Cerita Dewasa Anak SMP : Bila Pedang Berbunga Dendam 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Kamis, 08 November 2012

Description: Cerita Dewasa Anak SMP : Bila Pedang Berbunga Dendam 1 Rating: 4.5 Reviewer: Cerita Silat - ItemReviewed: Cerita Dewasa Anak SMP : Bila Pedang Berbunga Dendam 1Cerita Dewasa Anak SMP : Bila Pedang Berbunga Dendam 1 adalah seri pertama dari cerita silat Cerita Dewasa Anak SMP : Bila Pedang Berbunga Dendam 1. Kenapa harus ada embel2nya cerita dewasa anak smp itu mah hanya mau melestarikan keyword negatif isi nggak negatif. hihih . Dah gitu ja intronya, kini bagi yang suka cersil karya gan kl kalo nggak salah disimak saja ceritanya yang diambil dari internet tepatnya ndownload dari kangzusi.com

Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 1 Karya : -- Diceritakan oleh SD Liong Di upload di http://ecersildejavu.wordpress.com/ (lavilla) Edit & Convert by : Hansgranting Ebook by Dewi KZ http://kangzusi.com/ atau http://dewi.0fees.net/ JILID I. Musim salju di telaga Se-ou memang indah mempesona. Bagaikan bidadari sedang bersolek. Tetapi bagaimanapun juga, dalam hawa yang sedingin itu, jarang sekali orang berkeliaran di jalan besar. Salju turun bertebaran, jalan tetutup warna putih. Hening sepi. Hanya dibawah pohon Hu tua, masih terdapat beberapa anak yang tengah bergembira ria bermainmain. Membentuk boneka dan orang-orangan dari salju. Ada yang saling timpuk-menimpuk seperti orang berperang. Gelak tawa membahana riuh rendah. Diantara delapan anak. yang tengah bermain membuat orang-orangan salju itu tiba-tiba mereka berhenti dan memandang ke muka. Dan diujung jalan yang jauh, tampak sebuah tandu yang dipikul empat orang lelaki berjalan seperti terbang cepatnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 2 Tandu Itu bagus sekali buatannya. Keempat dindingnya terbuat dari kaca jendela sehingga yang duduk dalam tandu itu dapat melihat pemandangan diluar. Tetapi ternyata yang duduk dalam tandu itu bukan seorang hartawan atau orang berpangkat yang pada umumnya memang mempunyai tandu yang mewah. Melainkan hanya seorang anak perempuan berumur 14 an tahun. Seorang dara remaja. Dara itu sebaya dengan anak-anak perempuan yang sedang bermain-main salju. Hanya bedanya kalau anak-anak yang bermain salju itu wajahnya berlumuran salju dan pakaiannya hanya dari kain kasar. Adalah dara dalam tandu itu berwajah putih seperti batu pualam, mengenakan pakaian tebal dan topi dari bulu rase yang mahal harganya. Berada dalam tandu, dara itu tak henti-hentinya memandang keluar. Dibelakang tandu, diiring oleh seekor kuda tegar. Penunggangnya seorang lelaki setengah tua yang mengenakan mantel warna hijau gelap. Penunggang kuda itu memiliki alis lebat, sepasang biji mata besar dan wajah yang gagah. Dia mencongklangkan kudanya pelahan-lahan mengiring dibelakang tandu. Waktu tandu tiba ditempat anak-anak ber main, beberapa anak yang bermain itu mengunjukkan sikap macam-macam. Ada yang menyengir, ada yang sengaja melototkan mata, merentang mulut lebar- 1ebar seperti setan. Sudah tentu dara yang berada dalam tandu itu tertawa geli. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 3 Sekonyong-konyong ada seorang anak perempuan berteriak keras dan maju selangkah. Dengan mengangkat segumpal salju yang besar, dia lalu melontarkan kearah tandu. Peristiwa itu terjadi secara tak terduga-duga dan cepat sekali sehingga keempat pemikul tandu yang tangkas juga tak dapat berbuat apa-apa karena terlongong-longong. Bum ……! Gumpalan salju sebesar bola Itu dengan cepat menghantam tandu. Sebenarnya dara yang di dalam tandu tidak kena apa-apa, tetapi entah bagaimana tiba-tiba ia menangis keras. Melibat itu sekalian anak-anak yang sedang bermain-main itu tertawa dan bertepuk tangan kegirangan. Terutama anak perempuan yang melontar salju tadi, bukan kepalang senangnya. Keempat lelaki pemikul tandu berhenti me1etakkan tandu dan salah seorang segera melesat maju kebelakang anak perempuan tadi, mengulurkan tangan terus mencengkeram bahu anak perempuan dan diangkatnya. “Budak setan, barang kali engkau sudah bosan hidup, ya?” bentaknya bengis. Wajah anak perempuan itu pucat seketika. Tetapi dia tak menangis, malah dengan mata melotot memandang lelaki Itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 4 Sudah tentu lelaki itu marah dan mengangkat tangan hendak menampar anak perempuan Itu. Tetapi tiba-tiba siku lengannya terasa mengencang keras sekali. Dia tertegun dan memandang kearah siku lengannya, hahhhhh……. seketika semangatnya seperti terbang. Ternyata sikunya telah dililit oleh seekor ular yang sebesar Jari tangan. Umumnya pada musim salju, bangsa ular tentu bersembunyi dalam lubang. Tetapi ternyata ular yang melilit sikunya itu tampak tangkas dan gesit sekali gerakannya. Pemikul tandu pucat seketika dan membuka mulut hendak berteriak tetapi ah, ah….. tidak dapat bersuara. Dan tepat pada saat itu, dari sebatang pohon yang penuh berlumuran salju, melayang turun seorang wanita. Rambutnya terurai kacau dan wajahnya menyeramkan. “Ma!“ serentak anak perempuan Itu pun berteriak. Keempat pemikul tandu terkejut sekali. lebih-lebih yang siku lengannya dililit ular itu makin menggigil keras. Selekas tegak di tanah. wanita itupun bersuit keras dan ular itupun dengan cepat melepaskan lilitannya dan meluncur pergi. Keempat pemikul tandu yang sudah pecah nyalinya itu gopoh mengangkat tandu dan terus lari ngiprit. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 5 Anak perempuan tadi tertawa gelak-gelak dan mengejek kepada dara yang berada didalam tandu dengan menyeringaikan muka. Tepat pada saat itu tiba-tiba muncul seorang lelaki tua yang berhenti di depan wanita berambut kacau tadi. Tetapi dia tak bilang apa-apa melainkan hanya menuding wanita itu dengan jari yang gemetar. disebabkan bibirnya juga ikut gemetar hendak mengatakan sesuatu tetapi entah bagaimana rasanya kerongkongannya seperti tersumbat sehingga tak dapat mengeluarkan sepatah katapun juga. Anak perempuan tadi mengangkat muka dan memandang orang tua itu dengan gembira. “Jangan bicara dengan mamaku, dia tak mau bicara dengan manusia!” serunya. Orang tua itu menghela napas longgar katanya, “Budak perempuan, in……. ini mamamu? Anak perempuan itu tak senang, serunya, “Kalau bukan mamaku mengapa aku memanggilnya mama!’ Tiba-tiba orang tua itu berjongkok untuk memandang anak perempuan itu. Beberapa saat kemudian lalu berdiri dan memandang kepada wanita aneh yang terurai rambutnya. Daging-daging pada wajahnya tampak berkerunyutan, hatinya kacau tak keruan. Beberapa jenak kemudian, entah kenapa, dari pelapuk mata orang tua Itu mulai bercucuran air mata. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 6 Sebenarnya anak perempuan tadi masih mendongkol. Tetapi ketika melihat orang tua itu mengucurkan air mata, tiba-tiba dia tertawa, “Lotiang, kenapa engkau menangis?” Tampaknya orang tua itu memang berusaha untuk menahan air matanya agar Jangan sampai mengucur keluar. Tetapi sesaat si anak perempuan bertanya, air mata orang tua itu malah tak dapat dibendung lagi, bercucuran makin deras. Dengan jari yang gemetar, dia menunjuk pada wanita yang lehernya berkalung ular, yalah ular yang telah melilit siku lengan pemikul tandu tadi, kemudian dengan suara yang dipaksakan dia berseru, “Moaycu.…..!” Tetapi wanita itu tak menanggapi dan tetap menatap pada orang tua itu. Wajahnya sayu, setitikpun tidak menunjukkan reaksi apa-apa atas seruan Si orang tua yang penuh keharuan itu. Dari sikap dan penampilannya itu, jelas menunjukkan bahwa wanita itu tentu sedang menderita gempa bumi dalam hati sehingga perasaannya hancur dan pikirannya tak waras lagi. Seruan ‘moay-cu’ atau adikku dari orang tua itu penuh dengan nada yang haru dan mesra. Setiap orang yang mendengarnya tentu akan tersentuh perasaannya. Tetapi ternyata yang dihadapi orang tua Itu hanyalah seorang wanita yang sudah kehilangan kesadaran pikirannya dan seorang anak perempuan yang tak tahu apa-apa. Yang masih polos hatinya sehingga malah menertawakan orang tua itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 7 “Hai, pak tua, mengapa engkau ini? Engkau bertanya sendiri lalu menangis. Dan kemudian engkau memanggil mamaku dengan sebutan moay-cu. Mesra sih mesra tetapi apa tidak salah kenal?” Sambil masih bercucuran airmata, orang tua itu gelengkan kepala, “Engkau tak tahu. Dia memang adikku. Bwe-nio, Bwe-nio kecil. Apakah engkau tak kenal aku? Aku adalah toakomu (engkoh yang paling besar)’ Nada orang tua itu makin rawan sehingga anak perempuan itu lak mau menertawakan lagi. Dia hanya terlongong-longong memandang orang tua itu. Setelah mengusap airmata, orang tua itu menunduk dan bertanya kepada si anak perempuan, “Anak perempuan kecil mama orang she Co bukan?” Wajah si anak perempuan yang semula berseri, tampak terkejut seketika, serunya, “Ya, benar mamaku she Co, dan akupun juga she Co.” Anak perempuan itu bicara dengan polos. Bukankah tak salah kalau ia mengatakan bahwa kalau mamanya she Co maka diapun juga she Co. Mendengar kata-kata itu si orang tua makin resah. Kata-kata anak perempuan itu menunjukkan sampai dimana pendidikan yang diterima dari mamanya. Karena mamanya tidak normal pikirannya maka anaknya juga tak genah bicaranya. Masa dia tak tahu siapa she dari papanya dan ikut-ikutan pakai she mamanya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 8 Daging pipi lelaki tua Itu kembali berkerenyutan dan berkata pula, “Dia…. bernama Bwe nio, bukankah begitu?” Anak perempuan itu gelengkan kepala, “Entahlah, aku tak tahu. Selama ini belum pernah aku mendengar orang mengatakan begitu. Biasanya orang-orang menyebutnya…… perempuan gendeng, wanita gila…” Orang tua itu menghela napas, “Benar, memang dia adalah adik perempuanku. Dan engkau adalah anak keponakanku. Siapa namamu?” “Aku bernama Hen Hong tetapi adakalanya mama memanggil aku Siau Bwe.” Kembali orang tua itu mengucurkan air mata, “Siau Bwe, Siau Bwe, benar, tepat sekali. Tetapi mengapa engkau dinamakan Hen Hong? Aneh sekali nama itu!” Walaupun masih kecil tetapi Hen Hong itu berwatak kurang baik. Mendengar kata-kata si orang tua dia terus deliki mata, “Aneh atau tidak aneh, peduli apa engkau? Mama telah memberikan nama begitu, akupun harus memakai nama itu” Orang tua itu menghela napas, “Bagaimana keadaan mamamu itu? Apakah dia tak dapat mendengarkan pembicaraan orang?” Hen Hong gelengkan kepala, “Tidak begitu. Memang kalau orang lain yang bicara, dia sedikitpun tak mendengar. Tetapi, kalau aku yang bicara, dia tentu menjawab dan bertanya Dia hanya mendengar bicaraku saja.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 9 ‘Siau Bwe,” lelaki tua itu gopoh berseru, “kalau begitu lekaslah engkau kasih tahu kepadanya bahwa aku ini adalah engkohnya. Dulu ketika kita berpisah di gunung Tay-liang-san, dia hanya sebesar engkau. Tetapi kuyakin…. dia tentu masih ingat kepadaku.” Berkata sampai disitu kembali suaranya menjadi sember. Hen Hong memandang beberapa jenak kepada lelaki tua itu lain berteriak, “Ma!” Wanita aneh itu berdiri seperti patung. Tetapi begitu mendengar suara Hen Hong, wajahnya segera berobah berseri ramah dan lalu menundukkan tubuh, “Ada apa?” Hen Hong menunjuk pada lelaki tua dan berseru, “Ma, lotiang yang berada didepan kita ini, engkau sudah melihatnya belum?” Rupanya wanita itu baru saat itu tahu kalau di mukanya terdapat orang. Dia mengangkat muka dan memandang kepada lelaki tua, serunya menyahut, “Ya, melihat.” “Bwe Nio, apakah engkau tak kenal aku?” seru orang tua itu. Cukup keras lelaki itu berseru tetapi rupanya wanita aneh tak mendengar. “Ma, lotiang itu mengatakan kalau dia adalah toakomu,” kata Hen Hong pula. Wanita itu menegakkan kepala dan mendengarkan perkataan Hen Hong dengan wajah yang ramah. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 10 Tetapi setelah selesai mendengar, seketika berobahlah wajahnya. Hen Hong terkejut melihat perobahan air muka mamanya. dan tiba-tiba pula wanita itu berteriak keras, “Toako, toako, engkau dimana?” Sambil berteriak, dia memandang ke sekelingnya. Orang tua Itu makin deras air matanya, “Bwe Nio, aku berada di hadapanmu. Engkau tentu tidak menduga, demikianpun aku. Kalau engkau tak berkalung ular, tentu aku takkan dapat mengenalimu. Dalam beberapa tahun ini, engkau apakah….” Sebenarnya dia hendak bertanya kabar keadaan adiknya. Tetapi melihat keadaan wanita itu, dia sudah dapat menarik kesimpulan tak mungkin adik perempuannya itu dalam keadaan yang enak. Maka dia tak melanjutkan kata-katanya lagi. Sambil menangis wanita itu terus lari ke muka dan menubruk bahu si lelaki tua lalu menangis tersedu sedan. Sesaat kedua engkoh adik itu saling berdekapan dalam suasana yang mengharukan sekali. Salju masih bertebaran turun dari langit sehingga kepala dan tubuh kedua saudara itu penuh dengan tebaran salju. Hen Hong, si anak perempuan, hanya memandang dengan lekat kepada mama dan lelaki tua itu. Dia tak mengerti bagaimana kisah keduanya tetapi bagaimanapun dia juga Ikut terharu. Airmatanya pun berlinang-linang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 11 Seekor kuda tegar lari dengan pesat. Gumpal salju yang memenuhi jalan diterjangnya sehingga berhamburan ke empat penjuru. Setelah menyusur jalan yang cukup panjang akhirnya kuda itu berhenti di muka pintu sebuah bangunan gedung yang besar. Pada kedua sisi rumah itu terdapat dua buah patung batu. Pada umumnya di tempat-tempat kediaman pembesar atau orang kaya, di muka rumahnya tentu berhias patung berbentuk singa. Untuk menambah hawa atau perbawa yang empunya rumah. Tetapi patung yang berada di depan pintu gedung itu bukanlah patung singa melainkan patung sepasang rajawali raksasa. Paruhnya runcing kokoh seperti kait, bulunya mengkilap seperti besi. Walaupun terbuat daripada batu, namun ahli yang memahatnya benarbenar jempol sekali sehingga sepasang burung rajawali itu benar-benar seperti hidup yang sewaktuwaktu siap untuk terbang mengangkasa. Sepasang rajawali itu memang dimaksud Untuk menunjukkan identitas atau ciri pribadi dari pemilik rumah. memang sepasang rajawali raksasa itu dalam dunia persilatan juga mempunyai nama besar. Setiap orang persilatan apabila hanya mengingat tali persahabatan dengan pemilik rumah yaitu Thian eng tayhiap atau Pendekar rajawali langit Kwan Pek Hong, tentu sering datang berkunjung untuk menghaturkan selamat. Tetapi apabila orang persilatan itu merasa dirinya telah banyak melakukan kejahatan dalam dunia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 12 persilatan, tentulah mereka tak berani berkunjung dan lebih baik menyingkir Jauh. Nama Thian-eng-tayhiap Kwan Pek Hong dalam dunia persilatan wilayah Kangpak-Kanglam tak seorangpun yang tak kenal kepadanya sebagai seorang pendekar besar, pendekar keadilan dan kebenaran. Dan bukan saja dia dikenal orang sebagal seorang tokoh yang berbudi dan dikagumi orang, pun setiap tokoh persilatan tahu bahwa Ilmu silat Kwan Pek Hong Itu merupakan sebuah aliran tersendiri. Baik ilmu tenaga luar (gwa-kang) maupun lwekang (tenagadalam) telah mencapai tingkat yang tinggi. Hal Itu telah diakui oleh dunia persilatan. Kembali pada kuda tegar tadi begitu tiba di muka pintu, penunggangnya yang berumur pertengahan umur dengan memondong seorang anak perempuan yang berwajah pucat terus loncat turun dari kuda. Dari pintu samping segera keluar dua orang pelayan menyambut kedatangannya dengan hormat, “Siya, ada peristiwa apa?” “Apa suhu ada?” tanya penunggang kuda agak gugup. “Ada,” sahut kedua pelayan, “sedang berada di kebun, menghadapi perapian sambil menikmati bunga bwe. Socia kan hendak keluar melihat-lihat keindahan salju, mengapa cepat-cepat sudah pulang. Pelayan atau budak Itu masih berkata ini-itu tetapi penunggang kuda itu tak menghiraukan. Dia tak mau mengetuk pintu besar tetapi berputar masuk ke pintu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 13 samping. Dibelakang pintu samping Itu terbentang sebuah lapangan yang di tengahnya dibelah oleh sebuah jalan batu marmar. Pada ujung tanah lapang itu terdapat sebuah bangunan gedung besar. Orang itu terus masuk ke dalamnya dan menuju ke kebun belakang. Di kebun belakang terdapat sebuah empang besar, airnya sudah membeku jadi es. Beberapa batang sisa pohon teratai, menyembul keluar dari permukaan es. Kelopak bunga tertutup salju. Di tengah-tengah empang besar itu terdapat sebuah bangunan yang menyerupai sebuah pagoda. Saat itu dari dalam pagoda terdengar suara orang tertawa. Perempuan itu segera melintas permukaan empang, menuju ke pagoda. “Suhu!” serunya sebelum tiba. Jendela pagoda itu tersiak dan terdengarlah suara penyahutan yang bernada serius, “Ada apa, Si Ciau, mengapa engkau kembali?” Orang itu memang bernama Si Ciau. Dia gopoh menyahut, “Suhu telah terjadi peristiwa!” Baru saja dia berkata begitu dari pagoda telah terdengar lengking suara seorang wanita berteriak, “Apa? Terjadi peristiwa? Lalu bagaimana dengan Siau Ling?” Dan menyusul sesosok tubuh telah melesat keluar dari pagoda itu. Cepatnya bukan main. Sepintas seperti seekor burung raksasa yang terbang melayang dan tahu-tahu sudah muncul di muka Si Ciau. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 14 Ternyata dia seorang wanita berumur 40-an tahun, berpakaian indah. Tetapi sayang wajahnya menimbulkan rasa muak pada yang melihatnya. Wajahnya berbentuk muka kuda. Alis sebelah kiri tebal tetapi yang sebelah kanan tipis. Sepasang bibirnya cupet tidak dapat merapat sehingga giginya kelihatan. Hidungnya menjungkat ke atas sehingga kelihatan lubangnya. Sepasang matanya menonjol keluar, menampilkan kebengisan. Melihat wanita itu Si Ciau gopoh mundur selangkah dan berkata, “Siau Ling sumoay tak kurang suatu apa.” Anak perempuan yang ngamplok di dada Si Ciau yang semula pucat ketakutan, saat itu tiba-tiba menangis keras, meronta dan terus lari menubruk si wanita. Wanita itu dengan serta-merta menyambutnya. Sebenarnya anak perempuan itu berumur 8 atau 9 tahun. Tidak seharusnya masih minta di gendong. Tetapi ternyata wanita itu masih membopongnya seperti anak kecil saja. “Jangan takut, Sia Ling, jangan takut. Ada mamah tak usah takut,” kata si wanita seraya mengusap-usap kepala anak perempuan tetapi matanya memandang dengan melotot kepada Si Ciau. Si Ciau sebenarnya seorang lelaki yang gagah. Tetapi dih adapan wanita Itu, dia seperti anjing mengepit ekor, ketakutan setengah mati. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 15 Pada saat itu sesosok tubuh lain juga menyusul melesat keluar dari dalam pagoda. Dia seorang pria berumur 50 an tahun. Dengan mengenakan jubah panjang warna ungu, mukanya tampak merah segar, gagah perkasa. Dia bukan lain adalah Thian-eng-tayhiap Kwan Pek Hong. “Ada apa? Siapa yang berani cari perkara itu, lekas katakan!” serunya. “Suhu, subo,” kata Si Ciau gugup, “apa yang menimbulkan perkara itu, aku sendiri juga tak tahu.” “Engkau kerja apa? Mengapa tak tahu apa-apa?” bentak wanita itu. Ia mengelus-elus kepala dan punggung anak perempuan yang berada dalam bopongannya. Anak perempuan itupun mulai berhenti menangis. Kwan Pek Hong kerutkan alisnya, “Hujin, sudahlah, jangan ribut dulu. Biarkan Si Ciau memberi keterangan dengan jelas.” Hujin adalah sebutan dari seorang suami terhadap isterinya. Dengan begitu wanita itu adalah isteri Kwan Pek Hong. Dan Kwan Pek Hong begitu sabar dan sungkan meminta. Dan memang kata-katanya itu memang nalar. Tetapi sebagal isteri, bukannya saja menerima permintaan sang suami yang nalar, kebalikannya wanita itu malah marah, “Kentut! Aku ribut apa? Anakku dihina orang sampai menangis, apa aku disuruh diam saja?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 16 Hanya wajah Kwan Pek Hong yang menampilkan cahaya kemarahan tetapi mulut tak berani membantah. Dan Si Ciau pun tidak terkejut mendengar pertengkaran mulut suhu dengan isterinya itu. Rupanya dia sudah terbiasa mendengar hal semacam itu terjadi di antara suhu dan isterinya. Setelah wanita itu selesai menumpahkan kemarahan, barulah Kwan Pek Hong berkata lagi, “Baiklah, karena ternyata Siau Leng tak kena apaapa…..“ Maksud Kwan Pek Hong, dia hendak menyuruh muridnya, Si Ciau, untuk memberi keterangan. Tetapi di luar dugaan, lagi-lagi wanita itu mengamuk dan memaki-maki. Terpaksa Kwan Pek Hong tidak melanjutkan katanya. Setelah mengatakan ya, ya, agar isterinya tidak marah-marah terus, dia lalu mengajak Si Ciau supaya ikut dia. Sekali melesat, dia meluncur di atas permukaan empang yang sudah membeku jadi es. Waktu melintas, salju yang dilalui itu sedikitpun tidak ada bekas telapak kakinya. Dengan begitu jeIas, betapa tinggi ilmu gin-kang atau Meringankan tubuh yang dimilikinya. Memang bukan tiada alasannya mengapa dunia persilatan mengagungkan nama Kwan Pek Hong sebagai seorang pendekar besar. Tentu itu dikarenakan Kwan Pek Hong memang memiliki kepandaian hebat yang layak mendapat penghargaan dan rasa kagum dari orang persilatan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 17 Tetapi Si Ciau yang saat itu mengikuti dibelakang suhunya, diam-diam tertawa getir. Dia merasa kecewa tetapi kasihan terhadap suhunya. Di luar orang menyanjungnya sebagai pendekar besar tetapi ternyata didalam rumah dia tak lebih hanya seorang suami yang takut Di hadapan isterinya, Kwan Pek Hong bukanlah seorang pendekar Rajawali langit yang disegani melainkan hanya seekor anak ayam yang berada dalam cengkeraman burung elang. Mengapa Kwan Pek Hong begitu takut setengah mati kepada isterinya? Rahasia itu seisi rumah tak ada yang tahu bahkan Si Ciau sebagai murid pertama, juga tak tahu. Tak ada seorangpun yang tahu bagaimana asal usul Kwan hujin, namanya yang asli dan dari keluarga mana. Orang hanya tahu bahwa Kwan hujin itu seorang wanita yang mengerti ilmu Silat, pun ilmu kepandaiannya bukan kepalang saktinya. Tetapi orang tak mengaitkan antara kesaktian Kwan hujin dengan sikap Kwan Pek Hong yang begitu takut kepada isterinya. karena Kwan Pek Hong sendiri juga mempunyai nama besar. Kalau Kwan hujin itu memang hebat, mengapa dunia persilatan tak pernah mengenal namanya? Sudah tentu para penghuni seisi rumah tangga Kwan Pek Hong, kecuali mereka yang sudah bosan hidup, tentu tak berani untuk menyiarkan tentang hal Kwan Pek Hong takut pada isterinya itu. Sekalipun dalam kesempatan dimana salah seorang penghuni rumah tangga Kwan Pek Hong keluar merekapun tak berani mengatakan hal itu kepada siapapun juga. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 18 Mereka lebih sayang kepalanya supaya jangan moncrot otaknya dan pada usil mulut. itulah sebabnya dunia persilatan hanya tahu bahwa Kwan Pek Hong itu seorang pendekar besar yang berwibawa dan harum namanya. Tak seorangpun pernah membayangkan bahwa kalau didalam rumah, Kwan Pek Hong itu tak lebih dari seekor kutuk alias anak ayam. Maka walaupun Si Ciau menyayangkan dan kasihan terhadap suhunya tetapi seperti seluruh penghuni rumah tangga Kwan Pek Hong, diapun tak berani menyatakan suatu apa. Setelah meninggalkan paseban belakang, kedua suhu dan murid itu keluar dari rumah dan telah tiba di sebuah pagoda kecil di taman bunga barulah Kwan Pek Hong berhenti disitu. Lebih dulu Kwan Pck Hong memandang ke sekeliling. Setelah melihat tak ada orang lain kecuali mereka berdua, dia baru berkata dengan pelahan kepada muridnya, “Si Ciau, bagaimana keadaan wanita yang berkalung ular itu?” Waktu bertanya tentang wanita itu wajahnya tampak tegang. Si Ciau yang sempat memperhatikan perobahan wajah suhunya, menduga kalau disitu tentu terselip sesuatu. Tetapi dia tak berani bertanya. “Dia seorang perempuan gila, mukanya kotor, rambutnya panjang terurai sehingga sukar dibedakan dia itu perempuan atau lelaki,” katanya. “Dimana engkau bertemu dengan mereka?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 19 “Di ujung jalan dekat gili-gili sungai.” Kwan Pek Hong mengangguk, “Baik, aku akan melihat kesana. Engkau tinggal saja disini, kalau subomu nanti bertanya, katakan kalau aku hendak mencari orang yang telah mengganggu Siau Leng, mengerti?” “Suhu….“ “Kenapa?” Si Ciau menghela napas, “Suhu, engkau seorang enghiong (pendekar gagah), mengapa……” Belum selesai Si Ciau berkata, wajah Kwan Pek Hong merah padam dan tangannya gemetar. Tampak sikapnya seperti orang yang sedang menghadapi musuh besar. “Si Ciau,” serunya dengan suara yang menahan kemarahan, “apakah engkau sudah bosan hidup?” Jelas kalau Kwan Pek Hong sudah dapat menangkap apa yang hendak dikatakan muridnya. Si Ciau menghela napas dan tak berani melanjutkan kata-katanya. Kwan Pek Hong berputar tubuh lalu melangkah keluar dan terus menuju ke pintu gedung. Dua orang tukang kebun membukakan Pintu. Kwan Pek Hong tidak suruh mereka menyediakan kuda. Dia terus melesat lari ke jalan. 0rang-orang di jalan yang bertemu dengan dia serentak berhenti dan memberi salam dengan hormat. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 20 Kwan Pek Hong menuju ke tepi telaga Se ou Saat itu salju sudah berhenti. Tanah salju yang habis dilintasinya selalu meninggalkan telapak kaki yang dalam. Hal itu menunjukkan kalau dia sedang kacau pikirannya. Waktu dia tiba di gili-gili tanggul tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara derap langkah orang. Kwan Pek Hong tertegun. Sret, seret! dua sosok tubuh melesat dari samping dan mendahuluinya. Setombak jauhnya tiba-tiba kedua orang itu berhenti dan berpaling, “Ai, apakah bukan Kwan tayhiap?” Kwan Pek Hong memandang ke muka. Kedua orang yang berada disebelah muka itu yang satu pendek yang satu tinggi kurus seperti batang tonggak. Sedang yang pendek, pendek dan gemuk sekali seperti buah semangka. Dan gerakannya yang begitu cepat dan lincah tentulah kedua orang Itu memiliki ilmu ginkang yang hebat. Rasanya Kwan Pek Hong seperti pernah tahu mereka tetapi entah dimana, dia lupa. Dia seorang pendekar yang termasyhur. Orang kenal kepadanya tetapi belum tentu dia kenal setiap orang. “0, apakah anda berdua ini ……..” Serta merta kedua orang itu memberi hormat, “Ah, Kwan tayhiap, kami adalah Ong Tiang Cu dan Cu Kiu sianseng dari puncak Peh Hoa nia di Hunlam. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 21 Beberapa tahun yang lalu di Hunlam kami pernah bertemu dengan Kwan tayhiap.” mendengar itu teringatlah Kwan Pek Hong. Tetapi waktu mendengar nama puncak Peh hoa nia di Hunlam mau tak mau hati Kwan Pek Hong berdebar-debar juga. Propinsi Hunlam (Yun-nam) merupakan wilayah sebelah barat-daya yang masih belantara. Puncak gunung Peh hoa-nia (puncak Seratus bunga) itu terletak di tengah-tengah wilayah itu. Sebuah gunung yang boleh dikata tak pernah di jelajahi Orang. Tetapi di Peh-hoa-nia-tang (Peh-hoa nia timur) dan Peh-hoa-nia-se (barat), masih dihuni oleh dua orang tokoh aneh. Yang tinga1 di Peh hoa nia timur adalah Ci Sui Sianseng, suhu dari kedua orang itu. Ci Sui sianseng jarang sekali atau hampir tak pernah datang ke Tiong goan (Tiongkok tengah). Sampai dimana ilmu kepandaiannya, bagi orang-orang yang pernah mengunjungi daerah itu termasuk Kwan Pek Hong, juga sukar mengatakan. Tetapi ketujuh anak murid Ci Sui Sianseng sering datang ke Tiong goan. Ketujuh anak muridnya itu masing-masing mempunyai wajab dan perawakan yang aneh, ilmu kepandaiannyapun tinggi. Kaum persilatan menjuluki mereka Tian lam-jit-sian atau Tujuh dewa tian lam (tian lam sama artinya dengan hunlam). Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 22 Selama bertahun-tahun, belum pernah terdengar berita kalau mereka pernah kalah dengan seorang tokoh persilatan. Kalau anak muridnya saja begitu lihay, suhunya tentu lebih hebat lagi. Itulah sebabnya maka nama Ci Siu sianseng itu sangat berkumandang di dunia persilatan. Sedang yang tinggal di Peh-hoa-nia barat, ialah seorang tokoh hitam yang terkenal sangat sadis. Dia sering malang melintang dalam dunia persilatan. Dia mendirikan suatu perkumpulan aliran agama yang diberi nama Peh-hoa-kau. Dia sendiri terkenal dengan nama Peh Hoa lokoay atau si tua aneh dari Peh hoa nia. Peh Hoa lokoay dapat dianggap sebagai tokoh paling terkemuka dalam dunia hitam. Ilmu kepandaiannya Juga tinggi sekali. Setiap tiga tahun sekali dia selalu menyelenggarakan pertemuan besar di Peh hoa nia barat Dia mengundang semua tokoh hitam dari segala aliran. Dalam pertemuan itu diadakan pesta pora secara besar-besaran. Tak kalah dengan pesta raja. Dan setiap tokoh dunia hitam tentu merasa mendapat kehormatan besar apabila menerima undangan Peh Hoa lokoay. Maka walaupun tinggal terasing di wilayah Hunlam, namun dunia persilatan kenal siapa Peh Hoa lokoay dan menganggapnya sebagai pemimpin dunia persilatan aliran hitam. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 23 Teringat akan Peh Hoa Iokoay, jantung Kwan Pek Hong berdetak keras. Hal itu memang ada sebabnya dan dalam cerita ini pada bagian belakang akan diberitakan tentang hal itu. Mendengar kedua orang itu memperkenalkan diri dengan tak acuh Kwan Pek Hong mendesah lalu berkata, “Harap jiwi berdua jangan banyak peradatan. Bagaimana kabarnya Ci Sui sianseng?” “Suhu baik-baik saja,” sahut Ong Tiang Cu Si tinggi kurus, “sejak Kwan tayhiap berkunjung ke Hunlam, suhu sangat berkesan sekali. Dia ingin sekali berkunjung ke Tiong-goan untuk mengadakan kunjungan balasan kepada Kwan tayhiap. Setiap tahun banyak sekali tokoh-tokoh dunia persilatan yang datang kepada suhu tetapi yang menjadi angan-angan suhu untuk mengadakan kunjungan balas itu hanya kepada Kwan tayhiap saja!’ Kwan Pek Hong memang sudah tahu bahwa seluruh dunia persilatan sama mengindahkan namanya. Tetapi waktu mendengar keterangan Ong Tiang Cu, entah mengapa dia merasa gembira. Ci Sui sianseng merupakan tokoh dunia persilatan yang sangat dipuja. Kalau dia begitu mengindahkan terhadap dirinya (Kwan Pek Hong) sudah tentu makin menandakan betapa agung namanya dalam dunia persilatan. “Ah, setiap saat Ci Sui sianseng akan meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumahku tentu akan kuundang segenap tokoh-tokoh dunia persilatan dalam sebuah perjamuan kehormatan untuk menyambut kedatangan beliau,” kata Kwan Pek Hong. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 24 “Ah, tentu akan wanpwe sampaikan pesan Kwan tayhiap kepada suhu,” kata Ong Tiang Cu. Sebenarnya dia terus mundur dan siap hendak pamitan tetapi tiba tiba sutenya yakni si pendek gemuk Cu Kiu berbisik, “Suko, tidakkah suko menanyakan tentang peristiwa yang terjadi pada Peh Hoa lokoay?” Walaupun diucapkan dengan bisik-bisik tetapi Kwan Pek Hong dapat menangkap. Kembali hatinya tergetar keras. Ong Tiang Cu mengiakan lalu tanyanya, “Ya, Kwan tayhiap, apakah Kwan tayhiap tahu peristiwa apa saja yang akhir-akhir ini telah terjadi pada Peh Hoa lokoay?” Kwan Pek Hong berusaha untuk menekan perasaan dan menjawab hambar, “Aku belum sedikitpun pernah mendengar kabar Itu.” “Sebagian dari kitab pusaka pelajaran ilmu silat milik Peh Hoa lokoay telah dicuri orang,” kata Ong Tiang Cu, “pencurinya bukan murid Peh Hoa Lokoay melainkan seorang bujang yang sejak kecil telah dipeliharanya. Peh Hoa lokoay menaruh kepercayaan penuh kepadanya, tak tahunya dia malah mencuri dan membawa kabur kitab pusaka itu!” Diam-diam Kwan Pek Hong terkejut dalam hati, tanyanya, “Yang dicuri itu apakah bukan kitab Ik- sukeng peninggalan Ang Bau locu yang paling termasyhur di kalangan orang Shia-pay?“ “Benar,” sahut Ong Tiang Cu. Kwan Pek Hong tertegun sejenak lalu menghambur napas, “Kitab Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 25 pusaka Ik su-keng itu setelah muncul beberapa puluh tahun yang lalu entah mengalami berapa banyak pertempuran berdarah baru jatuh ke tangan Peh Hoa lokoay. Sejak itu tak ada orang yang berani merebut dari Peh Hoa lokay lagi. Kini kalau kitab itu sampai muncul dalam dunia persilatan lagi, bukankah berarti akan menimbulkan malapetaka?” Ong Tiang Cu mengangguk, “Benar. Baru Sedikit saja orang persilatan yang tahu akan peristiwa itu. Meskipun marah tetapi Peh Hoa lokoay terpaksa harus merahasiakan hal itu. namun bagaimana, lama lama berita itupun bocor dan tersiar Orang lain berbondong bondong hendak mengejar. Pencurinya saat ini berada di sekeliling daerah sini?” Kwan Pek Hong terkejut, “Datang ke Hang ciu sini?” dia menegas. “Ya,” jawab Ong Tiang Cu, “kedatangan kami ini juga karena hal itu. Kitab pusaka Ik su keng itu, siapa saja yang akan mendapatkan, pasti akan menjadi seorang tokoh sakti. Memang luar biasa sekali kitab itu!“ Kwan Pek Hong mengangguk tetapi tak bilang apaapa lagi. Dan Ong Tiang Cu serta Cu Kiupun lalu memberi hormat dan melanjutkan perjalanan lagi. entah Kwan Pek Hong masih tegak termangu mangu. Benaknya mulai bergolak. Kitab pusaka Ik-su keng milik Peh Hoa lokoay dicuri orang, memang merupakan berita besar di dunia persilatan. Tetapi sebenarnya pikiran Kwan Pek Hong kacau bukan karena memikirkan peristiwa itu. Yang menjadi pangkal kegelisahannya tak lain adalah si wanita aneh berkalung ular itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 26 Masih membekas dalam-dalam pada benaknya, betapa indahnya selama dia hidup di samping wanita itu untuk beberapa bulan lamanya. Bulan-bulan itu dirasakan saat yang paling bahagia dalam hidupnya. Tetapi sekarang, kemanakah dia harus mencari kebahagiaan itu? Pelahan-lahan Kwan Pek Hong ayunkan langkah. Saat itu kecuali hanya dia, di jalanan tak ada lagi orang yang berjalan. Sambil berjalan dia dapat mengenangkan pula kenangan yang telah lalu itu…… Waktu Itu pada bulan delapan dan musim dinginpun sudah menjelang tiba. Tetapi di wilayah Hunlam tak ada musim dingin. Malah pada musim dingin, di wilayah Hunlam itu beriklim sejuk seperti dalam musim semi. Sepuluh tahun yang lampau. Pada waktu itu Kwan Pek Hong juga sudah mengangkat nama sebagai seorang pendekar yang termasyhur. Pada waktu itu dia akan menuju ke Su-jwan untuk menemui ketua partai Go bi pay dan Ceng shia pay Kemudian dia mengambil jalan melintasi puncak congsan dan tiba di hunlam, karena mengagumi nama Ci Sui sianseng maka dia memerlukan berkunjung ke Peh hoa nia. Sesuai dengan namanya alam di gunung Peh hoa nia itu memang indah sekali. Pada saat wilayah Kanglam sedang didekap salju dingin maka di puncak Peh hoa nia kebalikannya malah sedang bertabur dengan ratusan bunga yang sedang mekar serempak, seolah—olah bunga-bunga itu saling berebut untuk memamerkan kecantikannya kepada dunia. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 27 Walaupun seorang pendekar yang tak biasa bergelut dengan ilmu sastera dan syair tetapi dalam lingkung alam yang seindah itu, mau tak mau hatinyapun tersengsam sekali. Dia membiarkan dirinya dibawa jalan perlahan-lahan oleh sang kaki agar sang mata dapat memandang sepuas puasnya keadaan alam sekeliling. Karena terlena dengan keindahan alam, dia sampai tak memperhatikan arah. Dan terus berjalan ke arah muka saja dan tahu-tahu pada waktu petang hari, dia baru terkejut. Surya silam seperti berada di sebelah depan itu menandakan kalau dia sedang berjalan ke arah barat. Kedatanganya ke Peh-hoa-nia itu adalah untuk mengunjungi Ci Sui sianseng. Tetapi kalau dia tiba di Peh-hoa nia barat, bukan saja tidak akan bertemu dengan Ci Sui sianseng, dia malah akan berhadapan dengan murid-murid jahat dari Peh-hoa-kau. Dia terkejut. Dia segan sampai bentrok dengan Peh Hoa lokoay dan anak muridnya. Cepat dia hentikan langkah. Dalam rimba belantara di pedalaman Hunlam, banyak sekali kabut beracun. Pada saat matahari terbenam, mulailah kabut beracun itu berhamburan keluar, memancarkan lima warna. Kwan Pek Hong tak berani melanjutkan perjalanan pada malam hari. Dia mencari lereng bukit yang tinggi dan kebetulan menemukan sebuah gua yang cukup bersih. Dia menyalakan korek. Setelah menyuluhi keadaan gua, barulah dia rebahkan diri. Suasana gua yang bersih dan tenang menyebabkan tak berapa lama kemudian dia terlena tidur. Entah berapa lama, dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 28 terkejut karena telinganya didebur bumi yang menggetarkan derap kaki orang. Cepat dia duduk, Sekeliling gua gelap gulita sehingga ia tak dapat melihat apa-apa. Tetapi dia dapat menangkap suara napas terengah engah dan sepasang lelaki perempuan yang tengah mendatangi dengan gopoh. Jelas keduanya sedang ke gua situ. “Bagus, sepasang laki perempuan itu tentu murid jahat dari Peh-hoa-kau. Mereka akan mengadakan pat-pat gulipat di sini. Takkan kulepaskan mereka berbuat tak senonoh,” pikir Kwan Pek Hong sembari diam-diam kerahkan tenaga dalam. Selekas mereka muncul, tentu akan dihantamnya. Kedua pendatang itu tiba-tiba hentikan langkah. Dan berkatalah yang lelaki dengan suara cemas, Moay-cu, baik engkau sembunyi di sini, jangan keluar. Pintu gua akan kututup dengan gundukan batu besar sehingga orang tak mungkin dapat menemukan engkau!” Yang perempuan kedengaran menangis, “Toako,engkau sendiri bagaimana?” Aku tak takut, kata si lelaki, “lo-koay itu tentu takkan menduga kalau aku yang membawamu lari. Moay-cu, aku sih tak mengapa, tetapi engkau tidak boleh tidak harus lolos. Apakah engkau tak memperhatikan, beberapa hari yang lalu betapa menyala sinar matanya ketika melihat engkau. Jika nafsunya berkobar, dikuatirkan engkau akan menjadi gundiknya yang nornor 27. Maka jangan bimbang lekaslah engkau meloloskan diri dari tempat neraka ini. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 29 “Toako, kuharap engkau baik-baik menjaga dirimu,” kata si perernpuan dengan terisak. “Ya, kutahu” jawab si lelaki, “kalau ada kesempatan, aku tentu akan melarikan diri dan mencarimu di dunia persilatan. Paling tidak bersembunyilah dalam gua ini selama tiga hari. Lokoay tentu takkan menduga kalau engkau bersembunyi di tempat yang dekat. Lewat beberapa hari lagi kalau orang yang disuruh mengejarmu itu kembali dengan kosong, tentulah mereka segera akan melupakan engkau.” Si perempuan hanya mengiakan dengan suara terisak lalu terdengar suara langkah kaki. Tentulah yang lelaki ke luar dari gua dan pada lain saat terdengar suara orang mendorong batu dari pintu guapun gelap. Sudah tentu Kwan Pek Hong dapat mendengar jelas pembicaraan kedua orang tadi. Diam-diam Ia malu dan menyesal karena salah menduga kepada kedua orang itu. Dikiranya kalau mereka itu anak murid Peh Hoa lokoay yang tidak genah mau mencari tempat untuk berzinah. Tetapi ternyata mereka adalah sepasang saudara kakak beradik yang sedang berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman Peh Hoa lokoay. Setelah pintu gua ditutup, wanita itu masih terus menangis sedih. Sebenarnya setelah tahu keadaan wanita itu, Kwan Pek Hong menaruh kasihan dan bersimpati. Beberapa kali dia hendak berseru menegur perempuan itu tetap tak jadi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 30 Dia kuatir, jangan2 perempuan itu karena kaget terus menjerit sekeras kerasnya sehingga membuat kaget lelaki yang berada di luar gua. Dan kedua kalinya, Kwan Pek Hong sendiri juga merasa kikuk dan takut. Bahwa Kwan Pek Hong telah digunakan sebagai pendekar besar di dunia persilatan, setiap orang persilatan pasti sudah tahu. Tetapi dan aliran mana ilmu kepandaiannya dan siapakah gurunya, tak ada seorang persilatanpun yang tahu. Memang pernah ada orang yang memberanikan diri untuk bertanya kepada Kwan Pek Hong, tetapi Kwan Pek Hong hanya tertawa dan tak menyahut, Oleh karena menyelidiki rahasia perguruan orang itu termasuk pantangan besar bagi orang persilatan, oleh karena Kwan Pek Hong tak mau mengatakan maka orangpun tak berani mendesak lagi. Sebenarnya ilmu kepandaian Kwan Pek Hong itu diperoleh dari isterinya. Memang Kwan hujin mempunyai sejarah kehidupan yang hebat. Nanti pada bagian terakhir dari cerita ini pembaca akan mengetahui. Oleh karena ilmu kepandaiannya berasal dari isterinya maka Kwan Pek Hong pun jeri dan patuh kepada isterinya. Dia tak berani main-main di luaran, terutama terhadap wanita, dia menyingkir jauh-jauh. Karena kalau sampai isterinya mendengar ada berita-berita tentang tingkah lakunya diluaran suka main-main dengan wanita, wah, celaka nanti. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 31 Bahwa pada saat itu ketika berada dalam goa dia hanya terlongong-longong tak berani buka suara ketika melihat gadis cantik itu, adalah karena sebab itu. Beberapa waktu kemudian barulah tangis gadis itu mulai reda. Dan Kwan Pek Hong mulai tegang. Dia berpikir, gua itu termasuk dalam wilayah Hunlam yang jauh sekali dari tempat tinggalnya. Apa salahnya kalau dia mengajak bicara dengan gadis itu? masa ada orang yang tahu! Padahal orang yang mengembara dalam dunia persilatan, bertemu dan bicara dengan wanita yang belum dikenal, bukanlah suatu hal yang mengherankan. Tetapi karena begitu mendalam rasa takut Kwan Pek Hong terhadap isterinya maka sebelum terlaksana keinginannya untuk bicara dengan gadis itu. Hatinya sudah berdebar debar keras. Beberapa saat kemudian setelah perasaannya tenang barulah dia mulai membuka mulut dan berseru dengan suara berbisik, “nona ………. Jangan takut……” Walaupun Kwan Pek Hong sudah berusaha menegur dengan pelahan dan ramah tetapi karena datangnya begitu tiba-tiba, mau tak mau gadis itu menjerit kaget juga. “Nona harap jangan berteriak. Kalau engkau berteriak, anak murid Pek Hoa lokay tentu akan mendengar. Nanti sukar bagimu untuk melarikan diri!” Kwan Pek Hong cepat-cepat menyusuli keterangan. Setelah berdiam sejenak dengan masih ragu-ragu gadis itu berseru, “Engkau…. Apakah bukan orang dari Peh Hoa lokoay?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 32 “Bukan, aku pejalan yang kebetulan berada di tempat ini.” “Jangan coba menipu aku,” kata gadis itu, “disini daerah gunung Peh-hoa-nia sebelah barat, siapa berani datang kemari? Kalau engkau tak mau bicara dengan jujur, jangan salahkan kalau akan kulepaskan ular berbisa untuk mengggigitmu!” Kwan Pek Hong hendak menerangkan dengan isyarat tangan tetapi ditempat gelap tentu tak terlihat oleh si gadis maka segera dia berseru, “Jangan, jangan lepaskan ular berbisa. Keteranganku tadi memang sungguh-sungguh” Gadis itu diam beberapa saat baru berkata lagi, “Engkau datang dan luar daerah? Perlu apa engkau datang kemari? Apakah hendak masuk menjadi anak buah Peh-hoa-kau?” “Tidak nona,” buru-buru Kwan Pek Hong menerangkan, “aku sebenarnya hendak mengunjungi Bok Thiat sianseng tetapi karena kesengsam dengan keindahan alam aku sampai tersesat tiba di Peh-hoania barat. Dan karena kemalaman, terpaksa aku berteduh disini.” Gadis itu menghela napas, “Memang sebaiknya jangan ikut Peh-hoa-kau. Kalau engkau mau mendengar nasehatku, kukatakan Peh—hoa—kau itu bukan tempat yang layak untuk berteduh.” Setelah mendengar suara gadis itu lemah lembut dan merdu, nyali Kwan Pek Hong bertambah besar. Dia membayangkan betapakah wajah gadis itu. Dan ketika gadis itu memberi anjuran yang begitu baik, Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 33 makin besarlah keinginan Kwan Pek Hong untuk melihat bagaimana wajah gadis itu. Menurutkan arah suara si gadis, Kwan Pek Hong maju setengah langkah dan tiba-tiba dia menyalakan korek api. “Hai, mau apa engkau? Lekas padamkan korekmu!” begitu api menyala, si gadis kaget dan berteriak. Oleb karena hanya ingin melihat wajah Si gadis, maka Kwan Pek Hong pun lalu meniup koreknya. Dia pun menyadari, walaupun pintu gua telah ditutup dengan batu besar tetapi toh masih ada celah-celah kecil. Kalau didalam gua memancar penerangan tentu dapat diketabui orang. Tetapi sehabis meniup padam korek, Kwan Pek Hong masih terlongong-longong seperti patung. Mengapa? Seumur hidup dia belum pernah melihat seorang wanita yang sedemikian cantiknya seperti gadis yang berada di hadapannya itu. Gadis itu baru berusia sekitar 20 an tahun. Walaupun wajahnya agak pucat, tetapi malah makin memancarkan kulitannya yang putih bersih sehingga sepasang biji matanya yang hitam makin tampak menonjol. Mengenakan pakaian warna kelabu, rambut terurai sampai ke bahu. Waktu Kwan Pek Hong terpesona memandangnya dengan heran. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 34 Kwan Pek Hong seorang pria yang cakap dan gagah memiliki wibawa. Walaupun dalam ke adaan terlongong-longong seperti orang tolol, tetapi tetap menampilkan profil seorang pria yang membuat hati gadis-gadis berdebar-debar. Gadis Itu juga diam dan Kwan Pek Hong pun masih tegak terlongong. Hanya satu yang mengejutkan Kwan Pek Hong yaitu bahwa gadis yang secantik itu mengapa pinggangnya berlilit seekor ular kecil tetapi panjang. Menilik bentuk badan si ular yang gepeng, jelas tentu sejenis. ular yang amat beracun sekali. Separuh tubuh ular itu melilit pada leher si gadis dan yang separoh melilit pinggang, sepintas mirip orang bersabuk dan berkalung. Ular apalagi ular berbisa, sebenarnya merupakan binatang yang ganas dan mengerikan. Tetapi berada pada tubuh si gadis, ular itu tidak buas malah merupakan semacam perhiasan yang menimbulkan kesan bahwa gadis itu bukan manusia biasa melainkan seorang dewi yang turun ke bumi. Ihhh…. tiba-tiba mulut Kwan Pek Hong mendesis kaget karena batang korek sudah menyala sampai pangkal dan menyengat jarinya. Dia lepaskan korek itu dan seketika tempat itu gelap lagi. Namun dia masih tegak termangu-mangu saja. Entah berselang berapa saat, baru kedengaran dia berseru dengan lembut, “Engkau sungguh cantik sekali bagaikan seorang dewi.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 35 Walaupun dengan berbisik tetapi karena keadaan gua itu sunyi sekali maka gadis itu dapat mendengarnya juga. “Ah, jangan terlalu berlebih.-lebihan memuji orang,” bisik gadis itu. Selama ini belum pernah Kwan Pek Hong memuji wanita. Isterinya jelek dan ganas. Tak pernah dia mengeluarkan sepatah kata memujinya. Karena itu walaupun sudah berusaha untuk menekan perasaan dan ditempat yang gelap. Tak urung setelah mengeluarkan kata-kata itu, hati Kwan Pek Hong berdebut keras, dia kuatir gadis itu tidak mendengar tetapipun kuatir kalau gadis itu akan mendengar. Malau rasanya. Baru setelah gadis itu menjawab dengan kata-kata yang tidak mencelanya bahkan bernada gembira, barulah hatinya lega, “Tetapi memang sungguh, ya, sungguh ……“ gopoh dia berseru. Gadis itu tertawa pelahan, “Engkau…. gagah dan berwibawa, tentu juga seorang persilatan Siapa namamu?” Sudah tentu Kwan Pek Hong makin meriah perasaannya, “Aku orang she Kwan nama Pek Hong. Ya, memang orang persilatan tetapi dengan nama kecil, orang menyebut….“ Sebelum Kwan Pek Hong seleai berkata, gadis itu sudah menukas, “Kutahu. engkau Thian eng tayhiap Kwan Pek Hong!” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 36 Bukan main girang Kwan Pek Hong. Ternyata namanya berkumandang jauh ke sudut penjuru sehingga setiap orang tahu. Hal itu sebenarnya dia sudah tahu dan tak heran. Tetapi entah bagaimana, bahwa gadis itu juga tahu namanya, dia mendadak gembira luar biasa. ‘Ya, benar,” sahutnya, “kiranya nona juga sudah tahu namaku yang rendah itu.” Gadirs itu berkata riang, “Kalau engkohku tahu bahwa begitu melarikan diri aku terus bertemu dengan Kwan tayhiap, dia pasti gembira sekali. Kwan tayhiap, orang-orang yang datang dari daerah Tiong-goan, sering mengatakan tentang namamu. Sungguh tak kira katau engkau….. masih muda dan….. dan begitu…. ramah…… Kwan Pek Hong rasakan sukmanya seperti melayang-layang di alam nan indah. “Nona, siapakah namamu yang mulia?” “Aku orang she Cu, nama Bwe Nio.” Diam-diam Kwan Pek Hong sudah mengukir nama Bwe Nio itu dalam lubuk hatinya. Dan tak terasa mulutnya berulang-ulang menyebut nama Itu, seolah seperti orang yang menghafalkannya agar jangan terlupa. Dan entah bagaimana gadis itu menyahut pelahan, setiap kali namanya disebut. Pada saat itu Kwan Pek Hong seperti terbenam dalam lamunan yang indah. Keduanya telah terlibat dalam pembicaraan yang asyik sekali. Kemudian mereka merasa bahwa mereka hanya membuangTiraikasih Website http://kangzusi.com/ 37 buang waktu saja dalam pembicaraan. Mereka merasa kata-kata tak dapat mewakili hati mereka. Kata-kata bukanlah hati. Dan hati itu menuntut lebih dari katakata. Merekapun diam karena tak ada kata-kata yang tepat untuk menyuarakan hati mereka. Beberapa saat kemudian tiba-tiba Co Bwe Nio menangis Tetapi tangis kebahagiaan. Kebahagiaan yang baru pertama kali itu seorang gadis menikmati sepanjang hidupnya. Empat hari telah lewat mereka menikmati keindahan hidup yang amat berbahagia. Mereka lalu keluar dari gua dan menuju ke sebuah lembah yang sunyi. Mereka seperti dimabuk kebahagiaan dan merasa bahwa dunia ini hanya milik mereka berdua. Mereka lupa bahwa masih ada orang ketiga yang akan marah. Sebulan telah berlalu, dua bulanpun lewat. Pada saat itu barulah Kwan kek Hong tersadar dari impiannya yang indah. Dia teringat bahwa di rumahnya masih ada isteri yang menunggu kedatangannya. Isteri yang jelek dan galak. Sebulan kemudian dengan penuh kemesraan dia memberi ciuman kepada Co Bwe Nio yang masih tergolek dalam impian. Lalu dia menuju ke sebelah timur gunung untuk mengunjungi Thi Swi sianseng. Tetapi setelah meninggalkan tempat kediaman Thi Swi sianseng, timbullah kegelisahan Kwan Pek Hong. Sebenarnya dia ingin kembali kepada Co Bwe Nio. Tetapi bagaimana dengan isterinya yang menunggu dirumah itu? Kalau terlalu lama isterinya pasti akan menyusul dan kalau sampai ketahuan dia bersama Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 38 dengan seorang gadis cantik, wah, celaka. Bukan saja dia akan dibunuh, pun gadis yang tak tahu apa-apa itu pasti akan dibunuhnya juga. Alkhirnya rasa takut kepada sang isteri lebih besar dari cintanya kepada Co Bwe Nio. Dia lalu pulang ke Hang-ciu. Untung isterinya tak curiga dan tak menanyakan apa-apa. Hari2 bahagia bersama si cantik Bwe Nio, merupakan kenangan yang paling indah, seindah impian, bagi Kwan Pek Hong. Dia bagaikan bermimpi bertemu dengan seorang bidadari. Tetapi dia merasa, itu bukan impian melainkan peristiwa yang benar-benar terjadi. Dia hanya mengharap, mudah-mudahan dia mempunyai kesempatan untuk bertemu dengan Bwe Nio lagi. Hari demi hari, tahun berganti tahun, tak terasa 10 tabun sudah lewat. Dan selama Itu Kwan Pek Hong tak pernah mendengar lagi tentang diri gadis yang dicintainya itu.- Hari lewat hari, tahun berganti tahun, tak terasa 10 tahun telah berlalu. Baru pada hari itu ketika mendengar laporan muridnya, Si Ciau, barulah Kwan Pek Hong terkejut sekali. Seorang wanita yang bermain-main dengan ular, demikian laporan Si Ciau. Apakah wanita itu bukan Co Bwe Nio? Ya, apakah tidak mungkin kalau jelita yang pernah bercengkerama dengan dia dalam taman seribu kenyataan dan impian dulu itu? Setelah tegak termenung-menung sampai beberapa waktu barulah Kwan Pek Hong tersadar dari lamunan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 39 Pelahan-lahan dia berputar tubuh dan ketika mengangkat muka memandang kedepan, dia melonjak kaget. Tadi karena sedang terbenam dalam lamunan dia tak sempat memperhatikan apa yang terjadi di belakangnya. Dan kini setelah dia berputar ke belakang, ternyata dia telah dikepung oleh lima orang. Kwan Pek Hong seorang jago yang banyak makan asam garam dunia persilatan. Menilai wajah mereka, tabulah dia kalau kelima orang itu tentu mengandung maksud tak baik. Kwan Pek Hong agak mengangkat tangan kiri keatas untuk melindungi dada. Dia tak bicara apa-apa. Salah seorang dari kelima orang, seorang laki tua beralis putih, mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata, “Kwan tayhiap” . . Kwan Pek Hong tak tahu siapa kelima orang itu. Walaupun mempunyai kesan kalau mereka mengandung maksud buruk tetapi menilik tadi waktu dia berdiri membelakangi, mereka tidak menyerang maka Kwan Pek Hong pun balas memberi hormat, “Terima kasih, anda berlima ini …..? “Aku Li It Beng, kepala bagian ruang Thian siu-tong dari perkumpulan Peh-hoa-kau. Dan ke empat orang ini adalah anak buah dari ruang Thian-siu-tong kami” kata lelaki tua itu. Mendengar nama Peh-hoa-kau, wajah Kwan Pek Hong mengerut gelap dan mendengus. Dia adalah seorang kojiu aliran Ceng-pay yang termasyhur. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 40 Sudah tentu dia merasa segan berbicara dengan kawanan anak buah Peh-hoa-kau yang termasuk golonsan Shia-pay (sesat). Li It Beng berlima tidak mau menanggapi sikap acuh dari Kwan Pek Hong itu. Dengan masih bernada sungkan berkatalah dia, “Kedatangan kami ke Hangciu ini, memang hendak mencari Kwan tayhiap. Ada suatu hal yang kami hendak minta keterangan kepada Kwan tayhiap. Maka sungguh kebetulan sekali kita dapat bertemu disini!” “Aku tak mempunyai hubungan dengan Peh hoakau perlu apa kalian hendak mencari aku?’ kata Kwan Pek Hong dengan nada dingin. Sejenak Li It Beng memandang ke sekeliling. Setelah turun salju lebat, empat penjuru sunyi sekali tak ada barang seorangpun yang kelihatan. Setelah Itu baru dia berkata, “Kwan tayhiap, ada suatu kata yang terkandung dalam hatiku, tetapi aku tak tahu. apakah kata-kata itu layak kukatakan atau tidak!” Li It Beng berusaha untuk bersikap merendah tetapi kebalikannya malah menimbulkan kemuakan Kwan Pek Hong, “Kalian kan sudah dari ribuan li jauhnya, mengapa tak mau mengatakan secara terus terang apa maksud kalian ini, agar jangan mengganggu waktuku!” serunya. Dengan kata-kata itu jelas menyatakan kalau Kwan Pek Hong tak suka menyambut kedatangan mereka. Li It Beng tidak menghiraukan dan sembari tertawa keras, berseru, “Kwan tayhiap ternyata seorang yang cekatan dan tangkas bicara. Kami semua tak ada yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 41 tidak mengagumi ilmu kepandaian Kwan tayhiap. Tetapi kurasa Kwan tayhiap juga takkan memandang rendah pada ilmu silat dari lain golongan, bukan?” Alis Kwan Pek Hong yang tebal tampak menjungkat, “Engkau ingin apa, lekas katakan, perlu apa harus berputar-putar begitu?” Dengan nada berat Li It Beng berkata, “Kwan tayhiap, paling akhir ini ada orang datang dan puncak Peh-hoa-nia lalu datang Ke tempat kediaman Kwan tayhiap, benar tidak?” Mendengar itu Kwan Pek Hong terkesiap, pikirnya, “Apa maksudnya itu?” Tetapi sebagai seorang persilatan yang berpengalaman, sejenak setelah tertegun, dia segera teringat akan laporan dari Ong Tiang Cu dan Cu Kiu tadi. Mereka melaporkan tentang hal seorang anakbuah Pek hoa-kau. Tidakkah pertanyaan Li It Beng yang melingkar-lingkar itu bukan anak murid Peh hoa-kau itu yang. dimaksudkan? Kwan Pek Hong terkejut dan marah sekali. Karena apabila peristiwa itu sampai tersiar keluar entah bagaimana nanti jadinya. Bukankah tentu menimbulkan reaksi besar yang akan membawa kesulitan bagi dirinya? “Tidak ada peristiwa itu terjadi di rumahku, engkau salah alamat,” katanya pura-pura tak tahu. Li It Beng terkesiap, katanya pula, “Kwan tayhiap seorang tokoh yang menonjol. Apa yang Kwan tayhiap ucapkan kami tentu percaya. Tetapi banyak kaum Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 42 persilatan yang mengatakan memang ada peristiwa itu dan lagi ………”. Li It Beng licin dan licik. Dia tertawa, katanya, “Waktu kami mengejarnya, dia memang berada di kota Hang-ciu sini.” Kwan Pek Hong paksakan tertawa, “Sungguh lucu juga. Orang itu kalau memang datang ke Hang-ciu tentu akan membawa akibat bagiku?’ Memang kata-kata yang diucapkan Li It Beng masih bernada menghormat tapi isi kata-katanya memang sudah tak menurut rel lagi. “Kwan tayhiap,” katanya pula, “nama besar Kwan tayhiap berkumandang jauh ke seluruh dunia persilatan Kanglam. Orang itu tidak mengambil jalan di jalan-jalan yang sepi malah menuju ke Kanglam sini Tentulah dia mempunyai dendam dengan perkumpulan kami. Tentulah hanya Kwan tayhiap seorang yang tahu apa sebab setibanya di Hang-ciu sini, dia tak mau mengadakan kunjungan kepada Kwan tayhiap?” Dengan pengalaman berkecimpung selama hampir separoh dari usianya maka Kwan Pek Hong pun tahu bahwa ada kalanya orang persilatan itu fanatik sehingga sukar menerima penjelasan lain orang. Kalau bukan orang itu memiliki latar keluarga yang hebat, kami yang sudah terlanjur marah, tentu akan melenyapkan orang itu. Walaupun marah tetapi Kwan Pek Hong berusaha untuk menekan perasaannya, ujarnya, “Aku sungguh tak melihat orang itu. Dan lagi walaupun aku Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 43 menikmati kemasyhuran nama yang terkemuka, maka kamipun tak menginginkan kitab itu. Waktu ketemu dengan dua orang anak murid Thiat Swi sianseng, tahu kalau satu set kitab pelajaran ilmu silat aneh itu, telah dibawa lari orang. Kwan Pek hong mulai meluap lagi hawa kemarahannya. Dia terus hendak membuka mulut tetapi tiba-tiba dia melihat wajah Li It Beng berobah cahayanya. Sudah tentu Kwan Pek Hong terkesiap lagi Namun dia menyadari bahwa sekali saja sampai kelepasan omong dengan rombongan murid peh hoa kau apabila tersiar keluar, resikonya besar sekali. tentu dia akan didatangi kaum persilatan yang akan bertanya dan meminta pertanggungan jawab. Dia duga Li It Beng tentu sudah tahu seluruh persoalannya. Sebelum dia mengatakan ternyata Li It Beng sudah mendahului mengatakan kitab pusaka Ihsu- keng telah dilarikan orang sebagian. Dengan begitu kedatangan Li It Beng ke kota Hangciu sini, tentu sudah direncanakan. Dia mendapat kesan bahwa sebaiknya dia membatasi diri dalam pembicaraan. Pokoknya, dia menarik kesimpulan bahwa kedatangan Li It Beng berlima ke kota Hang-ciu memang sudah direncanakan Jauh hari dulu. Dengan begitu pula, Li It Beng berlima itu tentu menaruh kecurigaan terhadap dirinya (Kwan Pek Hong). Wah, kalau begitu halnya maka sukarlah baginya untuk menyangkal. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 44 Tetapi sebagai seorang tokoh berpengalaman walaupun dipojokkan Dia menghadapinya dengan cara tak mau bicara saja. Karena fihak Li It Beng juga diam maka beberapa jenak lamanya suasana ditempat itu diam dan sepi. Kalau toh nanti dia harus menjawab, juga dia tak mau buru-buru memberi jawaban agar tak menunjukkan kelemahan Lebih kurang sepeminuman teh lamanya baru kedengaran Li It Beng berkata dengan nada dingin, “Kwan tayhiap, dihadapan orang yang tahu tentu tak berani bicara bohong. Orang ini, jelas Kwan tayhiap yang telah menerimanya. Dengan memandang muka Kwan tayhiap, kami, takkan menarik panjang urusan itu. Tetapi kitab Ih su keng itu harap Kwan tayhiap berikan kepada kami agar nanti kami dapat memberi pertanggungan jawab kepada kau-cu kami.” Mendengar kata-kata orang yang menuduh kalau kitab Ih-su-keng tentu sudah berada di tangannya, Kwan Pek Hong tak dapat menahan diri lagi, serunya, “Apa arti kata-katamu itu? Ku katakan, aku tak pernah bertemu dengan orang itu, apakah engkau tak percaya?” “Sudah tentu tak percaya!’ tiba-tiba diluar dugaan Li It Beng menyahut dengan nada keras. Kwan Pek Hong tertawa dingin, “Baik, lalu dengan cara bagaimana engkau baru mau percaya?” Li It Beng menggapai dan keempat orang yang berada dibelakangnya, serentak memencar dalam bentuk lingkaran kipas. Setelah itu Li It Beng tertawa dingin, “Jika begitu terpaksa aku ha Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 45 Cepat sekali Kwan Pek Hong merangkai penilaian. Dia tak tahu bagaimana asal usul Li It Beng. Tetapi dari sinar matanya yang tajam, dia tahu kalau orang itu tentu memiliki tenaga dalam yang tinggi. Menurut keterangan tadi, Li It Beng itu kepala Ruang Thian-siu-tong dari Peh hoa-kau. Dan setelah kehilangan kitab pusaka ih-su-keng, ketua Peh-hoakau lalu menugaskan Li It Beng untuk mengejar jejak si pencuri. Jelas bahwa kepercayaan ketua Peh-hoakau itu tentu bukan tidak ada dasarnya, tentulah karena Li It Beng itu dianggap sebagai anak buah yang paling lihai sendiri. Diam-diam Kwan Pek Hong mendapat kesan bahwa dia tak boleh merendahkan orang itu. Sambil menimang-nimang Kwan Pek Hong tetap tegak dengan tenang lalu berkata hambar, “O, apakah mau mengajak berkelahi? Silahkan!” Li It Beng tidak menjawab melainkan maju selangkah. Karena dia paling dekat jaraknya dengan Kwan Pek Hong maka setelah maju selangkah itu, dia sudah langsung berhadapan rapat dengan Kwan Pek Hong. Kwan Pek Hong terkejut melihat tingkah laku orang. Pada umumnya orang yang bertempur tentu tak mau secara merapat Apalagi Li It Beng tentu tahu dengan siapa dia berhadapan. Tetapi nyatanya Li It Beng sengaja berbuat demikian. Hal itu bagi seorang tokoh seperti Kwan Pek Hong tentu tak luput dan perhatian. Dan serentak diapun teringat akan seorang tokoh dalam dunia persilatan. Cepat-cepat dia loncat menyingkir. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 46 Tetapi berbareng itu, Li It Beng pun sudah turun tangan. Kedua lengan bajunya bergetar dan entah bagaimana tahu-tahu tangannya sudah mencekal dua buah senjata yang aneh bentuknya. Tangan kiri memegang sebatang tombak pendek, tangan kanan mencekal sebuah pukul besi. Tring!, begitu dikeluarkan, kedua senjata itu saling berbentur dan mengeluarkan bunyi yang tajam sekali. Dan secepat kilat terus disongsongkan ke muka. Jika tadi Kwan Pek Hong tidak cepat-cepat menyingkir, tentu sukarlah baginya untuk menghindar Untung dalam waktu yang amat singkat dia teringat bahwa di daerah Kwi say ada sebuah perguruan Lui kong bun yang memiliki ajaran ilmu silat yang aneh ialah selalu berkelahi secara merapat. Senjata yang mereka gunakan, seperti yang digunakan Li It Beng, yang satu panjang yang satu pendek. Memang Li It Beng cepat sekali tetapi wan Pek Hong yang menyingkir tadi lebih cepat lagi oleh karena itu serangan Li It Beng hanya menemui tempat kosong. Dan dalam loncat menyingkir tadi dengan cepat Kwan Pek Hong sudah berputar-putar kebelakang lawan seraya mengibaskan lengan bajunya untuk menolak keempat anak buah Li It Beng. Sedang tangan kanannya segera menerkam tengkuk Li It Beng. Gerakan Kwan Pek Hong itu memang hebat sekali tetapi dia tak menduga kalau Li It Beng juga tak kalah tangkasnya. Setelah serangannya gagal dan mendengar angin melanda dari belakang, dia terkejut sekali. Dia tahu lawan tentu sudah berada di belakangnya. Tanpa berputar ke belakang dia terus sabatkan kedua senjatanya ke belakang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 47 Ujung tombak menusuk kearah siku lengan kanan Kwan Pek Hong sedang pukul besi menghantam perut lawan. Sungguh suatu jurus serangan yang luar biasa aneh dan dahsyatnya. Serangan itu, baik Li Ik Beng maupun keempat anak buahnya tentu mengira kalau Kwan Pek Hong terpaksa harus mundur. Tetapi ternyata dia tak mau mundur. Melihat serangan kedua senjata Li It Beng Kwan Pek Hong cepat enjot tubuhnya ke udara Dia membubung lurus keatas dan turunnyapun juga lurus ke bawah. Tetapi dalam saat naik dan turun Itu dia sudah melakukan gerakan berputar-putar tubuh. Dan ketika melayang turun, dia melampaui kepala Li It Beng dan turun dibelakangnya. Seharusnya Li It Beng tahu kalau lawan tentu akan melayang turun dihadapannya. Tetapi karena dia salah hitung, mengira Kwan Pek Hong tentu menghindar mundur dan diapun sudah mempersiapkan rencana, apabila Kwan Pek Hong mundur, dia akan berputar tubuh menyerang lagi. Tetapi karena ternyata Kwan Pek Hong tidak menyurut mundur melainkan membubung ke udara, maka waktu Li It Beng berputar itu, kebetulan Kwan Pek Hong pun sudah turun. Karena keduanya samasama berputar tubuh maka Kwan Pek Hong tepat dapat berada dibelakangnya. Waktu berhenti berputar, Li It Beng terkejut karena tak melihat Kwan Pek Hong berada di muka. Dia terkejut sekali dan menyadari kalau terjadi sesuatu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 48 Cepat-cepat dia hendak berputar kebelakang namun sudah terlambat. Diantara sinar kemilau dirasakan kepalanya seperti tertindih oleh suatu tenaga yang amat kuat dan berbareng itu terasa suatu arus tenaga dalam yang lunak mengalir kedalam jalan darah peh-hwe-hiat diubun-ubun kepalanya sehingga tenaganya menjadi lemas lunglai. Ternyata pada saat Kwan Pek Hong turun dibelakang, dengan sebat dia sudah meletakkan tangannya keatas kepala lawan. Jalan darah peh-hwe-hiat termasuk salah satu jalan darah fatal. Letaknya diatas ubun-ubun kepala Karena jalan darah itu dikuasai Kwan Pek Hong Li It Beng pun tak berdaya sama sekali. Melihat pemimpinnya sudah dikuasai lawan keempat anakbuah Li It Beng berdiri terkesima tak berani berkutik. Kwan Pek Hong tertawa dingin, “Li tongcu, kalau anda hendak bertempur, rasanya masih belum waktunya. Wajah Li It Beng merah padam, keningnya berkerenyutan, menandakan getaran rasa malu dan marah. Tapi apa daya. Dia sudah dikuasai lawan. “Tetapi,” kata Kwan Pek Hong pula, “aku takkan membunuhmu. Karena kutahu kalau engkau hanya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 49 salah faham saja. Sama sekali aku tak punya kaitan dengan urusan perkumpulanmu!” Dalam berkata-kata itu tangan kiri Kwan Pek Hong pelahan-lahan mendorong bahu Li It Beng dan tangan kanannyapun diangkat. Tahu-tahu Li it Beng terdorong kemuka sampai 7 – 8 langkah. Li It Beng cepat berbalik tubuh. Wajahnya tampak lesi, pucat dan merah tak sedap di pandang. “Tadi akupun bertemu dengan dua sahabat persilatan. Mereka juga mengatakan tentang peristiwa yang terjadi di Peh-hoa-kau. Kabarnya orang itu telah menuju ke Hang-ciu sini. Tetapi kalau anda terus mencari ke rumahku, kurasa ini Suatu kekhilafan!” kata Kwan Pek Hong. Diam-diam Li It Beng menghela napas lalu menyahut, “Terima kasih atas kemurahan Kwan tayhiap yang tidak membunuh aku.” aku tak punya dendam permusuhan apa-apa dengan anda, perlu apa harus membunuh?” sabut Kwan Pek Hong. Walaupun cahaya muka Li It Beng masih tak keruan warnanya tapi dia tak mau berbicara apa-apa lagi. ia berputar tubuh memberi isyarat kepada keempat anak buahnya untuk mengikutinya. Tak berapa lama kelirna orang itupun sudah lenyap. Sejenak Kwan Pek Hong masih tegak di tempatnya. Dia gelisah sekali. Mencari wanita ular itu tentu memakan waktu. Lebih baik dia pulang saja dan suruh Si Ciau untuk mencari ke segenap pelosok kota. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 50 Setelah menetapkan keputusan dia terus lari pulang. Tetapi ketika tiba di muka pintu rumah, ia terkesiap kaget. JILID 2 Memang sudah sepantasnya kalau Kwan Pek Hong terkesiap kaget ketika memandang ke muka. Di muka pintu besar, berhenti sebuah kereta yang mewah sekali. Kemewahan kereta itu terbukti pada gerbong kereta yang dihias dengan berbagai macam zamrud ratna mutu manikam yang mahal harganya. Kereta itu ditarik empat ekor kuda tegar. Keempat kuda itu berbulu hitam mengkilap tetapi keempat kakinya berbulu putih. Merupakan jenis kuda yang jarang terdapat. Seekor kuda semacam itu sudah sukar didapat, apalagi empat ekor. Apabila kereta dan kudanya sudah sedemikian istimewa jelas pemiliknya tentu bukan orang sembarangan. Kwan Pek Hong segera menghampiri dilihatnya sais atau kusir kereta itu sedang beristirahat. Dia menyurutkan tubuh. Dalam bulan delapan yang hawanya dingin itu, dia hanya mengenakan pakaian tunggal. Kwan Pek Hong tidak memperhatikan wajah sais itu melainkan melihat kedua tangan orang itu berkuku panjang sekali. Kwan Pek Hong memandang sais dan kereta itu beberapa jenak. Diam-diam dia merasa heran. Tepat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 51 pada saat itu dua orang bujang datang kepadanya dan berkata dengan pelahan, “Loya, ada seorang tetamu datang. Siya tengah menemaninya.” “Ooo,” desah Kwan Pek Hong, “apakah yang datang dengan kereta ini?” bujang mengiakan. Dengan rasa heran, Kwan Pek Hong segera melangkah masuk. Begitu masuk, dia segera melihat muridnya, Si Ciau, tengah menemani seorang tetamu. Begitu Kwan Pek Hong masuk, tetamu itu segera berbalik tubuh. Waktu melihat tetamu itu, Kwan Pek Hong tertegun. Ternyata tetamu itu seorang muda yang berbibir merah dan gigi putih. Wajahnya cakap sekali, Pemuda itu paling banyak berumur 17- an tahun tetapi tubuhnya tinggi besar. Mengenakan pakaian dari kulit rase putih. Pinggangnya menyelip pedang, membawa penampilan yang mengundang pujian orang. Sebelumnya Kwan Pek Hong mengira kalau kedatangan tetamu itu ingin mencari permusuhan dengannya. Kini setelah mengetahui tetamunya itu hanya seorang pemuda cakap, diapun tenang kembali. Melihat Kwan Pek Hong, pemuda itu lalu berdiri. Waktu Kwan Pek Hong hampir tiba di mukanya, pemuda itu lalu memberi hormat. “Kwan tayhiap, wanpwe lancang datang menghadap kemari, harap tayhiap suka memberi maaf,” katanya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 52 Kwan Pek Hong tak kenal siapa pemuda itu dan bagaimana asal usulnya. Tetapi dengan ketajaman matanya dia tahu kalau pemuda itu bukan pemuda sembarangan. Walaupun umurnya masih begitu muda tetapi memiliki ilmu kepandaian yang berisi. Hal ini dapat dibuktikan waktu pemuda itu mengucapkan kata-kata. nadanya bening dan mantap maka memberi kesan kepada Kwan Pek Hong bahwa pemuda itu tentu murid dari seorang tokoh ternama. Kwan Pek Hong membalas hormat dan memberi isyarat tangan mempersilahkan, “silahkan duduk, anda ini….?“ Sambil berkata Kwan Pek Hong juga mengambil tempat duduk. Pemuda itupun duduk, katanya, “Wanpwe orang she Pui nama Tiok. Atas perintah ayah wanpwe menghadap Kwan tayhiap.” Diam-diam Kwan Pek Hong menimang dalam hati, “Orang she Pui? Siapa-apa saja tokoh sakti yang mempunyai she (marga) Pui dalam dunia persilatan?” Namun untuk sesaat dia tak teringat. Hanya samarsamar dia seperti ingat bahwa ketua dari partai persilatan Tiam jong pay itu orang bermarga Pui, Tetapi apakah ada anak murid Tiam jong pay yang mempunyai kepandaian seperti pemuda ini? “Nama ayahmu bagaimana menyebutnya? Maaf aku tak ingat lagi,” kata Kwan Pek Hong. Pui Tiok tertawa, “Memang sedikit sekali orang persilatan yang tahu akan nama ayahku. Tetapi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 53 sebutan gelarannya, begitu dikatakan, rasanya tentu ada orang yang kenal.” Mendengar pemuda Itu, diam-diam merindinglah hati Kwan Pek Hong Dia tahu bahwa tokoh yang jarang dikenal dan selalu menyembunyikan nama aselinya, kebanyakan adalah tokoh-tokoh sakti yang berwatak aneh. Atau mungkin durjana-durjana besar dalam dunia Shia-pay. Dikuatirkan ayah dari pemuda ini juga termasuk golongan tokoh-tokoh seperti itu. Tetapi karena saat itu batin Kwan Pek Hong sedang resah, mana dia sempat untuk menaruh perhatian kepada pemuda itu. Dia merasa sebal dan wajahnyapun segera menampakkan rasa kesalnya. Dia tertawa gersang “Kalau begitu, siapakah nama gelaran dari ayah mu itu.? Apakah aku boleh mengetahui?” Pemuda itu masih mengulum tawa, tampaknya ramah sekali sikapnya sehingga orang sukar untuk marah kepadanya. Sambil tertawa, dia berkata, “Sepanjang hidupnya, ayah paling gemar dengan bunga, wataknya nyentrik oleh karena itu mendapat gelar…..” Belum lagi pemuda itu menyelesaikan kata katanya, Kwan Pek Hong serentak berbangkit. Karena tenaga dalamnya tinggi maka sewaktu mendadak berdiri itu, bajunya telah menghamburkan getaran angin yang keras. Melihat sikap itu begitu beringas seperti menghadapi musuh tangguh Si Ciau yang berada disampingnya, ikut tegang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 54 Tetapi pemuda itu tenang-tenang saja seperti tak merasa terjadi sesuatu. Sejenak dia berhenti, lalu melanjutkan keterangannya yang belum selesai tadi “Dia mendapat gelar Peh Hoa lo-koay!” Mendengar itu wajah Si Ciau berubah pucat sekali. Tetapi Kwan Pek Hong yang sudah dapat menduga sebelumnya silapa gelar ayah dari pemuda itu, tetap tegak tak kaget. Wajah Kwan Pek Hong membesi dan berkata dengan dingin, “Memang benar, sekali gelar ayahmu disebut memang merupakan sebuah nama besar!” “Betapapun kumandang nama ayahku bergema, tetapi dia adalah Lo-kay si tua nyentrik. Kalau dibanding dengan kebesaran nama anda, jelas tentu jauh ketinggalan.” Mendengar itu, Kwan Pek Hong dapat menangkap artinya. Wajahnya agak tenang “Aku dengan ayahmu, selama ini tiada hubungan. Untuk apa dia menitahkan engkau datang kemari?” Dari kata-katanya tadi pemuda Pui Tiok itu seperti memberi perlambang bahwa kedatangannya itu tak ada lain maksud kecuali hendak memohon sesuatu kepada Kwan Pek Hong. Tetapi bagaimanakah penilaian Kwan Pek Hong? Setelah tahu bahwa pemuda itu putera Peh Hoa lokay, diapun menyadari bahwa soal yang akan dihadapinya tentulah tidak sederhana. Dan serentak diapun lalu mengaitkannya dengan kedatangan Li It Beng dalam peristiwa hilangnya kitab Ih-su-keng. Pasti urusan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 55 yang akan dihadapinya nanti mempunyai liku-liku yang sulit. Setelah menetapkan pendirian maka Kwan Pek Hong pun duduk kembali, katanya, “Entah mengenai soal apa saja, harap engkau katakan. Dalam kalangan persilatan, asal mengenai masalah yang layak, aku pasti akan Setuju.” Pui Tiok tersenyum, “Pernyataan Kwan tayhiap memang bagus sekali. Ayah mempunyai sebuah kitab Ih-su-keng yang merupakan catatan-catatan dari ilmu silat yang sakti. Kabarnya kitab itu sudah jatuh ditangan Kwan tayhiap maka mohon sukalah Kwan tayhiap bermurah hati untuk mengembalikannya!” Karena sebelumnya sudah dapat menduga apa maksud kedatangan pemuda itu, Kwan Pek Hong tidak kaget. ia menghela napas. “Entah siapakah yang menyiarkan kabar itu? Kabar itu bohong sama sekali dan hanya merupakan isu saja. Kalau aku sampai tahu dan melihat kitab Ih-sukeng, biarlah Thian mengutuk aku, kelak akan menerima kematian yang mengerikan!” Dia dapat memaklumi setelah kitab pusaka itu hilang, tentulah Peh Hoa lokoay bingung tak keruan dan berusaha keras untuk mendapatkannya kembali. Dan celakanya, orang persilatan menyiarkan kabar bahwa kitab pusaka itu jatuh ke tangannya. Dengan begitu tak dapat disesalkan kalau Peh hoa lokoay akan meminta kepadanya supaya mengembalikan. Diapun menyadari sia-sia saja dia berbanyak kata menerangkan kalau dia tak tahu menahu tentang kitab Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 56 itu maka untuk menyingkat pembicaraan, dia lalu bersumpah berat dihadapan putera Peh Hoa lokoay. Dan memang sebenarnya Kwan Pek Hong tak tahu menahu dan tak pernah melihat apa yang disebut kitab Ih-su-keng ini. Oleh karena itu dia tak takut untuk mengangkat sumpah yang sedemikian serius. “Ah,” desah Pui Tiok kiranya Itu hanya isyu dunia persilatan saja” - “Benar” kata Kwan Pek Hong, tadi waktu berada di telaga Se-ou, aku juga bertemu dengan Li tong-cu orang bawahan ayahmu. Aku juga mengatakan kepadanya apa yang terjadi sebenarnya. Percaya atau tidak terserah saja kepada kalian. Tetapi sungguhsungguh aku tak pernah melihat kitab pusaka Ih-sukeng itu!” Pui Tiok berdiri dan memberi hormat. Diam-diam Kwan Pek Hong membatin. Siapakah orang persilatan yang tak tahu kalau Peh Hoa lokoay itu tokoh yang nyentrik dan aneh tabiatnya. Tak kira kalau anaknya ternyata seorang pemuda yang sopan dan bijaksana. Pemuda itu dapat menerima keterangannya. Kwan Pek Hong mengira setelah memberi hormat, tentulah Pui Tiok akan pamitan Tetapi diluar dugaan, ternyata pemuda itu tidak mengucapkan kata-kata mohon diri, malah berkata pula “Kalau begitu, aku hendak mengajukan sebuah permohonan lagi kepada Kwan tayhiap. Sebenarnya hal ini juga atas kehendak ayah, bukan maksudku sendiri.” Mendengar orang masih mau mengajukan permintaan lagi, Kwan Pek Hong tampak kurang senang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 57 “Soal apa lagi?” tanyanya. Dengan tenang Pui Tiok berkata, “Waktu wanpwe hendak berangkat ayah memberi pesan, apabila Kwan tayhiap bersedia untuk mengembalikan kitab Ih-sukeng beliau akan merasa berterima kasih sekali. Dan atas budi tayhiap, ayah akan membalas di kemudian hari. Tetapi kalau Kwan tayhiap menolak dengan memberi alasan-alasan, mengatakan kalau belum pernah melihat kitab pusaka itu, maka….” “Maka bagaimana?” tukas Kwan Pek Hong dengan keras. Pui Tiok tertawa kikuk, “Sebenarnya sukar bagi wanpwe untuk mengatakannya. Tetapi demi memberi pertanggungan jawab kepada ayah, terpaksa wanpwe akan mengatakan juga.” Kwan Pek Hong tertawa dingin, “Katakan saja, masa aku hendak mempersulit engkau?” “Ya memang Kwan tayhiap takkan berbuat demikian,” kata Pui Tiok,, “ayah mengatakan bahwa Kwan tayhiap mempunyai seorang puteri kesayangan. ayah pesan kepada wanpwe agar Kwan siocia itu kubawa ke Peh-hoa-nia. Kemudian apabila kelak Kwan tayhiap rindu dan ingin mengambil kembali siocia, agar Kwan tayhiap suka membawa kitab Ih-su-keng Itu.” Dalam mendengar kata-kata anak muda itu sebenarnya kemarahan Kwan Pek Hong sudah mau meledak tetapi karena peristiwa itu terlalu mendadak sekali datangnya, dia sampai tertegun. Tiba-tiba dia Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 58 tertawa, bukan tertawa marah melainkan benar benar tertawa geli. Setelah tertawa beberapa jenak, barulah Pui Tiok bertanya Lagi, “Entah bagaimana pendapat Kwan tayhiap dalam soal tadi?” Diam-diam Kwan Pek Hong menimang.. Kalau watak penampilan anak muda itu, tak mungkin dia itu seorang tolol. Tetapi diapun menyadari kalau Peh Hoa lokoay itu bukan tokoh sembarangan, tak mungkin dia akan mengutus puteranya yang tolol. Tetapi jelas anak muda Itu telah mengucapkan kata-kata yang gila maka Kwan Pek Hong menarik kesimpulan, kalau anak muda itu bukan manusia tolol tentulah seorang tunas muda yang amat berbakat. Kwan Pek Hong hentikan tawanya dan berkata dengan serius, “Aku sih tak keberatan. Tetapi selama ini siauli (anak perempuanku) sudah terlanjur manja dirumah. Kalau dia bisa ikut engkau pesiar ke Pehhoa- nia untuk menambah pengalaman, itu memang baik juga. Tetapi aku tak tahu dengan cara bagaimana engkau dapat membawanya pergi?” Pui Tiok kerutkan alis, serunya, “Karena Kwan tayhiap sudah memberi ijin, walaupun sukar tetapi wanpwe tetap akan melaksanakan juga agar jangan sampai mengecewakan pesan ayah. Terima kasih Kwan tayhiap, wanpwe mohon diri sambil berkata dia terus berputar tubuh. Tepat pada saat anak muda itu berputar tubuh, Kwan Pek Hong cepat memberi isyarat mata kepada Si Ciau. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 59 Sejak mendengar pembicaraan Pui Tiok tadi, memang Si Cian sudah marah tetapi karena suhunya belum memberi perintah, diapun tak berani bertindak. Sekarang setelah mendapat isyarat mata darl SuHunya, bangkitlah semangat Si Ciau. Segera dia melintang jalan, menghadang Pui Tiok. “Tunggu dulu!” serunya. “aku hendak bicara padamu.” Pui Tiok hentikan langkah dan bertanya, ‘Silakan Siheng mengatakan.” ‘Engkau hendak membawa pergi sumoayku yang kecil. entah dengan kepandaian apa engkau hendak melakukan hal itu. Sekarang aku hendak minta pelajaran dari engkau!” Kata-kata Si Ciau Itu jelas merupakan sebuah tantangan. Siapapun kalau mendengar kata-kata semacam itu tentu marah dan akan bertindak, kalau tidak mendamprat tentu akan turun tangan. Tetapi ternyata Pui Tiok tidak demikian. Dia malah bertanya, “Ya, benar sekari ucapan Si heng itu. Siaute memang tak becus apa-apa dan bingung mencari akal bagaimana agar dapat membawa sumoay Si-heng. Dalam hal ini, apakah Si-heng dapat memberi petunjuk kepadaku?” Mendengar jawaban itu mau tak mau Si Ciau terlongong-longong. Gila, pikirnya, masa aku dimintai nasehat bagaimana caranya agar dia dapat membawa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 60 lari sumoayku? Tolol sekali pemuda itu tetapi ah, mungkin hanya berpura-pura tolol saja. Si Ciau juga sudah banyak pengalaman didalam dunia persilatan maka dia tidak marah melainkan tertawa, “0, memang aku punya pendapat yang baik. Cobalah dengarkan” Sambil berkata dia membawa sikap yang ramah dan bersahabat yaitu lantas menepuk bahu pemuda itu. Memang sudah umum kalau orang bersahabat itu waktu bicara ada kalanya menepuk bahu kawannya. Tetapi tepukan tangan Si Ciau itu bukan sembarang tepukan melainkan tepuk yang dilambari dengan tujuh bagian tenaganya. Si Ciau mengira tentulah Pui Tiok akan menghindar oleh karena itu Si Ciau pun sudah siapkan tangan kirinya. Begitu orang menghindar ke samping, dia terus hendak menerkam pinggangnya. Tetapi kenyataannya benar-benar diluar dugaan Si Ciau. Tepukannya mendarat pada bahu Puil Tiok yang masih tetap berdiri di tempatnya. Plakk…………. terdengar bunyi tamparan yang keras pada bahu Pui Tiok. Sudah bertahun-tahun Si Ciau berguru pada Kwan Pek Hong. ilmu kepandaiannya cukup tinggi. Tepukannya itu paling tidak ada 200-an kati beratnya. Tetapi anehnya, waktu menerima tepukan keras Itu Pui Tiok tak merasa apa-apa bahkan malah tertawa, “Si toako, tepukanmu itu berat benar, lho! Untung tulangku cukup kuat, kalau tidak, tentu sudah remuk!” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 61 Tampak seperti tak terjadi apa-apa dan malah tertawa cerah, menunjukkan bahwa tenaga dalam dari Pui Tiok lebih tinggi dan Si Ciau. Sudah tentu Si Ciau menyadari hal itu. Dengan wajah sebentar gelap sebentar pucat dia terus menyurut mundur. Pui Tiok tidak mau mengurusi melainkan lanjutkan langkah keluar pintu dan sesaat berputar tubuh memberi hormat kepada Kwan Pek Hong, “Wanpwe mohon pamit dulu. Setelah nanti wanpwe menemukan caranya, barulah wanpwe akan datang lagi untuk membawa Kwan siocia ke Peh-hoa -nia.” Dengan tenang diayunkan langkah keluar. Kwan Pek Hong hanya mengantar dengan pandang matanya. Diam-diam jago tua itu kagum atas ketenangan sikap anak muda itu. Ia tak percaya kalau anak yang masih begitu muda belia akan lebih tinggi kepandaiannya dari dirinya. Tetapi menilik sikapnya yang begitu tenang dan yakin, memang mengesankan sekali. Kelak tentu dia akan menjadi seorang tokoh yang cemerlang. Kwan Pek Hong hanya mempunyai seorang puteri tunggal dan tidak punya putera, Diam-diam dia menghela napas dalam hati. “Kalau saja dia mempunyai seorang putera seperti Pui Tiok, betapakah bahagianya…..” Soal puterinya hendak dibawa Pui Tiok ke Peh-hoania, sudah tentu dengan cara menculik, Kwan Pek Hong malah tidak menghiraukan karena puterinya itu siang malam berada dengan mamanya. Betapa sakti ilmu kepandaian isterinya, mungkin orang luar tidak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 62 tahu, tetapi dia tahu dengan pasti. Dalam hal menjaga keselamatan puterinya, dia percaya penuh isterinya tentu dapat menjaganya. Setelah Pui Tiok pergi, dia mondar mandir sembari memanggul kedua tangan. Tengah dia masih mengenangkan atas peristiwa yang baru saja terjadi tadi, tiba-tiba terdengar suara isterinya berseru, “Pek Hong, apakah wanita itu sudah dapat engkau ketemukan?” Waktu mengangkat muka, Kwan Pek Horg melihat istrinya muncul dengan menggendong puterinya. Puterinya Itu sebenarnya sudah berumur 10 tahun tetapi isterinya telah memperlakukannya sebagai anak kecil saja. Kwan Pek Hong tertawa, “Belum ketemu. Kalau anak kita tak apa-apa, lebih. baik tak perlu soal itu diperpanjang lagi!” Kwan hujin marah sekali, “Anaknya dihina orang tetapi engkau mandah saja. Percuma saja engkau disanjung orang sebagai pendekar besar!“ Kwan Pek Hong tertawa getir. Dia tak tahu katakata apa yang menimbulkan kemarahan isterinya Kemudian teringat akan ucapan Pui Tiok tadi, dia tertawa, “Niocu, ada sebuah hal yang lucu, tentu engkau belum tahu.” Kwan hujin deliki mata, “Soal apa yang Lucu itu?“ “Peh Hoa Lokoay kehitangan kitab lh-su-keng, dunia persilatan mengabarkan kalau kitab itu jatuh ke Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 63 tanganku….. Tadi anak laki dari Peh Hoa lokoay datang kemari untuk menanyakan hal itu” “Apa?” Kwan hujin menegas “Kukatakan kepadanya kalau kitab itu tidak ada padaku tetapi apa katanya, coba kau terka” “Kalau mau menceritakan, Lekas katakan saja. Siapa sih yang tahu dia bicara apa kepadamu,” tukas Kwan hujin. Kembali Kwan Pek Hong terbentur batu sejenak tertegun, dia tertawa pula. Dia mengatakan kalau mau membawa Beng Cu ke Pek-hoa-nia dan minta aku supaya mengambilnya ke Peh hoa-nia asal membawa kitab itu. Ha, ha, bukankah hal itu lucu sekali. Ha…….” Dia hendak tertawa lepas tetapi melihat wajah isterinya mengerut gelap, dia tak jadi melanjutkan tawanya. Bermula Kwan Pek Hong menduga, setelah dia menceritakan peristiwa itu dan kemudian dia tertawa mengejek, tentulah isterinya juga ikut menertawakan. Sungguh tak diduganya bahwa bukannya ikut menyambut tertawa kebalikannya isterinya malah mengerut serius. Sudah tentu Kwan Pek Hong meringis. “Hm…..” desah Kwan hujin, “apanya yang lucu pada persoalan itu?“ Kwan Pek hong masih berusaha untuk membantah. “Budak laki itu… sungguh tak tahu diri mau membawa puteri kita…… ke Peh hoa-nia. Tidakkah lucu hal itu?’ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 64 Wajah Kwan Hujin makin tak sedap dipandang dan kontan tanpa sungkan lagi dia mendamprat suaminya, “Engkau itu makin tua makin tolol! Bukankah hal itu menyangkut keselamatan puteri kita? Mengapa engkau malah tertawa gembira? Dan apakah engkau tak pernah berpikir, tokoh bagaimanakah Pek Hoa lokoay itu? Dibawah pimpinan jendral pandai?, tak ada anak buah yang lemah. Kalau dia sudah sengaja menyuruh puteranya, masakan dia tidak memperhitungkan bagaimana kemampuan puteranya itu. Masa dia akan membiarkan saja puteranya itu akan menjadi buah tertawaan orang?” Kwan Pek Hong terlonggong. Diam-diam dia mengakui kata-kata isterinya itu benar. Tetapi puterinya kan selalu berada dengan mamanya. Mana Pui Tiok mampu mengganggu anak itu? Kembali dia tertawa paksa, “Hujin, jangan kuatir. Aku akan menjaga diluar dan engkau jangan berpisah dengan Beng Cu. Taruh kata lokoay Itu datang sendiri kemari, belum tentu dia mampu merampas putri kita.” Dalam gendongan mamanya, Beng Cu memang tampak kurus kecil Tetapi sebenarnya dia itu seorang anak perempuan yang sudah berumur 10 tahun. Sudah tentu dia mendengar apa yang dibicarakan kedua ayah bundanya. Tiba-tiba dia menangis, “Hu, hu, hu, aku tak mau dibawa ke Pek-Hoa-nia” Anak itu menangis keras sehingga Kwan hujin menjadi bingung, “Sayang, jangan menangis,” kata nya menghibur,” kan ada mama. Siapapun tak dapat menculik engkau.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 65 Kemudian ia mendamprat suaminya, “Engkau ini memang seorang setan gantung yang makin tua makin tak karuan. Mengapa urusan begitu engkau ceritakan didepan anak perempuan? Kalau nanti malam anak itu mengigau dalam tidurnya, awas engkau!” Kwan Pek Hong kucurkan keringat dingin tetapi dia tak berani berkata sepatahpun juga. Setelah puas memaki-maki barulah Kwan hujin berhenti dan membentak, “Mengapa masih tegak seperti patung disini dan tak lekas mengatur penjagaan?” Seperti pesakitan yang menerima vonis bebas, seketika Kwan Pek Hong terus mengiakan, berputar tubuh dia terus melesat keluar. Setelah melalui beberapa lorong barulah dia dapat bernapas longgar. Tadi dia memang menderita siksa sekali, Tertawa tidak tertawa dan tegak seperti patung menerima dampratan pedas dari isterinya. Kini setelah bernapas longgar dan batuk-batuk sejenak, dia Membusungkan dada dan melangkah lebar. Dia memang seorang pria yang ganteng dan gagah perkasa. Setiap orang persilatan yang membicarakan namanya tentu akan menaruh rasa mengindahkan. Dan memang ilmu silatnya lihay sekali. Selama beberapa tahun ini dia termasuk pendekar yang berkelana di dunia persilatan yang umur nya paling muda. Dalam perjalanan dharma kebaikan, dia tak mau pandang bulu. Siapa salah, tentu akan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 66 dihajarnya. Tetapi siapa tahu, kalau berhadapan dengan isterinya, dia benar-benar kehilangan segalanya seperti tikus berhadapan dengan kucing. Waktu belum berapa lama keluar dari rumah tibatiba dia melihat tukang kebun sedang memanggul sebuah pilar besar dan berdiri tegak dihdapannya. Rupanya orang itu seperti ditutuk jalan darahnya oleh orang. Tadi waktu mendengar ucapan Pui Tiok, sebenarnya Kwan Pek Hong tak menaruh perhatian. Tetapi setelah didamprat isterinya, barulah dia menyadari kalau persoalan memang gawat. Maka begitu melihat tukang kebunnya berdiri tak berkutik, diam-diam dia terkejut sekali. Tukang kebun itu membelalakkan mata dan tak dapat bicara apa apa.. Sekali melesat dia sudah berada didepan tukang kebun itu dan ketika memandang dengan seksama dilihatnya tukang kebun itu tengah membelalakkan mata tanpa berkedip dan mulut ternganga terus menerus tak dapat ditutup. Kwan Pek Hong cepat mengetahui kalau keadaan tukang kebun itu tetapi karena melihat orang itu telah ditutuk jalan darahnya oleh orang. Sebenarnya Kwan Pek Hong tak begitu faham akan tukang kebun itu tetapi karena melihat orang itu telah ditutuk jalan darahnya, diapun segera menepuk bahu si tukang kebun seraya menghardiknya, “Ada apa engkau ini, lekas bilang!” Terdengar tukang kebun itu menghela napas longgar tetapi entah bagaimana sekonyong-konyong Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 67 dia gunakan dua buah jari tangan kanan, menutuk jalan darah Kian-keng-hiat di bahu Kwan Pek Hong. Sudah tentu Kwan Pek Hong terkejut bukan kepalang. Caranya menutuk dan angin yang timbul dari gerak tutukan jari orang itu menimbulkan desus tenaga yang kuat, jelas tukang kebun itu memiliki tenaga dalam yang hebat. Kwan Pek Hong berdiri dekat sekali dengan tukang kebun itu dan tukang kebun itu bergerak luar biasa cepatnya. Walaupun Kwan Pek Hong terkejut tetapi dia sudah tak keburu menghindar lagi, cret……! bahunya terkena tutukan dan seketika dia tak dapat bergerak lagi. “Kwan tayhiap,” tukang kebun itu tertawa, “maafkan sekali atas kekurang ajaranku ini!” “Kwan tayhiap,” kata tukang kebun itu pula, “bagaimana dengan penyaruanku ini? Walaupun Ilmu kepandaian itu tak layak dibanggakan, tetapi nanti tunggu sebentar lagi kalau aku sudah menyaru menjadi engkau dan mengenakan pakaian anda, tentulah engkau sendiri takkan mengenali siapa sebenarnya diriku ini……..“ Sambil berkata dia terus menyambar tangan Kwan Pek Hong, pikirnya hendak dibawa ke tempat yang sepi dan dilucuti pakaiannya. Tetapi sungguh diluar dugaan, baru dia menyentuh tangan Kwan Pek Hong, tiba-tiba telunjuk jari Kwan Pek Hong menebar dan mencengkeram pergelangan tangan anak muda itu. walaupun hanya dengan sebuah jari tetapi karena dapat melilit pergelangan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 68 tangan dan mengalirkan tenaga dalam maka pada saat itu juga Pui Tok rasakan separoh tubuhnya mati kesemutan tak dapat digerakkan lagi. Pui Tiok masih berusaha untuk mengerahkan napas hendak meronta tetapi pada saat itu ke lima Jari Kwan Pek Hong pun sudah serempak mencengkram pergelangan tangannya. Pui Tiok mati kutu tak dapat bergerak lagi. Perubahan-perubahan itu terjadi dalam waktu hanya sekejab mata dan tak terduga-duga sama sekali Pui Tiok hanya mendelik dan melongo, beberapa Saat kemudian baru dia berkata, “engkau…. engkau, bukankah telah kena kututuk? Mengapa engkau…. seperti tak kena apa?” Kwan Pek Hong tertawa dingin, “Pui siauheng, memang engkau menutuk tepat dan bergerak cepat sekali, pun siasatmu juga hebat. Tetapi engkau masih belum mengenal suatu ilmu tenaga dalam yang sakti, namanya Ing-hoan-wi (mengisar jalan darah merobah kedudukannya). Setiap saat dapat dilakukan menurut sekehendak hati, bahkan dapat memindahkan letak jalan darah itu kemana saja.” Mendengar itu Pui Tiok terlonggong, katanya, “Kalau begitu….. jalan darahmu tadi tidak kena kututuk?” “Benar,” jawab Kwan Pek Hong, “itulah yang dinamakan, siasat dilawan dengan siasat. Sekarang engkau sudah jatuh ke tanganku, apakah engkau masih akan bicara apa lagi?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 69 Semula wajah Pui Tiok sudah tak karuan warnanya, tak sedap di pandang sekali…… Tetapi tiba-tiba saat itu sudah tenang kembali, bahkan malah mengulum senyum. “Kwan tayhiap, ilmu kepandaiannya benar-benar hebat sekali, sungguh tak mengecewakan dengan ke besaran namamu. Hari ini aku baru benar-benar membuktikan sendiri” Melihat anak semuda itu memiliki sikap yang begitu tenang, mau tak mau dalam hati Kwan Pek Hong kagum juga. “Pui siau-heng, tadi kukira kalau engkau hanya bergurau, tak tahunya kalau engkau benar-benar hendak menculik anak perempuanku Rumah kediaman orang she Kwan, walaupun bukan tergolong kubangan naga sarang harimau tetapi engkau ternyata memang tak tau diri!” Menerima dampratan itu wajah Pui Tiok tetap tak berobah, serunya tertawa, “Ya, kata-kata Kwan tayhiap memang tepat. Lain kali wanpwe akan berhati-hati untuk bertindak.” “Apakah engkau mengira masih mempunyai kesempatan lain kali lagi!” bentak Kwan Pek Hong. “Selama gunung masih menghijau, mana takut kalau kehabisan kayu bakar? Mengapa bakal tak punya kesempatan lain kali lagi?” bantah Pui Tiok Tangan Kwan Fek Hong yang masih mencengkeram pergelangan anak muda itu agak diperkeras lagi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 70 Wajah Pui Tiok seketika pucat lesi, dahinya bercucuran keringat dingin. Satu hal yang mau tak mau menyebabkan Kwan Pek Hong kagum ialah sekalipun telah menderita hebat, namun wajah anak muda itu masih tetap mengulum senyum. “Apakah masih ada kesempatan lain kali bagimu?” bentak Kwan Pek Hong. “Kwan tayhiap,” Pui Tiok tertawa, “engkau sedang memuji wanpwe, mana wanpwe tak tahu” “Engkau kira aku tak berani mengambil jiwamu,” Kwan Pek Hong makin marah. Kembali Pui Tiok tertawa, “Kwan tayhiap kalau memang begitu, engkau harus mempertimbangkan masak-masak dulu” Debgan dicengkeram pergelangan tangannya itu, Pui Tiok sudah tak berdaya sama sekali. Kalau memang Kwan Pek Hong mau membunuhnya adalah ibarat semudah orang membalikkan telapak tangannya. Tetapi dalam keadaan seperti ini, bukan saja Pui Tiok tidak minta belas kasihan kebalikannya malah menghina Kwan Pek Hong dengan mengatakan kalau Kwan Pek Hong tentu tak berani membunuhnya. Sungguh berbahaya sekali. Serentak bangkitlah kemarahan Kwan Pek Hong. Dia segera menambah tekanan tenaga dalamnya lagi. Tetapi memang dalam hati dia tak berani membunuh anak muda itu. Apa yang dikatakan Pui Tiok memang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 71 tak salah. Kalau hendak membunuhnya, Kwan Pek Hong harus berpikir duabelas kali dulu. Pui Tiok itu putera dari Peh Hoa lo-koay. Kalau Kwan Pek Hong membunuhnya, sudah jelas Peh Hoa lokoay tentu akan membuat perhitungan. Ilmu kepandaian lokoay itu sakti sekali dan perkumpulan Peh hoa kau mempunyai banyak jagojago sakti. Dan lagi Peh hoa lokoay itu juga mempunyai sahabat-sahabat baik dari kalangan tokoh-tokoh Shia pay. Kalau sampai Kwan Pek Hong membunuh Pui Tiok, tentulah Peh Hoa lokoay dan gerombolannya akan melakukan pembalasan yang hebat. Setelah melipat gandakan tekanan tenaga dalam, Kwan Pek Hong melihat keringat pada dahi anak muda itu bercucuran makin deras, “Jangan mengira aku takut kepada ayahmu. Mengapa saat ini tak membunuhmu karena mengingat usiamu masih muda, kepandaian dan keberanianmu sangat menonjol. Sukar mencari anak muda seperti engkau. Tetapi kalau engkau masih berani mengganggu keluargaku, apabila jatuh ke tanganku lagi, jangan harap engkau kuampuni!” Sambil berkata tangan kirinya mencengkeram bahu Pui Tiok dan dijinjing keatas lalu dibawa keluar melalui pintu besar. Dua kereta indah, masih tetap menunggu di jalan. Kwan Pek Hong tertawa dingin. Kusir yang duduk diataa kereta serentak loncat turun. Gerakannya tangkas dan layangnya seringan daun kering Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 72 berhamburan ke tanah. Jelas kalau kusir itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Selekas tiba di tanah. kusir itu sudah berseru, “Kwan tayhiap . ………” “Tutup mulutmu!” cepat Kwan Pek Hong membentak, “putera dari kaucu kalian, dua kali datang ke rumahku secara tak tahu diri. Tak tahu kekuatan dirinya dan bertindak semaunya sendiri. Sekarang dapat kuringkusnya tetapi aku takkan mengganggu selembar jiwanya. Sekalipun begitu diapun harus menderita sedikit kesakitan. Telah kugunakan ilmu tutuk ciong-jiu-Hwat untuk melukai jantungnya. Lekas larikan keretamu secepat mungkin untuk mencapai Peh-hoa-nia. Kaucu kalian tentu dapat menolongnya. Kalau tetap berayal disini, dalam waktu satu bulan, sekalipun dia mendapat obat dewa, juga tak mungkin dapat menolong jiwanya!” “Tunggu, harap berlaku….“ baru kusir itu hendak berkata ‘berlaku murah’, Kwan Pek Hong sudah lepaskan cengkeramannya. Begitu merasa cengkeraman orang longgar, cepat Pui Tiok meronta dan terus loncat kemuka. Melihat putera kaucu sudah bebas, kusir itu pun segera ayunkan cambuknya ke arah Kwan Pek Hong. Tetapi walau pun Pui Tiok dan kusir itu bertindak cepat, tetap masih kalah cepat dengan tindakan Kwan Pek Hong. Pada saat melepaskan Pui Tiok, dia sudah menyertai dengan sebuah hantaman tangan kanan, bluk….! punggung anak muda itu terkena tepat dan sekali mengerang tertahan, diapun terus rubuh ke tanah. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 73 Tepat pada saat itu Pui Tiok rubuh, Kwan Pek Hong menarik pulang tangan kanan dan membalikkannya. untuk menangkap ujung cambuk dan terus ditarik Tetapi bukan kepalang kejutnya ketika kusir Itu tetap tegak seperti terpaku. Memang Kwan Pek Hong hanya menggunakan setengah bagian tenaganya untuk menarik. sekalipun, karena kusir itu dapat bertahan mau tak mau Kwan Pek Hong kaget juga karena salah menafsir kepandaian orang. Dalam menimang itu Kwan Pek Hong menambah tenaga dalamnya lagi. Kali ini kusir itu tak dapat bertahan lagi, tubuhnya ikut ketarik ke muka. Dia berputar-putar dan rubuh. Kwan Pek Hong ulurkan tangan kiri, dua kali mengelus-elus kepala kusir itu. Ternyata kusir itu juga bukan jago sembarangan. Dia adalah salah satu tangan kanan dari Peh Hoa lokoay dan mempunyai nama besar dalam dunia persilatan. Tetapi waktu Kwan Pek Hong mengeluselus kepalanya sampai dua kali, ternyata dia diam saja seperti patung. Dan kalau menilik mukanya begitu pucat lesi, jelas dia merasa kalau dirinya tentu menderita bencana besar dari Kwan Pek Hong. Tetapi bagaimana nyatanya? Memang untuk mengambil jiwa kusir itu, mudah sekali bagi Kwan Pek Hong. Tetapi ternyata Kwan Pek Hong tak mau turunkan tangan ganas. Dia hanya mengelus elus biasa, sedikitpun tidak menyalurkan tenaga dalam. “Mengapa engkau tak lekas-lekas membawa pulang saucu?” tiba-tiba Kwan Pek Hong membentak. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 74 Kusir itu gelagapan seperti orang mati yang hidup kembali Saat itu dia baru menyadari kalau Kwan Pek Hong tidak berbuat apa-apa kepadanya. Tersipu-sipu dia memberi hormat, “Terima kasih atas kemurahan hati Kwan tayhiap.” “Lekas berangkat!” dengus Kwan Pek Hong. Kusir Itu gopoh mengangkat tubuh Pui Tiok. Anak muda itu pucat seperti mayat, sinar matanya suram, menandakan kalau menderita luka dalam yang parah. Memang Kwan Pek Hong sendiri tahu bagaimana luka yang diderita Pui Tiok maka dia memaksa kusir segera membawa pulang anak itu. Kalau terlambat, jiwanya pasti takkan tertolong lagi. Peh Hoa lokoay tentu terkejut tetapi juga tentu tahu kalau dia (Kwan Pek Hong) berlaku murah tidak sampai membunuh puteranya. Dengan demikian lokoay tentu takkan menuntut balas. Sejenak Kwan Pek Hong menghela napas longgar, membersihkan pakaiannya dan terus melangkah masuk. Dan pada saat itu dia mendengar derak roda kereta bergerak cepat. Dia tahu tentulah kusir itu melarikan keretanya kencang-kencang. Tetapi dia tak mengira, setelah pintu besar ditutup, kereta itupun berhenti disebuah tempat. Kusir loncat turun, membuka jendela kereta dan berseru, “Kongcu Kongcu!” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 75 Tiba-tiba Pul Tiok nongol keluar. Wajahnya mengulum tawa, sikapnya seperti orang yang tak menderita suatu apa. “Kongcu, sungguh berbahaya sekali. Benar-benar seperti orang masuk kedalam pintu neraka!” Pui Tiok tertawa. “Benar, karena terkejut aku sampai pucat lesi. Kukira dia akan membunuhmu. Tetapi biarlah berlangsung seperti ini, Kwan Pek Hong tentu mengira kalau aku benar-benar terluka parah dan kembali ke Peh-hoa-nia!” “Baju jwan-thiat-kah (baju baja lemas) milik kaucu, memang benar-benar merupakan pusaka hebat dalam dunia persilatan. kalau tak memakai baju baja itu, kongcu tentu celaka dan aku terpaksa harus matimatian melarikan kereta pulang ke Peh-hoa-nia!” kata kusir. “Jangan ngaco tak keruan,” tukas Pui Tiok “baju Jwan- thiat-kah memang hebat, tetapi sekalipun tidak mempunyai baju baja itu, apa engkau kira aku benarbenar begitu lemah berhadapan dengan Kwan Pek Hong? Jangan memandang rendah aku? Engkau tahu apa hukumanmu?” Kusir itu tertawa, “Kongcu, bicara secara serius, kurasa lebih baik kita pulang melapor pa da kaucu saja dan menerangkan bagaimana kelihayan Kwan Pek Hong!” Memang kusir Itu tahu kalau sau-kongcu (putera pemimpin) mereka, beradat tinggi tak mau kalah dengan orang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 76 Dalam bercakap-cakap itu mereka sudah memasuki halaman gedung keluarga Kwan. Pui Tiok hentikan langkah. “Co-poan-koan,” katanya kepada kusir itu. Ternyata kusir itu menjabat sebagal Co-poan-koan atau dewan hakim dalam perkumpulan Peh- hoa-kau, “tentunya engkau sudah banyak pengalaman bercampur-baur dengan orang, mengapa engkau masih mengeluarkan kata-kata yang membikin panas hati orang?” Peh-hoa-kau mempunyai Dewan hakim yang terdiri dan dua orang. Kedua hakim Itu lebih tinggi dari sutongcu atau empat kepala bagian. Orang yang menyaru sebagai kusir itu bernama Siu Peng. Bermula dia itu menjadi tianglo (penasehat) dari perkumpulan Pai-kau didaerah telaga Ouse. Tetapi karena melanggar peraturan perkumpulan dia hendak dijatuhi hukuman gantung sampai mati. Tetapi karena dia berkepandaian tinggi maka dia berhasil berontak dan lolos dari kepungan beratus-ratus anak buah perkumpulannya. Kemudian dia melarikan diri dan malang melintang di dunia persilatan selama beberapa tahun. Pada akhirnya dia lalu masuk kedalam perkumpulan Peh-hoa-kau. Mendengar Pui Tiok masih menyesali dirinya, Siu Peng menghela napas lalu meraba batok kepalanya sendiri dia berkata, “Kongcu, tadi tangan Kwan Pek Hong yang berada diatas batok kepalaku ini hampir membuat semangatku serasa terbang. Terus terang, aku tak berani berhadapan lagi dengan dia. Aku berpendapat, untuk dapat menculik anak perempuan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 77 Kwan Pek Hong, harus kaucu sendiri yang turun tangan.” Pui Tiok gelengkan kepala, “Sudahlah, jangan berkata begitu lagi. Sebelum berhasil, aku tak mau pulang. Perintah untuk membuat galian liang pada dua bulan yang lalu, apakah sudah selesai?” Siu Peng maju dua Langkah kemuka dan berseru “Sudah datang!” Memang saat itu muncul dua orang lelaki berpakaian hitam. Siu Peng segera bertanya kepada mereka, “Galian liang yang tembus ke rumah Kwan Pek Hong apa sudah dikerjakan?” “Sudah dan dapat mendengar derap langkah orang yang berjalan diatas liang itu,” kata kedua lelaki baju hitam itu. “Apakah arahnya tepat? Apakah tepat dapat tembus kedalam ruang gedung?” tanya Pui Tiok.. “Ya, memang kebetulan dapat menembus ke dalam ruang gedung.” kata mereka. “Bagus,” kata Pui Tiok, “Co-Poan-koan, Kwan Pek Hong tentu mengira kalau aku benar-benar terluka berat dan sedang bergegas pulang ke Peh- hoa-nia. Tentulah dia takkan mengira kalau kita membuat galian liang yang tembus ke ruang gedung kediamannya.” Siu Peng gelengkan kepala, “Kongcu, bukan aku hendak menghapus kegembiraan tetapi taruh kata engkau dapat menyusup masuk kesana, tetapi begitu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 78 kepergok Kwan Pek Hong, apakah itu tidak……. tidak……. “ rupanya Siu Peng tak berani melanjutkan kata-katanya. “Tak apa, silahkan bicara lanjut, aku takkan marah,” kata Pui Tiok. Siu Peng tertawa, “Apakah tidak akan dilempar Kwan Pek Hong seperti orang melempar anak ayam?” “Bah,” dengus Pui Tiok, “mengapa engkau masih tetap bicara begitu melemahkan semangat orang. Sudahg tentu aku sudah mempersiapkan rencana. Lihat, apakah ini?” dia terus mengeluarkan batang hio (dupa) warna kuning. Siu Peng terkejut, “Kongcu, apakah itu bukan dupa wangi buatan kita?” “Benar, aku hendak menggunakannya.” Mendengar itu berkatalah Siu Peng dengan rada serius, “Kongcu, mana dapat begitu? Itu benda yang sering digunakan tingkat anak buah saja. Kebesaran nama kaucu sudah termasyhur ke seluruh penjuru. Dan engkau sendiri juga masih seorang muda. Kalau menggunakan benda itu, nama Peh-boa akan ditaruh dimana?” “Ai, engkau ini memang macam-macam saja Setiap ada pemecahan engkau tentu tak setuju. Kata peribahasa tentara tak dibenarkan mengganggu rakyat. Kalau engkau tetap menggunakan benda itu bagaimana pandangan orang terhadap Peh hoa kau kita nanti?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 79 “Ah, engkau berlebih-lebihan,” kata Pui Tiok. Orang mengatakan, menjalankan perang tak boleh menolak akal licik. Aku menggunakan dupa bius, diapun boleh menggunakan cara apa untuk menolak. Tetapi kalau dia tak mengadakan penjagaan, jelas dia tentu akan menderita kerugian.” “Orang menganggap engkau ini seorang lelaki perwira,” kata Siu Peng, “mana orang akan mengadakan penjagaan tentang perbuatanmu yang tergolong licik itu?” Pui Tiok tertawa, “Orang mengatakan: hati manusia sukar diduga. Kalau sama sekali dia tak memperhitungkan hal ini, apalagi yang akan dikatakan kecuali dia harus menderita besar karena kehilangan puterinya!” Siu Peng tertegun sejenak lalu menghela napas, “Biar bagaimanapun, kunasehati lebih baik jangan engkau menggunakan permainan kotor.” “Baik, kutahu,” kata Pui Tiok, “mari kita memasuki liang rahasia yang tembus kebawah gedungnya dan mendengarkan apa yang terjadi disitu, baru nanti kita bicara lagi!” Siu Peng mengangguk. Keduanya segera mengikuti kedua lelaki baju hitam itu. Tak lama mereka tiba disebuah lorong. Ditengah-tengah lorong telah digali sebuah liang. Salah seorang lelaki baju hitam memberikan lentera dan berseru, “Silahkan turun dari sini.” Pui Tiok berjalan dimuka, Siu Peng dibelakang. Rupanya penggalian Itu dilakukan dengan cepat-cepat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 80 sehingga sempit sekali tetapi cukup untuk dimasuki seorang. Lebih kurang lima enam tombak jauhnya barulah liang itu mulai lebar. Selanjutnya setelah tiba diujung liang, diatasnya merupakan langit-langit dari ubin. Dengan begitu diatas tentulah merupakan ruang gedung. Sambil tertawa Pui Tiok menunjuk keatas, bisiknya, “Co-poan-koan, yang diatas kita ini entah ruang apa? Kalau kebetulan kamar tidur Kwan Pek Hong sungguh menggembirakan sekali.” Siu Peng hendak menjawab tetapi saat itu diatas terdengar derap langkah orang. Dan pada lain saat terdengar suara seorang wanita yang seperti gembreng ditabuh, tak sedap didengar. “Mengapa engkau pulang? Bagaimana dengan keadaan diluar?” seru wanita itu. “Pui Tiok tertawa gembira dan berbisik, “Co poankoan, kemungkinan kita keliru arah. Ruang diatas ini kalau bukan dapur tentu kamar bujang. Kalau tidak masa terdengar suara perempuan yang bernada begitu tak sedap?” ”Jangan bicara!” Sui Peng gopoh mencegah. Pada saat itu terdengar suara seorang pria menjawab pertanyaan wanita tadi, “Harap hujin jangan kuatir, tentu takkan terjadi apa-apa!” Nada suara lelaki itu jelas adalah suara Kwan Pek Hong. Serentak Pui Tiok leletkan lidah. Menyusul lagi terdengar suara seorang anak perempuan yang merengek-rengek ketakutan, “Yah aku masih ingin Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 81 naik tandu, bermain-main ke telaga. Si suko tak dapat menjaga aku, sukalah ayah mengantarkan aku ke sana!” Jelas Itulah suara anak perempuan Kwan Pek Hong yang tengah merengek kepada ayahnya. Kwan Beng Cu, demikian nama anak perempuan itu, adalah anak yang diinginkan Pui Tiok dan Siu Peng untuk dibawa ke Peh-hoa-nia. Setelah mendengar pembicaraan diatas, barulah Pui Tiok dapat menghela napas longgar. Penggalian yang dilakukan anak buahnya ternyata tepat tembus dibawah ruang tempat tinggal Kwan Pek Hong dan anak isterinya. Asal langit-langit ubin itu di dorong keatas, tentulah Pui Tiok dapat memasuki ruang itu. Sudah tentu Pui Tiok dan Siu Peng tak dapat pada saat itu juga terus masuk karena Kwan Pek Hong masih ada diatas. keduanya hanya saling tukar pandang dengan wajah berseri tawa. Mereka mendengarkan lebih lanjut pembicaraan Kwan Pek Hong dengan puteranya. “Beng Cu,” kata Kwan Pek Hong, “hari ini ayah sedang resah, tak ingin keluar, jangan ributlah!” “Huaaaa….” serentak pecahlah tangis anak perempuan itu, “aku mau pergi, aku mau pergi, aku ingin ayah membawa aku ke telaga!” “Bing Cu, besok pagi tentu kubawamu kesana. Tadi engkau kan sudah kesana dan engkau malah ketakutan pulang. Mengapa sekarang mau pergi lagi?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 82 Tetapi anak perempuan yang sudah terlanjur dimanja mamanya itu tak menghiraukan kata-kata ayahnya, melainkan terus merengek-rengek, “Aku mau pergi, aku mau pergi. engkau harus membawaku kesana, yah….. Ma ayah tak mau mengantarkan aku ke sanal” “Beng Cu, diam,” kata Kwan hujin lalu menegur suaminya, “Pek Hong, apakah engkau benar-benar tak mau menuruti permintaan anakmu?” “Aku …… aku tak ingin pergi, aku……….” “Coba bilang saja kalau engkau tak mau membawa kesana” “Ya, aku. . aku mengantarkan kesana Hujin, mengapa begitu saja engkau terus mau marah?” tegur Kwan Pek Hong. Mendengar percakapan suami isteri itu, Pui Tiok dan Sin Peng segera menutup mulut dengan tangan masing-masing lalu berkisar meninggalkan tempat itu. Setelah keluar mereka baru tertawa gelak-gelak sampai perut terkial-kial. “Co-poan-koan,” seru Pui Tiok, “sungguh celaka sekali! Pendekar besar yang namanya begitu cemertang seperti Kwan Pek Hong, ternyata seorang lelaki yang takut isteri.” Siu Peng juga tertawa terpingkal-pingkal, serunya, “Uh, uh, ternyata Kwan hujin itu begitu berwibawa sekali. Kongcu, sebaiknya berhati-hatilah kalau bertindak.. Siapa tahu ilmu kepandaian Kwan hujin itu lebih tinggi dari Kwan Pek hong sendiri. Jika engkau Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 83 sembarangan masuk saja, bukankah akan terbentur dengan seorang singa betina, Sebenarnya ucapan Siu Peng itu hanya untuk bersendau-gurau. Tetapi siapa tahu, ternyata keadaan Kwan hujin memang demikian. Pui Tiok tertawa. beberapa saat kemudian dua orang anak buahnya membawa menghadap seorang lelaki tua. Paman ini adalah arsitek yang memborong pembangunan gedung-gedung di kedua jalan besar ini. Oleh karena itu dia tahu jelas tentang keadaan gedung Kwan Pek Hong, “kata anak buah itu. “Bagus, bagus, nih sekeping perak, mungkin beratnya 7-3 kati, boleh engkau pakai untuk pembelian peti mati kelak,” kata Pui Tiok. Sejak mendirikan bangunan gedung, kehidupan pak tua itu makin merosot dan susah. Melihat uang perak sebanyak itu dia gopoh menyambuti dengan tangan gemetar. Karena gembiranya, pak tua itu tak menyadari waktu keping emas itu membentur tangannya, tubuhnya tergetar keras. “Lo-tiang,” seru Pui Tiok, “soal penggalian liang disini, jangan sampai engkau beritahu kepada siapa saja,” “Baik, tuan, aku si tua ini tahu,” kata pak tua. Dengan membawa keping emas dia terus melangkah keluar dengan masih, tertawa-tawa. Tetapi sebelum tiba di rumah, sekonyong-konyong kedua Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 84 lututnya melentuk lunglai dan pandang matanya gelap, bluk… dia terus rubuh dan jiwanyapun melayang.. keping emas yang berada ditangannya, menggelinding sampai jauh dan tepat berhenti dibawah kaki seorang pengemis buta. Pengemis buta itu membungkukkan tubuh, menjemputnya dan berkata seorang diri, “Benda yang bagus sekali, seperti sekeping emas…” – Anehnya walaupun mulut memuji tetapi tangannya berayun melemparkan keping emas itu. Pak tua yang mati tadi, telah mati dalam rasa kegirangan. Pada saat dia menerima emas, Pui Tiok sengaja pancarkan tenaga dalam untuk membentur pergelangan tangan orang. Tenaga dalam yang digunakan Pui Tiok termasuk jenis Im-lat (tenaga Im), itulah sebabnya pak tua hanya merasakan badannya gemetar saja tetapi tak dihiraukan. Kalau pak tua itu terus rebah tak bergerak, mungkin ia masih dapat bertahan hidup sampai 10-an hari. Tetapi karena dia terus berjalan urat-uratnya putus dan jiwanyapun melayang. Malampun tiba dan bertanda waktu dibunyikan para petugas. Sejak menjelang tengah malam, Pui Tiok dan Siu peng sudah memasuki terowongan dibawah tanah untuk mendengarkan apa yang terjadi diatas. Mereka mendengar Kwan hujin tengah meninabobokkan Kwan Beng Cu supaya tidur dan Kwan Pek Hong mengucapkan selamat malam lalu keluar kembali ke kamarnya sendiri. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 85 Ternyata Kwan Pek Hong dan isterinya tidur secara terpisah. Suatu hal yang mengejutkan Pui Tiok dan Siu Peng. Sambil mengangkat bun-hio (dupa pelelap) Pui Tiok berkata, “Co-poan-koan karena Kwan Pek Hong tak berada di kamar atas kurasa tak perlu kita gunakan permainan ini.“ Memang Su Peng juga tak setuju menggunakan dupa bun-hio. Hanya jago-jago rendah yang suka menggunakan cara begitu. Kalau Pui Tiok tetap hendak menggunakan, apabila sampai tersiar keluar tentu akan mencemarkan nama baik Peh hoa-kau. “Kongcu,” Siu Peng mengangguk, “kalau engkau cepat menyadari setiap kesalahan, itu berarti suatu kebahagiaan bagi perkumpulan kita.” Pui Tiok menunggu sampai beberapa waktu lagi, setelah diatas tak terdengar suara apa-apa, barulah pelahan-lahan dia mengangkat lantai batu, Karena sekeliling lantai batu itu sebelumnya sudah dibersihkan dari tanah-tanah yang melekat maka tanpa banyak menggunakan tenaga, dengan mudah Pui Tiok dapat mengangkat keatas sampai setengah meter lalu dia menongolkan kepala memandang kesekeliling. Tetapi ruang itu gelap sekali sehingga tak dapat melihat sesuatu apa. “Bagus,” diam-diam Pui Tiok girang. “Asal dia bekerja dengan hati-hati, besok pagi ketika Kwan hujin bangun tentu dia akan terkejut dan heran dengan cara bagaimana puterinya hilang.” Dia kembali meluncur turun dan memberi isyarat supaya Siu Peng datang. Setelah itu dia lalu mendorong lantai batu ke samping dan diletakkan di Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 86 lantai. sekali menahan napas, dia terus menerobos keluar. Siu Peng pun dengan gerak yang ringan, menyusul keluar. Setelah keluar dari terowongan dan berdiri di dalam ruang, keduanya masih dicengkam kegelapan yang pekat. Setelah beberapa saat berdiam diri, barulah mereka dapat melihat apa-apa yang berada dalam ruang gelap Itu. Ruang itu sebuah ruang tidur yang besar terisi sebuah tempat tidur kayu yang besar dan dl sampingnya terdapat sebuah tempat tidur kayu yang agak kecil. Jelas yang tidur di tempat tidur kecil itu tentulah Kwan Beng Cu, puteri dari Kwan Pek Hong. Kembali Pui Tiok memberi isyarat tangan kepada Siu Peng untuk menjaga pintu. Apabila sampai membangunkan orang yang tidur dan Kwan Pek Hong bergegas datang maka harus segera saja nyelusup masuk kedalam terowongan rahasia lagi, Setelah mengatur seperlunya, barulah Pui Tiok mulai bertindak. Dengan langkah yang hati-hati supaya jangan sampai menimbulkan suara, dia terus menghampiri ketempat tidur kecil. Kali ini pasti berhasil, pikirnya. dengan penuh keyakinan. Tetapi alangkah terkejutnya pada saat dia hanya terpisah satu meter dari tempat tidur kecil sekonyongkonyong lampu yang dipasang diatas ranjang besar menyala terang dan di atas ranjang besar itu tampak seorang wanita berwajah buruk bertubuh tinggi besar tengah duduk dan memandang gerak gerik Pui Tiok dan Siu Peng dengan pandang mata yang tajam berapi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 87 Pui Tiok dan Siu Peng benar-benar kaget seperti disambar geledek sehingga sesaat mereka terkesima seperti patung. Tetapi beberapa jenak kemudian kesadaran pikiran Pui Tiok mulai memancar. Kwan Pek Hong tidak berada disitu isterinya hanya seorang perempuan saja, mengapa mesti takut? Asal dia bertindak tepat, ltu pasti sudah dapat membawa anak perempuan itu sebelum Kwan Pek Hong datang. Maka Pui Tiok tenangkan diri dan berkata, “Kwan hujin, karena terpaksa aku datang pada tengah malam begini, harap suka memaafkan.” Pui Tiok bicara dengan tenang seolah tak terjadi sesuatu apa. kebalikannya Siu Peng yang menjaga di pintu tiba-tiba saja mengerang aneh. Pui Tiok terkejut dan cepat berpaling. Dilihatnya sepasang mata Siu Peng merentang lebar-lebar memandang Kwan hujin. Tangan kanannya diangkat menuding ke arah nyonya itu dan mulut berseru tersendat-sendat, “Engkau….. engkau…. Engkau…… “ Bibirnya gemetar keras sehingga tak dapat berkata terang Kwan hujin juga tengah memandangnya, Wajahnya seperti muak. Melihat itu Pui Tiok makin heran dan menegur Siu Peng, “Ih Co-poan-koan, mengapa engkau ini?” Pada saat Pui Tiok berkata, kata-kata dari mulut Siu Peng tadipun terjadi juga, “Engkau……… apa bukan. . .bukan dia?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 88 Dalam berkata-kata Itu tubuh Siu Peng seperti melentuk kebawah dan pada saat selesai berkata, diapun terus rubuh terkapar dilantai. Sepasang biji matanya mendelik, mulut berbuih dan orangnya pun pingsan. Menilik keadaannya, Siu Peng pingsan karena melihat sesuatu yang menyeramkan hatinya. Pui Tiok tegak terlonggong-longgong. Jelas Siu Peng itu bukan jago sembarangan,. Di dalam Peh-hoa-kau, dia mempunyai kedudukan tinggi. Dia membawahi berpuluh jago-jago yang berkepandaian tinggi. Diapun luas pengalamannya. Andaikata dia mendirikan sebuah partai perkumpulan, tentulah akan mendapat tempat dalam dunia persilatan. Kalau menilik ucapannya tadi, jelas dia tentu sudah kenal pada Kwan hujin. Tetapi andaikata begitu, mengapa dia begitu ketakutan setengah mati sampai pingsan? Pui Tiok cepat melesat ke samping Siu Peng dan berseru memanggilnya, “Co-poan-koan Co poankoan!” “Jangan bikin ribut disini! Apakah engkau hendak membangunkan anakku Kalau puteriku sampai bangun, awas jiwamu!” tiba-tiba Kwan hujin berseru dengan bengis. Kembali Pui Tiok tertegun. Dia bangkit. Di Lihatnya wajah Kwan hujin itu memang jelek tetapi tak sampai Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 89 membuat orang pingsan. Ah siapa tahu, barangkali saja Siu Peng itu mengidap penyakit ayan dan kumat dengan mendadak. Lebih baik dia segera menutuk jalan darah Kwan hujin, lalu membawa Kwan Beng Cu dan Siu Peng tingalkan ruang itu. Setelah menentukan keputusan, dia segera loncat maju dan hendak menutuk bahu Kwan hujin. Waktu bertindak itu, Pui Tiok memperhatikan juga bagaimana reaksi wajah Kwan hujin. Dan memang Kwan hujin terkejut. Rupanya dia tak menyangka kalau Pui Tiok berani menyerangnya. Tetapi bagi Pui Tiok, kejut pada wajah nyonya itu dianggapnya seperti orang ketakutan. ia percaya pasti akan mendapat hasil. Dengan mengerahkan tenaga, dia segera langsungkan tutukan jarinya, cret. Yang diarah adalah jalan darah Kian-keng- hiat pada bahu Kwan hujin. sekali tutuk, nyonya itu tentu rubuh. Tetapi ketika Jarinya membentur bahu orang ternyata yang dibentur itu adalah bagian atas bahu bukan jalan darah Kian keng hiat. Bagaimanapun halnya, Pui Tiok juga murid orang tokoh ternama. Cepat dia menyadari kalau bakal celaka, maka dia segera menarik pulang tangannya. Tetapi pada saat itu terdengarlah Kwan hujin mendampratnya dengan pelahan, “Bagus budak kecil, apakah engkau benar-benar hendak mengganggu tidur puteriku?” Saat itu Pui Tiok hanya dapat tertawa meringis. Diam-diam dia terkejut. Ternyata Kwan hujin tidak marah karena diserang melainkan karena Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 90 menganggap dia (Pai Tiok) hendak mengganggu Kwan Beng Cu yang sedang tidur nyenyak. Dengan begitu jelas kalau Kwan hujin itu tak memandang mata sama sekali kepadanya. Dia dianggap seperti nyamuk saja. Berpikir begitu Pui Tiok hendak tertawa keras tetapi baru saja dia mengangakan mulut, ubun-ubun kepalanya sudah tertindih oleh sesuatu tenaga besar. Ternyata telapak tangan Kwan hujin sudah melekat pada ubun-ubun kepalanya. Pui Tiok makin terkejut ketika merasa bahwa tenaga yang terpancar dari telapak tangan Kwan hujin itu tak dapat ditahannya lagi sehingga kedua kakinya lunglai. Walaupun dia tak ingin bertekuk lutut tetapi mau tak mau kakinya melentuk membawa tubuhnya berlutut. Pada saat lutut Pui Tiok hendak menyentuh tanah Kwan hujin kebutkan lengan bajunya sebelah kiri. Setiap tenaga menghambur, pada saat kedua lutut Pui Tiok hendak menyentuh tanah, tidak sampai mengeluarkan suara yang keras sehingga tidak membangunkan Kwan Bing Cu. Menderita hal itu mau tak mau hati Pui Tiok hanya dapat menghela napas tanpa dapat berbuat seuatu apa, Kini dia sudah menyadari dan menyaksikan sendiri bagaimana kesaktian Kwan hujin itu. Dia benar-benar tak pernah membayangkan bahwa kepandaian Kwan hujin itu sudah mencapai tataran yang jarang sekali dimiliki oleh tokoh-tokoh persilatan Lain. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 91 Timbul pertanyaan dalam hati Pui Tiok Mungkinkah Siu Peng sudah tahu hal itu maka begitu melihat Kwan hujin dia terus lemas dan rubuh? jika benar itu jelas keadaannya saat itu, benar-benar dalam bahaya. Karena kalau Kwan hujin itu bukan seorang tokoh yang buas dan kejam, tak mungkin begitu melihatnya Siu Peng terus ambruk pingsan Dan bukankah Siu Peng itu juga bukan tokoh sembarangan? Kalau dia saja sudah begitu ketakutan tentu Kwan hujin Itu seorang momok yang mengerikan Mendengar pertanyaan Kwan hujin yang menyebut nama ayahnya, bukan kepalang kejut Pui Tiok. Waktu hendak meninggalkan Peh-hoa-nia, ayahnya pernah memberi pesan kepadanya bahwa nama Peh Hoa lokoay itu terlalu terkenal sekali di dunia persilatan. Tetapi yang mengetahui she dan namanya yang aseli, hanya satu dua orang saja. Kalau ada orang yang tahu she dan namanya, jelas orang itu tentu seorang tokoh yang mempunyai riwayat besar. Ayahnya pesan supaya Pui Tiok jangan sembarangan bertempur dengan orang itu. Pesan ayahnya itu dicatat Pui Tiok dengan sungguhsungguh dalam hati. Itulah sebabnya mengapa dia begitu kaget sekali ketika Kwan hujin menyebut she dan nama ayahnya. Pui Tiok tak berani bicara keras karena kuatir kalau sampai membangunkan Kwan Beng Cu, tentulah Kwan hujin akan makin marah kepadanya. “Ya, ayahku memang Pui Peh sianseng,” sahutnya dengan berbisik. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 92 “Hm,” dengus Kwan hujin, “Pui Peh sianseng makin tua makin linglung. Kitab Ih-su-kengnya hilang, seharusnya dia mencari ke lain tempat, mengapa dia menyelidiki kemari Apa dikira aku kepincut dengan kitab yang sudah usang itu?” Dalam berkata-kata itu tangan Kwan hujin masih tetap diletakkan pada ubun-ubun kepala Pui Tiok sehingga anak itu menggigil. Dia sudah mendengar cerita orang tentang watak Kwan hujin yang berangasan dan tak takut segala apa. “Mohon tanya. . . siapakah anda ini?” tanya nya dengan baik-baik. “Ngaco!” bentak Kwan hujin, “engkau sudah berani masuk ke gedung ini masa tak tahu kalau aku Kwan hujin?” Pui Tiok tertawa getir dalam hati. Diam-diam dia memaki dirinya sendiri mengapa mengajukan per tanyaan setolol itu. Bukankah setiap orang tahu siapa Kwan hujin ini? Tetapi bagaimana dan sampai dimana kesaktian Kwan hujin sehingga Siu Peng co-poan koan dari Pehhoa- kau, begitu melihatnya terus pingsan, memang merupakan suatu kejutan yang tak pernah dipikirkan Pui Tiok. Pui Tiok memang pemuda yang cerdik. Saat itu dia dapat menarik kesimpulan bahwa Kwan hujin memang tak mau banyak bicara Lagi. Hmm, kalau aku dapat lolos dari sini, tentu akan kutanyakan kepada Siu Peng tentang asal usul nyonya itu. Sekarang yang penting Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 93 dia harus cari akal cara bagaimana dia dapat lolos dari situ. “Cianpwe benar,” katanya, “ayah tentu salah duga atau mungkin karena terpengaruh oleh kabar kabar diluar. Nanti akan wanpwe jelaskan mohon cianpwe memberi maaf saja.” Wajah Kwan hujin agak cerah. “Hm, ternyata engkau pandai bicara lunak. Bangunlah!” Sambil berkata Kwan hujinpun menjenjang keatas dan tangannya Juga diangkat naik. Dari telapak tangan itu serentak memancar daya sedot yang keras sehingga Pui Tiok mau tak mau ikut berdiri. Setelah lolos dari bahaya, diam-diam Pui Tiok merasa ngeri dan kucurkan keringat dingin. “kali ini aku dapat membebaskan kalian ber dua” kata Kwan hujin dengan dingin, “tetapi kalau lain kali kalian masih berani datang lagi jangan harap aku dapat memberi ampun. lekas keluar!“ Sambil mengiakan, Pui Tiok mundur kesamping Siu Peng. Saat itu Siu Peng masih pingsan. Terpaksa Pui Tiok memanggulnya. Setelah menguar tutup lantai, dia lalu turun kedalam terowongan rahasia. Rupanya nyali Pui Tiok benar-benar pecah. Setiba di luar dia terus naik keretanya dan terus melarikannya keluar dari kota. Tiba di kaki gunung Giok-bong-san baru dia berhenti di dalam hutan. “Ah….. “dia menghela napas longgar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 94 Siu Peng masih belum siuman. Pui Tiok menepuk jalan darah peh-hwe-hiat diatas kepalanya, barulah orang itu tersadar. “Co-poan-koan, mengapa engkau tak berguna sama sekali?” tegur Pui Tiok tertawa. Pui Tiok sengaja bersikap tenang bahkan tertawa untuk menutupi kelemahan dirinya. Tetapi Siu Peng seperti tak mendengar dan hanya memandang hadap ke muka. Sudah tentu Pui Tiok curiga. Dia menarik Siu Peng keluar. Ternyata Siu Peng berdiri tegak dengan sikap yang acuh sekali. “Co-poan-koan,” Pui Tiok tertawa hambar, apakah arwahmu yang ketakutan itu masih belum kembali?” Biar waktu siuman nanti Siu Peng jangan sampai mengetahui kalau dia (Pui Tiok) juga gemetar ketakutan maka Pui Tiok sengaja pura-pura tertawa. Tetapi tiba-tiba dia batal tertawa karena memperhatikan bagaimana keadaan Siu Peng. Walaupun dia bicara panjang lebar ternyata Siu Peng masih tegak seperti patung saja. Cepat Pui Tiok memegang pergelangan tangan Siu Peng. Kejutnya bukan kepalang. Poh nadi Siu peng bergolak keras sekali menandakan kalau orang Itu sudah kehilangan kesadarannya menjadi orang tolol. Pui Tiok benar-benar seperti melihat hantu di siang hari. Siu Peng seorang tokoh yang berkepandaian tinggi, jelas begitu ketakutan setengah mati melihat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 95 Kwan hujin sehingga menjadi orang yang hilang ingatan. Diam-diam Pui Tiok bersyukur dalam hati karena tak mengetahui siapa Kwan hujin itu sehingga tak sampai menderita seperti Siu Peng. Setelah tercenung beberapa saat, barulah Pui Tiok mengangkat Siu Peng kedalam kereta lagi. Dia mengambil sebuah tabung bambu lalu dilontarkan sekeras-kerasnya ke tanah. Darrr! tabung bambu itu meletus, menghamburkan asap hitam yang bergulung-gulung menjulang ke udara. Begitu asap hitam itu membumbung ke angkasa tiba-tiba meletus lagi dan bertebaran meluas. Asap memancarkan beraneka warna, merah kuning kelabu dan biru. Saat itu Pui Tiok menunggu disamping kereta. Tak berapa lama tampak enam ekor kuda lari mendatangi. Cepat sekali mereka sudah tiba di hutan situ. Pemimpinnya adalah Li Ih Beng kepala paseban Thiansiu- tong dari perkumpulan, Peh-hoa-kau. Dia diiringi oleh anak buahnya jago-jago yang tangguh. Selekas tiba, Li Ih Beng terus loncat turun dan memberi hormat kepada Pui Tiok, “Kongcu….” “Ah, Janganlah Li tongcu bersikap begitu,” Pui Tiok gopoh mencegah. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 96 Li Ih Beng tertawa, “Kongcu sedang melakukan perintah kaucu maka tak ubah seperti kaucu sendiri. Sudah selayaknya kalau kami menjalankan peradatan begitu.” “Ah, harap tongcu jangan berkata begitu “kata Pui Tiok. Tepat pada saat itu dari arah selatan terdengar suara orang dan tahu-tahu muncul seorang lelaki berwajah merah, bertubuh tinggi besar, mencekal sebatang tongkat panjang dan melangkah dengan gagah perkasa, Dia bertubuh tinggi besar, gagah perkasa. Langkahnya berat dan mantap tetapi cepat sekali jalannya. Hal itu menunjukkan bahwa dalam ilmu tenaga dalam dan tenaga luar, dia telah mencapai tataran yang tinggi. Begitu tiba dia memberi hormat kepada Pui Tiok, “Tongcu dan paseban Te-Siu-tong datang menghadap.” Pui Tiok gopoh balas menghormat dan mengangkatnya bangun, “Cin tongcu, kalau engkau begitu menghormat kepadaku, aku malah kikuk. Apakah engkau memang sengaja hendak menggaris batas tajam diantara kita?” “Sudah tentu tidak,” sahut orang itu yang bernama Cin Pah, “itu sudah selayaknya menjadi kewajibanku.” Pui Tiok gelengkan kepala, “Ah, janganlah begitu. Li tongcu dan Cin tongcu, apakah anda mendapatkan berita itu?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 97 Li Ih Beng menghela napas, “Aku telah bertemu dengan Kwan tayhiap di tanggul sungai. Sungguh memalukan sekali , aku.………” Berkata sampai disitu wajah Li Ih Beng berobah merah dan sebelum dia melanjutkan perkataannya, Pui Tiok sudah menukas, ‘‘Ya, kutahu. Aku dan Co poan koan juga bertemu Kwan Pek Hong dan kamipun pernah menyusup kedalam gedungnya. Tetapi Co poan koan malah …………” Pui Tiok tertawa getir lalu melanjutkan, “Begitu melihat Kwan hujin dia malah terus pingsan………” Peh-hoa kau mempunyai empat tongcu atau kepala paseban. Keempat tongcu itu masing-masing memiliki kepandaian yang tinggi. Dan kepandaian co-poan koan lebih tinggi dari keempat tongcu itu. Hal itu seluruh anggota Peh-hoa-kau dari pimpinan tinggi sampai bawah, tahu semua. Mendengar keterangan Pui Tiok begitu melihat Kwan hujin, co-poan-koan terus semaput, benar-benar mereka tak percaya. Li tongcu dan Cin tongcu yang bertubuh tinggi besar itu, tercengang- cengang. “Walaupun sekarang dia sudah siuman tetapi kesadaran pikirannya sudah hilang. Dia seperti orang longong. Rupanya dia telah menderita shock yang hebat sekali.” Mendengar itu Li Ih Beng dan Cin Pah makin terkejut, serunya “Benarkah begitu?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 98 “Dia masih berada dalam kereta, kalau tak percaya anda berdua boleh melihatnya sendiri, “kata Pui Tiok. kedua tongcu terus lari menghampiri kereta. Tiba dimuka kereta mereka terus membuka pintu dan melongok ke dalam. Bukan kepalang kejut mereka karena melihat Siu Peng sedang duduk terlongonglongong seperti orang yang kehilangan kesadaran pikirannya. Tanpa bicara apa-apa, keduanya lalu keluar dan kembali kepada Pui Tiok. “Kongcu kalau menilik gelagatnya, suami isteri Kwan Pek Hong itu memang sakti sekali. Bagaimana kalau kita pulang dulu untuk memberi laporan kepada kaucu?” kata Li Ih Beng. Pui Tiok mondar-mandir sambil menggendong kedua tangannya. Beberapa saat kemudian baru dia berkata, “Kaucu sudah menitahkan aku melakukan tugas. Kalau aku gagal mendapatkan kitab pusaka Ihsu- keng, seharusnya aku dapat membawa puteri Kwan Pek Hong pulang ke Peh-hoa-nia. Tetapi sekarang semuanya gagal,. bagaimana aku ada muka untuk bertemu kaucu? Kalian boleh membawa pulang copoan- koan dulu, aku tetap akan berada disini untuk melanjutkan usahaku.” Kedua tokoh itu terkejut, “Kongcu, bagamana mungkin begitu? Kalau kongcu hanya seorang diri disini. …… Pui Tiok cepat menukas, “Aku banyak adu otak dengan suami isteri Kwan Pek Hong. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 99 Aku cukup tahu diri, kalau bertempur jelas kita kalah walaupun jumlah kita lebih banyak Sudahlah, kalian boleh pulang. Aku dapat mengatur diri. Kalau tak dapat berhasil, aku tak mau pulang. Kata-kata itu diucapkan dengan tegas oleh Pui Tiok. Walaupun merasa bahwa tindakan putera dari ketua mereka ini memang mencemaskan tetapi karena merasa tak mungkin dapat merubah keputusan anak muda itu, apa boleh buat terpaksa kedua tongcu Itu diam saja. “Jiwa tongcu,” kata Pui Tiok pula, “aku kan bukan anak berumur tiga tahun. Masa aku menjaga diriku sendiri saja aku tak mampu? Sudahlah harap jiwi pulang dan melapor pada kaucu. Tak usah mengirim bala bantuan lagi. Aku percaya, kalau aku sampai gagal, beliau orangtua itu, pun belum tentu dapat berhasil!” “Kiranya kongcu tentu tahu,” jawab Li Ih Beng, “kalau kami berdua pulang tentu akan menerima hukuman. Lebih baik salah seorang, tetap tinggal disini untuk menemani kongcu dan yang satu membawa pulang co-poan-koan.” Namun Pui Tiok gelengkan kepala, keputusanku sudah mantap, mengapa kalian masih banyak omongan lagi? Kalau kaucu sampai menghukum kalian akulah yang bertanggung jawab!’ Karena tidak dapat membantah lagi kedua tongcu Itu menghela napas. Tiba-tiba Pui Tiok sudah melesat ke muka dan dalam beberapa detik saja sudah lenyap dari pandangan mata. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 100 Kepandaian Pui Tiok itu lebih tinggi dari Li Ih Beng dan Cin Pah. Karena dia sudah pergi kedua orang itupun tak dapat berbuat apa-apa. Karena walaupun hendak menyusul toh takkan mampu. Kedua tongcu itu lalu naik kereta dan berangkat pulang ke Peh-hoa-nia. JILID 3 Pui Tiok seorang pemuda yang berhati keras. Tetapi dia berotak terang. Walaupun menderita kegagalan yang cukup pahit, namun dia tak gentar. Kwan Pek Hong dan isterinya, memang lebih sakti dari dirinya. Tetapi dia tak putus asa. Kemenangan itu bukan semata hanya tergantung dari ilmu silat tetapi dari akal dan taktik. Setelah berlari meninggalkan kedua tongcu lebih kurang 10 li jauhnya tiba-tiba dia mendengar suara genta berbunyi berdentang -dentang. Dia hentikan langkah dan memandang ke empat penjuru. Rupanya aku harus mencari tenaga bantuan. Untung waktu mau turun gunung, ayah telah. memberi pesan kepadaku,” katanya seorang diri. Dia mengeluarkan sebuah kantong dari kulit rusa dan mengambil sebiji gulungan malam (lilin). Saat itu hari sudah malam dan cuaca gelap Sekali. Sekali pijat, malam (lilin) itu hancur dan tangannya seperti menggenggam sinar biru. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 101 Ternyata gulung lilin bundar macam obat yang dijual di rumah obat Tiong-hoa, bukan berisi obat melainkan bahan bubuk phosporus. Waktu bubuk phosporus itu melumuri tangannya, tangannya memancarkan sinar kebiru-biruan, sepintas seperti tangan setan. Waktu tangan diayun-ayunkan, sinar biru makin memancar jelas, membentuk sebuah lingkaran sinar. Dengan penerangan itu dia lanjutkan larinya. Beberapa saat kemudian suara genta itu makin jelas dan dari dalam sebuah hutan lebat, sayup-sayup tampak sederet pagar tembok. Pui Tiok menuju ke tempat itu dan tidak berapa lama tiba di pagar tembok itu. Ternyata bangunan itu sebuah vihara tua. Di atas pintu yang catnya sudah banyak yang rontok, terdapat papan nama dengan tulisan Lam Peng Ko Si atau vihara tua Lam Peng. Tulisannya juga sudah hampir tak terbaca. Pui Tiok mengetuk pinta dan menunggu dengan hati berdebar-debar. Beberapa saat kemudian baru dia mendengar suara langkah kaki orang berjalan dengan perlahan-lahan. Cukup lama Pui Tiok menunggu sampai akhirnya baru terdengar langkah kaki itu berhenti di belakang pintu dan terdengarlah suara orang berseru dengan nada yang aneh, “Siapa itu? Mengapa tengah malam begini mengganggu orang tidur?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 102 “Silahkan membuka pintu dulu, nanti anda tentu tahu,” kata Pui Tiok. Gerakan orang itu sungguh lamban sekali. Beberapa saat kemudian baru terdengar pintu ber derit dan terbuka sebuah lobang. Pui Tiok cepat menyelinap ke samping sambil mengacungkan tangannya yang memancar sinar phosporus itu ke lubang pintu. “Ih,” orang itu mendesis, “silahkan masuk.” Sejenak meragu, Pui Tiok lalu melangkah masuk. Dia tak tahu siapa penghuni dalam vihara tua itu. Hanya ketika hendak berangkat, ayahnya Pesan, kalau menghadapi soal yang sukar, supaya pergi ke vihara Lam Peng di Hang-ciu. Tetapi kalau berada di wilayah Kangpak boleh pergi ke desa An-ke cung. Saat itu Pui Tiok berada di Hang-ciu maka dia pergi ke vihara Lam Peng. Jika melumuri tangan-tangannya dengan phosporus, tentu akan diterima penghuni vihara itu. Demikian pesan ayahnya. Tetapi setelah masuk ke vihara Lam Peng lalu harus bertemu dengan siapa, ayahnya tidak memberi tahu. Oleh karena itu hati Pui Tiok pun berdebar-debar ketika masuk kedalam vihara tua itu. Setelah masuk baru dia mengetahui bahwa yang membuka pintu tadi ternyata seorang bungkuk. Sebenarnya orang itu bertubuh tinggi besar maka sekalipun bungkuk, dia hanya terpaut beberapa senti dengan Pui Tiok. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 103 Si Bungkuk merentang mata memandang Pui Tiok dengan tajam, mulutnya mendesis lalu berkata, ‘Ikut aku.!” memang lamban sekali si bungkuk bergerak. Sebenarnya Pui Tiok tak sabar harus mengikuti di belakang Si bungkuk tetapi apa boleh buat. Dia menggunakan kesempatan untuk memperhatikan keadaan di sekeliling. Di Belakang pintu besar merupakan sebuah halaman thian-keng yang semua ditutup dengan beton tetapi sekarang suduh hancur dan rusak. Dari sela-sela batu beton yang masih ada, banyak ditumbuhi rumput liar. Disana sini tumbuh batang pohon yang daunnya bertebaran menutup jalan. Sepintas menimbulkan pemandangan yang menyeramkan. Akhirnya setelah melintasi halaman itu, Pui Tiok masuk kedalam ruang besar. Arca-arca yang dipuja disitu banyak yang sudah ngelontok cat dan pradanya, suatu pertanda bahwa sudah entah berapa tahun vihara itu tak pernah dikunjungi orang. Dan si Bungkuk Itu Juga bukan paderi tetapi orang biasa. Waktu berjalan menyusur lorong. sudah beberapa kali Pui Tiok hendak menyuruh si Bungkuk mempercepat lankahnya tetapi dia sungkan juga. Bukankah dia itu sebagai tetamu yang hendak minta tolong si Bungkuk untuk mempertemukan dengan kepala vihara Itu? Hampir setengah jam lamanya, setelah membiluk pada ujung tikungan, barulah dia tiba disebuah ruangan kecil. Dua lembar pintu yang terbuat dari bambu juga sudah remuk sehingga bagian dalam Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 104 tampak seram tak pantas ditempati orang si bungkuk menunjuk kemuka dan berseru “silahkan masuk”. “Dimanaa orang yang harus ku temui itu?” tanya Pui Tiok, “apakah berada di dalam’’ Si bungkuk megangguk lalu berputar tubuh dan ngeloyor keluar. Gerak-gerik orang bungkuk yang lamban itu bukan sengaja tetapi memang sudah pembawaannya begitu. Pada saat orang bungkuk itu berjalan selangkah, Pui Tiok pun sudah mendorong pintu dan masuk kedalam halaman kecil. Dibawah cahaya remang dari bintang kemintang. dia melihat bahwa di halaman itu hanya terdapat sebuah kamar yang pintunya tertutup. Sekelilingnya sunyi senyap sehingga mau tak mau menggigil juga perasaan Pui Tiok. Kalau bukan ayahnya yang menyuruhnya kesitu, tentulah dia tak mau datang ke tempat semacam begitu. Tetapi diapun percaya bahwa ayahnya tak mungkin akan mencelakannya. Dia mengetuk pintu dan dari dalam terdengar sebuah suara yang parau, mempersilakan dia. Suara itu menimbulkan kesan bahwa orangnya tentu seorang tua renta yang sudah hamper mati. Pui Tiok mendorong pintu dan melangkah masuk. Dalam kamar itu hanya terdapat sebuah bale-bale bambu. Dan diatas bale-bale bambu itu yang tertutup oleh selambu tebal. Selain itu terdapat lagi sebuah kursi bambu. Jelas orang tua tadi tentulah berada dalam selambu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 105 Benar juga begitu Pui Tiok masuk, dari dalam selambu itu terdengar suara orang berkata, “Silakan duduk, tempat ini jelek sekali. Anda dari mana?” “Wanpwe dan Peh-hoa-nia. Ayah wanpwe adalah Peh Hoa kaucu.” “Ha,” orang tua itu tertawa, “kiranya putera dari Peh Hoa kaucu, Sungguh seorang anak muda yang gagah. Sahabat lama mempunyai seorang putera begini sungguh membuat orang iri.” “Terima kasih atas pujian cianpwe, “kata Pui Tiok. “Ada persoalan apa harap duduk dan katakan dengan tenang,” kata orangtua itu. Sebenarnya saat itu Pui Tiok sudah kecewa. Dia kira orang yang oleh ayahnya disuruh mencari itu tentulah seorang sakti tetapi siapa tahu ternyata hanya seorang tua yang tinggal di kamar yang begitu buruk dan tak menunjukkan perbawa apa-apa. Dapatkah orang tua semacam itu membantu kesulitannya nanti? Tetapi karena sudah terlanjur datang, apa boleh buat Pui Tiok harus menunjukkan sikap yang sopan, “Wanpwe menerima perintah ayah untuk menemui Kwan Pek Hong tayhiap. Ada suatu hal yang akan meminta persetujuannya.” “Hal apa?” tanya orang tua itu. “Untuk meminta sebuah barang kepada Kwan tayhiap,” kata Pui Tiok, “kalau sampai tak diberikan, ayah suruh wanpwe untuk membawa puteri Kwan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 106 tayhiap ke gunung Peh-hoa-nia agar Kwan tayhiap nanti mengambil puterinya sendiri dengan membawa barang itu.” Kembali orang tua itu tertawa, “Ha, ha, itu betulbetul soal yang sukar. Apakah engkau sudah mencobanya?” Pui Tiok menghela napas, “Sudah, tetapi beberapa kali tak berhasil. Tadi tengah malam, wanpwe sudah berhasil menyelundup masuk kedalam kamarnya tetapi malah berjumpa dengan Kwan hujin. Kepandaian Kwan hujin itu rasanya lebih hebat dari Kwani tayhiap.” “Ooo, masa begitu?’ desis orang tua itu, “ah, mungkin tidak.” “Sungguh, “ memang begitu,” kata Pui Tiok, “co poan koan yang menyertai wanpwe, kemungkinan tentu kenal Kwan hujin. Begitu melihat Kwan hujin, dia begitu ketakutan sampai pingsan. Setelah siuman dia telah seperti orang yang kehilangan kesadaran pikirannya.” Dari dalam selambu tak terdengar suara apa-apa. Beberapa saat kemudian waktu Pui Tiok hendak bicara, terdengar orang tua itu bertanya, “Lalu bagaimana maksudmu?” “Wanpwe tetap hendak melakukan perintah ayah, membawa puteri Kwan taiyhiap ke Peh-hoa- nia. Entah apakah cianpwe sudi membantu?” “Ini… ini….. aku akan berusaha sekuat tenagaku,” kata orang tua Itu tersendat-sendat, “tetapi kalau Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 107 hanya aku seorang kemungkinan sukar berhasil. Aku tak punya pembantu. Bagaimana dengan kepandaianmu sendiri? Coba ulurkan tanganmu kedalam selambu, aku hendak mengujimu….“ Sampai saat itu Pui Tiok, hanya mendengar suara tetapi tidak melihat orangnya. Orang tua itu menyuruhnya mengulurkan tangan kedalam kelambu,. kalau dalam selambu itu sudah disiapkan senjata tajam, bukankah tangannya nanti akan kutung? Pui Tiok seorang yang pintar dan teliti tetapi entah bagaimana saat itu walaupun sudah menaruh kecurigaan namun dia menurut perintah juga untuk mengulurkan tangannya, Pikirnya, dia kesitu atas perintah ayahnya dan menilik nada kata-katanya, orang aneh itu seperti bersahabat baik dengan ayahnya, tentu tak mungkin akan mencelakai dirinya, Namun sekalipun begitu, diam-diam dia kerahkan hawa murni untuk menyalurkan tenaga dalam ke telapak tangan. Pui Tiok hendak menjaga kemungkinan yang tak diinginkan. Kalau terjadi sesuatu, dia cepat dapat menghadapi. Dan perintah orang itu supaya dia mengulurkan tangan, jelas tentu akan menguji tenaga dalamnya. Pada saat dia ulurkan tangan serentak dia merasa ada tiga buah jari tangan menyentuh tangannya. Dan tiga jari itu mengalir arus tenaga yang keras dan begitu membentur, tangannya Seperti tersedot. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 108 “Coba engkau kerahkan tenagamu untuk meronta, apakah engkau mampu melepaskan tangan mu,” serempak orang tua itu berkata. Bagaimanapun Pui Tiok itu masih seorang pemuda yang berdarah panas, mendengar perintah semacam itu, diam-diam dia marah. “Hm. ketiga jarimu itu hanya membentur telapak tanganku dan tak mampu menyedot, mengapa aku tak dapat membebaskan tanganku? Apakah ini tidak berarti menghina aku?“ pikirnya. Sambil menimang dia terus menarik tangannya tetapi uhh..,. ternyata tangannya itu tak dapat lepas dari ketiga jari orang. Diam-diam dia menjadi tegang lalu menambahkan tenaga dalam lagi sampai delapan bagian. Setelah itu dia menarik sekuat kuatnya. Ahh . … ternyata ketiga jari orang tua itu tak ubah seperti besi sembrani (magnit) yang luar biasa kuatnya. Setitikpun dia tak mampu melepaskan tangannya. Saat itu Pui Tiok benar-benar terkejut sekali. “Cukup,” tiba-tiba orang tua itu berseru, “tingkat kepandaianmu ternyata lebih dari yang kuduga”. Benar-benar seorang angkatan muda yang penuh harapan!“ Dua kali meronta dua kali gagal, sebenarnya Pui Tiok sudah marah sekali. Tetapi karena orang berkata begitu, dia menjadi tersipu-sipu malu sendiri sehingga mukanya merah. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 109 “Cianpwe sungguh luar biasa” katanya!, baru pertama kali ini wanpwe dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Wanpwe sungguh kagum sekali!” Orang tua itu tertawa gelak-gelak, “Waktu engkau masuk kemari, tentu engkau memandang rendah kepadaku, bukan?“ Sudah tentu Pui Tiok menyengir tetapi dia seorang pemuda cerdas. Karena orang sudah menuduh begitu percuma saja dia menyangkal. “Itu karena pengalaman wanpwe masih sempit,” katanya dengan tertawa kikuk, “mohon cianpwe suka memberi maaf.” Kembali orang tua itu terbahak-bahak, “Ah, tak perlu, tak perlu. Engkau belum tahu rupaku, kalau sudah tahu mungkin engkau makin tak memandang mata lagi!“ “Ah, tak nanti wanpwe berani bersikap begitu,” Pui Tiok gopoh menjawab, “kepandaian cianpwe begitu sakti, bagaimana aku….“ Tiba-tiba dia hentikan kata-kata karena saat itu selambu tersingkap dan dalam selambu itu seorang tua kate melangkah turun, itulah sebabnya Pui Tiok tertegun dan tak melanjutkan kata katanya. Orang tua itu hanya satu meter tingginya badannya kurus kering, mengenakan pakaian kain kasar yang berwarna abu-abu lusuh. Mukanya penuh dengan kerut, rambut jarang-jarang, sepintas menyerupai Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 110 seorang desa yang bodoh, sedikitpun tak menampilkan perbawa seorang ko-jiu. “Cianpwe benar-benar seorang yang luar biasa, orang awam tentu takkan meugetahui, “Pui Tiok paksakan tertawa. Kembali orang tua kate itu tertawa, “Sungguh seorang anak muda yang baik. Sungguh, beruntung si lo-koay mempunyai anak seperti engkau Kalau tahu punya anak itu merupakan kebahagiaan, dulu-dulu aku tentu sudah mengambil isteri.” Mendengar itu Pui Tiok terpaksa tertawa, “kalau cianpwe tak menolak, ijinkanlah wanpwe berbahasa dan menjalankan penghormatan sebagai keponakan katang.” Orang tua kate itu tertawa, “Jangan mengambil keputusan sendiri. Minta ijin dulu kepada ayahmu baru nanti kita bicara lagi.” “Cianpwe bersahabat baik dengan ayah, sudah tentu ayah takkan berkeberatan,” kata Pui Tiok. Orang tua kate itu tertawa gelak-gelak, bahkan kali ini dia tertawa terkial-kial sampai tubuhnya berguncang keras. Sudah tentu Pui Tiok tercengang Dia merasa omongannya tadi tak ada yang lucu. Memang Pui Tiok tak tahu siapakah orang tua kate itu. Dia hanya tahu bahwa yang dihadapannya itu seorang tua yang sakti. Tetapi karena ayahnya memerintahkan dia untuk mencarinya maka dia menganggap orang tua itu tentu seorang sahabat baik ayahnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 111 Setelah tertawa beberapa saat, barulah orang tua kate itu berkata. “Engkau kira dengan ayahmu si lokoay itu bersahabat baik?“ Pui Tiok terlongong, katanya, “Sudah tentu wanpwe menganggap begitu. Beliau memberi pesan kepada wanpwe, kalau ada kesulitan supaya wanpwe menemui cianpwe kemari” “Benar,” orang tua itu mengangguk, dia suruh engkau datang kepadaku itu hanya suatu pernyataan kalau dia mau menundukkan kepala kepada aku. Dia tahu perangaiku bahwa aku pasti takkan menolak. Pada hal sebenarnya dengan ayahmu itu aku bermusuhan, musuh bebuyutan!“ Mendengar keterangan itu Pui Tiok terlongonglongong seperti kehilangan faham. Benar-benar hal itu tak pernah diduganya. Walaupun dia cerdik tetapi dalam menghadapi saat seperti saat itu, dia benarbenar kehilangan faham. Pak tua cebol tertawa, “Tetapi engkau tak perlu kecewa. Walaupun. dengan ayahmu si lokay itu aku tak senang tetapi terhadap sikapmu. aku mempunyai kesan baik. Tadi engkau bilang apa? Mau membawa puteri Kwan Pek Hong pulang ke Peh-hoa-nia?“ Diam-diam Pui Tiok menghela napas longgar. Memang benar kata orang bahwa orang-orang sakti itu kebanyakan tentu mempunyai watak aneh. Tak peduli ayahnya bermusuhan dengan pak tua itu, tapi karena pak tua cebol itu menyatakan mau membantunya, itu sudah cukup. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 112 “Ya,” sahutnya. Pak tua cebol itu mengambil pipa bambu, setelah menyulut lalu menghisapnya. Dalam sikap seperti itu sepintas dia memang lebih banyak menyerupai seorang desa dari pada seorang tokoh yang sakti. Beberapa saat kemudian baru dia berkata, “Memang kepandaian Kwan Pek Hong hebat tetapi jangan kuatir. Rasanya aku masih dapat menghadapinya dan memikat dia supaya mau meninggalkan rumah. Nah, pada saat itulah engkau lakukan rencanamu. Tetapi tadi engkau mengatakan kalau Kwan hujin Itu lebih sakti dari suaminya oleh karena itu engkau harus hati-hati. Begini saja, kalau engkau mau, akan kubawamu masuk kedalam gedung keluarga Kwan untuk menyelidiki keadaan disitu.” Serentak teringatlah Pui Tiok pengalaman pahit yang dideritanya ketika coba-coba menyelundup kedalam gedung keluarga Kwan. Mendengar tawaran pak tua cebol, dia menggigil ketakutan. Pak tua cebol itu terbahak-bahak, “Pui lotit Taruh kata aku tak dapat membantumu dengan penuh tetapi masa kalau hanya melindungi dirimu saja aku tak mampu? Hm, jangan terlalu memandang hina kepadaku!“ Mendengar orang kurang senang, buru-buru Pui Tiok berkata, “Bukan begitu, wanpwe sudah dua kali dilempar keluar dari gedung keluarga Kwan Kalau pergi lagi ke sana…. sungguh memalukan rasanya.” “Ngaco!“ damprat pak tua cebol, “karena engkau hendak menculik puterinya masa mereka engkau Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 113 suruh harus menghormat kepadamu! Hayo apakah engkau tak mau segera berangkat sekarang!” Habis berkata pak tua cebol itu terus melangkah keluar. Bagaimanapun yang akan terjadi tetapi rasanya baik kalau aku mengikutinya, pikir Pui Tiok. Dia terus mengikuti melesat keluar. Dalam sekejab saja kedua orang itu sudah keluar dari vihara tua. Saat itu, hari sudah mulai terang. Pui Tiok melihat pak tua cebol yang berjalan di muka itu tampak pelahan sekali jalannya oleh karena itu diapun lambatkan langkahnya. Tetapi begitu dia lambatkan langkah, segera dia tahu kalau jaraknya dengan pak tua cebol itu tambah jauh. Dia memandang kemuka, dilihat nya pak tua cebol itu masih tetap berjalan santai seperti tadi. Pui Tiok terkejut Sekali. Buru-buru dia lari mengejar. Tetapi jarak kelambatan yang terjadi tadi antara dia dengan pak tua cebol, masih tetap tak dapat terkejar. Jaraknya masih tetap dua tombak jauhnya. Betapapun dia mengerahkan tenaga untuk lari cepat, tetap tak dapat menyusul. Dan anehnya, pak tua cebol itu tetap selangkah demi selangkah berjalan dengan santai. Saat itu Pui Tiok benar-benar kagum sekali. Dia menyadari kalau ilmu ginkang pak tua cebol itu benarbenar sudah mencapai tataran yang sangat tinggi. Diam-diam besarlah hati Pui Tiok. Dia merasa kepergiannya kali ini dengan pak tua cebol itu tentu akan berhasil. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 114 Lebih kurang setengah jam kemudian, keduanya sudah tiba di gedung keluarga Kwan. Pak tua cebol itu langsung melangkah ke arah pintu besar Melihat itu sudah tentu Pui Tiok tertegun dan buru-buru berseru, “Cianpwe, harap berhenti dulu.” Pak tua cebol itu berhenti “Ada apa?” “Cianpwe, itu pintu besar keluarga Kwan,” kata Pui Tiok. “Ya, kutahu,” jawab pak tua cebol, “bukankah kita hendak menemui Kwan Pek Hong? Kalau tidak keluar pintu besar, habis apakah harus jalan pintu samping?’ “Ini…. ini …. apakah cianpwe lupa kalau kita datang kemari hendak merencanakan mengambil puterinya?“ “Uh, ngomong apa engkau ini! Bagaimana aku bisa lupa? Bukankah tadi sudah kukatakan kalau urusan ini aku yang tanggung semua? Mengapa engkau masih ribut-ribut tak keruan? Hm . …..” Pui Tiok tertawa meringis, “Cianpwe. kalau mau menangkap puterinya apakah kita harus masuk dan berjalan lenggang lenggok dari pintu besar Apakah itu tidak…. tidak… over-akting?” Pak tua cebol tertawa, “Sau -lotit, dalam mengerjakan sesuatu, seumur hidup aku tak suka main sembunyi -sembunyi. Jangan harap engkau dapat mengajarkan aku supaya menyaru jadi tukang kebun atau membuat terowongan dibawah tanah yang tembus ke kamarnya” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 115 Mendengar itu merahlah muka Pui Tiok. Diam-diam dia mendengus dalam hati, “Hm, aku bermaksud baik memperingatkan engkau mengapa malah menyindir aku. Kalau engkau mau masuk melalui pintu besar sudah tentu nanti akan berhadapan dengan Kwan Pek Hong suami istri. Dan kalau engkau bertempur dengan mereka, aku sih tinggal melihat saja. Kalau melihat engkau bakal kalah, aku akan meloloskan diri lebih dulu….. . Sebagai seorang pemuda yang cerdik dan licik, cepat sekali di wajah Pui Tiok sudah tenang kembali. Dia tertawa, “ya, karena sudah dua kali terbentur tembok maka aku agak jera sehingga menguatirkan cianpwe.” Pak tua cebol tertawa meloroh seraya terus melangkah masuk ke pintu besar. Pui Tiok terpaksa mengikutinya, Lebih. kurang 2 meter akan tiba di pintu besar, keempat penjaga pintu segera berseru, “Berhenti. .. .“ Pak cebol tertawa, “Kami hendak menghadap Kwan tayhiap, harap anda suka memberitahukan!” Dua dari keempat penjaga itu balikkan biji mata dan memandang pak tua cebol dengan tak berkelip. Tetapi mereka bersikap menghormat karena melihat Pui Tiok berpakaian bagus seperti seorang kongcu (anak hartawan). “Harap kongcu suka tunggu dulu,” kedua penjaga itu gopoh berkata,” aku segera masuk melapor pada majikan.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 116 Yang minta menghadap pak tua cebol yang dijawab Pui Tiok. Jelas kedua penjaga itu tak memandang mata kepada pak tua dan menganggapnya tentu budak dari Pui Tiok. Diam-diam Pui Tiok mengeluh. Dia kira kedua penjaga itu tentu akan mendapat persen pil pahit dari pak tua cebol. Tetapi diluar dugaan ternyata pak tua cebol itu hanya tertawa sedikitpun tak marah. Sudah tentu legalah hati Pui Tiok dan diam-diam dia malu dalam hati karena menduga orang salah. Dia mengukur pribadi orang menurut ukuran seorang siau-jin Seorang sakti seperti pak tua cebol tentu akan marah karena tak di pandang mata oleh penjaga pintu. Tetapi ternyata tidak. Hal itu menunjukkan kebesaran peribadi pak tua cebol sebagai seorang sakti sejati. Tak berapa lama kedua penjaga itupun muncul dari pintu besar segera dibuka lebar-lebar. Seorang pria melangkah keluar. Melihat itu terkesiaplah hati Pui Tiok. Pria yang keluar itu bukan lain adalah Si Ciau. Waktu berdiri di ambang pintu, Si Ciau juga tak memperhatikan pak tua cebol. Pak tua cebol itu memang tak menunjukkan kewibawaan apa-apa, apalagi dia berdiri disamping Pui Tiok sudah tentu dikira kalau pengiringnya. “Pui kongcu,” kata Si Ciau, “mengapa engkau datang hendak mengganggu lagi? Apakah itu layak bagi pribadi seperti engkau? Kurasa tak perlu engkau bertemu suhuku, lebih baik segera tinggalkan tempat ini saja.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 117 Pui Tiok tersipu-sipu dan tak dapat berkara apa-apa Untung pak tua cebol itu yang menyambut, “Anda salah faham. Bukan dia yang mau bertemu Kwan tayhiap tetapi aku.” sudah tentu Si Ciau terbeliak. Dia baru menyadari dan memperhatikan bahwa yang berada di samping Pui Tiok seorang pak tua cebol, “Siapakah anda ini? Perlu apa hendak menemui suhuku?” Tidak langsung menjawab, tetapi pak tua cebol itu mengomel sendiri, “Ah, menemui Kwan tayhiap saja kok begini sukar. Segera dia masuk dan katakan kepada Kwan tayhiap kalau aku hendak bertemu, mengapa perlu tanya apa-apa lagi!” Si Ciau tak senang hati, “Tetapi anda harus memberi tahu siapa nama anda lebih dulu baru nanti kuberi tahukan kepada suhu.” tua cebol tertawa, “Namaku engkau tak layak mendengar, hanya Kwan tayhiap yang layak tahu.” Si Ciau marah, serunya kepada Pui Tiok, “Pui kongcu, sebaiknya engkau datang sendiri saja kalau mau mengganggu. Mengapa harus membawa orang yang tak tahu adat begini? Lekas tinggalkan tempat ini!” Pak tua cebol menghela napas, “Sau-lotit, tampaknya sahabat ini tak mau melaporkan. Kalau begitu terpaksa kita masuk sendiri saja. Mari, kita masuk. . Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 118 Dia ulurkan tangan memegang lengan Pui Tiok terus diajak masuk. “Berhenti…….!” Si Ciau membentak tetapi belum dia menyelesaikan kata-katanya, kedua tetamu sudah tiba di hadapannya dengan diiringi segulung arus tenaga yang melandanya sehingga dia tak dapat bernapas lalu kakinya serasa terangkat dan tahu-tahu tubuhnya terlempar jatuh. Waktu Si Ciau bangun dia hampir tak tahu apa yang telah terjadi tadi. dia berpaling kedalam. Dilihatnya Pui Tiok dan pak tua cebol itu sudah melintas halaman dan melangkah kedalam ruang besar. Cepat dia lari menyusul seraya berteriak, “Hai, kalian berdua, mengapa tak diundang berani masuk? Mau apa kalian ini?“ Selekas dia masuk kedalam ruang besar, dilihatnya Pui Tiok dan pak tua cebol itu sudah duduk santai. “Kami hanya ingin bertemu Kwan tayhiap, karena anda tak mau melaporkan maka terpaksa kami masuk sendiri,” pak tua cebol itu tertawa. Si Ciau terkejut sekali. Dia marah, serunya, “Dengan tindakan anda ini, jelas anda tidak memandang mata kepada Kwan tayhiap!” Pak tua itu gerakkan kedua tangan, “Harap anda jangan bicara sembarangan saja. Dari jauh kami perlu berkunjung, mengapa engkau bilang kami tak menghormati Kwan tayhiap.? Sebaliknya engkau sendiri yang tak mau melapor, apa itu bisa dianggap kalau mengindahkan guru?“ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 119 Si Ciau makin marah. Maju dua langkah ke muka pak tua cebol, dia terus menerkam bahu orang tua itu. cret… Terkamannya tepat. Si Ciau gembira sekali. dia terus membentak keras, “Berdiri ….!“ Dia mengira sekali angkat tentulah tubuh pak tua yang cebol itu akan terangkat seperti mengangkat seekor ayam saja. Tetapi diluar dugaan, mata Siu Ciau mendelik kaget karena dia tak mampu mengangkatnya. Pak tua cebol itu masih tetap duduk di kursinya, memandangnya dengan santai. Sudah tentu Si Ciau tersipu-sipu, marah dan kaget. Dia kerahkan tenaga lagi sampai sembilan bagian. dan dengan membentak keras, dia pun mengangkatnya pula. Si Ciau yakin dengan tenaganya itu dia dapat mengangkat singa batu seberat tiga sampai lima ratus kati beratnya. Tetapi ternyata tubuh pak tua cebol yang paling banyak hanya seberat lima sampai enampuluh kati, sedikitpun tidak bergeming sama sekali dari tempat duduknya. Malah pak tua cebol itu memandangnya dengan tersenyum. Wajah Si Ciau merah seperti kepiting direbus. Pada saat dia tercekik dalam kesulitan, sekonyong-konyong dari pintu terdengar angin menderu keras ke arahnya dan menyusul sesosok tubuh melesat masuk dan terus berdiri tegak seperti patung. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 120 “Si Ciau, mengapa masih tak lekas mundur?” bentak pendatang itu dengan suara yang berkumandang perkasa. Orang itu bukan lain adalah Kwan Pek Hong. Mendengar bentak suhunya, Si Ciau cepat lepaskan cengkeramannya dan mundur selangkah. “Engkau minta maaf kepada ik-jin (orang sakti) ini dan haturkan terima kasih karena dia tak mau turun tangan kepadamu,” seru Kwan Pek Hong pula. Si Ciau tercengang. Dia penasaran sekali Tetapi waktu berpaling dan melibat wajah suhunya sangat serius memandangnya, terpaksa dia lakukan perintahnya juga. “Tadi aku telah berlaku kurang adat, harap anda jangan marah,” katanya. Sambil berbicara dia mundur ke samping Kwan Pek Hong. Kwan Pek Hong sekonyong-konyong memegang pergelangan tangan Si Ciau dengan tiga buah jarinya. Sudah tentu Si Ciau terkejut bukan kepalang. Setelah beberapa saat kemudian, terdengar, Kwan Pek Hong menghela napas longgar. “Kwan tayhiap,” pak tua cebol tertawa, selamanya aku tak pernah melakukan hal-hal yang gelap. Diamdiam mengerahkan tenaga-da1am untuk melukai orang, tak mungkin aku mau melakukan harap engkau jangan kuatir!“ Kwan Pek Hong tersipu tak enak hati mendengar ucapan pak tua cebol, dia berkata dengan nada dingin, “Ah, hati manusia itu sukar diduga,” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 121 Saat itu baru Si Ciau tahu mengapa suhunya memegang pergelangan tangannya, ialah karena hendak memeriksa apakah dia terluka dalam. Seketika itu dia mendapat kesimpulan bahwa pak tua cebol itu seorang ko-jin yang berilmu tinggi Teringat apa yang dilakukannya tadi, diam-diam dia kucurkan keringat dingin. “Hm, sungguh seorang manusia yang sukar diduga hatinya!“ pak tua cebol mengulang kata-kata. Kwan Pek Hong, “aku lancang datang kemari kiranya “Kwan tayhiap tentu tak menyalahkan bukan?“ Dengan tenang Kwan Pek Bong maju dua langkah dan tertawa dingin, “Kalau ada orang yang tanpa ijin terus masuk kedalam rumah anda, anda akan menyalahkan orang itu atau tidak?” Pak tua cebol menghela napas, “0, kiranya Kwan tayhiap menyalahkan hal itu. Pui lotit, kalau Kwan tayhiap marah, soal yang hendak kita kerjakan tentu sukar. Harus mendapat ijin Kwan tayhiap saja.” Mendengar itu diam-diam Pui Tiok mendesah. Hm, turun kata tuan rumah tidak marah, apakah dia mau meluluskan permintaanmu yang hendak minta anak perempuannya? “Ya, ya,” sekalipun dalam hati mengeluh tapi Pui Tiok terpaksa menyahut juga, “cianpwe kalau begitu lebih baik kita pulang saja” “Salah,” pak tua cebol geleng kepala, “karena sudah terlanjur datang, mengapa tidak mencobanya?“ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 122 Mendengar pembicaraan mereka yang tak berkepala dan tak berekor itu, timbullah kecurigaan dalam hati Kwan Pek Hong Dia segera menegur, “Apakah maksud kedatangan kalian ini?‘ “Akulah yang terpaksa menongol,” kata pak tua cebol, “Pui lotit ini tentu Kwan tayhiap sudah kenal, Dia hendak membawa puterimu ke gunung Peh-hoania. Karena dua kali gagal lalu dia minta tolong kepadaku. Kedatangan kami kemari tak lain juga karena hal itu. Dalam membawakan kata-kata itu sikapnya amat ramah dan tersenyum seolah seperti apa yang dikatakan itu hanya mengenai soal kecil saja. Begitu mendengar sebenarnya Kwan Pek Hong hendak marah tetapi karena persoalannya begitu tibatiba sekali, dia sampai tak sempat marah lagi, kebalikannya malah tertawa gelak-gelak. “Mengapa Kwan tayhiap tertawa?“ tegur pak tua cebol. Kwan Pek Hong hentikan tawa dan berseru, “Sungguh susah dipercaya bahwa dalam kehidupan itu hati manusia takkan merasa tua. Tak kira kalau dalam jaman ini masih ada orang seperti anda, mau mengorbankan diri untuk sahabat. Sungguh sukar dicari keduanya!” Pak tua cebol ikut tertawa, “Ah, jangan kelewat menyanjung. kata pak tua cebol.” kalau begitu, harap segera memberitahu dimana sekarang Kwan siocia berada, agar siau lotit ini dapat mengajaknya ke Pehhoa- nia.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 123 “Baik mari ikut aku,” kata Kwan Pek Hong seraya ulurkan tangannya. Rupanya hendak menerkam lengan pak tua cebol untuk diajak masuk menemui Kwan Beng Cu. Tetapi sebenarnya waktu mengulurkan tangan itu Kwan Pek Hong telah menyalurkan tenaga- murni ke lengannya. Dia menyadari bahwa karena berani begitu garang masuk ke gedung kediamannya dan secara terus terang hendak minta puterinya, tentulah pak tua cebol itu mempunyai modal kepandaian yang sakti. Maka begitu ulurkan tangan dia segera menggunakan delapan bagian tenaganya agar pak tua cebol itu mendapat malu. Tampaknya pak tua cebol itu santai-santai saja seperti tak tahu akan bahaya yang mengancamnya. Dia berbangkit, ulurkan tangan untuk menyambut uluran tangan tuan rumah. Melihat itu Pui Tiok yang menyaksikan di pinggir menjadi kebat-kebit hatinya. Dia tahu bahwa kedua tokoh yang akan berjabatan tangan Itu sebenarnya hendak saling menguji tenaga- dalam. “Wah, kalau pak tua itu sampai tak kuat. Kwan Pek Hong tentu akan menangkap aku Lagi,” Pui Tiok menjadi gelisah. Pada saat kedua orang itu saling berjabat tangan, pak tua cebol tertawa, Orang-orang memuji kalau Kwan tayhiap itu seorang yang lapang dada dan ramah sekali. Apa yang kusaksikan hari ini, memang sesuai dengan kenyataannya. Bahwa saat ini tanpa terduga-duga aku telah menerima sambutan hangat Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 124 dari Kwan tayhiap, kelak apabila Kwan tayhiap memerlukan sesuatu, aku tentu akan membalas budi. Tampak pak tua cebol itu tenang-tenang saja seperti tak mengalami apa-apa. Sedang Kwan Pek Hong wajahnya pucat kebiru-biruan. Melihat itu Pui Tiok girang sekali. Sebagai seorang persilatan, dia tahu bahwa dalam menguji tenaga dalam itu, pak tua cebol lebih unggul. Dan penilaian Pui Tiok itu memang benar. Waktu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, semula Kwan Pek Hong mengira, pak tua cebol itu tentu tak dapat tertawa lagi. Kalau masih tertawa tentu juga tertawa meringis. Begitu saling berjabat tangan Kwan Pek Hongpun segera melancarkan gelombang tenaga sakti yang hebat. tetapi dia terkejut sekali karena pancaran tenaga- saktinya itu tidak mengenai pada sasaran melainkan seperti mengalir di laut bebas. Dalam beberapa jenak, tenaga sakti yang dipancarkan itu entah lenyap kemana saja. Sudah tentu Kwan Pek Hong terkejut bukan kepalang, Sejak beberapa tahun terjun ke dunia persilatan. entah sudah berapa banyak jago-jago sakti yang dihadapinya tetapi selama itu belum pernah dia mengalami hal yang seaneh saat ini. Dia menghimpun napas lalu melancarkan Lagi segulung ombak tenaga sakti untuk menyerang. tetapi nasibnya juga serupa tadi, tetap seperti mengalir kedalam laut. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 125 Dahi Kwan Pek Hong tanpa disadari telah mengucurkan keringat. Hal itu tak Lepas dari perhatian Pui Tiok maka dia menganggap bahwa pak tua cebol berada diatas angin. Tiba-tiba pak tua cebol tertawa meloroh dan lepaskan tangannya, “Maaf, maaf…” Sudah tentu muka Kwan Pek Hong merah padam. Tetapi sebelum dia sempat membuka mulut, pak tua cebol sudah berkata lagi. “Sebenarnya, pui lotit itu sangat berhati-hati. Dia mengatakan hendak membawa puteri anda ke gunung Peh hoa nia, sudah tentu dia bertanggung jawab penuh atas keselamatannya. Rasanya si lokoay memang mau cari alasan untuk bertemu dengan anda, mengapa anda tak mau meluluskan permintaan Pui lotit saja?“ Merah muka Kwan Pek Hong. Sudah tentu dia tak dapat meluluskan begitu saja permintaan orang. Tetapi dalam berjabat tangan tadi, dia telah menguji dan mengetahui bahwa pak tua cebol itu memiliki tenaga dalam yang sukar diduga dalamnya, Sejenak menimang, wajahnyapun tenang kembali, katanya, “Soal itu sudah tentu. aku tak keberatan., Kalau anak perempuanku dapat berkenalan dengan Pui kongcu. memang suatu hal yang baik.” “Kalau begitu, kita tetapkan saja,” pak tua cebol tertawa. “Belum bisa dianggap resmi pernyataanku ini,” kata Kwan Pek Hong, “anak perempuanku itu tak dapat berpisah dengan mamanya. Kalau menghendaki Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 126 anakku pergi ke Peh-hoa-nia, sudah tentu harus mendapat perkenan dulu dari mamanya. “Bagus, kalau begitu harap silakan Kwan hujin keluar.” Kwan Pek Hong memberi kicupan mata kepada muridnya. “Si Ciau,.. undanglah subo dan sumoaymu kecil itu keluar kemari.” Tadi Si Ciau juga memperhatikan bahwa dalam adu tenaga dalam dengan pak tua cebol itu, suhunya telah kalah. Serentak dia teringat bagaimana tadi dia hendak mencengkeram bahu pak tua cebol itu. Kalau pak tua cebol itu bermaksud hendak mencelakainya, uh sungguh berbahaya. Dia mengkirik. Mendengar perintah suhunya, Si Ciaupun mengiakan dan bergegas masuk kedalam. “Menurut keterangan Pui lotit, Kwan hu-jin sakti sekali kepandaiannya, benarkah begitu?“ tanya pak tua cebol. “Ah, tidak.” kata Kwan Pek Hong,” masa wanita dapat menguasai ilmu kepandaian yang tinggi mendiang ayahnya memang hebat.” Mendengar itu diam-diam Pui Tiok memaki Kwan Pek Hong hendak memutarbalikkan fakta. Sedang begitu melihat Kwan hujin saja, Co-poan-koan sudah ketakutan dan semaput kemudian setelah sadar masih seperti orang berobah pikirannya, mengapa Kwan Pek Hong mengatakan lain. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 127 “Ooo, begitu desuh pak tua cebol, memang jarang sekali kaum persilatan yang tahu hal itu. “Isteriku memang jarang menemui orang,” kata Kwan Pek Hong, “sudah tentu orangpun tak tahu. Semisal dengan anda sendiri yang berkepandaian begitu sakti tetapi rasanya jarang sekali orang persilatan yang kenal akan asal usul anda.” Pak tua cebol tertawa, “Ah, aku ini apa sih Menang benar-benar tak berharga dikemukakan, Baru berkata sampai disitu tiba-tiba dia hentikan kata-katanya. Karena pada saat itu dia sudah menangkap ada suara Kwan hujin yang tak Sedap, berteriak marah, “Apa? budak she Pui itu berani datang lagi? Apa dia benar-benar tak takut mati?‘ Pada lain saat tampak nyonya itu dengan wajah bengis sedang berjalan memasuki ruang besar seraya memimpin puterinya. Mendengar suara nyonya itu, bulu roma Pui Tiok sudah bergidik ngeri. Dan ketika Kwan hujin memasuki ruang, beradu pandang dengan Pui Tiok, anak muda itu sudah seperti duduk di kursi yang penuh jarum. Pui tiok merasa pandang mata nyonya itu berkilatkilat setajam sinar pedang berkelebat menyambarnya. “Pui kongcu’ tegur nyonya itu, “waktu tempo hari engkau masuk kemari secara menggelap aku pernah berkata bagaimana kepadamu? Ketahuilah, bahwa aku juga selalu melakukan apa yang sudah kukatakan. Kali ini engkau memang hendak cari liang kubur sendiri,” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 128 Bukan saja wajahnya buruk, pun nada suara Kwan hujin itu seramnya bukan main sehingga membuat bulu kuduk mengkirik. Walaupun Pui Tiok bernyali besar dan selalu tenang dalam melakukan sesuatu, tetapi dalam saat seperti itu mau tak mau dia menjadi gugup juga. Cepat dia berdiri dan berseru, “Kwan hujin kali ini bukan… bukan aku yang bermaksud datang kemari.” Sambil berkata dia berpaling ke arah pak tua cebol. Dia terlongong karena saat itu pak tua cebol juga berdiri dengan sikap menghormat. Biasanya tentu selalu mengulum senyum tetapi saat itu Ternyata tampak seperti orang ketakutan menundukkan kepala seperti seorang pesakitan berhadapan dengan hakim……. Melihat sikap pak tua cebol itu diam-diam Pui Tiok megeluh dalam hati. Jelas pak tua itu tentu kenal pada Kwan hujin dan ketakutan seperti Co-poan-koan tempo hari. Hanya bedanya kalau Co-poan-koan begitu melihat terus pingsan sedang pak tua cebol karena kepandaiannya lebih tinggi, tak sampai rubuh. Menyadari keadaan saat itu telinga Pui Tiok mendengus keras seperti disambar halilintar. Tadi dia menyaksikan sendiri bagaimana kepandaian pak tua cebol itu lebih tinggi dari Kwan Pek Hong. Dia gembira sekali. Tetapi Sekarang setelah tahu keadaan pak tua cebol dikala berhadapan dengan Kwan hujin, Pui Tiok sudah putus asa dan menganggap kalau dirinya tentu celaka. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 129 “Ho, kiranya engkau!“ tiba-tiba Kwan hujin berseru dingin kepada pak tua cebol. “Ya, ya, aku,” pak tua cebol gopoh mengiakan. “Apa engkau masih kenal aku?” Wajah pak tua cebol seketika berobah lesi, “Kenal, sudah tentu kenal.” “Lalu sekarang engkau mau apa?“ Dengan wajah murung seperti jago kalah, pak tua cebol berkata “Aku segera pergi dan membawa Pui lotit” “Kentut!” teriak Kwan hujin. Wajah pak tua cebol itu berubah, serunya, “Ya, aku rela menerima hukuman.” Kwan hujin berkata dengan nada dingin, “Mengingat baru pertama kali ini engkau datang dapat dianggap tidak mengerti maka tidak dapat dianggap tidak mengetahui maka tidak dapat dipersalahkan. Engkau boleh pergi, tetapi budak she Pui itu, harus tinggal disini!“ Saat itu darah Pui Tiok serasa berhenti. Rasa takutnya sudah penuh menyesakkan hatinya Pak tua cebol yang sakti sekali kepandaiannya tetapi begitu berhadapan dengan Kwan hujin, dia ketakutan setengah mati. Dan waktu mendengar Kwan hujin mengatakan kalau pak tua itu boleh pergi, tentulah segera akan terbirit-birit pergi dan takkan mempedulikan dirinya (Pui Tiok) lagi. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 130 Tetapi diluar dugaan walaupun dengan wajah terkejut tetapi pak tua cebol itu berani membantah, “Kali ini bukan kemauannya tetapi akulah yang membawanya kemari.” “Hm, kalau begitu engkau bermaksud hendak memamerkan kegagahan dihadapannya?” seru Kwan hujin. Pak tua cebol tertawa kecut, “Hamba tak berani, Tetapi memang benar aku yang mengajaknya kemari. Kalau dia disuruh tinggal di sini dan hamba pergi, menurut kelayakan, aku dianggap tidak konsekwen.” Kwan hujin bercekak pinggang, serunya “Baik, lalu engkau hendak bagaimana?“ “Kuharap…. kuharap agar sudi memberi kelonggaran untuk membebaskan dia, agar perasaan ku longgar.” Dalam meminta penegasan kepada pak tua cebol tadi, tampaknya Kwan hujin bersikap memberi kelonggararan oleh karena itu maka pak tua berani mengemukakan permintaannya. Tetapi di luar dugaan baru dia ber kata begitu, wajah Kwan hujin berobah gelap seketika. “Sudah kukatakan.” katanya dengan bengis. dia harus tinggal disini dan engkau boleh pergi, mengapa engkau masih banyak bicara?“ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 131 Wajah pak tua cebol makin tak sedap dipandang. Melihat itu Pui Tiok makin habis harapannya. Tak mungkin dia dapat lolos lagi. Walaupun ketakutan terhadap Kwan hujin tetapi pak tua itu bagaimanapun juga. tetap seorang jago sakti. Mengapa tak menolongnya dari kesulitan yang dihadapinya saat itu? Bukankah pada lain hari masih dapat bertemu lagi dengan dia? Demikian Pui Tiok mempertimbangkan situasi yang dihadapinya saat itu. “Cianpwe,” serunya setelah mengambil keputusan, “atas kehendakku sendiri maka aku bersama-sama cianpwe datang kemari. Karena Kwan hujin menghendaki supaya aku tinggal disini dan minta cianpwe supaya tinggalkan tempat ini sendiri, kuharap cianpwe tak usah menghiraukan diriku dan silakan pergi. Tak perlu cianpwe mencemaskan diriku.” Pak tua cebol berpaling memandang Pui Tiok mau bicara tetapi tidak jadi. “Asal cianpwe suka memberitahu kepada ayah ku bahwa aku berada di tempat kediaman Kwan hujin, rasanya sudah cukup.” kata Pui Tiok pula. Pak tua cebol menghela napas. “Hal ini tentu saja akan kulakukan. Tetapi…. tetapi…. engkau………” “Harap cianpwe jangan menguatirkan diriku,” cepat Pui Tiok berkata, “kalau cianpwe tak lekas pergi, dikuatirkan Kwan hujin akan marah.” “Ya, benar,” pak tua cebol gopoh berseri Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 132 “Aku pergi saja. Pui lotit, aku menasehatimu. Dua kali engkau masuk tanpa ijin, Itu salah. Maka apa saja yang akan dijatuhkan Kwan hujin nanti jangan engkau melawan.” Saat itu Pui Tiok tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi tetapi malah merasa kasihan terhadap Pak tua cebol. Nasehat pak tua itu disambut dengan anggukan kepala. Pak tua cebol memberi hormat kepada Kwan hujin dan tanpa melihat kepada Kwan Pek Hong lagi, dia terus melangkah keluar. Cepat sekali dia sudah tiba di pintu besar, berhenti sejenak, menggentakkan kaki dan menghela napas dan sekali melesat dia sudah lenyap keluar. Tinggal Pui Tiok seorang diri duduk di kursi, hatinya kebat-kebit tak karuan. Dia tak tahu hukuman apa saja yang akan diberikan Kwan hujin kepadanya nanti. Terdengar Kwan hujin tertawa dingin, “Pui kongcu, puteriku berada disampingku. Bawalah dia ke Pehhoa- nia…..“ Pui Tiok terkejut tetapi terus tertawa rawah “Kwan hujin, mengapa engkau hendak mengolok olok aku?” Sambil berkata dia melirik ke arah Kwan Beng Cu. Baru pertama kali itu dia melihat Kwan Beng Cu yang saat itu menggelandot di samping mamanya. Tetapi Pui Tiok memperhatikan bahwa gadis cilik Itu memandangnya dengan cerah. Pui Tiok mendapat kesan bahwa sikap Kwan Beng Cu yang begitu manja seperti anak kecil, bukanlah Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 133 sikap yang sewajarnya melainkan dibuat- buat. Jelas hal itu akibat dari kedua orangtuanya terutama mamanya yang keliwat memanjakannya. Pui Tiok iseng. Dia mengerutkan mukanya seperti setan menyeringai. Melihat itu Kwan Beng Cu tertawa. Tetapi di tengah jalan tiba-tiba berhenti, sepasang bola matanya yang bulat hitam, berkeliaran memandang Pui Tiok. Pada saat isterinya muncul, Kwan Pek Hong tak kedengaran bicara sama sekali. Saat itu baru dia berkata, “Hujin, dia kan putera dari Peh Hoa lokaay, kurasa. ……… “Engkau rasa bagaimana?” tukas Kwan hujin. Kwan Pek Hong terkejut dan gopoh berkata, “Tak apa-apa, tak apa-apa. Terserah enkau saja bagai.. mana baiknya.” Kwan hujin mendengus dan Kwan Pek Hong segera mundur selangkah. Adegan itu kalau tidak menyaksikan sendiri tentulah Pui Tiok tak percaya. Dan andaikata dia tidak terancam bahaya tentulah Pui Tiok sudah tertawa geli. Sepasang mata Kwan hujin yang berkilat kilat tajam memandang pada Pui Tiok sehingga anak muda itu menggigil. “Gantung dia di kandang kuda selama tiga hari,” tiba-tiba Kwan hujin memberi perintah kepada suaminya. “Baik….. baik,“ kata Kwan Pek Hong seraya menghampiri ke tempat Pui Tiok. Karena merasa Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 134 percuma saja hendak melawan, Pui Tiok tak mau berbuat apa-apa kecuali tertawa,” Digantung dengan kaki diatas, kepala dibawah atau digantung biasa?“ Kwan hujin tertawa dingin, “karena engkau bertanya begitu, kalau tidak digantung secara jungkir balik, rasanya engkau tentu merasa tidak diindahkan!“ Kwan Pek Hong cepat bertindak. Ditutuknya bahu anak muda itu sehingga tak dapat berkutik, lalu dia bertepuk tangan dan beberapa pelayan serempak muncul. Mereka terus mengikat tubuh Pui Tiok dengan urat kerbau lalu diangkut keluar ke kandang kuda dan digantung pada tiang penglari dengan kaki diatas, kepala dibawah. Memang menderita sekali pemuda itu tetapi berkat kepandaiannya yang tinggi dia masih dapat bertahan. Sampai lama sekali tak ada orang yang datang menjenguk. Ketika malam tiba, dia hanya merasakan kesepian yang senyap, Hanya kadang deru angin yang serasa menyayat nyayat tubuhnya. Beberapa hari di muka, dengan ilmu kepandaian yang dimilikinya serta dibantu oleh Li It Beng dan kawan-kawan, dia menganggap mudah sekali untuk menculik seorang anak perempuan. Tetapi akhirnya, bukan saja rencananya bubar, pun dia sendiri malah digantung di kandang kuda, Dia belum lama terjun ke dunia persilatan dan tahutahu sudah harus menerima derita begitu rupa. Sudah tentu dia amat kecewa sekali. Dia meramkan mata dan berusaha untuk menenangkan pikiran. Tetapi sukar benar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 135 Pada tengah malam keadaan makin sunyi sekali. Pada saat itulah tiba-tiba dia mendengar langkah kaki orang berjalan dengan pelahan sekali. Pui Tiok yakin bahwa tak mungkin Kwan hujin akan memberinya kemurahan, mencabut hukumannya. Mungkin malah akan menggunakan cara yang lebih keras untuk menyiksanya Oleh karena Itu dia terkejut sekali mendengar derap langkah kaki orang itu. Tetapi pada waktu langkah itu makin dekat diamdiam pui Tiok heran. sebagai seorang persilatan sudah tentu dia dapat membedakan langkah kaki orang. Yang datang, itu lincah sekali langkahnya Tadi dia mengira kalau langkah itu terdiri dari beberapa orang tetapi ternyata sekarang tidak benar. Karena ingin tahu, dia paksakan untuk menundukkan kepala dan memandang ke muka. Tampak seberkas api lilin tengah bergerak gerak kian kemari mendatanginya Jelas pendatang itu tentu membawa sebatang lilin. Tak berapa lama dapatlah dia melihat siapa pendatang, Itu. Dan dia makin heran karena kalau menilik perawakannya, orang itu bertubuh kecil pendek. “Uh, apakah pak tua cebol itu datang kembali untuk menolongnya?” pikirnya. Tetapi pada lain saat dia membantah “Ah, kalau benar dia, mengapa langkah kakinya begitu aneh?” Tengah dia menimang, pendatang itupun sudah tiba dan saat itu Pui Tiok dapat melihatnya jelas. Dan Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 136 serentak dia tercengang. Hampir dia tak percaya apa yang dilihatnya saat itu. Pendatang itu ternyata seorang gadis cilik berumur 11 – 12 tahun, mengenakan mantel ruba warna putih dan sepatu dari kulit ruba. Kepala nya juga memakai kopiah juga dari kulit ruba putih yang lebat bulunya. Dalam dandanan seperti itu, wajahnya yang memang cantik jadi semakin tambah cantik. Sepasang biji matanya yang hitam bulat, makin tambah bagus dalam kegelapan malam. Siapa lagi dara cilik itu kalau bukan Kwan Bing Cu. Pui Tiok pejamkan mata lalu membukanya lagi, ternyata Kwan Beng Cu sudah berada dihadapannya. Kini Pui Tiok tidak sangsi lagi, Ya memang benar, gadis cilik dihadapannya itu memang benar Kwan Beng Cu, puteri kesayangan Kwan Pek Hong. Dara yang hendak diculiknya ke Peh-hoa-nia. Karena dara itulah maka Pui Tiok sampai harus menderita digantung di kandang kuda, Kwan Beng Cu sudah biasa dimanja oleh kedua orangtuanya. Siang malam dia tak pernah berpisah dengan mamanya.. Tetapi mengapa saat itu dia menuju ke kandang kuda? “Mimpikah aku?“ tanya Pui Tiok dalam hati. Tetapi dia merasa kesakitan pada kedua kaki tangannya yang diikat dan digantung. Dengan begitu jelas dia tidak bermimpi. Setelah gadis cilik itu berdiri dibawahnya barulah Pui Tiok paksakan diri tertawa, tegurnya, “Kwan siocia, mau apa engkau datang kemari?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 137 Kwan Beng Cu hanya rentangkan kedua bola matanya tetapi tidak menjawab. “Apakah engkau hendak melihat-lihat bagai mana aku menderita siksaan ini? Digantung begitu rupa memang tak enak rasanya,” kata Pui Tiok pula. Tiba-tiba Kwan Beng Cu tertawa, “Aku bertanya kepadamu. Tempat apakah Peh-hoa-nia itu?“ Pui Tiok terbeliak. Walaupun dia cerdik tetapi saat itu dia benar-benar tak mengerti apa maksud Kwan Beng Cu bertanya begitu. Beberapa saat kemudian baru dia berkata, “0, itu sebuah tempat bermain-main yang indah sekali” “Betul?“ seru Kwan Beng Cu gembira, “ada apa saja disana itu?” Serentak timbullah pikiran Pui Tiok, katanya, “Ah, sudah tentu banyak sekali. Dimana banyak sekali bunga-bunga yang indah.” Kwan Beng Cu cebirkan bibir, “Uh, buat apa? Dirumahkupun banyak sekali bunga warna warni yang indah.” “Masih ada kawanan kera bulu perak yang dapat mengerti bahasa orang,” buru-buru Pui Tiok menyusuli, “yang paling kecil dapat berdiri diatas telapak tangan orang, bulunya mengkilap seperti perak. Mereka mengerti omongan manusia.” “Benarkah itu?“ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 138 Melihat dara cilik itu tergerak hatinya, Pui Tiok mulai jual jamu, “0, itu saja belum apa-apa, Disana terdapat sepasang burung bangau besar yang berumur 100 tahun lebih. Kita dapat naik diatas punggungnya dan terbang ke udara. Wah, terbang diudara itu baru benar-benar menyenangkan sekali seperti bangsa dewa!“ Kwan Beng Cu makin tertarik, tanyanya pula, “Engkau hendak membawa aku ke Peh-hoa nia itu, apa perlunya?“ “Supaya engkau dapat bermain-main disana,. Dari pagi sampai malam engkau dikurung dalam rumah saja apa tidak jemu?“ Walaupun masih kecil tetapi saat itu Kwan Beng Cu dapat bersikap seperti orang dewasa. Dia menghela napas, “Benar, memang menjemukan Mama tak mau membiarkan aku pergi walaupun hanya selangkah saja. Aku tak dapat bermain main keluar. Kalau aku merengek-rengek minta keluar, juga disuruh naik tandu yang jendelanya ditutup. Mana aku dapat melihat pemandangan bagus? Hm, sungguh menjemukan!‘ Mendengar itu girang Pui Tiok bukan alang kepalang. Dia hampir tak percaya bahwa dalam keputusasaan seperti saat itu tiba-tiba muncul suatu harapan yang tak terduga-duga. Sebenarnya, sebagai puteri dari Kwan tayhiap. kalau engkau main-main keluar, Siapa yang berani mengganggumu? Mengapa engkau tak mau keluar bermain main saja “ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 139 ‘Tidak mungkin, “teriak Kwan Beng Cu mama tentu tak mengijinkan,” Pui Tiok seorang yang cercilk. Dia sudah menduga gadis cilik itu tentu akan menjawab begitu. Maka cepat diapun berkata, “Tetapi engkau datang kemari ini apa mamamu sudah mengijinkan?“ Wajah Kwan Beng Cu agak berobah. Lebih dulu dia berpaling ke belakang. Setelah tahu dibelakang tak ada orang lagi baru dia menghela napas longgar dan gelengkan kepala, “Tidak, aku datang kemari secara diam-diam. Mama tak tahu dan tak mengira kalau aku akan datang kemari.” “0, benar,” seru Pui Tiok, “memang segala apa itu harus memakai keberaniannya sendiri baru dapat berhasil,” Kwan Beng Cu tertegun beberapa jenak. Sekalipun tidak bicara tetapi dari sikapnya dapatlah diketahui bahwa dia telah kena dipengaruhi omongan Pui Tiok. Pui Tiok juga tak mau bicara, Beberapa saat kemudian barulah Kwan Beng Cu berkata, “Tetapi aku…. belum pernah…. keluar rumah….“ girang Pui Tiok bukan alang kepalang. Mendengar pernyataan gadis cilik itu Pui Tiok percaya rencananya pasti berhasil. “Bagaimana kalau kuantar engkau?“ serunya. “Tetapi bagaimana kutahu engkau akan menipu aku atau tidak?“ kata Kwan Beng Cu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 140 Pui Tiok tertawa, “Apakah menurut penglihatanmu aku ini seorang manusia tukang menipu?” Kwan Beng Cu miringkan kepala dan berpikir sejenak kemudian baru berkata, “Engkau harus bersumpah berat. Segala apa harus menurut aku Kalau tidak mau menurut, biarlah sumpah itu engkau laksanakan!“ Pui Tiok terkesiap. Diam-diam dia berpikir, Kwan Beng Cu itu ternyata bukan dara cilik yang tak tahu apa-apa dan mudah dibohongi. Bersama dia ke Pehhoa- nia, rasanya juga tidak menyalahi apa-apa …pikirnya. Dia lalu mengucapkan sumpah berat, “Tuhan yang diatas langit dan para malaekat yang kebetulan lewat. Aku Pui Tiok, kalau dalam perjalanan ke Peh-hoa-nio sampai tidak menurut perintah nona Kwan, biarlah seluruh tubuhku menjadi busuk dan mati!“ “Bagaimana, apakah engkau sudah puas?” kata Pu Tiok sehabis mengucap sumpah. Kwan Beng Cu tertawa, “Ya, bolehlah.” “Kalau begitu lepaskan dulu aku!” seru Pui Tiok. Sring, Kwan Beng Cu balikkan tangan dan tahutahu tangannya sudah memegang pedang yang panjangnya hanya tiga inci tetapi luar biasa tajamnya. Tangkainya juga tiga inci panjangnya diikat dengan rantai yang halus warna hitam. Rantai itu diikat pada pergelangan tangannya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 141 Peh Hoa lokay mempunyai cukup banyak koleksi benda dan senjata pusaka Sebagai puteranya, sudah tentu Pui Tiok juga faham akan pusaka-pusaka. Melihat pedang kecil dari Kwan Beng Cu. dia terkejut Jelas pedang itu sebuah senjata pusaka yang dapat memapas logam seperti memapas tanah liat. Sekali telapak tangan Kwan Beng Cu mengebas, pedang kecil itu melayang keatas dan sret…! putuslah tali urat kerbau yang mengikat kaki Pui Tiok. Pedang kecil itu melayang kembali ke tangan Kwan Beng Cu. Karena pengikatnya putus, Pui Tiok pun jatuh ke tanah. Kwan Beng Cu menghampiri dan memotong tali pengikat kaki dan tangan Pui Tiok. Pemuda itu loncat bangun. Tepat pada saat itu dia mendengar angin mendesing tajam. Ternyata Kwan Beng Cu ayunkan tangan menarik pulang pedangnya yang terus masuk kedalam kerangkanya, Kwan Beng Cu terus menyimpan dalam lengan bajunya lagi. “Mari kita berangkat!“ serunya terus ayunkan langkah. “Nona Kwan, pedangmu itu sungguh luar biasa sekali!” Pui Tiok memuji. “Ah, jangan memuji begitu,” kata Kwan Beng Cu, “mama bilang, pedang kecil ini, pedang yang paling tajam di dunia. Tak ada lain pedang yang dapat menandingi.” Pui Tiok mendesuh. Dia hendak berkata tetapi tibatiba terdengar dari arah jauh ada suara ribut-ribut. Dalam keributan itu seperti terdengar nada suara Kwan hujin yang tak enak didengar. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 142 “Mama bangun, celaka!“ Kwan Beng Cu terkejut Pui Tiok juga ikut kelabakan, ‘Nona Kwan, lekas engkau naik ke punggungku, akan kubawamu keluar!” Kwan Beng Cu meniup padam lilin dan begitu Pui Tiok berputar tubuh, ia terus mencemplak bahunya. Sekali loncat, Pui Tiok sudah tiba dipagar tembok. Ketika Pui Tiok naik keatas pagar tembok dilihatnya halaman belakang penuh orang. Mereka dengan membawa obor menuju ke kandang kuda. Pui tiok tak berani ayal lagi. dia segera melayang turun ke luar pagar tembok dan setelah melewati lorong dan jalanan tak berapa lama tibalah dia di tembok kota. Disitu dia berhenti dan berkata, “Nona Kwan, apakah engkau tak mengerti ilmu ginkang sedikitpun juga?“ “Siapa bilang aku tak bisa?” “Bagus, mari kita serempak saja keluar dari kota ini. Mamamu tentu tak dapat mengejar kita lagi,” kata Pui Tiok. Pui Tiok menurunkan Kwan Beng Cu lalu mereka mulai memanjat tembok kota. Begitu loncat ke atas Pui Tiok hendak menarik tangan gadis cilik itu tetapi tiba-tiba dia merasa setiup angin berkelebat di sampingnya. Ternyata Kwan Beng Cu malah lebih dulu selangkah tiba diatas tembok kota dari Pui Tiok. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 143 Sudah tentu Pui Tiok tercengang, Mereka lalu loncat turun. “Nona Kwan, kukira engkau ini keliwat manja sehingga tak mengerti apa-apa,” kata Pui Tiok. Kwan Beng Cu kicupkan mata, “Aku sih memang tak mengerti apa-apa. Mama sering bilang, orang yang lihay masih ada yang lebih lihay lagi. Karena tak diperbolehkan keluar. nyaliku jadi kecil. Pernah ada anak-anak yang melempar bola-salju kepadaku aku ketakutan setengah mati dan menangis.” Pui Tiok tertawa, “Ada orang yang berani melontar bola salju kepadamu? Ah. orang itu tentu sudah bosan hidup!“ “Sudahlah, jangan membicarakan hal itu lagi,” kata Kwan Beng Cu, “sampai sekarang aku masih ngeri. Waktu anak liar itu melemparkan bola salju kepadaku tiba-tiba dari atas pohon loncat turun seorang wanita gila yang tangannya memegang seekor ular panjang.” Pui Tok makin geli, “Dia tentu pengemis yang suka main-main dengan ular!“ “Tidak, bukan pengemis yang main ular!“ kata Kwan Beng cu, “sekali mengebaskan ular itu seorang pemikul tandu yang kunaiki terus mati.’ bahkan Si toako juga ketakutan setengah mati dan terus menyeret aku pulang.” Pui Tiok diam berpikir. Walaupun certa Kwan Beng Cu itu tak genah tetapi dia ingat bahwa tokoh yang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 144 menggunakan senjata ular itu tentulah salah seorang tokoh dari perkumpuian Ik-kau, “Nama ayahmu begitu cemerlang dalam dunia persilatan. Sungguh mengherankan sekali kalau ada orang yang berani cari perkara dengan engkau, kata Pui Tiok sesaat kemudian. Kwan Beng Cu membelalakkan mata, serunya, “Ayahku bagaimana? Dia mempunyai nama? Apakah dia itu lihay?“ Pui Tiok menuding pucuk hidung gadis cilik itu, “Hi, sungguh tak kira kalau melihat umurmu masih begitu kecil ternyata engkau pandai sekali berpura pura. Apakah engkau tak tahu kalau ayahmu itu seorang pendekar besar dalam dunia persilatan?“ Kwan Beng Cu menyengir, “aku memang sungguh tak tahu, perlu apa aku harus berpura- pura kepadamu?“ “Tidak tahu?“ Pui Tiok terkejut, “sebenarnya kepandaian mamamu itu lebih tinggi dan asal usulnya juga hebat sekali, seharusnya engkau tahu.” Kwan Beng Cu gelengkan kepala, “Hal itu aku makin tak tahu. Yang kuketahui, mama itu adalah mamaku. Dia baik sekali kepadaku. Apa yang kuminta selalu dituruti. Apanya yang lihay? Sebenarnya Pui Tiok tak percaya tetapi melihat sikap gadis cilik itu seperti orang yang hendak mengelabuinya, diapun tak mau mendesak lebih jauh. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 145 Demikian setelah beberapa waktu berlari mereka tiba disebuah kota kecil. Saat itu sudah malam. Keadaan kota sudah sunyi. Tetapi ketika berjalan di sepanjang jalan besar, mereka melihat di sebuah gang ada lampu penerangan yang masih memancar. Ternyata sebuah kedai makan. ‘Bagus!” teriak Kwan Beng Cu gembira, “aku sudah lapar, kita makan dulu yo!” “Jangan berhenti disini,” Pui Tiok gopoh mencegah, “ayah ibumu tentu sedang melakukan pengejaran. Kalau kita berhenti disini, bagaimana kita dapat pergi ke Peh- hoa-nia?“ Kwan Beng Cu sudah biasa manja. Mendengar penolakan Pui Tiok dia tak senang. “Kalau engkau tak mau mengajak aku makan dulu, aku tak mau melanjutkan perjalanan!“ Serunya. “Hm, sekalipun engkau mogok, toh aku dapat menutuk jalan darahmu dan membawamu.” pikirnya. Diapun sudah hendak bergerak tetapi pada lain saat dia menyadari bahwa Peh-hoa nia Itu jaraknya ribuan li. Kwan Beng Cu menghilang, Kwan Pek Hong dan isterinya tentu menduga kalau puterinya ltu dilarikan olehnya (Pui Tiok). bukan saja mereka akan melakukan pengejaran sendiri, pun tentu akan memberitahu kepada sahabat-sahabat mereka dl dunia persilatan untuk menangkapnya. Kalau dia menempuh jalan lurus, jelas tentu akan tertangkap maka dia memutuskan mengambil jalan melingkar. “Ah, kalau anak perempuan ini kututuk dan aku sampai tak dapat membuka jalan darahnya lagi, bukankah perjalananku akan bertambah beban Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 146 kesukaran lagi?” pikirnya lebih jauh. dia memutuskan, tak apalah untuk menuruti permintaan anak itu dulu ‘Baik, mari kita makan,” katanya, “lo engkau, urusan kecil saja sudah mau marah…..” “Siapa saja tidak mau menurut aku, aku tentu marah,” Kwan Beng Cu cibirkan bibir. Mendengar itu Pui Tiok terkesiap. Perjalanan ke Peh-hoa-nia itu paling tidak harus makan waktu tiga sampai empat bulan. Kalau setiap kali dia harus menuruti permintaan gadis manja itu tidakkah dia akan tersiksa? Sebenarnya Pui Tiok merasa kheki tetapi karena sudah terlanjur sampai disitu apa boleh buat. Bukankah dia takkan memilih untuk mengantar kembali Kwan Beng Cu pulang? Setelah menghampiri di tempat penjual makanan, keduanya lalu duduk diatas dingklik panjang. Penjual makanan terkejut menerima tetamu dua orang anak muda yang berpakaian indah. Waktu Pui Tiok memesan makanan, saking gugup, penjual itu terus sibuk mengambil nasi. segala macam sayur mayur dituang lalu tak henti-hentinya diberi kecap. Melihat tingkah laku penjual itu, Kwan Beng Cu tertawa mengikik. Tiba-tiba dari ujung gang disebelah sana muncul dua orang lelaki. Karena saat itu jalan tertutup salju. Orang berjalan tak terdengar suara langkahnya. Tetapi kedua orang itu berjalan sambil bercakap-cakap. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 147 “Ciu-ciu, aku lapar, mau makan bakmi,” seru salah seorang dari mereka yang bernada seperti anak perempuan kecil. Dia menyebut kawannya dengan panggilan ‘ciu-ciu’ atau paman, adik laki dari mamanya. Terdengar suara seorang lelaki menjawab, “Baiklah, sungguh menarik!“ Dalam pada berkata-kata itu keduanyapun sudah tiba di tempat penjual. Di bawah penerangan lampu pikulan, Pui Tiok melihat bahwa kedua orang yang datang itu, yang satu seorang anak perempuan sebaya dengan Kwan Beng Cu, berwajah cantik sekali tetapi sikapnya liar. Sedang lelaki yang datang bersamanya itu seorang bungkuk. Wajahnya tak tampak jelas. Begitu tiba dan melihat Pui Tiok dan Kwan Beng Cu duduk di dingklik, lelaki bungkuk itu terkejut lalu cepat menarik si anak perempuan untuk duduk di dingklik lain. Pui Tiok tidak menghiraukan kedua pendatang itu. Tetapi Kwan Beng Cu mengawasi bocah perempuan itu beberapa jenak, tiba-tiba dia terkesiap lalu merapat pada Pui Tiok dan berkata, “Kita….. kita pergi saja.” Pui Tiok tertawa meringis, “Tadi engkau sendiri yang merengek-rengek minta kemari, mengapa sekarang mau pergi?” Secara sembunyi Twan Beng Cu menunjuk ke arah bocah perempuan itu, katanya, “Anak perempuan itu adalah yang kuceritakan kepadamu tadi….. dialah yang melemparkan bola salju kepadaku.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 148 “Benar?” Pui Tiok melirik ke arah anak perempuan itu. Ternyata anak perempuan itu juga membelalakkan mata memandang kepada Pui Tiok dan Kwan Beng Cu. Sedang si bungkuk tetap menunduk sehingga tak kelihatan wajahnya. “Takut apa?” kata Pul Tiok. ‘Tetapi aku takut pada perempuan gila yang menggunakan ular itu,” kata Kwan Beng Cu. Sebenarnya Pui Tok juga tak mau berhenti terlalu lama. Mendengar Kwan Beng Cu minta pergi, dia terus menarik tangan gadis cilik itu setelah melemparkan sebiji uang perak dia terus pergi. Tetapi baru keluar dari gang tiba-tiba dari belakang terdengar suara anak perempuan tadi berseru, “Hai, kalian berhenti dulu!“ “Siau Bwe, engkau hendak mengapa itu?” serempak terdengar lelaki bungkuk berseru kepada anak perempuan tadi. ‘Ciuciu, jangan pedulikan aku. Kopiah anak perempuan itu bagus sekali aku hendak mengambilnya. hai, engkau dengar tidak!“ seru Si anak perempuan. Saat itu Kwan Beng Cu dan Pui Tiok sudah berhenti dan berputar diri. Mereka melihat anak perempuan itu tengah bercekak pinggang dan dengan sebelah tangan menuding Kwan Beng Cu. Kwan Beng Cu memang manja dan suka menang sendiri. Tetapi waktu menghadapi peristiwa seperti Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 149 saat itu di mana secara terus terang saja kopiah bulu rasenya hendak diminta orang, dia menjadi bingung juga. Tetapi lain dengan Pui Tiok. Melihat sikap dan tingkah anak perempuan tadi, dia geli dan mendongkol juga. “Adik kecil,” serunya, “apa maksudmu?” “Bukan urusanmu!“ seru anak perempuan itu. Pui Tiok gelengkan kepala, menghela napas “Adik kecil, kalau begitu engkau salah. Eng-kau hendak merampas barang, bagaimana aku tidak boleh mempedulikan? Sudah, jangan ribut-ribut, pulang sajalah!“ Anak perempuan itu makin marah dan berseru, “Kentut!“ Tiba-tiba dia ayunkan tangannya, sring! sebatang anak panah kecil segera melayang ke arah Pui Tiok. JILID 4 Waktu berdiri menghadang di depan, sebenarnya Pui Tiok sudah tahu kalau anak perempuan itu mengerti ilmu silat. Tetapi ilmu silatnya hanya biasabiasa saja. Oleh karena itu, Pui Tiok pun tak memandang mata. Bahwa ternyata anak perempuan Itu tanpa memberi peringatan lebih dulu terus menyerang dengan anak panah kecil, Pui Tiok benar-benar tak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 150 pernah menduga sehingga sesaat dia terlongonglongong. Layang anak panah itu cepat sekali dan setali Pui Tiok masih terlongong, sudah tiba di depan dadanya. Tetapi kepandaian Pui Tiok memang hebat Walaupun terlongong dia tak sampai terkena anak panah itu. Sekali gerakkan tangan, anak panah itu dapat dijepit dengan jarinya. Melihat serangan pertama gagal, anak perempuan itu melepaskan anak panah lagi. Pui Tiok memukul anak panah Itu seraya berseru dengan nada bengis, “Hai sahabat yang berada di gang Kalau engkau tak mau mengurus keponakanmu akupun juga tak sungkan lagi!“ Sebenarnya si bungkuk sudah melangkah ke luar. Waktu mendengar suara Pui Tiok dia makin terbatabata melangkah keluar. Tetapi aneh sekali tingkahnya. Waktu berjalan keluar dia menghadap ke belakang, membelakangi Pui Tiok. Dan begitu tiba di dekat Si anak perempuan dia terus menangkap tangan anak itu, “Siau Bwe hayo lekas jalan!“ “Tidak mau seru anak perempuan. Dengan nada seperti setengah menangis, Si bungkuk meminta, “Siau Bwe, kuminta dengan sangat, mari kita lekas lanjutkan perjalanan, Jangan cari perkara…. Mendengar pembicaraan itu diam-diam Pui Tiok geli juga. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 151 Si bungkuk menarik tangan anak perempuan masuk ke dalam gang…. Pui Tiokpun berputar tubuh lagi. Tiba-tiba dia tersadar. Dia memang heran mengapa bungkuk itu tak mau memperlihatkan wajahnya. Kini dia tahu apa yang terjadi, Ya, benar, tentulah si bungkuk itu kenal kepadanya dan diapun tentu kenal kepada si bungkuk Itu. Dan serentak dengan itu diapun teringat akan sebuah peristiwa penting. Perkumpulan Peh hoa kau telah kehilangan sebuah kitab pusaka Ih su-keng dan pencurinya Itu adalah seorang buruh harian. Dan buruh Itu jelas seorang bungkuk. Waktu si bungkuk bekerja di Peh-hoa-kau kedudukannya rendah sekali oleh karena itu orangorang menyebutnya bungkuk. Siapa namanya yang aseli, tiada seorangpun yang tahu, Juga wajahnya, tidak ada yang pernah melihat jelas. Oleh karena itu ketika tiba-tiba si bungkuk meghilang, juga orang tidak menaruh perhatian. Waktu kitab pusaka Ih su-keng hilang, barulah orang teringat akan diri orang bungkuk Itu. Sekarang Si bungkuk berada di gang. Dan si bungkuk tentu tahu dimana kitab pusaka itu berada. Perkumpulan Peh-hoa-kau yang begitu termasyhur dan mempunyai jago-jago sakti, ternyata sampai kebobolan kitab pusakanya. Hal itu sungguh memalukan sekali. Itulah sebabnya maka ketuanya, Peh Hoa lokoay sampai mencak-mencak seperti orang kebakaran jenggot. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 152 Begitu mencapai pemikiran itu, Pui Tiok serentak balik tubuh lagi, menarik Kwan Beng Cu terus ia menuju ke gang. “Ih, ada apa ini?“ tanya Kwan Beng Cu. “ini penting sekali, jangan banyak bertanya,” tukas Pui Tiok. Cepat sekali Pui Tiok bergerak menuju ke dalam gang kecil itu tetapi kecuali tukang jual makanan tadi dan beberapa pembeli, si bungkuk dan anak perempuan tadi sudah tak kelihatan batang hidungnya lagi. Pui Tiok cepat keluar dari gang itu dan memandang ke sekeliling tetapi juga tak melihat apa-apa. Buruburu dia kembali ke dalam gang lagi dan bertanya kepada penjual makanan, ‘Pak, tadi lelaki bungkuk itu kemana saja perginya?’ “Mereka tidak jadi makan terus pergi, kearah sana,” kata pak penjual. Pui Tiok gentakkan kakinya ke tanah, muringmuring. Si bungkuk muncul di depan mata, masa dia lupa sama sekali. Tetapi dia tak dapat disalahkan. Walaupun dia cerdik tetapi tak mungkin dia harus mencurigai setiap orang bungkuk yang bertemu dengannya. Apa boleh buat, terpaksa dia menarik tangan Kwan Beng Cu diajak keluar dari gang Ternyata di sebelah luar gang itu sebuah perempatan. Sukar baginya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 153 untuk menentukan ke arah mana dia harus mengejar bungkuk dengan anak perempuan tadi. Rupanya Kwan Beng Cu tak tahan kalau dibawa kian kemari seperti barang. Dia serentak melengking, “Hai, mengapa engkau menarik aku kian kemari? Apakah engkau sedang main kucing-kucingan?” “Jangan ribut,” kata Pui Tiok, “aku sedang mencari orang bungkuk tadi” “Mengapa aku tak boleh ribut?” teriak gadis cilik itu, “kalau engkau tidak menarik aku ke sana sini, masa aku ribut?“ “Kalau engkau masih ribut saja tentu akan kututuk jalan darahmu,” kata Pui Tiok. Kwan Beng Cu marah tetapi dia tak berani membuka mulut lagi. Pui Tiok berjongkok lalu melekatkan telinganya pada lantai jalan dan mendengarkan dengan cermat. Dengan telinganya yang tajam dia sayup-sayup mendengar di sebelah timur jalan seperti tergetar suara langkah kaki yang ringan yang sedang berjalan cepat. Cepat dia berdiri lagi, menarik tangan Kwan Beng Cu terus diajak lari menuju ke timur. Tak berapa lama berlari, didapatinya rumah- rumah penduduk sudah mulai jarang. Ternyata kota itu tidak berapa besar dan saat itu dia sudah berada di luar kota. Tetapi keadaan itu justeru menguntungkan baginya karena saat itu juga dia dapat melihat si bungkuk tadi Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 154 tengah menarik tangan anak perempuan, sedang mendorong pagar bambu dan masuk ke dalam sebuah rumah pondok. Girang Pui Tiok bukan kepalang. “Engkau lihat atau tidak?’ bisiknya’ kepada Kwan Beng Cu, “si bungkuk tadi berada di sebelah muka. Kalau bisa bertemu dengan si bungkuk, banyak sekali hal-hal yang akan terjadi. Soal besar jadi kecil, soal kecil jadi hilang.” “Hm” dengus Kwan Beng Cu, “ternyata engkau bukan orang baik. Aku tak suka menghiraukan engkau lagi!“ Karena sudah menemukan jejak si bungkuk Pui Tiok tak mau adu lidah dengan Kwan Beng Cu lagi. Dia menarik Kwan Beng Cu terus diajak lari. Tiba di samping pagar bambu, terdengar suara anak perempuan tadi berseru dari dalam rumah, “Ma, ma, ciuciu tidak mengijinkan aku berkelahi dengan orang!“ “Moaycu, sungguh aku hampir mati terkejut,” serempak terdengar suara si bungkuk. “engkau tahu, siapa yang hendak dihajar Siau Bwe tadi?‘ “Siapa?“ seru seorang wanita yang bukan saja bernada dingin tetapi juga terdengar tajam sekali sehingga berdebarlah hati Pui Tiok. “Pui kongcu, putera dari ketua Peh-hoa-kau!“ seru di bungkuk. Wanita itu tertawa dingin, “O, kiranya dia, lalu bagaimana?“ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 155 Si bungkuk terdengar menghela napas, katanya, “Moaycu, engkau ini bagaimana to? Ai, waktu bertemu aku, engkau kelihatan sudah sadar. Tetapi apakah sekarang sudah linglung lagi? Kita tengah menghadapi bencana!“ Mendengar sampai di situ, Pui Tiok sudah menarik Kwan Beng Cu diajak melompati pagar bambu lalu dengan berindap indap mendekati pintu pondok dan sekali tendang, pintupun terbuka lebar-lebar . “Coh thoucu, engkau memang benar, memang sedang menghadapi bencana besar!“ seru Pui Tiok. Ketiga orang yang berada dalam pondok ketika pintu ditendang Pui Tiok, serempak memandang kepada pemuda itu. Coh thoucu atau si bungkuk orang she Coh ternganga kaget. Coh Hen Hong atau anak perempuan yang dipanggil dengan nama Siau Bwe merentang mata lebar?. Walaupun terkejut tetapi malah gembira. Sementara mamanya, Coh Bwe Nio tetap bersikap bengis. Setelah memandang ke sekeliling sudut tidak ada orang kecuali mereka bertiga, legalah hati Pui Tiok. “Coh thoucu, sekarang ini engkau minta hidup atau mati?” serunya. Geraham si bungkuk bergemerutukan, serunya tersendat-sendat, “Pui…. kongcu…. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 156 sudah tentu hamba ingin hidup…. harap engkau suka bermurah hati…. “Ciuciu, mengapa engkau begitu tak berguna!“ teriak gadis cilik Coh Hen Hong dengan marah, “belum berkelahi kok sudah minta ampun, Ma, hajarlah mereka!“ Baru gadis cilik itu mengakhiri kata-katanya bahu wanita itupun sudah bergetar, siss…. dari belakang bahunya meluncur ke luar seekor ular berbisa yang kecil dan panjang. Setelah melihat si bungkuk ketakutan minta ampun, Pui Tiok mengira kalau urusannya beres dan lancar. Siapa tahu begitu anak perempuan itu menyuruh mamanya menghajar, tahu-tahu seekor ular sudah menyerang dalam kecepatan tinggi. Dalam kejutnya, Pui Tiok cepat rebahkan kepala ke belakang. Dia girang sekali karena ular Itu melayang ke belakang, hanya beberapa senti meter di atas mukanya. tetapi pada lain saat dia terkejut sekali ketika mendengar Kwan Beng Cu menjerit amat keras dan berbareng itu tangannya kiri tiba-tiba kencang, tangan Kwan Beng Cu pun terlepas dari pegangan tangan kanannya. Pui Tiok cepat berpaling dan kejutnya bukan kepalang. Pinggang Kwan Beng Cu telah terlilit seekor ular kecil. Tentulah waktu Pui Tiok menghindar tadi, ular itu telah menyambar dan melilit pinggang Kwan Beng Cu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 157 Saat itu tubuh Kwan Beng Cu sedang ditarik ke depan. Melihat itu Pui Tiok cepat menerjang. Tetapi pada saat itu juga Si gadis cilik Coh Hen Hung meniup padam lampu sehingga gelap lah seluruh ruangan pondok itu. Sudah tentu Pui Tiok makin kaget setengah mati. Dua tiga kali dia gagal melakukan tugas di rumah Kwan Pek Hong itu sih masih dapat dimaklumi karena Kwan Pek Hong itu seorang pendekar besar yang termasyhur Tetapi kalau sekarang dalam pondok situ, dia sampai gagal dan tak dapat melindungi Kwan Bing Cu, benar-benar dia merasa terhina sekali. Walaupun ruangan gelap tetapi Pui Tiiok nekad menerjang pintu dan menerkam Dia mengharap agar dapat menerkam bahu Kwan Beng Cu lalu dia hendak menyambar agar dapat membebaskan Kwan Beng Cu. Tetapi ketika dia menerkam, tiba-tiba dia merasa memegang sebuah benda yang dingin dan licin. Hai ternyata badan ular Itu sendiri. Siapapun orangnya kalau dalam tempat gelap tibatiba memegang ekor ular, tentulah akan menjerit dan menarik tangannya. Demikian pula dengan Pui Tiok. Tetap pada saat dia menarik tangannya, ,pergelangan tangannya tiba-tiba mengencang. Astaga, ternyata pergelangan tangannya juga melilit seekor ular itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 158 Kejut Pui Tiok benar-benar bukan alang kepalang Sambil menarik dengan sekuat tenaga. dia berteriak keras “Nona Kwan! Nona Kwan!‘ Tetapi dua kali teriakannya itu tak mendapat jawaban. Pui Tiok nekat, setelah menarik lalu memotes. Dalam tarik menarik tubuh ular dengan wanita tadi, andaikata dia kalah dalam tenaga dalam tetapi dengan mengerahkan tenaga untuk memotes itu, tentulah tubuh ular akan putus menjadi dua. Tetapi diluar dugaan ular itu mendesis-desis namun tidak putus. Malah pada saat itu, Pui Tiok rasakan setiup angin tanpa suara, melanda dadanya. Pui Tiok cepat mengisar ke samping, menghimpun tenaga murni lalu menghantam dengan tangan kiri. Pukulan itu menggunakan tenaga kuat sekali tetapi karena di tempat gelap, sasarannya pun tidak keruan. Dan sebenarnya dia juga tidak ingin melukai siapa-apa dan hanya ingin menghantam bobol dinding agar sinar rembulan dapat masuk, ruangan terang. Di tempat yang segelap itu, walaupun mempunyai kepandalan sakti juga tidak berguna. Bum…. dinding pondok yang terbuat dari pada tanah-liat, ambrol dan seketika itu Pui Tiok dapat melihat keadaan dalam ruang situ. Uhhhh belum sempat berbuat apa-apa Pui Tiok juga menjerit dalam hati karena saat itu wanita bersenjata ular sudah bergerak mendekatinya, dengan Jari telunjuk dan jari tengah, sedang bergerak menusuk kedua matanya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 159 Pui Tiok cepat menunduk, syit…. syit terdengar dua buah desis angin tajam ketika kedua jari tangan wanita itu melayang di atas kepala Pui Tiok. Pui Tiok balas menyerang. Dengan jurus Tokau-jayhong atau Menjungkir-kail – memancing- burung, dia menampar rusuk wanita itu, plak…. Oleh karena pergelangan tangan kanan pemuda itu terlilit ular maka dia hanya dapat bergerak dengan tangan kiri Dia girang sekali karena serangannya kena. Tetapi ternyata wanita itu hanya mendesuh dan menyurut mundur. Karena pergelangan tangan Pui Tiok masih terlilit ular, diapun ikut terhuyung selangkah. Pada saat itu baru dia dapat melihat jelas keadaan dalam ruangan. Ternyata kecuali wanita ular itu, tak ada lain orang lagi. Dengan begitu jelas Coh thoucu dan Coh Hen Hong telah membawa pergi Kwan Beng Cu. Sudah tentu Pui Tou mengeluh dalam hati. Taruh kata dia dapat mengejar, juga belum dapat dipastikan apakah dia mampu menemukan jejak orang bungkuk itu. Apalagi saat itu dia berhadapan dengan seorang wanita yang berkepandaian tinggi. Adakah dia mampu mengalahkan wanita ular itu, juga belum dapat dipastikan. Pada saat Pui Tiok bingung. wanita ular itu tertawa melengking. Pui Tiok gelagapan. Cepat dia mencabut pedang dan menabas ular yang melilit tangannya itu. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 160 Tetapi ternyata ular milik Coh Bwe Nio itu bukan sembarang ular. Waktu bertempur melawan musuh, ular dan pemiliknya mempunyai gerak irama yang terpadu. Begitu Pui Tiok memapas, Coh Bwe Nio gentakkan tangan dan ular yang melilit tangan Pui Tiok itupun cepat melepaskan lilitannya. Merasa tangan kanannya bebas, Pui Tiok girang sekali. Tetapi sebelum sempat berbuat apa-apa, tahutahu tangan kirinya. sekarang terasa mengencang keras sekali. Jelas kalau ular itu pindah melilit tangan kirinya. Tring pedang jatuh ke tanah karena tangan kirinya lunglai. Pui Tiok kaget dan gugup. Dia sadar kalau tak menumpahkan segenap kekuatannya, jelas dia akan menderita. Dengan berteriak histeris, dia maju kemuka dan menampar alis Coh Bwe Nio. Coh Bwe Nio terkejut dan rebahkan kepala ke belakang, Tetapi ternyata serangan Pui Tiok itu hanya gertakan kosong, Begitu lawan merebah ke belakang, Pui Tiok cepat menarik tangan lalu menjelentik, plok…. jarinya tepat mengenai Sirip ular itu. Sirip merupakan bagian yang berbahaya dari binatang ular. Dan ilmu selentikan jari itu, merupakan salah satu dari kelima ilmu simpanan ayah Pui Tiok yaitu Peh Hoa lokay. Sekalipun tenaga dalam Pui Tiok tidak sehebat ayahnya tetapi juga cukup lihay. Ular meregang dan lepaskan lilitannya lalu jatuh ke tanah. Pui Tiok cepat menginjak kepala binatang itu dengan kaki kiri lalu kedua tangan berhamburan menghantamnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 161 Waktu memainkan ular itu sebagai jwan- pian atau ruyung lemas, memang Coh Bwe Nio menang angin. Tetapi sekarang setelah dengan siasat yang bagus, Pui Tiok dapat menginjak ular itu, kedudukan merekapun berobah. Sekarang Cob Bwe Nio yang menderita, Hampir duapuluh tahun lamanya Cob Bwe Nio menggunakan ular itu sebagai senjata. Sudah tentu dia tak sampai hati untuk melepas begitu saja, Ekor ular masih dipegangnya tetapi karena kepala ular itu diinjak Pui Tiok, sudah tentu ular itu tak dapat bergerak lagi. Empat buah serangan yang dilancarkan Pui Tiok itu cepat dan dahsyat. Karena tak mau melepaskan ular, Coh Bye Nio tak sempat menghindar lagi, plak bahunya kembali terkena hantaman lawan. Dia terhuyung ke samping. Tetapi dengan begitu, pertahanannyapun makin lemah, plak….. kembali dadanya terhantam pukulan Pui Tiok, Pukulan yang kedua ini membuat Coh Bwe Nio menjerit keras dan tubuhnya rubuh ke belakang. Tetapi pada waktu dia rubuh itu, dia masih sempat menarik ularnya dengan sekuat tenaga. Dan tindakan Itu berhasil. Dengan memekik aneh dia sabatkan ular itu lagi. Pui Tiok terpaksa harus mundur. dia memang tak nafsu lagi untuk terlibat dalam pertempuran dengan wanita itu. Setelah mundur beberapa langkah, dia terus menyelinap masuk kedalam sebuah pondok yang terLetak di samping. Tetapi dalam pondok itu tak ada orangnya sama sekali. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 162 Pui Tiok makin kalang kabut. Dia keluar dari pondok itu dan terus lari. Tetapi di sekeliling penjuru dan tegal dan hutan yang dilaluinya itu tak tampak barang seorang manusia. Pui Tiok bingung dan marah. Dia berputar tubuh. Dibawah sinar rembulan lemah, tampak Coh Bwe Nio berteriak-teriak aneh dan sambil mengontangantingkan ular, wanita itu mengejarnya. Tiba-tiba Pui Tiok mendapat pikiran. Sekarang dia tak tahu kemanakah larinya si bungkuk itu. Tetapi jelas bahwa si bungkuk itu mempunyai hubungan erat dengan wanita-ular. Kalau dia dapat meringkus wanita-ular itu, tentulah dia dapat mengorek keterangan dimana si bungkuk berada. Setelah mengambil keputusan dia terus lari, purapura seperti orang yang ketakutan tetapi langkah nya pelahan saja. Tak berapa lama, Coh Bwe Nio sudah menyusulnya. Begitu wanita itu dekat, suara ular melayang-layang segera terdengar. Tiba-tiba Pui Tiok berhenti dan begitu berputar tubuh dia terus ayunkan tangan. Beberapa benda warna kuning gelap segera berhamburan. Coh Bwe Nio berhenti dan memainkan ularnya Ular itu keras sekali kulitnya. Senjata rahasia yang dilontarkan Pui Tiok dapat dipukul jatuh dengan ular itu. Pada saat melontarkan senjata rahasia, Pui Tiok pun loncat maju dan cepat berputar tubuh. Dia sudah berada di sisi kiri si wanita lalu menyambar pinggangnya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 163 Karena masih sibuk menghantam senjata rahasia. Apalagi serangan Pui Tiok itu secara mendadak dan cepat sekali, wanita itu tak sempat menarik pulang ularnya. Terpaksa dia gunakan tangan kiri untuk menampar tangan lawan. Pui Tiok memang sudah memperhitungkan bahwa Coh Bwe Nio akan menampar dengan tangan kiri. Maka Pui Tiok pun cepat menarik pulang tangannya, melangkah ke samping tepat berada di belakang Coh Bwe Nio lalu secepat kilat menghantam punggung wanita itu. Melontar senjata rahasia, mendekati dan menerkam itu dilakukan Pui Tiok demi untuk menyelinap ke belakang lawan. Dan pukulan yang dilancarkan itu benar benar dahsyat sekali, hampir menggunakan delapan bagian dari tenaganya. Jaraknya begitu rapat dan pukulan yang dahsyat itu dilancarkan dalam kecepatan tinggi dia yakin kali ini tentu akan dapat meremukkan punggung lawan. Tetapi sungguh tak pernah diduganya bahwa pukulannya itu akan gagal lagi. Sekonyong-konyong ular itu melingkar ke belakang dan ngangakan mulut siap menggigit tangan Pui Tiok. Sudah tentu Pui Tiok kaget sekali. Dia tak menyangka bahwa ular itu dapat mengadakan gerak perobahan yang begitu luar biasa. Dan dia juga tak yakin akan tenaga pukulannya, apakah mampu menghancurkan? tentulah akibatnya akan digigit. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 164 Akan tetap gerak pukulan itu melancar cepat sekali. Tidak mungkin dia dapat menariknya kembali. Beruntung dia masih belum kehilangan pikiran sama sekali Karena untuk menarik pukulannya tak mungkin, dia hanya dapat menekuk jari telunjuknya. Tepat pada saat gigi ular itu mengatup, telunjuk jari Pui Tiok pun menyelentiknya, prekkk . Ternyata hebat sekali tenaga selentikan Pui Tiok itu…. Ular mencelat dan tepat membentur jalan darah Ci-han-hiat di punggung Coh Bwe Nio. Walaupun ular yang mencelat itu sudah ber kurang tenaganya tetapi karena tepat mengenai jalan darah mau tak mau Coh Bwe Nio rasakan separuh tubuh bagian kiri seperti kesemutan dan dia menjorok mau rubuh ke muka. melihat itu Pui Tiok girang sekali. Dia terus cepat hendak menerjang tetapi sret…. , tiba-tiba ular tadi melayang dan menyambar tenggorokan Pui Tiok, Pui Tiok miringkan kepala menghindar tetapi ular itu juga berputar hendak menyambar lagi. sudah tentu Pui Tiok kucurkan keringat dingin. untung matanya tajam sekali. Cepat dia mengangkat tangan kanan dan menyambar sirip ular itu dan kakinyapun bergerak menendang pinggang Coh Bwe Nio. Plok ….. telak sekali tendangan itu mengenai sasarannya. Coh Bwe Nio mendesuh tertahan dan bergelundungan ke muka. Karena dia masih memegang ekor ular maka dia tak dapat bergelundungan jauh. Baru beberapa langkah dia terus melencing berdiri lagi dan berseru, “Lepaskan ular!” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 165 Pui Tok terawa dingin, “Engkau rneminta ularmu? Kasih tahu dulu ke mana mereka pergil” Sepasang mata Coh Bwe nio memancarkan sinar yang aneh menyeramkan, serunya, “Eugkau mau melepaskan tidak?” Pui Tiok mengira kalau saat itu dia sudah menang angin. Coh Bwe Nio sudah terkena tendangannya dan ular itupun sudah ditangkapnya. Sudah tentu dia tak mau menggubris wanita Itu. Malah sambil tertawa dingin, dia terus menyerang lagi. Tetapi tentu hal yang tak pernah diduganya telah terjadi. Dia memperhitungkan bahwa wanita itu tentu tak mau melepaskan ularnya, tetapi perhitungannya itu salah. Begitu Pui Tok hendak bergerak menyerang maju, Bwe Nio serempak melepaskan ularnya. Walaupun sirip ular Itu sudah dikuasai tangan Pui Tiok tetapi karena ular itu amat panjang, begitu dilepas Coh Bwe Nio, ekornya terus bergeliatan dan tahu-tahu dengan kecepatan yang luar biasa, sudah melilit leher Pui Tiok, sampai tujuh lingkaran. Kejut Pui Tiok bukan alang kepalang. Dia segera memencet sirip ular sekuat-kuatnya tetapi lilitan pada lehernya juga makin mengencang Pui Tiok makin memencet keras, ular makin melilit lebernya kencangkencang. Jika hal itu dilangsungkan terus, keduanya pasti akan mati. Tetapi ternyata Pui Tiok kalah tahan. Lebih kurang sepeminum teh Pui Tiok rasakan pandang Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 166 matanya mulai gelap, kepala berbinar-binar dan kedua kakinya lemas lunglai. Tenaga lilitan ular itu tidak pernah mengendor. Sayup-sayup telinga Pui Tiok masih mendengar suara tawa aneh dari Coh Bwe Nio. Tetapi tawa Itu makin lama terasa makin jauh dan mata Pui Tiok pun makin gelap, gelap dan akhirnya dia pingsan tak ingat apa-apa lagi. Entah berapa lama dia pingsan hanya ketika siuman dia segera mendengar suara tangis seorang anak perempuan. Pui Tiok terkejut. Dia cepat mengenal suara tangis itu adalah suara Kwan Beng Cu. Dia keraskan hati membangkitkan semangat. Ternyata lilitan pada lehernya itu sudah kendor tetapi hidungnya disengat bau anyir. Pelan-pelan Pui Tiok membuka mata. Di lihatnya ular itu masih terlilit pada lehernya tetapi agak longgar. Dilihatnya pula Kwan Beng Cu terikat dan diletakkan di atas tumpukan rumput dami. Rupanya tempat itu sebuah dapur. Dari luar pintu terdengar suara si bungkuk. “Ah, moaycu,” kedengaran si bungkuk menghela napas, “engkau telah menerjang bahaya besar, lalu bagaimana kita sekarang?” “Apanya yang bagaimana?” kata Coh Bwe Nio dengan nada dingin, “bunuh mati semua sampai bersih!” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 167 “Bunuh…. semua…. engkau anggap begitu…. gampang,” kata si bungkuk tersendat-sendat gemetar. “Bagus, bagus, mama benar, bunuh satu demi satu” sahut Coh Hen Hong sambil bertepuk tangan, “Ciuciu, kalau engkau takut turun tangan biarlah aku yang melakukan!“ Sambil berkata gadis cilik itu terus memungut golok. “Jangan, jangan, jangan membunuh mereka Walaupun dunia ini luas tetapi kita takan dapat bersembunyi lagi. Yang satu putera dari Peh Hoa lokay dan yang satu…. puteri dari . Kwan tayhiap!“ Mendengar itu Coh Bwe Nio terkesiap, “Siapa itu puteri Kwan tayhiap?” “Gadis kecil itu,” kata Coh Thoacu, “waktu kubawa ke mari telah kutanya kepadanya. Dia adalah puteri dari Kwan Pek Hong yang termasyhur di daerah Kanglam…. Baru Coh Bungkuk berkata sampai disitu, Coh Bwe Nio sudah menjerit nyaring. Sebenarnya nada suara wanita itu terang. menandakan kalau kesadaran pikirannya juga jernih. Tetapi waktu menjerit itu ternyata nadanya aneh dan tajam seperti orang yang kaget ketakutan dan mimpi yang seram. “Kwan Pek Hong? Ha, ha, Kwan Pek Hong, kiranya itu adalah Kanglam tayhiap yang termasyhur itu, mengapa aku tak tahu!” serunya. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 168 Coh Thocu menghela napas “Moaycu, selama ini pikiranmu memang kalut. Baru setelah bertemu aku engkau menjadi sadar. Sudah tentu engkau tak tahu hal itu.” “Bukan begitu,” kata Coh Bwe Nio, “tetapi Kwan Pek Hong-ku, mengapa aku tak tahu?” “Ah, tidak, tidak. Kwan Peg Hong sudah mati kugigit, bagaimana mungkin dia masih hidup lagi?” Beberapa saat lamanya suasana menjadi hening. Tak ada yang bicara lagi. Tiba-tiba gadis cilik Coh Siau Bwe berseru, “Ciuciu, mama…. kumat lagi…. “ hansgranting Siau Bwe, mengapa begitu membicarakan Kwan Pek Hong, mamamu terus angot lagi penyakitnya?” kata Coh Thocu. Coh Hen Hong gelengkan kepala, “Entah, aku juga tak mengerti. Dulu dia memang sering mengingau hendak menggigit Kwan Pek Hong sampai mati. Maka tadi ketika dia mengatakan begitu lagi aku segera menduga kalau mama kumat lagi penyakitnya.” Coh Thocu termangu beberapa jenak lalu berkata, Siau Bwe, mengapa mamamu memberi mu nama Hen Hong kepadamu? Dia….. dia apakah mempunyai hubungan dengan Kwan tayhiap?” “Entah, aku tak tahu,” sahut Coh Heng Hong, “aku sendiri juga belum pernah melihat Kwan Pek Hong itu.” Coh Thaocu menarik tangan Coh Siau Bwe, masuk kedalam dapur. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 169 “Ciuciu, engkau mau apa?“ tanya Coh Siau Bwe alias Coh Hen Hong. “Jangan bertanya, jangan bergerak dulu,” perintah Coh Thocu. Dia terus menarik anak keponakannya itu ke hadapan Kwan Beng Cu, baru dilepaskan, Dia mengangkat Kwan Beng Cu, dipandang dengan teliti lalu menandang Coh Hen Hong Beberapa saat kemudian tampak Coh Thocu mengangguk-angguk, katanya, “Nona Kwan, kami mengikatmu karena terpaksa. Apakah engkau Ingin pulang? Kami akan mengantarmu.” Wajah Kwan Beng Cu seperti mau menangis tetapi dia menjawab, “Tidak, aku hendak ikut orang itu ke Peh-hoa-nia.” Walaupun dia kuatkan hati tidak rnenangis tetapi airmatanya mengucur deras. Melihat itu Coh Hen Hong bertepuk tangan tertawa, “ha, ha, kuda kencing….“ Coh Thocu berpaling dan deliki mata kepada keponakannya, “Siau Bwe, jangan usil. Nona Kwan,” kemudian dia berpaling dan berkata pula kepada Kwan Beng Cu, “engkau bilang mau ikut orang itu ke Pehhoa- nia. Tetapi dia bukan orang baik, tak dapat dipercaya. Mengapa engkau mau ikut dia?” “Engkau bilang dia bukan orang baik tetapi dia bersikap baik kepadaku. Tidak seperti engkau yang mengikat aku begini.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 170 Coh Thocu mengira kalau Kwan Beng Cu yang masih kecil itu mudah dibujuk. Siapa tahu kata-kata gadis cilik ini membuatnya tak dapat membantah. Sampai beberapa saat Coh Thocu tak dapat berkata apa-apa. Tiba-tiba di luar terdengar Coh Bwe Nio ber teriak histeris, “Kwan Pek Hong, kiranya engkau termasyhur sekali, ha…. ha…. aku seperti berselimut dalam kabut. Kali ini, masa aku tidak mampu mencarimu?” Suaranya makin lama makin jauh, menandakan kalau dia lari ke luar, Sudah tentu Coh Thocu bingung dan lari ke pintu, “Moaycu, kembalilah, kembali dulu nanti kita bicara!” Dua tombak jauhnya dia mengejar tetapi balik kembali dan berseru. “Siau Bwe, jaga dulu kedua orang itu, aku hendak menyusul mamamu” “Kutahu,” Coh Hen Hong mengangguk, ‘jangan kuatir, silahkan mengejar mama saja!“ Coh Thocu lalu berputar tubuh dan lari mengejar. Meihat itu diam-diam Pui Tiok gembira. Coh Hen Hong hanya seorang anak perempuan, mudah baginya untuk meloloskan diri. Tetapi yang menjengkelkan adalah ular yang masih melilit di lehernya itu. kalau dia tidak bergerak, ular itupun longgar. Tetapi sedikit saja dia bergerak, ya hanya menggerakkan jari tangannya saja, ular itu segera melilit kencang. Beberapa kali dia sudah mencoba, tetapi begitu saja Akhirnya dia menyadari, kalau mau lolos dengan kekerasan, percuma saja. Dia harus mencari akal lain. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 171 Saat itu ketika derap langkah Coh bungkuk sudah semakin jauh Pui Tiok tertawa, “Adik kecil, kepandaianmu hebat juga.” Coh Hen Hong deliki mata, “Memangnya hebat!“ “Tetapi kalau dibanding dengan kepandaianku, Jauh sekali terpautnya,” kata Pui Tiok pula. “Uh, tidak tahu malu,” Coh Hen Hong tertawa mengejek, “engkau menggeletak di tanah seperti babi yang tunggu disembelih, masih jual mulut besar, uh!“ Pui Tiok tertawa, “Engkau kira aku benar tak dapat bangun? Begitu aku berdiri, walaupun kedua tanganku masih terikat, aku dapat mengalahkan engkau!“ ‘Kentut!“ teriak Coh Hen Hong. “Dengan kedua tangan terikat, dalam tiga jurus saja aku tentu mengalahkan engkau’ Jika tak percaya, silahkan mencoba!“ ‘Aku tidak punya tali!“ kata Coh Hen Hong. “Engkau boleh mengunakan ular ini sebagai tali, hmm kurasa engkau juga tidak berani menyentuh ular ini!” “Fui!“ dengus Coh Hen Hong, “ngaco! Sejak kecil aku sudah bermain-main dengan ular itu!” Pui Tiok sengaja membikin panas hati gadis kecil itu. Dia tengadahkan muka dengan sikap angkuh dan berseru menghina, “Huh, berani mati! Tidak ada Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 172 seorangpun yang berani, aku sendiri juga tidak berani!“ Walaupun berotak cerdas tetapi dasar masih kecil, marahlah Coh Hen Hong mendengar ejekan Pui Tiok itu. Serentak dia melengking, “Siapa yang ngibul? Lihat!“ Sambil berkata Coh Hen Hong terus melangkah maju dan menangkap ekor ular. Ular itu sudah belasan tahun di pelihara sehingga seperti mengerti bahasa manusia. Walaupun Coh Bwe Nio yang memelihara tetapi ular itu lebih intim dengan puterinya, Coh Hen Hong. Sejak Coh Hen Hong lahir, setiap musim dingin, ular itu tentu melingkari badan anak itu supaya hangat. Tiap hari ular dan Coh Hen Hong itu hampir tak berpisah. Jadi di antara mereka telah timbul kontak yang erat sekali. Setelah memegang ekornya, Coh Hen Hong mengangkatnya sedikit dan ular itupun terus nelongsorkan lilitannya. Ketika lehernya bebas dari lilitan ular, girang Pui Tiok bukan alang kepalang. Dia terus condongkan tubuh ke muka seperti orang yang hendak rubuh. Tetapi sebenarnya dia sedang menggunakan jurus yang_paling lihay yakni Sun-sip cay-yang atau Menurut kondisi menyembelih kambing, Waktu tubuh condong ke muka, jarinya menusuk bahu Hen Hong. Coh Hen Hong meskipun juga belajar silat tapi saat itu dia benar-benar tak menduga kalau dirinya bakal diserang begitu cepat. Seketika pandang matanya tertutup kelebat tubuh orang dan terus rubuh . Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 173 Melihat nonanya rubuh, ular itu terus menyambar. Pui Tiok terpaksa menyurut mundur. Serangannya luput, ular tidak mau melanjutkan tetapi dia melingkari tubuh coh Hen Hong lalu mengangkat kepalanya, lidahnya tidak henti-hentinya menjulur. Jelas ular itu hendak melindungi nonanya…. Pui Tiok memang tidak bermaksud hendak mencelakai Coh Hen Hong. Pelahan-lahan dia melingkar ke tempat Kwan Beng Cu, Setelah melepas ikatan tubuh Kwan Beng Cu, dia berkata, “Lekas lari, hati-hati.” Pui Tiok menarik tangan gadis cilik itu untuk menerobos keluar. Setiba di luar dapur baru mereka menghela napas longgar. Setelah lari sampai lima enam li, barulah mereka berhenti. Napas Kwan Beng Cu terengah-engah, dia mengomel, “Perlu apa engkau lari begitu kencang! Mereka toh tak mengejar.” Pui Tiok berpaling ke belakang dan ternyata memang tak ada orang lagi Tiba-tiba dia berkata, “Nona Kwan. aku hendak berunding dengan engkau mengenai suatu hal, entah engkau Setuju tidak?“ “Soal apa?” Kwan Beng Cu agak heran. “Dengan si Bungkuk itu, aku masih perlu mencarinya lagi untuk membereskan suatu hal yang penting. Tetapi kalau bersama engkau, itu kurang leluasa…. “ “Siapa ingin bersama? Engkau tak mau bersama aku, masa aku sudi bersama engkau!“ cepat gidis cilik Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 174 itu menukas marah. Habis berkata dia berputar tubuh dan terus hendak lari. Pada saat Kwan Beng Cu berputar tubuh Pui Tiok pun sudah melesat ke mukanya dan tertawa, “Nona Kwan, tadi aku kan sudah bilang mau berunding dengan engkau. Mengapa belum selesai aku bicara engkau terus marah?“ Entah bagaimana, kemarahan Kwan Beng Cu reda dan diapun tertawa, “Baik, Lanjutkanlah! “Wanita dan si Bungkuk, tidak berapa hebat kepandaiannya. tetapi ular itu memang lihay sekali. Aku hendak pinjam pedangmu yang kecil itu, apakah engkau meluluskan?“ “Kwan Beng Cu gelengkan kepala! “Tidak bisa! Mama bilang, pedang itu sebuah pusaka yang tiada keduanya. Bagaimana begitu mudah kupinjamkan kepadamu?” “Oho, lihatlah, apakah orang macamku ini engkau anggap manusia yang suka pinjam tetapi tak mau mengembalikan? Kalau aku memang mempunyai hati begitu, bukankah dengan mudah ku dapat menutuk jalan darahmu lalu merebut pedang itu?“ Kwan Beng Cu kicupkan mata, “ya taka pa “ akhirnya dia meluluskan, Pui Tiok gembira sekali membalikkan tangan, tangannya sudah memegang sebilah pedang kecil. Saat itu Cuaca menjelang dinihari, langit gelap dan keadaan sekeliling penjuru pun pekat. Kelebat sinar Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 175 pedang makin menyilaukan mata. Tangan Kwan Beng Cu seperti tidak memegang pedang melainkan segulung sinar kebiru-biruan Pui Tiok segera menyambuti pedang pusaka itu. Seketika dia terkejut dan heran. Ternyata pedang kecil itu, batang sampai dengan tangkainya hampir setengah meter panjangnya tetapi Pui Tiok rasakan ringan seperti tak berbobot sama Sekali,. “Sungguh ringan sekali pedang ini.” Pui Tiok tertawa. “Kurang pengalaman tentu banyak bicara,” Kwan Beng Cu menyengir “bukankah tadi sudah kukatakan bahwa pedang pusaka ini memang lain dari yang lain?“ “Ya, ya,” kata Pui Tiok seraya menyimpan pedang dan berkata tunggu aku disini, Paling Lama satu dua jam sudah kembali lagi.” Kwan Beng Cu tertegun, wajahnya pucat. Dia memandang ke sekeliling penjuru. Saat itu mereka berada di tengah sebuah lembah kecil, empat penjuru dikelilingi hutan pohon yang gelap. Kwan Beng Cu takut. Tetapi karena dia seorang anak perempuan yang keras kepala maka diapun berputar tubuh, serunya, “Kalau mau pergi, pergilah. Perlu apa banyak omong!“ “Kalau engkau takut,” kata Pui Tiok. “akan kubantumu membuat api unggun dulu. Toh tak lama lagi hari sudah terang tanah,” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 176 Mendengar Pui Tiok hendak bantu membuat api unggun, dalam hati Kwan Beng Cu senang sekali tetapi mulutnya menjawab tawar, “Ah, tak usah.” Pui Tiok tetap masih sedikit kuatir, dia mengulang pesannya lagi, “Jangan pergi kemana mana kurasa disini takkan terjadi suatu apa.” Sudah tentu Kwan Beng Cu takut karna sebesar itu belum pernah dia seorang diri berada di tempat yang gelap. Apalagi di tengah lembah gunung yang sunyi senyap. Kwan Beng Cu maju selangkah dan mencengkeram sebatang pohon kecil. Dia merasa agak tenang. Pui Tiok segera melesat pergi. Sudah tentu Kwan Beng Cu lebih takut sehingga dia gemetar. Dia termangu seberapa saat, memandang langit sambil mengharap agar cuaca lekas terang. Tetapi dia merasa selimut gelap yang menyelubungi cakrawala seperti tak mau menggungkap. Sebenarnya keadaan lembah itu sunyi sekali. Tetapi entah bagaimana, dari empat penjuru seperti terdengar berbagai suara aneh yang meregangkan bulu roma. Kwan Beng Cu makin kencang mencengkeram pohon kecil itu. Tangannya basah dengan keringat dingin. Diam-diam dia bersyukur ada pohon kecil itu. Kalau tidak, tak tahu dia bagaimnana akan terjadi pada dirinya. Sebenarnya saat itu sudah menjelang terang tanah. Tetapi karena perasaan diliputi rasa takut maka Kwan Beng Cu merasa lama sekali. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 177 Tak berapa lama haripun mulai terang. Kwan Beng Cu menghela napas longgar. Apalagi setelah disekelilingnya tampak jelas, dia makin tenang Dan karena sudah tenang, cengkeramannya pada pohon kecil pun dilepaskan. Tetapi pada saat itu dia baru mengetahui bahwa yang dicengkeram tadi, bukan sebatang pohon melainkan sebatang bambu berwarna kuning kecoklat-coklatan. Ketika Kwan Beng Cu berpaling lagi, dia terkejut. Bambu itu ternyata bukan pohon tetapi tongkat dan tangkai itu batangnya dipegang seorang manusia. Dengan begitu sejak tadi orang itu tetap berada di samping Kwan Beng Cu. Begitu dekat tetapi Kwan Beng Cu sama sekali tidak mengetahui. Saking kaget nya, gadis itu lunglai dan terus jatuh terduduk di tanah. Waktu duduk di tanah itu matanya tetap memandang ke tubuh orang yang memiliki tongkat. Ternyata orang itu seorang nenek tua berambut putih, wajahnya memancar sinar kasih. Ketegangan hati Kwan Beng Cu agak menurun. Tiba-tiba nenek tua itu juga berjongkok dan berkata, “Jangan takut, jangan takut. karera takut membuat engkau kaget maka tadi aku tidak mau mengeluarkan suara.” nada kata-kata nenek tua itu ramah sekali, Kwan Beng Cu makin tenang, katanya, “Engkau…. engkau ini siapa?” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 178 Nenek tua tertawa, “Engkau tidak kenal kepadaku. Tetapi aku kenal dengan mamamu. Sebut saja Ih pohpoh kepadaku, mau?” Melihat nenek itu begitu ramah, rasa takut Kwan Beng Cu pun hilang. “O, kiranya engkau ini sahabat mamaku” Serunya. “Ya,” sahut si nenek, “siapa namamu?” “Aku bernama Beng Cu.” “Engkau ini orang she….“ si nenek ber tanya pula. Kwan Beng Cu memang masih anak tetapi bukan anak kecil. Dia sudah dapat berpikir. Waktu mendengar nenek bertanya she, diam-diam dia heran. Katanya kenal dengan mama, mengapa tidak tahu aku ini orang she apa? Pikirnya. Dan timbul pula kecurigaan yang lain, pikirnya, “Jelas dia tentu tak kenal aku. Kalau begitu mengapa dia tahu siapa mamaku itu?” Waktu berpikir menganalisa kecurigaannya itu, Kwan Beng Cu tak bicara apa-apa. Kedua biji matanya berkeliaran kesana kemari. Nenek tua itu segera dapat mengetahui isi hati gadis cilik itu, katanya. “Engkau curiga kepadaku, bukan? Dengan mama mu, sudah duapuluh tahun aku tak bertemu, juga tak mendengar beritanya Oleh karena itu dia menikah dengan siapa akupun tak tahu.” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 179 Kwan Beng Cu merentang mata, “Kalau begitu bagaimana engkau tahu kalau aku ini anak nya mama?“ Nenek tua tertawa, “Pertanyaanmu sungguh pintar sekali! Itu engkau sendiri yang memberitahu kepadaku.” Sudah tentu Kwan Beng Cu melongo, serunya, “Aku sendiri? Kapan aku memberitahu kepadamu?‘ “Tadi waktu engkau mengeluarkan pedang kecil, engkau bilang kalau benda itu milik mamamu, Karena tahu pedang kecil itu maka aku pun segera tahu engkau ini anaknya siapa, ya atau tidak?“ Mendengar penjelasan itu mau tak mau Kwan Beng Cu tertawa meringis Pikirnja, “Ya. dia memang betul, aku sendiri yang membuka rahasia itu.” “Aku orang she Kwan akhirnya dia memberitahu, “ayahku adalah Kwan Pek Hong tayhiap. “O” desuh lh pohpoh itu berkata seorang diri, “sungguh tak kira, benar-benar sungguh tak kira.” Mendengar itu Kwan Beng Cu tak tahu dan bertanya, “Apanya yang tidak kira? Kalau engkau kenal dengan mamaku, tentu engkau baik sekali dengan dia, bukan” “Aku hanya mengatakan,” kata nenek Ih, “pada duapuluh tahun yang lalu, mamamu tiba-tiba meninggalkan rumah, sampai sekarang belum pernah pulang. Sungguh tak kira kalau dia sudah menikah dan mempunyai anak. Engkau bicaranya apa kah aku Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 180 baik sekali dengan mamamu? itu sungguh terlalu baik sekali. Aku hendak mengundangmu ke sebuah tempat,.” “Ke mana? Aku hendak menuju ke gunung Peh-hoania, kalau seperjalanan aku mau,” kata Kwan Beng Cu. Nenek lh tertawa, “Seperjalanan, sudah tentu satu jalan. Tempat yang hendak kuajakmu pergi adalah disini!” Tiba-tiba nenek itu gerakkan tangan dan seketika dia menebarkan segumpal awan merah. ternyata awan merah itu tak lain hanya sebuah karung berwarna merah darah. Semula karung merah itu memang sudah terpanggul di bahu nenek lh tetapi karena Kwan Beng Cu dicengkam rasa kejut dan kemudian terlibat dalam pembicaraan maka dia tak sempat memerhatikan karung itu lagi. Saat itu nenek Ih memegang karung dengan kedua tangan. Bagian dalam dari karung itu ternyata juga berwarna merah. Sudah tentu Kwan Beng Cu heran mengapa tiba-tiba saja nenek itu mengeluarkan karung. Nenek Ih menggapaikan tangan kepadanya, “Mari kemari, engkau bermain-main dalam karung ku ini!.” Sudah tentu Kwan Beng Cu tercengang, “Ih pohpoh, engkau mengatakan apa?” “Tadi aku bilang akan mengajakmu kesebuah tempat. Tempat itu tak lain adalah dalam karung ini” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 181 Kwan Beng Cu terlonggong. Diam-diam dia menyadari kalau nenek itu bermaksud tidak baik kepadanya. Serentak dia berteriak memanggil Pui Tiok sembari berputar tubuh terus lari. Tetapi baru setengah langkah, tiba-tiba dia rasakan bahunya mengencang karena kelima jari nenek itu sudah menerkamnya dan seperti anak kecil, dia diangkat nenek itu. “Anak, jangankan hanya Pui toako, sekali Goan toako, bibi Pian ataupun paman Tang, juga tak mampu menolongmu,” kata nenek Itu dengan tertawa. Tangan kanan si nenek mengangkat tubuh Kwan Pek Hong dan tangan kiri membuka karung lalu dimasukkan kedalam, terus ditutup. Karung itu bergerak gerak keras karena Kwan Beng Cu keroncalan tetapi tak terdengar suara apa lagi. Dan tak berapa lama karung Itupun diam…. Sekarang mari kita berganti menuju kediaman gedung keluarga Kwan. Saat itu hari baru saja terang tanah. Tetapi gedung kediaman Kwan Pek Hong sudah sibuk tampaknya. Tak henti-henti nya kelompok demi kelompok bujang yang masuk keluar. Juga Si Ciau kelabakan setengah mati. Ia harus mencari kian kemari ditambah pula masih harus menerima bentakan dan kemarahan subo itu ibu gurunya. Sejak semalam Kwan Pek Hong sudah keluar dan sampai saat itu belum pulang. Keadaan dalam rumahnya kacau tak keruan. Baru setelah matahari Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 182 menjulang tinggi Kwan Pek Hong datang dengan naik kuda. Sesaat dia loncat dari kudanya, hansgranting seorang bujang terus lari ke dalam. Tak berapa lama Si Ciau keluar menyambut, “Suhu, bagaimana?” Dengan wajah pucat lesi Kwan Pek Hong gelengkan kepala. Si Ciau menghela napas, “Subo di dalam sedang marah-marah. Dia pesan begitu suhu datang, supaya lekas menemuinya.” Kwan Pek Hong tak bicara apa-apa terus melangkah masuk, Begitu masuk kedalam ruang dalam, sudah terdengar suara Kwan hujin menegurnya “Pek Hong, engkau sudah pulang? Apakah ada hasilnya?” Kwan Pek Hong melesat masuk dan tiba disebuah ruang indah…. Disitu Kwan hujin tengah duduk dengan wajah membesi, menandakan sedang marah sekali. Melihat itu mengkeretlah nyali Kwan Pek Hong sehingga untuk beberapa saat dia tak dapat berkata kata. Kwan hujin tertawa dingin, Bagus, anak lenyap, pulang tanpa membawa hasil apa-apa bahkan sepatahpun tak mau bicara!“ Hati Kwan Pek Hong berdebar keras Setelah isterinya setesai bicara, baruLah Kwan Pek Hong tertawa kecut, “Hujin, aku telah mengirim orang ke seluruh penjuru untuk mencari jejak sahabat-sahabat di darat maupun di sungai juga sudah kuhubungi. Kurasa mereka tentu Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 183 belum jauh larinya paling lambat tengah hari ini tentu sudah ada beritanya.” “Jika sampai tidak ada?“ Kwan hujin tertawa dingin. Kalau tidak ada beritanya, apa dayaku. Toh anak itu hilang waktu tidur disampingmu? Mengapa aku yang salah, kata Kwan Pek Hong dalam hati. Namun dia tak berani mengatakan hal itu untuk membantah isterinya. Dia hanya diam saja. “Kalau begitu harus cari daya lain lagi,” akhirnya dia menjawab. “Kentut!“ Kwan hujin marah, “sekarang, juga engkau harus pergi lagi untuk mencari anak itu. hansgranting Kalau tidak mampu menemukan, jangan pulang, lebih baik engkau mati di luaran saja.“ Kwan Pek Hong mengerut gelap dan menyahut. “Ya, baiklah.” “Hm” dengus Kwan hujin. “engkau memang sudah lama hendak pergi dari rumah dan tak mau pulang lagi, bukan?” Kwan Pek Hong menyengir. Bukankah tadi yang suruh pergi dan jangan pulang itu Kwan hujin, sendiri dan Kwan Pek Hong hanya terpaksa mengiakan saja? Mengapa sekarang nyonya itu memaki suaminya mempunyai hati akan meninggalkan rumah? Kwan Pek Hong ternganga tak dapat menjawab. Tetapi isterinya tetap tak puas karena Kwan Pek Hong tak menjawab. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 184 “Mengapa engkau tak menjawab?“ seru Kwan hujin marah, “apakah engkau sudah jemu kepadaku dan tak sudi bicara lagi dengan aku?“ Kwan Pek Hong memang sudah biasa dimaki-maki isterinya. Saat itu dia tahu mungkin isterinya marahmarah karena kehilangan anaknya oleh karena itu diapun tak berani cari perkara dan buru-buru dia tertawa. tetapi sebelum dia sempat membuka mulut Kwan hujin sudah mendampratnya lagi, “Tertawa? Huh, engkau masih bisa tertawa Anak hilang engkau masih gembira? Apanya yang lucu? Engkau masih berani tertawa?“ Kwan Pek Hong benar mati kutu. Dia tak tahu bagaimana harus bertindak. Bicara salah diam salah, tertawa juga salah. Untung pada saat itu dari belakang Si Ciau berseru memanggilnya, “Suhu…. Seruan itu benar-benar dapat membebaskan Kwan Pek Hong dari kesulitan. Cepat dia berputar tubuh dan berseru, “Ada urusan apa?“ “Diluar telah datang seorang nenek berambut putih yang mengaku she Ih. Dia mengatakan membawa berita tentang sumoay,” kata Si Ciau. “Baik,” cepat Kwan Pek Hong menyahut, “kutahu. Hujin, aku hendak melihatnya dan segera kembali” Kwan hujin tertawa dingin. Kwan Pek Hong tak mau menunggu dia menjawab terus berputar tubuh dan angkat kaki. Setelah beberapa tombak jauhnya Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 185 barulah dia merasa longgar perasaannya. Dia mengikuti Si Ciau menuju ke ruang besar. Begitu memasuki ruang besar dia segera melihat seorang nenek berambut putih sedang duduk dikursi. Nenek itu berwajah asih bahunya memanggul sebuah karung berwarna merah darah. Serta melihat nenek itu mulut Kwan Pek Hong mendesuh kaget. Sepasang mata nenek itu memancarkan sinar yang berikilat-kilat tajam. Suatu pertanda bahwa dia memiliki tenaga-dalam yang tinggi sekali. Kwan Pek Hong melangkah maju dan berkata “Anda ini….“ Nenek itu serentak berdiri dan berkata. “Aku orang she Ih, tuan ini tentulah Kwan tayhiap“ “Ah, jangan memuji,” kata Kwan Pek Hong, “anda mengatakan jika membawa berita tentang anak perempuanku, betulkah itu? Kalau benar dan kelak dapat menemukan anak perempuanku, budi pertolongan anda itu takkan kulupakan selamanya.’ “Memang aku membawa berita tentang puterimu tetapi tetap aku ingin berjumpa dengan Kwan hujin,” kata nenek itu. mendengar itu Kwan Pek Hong terkesiap. Seru nya, “tetapi isteriku sedang kurang enak badan. Sejak lenyapnya anak kami, dia jatuh sakit. Kurasa anda tak perlu menemuinya..” Wajah asih dari nenek Ih makin ramah, kata nya, “Kwan tayhiap, kata-kata orang kuno memang benar. Didepan orang yang tahu, lebih Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 186 baik jangan berkata bohong. Selekas bertemu dengan Kwan hujin, segera akan kuberitahu kepadanya dimana putri nya berada. Mengapa Kwan tayhiap perlu mengatakan hal yang berlawanan dengan batin anda?“ Ucapan nenek lh itu walaupun sangat ramah kedengarannya tetapi amat tajam sekali. Dan Sehabis berkata nenek itu memandang Kwan Pek Hong seraya tertawa sehingga Kwan Pek Hong terkejut. Kwan Pek Hong memang tahu bahwa isteri nya itu mempunyai latar sejarah yang hebat. Tetapi soal itu jarang sekali orag persilatan yang tahu. Paling-paling kesan mereka yang pernah bertemu dengan Kwan hujin, tentu mengatakan bahwa nyonya itu berwajah jelek dan bengis. Tetapi merekapun tak berani mengatakan hal itu kepada orang lain. Hanya ada satu hal yang Kwan Pek Hong heran dan tahu, yalah bahwa isterinya itu seperti mempunyai suatu perasaan takut. Bahkan tiap hari, masuk keluar dalam rumah saja, isterinya itu sangat hati-hati. Sikapnya seperti orang yang takut kalau sampai bertemu dengan seseorang tertentu. Sekarang nenek itu berkeras hendak menemui isterinya, apakah dia (Kwan Pek Hong) harus masuk memberitahu kepada isterinya atau tidak? Pada saat Kwan Pek Hong masih bersangsi tiba-tiba nenek Ih sudah berseru nyaring, “Kwan hujin, ada kawan yang sudah 20 tahun tak bertemu ingin berkunjung, mengapa engkau tak lekas menyambut?“ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 187 Walaupun nyaring tetapi nadanya tetap ramah. Kumandang suaranya bergema memenuhi seluruh gedung. Mendengar itu diam-diam Kwan Pek Hong longgar perasaannya. Nenek itu yang berseru sendiri mau menerima atau tidak terserah pada Kwan hujin sehingga Kwan Pek Hong tak kesalahan terhadap isterinya. Beberapa saat kemudian terdengar suara Kwan hujin berseru dingin dari arah dalam. hansgranting “Kawan lama siapa?“ “Coh- si-cu (pengurus) istana Ceng- te-kiong, sekarang sudah seorang nenek berambut putih,” sahut nenek lh. Mendengar itu bagaimana reaksi Kwan hujin memang tak diketahui tetapi Kwan Pek Hong serentak berobah wajahnya. “Engkau…. engkau dari istana Ceng te-kiong?“ serunya. “Ya, mengapa Kwan tayhiap terkejut?“ sahut nenek lh. “Aku….. aku….. tidak kaget…. tidak kaget.” Kwan Pek Hong dengan tersendat-sendat karena gerahamnya bergemerutukan, menandakan betesar rasa kejut yang menggoncang hatinya Sampai beberapa saat belum juga terdengar suara Kwan hujin. Dan nenek Ih pun segera ber seru pula, “Hujin mengapa tidak bicara?“ Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 188 Dia mengulangi lagi pertanyaannya baru terdengar suara Kwan hujin yang datangnya dari jauh lalu makin dekat, “O, kiranya Ih si-su, sungguh sudah lama tak bertemu!“ Begitu suara lenyap, orangnyapun sudah melangkah masuk kedalam ruang besar dan berdiri tegak. Nenek Ih juga berdiri dan memandang nyonya rumah dari ujung kaki sampai keatas kepala. Tiba-tiba dia memberi hormat seraya berseru, “hamba menghaturkan hormat kepada siocia.” Kwan hujin tertawa pahit seraya menggerak gerakkan tangan, “Tak perlu banyak peradatan. Karena engkau sudah menemukan aku, tentu akan membawa aku pulang, bukan?” “Sebagai seorang si-su, sudah tentu aku tak berani melanggar titah yang dipertuan.” Sambil melengkan kepala Kwan hujin bertanya, “Apakah engkau mampu membawa pulang aku?” “Hamba tahu kalau hamba tak mampu membawa siocia pulang,” kata nenek Ih seraya menepuk karung merah yang terpanggul pada bahunya. Seketika berobahlah cahaya muka Kwan hujin serunya, ‘Siapa yang berada dalam karung?” Nenek Ih tidak menyahut melainkan tertawa. Kwan hujin berjingkrak, “Beng Cu. Beng Cu mutiaraku!” Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 189 Nenek lh tertawa cerah, “Siocia sungguh cerdik sekali. Sekarang siocia tentu mau ikut aku pulang, bukan?” Kwan hujin menggerung marah, kelima jar nya yang bertebar laksana cakar burung elang, tiba-tiba menerkam kepala nenek lh. Rupanya Kwan hujin telah menyalurkan tenaga-dalam penuh pada cakarannya itu sehingga menimbulkan getaran angin kuat yang mendesir-desir. Secercah wajah cerah nenek lh lenyap seketika, berganti dengan wajah yang tenang. Nenek itu tidak mau mundur juga tidak beringsut dari tempatnya. Dia hanya menggerakkan tangan kiri nya ke belakang, menekan pada mulut karung yang berada pada bahunya. Gerakan nenek itu menimbulkan reaksi berupa suara Kwan hujin meraung aneh. Terkaman kelima jarinya yang sedahsyat elang menyambar itu, tiba-tiba berhenti seketika. Pada saat menghentikan cengkeramannya itu kelima cakar Kwan hujin tepat menyusup kedalam rambut nenek lh yang putlh seperti perak Itu. Nenek lh menghela napas, “Ah, siocia, sungguh berbahaya sekali” Yang dimaksudkan dengan berbahaya itu sudah tentu bagi keselamatan dirinya tetapi pun juga bagi Kwan hujin. Mengapa bagi diri Kwan hujin? Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 190 Waktu Kwan hujin menerkamnya, nenek itu tidak mau menghindar juga tidak mau menangkis melainkan terus menekankan tangannya ke mulut karung. itu berarti apabila Kwan hujin nekad hendak membunuhnya, nenek Itu juga bertekad hendak membunuh Kwan Beng Cu yang berada dalam karung. Dengan wajah membesi gelap, pelahan-lahan Kwan hujin menarik tangannya. “Ih si-su, sungguh besar sekali nyalimu berani melawan aku!” serunya. “Hamba hanya melaksanakan tugas, harap siocia jangan menyalahkan,” sahut nenek itu. Kwan hujin tertawa dingin, taruh kata aku menerima permintaanu tetapi perjalanan ke Ceng tekiong itu beribu li jauhnya. Apikah engkau yakin engkau tentu aman?” Nenek lh tertawa getir, “Dia menyadari apa yang dikatakan Kwan hujin itu memang benar. “Memang sukar,” katanya, “hambapun hanya dapat berusaha sekuat mungkin. Mohon siocia sudi meluluskan.” Wajah Kwan hujin makin gelap sehingga makin menyeramkan. Dengan suara tegas, dia sengaja berkata dengan sepatah demi sepatah, “Ih si-su, seharusnya engkau tahu watakku, yang tak sudi menerima tekanan orang. Di istana Ceng-te-kiong. walaupun atasanku hanya satu orang tapi bawahanku berpuluh ribu orang, tetapi toh aku tidak suka. aku tetap melanggar peraturan istana dan melarikan diri. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 191 hal itu disebabkan karena aku tidak sudi dibawah kekuasan orang, walaupun hanya seorang saja’ “Hamba tahu,” sahut nenek lh dengan wajah mengerut. “Kalau engkau sudah tahu,” kata Kwan hujin pula, “seharusnya engkau tahu bahwa kalau aku mau menuruti permintaanmu untuk pulang, itu berarti bahwa hari terakhir bagimu sudah akan tiba!” Nenek Ih mengela napas, “Hamba mengerti. Tetapi sudah tiga turunan hamba menerima budi bagaimana hamba tidak mau melakukan tugas yang di berikan kepada hamba?” “Aku dapat memberimu sebuah jalan hidup, “Kata Kwan hujin,” letakkan Beng Cu dan angkatlah sumpah bahwa engkau takkan memberi tahu kepada siapapun juga. Kupercaya dengan mengangkat sumpah itu, engkau pasti takkan mengalami nasib dihilangkan jejakmu.” Nenek Ih diam tak berkata. Kwan hujin mundur selangkah dan duduk di kursi, katanya, “Engkau boleh merenungkan dulu, kuberimu waktu setengah Jam untuk memberi jawaban” Nenek Ih tetap diam. Wajahnya yang penuh keriput menampilkan cahaya lesi. Saat itu suasana dalam ruang besar tegang sekali. Beberapa bujang, setelah melihat Kwan hujin keluar, mereka sudah cepat-cepat menyingkir. Bahkan Si Ciau juga beringsut jauh dan berdiri di sudut ruangan. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 192 Sebenarnya Kwan Pek Hong tegak berdiri di samping isterinya seperti seorang penjaga. Sepatahpun tidak berani buka suara. Sedemikian sunyi keadaan ruang itu sampaipun suara napas orang juga kedengaran. Apa yang sedang dipertimbangkan nenek Ih dan bagamana keputusan yang akan diambilnya, tak seorangpun yang tahu. Kwan hujin tenang-tenang menunggu. Setelah meminjam pedang kecll milik Kwan Beng Cu, Pui Tiok terus lari mencari Coh bungkuk. Dia berhenti beberapa kali karena mencemaskan keadaan Kwan Beng Cu yang ditinggal Seorang diri itu. Hampir saja dia hendak kembali menengok keadaan gadis kecil itu. Andaikata Pui Tiok terus kembali, mungkin jalannya cerita akan berlainan. Tetapi Pui Tiok hanya mempunyai kenginan saja dan dia tidak balik melainkan melanjutkan perjalanannya. Dia memperhitungkan bahwa si bungkuk tentu akan kembali lagi ke dalam rumah pondok. Dia ingin mencari keterangan pada orang bungkuk itu di mana kitab pusaka Ih-su-keng. Sudah tentu dia tak mau melewatkan kesempatan sebagus itu. Tak berapa lama dia sudah tiba di rumah pondok. Lebih dulu dia pasang telinga tetapi karena tidak mendengar apa-apa, dia terus berindap-indap menghampiri ke muka pintu dan mengintip ke dalam. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 193 Ternyata gadis cilik Coh Hen Hong masih menggeletak di atas tumpukan dami dan ular itupun masih melilit tubuhnya. Selain Coh Hen Hong, tak ada lain orang lagi. Jelas bahwa Coh Thocu belum kembali ke situ. Pui Tiok mendorong pintu lalu melangkah masuk. Sambil memegang pedang kecil dia tertawa mengikik, “Ho, engkau masih sendirian saja? Engkau takut tidak? Apakah ciuciumu belum balik kemari?” Sambil berkata dia menghampiri. Tetapi baru dia mendekat, ular yang melilit tubuh anak Perempuan itu serentak mengangkat kepalanya dan hendak menyambar Pui Tiok. Pui Tiok yang sudah siap dengan pedang pusaka serentak menyabat tetapi ular itu juga takut dan cepat menyurutkan tubuh. Tetapi karena Pui Tiok tidak melanjutkan serangannya dan menarik kembali, ular itupun tidak menyerang lagi. Pui Tiok juga menyabat lagi tetapi setelah ular menyurut mundur, diapun menarik pedang nya kembali. Dengan mengulang cara itu sampai empat lima kali, ular yang sudah terlatih itu mempunyai kesan bahwa Pui tiok tak berani menyerangnya. Waktu Pui Tiok melancarkan serangan yang keenam kalinya, sekonyong-konyong ular itu terus meluncur maju menyerangnya. Tujuan Pui Tiok meminjam pedang kecil dari Kwan Beng Cu tak lain hanyalah hendak membunuh ular itu. Dari lima kali serangan yang ditarik kembali itu hanyalah untuk siasat memikat si ular. Maka waktu ular itu akhirnya berani meloloskan diri maju Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 194 menyerang, Pui Tiok tidak mau melepaskan kesempatan yang bagus itu lagi. Sekali tangan bergerak melingkar, pedang itupun memancarkan sinar kebiru-biruan yang berhamburan menjadi berpuluh lingkaran kecil. ltulah jurus istimewa ciptaan ayahnya (Peh Hoa lokoay) yang disebut Pehhoa- ceng-jun atau Seratus-bunga-berebut musimsemi. Peh-hoa-ceng-jun-memang bukan olah-olah hebatnya. Sekalipun seorang jago sakti dari dunia persilatan juga tak mudah untuk menghadapi jurus itu. Apalagi hanya seekor ular. Dalam beberapa kejab saja terdengarlah suara desis yang tajam dan ular itupun terbelah menjadi dua. hansgranting Kebetulan babatan pedang itu tepat mengenai leher ular. Begitu putus, kepala ular jatuh ke tanah tetapi pada saat itu juga kepala ular loncat ke atas dan menyambar betis Pui Tiok. Sudah tentu Pui Tiok terkejut bukan main Cepat dia menarik mundur kaki sehingga hanya celananya bagian kaki bawah yang tergigit. Dia kucurkan keringat dingin. Ketika memandang kemuka, kembali dia menganga kaget. Ular itu tadi melilit tubuh Coh Hen Hong untuk melindunginya. Tetapi setelah kepalanya putus, terjadilah peristiwa yang mengerikan. Tubuh ular itu sudah tak mengenal lagi nonanya. Ketika kepalanya putus, tubuhnya juga membuat reaksi yang hebat. Dengan cepat bagian tubuh ular itu terus melilit makin kencang. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 195 Pada saat Pui Tiok terhindar dari bahaya gigitan maut dari kepala ular ternyata Hen Hong juga sudah pingsan karena dililit kencang oleh sisa tubuh ular. Krek, krek, krek, terdengar bunyi berderak- derak dari tulang belulang Coh Hen Hong yang sedang dililit tubuh ular. Apabila di biarkan saja dalam beberapa kejab tentu akan remuk rendamlah tulang-tulang gadis kecil itu. Pui Tiok terkejut. Tanpa banyak pikir dia terus loncat kemuka, sret, sret. sret, dia menyabatkan pedang ke tubuh ular sampai beberapa kali dan tubuh ular itupun bagai daun kering tertiup angin, berguguran sekeping demi sekeping, menjadi tujuh sampai delapan keping. Tiap keping ada yang hanya sejari panjang. Pada waktu berjatuhan di tanah, potonganpotongan tubuh ular itu masih melenting-lenting tak henti hentinya, sehingga pakaian Pui Tiok kecipratan percikan darah semua. Darah ular itu menyiarkan bau yang bukan kepalang anyirnya, menguak isi perut mau muntah. Pui Tiok tak menghiraukan ke semuanya itu, Dia cepat menarik Coh Hen Hong bangun, lalu menepuk pelahan jalan darah peh-hwe-hiat di-ubun-ubun kepala gadis ltu. Jalan darah peh-hwe-hiat merupakan pusat aliran gaib pada tubuh manusia, merupakan pula sebuah jalan darah vital. Apabila ditepuk dengan tenaga kuat orang tentu mati. Tetapi kalau menepuknya pelahan, akan dapat membuka seluruh jalan darah yang terhenti. orang yang pingsanpun segera akan siuman. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 196 Setelah ditepuk Pui Tiok, Coh Hen Hong terdengar mengerang. Karena tiada waktu untuk berdiam lebih lama dalam ruang dapur yang penuh berselimutkan hawa anyir, dia menarik Coh Hen Hong terus diajak menerobos ke luar. Setelah tiba di dekat seonggok rumput kering yang jaraknya dua tiga tombak dari pondok tadi, baru dia berhenti. Saat itu Coh Hen Hong sudah sadar kembali. Dia meronta seraya berteriak-teriak, “Lepaskan aku. lepaskan aku!” “Jangan ribut.” bentak Pui Tiok seraya masih memegang lengan gadis cilik itu. Sudah tentu Coh Hen Hong tak mau menurut. Tibatiba dia menggigit tangan Pui Tiok. Pui Tiok tidak menyangka kalau Coh Hen Hong akan bertindak sekalap itu. tangannya kena digigit, sakitnya bukan kepalang hingga dia terpaksa lepaskan cekalannya. Ternyata gigitan itu meninggalkan bekas yang cukup parah, di atas pergelangan tangannya tampak bekas dua buah gigi. Pada saat Pui Tiok melepaskan cekalannya, Coh Hen Hongpun sudah memberosot lari. Sudah tentu Pui Tiok tak mau melepaskan. Sekali loncat dia dapat menangkap tengkuk gadis kecil itu lalu ditariknya mundur, “Engkau ini manusia atau bukan? Mengapa engkau gemar menggigit orang?” Sepasang bola mata Coh Hen Hong merentang lebar-lebar. Sepintas wajahnya yang bulat telur Itu menyerupai kucing hutan yang sedang marah. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 197 “Aku mau menggigitmu sampai mati! Aku mau menggigitmu sampai mati “ dia berteriak-teriak keras. Pui Tiok tahu bahwa Coh Hen Hong itu bukan tandingannya. Namun ketika mendengar teriaknya yang histeris penuh kemarahan itu, mau tidak mau tergetarlah hati Pui Tiok. Dia terus hendak bergerak untuk menutuk jalan darah gadis itu lagi supaya diam. Tetapi pada saat dia menunduk dan memandang Coh Hen Hong, sepasang mata kucing marah dari gadis cilik itu masih memandang lekat kepadanya sehingga membuat jantung Pui Tiok berdebar keras. Buru-buru dia memandang ke muka lagi untuk menghindari tatap mata Coh Hen Hong. Tepat pada saat dia memandang ke muka. dia melihat dua sosok bayangan manusia. yang satu di muka dan yang satu di belakang, lari menuju ke ruang dapur tadi. Yang dimuka, rambutnya terurai panjang Walaupun terpisah jauh, Pui Tiok segera mengenali kalau dia itu Coh Bwe Nio. Dan yang mengikuti dibelakangnya adalah si bungkuk JILID 5 Melihat kedua orang yang hendak dicarinya itu sudah pulang, sudah tentu Pui Tiok girang sekali. Segera dia menjinjing tubuh Coh Hen Hong dan lari menghampiri. Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 198 Tetapi tepat pada saat dia hendak bergerak, Coh Bwe Nio pun sudah melesat masuk ke dalam dapur dan serentak pada saat itu terdengar jeritan yang ngeri sekali. Jeritan bernada sedih itu benar-benar membuat orang terkejut sehingga Pui Tiok pun hentikan langkah. Saat itu si bungkuk juga sudah memasuki dapur dan berseru, “Moay-cu, ada apa, ah…..” Setelah menenangkan diri, Pui Tiok menyadari apa sebab kedua orang Itu berteriak kaget. Tentulah karena menyaksikan dua buah peristiwa. Ular mati menjadi beberapa kutung dan Coh Hen Hong lenyap! Kalau tidak lekas-lekas menggunakan kesempatan saat itu untuk segera menyergap mereka dan memaksa mereka supaya memberitahu dimana beradanya kitab pusaka In-su-keng tentulah akan siasia usahaku selama ini, pikir Pui Tiok Memang bukan tak ada sebabnya mengapa Pui Tiok begitu mati matian mencari jejak kitab Ih-su-keng yang hilang itu. Karena dalam kitab pusaka itu tercantum ajaran ilmusilat sakti yang luar biasa dan tak terdapat dalam dunia persilatan. Kitab pusaka semacam itu, sudah tentu tidak boLeh sampai jatuh ke tangan lain orang. Sebagai putera dari Peh Hoa lokay, Pui Tiok dihormati dan disegani oleh seluruh anak buah Pehhoa- kau. Tetapi anak muda yang berotak terang itu menyadari bahwa penghormatan dan Perindahan anak Tiraikasih Website http://kangzusi.com/ 199 buah Peh-hoa-kau kepadanya itu, hanyalah sebagai basa basi menuruti tata adat, kalau bapaknya seorang penguasa tentulah anak isteri dan keluarganya juga dihormati dan disegani. Jadi rasa hormat mereka itu bukan setulusnya. Pui Tiok menyadari pula bahwa kalau dia hendak tanam kaki di Peh-hoa-kau, kalau dirinya tidak mempunyai kepandaian tinggi, tentulah tak kan mempunyai pengaruh. untuk mencapai pengaruh itu, dia harus mendirikan jasa. Mencari dan menemukan kembali kitab Ih su-keng merupakan jasa yang besar pada Peh-hoa-kau. Demikianlah mengapa Pui Tiok begitu bernapsu sekali untuk mencari kitab pusaka itu. Begitulah dia terus mengempit Coh Hen Hong dan lari ke arah dapur. “Moaycu, moaycu, engkau kenapa?” terdengar si bungkuk berseru. Coh Bwe Nio tidak menyahut. Dia hanya memperdengarkan semacam suara yang membuat bulu roma orang berdiri. Tiba di ruang tempat kayu bakar atau dapur itu, diam-diam Pui Tiok menimang. Begitu mengetahui kalau Coh Hen Hong lenyap, seharusnya wanita she Coh dan si bungkuk itu tentu segera lari keluar untuk mencari tapi mengapa tidak? Apakah karena kaget, wanita she Coh itu terus pingsan?
More aboutCerita Dewasa Anak SMP : Bila Pedang Berbunga Dendam 1