau kesapah pahaman ini ditimbulkan dari perbuatan Lei Hun Hweeci malam itu, buru-buru ia memeluk pinggangnya yang ramping dan menghibur dengan kata-kata yang halus, "Hong moay, apakah sampai sekarang kau masih belum tahu bagaimanakah perasaan hatiku terhadapmu? ayoh, jangan berpikir yang bukan bukan aku orang she Tan bukanlah manusia yang gemar dengan perempuan"
"Akupun tahu kalau kau bukan manusia seperti itu" sahut Mo Tan-hong dengan sedih kepalanya menengadah ke atas memandang bintang bintang yang tersebar dilangit. "Cuma aku selalu merasa suatu bayangan hitam yang tidak menguntungkan menutupi hatiku, aku kuatir pada suatu hari kau bisa meninggalkan diriku!"
"Tidak, tidak mungkin. Aku berani bersumpah dihadapan Thian".
"Aku tidak perlu kau mengucapkan sumpah...." Mendadak ia pentangkan lengannya merangkul tubuh sang pemuda erat-erat.
"Engkoh Beng, maukah kau sejak ini hari takkan berpisah kembali dengan diriku?" katanya perlahan.
Tan Kia-beng yang melihat wajahnya begitu mengenaskan, dua titik air mata masih mengucur keluar membasahi pipinya, dengan cepat ia balas memeluk gadis itu.
"Sudah tentu aku mengharapkan bisa berbuat demikian" sahutnya halus. "Tetapi peristiwa yang terjadi di dunia ini kadang kadang berada diluar dugaan kita. Apa yang bakal terjadi dikemudian hari masih sukar untuk diramal!"
Mendadak ia menuding ke atas langit dan sambungnya lagi, "Coba kau lihat Gouw Lang dan Ci Nie bukankah mereka setiap saat ingin berjumpa dan berkumpul jadi satu? Tetapi justru keadaan mereka dipisahkan oleh sungai Gien Hoo yang tiada ujung pangkalnya. Setahunnya hanya bulan tujuh tanggal tujuh, sehari saja bisa berjumpa. Bukankah hal ini sangat mengharukan?"
"Aku tidak mau mendengarkan perkataan yang merupakan dongeng dan tak ada buktinya itu. Kita adalah manusia yang mempunyai kebebasan untuk berpikir, tidak perduli terhalang
oleh gangguan apapun asalkan ada kemauan pasti bisa terlaksana."
"Akupun berpikir demikian, tetapi aku sudah memperoleh seluruh ahli waris dari mendiang suhuku, sudah seharusnya akupun bertanggung jawab untuk menyelesaikan perintahnya. Disamping itu, sampai saat ini aku pun tidak tahu asal usulku, mungkin hanya suhuku Lok Tong seorang, Tetapi dia sudah pergi ke gurun pasir dan tiada kabar beritanya lagi. Heei! Jika aku tidak pergi ke gurun pasir, bagaimana hatiku bisa tenang?"
"Bagaimana kalau kita pergi ke daerah Chuan Tiong dulu untuk membereskan Chuan Tiong Ngo Kui, kemudian baru bersama-sama berangkat ke gurun pasir?"
"Heeei.... terpaksa kitapun harus berbuat demikian" sahut sang pemuda akhirnya sambil menghela napas panjang.
---0-dewi-0---
Kita balik pada Tan Kia-beng serta Mo Tan-hong yang kembali kerumah penginapan Wu Han. Baru saja hari terang tanah Leng Hong Tootiang sekalian yang menginap di kamar sebelah sudah berangkat.
Mereka berduapun buru-buru sarapan, maksudnya setelah itu hendak naik perahu berangkat ke daerah Chuan Tiong.
Di dalam anggapan mereka sesudah perkampungan Thay Gak Cung hancur, ada seharusnya menyelesaikan pula Chuan Tiong Ngo Kui yang tinggal tiga orang.
Siapa sangka bahaya kembali meliputi sekeliling mereka berdua, hanya saja mereka sama sekali tidak merasakan hal tersebut.
Baru saja Tan Kia-beng menyelesaikan rekening rumah penginapan dan siap meninggalkan tempat itu, mendadak si "Miauw Pit Suseng" Bun Ih Peng sambil goyang goyangkan kipasnya bertindak masuk.
"Haa.... haa tindakan Tan heng kemarin malam benar-benar mengagumkan sekali!" sapanya sambil tertawa terbahak-bahak. "Tapi.... kenapa Tan heng saat ini demikian terburu-buru? kau bersiap-siap hendak pergi kemana?"
Agaknya Tan Kia-beng merasakan kejadian ini ada diluar dugaan, ia agak melengak.
"Maaf! urusan ini tak aku beritahukan kepadamu" sahutnya ketus.
Air muka Bun Ih Peng segera berubah hebat, tetapi kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak"
"Haa.... haa bagus! bagus bagus sekali! Hanya maukah Tan heng sedikit membuang waktu untuk meneruskan permbicaraan kita pada kemarin malam yang belum selesai"
Dengan wajah aras arasan Tan Kia-beng terpaksa memimpin Miauw Pit Suseng balik ke dalam kamarnya.
Bilamana Heng thay ada urusan lebih baik bicara secara langsung saja, cayhe tak bisa berdiam lebih lama lagi" ujar pemuda itu setibanya di kamar.
Tahukah Tan heng! Thay Gak Cungcu Bok Thian-hong mempunyai hubungan apa dengan pihak Isana Kelabang Emas kami?"
"Tidak tahu, tetapi menurut pandangan cayhe agaknya dia tidak lebih hanya kaki tangan atau paling banyak anjing penjaga pintu."
"Orang ini adalah Tongcu dari ketua cabang Isana Kelabang Emas kami yang menguasai lima karesidengan di Timur dan Selatan, Sudah ada dua puluh tahun lamanya berbakti terhadap majikan Isana Kelabang Emas! Cuma saja disebabkan majikan kami sanga menghormati Tan heng maka sengaja beliau telah memberi kesempatan buatmu untuk basmi habis perkampungan Thay Gak Cung, Penghargaan yang demikian besarnya ini, aku rasa belum pernah dilakukan olehnya terhadap siapapu, hanya Tan heng suka memenuhi keinginan dari majikan Kelabang emas kami untuk meneruskan jabatan dari Bok Thian-hong.
"Kini jarak pertemuan dengan puncak para jago digunung Ui san sudah tidak jauh lagi, harap Tan heng mengikut siauwte untuk menuju kesuatu tempat guna diambil darah mengucapkan kesetiaan, Majikan Isana Kelabang Emas akan menurunkan sebuah pelajaran ilmu silat yang amat lihay buat Tan heng agar di dalam pertemuan puncak nanti berhasil merebut gelar jagoan nomor wahid dari seluruh kolong langit"
Dengan sabarnya Tan Kia-beng mendengar habis berberapa patah perkataan itu akhirnya dengan alis yang dikerutkan rapat rapat ia siap-siap mengambil suatu tindakan.
Tetapi Mo Tan-hong yang ada disisinya sudah keburu mendahului berkata;
"Pihak Isana Kelabang Emas bisa begitu menghargai Tan Siauwhiap entah terhadap Siauw li yang merupakan manusia dari tingkat biasa, dapatkah memberi suatu jabatan juga?" tanya sambil tersenyum manis.
"Terhadap nona yang memiliki kepandaian sangat tinggi memang seharusnya ada dimanfaatkan tenaganya, tetapi entah siapakah nama besar dari nona?" seru Miauw Pit suseng sambil tertawa.
"Siauw li she Mo bernama Tan Hong!"
"Aaakh....! Mo Cuncu...."
Miauw Pit suseng menjerit tertahan, agaknya ia merasa hal ini berada diluar dugaan. Tetapi dengan cepatnya ia menyahut dengan wajah penuh kegirangan, "Bilamana nona ada maksud untuk menggabungkan diri dengan Isana Kelabang Emas cayhe berani tanggung Majikan Isana Kelabang Emas tentu akan memberi jabatan sebagai wakil cabang untuk nona. Bagaimana kalau malam ini juga kita berangkat bersama-sama?"
"Hii.... hii.... Untuk pergi sudah seharusnya pergi jawab Mo Tan-hong tertawa cekikikan, Tetapi entah dimanakah tempat itu? dan kapan pula akan berangkat?
Soal tempat cayhe sudah sediakan, sedang waktu kalau siang hari rasanya kurang leluasa, bagaimana kalau nanti malam cayhe datang untuk mengundang kalian berdua?"
"Bagus sekali! bagus sekali! kami berdua akan menanti kabar baikmu!" kembali gadis itu berebut untuk menjawab.
Tan Kia-beng tidak mengeri gadis itu sedang menyusun permainan setan apa lagi, tidak terasa alisnya sudah dikerutkan rapat rapat.
Bun Ih Peng tahu hubungan mereka berdua sangat luar biasa sekali, yang perempuan setelah menyanggupi yang lelaki tentu tak jadi soal lagi, dengan cepat ia bangun berdiri untuk mohon pamit.
"Kalau memangnya kalian berdua sudah setuju, sampai waktunya siaute tentu akan datang menyambut!"
Ia rangkap tangannya untuk menjura lalu dengan tindakan lebar melangkah keluar dari dalam kamar.
Menanti Miauw Pit Suseng sudah lenyap dari pandangan, Tan Kia-beng baru menoleh ke arah gadis itu sambil mengomel
"Eeeii.... sebetulnya kau lagi menyusun permainan apa tokh? apakah kau benar-benar ingin menerima undangan dari pihak Isana Kelabang Emas?"
"Tadi, ditinjau dari keadaan situasi aku sudah menduga bila pihak Isana Kelabang Emas ada maksud untuk menarik dirimu ke pihaknya" kata Mo Tan-hong dengan wajah serius, "Tetapi sewaktu aku menyebutkan soal diriku dan menyebutkan pula namaku mendadak saja paras muka dari Miauw Pit Suseng berubah hebat. Aku rasa dalam soal ini tentu ada hal hal yang kurang beres."
"Aakh.... benar!" teriak Tan Kia-beng jadi tersadar kembali. "Mendadak Chuan Tiong Ngo Kui munculkan dirinya di dalam perkampungan Thay Gak Cung, hal ini akan membuktikan pula kalau Chuan Tiong Ngo Kui ada kemungkinan mempunyai hubungan pula dengan pihak Isana Kelabang Emas, cukup ditinjau dari hal ini saja jelas memperlihatkan kalau peristiwa terbunuhnya ayahmu ada kemungkinan terjadi atas perintah majikan Isana Kelabang Emas.
"Hmm? jika demikian adanya, mereka tentu sudah merencanakan suatu siasat untuk mencelakai diriku dan membabat rumput sampai keakar akarnya."
"Ehmm.... urusan memang ada kemungkinan benar-benar begitu" sahut sang pemuda sambil mengangguk.
Dari sakunya ia mengambil keluar daftar nama itu dan dibacanya mulai depan, nama nama yang tercantum di dalam daftar tersebut hampir hampir boleh dikata meliputi seluruh partai yang di dalam Bulim tetapi tak seorang pun yang
berasal dari aliran Teh-leng-bun serta orang-orang kalangan Hek-to.
Tak terasa dalam hati ia mulai berpikir: Cuncu memang sedikitpun tidak salah, semua orang yang berhasil dibunuh oleh Bok Thian-hong tentu ada hubungannya dengan Mo Cun-ong bahkan namanya tercantum pula di dalam daftar nama tersebut, diantara kesemuanya ini hanya dari pihak Teh-leng-bun serta orang-orang kalangan Hek-to saja yang tak ada sangkut pautnya dengan Mo Cun-ong karenanya pihak Isana Kelabang Emas lantas menggunakan harta kekayaan untuk memancing mereka suka menjadi anak buah serta kuku garudanya. Tetapi kenapa pihak Isana Kelabang Emas bisa begitu mendendam Mo Cun-ong serta semua prang yang pernah berjasa terhadapnya?"
Mo Tan-hong yang melihat lama sekali Tan Kia-beng tidak berbicara, mendadak tanyanya, "Engkoh Beng, ini hari kita tak usah berangkat lagi, bagaimana kalau nanti malam kita pergi memenuhi janji dengan Miauw Pit Suseng? aku mau lihat kenapa mereka membinasakan seluruh jago-jago dari partai partai besar yang ada di dalam Bulim, bersamaan itu pula aku ingin menyelidiki apakah orang yang menjadi otak pembunuhan ayahku adalah pihak Isana Kelabang Emas?"
Bilamana sungguh sungguh kita mau pergi maka tindakan kita harus berhati-hati pula jelas pihak Isana Kelabang Emas sudah menyusun suatu rencana keji yang memaksa kita untuk menggabungkan diri dengan mereka, bilamana kita menolak maka suatu pertempuran sengit tak bisa terhindar lagi!"
“Hmm! bergebrak ya bergebrak, apakah kita berdua harus merasa jeri terhadap mereka.”
"Bukannya kita takut pada mereka!" bantah Tan Kia-beng sesudah termenung sebentar. "Cuma untuk sementara aku
tidak ingin bentrok dengan mereka, karena bukankah lebih baik lagi jika kita berhasil memperoleh banyak rahasia dari mulut mereka?"
“Hal ini sudah tentu,” jawab sang gadis sambil mengangguk.
Disebabkan kemarin semalaman mereka berdua harus bertempur sengit sehingga belum memejamkan mata barang sekejappun, ditambah pula nanti malam ada janji, maka sesudah berbicara sebentar masing-masing kembali kekamarnya untuk beristirahat.
---0-dewi-0---
Setelah Mo Tan-hong pergi, Tan Kia-beng lantas merebahkan dirinya di atas pembaringan
Tiba-tiba....
Bayangan putih berkelebat. Pek Ie Loo Sat bagaikan seekor kupu kupu dengan gesit dan lincahnya sudah melayang ke dalam kamar dan berdiri di depan pembaringan si pemuda.
Kendati ilmu meringankan tubuhnya berhasil mencapai pada taraf kesempurnaan, Tan Kia-beng dibuat terbangun juga saking kagetnya, dengan cepat ia meloncat berdiri sambil membentak keras, "Siapa?"
Tetapi sewaktu dilihatnya orang itu bukan lain adalah Siauw Cian, dengan rasa amat kaget ujarnya lagi.
"Eeei.... bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada disini?"
"Kau merasa ada diluar dugaan bukan?" Hmm! kau tidak merasakan orang lain selalu menguatirkan keselamatanmu" kata Pek Ih Loo sambil tertawa sedih.
“Apanya yang perlu dikuatirkan?” seru sang pemuda sambil tertawa dingin. “Walaupun pihak Isana Kelabang Emas bermaksud jelek terhadap diriku, belum tentu mereka bisa mengapa apakan aku."
Dia mengira Hu Siauw-cian sedang membicarakan soal Isana Kelabang Emas, bersamaan itu pula ia sama sekali tidak tahu kalau sewaktu terjadinya peristiwa dikelenteng kuno Siauw Cian pernah bergebrak dengan Dara Berbaju Hijau Gui Ci Cian beserta peristiwa larinya ia dari kuil dalam keadaan telanjang bulat
Wajah Hu Siauw-cian berubah menjadi dingin dan kaku, ia tertawa tawar.
"Sudah tentu! sekarang kau sudah jadi tetamu terhormat dari pihak Isana Kelabang Emas, sudah tentu orang lain tidak berani mengapa apakan dirimu"
"Apa maksud perkataanmu ini? aku sama sekali tidak paham!"
"Huuh, tidak perlu berlagak pilon lagi! malam itu dalam keadaan telanjang bulat kau terjatuh ketangan gadis siluman tersebut, jikalau tidak.... jikalau tidak.... jika belum melakukan suatu perbuatan yang memalukan, bagaimana mungkin dia suka melepaskan kau kembali? Hmm! Aku mau tanya lagi, tadi siang tetamu dari gurun pasir Bun Ih Peng sedang membicarakan soal apa dengan dirimu? Kenapa tindakannya sangat mencurigakan...."
Tidak menanti sampai ia melanjutkan kembali kata-katanya, saking cemasnya Tan Kia-beng sudah mencak mencak seperti monyet kena terasi.
"Kau jangan sembarangan bicara!" teriaknya keras. "Urusan ini kau dengar dari mulut siapa?"
Sikap Pek Ih Loo Sat masih tetap dingin bagaikan es, bibirnya yang kecil dicibirkan kemudian tertawa dingin tiada hentinya.
"Hee.... hee.... ingin tidak diketahui orang, kecuali belum pernah melakukannya, dan aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mungkin bisa salah? Pokoknya sekarang aku sudah kenal dengan manusia macam kau"
Selesai berkata ia putar badan dan melayang keluar melalui jendela kamar.
Tan Kia-beng jadi sangat cemas.
"Siauw Cian! Siauw Cian!" teriaknya berulang kali.
Iapun buru-buru mengejar keluar, tetapi baru saja tiba dimulut sebuah gang tiba-tiba terasa bau wangi menyambar datang. Gui Ci Cian laksana sebuah kabut hijau sudah menyongsong kedatangannya.
---0-dewi-0---
JILID: 27
"Hiii.... hiii.... kau lagi mengejar siapa? Orang lain kan sudah pergi jauh" katanya sambil tertawa cekikikan.
"Tidak bisa jadi, aku harus mendapatkan dirinya dan menjelaskan persoalan yang sudah terjadi kalau tidak maka kesalah pahaman ini akan semakin besar.
"Urusan apa toh kok begitu pentingnya? kenapa kau jadi begitu ribut dan cemas?"
"Soal ini kau tidak usah tahu cepatlah menyingkir!"
Suara dari Tan Kia-beng kali ini amat keras laksana sambaran geledek disiang hari bolong tubuhnya dengan kecepatan bagaikan kilat berkelebat lewat
Kali ini si Si Dara Berbaju Hijau itu tidak menghalangi lagi dengan kencangnya ia membuntuti dari belakang.
Ketika dua orang itu sudah berputar putar beberapa waktu lamanya masih belum juga menemukan jejak Hu Siauw-cian, dengan badan lemas hati murung pemuda itu baru menghentikan gerakannya.
Perlahan-lahan Gui Ci Cian berjalan mendekat.
"Apakah kau sangat membenci diriku?" tanyanya dengan sedih.
Tan Kia-beng menghela napas panjang, tubuhnya perlahan-lahan memutar dan menghadap gadis tersebut.
"Berkat pertolongan dari nona Cayhe berhasil meloloskan diri dari pengaruh setan dalam soal ini saja aku sudah menaruh rasa kasih yang bukan alang kepalang Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan kata-kata Benci tetapi keadaan kita pada saat ini berhadapan sebagai musuh lebih baik hubungan kita jangan terlalu erat"
"Bukankah kau sudah menyanggupi untuk menerima jabatan sebagai ketua cabang Isana Kelabang Emas yang menguasai lima keresidengan disebelah Timur dan Selatan? kenapa kau berkata kalau keadaan kita berhadapan sebagai musuh?" tanya Gui Ci Cian secara mendadak sambil pentangkan matanya lebar-lebar.
Selama hidup Tan Kia-beng paling pantang berbohong, mendengar perkataan tersebut ia menjadi kuku garuda dan
anjing penjaga pintu, tunggu saja kalau matahari bisa terbit dari sebelah barat!" katanya.
Menurut aturan, sesudah mendengar perkataan tersebut Gui Ci Cian harus memperlihatkan sikap bermusuhan, siapa sangka bukannya gusar ia malah menganggukkan kepalanya berulang kali.
“Ehm....! Kau memang seorang lelaki sejati yang bersemangat dan bertulang pendekar" pujinya, "Sekalipun begitu kaupun harus mengambil perhatian, sebab orang-orang dari Isana Kelabang Emas tak akan ada keduanya yang bersikap jantan seperti Toa suhengku Ci Lan Pak, begitu berbentrok muka pekerjaan apapun bisa mereka lakukan, contohnya yang jelas adalah Bok Thian-hong."
Sehabis berkata dengan sedihnya ia menghela napas panjang. Tan Kia-beng tidak paham maksud hatinya, untuk sementara ia tak memperlihatkan pendapat apa apa.
Perjanjianmu malam ini dengan Bun Ih Peng lebih baik jangan pergi." ujar Gui Ci Cian kembali. "Bilamana kau ngotot juga mau pergi, maka setiap tindakanmu harus berhati-hati, kau harus tahu perhatian dari pihak Kelabang Emas pada saat ini adalah kau serta Mo Cuncu, karena itu kalian harus waspada."
Dengan rasa berterima kasih Tan Kia-beng mengangguk, mulutnya tetap membungkam
Dalam hati pemuda ini benar-benar merasa tidak paham, jelas si Si Dara Berbaju Hijau ini adalah seorang Isana Kelabang Emas tetapi kenapa terhadapnya dirinya ia suka membuka rahasia yang begitu banyak?
Di atas pipi Gui Ci Cian mendadak muncul selintas rasa sedih yang bukan kepalang tiba-tiba ia mencekal tangan sang
pemuda erat-erat dan ujarnya lagi, “Karena aku serta Toa suheng melakukan pekerjaan terlalu pakai perasaan dan peraturan sehingga tidak sesuai dengan maksud Majikan Isana Kelabang Emas kini kami telah menerima perintah Kelabang Emas "Kiem Uh Leng Pay" untuk kembali ke gurun pasir, perpisahan ini entah sampai kapan baru bisa berjumpa kembali, harap kau suka jaga diri baik-baik."
Bicara sampai disini gadis tersebut tak kuasa untuk menahan rasa sedihnya lagi, air mata bercucuran dengan derasnya.
Sampai waktu ini Tan Kia-beng baru merasa bagaimanakan perasaan Dara Berbaju Hijau itu terhadap dirinya, diam-diam dia merasa agak terperanjat.
Kiranya gadis ini ada maksud terhadap dirinya, tidak aneh kalau si Pek Ih Loo Sat bisa begitu kheki terhadap dia, tetapi teringat kalau Hu Siauw-cian ada hubungan paman guru dan keponakan murid dengan dirinya dalam hatinya ia jadi rada lega, buat apa gadis tersebut menaruh rasa cemburu?
Berpikir sampai disini diam-diam ia menghembuskan napas panjang, pikirnya lagi, “Urusan yang menyangkut kaum gadis memang paling sulit untuk dibicarakan. Hei.... semua persoalan ini mereka sendirilah yang cari gara gara dan penyakit buat dirinya sendiri....”
Gui Ci Cian yang melihat wajah pemuda itu amat murung dalam hatinya dia sudah salah menganggap iapun merasaa sedih atas perpisahannya kali ini.
Dengan wajah penuh senyuman ia berkata kembali, “Manusia hidup memang sukar untuk terhindar dari suatu perpisahan, tetapi kaupun tidak usah bersedih hati, ibu angkatku memperlakukan dirimu sangat baik walaupun untuk
sementara aku harus disekap di dalam Isana Kelabang Emas, tetapi tidak lama kemudian kesempatan untuk datang ke daerah Tionggoan masih banyak, asalkan hati kita bersatu walaupun terhalang oleh sebuah gunung yang tinggi sekalipun kenapa harus dimurungkan?”
Dikarenakan malam itu dengan mempertaruhkan kesucian badannya, ia sudah menolong Tan Kia-beng dalam keadaan telanjang bulat Di dalam hatinya gadis itu sudah mempunyai maksud untuk serahkan seluruh badannya sebagai istri kepada pemuda tersebut Oleh sebab itu perkataan yang diucapkanpun sangat polos dan terbuka.
Kalau gadis itu berpikir demikian lain halnya dengan apa yang dipikirkan oleh pemuda itu Selama ini yang selalu menganggap gadis tersebut sebagai musuhnya, walaupun ia pernah menolong dirinya dari ancaman maut tetapi dihati ia bermaksud hendak mencari suatu kesempatan untuk membalas budi ini.
Tetapi ia sama sekali tidak mengira kalau di dalam soal muda mudi, gadis tersebut sudah menaruh kesalah pahaman buru-buru serunya, “Nona! kau sudah salah mengartikan maksudku! cayhe bukan maksudkan demikian"
"Sebenarnya akupun masih banyak perkataan yang hendak dibicarakan dengan dirimu" potong Gui Ci Cian dengan cepat, "Tetapi pada saat ini tak sepatah katapun yang teringat di dalam benakku, agar Toa suheng tak menduga terlalu lama, biarlah perkataan perkataan itu kita bicarakan dikemudian hari."
Dengan pandangan penuh perasaan cinta yang mesra gadis itu memandang lagi sekejap ke arah pemuda tersebut, akhirnya ia lepaskan cekalannya dan melayang pergi dari sana.
Gadis cantik telah berlalu, kini hanya tersisa bau wangi yang samar-samar, Tan Kia-beng berdiri menoleh sambil mengawasi mega yang melayang diangkasa, akhirnya ia menghela napas panjang pikirnya;
"Kau lelaki dikolong langit terlalu banyak jumlahnya mengapa dara dara misterius itu selalu saja menanamkan bibit cinta terhadap diriku? walaupun cinta boleh ditanamkan tetapi...."
Dengan sedihnya ia menggeleng.
"Hal ini tak mungkin bisa terjadi!" serunya lagi.
Sang surya lenyap diufuk sebelah barat, kawanan burung gagak dengan menimbulkan suara berisik kembali kesarangnya hal ini membuat pemuda itu tersadar kembali dari lamunannya dan buru-buru putar badan untuk kembali ke dalam rumah penginapan.
Ia bermaksud mencari Mo Tan-hong untuk diajak merundingkan perjanjian nanti malam, siapa sangka sewaktu tiba di dalam kamarnya selimut serta seprei kalut tidak keruan sedang bayangan tubuh gadis itu lenyap tak berbekas.
Sewaktu hal ini ditanyakan kepada sipelayan rumah penginapan, yang ditanya cuma menggeleng tidak tahu.
Semula di dalam anggapannya ada kemungkinan gadis itu sedang jalan jalan di dalam kota, siapa sangka walaupun sudah ditunggu sampai kentongan pertama tidak nampak juga dia muncul kembali.
Pemuda itu mulai merasa cemas, pikirnya, "Sebenarnya ia sudah pergi kemana? Apa mungkin diculik oleh pihak musuh?"
Tetapi teringat akan kepandaikan silat yang dimiliki, bagaimana mungkin ia bisa diculik sedemikian mudahnya?
Apalagi di siang hari bolong, kalau bukannya ia keluar sendiri orang lain tak mungkin bisa turun tangan melakukan penculikan
Selagi pikirannya kacau dan hatinya cemas sambaran angin ringan menyampok udara.
Si "Miau Pit Suseng" Bun Ih Peng dengan wajah penuh senyuman sudah muncul di dalam kamar.
Terdengar ia tertawa terbahak-bahak dengan kerasnya.
"Haaa, haaa, Tan heng sungguh bisa dipercaya, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?"
Mendadak Tan Kia-beng meloncat kehadapannya.
"Tahukah kau, nona Mo Tan-hong sudah pergi kemana?" tanyanya.
Senyuman yang menghiasi wajah Bun Ih Peng kontan lenyap diganti dengan suatu jeritan kaget
"Apa? dia lenyap?...."
Sejak memperoleh berita kalau Mo Tan-hong adalah Cuncu yang dicari ia sudah menyebarkan anak buahnya di sekeliling tempat itu untuk mengawasi gerak gerik gadis tersebut
Siapa sangka tanpa diketahui olehnya kini gadis itu sudah lenyap tak berbekas, bagaimana mungkin peristiwa ini tidak membuat hatinya jadi amat terperanjat?....
Tan Kia-beng yang melihat orang itu bukannya menjawab, sebaliknya malah balik bertanya, tubuhnya dengan cepat menerjang maju ke depan. Telapak tangannya bagaikan kilat mencengkeram pergelangan tangan orang itu lalu dipencet dengan sepenuh tenaga.
"Dihadapanku kau tidak usah main kayu!" bentaknya keras. "Sebenarnya kalian sudah pancing dia pergi kemana? Ayo jawab!"
Gerakan yang dilakukan secepat kilat ini tak mungkin bisa dihindarkan lagi oleh Miauw Pit Suseng, kendati ia memiliki kepandaian silat yang lihaypun.
Pergelangan tangannya terasa mengencang seluruh badannya jadi kaku dan sukar bergerak. Walaupun diam-diam dalam hatinya ia merasa amat terperanjat. Tetapi di luarnya tetap bersikap tenang.
"Aaach.... aach.... ada perkataan kita bicarakan baik? buat apa Tan heng harus berbuat demikian?" tegurnya.
"HEee.... hee.... apa kira aku tak tahu kalau pihak kalian ada maksud untuk babat sekalian bibit bencana yang terakhir ini?" teriak Tan Kia-beng sambil tertawa dingin. "Bilamana malam ini kau tidak suka berterus terang, aku akan cabut nyawamu!"
Tangannya semakin mengencang ia menambahi lagi dengan dua bagian tenaga dalamnya.
Miauw Pit Suseng yang kena tertawan, saking sakitnya keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar dengan amat deras dalam hati ia benar-benar merasa amat gusar. Makinya dalam hati, “Anjing cilik! kau tidak usah jual lagak! Nanti aku akan suruh kau merasakan kelihayanku!”
Dengan menahan rasa sakit yang mencekam ia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa.... haa.... caramu yang keji untuk menghadapi aku orang she Bun apakah bisa disebut termasuk perbuatan cemerlang sindirnya, Seorang lelaki sejati berani berbuat harus
berani tanggung jawabnya bilamana aku orang she Bun benar-benar sudah membopong dirinya sekalipun darah harus berceceran memenuhi lantai aku tentu akan mengaku."
Mendadak Tan Kia-beng melepaskan tangannya dan tertawa dingin.
"Heee.... heee.... kalau begitu salah aku orang she Tan terlalu banyak curiga harap Bun heng suka memaafkan!" katanya.
Miauw Pit Suseng tidak malu disebut seorang lelaki sejati, walaupun tulang dan otonya terasa amat sakit dan linu air mukanya sama sekali tak berobah, diam-diam ia kerahkan hawa murninya untuk melancarkan kembali peredaran darahnya lalu tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
“Haaa.... haa.... Ditinjau dari sikap Tan heng yang terlalu banyak menaruh curiga terhadap kami, aku jadi takut untuk memaksa Tan heng memenuhi perjanjian malam ini."
"Heee.... heee.... lagakmu sungguh mirip sekali" pikir sang pemuda dihati, ia tertawa dingin tiada hentinya.
Walaupun begitu diluarnya ia tertawa nyaring.
“Haaa.... haaa.... walaupun pada saat ini Mo Cuncu telah lenyap tak ada ujung rimbahnya tetapi cayhe percaya hanya beberapa orang pencoleng kecil saja masih belum bisa mengapa apakan dirinya," katanya dingin. Pertemuan dengan orang-orang pihak istana kalian aku rasa kita lanjutkan saja seperti semula! Aku orang she Tan bukanlah manusia yang suka mengingkari janji."
Perkataan dari Tan Kia-beng yang begitu tegas membuat aku orang she Bun merasa amat kagum, bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga?"
Miauw Pit Suseng yang takut semakin larut pembicaraan semakin melantur, selesai berkata tubuhnya segera berkelebat melewati sang jendela kamar.
Tan Kia-beng rada merandek sebentar akhirnya iapun ikut melayang keluar dari jendela.
Dibawah sorotan sinar rembulan tampak dua sosok manusia laksana sambaran kilat langsung meluncur ke arah sebuah hutan rimba diluar kota.
Si "Miauw Pit Suseng" Bun Ih Peng boleh dikata sudah dua kali menderita kekalahan ditangan Tan Kia-beng, selama ini di dalam hati ia merasa tak puas.
Karena itu begitu berlari ia sudah mengeluarkan ilmu meringankan tubuhnya yang paling sempurna sang tubuh laksana kilat yang membelah bumi berlari cepat menuju arah tujuannya.
Menanti tubuhnya sudah hampir tiba pada tempat yang ditentukan, ia baru memperlambat gerakannya dan menoleh sekejap ke belakang.
Tampaklah Tan Kia-beng dengan wajah amat tenang masih mengikuti terus dibelakang tubuhnya walaupun gerakannya cepat tetapi tidak terlihat tanda tanda kelelahan pada wajahnya, malah ia sendiri yang sudah mandi keringat.
Diam-diam hatinya baru merasa terkejut atas kesempurnaan dari tenaga dalam pemuda ini.
Sewaktu tiba di pinggiran hutan, dari balik pohon tiba-tiba terdengar suara teguran yang keras dari seseorang.
"Yang datang apakah Bun Tongcu?"
"Benar," sahut Miauw Pit Suseng dengan sangat hormat "Tan Siauwhiap sudah tiba"
"Ehmm....! Suruh dia masuk menemui aku!" Nada ucapannya sangat sombong, bahkan kedengarannya bernada memerintah.
Tan Kia-beng yang mendengar suara tersebut diam-diam mendengus dingin.
"Hmmm! Katanya ada maksud untuk mengikat hubungan baik dengan aku si orang she Tan, cukup ditinjau dari sikapnya yang sombong sudah membuat orang jadi muak!"
"Baik! Baik!" seru Miauw Pit Suseng berulang kali.
Buru-buru ia memimpin Tan Kia-beng melewati sebuah jalan kecil di tengah hutan, kemudian menuju kesebuah lapangan yang penuh dengan batu batu cadas.
Di atas batu cadas itu terlihat empat orang yang sedang duduk. Yang duduk di paling tengah merupakan seorang kakek tua dengan perawakan tinggi kurus, kaku bagaikan mayat. Rambutnya sudah botak, sedangkan pada jenggotnya memelihara beberapa helai jenggot Matanya sipit seperti mata tikus tetapi memancarkan cahaya hijau yang amat tajam.
Dikiri kanannya duduklah dua orang lelaki kasar yang hitam usianya kurang lebih empat puluh tahun. Pakaian yang dikenakan mereka bertiga adalah pakaian dari suku Biauw.
Disamping itu masih ada lagi seorang pemuda berpakaian perlente yang menggembol golok, usianya kurang lebih dua puluh lima enam tahunan, wajah putih halus tetapi sikapnya amat sombong. Sambil bertolak pinggang ia duduk dipaling ujung kanan.
Si orang tua yang kaku bagaikan mayat itu mengedip endipkan sinar matanya yang hijau untuk memperhatikan
seluruh badan Tan Kia-beng dengan teliti kemudian tegurnya, "Heee.... hee.... kaukah yang bernama Tan Kia-beng?"
Mendengar nada suaranya saja pemuda itu sudah kheki ia mendengus dan tidak menjawab.
"Apakah kau, berniat sungguh sungguh untuk berbakti terhadap Isana Kelabang Emas kami?" kembali seorang tua mayat hidup itu menegur.
Tan Kia-beng bungkem dalam seribu bahasa, dalam hati ia merasa semakin gusar.
Miauw Pit Suseng yang ada disisinya buru-buru mewakili dirinya untuk menjawab
Ci Lan Pak sudah mengabulkan permintaannya untuk menjabat sebagai ketua cabang dari lima buah keresidenan di Timur serta Selatan".
"Hmmm! Apakah dia sudah bersumpah serta menyerahkan surat tanda berbakti?"
Belum sampai Miauw Pit Suseng menjawab, sekonyong konyong....
"Tunggu sebenar!" Bentak si pemuda berbaju perlente itu dengan keras. "Walaupun Toa suheng Ci Lan Pak sudah meninggali pesan tetapi ia belum menyanggupi secara resmi apalagi diapun belum menerima perintah Giok Uh Leng Pay. Pada saat dan keadaan seperti ini ada kemungkinan juga bangsat cilik ini bermaksud menyelundup masuk kepihak kita keadaannya harus diteliti perbuatannya membunuh mati seisi perkampungan Thay Gak Cung pun harus diselidiki dan dijatuhi hukuman.
Tujuan dari Tan Kia-beng untuk memenuhi janjinya dengan Miauw Pit Suseng kali ini sesungguhnya hanya ingin
menyelidiki apakah tujuan dari jago-jago Isana Kelabang Emas dikirim ke daerah Tionggoan. karena itu sampai waktu ini belum juga nampak pemuda itu turun tangan.
Tetapi kini, setelah dilihatnya sikap yang amat sombong dari pemuda berbaju perlente itu hatinya jadi benar-benar amat gusar selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati ke arahnya.
"Siapakah kau?" tegurnya dingin. Bagaimana kau bisa tahu kalau cayhe tidak punya tanda perintah Giok Uh Leng Pay? lalu dengan mengandalkan apa pula kau hendak menyelidiki peristiwa diperkampungan Thay Gak Cung?"
Wajah si pemuda berbaju perlente yang semula tawar, dingin dan kaku terlintas suatu cengiran kejam.
"Heee.... heee.... cayhe bukan lain adalah murid kedua dari majikan Isana Kelabang Emas, Cui Hoa Kongcu atau si kongcu pemetik bunga, Ci Sun" sahutnya geram. Hmm! kau manusia tak tahu diri, sesudah bertemu muka dengan kongcunya masih berani juga memperlihatkan sikap sombong, kau harus dihukum mati!"
Sembari berkata tubuhnya segera bangun berdiri kemudian selangkah demi selangkah menyongsong datangnya Tan Kia-beng.
Agaknya si orang tua mayat hidup itu mengerti bagaimanakah sifat dari orang itu, maka buru-buru bentaknya mencegah, “Jie Kongcu jangan bergerak sembarangan! Biarlah Loohu tanyai dulu dirinya."
Walaupun sikap si kongcu pemetik bunga ini amat kejam dan sedikit dikit turun tangan membunuh orang, tetapi terhadap si orang tua itu ia menaruh rasa jeri.
Mendengar perkataan tersebut dengan cepat ia menghentikan langkah kakinya.
Sepasang mata yang hijau mengkilap dari si orang tua itu menyapu sekejap ketubuhnya kemudian dengan seram ujarnya.
“Loohu adalah salah satu dari empat pelindung hukum Isana Kelabang Emas, Sam Biauw Ci Sin atau malaikat dari tiga manusia aneh adanya!! Kini aku ada beberapa patah kata yang hendak ditanyakan kepadamu, harap engkau suka memberi jawaban yang sejujurnya dan jangan sekali kali berbohong!"
"Kau bicaralah!" seru sang pemuda tidak kalah pula sombongnya, kepalanya didongakkan ke atas dan tertawa.
"Apakah saudara saudara benar-benar ada maksud untuk berbakti dengan pihak Isana Kelabang Emas kami?"
"Cayhe belum pernah mengucapkan perkataan tersebut."
Sam Biauw Ci Sin jadi melengak, sinar matanya yang amat menyeramkan segera dialihkan ke atas wajah Bun Ih Peng.
Kontan saja Miauw Pit Suseng jadi ketakutan setengah mati. Seluruh tubuhnya gemetar amat keras.
"Tan heng bagaimana kau bisa bicara begitu?" buru-buru teriaknya.
"Haaa.... haaa.... terus terang saja katakan" seru Tan Kia-beng sambil tertawa keras, Dikarenakan cayhe mendengar penghargaan dari majikan Isana Kelabang Emas terhadap diriku, maka dalam hatiku baru ada maksud untuk datang melihat lihat Hanya saja aku belum pernah menyanggupi untuk berbakti kepada pihak Isana Kelabang Emas!"
Bagaimana pun "Sam Biauw Ci Sin" jadi lebih tenang pikirannya, sambil dengan paksa menahan rasa gusar dihatinya, kembali ia bertanya, "Perduli mau takluk atau cuma mengikuti pokoknya sama saja setiap orang yang ingin masuk ke dalam aliran istana kami harus bersumpah dulu menghadap langit kemudian menghadiahkan tanda mata berbakti setelah itu baru kau bisa memperoleh tanda perintah Giok Uh Leng Pay sebagai penghargaan dari Majikan Isana Kelabang Emas."
"Tetapi, apa yang dimaksudkan sebagai Tanda mata berbakti itu?"
"Setiap orang yang akan ditunjuk oleh istana kami harus dibunuh dan kepalanya harus dikirim sebagai tanda mata."
Isana Kelabang Emas terletak jauh di gurun pasir bagaimana bisa mempunyai musuh besar yang begitu banyaknya?Harap saudara suka memberi penjelasan!"
Mendengar pertanyaan itu air muka Sam Biauw Ci Sin berubah hebat, bentaknya, "Siapa yang suruh kau menanyakan soal ini?"
"Jika tidak ditanya jelas apakah kau harus melakukan kejahatan dengan rapatkan mata!
Mendadak Sam Biauw Ci Sin dongakkan kepalanya tertawa seram.
“Heee.... hee.... aku tahu dengan mengandalkan beberapa jurus ilmu silat cakar ayahmu kau hendak mencari bahan bergurau dengan Isana Kelabang Emas kami, tapi.... Hmmm! apa kau kira Isana Kelabang Emas kami mudah diganggu? aku rasa malam ini nyawa kecilmu pun akan ikut terbuang sia-sia!"
Belum sempat Tan Kia-beng buka mulut mendadak terdengar ia membentak kembali, “Bun Ih Peng, cepat menggelinding kemari!"
Paras muka Miauw Pit SUseng kontan berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, selangkah demi selangkah terpaksa ia bertindak maju ke depan.
“Sam Biauw Hu hoai, kau mengundang cayhe ada perintah apa?"
“Pekerjaanmu sungguh bagus sekali!" teriak Sam Biauw Ci Sin sambil menyengir seram
Tiba-tiba ia mengeluarkan telapak tangannya yang mirip kaitan baja.... Sreet! dengan menimbulkan segulung hawa pukulan dingin yang disertai bau amis tanpa menimbulkan sedikit suara pun sudah didorong keluar sejajar dengan dada
Miauw Pit Suseng mimpipun tidak pernah menyangka Sam Biauw Ci Sin bisa turun tangan jahat terhadap dirinya, di tengah suara jeritan ngerinya yang menyayatkan hati tubuhnya bagaikan layang layang putus mencelat ke tengah udara dan jatuh terjengkang sejauh satu kaki tujuh, delapan depa dari tempatnya semula dari tujuh lubang darah kental mengucur keluar dengan kerasnya sedang napasnya seketika itu juga putus.
Tindakan Sam Biauw Ci Sin yang amat keji dan buas ini kontan saja memancing rasa gusar dari Tan Kia-beng, mendadak ia maju ke depan sambil menuding bentaknya, "Malam ini siauw-ya mu baru tahu kalau tindakan dari Isana Kelabang Emas sebenarnya amat keji dan ganas, terhadap orang sendiripun berbuat begitu kejam apalagi terhadap orang-orang Bulim"
"Haaa.... haa menunggu sampai kau tahu, sayang waktu itu sudah terlambat teriak Sam Biauw Ci Sin sambil mendongakkan kepalanya seram.
Ia rada merandek, mendadak bentaknya kembali, “Bawa kemari!"
Dari balik hutan tampaklah segerombolan lelaki kasar suku Biauw munculkan diri sambil menyeret keluar sepasang laki dan perempuan.
Yang laki seluruh badannya berlumuran darah lengan kirinya putus sebatas pundak agaknya kena dibabat orang. Sedang yang perempuan yang rambutnya kacau tak karuan wajahnya pucat keabu abuan keadaannya benar-benar mengenaskan.
Melihat diseretnya orang itu Tan Kia-beng jadi amat terperanjat kiranya mereka bukan lain adalah Bok Thian-hong suami istri
Sepasang suami istri ini walaupun pernah melakukan perbuatan jahat dan banyak membunuh orang, bagaimanapun juga masih merupakan anggota dari aliran Teh Leng Kauw
Kini melihat anggota perkumpulannya diperlakukan orang lain dengan keji dan menyedihkan, dalam hati pemuda itu jadi amat gusar.
Sambil menuding ke arah Sam Biauw Ci Sin bentaknya keras, "Kalian manusia manusia dari Isana Kelabang Emas jauh lebih keji dan beracun dari pada ular serta kelabang Bok Thian-hong dengan tidak sayang sayangnya sudah menghianati perguruan untuk berbakti kepada kalian, kenapa sekarang sebaliknya kalian malah menggunakan cara yang paling keji dan kotor untuk menghadapi mereka? Dimanakah Liang sim kalian?"
“Heee.... Heee.... Bok Thian-hong tidak suka mendengarkan petunjuk dari pihak istana kelabnag emas" seru Sam Biauw Ci Sin sambil tertawa dingin tiada hentinya, "Berani berpura pura bodoh dan menyelewengkan tugas partai untuk kepentingan pribadi, bahkan kehilangan pula tanda perintah Giok Uh Leng Pay nya, cukup menyandang dosa dosa ini saja patut mereka dihukum mati. Bukan begitu saja yang lebih kurang ajar lagi ternyata ia berani menghajar luka dayang Isana Kelabang Emas Lo Hong-ing, perbuatannya ini semakin patut dihukum mati untuk menghukum mati dirinya, kalau tidak apakah kami bisa berpeluk tangan melihat kau menyerbu dan mengobrak abrik perkampungan Thay Gak Cung?"
Saking khekinya Tan Kia-beng tertawa dingin tiada hentinya telapak tangannya dibalik dengan mengandalkan pukulan "Tok Yen Mo Cing"nya ia menghantam ke arah tubuh Sam Biauw Ci Sin
Tidak disangka baru saja serangannya dilancarkan keluar, tubuhnya laksana sambaran angin dengan tergesa gesa telah ditarik kembali ke belakang!
Kiranya Cui Hoa Kongcu yang selama ini tidak ikut angkat bicara kini sudah melancarkan serangan jarinya untuk mengancam jalan darah Ci Tie Hiat di atas badannya pemuda tersebut. Dikarenakan pada waktu ini Tan Kia-beng sudah melancarkan serangan ke depan untuk ditarik kembali tak mungkin
Terpaksa lengannya dikebaskan putar badan lengannya ditekan ke bawah sedang tubuhnya buru-buru menyingkir kesebelah kanan sebanyak lima kaki.
Dengan cepat pemuda itu menoleh kesamping, tetapi ketika dilihatnya orang yang baru saja melancarkan serangan bokongan bukan lain adalah Cui Hoa Kongcu ia tertawa dingin.
“Hee hee kalau kepingin turun tangan terus teranglah menantang bertempur buat apa turun tangan membokong dengan cara yang tak tahu malu, siauw ya mu ikut merasa malu buat dirimu!"
Wajah Cui Hoa Kongcu yang semula putih mulus terlintaslah segulung napsu pembunuh, alisnya dikerutkan rapat rapat.
“Menurut berita Sam Sumoay ku sudah menaruh rasa suka kepadamu apakah benar ada peristiwa ini?” bentaknya keras.
Tan Kia-beng yang secara mendadak mendengar ia mempunyai urusan tersebut, dalam hati merasa kheki bercampur geli.
"Kalau benar apa yang hendak kau lakukan? kau berhak untuk mengurusi diriku?" jawabnya.
Semula jawaban ini bernadakan guyon dan sama sekali tak mengandung maksud, siapa sangka justru dikarenakan si Si Dara Berbaju Hijau Gui Ci Cian ini telah mendatangkan berpuluh puluh kesulitan bahkan hampir saja nyawanya lenyap dikarenakan hal tersebut.
Cui Hoa Kongcu yang mendengar jawaban tidak banyak bicara lagi bagaikan kalap jari serta telapak tangannya laksana kilat melancarkan serangan gencar, hanya dalam sekejap mata ia sudah mengirim dua belas pukulan serta sembilan totokan dahsyat
Walaupun Tan Kia-beng sudah mempersiapkan tenaga dalamnya tak urung badannya kena terdesak juga sejauh delapan depa oleh serangannya yang sangat gencar ini
Cui Hoa Kongcu sama sekali tidak mau mengalah maupun memberi kesempatan buat musuhnya sejurus demi sejurus serangan serangan gencarnya ditumpahkan keluar.
Hanya di dalam waktu yang amat singkat serangan jari memenuhi angkasa angin pukulan menderu deru serasa ambruknya gunung Thay-san setiap pukulannya ganas, keji, aneh dan telengas
Bagi Tan Kia-beng saan ini baru untuk pertama kalinya ia bergebrak melawan anak murid dari Isana Kelabang Emas, terasa olehnya seluruh gerakan jurus serta pukulannya amat beda dan berlawanan dengan ilmu silat yang ada di daerah Tionggoan hal ini membuat ia jadi ragu ragu dan setiap saat harus bersikap waspada
Pemuda itu adalah seorang yang amat cerdas walaupun dibawah desakan ilmu pukulan yang aneh dan dahsyat untuk sementara ia kehilangan posisi yang baik tetapi sikapnya sama sekali tidak menjadi gugup
Pemuda itu tetap menjaga seluruh lubang lubang kelemahan tubuhnya dengan sangat rapat, setiap jurus dipecahkan dengan amat sempurna sedang dalam hati ia mulai mengambil perhatian untuk memeriksa setiap pergantian jurus serangan yang paling dahsyat dari kitab pusaka Teh leng Cin Keng.
Kitab pusaka Teh Leng Cin Keng adalah sebuah kitab ilmu silat yang hampir meliputi seluruh kepandaian silat dari aliran Teh-leng-bun ditambah pula kitab tersebut sudah mengalami penggodokan yang amat sempurna dari Han Tan Loojien membuat kedahsyatannya benar-benar luar biasa.
Cuma sayangnya selama ini Tan Kia-beng hanya menelan seluruh isi pelajaran tersebut mentah mentah tanpa dikupas dan diperdalam sehingga matang apa yang berhasil diperolehnya pada saat ini tidak lebih hanya sepertiga atau seperempatnya saja.
Kedua orang itu saling serang menyerang sebanyak tujuh belas, delapan belas jurus banyaknya, Tan Kia-beng pun sedikit demi sedikit berhasil meraba jalannya gerakan dari pihak lawan. Bersamaan waktunya pula. disebabkan oleh hal itu banyak pula jurus jurus serangan dari kitab pusaka "Teh Leng Cin Keng" yang semula belum dipahami kini sudah terkupas olehnya.
Mendadak pemuda itu bersuit nyaring dari posisi bertahan ia berganti jadi posisi menyerang. Angin pukulan menderu deru, serangan yang dilancarkan keluar serasa titiran air hujan.
Hanya di dalam sekejap saja ia berhasil mendesak Cui Hoa Kongcu untuk mundur sejauh satu kaki delapan depa.
Cui Hoa Kongcu adalah seorang pemuda yang pandai mengambil hati sehingga di dalam istananya ia memperoleh kasih sayang dari majikan Isana Kelabang Emas bahkan memperoleh pula seluruh kepandaian silat dari majikannya itu.
Cuma sayang bakatnya kurang bagus. walaupun yang dipelajari amat banyak tetapi keberhasilannya kurang memadahi sehingga kepandaiannya jauh berada dibawah Toa suhengnya Ci Lan Pak serta Sam Sumoynya Gui Ci Cian.
Karena keterbelakangnya tenaga dalam yang berhasil dilatih maka ilmu Hong Mong Ci Khie yang paling dahsyatpun tak berhasil dia pelajari
Telah ada berapa tahun ia menyintai sumoaynya Gui Ci Cian cuma sayang Dara Berbaju Hijau itu selalu tidak menggubris dirinya.
Kali ini ia mendapat kabar yang mengatakan hubungan si Dara Berbaju Hijau itu sangat baik dengan seorang pemuda
she Tan ia lantas minta ijin untuk mengejar ke daerah Tionggoan
Siapa sangka waktu ada di tengah perjalanan pemuda itu berhasil ditemuinya bahkan pihak lawan sudah mengakui secara terus terang.
Maka dari itu, begitu turun tangan ia lantas menyerang dengan sepenuh tenaga tetapi tenaga dalam yang berhasil dimilikinya tidak kuasa untuk menandingi tenaga dalam pihak lawan Sekalipun ia sudah mengeluarkan jurus jurus serangan yang bagaimana dahsyat dan ganaspun ia masih belum juga berhasil memperoleh hasil yang diinginkan.
Dalam keadaan bercampur kheki, napsu membunuhnya melintas di dalam benaknya Mendadak tubuhnya miring kesamping, tangannya mencabutnya sebelah golok melengkung yang memancarkan cahaya keperak perakan sambil berteriak keras, "Bangsat cilik she Tan, kau dengarlah! Malam ini jika bukan aku yang modar, tentu aku yang modar. Bilamana kau benar-benar bernyali cabutlah keluar senjatamu!"
Di tengah babatan yang menimbulkan suara desiran tajam goloknya langsung menusuk ke arah dada.
Tan Kia-beng dengan amat sombong berdiri pada tempat semula. Mendadak pergelangan tangannya berkelebat. tahu-tahu seruling pualam putihnya sudah ada ditangan.
Sewaktu ia mencabut keluar seruling pualam putih itulah sambaran sinar golok yang menyilaukan mata sudah tiba di depan dada.
Buru-buru tangannya digetarkan keras, seruling pualamnya dari arah bawah menyambar ke atas menyambut datangnya serangan golok tersebut.
Siapa sangka gerakan dari golok melengkung berwarna keperak perakan itu sangat kukoay terang terangan melihat gerakannya menusuk ke arah dada mendadak nampak ujung goloknya menggeletar kemudian laksana sambaran kilat balik membalik membabat ke arah pundak.
Gerakannya ini berada diluar dugaan Tan Kia-beng, di dalam keadaan gugup seruling pualam putih ditangannya dikibaskan menyambut datangnya sambaran tersebut.
Traaang....! di tengah suara bentrokan laksana pekikan naga sakti serta percikan bunga bunga api, gerakan golok melengkung itu telah berhasil dipunahkan.
Tetapi.... kendati perubahan yang dilakukan amat cepat tidak urung lengannya kena tersambar pula sehingga robek sepanjang dua cun dan mengucurkan darah segar.
Dengan kejadian ini kontan saja pemuda itu jadi amat gusar, tubunya menubruk ke depan, seruling pualam putih menimbulkan cahaya putih yang memenuhi angkasa dengan rapatnya megurung tubuh Cui Hoa Kongcu
Cui Hoa Kongcu yang telah berhasil melukai Tan Kia-beng dengan jurus "Huan Im Took To" atau golok racun membingung bayangan, mengambil kesempatan sewaktu musuh tidak menduga, dan dalam hati merasa amat girang tetapi mendadak dia melihat Tan Kia-beng bagaikan macan terluka dengan kalapnya menerjang ke arahnya, tanpa terasa lagi ia sudah memperdengarkan suara tertawa dinginnya yang menyeramkan.
“Bangsat! Lebih baik kau serahkan saja nyawamu! Di atas ujung golok perakku sudah aku polesi dengan racun ganas, jikalau kau ngotot mengerahkan tenaga dalam juga, maka kematianmu juga akan semakin cepat!”
Sembari melancarkan serangan, serulingnya menggencet pihak musuh, diam-diam Tan Kia-beng mulai memperhatikan keadaan badannya lebih teliti, sedikitpun tidak salah karena dari atas mulut lukanya itu terasa ada kaku dan perih perih Ia tahu kalau perkataannya itu sama sekali bukan gertakan belaka dan dalam hati ia merasa semakin bertambah gusar lagi.
“Bangsat rendah yang berhati keji! Kau berani membokong Siauw ya mu!" bentaknya keras.
Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya mendadak ia melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu "Wu Yeh Cing Hun Sam Sih", laksana mengamuknya naga di tengah samudra segulung demi segulung menekan dari atas kepalanya.
Telapak kirinya tidak mau ambil diam ia pun melancarkan serangan dengan menggunakan ilmu telapak "Siauw Siang Chiet Ciang" yang secara samar-samar dicampur baurkan pula ke dalam jurus jurus serulingnya.
Kedahsyatan serangan jadi lipat ganda tak sampai dua jurus keadaan dari Cui Hoa Kongcu sudah berada dalam keadaan kritis.
Sam Biauw Ci Sin yang melihat kejadian itu dalam hati lantas sadar, bilamana mereka tidak turun tangan lagi maka tidak sampai racun dalam tubuh Tan Kia-beng mulai bekerja Cui Hoa Kongcu sudah binasa di bawah serangan gencar.
Di tengah suara suitan nyaring yang terasa membelah bumi tubuhnya meloncat ke tengah udara, bagaikan seekor burung elang dengan cepatnya menubruk ke tengah udara.
Tetapi tindakannya itu masih terlambat satu tindak, terdengar suara jeritan ngeri berkumandang memecahkan
kesunyian Cui Hoa Kongcu berhasil kena dihantam oleh Tan Kia-beng dengan jurusnya Jiet Ceng Tiong Thian" sehingga tubuhnya dengan sempoyongan mundur sejauh tujuh, delapan langkah, darah segar menyemprot keluar dari mulut maupun hidungnya, sedang sang tubuh kontan rubuh ke atas tanah.
Sam Biauw Ci Sin tidak bisa mengurusi Tan Kia-beng lagi, tubuhnya berjumpatlitan beberapa kali di tengah udara lalu balik menyambar ke arah Cui Hoa Kongcu.
Cakar setannya bersama-sama ditepukkan ke depan dan di dalam sekilas sambaran itu sudah menotok beberapa buah jalan darah pentingnya.
Tan Kia-beng yang berhasil menghajar terpental Cui Hoa Kongcu, ia sendiripun mundur sempoyongan sehingga hampir hampir jatuh terjengkang ke atas tanah.
Saat ini mulut lukanya terasa semakin kaku sehingga separuh badan tak bisa bergerak lagi, ia tahu daya bekerja racunnya sudah mulai menunjukkan reaksi. Masih untung saja tenaga dalamnya amat sempurna buru-buru ia mengerahkan hawa lweekangnya untuk menutupi seluruh pernapasan, sehingga daya kerja racun itu dapat dicegah tidak sampai menjalar pada tempat tempat yang lain.
Ketika melihat sam Biauw Ci Sin urungkan niat untuk menyerang dirinya sebaliknya malah lari mendekati Cui Hoa Kongcu, suatu pikiran dengan cepat melintas dalam hati.
"Bila aku tidak cepat-cepat pergi, apakah harus menunggu Sam Biau Ci Sin melancarkan serangan kembali ke arahku, pikirnya.
Hawa murninya disalurkan keseluruh tubuh siap-siap meninggalkan tempat itu, mendadak sinar matanya terbentur
dengan tubuh Bok Thian-hong suami istri yang masih ada disana.
Suatu perasaan mangkel mendadak muncul di dalam hatinya, kendati Bok Thian-hong suami istri adalah manusia manusia berdosa dari perguruan Teh-leng-bun dan manusia tak berguna di dalam dunia persilatan Tetapi sebagai seorang yang berjasa terhadap pihak Isana Kelabang Emas tidak seharusnya mereka menghukum dirinya dengan begitu keji.
Apalagi penghianat dari aliran Teh-leng-bun ini apa seharusnya pihak Teh-leng-bun lah yang turun tangan memberi hukuman bagaimana mungkin pihak lain boleh campur tangan?
Pikiran ini dengan cepat berputar dalam benaknya, mendadak ia enjotkan badan menerjang ke arah lelaki kasar berdandan suku Biauw itu, seruling pualamnya disimpan kembali sedang sepasang tangannya dengan menimbulkan angin pukulan yang menderu deru menyapu dari kiri dan kanan.
Walaupun tubuhnya sudah terkena racun jahat, tetapi pukulannya masih amat dahsyat.
Serentetan suara jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, orang-orang suku Biauw itu kena terhantam oleh sambaran angin pukulan sehingga jatuh terjengkang dan menggelinding keempat penjuru.
Mengambil kesempatan itu Tan Kia-beng tekuk pinggang menyambar ke arah Thay Gak Cungcu suami istri lalu dengan kecepatan penuh berkelebat keluar dari tengah hutan.
Selama ini pemuda tersebut hanya tunjukkan perhatiannya untuk menolong Thay Gak Cungcu suami istri, tetapi sudah
melupakan kedua orang lelaki kasar dan hitam yang duduk disisi Sam Biauw Ci Sin.
Walaupun kedua orang Bu su suku Biauw itu berotak bebal tetapi tenaga dalamnya amat sempurna, begitu merasa kalau Tan Kia-beng sedang menolong Thay Gak Cungcu suami istri tubuhnya lantas menubruk ke arah depan, empat buah tangan yang hitam pekat segera melancarkan satu pukulan yang maha dahsyat menghajar ke arah depan.
Karena teledor Tan Kia-beng tak bisa menghindarkan diri lagi dari datangnya pukulan tersebut, punggungnya kontan terkena hajar sehingga aliran darah bergolak samat keras dalam rongga dadanya hampir hampir saja ia memuntahkan darah segar.
Tetapi pemuda itu masih berusaha mempertahankan diri, tubuhnya berjumpalitan dengan sangat indah di tengah udara lalu dengan meminjam datangnya tenaga pukulan tubuhnya melesat ke bawah hutan.
Dengan amat gusar lelaki suku Biauw itu bersuit keras, masing-masing orang dengan kecepatan bagaikan kilat melakukan pengejaran cepat dari belakang.
Tetapi ilmu meringankan tubuh "Mo Hoo Sin Lie" dari Teh-leng-bun merupakan ilmu meringankan tubuh yang tercepat dan tergesit, begitu menerjang masuh ke dalam hutan bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Menanti kedua orang lelaki bebal itu tiba di dalam hutan bayangan musuh sudah tak kelihatan, terpaksa dengan hati mangkel mengundurkan diri kembali dari dalam hutan itu.
---0-dewi-0---
Kita balik pada Tan Kia-beng yang melarikan diri sambil menahan rasa sakit dibadan untuk menghindarkan diri dari kejaran orang-orang Isana Kelabang Emas ia berusaha mencari jalan gunung sunyi untuk lari.
Menanti tubuhnya sudah merasa tak kuat lagi ia baru berhenti berlari dan meletakkan Bok Thian-hong suami istri ke atas tanah tak kuasa lagi ia memuntahkan darah segar.
Buru-buru matanya dipejamkan untuk mengatur pernapasan walaupun luka dalamnya rada tercegah tetapi hawa racun pada lengannya semakin mengalir lebih meluas.
Racun yang ada di atas ujung golok perak Cui Hoa Kongcu merupakan sejenis racun yang paling dahsyat dari suku Biauw, perduli bagaimana sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu jika di dalam dua belas jam tidak diobatik maka orang itu akan menemui ajalnya.
Setelah terluka walaupun Tan Kia-beng cepat-cepat menutupi seluruh pernapasannya tetapi karena harus mengalami lagi pertempuran yang sengit maka daya bekerja dari racunnya semakin cepat.
Waktu ini ia hanya merasakan mulut serta mukanya bebal dan kaku, seluruh tubuh gemetar keras, keempat anggota badannya tak mau mengikuti perintah sedang kesadarannya makin lama makin menghilang.
Bok Thian-hong suami istri yang terluka parah dan jalan darahnya tertotok, kini melihat Tan Kia-beng menderita keracunan apalagi dengan taruhan nyawa menolong mereka keluar dari bahaya, tak terasa timbul juga perasaan liang sim dari lubuk hatinya.
Setelah merintih mendadak teriaknya;
"Saudara cilik, kau tidak usah mengurusi kami suami istri lagi, golok lengkung itu sangat berbisa dan sukar diobati dengan bahan bahan obat Tionggoan, bilamana kau tidak buru-buru mencari obet pemunahnya, maka di dalam dua belas jam kemudian, kau tentu akan binasa."
Mendengar suara teriakan itu Tan Kia-beng jadi tersadar kembali, teringat olehnya tempo dulu si Rasul Racun Pek-tok Cuncu pernah menghadiahkan sebotol obat pemunah racun kepadanya berhubung jarang sekali ia menggunakan obat itu maka hal itu hampir saja terlupakan olehnya.
Buru-buru ia merogoh ke dalam saku mengambil keluar sebotol obat dan mengambil dua butir untuk cepat-cepat ditelan.
Obat pemunah racun dari si Rasul Racun Pek-tok Cuncu ini benar-benar sangat mujarab tidak sampai beberapa saat lamanya tanda tanda keracunan sudah mulai luntur, kesadaranpun mulai pulih kembali. Hanya saja dimulut luka masih kelihatan agak menghitam.
Kembali ia mengeluarkan dua butir pil tersebut untuk ditelan, kemudian ia baru berjalan kesisi Bok Thian-hong suami istri untuk bebaskan mereka dari totokan jalan darah.
Mereka beruda menderita luka dalam yang parah, jalan darahpun sudah lama tertotok. Walaupun kini sudah terbebaskan tetapi belum juga berhasil menggerakkan badan.
Sebenarnya Tan Kia-beng bisa bantu mereka untuk lancarkan peredaran darahnya tetapi berhubung takut daya kerja obat pemunah akan berkurang maka ia batalakan niatnya itu.
Lewat beberapa saat kemudian sepasang suami istri itu baru bisa meronta bangun.
Buru-buru Tan Kia-beng berseru.
"Tempat ini bukanlah yang aman, lebih baik kalian cepat-cepat tinggalkan tempat ini Kalau tidak bilamana mereka datang mencari sampai kesini dan kita semua berada dalam keadaan terluka parah mungkin sulit bagi kita untuk melawannya.
Bok Thian-hong benar-benar merasa terharu, ia menghela napas panjang.
"Heeei....! Ie heng sudah melanggar peraturan perguruan, dan berbuat jahat terhadap sesama kawan kawan Bulim dosa ini benar-benar luar biasa besarnya, berkat kebaikan saudara cilik yang tidak mengingat dosa dulu bahkan suka menolong kami suami istri lolos dari mulut harimau, dalam hati kami merasa semakin menyesal dan berterima kasih."
"Hee, hee..... kalian tidak usah mengucapkan kata-kata semacam ini" sahut Tan Kia-beng sambil tertawa dingin "Yang aku tolong bukan kau tetapi kehormatan dari Teh-leng-bun aku tidak akan membiarkan siapapun turun tangan menghukum anggota perkumpulan kita, walaupun kau sudah lolos dari bahaya maut tetapi kekejaman pihak Isana Kelabang Emas pun tidak akan sampai disini saja, lain kali mereka pasti akan mencari kalian lagi sedang hukuman perguruan pun selalu menantikan diri kalian!"
Sifat Bok Thian-hong pada saat ini sudah jauh lebih baikan, mendengar perkataan itu, dia tertawa sedih.
"Ih Heng melanggar peraturan dalam perguruan sudah seharusnya dihukum sesuai dengan hukuman perguruan yang ada, sekarang mati apa yang patut disayangkan? Tindakan dari saudara cilik yang tegas dan adil membuat Ih heng suami istri merasa amat kagum sekarang silahkan sute
mengeluarkan seruling pualam dan suhu mendiang untuk mulai turun tangan!"
Perkataannya ini diucapkan sangat datar dan tanpa menggunakan perasaan atau sedikit nafsupun, hal ini malah sebaliknya membuat Tan Kia-beng merasa tidak tegah, perlahan-lahan ia menghela napas perlahan.
"Heee.... walaupun suhu mendiang sudah meninggalkan pesan terakhir agar aku menjabat sebagai Teh Leng Kauwcu tetapi siauwte belum secara resmi menjalankan sumpah di depan Thian Teh Couwsu dan menerima jabatan tersebut Apalagi masih banyak terdapat cianpwee dari aliran kita serta Toa suheng di dalam Bulim, urusan yang demikian besarnya ini mana berani aku mengambil keputusan sendiri? heeei.... lebih baik kalian pergilah dulu, bilamana kalian memang benar-benar ada maksud untuk minta hukuman sewaktu siauwte angkat sumpah di depan Thian Teh Couw su!"
Sesudah mengatur pernapasan beberapa saat lamanya, Bok Thian-hong suami istri secara paksa telah bisa bergerak, pelan pelan mereka bangun berdiri dan ujarnya dengan nada sangat terharu.
Bilamana dibicarakan dari perbuatan Ih heng tempo dulu, seharusnya aku melakukan bunuh diri dihadapan saudara cilik guna menebus dosaku, tetapi kalau saudara cilik bicara demikian, Ih heng suami istri akan ikut perintahmu untuk melanjutkan hidup dan melakukan beberapa pekerjaan yang mulia untuk menebus dosaku sebelum menjalani hukuman menurut peraturan perguruan."
Pada waktu itu, Tan Kia-beng hanya ingin buru-buru meninggalkan tempat itu guna menyembuhkan luka pada bacokan golok di tangannya, ia tidak ingin banyak bicara lagi dengan sepasang suami istri itu.
"Kalau memang di dalam hatimu timbul perasaan menyesal dan sadar akan kesalahan, hal ini membuktikan kalau kau adalah seorang lelaki sejati," sahutnya sambil mengangguk. Semoga kau bisa melaksanakan sesuai dengan perkataanmu dan tidak berbuat jahat lagi, kau pergilah"
Bok Thian-hong segera merangkapkan tangannya menjura, selagi hendak putar badan mendadak.
Suara tertawa tergelak yang amat nyaring berkumandang datang menembus awan....
Sreet! sreet! beberapa sosok bayangan manusia dengan cepat laksana anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur datang.
Dalam keadaan terperanjat Tan Kia-beng mengira orang-orang itu adalah orang-orang pihak Isana Kelabang Emas yang mengejar datang, tangannya dengan gesit mencabut pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiamnya.
Tampaklah serentetan cahaya kebiru biruan dengan terang dan tajamnya menyinari sekeliling hutan tersebut.
Ketika matanya menyapu sekejap ke arah orang-orang itu maka tampaklah salah seorang diantaranya mempunyai hidung belang mata sipit dengan pada punggungnya tersoren sebilah pedang kuno, orang itu berwajah ramah yang ternyata adalah Loo Hu Cu itu ciangbunjin dari Go-bie pay, disebelah kirinya berdirilah tiga orang kakek tua berjubah kasar dan disebelah kanannya berdiri seorang nie kouw tua yang kelihatannya sangat ramah.
Disamping itu berdiri pula seorang Tootiang kurus tinggi yang bersikap sombong dan seorang manusia aneh yang berwajah amat buruk dan binasa.
Sekali pandang pemuda itu lantas mengenali kembali kalau kedua orang itu bukan lain adalah si Malaikat iblis dari Ku Ling serta Hauw Thian Put Tiauw yang pernah bergebrak melawan dirinya.
Bila pada hari hari biasanya ia tidak bakal merasa jeri terhadap kedua orang iblis tua ini, tetapi sekarang diam-diam ia merasa sangat terperanjat.
Begitu Loo Hu Cu melayang turun ke atas permukaan tanah, dengan sepasang sinar matanya yang tajam ia menyapu sekejap ke arah ketiga orang itu kemudian tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa.... haa.... kiranya orang yang selama ini mengadakan pengacauan terus menerus bukan lain adalah orang dari aliran Teh-leng-bun kalian, Beberapa orang iblis! Hampir saja pinto kena dikelabui oleh kalian Hmm! Sekarang apa yang hendak kau katakan?"
Dengan sangat dingin Tan Kia-beng melirik sekejap ke arahnya, untuk sesaat ini memang rada bingung perkataan apa yang seharusnya diucapkan sebagai jawaban.
Salah satu dari ketiga orang kakek tua yang ada disebelah kiri yaitu seorang tua aneh dengan wajah kekuning kuningan, dan jenggot pada lima bagian sambil menuding ke arah pemuda tersebut tanyanya kepada Loo Hu Cu, "Orang yang mencelakai Can bun suheng kita apakah bangsat cilik ini?"
"Hee.... hee.... kalau bukan dia, ada siapa lagi?" sahut Loo Hu Cu sambil tertawa dingin.
Mendadak si kakek tua itu bertindak maju ke depan, bentaknya dengan gusar, "Bajingan buas, kau terimalah serangan dari kami Thian cong Sam Loo yang akan mencabut nyawamu!"
Sreeet! dengan dahsyatnya ia melancarakan satu pukulan sejajar dengan dada.
Tan Kia-beng yang tidak mengetahui apakah sebabnya orang itu menyerang dirinya bukan bukan menyingkir kesamping.
"Tunggu sebentar!" teriaknya keras.
Kepada si kakek tua itu menjura dengan hormatnya.
"Cayhe dengan pihak Thiam cong pay sama sekali tidak mengikat permusuhan apapun kenapa saudara tanpa sebab sudah turun tangan menyerang diriku?" tegurnya.
Si kakek tua itu bukan lain adalah Loo toa dari Thiam cong Sam Loo yang bernama Kiu Ciu Shu, ia jadi orang sangat berangasan, pada saat ini sepasang matanya sudah berubah memerah bentaknya dengan murka, “Tanpa sebab kau sudah mencelakai ciangbunjin kami si It Cie Hwee Hiap, hutang darah harus dibayar dengan darah, serahkan nyawamu!"
Sreeet! dengan menimbulkan suara desiran yang tajam ia melancarkan sebuah serangan jari menghajar jalan darah "Ci Cian Hiat" pada dada musuh.
Melihat datangnya serangan tersebut Tan Kia-beng jadi amat gusar, dia mendengus dingin.
"Urusan ini tentu terjadi disebabkan hasutan Loo Hu Cu si toosu bangsat" teriaknya.
Dengan gesit dia menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut, pedang Giok Hun Kiam ditangannya dengan cepat digetarkan keras.
Serentetan cahaya kebiru biruan yang menyilaukan mata dengan menimbulkan suara desiran tajam menusuk dada Loo Hu Cu.
Melihat ketajaman serta kedahsyatan dari pedang pusaka tersebut, Loo Hu Cu jadi semakin kesemsem. sifat serakah di dalam hatinya semakin memuncak.
Dengan cepat dia miringkan pundaknya ke samping, pedang panjangnya lantas dicabut keluar kemudian laksana kilat yang membelah bumi membabat tubuh pemuda tersebut.
Thian cong Sam Loo yang melihat Tan Kia-beng tidak suka melancarkan serangan ke arahnya sebaliknya malah menerjang Loo Hu Cu, di dalam anggapan mereka pemuda itu sudah pandang rendah dirinya.
Dengan sangat gusar mereka bersuit keras tiga orang enam telapak tangan sama-sama dibabat ke atas punggung pemuda tersebut.
---0-dewi-0---
JILID: 28
Tan Kia-beng yang baru saja menderita luka parah kini mendapatkan pula serangan yang kalap dari ketiga orang itu dalam hati merasa cemas bercampur marah, ia membentak keras, pedangnya mengikuti sang tubuh berputar kesamping.
Diantara kelebatan kebiru biruan, dalam sekejap mata ia sudah melancarkan empat buah serangan mendesak ke arah empat orang itu.
Senjata yang digunakan oleh pemuda tersebut merupakan pedang pusaka yang amat tajam, di dalam keadaan terkejut keempat orang itu buru-buru mengundurkan diri ke belakang.
Menanti Tan Kia-beng berhasil mendesak mundur keempat orang itu sehingga pada menarik diri, mendadak lengannya mulai terasa mengejang bahkan daya kerja sang racun
semakin merambat ke atas jadi sangat terkejut, sekalipun begitu dalam keadaan seperti ini tak ada kesempatan baginya untuk mengambil obat pemunah di dalam sakunya.
Loo Hu Cu serta Thiam cong Sam Lo setelah kena didesak mundur oleh serangan yang amat dahsyat itu, untuk beberapa saat berani maju ke depan secara gegabah.
Diam-diam mereka mulai menyalurkan hawa murninya keseluruh badan, kemudian menantikan kesempatan yang lebih bagus untuk bergerak.
Pada waktu Thiam cong Sam Loo bersama-sama melancarkan serangan ke arah Tan Kia-beng tadi malaikat iblis dari Ku Ling serta Hauw Thian Put Tiauw pun bersama-sama mendesak ke arah Bok Thian-hong suami istri.
"Hee.... hee.... BOk Toa Cungcu dimanakah kegagahanmu tempo dulu? ejeknya sambil tertawa dingin Hadiah pukulanmu sewaktu ada digunung Gak Lok san pinto ingin mengembalikan kepada kalian suami istri berikut rentetannya bilamana kau tahu diri pinto nasehatkan jauh lebih baik hantam ubun ubun sendiri saja untuk bunuh diri dari pada memaksa yayamu repot repot turun tangan."
Bok Thian-hong sewaktu melihat munculnya Loo Hu Cu sekalian pada waktu tadi, di dalam hatinya sudah mengambil keputusan untuk adu jiwa. pada saat ini mana dia suka menunjukkan kelemahan sendiri?
Terdengar Bok Toa Cungcu mengengadah ke atas dan tertawa seram.
"Haaa.... haaa.... sekalipun aku orang she Bok sudah menerima luka luka parah, tapi aku tak bakal menyerahkan nyawaku dengan begitu gampang bilamana kalian kepingin
mencabut nyawaku, hmmm! paling sedikit salah seorang diantara kalian berdua harus mengawani diriku".
Tujuan yang sebenarnya dari Hauw Thian Put Tiauw serta si malaikat iblis dari Ku Ling adalah merebut pedang pusaka Giok Hun Kiam dari tangan Tan Kia-beng, setelah itu baru menuntut balas tanpa mendengus maupun berbicara lagi mereka berdua bersama-sama menubruk ke arah depan.
Simalaikat iblis dari Ku Ling menubruk ke arah Bok Thian-hong sedang Hauw Thian Put Tiauw menubruk ke arah Lei Hun Hwee ci, tetapi mereka berdua yang sudah bermaksud mengadu jiwa sama sekali tidak jadi jeri begitu melancarkan serangan kesemuanya telah menggunakan jurus jurus yang paling ganas.
Sejak Bok Thian-hong kehilanan lengan boleh dikata kehebatannya jauh berkurang Lei Hun Hweeci sendiri setelah tertawan oleh pihak Isana Kelabang Emaspun sudah menderita luka parah, setelah menahan beberapa jurus serangan musuh musuhnya mereka mulai terjerumus ke dalam keadaan yang sangat berbahaya.
Tan Kia-beng yang melihat kejadian itu dalam hati merasa amat cemas tanpa memperdulikan daya racunnya yang mulai bekerja di dalam badan ia membentak keras.
Pedang Giok Hun Kiamnya dengan menimbulkan serentetan cahaya pedang yang menyilaukan mata dengan dahsyat melancarkan tiga buah serangan gencar ke arah depan membuat Hauw Thian Put Tiauw berdua kena didesak dan mengundrukan diri dengan gugup.
Tetapi justru dikarenakan serangan yang telah menggunakan banyak tenaga inilah membuat daya bekerja sang racun dibadannya pun semakin dipercepat, membuat
Hauw Thian Put Tiauw sekalian terdesak mundur ke belakang tangannya dengan cepat merogoh ke dalam saku mengambil keluar dua butir pil pemudah racun dan segera dimasukkan ke dalam mulutnya.
Bok Thian-hong suami istri ketika melihat Tan Kia-beng dengan tarohan nyawa telah menolong dirinya dalam hati merasa semakin terharu bercampur terima kasih Terutama sekali Lei Hun Hweeci yang mengetahui daya bekerja racun di dalam pemuda tersebut tak bisa dipertahankan lebih lama lagi dengan sedihnya ia berteriak keras, “Sute! Kau terjanglah dulu untuk meloloskan diri dari sini! Kau tak usah menggubris kami berdua lagi"
Tan Kia-beng setelah menelan pil pemunah racun tersebut untuk sementara berhasil mencegah daya bekerja dari racun ganas tersebut, sambil melintangkan pedangnya di depan dada ia tertawa dingin tiada hentinya.
"Heee.... heee.... aku ingin melihat manusia manusia iblis yang berangasan dan tanpa berbicara telah menyerang diriku bisa berbuat berapa banyak terhadap aku!" jengeknya.
Si Nie kouw tua yang selama ini tidak pernah berbicara bukan lain adalah Biauw Ing Suthay, pada saat ini sambil goyangkan Hutimnya yang berwarna putih perlahan-lahan ia maju ke depan
"Menurut berita yang tersiar sicu telah menggabungkan diri dengan pihak Isana Kelabang Emas, apa benar ada urusan semacam ini?" tanyanya.
"Heee.... heee.... cayhe sebagai orang Teh Leng kauwcu buat apa harus takluk kepada mereka?" teriak pemuda itu dengan amat gusar.
Ia berhenti sebentar untuk kemudian sambungnya lagi, “Aku tahu kalian manusia manusia kurang ajar, omong pulang pergi juga tidak lebih sedang menginginkan pedang Giok Hun Kiam ditanganku ini. Hee hee mengingin pedang ini tidak susah asalkan kalian tukar dengan batok kepala kalian!"
Biauw Ing Suthay merangkapkan tangannya di depan dada lalu mundur dua langkah ke belakang.
Omintohud.... dosa.... dosa.... Loo nie sama sekali tidak punya pikiran demikian, sicu harap jangan menaruh kesalah pahaman" serunya perlahan.
Pada saat itu jagoan lihay dari aliran lurus maupun sesat bersama-sama mendesak maju semakin mendekat, terdengar Loo Hu Cu sambil tertawa dingin berseru, “Terhadap bajingan buas semacam itu buat apa Sio nio banyak berbicara? lebih baik kasih kesempatan kepada pinto untuk membereskan nyawanya!”
Thiam song Sam Loo yang sudah menganggap Tan Kia-beng sebagai pembunuh It Ci Hwee Hiap ciangbunjin mereka kini semakin mendendam lagi, mereka bertiga dengan menyalurkan hawa murninya keseluruh badan mulai mengurung tempat itu rapat rapat.
Tujuh orang jagoan lihay dengan mengambil posisi dari empat penjuru segera mengepung Tan Kia-beng serta Bok Thian-hong suami istri di tengah-tengah kalangan agaknya suatu pertempuran sengit kembali bakal terjadi.
Dengan pandangan tajam Tan Kia-beng menyapu sekejap keempat penjuru, dengan kecepatan laksana kilat kembali ia menelah empat butir pil pemunah lalu sambil menggetarkan pedangnya ia membentak gusar, “Jika kalian benar-benar
bernyali ayo cepat maju dan rasakan kelihayan dari pedang Giok Hun Kiam dari Siauw yamu ini!"
Sekalipun situasi di tengah kalangan sudah mencapai pada puncaknya, tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang berani melancarkan serangan secara gegabah.
Waktu dengan cepat berlalu, di dalam suara yang sunyi.
Tiba-tiba....
Sesosok bayangan manusia bagaikan asap ringannya melayang masuk ke tengah kalangan kemudian terkekeh kekeh.
“Hiii.... hiii.... baru ini hari aku melihat suatu kejadian yang menarik hati!" katanya keras, “Begitu banyak jagoan kenamaan ternyata mengurung seorang yang masih bocah! Sungguh tidak malu!"
Sehabis berkata tertawanyapun sirap ia putar badan menoleh ke arah Tan Kia-beng sambil menegur, "Eeei adik Beng Jika dilihat paras mukamu yang amat jelek, apakah kau sudah menderita luka?
Tan Kia-beng melirik sekejap ke arah orang itu, sewaktu dilihatnya orang tersebut bukan lain adalah Wu Mey Jian ia tertawa dingin.
"Haa haaa haaa.... cuma sedikit luka masih tidak mengganggu kepandaianku kedatanganmu kebetulan sekali Tolong jaga kedua orang itu, biar aku hajar dan hancurkan manusia manusia rakus yang tak tahu malu itu."
Agaknya secara mendadak Wu Mey Jien telah menemukan luka pada lengan pemuda tersebut, terdengar kembali ia menjerit kaget
"Aaakh! kau terluka?"
Suaranya tinggi melengking dan penuh diliputi oleh rasa kuatir. Sehabis berteriak mendadak tubuhnya berputar dan menerjang ke tengah kalangan.
"Manusia rendah yang mana sudah begitu berani turun tangan beracun terhadap adikku?” bentaknya keras.
Orang-orang yang ada di sekeliling tempat itu rata rata pada mengerti bila Wu Mey Jien adalah seorang manusia yang sulit dilayani, apalagi merekapun bukan tandingannya maka dari itu untuk berapa saat tak seorangpun yang memberikan jawaban.
Terdengar Tan Kia-beng yang ada dibelakangnya menghela napas perlahan.
“Heee.... semuanya hanya bisa menyalahkan aku yang terlalu ceroboh dan gegabah sehingga terkena tipuan dari Cui Hoa Kong cu, orang-orang ini sama sekali tidak tahu menahu di dalam soal ini" katanya rada menyesal.
Walaupun dengan kedatangan dari Wu Mey Jien berarti pula Tan Kia-beng memperoleh bala bantuan tetapi belum bisa dikatakan berhasil mengendorkan suasana tegang yang meliputi di sekeliling kalangan pertempuran tersebut
"Hey Wu Mey Jien!" tegur Loo Hu Cu secara mendadak. "Sejak kapan kau mengadakan sekongkolan dengan si anak iblis ini? pinto nasehati dirimu lebih baik cepat-cepat mengundurkan diri dari persoalan ini!
Perkataannya kasar dan berbendakan menghina sama sekali tidak mirip dengan perkataan seorang Ciangbunjin dari satu partai besar.
Paras muka Wu Mey Jien kontan berobah sangat hebat.
"Hmm? aku sama sekali tidak percaya kalau perkataan yang kotor semacam ini bisa keluar dari mulut seorang Ciangbunjin partai Go-bie pay" dengusnya dingin "Terus terang aku beritahukan kepadamu! jika kalian tidak mau juga mengundurkan diri maka aku akan suruh kalian merasakan bagaimana hebatnya pasir beracun "Chiet Cay Si Kut Sin Sah!"
Diantara ayunan tangannya yang halus tahu-tahu ia sudah mengenakan sebuah sarung tangan tersebut dari kulit menjangan, tangannya lantas merogoh ke dalam saku menjowok segenggam pasir beracun.
Pasir beracun tujuh warnanya ini belum pernah digunakan di dalam dunia kangouw karena itu jarang sekali ada orang yang mengetahui bagaimana kedahsyatan dari pasir tersebut.
Loo Hu Cu sebagai seorang Ciangbunjin dari suatu partai besar ditambah pula sifatnya yang licik, dalam hati tidak ingin membuat salah kepada orang lain secara sembarangan, karena itu sewaktu perempuan cantik Wu Mey Jien tersebut mengancam ia sama sekali tidak memberikan komentar apa apa, maksud untuk menyerang pun tidak ada.
Lain halnya dengan Thiam cong Sam Loo yang datang dengan penuh kegusaran, tanpa banyak membuang waktu lagi si "Tui Hun Shu" atau kakek pengejar nyawa penggosok mega Cang Cong mendadak membentak keras kemudian bersama-sama menubruk ke arah Tan Kia-beng.
Pada waktu tubuh kedua orang itu menerjang ke depan itulah mendadak Wu Mey Jien membentak keras, "Kalian ingin cari mati?"
Tangannya segera diayunkan ke depan, serentetan pasir tujuh warna laksana kabut gelap serta menimbulkan cahaya yang berkilauan menerjang ke atas tubuh mereka berdua.
Pasir beracun yang digunakan oleh perempuan cantik Wu Mey Jien ini bukan saja terkenal akan kena racunnya bahkan di antara serangannya itu tersembunyilah segulung angin pukulan yang maha dahsyat.
Si kakek pengejar sukma Wu Yen yang menerjang paling depan tidak sempat lagi untuk menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut, apalagi pasir beracun tujuh warna itu mengurung tempat seluas satu kaki lebih. Terdengar dia menjerit ngeri tubuhnya kontan rubuh ke atas tanah dan binasa seketika itu juga.
Lain halnya dengan si kakek penggosok mega Cang Cong yang terjangannya rada lambat apalagi posisinya ada disebelah kiri, buru-buru dia menjejakkan kakinya ke atas tanah untuk menjatuhkan diri dan menggelinding kesamping, untung saja gerakannya sangat cepat hingga ia berhasil meloloskan diri dari bahaya.
Kendati begitu keringat dingin sudah mengucur keluar membasahi tubuhnya.
Kematian dari si kakek pengejar sukma segera menimbulkan kegusaran serta kesedihan dari Kiu Ciu Shu berdua.
Perempuan rendah berhati kejam loohu akan mengadu jiwa dengan dirimu." bentaknya keras.
Sepasang telapak tangannya dipentangkan kemudian langsung menubruk ke arah depan, tubuhnya belum tiba segulung angin pukulan yang maha dahsyat sudah menggulung keluar.
Tan Kia-beng sebenarnya tak ingin ada seorang perempuan yang melindungi dirinya mendadak dia maju ke depan menyambut datangnya serangan dari Kiu Ciu Shu.
Serangan yang dilancarkan laksana kilat itu sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Wu Mey Jien untuk melancarkan serangan pasir beracunnya kembali.
"Braak...." dengan menimbulkan suara bentrokan yang keras serta gulungan angin topan yang hebat tubuh Tan Kia-beng kena dipukul tergetar sehingga mundur tiga langkah ke belakang.
Sedangkan Kiu Ciu Shu sendiripun kena dipukul mundur hingga jatuh terjengkang di atas tanah, agak ia kena terpukul hingga menderita luka dalam, terbukti dengan darah segar yang mengucur keluar dari mulut serta hidungnya.
Setelah kejadian ini, maka hal ini memberikan suatu kesempatan yang baik sekali bagi pihak musuh untuk melancarkan serangan karena dengan adanya terjangan dari Tan Kia-beng ini maka sulit bagi Wu Mey Jien untuk menyebarkan pasir beracunnya yang amat lihay itu
Dengan cepat Loo Hu Cu berhasil melihat adanya kesempatan baik tersebut. sambil kebaskan pedang kunonya ia menerjang langsung ke depan.
Karena ia takut Wu Mey Jien kembali melancarkan serangan pasir beracunnya maka begitu menyerang ia telah menyalurkan seluruh hawa murninya hasil latihan selama puluhan tahun ke dalam pedang tersebut.
Hanya di dalam sekejap mata ia sudah melancarkan dua belas serangan gencar.
Tan Kia-beng yang hawa murninya belum pulih, sekalipun ada pedang pusaka di tangannya tidak urung kena didesak pula sehingga mengundurkan diri terus ke belakang.
Hauw Thian Put Tiauw yang melihat ada kesempatan bagus baginya untuk turun tangan segera menggerakkan pedang hitamnya yang sempit dan panjang itu.
Dengan menimbulkan serentetan cahaya tajam ia menerjang ke arah depan dengan amat dahsyatnya.
Seketika itu juga Tan Kia-beng kena dikurung oleh dua orang jagoan lihay dan tergulung di dalam lingkungan hawa pedang yang menderu deru.
Melihat kejadian itu si perempuan cantik Wu Mey Jien jadi gusar bercampur cemas ia membentak nyaring tubunya siap-siap menerjang masuk ke dalam kalangan.
"Heee.... heee.... buat apa kau begitu cemas?" tiba-tiba terdengar simalaikat iblis dari Ku Ling tertawa seram. Mari.... mari biar aku yang menemani dirimu main main sebentar."
Tangannya yang lebar dan besar dengan menimbulkan segulung hawa pukulan dahsyat segera menggulung ke arah tubuhnya.
Wu Mey Jien kena terdesak, terpaksa ia harus putar badan menyambut datangnya serangan tersebut.
Ketika itu para jago yang hadir di tengah kalangan boleh dikata sudah turun tangan semua, kini cuma tinggal si kakek penggosok mega dari Thian cong Sam Loo saja belum bergerak.
Mendadak ia menemukan Bok Thian-hong suami istri yang berdiri disisi kalangan dengan perasaan cemas, walaupun ia tahu mereka lagi terluka parah tetapi si orang tua ini tidak menggubris.
Mendadak tubuhnya menerjang ke depan sepasang telapak tangannya bersama-sama melancarkan serangan menghajar ke arah dua orang itu.
Sekalipun Bok Thian-hong sudah kehilangan sebuah lengannya tetapi dia mana suka mandah digebuk, apalagi disisinya masih ada Lei Hun Hweeci.
Terdengar Bok Thian-hong tertawa seram dengan kerasnya.
"Haaa.... haaa.... Mo Im Shu kau terlalu pandang rendah aku orang she Bok!" teriaknya.
Di tengah kelebatan bayangan hitam, dengan mengandalkan tangan tunggalnya ia menyambut datangnya serangan tersebut.
Lei Hun Hweeci sendiripun telah menerahkan ilmu meringankan tubuh "Mau He Sin Lie nya untuk menahan datangnya serangan musuh dengan sekuat tenaga.
Pada saat ini sepasang suami istri ini telah bulatkan tekad untuk mati bersama-sama bukan saja setiap serangannya amat ganas bahkan kadang kadang menggunakan jurus yang mengadu jiwa.
Mo Im Shu yang semula mengira sangat menguntungkan bila menyerang kedua orang itu kini malah kena terdesak sehingga terjerumus dalam keadaan yang amat membahayakan.
---0-dewi-0---
Kita balik pada Tan Kia-beng yang kena digencet oleh serangan gabungan kedua orang musuh tangguh, pada wajahnya sama sekali tidak terlintas perasaan kaget, jurus jurus serangan yang dilancarkan dengan menggunakan
pedang Giok Hun Kiam tiada hentinya menyambut datangnya setiap serangan.
Bagaimana pedang Kiem Ceng Giok Hun Kiam ini adalah sebuah senjata pusaka yang tajam, sekalipun serangan musuh amat dahsyat tetapi satu persatu berhasil digagalkan
Waktu berjalan semakin lama mendadak pemuda itu merasa racun ditangannya mulai bekerja kembali dalam hati diam-diam ia merasa sangat terperanjat. Apa lagi pada saat ini sedang berlangsung suatu pertempuran yang amat sengit. Ia tahu tak ada kesempatan baginya untuk mengambil obat pemunah di dalam saku.
Dalam keadaan cemas serangannya semakin ganas tak ada sebuahpun yang tidak menggunakan serangan serangan kecil.
Di dalam sekejap mata kalangan kepunganpun kena didesak hingga melebar seluas dua kaki lebih.
Tetapi kedua jago kawakan dari Bulim ini sejak semula sudah berhasil menebak kelemahan tenaga dalam pemuda tersebut dari cahaya biru diujung pedang Giok Hun Kiam nya apalagi sewaktu tadi mendengar pula suara teriak dari Wu Mey Jien, maka dari itu mereka mengetahui kalau pemuda itu sudah menderita luka dan kecarunan.
Melihat serangan pemuda itu mendadak berubah ganas, secara hampir serentak mereka malah memperlambat serangannya dari posisi menyerang kini berubah jadi kedudukan bertahan.
Dengan kejadian ini sekalipun serangan dari Tan Kia-beng ganas tetapi tak akan berhasil mengapa apakan kedua orang itu.
Dengan keadaan seperti inilah waktu kembali lewat setengah jam lamanya. jadi bekerja racun pada lengan pemuda itupun semakin lama semakin menghebat ia ragu bilamana pertempuran dilanjutkan lebih lama lagi maka dirinya pasti akan terbunuh di tangan mereka.
Dalam keadaan lemah pemuda itu buru-buru menarik napas panjang panjang sambil bersuit nyaring pedangnya digetarkan sehingga menimbulkan cahaya yang menyilaukan.
Sreeet! Sreeet! Berturut turut ia melancarkan delapan kali serangan gencar yang telah menggunakan seluruh hawa murni yang dimilikinya pada saat ini Bukan saja serangannya amat dahsyat, bahkan keji, ganas dan telengas.
Baik Hauw Thian Put Tiauw maupun Loo Hu Cu pada mengerti kalau pemuda tersebut sudah terkena racun dan tak bisa bertahan lebih lama lagi, karena itu mereka tak suka mengadu kekerasan. Sebaliknya mereka malah simpan tenaga untuk memperebutkan pedang pusaka nanti.
Melihat pemuda itu menyerang dengan cara yang ganas buru-buru kedua orang itu mengundurkan dirinya ke belakang.
Dengan tindakan mereka ini malah sebaliknya memberi kesempatan yang baik buat Tan Kia-beng untuk mengambil dua butir pil pemunah racunnya dan dijejalkan ke dalam mulutnya.
Begitu pil tersebut tertelan ke dalam perut, semangatnyapun berkobar kembali.
Sinar matanya dengan cepat menyapu sekejap sekeliling kalangan, tampak olehnya Wu Mey Jien dengan mengandalkan gerakan tubuh yang dahsyat sedang bergebrak dengan seru melawan simalaikat iblis dari Ku Ling sedang Bok Thian-hong
suami istri yang sedang bergebrak melawan Mo Im Shu salah satu dari Thiam cong Sam Loo sudah berada dalam keadaan sangat berbahaya.
Hatinya jadi cemas, mendadak ia membentak keras dan melancarkan satu serangan mendadak ke arah Loo Hu Cu.
Si toosu yang diserang secara mendadak jadi kaget sehingga buru-buru mundur ke belakang, mengambil kesempatan inilah tubuh pemuda tersebut melayang keangkasa dan bagaikan seekor burung elang langsung menubruk ke arah Mo Im Shu.
Tadi sewaktu Loo Hu Cu melihat tenaga dalamnya semakin lama semakin lemah dalam hati mengira kalau saja racunnya sudah mulai mengganas, tentu tidak lama lagi kemudian bakal rubuh.
Siapa sangka secara tiba-tiba semangat serta kekuatannya pulih kembali di dalam keadaan berayal hampir hampir saja tubuhnya kena ditusuk dalam hati jadi merasa amat terperanjat.
Napsu membunuh pada saat ini sudah meliputi seluruh benak Tan Kia-beng di dalam hati ia sudah mengambil keputusan untuk membunuh setiap orang yang ada.
Begitu tubuhnya melayang kehadapan Mo Im Shu pedangnya dengan kecepatan bagaikan kilat dibabat ke arah depan.
Aduuuuh...." suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati segera berkumandang memenuhi angkasa, Mo Im Shu salah satu dari Thiam cong Sam Loo kena dibabat sehingga pinggangnya terputus jadi dua darah segar berceceran di atas tanah membuat Biauw Ing Suthay yang menonton di pinggir kalangan kena kecipratan darah tersebut.
Tan Kia-beng yang beberapa kali kena serangan, hawa amarahnya sudah mencapai pada puncak sehingga membuat kesadarannya jadi terganggu, mendadak ia tertawa tergelak dengan suaranya yang seram.
"Haaa.... haaa.... bunuh! Aku mau bunuh habis semua manusia rakus yang tidak tahu malu, aku mau ludaskan semua bajingan keparat terkutuk haaa.... haaa.... jika kalian tidak takut mati, ayoh pada maju semua!
Bagai harimau luka dengan sangat ganasnya, ia menerjang ke arah Loo Hu Cu berdua!
Melihat kedatangan serangan tersebut baik Loo Hu Cu maupun Hauw Thian Put Tiauw jadi berdesir tapi keinginan untuk rebut pedang pusaka masih juga membakar hatinya, dengan cepat mereka berdua bersama-sama menggerakkan pedangnya menyambut datangnya serangan tersebut
Loo Hu Cu terkenal sebagai jagoan pedang nomor wahid di antara tujuh partai besar sedang Hauw Thian Put Tiauw pun merupakan jagoan iblis diantara aliran sesat apalagi pada ketika itu semakin mereka berdua bekerja sama dengan rapatnya sudah tentu seranganpun semakin dahsyat.
Bilamana lawannya bukan seorang jagoan yang benar-benar lihay ia tak mungkin tak bakal sanggup untuk menerima serangan serangan yang dahsyat itu.
Dalam keadaan cemas campur gusar, Tan Kia-beng segera melancarkan serangan dengan seluruh tenaga yang dimiliki.
Setiap jurus yang dilancarkan kesemuanya merupakan serangan serangan mengadu jiwa, terlihatlah cahaya kebiru biruan menyambar, membabat dan menusuk laksana kilat membuat setiap orang serasa kabur dibuatnya.
Loo Hu Cu sekalian yang selama ini hanya mengandalkan kedahsyatan ilmu pedangnya untuk cari kemenangan sama sekali tidak berani mendekati ketajaman dari pedang tersebut, tetapi dengan kejadian ini pun semakin menambah napsu rakus dihati mereka.
Sejak Tan Kia-beng menelan obat pemunahnya lagi walaupun sementara waktu berhasil memberikan kemanjuran yang luar biasa bagi kekuatan lwee kangnya tetapi iapun tidak bisa bertahan lebih lama, semakin lama badannya semakin terasa lemah sedang racun di dalam badannyapun mulai bekerja, akhirnya ia kena didesak berada dibawah angin.
Loo Hu Cu serta Hauw Thian Put Tiauw adalah manusia manusia licik yang berhati binatang agaknya mereka telah menemukan rahasia ini. Mendadak terdengar kedua orang itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaa haaa haaa.... sekarang kau baru tahu kalau kau sedang menggunakan semacam obat mujarab untuk menahan daya bekerja racun didadamu. Tapi mulai sekarang kau jangan harap bisa melakukannya lagi! haaa.... haaa....
Mendadak serangannya semakin mengencang, tampaklah cahaya kehijau hijauan semakin lama berkelebat semakin cepat, hanya di dalam sekejap mata cahaya hijau sudah berkumpul dengan cahaya keemasan sehingga menimbulkan desiran hawa serangan yang menusuk tulang.
Tan Kia-beng yang melihat pihak musuh berhasil mengetahui rahasianya menggunakan obat pemunah untuk mencegah daya kerja sang racun dibadan, dalam hati mereasa amat gusar. Saking cemasnya kepingin sekali ia sekali bacok menghancurkan kedua orang itu.
Hanya sayang kemauan ada tenaga kurang sampai kini untuk balas melancarkan serangan pun tidak berhasil untuk mendapatkan kesempatan.
Si perempuan cantik Wu Mey Jien yang sedang bergebrak melawan si malaikat iblis dari Ku Ling, sembari bertempur tiada hentinya ia memperhatikan terus menerus keadaan Tan Kia-beng.
Sewaktu didengarnya suara bentakan dari Loo Hu Cu tadi dalam hatinya merasa sangat cemas, ia tahu bilamana keadaan tidak cepat-cepat diatasi maka ada kemungkinan pemuda tersebut bakal menemui ajalnya.
Kepingin sekali ia menerjang kesana, tetapi selama ini tubuhnya kena dikurung oleh sepasang cakar setan dari simalaikat iblis dari Ku Ling ini hal tersebut membuat hatinya amat cemas
Dalam keadaan kepepet ia menggigit bibirnya sendiri, diam-diam tangannya merogoh ke dalam saku mencomot segenggam pasir beracun Ciet Cay Kut Sin Sah nya lalu secara mendadak mengundurkan diri ke belakang sambil melancarkan tiga babatan dan tujuh tendangan.
Serangannya kali ini telah menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya simalaikat iblis dari Ku Ling tidak menduga akan datangnya desakan tersebut kontan saja tubuhnya kena didesak mundur tiga langkah ke belakang.
Mengambil kesempatan itulah si perempuan cantik Wu Mey Jien mengayunkan tangannya ke depan.
Segenggam pasir beracun Ciet Cay Si Kut Sin Sah dengan disertai suara bentakan yang keras disambit ke arah depan.
Simalaikat iblis dari Ku Ling yang sedang terdesak mundur ke belakang tidak sempat untuk menghindar agar segenggam pasir beracun dengan cepatnya berhasil mengenai seluruh wajahnya.
Terdengar suara jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma, tubuh simalaikat iblis tersebut segera roboh ketanah dan seketika itu juga menemui ajalnya.
Begitu si perempuan cantik Wu Mey Jien berhasil menghajar mati musuhnya laksana segulung asap dengan sangat cepat dia menubruk ke arah Loo Hu Cu.
Sekonyong konyong.
Suara pujian pada sang Budha bergema memenuhi angkasa dengan ringan Miauw Ing Suthay sudah menghadang di depan tubuhnya.
"Perempuan siluman yang berhati kejam Pinnie ingin minta beberapa petunjuk darimu!" teriaknya sambil menudingkan Hut timnya ke depan.
Pada waktu ini si perempuan cantik Wu Mey Jien sudah diliputi oleh napsu membunuh, hatinya merasa teramat gusar.
“Hmm! kau ingin cari mati!” bentaknya gusar. "Bagus aku akan kabulkan permintaanmu!"
Di tengah suara desiran yang sangat keras kembali ia menyambitkan segenggam pasir beracun "Kiet Cay Si Kut Sin Sah" ke tengah udara sehingga membentuk selapis kabut berwarna.
Walaupun Miauw Ing Suthay memiliki tenaga dalam yang sempurna, ia tidak berani juga menyambut datangnya serangan tersebut dengan saling berhadap hadapan.
Sambil memuji keagungan Sang Budha Hut timnya dikebutkan ke depan melancarkan satu pukulan sedang tubuhnya buru-buru melayang mundur sejauh tujuh depa.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itu Wu Mey Jien dengan cepat berkelebat ke depan menubruk ke arah Loo Hu Cu.
Telapak maupun tendangannya dalam waktu singkat sudah melancarkan sembilan pukulan serta tujuh tendangan kilat.
Serangannya yang maha dahsyat serta gencar ini seketika itu juga memaksa Loo Hu Cu terpaksa menyingkir kesamping.
Waktu itu sebenarnya Tan Kia-beng sudah merasakan tenaganya semakin berkurang lengannya kau tak bisa digerakkan, tetapi sewaktu dilihatnya secara mendadak Loo Hu Cu menyingkir ke samping dengan mengumpulkan seluruh tenaga yang masih ada ia membentak keras.
"Sreeet! Sreeet!" dengan sekuat tenaga ia melancarkan dua buah serangan sekaligus, sedang tubuhnya mengambil kesempatan itu menerjang ke depan meloloskan diri dari kepungan.
Ketika itu kepalanya sudah terasa pening badannya kaku dan tak bertenaga sehingga garakannya gontai seperti orang mabuk.
Untung saja si perempuan cantik Wu Mey Jien keburu tiba dan sekalian membimbing tubuhnya jangan sampai jatuh sedang pada tangan kanannya ia menggenggam pasir beracunnya kencang kencang.
"Hee.... hee.... ada siapa yang tidak takut mati boleh coba maju dan merasakan bagaimana dahsyatnya pasir beracun
Chiet Cay Si Kut sin Sah ku ini! teriaknya sambil tertawa dingin.
Untuk beberapa saat Loo Hu Cu serta Hauw Thian Put Tiauw kena digetarkan juga oleh kedahsyatan dari senjata rahasia pasir beracun tersebut, mereka berdiri terkesima disana tanpa berani berkutik.
ooOoo
Tan Kia-beng yang tubuhnya kena dibimbing oleh perempuan cantik Wu Mey Jien dengan cepat menenangkan hatinya dan merogoh ke dalam saku untuk mengambil obat pemunahnya.
Siapa sangka waktu itulah ia menemukan kalau obatnya tinggal dua butir saja, untuk sesaat ia jadi bingung haruskah ia menelan kedua butir pil tersebut pada saat ini? atau menunggu hingga keadaan sangat kritis baru menerjang?
Selagi ia merasa kebingungan mendadak.
Dari empat penjuru berkumandang suara tertawa aneh yang amat menyeramkan disusul munculnya serombongan manusia bagaikan bayangan setan.
Orang pertama yang berjalan paling depan adalah seorang kakek tua berperawakan tinggi kurus dengan wajah kering dan berkerut persis seperti mayat hidup.
"Heee.... heee.... selamat bertemu! selamat bertemu!” serunya sambil tertawa dingin dengan amat seramnya, "Tidak kusangka saudara saudara yang hadir di dalam kalangan pada saat ini adalah orang-orang yang namanya tercatat semua dikitab kematian, heee, heee.... hal ini malah kebetulan sekali loohu pun tidak membuang tenaga mencari kalian heee.... heee...."
Begitu Tan Kia-beng melihat munculnya si kakek tua itu, jantungnya serasa digodam dengan martil besar kedua butir pil pemunah yang ada ditangannya buru-buru dijejalkan ke dalam mulut.
Loo Hu Cu serta Hauw Thian Put Tiauw sendiripun ikut dibuat kesima oleh kejadian tersebut.
Tan Kia-beng ketika melihat orang yang baru datang bukan lain adalah salah satu dari keempat orang pelindung hukum Isana Kelabang Emas Sam Miauw Ci Sin adanya diam-diam dalam hati merasa sangat terkejut.
Dengan kecepatan luar biasa ia jejalkan kedua butir pil pemunah racun itu ke dalam mulutnya lalu mengatur pernapasannya guna mempersiapkan diri menghadapi pertempuran sengit yang bakal berlangsung.
Lo Hu Cu serta Hauw Thian Put Tiauw yang melihat nada ucapan orang itu sangat kasar dan ingin menang sendiri bahkan tidak memandang sebelah matapun terhadap orang-orang di dalam kalangan, semula rada melengak tetapi kemudian hatinya sudah dibuat sangat gusar.
Hauw Thian Put Tiauw dengan hawa amarah memenuhi benaknya segera bertindak maju ke depan
"Hee.... hee.... saudara berasal dari aliran mana?” bentaknya dingin. "Sungguh sombong sekali omonganmu, seperti menganggap kami bukan manusia, kau harus tahu Too ya mu paling benci manusia manusia sombong semacammu!"
Sam Miauw Ci Sin segera menengadah ke atas tertawa tergelak dengan seramnya.
"Haa.... haa.... lohu percaya kalau kalian beberapa orang masih mempunyai sedikit nama kosong di dalam Bulim, tetapi
malam ini sesudah bertemu dengan Sam Miauw Ci Sin dari Isana Kelabang Emas berarti pula kalian sudah kedatangan malaikat elmaut yang bakal membagikan surat kematian buat kalian, hee, hee menurut penglihatan loohu lebih baik secara jujur kalian serahkan nyawa kalian saja!"
Selama hidup Hauw Thian Put Tiauw bersikap sombong, dengan tak memandang sebelah matapun terhadap semua orang, tak disangka malam ini ia sudah bertemu dengan seorang manusia yang jauh lebih sombong buas dan dingin daripada dirinya.
Saking gusarnya semua rambut serta jenggot pada berdiri bagaikan kawat, sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang menggidikkan, sedang mulutnya tiada hentinya memperdengarkan suara tertawa dingin yang tidak sedap didengar.
Mendadak pergelangan tangannya berputar, pedang keemas emasan yang panjang dan sempit dengan sejajar dada dan menimbulkan pelangi panjang laksana kilat membabat ke arah pinggang lawan.
Sam Miauw Ci Sin mendengus dingin, selagi ia hendak siap-siap turun tangan mendadak terdengar suara bentakan yang keras bagaikan auman singa bergema memenuhi angkasa, disusul menggulung datangnya sebuah angin pukulan menggetarkan pedang emas Hauw Thian Put Tiauw sehingga mendengung. Bukan begitu saja, bahkan angin pukulan tersebut berhasil memaksa tubuhnya terdesak mundur dua langkah ke belakang.
Seorang lelaki suku Biauw yang kekar dan kasar laksana sebuah pagoda hitam telah munculkan dirinya di tengah kalangan.
"Kau si toosu bangsat, kau kira dengan mengandalkan sedikit kepandaianmu itu sudah ada hak untuk bergebrak sendiri melawan Sam Miauw Hu hoat?" bentaknya keras.
Baru saja suara bentakan sirap di tengah udara, serangan kedua bagaikan menggulungnya ombak dahsyat di tengah amukan topan dengan ganas buas dan dahsyat sudah menggulung ke arah depan.
Si Busu tua suku Biauw yang kekar dan besar ini mempunyai julukan sebagai "Hek Yang-sin" atau malaikat bencana berwajah hitam, dengan adiknya "Ci Sah-sin" atau si malaikat perusak berwajah merah disebut juga sebagai Biauw Ciang Siang Ciat" atau dua manusia kosen dari daerah Biauw, bukan saja tenaga pukulan serta kekuatannya bisa membelah batu nisan dalam sekali bacokan, badannyapun kekar atos dan kebal terhadap segala macam senjata tajam.
Dalam keadaan terperanjat Hauw Thian PUt Tiauw jadi amat gusar, tubuhnya dengan gesit mengelit ke samping menghindarkan diri dari datangnya serangan tersebut kemudian di tengah suara suitannya yang amat keras sang udang laksana tiupan topan dan kecepatan bagaikan sambaran kilat hanya di dalam sekejap mata melancarkan delapan belas buah serangan sekaligus.
Seketika itu, angin pukulan serta desiran hawa pedang saling menyambar memenuhi angkasa, suatu pertarungan sengit segera berkobar di tengah kalangan.
Sinar mata yang tajam dari Sam Biauw Ci Sin kembali menyapu keseluruh kalangan, bentaknya tiba-tiba, "Kalian tidak cepat-cepat bunuh diri dengan hantaman ubun ubun sendiri, apa kalian hendak menunggu sampai loohu turun tangan sendiri?"
Si perempuan cantik Wu Mey Jien yang melihat situasi semakin lama semakin tidak menguntungkan, diam-diam ia menjawil dari pemuda tersebut, bisiknya lirih, "Adik Beng! lebih baik kita kabur saja, kau janganlah lebih dulu sedang aku akan menghadang dengan menyebarkan pasir beracun "Ciet Cay Si Kut Sin Sah, aku duga, mereka tidak bakal bisa mengapa apakan dirinya."
"Heeei.... bila cuma ingin mengundurkan diri saja dari sini aku orang she Tan percaya masih mempunyai pegangan, hanya saja Bok Thian-hong suami istri adalah manusia manusia dosa dari perguruanku, aku tidak ingin mereka sampai terjatuh ketangan beberapa orang itu" seru Tan Kia-beng sambil menghela napas.
"Tapi urusan sudah menjadi begitu, kau tidak boleh memikirkan lebih banyak lagi, apalagi badanmu sedang keracunan coba bayangkan apa yang bakal terjadi bila racun di badanmu mulai kerja?
Mengungkapkan soal keracunan semangat Tan Kia-beng yang semula mulai berkobar kini jadi sirap kembali, akhirnya dengan nada sedih ia menghela napas panjang.
Ia tahu begitu daya bekerja obat pemunah di dalam tubuhnya mulai berkurang maka carun di dalam tubuhnya segera akan mulai bekerja, pada saat itulah keadaannya tentu sangat berbahaya dan kemungkinan besar dia tertawan pihak musuh.
"Kau cepatlah pergi!" desak si perempuan cantik Wu Mey Jien lagi. "Jangan membuang bayang waktu, keadaan sangat mendesak."
Tangannya dibalik kembali mencekal segenggam pasir beracun.
Urusan sudah jadi begini Tan Kia-beng mengetahui tak ada kesempatan lagi buat dirinya untuk gagah gagahan, hawa murninya perlahan-lahan ditarik dari pusar mengelilingi tubuh kemudian enjotkan badannya melayang ke atas sebuah pohon siong.
Mendadak....
"Bangsat cilik, kau hendak pergi?" bentak seorang dari tengah udara.
Sreeet! segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menekan ke atas kepalanya.
Kiranya di atas pohon dikeliling tempat itupun sudah tersembunyi jago-jago lihay dari Isana Kelabang Emas.
Tan Kia-beng yang takut racun di dalam badannya kambuh kembali, pada saat ini tak berani menerima datangnya dengan keras lawan keras, sepasang lengannya dipentangkan dengan meminjam kekuatan tersebut, ia melayang balik ke bawah dan tepat menggabungkan diri dengan si perempuan cantik Wu Mey Jien yang sedang menyusul ke arahnya.
Tan Kia-beng yang menggembol daftar hitam, barang-barang antik serta pedang pusaka Kiem Ceng Giok Hun Kiam justru merupakan tujuan dari orang-orang Isana Kelabang Emas, sudah tentu mereka tak akan memberi kesempatan buatnya untuk melarikan diri.
Baru saja tubuh pemuda tersebut melayang ke tengah udara, Sam Miauw Ci Sin sudah menerjang datang ke arahnya sambil memperdengarkan suara tertawanya yang amat menyeramkan.
"Heee.... hee.... Lohu menasehati padamu lebih baik secara jujur menunggu keputusan hukuman saja daripada mencari gara gara dan mencari penyakit sendiri serunya.
Si perempuan cantik Wu Mey Jien yang melihat maksud hatinya gagal tanpa mendengus maupun mengucapkan sepatah katapun segera mengayunkan pasir beracun yang ada di dalam genggamannya ke arah tubuh orang tua itu.
Seketika itu juga seluruh angkasa diliputi oleh selapis kabut yang berwarna warni.
Sam Biauw Ci Sin sama sekali tidak menduga akan datangnya serangan tersebut hampir saja ia terkena oleh serangan pasir beracunnya yang lihay itu.
Di tengah suara suitan yang aneh sepasang telapak tangannya bersama-sama diayunkan ke depan melancarkan serangan satu pukulan membuyarkan datangnya serangan pasir beracun Chiet Cay Si Kun Sah" itu, sedang badannya sendiri dengan kecepatan kilat mengundurkan diri ke belakang.
Loo Hu Cu sebagai seorang yang bersifat licik selama ini berdiri dengan tenangnya disisi kalangan dan setiap saat menantikan kesempatan baik untuk melarikan diri, kini sewaktu dilihatnya tujuan Sam Miauw Ci Sin hanya Tan Kia-beng seorang, diam-diam ia putar badan dan bagaikan seekor kelinci meloncat dan berlari ke dalam hutan.
Siapa sangka sewaktu tubuhnya hampir memasuki hutan dihadapannya, tiba-tiba dari belakang badannya berkumandang datang suara bentakan yang keras bagaikan halilintar yang membelah bumi.
Seorang lelaki kasar suku Biauw yang mempunyai rambut serta wajah berwarna merah tahu-tahu sudah menghalangi perjalanannya.
Orang tua itu bukan lain adalah saudara kandung dari simalaikat bencana berwajah hitam yaitu si malaikat perusak berwajah merah yang amat terkenal di daerah Biauw.
Tampak sepasang matanya memancarkan cahaya kehijau hijauan, telapak tangannya yang besar seperti tangan raksasa, dengan amat dahsyat mencengkeram ke arah dadanya.
Loo Hu Cu sama sekali tidak menduga datangnya serangan tersebut, buru-buru dia berkelit ke samping kemudian mundur sejauh lima depa ke belakang.
Siapa sangka simalaikat perusak berwajah merah ini kendati kelihatannya bodoh, gerakan badannya ternyata amat gesit.
Melihat cengkeramannya berhasil mencapai sasaran yang kosong mendadak tubuhnya mendesak maju ke depan tangannya yang bagaikan sambaran kilat mencengkeram pergelangan tangan musuhnya dengan gerakan yang aneh dan sakit.
Loo HU Cu sebagai seorang jagoan pedang nomor wahid dari antara tujuh partai besar walaupun sangat lihay tidak urung dalam hati merasa terperanjat juga dengan datangnya cengkeraman itu dengan perasaan jeri buru-buru tubuhnya kembali mengundurkan diri sejauh delapan depa sambil mencabut keluar pedang kunonya dan melancarkan satu tusukan ke depan dengan sejajar dada.
Sreet! sreet pedangnya dengan menimbulkan hawa pedang serta desiran yang tajam bagaikan gelombang air laut, melanda ke arah depan, sesudah bersusah payah beberapa
waktu akhirnya ia baru berhasil menahan datangnya serangan gencar dari simalaikat perusak berwajah merah itu.
Tetapi, simalaikat buas inipun tidak bakal menghentikan desakannya disebabkan serangannya kena terhalang.
Di tengah suara suitan gusar yang sangat keras tubuhnya kembali mendesak maju ke depan telapak tangannya berturut turut melancarkan delapan serangan berantai sekaligus.
Di dalam sekejap mata angin pukulan berhawa dingin yang menusuk tulang menderu deru memekikkan telinga, laksana gulungan ombak di tengah samudra ia menggetarkan pedangnya Loo Hu Cu sehingga mendengung keras.
Demikianlah suatu pertempuran yang amat sengit kembali berlangsung dengan sangat ramai, untuk beberapa saat agaknya susah untuk menentukan siapa yang bakal menang dan siapa kalah.
Miauw Ing suthay serta Kiu Ciu Shu yang melihat munculnya orang-orang Isana Kelabang Emas, sejak semula sudah melepaskan maksud hati untuk menyerang Tan Kia-beng serta Bok Thian-hong suami istri.
Pada saat Loo Hu Cu putar badan untuk melarikan diri, terdengar suara pujian pada sang Budha bergema memenuhi angkasa, tanpa menggubris lagi mayat dari Tui Hun Shu serta Mo Im Shu mereka berdua bersama-sama melarikan diri dengan mengambil arah yang berlawanan dari Loo Hu Cu.
Mendadak angin kencang bertiup laksana taupan, sesosok bayangan manusia dengan diiringi suara tertawa aneh yang amat menyeramkan bagaikan seekor burung elang dengan sangat cepatnya mengejar datang sambil mengirim sebuah serangan dahsyat menghajar punggung kedua orang itu.
Kiu Ciu Shu yang baru saja kehilangan dua orang saudaranya dalam hati sebenarnya masih merasa gusar kini setelah merasa dirinya telah diserang dengan kecepatan penuh ia memutarkan badannya dan membentak keras, sepasang telapak tangannya ber-sama-sama didorong ke depan menyambut datangnya serangan bokongan tersebut.
Miauw Ing suthay melihat keganasan dari orang-orang Kelabang emas bahkan mengandung maksud membasmi semua orang yang ada, dengan perlahan ia memuji keagungan Budha, tubuhnyapun berputar sambil menggetarkan hut timnya dengan jurus "Kong Cho Kay Ping" atau burung merak pentang sayap menyambut datangnya serangan musuh, sedang tangan kirinya dengan menggunakan jurus "Lek Han Thian san" atau menggoyang gunung Thian san melancarkan satu pukulan dahsyat ke depan.
Menurut keadaan yang seharusnya dibawah serangan gabungan dua orang jagoan lihay orang itu tentu tak akan mendapatkan kebaikan Siapa sangka sewaktu tenaga pukulan dari Kiu Ciu Shu terbentur dengan datangnya hawa pukulan musuh, mendadak ia menjerit kesakitan sedang tubuhnya bagaikan sebuah layang layang putus mencelat di tengah udara dan roboh ke atas tanah.
Dari mulutnya dia muntahkan darah segar yang muncrat setinggi dua tiga depa jauhnya.
Miauw Ing Suthay yang melihat si orang tua itu roboh, dalam hati merasa terperanjat, telapak kiri yang melancarkan pukulan, buru-buru ditarik kembali.
Tetapi keadaan terlambat sudah.... "Braak! bluuummm!" seluruh tubuh nikou tua itu tergetar keras hingga terdesak mundur beberapa depa langkah ke belakang, Dari ujung
bibirnya menetes keluar darah kental yang berwarna merah tua.
Orang yang baru saja melancarkan serangan ke arah kedua orang itu bukan lain adalah Sam Biauw Ci Sin. Ketika dilihatnya diantara mereka berdua, satu mati satu terluka. Tak kuasa lagi ia dongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Ha ha ha.... semua orang yang hadir di dalam kalangan pada malam ini sudah terdaftar namanya dikitab kematian. Siapapun jangan harap bisa meloloskan diri dalam keadaan selamat.
Sepasang telapak tangannya dipentangkan lebar-lebar, kemudian dengan wajah penuh napsu membunuh, selangkah demi selangkah mulai mendekati tubuh Miauw Ing Suthay.
Miauw Ing Suthay mengetahui bila dirinya sukar untuk meloloskan diri dari kematian, diam-diam ia menghela napas panjang.
Hawa murninya pelan pelan dikumpulkan jadi satu untuk menahan luka dalam yang diderita, sedang hut tim ditangannya pelan pelan diangkat ke atas, telapak kirinya disilangkan di depan dada untuk melindungi tubuh, sikapnya amat serius sekali.
Pada waktu yang amat kritis itulah mendadak diluar hutan berkumandang datang suara jeritan ngeri disusul meluncur datangnya sesosok bayangan putih yang berkelebat menuju ke tengah kalangan.
Air muka Sam Biauw Ci Sin berubah hebat, tubuhnya berputar dan memandang tajam ke arah bayangan putih tersebut.
Mendadak tubuhnya bergerak meloncat dan menyambar ke depan menyambut kedatangan bayangan itu.
Tiba-tiba....
Dari luar hutan kembali berkumandang datang suara bentakan nyaring sesosok bayangan berkelebat datang dengan seluruh tubuhnya diliputi selapis cahaya hijau yang menyilaukan mata, suara teriakan kesakitan dan jeritan ngeri bergema saling susul menyusul.
Bayangan tersebut dengan cepatnya tiba-tiba melesat dan menghadang dihadapan tubuh Sam Biauw Ci Sin.
Kedatangan orang itu cepat luar biasa tampak bayangan manusia saling bergerak secepat kilat kemudian berpisah dan masing-masing mengundurkan diri sejauh lima depa ke belakang.
Di dalam sekali pandang saja Tan Kia-beng dapat menangkap jelas kalau orang yang menghadang gerakan Sam Biauw Ci Sin barusan adalah Mo Tan-hong, sedang bayangan putih itu bukan lain adalah Pek Ih Loosat Hu Siauw-cian adanya.
Melihat munculnya kedua orang gadis itu pemuda tersebut merasa hatinya semakin tidak tenteram.
Begitu tubuh Hu Siauw-cian melayang turun ke atas permukaan tanah, sewaktu dilihatnya Sam Biauw Ci Sin sudah kena terhadang oleh Mo Tan-hong, dengan gesit ia menubruk ke arah Tan Kia-beng.
"Akh! Engkoh Beng, kau terluka?" teriaknya kaget.
Ketika itu daya tahan dari kedua butir pil pemunah racun yang ditelan pemuda tersebut hampir kehilangan daya
bekerjanya racun yang terkandung di dalam badanpun mulai bekerja kembali, tidak terasa lagi ia menghela napas sedih.
Melihat sikapnya itu Siauw Cian semakin cemas lagi, sambil mencengkeram tangannya dengan cemas dan gugup ia bertanya,
"Kau terluka karena apa? Kenapa begitu parah?"
"Aku telah terkena golok melengkung berwarna keperak perakan dari Cui Hoa Kongcu!"
"Manusia rendah? bangsat beracun! bilamana dikemudian hari aku bertemu muka dengan dirinya akan kucabut nyawanya"
Si perempuan cantik Wu Mey Jien yang ada disisi pemuda tersebut mendadak menimbrung dengan suara yang dingin.
"Saat ini bukan waktunya untuk menyembunyikan diri lebih baik kita cepat-cepat tinggalkan tempat ini, kalau terlambat lagi maka lukanya bakal semakin berbahaya!"
"Hmm! kau manusia semacam apa?" jengek Hu Siauw-cian, sambil melirik sekejap ke arahnya, "Untuk nonamu tidak usah kau ikut campur!"
"Urusan sudah tentu aku tidak akan ikut campur, tetapi kau harus tahu dia adalah adikku, aku punya hak untuk berusaha mencarikan akal guna membantu dengan meloloskan diri dari sini."
"Dia adalah adikmu?" tanya Hu Siauw-cian keheranan, dengan cepatnya ia menoleh ke arah Tan Kia-beng dan sambungnya.
“Engkoh Beng, apakah yang dikatakan olehnya itu benar?"
Dengan lemas dan tak bertenaga Tan Kia-beng menggeleng, tetapi teringat akan sikapnya yang selalu membelai dirinya bahkan tanpa memperduli nyawa diri ia sudah berusaha menolong dirinya untuk lolos dari bahaya dalam hati jadi terharu dengan cepat ia mengangguk.
Melihat pemuda itu sebentar menggeleng sebentar mengangguk, Hu Siauw-cian lantas mencibirkan bibirnya.
"Houuu.... sebentar bilang bukan sebentar bilang benar, sebenarnya diantara kalian ada hubungan apa toh?" serunya sambil tertawa dingin.
Selagi ia merasa jengkel dan mencak mencak, mendadak sinar matanya telah menemui sesuatu di tengah suara bentakan yang amat keras tubuhnya segera menubruk ke tengah kalangan.
Kiranya Mo Tan-hong sesudah berhasil menahan gerakan dari Sam Biauw Ci Sin, mereka berdua dalam kecepatan lakasana kilat saling melancarkan serangan sebanyak dua jurus kemudian berpisah dan berdiri tegak tak bergerak.
Sam Biauw Ci Sin sewaktu melihat orang yang menahan gerakannya tidak lebih cuma seorang nona berbaju merah yang berusia sangat muda dalam hati merasa rada kheki bentaknya keras, "Hey bocah perempuan, siapa kau? buat apa dengan usiamu yang masih muda ingin hantar kematian!"
"Hee.... hee.... nonamu adalah Mo Tan-hong yang sedang dicari oleh kalian manusia Isana Kelabang Emas" teriak gadis itu sambil tertawa dingin. "Bilamana kau sungguh sungguh punya kepandaian ayo keluarkanlah semua, coba lihat nonamu takut tidak kepadamu."
---0-dewi-0---
JILID: 29
Ketika Sam Biauw Ci Sin mendengar orang yang dihadapannya bukan lain adalah manusia yang diperintahkan medali "Kiem Uh Leng Pay" untuk dibunuh wajahnya yang kering dan berkeriput mulai terlintas hawa membunuh.
Ia tertawa dingin, mendadak lima jarinya dipentangkan lebar-lebar lalu melancarkan cengkeraman ke depan.
Hanya di dalam sekejap mata saja ia sudah melancarkan delapan belas kali serangan cengkeraman maut ke arah gadis tersebut.
Dengan tenaga dalamnya yang amat sempurna, seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan kelebatan bayangan jari serta angin puklan telapak yang menderu deru hanya di dalam sejurus saja tubuh Mo Tan-hong sudah terkurung di dalam lautan pukulan.
Sejak Mo Tan-hong mendapatkan pelajaran ilmu silat untuk kedua kalinya dari Ui Liong-ci kepandaiannya pada saat ini boleh dikata sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat apalagi seluruh isi dari kitab pusaka "Sian Tok Poo Liok" hampir dipahami olehnya.
Tampak ia menggetarkan suara pedang untuk menyambut datangnya serangan tersebut cuma sayang pengalamannya sangat cetek sehingga kena direbut posisi yang baik, banyak jurus jurus lihay jadi tak berhasil dipergunakan keluar.
Sekalipun serangan dari Sam Biauw Ci Sin dahsyat, iapun tak berhasil mendapatkan lowongan untuk meneter pihak musuh, oleh karena itu walaupun ia berturut turut ia
melancarkan lima, enam belas jurus serangan masih belum berhasil juga mengapa apakan gadis tersebut.
Sam Biauw Ci Sin dengan kedudukannya sebagai pelindung hukum Isana Kelabang Emas ternyata tidak berhasil meringkus seorang gadispun juga hal ini membuat sifat buasnya timbul kembali
Di tengah suara bentakan yang keras permainkan telapaknya segera berubah di tengah desiran angin pukulan yang menggelegar seluruh bayangan telah dipenuhi dengan bayangan telapak tangannya.
Mo Tan-hong yang sedang melawan datangnya angin pukulan dahsyat dengan sekuat tenaga, mendadak merasa tenaga tekanan semakin lama semakin berat bagaikan tindihan gunung Thay-san, haitnya jadi sangat cemas, seluruh tenaga lweekangnya dengan cepat disalurkan ketubuh pedang sehingga memaksa kalangan sinar pedang semakin meluas.
Tetapi sayang gadis ini belum mempunyai pengalaman yang luas ditambah pula tenaga dalamnya masih kalah setindak dari si orang tua itu lama kelamaan ia berhasil dipaksa berada dibawah angin.
Waktu itulah si Pek Ih Loo Sat lagi merasa tidak senang, melihat Mo Tan-hong kena terdesak ia segera tumpahkan seluruh hawa amarahnya kepada pihak musuh.
Tubuhnya dengan cepat menerjang masuk ke dalam kalangan. sedang telapak tangannya dengan hebat memainkan ilmu 'Swie Oh Peng Hun Sam Tiap Sih' mendesak ke pihak musuh.
Kepandaian silat yang dimiliki gadis ini tidak berada dibawah kepandaian si 'Penjagal Selaksa Li' Hu Hong, dengan
ikut sertanya dia terjunkan diri ke dalam kalangan pertempuran maka situasipun segera berubah.
Tampak deruman angin dingin menyambar tiada hentinya bayangan telapak menyilaukan mata, laksana gulungan ombak di tengah samudra dengan tiada putusnya menerjang tubuh orang tua itu.
Kendati tenaga dalam yang dimiliki Sam Biauw Ci Sin amat sempurna tidak urung pada saat ini kena desak juga sehingga mundur tiga langkah ke belakang....
Semua Mo Tan-hong tidak lebih hanya kalah merebut posisi yang baik saja, kini setelah tekanan pada tubuhnya berkurang pedang ditangannya dengan menumbulkan cahaya kehijau hijauan serta desiran hawa pedang yang mengerikan balik menggulung ke arah pihak musuh.
Sreeet.... sreeet....! hanya di dalam sekejap mata saja ia sudah melancarkan sembilan serangan gencar.
Dengan kejadian ini Sam Biauw Ci Sin yang mempunyai kepandaian tinggi kena dibuat kalang kabut serta kelabakan sendiri, kembali tubuhnya kena didesak mundur lima, enam langkah ke belakang
Si perempuan cantik Wu Mey Jien yang melihat Mo Tan-hong serta Pek Ih Loo Sat berhasil menahan Sam Biauw Ci Sin melihat pula keadaan Tan Kia-beng semakin payah hatinya jadi cemas.
Mendadak ia menggendong tubuh pemuda itu ke atas punggung, setelah menggenggam pasir beracun dengan gesit ia melesat dan menerjang keluar dari hutan.
Sejak munculnya Sam Biauw Ci Sin disana, Bok Thian-hong suami istri terus menerus mengatur pernapasan tidak
berbicara kini sudah melihat suatu kesempatan yang baik untuk melarikan diri telah tiba dan Wu Mey Jien bergerak untuk berlalu dari sana merekapun segera menguntil dari belakang.
Beberapa orang itu baru saja tiba dihutan, mendadak terdengar bentakan keras bergema memenuhi angkasa disusul munculnya sekelompok manusia.
"Oh.... hoo.... hooo.... ingin melarikan diri?” bentak orang-orang itu keras. “Tak begitu mudah kawan, ayoh cepat kembali.
Sreet sreet! berpuluh puluh gulung angin pukulan dengan hebatnya dibabat ke depan.
Dengan lincah si perempuan cantik Wu Mey Jien menyingkir ke samping diantara ayunan tangannya pasir beracun 'Chiet Cay Si Kut Sin Sah' sudah disebar ke arah depan.
Di tengah menggulungnya selapis kabut berwarna warni, suara jeritan ngeri bergema saling susul menyusul, berpuluh puluh orang sambil menjerit jerit pada roboh ke atas tanah.
Bok Thian-hong membentak keras tangan tunggalnya diayun ke depan mengirim satu pukulan pencar ke depan.
Bersamaan dengan menggulungnya angin pukulan tubuhnyapun ikut menerjang ke depan sepasang suami istri itu adalah jagoan nomor wahid dari Bulim, sekalipun berada dalam keadaan luka parah tenaganya berkurang tetapi pukulan yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga ini benar-benar luar biasa sekali.
Kontan saja terbukalah lubang kelemahan yang besar, mengambil kesempatan ini kedua orang itu buru-buru
melarikan diri keluar dari hutan disusul Wu Mey Jien dari belakang.
Dia yang takut orang-orang Isana Kelabang Emas kembali mengadakan pengejaran, setelah berhasil meloloskan diri sekali lagi menghamburkan pasir beracunnya ke belakang setelah itu tubuhnya melesat menjauh.
Terang terangan Sam Biauw Ci Sin dapat melihat Tan Kia-beng sekalian melarikan diri dari tempat itu tetapi dirinya kena terhalang oleh serangan serangan gencar kedua orang gadis tersebut jadi tak bisa berkutik.
Pertempuran antara Hauw Thian Put Tiauw dengan Hek Yang-sin serta pertempuran antara Loo Hu Cu dengan Ci Sah-sin pun pada saat ini sudah kelihatan menang kalahnya.
Hauw Thian Put Tiauw serta Loo Hu Cu yang selama ini menyerang dengan mengandalkan masing-masing senjatanya tetapi disebabkan dalam pikiran mereka hanya terlintas soal melarikan diri saja, maka selama pertempuran mereka sama sekali tidak mengerahkan seluruh tenaga.
Oleh sebab itu setelah mengalami serangan gencar dari kedua orang Busu dari suku Biauw ini lama kelamaan mereka kena terdesak pula sehingga berada di bawah angin.
Loo Hu Cu jadi orang licik, ketika dilihatnya Sam Biauw Ci Sin yang paling menakutkan kena tertahan oleh Pek Ih Losat serta Mo Tan-hong dengan cepat ia menggetarkan pedangnya. Dari posisi bertahan kini berubah jadi kedudukan menyerang.
Bagaikan curahan hujan deras sekaligus ia melancarkan delapan serangan dahsyat yang membuat seluruh angkasa dipenuhi hawa desiran angin Kontan saja membuat Ci Sah-sin kena terdesak sehingga mundur depa ke belakang
Maksud sesungguhnya dari Loo Hu Cu memang tidak berada dalam penyerangan, setelah mengirim delapan buah serangan tubuhnya meloncat ke samping Sambil membolang balingkan pedangnya terburu-buru ia melarikan diri keluar hutan.
Toosu tua ini disebut jagoan pedang nomor wahid, sudah tentu kepandaiannyapun tidak rendah. Kendati pihak Isana Kelabang Emas sudah menyebarkan orang-orangnya diluar hutan tidak urung kena diterobos juga olehnya.
Hauw Thian Put Tiauw sewaktu melihat orang yang ada dikalangan sudah berhasil melarikan diri semua hatinya mulai merasa cemas.
Karena pikirannya bercabang inilah pundaknya kena terhantam keras oleh Hek Yang-sin
Ia mendengus berat, dengan tubuh sempoyongan buru-buru ia mengundurkan diri sejauh tujuh delapan depa Mengambil kesempatan ini pula tanpa perduli lukanya sendiri, ia putar badan dan melarikan diri terbirit birit dari kalangan pertempuran itu.
Hek Yang-sin serta Ci Sah-sin yang kehilangan lawannya semula rada tertegun, tetapi ketika dilihatnya Sam Biauw Ci Sin yang kena digencet oleh kedua orang gadis itu rada kelabakan juga dibuatnya, dengan gusar mereka bersuit nyaring lalu bersama-sama menubruk ke depan.
Sejak kecil Pek Ih Loo Sat dibesarkan dalam suasana pertempuran pikirannya selama ini dapat mempertahankan ketenangannya terutama sekali ia tahu kedudukan pada malam ini sangat tidak menguntungkan pihaknya.
Tadi ia menyerang mati matian tidak lebih hanya ingin memberi kesempatan agar Tan Kia-beng bisa melarikan diri
rada jauh kini setelah melihat kedua orang Busu suku Biauw yang serang bagaikan pagoda hitam itu mengikuti sertakan dirinya dalam pertempuran dia tidak ingin melanjutkan pertempuran lagi.
"Hey!! Tidak usah bergerak lagi. kitapun harus cepat-cepat pergi!! Teriaknya kepada Mo Tan-hong keras keras.
Telapaknya memutar dan berturut turut melancarkan tiga pukulan gencar melesat ke dalam hutan
Mo Tan-hong yang selama ini terus menerus menguatirkan keselamatan dari Tan Kia-beng, setelah diperingatkan oleh Pek Ih Loo Sat pedang panjangnya dengan cepat melancarkan dua babatan dahsyat ke arah pihak musuh kemudian tubuhnya mencelat ke tengah udara bersama-sama dengan Hu Siauw-cian menerjang keluar dari hutan.
---0-dewi-0---
Kita balik pada si perempuan cantik dari balik kabut Too Cui Thay yang menggendong tubuh Tan Kia-beng melakukan perjalanan cepat.
Sewaktu melihat dibelakang tubuhnya tak ada yang melakukan pengejaran hatinya jadi lega, sedang langkahpun semakin perlahan dan akhirnya berhenti.
Perlahan-lahan perempuan itu meletakkan tubuh Tan Kia-beng ke atas tanah.
Ketika itu kesadaran Tan Kia-beng sudah buyar mulut luka pada lengan pun pada saat ini sudah membekas panjang dan berwarna hijau kehitam hitaman.
Untung saja tenaga dalam yang dimiliki pemuda ini amat sempurna sehingga hawa murni di dalam tubuh tidak sampai buyar dan tetap melindungi denyutan jantungnya.
Si perempuan cantik dari balik kabut segera mengadakan pemeriksaan sebentar, akhir dengan kerutkan alisnya rapat rapat ia termenung hatinya benar-benar merasa amat cemas.
Ketika diam-diam dihitungnya ia menemukan sejak terluka oleh goresan golok beracun hingga kini sudah ada empat, lima jam lamanya hal ini menunjukkan pula kalau nyawa pemuda itu tinggal enam, tujuh jam lagi.
Sebenarnya dia adalah seorang yang bersikap angkuh dingin, tawar dan kejam, tetapi entah mengapa terhadap pemuda ini perempuan tersebut sudah menaruh suatu perasaan yang istimewa pikirannya mulai bingung mencari orang yang dapat membebaskan racun ganas itu
Walaupun dalam benaknya ia sudah menemukan banyak orang yang mungkin dapat memunahkan racun itu tetapi tempat tinggal orang-orang itu terlalu jauh, tidak mungkin ia berhasil mengundang orang itu dapat waktu enam, tujuh jam yang terlalu singkat, apalagi bila usahanya ini gagal. bukannya nyawa Tan Kia-beng bakah ikut lenyap?
Waktu lewatnya dengan cepatnya perempuan itu semenjak lama semakin cemas, sehingga akhirnya ia berdiri terkesima dihadapan pemuda tersebut.
Pada saat itulah mendadak....
Suara seorang yang dingin dan menyeramkan berkumandang keluar dari belakang tubuhnya.
"Heee, heee! nona kau tidak usah murungkan hati lagi! cayhe tanggung bangsat ini pasti akan menemui ajalnya!"
Dalam keadaan terperanjat si perempuan cantik dari balik kabut buru-buru memutar sang badan, sedang tangannya dengan sebat menyekal segenggam pasir beracun.
Tampaklah seorang pemuda berwajah putih dengan pakaian perlente dan penuh dengan sifat kecabulan berdiri dibelakang tubuhnya sendiri.
"Kau jangan bicara sembarangan!" bentaknya nyaring.
Perlahan-lahan kongcu berpakaian perlente itu maju ke depan, dengan wajah yang tengik dan mengandung napsu jahat ujarnya sambil tertawa, "Aku Cui Hoa Kongcu tidak pernah membiarkan korbanku berhasil meloloskan diri dari sabetan golok tanpa bayangan heee.... heee.... apa kau kira aku bisa menipu dirimu?"
Mendengar disebutnya nama itu dalam hati Wu Mey Jien rada bergerak, makinya diam-diam, "Ooow.... kiranya bangsat cilik inilah yang turun tangan jahat terhadap adik Beng!"
Sedang ia berpikir keras, kembali Cui Hoa Kongcu bertindak maju dua langkah ke depan
“Bangsat ini sebenarnya apamu?” tanyanya.
"Bilamana kau suka memenuhi sebuat syaratku, maka cayhe akan segera menyerahkan obat pemunah tersebut kepadamu!”
Selesai berkata ia segera tertawa terbahak-bahak dengan amat kerasnya.
"Aaakh.... kenapa aku begitu bodoh? tiba-tiba si perempuan cantik dari balik kabut ini menjadi tersadar kembali. Kalau bangsat ini yang turun tangan mencelakai adik Beng, maka di dalam sakunyapun tentu membawa obat pemunah tersebut."
Karenanya ia sengaja memperlihatkan paras muka kegirangan bercampur terkejut.
"Waaah, kalau begitu aku harus mengucapkan banyak terima kasih kepadamu!" teriaknya keras. “Can adalah adikku
bilamana kau mau menyerahkan obat pemunah kepadaku, nanti jika sudah tersadar kembali aku tentu akan suruh dia mengucapkan terima kasih kepadamu, peristiwa yang sudah lalu biar kita anggap selesai saja."
"Haaa.... haaa.... soal itu sih aku tidak begitu membutuhkan. Aku hanya berharap nona suka mengabulkan permintaan Cayhe!"
"Permintaan apa?"
"Urusan ini sebenarnya sangat gampang sekali permintaan dari seorang pria terhadap kau perempuan selamanya cuma ada satu permintaan, cayhe ini sudah tentu tak akan meleset dari perbuatan itu, haa haa bila nona mengharapkan nyawa adikmu bisa selamat maka permintaan dari diriku yang sangat kecil itu seharusnya kau kabulkan dengan senang hati, apalagi perbuatan itu akan mendatangkan keuntungan buat nona bukankah dengan permainan itu kau tidak akan merasa dirugikan bahkan mendatangkan kesenangan penuh kenikmatan? haa...."
Sejak si perempuan cantik dari balik kabut munculkan dirinya ke dalam dunia persilatan belum pernah ada seorang manusiapun yang berani bersikap begitu kurang ajar terhadap dirinya.
Saking gusar bercampur mendongkol, paras mukanya berubah jadi pucat kehijau hijauan seluruh tubuhnya gemetar sangat keras.
Tetapi demi menolong nyawa dari Tan Kia-beng, diam-diam ia menggertak gigi dan dengan sekuat tenaga melawan hawa gusar di dalam rongga dadanya.
"Hiii.... hiii.... mau berbuat begitu sebenarnya bukan suatu pekerjaan yang sukar" katanya kemudian sambil tertawa
cekikikan. Coba kau serahkan dulu obat pemunah itu kepadaku, aku tentu akan mengabulkan permintaanmu itu!"
Dari dalam sakunya Cui Hoa Kongcu lantas mengambil keluar sebuah botol porselen dan diacungkan ke tengah udara.
"Obat pemunah ini ada di tanganku. aku bila menunggu sampai dia tersadar kembali dari pingsannya maka permainan kita tentu tak bisa dilangsungkan dengan penuh kenikmatan lebih baik kita selesaikan dulu permainan kita kemudian baru obati racunnya, bukankah hal itu sangat bagus sekali?"
"Hmm! Bangsat cilik kau berani mempermainkan aku! Heee memang kau sudah bosan hidup? diam-diam maki si perempuan cantik dari balik kabut dalam hati.
Segera ia tertawa terkekeh kekeh kembali dengan amat merdu.
"Heee, heee heee.... sudahlah, aku pasti mengabulkan permintaan itu, tetapi kau harus menyerahkan obat pemunah itu kepadaku lhooo!"
Dengan langkah yang genit dan mempesonakan ia melangkah maju ke depan.
Kematian sudah berada di ambang pintu, Cui Hoa Kongcu masih tidak menyadari akan hal ini melihat si perempuan cantik dari balik kabut dengan penuh senyuman menyongsong datang ke arahnya, saking gembira dan terpesonanya hampir boleh dikata seluruh tubuhnya terasa jadi lemas.
“Haaa.... haaa.... hal ini sudah tentu!” teriaknya sambil tertawa terbahak-bahak, “Soal itu buat apa dibicarakan lagi? ha,"
Belum habis suaranya bergema memenuhi angkasa mendadak segulung angin serangan yang amat tajam
menubruk datang ke atas wajahnya disusul suatu perasaan sakit yang sangat aneh menusuk keseluruh tubuhnya.
Segenggam pasir beracun Chiet Cay Si Kut Sin Sah sudah diayunkan, sudah diagunkan si perempuan cantik dari balik kabut ke atas seluruh kepala dan wajahnya.
Pasir ini luar biasa beracunnya, apalagi jarak diantara mereka pun sangat dekat sekali. Kendati Cui Hoa Kongcu memiliki kepandaian silat yang sangat sempurnapun sulit baginya untuk menghindarkan dari serangan bokongan tersebut.
Terdengar suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memenuhi angkasa tubuhnya tak kuasa lagi rubuh ke atas tanah sedang dari tujuh buah lubang keluar darah kental berwarna hitam pekat, seketika itu juga ia menemui ajalnya.
Dengan sangat gembiranya si perempuan dari balik kabut tertawa terkekeh kekeh, dengan cepat ia merogoh ke dalam sakunya mengambil keluar sebotol porselen itu kemudian mengeluarkan dua butir pil pemunah tersebut dan menjejalkan ke dalam mulut pemuda itu.
Tetapi keadaan dari Tan Kia-beng pada saat ini sudah amat lemah sekali bahkan bernapaspun menjadi persoalan yang sulit apalagi untuk menelan pil pemunah racun itu.
Akhirnya dengan perasaan apa boleh buat perempuan itu dongakkan kepalanya memperhatikan tempat itu setelah dirasanya disekitarnya sama sekali tak nampak bayanga manusia ia mengerahkan hawa murninya dan menempelkan bibirnya dengan bibir pemuda tersebut lalu dengan sekuat tenaga menyemprotkan pil pemunah itu ke dalam
tenggorokannya sehingga menggelinding masuk ke dalam perut.
Dari dalam perut Tan Kia-beng segera terdengarlah suara kerucukan yang amat keras sekali....
Melihat kejadian itu si perempuan cantik dari balik kabut jadi sangat gembira, sewaktu ia siap-siap untuk menarik hawa murni dan melakukan penempelan bibirnya dengan bibir pemuda itu untuk kedua kalinya, mendadak....
Dari luar hutan berkumandang datang suara tertawa cekikikan yang sangat merdu membuat perempuan cantik ini saking terperanjatnya seperti terpagut ular dengan cepat meloncat bangun. Pipinya kontan saja barubah jadi merah padam menahan rasa jengah yang meliputi seluruh perasaannya.
Perempuan ini sejak menginjak dewasa dan hingga hidup sampai hari ini belum pernah dia berhimpitan dengan tubuh seorang lelaki manapun. Kali ini disebabkan keadaan yang kepepet dan berbahaya ditambah pula dalam hatinya ia menganggap Tan Kia-beng sebagai adiknya sendiri maka tanpa ragu ragu lagi ia sudah berbuat begitu.
Siapa sangka justru perbuatannya itu kena diketahui orang lain, hal ini sudah tentu membuat si perempuan cantik dari balik kabut ini jadi merasa sangat malu.
Setelah berkumandangnya suara tertawa tadi dari balik hutan segera muncullah seorang melayang mendekat.
Dia bukan lain adalah si 'Pek Ih Loo Sat' Hu Siauw-cian adanya. Pada saat ini gadis tersebut tak ada kesempatan untuk menggoda si perempuan cantik dari balik kabut lagi.
Dalam sekali lompatan ia berkelebat kehadapan Tan Kia-beng teriaknya keras, "Engkoh Beng.... engkoh Beng...."
Melihat perbuatannya dari gadis tersebut buru-buru si perempuan cantik dari balik kabut menghalangi perbuatannya.
Eeei.... jangan berisik dulu! baru saja ia makan obat pemunah tidak lama kemudian dia akan sadar dengan sendiri."
“Hmm! dari mana kau dapatkan obat pemunah tersebut?” dengus si Pek Ih Loo Sat sambil melirik sekejap ke arahnya dengan pandangan amat dingin.
"Dari saku bangsat cilik itu!" jawab si perempuan cantik dari balik kabut sambil menuding mayat Cui Hoa Kongcu yang menggeletak di atas tanah.
Pek Ih Loo Sat yang melihat pada pinggangnya masih tergores golok melengkungnya yang berwarna keperak perakan itu dengan cepat ia lantas menyambar senjata itu dan dicekalnya erat-erat.
"Hmmm! engkoh Beng terluka dibawah serangan golok melengkung ini, aku mau suruh diapun merasakan bacokan golok ini" teriaknya.
Diiringi suara desiran yang tajam ia membabatkan golok tersebut di atas kaki Cui Hoa Kongcu sehingga terputus ada dua bagian.
Sungguh aneh sekali ternyata mulut luka itu dengan cepat berubah jadi hijau kehitam hitaman tidak nampak sedikit darah segarpun yang mengalir keluar.
"Haaakh! bagus sekali kiranya golok melengkung ini mempunyai racun yang begitu ganas, aku harus menyimpan baik-baik untuk digunakan pula untuk menghadapi orang-
orang Isana Kelabang Emas dikemudian hari agar merekapun merasakan siksaan ini" teriaknya keras.
Sembari berkata ia benar-benar menggantungkan golok melengkung itu pada pinggangnya.
Perbuatan ini sebetulnya dilakukan olehnya, tidak lebih cuma bersifat main main saja, siapa sangka dikemudian hari ternyata sudah mendatangkan banyak kerepotan buat dirinya.
Sesudah menyorenkan golok melengkung itu dengan kecepatan bagaikan kilat ia putar badan dan memeriksa keadaan dari Tan Kia-beng
Ternyata obat pemunah dari Cui Hoa Kongcu ini benar-benar sangat mujarab, bekas bekas hijau kehitam hitaman itu perlahan-lahan mulai lenyap tak berbekas sedang pemuda itupun mulai tersadar kembali.
Demikianlah setelah lewat beberapa waktu lamanya mendadak tubuh Tan Kia-beng berbolak balik dua kali kemudian setelah mendengus perlahan ia mulai bangun sendiri.
Melihat hal tersebut Pek Ih Loo Sat jadi kegirangan, dengan cepat ia menubruk maju ke depan sambil berteriak manja.
“Engkoh Beng engkau tidak mengapa bukan?"
Baru saja tubuhnya bergerak, si perempuan cantik dari balik kabut kembali melintangkan tangannya menghalangi.
"Jangan ganggu dirinya." teriaknya cepat. Seharusnya kau beri waktu buatnya untuk mengatur pernapasan dan memaksa sisa racun tersebut keluar dari dalam tubuh."
Melihat dirinya kena dihalangi, Pek Ih Loo Sat jadi merasa tak senang, bibirnya yang kecil mungil dicibirkan. Sebenarnya ia ada maksud untuk mengumbar hawa amarah tetapi
sewaktu melihat pemuda itu benar-benar duduk bersila dan memejamkan matanya untuk mengatur pernapasan perkataan yang semula hendak diucapkan jadi tertelah kembali.
Kendati begitu dengan gemasnya ia melirik sekejap ke arah si perempuan cantik dari balik kabut.
Wu Mey Jien yang melihat sikap gadis tersebut segera tersenyum, tetapi tak sepatah katapun yang diucapkan.
Walaupun dalam hati Pek Ih Loo Sat memperlihatkan sikap bermusuhan dengan si perempuan cantik itu tetapi berhubung Tan Kia-beng sedang mengatur pernapasan maka suasana di tengah kalanganpun berubah jadi amat sunyi sekali.
Segulung angin gunung bertiup membuat daun serta ranting bergoyang serta mengeluarkan suara yang amat berisik.
Dari balik kegelapan muncullah berpuluh puluh bayangan hitam seperti bayangan setan yang sedang bersembunyi.
Ditambah pula suara cengkerik serta binatang binatang kecil lain yang berbunyi sangat berisik membuat suasana semakin seram rasanya.
Kedua orang gadis yang ada disana pada waktu itu boleh dikata merupakan iblis iblis yang paling ditakuti orang-orang duna persilatan walaupun mereka sudah lama berkelana di dalam dunia persilatan tidak urung hati mereka dibuat terperanjat dan ketakutan juga oleh suasana yang tenang, sunyi dan seram di sekeliling tempat itu.
Orang perempuan kadang kala dilukiskan seperti "Ular serta kelabang berbisa" kadang kala pula dilukiskan seperti Iblis tetapi sifat mereka kodrat bernyali kecil dan yang mereka takuti pun ada dua macam.
Hal ini tidak terkecuali pula terhadap Hu Siauw-cian serta Wu Mey Jien.
Pada saat itu Hu Siauw-cian merasa tidak sabaran lagi untuk merasakan kengerian di sekeliling tempat itu, ia mendehem perlahan lalu dengan gerakan yang sangat perlahan dan berhati-hati menggeserkan tempat duduknya jauh mendekati kesisi perempuan cantik dari balik kabut.
Walaupun si perempuan cantik dari balik kabut pun merasa rada takut, tetapi dengan usianya yang jauh lebih tua maka keadaannyapun jauh lebih mantap.
Kini melihat perbuatan dari gadis tersebut diam-diam dalam hati dia merasa sangat geli.
Selagi mereka berdua lagi merasa ketakutan oleh seramnya suasana disekitar tempat itulah, mendadak tampaklah seorang kakek tua berdandan suku Biauw yang kaku bagaikan mayat hidup dengan cepatnya laksana bayangan setan berkelebat keluar dari balik kegelapan. Sepasang tangannya dipentangkan lebar-lebar siap melancarkan serangan ke arah Tan Kia-beng yang sedang mengatur pernapasannya itu.
Asal sekali hantam saja agaknya pemuda tersebut segera akan jatuh ketangannya.
Untung saja, walaupun kedua gadis itu dalam hati merasa ketakutan, tetapi tidak sampai mengendorkan kewaspadaannya terhadap perlindungan kepada pemuda itu.
Orang pertama yang melihat kedatangannya ini adalah si 'Pek Ih Loo Sat' Hu Siauw-cian, ia kenal si kakek tua ini adalah salah satu pelindung hukum dari Isana Kelabang Emas.... Sam Biauw Ci Sin" adanya.
Dengan cepat ia membentak keras tubuhnya segera meloncat ke depan sambil mengirim satu pukulan berhawa dingin.
Sam Biauw Ci Sin tidak menduga datangnya serangan tersebut mendadak sepasang telapak tangannya yang sedang melancarkan serangan cenkeraman berubah jadi serangan pukulan. Dengan gerakan dari bawah ke atas ia menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.
"Braak...." diiringi suara ledakan yang amat keras terdengar Pek Ih Loo Sat membentak nyaring Tubuhnya berjumpalitan beberapa kali di tengah udara kemudian melayang turun delapan depa ke arah belakang.
Sebaliknya tubuh Sam Biauw Ci Sin pun kena tergeser hingga tanpa bisa ditahan lagi mundur dua langkah dengan sempoyongan.
Dengan terjadinya bentrokan pukulan barusan ini dalam hati si 'Pek Ih Loo Sat' Hu Siauw-cian mulai merasakan bila tenaga lweekangnya masih kalah satu tingkat dengan tenaga lweekang musuh.
Kendati begitu gadis ini tidak mau memperlihatkan kelemahannya, baru saja tubuhnya melayang turun ke atas permukaan tanah mendadak laksana kilat menyambar ia sudah menerjang kembali ke depan sambil melancarkan serangan serangan pukulan serta tendangan yang amat gencar.
Hanya di dalam sekejap mata gadis tersebut sudah melancarkan lima belas jurus serangan dahsyat serta delapan buah tendangan kilat. serangan serangan gencar ini hampir saja membuat Sam Biauw Ci Sin tak ada kesempatan lagi untuk balas mengirimkan pukulan.
Sewaktu Pek Ih Loo Sat melancarkan serangan tadi, si perempuan cantik dari balik kabut sudah merogoh ke dalam sakunya menggenggam pasir beracunnya yang amat lihay itu.
Sedikit kakinya menutul permukaan tanah ia sudah berkelebat kesisi tubuh pemuda tersebut dan memperhatikan keadaan disekitar tempat itu dengan cepat dan teliti.
Ia mengerti jelas kedatangan dari Sam Biauw Ci Sin tentu bukan seorang diri saja ia tentu membawa serta pembantu pembantunya yang ada kemungkinan sebentar lagi bakal tiba disana.
Oleh sebab itu paras mukanya berubah jadi sangat tenang sekali.
Dugaannya sedikitpun tidak salah, sewaktu Sam Biauw Ci Sin melangsungkan suatu pertempuran yang amat seru dengan Pek Ih Loo Sat, dari dalam hutan terdengarlah suara bentakan yang sangat ramai berkumandang keluar disusul munculnya dua orang lelaki suku Biauw yang tinggi besar dan hitam seperti pagoda.
Laksana kilat yang menyambar dengan kecepatan yang luar biasa kedua sosok bayangan tersebut menubruk ke arah Tan Kia-beng yang sedang bersemedi.
Melihat kejadian itu si perempuan cantik dari balik kabut jadi amat cemas bercampur gusar, pergelangan tangannya dengan cepat diayunkan ke depan melancarkan serangan dengan pasir beracun 'Chiet Cay Si Kut Sin Sah'nya menyambut kedatangan lelaki hitam tersebut.
Angin gunung bertiup kencang seketika itu juga laksana kilat yang menyambar seluruh angkasa di sekeliling tempat itu sudah dipenuhi dengan dua lapis kabut berwarna warni.
Kedua orang lelaki kasar berwarna hitam yang tinggi besar seperti pagoda ini bukan lain adalah Hek Yang-sin serta Ci Sah-sin dua orang bersaudara.
Walaupun sifat mereka amat buas dan keji tetapi setelah menemui serangan senjata kejam yang sangat beracun dan tersebar memenuhi angkasa ini tidak berani juga berlaku gegabah.
Mendadak mereka berdua melancarkan satu pukulan ke depan menghajar lapisan kabut berwarna warni itu, sedang tubuhnya dengan meminjam kesempatan tersebut mencelat mundur ke belakang dan secara berpisah melayang kurang lebih satu kaki jauhnya dari tempat semula.
Si perempuan cantik dari balik kabut sesudah berhasil mengundurkan musuh tangguhnya, dengan cepat ia mengambil kembali segenggam pasir beracun.
"He.... hee.... jika kalian tidak takut mati, ayo pada maju menyerang!" tantangnya sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Hak Yang Sin serta Ci Sah-sin saling bertukar pandangan sekejap, untuk beberapa saat lamanya mereka tak berhasil mendapat cara yang baik untuk menerjang ke depan, karena itu mereka berdua jadi berdiri mematung ditempatnya masing-masing.
Mendadak laksana bertiupnya segulung angin taupan, Hek Yan Sin segera berkelebat balik ke dalam hutan kemudian sambil mematahkan sebatang ranting kayu sebesar mangkuk ia kembali lagi ke tempat semula.
"Ayoh terjang!" bentaknya keras.
Sreet! tubuhnya dengan menimbulkan suara desiran tajam berkelebat menerjang ke arah Tan Kia-beng.
Si perempuan cantik dari balik kabut jadi merasa sangat cemas. ia menjerit melengking pasir beracun yang digenggamnya kembali diayunkan ke depan.
Hek Yan Sin adalah seorang tolol dengan demikian cara yang terpikir olehnyapun suatu yang tolol pula, mendadak ia membentak keras, lengannya digetarkan lalu dengan menggunakan ranting pohon siong beserta dedaunnya diayunkan ke depan menyambut datangnya serangan pasir beracun tersebut.
Dasar mereka memiliki tenaga dalam yang luar biasa sempurnanya, ranting pohon siong tersebut dengan dipenuhi tenaga dalam yang maha sempurna segera menyapu ke arah depan dan memunahkan datangnya pasir bercun tersebut sehingga pada tersebar berceceran di atas permukaan tanah.
Menanti si perempuan cantik dari balik kabut hendak merogoh ke dalam sakunya kembali, bersama-sama dengan ranting pohon siong tersebut ia sudah menerjang datang memaksa perempuan tersebut buru-buru harus gerakkan telapak tangannya menyambut datangnya serangan tersebut.
Begitu Hek Yan Sin berhasil dengan perbuatannya ini, Ci Sah-sin segera bersuit nyaring, tubuhnya dengan cepat menerjang ke arah Tan Kia-beng dengan gerakan yang paling kilat.
Jangan dikata Pek Ih Loo Sat yang jauh berada lima enam kaki dari tempat kejadian itu, sekalipun si perempuan cantik dari balik kabut yang hanya berjarak beberapa depapun tidak sempat untuk menggerakkan badan memberi pertolongan.
Kelihatannya serangan dari Ci Sah-sin yang tinggal lima enam depa ini bakal menghancurkan batok kepala pemuda tersebut.
Sekonyong konyong....
Serentetan cahayan kehijau hijauan laksana kilat yang lewat berkelebat datang dari tengah angkasa dan langsung menggulung seluruh tubuh Ci Sah-sin.
Hawa pedang berdesir memenuhi angkasa disertai rentetan cahaya tajam, dalam keadaan terperanjat Ci Sah-sin berteriak keras.
Tubuhnya yang semula menerjang ke depan dengan paksa ditahan dan mencelat mundur ke belakang dengan tepatnya berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut.
Orang itu telah berhasil mendesak mundur Ci Sah-sin segera melintangkan pedangnya di depan dada dan berdiri disisi tubuh Tan Kia-beng. Ketika Loo Cui Thay dengan rasa cemas menengok ke arah orang itu sebentar saja hatinya jadi lega kembali.
Kiranya orang itu bukan lain adalah Mo Tan-hong adanya.
Orang-orang dari pihak Isana Kelabang Emas bukan cuma diantara mereka bertiga saja, berhubung gerakan dari Sam Biauw Ci Sin paling cepat maka ia jauh berada dipaling depan disusul oleh Ci Sah-sin dua bersaudara. Sebentar kemudian sisanya berturut turut menyusul datang di tempat itu sehingga hanya sekejap mata empat penjuru sudah dikurung dengan selapis tembok manusia.
Ketika itulah dari antara para jago Isana Kelabang Emas mendadak terdengar suara yang gaduh disusul jeritan kaget bergema memenuhi angkasa.
"Aaah! lapor Sam Biauw Hu hoat! Ci Hoa Kongcu sudah mendapat celaka!" teriak mereka hampir serentak.
Sam Biauw Ci Sin yang sedang melancarkan serangan ilmu telapaknya untuk mendesak mundur Siauw Cian, mendadak mendengar suara jeritan tersebut hatinya jadi sangat kaget.
Cui Hoa Kongcu adalah anak murid yang paling disayangi majikan Isana Kelabang Emas, kini secara mendadak ia kena dibunuh orang, dirinya sebagai pelindung hukum yang berkuasa di dalam gerakan ini belum saja mendapatkan jasa telah mengalami kejadian itu kontan saja membuat si orang tua yang berhati licik ini jadi kaget setengah mati, pikirannya amat kacau
Buru-buru ia menarik kembali serangannya dan melayang ke arah suara teriakan tadi.
Sedikitpun tidak salah, ia menemukan seluruh paras muka Cui Hoa Kongcu sudah berubah jadi hijau kehitam hitaman, dari tujuh lubang mengucurkan darah hitam yang kental sedang kaki kanannya kena ditabas putus, sedang manusianya sendiri sudah menemui ajalnya beberapa saat.
Saking cemas bercampur gusar, seluruh rambutnya yang putih jadi pada berdiri, matanya yang sipit dipentangkan lebar-lebar dan memancarkan cahaya kehijau hijauan yang amat tajam.
"Hmm! peristiwa ini tentu hasil perbuatan kalian yang amat bagus!" teriaknya keras.
Tubuhnya segera maju ke depan, sambil menuding ke arah si perempuan cantik dari balik kabut dan bentaknya kembali dengan suara yang amat seram.
"Cui Hoa Kongcu apakah kau yang turun tangan membunuhnya?"
"Hmm! dia sendiri yang cari mati, lalu hal ini harus menyalahkan kepada siapa?" dengus si perempuan cantik dari balik kabut sambil menengadah ke atas.
Pada saat itu Pek Ih Loo Sat pun sudah kembali kesisi tubuh Tan Kia-beng, mereka bertiga dengan membentuk posisi segitiga mengurung Tan Kia-beng di tengah kalangan.
Ketika dilihatnya Sam Biauw Ci Sin menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kematian dari Cui Hoa Kongcu, tak terasa lagi Hu Siauw-cian menepuk nepuk golok melengkung berwarna keperak perakan yang tersoren pada punggungnya dan tertawa cekikikan dengan sangat merdunya.
"Hii.... hii.... Nonamu pun ikut mengambil bagian di dalam turun tangan menghukum bangsat cabul tersebut, bila kau merasa tidak puas, ayoh silahkan maju saja!"
Pada saat ini Sam Biauw Ci Sin benar-benar merasa amat gusar, napsu buasnya jadi membara.
"Baik! Akan aku bunuh dirimu terlebih dahulu kemudian baru mencari perempuan rendah itu untuk membikin perhitungan"
Sreet! Dengan menimbulkan segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat serasa merekahnya gunung Thay-san, ia melancarkan satu pukulan menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.
Pukulan tersebut benar-benar luar biasa sekali membuat ujung baju Hu Siauw-cian berkibar kibar dan napasnya terasa jadi sesak.
Kurang lebih lima depa dibelakang Hu Siauw-cian adalah Tan Kia-beng bila ia menghindarkan diri dari serangan
tersebut maka angin pukulan itu tentu akan menghajar ke atas badannya.
Terpaksa sambil diam-diam ia menggigit bibrnya dan gadis itupun menggerakkan telapak tangannya menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaamm....!" dengan menimbulkan suara bentrokan yang amat nyaring, tubuh Siauw Cian kena terpukul mundur empat lima langkah ke belakang, paras mukanya berubah jadi merah padam
Sam Biauw Ci Sin sendiripun segera merasakan lengannya jadi luka dan sakit, tubuhnya kena terdorong mundur dua langkah ke belakang.
Ia sama sekali tidak menduga bila seorang gadis yang masih amat muda ternyata berani mengadu tenaga lweekang dengan dirinya.
Dengan cepat perhatiannya dipusatkan jadi satu, pukulan yang kedua dengan kecepatan yang luar biasa kembali menggulung ke depan.
Pada saat itu Pek Ih Loo Sat merasakan darah panas didadanya bergolak amat keras, jantungnya berdebar debar sedang napasnya agak tersengal sengal.
Melihat serangan kedua kembali meluncur datang, sekali lagi ia menggertak gigi, kakinya menginjak kedudukan 'Ci Wu', sepasang telapak tangannya membentuk gerakan lingkaran dan menyambut datangnya serangan dengan keras lawan keras.
Sekali lagi mendengar suara bentrokan yang amat nyaring, tubuh Hu Siauw-cian dengan sempoyongan mundur tiga langkah ke belakang darah segar tak tertahan lagi menyembur
keluar dari bibirnya yang kecil mungil membuat pakaian yang berwarna putih jadi ternoda tetesan darah segar.
Mo Tan-hong yang melihat berlangsungnya peristiwa tersebut dari samping segera merasakan hatinya amat sakit, kepingin sekali pada saat itu juga ia melakukan terjangan ke sana untuk mewakili gadis tersebut.
Tetapi keadaan pada saat ini sangat berbahaya sekali, sekeliling tempat itu sudah dipenuhi dengan jago-jago lihay pihak Isana Kelabang Emas, hal ini memaksa dirinya sulit untuk meninggalkan tempat tersebut barang setengah langkahpun.
Berbagai ingatan dengan cepat berkelebat di dalam benaknya, mendadak ia berteriak, "Kenapa kau harus menerima datangnya pukulan pukulan bangsat tua itu dengan gerakan keras lawan keras? cepat cabut keluar senjata tajamnya”
Sejak terjunkan dirinya ke dalam dunia persilatan Pek Ih Loo Sat belum pernah menggunakan senjata tajam untuk bergebrak melawan pihak musuhnya, kini setelah diperingatkan oleh Mo Tan-hong, ia jadi teringat kembali dengan golok melengkung berwarna keperak perakan dari Cui Hoa Kongcu yang tersoren pada pinggangnya.
Dengan cepat ia mencabut keluar golok tersebut, diantara berkelebatnya cahaya keperak perakan yang menyilaukan mata ia sudah menerjang maju ke depan.
Setelah mencekal golok lengkung ditangan kembali ia memuntahkan darah kental berwarna hitam, mendadak tubuhnya bergerak maju ke depan melancarkan serangan gencar ke arah Sam Biauw Ci Sin.
Entah darimana datangnya tenaga yang sangat besar, terjangannya kali ini benar-benar luar biasa Golok lengkung ditangannya laksana senjata roda menimbulkan sinar yang tajam berkelebat dan menyambar kesana kemari tiada hentinya. Hanya di dalam sekejap mata saja ia sudah melancarkan delapan belas buah bacokan.
Sam Biauw Ci Sin yang berturut turut melancarkan dua buah serangan dan berhasil melukai Siauw Cian, dalam tubuhnya sendiripun merasakan golakan yang amat keras sesudah mengatur pernapasan belum ia sempat melancarkan serangan, golok lengkung ditangan Pek Ih Loo Sat sudah menerjang datang dengan diiringi suara sambar geledek serta kilatan halilintar.
Dalam keadaan gugup tubuhnya kontan saja kena terdesak mundur sejauh tujuh, delapan langkah.
Sifat buasnya makin memuncak ia meraung keras seperti badak terluka.
"Ayoh maju semua!" bentaknya keras. "Hancurkan dulu beberapa orang budak terkutuk ini!"
Sepasang telapaknya menekan ke depan, tubuhnya dengan cepat menerjang masuk ke dalam lingkungan cahaya keperak perakan yang menyilaukan mata itu.
Begitu ia memberi perintah maka jago-jago yang selama ini mengurung sekeliling tempat ini mulai menerjang laksana menggulungnya ombak samudera.
Cahaya golok memenuhi angkasa, angin pukulan menderu deru seketika itu juga suasana di tempat itu jadi amat tegang sekali.
Sejak semula si perempuan cantik dari balik kabut sudah menduga akan hal ini, begitu melihat jago-jago dari Isana Kelabang Emas mulai menerjang datang, pasir beracun yang tergenggam ditangan dengan cepat disambitkan ke depan.
Di tengah lapisan kabut warna warni yang amat tebal suara jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, beberapa orang yang berada dipaling depan kontan rubuh ke atas tanah dan seketika itu juga menemui ajalnya.
Diikuti Mo Tan-hong membentak keras, pedang panjangnya dengan membentuk pelangi yang panjang memenuhi ruangan menyambut datangnya serangan pihak musuh.
Seketika itu juga suatu pertempuran yang maha sengit segera berlangsung di tempat itu.
Si perempuan cantik dari balik kabut yang berturut turut melancarkan serangan dengan beberapa genggam pasir beracun, untuk sementara berhasil menahan serbuan pihak musuh yang bolek dikata hendak adu jiwa itu.
Tiba-tiba....
Segulung angin tajam membokong dari sisi tubuhnya, Hek Yang-sin sambil mencekal sebuah tangkai pohon siong yang besar dan kasar membabat dari arah samping.
Melihat datangnya serangan bokongan tersebut Wu Mey Jien lantas mengerti sekalipun dirinya menggunakan pasir beracun lagi juga tiada gunanya. Karena itu tubuhnya segera menerjang ke depan menyambut datangnya serangan tersebut dengan suatu serangan yang tidak kalah dahsyatnya.
Mereka bertiga boleh dikata merupakan jago-jago lihay kelas wahid di dalam dunia persilatan, ditambah pula kali ini mereka bertempur dengan taruhan nyawa, maka dari itu
walaupun jumlah jago dari Isana Kelabang Emas amat banyak untuk beberapa saat lamanya mereka belum sanggup juga untuk menjebolkan pertahanan segi tiga dari ketiga orang gadis tersebut.
Suara teriakan kalap, bentakan gusar serta jeritan ngeri saling susul menyusul menggetarkan seluruh kalangan pertempuran, cahaya golok, bayangan pedang serta hawa pukulan menderu deru dan berkelebat memenuhi angkasa.
Pertempuran yang maha sengit ini berturut turut berlangsung kurang lebih setengah jam lamanya sedang Tan Kia-beng selama ini masih tetap duduk bersila di tengah kalangan tanpa bergerak sedikitpun.
Pek Ih Loo Sat sambil menahan luka dalamnya yang parah melanjutkan pertempuran menyambut datangnya serangan serangan serta terjangan terjangan hebat dari pihak musuh, beberapa kali hampir hampir saja ia rubuh saking tak tertahannya tetapi sungguh aneh sekali! setiap kali ia menghadapi keadaan bahaya rasanya secara diam-diam ada segulung tenaga yang sedang menahan dirinya.
Tiba-tiba gadis itu membentak keras, golok peraknya berkelebat tajam lalu menerjang ke depan dengan sangat ganas. Hanya di dalam sekejap mata berpuluh puluh orang kena terbabat mati di dalam terjangannya yang sangat dahsyat dengan mengandalkan golok beracun tersebut.
Wu Mey Jien maupun Mo Tan-hong sama-sama tahu bila situasi pada saat ini sangat bahaya sekali dan sedikitpun tidak boleh berlaku ayal.
Asalkan salah seorang jagoan dari Isana Kelabang Emas berhasil menerjang masuk ke dalam lingkaran kepungan tersebut maka Tan Kia-beng akan segera menemui ajalnya.
Karena itu mereka masing-masing berusaha mengeluarkan seluruh kepandaian silat yang dimilikinya untuk mempertahankan diri, dan setiap serangan yang mereka lancarkan tentu disertai dengan sepuluh bagian tenaga dalam. Atau boleh dikata serangan ini adalah suatu cara penyerangan mengadu jiwa.
Sam Biauw Ci Sin serta Hek Yang-sin Ci Sah-sin ditambah pula beberapa orang jagoan lihay ternyata tidak berhasil juga membobolkan pertahanan dari ketiga orang gadis itu, dalam hati tak urung merasa gusar juga.
Terdengar pelindung hukum dari Isana Kelabang Emas ini tertawa dingin tiada hentinya.
"Hee.... hee.... bilamana malam ini Ya yamu tidak berhasil menyingkirkan kalian tiga orang budak rendah, aku malu untuk menjabat sebagai pelindung hukum Isana Kelabang Emas" teriaknya.
Diam-diam Wu Mey Jien melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng, terlihatlah pada waktu itu dari atas ubun ubun pemuda tersebut mulai mengepulkan dua gulung asap tebal berwarna putih dan hijau yang segera memenuhi seluruh angkasa di sekeliling tempat itu, diam-diam hatinya merasa amat girang karena ia tahu latihan dari pemuda tersebut sudah hampir selesai.
Dengan cepat ia berteriak sangat keras.
"Jangan dengarkan omongan setannya, adik Beng sebentar lagi akan sadar"
Melihat kebandelan ketiga orang gadis tersebut, Sam Biauw Ci Sin jadi amat gusar. Tubuhnya segera menerjang ke depan sambil mengirim satu pukulan menerjang Hu Siauw-cian
Serangannya kali ini sudah menggunakan seluruh hawa lweekang yang dimilikinya, sudah tentu bukan alang kepalang dahsyatnya.
Pek Ih Loo Sat dapat menghindarkan diri lagi, golok peraknya buru-buru dilintangkan ke depan dada sedang telapak kirinya diayun ke depan menyambut datangnya serangan tersebut.
"Blaamm....!" Pek Ih Loo Sat teriak ngeri tubuhnya terpental sehingga jatuh terjengkang ke atas tanah.
Sebaliknya Sam Biauw Ci Sin sendiripun kena terpukul oleh hawa pukulan iblis Sian Im Kong Sah Mo Kang nya sehingga tergetar dan mundur tiga langkah dengan sempoyongan.
Sewaktu Pek Ih Loo Sat jatuh terjengkang ke atas tanah itulah dua sosok bayangan manusia dengan kecepatan seperti terbang mendadak menerjang ke arah Tan Kia-beng.
Melihat peristiwa tersebut Pek Ih Loo Sat jadi amat terperanjat, mendadak tubuhnya menjelat ke atas kemudian laksana sambaran pelangi putih ia menerjang dari belakang bayangan tersebut.
Di tengah kalangan dengan cepat berkumandang suara yang sangat mengerikan, dua orang bajingan yang baru saja melancarkan serangan bokongan sudah kena dibabat sehingga tubuhnya terpotong jadi dua bagian.
Pek Ih Loo Sat sesudah melancarkan serangan tadi tubuhnya dengan sempoyongan segera mundur beberapa langkah dan hampir hampir saja rubuh kembali ke atas tanah.
Buru-buru ia menancapkan golok peraknya ke atas tanah untuk menahan bobot tubuhnya, sedang dari mulutnya berturut turut memuntahkan darah segar beberapa kali.
Ketika itu, sebagian besar jago-jago lihay dari pihak Isana Kelabang Emas sudah dibuat gusar oleh keadaan situasi yang dihadapan masing-masing dengan nekad dan buasnya menerjang ke depan.
Sepasang telapak tangan dari Wu Mey Jien serta pedang panjang dari Mo Tan-hong semakin lama semakin terdesak sehingga tidak kuasa lagi untuk menahan datangnya serangan gencar tersebut, mereka mulai terdesak dan selangkah demi selangkah mundur ke belakang.
Sam Biauw Ci Sin sesudah mengatur napas beberapa waktu lamanya kembali pentangkan sepasang telapak tangannya selangkah demi selangkah maju mendesak ke arah Hu Siauw-cian.
Hu Siauw-cian pun buru-buru dongakkan kepalanya ke atas, golok lengkung berwarna peraknya perlahan-lahan diangkat sejajar dengan dada, sedang telapak kirinya dengan dikerahkan sepuluh bagian tenaga lweekangnya 'Sam Im Koan Sah Mo Kiong' siap-siap melancarkan terjangan.
Sikap serta keadaan wajahnya pada saat ini benar-benar mirip seorang perempuan iblis, rambutnya yang panjang terurai sepanjang dada, pakaian putihya penuh dinodai dengan darah segar bahkan sampai pipinya pun penuh berlepotan darah, apalagi sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang sangat menakutkan.
Walaupun Sam Biauw Ci Sin adalah seorang bajingan pembunuh manusia yang tak berkedip, tetapi sesudah melihat keadaan dari sang gadis yang sangat menyeramkan itu saking terperanjat seluruh bulu kuduk pada berdiri agaknya selama ini belum pernah dia menemui perempuan yang sedemikian menakutkannya.
Oleh sebab itu telapak tangannya yang sudah diangkat tinggi tinggi tidak juga melancarkan pukulan ke depan.
Demikianlah masing-masing pihak berdiri tegak memperhatikan posisi sendiri sendiri.
Mendadak sepasang biji mata Hu Siauw-cian membalik, tubuhnya dengan sangat lemas rubuh ke atas tanah dengan menimbulkan suara nyaring.
Melihat kejadian tersebut Sam Biauw Ci Sin rada melengak, tetapi sebentar kemudian malah ia tertawa terbahak-bahak telapak tangannya segera didorong ke depan mengirim segulung angin pukulan yang amat dahsyat serasa mengamuknya ombak samudra tertimpa angin taupan.
Bilamana pukulan ini dengan tepat berhasil menghajar sasarannya maka tak ampun lagi Hu Siauw-cian serta Tan Kia-beng akan hancur jadi gepeng.
Dimana gulungan angin keras menyambar datang, tampak bayangan manusia berkelebat.
Diantara gemuruhnya suara bentrokan, tubuh Sam Biauw Ci Sin terpukul pental sejauh enam tujuh langkah ke belakang dengan sempoyongan.
"Tahan!"
Mendadak di tengah kesunyian kembali bergema datang suara bentakan yang nyaring laksana pekikan naga sakti, seketika itu juga semua orang yang hadir disana merasakan telinganya mendengung dan secara samar-samar terasa rada sakit.
Dengan wajah penuh perasaan terperanjat dan heran orang-orang itu mulai mengalihkan pandangannya ke arah mana berasalnya suara tersebut.
Tampaklah Tan Kia-beng dengan sangat gagah dan tenaganya pulih seratus persen berdiri diantara ketiga orang itu
"Hong moy!" terdengar suara dari pemuda tersebut menegur, "Tolong kau jaga baik-baik Siauw Cian, biarlah aku yang membereskan manusia manusia bajingan ini!
Mendadak tubuhnya melangkah maju satu tindak ke depan dan menerjang kehadapan Sam Biauw Ci Sin. Jengeknya dingin.
"Menggunakan kesempatan sewaktu orang lain terluka melancarkan serangan bokongan Terhitung manusia macam apakah kau? Kalau memang kedatangan saudara saudara ke daerah Tionggoan khusus hendak menjadi jago, mari, marilah! Kita tak usah sungkan sungkan untuk melakukan suatu pertarungan!
Kiranya sewaktu Hu Siauw-cian rubuh ke atas tanah dan berada dalam keadaan yang kritis itulah Tan Kia-beng telah tersadar dari latihannya dan menerima datangnya angin pukulan dari Sam Biauw Ci Sin tersebut.
Sam Biauw Ci Sin yang sama sekali tidak menduga akan datangnya serangan tersebut kontan saja tubuhnya tergetar amat keras, darah panas dalam dadanya terasa bergolak sangat keras dan tak kuasa lagi tubuhnya terpental mundur beberapa langkah ke belakang.
Dalam keadaan sangat kaget dan bergidik, tak sepatah katapun yang bisa ia ucapkan keluar.
Sambil tertawa nyaring kembali Tan Kia-beng mendesak maju dua langkah ke depan ejeknya.
---0-dewi-0---
JILID: 30
"Hee.... hee.... haa.... Kalau memang orang dari Isana Kelabang Emas sudah biasa dengan pertarungan secara kerubutan, mari, mari silahkan kalian maju bersama-sama!"
“Kalau tidak, bila aku orang she Tan sampai melakukan permbunuhan secara besar besaran kalian bakal menyesal,” sambungnya.
Rasa terkejut dari Hek Yang-sin serta Ci Sah-sin pada waktu itu sudah bisa tertekan kembali.
"Bangsat cilik! kau mengandalkan apa untuk menyombongkan diri disini?" bentaknya keras. "Bila benar-benar ada kepandaian coba terimalah serangan dari kami dua bersaudara!"
Sembari membentak tubuhnya bersama-sama menerjang ke depan dari arah sebelah kanan serta arah sebelah kiri.
Perlahan-lahan Tan Kia-beng menyapu dulu sekejap di sekeliling tempat itu, tertampak olehnya kecuali Hek Yang-sin kakak beradik paling sedikit masih ada tiga, lima puluh orang yang memakai pakaian singsat ala suku Biauw sedang berdiri tegak disisi kalangan menunggu kesempatan baik.
Ketika memandang lagi ke arah pihaknya, Pek Ih Loo Sat pada waktu itu rubuh tak sadarkan diri paras muka Wu Mey Jien serta Mo Tan-hong pun mulai menunjukkan tanda tanda kecapean, kelihatannya mereka sudah tak ada tenaga untuk melanjutkan bertempur menahan serangan gabungan dari jago-jago itu.
Pikirannya dengan cepat berputar, selintas napsu membunuh dengan cepat berkelebat di atas wajahnya,
agaknya dalam hati ia sudah mengambil keputusan untuk melakukan suatu pertempuran cepat.
Melihat datangnya serangan dari Hek Yang-sin kakak beradik mendadak tubuhnya meluncur ke belakang sambil tertawa terbahak-bahak.
"Haaa haa haaa.... Walaupun Thian mempunyai welas asih terhadap sesama manusia tetapi aku orang she Tan tidak akan membiarkan kalian menunjukkan kejahatan lagi."
Mendadak tubuhnya maju ke depan, dalam satu jurus dengan dua gerakan masing-masing menyrang jalan darah Ci Ciat serta Sian Khie di atas tubuh Hek Yang-sin yang ada disebelah kiri serta menghantam jalan darah Ciang Bun hiat pada tubuh Ci Sah-sin yang berada disebelah kanan.
Hek Yang-sin serta Ci Sah-sin bersama-sama mendengus, mereka kebaskan telapak tangannya menyambut datangnya serangan tersebut.
Tan Kia-beng tertawa nyaring, mendadak pukulannya berubah disusul suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati dari seseorang
Ci Sah-sin yang mempunyai perawakan tinggi besar dan amat kekar berhasil kena terpukul sehingga mencelat ke tengah udara sejauh satu kaki dua depa dan terjatuh ke atas tanah dengan amat kerasnya.
Melihat kejadian itu Hek Yang-sin jadi amat terperanjat belum sempat ia melakukan suatu tindakan, terasa kembali bayangan manusia berkelebat tahu-tahu jalan darah Hiat Bun Sang Ci Hiat nya sudah kena ditotok sehingga tanpa ampun lagi tubuhnya mundur sempoyongan dan rubuh terkulai di atas tanah.
Sam Biauw Ci Sin sewaktu melihat kedua orang pembantu utamanya tak sampai dua jurus kena dilukai dibawah serangan gencar Tan Kia-beng, ia jadi amat gusar bercampur kheki sinar matanya dengan buas memperhatikan musuhnya tajam tajam mendadak sambil membentak keras ia menerjang maju ke depan.
Tetapi pada saat ini napsu membunuh sudah bangkit dari lubuk hati pemuda tersebut melihat serangannya berhasil mengenai sasarannya mendadak ia putar badan satu lingkaran, cepat laksana sambaran seekor burung elang tubuhnya langsung menubruk ke arah kawanan para jago itu.
Seketika itu juga dari antara jago yang hadir disana berkumandang suara jeritan kesakitan serta teriakan ngeri yang saling susul menyusul.
Hanya di dalam waktu yang sangat singkat kurang lebih ada empat, lima orang kena dipukul hingga menemui ajalnya.
Pemuda tersebut tak berdiam sampai di situ saja, ilmu pukulannya dengan cepat dikeluarkan dan menerjang kesana kemari dengan hebatnya.
Dimana angin pukulan yang maha dahsyat menyambar lewat, potongan lengan serta bagian dari kaki beterbangan memenuhi angkasa diselingi jeritan ngeri serta teriakan gusar yang membuat suasana terasa semakin ramai.
Pertempuran kali ini boleh dikata merupakan penjagalan manusia secara besar besaran, tampak sesosok bayangan manusia bagaikan segulung asap berkelebat dan menari-nari diantara jago tersebut.
Dimana ia menyambar datang darah segar berceceran laksana curahan hujan, kurang lebih lima puluh orang jagoan
lihay dari Isana Kelabang Emas hanya di dalam sekejap mata sudah ada tiga puluh orang yang menemui ajalnya.
Sisanya beberapa puluh orang dengan nekad dan kalapnya memutar senjata menerjang ke arah musuhnya dengan sikap adu jiwa.
Seperti seekor banteng yang terluka Sam Biauw Ci Sin berkejar kejaran setengah harian lamanya, akhirnya setelah bersusah payah ia berhasil juga menghalangi perjalanannya.
"Bangsat cilik!" bentaknya dengan sangat gusar. “Ini hari loohu baru tahu kalau kau sebetulnya adalah seorang manusia yang berhati buas dan pembunuh manusia yang berdarah dingin!”
“Haaa, haaa.... sewaktu kalian orang-orang Isana Kelabang Emas memerintahkan Bok Thian-hong suami istri untuk menjagal orang-orang Bulim di daerah Tionggoan, apakah pernah mengucapkan juga kata-kata buas dan kejam? hari ini siauw ya menggunakan untuk gigi hal ini sebenarnya sudah merupakan sepantasnya!”
Sam Biauw Ci Sin benar-benar sangat murka, di tengah suara suitan yang amat nyaring sepasang telapak tangannya dengan sejajar dada melancarkan serangan ke depan.
Segulung angin pukulan yang sangat santer dan maha dahsyat segera melesat di tengah udara laksana ambruknya gunung Thay-san dengan gerakan melintang menghantam ke depan.
Pada ujung bibir Tan Kia-beng masih tersungging satu senyuman yang amat dingin alisnya dikerutkan rapat rapat Tangannya yang sebelah mendadak membentuk gerakan gambar Thay Khek lalu dengan lemas dan halusnya ditekan ke arah depan.
Inilah jurus serangan yang menggunakan ilmu pukulan yang maha dahsyat, 'Jien Khek Koan Yen Kan Kun So!'
Angin pukulan yang semula menyambar datang dengan amat dahsyatnya itu begitu menerjang dekat dengan tubuh pemuda tersebut bagaikan batu kerikil yang tenggelam di tengah samudra luas lenyap tak berbekas
Tak terasa Sam Biauw Ci Sin merasa sangat terperanjat sekali mendadak terasalah olehnya segulung hawa pukulan yang luar biasa hebatnya bagaikan tindihan gunung Thay-san menekan keseluruh tubuhnya.
Ia ingin menghindar tapi tidak sempat lagi, di tengah suara jeritan kesakitan yang amat keras tubuhnya terpental sejauh tujuh delapan depa tingginya ke tengah angkasa.
Masih untung saja tenaga lwekang yang dimilikinya luar biasa sempurna sehingga begitu terasa tubuhnya kehilangan bobot dengan cepat seluruh perhatiannya dipusatkan jadi satu, hawa murni disalurkan memenuhi seluruh tubuh dan berjumpalitan beberapa kali di tengah udara.
Dengan demikian waktu tubuhnya melayang turun ke atas permukaan tanah ia bisa tiba dengan selamat.
Kendati begitu, isi perut di dalam tubuhnya tidak urung kena tergetar juga sehingga tergeser di tempat semula ketika kakinya melayang turun mencapai permukaan tanah dari mulutnya menyembur keluar darah segar.
Ia tahu bila tidak menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri bila pihak lawan melancarkan kembali ia bakal menemui kekonyolan.
Karenanya dengan paksa menahan darah segar yang melanda ke atas badan ia tertawa.
“Heee, hee, bangsat cilik! kau jangan merasa bangga dulu hutang pada malam ini baik cepat maupun lambat kami orang-orang Isana Kelabang Emas tentu akan menuntutnya kembali.”
Air muka Tan Kia-beng kontan berubah jadi kaku dan dingin seperti es.
"Heee.... heee.... akupun ingin merepotkan dirimu untuk melaporkan hal ini kepada majikan Isana Kelabang Emas. Perbuatan jahatnya bila tidak juga diubah maka cepat atau lambat siauw ya mu akan mendatangi Isana Kelabang Emas dan menyapa seluruh manusia yang ada membasmi semua yang dijumpai!” serunya pula
Sam Biauw Ci Sin tidak berani menjawab lagi.
"Bubar!" bentaknya keras.
Tidak menunggu anak buahnya lagi, laksana sebuah bintang kejora yang menyambar lewat Hanya di dalam sekejap mata ia sudah lenyap dari tempat tersebut.
Para jago lainnya ketika melihat Sam Biauw Ci Sin sudah melarikan diri terbirit birit, merekapun pada putar badan dan menyusul dari belakangnya.
Sinar mata dari Tan Kia-beng perlahan-lahan menyapu sekejap keseluruh kalangan ketika melihat mayat mayat yang bergelimpangan dengan darah berceceran memenuhi permukaan tanah dan tak kuasa lagi ia menghela napas panjang. Perlahan-lahan ia putar badannya dan berjalan kesisi tubuh Hu Siauw-cian.
Waktu itu si perempuan cantik dari balik kabut sedang memejamkan matanya mengatur pernapasan Mo Tan-hong berdiri termangu-mangu memandang ke arah Hu Siauw-cian
dengan kebingungan dengan cepat pemuda tersebut mendekat kesisi tubuh gadis tersebut lalu mencekal urat nadinya untuk diperiksa.
Akhirnya dengan sedih ia menggelengkan kepalanya berulang kali.
Sejak dahulu Mo Tan-hong lah yang bersifat paling lemah, melihat kejadian tersebut dengan air mata bercucuran memenuhi seluruh wajahnya ia bertanya dengan cemas.
"Bagaimanakah? tidak mengapa bukan?"
"Jika ditinjau dari keadaannya, luka yang dideritanya rada parah tetapi denyutan jantungnya amat normal sekali" sahut Tan Kia-beng setengah berbisik. "Biarlah aku lancarkan dulu seluruh urat nadinya, setelah ia sadar kita bicarakan lagi!"
Ia lantas memerintahkan Mo Tan-hong membimbing tubuh Siauw Cian bangun dan duduk bersilat di atas tanah, sedang ia sendiri sesudah pusatkan perhatian mulai menyalurkan hawa murninya keseluruh telapak tangan dan laksana kilat menotok kedelapan belas buah jalan darah penting ditubuhnya.
Setelah berhenti sebentar kembali ia menyentilkan jarinya berturut turut menotok tiga puluh enam buah jalan darah kecilnya setelah itu baru ia lalu menghembuskan napas panjang dan menghentikan gerakannya.
Hanya di dalam sekejap mata saja di atas keningnya sudah dibasahi dengan butiran keringat air mukanya kelihatan rada cepat, jelas gerakannya barusan ini sudah menggunakan hawa murni yang amat besar sekali.
Perlahan-lahan Pek Ih Loo Sat tersadar kembali dari pingsannya, melihat kejadian itu Mo Tan-hong jadi kegirangan, dari dalam sakunya buru-buru dia mengambil
keluar dua butir pil yang berwarna merah darah untuk segera dijejalkan ke dalam mulut Hu Siauw-cian serta diberikan kepada Tan Kia-beng.
"Engkoh Beng!" ujarnya. "Pil ini adalah pil 'Hwee Seng Tan' yang dibuat oleh Ui Liong Supek kaupun makanlah sebutir!"
"Jangan! obat yang demikian mujarabnya tidak gampang pula cara pembuatannya, aku tidak terluka kenapa harus ikut makan obat tersebut?" tolak Tan Kia-beng sambil gelengkan kepala.
Tetapi Mo Tan-hong ngotot untuk menjejalkan pil tersebut ke dalam mulutnya.
"Barusan saja kau bantu Siauw Cian untuk tembusi seluruh jalan daranya dan banyak hawa murni yang sudah terbuang, cepat dan telan obat ini kemudian mengatur pernapasan sehingga tenaga bisa pulih kembali seperti sediakala” serunya.
Tan Kia-beng tak bisa berbuat apa apa terpaksa ia menelan pil tersebut ke dalam perut dan diam-diam mulai mengatur pernapasan.
Setelah mengalirkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh satu kali ditambah pula dasar tenaga dalamnya memang amat sempurna, dengan amat cepat tenaganya sudah dapat dipulihkan kembali seperti sedia kala.
Waktu itu si perempuan cantik dari balik kabut pun telah menyelesaikan semedinya, sambil membuka mata ia tertawa terkekeh kekeh dengan amat merdu.
“Kali ini boleh dikata nasib kita masih sangat untung,” katanya perlahan. "Orang-orang Isana Kelabang Emas akhirnya tidak berhasil pula untuk mencapai pada hasil
sasarannya, kalau tidak.... waah.... aku yang jadi encinya tentu akan merasa sangat berdosa sekali!"
"Kali ini bisa memperoleh bantuan sepenuh tenaga dari enci, di dalam hati siauwte merasa sangat berterima kasih sekali, bilamana tidak beruntung aku jatuh ketangan orang-orang Isana Kelabang Emas, hal ini memang sudah nasib bagaimana bisa menyalahkan dirimu?" seru Tan Kia-beng.
Sebutan enci kali ini memang sangat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh si perempuan cantik dari balik kabut itu. Mendengar perkataan tersebut perempuan jadi sangat kegirangan.
Kembali ia tertawa cekikikan dengan merdunya.
"Aaakh! Urusan kecil ini buat apa kau menguapkan banyak terima kasih kepadaku? Asalkan kau tidak melupakan encimu sudah terlebih dari cukup!" sahutnya.
Ia dongakkan kepalanya untuk mengatur rambutnya yang acak acakan tidak karuan lalu sambil melirik ke arah Mo Tan-hong kembali ujarnya.
"Kalian bercakap-cakaplah! Encimu sudah seharusnya segera berangkat!"
Sambil berkata dari dalam sakunya ia mengambil botol obat pemunah yang didapat dari Cui Hoa Kongcu kemudian diangsurkan ketangan Tan Kia-beng.
"Botol obat ini kau bawalah sekalian, bila dikemudian hari kembali kau terluka karena keracunan jadi tidak usah takut takut lagi!"
Sebetulnya Mo Tan-hong rada merasa tidak leluasa melihat sikap serta tindak tanduk dari si perempuan cantik dari balik
kabut yang amat genit itu tetapi setelah mengalami pertempuran yang amat sengit tadi pikirannya jadi berubah.
Dengan cepat ia melangkah maju sambil mencekal tangannya erat-erat
"Kau sudah membinasakan Cui Hoa Kongcu dari Isana Kelabang Emas, mereka pasti tidak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja, lebih baik kita melakukan perjalanan bersama-sama saja!" ajaknya dengan perlahan.
“Hiii.... hiii.... selama hidup encimu sudah berpuluh puluh kali mengikat permusuhan dengan orang lain, aku tidak percaya bila mereka dapat mengapa apakan diriku!" seru si perempuan cantik dari balik kabut sambil tertawa cekikikan.
"Dengan kepandaian silat yang dimiliki enci, sekalipun tak takut terhadap mereka tetapi aku rasa kau harus bertindak lebih waspada dan berhati-hati lagi kami tidak akan menghantarkan lebih jauh lagi," pesan Tan Kia-beng dengan cepat.
Dengan amat sedih si perempuan cantik dari balik kabut mengangguk sewaktu melihat bayangan sepasang muda mudi yang berdiri saling berdempetan di hadapannya ini diam-diam hatinya merasa amat sedih sekali
Tahun ini usianya sudah hampir mendekati tiga puluh tahun tapi ia masih berkelana kesana kemari seorang diri urusan ini pada hari hari biasa memang tidak begitu terasa olehnya tetapi pada saat ini setelah melihat pemandangan tersebut hatinya baru merasa sedih sehingga tak kuasa lagi titik titik air mata mulai mengucur keluar.
Tetapi ia adalah seorang perempuan yang bersifat keras kepala ia tidak ingin rasa sedihnya ini sampai diketahui oleh Tan Kia-beng dengan wajah yang dipaksakan tersenyum
akhirnya ia mengulapkan tangannya dan berlalu dengan cepatnya dari sana.
Perasaan dari orang gadis jauh lebih tajam dari orang lelaki, tindakan serta sikapnya itu sama sekali tidak berhasil mengelabui Mo Tan-hong yang amat pintar menanti bayangan tubuh dari si perempuan cantik itu sudah lenyap dari pandangan mendadak ia menghela napas panjang.
“Enci Thay sungguh seorang yang baik hati!" katanya.
"Hmm!" Tan Kia-beng yang tidak mengerti maksud dari perkataan itu karenanya ia menyahut sekenanya.
Mendadak di dalam pikiran Mo Tan-hong seperti sudah berkelebat satu ingatan ia menoleh ke arah pemuda tersebut dan pesannya kembali, "Dia sungguh kasihan sekali! Dikemudian hari kau harus baik-baik menghadapi dirinya"
"Aku....?" tanya Tan Kia-beng melengak.
“Benar, dia berkelana seorang diri, kita harus menghadapi dirinya seperti menghadapi enci kita sendiri.”
Setelah mendengar perkataan tersebut pemuda itu baru bisa menghembuskan napas lega.
"Sudah tentu!” sahutnya singkat dan ia lantas menoleh ke belakang lalu tanyanya, "Budak Cian apakah sudah sadar?"
Perkataan tersebut secara samar-samar memperlihatkan kedudukannya sebagai paman guru.
Tiba-tiba....
"Hmm! berlagak kedudukanmu amat tinggi saja apa kau kira sebutan budak Cian boleh kau sebutkan sesukamu?" seru seseorang dengan nada suara yang dingin.
Pek Ih Loo Sat bagaikan sebuah Koam im berwajah dingin perlahan-lahan maju mendekat.
“Aku sebagai susioknya apa tidak boleh memanggil diri gadis tersebut dengan sebutan itu?” diam-diam pikir pemuda itu dalam hati.
Walaupun ia berpikir demikian, dimulutnya dia merasa tidak enak untuk mengucapkan kata-kata tersebut. ia segera tertawa terbahak-bahak, "Haaa, haaa.... kalau begitu hitung hitung saja aku sudah berlagak terhormat.”
Dengan amat telitinya ia lantas memeriksa wajah gadis tersebut, ketika dilihatnya kecuali rada kelelahan, kesehatannya sudah pulih kembali, ia lantas merangkap tangannya menjura.
“Kali ini berkat bantuanmu yang telah melindungi nyawaku, sehingga tak sampai tertawan oleh orang-orang Isana Kelabang Emas, seharusnya aku mengucapkan banyak terima kasih kepadamu.”
"Hemmm! mungkin tadi aku menolong dirimu hanya menginginkan ucapkan terima kasihmu itu ya?" teriak Siauw Cian dengan wajah yang dingin kaku dan tertawa dingin tiada hentinya.
Tan Kia-beng tak dapat berbuat apa apa lagi, terpaksa kembali ia tersenyum.
"Kita semua sudah pada lemah mari segera berangkat untuk mencari sebuah tempat untuk beristirahat dan dahar sedikit makanan”
Mo Tan-hong melirik sekejap ke arah Pek Ih Loo Sat, ia tidak mengucapkan sesuatu.
Pek Ih Loo Sat sendiripun segera mengambil keluar sebuah sapu tangan untuk membereskan rambutnya yang kacau, tidak usah dibicarakan lagi, sudah tentu diapun telah setuju.
Waktu itu sinar sang surya mulai muncul diufuk sebelah Timur, cahaya yang berwarna kekuning kuningan emas menembus datang melalui cela cela pohon yang rindang, mereka bertiga setelah mengatur pakaiannya dengan cepat mulai melakukan perjalanan cepat menuju kekota Wu Han.
---0-dewi-0---
Kita balik pada Tan Kia-beng yang memimpin Mo Tan-hong serta Hu Siauw-cian melakukan perjalanan cepat menuju kekota Wu Han.
Sebenarnya usia diantara mereka bertiga adalah seimbang tetapi disebabkan hubungan antara pemuda tersebut dengan si 'Penjagal Selaksa Li' Hu Hong maka di dalam pandangan Tan Kia-beng, si Pek Ih Loo Sat adalah boanpweenya karena itu sikapnya terhadap gadis itu pun jauh berbeda dengan sikapnya terhadap Mo Tan-hong.
Sebaliknya di dalam pandangan Hu Siauw-cian sendiri, ia mempunyai perasaan yang kebalikan dari pemuda tersebut.
Sejak Tan Kia-beng menghantar Mo Tan-hong dari kota Tiang-sah menuju keibu kota Peeking, selama ini gadis tersebut sudah menaruh rasa cinta terhadap dirinya yang diketahui olehnya hanyalah suka dan sekali tidak memandang dari tingkatan apapun sudah tentu sikap dari Tan Kia-beng ini benar-benar amat menusuk perasaannya.
---0-dewi-0---
Hal yang benar. Seorang gadis yang dingin kaku dan congkak bila pada suatu hari menaruh rasa cinta kepada
seseorang, maka semakin lama perasaan tersebut akan semakin mendalam. Sekali meledak maka terjangannya sukar untuk dibendung lagi.
Tan Kia-beng sebagai manusia yang bersangkutan sudah tentu tidak sampai merasakan hal tersebut, lain halnya dengan Mo Tan-hong, ia bisa melihat akan sikap itu maka dari pada itu yang selama ini ia selalu berusaha menjauhi pemuda tersebut sehingga memberi kesempatan bagi kedua orang muda mudi ini untuk berhubungan lebih dekat.
Tan Kia-beng sudah tentu tidak akan berpikir sampai disitu, adakalanya secara tak sadar ia sudah memperlihatkan sikapnya tersebut terhadap Mo Tan-hong
Diluar paras mukanya mereka bertiga melakukan perjalanan sambil tertawa dan padahal dihati masing-masing terasa sangat kacau terutama Hu Siauw-cian
Di dalam hatinya ia mulai merasa tidak tahan terhadap sikap yang amat dingin dan tawar dari Tan Kia-beng ini.
Hari itu mereka telah tiba di kota Wu Han baru saja mereka bertiga beristirahat dirumah penginapan mendadak tampak bayangan manusia berkelebat darang....
Ui Liong Tootiang dengan langkah lebar sudah munculkan dirinya di depan pintu.
Mo Tan-hong yang melihat hal tersebut jadi kegirangan sampai mencak mencak
"Supek, kau sudah menyusul datang!" sapanya dengan cepat.
Paras muka Ui Liong Tootiang amat dingin dan keren, ia cuma mengangguk sebentar sewaktu mendengar suara sapaan itu
Melihat sikapnya yang aneh ini Mo Tan-hong jadi melengak, tetapi dalam hatinya ia mulai merasa, bila suatu kejadian yang maha penting telah terjadi.
Sedikitpun tidak salah, setelah Ui Liong-ci mengambil tempat duduk ia mulai berkata, "Tan Hong! Kau tidak usah berkelana dan mengembara di dalam dunia kangouw lagi, secepat mungkin kau ikutilah suhumu untuk kembali ke dalam kuil!"
Mendengar perkataan tersebut Mo Tan-hong jadi melengak sepasang matanya nampak terbelalak lebar-lebar
"Bukankah aku baru saja terjunkan diri ke dalam dunia persilatan? kenapa aku harus pulang? Tidak, aku tidak mau pulang!" teriaknyan keras sekali.
Bilamana pada hari hari biasa ada kemungkinan Ui Liong-ci segera tertawa terbahak-bahak dan tidak mendesak lebih lanjut. Lain halnya dengan ini hari air mukanya kelihatan sangat aneh dan diliputi kekerenan.
"Tidak bisa!" tolaknya keras. Sekarang juga kau harus berangkat, pertama kepandaian silat yang termuat di dalam kitab pusaka Sian Tok Poo Liok belum berhasil kau pelajari keseluruhannya, kau harus melanjutkan berlatih kedua, aku sudah putuskan demikian apakah kau tak suka mendengarkan perkataan supekmu lagi?"
Sejak Mo Tan-hong ikut Ui Liong Tootiang belajar ilmu silat, selamanya belum pernah gadis tersebut melihat dia berbicara dengan begitu keren dan keras, melihat sikapnya pada saat itu tak terasa lagi air matanya mengucur keluar dengan derasnya diam-diam ia melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng lalu tundukkan kepalanya rendah rendah sambil mempermainkan ujung bajunya.
"Tit li tidak berani membangkang perintah supek!" jawabnya lirih sekali.
"Heeei....! demikian baru benar, mendadak Ui Liong-ci menyahut sambil menghela napas panjang
Mo Tan-hong tidak berani berdiam terlalu lama lagi disana setelah menjura ke arah Ui Liong-ci dan memandang sekejap ke arah Tan Kia-beng serta Pek Ih Loo Sat ia lantas berlalu ke arah luar dengan kepala ditundukkan rendah rendah.
Tan Kia-beng tidak mengerti peristiwa apa yang telah terjadi, dengan termangu-mangu, ia cuma bisa memandang ke arah Ui Liong-ci, sampai sapaan dari Mo Tan-hong sebelum berlalu dari sanapun tak digubris olehnya.
Menanti Mo Tan-hong telah pergi, sinar mata dari Ui Liong-ci perlahan-lahan baru dialihkan ke atas wajah Pek Ih Loo sat
"Ayahmu apakah si Penjagal Selaksa Li Hu thay hiap?" tegurnya perlahan. "Sekarang ia sudah berangkat ke gurun pasir, lebih baik nonapun segera kembali ke rumahnya 'Su Gien' thayhiap, berlari lari tiada tujuan dalam dunia kangouw hanya membuat ayahmu merasa tak lega hati saja.
Hu Siauw-cian yang mendengar ayahnya sudah berangkat ke gurun pasir, saking kagetnya ia jadi meloncat bangun.
"Apa? Ayahku sudah berangkat ke gurun pasir?” teriaknya keras, "Sejak kapan beliau berangkat?”
"Pada bulan yang lalu sewaktu pinto bertemu muka dengan Su Gien, dialah yang bercerita, katanya ayahmu sudah berangkat satu bulan lamanya.”
"Huu.... Tia sungguh keterlaluan, masa urusan yang demikian besarnya inipun tetap mengelabui diriku Hmm! dia tak membiarkan aku pergi justru sengaja aku mau pergi, aku
tidak percaya kalau gurun pasir sebenarnya adalah sarang naga gua macan yang bisa makan manusia."
Terhadap Hu Siauw-cian sudah tentu Ui Liong Tootiang tidak bisa bersikap seperti menghadapi Mo Tan-hong perlahan ia mengelus jenggotnya yang panjang.
“Menurut penglihatan pinto, kepergian nona ke gurun pasir sama sekali tidak akan datangkan hasil apa apa lebih baik kau tak pergi kesana, apalagi dengan kecerdikan dan kepandaian silat yang dimiliki ayahmu, perjalanannya kali ini belum tentu mendatangkan celaka, ditambah pula gurun pasir sangat luas sekali, kau hendak pergi kemana untuk menemukan dirinya?" katanya perlahan.
Dengan amat sedih Siauw Cian menundukkan kepalanya rendah rendah sebenarnya dia adalah seorang gadis yang memiliki sifat keras dan sombong menghadapi urusan apapun setelah mengambil keputusan tak seorangpun yang berani mencegah.
Kendati saat ini yang dihadapi adalah Ui Liong-ci, setelah di dalam hati mengambil keputusan ia segera mengerjakannya, dengan cepat gadis itu bangun berdiri dan mohon diri.
"Tentunya kalian ada urusan penting yang hendak dirundingkan bukan? aku tidak akan mengganggu kalian lagi, selamat tinggal!" serunya.
"Siauw Cian, kembali, aku ada perkataan yang hendak disampaikan kepadamu!"
"Ada urusan apa? cepat katakan" sahut Siauw Cian tidak menoleh lagi, ia tetap melanjutkan perjalanannya ke depan.
"Kau tidak boleh berangkat ke gurun pasir seorang diri."
"Aku mau pergi atau tidak pergi apa sangkut pautnya dengan dirimu?
"Apa maksud dari perkataanmu itu?"
"Aku bukanlah Mo Cuncu, buat apa aku kuatirkan keselamatanku? apalagi akupun tak punya rejeki terhadapmu."
“Kau jangan bicara sembarangan! aku tidak mengijinkan kau cari gara gara!” teriak Tan Kia-beng jadi gusar.
Hu Siauw-cian segera tertawa cekikikan dengan kerasnya.
"Heeei, kau jangan pentang pentang mulut sebesar besarnya! terus terang aku beritahu kepadamu aku bukanlah Mo Cuncumu, sekalipun aku tidak beruntung menemui ajal, kecuali ayahku, aku percaya tak akan ada orang lain yang ikut bersedih hati,” teriaknya.
Walaupun terang terangan ia sedang tertawa tapi suaranya tersebut akhirnya berubah seperti suara tangisan yang menyedihkan
Baru saja perkataan selesai diucapkan, terlihatlah bayangan putih berkelebat melewati tembok pekarangan dan hanya di dalam sekejap mata telah lenyap tak berbekas.
Tan Kia-beng yang berteriak berulang kali tidak juga memperoleh suara jawaban, akhirnya ia jadi berdiri termangu-mangu.
Ui Liong Tootiang yang memandang seluruh kejadian itu dari samping, diam-diam menghela napas panjang.
“Heei.... orang ini mengikat begitu banyak rasa cinta dengan kaum gadis. Dikemudian hari entah akan mendatangkan beberapa kesulitan serta kerepotan bagi dirinya diam-diam pikirnya di dalam hati.”
Tetapi urusan inipun ia merasa tidak leluasa untuk diucapkan keluar, maka ia menelannya di dalam hati.
Tan Kia-beng yang berdiri termangu-mangu diluar halaman beberapa saat lamanya, dengan lemas ia balik kembali ke dalam kamar.
Ui Liong-ci yang melihat wajahnya memperlihatkan rasa tidak senang hati, mendadak air mukanya berubah hebat.
Pada saat ini pembunuhan terhadap para jago-jago Bulim sudah mulai berlangsung. """"" harus kobarkan semangat untuk memikul tanggung jawab ini. kenapakah kau harus bermuram durja terus disebabkan urusan urusan yang sama sekali tak berguna? tegurnya dengan keren.
Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng jadi amat terperanjat, sebenarnya ia ingin menjelaskan dengan beberapa patah kata, tetapi sewaktu mereka urusan ini tak ada gunanya untuk dibicarakan lagi iapun berganti dengan bahan pembicaraan lain.
"Kedatangan dari Tootiang ini hari rasanya membawa suatu peristiwa penting dapatkah Tootiang memberi penjelasan?" katanya dengan serius.
Perlahan-lahan Ui Liong Tootiang menghela napas panjang.
“Heei....! sebenarnya Pinto tidak suka mencampurkan diri dengan urusan dunia kangouw dan selamanya hidup mengembara seorang diri katanya perlahan. "Tetapi kali ini demi menolong nasib para jago dari seluruh Bulim agaknya aku harus membuka pantanganku untuk melakukan pembasmian secara besar besaran.”
Ia rada merandek sejenak kemudian sambungnya kembali.
“Tahukah apa maksud pinto untuk memaksa Mo Cuncu kembali ke tempat tinggal Sam Kuang Sin nie? sejak Mo Cun-ong terbunuh mati beserta berpuluh puluh peristiwa yang terjadi saling susul menyusul di dalam dunia persilatan, menurut pandangan pinto peristiwa ini ada besar kemungkinan mempunyai sangkut paut dengan Mo Cun-ong tempo dulu oleh karena itu sebelum urusan ini jadi jelas kembali aku tidak ingin membiarkan ia munculkan diri di dalam dunia kangouw apa lagi beberapa kamudian pinto harus berangkat menuju ke gurun pasir, untuk sementara tak bisa mengawasi dirinya lagi maka dari itu aku rasa jauh lebih aman bila ia berdiam dulu dikuil suhunya."
Tan Kia-beng yang mendengar Ui Liong-ci pun akan melakukan perjalanan menuju ke gurun pasir tak terasa lagi hatinya jadi berdebar debar amat keras dengan cepat sambungnya.
"Bagaimana kalau boanpwee ikut Tootiang untuk melakukan perjalanan bersama-sama?"
"Bila membicarakan dari soal kepandaian silat yang kau miliki pada saat ini, berangkat bersama-sama memang tidak ada persoalan yang rumit, hanya saja banyak urusan yang harus kau selesaikan lebih dulu, untuk sementara lebih baik kau jangan berangkat!"
Secara samar-samar boanpwee sudah menduga bila seluruh bencana ini datangnya dari gurun pasir, apa lagi suhu si 'Ban Li Im Yen' Lok Tong pun tiada kabar beritanya sejak berangkat menuju ke gurun pasir, aku sebagai muridnya ada seharusnya mengambil tindakan untuk mencari dirinya"
Ui Liong Tootiang sama sekali tidak menjawab perkataannya itu, sinar matanya dengan tajam memperhatikan
wajah pemuda itu tajam tajam, beberapa saat kemudian mendadak toosu itu tertawa terbahak-bahak.
"Haa.... haa.... pinto benar-benar dia sangat tolol, kita sudah berkenalan beberapa waktu lamanya ternyata sampai ini hari juga pinto masih belum mengetahui asal usulmu ayahmu adalah...."
"Sampai hari ini boanpwee masih belum tahu asal usulku dan semakin tidak tahu pula bagaimanakah raut muka ayahku" buru-buru sahut Tan Kia-beng. "Aku mempunyai dugaan bahwa urusan ini kemungkinan sekali hanya suhuku seorang saja yang tahu"
Ia berhenti sebentar lalu sesudah menghela napas sedih sambungnya kembali.
"Bilamana suhuku dia orang tua benar-benar mendapatkan celaka. Heeei....! aku benar-benar akan merasa menyesal selama hidupku"
Ui Liong Tootiang tidak urung dibuat gelengkan kepala juga oleh perkataan dari sang pemuda yang amat sedih itu, dia jadi orang sangat lapang dada dan tidak ingin menggunakan kata-kata yang sama sekali tak berguna untuk menghibur pemuda tersebut.
Dengan demikian untuk sementara waktu suasana di sekeliling tempat itu jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.
Waktu lewat dengan cepatnya, tiba-tiba Ui Liong Tootiang membuka pembicaraan memecahkan kesunyian yang mencekam.
"Pertemuan puncak para jgao digunung Ui san sudah hampir dekat, walaupun kau tidak punya pegangan untuk
merebut jagoan nomor wahid dari seluruh kolong langit, tetapi tidak ada halangannya untuk ikut mencoba juga inilah satu pekerjaan yang aku tinggalkan kepadamu"
Ada kemungkinan disebabkan peristiwa pembunuhan yang baru saja melanda seluruh Bulim membuat pertemuan puncak tersebut jadi terundur beberapa waktu, tetapi ada satu persoalan yang sulit harus kau lakukan dengan cepat.
"Tentunya kau masih ingat bukan dengan daftar hitam dari Mo Cun-ong tempo dulu yang beberapa kali didesak dan diminta oleh orang-orang Isana Kelabang Emas? bilamana dugaan pinto tidak salah maka di dalam Bulim sebentar lagi bakal berlangsung suatu peristiwa pembunuhan yang jauh lebih mengerikan dari pada peristiwa kereta kencana. demi tertegaknya keadilan di dalam Bulim, kau harus munculkan diri dan menegakkan keadilan tersebut bagi seluruh umat dunia kangouw"
"Boanpwee masih muda dan bertenaga sangat terbatas, urusan yang begitu besarnya bagaimana mungkin aku bisa memikulnya?"
“Kau tidak usah merendahkan diri lagi, dengan kesempurnaan ilmu silatmu pada saat ini ditambah lagi dengan pedang pusaka yang amat tajam kemungkinan sekali masih cukup untuk menahan keganasan kaum penjahat"
Mengungkap soal pedang 'Kiem Ceng Giok Hun Kiam' mendadak Ui Liong-ci bertanya kembali, "Kiranya di dalam pedang Kiem Ceng Giok Hun Koam itu terdapat serangkaian ilmu pedang. Apakah kau sudah berhasil mempelajarinya?"
Tan Kia-beng segera melepaskan sarung pedang tersebut dan diangsurkan ke tangan Ui Liong-ci.
"Ada sih memang ada, cuma saja boanpwee tidak paham," katanya.
Ui Liong-ci segera menerima sarung pedang itu dan diperiksanya beberapa saat mendadak ia menghela napas panjang.
"Heei....! sayang sekali sang rasul pedang Cu Swie Tiang Cing Tan Thayhiap jauh pergi ke gurun pasir dan hingga kini tiada kabar beritanya, orang ini bukan saja berpengetahuan sangat luas bahkan sangat pandai di dalam ilmu pedang, asalkan dia yang melihat maka dengan cepatnya rahasia ini dapat dipahami."
---0-dewi-0---
Mendengar perkataan tersebut tak terasa lagi Tan Kia-beng merasakan hatinya rada bergerak, walaupun ia tidak kenal dengan 'Cu Swie Tiang Cing' tetapi dari suhunya 'Ban Lie Im Yen' Lok Lok, dia pernah membicarakan soal orang ini
Setelah diungkapkan oleh Ui Liong-ci pada saat ini, hatinya merasa semakin kagum, pikirnya, “Cu Swie Tiang Cing, Thiat Bok Tootiang serta Eng Siauw Kiam Khek adalah jago-jago nomor satu, nomor dua, serta nomor tiga di dalam pertemuan puncak para jago di gunung Ui san tempo dulu, rasanya mereka tidak bersama-sama menemui ajalnya. Dikemudian hari bila aku pergi ke gurun pasir akan kucari mereka dengan cermat."
Ui Liong-ci setelah mengehela napas panjang lantas menyerahkan kembali sarung pedang itu kepada Tan Kia-beng lalu sambil bangun berdiri, ujarnya kemudian, "Mengenai pertemuan puncak para jago digunung Ui san; tiada halangannya kau pergi ke Bu-tong-san untuk tanyakan urusan
ini dengan Leng Hong Tootiang ini hari juga pinto akan melakukan perjalanan menuju ke gurun pasir."
Selesai berkata dengan langkah lebar ia lalu berjalan keluar.
Dengan termangu Tan Kia-beng memandang bayangan punggung Ui Liong-ci yang mulai melangkah keluar dari pintu rumah penginapan tersebut dalam hati ia merasa ragu ragu.
Satu satunya persoalan yang membuat hatinya merasa kuatir adalah kepergian Pek Ih Loo Sat ke gurun pasir dalam keadaan gusar walaupun gadis itu memiliki kepandaian silat yang tinggi tetapi bagaimanapun dia adalah seorang gadis yang lemah bilamana sampai dirinya menemui suatu kejadian, dirinya harus berbuat bagaimana untuk mempertanggung jawabkan urusan ini dihadapan ayahnya Si Penjagal Selaksa Li Hu Hong?
Iapun kepingin segera melakukan perjalanan ke gurun pasir, tetapi mengingat perkataan dari Ui Liong-ci yang begitu serius, ia merasa tidak enak untuk melepaskan begitu saja tanpa menggubris, ia harus melakukan perjalanan dulu ke gunung Bu-tong-san.
Setelah berpikir bolak balik, akhirnya pemuda ini ambil keputusan untuk berangkat menemui Leng Hong Tootiang, bilamana tiada urusan lain maka saat itu ia bisa mengajak Sak Ih untuk menemani dirinya melakukan perjalanan.
Setelah mengambil keputusan, dia segera membereskan rekeningnya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke gunung Bu-tong-san.
Di tengah perjalanan tidak ada kejadian yang penting, singkatnya hari itu pemuda tersebut sudah tiba digunung Bu-tong-san.
Dari tempat kejauhan tampaklah bangunan kuil 'Sam Cing Kong' yang megah dan angker, dalam hati dia merasa sangat girang sekali.
Dengan cepat pemuda itu mengerahkan ilmu ginkangnya laksana segulung asap berkelebat ke depan pintu gunung.
Sekonyong konyong....
Suara bentakan bergema dari samping jalan tampaklah empat orang toosu muda yang menggembol pedang munculkan dirinya menghadang perjalanan selanjutnya.
"Sicu harap tahan dan berhenti sebentar" seru salah seorang diantaranya, sambil menjura memberi hormat. "Entah ada keperluan apa sicu mendatangi Istana San Cing Kong kami?"
Buru-buru Tan Kia-beng menghentikan gerakannya dan balas memberi hormat.
"Cayhe Tan Kia-beng sengaja datang menyambangi ciangbunjin kalian, Leng Hong Tootiang!" katanya.
Kedudukan Leng Hong Tootiang di dalam partai sangat tinggi dan terhormat sekali, pada hari hari biasa orang yang datang menyambangi kebanyakan merupakan jago-jago kangouw yang sudah punya nama.
Manusia seperti Tan Kia-beng yang masih muda dan boleh dikata belum punya nama cemerlang di dalam Bulim sudah tentu tidak akan dianggap oleh keempat orang Tosu tersebut apalagi pada beberapa hari ini penjagaan disekitar gunung Bu-tong-san sangat ketat sekali.
Karena itu sewaktu pemuda tersebut langsung menyebutkan nama Leng Hong Tootiang, dengan hati ragu
ragu dan penuh rasa curiga tanya sang toosu itu sambil tertawa.
"Sicu berasal dari aliran mana? kedatanganmu untuk menyambangi Ciangbunjin kami dikarenakan kagum akan nama besarnya atau hendak berkenalan?"
Ketika itu Tan Kia-beng kepingin cepat-cepat menemui Leng Hong TOotiang, melihat keempat orang toosu itu banyak bicara dalam hati merasa sangat tidak senang.
"Cayhe adalah Teh Leng Kauwcu" sahutnya dengan alis dikerutkan rapat rapat. Dengan Leng Hong Tootiang ada beberapa kali pertemuan, kini sengaja datang menyambangi dirinya.
Selesai berkata ia lantas melanjutkan langkah ke depan keempat orang toosu cilik ini merupakan murid partai Bu tong angkatan ketiga, serta angkatan keempat yang jarang sekali berkelana di dalam dunia kangouw.
Di dalam pikiran mereka boleh dikata sama sekali tidak mengetahui bila di dalam Bulim ada sebuah perkumpulan yang bernama Teh Leng Kauw, dan semakin tidak percaya lagi terhadap seorang bocah ingusan yang mengaku dirinya sebagai ketua suatu partai.
Mendengar nada ucapannya sangat besar, perasaan curiga dihati mereka semakin menebal. Mendadak mereka bersama-sama melayang ke depan menghadang perjalanan dari pemuda tersebut.
"Sicu harap sedikit tahu aturan!" bentaknya dengan suara berat dan keras. "Pinto sekalian belum pernah dengar orang menyebutkan bila di dalam Bulim ada sebuah perkumpulan yang bernama Teh Leng Kauw, Ciang bun Sucow kami semakin tidak mungkin suka berkenalan dan berhubungan
dengan kalian iblis iblis Hek-to, apa maksud kedatangan dari sicu harap disebutkan secara langsung
Perkataan 'iblis Hek-to' ini begitu masuk ke dalam telinga Tan Kia-beng kontan saja membuat air mukanya berubah hebat, dengan alis yang dikerutkan suaranya dingin,
"Beberapa patah perkataan ini apakah Leng Hong Tootiang yang memberitahukan kepadamu? Hmmm...."
Ia tidak melanjutkan kembali kata-katanya kendati begitu beberapa patah kata tadi sudah cukup membuat lawan jadi gusar
Pada saat itulah dari jalanan tersebut kembali muncul sesosok bayangan manusia yang berkelebat datang dengan kecepatan laksana sambaran kilat.
Hanya di dalam beberapa kali loncatan saja ia sudah tiba dihadapan beberapa orang itu.
Dia adalah seorang pemuda suku Biauw yang kurus kering dan berwarna hitam pekat di atas punggungnya tersoren sebilah golok melengkung yang berwarna keperak perakan.
Sikapnya sombong sekali dan sama sekali tidak memandang sebelah matapun kepada orang lain, ia melirik sekejap ke arah Tan Kia-beng kemudian menoleh ke arah keempat toosu itu.
"Ciangbunjin kalian apakah ada di dalam kuil?" serunya ketus. "Harap cepat dilaporkan bila aku ada urusan hendak bertemu muka."
Kembali seorang pemuda hendak menemui Ciangbunjinnya, hal ini membuat keempat orang tosu itu jadi melengak.
"Siapakah saudara?" tanyanya hampir berbareng.
"Gien To Mo Lei atau si Golok Perak pengasah otak Go Lun!"
Berasal dari perguruan mana? ada urusan apa hendak menemui Sucouw kami?"
“Haaa.... haa kalian hendak mengadili aku atau bagaimana? sungguh keterlaluan sekali sikap kalian terhadap seorang tamu"
Si 'Gien To Mo Lei' Go Lun tidak suka banyak berbicara seperti halnya dengan Tan Kia-beng, mendadak tubuhnya mencelat ke tengah udara dengan melewati dari atas kepala keempat orang toosu itu ia langsung menerjang masuk kepintu gunung.
Tan Kia-beng yang berada disisinya sewaktu secara mendadak menemui golok melengkung berwarna perak yang tersoren pada punggungnya, dalam hatinya merasa rada bergerak.
“Apakah mungkin diapun datang dari Isana Kelabang Emas?" pikirnya dalam dalam.
Untuk melihat keadaan yang sebenarnya iapun segera mengenjotkan badannya melesat seperti pula keadaan dari sang pemuda suku Biauw tadi, dengan kencang dan sebatnya ikut menerjang masuk di dalam pintu gunung.
Di dalam anggapan si Golok Perak tersebut ia sudah salah menganggap Tan Kia-beng pun merupakan salah seorang jagoan yang khusus datang mencari gara gara dengan pihak Bu-tong-pay, tak terasa lagi di atas wajahnya terlintas satu senyuman
"Heng tay! sungguh hebat sekali ilmu meringankan tubuhmu" pujinya tertahan.
Setelah mengetahui jelas asal usul dari orang itu Tan Kia-beng pun merasa tidak enak untuk tidak menggubris omongan orang lain, mendengar pujian itu ia tersenyum.
"Hey thay terlalu memuji," balasnya.
Sewaktu mereka bercakap-cakap keempat orang Toosu muda itu sudah mengejar datang dari belakang, bersamaan itu pula dari hadapan mereka muncul kembali seorang Tootiang berusia pertengahan yang menggembol pedang
"Kalian datang berdua kekuil Sam Cing Kong kami sebetulnya ada maksud tujuan apa?" bentaknya lantang.
Si Golok Perak Go Lun menengadah ke atas tertawa dingin tiada hentinya.
"Heee.... heee.... aku sengaja datang hendak menemui Bu tong ciangbunjin dan menyerahkan perintah pencabut nyawa Kouw Hun Leng Tiap kepadanya!" katanya.
Si Toosu berusia pertengahan itu rada melengak sebentar tetapi akhirnya ia tertawa keras dengan nyaringnya.
"Ha ha ha.... kejadian ini benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sangat menarik hati" teriaknya. "Sejak partai Bu-tong-pay didirikan baru kali ini menemukan kejadian semacam ini" cukup dengan keberanian saudara kali ini sudah membuat pinto merasa sangat kagum.
Ia lantas menyingkir ke samping sambil mempersilahkan.
"Silahkan,” serunya.
Gien To Mo Lei Go Lun dengan sombongnya tertawa, ia mengangguk sebentar ke arah Tan Kia-beng kemudian dengan langkah lebar berjalan terlebih dulu masuk ke dalam.
Sebetulnya Tan Kia-beng ada maksud hendak memberitahukan maksud kedatangannya kepada sang toosu berusia pertengahan itu, tetapi kemudian setelah berpikir bahwa sesudah bertemu muka dengan Leng Hong Tootiang tentu akan mengenali dengan sendirinya daripada harus banyak bicara di tempat itu jauh lebih baik tunggu nanti saja.
Karena berpikir begitu, maka iapun dengan bungkam ikut melangkah masuk.
Tidak sampai setengah tombak mereka berdua melanjutkan perjalanan, sampailah di suatu tempat yang bertuliskan "Empang pelepasan senjata"
Mendadak terdengarlah suara pujian yang bergema datang disusul dengan munculnya dua orang toosu.
"Bu Liang So Hud! Harap sicu sekalian suka melepaskan senjata terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan" teriaknya keras.
Setiap orang yang pernah mendatangi Bu tong tentu tahu pula peraturan disana, sebagian besar jagoan kenamaan yang tidak suka melepaskan senjatanya di tempat itu kebanyakan sudah meninggalkan benda benda tajamnya dirumah penginapan dibawah gunung
Kedua orang pemuda ini sama sekali tidak paham dengan peraturan disana, mendengar perkataan tersebut di dalam anggapan mereka hal ini merupakan suatu penghinaan.
Tan Kia-beng cuma mengerutkan alisnya rapat rapat dan tetap membungkam seribu bahasa.
Sebaliknya di atas paras muka Gien To Mo Lei terlintaslah sekilas napsu membunuh mendadak ia tertawa terbahak-bahak dengan seramnya.
"Haa.... haa.... meninggalkan senjata tajamku disini sebenarnya bukan suatu pekerjaan yang sulit cuma saja kalian harus memperlihatkan sedikit kepandaian terlebih dulu untuk aku periksa" katanya congkak.
Mendengar perkataan tersebut Toosu itu jadi melengak dibuatnya lama sekali baru ujarnya.
"Sicu jangan salah paham, peraturan ini adalah suatu peraturan turun temurun, yang sudah diterapkan oleh Couw cu kami!"
"Siapa yang menyalahkan kalian bukanlah naga air tidak akan melewati sungai Jikalau siauw yamu tindak mempunyai sedikit andalan akupun tidak akan berani datang seorang diri ke atas gunung Bu-tong-san ini."
Gien To Mo Lei sudah menyalah artikan maksud perkataan dari toosu pihak partai Bu-tong-pay, ia menganggap mereka ada maksud hendak menjajal kepandaian silat dari setiap tetamu.
Tan Kia-beng sendiripun merasa tindakan dari partai Bu-tong-pay ini rada keterlaluan dan sama sekali tidak menghormati tetamunya maka itu ia membiarkan Gien To Mo Lei untuk mengumbar hawa amarahnya tanpa turun tangan memberikan pendapatnya.
San Toosu berusia pertengahan itu sewaktu melihat kedua orang pemuda tersebut sudah dibuat gusar oleh peraturan yang mengharuskan mereka loloskan senjata tajam disana, dalam hati ada maksud untuk melepaskan mereka naik ke gunung tanpa melepaskan senjata lagi sehingga bisa dihindari bentrokan bentrokan yang tidak diinginkan, tetapi peraturan turun temurun apakah bisa dilanggar dengan begitu saja?
Diantara para toosu yang hadir disana ketika itu boleh dikata tingkatannya yang tertinggi. Waktu itulah buru-buru ia maju ke depan sambil ujarnya memberi penerangan.
"Sicu berdua jangan salah paham, setiap orang-orang Bulim tentu kenal dengan empatng pelepasan senjata partai Bu-tong-pay kami. Hal ini bukan bermaksud hendak menghina kalian berdua!"
Gien To Mo Lei yang datang dari daerah liar diluar perbatasan, mana mengerti segala peraturan yang bertele tele itu Setelah berulang kali dihadang oleh tosu tosu tersebut sifat liarnya mulai berkobar.
"Hmm! cuma ingin menemui seorang ciangbunjin baupun harus banyak cingcang dan berbelit belit. makanya.... heee.... heee.... apa kalian kira siauw ya mu tidak bisa sendiri haa?" serunya sambil dingin.
Telapak tangannya mendadak didorong ke depan melancarkan satu pukulan, sedang tubuhnya dengan meminjam kesempatan itu mencelat ke tengah udara dan melayang kependopo besar.
Terdengar dua buah dengusan berkumandang memenuhi angkasa, kedua orang toosu yang berada disisi "Empang pelepasan senjata" sudah kena terbabat oleh datangnya pukulan tersebut.
Tindakan yang dilakukan diluar dugaan itu sekalipun Tan Kia-beng sendiripun tidak menyangkanya, menanti ia sadar dan bersiap-siap hendak melakukan pengejaran, pedang panjang dari keempat orang toosu dibelakang tubuhnya tanpa banyak bicara lagi sudah menyerang datang dari empat penjuru.
Mendengar sang toosu berusia pertengahan itu membentak keras;
"Orang ini aku serahkan kepada kalian biar pinto pergi menghadapi bajingan yang ada di depan."
Saat ini Tan Kia-beng benar-benar sudah dibuat menangis tidak bisa tertawapun sungkan. Melihat keempat bilah pedang panjang itu dengan menimbulkan suara desiran angin yang dingin menggulung datang dari empat penjuru, mendadak kakinya melesat menyingkir lima depa kesamping.
"Kalian benar-benar sudah gila semua?" bentaknya keras.
Tetapi, serangan dari Gien To Mo Lei yang sudah melukai toosu disamping 'Empang Pelepasan Senjata' tadi sudah membuat para toosu toosu Bu-tong-pay itu menganggap dirinya sebagai musuh tangguh yang sengaja datang mengamcam. Tampaklah keempat orang toosu yang sedang bertugas dengan mata yang hampir hampir berubah merah berapi api memandang tidak gubris atas perkataan Tan Kia-beng.
Empat bilah pedang dengan menimbulkan cahaya gemerlapan segera membabat ke arah pinggangnya.
Tan Kia-beng mengerti sekalipun ia memberi penjelasan kepada mereka pun percuma saja. Tubuhnya mendadak mencelat ke tengah udara, kemudian melayang ke depan dengan gerakan ilmu meringankan tubuh 'M*o Hoo Sie Lie' hanya di dalam sekejap mata pemuda tersebut sudah berhasil meloloskan diri dari kepungan.
Keempat orang toosu penjaga mulut gunung itu sebenarnya mempunyai serangkaian ilmu pedang yang khusus digunakan untuk menghadapi musuh tangguh.
Kini melihat mereka tak berhasil menahan Tan Kia-beng tubuhnya segera memencarkan diri keempat penjuru dan sekali lagi menerjang maju ke depan
Mendadak....
Serentetan cahaya keemas emasan yang menyilaukan mata bagaikan curahan hujan deras meluncur datang dari samping.
Seketika itu juga suara desiran tajam memenuhi angkasa, termasuk Tan Kia-beng serta keempat orang toosu itu dengan cepatnya berhasil terkurung di dalam serangan tersebut.
Melihat datangnya cahaya keemasan itu Tan Kia-beng tidak ada kesempatan untuk mengurusi keadaan di sekelilingnya lagi, mendadak bentaknya keras
"Cepat menyingkir! benda benda tersebut adalah jarum kelabang emas Pek Cu Kiem Uh Yen Wie Tin!"
Srreeeet! Srreeeet! dengan cepat ia melancarkan dua gulung serangan dahsyat ke tengah udara, sedang tubuhnya mengambil kesempatan tersebut mencelat ke tengah udara dan meloloskan diri dari kurungan jarum-jarum beracun itu.
Terdengarlah suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang saling susul menyusul, keempat orang toosu itu tahu-tahu sudah menggeletak di atas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi, keadaan mereka benar-benar amat mengerikan.
---0-dewi-0---
JILID: 31
Tan Kia-beng sudah ada dua kali menemui serangan senjata rahasia yang sangat beracun ini, kali ini mendadak
menemuinya kembali, di atas gunung Bu-tong-san hal ini membuat kegusarannya benar-benar memuncak.
Mendadak tubuhnya mencelat ke tengah udara kemudian melesat ke arah berasalnya serangan jarum-jarum beracun itu.
Siapa sangka ketika tubuhnya melayang turun disana, keadaan di sekeliling tempat itu sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan manusiapun.
Ketika ia sedang berdiri termangu-mangu merasakan keheranan atas kejadian ini, mendadak telinganya dapat menangkap suara genta di atas kuil Sam Cing Kong dibunyikan bertalu talu diikuti suara jeritan ngeri serta bentakan gusar bergema saling susul menyusul, ia tahu peristiwa yang tidak diinginkan sudah terjadi.
Dengan cepat ia putar badan, enjotkan badannya siap-siap lari menuju keistana Sam Cing Kong.
Mendadak terdengarlah suara seorang yang tua dan serak dengan sangat dingin dia menegur orang, "Partai Bu-tong-pay kami tiada ikatan sakit hati dengan dirimu, mengapa kau sudah turun tangan telengas kepada anak murid partai kami? apakah kau kira dari kuil Sam Cing Kong sudah tak ada orang yang bisa menyelesaikan dirimu?"
Mendengar perkataan itu Tan Kia-beng benar-benar merasa sangat terperanjat ketika ia menyapu sekeliling tempat itu maka ditemuinya pada saat ini dia sudah berada di tengah kepungan sembilan orang Toosu tanpa disadari olehnya.
Ketika ia memperhatikan lebih teliti lagi, maka tampaklah diantara kesembilan orang toosu itu kecuali sang toosu tua berwajah merah padam dengan usia enam puluh tahunan, sisanya merupakan pemuda yang baru berusia tiga, empat
puluh tahunan, jelas mereka adalah jago-jago pilihan dari partai Bu-tong-pay.
Melihat para toosu toosu itu dengan tangan kiri menuding ke depan, pedang ditangan kanannya diangkat kesebelah kanan dan setiap orang berjalan mendekat dengan wajah yang serius, tak terasa lagi hatinya merasa cemas.
"Heei....! Tootiang sekalian sudah salah menganggap orang!" teriaknya keras. "Lebih baik kalian cepat-cepat kembali ke kuil untuk menghadapi musuh tangguh, cayhe sama sekali bukan musuh kalian."
“Hmm! Jika bukan musuh kenapa kau melukai empat orang anak murid kami? Heee.... heee bila kau adalah musuh kami kemungkinan sekali kuil Sam Cing Kong pun akan kau hancurkan semua"
Sang toosu tua yang berwajah merah itu setelah menyelesaikan kata-katanya, tidak menanti Tan Kia-beng membuka mulut lagi pergelangan tangannya yang kuat segera digetarkan mengirim segulung hawa pedang yang tajam menembusi angkasa.
Segulung hawa pedang yang sangat dahsyat serasa berjuta juta gulung angin dingin segera mengurung sekeliling tempat itu dengan rapat sekali.
Tan Kia-beng kenal dengan jurus serangan ini yang merupakan jurus Yu Heng Hong Huang' atau hujan meling angin mengencang dari ilmu pedang Bu-tong-pay hatinya benar-benar merasa bergidik.
Ia tak berani berlaku ayal lagi, kakinya bergerak dengan mengambil posisi Chiet Seng mendadak pundaknya menekan ke bawah diiringi perputaran badannya kesamping.
Criiing! dengan menimbulkan suara nyaring seruling Pek Giok Cie nya, tahu-tahu sudah dicabutnya keluar dengan menggunakan jurus Jun Hong Hwee Sie atau merah membara terbang melayang tubuhnya maju ke depan dengan diiringi cahaya tajam yang menyilaukan mata ia memunahkan datangnya serangan tersebut.
Sisanya delapan orang toosu pun segera menggerakkan pedang menyerang musuhnya. sesaat kemudian seluruh angkasa sudah dipenuhi dengan hawa pedang yang berdesir susul menyusul diikuti angin dingin yang serasa menusuk tulang
Barisan pedang Liu Kang Kiam Tin sebagai ilmu pusaka partai Bu-tong-pay dengan cepat kerahkan keluar, sembilan orang berkelebat saling tutup menutupi, hawa pedang serasa ambrukya gunung menekan ke bawah dari empat penjuru.
Saat ini Tan Kia-beng merasa cemas bercampur gusar, di dalam keadaan kepepet terpaksa ia mainkan seruling pualamnya menurut ilmu simpanan perguruan Teh Leng Kauw sedang dalam hati diam-diam memaki ketololan dari tosu tosu itu.
Pengobralan tenaga dalam secara percuma ini bukankah sama saja dengan menggali liang kuburan buat diri sendiri?
Dugaannya sedikitpun tidak salah toosu berwajah merah ini adalah sute dari Leng Hong Tootiang yang bernama Wie Jan Tootiang, sedang kedelapan toosu berusia pertengahan itu adalah jago-jago pilihan diantara anak murid angkatan kedua
Kini bukannya mereka mengurusi peristiwa yang terjadi dikuil Sam Cing Kong sebaliknya malah datang menghadapi Tan Kia-beng kerugiannya kali ini benar-benar sangat besar sekali.
Tetapi Wie Jan Tootiang sama sekali tidak pernah berpikir sampai disitu Disebabkan pada beberapa hari mendekati ini berturut turut datang tanda bahaya dari serangan musuh secara berantai, maka baik siang maupun malam mereka selalu harus melakukan penjagaan yang sangat ketat.
Kebetulan sekali di dalam keadaan seperti itu Tan Kia-beng datang berkunjung bahkan sejalan pula dengan Gien To Mo Lei Go Lun tidak dapat menyalahkan lagi pada toosu toosu Bu-tong-pay itu yang menganggap diapun merupakan jagoan pihak musuh.
Pada waktu itu barisan pedang tersebut semakin berputar semakin cepat lingkaran kepungan pun semakin lama semakin menyusut kecil.
Dari empat penjuru terasa hawa pedang menyambar selapis demi selapis membentuk jala perangkap yang amat kuat.
Dimana cahaya gemerlapan berkilauan serasa beribu ribu ekor ular perak bersama-sama menerjang ke depan hampir boleh dikata sekalipun hujan deras sulit untuk menembusi benteng pertahanan ini.
Bilamana bukannya Tan Kia-beng mengerti ilmu pedang dari berbagai aliran, kemungkinan sekali sejak tadi dia sudah terluka dibawah kepungan barisan pedang itu.
Dalam keadaan cemas bercampur kheki ilmu seruling 'Wu Yen Cing Hun Sam Sih' nya segera dilancarkan bentaknya keras, “Kalian toosu toosu bau yang tidak tahu diri, benar-benar kalian kerbau dungu semua! Ayo cepat pinggir!"
Di tengah kepungan beribu ribu rentetan hawa pedang yang tajam mendadak tersundul keluar segulung cahaya tajam yang membumbung tinggi keangkasa, seketika itu juga hawa
pedang buyar bagaikan pecahan ombak menumbuk pantai, dan terbentuklah sebuah celah sebesar satu dua kaki persegi.
Para toosu yang ada di sekeliling tempat itu dengan perasaan terperanjat segera pada mengundurkan dirinya ke belakang, barisan pedang jadi kacau berantakan.
Tan Kia-beng sesudah berhasil menerjang hancur kepungan yang sangat rapat itu mengambil kesempatan tersebut telapak tangan kirinya lantas menekan ke depan mengirim segulung angin pukulan kencang.
Tiga orang toosu yang berada paling depan menjerit kaget, segera mundur ke belakang sejauh tujuh delapan depa ke belakang dengan sempoyongan, pedangnya terpukul pental dari cekalan.
Ilmu pukulan 'Jie Bhek Kun Yen Kan Kun So' nya ini benar-benar luar biasa sekali baru saja jurus serangan tersebut digunakan sampai setengah jalan sebuah barisan pedang Kiu Kong Kiam Tin yang sangat terkenal bagi partai Bu-tong-pay sudah berhasil kena dihantam jebol.
Menggunakan kesempatan sewaktu para toosu itu dibuat gelagapan saking terkejutnya itulah Tan Kia-beng dengan gerakan tubuh yang cepat laksana kilat sudah menerjang keluar dari kepungan barisan pedang tersebut dan langsung lari ke atas kuil Sam Cing Kong
Setibanya di depan beranda kuil tampaklah lima, enam sosok mayat toosu menggeletak disana sini memenuhi permukaan tanah, Leng Hong Tootiang dengan wajah yang serius berdiri dengan angkernya di depan kuil.
Suasana dibelakang tubuh toosu tua itu amat hening tak kedengar sedikit suarapun berpuluh puluh orang toosu
bersama-sama berdiri dalam siap kesiagaan di sekeliling beranda tersebut.
"Berhenti!" mendadak terdengar suara bentakan keras berkumandang memenuhi angkasa.
Saat ini seruling Pek Giok Tie dari Tan Kia-beng sudah disimpan kembali, tubuhnya segera miring ke samping sambil mengirim sebuah pukulan menghantam ke arah datangnya serangan tersebut.
Dengan menimbulkan suatu dengungan keras, kedua batang pedang tersebut segera tergetar keras sehingga hampir terlepas dari cekalannya.
Orang yang baru saja melancarkan serangan ke arah Tan Kia-beng adalah dua orang toosu yang berusia pertengahan, melihat serangannya kena tertahan mereka tertawa dingin, pedangnya dengan mengikuti perputaran tersebut, dengan menimbulkan cahaya kehijauan yang menyilaukan mata dengan ganasnya kembali menyerang datang.
Melihat kejadian itu Tan Kia-beng segera mengerutkan alisnya kencang kencang, baru saja ia bermaksud hendak mengumbar hawa amarahnya, mendadak terdengarlah Leng Hong Tootiang membentak gusar, “Berhenti!! Menghadapi tamu terhormat kalian berdua berani bertindak kurang ajar hah? Ayoh mundur cepat!!”
Kedua orang tosu itu sewaktu mendengar suara bentakan dari Ciangbunjinnya, buru-buru menarik kembali serangannya dan menyingkir kesamping.
Perlahan-lahan Tan Kia-beng menyapu sekejap ke atas wajah kedua orang toosu tersebut kemudian dia tertawa dingin tiada hentinya.
"Heee heee.... partai Bu-tong-pay tidak malu disebut sebagai sebuah partai pedang yang terbesar tetapi kenapa manusianya seperti anjing gila semua, bertemu orang lantas menggigit?"
Setelah itu sambungnya pula, "Apakah cara inipun seperti halnya dengan pelepasan senjata sudah ditetapkan oleh Couwsu kalian?"
Ketika itu Leng Hong Tootiang sudah maju ke depan sambil menjura dia tersenyum, kemudian katanya, “Murid muridku tak mengetahui akan kunjungan dari Tan Siauwhiap, harap kau suka memaafkan kesalahan mereka."
“Haaa haaa.... jikalau bukannya cayhe pernah mempelajari beberapa jurus ilmu silat kemungkinan sekali pada saat ini sudah menggeletak menjadi mayat dimulut gunung partai kalian."
Mendengar perkataan tersebut Leng Hong Tootiang jadi melengak dibuatnya belum sempat ia menanyai duduk perkara, terdengar suara ujung baju yang tersampok oleh angin. Wie Jan Tootiang dengan memimpin delapan orang toosu lainnya dengan cepat sudah berlari mendekat
Sewaktu dilihatnya Ciangbunjin mereka sedang berdiri berhadap hadapan dengan Tan Kia-beng dengan cepat kesembilan orang toosu itupun pada menyebarkan diri keempat penjuru membentuk sebuah barisan pedang.
Air muka Leng Hong Tootiang segera berubah hebat.
"Tadi kalian sudah pergi kemana?” bentaknya keren.
"Siauwte tidak becus sehingga membiarkan penjahat berhasil menerjang ke depan kuil harap ciangbunjin suka
memberi hukuman," sahut Wie Jan Tootiang buru-buru sambil menjura.
Perlahan Leng Hong Tootiang menghela napas sedih, ia tidak berbicara lagi sebaliknya kepada Tan Kia-beng ujarnya.
“Tempat ini bukan tempat untuk berbicara mari kita bercakap-cakap di dalam ruangan saja!”
Dengan memimpin Tan Kia-beng, toosu itu langsung masuk ke dalam ruangan
Wie Jan Tootiang beserta kedelapan toosu lainnya yang melihat kejadian itu cuma bisa saling bertukar pandangan sambil berdiri terkesima, mereka tidak mengerti berasal dari manakah pemuda tersebut?
Tan Kia-beng dengan mengikuti dari belakang Leng Hong Tootiang lantas berjalan masuk ke dalam ruangan besar itu, setelah melewati sebuah serambi panjang akhirnya sampailah mereka di dalam sebuah ruangan yang kecil tapi megah.
Toosu cilik dengan cepat menghidangkan air teh.
Dari dalam sakunya Leng Hong Tootiang mengeluarkan sebuah medali besi yang hitam berkilat serta secarik surat lalu diberikan ketangan pemuda itu ujarnya, “Sauw hiap, apakah kau mengetahui asal usul dari benda ini?”
Dengan pandangan teliti Tan Kia-beng segera memperhatikan medali besi itu, bentuk model lukisan serta kata-kata yang terukir di atasnya ternyata mirip sekali dengan medali pualam yang diserahkan si pencuri sakti Su Hay Sin Touw kepadanya tempo dulu, cuma saja bahannya berlainan.
Membaca pula isi surat tersebut hatinya merasa semakin terperanjat, tampaklah di bagian atas tertulis empat buah kata-kata dengan warna merah darah, “Kouw Hun Leng Tiap",
sedang disampingnya tertuliskan pula beberapa patah kata dengan tulisan yang kecil, “Kentongan ketiga malam ini pemilik hutang akan datang menagih, hutang darah harus dibayar dengan darah, rumput anjing tidak ketinggalan!"
"Aaah!! benda benda ini apakah Gien To Mo Lei yang hantar kemari?” tak terasa lagi teriaknya.
"Disebabkan situasi di dalam dunia kangouw pada saat ini sangat tegang maka pinto lantas menutup diri untuk melatih sebuah ilmu silat, selama ini semua urusan kuil aku serahkan pada It Jan serta Wie Jan, dua orang suteku untuk mengurusnya. Hee!! siapa sangka It Jan ternyata sudah terluka dibawah golok melengkung dari pemuda suku Biauw sedang Wie Jan ceroboh sehingga terjadi bentrok dengan Sauw hiap, hal ini malah memberikan suatu kesempatan yang sangat bagus bagi penjahat tersebut untuk melukai lawan sambil meninggalkan surat!!” katanya.
Walaupun kali ini Bu-tong-pay berhasil kena diterjang orang sehingga berturut turut melupai beberapa orang senjata bebas tetapi Tan Kia-beng tetap merasa kurang enak, buru-buru sambungnya, "Peristiwa ini menurut pandangan cayhe tentu hasil perbuatan dari orang-orang Isana Kelabang Emas, malam ini partai kalian harus mengadakan persiapan persiapan"
Dengan cepat Leng Hong Tootiang mengangguk.
“Perkataan dari Sauw hiap sedikitpun tidak salah, pinto pun mempunyai cara penglihatan yang sama"
Ia merandek sejenak kemudian sambil tertawa seram sambungnya kembali, "Tetapi aku rasa cara penyelesaian ini memang paling tepat, pinto hendak melihat sebetulnya kaum iblis yang lihay ataukah kaum Tootiang yang lebih unggul?"
Baru saja berbicara sampai disitu, mendadak horden tampak bergoyang. Wie Jan Ci dengan wajah penuh perasaan kuatir berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Lapor Ciangbun suheng, keadaan dari It Jan sute semakin buruk. Ternyata golok lengkung dari penjahat itu sudah dipolesi dengan racun ganas."
Mendengar laporan itu Tan Kia-beng dalam hati merasa bergerak belum sempat dia berpikir lebih lanjut air muka serius Leng Hong Tootiang sudah bangun berdiri
"Bagaimana kalau kita pergi menengok lukanya sejenak"
"Memang harus demikian" jawab sang pemuda sambil bangun berdiri pula.
Demikian berdua dengan langkah lebar segera berangkat menuju kamar It Jan Tootiang.
Tampaklah bagian dada dari toosu tersebut sudah kena terbacok kurang lebih tiga cun panjangnya oleh babatan golok melengkung tersebut, pada saat ini mulut lukanya sudah berubah jadi merah kehitam hitaman sedikit darahpun tidak kelihatan menetes keluar.
Keadaan dari luka tersebut ternyata sama halnya dengan mulut lukanya tempo dulu hanya saja keadaan dari toosu ini jauh lebih payah karena lukanya ada didada.
Leng HOng Tootiang yang melihat kejadian ini cuma bisa menggosok tangannya sendiri.
"Sudah diberi obat?" tanyanya kepada Wie Jan tootiang.
"Obat mujarab dari perguruan hampir boleh dikata sudah dicoba semua, tetapi sama sekali tidak berkhasiat" kata toosu itu dengan alis yang dikerutkan rapat rapat.
Di dalam benak Tan Kia-beng mendadak teringat akan obat pemunah pemberian perempuan cantik dari balik kabut yang didapatkan dari saku Cui Hoa Kongcu buru-buru ia mengambilnya keluar dari dalam saku lalu mengambil sebutir untuk kemudian diserahkan kepada ciang bunjien dari Bu-tong-pay itu.
“Tolong tootiang suka memberikan pil ini untuk dicoba!" serunya.
Wie Jan tootiang dengan wajah penuh curiga memandang sekejap ke arah Tan Kia-beng, ia agaknya hendak mengucapkan sesuatu tetapi akhirnya dibatalkan.
Ketika itu Leng Hong Tootiang sudah menerima pemberian obat pemunah itu dan berjalan mendekati pembaringan lalu menekan bibirnya sehingga terbuka dan menjejalkan pil tersebut ke dalam mulutnya.
Setelah itu ia menyuruh seorang kacung untuk memberi dua tegukan air ke dalam mulutnya. Akhirnya baru ia menghela napas panjang.
"Lukanya sudah begini terpaksa kita pasrahkan kepada nasib saja." katanya putus asa.
Dalam hati Tan Kia-beng sendiri tak berani memastikan apakah racun yang terpoles di atas golok lengkung dari Go Lun ini sama halnya dengan golok dari Cui Hoa Kongcu, karena itu ia merasa tak begitu yakin dengan obat pemunahnya.
Mereka berdua dengan tenangnya menanti di dalam kamar tersebut, tiga pasang mata bersama-sama dialihkan ke atas tubuh It Jan Tootiang menantikan daya reaksi dari obat pemunah tersebut.
Demikianlah kurang lebih sepeminum teh kemudian mulut luka dari It Jan Tootiang mulai berubah jadi memerah kembali sedang air bercampur darahpun mengalir keluar terus dengan derasnya.
"Aduuuh...." tiba-tiba teriaknya keras.
Mendengar suara jeritan tersebut Leng Hong Tootiang kegirangan.
Cepat bimbing dia bangun". buru-buru Tan Kia-beng memberi perintah. "Bilamana ada seseorang yang memiliki tenaga dalam sempurna suka bantu dia untuk mendesak keluar sisa sisa racun di dalam badannya maka kesehatannya cepat akan pulih kembali."
Pandangan Wie Jan Tootiang terhadap Tan Kia-beng pada saat ini sudah berubah mendengar perkataan tersebut tergopoh gopoh ia berjalan ke depan kemudian mengerah hawa murninya disalurkan melalui jalan darah 'Ming Bun Hiat' di atas tubuh It Jan Tootiang.
“Sute! cepat kerahkan tenaga dalam untuk melancarkan jalannya darah di dalam badan, biarlah Ih heng bantu kau mendesak keluar sisa sisa racun yang masih tertinggal di dalam badan," serunya.
Leng Hong Tootiang yang melihat kejadian itupun lantas tahu bila keselamatannya tidak terganggu lagi, oleh karena itu ujarnya kemudian kepada sang pemuda tersebut.
"Kita tidak usah mengganggu mereka lagi mari kita duduk diluar saja!"
Dengan memimpin Tan Kia-beng ia kembali lagi keruangan yang kecil dan mungil itu.
Sebenarnya kedatangan dari Tan Kia-beng kali ini ada maksud hendak membicarakan soal pertemuan puncak digunung Ui san pada kemudian hari tetapi berhubung Bu-tong-pay sedang menghadapi serbuan musuh tangguh, dia merasa tidak enak untuk mengungkapkan persoalan tersebut dalam keadaan seperti ini.
Oleh karenanya bahan pembicaraan lantas dialihkan di dalam persoalan menghadapi serbuan musuh nanti malam.
Menurut Leng Hong Tootiang kalau memang pihak Isana Kelabang Emas sudah menantang perang secara terang terangan, maka hal ini tentu ada maksud tujuannya yang teratur.
Tetapi ia tidak dapat menebak sebetulnya dendam apakah yang terikat antara pihak Isana Kelabang Emas dengan partai Bu-tong-pay? Lalu kenapa mereka menggunakan cara yang demikian kejam untuk menghadapi pihaknya.
Tan Kia-beng yang teringat akan kata-kata dari Ui Liong Tootiang, tak terasa lagi dengan semangat berkobar kobar ujarnya, “Menurut penglihatan cayhe penjagalan secara besar besaran terhadap umat Bulim sudah tiba saatnya, gerakan istana dari pihak kelabang emas kali inipun kemungkinan sekali akan jauh lebih dahsyat lagi keadaannya jika dibandingkan dengan peristiwa kereta maut serta kejadian kejadian lain, dan partai Bu tong agaknya diincar sebagai sasaran yang pertama Bilamana semisalnya Tootiang tidak memandang kepandaian cayhe terlalu rendah, pada malam nanti aku hendak meminjam pengaruh dari partai kalian untuk mengadakan suatu pertempuran mati matian melawan kaum penjahat yang datang dari gurun pasir ini."
“Haaa.... haaa.... Tan Sauw hiap terlalu merendah!" seru Leng Hong Tootiang sambil tertawa terbahak-bahak dengan
kerasnya "Malam ini partai Butong kami bisa memperoleh bantuan dari Sauw hiap hal ini sudah merupakan suatu keuntungan yang tak pernah kini waktu masih sangat pagi tiada halangan silahkan Sauw hiap untuk beristirahat sebentar di dalam kamar tamu sedang pinto pun hendak melakukan persiapan yang perlu untuk menghadapi pertempuran malam nanti
Tan Kia-beng pun tahu bahwa pertempuran pada malam nanti menyangkut jatuhnya partai Bu tong dikemudian hari, memang sepatutnya Leng Hong Tootiang mengadakan suatu persiapan yang sangat teratur, kuat dan teliti.
Kini dirinya adalah orang luar bagaimana pun terasa tidak enak bila mengganggu terlalu lama, oleh sebab itu ia lantas bangun berdiri untuk memohon pamit!
"Tootiang silahkan berlalu untuk sementara cayhe akan mengundurkan diri terlebih dulu" katanya.
Leng Hong Tootiang tidak sungkan sungkan lagi ia memerintahkan kacung buku disisinya untuk menghantar pemuda tersebut beristirahat di dalam kamar tamu.
Tan Kia-beng sekembalinya ke dalam kamar tamu dengan cepat lantas menjatuhkan diri beristirahat di atas pembaringan, di dalam hati tiada hentinya dia memikirkan beberapa bersoalan yang menyangkut gerakan dari Isana Kelabang Emas dimana secara mendadak mereka hendak melancarkan serbuannya terhadap partai Bu-tong-pay.
Pertama.
Bilamana semisalnya pihak Isana Kelabang Emas ada maksud hendak menjagoi seluruh daerah Tionggoan, maka mereka bisa mengandalkan kepandaian silatnya untuk menaklukkan para jago-jago yang ada, dan tidak perlu
menggunakan cara yang paling keji untuk melakukan suatu pembunuhan masal.
Kedua.
Bagaimana semisalnya mereka ada ikatan dendam dengan orang-orang Bulim di daerah Tionggoan, maka paling banyak terhadap satu, dua partai saja. Bagaimana mungkin menjerat pula partai partai serta perguruan perguruan yang lain?
Ketiga.
Pada masa masa yang lampau pihak Isana Kelabang Emas terus menerus berusaha untuk mendapatkan Daftar hitam tersebut mengapa pada masa masa mendekat ini sama sekali tidak kelihatan sedikit gerakanpun? apakah mereka sudah memperoleh sebagian dari daftar yang lain?
Berbagai persoalan ini degnan tiada hentinya berputar di dalam benak hal ini membuat kepalanya jadi pening sekali....
Ketika itu suara langkah manusia yang sangat perlahan serta suara ujung baju yang tersampok angin tiada hentinya berkelebat di atas genting, ia tahu pihak partai Bu-tong-pay sudah melakukan suatu penjagaan yang sangat ketat dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada guna menghadapi serangan musuh tangguh.
Sewaktu pikirannya lagi melayang entah kemana itulah mendadak terdengar suara langkah kaki yang berat menginjak hancur genting di atas kamarnya.
Mendengar suara itu hatinya rada bergerak, tubuhnya dengan cepat bangun berdiri dan mencelat ke atas genting melalui jendela disisinya.
Tampaklah sesosok bayangan manusia dengan gerakan yang sebat dan lincah menubruk ke bawah dari arah wuwungan rumah.
>o< Tan Kia-beng baru saja meloncat keluar dari kamarnya, mendadak melihat dari satas wuwungan rumah menubruk datang sesosok bayangan manusia hatinya merasa sangat terperanjat sekali Dalam keadaan gugup sepasang telapak tangannya segera didorong ke depan melancarkan pukulan. Tetapi belum sampai angin pukulannya mengenai orang itu, mendadak tampaklah bayangan itu sudah rubuh ke bawah dengan sangat kerasnya. Melihat kejadian tersebut buru-buru pemuda itu menarik kembali serangannya kemudian mengulurkan tangannya ke depan menerima datangnya sang tubuh yang jatuh dari atas itu. Masih untung ia menyadari keadaan yang tidak beres ini dengan cepat sehingga tidak sampai melukai orang itu bahkan cekalannya barusan ini sangat tepat sekali. Tubuhnya dengan gesit berputar setengah lingkaran di tengah udara lalu melayang turun ke atas permukaan tanah dan meletakkan orang itu kelantai. Saat itulah Tan Kia-beng baru menemukan bila orang tersebut bukan orang lain adalah salah satu dari Kay-pang Jie Loo yang disebut 'Gien Tiang Shu' atau si kakek tongkat perak Thio Cau. Ketika itu Leng Hong Tootiang serta Wie Jan Tootiang pun sudah pada berdatangan buru-buru toosu itu berjongkok dan memeriksa seluruh badannya dengan cermat Akhirnya mereka dapat menemukan kalau si orang tua itu sudah terluka dalam yang amat parah, napasnya kempas kempis dengan susahnya. Tan Kia-beng mengalihkan pandangannya sekejap ke arah Leng Hong Tootiang kemudian katanya, "Biarlah cayhe tembusi dulu seluruh uratnya yang tersumbat, kemudian kita periksa lagi apakah nyawanya masih bisa ditolong atau tidak." Dengan tidak membuang waktu lagi pemuda itu lantas pusatkan perhatiannya mendadak jari tangannya laksana sambaran kilat berturut turut menotok jalan darah "Hwee Im" "Tiong Khek" "Kwan Yen" "Khie Kak" "Im Kiauw" sekalian banyak dua puluh sembilan buah jalan darah. Serangan yang mantap serta arah jalan darah yang cepat benar-benar merupakan kepandaian yang luar biasa. Hanya di dalam waktu yang singkat tujuh urat delapan nadi diseluruh tubuh pengemis tua itu sudah ditepuk, sedang Tan Kia-beng sendiripun saking lelahnya keringat mengucur keluar dengan sangat deras. Leng Hong Tootiang serta Wie Jan Tootiang yang melihat kejadian itu diam-diam merasa kagum, mereka malu dirinya tak dapat menandingi pemuda tersebut. Sedang si kakek tongkat perak Thio Cau, setelah diurut dan dilancarkan peredaran darah dibadannya kesadaranpun perlahan-lahan pulih kembali Ia menghembuskan napas panjang panjang, lalu muntahkan darah kental yang berwarna merah kehitam hitaman Sepasang matanya dengan tidak bersinar dipentangkan, bibirnya bergerak agaknya hendak mengucapkan sesuatu. Melihat hal tersebut buru-buru Leng Hong Tootiang goyangkan tangannya mencegah Toosu itu segera memerintahkan Wie Jan Ci untuk memberikan dua butir pil luka dari perguruan, kemudian membawanya beristirahat di dalam kamar belakang. Setelah itu baru ia putarkan badan dan ujarnya kepada Tan Kia-beng, "Menurut pandangan pinto, di sekeliling gunung pada saat ini pasti sudah dikepung rapat rapat oleh pihak kuku garuda Isana Kelabang Emas, Si kakek tongkat perak tentunya ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengan partai kita, sehinga ia melakukan perjalanan kemari, siapa sangka di tengah jalan mendapat hadangan dari musuh dan akhirnya kena dihajar sekali oleh mereka" Perlahan-lahan Tan Kia-beng mengangguk. "Perkataan dari Tootiang sedikitpun tidak salah!” jawabnya, “Tetapi si kakek tongkat perak merupakan salah satu dari Kay-pang Jie Loo kepandaian silatnya tentu luar biasa sekali, bagaimana mungkin dia pun berhasil dipukul sehingga terluka parah? jelas di dalam gerakannya kali ini pihak Isana Kelabang Emas sudah membawa tidak sedikit jagoannya yang lihay" Dengan wajah yang serius Leng Hong Tootiang mengangguk. Mereka berdua kembali termenung tak berbicara, mendadak di dalam benaknya Tan Kia-beng terlintas satu urusan kenapa selama ini tidak kelihatan batang hidung dari pada Sak Ih? Buru-buru tanyanya kepada Leng Hong Tootiang, "Sutemu apakah ada di dalam kuil? Dapatkah mengundang kemari untuk ikut berbicara?" "Oouw.... dia? saat ini ia sedang ikut seorang Tiong Loo perguruan kami untuk berlatih ilmu pedang" "Melatih ilmu pedang?...." Mendadak dia teringat kembali akan peristiwa pertemuan puncak para jago digunung Ui San dikemudian hari kembali tanyanya, "Di dalam pertemuan puncak para jago di gunung Ui san nanti kemungkinan sekali kalian sudah memutuskan Sak Ih lah yang turut bukan?" Sebetulnya urusan yang sangat rahasia ini tidak seharusnya nyatakan secara langsung sekalipun kawan karib belum tentu pihak lawan akan memberi jawaban secara langsung. Tetapi dengan sifat Leng Hong Tootiang yang suka terus terang blak blakan, ia sudah menganggap Tan Kia-beng sebagai orang sendiri. Karena itu ketika ia ditanyai begitu ia lantas mengangguk. "Benar" sahutnya membenarkan. "Cuma saja jika ditinjau dari keadaan situasi pada saat ini, kemungkinan sekali pertemuan puncak tersebut akan diundur waktunya, secara mendadak Tan Sauw hiap menanyakan urusan ini apakah mungkin kau ada maksud untuk ikut serta?" Tan Kia-beng tersenyum, ia tidak menjawab. Saat itulah Leng Hong Tootiang baru merasa bahwa pertanyaan yang baru saja diajukan sebenarnya kurang sesuai untuk ditanyakan dengan kepandaian silat yang dimiliki Tan Kia-beng pada saat ini sudah merupakan seorang jagoan pedang nomor wahid, apa lagi tujuh partai besarpun tidak bisa berkutik terhadap dirinya. Sudah tentu iapun punyai hak untuk ikut serta. Jadi pertanyaannya tadi tidak boleh dikata sudah terlalu memandang rendah dirinya. Karena itu buru-buru tambahnya, "Kepandaian silat maupun silat Tan Sauw hiap sudah dapat disebut sebagai seorang jago pedang nomor wahid yang paling berbakat. Menurut pinto di dalam keadaan yang bagaimanapun janganlah kau membuang kesempatan yang baik ini dengan sia-sia belaka" "Terima kasih atas pujian dari Tootiang" jawab Tan Kia-beng sambil tertawa "Sebenarnya cayhe merasa malu untuk ikut serta di dalam pertempuran tersebut hanya saja sampai waktu aku kepingin ikut hadir untuk menonton. satu satunya urusan yang membuat cayhe sampai sekarang masih merasa sangat rikuh adalah soal kepergianku menuju ke gurun pasir bilamana tiada aral melintang lagi aku pikir di dalam waktu yang singkat ini segera akan berangkat ke gurun pasir, dengan begitu kemungkinan sekali sampai waktunya aku rada sulit untuk pisahkan diri guna datang menghadiri pertemuan puncak para jago digunung Ui san...." Belum habis ia berkata, mendadak terdengar seseorang menyambung sambil tertawa keras, “Menurut pandangan siauwte, kepergian ke gurun pasir jauh lebih penting dari pada mengikuti pertemuan puncak para jago di gunung Ui san depan Tan heng hendak berangkat siauwte rela ikut serta mengawani dirimu" Terasa bayangan manusia berkelebat datang Sak Ih dengan gagahnya sudah munculkan diri di tempat itu. Mula mula ia memberi hormat dulu kepada Ciangbunjin Suhengnya kemudian baru ujarnya kepada Tan Kia-beng sambil menjura, "Angin apa yang sudah membawa Tan Heng datang kemari? Tadi Siauwte sedang berlatih ilmu pedang dari supek sehingga tidak dapat jauh jauh menyambut harap Tan heng suka memaafkan!" Sambil tersenyum Tan Kia-beng segera balas memberi hormat. “Haa haa haaa inilah yang namanya banyak adat, manusianya jadi tidak aneh!” teriak Sak Ih kembali sambil tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi Tan Kia-beng memperhatikan tubuh Sak Ih dari atas ke bawah, ia merasa sikapnya sangat gagah, tenaga dalamnyapun memperoleh kemajuan yang sangat pesat sehingga tak terasa lagi iapun tertawa terbahak-bahak “Haaa haaa haaa pedang Sak heng baru saja diasah, malam ini kau harus mencoba ketajamannya!" Leng Hong Tootiang yang sepasang jagoan muda itu mempunyai sikap yang gagah dalam hati merasa sangat gembira sewaktu dilihatnya kentongan kedua sudah tiba, ia lantas putar kepala dan pesannya kepada seorang toosu cilik, "Beritahukan kepada Susiok serta suhengmu kelian agar kumpul di ruangan Yen Si Tien Aku ada perkataan yang hendak disampaikan kepada mereka." Setelah toosu cilik itu berlalu Leng Hong Tootiang baru bangun berdiri. "Mari kitapun bersama-sama menuju ke ruangan Yen Si Tien untuk berunding sebentar!" ajaknya kepada Tan Kia-beng. Malam ini merupakan titik penentuan mati hidupnya partai Bu-tong-pay walaupun di luaran tidak kelihatan begitu menegangkan padahal seluruh kekuatan yang ada di dalam partai sudah dikerahkan semua bahkan seorang Tiang loo yang tinggal dibelakang gunung dan selama ini belum pernah mencampuri urusan luarpun ikut terkejut dan menggabungkan diri dengan kekuatan Bu-tong-pay lainnya. Sekeliling gunung Butong san sudah disebarkan penjagaan penjagaan yang ketat. Kedua belah sisi kuil Sam Cing Kong pun telah dipasangi dengan dua buah barisan Kiu Kong Kiam Im yang paling dahsyat khusus ditunjukkan untuk menghadapi serangan total dari jagoan Isana Kelabang Emas. Dengan mengikuti dari belakang Leng Hong Tootiang, Tan Kia-beng pun berangkat menuju keruangan Yen Si Tien. Kurang lebih dua tiga puluh orang anak murid partai Bu-tong-pay dari angkatan kedua serta angkatan ketiga sudah pada menunggu di dalam ruangan. Pertama tama Leng Hong Tootiang memperkenalkan terlebih dulu Tan Kia-beng kepada semua orang kemudian baru menceritakan berita penyerbuan orang-orang Isana Kelabang Emas nanti malam serta keputusan perguruan yang hendak melakukan pertahanan secara besar besaran. Setelah itu iapun memerintahkan seorang toosu untuk mengundang si kakek tongkat perak Thio Cau yang sedang beristirahat untuk ikut berunding di dalam ruangan. Tidak selang lama kemudian si kakek tongkat perak Thio Cau dengan mengikuti dari belakang seorang toosu cilik berjalan masuk ke dalam ruangan. Pertama tama ia mengucapkan terima kasih dulu kepada Leng Hong Tootiang kemudian baru mengucapkan terima kasihnya kepada Tan Kia-beng yang sudah membebaskan jalan darahnya. Buru-buru Leng Hong Tootiang bangun berdiri mempersilahkan si orang tua itu untuk ambil tempat duduk. Diam-diam Tan Kia-beng memperhatikan keadaan dari si kakek tongkat perak, salah seorang dari Kay-pang Jie Loo. Terasalah olehnya kecuali semangat yang masih kendor dan wajah yang letih keadaan lukanya sudah sembuh sama sekali Tidak terasa lagi diam-diam dia merasa kagum atas kesempurnaan dari tenaga dalamnya. Ketika itu si kakek tongkat perak Thio Cau sudah mulai menceritakan kisahnya hingga terluka. Kiranya setelah topeng dari Thay Gak Cungcu kena diangkat, maka seluruh kekuatan dari perkumpulan Kay-pang segera disebar luaskan untuk menyelidiki orang yang berdiri dibelakang layar Thay Gak Cungcu ini. Dengan luasnya pendengaran serta pandangan anggota Kay-pang, sudah tentu tidaklah sulit untuk memperoleh semua keterangan keterangan yang penting. Sedikitpun tidak salah tidak lama kemudian mereka sudah menemukan adanya sebuah kekuatan yang maha dahsyat dari gurun pasir yang secara perlahan mulai meresap ke dalam daerah Tionggoan, bahkan gerakan mereka tidak bermaksud baik. Akhirnya sesudah diadakan suatu penyelidikan yang sangat cermat oleh Hong Jien Sam Yu serta si kakek tongkat perak mereka semakin menemukan bahwa kekuatan yang muncul dari gurun pasir ini sebenarnya bukan lain adalah perbuatan dari pihak Isana Kelabang Emas. Bahkan secara samar-samar mereka mempunyai maksud hendak membasmi seluruh partai yang ada di dalam Bulim. Si kakek tongkat perak setelah mendapatkan berita ini lantas berangkat keberbagai partai untuk memberi peringatan, siapa sangka sewaktu baru tiba dibawah gunung Bu-tong-san dia sudah bertemu dengan segerombolan manusia manusia yang berbentuk sangat aneh. Dua tiga patah kata tidak cocok, mereka lantas bentrok satu sama lainnya. Tetapi baru saja bertempur beberapa jurus mendadak si kakek tongkat perak berhasil dilukai oleh sebuah pukulan yang maha aneh, untung saja dia mengetahui keadaan yang tidak beres sehingga akhirnya berhasil juga dia meloloskan diri dari ancaman bahaya maut. Kedudukan si kakek tongkat perak di dalam dunia kangouw tidak rendah, kepandaian silatnya pun boleh dikata sejajar dengan kepandaian silat dari ciangbunjin berbagai partai Ternyata kali ini baru bergebrak sebanya beberapa jurus saja sudah berhasil dilukai oleh pihak musuh hal ini membuktikan bagaimana dahsyatnya kekuatan pihak lawan. Setelah si kakek tongkat perak menyelesaikan kisahnya, di dalam hati masing-masing orang tak terasa lagi mulai terlintas suatu bayangan hitam mereka mulai merasa kuatir terhadap pertempuran yang akan berlangsung nanti malam. Tan Kia-beng sudah sering seklai bergebrak melawan orang-orang dari Isana Kelabang Emas, ia merasa kecuali Ci Lan Pek Kong Sun Su serta si Dara Berbaju Hijau yang merupakan musuh paling menakutkan, sisanya tidak lebih hanya merupakan gentong gentong nasi belaka Tetapi justru dikarenakan terlalu memandang rendah terhadap musuhnya inilah hampir hampir saja di dalam pertempuran nanti ia menemui cedera. Waktu sedetik demi sedetik berlalu dengan cepatnya, perasaan hati para toosu yang ada di dalam kuil Sam Cing Kong pun sedetik demi sedetik ikut merasa tegang. Tok tok tok, kentongan ketiga sudah tiba. Hal ini seluruh orang yang ada di dalam ruangan pun mulai merasa berdebar debar, walaupun begitu suasana tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. Ui Jen Cie mulai tidak sabaran lagi. "Apakah para bajingan itu hanya memberikan ancaman kosong belaka? Mengapa setelah kentongan ketiga tiba, mereka belum kelihatan muncul juga,” gumamnya memecahkan kesunyian yang mencekam. Tiba-tiba.... "Hee.... hee.... heee.... Raja Akhirat sudah menentukan kentongan ketiga harus mati, bagaimana mungkin kalian bisa hidup sampai kentongan keempat? terdengar dari atas wuwungan rumah tahu-tahu berkumandang datang suara yang sangat menyeramkan sehingga mendirikan bulu roma. "Kalian hidung hidung kerbau tidak usah begitu kesusu kepingin mati, pokoknya setiap orang yang ada di dalam kuil Sam Cing Kong pada malam ini tak bakal seorang pun yang bakal hidup. Perkataan yang dingin dan menyeramkan ini sepatah demi sepatah merusak hati setiap orang, di dalam keadaan terperanjat Wie Jan Ci segera membentak keras. Bersama-sama dengan Sak Ih mereka berdua menubruk ke atas wuwungan rumah. Tan Kia-beng sebagai seorang tetamu sebenarnya tidak ingin munculkan dirinya terlebih dahulu, tetapi perkataan orang itu terlalu kasar dan sombong hal ini membuat dia tanpa terasa sudah ikuti dari belakang Sak Ih meloncat ke atas wuwungan rumah. Baru saja kakinya menginjak genting mendadak dari sebelah kiri tampak sesosok bayangan manusia berkelebat mendatang dan agaknya ia sedang menggape ke arah dirinya. Dalam keadaan gelagapan ia tidak berpikir panjang lagi, tubuhnya segera berputar kemudian mengejar ke arah bayangan manusia itu. Gerakannya ternyata amat gesit sekali, bagaikan seekor burung elang hanya di dalam sekejap saja ia sudah melihat bila orang yang berada dihadapannya bukan lain adalah seorang yang memakai pakaian singsat. Gerakan gadis itu sangat gesit, di dalam berapa kali kentongan saja tubuhnya berkelebat masuk ke dalam hutan disebelah depan. Tan Kia-beng ada maksud untuk menyelidiki keadaan yang sebenarnya sepasang lengannya mendadak dikebaskan sehingga membuat tubuhnya menerjang ke tengah udara setinggi delapan sembilan depa kemudian pinggangnya menekuk bagaikan sebuah busur berganti napas lalu bagaikan sebatang anak panah yang terlepas busurnya melesat ke arah depan. Hanya di dalam sekejap mata tubuhnya sudah jauh lebih dekat sepuluh kaki dari gadis tersebut waktu itulah mereka telah tiba di sebuah lembah gunung yang sunyi. Mendadak bayangan tubuh yang berada di depan putar badan dan menghentikan tindakannya. Tan Kia-beng pun pada saat yang bersamaan berhasil tiba disana, sekali pandang saja ia sudah menemukan bila orang yang memancing kedatangannya disana bukan lain adalah sidara bercelana hijau Lo Hong-ing adanya. Karena gadis itu pernah menggunakan jarum beracun "Pek Cu Kiem Wu Yen Wie Tin" nya untuk melukai Sak Ih, maka Tan Kia-beng boleh dikata tidak mempunyai rasa simpatik terhadap dirinya. "Heee.... heee.... kau memancing Siauwya mu datang kemari sebenarnya ada urusan apa? cepat katakan?" bentaknya dingin dengan wajah yang ketus. "Hmmm! orang lain bermaksud baik terhadap dirimu, buat apa kau bersikap begitu galak terhadap diriku?” seru Lo Hong-ing sambil mencibirkan bibirnya dan tertawa dingin. "Bilamana kau tidak takut ayoh cepatlah ke tempat semula?" Tan Kia-beng segera mengerutkan alisnya rapat rapat. "Haaa.... haaa.... sekalipun kau hendak memperlihatkan permainan apapun, siauwyamu tidak bakal merasa jeri terhadap dirimu", teriaknya lagi sambil tertawa panjang. “Kalau begitu sangat bagus sekali Hey aku mau bertanya kepadamu sebenarnya kau rindu dengan Siauw Cie kami tidak?" "Nonamu? siapakah dia?" tak terasa lagi Tan Kia-beng dibuat kebingungan setengah mati. "Kau tidak usah beralgak pilon lagi! si Dara Berbaju Hijau Gui Ci Cian Apakah kau tidak kenal dengan dirinya?" "Oouw.... kiranya dia" "Karena ia dikekang oleh majikan Isana Kelabang Emas yang melarang dirinya untuk mendatangi daerah Tionggoan kembali maka sengaja ia menyuruh aku datang kemari dan mengharapkan agar kau suka mengabulkan permintaannya" "Walaupun kedudukannya dengan dirinya sangat berbeda dan berada dalam keadaan bermusuhan, tetapi dia pernah menaruh budi terhadap diriku. Seorang lelaki sejati harus dapat membedakan mana yang baik mana yang buruk, bilamana permintaan ini bukan terlalu memaksa dan merugikan orang lain, aku pasti akan menyanggupinya." "urusan ini sebenarnya tidak sukar, ia hanya mengharapkan suka berangkat ke gurun pasir atau sejak kini tidak mencampuri urusan dunia kangouw lagi dan berlatih ilmu silat selama setahun, kau bisa menyanggupi permintaannya bukan?" Kedua urusan ini bilamana dibicarakan memang tidak sukar, tetapi disebabkan pemuda tersebut tidak mengetahui maksud hatinya, ditambah pula keadaan di dalam dunia persilatan pada saat ini masih banyak membutuhkan tenaganya bagaimana mungkin dia boleh menutup diri selama setahun lamanya tanpa ikut campur tangan di dalam urusan dunia persilatan? Bukannya memberi jawaban sebaliknya ia malah bertanya, "Apa maksudnya meminta aku berbuat demikian? coba kau terangkan dulu?" "Soal ini si aku mengetahui sedikit hanya saja disebabkan urusan ini menyangkut pula rahasia dari Isana Kelabang Emas maka aku tidak berani berbicara." "Heee.... heee.... kau tidak suka berbicara terus terang akupun bisa menduganya sendiri" serunya Tan Kia-beng sambil tertawa dingin tiada hentinya. "Bukankah pihak Isana Kelabang Emas kalian menaruh maksud tidak menguntungkan terhadap diriku karena nonamu merasa tidak enak kalau secara terus terang minta aku menghindar maka sengaja ia menyuruh aku mengasingkan diri bukan begitu?" "Hmmm! soal itu si bukan" "Kalau begitu tentunya pihak Isana Kelabang Emas segera akan melakukan suatu pembunuhan secar besar besaran terhadap seluruh partai yang ada di dalam daerah Tionggoan karena takut aku mengacau dari tengah jalan maka sengaja aku berangkat ke gurun pasir pada saat ini, atau mengasingkan diri, bukan begitu?" Perlahan perlahan Lo Hong-ing menghela napas panjang. "Heeei.... jikalau kau bisa memahami kesukaran dari nona kami itulah jauh lebih bagus lagi, lebih baik sekarang juga kau cepat-cepatlah meninggalkan Bu-tong-san sehingga jangan sampai melibatkan diri dalam kancah pertempuran yang sangat ruwet ini, kemungkinan sekali malam ini partai Bu tong akan musnah sama sekali" Mendengar perkataan tersebut Tan Kia-beng segera menengadah ke atas tertawa seram. "Haaa.... haaa.... pihak Isana Kelabang Emas beraksi menggunakan tindakan yang ganas dan kejam untuk menghadapi orang-orang Bulim di Tionggoan asalkan aku orang she Tan masih bisa bernapas pasti tidak akan membiarkan mereka malang melintang sesuka hati, walaupun nonamu menaruh budi terhadap diriku, pada suatu hari cayhe pasti akan membalasnya. "Urusan ini aku tidak bisa menyanggupi dan malam ini memandang di atas wajah nonamu aku tidak ingin menyusahkan kau cepat pergilah, jika di kemudian hari kita bertemu muka lagi maka sulit bagiku untuk menentukan hendak membunuh atau melepaskan dirimu kembali" Di dalam hatinya pada saat ini terus menerus menguatirkan keselamatan dari tosu tosu yang ada dikuil Sam Cing Kong. Selesai mengucapkan perkataan tersebut pemuda itu lantas putar badan untuk berlalu. Siapa sangka baru saja ia berjalan dua langkah tampak bayangan manusia berkelebat tahu-tahu Lo Hong-ing sudah menghadang dihadapannya lagi. "Heee.... heee.... ada pepatah mengatakan laki laki sukar untuk dipercaya ternyata pepatah ini sedikitpun tidak salah,” serunya sambil tertawa, “Pada waktu waktu yang lalu nona kami bersikap begitu baik terhadap dirimu, ternyata kau sama sekali tidak merasakannya bahkan cuma permintaannya yang sangat kecilpun tak dapat kau kabulkan Hmm, manusia yang melupakan budi dan tidak tahu diri." Mendengar makian tersebut kontan saja Tan Kia-beng menghentikan langkahnya. “Lebih baik kau jangan bicara sembarangan!” bentaknya dengan suara yang keras. "Aku orang she Tan kecuali berhasil ditolong olehnya karena salah makan obat perangsang sehingga lolos dari perbuatan mesum dengan perempuan cabul itu, aku sama sekali tak pernah berhutang budi apapun dengan dirinya, bagaimana kau bisa mengatakan kalau aku adalah manusia yang telah melupakan budi? apalagi permintaan ini menyangkut soal keselamatan seluruh Bulim bagaimana kau bisa suruh aku menyanggupi?" Lo Hong-ing segera tertawa cekikikan dengan merdunya. "Omonganmu ternyata benar-benar amat besar, dengan mengandalkan kekuatan seorang diri apakah bisa mengubah takdir yang sudah ditentukan oleh Thian? seorang saja yang tahu.” “Terus terang aku beritahukan kepadamu, kepandaianmu jika dibandingkan dengan jago pedang nomor wahid dari kolong langit si 'Cu Swie Tiang ing' Tan Ci Liang siapa yang jauh lebih hebat? sekarang bagaimanakah keadaannya? bukankah sama saja?" Berbicara sampai disini mendadak ia menutup mulutnya kembali. Tan Kia-beng jadi cemas mendadak tubuhnya bergerak maju ke depan, tangannya dengan kecepatan bagaikan kilat mencengkeram pergelangan tangannya. "Bagaimanakah keadaan dari 'Cu Swie Tiang Cing' Tan Ci Liang pada saat ini? Cepat katakan!" teriaknya keras. "Kau hendak memaksa diriku? kuberitahu aku sama sekali tidak tahu" “Hmm! Aku tidak takut kau tidak suka berbicara!" Cengkeramannya mendadak dipercepat dan ditambah dengan dua bagian tenaga dalamnya. Lo Hong-ing segera merasakan pergelangannya sangat sakit sehingga hendak hancur semua rasanya, tak kuasa lagi paras mukanya barubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, keringat dingin mengucur keluar dengan sangat deras membasahi seluruh tubuhnya. Menggunakan cara yang demikian kasar hendak memaksa seorang gadis, enghiong macam apakah kau?” teriaknya melengking sambil menggertak giginya kencang kencang. “Aku cuma mengharapkan kau suka memberitahukan berita tentang Cu Swie Tiang Cing itu kepadaku." Baiklah! Akan kuberitahukan hal itu kepadamu, tetapi kau jangan bilang kaalu aku yang membocorkan lhoo! “Bicaralah!?” kata Tan Kia-beng sambil mengendorkan cekalannya. “Sudah tentu aku tidak akan memberitahukan kepada orang lain bila berita ini kaulah yang membocorkan kepadaku.” “Setelah dia serta Thiat Bok Tootiang dan Leng Siauw Kiam Khek bertiga berangkat ke gurun pasir, telah datang...." TAMAT
Anda sedang membaca artikel tentang Pendekar Bayangan Setan 2 dan anda bisa menemukan artikel Pendekar Bayangan Setan 2 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/pendekar-bayangan-setan-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Pendekar Bayangan Setan 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Pendekar Bayangan Setan 2 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Pendekar Bayangan Setan 2 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/pendekar-bayangan-setan-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar