Anak Berandalan 2

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 13 September 2011

Sim Pek Kun menyengir, ia mengajukan pertanyaan.
“Jiwi berdua sudah menyusahkan diri, dari daerah telaga Tay ouw ke Tay-beng-ouw bukan
jarak dekat, tentu mempunyai tugas penting. Tugas penting yang bagaimanakah yang hendak
dilakukan ?”
Pendekar kilat dari telaga Tay ouw Liong It San menghela nafas, ia berkata perlahan :
“Kami berdua khusus datang kesini mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tay hujin,
tidak disangka.... kami terlambat datang.”
Yang mendapat panggilan Tay-hujin adalah nenek Sim Pek Kun yang bernama Sim Tay Kun.
Sikap sitinggi kurus Liong It San tetap tenang, tetap perlahan, Sepatah demi sepatah sangat
jelas dan jernih.
Tapi suara itu bagaikan guntur disiang hari memengangkan telinga Sim Pek Kun.
Sukmanya hampir melesat keluar dari tempatnya, ia segara mendapat berita yang lebih buruk
tentang keadaan Sim Thay Kun. Ia hendak membuka mulut, bertanya kepada mereka
bagaimana keadaan sang nenek ? tapi mulutnya itu terkatup.
Lie Ban Tong menyambung pembicaraan sang kawan, katanya :
“Kami berdua baru tiba pada dua hati yang lalu”
Kata katanya hanya sampai disini, bilamana hanya mengucapkan keterangan seperti apa yang
ia katakan, keterangan itu tentu saja tidak keomplit, tapi sudah menutup mulutnya. Karena ia
tahu, suaranya terlalu keras, tidak perlu banyak bicara. Selalu ia berbicara secara singkat.
SIm Pek Kun menahan gejolak hatinya yang sangat sedih, dengan suara sember ia bertanya :
“Dua hari yang lalu ? ... Mungkinkah telah terjadi sesuatu di... "
Pendekar Kilat Liong It San menganggukkan kepala : ia membenarkan dugaan Sim Pek Kun
itu katanya :
“Dikala kami berdua tiba, Sim Kee Chung telah dilanda api, mayat bergelimpangan disana
sini. Sayang sekali, kami terlambat. Betapapun kami berusaha untuk memadamkan apinya,
walau berhasil juga menolong kebarakan ini, tapi tidak berhasil menolong banyak orang”

Sesudah itu, ia menolehkan pandangannya kearah baju sendiri, baju ini masih penuh dengan
kotoran, cipratan air masih terpeta, suatu bukti bahwa ia telah memberi pertolongan untuk
memadamkan api yang membakar Sim kee chung. Suatu tanda bahwa sampai saat ini, sudah
dua hari ia tidak bertukar pakaian, dua hari ia berusaha memedamkan kebarakan dan
kehancuran yang melanda SIm kee chung. Sehingga tidak sempat berganti pakaian.
Istilah kata kata mati mayat bergelimpangan itu membuat Sim Pek Kun semakin marah. Tapi
hatinya semakin sedih, Yang diartikan dengan mayat bergelimpangan, tentu terjadi banyak
korban.
Kini harapan masih tipis sekali Sim Pek Kun bertanya :
“Berapa orangkah yang terluka ?”
Pendekar Kilat Liong It San berkata : “Itu waktu, Lu Tong Su Gie berampat turut hadir,
pendekar pertama san pendekar ketiga sudah mengalami hari naas, pendekar kedua Sin Thia
Tiok dan pendekar keempat Sin Thia Ciok menderita luka hebat”
Lu Tong Su Gie adalah empat pendekar dari daerah Bu Tong, semua itu terdiri dari keluarga
keluarga SIm. Atas pesta ulang tahun nenek Sim Thay Kun, ampat pendekar Lu TOng SU Gie
juga berkunjung datang, tentu dengan maksud memberi selamat ulang tahun. Tidak disangka,
pendekar pertama Sim Thian Song mempunyai kegagahan luar biasa juga binasa.
Keempat pendekar Lu TOng Su Gie sangat dikenal baik oleh SIm Pek Kun, hubungan mereka
juga sangat erat sekali, kematian mereka menambah kesedihan siratu rimba persilatan.
MEnggigit ujung bibir, Sim Pek Kun bertanya lagi :
“Yang menderita luka, kecuali paman Sim Thian Cok dan SIm Thian Ciok siapa siapa lagikah
yang menderita cidera "
Perlahan sekali perdekar Liong It San menggoyang kepala, perlahan juga ia berkata :
“Kecuali dua orang itu, tidak ada orang lain lagi yang terluka”
Gerakan pedang kilat ini tidak seperti kilat, perlahan lahan sekali, lambat lambat sekali, yang
diartikan dengan TIDAK ADA ORNAG LAIN LAGI YANG TERLUKA. itu berarti semua
orang sudah mati.
Sim Pek Kun tidak bisa menahan lagi, dengan suara sember ia bertanya :
“Maka, Nenekku itu... "
Kata kata yang selanjutnya tersumbat ditenggorokan, ia segera jatuh celentang.
Pekdekar kilat dari telaga Tay ouw yang tinggi besar berkata :
Sim Thian Ciok dan SIm Thian Tiok berada diperahu itu, maukah hujin merundingkan cara
cara selanjutnya ?
“Sin Thian Ciok adalah pendekar kedua dan empat pendekar Lu Tong Su Gie, Hanya kedua
orang ini yang nyaris dari kematian yang melanda bencana kampung Sim kee chung.
Betul saja, tidak jauh dari telaga berlabuh sebuah perahu, terbayang besarnya perahu itu. SIm
Pek Kun memandang kearah tempat jauh. perlahan lahan menganggukkan kepala. Ia setuju

untuk bertemu dengan Sim Thian Ciok dan Sim Thian Tiok, ia setuju untuk diajak keperahu
itu.
“Hujin masih sanggup berjalan ?” bertanya Liong It San memandang kearah Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun memandangi kakinya, ia menghela napas panjang.
Pendekar guntur dari telaga Tay ouw Lie Ban Tong berkata : “Umurku sudah hampir
mencapai enampuluh tahun. Bilamana Hujin tidak keberatan aku bersedia menggendong”
Ia sudah membungkukkan badan, betul betul siap untuk menggendong Sim Pek Kun, menuju
keperahu yang mereka tunjuk.
Tiba tiba Sim Pek Kun membentak :
“Tunggu dulu !”
Suaranya tidak keras seperti suara Lie Ban Tong, tapi sikapnya yang agung tidak lepas dari
penilaian semua orang. Sangat keren sekali.
Pendekar guntur Lie Ban Tong menghentikan gerakan, menatap dengan mata tanpa berkedip,
agaknya sangat heran.
SIm Pek Kun menggigit bibir, perlahan lahan ia berkata.
“Betulkah Sim Thain Ciok dan SIm Thian Tiok berada diperahu itu ?”
Wajah Lie Ban Tong yang pucat pasi itu menjadi merah, agaknya ia tersinggung, agaknya ia
marah. Suaranya yan mengguntur itu menggema kembali.
“Mungkin Hujin tidak percaya kepada kami ?”
Sim Pek Kun menjadi kikuk. “Bukan tidak percaya... " ia tidak melanjutkan keterangannya.
SIm Pek Kun juga merasakan, wajahnya menjadi merah, ia malu kepada diri sendiri, mengapa
begitu banyak curiga ? Mengapa tidak percaya kepada orang ? tidak percaya kepada orang
yang hendak memberikan pertolongan, adalah sipat yang sangat memalukan. Bilamana tidak
ada terjadi perobahan perobahan drama yang terus menerus, tidak mungkin Sim Pek Kun bisa
memperhatikan rasa penuh curiga. Tapi lain dahulu, lain sekarang, perobahan jaman yang
sudah menjadi begitu tua, membikin penilaian lain, setiap sesuatu harus dicurigainya.
Pendekar guntur Lie Ban Tong cepat naik darah, pendekar kilat Liong It San tidak cepat
marah, ia masih bisa menahan kemarahan itu lambat lambat katanya :
“Hujin telah banyak mengalami penderitaan penderitaan, sudah tentu harus berhati hati, tapi,
kami bukan orang jahat. Walau hujin belum pernah bertemu muka, toch pernah mendengar
nama kami, bukan ?”
Kata kata ini seperti belati tajam yang menusuk hati Sim Pek Kun, dengan wajah merah ia
berkata : Bukan maksudku seperti itu. Bagaimana keadaan paman SIm Thian Ciok dan Sin
Thian Tiok, beratkah lukanya ? Bisakah mereka bicara ?”
Lie Ban Tong menekuk wajahnya yang pucat pasi itu ia berkata :
“Mereka Belum mati,bagaimana tidak bisa bicara ?”
Suaranya tetap mengguntur tetap keras dan bergama.

PEndekar kilat Liong IT San menghela napas panjang sekali, baru ia berkata :
“SUdah dua hari Sin Thian Ciok terluka belum pernah ia mengatupkan mata, juga
lemunpernah ia menutupkan mulutnya, mulut itu memanggil manggil nama seseorang, nama
seseorang yang tidak mungkin dilupakan ?”
“Nama Siapa ?” bertanya Sim Pek Kun.
“Tentu saja nama dari si pembunuh ! Nama dari sipengrusaj kampung Sim kee chung”
“Si... siapa... siapakah orang itu ?” bertanya Sim Pek Kun dengan tubuh gemetar.
Siapa pembunuhnya ? siapa yang membakar kampung Sim kee chung ? nama ini penting
sekali, Sim Pek Kun wajib membikin tuntutan, ia harus mengetahui, siapa yang begitu jahat,
menghancurkan kampung lahamannya.
Dengan sikap yang sangat dingin, Lie Ban Tong berkata :
“Hujin tidak percaya kepada kami berdua, bila nama pembunuh ini keluar dari mulut kami,
toch percuma saja bukan ?”
Liong It San meneruskan pembicaraan sang kawan katanya :
“Ada lebih baik hujin berkunjung keperahu itu, langsung mengajukan pertanyaa kepada orang
yang bersangkutan.
Suara sipendekar kilat tetap perlahan, tapi sangat jelas.
“Tapi... " Sim PEk Kun menghela napas, “Bagimana aku bisa menyusahkan kalian ?”
“Hun !” Lie Ban Tong menyelipkan sepasang senjata Lui-kong ciok, menoleh dan menuju
kearah kereta, tangannya ditempelkan kepada dinding kereta itu, brak... membarengi suara
jeritan kuda yang melengking panjang, papan papan kereta itu terbongkar, ia membongkar
dengan paksa dengan paksa, mengambil selembar diantaranya.
Kuda yang tersentak kaget itu hendak melarikan diri, tapi kekuatan Lie Ban Tong memang
sangat mengejutkan. Betapa kuatpun keempat kaki kuda itu berketoprakan, tidak mungkin
bisa melepaskan tali tali pengikat, Lie Ban Tong menekannya kebawah, demikian
menenangkan kuda tersebut. Sesudah berhasil menguasai situasi itu, dengan selembar papan
ditangan, Lie Ban Tong berjalan balik.
Adanya kekuatan yang seperti raksasa ini sangat mengejutkan si pelayan rumah penginapan,
ia menjulurkan lidahnya, tanpa bisa ditarik kembali, tubuh Lie Ban Tong begitu kurus kecil,
wajahnya begitu pucat pasi, tapi sungguh diluar dugaan, tenaganya hebat sekali.
Sim Pek Kun juga terkejut.
Tenaga Lie Ban Tong adalah tenaga raksasa, bilamana Lie Ban Tong atau Liong It San adalah
orang-orang jahat, bagaimana ia bisa mengelakkan diri ? Ah...... ia terlalu banyak curiga.
Bilamana kedua orang itu bermaksud jahat, seolah-olah memitas semut saja, seperti
membalikkan tangan saja mudahnya, mana mungkin ia bisa melarikan diri ?
Lie Ban Tong sudah mengambil papan kereta, ia berjalan balik, diletakkan ditanah dan
berkata kepada Sim Pek Kun :

“Hujin, anggap saja sebagai tandu, biar kami berdua yang menggotong.”
Sim Pek Kun berhasil meredakan kecurigaan, ia naik keatas papan, digotong oleh Lie Ban
Tong dan Liong It San, diangkut kearah perahu ditepi telaga Tay beng-ouw.
Sim Pek Kun merasa menyesal kepada diri sendiri yang telah memperlakukan sepasang
pendekar guntur dan kilat dari telaga Tay-ouw secara tidak layak, ia menganggap dirinya
penuh curiga, malu kepada diri sendiri, ternyata dua orang itu betul-betul bersifat pendekar,
berjiwa ksatria.
Sim Pek Kun telah ditandu kearah perahu. Perahu itu tidak terlalu besar. Perahu biasa yang
digunakan untuk pesiar.
Perabot didalam perahu juga serba bersih, di kanan dan kiri kedua tepi, terdapat tempat duduk
yang empuk, kini diatas tempat duduk itu masing-masing terbaring seorang, yang dikiri
wajahnya pucat pasi, masih mengerang-erang sakit, tubuhnya tertutup oleh selembar selimut
sutra. Sim Pek Kun tidak bisa melihat pasti hal yang menyebabkan luka jago ini. Inilah salah
satu dari keempat pendekar Lu Tong Su Gie, orang yang menduduki urutan kedua Sim Thian
Ciok.
Yang berbaring disebelah kanan lebih pucat lagi, matanya terpentang lebar, hitamnya melotot
keatas penutup perahu, mulutnya mengoceh terus menerus :
“Siauw Cap it long...... kau kejam...... Siauw Cap it long...... kau kejam......”
Inilah Sin Thian Tiok. Hanya kata-kata ini yang diulang pulang pergi. Ia melepaskan
kebenciannya, dengan hawa penuh rasa takut.
Sim Pek Kun duduk disana, sekali lagi didengar, sekali lagi didengar dan seterusnya.
“Siauw Cap it long.” Demikian Sim Pek Kun mengertek gigi. “Aku tidak bisa melepas
dendam ini.”
Suaranya membuat irama lagu dendam kesumat dengan gumaman suara Sim Thian Tiok yang
masih terus menerus melagukan suara SIAUW CAP IT LONG, KAU KEJAM.
Sim Thian Tiok adalah seorang yang menyaksikan musnahnya kampung Sim kee chung, ia
menderita luka, dan hanya lagu suara SIAUW CAP IT LONG, KAU KEJAM itulah yang
dikatakan bulak balik, tentu ia telah melihat bagaimana Siauw Cap it long sedang mengganas,
maka bencinya tidak terhingga.
Benak pikiran Sim Pek Kun dihasut oleh kebencian Siauw Cap it long kau kejam.
Pendekar guntur Lie Ban Tong juga berkata dengan suara gemas.
“Siauw Cap it long memang betul-betul seorang kejam. Ia anak berandal, anak perampok.
Bagaimana pikiran Hujin, bisakah kita membiarkan ia lenggang-lenggang didalam rimba
persilatan ?”
Suara Lie Ban Tong memang seperti guntur, maka ia mendapat julukan pendekar guntur dari
telaga Tay ouw, sangat keras, mengumandang memenuhi isi perahu itu, tapi semua kata-kata
ini tidak bisa memasuki telinga Sim Pek Kun. Sim Pek Kun sedang dirundung oleh
kemalangan yang tidak terhingga, kebencian yang meluap, matanya diluruskan ke depan,
dengan pikiran kosong, ia bergumam :
“Siauw Cap it long, kau kejam ! Aku tidak akan melepaskanmu.”

Lie Ban Tong dan Liong It San saling pandang, mereka memperlihatkan senyum iblisnya,
menyaksikan bagaimana pikiran Sim Pek Kun menjadi linglung mengenang drama
kemusnahannya Sim kee chung.
Sesudah itu, Lie Ban Tong memonyongkan mulut kearah tepian. Liong It San mengerti,
tubuhnya melejit, cepat dan gesit, ia sudah meninggalkan perahu itu. Menuju ke tempat kereta
berhenti.
Menggunakan kelengahan Sim Pek Kun yang mencurahkan dendam kesumat, tubuh Liong It
San bergerak, cepat sekali meninggalkan perahu, beberapa saat kemudian terdengar satu
jeritan panjang, jeritan yang sangat menyeramkan.
Itulah jeritan si pelayan rumah penginapan, jeritan itu tertahan, sesudah mana suasana sepi
sunyi kembali.
Lie Ban Tong mengerutkan alis, ia heran, seharusnya Liong It San bergerak cepat, tidak
memberi kesempatan kepada si pelayan rumah penginapan berteriak dan memaki. Mengapa
melalaikan tugas ini ?
Sesudah itu, satu bayangan melesat masuk, itulah bayangan Liong It San. Si pendekar kilat
berhasil balik kembali.
Satu bayangan lain menempel di belakang bayangan Liong It San.
Pendekar guntur Lie Ban Tong membentak :
“Siapa yang membayangi dibelakangmu ?”
“Siapa yang bisa membayangi aku ?” berkata Liong It San penuh kepercayaan “Mungkinkah
matamu sudah lamur ?”
Liong It San mempunyai gelar pendekar kilat dari telaga Tay-ouw, suatu bukti bahwa
gerakannya sangat gesit sekali, siapakah yang bisa menandingi gerakannya ? Ia yakin, bahwa
tidak mungkin ada orang yang bisa mengikuti tanpa diketahui, tapi dari bentakan suara sang
kawan, mau tak mau ia menoleh kebelakang, hendak dilihat, ada apakah yang menjadikan
sang kawan bertanya seperti itu ?
Apa yang dilihatnya dibelakang Liong It San ?
Sepasang sinar mata yang bersinar bercahaya, berkilat-kilat dan memancarkan benih
kebenaran bergantung di tempat itu !
Sepasang mata bercahaya ini tidak jauh dari tiga tombak, menatapnya dengan wajah yang
sangat dingin.
Bulu tengkuk Liong It San bergerinding bangun, ia adalah ahli ilmu meringankan tubuh kelas
satu, kali ini bisa diikuti orang tanpa sadar, inilah satu bukti bahwa orang itu memiliki satu
kepandaian yang luar biasa.
Pendekar kilat Liong It San sudah bisa membedakan bayangan yang membuntutinya adalah
bayangan seorang manusia.
Pendekar guntur Lie Ban Tong juga mengeluarkan sepasang senjata Lui-kong-ciok, ia
bergeram keras :
“Siapa ? Apa maksud tujuanmu ketempat ini ?”

Suara bentakan Lie Ban Tong yang seperti guntur, tentu saja mengejutkan Sim Pek Kun,
menyadarkan sang ratu rimba persilatan dari lamunannya.
Didalam perahu telah bertambah seseorang, bukan, bukan seorang, tapi dua orang. Seorang
menggendong tubuh kawannya, bukan, bukan kawannya, itulah mayat.
mayat pelayan rumah penginapan. Jenazah si pelayan rumah penginapan yang sudah menjadi
korban.
Seseorang telah datang dengan membawa mayat si pelayan rumah penginapan !
Setelah berdamping-dampingan, Lie Ban Tong dan Liong It San menggeretek, mereka
menghadapi orang itu. Orang yang didepan mereka adalah seorang laki-laki berambut
panjang, berkumis sedikit, pakaiannya tidak teratur, ia menggendong seseorang yang sudah
mati, walau demikian, tanpa bisa mengurangi kecepatan tubuhnya, orang itu bisa berjalan
dengan ringan, tanpa bisa disadari oleh Liong It San yang dibuntuti olehnya.
Siapakah orang ini ?
Inilah si jago berandalan, Siauw Cap it long !
Siauw Cap it long merentangkan sepasang sinar matanya yang besar dan tajam, ia berjalan
mendekati kearah Liong It San.
Liong It San sedang dirundung oleh rasa takut yang tidak terhingga, ia selalu mengagulkan
diri, karena ilmu meringankan tubuhnya yang sangat mahir, bisa dibuntuti tanpa berisik.
Bahkan orang yang membuntuti itu adalah seorang yang menggendong sesosok mayat, mayat
yang baru saja dibunuh olehnya.
Lie Ban Tong sudah siap menggerakkan Lui Kong Ciok, tiba-tiba terdengar suara bentakan
Sim Pek Kun :
“Tunggu dulu ! Dia adalah kawanku !”
Sim Pek Kun tidak mengetahui bahwa orang yang membuntuti Liong It San ini adalah Siauw
Cap it long. Menyaksikan wajah yang sangat berkesan itu, rasa girangnya tidak kepalang.
Lie Ban Tong menghentikan gerakannya, ia tidak berani mengambil langkah ceroboh. Rasa
takutnya Liong It San masih belum mereda, ia mundur lagi, terjatuh di kursi, duduk dengan
lemas.
Siauw Cap it long menurunkan jenazah yang digendong, perlahan-lahan diletakkan ditanah,
wajahnya menatap muka Sim Pek Kun, tanpa sekejap katapun yang keluar dari mulutnya.
Sim Pek Kun berteriak girang :
“Kau..... kau juga tiba kemari ?”
Siauw Cap it long menganggukkan kepala. Membenarkan pertanyaan Sim Pek Kun.
“Bagaimana kau bisa membuntuti aku tiba disini ?” bertanya lagi Sim Pek Kun.
Siauw Cap it long menyengir, dengan suara yang sangat perlahan, ia berkata : “Aku juga tidak
tahu, bagaimana aku bisa berada ditempat ini.”
Jawaban yang sangat tidak berkesan. Tapi penuh arti dalam.

Didalam hati Sim Pek Kun berpikir :
“Aku memaki dirinya, aku telah membuat ia sakit hati, tapi ia masih begitu prihatin....”
Sim Pek Kun tidak bisa meneruskan pikiran-pikiran yang mulai melayang-layang jauh.
Rasa hangat Sim Pek Kun terasa, ia kini bukan seorang diri. Ternyata masih ada seorang
kawan yang begitu memperhatikan dirinya.
Tertojos oleh cahaya pelita, wajah Sim Pek Kun bersemu merah, semakin menarik. Sebagai
ratu rimba persilatan, Sim Pek Kun memang sangat cantik, sangat menarik, disaat ini ia lebih
cantik, lebih menarik lagi. Pendekar kilat Liong It San dan pendekar guntur Lie Ban Tong
saling pandang, mereka bingung menghadapi perubahan situasi.
Didalam hati Lie Ban Tong mencela perbuatan Liong It San, mengapa sang kawan berlaku
ceroboh, membunuh orang tanpa melihat kanan dan kiri.
Didalam hati Liong It San sedang berdebar-debar, apa hubungannya bocah ini ? Mengapa bisa
kenal kepada seorang nyonya agung yang seperti Sim Pek Kun ? Sepintas lalu, hubungan
mereka itu bukan hubungan biasa, apakah hubungan mereka ?
Akhirnya Sim Pek Kun mengelakkan sinar mata Siauw Cap it long, ia menundukkannya
memandang lantai, maka jelaslah terpeta, siapa mayat yang digendong datang itu, itulah si
pelayan rumah penginapan yang baik hati, pelayan rumah penginapan yang mencarikannya
kereta, pelayan penginapan yang mengantarnya pulang ke kampung Sim kee chung.
“Aaah.... siapa yang membunuh ?” Ia berteriak kaget.
Pelayan rumah penginapan adalah tokoh kecil yang tidak mengerti sesuatu, hubungannya
lepas dari rimba persilatan, tidak ada permusuhan, tidak ada dendam, siapa yang mau
membunuh laki-laki seperti si pelayan rumah penginapan ?
Siauw Cap it long tidak membuka mulut. Pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Ia menoleh
memandang kepada si Pendekar Kilat Liong It San.
Mengikuti arah pandangan mata itu, Sim Pek Kun juga memandang Liong It San.
“Kau?” ia berteriak. “Kau yang membunuh? Mengapa kau membunuhnya? Mengapa?....”
Pendekar kilat Liong It San terbatuk-batuk, akibat apa yang akan timbul bila rahasia ini
sampai terbongkar. Memang tugas mereka. Apa boleh buat, ia harus mengambil sikap berani,
ia berkata keras :
“Hujin kenal dengan tuan ini ? Yah, apa boleh buat. Tapi, ia telah membikin fitnah. Bukan
aku yang membunuh.”
Pendekar Kilat Liong It San hanya pandai dalam ilmu meringankan tubuh, ilmu silatnya
hanya ilmu silat biasa, tapi mulut dan lidahnya sangat hebat.
Hal ini betul-betul meragu-ragukan, Sim Pek Kun menoleh kembali kepada Siauw Cap it long
dan bertanya :
“Siapa yang membunuhnya ?”
Ia masih tidak mengerti, siapa yang membunuh si pelayan rumah penginapan.

Dari sepasang sinar mata Siauw Cap it long, cahaya itu memberi tahu, bahwa orang yang
membunuh pelayan rumah penginapan adalah si pendekar kilat Liong It San. Dan pendekar
kilat Liong It San menyangkal tuduhan itu. Ia mengatakan bahwa Siauw Cap it long telah
memfitnah dirinya.
Sebelum Siauw Cap it long memberikan jawaban, dengan suaranya yang keras seperti guntur,
Lie Ban Tong bergeram :
“Adikku tidak membunuhnya, adikku bukan seorang pembunuh. Sepasang pendekar Kilat dan
guntur dari telaga Tay ouw bukanlah pembunuh-pembunuh. Setiap kata dari kami boleh
dipercayakan.”
Liong It San juga berkata :
“Seperti apa yang toako tahu, kita belum pernah berbohong kepada orang, semua tokoh silat
dari rimba persilatan juga tahu. Biar saja dunia memberi penilaian.”
Lie Ban Tong berkata :
“Saudaraku tidak membunuh pelayan itu, Siapakah yang membunuhnya? Mungkinkah Hujin
tidak tahu ?”
Siauw Cap it long membiarkan hujan-hujan fitnah, ia menunggu reaksi dan kepercayaan Sim
Pek Kun
Tetapi si Ratu rimba persilatan kurang yakin, pendiriannya mulai goyah, memandang Siauw
Cap it long dan bertanya :
“Kau yang membunuhnya? Mengapa?”
Wajah Siauw Cap it long berubah, lagi-lagi ia tidak mendapat kepercayaan. Apa boleh buat,
kambing hitam itu adalah permainan biasa. Fitnah itu adalah layak baginya. Ia berkata
perlahan :
“Kau lebih percaya keterangannya, kau kira aku bisa membunuh pelayan rumah penginapan
yang baik hati ini ? Kau kira aku membikin fitnah ?”
“Aku........aku tidak tahu.” Berkata Sim Pek Kun.
“Tentu saja kau tidak tahu.” berkata Siauw Cap it long. “Karena kau tidak kenal kepadaku.
Kau tidak percaya kepadaku, kau belum mengetahui siapa dan bagaimana asal usulku.”
“Aku tahu....aku tahu....” tiba-tiba terdengar satu suara orang berteriak, itulah suara Sim Thian
Tiok. Ia bangkit dari tempat duduknya, sepasang sinar matanya menunjukkan ketakutan,
seolah-olah iblis yang hendak menelan mangsa.
Hati Lie Ban Tong tergerak, segera ia berkata :
“Kau kenal ? Kau kenal kepadanya ? Siapakah orang ini ?”
Sim Thian Tiok mengangkat sedikit tangannya yang gemetaran, semakin lama gemetar itu
semakin keras, ia menudingkan kearah Siauw Cap it long dan berteriak.
“Inilah si pembunuh ! Inilah penghancur kampung Sim kee chung ! Inilah Siauw Cap it long
!”

“Haaa..........”
Ternyata laki-laki yang mempunyai sepasang sinar mata yang menarik ini adalah Siauw Cap
it long ! Anak berandal yang sangat kurang ajar ! Anak berandal yang tidak tahu aturan !
Orang yang sering membunuh tokoh-tokoh rimba persilatan !
___
FAKTA DAN BUKTI
Selama bergaul dengan Siauw Cap it long, belum pernah Sim Pek Kun tahu, siapa nama lakilaki
itu.
Kini Sim Thian Tiok berteriak, mengatakan bahwa laki-laki yang mempunyai sepasang sinar
mata yang menarik itu adalah Siauw Cap it long, sang Ratu rimba persilatan membelalakkan
mata, ia bertanya keras :
“Kau.......... kau yang bernama Siauw Cap it long ?”
Siauw Cap it long mengeluarkan helaan napas panjang, mengeluarkan semua rasa sesal
didalam hatinya, ia menganggukkan kepala, berkata perlahan :
“Ya. Aku Siauw Cap it long !”
“Kau.... kau....”
Hawa amarah Sim Pek Kun naik mendadak, menudingkan jarinya kearah Siauw Cap it long,
ia membentak :
“Kau yang bernama Siauw Cap it long ? Kau yang membunuh orang ? Kau yang
menghancurkan kampung Sim kee chung ?”
Siauw Cap it long menggoyang-goyangkan kepala.
“Tidak.”
“Kau tidak membunuh orang ?” bertanya Sim Pek Kun.
“Bukan mengatakan bahwa aku belum pernah membunuh orang.” berkata Siauw Cap it long.
“Aku pernah membunuh orang. Tapi bukan ini yang dibunuh olehku.”
Tiba-tiba Sim Thian Tiok menjerit :
“Luka ditubuhku ini adalah hadiah pemberiannya, ia yang membacok. Sim Thay hujin juga
mati dibawah tangannya. Huh...... golok yang ada padanya itu adalah golok yang melukai
kami. Itulah golok pembunuhnya !”
Tiba-tiba Sim Pek Kun berteriak, mengeluarkan pisau belati, ditarik dan ditusukkan kebadan
Siaw Cap It Long.
Kejadian tadi sungguh sangat-sangat mengherankan. Siaw Cap It Long tidak menghindarkan
dari tusukan pisau, entah disengaja, entah tidak disengaja, ia membiarkan dirinya tertusuk.
Tetapi tusukan pisau sangat dingin sekali.

Siaw Cap It Long merasakan dinginnya tusukan pisau itu, menembus kulitnya, melukai
dagingnya, menyerempet tulang didalam.
Tusukan ini seperti telah menghancurkan dirinya, ia diam tidak bergerak, diam mematung
disitu, seolah-olah menjadi seorang manusia besi.
Sim Pek Kun juga terbelalak, ia kurang percaya, bahwa tusukannya tadi betul-betul telah
melukai Siaw Cap It Long.
Ia telah menyaksikan, betapa hebatnya ilmu kepandaian Siaw Cap It Long, dengan menyentil
ujung jarinya saja, Siaw Cap It Long bisa memukul jatuh pisau itu. Pisau tersebut bisa
diterbangkan, hingga bisa lenyap dari pandangan mata.
Maka, ia telah menusukkannya, menusukkan dalam keadaan amarah meluap-luap. Ia tidak
percaya, bahwa tusukan itu bisa mengenai Siaw Cap It Long.
Tapi tusukan Sim Pek Kun betul-betul telah mengenai Siaw Cap It Long ! mengapa ia tidak
menangkis ? mengapa ia tidak mengelakkan dirinya ?
Siaw Cap It Long masih berdiri. Diam. Tidak berteriak. Seperti sebuah patung besi.
Sepasang sinar mata Siaw cap It Long yang bersinar terang itu tidak memperlihatkan
kemarahan, tapi penuh penyesalan, penuh rasa sakit, sakit diluka dan sakit dihati.
Belum pernah Sim pek Kun melihat sinar mata seperti apa yang Siaw Cap It Long
perlihatkan.
Dengan satu kali tusukan, Sim Pek Kun berhasil melukai rampok besar Siaw cap It Long.
Seharusnya ia bertepuk tangan gembira.
Tapi kenyataan tidak, hatinyapun sakit. Ia tidak tahu, adalah perbuatan itu sebagai satu
perbuatan yang salah ?
Pisau Siaw cap It Long masih tertancap didada orang yang bersangkutan.
terdengar suara tertawa berkakakan Sim Thian Tiok.
“Hua, ha, ha, ...... Siauw Cap it long ! ternyata kau juga menemui hari yang naas.... ternyata
kau juga bisa dibunuh orang. Hayo, tusuk sekali lagi, hendak kulihat, bagaimana Siauw Cap it
long mati didepanku.”
Tangan Sim Pek Kun gemetaran.
Tangan Sim Pek Kun dirasakan menjadi sangat lemas, mulai gemetaran.
Sim Thian Tiok berteriak girang :
“Dia adalah orang yang telah membunuh nenekmu, hayo bunuh. Tunggu apa lagi?”
Sim Pek Kun mengertek gigi, menarik tangannya, mencabut pisau belati.
Darah muncrat bersemburan, membuat seluruh baju Sim Pek Kun menjadi merah.
Tubuh Siauw Cap it long tetap kaku, dagingnya seperti beku, ia masih diam seperti patung
ditempat itu.

Hanya sepasang biji matanya saja yang berputar, memandang kearah Sim Pek Kun, dengan
rasa penuh kekecewaan.
Mengapa ia tidak mau mengelakkan serangan itu? Mengapa ia tidak mau menyingkirkan diri
dari serangan itu? Mengapa ia rela mati dibawah tangan Sim Pek Kun?
Tangan Sim Pek Kun semakin lemas, gemetarannya semakin keras, air matanya bercucuran
tusukan kedua tidak bisa digerakkan; biar bagaimanapun Siauw Cap it long itu telah menanam
budi yang terlalu besar. Tidak bisa ia membalas air susu dengan air tuba.
Tusukan berikutnya tidak bisa disambung. Sim Pek Kun tidak bisa mematikan orang yang
telah berulang kali membantu dirinya.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan Lie Ban Tong :
“Hujin tidak tega membunuhnya? Biar aku saja!”
Bersamaan dengan suara Lie Ban Tong kedua tangannya digerakkan, kedua senjata Lui Kong
Ciok menyerang kearah dada Siauw Cap it long.
Serangan Lie Ban Tong sangat dahsyat sekali.
Sepasang mata Siauw Cap it long ditujukan kepada Sim Pek Kun, ia tidak menengok dan
memperhatikan adanya serangan Lie Ban Tong, walaupun demikian, seolah-olah memiliki
mata dibelakang , tangannya digerakkan menampar kearah pipi si pendekar guntur.
Gerakan tangan Siauw Cap it long adalah gerakan biasa, tidak istimewa. Tapi tak bisa
dielakkan oleh Lie Ban Tong. Plak..... hidungnya kena tamparan, Buk..... tubuhnya terpental
kebelakang, Braak.... memecahkan jendela perahu pesiar itu.
Jendela yang terkena tubuh Lie Ban Tong tidak bisa menahan berat orang itu pecah, meluncur
terus tubuh Lie Ban Tong, terdengar lagi Plung...... Lie Ban Tong jatuh kedalam air.
Wajah Liong It San menjadi pucat, ia terpatung ditempatnya.
Sim Thian Tiok juga mengatupkan mulutnya, ia tidak bisa berteriak lagi.
Betapa hebatnya Siauw Cap it long, semua orang bisa mengira-ngira, tapi kenyataan itu lebih
hebat lagi, hanya sebuah tamparan tangan saja, Siauw Cap it long bisa mengelakkan serangan
Lui kong ciok si pendekar guntur, menampar pipi jago itu, menerbangkan tubuhnya,
menceburkan kedalam telaga.
Didalam hati Sim Pek Kun semakin kalut, ia berpikir :
“Didalam keadaan luka yang begitu berat ia bisa memukul orang tanpa bisa dielakkan.
Mengapa ia tidak mau mengelakkan tusukanku ? Mengapa...?”
Si Nyonya agung menoleh lagi, menatap wajah Siauw Cap it long. Wajah itu masih seperti
sedia kala, membeku ditempatnya.
Sim Pek Kun masih berpikir :
“Bila betul orang ini yang menghancurkan kampung Sim kee chung ? Mengapa ia tidak mau
membunuhku ? Mengapa ?”
Sedari munculnya Sim Pek Kun didalam perahu besar itu, Sim Thian Tiok selalu terbaring

dengan selimut, ini waktu tiba-tiba bangkit bangun, molos keluar dari lobang selimutnya,
gerakkannya gesit dan cepat, tidak ada tanda-tanda bahwa ia menderita luka, jauh berbeda
dengan keadaan yang diperlihatkan kepada Sim Pek Kun, bahwa ia itu betul-betul luka parah,
terluka oleh karena penyergapan yang terjadi atas kampung Sim kee chung.
Sepasang mata Sim Thian Tiok berkilat-kilat, dengan kebencian meluap-luap, melototkan
Siauw Cap it long.
Sim Pek Kun yang menyaksikan adanya dendam kemarahan dari Sim Thian Tiok berteriak :
“Awas !”
Ia telah bisa mengira-ngira, terjadinya persoalan ini bukan jalan yang lurus, masih berlikuliku
dan banyak problem yang tidak diketahui olehnya.
Teriakan Sim Pek Kun itu terlambat, Sim Thian Tiok sudah mengeluarkan sebilah pisau,
tubuhnya mencelat tinggi, pisau tadi diarahkan keleher Siauw Cap it long !
Liong It San menyeret tombak yang dibaringkan tidak jauh dipojok kursi, tangan kirinya
menarik keluar pedang lemas yang terikat diluar, ia menggunakan dua macam senjata
panjang, dengan tangan kanan memegang tombak, tangan kiri menjaga diri dengan pedang
lemasnya. Inilah ilmu kepandaian istimewa, yang satu keras, yang satu lemas. Sulit untuk
mempermainkan kedua macam senjata yang tidak sama ini. Pedang panjang itu ditusukkan ke
iga Siauw Cap it long, dan pedang lemas disamping diputar, maksudnya untuk menjaga diri,
agar tidak mendapat serangan balasan dari musuh.
Senjata seseorang mempunyai hubungan baik dengan kepribadian orang yang memiliki
senjata itu. Tubuh Liong It San tinggi besar, tapi nyalinya sangat kecil, ia seorang penakut.
Liong It San mendapat julukan pendekar kilat dari telaga Tay ouw, untuk meyakinkan ilmu
kepandaian meringankan tubuhnya hebat, ilmu lari yang tercepat, tentu saja dengan maksud
agar ia bisa lari didepan orang, siapa yang bisa menandingi kecepatan larinya ?
Senjata yang digunakan oleh Liong It San juga sangat panjang, panjang tombak ditujukan
untuk menyerang orang, pedang lemas spesial untuk menjaga diri sendiri. Sengaja ia
mengambil jarak jauh, bilamana penyerangan itu gagal, lebih mudah melarikan diri.
Disana, merosot turun dari pembaringan bale-bale perahu, Sim Thian Tiok telah berguling
ditanah, lengannya tersebar, delapan bintik yang bercahaya terang, dengan membawa
desingan suara keras, menyerang Siauw Cap it long.
Gerakan Liong It San, Sim Thian Tiok, dan Sim Thian Ciok terjadi didalam waktu yang
sangat bersamaan.
Darah Siauw Cap it long masih mengucur keluar dari bekas luka tusukan, tangan Sim Pek
Kun yang memegang pisau masih tidak jauh dari tempatnya, dikiri ada serangan Sim Thian
Tiok, dan dibelakang ada serangan Sim Thian Ciok.
Ia terancam dari empat penjuru
Semua jalan keluar untuk mengelakkan diri memang tidak ada lagi. Siauw Cap it long masih
berdiri tegak ditempatnya, matanya seperti mata seorang linglung, kurang ingatan, tertuju ke
arah si ratu rimba persilatan Sim Pek Kun.
secepat itu pula tangan Sim Pek Kun bergerak, tapi tidak diarahkan kepada Siaw Cap It Long,
ia meukul golok Sim Thian Tiok.

Bila dipikirkan masak-masak, sim Pek Kun pribadipun tidak dimengerti, mengapa ia harus
membela siperampok besar Siaw cap It Long.
gerakan Sim Pek Kun terlalu cepat, badannya sangat lemah, begitu pisau itu diajukan
tubuhnya terjengkang jatuh.
Pembelaan ini adalah akibat yang besar, sepasang sinar mata Siaw Cap It Long yang sudah
meredup, tiba-tina hidup kembali, bersinar melebihi cahaya bintang.
Bledak .......... tubuh Sim Pek Kun jatuh digeladak perahu.
Menyambung suara itu terdengar suara pletak bug, aduh.....Sim Thian Tiok, Sim Thian ciok,
Liong It Sian sudah bergelimpangan.
Begitu cepat gerakan Siaw Cap It Long, tiba-tiba tangan kanannya menjulur keluar
mencenkeram Sim Thian Tiok, sesudah itu pletak, ia mematahkan lengan orang yang berpurapura
menderita parah itu.
Tombak Liong It San yang panjang menyerang datang, tapi terjepit diantara sela-sela
ketiaknya, darisana menyembur keluar tenaga yang tidak terlihat, memakan dirinya maju
kedepan.
Dengan demikian, Siaw Cap It Long telah menyeret Liong It san kebelakang, ia menjadikan
Liong It San sebagai tameng hidup, serangan senjata rahasia Sim Thian ciok, tertuju kearah
Liong It San.
Sim Thian Ciok berteriak kaget. Tubuhnya mencelat bangun, disaat itu pula terdengar suara
ciat......Siaw Cap It Long mengangkat tangan, menyeret tombak panjang Liong It San
diarahkan kepadanya.
Terdengar suara aduh...............tubuh Sim Thian Ciok menjadi korban penyerangan tombak
kaeannya.
Disaat yang sama. Liong It San juga tidak berdaya menghindarkan senjata rahasia Sim Thian
Ciok, tujuh biji besi telah bersarang ditubuhnya, ia berteriak, ia menghembuskan nafasnya
yang penghabisan.
Disana hanya seorang Sim Thian Tiok yang memegang tangan kanannya yang patah, ia
merintih-rintih dilantai.
Siaw Cap It Long masih berdiri ditempat kedudukannya semula. Kedua langkah kakinya tidak
bergeser satu sentipun.
Siaw cap It Long adalah manusia luar biasa, tusukan Sim Pek Kun itu telah mengenai bagian
yang parah, darisana masih keluar darah. Walau demikian, ia masih berdiri tegak.
Siaw cap It Long mempertahankan mempertahankan keadaannya yang seperti itu, hingga
merobohkan ketiga penyerangnya. Ia heran dan tidak mengerti mengapa Sim Pek Kun begitu
benci kepadanya. Mengapa Sim Pek Kun kurang yakin kepada bantuan yang telah diberikan
kepadanya ?
Sesudah merobohkan musuh-musuh itu, mengetahui keadaannya yang tidak berbahaya lagi, ia
tidak bisa mempertahankan diri, tubuhnya mulai oleng miring dan jatuh kearah meja.
TETAP DIBAYANGI

Disaat Siaw Cap It Long roboh kearah meja, terdengar satu suara tertawa :
“ha..ha.........bagus ! memang ilmu kepandaian hebat, terima lagi seranganku, betul-betul aku
akan takluk kepadamu.”
Inilah suara sipendekar guntur Lie Ban tong.
“Hut....” dari luar jendela melayang masuk bayangan Lie Ban Tong, sekujur tubuhnya basah
kuyub, kedua tangannya memegang sepasang senjata Lui Kong Ciok, dihantamkan kearah
batok kepala Siaw cap It Long.
Siaw Cap It Long telah kehabisan tenaga, ia besandar kepada meja. Tidak mungkin dapat
mengelakkan datangnya serangan itu.
Sim Pek Kun menjadi kaget, ia melemparkan pisau kearah Sia Cap It Long,
“terima senjata ini,” ia berkata, dengan maksud memberi senjata, agar Siaw Cap It Long bisa
membikin perlawanan senjata.
Siaw Cap It Long menyambuti datangnya operan senjata, dengan sekuat tenaga ia
membalikkan dan ditusukkan kearah Lie Ban Tong.
Lie Ban Tong seperti orang nekad, tidak mengelakkan adanya serangan pisau itu. Bleg....pisau
tersebut masuk kedalam dada ambles hingga gagang-gagangnya.
Lie ban Tong mati didalam tusukan Siaw Cap It Long. Yang aneh, Lie Ban Tong tidak
menjerit. Ia masih menerkam dengan galak, sepasang Lie kong ciok diketukkan kearah Siaw
Cap It long.
Mungkin Lie Ban Tong kebal mati ? Siaw Cap it Long menjadi kaget sekali, pundaknya dan
punggungnya terkena keprukan senjata Lie kong ciok, tubuhnya menjadi kesemutan,
menggeloso jatuh.
Betapa kuatpun Siaw Cap It Long, ditusuk, dipukul, dan dijadikan bulan-bulanan oleh orangorang
itu, akhirnya ia meloso jatuh dilantai perahu, ia tidak bisa bangun kembali. Tidak bisa
merambat naik kemeja yang ada disebelahnya.
Dengan masih ada kejadian aneh, tubuh Lie Ban Tong yang sudah tertembus pisau itu,
bergelantungan, sekujur badannya basah kuyub, darah mengalir dari bagian depan dadanya,
toh tubuh itu bergantung-gantungan, melayang pulang pergi.
“Nah,” katanya “Siaw Cap It Long ! kau akan mati.”
Lie Ban Tong mengucapkan kata-kata yang seperti ini, tapi mulutnya kaku, dan tidak
bergerak.
Terjadinya pertempuran-pertempuran didalam perahu itu telah mengucar-ngacirkan perabot,
tiga pelita telah jatuh padam hanya ada sebuah pelita pojok jauh, memancarkan sinar yang
kelap-kelip suram. Dari penerangan cahaya itu, bisa menyaksikan keadaan Lie Ban Tong
wajahnya berkerinyut menyeramkan, itulah bukan wajah orang hidup, itulah wajah orang
yang mati penasaran.
Siaw Cap It Long masih bisa menguasai diri, ia menatap wajah Lie Ban Tong itu.
Sim Pek Kun menjerit, ia tidak percaya, didalam dunia itu ada seseorang yang tidak bisa mati.

Terdengar lagi suara Lie Ban Tong : “Siaw cap It Long ! mengapa kau masih belum mau mati
? hayo, matilah !”
Wajah Lie ban Tong telah membeku, mulutnya begitu rapat, sepasang matanya melotot
keluar, seperti mata ikan maskoki yang mau jatuh, tapi ia masih bisa bersuara, entah dari
mana suara itu ?
Siaw Cap It Long mempertahankan genggamannya, ia masih tidak mau mati, untuk
menimpali tantangan tadi, ia berkata :
“Aku tidak bisa mati.”
Tiba-tiba.......
Terdengar satu suara yang nyaring dan merdu, suara itu adalah suara seorang gadis,
membisingkan seluruh isi perahu.
Lie Ban Tong yang suaranya begitu keras tiba-tiba terjadi perubahan, hal ini sangat
mengejutkan, membuat seluruh bulu-bulu roma bangun berdiri.
Siaw Cap It Long mengeluarkan keluhan nafas panjang, ia tahu siapa yang memegang
peranan dibelakang mayat Lie Ban Tong itu. Dengan menyengir sedih ia berkata :
“Kau ! lagi-lagi kau yang memegang peranan ini !”
Belum selesai kata-kata Siaw Cap It Long tubuh Lie Ban Tong meloso jatuh.
Kini tersingkaplah tabir permainan sandiwara, siapa yang memegang peranan dibelakang Lie
Ban Tong. Disana berdiri gadis cantik, itulah Siaw kongcu
Suara tertawa cekikian tadi adalah suara Siaw Kongcu.
Siaw kongcu berdiri disana, memandang Siaw Cap It Long, dan menoleh kearah Sim Pek
Kun.
Kulitnya begitu alus, seperti tidak tahan ditowel, tertawanya begitu manis, tapi ia mempunyai
hati yang lebih jahat dari ular berbisa.
Bertemu Siaw kongcu, seolah-olah bertemu dengan iblis jejadian hidup.
Sim Pek Kun takut setengah mati.
Ternyata Lie Ban Tong yang sudah mati itu dijinjing oleh Siaw kongcu, terbang pelang pergi,
maka seperti hantu yang bersliweran diatas perahu.
Terdengar suara Siaw kongcu yang nyaring merdu.
“Ya. Aku datang kembali. Aku tetap menjadi bayanganmu.”
Perlahan-lahan, ia mendekati Siaw Cap It Long. Siaw Cap It Long tidak bisa bergerak lagi,
karena itu dengan rasa yang sangat puas dan bangga, Siaw kongcu mendekati lebih dekat lagi,
menjulurkan tangannya, mengusap pipi Siaw Cap It Long dengan tertawa garing ia berkata :
“Kau adalah orang impianku. Siang malam kurindukan. Satu haripun tidak bisa berpisah
denganmu. Bagaimana aku tidak datang kembali ?”
Suara Siaw kongcu seperti kacang garing, seperti burung kenari, sangat merdu, lebih enak

dari mendengar suara biduan wanita yang manapun juga.
Sim Pek Kun menjerit kaget, teriaknya :
“kau....kau juga seorang wanita ?”
Siaw kongcu lebih sering mengenakan pakaian pria, maka orang menyebutnya bernama Siaw
kongcu yang berarti kongcu kecil. Sim Pek Kun bertemu berulang kali dengannya, didalam
keadaan penyamaran, hanya kali ini ia membuktikan sendiri, bagaimana Siaw kongcu
menggunakan pakaian yang asli. Pakaian wanita.
Siaw kongcu menganggukkan kepala, ia berkata :
“Baru tahu ? ha..ha......kalau aku seorang laki, bagaimana mempunyai itu kekejaman untuk
menyiksa dirimu, hanya seorang wanita yang berlaku kejam kepada wanita. Mengertikah kau
dalih ini.”
Sim Pek Kun mendelikkan mata. Ia tertegun dan terpaku ditempat itu. Terdengar elahan nafas
panjang, Siaw kongcu bergoyang-goyang kepala sebentar, ia berkata :
“Ratu dari rimba persilatan Sim Pek Kun memang seorang wanita yang cantik. Sayang sekali,
kau tidak mengerti, bagaimana harus memegang peranan seorang wanita, kau kurang
romantis, mana bisa memenangkanku ?”
Menoleh kearah Siaw Cap It Long, Siaw kongcu berkata :
“Siaw Cap It Long, mengapa kau bisa jatuh cinta kepadanya ? Apakah kau tidak cinta
kepadaku ?”
Siaw Cap It Long menyengir dan membuka mulut dan berkata :
“Aku....”
Siaw Cap It Long tidak bisa meneruskan kata-katanya, terasa dada begitu nyeri, itulah luka
bekas tusukan Sim Pek Kun. Butiran-butiran keringat berguguran, ia menahan rasa sakit yang
luar biasa.
“Hayo........” Siaw kongcu menjerit kolokan.
“Kau juga sudah menderita luka ? siapa yang melukai kekasihku ? siapa yang begitu kejam
melukai kekasihku ?”
Suaranya merdu sekali, bila seseorang yang tidak pernah menyaksikan kekejaman Siaw
kongcu, pasti tertarik, pasti menduga sesuatu yang bukan-bukan, pasti menduga bahwa Siaw
kongcu ini adalah seorang yang baik hati, seorang yang romantis.
Siaw kongcu telah menggunakan Lie Ban Tong melukai Siaw Cap It Long, toh masih
dilukainya.
Siaw kongcu juga tahu, Siaw Cap It Long telah menderita luka pertama dibawah tangan Sim
Pek Kun. Sengaja ia berolok-olok seperti itu.
Sim Pek Kun tidak bisa tergoda kembali dengan suara keras ia berteriak :
“Aku yang telah melukainya.”
Siaw kongcu mengirim kerlingan mata, memandang Sim Pek Kun. Ia membawa suara yang

tidak percaya.
“Oow..?” iamenggeleng-gelengkan kepala
“Tidak mungkin, tidak mungkin terjadi. Ia sangat baik dan ia begitu sayang kepadamu.
Mengapa kau melukainya ? Dengan alasan apa kau mau membunuh ?.......Kulihat kau bukan
wanita yang begitu kejam, bukan ?”
Sim Pek Kun menggertek gigi, ia berteriak keras :
“lain kali, bila ada kesempatan, tetap aku hendak membunuhnya”
“eh, mengapa ?” bertanya Siaw kongcu.
Wajah Sim Pek Kun menjadi keras, sepasang matanya merah membara, dengan gemetaran ia
berkata :
“Dendamnya begitu besar, bagaimana aku,.....”
“Ouw.....kalian mempunyai dendaman ? siapa yang memberi tahu ?” bertanya Siaw kongcu.
Dengan dingin Sim Pek Kun menjawab pertanyaan itu :
“Empat pendekar Lu Tong Su Gie, sepasang pendekar kilat dan guntur dari Tay Ouw dan
lain-lainnya, mereka adalah saksi-saksi.”
Siaw kongcu menghela nafas, ia berkata :
“Siaw Cap It Long telah menolongmu sehingga berulang kali. Tapi kau tidak percaya kepada
dirinya. kau lebih percaya obrolan orang-orang itu.”
“Tapi....tapi....” Sim Pek Kun kehabisan bahan berdebat.
“Ia telah mengaku bahwa dialah Siaw Cap It Long.”
“Ya.” berkata Siaw kongcu .
“Inilah Siaw Cap It Long ! jago berandalan luar biasa, orang menyebutnya sebagai penjahat
besar. Kepala rampok. Tapi orang yang telah membakar kampungmu,orang yang telah
merusak rumahmu,orang yang membunuh nenekmu bukanlah Siaw Cap It Long ini.”
Sim Pek Kun tertegun, menoleh kearah Siaw kongcu dan berkata :
“Siapa ?”
“Tentu saja aku.” berkata Siaw kongcu tertawa.
“Kecuali aku, Siaw kongcu, siapa lagi yang bisa melakukan perbuatan-perbuatan luar biasa ?”
Sekujur badan Sim Pek Kun gemetaran, marah, kesal, penasaran, dan aneka ribu macam
perasaan lainnya.
Siaw kongcu berkata :
“Empat pendekar Lu Tong Su Gie, sepasang pendekar kilat dan guntur dari Tay Ouw dan
lain-lainnya, mereka adalah orang-orang yang sudah kubeli. Sengaja kuatur tipu siasat yang

seperti ini, sengaja menjerumuskan dirimu kedalam kenistaan, sengaja membuat hatimu benci
kepada Siaw Cap It Long, kukira obrolan mereka pasti tidak bisa masuk kedalam telingamu,
karena Siaw Cap It Long begitu baik. Mana aku tahu, bahwa kau lebih percaya kepada
cecunguk-cecunguk itu, aku tahu, kau tidak bodoh,mengapa begitu pikun ?”
Seperti jarum-jarum yang sangat tajam, sepatah demi sepatah kata-kata Siaw kongcu itu
menusuk kedalam lubuk hati si ratu rimba persilatan Sim Pek Kun.
Kini sadarlah dirinya, kesalahan apa yang telah dilakukan olehnya.
Dimisalkan, kata-kata ini bila keluar dari mulut Siaw Cap It Long, mungkin ia tidak percaya.
Tapi keluar dari mulut Siaw kongcu, tidak bisa tidak percaya.
Dihubungkan kejadian-kejadian lama dengan apa yang telah diketahui, ternyata Sim Thian
Ciok tidak terluka, terbukti, sesudah mengetahui Siaw Cap It Long tidak berdaya jago itu
molos keluar dari balik selimutnya, menyerang secara ganas.
Ternyata betul-betul sipendekar pedang kilat dari Tay Ouw telah membunuh pelayan rumah
penginapan itu. Inilah orang yang dipercayakan olehnya, seorang kecil yang baik hati.
“Oh....” Sim Pek Kun mengeluh.
Sim Pek Kun menyesal atas perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan, menyesal atas
perbuatan yang telah dilakukan kepada Siaw Cap It Long.
Sim Pek Kun pernah berjanji kepada diri sendiri, ia tidak mudah diojok-ojok orang, ia telah
berjanji, ia akan lebih percaya kepada Siaw Cap It Long,ia akan percaya kepada laki-laki yang
mempunyai sepasang sinar mata terang itu.
Dahulu, Sim PekKun belum tahu, siapa itu laki-laki yang berulang kali menolong dirinya.
Ternyata Siaw Cap It Long yang menolong dirinya. Siaw Cap It Long yang dikatakan oleh
banyak orang sebagai kepala rampok, sebagai bajingan besar. Apa yang tersebar luas diantara
rimba persilatan itu adalah suatu kebohongan. Siaw Cap It Long yang ditemukan bukanlah
Siaw Cap It Long dalam cerita.
Terbayang kembali sepasang sinar mata Siaw Cap It Long yang redup, Siaw Cap It Long
sangat bersedih hati atas reaksi yang diterimanya. Siaw cap It Long bersedih karena Sim Pek
Kun tidak mempercayainya.
Ya! Sim Pek Kun terlalu mudah ditipu orang. Terlalu percaya kepada fakta buatan. Akhirnya
ia telah menjerumuskan diri sendiri kedalam penyesalan.
Ingin sekali Sim Pek Kun meremas-remas diri sendiri, ingin sekali ia bisa mati segera untuk
menebus dosa-dosanya.
Siaw kongcu memperhatikan sesuatu diwajah si ratu rimba persilatan Sim Pek Kun, ia
memperhatikan gerak-gerik Sim Pek Kun, apa yang Sim pek Kun rasakan itu bisa dimaklumi
oleh Siaw kongcu, kini Siaw kongcu berkata :
“Tentunya kau ingin mati segera, bukan ? Sayang ?....Tidak bisa....!...Mengambil
perumpamaan, kau bunuh diri, kau mati. bagaimana kau bisa membalasbudi-budinya yang
telah dilepas kepadamu ? Dimisalkan kau tidak ada SIaw Cap It Long, berapa kalikah kau
sudah mati ?”
Sim Pek Kun mengucurkan air mata, sangat sedih sekali, ia menyesal. Apa bisa dikata, segala

sesuatu sudah terjadi, menyesalpun tiada guna.
“Bunuhlah!...Bunuhlah aku!” ia berteriak.
Siaw kongcu menganggukkan kepala,
“Sebelumnya,aku ada niatan untuk membunuhmu, tapi.....sekarang, aku mangganti
maksuditu, aku menghapuskan rencana semula.”
“.......Mengapa,” Sim Pek Kun bertanya sedih.
Siaw kongcu berkata :
“Aku lebih suka melihat kau hidup, lebih suka bagaimana kau hidup sengsara, bagaimana kau
hidup tersiksa, bagaimana kau hidup penuh penderitaan.”
“kau....kau kejam.” SimPek Kun menggertekgigi.
“Aku masih suka kepadamu.” berkata Siaw kongcu.
Tiba-tiba Siaw Cap It Long turut menyahut pembicaraan diantara dua wanita itu. Ia berkata :
“Tapi aku sudah tidak suka kepadanya. Aku benci, kepada seorang manusia yang tidak
mengenal budi aku benci sekali.”
“Kau benci kepadanya ?” bertanya Siaw kongcu tertawa.
“Usirlah dia” berkata Siaw Cap It Long menahan rasa sakit yang tidak terhingga. Lukanya
sangat parah sekali.
Hati Sim Pek Kun dirasakan semakin lebih sedih.Ia mengerti apa maksud tujuan Siaw Cap It
Long, bila mana Siaw kongcu mau mengikuti anjurannya, mengusirnya pergi, itulah satu
keringanan. Ia akan bebas dari siksaan Siaw kongcu yang kejam.
“Biar bagaimana jahat kuperlakukannya tetap ia berusaha menolong diriku.” berkata Sim Pek
Kun didalam hati.
“Aku telah memakinya, memukulnya, melukainya, dan hampir saja membunuhnya. Tapi ia
tidak menanam rasa sakit hati ini.”
Biar bagaimanapun, Sim Pek Kun tidak habis mengerti, bagaimana seorang yang dicap
sebagai perampok besar begitu baik hati.
Siaw kongcu mendekati Siaw Cap It Long, orang yang terakhir ini meringis sakit, lukanya
sangat berat.
“Eh, bagaimana keadaan lukamu ?” berkata Siaw kongcu mesra.
“Aku cinta kepadamu.”
“Dimisalkan kau betul-betul cinta, usirlah wanita tidak tahu diri itu.” berkata Siaw Cap It
Long.
“Sangat memuakkan orang saja. Usirlah jauh-jauh.”
Siaw kongcu juga seorang wanita cerdik, mana mungkin tidak tahu tipu muslihat Siaw Cap It

Long ? Mengusir Sim Pek Kun berarti membebaskan Sim Pek Kun.
Dengan suara yang sangat merdu sekali, Siaw kongcu berkata :
“Untuk menyenangkan dirimu, seharusnya aku membebaskan ratu rimba persilatan ini.
Sayang sekali. Aku tidak mempunyai itu keberanian untuk melanggar perintahnya.”
“Melanggar perintah ?” bertanya Siaw Cap It Long.
“Ya.” berkata Siaw kongcu.
“Dia adalah orang yang dikehendaki oleh guruku.”
“Mati atau hidup, aku harus membawa tubuhnya, diserahkan kepada guruku. Inilah perintah.
Aku tidak bisa membangkang tugas ini.”
“Kau hendak pergi ketempat gurumu lagi ?” bertanya Siaw Cap It Long.
Kini jelaslah sudah, siapa yang memegang peranan penting dibelakang layar, siapa yang
mengkambing hitamkan Siaw Cap It Long, siapa yang menghancurkan kampung Sim Ke
Cung ?
Tokoh terpenting adalah guru Siaw kongcu !
Siaw kongcu adalah ahli sandiwara, ia berkata perlahan :
“Aku mempunyai maksud untuk lari darinya, aku hendak mengasingkan diri disuatu tempat
yang sunyi dan sepi, bersembunyi, kita saling cinta-mencintai, hidup sebagai sepasang suami
istri, Tapi....”
Siaw kongcu menghela nafas dalam-dalam, bagai menyambung pembicaraannya :
“Biar bagaimanapun, aku tidak bisa melaksanakan rencana ini. Kau juga tahu, guruku itu
adalah seorang tokoh silat serba bisa, kemanapun aku melarikan diri, tidak mungkin bisa
mengelakkan pengejarannya.”
Siaw Cap It Long memaksakan diri untuk bertahan, betapapun sulit untuk dipertahankan, ia
harus mengetahui,siapa tokoh silat yang begitu jahat.
“Siapakah orang yang menjadi gurumu itu ?” ia bertanya.
“Betulkah ia memiliki kepandaian begitu hebat ?”
“Mungkin tidak percaya untuk diceritakan.” berkata Siaw kongcu.
“Ilmunya luar biasa.”
“Aku juga bukan manusia biasa.” berkata Siaw Cap It Long.
“Kecuali guruku, kau adalah tokoh silat nomor satu.” berkata Siaw kongcu
“Kecerdikanmu tiada tara, tidak ada seorang yang bisa menandingimu. Kecuali guruku, hanya
guruku seorang yang bisa memenangkanmu, untuk ilmu silatnya, selisih kalian jauh berbeda.
Mungkin..........mungkin juga kau bisa bertahan sampai duapuluh jurus, atau tiga puluh jurus,
tapi tidak mungkin bisa membikin perlawanan sampai empat puluh jurus. Didalam waktu
empat puluh jurus ini, ia akan merengut jiwamu.”

Siaw Cap It Long menyengir,ia berkata :
“Kau terlalu memandang rendah kepada Siaw Cap It Long.”
“Dengar dahulu.” Siao kongcu memberi keterangan. “Semua tokoh silat di dalam rimba
persilatan, belum ada yang bisa menahan sampai dua puluh jurus. Sudah kuperhitungkan kau
bisa sanggup sampai tiga puluh jurus. Inilah suatu keagungan, suatu pujian untukmu.”
“Aku tidak percaya” berkata Siauw Cap-it-long.
“Percaya atau tidak percaya, terserah kepada dirimu.” berkata Siao kongcu. “Biar bagaimana,
aku tidak bisa memberi tahu namaku. Semakin kau ingin mengetahui, semakin sulit
kuberitahu. Sekarang aku merasa menang, aku telah berada di atas angin.”
Jilid 8_____________
SIAUW CAP-IT-LONG gagal mengorek keterangan. Ia mengatupkan sepasang matanya,
tidak bicara.
Setiap menggerakkan bibir, luka didada segera merembas, nyeri sekali. Tapi biar bagaimana,
tetap dipertahankan. Ia hendak mengetahui, siapa itu manusia jahat yang mengacau rimba
persilatan?
Kecerdikan Siao-kongcu tiada tandingan. Kekejaman Siao-kongcu tiada tara, ilmu silat Siaokongcu
sulit menemukan pasangan.
Terbukti dari banyaknya jago2 silat ternama yang tunduk dibawah kekuasaannya.
Thio Bu Kek, Hay-leng-tju, empat pendekar Lu Tong Su Gie, dan sepasang pendekar kilat
dan guntur dari Tay-ouw, semua adalah tokoh2 silat ternama untuk masa itu. Tapi tidak ada
satu yang tidak tunduk dibawah kekuasaan Siao-kongcu. Mereka berhamba kepada Siaokongcu,
mereka telah menjalankan semua perintah Siao-kongcu, mereka adalah hamba-hamba
Siao-kongcu.
Suatu bukti betapa hebat kekuasaan Siao-kongcu.
Lain bukti betapa hebat pula kekuasaan guru Siao-kongcu.
Siauw Cap-it-long membawakan sikapnya yang seperti orang tenang. Hatinya tidak tenang.
Didalam kamus pikiran Siauw Cap-it-long tidak mungkin menemukan istilah kata-kata sulit
atau susah.
Kecuali berhadapan musuh yang seperti guru Siao-kongcu. Betul-betul ia tidak percaya.
Mulai terpetalah kata-kata sulit, mulai terbayang kamus susah.
UDARA YANG BAIK
MENJELANG sore hari.
Diufuk sebelah barat memerah, matahari memancarkan cahayanya yang penghabisan, ia
sudah siap turun tachta, akan digantikan keadaan gelap-gulita, maka sebagai pameran, ia
mencahayakan apa yang biaa dipantulkannya.
Cahaya matahari yang kuning keemas-emasan menyinar bunga-bunga seruni.

Bunga seruni mempunyai aneka macam warna, yang kuning, yang putih, ada juga yang lila
dan ada juga seruni hitam.
Mendapat keseimbangan warna matahari senja, bunga-bunga seruni itu semakin bersaing.
Apa lagi dimusim rontok, masa jayanya bunga seruni diantara bau harum semerbak,
menyaksikan panorama alam adalah suatu pemandangan menarik.
Untuk seumur hidupnya, belum pernah Sim Pek Kun menyaksikan keindahan bunga seruni
seperti apa yang sekarang ia saksikan.
Ia berada ditaman bunga seruni.
Dikeempat keliling tempat itu terbenteng oleh gunung-gunung, hawa dingin tertahan diluar,
tidak bisa memasuki daerah taman bunga seruni, bau harum semerbak menyerang hidung,
tertiup oleh angin sepoi2, kadang-kadang lenyap, dan kadang-kadang timbul kembali.
Hawa terlalu sejuk, pemandangan begitu cantik. Disana duduk tiga orang, mereka duduk
diatas tikar yang sangat mahal. Orang pertama adalah Sim Pek Kun, didepannya adalah Siauw
Cap-it-long dan Siao-kongcu.
Didepan mereka terdapat makanan dan minuman, terdapat juga kepiting rebus yang sangat
besar.
Sim Pek Kun mengenakan pakaian yang sangat tipis, memperhatikan daerah tempat itu,
dengan pikiran yang tidak habis mengerti.
Walau didalam keadaan taman yang begitu indah, Sim Pek Kun seperti hidup dalam neraka.
Biar bagaimana, Sim Pek Kun tidak mengetahui atas sikap yang diperlihatkan oleh Siaokongcu.
Selama beberapa hari, Siao-kongcu memberi makan kepada mereka serba komplit, arak-arak
yang harum, makanan-makanan yang lezat, pakaian yang indah, pemandangan yang menarik.
Walau demikian, rasa takutnya Sim Pek Kun semakin menghebat, teristimewa Sim Pek Kun
mengkhawatirkan keselamatan Siauw Cap-it-long.
Betul-betul Siao-kongcu memperlakukan Sim Pek Kun seperti seorang ratu, segala
kebutuhannya dicukupi, hidangan-hidangannya disertai dengan makanan yang sangat lezat,
pakaiannya disediakan corak yang paling baru, penghidupannya dilayani dengan
pemandangan yang indah.
Mungkinkah ia bisa puas mendapat pelayanan yang seperti itu?
Tidak!
Sim Pek Kun sedang melirik kearah Siauw Cap-it-long yang berada didepannya, laki-laki
yang mempunyai sepasang mata menarik itu mengenakan pakaian tebal, menutup badannya
rapat-rapat, ia mengantongi beberapa jumlah bunga seruni, bilamana angin yang terkembang
datang, hawa seruni itu terkembang biak.
Tercampur pula hawa laki-laki.
“Oh, aku telah mencelakakannya,” demikian Sim Pek Kun mengeluh.
Sim Pek Kun dan Siauw Cap-it-long adalah orang tawanan Siao-kongcu. Tapi Siao-kongcu

memperlakukan mereka secara istimewa. Selalu memberi makanan udang dan kepiting,
menyediakan arak dan anggur.
“Aku mencelakakan dirinya!” lagi-lagi Sim Pek Kun mengeluh. Ia tidak bisa merasakan
kelezatan makanan2 itu. Ia tidak bisa menikmati kemurnian anggur2 itu.
Seorang yang menderita luka, tidak bisa dibiarkan mendapat makanan yang mengandung
racun, dan makanan yang mengandung isi racun adalah udang dan kepiting, dan cumi dan
lain-lainnya.
Siao-kongcu menghidangkan makanan-makanan itu.
Apa akibatnya bagi Siauw Cap-it-long bilamana ia memakan semua barang yang ada
mengandung unsur racun?
Siao kongcu bersandar di sebelah Siauw Cap-it-long, mungkin bersifat mencemburui Sim Pek
Kun. Bentuk tubuhnya yang begitu kecil dan ramping, tampak sangat molek sekali. Wajahnya
yang begitu cantik, tampak menarik.
Kadangkala, Sim Pek Kun mempunyai tanggapan lain, Siao kongcu itu adalah jodoh yang
paling tepat bagi Siauw Cap-it-long.
Sayang sekali! Di balik kelemah-gemulaian Siao kongcu, terdapat juga kekejaman yang tidak
terhingga. Di balik kebaikkan Siao kongcu, tersembunyi sesuatu yang lebih jahat.
Sim Pek Kun mengertek gigi, mendendam semua kebencian.
Siao kongcu memperhatikan gerak-gerik Sim Pek Kun. Tiba-tiba ia tertawa.
“Hei,” ia menowel Siauw Cap-it-long. “Coba lihat.” berkata Siao kongcu. “Ratu kita begiti
jijik. Sudah kukatakan, lekas kau berganti pakaian. Kau sangat bandel tidak mau. Maunya
bercumbu rayu terus menerus, sehingga orang menjadi lebih sakit hati lagi. Pakaian yang
kotor akan memuakkan kawan-kawan. Bagaimana kau enak hati, mengawani makan dan
minum tanpa ganti pakaian?”
Siauw Cap-it-long bungkam.
Hati Sim Pek Kun seperti ditusuk oleh jarum. Kata-kata Siao kongcu sangat menyakiti
dirinya. Mungkinkah Siauw Cap-it-long ada seorang yang seperti itu? Mungkinkah Siauw
Cap-it-long sudah tertarik kepada Siao kongcu?
Tidak mungkin. Mengapa aku harus menjadi cemburu? Demikian berpikir Sim Pek Kun. Apa
hubungan Siauw Cap-it-long dengan aku? Tidak ada alasanku menjadi marah.
Sim Pek Kun menundukkan kepala, menekan gejolak hatinya, memperhatikan kemarahan itu.
Siao kongcu tertawa lagi, ia berkata:
“Lihat, pemandangan begini indah. Tepatlah mengatakan bahwa bunga-bunga itu adalah hak
milik wanita. Karena setiap macam bunga itu memiliki sifat-sifat perangai wanita, terkecuali
bunga seruni.”
Perlahan-lahan, Siao kongcu mengambil seekor kepiting di piring, mengambil batu dan
mengetoknya batok kepiting itu, dengan capit yang terbuat dari perak, ia mengeluarkan isi
kepiting, dengan sikapnya yang halus dikeluarkannya kepiting itu, disodorkan kedalam mulut
Siaw Cap It Long. Baru menyambung pembicaraannya :

“Seruni tidak memiliki sifat wanita. Seruni lebih tepat memiliki sifat pria. Ia seperti seorang
cendikiawan yang mengasingkan diri, juga tidak mau bertanding dan bersaing. Suatu tanda
bahwa hidupnya menyendiri. Tidak bisa disamakan dengan lain-lain bunga. Ia tidak gentar
kepada angin dimusim rontok, menandakan betapa kuatnya dia.”
Siaw kongcu menuang anggur dengan sikap yang mesra, dengan sikap yang kolokan, ia
merangkul Siaw Cap It Long, memberi minum anggur, kepada sijago berandalan. Dengan
suaranya yang begitu merdu, ia berkata :
“Kubawa kalian ketempat ini, dengan maksud membandingkan seruni dengan sifat-sifatmu.
Karena kau juga cinta kepada bunga seruni.”
Siaw Cap It Long tidak pernah menolak barang antaran semua dimakan, ia memakan kepiting
dan memakan anggur itu, dengan tertawa-tawa ia berkata "
“Aku suka seruni, lebih suka lagi dimakan, saringan bunga seruni bisa dimakan dicampur
dengan kepiting atau ikan, ikan hidup, sesudah kita memakan bunga seruni yang bercampur
dengan ikan itu, rasanya hawa semakin segar.”
Dengan wajahnya yang begitu cantik, Siaw kongcu tertawa.
Siaw Cap It Long berkata lagi :
“Orang lain menilai bunga seruni dengan sepasang mata, tapi aku Siaw Cap It Long menilai
bunga seruni dengan lain cara, aku meresapi sarinya, aku menggunakan mulut meresapinya.”
“Kau selalu mengacau suasana.” berkata Siaw kongcu tertawa,tertawa lagi cekikikan,
menyusupkan kepalanya kedalam pelukan Siaw Cap It Long.
“Tapi disinilah letak kepribadianmu. Apapun yang kau lakukan, pasti tidak sama dengan
orang lain. Didalam dunia, mungkin ada dua orang Lie Pek. Mungkin dua orang Koan Kong.
Tapi tidak mungkin ada dua orang Siaw Cap It Long. Laki-laki yang seperti kepribadianmu
ini, bagaimana tidak bisa memikat hati gadis, gadis manakah yang tidak pernah terpikat
olehmu ?”
Siaw kongcu menolehkan kepala, dengan matanya yang disipitkan kecil-kecil ia memandang
Sim Pek Kun, berkata kepada sang ratu rimba persilatan :
“Betulkah keteranganku ?”
Dengan dingin Sim Pek Kun menutup pembicaraan :
“Aku sudah bukan gadis lagi, Tidak mempunyai minat kepada laki-laki. Aku tidak tahu.”
Jawaban Sim Pek Kun yang begitu ketus, seharusnya membuat Siao Kongcu menjadi marah,
tetapi kenyataannya berbeda, Siao Kongcu memperlihatkan wajahnya yang cantik dan molek,
bentuk tubuhnya yang ramping indah itu semakin menggiurkan. Tertawanya semakin girang.
“Seseorang wanita yang tidak bisa menyelami hati pria, bagaimana bisa mendapatkan
cintanya.” ia berkata , “Akupun heran, Lian Seng Pek mempunyai seorang isteri yang telah
dinobatkan menjadi ratu rimba dunia persilatan. Mengapa ia tidak mau mendampingi isteri
cantik ? Mengapa ia berjalan seorang diri saja ? Kini aku mengerti apa alasannya? Aku
mengerti, ternyata ...... "

Siao kongcu tidak lagi meneruskan pembicaraannya, ia menutup sampai disitu. Tapi sudah
jelas dan mudah diterka itu adalah kata-kata yang terlalu merendahkan diri Sim Pek Kun,
diartikan Sim Pek Kun tidak bisa menyelami hati seorang pria. Tidak bisa menilai seseorang
pria, maka Lian Seng Pek tidak bisa terikat, Lian Seng Pek lebih suka berjalan seorang diri,
daripada mendampingi Sim Pek Kun yang dikatakan tidak bisa meresapi hati seorang suami.
Sim Pek Kun sudah berusahan, ia hendak menekan semua kemarahannya, Walau demikian,
dikicok pulang pergi, wajahnya menjadi matang biru, marah.
Siao Kongcu mengambil botol lain, botol arak yanh terbuat sangat bagus. Menuangkan isinya,
berkata :
“Inilah arak istimewa yang ku sengaja datangkan dari negara Sie-liang. Mengapa hujin tidak
mau minum arak ? Sayang! Seseorang yang belum pernah meminum arak itu berarti orang
yang belum mengenal kehidupan, percuma saja hidup di dalam dunia.”
Hujin adalah istilah panggilan untuk seorang nyonya, disini panggilan untuk Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sangat rapat sekali. Ia takut, befitu berbicara,
maka mulutnya itu bisa nyerocos terus menerus, memaki Siao Kongcu.
“Marah ?” Siao kongcu menggeleotkan tubuhnya di atas Siauw Cap It long. Kini ia sengaja
duduk diatas paha Siauw Cap It long, bicara kepada Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun membuang muka. Dia mengucurkan airmata.
“Eh, marah semakin hebat ?” berkata Siao kongcu tertawa. Dia melirik kearah Siauw Cap It
long, baru meneruskan pembicaraannya, “Kalau aku duduk di atas paha Lian Seng Pek, kau
mempunyai itu hak marah, ..... tapi, dia ini .....” , ia melirik kearah Siauw Cap It long, “Dia
adalah laki-laki yang belum kawin, Dia bukan suamimu, mengapa hujin marah kepadaku ?
mengapa boleh cemburu ?”
Seluruh ujung-ujung jari Sim Pek Kun terasa menjadi dingin, ia berusaha menahan gejolak
hatinya, tapi tidak tahan lagi, akhirnya ia menoleh, memandang ke arah Siauw Cap It long.
Wajah Siauw Cap It long juga sangat pucat pasi. Wajahnya berkeringat, sedang menanggung
resiko derita yang hebat, kadang-kadang berdenyut. Sakitnya Siauw Cap It long bisa
dirasakan juga.
Siauw Cap It long sedang tersiksa, Siauw Cap It long masih sangat menderita.
Siauw Cap It long tidak pernah mengutarakan segela derita hidupnya, Siauw Cap It long
belum pernah mengatakan kesusahan hidupnya, semua kesusahan dan penderitaan itu di telan
didalam hati.
Sim Pek Kun bisa menduga sesuatu, ia berkata kepada Siauw Cap It long:
“Bagaimana dengan keadaan lukamu itu ? Mungkinkah memberat ?”
Siauw Cap It long menggoyang kepala. ia memaksa tertawa.
“Tidak.” katanya. “Luka apa ? luka yang sepele itu sudah kulupakan.”
Sim Pek Kun tidak percaya. Secara tiba-tiba saja, iamenerjang kearah Siauw Cap It long,
menerjang dengan semua kekuatan yang ada, menarik baju luar Siauw Cap It long, baju luar

yang selalu mengerudungi tubuh laki-laki itu. Baju luar yang sudah agak lapuk, baju yang
dikatakan oleh Siao Kongcu bisa memuakkan orang. Baju yang tidak mau diganti oleh bahan
tipis.
Baju luar Siauw Cap It long tersingkap. Disana masih tampak luka bekas tusukan Sim Pek
KUn, Luka yang membengkak dan membesar, bernanah.
“Aaaah, kau..... " Sim Pek Kun mengeluarkan jeritan melengking. Belum pernah ada
seseorang yang mendengar jeritan yang begitu menyeramkan, begitu menyedihkan, begitu
menyayat hati.
Daging didada Siauw Cap It long telah membengkak, matang biru, hampir saja dilanda
belatungan. Luka-luka itu sudah mulai membusuk, dengan tersingkapnya baju luar tadi, bau
busuk yang menyerang hidung, bang bengkak dan borok yang bernanah.
Sim Pek Kun semakin bersedih, inilah hasil perbuatannya. Karena tusukan pisaunya, maka
Siaw Cap It Long terluka.
Mengertilah Sim Pek Kun, mengapa Siaw Cap It Long tidak mau menukar baju, ia hendak
menutupi luka-luka ini.
Betapa kuatpun hati seseorang, manakala ia sudah menyaksikan luka Siaw Cap It Long, pasti
orang itu menjadi lemas.
Sim Pek Kun tidak terkecuali, hampir ia jatuh roboh, hampir ia menjadi pingsan.
Sim Pek Kun bukan seorang tabib, tapi ia bisa merasakan bagaimana hebat penderitaanpenderitaan
Siaw Cap It Long.
Selama beberapa hari ini, Siaw kongcu melolohnya dengan makanan-makanan yang berbau
amis, ikan, kambing, kepiting, udang dan lain-lainnya. Tidak pernah Siaw Cap It Long
menolak makanan-makanan itu. Adakah seseorang seperti ini ? mungkin seorang yang terbuat
dari besi ?
Siaw Cap It Long belum pernah merintih. Tapi mudah dibayangkan, bagaimana penderitaan
luka-lukanya. Mengapa ? Mengapa Siaw Cap It Long mau menuruti semua kemauan Siaw
kongcu ?
Karena Siaw Cap it Long tidak bisa menolak, membantah akan berakibat yang lebih hebat.
Menyerah dan menekan semua gangguan-gangguan.
Sim Pek Kun tidak bisa melepaskan rasa sakitnya, ia menangis menggerung-gerung,
menangis seorang diri, menangis didepan Siaw kongcu dan Siaw Cap It Long.
“Eh.” Siaw kongcu menggoyang-goyangkan kepala.
“Mengapa menangis mendadak ? Sudah cukup dewasa. Tidak lama lagi, kau akan melahirkan
seorang putra. Mengapa boleh sembarangan menangis ? Tidakkah takut ditertawakan orang ?”
Sim Pek Kun menggigit bibir, dari sana keluar darah, terlalu keras gigitan itu, melampiaskan
hawa panas didalam hati, memelototkan mata kearah Siaw kongcu, dengan suara gemetaran ia
membentak :
“Kau...kau kejam !”
Pada wajah Siaw kongcu yang sangat cantik jelita itu, tidak memperlihatkan kemarahan,

semakin dicemoohkan ia semakin girang, katanya :
“Aku ?! Aku yang kejam ? He......he...Siapa yang lebih kejam ? Kau atau aku ? Siapa yang
melukainya, siapa yang menggunakan pisau menusuk dadanya ?”
Seluruh badan Sim Pek Kun menjadi gemetaran, ia berteriak :
“Lihat ! Lukanya telah membengkak ! Lukanya telah bernanah, mengapa kau tidak membeli
obat.”
Siaw kongcu menghela nafas nafas, ia berkata perlahan-lahan :
“Siaw Cap It Long lebih suka kepadamu. Selalu mementingkan dirimu. Demi menolong
jiwamu, ia rela mengorbankan diri sendiri. Tapi apa yang sudah diperlihatkan pada diriku ? Ia
mendampingiku seperti mendampingi seorang iblis, aku tahu, hatinya benci kepadaku. Bisa
saja membunuh aku.”
Siaw kongcu menghela nafas panjang. Matanya didongakkan keatas, seolah-olah melamun, ia
berguman :
“Dimisalkan, kebaikan yang dicurahkan kepadamu itu dicurahkan kepadaku atau sebagian
kecil saja perhatian yang dicurahkan kepadaku, biar bagaimana, aku juga tidak berani
mengganggunya. Tapi keadaan jauh berbeda....bukan aku yang melukainya, bukan ? Sesudah
kau menusuk orang ini, mengapa melepas diri ? Mengapa mesti aku yang memberi obat ?
Betul-betul aku tidak mengerti, kau lebih kejam dari aku.”
Dengan suara yang serak karena kehabisan tenaga Sim Pek Kun berkata :
“Jangan kau menyiksanya lagi. Jangan kau memberi minumnya. Jangan kau menuangkan arak
dan anggur lagi. Jangan kau memberi kepiting dan udang itu lagi.”
“Eh, mengapa ? Kau cemburu ? Kau mengiri ?”
Sim Pek Kun kalah berdebat.
Siaw kongcu berkata lagi :
“Jangan kau salah paham. Lihat ! Pernah ia menolak pemberianku ? Inilah suatu bukti, aku
lebih cinta darimu, Siaw Cap It Long suka meminum arak, maka aku menyediakan arak dan
anggur-anggur, ia suka bunga seruni yang dicampur dengan kepiting hidup. Maka aku
menyediakannya makanan itu. Ia tidak pernah menolak ucapanku ? Mengapa kau banyak usil
? Saksikanlah, adakah sseorang istri yang begitu baik hati, mau melayani kebutuhannya
seperti apa yang kulakukan terhadap Siaw Cap It Long ?”
Sim Pek Kun menangis semakin sedih, menangis diluar dan menangis didalam.
“Kau juga seorang yang mengerti perkara, kau mengetahui bahwa daging-daging yang amis
bisa mempercepat proses keracunan, bisa memperlambat sembuhnya luka. Orang-orang yang
terluka, pantang memakan anggur, arak kepiting dan udang. Mengapa orang yang makan
barang amis itu bisa membikin besar lukanya. Mengapa kau memberi kepadanya. Sengaja kau
hendak mencelakakannya.”
“Aku tidak tahu, siapa yang mencelakakan Siaw Cap It Long ? Yang penting, memberi
service yang istimewa. Aku memberi makanan yang paling enak. Aku memberi minuman
yang paling enak....”

Bencinya Sim Pek Kun kepada Siaw kongcu begitu dalam. Dendamnya begitu dalam. Tapi ia
tidak berdaya, ilmu kepandaian Siaw kongcu sepuluh kali lipat diatas dirinya, ia tidak bisa
membikin perlawanan.
Siaw Cap It Long menoleh kearah Sim Pek Kun. Sepasang sinar mata yang sudah redup itu,
tiba-tiba bercahaya kembali. Bersinar seperti lampu pelita, Siaw Cap It Long memperlihatkan
senyumannya, senyuman bangga, senyuman puas ada perhatian dari si ratu rimba persilatan.
Tiba-tiba Siaw Cap It Long berguman :
“Seseorang akan hidup berarti manakala ia telah melewatkan waktu-waktunya itu selama
tidak terganggu, apa artinya hidup dirinya ? Seseorang yang berumur pendek belum tentu
lebih susah dari yang berumur panjang. Mengapa kita harus hidup lama, bilamana menderita
terus menerus. Tapi kita lebih suka hidup berumur pendek, manakala hidup kita bangga,
hidup dengan perasaan puas. Bilamana kita bisa bersenang-senang sesuatu hari, tentu saja
lebih meresap dari bersusah-susah seratus hari.”
Siaw kongcu bertepuk tangan, ia menyetujui filsafat hidup Siaw Cap it Long, katanya :
“Tepat ! inilah jiwa seorang laki-laki. Siaw Cap It Long memang bukan manusia biasa, kalau
saja karena menderita luka sedikit, harus takut meminum arak, orang itu bukan Siaw Cap It
Long !”
Perlahan-lahan, dengan caranya yang sangat halus, Siaw kongcu mengusap-usap pipi Siaw
Cap It Long, dengan sikap mesra dan suara penuh cinta kasih ia berkata "
“Selama kau masih hidup, aku akan memberi pelayanan yang secukupnya. Akan kuusahakan,
kau hidup gembira. Apa yang kau kehendaki, kemana kau mau pergi, pasti ku taati.”
Siaw Cap It Long menoleh kearah Siaw kongcu, ia bertanya :
“Begitu baikkah kau kepadaku ?”
“Tentu saja baik. Aku lebih suka melihat kau gembira.” berkata Siaw kongcu.
“Maka aku harus baik-baik kepadamu.”
Siaw kongcu memandang kearah jauh, disana sinar senja yang kuning keemas-emasan
menguasai jagat alam. Menyertai dan menghidupkan semua yang ada.
Dengan alunan suara yang enak, Siaw kongcu berkata "
“Seperti sinar senja ini yang menyayangi alamnya, aku manyayang dirimu, akan kujaga baikbaik.
Tetap ia bercahaya. Tetap ia bersinar.”
Siaw kongcu mengoceh seorang diri. Tapi, cahaya senja itupun mulai meredup. Sinar yang
kuning keemas-emasan menyurut, akhirnyapun lenyap. Jagad menjadi hitam, malampun tiba.
.................
Sim Pek Kun mengenang senja yang sudah hilang. Demikianlah konstruksi hidupnya, timbul
dan tenggelam, senang sengsara silih berganti, ia menjadi sedih, tanpa terasa ia mengucurkan
air mata.
Siaw Cap It Long memandang jauh kedepan, perlahan-lahan ia berguman :

“Aku bukan seorang penyair, juga bukan seorang cendikiawan ternama, hidupku sebagai
pantulan manusia biasa. aku dibesarkan ditegalan luas, hidup dalam kumpulan binatang buas,
didalam pandangan mataku, tempat yang paling indah adalah tempat yang terbentang luas,
disana membujur rumput-rumput hijau, tidak ada orang, sepi dan sunyi. Tempat itu lebih
indah dari istana.”
“Hebat !” Siaw kongcu memuji.
“Kau memang seorang yang hebat. Segala-galanya memang hebat, kau memiliki ciri-ciri yang
khas tersendiri. Ciri-ciri yang tidak pernah dimiliki oleh orang kedua.”
Siaw Cap It Long tertawa. Ia berkata :
“Karena aku memiliki sifat-sifat yang aneh, maka kau tertarik ?”
Siaw kongcu tengkurap didalam dada Siaw Cap It Long, dengan suara yang merdu ia berkata
:
“Ya. Aku semakin tertarik, apapun permintaanmu akan kuturuti.”
“Aku hendak melihat bagaimana kampung halamanku.” berkata Siaw Cap It Long.
“Disana terdapat hawa-hawa yang beracun. Terdapat cairan yang mengandung zat jahat. Ingin
sekali aku bisa melihat kembali tempat yang melahirkanku. sesudah itu matipun rela.”
“Baik.” berkata Siaw kongcu.
“aku bersedia mengiringi kemauanmu. Aku akan antar kau ditempat itu, dalam keadaan segar
bugar. Tentu saja tidak mengharapkan kau mati.”
“Aku lebih suka mati disana.” berkata Siauw Tjap-it-long.
“Jangan berkata seperti itu.” berkata Siao kongcu.
DIANTARA ADIL DAN TIDAK ADIL
Siao Kongcu mengajak Siauw Tjap-it-long ketempat daerah yang melahirkan jago berandalan
itu. Turut serta juga ratu rimba persilatan Sim Pek Kun.
Mereka lewati daerah2 yang lembab. Mengarungi pegunungan2 yang tinggi, menjelajahi
lembah2 yang curam.
Kabut2 putih yang mengandung racun bertebaran disekitar daerah itu.
Siauw Tjap-it-long bisa memilih jalan yang tepat, ia memberi petunjuk kepada Siao kongcu.
Dengan hati yang kejam, keras seperti baja, Siauw Tjap-it-long mempertahankan diri dari
godaan2 hidup. Ia selalu siap untuk menderita, entah permainan apapun yang hendak
ditonjolkan oleh Siao kongcu?
Luka bekas tusukan Sim Pek Kun pada dada Siauw Tjap-it-long membengkak. Makanan2
yang bisa menambah menjalarnya luka tidak merapat. Ikan yang amis, udang dan kepiting
yang beracun, arak yang membakar tubuh, semua itu diloloh kedalam mulut Siauw Tjap-itlong.
Disini letak kekejaman Siao kongcu.

Mungkin, tidak seorang yang bisa percaya, tanpa menyaksikan dengan mata sendiri
bagaimana Siao kongcu menyiksa Siauw Tjap-it-long.
Wajahnya begitu cantik, tubuhnya begitu mungil menarik, suaranya lembut gemulai.
Mengapa memiliki hati yang seperti hati ular?
Mungkinkah ujian dari yang maha kuasa?
Dimana letaknya keadilan dan kebenaran?
Banyak terdengar cerita, konon, orang yang menanam bibit kebaikan, akan menerima
hasilnya, ia akan mendapatkan kebaikan pula.
Dikatakan, seseorang yang melakukan kejahatan2, dia akan mendapat balasan yang setimpal.
Ia tersiksa dan sengsara selama hidupnya.
Adakah dalih dan rumus yang seperti itu?
Pikiran Sim Pek Kun sedang berkecamuk dengan pepatah2 orang tua itu. Pikirannya kusut
dan kalut.
Dimisalkan adanya keadilan dan kebenaran abadi, mengapa Siao kongcu yang begitu buruk
perangai, mendapat jaminan kuat? Mengapa ia tersiksa?
Terbayang sepasang sinar mata Siauw Tjap-it-long. Dengan kebaikan2 hati si jago
berandalan, mengapa tidak diberkahi Tuhan?
Didepan mereka menjulang tebing tinggi, tapi tidak mungkin bisa dicapai, sebuah jurang
curam yang menjadi pemisah diantara kedua jarak itu, penuh ditumbuhi dengan semak2
belukar.
Siauw Tjap-it-long dituntun oleh Siao kongcu. Mereka hendak menyaksikan, tempat tinggal
Siauw Tjap-it-long.
Dibelakang Siauw Tjap-it-long dan Siao kongcu, turut serta juga Sim Pek Kun.
Siauw Tjap-it-long bersiul-siul kecil, melagukan irama yang tidak dikenal. Didalam keadaan
yang seperti ini, lagu itu sangat sedih, lagu seorang yang kesepian.
Wajah yang diperlihatkan oleh Siauw Tjap-it-long adalah satu wajah yang sangat tenang. Ia
tidak mengutarakan gundah gulana hatinya.
Siao-kongcu mendampingi laki2 berdada bidang itu, tanpa bisa ditahan lagi, ia mengajukan
pertanyaan:
“Betul2 kau dilahirkan didaerah ini?”
“Ng....” Siauw Tjap-it-long menganggukkan kepala.
Siao-kongcu menghela napas ia berkata
“Seseorang yang dibesarkan didaerah yang seperti ini, sungguh tidak mudah sekali.”
Bibir Siauw Tjap-it-long memperlihatkan senyuman sinis, ia berkata tenang:
“Tentu saja. Hidup seseorang lebih susah daripada mati.”

Sepasang mata Siao kongcu berputar jeli, ia berkata:
“Setiap orang tidak bisa mengelakkan kematian. Cepat atau lambat, maut itu akan
mencengkerammu. Tapi, kematian itu tidak semudah apa yang kau bayangkan.”
Siauw Tjap-it-long berkata:
“Untuk mereka yang segan menghadapi kematian, tentu saja tidak mudah mencapai
kematian.”
Siao kongcu mendelikkan mata, tertawa kearah Siauw Tjap-it-long dan berkata:
“Mungkinkah kau sudah merencanakan kematian? Aku tidak percaya.”
Siauw Tjap-it-long tertawa tawar, ia berkata:
“Sejujurnya, belum pernah terbayang oleh tentang adanya kematian itu. Tidak tahu apa yang
dikerjakan sesudah mati. Aku tidak pernah berpikir, haruskah aku? Atau bertahan hidup?”
“Dimisalkan kematian itu adalah suatu pekerjaan mudah.” berkata Siao kongcu “Mengapa
kau tidak pergi mati? Mengapa aku bisa bertahan hidup sampai sekarang?”
Siauw Tjap-it-long bungkam. Tidak bicara.
Siao kongcu tertawa, berkata:
“Kau masih hendak menuju ketempat tebing depan itu. Kurasa sudah tidak mungkin! Tidak
ada jalan, untuk kita maju kedepan.”
Siauw Tjap-it-long bungkam beberapa saat, akhirnya iapun berkata:
“Ya, sudah tidak ada jalan. Mengapa aku masih hendak bertahan terus menerus?”
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Siao kongcu.
“Aku hendak pergi sekarang ini, tanpa bantuanmu. Aku hendak mengenang kejadian2 semasa
kecil.”
“Kau masih kuat berdiri?” bertanya Siao kongcu.
Memang! Didalam keadaan yang seperti itu. Tidak memungkinkan Siauw Tjap-it-long berdiri
tanpa mendapat bantuan dan dukungan. Pertanyaan Siao kongcu masuk diakal.
Siauw Tjap-it-long memperhatikan kearah sigadis binal itu, ia berkata:
“Bisakah kau melepaskan pegangan agar aku dapat mencobanya?”
Sepasang sinar mata yang seperti bola berputar, akhirnya Siao kongcu melepaskan Siauw
Tjap-it-long. Dengan tertawa ia berkata:
“Hati2, ya! Jangan sampai terjatuh. Bilamana kau jatuh kedasar jurang, mana mungkin bisa
mencari jenasahmu. Siauw Tjap-it-long yang hidup sudah kusaksikan. Tapi Siauw Tjap-itlong
yang mati belum kutemukan. Entah bagaimana keadaan Siauw Tjap-it-long yang sudah
tidak berjiwa, akupun hendah melihatnya.”

Siauw Tjap-it-long meringis. Ia harus bertahan sedapat mungkin. Menggunakan sisa
kekuatannya yang masih ada, berdiri dipinggiran tebing itu. Menoleh kearah Siao kongcu, ia
berkata:
“Orang yang mati lebih dengar kata daripada orang yang hidup. Tapi, orang mati tidak patut
dipandang, bilamana kau hendak melihat kematianku, kukira kau bisa menjadi benci.”
Sesudah itu, Siauw Tjap-it-long melirik kearah Sim Pek Kun. Tertawa sebentar, sesudah itu ia
menerjunkan diri kedalam jurang yang curam....
Tanah yang dipijak oleh Sim Pek Kun terasa seperti amblas, sukmanya hampir terbang dari
tempat semula.
Seperti apa yang sudah diduga, kedatangan Siauw Tjap-it-long ketempat ini dengan maksud
tujuan untuk bunuh diri.
“Akulah yang menjadi gara2..... aku yang menjadi biang keladi kematiannya......”
Kata2 ini selalu mendengung ditelinga Sim Pek Kun. Mendengung terus menerus.
Dia sudah mati, apa guna aku mempertahankan hidupku?..... Bagiamana pertanggungan
jawabku kepadanya? Berapa lama aku bisa bertahan hidup? Ancaman apa yang akan
dilakukan oleh Siao kongcu? Siapa pula yang bisa memberikan pertolongan?...... Oh....”
Terbayang kembali kekejaman Siao kongcu, maka semua tidak terpikirkan lagi, dengan
semua sisa tenaga yang ada Sim Pek Kun lari kedepan turut terjun kedalam jurang. ...........
Yang heran, sesaat sebelum kematian Sim Pek Kun, ia tidak pernah memikirkan Lian Seng
Pek.
Sim Pek Kun tidak pernah membayangkan bagaimana reaksi sang suami atas kematiannya.
Mungkinkah Lian Seng Pek bersedih?
Siao Kongcu berdiri ditepian tebing, menengok dan memandang kearah bawah. Disana hanya
kabut2 dan uap yang mengandung hawa beracun, tidak ada perobahan.
Lama sekali, Siao kongcu mempertahankan posisi yang seperti itu, entah apa yang
diharapnya?
Suatu saat, Siao kongcu memungut batu yang besar, dicemplungkannya kedepan.
Beberapa lama kemudian, baru terdengar reaksi dari lemparan itu...... plung.........
Siao kongcu memperlihatkan senyumnya yang puas, ia berjalan balik, meninggalkan tempat
itu.
Dengan langkah ringan, Siao kongcu meninggalkan tepi tebing itu.
Ia tidak mau tahu, apa akibatnya dari terjunnya Siauw Tjap-it-long? Ia tidak mau tahu, apa
akibat dari bunuh diri Sim Pek Kun.
Sudah tentu, harapan hidup Siauw Tjap-it-long dan Sim Pek Kun kecil sekali. Kematian
Siauw Tjap-it-long dan kematian Sim Pek Kun tidak perlu diragukan.
Siao kongcu kembali untuk memberi laporan kepada pemimpinnya.

Betulkah Siauw Tjap-it-long jatuh mati? Betulkah Sim Pek Kun mati?
Tidak!
Berada diluar dugaan Siao kongcu, Siauw Tjap-it-long dan Sim Pek Kun tidak mati.
Juga berada diluar dugaan Sim Pek Kun, betul2 ia tidak mati.
Kematian bukanlah pekerjaan yang mudah. Dikala Sim Pek Kun terjun kedasar jurang yang
dalam, ia mengharapkan kematian. Tapi kenyataan tidak seperti apa yang diharapkan.
Jatuhnya Sim Pek Kun hanya mengakibatkan sedikit goncangan, ia jatuh pingsan. Tapi tidak
terasa sekali.
Sim Pek Kun sadar dari pingsannya, terasa keadaan yang sangat ngeri. Dasar dari jurang
curam tadi adalah cairan berlumpur, tidak ada pohon, tidak ada rumput. Tidak ada kehidupan
ditempat itu. Yang ada hanyalah udara lembar yang basah. Bau air yang membusuk dan kabut
putih yang mengandung sedikit hawa racun.
Siauw Tjap-it-long dan Sim Pek Kun jatuh didalam telaga rawa2 tenggelam.
Jatuhnya keair rawa2 itu, sangat sakit. Tapi Sim Pek Kun tidak merasakan, karena ia terjatuh
didalam keadaan pingsan. Kini rasa sakit dan nyeri itu mulai terasa. Ia siuman.
Sim Pek Kun terendam di air rawa2. Yang aneh, ia tidak tenggelam. Rawa yang menadah
jatuhnya Sim Pek Kun mempunyai cairan yang berwarna pekat, berat jenisnya lebih besar,
seperti cairan sagu, cukup menahan bobot berat orang.
Karena adanya cairan air yang seperti inilah menyebabkan Sim Pek Kun tidak mati, walau
jatuh dari tebing tinggi.
Sim Pek Kun mulai mengenang kejadian lama, ia agak heran. Ia tidak merasakan sesuatu
yang aneh, air rawa2 yang berbau busuk ini tidak menyebabkan sesuatu, bahkan kebalikan
dari pada itu, bau ini menambah nyamannya, luka dikaki sudah tidak terasa sakit.
Air rawa2 yang berada didasar jurang curam mengandung unsur pengobatan, bisa
meringankan rasa sakit orang.
Teringat akan cerita Siauw Tjap-it-long yang pernah menjumpai seekor srigala, srigala yang
menderita luka itu merendam diair kubangan rawa, terakhir srigala yang menderita luka itu
bisa menyembuhkan lukannya.
Mungkinkan kubangan rawa2 yang kini merendam dirinya? Yang dimaksudkan oleh Siauw
Tjap-it-long?
Siauw Tjap-it-long adalah jago ajaib luar biasa. Tentu ia bisa menemukan jalan keluar dari
segala kesulitan. Termasuk dari cengkeraman tangan maut Siao kongcu.
Karena itulah Siauw Tjap-it-long menerjunkan diri dari tebing curam. Sangkanya hendak
bunuh diri. Kenyataannya bukan bunuh diri, hendak menolong diri.
Gejolak hati Sim Pek Kun berlompat girang.
Teringat kembali cerita Siauw Tjap-it-long, seekor hewan bisa menjaga diri sendir tanpa
bantuan pengobatan orang, bagaimana ia harus menghadapi kesulitan2 dari penghidupan yang
fana.

Mungkinkah kubangan yang telah menyembuhkan luka srigala itu?
Kekuatan hidup Sim Pek Kun bangkit kembali. Ia percaya, segala langkah2 kebijaksanaan
Siauw Tjap-it-long adalah langkah2 yang paling tepat.
Dan ia percaya betul bahwa Siauw Tjap-it-long masih berada disekitar dirinya.
Ia hendak berteriak, mencari Siauw Tjap-it-long. Tapi takut dapat didengar oleh Siao kongcu
diatas tebing, karena itu ia menahan gejolak hatinya.
Mulut Sim Pek Kun tidak berani berteriak tapi hatinya tetap berteriak:
“Siauw Tjap-it-long! Dimana kau berada?”
Mendampingi Siauw Tjap-it-long seperti mendampingi sendi kehidupan. Tanpa adanya Siauw
Tjap-it-long, dunia ini dirasakan menjadi kosong.
Sim Pek Kun mengayun langkah, hendak mengangkat kaki mencabut dari rendaman air
kubangan itu.
Ia yakin dan percaya, Siauw Tjap-it-long tidak jauh dari tempatnya, ia harus menemukan sang
jago berandalan.
Sim Pek Kun mengangkat kaki, hendak mencabut diri dari tenggelaman air itu.
Keanehan terjadi. Manakala ia membiarkan dirinya terapung. Tubuhnya tidak tenggelam.
Tapi manakala ia mengangkat kaki hendak menaiki cairan lengket itu, terasa daya tarik
kebawah, semakin ia berontak kekuatan daya tarik itu semakin keras, kini tubuhnya mulai
tenggelam. Napasnya menjadi sesak. Seolah2 ada tangan ajaib yang berada didasar rawa2,
menyeret kearah dasar air telaga itu.
Sedikit lagi, hidungnyapun akan kelelap.
Kini tidak mungkin Sim Pek Kun berani bergerak.
Sim Pek Kun tidak tahu, berapa lama lagi ia bisa bertahan didalam keadaan yang seperti itu.
Sebelum menerjunkan diri kedasar telaga rawa2 lengket, tekad Sim Pek Kun untuk bunuh diri
begitu nekad. Tapi kekuatan hidup seseorang timbul kembali manakala mempunyai
kesempatan hidup.
Sim Pek Kun masih belum menjumpai Siauw Tjap-it-long. Kerena itulah, ia ingin sekali bisa
bertemu dengan sijago berandalan.
Didalam hati Sim Pek Kun berjanji, mulai saat ini, ia akan betul2 mentaati semua perintah
Siauw Tjap-it-long. Ia akan mempercayai segala langkah kebijaksanaan Siauw Tjap-it-long.
Sim Pek Kun mempasrahkan diri.
Kiranya, Sim Pek Kun akan segera mati dalam telaga rawa2 lengket itu.
Tiba2, sebuah bayangan terpeta didepannya, itulah bayangan Lian Seng Pek.
Baru sekarang, Sim Pek Kun terkenang kepada bayangan suaminya.

Tapi Sim Pek Kun yakin, ada atau tidak hadirnya dirinya, tidak menjadi soal bagi Lian Seng
Pek. Lian Seng Pek mempunyai kedudukan yang baik, mempunyai ilmu kepandaian yang
tinggi, mempunyai kawan2 yang berjumlah besar.
Kehilangan seorang istri yang cantik tidak begitu berarti, bagi Lian Seng Pek, hadir atau tidak
hadirnya itu sama saja.
Tiba2, Sim Pek Kun teringat kepada putra didalam perut.
Setiap wanita menjadi bahagia, manakala ia yakin bahwa didalam perutnya telah berisi satu
kehidupan baru.
Tapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk melahirkan bayi Lian Seng Pek.
Sim Pek kun memeramkan matanya.
Sim Pek Kun mempunyai harapan hidup. Tapi harapan hidup itu terlalu tipis. Demikianlah ia
menyerahkan diri.
Kekuatan dasar telaga rawa-rawa yang menyedot Sim Pek Kun masih menurunkan beban
berat sang ratu rimba persilatan, tapi sikap Sim pek Kun begitu tenang, ia memeramkan mata.
Disaat inilah, telinga Sim Pek Kun bisa menangkap satu suara yang tidak terlalu asing. Itulah
suara Siauw Cap-it-long.
“Jangan menggunakan tenaga ! Sekali-kali, jangan menggunakan tenaga ! Untuk berontak
dari keadaan semula....”
Suara Siauw Cap-it-long berkumandang dekat sekali !
Rasa girangnya Sim Pek Kun tidak terkekang, ia hendak menengok memandang kearah
datangnya suara itu.
Terdengar suara Siauw Cap-it-long berkumandang lagi :
“Jangan sekali-kali mencoba untuk menengok kebelakang, jangan sekali-kali kau hendak
berusaha mencari dimana aku berada. Lepaskan semua kekuatan. Legakan semua hati,
ringankan bobot berat badan, lepaskan semua kekuatan yang hendak berontak. Tenaga-tenaga
jangan dikerahkan, boleh diumpamakan, kini kau sedang berbaring disebuah sofa yang amat
empuk...... berada dalam pangkuan ibumu, tidak ada kesusahan, tidak ada kegaduhan. Apapun
jangan dipikirkan, tidak ada orang yang bisa mengganggu keamananmu. Maka, kau akan
bebas dari penyedotan air telaga rawa-rawa lengket.”
Sepatah demi sepatah, kata-kata Siauw Cap-it-long mengiang ditelinganya. Suaranya itu
mempunyai arti yang baru, suara yang memiliki kekuatan ajaib.
Sim Pek Kun yakin dan percaya kepada kata-kata Siauw Cap-it-long.
Sim Pek Kun melepaskan keinginannya yang hendak bebas dari cengkeraman telaga rawarawa
lengket itu. Ia mengendorkan semua otot-ototnya. Menurunkan kembali kaki yang
hendak diangkat itu.
Tapi ia belum bisa mengosongkan pikirannya.
Maka, kekuatan ajaib yang menyedot kedasar telaga bebas kembali.
Sim Pek Kun mengeluarkan elahan napas lega, ia bertanya perlahan :

“Bisakah aku bicara ?”
“Semua kata-kata harus diucapkan perlahan-lahan.” berkata Siauw Cap-it-long. “Boleh saja.
Suara yang perlahanpun sudah cukup untuk memasuki pendengaran telingaku.”
Suara Siauw Cap-it-long semakin mendekat.
Sim Pek Kun berkata :
“Aku bisa mengendorkan semua ototku. Aku bisa saja tidak menggerakkan tenaga. Tapi aku
tidak bisa mengosongkan isi pikiran.”
“Apa yang sedang kau pikirkan?” bertanya Siauw Cap-it-long.
“Sedang kupikir,” berkata Sim Pek Kun “Dimisalkan kita bergerak, maka kekuatan penyedot
dari dasar telaga ini menyeret kita kebawah. Bagaimana kita bisa meninggalkan rawa-rawa
lengket ini ? Mungkinkah kau sudah mempunyai cara untuk membebaskan diri ?”
“Tentu saja !” berkata Siauw Cap-it-long.
“Hatiku makin lega.” berkata Sim Pek Kun. “Ternyata kau mempunyai cara untuk
membebaskan diri.”
Tiba-tiba, didepan Sim Pek Kun ada sepasang cahaya yang bersinar terang. Itulah sepasang
mata Siauw Cap-it-long !.
Rasa girangnya Sim Pek Kun tidak kepalang, gejolak hatinya seperti hendak lompat keluar.
Tiba-tiba wajahnya menjadi merah.
Tidak disangka, jarak mereka begitu dekat. Hampir saja bersampokan muka.
Sim Pek Kun juga bisa merasakan penyedotan hawa napas Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long mengelakkan pandangan mata Sim Pek Kun, ia berkata perlahan :
“Sudah kau bisa melihat kearahku ?”
“Ya.”
“Itulah. Jarak kita sebetulnya jauh. Kini sudah mulai mendekat.”
“Bagaimana kau bergerak datang ?” bertanya Sim Pek Kun.
“Aku mempasrahkan diri. Aku tidak bergerak.” berkata Siauw Cap-it-long. “Setiap gerakan
akan membawa akibat buruk, bisa menenggelamkan kita.”
“Kau tidak bergerak, bagaimana caranya bisa tiba kesini.”
“Perhatikan baik-baik, air telaga ini seperti sangat tenang. Kenyataan tidak. Ia tetap bergerak,
hanya saja pergerakkan itu perlahan sekali, sehingga tidak terasa oleh kita.”
“Karena aku diam tidak bergerak..... maka bisa mengikuti arus air telaga terapung kemari.
Bilamana berontak, tentu tenggelam. Kau bergerak, maka tetap ditempat asalnya, semakin
lama semakin tenggelam, maka kau tidak terbawa oleh arus air telaga, kau diam disini.”
Sim Pek Kun diam tidak bicara, hatinya bersyukur, karena keadaan yang tak diduga itu.

Pikirnya :
“Bilamana aku juga tidak berontak-rontak, membiarkan diriku terapung ketempat jauh,
bagaimana aku bisa bertemu denganmu ?”
Siauw Cap-it-long berkata lagi :
“Tidak jauh didepan kita, adalah tepian, tenangkan hatimu, kosongkan pikiranmu, maka kita
akan segera tiba ditempat itu. Kita bisa tertolong. Bertahanlah, bersabarlah. Aku percaya, kau
bisa mentaati ini.”
Mau tidak mau, Siauw Cap-it-long menoleh kembali, menatap sepasang sinar mata Sim Pek
Kun.
Sim Pek Kun juga sedang memperhatikan pemuda itu, keempat sinar mata bertumbukan.
Sim Pek Kun diam tidak bicara. Hatinya yang memberi wakil.
“Demi kepentinganmu, akan kuusahakan.”
Suara hati nurani bisa terpantulkan dari cahaya sinar mata, inilah panca indera ketujuh. Suara
yang tidak bisa ditangkap oleh pendengaran telinga.
Orang yang bisa menangkap suara dari sinar mata ini tidak terlalu banyak.
Tapi Siauw Cap-it-long bisa menangkap suara hati nurani Sim Pek Kun.
__
TEMPAT TINGGAL SIAUW CAP-IT-LONG
Sim Pek Kun tidak bicara, tapi sepasang sinar matanya bisa menyuarakan apa yang terpikir
olehnya.
Siauw Cap-it-long bisa mengerti akan perpaduan hati nurani itu.
Mereka mengosongkan pikiran, mereka menelentangkan badan.
Arus air telaga rawa-rawa tenggelam menghanyutkan kedua orang itu ketepi.
Arus air telaga rawa-rawa tenggelam sangat perlahan, pergerakannya lambat sekali. Tak lama
kemudian, Sim Pek Kun menghela napas dan berkata :
“Hingga saat ini, aku bisa menyesal akan perbuatanku yang salah.”
“Apa ?”
“Aku merasa bersalah.”
“Apa yang salah ?” bertanya Siauw Cap-it-long.
“Aku pernah mengutuk Tuhan, kukatakan Yang Berkuasa itu sering-sering melakukan ketidak
adilan. Ternyata pikiranku itu salah. Biar bagaimana Tuhan itu tetap adil.”
Dengan perlahan-lahan Siauw Cap-it-long berkata :

“Tuhan itu tetap adil.”
Sesudah itu, mereka tidak bercakap-cakap lagi. Perlahan demi perlahan, tubuh kedua orang
terapung. Kedua kaki dan kedua tangan terentang dipermukaan air, seperti dua bangkai
celentang. Pergerakkan air rawa-rawa tenggelam terlalu perlahan, senti demi senti
menghanyutkan mereka.
Siauw Cap-it-long memeramkan mata.
Sim Pek Kun juga mengatupkan sepasang matanya, hatinya masih berpikir terus, ia masih
meragukan sesuatu, bisakah pergerakan air yang sangat lambat itu menepikan mereka ?
Tapi Sim Pek Kun lebih yakin kepada Siauw Cap-it-long, karena itu ia mempasrahkan diri
kepada si jago berandalan.
Ia paling suka dengan sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long yang bisa memantulkan cahaya
kemurnian.
Ia tidak berani menantang adanya sinar mata itu, sinar mata itu seperti senjata yang sangat
tajam, menembus hatinya, menembus badannya, sepasang sinar mata itu yang membuat
hatinya berdebar-debar keras.
Seharusnya Siauw Cap-it-long mengajaknya bicara. Tapi Siauw Cap-it-long tidak bicara.
Mengapa ?
Akhirnya Sim Pek Kun tidak tahan, ia memanggil perlahan :
“Hei.....”
Siauw Cap-it-long membuka kembali sepasang sinar mata yang dikatupkan itu, memandang
kearah sang ratu rimba persilatan ia bertanya :
“Ada apa ?”
“Kukira.....” Sim Pek Kun menghentikan suaranya. Tidak ada bahan pembicaraan yang lebih
menarik.
Mereka saling pandang beberapa waktu. Lama sekali.
“Tahukah kau, siapa yang menolong kita berdua ?” bertanya Siauw Cap-it-long.
“Tentu saja.....kau.” berkata Sim Pek Kun.
Daya tangkap telinga Sim Pek Kun juga merasakan perobahan deburan hati Siauw Cap-itlong
yang bertambah keras, napasnya Siauw Cap-it-long juga agak memburu.
Hati Sim Pek Kun menjadi bingung.
Siauw Cap-it-long menggoyangkan kepala, ia berkata :
“Bukan.”
Sim Pek Kun membelalakkan mata, ia bertanya :
“Siapa ?”

“Srigala itu.” berkata Siauw Cap-it-long
Siauw Cap-it-long mengenangkan kejadian lama, sepasang matanya dialihkan mengarah
ketempat yang sangat jauh, Ia teringat bagaimana srigala itu merendam diri ditelaga ini,
bagaimana sang binatang menyembuhkan luka-lukanya.
“Aku pernah mendengar cerita tentang srigala itu.” berkata Sim Pek Kun.
“Srigala tersebutlah yang menolong kita. Dari pelajaran itu, aku mengetahui didalam air
telaga ini terdapat unsur-unsur pengobatan yang luar biasa. Bagaimana aku harus bertahan
dari penderitaan, air telaga ini bisa menyembuhkan sesuatu luka-luka.”
“Sangat kebetulan.” berkata Sim Pek Kun.
“Bukan kebetulan.” berkata Siauw Cap-it-long. “Seseorang yang hendak mempertahankan
hidupnya harus kuat, karena ia harus kuat bertahan dari segala gangguan, kuat bertahan dari
segala kesepian, dapat kuat bertahan dari segala hinaan-hinaan, serta kuat bertahan dari segala
macam penderitaan.”
“Pelajaran-pelajaran yang kau tarik dari cerita srigala sangat menarik.” berkata Sim Pek Kun.
“Tentu saja. Sebagai seorang manusia kita memiliki otak yang lebih cerdik dari srigala,
srigala itu bisa menyembuhkan luka-lukanya didalam air yang mengandung unsur obatobatan,
mungkinkah kita tidak bisa ?”
“Kau menaruh salut kepada srigala ?”
“Srigala adalah binatang yang menyendiri, kadang-kadang mereka juga bisa berkumpul
mencari mangsa, tapi sesudah itu, masing-masing memisahkan diri pula, hidupnya tidak
kompak. Lebih suka hidup menyendiri, daripada hidup berdua atau hidup berkelompok.”
“Kau juga hendak hidup menyendiri ?”
“Hidup menyendiri bisa bebas dari segala gangguan-gangguan yang ada. Manusia itu
memiliki sifat ketamakan, sifat kejahatan, itulah letak kesalahan.”
“Disini letak perbedaan antara manusia dan srigala ?”
Siauw Cap-it-long berkata :
“Orang benci kepada srigala. Dikatakan srigala itu mempunyai hati yang kejam, kukatakan
tidak ! Manusialah yang lebih kejam dari srigala, boleh dibayangkan, seekor srigala hanya
menikah satu kali. Hidup satu suami dan satu isteri. Mereka tidak berpisah. Dimisalkan
srigala jantan mati, sang betina akan menyendiri terus menerus, sehingga mengakhiri
hidupnya. Ia tidak akan kawin lagi, demikian juga keadaan srigala jantan, bilamana sang
betina mati, sang jantan juga tidak akan mencari isteri muda.”
Sesudah itu, dengan suara sinis, Siauw Cap-it-long melanjutkan ceritanya :
“Adakah sifat-sifat srigala ini dimiliki oleh manusia ? Oh...... tidak !.... berapakah laki-laki
yang setia kepada isterinya ? Bini muda, gula-gula, dan wanita piaraan, tersebar diseluruh
pelosok. Anggapnya ia seorang besar, bisa memiliki isteri yang banyak. Sebaliknya,
memang bisa dihitung dengan jari wanita yang menyeleweng dari suaminya, tapi dimisalkan,
seseorang yang kehilangan suami, bisakah ia hidup menyendiri ? kukira tidak. Dengan alasan
untuk menyambung hidup, ia kawin lagi.”

Sim Pek Kun tidak membuka mulut.
Siauw Cap-it-long berkata lagi :
“Hidup yang tekad adalah hidup suami isteri, bilamana hidup suami isteri tidak mempunyai
kesepakatan, hidup suami isteri penuh dengan curiga mencurigai. Apalagi hidup dengan lainlainnya,
bagaimana manusia dengan manusia ? Manusia lebih jahat dari srigala.”
Lama sekali Sim Pek Kun terdiam, kini ia membuka mulut.
“Kadangkala, srigala juga bisa memakan seekor srigala lainnya.”
“Bagaimana keadaannya manusia ? Mungkinkah tidak memakan kawan ?” berkata Siauw
Cap-it-long. “Seekor srigala akan menggerogoti daging kawannya, bilamana didalam keadaan
terpaksa, bilamana daya tahan laparnya tidak tertahan lagi. Tapi manusia tidak mempunyai
sifat itu, manusia bisa makan kawan didalam keadaan perut kenyang, walaupun perut
kenyang, walaupun ia hidup didalam serba kecukupan, bisa saja ia memakan kawan.”
Sim Pek Kun menghela napas; ia berkata :
“Kau lebih banyak mengenal sifat-sifat srigala, daripada mengenal sifat-sifat manusia.”
“Oh ? ! .......”
“Tidak semua manusia itu jahat.” berkata Sim Pek Kun. “Dan kebetulan, manusia manusia
yang kau jumpai adalah manusia jahat. Mungkin sedikit sekali manusia baik yang berada
didekatmu.”
Giliran Siauw Cap-it-long menutup mulutnya rapat-rapat.
“Hei,” berkata Sim Pek Kun. “Jangan ceritakan tentang srigala saja. Mengapa kau tidak
ceritakan tentang keadaanmu ?”
“Aku ?!” berkata Siauw Cap-it-long. “Tidak ada sesuatu yang bisa kuceritakan.” “Ya.”
berkata Sim Pek Kun. “Bagaimana keadaan kedua orang tuamu ?”
“Mereka tidak ada.” jawab Siauw Cap-it-long.
“Dimana saudara atau saudarimu ?”
“Mati ! Semua sudah mati !”
Sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long berubah menjadi liar, seperti hendak memancarkan api.
Hati Sim Pek Kun seperti ditusuk. Terbayang kembali, kedua orang tua Siauw Cap-it-long,
tentunya telah dibunuh oleh manusia-manusia tamak dan celaka.
Percakapan itu terhenti sampai disitu.
Tanpa mereka sadari air dari telaga rawa-rawa tenggelam bergerak, walau perlahan, gerakan
itu tetap ada. Akhirnya menepikan kedua manusia yang mereka ombang-ambingkan.
Siauw Cap-it-long merambat naik ketepi, menyeret Sim Pek Kun dan membantu nyonya
tersebut meninggalkan telaga rawa-rawa tenggelam.

Sim Pek Kun mendongakkan kepala, mereka berada di dasar tebing yang curam. Disekeliling
mereka terkurung oleh gunung-gunung tinggi, hawa disitu tidak menjadi dingin, hangat.
Tempat ini adalah suatu tempat yang sangat indah, tidak terjadi perobahan hawa. Tidak ada
angin puyuh, keadaan tenang , sunyi dan sepi.
Lembah gelap ! Demikianlah Siauw Cap-it-long menamakan tempat itu !
Sebuah air terjun yang kecil mengalirkan airnya, air itu jatuh berpercik disekitar mereka.
Melupakan keadaannya yang basah kuyup, melupakan pakaiannya yang kotor dan dekil,
melupakan lumpur-lumpur dari air telaga yang berbau busuk itu, Sim Pek Kun terpesona atas
panorama yang disaksikan.
Lama sekali Sim Pek Kun mematung ditempat itu, lupa kepada dirinya sendiri.
“Tidak kusangka !” akhirnya ia mengeluarkan keluhan panjang. “Masih ada satu tempat yang
seindah ini.”
“Sebelumnya juga tidak kusangka.” berkata Siauw Cap-it-long. “Bilamana tidak ada
bantuannya.......”
“Lagi-lagi cerita srigala.” potong Sim Pek Kun.
Mereka menuju kesebuah bangunan. bangunan itu terbuat dari kayu, bangunan yang terletak
dicabang-cabang pohon besar.
“Oh!” Sim Pek Kun agak terperanjat “Ada orang yang tinggal disini ?”
Siauw Cap-it-long menggelengkan kepala, ia berkata :
“Kecuali kita berdua. Tidak ada orang ketiga yang bisa berada disini.”
Sim Pek kun menoleh kearah Siauw Cap-it-long, menatap wajah pemuda itu, seolah-olah
hendak bertanya, bagaimana ada bangunan didalam lembah curam ?
“Itulah tempat tinggalku.” Siauw Cap-it-long memberi keterangan. “Semua orang memiliki
rumah, bukan ? Dan aku juga memiliki rumah. itulah rumahku.”
“Rumahmu ?”
“Pertama kali aku mendatangi tempat ini, aku mulai tertarik.” berkata Siauw Cap-it-long.
“Hidupku sebatang kara, maka aku membangun rumah disini.”
Sim Pek Kun bisa menerima keadaan yang seperti itu, ia menganggukkan kepala berkata :
“Disini ada buah dan sayur-sayur. Disini ada air terjun yang jernih. Inilah tempat yang sangat
indah. Aku yakin dan percaya, kau suka tempat ini.”
“Karena aku tidak bisa hidup bersama-sama manusia.” berkata Siauw Cap-it-long tertawa
nyengir.
Sim Pek Kun mulai bisa menduga, apa yang menyebabkan hidup kesepian Siauw Cap-it-long.
“Kukira, manusia itu tidak memiliki sifat srigala, srigala juga tidak memiliki sifat manusia.”
berkata Siauw Cap-it-long.

“Karena kau percaya, bahwa kau adalah seorang manusia.” berkata Sim Pek Kun mesra.
“Sesuatu yang dilakukan oleh srigala, tidak mungkin diturut olehmu, bukan ?”
Siauw Cap-it-long bergumam :
“Betul. Manusia tetap seorang manusia. Srigala tetap binatang srigala. Tidak mungkin srigala
mengikuti kehidupan manusia, tidak mungkin manusia mengikuti jejak binatang.”
Siauw Cap-it-long mengajak Sim Pek Kun ketempat tinggalnya, ia siap naik ke bangunan itu :
“Sudah lama rumah ini kutinggalkan. Tentu sangat kotor, tebal debu mungkin sampai
beberapa dim, biar kusapu dulu. Eh... kau sudah bisa berjalan seorang diri ?”
Sim Pek Kun menggerak-gerakkan kakinya, luka yang diderita telah sembuh. Ia berkata :
“Tuhan itu adil. Adil kepada srigala, dan adil pula kepada manusia. Air dari telaga rawa-rawa
tenggelam bisa menyembuhkan luka srigala, tentu saja bisa menyembuhkan luka manusia
pula. Lukaku telah sembuh.”
“Baik.” berkata Siauw Cap-it-long. “Bilamana kau hendak membersihkan diri, pergilah ke air
terjun itu. Kau bisa membersihkan pakaian dan membersihkan diri. Aku hendak menyapu
rumah, kutunggu kedatanganmu di dalam.”
Hanya kata-kata ini sudah cukup menggirangkan Sim Pek Kun.
Suara Siauw Cap-it-long adalah suara yang penuh daya tarik, tidak pernah ada satu yang tidak
memikat.
Sesudah meninggalkan pesan tadi, Siauw Cap-it-long meninggalkan Sim Pek Kun. Ia lompat
kedalam rumahnya, dengan maksud membersihkan segala apa yang sudah terbengkalai itu.
Sim Pek Kun menuju kearah air terjun, sebagai seorang wanita yang sangat menjaga
kebersihan, keadaannya sudah tidak sepadan lagi, ia harus bisa membawa diri, membersihkan
baju dan mencuci pakaian, menghilangkan lumpur-lumpur dan bau air telaga rawa-rawa
tenggelam yang berbau busuk itu.
Diantara rumah bangunan dan air terjun terdapat jarak yang cukup jauh. Disana Sim Pek Kun
bebas membuka pakaian. Menyembunyikan diri dibalik semak-semak ia membersihkan
badan.
Waktu Sim Pek Kun sering terbuang percuma. Hidupnya dengan Lian Seng Pek sering
dilanda kekosongan.
Dimasa kecilnya, sering Sim Pek Kun duduk didepan pintu. Menunggu kembalinya sepasang
orang tua yang suka mengembara.
Kedua orang tua Sim Pek Kun adalah pendekar-pendekar pengembara yang sering melakukan
kebajikan dan kebaikan-kebaikan.
Sim Pek Kun duduk didepan pintu rumah, menantikan kedatangan kedua orang itu, tentu saja
menanti-nanti didalam waktu yang sangat lama.
Seringkali, Sim Pek Kun harus menunggu sampai berhari-hari, sehingga berbulan-bulan.
Sim Pek Kun sering menantikan kehadiran sang ayah yang ramah, sang ibu yang manja.

Merangkulkan dirinya didalam rangkulan kedua orang tua itu, menerima cinta kasihnya.
Demikian tunggu menunggu, hingga terjadinya suatu hari, mulai saat itu ia tidak akan
menunggu lagi, tidak mungkin ayah dan ibunya bisa ditunggu.
Hari itu Sim Pek Kun menunggu, yang datang bukanlah kedua orang tuanya, tapi kedua peti
mati yang muncul didepannya
Kedua orang tua Sim Pek Kun yang di tunggu-tunggu itu tidak tiba, yang kunjung datang
adalah dua buah peti mati, dua buah peti mati yang berisi orang tuanya.
Mulai saat itu, Sim Pek Kun tidak pernah menunggu kembalinya kedua orang tua.
Ia mulai dewasa, tapi tetap menunggu. Kini yang ditunggu bukan kedua orang tuanya lagi,
yang ditunggu adalah sang nenek.
Setiap pagi, ia harus mengucapkan selamat pagi kepada si nenek, sesudah itu balik ke
kamarnya.
Demikian makan siang, menunggu sehingga datangnya siang, sesudah makan siang ia bisa
bertemu dengan neneknya. Menunggu lagi sehingga datangnya malam, maka ia bisa bertemu
dengan nenek itu.
Nah itulah waktunya yang paling gembira.
Sim Pek Kun duduk dipangkuan sang nenek, mendengar cerita-cerita yang aneh-aneh. Sang
nenek bercerita kepadanya, bagaimana rahasianya jarum keluarga Sim yang hebat !
Waktu malampun datang, tapi tidak terlalu lama, ia harus tidur, ia harus menunggu sehingga
keesokan malamnya.
Semakin lama, Sim Pek Kun mulai mengerti. Ia dewasa.
Apa pula yang harus ditunggu sesudah Sim Pek Kun dewasa ?
Seperti gadis-gadis lainnya, wanita itu hendak melewati jenjang perkawinan. Nasib Sim Pek
Kun lebih baik, ia mendapat seorang calon suami yang dijunjung orang. Sim Pek Kun kawin
dengan Lian Seng Pek.
Lian Seng Pek adalah seorang pemuda gagah, seorang laki-laki ideal, memiliki harta
kekayaan yang cukup banyak, ia dilengkapi dengan ilmu kepandaian silat yang tinggi.
Kedudukannyapun baik.
Siapa yang menjadi istri Lian Seng Pek, tentu merasa bahagia dan bangga.
Karena itulah, Sim Pek Kun bangga dan bahagia. Sifatnya menunggu itu tetap ada, kini sering
Sim Pek Kun menunggu tepian jendela menunggu kembalinya sang suami yang penuh
kependekaran itu.
Kadang-kadang, Lian Seng Pek pergi mengembara, seperti menunggu kembalinya kedua
orang tua dahulu. Sim Pek Kun menunggu kembalinya sang suami, sekali tunggu, berhari-hari
atau berbulan-bulan.
Bayangan kelam terpeta kembali, Sim Pek Kun takut bisa menunggu kembalinya sebuah peti
mati.
Ia paling takut akan munculnya peti mati.

Harapan itu tidak diharapkan, tapi bayangan itu tetap ada.
Kekuatan menunggu Sim Pek Kun telah terlatih lama, bagaimana rasanya menunggu orang ?
Sim Pek Kun lebih bisa meresapi hari-hari itu. Menunggu bukanlah suatu pekerjaan yang
mudah dilaksanakan.
Menunggu membutuhkan ketekunan yang luar biasa.
Sim Pek Kun sudah biasa menunggu, karena itulah, ia paling takut mendapat tugas
menunggu. Hanya, kedudukan Sim Pek Kun telah ditakdirkan untuk menunggu. Dari
menunggu sang jenazah kedua orang tua, menunggu cerita sang nenek dimalam hari,
menunggu hadirnya sang suami dan lain-lainnya.
Sekarang, Sim Pek Kun masih membersihkan diri. Pakaiannya yang basah sudah dikeringkan.
Apalagi yang ditunggu olehnya ? Hari ini ia bebas tunggu. Giliran orang yang menunggu
dirinya.
Sim Pek Kun bisa maklum, Siauw Cap-it-long sedang menunggu kembalinya.
Berapa lama ia mandi dan berganti pakaian, tidak perlu ragu. Tetap akan ditunggu oleh Siauw
Cap-it-long.
Kapan saja ia kembali, kapan saja ia mendatangi rumah didasar lembah gelap itu, disana akan
muncul seorang, disana akan ditunggu seorang. Siauw Cap-it-long tidak akan absen.
Tempat tinggal Siauw Cap-it-long bukanlah tempat yang mewah, Siauw Cap-it-long tidak
mempunyai hubungan keluarga, tapi kesannya kepada Siauw Cap-it-long sangat baik. Terasa
keadaan yang aman dan tenteram.
Sim Pek Kun tidak lagi menunggu. Tapi ditunggu.
Sim Pek Kun hidup didalam dasar lembah gelap itu bukan sebatang kara, masih ada orang
yang mengawaninya. Inilah yang menjadikan ia aman dan tenteram.
PERTEMUAN DAN PERPISAHAN
KECUALI sebuah tapang, didalam rumah itu tidak ada lain perabot, sangat kosong. Setiap
kali Siauw Cap-it-long kembali, bisa saja ia merasakan hal itu.
Semakin lama, hatinya semakin kalut.
Tentu saja Siauw Cap-it-long bisa menambah perabot rumah tangga, agar keadaan itu lebih
meriah. Tapi ia tidak melakukan hal tersebut. Karena ia tahu, penuhnya perabot rumah tangga
bukan berarti penuh isi hatinya, kekosongan hati tanpa menjadikan keserasian yang cocok. Isi
rumah yang kosong agak sesuai dengan isi hatinya yang hampa.
Kekosongan rumah itu tidak dirasakan Siauw Cap-it-long. Jarang ia kembali, tempat ini hanya
sebagai tempat istirahat. Tidak terlalu lama, sesudah itu ia berangkat lagi. Mulai dengan
petualangannya.
Karena itulah, sebuah bale2 itu cukup digunakan sebagai tempat tidur.
Sekarang, sangat dirasakan sekali, keadaan rumah seperti sediakala, tapi sangat dirasakan
kosong.
Dan menyimpang dari kebiasaan, hati yang hampa itu seperti sudah padat terisi. Kini Siauw

Cap-it-long betul2 merasa, ia masih memiliki rumah!
Untuk pertama kalinya, Lembah Gelap itu dianggap sebagai rumah.
Perasaan pulang kerumah sangat nyaman, ternyata kembali kerumah begitu bahagia.
Siauw Cap-it-long sudah selesai membersihkan isi perabot rumah tangga, yang dikatakan
perabot hanyalah bale-bale tempat tidur itu.
Kini Siauw Cap-it-long menunggu, tapi hatinya tenang, ia menunggu dengan penuh
kesabaran. Karena ia tahu, orang yang ditunggu itu tidak terlalu lama, pasti, pasti sekali, orang
yang ditunggu itu akan tiba.
Didalam satu rumah yang kosong, akan terjadi perubahan, manakala rumah itu bertambah
penghuni. Apalagi penghuni wanita.
Betapa buruknya rumah yang ditinggali oleh seorang wanita, betapa sempitnya rumah yang
ditinggali oleh seorang wanita, rumah buruk dan sempit itu tidak akan dirasakan lagi. Hanya
wanitalah yang betul2 bisa meresapi dan menghiasi serta mengurusi isi rumah.
Hanya wanita yang bisa menghangatkan badan seorang laki-laki.
Karena itulah, Tuhan menciptakan Hawa.
Laki itu bersifat malas, tidak mau mengurus rumah tangga, karena itu tanpa adanya wanita,
rumah akan dirasakan menjadi kosong.
Untuk mengisi kekosongan ini, perlu mendapatkan seorang wanita. Terlebih-lebih wanita
yang sangat dicintai.
Tidak perlu disebutkan, mengapa Siauw Cap-it-long bisa menjadi rajin, mengurus rumah
tangga.
Didalam sekejap mata, tempat itu telah bertambah dengan meja dan kursi, diatas bale-bale
juga bertambah rumput penutup agar lebih empuk.
Inilah rumahnya. Ia akan menghias, merawat rumah ini lebih sempurna.
Mulai saat itulah, Siauw Cap-it-long merasa bahwa ia telah memiliki sebuah rumah.
Sim Pek Kun tiba didalam bangunan itu sesudah Siauw Cap-it-long membersihkan sesuatu
dengan baik.
Disana telah bertambah meja, diatas meja tersedia jambangan bunga, didalam pot itu
tertancap bunga2.
Jilid 9___________________
Dikala mereka makan, disana telah tersedia piring, mangkok, cangkir. Semuanya terbuat dari
kayu
Makanan selalu tersedia, kadang kala, tersedia juga ikan kering, daging bakar, dan sayur
mayur.
yang menjadi kekurangan adalah garam. Tidak mungkin mereka bisa menemukan garam

ditempat itu.
Walau makanan itu kurang garam, tapi rasanya tetap segar.
Siaw Cap It Long memiliki sepasang tangan yang lincah, sekeping papan yang jatuh kedalam
tangannya, didalam sekejap mata bisa menjadi pot bunga yang indah, atau menjadi piring
mangkok yang cocok.
Bisa disaksikan, rumput-rumput bila dikehendaki oleh Siaw Cap It Long didalam sekejap
mata bisa menjadi makanan-makanan yang lezat.
Sim Pe Kun juga tidak ketinggalan, dengan sepasang tangannya dia juga menganyam rumput,
itulah taplak meja.
Luka mereka sembuh dengan cepat.
Tentu saja obat luka mereka adalah air telaga rawa lengket itu. Disamping pengobatan yang
sempurna, hati mereka yang girang juga menambah proses penyembuhan mereka.
Mereka hidup tenang dan bahagia
Sehingga tiba pada suatu hari , dikala Siaw Cap It Long membuka matanya, tampak Sim Pek
Kun sedang menyelimutkan rumput yang baru dibuat.
Sepasang sinar mata mereka bertumbukan. Wajah Sim Pek Kun menjadi merah,
menundukkan kepalanya, ia berkata dengan suara rendah :
“Hawa malam sangat jahat, nanti kau bisa masuk angin.”
Ternyata Siaw Cap It Long menyerahkan rumahnya kepada Sim Pek Kun. Sedangkan ia
sendiri duduk diluar rumah.
Siaw cap It Long menatap sang ratu rimba persilatan itu, tanpa sekecap kata keluar dari
mulutnya.
Kepala Sim Pek Kun ditundukkan semakin rendah, ia berkata :
“Mengapa kau tidak membangun satu rumah lagi ! mengapa kau lebih suka tidur dibawah
embun pagi dan angin malam ?.Mengapa kau menyerahkan rumah ini membiarkan aku hidup
senang, dan menyiksa dirimu sendiri ?”
Mulai dari saat itu, Siaw cap It Long semakin repot.
Dibangunan kecil yang sudah ada, terbangun lagi lain cangkrang rumah.
Seorang manusia tidak bisa mengembangkan kepintarannya, apabila tidak diliputi oleh
kesenangan-kesenangan. Kebahagiaan manusia akan mempercepat proses kehidupan.
Cepat sekali, bangunan rumah baru hampir selesai.
Satu waktu, Siaw cap It long menimba air, tiba-tiba ia melihat sim pek Kun sedang disamping
air terjun, menundukkan kepala, memandang dan memperhatikan perutnya sendiri.
Sim Pek Kun lupa, situasi apa yang mengekang dirinya ! Tidak sadar akan kedatangan Siaw
Cap It Lng.
Siaw Cap It Long mengajukan pertanyaan :

“Apa yang sedang kau pikirkan ?”
Sim Pek Kun terlompat bangun, wajahnya memperlihatkan perubahan-perubahan yang aneh.
Lama sekali, Ia menggeser pandangan matanya, dengan dipaksakan tertawa ia berkata :
“Tidak apa-apa. Tidak ada sesuatu yang kupikirkan.”
Siaw Cap It Long tidak bertanya lagi.
Pertanyaan yang sudah terlanjur dilepas keluar itu adalah pertanyaan yang kurang pantas.
Siaw cap It Long menyesal, karena ia tahu, apa artinya dari ucapan kata tidak apa-apa..
seorang wanita yang mengucapkan tidak memikirkan apa-apa, kebalikan daripada itu, terlalu
banyak yang dipikirkan. Hanya pikiran-pikiran itu tidak ingin diketahui oleh orang lain.
Tapi sangat mudah diduga, apa yang sedang dipikirkan oleh Sim PekKun.
Tentu saja Siaw cap It long bisa menduga apa yang dipikirkan oleh Sim pek Kun.
Hari berikunya, Sim pek Kun bisa menyaksikan, bagaimana bangunan baru yang akan
tumbuh disamping bangunan lama itu terbongkar kembali.
Dan kejadian berikutnya, arak, anggur yang sedang disekap itu telah kosong.
Siaw cap It long sedang bermabuk-mabukan, ia duduk dibawah pohon, mukanya merah,
menghabiskan semua arak yang ada. Semalam suntuk tidak tertidur.
Hati Sim Pek Kun seperti hendak mencelat keluar dari tempatnya, ia bisa menduga, terjadi
sesuatu yang kurang beres. mendekati Siaw Cap It Long dengan gugup ia bertanya :
“kau...kau mengapa bisa menjadi begini ? mengapa membongkar rumah yang sudah hampir
jadi.”
Tidak terjadi perubahan wajah, tanpa menoleh sama sekali, dengan tawar Siaw cap It Long
berkata "
“Karena tidak perlu ditinggali, mengapa tidak dibongkar ?”
“Eh, mengapa tidak mau ditinggali ? kau....”
“Segera akan kukosongkan tempat ini.” jawab Siaw Cap It Long singkat.
“hendak pergi ? mengapa ? ini rumahmu bukan ?” bertanya Sim Pek Kun heran.
“Aku tidak mempunyai rumah, sudah kukatakan, aku adalah anak berandalan. Paling dua
bulan kuberdiam disini. Sesudah itu, aku harus berkelana lagi. Meneruskan petualanganpetualangan
yang ditangguhkan.”
Hati Sim Pek Kun seperti ditusuk-tusuk jarum, menahan keluarnya air mata, ia bertanya :
“Betul?”
“Mengapa harus bohong ?” berkata Siaw Cap It Long
“Hari-hari yang seperti ini kulewatkan seperti tersiksa.”
“Hari yang tidak baik ?” bertanya Sim Pek Kun.

“Waktu yang dianggap baik oleh orang belum tentu dianggap baik olehku. Diantara pergaulan
kita mungkin terdapat ketidak serasian.”
Sepasang mata Sim Pek Kun sudah menjadi bentul merahm basah, Ia berkata :
“aku........”
“Kau juga sudah waktunya untuk pergi. setiap orang harus berangkat. Lambat atau cepat, kau
harus meninggalkan tempat ini bukan ?”
Sedapat mungkin Sim Pek Kun menahan jatuhnya airmata, tapi tidak bisa dibendung lagi, dua
butir cairan bening itu sudah menetes jatuh. Ia mengerti, apa yang dipikirkan oleh Siaw Cap It
Long.
“Ia betah ditempat ini.” demikian hatinya berkata.
“Mengapa harus pergi, karena dia tahu, karena aku harus meninggalkan tempat ini. Maka ia
juga meninggalkan tempat bangunannya.”
Dengan menggertek gigi, mengeraskan hati, Sim Pek Kun bertanya :
“Kapan kita berangkat ?”
“Segera berangkat.” Berkata Siaw Cap It Long
“Sekarang juga.”
“Baik.” Sim Pek Kun menganggukkan kepala.
Sesudah itu, Sim Pek Kun menoleh kearah lain, dengan hujan air mata yang deras , ia lari
ketempat rumah kayu semula. Dari dalam rumah kayu itu, masih terdengar suara isak sang
ratu rimba persilatan.
Siaw cap It Long tidak memperlihatkan perubahan-perubahan wajahnya. dengan malasmalasan
ia bangkit berdiri.
Mengajak Sim Pek Kun, Siaw Cap It Long meninggalkan lembah gelap.
Mereka keluar dari dasar lembah setelah beberapa waktu. Perubahan-perubahan iklim terjadi
secara pesat.
Angin mulai bertiup, suasana mulai diliputi oleh pemandangan sepi.
Musim dinginpun tiba.
Datangnya musim dingin itu lebih cepat beberapa waktu, jalan-jalan telah mulai memutih,
orang yang berlalu-lalang juga sedikit.
Siauw Cap-it-long memikul satu pikulan buah Lay dan buah Tho yang menjadi hasil lembah,
dibawanya ke dalam kota, dijualnya kepada orang-orang hartawan, dengan beberapa tail uang
itu, ia bisa membeli perbekalan.
Buah Lay dan buah Tho adalah buah yang termahal, apalagi harga Siauw Cap-it-long juga
agak miring, sebentar saja terjual habis. Dengan perbekalan uang itu, Siauw Cap-it-long
menyewa kereta, menyilahkan Sim Pek Kun duduk di dalamnya. Tapi ia selalu memisahkan
diri, duduk di samping sang kusir.

Penilaian Sim Pek Kun pada Siauw Cap-it-long lebih mendalam, si jago brandal Siauw Capit-
long bisa memakai uang dengan pantas, setiap uang itu didapat dengan tenaga dan keringat
yang telah diperasnya.
Bukan berarti Siauw Cap-it-long tidak pernah melakukan pembegalan dan perampokan, tetapi
setiap uang hasil pembegalan dan perampokan selalu digunakan untuk menolong orang lain.
Inilah sifat-sifat si jago brandal Siauw Cap-it-long.
Mereka meninggalkan tempat yang bisa memberi kesan dalam.
Di bawah pohon rimba gelap, jarak mereka begitu dekat, masing-masing bisa mengikuti suara
deburan napas masing-masing.
Tetapi, sesudah meninggalkan rimba itu, jarak yang dekat itu menjauh kembali.
“Mungkinkah kita hidup di dalam dua dunia yang tidak sama?” demikian hati Sim Pek Kun
berpikir.
Hujan salju turun semakin deras, terus menerus sehingga beberapa hari. Siauw Cap-it-long
dan Sim Pek Kun memasuki sebuah rumah penginapan, kecuali mereka berdua, tidak ada
tamu lainnya.
Siauw Cap-it-long meninggalkan Sim Pek Kun di rumah penginapan kecil itu, ia sendiri pergi
keluar.
Lagi-lagi Sim Pek Kun menunggu. Apa yang Sim Pek Kun sedang tunggu?
Ia harus menunggu kembalinya Siauw Cap-it-long.
Hasil apa dari penungguan baru ini?
Tentunya perpisahan. Perpisahan dari Siauw Cap-it-long yang tidak mungkin bisa dielakkan.
Menunggu itu adalah pekerjaan lama Sim Pek Kun. Lagi ia menunggu terus, menunggu terus.
Waktu berlalu.....
Tiba-tiba sebuah kereta yang agak mewah berhenti di depan rumah penginapan itu, dari sana
muncul Siauw Cap-it-long, dia berlompat turun, wajahnya pucat pasi, tapi kondisi badannya
tetap segar.
Berhari-hari Siauw Cap-it-long menyelidiki Lian Seng Pek. Tidak berhasil.
Sesudah terjadi drama penghancuran kampung Sim-kee-chung, Lian Seng Pek tidak pulang
ke rumahnya.
Lian Seng Pek telah menjelajahi setiap pelosok, tapi ia tidak menemukan jejak Sim Pek Kun.
Tidak ada orang yang tahu di mana dan bagaimana keadaan Sim Pek Kun.
Lian Seng Pek meneruskan pencarian sang istri.
Tentu saja Lian Seng Pek tidak tahu bahwa sang istripun sedang mencarinya.
Akhirnya Siauw Cap-it-long bisa mendapat berita di mana adanya Lian Seng Pek. Maka ia
menyewa kereta kembali ke rumah penginapan.

Menyongsong kedatangan Siauw Cap-it-long, Sim Pek Kun tertawa, ia berkata girang:
“Tidak kusangka, hari ini kau bisa menggunakan kereta, biasanya kau berjalan kaki saja.”
Penyambutan seorang wanita adalah menyenangkan hati, apalagi penyambutan yang begitu
meriah, penyambutan itu sangat menggirangkan.
Biasanya, bilamana Sim Pek Kun tertawa, belum pernah Siauw Cap-it-long mengelakkan
sinar matanya, hari ini terkecuali, ia tidak berani membentur sepasang sinar mata itu.
Dengan suara yang tawar dan datar, Siauw Cap-it-long berkata:
“Kereta ini kusediakan untukmu”
Lenyaplah tertawanya Sim Pek Kun, ia tertegun sebentar, berkata:
“Kereta untukku?”
Perasaan wanita itu lebih tajam dari perasaan laki-laki, menyaksikan perubahan wajah Siauw
Cap-it-long, Pek Kun telah mengetahui sesuatu menyimpang dari kebiasaan. Perlahan-lahan
wajahnya menjadi beku.
Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala, ia berkata:
“Ya. Kereta ini sengaja kusediakan untukmu. Karena kau sudah kenal baik letak keadaan
tempat ini.”
Lagi-lagi Sim Pek Kun berkerinyut, seolah-olah mendapat serangan angin jahat yang sangat
dingin, mulutnya berkemak-kemik, hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak bisa meletus
keluar.
Tangan Sim Pek Kun menjadi gemataran, ia hendak mengelakkan sesuatu, ia hendak lari dari
kenyataan, tapi tidak mungkin, tidak mungkin dielakkan, tidak mungkin menyingkir darinya.
Lama terjadi ketegangan yang seperti itu, akhirnya suara Sim Pek Kun memecah kesunyian:
“Kau.... kau sudah berhasil menemukan jejaknya?”
“Ya” berkata Siauw Cap-it-long sangat singkat.
Hanya sepatah kata itu sudah cukup untuk menelungkup sesuatu. Menelungkup jagat
kehidupan mereka.
Lagi-lagi dahi Sim Pek Kun berkerinyit, hatinya terasa sangat pedih.
Sim Pek Kun mempunyai kepribadian dan pendidikan yang cukup, ia tahu, sikap apa yang
harus diperlihatkan seorang wanita yang mempunyai pendidikan sepertinya, seorang wanita
yang mempunyai pendidikan sempurna akan bergirang, bila mendapat berita tentang jejak
sang suami yang terpisah.
Sayang sekali, bagaimanapun, ia tidak bisa memaksakan rasa girang itu.
Lama sekali waktu telah dilewatkan, dengan suara perlahan Sim Pek Kun bertanya:
“Di mana dia berada?”

“Kusir kereta di depan pintu itu bisa mengetahui, di mana dia berada.” jawab Siauw Cap-itlong,
“Dia bisa membawamu ke sana.”
“Terima kasih.”
Suara terima kasih Sim Pek Kun seolah-olah datang dari tempat yang jauh, Sim Pek Kun
sendiri juga tentu tidak percaya bahwa ucapan tadi keluar dari mulutnya, suara itu begitu
asing, seolah-olah bicara kepada orang yang tidak dikenal.
Tentu saja Sim Pek Kun tahu, wajahnya memperlihatkan perasaan girang. Dan perasaan
girang itu beku dan kaku seolah-olah wajah orang yang guram.
Siauw Cap-it-long berkata:
“Sama-sama. Inilah kewajiban kita sebagai umat manusia, wajib saling bantu membantu.”
Suaranya sangat dingin dan ketus. Perubahan wajah juga dingin dan kecut.
Begitu pulakah hati mereka?
Hanya kedua orang yang bersangkutan yang bisa mengetahuinya.
Sim Pek Kun berkata lagi:
“Kau sudah menyuruh kereta menunggu, bukan?”
“Ya” jawab Siauw Cap-it-long “Waktu masih terlalu pagi. Kau harus melakukan perjalanan
yang sangat jauh. Kau harus bersiap-siap, kukira berangkat siang sedikit.”
Memperlihatkan senyuman yang agak aneh, Siauw Cap-it-long menyambung pembicaraan:
“Dan aku tahu, kau sudah sangat ingin bertemu dengannya. Bergegas-gegas hendak
berangkat.”
Perlahan sekali Sim Pek Kun menganggukkan kepala dan berkata:
“Betul, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Ingin sekali bisa cepat bertemu.”
“Nah,” berkata Siauw Cap-it-long “Kau tidak mempunyai perbekalan, baik berangkat
sekarang sajalah.”
Percakapan kedua orang itu sangat perlahan, sangat tenang. Tapi mereka harus menggunakan
kekuatan yang berat untuk bisa melepaskannya.
Inikah suara hati nurani masing-masing! Suara hati nurani mereka tersimpan di dalam, berapa
orang yang bernai mengutarakan suara hati nurani yang seperti itu?
Takdir telah menyamprokkan Siauw Cap-it-long dengan Sim Pek Kun, mengapa tidak bisa
menyembunyikan hati masing-masing? Mengapa harus saling tipu menipu, harus saling
menyakiti hati?
Siauw Cap-it-long membalikkan badan, memandang ke arah samping, dari sana ia berkata:
“Selamat jalan. Tentunya kau sudah ingin cepat-cepat berangkat.”
“Selamat jalan.” berkata Sim Pek Kun “Kau juga ingin pergi.”

“Ya. Setiap orang yang masih hidup itu kerjanya hanya berpergian.”
Sim Pek Kun menggigit bibir, Kembali ia berkata :
“Aku hendak menjamu perpisahan ini, bersediakah kau menerima jamuanku ?”
“Katakan saja kita makan minum bersama.”
Sim Pek Kun memanggil pelayan rumah makan, memesan makanan dan minuman.
Sim Pek Kun membuat perjamuan perpisahan.
MENANGIS DI HATI
SIM PEK KUN membuat jamuan perpisahan. Siauw Cap It-long tidak menolak. Inilah
pertemuan mereka yang terakhir, mungkin bisa berjumpa lagi, mungkin juga tidak.
Siauw Cap It-long memandang Sim Pek Kun beberapa lama, ia bertanya :
“Perjamuan ini ..... "
Sim Pek Kun menganggukkan kepala, ia tertawa berkata : “Aku tahu. Kantongku sudah tidak
ada uang lagi. Tapi benda ini bisa cukup untuk melunasi rekening makanan dan minuman
bukan?”
Dari atas rambutnya, Sim Pek Kun menurunkan tusuk konde kumala.
Tusuk konde kumala itu adalah benda yang berharga, bukan saja berharga, benda itu
menandakan dan melambangkan perkawinan Sim Pek Kun dan Lian Seng Pek.
Tusuk konde kumala adalah hadiah pemberian sang suami, dikala hari pernikahan mereka,
dengan tangan sendiri Lian Seng Pek meletakan diantara sela2 sanggul rambut Sim Pek Kun.
Biar bagaimanapun, Sim Pek Kun tidak mengerti, bagaimana ia bisa mengorbankan lambang
perkawinan itu.
Tanpa sayang sama sekali, Sim Pek Kun bersedia mengorbankan lambang perkawinannya. Ia
akan puas, bilamana bisa makan dan minum beserta Siauw Tjap-it-long bersama2 membikin
perjamuan terakhir.
Pengorbanan2 Siauw Tjap-it-long terlalu besar. Inilah pengorbanan tusuk konde kumala,
hanya satu kali pengorbanan, Sim Pek Kun hendak membalas pengorbanan2 jago berandalan.
Kecuali pengorbanan ini, tidak mungkin Sim Pek Kun membuat pengorbanan lain aja.
Pelayan rumah penginapan sudah menyediakan arak dan barang makanan.
Menuangkan arak itu kecawan Siauw Tjap-it-long, Sim Pek Kun berkata:
“Demi persahabatan, keringkanlah secawan arak ini.”
Siauw Tjap-it-long menerima pemberian arak, ia menenggak seceguk, dan berkata:
“Kau tahu, hobbyku adalah meminum arak. Belum pernah aku menolak pemberian arak.”
Siauw Tjap-it-long menghabiskan semua arak yang tersedia.

Pelayan rumah makan membawakan arak lagi.
Tangan Siauw Tjap-it-long bergerak cepat. Secawan demi secawan, ia mengeringkan semua
persediaan.
Siauw Tjap-it-long berharap, walau ia tidak mabuk, bisa saja berpura2 mabuk.
Yang terakhir, Siauw Tjap-it-long sendiripun tidak tahu, betulkah dia sudah mabuk? Betul2
mabok atau pura2 mabok?
Siauw Tjap-it-long mendengungkan lagunya tanpa nama, lagu yang sangat menyedihkan itu.
Jarang sekali ada orang mabok yang bisa melagukan suara.
Lagu ini adalah lagu kesenangan Siauw Tjap-it-long, lagu dengungan kesepian dan dendang
kesengsaraan.
Lagu yang sudah sering didengar oleh Sim Pek Kun.
Kini, lagu itu seperti lagu baru, meresapi dan menyelubungi hati Sim Pek Kun. Dia juga
menenggak arak. Seorang wanita yang terhormat jarang meminum arak, hanya beberapa
tegukan saja, Sim Pek Kun sudah mulai menjadi mabuk.
Biar bagaimana, Sim Pek kun pernah berpesan kepada diri sendiri, ia tidak boleh jatuh
ditempat itu.
Tangan Siauw Tjap-it-long masih mengambil dan menuang araknya.
Sesudah itu Siauw Tjap-it-long mendengungkan lagu tanpa nama, lagu kesedihan.
Tidak bisa ditahan, Sim Pek Kun bertanya:
“Lagu ini sudah kudengar sehingga puluhan kali. Lagu apakah?”
“Kudapat lagu ini dari seorang pengembala diluar perbatasan.” berkata Siauw Tjap-it-long
“Lagu yang tidak mudah diresapi, kalau kau sudah mengerti cerita yang terdapat didalam lagu
ini, kukira tidak mungkin kau mau mendengarnya lagi.”
“Mengapa?” bertanya Sim Pek Kun.
Wajah Siauw Tjap-it-long memperlihatkan sikap yang mengejek, ia berkata:
“Arti dari lagu ini adalah lagu picisan, tidak mungkin bisa diterima kaum sebangsa kalian.”
Sim Pek Kun menundukkan kepala ketanah.
“Ceritakanlah” Ia berkata “Ceritakan arti dari lagu2mu itu.”
“Dengar baik2” berkata Siauw Tjap-it-long “Arti lagu dari kata2 ini kira2 ceritanya seperti
ini: Manusia itu kasihan kepada kambing, tapi tidak pernah ada yang kasihan kepada seekor
srigala. Pernah diceritakan srigala itu adalah binatang ganas, binatang pengrusak yang sering
merusak kambing2 pengembala. Rasa sepi seekor srogala tidak diketahui. Rasa sepi dan
menyendiri srigala tidak pernah diresapi oleh manusia, srigala lapar, ia makan kambing,
kambing lapar oa makan rumput. Karena rumput itu tidak dipentingkan oleh manusia, maka
kambing tidak dicela. Sebaliknya daripada itu, kambing itu dibutuhkan oleh manusia, maka

srigala dicela. Inilah lagu kesengsaraan srigala.”
Semakin lama, cerita Siauw Tjap-it-long semakin keras.
Setelah mendengar semua, tiba2 Sim Pek Kun berkata:
“Hei, dimisalkan kau terlunta2 disebuah padang rumput yang luas, terjadi hujan es, menutupi
seluruh bumi. Berhari2 kau tidak mendapat makanan, dimisalkan kau bertemu dengan seekor
kambing, bisakah kau terkam kambing itu?”
Siauw Tjap-it-long mendongakkan kepala sepasang matanya yang liar menatap wanita cantik
didepannya, mata itu redup kembali, manakala ia teringat bahwa Sim Pek Kun adalah milik
Lian Seng Pek, milik yang sah dari jago ksatria.
Beberapa cawan arak lagi ditenggak olehnya. Akhirnya Siauw Tjap-it-long betul2 jatuh
rubuh. Ia mabuk. Tengkurep dimeja dan menggeros2.
“Pergilah!” Inilah suara yang terakhir dari Siauw Tjap-it-long. Sesudah itu, ia tidak sadarkan
diri.
Belum pernah hati Sim Pek Kun menjadi kalut seperti apa yang kini ia rasakan.
Seharusnya ia bergembira, karena tidak lama lagi ia bisa menjumpai sang suami yang tercinta.
Mulai saat itu, segala godaan2 ini dan ketegangan2 tidak akan dialami lagi ia akan hidup
tenang, hidup tenang disamping suaminya.
Walau suami itu sering berpergian, ketenangan tidak mungkin terganggu. Walau ia harus
menunggu, menunggu adalah pekerjaan lama. Tugas yang sudah biasa dilakukan olehnya.
Air mata Sim Pek Kun meleleh keluar, ia menyusutnya cepat2.
Didalam hati Sim Pek Kun berpikir:
“Apabila Siauw Tjap-it-long menarik tanganku, agar aku tidak menjumpai Lian Seng Pek,
bisakah kuterima saran ini?”
Sim Pek Kun bergidik dingin, bilamana terpikir lanjutan apa yang sedang dipikirkan olehnya.
Sim Pek Kun harus bisa melenyapkan jasa2 Siauw Tjap-it-long. Ia harus menguatkan hati,
meninggalkan sang jago berandalan yang telah terkapar mabok.
Mulai saat ini, ia harus mendampingi Lian Seng Pek. Ia harus menjadi seorang istri yang
tercinta, ia sangat setia.
Pemilik rumah makan menyodorkan rekening makanan. Sim Pek Kun menyerahkan tusuk
konde kumalanya.
Sim Pek Kun meninggalkan rumah penginapan itu, memanggil kereta yang sudah tersedia.
Ia akan kembali kedunianya, dunia manusia beradab. Ia harus meninggalkan dunia Siauw
Tjap-it-long, dunia srigala yang kesepian.
Ketoprak.... ketoprak.... ketoprak.....
Kereta yang membawa Sim Pek Kun meluncur pergi.

Terbayang satu pekarangan yang sepi, pekarangan yang luas. Itulah pekarangan keluarga Lian
Seng Pek.
Lian Seng Pek tinggal ditempat yang seperti itu. Tempat suatu rumah penginapan.
Kusir kereta yang sudah mendapat pesan Siauw Tjap-it-long, membawa Sim Pek Kun
ketempat tinggal Lian Seng Pek.
Kehadiran sang ratu rimba persilatan mengejutkan pelayan rumah penginapan, hanya seorang
diri? Tanpa kawalan?
Lian Seng Pek menggunakan kamar divilla bagian barat.
Disana terdapat tangga batu, hanya memudahkan. Walau begitu, langkah Sim Pek Kun
dirasakan sangat berat. Entah bagaiamana, ia tidak bisa menaiki tangga batu itu.
Perasaan takut mengekang dirinya. Takut bertemu dengan suami yang sudah lama
ditinggalkan.
Yang paling ditakuti Sim Pek Kun adalah pertanyaan Lian Seng Pek yang seakan2 berkata:
“Dimana kau tinggal selama beberapa hari ini?”
Sim Pek Kun masih berdiri ditangga batu.
Tiba2, dari dalam villa barat terdengar satu suara yang membentak keras:
“Siapa yang didepan?”
Suara bentakan itu sangat keras, cukup agung, sangat hormat dan sopan.
Itulah suara Lian Seng Pek. Didalam dunia tidak mungkin ada suara yang bisa menyamai
suara Lian Seng Pek.
Didalam sekejap mata, Sim Pek Kun bisa kembali kepada kenang2annya yang lama.
Ia seharusnya bergerak cepat, menerjang dan memasuki ruangan itu atau menubruk Lian Seng
Pek, setidak2nya, dia akan menangis didalam pelukan sang suami.
Tapi Sim Pek Kun tidak mengerjakan pekerjaan yang seperti itu. Ia bisa maklum perangai
Lian Seng Pek, Lian Seng Pek tidak butuh kepada seseorang yang cepat mengalami getaran
jiwa.
Perlahan2, Sim Pek Kun mendaki tangga batu itu. Pintu terbuka, disana berdiri seorang laki2
cakap dan tampan, itulah Lian Seng Pek.
Selama dua bulan ini, Lian Seng Pek mencari jejak Sim Pek Kun. Tapi tidak berhasil, gundah
gulana, sengsara, perasaan seribu satu macam yang lainnya mengekang dirinya.
Kini, secara ajaib sekali, sang istri muncul didepan mata, sinar matanya berkilat sebentar,
sesudah itu redup kembali. Tanpa memperlihatkan rasa girangnya yang tidak kelihatan
mereka hanya berpandang2an.
“Kau sudah kembali?” suara Lian Seng Pek sangat tenang. Sim Pek Kun menganggukan
kepala perlahan, dengan suaranya yang sangat mesra berkata:
“Ya, aku sudah kembali.”

Hanya kata kata itu yang mereka ucapkan. Terlalu singkat.
Suara itu sudah cukup menenangkan hati Sim Pek Kun yang bergejolak keras, ternyata
pertanyaan dimana ia berada tidak tercetus keluar.
Ia sudah biasa dengan penghidupan2 yang tenang, kini harus kembali kepada kehidupan lama.
Apa yang Sim Pek Kun tidak ingin keluarkan, pasti tidak diajukan oleh Lian Seng Pek.
Didalam dunia Sim Pek Kun, hubungan manusia itu adalah hubungan biasa. Harus
diperhatikan jarak2 tertentu.
Walau hidup mereka sebagai suami istri, jarak pemisah yang ditentukan itu, tetap ada.
Lian Seng Pek mengajak sang istri memasuki kamarnya.
Lampu didalam kamar Lian Seng Pek terang benderang, berkumpul banyak orang.
Disana bercokol duduk tokoh2 rimba persilatan ternama, Thio Bu Kek, Hay Leng Tju, To
Siao Thian dan lain2nya.
Tokoh2 silat yang berkumpul didalam kamar Lian Seng Pek adalah kawan2 baik Lian Seng
Pek, rata2 didalam hati mereka berpikir:
“Istrinya yang lenyap kini sudah pulang. Tapi orang yang menjadi suaminya tidak bertanya,
kemana kepergian dan bagaimana penghidupan sang istri selama dua bulan itu? Apa yang
dikerjakan oleh sang istri? Anehnya, istrinya pun tidak cerita dimana ia selama dua bulan itu,
apa saha yang dikerjakannya? Suami aneh sang istripun aneh.”
Hay Leng Tju sekalian menganggap mereka bertemu dengan sepasang suami istri aneh.
Sim Pek Kun duduk dan turut serta diantara mereka.
Di meja terdapat juga minuman2 keras. Inilah yang mengherankan Sim Pek Kun. Seperti apa
ia ketahui, sesudah pernikahan mereka, Sim Pek Kun jarang melihat Lian Seng Pek
menenggak arak. Tapi disini dan ditempat ini Lian Seng Pek minum arak.
Tentu saja, sebagai seorang wanita yang mempunyai kedudukan bagus, seorang wanita yang
berhati tulus, Sim Pek Kun tidak bertanya, mengapa sang suami mengajak kawan2nya
meminum arak dan berpesta pora.
Dari perobahan2 wajah Sim Pek Kun, dan kejadian2 yang ada ditempat itu, Lian Seng Pek
wajib memberi penjelasan, ia tertawa kepada sang istri dan berkata:
“Sebelum kau kembali, kami sedang menghadapi sesuatu soal yang sangat penting.”
Untuk memberi keterangan yang lebih jelas, Thio Bu Kek juga turut memberi keterangan:
“Hujin bisa maklum kepada kerakusan laki2. Biar bagaimana, bilamana kami menghadapi
sesuatu, agak lama, bila disertai dengan makanan, terlebih2 minuman keras, kita bisa
memecahkan persoalan itu lebih cepat.”
Hujin berarti nyonya!
Sim Pek Kun menganggukkan kepala, tertawa manis, ia berkata:

“Aku tahu.”
Maka biji mata Thio Bu Kek berputar, memandang ke arah Sim Pek Kun dan bertanya:
“Tahukah hujin, perkara apa yang kami sedang rundingkan?”
Sim Pek Kun bergoyang kepala, tertawa manis:
“Bagaimana aku bisa tahu?
Sedari kecil, Sim Pek Kun mendapat didikan baik. Seseorang wanita yang hendak
mempercayakan dirinya sebagai seorang istri yang baik, seorang wanita yang hendak
mendapat pujian baik, ia harus bersikap ramah dan tamah, selalu harus tertawa manis.
Tentu saja, karena harus membawakan posisi sikap tertawa manis itu, kedua pipinya bisa
membeku.
Thio Bu Kek berkata:
“Pada sepuluh hari yang lalu, disini terjadi sesuatu yang menggemparkan. Maka kami
mengundang Lian Seng Pek kongcu dan kawan2 ini.”
Thio Bu Kek menunjuk kearah orang yang tidak jauh duduk darinya, itulah Hay Leng Tju, To
Siao Thian dan pemimpin dari 73 perusahaan piauwkiok Suto Tiong Peng.
“Oh?” Sim Pek Kun berkata perlahan “Apa yang sudah terjadi?”
Sim Pek Kun tidak bermaksud untuk mengajukan pertanyaan. Tetapi kadang kala tidak
mengajukan pertanyaan itu, berarti sesuatu cara yang kurang hormat. Karena tidak mau tahu
dengan soal2, meremehkan urusan kawan2 suaminya. Ini tidak patut, sebagai seorang istri
terhormat, ia wajib bertanya. Bertanya berartikan sesuatu, memperhatikan keadaan sang
suami dan kawan kawannya.
Kesannya kepada Thio Bu Kek tidak begitu baik. Tapi Thio Bu Kek membalik pula karena itu
iapun bertanya:
“Tentang persoalan seorang tokoh muda yang pandai bicara.”
Sim Pek Kun bertanya lagi:
“Seseorang yang pandai bicara, belum tentu memiliki kepribadian baik, bagaimana keadaan
tokoh muda itu?”
Thio Bu Kek menjawab:
“Tokoh muda kenamaan ini namanya Thio Sam Ya, pernahkah hujin dengar nama ini?”
Sim Pek Kun tertawa manis, ia memberi jawaban:
“Tokoh2 yang kukenal sedikit sekali.”
Artinya: Dia tidak kenal Thio Sam Ya.
Thio Bu Kek berkata:

“Jago Thio Sam Ya ini memiliki kekayaan yang tidak sedikit, sikapnya ramah tamah. Sering
membantu orang, ia tinggal di kampung Thio-tju-tjhung, pada sepuluh hari yang lalu, tanpa
hujam tanpa angin, tanpa sebab musabab, Thio Sam Ya dibunuh orang. Pemimpin kampung
Thio-tju-tjhung mati dibunuh orang, seluruh isi kampung Thio-tju-tjhung tidak luput dari
pembunuhan pembunuhan........”
Sim Pek Kun membuka mulutnya ia bertanya: “Oh. Siapakah yang begitu kejam, membunuh
seluruh isi kampung.”
Thio Bu Kek berkata :
“Tentu saja si kepala rampok Siauw Cap-it-long !”
Hati Sim Pek Kun dirasakan mencelat keluar, selama dua bulan terakhir ia mendampingi
Siauw Cap-it-long. Mana bisa terjadi kejadian yang seperti itu ?
“Siauw Cap-it-long ?!” Sim Pek Kun berteriak kaget.
“Tepat !” berseru Thio Bu Kek. “Kecuali Siauw Cap-it-long, mungkinkah ada tokoh kedua ?
Siapa lagi yang bisa memiliki kekejaman seperti Siauw Cap-it-long ?”
Sim Pek Kun berusaha menguasai gejolak hatinya, ia bertanya :
“Seluruh isi kampung dibunuh mati ?”
“Tidak seorangpun yang bisa mempertahankan jiwanya.” jawab Thio Bu Kek.
“Tidak seorangpun yang bisa mempertahankan jiwanya ? Dari mana kau tahu bahwa seluruh
isi kampung Thio-kee-chung dihancurkan oleh Siauw Cap-it-long ?” bertanya Sim Pek Kun
Thio Bu Kek berkata :
“Siauw Cap-it-long adalah tokoh yang sangat kejam, memiliki sifat-sifat congkak dan
sombong, sangat angkuh. Setiap kali membunuh orang, tentu menuliskan nama sendiri.
Demikian juga didalam kampung Thio-kee-chung, sesudah membunuh mati semua orang
yang ada, ia menulis : Orang yang menghancurkan kampung Thio-kee-chung adalah aku,
Siauw Cap-it-long.”
Deburan darah panas yang ditekan tidak bisa dikuasai lagi, tanpa bisa ditahan Sim Pek Kun
berteriak :
“Tidak mungkin ! Tidak mungkin ! Orang yang membunuh dan menghancurkan kampung
Thio-kee-chung bukanlah Siauw Cap-it-long, jangan memfitnah ! Siauw Cap-it-long tidak
boleh dijadikan kambing hitam. Siauw Cap-it-long tidak seperti apa yang kalian duga, ia tidak
kejam dan juga tidak jahat.”
Wajah Thio Bu Kek berubah, ia memaksakan diri tertawa dan berkata :
“Hujin memiliki sifat yang baik, tentu saja menganggap semua orang itu baik.”
Thio Bu Kek sepasang alisnya dikarutkan, ia memandang Sim Pek Kun, tiba-tiba ia
mengajukan pertanyaan :
“Bagaimana Hujin tahu, bahwa hancurnya Thio-kee-chung bukan perbuatan Siauw Cap-itlong
?”

Tubuh Sim Pek Kun gemetaran, ia muak kepada orang orang yang berada di depannya, ia
hendak lari meninggalkan mereka, meninggalkan pergaulan yang memuakkan itu. Ia benci
kepada mereka. Bosan kepada percakapan mereka.
Tentu saja ia tidak bisa meninggalkan mereka begitu saja. Ia harus berani bicara. Bukan sekali
ia menerima budi Siauw Cap-it-long, sudah waktunya membalas budi Siauw Cap-it-long itu,
ia tidak bisa membiarkan seorang tokoh yang baik hati dijadikan kambing hitam. Ia tidak
membiarkan terjadi fitnah-fitnah jahat. Karena itu, sepatah demi sepatah, ia berkata tegas :
“Ku berani jamin, Siauw Cap-it-long tidak membunuh orang. Karena.... selama dua bulan
terakhir, belum pernah ia terpisah dari diriku.”
Adanya keterangan yang seperti itu, tentu saja mengejutkan semua orang !
Seorang nyonya agung yang ternama mendampingi seorang jago berandalan.
Wajah orang-orang yang berada ditempat itu membeku, semua terarah ketempat Sim Pek
Kun.
Tidak pernah diduga, Sim Pek Kun bisa menilai isi hati orang-orang itu, apa yang diminta
mereka, tentu mengenai Siauw Cap-it-long.
Tapi Sim Pek Kun tidak menyesal atas kata-kata yang diucapkannya tadi. Sudah waktunya ia
membersihkan fitnah-fitnah atas diri Siauw Cap-it-long.
Ia berani mengucapkan kata-kata tadi karena bertanggung jawab penuh kepada keselamatan
Siauw Cap-it-long. Tentunya Sim Pek Kun sudah bersedia menanggung akibat dari
keterangan tadi. Lama sekali mereka saling pandang, akhirnya Lian Seng Pek yang
memecahkan kesunyian itu, ia berkata :
“Kukira kita salah menerima keterangan, aku percaya keterangan Sim Pek Kun, orang itu
yang membohongi kita.”
Suara Lian Seng Pek sabar dan tenang, memperlihatkan sifat seorang suami yang mencinta.
To Siao Thian perlahan-lahan mengangkat tangan, ia bergumam :
“Oh.... fitnah kepada Siauw Cap-it-long.”
Thio Bu Kek juga tidak henti-hentinya tersenyum tertawa, tiba-tiba ia bangkit dari tempat
duduk, berkata :
“Hujin tentu telah melakukan perjalanan jauh, tentunya lelah. Baiklah, kami meminta diri.
Lain kali saja meneruskan perjamuan ini.” Sikap Hay-leng-cu tidak simpatik lagi, ia memberi
hormat panjang, meninggalkan ruangan itu.
Thio Bu Kek, To Siao Thian, dan Hay-leng-cu sudah berangkat keluar.
Giliran Lie Kang yang bangkit dari tempat duduknya, ia sudah memberi hormat kepada Lian
Seng Pek dan bersedia mengakhiri perjamuan. Hanya seorang Suto Tiong Peng saja yang
diam membeku di tempat duduk. Menyaksikan Lie Kang hendak berangkat, tiba-tiba ia
berkata :
“Saudara Lie Kang, tunggu dulu !”
Lie Kang hendak meninggalkan tempat itu, mendapat tegoran Suto Tiong Peng akhirnya ia

berkata :
Dengan perlahan-lahan Suto Tiong Peng pun berkata :
“Penghancuran kampung Sim cu chung bukan perbuatan Siauw Cap-it-long. Pasti bukan
perbuatan Siauw Cap-it-long! Di dalam soal lain, mungkin Siauw Cap-it-long itu bisa saja
melakukan sesuatu. Tapi, tidak mungkin Siauw Cap-it-long datang ke kampung ini
menghancurkan dan membunuh kampung Thio-cu-chung. Ia telah difitnah orang.”
Kata-kata Suto Tiong Peng sangat masuk ke dalam telinga Sim Pek Kun, ia sangat berterima
kasih.
Kedudukan Suto Tiong Peng sebagai pemimpin dari 72 perusahaan piauwkiok, tentu saja
mempunyai hak suara yang besar.
Asal usulnya Suto Tiong Peng hanya sebagai seorang tukang kentongan dari piauwkiok tidak
ternama, karena kejernihan otaknyalah, karena kepintarannya ia bisa merambat naik. Menjadi
pemimpin piauwkiok itu, akhirnya terpilih menjadi pemimpin dari 72 perusahaan piauwkiok.
Kedudukan itu tidak mudah dicapai.
Sikapnya Suto Tiong Peng sangat berhati-hati, jarang membuka mulut. Sebagai ketua dari 72
perusahaan piauwkiok Suto Tiong Peng sangat berhati-hati, apa yang dikatakannya jarang
sekali bisa dibantah.
Demikian juga apa yang baru dikatakan sebagai kedudukan Suto Tiong Peng yang begitu
tinggi, Lie Kang tidak bisa membantah.
memandang kearah Lie Kang yang tidak puas, Suto Tiong Peng berkata :
“Sebagai pendekar-pendekar pembela keadilan dan kebenaran, kita tidak bisa mengabaikan
adanya motto dan semboyan, lebih baik kita lepas tangan, jangan memfitnah Siauw Cap-itlong!”
Lie Kang tidak bisa memdebat.
Suto Tiong Peng berkata lagi : “Fitnah lebih jahat dari pada pembunuhan, Siauw Cap-it-long
difitnah orang, tapi kita tidak boleh sembarang percaya. Bagaimana rasanya seorang terfitnah
? Tentu bisa dimaklumi. Lebih sengsara dan lebih penasaran.”
Sim Pek Kun mendengar dengan penuh perhatian, selama hidupnya, belum pernah memuji
seseorang, didalam hal ini ia harus memuji Suto Tiong Peng.
Suto Tiong Peng tidak memiliki keluar biasaan yang aneh, wajahnya acuh tak acuh, kepalanya
sedikit botak, botak itu mengkilap, suatu tanda bahwa ia memiliki otak profesor.
Didalam keadaan seperti ini, jiwa besar Suto Tiong Peng terpeta jelas, Sim Pek Kun sangat
berterima kasih, hampir ia hendak mencium kepala botak yang seperti kepala profesor itu.
MUSUH MUSUH SIAUW CAP-IT-LONG
Suto Tiong Peng masih memberi kuliah, ia berkata :
“Bilamana Siauw Cap-it-long tidak memiliki kepribadian yang begitu buruk, bilamana bukan
Siauw Cap-it-long yang melakukan pembunuhan pembunuhan itu, itulah suatu fitnah. Kita
tidak bisa membiarkan terjadi fitnah-fitnah. Kita bukan seorang ahli kambing hitam. Kita
wajib membikin pembelaan, membersihkan fitnah fitnah yang jatuh kepadanya. Siauw Cap-itKoleksi
Kang Zusi
long betul-betul seorang yang baik.”
Menoleh dan memandang kearah Sim Pek Kun, dengan perlahan Suto Tiong Peng berkata :
“Tapi hati manusia sukar diterka, baik dan jahatnya kepribadian orang itu, belum tentu bisa
dinilai dalam waktu yang sangat sempit. Apalagi hanya dua bulan saja.”
Dengan tegas Sim Pek Kun berkata :
“Aku berani menjamin kebaikan Siauw Cap-it-long. Tidak mungkin Siauw Cap-it-long
melakukan perbuatan-perbuatan yang seperti itu.”
“Sangat pasti ?”
Sim Pek Kun menundukkan kepala kebawah perlahan-lahan memberikan keterangannya :
“Selama dua bulan hidup bersama dengannya, aku bisa menilai kepribadian Siauw Cap-itlong.
Terlebih-lebih, beberapa kali ia telah menolong diriku. Apa yang diminta dariku ?....
Tidak. Ia tidak pernah meminta sesuatu pembalasan. Begitu ia tahu kalian berada disini,
segera ia mengantar aku.”
Bicara sampai disini, suara Sim Pek Kun sudah tersendat, ia menangis. Tidak bisa
melanjutkan keterangannya.
“Ouw....” berkata Suto Tiong Peng. “Hujin wajib membuat pembelaan.”
“Tentu.” berkata Sim Pek Kun menggigit bibir. “Budinya itu tidak bisa terbalas tanpa
bantuan-bantuanku.”
“Sudah lamakah hujin berpisah dengan Siauw Cap-it-long ?” bertanya Suto Tiong Peng.
“Belum lama.” berkata Sim Pek Kun “Baru tadi pagi.”
“Ouw ?” bertanya Suto Tiong Peng “Tentunya masih berada disekitar daerah ini.”
“Ng......” Sim Pek Kun menganggukkan kepala.
“Menurut hematku.” berkata Suto Tiong Peng, “Baik juga mengundang Siauw Cap-it-long
turut serta. Agar kita bisa lebih mempercayainya. Lebih mengenalnya secara dekat.”
“Bilamana kalian sudah bertemu muka.” berkata Sim Pek Kun lama. “Pasti bisa percaya
kepadanya.”
“Nama Siauw Cap it long berdengung bagaikan nama yang hebat. Tapi, berapa orang yang
pernah bertemu dengan Siauw Cap-it-long. Terlalu sedikit sekali. Kita gembira bila bisa
bertemu dengan Siauw Cap-it-long.”
Sim Pek Kun mengerutkan alisnya, ia berkata : “Kukira tidak bisa menemukannya hari ini.”
“Mengapa ?” bertanya Suto Tiong Peng heran.
“Karena.....karena.... pada hari ini ia sudah mabok, Siauw Cap-it-long mabuk dan lupa
daratan.”
Suto Tiong Peng bertanya :
“Dia sedang mabuk. Dia suka mabuk-mabukan?”

“Kadang kala juga dia mabuk.” jawab Sim Pek Kun.
Suto Tiong Peng tertawa, ia berkata :
“Seseorang yang suka mabuk, tentu memiliki kekuatan minum yang hebat, dan juga orang ini
pasti orang yang jujur. Lain kali aku ingin sekali bisa minum bersama-samanya.”
“Cong piauw tiauw memiliki kekuatan minum yang kuat. Tapi kulihat kekuatan minumnya
lebih hebat darimu.”
“Oh.” berkata Suto Tiong Peng. “Berapa banyakkah arak yang diminum?”
“Paling sedikit juga ada sepuluh kati.”
“Hebat.” berkata Suto Tiong Peng. “Bisa minum arak sehingga sampai sepuluh kati, baru
jatuh mabuk, jago ini bukan jago biasa lagi.”
“Sebetulnya,” berkata Sim Pek Kun. “Hari-hari biasa, belum tentu ia bisa mabok. Ia adalah
seorang jago arak juga.”
“Dimana Siauw Cap-it-long mabok?”
“Disebuah rumah penginapan kecil diluar kota.” berkata Sim Pek Kun
“Disebut jago arak, timbul niatanku untuk minum lagi, eh, saudara Lie Kang, bersediakah kau
mengawasi aku berpesta pora mengadu minum arak ?”
“Tentu.” berteriak Lie Kang girang. Ia sudah mendapat berita penting. Ternyata Siauw Cap-itlong
berada disebuah rumah penginapan kecil diluar kota. Tidak sulit untuk ditemukan.
Suto Tiong Peng dan Lie Kang minta diri, meninggalkan Lian Seng Pek.
Pesta bubaran.
Lampu berkelap-kelip, menerangi wajah Sim Pek Kun yang Cakap.
Suasana itu begitu sepi dan sunyi.
Sim Pek Kun mengangkat cawan arak, tetapi diletakkannya kembali, tertawa dan berkata :
“Aku hari ini sudah minum arak. Tidak berani minum lagi.”
Lian Seng Pek berkata : “Aku juga menenggak sedikit. Untuk menghilangkan hawa dingin.
Apalagi dimusim seperti ini, meminum sedikit arak tidaklah terlalu banyak.”
Sim Pek Kun memandang kearah sang suami dan bertanya :
“Kau sudah menjadi mabok ?”
“Seorang jago arak, meminum terlalu banyak kukira baru cukup.” berkata Lian Seng Pek.
“Aku baru minum sedikit, mana mungkin menjadi mabok.”
“Betul.” berkata Sim Pek Kun. “Kita bukan jago-jago arak. Ku tidak berani minum terlalu
banyak.”
“Tapi kalau kau masih belum puas, aku bersedia mengawanimu.” berkata Lian Seng Pek.

“Aku tahu.” berkata Sim Pek Kun. “Segala perintahmu pasti ku taati.”
Lian Seng Pek menuangkan arak secawan penuh, diserahkan kepada sang istri dan berkata :
“Sayang sekali waktuku sedikit. Maka tidak bisa mendampingimu selalu. Tentunya tidak
patut terjadi kejadian yang seperti ini.”
Sim Pek Kun menundukkan kepala, lama sekali mereka tidak bicara, sesudah itu memandang
sang suami ia bertanya :
“Tahukah kau, apa yang terjadi atas diriku selama dua bulan terakhir ini?”
“Aku.......” Lian Seng Pek memandang isteri itu, “Sedikit banyak sudah kuketahui, tapi
kurang jelas.”
“Mengapa kau tidak mengajukan pertanyaan?” bertanya Sim Pek Kun.
“Keterangan yang kau sudah berikan itu sudah cukup.” berkata Lian Seng Pek.
Sim Pek Kun menggigit bibir, ia berkata :
“Mengapa kau tidak bertanya ? Bertanyalah, bagaimana aku bisa bertemu dengan Siauw Capit-
long, mengapa kau tidak bertanya penghidupanku selama dua bulan ini? Mengapa kau tidak
bertanya apa saja yang dikerjakan oleh Siauw Cap-it-long, mengapa?”
Sepasang sinar mata Sim Pek Kun berputar-putar, juga ia sangat heran, mengapa sang suami
diam dan membeku?
Betul-betul Lian Seng Pek tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang panjang,
jawabannya sangat singkat :
“Karena aku percaya kepadamu.”
Jawaban yang singkat ini cukup menghangatkan tubuh Sim Pek Kun. Inilah jawaban seorang
suami yang bijaksana.
Pikiran Sim Pek Kun terapung didalam khayalan, khayalan kepercayaan seorang suami yang
arif bijaksana.
Rasa hangat, cinta kasih yang luar biasa, segera saling susul memenuhi benak pikiran sang
ratu rimba persilatan.
Hampir saja ia tidak mempunyai tempat untuk menerima berkah-berkah itu.
Sebentar kemudian, Sim Pek Kun telah menenggak habis isi araknya.
Ia menengkurapkan kepala dimeja, menangis dengan sedih. Kalau saja Lian Seng Pek
menegor, kemana saja kepergiannya? Apa yang dilakukan olehnya? Mengapa tidak ada kabar
berita? Mengapa bisa bersama-sama dengan Siauw Cap-it-long? Atau Lian Seng Pek
memukulnya. Menggunakan cemeti, menghajar, mendorong dan mengusir, mungkin rasanya
lebih enak daripada apa yang kini ia hadapi.
Mengapa Sim Pek Kun mempunyai perasaan yang seperti itu ?
Karena Sim Pek Kun tidak pernah melakukan sesuatu yang sudah membelakangi suaminya.
Tapi Lian Seng Pek begitu percaya, lebih dari pada percaya, begitu memperhatikan dirinya,

begitu menyanjung dirinya. Takut kalau sampai bisa melukai sesuatu.
Karena itulah sebagai seorang istri yang harus mengetahui kebijaksanaan suami itu, Sim Pek
Kun menyesal.
Mengapa Sim Pek Kun menyesal ! Perpisahannya selama dua bulan adalah perpisahan yang
bukan dipaksakan, tetapi selama adanya perpisahan itu, belum pernah ia memikirkan
keselamatan atau kehidupan Lian Seng Pek. Inilah kesalahan seorang isteri.
Betul, Sim Pek Kun tidak pernah melakukan sesuatu yang membelakangi Lian Seng Pek, tapi
hal itu sudah cukup membuat ia merasa bersalah. Mungkinkah ada seorang istri yang bisa
melukai suaminya yang tercinta ?
Sebetulnya Sim Pek Kun menyesal karena tidak bisa membalas jasa-jasa Siauw Cap-it-long,
kini ia juga menyesal, karena ia tidak bisa mengimbangi kebaikan hati sang suami.
Bagaikan dua bilah pisau yang tajam, yang menusuk dari kanan dan kiri, menusuk ulu hati.
Sim Pek Kun tidak tahu, apa yang harus dilakukan olehnya.
Lian Seng Pek menatap istrinya itu tajam-tajam, ia juga termenung ditempat.
Inilah kejadian pertama kali, ia lihat sang istri menangis didepannya.
Lian Seng Pek tidak tahu, bagaimana ia bisa menghibur isteri itu. Karena ia tidak tahu,
dimana rasa sakit dan kesedihan Sim Pek Kun.
Samar-samar mulai terasa, ternyata hubungan suami isteri telah terdapat suatu gap yang
sangat dalam.
Berapa lama kemudian, akhirnya Lian Seng Pek menghampiri isteri itu, menjulurkan tangan,
hendak mengusap dan membelai memberi kepuasan kepada istrinya.
Tiba-tiba, tangan Lian Seng Pek ditarik kembali, mematung dan berkata dengan suara yang
lembut :
“Kau sudah letih. Kau membutuhkan waktu untuk istirahat. Apa yang hendak kau katakan,
besok sajalah. Kukira besok adalah hari yang cemerlang.”
Sim Pek Kun menangis terus. Betul-betul ia sangat letih. Menangis terus menerus sehingga
lama, akhirnya ia tertelungkup, seolah-olah jatuh tidur.
Mungkinkah Sim Pek Kun bisa tidur di meja ?
Mana mungkin ? Tidak mungkin Sim Pek Kun bisa menjadi pulas.
Samar-samar ia bisa mendengar derap langkah kaki suaminya yang berjalan pergi, perlahanlahan
terdengar suara Lian Seng Pek yang membuka pintu, menutup kembali.
Cara-caranya Lian Seng Pek menghadapi seorang isteri yang sudah bepergian lama terlalu
halus, inilah yang membuat Sim Pek Kun merasa menjadi tidak enak.
Ia mengharapkan suatu jambakan rambut yang keras, suatu tamparan, atau cara-cara yang
sangat kasar.
Tapi cara itu tidak dirasakan sama sekali.

Sim Pek Kun merasa kecewa, tapi bercampur dengan rasa syukur rasa berterima kasih kepada
sang suami.
Seperti apa yang pernah dirasakan dahulu, Lian Seng Pek adalah seorang suami yang
bijaksana. Ia sangat lembut dan halus pikiran.
Sesudah menangis puas, Sim Pek Kun akhirnya berpikir :
“Apa yang harus disesalkan ? Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Kini aku harus menghadapi
penghidupan baru.”
Sim Pek Kun masih berhutang budi kepada dua orang, ia harus membalas jasa-jasa Siauw
Cap-it-long. Ia harus menyerahkan isi hatinya kepada Lian Seng Pek.
Didalam hati Sim Pek Kun berjanji, mulai saat itu, ia akan mengabdikan dirinya, baik menjadi
seorang isteri yang lemah gemulai, memberi kepuasan yang tidak terhingga.
Karena ada putusan yang seperti itu, hati Sim Pek Kun agak lega.
Mengikuti bayangan Lian Seng Pek........
Malam sangat gelap, tenang seperti permukaan air. Batu dingin, sangat dingin sekali.
Lian Seng Pek duduk diatas bangku yang dingin itu, terasa jaluran yang meresap tulang,
menyembur keatas dadanya. Mengekang dan hampir membekukan hatinya.
Tetapi didalam bekuan hati itu, masih ada api yang membara. Api itu adalah dendam kepada
Siauw Cap-it-long.
Dengan alasan apa Siauw Cap-it-long menolong isteriku ? Bagaimana ia bisa bertemu dengan
Siauw Cap-it-long? Mengapa harus hidup bersama-sama dengan Siauw Cap-it-long? Apa
yang mereka kerjakan?
Dua bulan ia tidak pulang. Apa kerjanya selama dua bulan itu? Mengapa ia tiba dan kembali
pada hari ini ?
Pertanyaan-pertanyaan ini seperti lidah ular yang berbisa menjulur dan menggeragoti hatinya.
Kalau saja Lian Seng Pek mempunyai hati yang polos, secara terus terang mengajukan
pertanyaan kepada sang isteri, mungkin keadaannya akan lebih baik. Tapi ia adalah seorang
jantan sejati, apa yang tidak mau dikatakan oleh orang lain, ia tidak membikin paksaan.
Tapi, apapun yang terjadi, tidak seharusnya sang isteri membekukan dan menutup cerita
selama perpisahan itu. Mengapa Sim Pek Kun tidak bercerita, apa yang tersembunyi dibalik
batu ?
Lian Seng Pek berusaha menekan gejolak hatinya, berusaha untuk mempercayai dan kesucian
sang isteri.
Tapi Lian Seng Pek tidak berhasil menekan kekuasaan itu.
Dipermukaan wajahnya, seolah-olah Lian Seng Pek percaya dan yakin akan kesucian
isterinya. Tetapi didalam hati, tidak bisa hal itu terjadi.
Terbayang kembali wajah Sim Pek Kun, terbayang kembali wajah yang penuh misteri itu,
manakala ia menyebut nama Siauw Cap-it-long.

Baru pertama kali, Lian Seng Pek menaruh curiga, ia curiga bahwa hubungan suami isteri itu
sudah mulai retak.
Apa yang menyebabkan hal itu bisa terjadi? Mengapa ia tidak mau menyelami hati sang isteri ?
Musim semi berlalu, daun berguguran. malam semakin gelap.
Tiba-tiba, Lian Seng Pek yang duduk diatas batu luar, bisa menyaksikan satu bayangan tampil
jelas, itulah bayangan Thio Bu Kek, To Siao Thian, Hay-leng-cu dan Lie Kang.
Keempat orang itu mengenakan pakaian ringkas, pakaian yang siap sedia untuk melakukan
pertempuran-pertempuran, diwaktu malam.
Lian Seng Pek bisa melihat adanya keempat bayangan, dan keempat orang itu juga
mendatangi kearah Lian Seng Pek. Adanya Lian Seng Pek yang duduk diatas batu seorang
diri membuat mereka ragu-ragu, memandangnya sebentar, dan hendak menguji keberanian
jago itu.
Thio Bu Kek adalah orang yang berjalan di paling depan, ia memaksakan bertanya dan
tertawa :
“Lian kongcu belum masuk tidur ?”
Biasanya, Thio Bu Kek memanggil Lian Seng Pek dengan panggilan Saudara, tiba-tiba saja ia
mengubah panggilan itu dengan sebutan kongcu, inilah suatu tanda bahwa ia mulai menaruh
sedikit gap perpisahan, maka lebih hati-hati.
Lian Seng Pek tertawa tawar, Ia berkata :
“Kalian juga belum tidur.”
Tertawa Thio Bu Kek semakin dipaksakan, ia berkata :
“Kami.....kami mempunyai sedikit urusan. Hendak keluar sebentar.”
Lian Seng Pek menganggukkan kepala. Ia berkata :
“Aku tahu.”
Sepasang sinar mata Thio Bu Kek bercahaya, berkilat dan ia bertanya :
“Lian kongcu sudah tahu, apa yang hendak kami kerjakan?”
Lian Seng Pek tidak bisa menjawab pertanyaan itu, berpikir beberapa waktu, perlahan-lahan
ia menggelengkan kepala. “Belum tahu.” katanya.
Thio Bu Kek tertawa ringan, ia berkata :
“Tepat! Ada beberapa bagian lebih baik Lian kongcu tidak tahu !”
Dan disaat ini, terdengar ringkikan ringkikan suara kuda. Ternyata orang itu hendak
melakukan perjalanan yang jauh, membikin persiapan penunggangan kuda.
Tiba-tiba Hay-leng-cu berkata :
“Lian kongcu apa tidak hendak turut bersama-sama kami ?”

Lian Seng Pek membeku, akhirnya ia berkata : “Ada beberapa urusan, lebih baik, tanpa
hadirnya diriku.”
Maka keempat jago itupun meninggalkan Lian Seng Pek. Mereka adalah jago-jago kelas satu,
gerak geriknya cepat dan cekatan, tentu saja tidak menimbulkan banyak suara berisik.
Suara Hay-leng-cu, Thio Bu Kek, To Siao Thian dan Lie Kang tidak bersuara, tapi sesudah
mereka hendak menunggang kuda, binatang itu bisa menimbulkan suara ringkikan dan
ketoprakan, tidak bisa ditutupi.
Untuk menutupi suara ketoprakan kaki kuda, keempat orang itu menuntun masing-masing
tunggangannya sehingga jauh, baru mencongklangkan, dan dikaburkan keras.
Demikianlah, suara ketoprakan kaki kuda tidak begitu mengejutkan.
Urusan rahasia apakah yang membuat cara-cara orang itu menyembunyikan desiran suara ?
Tentu urusan yang sangat penting dan tidak boleh diketahui orang.
Pikiran Lian Seng Pek sangat tajam. Ia tidak berkata, tapi hatinya bisa menduga.
Ia masih duduk diatas batu yang dingin, menenangkan gejolak hatinya. Beberapa saat lagi
dilewatkan, perlahan-lahan ia bangkit berdiri, dan perlahan-lahan pula mengayun langkahnya.
Lampu pelita kamar bagian timur masih belum dipadamkan, itulah suatu tanda disana
orangnya masih belum tidur.
Lian Seng Pek mengayun kaki, menghampiri kamar itu.
Pintu tidak terkunci, dengan mudah Lian Seng Pek melangkahkan kaki memasuki kamar
tersebut.
Dalam kamar itu, Suto Tiong Peng sedang bercuci tangan. Dicuci lagi dan dicuci lagi,
mengulang terus kejadian itu sehingga beberapa kali. Mencucinya sangat berhati-hati,
sehingga lebih dari pada bersih. Seolah-olah kedua tangan itu dikotori oleh darah amis, darah
yang tidak bisa dicuci dengan air biasa.
Lian Seng Pek berdiri dibelakang Suto Tiong Pek. Memperhatikan Suto Tiong Pek mencuci
tangan itu.
Tanpa menolehkan kepala kebelakang, Suto Tiong Peng bisa mengetahui, siapa orang yang
berada dibelakang dirinya. Tiba-tiba pula ia berkata :
“Sudah melihat mereka?”
“Ng …” Lian Seng Pek mengeluarkan suara geraman.
“Tentunya bisa menduga,” berkata Suto Tiong Peng. “Apa yang hendak mereka kerjakan?”
Kali ini, Lian Seng Pek tidak menyahut, menutup rapat mulutnya. Menolak memberikan
jawaban.
Suto Tiong Peng menghela napas panjang, ia berkata:
“Pasti! Sudah pasti kau bisa menduga, apa yang mereka akan kerjakan. Betapa hebat ilmu
kepandaian Siauw Cap-it-long, betapa kuat Siauw Cap-it-long, mereka akan berusaha

membunuhnya. Kematian Siauw Cap-it-long adalah sesuatu yang menyenangkan, hidupnya
Siauw Cap-it-long adalah kerewelan bagi mereka. Karena itulah, mereka akan berusaha
menyingkirkan Siauw Cap-it-long dari bumi kita.”
Lian Seng Pek tertawa nyengir, ia bertanya:
“Bagaimana kesan pendapatmu, kau juga mempunyai penilaian seperti mereka.”
“Aku?????? …” Suto Tiong Peng tertawa tawar.
Lian Seng Pek berkata:
“Kalau bukan kau yang mengorek jejak Siauw Cap-it-long, mana mungkin mereka tahu,
dimana Siauw Cap-it-long berada?”
Tiba-tiba saja Suto Tiong Peng menghentikan tangannya, mengambil lap untuk mengeringkan
air ditangan itu menggosok-gosoknya perlahan dan berkata:
“Tapi tidak kuucapkan sesuatu kepada mereka.”
Lian Seng Pek berkata:
“Tentu saja tidak perlu menggunakan mulutmu, karena disaat kau mengorek keterangan,
sengaja menahan Lie Kang. Itu sudah cukup, kau tahu, dendam besar Lie Kang kepada Siauw
Cap-it-long.”
Suto Tiong Peng berkata:
“Tapi aku tidak menyertai mereka.”
Lian Seng Pek berkata:
“Tentu saja, sebagai pemimpin dari tujuh puluh dua perusahaan piauw-kiok, kau harus
berhati-hati.”
“Membunuh Siauw Cap-it-long adalah sesuatu yang bisa mendapatkan nama. Menyingkirkan
manusia jahat dari rimba persilatan Mengapa harus takut?”
Lian Seng Pek berkata: “Kukira kau tidak mau dicela oleh Sim Pek Kun. Mungkin juga takut
menjadi tertawaan orang, kalau betul Siauw Cap-it-long terfitnah. Apa yang bisa kau
pertanggung-jawabkan?”
Baru sekarang Suto Tiong Peng menolehkan kepala kebelakang, kini berpandang-pandangan
bersama Lian Seng Pek. Menatapnya tajam-tajam dan berkata:
“Bagaimana dengan pikiranmu?”
“Aku? …” Lian Seng Pek tidak menjawab pertanyaan itu.
Suto Tiong Peng berkata:
“Kau tahu bahwa aku sengaja meminta keterangan Siauw Cap-it-long, kau tahu apa yang akan
mereka kerjakan, kau sudah tahu, maksud tujuan kami. Tapi kau tidak mencegahnya, kau
tidak memberi tahu dan memberi peringatan kepada isterimu. Apa alasannya?”
Lian Seng Pek diam, tidak bicara.

Suto Tiong Peng tertawa, dengan rasa puas dan bangga ia berkata:
“Kau tidak turut serta dalam gerakan mereka, karena kau tahu, bahwa Siauw Cap-it-long itu
sudah berada didalam keadaan mabuk, pasti mereka berhasil, pasti mereka bisa
menyingkirkan Siauw Cap-it-long, karena ini, kau tidak mau mengotori tanganmu sendiri.
Sebetulnya, kau juga salah seorang yang mempunyai pikiran untuk menghancurkan Siauw
Cap-it-long. Seharusnya pikiranmu ini lebih kuat, dan lebih hebat dari pada apa yang kita
pikirkan …”
Berkata sampai disini mata Suto Tiong Peng terbelalak, menutup mulutnya. Memperlihatkan
sikapnya yang tegang.
Tentu ada sesuatu yang terjadi, Lian Seng Pek membalikkan kepala menoleh kebelakang.
“Aaaa …” Entah kapan kedatangannya, Sim Pek Kun sudah berdiri dipintu.
Lian Seng Pek dan Suto Tiong Peng menghentikan percakapan mereka. Karena hadirnya Sim
Pek Kun ditempat itu.
Sim Pek Kun berdiri dengan air mata bercucuran, ia bisa mengikuti percakapan dari sang
suami dan Suto Tiong Peng. Ternyata mereka adalah komplotan yang hendak menyingkirkan
Siauw Cap-it-long dari permukaan bumi. Hatinya sangat bersedih.
Untuk mengatasi kesulitan ini, Lian Seng Pek menghela napas perlahan, dengan suara yang
merdu, semerdu mungkin, suara yang semesra mungkin, ia berkata:
“Sudah waktunya kau tidur …”
Lian Seng Pek mendekati sang isteri, dengan maksud membimbing dan mengantarkan Sim
Pek Kun pergi tidur.
Tapi gerakan Sim Pek Kun mengimbangi langkah-langkah sang suami, ia mundur. Bila Lian
Seng Pek maju dua tapak, ia mundur pula dua tapak. Ia mempertahankan jarak pemisah
mereka.
Lian Seng Pek masih mencoba memberi hiburan, ia berkata dengan suara yang sangat merdu:
“Angin malam sangat jahat, kalau kau mau jalan2, seharusnya menggunakan pakaian yang
lebih tebal.”
Lian Seng Pek mendekati isteri itu lagi.
Tiba-tiba Sim Pek Kun mengeluarkan jerit lengkingannya yang panjang:
“Jangan dekati aku!”
Lian Seng Pek menghentikan langkahnya.
Sim Pek Kun masih mengucurkan air mata, ia mengertak gigi, hatinya seperti ditusuk beriburibu
pisau, dengan suara sember ia berkata:
“Baru saat ini aku betul2 bisa menyelami hati kalian, hati para pendekar, para jago gagah
perkasa yang begitu jahat …”
Tanpa mengucapkan suara lagi, Sim Pek Kun membalikkan badan, menerjang keluar. Ia
berlari meninggalkan Lian Seng Pek yang termangu-mangu.

Kini Sim Pek Kun mengetahui, bahaya apa yang sedang mengancam Siauw Cap-it-long.
Melupakan hawa udara yang sangat dingin, ia berlari cepat.
Bayangan Sim Pek Kun berlari menyusul angin.
Dan angin itupun lewat lalu.
Menyusul angin yang lalu, kita tinggalkan gerakan Sim Pek Kun. Dan kembali menceritakan
keadaan Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long betul-betul sudah berada didalam keadaan mabuk. Seorang yang
mendapatkan dirinya berada dalam keadaan mabuk, maka lenyaplah semua sengsara-sengsara
kehidupan, ia tidak sakit, tidak bergembira, melupakan godaan sang dunia.
Seorang yang sudah berada dalam keadaan mabuk, tidak tahu apa yang harus dikatakan
olehnya. Juga tidak tahu, apa yang akan dilakukan olehnya.
Tapi seorang yang mabuk bisa melakukan sesuatu hal yang belum pernah dilakukan pada
masa segarnya.
Siauw Cap-it-long bermabuk-mabukan, karena ditinggalkan oleh Sim Pek Kun. Urusan Sim
Pek Kun menyusahkan Siauw Cap-it-long. Belum pernah ia mendapatkan urusan perkara
yang sesulit ini. Belum pernah ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh Siauw Cap-itlong.
Kecuali hubungannya dengan Sim Pek Kun.
Tiba-tiba saja Siauw Cap-it-long terjengkit, ia menuju kearah ruang meja pemilik rumah
makan, ditariknya leher baju orang itu dan membentak:
“Keluarkan!”
Si pemilik rumah makan hendak berontak tapi tidak berhasil, wajahnya menjadi pucat-pasi,
mengkerutkan alisnya ia bertanya:
“Apa yang harus diserahkan?”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Tusuk konde kumala itu, tusuk konde kumala …”
Seseorang akan lebih takut, menghadapi orang yang berada dalam keadaan mabuk. Demikian
pula pemilik rumah makan itu, ia menjadi begitu takutnya, tubuhnya dirasakan menjadi lemas.
Siauw Cap-it-long menarik kembali tusuk konde yang menjadi hak milik Sim Pek Kun,
melepaskan pegangannya, meninggalkan meja si pemilik rumah penginapan.
Baru saja berjalan beberapa langkah, kakinya dirasakan teklok, ketepruk, gedubrak … tubuh
Siauw Cap-it-long duduk jatuh ngusruk, dengan tangan masih memegangi tusuk konde.
Siauw Cap-it-long tidak berusaha bangun, ia duduk dilantai, mengacungkan tusuk konde,
menatapnya, seperti hendak meneliti atau mengilmiah sesuatu yang luar biasa.
Apa yang hendak diteliti dari tusuk konde itu?
Disana terbayang wajah Sim Pek Kun. Wajah itu semakin lama semakin membesar, wajah
dari wanita yang mendapat gelar ratu dunia persilatan.
Gerak-gerik Sim Pek Kun, wajah Sim Pek Kun, pandangan mata Sim Pek Kun, mulutnya

yang membentak marah, dan terakhir senyum Sim Pek Kun yang riang.
Mengapa ia tidak bisa melupakan wajah wanita itu?
Pemilik rumah makan bisa menduga, apa yang menjadikan mabuknya Siauw Cap-it-long. Ia
berpikir: “Pasangan tadi adalah pasangan yang setimpal, mengapa mereka harus berpisahan?”
Akhirnya Siauw Cap-it-long menelungkupkan diri ditanah, ia menangis seperti seorang anak
kecil.
Hati si pemilik rumah penginapan juga turut bersedih, ia berpikir lagi.
“Apa rasanya nona tadi, kalau ia menyaksikan kejadian yang seperti ini?”
Pemilik rumah makan itu bersyukur kepada dirinya, bersyukur, karena ia belum mengalami
patah hati.
Siauw Cap-it-long masih tengkurap ditanah, ia masih menangis, menangis dalam keadaan
yang mabok.
Tiba2, rumah makan itu didatangi oleh beberapa orang, suara derap kaki kuda berhenti
didepan pintu, dan sesudah itu masuk tiga bayangan, dor, dor, dor, dor, tiga bayangan itu
menendangkan kakinya kepintu, membuat benturan yang hebat.
Tiga orang mengurung Siauw Cap-it-long yang tengkurap ditanah. Seorang berdiri dipintu.
Dengan pedang yang mengeluarkan cahaya hijau kemilauan wajahnya lebih hijau lagi, sangat
dingin. Inilah jago Lam-hay nomor satu Hay-leng-cu.
Dikiri dan kanan Siauw Cap-it-long masing-masing berdiri Thio Bu Kek dan To Siau Thian.
Ketiga jago kelas satu itu mengurung Siauw Cap-it-long.
Prasangka Siauw Cap-it-long sudah menjadi kebal. Kini ia duduk ditanah, dengan tangan
kanan mengacungkan tusuk konde. Ditatapnya lagi benda tersebut, mulutnya bergumam
perlahan:
“Sim Pek Kun … Sim Pek Kun …”
Betul-betul Siauw Cap-it-long sudah berada didalam keadaan mabok.
PERTEMPURAN GILA DIDALAM RUMAH MAKAN
THIO BU KEK memancarkan sinar mata yang tajam, ia menganggukkkan kepala dan berkata
perlahan:
“Tidak sangka, jago berandalan Siauw Cap-it-long berani mengganggu istri orang lain.”
Lain bayangan lagi muncul, inilah bayangan Lie Kang. Dengan dingin Lie Kang berkata:
“Pantas saja Sim Pek Kun membela dirinya. Ternyata …”
Tiba2 mata Siauw Cap-it-long diangkat, memandang kearah Lie Kang, disebutnya nama Sim
Pek Kun dari mulut orang lain adalah satu pantangan, inilah yang bisa menutup perasaannya.
Sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long diarahkan kepada Lie Kang, memancarkan cahaya
penuh hawa pembunuhan.

Lie Kang mengundurkan tubuhnya, ia menjadi gemetaran.
Sebetulnya, Siauw Cap-it-long tidak bisa melihat dan tidak bisa membedakan, apa yang
berdiri didepannya, siapa-siapa orang yang mengurungnya itu. Tapi sepasang mata itu masih
menjulurkan keganasan.
Tidak terasa Lie Kang mundur kebelakang.
Tiba2 terdengar suara bentakan Hay-leng-cu:
“Sergap! Jangan biarkan ia sadarkan diri.”
Mendahului komando itu, Hay-leng-cu mengayun pedang, secepat pedang berkilat, ujung
diarahkan kearah tenggorokan Siauw Cap-it-long. Mungkin saja kalau Siauw Cap-it-long
tidak mengetahui datangnya serangan ini. Tapi konsentrasi ilmu silatnya selama dua puluh
tahun, belum pernah membuat Siauw Cap-it-long mengalami kegagalan, daya tangkapnya
masih hebat, sukmanya adalah sukma seorang jago silat, begitu tangan terayun, ia mementil
pergi pedang yang ditujukan kearahnya.
“Ting …” Dengan tusuk konde mas yang berada ditangan, Siauw Cap-it-long menangkis
serangan Hay-leng-cu.
Inilah kejadian yang berada diluar dugaan, seorang jago silat ternama dari daerah Lam-hay,
serangan padanya bisa digagalkan oleh sentilan tusuk konde yang begitu kecil.
Sentakan itu sangat keras, hampir Hay-leng-cu melepaskan pegangan pedangnya.
Wajah Thio Bu Kek berubah. Sedari ia mendapatkan kedudukannya sebagai ketua partai Sianthian-
bu-tek, ilmu kepandaiannya telah mengalami kemajuan yang hebat. Ia sangat congkak
dan sombong, kemana saja ia pergi, belum pernah ia membawa senjata tajam, belum pernah ia
menggunakan senjata melawan orang, hari ini terkecuali, kekuatan Siauw Cap-it-long telah
mengejutkan dirinya, pedang lemas yang terikat dipinggang diloloskan, miring-miring
mengacam kearah Siauw Cap-it-long. Memberi ancaman yang hebat.
Ilmu kepandaian Thio Bu Kek mengutamakan ketenangan yang menguasai gerakan,
ketenangan yang menekan kesusahan. Dengan kecepatan mengalahkan kelambatan.
Serangan pedang lemas Thio Bu Kek, meluncur kearah Siauw Cap-it-long.
Disaat ini terdengar satu suara lain, “tring …” sebuah cangklong panjang telah mendahului
gerakan pedang lemas Thio Bu Kek, meluncur kearah kaki Siauw Cap-it-long. Inilah serangan
senjata cangklong To Siao Thian.
Biasanya, To Siao Thian melakukan sesuatu dengan ayal-ayalan, tampaknya seperti orang
tolol, tapi, begitu cangklong bergerak, cepat, tepat dan gesit.
Thio Bu Kek membawakan sikapnya yang agung, ia tidak segera mengambil alih posisi itu,
melihat adanya To Siao Thian yang bergerak lebih cepat, ia menyentak sedikit tangannya, dari
sana pedang lemas itu miring kebelakang mengancam jalan pembuluh darah dipundak
belakang Siauw Cap-it-long. Kalau saja serangan ini berhasil, huh! Hem … pasti terjadi
pengorbanan, darah Siauw Cap-it-long bisa mancur tersembur jauh. Tidak mungkin bisa
ditolong lagi.
Thio Bu Kek dan To Siao Thian sudah mulai bergerak. Hay-leng-cu membenarkan napasnya
yang sengal2, mengayun pedang limbung juga.

Permainan pedang Hay-leng-cu adalah pedang yang terganas, kalau saja ia tidak bergerak,
masih tidak melihat keistimewaan itu. Kegesitannya tanpa tandingan, kini menuju kearah
leher Siauw Cap-it-long.
Sedari adanya nama Siauw Cap-it-long, belum pernah ada seorang jago silat yang bisa
mengalahkan, karena itu Siauw Cap-it-long sudah menjadi tokoh silat yang digembargemborkan
orang. Siapa saja yang bisa mengalahkan Siauw Cap-it-long, namanya cepat
meningkat. Apalagi bisa membunuh Siauw Cap-it-long, inilah suatu kejadian yang berada
diluar dugaan, pasti bisa menduduki urutan tertinggi.
Karena itulah, To Siao Thian, Thio Bu Kek dan Hay-leng-cu memperebutkan kedudukan,
mereka masing-masing hendak memdahului kawannya menebas putus batang leher Siauw
Cap-it-long.
Tentu saja, mereka berani melakukan hal ini, melihat keadaan Siauw Cap-it-long yang berada
didalam keadaan pemabukan.
Ting …
Terdengar lagi suara pentilan, maka disana terjadi lelatu api, ilmu pedang Hay-leng-cu
menampar pedang Thio Bu Kek.
Tubuh Siauw Cap-it-long molos keluar dari serangan kedua pedang tersebut.
Terjadinya benturan pedang diantara kawan-kawan sendiri membuat Hay-leng-cu dan Thio
Bu Kek merasa malu, karena itu pedang digentak kelain arah, tetap mengincar Siauw Cap-itlong.
Bang …
Tiba-tiba saja tubuh Siauw Cap-it-long mumbul terbang, bek, jatuh diatas meja si pemilik
rumah makan, dari hidungnya, dan mulutnya mengeluarkan darah.
Ternyata Siauw Cap-it-long tidak melihat turut hadirnya Lie Kang ditempat itu, secara diamdiam
dan teratur, Lie Kang mengirim satu pukulan, dengan tepat mengenai Siauw Cap-itlong,
dan melukai Siauw Cap-it-long.
Thio Bu Kek, Hay-leng-cu dan To Siao Thian, memperebutkan pahala, tidak urung mereka
mengalami kegagalan. Jasa besar jatuh kedalam tangan Lie Kang. Pasti nama Lie Kang yang
dipuji-puji orang. Akan tersebar luaslah suatu berita, kenyataan bahwa seorang jago silat yang
bernama Lie Kang berhasil mengalahkan Siauw Cap-it-long.
Wajah Hay-leng-cu ditekuk masam, ia berkata dingin:
“Saudara Lie Kang, tiga puluh enam jurus pukulan batu remuk memang hebat. Lain kali,
kalau ada kesempatan, aku hendak meminta sedikit pelajaran.”
Pada wajah Lie Kang yang geram tidak pernah nampak senyuman, ia juga berkata menantang:
“Kalau ada kesempatan, pasti kulaksanakan kemauanmu itu.”
Disaat ini, lagi-lagi terdengar satu suara ting …
Itu waktu, cangklong To Siao Thian telah mengincar cepat, menuju kearah jalan darah Pekhui-
hiat dikepala Siauw Cap-it-long.
Mana tahu, pedang Thio Bu Kek sudah nyelonong masuk. Entah disengaja, atau entah tidak

disengaja, pinggir pedang itu menggesek pipa cangklong To Siao Thian. Maka serangan To
Siao Thian digagalkan. Mencong kesamping.
Tapi pipa cangklong To Siao Thian yang terbuat dari baja murni mempunyai bobot berat yang
luar biasa, karena itu, ia juga berhasil menendang pergi pedang Thio Bu Kek.
Kedua orang itu saling pandang, menyengir dan tertawa kecut.
Lie Kang berteriak, ia hendak memproklamasikan kemenangannya, karena itu berkata:
“Hentikan gerakan semua orang! Orang ini sudah terkena pukulanku. Tanpa kalian bantu, ia
akan jatuh ngeloso.”
Dia menuntut jasa!
To Siao Thian berkata:
“Menurut cerita orang, untuk membuktikan hidup matinya sang korban, kita harus memotes
batok kepalanya, memisahkan diri otak pikiran itu dari tempatnya semula.”
Thio Bu Kek juga menimpali, ia berkata:
“Betul. Kita harus membuktikan kebenaran ini.”
Lie Kang tertawa dingin dan berkata:
“Sangat mudah sekali, didalam keadaan jang seperti ini, anak kecil yang berumur tujuh
tahunpun bisa menabas batang lehernya.”
Hay-leng-cu turut berkata:
“Kukira belum tentu.”
Lie Kang mendelikkan mata dan membentak:
“Mengapa belum tentu?”
Matanya teralih dan memandang Siauw Cap-it-long, tiba-tiba saja wajahnya berubah pucatpasi,
seperti sudah tidak berdarah.
Disaat ini, Siauw Cap-it-long juga memandang kearah mereka, dengan tertawanya yang
menantang.
Siauw Cap-it-long merentangkan kedua matanya, kedua mata itu bercahaya dan menyorot
tajam, seolah-olah hendak menembus hati semua orang. Walau dalam keadaan hampir tidak
sadarkan diri, kewibawaab Siauw Cap-it-long belum pernah luntur.
Seseorang yang sudah hampir mati tidak mungkin bisa memiliki sepasang mata yang
bercahaya tajam itu. Tidak mungkin bisa melowekan bibirnya tertawa kepada mereka.
Siauw Cap-it-long belum mati.
Thio Bu Kek mendapat satu akal, ia menghadapi Siauw Cap-it-long dan berkata:
“Eit, kawan, kau sudah terkena pukulan batu remuk dari saudara Lie Kang. Seharusnya
mengatupkan sepasang matamu. Tinggalkanlah jiwa-ragamu menuju kedunia akherat.
Mengapa masih mempelototkan mata seperti itu? Mengapa tertawa menyengir seperti itu?

Tiba-tiba saja Siauw Cap-it-long tertawa berkakakan, karena ia tertawa, menarik peredaran
jalan darah dada, didadanya itu menjadi sengal2 napasnya dirasakan menjadi sesak.
Belum pernah pukulan batu remuk Lie Kang mengalami kegagalan, kecuali hari ini, wajahnya
menjadi matang biru, marah dan malu. Segera ia membentak:
“Apa yang kau tertaawakan?”
Siauw Cap-it-long masih tertawa, ia bertanya:
“Begitu hebatkah ilmu pukulan batu remuk? Apa betul sehebat yang dikatakan oleh
kawanmu?”
Tanpa menunggu jawaban Lie Kang, tiba-tiba Siauw Cap-it-long bangun berdiri. Menepuk
dada dan berkata:
“Ini dadaku! Mana dadamu? Hayo! Pukul lagi disini, hendak kulihat, sampai dimana
kehebatan batu remuk?”
Sepasang mata Lie Kang dipelototkan lebar-lebar, wajahnya jadi matang biru, sepatah demi
sepatah ia berkata:
“Inilah permintaanmu! Jangan salahkan aku, ya?”
Pundaknya tidak bergerak, pinggangnya tidak diturunkan, kakinya digusur maju kedepan,
dengan ujung telapak tangan, begitu dekat sekali, sehingga berjarak yang tidak mungkin
dielakan, baru diselonongkan kedepan, memukul dada Siauw Cap-it-long.
Inilah ilmu pukulan Bintang Kecil!
Siauw Cap-it-long tidak mengelakkan. Dan memang juga ia tidak mungkin bisa mengelakkan
pukulan bintang kecil.
Bung …
Terdengar satu pukulan keras, seolah-olah membentur tumpukan rumput. Pukulan Lie Kang
mengenai sasaran.
Kali ini tidak seperti tadi, kalau tadi Lie Kang bisa menghajar jungkir-balik Siauw Cap-itlong,
kini ia mengalami kegagalan, Siauw Cap-it-long terpantek kuat ditempat posisi
kedudukan semula, bergoyangpun tidak, bergeserpun tidak, seperti patung, kokoh kekar yang
tertancap ditempat itu.
Wajah Lie Kang menjadi pucat-pias, ia tidak bisa mengeluarkan suara. Ilmu pukulannya yang
bernama pukulan batu remuk telah hampir mencapai taraf tertinggi, tanpa tandingan. Intan
berlian yang dihajar oleh pukulan ini mungkin bisa hancur berantakan. Apalagi batu biasa,
pasti batu itu bisa menjadi remuk. Karena itulah mendapat nama pukulan batu remuk.
Jang mengherankan dirinya, ia bisa meremukkan batu, tetapi tidak bisa meremukkan dada
Siauw Cap-it-long.
Lebih dari pada itu, kekuatan timbal-balik Siauw Cap-it-long yang menendang kembali membuat Lie Kang
merasakan telapaknya hampir pecah.
Thio Bu Kek dan Hay Leng Cu saling pandang, mereka girang atas hasil yang seperti itu,
maka nama Lie Kang yang akan digembar-gemborkan karena sudah berhasil memukul Siauw

Cap-it-long harus diseret kembali, dihapus dari papan yang sudah tersedia.
Di sinilah letak keajaiban, mereka datang bersama-sama, sesudah sang kawan mengalami
kegagalan, bukannya bersedih atau membantu malah bergirang hati.
Tampak Siauw Cap-it-long masih cengar-cengir, beberapa saat kemudian, baru jago
berandalan itu membuka mulut:
“Ilmu seperti inikah yang diberi nama pukulan Batu Remuk?”
“Huh!” Lie kang mengeluarkan suara gerengan.
Siauw Cap-it-long tertawa lagi, ia berkata:
“Menurut hematku, ilmu tadi bukan ilmu pukulan Batu Remuk. Tapi lain ilmu pukulan yang
jauh berbeda dengan ilmu pukulan Batu Remuk.”
“Apakah namanya dari ilmu yang bertentangan dari ilmu pukukan batu remuk itu?” tiba-tiba
Thio Bu Kek berkata, dia melirik ke arah Lie Kang.
Mata Siauw Cap-it-long berpencar ke tiga penjuru, ia tertawa sebentar, baru berkata:
“Ilmu ini aku juga bisa menggunakannya, mari! biar kulatih kepada kalian.”
Siauw Cap-it-long meraihkan tangannya ke atas piring, piring itu masih terpancang di meja, di
sana terdapat sayur tahu dan tempe. Meraup isi di piring, dikeremusnya perlahan-lahan. Dan
begitu Siauw Cap-it-long membuka tangan, tahu dan tempe itu menjadi bubuk, hancur
berterbangan, sesudah mana, ia berkata:
“Aku juga bisa mempermainkan ilmu pukulan yang seperti ini, namanya adalah ilmu Tahu
Tempe Remuk”
Thio Bu Kek, Hay-leng-cu dan To Siao Thian memuji kehebatan ilmu kepandaian Siauw
Cap-it-long. Mereka lebih memuji mulut Siauw Cap-it-long yang pandai berkelakar.
“Hua,ha.....” tiba-tiba Hay-leng-cu tertawa besar.
Di dalam keadaan yang seperti itu, tidak seharusnya Hay-leng-cu mengeluarkan suara tertawa.
Ini akan mengakibatkan ganjelan hati Lie Kang.
Melihat ada yang tertawa, Siauw Cap-it-long juga tertawa. Tertawa hingga sakit pinggang
Pinggangnya Siauw Cap-it-long yang sakit bukan karena tertawa, itulah terkena pukulanpukulan
dari musuhnya.
Selama dua puluh tahun terakhir, korban-korban kematian yang gugur di bawah pukulan Batu
Remuk Lie Kang tidaklah sedikit. Siauw Cap-it-long sudah menerima dua kali pukulan itu,
luka di dalampun sangat berat. Di dalam keadaan masih mabuk, tidak tahu menahu akan
kehebatan itu, kalau ia sadar dan cepat-cepat memutarkan peredaran jalan darahnya
membenarkan letak tempat isi dalam yang luka, mungkin bisa mengakibatkan hal lain, tapi
Siauw Cap-it-long tidak melakukan hal itu, ia memamerkan ilmu pukulan “Tahu Tempe
Remuk”, sesudah itu, tertawa berkakakan, maka menggeser keadaan luka-lukanya, ia
menekuk pinggang.
Air kata-kata punya bisa, arak punya jahat, seseorang yang sudah jatuh mabok, menganggap
dirinya sebagai seorang maha kuasa, maha bisa.

Itulah cara-cara Siauw Cap-it-long untuk menghadapi musuh-musuhnya.
Di dalam keadaan sadar, tidak mungkin Siauw Cap-it-long mau menerima pukulan Batu
Remuk itu. Tapi lain dahulu, lain sekarang. Dalam keadaan setengah mabuk, Siauw Cap-itlong
sudah menerima pukulan Batu Remuk.
To Siao Thian juga tertawa. Tapi setiap gerak-gerik Siauw Cap-it-long tidak lepas dari
penilaiannya. Sebagai seorang jago yang kawakan, ia mempunyai sinar mata yang lebih hebat,
To Siao Thian memiliki umur yang lebih tua dua puluhan tahun dari orang-orang di tempat
itu. Selisih umur dua puluhan tahun itu cukup membawa pengalaman yang banyak, asam dan
garam yang ditelan lebih banyak dari nasi yang dimakan oleh anak muda. Demikian ia sering
memuja diri sendiri. Kini ia menilai ilmu kepandaian Siauw Cap-it-long, menilai luka-luka
yang sudah diderita oleh Siauw Cap-it-long.
“Oh....” berkata To Siao Thian, “Ilmu yang seperti itu? aku juga bisa.”
Siauw Cap-it-long tertawa, ia berkata.
“Kau juga hendak menjajal?”
To Siao Thian menganggukkan kepala dan berkata.
“Itulah maksudku.”
Secepat itu pula, ia mendorong pipa cangklongnya. Sangat cepat, sangat tajam, menjurus ke
tiga jalan darah Siauw Cap-it-long. Jalan darah jalan darah yang diincar adalah jalan darah
Hian-kie, Ju-hian dan Kiang-tay.
To Siao Thian adalah jago totokan yang hebat, dengan tiga ancaman tadi, ia hendak
menjerumuskan Siauw Cap-it-long ke dalam lembah kehancuran.
Tubuh Siauw Cap-it-long tidak bergerak, matanya tidak berkesiap. Tangan kanannya seperti
menangkap ular, dijulurkan dan ditarik kembali. Entah dengan cara bagaimana, ia berhasil
merebut pipa cangklong To Siao Thian.
Wajah To Siao Thian menjadi pucat, ia juga menderita kekalahan.
Siauw Cap-it-long tertawa, ia berkata:
“Aku hanya senang minum arak. Tapi tidak suka menyedot candu, yang ini tiada guna
untukku.”
Kedua tangannya ditekukkan, ia hendak mematahkan pipa cangklong To Siao Thian. Tapi
tidak berhasil, tenaga Siauw Cap-it-long masih tenaga Siauw Cap-it-long, cara-cara tidak bisa
disamakan dalam keadaan ia sadar, mungkin juga, bahan yang terbuat dari pipa cangklong To
Siao Thian itu memang hebat, ulet dan kuat, cara-cara Siauw Cap-it-long mematahkan si pipa
cangklong tidak benar, tidak patah.
Suatu waktu Siauw Cap-it-long mengempos tenaga, huk! Ia melempar pipa cangklong
tersebut, tertancap di tembok dan di dalam keadaan yang sama, dari mulut Siauw Cap-it-long
menyembur darah hidup semua terarah ke muka To Siao Thian.
To Siao Thian sedang berada di dalam keadaan kesima, percikan-percikan darah itu tidak
berhasil dielakkan. Dan di saat ini, secepat itu pula, ia maju menubruk, dengan cepatnya
menyerang dada Siauw Cap-it-long.

Duk..... Siauw Cap-it-long tidak berdaya mengelakkan benturan itu, tubuhnya terpental jatuh.
Di saat yang sama, Thio Bu Kek sudah meluncur ke depan.
Jiwa Siauw Cap-it-long terancam maut!
Bagaimana Siauw Cap-it-long mengelakkan serangan-serangan ke empat musuhnya?
Untuk sementara kita tangguhkan dahulu. Mari kita putar balik cerita, mengikuti perjalanan
Sim Pek Kun.
Secara tidak disengaja, Sim Pek Kun berhasil membongkar rahasia suaminya. Ternyata Lian
Seng Pek mempunyai hati yang lebih kejam dari seorang berandalan. Hati yang lebih jahat
dari seorang maling.
Biar bagaimana, ia harus cepat-cepat menolong Siauw Cap-it-long.
Tubuh Sim Pek Kun melejit, lari keluar, ia tidak menemukan kuda tunggangan, karena itu ia
harus lari terus.
Berlari dan berlari, napas si nyonya jadi sengal-sengal, apapun yang terjadi, tetap ia berlari.
Demi keselamatan Siauw Cap-it-long.
Tidak mungkin! Tidak mungkin bisa terjadi, kalau Siauw Cap-it-long mati, itulah
kesalahannya, kesalahan mulut yang memberitahu di mana letak tempat Siauw Cap-it-long
berada.
Hanya ini pikiran Sim Pek Kun, tidak ada pikiran lain, tidak ada pikiran kedua.
Malam sunyi dan senyap, Sim Pek Kun mengincar arah tujuannya meluncur dengan
kecepatan penuh. Meluncur dengan semua kekuatan yang ada.
Kalau ada rumah, dilewatinya rumah itu. Kalau ada sawah, diinjaknya sawah itu. Tidak
perduli rumah siapa, hancur atau rusak, urusan belakangan. Ia harus cepat-cepat mencapai
Siauw Cap-it-long.
Inilah satu kejadian yang belum pernah terjadi selama sejarah hidup si Ratu Rimba Persilatan.
Apapun yang terjadi, ia harus cepat memberi pertolongan kepada Siauw Cap-it-long.
Terjadi lomba adu lari, di satu pihak adalah Sim Pek Kun yang mengejar ke tempat rumah
makan di mana Siauw Cap-it-long berada, di lain pihak adalah rombongan To Siao Thian dkk
yang hendak merenggut jiwa Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long terkena sikutan To Siao Thian, ia terjungkir dan menyudut di pojok
tembok, napasnya sengal-sengal, mempertahankan kehidupan jiwa.
Matanya masih bisa dibuka, tapi sangat berat, seolah-olah sudah dibanduli oleh kekuatan
maut.
Karena pukulan-pukulan yang sudah dijatuhkan kepada dirinya, rasa kantuk dan maboknya
terusir pergi.
Berada di dalam keadaan mabok, Siauw Cap-it-long tidak merasa rasa sakit pukulan-pukulan
itu, kini ia sudah sadar, seluruh tubuhnya sudah ngeresek, seperti mau hancur berantakan.
Dagingnya seperti diiris-iris, keringat dingin mengucur saling sambut.

To Siao Thian tertawa berkakakan, ia berkata:
“Nah! Inilah waktulah, seorang laki-laki yang berumur tujuh tahunpun bisa memenggal
batang lehernya. Inilah jasaku.”
To Siao Thian gila jasa.
Thio Bu Kek tertawa perlahan, ia berkata: “Kalau begitu, serahkan kepadaku, biar aku yang
memotes batok kepalanya” Thio Bu Kek menghampiri Siauw Cap It-long yang sudah tidak
berdaya.
“Tunggu dulu!” terdengar bentakan To Siao Thian. Thio Bu kek menghentikan langkahnya,
menoleh kepada sang kawan dan bertanya: “Apalagi yang harus ditunggu?”
To Siao Thian berkata: “Aku yang berhasil menjatuhkannya. Kukira lebih baik tanganku yang
mencopot batok kepala Siauw Cap-it-long. Tidak perlu menyusahkan kalian.”
Thio Bu Kek tertawa berkakan, ia berkata: “Tidak kusangka, akhir-kahir ini saudara To Siao
Thian juga bisa menggunakan pedang?”
To Siao Thian tertegun, ia bertanya dengan suara dingin: “Aku sudah tua. Tidak perlu melatih
ilmu pedang. Masih beruntung, kalau pipa cangklongku itu masih berada disini”.
Thio Bu Kek berkata: “Luka yang menjatuhkan orang ini adalah luka terkena serangan
pedang. Semua orang bisa menjadi saksi, bukan terkena pipa cangklong. Kukira jasa saudara
To Siao Thian harus ditarik pulang” “Kalau bukan karena sikutanku tadi, mana mungkin ia
bisa kau jinakkan?” berkata To Siao Thian.
Sekarang giliran Lie Kang yang tampil kedepan, ia berkata dengan suara keras: “Kalau bukan
karena pukulan batu remuk tadi, mana mungkin ia terkena sikutan?”
Thio Bu Kek berkata: “Kalau bukan luka bekas tusukan pedang, mana mungkin pukulan batu
remuk bisa mengenainya? Mana mungkin sikutan tangan yang biasa memegang pipa
cangklong bisa melukainya?”
“Ha, ha, ha …. “ Hay-leng-cu tertawa. “ Orang tergeletak di sana. Tentu saja kalian mudah
melukainya.” Lie Kang menoleh ke arah Hay-leng-cu dan membentak: “Dengan hak apa kau
turut bicara?”
Hay-leng-cu berkata: “Dengan hak keadilan dan kebenaran, aku tidak menggunakan waktu di
saat orang lengah, mengakalinya dengan cara licik.”
Mendengar perdebatan keempat orang itu, pikiran Siauw Cap –it-long menjadi jernih sedikit.
Ia mengeluhkan napas panjang dan mulai menggumam: “Oh. Tak kukira batok kepalaku ini
sangat berharga sekali. Mengapa banyak orang hendak memperebutkan batok kepala? Seperti
anjing yang memperebutkan tulang saja?”
To Siao Thian, Lie Kang, Hay-leng-cu dan Thio Bu Kek saling pandang. Wajah mereka
menjadi pucat, Siauw Cap-it-long memandang keempat orang itu dan berkata: “Aduh!
Kepalaku memang sangat pening. Siapa yang bisa membantu membacok. Inilah
permintaanku. Hayo! Maju! Siapa diantara kalian berempat yang mempunyai nyali datanglah
ke depan. Ambillah batok kepalaku!”
Di antara mereka jarak Siauw-cap-it-long dengan To Siao Thian adalah yang terdekat, si jago
berandalan memandang To Siao Thian dan berkata: “Hayo, kini kau bisa membacok putus
kepalaku! Mangapa tidak kau coba?”

Wajah To Siao Thian semakin pucat, bukannya menggunakan kaki maju ke depan, ia malah
mengundurkan diri. Sinar mata Siauw Cap-it-long beralih ke arah Thio Bu Kek, ia berkata:
“Bagaimana denganmu? Masih mempunyai keberanian?’ Thio Bu Kek memegang keras
pedangnya, keringat dinginnya mengucur, nyalinya hampir pecah.
Napas Siauw Cap-it-long tersengal-sengal, ia berkata: “Ilmu pedang golongan kalian telah
menjagoi rimba persilatan. Mengapa tidak mempunyai keberanian?”
Hay-leng-cu menjadi gemetaran, tapi tidak mempunyai keberanian untuk ditunjukkan kepada
Siauw Cap-it-long. Siauw Cap-it-long berganti arah, kini ditatapnya wajah Lie Kang. Ia
berkata dengan suara dingin: “Hayo, aku masih kenal denganmu, kau adalah si raksasa sejati,
hatimu juga ksatria. Kau menganggap aku sebagai musuh karena ada sesuatu yang hendak
kuketahui. Maju lagi setapak, berani kau bertindak ke depan, segera dirimu kujadikan bangkai
di sana”.
Lie Kang mencoba bertahan, ia tidak berani maju lagi. “Hua, ha, ha, ha….” maka tertawalah
Siauw Cap-it-long.
Thio Bu Kek membentak : “Apa yang kau tertawakan?”
Siauw Cap-it-long berkata: “Aku tertawa karena melihat adanya empat ekor tikus yang
berkepala hitam.”
Lie Kang, To Siao Thian, Thio Bu Kek dan Hay Leng-cu saling pandang. Siauw Cap-it-long
berkata lagi: “Sebetulnya batok kepalaku ini sudah menunggu dipotes orang. Siapa saja di
antara kalian berempat yang bernai maju ke depan, aku tidak mempunyai kekuatan untuk
bertahan. Sayang nyali kalian lebih kecil daripada nyali tikus”
Wajah keempat orang itu memerah, memucat, menguning dan terjadi aneka macam
perobahan. Siauw Cap-it-long masih nyerocos terus katanya: “Betul! Batok kepalaku ini
menunggu dipotes oleh kalian berempat”
Siauw Cap-it-long mengeluarkan golok dipinggang, ia tertawa berkakakan dan berkata:
“Siauw Cap-it-long! Oh Siauw Cap-it-long! Tidak kusangka, tak ada manusia yang berani
membacok kepalamu. Apa boleh buat, harus kukerjakan sendiri!”
Seolah-olah Siauw Cap-it-long hendak membunuh diri. Hal itu sangat mengejutkan Thio Bu
Kek, karenanya ia segera membentak: “Tahan gerakan tanganmu!”
Ternyata Siauw Cap-it-long masih bisa ditenangkan, ia bertanya: “Sekarang kau berani maju?
Kukira sudah terlambat! Dikemudian hari, rimba persilatan akan menjadi gempar, karena
batok kepala Siauw Cap-it-long gugur karena tangan Siau Cap-it-long. Untuk kalian, Huh!
Hanya bisa menonton di samping.”
Thio Bu Kek berkata dengan suara tawar: “Kami berempat memang bukan jago dan pendekar.
Kalau seorang pendekar, tidak mungkin bisa melakukan perbuatan ini. Kami tahu, kau sudah
berada dalam keadaan mabok. Tidak mungkin bisa melakukan perlawanan.. Karena itulah
kami berempat datang”
“ Oh begitu !” berkata Siauw Cap-it-long. Thio Bu Kek tertawa, ia berkata: “Siauw Cap-itlong!
Bagaimana kami bisa mengetahui bahwa kau berada di tempat ini? Mengapa kami
mengetahui kau berada dalam keadaan mabuk?”
Pertanyaan seperti ini lebih sakit dari pada pukulan-pukulan batu remuk atau tusukan pedang.
Wajah Siauw Cap-it-long berubah mendadak. Hatinya seperti diiris-iris, dengan suara keras ia

membentak: “ Ya, bagaimana kalian tahu ?” Dengan tenang Thio Bu Kek berkata: “Siapa
yang memberi tahu kepada kami? Mungkinkah tidak terpikir olehmu?” Inilah taktik politik
lihay! Cara Thio Bu Kek menyerang Siauw Cap-it-long bukan dengan kekuatan senjata lagi,
tapi menggunakan politik istimewa. Politik diplomasi hebat.
Wajah Siauw Cap-it-long semakin berkerut. Thio Bu Kek menyambung kata-katanya lagi:
“Nyonya Lian Seng Pek sangat benci kepadamu, ia menghendaki kita bisa mencincang
dagingmu. Karena itu setelah meloloh dengan air kata-kata, sesudah membuat kau tidak
berdaya, ia memberi tahu dimana kau berada, menyuruh kami berempat mengambil batok
kepalamu. Hua,hua..haa,ha.. Sayang! kau laki-laki romantis yang tak tahu diri, kau masih
menyebut-nyebut namanya, kau masih menyebut-nyebut tusuk kondenya. Kau masih lupa
daratan, kau adalah orang yang patut dikasihani”
Tiba-tiba Siauw Cap-it-long menggerung, seolah-olah seekor harimau yang kalap, menubruk
dan menerkam.
Luka Siauw Cap-it-long sudah mulai membeku, tapi ia menggunkan tenaga keras, luka itu
pecah kembali dan darah muncrat beterbangan.
Tapi terkaman Siauw Cap-it-long adalah terkaman yang terhebat, Thio Bu Kek menusuk
dengan pedang, tidak berhasil. Di saat itu, terdengar suara gemuruh. Hujan turun. Air seperti
dituang dari langit, membanjiri dunia. Berkilau .. kilat menyambar. Tidak lama kemudian,
terdengar suara yang menggemuruh, itulah suara Guntur membelah angkasa.
Nyalinya Thio Bu Kek hampir pecah, ia menggulingkan diri, menyingkir dari pukulan Siaw
Cap It Long.
Tampak Siaw Cap It Long mengayunkan tangan, brak, membelah meja menjadi dua bagian.
Sayang ! Kekuatan Siaw Cap It long hanya sampai disini. Tubuhnya ngasruk, jatuh ditanah.
Lagi-lagi Thio Bu Kek menggulingkan diri, memungut pisau Siaw Cap It Long, dengan pisau
ini ia berniat memutuskan batok kepala sijago brandalan.
Klap.........blegur............
Kilat dan guntur saling susul, sambung menyambar.
Brak........tiba-tiba angin kuat menimpa daun pintu, dan langsung meniup padam kedua lilin
yang tertiup disana.
Keadaan menjadi gelap gulita, suasana disitu menjadi sunyi dan sepi.
Sepasang sinar mata Thio Bu Kek tidak bisa melihat, apa yang terbentang didepannya. Tadi ia
bisa menduga-duga, dimana letak tempat Siaw Cap It Long. Perlahan-lahan dan berindapindap
ia berjalan maju.
Keadaan sangat gelap, seperti dunia yang sudah mati.
Thio Bu Kek berjalan lagi kedepan, ia segera bisa membacok leher Siaw Cap It Long.
Krelap...........lagi-lagi kilat bercahaya terang, sepasang sinar mata Thio Bu Kek jelalatan,
tampak Siaw Cap it Long sedang bangkit bangun, hendak meninggalkan tempatnya yang
semula.
Kejadian ini yang membuat Thio Bu Kek ragu-argu, ia tidak akan melakukan sesuatu yang
tidak mempunyai pegangan penuh, ia masih menunggu datangnya kilatan kedua, kalau saja,

Siaw Cap It Long itu masih berada ditempatnya, dengan sekali bacokan, ia hendak mempapas
putus leher sijago brandalan. Ayunan pedang ini tidak boleh meleset.
Thio Bu Kek masih menunggu datangnya cahaya kilat yang kedua.
Angin masih menderu-deru, hujan bersampokan, tapi cahaya kilat yang ditunggu itu tidak
kunjung datang.
Disaat ini, dijalan raya terdengar derap kaki seseorang, sangat terburu-buru sekali, dan
sebentar kemudian orang itu sudah berada didepan pintu, terdengar deru nafasnya yang
sengal-sengal, ia baru melakukan perjalanan jauh.
Karena keadaan yang gelap gulita, orang itu berdiri saja dipintu. Menunggu perkembangan
baru, dia tidak memasuki kamar mereka.
Thio Bu Kek menjadi hilang sabar, ia seperti dikepruk dari dua bagian. Siapa orang yang baru
datang ? Tanpa terasa, ia menoleh kearah datangnya deburan nafas sengal-sengal itu. tentu
saja didalam keadaan gelap-gulita, tidak mungkin bisa melihat jelas wajahnya. Tapi
bagaimanapun, Thio Bu Kek menoleh juga ketempat itu.
Disaat ini, tampak berkelebatnya kilat yang berikutnya.
Seorang wanita dengan rambut terurai panjang, dengan pakaian bash kuyub, dengan sepasang
mata direntangkan lebar-lebar, dengan badannya yang penuh emosi, berdiri didepan pintu,
wajahnya memperlihatkan rasa gemas, marah, kecewa, takut dan aneka macam perubahan
lagi.
Itulah ratu rimba persilatan Sim Pek Kun !
Thio Bu Kek terkejut. Sim Pek Kun juga terkejut,
Secepat itu pula, tangan Thio Bu Kek yang memegang golok Siaw Cap It Long tetap
ditujukan kearah leher Siaw Cap It Long.
Waktu kilat berkelebat itu terlalu singkat, tapi sebelum penerangan hidup kembali, Thio Bu
Kek bisa melihat tangan Sim Pek Kun juga terayun, dari sana bertaburan jarum mas pencabut
nyawa, senjata istimewa dari keluarga Sim.
Thio Bu Kek bisa melaksanakan maksudnya, ia bisa membunuh Siaw Cap It Long kalau ia
bersedia menerima beberapa serangan jarum maut pencabut nyawa.
Tapi Thio Bu Kek lebih sayang kepada jiwa sendiri, ia melejit jauh, membatalkan
serangannya.
“Bang...!” Thio Bu Kek membentur sesuatu yang agak keras.
Disaat ini, lagi-lagi kilat berkelebat.
Sim Pek kun masuk kedalam, menubruk tubuh Siaw Cap It Long.
Sesudah itu, keadaan gelap kembali. Tidak ada sesuatu yang tampak.
Sim Pek Kun berhasil menubruk rubuh tubuh Siaw Cap It Long, tangannya mengerayapi
disana ia membentur cairan-cairan yang melekat. Itulah darah !
Mulut Sim Pek Kun berteriak nyaring :

“Dia sudah mati ? Kalian membunuh dirinya ?”
Suara ini seperti suara hantu dimalam gelap. Menggetarkan hati semua orang.
Dalam keadaan gelap gulita ini, sesuatu tangan terjulur, hendak mencengkram Sim Pek Kun.
Disaat ini, lagi-lagi kilat berkelebat, Sim Pek Kun bisa melihat datangnya tangan ini, itulah
sebuah tangan yang sangat kurus, berwarna hitam, tangan yang seperti ceker rajawali, tangan
Hay leng cu.
Bukan tangan itu saja yang dilihat oleh Sim Pek Kun, Sim Pek Kun masih melihat lain
tangan, tangan kedua ini memegang pedang, mengincar dan menujukan ujung pedang
ketenggorokan Siaw Cap It Long.
Sim Pek Kun bisa melihat adanya orang-orang itu, demikian juga, mereka bisa mengetahui
kehadiran siratu rimba persilatan ditempat tersebut.
Kepada mereka Sim Pek Kun membentak :
“Minggir ! Semua orang pergi dari sini !”
Sesudah itu dengan menggendong tubuh Siaw Cap It Long, menggunakan kegelapan malam,
Sim Pek Kun keluar dari rumah, berlari dijalan raya.
Terdengar seorang membentak :
“Jangan biarkan mereka lari !”
Itulah suara Lie Kang.
Tapi Sim pek Kun sudah lari jauh, meninggalkan Lie Kang, meninggalkan To Siao Thian,
meninggalkan Thio Bu Kek dan meninggalkan Hay leng cu.
Krelep, lagi kilat bercahaya.
To Siao Thian dan Thio Bu kek menghampiri Lie Kang.
Tiga orang itu berkumpul. dengan menghela nafas panjang, To Siao Thian berkata :
“Melepaskan Siaw Cap It Long, sama saja memberi kebebasan kepada seekor macan. Untuk
hari-hari berkutnya, satu persatu kita akan mati dibawah tangan Siaw cap It Long.”
Dengan geraman marah, Lie Kang berkata :
“Mengapa kau kau tidak membikin penghadangan ?”
To Siao Thian menghela nafas lagi, ia berkata perlahan :
“Jangan kau lupa, Sim Pek Kun adalah istri Lian Seng Pek. Kalau sampai terjadi sesuatu,
siapa yang berani memikul tanggung jawab ?”
Thio Bu Kek turut berkata :
“Mari kita bayangkan, dimisalkan salah seorang dari kita bertiga yang memiliki seorang istri
yang seperti Sim Pek Kun, sesudah terjadi kejadian ini, mungkinkah masih mau mengakui
istri ?”

To Siao Thian berdiam beberapa saat, tiba-tiba ia bertepuk kepala.
“Betul.” teriaknya sangat girang.
“Kejar ! sudah kejadian ini. Kita harus berani mengambil resiko. Kukira mereka masih belum
pergi jauh. Lekas kita kejar !” Thio Bu Kek memberi usul.
Lie Kang juga berkata :
“Betul ! bersama-sama kita membikin pengejaran.”
KEJAR MENGEJAR
Hujan seperti dituang, menyambitkan cairannya ketubuh orang, terasa sangat sakit.
Malam gelap, pekat, tiada sesuatu yang tampak.
Didalam keadaan yang seperti ini, Sim Pek Kun menggendong Siaw Cap It Long, melarikan
diri.
Sim Pek Kun tidak memilih jalan, karena ia tidak tahu, jalan mana yang berupa jalan aman.
Dunia memang cukup lebar, tapi dirasakan sekali seperti menciut, tiada tempat bagi Sim Pek
Kun dan Siaw Cap It Long.
Yang mujur, tidak terlihat tanda-tanda pengejaran, Sim Pek Kun memperlambat gerakan
kakinya, ia menjadi ragu-ragu.
Kemana harus melarikan diri ?
Inilah yang mengekang benak pikiran sang ratu rimba persilatan.
Tiba-tiba .....
Kilat berkelebat, didalam seperseribu detik, jagat itu bercahaya kembali. Didepan Sim Pek
Kun terpeta sebuah bayangan, itulah bayangan seseorang, seseorang yang sedang menatap
kearahnya.
Lian Seng Pek ! Itulah Lian Seng Pek ! Bagaimana dia berada ditempat ini ?
Sim Pek Kun tidak bisa melihat jelas wajah orang itu, tapi potongan bentuk tubuh suami
sendiri tidak mungkin bisa dilupakan. Itulah potongan tubuh Lian Seng Pek.
Kakinya seperti diborgol oleh benda berat, seolah-olah hendak menginjaknya kedasar bumi.
Sejelek-jeleknya sifat Lian Seng Pek, laki-laki itu adalah suami sendiri.
Kini kilat berkelebat lagi. Dan jelaslah sudah, siapa orang yang berada didepan Sim Pek Kun.
Betul-betul Lian Seng Pek !
Sekujur tubuh Lian Seng Pek sudah basah kuyup, air hujan menetes-netes, merayapi
kepalanya dan jatuh ditanah, mengalir dan melewati wajahnya, tapi tidak diusap. Dibiarkan
air itu mengalir terus menerus. Lian Seng Pek mematung, seperti membeku, diam ditempat
itu.
Sepasang sinar mata Lian Seng Pek tidak memancarkan kebencian, juga tidak memancarkan

kecintaan, sepasang mata itu adalah mata yang kosong, menatapnya secara dingin dan beku.
Lian Seng Pek adalah seorang kongcu rimba persilatan, gayanya gagah sifatnya tenang,
menarik hati dan sangat tampan.
Kesan ini sudah mendarah daging didalam lubuk hati setiap orang.
Sekarang........
Sim Pek Kun bisa melihat adanya perobahan perobahan itu, tidak gagah lagi. Lian Seng Pek
tampak sangat layu. Tidak rupawan lagi, Lian Seng Pek tampak murung. Tidak segar lagi.
Terasa tenggorokannya seperti tersumbat, Sim Pek Kun tidak bisa menguasai diri lagi, ia
berjalan maju, mendekati sang suami dan bertanya : “Kau..... kau..... kau selalu mengintil
dibelakangku?”
Perlahan-lahan Lian Seng Pek menganggukkan kepala.
Sim Pek Kun bertanya lagi :
“Tapi kau tidak mengganggu usahaku.”
Lian Seng Pek berdiam diri untuk beberapa waktu, baru ia menjawab pertanyaan itu.
“Karena aku bisa menyelami isi hatimu..........”
“Bisa menyelami isi hatiku ?” Sim Pek Kun memotong pembicaraan.
Lian Seng Pek menghela napas, ia berkata :
“Kalau bukan karena dirimu, bagaimana dia menjadi seperti ini ? Mana mungkin kau tidak
menolonginya ?”
Didalam saat yang seperti itu, jiwa Sim Pek Kun juga membeku. Ia tidak tahu apa isi hatinya,
mungkin bersedih, mungkin juga girang.
“Biar bagaimana, dia lebih bisa menyelami isi hatiku.” berkata Sim Pek Kun.
Didalam keadaan yang seperti ini, kalau saja Lian Seng Pek membuka mulut, memberi
perintah agar dia membawa lari Siauw Cap-it-long, mungkin sekali mendapat reaksi yang
lain, bisa saja Sim Pek Kun merasa bersalah, bisa saja Sim Pek Kun meletakkan tubuh Siauw
Cap-it-long. Biarpun ia bisa menyesal dikemudian hari.
Tapi Lian Seng Pek tidak mengeluarkan perintah seperti itu.
Lian Seng Pek berkata :
“Mari kita kembali! Lukanya sangat berat. Kuharap saja bisa menyembuhkannya. Agar tidak
terganggu oleh orang lain.”
Dibalik kejahatan terdapat juga kebaikan. Dibalik kesabaran terdapat juga kekerasan. Inilah
dua muka dari jiwa manusia. Sim Pek Kun bisa menjelajahi isi hati suaminya, belum lama ia
sampai terperosok, mendapat teguran yang halus ia menaruh curiga. Langkah kakinya
termundur dua langkah, ia bertanya :
“Kau..... kau sudah percaya, kalau dia bukan seorang jahat ?”

Lian Seng Pek berkata :
“Mengapa kau curiga ?”
Badan Sim Pek Kun gemetaran, dengan suara yang tidak lancar ia berkata :
“Belum lama, disaat mereka hendak membunuhnya, kau tidak mencoba berusaha. Kau tahu
maksud tujuan mereka, tapi tidak sekecap katapun keluar dari mulutmu....”
Sim Pek Kun mundur lagi dua langkah secara tiba-tiba sekali, ia membalikkan badan, tetap
menggendong Siauw Cap-it-long, berlari cepat.
Lian Seng Pek segera mengeluarkan bentakan :
“Sim Pek Kun .......”
“Tidak.” berteriak Sim Pek Kun. “Kau adalah satu komplotan dengan mereka......”
Sim Pek Kun tidak menghentikan larinya, ia pergi semakin cepat.
Badan Lian Seng Pek bergerak, sedianya hendak membikin pengejaran. Tapi niatnya
dibatalkan, ia berhenti.
Hujan semakin deras. Bayangan Sim Pek Kun sudah lenyap ditelan hujan yang lebat itu.
Malam masih belum berhenti, Lian Seng Pek mematung ditempat itu.
Tiba-tiba terdengar satu elahan napas panjang, terdengar satu suara yang berkata :
“Lian kongcu memiliki sifat kesabaran yang luar biasa. Betul-betul sangat luar biasa. Tidak
mungkin ada keduanya.”
Didalam keadaan hujan, didalam kilat yang diiringi suara guntur, suara orang tadi sangat
menusuk sekali. Inilah suara si pemimpin tujuh puluh dua perusahaan piauwkiok Suto Tiong
Peng.
Tangan Suto Tiong Peng memegang payung, perlahan-lahan berjalan datang. Cahaya kilat
menerangi wajahnya, wajah itu tegang dan memperlihatkan senyum sinis, ia berkata lagi :
“Kalau aku menggantikan kedudukan Lian kongcu, tidak mungkin Siauw Cap-it-long bisa
melewatkan hari ini. Tapi kau telah memberi kebebasan. Karena itulah kau mendapat pujianpujian,
siapa yang tidak kenal pendekar muda Lian Seng Pek ? Disinilah perbedaan kita. Kau
terkenal dan aku hanya bisa menduduki pengawal piauwkiok saja.”
Tidak terjadi perobahan atas wajah Lian Seng Pek, ia tertawa tawar :
“Bicara secara blak-blakan, apa maksud yang dikandung olehmu ?”
Suto Tiong Peng berkata :
“Maksudku, kalau kau membunuh Siauw Cap-it-long, langkah itu tidak terlalu jauh. Tapi,
kalau sampai diketahui oleh orang menjadi buah tutur orang pendekar muda Lian Seng Pek
membunuh Siauw Cap-it-long yang sudah berada didalam keadaan tidak berdaya sama sekali
? Bukankah akan mencemarkan nama baik ? Apalagi cara-cara itu bisa menyakiti Lian Hujin.
Bisa memecah-belahkan hubungan baik antara suami-isteri. Disinilah letak kepintaranmu.
Kau tidak membunuh Siauw Cap-it-long, memang Siauw Cap-it-long tidak perlu dibunuh.

Jiwanya sudah tidak panjang lagi.”
Lian Seng Pek masih tidak percaya.
Suto Tiong Peng mengoceh terus, katanya :
“Rombongan Thio Bu Kek sudah mulai membikin pengejaran. Lian Hujin tidak tahu. Tentu
saja kau tidak tahu. Kini mereka sudah mulai kejar mengejar. Didalam keadaan hujan, tapaktapak
kaki itu mudah diperiksa. Dengan kekuatan Lian Hujin, berapa jauhkah usaha pelarian
itu bisa ditempuh ? Kalau ada orang yang membunuh Siauw Cap-it-long, mengapa kita harus
turun tangan sendiri ? Mengotori tangan saja bukan ?”
Lian Seng Pek diam saja, perlahan-lahan ia berkata :
“Inilah rahasiaku, tentunya tidak kau ceritakan kepada orang luar bukan ?”
Suto Tiong Peng berkata :
“Kau tahu aku selalu menutup mulut. Apalagi aku ada permohonan, tentu saja tidak
menceritakan kepada orang luar.”
Lian Seng Pek tertawa-tawa, ia berkata :
“Kalau kau tidak mempunyai tuntutan, tentu tidak menceritakan kejadian ini kepadaku.”
“Hebat ! Lian kongcu memang hebat !” Suto Tiong Peng mengeluarkan suara pujian.
“Sebetulnya, permintaanku ini hanya sepele saja, hanya menyentil sedikit tanganmu.”
Baru sekarang Lian Seng Pek bisa tertawa, ia berkata :
“Katakan, apa yang kau minta ?”
“Uang !” berkata Suto Tiong Peng. “Setiap orang itu menghendaki uang. Tanpa uang tidak
mungkin kita bisa hidup.”
Wajah Lian Seng Pek ditekuk masam, kini dengan dingin ia berkata :
“Lihat orangnya, apa orang yang seperti aku ini bisa diperas ?”
Wajah Suto Tiong Peng berubah, tubuhnya nyelusup kebelakang, kini ia tidak bisa tertawa
lagi.
Lian Seng Pek menghela napas, ia berkata :
“Aku tahu, kau hendak menggunakan kesempatan ini, membikin pemerasan. Sekarang kau
minta uang. Besok kau minta uang. Lusa kau minta uang. Demikian untuk seterusnya. Satu
kali tidak kuberi, rahasia
itu segera tersiar cepat. Kau hendak menjadikan diriku sebagai pohon emas? Ha, ha, ha,ha ....
Keringat Su-to Tiong Peng nyerocos cepat, bercampuran dengan air hujan, menetes jatuh.
Secara mendadak saja, ia melempar payungnya, untuk membalikkan badan dan ngiprit lari.
Kilat berkelebat lagi. Tapi, pedang Lian Seng Pek lebih cepat dari kelebatnya kilat itu
terdengar satu jeritan tertahan, pedang Lian Seng Pek tembus dari geger belakang ke dada

depan, memantek badan Su-to tiong Peng.
Perlahan-lahan Lian Seng Pek menghela napas, mencebik korbannya dan bergumam:
“Tidak mungkin ada orang yang bisa meramalkan hidup Su-to Tiong Peng yang seperti ini,
karena keserakahannya sendiri. Serakah kepada harta kekayaan, serakah kepada kedudukan”.
Perlahna-lahan, Lian Seng Pek menyabut pedangnya. Didalam sekejap mata, darah
yangmelumuri pedang itu tercuci bersih oleh turunnya air hujan.
........
Inilah daerah tandus di pegunungan yang sunyi dan sepi. Hujan belum berhenti, sebuah
berkelebatnya kilat menyinari sebuah goa ditempat itu.
Sim Pek Kun bisa melihat adanya goa di tempat itu, tanpa memperhatikan adanya bahaya atau
tidak, tidak menunggu sampai kilatan kedua berkelebat, dengan tetap mengendong Siauw
Cap-it-long, ia menyelusup masuk.
Goa itu tidak dalam, dengan keras dan kencang, Sim Pek Kun memegangi tubuh Siauw Capit-
long, diusahakan berdesak, untukmengelakkan terkamannya air hujan.
Kini Sim Pek Kun membelakangi mulut gua dan berusaha meringankan beban penderitaan
Siauw Cap-it-long, dengan menerima tetesan-tetesan air hujan dan menolong Siauw Cap-itlong
agar tidak terkena air itu. Gigi Sim Pek Kun mulai bergerutuk, tubuhnya menggigil
dingin.
Sekarang Sim Pek Kun merasa dirinya menjadi seekor serigala. Seekor serigala yang sedang
diburu-buru oleh empat pemburu luar biasa.
Thio Bu Kek, Hay-leng-tju, Lie Kang dan To Siao thian tidak mungkin mau memberi
kebebasan. Pasti membikin pengejaran.
Sim Pek Kun tidak melihat adanya kejaran-kejaran orang itu, tapi ia bisa menduga
kalau bakal terjadi kejadian yang sudah dibayangkan.
Seseorang yang sudah dirundung malang terus menerus, bahkan mempunyai ketajaman luar
biasa, panca indranya bertambah jernih dan terang, seolah-olah bisa mengendus bahaya
sesuatu yang akan datang inilah kekuatan hidup.
Binatang atau manusia memiliki daya tahan untuk bertahan hidup.
Sim Pek Kun menemukan goa itu, seperti menemukan sesuatu yang bisa menyelamatkan
dirinya. Sesuatu yang bisa menolong Siauw Tjap it-long dari tamparan-tamparan air hujan.
Dengan tangannya yang masih menggigil dingin, Sim Pek Kun menjulurkan dan ditaruh di
atas dada Siauw Tjap it-long. Masih ada deburan nafas, masih ada deburan jantung, masih
terasa ada desiran hawa yang keluar masuk hidung.
Sim Pek Kun mengatupkan kedua matanya menghembuskan elahan nafas panjang, elahan
nafas yang hampir tersumbat.
Gigi atas Sim Pek Kun membentur-bentur gigi bawahnya, semakin lama semakin keras
menggigil dingin.

Walau keadaan di dalam begitu dingin, Sim Pek Kun tidak bisa melupakan keamanan Siauw
Tjap it-long. Ia mendekapnya, seperti seorang ibu menyayangi sang putra manja. Hanya kasih
sayang seorang ibulah yang berjiwa besar. Tidak ada cinta yang melebihi dari cinta kasih
seorang ibu. Hanya cinta kasih seorang ibu yang bisa menenangkan dan mengamankan
putranya.
Hari masih gelap, hujan belum mau mereda, dan di dalam keadaan yang seperti ini, Sim Pek
Kun masih membayangkan pengejaran-pengejaran dari keempat musuhnya.
Seorang anak sangat membutuhkan cinta kasih ibu. Begitu pula timbal balik, kasih ibu hanya
dicurahkan kepada putra sendiri. Perasaan-perasaan yang seperti ini adalah perasaan-perasaan
yang sudah pasti terjadi.
Sim Pek Kun mendapatkan perasaan cinta kasih seorang ibu yang wajib dicurahkan kepada
putranya. Mereka berpelu-pelukan, menghangatkan badan kasih sayang.
Lama sekali kejadian itu berlangsung.....
Akhirnya..........
Tidak tampak kilat lagi, tidak terdengar suara guntur. Hujan yang tadinya sangat deras mulai
mereda, akhirnya berhenti.
Sim Pek Kun harus mengambil langkah baik, kemana mereka harus melarikan diri. Sembunyi
di dalam goa itu atau kembali ke tempat Lian Seng Pek.
Tidak! Tidak mungkin meminta bantuan atau pertolongan Lian Seng Pek.
Tempat goa inilah yang teraman. Dia harus membekap Siauw Tjap it-long ditempat yang
aman. Tidak mungkin mereka bisa menemukannya.
Betulkah?
Apa betul To Siao Thian cs tidak bisa menemukan jejak mereka?
Inilah pikiran yang mau membohongi diri sendiri. Kadang kala, seseorang yang sudah
mendapatkan jalan buntu, sering menggunakan kata-kata yang tidak masuk diakal; pikiranpikiran
yang mengelabui diri sendiri.
Seseorang harus pandai menipu, kalau dia ingin hidup bebas. Kalau dia ingin hidup berumur
panjang.
Kenangan Sim Pek Kun melayang-layang, melayang kembali kearah bangunan kecil di dalam
lembah gelap. Terpeta wajah Siauw Tjap it-long yang sedang membangun sebuah rumah
lainnya; berketak ketik dengan kedua tangannya yang cekatan dan gesit. Tapi secepat itu pula,
bayangan tersebut buyar berantakan.
Tubuh Siauw Tjap it-long bergerak, ini sangat mengejutkan Sim Pek Kun. Cepat-cepat ia
mendekapnya pula. Siauw Tjap it-long hendak membuka kelopak matanya, tapi masih terasa
berat, dengan suaranya yang perlahan dia bertanya: “Kau..?”
Walau hujan sudah tiada, keadaan malam tetap gelap, dan keadaan di dalam goa lebih gelap
lagi. Di dalam keadaan yang gelap gulita, tentu saja tidak bisa membedakan wajah seseorang.
Sim Pek Kun tidak bisa melihat perobahan Siauw Tjap it-long, dan Siauw Tjap it-long juga
tidak bisa melihat dirinya. Tapi, dari hembusan harum semerbak itu, Siauw Tjap it-long sudah
bisa menduga akan hadirnya sang ratu rimba persilatan.

Semacam rasa bangga menyerang hati
Sim Pek Kun, menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Dengan suaranya yang merdu,
menganggukkan kepala dan berkata: “Ya! Aku! Kau baru tertidur!”
Siauw Tjap it-long tidak menjawab pertanyaan itu, lama ia bernafas, akhirnya berkata:
“Mengapa kau datang lagi?”
Sim Pek Kun bertanya: “Maksudmu?”
“Kau... kau tahu...” berkata Siauw Tjap it-long terputus-putus. “Aku... aku tidak mau
menyusahkanmu lagi.”
Sim Pek Kun berkata: “Aku yang menyusahkan dirimu.”
“Bukan...” berkata Siauw Tjap it-long. “Biar bagaimana, mereka pasti bisa menemukan
jejakku. Biar bagaimana, aku bisa hidup tanpa kehadiranmu. Mengerti?”
“Mengerti.” berkata Sim Pek Kun.
“Nah! Pergilah!”
“Tidak!” Berkata Sim Pek Kun tegas. “Aku tidak mau pergi.”
“Dengar... dengarlah...” dengan cepat Sim Pek Kun memotong pembicaraan itu: “Kali ini,
tidak perduli apa yang kau ucapkan, aku tidak bisa menurut perintahmu lagi.”
Belum pernah Siauw Tjap it-long mendengar suara Sim Pek Kun yang seperti ini. Biasanya
wanita itu lemah gemulai, jinak dan menurut. Tapi sekarang berubah, tegas dan kuat.
Timbul pikiran lama, mudah saja Siauw Tjap it-long mengusir Sim Pek Kun. Dengan aneka
macam cara, dengan menyakiti hatinya, atau menyinggung hati sang ratu rimba persilatan,
pasti Sim Pek Kun bisa terusir pergi. Tapi Siauw Tjap it-long tidak mau melakukan hal itu, ia
menghela nafas dan terdiam.
“Pergilah!” berkata Siauw Tjap it-long perlahan, suaranya amat lemah.
“Baik.” berkata Sim Pek Kun. “Aku akan pergi. Tapi bukan sekarang. Beruntung hujan sudah
berhenti. Beruntung orang-orang itu sudah pergi. Kini berhasil melarikan diri. Tunggu
sesudah hari menjadi pagi. Aku segera mengantarmu kembali dan saat itu........ disaat itulah
baru pergi.”
“Eh, kau biasanya tidak bisa menipu orang.” ia berkata. “Sekarang mengapa hendak menipu,
membohong kepadaku dan berbohong kepada diri sendiri?”
“Aku.... aku bohong.” berkata Sim Pek Kun.
“Aku tahu, tidak perduli siapa diantara mereka, satupun tidak bisa membiarkan aku hidup
lebih lama lagi.”
Suara Siauw Cap-it-long masih tetap lemah, tapi sangat jelas.
Sim Pek Kun bertanya :
“Mengapa dan dengan alasan apa mereka menghendaki kematianmu ?”

Siauw Cap-it-long berkata :
“Hanya kematiankulah yang bisa menenangkan hidup mereka. Hanya kematiankulah yang
bisa menarik kembali nama-nama mereka.”
Sim Pek Kun bisa menangkap sesuatu dari arti kata-kata itu, ia mencoba menyelidik, tanyanya
:
“Mungkin mereka telah melakukan sesuatu kesalahan besar yang dipergoki olehmu ?”
Siauw Cap-it-long tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak menjawab berarti membenarkan.
Sim Pek Kun mengeluarkan elahan napas panjang, ia berkata :
“Aku juga sudah bisa melihat padanya ciri-ciri para pendekar itu, mereka menganggap diri
sendiri sebagai ksatria, mereka menganggap diri sendiri sebagai seorang jago, maunya disebut
pendekar, mereka mendapat julukan tayhiap. Tapi apakah isi hati mereka?.... Huh! Mereka
hanya belatung belatung terbungkus oleh kulit.”
“Oh......” Siauw Cap-it-long melompongkan mulut.
Sim Pek Kun berkata lagi :
“Apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka lakukan sangatlah bertentangan dengan
panji semboyan hidup pendekar. Hanya janji-janji kosong. Hanya pidato-pidato muluk. Jual
kecap!”
Siauw Cap-it-long berkata :
“Untuk menghilangkan jiwaku, mereka tidak perduli dengan aneka macam cara.”
“Itulah kenyataan.” berkata Sim Pek Kun.
Siauw Cap-it-long berkata :
“Karena itulah, lebih baik kau menyingkir pergi.”
“Tidak.” berkata Sim Pek Kun. “Aku tidak mau pergi.”
Suara ini sangat tegas dan tandes. Tidak bisa diganggu gugat lagi.
Keadaan sunyi. Beberapa waktu kemudian, Sim Pek Kun bertanya :
u, menganggukkan kepala dan berkata: “Ya! Aku! Kau baru tertidur!”
Siauw Tjap it-long tidak menjawab pertanyaan itu, lama ia bernafas, akhirnya berkata:
“Mengapa kau datang lagi?”
Sim Pek Kun bertanya: “Maksudmu?”
“Kau... kau tahu...” berkata Siauw Tjap it-long terputus-putus. “Aku... aku tidak mau
menyusahkanmu lagi.”
Sim Pek Kun berkata: “Aku yang menyusahkan dirimu.”
“Bukan...” berkata Siauw Tjap it-long. “Biar bagaimana, mereka pasti bisa menemukan

jejakku. Biar bagaimana, aku bisa hidup tanpa kehadiranmu. Mengerti?”
“Mengerti.” berkata Sim Pek Kun.
“Nah! Pergilah!”
“Tidak!” Berkata Sim Pek Kun tegas. “Aku tidak mau pergi.”
“Dengar... dengarlah...” dengan cepat Sim Pek Kun memotong pembicaraan itu: “Kali ini,
tidak perduli apa yang kau ucapkan, aku tidak bisa menurut perintahmu lagi.”
Belum pernah Siauw Tjap it-long mendengar suara Sim Pek Kun yang seperti ini. Biasanya
wanita itu lemah gemulai, jinak dan menurut. Tapi sekarang berubah, tegas dan kuat.
Timbul pikiran lama, mudah saja Siauw Tjap it-long mengusir Sim Pek Kun. Dengan aneka
macam cara, dengan menyakiti hatinya, atau menyinggung hati sang ratu rimba persilatan,
pasti Sim Pek Kun bisa terusir pergi. Tapi Siauw Tjap it-long tidak mau melakukan hal itu, ia
menghela nafas dan terdiam.
“Pergilah!” berkata Siauw Tjap it-long perlahan, suaranya amat lemah.
“Baik.” berkata Sim Pek Kun. “Aku akan pergi. Tapi bukan sekarang. Beruntung hujan sudah
berhenti. Beruntung orang-orang itu sudah pergi. Kini berhasil melarikan diri. Tunggu
sesudah hari menjadi pagi. Aku segera mengantarmu kembali dan saat itu........ disaat itulah
baru pergi.”
“Eh, kau biasanya tidak bisa menipu orang.” ia berkata. “Sekarang mengapa hendak menipu,
membohong kepadaku dan berbohong kepada diri sendiri?”
“Aku.... aku bohong.” berkata Sim Pek Kun.
Siauw Tjap it-long berkata:
“Aku tahu, tidak perduli siapa diantara mereka, satupun tidak bisa membiarkan aku hidup
lebih lama lagi.”
Suara Siauw Cap-it-long masih tetap lemah, tapi sangat jelas.
Sim Pek Kun bertanya :
“Mengapa dan dengan alasan apa mereka menghendaki kematianmu ?”
Siauw Cap-it-long berkata :
“Hanya kematiankulah yang bisa menenangkan hidup mereka. Hanya kematiankulah yang
bisa menarik kembali nama-nama mereka.”
Sim Pek Kun bisa menangkap sesuatu dari arti kata-kata itu, ia mencoba menyelidik, tanyanya :
“Mungkin mereka telah melakukan sesuatu kesalahan besar yang dipergoki olehmu ?”
Siauw Cap-it-long tidak menjawab pertanyaan itu. Tidak menjawab berarti membenarkan.
Sim Pek Kun mengeluarkan elahan napas panjang, ia berkata :
“Aku juga sudah bisa melihat padanya ciri-ciri para pendekar itu, mereka menganggap diri
sendiri sebagai ksatria, mereka menganggap diri sendiri sebagai seorang jago, maunya disebut

pendekar, mereka mendapat julukan tayhiap. Tapi apakah isi hati mereka?.... Huh! Mereka
hanya belatung belatung terbungkus oleh kulit.”
“Oh......” Siauw Cap-it-long melompongkan mulut.
Sim Pek Kun berkata lagi :
“Apa yang mereka kerjakan dan apa yang mereka lakukan sangatlah bertentangan dengan
panji semboyan hidup pendekar. Hanya janji-janji kosong. Hanya pidato-pidato muluk. Jual
kecap!”
Siauw Cap-it-long berkata :
“Untuk menghilangkan jiwaku, mereka tidak perduli dengan aneka macam cara.”
“Itulah kenyataan.” berkata Sim Pek Kun.
Siauw Cap-it-long berkata :
“Karena itulah, lebih baik kau menyingkir pergi.”
“Tidak.” berkata Sim Pek Kun. “Aku tidak mau pergi.”
Suara ini sangat tegas dan tandes. Tidak bisa diganggu gugat lagi.
Keadaan sunyi. Beberapa waktu kemudian, Sim Pek Kun bertanya : “Aku tahu, apa
kejelekan-kejelekan Thio Bu Kek, Hay-leng-cu dan To Siao Thian. Tapi kesalahan apa yang
sudah dilakukan oleh Lie Kang ?”
Dengan dingin Siauw Cap-it-long berkata :
“Anggapmu, Lie Kang itu adalah seorang laki-laki sejati? Ia sangat tahu diri?”
Sim Pek Kun berkata :
“Semua orang mengatakan seperti itu.”
Siauw Cap-it-long berkata :
“Lie Kang adalah seorang laki-laki sejati dihadapan kaum laki-laki. Tapi... kalau dia bertemu
dengan seorang wanita yang berjalan sendirian, nah... disitu akan terbuka kedoknya.”
Sim Pek Kun tidak bicara. Karena bahan pembicaraan merekapun sudah habis.
Hujan turun lagi, ternyata masih belum puas membasahi bumi. Dari perlahan, membesar dan
deras kembali.
Tiba-tiba Siauw Cap-it-long berkata :
“Sebentar lagi hari menjadi pagi.”
“Hm....” Sim Pek Kun membenarkan dugaan itu.
“Betul-betul kau tidak ada niatan untuk pergi ?” bertanya Siauw Cap-it-long.
“Sudah kukatakan. Aku tidak mau pergi.” berkata Sim Pek Kun.

“Baik.” berkata Siauw Cap-it-long. “Mari kita pergi bersama-sama.”
Tawaran ini membuat Sim Pek Kun ragu-ragu. Siauw Cap-it-long berkata :
“Lihat ! Matahari mulai memancarkan cahayanya, musuh berada didepan kita kau kira....”
“Tidak menunggu sampai hujan mereda?” bertanya Sim Pek Kun.
“Lebih baik hujan ini tidak berhenti.” berkata Siauw Cap-it-long. “Dia telah membuat
pertolongan yang sangat banyak.”
“Pertolongan? Pertolongan kepada siapa?”
Siauw Cap-it-long berkata :
“Adanya hujan terus menerus membantu usaha kita. Tapi mengganggu pencaharian mereka.
hujan ini telah menghancurkan tapak-tapak kaki, sehingga sekarang, mereka belum berhasil
menemukan jejak kita. Karena adanya hujan inilah, kita mendapat kesempatan berlari. Kita
tertolong.”
Meninggalkan cerita Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun, kita melihat keadaan Lie Kang,
Thio Bu Kek, To Siao Thian dan Hay-leng-cu.
Disaat itu, keempat orang tersebut berada dicabang jalan. Hujan masih memukul tubuh
keempat orang. Mereka berhenti di jalan bercabang. Thio Bu Khek menghela nafas dan
berkata: “Hujan sialan! Ia telah menghilangkan jejak tapak kaki. Ia telah menghilangkan bau
buronan kita. Dimisalkan kita membawa anjing juga tidak mungkin bisa mengendus bau
orang buronan itu.
Dengan dingin Hay-leng-cu berkata: “Biar bagaimana, mereka tidak bisa melarikan diri.”
To Siao Thian berkata: “Tepat. Di dalam keadaan yang seperti ini, kita orangpun tidak bisa
melakukan perjalanan cepat. Apalagi Sim Pek Kun ia harus membawa danmenggendong
seorang laki-laki yang bertubuh berat.
“Lihat!” berkata Thio Bu Khek. “Di depan kita terdapat dua jalan...”
Lie Kang berkata: “Kita berpencaran.”
Thio Bu Khek ragu-ragu sebentar dan berkata: “Boleh juga. Aku bersama-sama dengan Lamhay-
cu. Saudara Lie Kang...”
“Biar aku seorang diri.” Potong Lie Kang. Tidak menunggu persetujuan ketiga kawannya,
tubuh Lie Kang melejit, ia mengambil jalan sebelah kiri. Jalan itu agak lebar.
Thio Bu Khek, To Siao Thian dan Hay-leng-cu saling pandang, demikian sehingga lenyapnya
bayangan Lie Kang.
“Dia memiliki pukulan yang hebat. Ilmu meringankan tubuhnya juga tidak rendah, tapi
orangnya sangat butek.”
Thio Bu Khek tertawa dan berkata: “Kau maksudkan dia salah pilih jalan?”
“Ya.” berkata To Siao Thian. “Sim Pek Kun tidak mungkin mengambil jalan ini.”
“Alasannya?” bertanya Hay-leng-cu.

To Siao Thian menjawab pertanyaan itu: “Jalan dia tempuh adalah jalan yang lebar, mudah
dilewati orang. Untuk seseorang yang sedang berada di dalam keadaan pelarian, tidak
mungkin memilih jalan yang baik. Anggapnya, di jalan yang baik ia mudah dikejar. Sim Pek
Kun akan mengajak Siauw Tjap it-long menempuh jalan pegunungan, jalan pegunungan tidak
mudah dicapai orang.”
Lie Kang menempuh jalan lebar. Dia meninggalkan jalan yang sempit kecuali ketiga rekanrekannya.
Thio Bu Khek berkata: “Betul. Inilah kesalahannya. Aku heran pengalaman-pengalaman Lie
Kang tidak berada dibawah kita, mengapa ia tidak berpikir dahulu?”
To Siao Thian memandang langit yang masih menuang-nuang air hujan, ia berkata: “Bukan
itu saja yang mengherankan, ada sesuatu yang lainnya.”
“Urusan apa lagi?”
To Siao Thian berkata: “Lie Kang adalah seorang laki-laki sejati. Entah perbuatan tidak
senonoh apa yang telah dipergoki oleh Siauw Tjap it-long sehingga dendamnya begitu hebat.”
Thio Bu Khek berkata: “Dia memaksa melakukan perjalanan seorang diri, memisahkan dari
rombongan. Kukira takut rahasianya itu dibongkar di depan umum.”
Menyambung lagi cerita Sim Pek Kun dan Siauw Tjap it-long.
Siauw Tjap it-long berkata: “Nah inilah kesempatan baik.”
“Kesempatan baik apa?” bertanya Sim Pek Kun.
Siauw Tjap it-long berkata: “Mereka tidak mudah menemukan jejak kita, tentu berpencaran.”
“Kemudian?”
“Lie Kang paling takut rahasianya dibongkar. Apalagi dibongkar di depan kawan-kawannya.
Karena itu, tentunya ia akan memisahkan diri. Tidak mau bergabung dengan ketiga orang
lainnya.”
Dugaan yang tepat!
Sim Pek Kun memandang jago itu dan bertanya: “Thio Bu Kek, To Siao Thian dan Hay-lengcu
bisa berkumpul menjadi satu?”
“Untuk sementara.”
“Alasannya?”
Siauw Tjap it-long memberi penjelasan, ia berkata: “Orang yang bisa membunuh Siauw Tjap
it-long akan mendapatkan nama besar. Karena itulah, mereka hendak memperebutkan pahala.
Masing-masing hendak mengangkangi jasa. Pepisahan dan perpecahan tidak bisa dielakan.”
“Apa mereka tidak takut digempur olehmu? apa kekuatan seorang cukup untuk menandingi
dirimu?” Sim Pek Kun mengutarakan kecurigaannya.
Siauw Cap-it-long berkata:

“Mereka semua tahu, aku sudah menderita luka berat. Dan tidak mempunyai daya tempur
lagi.”
“Tapi aku tidak menderita luka” berkata Siauw Cap-it-long
Dengan tertawa Siauw Cap-it-long berkata:
“Bagaimana kalau dibandingkan dengan ilmu kepandaian mereka!”
Sim Pek Kun menjebikan bibir, ia berkata:
“Menurut apa yang kutahu,keempat orang itu tidak berani menempur aku.”
Siauw Cap-it-long menghela napas, ia berkata:
“Mereka tidak berani menempurmu. Karena kau adalah Nyonya Lian Seng Pek. Bukan berarti
mereka takut kepada ilmu kepandaian Sim Pek Kun”.
Siauw Cap-it-long berkata:
“Mereka akan salah membuat perhitungan”.
“Oh ......”
“Mereka tidak tahu” berkata Siauw Cap-it-long. “Seseorang yang mendapat tekanan hebat itu,
mempunyai reaksi timbal balik yang tidak kalah hebatnya.”
“Tentu saja. Mereka tidak tahu berapa hebat ilmu kepandaianmu”.
Siauw Cap-it-long berkata:
“Dengan ilmu kepandaian kita berdua. Tidak sulit mengalahkan satu orang. Kalau mereka
berpencaran, kukira kita bisa membunuhnya satu-persatu.”
Suara ini dikeluarkan dengan hawa nafsu yang meluap-luap, hawa pembunuhan yang
membara.
Sim Pek Kun menyelidik. Beberapa saat kemudian ia menghela nafas dan bertanya:
“Bagaimana pandanganmu?”
“Kuharap saja mereka tidak berkumpul, maka kita bereskan satu-persatu.”
“Kemana kita harus pergi?”
“Tidak perlu pergi”, berkata Siauw Cap-it-long, “Tunggu saja disini”.
“Tunggu disini?” bertanya Sim Pek Kun. “Mereka bisa sampai ke tempat ini”.
“Kita sudah tidak bisa lari. Lari pasti dikejar mereka, lebih baik menunggu atau memancing
mereka”. “Tapi ....”
“Tentu saja. Keadaan kita sangat berbahaya. Tapi lebih berbahaya lagi, kalau mengambil cara
lain. Tenagaku sangat terbatas, kita harus menggunakannya baik baik”
Sim Pek Kun memandang sang jago berandalan itu, dengan sinar mata penuh pujian dan
kesetiaan.

Siauw Cap it-long memandang kearah sang ratu rimba persilatan dan katanya :
“Sedang kupikirkan, siapakah orang pertama yang sampai ditempat ini ?”
“Seharusnya siapa ?” bertanya Sim Pek Kun.
“Kukira To Siao Thian”
“Bagaimana kau bisa menduga kepada To Siao Thian ?”
“Pengalaman pengalaman To Siao Thian lebih banyak. Ilmu meringankan tubuhnya juga
terhebat” Siauw Cap it-long memberi keterangan. “Dan orang pertama yang harus kita bekuk
adalah manusia yang bernama To Siao Thian ini”
“Kalau dia sudah datang, apa yang harus kukerjakan ?” bertanya Sim Pek Kun.
Siauw Cap it-long ragu ragu, berpikir beberapa lama ia, bergumam :
“Biasanya seorang yang licik mempunyai penyakit sendiri” “Penyakit apa ?’
“Penyakit takut sendiri kepada banyangan diri sendiri” berkata Siauw Cap it-long. “kita harus
menggunakan kelemahan mereka”
“Bagaimana harus menghadapinya ?”
Siauw Cap it-long membisiki sesuatu, mengutarakan rencananya ditelinga Sim Pek Kun.
Hampir saja mereka bersentuhan.
Seperti apa yang Siauw Cap it-long sudah duga, orang yang pertama yang berhasil
menemukan jejak meraka adalah simanusia paling licik, To Siao Thian.
Itu waktu, Sim Pek Kun sedang duduk disebuah batu yang sedang menonjol keluar. Letaknya
batu itu berada didepan goa, solah oalh sedang mengalami pikiran kusut, ia berhujan hujan,
dan tidak merasakan rasa dingin.
To Siao Thian sudah berada ditempat itu, tapi tidak diketahui oleh Sim Pek Kun.
To Siao Thian bisa melihat adanya Sim Pek Kun, tapi To Siao Thian tidak menemukan Siauw
Cap it-long.
Kemana Siauw Cap it-long ? Tentunya bersembunyi di dalam goa.
Dengan rasa curiga, dengan berindap indap, To Siao Thian berjalan kedepan. Wajahnya
memperlihatkan senyuman, dan ia berada didepan Sim Pek Kun, seolah olah memperlihatkan
sikapnya terkejut, ia bertanya :
“Lian Hujin, bagaimana kau bisa berada ditempat ini ?”
Seolah olah TO Siao Thian itu bukan membikin pengejaran, seolah olahao Thian itu sedang
berjalan jalan, atau mungkin bertamasya dan tiba ditempat tersebut, seolah olah To Siao Thian
bertemiu dengan Sim Pek Kun secara tidak sengaja.
Mendengar teguran To Siao Thian, baru Sim Pek Kun mendongakan kepala, melirik kearah
jago licik itu, dengan senyumanya bertanya :
“Lama betul ? mengapa sampai sekarang baru sampai ?”

Sepasang mata To Siao Thian mengkilat kilat ia mencari jalan keluar untuk mengartikan
pertanyaan itu, tanyanya :
“Lian Hujin sedang menunggu diriku ?”
Sim Pek Kun berkata :
“Aku mengalami sesati jalan, kini sedang menunggu orang yang bisa diandalkan untuk
mengantar aku pulang”
To Siao Thian bertanya :
“Kemana Siauw Cap it-long ?”
Sim Pek Kun menghela napas, ia berkata
“Sudah mati ! tentunya kalian tahu, tidak mungkin dia bisa memperpanjang hidupnya "
To Siao Thian mengangguk anggukkan kepala, ia juga turut mengeluarkan keluhan napas
panjang, seolah olah, sangat bersedih, dan kini ia berkata :
“Betul betul. Lukanya memang betul betul berat. tapi kalau mendapat perngobatan secara
tetap dan cepat, kukira ia masih mempunyai kesempatan hidup”
Sim Pek Kun tertawa.
To Siao Thian bertanya lagi :
“Dimanakah mayatnya Siauq Cap it-long itu ? ah! kukira, ia masih belum mati betul”
Sim Pek Kun melirik kearah goa, tapi secepat itu pula kerlingan matanya dialihkan ketempat
lain, ia berkata :
“Aku sudah berlari lari setengah malam. Sangat letih, tidak kuat menggendongnya, kubuang
dia ditengah jalan”
“Dibuang dimana ?” bertanya To SIao Thian.
Agak gugup Sim Pek Kun berkata :
“Didalam keadaan gelap gulita, mana kutahu terbuang dimana. Perlahan lahan saja kita cari,
mungkin bisa ditemukan”
“Sudah pasti bisa ditemukan” berkata To Siao Thian tertawa.
Tiba tiba wajah To Siao Thian ditekuk masam, tubuhnya mencelat kearah goa, berteriak keras
:
“Siauw Cap it-long ! DIdalam keadaan yang seperti ini, pa guna kau main petak sembunyi ?
Hayo ! Keluar ! "
Tidak terdengar sahutan, goa itu sangat sunyi dan sepi.
Tapi Sim Pek Kun memperlihatkan wajahnya yang ketakutan, wajah yang gelisah.
Sepasang biji mata To Siao Thian berputar, dan ia membalik kembali, kini sudah berada

disebelah SIm PEk Kun, tngannya dicengkeram memegang pergelangan tangan San Ratu
Rimba Persilatan, ditekuk kebelakang.
“Maaf! " ia berkata cepat.
Wajah Sim Pek Kun berubah, ia membentak :
“Mau apa ?”
“Tidak apa apa” berkata TO Siao Thian. “Hanya minta pertolongan dan bantuan Lian Hujin,
coba berjalan didepan, ajak aku memasuki goa.
Dengan mengertak gigi, SIm Pek Kun membentak :
“Berani... berani kau berlaku kurang ajar ?”
Dengan dingin To Siao Thian berkata :
“Untuk hari biasa, tentu saja tidak berani. Tapi lain dulu lain sekarang. Didalam keadaan yang
seperti ini, didaerah kehutanan yang sunyi dan sepi, tiada lain mahluk penghuni, lebih baik
Lian Hujin mengambil sikap yang lebih bijaksana”
Wajah Sim Pek Kun pucat pasi, lagi lagi membanting banting kaki.
To SIao Thian sudah mendorong Sim Pek Kun kedepan goa, hendak dijadikan tameng, mau
dijadikan sandera. Sesudah itu, dengan kecurigaan yang luar biasa, To SIao Thian membentak
:
“Siauw Cap it-long, dengar ! Sim Pek Kun sudah berada ditanganku, berani main gila, kalian
berdua akan mengalami kecelakaan yang lebih hebat... "
Suara To Siao Thian yang terakhir belum tertutup. tiba tiba ia mengeluarkan jeritan. Seperti
ada ribuan tawon mengantuk punggungnya.
Menggunakan kesempatan baik, Sim PEk Kun menarikkan tangnnya. memukul kebelakang.
To Siao Thian tertusuk jarum jarum, terpukul olej Sim Pek Kun. terguling jatuh dimulut goa.
Ia kini mengarah kebelakang.
Disana didepan To Siao Thian sudah berdiri seseorang, itulah Siauw Cap it-long. Dengan
senyumnya yang mengejek Siauw Cap it-ong memandangi TO Siao Thian.
Korban pertama !
Sepasang mata To Siao Thian didelikkan seolah olah mau meletus keluar, ia menahan sakit
dam membentak :
“Kau... kau sirampok besar... "
Siauw Cap it-long berkata :
“Kalau aku sudah menjadi seorang perampok besar, kau sekarang juga sudah menjadi
perampok tolol, kau kira aku berada didalam goa, bukan ? Inilah kecerobohanmu. AKu tidak
berada didalam, aku berada diluar goa.
* TIPU MUSLIHAT *

“Kau... kau... "
To Siao Thian masih belum mengerti, “Kau menggunakan senjata apa ?”
“Hanya jarum mas dari keluarga Sim yang biasa saja” Berkata Siauw Cap it-long. “Tentu saja
jarum mas dari keluarga Sim yang mengandung unsur beracun”
Wajah To siao Thian berkerinyut, daging dagingnya berkerutukan, ia merintih sebentar,
kepalanya toklek, untuk mengucapkan selamat tinggal kepada dunia.
Tubuh To Siao Thian jatuh menggeletak.
Tubuh Siauw Cap it-long juga terjatuh.
Sim Pek Kun terkejut, cepat cepat ia menubruk.membangunkannya, dan bertanya dengan
suara merdu :
“Kau tidak apa apa? "
Siauw Cap it-long tertawa menyengai katanya :
“Ku usahakan sedapat mungkin, agar ia tidak jatuh, sebelum To Siao Thian menghembuskan
napasnya yang terakhir. Aku berhasil, kalau saja aku jatuh dahulu, kita bisa celaka ...
Sim Pek Kun menghela napas, ia berkata: “Tidak kusangka, kau menggunakan jarum mas dari
keluarga SIm tidak dibawahku "
Siauw Cap it-long menghela napas, ia berkata :
“Seseorang yang sudah hampir mengalami hari hari terakhirnya, apapun bisa saja dilakukan”
“Sesudah To Siao Thian jatuh menggeletak, tubuh itu tidak berkitik lagi”
Napas Siauw Cap it-long masih berlum teratur betul, sengal sengal, menengok kearah mayat
To Siao Thian ia bergumam :
“Masih beruntung, kecurigaannya ia sangat hebat, kalau tidak, oh... "
Sim Pek Kun berkata :
“Biar kuseret manyatnya kedalam goa "
“Jangan! " berkata Siauw Cap it-long. “Mayat ini bisa digunakan sebagai umpan. Sangat baik
untuk kita gunakan” “Masih hendak digunakan ?”
Siauw Cap it-long mengatupkan kedua matanya, ia sedang mengilmiah, dan perlahan lahan
berkata :
“Orang kedua yang akan datang pasti adalah Thio Bu Kek”
Sim Pek Kun tidak mengajukan pertanyaan, dari mana Siauw Cap it-long bisa menduga kalau
orang kedua yang bisa menemukan jejak mereka adalah Thio Bu Kek. Ia begitu yakin dan
percaya, menyerahkan segala sesuatu kepada Siauw Cap it-long.
Tapi Siauw Cap it-long, sudah memberi keterangan lebih dahulu, katanya :
“Thio Bu Kek memiliki kecerdikan otak yang luar biasa, dan sifatnya juga licik cerdik,

biasanya orang yang cerdik pandai ini selalu memiliki keistimewaan, itulah keistimewaan
takut kepada diri sendiri. Takut dan bernyali kecil”
“Bagaimana kau harus menghadapi Thio Bu Kek ?” bertanya Sim Pek Kun.
Siauw Cap it-long berkata :
“Dalam selipan sepatuku terdapat pisau kecil, tolong keluarkan”
Pisau kecil itu sangat tajam, SIm Pek Kun mencobanya, dan ia berkata :
“Kau hebat ! Siapa yang sangka kau masih mempunyai simpanan didalam sepatu ?”
Siauw Cap it-long berkata :
“Aku lebih suka menggunakan pisau. Pisau itu bukan saja dapat digunakan untuk membunuh
orang, juga serba guna”
“Aku mengerti " berkata Sim Pek Kun. “Pisau yang bagus harus bercahaya terang,s eperti
intan dan berlian. kalau saja jatuh dalam tanganmu pasti kau bisa memuaskan”
Sim Prk Kun berkata :
“Dimasa aku kecil, aku tidak boleh menggunakan pisau. Karena pisau itu bisa berbahaya, bisa
melukai jari ternyata disamping kejahatan kejahatan sang pisau pribadi bisa saja kita
menggunakan pisau tersebut”
“Itulah kita telah melibatkan diri didalam satu kesulitan, pisau ini bisa banyak membantu”
“Bagaimana kau hendak menyuruh sang pisau membantu usaha kita ?”
SIauq Cap it-long menerima pisau tersebut dan berkata :
“Balikkan kepalamu kebelakang”
SIm Pek Kun masih menatap Siauw Cap it-long, ia berkata :
“Aku tidak perlu membalikkan kepala kebelakang. Apapun yang kau kerjakan, pasti saja
betul. Mengapa harus membalikkan kepala ?”
Siauw Cap it-long mengelakan pandangan mata Sim Pek Kun, dengan pisaunya ditancapkan
kedada mayat To Siao Thian, Sesudah itu baru memberi penjelasan :
“Dengan cara seperti itu, seolah olah To Siao Thian terbunuh mati secara depan berdepan.
Thio Ku Kek bisa menduga sesuatu, ia harus berpikir pikir, sampai dimanakah ilmu
kepandaianku ? Masih dalam keadaan terluka ? Atau sudah kuat bertempur lagi, maka sengaja
kupasang keadaan yang seperti ini. Kalau Thio Bu Kek tahu, To Siao Thian mati tertusuk dari
depan, tentu ia tidak berani dekat padaku "
“Ng... "
“Didepan itu ada dua baris pohon, sudahkah kau lihat ?” bertanya Siauw Cap it-long.
Sim Pek Kun berkata :
“Thio Bu Kek tentu takut kepadamu, karena kau sudah berhasil membunuh To Siao Thian
dari depan. Tentu ia tidak berani mendekati. Tentu ia mengundurkan diri sehingga kearah dua

baris pohon itu. Beginikah caramu ?”
“Hebat !” Siauw Cap it-long tertawa “kau telah mendapat pelajaran yang baik kemajuanmu
juga cepat”
“Kemudian ?” bertanya Sim Pek Kun ” Kau bersembunyi dibalik ujung lain dari pohon pohon
tersebut, disana daunnya lebih rimbun. TIdak mudah diketahui, kau berjongkok sebawah
mungkin sudah mengarti ?”
“Mengerti” Siauw Cap it-long berkata : “Harus baik baik menggunakan kesempatan ini,
sebelum ia sadar akan kelengahannya, jarum masmu itu harus bisa mengenainya”
Sim Pek Kun tertawa manis, ia berkata :
“Percayalah, dajur dari keluarga Sim bukan saja bisa digunakan untuk menyulam, ia lebih
banyak kegunaannya untuk menyerang”
Siauw Cap It Long mengeluarkan elahan napas panjang, dengan tertawa ia berkata: “Inilah
memberi umpan memancing ikan. Tidak takut ia sudah datang, yang kita takuti adalah
kecurigaannya”
Menyambung kata kata Siau Cap It Long, tiba tiba terdengar satu suara lain: “Bagus!
Memang tipu yang luar biasa”
Sim Pek Kun dan Siau Cap It Long saling pandang, wajah mereka berubah. Ternyata mereka
berunding terlalu lama, musuh sudah tiba!
Siapa yang datang? Betulkah Thio Bu Kek?
Bukan! Orang yang datang, orang yang menggagalkan rencana Siau Cap It Long adalah Hay
leng Cu.
Siau Cap It Long belum bisa menjadi dewa, betapa tepatpun perhitungannya tidak mungkin
selalu memaksakan orang. Kadang kala, perhitungannya juga bisa mengalami kegagalan,
seperti kejadian tadi, ia memperhitungkan kedatangan Thio Bu Kek, yang diluar dugaan,
orang kedua yang berhasil menemukan jejak mereka adalah Hay Leng Cu! Bukan Thio Bu
Kek!
Badan Sim Pek Kun menjadi dingin.
Hay Leng Cu menggunakan tudung hujan yang lebar, tangannya memegang pedang, berdiri
tidak jauh dari Sim Pek Kun berada. hujan masih membasahi bajunya, membasahi badan Hay
Leng Cu yang kurus kering.
Keadaan Hay leng Cu di tempat yang seperti itu, seolah lah setan dari akherat yang lari
meninggalkan tempatnya, menggerayangi dunia manusia, mencari pengganti.
Sim Pek Kun tidak berani menatap Hay Leng Cu terlalu lama, berpaling kearah Siau Cap It
Long, hendak meminta pendapat si jago berandalan.
Siau Cap It Long masih tertawa. Dengan dingin Hay Leng Cu bertanya: “Diluar dugaan,
bukan? Tidak diduga akan kedatanganku?”
Siau Cap It Long berkata: “Kau kira diluar dugaan kita? Bah, sebetulnya sudah kuketahui
lama, gerakkan kasak kusukmu yang bersembunyi disana. Sengaja kuberikan kepadamu,
semua rencana rencana kita, kalau tidak bicara seperti ini, mana mungkin kau berani datang
kemari?”

Suara Siau Cap It Long menandakan suaranya yang sangat girang, suara di dlaam keadaan
yang wajar.
Sim Pek Kun hampir tidak percaya atas reaksi yang seperti ini. Wajah Hay leng Cu berubah
sedikit. Sim Pek Kun hampir percaya, bahwa keterangan Siau Cap It Long itu adalah
keterangan yang sejujurnya, keterangan dari hatinya yang asli.
Wajah hay leng Cu berubah, tapi langkahnya tidak segera terhenti, gerakkannya tidak cepat,
juga tidak lambat. Setiap langkah kaki, dibarengi oleh irama pedang yang terayun. Gerakkan
hampir tidak bisa tercela, sulit untuk menyerang orang yang membawakan sikap yang siap
siaga.
Hay Leng Cu tidak mudah percaya kepada keterangan orang, ia tidak percaya kepada siapa
yang dikatakan oleh Siau Cap It Long, tapi ia juga tidak percaya kepada matanya sendiri.
Dalam keadaan yang luka parah itu, Siauw Tjap it-long tidak mempunyai kekuatan tempur,
tapi ia tidak percaya, tidak percaya kalau Siauw Tjap it long itu mau menyerah dan mandah
menerima cincangan.
Siauw Tjap it Long tidak bisa menunggu waktu, tidak bisa ditunggu lagi, waktu cepat berlalu.
Dengan semua sisa kekuatan yang ada, Siauw Tjap it long menerkam.
Bagaikan seekor singa yang luka, terkaman itu sangat garang dan roboh di depan kaki Hayleng-
tju. Kekuatannya tidak menjakinkan, seperti sebongkah batu, djatuh di depan kaki Hayleng-
tju.
Sim Pek Kun mengeluarkan djeritan kaget.
Pedang Hay-leng-tju bergerak. Seperti pagutan ular, memagut dan menotok ke djalan darah
Siauw Tjap-it-long.
Siauw Tjap-it-long tidak bisa mengelakkan datangnja serangan ini, meningkatkan badan,
meraihkan tangan kanan, menjambak datangnya pedang Hay-leng-tju.
Tjresss... pedang itu mengenai telapak tangan Siauw Tjap-it-long, menusuk daging
mengakibatkan pendarahan, cairan merah muncrat.
Wadjah Hay-leng-tju menyeringai puas, ia hendak menarik pedang itu, hendak ditusukkannya
sekali lagi.
Dan di saat ini, Siauw Tjap-it-long membalikkan telapak tangan, dengan djarak dagingnja
masih melekat, ia memegangi tajamnya pedang Hay-leng-tju.
Tentu sadja disertai dengan tenaga dalam.
Hay-leng-tju hendak berontak, tidak berhasil, tubuhnya menjadi limbung dan djatuh rubuh.
Djarum mas pencabut nyawa bertaburan di udara, dibarengi jatuhnya air hujan, mengurung
Hay-leng-tju.
Reaksi Siauw Tjap it-long sangat cepat, melebihi siapa saja. Mengetahui kekuatannya lemah,
mengetahui tidak ada daja kekuatan sendiri, dengan darah dagingnya dia menempel pedang
Hay-leng-tju, dengan harapan bisa mendapat bantuan Sim Pek Kun.
Kalau saja Sim Pek Kun tidak bisa diajak kerja sama, membiarkan kesempatan itu lewat,
celakalah mereka.

Yang mujur Sim Pek Kun telah mendapat pengalaman2, telah bisa menyerasikan keadaan, di
saat itu juga ia menaburkan jarum mas pencabut nyawa dari keluarga Sim yang hebat.
Namanya tipu daya yang digunakan oleh Sim Pek Kun adalah Boan-thian-hia-ie yang berarti
hujan jarum mas pencabut nyawa.
Nama tadi cocok dengan keadaan, jatuhnya Siauw Tjap it long di depan kaki Hay-leng-tju
adalah untuk menghindari terkena salah satu jarum tersebut, inilah kesempatan baik.
Hay-leng-tju menggeram, melempar pedang, menjungkir balikkan badan. Tidak urung, tujuh
batang jarum emas pencabut nyawa telah bersarang di dalam tubuhnya.
Sebuah belati yang mungil dan mulus turut bersarang di perut manusia jahat.
Siauw Tjap-it-long terlena di tanah, nafasnya semakin sengal2 ngos2an, air hujan masih
memukul dirinya, tapi tidak dirasakan sakit lagi. Mungkinkah jujan sudah menjadi kecil, atau
keadaan yang semakin lemah hingga tidak bisa merasakan adanya rasa sakit itu?
Sim Pek Kun berdiri ter-mangu2, matanya memandang ke arah majat Hay-leng-tju, hampir ia
tidak percaya kepada kenyataan yang ada. Sukmanya hampir copot.
Siauw Tjap-it-long menggeser badan, berontak, ia sedang berdaja upaja untuk bangkit berdiri.
Kejadian ini mengejutkan Sim Pek Kun menyadarkan lamunannya, cepat2 ia lari memayang
kedua tangan laki2 itu, dengan sabar ia berkata:
“Oh.... lukamu....”
Berapa banyak luka yang sudah mencacah tubuh Siauw Tjap-it long, darah menjadi satu
dengan air hujan.
“Tidak jadi soal,” berkata Siauw Tjap-it-long, “Coba tolong bangunkan aku.”
“Lukamu begitu hebat,” berkata Sim Pek Kun. “Lebih baik... lebih baik kau berbaring saja.”
“Aku harus duduk. Aku harus bangun.” berkata Siauw Tjap-it-long. “Kalau tidak... maka aku
terbaring untuk selama2nya...”
Hujan mulai mereda, kini hujan gerimis tapi masih belum berhenti.
Akhirnya Siauw Tjap-it-long bisa duduk bersila di tepian mayat Hay-leng-tju dan To Siao
Thian, di sana ia membenarkan djalan peredaran darah.
Sim Pek Kun berdiri di sebelah, se-olah2 dunia ini tersedia untuk mereka berdua. Tidak ada
tempat untuk dunia lainnya.
Siauw Tjap-it-long mengatupkan sepasang mata itu lama, tiba-tiba ia membuka dan berkata,
“Thio Bu Kek, sudah lama kau datang, mengapa masih menyembunyikan diri ?”
Hati Sim Pek Kun tercekat, hampir ia lompat keatas, matanya menyapu kesekeliling tempat,
ia tidak melihat ada bayangan Thio Bu Kek. Apa arti kata-kata Siauw Cap-it-long tadi ?
Beberapa saat berlalu, lagi-lagi Siauw Cap-it-long membuka suara :
“Thio Bu Kek, kau sudah berada disitu. Mengapa tidak keluar ?”

Kata-kata yang sama diulang sehingga empat kali.
Setiap kali memakan waktu beberapa menit, demikian sehingga ulangan keempat, betul betul
Thio Bu Kek bisa dipancing keluar.
Langkah Thio Bu Kek bersikap tenang, tapi wajahnya memperlihatkan kecurigaan,
keheranan. Dengan langkahnya yang begitu ringan, bagaimana Siauw Cap-it-long bisa
mengetahui kedatangannya ?
Siauw Cap-it-long sudah membuka mata. Tapi tidak terarah ke tempat Thio Bu Kek. Ia
tersenyum kecil dan berkata :
“Sudah kuketahui, kau pasti datang ditempat ini, yang berada diluar dugaan, mengapa kau
datang ayal-ayalan, sehingga telah didahului oleh Hay-leng-cu.”
Thio Bu Kek melirik kearah mayat Hay-leng-cu yang menggeletak, wajahnya berubah.
Mempelototkan mata memandang Siauw Cap-it-long, rasa tercengangnya semakin hebat.
Siauw Cap-it-long berkata :
“Jangan mendelikkan mata seperti itu. Hay-leng-cu dan To Siao Thian bukan mati dibunuh
olehnya.”
“Bukan kau ?” bertanya Thio Bu Kek. “Siapa ? Siapa yang membunuh mereka ?”
“Aku sendiripun tidak tahu.” berkata Siauw Cap-it-long. “Baru saja mereka tiba disini,
mendadak saja jatuh. Sesudah itu mati.”
Mata Thio Bu Kek berlikat-kilat, ia bertanya :
“Mereka datang untuk mati didepanmu ?”
“Ya.” berkata Siauw Cap-it-long. “Datanglah lebih dekat lagi. Lihat dan periksa saja luka
mereka, maka kau bisa mendapatkan buktinya.”
Kata-kata ini menyebabkan reaksi yang lain. Thio Bu Kek tidak maju kedepan, tapi ia sudah
mundur kebelakang, katanya marah :
“Mengapa harus dekat. Dari sini, aku juga bisa melihat adanya tanda-tanda kematian mereka.”
“Kau tidak percaya keteranganku ?” bertanya Siauw Cap-it-long.
Bibir Thio Bu Kek bergerak-gerak, tetapi tidak sepatah katapun yang keluar dari tempat itu.
Siauw Cap-it-long menghela napas panjang panjang, dengan membawakan sikapnya yang
seperti sangat sedih, ia berkata.
“Tenagaku sudah habis, lukaku juga tidak ringan, aku hendak melarikan diri, tapi sudah tidak
bertenaga lagi, bagaimana bisa membunuh orang ? Bagaimana bisa membunuh To Siao Thian
tayhiap dan Hay-leng-cu yang menjadi jago pedang kenamaan dari Hay-lam-kiam-pay ?”
Thio Bu Kek masih diam, Ia hendak mengilmiah keadaan dan strategis kesempatan.
Siauw Cap-it-long berkata lagi :
“Sekarang aku sedang duduk disini. Menunggu ajal kematianku.”

“Menunggu ajal kematian ?” bertanya Thio Bu Kek ragu-ragu.
Siauw Cap-it-long tertawa getir, ia berkata :
“Mengapa harus bohong kepadamu ? Kalau kau datang lebih dekat lagi, menarik batok
kepalaku. Kukira mudah saja dicopot. Aku sudah tidak mempunyai kekuatan untuk bertahan.
Yang lebih hebat lagi, tidak ada yang bisa membantu usahaku. Jarum pencabut nyawa dari
nona Sim Pek Kun juga sudah habis diobral. Inilah yang membuat lebih celaka !”
Sim Pek Kun hanya bisa mengeluh didalam hati, mengeluh secara gelisah sekali. Ia lebih
mengerti, kata-kata Siauw Cap-it-long yang dikatakan itu adalah suara yang sejujurnya,
mereka tidak mementingkan hidup, dia juga sudah kehabisan jarum pencabut nyawa.
Heran ! Mengapa Siauw Cap-it-long harus memberikan keterangan seadanya, sudah gilakah
dia ?
Apa akibatnya, kalau Thio Bu Kek percaya kepada keterangan itu dan maju kedepan ?
Bah ! Runyam !
Kenyataan tidak seperti apa yang Sim Pek Kun bayangkan, langkah Thio Bu Kek bergerak,
tapi bukan dia maju kedepan, kini mundur semakin jauh lagi.
Siauw Cap-it-long berkata :
“Kalau kau hendak membunuh diriku, inilah kesempatan terbaik. Mengapa kau harus
membuang peluang waktu? Hayo !”
Tiba-tiba Thio Bu Kek tertawa berkakakan, entah apa yang ditertawakan olehnya, ia tertawa
begitu besar, sampai air matanya meleleh dua tetes.
Siauw Cap-it-long berkata :
“Eh, inilah rasa kejantananmu? Mengeluarkan air mata, sebelum melakukan pembunuhan ?”
Sesudah Thio Bu Kek tertawa puas, ia berkata :
“Kalian berdua adalah lakon-lakon sandiwara yang baik. Permainan akrobat kalian juga hebat.
Sangat realistis ! Sayang, aku tidak mempunyai pikiran otak yang seperti To Siao Thian, dan
juga tidak mau disamakan dengan Hay-leng-cu.”
Siauw Cap-it-long bertanya :
“Masih tidak percaya kepada keteranganku ?”
“Aku tidak mau dijadikan kelinci percobaan. Aku tidak mengharapkan sebuah belati kecil
yang tertancap diatas dadaku.”
“Sayang ! Sayang sekali !” berkata Siauw Cap-it-long. “Sayang sekali kalau kau membuang
kesempatan yang baik dihari ini.”
“Terima kasih.... terima kasih.... terima kasih atas budi kebaikanmu.”
“Kau akan menyesal dikemudian hari.” berkata Siauw Cap-it-long.
“Lebih baik aku menyesal dikemudian hari, daripada harus menggeletak untuk selamalamanya.”
berkata Thio Bu Kek, tubuhnya melejit, mumbul keatas dan meluncur pergi.

Meninggalkan Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long berkata :
“Kalau kau sudah berhasil menemukan jawaban yang dianggap tepat, silahkan balik kembali,
biar bagaimana, aku sudah tidak mempunyai kekuatan untuk lari !”
Suara Siauw Cap-it-long yang terakhir, tentu saja tidak bisa didengar oleh Thio Bu Kek.
Karena disaat mana, bayangan Thio Bu Kek sudah lenyap tak terlihat.
Sesudah kepergian Thio Bu Kek, tulang-tulang Sim Pek Kun dirasakan menjadi lemas, ia
jatuh dan terduduk ngeloso. Ia mengirim satu kerlingan mata yang menarik, dan berkata :
“Tidak kusangka. Thio Bu Kek bisa dikaburkan olehmu !”
Siauw Cap-it-long mengeluarkan elahan napas panjang, ia berkata :
“Aku sendiripun tidak menyangka, sebelumnya aku tidak mempunyai pegangan yang sangat
kuat.”
“Tetapi, hampir saja aku jatuh pingsan karena kata-katamu tadi.”
“Beruntung hujan masih belum berhenti.” berkata Siauw Cap-it-long. “Thio Bu Kek belum
bisa membedakan, yang mana keringat ketakutan dan yang mana butiran air hujan.”
“Hujan baik.” berkata Sim Pek Kun. “Air hujan membersihkan dirimu, membersihkan
darahmu sehingga Thio Bu Kek tidak tahu bahwa kau telah banyak menderita luka.”
Mereka saling pandang, akhirnya mereka tertawa.
Sim Pek Kun bisa mengeluarkan suara lega, timbul rasa kantuknya, matanya terlalu sepet,
letihnya tidak kepalang, sesudah melakukan perjalanan seorang diri, perjalanan yang belum
pernah ditempuh selama hidup Sim Pek Kun. Akhirnya ia bisa berhasil menyelamatkan
nyawa Siauw Cap-it-long.
“Hanya Lie Kang seorang yang belum datang.” bisik Siauw Cap-it-long.
Tentu saja Lie Kang belum sampai di tempat itu, Lie Kang salah jalan karena takut kalau
rahasianya dibongkar oleh Siauw Cap-it-long, karena itu ia memisahkan diri. Memilih jalan
yang lebar, itulah jalan salah. Juga berbeda dengan keadaan To Siao Thian, Hay-leng-cu dan
Thio Bu Kek yang menuju jalan sempit. Satu persatu mereka berhasil menemukan Siauw
Cap-it-long.
Lie Kang memilih jalan lebar ! Tentu saja harus berputar-putar.
“Kemanakah Lie Kang pergi ?” bertanya Sim Pek Kun
“Kukira ia tidak datang.” berkata Siauw Cap-it-long.
Lagi-lagi mereka berpandangan, tangan Sim Pek Kun meremas tangan Siauw Cap-it-long.
Sebagai seorang nyonya agung, sebagai seorang wanita yang pernah kawin, seharusnya Sim
Pek Kun tidak berani melakukan gerakan itu. Tetapi, keadaan lain dari pada yang lain,
keadaan sekarang adalah keadaan yang kritis, mungkin keadaan untuk terakhir kali pertemuan
mereka.

Dimulut, mereka tidak mengucapkan kata cinta. Tapi hati mereka sudah terikat, mereka
kepada penghidupan, mengapa tidak mengamprokkan lebih cepat dari apa yang keadaan ?
Mengapa Siauw Cap-it-long bertemu Sim Pek Kun, sesudah Sim Pek Kun kawin dengan Lian
Seng Pek ?
Mereka masing-masing berkata dalam hati, mengharapkan tidak hadirnya Lie Kang. Tapi hal
itu tidak mungkin, cepat atau lambat, pasti Lie Kang bisa sampai ditempat mereka.
Biar bagaimana, Lie Kang tidak akan melepaskan kesempatan itu.
Dimisalkan Lie Kang tidak berhasil menemukan jejak mereka, bisakah Siauw Cap-it-long
bertahan ? Didalam luka yang seperti itu ? Bisakah Siauw Cap-it-long memperpanjang
umurnya ?
Luka Siauw Cap-it-long terlalu berat, sangat parah !
Melupakan keagungan seorang nyonya yang terhormat, Sim Pek Kun menoleh kesamping,
perlahan-lahan ia berkata :
“Maksudku.... maksudku, agar kau bisa menyelami hatiku.”
“Aku bisa.” berkata Siauw Cap-it-long.
“Biar bagaimana,” berkata Sim Pek Kun mengertek gigi. “Aku tak akan menyesal lagi.”
Siauw Cap-it-long berdiam beberapa lama, beberapa saat kemudian ia berkata :
“Kalau kau mau, aku mempunyai cara untuk menghadapi Lie Kang.”
**********
Hujan masih belum habis. Menetes turun dari atas langit.
Lie Kang mengangkat tudung cekuknya, ia menyusut wajahnya yang basah. Sudah sebelah
gunung dicari, tidak berhasil ia menemukan kedua buronannya. Ia hampir kecewa.
Disaat inilah ia menemukan Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun.
Siauw Cap-it-long celentang disana, Hay-leng-cu berada disebelah Siauw Cap-it-long,
tangannya masih memegang pedang, pedang itu telah menusuk bagian selangkangan si jago
berandalan.
To Siao Thian juga sudah menggeletak, berbeda dengan keadaan Hay-leng cu, tangan To Siao
Thian masih memegang urat nadi Siauw Cap-it-long, dan lain tangannya menempuh di jalan
darah Siauw Cap-it-long.
Sepintas lalu, dengan adanya tiga mayat yang bergelimpangan seperti itu, tentunya sudah
terjadi pergumulan hebat, akhirnya sama-sama mati.
Beberapa langkah dari ketiga orang itu, tergeletak lain tubuh, itulah Sim Pek Kun.
Dada Sim Pek Kun masih bersembul naik turun, tentunya belum mati. Wajah nyonya itu
pucat pasi, alisnya yang hitam panjang telah basah, bajunya juga basah, membungkus
tubuhnya yang padat berisi.
Sepasang mata Lie Kang bentrok dengan tubuh montok itu, dan disanalah ia terpaku.

Sim Pek Kun seperti tertidur, seperti juga jatuh pingsan. Ia tidak tahu, bahwa sepasang mata
liar sudah mengincar dirinya.
Berkelebat cahaya dimuka Lie Kang, terjadi sedikit perobahan, kini semakin lama semakin
membara, memanasi seluruh tubuhnya. Melawan jatuhnya air hujan, seperti ada api yang
sedang bekerja, napasnya menjadi sengal-sengal dan ia mengeluarkan suara desisan.
“Tidak percuma dia mendapat julukan ratu rimba persilatan.....”
Kata-kata ini dibarengi oleh terkamannya. Lie Kang sudah menubruk tubuh Sim Pek Kun
yang montok dan berisi.
Badan Sim Pek Kun terasa gemetar.
Dengan napas yang sengal-sengal, Lie Kang menyobek baju depan nyonya itu, matanya
semakin liar, semakin nakal....
Didalam keadaan seperti inilah tiba-tiba mata Lie Kang melotot, mendelik dan mengejang,
desisan suaranya semakin lama semakin perlahan, akhirnya terhenti....
Dari mulut Lie Kang, meleleh keluar cairan darah merah.
Dada Lie Kang telah tertancap belati, tepat mengenai jantung dan uluhati, karena itulah
kematiannya sangat cepat.
Sim Pek Kun mendorong pergi tubuh itu, rasa takutnya masih belum hilang, ia menggigil.
Sim Pek Kun masih belum bisa merasakan perobahan yang terjadi. Badan Lie Kang yang
menubruk itu dari panas, menjadi hangat, akhirnya dingin, dingin dan membeku.
Korban Lie Kang adalah korban yang ketiga.
Siauw Cap-it-long berhasil membunuh orang yang hendak membunuh mereka.
*********
Sim Pek Kun melarikan diri, ia melarikan diri dari atas gunung, kini sesudah berhasil
mengelakkan musuh-musuhnya, dengan memayang Siauw Cap-it-long, ia mulai turun
gunung. Meninggalkan mayat Lie Kang, meninggalkan mayat Hay-leng-cu, dan
meninggalkan mayat To Siao Thian.
Tidak mudah untuk mencapai gunung itu juga sulit untuk menuruni gunung. Luka Siauw Capit-
long terlalu berat, mereka berjalan secara tergesa-gesa, walau tidak ada pengejaran. Tapi
maut masih selalu mengincar.
Kini, Sim Pek Kun sadar, bahwa laki-laki sejati Lie Kang juga memiliki sifat kepuasannya.
Selama perjalanan turun itu, tidak sekejap matapun keluar dari mulut Sim Pek Kun.
Siauw Cap-it-long juga tidak mengganggu kedatangan itu, mereka berjalan dengan tergesagesa.
Disaat ini, didalam rimba terdapat dua bayangan.
Kedua bayangan itu melesat dengan cepat.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun tidak tahu akan adanya dua bayangan tersebut.

Siapakah kedua bayangan itu ?
Mereka adalah Lian Seng Pek dan Thio Bu Kek.
Lian Seng Pek membiarkan isterinya menggandeng gandeng seorang laki lain, menghela
napas panjang. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Tidak terjadi perobahan yang
menyolok mata.
Berdiri di samping Lian Seng Pek adalah Thio Bu Kek, memperhatikannya segala perobahan
si kongcu tersebut.
Beberapa saat kemudian, Thio Bu Kek bertanya.
“Saudara Lian Seng Pek, kau juga hendak mengejar mereka ?”
Perlahan-lahan Lian Seng Pek menggoyang kepalanya, dengan perlahan ia berkata :
“Kalau dia mau kembali kepadaku, cepat atau lambat, pasti dia kembali. Tapi kalau dia sudah
tidak butuh diriku, diuber pun percuma saja.”
Thio Bu Kek bungkam. Dan disaat ini ia memperlihatkan senyumnya sinis, ia bergumam :
“Betul. Sim Pek Kun pasti kembali kepadamu. Tidak mungkin Siauw Cap-it-long bisa
bertahan lama.”
SEBUAH TEMPAT YANG SANGAT AJAIB
_______________________________
Sesudah melewati bukit tanah itu, mereka akan berjalan di dataran luas.
Siauw Cap-it-long membekap mulutnya, membekap batuk yang hampir tidak tertahan.
Mereka telah melakukan perjalanan di dalam keadaan sakit.
Dengan penuh perhatian, Sim Pek Kun bertanya :
“Kau lelah ? Istirahat dulu, ya ?”
Siauw Cap-it-long bergoyang kepala, tapi disaat inilah tubuhnya roboh, tangan yang dibekap
ke mulut juga terpentang, tangan itu telah bercucuran darah.
Sim Pek Kun berteriak kaget, cepat-cepat membangunkan Siauw Cap-it-long.
Disaat ini juga, kepala Sim Pek Kun menjadi puyeng, terasa dunia berputar, semakin lama
semakin hebat, akhirnya ia juga roboh, roboh diatas badan Siauw Cap-it-long. Roboh tidak
sadarkan diri lagi.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun jatuh tidak sadarkan diri.
***************
Orang pertama yang sadarkan diri adalah Siauw Cap-it-long !
Begitu pikirannya bisa dikasi bekerja, segera ia mencari jejak Sim Pek Kun.

Usaha itu tidak percuma, Sim Pek Kun tertidur disebelahnya.
Yang aneh, mereka tidak berada dirumput-rumput pegunungan, mereka tertidur di sebuah
tempat tidur yang empuk, tempat tidur yang bersih.
Tempat tidur itu adalah tempat tidur nomor satu, bisa digunakan oleh dua orang. Siauw Capit-
long dan Sim Pek Kun tertidur sama-sama.
Tempat tidur itu disertai dengan seprei putih, rapih dan bersih, terdapat juga kelambu putih,
dengan sulam-sulaman berpinggiran benang emas aneka ragam yang menarik.
Mereka juga tidak mengenakan pakaian yang basah kuyup, pakaian itu sudah tiada, mereka
mengenakan pakaian tidur yang bersih, baju tidur yang terbuat dari kain halus.
Tiba-tiba Siauw Cap-it-long mendapatkan dirinya sudah berada disuatu tempat yang sangat
misterius.
Mereka berada dalam impian ?
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun tertidur ditempat tidur yang sangat bersih. Itulah ruangan
yang sangat mewah.
Tempat istana raja ?
Didepan mereka terdapat sebuah meja, meja emas, dan emas murni, diatas meja ada lilin,
disekitarnya ada pajangan, terbuat dari batu batu pualam.
Siauw Cap-it-long mengkerut kepala, siapakah yang menjadi pemilik istana ini ? Ruangan
ditempat dimana mereka berada adalah ruangan terindah yang pernah dialami olehnya.
Tempat itu lebih kaya dari seorang hartawan, mungkinkah berada didalam istana raja ?
Siauw Cap-it-long berkedip-kedip beberapa kali, ia tidak pernah mengimpi, terlebih-lebih
impian dalam khayalan.
Perlahan-lahan Siauw Cap-it-long meninggalkan tempat tidur, ia berusaha sedapat mungkin,
agar tidak membangunkan Sim Pek Kun.
Tentu saja, hal ini untuk menghindari kerewelan. Kalau saja Sim Pek Kun sadar dan
mengetahui, ia tidur bersama seorang laki-laki yang bukan menjadi suaminya, kecanggungan
mereka sulit dilepaskan.
Berindap-indap, Siauw Cap-it-long meninggalkan tempat tidur.
Diluar kamar itu, terdapat lorong panjang, lorong yang disertai dengan permadani mahal.
Memeriksa luka-lukanya, luka itu sudah sembuh. Keanehan terjadi !
Bagaimana lukanya bisa sembuh begitu cepat ?
Karena ia sudah tertidur. Karena sudah ada orang yang menyembuhkannya.
Siapa orang yang menolong mereka? Dengan obat apa berhasil menyembuhkan luka-luka
yang begitu cepat ? Dengan alasan apa mau menolongnya ?
Pertanyaan pertanyaan yang terlalu banyak.

Diatas pintu terukir oleh ukiran emas, disana tergantung dua gelang, berwarna kuning, itulah
mas murni.
Siauw Cap-it-long mendapatkan dirinya didalam satu dunia khayalan.
BONEKA DAN ISTANA BONEKA
Ruangan ini tidak terlalu besar. Tiada banyak isi, hanya sebuah meja besar yang menghiasi
ruangan. Meja ini sangat besar, hampir memakan setengah ruangan dari tempat yang ada.
Diatas meja itu berdiri beberapa boneka, mereka berada didalam rumah boneka.
Inilah rumah-rumahan, rumah-rumahan yang terindah.
Didalam khayalan anak pembesar manapun tidak mungkin bisa menemukan rumah-rumahan
seindah seperti apa yang ada diatas meja ini.
Rumah-rumahan itu terbuat dari bahan bahan yang mirip. Gentengnya terbuat dari tanah liat
merah, dan untuk genteng kacanya, terbuat dari kaca pula. Seolah-olah istana raja, istana
boneka.
Mengelilingi rumah-rumah itu, terdapat taman-tamanan yang sudah diremajakan.
Pada taman kecil yang indah molek itu tertanam pohon siong, terdapat rumput, jembatan
kecil, kali kecil, gunung-gunungan kecil, tempat istirahat kecil, semua serba kecil.
Disela-sela rumput-rumput kecil itu terdapat juga seekor kancil kecil, sangat hidup didalam
bentuk mungil. Terdapat kelinci, burung bangau dan menjangan, semua serba kecil.
Pohon-pohon itu rindang dan hidup, bunga-bunganya segar, terdapat harum semerbak.
Semua serba kecil, semua serba menarik.
Binatang-binatang yang terbuat dari batu, tapi hidup, seolah-olah kalau kita panggil, mereka
bisa segera menerima panggilan itu dan berlari hidup.
Siauw Cap-it-long memusatkan perhatiannya di tempat rumah istirahat, genteng warna merah,
kayu hijau, dan terpasang meja batu. Diatas meja batu terpasang papan catur, dua orang
sedang bercatur. Dua orang itu adalah dua orang kakek tua, mengenakan pakaian dan topi.
Sebuah sungai kecil mengalir, melewati bangunan tempat istirahat yang sedang digunakan
bermain catur.
Seorang yang disebelah timur adalah seorang tua yang berpakaian coklat, dia sedang
memusatkan pikirannya pada papan catur, alisnya dikerutkan, seolah-olah sedang memikirkan
perobahan situasi yang sangat sulit.
Seorang yang berbaju hijau mencuci kaki, tangannya baru dilepaskan pegangan, ia melirik
kearah orang-orangan kecil yang berbaju coklat, dengan memperlihatkan senyum emosinya.
Suatu tanda bahwa set kemenangannya berada dipihaknya.
Dua orang-orangan kecil ini sangat hidup. Alis mereka, pakaian mereka terbuat dari bahan
yang sangat mahal. Cocok dan Khas.
Pemandangan diatas meja itu membuat orang kesima, membuat orang mengkerutkan kepala.

Tidak jauh dari bangunan tersebut terdapat lain bangunan rumah terlalu indah, lebih tepat
kalau disebut istana.
Itulah istana boneka !
Didalam istana boneka terdapat duapuluh tujuh ruangan.
Ruangan besar, ruangan samping, ruangan tempat tidur, ruangan tamu, ruangan gudang, dan
ruangan dapur serta lain-lainnya.
Dari jendela, tiap orang bisa memperhatikan keadaan ruangan dalam ruangan itu.
Didalam sebuah ruangan terdapat serba menakjubkan.
Meja dan kursi kursi terbuat dari emas, perak, pualam dan intan berlian terbikin dengan
mungil.
Disetiap ruangan dari rumah boneka dikompliti dengan segala yang menurut contoh aslinya.
Bantalan-bantalan tempat duduk terbuat dari kapas, kecil dan mungil.
Bangku-bangku dan meja-meja dapur terbuat dari kayu yang diplitur, hanya diperkecil
beberapa kali dari aslinya.
Betul-betul menakjubkan !
Didalam ruangan tamu, berduduk dua orang, seolah-olah sedang menunggu panggilan tuan
rumah, seorang berambut gondrong dan bermuka bopeng, seorang lagi tidak gondrong, tapi
mempunyai muka panjang lonjong seperti muka seekor keledai.
Orang-orangan ini sangat kecil dan mungil. Hidup. Seolah-olah manusia yang disusutkan.
Dua orang gadis pelayan sedang memasuki ruangan tamu itu, seorang sedang membawa baki
minuman, seorang lagi sedang menyingkap tirai pintu, siap menyuguhkan kepada kedua tamu
kecil itu.
Dua cangkir minuman yang sebesar kancing terbuat dari porselen asli.
Kedua boneka pelayan itu memperlihatkan senyumannya yang tidak memandang mata,
karena mereka tahu bahwa sang majikan tidak mengindahkan tamu-tamunya.
Kedua anak-anakan kecil ini adalah dayang dayang dari raja istana boneka.
Mata Siauw Cap-it-long dialihkan ke ruangan lain. Inilah ruangan tempat tidur dari istana
boneka itu.
Majikan dari rumah kecil ajaib sebangsa raja, dia sedang tertidur, bersembunyi dibalik
selimutnya. Entah impian muluk apa yang dikenang kembali, dia baru mendapat
pemberitahuan tentang kedatangan kedua tamunya, seolah-olah hendak turun berdiri.
Empat orang-orangan kecil yang berpakaian seperti dayang sudah siap melayani raja itu,
seorang diantaranya, sedang memegang kopiah kebesaran, seorang lagi sedang membawakan
baju berpinggiran emas, seorang sedang mengipas-ngipas, seorang sedang berjongkok,
membersihkan sepatu.
Majikan dari yang punya rumah boneka ajaib itu berwajah putih, tidak berkumis, sangat

keren.
Dia sebangsa raja atau bangsawan kaya.
Dari ruangan timur, Siauw Cap-it-long berganti ke lain bagian. Inilah ruangan dapur, seorang
koki kecil tampak seperti sedang repot, membuat persiapan untuk makanan pagi sang
majikan.
Dunia boneka yang tersedia di atas meja itu sungguh hidup dan menarik, sangat memikat hati
Siauw Cap It Long.
Tidak ada sesuatu yang bisa dicela. Siauw Cap-it-long menghela napas panjang, ia mengoceh
:
“Majikan yang seperti ini sungguh hebat sekali.”
Dari dua puluh tujuh ruangan didalam rumah boneka hanya satu yang kosong. Ruangan
lainnya terdapat anak-anak kecil, mereka adalah gadis-gadis yang berparas cantik, ada yang
sedang memetik gitar, ada yang sedang membaca buku, ada yang menyulam, ada yang
bersisir, dan ada juga yang bermalas-malasan, ada yang terbaring di tempat tidur, ada juga
yang belum bangun.
Entah ahli seni pahat dari mana yang bisa menciptakan begitu indah? Sungguh sungguh dunia
boneka terindah.
Diluar istana boneka itu terdapat lorong, tidak jauh dari situ adalah ruang buku, terdapat
tumpukan kitab-kitab, diantaranya terdapat juga bau wangi, sepercik dupa wangi sedang
dibakar.
Siauw Cap-it-long bukan anak-anak lagi, tapi menghadapi dunia boneka yang begitu indah,
tanpa disadari, sukmanya terbetot masuk. Ingin sekali ia bisa menyusutkan diri, menyesuaikan
ukuran ukuran boneka, memasuki rumah dunia boneka.
Sedang Siauw Cap-it-long termangu-mangu dibelakangnya terdengar suara deburan napas, ia
ketahui kalau Sim Pek Kun itu juga sudah sadarkan diri.
Wajah Sim Pek Kun pucat pasi, ia terkejut menyaksikan keadaannya ditempat itu. Tapi rasa
terkejutnya hilang sama sekali, manakala ia bisa menyaksikan adanya dunia boneka yang
cantik dan molek itu.
Matanya berkelip-kelip, menyaksikan keindahan-keindahan dari orang-orangan yang sangat
kecil.
Lama sekali Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun terpekur, akhirnya sang ratu rimba
persilatan berkata.
“Sungguh rumah yang sangat indah. Kalau saja betul-betul ada rumah yang seperti ini, dan
bisa beristirahat beberapa hari, tentu sangat memuaskan.”
Siauw Cap-it-long tertawa, memandang kearah patung-patung kecil itu, rumah-rumah kecil,
binatang-binatang kecil dan segala sesuatu yang serba kecil terpasang diatas meja, ia tertawa.
Sesudah itu berkata :
“Sayang sekali, tidak ada seorang dukun pun yang bisa menyusupkan tubuh kita memasuki
tempat ini.”

Siauw Cap-it-long, menunjukkan jarinya ke rumah-rumahan kecil.
Sim Pek Kun menoleh, memandang Siauw Cap-it-long menatapnya beberapa saat, ia bertanya
:
“Kita orang masih hidup?”
Perlahan-lahan Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala dan berkata :
“Ya. Kita masih hidup.”
Suara ini tidak banyak, tapi cukup berkesan. Mengandung unsur-unsur harapan.
Setiap manusia memiliki sifat-sifat yang tidak mengenal cukup, demikian juga keadaan Siauw
Cap-it-long dan Sim Pek Kun. Mereka bisa sembuh mendadak, mereka ditolong orang secara
ajaib, dan kini mereka masih mengharapkan sesuatu yang lebih ideal.
Siapakah orang yang menolong mereka ? Siapakah yang memiliki istana boneka hidup itu ?
Seseorang manusia yang masih hidup pasti memiliki angan-angan yang jauh dan panjang.
Lama sekali mereka menyelami diri kedalam rumah-rumahan kecil yang indah dan mungil
itu, akhirnya Sim Pek Kun menundukkan kepala dan bertanya :
“Kau yang membawa aku ketempat ini ?”
Ia sangka Siauw Cap-it-long yang memberi pertolongan
Tapi Siauw Cap-it-long pun tidak tahu, siapa tokoh silat yang menolong mereka. Karena itu ia
menjawab pertanyaan sang ratu rimba persilatan :
“Disaat aku sadarkan diri, kita sudah berada ditempat ini.”
Sim Pek Kun bertanya :
“Tahukah kau, dimana kita berada ?”
“Belum tahu.” jawab Siauw Cap-it-long.
Sim Pek Kun menolehkan kepala, melirik ketempat boneka boneka dan bertanya :
“Kukira kita telah ditolong oleh seseorang tokoh silat luar biasa, tokoh ajaib yang mempunyai
banyak harta kekayaan, dan kesukaannya juga aneh, maka ia bisa memiliki dunia boneka yang
begitu indah.”
“Kalau bukan seorang ajaib, tidak mungkin bisa menyediakan boneka-boneka yang sangat
ajaib.”
Sim Pek Kun berkata :
“Kita sudah ditolong. Mengapa membiarkan kita begini saja?”
Siauw Cap-it-long belum menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba terdengar satu suara yang garing
merdu berkata :
“Karena majikan kami tidak ingin mengganggu ketenangan tuan dan nyonya.”

Kata-kata ‘Tuan dan nyonya’ keluar dari suara orang itu, seolah-olah suara yang
menyinggung, anggapnya Sim Pek Kun dan Siauw Cap-it-long itu sebagai suami isteri.
Seorang gadis pelayan dengan pakaian warna putih, dengan wajah berbentuk telor, dengan
rambut yang hitam jengat memasuki ruangan mereka, gadis pelayan inilah yang menjawab
pertanyaan.
Tubuh gadis ini sangat ramping, disaat tidak tertawa, tampak sikapnya yang keras kepala.
Seolah-olah seorang gadis dingin, tapi disaat dia tersenyum, tertawa, tampaklah dua baris
giginya yang putih, begitu lemah gemulai, menarik dan memikat.
Kedua pelipisnya tinggi, tapi tidak banyak mengganggu kecantikan. Disinilah letak gairah
yang lebih hebat, lebih banyak dan lebih mudah memikat hati laki-laki, bisa mendebarkan hati
insan non sejenis.
Gadis pelayan ini tidak bisa dikatakan cantik, tapi berdiri didepan mereka, daya tariknya
hebat, kalau saja tidak disertai Sim Pek Kun disana, semua kekuatan magnit berada pada
gadis pelayan tersebut.
Sim Pek Kun tidak berani mendongakkan kepala, tidak berani memandang gadis pelayan itu.
Tapi si gadis pelayan memperhatikan Sim Pek Kun, dari atas kepala sehingga ujung kaki, dan
dari ujung kaki naik pula sehingga dari atas kepala.
Seorang wanita yang cantik lebih tertarik kalau melihat adanya lain wanita yang lebih cantik.
Penilaian wanita kepada seorang wanita lebih hebat daripada penilaian seorang pria. Sesudah
puas membikin penilaian kepada Sim Pek Kun, baru pelayan itu memandang dan menoleh
kearah Siauw Cap-it-long.
Gadis pelayan tersebut, bukanlah seorang pemalu, tapi disaat sinar matanya bentrok dengan
sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long yang besar, mau tidak mau, sepasang sinar mata si
gadis pelayan dikalahkan, tunduk kebawah.
Dengan kemalu-maluan gadis pelayan itu berkata :
“Nama hamba Siok siok, khusus mendapat perintah untuk melayani kebutuhan tuan dan
nyonya.”
Lagi-lagi sebutan tuan dan nyonya, dalam keadaan seperti itu mengartikan bahwa Siauw Capit-
long dan Sim Pek Kun itu sudah menjadi suami isteri.
Sim Pek Kun menundukkan kepalanya rendah-rendah, dengan harapan Siauw Cap-it-long
bisa memberikan keterangan.
Tapi Siauw Cap-it-long tidak menolak panggilan dan sebutan seperti itu.
Terdengar si gadis pelayan yang bernama Siok siok berkata lagi :
“Kalau nyonya membutuhkan sesuatu, suruh hamba yang melakukan.”
Siauw Cap-it-long berkata :
“Boleh aku bertanya ?”
“Hamba akan menjawab menurut apa yang hamba tahu.” berkata pelayan yang bernama Siok
siok itu.

Siauw Cap-it-long berkata :
“Kita sangat berterima kasih kepada majikanmu yang memberi pertolongan, tapi sehingga
saat ini kita belum tahu siapa nama dan kependekaran orang yang menjadi majikanmu itu.”
Siok siok berkata :
“Kongcu kami sedang berburu, tanpa disengaja, dia telah menemukan kalian dan
menolongnya.”
Siauw Cap-it-long mengangkat kepala.
Gadis pelayan yang bernama Siok siok itu berkata lagi :
“Biasanya kongcu kami tidak mau usilan. Tapi kalian adalah sepasang kekasih yang begitu
sepadan, rasa cinta kalian telah membangunkan perasaan kongcu kami. Disaat kalian sudah
tidak sadarkan diri, tangan kalian masih gandeng bergandeng, sulit berpisahan .....”
Wajah Sim Pek Kun menjadi merah jengah. Ia lebih malu.
Masih beruntung, Siauw Cap-it-long bisa mengatasi kecanggungan itu, ia berkata :
“Siapa dan bagaimana nama sebutan majikanmu ?”
Siok siok menjawab pertanyaan itu :
“Ia she Thian, kami yang menjadi hamba tidak tahu nama aslinya, kami hanya menyebutnya
Thian kongcu.”
“Thian kongcu ?”
“Ya. Thian kongcu.”
“Disamping itu tidak ada sesuatu yang bisa kau jelaskan lagi ?”
“Hanya ini yang bisa hamba beritahukan.”
Siauw Cap-it-long bertanya :
“Bisakah kita bertemu dengan Thian kongcu ?”
“Bisa saja. Tapi......” Siok siok tidak meneruskan kata-katanya.
“Tapi apa ?” tanya Siauw Cap-it-long.
“Sekarang sudah jauh malam. Ia sudah tidur.”
Baru sekarang, Siauw Cap-it-long melihat titik-titik keanehan rumah bangunan ini, didalam
rumah tidak ada jendela. Ada cahaya terang, karena terpasang lampu-lampu pada dinding
kamar-kamar dan ruangan.
Siok siok berkata :
“Thian kongcu bisa mengetahui kalau tuan dan nyonya bukan manusia biasa, lebih dari pada
biasa, ilmu kepandaian tuan dan nyonya tentu sangat tinggi, dipesannya wanti-wanti, agar

kami, orang-orang yang menjadi hambanya, harus baik-baik melayani.”
Siauw Cap-it-long tertawa tawar dan berkata :
“Ilmu kepandaian tinggi ? Ah...... kalau kita memiliki ilmu kepandaian tinggi, mana mungkin
begini terlantar sampai seperti ini.”
Perlahan-lahan Siok siok berkata :
“Tuan telah menderita luka di enam tempat, dua luka luar, empat luka dalam. Luka-luka
diluar masih bisa diberi mengerti, tapi empat luka-luka dalam itu adalah luka-luka hebat,
seperti terpukul oleh ilmu pukulan Batu Remuk atau Kim Kong Ciang. Inilah pukulan keras,
kalau orang biasa yang dipukul sekali, sudah pasti mati. Tuan bisa bertahan, kalau tidak
memiliki ilmu kepandaian tinggi, mungkinkah nasibnya yang terlalu baik ?”
Mata Siauw Cap-it-long berkilat, ia tertawa dan berkata :
“Oh ! Kalau begitu, kau memiliki pandangan mata hebat. Tentu juga seorang jago silat.”
“Kami hanya hamba-hamba dari Thian kongcu. Mana bisa dikatakan sebagai jago silat ?”
“Kalau tidak memiliki ilmu kepandaian silat, bagaimana tahu, kalau aku terpukul oleh ilmu
kepandaian Batu Remuk atau pukulan Kim Kong Ciang ?”
“Aku sering mendengar mereka mengucapkan kata-kata itu.” Berkata Siok siok.
Untuk mengelakkan sesuatu, Siok siok segera berpamit, meminta diri dan berjalan pergi.
Siauw Cap-it-long tidak menahannya dan juga tidak memanggilnya.
Baru sekarang Sim Pek Kun berani melirik, ia mengajukan pertanyaan dengan suara perlahan
:
“Bagaimana penilaianmu atas gadis itu ?”
“Tidak jelek, juga tidak tolol.” berkata Siauw Cap-it-long.
Sim Pek Kun berkata :
“Bukan saja tidak jelek, lebih dari pada itu, ia juga cantik. Dari adanya hamba yang seperti
gadis tadi, kubisa menduga, penghuni rumah ini adalah orang yang bagaimana.”
Siauw Cap-it-long berkemak-kemik, tapi ia tidak mengemukakan pendapatnya itu.
Sim Pek Kun berkata lagi :
“Penghuni rumah ini seperti mengandung sesuatu yang misterius, penuh keajaiban, apa
maksudnya menolong kita ? Bermaksud baik atau jahat ?”
Siauw Cap-it-long mempaparkan kedua tangannya. Inilah tanda tidak tahan.
“Aku haus.” berkata Sim Pek Kun
“Bersabarlah.” berkata Siauw Cap-it-long. “Aku juga haus. Tapi kita harus waspada. Belum
diketahui maksud majikan gadis pelayan yang bernama Siok siok itu. Kita harus berhati-hati.”

“Betul ! Kita harus berhati-hati. Mungkin dia mengandung sesuatu maksud yang tidak baik.”
Disaat ini, tiba-tiba terdengar suara Siok siok : “Kalau Thian kongcu mempunyai maksud
tidak baik, tuan dan nyonya tidak bisa hidup sampai sekarang.”
Entah dari mana munculnya, gadis pelayan itu balik kembali.
Ternyata lorong jalan disertai dengan permadani-permadani tebal. Maka gerakan Siok siok
yang lincah dan ringan tidak menimbulkan suara. Secepat itulah ia sudah berada didepan
kedua tamunya.
Sim Pek Kun menjadi jengah, malu kepada diri sendiri, menundukkan kepala.
Siok siok telah membawakan dua cangkir minuman, dengan senyumnya yang riang, ia
berkata :
“Atas perintah Thian kongcu, tuan dan nyonya mendapat suguhan teh ajaib. Menurut
ceritanya, teh ajaib adalah asal mula teh cap botol. Bibit dari sorga. Bisa menambah kekuatan,
dan mempunyai keajaiban.”
Sim Pek Kun mengkerlip-kerlipkan mata.
Siok siok melirik kearah Sim Pek Kun dan berkata :
“Tapi kalau ada orang yang menaruh curiga dan tidak mau meminum sumbangan tehnya, kita
juga tidak memaksa.”
Siauw Cap-it-long berkata :
“Jiwa kami telah ditolong oleh Thian kongcu, dimisalkan teh minuman ini mengandung
racun, aku juga pasti meminumnya.”
Betul-betul Siauw Cap-it-long membawakan sikapnya yang berani, ia mengangkat cangkir teh
dan menenggaknya cepat.
Siok siok menghela napas, ia berkata : “Pantas kongcu kami menjunjung tinggi kepala kalian.
Dengan adanya keberanian ini sudah cukup membuktikan betapa hebat nyali tuan.”
Diperhatikannya bagaimana Sim Pek Kun meminum pemberian teh itu.
Tentu saja sesudah Siauw Cap-it-long mengeringkan teh minuman tersebut, tidak adalah
alasan bagi Sim Pek Kun untuk menolak.
Dia menenggak juga !
Tiba-tiba.........
Siauw Cap-it-long jatuh menggeloso, dan mengikuti gerakan itu, Sim Pek Kun juga jatuh
ditanah.
Dua-duanya tidak sadarkan diri.
Siok siok memperhatikan senyumnya yang misterius, dengan suara merdu ia berkata :
“Sudah kukatakan, teh ini mempunyai keajaiban yang luar biasa, segera kalian bisa
mengimpikan keajaiban itu. Aku tidak menipu kalian.”

MENJADI MANUSIA BONEKA ?
Cara-caranya orang tidur itu terdapat aneka macam. Cara-cara siuman juga bukan satu
macam, disaat kita sudah sadarkan diri, sesudah melakukan pekerjaan yang sangat letih,
mendapat waktu istirahat yang cukup, kita bisa menikmati kepuasan itu.
Disaat kita bangun dari tidur yang nyenyak, tampak matahari pagi menyorot di jendela, dan
bersama-sama orang yang dikasihi disamping sisi, inilah siuman yang menyegarkan.
Ada juga rasa yang tidak enak.
Sesudah kita sadar dari menenggak minuman keras atau dibangunkan secara paksa, didalam
keadaan kaget, cara itu tidak enak sekali.
Biasanya orang yang bangun dan sadarkan diri, sesudah mendapat cekokan obat tidur, orang
itu bisa pening kepala, terasa menjadi pusing, kepalanya dirasakan sangat berat, dan ada juga
yang bisa merasa mau muntah.
Berbeda dengan keadaan-keadaan itu, Siauw Cap-it-long bangun dan sadarkan diri didalam
keadaan yang enteng dan ringan, seperti terapung, rasanya nyaman dan segar.
Sim Pek Kun tertidur disebelahnya, tidur dengan nyenyak.
Seperti menghisap ganja, perasaan hati Siauw Cap-it-long diombang-ambingkan kebahagiaan,
belum pernah terjadi rasa yang seperti ini.
Rasa ini segera menjadi kenyataan, tidak lama kemudian, Siauw Cap-it-long bisa melihat
adanya tumpukan buku-buku.
Semua ruangan penuh dengan tumpukan buku-buku, dan sesudah itu ia melihat adanya tempat
perapian pembakaran dupa.
Asap mengepul tipis-tipis, dupa itu adalah dupa ternama dari dupa Long-yan-siang.
Perlahan-lahan Siauw Cap-it-long tampak bangun, maka kini dia bisa melihat, diatas meja
terdapat alat-alat tulis, alat-alat tulis model kuno.
Dan dia juga bisa melihat sebuah lukisan yang terkenal, itulah lukisan yang mengandung
sejarah. Lukisan kecil didalam istana boneka yang kini sudah diperbesar.
Hati Siauw Cap-it-long tercekat, seolah-olah ia bisa merasakan sesuatu yang tidak beres.
Bulu-bulunya menggerinding bangun, seperti direndam air es.
Istana boneka yang diperbesar ? Atau dia yang diperkecil ?
Beberapa lama ia berdiri didepan meja itu, berkerut alis dan membalikkan badan.
Bangunan ini terdapat jendela, jendelanya cukup besar, tidak jauh.
Menerobos pemandangan diluar jendela, matahari sedang menyorot memasuki tempat itu.
Cahaya matahari menyinari jembatan lengkung, air sungai dibawah jembatan itu berkilat-kilat
mengalir.
Tidak jauh dari jembatan, terdapat bangunan tempat istirahat. Dalam bangunan itu ada dua
orang yang sedang main catur.

Seorang tua berbaju coklat sedang bertopang dagu, sebatang kail pemancing terletak
disebelahnya. Lain tangannya memegang biji catur, masih ragu-ragu, dimana harus diletakkan
biji catur itu.
Seorang tua berbaju hijau tertawa-tawa memandang lawannya, ia agak bangga atas hasil yang
gemilang, ia berada didalam situasi kemenangan.
Pemandangan inilah yang membuat hati Siauw Cap-it-long semakin menjadi tercekat, kedua
orang tua itu adalah anak-anakan yang pernah dilihat didalam taman impian boneka.
Kepala Siauw Cap-it-long dirasakan seperti berputar, hampir ia tidak bisa bertahan bangun.
Bisakah percaya kepada sepasang matanya ?
Diluar jendela rumput yang menghijau keliwat bagus, angin sepoi-sepoi bertiup,
membawakan harum semerbak dari bunga-bunga yang mekar.
Sepasang menjangan lompat keluar dari rumpun pohon-pohonan, seolah-olah terkejut karena
di jendela ada orang yang mengintipnya. Sesudah itu, sepasang menjangan tadi lenyap
kembali.
Mainan yang hidup ?
Diluar taman itu terdapat tembok tinggi, memisahkan pandangan mata.
Tapi, diluar bangunan tinggi itu seperti terdapat poci arak, dan tidak jauh dari poci arak
terdapat dua cawan teh.
Itulah cawan teh yang digunakan oleh Siok siok, diminum oleh Siauw Cap-it-long dan Sim
Pek Kun.
Cawan arak yang bisa dipegang dengan dua jari. Kini, cawan arak tersebut telah berubah,
berubah menjadi lebih besar dari sebuah bangunan rumah.
Siauw Cap-it-long bukanlah seorang yang mudah mengalami getaran jiwa, tapi apa yang
disaksikan telah membuat ia sangat terkejut. Kedua tangannya gemeteran, kakinya menjadi
lemas, keringat dingin mulai membasahi dirinya.
Sim Pek Kun sedang menghembuskan napasnya panjang-panjang, sang ratu rimba persilatan
baru siuman.
Cepat-cepat Siauw Cap-it-long membalikkan badan, hendak menutupi pemandangan diluar
jendela.
Gangguan-gangguan yang menekan penderitaan batin Sim Pek Kun sudah terlalu hebat kalau
sampai dikejutkan lagi oleh kegaiban ini, wanita itu bisa mengalami gegar otak.
Dengan maksud baik, Siauw Cap-it-long harus berusaha, agar Sim Pek Kun tidak merasakan
keanehan yang terjadi.
Keanehan itu terlalu ajaib, hampir saja Siauw Cap-it-long menjadi gila, kalau tidak
mempunyai iman yang cukup kuat.
Sim Pek Kun mengucek-ucek kedua matanya, ia mengajukan pertanyaan :

“Eeeeh, bagaimana kita bisa berada disini ? Tempat apa pula ini ?”
Siauw Cap-it-long memperlihatkan senyuman terpaksa, ia tidak tahu, bagaimana harus
menjawab pertanyaan Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun menghela napas dan berkata :
“Kulihat Thian kongcu itu seorang tokoh ajaib luar biasa aneh. Ia sudah menolong kita, dia
tidak mempunyai maksud untuk mencelakakan kita, mengapa harus memberi obat bius ?
Mengapa mengambil kita ketempat ini ? Tidak bisakah mengajak bersama-sama saja ?”
Senyum Siauw Cap-it-long semakin dipaksakan, semakin sulit memberi jawaban.
Sim Pek Kun menatap wajah laki-laki itu, kini ia bisa melihat perobahan wajah Siauw Cap-itlong
yang aneh.
“Eh ?” bertanya Sim Pek Kun. “Mengapa kau ? Tidak enak badan ?”
“Oh...... oh...... bukan.” berkata Siauw Cap-it-long, “hanya sedikit keanehan.”
DIDALAM RUMAH BONEKA
Siauw Cap-it-long berusaha agar Sim Pek Kun tidak mengetahui keajaiban yang sudah
mereka alami. Tidaklah mungkin, kalau mengatakan ada sesuatu obat yang bisa menyusutkan
manusia, menyusutkan dua orang menjadi dua boneka kecil.
Tapi perobahan-perobahan wajah Siauw Cap-it-long itu tidak bisa mengelabui Sim Pek Kun,
ia menoleh dengan heran, mengikuti apa yang menjadi keanehan itu.
Wajah Sim Pek Kun berubah, tertegun dan terbelalak, perlahan-lahan ia menggeser sinar
matanya, memperhatikan ruangan dimana mereka berada.
Mereka telah berada disebuah kamar buku, seluruh isi ruangan itu adalah kitab-kitab tebal,
catatan-catatan dan aneka macam buku-buku.
Dengan memaksakan dirinya, Siauw Cap-it-long berkata :
“Kukira Thian kongcu takut kita kesepian, sengaja mengantar ketempat ini, simpenan buku
disini cukup untuk melewatkan waktu sampai lima tahun. Lima tahun membaca buku.”
Mulut Sim Pek Kun berkemak-kemik, bibirnya berubah matang, tangannya gemetaran,
mendadak saja dia menyerobot ke jendela, mendorong tubuh Siauw Cap-it-long.
Apa yang bisa disaksikan ?
Jembatan melengkung, air yang beranak sungai, dua orang tua yang sedang main catur.....
Sim Pek Kun mengeluarkan suara jeritan, tubuhnya roboh, lagi-lagi ia jatuh pingsan.
Asap dipendupaan sudah tidak mengepul, suatu tanda bahwa dupa itu telah terbakar habis.
Hati Sim Pek Kun masih belum bisa ditenangkan.
Lama sekali kemudian, ia membuka suaranya perlahan, “Inilah tempat yang kita saksikan
tadi, Istana Boneka!”

“Ngng…” Siauw Cap-it-long hanya bisa menganggukkan kepala.
“Sekarang, kita berada di dalam Istana Boneka?” bertanya Sim Pek Kun.
“Ngng…” Siauw Cap-it-long memberikan jawaban serba guna.
Dengan suara gemetar, Sim Pek Kun bertanya, “Tapi… bagaimana kita bisa menyusut diri?
Kedua orang tua itu adalah boneka2 mati, bagaimana bisa hidup dan bergerak?”
Siauw Cap-it-long mengeluarkan suara elahan nafas panjang. Inilah kesulitan yang tidak bisa
dipecahkan. Keajaiban yang pertama kali ditemukan.
Tidak seorangpun dari otak manusia yang bisa percaya kepada kenyataan itu, seseorang bisa
disusutkan menjadi sekecil boneka, boneka hidup.
Bibir Sim Pek Kun menjadi biru, gemetaran.
Ia berusaha menggigit bibirnya, mulai berdarah, inilah suatu tanda ia masih hidup di dalam
kenyataan, bukan hidup di dalam impian.
Dengan tertawa getir, Siauw Cap-it-long berkata, “Baru saja kita katakan kehendak kita yang
hendak bermain di dalam rumah boneka. Tidak disangka, impian itu menjadi kenyataan.”
Sim Pek Kun sudah kehilangan pegangan sendi hidup, menarik tangan Siauw Cap-it-long dan
berteriak, “Lekas! Lekas kita lari meninggalkan tempat ini.”
“Lari kemana?” bertanya Siauw Cap-it-long.
Sim Pek Kun tertegun.
Lari kemana? Kemana mereka bisa melarikan diri?
Sim Pek Kun menundukkan kepala, setetes air mata menjatuhi tangan Siauw Cap-it-long.
Tiba-tiba… tok… tok…
Terdengar suara pintu diketok.
“Siapa?”
Pintu tidak terkunci, seorang gadis pelayan berbaju merah berjalan masuk, Sepasang matanya
berputar, inilah boneka gadis pelayan yang khusus menyediakan minuman untuk tamu2
rumah boneka.
Gadis pelayan ini juga termasuk seorang boneka, kini telah berubah berdarah daging, ia
menjadi manusia hidup.
Siauw Cap-it-long menatapnya tajam2 sehingga membuat si gadis pelayan itu merasa malu.
Memberi hormat dan berkata, “Majikan kami memberi perintah, agar hamba bisa mengajak
tuan dan nyonya untuk makan bersama.”
Tidak sepatah kata keluar dari mulut Siauw Cap-it-long, ia mengikuti gadis pelayan itu
berjalan keluar.
Di dalam keadaan yang seperti itu, pertanyaan tiada guna.

* * *
Melewati lorong ruangan, mereka sudah berada di ruangan besar. Di ruangan itu terdapat tiga
orang yang sedang ber-cakap2, satu adalah tuan rumah, inilah Raja Boneka dari Istana
Boneka.
Kedua orang lainnya adalah 2 boneka yang dilihat pernah menjadi tamu, seorang berkepala
besar berambut gondrong dan mempunyai wajah bopengan.
Ketiga wajah ini pernah dilihat oleh Siauw Cap-it-long, tapi Siauw Cap-it-long melihat
wajah2 mereka di saat mereka menjadi boneka2 mati, kini sudah mempunyai darah dan
daging. Mereka sama2 hidup.
Siauw Cap-it-long hidup bersama-sama dengan para boneka kecil di dalam Istana Boneka!
Di saat Siauw Cap-it-long berjalan masuk, ketiga orang itu bangkit dari tempat duduknya.
Orang yang menjadi raja istana boneka bangkit berdiri, berkata, “Selamat hidup bersama
kita!”
Yang di kanan berambut gondrong, mukanya bopeng. Yang di kiri tinggi besar, mukanya
panjang seperti kuda, tangannya kapalan, tentu memiliki kekuatan tenaga dalam hebat.
Kedua orang ini berupa orang2 kasar, tapi mengenakan pakaian yang mewah.
Mereka juga menyambut dengan gembira, “Selamat bertemu!” sapanya kepada jago
berandalan kita.
Kedatangan Siauw Cap-it-long telah disambut oleh ketiga orang itu, mereka bangkit satu
tanda penghormatan. Siauw Cap-it-long membalas hormat itu.
“Silahkan duduk!”berkata tuan rumah.
Suaranya seperti perempuan, bau harum semerbak menyerang hidung, orang ini seperti banci.
Raja wadam?
Siauw Cap-it-long duduk di tempat yang sudah tersedia.
Tidak lama kemudian datang para pelayan yang membawa makanan, si rambut gondrong
yang bermuka bopengan berkata, “Jangan malu2, makanan tersedia untukmu.”
Sudah ber-duduk2, tuan rumah boneka mengajukan pertanyaan, “Bagaimana sebutan tuan
yang mulia?”
“Siauw Cap-it-long,” berkata orang yang ditanya.
“Mari kuperkenalkan, saudara ini adalah saudara Lui Bie.” Tuan rumah boneka menunjuk si
rambut gondrong yang bermuka bopeng dan menunjuk pula orang yang bermuka panjang
seperti kuda, ia berkata, “Inilah saudara Liong Kui.”
Hati Siauw Cap-it-long tergerak, ia bertanya, “Saudara Liong Kui? Dengan gelar Pendekar
Kuda Semberani Liong-tayhiap?”
Orang yang bermuka panjang seperti kuda membungkukkan badan, ia menjawab, “Itulah
gelar yang kawan2 berikan.”

Siauw Cap-it-long menoleh ke arah rambut gondrong yang bermuka bopengan, yang disebut
bernama Lui Bie itu, ia bertanya, “Tuan Lui Bie ini tentunya adalah tuan Lui Bie dengan gelar
Pendekar Tikar Terbang?”
“Kami sudah lama tidak berkelana di rimba persilatan,” berkata Lui Bie tertawa. “Tidak
disangka, tuan masih mempunyai ingatan begitu baik.”
“Siapa yang tidak kenal kepada Pendekar Kuda Semberani dan Pendekar Tikar Terbang? Dua
jago silat kenamaan dari jaman silam? Tiga belas tahun yang lalu, sesudah terjadi peperangan
yang besar di gunung Thian-san, nama djiwi berdua menjadi buah tutur orang.”
Sepasang sinar mata Lui Bie berkilat, ia menjadi bangga, tapi tidak lama ia bersedih juga.
Dengan menghela nafas berkata, “Itulah kejadian yang telah usang, sekarang mungkin nama
kita sudah hampir dilupakan orang.”
Pada tiga belas tahun yang lalu, kedua pendekar ini dengan tangan kosong pernah menempur
tujuh pendekar dari gunung Thian-san. Tanpa menderita luka dan cedera, dan itulah benar2
prestasi yang hebat!
Siauw Cap-it-long berkata, “Sesudah peperangan di gunung Thian-san, jejak djiwi berdua
tidak berbekas lagi, para jago memperbincangkan, tidak ada yang bisa menduga kemana
kepergian djiwi berdua.”
Wajah Lui Bie semakin suram, dengan tertawa menyeringai ia berkata, “Bukan orang lain saja
yang tidak menduga, kami sendiripun tidak bisa menduga terjadi sampai di sini.” Sesudah itu
ia meneguk araknya, mengeringkan minuman tersebut.
Tuan rumah boneka juga menghela nafas, ia berkata, “Di sini sudah bukan umat manusia lagi,
siapa saja yang sampai di tempat ini hilang harapan hidupnya.”
Sepasang tangan Siauw Cap-it-long dirasakan menjadi dingin, ia bertanya, “Ini bukan tempat
dunia? Mungkinkah…?
Wajah tuan rumah boneka memperlihatkan kemurungan juga, ia berkata, “Di sini hanya ada
kehidupan boneka.”
Siauw Cap-it-long juga terbelalak, tertegun di tempat. Lama sekali, dengan dipaksakan,
dengan memberanikan diri bertanya, “Dunia boneka?”
Tuan rumah itu menganggukkan kepala, ia berkata, “Tidak salah, hanya dunia boneka.”
Tertawa sebentar, ia menyambung keterangannya, “Apa bedanya dunia boneka dan dunia
manusia? Manusia hidup seperti impian, sama juga dengan boneka.”
Lui Bie berkata, “Di dalam dunia manusia, orang itu dipermainkan oleh yang berkuasa. Dan
disini, kita dimainkan oleh orang.”
Sekujur tubuh Siauw Cap-it-long terasa semakin dingin, ia bertanya, “Cungcu, bagaimana
sebutanmu yang mulia?”
Tuan rumah itu menjawab dengan kata-kata murung. “Aku menetap di sini sudah lebih dari
dua puluh tahun. Mana ingat nama asliku? Mereka menamakan aku sebagai Raja Boneka,
panggil saja dengan sebutan itu.”
“Tapi...”

Tuan rumah yang menyebut diri sendiri sebagai Raja Boneka memotong perkataan Siauw
Tjap-it-long dan berkata:
“Dua puluh tahun lagi, kukira kalian juga bisa melupakan asal usul dan nama sendiri.”
Di depan orang asing, Sim Pek Kun tidak mau bicara. Ia bungkam, menyerahkan semua
kebijaksanaan kepada Siauw Cap-it-long.
Tapi keterangan tuan rumah boneka tersebut sangat mengejutkannya, tanpa disadari ia
berteriak;
“Dua... dua puluh tahun?”
Seneonya naik, karena dia akan hidup di dalam komplotan boneka hidup sampai dua puluh
tahun.
Tuan rumah boneka itu menganggukkan kepala berkata,
“Ya, dua puluh tahun... di saat aku baru memasuki dunia khayalan boneka, aku juta tidak
tahan dan tidak sanggup menerima tekanan2 bathin yang hebat, satu haripun tidak sanggup,
mana bisa bertahan hidup bersama-sama dengan jiwa boneka? Tapi... hari demi hari
kulewatkan... bulan demi bulan kulewatkan, akhirnya tahun berganti tahun... dua puluh tahun
aku bertahan. Biar bagaimana aku masih hidup, seorang yang hidup lebih baik daripada mati.”
Sim Pek Kun memalingkan kepala, dua butir air mata djatuh ke lantai. Ia tidak mau
mengucurkan air mata jatuh ke lantai, ia tidak mau mengucurkan rasa kesedihan di depan
orang apalagi di depan orang yang belum dikenal. Sayang penghidupan itu sangat menekan
jiwanya, dia menangis.
Siauw Cap-it-long masih mengilmiah sesuatu, ia meragukan adanya dunia boneka,
memandang kepada si raja rumah boneka ajaib, memandang pendekar Tikar Terbang Lui Bie,
akhirnya memandang kepada pendekar Kuda Semberani Liong Kui. Kepada mereka ia
bertanya,
“Kalian tahu, bagaimana cara kehadiran kalian di tempat ini?”
Lui Bie balas memandang Siauw Cap-it-long, ia bertanya,
“Kau tahu, jalan2 yang ditempuh menuju ke tempat ini?”
Siauw Cap-it-long menyengir. “Bukan saja tidak tahu. Percayapun sulit diterima,” ia berkata
terus terang.
Lui Bie menenggak araknya, ia berkata,
“Ya, sulit untuk dipercaya. Siapapun tidak percaya, bagaimana seorang manusia hidup bisa
jadi boneka kerdil? Bahkan menjadi boneka hidup? Yah... percayapun begitu, tidak
percayapun begitu juga... aku hidup di dalam khayalan yang seperti ini selama duabelas tahun,
mengharapkan satu impian... kuharapkan terjadi sesuatu, aku bisa sadar dari impian ini.
Tapi... impian tetap impian. Aku hidup di dalam impian selama dua belas tahun. Impian yang
tidak bisa dibangunkan.”
Liong Kui juga turut berkata:
“Sekarang kita harus percaya bahwa impian itu adalah suatu kenyataan hidup juga.”
Raja boneka mencicipi araknya perlahan2, dan diletakkan pula di meja. Setelah itu

memandang Siauw Cap-it-long, dia mengajukan pertanyaan, “Sebelum tuan berada di tempat
ini, pernahkan mengalami jiwa krisis?”
Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala, “Kami pernah berada di ambang pintu kematian.”
“Jiwa kalian juga ditolong oleh seorang yang bernama Thiang kongcu?” bertanya lagi si raja
boneka.
“Bagaimana cungcu bisa tahu?” bertanya Siauw Cap-it-long.
Raja boneka menghela nafas, ia berkata, “Keadaanku tidak jauh berbeda dengan keadaan
kalian. Di saat jiwaku terancam maut, Thian Kongcu yang memberi pertolongan. Tapi...”
Lui Bie memotong pembicaraan si raja boneka dan berkata gemas, “Tapi maksudnya
menolong kita itu bukan dengan maksud baik. Kita dijadikan budak2nya, kita dijadikan
mainan2nya yang paling istimewa.”
Memandang kepada mereka, Siauw Cap-it-long bertanya, “Di antara jiwie bertiga, siapakah
yang telah melihat wajah Thian kongcu?”
Si raja boneka menghela nafas dan menjawab pertanyaan itu. “Siapapun belum pernah
bertemu muka dengannya. Tapi sampai sekarang, sudah bisa tuan bayangkan bagaiman
keadaan Thian Kongcu itu.”
Lui Bie menggertek gigi, ia berkata, “Dia bukan seorang manusia. Dia adalah biang iblis,
lebih jahat daripada iblis.” Berkata sampai di sini , Lui Bie menengok ke arah jendela,
wajahnya memperlihatkan rasa takut.
“Awas!” raja boneka memberi peringatan. “Kalau sampai ia marah, akibatnya terlalu buruk.
Dengan menggunakan dua jari, ia bisa memitas kita, tahu?”
Siauw Cap-it-long mengerutkan alis, mendongakkan ke atas, memeriksa ke langit luar, dia
sedang membayangkan akan kedatangan Thian kongcu yang besar seperti raksasa atau
kedatangan Siok-siok yang besar seperti raksasi, tapi bayangan-bayangan itu tidak kunjung
datang.
“Pernah Thian kongcu menampilkan diri?” ia bertanya.
“Belum.” berkata Lui Bie. “Tapi kita selalu dibayangi oleh ketakutan-ketakutan sendiri.”
“Boleh dibayangkan.” bertanya Liong Kui. “Apa rasanya hidup seperti ini, kita selalu
dirundung ketakutan.”
Raja boneka berkata:
“Untuk hari-hari pertama, memang tidak tenang dan gelisah, tapi semakin lama rasa gelisah
itu sudah menjadi biasa. Tidak gentar lagi. Kita tidak perlu takut lagi.”
Liong Kui menatap tajam dan berkata:
“Siapa saja yang sudah tiba di tempat ini, ia akan menjadi beku dan kaku, tidak bisa
merasakan kehidupan.”
Siauw Cap-it-long tidak tahu, betulkah ia tidak bisa merasakan kehidupan? Kini, ia hendak
menenggak araknya, diambilnya cawan arak, diminumnya cepat.
“Eh!” tiba-tiba ia berkata: “Mengapa tidak mau melarikan diri?”

Inilah pertanyaan yang pernah Sim Pek Kun ajukan kepadanya.
Liong Kui menoleh kepada Siauw Cap-it-long dan bertanya:
“Lari ke mana?”
“Betul! Ke mana hendak melarikan diri? Mereka hanya berupa boneka-boneka kecil. Di
dalam mata Thian kongcu dan Siok-siok, lebih mudah menginjak atau melempar manusiamanusia
boneka ini. Kemana mereka harus melarikan diri?
Bisakah Siauw Cap-it-long melarikan diri dari istana boneka? Bagaimana caranya? Mari kita
mengikuti bagian berikutnya.
KEHIDUPAN MANUSIA-MANUSIA BONEKA
RAJA, Liong Kui, Lui Bie, Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun membikin perjamuan makan.
Mereka masih bercakap-cakap.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun adalah dua manusia yang baru saja disusutkan, karena
itu, mereka mempunyai hasrat yang lebih besar untuk mendapat hak kebebasan.
Memandang kepada si raja boneka, Siauw Cap-it-long berkata:
“Kita harus berusaha melarikan diri!”
“Kesempatan untuk melarikan diri masih ada,” kata si raja boneka.
“Oh …” sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long memancarkan harapan hidup. “Bagaimana?”
Si raja boneka memberi keterangan:
“Seseorang yang bisa menjebolkan ilmu sihir Thian-kongcu, kita bisa mendapat kebebasan
hak hidup yang sempurna.”
“Menjebolkan ilmu sihir Thian-kongcu ?” bertanya Siauw Cap-it-long. “Siapa yang bisa
merusak ilmu sihir Thian-kongcu?”
Raja boneka menghela napas, ia berkata:
“Kita harus menggunakan kecerdikan otak kita, harus bisa berusaha.”
“Berusaha? Bagaimana kita harus berusaha?”
Raja boneka berkata:
“Ilmu sihir, tidak jauh berbeda dengan ilmu kepandaian silat, sampai dimana tinggipun ilmu
itu, tentu mempunyai batas tertentu. Seseorang yang mempunyai batas tertentu. Seseorang
yang mempunyai ilmu silat tinggi, bukan berarti menjadi tokoh silat tanpa tandingan.
Demikianpun keadaan ilmu hitam, betapa hebat ilmu sihir Thian-kongcu, bukan berarti tidak
ada tandingan. Diantaranya terdapat juga kelengahan-kelengahan, sengaja Thian-kongcu
memberi kesempatan dan memberi kebebasan untuk mencari dan merusak dimana letak kunci
kelengahan itu.”
“Thian-kongcu sengaja?” bertanya Siauw Cap-it-long.

“Thian-kongcu membuat satu sayembara,” berkata raja boneka. “Sayembaranya seperti ini,
dia senang mendapat tandingan-tandingan kuat, sengaja menggunakan teh ajaibnya,
menyusutkan kita, mengkerdilkan kita, tapi sengaja membuat satu kelengahan, dikatakan ada
sesuatu yang bisa merusak ilmu gaib itu. Kalau kita berhasil menemukan sesuatau, maka
reaksi minuman ajaib pecah. Kita bisa membesar, dan manusia yang normal lagi.”
“Sayembara ini dikeluarkan oleh Thian-kongcu?” bertanya Siauw Cap-it-long
“Ya,” berkata si raja boneka. “Thian-kongcu pernah mengatakan kepadaku, bahwa dia akan
memberi kebebasan kepada siapa saja yang bisa mencari benda pengrusak ilmu gaibnya.”
Sesudah itu, si raja boneka mengeluarkan keluhan napas panjang, ia berkata:
“Selama dua puluh tahun aku menjadi boneka ditempat ini, setiap hari aku membikin
penyelidikan, dimana terletak benda yang bisa memperbesar tubuh kita. Tetap tidak berhasil.”
Siauw Cap-it-long berpikir beberapa waktu, kemudian ia bertanya:
“Bangunan rumah ini terdapat dua puluh tujuh ruangan?”
“Kalau ruangan dapur dihitung juga, jumlah ruangan adalah dua puluh delapan,” menjelaskan
si raja boneka.
“Maka, benda yang bisa memperbaiki keadaan normal kita terdapat diantara dua puluh
delapan ruangan ini, bukan?” berkata Siauw Cap-it-long. “Bagaimana kita tidak bisa
menemukannya?”
Raja boneka menyengir, berkata:
“Karena tidak seorangpun yang bisa menduga benda apa yang dimaksudkan oleh Thiankongcu.
Mungkin juga sebutir beras. Mungkin juga sebatang lidi, mungkin juga sekeping
papan, atau mungkin juga sebongkah batu. Siapa yang dapat menduga?”
Siauw Cap-it-long berhasil dibungkamnya.
“Benda apa yang bisa memecahkan rahasia ilmu gaib Thian-kongcu?
Siauw Cap-it-long belum tahu.
Raja boneka berkata:
“Maka untuk menyesuaikan dan menormalkan tubuh kita, dengan mencari benda ajaib ini,
lebih sulit dari menaiki tangga surga.”
“Sama saja dengan tidak ada,” berkata Siauw Cap-it-long.
“Thian-kongcu membuat lain sayembara,” berkata raja boneka.
“Lain sayembara?”
“Ya,” berkata raja boneka. “Ia membuat dua sayembara. Sayembara pertama, tidak mungkin
bisa dijebolkan. Maka ia mengeluarkan sayembara berikutnya.”
“Tentunya sayembara yang lebih mudah dipecahkan?”
“Mari ikut!” berkata raja boneka, ia bangkit dan berdiri.

Mengajak kepada tamu-tamunya, raja boneka itu meninggalkan ruangan tamu.
Menuju kepekarangan, disana terletak sebuah batu hijau, sangat mengkilap dan licin,
menunjuk kearah batu hijau itu, si raja boneka berkata:
“Inilah sayembara yang kedua.”
“Artinya?” Siauw Cap-it-long memandang kepada si raja boneka dengan sinar mata penuh
tanda tanya.
“Tempat ini dinamakan batu persembahan,” Raja boneka memberi keterangan. “Yang
diartikan dengan batu persembahan ialah batu khusus untuk membikin persembahan kepada
Thian-kongcu. Kalau ada seseorang yang bersedia mempersembahkan benda berharga? Maka
ia bisa membebaskan dan menghidupkan kembali, menghilangkan surut boneka.”
Sesudah itu, raja boneka menatap Siauw Cap-it-long lama, ia bertanya:
“Benda apakah yang paling berharga bagimu?”
Siauw Cap-it-long tidak menjawab pertanyaan itu, ia balik bertanya:
“Benda berharga apa yang tjhungtju miliki?”
“Bendaku yang berharga adalah jiwa,” berkata si raja boneka. “Benda yang paling berharga
bagi semua orang adalah jiwa masing-masing. Semua manusia boneka yang hidup disini
sangat egoistis. Semua sayang kepada jiwanya sendiri. Tentu saja tidak mau mengorbankan
dirinya untuk diserahkan kepada Thian-kongcu.”
Sayembara Thian-kongcu yang kedua juga tiada arti. Apaguna bagi para manusia boneka
tersebut? Kalau mereka diharuskan menyumbangkan jiwanya diatas batu pengorbanan,
sesudah mereka mati. Apa artinya bangkit dan hidup menjadi mayat manusia normal?
Thian-kongcu betul-betul seperti iblis djedjadian.
Entah dengan cara bagaimana, si raja boneka bisa menghubungi Thian-kongcu?
Yang satu kecil, yang lain besar.
Untuk membebaskan orang-orang yang sudah dikerdilkan oleh Thian-kongcu, untuk
membikin normal kembali tubuh yang sudah disusutkan menjadi tubuh boneka itu, Thiankongcu
membuat dua sayembara.
Sayembara untuk melepaskan ilmu sihir dan ilmu gaibnya.
Sayembara yang pertama adalah menemukan rahasia anti sihir, benda itu terdapat disalah satu
tempat diantara dua puluh delapan ruangan yang berada didalam istana boneka.
Sayembara kedua,a dalah menyerahkan sesuatu yang paling berharga kepada Thian-kongcu,
dan ditempat itu. benda berharga yang dimiliki oleh para boneka kecil adalah jiwa mereka
yang berharga, kalau mereka bersedia menyerahkan jiwa, Thian-kongcu akan membebaskan
penyihirannya. Dua jalan ini sama-sama jalan buntu.
“Bagaimana?” bertanya si raja boneka.
“Nonsens!” berkata Siauw Cap-it-long. “Kedua sayembara itu sama saja dengan tidak ada.

Tidak mungkin!”
Raja boneka berkata:
“Sepuluh tahun yang lalu, aku melihat seorang boneka yang dimanusiakan. Demikian
kejadiannya, sepasang suami-isteri telah diboneka hidupkan oleh Thian-kongcu.
Tinggal didalam istana boneka. Mereka saling cinta, kasih mengasihi, tentu saja mereka
sayang kepada jiwa sendiri, tapi mereka lebih sayang kepada jiwa kekasihnya. Demikianlah,
untuk membebaskan sang suami dari kekangan ilmu sihir Thian-kongcu, sang isteri rela
mengorbankan dirinya, dia menyerahkan diri diatas batu pengorbanan dan ditukar dengan
kebebasan sang suami.”
“O …” berkata Siauw Cap-it-long. “Pengorbanan masih bisa diganti dengan jiwa orang.”
“Tentu saja. Kalau bukan seperti itu, apa artinya pengorbanan. Kita tidak mau menjadi
bangkai besar bukan?”
“Betul-betul Thian-kongcu menghidupkan atau membesarkan suami itu?”
“Betul-betul Thian-kongcu membesarkan suami tersebut,” berkata raja boneka dengan suara
yang yakin.
Siauw Cap-it-long memperhatikan si raja boneka, raja boneka yang menjadi penghuni istana
boneka. Raja boneka yang tidak mau menyebut namanya sendiri, dikatakan bahwa nama itu
sudah dilupakan.
Beberapa saat, untuk menambah keterangannya, raja boneka berkata lagi:
“Sengaja tidak kusebut nama-nama dari suami-isteri itu, sang isteri sudah berkorban, sang
suami tentu masih hidup dalam rimba persilatan. Selama perdjuangannya sepuluh tahun, aku
yakin kalau suami itu sudah mendapat nama kembali, ia mendapat kedudukan tinggi, hidup
sebagai manusia abadi.”
Sim Pek Kun membungkam. Sangat lama, baru sekarang ia turut bicara:
“Kedua suami-isteri itu mempunyai jiwa besar …”
Siauw Cap-it-long tidak sependapat, ia menggelengkan kepala dan berkata dengan suara
dingin:
“Menurut pendapatku, mereka adalah sepasang suami-isteri yang tolol.”
“Sepasang suami-isteri tolol?” bertanya raja boneka tertegun.
“Ya,” menjelaskan Siauw Cap-it-long, “isteri itu tolol, anggapnya ia mengorbankan diri
sendiri untuk mendapat kebebasan sang suami. Tapi apakah reaksi dari orang yang dikasihi?
Suami itu tidak mungkin cinta kepada isterinya, terbukti dari hidup seorang diri didunia
manusia normal. Tidak mungkin membiarkan sang isteri membikin pengorbanan, kalau dia
mengindahkan jiwa isteri tersebut. Apa guna ia hidup kembali, kalau kehilangan isteri yang
dicintai? Apa guna ia hidup dimanusia normal? Tanpa didampingi oleh isterinya yang
tercinta.”
Raja boneka kalah berdebat. Ia diam.
“Menurut hematku,” berkata Siauw Cap-it-long lagi. “Kalau betul suami itu masih hidup
dengan sadar, tentu mempunyai hati yang pepat, pasti menyesal. Hidup didalam penyesalan

adalah hidup yang sangat sengsara, kukira dia menderita, bermabuk- mabukan, lebih baik
mati dari pada hidup sengsara.”
Raja boneka diam beberapa saat, akhirnya ia berkata:
“Langkah mereka bukan berarti langkah yang harus dipuji, tapi inilah cara-cara untuk
membebaskan diri dari istana boneka.”
Hanya cara itukah yang bisa membebaskan diri dari istana boneka?
Mari kita mengikuti bagian berikutnya.
HIDUP TERKUTUK DIDALAM ISTANA BONEKA
RADJA boneka mengajak para tamu masuk kembali, dia memandang jauh kedepan, mulutnya bicara:
“Didalam dunia boneka adalah hidup yang sangat sengsara. Kita hidup terkekang, tidak ada
kebebasan, kita kehilangan kesempatan pribadi.”
Lui Bie juga tertawa, ia berkata:
“Betul. Hidup dalam keadaan yang seperti ini, berarti hidup diatas duri, kita lebih suka mati.
Tapi kita juga tidak menghendaki datangnya kematian itu. Kita harus
baik-baik menggunakan kesempatan hidup, tidak peduli peraturan-peraturan, tidak peduli
nama, tidak peduli apa itu artinya kekangan.”
Dan sesudah itu, dengan suara keras, Lui Bie berteriak keluar:
“Bwee-cu Siauw-bun, aku tahu, kalian sudah lama berada diluar, mengapa tidak mau masuk?”
Terdengar suara kelenang kelening, dua gadis berjalan masuk, mereka mengenakan perhiasan yang rebo.
Lagi-lagi dua boneka hidup!
Sebelum Siauw Cap-it-long menjadi manusia boneka, ia pernah menyaksikan kedua gadis ini,
itu waktu, mereka adalah dua patung kecil, satu sedang tidur, seorang lagi sedang duduk,
mereka adalah boneka2 mati.
Tapi, kedua boneka kecil itu sudah hidup dan bisa berjalan.
Bukan saja bisa berjalan, kedua gadis itu tertawa dengan riang, mulai menuju dan
menghampiri Lui Bie, dan memeluki laki-laki bopengan itu.
Dengan kedua tangan, Lui Bie merangkul kedua gadis tersebut, ia tertawa dan berkata:
“Inilah kedua isteriku, tapi siapa saja yang suka kepada mereka, aku bersedia memberi pinjam.”
Bersedia meminjamkan isteri kepada orang lain?
Inilah ciri-ciri kehidupan didalam istana boneka. Mereka tidak mempunyai pegangan hidup,
karena itu sudah menjadi tidak normal. Sulit diterima dan sulit dipercaya.
Memperlihatkan wajahnya yang tidak percaya, wajah itu sangat kaku.
Lui Bie mendelikkan mata dan membentak:

“Tidak percaya? Baik! Akan segera kubuktikan.”
Lui Bie melepaskan rangkulannya pada gadis yang disebelah kiri, ia berkata kepada gadis itu:
“Siauw Bun, daerah mana dari tubuhmu yang terindah?”
Gadis yang dipanggil Siauw Bun tertawa manis, ia berkata:
“Paha.”
Tubuh Siauw Bun ramping dan tinggi, mempunyai ukuran vital yang menarik. Bagaimanapun
tetap indah, tapi mendapat pertanyaan itu, ia menonjolkan dan menjawab dengan suara paha.
Lui Bie berkata:
“Kau bangga karena memiliki sepasang paha yang indah, nah, mengapa tidak kau perlihatkan
kepada semua orang?”
Siauw Bun tertawa, perlahan-lahan ia menyingkap kainnya, dan dibalik kain itu, tidak
mengenakan benang lain, dua buah paha yang mulus terpancang didepan mata semua orang.
Beberapa macam perasaan menyerang Sim Pek Kun, perasaan takut, perasaan marah, dan perasaan jijik.
Siauw Bun masih tertawa riang, disingkapnya lebih tinggi, tampak bagian-bagian yang lebih putih.
Raja boneka seperti sudah biasa menyaksikan paha isteri si Pendekar Tikar Terbang, ia tertawa riang,
mengangkat cawan araknya, ia berkata:
“Betul-betul paha yang bagus! Mari kita minum.”
Ditangan Siauw Cap-it-long sedang memegang cawan arak, betul-betul ia mengeringkan arak itu.
Lui Bie menepuk-nepuk gadis yang berada dirangkulan tangan kanan, ia berkata:
“Bwee Cu, giliranmu!”
Bwee Cu mengedip-ngedipkan sepasang matanya yang jeli, dengan tertawa bertanya:
“Menurut pendapatmu, bagian mana yang harus kubanggakan?”
Lui Bie berkata:
“Semua yang melekat didalam tubuhmu boleh dibanggakan. Terutama adalah pinggangmu
yang ramping. Mengapa tidak kau perlihatkan kepada tamu kita?”
Bwee Cu tertawa, tangannya yang mulus mulai membuka kancing baju, maka terbukalah
tubuh itu, ia memperlihatkan keindahan pinggangnya yang ramping, betul-betul pinggang yang menarik.
Raja boneka menoleh kearah Lui Bie dan berkata:
“Saudara Lui Bie, penilaianmu agak kurang tepat.”
“Kurang tepat?” Lui Bie membelalakkan mata. Memandang kearah raja boneka.
Raja boneka berkata:

“Bagian yang menarik bukanlah ditempat itu, kukira dua buah susunya.”
“Betul! Betul!” berkata Lui Bie. “Penilaianku agak kurang tepat.”
Memandang kearah Bwee Cu dan berkata:
“Coba kau buktikan bagian yang hebat itu!”
Betul-betul Bwee Cu menyingkap bajunya lebih tinggi, disana juga tidak mengenakan
pakaian rangkap, tampak dua buah benda yang putih mulus, menonjol bagus.
“Nah!” berkata Lui Bie memandang Siauw Cap-it-long. “Aku tidak mengecap, bukan?”
Wajah Siauw Cap-it-long tidak menujukkan perubahan, ia berkata:
“Ya. Kau tentunya bukan seorang tukang jual kecap.”
Lui Bie berkata:
“Bukan aku seorang saja. Semua penghuni dari istana boneka sudah biasa, mereka lebih rela,
mereka senang meminjamkan isterinya, dan lebih senang lagi kalau mendapat pinjaman.”
“Oh?” Siauw Cap-it-long melompongkan mulutnya.
Raja boneka menghela napas, ia menguatkan keterangan Lui Bie, katanya:
“Apa yang saudara Lui Bie katakan adalah betul-betul kenyataan. Seseorang yang sudah
berubah menjadi boneka, lenyaplah semua rasa sangka-sangka. Ia bukan manusia lagi, dia
seorang boneka hidup. Boneka tidak mengenal malu, karena itu apapun bisa saja dilakukan.”
Ditatapnya Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun, beberapa saat kemudian ia berkata lagi:
“Jiwie berdua baru saja datang. Tentu belum mendapat kecocokan, tapi beberapa waktu
setelah berkumpul dengan orang-orang ini, pasti biasa lagi.”
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun dianggap sebagai sepasang suami-isteri, mereka
mendapat sebuah kamar, berada didalam istana boneka, mereka tidak berani berpsiah. Mau
atau tidak mau, mereka tidak menyangkal akan hubungan suami-isteri itu.
Ruangan itu sangat mewah, nyaman dan sejuk. Setiap perabot terpasang dengan rapi, tidak ada
kekurangan.
Hanya tidak ada kebebasan hidup!
Setiap orang yang mendapat kamar seperti itu pasti merasa puas.
Tapi Sim Pek Kun membeku dan mematung, bergerakpun tidak, ia tidak berani menyentuh
benda-benda ditempat itu.
Ia seperti mendapatkan dirinya didalam sesuatu ruangan perdukunan, segala sesuatu serba
ajaib, segala sesuatu serba ilmu hitam, penuh tenung-tenung dan ilmu sihir.
Kalau saja ia menyentuh setiap yang berbahaya, maka bisa terjadi keajaiban yang lebih aneh
lagi, mungkin ia bisa menjadi seekor kelinci, atau seekor ayam. Mungkin pula melepas asap
lampu Aladin, bisa berkembang seorang raksasa yang tinggi besar, sangat menakutkan!

Lama sekali, Siauw Cap-it-long membalikkan badan dan berkata kepada Sim Pek Kun.
“Tidurlah! Biar aku yang menjaga.” Sim Pek Kun menggigit bibir, menggoyang kepala.
Siauw Cap-it-long berkata dengan suara yang serendah mungkin:
“Badanmu terlalu lemah, membutuhkan waktu istirahat, kita harus bertahan, bertahan dari
ujian berat.”
“Aku … aku belum mengantuk.”
Siauw Cap-it-long tertawa, ia berkata:
“Kau belum tidur, bagaimana tidak mengantuk?”
Perlahan-lahan, sinar mata Sim Pek Kun diarahkan ketempat tidur.
Tempat tidur itu dialasi oleh seprei putih, direnda dengan indah, itulah tempat tidur nomor
satu. Cukup untuk tidur berdua.
Tubuh Sim Pek Kun mengkerut kebelakang, bibirnya bergerak-gerak, hendak mengucapkan
sesuatu, tapi tidak berhasil.
Diperhatikannya wanita itu beberapa lama, Siauw Cap-it-long bertanya:
“Kau takut?”
Sim Pek Kun menganggukkan kepala. Segera ia mengganti isyarat itu, cepat-cepat
menggelengkan kepala, tidak ada alasan takut.
Siauw Cap-it-long menghela napas, ia berkata:
“Takut kepadaku? … Kau takut kalau aku juga mempunyai sifat-sifat seperti mereka? …
Takut perbuatanku?”
Sepasang mata Sim Pek Kun menjadi redup, dua butir benda bening jatuh dari sana,
menundukkan kepala dan berkata:
“Betul-betul aku sangat takut. Semua orang yang berada disini, menakutkan. Semua benda
sangat menakutkan. Tapi …”
Kini ratu rimba persilatn itu mendongakkan kepala kembali, memandang Siauw Cap-it-long
dan berkata:
“Tapi aku tidak takut kepadamu, aku tahu, biar bagaimana hatimu tidak akan berubah.”
“Kalau begitu, dengarlah kata-kataku,” berkata Siauw Cap-it-long perlahan.
“Tapi … tapi …” Sim Pek Kun menangis gemetar.
“Apa lagi?” bertanya Siauw Cap-it-long.
Tiba-tiba saja Sim Pek Kun menubruk kedepan, merangkul Siauw Cap-it-long, memegangnya
sangat keras, menangis sesambatan.
“Bagaimana kita bisa hidup seperti ini? Oh … Bagaimana kita harus hidup seperti ini …

hidup bersama-sama dengan boneka-boneka hidup yang tidak mempunyai hati itu?” Sayat dan
ratap seorang ratu agung dari dunia manusia rimba persilatan.
Wajah Siauw Cap-it-long juga sudah menjadi pucat, ia berusaha memberi hiburan, katanya:
“Kita harus bersabar. Kita harus berusaha. Suatu hari, pasti kita berhasil.”
“Tapi kau tidak mempunyai pegangan kuat,” berkata Sim Pek Kun.
Sepasang mata Siauw Cap-it-long diluruskan jauh kedepan, lama sekali ia menghela napas, baru berkata:
“Betul-betul aku tidak mempunyai pegangan.”
“Oh …”
“Tetapi kita masih mempunyai harapan,” berkata Siauw Cap-it-long.
“Harapan apa,” bertanya Sim Pek Kun.
“Dari adanya kedua sayembara itu,” berkata Siauw Cap-it-long. “Biar bagaimana kita harus
merusak jampi-jampi Thian-kongcu.”
“Berapa lama kita harus tunggu? Sepuluh tahun? Dua puluh tahun? …”
Siauw Cap-it-long tidak menjawab.
“Oh …” Sim Pek Kun mengeluh. “Tolonglah … ijinkanlah … biar aku yang melakukannya untukmu.”
“Katakan!”
Sim Pek Kun berkata:
“Lepaskan aku, biar aku yang naik keatas batu persembahan, biar aku yang mati membebaskan dirimu
hidup boneka, kembali menjadi manusia biasa. Satu hari aku disini, bisa aku menjadi gila.”
Siauw Cap-it-long menggelengkan kepala.
“Oh …” Sim Pek Kun mengeluh.
“Maksudmu …” Siauw Cap-it-long meredupi wanita yang berada didadanya.
Sim Pek Kun berkata lagi:
“Walau aku bukan isterimu, tapi … demi kebebasanmu … demi hari depanmu … aku rela
mati untukmu. Kalau kau bisa hidup baik-baik, apapun yang terjadi, tidak ada artinya bagiku.”
Suara ini seharusnya dibekukan. Sim Pek Kun tidak mau mengutarakan isi hatinya, tapi
didalam keadaan yang seperti itu, demi kehidupan Siauw Cap-it-long, demi kehidupan yang
selayaknya, ia bersedia mengorbankan diri.
Darah Siauw Cap-it-long bergolak, tanpa disadari ia merangkul tubuh wanita itu.
Mereka saling rangkul.
Disini letak perbedaan, mati atau hidup?

Mati dari kehidupan boneka?
Lama sekali Sim Pek Kun menunggu jawaban Siauw Cap-it-long, jawaban itu tidak kunjung
datang, kini ia bertanya lagi:
“Kau … kau melulusi permintaanku?”
“Tidak,” berkata Siauw Cap-it-long.
Sim Pek Kun mendongakkan kepala.
“Tidak bersedia memberi pengorbanan,” dia bertanya.
“Pengorbanan harus ada. Tapi bukan kau,” berkata Siauw Cap-it-long. “Seharusnya aku yang
yang naik keatas batu persembahan.”
“Oh …”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Kau masih mempunyai keluarga, kau masih mempunyai seorang suami, kau masih
mempunyai famili. Hari depanmu dibutuhkan oleh mereka. Kau harus hidup. Kau tidak boleh
mati. Aku? Aku hanya seorang pengembara, seorang anak berandalan. Kematianku tidak
banyak mengganggu. Siapapun tidak bisa terganggu.”
Air mata Sim Pek Kun yang baru terhenti mengalir kembali, menetes dan membasahi tangan
Siauw Cap-it-long.
Tangan Siauw Cap-it-long digeser perlahan, menyusut air mata Sim Pek Kun.
Dengan sedih Sim Pek Kun berkata:
“Ternyata kau belum bisa menyelami isi hatiku, betul-betul kau tidak tahu. Mengapa kau
mengatakan tidak ada seseorang yang memberi kasih, kalau kau mati bagaimana aku bisa …”
“Aku tahu,” berkata Siauw Cap-it-long, ia mengelus-elus nyonya itu.
“Mengapa kau harus memberi pengorbanan?” bertanya Sim Pek Kun.
“Mengapa kau harus memberi pengorbanan?” balik Tanya Siauw Cap-it-long.
“Demi kebahagiaanmu dikemudian hari.”
“Kita akan berdaya upaya,” berkata Siauw Cap-it-long. “Aku tidak membiarkan kau naik
keatas panggung pengorbanan.”
“Siapa yang naik? Kau? Kau hendak berkorban? … Tidak … aku tidak membiarkan hal itu
terjadi,” menjerit Sim Pek Kun.
“Aku juga tidak mengijinkan kau naik keatas batu persembahan,” berkata Siauw Cap-it-long.
“Mungkinkah … mungkinkah kau rela hidup seperti ini?”
“Sementara, kita harus berani memikul keadaan.”
Kepala Sim Pek Kun ditundukkan kebawah, perlahan-lahan ia berkata:

“Berada disamping dirimu, hidup diacheratpun aku sanggup. Tetapi … tempat ini lebih kejam
dari dunia acherat. Lebih menyeramkan dari acherat.”
“Kita akan mencari jalan lain. Bukan cara pengorbanan yang seperti itu.”
“Cara pengorbanan bagaimana?”
“Jangan kau mencoba untuk mengorbankan diri,” berkata Siauw Cap-it-long. “Itu waktu, kita
lebih sengsara lagi.”
Sim Pek Kun berkata:
“Maksudmu, Thian-kongcu bisa menelan janji?”
“Kukira, ini hanya berupa sebuah perangkap. Dia menghendaki kematian, tapi kematian yang
disertai dengan siksaan-siksaan berat. Ia hendak mempermainkan orang. Mempermainkan
seperti kucing mempermainkan anak tikus.”
“Dia seorang manusia gila.”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Dia memang manusia gila! Dia sedang memasang perangkap, kalau kita terlalu sayang pada
jiwa, rela mengorbankan orang yang dikasihi, meminta memohon pengampunannya, bukan
saja tidak memberi kebebasan, bahkan lebih daripada itu, kita menjadi cemoohan orang.”
“Tapi ini hanya berupa pikiranmu, bukan?”
Sim Pek Kun masih mengharapkan sesuatu harapan.
Siauw Cap-it-long berkata:
“Aku yakin bahwa Thian-kongcu itu seorang sinting. Dan aku juga meragukan keterangan si
raja boneka. Boleh kita bayangkan, seseorang yang mau hidup sendiri rela mengorbankan
isterinya, bukankah orang ini seorang yang egoistis? Kalau dia
egoistis, seharusnya ia rela menerima pengorbanan itu. Kalau dia seorang yang sangat
mengasihi isterinya, tentu tidak membiarkan isteri itu menjalani pengorbanan.
Sim Pek Kun berdiam beberapa saat, lagi-lagi ia mengeraskan pegangan Siauw Cap-it-long, ia berkata:
“Kalau sampai terjadi putus harapan, lebih baik kita mati bersama.”
Kematian bukanlah sesuatu yang diharapkan. Tapi disaat menjelang jalan-jalan buntu, kecuali
jalan kematian itu, tidak ada jalan yang lebih baik.
Kepala Sim Pek Kun disandarkan kepundak Siauw Cap-it-long, ia berkata sayu:
“Entah bagaimana pikiranmu, yang lebih baik, kita mati bersama.’
“Belum waktunya mati,” berkata Siauw Cap-it-long.
“Harus menunggu kapan lagi?”
“Kita harus berusaha, sesuatu betul-betul tidak mempunyai harapan, apa boleh buat.”

Sim Pek Kun berkata:
“Didalam penilaian Thian-kongcu, kita ini adalah sebangsa semut atau belalang kecil. Hanya
menggunakan satu jari telunjuk, kita tidak mempunyai kesempatan hidup.”
“Mau melarikan diri? Tentu saja tidak mungkin.”
“Kita harus berusaha. Untuk melarikan diri, aku harus membikin persiapan-persiapan,
persiapan yang pertama, aku harus menyembuhkan luka-luka dalamku. Dan hal ini sebagian
besar sudah disembuhkan oleh Thian-kongcu, entah apa yang digunakan olehnya, mungkin
ilmu sihir, mungkin juga obat gaib. Hanya beberapa hari, kukira aku bisa sembuh betul.”
“Selanjutnya?”
“Kita harus membikin persiapan-persiapan, dimana letak rahasia pemecahan ilmu gaibnya?”
“Kau percaya bahwa ilmu gaib itu ada?”
“Menurut cerita si raja boneka, Thian-kongcu menyerahkan pemecahan rahasia ilmu gaib
didalam istana boneka.”
“Kau percaya keterangan tersebut.”
“Aku percaya. Setiap orang yang mengaggap dirinya itu pandai, bisa saja mempunyai
kelemahan-kelemahan, disinilah kita harus mencari kelemahan Thian-kongcu.”
“Ilmu gaib apa yang digunakan olehnya?”
“Belum tahu. Harus kita selidiki perlahan-lahan.”
“Sesudah itu?”
“Aku yakin. Ada sesuatu kelemahan yang tidak mudah ditemukan. Kelemahan inilah yang
harus kita pecahkan.”
“Kau percaya kepada obrolan si raja boneka?”
Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala dan berkata:
“Setiap orang itu mempunyai cara-caranya tersendiri. Seorang ahli judi bisa membanggakan
kepandaiannya, ia mengharapkan seseorang yang lebih hebat untuk menandingi dirinya,
problem yang dianggap paling rumit. Maka aku hendak mengdu untung.”
“Ilmu silat macam apa yang digunakan Thian-kongcu kepada kita?”
“Inilah yang membingungkan!” berkata Siauw Cap-it-long. “Ilmu gaib apa yang digunakan kepada kita?”
“Sungguhkah ada ilmu gaib yang bisa menyusutkan seseorang menjadi sekecil boneka?
Menghidupkan boneka?”
“Lihat,” berkata Siauw Cap-it-long. “Pernah melihat adanya kedua orang itu??”
Siauw Cap-it-long menunjuk kearah kedua orang tua yang sedang bermain catur.
Dahulu, mereka adaah boneka-boneka yang sangat kecil.

Sekarang, bentuk ukuran tubuh mereka sama besar dengan dedak perawakan Siauw Cap-itlong
dan Sim Pek Kun.
Perubahan yang sangat tidak masuk akal. Tapi sudah terjadi didepan mata. Keajaiban yang luar biasa.
Sim Pek Kun menolehkan pandangan matanya, kedua kakek itu sudah selesai menamatkan
permainan mereka. Sedang makan dan minum-minum, kini mereka bercakap-cakap. Orang
tua yang berbaju merah menarik si kakek berbaju hijau. Menuding-nudingkan kepapan catur,
seolah-olah minta bertanding lagi/
Sim Pek Kun mengangguk-anggukan kepala, berkata:
“Ada keanehan kepada mereka?”
“Aku merasakan sesuatu yang luar biasa,” jawab Siauw Cap-it-long.
“Luar biasa? Apakah keluar biasaan mereka?”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Kalau dugaanku tidak salah, kedua kakek itu adalah jago-jago silat kenamaan, kedudukan mereka jauh
berada diatas Pendekar Tikar Terbang Lui Bie dan Pendekar Kuda Sembrani Liong Kui.”
“Sudah mendapatkan bukti-bukti tentang dugaanmu itu?”
“Ya,” jawab Siauw Cap-it-long. “Kuharap saja mereka bukan orang-orang yang kuduga.
Kalau dugaanku itu tepat, lebih sulit bagi kita meninggalkan tempat ini.”
MENUNGGU
SIM PEK KUN sudah dilatih untuk menunggu, sedari kecil, ia mendapat didikan bersabar,
bersabar dan bagaimana cara-cara untuk melewatkan waktu.
Seseorang wanita harus memiliki sifat-sifat yang sabar, wanita yang sabar, baru bisa
merasakan dirinya dialam perbaikan masa.
Sim Pek Kun juga menganggap kepribadian bersabar itu sebagai peninggalan kaum wanita.
Kadangkala, ia juga merasakan sulitnya menunggu orang.
Mendapatkan dirinya didalam istana boneka, Sim Pek Kun tidak sanggup bertahan hingga
satu detikpun, tidak sanggup bertahan, hampir tidak bisa bertahan.
Bagaimana dia bisa berada ditempat itu?
Tapi anggapannya itu meleset, ia sudah melewatkan penghidupan didalam istana boneka
sehingga empat hari, dia telah bertahan akal hidup selama empat hari.
Sim Pek Kun tidak mati karena ketakutan, dia belum menjadi gila karena menghadapi situasi
yang aneh.
Baru sekarang Sim Pek Kun sadar, apa artinya kesabaran dan cara-cara menunggu itu.
Untuk menunggu kehadirannya orang yang dicintai, apapun bisa dipertahankan. Teristimewa
untuk kaum wanita.

Sebagian besar dari kehidupan kaum wanita bukan untuk diri pribadi, khusus untuk
menyenangkan kaum laki-laki, khusus untuk menyenangkan orang yang harus dicinta,
seorang suami misalnya, atau putera-puteri mereka.
Empat hari Sim Pek Kun telah duduk didalam istana boneka, dan empat hari itu dilewatkan
cepat pula.
Sim Pek Kun mendapat pengalaman baru, bagaimana dia harus menghadapi situasi yang
seperti itu.
TANAH yang digunakan oleh istana boneka berbentuk empat persegi, bangunan-bangunan
istana itu agak mirip dengan isatana Su-hap-wah dikota Pak-kia.
Begitu melangkahkan kaki, memasuki pintu besar, melewati lorong panjang, disana terdapat
Aula.
Dibelakang Aula terdapat pekarangan, pekarangan itu boleh disebut juga sebagai taman.
Dikedua pekarangan terdapat dua baris bangunan-bangunan kamar.
Bangunan yang dibagian belakang, khusus digunakan untuk keluarga raja boneka beserta
selir-selirnya yang dicinta.
Raja Boneka adalah tuan rumah dari Istana Boneka!
Disemua itu terdapat ruangan-ruangan, khusus untuk para budak dan tukang masak.
Lui Bie menetap dibarisan ruangan timur bersama-sama dengan kedua nyonyanya dan empat
budak pelayan mereka, rombongan si Pendekar Tikar Terbang yang sudah diboneka hidupkan
menggunakan empat ruangan kamar.
Dua ruangan kamar disebelahnya tersedia untuk Pendekar Kuda Sembrani Liong Kui.
Sifat-sifatnya Liong Kui agak aneh, tidak berminat kepada wanita cantik, juga tidak
mempunyai kesenangan menenggak arak. Hobynya hanya makan, makan besar!
Disaat Liong Kui melahap makanannya, ia tidak melihat cara-cara memakan, ayam atau
bebek, dimakan juga, enak atau tidak, masuk kedalam mulutnya. Makan! Motto semboyan
hidup Liong Kui adalah mengisi perut!
Cara-caranya itu yang suka doyan makanan itu bukan berarti menambah daging, semakin
banyak ia menjejal dirinya, semakin kurus pula badan si muka kuda.
Demikian ciri-ciri Liong Kui.
Berbeda dengan Liong Kui, Lui Bie mempunyai kesenangan pipi licin.
Dia mempunyai dua orang isteri, walau isteri itu bisa dipinjamkan kepada laki-laki lain,
namanya tetap nyonya Lui Bie.
Kecuali mempunyai dua orang isteri, Lui Bie juga memelihara empat gadis pelayan, namanya
gadis pelayan, kadang kala kena giliran juga.
Salah satu dari keistimewaan rumah istana boneka adalah kebebasan sex yang berlebihlebihan.
Karena itu, Lui Bie bebas memilih wanita yang disukai olehnya.

Walau telah mendapat berkah dua orang isteri dan empat dayang, nafsu Lui Bie belum
terpuaskan kadang kala ia menggilir kekamar lain, tidak adanya peraturan-peraturan keluarga,
banyak memberi kelonggaran kepada si pendekar boneka.
Demikian cirri-ciri Lui Bie.
Kecuali Lui Bie dan Liong Kui, didalam istana boneka itu masih terdapat banyak manusiamanusia
kecil yang hidup, diantaranya terdapat juga dua kakek tua misterius itu. Dua kakek
tua yang kerjanya hanya bermain catur!
Berbeda dengan kesenangan Lui Bie dan Liong Kui, kedua kakek aneh itu selalu duduk
didepan papan catur, sedari pagi sehingga sore, dari sore sehingga malam, kadang-kadang
main sehingga pagi pula.
Berapa babak permainan yang sudah diselesaikan oleh kedua kakek itu? Tidak ada orang yang tahu.
Menurut cerita, kedua kakek itu menempati dua ruangan diantara lima ruangan yang ada.
Siauw Cap-it-long sudah mulai memperhatikan sesuatu, termasuk Lui Bie, Liong Kui, dan
kedua kakek aneh tersebut.
Kalau Siauw Cap-it-long bisa menyaksikan Lui Bie memasuki kamarnya, bisa melihat Liong
Kui memasuki kamarnya, Siauw Cap-it-long belum pernah melihat kedua kakek main catur
memasuki tempat tidurnya, Siauw Cap-it-long tidak tahu, kamar-kamar mana yang digunakan
oleh kedua kakek aneh itu.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun mendapat satu kamar, ruangan ini terletak dibagian barat.
Siauw Cap-it-long sedang dipaksakan menjadi seorang suami.
Sedang Sim Pek Kun dipaksakan menjadi isterinya.
Kalau tidak ada peraturan gila-gilaan yang memberi kebebasan sex didalam Istana Boneka,
Sim Pek Kun bisa menuntut kamar yang lain.
Tapi Raja Boneka pernah menuturkan pergaulan sex bebas ditempat tinggalnya.
Karena itu, Sim Pek Kun lebih suka memilih Siauw Cap-it-long!
Setiap waktu mau makan, pasti ada pelayan yang mengirim antaran. Sayur-mayur didalam
Istana Boneka cukup hebat, cukup besar!”
Tidak percuma mendapat julukan istana. Segala kepuasan makanan tidak pernah berkurang.
Bukan makanan-makanan saja yang tersedia, pasti disertai dengan arak. Cukup banyak, arakarak
itu bisa memabukkan tujuh orang.
Didalam keadaan mabuk, orang bisa melupakan segala sesuatu.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun disuruh bermabuk-mabukan.
Didalam bangunan aneh istana boneka, sulit menemukan orang yang berada didalam pikiran sadar.
Selama empat hari itu, Siauw Cap-it-long memperhatikan gerak-gerik para boneka, boneka
yang bisa hidup dan berjalan didalam lingkungan tertentu.

Tapi belum pernah melihat raksasa Thian-kongcu atau raksaksi Siok Siok! Kedua orang yang
sudah menyihir mereka!
Siauw Cap-it-long tidak percaya kepada tahayul, tapi kenyataan telah berada diambang mata,
dia menjadi susut seperti jari.
Apa yang dikatakan oleh raja boneka cukup beralasan. Kalau saja para boneka itu tidak
melanggar daerah2 terlarang, kebebasannya tidak pernah diganggu, kemana mereka suka, apa
yang hendak dikerjakan, belum pernah mendapat gangguan.
Sedari itu waktu, dari pertemuannya dengan raja boneka, Siauw Cap-it-long tidak pernah
mendapat kesempatan bertemu dengannya kembali.
Menurut cerita2 penghuni lama, raja boneka jarang menampilkan diri, jarang bergaul dengan mereka.
Kecuali pertemuan pertama kali!
Tentu saja, raja boneka mendapat selir2 boneka yang cukup banyak, kalau saja satu malam
satu, cara2 bergilir itupun sudah cukup merepotkannya!
Setiap hari kerjanya Siauw Cap-it-long hanya berjalan-jalan.
Sesudah makan pagi ia berjalan dan memperhatikan ruangan-ruangan dan kamar-kamar itu.
Membiarkan Sim Pek Kun didalam kamar.
Siauw Cap-it-long seperti tertarik dengan segala sesuatu yang ada didalam istana boneka,
termasuk semua boneka-boneka hidup.
Kepada boneka-boneka hidup itu, Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala, sebagai
perkenalan dan penghormatan.
Cepat sekali, Siauw Cap-it-long kenal banyak orang.
Didalam istana boneka, ada sesuatu yang agak menyimpang, itulah jumlah laki-laki yang
sedikit dan jumlah wanita yang terlalu banyak.
Kecuali raja boneka, Liong Kui, Lui Bie dan kedua kakek yang bermain catur, Siauw Cap-itlong
tidak pernah menemukan laki-laki lainnya.
Hanya didalam waktu empat hari itu, Siauw Cap-it-long sudah kenal mereka.
Yang lebih banyak adalah gadis-gadis cantik yang muda dan belia.
Para gadis2 yang keluar masuk saling mengirim kerlingan mata yang menarik, sepasang mata
yang bercahaya!
Itulah pemikatan!
Disaat Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala dan tertawa kepada mereka, cahaya mata
para gadis itu lebih berkilauan.
Banyak sekali yang Siauw Cap-it-long ketahui dari pelajaran-pelajaran kehidupan para
manusia boneka!
Didalam tanggapan raja boneka, Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun itu adalah sepasang
suami-isteri, mereka diamprokan menjadi satu.

Sengaja atau tidak sengaja?
Hal ini akan kita tuturkan dibagian cerita belakang.
Seperti apa yang Lui Bie katakana, didalam istana boneka, mereka bisa mendapat hubungan
sex yang bebas, karena itulah yang membuat pikiran Sim Pek Kun tertekan:
Siauw Cap-it-long tidak pernah berbuat kurang ajar.
Hati Sim Pek Kun agak tenteram.
Kalau Siauw Cap-it-long keluar dari kamarnya, segera Sim Pek Kun menutup rapat-rapat pintu itu.
Sim Pek Kun tidak takut kesepian, dia takut kepada wajah2 yang seram, khususnya wajah Lui
Bie
Jiwa Sim Pek Kun terlalu tertekan, tertekan karena dia hidup berada didalam alam boneka
hidup.
Hari berikutnya …
Hari kelima dari terjadinya mereka sebagai boneka hidup.
Menurut cerita, istana boneka telah bertambah satu penghuni baru, penghuni itu adalah tukang
masak yang hampir mati, tukang masak dari daerah utara.
Disaat makanan malam diantar, terdapat rebung bakar, telor mata sapi, kepiting sawit, dan
lapceng merah.
Masakan2 ini adalah masakan terkenal dari daerah utara.
Hati Sim Pek Kun agak lega, dia senang dan bergembira mendapat masakan itu, inilah
masakan-masakan yang disenangi oleh Siauw Cap-it-long, juga disenangi olehnya. Dia
mengenal sifat kepribadian Siauw Cap-it-long, Siauw Cap-it-long lebih suka makanan dari
daerah utara.
Sim Pek Kun menyediakan gelas sloki, buat cangkir arak.
Biasanya, Siauw Cap-it-long keluar dari kamar, membikin penyelidikan-penyelidikan untuk
memecahkan ilmu sihir si manusia gila boneka Thian-kongcu.
Hari itu terkecuali, Siauw Cap-it-long tidak bisa mendampingi Sim Pek Kun.
Disaat pelayan membawakan makanan, Sim Pek Kun telah bersiap-siap untuk bersantap.
Selama empat hari yang sudah dilewatkan, begitu banyak makanan tiba, hidung Siauw Cap-itlong
terus muncul ditempat itu, mereka bersantap bersama-sama. Disaat mereka
menyelesaikan santapan itu, Siauw Cap-it-long banyak bicara.
Apa saja yang dikatakan oleh Siauw Cap-it-long, pasti disenangi oleh Sim Pek Kun.
Hanya didalam waktu makan inilah, penderitaan bathin yang menekan jiwa Sim Pek Kun
agak mereda, dia bisa melupakannya untuk sementara.
Berduaan bersama Siauw Cap-it-long, Sim Pek Kun bisa melupakan bahwa dirinya berada
disebuah istana boneka yang kecil. Berada dibawah kekuasaan manusia gila boneka ThianKoleksi
Kang Zusi
kongcu.
Yang aneh, sesudah menyihir mereka menjadi boneka kecil, Thian-kongcu belum pernah
menampilkan diri.
Kalau saja hal itu bisa berjadi, betul-betul sangat menyeramkan, diatas kepala mereka tampil
satu wajah raksasa! Raksasa yang hebat dan besar!
Pikiran Sim Pek Kun segera melayang kearah Siauw Cap-it-long, hari ini terkecuali, Siauw
Cap-it-long belum muncul didepannya.
Gadis pelayan sudah meninggalkan kamar, meninggalkan makanan2 yang tersedia.
Sim Pek Kun sudah mengatur sesuatu, menunggu kembalinya Siauw Cap-it-long.
Tapi Siauw Cap-it-long yang ditunggu tak kunjung datang.
Sim Pek Kun berjalan bolak-balik, hilang sabar, dia duduk dimeja makan.
Sim Pek Kun sudah biasa menunggu, kini ia harus menunggu kembalinya Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long belum kembali.
Sayur dimeja mulai menjadi dingin.
Siauw Cap-it-long yang ditunggu belum tampil juga.
Keadaan yang seperti ini bukan dirasakan satu kali, Sim Pek Kun sudah biasa. Biasa didalam
arti semasa menjadi manusianya.
Terbayang kembali kenangan sesudah pernikahan, dua bulan sesudah Sim Pek Kun kawin
dengan Lian Seng Pek, sering Sim Pek Kun ditinggal seorang diri. Kadang kala, dia harus
menungkuli sayur-sayur yang panas dan akhirnya menjadi dingin.
Dipanaskan lagi, dan dingin kembali.
Lian Seng Pek belum juga kembali, akhirnya Sim Pek Kun makan tanpa didampingi oleh sang suami.
Dia makan seorang diri!
Itulah kenangan lama, kenangan Sim Pek Kun bersama Lian Seng Pek.
Didalam satu bulan, hampir lebih dari dua puluh lima hari, Sim Pek Kun harus bersantap
seorang diri.
Ia sudah jadi biasa dengan kepribadian itu.
Hari ini, Sim Pek Kun menunggu kembalinya Siauw Cap-it-long.
Seharusnya dia mengisi perut saja.
Tapi hatinya sangat gelisah, tidak bisa disamakan keadaannya dengan menunggu Lian Seng Pek.
Beberapa kali Sim Pek Kun mengambil sumpit, siap-siap bersantap seorang diri. Hal itu bisa
saja dilakukan, kalau Lian Seng Pek tidak kembali, Sim Pek Kun tidak sanggup menahan
lapar. Tapi menunggu Siauw Cap-it-long, Sim Pek Kun tidak bisa disamakan dengan
menunggu Lian Seng Pek, dia meletakkan kembali sumpit yang diambil tadi, gagal makan.

Menengok kearah pintu, bayangan Siauw Cap-it-long belum tampil ditempat itu.
Belum pernah ia menunggu Siauw Cap-it-long, mengapa hali ini bisa terjadi?
Hari apakah hari ini?
Mungkinkah terjadi sesuatu yang menyeramkan? Bulu tengkuk Sim Pek Kun bergemerinding,
bangun berdiri.
Didalam istana boneka, didalam sihirannya si manusia gila boneka Thian-kongcu, segala
sesuatu itu bisa saja terjadi.
Sim Pek Kun sedang membayangkan wajah Siauw Cap-it-long, bagaimana laki-laki
menempur dengan bayangan iblis yang menakutkan, hampir ia berteriak.
Baru kini dirasakan oleh Sim Pek Kun, betapa berat kasihnya kepada Siauw Cap-it-long,
sedikitpun tidak bisa berpisah dengan laki-laki bermata besar itu.
Makanan-makanan dimeja sudah menjadi dingin.
Siauw Cap-it-long belum juga datang.
MENGADU TENAGA
SIM PEK KUN mengertek gigi, bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan meja makan dan berjalan
keluar.
Selama empat hari Sim Pek Kun berada didalam istana boneka, belum pernah ia meninggalkan ruangan
itu.
Karena tidak hadirnya Siauw Cap-it-long, untuk pertama kalinya Sim Pek Kun melangkah
keluar dari kamar yang tersedia.
Sim Pek Kun berjalan dilorong panjang.
Setiap tujuh atau delapan langkah, pasti terdapat sebuah lampu teng.
Sim Pek Kun menyaksikan keindahan malam di Istana Boneka.
Tiba-tiba mata Sim Pek Kun terbelalak, didepannya berdiri sesosok tubuh, orang itu sedang
bersandar pada pinggiran langkan, tersenyum-senyum kearahnya.
Itulah Pendekar Tikar Terbang yang bermuka bopengan Lui Bie!”
Sim Pek Kun hendak lari kedalam kamarnya, tapi sudah terlambat.
Lui Bie cepat-cepat menghampirinya, dengan tertawa, menyapa sang ratu rimba persilatan.
Didalam keadaan yang serba canggung, lari pulang kedalam kamar adalah satu perbuatan
yang tidak mempunyai penghormatan.
Dibawah sinar cahaya lampu teng, pipi-pipi Lui Bie yang bopengan itu semakin banyak
lubang-lubangnya semakin dalam.
Hampir saja Sim Pek Kun muntah ditempat itu, menyaksikan cara-caranya kedatangan Lui

Bie, setiap lubang bopengnya itu seperti memperlihatkan wajah yang tertawa.
Lui Bie mengirim satu anggukan kepala.
Sim Pek Kun membalas anggukan kepala Lui Bie, cepat-cepat menyusup dibawah ketiak Lui Bie, hendak
meneruskan perjalanannya, meneruskan usahanya untuk mencari jejak Siauw Cap-it-long.
Hari itu Sim Pek Kun kehilangan Siauw Cap-it-long.
Bagaikan kecepatan kilat, si Pendekar Tikar Terbang Lui Bie menghadang didepan Sim Pek
Kun, dia bertanya:
“Sudah makan?”
“Sudah,” jawab Sim Pek Kun singkat.
Entah makan malam yang sudah? Entah makan siang yang dijawab, Sim Pek Kun tidak
memberi penjelasan yang lebih terperinci.
Lui Bie masih mencumbu rayu, gelarnya sebagai Pendekar Tikar Terbang itu, agak kurang
cocok, seharusnya diganti dengan jago pipi licin.
“Tukang masak hari ini adalah tukang masak baru,” berkata Lui Bie. “Menurut ceritanya,
didalam rumah makan Liok-sun-beng dia adalah ahli masak nomor satu. Tentu enak, bukan?”
“Enak,” berkata Sim Pek Kun sembarangan.
Lui Bie berkata lagi:
“Istana ini tidak terlalu besar, tapi cukup rumit, kalau tidak ada penunjuk jalan, mudah
terperosok dan sesat.”
“Aku tahu,” jawab Sim Pek Kun singkat.
“Lebih baik nona berhati-hati, agar tidak salah jalan,” berkata lagi Lui Bie.
Sim Pek Kun menekuk wajahnya dan membentak:
“Siapa yang kau panggil nona?”
“Maaf,” berkata Lui Bie. “Nyonya.”
“Huh!” Sim Pek Kun mengeluarkan suara dari hidung.
Dengan tertawa cengar-cengir, Lui Bie berkata:
“Nyonya, tahukah kau dimana suamimu kini berada?”
Bukan Lian Seng Pek yang dimaksudkan, tapi Siauw Cap-it-long.
Hati Sim Pek Kun hampir lompat keluar dari tempatnya, memandang si bopengan, ia bertanya:
“Kau tahu?”
“Tentu saja tahu,” jawab Lui Bie semakin mendekat.
Sim Pek Kun mundur dua tapak, wajahnya semakin masam, ia bertanya:

“Dimana? Aku sedang berusaha mencarinya.”
“Lebih baik jangan dicari!” berkata Lui Bie tenang. “Kalau saja ketemu, pasti terjadi sedikit kesulitan.”
“Kesulitan?” bertanya Sim Pek Kun.
Lui Bie semakin cengar-cengir, ia berkata:
“Haruskah menceritakan jalan gerakan-gerakan itu secara mendetail?’
“Maksudmu?” berkata Sim Pek Kun.
“Suamimu itu sedang menggumuli wanita lain.”
“Bohong,” Sim Pek Kun berteriak.
Lui Bie berkata:
“Seperti apa yang kau tahu, didalam istana boneka terdapat nona-nona cantik, umurnya masih muda
belia, dan biasanya tidak suka kesepian, suamimu itu juga mempunyai wajah yang tidak jelek, tentunya
…”
Sim Pek Kun mendelikkan mata, hatinya semakin panas.
“Hua, ha ha …” Lui Bie tertawa. “Nyonya memang memiliki kecantikan yang tiada tara, tapi
laki-laki yang setiap hari dijejal dengan sayur asam, sudah pasti menjadi bosan, ingin
merasakan sesuatu yang …”
Sim Pek Kun juga sudah tidak bisa menahan kesabarannya, dengan suara keras ia membentak:
“Stop! Jangan kau ngaco belo.”
“Tidak percaya?” berkata Lui Bie. “Mau kuajak melihat? Gadis itu tidak secantikmu, tapi dia lebih muda.
Modal wanita adalah muda, setiap wanita muda pasti bisa mencocoki selera laki-laki.”
Sim Pek Kun semakin marah, badannya gemetaran.
Lui Bie berkata lagi:
“Dengarlah anjuranku, tidak perlu terlalu pusing. Didalam istana boneka, kita banyak mendapat
kebebasan. Untuk cara-cara yang seperti ini, sudah biasa dan lazim, sama saja seperti bagaimana kita
makan nasi, berganti sayur, suamimu bisa mencari wanita lain, mengapa kau tidak mau makan laki-laki
baru? Kita sama-sama mencari kesenangan, bukan? Sama-sama bersenang, maka hati kitapun bebas
leluasa.”
Kedua mata Lui Bie sudah disipitkan, seperti menjadi satu garis, ia menjulurkan tangan,
hendak menarik Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun mundur kebelakang.
“Hayo,” berkata Lui Bie. “Jangan malu-malu. Hal itu pasti terjadi, lambat atau cepat, kau bisa
merasakan keenakannya, dari pada tidur dengan orang lain, lebih baik …”

Sim Pek Kun tidak bisa mendengar lebih lama lagi, tangannya terayun, pang … satu
tempilingan telah menampar pipi Lui Bie yang bopengan.
Lui Bie mendapat gelar Pendekar Tikar Terbang, satu bukti bahwa kecepatan kakinya
melebihi orang, gesit, dan cekatan. Tapi gerakan Sim Pek Kun lebih cepat lagi, hal ini berada
diluar dugaan, disaat ia hendak mengelak, tamparan itu sudah mengenai pipinya.
Memegang dagingnya yang merasa panas itu, Lui Bie mundur dua langkah, matanya
mendelik, dan dia membentak:
“Bah! Tidak tahu diuntung, sesudah berada ditempat ini, kau masih berani berpura-pura, huh!
Jangan harap bisa lari dari tanganku.”
Setapak demi setapak Lui Bie mendekati Sim Pek Kun
Sim Pek Kun membentak:
“Berhenti! Setapak lagi kau maju kedepan, jarum mas pencabut nyawaku tidak mengenal ampun.”
Lui Bie tertegun, jarum mas pencabut nyawa itu adalah senjata rahasia yang istimewa, dia
pernah merasakan kehebatannya, karena itu menghentikan langkah dan bertanya:
“Jarum mas pencabut nyawa?”
Sim Pek Kun berkata:
“Kalau kau pernah berkelana didalam rimba persilatan, tentunya pernah mendengar nama jarum mas
pencabut nyawa dari keluarga Sim, jarum ini terdapat dua macam, yang beracun dan yang tidak beracun,
kalau berani kau maju setapak, kulepas yang beracun, apa akibatnya?”
Betul-betul Lui Bie tidak berani berkutik, dia bertanya:
“Bagaimana hubunganmu dengan Sim Thay Kun?’
Sim Pek Kun menjawab:
“Aku adalah cucu perempuannya …”
“Aaaa …”
Sesudah mengucapkan kata-kata tadi, secepat itu pula Sim Pek Kun lari kebelakang, kembali
kedalam kamarnya. Bang! Dia menutup dan menggabrukkan pintu.
Tersengal-sengal Sim Pek Kun berdiri dibalik pintu kamarnya. Dia takut kalau Lui Bie itu
menerjang masuk.
Si Pendekar Tikar Terbang Lui Bie sudah dibuat mati kutu, nama jarum mas pencabut nyawa
sangat menyeramkan, dia tidak berani menerjang.
Sim Pek Kun menyandarkan dirinya dibalik pintu.
Berdengung kata-kata Lui Bie yang sangat menusuk hati:
“Gadis disini, masih muda belia … gadis muda adalah modal … gadis muda bisa lebih
mencocoki pria … suamimu mencari wanita lain …”

Kata-kata itu sangat menusuk hati Sim Pek Kun.
Siauw Cap-it-long bukanlah suaminya, tapi entah bagaimana, rasa tadi tidak bisa diterima.
Kalau betul Siauw Cap-it-long menggumuli gadis ditempat itu …
Hati Sim Pek Kun seperti dipilin-pilin, sangat sakit dan sedih.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Dimisalkan dia tahu kalau Lian Seng Pek menggumuli wanita
lain, rasanya juga tidak seperti ini.
Sedangkan Lian Seng Pek itu adalah suaminya!
Tiba-tiba Sim Pek Kun berteriak:
“Bohong! … Aku tidak percaya … Bohong … aku tidak percaya … tidak mungkin Siauw
Cap-it-long …”
Tapi kemana kepergian Siauw Cap-it-long? Mengapa dia tidak kembali?
Bayangan-bayangan seram inilah yang mengekang dan menekan bathin Sim Pek Kun.
Dimanakah Siauw Cap-it-long? Pecah kepala Sim Pek Kun memikirkan problem itu.
Didalam Istana Boneka, terdapat tiga puluh gadis remaja, mereka cantik-cantik dan menarik,
semua orang gemar tertawa.
Dari ketiga puluh gadis-gadis muda didalam Istana Boneka, sebagian besar sangat senang
kepada Siauw Cap-it-long, mereka sering tertawa kepada Siauw Cap-it-long.
Dari sekian banyak gadis-gadis yang berada didalam istana boneka, hanya seorang yang tidak
pernah tertawa kepada Siauw Cap-it-long, belum pernah ia menatap kepada Siauw Cap-itlong.
Nama gadis itu adalah Souw Yan.
Disaat Sim Pek Kun ubek-ubekan mencari jejak Siauw Cap-it-long, tentu saja tidak berhasil,
karena Siauw Cap-it-long sedang berada dikamar Souw Yan.
Siauw Cap-it-long sedang terbaring ditempat tidur Souw Yan.
Siauw Cap-it-long sedang terbaring, memperhatikan langit-langit kamar itu.
Kepala Souw Yan ditengkurapkan kedada yang bidang dan lebar.
Mata Siauw Cap-it-long direntangkan besar-besar.
Mata Souw Yan dikatupkan, bulu-bulu matanya yang panjang, merengguti kulit Siauw Cap-itlong.
Dengan bulu mata yang dimiliki oleh Souw Yan, kalau saja ia membuka matanya pasti lebih
menarik, wanita mempunyai tanda-tanda yang tertentu pada sepasang mata, hanya satu
kerlingan, satu lirikan, ia bisa memikat dan menarik kaum laki-laki.
Bukan mata Souw Yan saja yang menarik, sepasang betisnyapun memikat.

Dadanya lebih memikat lagi.
Souw Yan mempunyai ukuran yang normal, tubuhnya padat, seperti disertai dengan gairah yang kuat,
lekukan-lekukan menurut pesanan ideal, tidak terlalu montok, juga tidak terlalu kurus.
Didalam kamar itu sangat sepi, mereka sedang berdekap-dekapan.
Di saat ini terdengar suara Souw Yan yang mengikik.
Suara tertawa wanita bukan satu macam, tertawa geli, tertawa riang, tertawa genit, tertawa merayu.
Sekarang Souw Yan sedang perdengarkan tertawanya yang bersifat merayu.
Kebanyakan wanita bisa tersenyum, bisa tertawa, maka dia cepat memikat hati laki-laki.
Ada juga yang menggunakan kerlingan matanya tertawa, lebih memikat hati lagi.
Ada yang menggunakan akal tertawa, ada yang menggunakan hidung tertawa, dan inilah cara-cara
tertawa istimewa.
Ada lagi kaum wanita yang lebih aneh, seluruh kulit tubuhnya itu bisa mengeluarkan suara tertawa.
Dengan aneka macam tertawa, lebih memikat dan lebih menarik, mereka menggunakan
dadanya bergoyang-goyang, mereka menggunakan pinggulnya yang disenggol-senggol dan
mengangkat kakinya mengangkang, menggapaikan tangan impian.
Kalau bertemu dengan wanita - wanita type seperti ini, mana mungkin laki-laki tidak jatuh
menyembah di bawahnya?
Souw Yan termasuk type wanita yang seperti ini.
Dadanya tersembal-sembul, pinggangnya bergoyang, kakinya menggesek-gesek Siauw Cap-it-long.
Sangat merangsang!
Siauw Cap-it-long juga terbuat dari darah daging, birahinya mulai bergelora, ia tidak sanggup
bertahan lagi:
“Hi,hi,hi,....” Souw Yan tertawa lagi.
Berkumandang di seluruh isi kamar.
Siauw Cap-it-long menatap gadis itu dan bertanya:
“Apa yang kau tertawakan?”
“Kau sangat licik.” berkata Souw Yan.
“Mengapa?” bertanya Siauw Cap-it-long.
“Kau!” menuding jari-jari hingga mengenai hidung Siauw Cap-it-long, Souw Yan tertawa.
“Kau memiliki istri yang begitu cantik, tapi masih keluyuran di waktu malam.”
“Keluyuran ke dalam kamarmu.” berkata Siauw Cap-it-long.
“Kau tidak bisa berbuat pendiam?”

“Aku adalah laki-laki yang jujur.”
Lagi-lagi Souw Yan tertawa ngikik, berkata:
“Ada ungkapan yang membuat contoh laki-laki adalah teko, wanita adalah cangkirnya, satu
teko bisa mengisi beberapa cangkir.”
“Luar biasa” memuji Siauw Cap-it-long. “Perumpamaan yang luar biasa. Siapa yang bercerita tentang ini?”
“Tentu saja cerita orang laki-laki,” berkata Souw Yan.
“Banyak laki-laki yang kau kenal?”
Tidak sebanyak wanita yang kau kenal,” berkata Souw Yan. “Aku heran, begitu banyak
wanita ditempat ini, mengapa hanya memilih aku seorang?”
Dengan tertawa Siauw Cap-it-long berkata:
“Setiap orang yang rakus, tentu memilih buah yang paling enak untuk dimakan.”
“Ha, ha … aku bukan buah.”
“Tapi kau bisa dimakan,” berkata Siauw Cap-it-long.
“Hai, hai …”
“Ha, ha …”
“Aku heran, belum pernah aku mengirim kerlingan mata kepadamu. Belum pernah menggoda
dirimu, bagaimana kau tahu, kalau aku juga bisa digaet?”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Wanita yang menyembunyikan perasaannya lebih mudah diajak naik ketempat tidur,
semakin mudah diajak berjalan, cara-cara ini lebih mudah dimengerti oleh laki-laki.”
Apa lagi, wanita yang berada didalam Istana Boneka!
Tidak menunggu ucapan Siauw Cap-it-long selesai, Souw Yan menggabruk-gabrukan
tangannya, memukul Siauw Cap-it-long dan berkata:
“Kau jahat. Jahat.”
“Siapa yang jahat.”
“Kau! Kau kira aku mudah dipikat laki-laki biasa. Huh! Beberapa kali Lui Bie hendak
menyeret diriku, selalu kutolak mentah-mentah, hampir dia gila penasaran, karena tidak
mendapatkanku. Begitu kulihat mukanya yang bopengan, darahku sudah naik keotak.”
“Ha, ha …” Siauw Cap-it-long tertawa. “Bopengan juga ada bagusnya, diantara sepuluh
wanita, sembilan diantaranya lebih suka laki-laki bopengan, apa lagi sesudah lampu dimatikan
…”
Pok … Souw Yan menampar perlahan, dengan tertawa ia berkata:
“Hei, kau juga laki-laki bergajul, kukira hanya Lui Bie seorang yang jahat, tidak tahunya ada

yang lebih genit darinya.”
Siauw Cap-it-long berkata: “Kecuali pendekar kuda sembrani Liong Kui, kukira tidak ada
laki-laki yang tidak genit.”
“Ya,” Souw Yan membenarkan kata-kata Siauw Cap-it-long. “Tidak ada laki-laki yang tidak genit.”
“Bagaimana dengan keadaannya dua kakek tukang main catur itu?” bertanya Siauw Cap-itlong.
“Kecuali bermain catur, kukira dia tidak memiliki hobby kepada wanita.”
Souw Yan memonyongkan mulutnya dan berkata:
“Salah. Dua kakek bangkotan itu lebih suka dari pada laki-laki lain, mereka masih mempunyai rangsangan
yang kuat. Kecuali gadis yang disekap oleh chungcu, tidak ada gadis yang tidak pernah dijamah oleh
mereka.”
Chungcu adalah penggilan untuk Raja Boneka.
“Termasuk kedua isteri si pendekar tikar terbang Lui Bie?” bertanya Siauw Cap-it-long.
“Kedua cabo itu lebih genit lagi, mereka yang mengantarkan diri. Memang maunya.”
“Apa Lui Bie tidak mengajukan protes?”
“Hal itu dianggap sebagai makanan biasa. Apa Lui Bie tidak pernah memberi tahu
keadaannya, ia senang memberikan isteri-isterinya kepada orang, mungkinkah kau tidak
pernah ditawari? Aku tidak percaya.”
“Oh …”
“Sepintas lalu, Lui Bie tampaknya sangat galak. Tapi menghadapi kedua kakek bangkotan itu,
ia betul-betul mati kutu, tidak beraani mendongakkan kepala sedikitpun.”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Siapa yang tidak kenal kepada pendekar tikar terbang Lui Bie, mengapa dia juga takut orang?”
Mendapat pertanyaan ini, Souw Yan bungkam. Tidak bicara.
Siauw Cap-it-long bertanya lagi:
“Mungkinkah ilmu kepandaian kedua kakek itu sangat hebat? Sehingga Lui Bie tidak bisa
memenangkan mereka?”
Souw Yan masih belum mau membuka mulut, tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Siauw Cap-it-long bertanya lagi:
“Siapa nama-nama kedua kakek tukang catur itu?”
“Aku tidak tahu,” jawab Souw Yan singkat.
Siauw Cap-it-long tertawa, dia berteriak:
“Kapan kedatangan mereka ditempat ini? Kukira kau bisa tahu?”
“Aku juga tidak tahu,” berkata Souw Yan. “Dikala aku tersulap kedalam Istana Boneka,

mereka sudah berada disini.”
“Kapan kau disihir oleh Thian-kongcu menjadi boneka mainannya?”
“Pada beberapa tahun yang lalu.”
“Bagaimana kau bisa berada ditempat ini?”
Souw Yan memaksakan diri tertawa, dan berkata:
“Seperti kalian juga, aku bingung atas kejadian-kejadian ini, aku tidak mengerti, tahu-tahu
tubuhku sudah menjadi kecil, sekecil boneka dan hidup diantara boneka-boneka lain.”
“Umurmu masih muda,” berkata Siauw Cap-it-long. “Mungkinkah rela hidup menjadi
manusia boneka?”
“Tidak relapun tidak bisa,” berkata Souw Yan. “Dibawah jampi-jampi si manusia gila boneka
Thian-kongcu, apa yang bisa kita lakukan?” Sesudah itu, Souw Yan menubruk Siauw Cap-itlong
lagi, menggumulinya dan mengguling-gulingkannya, dia berkata:
“Hei, kita sedang mencari kesenangan, mengapa harus mengurusi tektek-bengek yang seperti itu?”
Siauw Cap-it-long juga meremas-remasi dua benda Souw Yan, tiba-tiba ia meringis, kakinya
kelojotan, tampak seolah-olah sangat sakit.
Souw Yan terkejut, ia mengajukan pertanyaan:
“Eh? Kenapa?”
Napas Siauw Cap-it-long disengal-sengalkan, dia berkata:
“Oh … oh … lukaku kambuh lagi … lukaku belum sembuh betul.”
Wajah Souw Yan menjadi merah, ia mengertek gigi, menudingkan jarinya dan berkata marah.
“Sialan! Pilih sono, pilih sini, akhirnya terpilih manusia yang tiada guna. Dasar nasib!”
Indehoy tidak bisa dilanjutkan.
SIM PEK KUN masih menunggu-nunggu kedatangan Siauw Cap-it-long, dia duduk dibangku, menghadapi
makanan-makanan yang sudah menjadi dingin, kini mulai mengucurkan air mata.
Kemana kepergian Siauw Cap-it-long?
Dia tidak tahu, disaat itu Siauw Cap-it-long sedang bersama dengan Souw Yan.
Sayur mayur dimeja telah menjadi dingin, tidak pernah disentuh olehnya.
Ini waktu, terdengar suara pintu diketok.
Cepat-cepat Sim Pek Kun menyusut air matanya, memelihara wajah itu agar tetap segar.
Beberapa kali Siauw Cap-it-long mengetuk pintu, baru Sim Pek Kun bangkit berdiri, dan
membuka pintu tersebut.
Didepan pintu berdiri itu laki-laki yang mempunyai sepasang mata bersinar.

Biasanya, Sim Pek Kun menyambut kedatangan Siauw Cap-it-long dengan wajah yang riang.
Tapi kali ini tidak, ia menundukkan kepala, memandang lantai bawah.
“Kau sudah makan diluar?” Sim Pek Kun bertanya perlahan.
“Belum,” jawab Siauw Cap-it-long. “Eh, kau juga belum makan? Mengapa tidak makan
dahulu.”
“Aku … aku belum lapar,” jawab Sim Pek Kun.
Inilah jawaban bohong!”
Siauw Cap-it-long bisa melihat adanya sedikit perubahan, kalau dia pulang disambut dengan
senyuman sang ratu rimba persilatan, seperti bunga baru mekar, tentu saja ia bergirang hati.
Hari ini tidak, selalu Sim Pek Kun menundukkan kepalanya kebawah.
Tanpa memandang Siauw Cap-it-long, Sim Pek Kun mengambilkan nasi, perlahan-lahan
diletakkannya didepan Siauw Cap-it-long, dia berkata:
“Sayur-sayur ini sudah dingin, makanlah seadanya, sayur-sayur dari daerah utara, paling
disenangi olehmu.”
Siauw Cap-it-long bisa merasakan adanya kehangatan rumah-tangga, ia hidup dalam keadaan
yang ajaib, didalam istana boneka. Tapi turut sertanya Sim Pek Kun ditempat ini membuat ia
tidak begitu kesepian
Sim Pek Kun juga mengambil nasi, sangat sedikit, duduk disebelahnya Siauw Cap-it-long,
dan makan perlahan-lahan.
Perut Siauw Cap-it-long juga sudah terasa lapar, ia melahap makanan.
Tiba-tiba timbul perasaan bersalah, Siauw Cap-it-long mendapat firasat kurang baik, adanya
perubahan atas Sim Pek Kun tentu telah terjadi sesuatu.
Keadaan Siauw Cap-it-long tidak beda jauh dengan keadaan sang suami yang menyeleweng
diluar, disaat ia kembali dirumah, dan mendapat pelayanan yang baik dari isteri itu, tanpa
tegoran, tanpa omelan, tentu saja dia sangat bersalah dan merasa menyesal.
Akhirnya Siauw Cap-it-long membuka mulut, ia berkata:
“Selama beberapa hari ini, aku telah memeriksa seluruh ruangan-ruangan yang berada
didalam istana boneka.”
“Oh …” Sim Pek Kun memberikan jawaban singkat.
Siauw Cap-it-long berkata lagi:
“Kukira ruangan yang ada lebih daripada dua puluh delapan ruangan, paling sedikit ada tiga
puluh ruangan, tapi ubek-ubekan kucari kesana kemari, belum berhasil menemukan dua
ruangan yang tersembunyi.”
Sim Pek Kun masih terdiam, perlahan-lahan meletakkan sumpitnya dan berkata:
“Disini banyak anak gadis muda, gadis-gadis itu lebih pandai bicara, mulutnya gampang
nyerocos, mengapa kau tidak bertanya kepada mereka?”

Nah! Siauw Cap-it-long mengerti, apa yang menyebabkan kemarahan Sim Pek Kun. Ternyata
terlalu banyaknya gadis-gadis muda yang berada didalam istana boneka.
Ternyata Sim Pek Kun cemburu. Cemburu karena ia tidak pulang makan malam.
Seorang laki-laki bisa menjadi bangga, karena memiliki isteri yang bisa mengutarakan rasa
cemburunya.
Demikian juga Siauw Cap-it-long, dia bangga atas prestasi yang dicapai olehnya, ternyata
Sim Pek Kun menaruh sedikit cemburu.
Inilah perasaan yang belum pernah dirasakan selama seumur hidupnya.
Memandang kearah Sim Pek Kun, Siauw Cap-it-long berkata:
“Seharusnya kau makan saja seorang diri.”
“Dan kau makan bersama-sama dengan gadis-gadis remaja,” berkata Sim Pek Kun.
Siauw Cap-it-long menyengir, tugasnya untuk memunahkan sihir-sihir si manusia gila boneka
Thian-kongcu, ia berkata:
“Memang maksudku hendak mengajukan pertanyaan kepada mereka, sayang tidak mendapat
jawaban yang sempurna.”
Sim Pek Kun menoleh kearah laki-laki itu, seolah-olah hendak menemukan rahasa Siauw
Cap-it-long.
Si jago berandalan meneruskan keterangannya, ia berkata:
“Semakin rapat mereka menutup mulut semakin besar rasa kecurigaanku. Disini terdapat
suatu bukti, ada sesuatu yang disembunyikan. Ada sesuatu rahasia yang tidak boleh diketahui
oleh orang luar, rahasia apa itu? Kalau saja aku bisa menduga, kita bisa bebas dari istana
boneka.”
Sim Pek Kun bertanya perlahan:
“Kau masih hendak mengajukan pertanyaan kepada mereka?”
Siauw Cap-it-long menatap wajah ratu cantik itu dan berkata:
“Kukira sudah cukup.”
Kepala Sim Pek Kun ditundukkan kebawah, semakin rendah, tapi mulutnya asam cemberut,
kini mulai tampak menjadi cerah.
Sedapat mungkin Sim Pek Kun menahan rasa girang itu, tapi tidak bisa dibendung akhirnya
iapun tertawa.
Melihat senyum dan tawa Sim Pek Kun, perut Siauw Cap-it-long bertambah lapar, dilahapnya
santapan tersebut, ia makan sampai banyak.
“Gadis muda remaja sudah kutanyakan,” ia berkata. “Esok hari, giliran bertanya kepada si
kakek tua.”
Sim Pek Kun tertawa cerah dan berkata:

“Kukira … kukira kau bisa pulang lebih pagi …”
Terasa selembar muka Sim Pek Kun menjadi merah jengah, ia malu atas perhatian yang
berlebih-lebihan itu.
Kalau rasa cemburu seorang wanita terlalu dibesar-besarkan, sang laki bisa menjadi pusing
kepala.

Demikian keadaan Siau Cap-it-long, ditambah lagi cemburu Sim Pek Kun, dia bisa merasakan
kesulitan itu.
Tanpa cemburu sama sekali, laki-laki itu bisa kehilangan sendi pegangan hidupnya.
HARI berikutnya …
Udara cerah, matahari terang-benderang.
Siau Cap-it-long berjalan-jalan, ia mendekati taman, kini diperhatikannya daerah ini. Pertamatama
yang menarik perhatian Siau Cap-it-long adalah bangunan tembok yang tinggi, tembok
itu tidak bisa dijangkau oleh susunan tumpuk enam orang.
Pintu tembok yang terbuka, hari ini sudah dikunci dan diselot.
Siapa yang mengunci pintu itu? Mengapa?
Didalam mata si manusia gila boneka Thian-kongcu, boneka-boneka hidup ini terlalu kecil,
dimisalkan berani lari dengan dua kali langkah dengan hanya menekan jempolnya saja, dia
bisa memencet mampus. Mengapa harus membuat penjagaan yang begitu ketat?
Mengapa harus membangun tembok yang begitu tinggi? Mengapa harus mengunci pintu
istana dengan rapat?
Tampak sekilas senyuman Siau Cap-it-long, dia sudah bisa memcahkan sebagian dari rahasia
itu. Kini ia harus menemukan fakta2 yang lebih baik.
Entah mulai saat kapan, kedua kakek catur sudah berada ditempat gardu permainan. Mereka
meminum arak dan bermain catur lagi.
Perlahan-lahan, dengan menggendong kedua tangan dibelakang, Siau Cap-it-long mendekati
kedua kakek pemain catur itu.
Orang tua berbaju coklat dan orang tua berbaju hijau sedang menekunkan permainan mereka,
seperti tidak tahu, kalau ada sesuatu yang dating.
Angin berhembus perlahan, air mengalir dengan tenang.
Sikapnya kedua orang tersebut juga sangat tenang.
Disaat Siau Cap-it-long sudah dekat dengan orang2 itu, seolah-olah ada sesuatu yang
mengandung hawa pembunuhan, seperti mendekati dua bilah pisau yang keluar dari
kerangkanya.
Tajam!
Setiap senjata bagus memiliki cahaya tajam, dan disertai juga dengan hawa pembunuhan.
Tokoh-tokoh silat yang berilmu kepandaian tinggi, sudah biasa membunuh orang. Karena itu
menyelujuri dirinya juga terdapat hawa pembunuhan.
Siau Cap-it-long bisa merasakan, kedua kakek tua itu bukan jago biasa, hawa pembunuhan
telah menyelujuri tubuh-tubuh mereka.
Itulah hawa maut.
Orang tua berbaju coklat sedang mengangkat biji pion, tapi tidak segera diletakkan, seolahKoleksi
Kang Zusi
olah ia sedang berpikir, maju satu tapak, atau dua kotak?
Orang tua berbaju hijau bertopang dagu, tangan kanannya mengangkat cawan, perlahan-lahan
mengecup minuman itu.
Sepintas lalu, orang tua berbaju hijau memiliki tehnik catur yang lebih tinggi dari pada lawannya.
Sebentar kemudian, orang tua berbaju hijau, mengeringkan isi cawan arak itu.
Orang tua berbaju coklat masih belum meletakkan biji pionnya, ia memikir lama, maju satu
langkah atau dua tapak?
Orang tua berbaju hijau menoleh kearah Siauw Cap-it-long, menyodorkan cawan arak yang
sudah menjadi kosong.
Itulah satu permainan, agar si jago berandalan bisa mengisikan cawan yang kosong.
Siauw Cap-it-long dibudak jongoskan.
Pada meja tidak jauh dari mereka terdapat satu poci arak, tapi arak itu masih terisi penuh.
Siauw Cap-it-long memandang kearah poci arak dan memandang kearah sodoran tangan si
kakek berbaju hijau.
Hanya berpikir:
“Aku bukan budak kalian! Mengapa harus menerima perintah?”
Kalau orang lain yang menghadapi situasi yang seperti itu, mungkin ia memaki kalangkabutan,
atau menggibrik-gibrikan badan, berjalan dan ngeloyor pergi.
Siauw Cap-it-long memiliki kesabaran yang luar biasa, tanpa kemarahan, ia mengambil poci
arak, menjujukan mulut poci kearah cawan, dengan maksud menuangkan arak kepada si
kakek berbaju hijau.
Kalau saja ia memiringkan sedikit poci itu, pasti arak mengucur keluar dari tempatnya,
memenuhi cawan si orang tua berbaju hijau.
Tapi disaat itu, tubuh Siauw Cap-it-long tidak bergerak. Seolah-olah dia tersihir, menjadi
patung batu.
Tangan orang tua berbaju hijau juga tetap tersodor, menunggu datangnya tuangan arak itu.
Siauw Cap-it-long masih tidak bergerak, dengan poci ditangannya, juga tidak bisa
menuangkan keluar arak.
Orang tua berbaju coklat yang memegang biji catur juga membeku, belum meletakkan biji
catur itu diatas papan.
Ketiga orang tadi seperti kena disihir, mereka masing-masing membeku, seolah-olah sudah
ditakdirkan menjadi boneka mati.
Dari boneka hidup, mereka seperti hendak menjadi boneka asli. Boneka yang tidak bisa
bergerak.
Matahari menggelusur ketengah, dan berada tepat diatas kepala mereka.

Kedua kakek tua pemain catur dan Siauw Cap-it-long masih tidak bergerak, mereka
membawakan sikap yang seperti tadi.
Bayangan mereka yang panjang akhirnya memendek, karena matahari sudah berada diatas
kepala.
Masih belum ada seorang yang mulai bergerak.
Matahari condong kearah barat, maka tiga bayangan itupun sudah bergeser memanjang
kearah timur.
Sangat aneh bin ajaib, hanya sedikit tuangan saja, hanya sedikit dorongan tangan, seharusnya
Siauw Cap-it-long bisa menuangkan isi arak.
Dan tangan itu begitu berat, tidak berhasil digerakkan olehnya.
Tiga jam lagi telah berlalu.
Tangan Siauw Cap-it-long seperti menjadi batu, tidak bisa digerakan.
Sikapnya orang tua berbaju hijau sangat tenang, bibirnya yang tersungging senyuman ewa itu
memperhatikan perubahan, kini ia menjadi heran atas ketekunan dan kekuatan Siauw Cap-itlong.
Agaknya orang tua berbaju hijau sudah mulai kehilangan sabar.
Orang tua berbaju hijau tidak bisa menyelami isi hati Siauw Cap-it-long, rasa kagetnya Siauw
Cap-it-long lebih hebat sepuluh kali lipat dari rasa kagetnya orang tua pemain catur itu.
Poci arak ditangan Siauw Cap-it-long semakin lama semakin memberat, seolah-olah menjadi
sebuah bongkah batu yang besar.
Tangan Siauw Cap-it-long mulai kesemutan, rasa kesemutan itu mulai menjalar terus
sehingga naik keatas pundak.
Keringa mengucur membasahi tubuh Siauw Cap-it-long, itulah pertandingan mengadu
kekuatan tenaga dalam.
Siauw Cap-it-long masih menggigit bibir, ia mempertahankan kekuatannya, hendak menguji
kekuatan dari orang tua-tua yang selalu main catur itu.
Biar bagaimana Siauw Cap-it-long harus mempertahankan kedudukannya yang pertama, ia
tidak boleh bergerak, bergerak adalah kematian.
Jiwa Siauw Cap-it-long sudah berada diujung maut.
Mereka tidak menggunakan pedang, tanpa teriakan dan pekikan, masing-masing membeku,
seolah-olah betul-betul boneka mati, tidak bergerak, tapi ujian-ujian lebih hebat dari
pertandingan yang bagaimana besarpun juga.
Kalau saja arak dipoci Siauw Cap-it-long bisa meletus, keluar dari tempatnya, walau hanya
sedikit, pasti darah Siauw Cap-it-long tersembur dari sumber-sumber urat nadinya.
Inilah pertandingan tenaga dalam, pertandingan kekuatan iman, pertandingan kondisi badan,
dan pertandingan kesabaran.

Pertandingan besar yang tidak terlihat kebesarannya!
Pertandingan hebat yang tidak tampak kehebatannya!
Pertandingan itu sudah berlangsung satu hari, hari menjadi magrib, kini kegelapan
mengarungi suasana.
Pertandingan masih berlangsung terus.
Didalam istana boneka, semua orang hanya mementingkan kepentingan sendiri. Egoistis!
Tidak ada yang mengambil sikap peduli, bagaimana akhir pertandingan, dalam keadaan yang seperti itu.
MALAM TERPANJANG
KEADAAN betul-betul menjadi gelap, gelap mengarungi jagat.
Diruangan-ruangan dari seluruh isi istana boneka telah dipasang penerangan, lampu-lampu bercahaya.
Memang cahaya penerangan itu tidak bisa disamakan dengan cahaya matahari, agak redup
dan kurang menarik.
Tapi cukup memikat!
Dilorong-lorong, samar-samar tampak juga lampu-lampu teng yang baru disundut.
Tertojos oleh cahaya-cahaya dari penerangan-penerangan itu, wajah orang tua berbaju hijau
berkeriput. Dagingnya yang pucat-pasi semakin menyeramkan, seolah-olah bangkai hidup.
Apa jadinya? Kalau seorang boneka hidup mati?
Mencair?
Membeku?
Atau membesar kembali menjadi manusia yang normal?
Siauw Cap-it-long belum bisa menjangkau pikiran sejauh itu, karena dia yakin, ia sedang
didalam suatu rencana tipu-muslihat yang luar biasa!
Tangan Siauw Cap-it-long juga gemetaran, dia menyesal atas terjadinya pertandingan tenaga
dalam itu.
Sebelumnya, ia tidak bisa mengira-ngira, bagaimana kekuatan tenaga kedua kakek yang
duduk diatas papan catur itu.
Sebab ia kurang yakin, maka dijajalnya juga.
Kini betul-betul terbukti, dugaannya tidak salah lagi. Kedua kekek yang kerjanya main catur
siang malam itulah tokoh-tokoh ternama dijaman silam.
Jago-jago silat yang bisa bertahan sehingga sampai tiga jaman!
Mana mungkin ia memenangkan pertandingan itu?”
Wajah si kakek berbaju hijau yang pucat-pasi masih membeku, tiada tampak ada darah
ditempat itu.

Siauw Cap-it-long sudah hampir tidak sanggup bertahan, ada niatan untuk melepaskan
tangannya, tapi dengan cara-cara yang seperti itu, berarti mencari kematian, jiwanya akan
putus segera.
Orang tua yang berbaju coklat yang memegang biji catur turut membeku, dari pagi sehingga
malam itu, dia tidak pernah meletakkan biji caturnya. Kini dia menoleh, bergerak dan
tersenyum sebentar, dia bukan boneka, dia hidup biji caturnya yang hendak ditaruh dipapan
catur dibatalkan, diarahkan kearah poci dan menyambit.
Bruk … bjaaar …
Biji catur itu memecahkan poci arak. Maka menyelesaikan pertandingan Siauw Cap-it-long
dengan orang tua berbaju hijau.
Siauw Cap-it-long mundur kebelakang, napasnya sengal-sengal.
Karena pecahnya poci arak, maka cairan benda keras itu kini meleleh, memenuhi cawan si
orang tua berbaju hijau.
Orang tua berbaju hijau juga bergerak, menarik tangan yang sudah disodorkan lama, tanpa
menoleh kearah Siauw Cap-it-long, kini dia menenggak arak itu.
Seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang menegangkan.
Orang tua berbaju coklat menggapaikan tangan, menyedot kembali biji caturnya. Kini biji
catur itu diletakkan diatas papan.
Ini juga termasuk demonstrasi mengadu kekuatan tenaga dalam yang hebat!
“Awas!” dia memberi peringatan kepada lawan.
Orang tua berbaju hijau mengganti pusat perhatiannya, dicurahkan kearah papan catur, dan
menyambung permainan catur yang terhenti.
Kedua kakek aneh bertemu dengan Siauw Cap-it-long yang aneh.
Sesudah mereka mengukur kekuatan tenaga dalam, ternyata kekuatan itu seimbang.
Perlahan-lahan Siauw Cap-it-long ngeloyor pergi.
Langkah yang aneh!
Kedua kakek menyambung permainan catur mereka.
Juga cara aneh!
SIAUW CAP-IT-LONG ngeloyor balik. Ia meninggalkan kedua kakek yang masih asyik
bermain catur.
Dia heran, dengan alasan apa, kedua jago silat itu ganti haluan? Dengan alasan apa, bermain
catur pagi, siang dan malam?
Ia menginjakkan kakinya dilorong Istana Boneka.
Siauw Cap-it-long nyaris dari jurang kematian.

Ia berjalan dengan langkah ringan, melewati lampu-lampu gantung yang dipasang diloronglorong
istana.
Ternyata hidup itu mempunyai daya magnit yang hebat.
Sanubarinya hidup mendapat berkah Tuhan!
Sebelum melakukan pertandingan duel maut, Siauw Cap-it-long tidak menyangka kalau
kekuatan hidup seseorang itu sangat penting sekali.
Ilmu silatnya tinggi, otaknya cerdas, penilaiannya tepat, karena itu, belum pernah Siauw Capit-
long mengalami krisis-krisis maut. Yang terakhir, ia masuk kedalam istana boneka.
Mengadu tenaga dalam dengan orang tua berbaju hijau tadi.
Baru kini ia sadar, bahwa ilmu kepandaiannya itu juga terbatas, masih ada jago yang berada
diatas dirinya.
Didalam hal ini, ia hanya menduduki jago silat super kuat, belum berarti jago silat super sakti
tanpa tandingan!
Ia nyaris dari kematian, dan hidup kembali.
Tapi rasa girangnya Siauw Cap-it-long tidak kepalang, dia bisa membuktikan bahwa
dugaannya itu tidak salah.
Mengelus-elus tangannya, Siauw Cap-it-long menuju kearah kamar yang sudah ditunjuk,
kamar didalam Istana Boneka!
Sayur sudah dingin … terngiang suara Sim Pek Kun.
Pasti ia mendapat omelan lagi!
Siauw Cap-it-long mempercepat langkahnya, menuju kearah pintu.
Hari ini adalah hari yang terhebat untuk dirinya, biar bagaimana, dia berhasil melewatkan hari
krisis.
Akhirnya ia berhasil menemukan sesuatu yang hebat.
Seluruh tulang-tulangnya masih terasa sakit dan ngilu karena adanya adu pertandingan tenaga
dalam tadi.
Hati Siauw Cap-it-long sangat girang, ia harus cepat-cepat pulang, menangsal perut,
menenggak arak, melewati hari, tidur sehingga besok.
Besok …! Ya! Besok …
Besok akan terjadi sesuatu yang lebih hebat.
Siauw Cap-it-long membongkar perdukunan si manusia gila boneka Thian-kongcu.
Siauw Cap-it-long sudah berada didepan pintu.
Pintu masih tertutup.
Tentu Sim Pek Kun menunggunya dengan hati tidak sabar.

Siauw Cap-it-long berpikir:
“Kuharap saja ia tidak menyangka yang bukan-bukan.”
Karena adanya drama dikemarin hari, karena adanya urusan Souw Yan, tentu Siauw Cap-itlong
merasa bersalah. Ia takut kalau Sim Pek Kun itu bercembetut pula, menyalahkan dirinya
yang menemui gadis-gadis muda.
Perlahan-lahan Siauw Cap-it-long mendorong pintu, dengan harapan bisa mendapat
penyambutan Sim Pek Kun yang meriah, disambut oleh wajah Sim Pek Kun yang mekar
bagaikan bunga.
Siauw Cap-it-long belum tahu, apa yang sudah terjadi dibalik pintu.
Apakah yang sudah terjadi?
Kalau saja Siauw Cap-it-long tahu, tidak mungkin dia berani mendorong pintu ruangan itu.
DIMEJA kamar, Capcay, buyunghay, paklay dan makanan-makanan lain-lainnya telah
tersedia, tidak ketinggalan juga arak dimeja.
Tukang masak yang memasak makanan ini adalah tukang masak daerah Tiong-tjiu yang
ternama.
Sayur sudah dingin.
Didepan makanan tersebut, duduk disebuah kursi, sesuatu bayangan yang sedang menunggu.
Tapi orang itu seperti patung, itulah penghuni Istana Boneka yang ternama, dia menyebut
dirinya sebagai raja boneka.
Lampu didalam kamar itu tidak dinyalakan.
Penerangan-penerangan dari luar kamar mencorot masuk, membuat satu pemandangan yang redup.
Raja Boneka duduk didepan meja makan, begitu misterius, sulit diduga, ia tidak bergerak,
seolah-olah hantu, atau setan gentayangan, atau juga ia sudah menjadi boneka mati.
Pada dinding tembok, tergantung gambar-gambar.
Sepasang mata Raja Boneka menatap gambar-gambar itu.
Disaat Siauw Cap-it-long melangkahkan kakinya memasuki ruangan, hati si Raja Boneka
seperti tenggelam.
Begitu juga hati Siauw Cap-it-long hampir terlompat keluar dari kerangka mulutnya.
Ia sudah menemukan sesuatu bayanan yang tidak baik, mendapat firasat yang sangat buruk.
Seolah-olah seekor srigala yang mengendus bau manusia, mengendus adanya bahaya,
keadaan menegang.
Siauw Cap-it-long menahan gerak kakinya.
Siauw Cap-it-long menatap kearah raja boneka itu.
Raja boneka sedang membelakangi Siauw Cap-it-long, ia dapat menangkap derap langkah

kaku orang yang ditunggu, tapi ia tidak menolehkan kepalanya.
Siauw Cap-it-long menjadi ragu-ragu, tapi ia harus mengatasi persoalan ini, perlahan-lahan ia
duduk didepan orang itu.
Siauw Cap-it-long mengambil putusan yang tepat, dia tidak mau mengajukan pertanyaan,
sebelum mengetahui jelas maksud tujuan dari raja boneka.
Perubahan apa yang sudah terjadi? Mengapa Sim Pek Kun tidak berada didalam kamar itu?
Boneka2 hidup?
Raja boneka juga diam, tidak bergerak. Menutup mata dan mengunci mulutnya. Keadaan
semakin menegang.
Siauw Cap-it-long tidak biasa dengan keadaan yang seperti itu, setelah mengalami
pertempuran terus-menerus selama satu hari, ia merasa bahagia, dia menuangkan arak,
diteguknya cepat.
Raja boneka juga mengambil cawan arak, mengisi penuh dan meminum.
Kedua orang itu saling pandang memandang.
Akhirnya raja boneka mulai menggerakkan mulut. Ia tertawa sebentar dan berkata:
“Hari ini kau lelah sekali.
“Masih untung, berkata Siauw Cap-it-long.
“Menempur mereka, sama saja artinya dengan membentur maut, tidak peduli caranya
bagaimana, keadaannya sama saja, sangat meletihkan diri.”
“Beruntung aku nyaris lolos dari ancaman maut,” berkata Siauw Cap-it-long.
Mata raja boneka berkilat-kilat, itulah mata manusia biasa, memandang Siauw Cap-it-long,
mengajukan pertanyaan:
“Sesudah melakukan duel yang seperti tadi, kau bisa mengetahui asal-usulnya kedua orang
itu, bukan?”
Siauw Cap-it-long tertawa tawar, ia berkata:
“Kukira sedari pagipun aku sudah bisa menduga, siapa adanya kedua orang tua itu.”
“Tapi kau masih berani menempur mereka?!” berkata raja boneka.
“Eh …” Siauw Cap-it-long mengeluarkan gerengan perlahan.
“Ha, ha …” Raja boneka tertawa. “Aku memuji keberanianmu. Mari! Minum arak.”
“Mari minum!” Siauw Cap-it-long menerima toast itu.
Sesudah meminum masing-masing araknya, wajah raja boneka ditekuk masam-masam,
dengan suara yang berat ia bertanya:
“Kecuali yang kau ketahui, berapa banyak rahasia lagi yang kau tahu?”

“Tidak terlalu banyak. Tapi juga tidak sedikit,” berkata Siauw Cap-it-long.
Dengan dingin raja boneka berkata:
“Kuharap kau tidak mengetahui urusan terlalu banyak. Seseorang yang mengetahui banyak
rahasia, jiwanya bisa dirundung kemalangan, maka lebih baik tidak tahu menahu.”
Siauw Cap-it-long meletakkan cawan araknya, memeriksa seluruh isi ruangan, dan akhirnya
tertancap diwajah raja boneka, kini dia mengajukan pertanyaan:
“Dimana dia?”
Seolah-olah menjadi orang tolol, raja boneka itu bertanya:
“Siapa?”
“Isteriku,” jawab Siauw Cap-it-long.
“Ha … ha …” raja boneka tertawa lagi, tawanya agak aneh. Kemudian dengan perlahan-lahan
ia berkata: “Yang kau maksudkan, nona Sim itu?”
Siauw Cap-it-long merasakan dunia berputar, matanya disipitkan, kini tampak kekosongan,
lama sekali ia menganggukkan kepala. Membenarkan pertanyaan raja boneka.
Disaat mereka memasuki istana boneka, Siauw Cap-it-long dipaksakan mendjadi suami Sim
Pek Kun.
Demikian juga disaat memasuki daerah misterius raja gila boneka Thian-kongcu, pelayan
Thian-kongcu yang bernama Siok Siok itu selalu mengartikan Sim Pek Kun dan Siauw Capit-
long sebagai suami-isteri.
Sim Pek Kun dan Siauw Cap-it-long tidak menyangkal adanya tuduhan-tuduhan itu.
Akhirnya rahasia mereka sudah terbuka.
Tampak raja boneka menatap wajah Siauw Cap-it-long, dengan sepatah demi sepatah ia bertanya:
“Betul-betul dia sudah menjadi isterimu?”
Siauw Cap-it-long tidak menjawab pertanyaan itu.
Raja boneka bertanya lagi:
“Sudahkah kau tahu, apa kerjamu?”
“Apa yang terjadi?” bertanya Siauw Cap-it-long.
“Mengapa tubuhnya begitu lemah, mengapa Sim Pek Kun begitu lemah?” bertanya raja boneka.
“Apa yang sudah menimpa dirinya?” bertanya Siauw Cap-it-long tegang. “Apa yang
menyebabkan kelemahannya?”
Raja boneka tertawa tawar. Ia berkata:
“Menurut perhitungan waktu, beberapa bulan kemudian ia akan segera melahirkan anaknya,

tapi kejadian itu akan segera tidak terjadi. Tidak mungkin bisa terjadi.”
“Aaaa …” Siauw Cap-it-long terbelalak, ternyata Sim Pek Kun mengalami keguguran.
Raja boneka memainkan jarinya. Ting … dia menyentil pergi cawan araknya sendiri.
Trak … cawan arak itu mental ditembok, masuk sehingga dalam. Itulah kekuatan tenaga
dalam yang hebat, lebih hebat dari apa yang sudah diperlihatkan oleh si kakek tua berbaju hijau.
Mata Siauw Cap-it-long terbelalak kaget.
Memperhatikan gerak-gerik raja boneka itu sangat kaku dan dingin, bermalas-malasan,
ternyata raja boneka ini memiliki ilmu kepandaian silat yang jauh berada diatas dirinya.
Belum pernah Siauw Cap-it-long menemukan tandingan, tapi kini ia menemukan tandingan
jauh lebih hebat, ia harus berhati-hati.
Menatap dan memperhatikannya beberapa saat, Siauw Cap-it-long bertanya:
“Dimana kini ia berada?”
Raja boneka tidak menjawab pertanyaan itu, ia sedang mendemonstrasikan kekuatan tenaga
dalam yang hebat. Matanya tertuju pada cawan arak yang sudah memendam dalam tembok.
Siauw Cap-it-long bukanlah seorang manusia penakut, belum pernah ada istilah takut itu
didalam kamus pkirannya.
Sekali lagi Siauw Cap-it-long mengulang pertanyaan:
“Dimana dia berada?”
Raja boneka berpaling kembali, menatap Siauw Cap-it-long, sepatah demi sepatah ia berkata:
“Kau lupa kepada suatu hal. Aku adalah raja boneka, raja dari istana boneka. Disini setiap
wanita cantik itu hak milikku, tidak pernah ada yang berani melanggar perintah.”
Raja boneka tidak menjawab pertanyaan Siauw Cap-it-long Tapi ia memberi terhadap hak
monopoli yang berada didalam istana boneka.
Siauw Cap-it-long sudah siap bangkit dari tempat duduknya, tapi ia berusaha menahan rasa
kemarahan itu, duduk kembali.
Sepasang sinar mata raja boneka tertuju kearah Siauw Cap-it-long, dan ia bertanya lagi:
“Tahukah arti dari kata-kaa tadi?”
“Kurang begitu mengerti,” jawab Siauw Cap-it-long.
“Karena akulah yang berkuasa. Ilmu kepandaiankulah yang berkuasa,” berkata raja boneka.
“ …” Siauw Cap-it-long masih menunggu reaksi selanjutnya.
Raja boneka berkata lagi:
“Sedari tadi pagi sudah kuberi tahu kepadamu, bahwa ditempat ini tidak ada peraturan, tidak
ada tata krama, yang ada hanyalah kebebasan, kebebasan memungut orang dan kebebasan
didalam segala-galanya. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa.”

“Maksudmu …” bertanya Siauw Cap-it-long.
Raja boneka berkata:
“Sesudah kau berada ditempat ini, segala sesuatu harus mengikuti tradisi-tradisi yang ada.
Kau harus menurut segala perintah dan kemauanku, Sim Pek Kun bukan isterimu, ia tidak
menjadi hak milik seseorang yang tertentu, siapa yang berkuasa ia berhak untuk mengambil.
Aku ingin mengambil dan meng-claim atas kepribadian Sim Pek Kun.”
Perlahan-lahan, Raja boneka mengambil cawan arak Siauw Cap-it-long, cawan arak itu
dikremesnya ditangan, perlahan-lahan dikremes pula, digosok-gosok, akhirnya, disaat si raja
boneka membuka tangan itu, cawan arak yang terbuat dari bahan-bahan keras hancur menjadi
bubuk.
Lagi-lagi, ia mendemonstrasikan kekuatan tenaga dalamnya!
“Akulah yang berkuasa,” ia berkata. “Aku adalah manusia super sakti tanpa tandingan.”
Siauw Cap-it-long memperhatikan tangan itu, tangan si raja boneka sangat halus, lebih halus
dari pada tangan wanita, tapi ia memiliki ilmu tenaga dalam yang hebat. Bisa mengkeremus
sebuah cawan arak.
Hati Siauw Cap-it-long meringis Ia bisa mengukur, ilmu kepandaiannya tidak memiliki
kekuatan yang seperti itu.
Raja boneka memperhatikan lawannya yang berada didepan meja itu. Beberapa kali Siauw
Cap-it-long siap bangkit dari tempat duduknya, beberapa kali pula niatan itu dibatalkan.
Raja boneka berkata dengan suara perlahan:
“Inilah letak keistimewaanmu. Kau hebat! Banyak sekali anak2 muda yang sepantaranmu,
sesudah mengetahui aku lebih kuat dari mereka, toh masih berani bermain-main, hendak
menjajal dan mencoba, tentu saja mereka mengalami kegagalan. Tapi kau sanggup menahan
gejolak hatimu, kau bisa menguasai diri sendiri. Kau mempunyai kesabaran yang luar biasa.
Maka kau bisa bertahan hidup sehingga sampai saat ini.”
Siauw Cap-it-long sedang memikir-mikir, haruskah dia menempur si raja silat super sakti
yang kini berada didepannya?
Raja boneka adalah jago silat super sakti.
Siapa nama aslinya?
Menempur si raja boneka, berarti mencari kematian.
Tapi Siauw Cap-it-long tidak melepaskan kesempatan untuk bertempur, ia harus
menggunakan kepintaran otaknya, setidak-tidaknya mengimbangi kekuatan musuhnya.
Karena itu Siauw Cap-it-long mau mencari jalan.
“Untuk mencari jalan keluar dari Istana Boneka adalah usaha yang tidak terlalu sulit, kalau
saja kau berhasil menemukan kunci rahasia, kau bisa bebas. Untuk mencari lawan seperti
dirimu juga tidak mudah, kuharap saja kau bisa terus-menerus tinggal disini, kujadikan lawan
pertandingan. Kukira kau tidak bisa mati terlalu cepat, kalau saja kau memiliki kepintaran,
kalau saja kau sebagai seorang sangat pintar dan cerdik, kau bisa bertahan terus hidup lama,

hidup lama.”
Siauw Cap-it-long menghela napas panjang dan berkata:
“Sayang. Ciri-ciri yang ada pada diriku, ialah kepintaran itu. Aku tidak segoblok seperti apa
yang diperkirakan orang, aku tetap berusaha, walau belum tentu berhasil. Apapun yang
terjadi, manusia itu hidup untuk berjuang.”
“Belum tentu,” berkata raja boneka. “Tanpa perjuangan, aku bisa hidup lama bukan? Kalau
saja kau betul-betul pintar, lebih baik jangan banyak bicara. Lebih baik kau minum arak terusmenerus,
maka untuk pembalasan itu, aku bisa memberi jasa-jasa yang tertentu.”
“Jasa-jasa tertentu?” Siauw Cap-it-long memandang raja boneka tersebut.
Dengan mesem-mesem raja boneka berkata:
“Souw Yan. Gadis itu tidak secantik Sim Pek Kun, tapi beberapa kali ia menang dari pada
Sim Pek Kun. Souw Yan akan kuhadiahkan kepadamu.”
“Huh!” Siauw Cap-it-long mengeluarkan suara dari hidung.
Raja boneka berkata:
“Souw Yan adalah gadis pilihanmu. Sesudah kehilangan seorang Sim Pek Kun, kau
mendapatkan Souw Yan, inilah jasa timbal-balik. Kukira kau tidak rugi. Sim Pek Kun bukan
isterimu, dia bebas pergi dari dalam pelukanmu. Souw Yan akan menjadi isterimu yang sah,
kalau saja kau mau, kau bisa hidup sampai seratus tahun, hidup selama-lamanya didalam
istana boneka.”
“Kalau aku tidak mau hidup ditempat ini?” Siauw Cap-it-long melirik kearah lawan kuat itu.
Wajah raja boneka ditekuk masam, dengan geram dia berkata:
“Tidak mau? Kukira tidak ada pilihan lain. Mau of tidak mau, kau harus tetap tinggal
ditempat ini.”
Siauw Cap-it-long memperlihatkan senyumnya yang sangat fanatik, dia berkata:
“Kukira sudah waktunya untuk menemukan kunci rahasia dari istana boneka.”
“Ho … ho …” berkata raja boneka. “Kau sudah bisa memecahkan tenunganku?”
“Bukan!” Dengan berkata Siauw Cap-it-long mengoreksi kata-kata itu. “Tapi pemecahan dari
ketololanmu.”
RAJA BONEKA ADALAH MAJIKAN THIAN-KONGCU
KEDUA jago silat itu saling berpandang-pandangan, beberapa saat kemudian, Siauw Cap-itlong
berkata:
“Kalau saja aku berhasil memecahkan rahasiamu, kau bersedia menyerahkannya untuk
dibawa pulang?”
Menuntut kebebasan Sim Pek Kun adalah tanggung jawab Siauw Cap-it-long!
“Kau masih menghendaki Sim Pek Kun?” bertanya raja boneka.

“Ya,” Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala. “Aku wajib menyerahkannya kepada yang
berhak menerimanya.”
“Boleh! Sesudah kau memenangkan sayembara Istana Boneka.”
“Dengan segera,” berkata Siauw Cap-it-long.
“Kau sudah berhasil menemukan kunci set dari rahasiaku ini?”
“Kukira sudah.”
“Ketahuilah, belum pernah ada orang yang bisa memecahkan penyihiran Thian-kongcu.”
Siauw Cap-it-long tidak menggubris peringatan itu, ia berkata:
“Kukira aku bisa.”
“Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk memecahkan tenungan Thian-kongcu?”
bertanya raja boneka.
“Kukira tidak lama,” berkata Siauw Cap-it-long. “Segera!”
“Kalau kau tidak berhasil?”
Dengan tegas Siauw Cap-it-long berkata:
“Seumur hidupku tidak akan meninggalkan tempat ini,” berkata Siauw Cap-it-long. “Maka
aku akan berhamba kepadamu, berhamba sehingga mati.”
Wajah raja boneka yang sudah menegang berubah menjadi riang, suaranya menjadi merdu
kembali, dengan suara yang mantap ia berkata:
“Pertaruhan yang tidak kecil. Lebih baik kau berpikir-pikir lagi.”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Pertaruhan yang kecil, tidak ada artinya. Apalagi bertaruh kepadamu, lenyaplah pula
kegembiraan. Lebih baik tidak bertaruh dari pada bertaruhan yang berupa benda biasa. Lihat
dari keberanianmu, beranikah menerima tawaran pertaruhan yang seperti ini?”
“Hua, ha …” Raja boneka tertawa. “Pertaruhan yang lebih besar lagipun akan kumakan. Baik.
Akan kuterima tawaranmu tadi. Kalau kau tidak berhasil menjebolkan kurungan ilmu sihir
Thian-kongcu, untuk seumur hidup kau harus berhamba ditempat ini. Termasuk juga Sim Pek
Kun. Sebaliknya, kalau kau berhasil memecahkan ilmu sihir itu, kau mendapat kebebasan.”
“Janji yang bisa dipegang?” bertanya Siauw Cap-it-long.
“Tentu,” berkata Raja boneka.
“Baik …”
Seiring dengan kata-kata baik Siauw Cap-it-long, tiba-tiba saja badannya melejit, membentur
dinding ruangan, dan berbareng juga dengan saat itu, terdengar suara ledakan yang hebat,
gebrak … dinding itu jebol, batu beterbangan, dinding yang setebal sembilan dim itu berhasil
dipecahkan oleh Siauw Cap-it-long.

Gerakan Siauw Cap-it-long sangat gesit dan cekatan, begitu dinding itu pecah bolong, tubuhnya melejit,
dia berpindah kelain ruangan, berpindah ketempat ruangan yang berada disebelah.
Ruangan apakah yang berada disebelah ruangan Siauw Cap-it-long?
Ruangan ini tidak terlalu besar, inilah ruangan pertama kali yang Siauw Cap-it-long pernah lihat. Ruangan
yang berisikan main-mainan, berisikan meja, dengan main-mainannya istana boneka!
Boneka asli! Boneka kecil!
Ruangan ini terdapat meja datar berpinggir besi, terdapat bangunan-bangunan kecil yang indah, ada anak
sungai, ada dua dua orang kakek tua yang sedang bermain catur, ada si raja boneka yang sedang bangun
tidur, ada si muka kuda Liong Kui dan si bopengan Lui Bie.Liong Kui dan Lui Bie yang diperkecilkan,
duplikat kedua orang itu, mereka sedang menunggu diruang tamu.
Itulah istana boneka!
Ternyata, raja boneka adalah seorang yang sudah sinting, dia menciptakan boneka-boneka kecil dan
hendak mengelabui orang yang dikatakan sudah disihir dan disusutkan menjadi kecil.
Kenyataan adalah tidak.
Segala itu adalah sesuatu kebohongan yang sangat besar!
Dengan napas yang masih sengal-sengal, Siauw Cap-it-long berdiri disisi bangunan-bangunan
istana boneka, ia memandang kearah lubang dinding, tertawa besar:
“Huaaa, ha … ha …”
Wajah Raja boneka menjadi pucat-pasi.
Gagallah semua tipu-muslihatnya.
Terdengar pula suara Siauw Cap-it-long:
“Inikah yang dinamakan ilmu sihir? Hua, ha, ha …”
Raja boneka adalah Thian-kongcu.
Raja boneka Thian-kongcu sengaja meloloh Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun, kemudian
menyadarkannya, sesudah itu memperlihatkan sebuah taman mainan istana boneka, komplit
dengan semua boneka2, boneka-boneka itu menurut orang yang ada, seperti orang tua berbaju
coklat dan berbaju hijau yang bermain catur, seperti pendekar tikar terbang Lui Bie, seperti
pendekar kuda sembrani Liong Kui, seperti dia sendiri, dan seperti pelayannya, yang ada.
Sengaja memperlihatkan mainan-mainan dan boneka-boneka itu kepada Siauw Cap-it-long,
sesudah itu menitahkan Siok Siok memberi obat tidur kepada Siauw Cap-it-long.
Sesudah Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun siuman, mereka berada didalam istana boneka
yang telah diperbesar, sebuah istana boneka asli. Bukan boneka mainan.
Thian-kongcu menciptakan diri sendiri sebagai Raja Boneka!
Thian-kongcu hendak mempermainkan orang.

Apa perasaan seseorang, manakala merasakan dirinya sudah susut menjadi sesuatu boneka hidup.
Pasti tertekan! Pasti tidak mempunyai harapan hidup!
Sesudah itu, raja boneka Thian-kongcu mempermainkan orang-orang itu, apa yang dia minta
pasti tidak bisa ditolak.
Hanya Siauw Cap-it-long yang berhasil menjebolkan permainan tipu lihay ini.
Didalam ruangan main-mainan istana boneka, Siauw Cap-it-long berkata:
“Huh! Sengaja membuat anak-anakan yang seperti ini, sengaja membuat bangunan-bangunan
kecil istana boneka, dan sengaja memperlihatkannya kepada kami. Sesudah itu, kau bawa
diriku ketempat ini, seolah-olah aku menjadi kecil dan kerdil, dengan anggapan sudah
ditenung atau disihir, seolah-olah sudah menjadi boneka hidup …”
Raja boneka Thian-kongcu tidak menjawab.
Siauw Cap-it-long meneruskan kata-katanya:
“Rencanamu ini sungguh tidak masuk diakal. Memang luar biasa lihay, tentu saja tidak
disangka, didalam dunia, ada seorang gila boneka yang seperti kau! Ada seorang yang begitu
gila mempermainkan manusia seperti kau!”
“Ha … ha …” Raja Boneka Thian-kongcu juga tertawa. “Belum pernah ada orang yang bisa
mengetahui cara-cara ini permainanku. Dengan cara-cara ini, sudah banyak jago silat yang
kutipu, akhirnya orang-orang itu bisa menjadi gila, atau bunuh diri, atau mengobral napsu
birahinya, dan aneka macam sesuatu yang tidak mungkin bisa disaksikan orang lain.”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Maka didalam tanggapanmu, kau memiliki cara terhebat, cara permainan Istana Boneka yang
luar biasa, dan kau menganggap lucu.”
“Sangat menyenangkan,” jawab Raja Boneka Thian-kongcu.
“Huh!” Siauw Cap-it-long mengeluarkan suara dengusan hidung.
“Kalau saja kau melihat wajah-wajah orang yang sudah kususutkan itu, bagaimana tidak lucu, kalau
menyaksikan seseorang yang kebingungan dan ketakutan, bingung dengan cara2 terciptanya sebuah
makhluk boneka hidup. Takut karena dirinya bisa dipermainkan oleh manusia-manusia raksasa.” Raja
Boneka Thian-kongcu boleh menjadi bangga dengan hasil karya ciptaan Istana bonekanya.
“Kau adalah seorang manusia gila!” berkata Siauw Cap-it-long.
Raja boneka Thian-kongcu tidak marah, ia berkata:
“Telah kusaksikan berpuluh-puluh jago silat, dimana dia putus harapan, tidak mempunyai pegangan
hidup, menenggak arak mabuk-mabukan, bermain perempuan kalang-kabutan,demikian sehingga mereka
menjadi gila, kalau saja kau bisa menyaksikan adanya kejadian-kejadian ini, kau juga akan pasti tertarik.”
“Bah! Siapa yang tertarik kepada kesukaan gilamu?”
Raja boneka Thian-kongcu masih meneruskan obrolannya:

“Untuk mencari kesenangan didalam kesukaran, orang-orang itu tidak kenal lagi rasa malu,
tidak peduli kepercayaan lagi, mereka mengobral hawa napsu, mengobral segala kemauan
yang ada, sehingga mereka rela menjual isteri sendiri.”
Siauw Cap-it-long berkata:
“Didalam tanggapanmu, semua orang itu bisa disama-ratakan?”
“Ya,” jawab raja boneka Thian-kongcu. “Kalau saja kau sudah saksikan keadaan mereka,
maka kau bisa mengerti. Manusia itu tidak seperti apa yang kita pikirkan, kecerdikan
manusiapun terbatas, manusia bisa menjadi cerdik, karena ia mempunyai harapan-harapan
hidup yang gilang-gemilang, tapi kecerdikan dan kecerdasan otak manusia itu akan lenyap,
manakala dia mengetahui kalau dirinya itu sudah tiada guna, maka manusia itupun betul-betul
menjadi tiada guna. Lebih goblok dari pada babi, lebih tolol dari pada seekor keledai dan
lebih sinting dari orang gila.”
Dengan dingin Siauw Cap-it-long berkata:
“Jangan lupa, kau juga termasuk salah seorang manusia.”
Dengan keras raja boneka Thian-kongcu berkata:
“Siapa yang menganggap aku manusia! Bukan! Aku adalah manusia setengah dewa. Aku
adalah calon dewa!”
Siauw Cap-it-long menghela napas, dia berkata:
Hanya seseorang yang sudah hampir mempunyai sakit ingatannya, maka dia menganggap
dirinya menjadi calon dewa.”
Raja boneka Thian-kongcu memiliki ilmu silat yang tinggi, belum pernah ia menemukan
tandingan. Dia memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, belum pernah menemukan
tandingan, karena itu sifat-sifatnya berubah menjadi congkak dan sombong, meremehkan dan
menganggap sipil segala sesuatu.
Dia telah menderita kekalahan, rahasia dengan tipu muslihat tenung-tenungan dan sihirsihirnya
itu telah digagalkan Siauw Cap-it-long.
Tapi Thian-kongcu masih memiliki cara yang lain, dia gila perempuan, kini dia berkata:
“Jangan lupa, jiwamu masih berada didalam genggamanku, hanya sekali pukul, aku kira,
tidak sulit menjatuhkan dirimu. Jiwamu masih berada didalam tanganku.”
“Jangan kau lupa kepada janji yang sudah kau lepas?” Siauw Cap-it-long memberi peringatan.
“Kukira aku sudah lupa. Mungkin juga betul-betul sudah lupa,” berkata si Raja boneka Thiankongcu.
Kini dia sudah mempunyai sifat-sifat yang nakal.
Siauw Cap-it-long tertawa dan berkata: “Aku percaya, karena kau menganggap dirimu
sebagai calon dewa, karena itu tidak mungkin kau menelan janji. Kalau saja seorang calon
dewa bisa mengingkari janji, apa artinya calon dewa itu? Dia lebih rendah dari manusia, lebih
rendah dari pada orang biasa.”
“Hebat! Hebat!” Raja Boneka Thian-kongcu bergumam. “Aku terlalu meremehkan ilmu
kepandaianmu, juga memberi angka yang terlalu rendah untuk kecerdasanmu. Kau betul-betul
manusia hebat, kau betul-betul cerdik.”

“Bagaimana keadaannya?” bertanya Siauw Cap-it-long. “Sudah waktunya kau memberi kebebasan.”
Siauw Cap-it-long harus meninggalkan Istana Boneka gila itu, dengan membawa Sim Pek
Kun, agar sang ratu bisa diserahkan kepada Lian Seng Pek.
Raja Boneka gila Thian-kongcu hendak menyimpangkan pokok pembicaraan, dia berkata:
“Betul-betul aku harus mengirim salut pujian kepadamu. Eh, aku tidak mengerti dengan cara
bagaimana kau bisa membongkar rahasia ini?”
“Ha, ha …” Siauw Cap-it-long tertawa. “Dimisalkan aku sudah susut menjadi seorang boneka
hidup, mengapa belum pernah melihat raksasa Siok Siok? Mengapa belum pernah melihat
raksasa Thian-kongcu? Dan yang lebih penting lagi … kalau betul-betul aku sudah berada
didalam istana boneka yang kecil, didalam keadaan yang seperti ini, dari mana datangnya
matahari? Mengapa membuat tembok pertahanan tinggi? Mengapa harus dikunci?
Raja gila boneka Thian-kongcu menghela napas panjang, dia harus mengakui keunggulan
Siauw Cap-it-long, dengan nada rendah dia berkata:
“Sudah lama aku melihat adanya kelemahan-kelemahan ini, tapi setiap orang yang sudah
kusihir, pikiran mereka menjadi butek, siapapun tidak pernah terpikir, bagaimana didalam
istana boneka masih ada matahari? Mengapa pintu harus dikunci? Mengapa bertembok
tinggi? Mengapa tidak ada raksasa dan raksasi dan lain-lainya. Maka, karena itulah, aku tidak
menganggap penting lagi.”
Siauw Cap-it-long berkata: “Banyak sekali tokoh-tokoh diplomatik yang menganggap dirinya
pandai, menganggap dia memiliki kecerdikan otak hebat. Yang dipandang hanya
pemandangan-pemandangan jauh, kurang memperhatikan keadaan yang dekat. Tentu saja kau
mengerti sifat-sifat kelemahan manusia ini, sengaja kau letakan diriku disini, aku tidak
sangka, kalau aku harus membongkar rahasia yang kau pasang disebelah dinding ruangan.”
“Bagaimana kau tahu, kalau ruangan boneka berada disebelah ruanganmu?” bertanya raja gila
boneka Thian-kongcu.
Siauw Cap-it-long menjawab:
“Kecurigaanku tidak terletak pada bagian itu, aku seperti dapat memperhitungkan adanya dua
ruangan yang tersembunyi. Tidak diketahui, dimana adanya kedua ruangan itu, maka kejadian
tadi hanya sesuatu kebetulan saja.”
Sikap raja gila boneka Thian-kongcu menjadi lesu.
Siauw Cap-it-long berkata lagi:
“Nasibku masih baik,” berkata Siauw Cap-it-long.
Terhening beberapa waktu, raja gila boneka Thian-kongcu berkata:
Betapa baiknyapun nasib seseorang, pasti dia gugur dikemudian hari.”
MALAM terpanjang telah dilewatkan.
Sesudah melepas Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun dari istana ajaibnya, raja gila boneka
Thian-kongcu kembali kekamar tidur, tempat ini masih agak rumit, lampu belum disulut.

Didalam keadaan samar-samar, sesuatu tubuh yang kecil langsing menarik, mendekati raja
gila itu, perlahan-lahan mengurut-uruti pundaknya, dengan suara yang sangat memikat ia
berkata:
“Hari ini kau sangat lelah sekali.”
Suaranya merdu, seperi burung kenari. Sangat legit, seperti magnit. Penuh daya tarik.
Raja gila boneka Thian-kongcu tidak menjawab pertanyaan itu, tidak menoleh kebelakang
dan tidak menolak datangnya urutan.
Sinar matahari pagi yang pertama menyorot masuk kedalam ruangan itu, menyinari keadaan,
dan memperlihatkan wajah bayangan kecil itu.
Dia adalah Siao-kongcu.
Siao-kongcu yang memiliki wajah menarik, suara menarik dan tubuh indah. Siao-kongcu
yang lebih kejam dari seekor ular yang terkejam.
Potongan tubuhnya yang begitu menggiurkan, daging-dagingnya gumpal padat, matanya yang
memikat, segala sesuatu yang tidak tercela.
Hanya hatinya yang selalu busuk.
Di saat Siao kongcu tertawa, ia bisa merobohkan seorang laki-laki tinggi besar.
Dengan ilmu kepandaian silat yang tinggi, jarang dia mendapat tandingan.
Siao kongcu adalah salah satu selir kesayangan dari raja gila boneka Thian kongcu.
Segala instruksi yang dikeluarkan oleh si raja gila sudah dijalankan oleh Siao kongcu.
Ternyata biang keladi segala kekerokan adalah si raja gila boneka itu!
Siao kongcu mengurut-urut si raja gila boneka, ia hendak menyenangkan majikan yang berada
di dalam kesusahan.
Beberapa saat kemudian, si raja gila boneka membuka suara:
“Apa yang sudah kau katakan menjadi kenyataan. Siauw Cap-it-long itu bukan manusia biasa.
Belum waktunya aku memandang rendah kepadanya, ia betul-betul hebat.”
Siao kongcu berkata:
“Mengapa kau bebaskan dirinya?”
Raja gila boneka berkata:
“Aku harus membuktikan pada orang, bahwa aku, calon dewa yang masih hidup dalam dunia,
aku menepati janji-janji yang telah ditetapkan”
Siao kongcu berkata:
“Sudahkah terpikir, apa akibatnya yang membebaskan Siao Cap-it-long?”
Raja gila boneka berkata:
“Hanya untuk sementara. Ia berangkat meninggalkan istana boneka. Di dalam sepuluh hari,

pasti balik kembali.”
Siao kongcu menghentikan gerakan tangannya, dengan heran ia berkata:
“Balik kembali? Mungkinkah sudah kau kerjakan sesuatu padanya?”
“Tidak.”
“Mengapa mereka bisa balik kembali?” bertanya Siao kongcu.
“Pasti balik kembali.” berkata si raja gila boneka.
“Apa pikiran Siauw Cap-it-long agak terganggu?” berkata Siao kongcu.
“Bukan Siauw Cap-it-long yang balik” jawab raja gila boneka. “Tapi Sim Pek Kun”
“Baliknya Sim Pek Kun akan disusul dengan kedatangan Siauw Cap-it-long”
“Tentu”
“Relakah mereka menyerahkan diri?”
“Satu persatu akan menyerahkan diri.”
“Pasti?” bertanya Siao kongcu.
“Pernahkah aku mengucapkan sesuatu yang tidak bisa menjadi kenyataan?” bertanya si raja
gila boneka.
“Dengan alasan apa Sim Pek Kun bisa balik kembali?” bertanya Siao kongcu.
Raja gila boneka berkata: “Karena aku telah mengikat hatinya di tempat ini.”
Siao Kongcu ketawa cekikikan, tubuhnya bergoyang-goyang, semua benda yang dengannya
bergoyang-goyang.
“Tidak percaya?” bertanya si raja gila boneka.
“Betul2 aku tidak mengerti,” berkata Siao Kongcu. “Permainan apa yang sudah kau
padanya?”
“Ling ling,” kata si raja gila boneka Thian Kongcu, “Sebagai seorang wanita kau bisa
menyelami kepribadian khas wanita. Sebetulnya sudah terpikir olehmu, seorang laki2 yang
hendak memikat wanita, apakah yang harus digunakan?”
Siao kongcu bernama Ling ling!
“Bagaimana usaha kita untuk mendekati wanita?” tanya lagi Thian Kongcu.
“Berusaha memberi kesan yang baik,” jawab Ling ling.
“Betul!” berkata si raja gila boneka Thian Kongcu. “Hanya ada dua cara untuk memantek hati
seorang wanita.”
“Dua cara yang bagaimana?” berkata Siao Kongcu dingin.

Raja gila boneka Thian Kongcu berkata, “Cara pertama, harus berusaha membuat gadis itu
mencintai dirimu, cara ini adalah cara yang terbaik, tapi tidak mudah untuk dijalankan.”
Dan cara yang kedua?” bertanya Siao Kongcu dingin.
Raja gila boneka Thian Kongcu berkata, “Cara yang kedua ialah harus membuat wanita itu
benci padamu, seseorang yang betul2 benci, tidak bisa ia membebaskan kekangan yang
menyelubungi buah pikirannya. Tidak bisa dilupakan, tidak bisa dibuang. Tidak bisa dilepas
dari impian pikirannya.”
“Ouw…”
“Dan cara yang kedua ini lebih mudah dipraktekkan dari cara yang pertama.”
Menutup cerita raja boneka Thian Kongcu. Sepasang biji mata Ling ling terputar, ia berkata:
“Seorang wanita yang tidak bisa jatuh cinta, lebih sulit untuk membenci.”
“Penilaian ini salah,” berkata raja gila boneka. “Cara2 untuk mendatangkan cinta itu hanya
satu macam. Tapi untuk mendatangkan kebencian, terdapat lebih dari seribu satu cara.”
“Ouw?”
Raja gila boneka Thian Kongcu berkata lagi, “Kalau ada seseorang yang membunuh orang
yang kau cintai, bagaimana perasaanmu. Mungkinkah tidak benci?”
Siao Kongcu Ling ling menganggukkan kepalanya.
“Nah! Mungkinkah tidak berusaha mendekatinya? Mencari kesempatan menuntut balas?”
Sampai di sini, Siao Kongcu Ling ling baru memahami rencana Thian Kongcu. Dia bungkam,
tidak mendebatnya pula.
Raja gila boneka Thian Kongcu berkata, “Sudah kuusahakan, agar Sim Pek Kun bisa
mengetahui asal usul terjadinya kehancuran Sim kee-chung. Kampung Sim kee-chung hancur
di bawah tanganku, neneknya juga mati di bawah tanganku.”
“Tapi…” Ling ling menutup pembicaraan.
“Inipun suatu kebencian,” berkata si raja boneka Thian Kongcu. “Semakin besar dendamnya
kepadaku, semakin cepat Sim Pek Kun balik kepadaku. Hanya kekembalian Sim Pek Kun
yang bisa menarik datangnya Siauw Cap-it-long.”
Ling ling berkata, “Ouw, sengaja kau beri tahu bahwa kampung Sim kee chung hancur di
bawah tangan kita, neneknya mati di bawah tangan kita. Karena itu Sim Pek Kun benci
kepadamu, dia akan berusaha balik kembali. Dia akan berusaha mendampingimu, hanya
mendampingi dirimu baru dia mempunyai cukup kesempatan untuk membalas dendam?”
“Ya,” raja gila boneka menganggukkan kepala.
“Bila kau beri tahu rahasia itu?” bertanya Siao Kongcu.
Thian Kongcu menjawab, “Sebelum keberangkatan mereka.”
Siao Kongcu Ling ling memutarkan sepasang biji matanya yang besar, ia bertanya: “Sim Pek
Kun sudah mengetahui akan adanya drama pembunuhan dan pembakaran ini, mengapa ia rela
turut Siauw Cap-it-long meninggalkan tempat ini?”

Raja gila boneka Thian Kongcu memberi keterangan, “Hal itu disebabkan karena Sim Pek
Kun tidak mau memisahkan Siauw Cap-it-long, kalau saja ia tidak mau turut serta, Siauw
Cap-it-long juga tidak berangkat. Tidak mungkin mereka meninggalkan istana boneka.”
Siao Kongcu berkata, “Maka sudahkah kau ketahui kalau Sim Pek Kun itu juga mencintai
Siauw Cap-it-long?”
Raja gila boneka Thian Kongcu berkata, “Hanya seseorang yang picik, baru tidak mengetahui
cara2 cinta seseorang. Hanya seseorang yang picik, tidak mengetahui kalau wanita itu
mencintai laki2 yang dikasihi olehnya.”
Siao Kongcu Ling ling menggigit bibirnya, ia bertanya, “Kau percaya kalau kau bisa
mendapatkan Sim Pek Kun?”
Raja gila boneka Thian Kongcu berkata, “Kalau saja ia berani mendampingiku, kalau saja ia
balik kembali, pasti akan kudapatkan wanita itu.”
Siao kongcu kini bertanya lagi, “Sesudah kau tahu, kalau Sim Pek Kun jatuh hati kepada
Siauw Cap-it-long, mengapa kau masih menginginkannya?”
Raja gila boneka Thian Kongcu berkata, “Kalau saja aku bisa mendapatkannya, aku akan
mempunyai cara2 untuk melepaskan kenang-kenangan lamanya.”
Tangan Siao Kongcu yang meng-urut2 itu semakin lama semakin lemah, akhirnya ia terhenti.
Kepalanya ditundukkan ke bawah, dua butir air mata jatuh di tanah.
Raja gila boneka Thian kongcu membalikkan kepala, menarik tangan Ling ling, ia tertawa dan
merangkul gadis cantik itu, dengan gayanya yang istimewa, ia berkata:
“Cara-cara ini tidak mungkin diketahuiu orang lain, kecuali kau!”
Ling ling menangis sesungukkan, menangis di dalam pelukan raja gila boneka.
* * *
Menceritakan perjalanan Siauw Cap-it-long.
Sesudah berhasil membongkar rahasia istana ajaibnya Thian Kongcu, Siauw Cap-it-long
meminta Sim Pek Kun, mengajak sang ratu rimba persilatan, meninggalkan tempat tersebut.
Di dalam istana boneka, Sim Pek Kun lebih bisa menyelami hati Siauw Cap-it-long.
Siauw Cap-it-long bisa merasakan betapa besar cinta kasih Sim Pek Kun.
Di dalam istana boneka, mereka telah melupakan se-gala2nya.
Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun banyak melupakan kesengsaraan2 mereka.
Kini mereka sudah bebas dari kekuasaan raja gila boneka Thian Kongcu, meninggalkan istana
boneka.
Mereka mendapat kebebasan kembali.
Tapi kebebasan di dalam hal lain, mereka mendapat tekanan kebebasan tertentu.

Seseorang yang hidup tidak bisa melupakan cara2 yang sudah lama mereka lewatkan.
Siauw Cap-it-long tidak lagi merendengi Sim Pek Kun, ia sengaja berjalan di belakang wanita
tersebut.
Gap pemisah kesusilaan harus dijaga keras!
Sim Pek Kun pandai membawa diri, ia tidak menunggu pikiran laki2 tersebut, ia jalan tetap di
muka.
Bahaya telah lalu. Mereka harus mengenal aturan, mereka harus menggunakan tata krama
kehidupan manusia yang normal.
Seharusnya hati mereka menjadi girang, karena sudah berhasil lari dari cengkeraman Thian
Kongcu.
Tapi kenyataannya tidak. Dugaan mereka begitu cepat meleset!
Biar bagaimana, sudah waktunya mereka berpisahan.
Siauw Cap-it-long harus mengantarkan Sim Pek Kun ke dalam kedua pelukan suami ratu
tersebut.
Di saat ini, tiba2 terdengar suara kuda yang dilarikan sangat cepat, arahnya dari belakang
mereka.
Siauw Cap-it-long sedang berpikir, bagaimana harus menarik Sim Pek Kun agar mereka bisa
mengalahkan bahaya yang baru datang itu? Menghindar dari terjangan kereta?
Di saat ini, kereta sudah berhenti di samping sisi mereka.
Kereta ditarik oleh empat ekor kuda pilihan, larinya sangat cepat, berhentinya pun baik, kereta
itu berwarna hitam, dicat sangat mengkilap, suatu kereta kebesaran.
Jendela kereta tersingkap, di sana muncul dua wajah misterius. Inilah kedua kakek tukang
main catur.
Orang tua yang berbaju coklat berkata, “Naiklah!”
Orang tua yang berbaju hijau juga berkata, “Kami mendapat tugas untuk mengantar kalian!”
Siauw Cap-it-long menjadi ragu2, menerima hormat itu dan berkata, “Terima kasih atas
kebaikan djiwi berdua. Tapi kami masih kuat untuk berjalan, tolong sampaikan kepada
junjungan kalian, bahwa kami tidak bisa menerima cara2 pengantaran yang terlalu dibesar2kan.”
Orang tua berbaju coklat meng-geleng2kan kepala dan berkata, “Tidak mungkin, biar
bagaimana kami harus mengantarkan.”
“Betul,” turut sambung bicara si orang tua berbaju hijau. “Harus diantar.”
“Mengapa?” bertanya Siauw Cap-it-long.
Orang tua berbaju coklat berkata, “Karena kau adalah orang pertama yang bisa keluar dari
dalam istana boneka dalam keadaan segar bugar.”
Orang tua berbaju hijau berkata, “Karena kau adalah orang pertama yang bisa membebaskan

kami berdua.”
Dan wajah orang tua itu memperlihatkan sikapnya yang dingin, tapi dua pasang mata
memancarkan kehangatan manusia. Kehangatan dari jago2 rimba persilatan.
Untuk pertama kalinya, Siauw Cap-it-long bisa merasakan bahwa kedua tokoh silat tiga jaman
itu betul-betul masih hidup.
Akhirnya Siauw Cap-it-long menerima tawaran, mengajak Sim Pek Kun menaiki kereta.
* * *
Keadaan di dalam kereta istana boneka itu tidak kalah mewahnya dari apa yang ada pada
perabot2 istana, serba mewah, serba menarik.
Duduk di tempat yang seperti itu, tentunya sangat nyaman dan…
Tapi Sim Pek Kun tidak bisa merasakan kemewahan tersebut. Hatinya beku dan kalut,
sikapnya dingin, sangat adem.
Sim Pek Kun duduk di dalam kereta seperti patung hidup, sepasang matanya memandang jauh
keluar tanpa isi sama sekali.
Siauw Cap-it-long juga bisa merasakan perobahan2, tapi ia tidak bisa dan tidak berhak untuk
mengganggu ketenangan sang ratu rimba persilatan.
Orang tua berbaju coklat memandang Siauw Cap-it-long dan berkata, “Sesudah meninggalkan
tempat ini, jangan sekali-kali kalian balik kembali.”
Orang tua berbaju hijau juga berkata, “Tidak perduli apa yang terjadi, jangan kau balik
kembali.”
“Mengapa?” Siauw Cap-it-long menarik rasa curiga, syak wasangka.
Orang tua berbaju coklat memperlihatkan rasa takut yang luar biasa, ia berkata serak:
“Karena dia bukan orang, bukan manusia.”
Orang tua berbaju hijau berkata, “Dia adalah iblis! Dia adalah hantu! Dia adalah manusia
jejadian yang paling kejam!”
Siauw Cap-it-long bisa menyelami isi maksud tujuan dari kedua orang tua tukang main catur
itu, mereka sedang mengibaratkan si raja gila boneka Thian Kongcu.
Orang tua berbaju coklat berkata lagi, “Siapa yang bertemu dengannya, tujuh turunan nasib
sial. Lebih baik mati daripada hidup di bawah cengkeramannya.”
Orang tua berbaju hijau berkata: “Kau bisa mengerti, siapa yang kami artikan itu”
Siauw Cap-it-long mengangguk-anggukkan kepala dan berkata :
“Boanpwe mengerti, dan boanpwe juga bisa menduga, bagaimana asal usul jiwie berdua.”
“Tentu saja kau bisa menduga.” berkata orang tua berbaju coklat. Dengan ilmu kepandaian
yang kau miliki, untuk rimba persilatan dewasa ini, tidak ada orang keempat yang bisa
menandingimu. Kami berdua termasuk didalam empat orang itu.”

“Dia adalah orang pertama.” Berkata orang tua berbaju hijau.
“Iblis pertama.” berkata orang tua berbaju coklat, “Dia adalah iblis jahat tanpa tandingan.”
Siauw Cap-it-long memandang kedua orang tua dan mengajukan pertanyaan :
“Kalian termasuk jago-jago tanpa tandingan, mengapa takut kepadanya?”
Orang tua berbaju hijau berkata :
“Tapi kami berdua menggabungkan kekuatan, juga bukan tandingannya.”
Orang tua berbaju coklat berkata :
“Belum pernah ada seorang jago silat yang bisa menerima tiga puluh jurus serangannya.”
Orang tua berbaju hijau berkata :
“Mungkin kau bisa menerima lima belas jurus serangannya.”
Orang tua berbaju coklat berkata :
“Tapi tidak mungkin bertahan lama.”
Siauw Cap-it-long sedang mempertimbangkan peringatan-peringatan baik dari kedua orang
tersebut. Ia berpikir dan berkata :
“Kini aku bisa menduga-duga, siapa adanya raja boneka itu.”
Orang tua berbaju coklat berkata :
“Lebih baik kau tidak tahu. Karena itu kau bisa bebas dari ancamannya.”
Orang tua berbaju hijau berkata :
“Setiap saat ia bisa membunuh matimu.”
Siauw Cap-it-long bertanya :
“Jiwie berdua pernah menempurnya ?”
Orang tua berbaju coklat menundukkan kepala, ia berkata sedih :
“Kalau tidak, bagaimana kami bisa berada ditempat itu? Malam main catur, siang main catur,
pagi main catur, dan kerjanya setiap hari hanya main catur?”
Orang tua berbaju hijau memandang Siauw Cap-it-long dan bertanya :
“Apa kau kira, kami kesudian bermain catur ?”
Orang tua berbaju coklat berkata :
“Sebenarnya, permainan catur kita itu hanya tergolong permainan catur kelas empat. Tapi
tidak ada jalan lain kecuali melewatkan waktu dengan cara-cara yang seperti itu. Terus terang
kuceritakan kepadamu, begitu tangan kami memegang biji catur, kepala ini dirasakan menjadi
seperti bengkak, semakin lama semakin besar, setiap saat bisa meledak. Tapi.........”

Disaat ini, kereta berhenti,
Orang tua berbaju hijau berkata :
“Baiklah. Hanya sampai disini saja.”
Siauw Cap-it-long memperhatikan kedua kakek itu, ia berkata :
“Mungkinkah Jiwie berdua tidak mau berusaha untuk membebaskan diri ?”
Orang tua berbaju coklat dan orang tua berbaju hijau saling pandang, mereka menyengir,
kedua-duanya menggelengkan kepala.
Orang tua berbaju coklat berkata :
“Kami sudah terlalu tua. Tidak mempunyai itu keberanian untuk lari. Tidak mempunyai
tenaga lagi.”
Orang tua berbaju hijau lebih sedih lagi, ia berkata hampir menangis :
“Dahulu, pernah beberapa kali kami berusaha melarikan diri. Tidak perduli kemana, pasti dia
sudah berada dibelakang kami.”
Siauw Cap-it-long merenungkan dan mencamkan kata-kata peringatan mereka.
“Dengan kekuatan kita bertiga......”
“Jangan memikir sampai ketempat itu.” berkata orang tua berbaju hijau.
Orang tua berbaju coklat juga berkata :
“Jangan kau mencoba-coba.”
“Mengapa ?” bertanya Siauw Cap-it-long.
Orang tua berbaju coklat berkata :
“Kalau saja kau mempunyai pikiran yang seperti itu, maka dia sudah bisa mengetahui dia bisa
membunuh.”
Orang tua berbaju hijau berkata :
“Kalau dia hendak membunuh mati seorang, tidak mungkin orang itu membebaskan diri.”
“Tapi........” Siauw Cap-it-long masih belum mengerti jelas.
Orang tua berbaju coklat memotong pembicaraan Siauw Cap-it-long, ia berkata, “Jangan
berharap yang bukan2.”
Orang tua berbaju hijau berkata, “Jangan anggap rejekimu itu bisa terus menerus ada. Nasib
baik hanya satu kali, mungkin dua kali, atau tiga kali. Tapi tidak mungkin seterusnya, kau
harus berhati-hati. Lebih baik pergi jauh jauh dari tempat ini. Lebih jauh lebih baik, jangan
berusaha balik lagi.”
Orang tua berbaju coklat berkata, “Kalau saja kau jatuh ke dalam tangannya, itulah nasib
bayangan yang seperti kita, kau sudah menjadi bonekanya, permainannya. Setiap saat ia
senang, kita dicocol-cocol. Kita adalah tandingan yang bisa melayani permainan silatnya.

Lebih baik mati daripada hidup yang seperti ini.”
Orang tua berbaju hijau berkata, “Kalau orang lain yang jatuh ke dalam tangannya, tentu
disiksa sehingga sengsara, kemudian meninggal dunia. Kau bukan jago biasa, kau mempunyai
kehebatan yang luar biasa, karena itu dia sayang membunuh dirimu. Seperti sayang juga
menamatkan riwayat hidup kami berdua, setiap saat di kala ia senang hati, setiap waktu dia
gatal tangan, kita berdua yang bisa dijadikan pertandingan ilm silat.”
Orang tua berbaju coklat berkata, “Dengan adanya kami berdua yang memberi pelayanan
bertahan, sedikit banyak bisa menggembirakannya.”
Orang tua berbaju hijau berkata, “Karena itu, kami anjurkan, jangan mengikuti jejak langkah
kita. Jangan sampai dijadikan permainan olehnya. Itu waktu, mati susah, hidup pun susah!
Kami berdua adalah bayangannya.”
Orang tua berbaju coklat jauh memandang ke arah istana boneka, ia berkata, “Kami sudah tua,
tiga jaman sudah dilewatkan. Tidak bisa hidup lama lagi, sesudah kematian kita, mana
mungkin dia menemukan tandingan baru. Karena itu, pasti dia kesepian…”
Orang tua berbaju hijau berkata: “Kalau dia sudah kesepian, dia mencari jago silat terkuat.
Pilihan itu jatuh kepadamu.”
Orang tua berbaju coklat berkata:
“Karena itu, jauhilah tempat ini.”
Orang tua berbaju hijau berkata:
“Karena itu, jangan dekat2 kepada kaki tangannya.”
Orang tua berbaju coklat berkata:
“Ia akan kesepian, sesudah kami tidak berada di tempat itu.”
“Dia tidak mudah mencarikan calon pengganti.”
“Kecuali dirimu!”
“Maka kau menjadi tokoh silat super sakti kelas dua.”
Siauw Cap-it-long hanya diam saja di tempat duduknya, mengikuti anjuran2 dan mengikuti
pembicaraan kedua orang tua yang main catur tersebut.
Kedua orang itu bukan betul2 berhobi main catur, mereka main catur untuk melewatkan
keisengan waktu. Mereka adalah boneka-boneka hidup si raja gila boneka Thian Kongcu,
untuk menandingi permainan silatnya yang begitu hebat dan tinggi.
Siauw Cap-it-long mengajak Sim Pek Kun keluar dari kereta itu.
Orang tua berbaju coklat berkata:
“Lekas! Lekas pergi! Pergilah yang jauh dari tempat ini.”
Orang tua berbaju hijau berkata:
“Kalau saja kau balik kembali, dimisalkan dia tidak membunuh dirimu, kami berdua juga bisa

mengambil jiwamu.”
PENGANTIN PEREMPUAN YANG BERANDALAN
Sim Pek Kun berjalan di depan, Siauw Tjap it-long mengikuti di belakangnya. Mereka baru
bebas dari permainan ajaib si raja gila boneka Thian koncu. Tanpa menoleh ke belakang, Sim
Pek Kun bertanya: “Bagaimana penilaianmu kepada kedua orang tadi? Mungkinkah orangorang
yang diutus olehnya untuk menakut-nakuti kita?”
“Tidak mungkin.” jawab Siauw Tjap it-long.
“Mengapa tidak mungkin?” bertanya Sim Pek Kun.
Siauw Tjap it-long menjawab: “Kedua orang tua tadi, adalah jago silat tanpa tandingan pada
tiga generasi, ia bisa membunuh orang tanpa berkedip mata, tapi tidak mungkin mengucapkan
kata-kata yang bohong.”
“Kau kenal kepada mereka? Siapakah kakek tua itu?”
Siauw Tjap it-long berkata: “Pada dua puluh tahun yang lalu, rimba persilatan pernah
digegerkan oleh mereka, belum pernah ada orang yang tidak kenal kepada mereka. Tiap orang
rimba persilatan yang mendengar namanya pasti....”
Sebelum Siauw Tjap it-long menyebut nama kedua kakek tersebut, dari jauh terdengar suara
tambur dan gembreng dipukul.
Dung... Creng... Dung... Creng...
Memandang ketempat itu, tampak oleh mereka sebuah iring-iringan datang maju ke depan.
Itulah iring-iringan pengantin.
Pengantin laki-laki duduk di atas kuda yang tinggi besar, berjalan dipaling depan.
Sebagai layaknya seorang pengantin, sekarang dia bergirang hati. Tapi pengantin laki-laki
asam cemberut. Wajahnya sangat pucat pasti terlalu banyak pikiran.
Kawin paksa?
Hanya perkawinan paksa yang bisa mengakibatkan seperti ini.
Sim Pek Kun tidak berani memandang ke arah iring-iringan pengantin itu, ia sedang
terkenang kepada masa kecilnya, dimana ia dijemput oleh Liang Seng Pek untuk diperistri
olehnya.
Itulah kenangan lama, jauh dimasa silam.
Seseorang yang masih berada dalam keadaan pusing dan masih uring-uringan, bukannya
mengiri kepada kesenangan, tapi orang itu tidak bisa menyesuaikan diri dengan suasana
kondisinya, orang itu pasti menjadi sebel.
Demikian juga keadaan Siauw Tjap it-long, dia masih berada di dalam pikiran-pikiran yang
bercabang, belum mendapatkan penemuan jalan yang tepat.
Adanya iringan pengantin itu membuat batinnya menjadi kacau. Dia takut orang yang menjadi
seperti itu.

Biasanya Siauw Tjap it-long bisa turut memeriahkan, tapi hari ini tidak, disengaja atau tidak
disengaja ia terbatuk batuk.
Sim Pek Kun masih memikirkan keadaan lama, dia tidak berani menentang kenyataan,
menundukan kepala, tidak mau melihat adanya iring-iringan itu.
Bukan dengki, bukan iri, Seperti inilah sifat manusia!
Siauw Tjap it-long dan Sim Pek Kun tidak mau ambil tahu, siapa yang menjadi pengantin
laki, dan siapa yang menjadi pengantin perempuan.
Urusan itu tidak mempunyai hubungan dengan mereka.
Dung... Creng... Dung... Creng...
Pengantin laki sedang duduk di atas kuda yang tinggi, kuda itu jangkung dan gagah. Dia
berada di dalam puncak kemenangan, tapi kemenangan itu tidak mudah dicapai. Seseorang
yang bangga, dengan mengharapkan semua pusat perhatian ditujukan kepadanya, tapi dia
tidak berhasih menarik perhatian Sim Pek Kun dan Siauw Tjap it-long.
Dung... Creng... Dung... Creng... Tit to let.... Tit to let....
Tambur, gembreng dan suara seruling dibunyikan terus menerus. Mengiringi suasana
penjemputan pengantin itu, mengiringi perjalanan itu.
Iring-iringan itu sudah dekat dengan tempat Sim Pek Kun dan Siauw Tjap it-long. Pengantin
laki masih sedang mengenangkan cara-caranya bagaimana dia mendapatkan sang idaman.
Tidak mudah untuknya mengawini wanita galak yang kini berada di dalam tandu pengantin.
Karena pilihan itulah, tidak sedikit kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Karena pilihannya
sudah jatuh kepada si dia, tidak sedikit kesengsaraan yang dihadapi sebelumya, sang lelaki
hampir putus harapan, hampir ia melepaskan kesempatan untuk mengejar-ngejar wanita
berandalan itu.
Keuletan dan rasa cinta kasih yang membara mendorong keberaniannya. Akhirnya sang
wanita berandalan menganggukkan kepala, berkatalah ia: “Aku mau!”
Kata-kata di atas keluar dari mulut seorang jago wanita tanpa tanding!
Nah! Betapa girangnya rasa hati pengantin pria disaat itu, ia berhasil mendapatkan jodohnya.
Di atas kuda, sang pengantin lelaki mengeluh: “Oh! Hati seorang wanita sulit diduga!”
Jodohnya itu betul-betul berada di luar dugaannya!
Hari-hari yang sengsara berhasil dilewatkan, ia sudah tidak perlu mengejar-ngejar wanita itu
lagi, sehingga ia berhasil menundukkan kekerasan si wanita idaman.
Ia menoleh kearah joli pengantin perempuan, tidak lama lagi ia bisa memperistrikan
siperempuan galak.
Walaupun galak, dia berkepandaian tinggi, dia cantik dan pemberani! Terpikir sampai disini,
pikirannya terbuka pula.
Seolah-olah mendapatkan dirinya disuaatu awan jatuh terbang di atas kepala semua orang.
Sekarang laki-laki di atas kuda boleh menjadi bangga, dia mendongakkan kepala karena

bangga atas prestasi yang sudah dicapai. Dan tidak mau tahu, dengan segala sesuatu yang
berada di depannya, dia tidak melihat adanya Siauw Tjap it-long dan Sim Pek Kun!
Dung... Creng... Dung... Creng... Tit to let.... Tit to let....
Tambur dan tanjidor masih dipukul yang memekakkan telinga Siauw Tjap it-long.
Bercerita tentang keadaan pengantin perempuan. Enam belas orang menggotong tandu dan
mereka menggotong tandu pengantin. Seperti biasanya, joli pengantin itu serba mewah, serba
rebo.
Tirai joli pengantin sudah diturunkan, dalam arti ini, pengantin perempuan harus taat kepada
peraturan-peraturan, dilarang keluar dari dalam joli, kecuali hendak memasuki kamar.
Pengantin perempuan ini lain dari pada yang lain! Inilah letak perbedaan pengantin
perempuan yang sedang kita jumpai, pengantin perempuan yang sedang dilakonkan bermata
panjang, tidak mau disekap seperti itu.
Biasanya sesudah pengantin perempuan masuk ke dalam joli iringan, dia harus menjadi
patung, tidak boleh bergerak, tidak boleh banyak suara, apalagi tolah-toleh, dilarang keras!
Sampaipun keadaan-keadaan yang sangat kritis, seperti melepas buah busuk juga, terlarang,
katanya kurang ajar.
Karena itu, sebelum pengantin perempuan menaiki joli, ada juga larangan yang tidak
terdaftar, calon pengantin dilarang makan, tidak boleh meminum ari. Minuman itu bisa
meracau perut, kalau kurang hati-hati celanapun bisa basah.
Sesudah pengantin memasuki kurungan joli, tidak ubahnya seperti seekor burung yang masuk
ke dalam sangkar kurungan.
Tapi pengantin perempuan ini luar biasa. Lain dari pada yang lain. Dia sengaja memasang
tangannya pada tirai-tirai tepi, melirik kekanan dan kekiri. Sepasang matanya yang liar,
celingak celinguk kemari, seperti hendak menemukan sesuatu penemuan baru.
Banyak orang yang menyaksikan keadaan pengantin perempuan yang seperti itu, hati mereka
berpikir: “Masih berada di dalam joli sudah tidak sabaran seperti itu? Wah! Dasar pengantin
perempuan yang genit! Dasar pengantin laki yang sial! Bagaimana ia bisa menguasai
perempuan liar ini?”
Bersampokannya iringan pengantin tadi dengan rombongan Siauw Tjap it-long, segera
menimbulkan sedikit insiden. Ceritanya sebagai berikut:
Kalau saja Siauw Tjap it-long menerenungkan kepala kearah samping, Sim Pek Kun
merenungkan kepala kearah tanah, pengantin laki-laki menengadahkan pandangannya ke atas,
ketiga orang ini tidak mau atau menghindari dari kenyataan yang ada.
Hanya seorang, inilah pengantin perempuan yang bermata jeli, segera dia bisa menemukan
jejak Siauw Tjap it-long!
Tiba-tiba saja, tirai joli tersingkap, tubuh pengantin perempuan itu terbang keatas. Lembaranlembaran
kain merah, bagaikan kupu-kupu yang menyingkap melunjur berada di depan Siauw
Tjap it-long.
Siauw Tjap it-long tertegun, desiran-desiran angin itu membuat ia terkejut. Mana bisa terpikir
olehnya, apa maksud kedatangan pengantin perempuan?

Perkembangan berikutnya lebih hebat lagi, tangan pengantin perempuan terayun,.. pok... dia
menepuk pundak Siauw Tjap it-long, suaranya yang garing merdu berkata: “Hei laki-laki
sialan! Selama beberapa lama ini kemana saja kau mengumpatkan diri? Apa sudah mati?”
Tepukan tangan pengantin perempuan itu cukup keras, hampir saja membuat Siauw Tjap itlong
terjengkang ke belakang.
Apalagi sesudah mendengar suara sang pengantin perempuan, tubuh Siauw Tjap it-long
hampir jatoh ngeloso. Suara itu tidak asing lagi, itulah suara Hong Sie Nio!
Tukang tambur, tukang gembreng, tukang gotong, tukang pikul, semua iring-iringan dari
rombongan itu yang berjumlah lima puluhan tertegun. Mereka melotokan mata lebar-lebar,
melowokan mulut besar-besar.
Perkembangan yang seperti itu berada diluar dugaan semua orang.
Sim Pek Kun juga menoleh, dia menjadi heran.
Terdengar cekikikan Hong Sie Nio, ia berkata: “Hei, aku hanya memberi satu ons bedak
memupuri wajahku, kau sudah tidak kenal kepadaku lagi?”
Siauw Tjap it-long menghela nafas, dengan suara getir ia berkata: “Dimisalkan aku tidak
mengenali? Sudah seharusnya bisa menduga, di dalam dunia, kecuali wanita berandalan Hong
Sie Nio, mana mungkin bisa menemukan perempuan galak yang lainnya?”
Inilah perempuan berandalan Hong Sie Nio. Dia memupuri wajahnya begitu medok lebih dari
satu ons mungkin bisa setengah kilo. Inilah hasil buah karya dari para peng??? menurut
ceritanya, wajah seorang pengantin perempuan harus putih molek, tidak boleh hitam, harus
menutupi jerawatnya, makanya membedaki dengan tebal.
Maka setiap pengantin perempuan harus sama cantiknya dan rata-rata tidak jauh berbeda.
Betapa tebalpun bedak yang memupuri kedua pipi, tidak mungkin bisa mengganggu
keriangan Hong Sie Nio.
Hong Sie Nio! Wanita berandalan yang terkenal! Walaupun dia sudah menjadi pengantin,
sepasang mata Hong Sie Nio yang liar itu tetap liar.
Terdengar pula suara tertawa cekikikan Hong Sie Nio, dia menepuk pundak Siauw Tjap itlong,
ia berkata lagi: “Hei, berada diluar dugaanmu, bukan? Tentu kau tidak menyangka,
kalau aku juga bisa menjadi pengantin?”
“Betul-betul tidak kusangka.” berkata Siauw Tjap it-long menyengir. Sesudah bertahun-tahun
Hong Sie Nio mengejar Siauw Tjap it-long tanpa hasil, Siauw Tjap it-long itu tidak berani
menemui Hong Sie Nio.
Melihat cara penghadapan Siauw Tjap it-long yang seperti itu, Hong Sie Nio tidak bisa
menahan geloranya, mendekati laki-laki berandalan dan berkata dengan suara perlahan:
“Mengapa tidak terpikir olehmu?”
Siauw Tjap it-long berkata perlahan: “Kau sudah menjadi pengantin, tidak naik ke atas joli,
lihat! Banyak orang yang memperhatikan kearah kita.”
Dengan mendelikkan sepasang matanya Hong Sie Nio membentak: “Takut apa? Bukan
mereka yang menjadi pengantin, aku tidak takut.”
Disingkapnya baju pengantin sedikit, berputar dengan lincah, mendemonstrasikan pakaian itu,
diperlihatkannya kepada Siauw Tjap it-long, dengan tertawa Hong Sie Nio bertanya:

“Baguskah pakaian ini? Lihat! Bagaimana keadaanku? Tentunya semakin cantik?”
“Semakin cantik.” berkata Siauw Tjap it-long. “Semakin bagus. Sungguh tidak mudah
menemukan pengantin perempuan yang seperti ini.”
Hong Sie Nio menudingkan jarinya sehingga mengenai hidung Siauw Tjap it-long, ia berkata:
“Maka... kau laki-laki yang sudah hampir mati ini tidak mempunyai rejeki.”
Siauw Tjap it-long mengusap hidung itu, dengan tertawa getir berkata: “Rejeki pemberianmu
sulit diterima,”
Lagi-lagi Hong Sie Nio mendelikkan mata, kemudian menyipitkan sepasang mata itu, ia
berkata: “Hei! Laki-laki sialan, coba kau terka siapa yang menjadi pengantin laki-laki?”
Sebelum Siauw Tjap it-long menjawab, pengantin laki-laki yang berada di atas kuda sudah
meluncur datang. Laki-laki itu mempunyai raut wajah empat persegi, keadaanya sangat
tegang, itulah Yo Khay Thay! Kawan lama!
Mengenali Yo Khay Thay, segera Siauw Tjap it-long mengenali kepada sang pengantin laki,
dia berkata: “Ternyata saudara Yo Khay Thay! Selamat! Selamat!
Mengenali siapa yang berada di depan sana, Yo Khay Thay juga tertegun. Beberapa saat ia
harus berpikir, bagaimana menyeret Hong Sie Nio ke dalam jolinya kembali?
Membalas hormat Siauw Tjap it-long, dia berkata: “Terima kasih. Pernikahan kami
dilangsungkan sangat terburu-buru, banyak kawan yang tidak menerima undangan. Lain
kali...”
Tiba-tiba Hong Sie Nio berjingkrak, memandang kuda Yo Khay Thay dan berkata: “Apa?
Lain kali? Urusan yang seperti ini mana bisa dilangsungkan sampai beberapa kali? Apa yang
lain kali? Apa kau mau kawin lagi? Hei, manusia dogol!”
Yo Khay Thay segera mengetahui akan kesalahan pembicaraan, keringatnya mengucur
semakin banyak. Keadaan itu sudah membingungkan dirinya. Kini semakin bingung lagi.
“Eh... eh... di dalam keadaan yang seperti ini, mana boleh kau keluar dari joli pengantin?”
Hong Sie Nio bertolak pinggang, dengan galak dia berkata: “Mengapa tidak boleh? Bertemu
dengan kawan lama, masakan tidak boleh bicara sebentar?”
“Tapi... tapi...” Yo Khay Thay agak gugup.
“Tapi apa?” yang perempuan lebih galak.
“Di dalam keadaanmu yang seperti ini, kau adalah seorang pengantin perempuan.”
“Apa bedanya menjadi pengantin atau bukan?” bertanya Hong Sie Nio. “Apa pengantin sudah
bukan orang?”
Wajah Yo Khay Thay memerah, ia menghadapi Siauw Tjap it-long dan Sim Pek Kun. Yo
Khay Thay berkata: “Coba tolong kalian jelaskan, keadaan yang seperti ini apa tidak
membingungkan diriku? Mana ada pengantin yang galak?”
“Aku memang galak.” berkata Hong Sie Nio. “Mau apa? Tidak setuju? Boleh pilih lain lagi,
ganti yang lain.”

Yo Khay Thay sudah melompat turun dari kuda tunggangannya, dengan nafas tersengalsengal
dia berteriak: “Tidak tahu aturan... tidak tahu aturan....”
Suara Hong Sie Nio melengking panjang: “Eh, siapa yang tidak tahu aturan? sekarang kau
ingin menggunakan aturan? Mengapa dahulu tidak? Hayo katakan! Mengapa dahulu tidak?”
“Dahulu... dahulu...”
Yo Khay Thay menyusut keringatnya yang turun semakin banyak. Dengan dingin Hong Sie
Nio berkata: “Dahulu aku belum bersedia dikawini olehmu, maka kau melulusi segala
permintaan, kentutku juga dikatakan wangi. Tapi keadaan berubah, sekarang aku sudah naik
ke dalam joli kemanten, aku sudah dianggap jadi orang dari keluarga Yo kalian? Mau
petantang petenteng? Mau mengekang dengan peraturan? Betul begitu?”
Sikap Yo Khay Thay menjadi lemah, dia menghela nafas berkata, “Bukan maksudku seperti itu, tapi…”
“Tapi apa lagi?” menudingkan jari Hong Sie Nio.
Yo Khay Thay melirik ke arah rombongan orang yang begitu banyak, semua mata ditujukan
ke arahnya. Dia semakin malu, dengan suara perlahan dia berkata:
“Tapi agak kurang pantas membawakan sikap kelakuan yang seperti ini. Apalagi di depan
banyak orang. Mereka bisa mentertawakanku.”
Hong Sie Nio tidak puas kepada sikap Yo Khay Thay yang plin-plan, ia bersedia dikawini
oleh Yo Khay Thay, karena putus harapan atas cintanya kepada Siauw Cap-it-long. Kini
Siauw Cap-it-long tampil kembali, cinta kepada Yo Khay Thay itu luntur.
Semakin tidak puas atas sikap Yo Khay Thay yang kurang tegas, kurang pemberani, semakin
perlahan Yo Khay Thay bersuara, semakin keras pula Hong Sie Nio membentang bacot.
Dengan keras ia berteriak:
“Takut apa? Biar saja mereka tertawa! Aku tidak takut kepada orang yang tertawa.”
Wajah Yo Khay Thay berubah. Biar bagaimana Yo Khay Thay mempunyai jiwa kepribadian
sendiri. Dia seorang laki2, dibentak pulang pergi, dimaki kian kemari, dia juga naik darah.
Dengan suara yang tidak kalah kerasnya, dia membentak:
“Hai, bagaimana aku bisa menjadi orang diperlakukan kau seperti ini?”
Hong Sie Nio berkata, “Kau malu mendapat isteri yang seperti aku?”
Yo Khay Thay menutup mulut, itulah jawaban di dalam tanpa bahasa.
Dengan dingin Hong Sie Nio berkata: “Baik, kau malu karena mendapatkan isteri yang seperti
aku. Aku juga tidak kesudian menjadi kemantin.”
Sesudah itu di-robek2nya pakaian kemantin, dicopotnya tudung kemantin, dibanting dan
dilemparkannya ke tanah, dengan suara keras berkata:
“Nah! Kemanten batal! Biarpun aku sudah naik ke atas joli, aku belum memasuki kamarmu,
aku belum menjadi nyonyamu, dan kau belum berhak mengekang kebebasanku.”
Semua mata yang menyaksikn kejadian itu melotot, tukang gotong, tukang gembreng, tukang
tambur dan rombongan yang terpencar itu belum pernah menyaksikan adanya kemantin yang
dibatalkan.

Apa lagi cara2 yang seperti dibawakan oleh Hong Sie Nio, kejadian itu adalah pengecualian
besar.
Mereka telah menggotong banyak kemantin, mereka juga sudah mengiringi banyak kemantin.
Mereka juga telah menghadiri resepsi banyak kemantin, tapi tidak ada satu pengantin yang
memiliki sifat2 Hong Sie Nio.
Mereka belum pernah mendengar cerita yang seperti apa Hong Sie Nio telah lakukan.
Upacara perkawinan yang mengalami kegagalan!
UPACARA PERKAWINAN YANG MENGALAMI KEGAGALAN
Yo Khay Thay bukan seorang ahli pidato, di saat ia menjadi gugup, sulit berbicara.
Hari ini, bukan saja gugup, keadaan Yo Khay Thay sudah begitu sulit.
“Kau… kau…”
Tidak lain ucapan yang bisa keluar dari mulut Yo Khay Thay.
Tindak tanduk Hong Sie Nio memang agak keterlaluan, sebagai jago wanita yang berandalan,
Hong Sie Nio tidak pernah takut kepada siapapun juga. Termasuk Siauw Cap-it-long.
Perkawinannya dengan Yo Khay Thay, hanya mempasrahkan diri kepada umur. Dia sudah
lebih dari tiga puluh tahun, sudah waktunya menikah, mendapat cinta kasih Yo Khay Thay,
ditolak oleh Siauw Cap-it-long akhirnya dia menyerah.
Hong Sie Nio menerima lamaran Yo Khay Thay.
Kini entah bagaimana, munculnya Siauw Cap-it-long membuat harapan lama itu kambuh
kembali. Dia meninggalkan Yo Khay Thay.
Siauw Cap-it-long hendak memberi sedikit anjuran, tapi dia lebih kenal kepada sifat dan adat
Hong Sie Nio. Adat Hong Sie Nio lebih keras dari granit. Siapapun tidak bisa tahan.
Hong Sie Nio tidak tanggung2, semua baju kemantin dicopot juga, dilempar ke arah kepala
Yo Khay Thay, menarik tangan Siauw Cap-it-long dan berjalan pergi.
“Mari2!” katanya, “Mari kita berangkat, aku tidak menjadi mantu dari keluarga Yo. Hendak
kulihat apa aku bisa mati kelaparan.”
Yo Khay Thay lompat dua langkah, berteriak, “Kau tidak boleh pergi.”
Hanya kata2 ini yang bisa dilontarkannya.
Tangan Yo Khay Thay lebih cepat, dia menarik Hong Sie Nio dengan maksud membatalkan
keberangkatan jago berandalan perempuan itu.
Dengan keras Hong Sie Nio melemparkan pegangan tangan Yo Khay Thay.
“Dengan alasan apa kau menahan kepergianku?” menudingkan jarinya ke hidung Yo Khay
Thay, Hong Sie Nio membentak, “Aku beri peringatan terakhir! Lain kali jangan mencoba
untuk membentur diriku. Jangan mencoba untuk membayangi diriku, atau… akan kuberi
hajaran yang setimpal.”

Yo Khay Thay mematung di tempat, butiran-butiran keringat menetes jatuh.
Siauw Cap-it-long merasa kasihan atas perlakuan yang ditimpahkan kepada Yo Khay Thay,
dia sedang menimbang2, dengan cara bagaimana bisa meredakan situasi itu.
Tapi gerakan Hong Sie Nio lebih cepat, menyeret Siauw Cap-it-long, dia hendak digusur
berangkat.
Siauw Cap-it-long tidak pernah takut kepada orang, kecuali kepada Hong Sie Nio, dengan
wajah cemberut dia berkata:
“Tidak bisakah kau melepaskan tanganmu? Aku masih kuat berjalan.”
“Eh?” mendelik mata Hong Sie Nio. “Malu kepada orang? Siapa yang kau takuti? Kau tidak
takut kepadaku, mengapa takut kepada orang?”
Bertemu dengan Hong Sie Nio, betul2 Siauw Cap-it-long mati kutu, dia meratap, “Tapi… tapi
aku masih mempunyai seorang kawan.”
Baru sekarang Hong Sie Nio teringat, sungguh2 di sana masih ada seorang yang berdiri. Ia
menolehkan kepala ke arah Sim Pek Kun dan berkata:
“Oh… maaf, nona ini yang menjadi kawanmu? Mari kita berangkat, orang2 dari keluarga Yo
Khay Thay banyak uangnya, besar kekuasannya. Kita orang tidak perlu berkomplot dengan
mereka.”
Sim Pek Kun ragu2 sebentar, akhirnya mengikuti di belakang Siauw Cap-it-long dan Hong
Sie Nio.
Di dalam keadaan yang seperti itu, tiada pilihan kedua bagi sang ratu rimba persilatan.
Keadaan yang paling canggung adalah Yo Khay Thay. Tapi Sim Pek Kun tidak kalah
canggungnya.
Hong Sie Nio masih belum puas atas kejadian-kejadian itu, ia mendelik mata, menuding2 Yo
Khay Thay dan berkata:
“Hei, mengapa masih mematung di tempat ini? Lain kali jangan suka membayangi orang lagi,
tahu! Awas!”
Secara tiba2 saja Yo Khay Thay meletus, semangatnya terbangun, dengan suara keras yang
belum pernah dikeluarkan olehnya berkata, “Baik, dimisalkan hanya seorang wanita yang
berada di dalam dunia, aku juga tidak memilih dirimu, wanita siluman yang tidak tahu malu.”
Betapa sabarpun Yo Khay Thay, dia masih berupa seorang manusia yang hidup. Ditendang
bolak-balik, dicaci maki pulang pergi, akhirnya dia naik darah. Adat Yo Khay Thay pun
pecah.
Hong Sie Nio dikejutkan oleh reaksi yang seperti itu, tertegun beberapa waktu, dengan dingin
dia berkata, “Baik… baik… inilah janjimu sendiri. Kau jangan menyesal, kau jangan
melupakan.”
Hong Sie Nio, Siauw Cap-it-long dan Sim Pek Kun meninggalkan tempat itu.
Wajah mereka masam. Tidak satu dari ketiga orang itu yang mulai bicara, mereka sedang
dirundung kemalangan.

Kadang2 juga, Hong Sie Nio menoleh ke belakang dengan harapan menemukan jejak Yo
Khay Thay yang memohon dan meratap.
Biasanya bisa saja Yo Khay Thay melakukan hal itu.
Hari ini, Yo Khay Thay sudah mendapatkan malu besar, dia diam.
Hong Sie Nio menundukkan kepala, jalan lagi beberapa langkah, lagi2 menoleh ke belakang.
Akhirnya Siauw Cap-it-long yang memecah kesunyian, dia membuka suara:
“Tidak perlu dilihat lagi, dia tidak mungkin berani mengintil di belakang, jangan anggap
meremehkan seseorang, di dalam dunia bukan wanita saja yang pantas mendapat hak hidup,
kaum laki2 juga…”
Selembar wajah Hong Sie Nio terus menjadi merah, dengan dingin dia berkata, “Kau kira aku
mengharapkan kedatangannya?”
“Mungkinkah bukan?” bercemooh Siauw Cap-it-long.
“Tentu saja bukan,” berkata Hong Sie Nio, “Aku hendak melihat nona ini.”
Betul2 Hong Sie Nio menoleh dan memperhatikan Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun sedang menundukkan kepala melakukan perjalanan, tapi semua juga bisa
mengetahui keadaan ratu rimba persilatan itu.
Hong Sie Nio melepaskan pegangan tangan yang menggandeng Siauw Cap-it-long. Perlahanlahan
mendekati Sim Pek Kun, dengan memaksakan tertawa dia bertanya:
“Nona ini sangat cantik, gadis dari keluarga manakah?”
“Dari keluarga Sim,” jawab Sim Pek Kun singkat.
Suara Sim Pek Kun begitu rendah seperti keluar dari hidung, tidak terdengar jelas apa yang
dijawab olehnya.
Dengan tertawa Hong Sie Nio berkata, “Tentunya kau belum biasa menyaksikan perlakuanku
yang seperti ini bukan?”
Siauw Cap-it-long menghela nafas dan berkata, “Kalau saja dia tidak heran tentu itulah
kejadian yang aneh…”
Hong Sie Nio masih membujuk rayu, dia berkata kepada Sim Pek Kun:
“Nona ini bisa menjadi heran melihat caraku tadi. Siauw Cap-it-long adalah kawan lamaku, ia
sudah menjadi adik angkatku, maka… bertemu dengannya, aku menjadi kesal, maunya
marah2 saja. Dia nakal dan binal.”
Keterangan Hong Sie Nio tadi lebih baik tidak diteruskan, daripada memberi penjelasan yang
ber-lebih2an.
Siauw Cap-it-long tertawa nyengir.
Mendapat keterangan tadi, seharusnya Sim Pek Kun bisa tertawa geli, tapi tidak terunjuk
perubahan di wajahnya. Ia masih dirundung kekesalan.

Hong Sie Nio memperhatikan wajah ratu rimba persilatan itu, kecantikan Sim Pek Kun masih
belum luntur, kepadatan tubuh wanita itu masih tidak kalah darinya, perlahan-lahan dia
menarik tangan Siauw Cap-it-long, dengan suara perlahan ia bertanya:
“Eh, nona ini atau bukan… itumu?”
Kata ganti itu banyak mengandung kemungkinan arti, kekasih atau pilihannya.
Siauw Cap-it-long bergoyang kepala dengan tertawa getir.
Sepasang biji mata Hong Sie Nio berputar-putar, ia tertawa cekikikan.
“Jangan malu2,” ia berkata. “Seorang laki2 harus mengawini seorang perempuan, mengapa
malu? Tidak perlu disangkal, kalau bukan mengapa dia besar cemburu?”
Dari sikap yang diperlihatkan oleh Sim Pek Kun, suatu bukti betapa cemburu dan jelusnya
hati wanita tersebut.
Inilah karena perlakukan Hong Sie Nio kepada Siauw Cap-it-long yang ber-lebih2an.
Semakin lama Hong Sie Nio semakin genit, ia memperlihatkan sikapnya yang begitu rapat,
begitu apet.
Inilah dari cara2 untuk menyakiti hati wanita seterunya.
Sim Pek Kun itu dianggap seteru.
Sim Pek Kun menundukkan kepala, seolah olah tidak melihat cara2 demonstrasi Hong Sie
Nio, seolah2 tidak mendengar kata2 Hong Sie Nio.
Kini Hong Sie Nio meninggalkan Siauw Cap-it-long, mendekati Sim Pek Kun kembali.
“Entah nona gadis dari mana, kau sangat cantik menarik. Kalau betul2 cinta kepada Siauw
Cap-it-long, lebih baik kau bilang saja kepadaku, aku yang menjadi kakaknya ini bisa dan
bersedia menjadi mak comblang.”
Mendengar kata2 Hong Sie Nio, hati Siauw Cap-it-long dirasakan meloncat, tapi dia tidak
berani memandang Sim Pek Kun, dia tidak berani membantah.
Sim Pek Kun masih menundukkan kepala, tidak menggubris suara Hong Sie Nio.
Suatu waktu dia melirik ke arah Siauw Cap-it-long, dan disaat ini, Siauw Cap-it-long juga
melirik ke arahnya, dua pasang sinar mata beradu.
Sim Pek Kun berkata, “Mengapa kau tidak memberi keterangan kepada kakak tuamu ini?”
Siauw Cap-it-long tertawa nyengir.
Mendapat tanggapan yang seperti itu, Hong Sie Nio besar hati, dia bertanya:
“Keterangan apa?”
Dengan dingin Sim Pek Kun menjawab, “Hubunganku dengannya bukan kawan biasa. Dan
untuk jelasnya, lebih baik kau tanyakan sendiri kepada orang yang kau katakan sebagai
adikmu itu. Ketahuilah, aku sudah menjadi isteri orang.”
Hong Sie Nio tidak bisa tertawa lagi.

Per-lahan2 Sim Pek Kun meneruskan keterangannya, “Kulihat kalian berdua sangat cocok
sekali, biar nanti kuberi tahu kepada suamiku agar ia bisa mengamprokan perjodohan kalian.
Eh, kakak tua ini nona dari mana, biar bagaimana harus menerima sedikit berkah kami, aku
nyonya Lian Seng Pek.”
Suara Sim Pek Kun sangat tenang, cukup terhormat.
Tapi suara ini seperti sebilah pisau yang tajam, menusuk di dalam uluhati Siauw Cap-it-long.
Hong Sie Nio tertegun.
Belum pernah Hong Sie Nio menemukan kesulitan seperti apa yang kini dihadapi.
Memandang ke arah Sim Pek Kun dan Siauw Cap-it-long, silih berganti ia mematung juga.
Giliran Sim Pek Kun yang menguasai situasi, ia memberi keterangan, “Nama suamiku Lian
Seng Pek, dari keluarga besar Lian. Mungkin kau pernah dengar nama ini.”
Nafas Hong Sie Nio dirasakan mejadi sesak, hampir terhenti. Dugaan-dugaannya itu salah.
Percuma saja ia memperlihatkan sikapnya yang baik kepada Sim Pek Kun. Ternyata wanita
itu sudah bersuami.
Hong Sie Nio bukan seorang tolol, ia tahu cara2 seorang wanita yang mencinta dan wanita
yang tidak mencinta, dari cara Sim Pek Kun dan Siauw Cap-it-long berdua, hubungan apakah
yang pernah terjalin? Inilah yang membingungkan dirinya.
Sim Pek Kun masih memegang kunci kekuasaan, dia berkata:
“Asal kau bersedia, aku bersama suamiku segera membikin persiapan untuk pernikahan
kalian.”
Di saat ini, secara tiba2 saja Siauw Cap-it-long berteriak:
“Tutup mulut!”
Secepat itu, si jago berandalan bergerak, memegang tangan Sim Pek Kun, dengan keras ia
meng-goyang2nya.
Menggunakan ujung matanya yang dingin Sim Pek Kun melirik ke arah Siauw Cap-it-long,
se-olah2 baru pertama kali berkenalan dengan jago berandalan kita. Dengan suaranya yang
lebih kejam ia berkata:
“Kuharap kau bisa melepaskan pegangan tangan itu.”
Suara Siauw Cap-it-long sudah menjadi serak, ia berkata, “Jangan… jangan kau
memperlakukan aku seperti ini.”
“Huh!” Sim Pek Kun mengeluarkan suara dari hidung. “Berlakulah agak sopan, aku adalah
isteri Lian Seng Pek. Jangan kau mencoba mengganggu isteri orang.”
Seperti dicambuk oleh pecut yang tidak tampak, tangan Siauw Cap-it-long itu ditarik mundur.
Tubuhnya juga mundur ke belakang, setapak demi setapak menjauhi Sim Pek Kun.
Hong Sie Nio sedang me-mikir2, bagaimana seorang nyonya besar yang seperti nyonya Lian
Seng Pek bisa berjalan ber-sama2 dengan jago berandalan Siauw Cap-it-long?

Ini waktu Siauw Cap-it-long memperlihatkan cara2 yang lain, sepasang matanya itu menjadi
kosong melompong, jauh memandang ke depan, se-olah2 sepasang mata orang yang sakit
ingatan.
Cara-cara ini menyakiti Hong Sie Nio, belum pernah ia melihat Siauw Cap-it-long hilang
semangat seperti apa yang ia saksikan.
Baru sekarang ia menyelami hati Siauw Cap-it-long. Betapa dalam cinta Siauw Cap-it-long
kepada Sim Pek Kun.
Terdengar suara Sim Pek Kun berkata lagi, “Kau pernah menolong diriku, aku juga pernah
menolongmu. Sama2, kita tidak menanam budi dan kitapun tidak berhutang budi.”
Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala dan berkata, “Ya.” Suaranya sangat lemah.
Sim Pek Kun berkata: “Luka yang kau derita belum sembuh betul, seharusnya aku
mengantarmu beberapa waktu pula. Tapi kau sudah ada kawan baru. Kukira tidak perlu aku
menyusahkan diri.”
Sampai di sini, Sim Pek Kun harus menelan ludah. Ia bisa merasakan getaran jiwanya yang
bertentangan dengan apa yang sudah diucapkan olehnya.
Menunggu suara itu menjadi tengan, per-lahan2 ia berkata, “Seperti yang kau tahu, aku adalah
wanita yang sudah bersuami. Apa yang kulakukan harus ber-hati2 kalau sampai terjadi desas
desus, kita akan tidak baik.”
“Ya,” Siauw Cap-it-long menganggukkan kepala lemah. “Aku mengerti.”
“Nah,” berkata Sim Pek Kun. “Sukur saja kalau kau bisa mengerti. Apapun yang terjadi, kita
tetap sebagai kawan baik.”
Sesudah memberi penjelasan tentang kedudukannya, Sim Pek Kun membalikkan badan,
meninggalkan Siauw Cap-it-long dan Hong Sie Nio.
Baru sekarang Hong Sie Nio bisa menguasai keadaan, ia memanggil, “Nona Sim…”
Sim Pek Kun menahan langkahnya, dia berusaha menenangkan situasi keadaan, dengan tawar
berkata, “Panggil saja Lian-hujin.”
Lian-hujin berarti nyonya Lian.
Hong Sie Nio berkata, “Lian-hujin hendak mencari Lian Seng Pek Kongcu?”
Sim Pek Kun balik bertanya, “Mungkinkah masih belum waktunya mencari dia?”
“Tapi Lian-hujin tidak tahu, dimana Lian Kongcu berada. Lebih baik kita bersama-sama, bersama2
lebih baik daripada berpisahan. Agar tidak sampai terjadi sesuatu yang berada di luar
dugaan.”
“Terima kasih,” Sim Pek Kun menolak tawaran itu. “Terima kasih atas kebaikan budi kalian,
kukira tidak perlu mengantar pulang.”
Hong Sie Nio masih berusaha membujuk, tapi sudah ditutup oleh pembicaraan Sim Pek Kun,
sang ratu rimba persilatan berkata:
“Saudara Yo Khay Thay adalah kawan baik suamiku, dia juga lebih gentleman. Aku hendak
bertemu dengannya, meminta bantuannya. Meminta bantuan Yo Khay Thay lebih aman dari

meminta bantuan kalian, tidak akan terjadi desas desus yang bukan2.”
Hong Sie Nio kalah berdebat, dia tidak bisa membuka mulutnya. Tidak ada alasan untuk
membantah keterangan dan dalih yang sudah dikatakan oleh Sim Pek Kun.
Kejadian ini jarang sekali bisa dialami oleh Hong Sie Nio, biasanya dia yang nyerocos, lawan
akan dibungkamkan. Hari ini istimewa, bukan saja kalah bicara, Hong Sie Nio kehabisan
bahan pembicaraan. Di depan Sim Pek Kun, dia tidak mempunyai kesempatan untuk marah,
tidak mempunyai kesempatan untuk mengobral hawa nafsunya.
Yang sungguh2 berada di luar dugaan, Sim Pek Kun yang begitu alim serta pendiam masih
mempunyai kehebatan yang luar biasa. Sim Pek Kun memang lihay.
Per-lahan2 Sim Pek Kun berkata, “Lain kali, bila kalian mempunyai waktu, datanglah ke
kampung Sim-kee-chung. Kami suami isteri bisa balas membikin penyambutan.”
Meninggalkan Hong Sie Nio dan Siauw Cap-it-long, Sim Pek Kun balik kembali ke arah
rombongan Yo Khay Thay.
Tanpa menoleh Sim Pek Kun mengambil keputusan tegas!
Angin bertiup dingin, cukup keras, membuat tulang2 terasa dingin.
Lembaran daun tua yang menguning satu per satu jatuh rontok, berterbangan di angkasa.
Dalam keadaan yang seperti itu, Siauw Cap-it-long bersandar pada sebatang pohon, tidak
berdebat, tidak ada gerakan.
Akhinya Hong Sie Nio yang memecahkan kesunyian itu, ia mengeluarkan keluhan panjang,
dengan menyengir berkata:
“Oh… aku telah mencelakakanmu. Aku terlalu banyak bicara. Terlalu mengobral kata2.”
Siauw Cap-it-long seperti tidak mendengar rasa penyesalan Hong Sie Nio, beberapa saat
kemudian, dia berkata:
“Tidak ada hubungan dengan urusan itu.”
“Tapi…”
Siauw Cap-it-long berkata, “Kalau sudah waktunya berpisah, lebih baik ia berpisah. Hal ini
lebih baik daripada terjadi rasa sakit di kemudian hari.”
Hong Sie Nio menatap wajah laki2 berandalan itu, dia berkata:
“Maksudmu sakit sekarang lebih baik daripada sakit di kemudian hari?”
“Betul…” jawab Siauw Cap-it-long berdengung.
Hong Sie Nio berkata, “Dia cukup cantik, sangat menarik, kecerdikannya juga tidak berada di
bawahku. Tapi dia mempunyai sifat2 yang lebih lemah.”
Siauw Cap-it-long memandang lurus jauh ke depan.
Hong Sie Nio berkata lagi, “Tapi urusan belum selesai sampai di sini. Tidak seperti apa yang
kau pikirkan.”

“Seharusnya bagaimana?” bertanya Siauw Cap-it-long, ia menundukkan kepala.
“Kukira dia mengambil putusan yang keburu nafsu,” berkata Hong Sie Nio.
Siauw Cap-it-long berkata, “Dia sudah mengambil putusannya. Lebih baik jangan kita tarik panjang.”
Menarik tangan Hong Sie Nio, Siauw Cap-it-long berhasil mengambil sikapnya yang semula, ia berkata:
“Mari. Aku tak perlu lari darimu lagi. Mari kita minum arak bersama.”
Akhirnya Siauw Cap-it-long berhasil mengusir pergi bayangan2 yang tidak disukai, ia tertawa.
Hong Sie Nio juga tertawa. Tertawa gembira.
Wajah kedua orang itu tertawa, tapi apa yang berselimut dalam lubuk hati ketertawaan mereka?
Kesengsaraan dan kepahitan yang tidak terhingga.
* * *
Sesudah meninggalkan Siauw Cap-it-long, hati Sim Pek Kun menjadi kosong hampa tiada isi.
Dia melakukan perjalanan seorang diri.
“Jauh di mata dekat di hati!”
Pepatah ini sering dibaca oleh Sim Pek Kun, tapi tidak mudah menyelami isi hatinya. Baru
sekarang ia mengerti, makna dari inti sari pepatah tadi.
“Oh… jauh di mata. Dekat di hati.”
Semakin jauh dengan Siauw Cap-it-long, semakin terkenang pula kepada laki2 berandalan itu.
Air mata Sim Pek Kun jatuh bercucuran, hatinya berteriak, “Siauw Cap-it-long! Siauw Cap-itlong!
Bukan sengaja hendak menyakiti hatimu, dalam keadaan tiada daya, apa boleh buat.
Umurmu masih muda, kau masih mempunyai hari depan yang gilang gemilang. Aku tidak
bisa me-nyeret2 dirimu.”
Siauw Cap-it-long belum bisa menerima kiriman suara hati Sim Pek Kun.
Hati ratu rimba persilatan tersebut masih berteriak lagi:
“Ya! Kau pasti sakit hati, remuk redam. Kau boleh marah, kau bisa berteriak, tapi waktu akan
mencuci bersih segala noda itu. Bagaikan angin lalu, kuharap saja kau bisa melupakan
diriku.”
Begitu mudah? Bisakah Siauw Cap-it-long melupakan Sim Pek Kun?
Tentu saja tidak mungkin.
Reaksi timbal balik terjadi pada hal yang sama. Bisakah Sim Pek Kun melupakan Siauw Capit-
long? Tentu saja tidak.
Melupakan sesuatu yang berkesan itu adalah sesuatu yang tidak mudah.
Hati Sim Pek Kun bagaikan terikat, bagaikan terpuntir, rasa sedih dan pilu.

Untuk seumur hidupnya, tidak mungkin dia bisa melupakan Siauw Cap-it-long. Sepasang
sinar mata yang bercahaya terang, gerak-geriknya yang memikat, dadanya yang bidang…
Sedapat mungkin Sim Pek Kun menghapus bayangan2 itu.
Dia tidak berhasil, semakin keras mau melepas bayangan itu, semakin jelas pula terpeta.
“Oh!” wanita ini mengeluh. “Begini kejamkah takdir mempermainkan insannya? Mengapa
mengamprokkan kita?”
Di samping jalan terdapat pohon2 rimbun.
Sim Pek Kun berlari ke arah pohon2 itu, menubruk salah satu di antaranya, dia menangis sedih.
Dengan isak tangis itu, dia mengharapkan bisa menghapus bayangan Siauw Cap-it-long, hati
Sim Pek Kun tidak bisa menerima penderitaan yang begitu hebat, sulit mengembalikan
keadaan normal.
Sim Pek Kun tidak menganggap cara2 tadi sebagai cara yang salah, kecuali cara ini, tidak ada
cara yang lebih baik lagi.
Isak tangis Sim Pek Kun men-jadi2.
Berapa lama ia menangis di tempat itu, Sim Pek Kun sudah lupa waktu.
Tiba2 satu tangan terjulur, meng-usap2 pundak wanita itu.
Hati Sim Pek Kun tercekat, ia hendak melejit, tapi tidak berhasil mengikuti ironi suaranya.
“Mungkinkah Siauw Cap-it-long,” bisik hati nurani. “Dia balik kembali?”
Deburan nafas Sim Pek Kun hampir saja terhenti.
Apa yang bisa dilakukan olehnya? Kalau saja Siauw Cap-it-long mengejarnya kembali?
Menubruknya? Menangis di dalam dadanya? Mengusirnya lagi? Apa menyakiti hatinya yang
lebih hebat?
Oh…
Tidak…
Sim Pek Kun tidak mempunyai itu kekuatan untuk menyakiti orang yang pernah menolong dirinya.
Dia sudah rela kabur bersama Siauw Cap-it-long. lari keujung langit, mereka bisa mencicipi
kehidupan yang baru.
Sesudah berhasil mengambil keputusan itu, Sim Pek Kun menolehkan kepala ke belakang.
Hatinya yang sudah mekar, tiba-tiba saja kuncup kembali, tenggelam dalam, seperti kecebur
ke dasar lautan.
Apa yang dilihat Sim Pek Kun ?
Tangan yang mengelus itu sangat halus, itulah bukan tangan Siauw Cap-it-long, tangan ini
tidak asing, karena inilah tangan sang suami.

Tangan Lian Seng Pek !
Orang yang datang adalah jago muda ternama Lian Seng Pek.
Wajah Lian Seng Pek pucat pasi, hanya sepasang sinar matanya itu yang masih mengandung
kecahayaan, sepasang sinar mata yang penuh cinta kasih kepada seorang isteri.
Dibiarkannya saja Sim Pek Kun menatapnya seperti itu, rayuan-rayuan tanpa suara disalurkan
kebenak hati isterinya.
Tenggorokan Sim Pek Kun seperti tersentak, hatinya juga seperti tercekat.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Lian Seng Pek memecahkan kesunyian, dia berkata :
“Orang-orang dirumah sudah menunggu lama, mari kita balik.”
Suaranya begitu tenang, tidak berkejolak.
Seolah-olah Lian Seng Pek sudah melupakan noda-noda Sim Pek Kun didalam lingkungan
keluarga Lian.
Mungkinkah bisa dihapus begitu saja ?
Sim Pek Kun tidak bisa menghapuskan noda-noda yang sudah mengotori dirinya.
Biar bagaimanapun, Sim Pek Kun tidak bisa melupakan drama-drama yang sudah terjadi.
Raga Sim Pek Kun berada didepan Lian Seng Pek, jiwanya sudah terbang jauh, terbang ke
ujung langit bersama-sama bayangan Siauw Cap-it-long.
Sim Pek Kun berusaha menarik kembali, sukma yang sudah terbang itu, tapi sangat berat,
harus menggunakan tenaga banyak.
Sukma itu ditariknya kejaman selam, diwaktu yang sama pula, suatu saat musim rontok,
disaat senja hari, mereka berjalan-jalan dibawah pohon rindang.
Memandang air jernih yang mengalir, mereka mengecapi kesenangan alam.
Itu waktu, Sim Pek Kun dan Lian Seng Pek masih berkasih-kasihan. Mereka lupa pulang.
Itu waktu Lian Seng Pek berkata:
“Orang-orang di rumah sudah lama menunggu, mari kita kembali.”
Nada dan suara yang sama, kata-kata yang sama, dan dilontarkan pula dari sebuah mulut yang sama.
Itu waktu, Sim Pek Kun kembali, tanpa banyak komentar.
Sim Pek Kun mengiringi segala kehendak hati Lian Seng Pek. Sekarang, kata-kata yang
berkesan itu diulang kembali: “Orang-orang di rumah, sudah lama menunggu, mari kita
kembali.”
Reaksinya jauh berbeda.
Sim Pek Kun kurang menyesuaikan keadaan itu, dia tidak bisa mengangkat langkah kakinya,
mengikuti apa yang sudah diucapkan oleh sang suami.

Dia membangkang.
Keadaan berobah, jaman berputar.
Timbulnya bayangan Siauw Cap-it-long telah mengubah situasi yang seperti itu.
Sim Pek Kun mengeluarkan keluhan napas panjang, dengan nada sayu, ia berkata:
“Kembali? Kemana aku harus kembali?”
Lian Seng Pek masih membawakan sikapnya yang menyayang, dengan suara merdu ia
berkata:
“Kembali ke rumah. Tentu saja kita kembali ke rumah.”
“Rumah?” Sim Pek Kun mengeluarkan suara ini dengan nada hampir menangis.
“Mungkinkah aku masih mempunyai sebuah rumah?”
Lian Seng Pek berkata:
“Kau berhak mengecapi kesenangan rumah kita.”
“Itulah jaman dahulu kala.” jawab Sim Pek Kun.
“Tidak.” berkata Lian Seng Pek. “Jaman itu masih berlaku untuk keadaan sekarang.”
Sim Pek Kun menggoyangkan kepala, ia berkata:
“Tidak sama”
Lian Seng Pek berkata:
“Tidak ada yang tidak sama, segala sesuatu yang lalu, biar saja dia lewat, kalau saja kau mau
kembali, keadaan tetap seperti sedia kala.”
Sim Pek Kun tidak menjawab lagi. Dia termenung lama.
“Bagaimana?” bertanya Lian Seng Pek.
Sim Pek Kun berkata:
“Baru sekarang aku mengerti.”
“Apa yang kau maksudkan?” bertanya Lian Seng Pek.
“Orang yang hendak kau ajak pulang itu bukanlah aku”
“Siapa?” bertanya Lian Seng Pek heran.
“Nama harum dari keluarga Lian tidak bisa dicemarkan, tidak boleh ternoda, karena itu, nona
mantu Lian Seng Pek tidak boleh merusak kehormatan keharuman nama itu, biar aku kembali
ke kandang, pulang ke rumah lama.”
Lian Seng Pek bungkam.

Sim Pek Kun berkata lagi, “Maka, kau masih mengharapkan pulangnya diriku, asal saja aku
kembali, semuanya bisa dimaafkan, tapi...”
Lian Seng Pek masih membungkam.
Gejolak hati Sim Pek Kun tidak bisa dipadamkan, suaranya semakin lama semakin
meningkat, naik dua oktaf dia berkata, “Sudahkan terpikir olehku, aku juga berupa manusia
biasa. Aku bukanlah orang yang mudah dipermainkan, aku tidak mau dipercaturkan oleh
keluarga Lian.”
Wajah Lian Seng Pek menjadi murung, dia berkata, “Eh, mungkinkah aku telah melakukan
sesuatu kesalahan?”
Kepala Sim Pek Kun ditundukkan ke bawah, air matanya bercucuran kembali, dia juga
bersedih, katanya perlahan, “Kau tidak salah, akulah yang bersalah. Aku harus meminta
maaf.”
Dengan suara yang seperti rayuan, Lian Seng Pek berkata, “Setiap orang itu pernah
melakukan kesalahan, tapi biar saja mereka lewat, sudah lama kulupakan kesalahan2 itu.”
Kepala Sim Pek Kun di-geleng2kan, dia berkata, “Tidak. Mungkin kau bisa melupakan
kesalahan itu, tapi aku tidak.”
“Mengapa?” bertanya Lian Seng Pek.
Putusan Sim Pek Kun yang sudah hampir tidak tergoyahkan, tiba2 saja terbengkokkan, tapi
ditariknya kembali, dengan sepatah demi sepatah ia berkata, “Karena hatiku sudah berubah.”
Lian Seng Pek seperti tercambuk oleh pecut yang tidak tampak, hampir saja ia terguling jatuh.
Dengan menggigit bibir yang hampir berdarah, ia berkata, “Kau tidak mau kembali?”
Sim Pek Kun berkata, “Seperti apa yang kau sudah tahu, seringkali aku menyakiti orang. Tapi
betul2 hatiku sudah berubah, lebih baik aku berterus terang daripada menipu dirimu.”
“Maksudmu...”, suara Lian Seng Pek terputus.
Sim Pek Kun berkata, “Mulai saat ini, aku tidak mau hidup ber-sama2 mu lagi. Aku tidak mau
memaksakan diri. Aku juga tidak mau menipu diri sendiri, aku sudah tidak cinta kepadamu.”
Lian Seng Pek mengepalkan tangannya keras2, ia menjadi tegang. “Betul... betul kau sudah
jatuh cinta kepadanya?” dia bertanya.
Gigi Sim Pek Kun yang menggigit bibir itu akhirnya membuat pendarahan, di sana tampak
merah sedikit, ia menganggukkan kepala.
Tiba2, Lian Seng Pek menerjang pundak Sim Pek Kun, dengan geram dia membentak, “Kau
jatuh cinta kepada seorang jago berandalan?”
Sim Pek Kun menganggukkan kepala.
“Katakan,” berteriak Lian Seng Pek, “Dimana letak keunggulannya? Dimana letak
kekalahanku?”
Suara Lian Seng Pek hampir habis, berteriak2 seperti manusia gila.
Lian Seng Pek tidak mudah tergoda, biasanya dia bisa mengekang segala gejolak itu. Hari ini

tidak, orang yang dikasihi olehnya, isteri yang dicinta olehnya hendak melarikan diri.
Darah panas Lian Seng Pek bergolak mulai memuncak ke atas otak.
Pundak Sim Pek Kun yang dicengkeram seperti itu hampir remuk, dia merasa sakit,
diusahakan agar dia tidak menjerit, juga tidak berteriak, diusahakannya menyedot air mata
yang jatuh bercucuran.
Menggigit bibir lagi dia berkata, “Mungkin... mungkin juga dia tidak bisa memadaimu. Di
beberapa tempat, dia kalah padamu. Tapi dia rela berkorban, dia lebih rela berkorban
daripadamu. Demi kepentinganku, dia rela mati... kau... kau bisa mengimbangi kemampuan
ini?”
Mata Lian Seng Pek dipentangkan lebar2, tangannya terlepas dari pundak Sim Pek Kun, perlahan2
tubuh si jago muda mundur ke belakang.
Sim Pek Kun tidak berani menerima pancaran sinar mata Lian Seng Pek, ia mengelakkan
sepasang cahaya yang tajam itu, dengan menundukkan kepala dia berkata:
“Aku masih ingat, kau pernah mengatakan tentang hati seorang wanita. Kalau saja seorang
wanita itu sudah mengubah hatinya, apapun tidak bisa dicegah, seseorang yang akan
mencegah akan menderita penderitaan yang terbesar.”
“Ouw...” Lian Seng Pek mengeluh.
Kemarahan Lian Seng Pek tidak bisa tertahan, tangannya terayun,... Pang... dia menempiling
pipi Sim Pek Kun yang putih bersih. Di sana telah bertanda lima jari berwarna merah.
Sim Pek Kun masih diam di tempatnya, dia tidak lagi menangis, tidak bergerak dan juga tidak
menjerit.
Sim Pek Kun seperti sudah tersihir, seperti batu, dengan sinar matanya yang dingin, ia
berkata:
“Tempilinglah lagi, pukullah lagi, bunuhlah... aku tidak akan membikin perlawanan. Aku
tidak akan menyalahkan dirimu. Tapi ingat, tidak mungkin kau bisa mengubah pendirianku...”
Lian Seng Pek membalikkan badan, tiba2 mencelat, meninggalkan isterinya.
Baru sekarang Sim Pek Kun berani mendongakkan kepala, memandang ke arah lenyapnya
sang suami.
Mengantarkan lenyapnya bayangan itu, air mata Sim Pek Kun bercucuran pula.
“Oh...,” dia mengeluh. “Maafkan aku, sangat menyesal. Sebenarnya aku tidak
memperlakukan dirimu seperti ini, tapi apa boleh buat, dalam keadaan terpaksa tidak ada lain
jalan.”
Lian Seng Pek tidak bisa menangkap suara penyesalan isterinya.
Sim Pek Kun bergumam:
“Boleh saja kau anggap aku sebagai wanita jalang, wanita yang tidak tahu diri. Tapi demi
kepentinganmu, demi keluarga kalian, aku tidak mau mengikut sertakan banyak dosa.”
Bayangan Lian Seng Pek sudah lenyap dari tempat itu, tentu saja tidak mengikuti jeritan hati

istrinya. Rencana apa yang Sim Pek Kun sudah lakukan? Siauw Tjap it-long tidak bisa
mengerti, Lian Seng Pek juga tidak mengerti. Penderitaan yang bagaimana dirasakan oleh
Sim Pek Kun.
Hanya dia seorang diri yang dapat menyelaminya. Hatinya seperti tersobek dikoyak-koyak
oleh tangan si raja boneka Thian koncu.
Dia harus berkorban, dia tidak mau mengikutsertakan Siauw Tjap it-long, dia juga tidak mau
mengikutsertakan Lian Seng Pek. Hanya kematianlah yang bisa mengcamkan dirinya. Hanya
jalan kematian yang terbentang di depan dirinya.
Malam berkuasa.
Air mata Sim Pek Kun sudah dikuras habis dia masih menangis, menangis dengan air mata
kering.
Akhirnya, Sim Pek Kun mengambil putusan, dia membenarkan pakaiannya yang kucel
berjalan lurus ke depan.
Hanya ada satu jalan yang berada di depan sang ratu rimba persilatan itulah jalan kematian.
Jalan itu lurus langsung, menuju kearah istana boneka. Di depan bulu mata Sim Pek Kun
sudah terbayang wajah raja gila boneka Thian koncu yang tertawa kejam, dengan girangnya,
raja gelo itu berkata: “Sudah kuperhitungkan, sudah waktunya kau kembali. Karena kau sudah
tidak mempunyai pilihan jalan lain.”
Betul-betul Sim Pek Kun tidak mempunyai pilihan jalan. Dia sedang menuju jalan kematian.
Sim Pek Kun balik kembali ke istana boneka.
Siauw Tjap it-long menarik tangan Hong Sie Nio, mengajaknya menegak minum arak.
Tenggorokan Siauw Tjap it-long seperti tersumbat, biasanya dia jago arak, ia kuat minum,
tapi hari-hari ini terkecuali, cairan minuman keras itu tidak mau masuk kedalam
tenggorokannya.
Terlalu banyak urusan yang dipikirkan oleh Siauw Tjap it-long. Terlalu butek pikiran yang
mengekang kebebasan Siauw Tjap it-long.
Begitu keadaan Siauw Tjap it-long begitu pula keadaan Hong Sie Nio. Hong Sie Nio sedang
menghadapi persoalan rumit. Berbulan-bulan, bertahun-tahun ia menantikan datangnya
lamaran Siauw Tjap it-long, lamaran itu tak kunjung datang.
Kini timbul satu lamaran, tapi harapan yang dibangun atas kesengsaraan Sim Pek Kun.
Pikiran Hong Sie Nio lebih kusut, biasanya dia senang dan gembira, bisa melakukan sesuatu
yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain.
Hari ini tidak. Hong Sie Nio tidak bisa menegak araknya. Arak yang mereka tegak arak
kering, arak tawar. Mereka minum arak di dalam sebuah kedai yang kotor.
Hong Sie Nio tidak membawa uang, karena dia baru saja menjadi pengantin perempuan.
Kantong Siauw Tjap it-long belum pernah penuh dengan uang, karena itu mereka harus bisa
menghemat.
Disaat ini Hong Sie Nio mebuka suara: “Kita berdua sudah ditakdirkan minum arak di tempat ini.”
“Ouw!” berkata Siauw Tjap it-long. “Sudah ditakdirkan seperti ini.”

Siauw Tjap it-long melempar jauh sukmanya, seolah-olah mengikuti dan membayangi Sim Pek Kun.
Disaat hidup sengsara bersama-sama dengan Sim Pek Kun, hatinya riang dan gembira. Tapi
rasa itu lenyap, berganti dengan sedih dan perih.
Dengan cepat Hong Sie Nio menuang araknya terus menerus, degan wajah cemberut, ia
berkata: “Menurut cerita orang, arak yang tidak enakpun bisa menjadi enak, kalau kau
meminumnya cepat.”
Siauw Tjap it-long berkata tawar: “Arak yang enak adalah arak yang bisa membuat kita
menjadi mabok.”
Siauw Tjap it-long juga meneguk araknya. Mereka ingin bermabok-mabokan, tapi arak itu
kurang keras, mereka belum mabok.
Keadaan seorang yang berada dalam keadaan mabok, bisa melupakan segala sesuatu,
melupakan penderitaan dan melupakan kesengsaraan.
Hong Sie Nio menatap Siauw Tjap it-long, dia sedang berdaya upaya, bagaimana caranya
untuk mengubah pikiran Siauw Tjap it-long yang masih tertuju kearah Sim Pek Kun.
Seribu satu cara telah diusahakan, tidak mungkin menemukan cara yang terbaik. Berapa
banyak suara Hong Sie Nio cetuskan, suara-suara itu hanya suara Sim Pek Kun. Akhirnya
Hong Sie Nio menghela nafas, ia berkata: “Hei, sudahlah. Jangan kau pikirkan dia lagi.
Menurut apa yang kutahu, wanita tadi tidak mempunyai kekejaman yang seperti itu.”
Siauw Tjap it-long berkata: “Tidak ada wanita yang kejam. Hanya ada wanita yang keras
hati.” Suara ini disalurkan jauh, seolah-olah hendak disampaikan ke depan Sim Pek Kun.
Hong Sie Nio berkata: “Menurut hematku, wanita tadi sedang tertekan, dia mempunyai
penderitaan yang tidak bisa dilampiaskan.”
Siauw Tjap it-long berkata: “Eh, menurut apa yang kau tahu, siapa yang menjagoi rimba
persilatan?”
“Untuk jalan mana?” bertanya Hong Sie Nio.
“Untuk jaman-jaman yang sudah lampau dan jaman sekarang.” berkata Siauw Tjap it-long.
“Ilmu silat siapakah yang tertinggi?”
Hong Sie Nio berpikir lama, akhirnya dia menjawab pertanyaan itu. “Menurut apa yang
kutahu, tokoh silat super sakti tanpa tandingan adalah Siao Yao Hoo pada dua puluh tahun
yang lalu.”
“Tepat” berkata Siauw Tjap it-long. “Kini ia mengganti nama menjadi Thian koncu.”
Ternyata, raja gila boneka Thian koncu bernama Siao Yao Hoo!
“Bisakah kau ceritakan tentang orang ini?” berkata Siauw Tjap it-long.
“Aku belum pernah melihat wajahnya.” jawab Hong Sie Nio.
Siauw Tjap it-long tertegun, menegak arak dia berkata:
“Menurut apa yang kutahu, kau kenal kepada orang ini, Dan dia pernah mengirim dua bilah
pisau yang tajam.”
Hong Sie Nio berkata: “Betul, tapi aku belum pernah melihat wajahnya.”

Siauw Tjap it-long menyengir, dia berkata: “Membuat aku bingung saja.”
Hong Sie Nio tertawa dan berkata: “Setiap kali aku menemuinya, teraling oleh selembar kain,
pada suatu hari, aku tidak tahan, kutendang kain itu, menyerobot masuk, dengan maksud bisa
melihat wajah asli jago itu.”
“Bagaimana hasilnya? Kau berhasil.” bertanya Siauw Tjap it-long.
Hong Sie Nio menghela nafas, ia berkata:
“Kuanggap gerakanku itu sudah cukup cepat. Tapi gerakannya lebih cepat lagi, saat aku
memasuki ruangan itu, ia sudah tidak ada disana.”
Siauw Tjap it-long berkata: “Ternyata dia belum menjadi kawanmu. Dia tidak mau bertemu denganmu.”
Hong Sie Nio berkata: “Salah. Dia adalah kawanku. Karena hendak berkawan dengan diriku,
maka dia tidak bertemu muka.”
“Apa artinya?”
Hong Sie Nio berkata: “Hanya dua macam orang yang bisa menemukan wajahnya.”
“Dua macam orang yang bagaimana?”
“Wanita.” berkata Hong Sie Nio. “Wanita yang sudah kena taksirannya, asal saja dia ingini,
tidak mungkin bisa lepas dari genggaman tangannya.”
Wajah Siauw Tjap it-long berubah, ia menegak araknya, membasahi tenggorokan itu,
kemudian berkata:
“Oh... kau tidak mendapat taksirannya?”
Wajah Hong Sie Nio juga berubah, dia sudah hendak melampiaskan kemarahan itu, secepat
itu pula dia bertahan, dan berkata:
“Baiklah, boleh saja menganggap aku tidak laku. Ia tidak tertarik kepada diriku. Aku tidak
mau marah. Hari ini, biar apapun yang kau katakan, aku tidak marah.”
Tidak memberi kesempatan kepada Siauw Tjap it-long berkata lai, Hong Sie Nio meneruskan ucapannya:
“Banyak cerita tentang dirinya, ada yang mengatakan dia buta, ada yang mengatakan dia
tinggi besar, ada yang mengatakan wajahnya penuh brewok... etc...”
“Tapi tidak pernah ada orang yang mengatakan dia cakap dan tampan?” bertanya Siauw Tjap it-long.
“Kalau betul dia sangat cakap, mengapa tidak mau memperlihatkan wajahnya?”
Siauw Tjap it-long berkata: “Potongan tubuhnya sangat pendek, ia malu dilihat orang.”
Sepasang mata Hong Sie Nio dibelalakan, memandang Siauw Tjap it-long dan berkata: “Kau
pernah menemuinya?”
Siauw Tjap it-long tidak menjawab pertanyaan ini, raja gila boneka Thian kongcu bernama
Siao Yao Hoo. Dan ini tidak boleh diketahui oleh Hong Sie Nio.
“Eh,” Siauw Tjap it-long mengalihkan bahan pembicaraan. “Kau sudah pergi ke luar daerah?”

“Ngg...” Hong Sie Nio menganggukkan kepala.
“Juga hendak mencari jejaknya?” bertanya Siauw Tjap it-long.
“Menurut cerita orang, dia sudah memasuki daerah Tong goan.”
“Hmmm...” Siauw Tjap it-long mengeluarkan satu suara gerengan kecil.
Hong Sie Nio berkata: “Ilmu silatnya berada di atasmu, ilmu meringankan tubuhnya berada di
atasmu. Hanya satu, itulah adatnya yang tidak bisa memenangkan adatmu. Ada sesuatu
semangat yang berada padamu, semangat yang belum pernah terpatahkan. Semangat ini tidak
bisa ada yang menandingi dirimu.”
Sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long memandang jauh ke depan. Dia berkata perlahan,
“Kukira kau sedang ber-lebih2an.”
“Tidak,” berkata Hong Sie Nio, bukan ber-lebih2an, inilah kenyataan. Apalagi kau hendak
mengadu jiwa, orang lain bisa menjadi takut.”
Siauw Cap-it-long berkata, “Aku belum ada niatan untuk mengadu jiwa dengannya.”
“Bukan maksudku untuk menyuruhmu mengadu jiwa, hanya kukatakan semangatmu yang
membara itu bisa menciutkan hati orang.”
Siauw Cap-it-long bisa menerima kebenaran dari apa yang sudah dikatakan oleh Hong Sie
Nio. Raja gila boneka Thian kongcu Siao Yao Hoo agak gentar menghadapi dirinya, bilamana
dia nekad, tidak mudah orang itu mengalahkan dirinya.
“Oh, mengapa kau hendak mencari tahu tentang keadaan orang itu? Mungkinkah hendak
mengadu jiwa?”
Dengan tertawa tawar, Siauw Cap-it-long berkata, “Dengan alasan apa, aku hendak mengadu
jiwa dengannya?”
Pandangan mata Hong Sie Nio belum pernah lepas dari wajah Siauw Cap-it-long, sepatah
demi sepatah ia berkata, “Karena kau sudah menjadi nekad, kau hendak mencari kematian.”
“Kematian ?!” Siauw Cap-it-long mengulang kata2 itu.
“Anggapmu hanya kematian yang bisa membebaskan penderitaanmu,” berkata Hong Sie Nio.
“Kau hendak menghindari kenyataan?”
Daging2 Siauw Cap-it-long berkerinyut, hampir dia tidak bisa menguasai dirinya, bangkit dari
tempat duduknya dan berkata, “Aku sudah kenyang makan, arakpun sudah cukup banyak
kutenggak, sudah waktunya berangkat. Aku hendak pergi.”
Hong Sie Nio menarik tangan Siauw Cap-it-long dan berkata, “Kau tidak boleh pergi.”
Dengan dingin Siauw Cap-it-long berkata, “Di saat aku hendak pergi, belum pernah ada orang
yang bisa menahan kepergianku.”
Tiba2...
Dari luar ruangan masuk seseorang, ia berteriak, “Biar bagaimana aku harus menahan
kepergianmu.”

Siapakah orang yang datang itu? Apa maksud tujuannya?
Mari kita mengikuti bagian berikutnya.
BANYAK CINTA DI DALAM DUNIA
Dari datangnya bayangan gelap, tampil seorang, wajahnya pucat pasi, matanya bersinar
terang, langkahnya tenang, sangat sopan. Inilah orang yang terpelajar.
Seorang terpelajar mendekati Siauw Cap-it-long, pada pinggangnya tergendong pedang,
seorang pelajar yang mengerti ilmu silat.
Sarung pedang berwarna hitam mengkilap, tertojos oleh cahaya lampu, membuat lawan
menjadi agak seram.
Hong Sie Nio berteriak kaget, “Lian Seng Pek kongcu?”
“Ya,” jawab orang itu.
Orang yang baru datang adalah Lian Seng Pek!
Siauw Cap-it-long memandang ke arah kedatangan Lian Seng Pek, matanya tidak berkesiap.
Lian Seng Pek sudah berdiri di depan mereka, perlahan2 dia berkata, “Di dalam dunia, hanya
aku seorang yang bisa menahan keberangkatan Siauw Cap-it-long!”
Wajah Siauw Cap-it-long berubah, segera tercetus pertanyaan keras, “Kau hendak menahan
keberangkatanku?”
Lian Seng Pek tertawa tawar, ia berkata, “Ya.”
“Maksudmu?” Siauw Cap-it-long menjadi tegang.
“Aku sedang dirundung murung, aku hendak menahan keberangkatanmu, bersama2 minum
arak, menurut cerita orang kekuatan minum arakmu sangat hebat sekali. Mari kita minum
bersama.”
Sepasang mata disipitkan, kemudian direntangkan lebar2 pula, di tatap Siauw Cap-it-long, ia
berkata, “Keadaanku di hari ini karena disebabkan oleh gara2mu. Hadiah dari tampilnya
dirimu. Maka, kukira sudah layak kalau kau bersedia menemani aku minum arak bukan?”
Lama sekali Siauw Cap-it-long memperhatikan gerak-gerik Lian Seng Pek, akhirnya dia
mengalah, per-lahan2 duduk kembali.
Baru sekarang Hong Sie Nio bisa mengeluarkan nafas lega, dia berkata, “Lian Seng Pek
Kongcu, silahkan duduk.”
Lian Seng Pek tidak ragu-ragu, menyeret kursi di depan Siauw Cap-it-long dan Hong Sie Nio,
bertiga mereka duduk di satu meja.
Terjadi perjamuan minum arak gila-gilaan.
* * *
Lampu penerangan sudah menjadi suram. Berapa banyak arak yang diminum oleh Siauw

Cap-it-long? Tidak ada orang yang menghitung.
Berapa banyak pula arak yang ditenggak oleh Lian Seng Pek, walalu tidak bisa memadai
Siauw Cap-it-long, jumlahnyapun cukup banyak.
Hong Sie Nio memperhatikan kedua laki2 yang berada di kanan dan kirnya itu, meminjam
sinar penerangan yang kelap-kelip, agaknya seperti menjadi kaku.
Wajah Lian Seng Pek dalam keadaan mabok seperti orang yang sudah tidak berdarah, seperti
bangkai hidup minum arak.
Kini dia menoleh ke arah Siauw Cap-it-long, memperhatikan keadaan Siauw Cap-it-long,
entah apa yang hendak ditemukan pada wajah satu itu.
Sepasang sinar mata Siauw Cap-it-long jauh memandang ke depan, melompong, sinar
matanya hampa.
Penjual arak sedang memperhatikan tamu aneh itu, teristimewa keanehan Hong Sie Nio.
Adanya wanita jago arak yang seperti Hong Sie Nio adalah terkecualian, tidak ada wanita
yang kedua bisa menyainginya.
Si tukang jual arak juga seorang mata perempuan, ia mengharapkan Siauw Cap-it-long dan
Hong Sie Nio ber-mabuk2an maka ia mempunyai banyak kesempatan.
Walau wajah Siauw Cap-it-long cukup menakutkan, galak dan garang, dalam keadaan mabuk
dia bisa berbuat semau-maunya.
Kemudian datang pula sastrawan yang sopan-santun itu, jumlahnya bertambah tiga orang. Harapannya
semakin besar, tapi begitu lama mereka ber-mabuk2an, toch tidak satu pun dari ketiganya yang jatuh.
Akhirnya dia ngelojor pergi.
Penjual arak ini betul2 tahu diri, dari adanya hawa sinar cahaya pedang yang garang, hawa itu
tidak boleh didekati.
Setiap saat ia mendekati ke arah meja tersebut, tampak keringatnya mengucur keras, itulah
hawa keseraman.
Siauw Cap-it-long menuang araknya, dia menenggak lagi.
“Mari! Minum!” dia mengajak Hong Sie Nio dan Lian Seng Pek bertoast.
Hong Sie Nio mengangkat cawannya, dia berkata, “Arak ini kurang baik. Entah bagaimana
penilaian Lian Seng Pek Kongcu?”
“Arak baik.” Lian Seng Pek juga menerima tawaran toast itu, dia mengeringkan isinya. “Arak
baik,” dia memuji lagi. “Arak yang bisa membuat orang menjadi mabok, itulah arak yang
terbaik.”
Siauw Cap-it-long bisa membenarkan kata2 ini, dia berkata, “Tepat! Arak yang bisa membuat
orang mabok, arak itu adalah arak yang terbaik.”
Hong Sie Nio menoleh lagi, kedua laki2 itu jatuh cinta kepada seorang wanita, kini mereka
bisa minum bersama, sungguh aneh!
Siauw Cap-it-long nakal dan berandalan, Lian Seng Pek alim dan sopan santun, perbedaan
mereka sangat menyolok mata.

Sebagai seorang wanita, Hong Sie Nio juga menjatuhkan pilihannya kepada Siauw Cap-itlong.
Sebagai seorang wanita, Sim Pek Kun juga menjatuhkan pilihannya kepada Siauw Cap-itlong.
Perbedaannya, yang disebut lebih dahulu belum menikah, dan yang disebut belakangan sudah
kawin.
Karena itulah Hong Sie Nio mencopot pakaian pengantinnya, dengan harapan masih bisa
menyeret hati Siauw Cap-it-long.
Tapi kenyataan itu semakin menipis, sesudah menyaksikan bagaimana Siauw Cap-it-long dan
Lian Seng Pek minum bersama.
Biar bagaimana, Hong Sie Nio harus bisa memadamkan api cinta kepada Siauw Cap-it-long.
Di saat ini, timbul pula bayangan Yo Khay Thay.
Hong Sie Nio sangat menyesal, ia telah memperlakukan Yo Khay Thay lebih dari keterlaluan
sedari pertama kali bertemu, tidak ada cinta kepada laki2 itu.
Siapa yang menyuruh Yo Khay Thay mengikutinya terus menerus?
Oh!
Cinta…
Baru sekarang Hong Sie Nio bisa memahami apa artinya cinta. Dia bisa merasakan
bagaimana perasaan yang merangsang seseorang, di saat cintanya ditolak.
Perasaannya juga turut kacau, risau.
Ber-ulang2 Hong Sie Nio menenggak araknya.
Lian Seng Pek memperlihatkan pula cawan araknya, ditujukan kepada Siauw Cap-it-long dan
berkata, “Mari! Keringkan lagi!”
Se-olah2 dia sedang meloloh diri sendiri, apa boleh buat, dengan ber-mabok2an, dia bisa
melupakan penderitaan, walau untuk sementara.
Siauw Cap-it-long tidak mau kalah, dia memang memiliki daya tahan yang lebih kuat, cawan
demi cawan diteguknya masuk.
Mengapa mereka ber-mabuk2an?
Cinta! Cinta bertaburan di dalam dunia.
Hong Sie Nio melirik ke arah Lian Seng Pek, dia menjajalnya, “Mungkinkah Lian Seng Pek
Kongcu belum tahu, kalau dia…”
Cepat2 Lian Seng Pek berkata, “Aku tahu, semua aku sudah tahu.”
Hong Sie Nio bertanya, “Kau sudah tah? Sudah tahu kalau ada orang yang sedang mencari
dirimu?”

“Sim Pek Kun yang kau maksudkan?” Lian Seng Pek tertawa nyengir.
Hong Sie Nio menganggukkan kepala dan berkata, “Dia sedang berusaha untuk
mendapatkanmu.”
Lian Seng Pek tertawa lebih pahit, ia berkata, “Tidak perlu dipersoalkan, sedari dulu aku
selalu mencari jejaknya.”
“Kalian sudah bertemu?” bertanya Hong Sie Nio.
“Sudah,” jawab Lian Seng Pek singkat. Kini dia menoleh tempat gelap, entah apa yang
sedang dipikirkan.
Dengan perasaan tidak mengerti, Hong Sie Nio bertanya, “Di mana kini dia berada?”
“Sudah pergi lagi,” berkata Lian Seng Pek. “Dia sudah pergi… pergi lagi… dia selalu pergi
dari samping sisiku.”
“Dia meninggalkanmu lagi?” Hong Sie Nio menjadi heran.
Tentu saja Hong Sie Nio tidak mengerti, Sim Pek Kun sudah meninggalkan Siauw Cap-itlong.
Tentunya hendak kembali dan rujuk kepada suaminya, dengan alasan apa pula
meninggalkan Lian Seng Pek?
Sim Pek Kun meninggalkan Siauw Cap-it-long, sesudah itu meninggalkan Lian Seng Pek,
kemana kepergiannya ratu rimba persilatan itu?
Biasanya Hong Sie Nio bisa memahami dan menyelami isi hati wanita. Kecuali isi hati Sim
Pek Kun.
Dia tidak tahu, kemana kepergiannya Sim Pek Kun.
Tentu saja, Hong Sie Nio tidak bisa menduga, kemana Sim Pek Kun pergi?
Hanya saja Siauw Cap-it-long yang bisa mengetahui, kemana kepergiannya ratu rimba
persilatan itu.
Sejulur hawa dingin yang lebih dingin dari es meresap ke tulang2, melalui ujung kakiknya,
menembus otak, dan memecah ke seluruh tubuh Siauw Cap-it-long.
Mendengar keterangan itu, hati Siauw Cap-it-long tercekat.
Kemana Sim Pek Kun menuju?
Balik kembali ke istana boneka?
Jawaban ini tidak sulit untuk ditemukan. Inilah yang mencekatkan hatinya, membuat ia
menjadi pusing kepala.
Tiba2 hatinya membara, terasa panas, bara itu sukar dipadamkan.
Dendam kemarahan kepada raja gila boneka Thian Kongcu Siao Yao Hoo tidak bisa
dipadamkan.
Siauw Cap-it-long bisa menyelami betapa menderitanya Sim Pek Kun.

Kalau dia hendak melarikan diri dari kenyataan, secara ber-mabuk2an minum arak, cara Sim
Pek Kun lain daripada yang sudah ditempuh olehnya. Sim Pek Kun hendak mengantarkan
jiwa, berkorban atau menuntut balas.
Hanya kematian yang bisa menyelesaikan rasa sengsara badan Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun tidak akan mati percuma, tentunya berusaha. Bisakah Sim Pek Kun membunuh
raja gila boneka Thian Kongcu?
Siauw Cap-it-long mengepal tangannya keras-keras, kini dia bisa mengerti, cara-cara dan
langkah-langkah yang ditempuh Sim Pek Kun.
Siauw Cap-it-long mentololkan otaknya sendiri, mengapa tidak terpikir sejauh itu? Mengapa
ia tidak menahan kepergiannya?
Besar hasratnya untuk segera membikin pengejaran, segera mengganti pertukaran jiwa, dia
rela berkorban menggantikan pengorbanan Sim Pek Kun.
Tapi bukan sekarang, belum waktunya. Di depan dirinya masih ada Lian Seng Pek dan Hong
Sie Nio, dia tidak bisa menyeret kedua jago silat ini.
Ia harus menunaikan tugas itu dengan jiwa tunggalnya. Dia tidak boleh me-nyeret2 orang lain,
dia tidak boleh berhutang budi orang kepada orang lain.
Lian Seng Pek menarik sorot matanya dari tempat jauh, kini menatap ke arah Siauw Cap-itlong,
per-lahan2 berkata, “Di dalam tanggapanku, kau adalah orang yang patut dikasihani,
baru sekarang aku mengerti, keberuntunganmu masih jauh berada di atasku.”
“Keberuntunganku?” bertanya Siauw Cap-it-long.
Lian Seng Pek tertawa, ia berkata, “Sampai saat ini, baru aku mengetahui, kalau aku itu belum
berhasil merebut hatinya.”
“Kau salah,” berkata Siauw Cap-it-long.
“Huh!” Lian Seng Pek mengeluarkan suara dengusan dari hidung.
Siauw Cap-it-long menggelengkan kepala berkata, “Menurut yang kutahu, belum pernah ia
mengkhianati dirimu.”
Lian Seng Pek mendelikkan matanya, tiba2 saja ia tertawa berkakakan, dan sesudah tertawa
berkakakan ia berkata, “Apa artinya menyeleweng? Apa artinya tidak menyeleweng?
Bagaimana perbedaan nyeleweng dan tidak nyeleweng? Di dalam dunia ini tidak ada sesuatu
yang abadi, mengapa memusingkan persoalan itu?”
Hati Siauw Cap-it-long menjadi panas, ia berteriak, “Tidak percaya?”
Lian Seng Pek sudah menghentikan tawanya, menatap ke arah cawan arak di meja ia
bergumam, “Untuk saat ini, apapun tidak kupercayai. Yang bisa dipercayai adalah arak! Arak
bisa membuat orang mabuk.”
Tangannya dijulurkan, mengambil cawan arak dan mengeringkan pula. Ia berkata, “Hayo,
Hong Sie Nio, Siauw Cap-it-long minum lagi. Jangan berhenti. Harus bisa menghabiskan arak
di tempat ini…”
* * *

Seseorang yang sudah tidak kuat minum, kalau saja masih ditantang terus-menerus, karena
mempunyai harga diri, tidak mau kalah, semakin cepat dia jatuh mabok.
Kekuatan minum Lian Seng Pek tidak bisa disamakan dengan kekuatan minum Siauw Cap-itlong,
ia hanya setanding dengan kekuatan minum Hong Sie Nio, mungkin juga masih berada
di bawah jago wanita berandalan itu.
Rasa tekanan Sim Pek Kun terlalu hebat, dia ingin menggunakan air kata2 melupakan segala sesuatu.
Sesudah terus-menerus menenggaknya, akhirnya ia jatuh mabok.
“Hayo!!” tantangnya. “Minum lagi, mengapa tidak diminum? Sudah menyerah kalah?”
Hong Sie Nio juga mengiringi katanya, menenggak arak yang di meja.
“Berapa banyak yang baru kau tenggak, akan kuiringi pula,” dia berkata.
Keadaan Hong Sie Nio juga sudah berada di dalam keadaan mabok.
Baru terasa, betapa kasihnya Lian Seng Pek ini.
Terjadi perobahan yang menyolok, Lian Seng Pek bukan seorang dingin dan kaku. Lian Seng
Pek mempunyai cinta kasih, sayang dunia mempermainkan perkawinannya.
Siauw Cap-it-long tidak banyak bicara tapi ia mengiringi segala kemauan2 itu, Lian Seng Pek
minum, Hong Sie Nio minum dan Siauw Cap-it-long juga minum.
Siauw Cap-it-long jatuh mabok.
Ia minum lebih banyak daripada kedua kawannya, ia tengkurapkan kedua tangan dan
meletakkan kepalanya di atas lingkaran tangan itu.
Siauw Cap-it-long sudah menjatuhkan dirinya di meja.
Lian Seng Pek memandang kepada si jago berandalan, dengan mulut bergumam, “Siauw Capit-
long, seharusnya aku membunuh kau.”
Tiba2 tubuh Lian Seng Pek meletik, mengeluarkan pedang, dijulurkan ke arah Siauw Cap-itlong.
Tapi kedua kakinya sudah tidak tertahan, karena kerasnya tarikan pedang itu, ia jatuh ngeloso.
Hong Sie Nio menjulurkan tangan, dengan maksud memayang jatuhnya tubuh Lian Seng Pek.
Tapi dia tidak berhasil, dia juga berada dalam keadaan mabok, mereka berdua jatuh bersama.
Dengan keras Hong Sie Nio membentak, “Siauw Cap-it-long adalah kawanku, kau tidak
boleh membunuh.”
Lian Seng Pek tertawa ter-kekeh2, tanpa bangun dari lantai tanah berkata, “Seharusnya aku
membunuh, tapi dia sudah mabok. Dia sudah kalah, ha..ha..ha… dia kalah…! Aku
menang!...”
Obrolan para pemabok itu semakin melantur. Mereka melantur terus, apa yang diucapkan
sudah lupa sama sekali.
Sesudah itu, merekapun jatuh.

Ketiga-tiganya mabok.
Tidak ada satu yang mulai bicara, mereka sudah menggeletak bagaikan tiga mayat yang
bergelimpangan.
Penjual arak memperhatikan para pemabok itu, ia hendak mendekatinya, tapi sinar pedang
Lian Seng Pek, kegarangan Siauw Cap-it-long, dan kenekatan Hong Sie Nio membuat ia tidak
berani melakukan hal itu.
Takut terancam sesuatu.
Apa yang dikuatirkan itu betul2 terjadi, tiba2 Siauw Cap-it-long bangun berdiri.
Di antara sinar penerangan yang suram, tampak Siauw Cap-it-long memperhatikan Lian Seng
Pek, lama sekali diperhatikannya laki2 kasihan itu.
Keadaan Siauw Cap-it-long tidak galak lagi, tidak gagah seperti pertama kali. Penderitaannya
dan kepedihannya tidak kepalang, se-olah2 seekor binatang yang sudah berada di ambang
pintu kematian.
Di dalam keadaan tidak sadar, masih terdengar suara teriakan Lian Seng Pek, “Hei, kau
meninggalkan diriku, tiada maaf bagimu…”
Siauw Cap-it-long mengertek gigi, ia bergumam, “Tenang! Tenangkanlah hatimu, aku akan
mengambilnya pulang kembali. Kuharap saja kau bisa baik-baik memperlakukannya, kuharap
saja kalian bisa lebih bahagia…”
Siauw Cap-it-long menggeser kursi, meninggalkan Hong Sie Nio dan Lian Seng Pek.
Siauw Cap-it-long menerjang ke arah istana boneka.
Orang pertama yang ditemukan olehnya adalah Siao Kongcu.
Dengan senyumnya yang centil, dengan wajahnya yang riang, dengan kelemah lembutan Siao
Kongcu menyambut kedatangan Siauw Cap-it-long.
Siao Kongcu bersandar pada sebuah pohon Siong besar, dengan cara2 itu dia seperti sudah
tahu akan kehadiran Siauw Cap-it-long, menantikannya dengan sabar.
“Sudah kuduga akan kedatanganmu. Setiap orang yang pernah memasuki istana boneka, tidak
wajib keluar pula, dia akan terus-menerus di tempat ini.”
Wajah Siauw Cap-it-long membeku, sikapnya sangat dingin, tanpa perasaan, dengan wajah
yang pucat pasi, dia bertanya, “Di mana dia?”
“Siapa?”
“Sim Pek Kun,” jawab Siauw Cap-it-long ketus.
“Ouw…,” Siao Kongcu Ling Ling menarik suaranya panjang2. “Nyonya Lian Seng Pek yang
kau maksudkan?”
Masih tidak terjadi perobahan di wajah Siauw Cap-it-long, dia berkata tetap, “Ya!”
Siao Kongcu tertawa manis, dia berkata, “Kedatangannya lebih cepat dari kedatanganmu,
kukira dia sudah tidur.”

Siauw Cap-it-long mendelikkan matanya, istilah kata2 tidur itu sangat menyakiti,
mengandung aneka macam arti. Matanya memerah seperti hendak meletus.
Siao Kongcu tidak berani menatap pandangan mata yang seperti itu, memutarkan biji matanya
dia berkata, “Mau kuantarkan?”
“Ya!” jawab Siauw Cap-it-long.
Siao Kongcu Ling Ling tertawa cekikikan, ia berkata, “Kau meminta bantuanku, apa jasa
imbal balik yang kau berikan sebagai tanda terima kasihmu?”
“Kau mau apa?” bertanya Siauw Cap-it-long.
Lagi2 Siao Kongcu tertawa, tertawa genit, seluruh tubuhnya ber-goyang2, ia berkata,
“Berlututlah di depanku. Menyembah kepadaku, maka akan kuajak segera.”
Tanpa mengucapkan ba atau bu, Siauw Cap-it-long segera menjatuhkan dirinya berlutut di
depan Siao Kongcu.
Betul2 dia menyembah!
Di dalam keadaan dan saat yang seperti ini, tidak ada sesuatu yang diharapkan olehnya.
Siao Kongcu menggandeng Siauw Cap-it-long memasuki istana boneka.
Di tempat gardu pemandangan, kedua orang tua itu masih bermain catur.
Kakek berbaju coklat dan kakek berbaju hijau itu menyambung pula permainan mereka,
munculnya Siauw Cap-it-long tidak menarik perhatian, se-olah2 tidak ada sesuatu yang bisa
menarik perhatian mereka kecuali bermain catur.
Dibiarkan saja Siao Kongcu dan Siauw Cap-it-long lewat.
Di dalam sebuah kamar yang sepi dan sunyi.
Raja gila boneka Thian Kongcu Siao Yao Hoo terbaring pada tempat tidurnya yang seperti
tempat tidur raja, sepasang matanya yang liar dan jalang memandang ke arah depan,
memandang tanpa berkesiap.
Di sana duduk seorang wanita, sangat cantik. Inilah ratu rimba persilatan Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun duduk di depan raja gila boneka dengan maksud bisa menggunakan kesempatan
membunuh orang itu.
Dipandang terus menerus, bulu tengkuk Sim Pek Kun menjadi merinding bangun. Ia seperti
mendapatkan dirinya berada di depan orang dalam keadaan telanjang bulat, dipandang dan
dicemoohkan seperti itu.
Ingin sekali Sim Pek Kun bisa mengorek biji mata raja gila boneka itu, sayang ilmu
kepandaiannya terlalu lemah.
Beberapa saat berlalu, raja gila boneka Thian Kongcu berkata, “Bagaimana putusannya?”
Sim Pek Kun menyedot nafasnya dalam2, menggigit bibirnya, dia menggelengkan kepala,
menolak permintaan raja gila boneka.
Raja gila boneka Thian Kongcu tertawa, ia berkata, “Lebih baik kau menurut, karena tidak

ada lain jalan, kecuali mengikuti petunjuk yang kuberikan. Cepat atau lambat saat itu pasti
datang. Lebih baik kau bukalah sendiri, maka kau bisa mendapat penghargaanku, itu waktu
baru ada kesempatan.”
Sekujur badan Sim Pek Kun gemetaran.
Raja gila boneka Thian Kongcu Siao Yao Hoo berkata lagi, “Aku tahu kau datang dengan
maksud membunuh diriku. Kalau kau tidak berani dekat, harapan dari mana? Maka…
berusahalah dekat. Seperti kau tahu, aku tidak suka wanita yang berada di sebelah sisi dengan
pakaian lengkap.”
Sim Pek Kun mengertek gigi, dengan gemetaran dia berkata, “Kalau kau sudah tahu bahwa
aku ingin membunuhmu, hilanglah sudah kesempatanku.”
Tertawa raja boneka semakin genit, dengan menyipitkan matanya dia berkata, “Kau jangan
lupa, aku juga seorang laki2, kalau seorang laki2 sudah lupa daratan, maka wanita itu lebih
mudah menggunakan kesempatan…”
Berhenti beberapa saat, Siao Yao Hoo berkata pula, “Pokok persoalannya, bisakah kau
membuat aku lupa daratan?”
Tubuh Sim Pek Kun semakin tergetar, goyangnya semakin keras.
“Aaaa… kau bukan manusia,” ia memaki.
“Hua…ha….” Siao Yao Hoo tertawa.
“Bila aku menyebut diriku sebagai manusia? Membunuh seorang manusia sangat mudah.
Membunuh aku… hei, hei… harus menggunakan sedikit pengorbanan.”
Sim Pek Kun mendelikkan mata geregetan sekali, mau saja ia menelan hidup2 orang yang
berada di depannya itu. Iblis keparat, hantu perempuan, manusia yang menganggap dirinya
setengah dewa.
Akhirnya Sim Pek Kun mengambil putusan, per-lahan2 bangkit dari tempat duduk,
mengerahkan tenaga menyobek baju.
Sim Pek Kun membuka pakaiannya dengan gerakan yang lambat, karena tangan itu sudah
menjadi gemetaran, tidak henti2nya bergoyang.
Baju luar sang ratu sudah tercopot, sebagian besar dari isi daging itu terbelalak di depan mata.
Mata raja gila boneka Siao Yao Hoo memperlihatkan kepuasan, ia tersenyum dan berkata,
“Masih putih! Bagus! Betul2 tidak mengecewakan. Kalau suatu hari terjadi aku mati di bawah
tanganmu, matipun secara tidak penasaran.”
Sim Pek Kun menggigit bibirnya keras2, dari sana mengalir sedikit darah.
Darah di bibir meleleh turun, membasahi dadanya, membuat satu pemandangan yang kontras
antara cairan merah dengan kulit serta badannya yang putih mulus.
Sim Pek Kun dipaksa membuka pakaian, untuk memuaskan nafsu raja gila boneka Siao Yao
Hoo.
Maka pakaiannya terbuka, perutnya terbuka dan kakinya pun terbuka, semua terpentang di
depan mata.

Tiba2, pintu kamar Siao Yao Hoo ditendang orang.
Jeblak…
Siauw Cap-it-long kini berdiri di depan pintu.
Dada Siauw Cap-it-long dirasakan seperti mau meledak, seluruh badannya gemetar menahan
kemarahannya yang bergolak di saat itu.
Seluruh tubuh Sim Pek Kun terasa dingin dan beku, dia berdiri mematung, sinar matanya
hampa, tiada bercahaya, wajahnya pucat sekali. Ingatan Sim Pek Kun per-lahan2 hilang dan
tubuhnya jatuh menggeletak di lantai.
Hadirnya Siauw Cap-it-long di tempat itu tidak mengejutkan Siao Yao Hoo, dia menghela
nafas dan bergumam,
“Mengganggu kesenangan orang adalah perbuatan yang tidak baik, umurmu akan mendapat
potongan tidak bisa panjang, tahu?”
Siauw Cap-it-long menggenggam kedua kepalannya, dia berkata, “Kalau aku mati, kaupun
harus turut serta.”
“Ouw…?” Siao Yao Hoo memandang Siauw Cap-it-long, “Kau menantang?”
“Ya!” berkata Siauw Cap-it-long.
“Banyak cara untuk menemukan jalan kematian,” berkata raja gila boneka Siao Yao Hoo.
“Mengapa kau harus memilih cara yang seperti ini? Cara yang kurang pandai.”
“Hayo!” berkata Siauw Cap-it-long, “Mari kita mengukur kekuatan.”
“Ha…ha…ha…,” raja gila boneka tertawa.
“Apa yang kau tertawakan!” bentak Siauw Cap-it-long.
“Aku mentertawakan seorang yang tidak tahu diri.”
“Kau yang tidak tahu diri. Keluar!” bentak Siauw Cap-it-long. “Jangan kita berada di tempat ini.”
Siao Yao Hoo masih berbaring di tempat tidurnya, dia meremehkan ilmu silat jago ternama
seperti Siauw Cap-it-long, dia memperhatikan beberapa saat lalu tertawa.
“Ha..ha..,” katanya. “Di dalam dunia belum pernah ada orang yang berani menantang diriku,
kecuali… kau!... Baiklah, akan kukecualikan, kepada seseorang yang sudah berada di ujung
maut, aku akan memberi pelajaran se-baik2nya.”
Tubuh raja gila boneka Siao Yao Hoo yang sedang terbaring itu tiba2 melambung ke atas,
terbang meluncur bagaikan seekor ayam keluar dari kamarnya.
Dengan mendemonstrasikan ilmu silatnya ini, cukup membuat jago silat manapun pecah nyali.
Kecuali bagi Siauw Cap-it-long!
Siauw Cap-it-long tidak berhasil digentarkan, tekadnya untuk menempur Siao Yao Hoo sudah
begitu hebat.

Seseorang yang hendak mengadu jiwa, tentu menganggap kecil apa arti jiwa itu.
Sesudah Siao Yao Hoo keluar meninggalkan kamar itu, Siauw Cap-it-long mendekati Sim
Pek Kun, mengambil lembaran baju menutupi bagian2 yang penting.
Diperhatikannya ratu itu dengan penuh penderitaan.
Hati Siauw Cap-it-long berteriak, “Mengapa? Mengapa kau harus melakukan hal seperti ini?”
Per-lahan2 Sim Pek Kun sudah membuka matanya, dia sudah siuman.
Kedua pasang mata beradu, kemudian masing2 tergetar, dan cepat2 beralih ke lain tempat.
Dengan nada perlahan, Siauw Cap-it-long berkata, “Sudah waktunya kau pulang. Lian Seng
Pek masih menunggu kehadiranmu.”
Sim Pek Kun mengatupkan mata, dari sana mengalir butiran2 bening, air matanya mengalir dengan deras.
Dengan tenang Siauw Cap-it-long berkata, “Jangan hanya memikir penderitaanmu saja,
pikirlah, bukan kau seorang yang menderita, semua orang juga akan merasakan derita. Kita
semua orang yang hidup di dalam dunia ini juga telah ditakdirkan di suatu waktu akan
menderita dalam hidupnya.”
Sim Pek Kun masih terus menangis dengan sedihnya.
Siauw Cap-it-long kemudian berkata pula, “Pikirlah betapa hebat penderitaan suamimu itu,
Lian Seng Pek juga menderita.”
Baru sekarang Sim Pek Kun membuka suara, “Aku tahu. Tapi kecuali penderitaanku ini, tidak
ada penderitaan yang lebih hebat lagi.”
“Inilah pikiranmu,” berkata Siauw Cap-it-long. “Pikiran yang salah.”
Sim Pek Kun memperhatikan wajah si jago berandalan, di dalam keadaan terbaring dia
bertanya, “Kau…?”
Siauw Cap-it-long hanya mengangguk, “Urusan di sini boleh kau serahkan kepadaku! Lekas
pulang! Lian Seng Pek sedang menanti kehadiranmu.”
“Oh…”
Siauw Cap-it-long berusaha menekan segala gejolak hatinya, agaknya menghadapi wanita
dalam keadaan yang begitu menggiurkan, yang begitu menegangkan, hampir saja ia tidak kuat
menahan hatinya. Pertahanannya itu mulai gugur, hampir ia mengambil langkah yang sesat….
Saat itu ingin sekali Siauw Cap-it-long merangkul tubuh perempuan itu, memeluki dan mengecupnya.
Tapi inilah perbuatan yang terlarang.
Mereka sudah waktunya mengambil selamat berpisah. Atau dua2nya menjadi korban
keganasan Siao Yao Hoo.
Siapa yang harus berkorban?
Sim Pek Kun menyerahkan diri? Atau Siauw Cap-it-long yang mengadu jiwa?

Tiba2…
Di saat ini menerjang masuk sesuatu bayangan, itulah Hong Sie Nio!
Keadaan Hong Sie Nio juga tidak kalah tegangnya, dia berteriak, “Sudah kuduga kalian pasti
berada di tempat ini, huh! Kau kira aku betul2 sudah mabuk?”
Siauw Cap-it-long kaget, sadar dari hayalan yang bukan2, cepat ia memandang Hong Sie Nio
dan berseru, “Hei, bagaimana kau bisa datang ke tempat ini?”
Pertanyaan ini tidak perlu dijawab, karena Siauw Cap-it-long bisa melihat adanya bayangan
Siao Kongcu Ling Ling yang tertawa mengikik di balik pintu.
Kedatangan Hong Sie Nio tentu saja atas petunjuk dari Siao Kongcu Ling Ling ini.
Semua rencana2 sudah terpaparkan sudah diatur oleh siasat Siao Kongcu Ling Ling!
Siauw Cap-it-long masih memandang Hong Sie Nio, ia bertanya, “Kau tinggalkan dia?
Bagaimana keadaannya? Lian Seng Pek telah kau tinggalkan dalam keadaan mabok?”
Hong Sie Nio menjawab, “Keadaannya aman, jauh lebih aman dari keadaanmu. Ia sudah
kupernahkan dengan baik. Tapi… mengapa kau harus mengadu jiwa?”
Siauw Cap-it-long tidak mau menjawab pertanyaan itu, menoleh kepada Sim Pek Kun dan
Hong Sie Nio bergantian, terakhir ia berkata, “Baiklah, kau sudah datang. Bawalah pulang.”
Dia memberi perintah kepada Hong Sie Nio untuk mengajak Sim Pek Kun kembali dengan
maksud menyerahkan Sim Pek Kun kepada suaminya yang berhak.
Siauw Cap-it-long hendak mengadu jiwa dengan raja gila boneka Thian Kongcu Siao Yao Hoo.
Itulah pertarungan yang mengandung maut, sembilan puluh sembilan persen Siauw Cap-itlong
tidak mempunyai harapan hidup.
Siauw Cap-it-long bisa maklum keadaan ini.
Hong Sie Nio juga bisa maklum akan keadaan itu, matanya bendul merah, ia berkata, “Biar
aku yang mengawanimu ber-sama2 menempurnya.”
Siauw Cap-it-long menggelengkan kepala, berkata, “Jangan!”
“Mengapa?” bertanya Hong Sie Nio.
“Seumur hidupku kukira kau lebih mengenal watakku. Tapi apa yang kau perlihatkan di saat
ini sungguh mengecewakan diriku.”
“Aku bisa menyelami isi hatimu,” berkata Hong Sie Nio.
“Betul? Kalau begitu, bawalah Sim Pek Kun pergi.”
Hong Sie Nio menatapnya lama2 sekali. Akhirnya dia mengeluarkan nafas sedih, dengan terharu berkata,
“Mengapa kau tidak memberi dua jalan kepada orang yang berada di dekatmu?”
Siauw Cap-it-long memandang jauh ke pintu, ke arah lenyapnya Siao Yao Hoo, kemudian
berkata, “Karena jalan yang berada di depanku pun hanya satu jalan.”
Itulah jalan kematian!

Jalan kematian.
Hanya satu jalan yang terbentang di depan Siauw Cap-it-long, itulah jalan kematian.
Bedanya, kematian Siauw Cap-it-long satu orang, atau kematian Siauw Cap-it-long bersamasama
si raja gila boneka, dua atau satu orang?
Tanpa menunggu bagaimana Hong Sie Nio membenarkan pakaian Sim Pek Kun, tubuh Siauw
Cap-it-long sudah mencelat lenyap meninggalkan ruangan itu.
Sim Pek Kun cepat berpakaian, ia hendak menerjang keluar. Tapi keburu dicegah oleh Hong
Sie Nio, Hong Sie Nio merangkul si ratu rimba persilatan itu.
“Lepaskan aku!” berkata Sim Pek Kun.
Hong Sie Nio tidak mau melepaskan rangkulannya, ia berkata:
“Kalau Siauw Cap-it-long melakukan sesuatu, tidak seorangpun yang bisa mencegahnya.
Atau … ia bisa melakukan sesuatu yang lebih gila.”
Suara ini dicemaskan oleh Hong Sie Nio tapi dicetuskan juga oleh hati Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun bisa menyelami bagaimana prestasi2 Siauw Cap-it-long.
Air mata Sim Pek Kun sudah menjadi kering, tidak ada yang bisa ditumpahkan lagi. Disaat
ini, tiba-tiba terdengar satu suara cekikikan, itulah suara Siao-kongcu Ling Ling.
Ling Ling berkata:
“Ohoo … kok menangis? Begitu sedih? Akupun hampir dipaksa menumpahkan air mata. Hei,
jangan kolokan, jangan manja, karena kau akan mati juga.”
Ling Ling mendekati Sim Pek Kun.
Rasa benci Ling Ling kepada Sim Pek Kun begitu mendalam, hanya karena gara-gara Sim
Pek Kun inilah ia tidak berhasil mendapatkan Siauw Cap-it-long.
Hong Sie Nio menghadang didepan satu ratu rimba persilatan, menghadapi Ling Ling, ia
membentak:
“Berani kau mengganggu?”
Kecuali Siauw Cap-it-long, hanya Hong Sie Nio yang bisa menandingi ilmu silat Siauwkongcu.
Ling Ling tertawa manis, ia berkata:
“Mengapa tidak? Aku hendak membunuhnya.”
“Perempuan centil,” bentak Hong Sie Nio. “Betul-betul kau sangat cantik. Akupun tertarik.
Tapi kekejaman hatimu cukup membuat orang bergidik. Didepan orang lain, bisa saja kau
berbuat sesuatu, tapi didepan aku Hong Sie Nio … hm …”
Siao-kongcu mendelikkan matanya, seperti terkejut, ia mengejek:
“Ouw?”

“Pergi!” Hong Sie Nio membentak.
“Kau melarang aku membunuh Sim Pek Kun?”
“Aku melarang kau membunuh Sim Pek Kun.”
“Ouw! Mau bertanding silat?”
“Boleh saja!” kata Hong Sie Nio.
“Kau berani?”
Wajah Hong Sie Nio berubah.
“Mengapa tidak?”
“Ilmu menakut-nakutimu juga hebat. Sayang tidak bisa digunakan untuk menghadapi aku.
Mungkin, kau tidak sadar, sebelum kau memasuki keruangan ini, pada tanganmu itu sudah
kuberikan sesuatu.”
Wajah Hong Sie Nio semakin berubah, ia mengangkat tangannya, wajah itu menjadi pucatpasi.
Pada bagian tangan yang mulus telah matang biru, membengkak, ternyata Siao-kongcu Ling
Ling telah meracuninya.
“Tadi disaat aku menuntun tanganmu memasuki ruangan ini, kau tiada sadar sama sekali,
karena saat itu hatimu sedang dicurahkan kepada Siauw Cap-it-long.”
Hong Sie Nio tidak berdaya, kini ia sulit menghadapi Ling Ling.
Ling Ling ketawa manis, dan berkata lagi:
“Baru sekarang aku tahu, orang yang jatuh cinta kepadanya tidak sedikit. Tapi tidak apa,
kalian berdua segera mati, mati membela lelaki.”
Wanita berandalan Hong Sie Nio bisa menguasi keadaan itu, kini dia memperlihatkan
senyumnya, dia berkata:
“Perempuan centil, tidak sedikit permainan yang kau miliki …”
Seiring kata-katanya, Hong Sie Nio menerjang Ling Ling.
Untuk rimba persilatan dimasa itu, semua orang takut pada Siauw Cap-it-long dan Hong Sie Nio.
Karena kecepatan Hong Sie Nio lebih hebat dari kecepatan Siauw Cap-it-long, gerakannya
lebih cepat, lebih kejam, kadang kala ia bisa tertawa waktu membunuh orang, inilah yang
sering menjebloskan dan menjerumuskan lawannya.
Hanya Ling Ling yang bisa mengerti akan sikap Hong Sie Nio tadi, karena ia juga memiliki
kekejaman yang sama, maka gerakan Hong Sie Nio itupun dibarengi pula oleh gerakan
tangannya memapaki serangan dari Hong Sie Nio, mereka bertempur.
Seharusnya pertandingan itu adalah pertandingan yang menarik, luar biasa serunya.

Tapi kenyataan tidak, karena didalam sekejap mata, Hong Sie Nio sudah dikalahkan oleh Ling
Ling.
Kiranya racun yang bersarang didalam tangannya membuat jago wanita berandalan itu tidak
berdaya.
Pertempuran sudah selesai untuk kemenangan Ling Ling.
Membiarkan Hong Sie Nio terkapar, Ling Ling mendekati Sim Pek Kun, hanya menoleh
sebentar, ia berkata:
“Aku tidak perlu turun tangan membunuh dirimu, kau sudah terlalu tua.”
Ditatapnya Sim Pek Kun, dan ia berkata:
“Tapi kau lain, kau lebih cantik dari diriku, kau lebih menarik dari aku, bagaimana aku bisa
membiarkan kau hidup menjadi satru?”
Hati Sim Pek Kun sudah menjadi beku, apapun yang terjadi tidak dihiraukan lagi olehnya.
Siao-kongcu Ling Ling berkata dengan suara yang merdu:
“Siauw Cap-it-long sudah berada diambang pintu maut, tidak lama lagi dia akan menuju jalan
keneraka. Dia tidak mempunyai waktu terluang untuk menolong dirimu. Kau … kau bukan
lawanku … kau harus menyerah. Menyerahlah.”
Sim Pek Kun sdauh pasrah, tidak membantah, dan juga tidak memberikan reaksi.
Siao-kongcu Ling Ling mengedip-ngedipkan matanya, ia berkata:
“Ouw? Masih mengharapkan datangnya bantuan? … oh … tentu kucingmu yang tidur pulas
itu? Dia sudah jatuh mabuk, sebelum meninggalkan dunia ini, apa kau hendak bertemu
dengannya?”
Lian Seng Pek dianggap sebagai seekor kucing? Gila!
Ling Ling bertepuk tangan, maka dari pintu tampak dua gadis pelayan, mereka memayang
seseorang, itulah Lian Seng Pek!
Lian Seng Pek juga sudah diculik!
Lian Seng Pek berada didalam keadaan mabuk, rangsangan bau arak membuat kedua gadis
pelayan yang memayangnya menutup hidung, hadirnya Lian Seng Pek ditempat itu sangat
mengejutkan Sim Pek Kun. Belum pernah Sim Pek Kun melihat Lian Seng Pek bermabukmabukan
seperti itu, apa lagi sampai tak sadarkan diri.
Inilah karena penderitaannya yang luar biasa, karena rasa cintanya kepada Sim Pek Kun.
Sim Pek Kun bersedih hati, hanya karena dia seorang, telah membawa ekor yang sangat
panjang.
Ling Ling mendekati Lian Seng Pek, wanita ini sangat kejam, karena Lian Seng Pek sudah
berada didalam keadaan mabuk.
Ia tidak puas. Ditepuknya pundak Lian Seng Pek, ia berkata:
“Hei! Bangun! Aku mau membunuh nyonyamu. Aku tahu, kau sangat bersedih, kau harus

bisa turut menyaksikan bagaimana akhirnya kematian nyonyamu ini.”
Tiba-tiba Lian Seng Pek membungkukkan badan dan ia muntah-muntah membuat seluruh
ruangan itu menjadi bau.
Kedua gadis pelayan yang memayang Lian Seng Pek semakin membekuk hidung.
Ling Ling mengkerutkan alis, dengan dingin ia berkata:
“Kau juga hendak cari kematian, tapi …”
Tiba-tiba pedang berkilat …
Sebuah pisau panjang nancap diulu hati Siao-kongcu Ling Ling.
Terjadinya tragedi itu membuat Hong Sie Nio tertegun.
Baru sekarang, ia bisa teringat akan si pedang kilat, Liang Seng Pek adalah ahliwaris Pedang
Kilat Hong-lay Sian-ong.
Ternyata Lian Seng Pek sudah menggunakan ilmu permainan pedang kilatnya , menusukkan
senjatanya kedada Ling Ling.
Belum pernah orang melihat bagaimana Lian Seng Pek menggunakan pedang kilatnya, ada
juga yang sudah pernah, kalau orang itu terkena tusukannya dan mati.
Waktu melatih ilmu permainan pedang ini, Lian Seng Pek sudah puluhan tahun.
Didalam keadaan tidurpun, Lian Seng Pek bisa mempergunakannya.
Tapi belum pernah Lian Seng Pek mempermainkan ilmu pedang kilat, karena namanya
tersohor, karena ilmu silatnya sudah cukup tinggi.
Hanya kesempatan untuk menghadapi Ling Ling!
Ling Ling sudah jatuh menggeletak, matanya terpelotot lebar2, ia seperti tidak percaya, kalau
ada kejadian yang seperti ini.
Belum pernah terbayang dalam alam pikiran Ling Ling, ada begitu cepat kematiannya? Tiba2
tampak senyuman dikulum pada bibir Ling Ling, memandang kearah Lian Seng Pek, dan dia
berkata ramah:
“Oh! Terima kasih, terima kasih kepada tusukan pedangmu. Ternyata menghadapi kematian
adalah kejadian yang begitu mudah. Kalau begitu, mengapa harus bersusah payah, bersusah
payah hidup sengsara didalam dunia....”
Napas Ling Ling sengal2, memandang ke arah Hong Sie Nio dan berkata perlahan:
“Obat penawar racun berada didalam kantong bajuku, kalau kau masih mau hidup terus,
ambillah, tapi kuanjurkan, lebih baik jangan kau hidup, keadaan dialam baka lebih enak dari
pada hidup sengsara....”
Tubuh Ling Ling tergelepar, ia menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Sesudah berhasil membunuh Ling Ling, tubuh Lian Seng Pek juga roboh kembali.
Sim Pek Kun selesai berpakaian, ia membangunkan Lian Seng Pek.

Entah sengaja atau tidak sengaja, Lian Seng Pek belum bisa disadarkan.
Mungkin pula masih dalam keadaan mabok? Mungkin pula sulit meneruskan situasi yang
seperti itu.
Dengan dibantu oleh Hong Sie Nio dan Sim Pek Kun, Lian Seng Pek dibangunkan kembali.
Bertiga menuju dan meninggalkan ruangan itu.
Ada jalan yang lurus kedepan.
Seorang kakek berbaju coklat dan seorang kakek berbaju hijau berendeng didepan jalan itu,
dua pasang mata mereka ditatapkan jauh keujung jalan tersebut. Hati mereka begitu berat.
mereka tidak sadar kalau tiga insan sedang mendatangi kearahnya.
Sim Pek Kun dan Hong Sie Nio sedang memayang Lian Seng Pek.
Mereka tiba dibelakang dua orang tua tukang maen catur itu.
Lian Seng Pek masih juga belum sadarkan diri.
Sim Pek Kun menundukkan kepala, ia tidak berani membentur kenyataan.
Hong Sie Nio mendekati kedua kakek itu dan bertanya:
“Mereka berada disana?”
Orang tua berbaju merah berkata:
“Ng....”
Hong Sie Nio bertanya:
“Kalian menunggu kembalinya?”
Orang tua berbaju hijau berkata:
“Ng....”
Hong Sie Nio menghembuskan napasnya dalam2, seolah2 hendak mengusir keluar hawa
lembab itu, ia bertanya:
“Menurut perkiraan kalian, siapa yang bisa balik kembali?”
Pertanyaan ini seharusnya tidak berani diajukan, karena jawabannya lebih seram.
Tapi tiada jalan kedua, dan kini ia telah mengeluarkan perasaan dalam hatinya itu.
Orang tua berbaju merah ragu2 sebentar, akhirnya ia berkata perlahan:
“Yang sudah mati tipis sekali kemungkinannya dia bisa balik.”
Hati Hong Sie Nio seperti terbang, tenggelam kedasar laut.
Siapa yang diartikan oleh orang tua itu. Apakah Siauw Tjap-it-long? Siauw Tjap-it-long sulit

bisa hidup kembali? Ya!
Orang tua berbaju hijau berkata:
“Mungkin juga kedua2 tidak balik kembali.”
Orang tua berbaju coklat menganggukkan kepala dan berkat.
“Kuharap saja seperti itu.”
Tiba2 Hong Sie Nio berteriak, dia mengajukan protes.
“Huh! Kalian kira bukan tandingan Siao Yao Hoo! Salah! Mungkin juga ilmu kepandaiannya
tidak bisa menandingi Siao Yao Hoo tapi dia mempunyai itu keberanian, dia mempunyai itu
semangat, banyak orang tidak bisa mengalahkannya, dengan kelemahannya, dia bisa
menangkan yang kuat, karena dengan kemampuan dan kemauan itu. Dan ambisi yang besar.”
Orang tua berbaju coklat dan orang tua berbaju hijau menoleh Hong Sie Nio, memandang
dengan putih mata, sesudah itu, lagi-lagi mereka menunjukkan pandangan kearah jauh
didepan. Hati semua orang menjadi seperti beku.
Hong Sie Nio masih hendak meneruskan pembicaraannya, tapi tenggorokannya sudah
tersumbat.
Sim Pek Kun bergumam: “Tidak mungkin dia bisa balik kembali...”
Orang tua berbaju coklat berkata:
“Ya, Tidak mungkin dia bisa balik kembali.”
Orang tuaberbaju hijau berkata:
“Kuharap saja, kedua2nya tidak balik kembali.”
Hari menjadi pagi.....
Mereka masih menunggu.
Matahari bergeser ketengah, mereka masih menunggu.
Akhirnya matahari tenggelam siangpun berganti malam.
Siauw Tjap-it-long tetap tak kembali.
Raja gila boneka Thian kongcu Siao Yao Hoo juga tidak kembali.
Habislah harapan semua orang itu. Sebab orang yang mereka nantikan sudah tentu tidak akan
kembali untuk selama2nya.
Sampai disini akhirnya cerita.
TAMAT
Anda sedang membaca artikel tentang Anak Berandalan 2 dan anda bisa menemukan artikel Anak Berandalan 2 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/anak-berandalan-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Anak Berandalan 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Anak Berandalan 2 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Anak Berandalan 2 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/anak-berandalan-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar