Cersil : Cula Naga Pendekar Sakti 3

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 20 September 2011

mana kau ingin mengajakku ?"

792
"Kau tidak usah bertanya ! Bukankah tadi kau
sudah menyanggupi untuk tak bertanya apa-apa ?
Mengapa sekarang belum lagi pergi dari kuil ini
sudah bertanya tetek-bengek ?"
Giok Han mengangkat bahunya. Benar juga, dia
sudah berjanji tidak akan bertanya apa-apa,
sekarang belum lagi pengemis itu mengajaknya
pergi, dia sudah melanggar janjinya.
"Ayo kau ikut aku," mengajak si pengemis,
tubuhnya melesat turun dari tembok kuil di sebelah
luar, berkelebat berlari gesit sekali. Giok Han
mengikutinya. Ginkang pengemis itu memang tinggi,
karena dia bisa berlari sangat cepat. Giok Han
mengikuti sambil bertanya-tanya pada dirinya
sendiri, mau diajak kemana dia ?
Apa sebabnya ia tidak boleh bertanya apa-apa
pada si pengemis ? Siapa sebenarnya pengemis
yang perangai dan tabiatnya demikian aneh? Juga
dia heran melihat ilmu silat pengemis ini tidak
rendah, menunjukkan bahwa pengemis ini bukanlah
pengemis sembarangan. Dari pintu perguruan
manakah pengemis ini ? Siapa gurunya ? Dari
Kaypangkah ?
Sedang Giok Han berlari mengikuti si pengemis,
tak terasa ia telah dibawa si pengemis ke sebuah
tempat, yang membuat dia memandang lebih heran.
Tempat itu penuh dengan pohon-pohon bunga

793
beraneka warna, indah sekali, sunyi, tak ada sebuah
rumahpun.
Tak ada seorang manusiapun, keadaan di sekitar
itu diterangi cahaya matahari senja, karena sudah
mendekati magrib. Si pengemis sudah berhenti,
duduk di bawah sebatang pohon yang daunnya
rimbun.
"Sahabat .... tempat apakah ini ?" Tanya Giok
Han yang masih heran melihat si pengemis
mengajaknya ke tempat yang mirip-mirip taman
bunga.
Si pengemis mendelik, bola matanya tampak
bulat memandang tajam pada Giok Han. Segera
Giok Han teringat bahwa ia tak boleh bertanya-tanya
apapun pada si pengemis. Dia bungkam. Duduk
tidak jauh dari tempat duduk si pengemis. Hatinya
kembali diliputi tanda-tanya.
Apa yang ingin dilakukan pengemis ini
mengajaknya ke sini ? Tempat apakah ini ? Siapa
pemilik tempat ini ? Melihat bunga-bunga yang
tumbuh terawat dan teratur dengan baik, jelas ini
bukan daerah liar yang ditumbuhi pohon-pohon
bunga liar, pasti ada pemiliknya.
Lama juga Giok Han cuma mengawasi si
pengemis duduk bengong tak mengucapkan sesuatu.
Hari semakin gelap, karena magrib telah tiba.

794
Waktu itu si pengemis memberi isyarat padanya,
agar ikut dengannya. Giok Han diajak melewati dua
baris bunga Huang-she, yang bunganya berwarna
kuning terang cemerlang indah-sekali tumbuh dalam
ketinggian sepinggang manusia. Giok Han mengikuti
saja, sekarang biarpun hatinya masih diliputi tandatanya,
dia tidak banyak bertanya. Cuma, matanya
mengawasi tajam dan waspada, kuatir jika pengemis
ini bermaksud sesuatu yang sekiranya bisa
membahayakan dirinya.
Tidak jauh pengemis itu mengajak Giok Han
berjalan, sampai akhirnya dia berhenti dan menarik
lengan Giok Han agar lebih dekat dengannya. "Kau
lihat asap itu ?" tanya si pengemis.
Giok Han mengangguk.
"Asap apa itu ?" tanya Giok Han heran, melihat
dari sebatang pohon, di mana pada bagian pucuk
atas pohon itu keluar semacam asap tipis. Batang
pohon itu rupanya dilobangi, cukup besar, dari
situlah keluar asap yang tipis tersebut.
"Sekali lagi kau rewel, aku membatalkan janjiku.
Selanjutnya kau-boleh pulang saja ke rumah
penginapanmu!" bisik si pengemis tapi suaranya
ketus.
Giok Han tersenyum sambil angkat bahunya,
karena dia ingat kembali telah melanggar janjinya

795
untuk tak bertanya-tanya, walaupun melihat segala
yang aneh.
Pengemis itu merogo sakunya, mengeluarkan
semacam botol, memberikan dua butir pil pada Giok
Han. "TeIan ini."
"Apa ini ?"
"Telan ? Kembali kau melangar janjimu! Ayo
telan!" desis si pengemis.
Giok Han ragu-ragu.
"Ayo telan !" bentak si pengemis, perlahan
suaranya, ketika melihat Giok Han hanya
memainkan dua butir pil ditangannya tanpa mau
menelannya.
Giok Han memasukkan kedua pil itu ke dalam
mulutnya. Harum sekali kedua pil itu terasa nyaman
pada mulutnya. Giok Han yakin, tentunya ini
semacam pil yang tak beracun. Maka dia mengunyah
dan menelannya.
"Sekarang kau terbebas dari pengaruh racun
yang bisa mematikan !" bisik pengemis itu lagi.
"Racun yang mematikan ?"
"Jangan bertanya" bentak pengemis itu perlahan.
"Dengarkan saja keteranganku !"

796
"ingat, ini terakhir kali, kalau kau masih rewel
bertanya, aku tak akan meladenimu lagi !"
Giok Han mengangguk, benar-benar aneh tabiat
pengemis ini. Entah racua apa yang dimaksudnya.
Kedua pil obat yang diberikan padanya tentunya
sebagai penangkal racun. "Asap tipis yang keluar
dari puncak batang pohon adalah asap beracun.
Tidak ada manusia atau binatang apa saja yang bisa
mendekati garis lingkaran satu li pada tempat itu.
Jika sekali saja menghirup udara yang
mengandung asap beracun, seseorang akan segera
mati, karena pernapasannya tertutup, tubuhnya
segera keracunan dan membusuk menjadi rusak,
sampai tinggal hanya tulang tengkoraknya saja!"
Giok Han ksget. Begitu hebatkan racun dari asap
tipis yang keluar dari batang pohon itu ? Tapi dia
diam saja, dia ingat janjinya tak akan bertanya apaapa.
Kalau dia membandel dan bertanya lagi, pasti
pengemis itu akan membuktikan ancamannya, yaitu
tidak akan meladeninya dan tidak akan
memberitahukan apa yang akan mereka lakukan
saat itu.
"Sekarang kau telah memakan dua butir pil
PERAMPAS ARWAH dariku, maka kau tidak akan
terpengaruh oleh asap beracun itu, walaupun kau
berada di samping pohon yang mengeluarkan asap
tipis itu, kau tak akan celaka. Dirimu sudah kebal
terhadap racun itu."

797
Giok Han hanya mengangguk.
Si pengemis menunjuk ke arah kanan.
"Lihat ular itu ... "
Giok Han melihat seekor ular tengah beringsut
menuju ke batang pohon. Binatang melata itu
meluncur perlahan-lahan dan akhirnya tubuhnya
melingkar. Seperti ada sesuatu yang hendak
diserangnya. Kepala ular terangkat naik, siap
menanti serangan musuh.
Namun, tak lama kepala ular tersebut terangkat,
karena kepala binatang melata itu lunglai lemas,
jatuh rebah di tanah. Tubuh ular itu diam tak
bergerak.
"Ular itu sudah mati," bisik pengemis itu lagi.
"Terkena asap beracun yang mengandung pada
udara. Lihat, dia mati sebelum bisa melewati terlalu
jauh dari garis lingkar satu lie pada batang pohon
itu.Manusiapun akan mati,seperti itu."
Giok Han menggidik. Apa lagi tak lama kemudian
dia melihat ular itu sudah hancur luluh tubuhnya,
mencair seperti membusuk-Bukan main dahsyatnya
racun yang keluar dari batang pohon tersebut.
Racun apakah sehebat itu, yang dikeluarkan oleh
pohon tersebut ?

798
Juga pohon beracun apakah yang bisa
mengeluarkan racun sehebat itu ? Walaupun hatinya
diliputi tanda-tanya yang membingungkan, Giok Han
tidak berani bertanya, karena kini dia ingat akan
janjinya yang tak boleh dilanggarnya lagi, yaitu tak
boleh bertanya apapun juga, biarpun menyaksikan
sesuatu kejadian yang paling aneh sekalipun.
Pengemis itu sudah menarik tangan Giok Han.
"Mari kita mendekati batang pohon itu."
Giok Han menurut saja, dia mendekati batang
pohon yang cukup besar, di sisi si pengemis.
Diawasinya batang pohon itu. Hanya batang pohon
biasa, asap tipis masih tetap keluar dari lobang di
puncak batang pohon tersebut. Tercium semerbak
yang keras pada penciuman Giok Han.
Bingung Giok Han melihat kelakuan pengemis ini,
entah apa yang ingin dilakukannya di situ. la hanya
mengawasi saja. Pengemis tersebut mengajak Giok
Han menempatkan diri mereka di balik pohon-pohon
bunga yang bergerombol. Lama mereka berdiam di
situ, membuat Giok Han tak sabar.
Rupanya si pengemis mengetahui perasaan Giok
Han, dia mendekati mulutnya pada telinga Giok Han.
"Jika terjadi sesuatu, apapun yang terjadi, tak boleh
sepatah katapun kau ucapkan. ingat pesanku ini.
Sekali saja kau bertanya dan bersuara, kita berdua
bisa celaka !"

799
Perkataan si pengemis membuat Giok Han
tambah heran dan tidak mengerti. Entah apa yang
tengah mereka naniikan di situ, dan apa yang ingin
diperbuat oleh si pengemis. Juga, mengapa mereka
bisa celaka kalau ia bertanya sesuatu kepada
pengemis tersebut.
Tengah pikiran Giok Han dipenuhi tanda-tanya
yang tak terjawab, mendadak tangannya ditarik
perlahan oleh si pengemis. Mulutnya dimonyongkan
ke arah sebelah kanannya. Giok Han melihat ke arah
yang ditunjuk oleh isyarat pengemis ini.
Tampak seorang penunggang kuda yang berhenti
di luar gerombolan pohon-pohon bunga, terpisah 1
lie lebih dari batang pohon, tempat di mana Giok
Han dan si pengemis menempatkan diri mereka.
Walaupun malam sudah tiba dan keadaan di tempat
itu mulai gelap, namun Giok Han masih bisa melihat
cukup jelas, matanya memang sudah terlatih untuk
melihat di tempat gelap, apa lagi saat itu dibantu
oleh sinar bulan yang remang-remang.
Melihat bentuk tubuh orang yang turun dari kuda
tunggangannya, rupanya dia seorang bertubuh
tinggi besar, kasar dan juga memiliki ginkang yang
tinggi, karena cara dia turun dari kudanya, nampak
dengan melompat ringan tanpa mengeluarkan suara
sedikitpun, padahal disekitar tempat itu bertaburan
banyak sekali daun-daun kering yang berguguran
dari pohon-pohon bunga.

800
Orang itu tampak memandang sekeliling-nya.
sikapnya seperti ragu-ragu, kemudian terdengar
suaranya: "Toat-beng-sin-ciang ! Aku Lui Pek Sam
ingin bertemu denganmu, ada pesan dari Hongsiang
!"
Kaget Giok Han. Siapakah orang ini, yang
mengaku membawa pesan dari Hongsiang (kaisar)?
Apakah dia pahlawan raja? Di-perhatikan lebih
cermat, dalam keremangan malam, pakaian orang
itu terlihat sama-samar, tapi Giok Han yakin orang
itu bukan memakai baju kebesaran sebagai
pembesar negeri ataupun pahlawan istana Kaisar.
Pakaiannya justru tidak beda bahan pakaian orang
Kangauw umumnya, yang dari potongannya tampak
ia seperti orang Selatan.
Giok Han melirik pada si pengemis di
sampingnya, si pengemis mengetahui rasa heran
pada Giok Han, dia geleng-geleng memberi isyarat
agar Giok Han tidak bertanya atau mengeluarkan
suara. Kemudian si pengemis memusatkan seluruh
perhatiannya pada orang yang mengaku bernama
Lui Pek Sam.
Lui Pek Sam berdiri diam sejenak dengan sikap
agak gelisah, ia rupanya menantikan jawaban dari
orang yang diduga berada didalam taman bunga itu.
Giok Han sendiri bertanya-tanya, entah siapa orang
yang bergelar Toa-beng-sin ciang (Tangan Sakti

801
Pencabut Nyawa) itu ? Menngapa gelarannya itu
demikian menyeramkan ?
Keadaan di sekitar tempat itu tetap sunyi, tak
terdengar suara apapun jnga, selain suara daundaun
pohon-pohon bunga yang berkeresekan
terhembus angin.
Lui Pek Sam rupanya semakin tak sabar.
la meropo sakunya dan mengacungkan sesuatu
yang berkilauan di malam gelap terkena sinar bulan.
"Toat-beng-sin-ciang..! Lihatlah, aku membawa
Kim-pai (papan emas) Hongsiang !"
Tambah kaget Giok Han. Da tehu apa artinya
seseorang dengan membawa Kim-pai, yang sama
saja berarti orang itu mewakili Kaisar yang memiliki
kekuasaan sepenuhnya, sama saja seperti Kaisar
yang datang sendiri dan siapa saja harus
menyambutnya maupun memperlakukannya sama
seperti tengah berhadapan dengan Kaisar.
Kim-pai (papan emas) Kaisar adalah sepotong pai
yang berukiran empat huruf yang berbunyi : "Jietim-
cin-Ieng" (Seperti juga Kami datang sendiri),
karenanya siapapun yang membawa Kim-pai itu,
berarti sama saja dia dengan Kaisar, yang harus
diperlakukan dengan segala hormat, setiap
perintahnya harus dedengar dan dilaksanakan sebaik
baiknya.

802
Sekarang orang itu, yang mengaku bernama Lui
Pek Sam membawa Kim-pai. tanda kebesaran dan
kekuasaan Kaisar, jelas dia bukan orang
sembarangan. Setidak-tidaknya dia orang
kepercayaan Kaisar.
Tetap sunyi di sekitar tempat itu. Lui Pek Sam
sudah tak sabar. "Dengarlah Toat-beng-sin-ciang,
jika kau tak mau keluar memperlihatkan diri, biarlah
aku yang akan lancang masuk ke daerah larangan
milikmu ini ! Maaf, jangan kau nanti menyesali aku
sebagai tamu tak menghormati tuan rumah."
Tetap sunyi, tak ada jawaban. Lui Pek Sam
melangkah maju, ia memasuki taman bunga dengan
langkah penuh kewaspadaan, kemudian dia berhenti
setelah melangkah lagi belasan tindak, waktu
mencium sesuatu yang harum, Terdengar dengus
mengejek, kemudian gumamnya:
"Toat-beng-sin-ciang. kukira segala macam
racun-racunmu hanya bisa mematikan semut-semut,
mana mungkin bita mencelakai aku, Lui Pek Sam ?
Hah-hah-hah-, sungguh seorang tuan rumah yang
terlalu angkuh dan kurang ajar, tak mau menerima
Kim-pai Hongsiang !" la menghabisi perkataannya
dengan kakinya melangkah lebih jauh, ingin
mendekati batang pohon yang mengeluarkan asap
tipis menyiarkan harum semerbak.
Giok Han mengerutkan alis melirik pada si
pengemis. Lui Pek Sam jelas orang Kaisar dan

803
berarti orang she Lui itu lawannya. Jika memang Lui
Pek Sam ingin mengganggu orang yang bergelar
Toat-beng-sin-ciang, walaupun Giok Han sendiri
belum lagi melihat orangnya dan belum mengetahui
siapa orang yang bergelar seseram itu, ia sudah
memutuskan untuk membantu Toat-beng-sin-ciang,
kalau tokh Lui Pek Sam hendak mencelakainya.
Tangannya mengepal keras.
"Jangan bersuara.. ." bisik si pengemis perlahan
sekali suaranya.
Lui Pek Sam merandek diam sejenak, seakan dia
mendengar samar suara sesuatu. Dia memasang
telinganya untuk memperhatikan sekelilingnya,
memperhatikan lebih cermat dan berusaha untuk
mendengar kalau-kalau memang ada seseorang
yang bicara, Tadi samar-samar dia seperti
mendengar orang yang berkata-kata, tentunya
disekitar tempat ini ada orang, yang diduganya pasti
Toat-beng-sin-ciang.
"Hah hah hah ! Toat-beng sin-ciang . . tidak
kusangka sekarang kau menjadi manusia paling
pengecut yang cuma bisa menyembunyikan ekor !
Keluarlah ! Untuk apa hanya bisik bisik seperti itu?
Apakah memang kau tak berani untuk menyambut
Kim-pai Hong-siang?"
Kaget Giok Han. Luar biasa tajam pendengaran
Lui Pek Sam Sebetulnya jarak orang she Lui dengan
tempat di mana Giok Han dan si pengemis

804
menempatkan diri masih terpisah satu lie, namun
suara bisikan si pengemis yang begitu perlahan
masih juga terdengar oleh Lui Pek Sam, hal ini
membuktikan bahwa kepandaian orang she Lui
tersebut memang sangat tinggi.
Apa lagi mengingat orang she Lui itu adalah
orang kepercayaan kaisar, tentu merupakan orang
yang berkepandaian sangat diandalkan, di mana ia
membawa Kim-pai hanya seorang diri. Padahal
menurut kebiasaan yang ada, Kim-pai dibawa oleh
seorang thaikam diiringi oleh sepasukan tentara dan
beberapa pahlawan kaisar, juga dikeluarkan Kim-pai
jika Kaisar hendak menghukum seseorang, baik
pembesar kerajaan yang dianggap berkhianat dan
berdosa, ataupun terhadap orang-orang yang tak
disukai Kaisar.
Tapi, Lui Pek Sam justeru hanya seorang diri
datang di tempat ini, entah apa yang ingin
dilakukannya dengan membawa Kim-pai kaisar ?
Benar-benar merupakan tanda tanya yang tak habishabisnya
dan tak terjawab bagi Giok Han. Cuma
saja, dia ingat pesan si pengeinis agar dia tidak
boleh bertanya sepatah perkataan walau
menyaksikan kejadian yang paling aneh sekalipun,
maka Giok Han berdiam diri saja, cuma matanya
mengawasi deugan tajam ingin mengetahui apa
yang akan dilakukan Lui Pek Sam selanjutnya.
Tubuh Lui Pek Sam dengan meloncat mendekati
batang pohon yang mengeluarkan asap tipis harum

805
itu. dengan beberapakali loncatan ia sudah melalui
hampir seratus meter. Tapi, mendadak ia berhenti,
mengawasi dengan sikap tegang, pada mukanya
tampak keragu-raguan.
la mengendus-endus beberapa kali, kemudian
mengambil sesuatu dari sakunya, menelan beberapa
butir pil obat ! Rupanya ia tahu, asap harum itu
sangat beracun dan ia memakan obat yang bisa
menangkalkan racun yang disiarkan oleh asap tipis
itu. Baru kemudian dengan hati-hati ia maju
selangkah demi selangkah.
"Toat-beng-sin-ciang, apakah kau benar-benar
tak mau memperlihatkan diri menerima Kim-pai
Hongsiang?" Suaranya menggema di sekitar tempat
itu, rupanya ia sudah tak sabar lagi, diliputi
kemendongkolan yang sangat.
Giok Han tengah memperhatikan dengan hati
ketarik, ia tahu, kalau Lui Pek Sam tiba di dekat
batang pohon, niscaya akan terlihat olehnya si
pengemis dan dirinya. la bersiap siap untuk
menghadapi orang kepercayaan kaisar itu. Tapi
pengemis di sampingnya mengambil sesuatu dari
sakunya, Giok Han melirik, dilihatnya si pengemis
mengeluarkan sebuah botol berbentuk sangat kecil
dan membuka tutupnya.

806
Segera tersiar harum yang aneh sekali, sangat
keras, terbawa oleh angin. Di waktu itulah harum
yang terpancar dari dalam botol, telah tercium oleh
Lui Pek Sam, karena mukanya seketika berobah jadi
tegang, ia coba melangkah maju lagi, namun
mendadak mulutnya berseru heran, tubuhnya
bergoyang, kemudian dia seperti orang kebingungan
menggaruk beberapa bagian tubuhnya, semakin
lama semakin cepat, akhirnya dia telah mundur
dengan mulut mencaci-maki kasar sekali.
Heran Giok Han melihat itu, hatinya juga terkejut.
Waktu itu timbul perkiraan di hatinya, apakah
pengemis di sampingnya ini yang bergelar Toatbeng-
sin-ciang ? Tapi usianya masih begitu muda,
tidak mungkin pengemis bermuka cakap dan muda
usia seperti itu bergelar seseram itu.
Hanya saja, mengapa dia yang mempergunakan
hawa beracun dari botolnya untuk menyerang Lui
Pek Sam ? Banyak tanda-tanya memenuhi hati Giok
Han, sejauh itu tetap saja ia tidak memperoleh
jawabannya Dengan masih terheran-heran tak
mengerti, ia cuma mengawasi- si pengemis.
Si pengemis telah menutup kembali botolnya,
kemudian berkata dingin: "Orang she Lui, jika kau
membandel meneruskan langkahmu memasuki
tempatku, berani kau mencari kematianmu sendiri,
jangan sesalkan aku turunkan tangan terlalu berat
padamu ! Tadipun kau telah menghirup udara
mengandung racun kim-hong (tawon emas), dalam

807
waktu lima hari jika tidak memperoleh penawarnya,
tubuhmu akan membusuk menemui kematian
dengan cara sangat menyedihkan ! Selama lima hari
ini tubuhmu akan gatal-gatal, pergilah kau baik-baik
merawat diri, mungkin bisa bertahan selama dua
bulan kalau memperoleh perawatan yang baik!"
Kini tak ragu lagi Giok Han bahwa orang bergelar
Toat beng-sin-ciang pasti si pengemis di
sampingnya. Dia, jadi tak mengerti orang muda ini
bisa bergelar demikian seram dan juga pandai sekali
menggunakan racun. Besar dugaan Giok Han, bahwa
taman bunga ini milik si pengemis.
Namun, mengapa si pengemis sebagai seorang
yang berkepandaian tidak rendah dan pandai sekali
menggunakan racun, malah berpakaian sebagai
pengemis ?
Lui Pek Sam masih menggaruk-garuk sekujur
tubuhnya, rupanya ia menderita gatal yang cukup
berat. "Toat-beng-sin ciang, kau sudah berani
menolak Kim-pai Hongsiang dan sekarang
mencelakai aku, Kong Hong istana semacam
pangkat lebih tinggi dari Sie-wie, pengawal istana).
Baiklah. dosa-do-samu semakin besar saja. Akan
kusampaikan pada Hongsiang, hukuman apa
sekiranya yang tepat untukmu!"
"Pergilah kau baik-baik merawat diri, jika
terlambat jiwamu sulit untuk dilindungi Iagi." dingin
sekali suara si pengemis

808
Liu Pek Sam tidak menjawab, hanya tangannya
menyalakan bibit api, dia bermaksud membakar
taman bunga itu. Tapi waktu api pertama dilempar
pada gerombolan pohon, si pengemis telah
menimpukkan sesuatu padanya, segera Kong Hong
istana kaisar itu melompat mundur dengan muka
yang berobah pucat, cepat-cepat memutar
tubuhnya, naik keatas kudanya yang dilarikan
dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Rupanya barang yang ditimpukkan si pengemis
tak lain sebutir pil yang menyiarkan bau yang busuk
sekali, sehingga Liu Pek Sam cepat menduga bahwa
pil itu adalah semacam pil beracun yang sangat
dahsyat cara kerjanya, yang membuat dia cepatcepat
menjauhi diri meninggalkan tempat tersebut.
Si pengemis menghela napas sambil tertawa.
"Manusia dungu tak tahu selatan!" menggumam
perlahan menoleh pada Giok Han.
"Kau lihat, dia tak mungkin dapat memasuki
daerah ini sekehendak hatinya. Bukan dia saja,
siapapun orangnya."
"Tapi... kalau kebetulan ia datang di saat kau tak
ada di sini ?" tanya Giok-Han.
"Hemmmm, siapapun tak akan dapat masuk
kemari!" jawab si pengemis. Bola matanya main
mengawasi Giok Han. "Dan, syaratku masih tetap
berlaku, kau tak boleh bertanya apapun juga !"

809
Giok Han tersenyum. "Aku tak menyangka dalam
usia semuda ini ternyata kau sangat lihai
memainkan racun ! Gelaran-mupun cukup membuat
orang mendengarnya jadi menggidik."
"Hemmmm, jangan rewel!" bentak si pengemis
sambil mendeliki matanya.
"Racun apa yang kau pakai tadi mengusir Kong
Hong istana ?" tanya Giok Han tersenyum.
"Kau ini benar-benar kepala batu, sudah kupesan
jangan bertanya apa apa, tapi kau terialu revel dan
cerewat! Atau, memang kita batalkan saja perjanjian
kita".
Giok Han angkat bahunya sambil tersenyum.
"Baik, baik, aku tidaK akan cerewet lagi, sahabatku
yang menyeramkan," katanya bergurau.
Si pengemis ingin tertawa, tapi ia menahan
tawanya itu dan pura-pura sibuk merapikan bajunya
yang tadi agak terangkat keatas akibat dia
berjongkok.
"Kita mau kemana lagi" tanya Giok Han.
"Nan, kau sudah mulai cerewet lagi banyak
bertanya," menggerutu si pengemis.

810
"Tapi mana mungkin aku harus jadi orang gagu
terus menerus, sedangkan kau tidak menjelaskan
apa yang akan kita lakukan ?" jawab Giok Han.
"Kita akan berdiam terus di sini sampai pagi. Aku
sedang menunggu seseorang, yang bisa
memberitahukan padamu nanti tentang Siang-koan
Giok Lin."
"Siangkon Giok Lin?"
"Ya.... bukankah kalian bermusuhan?"
"Apa saja yang kau ketahui tentang Siangkoan
Giok Lin?"
"Sudah kuberi tahukan kepada mu, tak lama lagi
akan datang ?seseorang yang bisa menceritakan
segala sesuatunya tentang Siangkoan Giok Lin."
"Lalu apa hubungannya antara Siang-koan Giok
Lin dan Liu Pek Sam, Kong Hong dari istana kaisar?"
"Hemm, memang ada hubungannya antara
mereka berdua. Tapi. kuperingatkan
padamu,sekarang kau sudah terlampau banyak
bertanya!"
"Oya. Aku lupa lagi."

811
"Mulai sekarang, kau benar-benar harus tutup
mulut, sepatah kata pun tak boleh kau ucapkan. Jika
kau melanggar pesanku ini, ke selamatan jiwamu
tak kujamin lagi!"
"Apakah begitu berbahayanya jika aku bertanya
sesuatu kepadamu?"
"Terserah padamu, mau mendengarka'n baik-baik
dan menuruti pesanku itu, atau memang kau mau
membawa caramu sendiri, tapi aku tak bisa
menjamin lagi keselamatanmu! Akupun tak bisa
membiarkan kau berada disini pula"
Giok Han meleletkan lidahnya, kemudian diam
tak membuka mulut lagi. Melihat lagak Giok Han,
diam-diam sipengemis menahan tertawa.
Giok Han duduk diam melamun. Pikirannya jadi
melayang-layang teringat pada gurunya, saat-saat ia
akan turun gunung dan diberi wejangan pada
gurunya, yahu Tai Giok Siansu. Harus diingatnya,
gurunya pernah berpesan agar ia harus berusaha
membantu perjuangan para pecinta negeri, di
samping berusaha mencari Tang San Siansu dan
menghukumnya, walaupun Tang San Siansu
memiliki ilmu andalan yang sangat dahsyat, namun
Giok Han harus mengalahkannya. Untuk menghadapi
Liong-beng-kunnya Tang San Siansu telah diajarnya
berbagai ilmu tingkat tinggi oleh gurunya. Satu
pesan guru yang di rasa benar, yang berpesan agar
Giok Han sudah turun gunung, ia harus memakai

812
julukan "Liong-kak-sin-hiap yang menyebabkan Giok
Han selalu memperkenalkan diri pada siapapun
sebagai Liong-kak-sinhiap ( Pendekar sakti Cula
Naga ), guna memancing Tang San Siansu dari
tempatnya bersembunyi.
Waktu perpisahan, Tai Giok Siarru telah berpesan
untuk terakhir kali pada cucu murid merangkap
murid tersebut: "Han-jie, Liong-kak adalah semacam
senjata yang pernah dibuat oleh seorang ahli
ternama pada 2000 tahun yang lalu. Senjata yang
bentuknya seperti tanduk itu, memiiiki khasiat yang
luar biasa. Setiap orang yang memiliki ilmu kebal
Tiat po-san maupan Kim-Cong To, tak akan sanggup
menghadapi senjata Liong-kak, karena begitu
tersentuh akan lenyap kekebalannya dan orang
tersebut akan terbinasa. Karenanya, setelah ku
renungkan mengapa Tang Bun selalu mengoceh
tentang Liong kak, jelas yang dimaksudkannya
adalah Liong kak tung (Tongkat Cula Naga ), yang
telah diketahuinya akan dapat menghadapi "Liong
beng kun". Hal ini ku cari setelah sekian bulan
merenungkan.
Memang dulu Liong-kak-tung merupakan senjata
pusaka yang diperebutkan oleh seluruh tokoh-tokoh
kangouw, siapa saja ingin memiliki pusaka tersebut.
Dulu, senjata tersebut pernah menjadi milik
Ciangbunjin Heng san pai, kemudian lenyap tak
diketahui kemana. Semua orang gagah mencarinya,
tapi selalu gagal, tentang Liong kak tung akhirnya
dilupakan orang. Siapa tahu urusan Liong kak tung

813
ini seperti muncul kembali.. rupanya Tang Bun
sudah mendengar tentang Liong kak tung, dalam
penyelidikannya ia mengetahui dimana adanya Liong
kak-tung yang bisa memusnahkan "Liong beng
kun"nya Tang San, murid murtad itu. Hanya sayang
ia keburu dicelakai oleh Tang San.
Kau harus pergi menghubungi seorang yang
memiliki pergaulan yang sangat luas, yang selama
ini hanya mengurung diri dan tak mau mencampuri
urusan rimba persilatan. Dia bernama Li Pian, si
serba bisa. Yang sulit tak diketahui dimana ia
berada, karena tempat menetapnya tak menentu,
memiliki perangai yang sangat aneh serta luar biasa.
Jika ia mau membantumu menyelidiki tentang
Liong-kak-tung, tentu bisa diharapkan untuk
mendengar lebih jelas perihal senjata pusaka
tersebut. Dulu waktu mudanya Li Pian seorang tokoh
kaypang. hanya bentrok dengan pangcunya
berselisih pendapat, ia keluar dari kaypang-
Walaupun demikian kesenangannya untuk tetap
berpakaian sebagai seorang pengemis tak juga
hilang, ia selalu berpakaian compang-camping sama
halnya seperti pengemis kaypang umumnya.
Menurut yang kudengar, ia kini berada didaerah
Selatan, jika kau bernasib beruntung tentu bisa
mencari dan bertemu dengannya. Aku sudah terlalu
tua, juga tawar melihat kekotoran demikian
mempengaruhi dunia, disamping kecewa terhadap

814
murid-murtad itu. Kukira, sudah saatnya aku
kembali kepada Yang Mencipta.
Keesokan paginya, waktu Giok Han selesai
memasakkan santapan pagi untuk gurunya dan ingin
memanggilnya keluar dari dalam kamar, ia jadi
tertegun. Gurunya duduk bersila dengan wajah yang
bening bersih, tapi napasnya sudah tak ada.
Rupanya Tai Giok Siansu sudah menutup mata
dengan cara yang sangat tenang sekali.
Dengan hati sangat berduka Giok Han mengubur
jenazah gurunya dan tiga hari kemudian turun
gunung, untuk melaksanakan pesan merangkap
perintah gurunya yang menghendaki dia
menghukum murid murtad Tang-San.
Memang Tai Giok Siansu pernah memberitahukan
juga kepada Giok Han, menghukum Tang San Siansu
bukan berarti harus membunuhnya, cukup dengan
memusnahkan seluruh kepandaian Tang San Siansu,
dan itupun berarti sudah cukup menghukumnya
Tang San selalu melakukan kejahatan dengan
mengandalkan kepandaiannya, jika ilmu silatnya
bisa dimusnahkan Giok Han, tentu ia menjadi
manusia yang tak berbahaya lagi, juga tidak
membahayakan keselamatan orang-orang kang ouw
pada umumnya.
Teringat akan semua pesan gurunya Giok-Han
menghela napas dalam-dalam, ia merasa sedih kalau
ingat sekarang benar-benar dirinya yatim piatu tak

815
ada orang yang dekat lagi dengannya. Namun.
teringat bahwa ia ditugaskan gurunya untuk
membantu para orang gagah pecinta negeri,
semangatnya jadi terbangun, perjuangan untuk
mengusir penjajah merupakan perjuangan sangat
mulia walaupun harus mengorbankan jiwa dan
segalanya, merupakan perjuangan yang sangat
membanggakan hati. Karenanya, lenyap
kesedihannya, timbul kegembiraan ditambah
semangat yang menyala nyala.
"Kau ini sungguh aneh, sebentar sedih meringis
kemudian tersenyum-senyum seorang diri, seakan
akan orang yang sudah terganggu pikirannya!" Giok
Han dikagetkan oleh teguran sipengemis
disampingnya. "Apasih yang kau pikirkan sampai
bengong-bengong begitu?"
"Aku teringat pada mendiang guruku..."
menyahuti Giok Han sambil tersenyum. "Memang.
tertawa-tawa sendiri, lalu menangis, sama seperti
orang yang telah kehilangan akal sehatnya."
Muka si pengemis berobah merah, pipinya merah.
"Kau menyindirkan, ya ? Mengejeklah ya ?"
"Oooooooh, tidak, mana berani ?" menyahuti Giok
Han cepat sambil geleng-geleng kepala dan
menanan tawanya. "Aku tadi meringis-ringis seperri
mau menangis, kcmudiaa tersenyum-senyum
sendiri, bukankah perbuatan itu sama seperti orang
yang kurang waras !"

816
"Tapi aku tahu kau mengejek dan ingin
menghinaku !" si pengemis tetap bersikeras dan
mukanya tetap cemberut.
Kewalahan juga Giok Han menghadapi kelakuan
pengemis ini, yang seperti gadis manja. "Aneh,
lagak dan tingkahnya seperti wanita saja, sering
ngambek dan kepala batu." pikir Giok Han. Namun
akiiirnya dia jadi geli sendiri, tersenyum-senyum,
mana mungkin si pengemis ini seorang wanita, atau
mungkin saja kalau banci ! Bukahkah dia berpakaian
sebagai seorang pengemis muda bermuka kotor dan
mesum ? Mana ada seorang gadis yang mau
mesum-mesum sepeti itu ?
"Apa yang kau tertawakan ? Aku lucu ya ?"
bentak si pengemis ketika melihat Giok Han
tersenyum-senyum sambil mengawasinya. Muka si
pengemis tetap cemberut.
"SudahIah, sahabat, untuk apa kita ribut mulut.
Aku hanya mentertawakan diriku sendiri, yang
seperti manusia tolol berdiam di sini bersamamu
tanpa tahu apa yang ingin dilakukan.. " Tapi bicara
sampai di situ, Giok Han berhenti bicara, dia
mengawasi ke depan pada kegelapan malam, karena
seperti melihat sesuatu.
Si pengemis juga mengikuti pandang mata Giok
Han, dan memang tampak berkelebat beberapa
sosok tubuh terpisah cukup jauh, mungkin dua lie, di
luar dari taman bunga tersebut.

817
Sosok-sosok tubuh itu bergerak lincah sekali
sekali lihat saja Giok Han tahu mereka semuanya
tentu orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi,
terbukti dan ginkang mereka yang membuat
masing-masing bisa lari seperti terbang saja.
Si pengemis menarik tangan Giok Han agar
mereka berjongkok bersembunyi pula di balik
pohon-pohon bunga yang bergerombol, mengawasi
orane-orang yang tengah berlari mendatangi itu.
Cepat sekali orang-orang itu sudah tiba di dekat
tempat tersebut, hanya terpisah salu lie.
"Kita jangan sembarang masuk," terdengar salah
seorang di antara pendatang itu berbisik kepada
kawannya. "Kita harus memancing dia keluar dari
sarangnya..!"
Semuanya berjumlah lima orang. Bentuk tubuh
mereka macam-macam, ada yang jangkung, ada
yang pendek cebol cebol, ada pula yang bertubuh
tegap.
Setelah memperhatikan sejenak, hampir saja
Giok Han berseru heran, karena ia segera mengenali
salah seorang dari para pendatang itu. Orang itu
bertubuh cebol pendek, dan Giok Han ingat orang
itulah yang pernah mengajarkan dia berjalan dengan
tangan tunggal saja, berputar seperti gangsing,
disertai pengerahan tenaga Tan-tian. Orang cebol
itulah yang sempat mengajarkannya di Siauw-sit-san

818
ilmu ginkang dan juga khikang yaitu "Tok Pie
Ginkang".
"Orang yang bertubuh cebol pendek itu See mo
Uh Ma," berbisik Giok Han di pinggir telinga si
pengemis. Alis pengemis itu bergerak perlahan,
tampaknya dia heran dan kaget. "Kau kenal padanya
?" tanyanya. Giok Han mengangguk.
"Mau apa mereka datang kemari ?" tanya si
pengemis lagi melihat Giok Han tengah
memperhatikan kedatangan orang-orang itu.
"Entahlah. Tapi See-mo Uh Ma pernah
mengajarkan aku ilmu "Tok Pie Ginkang", sejenis
ilmu meringankan tubuh merangkap latihan khikang,
dimana seseorang mempergunakan tangan tunggal
saja untuk berputar seperti gangsing dan bergerak
lincah!"
"Kalau begitu masih ada hubungan murid dan
guru antara kau dengan dia?"
"Tidak... akupun tidak mengetahui jelas tentang
dirinya, pertemuan kami hanya kebetulan saja. "
"Siapa yang lainnya, teman-teman si cebol itu ?"
"Aku tak mengenalnya."
"Tampaknya kepandaian mereka sama tingginya,
sama lihainya," bisik si pengemis lagi.

819
Giok Han mengangguk. Memperhatikan dengan
seksama kepada orang orang itu, yang waktu itu
telah membagi diri daIam barisan sejajar,
menghadap kepada taman bunga.
Empat orang teman See-mo Uh Ma merupakan
orang-orang tua yang pakaiannya aneh-aneh, ada
yang seperti pengemis Kay-pang, ada juga yang
berpakaian sastrawan. Justeru yang berpakaian
sastrawan masih berusia muda remaja, mukanya
cakap berkulit putih, alisnya tebal dan matanya
terang, selain pakaiannja sangat mewah sekali.
Lagak dan sikapnya agung, angkuh dan seperti
juga empat orang yang bersama dengannya
hanyalah orang-orang sebawahannya. Empat orang
yang bersama pemuda itu, berikut See-mo Uh Ma,
merupakan orang-orang berusia lanjut di atas 50
tahun!
Pemuda yang berpakaian mewah itu tampak
mengamat-amati keadaan di sekitar tempat itu,
akhirnya ia bilang dengan suara perlahan, dengan
sikap yang congkak dan angkuh sekali: "Kalian harus
hati-hati, taman bunga ini diperlengkapi dengan
perangkap dan racun yang sangat berbisa. Kalau
sampai kita menghirup udara yang mengandung
racun, niscaya sulit untuk menyeret dia keluar dari
sarangnya!"
Keempat orang lainnya, yang dari sikapnya
seperti laku orang bawahan, mengangguk

820
mengiyakan. Mereka berlima berdiam diri beberapa
saat, rupanya tengah memperhatikan dan
mempelajari siiuasi dan kondisi tempat itu.
Pengemis di samping Giok Han berbisik perlahan:
"Siapa pemuda menjemukan itu ?"
"Aku pernah melihatnya ketika ia datang bersama
anak buahnya ke kuil Siauw Lim Sie, dia kabarnya
anak Cu Bian Liat, orang ke-biri kepercayaan kaisar.
Kalau tidak salah nama pemuda itu Cu Lie Seng . . .
. ! Oooohhh . . , . ! Aku baru ingat, keempat orang
itu adalah orang-orang andalannya, See mo, Pakmo,
Tong ma dan Lam mo !"
"Ihhh," si pengemis mengeluarkan seruan
tertahan, beruntung ia cepat menutup mulut dengan
tangannya, kalau tidak tentu suaranya terdengar
oleh kelima orang itu. Pengemis ini tampaknya heran
dan kaget mendengar disebutnya empat tokoh rimba
persilatan yang terkenal akan kelihaian ilmunya.
Yang membuat dia heran, mengapa keempat
tokoh rimba persilatan itu bisa bekerja di bawan
kekuasaan anaknya Cu Ban Liat, kebiri yang
berkuasa besar setelah Kaisar? Alis pengemis ini
mengkerut, tapi akhirnya dia mendengus perlahan,
rupanya hatinya mendongkol sekali.
"Kalau begitu pemuda menjemukan itu harus
diberi pelajaran."

821
"Hati-hati, dulu saja dia sudah memiliki
kepandaian yang tinggi, apa lagi setelah lewat
beberapa tahun, tentu dia semakin lihai."
Pengemis itu tak bisa menyahuti bisikan Giok
Han, karena waktu itu Cu Lie Seng sudah bicara
pada keempat orang anak buahnya: "Apa saja yang
dialami Liu-lopeh ? Beratkah lukanya ?"
"Liu Pek Sam terkena racun yang cukup dahsyat
bekerjanya, tubuhnya gatal-gatal dan tersiksa rasa
sakit yang tak hentinya, membuatnya menggaruk
terus menerus. Katanya, kalau ia tak berhasil
mengatasi reaksi racun di dalam tubuhnya, tak
berhasil memperoleh obat penawarnya, lewat dua
bulan tubuhnya bisa membusuk dan akhirnya
menemui kematian dengan mengerikan." See-mo, si
cebol menjelaskan.
"Uhhhhhh, yang melukainya Toat-beng-sin-ciang
ini ?" tanya Cu Lie Seng, dingin suaranya, tak
mengandung perasaan dan emosi, sama seperti
wajahnya yang sama sekali tak memperlihatkan
perasaan apapun.
See-mo Uh Ma mengangguk. "Benar, justeru
sekarang kita harus bisa memaksanya keluar dari
sarangnya, lalu kita bekuk dan memaksanya
pengeluarkan obat penawar untuk Liu Pek sam. "
Cu Lie Seng mengangguk-angguk perlahan
dengan muka yang kaku, dia kemudian

822
mengibaskan tangannya. "Kalian berempat cari
tempat persembunyian, biarkan aku yang
menghadapi dan memancing dia keluar dari
sarangnya," Yang dimaksudkan Cu Lie Seng dengan
"dia" adalah Toat-beng-sin ciang.
Cepat sekali keempat tokoh persilatan itu
berpencar membagi posisi dalam mencari
persembunyian di empat tempat. Mereka bersiapsiap
dengan berdiam diri, mengawasi Cu Lie Seng
melangkah maju lebih ke depan di taman bunga.
"Toat-beng-sin ciang," kata Cu Lie Seng dengan
suara yang disertai lwekang, karena waktu itu
tempat tersebut tergetar seperti juga pohon-pohon
di situ tergetar dan tanah bergoncang. "Aku Cu Lie
Seng ingin berkenalan dengan kau dan
membicarakan beberapa persoalan. Harap kau
keluar menyambutku, jangan sampai aku lancang
memasuki tempatmu. Kukira, tak ada baiknya jika
kita dua pihak saling bentrok, karena hal itu tidak
akan menguntungkan pihakmu !"
Sunyi tak ada jawaban.
Setelah menunggu sejenak tak ada jawaban Cu
Lie Seng melanjutkan perkataannya lagi: "Toatbeng-
sin-ciang, kau sudah berdosa, karena melukai
utusan Hongsiang ! Disamping itu tersiar kau hendak
memberontak membantu para pemberontak,
karenanya jika kau tak mau menemui aku sekarang,
bagaimana mungkin di waktu mendatang bisa kau

823
cuci bersih nama baikmu ? Aku memberikan
kesempatan baik kepadamu agar menjelaskan duduk
persoalan kepadaku, mungkin nanti bisa
kupertimbangkan dan membicarakan pada
Hongsiang agar kau diampuni, kita bisa bersahabat.
Tapi, kalau memang kau tak bersedia bertemu
denganku, urusan akan lain lagi dan lebih ruwet
yang bisa membahayakan dirimu! Orang-orang
Hongsiang akan datang kemari untuk membekuk
dirimu, waktu itu biarpun kau menyesal tentu sudah
terlambat!""
Tetap sunyi keadaan di sekitar tempat itu, hanya
terdengar suara Cu Lie Seng yang menggema. Giok
Han berdua pengemis hanya berdiam saja,
tangannya dicekal si pengemis, agar dia tidak
melakukan gerakan. Tangan si-pengemis terasa
dingin, jari-jari tangannyapun dingin.
Giok Han merasakan ujung-ujung jari tangan
sipengemis tergetar, dia melirik. Akhir-nya dia
mendekati bibirnya pada telinga sipengemis,
bisiknya: "Sahabat, kau jangan kuatir ! Biarpun dia
berlima berkepandaian tinggi, aku akan
membelamu, aku jamin mereka tak mungkin bisa
mencelakaimu !"
Giok Han merasakan satu kali lagi jari-jari tangan
si pengemis tergetar, pipinya berobah merah dan
matanya mengawasi dengan sorot mata
mengandung rasa terima kasih.

824
Giok Han tersenyum dan mengangguk. "Jangan
kuatir," bisiknya lagi untuk memberi semangat
kepada si pengemis, "Aku akan membelamu sekuat
tenagaku!"
Waktu itu Cu Lie Seng rupanya sudah habis
kesabarannya, dia berseru lagi :"Toat-beng sinciang,
jika sehirupan teh tetap tak mau
memperlihatkan diri untukmenerima kunjunganku,
tak ada jalan lain lagi..."
Baru saja dia bicara sampai disitu, mendadak dari
dalam gerombolan pohon bunga meluncur sebuar
benda kecil yang jatuh didekatnya. Benda kecil itu
tidak meledak, hanya memberebes mengeluarkan
asap yang harum semerbak. Alis Cu Lie Seng
mengerut, dia mundur dua langkah dan
memperhatikan.
"Hemmm,kau hendak mempergunakan asap
beracunmu untuk mencelakaiku ? Kau keliru dan
bermimpi, Toat-beng-sin-ciang ! Aku tak mungkin
gentar terhadap racun-racunmu, karena orang-orang
ayahku yang ahli dalam meramu racun, telah
membekaliku penangkal racun yang hebat sehingga
racun apapun tak mungkin bisa mencelakaiku !"
Sambil berkata begitu, tanpa memperdulikan
benda kecil bulat yang masih mengeluarkan asap,
dia telah melangkah memasuki taman bunga dengan
langkah lebar, memang ia tak terpengaruh apa-apa

825
oleh asap beracun dan juga asap tipis yang tersiar
dari lobang di batang pohon.
Alis si pengemis bergerak-gerak, sedang-Giok
Han bersiap sedia unruk menghadapi putera
thaykam yang paling berkuasa di saat ini dalam
kerajaan. Tapi tangan Giok Han dicekal keras oleh
kawannya yang membisikkannya juga. "Jangan
melakukan gerakan apapun. Diam saja."
Giok Han tak mengerti atas sikap sahabatnya,
namun dia menuruti dan berdiam tanpa melakukan
suatu gerakan apapun, biar Cu Lie Seng sudah
melangkah maju mendekati batang pohon.
Mendadak terdengar suara yang nyaring, batang
pohon dimana keluar asap tipis telah rubuh, akan
menimpa Cu Lie Seng. Hanya saja, sejak tadi Cu Lie
Seng sudah berlaku waspada, maka dia meloncat
kesamping, gesit gerakkannya, mudah sekali ia
menghindarkan diri dari timpahan pohon, dan ketika
batang pohon itu kembali berdiri tegak, seketika Cu
Lie Seng yang cerdik ini mengetahui bahwa pada
batang pohon itu dipasang alat rahasia yang bisa
menggerakkan batang pohon tersebut. Mata Cu Lie
Seng bersinar berkeredep mengawasi kebatang
pohon, malah terdengar suara tertawanya.
"Hah-hah-hah," tertawa Cu Lie Seng di teruskan
oleh kata katanya: "Sungguh perbuatan pengecut!
Keluarlah Toat bengsin ciang, mari kita bicara!"
Waktu bicara seperti itu, sikap Cu Lie Seng angkuh

826
bukan main, dia mengawasi tajam penuh waspada
pada sekelilingnya, karena berjaga-jaga kalau saja
ada serangan mendadak.
Mendadak tanah di samping kanan batang pohon
itu mengeluarkan asap yang cukup tebal. Cu Lie
Seng hanya mundur beberapa langkah ke belakang
tanpa merasa gentar memang dia tidak takut
terkena racun yang bagaimanapun jenisnya. Asap
yang keluar dari tanah di samping batang pohon itu
cukup tebal, namun akhirnya menipis setelah
terhembus oleh angin, keadaan di tempat itu tetap
sunyi.
"Toat-beog-sin-ciang, apakah tetap tak mau
tampakkan dirimu ? Atau memang kau
menginginkan aku menghancurkan tempatmu yang
demikian indah?"
Waktu itulah mendadak lompat keluar sesosok
tubuh gesit sekali dari balik gerombolan pohonpohon
bunga, kakinya hinggap di tanah tanpa
bersuara, bahkan tangannya sudah diayun dan dua
titik sinar kuning terang menyamber ke muka Cu Lie
Seng, disusul oleh kata-katanya: "Pemuda congkak,
kau terimalah hadiah dariku agar mulutmu tak
terlalu lebar kalau bicara."
Ternyata dua titik sinar terang yang dilontarkan
oleh sosok bayangan itu adalah dua senjata rahasia
terbuat dari emas dan berbentuk bunga. Orang yang

827
baru muncul tidak lain si pengemis, yang berdiri
bertolak pinggang.
Cu Lie Seng benar-benar lihai, biarpun dia sama
saja dibokong dengan serangan yang mendadak,
namun dia tidak kaget dan gugup, malah dia bisa
menghindarkan mukanya dari samberan kedua
senjata rahasia dengan memiringkan pundak kanan
dan memiringkan juga kepalanya, kemudian
tubuhnya meloncat ke sebelah samping.
Dengan cara menghindar seperti itu, dia telah
menempatkan diri pada posisi yang baik, agar tidak
didahului dan dibarengi pihak musuh untuk
menyusuli dengan serangan berikutnya.
Si pengemis mengawasi Cu Lie Seng dengan
tajam, katanya: "Kalau kau masih sayang jiwamu,
cepat ajak anak buahmu meninggalkan tempat ini,
sebelum aku turun tangan .. . ! Keputusan ini mudah
berobah, dan kalau aku sudah merobah keputusan
ini, berarti untuk keluar lagi dari tempat ini saja tak
mungkin untuk kau dan teman-temanmu!"
Cu Lie Seng sudah melihat jelas penyerangannya,
dia bersikap tenang, dingin mengejek. Sudut
bibirnya terungkit sedikit seulas senyuman
mengejek.
"Kukira siapa yang berani kurang ajar
terhadapku! Tak tahunya hanyalah pengemis busuk
seperti kau, yang tubuhmu saja bisa membuat orang

828
muntah-muntah selama seminggu! Beritahukan
pada Toat beng-sin-ciang agar keluar
menyambutku!"
"Menyambutmu? Oooooh, kau bermimpi! Kau kira
dirimu ini apa? Mana harganya ditemui Toat beng sin
ciang !?" mengejek sipengemis.
Muka Cu LieSeng berobah merah, dia mengawasi
dengan mata semakin tajam pada pengemis itu.
Kakinya melangkah dua tindak mendekati, tahu tahu
tangannya meluncur akan mencengkeram dada
sipengemis disusuli dengan kata-katanya: "Mulutmu
terlalu lancang dan perlu dihajar agar lain waktu bisa
berlaku lebih sopan!" Jari jari tangannya seperti
cakar naga yang menyambar hendak
mencengkeram, dia yakin pengemis itu bisa
dicengkeram dadanya dengan mudah, kesudahannya
dia jadi kecele waktu mencengkeram tempat
kosong, bahkan tahu tahu tulang iganya berkesiuran
angin dingin, menunjukkan adanya se rangan di
tempat itu.
Tanpa menarik pulang tangannya. tanpa menoleh
juga, tahu tahu Cu Lie Seng menekuk tangannya
dengan jurus. "Hun Kang Toan Liu" (Membendung
Sungai Memutuskan Aliran), sikunya hendak
menotok pergelangan tangan penyerangnya.
Memang yang menyerang iganya adalah sipengemis,
dia bermaksud akan meremukkan tulang iga Cu Lie
Seng dengan pukulan tangannya, namun melihat
ancaman siku tangan Cu Lie Seng terpaksa dia

829
menarik pulang tangannya, dibarengi melompat
mundur, sebab telapak tangan Cu Lie Seng sudah
menyusul lagi membabat ke samping dengan
mempergunakan tepi telapak tangannya sebagai
penggantinya pedang!
Si pengemis diam-diam terkejut. Tak salah apa
yang diberitahukan Giok Han bahwa Cu Lie Seng
memang sangat lihai, karena dalam segebrakan ini
saja dia sudah menyaksikan sendiri bahwa ilmu silat
orang she Cu ini benar-benar harus dihadapi dengan
hati-hati kalau tidak mau celaka.
"Katakan, siapa kau dan masih ada hubungan apa
antara kau dan Toat beng-sin-ciang ?" tegur Cu Lia
Seng, suaranya tak keras, namun tajam dan dingin.
"Manusia macam kau mana pantas mendengar
namaku ? Tak ada harganya kau mengetahui
namaku! Nah, terimalah lagi!" Sambil berkata
begitu, si pengemis membarengi dengan pukulan
"Sun Cm Kian Yo" atau Pukulan Menuntun Kambing",
tangannya lincah sekali menyambar dua sasaran,
muka dan perut, inilah serangan yang biasanya sulit
dihindarkan, karena memang pertama sulit untuk
melincungi diri sekaligus dari dua serangan yang
berbeda jauh sekali,juga dilakukan oleh pengemis
yang memiliki kepandaian tak rendah, pukulannya
memantulkan tenaga dalam yang kuat, sampai
mengeluarkan suara "syuuuuuttt ! wuuuuutttt !
wuuuuutttt ! Shiuuuut . . . ." tak hentinya, dingin
dan tajam sekali angin pukulannya, mengincar

830
dengan cara yang sulit untuk dihindarkan oleh
orang-orang yang berkepandaian tanggungtanggung.
Cuma saja Cu Lie Seng bukan lawan
sembarangan, ia gesit dan lihai, dapat bergerak
dengan lincah untuk menghindarkan setiap
ancaman, juga dapat balas menyerang, seperti yang
tampak, waktu dia bisa menghindarkan pukulan di
bagian perutnya dengan menyedot perutnya dalamdalam
memiringkan mukanya, tanpa merobah
kedudukan kedua kakinya, tahu-tahu tangan
kanannya menyambar hendak menotok kedua biji
mata si pengemis dengan jurus yang mematikan
"Cun Ma Pun Coan" atau "Kuda indah Mengejar Mata
Air".
"Ihhhhhh ....!" si pengemis menjerit kaget dan
cepat-cepat melompat ke belakang, Kembali dia
kaget, ketika kedua kakinya hinggap di tanah, tahutahu
tangan Cu Lie Seng telah menyusul juga
dengan serangan berikutnya. Tanpa buang waktu si
pengemis mempergunakan jurus "Yauw Cu Hoan
Sin" atau "Elang Membalikkan Badannya", dia
berusaha membuang diri dengan loncatan yang
kuat, ke sampingnya.
"Siuuuuuutttt .... !" dua jari tangan Cu Li Seng
lewat di sisi pipinya, hanya terpisah beberapa dim.
Si pengemis mengeluarkan keringat dingin. Benarbenar
tangguh Cu Lie Seng, kalau tadi dia terlambat
sedikit saja dalam gerakannya menghindar, niccaya

831
kedua biji matanya menjadi korban totokan kedua
jari tangan Cu Lie Seng, berarti selanjutnya dia
menjadi manusia buta tak bermata!
Biar kaget, si pengemis rupanya pemuda
gemblengan, dia tak gentar. Dia cepat merobah
posisinya dengan membarengi menghantam
memakai telapak tangannya pada dengkul Cu Lie
Seng dengan jurus "Tiang Hong Koan Jit" atau"
Pelangi Menembus Matahari", hantamannya ini
disertai oleh tujuh bagian tenaga dalamnya,
jangankan lutut seorang manusia, sedangkan batu
gunung yang keras sekalipun kalau terkena pukulan
seperti ini, pasti akan pecah hancur menjadi tepung.
Cu Lie Seng memperdengarkan tertawa dingin,
dia berhasil meloncat menghindar. Pertempuran
berlangsung terus semakin lama semakin seru, tapi
si pengemis tidak jarang agak terdesak oleh
pukulan-pukulan balasan pemuda she Cu tersebut.
Giok Han yang menyaksikan jalan pertempuran
dari tempat persembunyiannya mengawasi agak
tegang menguatirkan keselamatan sahabatnya.
Pengemis itu memang lihai, tapi setelah
pertempuran tersebut berlangsung beberapa puluh
jurus, Giok Kan mendapat kesan kepandaian si
pengemis masih berada di-bawah satu tingkat dari
Cu Lie Seng, Karenanya pemuda ini memasang mata
dan bersiap-siap jika kawannya itu terancam
bahaya, ia akan keluar untuk membantu.

832
Bukan hanya Giok Han yang menyaksikan jalan
pertandingan itu, karena See-mo Uh-Ma. Pak mo.
Lam-mo maupun Tong mo berempat menyaksikan
jalan perkelahian tersebut dengan penuh perhatian.
Semula mereka menyangka si pengemis adalah
Toat-beng-sin-ciang yang tengah mereka cari.
Tapi setelah melihat jelas muka si pengemis yang
masih berusia muda, mereka kecewa. Pengemis itu
jelas bukan orang yang tengah mereka cari. Tapi
menyaksikan beberapakali pengemis itu
mempergunakan jurus-jurus yang dahsyat dan
setiap pukulannya sangat tangguh mematikan,
mereka jadi memperhatikan penuh minat.
Kalau sampai Cu Lie Seng tak bisa
menghadapinya, mereka akan keluar, buat
membekuk pengemis tersebut. Setelah lewat sekian
jurus, mereka jadi senang, karena Cu Lie Seng
tampaknya menang di atas angin dan jika
perkelahian itu berlangsung lebih dari seratus jurus,
tentu pengemis muda tersebut akan berhasil
dirubuhkan Cu Lie Seng.
Keempat tokoh rimba persilatan itu jadi
memperhatikan keadaan di sekitar tempat tersebut,
kalau-kalau ada orang lain yang bersembunyi di situ,
selain si pengemis.
Tapi tak terlihat orang lain, hanya asap putih tipis
yang harum semerbak masih keluar dari lobang di
puncak pohon, juga pohon-pohon bunga yang

833
menyiarkan berbagai macam harum aneh dan
kurang enak untuk penciuman di hidung.
Cu Lie Seng waktu itu berhasil menghindarkan
pukulan tangan kanan si pengemis, tahu-tahu ia
menepuk kedua tangannya, mendadak pula
tubuhnya berputar setengah lingkaran dengan gerak
yang aneh membuat si pengemis sekejap bingung
kehilangan pegangan kemana bergerak lawannya. Di
waktu itulah dia menerima hantaman dahsyat dari
Cu Lie-Seng.
Terkesiap hati Giok Han menyaksikan cara
menyerang Cu Lie Seng. Sampai dia berseru
tertahan. Ia mengenali ilmu silat yang dipergunakan
Cu Lie Seng tak lain "Liong-beng-kun" !
Untung saja waktu itu dari kedus tangan Cu Lie Seng
mengeluarkan angin yang bcrkesiutan keras,
menyebabkan pohon-pohoa bunga bergerak
berkeresekan ramai, suara seruan Giok Han tak
sampai terdengar Cu Lie-Seng maupun keempat
tokoh persilatan yang tengah bersembunyi, karena
keempat tokoh persilatan itu tengah memperhatikan
penuh minat pada ilmu silat yang dipergunakan Cu-
Lie Seng.
Memang selama beberapa tahun terakhir ini Cu
Lie Seng belajar dibawah gemblengan Tang San
Siansu, yang telah mewarisi "Liong-beng-kun"
kepada muridnya yang istimewa ini. Walaupun Cu
Lie Seng belum bisa menguasai sepenuhnya ilmu
silat yang tangguh luar biasa itu, tokh sedikitnya dia

834
sudah berhasil melatih lima bagian, serangannya
mengandung maut yang menakutkan !
Jilid ke 19
Sekarang setelah lewat sekian puluh jurus dan
ternyata tak berhasil merobohkan lawannya,
darahnya jadi naik, dia penasaran dan
dipergunakannya "Liong beng-kun"-nya, dengan
harapan bisa secepatnya merobohkan si pengemis
dengan satu dua jurus serangan saja.
Memang kesudahannya sangat hebat, sebab si
pengemis menjerit kaget dan berusaha menjauhi diri
dari tangan Cu Lie Seng, dia mendorong dengan
pukulan "Swat Koat Liok Cut" atau "Kembang Salju
Berhamburan Enam Penjuru", kemudian tubuhnya
meloncat ke belakang dengan gerakan "Liu Seng
Kan Goat" atau "Bintang Sapu Mengejar Rembulan".
Cepat gerakan tubuh si pengemis, namun lebih
cepat lagi tangan Cu Lie Seng. Dia mempergunakan
jurus dari ilmu yang sangat dahsyat, walaupun si
pengemis sudah membalas dengan pukulan yang
bisa membahayakan dirinya, lalu melompat ke
belakang dengan loncatan tubuh yang begitu lincah
tetap saja Cu Lie Seng berhasil untuk berada di
dekat si pengemis, kedua telapak tangannya yang
merah seperti darah berkumpul di situ meluncur
turun akan menepuk pundak si pengemis.

835
Kaget bukan main pengemis itu, keringat dingin
mengucur keluar. Dia melihat tak ada kesempatan
untuk meloloskan diri dari tangan maut Cu Lie Seng.
Tak ada kesempatan untuk meloncat ke tempat lain,
hawa amis yang menerjang mukanya terasa santer
sekali. Maut sudah berada di atas kepalanya.
Giok Han tak bisa menahan diri, dia ingin
melompat keluar untuk membantui si pengemis. Tak
boleh dia membiarkan si pengemis terluka oleh
pukulan "Liong-beng-kun", sebab untuk selanjutnya
si pengemis akan terluka parah, menjadi lumpuh
dan lupa ingatan, seperti yang telah dialami oleh
Tang Bun Siansu dari Siauw Lim Sie ! Benar Cu Lie
Seng belum begitu sempurna menguasai "Liongbeng-
kun," seperti halnya pada latihan yang dicapai
Tang San Siansu, namun tetap saja pukulan yang
dilakukan Cu Lie Seng mengandung maut yang
mengerikan sebab kepandaian si pengemis pun
belum setinggi Tang Bun Siansu!Kalau terkena
tangan maut itu, niscaya habislah masa depan si
pengemis.
Belum lagi Giok Han menjejak kakinya, tiba-tiba
terdengar seruan kaget perlahan, disusul tubuh Cu
Lie Seng "terbang" ke belakang, mukanya pucat pias
ketika kedua kakinya telah hinggap di atas tanah,
tangan kirinya memegangi tangan kanannya.
Matanya memandang dengan sinar tajam
memancarkan kemarahan yang tak kepalang.
Sedangkan si pengemis berdiri di tempatnya dengan

836
muka tersenyum-senyum, tidak kurang suatu
apapun juga.
"Enak ditusuk jarum?" mengejek si pengemis
dengan sikap meremehkan Cu Lie seng.
Rupanya waktu melihat tak ada jalan keluar dari
tangan maut Cu Lie Seng, cepat luar biasa si
pengemis telah mempergunakan sebatang jarum
unmk menyambuti telapak tangan Cu Lie Seng.
Telapak tangan Cu Lie Seng seperti juga
menghantam mata jarum itu, yang menembus
cukup dalam, membuatnya tadi menjerit perlahan
dan ia lompat ke belakang kaget dan kesakitan ! Apa
lagi jarum yang dipergunakan si pengemis ternyata
beracun, telapak tangan Cu Lie Seng dalam waktu
hanya beberapa detik saja telah membengkak!
Darah Cu Lie Seng meluap sampai terasa
meledak di ubun-ubun kepalanya, dia melangkah
maju dengan mata melotot mengancam. untuk
menyerang si pengemis lebih hebat dari
sebelumnya, selangkah demi selangkah
menghampiri tanpa memperdulikan telapak tangan
kanannya membengkak cukup besar.
Belum lagi Cu Lie Seng menyerang kembali pada
si pengemis. Tong-mo Kwang Cu Pu sudah lompat ke
sampingnya. Dia memegang lengan Cu Lie Seng dan
agak kuatir berkata: "Kongcu. pengemis ini rupanya
perlu dihajar! Untuk menghajar manusia kotor

837
mesum seperti itu tak layak mempergunakan tangan
Kongcu, biarkan aku yang mewakilinya."
Kemudian dengan suara berbisik ia bilang lagi:
"Kongcu harus mengendalikan diri, racun itu cukup
kuat kerjanya." Tersadar Cu Lie Seng bahwa
tangannya sudah keracunan, membengkak cukup
besar dan merah, dia segera berusaha mengurangi
kemarahan dan mengendalikan diri, karena kalau di
turuti kemarahan hatinya, di mana darah beredar
lebih cepat ke jantung, dirinya bisa celaka, jantung
bisa bekerja lebih cepat lagi. la harus memakan obat
penawar racun, rupanya Tong-mo Kwang Cu Pu
memang sengaja menginginkan ia mundur untuk
mengurusi lukanya itu.
Maka tanpa bicara apa-apa dia melompat mundur
membiarkan Tong-mo Kwang Cu Pu menghadapi si
pengemis cuma mata Cu Lie Seng yang masih
melototi si pengemis waktu ia melompat mundur.
Pak-mo cepat-cepat menyerahkan obat pulung
yang khusus memunahkan racun, yang diterima oleh
Cu Lie seng. Tong-mo sudah, berhadapan dengan si
pengemis.
"Pengemis busuk, kau benar benar tak kenal
tingginya langit dan dalamnya bumi, sehingga berani
kurang-ajar pada Cukongcu. Kau mau pulang ke
neraka rupanya !" Bentak Tong-mo dengan suara
meremehkan, tapi bengis mengandung ancaman.

838
"Pendeta busuk," balas maki si pengemis, karena
dilihatnya Tong-mo berpakaian seperti pendeta "Kau
rupanya mau cepat cepat pulaug-ke neraka !"
Sengaja dia mengikuti cara memaki Tong-mo untuk
membangkitkan kemarahan Tong-mo.
Tadi melihat cara meloncat Tong-mo, si pengemis
segera tahu banhwa Tong-mo memiliki ilmu yang
tinggi, kakinya begitu ringan. Maka untuk
membangkitkan kemarahan Tong-mo ia sengaja
mengikuti cari memaki Tong mo, jika ia marah tentu
sulit mengerahkan seluruh konsentrasinya dun akan
lebih mudah dihadapi, Tak tak disangkanya, Tongmo
malah tertawa bergelak-gelak.
"Heh-heh-heh. kau benar-benar setan jelek yang
sudah bosan hidup!" Sambil tertawa disusul
makiannya itu, tubuh Tong-mo sudah melompat ke
depan, tangannya sudah menyambar dan karena
tenaga pukulannya sangat kuat, mengeluarkan
suara angin berkesiutan.
Si pengemis tahu bahwa lawannya lihai, ia tak
mau membuang waktu. Belum tangan Tong-mo
sampai, tubuh si pengemis sudah berkelebat
mengelak, sambil dibarengi serangan membalas,
yang tenaga pukulannya pun tak kalah kuatnya.
Melihat pukulannya yang pertama gagal, Tongmo
menyusuli dengan tiga pukulannya. la tahu
bahwa pengemis muda yang kotor mesum ini
memiliki kepandaian yang tinggi, tadi dia sempat

839
menyaksikan waktu si pengemis berkelahi dengan
cukongnya. Sekarang dia turun tangan tidak
tanggung-tanggung, sekaligus mempergunakan
pukulan-pakulan yang ampuh dan mengandung
maut !
Si pengemis juga tidak manda diserang begitu,
berulangkali ia menghindar, diselingi oleh pukulan
balasan yang juga bisa mematikan lawan. Mereka
berloncatan ke sana kemari cepat sekali sehingga
seperti bayangan belaka, angin pukulan mereka
menyebabkan pohon-pohon bergoyang dan daundaun
ranting berjatuhan. Sebentar saja sudah lebih
dari sepuluh jurus.
Giok Han menyaksikan tokoh persilatan itu
berkumpul di sini, jadi heran. Entah apa yang ingin
mereka lakukan di tempat ini ? Juga Cu Lie Seng
bersikeras hendak bertemu dengan Toat-bengsinciang,
entah apa yang diinginkannya.
Berkumpulnya mereka di tempat ini, jelas alamat
yang kurang bagus bagi orang-orang rimba
persilatan, karena ancaman buat mereka yang tidak
mau tunduk pada anaknya Cu-kongkong ini dan para
pengikutnya. Juga, adanya Cu Lie Seng di sini pasti
Tang San Siansu juga berada di sekitar tempat ini.
Hati Giok Han jadi berdebar, ia mengawasi betapa
Tong-mo berusaha mendesak si pengemis, tapi
pengemis itu selalu dapat memunahkan setiap
serangan lawannya. Waktu itulah Pak-mo, Lam-mo

840
dan See-mo ikut melompat maju buat membantu
Tong-mo.
Keempat tokoh persilatan ini, yang masingmasing
memiliki ilmuyang tinggi, sudah berbareng
menyerang dan mengeroyok si pengemis.
Tidak puas Giok Han melihat pengeroyokan ini,
tak mungkin dia bersembunyi terus, sedangkan si
pengemis tengah terancam bahaya maut dibawah
pengeroyokan lawan-la-wannya itu, Tanpa pikir dua
kali lagi Giok Han segera lompat sambil berseru:
"Manusia-manusia rendah tak tahu malu main
keroyokan, terimalah seranganku !" Dan memang
bentakan Giok Han disusul oleh pukulannya yang
saling susul.
See-mo Uh Ma yang berada raling dekat dari arah
munculnya Giok Han merasakan sambaran angin
yang kuat, ia segera menangkis tanpa menoleh.
Malah mengoceh: "Uh-uh-uh, kiranya dia ada
kawannya..."
"Dessss! Bukkkkk ! "Suara benturan tangan See
mo Uh Ma dengan tangan Giok Han sangat keras
dan kuat sekali, bahkan Uh Ma jadi kaget tak terkira.
Semula dia menyangka yang muncul anak buah
sipengemis. yang kepandaiannya berada di bawah si
pengemis, Siapa tahu justeru waktu tangan mereka
membentur, tubuh See Mo bergoyang-goyang.
Untung saja dia seorang tokoh persilatan yang
berpengalaman dan memiliki ilmu yang tinggi. cepat

841
dia bisa mengendalikan tubuhnya dan tangan kirinya
menyerang untuk mencegah lawan menyusuli
dengan pukulan berikutnya.
Giok Han tidak tahu. dia malah menyambuti lagi
tangan kiri Ui Ma dengan tangan kanan, tangan
kirinya bekerja menyambar baju dipundak lawan,
Begitu terdengar bentakan Giok Han, segera tubuh
Uh Ma terpental ketengah udara, karena waktu Giok
Han bisa menjambak baju di pundak lawan, segera
melemparkannya...
Uh Ma tidak menyangka lawannya demikian gesit
dan cepat tangannya maka tubuhnya kena
dilemparkan. Untung saja dia masih bisa
mengendalikan tubuhnya tidak sampai terbanting
ditanah, cuma jatuh berdiri dengan kedua kaki lebih
dulu, dia tidak pernah menderita malu yang terlalu
hebat.
Alis Cu Lie seng bergerak-gerak melihat
munculnya Giok Han dan salah seorang anak
buahnya berhasil dilemparkan seperti itu, Tangannya
yang tadi membengkak sekarang sudah kempis
kembali, hanya masih tersisa warna merah.
Racun sudah di punahkan, karena ia memakan
obat mujarab yang dibikin ramuannya oleh tabibtabib
istana, la menduga-duga entah siapa pemuda
yang baru muncul ini, yang ilmu silatnya kelihatan
lebin tinggi dari si pengemis.

842
Giok Han bekerja cepat, setelah berhasil
melemparkan See mo, ia segera menghantam
punggung Pak-mo, pukulannya sama kuat seperti
yang tadi dilakukan pada See mo. Pak-mo sudah
menyaksikan bahwa pemuda yang baru muncul ini
tak boleh dibuat main, segera menghindar dia batal
meneruskan pukulannya pada si pengemis,
melainkan tangan itu dipergunakan untuk memukul
dada Giok Han.
Dahsyat sekali tenaga pukulannya, dia seorang
tokok persilatan yang lwekangnya sudah mencapai
tingkat tinggi, jika pukulan itu mengenai sasaran,
tentu kurban pukulannya tak akan ada harapan,
hidup. Batu karang saja jika dipukul oleh Pak mo
dengan tenaga sedahsyat itu, niscaya akan hancur
lebur menjadi tepung!
Giok Han tidak takut, dia tidak mengelak dan
malah tangan kanannya menangkis. Keras lawan
keras. Terdengar dua tenaga membentur ditengah
udara. Menyusul dengan itu, tangan kiri Giok Han
menyambar lagi, dan telak sekali pundak Pak-mo
kena dupikul sampai dia terhuyung beberapa
langkah kebelakang.
Bukan main kagetnya Pak-mo melihat sepak
terjang si pemuda yang ternyata sangat tangguh
malah belum dia sempat berpikir,Giok Han sudah
berada didepannya lagi. "Manusia tak tahu malu,
kau pantas di beri hajaran!" Tangan Giok Han sudah
berada didepan matanya, mengincar jalan darah

843
"Tu-cie-hiat yang berada diantara ujung dalam
kedua alisnya.
Jika jalan darah ini tertotok, maka akan celaka
Pak-mo, karena "tu-cie-hiat" merupakan titik jalan
darah yang sangat penting, jika tertotok dengan
dengan tenaga yang cukup kuat pasti bisa
menyebabkan kematian. Tak ayal lagi Pak-mo
menghindari pukulan itu. Namun kembali dia kaget.
Waktu tubuhnya meloncat kebelakang, saat itulah
kaki Giok Han menyambar menendang
selangkangannya. Pak-mo jadi sibuk menghindar,
sekali ini dia agak terlambat. Memang ia bisa
menyelamatkan jalan darah "tu-cie-hiat" dipangkal
hidungnya dari totokan jari tangan Giok Han, namun
sekali ini biarpun tak tepat pada selangkangannya,
tapi pangkal pahanya kena di tendang oleh Giok
Han.
Hal ini disebabkan mati-matian. Pak-mo berusaha
menghindar, alat vitalnya bisa diselamatkan, tapi
akibat tertendang pangkal pahanya, tubuh Pak- mo
terpental hampir terguling di tanah. Dia berhasil
mengerahkan tenaga dalam pada kedua kaki dan
kuda-kudanya, sehingga tak perlu terguling, tak
urung dia berdiri dengan muka yang merah dan
pucat bergantian.
Marah karena malu campur mendongkol, pucat
akibat kaget yang tak terkira. Selama dia berkelana
dalam kang-ouw, setelah dia sekian puluh tahun

844
menyembunyikan diri di tempat menyepinya, baru
sekali ini dia mendalami kejadian seperti sekarang.
Setelah rasa kagetnya berkurang bagaikan suara
geledek dia melompat untuk menerkam Giok Han.
Giok Han setelah berhasil menendang pangkal
paha Pak-mo, cepat-cepat menyusulkan pukulan
pada Lam mo karena waktu itu si pengemis tengah
dilibat oleh Tong-mo dengan pukulan pukulan yang
mematikan sehingga tak keburu untuk menangkis
pukulan yang dilakukan Lam mo.
Si-pengemis tengah mempergunakan kedua
tangannya menyanggah tangan kanan Tong-mo,
karena Tong-mo menyerang dengan tenaga yang
kuat seribu kati. Saat itulah dipergunakan Lam-mo
buat menghantam tengkuk si pengemis dengan dua
jari tangannya.
Serangan ini memang tampak ringan, tapi kalau
sampai mengenai sasarannya bisa membikin si
pengemis seketika menemui kematian, sebab yang
diincar adalah titik jalan darah Yu-hiat-to yang ada
di tulang punduk.
Seperti diketahui, tulang pundak yang
menyambung terus dengan tulang punggung
merupakan bagian yang sangat penting bagi
manusia. Seseorang bisa lumpuh atau tak sehat
karena tulang punggung yang tak bagus dan tak

845
sehat, dimana urat-urat syaraf besar berkumpul
disitu.
Sekarang sipengemis dihantam oleh kepretan
jari-jari tangan mengandung maut, kalau kepretan
itu menotok tepat niscaya sulit untuk menjamin si
pengemis bisa mengadakan perlawanan terus.
Kemungkinan iapun akan lumpuh jika terserang
begitu.
Melihat ancaman maut yang datang pada si
pengemis membuat Giok Han tidak melompat
kepada Pak-mo yang berhasil ditendangnya,
melainkan cepat-cepat menghantam Lam-mo,
berusaha mencegah dia meneruskan pukulannya
pada tengkuk si pengemis.
Memang Lam-mo merasakan sambaran angin
yang dahsyat, berkesiuran mengancam tulang
iganya. Dia tidak berani meremehkan pukulan Giok
Han, walaupun tadi sedang berkelahi, dia sempat
melihat Pak-mo dan See-mo dibikin repot dan
terserang oleh pukulan-pukulnn yang dilakukan Giok
Han. Tidak buang waktu dia membatalkan
pukulannya pada si pengemis, melainkan cepatcepat
menarik tenaga pukulan, yang lalu
dipergunakan untuk menghantam Giok Han.
Tak ampun lagi dua kekuatan tenaga dalam
bertemu. Giok Han kaget karena dadanya dirasakan
bergetar, menunjukkan kuatnya tenaga dalam Lammo.
Tapi Lam-mo juga tidak kurang kagetnya,

846
karena waktu itu dia merasakan siku tangannya
sakit, berbunyi dan seakan bonggolan siku
tangannya ingin terlepas.
Yang lebih hebat dadanya seperti menjadi sempit
menyebabkan dia sesak bernapas! Tak buang waktu
lagi Lam-mo melompat mundur menjauhi Giok Han.
Tong-mo yang tengah ditangkis tangannya oleh si
pengemis, menarik tangannya dan melompat
mundur, dia tidak mendesak terus si pengemis. Dia
tengah heran melihat dalam beberapa detik dan
waktu begitu singkat Giok Han bisa memukul
mundur tiga orang kawannya ! Dia penasaran, tapi
sebagai orang yang cerdik tentu saja Tong mo tak
mau ceroboh untuk menerkam Giok Han.
Si pengemis tersenyum mengejek, sedangkan
Giok Han berdiri disampingnya. "Hebat ilmu silatmu,
membuat tua bangka yang sudah mau pada
mampus itu kelabakan !"
Giok Han tidak menghiraukan gurau si-pengemis,
dia mengawasi tajam pada Cu Lie-Seng. "Orang she
Cu, tadi kau mempergunakan Liong-beng-kun
sangat jelek sekali, banyak kesalahan yang kau
lakukan!"
Kaget Cu Lie Seng diejek seperti itu oleh Giok
Han. Dia kaget bukan disebabkan tiga orang dari
empat orang anak buahnya berhasil dipukul mundur
begitu mudah oleh Giok Han.

847
Sekarang, malah Giok Han menyebut nama jurus
ilmu andalannya, yang dikatakannya telah dilatih
oleh Cu Lie Seng secara buruk ! Siapakah pemuda
ini ? Apakah masih mempunyai hubungan perguruan
dengan gurunya. Tang-San Siansu ? Hati Cu Lie
Seng jadi penuh oleh pertanyaan-pertanyaan yang
membingungkannya.
Di samping itu, ia juga penasaran campur marah.
Dengan muka dingin dia mendekati Giok Han,
matanya tajam seperti ingin menembus mata Giok
Han terus kehatinya.
"Siapa kau ? Apakah kau murid Toat-beng-sin ciang
juga seperti pengemis mesum itu?"
Giok Han menggeleng. Sebagai orang yang jujur
ia tak bisa berbohong. "Bukan, aku tak kenal siapa
Toat-beng-sin-ciang yaag kau tanyakan itu.
Sedangkan dia ini sahabatku, aku tak ingin melihat
kau sewenang-wenang melakukan pengeroyokan
padanya secara tidak tahu malu !"
Cu Lie Seng tertawa dingin tidak memperlihatkan
perasaan apapun pada mukanya yang tampan tapi
beku. "Kedatangan kami kemari," katanya, "untuk
bertemu dengan Toat-beng-si i ciang. Tapi dia tak
mau menemui kami, bahkan pengemis mesum ini
yang telah banyak tingkah coba menghalangi kami
mencari Toat-beng sin-ciang. Apakah kami tak
pantas untuk memberikan hajaran padanya ?"

848
Si pengemis yang sejak tadi diam saja sambil
tersenyum-senyum mengejek, sekarang berteriak
marah : "Sudan menjadi peraturan buat siapa saja,
bagi yang berani lancang masuk ke daerah ini berarti
harus menerima imbalannya, yaitu mati ! Kalian
berlima telah lancang memaksa untuk masuk
kemari, bagian kalian yang paling setimpal ialah
kematian. Kau tak usah banyak bicara untuk masuk
memang mudah tapi untuk keluar dari sini jangan
harap, kalian harus mati ! Ini sudah peraturan yang
tak bisa di tawar-tawar, karenanya kau tak usah
bicara terkebur lagi. Bersiap-siaplah kalian, karena
kematian sudah dekat"
Cu Lie Seng melirik dingin menghina kepada si
pengemis, kemudian menoleh kepada Giok Han. Kau
mengenali ilmu "Liong-beng-kun" ku. apakah kau
ada hubungan dengan guruku ?"
Hemm. pasti gurumu Tang San Sian-su," kata
Giok Han tawar. "Di mana sekarang dia berada ?
Apakah tidak datang bersama kalian ?"
Cu Lie Seng seorang pemuda yang cerdas,
otaknya sangat pintar dan licin. Sekali melihat saja
cara Giok Han bicara dan menyebut tentang
gurunya, segera dia mengetahui bahwa Giok Han
seperti memandang rendah gurunya, maka segera
dia bisa menarik kesimpulan bahwa Giok Han pasti
bukan sahabat gurunya, bahkan sebaliknya. Cuma
yang membuat Cu Lie Seng ragu-ragu turun tangan,

849
justeru dia sempat menyaksikan tadi betapa gagah
perkasa pemuda yang tak dikenalnya ini.
"Guruku akan datang kemari, kau tentu bisa
bertemu dengannya" jawab Cu Lie Seng maksudnya
ingin menggertak Giok Han. "Siapa namamu ?"
"Aku ? Cukup kau sebut aku Liong-kak-sin-hiap!"
menyahuti Giok Han tawar.
Muka Cu Lie Seng berobah, seperti mendengar
sesuatu yang hebat, tubuhnya sampai menggigil di
samping mukanya yang jadi pucat kehijau-hijauan.
Dia pernah diberitahukan oleh gurunya, Liong-bengkun
merupakan ilmu yang tangguh dan sangat
dahsyat, jarang orang bisa melayani ilmu itu, apa
lagi kalau Cu Lie Seng sudah berlatih dengan
sempurna, tentu jarang ada tokoh persilatan yang
sanggup melayaninya.
Cuma gurunya berpesan, Liong-beng-kun
memiliki satu kelemahan, yaitu akan hancur punah
kalau berhadapan dengan tongkat Liong-kak-tung.
Pemuda ini bergelar Liong-kak-sin-hiap (Pendekar
Sakti Cula Naga), apakah mempunyai hubungan
dengan Liong-kak-tung?
Apakah pemuda ini memiliki tongkat Liong-kaktung
yang pernah disebut-sebut oleh gurunya ? Tapi
tak mungkin, bantah Cu Lie Seng sendiri dalam hati,
Liong-kak-tung menurut gurunya sudah lenyap
selama ratusan tahun, selama itu tak ada orang

850
yang sempat menyaksikan tongkat pusaka itu. Mana
mungkin pemuda ini bisa memiliki tongkat itu.
Mungkin Giok Han hanya ingin menggertaknya saja.
"Baru pertamakali kudengar tentang dirimu,
apakah kau belum lama berkelana dalam kalangan
Kangouw ?" tanya Cu Lie Seng Sengaja dia bertanya
seperti itu, seakan ia meremehkan dan memandang
rendah kepada Giok Han. ..Siapa gurumu?"
"Nanti kalau aku bertemu denpan gurumu, kau
akan mengetahui jelas siapa aku sebenarnya,"
rnenyahuti Giok Han tawar. "Kau pun pernah
bertemu denganku, tapi itu dulu... mungkin kau
sudah lupa."
Cu Lie Seng mengingat-ingat, tapi tetap saja tak
diingatnya ia pernah bertemu Giok Han di mana. "Di
mana kita pernah bertemu ?" tanya Cu Lie Seng
akhirnya.
Giok Han mengawasi Cu Lie Seng sejenak,
kemudian baru menyahuti: "Sudah kukatakan, nanti
semuanya menjadi jelas untukmu kalau aku sudah
bertemu dengan gurumu. Sekarang dimana aku bisa
bertemu dengannya?"
"Tidak lama lagi kau akan bertemu dengan
guruku," jawab Cu Lie Seng dengan sikap congkak.
"Dan kawanmu itu, pengemis mesum yang
menyebalkan akan ikut bersama untuk menemui
guruku." Setelah berkata begitu Cu Lie Seng bersiul

851
nyaring. Pak-mo, See-mo, Lam-mo dan Tong-mo
berempat waktu itu bersiap-siap untuk menyerbu
pada Giok Han, mereka penasaran karena tadi
mereka telah diberi "pelajaran pahit" olen pemuda
yang semula tak dipandang sebelah mata tapi
kenyataannya memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Mendengar Cu Lie Se-ng bersiul, mereka batal untuk
melompat menyerang, hanya berdiri mengawasi.
Diluar taman bunga itu terdengar suara sangat
ramai, bermunculan banyak sekali tentara negeri
yang lengkap masing masing bersenjata tombak
atau golok. Ternyata tempat itu telah dikepung olah
tentara negeri yang sengaja dibawa oleh Cu Lie
Seng, cuma mereka semua bersembunyi diluar
taman bunga.
Mendengar isyarat dari Cu Lie Seng barulah
mereka memperlihatkan diri. Tentara kerajaan itu
dipimpin oleh Lui Pek Sam. Ramai suara tentara
kerajaan, mereka terdiri dari beberapa
lapis,sehingga jangankan manusia, seekor lalatpun
tak akan lolos keluar dari kepungan tentara kerajaan
tersebut.
Barisan lapis ketiga dari tentara kerajaan itu
bersenjatakan panah, siap untuk dilepaskan anak
panahnya kalau ada musuh yang hendak melarikan
diri. Ketat sekali pengepungan ini. yang diatur
sangat sempurna.

852
Alis Giok Han mengkerut menyaksikan ini,
hatinya agak kaget juga. Benar-dia lihai dan juga si
pengemis memiliki ilmu yang tidak rendah. Namun
kalau dikepung demikian banyak tentara perajaan,
ditambah lagi oleh empat orang tokoh persilatan
seperti Tong-mo, Pak-mo See mo dan Lam-mo.
kemudian adanya Cu Lie Seng dan Lui Pek Sam,
maka keadaan mereka sulit untuk bisa melepaskan
diri atas pengepungan yang ada.
Si pengemis melirik dan tersenyum melihat Giok
Han tengah memperhatikan sekelilingnya dengan
alis yang mengkerut. "Kau takut?" bisiknya.
Giok Han seperti baru tersadar dari tidurnya,
cepat-cepat dia menggeleng. "Tidak," jawabnya.
"Kita akan menghadapi mereka bersama-sama,
kukira tidak terlalu sulit untuk melepaskan diri dari
pengepungan mereka."
"Tapi kalau kita menghadapi mereka dengan cara
biasa, tentu kita akan terkepung lama dan akhirnya
kehabisan tenaga, diwaktu itu berbahaya, empat
iblis itu pasti akan memanfaatkan kesempatan
tersebut untuk membekuk kita. Aku ada jalan untuk
menghadapi mereka, jangan kuatir."
"Ya, memang kita harus secepatnya menyingkir,
karena tak ada gunanya menghadapi mereka
berlama-lama. Sebetulnya aku mempunyai urusan

853
umuk mencari guru pemuda she Cu itu, tapi itu bisa
dilakukan nanti saja, jika kita sudah meninggalkan
tempat ini."
"Siapa guru pemuda congkak itu ?" tanya si
pengemis, tetap berbisik. "Dan, ada urusan apa
antara kau dengan guru dia ? Permusuhan dan
menaruh dendam padanya?"
Giok Han menggeleng. "Bukan," jawabnya.
"Bukan dendam, tapi gurunya seorang yang sangat
berbahaya untuk ketenteraman rimba persilatan.
Gurunya sebetulnya masih merupakan saudara
seperguanku. tapi dia sudah dipecat dan diusir dari
perguruan kami, sekarang tak ada hubungan apa
antara aku dengan dia. Tapi ilmunya sangat tinggi,
jiwanya kotor dan hatinya sangat kejam, jika dia tak
disingkirkan atau dimusnahkan ilmu silatnya, tentu
akan membahayakan sekali. Apa lagi kudengar
belakangan ini ia membantu pihak penjajah, menjadi
kaki tangan Kaisar lalim. Jika hal ini dibiarkan tentu
mengganggu sekali perjuangan para pencinta negeri,
ilmunya harus dimusnahkan, itulah perintah
guruku."
"Masih ada hubungan apa antara kau dengan dia
dalam perguruan kalian ? Kau menyebutnya apa ?"
tanya si penpemis yang jadi tertarik untuk
mendengar lebih jauh cerita Giok Han.
"Nanti akan kujelaskan lebih terang kalau kita
sudah meninggalkan tempat ini" menyahuti Giok

854
Han. "Sekarang kita harus mencurahkan seluruh
perhatian kepada manusia-manusia rendah
tampaknya kejam-kejam ini."
Si pengemis mengangguk beberapa kali, dia tidak
mendesak terus. Sedangkan Cu Lie Seng melihat
Giok Han berbisik bisik dengan pengemis itu
memperlihatkan tertawa yang sinis.
"Biarpun kalian ditambahi sepasang sayap, tak
mungkin kalian bisa meloloskan diri meninggalkan
tempat ini!" Katanya dengan suara yang mengejek.
"Lebih bagus kalau kalian menyerahkan diri,
sehingga tak perlu dipergunakan kekerasan, jangan
sampai tubuh kalian hancur lebur baru mau
menyerah. Liharlah. seekor lalatpun sudah tak
mungkin lolos dari tempat ini. Serahkanlah baik-baik
diri kalian buat kami tangkap dan nanti akan
kupertemukan kau dengan guruku?"
Sambil berkata begitu Cu Lie Seng mengibas
tangan dan Pak-mo berempat dengan See-mo, Lammo
dan Tong-mo-sudah bersiap-siap maju dengan
langkah satu-satu mendekati Giok Han dan si
pengemis.
"Menyerahlah baik-baik, jangan memberikan
perlawanan jika kalian tidak mau nanti tersiksa,"
kata See-mo dengan sikap mengejek. "Aku biasanya
jadi kasihan pada orang yang mau menyerah dan
tahu diri bisa melihat gelagat; tapi bagi yang

855
berkepala batu akan kuperlihatkan bagaimana
hukuman yang harus diterimanya."
Giok Han melirik si pengemis, karena waktu itu si
pengemis berbisik padanya: "Kita hadapi mereka,
jika ada kesempatan akan kurubuhkan tentara
kerajaan itu dengan asap racunku, kita bisa
melarikan diri dari tempat ini."
"Tapi bagaimana dengan Toat-beng-sin-ciang?
Apakah kita tinggalkan tempatnya begitu saja
bagaimana kalau nanti pemuda she Cu itu
perintahkan anak buahnya untuk merusak dan
menghancurkan tempat ini?"
"Biarlah, kalau mereka mau menghancurkannya,
biarkan mereka hancurkan tempat ini. Toat-beng-sin
ciang kebetulan tidak berada di sini, kita tak perlu
menguatirkannya."
"Bagus, mari kita terobos kepungan mereka!"
Sambil berkata begitu tangan Giok Han meraba
pinggangnya, sekejap mata ia sudah menggenggam
sebatang pedang. Si pengemis tersenyum melihat
pedang di tangan Giok Han yang berkilauan terang,
menunjukkan pedang yang bagus. Dia sendiri
mengeluarkan sebatang tongkat berukuran pendek,
yang terbikin dari bambu kuning, terraut halus dan
mengkilap.
Tongkat ini berbeda dan tongkat-tongkat
pengemis pada umumnya? yang berukuran panjang,

856
justru tongkat yang di tangan pengemis ini pendek
cuma panjangnya tak melebihi dari empat puluh
senti meter, di ujung yang dekat genggaman
tercatat gagang yang menonjol panjangnya tidak
lebih dari sepuluh senti meter, mungkin untuk
menyanggah setiap sambaran senjata tajam yang
mengarah ke tangan.
Tongkat pendek ini diputar-putar dan siap
dipergunakan untuk menghadapi musuh. Sedikit
juga si pengemis tidak takut menghadapi musuhmusuh
tangguh demikian banyak jumlahnya, tidak
seimbang dengan pihaknya yang cuma berdua
dengan Giok Han.
Pak-mo berempat tak membuang waktu, mereka
menyerbu mengepung Giok Han berdua pengemis,
mereka juga berlaku hati-hati karena tadi sudah
merasai tangan Giok Han yang lihai.
Mereka berempat memiliki kepandaian yang
tinggi, justeru salahnya mereka meremehkan Giok
Han, sehingga tadi hampir saja mereka cslaka di
tangan pemuda ini.Sekarang, mereka berlaku hatihati
dan penuh kesungguhan, tentu saja mereka
merupakan lawan-lawan yang sangat berat buat
Giok Han maupun pengemis itu.
Diserbu berempat begitu, Giok Han segera
memutar redangnya, sedangkan pengemis
mempergunakan tongkatnya untuk mengetuk dan
menotok pada jalan darah lawan-lawannya.

857
Tetapi Lam-mo, Pak-mo, Tong-mo dan See-mo
berempatpun tak bertangan kosong, mereka
berempat sudah mengeluarkan senjata masingmasing.
Lam-mo mempergunakan ikat pinggangnya,
setiap dilecutkan terdengar suara memecah udara
yang bagaikan dirobek-robek: "Tarrrr...! Taarrrr...!!"
menyakiti kuping yang mendengarnya. Kalau ikat
pinggang yang cukup panjang dan dijadikan
pengganti senjata itu jauh lebih dahsyat dari senjata
logam, karena kalau angkin itu melecut batang
pohon, maka kulit pohon akan terkelupas disambar
ujung angkin yang sudah mengandung tenaga dalam
kuat dan ampuh. Jika menyambar batu segera batu
itu hancur menjadi berkeping-keping !
Tong-mo juga sudah mengeluarkan senjatanya,
yaitu mangkok untuk minta sedekah dan kayu
bokkie, yaitu kayu untuk sembahyang diketukkan
perlahan-lahan, tapi kini berobah menjadi senjata
yang ampuh. Mangkok untuk minta sedekahnya
terbuat dari baja murni, yang jika dikeprukkan ke
kepala lawan, niscaya kepala lawan remuk hancur
berserakan.
Sedangkan kayu bokkienya berguna untuk dua
cara, yaitu mengetuk hancur sesuatu yang
dipukulnya atau ujungnya bisa dipergunakan untuk
menotok titik jalan darah. Bisa dibayangkan
dahsyatnya kedua senjata istimewa ini, karena yang
mempergunakannya seorang lihai seperti Tong-mo.

858
Pak-mo juga sudah mengeluarkan senjatanya,
sebatang pedang pendek bergigi-gigi, mirip gaetan.
Pedang itu bisa dipergunakan untuk menikam, tapi
perut korban akan robek lebar kalau pedang ditarik
keluar. Setiap korban yang tertikam pedang Pak-mo
jangan harap bisa hidup lagi, langsung mati.
Pertama, tertikam mata pedang, kedua waktu
pedang itu ditarik dari badan korban, gaetannya
merobek badan si korban. Dengan demikian tak ada
tawaran lain untuk si korban yang pasti harus mati
seketika itu juga!
Senjata yang dipergunakan See-mo Iain lagi. Dia
bersenjatakan dua bola besi yang memiliki rantai
cukup panjang. Bola bulat berukuran seperti buah
apel itu licin rata, terbuat dari baja dan sangat berat.
Apa lagi ditimpuk oleh orang lihai seperti See-mo,
yang menyerang dengan mempergunakan tenaga
yang tangguh, maka korban yang kena sambaran
bola maut ini akan segera mati dengan kepala yang
hancur.
Yang jadi incaran See-mo selalu kepala lawannya,
jantung dan selangkangan lawan juga menjadi
incaran. Jika dada lawan terpukul bola maut itu,
tulang rusuk akan patah hancur serta jantungnya
pecah seketika. Selangkangan jika kena terpukul
sambaran bola maut ini, juga akan hancur
mematikan.

859
Lam-mo yang membuka pukulan pertama dengan
angkinnya, ia melecut-lecutkan ang-kinnya sambil
menyerbu maju. Disusul oleh Tong mo yang
memakai kayu bokhie untuk mengancam berbagai
titik jalan darah di badan Giok Han dan pengemis,
sekali-sekali jika mempunyai kesempatan untuk
menutup kepala Giok Han dan si pengemis dengan
mangkok sedekah baja di tangan kiri.
See-mo menyusul dengan bola baja mautnya
yang menyambar-nyambar mengandung ancaman
hebat pada kedua orang lawannya, karena memiliki
rantai yang panjang bola itu bisa menyambarnyambar
cukup leluasa dari jarak yang cukup jauh.
Ancaman bola maut yang berjumlah dua buah ini
jauh lebih hebat dari yang lainnya, karena bisa
menyambar dengan tiba-tiba ke atas tengkorak
kepala di luar dugaan, menyerangnya pun dari
tempat cukup jauh sehingga tak diduga-duga.
Ancaman senjata pedang bergigi Pak-mo juga tak
kalah dahsyatnya, setiap saat pedang itu
mengancam bergulung-gulung sinarnya.
Sulit diterka arah yang diserangnya, dan
menyambarnya sangat cepat, menyilaukan mata.
Empat macam senjata yang aneb-aneh dan juga
semuanya mengandung maut yang mematikan,
menyambar-nyambar mengancam Giok Han dan si
pengemis.

860
Tidak percuma Giok Han digembleng oleh Siauw
lim-si, karena biarpun dikepung oleh tokoh-tokoh
iblis yang ganas dan mempergunakan senjatasenjata
aneh, ia bisa menghadapinya dengan baik,
tubuhnya berkelebat ke sana kemari sambil
memutar pedangnya yang bergulung-gulung
melindungi tubuhnya dari setiap ancaman senjata
lawan juga sekali-sekali kalau si pengemis terancam
bahaya dia masih bisa melindungi dengan bantu
menangkis dan menghadapi lawan si pengemis.
Tapi, biarpun Giok Han dan si pengemis berusaha
menghadapi keempat lawannya itu, tetap saja
mereka tidak berhasil untuk menerobos keluar dari
kepungan itu, jangankan untuk menyingkir dari
tempat itu, sedangkan untuk melonggarkan
kepungan tersebut, tetap saja tak berhasil.
Bahkan garis lingkaran kepungan keempat
lawannya itu semakin kecil dan sempit. Namun Giok
Han dan si pengemis tak gentar, mereka tetap
memberikan perlawanan, bersemangat.
Cu Lie Seng mengawasi penuh perhatian, dia
ingin mengetahui dari pintu perguruan mana Giok
Han, tapi sejauh itu dia masih tak bisa mengenali
ilmu silat Giok Han. Hanya sekali-sekali dia merasa
seperti juga ilmu silat yang dipergunakan Giok Han
berasal dari Siauw-lim-si.
"Ilmu silatnya campur aduk, tak mungkin dia
murid Siauw-lim-si. Diapun bukan pendeta... tapi

861
dari pintu perguruan manakah babi kecil ini ? Ada
urusan apa antara dia dan guruku ?" Sambil
memperhatikan jalan pertempuran yang tengah
berlangsung, Cu Lie Seng memperhatikan cermat
sekali setiap jurus yang dipergunakan Giok Han, dia
cerdas dan sangat tajam ingatannya, dia bisa
mengingat setiap jurus ilmu silat yang dipergunakan
Giok Han.
Waktu itu di arena pertempuran telah berobah.
Giok Han yang melihat keadaan tidak
menguntungkan pihaknya, segera merobah cara
bersilatnya Jika sebelumnya dia cuma memakai
jurus-jurus ilmu pedangnya untuk menghalau setiap
serangan lawan dan sekali-sekali balas mengancam
dengan tikaman-tikaman maupun tabasan
pedangnya sekarang dia menambah dengan
pukulan-pukulan telapak tangan kirinya.
Pukulan telapak rangan kirinya ini menimbulkan
hawa panas luar biasa, seperti juga membakar dan
membuat tubuh jadi mandi keringat, mengejutkan
Pak-mo berempat. Semakin lama hawa panas
membakar yang keluar dan telapak tangan kiri Giok
Han semakin dahsyat, menyesakkan napas.
Rupanya lwekang yang di pakai Giok Han setahap
demi setahap semakin kuat juga, memaksa keempat
orang lawannya mengepung dia dan si pengemis
dari jarak yang semakin jauh tak kuat untuk berada
terlalu dekat dengan Giok Han dan si pengemis.

862
Kalau tidak mereka menyerang dengan desakandesakan
yang memperkecil garis lingkaran kepungan
mereka, sekarang arena pertempuran itu sudah
terbuka semakin lebar.
Yang kasihan adalah si pengemis di samping Giok
Han, dia merasakan tubuhnya seperti terbakar,
mandi keringat, biarpun bukan dia yang diserang
Giok Han, "api ilmu pukulan telapak tangan " Liongho-
kun" (Pukulan Naga Api) yang dipergunakan Giok
Han benar-benar terlalu dahsyat, membuat sekitar
tempat itu menjadi panas bagaikan terbakar oleh
kobaran api.
Lam-mo, See-mo, Pak-mo dan Tong-mo
berempat jadi heran. Mereka tidak mengerti dalam
usia begitu muda Giok Han sudah memiliki ilmu yang
demikian dahsyat dan sangat ampuh, sehingga
biarpun sinkang mereka sudah terlatih tinggi, namun
tetap saja mereka terdesak mundur oleh hawa panas
yang bagaikan ingin membakar jantung mereka.
Mati-matian keempat tokoh iblis itu memusatkan
sinkang mereka, namun tetap saja mereka gagal
buat berada terlalu dekat dengan Giok Han sebab
setiap kali mereka nekad memaksakan diri untuk
maju lebih dekat menyerang Giok-Han maka
seketika dada mereka sesak dan jantung,mereka
seperti hendak pecah akibat udara panas yang
ditimbulkan dari pukulan telapak tangan kiri Giok
Han.

863
Akhirnya mereka menyerang dari jarak yang
cukup jauh dan sekali-sekali kalau memang ada
kesempatan.
Giok Han seperti berobah menjadi naga yang
mengamuk bcrgulung-gulung dengan pedangnya
dan pukulan-pukulan "Liong-ho-kun-nya. Cu Lie
Seng menyaksikan perobahan yang terjadi di arena
pertempuran jadi mengerutkan alisnya. Dia
mengangkat tangan kanannya, Lui Pek Sam segera
menghampiri, dibisiki beberapa patah oleh Cu Lie
Seng,segera dia pergi ke pasukan tentara kerajaan,
tak lama-kemudian kembali dengan beberapa o-rang
pemanah. Semuanya siap dengan panah mereka
untuk menyerang.
Kaget Giok Han dan si pengemis melihat keadaan
yang sangat mengancam. Biarpun mereka lihai, tapi
menghadapi barisan pemanah tentu saja repot.
Apalagi pengemis im masih berada di bawah tingkat
kepandaian Giok-Han.
Satu-satunya jalan Giok Han dan si-pengemis
memperhebat terjangan untuk menerobos keluar
dari kepungan Pak-mo berempat, tapi selalu gagal.
Biarpun Tong-mo berempat tak tahan oleh hawa
panas, akibat pukulan-pukuIan "Liong-ho-kun" yang
dipergunakan Giok Han, namun mereka tokoh--
tokoh ternama dalam rimba persilatan, kepandaian
mereka sangat tinggi.

864
Mereka memang tak bisa mendekati, namun
untuk menerobos keluar dari kepungan merekapun
tidak mudah, karena Giok Han dan pengemis itu
teiap terkepung didalam lingkaran keempat iblis itu.
Cu Lie Seng sangat cerdik, dia tahu kalau Giok
Han dan pengemis itu dikepung terus oleh Tong-mo
berempat, mereka akan lelah dan nanti setelah
kedua orang ini kecapaian, mereka akan dihujani
anak panah. Cu Lie Seng yakin tak mungkin Giok
Han dan pengemis itu bisa meloloskan diri dari
tangannya.
Pertempuran semakin seru, tapi disaat ramainya
suara sambaran berbagai senjata dan juga angin
pukulan telapak tangan yang mengandung tenaga
dalam ampuh berisi maut, mendadak terdengar
suara tertawa yang melengking di kejauhan, disusul
kemudian mengalun suara suling.
Tak lama kemudian suara suling sudah terdengar
dekat. Giok Han dan si pengemis kaget, karena ini
menunjukkan bahwa orang yarg meniup suling itu
memiliki ginkang (ilmu berlari cepat) yang sangat
tinggi, dalam waktu begitu singkat dari tempat yang
sangat jauh sudah bisa berada didekat tempat ini.
Giok Han jadi gelisah juga, bertambahnya
seorang musuh yang tangguh tentu membuat dia
dan si pengemis jadi tambah repot, Sekarang saja
mereka tetap terkurung oleh Tong-mo berempat
tanpa bisa menerobos keluar dari kepungan.Cu Lie

865
Seng waktu mendengar suara suling hanya
mengkerutkan alisnya, tapi dia tidak
memperlihatkan perasaan apapun di mukanya.
Sampai akhirnya muncul sesosok bayangan putih
yang melangkah lemah gemulai menghampiri Cu Lie
Seng.
"Lie Seng, kembali kau menimbulkan kerusuhan
lagi!" menggumam orang yang baru datang itu,
ternyata tidak lain seorang wanita sangat cantik,
berpakaian serba putih dan langkahnya sangat
ringan sehingga selintas lihat ada seperti melangkah
tanpa menginjak tanah.
Di tangan kanannya tampak memegang suling
yang berukuran cukup panjang, sedangkan tangan
kirinya memeluk sebuah harpa yang berukuran kecil.
"Suhu mereka harus ditangkap, keduanya
pemberontak yang ingin membangkang terhadap
kerajaan!" memberitahukan Cu Lie Seng tanpa
menoleh. Biarpun dia memanggil wanita cantik itu
dengan sebutan guru, dia tak memberi hormat dan
sikapnya tak menghormat sedikitpun juga.
Giok Han sempat melirik melihat orang yang baru
datang ini waktu dia sudah menghindarkan
sambaran bandulan baja Se-mo, Dia jadi heran dan
kaget, karena rasa-nya-dia kenal wanita cantik yang
baru datang ini, tapi dia lupa entah di mana pernah
bertemu dengan wanita ini.

866
Giok Han tak bisa berpikir terlalu lama, ujung
angkin Lam-mo sudah menyambar dengan
mengeluarkan suara melecut yang nyaring, karena
ujung angkin sudah penuh olch tenaga dalam yang
tersalur di situ. Cepat-cepat pedang di tangan
kanannya menabas untuK memotong buntung
angkin itu.
Hanya usaha Giok Han tak berhasil, sebab
tabasan pedangnya seperti memotong sesuatu yang
empuk. Kain angkin itu jadi lunak dan tak bisa
tertabas oleh pedangnya.
Saat itu ujung angkin sudah melilit pedang Giok
Han dan ketika Lam-mo menghentak, pedang
tergetar, karena Lam-mo memang ingin merampas
pedang si pemuda, cuma saja tenaga dalam Giok
Han tidak lemah, dia bisa mempertahankan
pedangnya yang digenggam kuat, terjadi tarik
menarik di antara mereka.
"Cringgs . . . ! Creeennnggg . . . !" Ter-d-mgar
suara nyaring tinggi memekakkan anak telinga,
tajam sekali, karena wanita cantik yang baru datang
itu telah menyimpan sulingnya pada ikat
pinggangnya, kemudian memetik tali-tali harpanya.
Suara harpa itu yang menggema di udara dan
nyaring menyakitkan anak telinga. Seketika Giok
Han teringat seseorang, yang membuat dia tambah
kaget.

867
Bwee-sim-mo-li (iblis Wanita Hati Bu-nga Bwre)
Liok Bie Lan. Ya, Giok Han sekarang ingat, memang
wanita cantik itu tidak lain dari wanita-iblis yang
sangat di takuti oleh orang-orang Kangouw. Waktu
Giok Han masih kecil dan dalam perjalanan bersama
Lam Sie dan Khang Thiam Lu yang hendak
menyelamatkannya, dalam perjalanan mereka
bertemu dengan Bwee-sim-mo-li ini.
Bahkan Bwee-sim-mo-li pernah bermaksud
membasmi dan membunuh keluarga Yang Bu In,
guru Khang Thiam Lu. Sudah beberapa-kali Giok Han
bertemu wanita iblis ini, tak heran kalau tadi dia
merasa kenal dan pernah lihat wanita cantik ini.
Setelah mendengar suara khim (harpa) wanita
cantik itu, barulah dia ingat bahwa wanita cantik itu
tak lain Bwee-sim-mo-li.
Suara harpa Bwee sim-mo-li bukan sembarangan,
karena begitu suara harpa mengalun dengan
dentingan tajam, seketika Giok Han dan si pengemis
merasa dada mereka tergoncang, jantung mereka
berdegup lebib cepat dan yang wajar. Semakin lama
suara harpa itu semakin mengganggu konsentrasi
mereka berdua.
Anehnya, suara harpa itu biarpun dipetik di
tempat itu, namun Pak-mo, Tong-mo, Lam-mo
maupun See-mo tak terganggu oleh suara harpa
tersebut. Hal ini bukan disebabkan lwekang Giok
Han dan si pengemis berada di bawah tingkat
keempat tokoh iblis tersebut, tetapi disebabkan

868
suara harpa itu memang ditujukan kepada Giok Han
dan si pengemis. Ini menunjukkan bahwa lwekang
Bwe-sim-mo-li sudah semakin maju, dibandingkan
beberapa tahun lalu.
Cepat-cepat Giok Han dan si pengemis
memusatkan tenaga dalam untuk membendung
gangguan suara harpa Bwee-sim-mo-li.
Giok Han segera bisa mengatasi ketenangannya
dan suara harpa itu tak mengganggunya lebih jauh.
Namun, si pengemis yang lwekangnya di bawah
tingkat Giok Han jadi kelabakan, sejauh itu dia gagal
untuk menguasai diri gangguan bunyi harpa Bweesim
mo-li. Bahkan, sekarang cara bersilatnya mulai
kacau.
Hal ini membuat Giok- Han gelisah dan bingung,
berkuatir untuk keselamatan si pengemis, karena
kalau semakin terganggu perhatiannya oleh bunyi
harpa, niscaya akhirnya si pengemis mudah
dirubuhkan Tong-mo berempat.
Tapi, diapun sedang dilibat terus oleh pukulanpukulan
berantai Tong-mo dan Pak-mo. Kayu Bokkie
di tangan Tong-mo selalu mengincar berbagai titik
jalan darah Giok Han sedangkan Pak-mo dengan
pedang bergigi menikam berulangkali, membuat
Giok Han sibuk harus mengelak kesana kemari tak
hentinya.

869
di samping mangkok baja sedekah Tong-mo yang
sekali-sekali mengincar kepalanya, Dengan begitu
sulit buat Giok Han memecah permainan untuk,
menolongi si pengemis.
Tapi rupanya pengemis itu cerdik sekali. Dia tahu
dirinya terancam. Mendadak tangan kirinya merogo
saku bajunya, dia melontarkan sesuatu, yang jatuh
di tanah mengeluarkan suara letusan dan gumpaIan
asap yang harum tersebar di sekitar tempat itu. See
mo dan Lam-mo yang tengah mendesaknya kaget
cepat-cepat mereka melompat mundur, demikian
juga dengan Pak-mo dan Tong-mo, mereka
menjauh.
Rupanya asap yang keluar dari benda yang
ditimpukkan si pengemis dan menimbulkan ledakan
itu adalah asap beracun.
Maksud si pengemis agar semua orang di tempat
itu termasuk Cu Lie Seng dan Bwee-sim mo-lie agar
menyingkir oleh asap beracunnya. Dia girang
melinat Lam-mo dan See-mo mundur
mengepungnya, ini merupakan kesempatan baginya
untuk bernapas dan memperbaiki kuda-kudanya
Namu, dia jadi kaget lagi ketika diketahuinya suara
harpa yang sangat mengganggu pendengarannya itu
tetap terdengar, bahkan tampak Bwee-sim-mo-li
sudah lompat ke dekatnya, menggantikan Lam-mo
dan See mo.

870
Sedikitpun Bwee-sim-mo-li tak gentar pada asap
beracun itu. Harpanva tetap dipetiknya, tapi bukan
dengan jari-jari tangannya melainkan
mempergunakan ujung sulingnya. Sulingnya yang
tadi diselipkan di pinggangnya, telah dicabut dan
ujung suling itulah yang telah memetik tali-tali harpa
dan suara harpa itu mendengung-dengung semakin
hebat, ditambah oleh suara aneh akibat benturan
ujung suling pada tali-tali harpa itu.
"Cringggg . . . .! Crengggg . .. ,! Ngungggg
Rasanya si pengemis mau menjerit karena
telinganya semakin tak enak dan hatinya berdebar
keras, seperti juga jantung didalam dadanya akan
meloncat ke luar akibat kuatnya pengaruh suara
harpa tersebut. Dia gagal untuk mengatasi diri
dengan memusatkan tenaga dalamnya, sebab
bukannya jadi tenang, bahkan semakin menggila
godaan yang duimbulkan oleh suara harpa yang
dipetik oleh ujung suling Bwee-sim mo-li.
Dia juga semakin tak tahan ingin menjerit sejadijadinya
atau berteriak sekuat suaranya, untuk
mengurangi tekanan gangguan suara harpa.
Giok Han juga kaget, hatinya berdebar sebentar
kemudian tenang lagi, karena dia bisa memusatkan
lwekangnya menindih tekanan suara suling luar
biasa itu. Tapi, yang membuatnya kaget adalah
kemajuan yang dicapai Bwee-sim-mo-li.

871
Walaupun beberapa tahun yang silam Bwee-sim
mo-li merupakan iblis yang sangat menakutkan,
sampai Khang Thian Lu begitu gemetar mendengar
suara harpanya saja, Kini ternyata jauh lebih lihai
dari dulu-dulu. Apa lagi Giok Han melihat si
pengemis terhuyung-huyung badannya, kuda kuda
kedua kaki sipengemis sudah goyah dan tubuhnya
seperti orang mabok diganggu oleh suara harpa
yang luar biasa itu. Keadaannya sangat gawat, kalau
tak cepat-cepat ditolong, tentu sipengemis bisa
terluka didalam yang tidak enteng.
Bwee-sim-mo li tetap memetik tali-tali harpanya
dengan mempergunakan ujung suling, tapi tubuhnya
tak tinggal diam, sudah melesat ringan berada di
samping si pengemis. Seperti kita ketahui, Bweesim-
mo li sangat ahli mempergunakan racun, maka
ia tak memandang mata pada racun yang digunakan
si pengemis.
Bukannya mundur malah dia maju mendekati si
pengemis menerjang gumpulan asap beracun yang
berasal dari ledakan benda yang tadi ditimpukkan si
pengemis. Waktu itu si pengemis seperti orang lupa
diri, tak mengetanui dirinya terancam bahaya,
semakin dekat Bwee-sim-mo li dengan tempatnya
berada, semakin kuat pengaruh suara harpa
menggodanya.

872
Mendadak dia merasakan di atas kepalanya
berkesiuran angin yang sangat panas, dia menoleh,
saat itulah biarpun pikirannya seperti melayanglayang
dia masih ingat bahaya maut yang sedang
menyambar datang dan berusaha untuk
menggelakkan. Kepalanya ditengadahkan dan
tubuhnya di doyongkan ke belakang dengan gaya
"Tiat-pian-ko (Jembaian Besi) la bisa
menyelamatkan kepalanya dari cengkeraman tangan
Bwee-sim-mo-li tapi ikat kepalanya kena di tarik
oieh jari jari tangan Bwee-sim-mo-li, segera rambut
si pengemis terurai panjang, menutupi pundaknya.
"Ihhh, kau wanita?" teriak Bwee sim-mo-li kaget
campur heran, sehingga untuk sejenak dia lupa
meneruskan serangannya dan juga memetik tali-tali
harpanya dengan ujung suling. Lenyapnya suara
yang sangat mengganggu itu menyebabkan si
pengemis memperoleh kesempatan untuk bernapas,
dia menjerit nyaring dan tubuhnya meloncat cepat
ke belakang, menyusul lagi dengan lompatan
berikutnya, sebentar saja si pengemis telah lenyap
cari tempat itu.
"Sahabat, mau kemana kau ?" Giok Han
melompat mengejar sambil berteriak, sedangkan
Bwee- sim- mo- li tak mengejar, cuma tertawa
sambil memetik tali-tali harpa dengan main
sulingnya. Cu Lie Seng menghampiri dengan muka
cemberut.

873
"Suhu mengapa kau tidak menangkapnya agar
kita bisa menggiringnya pulang, buat memancing
Toat-beng sin-ciang keluar dari tempat
persembunyiannya ?" tanya Cu Lie Seng dengan
sikap tidak senang karena Bwee-sim-mo li tak
mengejar atau berusaha menangkap si pengemis
dan Giok Han. sehingga kedua orang itu
meninggalkan tempat tersebut.
"Tenang saja, anak manis Mengapa harus repot
seperti kebakaran jenggot dan kehilangan hidup ?
Biarkan saja mereka pergi tokh mereda tidak bisa
pergi jauh dari tempat ini. nantipun kita bisa
menangkap mereka !"
Tawar suara Bwee-sim mo li dan tanpa menoleh
pada Cu Lie Seng dia melangkah sambil memetik
lagi tali-tali harpanya dengan ujung sulingnya,
seningga terdengar suara ..Cringggg . . . . !
Crenggggg . . . . ! Ngggungggg . . .
Muka Cu-Lie Seng merah padam berdiri diam di
tempatnya mengawasi Bwee-sim mo-li pergi
meninggalkannya. Memang selalu Bwee-sim-mo-li
membawa adat sendiri tak pernah tunduk padanya.
Kalau saja dia tak ingat bahwa perempuan iblis itu
guru adiknya perempuan Siauw Hoa. Tentu dia
berusaha untuk menundukkan iblis itu. Setelah
berdiam diri sejenak, akhirnya Cu Lie seng
melampiaskan kemendongkolan hatinya dengan
memerintahkan Tong mo berempat dibantu oleh Lui-
Pek Sam dan tentara kerajaan untuk merusak porak

874
porandakan tempat itu, taman bunga dirusak dan
dihancurkan, kemudian barulah mengajak orangorangnya
untuk berlalu.
-------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------
Giok Han melompat cepat keluar dari tempat ini,
taman bunga yang penuh teka-teki. Disekitar tempat
itu sudah gelap karena malam telah larut. Dia
bermaksud menyusul si pengemis, tapi jangankan si
pengemis, sedangkan bayangannya saja tidak
kelihatan.
Dia mempercepat larinya, tetap tak berhasil
mencari pengemis itu.
"Kemana dia pergi?" pikir Giok Han kuatir dan
bingung, dia tetap tak berhasil mencari si pengemis
walaupun sudah berlari cukup jauh. "Oh", semuanya
penuh teka-teki, entah saat dia berpakaian sebagai
pengemis, tapi sebenarnya dia seorang gadis.
Mengapa dia menyamar sebagai pengemis? Apa
yang hendak dilakukan ditempat itu, seakan juga dia
sudah tahu bahwa Cu Lie Seng dan orang orangnya
akan datang ke situ. Lalu, siapa Toat beng-sinciang?"
Semuanya penuh oleh kabut yang sulit untuk
ditembus, teka teki yang sulit untuk-diketahui
dengan jelas. Giok Han tetap berusaha mencari si

875
pengemis, tapi tetap saja tak berhasil biarpun
matahari fajar sudah mulai menampakkan diri di
ufuk Timur. Si pengemis seperti lenyap kedalam
bumi berikut bayangannya.
Keteplak keteplok, keteplak, keteplok,
Si binal berkeliaran di taman bunga,
Bertepuk-tangan girang sambil memetik bunga,
Warna-warni bunga yang disenangi,
Tapi tertawanya diganti tangis menyedihkan,
Tangannya tertusuk duri,
Tak bisa memetik bunga,
Tak bisa bertepuk tangan lagi ..."
Suara nyanyian itu melengking nyaring tapi
merdu, suara seorang gadis yang bernyanyi dengan
riang dan sedang menunggang keledai kecil tapi
gemuk dan dihias bagus sekali.
Sambil bernyanyi tak jarang gadis yang
berpakaian baju serba merah dengan kombinasi
renda kuning itu, bertepuk tangan dengan gembira.
Keledainya dijalankan perlahan-lahan di jalan raya di
kota Yang-cu. Banyak orang mengarahkan matanya
mengawasi tingkah-laku gadis itu, yang usianya

876
mungkin sudah duapuluh tahun lebih. Bukan
pakaiannya ysng merah menyolok menarik
perhatian, juga bukan disebabkan suara nyanyian
gadis itu yang nyaring merdu, tapi yang menarik
perhatian adalah mukanya yang cantik manis,
bernyanyi-nyanyi sambil tersenyum-senyum riang.
Jika dia memandang kearah kiri kanannya dan
melihat beberapa orang laki-laki, tak perduli tua dan
muda, dibalas oleh orang-orang itu dengan sikap
hormat, biarpun mata memandang lantang bersinar
tajam melahap kecantikan muka gadis tersebut.
Semua orang tahu gadis ini puteri bangsawan,
anak pembesar negeri yang tinggi pangkatnya.
Sudah, dua bulan lebih gadis ini berkeliaran di kota
Yang cu dan kehadirannya di tengah-tengah
keramaian kota itu selalu menarik perhatian. Yang
membuat para pemuda di kota itu atau laki-laki tua
lainnya, tak berani menggoda atau mengganggunya,
sebab mereka tahu selama berada di Yang cu gadis
itu tingal dirumah Sam cong-tok.
Siapa yang berani main gila pada gadis itu kalau
memang tidak mau nanti leher dipancung sehingga
kepala terpisah dari leher ? Biarpun banyak pemudapemuda
berandal yang biasanya paling senang
menggoda gadts-gadis cantik yang mereka temukan
di jalan raya, namun terhadap gadis baju merah ini
mereka jadi ciut nyalinya dan tidak sampai terlalu
nekad untuk menggodanya.

877
Kalau gadis itu kebetulan mengangguk, pemudapemuda
berandal itu baru balas mengangguk
dengan sikap hormat tapi mata memandang penuh
rasa kagum pada kecantikan muka gadis itu, yang
seperti cantiknya seorang dewi dari kahyangan !
"KetepIak, keteplok keteplak, keteplok,
Si binal berkeliaran di taman bunga,
Bertepuk tangan girang sambil memetik bunga,
Warna-warni bunga yang disarungi..
Gadis itu terus juga bernyanyi duduk di atas
keledainya, seperti tidak acuh pada pandang mata
yang rakus dari laki-laki dijalan raya itu melahap
kecantikan mukanya, dta tetap riang gembira.
Sampai akhirnya dia menahan jalan keledainya,
melompat turun ringan sekali di depa si penjual
sikua (semangka).
Buah semangka yang didagangkan hijau tua
sudah matang, sebagian telah dipotong sehingga
terlihat isinya yang merah menggiurkan, ditaruh di
atas tumpukan buah semangka lainnya. Gadis itu
mengawasi sejenak pada semangka yang telah
dipotong, kemudian menoleh pada penjual
semangka itu, laki- laki tua mungkin sudah berumur
limapuluh tahun lebih, tapi matanya masih "galak"
mengawasi dan melahap muka si gadis yang
demikian cantik, mulutnya setengah terbuka

878
sehingga sikapnya seperti orang toloI atau sedang
menyesal mengapa dia sudah tua baru melihat
wanita secantik bidadari ini.
"Lopeh, berapa harga sebuah semangkamu ?"
tanya sigadis itu dengan suara yang merdu dan
seperti menunjukkan kemanjaan.
"Ehhhh, eh ... . tidak mahal kouwnio (nona).
Cuma dua setengah ci." tergagap penjual semangka
itu waktu menyahuti, matanya memandang pada
buah-buah semangkanya karena tak kuat buat
menentang sorot mata gadis itu yang tajam luar
biasa seperti bisa menembus sampai ke jantungnya.
"Coba tolong kau potongkan sikua yang ini
menjadi beberapa potong. Aku ingin memakannya di
sini," menunjuk si gadis kepada salah sebuah
semangka yang tampaknya hijau mengkilap sebagai
semangka yang telah masak.
Tidak ayal lagi penjual semangka itu memotong
menjadi delapan potong, gadis itu tak canggung
mengambil sepotong dan memakannya di situ. Si
penjual semangka sampai bengong, juga orangorang
lainnya di sekitar tempat itu, hampir
semuanya mengawasi si gadis dengan terheranheran.
Gadis cantik berpakaian mewah seperti puteri
bangsawan, tapi makan semangka di tengah jalan
tanpa perduli sekitarnya. Asyik sekali dan nikmat

879
cara makan semangka, cepat sekali dua potong
telah dihabiskan. Waktu itu lewat seorang pengemis
kecil berumur mungkin 9 atau 10 tahun, yang
mengawasi heran-tapi tak berani minta sedekah.
Gadis ith mengambil sepotong semangkanya,
disodorkan keiada pengemis itu. "Mau ?"
Biasanya pengemis kecil paling "galak" menerima
dermaan dari siapa saja, yang akan disambutnya
dengan senang. Tapi sekarang entah kenapa dia jadi
bengong saja tak mau menerima semangka yang
disodorkan gadis itu.
"Tidak doyan ?" tanya si gadis itu lagi. "Atau kau
merasa sepotong ini masih kurang dan ingin satu
buah semangka ? Nahhh . . . . ambillah ini" Si gadis
telah menaruh sepotong semangka yang tadi
disodorkan kepada pengemis kecil itu, dia
mengambil sebuah semangka yang masih bulat
utuh, disodorkan kepada pengemis itu.
Tetap si pengemis tidak berani menerima
pemberian ini, dia cuma berdiri mengawasi bengong
kepada gadis ini. Si gadis tersenyum, dia menaruh
semangka itu di tangan si pengemis. "Ayo ambil,
jangan malu-malu, tampaknya kau mengiler melihat
semangka-semangka yang telah masak ini."
Si pengemis cilik seperti baru bangun dari
mimpinya, dia berlutut memanggut-manggutkan
kepalanya tetap memeluki semangka yang cukup
besar itu. "Terima kasih siocia. Terinta kasih, siocia."

880
Berulangkali pengemis kecil itu mengucapkan terima
kasih, kemudian bangun dan memutar tubuhnya lari
pergi dari tempat itu.
Semua orang yang menyaksikan kejadian ini
cuma mengawasi heran dan merasa iri pada
pengemis kecil itu. Betapa senangnya pengemis kecil
itu menerima hadiah semangka dari seorang gadis
secantik itu, menerima langsung dari pemberian jarijari
tangan yang lentik bagus bentuknya, diiringi
dengan senyum yang penuh persahabatan.
Gadis itu cuma tersenyum melihat kepergian
pengemis kecil itu, kemudian membayar lima ci pada
penjual semangka, naik ke keledainya yang
dijalankan lagi perlahan-lahan.
Kouwnio . . . ! Kouwnio - . - !" memanggilmanggil
penjual semangka itu. Si gadis menoleh.
"Sisa beberapa potong seniangkamu apakah tak
mau dibawa, kouwnio ?"
Gadis iiu menggeleng tersenyum. "Tidak lopeh,
berikan saja kepada mereka yang mau." Kemudian
gadis itu menjalankan keledainya tanpa menoleh
lagi, dia bernyanyi lagi dengan sikap yang riang,
suara plakkkk ploookkk . . . plakkk .... plokkk kaki
keledai yang tengah jalan perlahan-lahan di jalan
raya seperti ganti musik mengiringi nyanyian si
gadis baju merah tersebut.

881
Jilid ke 20
Belum jauh gadis itu menjalankan keledainya.
mendadak lompat seseorang ke tengah jalan
menghalangi jalan maju keledai si gadis, kedua
tangannya memegang tali les keledai. Oang itu
bertubuh tinggi besar, mukanya brewok lebat,
matanya memancarkan kekejaman hatinya.
"Anak manis, tampaknya kau memiliki banyak
uang, aku Si Kadal Tua Lo Pi sedang kesulitan uang,
anakku sedang sakit dan harap nona berbaik hati
untuk membagi uang kepadaku."
Dia bicara dengan suara yang kaku dan nyengirnyengir
mengancam, matanya yang menunjukkan
kekejaman hatinyapun memandang dengan sikap
yang sangat kurangajar sekali.
Si gadis baju merah duduk di atas keledainya
tenang-tenang, sejak tadi dia bersikap gembira dan
riang, baru sekarang alisnya mengkerut sedikit. Dia
tidak senang atas sikap lancang si Kadal Tua Lo Pi,
tapi dia tak marah.
"Berapa usia anakmu, paman Lo Pi ? Sudan
dibawa ke tabib?" tanyanya sabar.
"Belum. Aku tidak punya uang. Tadi kulihat kau
membeli semangka tanpa tawar dan kemudian
menghadiahkan sebuah semangka buat pengemis
busuk cilik itu, maka kupikir nona tentu banyak uang

882
dan aku minta agar kau mau membagi uang
kepadaku. Tentunya nona manis tak keberatan,
bukan?"
Si Kadal Tua Lo Pi sebetulnya buaya darat di kota
itu, dia jagoan di kota tersebut karena memiliki
sedikit ilmu silat. Setiap hari malang melintang di
kota itu memeras pemilik-pemilik toko dan orang
orang kaya.
Sedangkan pihak kepolisian tidak berdaya
berurusan dengannya, karena memang si Kadal tua
Lo Pi mempunyai anak buah sangat banyak
jumlahnya, jika dia ditangkap para anak buahnya
selalu menimbulkan kerusuhan di kota tersebut.
Memang sebelumnya si Kadal Tua Lo Pi pernah
ditahan polisi. tapi berakibatnya pengacauan yang
menimbulkan kerusuhan buat penduduk kora Yangcu,
banyak warga kota itu yang terluka oleh sepak
terjang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, maka akhirnya
pihak yang berwajib melepaskan Lo Pi dari tahanan.
Semakin lama memang Lo Pi semakin berani dan
kurang ajar. sehingga banyak penduduk kota itu
yang menjadi korban pemerasannya yang semakin
terang-terangan. Kebetulan tadi dia berada di situ
dan menyaksikan apa yang dilakukan gadis itu,
maka pikirnya gadis cantik ini pasti korban yarg
empuk sekali untuk diperas. Banyak perhiasan yang
dipakai gadis itu yang nilainya tentu lebih dari ribuan
tail perak.

883
"Kasihan, sudah berapa hari anakmu itu sakit,
Lopeh?" tanya gadis itu sambil mero-go kantong
uangnya.
"Sudah . . . seminggu," jawab si Kadal Tua Lo Pi,
m-itanya melirik ke arah kantong uang gadis itu,
isinya tentu padat dan penuh karena tampaknya
kantong uang itu cukup berat, Tangannya jadi gatal,
mendadak dia menyambar merampas kantong uang
itu. Si gadis tak menyangka memandang heran pada
Lo Pi, yang waktu itu sudah berhasil mengambil
kantong uang si gadis dan melihat isi nya.
Benar saja, isinya penuh sekali dengan uang uang
logam emas dan perak. Muka si Kadal Tua jadi
berseri-seri kegirangan. "Kukira sudah cukup uang
ini, nona cantik. Semoga kau tambah cantik." Dia
memasukkan kantong uang itu ke dalam sakunya.
Alis si gadis naik, dia mendongkol untuk
kelancangan si Kadal Tua. Tadi dia tak menyangka si
Kadal Tua Lo Pi akan bertindak seperti itu maka
kantong uangnya kena dirampas.
Dilihatnya Lo Pi melangkih meninggalkannya
sambil tertawa bergelak-gelak kegirangan. Orangorang
yang ada di tepi jalan raya yang menyaksikan
kejadian tersebut tak seorangpun berani maju untuk
menegur si Kadal Tua Lo Pi, mereka diam saja
karena tahu penyakit kalau berurusan deugan si
Kadal Tua yang memang menjagoi kota itu dengan
ilmu silatnya.

884
"Hei, mau kau bawa kemana uangku?" bentak
gadis itu, tubuhnya ringan turun dari keledainya.
Tangannya tahu-tahu diulur menjambak pundak Lo
Pi. Keras cengkeram jari-jari tangannya, sebab Lo Pi
tahu-tahu merasakan pundaknya sangat sakit,
membuat dia meringis. Belum lagi Lo Pi menyadari
apa yang terjadi, tubuhnya tiba-tiba melayang di
tengah udara dan terbanting keras sekali di jalan
raya sampai debu mengepul tinggi, Lo Pi
berkelojotan kesakitan pinggulnya menghantam batu
jalan, matanya sampai mendelik seperti biji matanya
itu mau meloncat keluar sakitnya bukan main
terbanting seperti itu, pinggangnya juga seperti mau
patah.
Tapi dia satu jagoan, dia cepat bisa bangun
berdiri biarpun mukanya meringis menahan sakit,
mengawasi bengis kepada si gadis. Mendadak dia
bengong heran, karena si gadis dilihatnya berdiri
tenang di tempatnya, sama sekali tidak berusaha
untuk melarikan diri. Mulutnya tersenyum-senyum
dan mengawasi si kadal Tua seakan anak-anak yang
merasa senang serta bangga karena menang main
kelereng.
Ditangannya tampak kantong uang nya yang
dilempar-lempar rendah dan ditangkap berulang
kali.
Peristiwa itu terjadi hanya beberapa detik saja,
tadi gadis itu selain bisa membanting tubuh si Kadal
Tua yang tinggi besar dan sangat berat, juga

885
tangannya begitu cepat bisa mengambil kembali
kantong uang nya dari saku baju si Kadal Tua, dalam
sekejap mata kantong uang itu sudah pindah tangan
lagi tanpa ada seorangpun yang bisa menyaksikan
dengan cara bagaimana gadis itu merogoh saku baju
si Kadal Tua mengambil kantong uangnya.
Orang-orang yang berkumpul disitu lupa dan
bersorak ramai, tapi waktu Lo Pi mengawasi
sekeliling dengan maia mendelik kelam, seketika
suara sorak-sorai itu lenyap, sunyi senyap, kuncup
hati orang-orang yang berkerumun di tepi jalan
menyaksikan keadaan itu.
Kemudian dengan langkah lebar Lo pi
menghampiri gadis cantik itu dengan sikap
mengancam, membuat semua orang yang ada di
situ sangat kuatir buat keselamatan si gadis baju
merah.
"Budak hina, rupanya kau mau mampus kuhajar,
ya?! "memaki Lo Pi siap untuk memukul si gadis.
Gadis baju merah itu tetap berdiri tenang di
tempatnya, sedikitpun tidak gentar oleh gertakan Lo
Pi, malah mulutnya tetap tersenyum-senyum. "Masih
kurang cuma dibanting seperti tadi dan minta
tambah lagi?", tanyanya mengejek.
"Kalau kau menginginkan uangku. beritahukan
saja tadi padaku, akan kuberikan. Tidak perlu kau
rampas dengan sikap lancang kurang-ajar seperti

886
tadi! Sekarang, biarpun kau menginginkan satu ci,
tak akan kuberikan, walaupun kau berlutut sambil
menangis air mata darah di kakiku!"
"Budak hina beritahukan namamu! "bentak Lo Pi.
..Sebelum mampus, dengarlah baik-baik siapa aku,
agar nanti di depan Gam-lo-ong kau bisa
memberitahukan siapa yang mengirim kau ke
neraka! Aku si Kadal Tua Lo Pi adalah raja di kota
ini, tak seorangpun berani membantah atau
membangkang terhadgp setiap perintah dan
keinginanku. Kau berani berlaku kurang ajar
menantang di depanku- apakah sudah punya tiga
kepala dan enam tangan?"
"Hemmm, melihat kelakuan buruk seperti kau ini
jelas kau bukan manusia baik, setidak-tidaknya pasti
kau manusia busuk yang jahat Apa yang kau
ceritakan tadi bahwa anakmu sakit pasti cerita
bohong saja. Justeru sekarang kau yang harus
mendengar baik-baik namaku, agar nanti kau tidak
penasaran Aku she Cu, namaku Bunga Kecil Cukup
jelas? Cu Siauw Hoa! Nah, ingat baik baik nama itu
kalau kelak kau ingin melakukan kejahatan lagi,
agar lebih hati-hati tidak bertindak ceroboh seperti
tadi"
Si Kadal Tua Lo Pi yang selalu kata-katanya
ditanggapinya oleh gadis itu semakin gusar saja,
tubuhnya menggigil menahan marah. Selama
menjagoi di kota Yang-cu belum pernah ada orang
yang berani memakinya, biasanya dia yang seenak

887
perutnya memaki siapa saja yang tak disenanginya,
atau kalau perlu dia akan menghajarnya dan
menyiksa orang yang jadi korbannya.
Tapi sekarang gadis muda ini berani
menantangnya, mengejeknya malah. Dia mendelik
sambil melangkah maju, mulutnya mempedengarkan
tertawa bergelak-gelak mengandung kekejaman dan
ancaman yang menakutkan. Waktu sampai di depan
si gadis, tangan kanannya di-ayun akan memukul
muka yang putih mulus itu, tangan kirinya
menjambak payudara si gadis, dada yang begitu
membusung padat berisi, maksudnya ingin berlaku
kurangajar.
Si Kadal Tua Lo Pi sekali ini keliru dengan
tindakannya. Masih bagus kalau tadi dia tidak
menyerang dengan tangan kirinya ke dada si gadis
yang membusung padat berisi itu, cukup ingin
menampar muka gadis itu, mungkin dia tak akan
mengalami kecelakaan. Sekarang justeru jadi lain.
Gadis ini mendongkol bukan main melihat
keceriwisan si Kadal Tua. Tahu- tahu tubuh si gadis
lenyap dari depan si Kadal Tua, karena loncatannya
sangat gesit sukar dilihat jelas, hanya gumpalan
merah saja. Tangan kanan Lo Pi yang memukul
mukanya dielakkan, tangan kanan itu dibiarkan
lewat disamping mukanya, kemudian cepat tangan
kiri si Kadal Tua Lo Pi yang mau berbuat kurang ajar
telah dicengkeram, terdengar suara "krakkkkk
krakkkkk ..."* disusul oleh jerit kesakitan si Kadal
Tua Lo Pi, bahkan kemudian tubuhnya terbang ke

888
tengah udara, tak bisa ditahan lagi kebanting kuat di
batu jalan raya, menggelepar-gelepar berkelojotan
dengan mata mendelik lidah terjulur keluar seperti
anjing yang kecapaian.
Matanya ber-kunang-kunang dan menjadi gelap
tak bisa melihat apapun, ditambah menderita
kesakitan akibat tulang siku tangannya yang kiri
telah patah!
Gadis baju merah itu masih berdiri tenang di
tempatnya, seperti tidak terjadi sesuatu di situ,
hanya tangan kanannya dengan jari-jari yang lentik
bentuknya serta runcirg mengebut-ngebut perlahan
bajunya, yang mungkin ditempel debu. Perlahanlahan
dia menghampiri keledainya tidak perduli pada
si Kadal Tua Lo Pi lagi, melompat naik ke atas
keledainya.
Si Kadal Tua Lo Pi kesakitan dan penasaran, dia
belum kapok. Kalau memang dia seorang yang
mudah menyerah pada kesulitan, tentu tak mungkin
bisa menempatkan dirinya jadi jagoan di kota Yang
cu.
Biarpun matanya masih kunang-kunang gelap,
tangannya sakit bukan main, dia masih memaksakan
diri untuk bangun. Tubuhnya bergoyang-goyang
akan jatuh, tapi mati-matian dia berusaha menahan
dengan kuda-kuda ke dua kakinya agar tidak rubuh
lagi. Semua orang yang berkumpul di sekitar tempat
ini hanya menyaksikan berdiam diri, mereka takut

889
untuk bersorak atau juga mengejek sang jagoan
yang baru saja dipecundangi gadis cantik manis
yang semula tak disangka orang memiliki ilmu yang
sam at tinggi.
Si Kadal Tua Lo Pi berteriak nyaring. "Mengapa
kalian diam saja, goblok ? Hayo-mampuskan budak
hina itu! Cingcang tubuhnya hancur lumat jadi bubur
!" Suara Lo Pi menggema di sekitar tempat itu,
karena dia berteriak sekuat suaranya.
Menyusul itu belasan sosok bayangan melompat
ke tengah jalan raya menghalang di depan keledai si
gadis. Di tangan masing-masing mencekal berbagai
senjata tajam, seperti pedang, golok, tongkat. ioya
pendek ataupun trisula. Semuanya laki-laki bertubuh
tinggi besar dan memiliki tampang muka bukan
orang baik-baik.
Rupanya mereka anak buah Si Kadal Tua Lo Pi,
yang sejak tadi cuma berdiri bengong melihat
pemimpin mereka dipecundangi. Memang sebagai
seorang jagoan Lo Pi mempunyai banyak sekali anak
buah, yang selalu berkeliaran bersamanya, berada
tak jauh dari Si Kadal Tua Lo Pi, Begitu dia berteriak
menganjurkan untuk meT cingcang tubuh gadis
cantik manis itu, segera anak buahnya yang sejak
tadi sudah ada di situ berduyun-duyun lompat buat
menghalangi kepergian gadis itu, yang tak lain Cu
Siauw Hoa. adik kandung Cu Lie Seng, puteri
kesayangan Cu-kongkong, yang kebetulan berada di

890
Yang-cu karena ikut kakaknya, Cu Lie Seng,
menginap di rumah Sam-cong-tok.
Jika Cu Lie Seng selalu sibuk mengurusi orangorang
Kangouw dengan para anak buahnya yang
lihai-lihai, justeru Siauw,Hoa setiap hari
menghabiskan waktunya untuk main-main, pergi ke
tempat-tempat yang indah pemandangan alamnya,
memetik bunga yang menarik hati atau juga
melihat-lihat keadaan kota itu.
Siapa sangka, hari ini justeru ia dihalangi oleh si
Kadal Tua Lo Pi, yang mau merampas kantong
uangnya. Siauw Hoa pikir cukup memberi pelajaran
pahit pada Lo Pi dengan membantingnya satu kali.
Siapa tahu Lo Pi tidak kenal kapok dan terlalu nekad,
malah ingin berbuat karang ajar untuk meremas
dadanya yang membusung padat dengan tangan
kirinya.
Naik darah Siauw Hoa, jadi marah campur benci,
itulah sebabnya dia turun tangan langsung
mematahkan tangan kiri si Kadal Tua Lo Pi. Tidak
disangkanya, si Kadal Tua Lo Pi mempunyai anak
buah banyak jumlahnya, sekarang saja belasan
orang anak buah jagoan itu sudah mengurungnya
dengan senjata siap tergenggam di tangan masingmasing
untuk menyerangnya.
Siauw Hoa menahan keledainya, duduk di atas
tunggangannya tenang sekali, matanya menyapu
mengawasi satu persatu anak buah si Kadal Tua Lo

891
Pi. Tak ada seorangpun di antara anak buah Lo Pi
yang memiliki muka yang baik, semuanya tampang
jahat dan bengis Juga sinar mata mereka rakus
sekali seperti mau melahap bulat-bulat keindahan
bentuk tubuh maupun kecantikan wajah Siauw Hoa.
Cuma saja tadi dia sudah menghajar Lo Pi, anak
buah jagoan itu tidak berani ceroboh untuk berlaku
kurang ajar padanya, Mengandalkan jumlah banyak
anak buah Lo Pi yakin bisa menangkap hidup-hidup
Siauw Hoa, yang nanti akan mereka giliran untuk
memperkosanya. Mereka merasa sayang kalau harus
membunuh wanita secantik Siauw Hoa.
Tenang sekali Siauw Hoa turun dari keledainya,
dia kuatir kalau tetap duduk di keledainya orangorang
Lo Pi menyerangnya, sehingga melukai
keledainya. Untuk dirinya memang tidak perlu
gentar, karena yakin tak mungkin anak buah si
Kadal Tua Lo Pi bisa melukainya, berapa banyakpun
jumlah mereka. Yang dikuatirkan Siauw Hoa adalah
keselamatan keledai tunggangannya.
"Apa lagi yang kalian ingini dariku?" tanya Siauw
Hoa tenang dan sabar, sedikitpun tidak tampak rasa
takut. "Jangan cari kesulitan untuk kalian. Bubarlah
!"
Anak buah si Kadal Tua Lo Pi tampak saling
melirik di antara kawannya dan tertawa-tawa.
Mereka anggap perkataan si gadis lucu sekali,
karena janganlah menghadapi belasan orang,

892
melawan empat atau lima orang dari rombongan
mereka si gadis pasti sudah dapat dibekuk.
Biarpun gadis ini memiliki kepandaian tinggi,
tetap saja dia wanita, yang tenaganya terbatas.
Dikeroyok demikian banyak orang, biarpun si gadis
ditambah lagi sepasang tangan, tidak nanti bisa
menghadapi rombongan mereka. Anak buah si Kadal
Toa Lo Pi jadi semakin berani, sikap mereka mulai
kurang ajar cengar-cengir di depan si gadis.
Si Kadal Tua Lo Pi sakit hati tangannya di
patahkan Siauw Hoa, jadi gusar dan sangat marah
melihat anak buahnya semua cengar-cengir seperti
kuda yang diberi bawang. "Mengapa kalian tidak
turun tangan hanya bengong seperti orang tolol ?"
Teriak si Kadal Tua mendongkol, suaranya bengis
menakutkan.
Anak buah Lo Pi kaget, semuanya seperti baru
ingat tugas tugas mereka. Tidak buang waktu lagi
karena telah dibentak bengis seperti itu oleh Lo Pi,
mereka meloncat maju kedepan, menusuk,
menikam, membacok, menotok dan memukul
dengan toya-pedang, golok dan macam- macam
senjata tajam lainnya yang menghujani Siauw Hoa.
Penduduk kota itu yang menyaksikan keadaan
seperti ini jidi menjerit kaget, mereka sangat kuatir
keselamatan gadis baja merah ini, juga merasa ngeri
dan takut melihat senjata-senjata tajam itu sudah
menyambar menghujani tubuh si gadis.

893
Mereka tak bisa membayangkan, entah
bagaimana jadinya kalau senjata-senjata itu berhasil
menyerang sasarannya, pasti tubuh si gadis benar
benar hancur menjadi bubur dicingcang oleh
senjata-senjata tersebut.
Gadis baju merah ini tenang-tenang ditempatnya,
dia menanti senjata-senjata lawanlawannya
datang dekat baru mau menghindarkan
dan menangkisnya. Namun, belum lagi Siauw Hoa
menangkis atau mengelakkan senjata lawan, tahu
tahu berkelebat sesosok bayangan, disusul dengan
suara berkerontangan karena senjata-senjata anak
buah si Kadal Tua Lo Pi sudah pindah tangan
dirampas oleh sosok bayangan yang baru datang.
Semuanya melompat mundur diiringi teriakan
kaget campur marah, Mereka akhirnya melihat di
tempat itu sudah tambah seorang pemuda berumur
tidak lebih dari 20 tahun, mulanya tampan, di
tangannya memegang belasan batang senjata
mereka, yang tadi telah dirampasnya.
Siauw Hoa juga kaget dan heran, dia tidak kenal
pemuda yang menolonginya. Di-awasinya dengan
heran, tapi gadis ini jadi malu karena pemuda itupun
sedang mengawasinya dan malah mengangguk
waktu Siauw Hoa memandang kepadanya.
Entah mengapa mendadak saja hati Siauw Hoa
jadi berdebar-debar. Dia tahu pemuda ini tentunya
menolonginya karena melihat dia dikepung oleh

894
belasan orang yang hendak mencelakainya, namun
maksud baik pemuda ini sempat membuat hati si
gadis berdebar-debar. Biasanya orang
menghormatinya, apa yang dilakukan untuk
bermuka-muka. Berbeda dengan yang dilakukan
pemuda tak dikenal ini. sehingga membuat si gadis
merasakan suatu debaran hati yang yang lain, apa
lagi memang pemuda inipun tampak gagah.
"Bocah ingusan, kau berani kurang ajar pada
kami dan mau mampus rupanya?!" Teriak beberapa
orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, bengis
mengandung ancaman untuk menyerang.
"Cincang dua-duanya !" Si Kadal Tua Lo Pi
memberikan perintah, karena dilihatnya semua anak
buahnya cuma bengong-bengong saja tidak segera
menyerang.
Mendapat dorongan dari pemimpin mereka, anak
buah si Kadal Tua Lo Pi tidak berani main lambatlambatan
lagi, mereka segera menyerbu kepada si
pemuda tampan yang sudah merampas senjata
mereka, sehingga pemuda itupun tidak sempat
untuk bicara sepatah dua patah kata dengan Siauw
Hoa, sebab dia diserbu belasan orang anak buah si
Kadal Tua Lo Pi. Belasan batang senjata tajam yang
tadi dirampasnya, telah dilemparkan ke samping,
dibuang ko tepi jalan, sedangkan kedua tangannya
yang sudah kosong dipergunakan untuk menjambak
kesana - kemari cepat luar biasa, tahu-tahu tubuhtubuh
beterbangan.

895
Anak buah si Kadal Tua Lo Pi satu persatu
dilemparkan ke tengah udara, jatuh terbanting di
jalan raya tidak bisa bergerak lagi, pingsan tak
sadarkan diri ! Singkat sekali waktu yang di
pergunakan pemuda itu, karena belasan orang itu
seketika telah dilamparkan semua, jatuh pingsan.
Yang masih bernasib bagus terbanting dan tidak
pingsan, segera angkat kaki, kabur, biarpun Lo Pi ,
berteriak-teriak menganjurkan menyerang lagi.
Pemuda itu menoleh kepada Siauw Hoa,
tersenyum penuh persahabatan. "Nona, kau tidak
apa-apa ?"
Siauw Hoa waktu itu tengah berdiri keheranan
melihat ketangkasan pemuda ini.
Melihat gerakannya yang sangat gesit dan
tangannya yang lincah, pemuda ini pasti memiliki
ilmu yang sangat tinggi. Tadi dia begitu mudah
merampas belasan senjata dari belasan orang anak
buah si Kadal Tua Lo Pi. sebagian besar sampai
pingsan tak sadarkan diri.
Di dalam hati Siauw Hoa kagum sekali pada
ketangkasan pemuda itu, juga mengakui bahwa
kepandaiannya tidak sehebat pemuda ini. Mendadak
pemuda itu menoleh padanya menanyakan
keadaannya, muka si gadis jadi berobah merah, dia
menggeleng sambil mengawasi dengan perasaan
berterima kasih.

896
Sebetulnya dia memang tidak gentar menghadapi
belasan orang anak buah si Kadal Tua Lo Pi, karena
dia yakin bisa mengatasi mereka dengan mudah.
Tidak urung pertolongan pemuda ini membuat dia
berterima kasih. Apalagi tampaknya pemuda ini
sangat menguatirkan keselamatannya, maka ia
semakin berterima kasih.
Mengetahui gadis itu tidak mengalami
kekurangan apa-apa. si pemuda jadi tersenyum
senang. Tahu-tahu tubuhnya meloncat gesit sekali
dan sudah berada di samping si Kadal Tua Lo Pi.
Tidak bicara lagi pemuda itu sudah memukul dada
Lo Pi, sehingga terpental keras terpelanting
bergulingan di jalan raya dengan mata mendelik,
mulut terbuka dan lidah terjulur keluar, reban tak
bergerak lagi, pingsan tak sadarkan diri.
"Orang-orang jahat tidak tahu malu, hanya berani
menghina wanita saja !" menggumam pemuda itu
sambil memutar lubah tidak perduli lagi pada Lo Pi
dari anak buahnya yang menggeletak pingsan
tercecer di jalan raya, dia melangkah menghampiri
Siauw Hoa. "Sayang aku tiba di tempat ini terlambat
sehingga nona dikagetkan oleh orang-orang jahat
tidak tahu malu ini. Apakah tidak ada sesuatu yang
kurang, nona ?"
Siauw Hoa merangkapkan tangan memberi
hormat pada pemuda itu. "Terima kasih atas
pertolonganmu. Apakah boleh kuketahui tuan
penolongku?" Polos dan lancar cara bicara maupun

897
sikap Siauw Hoa, sikap seorang wanita yang biasa
berkelana di dalam kalangan kangouw, tidak malumalu
atau canggung seperti wanita-wanita umumnya
yang tak mempelajari ilmu silat.
"Aku Giok Han," memberitahukan pemuda itu,
yang memang tak lain Giok Han, kebetulan dia lewat
di kota Yang-cu setelah tak berhasil mencari si
pengemis yang ternyata seorang gadis. Sedang
melewati jalan raya itu dilihatnya ramai-ramai orang
berkerumun, maka segera dihampirinya. Begitu
melihat belasan orang mengurung seorang gadis, di
tangan belasan orang iu juga masing-masing
tergenggam senjata tajam yang siap dipergunakan.
Darah Giok Han seketika meluap, apalagi
memang dilihatnya belasan orang itu yang
semuanya bertampang bukan orang baik-baik,
sudah meloncat maju untuk mencelakai gadis ysng
sangat cantik manis itu. Tidak buang waktu lagi Giok
Han meloncat untuk menolongi gadis itu. "Bolehkah
aku mengerahui nama nona dan mengapa mereka
hendak mengganggumu?"
"Aku Cu Siauw Hoa," menyahuti Siauw Hoa. "Aku
sendiri tak tahu mengapa mereka hendak
menggangguku. Tadinya, dia si Kadal Tua Lo Pi
hendak merampas kantong uangku, tapi dia sudah
kuhajar dan mungkin penasaran dia memanggil anak
buahnya agar mencincang hancur tubuhku menjadi
bubur! "

898
"Manusia jahat...." mengguman Giok Han
mendongkol dan melirik pada si Kadal Tua Lo Pi
yang masih menggeletak pingsan dengan mata
mendelik dan lidah terjulur. Badannya diam tidak
berkelojotan seperti tadi. Kemudian Giok Han baru
menoleh lagi pada Siauw Hoa, diam-diam hatinya
memuji kecantikan wajah gadis di depannya. Jarang
ada gadis jang secantik Siauw Hoa. "Nona mau pergi
kemana?"
"Aku sedang melihat-lihat keramaian kota. Untuk
sementara aku memang tinggal di kota ini
menumpang di rumah seorang sahabat ayahku. Kau
sendiri mau pergi kemana?" balik bertanya Siauw
Hoa, senang dia ber-cakap-cakap dengan pemuda
yang sopan tapi jujur dan polos cara bicaranya, tidak
bermuka-muka, bicara wajar dan sikapnya biasa
saja.
"Aku baru tiba di kota ini dan kebetulan melihat
kau ingin diganggu oleh orang-orang jahat itu, Cukouwnio..."
"Dan kau segera turun tangan menolongiku,
Giok-kongcu?" memotong Siauw Hoa sambil teriawa.
Giok Han juga tertawa. Walaupun mereka baru
berkenalan, tapi mereka bisa bercakap cakap sangat
akrab, seperti sahabat iama tak perduli orang-orang
yang berkerumun tengah mengawasi mereka.
"Oya. tadi kau bilang baru tiba di kota ini dan
belum lagi sempat kemana mana karena harus

899
menolongiku, maka aku yakin kau pasti melupakan
sesuatu!"
"Melupakan sesuatu? Apa maksud Cu-kouwnio?"
Heran dan tidak mengerti pemuda ini atas perkataan
Siaw Hoa.
"Kau tidak ingat? Coba pikir-pikir, apa yang
sudah kau lupakan? Liharlah matahari suduh naik
tinggi sekali ..."
GioK Han menengok ke atas, dia melihat
matahari memang sudah tinggi, hari telah mendekati
lohor. Tapi dia tidak mengerti apa maksud gadis ini
dengan memberitahukan padanya tentang matahari
yang sudah naik tinggi seperti itu. Apa yaag telah
dilupakannya?
"Kau tidak ingat juga?" tanya Siauw Hoa sambil
tertawa geli melihat muka Giok Han seperti
kebingungan.
Giok Han menggeleng. "Benar. Aku tak tahu apa
yang dimaksudkan Cu-kouwnio." jawabnya.
"Perutmu! Bukankah kau sekarang belum makan?
Bukankah tadi kau bilang baru saja tiba di kota ini
dan melihat aku ingin diganggu orang jahat,
sehingga kau cepat-cepat turun tangan
menolongiku. Pasti kau belum sempat mencari
rumah penginapan, juga belum makan!"

900
Giok Han tertawa keras mendengar keterangan si
gadis, benar-benar jenaka gadis ini. Tak salah
dugaan gadis itu dia memang belum makan. "Tidak
salah, Cu kounio. Aku memang belum makan,"
katanya polos. "Dan kau tentunya sudah lapar."
"Aku ingin mentraktir kau makan, karena tadi kau
telah menolongiku."
"Terima kasih, jangan merepotkan nona."
"Jangan menolak ini sebagai pernyataan terima
kasihku, juga untuk mengikat tali persahabatan.
Kalau kau menolak kutraktir, berarti kau tak mau
bersahabat denganku."
Giok Han tahu tak mungkin menolak, karena bisa
menyinggung perasaan si gadis. Dia mengangguk
"Baiklah, kita makan di mana ?"
"Ayo ikut denganku, akan kujamu kau dengan
makanan yang terlezat di kota ini!" Siauw Hoa
menuntun keledainya, Giok Han ikut di belakangnya
dengan hati bimbang. Gadis ini baru dikenalnya, tapi
ia demikian baik hati, sampai persoalan makan saja
diperhatikannya. Sebetulnya Giok Han merasa agak
canggung diktraktir gadis itu, diapun tak berdaya
untuk menolaknya.
Siauw Hoa mengajak si pemuda ke rumah makan
yang memasang merek "Fang hsiang-louw", sebuah
ruman makan bertingkat dua dan ramai oleh

901
pengunjungnya Di sana tampak banyak kuda yang
ditambat pada depan rumah makan itu dengan
seorang pelayan siap menyambut tamu.
Keledai Siauw Hoa telah disambut oleh pelayan
itu, yang juga mempersilahkan mereka masuk.
Gadis ini berpakaian mewah seperti puteri dan
keluarga bangsawan, tak mengherankan kalau
pelayan itu bersikap sangat menghormat.
Bukankah di dunia ini segalanya memang selalu
dinilai untuk awalnya dari luar. Jika berpakaian
mentereng dan mewah, tentu akan dilayani oleh
setiap orang dengan hormat, baik pelayan rumah
makan, rumah penginapan, ataupun pelayanpelayan
toko, pasti akan melayani mereka, yang
lebih diutamakan dari mereka yang berpakaian
sederhana ?
Ini sudah hukum dunia, cuma Giok Han merasa
muak melihat sikap pelayan yang terlalu
menghormat dengan dibuat-buat, demikian juga dua
orang pelayan di ruang dalam yang menyambut
mereka Giok Han berpakaian sederhana, tani ia
berjalan dengan nona cantik berpakaian mentereng
ini. iapun dihormat dengan sikap yang berlebihan
dari pelayan-pelayan itu.
Di dalam ruang makan penuh oleh tamu, suara
mereka juga berisik. Giok Han dnn Siauw Hoa
dipersilahkan duduk di sebuah meja yang masih
kosong. Si gadis segera memesan bermacamKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
902
macam makanan. Lidah ayam cah, kaki ayam tim
kolesom, kodok goreng cara Souwciu, ikan gurame
masak jamur..." banyak sekali makanan yang
dipesan si gadis, semuanya merupakan makanan
yang mahal-mahal dan belum pernah didengar Giok
Han sebelumnya.
"Rupanya kau ahli makan Cukouwnio," kata Giok
Han sambil tertawa setelah si pelayan pergi
tergopoh-gopoh untuk mempersiapkan pesanannya
yang serba istimewa ini.
"Kau seperti hafal dan kenal semua makanan
yang istimewa, rupanya setiap hari memang kau
bersantap dengan sayur-sayur seperti itu."
"Kau tahu tidah ayam cah merupakan makanan
kegemaranku, sedangkan kodok goreng cara
Souwcu makanan yang paling lezat di dunia, tak ada
duanya. Nanti kau boleh buktikan." Siauw Hoa
mengerling manis, tersenyum memikat dan bibirnya
yang tipis kecil itu tersenyum menambah cantik
gadis ini.
"Aku belum pernah mendengar nama-nama
makanan yang kau pesan tadi, apa lagi
memakannya. Karenanya, aku tak tahu bagaimana
rasa makanan itu." Giok Han polos-mengakui. "Tapi
kukira, semua makanan yang kau pesan itu pasti
mahal sekali."

903
"Soal uang tak jadi soal, asal memang cocok
dengan selera kita. Itu adalah pepatah yang biasa
dipergunakan oleh para ahli makan. Ku kira memang
tak salah kata-kata itu, setiapkali kita makan, tentu
kita mau makan yang enak-enak, bukan?"
Giok Han tersenyum tak menyahuti. Gadis ini
memang luar biasa. Sikapnya selalu lincah dan
riang. Mereka baru berkenalan, tapi gadis ini tak
canggung dan bersikap seakan mereka sudah
bersahabat karib. Melihat dandanannya, tentu dia
bukan gadis sembarangan, setidak-tidiknya dia
puteri seorang kaya raya. Tapi mengapa dia
berkeliaran seorang diri ? Juga, dia tampaknya
memiliki ilmu silat yang tidak rendah, karena tadi
waktu menghadapi Lo pi dia pun sanggup
merubuhkan jagoan itu. Siapakah dia sebenarnya ?
Siapa ayahnya? Apakah seorang hartawan atau
seorang pembesar negeri ?
Makanan yang dipesan si gadis cepat sekali sudah
disajikan, satu meja penuh. Giok Han merasa
kenyang sebelum memakannya, melihat makanan
demikian banyak, lenyap selera makannya, karena
dia sendiri jadi bingung, tak tahu yang mana harus
dimakan lebih dulu.
Siauw Hoa sudah mulai menyumpit jamur di
masakan ikan gurame, mulutnya yang tipis bagus itu
kecap-kecip tampaknya dia tengah merasakan
apakah masakan ini cukup asam-garamnya.
Kemudian meng-angguk-angguk. "Koki rumah

904
makan ini cukup pandai, cuma sayangnya jamurnya
terlalu lama digodok dalam masakan ini. Seharusnya
dia memasukkannya 2 menit setelah ikan gurame ini
hendak diangkat."
"Rupanya nonapun ahli memasak," memuji Giok
Han. "Kau mengetahui masakan dengan baik,
sampai hal yang sekecil-kecilnya kesalahan yang
dilakukan koki, kau mengetahuinya."
"Aku memang senang memasak, jika di rumah
aku sering memasakan untuk ayah. Ayah selalu
memuji bahwa masakanku jauh lebih lezat dari
makanan manapun," menyahuti si gadis bangga.
"Oya, apakah ibumu tak pernah membuatkan
masakan-masakan seperti ini ?"
Giok Han tertegun. Sejak kecil dia tak pernah lagi
merasakan kasih sayang ayah ibunya, bahkan waktu
kecil itu dia sudah terancam jiwanya oleh orangorang
Cu-kongkong.
Kedua orang tuanya dan juga keluarganya telah
dibinasakan oleh kaki-tangan Cu-kong-kong. cuma
dia seorang yang bisa diselamatkan jangankan
mencicipi masakan ibunya, mendengar kata-kata
yang manis memanjakan dari ibunya sudah tak
pernah lagi setelah peristiwa menyedihkan hari itu.
Hidupnya selalu dikejar-kejar ketakutan, juga
tertekan oleh kesedihan jika teringat pada peristiwa
yang terjadi di keluarganya. Hidup di bawah

905
bimbingan yang keras dan disiplin. Terlebih lagi
setelah berdiam di Siauw Lim Si, di mana
penghuninya semua pendeta-pendeta yang ciacai
tak makan masakan berjiwa. Mereka selalu makan
sayur-sayuran. Giok Han juga ikut makan sayursayuran
saja.
Melihat Giok Han diam dengan muka berobah
sedih, Siauw Hoa kaget- "Apakah.... apakah aku
salah bicara ?" tanyanya ragu-ragu.
Giok Han menggeleng perlahan, sikapnya sedih.
"Kau beruntung masih mempunyai orang tua.
Sejak kecil aku tak mempunyai ayah dan ibu."
Menjelaskan Giok Han.
"Ooo. maafkan, aku telah menimbulkan
kesedihanmu."
"Tak apa-apa. Aku sudah biasa hidup sederhana,
karenanya aku belum pernah mendengar, apalagi
memakannya, masakan-masakan seperti ini semua."
Sambil berkata Giok Han menunjuk pada sayursayur
yang ada di atas meja.
Sejak kecil Siauw Hoa berada ditengah-tengah
keluarga bangsawan, ayahnya memiliki kedudukan
tertinggi di daratan Tionggoan setelah Kaisar. Di
istana ayahnya banyak sekali koki dan pelayan.

906
Setiap keinginannya selalu diperolehnya, tinggal
memberikan perintah pada pelayan-pelayan maupun
anak buah ayahnya. Tak pernah merasakan susah
sejak kecil, hidup dalam kemewahan dan dimanja.
Tapi mendengar keterangan Giok Han yang
nadanya seperti mengeluh, tak urung Siauw Hoa
terharu juga.
Sudahlah, mari kita sikat habis makanan ini !"
katanya gembira, untuk mengalihkan pembicaraan
mereka. Giok Han juga sudah tertawa lagi, karena
Siauw Hoa mengajaknya bicara dengan gembira
tertawa-tawa membicarakan tentang cara memasak
sayur-sayur yang mereka makan, bagaimana
membuatnya bagaimana penyajiannya dan lainlainya.
Cepat sekali Giok Han melupakan kesedihannya
itu. Siauw Hoa juga bercerita dia mendatangi
tempat-tempat yang memiliki pemandangan indah,
banyak tempat-tempat yang telah dikunjunginya.
Giok Han mendengarkan tertarik campur heran,
karena demikian luas pengetahuan gadis ini.
Menarik sekali bercakap-cakap dengan gadis
cantik manis juga sangat ramah dan riang seperti
Siauw Hoa. Tanpa mereka sadari dua orang
bertubuh tinggi besar, bermata biru langit, bibir
yang lebar dan berewok yang memenuhi janggut,
menghampiri meja Siauw Hoa dan Giok Han.

907
Kedua orang itu bukan orang Han. mereka
tampaknya-seperti orang Persia. Kedua orang ini
menekuk kaki mereka, memberi hormat pada Siauw
Hoa.
"Siaow-kuncu, Siauw cukong memanggil segera
pulang," kata salah seorang dari kedua orang Persia
dengan sikap horrnat. "Kami menunggu perintah
Siauw-kuncu"
Muka Siauw Hoa berobah, dingin dan tak acuh
mengibaskan tangannya. "Kalian tunggu di luar, aku
belum mau pulang."
"Tapi Siauw-kuncu ..."
"jangan rewel, keluar kalian jangan mengganggu
kesenanganku !" bentak Siauw Hoa.
"Baik, baik," kedua orang Persia itu cepat-cepat
meninggalkan ruang makan itu dengan sikap
menghormat campur takut.
Giok Han menyaksikan peristiwa ini heran dan tak
mengerti. Siapa sebenarnya gadis ini ? Melihat
kedua orang Persia yang bersikap begitu hormat,
juga panggilan "Siauw-kuncu", tentunya gadis ini
puteri seorang pembesar negeri. Waktu itu mulai
timbul keraguan di hati Giok Han.
Dia tak tahu apakah gadis ini bisa dijadikan
sahabatnya atau tidak. Apakah ayah si gadis

908
pembesar kerajaan yang bekerja, jadi kaki tangan
Cu-kongkong atau bukan ? Giok Han jadi dingin
sikapnya dan berdiam diri saja.
Kalau tadi Giok Han bercakap cakap dengan riang
bersama si gadis, sekarang dia cuma menjawab satu
dua perkataan saja. Selera makannya juga lenyap.
Siauw Hoa merasakan perobahan sikap Giok Han,
bola matanya yang bening mengawasi Giok Han.
"Orang-orangku itu memang tak tahu aturan, harap
kau maafkan." Si gadis meletakkan sumpitnya.
"Lebih baik kita pergi ke taman "Cing-ki-louw" yang
ada di pintu barat kota ini. Di sana kita bisa
mengobrol tanpa diganggu orang orangku.
Pemandangan di sana sangat indah."
Giok Han tersenyum. "Maaf, aku sangat berterima
kasih atas kebaikan nona yang telah menjamu
makan padaku. Aku ingin melanjutkan perjalanan,
nanti jika ada kesempatan kita bertemu lagi."
Muka si gadis berobah, wajah yang cantik jadi
berobah sedih. "Kau marah?" tanyanya.
"Marah? Mengapa aku harus marah ? Nona tak
berbuat salah apa-apa padaku. Aku yang seharusnya
minta maaf, karena tak bisa mengiringi kegembiraan
nona buat pergi ke-Cing-ki-louw."
"Kau mau pergi kemana ?"

909
"Mungkin mencari rumah penginapan, atau
mungkin juga meneruskan perjalanan, karena hari
belum lagi sore."
Siau Hoa menunduk sedih, suaranya perlahan
waktu menggumam: "Aku benar-benar bernasib
buruk. Baru saja gembira karena mendapat sahabat,
sudah diganggu oleh orang-orang ayah. Sudahlah,
kau mau pergi, pergilah. mungkin kau tak mau
bersahabat denganku." waktu bilang begitu, dia
menunduk tak menatap pada Giok Han, hati Giok
Han tergerak. Dia terharu melihat kebaikan dan
kesungguhan had gadis ini yang mau bersahabat
dengannya, Tapi dia ragu kalau-kalau gadis ini puteri
pembesar kerajaan. Sedangkan Giok Han memusuhi
Kaisar dan Cu-kongkong, berarti juga musuh semua
pembesar kerajaan.
Hal inilah yang membuat Giok Han merasa sulit
bergaul dengan gadis ini, walaupun hatinya tertarik
pada gadis yang cantik dan ramah ini. Sikapnya
yang lincah dan akrab membuat Giok Han semula
merasakan persahabatan yang intim. Tapi sekarang,
di antara mereka berdua seperti dibendung selapis
benda yang memisahkan mereka.
Mendadak di luar terdengar suara ribut-ribut.
Bahkan Giok Han mendengar suara orang Persia
yang tadi menemui Siau Hoa, yang membentak
keras: "Kunyuk belang, kau mencari mampus ?"
Dibarengi oleh suara "Serrrr..! Serrrrr! Desssss!"

910
Muka Siau Hoa berobah, dia melirik pada Giok
Han, yang waktu itu sudah berdiri dan memandang
ke luar.
"Entah mereka bentrok dengan siapa ?!"
menggumam Siau Hoa sambil berdiri lesu." Mari kita
lihat."
Ketika berada diluar, Giok Han kaget, karena
dilihatnya kedua orang Persia itu mengeroyok
seseorang yang dikenalnya. Orang itu berpakaian
compang camping, dengan muka yang kotor
mesum, karenanya tadi orang Persia itu
menyebutnya sebagai kunyuk belang, pengemis
tersebut tidak lain si pengemis yang telah
meninggalkannya beberapa waktu yang lalu.
Tak buang waktu lagi Giok Han segera lompat
sambit berseru: "Hentikan, dia sahabatku !" Dan
tangan Giok Han menyampok kepalan tangan kiri
orang Persia yang ada di-kanan.
Tenaga orang Persia itu kuat, tapi dia memiliki
tenaga gwakang, tenaga luar dan kasar, cuma
mengandalkan kekuaran badan saja, sedangkan
Giok Han menangkis dengan mempergunakan
tenaga lunak, tenaga pukulan orang Persia, yang
kebetulan sedang mengancam dada si pengemis,
seperti amblas kedalam lautan, lenyap. Orang Persia
itu kaget dan melompat mundur, kawannya juga
berhenti menyerang si pengemis.

911
"Sahabat," panggil Giok Han sambil menghampiri
si pengemis. "Kau membuat aku pusing mencari
carimu !"
Si pengemis melirik Giok Han seperti juga tak
kenal padanya, dingin sekali. "Buat apa kau
mencari-cariku?"
"Sahabat, kau... kau marah padaku? " tanya Giok
Han.
"Cissss, buat apa marah padamu?" dan si
pengemis melangkah pergi.
"Sahabat" panggil Giok Han mengejar.
Tapi pengemis itu tak mengacuhkannya dan
berlari pergi. Giok Han jadi berdiri tertegun di
tempatnya.
Siau Hoa yang menyaksikan Giok Han menangkis
pukulan orang Persia dengan mudah dan kemudian
memanggil-manggil si pengemis dengan sebutan
"Sahabat", alisnya jadi mengkerut.
Apakah pengemis kotor mesum itu sahabat Giok
Han ? Sedangkan kedua orang Persia itu
memandang penasaran pada Giok-Han. Cuma saja
mereka mengetahui Giok-Han kawan Siau-kuncu
mereka, tak berani mereka bertindak sembarangan.

912
"Apa yang terjadi? Mengapa kalia berkelahi
dengan pengemis kotor itu?" tanya Siau hoa pada
kedua orang Persia.
"Tadi dia menghampiri kami dan minta sedekah.
Kami bilang tak ada uang kecil untuknya, tahu-tahu
muka kami digamparnya!"
"waktu memberi tahukan demikian, muka kedua
orang Persia itu berobah merah.
Sebetulnya mereka orang-orang berkepandaian
tinggi tapi tadi kcolongan digampar pengemis itu
karena mereka tidak berwaspada selain tangan si
pengemis memang menyambarnya begitu cepat.
"Apakah kalian tak kenal pengemis itu? " tanya
Siau Hoa lagi, sebagai gadis cerdik, dia segera bisa
menduga bahwa didalam urusan ini pasti ada
sesuatu yang tidak beres. Bukankah Giok Han tadi
memanggil-manggil si pengemis dengan sebutan
"sahabat" ? Dan juga si pengemis seperti marah
pada Giok Han tak melayani pemuda itu.
"Kami tak pernah bertemu dengan pengemis
kotor itu sebelumnya, Siauw-kongcu. kami juga
heran dia seperti sengaja mencari urusan dengan
kami. Kalau saja tidak dihalangi... dihalangi dia..."
Tapi orang Persia itu tak meneruskan
perkataannya, karena Siauw Hoa sudah mendeliki
mata padanya. Yang dimaksudkan orang Persia

913
dengan sebutan "dia" adalah Giok Han yang
dimaksudkan kalau saja Giok Han tidak
menghalanginya, tentu mereka bisa menghajar si
pengemis yang sudah berlaku kurang ajar
menampar mereka.
"Sudahlah kalian lain kali tak boleh mencari-cari
urusan karena jika diketahui oleh ayahKU tentu
mempersulit diriku juga, lain kali tentu aku tak
diijinkan untuk keluyuran diluar."
Kedua orang Persia itu mengangguk, tapi mata
mereka melirik Giok Han, seakan-akan masih
penasaran karena tadi Giok Han sudah menghalangi
mereka menghajar sipengemis.
Giok Han lesu menphampiri si gadis,
merangkapkan kedua tangannya memberi hormat.
"Cu-kounio. aku sebetulnya, masih ingin mengobrol
dengan kau, tapi ada sesuatu yang perlu kuurus
maka terpaksa kita harus berpisah."
"Ya, aku tahu engkau hendak melakukan sesuatu.
Percuma jika memang kau mau pergi." menyahut
Siauw Hoa, tawar. Dia menduga, tentu Giok Han
hendak mengejar sipengemis sahabatnya itu.
Melihat sikap Giok Han yang tak tenang, jelas Giok
Han seperti lebih mementingkan si pengemis dari
dirinya, diam-diam Siauw Hoa mendongkol.
Dia cantik jelita, selalu memperlakukan Giok Han
dengan riang dan baik, sedangkan si pengemis

914
compang camping dan kotor, tapi Giok Han lebih
mementingkan "sahabat" nya itu. Dia jadi heran
juga. Biasanya pemuda pemuda lain akan merasa
beruntung jika bisa bercakap-cakap dengannya satu
dua patah saja, tapi Giok Han ternyata lain, dia
malah lebih mementingkan sahabatnya yang kotor
mesum itu.
Bukankah kata-kata yang biasa dipergunakan
orang ialah pemuda akan lupa sahabat jika sedang
asyik mengobrol dengan wanita cantik?
Dugaan Siauw Hoa tidak keliru, karena dia sudah
berlari ke arah tadi dimana si pengemis kotor itu
pergi. Siauw Hoa mengawasi kepergian Giok Han
sesaat lamanya, biarpun mukanya dingin tak
memperlihatkan perasaan apa-apa, hatinya justeru
tengah digeluti oleh perasaan yang tidak enak, yang
aneh, yang selama ini belum pernah dirasakannya.
Dia juga menyesal, mengapa tak bisa lebih lama
lagi mengobrol dengan pemuda yang menarik hati
itu? Mengapa harus berpisah secepat itu ? Akhirnya
Siauw Hoa menghela napas, mengajak orang Persia
itu meninggalkan tempat tersebut.
-------------------------------------------------------
--------------------------------------------------
Ruangan itu besar dan penuh oleh perabotan
yang mewah, di sebelah kanan ruang itu tampak
meja ukir dari kayu cendana. Di kursi yang ada di

915
dekatnya duduk seorang bertubuh agak gemuk
berjubah pendeta usianya limapulun tahun lebih.
Tubuhnya diam tak bergerak, tapi kedua
tangannya bergerak-gerak perlahan sekali, cuma
saja setiapkali tangan itu bergerak, lambat-lambat
mengeluarkan suara "Wutttut . . . Wuttttt . . . !"
yang santer dan kuat, membuat ruangan itu seperti
bergoncang ada gempa.
Semakin lama tangan pendeta itu bergerak
semakin lambat, tapi tenaga yang keluar dari kedua
telapak tangannya semakin kua ruangan itu seperti
dilanda angin topan yang keras.
Mendadak pendeta itu berhenti menggerakan
tangannya, menoleh ke pintu ruangan. Matanya
bersinar tajam. "Mengapa kau tak masuk?"
tegurnya, parau suaranya.
Daun pintu terbuka, tampak Cu Lie Seng masuk
dan memberi hormat. "Tecu mengganggu latihan
suhu, ada sesuatu yang perlu tecu laporkan."
"Sudah kau dapat barang yang kuinginkan itu?"
tanya pendeta tersebut yang tak lain dari Tang San
Siansu.
"Tecu sudah berhasil menyelidiki dan mengetahui
di mana adanya Liong kak-tung. Bahkan tecu sudah
bertemu dengan seseorang yang memakai gelaran
Liong kak-sin-hiap."

916
Alis Tang San Siansu bergerak-gerak, keningnya
mengkerut, tanganya terkepal, tapi tak berkata apaapa.
Cu Lie Seng meneruskan perkataannya: "Tecu
menerima laporan bahwa Liong-kak-tung berada di
tangan Toat-beng-sin-ciang. Dia pemilik terakhir
Liong-kak-tung. Bersama-sama dengan Bwee-simmo
li suhu, tecu sudah pergi kesana. Pak-mo, Tongmo,
See-mo dan Lam-mo juga ikut serta.
Toat-beng-sin-ciang mengandalkan racunnya, ia
rupanya seorang yang benar-benar ahli
mempergunakan racun. Waktu tecu sampai di sana,
ada seorang pengemis berusia muda yang
menghalangi tecu dan yang lainnya, mungkin dia
murid Toat-beng-sin-ciang.
Tecu bermaksud menawannya, tapi gagal, karena
waktu itu muncul orang yang mengaku sebagai
Liong-kak-sin hiap dan menolongnya. Jika saja tecu
berhasil menawan hidup-hidup pengemis iiu, niscaya
tecu bisa mengorek keterangan dirinya."
"Sekarang di mana pengemis itu ?" tanya Tang
San Siansu, dingin suaranya. Walaupun hatinya agak
tegang mendengar barang yang selama ini dicaricarinya
sudah diketahui berada di mana" wajahnya
tetap dingin dan biasa saja.
"Dia melarikan diri, demikian juga pemuda yang
menolonginya berhasil lolos. Tapi, tecu kira mereka

917
melarikan diri tak jauh dari tempat ini kalau
memang suhu mau mencari mereka, tentu tak
begitu sulit, tecu sudah perintahkan Pak-mo
berempat pergi menyelidiki dan mencari jejak
pengemis itu dan pemuda yang bergelar Liong-kaksin-
hiap."
"Hemmm, bagaimana kepandaian pernuda yang
bergelar Liong-kak-sin-hiap itu?"
"Ampunkan tecu suhu, karena tecu tak berhasil
menangkapnya. Tapi tecu berjanji, jika suatu saat
nanti tecu berhasil mencarinya, tentu tecu akan
menangkapnya hidup-hidup, untuk mengorek
keterangan. Kepandaiannya memang tinggi, tapi
tecu bisa mengatur siasat sebaik-baiknya."
"Kecewa kau menjadi muridku, sudah cukup
banyak kepandaian yang kuwariskan kepadamu.
Tapi, mengapa kau membiarkan kedua orang itu
lolos?" tegur Tang San Siansu.
Muka Cu Lie Seng berobah merah, dia malu.
Memang gurunya sudah mewariskan bermacammacam
ilmu, biasanya Cu Lie Seng-pun bersikap
congkak dan yakin bahwa dia sudah memiliki
kepandaian tanpa tandingan.
Menurut gurunya, yang bisa menandingi Cu Lie
Seng saat itu cuma beberapa orang saja, itupun
tokoh-tokoh tua berkepandaian tinggi. Tapi
sekarang, selain dia gagal menawan pengemis yang

918
diduga nurid Toat - beng - sin-ciang, juga dia tak
berhasil menangkap pemuda yang memakai gelaran
Liong-kak-sin-hiap.
"Dalam waktu dekat tecu akan berusaha
menangkap mereka," janji Cu Lie Seng menunduk.
"Dalam penyelidikanmu itu,apakah sudah dapat
dipastikan bahwa Liong-kak- tung berada di tangan
Toat-beng-sin-ciang? "menegaskan gurunya.
"Sembilan bagian memang dia pemilik terakhir
tongkat Liong-kak-tung, tapi sejauh itu tecu belum
berhasil bertemu dengannya. Kemarin waktu gagal
menangkap pengemis itu. tecu sudah merusak
tempat kediamannya, mungkin Toat beng-sin-ciang
dalam waktu dekat memperlihatkan diri, di waktu itu
pasti tecu lebih mudah untuk membekuknya dan
memaksa dia menyerahkan tongkat Liong-kak tung.
Tang San Siansu menggeleng-geleng perlahan,
gumamnya: "Toat-beng-sin-ciang bukan orang
berkepandaian lemah, walaupun aku yakin kau
bersama-sama Tong-mo, Pak-mo, See-mo, Lam mo
dan Bwee-sim-mo-lie bisa menghadapi mereka, tapi
agar urusan tak jadi berantakan, aku akan ikut buat
membekuk Toat-beng-sin ciang. Sekarang pergilah
kau selidiki, dimana dia berdiam, secepatnya
beritahukan padaku setelah berhasil mengetahui
beradanya Toat beng-sin-ciang. Demikian juga
halnya dengan pengemis dan pemuda yang
mengaku sebagai Liong-kak-sin-hiap kau selidiki di

919
mana mereka berada. Jika sudah mengetahui,
segera bersama-sama denganku pergi untuk
membekuk mereka. "
"Baik suhu," Cu Lie Seng mengundurkan diri dari
ruangan itu, untuk melaksanakan perintah gurunya.
Tang San Siansu duduk diam di kursinya, tak
melatih kedua tangannya lagi. Kalau tadi dia tengah
menyempurnakan latihan Liong-beng- kun".
Sekarang dia sudah mencapai tingkat sangat tinggi,
telah sampai pada titik penentuan dari latihannya.
Itulah sebabnya selama seminggu ini dia selalu
mengurung diri untuk melatih bagian terakhir
ilmunya yang dahsyat itu.
Mungkin memerlukan waktu tiga hari lagi untuk
merampungkan latihannya tersebut, sehingga dia
benar-benar sangat tangguh dengan ilmunya yang
terlatih sampai pada titik yang tertinggi, Cuma saja
mendengar ada pemuda yang bergelar "Liong-kaksin-
hiap", dia jadi penasaran dan ingin cepat cepat
menangkap pemuda itu. buat mengetahui siapa
sebenarnya pemuda itu.
Hal ini disebabkan si pemuda memakai gelaran
dari nama senjata yang paling ditakuti Tang San
Siansu, senjata yang bisa memunahkah ilmu "Liong
beng-kun" nya !
Tang San Siansu sekarang sudah mencapai
tingkat latihan "Liong beng-kun" yang sangat tinggi.

920
Dapat dikatakan jarang ada lawan yang bisa
menandingi pendeta bekas murid Siauw Lim si ini.
Memang ambisi Tang San Siansu ingin menguasai
rimba persilatan terutama sekali untuk merampas
kedudukan pimpinan atau Ciangbunjin Siauw Lim Si
karena dia sakit hati pernah diusir dari Siauw Lim Si.
Yang membuatnya tak berani segera turun
tangan, ia tahu Siauw Lim Si merupakan pintu
perguruan yang memiliki murid-murid lihai.
merupakan pintu perguruan besar yang disegani
semua orang. Bekerja seorang din saja tak mungkin
bisa menguasai Siauw Lim Si, akhirnya Tang San
Siansu menghamba pada Cu-kongkong.
Ia bukan tak mempunyai maksud. Dengan
menghamba pada kebiri yang paling berkuasa pada
saat itu, niscaya ia bisa memanfaatkan kekuasaan
Cu-kongkong untuk membantunya, memperalat
pembesar kerajaan itu. meminjam tangan Cukongkong
buat merampas Siauw Lim Si. Tapi tak
disangkanya, justeru gurunya yang semula diduga
sudah mati, ternyata masih hidup.
Karenanya setelah meninggalkan Siauw Lim Si,
Tang San Siansu mati-matian melatih Liong beng
kunnya lebih giat, ia mengurung diri dan hanya
mendidik Cu Lie Seng. Luka di dalam tubuh yang
disebabkan pukulan gurunya, memaksa dia harus
menyembuhkannya dengan mengorbankan
lwekangnya sebagian, setelah setahun barulah
lwekangnya pulih.

921
Dendamnya pada Siauw Lim Si semakin hebat,
dia bertekad walaupun bagaimana harus merampas
kedudukan pimpinan Siauw Lim Si, jika perlu
membumi hangus kan Siauw Lim Si.
Tentu saja jika jalan ini ditempuh, dia akan
memanfaatkan kekuasaan Cu kongkong, meminjam
tangannya untuk mengerahkan pasukan tentara
untuk menghancurkan Siauw Lim Si, dengan
tuduhan bahwa Siauw Lim Si ingin memberontak
pada kerajaan, dan Kaisar menghukum pintu
perguruan itu !
Siapa sangka sekarang justeru didengar-nya ada
seorang pemuda berkepandaian tinggi yang
memakai gelaran Liong-kak-sin-hiap membuat Tang
San Siansu tak sabar ingin cepat-cepat menangkap
nemuda itu, untuk dikorek keterangannya.
Entah murid siapa pemuda itu, tapi yang pasti
ada tantangan dengannya, karena pemuda itu
memakai gelaran Liong-kak-sin hiap, yang
berhubungan dengan Liong-kak-tung, senjata yang
paling ditakuti oleh Tang San Siansu, sebab Liongkak-
tung bisa menghancurkan sinkangnya dan
latihan Liong beng-kunnya bisa buyar kalau
terserang oleh totokan Liong-kak-tung pada
beberapa jalan darah tertentu di tubuhnya.
Mati atau hidup pemuda itu harus ditangkap, juga
pengemis yang diduga murid Toat-beng-sin ciang,
harus ditangkap juga, buat mengetahui dimana

922
bersembunyinya Toat-beng-sin-ciang yang menurut
muridnya justeru merupakan pemilik terakhir Liongkak-
tung, senjata yang diinginkan benar oleh Tan
San Siansu.
Kalau usaha mendapatkan Liong-kak-tung sudah
berhasil, selanjutnya Tang San Siansu tak takut
pada apapun juga, terhadap siapapun dia tak gentar
lagi, karena Liong beng-kunnya sudah dilatih
demikian hebat dan tinggi jarang ada orang yang
bisa mengalahkan Tang San Siansu sekarang ini,
apa lagi kalau Liong-kak-tung sudah berada di
tangannya.
Tang San Siansu tak perlu kuatir lagi nanti
seseorang mempergunakan senjata yang
menakutkan baginya itu untuk menyerang dirinya.
Mati-matian Tang San Siansu menyuruh muridnya
mencari dan menyelidiki di mana adanya Liong-kaktung.
Siapa tahu, sekarang muridnya sudah
memperoleh kabar yang menggembirakan, yaitu
Liong kak-tung berada di tengah Toat-beng-sinciang.
Tang San Siansu memang pernah mendengar
perihal Toat-beng-sin-ciang, seorang jago tua yang
berperangai aneh, tapi Tang San Siansu yakin ia bisa
menghadapi Toat-beng-sin ciang dengan Liongbeng-
kunnya. Berita yang dibawa muridnya

923
menyenangkan, juga menggelisahkan Tang San
Siansu.
Rasanya dia tak sabar lagi,ingin cepat-cepat
mengetahui dimana adanya Toat-beng-sin ciang
buat merampas Liong kak-tung. Semakin cepat
semakin baik baginya.
-------------------------------------------------------
-------------------------------------------------------
Giok Han mencari-cari si pengemis, tapi tetap tak
berhasil menemukan jejaknya, biarpun dia sudah
berlari ke sana kemari cukup jauh. Karena sudah
mengetahui bahwa pengemis itu seorang gadis, Giok
Han bisa menduga-duga mungkin si pengemis
marah melihat dia bersama-sama dengan Siauw Hoa
di rumah makan dan pengemis itu jadi iak mau
meladeni nya lagi, tak acuh.
Entah mengapa Giok Han merasa pengemis itu
merupakan sahabatnya, biarpun mereka berkenaIan
belum terlalu lama. Sikap dan kelakuan si pengemis
yang selalu bicara blak-blakan dengannya, juga
memang si pengemis pernah menjanjikan padanya
untuk bantu menghadapi Siangkoan Giok Lin,
rupanya pengemis itu menyimpan sesuatu rahasia.
Banyak yang ingin diketahui Giok Han, terutama
sekali Toat-beng-sin ciang apakah mempunyai
hubungan dengan si pengemis ?" Mengapa gadis ini
berpakaian sebagai pengemis ? Padahal waktu

924
kopiahnya terbuka sehingga rambutnya terurai,
sekilas Giok Han bisa melihat pengemis ini yang
cukup cantik, walaupun mukanya begitu kotor tak
karuan.
Di samping itu Giok Han mengetahui bahwa
pengemis itu terancam keselamatannya oleh Cu Lie
Seng dan orang-orangnya, biar bagaimanapun sikap
si pengemis terhadapnya, tetap dia bermaksud
membantu pengemis itu.
Tapi setelah mencari-cari sekian lama tetap tak
berhasil bertemu dengan pengemis itu, Giok Han
jadi putus asa. Waktu itu dia berada didepan pintu
kota sebelah selatan, terpisah kurang lebih lima lie.
Di sana sepi, hanya banyak pohon-pohon yang
rindang tumbuh dikedua tepi jalan tersebut.
Kemana harus dicarinya pengemis itu ? Kemana
perginya pengemis yang memiliki kelakuan aneh dan
juga penuh dengan rahasia itu ? Sedangkan Giok
Han berdiri di situ mengawasi sekitarnya dengan
putus asa karena tak berhasil mencari si pengemis
mendadak dilihatnya ada sesosok tubuh dari balik
sebatang pohon yang berputar-putar menghampiri
padanya.
Giok Han mengawasi lebih tegas, ternyata orang
itu berjalan bukan dengan kedua kakinya, melainkan
jungkir balik, jalan dengan tangannya yang kiri
tubuhnya berputar-putar seperti gangsing dan
ringan menghampiri Giok Han.

925
Orang itu tak lain See-mo Uh Ma, iblis dari Barat
yang bertubuh cebol seperti tinggi tubuh seorang
anak berusia 12 tahun. See-mo tak kenal Giok Han
lagi, karena dulu waktu dia pernah bertemu dengan
Giok Han dan mengajarkan "Tok Pie Ginkang",
pemuda ini masih kecil.
Sekarang See-mo cuma tahu bahwa Giok Han
"Liong-kak-sin-hiap" yang pernah dikepung dia dan
kawan-kawan-nya, tapi tak berhasil
menundukkannya.
See-mo tengah menyelidiki keadaan di sekitar
itu, mencari Giok Han dan si pengemis atas perintah
Cu Lie Seng Demikian juga Pak-mo, Lam-mo dan
Tong-mo, semuanya mencari Giok Han dan si
pengemis ditempat berpencaran.
Tak disangkanya ia melihat Giok-Han tengah
berlari lari mendatangi, dia mendekam diatas cabang
pohon mengawasi gerak-gerik Giok Han. Melihat si
pemuda berhenti berlari dan berdiri diam mengawasi
sekitar tempat itu, See-mo yang tak bisa menahan
diri lagi ingin cepat cepat menangkapnya segera
lompat turun buat menangkap Li-ong-kak-sin-hiap
ini.
Tentu Cu-cukongnya girang sekali. Dengan
mempergunakan "Tok-Pie Ginkang", tubuhnya
jumpalitan, kedua kakinya menjulang ke atas,
kepala dibawah dan dia maju berputar seperti

926
gangsing, di mana kelima jari tangannya yang
bertenaga itu berputar seperti roda saja.
"Bocah, sekarang kau tak bisa pergi lagi!" Teriak
See-mo waktu dia sudah dekat dengan Giok Han.
"Kau harus baik-baik turut denganku menemui
Siauw-cukongku!"
Dalam jengkelnya, Giok Han jadi ingin
mempermainkan si cebol ini, timbul
kegembiraannya. Dia tadi begitu kesal karena tak
berhasil mencari si pengemis, tapi sekarang timbul
keinginannya untuk coba-coba kepandaian See-mo,
karena dulu ia pernah diajarkan ilmu "Tok Pie Gin
kang". Tapi Giok Han tak tahu apa namanya ilmu
tersebut, dia hanya tahu ilmu ini bisa di pergunakan
untuk jalan dengan kepala dibawah dan hanya
mempergunakan tangan kiri saja berputar seperti
gangsing.
Mendadak tubuh Giok Han melompat ke-atas
loncatannya tinggi, waktu tubuhnya meluncur turun,
kepalanya lebih dulu, kemudian tangan kirinya
menyangga tubuhnya, berputar-putar seperti yang
dilakukan See mo.
"Ihhhhh! "Si cebol berseru kaget, dia mengenali
Giok Han mempergunakan ilmu andalannya sendiri,
dari mana pemuda ini memperoleh dan mempelajari
ilmu andalannya tersebut ? Dia jadi mengawasi
bengong sebentar, sedangkan tubuhnya sejenak
berhenti berputar.

927
Dia tak mengerti mengapa Giok-Han bisa
melakukan seperti yang dilakukannya, yaitu tubuh
berjungkir balik seperti itu. "Ayo, mari kita mainmain
!" ajak Giok Han. "Bukankah kau senang mainmain?"
"Hahaha... haha...!" tertawa See-mo setelah
berkurang rasa kagetnya. "Kau mencuri dari mana
ilmuku "Tok Pie Ginkang itu ?"
Tubuh Giok Han berputar-putar, sengaja tertawa.
ingin mempermaiankan See-mo.
"Aku diajarkan olehmu, aku anak angkatmu,
bukan ?" menjawab si pemuda.
"Apa ?" kembali See-mo kaget. "Kau... kau anak
angkatku ? Aku mengajarkan kau Tok Pie Ginkang ?"
"Ya", menyahuti Giok Han. "Nah, ayolah kita
main-main, mengapa bengong saja di situ ?"
See-mo seperti berpikir keras, lenyap
kegembiraannya untuk men;alankan Tok Pie-
Ginkang, yang sedang dipikirkannya siapakah
pemuda di depannya ini, yang mengaku sebagai
anak angkatnya dan juga mengaku pernah
menerima pengajaran ilmu "Tok Pie Gin-kang"
langsung dari dia.
"Siapa namamu ?" Tanya See-mo mengawasi
tajam pada Giok Han, karena tetap saja dia tak ingat

928
siapa pemuda ini, tak mengenalinya dan memang
dia merasa baru satu kali bertemu dengan Giok Han
yaitu ketika ia bersama Pak mo, Lam-mo danTongmo
serta yang lain-lannya mengeroyok Giok Han.
Tapi See-mo cuma tahu bahwa pemuda ini
bergelar "Liong-kak-sin-hiap" dan mempunyai
kepandaian yang tinggi tak bisa diremehkan. Tapi
sekarang justru Giok Han membawakan jurus-jurus
"Tok Pie Ginkang" jurus ilmu andalannya karuan saja
dia jadi tercengang dan bingung.
Jilid ke 21
"Aku Liong-kak-sinhiap. Bukankah kau dan
teman-temanmu sudah mengetahui gelaranku itu !
?" menyahuti Giok Han.
"Kau jangan bicara sembarangan mengatakan
bahwa kau anak angkatku, nanti kurobek mulutmu !
Aku tidak punya anak angkat, kapan aku pernah
angkat anak ?"
Melihat See-mo kebingungan seperti itu, geli hati
Giok Han. Dia semakin ingin mempermainkannya.
"Dengarlah See-mo, kau pernah mengangkat aku
menjadi anak angkatmu sekarang kau
membantahnya ! Kau juga telah mengajarkan aku
ilmu andalanmu, yaitu jurus-jurus untuk berjalan
dengan tangan kiri, sedangkan kedua kaki berada di

929
tengah udara. Nah, lihatlah, bukankah aku mahir
menjalankan jurus-jurus ilmu andalanmu itu?"
Memang See mo melihat bahwa Giok Han mahir
sekali mempergunakan jurus-jurus Tok Pie Ginkangnya,
tapi dia tak tahu dan tak ingat kapan
pernah mengajarkan pemuda ini ?
"Sudah ! Sudah ! Aku pusing !" Teriak See mo
yang kepusingan karena tak juga dia ingat di mana
dia pernah bertemu dengan Giok Han, mengangkat
jadi anaknya dan malah mewariskan jurus-jurus ilmu
silat andalannya, Tok Pie Ginkang.
Dia tak sabar lagi, tubuhnya segera meloncat ke
depan, kembali jungkir balik, tubuh itu berputar
seperti gangting, dengan tangan kiri See-mo yang
menyanggah berat tubuhnya tersebut. Tangan
kanannya yang bisa digerakkan bebas menyambarnyambar
keselangkangan Giok Han, karena Giok
Han juga dalam keadaan jungkir balik.
Giok Han cerdas, dia dapat melihat dan memakai
jurus2 yang dipergunakan See mo.
Setelah menghindarkan jari jari tangan See mo
yang mau mencengkeram selangkangannya, da
mengikuti cara menyerang See mo, ingin
mencengkeram selangkangan See-mo.
Kaget tak terkira See mo. Pemuda ini bisa
memakai juga jurus jurus serangannya Padahal tadi

930
dia mempergunakan jurus serangan yang jarang
sekali di pakai, karena terlalu hebat akibatnya kalau
seseorang terkena serangan itu. Tapi, pemuda ini
justeru bisa balas menyerang dengan
mempergunakan jurus yang sama, walaupun tenaga
pukulannya tidak sekuat yang dilakukan See-mo tapi
ini sudah membuat Sie-mo jadi tercengang.
Sampai dia meloncat berdiri memandang dengan
mata terbuka lebar-lebar, mulut yang menganga dan
lidah iler jatuh menetes. Benar-benar See-mo tak
mengerti, mengapa pemuda ini bisa menjalankan
jurus-jurus ilmu andalannya. Karena penasaran dan
heran, kembali See-mo jungkir balik, tubuhnya
berputar cepat dan tangan kanannya menyerang
lagi, sekali ini paha Giok Han.
Giok Han waktu itu masih jungkir balik, dia
mengelakkan pukulan itu, kemudian mencontoh
gerakan yang dilakukan See-mo, buat balas
menyerang. See-mo sekali ini biarpun saking heran,
juga tambah penasaran, tidak dihentikan
pukulannya. Beruntun dia memukul lima kali.
Keruan saja Giok Han jadi repot. Dia berdiri
dengan tangan kirinya mempergunakan ilmu "Tok
Pie Ginkang", yang dulu pernah diajarkan See mo.
tapi tak pernah dilatihnya Sedangkan yang
menyerangnya sekarang justeru pemilik ilmu itu
sendiri, maka tidak leluasa gerak badan Giok Han.
Waktu didesak sampai pukulan ketiga. Giok Han
sudah kewalahan dan terpaksa lompat berdiri

931
dengan kedua kakinya, barulah dia menghadapi See
mo dengan lincah. Sisa dua serangan See-mo
dihindarkan dengan gampang.
"Siutttt... ! Syuuuttt...!" Terus juga See-mo
menghantam dengan dahsyat, mendesak Giok Han.
Sekarang Giok Han dapat menghadapinya dengan
baik, tangan kanan See-mo yang menyambar kearah
tumitnya, dielakkan dengan mengangkat kaki
kanannya dan menendang dengan dupakan kuat,
mengincar leher See mo.
See-mo cepat-cepat menyelamatkan lehernya,
tangan kanannya menyambar lagi. Tubuhnya terus
berputar, sehingga sulit diduga arah mana yang
diincar See-mo.
"Bocah, beritahukan dari mana kau curi belajar
ilmuku?" bentaknya penasaran.
"Sudah kuberitahukan padamu hal yang
sebenarnya, aku pernah diangkat jadi anak dan
diajarkan ilmumu itu!"
"Jangan kau permainkan aku, nanti mulut mu
kurobek lebar lebar!" Mengancam See-mo karena
dia semakin penasaran. Bukan cuma mulutnya yang
berkata melainkan tangan kanannya sudah
menyambar kuat sekali, saling susul, karena dia
ingin melihat sampai berapa jauh Giok Han bisa
menghadapi ilmu andalannya.

932
Kemarin, waktu dikeroyok See-mo, Pak-Tong mo,
dan Lam mo G ok Han tak gentar, bahkan bisa
memberikan perlawanan yang baik. Sekarang hanya
See-mo seorang diri, dia tak menemui banyak
kesulitan. Cuma saja kini See-mo iam?aknya
menyerang tidak tanggung-tanggung, jari-jari
tangannya jadi kaku siap mencengkeram melebihi
kekuatan baja, juga yang diincar See-mo adalah
bagian bagian yang mematikan dianggota tubuh
Giok Han. Bertubi-tubi tangannnya itu menyambar,
berulang kali juga selalu gagal.
Setelah merasa cukup mempermainkan See-mo,
Giok Han mempergunakan ilmunya untuk balas
menyerang dan mendesak See-mo Dia
mempergunakan Ginkangnya untuk lompat kesana
kemari, tubuhnya berkelebat seperti bayangan dan
ringan sekali tahu-tahu sudah ada disebelah kiri
See-mo atau segera pindah ke sebelah kanan, hal ini
membuat See-mo jadi repot mengelakkan, sekarang
berbalik dia yang diserang gencar oleh Giok Han.
"See mo, tak perlu kuatir, kami membantumu!"
Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak nyaring,
disusul munculnya beberapa orang yang tubuhnya
melesat sangat lincah cepat sudah sampai di dekat
tempat pertempuran kedua orang itu. Ternyata
mereka Pak-mo, Tong-mo dan Lam-mo. Bahkan
ketiga iblis ini, yang juga merupakan kaki tangan Cu

933
Lie Seng, segera menerjang maju menyerang hebat
pada Giok Han.
Dikeroyok berempat Giok Han sekarang tak
leluasa seperti tadi, dia harus hati-hati. Biarpun dia
tak gentar menghadapi keempat dedengkot iblis
tersebut, setidak-tidaknya kepandaian mereka
sangat tinggi dan tak boleh diremehkan. Apa lagi
sekarang keempai dedengkot iblis itu menyerang
dan mengepungnya dengan rapat, gencar sekali
bergantian tangan mereka mendesak untuk mencari
kelemahan Giok Han.
Biarpun ilmu yang dipergunakan Giok Han jurus
pukulan Siauw Lim Si, tokoh keempat dedengkot
iblis itupun merupakan orang-orang yang sulit
dihadapi oleh orang yang kepandaiannya tanggungtanggung.
Justeru waktu itu Giok Han juga tahu,
bahwa keempat orang ini berusaha untuk
menangkapnya.
"Jangan biarkan dia lolos lagi. Tong mo! "Teriak
Pak-mo nyaring. "Siauw-kongcu tentu menegur dan
meremehkan kita kalau dia bisa lolos lagi!"
"Ya, Cu-kongkongpun mungkin bisa ikut
memberikan teguran pada kita sebagai manusiamanusia
tak punya guna! Hari ini, walaupun
bagaimana pemuda ini harus ditangkap hiduphidup....!"
Begitulah keempat orang ini telan
menerjang dengan pukulan-pukulan yang

934
mematikan, Giok Han mati-matian memberikan
perlawanan.
Mendadak, waktu Giok Han hendak mengganti
jurus pukulan, tampak olehnya dua orang tengah
berdiri di luar arena perkelahian, Kedua orang itu
berdiri diam tak bersura. Giok Han kaget juga.
Orang itu tak lam Cu Lie Seng dan Tang San Siansu,
yang pernah dilihatnya juga satu kali waktu
sipendeta bersama muridnya menyerbu ke Siauw
Lim Si.
Hati Giok Han tercekat juga. Kaiau Cu Lie Seng
dia tak gentar, tapi Tang San Siansu diketahuinya
memiliki kepandaian tinggi dan sulit dijajaki. Guru
nya sendiri berpesan, dia harus hati-hati kalau
melayani Tan San Siansu.
Benar Giok Han hendak mencari jejak Tang San
Siansu, tapi diapun hendak mempergunakan siasat
guna mengatasi si pendeta. Kini justeru dia tengah
dilibat oleh keempat dedengkot iblis, kalau Tang San
Siansu ikut turun tangan dibantu Cu Lie Seng,
sehingga mereka berenam ikut mengeroyoknya,
niscaya dia lebih repot lagi.
Tang San Siansu mengibaskan sedikit lengan
jubahnya, bahkan disusul bentakannya: "Sudahlah,
bocah itu serahkan kepadaku!" Dan tubuh sipendeta
meloncat ke depan mendekati Giok Han.

935
"See-mo, Pak-mo, Tong-mo dan Lam-mo
meloncat mundur begitu mendengar kata-kata Tang
San Siansu. Mereka berdiri di luar lingkaran arena
pertempuran, meninggalkan Giok Han seorang diri.
Sikap mereka tetap waspada, karena sewaktu-waktu
mereka akan menerjang maju lagi buat mengepung
Giok Han, kalau saja Tang San Siansu gagal untuk
merubuhkan pemuda tersebut, yang kepandaiannya
ternyata tinggi sekali dan tidak mudah untuk
dirobohkan.
Tang San Siansu sudah berada di depan Giak
Han, yang telah bersiap-siap dengan hati agak
berdebar, karena yakin sipendeta akan
menggunakan Liong-beng-kun yang diketahuinya
sangat dahsyat.
Tapi Tang San Siansu tidak segera menyerangya,
cuma mengawasi dengan sorot mata tajam, seakan
mata selaksa golok ingin menusuk dari mata Giok
Han ke hatinya.
"Siapa gurumu !" tegur Tang San Siansu. "Dan,
siapa yang memberikan kau gelaran Liong-kak-sin
hiap ?"
"Kau pasti kenal dengan guruku, karena kau
memang pernah ada hubungan dengan guruku. Tapi
waktu turun gunung, guruku pernah berpesan, kau
tidak pantas lagi mendengar nama guruku. Gelaran
yang kupakai bukan diberikan oleh orang lain, tapi
oleh guruku sendiri!" Giok Han menyahut tawar dia

936
tahu si pendeta lihai, dia berwaspada, matanya tetap
mengawasi Tang San Siansu, terutama sekali
tangannya.
Muka Tang San Siansu berobah, kuning
kehijauan, urat-uratnya di kening dan pelipis tampak
meringkel menonjol keluar. Menahan kegusarannya,
sampai ruas-ruas jari tangannya pucat kehijauan,
jari-jari tangannya itu terkepal kuat-kuat.
"Baik, aku akan memaksa kau memberitahukan
siapa gurumu lewat ilmu silatmu !" kata Tang San
Siansu, Dia bukan cuma bicara, tangan kanannya
yang terkepal keras terangkat perlahan-lahan siap
menyerang.
Giok Han tak berani meremehkan, diapun
berwaspada mengerahkan tenaga dalamnya pada
lengan, ia bersiap-siap menyambuti serangan Tang
San Siansu, karena memang pendeta bekas tokoh
Siauw Lim Si yang telah melupakan pintu perguruan
dan berbuat murtad itu memiliki kepandaian yang
sangat tinggi.
Tangan kanan Tang San Siansu sudah terangkat
melewati kepalanya, waktu itulah jari-jari tangarnya
terbuka, seperti cengkeraman, sikapnya angker,
benar-benar seperti seekor naga yang siap
menerjang mematikan lawan. Rupanya, Tang San
Siansu sudah mempersiapkan Liong beng-kun untuk
menyerang.

937
Hati Giok Han agak berdebar, dia mengawasi
tangan Tang San Siansu melayang menyambar
mengeluarkan suara keras menderu "syuuuutttt...."
dan jari-jari tangan yang siap mencengkeram itu
sudah menyambar ke arah kepala Giok Han, tapi
belum lagi Giok Han menyambuti, jari-jari tangan itu
sudah berobah arah sasaran, di mana tahu-tahu
sudah berada di depan dada Giok Han.
Dari Tai Giok Siansu Giok Han pernah
mempelajari Liong beng-kun, juga pernah
melatihnya dengan giat. Dia tahu bahwa yang
sedang dipergunakan Tang san Siansu adalah Liong
sin-kong-ciang" (Tangan sinar Sakti Naga) Jurus ini
memusatkan tenaga lengan seluruhnya pada ruasruas
jari tangan, dan kelima jari tangan itu akan
kuat sekali melebihi baja, terlebih lagi bagi mereka
yang memiliki sinkang tinggi, pukulan dengan jurus
ini bisa mematikan.
Yang luar biasa dan membuat Giok Han kaget,
dari jari-jari tangan Tang San Siansu mengeluarkan
uap tipis kebiru-biruan ini yang tak pernah diketahui
Giok Han. Sebagai orang yang mempelajari dan
mahir mempergunakan juga jurus-jurus Liong-beng
kun, Giok Han tahu, jika jurus ini dipergunakan
dengan mempergunakan tenaga berlebihan, bisa
mencelakai dirinya sendiri dan tampaknya memang
Tang San Siansu mempergunakan jurus itu dengan
pemusatan tenaga dalam sepenuhnya, bahkan
berlebihan, pada kelima jari tangan, sehingga
mengeluarkan asap biru.

938
Cuma saja Tang San Siansu tak kekurangan
suatu apapun, malah waktu menyerang angin
pukulannya begitu tajam seperti ingin merobek
badan Giok Han, biarpun kelima jari tangan itu
belum Ingi menyentuh badannya.
Giok Han tak mengetahui bahwa Tang San Siansu
sudah melatih Liong-heng-kun hampir pada puncak
kesempurnaan juga memang untuk menambah
lihainya Liong-beng-kun sengaja Tang San Siansu
teiah merobah cara-cara pernapasannya, sehingga
dapat memusatkan tenaga dalam sepenuhnya pada
ke lima ruas jari-jari tangannya tanpa
mencelakainya.
Tapi cara berlatih Tang San Sian su sudah
menjurus ke jalan yang sesat, itulah sebabnya
mengapa waktu dia memusatkan tenaga dalamnya
pada kelima ruas jari-jari tangannya, keluar asap
yang tipis, kebiru-biruan.
Tanpa membuang waktu Giok Han-menyambuti
pukulan itu dengan mempergunakan tangan kirinya,
tangan kanannya seperti seekor naga
mencengkeram dada Tang San Siansu.
"Ihh...!" Tang San Siansu menjerit kaget, karena
Giok Han mempergunakan jurus dari Liong-bengkun.
Dia bahkan melompat mundur dengan
berputar, mengawasi Giok-Han dengan biji mata
yang seperti mau meloncat keluar dari rongga mata.

939
"Siapa yang mengajarkan Lioug beng-kun
padamu?" Bentaknya bengis.
Giok Han sudah berdiri tegak lagi, sengaja ia
bersikap meremehkan Tang San Siansu, walaupun
sebetulnya dia tetap waspada tak lengah sedikitpun
juga.
"Sudah kukatakan, guruku cukup kau kenal, tapi
sayangnya aku tak boleh memberitahukan nama
guruku padamu, kau tak pantas mendengar nama
guruku!"
Bagaikan seekor naga yang meraung murka,
kedua tangan Tang San Siansu bergerak-gerak
sehingga terdengar suara: "Syuutttt, kelebak...
wuttttt, kelebuk..." disusul dengan suara tulangtulang
berkerotok di sekujur tubuh Tang San Siansu.
"Beritahukan nama gurumu, jika memang kau tak
mau mati dengan tubuh hancur luluh seperti pasir!"
Teriak Tang San Sjainu penasaran campur murka.
Dia menduga-duga, apakah Giok Han murid
gurunya. Tai Giok Siansu ?
Tapi tak mungkin. Usia Giok Han masih terlalu
muda. Juga gurunya tak mungkin menerima murid
baru. Apakah Giok Han murid pendeta-pendeta
Siauw Lim Si? Juga tak mungkin. Murid-murid Tai
Giok Siansu. cuma Tang San yang menerima warisan
ilmu pukulan Liong beng-kun, karena itu, dia jadi
bingung, siapa guru pemuda ini.

940
Melihat keringat mengucur deras dan kulit muka
yang merah seperti kulit kepiting direbus, Giok Han
tahu Tang San Siansu dalam keadaan murka dan
akan menggunakan seluruh tenaga sakti dari
pukulan Liong beng-kunnya, apa lagi suara
kerotokan tulang-tulang di tubuh Tang San Siansu
semakin lama semakin terdengar jelas.
Cu Lie Seng mengawasi dengan mata terbuka
lebar, dia juga heran mengapa gurunya bisa murka
begitu, sedangkan biasanya Tang San Siansu sangat
tenang dan meremehkan lawan. Sekarang
gurunyapun tampaknya mempergunakan serta
mengerahkan sebagian terbesar tenaga dalamnya
untuk menggunakan pukulan sakti Liong-beng-kun.
Segera Cu Lie Seng tahu akan terjadi
pertempuran yang seru. Tidak urung diapun heran.
Mengapa Giok Han bisa menggunakan jurus Liongbeng
kun. Dia yang menerima warisan ilmu pukulan
Liong-beng-kun dari Suhunya, baru memiliki kulitnya
saja, belum berhasil menguasai semua jurus
pukulan-pukulan sakti itu, mungkin tak akan
sanggup menyambuti pukulan yang tadi dilakukan
Suhunya.
Kenyataannya Giok Han berhasil memunahkan
tenaga pukulan itu seningga Suhunya harus
memusatkan pengerahan tenaga sakti pada
lengannya bertambah besar.

941
Giok Han sendiri sudah memusatkan tenaga
singkangnya, dia tahu sinkangnya belum bisa
mengimbangi sinkang Tang San Siansu, tapi dia
sudah diberitahukan oleh gurunya, bagaimana
menghadapi Tang San Siansu.
Dia bersiap-siap dengan mata awas. Sengaja dia
tak menjawab perkataan Tang San Siansu yang
mendesak agar dia mum beri tahukan siapa
gurunya, untuk memancing kemarahan Tang San
Siansu.
Memang akhirnya Tang San Siansu tak bisa
menahan kemarahan hatinya, kedua tangannya
seperti kaki naga yang mengandung kekuatan
mematikan menyerang Giok Han berulangkali.
Sekitar arena perkelahian tersebut seperti
dikuasai oleh deru angin yang bisa mematikan,
seperti jerit hantu dan iblis, yang bisa membikin
telinga jadi tuli dan syaraf jadi rusak. Suara itu
keluar dari kedua tangan Tang San Siansu, yang
sudah menggunakan sebagian terbesar tenaga
Liong-beng-kunnya.
Jika seseorang berkepandaian biasa-biasa saja,
dalam waktu satu dua jurus saja pasti sudah akan,
roboh dengan syaraf yang jadi rusak. Tapi Tang San
Siansu mengalami kesulitan untuk menjatuhkan Giok
Han, sebab tetap saja ia tak berhasil mendesak apa
lagi merobohkan Giok Han.

942
Pukulan-pukulannya yang mematikan hanya
mengenai tempat-tempat kosong. Jika tak tertangkis
oleh tangan Giok Han, juga hanya mengenai bagian
yang lunak seperti kapas, membuat tenaga pukulan
Tang San Siansu tak berdaya menerobos keluar.
Butir-butir keringat membanjiri muka Tang San
Siansu, dia kaget dan penasaran campur marah.
Kaget karena melihat Giok Han seperti memiliki
semacam ilmu pukulan yang setiap jurusnya
bagaikan mengimbangi dan mengiringi Liong-bengkun,
sehingga setiap pukulan Liong-heng-kunnya
seperti lenyap tak berarti apa-apa.
Juga, sinkang pemuda yang masih berusia sangat
muda ini, tidak rendah. Ini yang mengherankan
Tang San Siansu, Penasaran karena dia tak bisa
mendesaknya dengan Ltong-beng-kun pada pemuda
ini dan di saat itu sekali-sekali Giok Han malah bisa
membuat Tang San Siansu harus menarik pulang
tenaga pukulannya sebab tenaga pukulan Giok Han
juga tak kalah mematikan dari sinkang yang
dipergunakannya.
Tergoncang hati Tang San Siansu. Dia kuatir
bukan main, kalau-kalau pemuda ini memiliki
semacam ilmu yang merupakan tumbal dan
penangkis Liong-beng-kunnya. Tapi, dia juga
semakin bertekad hendak membinasakan Giok Han.
Kalau pemuda ini tak dibunuhnya, kelak merupakan
duri yang bisa mencelakai dirinya. Sekarang saja
dalam usia demikian muda Giok Han bisa menerima

943
dan menyambuti pukulan-pukulan Liong-bengkunnya
tanpa kurang suatu apapun juga, bahkan
masih sempat balas menyerangnya, kalau sepuluh
tahun lagi, niscaya Giok Han menjadi seorang yang
bisa saja mengatasi Liong-beng-kun serta memiliki
kepandaian yang lebih dahsyat dari Tang San
Siansu.
Suara berkesiutan tenaga dalam dari kedua
tangan Tang San Siansu memenuhi arena
perkelahian tersebut, bumi bergoncang seperti ada
gempa bumi, juga hawa udara jadi panas, karena
dari kedua tangan Tang San Siansu memancarkan
hawa panas, karena cepatnya berputar kedua
tangan itu, hawa panas itu seperti memenuhi arena
pertempuran tersebut.
Giok Han sendiri kaget dan kagum tidak terkira.
Kaget melihat tingkat latihan Tang San Siansu sudah
demikian tinggi. Kagum karena Liong-beng-kun
benar-benar merupakan jurus pukulan yang
dahsyat, setiap pukulannya mengandung maut.
Karena usianya yang masih muda, juga kalah
pengalaman maupun latihan tenaga dalam, Giok Han
merasa tertekan berat sekali menghadapi Liongbeng-
kun lawan. Cuma saja, berkat petunjukpetunjuk
yang diberikan Tai Giok Siansu yang
khusus harus dipergunakan kalau menghadapi Liong
beng-kun, sejauh itu Giok Han masih sanggup
menghadapi Tang San Siansu.

944
Kedua orang itu bertempur semakin lama
meningkat pada keadaan yang menentukan. Kedua
kaki Tang San Siansu sudah tak menggeser lagi, dia
hanya berdiri tegak diam di tempatnya, kedua
tangannya yang menyerang beruntun dan gencar
sekali, dengan tekanan tenaga dalam yang semakin
lama semakin ganas.
Telapak kakinya semakin lama semakin melesat
masuk ke dalam setiap kuda-kuda kakinya sudah
menggempur tanah, dan masuk ke dalam perlahanlahan.
Giok Han sendiri, biarpun kalah lwekang, tapi
karena dia memang sudah mempelajari jurus-jurus
pukulan untuk memunahkan Liong-beng-kun,
berhasil menghadapi terus, kakinya tak urung ikut
melesat juga, sebab tenaga kuda-kuda kedua
kakinya tak kalah dahsyatnya dari Tang San Siansu.
Semakin lama kedua orang itu berdiri semakin
rendah, tenaga yang mereka pergunakan sangat
menentukan sekali. Sedikit saja mereka kalah
tenaga ataupun juga lengah menghindar, niscaya
akan menemui kematian di saat itu juga.
"Pendeta busuk tak tahu malu!"
Tiba-tiba terdeagar suara nyaring yang disusul
dengan tersiarnya bau harum yang menusuk hidung.
Tang San Siansu dan Giok Han mencium harum
semerbak itu, mereka merasakan kepala masingKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
945
masing pusing. Tang San Siansu kaget tak terkira.
Dia sedang memusatkan delapan bagian tenaga
dalamnya, jika menarik kembali tenaga dalamnya
dengan tiba-tiba, dirinya bisa celaka, tenaga
dalamnya akan berbalik mencelakai dirinya.
Tapi jika dia tak melompat mundur, harum
semerbak itu semakin santer menerjang hidungnya,
dia tahu itu adalah asap beracun, yang akan
menyebabkan dia celaka juga.
Giok Han sendiri tak kurang kagetnya, karena
merasakan kepalanya pusing, matanya berkunang
kunang. Dirinya tengah dilibat oleh pukulan-pukulan
Tang San Siansu. Dia berusaha untuk menahan
napas, tapi hawa udara beracan telah sempat
tersedot masuk hidungnya.
Dalam keadaan seperti itu, tampak rlua butir
benda bulat menyambar ke muka Tang San Siansu,
meledak di depan muka- pendeta itu. Tak ada
pilihan lain buat Tang San Siansu, dia harus lompat
menjauhi diri, karena ledakan itu mengandung asap
beracun. Semula, kedua benda itu sebelum meledak,
menyambar akan menghantam mukanya, tapi
terhalang oleh kekuatan tenaga Liong-beng kun
Tang San Siansu, mukanya seperti dilapisi oleh
sebidang dinding yang tak tampak oleh penglihatan,
dan seperti juga membentur sesuatu yang keras tapi
tak terlihat, menyebabkan kedua benda itu meledak.

946
Cepat-cepat Tang San Siansu meloncat ke
belakang, kedua tangannya telah ditarik mundur,
Liong-beng-kunnya dipergunakan untuk menyerang
ke tengah udara, menyalurkan tenaga dalam yang
ditarik pulang itu agar tak berbalik menyerangnya,
dibuang ke tengah udara.
Giok Han sendiri merasakan tubuhnya bergoyanggoyang
hampir tak bisa mempertahankan diri berdiri
terus menghadapi tenaga Liong beng-kun Tang San
Siansu, tiba-tiba merasakan tenaga menekan yang
semula begitu menyesakkan napas, telah lenyap.
Tak buang waktu lagi dia loncat menjauhi diri dari
Tang San Siansu. Tidak urung tubunnya terhuyung
ketika kedua kakinya hinggap di tanah.
Di tempat tersebut sudah tambah seseorang.
Tubuhnya kurus semampai, mukanya cantik, kunnya
terbuat dari sutera ungu, dengan rambut yang
disanggul rapi. Dia seorang gadis yang matanya
sangat jeli dan berbulu mata lentik. Sikapnya gagah
sekali.
"Pendeta jahat, ilmumu terlalu ganas dan sesat."
Menggumam gadis itu dengan sikap seenaknya.
"Coba kau terima lagi peluru-peluru asapku!"
Sambil berkata begitu tangan si gadis memang
sudah bergerak melontarkan belasan butir benda
bulat ke arah muka Tang San Siansu, sehingga si
pendeta mengibaskan lengan jubahnya untuk
menghalau benda-benda bulat itu, yang meledak

947
setiap kali kena dikibas lengan jubah si pendeta,
keluar asap yang tebal dan berbau harum semerbak:
merupakan asap beracun.
Cu Lie Seng dan yang lainnya ke:ika melihat
munculnya gadis itu yang demikian tiba-tiba
mereka, segera bergerak hendak mengepung gadis
itu. Tapi gadis cantik jelita tersebut sudah
melepaskan belasan butir benda bulat itu, yang
meledak dan mengeluarkan asap beracun yang
sangat tebal. Untuk sejenak Cu Lie Seng tak berani
menorobos gumpalan asap beracun itu, demikian
juga halnya dengan Tong-mo dan yang lainnya.
Mendadak Giok Han merasa tangannya ditarik
seseorang, dan mendengar gadis itu berbisik di
dekatnya: "Ayo cepat menyingkir!" Dia juga
merasakan ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam
mulutnya, sejuk sekali, dan lenyap perasaan pusing
dan mualnya. Dia merasa tangannya itu ditarik
terus, sehingga dia seperti terseret.
Rupanya mempergunakan kesempatan waktu
asap beracun itu bergumpal tebal, si gadis berusaha
menyelamatkan Giok Han yang ditariknya agar
meninggalkan tempat tersebut. Giok Han yang
pikirannya waktu itu melayang layang setengah
sadar karena terpengaruh asap beracun, hanya ikut
berlari saja.
Setelah beberapa saat lamanya, rupanya obat
pulung yang sejuk yang tadi masuk ke dalam

948
mulutnya mulai bekerja, dia baru bisa mengerahkan
tenaga dalamnya, untuk berlari lebih cepat.
Tang San Siansu marah-marah mengibasngibaskan
lengan jubahnya, guna membuyarkan
gumpalan asap beracun. Dia batuk-batuk, berusaha
menahan pernapasannya. Sempat juga Tang San
Siansu memperingatkan murid dan kawankawannya;
"Tahan pernapasan, asap ini beracun!"
Angin telah membuat asap itu semakin lama
buyar semakin tipis, akhirnya tempat itu bersih dari
pengaruh asap dan mereka bisa melihat lagi dengan
jelas.
Namun di situ sudah tak tampak Giok Han
maupun si gadis yang pandai melontarkan peluru
berasap yang mengandung racun. Bukan kepalang
marahnya Tang San Siansu.
"Kejar dan bekuk mereka!" Serunya. Dia juga jadi
kuatir, merasakan hatinya dingin sekali, ada
perasaan aneh yang menakutkan, kalau dia berpikir
Giok Han bisa lolos dari tangannya. Dia tahu,
ancaman sangat menakutkan kalau pemuda itu bisa
lolos dari tangannya. Keringat dingin mengucur dari
kening Tang San Siansu. Belum pernah dia merasa
gentar seperti saat itu. Karena dia menyadari bahwa
Giok Han menguasai semacam ilmu yang tampaknya
untuk menindih dan mengatasi Liong-beng-kun !

949
Cu Lie Seng dan yang lainnya sudah berusaha
mencari Giok Han dan gadis itu, tapi mereka tak
berhasil menemui kedua orang itu. Orang yang
mereka kejar seperti lenyap ke dalam perut bumi,
tak kelihatan bayangannya lagi. Lama juga setengah
harian Cu Lie Seng, Tong mo. Pak mo, Lam-mo dan
See-mo mencari Giok Han dan gadis yang
menolonginya, tapi usaha mereka gagal.
Dengan uring-uringan Tang San Siansu mengajak
mereka pulang, tapi sepanjang perjalanan pendeta
ini marah-marah tak sudah-nya, Cu Lie Seng dimaki
terus menerus dengan keras, dan diperintahkan
mencari jejak Giok Han dan gadis itu.
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
------
Setelah berlari cukup lama, kesadaran Giok Han
pulih kembali. Pengaruh asap beracun yang tadi
sempat terhisap olehnya kini sudah berkurang. Dia
merasa malu tangannya digenggam oleh gadis
cantik disebelahnya, yang mengajaknya berlari.
Ditarik tangannya, tapi gadis itu menggenggam
kuat.
Karena Giok Han menarik tangannya, gadis itu
menghentikan larinya. "Kita sudah lolos dari mereka
! Tempat ini jarang didatangi manusia !
"Menjelaskan si gadis.

950
Giok Han menoleh kekiri kanan. Ternyata dia
berada di sebuah lembah, yang memiliki
pemandangan sangat indah. Sejenak Giok-Han
terpukau oleh pemandangan yang ada di sekitar
tempat itu. Tadi dia tak memperhatikan
sekelilingnya, karena dia dalam keadaan
terpengaruh astp beracun. Sekarang setelah
pengaruh asap beracun itu lenyap, dia baru
menyadari bahwa dirinya berada di suatu tempat
yang demikian indah dan tertutup oleh tebing-tebing
yang sangat tinggi menjulang ke langit.
"Telanlah pil penawar racun." kata gadis itu
sambil mengulurkan tangannya memberikan dua
butir pil pada Giok Han. "Tadi sudah kau telan dua
butir pil sehingga kesehatanmu tak perlu dikuatirkan
lagi, tak membahayakan asap beracun yang sudah
kau hirup bersama dengan napasmu. Tapi, untuk
membersihkan badanmu dari pengaruh racun itu,
kau harus menelan lagi dua butir. Hayo, telanlah."
Giok Han menelan pil itu, tanpa ragu-ragu
menelannya. Kemudian dia merangkapkas
tangannya mengucapkan terima kasih. Hatinya
waktu itu sedang coba mengmgat-ingat, karena
rasanya dia sering mendengar suara sepeti si-gadis,
suara yang sering didengarnya, nadanya maupun
irama kata-katanya.
Dia juga seakan-akan merasa pernah bertemu
dengan gadis ini, namun dia tak ingat entah di mana
pernah bertemu dengan ; adis di depannya, yang

951
demikian cantik, berpakaian mentereng dan mewah,
manis senyumnya, tajam matanya berbulu lentik
serta memiliki bentuk yang menarik.
Rambutnya yang hitam digelung dua merupakan
sanggul yang sangat rapi. Bibir-nya yang tipis selalu
tersenyum manis. Canggung buat Giok Han
berhadapan dengaa gadis secantik ini, kulitnya
begitu putih mulus dan seperti lapisan salju di
musim dingin saja. Suara gadis itu merdu, tapi suara
itu serasa dikenalnya, sering mendengarnya, tapi di
mana ? Waktu dia memberi hormat, dia diam-diam
memperhatikan wajah si gadis.
Gadis itu tersenyum. "Kau masih pusing?"
tanyanya, halus.
"Terima kasih, nona. Pil penawar racun yang
diberikan nona ternyata bekerja cepat sekali,
sekarang rasa pusing dan mual sudah lenyap, tapi . .
. mengapa nona menempuh bahaya menolongiku ?"
Gadis itu tersenyum. "Kau kira, hanya engkau
yang bermusuhan dengan Tang San si pendeia jahat
itu ? Kau tahu, dia merupakan musuh besarku. Kau
mungkin saja memiliki dendam yang besar padanya,
tapi justeru dendamku melebihi besarnya dari
dendammu pada si pendeta jahat itu !"
Giok Han mengawasi gadis ini. Usianya masih
muda. Cantik jelita. Biasanya wanita cantik paling
pantang mempelajari ilmu silat. Giok Han tak

952
percaya bahwa gadis semuda ini memiliki
kepandaian tinggi, karena wanita paling kuatir kalau
tangan dan kakinya berobah jadi berotot-otot besar
dan kasar.
Kenyataannya justeru gadis ini memiliki
kepandaian tinggi, ginkangnya juga cukup tinggi,
karena waktu tadi dia menyeretnya, dia bisa
membawanya lari begitu cepat, buat menyingkir dari
Tang San Siansu dan anak buahnya. karenanya,
diam-diam Giok Han merasa kagum pada gadis ini.
Sekali lagi kuucapkan terima kasih atas
pertolongan nona Terlepas apakah nona juga
menaruh dendam pada Tang San Siansu, aku telah
menerima pertolongan nona sehingga terlepas dari
kepungan mereka."
"Jangan selalu bilang terima kasih! Ka-lau
memang tidak memiliki tujuan yang sama, yaitu
sama-sama memusuhi Tang San si pendeta jahat
apakah kau kira aku mau menempuh bahaya
menolongi kau?" bilang gadis itu sungguh-sungguh.
"Karena memiliki tujuan yang sama, maka aku
bersedia bersahabat dengan kau."
"Baiklah nanti kita menghadapi Tang San Siansu
bersama-sama. Dengan bekerja sama tentu kita bisa
menghadapi Tang San Siansu dan orang-orangnya
jauh lebih baik! Sebetulnya, bicara soal dendam, aku
tak mem punyai dendam apa-apa padanya, cuma
mempunyai tugas untuk membasmi dia karena

953
sepak terjangnya yang ganas dan ini atas perintah
guruku, sebab Tang San Siansu merupakan murid
murtad dari salah seorang di antara murid murid
guruku."
"Tapi kau juga mau membantuku untuk
menghadapinya, bukan?"
"Tentu saja, sudah kuberitahukan bahwa aku
juga mempunyai tugas yang diberikan guruku untuk
membasminya. Kalau kau memang tak keberatan
nona, bolehkah kuketahui namamu? "
"Aku she Cang. Ayahku Cang O Han."
menjelaskan si gadis.
Giok Han jadi merasa lucu, karena ditanya nama
kok malah memberi tahukan nama ayahnya.
Mungkin gadis ini keberatan buat memberi tahukan
namanya padanya. Dia tidak memaksa terus.
"Oya, kau belum lama yang lalu mempunyai
sahabat, bukan?" tanya gadis ini sambil
memperhatikan Giok Han yang tersenyum senyum
mengawasinya. Giok Han jadi heran, lenyap
senyumnya, "siapa sahabatku yang kau
maksudkan?" tanyanya.
"Hemm" sigadis tersenyum sinis "Kau mengakui
seseorang sebagai sahabatmu, tapi baru berpisah
beberapa hari saja sudah kau lupakan!"

954
"Maaf nona Cang, kalau kau tak memberitahukan
siapa sahabatku yang kau maksudkan, bagaimana
mungkin aku mengetahui siapa yang kau maksudkan
?"
Gadis itu tak berkata apa-apa, dia memutar
tubuhnya, memandang tebing yang tinggi menjulang
ke langit, dia menggumam: "Benar. lidah tak
bertulang dan manusia selalu bicara manis. Sahabat,
sahabat, sahabat, tapi itu di mulut dan merupakan
kata-kata basa-basi sebagai pemanis.
Sesungguhnya, sulit sekali mencari sahabat sejati
didalam dunia ini !"
Giok Han tambah heran menyaksikan kelakuan
nona Cang, dia mengawasi dengan hati merasa tak
enak, karena itu mungkin menyangka dia berpurapura.
Tiba-tiba nona Cang memutar tubuhnya
mengawasi tajam pada Giok Han. "Sekarang kau
mempunyai sahabat berapa orang?" tanyanya.
"Tidak banyak. Hanya beberapa orang."
"Hanya beberapa orang ? Tapi yang belakangan
ini orang yang menjadi sahahatmu itu ada beberapa
orang ? Maksudku selama beberapa bulan terakhir
ini ?"
Giok Han coba ingat-ingat. Kemudian: "Ada
beberapa orang."

955
"Siapa-siapa ?" tanya gadis itu, wajahnya
berobah.
"Sahabatku yang pertama adalah seorang yang
sulit diketahui siapa dia sebenarnya, dia tak pernah
mau memberitahukan namanya dia juga berpakaian
kurang rapi, sebagai pengemis." menjelaskan Giok
Han.
Si gadis memotong: "Seorang pengemis kotor
mesum mengapa harus kau akui sebagai sahabat ?
Apa lagi kau bilang dia berpakaian jorok dan tidak
rapi, mesum sekali tentunya, mana pantas menjadi
sahabatmu ?"
Giok Han cepat menggeleng. "Sahabat sejati
tidak melihat kaya-miskin, biar dia berpakaian tidak
rapi, tapi dia mempunyai pendirian dan sifat yang
gagah yang patut dikagumi. Tapi... tapi akhirnya
kuketahui dia seorang gadis...!"
Berkata sampai di situ, mendadak Giok-Han
menepuk tangannya dan berjingkrak seperti kaget
campur girang- "Ahhh. . Sekarang aku tahu ! Aku
tahu !"
Gadis itu menatapnya heran, dia bertanya raguragu
:"Apa yang kau ketahui?"
"Aku sudah ketahui !" menyahut Giok-Han sambil
mengawasi gadis di depannya sambil tersenyumsenyum.
Kau adalah sahabatku itu ! Kaulah.. si

956
pengemis itu" Tapi berkata begitu Giok Han
menyesal sendirinya. Mana mungkin dia si pengemis
merupakan nona secantik dan berpakaian demikian
mewah? Tapi waktu menyebut si pengemis diketahui
pada akhirnya adalah seorang wanita, dia jadi
teringat akan suara si pengemis, yang nada dan
suaranya sama dengan nada suara gadis
didepannya.
Memang waktu pengemis itu melarikan diri ketika
kopiahnya terpukul jatuh sehingga rambutnya turun
beriap, Giok Han tak bisa melihan jelas. Justru
merasa suara nona Cang sama dengan suara si
pengemis, dia jadi menduga begitu, namun dia jadi
menyesal serdiri. Tak mungkin gadis secantik nona
Cang mau berpakaian sebagai pengemis yang kotor
mesum seperti itu.
Gadis itu sudah memandangnya sambil
tersenyum. "Kau bilang aku si pengemis sahabat
itu!"
Giok Han memandang ragu-ragu, namun
akhirnya dia bilang bimbang: "Nona jangan marah,
tapi. .... suaramu sangat sama seperti sahabatku itu
!"
"Coba kau perhatikan baik-baik, apakah aku mirip
sahabatmu itu ?"
Giok Han memperhatikan si gadis. Diiihatnya pipi
si gadis memerah malu, berwarna dadu, menambah

957
mukanya semakin cantik saja. Dia ragu-ragu. Gadis
ini demikian cantik jelita, tak mungkin menganut
penghidupan sebagai pengemis. Pakaiannya
demikian mewah dan mentereng, memakai
perhiasan bermacam-macam berkilauan. Tapi,
bentuk dan tinggi tubuhnya memang hampir sama
dengan sipengemis. Dia jadi semakin ragu-ragu.
"Bagaimana? Miripkah aku dengan sahabatmu itu
?* tanya gadis itu lagi.
"Bentuk badan nona memang mirip dengan
bentuk badannya, juga tinggi tubuh nona... suara
nona juga sama, tapi.... mana mungkin sahabatku
itu adalah kau... kalian merupakan langit dan bumi,
satu dengan yang lainnya sangat berbeda.
Sahabatku itu adalah pengemis yang berpakaian tak
rapi, muka yang selalu kotor, sedangkan kau adalah
gadis... gadis yang cantik jelita dan... dan
berpakaian demikian bagus."
Pipi nona Cang berobah mendengar kata-kata
Giok Han yang secara tak langsung memujinya. Dia
sampai mendehem sambil menunduk. "Apakah
sahabatmu itu... secantik... secantik aku ?" tanya
nona Cang kemudian, suaranya perlahan.
"Aku tak melihat jelas mukanya, karena mukanya
sangat kotor corang-coreng oleh debu dan diapun
memakai kopiah. Waktu bertempur dengan orangorang
Cu Lie Seng, kopiahnya jatuh dan tampak
rambutnya panjang, tapi aku tak keburu melihat

958
jelas, dia sudah pergi meninggalkan aku. Sejak saat
itu kami tak pernah bertemu lagi."
"Bagaimana kalau sahabatmu itu sekarang
datang lagi, apakah setelah kau ketahui dia seorang
gadis, maka masih tetap akan menganggapnya
sebagai sahabatmu ?" tanya nona Cang sambil
mengawasi Giok Han sungguh-sungguh.
Giok Han bukan seorang yang tolol. Dia bahkan
seorang pemuda yang cerdas. Cuma saja, dia sering
merasa kikuk kalau berhadapan dengan seorang
gadis, apa lagi gadis yang cantik jelita. Dugaannya
semakin keras bahwa gadis ini adalah si pengemis.
Cuma dia masih ragu ragu belum berani
memastikannya. Dia mengawasi gadis ini tajam dan
cermat, sampai akhirnya dia bilang: "Seorang
sahabat sejati tentu tak melihat apakah dia kaya
miskin atau dia pria dan wanita, yang terpenting
adalah pengertian dan persahabatan yang murni,
karenanya kalau memang sahabatku itu datang dan
kami bertemu, tetap saja dia sahabatku."
Si gadis tersenyum. Manis senyum nona Cang,
dia bilang: "Kalau begitu kita tetap bersahabat.
Akulah si pengemis kotor mesum itu !"
Walaupun sejak tadi sudah memiliki dugaan
bahwa gadis didepannya ini, yang mempunyai suara
sama seperti suara si pengemis juga bentuk
tubuhnya, adalah sahabatnya itu, tapi tak urung

959
Giok Han jadi kaget juga. "Kau... kau benar
sahabatku itu ?"
Si gadis tersenyum. "Kau tunggu di sini." Dia
kemudian berlari-lari menyelinap ke balik sebungkah
batu dipinggir tebing. Giok Han menunggu dengan
hati bertanya-tanya entah apa yang hendak
dilakukan nona Cang. Tak lama kemudian nona Cang
telah keluar kembali, tapi sekarang keadaannya
sudah berobah benar, karena yang muncul bukan
nona Cang yang cantik jelita dan berpakaian mewah,
melainkan seorang pengemis! Pengemis yang jadi
sahabatnya, yang selama ini telah menghilang tak
diketahui jejaknya.
Mukanya kotor, kopiahnya dibeleseki sampai
menutupi keningnya, pakaiannya compang-comping.
Dia berjalan berlenggang lenggok menghampiri Giok
Han. "Nah, aku sahabat mu, bukan ?"
Giok Han mengawasi tertegun sejenak, tapi
tertawa keras. Dia girang bisa bertemu lagi dengan
sahabatnya ini, cuma yang tak disangkanya justeru
sahabatnya itu adalah seorang gadis yang cantik
jelita menawan hati yang disembunyikan di balik
pakaian yang compang-camping dan muka yang
kotor.
"Nona Cang, kau rupanya selama ini
mempermainkan aku !" kata Giok Han tertawa.

960
"Jangan memanggilku nona Cang, bukankah
biasanya kau memanggilku dengan sebutan
"sahabat"? Mengapa sekarang kau robah cara
memanggilmu, apakah aku sudah tak menganggap
aku sebagai sahabatmu lagi ?"
Pipi Giok Han merah, dia tertawa. "Kau jangan
salah paham...aku...aku semula tak tahu siapa
namamu, maka aku menyebutmu dengan "sahabat"
selalu, sekarang setelah kuketahui namamu..."
"Sekarangpun kau belum mengetahui namaku."
Memotong si gadis.
Giok Han tertegun, namun dia tertawa dan
mengangguk.
"Benar, sampai sekarang aku belum mengetahui
namamu. Tapi.... namaku tentu kau sudah tahu.
Sekali lagi dalam kesempatan ini kuperkenalkan diri,
namaku Giok Han."
"Namamu sudah kuketahui, berapa kali sudah
kau beritahukan padaku ! Sampai bosan
mendengarnya ! Dengan bicara seperti itu kau
hendak memancingku, agar memberitahukan
namaku. Kau jangan mimpi ! Aku tak mungkin dapat
kau pancing dengan cara seperti itu."
"Nona manis, jangan bilang begitu. Tentu saja
sebagai sahabat, aku harus mengetahui namamu."
Kata Giok Han tertawa.

961
Pipi nona Cang berobah merah, dia menunduk
malu mendengar Giok Han memanggilnya dengan
sebutan nona manis. Apa lagi didengarnya Giok Han
sudah bilang lagi:
"Kalau kau tak mau memberitahukan namamu,
biarlah selanjutnya aku memanggilmu nona manis,
Nona manis yang baik, kemana saja selama ini kau
pergi, sampai aku mencari-carimu ke penjuru
tempat bercapai lelah tanpa menemukan jejakmu."
"Ihhh, mulutmu ternyata ceriwis. Kalau kau tetap
bersikap ceriwis, aku tak sudi bersahabat denganmu
lagi !" kata si gadis seperti mengambek.
"Nah, kalau kau tak mau aku memanggilmu
dengan sebutan nona manis, beritahukan dong
namamu."
"Namaku jelek, nanti kau mentertawakan."
"Jelek atau bagus, tetap nama dari sahabatku.
Kalau ada orang yang berani mengejek dan
menghina nama sahabatku, pasti akan kuhajar
orang itu agar kapok!" kata Giok Han bersemangat.
Pipi si gadis berobah merah, biarpun mukanya
sudah dikotori oleh debu dan tanah tetap saja masih
tampak kecantikannya. Dia melirik dan berkata
malu: "Namaku .... In Bwee." Perlahan sekali
suaranya, hampir tak terdengar.

962
Mendadak si nona Cang jadi kaget, karena Giok
Han menjura berkali-kali padanya sambil berkata:
"Terima kasih nona Cang... terima kasih, kau sudah
mau memberitahukan namamu, itu tandanya kau
memang mau bersahabat denganku !"
Cepat-cepat Cang In Bwee menyingkir ke
samping tak mau menerima hormat Giok Han.
"Jangan begitu akh, seperti anak nakal saja kau...!"
Mulutnya cemberut, tapi hatinya senang sekali.
"Aku senang sekali mempunyai sahabat yang
cantik seperti kau !" bilang Giok Han polos, namun
pemuda ini cepat jadi menyesal, karena dia kuatir
nanti kata-katanya yang diucapkan setulus hati itu
bisa menyebabkan nona Cang salah paham dan
menganggapnya dia seorang yaug ceriwis dan
kurang ajar.
"Bohong !" kata nona Gang sambil geleng-kan
kepala, "Aku tak percaya kau cuma bersahabat
denganku. Buktinya, kau mempunyai sahabat lain,
yang cantik manis, yang telah mentraktir kau makan
minum, yang tampaknya... tampaknya begitu
sayang padamu !"
Berkata sampai di situ muka si gadis berobah
merah. Tampaknya malu dan sudah terlanjur
berkata demikian. Cepat-cepat da meneruskan:
"Perduli apa sahabatmu itu denganku... cuma aku
ingin mengingatkan padamu, bahwa kau juga
mempunyai sahabat-sahabat lain selain diriku."

963
"Maksudmu . . . nona Cu ?" tanya Giok Han.
"Ya, bukankah dia sangat cantik ? Sangat manis
sikapnya padamu ?"
"Dia memang sangat baik, tapi aku kurang...
kurang menyukainya."
"Mengapa ? Dia sangat baik dan manis budi, juga
sangat cantik jelita."
"Dia she Cu, sama dengan she musuh besarku."
"Oooo ..." si gadis tak menggoda lebih jauh...
Siapa musuh besarmu itu ?"
"Cu Bian Liat..." menyahuti Giok Han dengan
sikap sengit, mukanya jadi bersungguh-sungguh dan
keras, matanya bersinar tajam, karena waktu itu
hatinya bergolak marah teringat keluarganya telah
dibinasakan dan dimusnahkan oleh orang she Cu
tersebut. "Oooo, Cu-kongkong itu ?" tanya Cang In
Bwee kaget.
Giok Han mengangguk. Giginya berkeretekan,
karena dia gegetun sekali, "Benar, dia musuh
besarku. Dalam waktu dekat aku akan mengadakan
perhitungan dengannya !"
"Mengapa kau bermusuhan dengan orang
kepercayaan Kaisar ?" tanya Cang In Bwee tertarik.

964
Giok Han menghela napas, dia ragu-ragu, tapi
kemudian menceritakan apa yang telah menimpah
keluarganya. Cang In Bwee sekarang tak bersikap
ugal-ugalan seperti tadi, karena dia sekarang
memandang iba dan kasihan kepada Giok Han. Dia
juga kaget mengetahui Giok Han adalah satu
satunya keturunan Jenderal Giok Hu yang sangat
terkenal dan telah menjadi korban fitnah itu.
"Kalau begitu kita senasib. Keluargaku juga telah
dihancurkan tangan bengis seorang manusia sadis.
Aku pun sudah yatim piatu sejak kecil." Muka nona
Cang berubah muram dan sedih.
"Keluargamu juga dihancurkan seseorang ?"
tanya Giok Han yang sekarang jadi kaget.
Cang In Bwe mengangguk. "Ya, keluargamu
dihancurkan oleh Cu kongkong, keluargaku juga
dihancurkan tapi oleh orang lain, yaitu Tang San si
pendeta jahat itu ! Ayah ibuku dibinasakannya,
beberapa orang saudara ku, dua kakak laki-laki dan
tiga orang adik perempuanku telah dibinasakan
juga. Cuma aku seorang yang berhasil lolos dari
kematian, itupun berkat pertolongan guruku..."
"Keluargamu dihancurkan oleh Tang San Siansu?"
tanya Giok Han menegasi.
"Ya. karenanya aku sekarang hendak membalas
sakit hatiku padanya!" Mengangguk nona Cang.

965
"Kau... kau tentu mau membantuku menghadapinya,
bukan?"
Dengan bersemangat segera Giok Han
menyahuti. "Tentu saja aku mau membantumu.
Biarpun keluargamu dihancurkan Tang San-Siansu,
tapi yang harus bertanggung jawab adalah Cu Bian
Liat. Bukankah Tang San Siansu juga bekerja pada
keluarga Cu itu, menghamba dan menjadi guru
puteranya Cu Bian Liat, yaitu Cu Lie Seng."
Cang In Bwee berjingkrak dengan muka merah
padam, dia berseru bersemangat. "Tang San si
pendeta jahat dan Cu Bian Liat memang harus
dibasmi, mereka berdua sama-sama manusia berhati
iblis, yang selalu mencelakai orang lain!"
Kemudian dia menoleh pada Giok Han, katanya
lagi: "Kalau begitu, kita akan bekerjasama untuk
membasmi kedua orang itu."
Giok Han mengangguk bersemangat sekali
menghampiri si gadis, menggenggam tangan Cang
In Bwee. katanya dengan gagah: "Ya aku akan
bekerjasama dengan kau untuk membasmi Tang San
Siansu dan Cu Bian Liat."
Mendadak Giok Han ingat dia telah memegang
tangan si gadis, mukanya jadi merah dan cepatcepat
melepaskan, Sedangkan Cang In Bwee waktu
dipegang tangannya, pipinya terasa panas, dia malu
bukan main, tapi tak ditariknya tangannya dibiarkan

966
si pemuda memegangnya, sampai akhirnya si
pemuda melepaskan genggamannya itu. Tangan
yang sangat hangat sekali.
"Maaf," kata Giok Han sambil menunduk malu.
"Aku terlalu lancang dan kurang ajar berbuat tak
sopan."
Cang In Bwee menggeleng. "Kau adalah
sahabatku," katanya menghibur. "Kau seorang
sahabat yang baik, aku percaya kau tak mempunyai
tujuan-tujuan yang buruk, sejak pertama kali kulihat
segera kutahu kau adalah seorang yang baik hati
seorang laki-laki jantan! Tapi aku menyesal telah
mempermainkanmu, aku ingin minta maaf padamu."
"Mempermainkan aku? Kapan dan bagai mana
kau mempermainkan aku?" tanya Giok Han heran.
"Aku pernah membuat kau pusing dan terheranheran,
karena pelayan rumah penginapan telah
kuberikan sejumlah uang dan membayarkan semua
makan dan menginapmu di rumah penginapan
tersebut, dengan demikian selalu membuat kau
heran karena selalu ada orang yang telah
membayarkan makanmu."
"Oooooh kalau begitu yang selama ini
mempermainkanku adalah kau!" berseru Giok Han.
Meudadak dia tertawa dan menepuk jidatnya.
"Benar-benar aku tolol!"

967
"Apa yang kau tertawakan?" tanya Cang In Bwee.
"Aku benar-benar tolol! Kalau siang-siang aku
tahu yang membayarkan makanku dan juga
mengaku sebagai calon... calon isteriku adalah kau,
tentu aku tidak akan... tidak akan repot-repot
menyelidiki, akan menerimanya dengan girang!"
Setelah berkata begitu Giok Han nyengir.
Muka Cang In Bwee berobah merah, dia
melengos. "Kalau mulai ceriwis, kalau kau berani
ceriwis lagi, aku tak akan meladenimu !"
"Tidak berani lagi, nona manis. Kau adalah
sahabatku, bukankah wajar seorang sahabat
membayarkan makan sahabatnya?" kata Giok Han
cepat, karena dia tahu si gadis merasa malu dan
canggung. "Aku berterima kasih sekali padamu
karena telah membayarkan semua makanku.
Sayangnya waktu itu aku tak mengetahui, sehingga
tak bisa cepat-cepat mengucapkan terima kasih
padamu."
"Sudah jangan menggodaku terus. Sekarang kita
harus memikirkan dengan cara apa harus
menghadapi Tang San si pendeta jahat. Dia memiliki
ilmu yang sangat tinggi dan bukan lawan yang
mudah dihadapi."

968
"Nanti akan kita rundingkan caranya yang
terbaik. Sekarang kau ceritakan dulu mengapa
keluargamu dicelakai Tang San Siansu?""
Muka si gadis berobah murung, namun dia
menceritakan juga riwayatnya. Sambil bercerita, air
matanya sudah berlinang membasahi pipinya dan
jatuh tetes demi tetes.
Ternyata Cang Ing Bwee puteri Cang Ce Han,
seorang tokoh persilatan yang sudah menyimpan
pedang dan mengundurkan diri. Tetapi siapa tahu,
pada malam malapetaka itu, muncul Tang San
Siansu dengan anak buahnya membasmi keluarga
Cang.
Sebagai seorang kiam-kek (ahli pedang) tentu
saja Cang Ce Han tak mau berdiam diri begitu saja,
segera memberikan perlawanan dan dia terbinasa di
tangan Tang San Siansu. Sedangkan isterinya dan
lima orang anaknya dibinasakan oleh anak buah
Tang San-Siansu.
Dari keenam orang anaknya, hanya Cang Ing
Bwee yang berhasil lolos, karena waktu terjadi
keributan dan malapetaka yang menimpa keluarga
Cang, kebetulan Toat-beng-sinciang berada di situ,
dan segera melarikan Cang In Bwee, lolos dari
tangan maut Tang-San Siansu.
Toat-beng-sin-ciang berada di rumah keluarga
Cang karena sedang bertamu, dia sahabat Cang Ce

969
Han. Dia rasa tak sanggup menghadapi Tang San
Siansu, dia segera meloloskan diri bersama Cang In
Bwee. Hal inilah yang seringkali disesalkan oleh
Toat-beng-sin ciang karena dia menyesal tak bisa
membantu temannya menghadapi rombongan Tang
San Siansu yang begitu banyak dan semuanya
memiliki kepandaian yang sangat tinggi.
Berhasilnya lolos Cang In Bwee menyebabkan
keluarga Cang tak putus keturunan, dia dirawat oleh
Toat-beng-sinciang, yang sejak terjadi peristiwa itu
telah menyembunyikan diri dan tak muncul lagi
dalam rimba persilatan, karena seluruh perhatian
dicurahkan buat mendidik Cang In Bwee.
Dia juga telah menciptakan beberapa jurus
pukulan baru, untuk muridnya ini. Waktu itu Cang In
Bwee baru berusia 8 tahun, selama delapan tahun
dia belajar di bawah gemblengan gurunya.
Kemudian dia turun gunung, selama dua tahun dia
menyelidiki jejak Tang San Siansu, akhirnya
berhasil.
Dia seorang gadis yang nakal, dia sengaja
berpakaian sebagai pengemis untuk mencegah
kerewelan karena dia memiliki wajah sangat cantik
dan bentuk tubuh sangat bangus. Gurunya yang
perintahkan dia selama mengembara agar
menyamar sebagai pengemis kotor dan mesum.
Dengan cara demikian memang Cang In Bwee tak
pernah bertemu kerewelan. Sebagai pengemis kotor

970
dan mesum tentu saja tak ada pemuda-pemuda atau
laki-laki mata keranjang yang menggodanya.
Namun. kalau memang ada juga orang yang
berbuat kurang ajar dan tak pantas padanya. Cang
In Bwee sendiri tidak gentar, dia sudah memiliki
kepandaian tinggi, baru jago-jago tanggung pasti
dapat dirobonkannya. Apa lagi gurunya telah
mengajarkan padanya berbagai cara
mempergunakan racun, sehingga dia selamat tak
pernah memperoleh kesulitan !
Justeru di saat dia mengendus dan mulai
munemukan jejak Tang San Siansu. ia berkenalan
dengan Giok Han, dengan cara perkenalan yang
aneh, di mana Cang In Bwee mempermainkan Giok
Han.
Senang si gadis melihat Giok Han kepusingan dan
bingung mencari-cari orang yang telah
mempermainkannya. Sampai akhirnya dia melihat
Giok Han bentrok dengan Siangkoan Giok Lin, dia
segera mengajak si pemuda untuk memberitahukan
apa yang selama ini dilakukan Siangkoan, Giok Lin.
Siapa nyana belum lagi dia sempat menjelaskan,
telah datang Cu Lie Seng dan anak buahnya yang
semuanya berkepandaian tinggi, sampai akhirnya
Cang In Bwee berpisah dengan Giok Han. Sekarang
urusan telah jadi jelas dan terang, dia melihat juga
Giok Han memang seorang yang baik dan jujur.

971
Dia sempat mengawasi secara diam-diam waktu
Giok Han ditraktir makan oleh Cu Siauw Hoa.
Hatinya mendongkol dan diam-diam merasa ada
sesuatu perasaan aneh yang tak diketahuinya apa
namanya padahal perasaan cemburu, yang sempat
bersemayam di hatinya. Entah mengapa pemuda itu
sangat mengusik hatinya, diam-diam dia menyukai
Giok Han.
Justeru perasaan menyukai seperti itulah yang
akhirnya timbul sifat-sifat kewanitaan Cang In Bwee.
Setiap wanita tentu akan berusaha sekuat tenaga
agar ia sangat cantik jelita dan menonjolkan
kelebihan-kelebihannya di mata orang yang
disukainya, dan demikian juga dengan Cang In
Bwee.
Karenanya dia telah melepaskan pakaian yang
selama ini dipakainya dalam menyamar sebagai
pengemis, dia berpakaian rapi sebagai seorang
gadis, yang memang cantik jelita dan muncul di
depan Giok Han sebagai gadis jelita !
Sambil menyusut air matanya Cang In Bwee
menyudahi ceritanya. Tentu saja dia tak
menceritakan apa yang dirasakannya terhadap Giok
Han, cerita tentang keluarganya itulah yang
menimbulkan kesedihan hatinya Giok Han jadi sibuk
menghiburnya. Tapi semakin dihibur oleh Giok Han,
bukannya berhenti air mata si gadis, bahkan jadi
semakin deras mengucur keluar, karena dia jadi

972
semakin sedih menerima perlakuan yang sedemikian
manis dari sahabatnya, pemuda yang disukainya.
Giok Han sampai bingung dan kelabakan sendiri,
karena semakin dihiburnya gadis uu jadi semakin
sedia saja tangisnya, karena bingungnya Giok Han
sampai diam dan bengong saja, mengawasi si gadis
menangis.
Justeru Giok Han bengong mengawasi dengan
mata terbuka lebar-lebar karena kebingungan,
mendadak Cang In Bwee mengangkat kepalanya dan
tertawa, padahal air matanya masih mengucir keluar
dan pipinya masih basah. Dia merasa lucu melihat
sikap Giok Han.
"Kenapa kau bengong seperti patung saja ?!"
tanya si gadis lucu campur mendongkol. Apakah ada
yang aneh di tubuhku ? Atau ada yang tak lengkap
di badanku ? Mataku mungkin picek sebelah, atau
mulutku tak benar letaknya miring ke samping ?"
Giok Han kaget cepat-cepat menggeleng.
"Bukan... bukan begitu. Aku bingung kau menangis
terus menerus. Rasanya aku jadi ingin ikut
menangis."
"Kalau kau mau ikut menangis, mengapa tak ikut
menangis?"
"tanya sigadis bertambah lucu. "Ayo.
menangislah!"

973
"Dan dia jadi tertawa sendirinya setelah
mengajurkan begitu.
Giok Han juga tertawa "Air mataku tapi tak mau
keluar." justeru karena tertawa geli terus menerus,
malah air mata Giok Han sampai keluar !
Mereka jadi merasa dekat dan senasib,
merekapun jadi akrab di waktu itu, karena, mereka
segera tahu bahwa mereka mempunyai musuh yang
sama yaitu Cu-kongkong Cu Bian Liat dan Tang San
Siansu.
Mereka berdua sudah bertekad hendak bekerja
sama untuk membasmi musuh guna membalas sakit
hati mereka. Kemudian kedua muda-muda ini
meninggalkan lembah itu sambil merencanakan apa
yang hendak mereka lakukan terhadap musuh besar
mereka...
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
---
Malam itu bulan bersinar cukup terang
berkilauan, sinarnya seperti cahaya yang membias
ke sekitar tempat itu, yaitu sebuah jalan raya yang
cukup lebar ditengah-tengah kota, beberapa orang
penduduk kota ada juga yang tengah duduk-duduk
di halaman depan rumah masing-masing, untuk
memperoleh hawa sejuk di malam yang kering
tersebut. sambil menggoyangkan perlanan-lahan

974
kipasnya dan ada juga yang menikmati keindahan
bulan dan udara malam sambi! menghisap
huncwenya.
Serombongan orang berkuda tampak menyusuri
jalan itu, jumlah serombongan itu cukup banyak,
mungkin lebih empat puluh, Dan pakaian mereka
jelas semuanya tentara kerajaan. Tentu saja
beberapa orang penduduk yang sedang beranginangin
di muka halaman rumahnya jadi kaget dan
heran.
Mereka yang takut dan bernyali lemah segera
cepat-cepat masuk ke dalam rumah, sedangkan
beberapa orang yang agak berani, tetap di halaman
rumahnya mengawasi bimbang entah apa yang
hendak dilakukan rombongan tentara kerajaan
tersebut.
Rombongan tentara kerajaan itu berhenti didepan
sebuah rumah tak begitu besar, yang pintunya
tertutup rapat-rapat. Salah seorang dari rombongan
pasukan kerajaan itu meloncat turun, berbisik-bisik
pada seorang bertubuh tinggi besar berpakaian
sebagai perwira, orang itu mengangguk angguk dan
kemudian orang yang tadi meloncat turun dari
kudanya menghampiri pintu rumah. Menendang
kuat-kuat pintu itu sambil berseru: "Buka pintu,
kami pihak berwajib"
Pintu terbuka dan keluar seorang laki-Iaki tua
berusia hampir enampuluh tahun dengan tubuh agak

975
bungkuk dan kumis jenggot yang sudah memutih,
sikapnya takut takut dan gugup, dia bertanya
bingung: "Ada... ada apa, taijin ?"
Tentara kerajaan yang seorang itu tak menyahuti,
cuma mendorong kuat-kuat daun pintu sampai
orang tua itu ikut terdorong terhuyung hampir jatuh.
"Mana pemberontak itu? Kau jangan
menyembunyikannya kalau tak mau celaka!"
bentaknya.
"Pemberontak ? pemberontak apa taijin? Aku....
aku benar-benar tak tahu, taijin..." Tapi dia tak bisa
meneruskan perkataannya, karena tangan tentara
itu sudah menghajar mulutnya keras sekali sampai
dia terhuyung. Tentara kerajaan tersebut melangkah
masuk, tapi waktu itulah dia menjerit kuat-kuat,
tubuhnya mundur beberapa langkah dengan mata
terbuka lebar-lebar. Darah sudah menyembur dari
perutnya yang tertembus sebatang pedang,
kemudian dia terjungkel rubuh tak bernapas lagi.
Jilid ke 22
Orang tua berjenggot dan kumis sudah memutih
itu, yang tadi tampak lemah dan ketakutan,
sekarang justeru sudah berdiri tegak di depan pintu
dengan pedang tergenggam di tangannya, sikapnya
gagah sekali.

976
Tentara kerajaan yang lain jadi kaget dan marah,
mereka segera lompat turun dari kuda masingmasing
menyerbu ke pada kakek tua tersebut,
dengan senjata telanjang siap mengeroyok. Tapi
waktu itu orang yang berpakaian sebagai perwira,
yang tadi dibisiki oleh tentara kerajaan yang sudah
menggeletak tak bernyawa karena perutya dilobangi
oleh mata pedang kakek itu, sudah berseru:
"Biarkan aku yang menghadapinya!" Suaranya
belum habis tubuhnya sudah melayang di tengah
udara, dia bukan meloncat turun dari kudanya ke
tanah, melainkan tubuhnya melambung dari
punggung kudanya dan hinggap di tanah tepat di
depan pintu rumah kakek itu, bahkan tangan
kanannya menyambar dengan kecepatan luar biasa
seperti cakar naga yang hendak merampas pedang
ditangan kakek tersebut.
Kakek tua itu ternyata memiliki kepandaian yang
tinggi, karena tadi dia cuma pura-pura ketakutan
dan bingung, waktu tentara kerajaan yang seorang
hendak memaksa masuk rumahnya, dia telah
membarengi dengan tikaman pedang, pedangnya itu
memang telah disimpannya di balik jubahnya ketika
hendak membukakan pintu.
Sekarang melihat perwira kerajaan tersebut
melompat menubruk ke arahnya sambil tangannya
diulurkan untuk merampas pedangnya, dia tidak
tinggal diam. Gesit sambaran tubuh perwira
kerajaan tersebut tangannya juga sangat sebat.

977
Tapi pedang si kakek tua inipun sangat cepat. Dia
segera menggeser kedudukan pedangnya yang
diturunkan kebawah dengan pundak yang
direndahkan mempergunakan jurus: "Seng Lo Ko
Goan" atau "Bintang jatuh ditanah Tinggi", kemudian
pedangnya ditegakkan dengan mata pedang
menghadap keatas siap menerima perut si perwira
kerajaan tersebut.
Tapi perwira kerajaan itu benar-benar sangat
tangguh dan berkepandaian tinggi, karena dia
tertawa dingin, kemudian cepat sekali tangannya
yang batal menyerang itu di tarik pulang, tahu-tahu
kaki kanannya menendang ke pergelangan tangan si
kakek yang kena jitu sekali, tampai kakek tua itu
terkejut merasakan tangannya tergetar keras,
pedangnya seperti mau terlepas dari
genggamannya.
Yang membuat kakek tua tersebut lebih kaget
lagi justeru pada saat itu tampak tangan kiri
lawannya sudah menyambar ke-arah dadanya. Dia
tak bisa diam saja karena kagetnya, harus
menyelamatkan dadanya yang hendak dicengkeram.
Maka dengan jurus "Yauw Cu Hoan Sin" atau
"Elang Membalikkan Badan", dia segera menggeser
sambil memutar badan bagian atas, untuk
menghindarkan cengkeraman tangan lawan, Justeru
apa yang dilakukannya itu melakukan kekeliruan
yang tak disangkanya, karena begitu dia
memiringkan tubuhnya kesamping, saat itulah

978
tangan kanan lawannya bergerak lagi, tahu-tahu dia
merasakan tenaga genggaman pada pedangnya jadi
lenyap, entah bagaimana caranya perwira kerajaan
itu sudah berhasil merampas pedangnya, yang
pindah ke tangan si perwira tersebut.
Bahwa tangan kiri siperwira kerajaan itu tahutahu
berobah arah menyambar kesamping maka tak
ampun lagi dada kakek tua itu kena digempur keras,
sampai dia terhenyak dan terpental dengan
punggung menghantam tembok dan benturan itu
sangat keras sekali!
Darah segera terpancur keluar dari mulutnya,
muntah cukup banyak. Si perwira kerajaan yang
berhasil merampas pedang kakek itu berdiri
mengejek, dia tak meneruskan serangannya,
membolang-balingkan pedang itu, kemudian
"trskkknggg!" pedang itu dipatahkan menjadi dua
potong dan membuangnya ke tanah. Dengan sinis
dia berkata : "Apakah kau masih mau melindungi
pemberontak itu ? Tidak mau cepat-cepat
mengeluarkan pemberontak itu ?"
Kakek tua itu biarpun sudah tak bersenjata
pedang, juga terluka cukup parah, dengan mulut
berlumuran darah memaksakan diri mengempos
seluruh sisa tenaga yang masih ada, dia tahu-tahu
menubruk sangat cepat sekali, untuk menerjang
kepada lawannya, dia bermaksud untuk mengadu
jiwa.

979
Sepasang tangannya diulurkan untuk
mencengkeram dada lawannya. Apa yang di
lakukannya benar-benar merupakan tindakan yang
sangat nekad, karena dia tidak mengadakan
perlindungan dan penjagaan untuk dirinya, di mana
dia rupanya memang bermaksud untuk mati
bersama dengan lawannya.
Cara mengadu jiwa seperti yang dilakukan oleh
kakek tua tersebut merupakan perbuatan yang
sudah benar-benar nekad, karena dalam berbagai
hal umumnya seseorang yang nekad, masih
melakukan suatu gerak pukulan untuk melindungi
juga tubuhnya dari kemungkinan serangan lawan.
Si perwira kerajaan tak gentar melihat kenekatan
lawannya, karena dia hanya berdiri diam di
tempatnya, kemudian dengan cepat dia
mempergunakan tangan kanannya untuk menyentil
waktu melihat serangan lawan sudah hampir tiba, di
saat itulah terjadi suatu peristiwa yang benar-benar
mengejutkan.
Kakek tua yang nekad dan hendak mengadu jiwa
itu tak berhasil dengan serangannya, karena dia tak
bisa mendekati lawannya, sentilan jari tangan
perwira kerajaan tersebut membuat dia terjangkang
rubuh, sebab yang disentil oleh perwira kerajaan
tersebut adalah titik jalan darah yang berbahaya di
pelipisnya !

980
Tidak ampun lagi tubuh kakek tua itu terjungkal
rubuh terjengkang ke belakang, bersamaan dengan
itu berkelojotan di lantai dengan mata mendelik
terbuka lebar-lebar, dadanya bergerak-gerak keras,
kemudian diam tak bergerak.
Si perwira kerajaan telah memberi isyarat kepada
beberapa orang tentara kerajaan yang sedang
berdiri menanti perintahnya. Tak ayal Iagi lima
orang tentara kerajaan sudah menyerbu masuk ke
dalam rumah dengan senjata terhunus, bersamaan
dengan itu mereka menjerit, dua orang di antaranya
terpental, karena dari dalam telah menerobos,
keluar seorang laki laki bertubuh tinggi tegap
dengan lumuran darah di beberapa tempat di
anggota tubuhnya, menerjang keluar sambil
mengayunkan goloknya ke kiri kanan. Goloknya
itulah yang menyebabkan beberapa orang tentara
terjungkel rubuh dan menjerit karena terluka pada
lengannya.
Sisa tentara kerajaan yang lain, tiga orang,
cepat-cepat menerjang dengan senjata masing
masing. Tapi, orang bersenjata golok tersebut dapat
menangkis dengan goloknya, sehingga pedang
ketiga orang tentara kerajaan itu terpental keras,
berbareng dengan itu golok orang tersebut telah
menabas perut salah seorang tentara kerajaan yang
ada di sebelah kanan, seketika terjungkel dan mati
tak bergerak.

981
Dua orang tentara kerajaan yang lain segera
meloncat ke samping. Orangbersenjati golok
tersebut telah meloncat menerjang ke pintu hendak
menerobos keluar.
Di saat itulah tahu-tahu ada tangan yang
menyambar, dan golok ditangan orang itu kena
dirampas dengan mudah. Bahkan, sebelum orang
bersenjata golok tersebut tahu apa-apa, tubuhnya
terpental karena dadanya terasa sakit kena
digempur oleh tangan yang menyambar sangat kuat,
dia terjengkang dan terlempar.
Orang bersenjata golok itu, walaupun sudah
terampas goloknya dan dia sendiri kena dihajar
terpental, cepat bukan main dia telah meloncat
berdiri lagi, dengan gesit menerjang kalap kepada
orang yang telah merubuhkannya tadi, yang tak lain
adalah perwira kerajaan yang tadi sudah
merobohkan si kakek.
"Cun Siang... lari... jangan layani. lari dari
belakang ! "Kakek tua yang tadi telah dirobohkan si
perwira kerajaan, masih sempat berseru dengan
suara perlahan lemah menganjurkan kepada orang
yang bersenjata golok itu agar melarikan diri.
Namun peringatannya itu sudah terlambat, sebab
waktu itu tampak si perwira kerajaan sudah
meloncat ke depan, ketika orang bersenjata golok
itu henddk menerjang nekad, dia telah didahulukan
oleh perwira tersebut, yang mencengkram pundak

982
orang tersebut, golok rampasannya menabas lengan
kanan orang itu yang seketika tertabas buntung
sebatas siku, pundaknya memperdengarkan suara
"krekkkkkk . . .krakkkkkkk... !" Tulang pipe (tulang
selangkahnya) jadi hancur kena remasan tersebut,
dan orang itu lunglai rubuh di lantai. Tapi tidak
terdengar suara jeritannya, dia masih berusaha
merangkak bangun untuk mengadu jiwa pada si
perwira.
Tapi perwira itu tertawa keras. "Kau masih
penasaran dan hendak mengadakan perlawaran ?"
ejeknya. "Baik, aku ingin melihat sampai sejauh
maca kenekadanmu.
"Berdirilah !" Setelah mengejek begitu, si perwira
kerajaan itu berdiri menantikan orang tersebut, yang
tadi dipanggil si kakek dengan sebutan Cun Siang.
Beberapa orang pasukan tentara kerajaan sudah
ada yang masuk, mereka bersiap sedia. Tapi tanpa
perintah dari perwiranya, mereka tak berani
menyerbu untuk membekuk Cun Siang. Cuma berdiri
diam mengawasi saja.
Sedangkan Cun Siang sudah merangkak berdiri,
mukanya bengis penuh dendam, mukanya itu penuh
luka-luka goresan senjata, banyak mengeluarkan
darah, begitu juga luka dibeberapa anggota tubuh
lainnya, ditambah oleh tangannya yang baru saja
tertabas putus oleh goloknya sendiri yang dirampas

983
oleh si perwira kerajaan itu. maka darah yang keluar
terlalu banyak.
Biarpun hatinya tabah dan dia nekad sekali,
akibat kekurangan daran tenaganya sudah tak ada,
dia cuma bisa berdiri dengan kaki gemetar, mata
seperti juga hendak meloncat keluar dari rongga
matanya dan mulutnya digigit kuat-kuat untuk
menam m ^isa tenaganya.
Tapi tanpa si perwira kerajaan turun tangan, dia
sudah terjungkel rubuh kembali...
Si perwira kerajaan mendengus, dia mengibaskan
tangannya dan beberapa orang tentara kerajaan
telah meloncat maju untuk membekuk orang itu,
yang diringkus kasar sekali.
Si perwira jalan berlenggang keluar dari rumah
itu. Namun waktu melewati si kakek tua, mendadak
kakek tua yang sudah payah keadaannya dan masih
menyender di tembok, sudah menerjang dengan sisa
tenaga terakhir dia ingin mencekik batang leher si
perwira, tapi belum lagi kedua tangannya yang
hendak mencekik itu mengenai leher si perwira saat
itulah mata si kakek mendelik, mulutnya terbuka
dan mukanya memperlihatkan kesakitan yang hebat,
dia mengejang kaku dengan dengan kedua tangan
terangkat tinggi-tinggi, kemudian rubuh terkulai.
Rupanya golok di tangan si perwira sudah
menancap diperutnya... dia kalah cepat dengan si

984
perwira, karena sebelum bisa mencekik, justeru
golok lawannya sudah menghunjam perutnya.
Napasnya seketika putus.
Si perwira melangkah keluar tanpa menoleh
kepada kakek tua yang sudah jadi mayat, dia
meloncat ke atas kudanya, sedangkan orang yang
tadi bersenjata golok dan sekarang sudah jadi
tawanan sudah digusur oleh beberapa orang tentara
kerajaan, keluar dari rumah itu.
Orang itu, Cun Siang, masih berusaha
memberikan perlawanan Tangannya yang tinggal
satu masih berusaha memukul tentara yang
menyeretnya, tapi tenaganya sudah habis, dia tidak
bisa berbuat apa-apa. karena tubuhnya diseret terus
keluar... darah mengucur keluar dari tangannya
yang buntung... dan dia didorong terguling-guling di
tanah.
"Ikat pinggangnya dan seret oleh kuda!" Perintah
si perwira.
Dua orang tentara kerajaan segera meloncat ke
dekat tawanan mereka, mengikat pinggang orang itu
dengan seutas tambang yang sangat besar dan
panjang, juga kedua tangan Cun Siang. Cuma kedua
kaki Cun Siang yang dibiarkan tak terikat, karena dia
mau diseret kuda dan harus berlari-lari mengikuti
kuda yang akan menyeretnya.

985
Keadaan Cun siang sudah lemah terlalu banyak
darah yang dikeluarkan. Hatinya pun sedih bukan
main, karena melihat kakek tua pemilik rumah itu
sudah jadi korban keganasan si perwira kerajaan,
sehingga menemui kematian dengan cara yang
begitu mengenaskan.
Dia sendiri memang dalam keadaan luka parah
waktu minta menumpang di rumah kakek itu, untuk
berobat. Tapi siapa tahu jejaknya sudah diendus
oleh pasukan kerajaan yang memang hendak
menangkapnya, berakhir dengan kematian kakek
itu.
"Geledah rumah ini perintah perwira kerajaan itu
sambil menghampiri kudanya dan meloncat naik
kepelana kudanya, duduk di situ mengawasi kerja
anak buahnya. Enam orang tentara kerajaan
menyerbu ke dalam rumah untuk memeriksa.
Akhirnya mereka keluar kembali sambil menyeret
seorang wanita yang dalam keadaan terluka parah
serta sudah tak bertenaga. Wanita itu baru berusia
antara duapuluh empat atau duapuluh lima tahun,
dia dicampakkan sampai terjerambab di tanah
dengan tubuh berlumuran darah. Tapi, sedikitpun
tak terlihat rasa takut di mukanya, karena wanita itu
mengawasi si perwira dengan sorot mata penuh
kebencian.
"Hemmmm, dua penjahat sudah berhasil
ditangkap!" menggumam si perwira. "PemberontakKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
986
pemberontak yang pasti menerima hukuman mati!
Ikat dan seret juga wanita itu dengan seekor kuda!"
Perintah itu segera dilaksanakan, kedua tangan
wanita itu diikat oleh seutas tambang, begitu juga
pinggangnya yang diikat oleh seutas tambang
lainnya. Cuma kedua kakinya yang dibiarkan tak
terikat.
"Seret mereka!" perintah si perwira, kuda yang
ditunggangi segera diputar untuk mengajak
pasukannya meninggalkan tempat itu. Sedangkan di
kejauhan satu dua orang penduduk menyaksikan
dengan perasaan sedih dan takut melihat tindakan
para tentara kerajaan yang demikian sadis dan
ganas.
Cun Siang dan wanita itu, kedua-duanya dalam
keadaan terluka cukup parah, diseret berlari-lari di
belakang kuda yang menarik tambang yang
mengikat tubuh mereka. Walau-pun sudah tak
memiliki tenaga lagi, kedua orang itu masih tetap
harus berlari lari, disamping itu kalau mereka sudah
benar-benar tak kuat berlari, tubuh mereka terseret
oleh lari kuda yang tidak perlahan.
Waktu itu, mendadak dari samping rumah
seorang penduduk meloncat dua sosok tubuh yang
menghadang di tengah jalan raya, menahan
jalannya pasukan kerajaan. Kedua orang itu
sepasang muda-mudi, mereka tak lain Giok Han
berdua dengan Cang In Bwee.

987
Kebetulan mereka menyaksikan perbuatan kejam
pasukan kerajaan terhadap kedua orang yang
tengah diseret oleh dua ekor kuda, maka tak pikir
panjang Giok Han segera hendak menolongi kedua
orang itu. Cang Ing Bwee tak menghalangi, karena
diapun gusar melihat keganasan pasukan kerajaan
yang bertindak semena-mena.
Muka si perwira berobah melihat dua o-rang
menghadang jalan maju dia dan pasukannya. Segera
dia Keprak kudanya maju mendekati kedua orang
itu.
"Menyingkir kalau tak mau ditabrak kuda !"
Bentak perwira tersebut garang. Dia juga tak
menghentikan kudanya, karena bermaksud sengaja
menubruk kedua orang itu. Tapi, kedua kudanya
menerjang maju, Giok-Han tak meloncat ke pinggir
atau menyingkir, maiah dia menyambuti dada kuda
dengan pukulan tangan kanannya. Kuat pukulan
yang dilakukan disertai tenaga Lwexang, angin
berkesiutan keras.
Si perwira kaget, tapi sudah terlambat buat
menahan lari kudanya. Telak sekali sebelah depan
leher kudanya itu kena dihantam telapak tangan
Giok Han, seketika kuda itu kesakitan, meringkik liar
mengangkat kedua kaki depannya. Kalau memang
si-perwira tak memiliki ilmu yang tinggi tentu
tubuhnya sudan terbanting jatuh dari punggung
kudanya.

988
Untung saja dia gesit dan linear, begitu kudanya
terpukul dan mengangkat kedua kakinya, dia sudah
meloncat turun dari kuJanyu dengan tubuh yang
ringan. Kudanya meringkik nyaring, kemudian
lunslai roboh menggeletak di tanah tak bergerak
lagi. Pukulan yang dilakukan Giok Han ternyata
merupakan puKulan mematikan.
Mata si perwira tajam mengawasi Giok-Han dan
Cang In Bwee bergantian, kemudian dengan garang
karena marah berkata: "Sahabat, siapa kalian
berdua ? Mengapa mencari urusan dengan kami
pihak kerajaan ?" tegurnya. "Apakah kalian sudah
bosan hidup?"
"Bebaskan kedua orang itu, mereka jangan
disiksa seganas itu." Bilang Giok Han dengan suara
tawar. "Kalau kalian membebaskan kedua orang itu,
kami tak akan menghalangi lagi jalan kalian! "
Si perwira gusar bukan main sampai dia tertawa,
menyeramkan suara tertawanya." Ooo, kalian kira
Ban It Say dapat digertak begitu oleh kalian ?
Walaupun kalian tambah empat pasang kaki dan
tangan, tetap kalian juga harus ditangkap, karena
kemungkinan besar kalian sahabat kedua
pemberontak ini !" Setelah berkata begitu, tubuh
Ban It Say menerjang maju.
Dia seorang berkepandaian tinggi, tangannya
tangguh sekali, maka Ban It Say yakin dalam satu
dua jurus bisa membekuk pemuda dan gadis ini.

989
Karenanya dia tidak perintahkan anak buannya,
melainkan dia turun tangan-sendiri.
Giok Han dan Cang In Bwee kaget mengetahui
perwira kerajaan ini Ban It Say, yang sangat
terkenal di kota raja sebagai congkoan Gi lim-kun,
yang berkepandaian tinggi dan selalu bertindak
semena-mena terhadap orang yang lemah tak
berdaya.
Sedangkan Giok Han sendiri meluap
kemarahannya dia masih ingat. Ban It Say adalah
salah satu dari orang-orang yang menghancurkan
keluarganya, yang dikirim Cu Bian Liat. Congkoan
Gi-lim kun ini bersama Thio Yu Liang merupakan dua
orang yang memimpin pasukan kerajaan untuk
"menghukum" ayahnya, menghancurkan
keluarganya.
Sekarang Siapa sangka bisa bertemu di sini, Giok
Han girang campur gusar. Tak menunggu tangan
Ban It Say tiba pada sasaran, dia sudah memapaki
dengan loncatan yang cepat, tangannya diulurkan
untuk menyambuti pukulan Ban It Say. Sekali turun
tangan Giok Han lantas mempergunakan
sinkangnya,dikerahkan pada jari-jari tangannya,
karena mengetahui bahwa lawannya bukan orang
lemah yang bisa dipandang remeh.
Ketika tangannya beradu dengan Congkoan Gilim-
kun tercebur, terdengar bentrokan sangat
nyaring, disusul dengan pengerahan tenaga yang

990
kuat, karena Giok Han merasakan tenaga dalam Ban
It Say seperti datang bergelombang semakin lama
semakin kuat. Maka dia membendung tenaga lawan
dengan memusatkan tenaga sinkangnya. Mereka
mengadu kekuatan.
Ban ItSay bukan hanya mempergunakan
sinkangnya saja, mengetahui lawannya yang masih
muda tapi memiliki tenaga dalam yang kuat, segera
membaiengi dengan tangan kirinya untuk
mencengkeram pundak Giok Han.
Giok Han mana bisa diserang seperti itu, biarpun
tangan kanannya sedang menahan tangan congkoan
Gi-lim kun tersebut, dia juga bisa mengerahkan
tenaga sinkang pada tangan kirinya. Ketika tangan
lawan menyambar ke pundaknya, dia menurunkan
pundaknya dengan menekuk kaki kirinya, kemudian
menghantam pusar lawannya.
Kembali Ban It Say kaget campur heran, karena
lawannva biarpun berusia masih muda tapi memiliki
ilmu yang tinggi. Dia tak menyangka bahwa
lawannya bisa melakukan tindakan demikian maka
segera dia meloncat kebelakang menarik pulang
kedua tanganya. Dia memandang tajam,
"Bocah, ternyata kau memang kawan
pemberontak-pemberontak ini! Atas nama Kaisar
aku menangkapmu juga!" Dan segera Ban It Say
mengisyaratkan kepada pasukannya untuk

991
menyerbu maju menangkap Giok Han dan Cang In
Bwee.
Belasan orang tentara menyerbu maju lengkap
dengan senjata tajam terhunus. Mereka menerjang
untuk mengeroyok Giok Han dan In Bwee.
Semuanya berpikir, dengan mengandalkan jumlah
banyak tentu Giok Han dan In Bwee dapat dibikin
tak berdaya dan akan mereka tangkap dengan
mudah.
Namun tak mereka sangka-sangka, justeru waktu
itu Giok Han sudah memukul telak sekali dada
seorang tentara kerajaan yang paling depan sampai
terpental dan dadanya melesak. karena kuatnya
pukulan yang dilakukan Giok Han bahkan tentara
kerajaan yang seorang itu terlambung ke tengah
udara sambil menjerit, berkelojotan ketika
terbanting di tunah dengan mulut berbusa, lidah
terjulur keluar seperti anjing kepanasan dan
matanya mendelik dengan hidung keluar darah!
Giok Han bukan hanya merobohkan seorang
tentara kerajaan itu, karena begitu berhasil
memukul terpental tentara kerajaan yang seorang
kaki kanannya juga sudah melayang menendang
selangkangan tentara kerajaan yang lainnya yang
menyerbu dari arah samping kanan.
Tak ampun lagi tubuh tentara kerajaan itu
terputar-putar menjerit kesakitan sambil memegangi
selangkangan, tubuhnya berpusing berjingkrakKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
992
jingkrak karena rasa sakit yang serasa seperti
menerobos sampai ke ubun-ubun kepalanya.
Sakitnya bukan main, bahkan akhirnya dia roboh
pingsan tidak ingat diri.
Teman temannya yang lain dari kedua tentara
kerajaan itu jadi bimbang dan gentar melihat dalam
waktu singkat Giok Han sudah berhasil memukul
roboh dua orang teman mereka, maka sejenak
mereka berhenti menyerbu.
Ban It Say mendongkol bukan main, apa lagi
melihat pasukan tentaranya berdiam diri tak
meneruskan serbuan mereka. Maka dibentaknya
bengis. "Tangkap kedua pemberontak itu!"
Bentakan ini menyebabkan pasukan tentara
kerajaan itu sadar apa yang di perintahkan atas
mereka segera meloncat menerjang lagi sambil
mengayunkan senjata masing-masing, untuk
menyerang Giok Han maupun Cang In Bwee. waktu
itu Giok Han pun tak sungkan sungkan lagi, dia
segera menampar muka seorang tentara kerjaan
yang ada di sebelah kiri, membuat tentara itu
kelojotan sambil membuang senjata, memegangi
mukanya, karena matanya dirasakan gelap,dan
tulang mukanya seperti jadi hancur akibat pukulan
tersebut, sakitnya sampai terasa diulu hati. Giok Han
pun membarengi dengan pukulan lainnya pada
tentara lainnya, yang mengalami nasib yang sama.

993
Cang In Bwee tidak tinggal diam, gadis ini
memiliki kepandaian yang mengagumkan karena
begitu tangan dan kakinya bergerak, dia sudah
merobohkan tiga orang tentara kerajaan yang
jungkir balik kesakitan.
Menyaksikan ini kemarahan Ban It Say meluap.
Dia tahu, kedua orang ini orang-orang yang memiliki
kepandaian tinggi, menyaksikan dalam waktu
singkat, dia sudah melihat bahwa setiap pukulan
Giok Han maupun In Bwe memiliki tenaga yang
ampuh dan kuat sekali, tidak mungkin pasukannya
itu bisa menghadapinya. Maka dia membentak keras
"Semua minggir, biasa aku yang menghadapi
kedua pemberontak itu." Dengan langkah lebar dia
maju ke tengah gelanggang.
Tentara kerajaan yang tidak terluka segera
mengundurkan diri meninggalkan arena
pertempuran sambil menggotong kawan mereka
yang terluka. Memang mereka girang menerima
perintah mudur, sebab hati mereka gentar dan jeri
kepada kedua orang muda ini yang dalam satu dua
gebrak sudah dapat merobohkan kawan-kawan
mereka begitu mudah.
Maka mendengar Ban It Say perintahkan mereka
mundur, girang bukan main hati tentara-tentara
kerajaan itu yang tak ayal lagi segera meninggalkan
Giok Han dan In Bwee.

994
Ban It Say sudah berada di depan sepasang
orang muda itu, yang diawasi tajam tajam.
"Apakah kau juga orang-orang Thio Hong Can
dan Giam cu." tegurnya dingin.
"Kalau ya kenapa, kalau tidak kenapa ?"
menyahuti Cang In Bwee sebelum Giok Han
menjawab pertanyaan congkoan Gi-lim-kun itu.
"Kalau memang kau benar orang-orang Giam cu
atau Thio Hong Gan, kalian harus ditangkap, karena
kalian bekerja untuk pemberontak, bermaksud
memberontakan terhadap kekuasaan Kaisar yang
ada, karenanya kalian harus menerima hukuman.
Tapi kalau memang kalian bukan orang-orang
Giamcu maupun Tho Hong Gun. aku masih memberi
kesempatan kepada kalian untuk cepat-cepat angkat
kaki. Aku akan meramkan mata dan tak akan
mengganggu kalian."
"Hemmm, aku tidak mengharapkan belas
kasihanmu !" kata In Bwee, yang sudah berkaia lagi
mendahului Giok Han "Yang kami harapkan kau
bebaskan kedua orang tawananmu itu, kalian boleh
pergi tanpa kami ganggu!"
"Kalau aku menolak permintaan kalian?" tanya
Ban It Say mengejek dan sinis, menahan kemarahan
hati yang sudah meluap.

995
"Kami akan tetap merampas kedua tawanan itu!"
menyahuti In Bwee tegas.
"Ya, kami akan mengambil kedua tawanan itu
dari tangan kalian !" kata Giok Han ikut bicara.
"Baik, ambilah oleh kalian ! "Berbareng dengan
kata-katanya itu, cepat bukan main kedua tangan
Ban It Say sudah meluncur kepada Giok Han dan In
Bwee jari-jari tangannya terpentang siap
mencengkeram seperti jari-jari naga dan
mengandung tenaga sinkang yang amat ampuh. Dia
hendak mencengkeram batok kepala Giok Han dan
In Bwee.
Dia seorang congkoan Gi-lim kun, yang
kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi serta
di kotaraja terkenal sebagai salah seorang jago
utama Kaisar. Sekarang dia diejek dan seperti tidak
dipandang mata oleh la Bwee dan Giok Han, tentu
saja jadi murka, dapat dibayangkan kekuatan
singkang yang dipergunakannya.
Giok Han dan In Bwee walaupun tampak tidak
memandang mata kepada congkoan Gi-lim kun ini
diam diam di hati masing-masing sudah tahu, bahwa
lawan mereka ini bukanlah orang sembarangan.
Melihat lawan menyerang dahsyat seperti itu,
mereka tidak berani menyambuti dengan kekerasan,
cuma menghindar, masing-masing meloncat ke kiri
dan kanan, terpisah agak jauh, membuat Ban It Say
dalam waktu beberapa detik harus memutuskan

996
apakah dia akan menyerang Giok Han atau kepada
ln Bwee, karena keduanya berada di tempat yang
bertolak kebelakang, di kiri dan kanan.
Tapi akhirnya Ban It Say memilih Giok Han
sebagai sasaran dari tangan kanannya yang
menyerang pada titik kematian di ulu hati Giok Han.
Tangannya begitu cepat sulit diikuti oleh pandangan
mata, juga memang gerakan tangannya adalah jurus
yang aneh sulit ditentukan arah sasaran yang
sebenarnya. Tak percuma Ban It Say sebagai
congkoan Gi-lim-kun, karena kepandaiannya
memang sangat tangguh.
Giok Han tertawa mengejek dan menghindar lagi.
Tapi sekarang dia mengelak bukan berdiam diri
seperti tadi, melainkan tangan kanannya tahu-tahu
sudah nyelonong ke arah pelipis lawannya, tangan
kirinya menyampok tangan Ban It Say.
Pukulan itu bukan pukulan sembarangan, karena
itulah jurus kesembilan dari "Sin-beng-kun" yang
khusus dipelajari Giok Han untuk menghadapi
"Liong-heng-kun"-nya Tang San Siansu.
Tangannya panas seperti api membakar, seperti
api yang siap menyambar membakar apapun yang
berada di dekatnya.
Tidak kepalang kaget congkoan Gi-lim-kun
tersebut, tangannya seperti terbakar oleh api yang
panas luar biasa, juga urat nadi pusat di

997
pergelangan tangannya berdenyut keras, seakan
seluruh darah deras berkumpul di situ berdesakdesakan
akan meletus! Tentu saja dia kaget tidak
terkira, karena denyut urat pusat nadi di
pergelangan tangan merupakan urat nadi yang
terpenting, kalau sampai nadi pusat di pergelangan
tangan meletus, biarpun dia memiliki kepandaian
lima atau enam kali lipat lebih lihai dari sekarang,
niscaya dirinya akan mati seketika begitu pembuluh
darah itu meletus.
Tak pikir lagi tangannya segera ditarik pulang dan
dia meloncat mundur, memandang Giok Han dengan
terheran-heran. Usia orang ini masih muda,
mengapa dia memiliki kepandaian demikian tinggi
dan ampuh sekali ? Murid siapakah dia ?
Giok Han tertawa mengejek. "Ayo maju lagi,
mengapa bengong di situ?" tantangnya. Dia, tahu
Ban It Say kaget karena menerima salah satu jurus
"Sin beng-kun" yang sangat ampuh itu, dan
memang Giok Han sengaja mempergunakan jurusjurus
ampuh itu, dia ingin membekuk Bin It Say,
karena congkoan Gi-lim-kun ini termasuk salah
seorang musuhnya yang ikut menghancurkan
keluarganya.
Ban It Say tidak bengong terlalu lama, walaupun
bagaimana dia seorang lihai berkepandaian tinggi
dan memiliki kedudukan terhormat di kotaraja
sebagai congkoan Gi-lim-kun. Sekarang dia dibikin
tercengang seakan tak berdaya terhadap lawannya

998
yang masih muda belia ini, bahkan di depan anak
buahnya, mereka menyaksikan apa yang terjadi.
Timbul penasaran dan kemarahan yang meluap
sampai memukul ubun-ubun kepalanya. Tak buang
waktu lagi tubuhnya loncat ke depan Giok Han dan
sekarang dia menyerang dengan penuh perhitungan,
mempergunakan ilmu andalannya.
Tangan kanannya berkesiutan mengeluarkan
angin yang menderu-deru menerjang Giok Han. Jarijari
tangannya siap untuk merobek kulit tubuh dan
mencopot daging tubuh lawan, mencengkeram mati
jalan darah terpenting di tubuh lawan.
Giok Han tahu Ban It Say memang berkepandaian
tinggi, kalau tadi dia berhasil membuat congkoan Gilim-
kun itu kaget karena Ban It Say tak menyangka
dia memiliki ilmu mujijat seperti Sin-beng-kun,
memandang rendah padanya sehingga
mempergunakan tenaga sinkangnya tak
sepenuhnya, juga kurang waspada.
Tentu saja hal ini membuat Ban It Say menderita
kerugian, pelajaran pahit tadi membuat Ban It Say
sekarang hati-hati dan jauh lebih tangguh dari tadi.
Angin pukulan kedua tangannya seperti juga ingin
melepaskan baju yang melekat di tubuh Giok Han,
karena menyambar-nyambar dahsyat membuat baju
pemuda itu jadi beterbangan keras sekali.

999
Tak ayal lagi Giok Han mempergunakan jurusjurus
Sin-beng-kun untuk menghadapinya
berulangkali Ban It Say terkejut menerima tangkisan
Giok Han yang dahsyat dan aneh, tapi dia tidak
sampai harus menghentikan serangan-serangannya,
karena Ban It Say masih dapat bertahan.
Giok Han telah menduga bahwa congkoan Gi-limkun
ini paling lama bisa bertahan cuma 10 jurus.
Tidak lebih dari itu. Karena Sin beng-kun adalah
pukulan mujijat yang diperuntukkan Giok Han
menghadapi Tang San Siansu. Dan dugaan pemuda
ini memang tepat. Sebab pada jurus ke enam saja
Ban It Say mulai gugup dan panik, karena dia
seperti terkurung suatu kekuatan yang
menyesakkan napasnya, biarpun dia memusatkan
sinkangnya pada kedua lengannya, namun
tampaknya dia tidak berhasil untuk menghalau
kekuatan Sin-heng kun pemuda tersebut.
Mati-matian Ban It Say mencurahkan seluruh
kekuatan singkangnya, tetap saja dia terdesak.
Masih untung buat Ban It Say karena usianya yang
masih muda Giok Han kalah pengalaman dan latihan
dibandingkan dengannya, kalau tidak dalam tiga
jurus dengan Sin-beng-kunnya itu Gion Han pasti
sudah dapat merobohkan Ban It Say.
Pada jurus kedelapan tangan Giok Han berputarputar
dan di sekitar kepala Ban It Say berkeliling
sebuah bola api yang panas bukan main melingkar
isi kepala serta otak nya, matanya juga pedas sekali.

1000
Ban It Say semakin kaget, tapi waktu dia mau
meloncat mundur dan terpikir untuk perintahkan
pasukannya buat mengeroyok Giok Han, keadaan
sudah terlambat. Belum lagi dia meloncat menjauhi
Giok Han, tahu-tahu tangan kanan Giok Han berhasil
mencengkram lengan Ban It Say. Walau congkoan Gi
lim-kun ini hendak melepaskan tangannya dari
cengkeraman jari-jari tangan Giok Han yang begitu
kuat dan sangat panas, tangan kiri Giok Han sudah
menyambar lagi pada leher di bawah cuping daun
telinga.
Bagian dari anggota tubuh di situ memang
merupakan daerah paling lemah buat pertahanan
seorang manusia, lehernya terkena pukulan begitu
kuat seketika tubuh Ban It Say terhuyung, namun
dia masih bisa mempertahankan kuda-kuda-nya
sehingga tidak sampai mencium tanah.
Mukanya merah padam. Giok Han tak memberi
kesempatan kepada musuhnya belum Ban It Say
sempat memperbaiki posisi tubuhnya, pemuda ini
tahu-tahu sudah berada di sampingnya dan
tangannya menghantam iga kanan Ban It Say,
sampai congkoan Gi lim-kun itu terhenyak kesakitan,
mukanya meringis dan buyarlah kekuatan tenaga
kuda-kuda kedua kakinya, dia jatuh terduduk
dengan muka pucat, mulutnya tampak merah
karena darah mengucur keluar.
"Orang she Ban, hari ini adalah hari kematianmu,
untuk membayar hutang jiwa dari keluarga Jenderal

1001
Giok Hu!" Teriak Giok Han yang menghampiri
dengan muka yang kaku dingin tak memancarkan
perasaan, memandang tajam penuh dendam, karena
yang terduduk tak berdaya ini adalah seorang
musuhnya yang ikut menghancurkan keluarganya.
Muka Ban It Say masih pucat waku dia bertanya
bingung: "Si.... siapa kau ? Dan . . . mengapa kau
kait-kaitkan aku dengan persoalan Jenderal Giok Hu
almarhum ?"
"Jangan pura pura tolol bertanya seperti itu !
Tentu kau sendiri sudah tahu mengapa kau harus
mati hari ini, untuk menebus dosa-dosamu yang
telah mencelakai keluarga jenderal Giok Hu. Kau
juga termasuk salah satu yang mengambil bagian
menghancurkan keluarga Jenderal Giok Hu."
Sekarang Ban It Say gentar terhadap pemuda di
depannya, dia melihat kenandaian pemuda ini benar
benar tangguh dan jurus-jurus silatnya mujijat sulit
dihadapi. Dia jadi lemah dan lenyap keberanian
maupun keangkuhannya.
"Tunggu dulu, dengar dulu penjelasanku!" Serak
suara Ban It Say waktu bilang begitu, dia juga
menggoyang-goyangkan tangannya mencegah Giok
Han maju lebih dekat padanya. Beberapa orang
pasukannya telah coba mengurung Giok Han, tapi
tak seorangpun berani menyerbu untuk menyerang
Giok Han.

1002
Mereka menyaksikan betapa congkoan mereka
sangat mudah dirubuhkan pemuda tangguh itu,
aoalagi mereka, jika maju sama saja dengan
mengantarkan jiwa. Semuaoya jadi berdiri diam,
seakan menanti keputusan atau perintah congkoan
mereka.
"Beritahukan dulu padaku, siapa kau sebenarnya
agar aku mengetahui jelas duduk persoalannya !"
Bilang Bin It Say gugup ketua melihat Giok Han
tetap maju selangkah demi selangkah mendekati
tanpa melayani permintaannya. Mata pemuda itu
memancarkan sinar berkilauan seakan menusuk
kedalam haci Ban It Say.
Melangkah maju menghampiri tiga langkah Giok
Han akhirnya berhenti dan mukanya kaku tak
berperasaan ketika bertanya: "Apa yang ingin kau
jelaskan ? Duduk persoalan sudah jelas, kau salah
seorang yang ikut menghancurkan rumah tangga
dan keluarga Jenderal Giok Hu."
"Aku hanya seorang yang makan gaji negara,
maka aku harus taat pada perintah. Aantara aku
dengan Jenderal Giok Hu tak ada permusuhan, cuma
melaksanakan perintah dari Cu-kong-kong untuk
membasmi jenderal yang mau memberontak itu..."
"Bohong ! Mana mungkin jenderal setia itu ingin
memberontak dan itu pasti fitnah belaka, alasan

1003
yang kalian cari cari untuk mencelakai keluarga
jenderal Giok Hu !" bentak Giok Han dan suaranya
penuh kemarahan.
"Tapi kami hanya mengiringi thaykam yang jadi
utusan Hongsiang, untuk menghukum jenderal Giok
Hu. Kami melaksanakan perintah, janganlah
menimpahkan dendam itu kepadaku ssluruhnya,
karena Thio Yu Ling, congkoan Kim-ie-wie juga ikut
pada pengawalan thay kan yang hendak
menghukum jenderal Giok Hu. Hukuman yang
dijatuhkan pada diri Jenderal Giok Hu berasal dari
firman Hongsiang, maka seluruhnya menjadi
tanggung-jawab Hongsiang! Kami yang makan gaji
negara cuma melaksanakan perintah dan tugas
kewajiban belaka...!"
"Manusia pengecut," memaki Giok Han
mendongkol. "Sekarang kau hendak pungkiri
perbuatan kejam yang pernah kau lakukan bersamasama
dengan kawanmu itu. Walaupun demikian,
tetap saja kau harus mati !"
"Tunggu . . .kau belum memberitahukan siapa
dirimu dan masih ada hubungan apa antara kau
dengan keluarga Jenderal Giok Hu?" Ban It Say
bertanya seperti itu, sebab dia tak berhasil menduga
siapa ini. Yang diketahuinya bahwa seluruh keluarga
Giok Hu telah dibasmi bersama Thio Yu Ling.
Namun mendadak mukanya berobah, jadi pucat
pias dan memandang Giok Han dengan sorot roata

1004
guram. Dia teringat sesuatu dan pundaknya jadi
terasa dingin seperti ditempelkan batangan es. Dia
ingat waktu terjadi pembasmian keluarga
pemberontak Jen-deral Giok Hu, ada seorang anak
Jenderal Giok Hu yang tak ditemukan, walaupun
telah dicari disekitar tempat kediaman Jenderal Giok
Hu, tetap saja anak Jenderal itu menghilang.
Waktu itu dia tak begitu memperhatikan keadaan
tersebut, karena dianggapnya apa yang bisa
dilakukan oleh anak jenderal tersebut. Siapa tahu,
sekarang timbul urusan pembunuhan keluarga
jendral Giok Hu, maka teringat pada lenyapnya anak
Jenderal Giok Hu di saat pembasmian keluarga
jenderal itu, seketika Ban It Say menduga bahwa
pemuda di depannya ini apakah bukan anak jenderal
tersebut?
Giok Han berkata sinis: "Kalau aku tak
menjelaskan siapa diriku, tentu kau mati dengan
mata tak meram serta penasaran. Baiklah, akulah
anak jenderal Giok Hu yang sempat lolos dan tangan
mautmu dan kawan-kawanmu ! Sudah dengar jelas
? Akulah Liong-kak-sin-hiap, anak jenderal Giok Hu
yang akan mengadakan perhitungan dengan semua
orang-orang yang pernah ikut ambil bagian
mencelakai keluargaku !"
Ban It Say sudah berdiri dan otaknya berpikir
keras. Dugaannya benar. Pemuda ini anak jenderal
Giok Hu yang lenyap pada hari itu. Sekarang muncul
lagi dengan kepandaian yang sangat tangguh. Dia

1005
tidak kaget lagi mendengar keterangan Giok Han,
sebab dia sudah menduga. Otaknya bekerja keras
untuk mencari jalan lolos dari tangan pemuda ini.
Sekali saja dia bisa lolos, selanjutnya dia akan
melakukan pengejaran ketat pada Giok Han.
Akan diajaknya pasukan Gi-lim-kun yang
umumnya memiliki ilmu silat tinggi untuk mencari
pemuda yang jadi cucu jenderal Giok Hu. Waktu itu
diapun bisa memakai pahlawan istana lainnya, baik
dari Kim-ie-wie maupun dari pasukan pribadi Kaisar,
untuk membantunya mengadakan pengejaran pada
Giok Han, dengan tuduhan pemuda itu bermaksud
memberontak!
Cang In Bwee mengawasi Giok Han, namun dia
jadi kaget karena tahu-tahu secara mendadak Ban It
Say loncat menyerang untuk menyergapnya.
Ban It Say licik, dia tahu kepandaian Cang In
Bwee jauh di bawah kepandaian Giok Han,
karenanya dia memilih "pengemis" kotor ini sebagai
sasaran tangannya, di mana dia hendak menangkap
In Bwee, untuk dijadikan sandera. Sambil
menyerang In Bwee dia juga berseru:
"Tangkap pemberontak itu mati atau hidup!"
Serunya itu ditujukan buat pasukannya.
Sejak tadi semua pasukan Ban It Say cuma
berdiri ragu ragu, tapi mendengar perintah congkoan

1006
mereka, tak berayal lagi mereka meluruk menyerang
Giok Han untuk mengeroyok.
In Bwee coba menangkis cengkeraman tangan
kanan kanan Ban It Say, tapi tangan kiri Ban It Say
tahu-tahu menyambar sudah berada di depan
mukanya. Ban It Say girang dia yakin bisa menawan
pengemis kotor ini dan bisa memaksa Giok Han agar
menyerah untuk ditawan olehnya. Tangannya cuma
terpisah beberapa dim lagi dari muka In Bwee.
Tapi tak disangka-sangkanya, Ban It Say
merasakan tangannya yang kiri dan tengah hendak
mencengkeram muka In Bwee, sakit luar biasa, gatal
gatal, seperti tertusuk sesuatu. Bahkan dia
mendengar In Bwee tertawa sambil meloncat
mundur. Tubuh Ban It Say juga mengejang, rasanya
tak enak, tangannya sudah kejang sulit digerakkan,
seperti tak memiliki tenaga lagi. Tubuhnya
terhuyung ke belakang dengan muka berobah pucat
dan mata memandang murka kepada In Bwee.
Apa yang terjadi dan mengapa Ban It Say
mendadak menarik tangannya yang hampir
mengenai muka In Bwee, bahkan dia merasakan
tangannya jadi kejang kaku tak bertenaga sulit
untuk digerakkan ?
Rupanya In Bwee menyadari juga bahaya yang
mengancam dirinya, keselamatan jiwanya terancam
oteh tangan maut Ban It Say, kalau saja mukanya
kena dicengkeram, dan pasti dia akan ditawan oleh

1007
congkoan Gi-lim-kun tersebut. Dalam keadaan
terancam bahaya seperti itu. In Bwee tidak tinggal
diam, sebab cepat sekali tangannya terangkat ke
atas, seperti menyambuti tangan Ban It Say.
Padahal dia mempergunakan jarum beracun
untuk menyambuti pukulan Ban It Say, sehingga
congkoan Gi-lim-kun itu kesakitan dan menarik
tangannya membatalkan cengkeramannya.
In Bwee melakukan pembelaan diri seperti itu
karena tahu kalau dia menangkis dengan kekerasan
cengkraman Ban It Say, pasti dia kalah tenaga
lwekang, dan akan jatuh ketangan musuh. Memang
Ban It Say sengaja menyerang mencengkram muka
In Bwee dengan harapan In Bwee coba menangkis
tangannya.
Waktu itulah Ban It Say akau mencengkeram
tangan In Bwee, batal menyerang mukanya,
mencengkeram pa ia nadi jalan darah "cung koanniat,"
nya, pasti akan membuat tubuh In Bwee jadi
lumpuh tak bertenaga dan jatuh ke dalam tangan
Ban It Say, untuk dijadikan sandera.
Ban It Say sudah memperhitungkan segalanya
sebaik-baiknya,tapi siapa tahu juteru In Bwee juga
sangat cerdik Dalam keadaan terjepit di- bawah
ancaman lawan, dia masih bisa meloloskan diri
dengan mempergunakan jarum beracun yang
dipergunakan menyambuti tangan Ban tt Say.
Setelah Ban It Say menjerit dan tertusuk jarumnya,

1008
In Bwee juga tidak tinggal diam, tubuhnya ringan
meloncat ke belakang.
Dia mengejek sinis mentertawai ketololan
lawannya, yang kena diselomoti seperti itu.
Ban It Say melihat keadaan tangan kiri nya. Ada
titik hitam di tangannya, tanda bekas tertusuk
sesuatu, yang di sekitarnya berwarna gelap kehitamhitaman.
Meluap darah Ban It Say, dia berjingkrak
sambil meraung sengit, karena segera diketahui
dirinya sudah dilukai dengan senjata yang beracun,
Matanya bengis mengawasi si pengemis, dia
memusatkan seluruh tenaganya, untuk loncat
menyerang. Tapi, sebelum dia meloncat, sempat
ditelannya beberapa pil, untuk penawar racun. Pil,
yang ditelannya adalah pil yang dibuat tabib istana,
karena dia yakin pil itu bisa memunahkan racun
yang di pergunakan si pengemis. Diiringi raungan
bengis dia loncat menerjang si pengemis, sepasang
tangannya bergerak-gerak dengan tenaga sinkang
penuh pada lengannya. Dia bertekad hendak
membunuh si pengemis.
Giok Han terkejut melihat kekalapan congkoan Gi
lim-kun itu, sebab diketahuinya kepandaian In Bvvee
berada dibawahnya, tentu agak sulit menghadapi
congkoan Gi-lim-kun yang memang berkepandaian
tinggi.

1009
Tapi untuk menolongi In Bwee dan menghadapi
Ban It Say diapun tak bisa, dirinya sedang dikeroyok
oleh belasan orang tentara kerajaan yang
mempergunakan berbagai macam senjata tajam.
Cang In Bwee cendiri menyadari bahwa dirinya
sulit mengimbangi Ban It Say, dia memang masih
setingkat di bawah sinkang congkoan Gi-lim-kun
tersebut. Tapi kini mau tak mau dia harus
menghadapi congkoan Gi-lim-kun tersebut, dia
berharap bisa mempergunakan racun lagi, Waktu itu
sepasang tangan Ban It Say sudah menyambar
didepan mukanya, dan In Bwee tidak tinggal diam
dia mengelakkan beberapa kali pukulan yang di
lakukan congkoan Gi-lim-kun tersebut, bahkan dia
telah coba balas menyerang.
Seluruh kepandaiannya dipergunakan, dia
mengandalkan Ginkangnya untuk menghindari setiap
sambaran tangan lawannya, dan setiap ada
kesempatan In Bwee mempergunakan racunnya
untuk menerima serangan, misalnya dengan
mempergunakan jurus beracun atau peluru
beracunnya.
Tapi Ban It Say dalam keadaan kalap benar-benar
tangguh sekali, sebab setiap In Bwee melontarkan
peluru beracunnya, congkoan Gi-lim-kun yang sudah
berpe ngalaman tersebut tidak menyampok dengan
tangannya, melainkan menyambuti peluru itu agar
tak meledak, kemudian dia melontarkan kembali

1010
kepada In Bwee. Dengan demikian. In Bwee sering
kecele melihat timpukannya gagal.
Ban It Say bukan hanya menggagalkan setiap
timpukan peluru racun dan juga jarum beracun, In
Bwee, melainkan dia sudah menyerang gencar
sekali.
Masih tertolong In Bwee, memiliki ginkang yang
aneh gerak-geriknya, juga tubuhnya kecil lincah,
sehingga selama itu masih bisa menghadapi
lawannya yang tangguh dan kalap ini.
Giok Han yang sedang dikeroyok belasan orang
tentara kerajaan bekerja cepat, berulang kali sudah
merobohkan lawan-lawannya Mungkin sudah
delapan orang tentara kerajaan yang menggeletak
terluka, sebagian tak bisa bergerak bangun, cuma
mengerang-erang kesakitan.
Giok Han mau secepatnya merobohkan semua
tentaia kerajaan itu, untuk dapat menghadapi Ban It
Say dan menolongi In Bwe, dia kuatir bukan main
pada keselamatan gadis itu, yang tengah terancam
ditengah kekalapan congkoan Gi-lim-kun itu.
Tetapi setiap ada seorang tentara kerajaan yang
dirobohkan, maka maju dua tiga orang tentara
kerajaan yang lainnya, yang mengeroyok dan
mengepung Giok Han semakin lama bukannya
semakin sedikit malah jadi semakin banyak. Dengan

1011
demikian Giok Han tak berdaya untuk menggeser
tubuhnya kedekat In Bwee.
Keadaan In Bwe semakin terancam, sebab
biarpun dia memiliki kepandaian yang tinggi, namun
menghadapi lawan kalap seperti Ban It Say benarbenar
membuat dia jadi sering terdesak sampai tak
bisa balas menyerang.
Kekalapan Ban It Say demikian besar dan dia
menyerang tanpa memperdulikan keselamatan
dirinya, seakan juga hendak mengadu jiwa. Sebab
itu, In Bwee sering terdesak tanpa bisa balas
menyerang. Menghadapi lawan yang kalap memang
lebih sulit dari lawan yang biasa, apa lagi lawannya
ini merupakan komandan pasukan yang khusus
menjaga keselamatan kaisar, yang pasti mempunyai
kepandaian tinggi.
Dalam keadaan seperti itu, In Bwee berulangkali
berusaha menjauhi Ban It Say, tokh dia selalu gagal.
Ban It Say selalu mendesaknya dan menyebabkan
mereka bertempur jarak dekat, sebab Ban It Say
melancarkan pukulan-pukulan kilat mengandung
maut serta mematikan.
Suatu kali In Bwee sulit untuk menghindarkan
lagi tangan kanan Ban It Say yang menyambar
cepat sekali, dia sudah tidak keburu untuk loncat
menjauhi diri. Terpaksa dia harus menangkis tangan
kanan lawannya, biarpun dia tahu tenaga pukulan
yang dilakukan lawannya itu sangat kuat sekali,

1012
sebab tenaga sinkangnya tampaknya sudah
dipusatkan disitu.
Angin pukulan itu sampai berkesiutan keras,
Dess:.... bukkk" Tangan In Bwee saling bentur
dengan tangan Ban It Say. Akibatnya benar benar
hebat untuk In Bwee, tubuhnya yang kecil langsing
terpental seperti terdorong oleh suatu kekuatan
yang tak terlihat, bagaikan sehelai daun kering dia
melayang di tengah udara setinggi tiga tombak,
dengan menderita kesakitan pada tulang tangannya
yang tadi dipakai buat menangkis pukulan lawannya.
Untungsaja In Bwee mempunyai ginkang yang
tinggi, dia berpoksai di tengah udara agar tubuhnya
tak sampai terbanting di tanah. Tapi, begitu kedua
kakinya hinggap di tanah, tangan Ban It Say sudah
menyambar datang lagi. Lawannya tidak tidak
memberikan kesempatan sedikitpun pada In Bwee
untuk mengadakan persiapan.
Kaget In Bwee, hatinya mencelos. Bahaya maut
sudah mengancam datang dari arah atas kepalanya.
Dia baru saja hinggap, belum keburu mengerahkan
tenaga sinkangnya pada tangan untuk menangkis.
Tapi sebagai seorang berkepandaian tinggi, tentu
saja In Bwee tak mau begitu saja batok kepalanya
dihantam pecah hancur berantakan, dia telah mengigoskan
secepat kilat, tapi masih terlambat,
pundaknya kena dihantam oleh serempetan tangan
Ban It Say, nyerinya bukan main, sampai In Bwee

1013
meringis menahan sakit. Menyusul lagi tangan kiri
nan It Say menyambar ke-dadanya.
In Bwee dalam kesakitan seperti itu masih berusa
ia menghindarkan tangan kiri lawan dengan
mendoyongkan tubuhnya kesamping kanan, tapi
terlambat. Baju didada nya kena dijambret robek,
malah dadanya kena dicengkeram keras sekali,
untung saja terlepas dan cuma kulit dadanya yang
terkelupas, darah segera mengucur keluar.
Sejenak Ban It Say tertegun melihat dada yang
membulat montok padat dan putih mulus mencuat
keluar dari robekan baju, diantara darah yang merah
membasahi baju dan kulit dada In Bwee. In Bwee
cepat-cepat menutupi dengan tangannya, agar
dadanya tak terlihat olen Ban It Say.
"Hah-hah-hah-hah-hah !" Tertawa Ban-It Say
nyaring sekali. "Tak tahunya kau budak hina siluman
wanita !" Sambil berkata begitu, tubuhnya meloncat
lagi, sekarang dia memukul kearah kepala la Bwe
dengan mengerahkan sinkang sepenuhnya, yang
semuanya berkumpul di kepalan tangan kanannya,
dia mau menghantam pecah batok kepala In Bwee.
Maut benar benar mengancam In Bwee dia dalam
keadaan kikuk melindungi dadanya agar tak terlihat
orang, juga dia baru saja terluka, sekarang dia
diserang begitu hebat. maka dia berada pada posisi
yang terancam benar buat keselamatan jiwanya.

1014
Biarpun Giok Han sibuk menghadapi
pengeroyoknya yang berjumlah sangat banyak
namun matanya tak pernah lepas mengawasi In
Bwee.
Melihat In Bwee terluka, Giok Kan seperti kalap
menerjang tiga orang lawannya yang dirobohkan
dengan pukulan-pukulan yang dahsyat, dia ingin
segera me-nolongi In Bwee. Tapi, tiga orang lawan
iiu rubuh, maju enam orang lawan lainnya, yang
tetap melibaikan Giok Han dengan seranganserangan
mematikan, terpaksa Giok Han harus
melayani lagi, tak bisa mendekati In Bwee.
Hati Giok Han kuatir bukan main, apa lagi
sekarang dilihatnya jiwa In Bwee terancam
kematian, Ban It Say tengah meloncat melayang di
udara dengan tangan kanan berkesiutan
menghantam ke arah batok kepala In Bwee.
In Bwee sendiri mengeluh, tenaganya seperti
lenyap, lukanya di dada tak ringan, selain kulit
dadanya terkelupas, juga memang dia tergempur
oleh tenaga pukulan Ban It Say.
Datangnya tangan mengandung maut hendak
memukul kepalanya sulit untuk dihindarkan, untuk
mengerahkan tenaga menerima serta menangkis
pukulan Jtu, juga sudah tidak mungkin. Maka jalan
satu-satunya mengadu jiwa dengan menyambuti
pukulan itu sedapatnya dan sekuat sisa tenaganya.
Hati In Bwee berdebar, dia menyadari bagitu

1015
tangannya bentrok di udara dengan tangan
lawannya, maka habislah dia !
Tapi, waktu tangan Ban It Say terpisah tak jauh
lagi, cuma setengah meter dari kepala In Bwee,
mendadak congkoan Gi-lim-kun itu mengeluh,
matanya dirasakan berkunang-kunang, tubuhnya
seperti jadi kejang dan kepalanya seperti dihantam
oleh palu yang berat dan keras. Tenaganya juga
seperti lenyap. Dia tahu-tahu rubuh terjungkel, di
tanah.
In Bwee kaget, tapi juga tak mau mensia-siakan
kesempatan ini, sebab dia segera meloncat menjauhi
Ban It Say, yang waktu itu sudah meloncat berdiri
lagi, berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang, dia
rupanya sedang berusaha mengendalikan tubuhnya,
memulihkan tenaganya.
Mengapa terjadi begitu?
Ternyata dia saat saat In Bwee menghadapi
detik-detik menentukan, waktu Ban It Say hampir
berhasil mencelakainya justru racun yang tadi
dipergunakan In Bwee pada jarumnya yang melukai
tangan Ban It Say, sudah bekerja ! Pil obat yang
diminum Ban It Say hanya dapat bertahan sebentar
saja, racun kemudian bekerja keras, sehingga mata
Ban It Say gelap serta badannya jadi mengejang dan
dia gagal untuk mencelakai lawannya.

1016
Giok Han tadi mencelos hatinya, karena tahu
mencelos hatinya, karena tahu sahabatnya akan
celaka ditangan Ban It Say. Tapi dia jadi heran
melihat Ban It Say roboh sendirinya sebelum
serangannya itu tiba pada sasaran, sedangkan In
Bwee sudah meloncat menjauhi diri dari congkoan
GLiim-kun itu. Giok Han jadi agak tenang, walaupun
dilipua tanda tanya mengapa Ban It Say bisa roboh
sebelum serangannya tiba pada sasarannya.
Dia cuma menduga mungkin In Bwee yang
sangat cerdik sudah berhasil mempergunakan
senjata rahasia beracun.
Semangat Giok Han terbangun, dia
memperhebat, pukulan-pukulannya pada pasukan
tentara kerajaan, sehingga dua orang seketika
terpental dengan dada terpukul rusak, karena
tenaga pukulan yang kuat itu membuat tulang dada
mereka patah dan jatuh terbanting di tanah
berkelojotan dengan lidah terjulur dan mata melotot
seperti bijimata mau keluar, kemudian pingsan tak
sadarkan diri.
Menyusul Giok Han meloncat menghindarkan
tabasan golok seorang lawannya di sebelah kanan,
tangannya bekerja lagi. Sekali ini dia bernasil
memukul muka tentara yang seorang itu sampai
tulang pipinya remuk, waktu terjengkang ke
belakang tentara kerajaan itu berkelojotan seperti
seekor babi ingin dipotong, sakitnya bukan main, di
samping pandangan matanya jadi gelap, dia

1017
menjerit jerit kesakitan dengan tubuh tak hentinya
berkelojotan.
Tentara kerajaan yang lainnya jadi gentar
menyaksikan kawan kawan mereka roboh dengan
keadaan yang mengenaskan seperti itu karena
hebatnya pukulan Giok Han, mereka jadi ragu-ragu
untuk maju terus,bahkan beberapa orang segera
meloncat mundur, kuatir jadi sasaran pukulan Giok
Han.
Mempergunakan kesempatan tersebut Giok Han
menyambar pundak seorang tentara yang ada
didekatnya, dia memutar tubuh tentara itu,
membuka jalan keluar dari keroyokan lawanlawannya.
tubuhnya kemudian meloncat kedekat In
Bwee sambil melemparkan tubuh tentara yang tadi
dicengkeram punduknya.
In Bwee menyambar tangan Giok Han. "Mari kita
tolongi mereka dulu !"
Giok Han menurut, dia meloncat berdua In Bwee
kedekat Cun Siang dan wanita yang jadi tawanan. Di
situ berjaga tiga orang tentara kerajaan. Mudah saja
Giok Han dan In Bwee merobohkan ketiga orang
tentara kerajaan itu. Giok Han sekaligus
menghantam dua orang roboh dengan dada rusak
karena tulang patah dan pingsan, sedangkan In
Bwee membereskan yang seorang, yang dihantam
oleh peluru beracunnya, maka tidak sempat menjerit

1018
lagi tentara kerajaan yang seorang itu roboh di
tanah pingsan tak sadarkan diri.
Giok Han berdua la Bwee bekerja cepat, mereka
telah membuka ikatan tali pada pinggang Cun Siang
dan wanita itu. ln Bwee menggotong wanita itu,
sedangkan Giok Han menggendong Cun Siang, yang
belum sempat dibuka ikatan pada tangannya.
Mereka segera menyingkir dari situ, sebelum Ban
It Say berhasil menguasai keadaan dirinya. Dalam
waktu singkat Giok Han sudah lenyap dari para
pengejarnya, yaitu tentara-tentara kerajan yang
berusaha mengejar mereka sambil berteriak-teriak:
"Tangkap ! Tangkap pemberontak !"
Ban It Say ingih berdiri di tempatnya berusaha
menguasai diri karena rasa sakit di kepalanya
semakin hebat sehingga dia meringis menahan rasa
sakit yang terlalu dahsyat, sampai tangannya yang
merogoh saku bajunya gemetar, mengeluarkan botol
pil obatnya, menelan lima butir.
Rasa sakit itu berangsur-angsur mulai berkurang,
tapi itu memakan waktu cukup lama, mungkin lebih
dari sepuluh menit. Butir-butir keringat mengucur
deras dari sekujur tubuh Ban It Say, dia cepat cepat
menghampiri kudanya meloncat ke punggung
binatang tunggangannya tersebut.
"Ayo berangkat! Cepat ! Jangan kejar mereka !"
Dia bermaksud akan pulang cepat cepat untuk

1019
mempergunakan singkang-nya dan mencari obat
yang cocok untuk menawarkan racun yang sudah
terlanjur mengendap di dalam badannya.
Sebagai seorang yang berpengalaman, Ban It Say
menyadari tadi dia sudah melakukan kekeliruan. Dia
terlalu kalap, sehingga darahnya beredar jauh lebih
cepat dari wajarnya, racun ini terbawa arus darah
lebih cepat.
Coba kalau dia tidak mengumbar amarahnya,
mungkin racun tak bekerja sehebat itu, dua butir pil
yang telah ditelannya bisa membendung sedikitnya
buat beberapa hari.
Sekarang setelah dia mengalami kejadian yang
sangat pahit, di mana kepalanya sakit luar biasa,
tangannya lunglai tak bertenaga, barulah dia kaget.
Untung dia masih memiliki simpanan pil obat
penawar racun, yang segera ditelannya sekaligus
lima butir, sehingga sakit di kepalanya berangsurangsur
berkurang dan dia sudah bisa menggerakkan
tangan kakinya, tak mengejang lagi tubuhnya, itulah
sebabnya dia mau cepat-cepat meninggalkan tempat
itu tanpa memperdulikan Giok Han dan In Bwee
yang sudah melarikan diri dengan membawa ke dua
tawanannya. Yang terpenting, dia ingin oiengooati
dulu dirinya ....
Tentara kerajaan yang semula pura-pura
mengejar, karena mereka takut pada Ban It Say
yang murka jika tawanan itu lolos, padahal hati

1020
mereka gentar buat mengejar sungguh-sungguh
pada Giok Han dan In Bwee yang sangat lihai dan
tangguh itu. Sekarang mendengar perintah Ban It
say mereka jadi girang, segera menggotong kawan
kawan mereka yang terluka dan berangkat
meninggalkan tempat tersebut.
Dalam waktu singkat tempat itu jadi sepi lagi....
seperti tak. pernah terjadi sesuatu di tempat
tersebut.
-------------------------------------------------------
----------------------------------------------------------
GIOK HAN berdua In Bwee berlari cepat sekali,
tapi tak lama kemudian Giok Han terpaksa
memperlambat larinya, karena dilihatnya In Bwee
yang menggotong tawanan wanita yang mereka
rampas sudah sempoyongan tak bisa berlari cepat.
Luka di dadanya tampaknya tidak ringan, di mana
selain kulit dadanya terkelupas, juga ia terluka di
dalam dari tenaga pukulan tangan Ban It Say, itulah
sebabnya dia tidak bisa lari secepat semula.
Semakin lama lukanya jadi semakin berat.
Karena kuatir Ban It Say dan pasukannya
melakukan pengejaran terus. In Bwee masih
memaksakan diri berlari terus. Tapi akhirnya dia
tidak kuat lagi, segera menurunkan tawanan wanita
yang digendongnya, dia sendiri roboh menggeletak
di tanah.

1021
Giok Han kaget, cepat-cepat menurunkan Cun
Siang. Dia memeriksa keadaan ln Bwee. Ternyata
keadaan gadis ini menguatirkan sekali, sekujur
tubuh dan mukanya bercucuran keringat yang besarbesar
seperti kacang hijau. Cepat-cepat Giok Han
menotok beberapa jalan darah di tubuh si gadis,
agar darah yang keluar terus menerus dari luka di
dadanya berhenti.
Ambilkan... ambilkan... kantong obatku... di
dalam sakuku..." Suara In Bwee lemah sekali. Dia
sudah berada dalam keadaan setengah sadar
setengah tidak, matanya mulai kabur gelap, apapun
tak bisa di lihatnya dengan jelas.
Giok Han sudah mengesampingkan tata krama
antara pria dan wanita, segera dirogoh saku baju si
gadis mengeluarkan sebuah kantong yang terbuat
dari kain warna merah, di. dalam penuh bermacam
macam obat yang bermacam warna. Giok Han jadi
bingung, obat yang mana harus diberikan kepada
In-Bwee.
"Ambilkan tiga butir obat yang berwarna coklat..."
suara In Bwee semakin lemah, Kata-kata
selanjutnya sudah tak jelas terdengar lagi.
Jilid ke 23
Tidak buang waktu segera Giok Han mengambil
botol obat yang warnanya coklat, dan memasukkan
tiga butir di mulut si gadis, yang menelannya

1022
mempergunakan bantuan air ludahnya. Sesudah
meneIan obat itu, In-Bwee diam sejenak, napasnya
semakin lama semakin teratur dan perlahan-lahan
pandangan matanya pulih bisa melihat jelas lagi.
Dengan tubuh masih lesu si gadis kemudian bangun
duduk untuk memusatkan sinkangnya, guna
memulihkan luka di dalam tubuhnya.
Cun Siang berdiri agak jauh, disamping
kawannya, yaitu wanita yang bersama dia di tawan
Ban It Say. Dia mmta wanita itu membuka tali yang
mengikat tangannya. Biarpun tangan wanita itu
diikat juga oleh tali yang besar, tapi dia bisa
membuka tali yang mengikat tangan Cun Siang.
Setelah tangannya bebas dari ikatan tali, Cun
Siang cepat-cepat membukakan tali yang mengikat
tangan wanita itu.
Giok Han membiarkan In Bwee mengerahkan
sinkangnya duduk bersemedi untuk melawan
goncangan luka dalam tubuh, supaya tak terlalu
membahayakan, setidak-tidaknya agar dia bisa
memperingan luka didalam tubuhnya. Dia
menghampiri Cun Siang dan wanita itu.
Cepat-cepat Cun Siang dan wanita itu berlutut
didepan Giok Han. "Terima kasih atas pertolongan
In-kong." Kata mereka berbareng.
Giok Han cepat cepat menyingkir ke-belakang ke
samping tak mau menerima hormat kedua oraag itu.

1023
Dia juga mengeluarkan tangannya menyuruh
mereka bangun. "Jangan banyak peradatan, kami
memanj berkewajiban menolong siapa saja yang
ditindas oleh manusia-manusia kejam seperti para
tentara kerajaan itu! Siapakah kalian?"
"Aku Tio Cun Siang dan ini isteriku Ho Bin Nio.
Kami telah dicelakai oleh pasukan kerajaan itu...
menjelaskan Cun Siang.
"Mengapa pasukan kerajaan hendak mencelakai
kalian?" tanya Giok Han ingin tahu.
Tapi Cun Siang tampak ragu ragu, dia melirik
pada isterinya, kemudian isterinya setelah
mengangguk, barulah CunSiang bilang: "Kalau di
depan In-kong yang telah menyelamatkan jiwa kami
berdua tidak bicara terus terang, bukanlah
perbuatan yang pantas dan terpuji. Kami telah
diselamatkan In kong karenanya kami harus
memberikan penjelasan yang terang. Kami berdua
adalah utusan Tio-Hong Gan taijin, untuk menyelidiki
keadaan diselatan ini, karena belakangan ini kami
sudah mendengar pihak kerajaan sedang
mengerahkan jago-jagonya untuk pergi
menghancurkan pasukan kami!"
Kaget dan girang Giok Han mendengar kedua
orang ini anak buah Thio Hong Gan, pejuang yang
semakin Iama sekarang semakin bergerak maju,
sebab sudah bertambah beberapa kora yang berhasil
direbutnya.

1024
Segera Giok Han maju memegang tangan Cun
Siang, membuat sepasang suami isteri itu kaget tak
terkira, hampir saja Cun Siang menarik tangannya
buat menyerang, untung Giok Han sambil tertawa
sudah bilang: "Kalau begitu kita orang sendiri!
Akupun sedang melakukan perjalanan untuk
bergabung dengan Thio taijin."
Cun Siang dan isterinya mengawasi Giok Han
ragu-ragu, mereka tak bisa mempercayai begitu saja
apa yang dikatakan tuan penolong ini, sudah
menyelamatkan jiwa mereka tokh tetap mereka
harus bersikap waspada.
"Aku Giok Han, anak Jenderal Giok Hu yang
dicelakai oleh kaisar lalim itu, guruku perintahkan
bahwa sekarang saatnya aku menggabungkan diri
dengan Thio-taijin." memberitahukan Giok Han.
Tak terkira kaget dan girangnya Cun Siang dan
isterinya, bahkan Cun Siang tiba-tiba berlutut, diikuti
oleh isterinya yang menganggukkan kepala sambil
menangis.
"Thian rupanya memiliki mata! Kami berdua
memang diperintahkan Thio-taijin untuk menyelidiki
tentang anak Giok Hu Goanswe yang lolos dari
tangan jahat orang-orangnya kaisar lalim itu. Siapa
tahu kami bertamu dengan kongcu di sini."
"Kaget Giok Han. ..Benarkah itu ?" tanyanya
kemudian.

1025
"Tugas kami ialah menyelidiki tentang orang
orang yang dihimpun Siangkoan Giok Lin. Orang she
Siangkoan telah diberi kekuasaan oleh Kaisar lalim
itu untuk menghimpun orang-orang kangouw.
Rupanya sekarang raja lalim itu sudah menyadari
bahwa kekuatan kita bukanlah hal yang bisa
diremehkan, apa lagi sekarang Thio-tai jin sudah
berhasil masuk Ciatkang, itulah sebabnya raja lalim
itu ingin merangkul orang-orang kangouw, agar
membantu pihak kerajaan memusuhi kita ! Daftar
mereka ada di tangan Siangkoan Giok Lin, sebab
kemarin malam orang kaisar lalim itu sudah datang
untuk mengambil daftar orang-orang kangouw yang
mau tunduk dan bekerja pada pemerintah!
Kalau hal itu terjadi, tentu menimbulkan banjir
darah yang hebat diantara kita-kita sendiri diadu
domba oleh raja lalim itu, karena kita orang-orang
Han ingin diadu agar menjadi lemah kekuatan dan
persatuan kita, kemudian raja lalim itu baru
menggempur hancur, menggagalkan perjuangan
suci kita!
Di samping tugas penting itu, kami diberi tugas
yang tak kalah pentingnya, yaitu menyelidiki dan
kalau bisa mencari kontak untuk bertemu dengan
anak Giok Hu Goanswe, untuk dihubungi dan diajak
menemui Thio taijin yang siang dan malam selalu
menguatirkan keselamatan kongcu dan berduka
sekali pada peristiwa yang menimpa Giok Hu
Goanswe. Kalau saja peristiwa itu bisa digagalkan
dan Giok Hu Goanswe bisa diajak berdiri di pihak

1026
kita, niscaya kerajaan ini akan kembali ke tangan
kita orang-orang Han dalam waktu singkat!"
Cun Siang bicara sambil menangis, sebentarsebentar
menyusut air matanya. Giok Han terharu
mendengar Thio Hong Gan begitu memperhatikan
keselamatan dirinya. Dia merasa berterima kasih
dan berduka ingat pada keluarganya yang telah
dihancurkan oleh orang orang kaisar lalim itu.
Dia jadi ikut menangis, tapi cuma sebentar,
cepat-cepat menghapus air matanya lagi, dia bilang:
"Baiklah! Aku tak lama lagi akan menghubungi Thiotaijin,
sekarang aku mau membereskan dulu
beberapa orang yang mungkin bisa membahayakan
usaha Thio-taijin. Usaha besar ini harus dapat dijaga
jangan sampai gagal, karena rakyat selama ini
sudah tertindas benar oleh kaisar yang lalim itu !"
"Benar Giok Kongcu, menurut Thio-taijin justeru
semakin lama raja lalim itu semakin ganas, rakyat
sudah semakin menderita, kaki tangan kaisar lalim
itu bertindak semakin ganas dan sadis tanpa
pandang bulu, sehingga menimbulkan kegelisahan di
kalangan rakyat. Kami juga berhasil menghimpun
rakyat yang ikut bergabung dengan kita, jumlahnya
sudah melebihi dari empat ratus ribu orang...!"
Giok Han girang bukan main mendengar
kemajuan yang dicapai oleh pasukan Thio Hong Gan
dalam mengadakan pemberontakan untuk

1027
mengambil pulang negeri mereka dari tangan raja
penjajah.
"Giok kongcu, balehkah kami mengetahui siapasiapa
saja orang yang hendak kongcu bereskan ?"
tanya CJ Siang kemudian.
"Yang pertama-tama harus disingkirkan adalah
Siangkoan Giok Lin, karena dengan matinya dia
tentu usaha raja lalim itu buat mempengaruhi dan
"membeli" orang-orang gagah kangouw lewat
tangan kotor Siangkoan Giok-Lin bisa digagalkan.
Orang lainnya adalah Tang San Siansu, ia sekarang
menjadi tangan Cu Bian Liat, thaykam keparat itu !
Demikian pula Cu Bian Liat harus dilenyapkan, aku
akan berusaha untuk membunuhnya. Kalau urusan
ini berhasil tanpa rintangan, tentu berkurangnya
rintangan buat usaha-besar Thio-taijin."
Cun Siang dan isterinya mengangguk-angguk
kagum. Mereka sudah menyaksikan betapa tinggi
kepandaian Giok Hu, mereka yakin Giok Hu pasti
bisa membereskan Siangkoan Giok Lin dan yang
lainnya. "Biarlah kami ikut membantui dulu kongcu,
baru nanti kami kembali ke markas."
Giok Han menggeleng. "Kalian sudah terluka,
tampaknya Tio hujin juga dalam keadaan terluka
tidak ringan. Bawalah isterimu pulang ke markas,
kirim salam kepada kawan kawan dan Thio-jin,
beritahukan juga tak lama lagi pasti aku akan
bergabung dengan mereka. Tentang daftar orangKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
1028
orang gagah yang bersedia bekerja pada kerajaan
bisa kuusahakan merampas dari tangan Siangkoan
Giok Lin. Memang berbahaya kalau kita tak berhasil
memperoleh daftar itu, sebab besok-besok kita akan
kemasukan mata-mata musuh, bisa saja seorang
kangouw yang kita kira sahabat tak tahunya berdiri
dipihak kerajaan ! Aku akan berusaha sekuat tenaga
untuk mendapatkan daftar itu. Tenanglah Tiosuheng,
ajaklah isterimu pulang untuk merawat
lukanya."
Cu Siang mengangguk berterima kasih, dia yakin
Giok Han pasti berhasil membunuh Siangkoan Giok
Lin dan memperoleh daftar orang-orang kangouw
yang bekerja pada pihak kerajaan. Kepandaian Giok
Han beberapa tingkat di atasnya. Secara selintas
dan cepat dia menceritakan bahwa di kota ini dia
mempunyai dua orang kawan, anak buah Thio-Hong
Gan juga yang bekerja untuk memata-matai pihak
kerajaan, di samping itu menampung orang-orang
Thio Hong Gan yang kebetulan datang di kota ini.
Kakek tua yang binasa di tangan Ban It Say salah
seorang dari mata mata yang ditempatkan Thio
Hong Gan. Dia sudah melaksanakan tugasnya
dengan baik, selain merawat Tio Cun Siang dan
isterinya yang terluka karena gagal menyerbu
gedung slangkoan Giok Lin, tak berhasil merampas
daftar orang-orang kangouw yang berhasil dibujuk
orang she Siangkoan itu untuk bekerja di kaki Kaisar
penjajah, juga memang mereka telah dilukai oleh
orang-orang Siangkoan Giok Lin.

1029
Beruntung suami isteri itu bisa meloloskan diri
dan menumpang di rumah kakek tua A-nam, matamata
Thio Hong Gan yang berjuang dengan sepenuh
kemampuannya tanpa pamrih. Tapi siapa tahu, jejak
sepasang suami isteri ini diendus oleh pihak
Siangkoan Giok Lin, dengan munculnya Ban It Say
dan juga matinya kakek tua itu. Kalau saja tak
muncul Giok Han dan In Bwee, tentu celakalah Cun
Siang dan isterinya.
Selama mendengarkan cerita Cun Siang, Giok
Han sering melirik kepada In Bwee yang masih
mengerahkan sinkangnya dengan duduk bersila buat
menyembuhkan luka di dalam tubuhnya. Memang
luka di dalam tubuh tak bisa disembuhkan dengan
satu kali saja pemusatan tenaga sinkang, namun
setidaknya bisamengurangi luka itu agar tak terlalu
parah.
Lama juga ln Bwee mengerahkan pemusatan
sinkangnya, sampai akhirnya dia menyudahi dan
meloncat berdiri. Mukanya masih agak pucat.
Giok Han cepat-cepat menghampiri, muka si
gadis berobah merah, cepat cepat menutupi
dadanya dengan kedua tangannya, isteri Cun-Siang
segera membuka buntalan bajunya yang cuma dua
potong, dia berikan kepada In Bwee. Gadis itu cepat
cepat memakainya, walaupun ukuran baju itu agak
kebesaran tapi jauh lebih baik dari pada dadanya
yang putih montok itu terlihat orang.

1030
Giok Han menceritakan apa yang telah
didengarnya dari Cun Siang, dia juga
memperkenalkan Cun Siang suami isteri kepada In
Bwee. Mereka segera merundingkan cara untuk
membunuh Siangkoan Giok Lin. Akhirnya Giok Han
bilang: "Tio-suheng percayalah, aku berdua Cangkouwnio
akan berusaha membunuh orang she
Siangkoan itu. Sekarang pergilah kau kembali ke
samping Thio-taijin, beritahukan pada Thio-taijin
kalian sudah bertemu denganku, dalam waktu dekat
aku akan berangkat bergabung. Tenaga kalian
sangat diperlukan oleh Thio-taijin. Berangkatlah
sekarang, kalau Ban-It Say, congkoan Gi-lim-kun
tadi, menyusul mengejar kita sampai disitu, kami
yang akan menghadapi, kalian bisa mempunyai
waktu yang cukup buat meninggalkan tempat ini."
Tio Cun Siang dan isterinya bimbang, namun Giok
Han mendesaknya terus, maka akhirnya dengan hati
dan perasaan berat merekapun pamitan untuk
berpisah dengan anak jenderal Giok Hu yang
tampaknya memiliki kepandaian tinggi serta tangguh
ini. Kenyatsan yang aangat menggembirakan,
karena merekapun yakin Thio Hong Gan kalau
menerima laporan ini pasti ikut gembira....
Setelah Tio Cun Siang dan isterinya pergi, Giok
Han mengawasi In Bwee, dengaa sorot mata
memancarkan kekuatiran yang sangat dia bertanya:
"Bagaimana keadaan lukamu, nona Cang?"

1031
"Tangan orang she Ban itu ternyata berbisa
juga." bilang In Bwee dengan muka murung,
"Mungkin aku memerlukan waktu satu bulan agar
tenaga dalam pulih dan kesehatanku baik kembali."
"Baiklah kalau begitu, sementara ini kau
beristirahat dulu, untuk menyembuhkan lukamu.
Marl kita mencari tempat untuk berdiam sementara
waktu. Dalam kesempatan itu aku akan pergi
mencari Siangkoan Giok Lin, untuk membunuhnya
kau dapat memusatkan sinkang untuk
menyembuhkan lukamu."
In Bvves tiba-tiba teringat sesuatu. Dia
memegang tangan Giok Han.
"Hampir aku lupa memberitahukan padamu! Dulu
aku sudah menjanjikan kau akan memberitahukan
rahasia Siangkoan Giok Lin. bukan ?"
Gok Han mengangguk, mengawasi si gadis
dengan sikap berkuatir. "Ya. tapi bukan sekarang
waktunya. Kini kau perlu mencurahkan seluruh
perhatian untuk penyembuhan lukamu itu."
In Bwee sangat bsrsyukur dan berterima kasih
atas sikap demikian baik dari Giok Han, yang
memperhatikan dan menguatirkan kesehatannya.
Dia menggeleng. "Dengan memberitahukan padamu
rahasia Siangkoan Giok Lin tidak berarti aku harus
mempergunakan caranya! Guruku pernah
memberitahukan kepadaku bahwa kematian

1032
Siangkoan Giok Lin terletak pada... pada
selangkangannya ! Dia memiliki ilmu kebal, sulit
untuk menotoknya ataupun juga melumpuhkannya
dengan menyerang anggota tubuhnya yang tain.
Kau harus menyerang pada bagian yang mematikan,
yaitu pada selangkangannya, tiga dim dari tepi kiri
selangkangannya. Di jalan darah *Uh bian-hiat"nya."
Girang Giok Han mengetahui kelemahan orang
she Siangkoan itu. Dia mengingatnya baik- baik.
Kemudian dia minta agar In Bwee duduk bersila
untuk mencurahkan sinkangnya dan coba
menyembuhkan lagi luka di dalam tubuhnya.
Si gadis menggeleng.
Biarpun aku memerlukan waktu satu bulan untuk
menyembuhkan lukaku ini agar menjadi sehat
seperti semula, tapi bukan berarti keadaanku
sekarang ini sangat menguatirkan. Sekarang aku
sudah pulin sebagian besar, kau jangan terlalu
kuatir."
Giok Han menggeleng.
"Tidak nona Gang, kau tak boleh terlalu memakai
tenagamu pada saat-saat sekarang ini dan harus
benar-benar beristirahat sambil memusatkan tenaga
dalammu, agar kesehatanmu pulih benar.
Peliharalah kesehatanmu baik-baik, urusan penting
apapun bisa ditunda, sampai nanti setelah kau
sembuh kita melakukannya bersama sama !

1033
Sedangkan orang she Siangkoan iru biar aku sendiri
yang menghadapinya. kukira tak ada kesulitan apaapa,
terlebih lagi jika kaki tangan kaisar lalim yang
sebetulnya berada di gedung orang she Siangkoan
itu sudah meninggalkan rumahnya dan pulang ke
kota raja, tentu tak ada kesulitan apa-apa lagi buat
membunuh Siangkoan Giok Lin !"
Si gadis sangat bersyukur, dia menatap si
pemuda dangan sorot mata berterima kasih. Tanpa
disadari tangannya masih memegangi tangan Giok
Han, dan pemuda itupun balas menggenggam
tangan si gadis. Mata mereka saling menatap, dan
sinar mata mereka bicara lebih banyak dibandingkan
kalau memakai mulut... seluruh isi hati mereka
terpancar jelas-jelas dari sorot mata masingmasing...
keduanya sudah maklumi apa yang
mereka rasakan dan pikirkan.
Tiba-tiba Giok Han tersadar, dia segera menarik
tangan si gadis diajak meninggalkan tempat itu,
"Kita harus mencari tempat bersembunyi yang
benar-benar aman, karena di saat kau sedang
berobat menyembuhkan luka di dalam tubuhmu, tak
boleh terganggu perhatianmu. Sedapat mungkin kita
mencari tempat yang jarang didatangi manusia...!"
In Bwee menatap Gtok Han dengan pipi berobah
merah, namun dia bertanya: "Kemana kita mencari
tempat yang aman dari incaran orang-orang kaisar
lima itu? Sekarang saja kaki tangan raja laim itu
mungkin sedang melacak menyelidiki jejak kita !"

1034
"Mari kita pergi melihat dulu keadaan didepan
sana, mungkin bisa dipakai untuk berdiam
sementara,"
"Tapi kita jangan menumpang di rumah
penduduk, hal itu akan membahayakan. Kita tak
bisa mengatakan pemilik rumah yang kita tumpangi
akan berkhianat, tapi yang banyak terjadi memang
begitu, ia melapor kepada yang berwajib."
Giok Han cuma mengangguk. Begitulah mereka
melakukan perjalanan tanpa tahu harus pergi
kemana. Tapi setelah berjalan setengah harian,
mereka tiba di sebuah bukit yang agak terjal.
Keadaan di situ sepi sekali tampak juga sebuah
bongkahan batu besar.
"Aku akan menggeser batu besar itu. kau boleh
bersemedi di belakang bongkahan batu itu, sehingga
tak ada seorangpun yang bisa melihatmu !"
In Bwee masih tak mengerti apa yang
dimaksudkan Giok Han, tapi pemuda itu sudah mulai
bekerja Dia memusatkan sinkang pada kedua
lengannya, kemudian mengangket bungkah batu
yang berukuran besar, yang digeser hampir
menempel pada bukit.
Kemudian dia mengumpulkan ranting dan cabang
pohon yang telah kering, yang diletakkan di atas
batu itu, ditimbuni oleh daun daun, sehingga
tampaknya di atas bungkahan batu itu bertumbuhan

1035
pohon-pohon liar. Padahal di bawahnya terdapat
ruang terpisah yang cukup lebar. Dengan cara
demikian tentu orang tak akan mencurigakan bahwa
di balik bongkahan batu itu ada orang.
In Bwee memuji kecerdikan Gtok Han, dia tak
rewel ketika Giok Han minta dia duduk di balik
bongkahan batu itu, bersemedi untuk memusatkan
sinkangnya, agar luka di dalam tubuhnya bisa
disembuhkan.
"Nah, di sini kau aman, biarlah aku akan kembali
ke dalam kota, untuk mencari orang she Siangkoan
itu ! Percayalah, aku akan mengurus orang she
Siangkoan itu sebaik-baiknya, kau jangan kuatirkan
apa-apa tentang diriku, karena kau perlu
memusatkan seluruh perhatian pada pemusatan
tenaga sinkangmu."
In Bwee mengangguk dan memejamkan
matanya. Sedangkan Giok Han mempergunakan
ginkangnya untuk kembali ke dalam kota,
mendatangi rumah Siangkoan Giok Lin.
Dia bertekad walaupun bagaimana dia harus
berhasil memperoleh daftar orang-orang kangouw
yang ada di tangan Siangkoan Giok Lin. Jika tidak,
tentu Thio Hong Gan banyak mendapat kesulitan.
Sulit mengetahui orang-orang kangouw mana yang
sudah menjadi anjingnya kaisar lalim itu, bisa jadi
musuh dalam selimut buat Thio Hong Gan, berarti
juga mengancam perjuangan suci Thio Hong Gan.

1036
Karena mengetahui di kota banyak sekali
berkumpul pahlawan kaisar, Giok Han bertindak
hati-hati sekali. Dia sudah merencanakan, yang
pertama-tama dilakukannya ialah menyelidiki dulu
keadaan rumah Siangkoan Giok Lin, apakah orangorang
kaisar dari kota-raja masih berada di rumah
orang she Siangkoan itu
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
-------
PENGEMIS itu berjalan terpincang-pincang,
dengan tongkat cukup panjang ditangan kiri,
mengetuk-ngetuk jalanan, sambil- melangkah
perlahan-lahan, rupanya dia buta tak bisa melihat.
Di tangan kanannya memegang sebuah mangkok
untuk tempat menerima derma yang diberikan orang
padanya.
Kaki kanannya pincang, dia jalan terseok-seok,
mukanya kotor, kumis jenggotnya tak keruan,
topinya juga kotor sekali dibeleseki sampai menutup
sebagian wajahnya. Usianya mungkin empat puluh
tahun. Pengemis ini berjalan terus perlahan-lahan,
akhirnya berhenti di sebuah rumah makan, minta
sedekah.
Tak ada seorangpun yang memperhatikannya,
termasuk pelayan-pelayan rumah makan itu tak
mengacuhkannya. Tapi, biarpun buta, biji mata
pengemis itu sering menatap bersinar ke dalam

1037
ruang rumah makan itu, kemudian dipejamkan lagi,
sambil mulutnya komat-kamit minta belas kasihan
kepada orang-orang yang lewat di dekatnya, agar
memberi sedekah padanya.
Lama juga si pengemis berdiam di depan rumah
makan, dia berjalan lagi terseok-seok menyusuri
jalan tersebut, akhirnya masuk ke sebuah lorong
yang cukup panjang. Dia berjalan terus dengan
kepala tertunduk, sampai akhirnya berhenti di depan
rumah yang megah dan mewah. Pengemis ini
menggumam perlahan: "Tampaknya" sepi, apakah
anjing-anjing kaisar lalim itu sudah tak berdiam di
rumah ini ?"
Lama pengemis itu memperhatikan rumah
tersebut, sedangkan gedung itu tetap sunyi, sepi,
tak terlihat seorang manusiapun juga. Daun
pintunya yang tebal lebar itu tertutup rapat-rapat.
Perlahan-lahan si pengemis melangkah menghampiri
pintu. Dia berdiri di situ memperhatikan keadaan di
sekitarnya, rupanya dia cuma pura-pura buta sebab
matanya bersinar tajam dan bisa melihat apapun
juga di sekelilingnya.
Diangkat tongkat pada tangan kirinya, ujung
tongkat diketukan cukup keras pada daun pintu.
Setelah itu tongkatnya diturunkan lagi, menanti
dengan kepala ditundukkan. Daun pintu terbuka,
seorang berpakaian sebagai pelayan di rumah
tersebut keluar dengan muka masam setelah

1038
melihat yang melihat yang mengetuk pintu seorang
pengemis kotor dan buta.
"Sial ! Mengapa kau mengganggu ketenanganku
?" bentak si pelayan! "Hayo pergi! Menggelinding
dari sini !" bentakan itu disusul dengan tangan
kanannya diulurkan buat mendorong pundak si
pengemis, sampai tubuh si pengemis terhuyunghuyung
mundur ke belakang beberapa langkah,
rupanya si pelayan mendorong dengan tenaga yang
kuat.
"Toaya... bermurah hatilah memberi sedekah
kepadaku si pengemis melarat... Kasihanilah, aku
pengemis buta yang tak bisa melihat keindahan
alam, tak bisa menikmati keindahan apapun lagi...!"
"Jangan rewel, ayo pergi ! Atau kau mau
kulemparkan baru mau menggelinding pergi dari sini
?" si pelayan yang rupanya tadi sedang tertidur dan
terbangun kaget karena ketukan tongkat si
pengemis pada daun pintu. Semula dia menyangka
yang mengetuk pintu sahabat majikannya, tak
tahunya hanya seorang pengemis. Dia jadi uringuringan
dan galak.
"Apakah Toaya tak berkasihan padaku ?" tanya si
pengemis. "Baiklah, kalau Toaya tak mau memberi
derma dan sedekah kepadaku, jelas akupun tak bisa
memaksa...!"

1039
Si pelayan rupanya sebal melihat pengemis kotor
ini, dia cuma "hemmm! "beberapakali dan menutup
daun pintu. Cuma saja, si pelayan jadi kaget campur
heran. Daun pintu tidak bisa ditutup rapat, biarpun
dia mendorong kuat-kuat. Dia membuka lagi. Si
pengemis sedang menurunkan tongkatnya. Tidak
ada orang lain disekitar tempat itu. Si pelayan
mendeliki si pengemis buta, dia membentak: "Kau
masih belum menggelinding pergi, pengemis
menyebalkan ?"
"Aku akan segera pergi Toaya, jangan galakgalak...!
"kata si pengemis. Pelayan itu kembali mau
menutup daun pintu, sama saja hasilnya dengan
tadi, yaitu daun pintu tidak bisa ditutup rapat-rapat.
Tentu saja dia semakin penasaran dan heran, tapi
tidak segera membuka lebar daun pintu, cuma
mengintai dari sela daun pintu. Rupanya semua ini
akibat ulah si pengemis. Tongkatnya dilintangkan
dan ujung tongkat menunjang daun pintu, sehingga
pintu tak bisa ditutup.
Karena penasaran, si pelayan mendorong kuatkuat
agar daun pintu rapat. Dia pikir, berapa
kuatnya sih tenaga seorang pengemis buta yang
tampaknya kurang makan itu ?Tapi dia kecele,
karena tetap saja daun pintu iiu tidak bisa didorong
rapat biarpun sudah dikerahkan seluruh tenaganya.
Dengan murka dia membuka lebar-lebar daun
pintu, sedangkan si pengemis buta sudah

1040
menurunkan tongkatnya dan bersiap-siap hendak
berangkat meninggalkan tempat itu.
"Gembel busuk, kau harus dihajar.!" teriak si
pelayan meloncat ke belakang si pengemis, tangan
kanannya diulurkan menjambak punggung pengemis
itu, maksudnya dia hendak menarik tubuh si
pengemis untuk dibantingnya.
Tapi dia menyambar tempat kosong, jari-jari
tangannya yang semula tampak sudah hampir
berhasil menjambak baju di punggung si pengemis,
cuma terpisah beberapa dim saja, telah menyambar
tempat kosong karena tubuh si pengemis mendadak
seperti bisa maju ke depan lebih cepat dari
sebelumnya, seperti punggung si pengemis ada
matanya bisa melihat sambaran tangan si pelayan.
Tidak kepalang marah dan penasaran si pelayan,
dia membentak bengis sambil mengulangi
jambakannya. Sekali ini dia menjambak dengan
mempergunakan tenaga sepenuhnya.
Si pengemis mendadak menjerit : "Aduhhh !
Aduhhh . . . kakiku !" Dan dia memutar tubuhnya ke
samping, membungkuk buat melihat kakinya,
mungkin dia sudah kesandung batu dan sepatunya
yang sudah tak keruan bentuknya itu menyebabkan
ibu jari kakinya muncul tercuat keluar tak bisa
melindungi lagi jari kakinya dari bongkahan batu
yang terantuk itu, sehingga dia menderita kesakitan.

1041
Karena si pengemis membungkuk menyingkir ke
samping buat melihat kakinya, akibatnya jelek sekali
buat si pelayan yang sedang mengerahkan seluruh
tenaganya buat menjambak sambil setengah
menghantam dengan tangannya ke punggung si
pengemis.
Karena begitu tangannya diulurkan, mendadak
lenyap sasarannya, bahkan waktu itu keseimbangan
tubuhnya lenyap, tubuhnya terjerunuk mencium
tanah sampai mukanya kotor oleh tanah dan abu !
Si pelayan menjerit marah sambil meloncat
berdiri, mukanya kotor sekali, hidungnya juga sudah
bocor mengeluarkan darah, karena tadi mencium
jalanan. Dia loncat ke dekat si pengemis untuk
memukul kuat-kuat pada si pengemis. Karena tadi
dia sudah mendapat pengalaman pahit, sekali ini
biarpun memukul sangat kuat si pelayan tak
membabi buta, dia tidak ceroboh dan berhati-hati.
Si pengemis seperti tidak tahu beberapa kali
hendak dipukul oleh si pelayan, dia mengayunkan
tongkatnya ke belakang, untuk di kempit pada
ketiaknya, karena tangannya hendak mengurut-urut
ibu jari kakinya.
Ujung tongkatnya muncul di samping ketiak
belakang, dan mungkin secara kebetulan saja ujung
tongkat itu menyodok perut si pelayan. Sodokan
ujung tongkat itu ternyata kuat sekali, sebab si
pelayan merasakan perutnya seperti dihantam

1042
sesuatu yang beratnya ratusan kaki, membuat isi
perutnya jungkir balik, tak bisa dipertahankan lagi
badannya kejengkang ke belakang, bergulingan
beberapakali sambil teraduh-aduh memegangi
perutnya yang sakit sekali.
Si pengemis sudah menggerakkan tongkatnya
untuk mulai melangkah pergi, jalannya terseok-seok
karena kakinya memang pincang. Dia tetap
membawa sikap seperti tidak tahu berulangkali
dirinya telah gagal diserang oleh si pelayan.
Pelayan itu biarpun perutnya masih sakit,
mukanya masih meringis, dengan kemarahan
meluap sudah melompat bangun, meraung
penasaran dan berlari mengejar si pengemis. "Akan
kuhajar mampus kau! Akan kuhajar mampus kau !"
Teriaknya mengancam. Dan memang dia bermaksud
untuk menyiksa pegemis itu, yang dikiranya sudah
mempermainkan dirinya.
Pengemis itu tetap berlenggang-Ienggok terseokseok
dengan langkah pincang, seperti tak
mendengar teriakan si pelayan. Biarpun si pelayan
berlari-lari buat menyusulnya, tetap saja jarak
mereka terpisah satu depa lebih, pelayan itu tak
berhasil mendekati si pengemis. Memang ini luar
biasa.
Tampaknya si pengemis jalan terseokseok,
namun tubuhnya itu meluncur ke depan ringan
sekali, seperti melayang tak menginjak tanah

1043
sehingga biarpun si pelayan mengejarnya
menggunakan seluruh tenaganya berlari di belakang
pengemis itu, tetap saja dia tak berhasil mendekati
pengemis yang luar biasa ini tanpa berapa si pelayan
sudah mengejar si pengemis cukup jauh, tapi tetap
saja dia tak berhasil mengejar pengemis itu, jarak
mereka terpisah cukup jauh. Bukan main penasaran
hatinya, dia mengejar mati-matian mengerahkan
seluruh sisa tenaganya, tetap saja dia tak berhasil
mencapai si pengemis.
Sampai akhirnya, napasnya seperti tersendat
habis, memburu keras, kerongkongannya kering.
Kalau semula dia memaki-maki sambil mengejar,
sekarang cuma mengejar dengan mulut tertutup
rapat-rapat !
Ketika mereka berada dilorong jalan yang sepi,
mendadak pengemis itu berhenti melangkah. Dia
berdiri tegak menghadapi pelayan yang sudah
mengejarnya kehabisan tenaga.
"Akan kumampusi kau!" Serak suara si pelayan,
tangannya diangkat untuk memukul. Disangkanya si
pengemis sudah tak kuat berlari menghindar lagi
darinya, biarpun dia sudah kehabisan tenaga, tapi
dengan sisa-tenaganya dia ingin memukul pengemis
itu.
Si pengemis tak berusaha mengelak, berdiri diam
ditempatnya dengan bibir tersenyum. Waktu tangan
si pelayan hampir mengenai mukanya, tahu-tahu

1044
tubuhnya sudah menyingkir ke samping, sehingga
kepalan tangan pelayan itu lewat di samping
mukanya.
Pada waktu itulah tongkat si pengemis menotok
punggung pelayan tersebut, hebat kesudahannya.
Tubuh pelayan itu seperti didorong oleh suatu
kekuatan yang dahsyat, sehingga tubuhnya
terjerunuk ke depan, mukanya kemudian
menghantam tanah, hidungnya patah, darah
mengucur keluar, giginyi juga rontok tiga, matanya
berkunang-kunjug, gelap penglihatannya.
Si pengemis menggunakan ujung tongkatnya
menyontek baju di punggung pelayan tersebut, dia
menghentak perlahan, seperti tak memakai tenaga.
Tapi kesudahannya benar benar mengejutkan,
karena badan pelayan itu seperti sehelai daun kering
yang ringan terlempar ke samping, punggungnya
membentur keras pada dinding tembok rumah
penduduk, sampai terdengar suara benturan yang
nyaring, tubuh si pelayan meloso jatuh di bawah
tembok dengan mata terbuka lebar-lebar dan mulut
ternganga ketakutan, matanya itu biarpun terbuka
lebar namun gelap tak ada yang bisa dilihat,
berkunang-kunang.
Tenang sekali si pengemis menghampiri pelayan
dan ujung tongkatnya mengetuk perlahan dagu si
pelayan, segera kepala pelayan itu menengadah..
Dagunya seperti dipukul martil saja, sakitnya bukan
main, suara rintihannya terdengar perlahan.

1045
Pelayan yang semula, begitu garang dan bengis,
sekarang jadi kuncup nyalinya, segera sadar bahwa
dia keliru melihat lawan. Pengemis ini rupanya
bukan pengemis sembarangan, dia ternyata memiliki
tenaga yang kuat, tadi rupanya pengemis ini purapura
saja tak melayaninya, namun sengaja
memancingnya ke-lorong yang sepi dan tak ada
orang lain di situ.
Diam-diam pelayan ini mengeluh, bila ia tidak
terpancing dan ribut di depan rumah majikannya,
pasti kawan-kawannya akan mengetahui keributan
itu dan membantuinya, tidak seperti sekarang dia
jadi mati kutu.
"Dengarlah baik baik," suara si pengemis tawar.
"Aku ingin bertanya beberapa hal kepadamu, kau
harus menjawabnya jujur, jangan sekali-sekali
berpikir untuk berbohong, karena aku tak jamin lagi
keselamatan jiwamu."
"Apa... apa yang ingin kau tanyakan?"
Si pelayan lemas tak bertenaga didukdi bawah
tembok menderita kesakitan karena luka terbanting
beberapakali, sikapnya sudah tak bengis dan galak
seperti semula, suaranya juga serak gemetar
ketakutan. Yang dikuatirkannya dirinya disiksa lagi
oleh pengemis ini.
"Pertanyaanku yang pertama," kata si pengemis,
perlahan-lahan dan suaranya tetap tawar. " Apa

1046
yang sedang dilakukan Siang koan-Giok Lin
sekarang ini?"
Kaget dan heran sipelayan. Mau apa pengemis ini
bertanya tentang majikannya. Segera dia menduga
pasti pengemis ini musuh majikannya.
"Loya... loya sedang dikamar perpustakaannya
menghitung... menghitung penghasilan kemarin
yang baru disetor oleh perusahaan-perusahaannya,"
jawab si pelayan terpaksa.
"Pertanyaanku yang kedua: Apakah orangorangnya
dari kotaraja masih berada dirumahnya?"
tanya sipengemis tak mengacuhkan sikap ketakutan
sipelayan.
"Ooo, kawan-kawan loya?" tanya si pengemis.
"Mereka... mereka masih berdiam dirumah loya,
mungkin sore ini... mereka akan mengadakan
pemeriksaan dikota ini." Si pelayan menyangka
sipengemis ini jeri pada utusan kaisar dari kotaraja
maka dia sengaja bilang begitu untuk menggertak.
Tapi, hasilnya malah, membuat dia tambah pecah
nyalinya, karena tahu-tahu tongkat si pengemis
menyabet pipinya. Perlahan tampak pukulan gagang
tongkat si pengemis, tapi pipi si pelayan segera
bengkak besar dan dia kesakitan sampai rasanya
menusuk-nusuk otak dan uluhatinya.
"Bicara yang jujur," suara si pengemis tambah
tawar, "Aku tahu kau bicara tidak jujur, sekali lagi

1047
melakukan hal itu maka kepalamu akan ku hantam
dengan tongkatku ini dan akibatnya kau tentu bisa
membayangkan sendiri ....!"
"Ampun... ampun... aku tak berani berdusta lagi,
Loya sekarang sedang mempersiapkan ....
keberangkatannya kekota raja."
"Maksudmu majikanmu itu akan berangkat ke
kotaraja?" menegasi pengemis ini tawar. "Bersama
siapa dia berangkat ke kotaraja? Kapan
berangkatnya?"
"Loya... berangkat malam ini, jam tiga.
Kepergiannya dikawal oleh empat orang mereka
semua dari kotaraja." pelayan itu kini patuh
menjawab sebenarnya.
"Apakah keempat orang yang akan mengawal
majikanmu ke kotaraja berada di rumah majikanmu
?"
"Dua orang berdiam di rumah loya, dua orang lagi
berada di rumah Tihu, jam satu nanti mereka akan
datang menggabungkan diri."
"Siapa dua orang yang sekarang berada di rumah
loyamu itu ?" tanya pengemis itu lagi.
"Thio-taijin dan Cu kongcu," menyahusi si
pelayan.

1048
Yang kau maksudkan Thio-taijin itu apakah bukan
Thio Yu Liang ? Dan yang kau sebut Cu-kongcu ita
apakah bukan Cu Lie Seng ?" tanya si pengemis lagi.
"Be... benar," si pelayan tambah yakin bahwa
pengemis ini bukan pengemis sembarangan, dia
menyesal mengejar-ngejar pengemis ini tadi seperti
mencari penggebuk saja.
"Lalu dua orang lainnya yang akan menjemput
loyamu nanti, yang sekarang berdiam di rumah Tihu,
siapa mereka?" tanya si pengemis lagi.
"Aku mendengarnya mereka adalah... Ban-taijin
dan.... dan yang seorang lagi tak begitu jelas...
entah siapa dia, aku tak. mengetahuinya..."
"Plakkkkk!" tahu-tahu tongkat si pengemis
menepuk perlahan pipi si pelayan yang sebelah kiri,
perlahan sampokan tongkat itu, tapi gigi si pelayan
copot dua.
"Bicara yang benar dan jujur. Siapa yang seorang
lagi?" bentak si pengemis. "Atau kau hendak
kepalamu itu kuhajar pecah?"
Rasa sakit yang ditanggung pelayan itu bukan
main menyiksanya, akibat terjerunuk. mukanya
menubruk jalanan, terbanting membentur tembok
rumah dan pipinya duakali dipukul oleh tongkat si

1049
pengemis benar-benar merupakan luka yang
mendatangkan rasa sakit yang menyiksa benar,
kepalanya pusing, matanya gelap, rasa sakit di
sekujur punggungnya karena tulang punggungnya
seperti patah atau sedikitnya retak akibat benturan
kuat pada tembok, membuat dia hampir tak
sanggup bicara lebih jauh.
Namun rasa takut yang hebat karena kuatir
disiksa lebih jauh oleh pengemis ini, terpaksa dia
menyariuii: "Sungguh... aku tak mengetahui siapa
orang yang keempat itu... sungguh Toaya... aku
tidak bicara bohong." Saking ketakutan dia
memanggil si pengemis dengan sebutan Toaya, tuan
besar.
"Bohong! Kau rupanya minta dihajar lagi, heh?"
mengancam si pengemis.
Pelayan itu merintih dengan muka meringis
ketakutan, dia hampir pingsan, menangis ketakutan
setengah mati. "Jangan... jangan mempersakiti aku
lagi, Toaya, aku sudah bicara yang jujur.... aku tak
tahu siapa orang orang keempat itu yang akan
mengawal Loya .... Sumpah mati apapun aku
mau.... ampuni aku, Toaya.... jangan
mempersakitiku lagi.... aku mempunyai lima orang
anak dan isteriku juga tak bisa apa-apa, kalau aku
mati siapa yang memberi makan pada mereka?"
"Hemmm. kau menyebut-nyebut tentaag isteri
dan anak anakmu untuk minta dikasihani, bukan ?"

1050
tanya si pengemis dingin. "Tapi, kalau kau tak bicara
jujur, sulit aku mengampuni jiwa anjingmu."
Tongkatnya diangkat mengancam akan memukul
pelayan itu lagi. Keruan saja si pelayan menjerit-jerit
ketakutan sambil menutupi kepalanya dengan kedua
tangannya, menghiba-hiba minta ampun, air
matanya mengucur banyak sekali, tidak malu-malu
dan lupa rasa sakit di tubuhnya, dia coba bergerak
untuk berlutut.
Tapi, waktu itu tongkat si pengemis sudah turun,
menotok jalan darah Yu-ci-hiat nya di tengkuk,
seketika si pengemis pingsan tidak sadarkan diri.
"Kau beristirahatlah di situ," kata si pengemis
tawar, sambil ngeloyor pergi meninggalkannya, tapi
sekarang langkah kakinya tidak terseok-seok seperti
tadi, melainkan ringan sekali berlari dengan ginkang
yang sangat tinggi"!
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
----
"KITA harus membagi diri menjadi dua
rombongan, dan kukira yang paling baik daftar itu
dibawa oleh Cu kongcu!"
Orang yang berkata itu adalah seorang bertubuh
tinggi besar. memiliki uiat-urat tangan yang kasar
bertonjolan pada tangannya, mukanya bengis, dia
bicara sambil mengangkat cawan araknya,

1051
meneguknya kemudian seakan menantikan jawaban
yang lain-nya yang berkumpul di ruangan tersebut.
Orang ini tak lain Ban It Say, dan dia berkumpul
di ruangan itu bersama Siangkoan Giok Lin, Thio Yu
Liang, Cu Li Seng dan seorang berpakaian penuh
tambalan, dilihat dari keadaannya yang kotor dan
mesum, dialah seorang pengemis.
Usianya mungkin empat puluh tahun lebih, kumis
jenggotnya di biarkan tumbuh kasar di mukanya,
waktu Ban It Say bicara, dia cuma memutar-mutar
cawan araknya di atas meja dengan tangan
kanannya, seperti sedang berpikir keras.
"Apa yang dibilang Ban Toako memang tak
salah," kata Siangkoan Giok Lin. "Kita harus
membagi diri menjadi dua rombongan, untuk
mengalihkan perhatian orang-orang yang mengincar
daftar ini. Entah bagaimana pendapat Cu-kongcu ?"
Cu Lie Seng sejak tadi berdiam diri dengan muka
yang dingin kaku, waktu Siang-koan Giok Lin minta
pendapatnya dia tetap diam tak segera menyahuti,
hanya matanya memandang kepada orang-orang
yang berkumpul di situ satu persatu.
Kemudian dia baru menghela napas, katanya:
"Siapa sih yang memiliki nyali begitu besar untuk
menghadang kita dan merampas daftar itu ? Biarpun
sudah makan sepuluh nyali macan rasanya sulit buat
mereka mengambil daftar itu dari tangan kita !

1052
Rasanya Ban taijin bicara terlalu berlebih-lebihan,
kita tak usah kuatir terhadap siapapun juga."
Muka Ban It Say merah merasa malu, dia adalah
congkoan Gi-lim-kun berkepandaian tinggi, berkata
seperti itu Cu Lie Seng jelas ingin mengatakan
bahwa dia seorang pengecut, yang kuatir berlebihlebihan.
Sebetulnya dia bermaksud mempermudah
pengiriman daftar-daftar orang kangouw yang
sekarang jadi rebutan dan banyak yang mengincar.
Tapi, ia tak berani bicara lagi, biarpun hatinya
mendongkol terhadap pemuda yang angkuh ini.
Cu Lie Seng tidak peduli sikap congkoan Gi-limkun
tersebut, dia menoleh pada Thio Yu Liang,
tanyanya: "Bagaimana pendapat Thio tai-jin ?"
Thio Yu Liang batuk-batuk, kemudian menyahuti
hati-hati : "Kukira memang ada baiknya daftar itu
bawa oleh Cu-kongcu. Dengan kepandaian Cu
kongcu dan beberapa orang pengawalmu, niscaya
daftar itu bisa sampai ditangan Cu-kong-kong
dengan selamat. Tentang cara pengiriman itu lebih
baik diatur oleh kongcu, kami cuma mematuhi
perintah saja."
Senang tampaknya Cu Lie Seng, dia
mengangguk-angguk tersenyum, walaupun
senyumnya itu tetap tawar dan dingin. "Baiklah,
kukira sudah dapat dipastikan sekarang bahwa aku
yang akan membawa daftar itu. kalian ikut dalam
rombonganku, untuk memperkuat kedudukan kita

1053
selama dalam perjalanan ! Kuakui orang-orang Thio
Hong Gan dan pihak-pihak lain mengincar daftar ini,
tapi kukira kita bisa menghadapi mereka tanpa perlu
gentar."
Siangkoan Giok Lin mengangguk-angguk, dia tak
berusaha menentang keputusan putera Cu
kongkong, yang diketahuinya sangat berkuasa itu.
Semua orang yang lainnya berdiam juga. Sedangkan
Cu Lie Seng telab berkata lagi: "Yang ingin
kujelaskan kepada kalian, baru beberapa hari ini
guruku, Tang San Siansu, sudah tiba di sini, beliau
yang akan mendamping aku pulang kekota raja."
Semua orang terkejut campur girang. Adanya
Tang San Sianau jelas merupakan jaminan bahwa
dalam perjalanan mereka tak akan menemui
kesulitan berapa banyakpun orang tangguh
berusaha menghadang mereka. Karenanya mereka
segera tertawa riang.
"Sungguh beruntung kami jika bisa melakukan
perjalanan dengan guru kongcu, ini merupakan
kehormatan terbesar buat kami. Sekarang kami tak
perlu bimbang dan kuatir lagi, rintangan apapun
yang terjadi tentu bisa kita atasi!" kata Ban It Say
untuk memulihkan suasana, ikut memuji Cu Lie
Seng.
Pemuda itu mengangguk, kemudian menjelaskan
rencana perjalanan mereka dengan suara perlahan.
Semua orang itu menggeser duduk masmg-masing,

1054
untuk lebih dekat mendengarkan rencana perjalanan
yang diuraikan Cu Lie Seng.
"Di manakah guru kongcu ? Mengapa tak
mengajaknya kemari?" tanya Siangkoan Giok Lin.
"Aku menyesal sekali tak bisa melayani guru Kongcu
yang terkenal sebagai satu-satunya jago tanpa
tanding jaman ini!"
Sebal Cu Lie Seng mendengar perkataan
Siangkoan Giok Lin, dia tahu orang she Siangkoan
ini cuma menjilat-jilat memuji untuk menyenangkan
hatinya, sebab Siangkoan Giok Lin memang seorang
yang pandai menepuk pantat untuk meraih
keuntungan pribadi. Cuma saja mengingat bahwa
orang ini diperlukan Hongsiang untuk menundukkan
jago-jago kangouw, dia tersenyum.
"Guruku tak mau merepotkan Lopeh, karenanya
sekarang dia berdiam di rumah Tihu."
Siangkoan Giok Lin mengangguk-angguk
katanya: "Kongcu sendiri memiliki kepandaian
demikian tangguh, entah bagaimana hebatnya
kepandaian guru kongcu" pujinya lagi. Dia
melambaikan tangan memanggil pelayan-pelayan
wanitanya untuk menambahi arak dan mengganti
makanan yang sudah dingin dengan makanan yang
baru.
Ban It Say meremas pantat seorang pelayan
dengan sikap ceriwis, dia memang paling tidak boleh

1055
melihat muka cantik. Pelayan-pelayan Siangkoan
Giok Lin semuanya cantik-cantik dan montok,
karenanya tangan Ban It Say jadi gatal. Dia
meremas begitu sambil tertawa-tawa senang. Si
pelayan tak berani mengelak, cuma senyum-senyum
malu saja.
Siangkoan Giok Lin juga tersenyum-senyum, dia
memang ingin menyenangkan tamu-tamunya,
sengaja telah menampilkan pelayan-pelayan wanita
ynng cantik cantik.
Thio Yu Liang, juga rupanya jadi gatal pula
tangannya, dia menarik lengan seorang pelayan agar
lebih dekat, harum semerbak pelayan itu, gadis
berusia 19 atau 20 tahun, berwajah cantik dan
montok. Dia melirik pada Siangkoan Giok Lin,
katanya: "Kukira Siangkoan Kisu tak keberatan
menghadiahkan dia untukku."
"Silahkan... silahkan...!" Tertawa Siangkoan Giok
Lin. "jangankan hanya seorang, jika Taijin mau tiga
atau empat orang menemanimu, itupun dapat saja
Taijin ambil..."
Thio Yu Liang sudah berdiri, dia tertawa-tawa
menyeret pelayan yang masih berusia muda dan
cantik itu, "Maafkan, perutku sangat sakit dan ingin
minta nona manis ini untuk memijitkannya dulu."
Pelayan itu masih gadis. Dia bekerja di gedung
Siangkoan Giok Lin sejak berusia delapan rahun,

1056
Selama itu tak pernah disentuh laki laki, sekarang
ada orang yang menyeretnya seperti itu dan bisa
menduga apa yang acan dilakukan Thio Yu Liang, dia
jadi ketakutan, mukanya pucat pias.
"Loya..." ratapnya sambil mengawasi Siangkoan
Giok Lin.
Siangkoan Giok Lin mendelik, "Ayo temani Thiotaijin,
awas jangan membuat Thio thaijin jadi gusar."
Thio Yu Liang tampaknya sudah tak sabar dia
menyeret gadis pelayan tersebut menuju
kekamarnya. Tentu saja pelayan ini, tambah
ketakutan dan bingung, dia hendak meronta dari
cekalan Thio Yu Liang, tapi tenaganya mana cukup
untuk menghadapi kekuatan Thio Yu Liang? Seperti
semut dengan gajah saja.
Bahkan terlalu takut dia menangis "Jangan aku,
taijin .... aku . . . aku . . . tak bisa menemani taijin
..."
Thio Yu Liang tertawa-tawa, tak peduli dengan
sikap si pelayan, ditariknya terus dan hatinya
semakin senang saja. Justeru menjadi
kegemarannya adalah gadis-gadis yang memberikan
perlawanan seperti ini, untuk lebih menghangati
darah dan tubuhnya. Justeru wanita yang menerima
dan berdiam saja membuatnya sebal dan muak,
membuatnya jadi tak terangsang.

1057
"Thio-taijin, jam tiga kau sudah harus bersiapsiap
kita berangkat jam empat!" Bilang Cu Lie Seng.
Dia tawar saja menyaksikan ini sama sekali tak coba
mencegah kelakuan dan perbuatan Thio Yu Liang,
cuma dia mengingatkan agar Thio Yu Liang tidak
lupa daratan sehingga lupa bahwa pagi ini mereka
akan berangkat jam empat. Perbuatan-perbuatan
seperti itu memang sudah jadi biasa di-kalangan
mereka.
Thio Yu Liang tertawa. "Kongcu jangan kuatir,
jam dua aku sudah siap dan selesai," Teriaknya dan
masuk dalam kamarnya menyeret pelayan yang
masih gadis itu.
Semua orang diruang itu tertawa, mereka asyik
makan minum dan beberapa menit kemudian
terdengar jerit yang cukup keras di kamar Thio Yu
Liang, Siangkoan Giok Lin geleng-geleng kepala
sambil tersenyum, katanya : "Akh. anak itu benarbenar
tidak tahu diri, mengapa harus menjerit-jerit
segala ? Bukankah Thio-taijin memberikan
kesenangan kepadanya ? Oya, apakah Kongcu tak
bermaksud istirahat dulu ?"
Cu Lie Seng mengangguk perlahan, dja berdiri
untuk kembali ke kamarnya. Siangkoan Giok Lin
segera sibuk mengirim beberapa orang pelayannya,
yang semuanya masih muda dan cantik-cantik,
untuk melayani putera Cu-kongkong ini. Tapi empat
orang pelayan yang diutus Siangkoan Giok Lin di usir

1058
keluar oleh Cu Lie Seng, karena dia tak mau mensiasiakan
latihan lwekangnya dengan main perempuan.
Ban It Say membawa dua orang pelayan yang
dianggapnya paling cantik untuk menemaninya di
kamar melewati waktu selama belum jam
keberangkatan mereka.
Si pengemis tua yang sejak tadi berdiam diri saja,
tanpa ikut bicara, cuma memandang semua yang
terjadi dengan sorot mata mengiri. Setelah Cu Lie
Seng, Ban It Say dan Thio Yu Liang menghilang di
kamar masing-masing, si pengemis menoleh pada
Siangkoan Giok Lin, yang duduk di sampingnya.
"Toako, semuanya berjalan lancar, mereka
tampaknya menyukai aku dan ini sangat penting
sekali, agar laporan pada Cu-kong-kong semua
bernada baik." Ujar Siangkoan Giok Lin.
"Tentu saja, jasa-jasamu juga akan kulaporkan
kepada Cu-kongkong kelak, untuk mendapat tempat
yang layak untukmu."
Si pengemis tersenyum.
"Ya. kuharap saja kau tak melupakan aku,
Siangkoan-ya," bilang si pengemis. Dia maklum,
sebagai seorang yang senang bermuka-muka,
seorang penjilat, niscaya Siangkoan Giok Lin selalu
harus berusaha mencari jalan untuk menyenangkan

1059
orang-orang yang akan jadi "jembatan" nya untuk
mencapai cita-citanya.
Siangkoan Giok Lin telah dihubungi Kaisar,
diperintahkan untuk merangkul orang-orang
kangouw, tentu saja Kai-sarpun sudah tahu dari
laporan orang-orangnya bahwa Siangkoan Giok Lin
paling pandai mengambil hati siapapun juga, ltulah
sebabnya tugas ini diberikan kepada Siangkoan Giok
Lin.
Namun, sebagai orang yang cerdik dan licik,
Siangkoan Giok Lin tahu bahwa ia harus mendapat
muka dari Cu kongkong, orang ke-biri yang paling
berkuasa saat itu. Jika Cu-kongkong tak
menyukainya, biarpun dia diperintahkan langsung
oleh Kaisar, niscaya dirinya terancam bahaya tidak
ringan, itulah sebabnya orang-orang Cu-kongkong
dijamunya sebaik mungkin, berusaha
menyenangkan hati mereka.
Apa lagi pada saat itu hadir Cu Lie Seng, anak
Cu-kongkong, maka dia melayani, sedapat mungkin
menyenangkan pemuda yang berkepandaian tinggi
tersebut, agar kelak menyampaikan kata-kata yang
baik tentang dirinya di hadapan Cu-kongkong.
Karena itu, walaupun di rumahnya kini merupakan
arena perbuatan maksiat, ia tak berusaha
menghalangi, juga menyembunyikan perasaan tak
senangnya. Jika bisa, dia malah ingin menganjurkan
Cu Lie Seng melakukan apa saja disukainya.

1060
Memang begitulah sifat manusia. Jika
memerlukan sesuatu tentu akan berusaha
menyenangkan orang yang bisa memungkinkan ia
berhasil dalam mencapai cita-cita dan keperluannya.
Apa pun akan dilakukan untuk menyenangkan orang
yang, dianggap bisa menjadi "jembatan" untuk
mencapai cita citanya. apa lagi seorang manusia hcik
dan cerdik seperti Siangkoan Giok Lin, untuk
mencapai cita-citanya ia tak segan-segan
mengorbankan harga dirinya.
Sudah lupa apa yang disebut dosa. Sudah lupa
apa yang disebut harga diri. Sudah lupa apa itu
penderitaan dari korban-korban perbuatannya.
Sudah lupa juga pada ancaman hukuman neraka
kelak.
Yang terpenting bisa mencapai cita citanya,
apapun akan dilakukannya. Dan dia bercita-cita
menjadi satu-satunya orang kepercayaan Kaisar.
Sedangkan si pengemis bermuka kasar dan
mesum itu tak lain dari Kiu cie Sinkay (pengemis
sakti berjari sembilan) Ho Beng Su, di kaipang ia
memiliki kedudukan tinggi, sebagai salah seorang
Hiocu (pimpinan daerah), namun sifat tamak masih
tetap bersemayam di hatinya, ia terbujuk oleh
rayuan Siangkoan Giok Lin.
Karenanya juga, ia bersedia bekerjasama dengan
Siangkoan Giok Lin, buat Kaisar dan kerajaan, sebab
Siangkoan Giok Lin sudah membujuknya bahwa Ho

1061
Beng Su akan mendapat kedudukan sangat baik,
harta dan pangkat yang akan dihadiahkan oleh
Kaisar.
Manusia yang masih mengejar keduniawian, tak
akan puas dengan kedudukan yang bagaimana
tinggi sekalipun. Biarpun dalam kaipang Ho Beng Su
memiliki kedudukan yang sudah tinggi, tapi sifat
tamaknya menghendaki untuk mendapat yang lebih
lagi.
la sebetulnya mempunyai cita-cita untuk merebut
kedudukan Pangcu Kaipang, tapi sejauh itu
usahanya tak pernah berhasil. Sebab itu dia
akhirnya memutuskan untuk tunduk pada kerajaan
dan nanti memanfaatkan kekuatan kerajaan untuk
menggempur kaipang dan merampas kedudukan
pangcu (ketua) kaipang.
Siangkoan Giok Liu yaag mengetahui cita-cita Ho
Beng Su, mempergunakan kesempatan itu untuk
membujuknya, menjanjikan kalau Ho Beng Su sudah
memperlihatkan beberapa perbuatan yang berjasa
kepada kerajaan, maka dijaminnya pihak kerajaan
akan membantu dan mendukung Ho Beng Su
sebagai pangcu kaipang.
Memang yang dijanjikan Siangkoan Giok Lin
bukan janji kosong, kaisarpun lebih senang yang
menjadi ketua berbagai perkumpulan dan pintu
perguruan silat adalah orang-orang yang telah
tunduk dan bekerja untuk kerajaan, sehingga tak

1062
ada kesulitan di waktu-waktu mendatang, seluruh
perkembangan dalam kalangan kangouw dapat
dikuasai dan dikendalikan dengan baik. Ho Beng Su
memang akan didukung untuk menjadi pangcu
Kaipang.
Ho Beng Su sendiri biarpun sudah mengkhianati
pintu perguruannya sendiri, merasa bahwa ia tak
keliru jalan, karena dia memang memiliki ambisi
yang besar. Sekarang dia mengandalkan Siangkoan
Giok Lin, agar dirinya bisa dekat dengan Kaisar,
karena di ketahuinya Siangkoan Giok Lin belakangan
ini menjadi orang kepercayaan raja untuk membujuk
orang orang Kangouw.
Nanti, setelah dia bisa dekat Kaisar, Ho Beng Su
akan merebut kedudukan itu, ia yang akan berusaha
menjadi orang kepercayaan Kaisar. Selama itu, Ho
Beng Su menyimpan saja cita cita dan rencananya,
yaitu rencana untuk menjadi pangcu kaipang
merangkap menjadi ketua orang-orang kangouw !
Memang demikianlah sifat-sifat orang yang
memiliki jiwa dan hati kotor, selalu tak kenal puas
dan jika memperoleh kesempatan pasti akan cakarcakaran,
untuk memperebutkan kedudukan, tanpa
perduli lagi apakah harus mengorbankan kawan atau
memang harus memusnahkan rekan-rekannya, pasti
akan dilakukan apa yang dianggapnya bisa
membuatnya lebih dekat dengan cita-citanya.

1063
Kepandaian Kiu ci sin-kai sebetulnya tidak
rendah, tapi sejauh itu dia tak mau memperlihatkan
kepandaiannya di depan Cu Lie Seng, dia pikir
pemuda angkuh itu pasti tak senang jika dia ikutikutan
mengatur, dia membiarkan saja Cu Lie Seng
mengatur dia dan reman-temannya.
Dia hanya mendengar dan memperhatikan saja,
untuk ikut arus angin ke arah mana yang sekiranya
bisa lebih menguntungkan kedudukannya.
Dia sebetulnya senang sekali main perempuan
cantik, walaupun dalam kaipang memang terdapat
peraturan keras sekali, setiap anggota kaipang
dilarang mempermainkan wanita baik-baik, tapi Ho
Beng Su sejak menjabat kedudukan Hio-cu kaipang,
secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi seringkali
mempermainkan anak isteri orang.
Pada dasarnya memang dia memiliki sifat-sifat
yang tak baik dan buruk, namun orang kangouw
sejauh itu belum melihat isi hati sebenarnya dari
Hio-cu kaipang tersebut.
Cuma malam ini, dia mempunyai rencana lain.
Yang lainnya menghabiskan waktu dengan pelayanpelayan
wanita Siangkoan Giok Lin yang cantik
cantik, Ho Beng Su tidak mau mengikuti apa yang
dilakukan rckan-rekannya, sebab dia ingin
menyimpan tenaga.

1064
Dia cuma berunding dengan Siangkoan Giok Lin,
perihal rencana keberangkatan rombongan mereka.
"Kita boleh tenang dan gembira, karena Tang San
Siansu akan bersama rombongan kita!" Siangkoan
Giok Lin tertawa bilang begitu pada kawannya.
"Biarpun ada iblis dan jin dari neraka turun, tak
mungkin ada yang sanggup mengambil daftar itu
dari tangan kita, Tang San Siansu pasti tak akan
meinbiarkan hal itu terjadi !"
"Ya, akupun sudah dengar kehebatan Tang San
Siansu, dan sejauh ini aku belum pernah bertemu
dengannya." Menyahuti Ho Beng Su dengan tawar.
Dia tidak percaya apa yang diceritakan oleh
teman-temannya dalam kalangan kangouw bahwa
Tang San Siansu merupakan jago nomor satu di
jaman itu, biar bagaimana dia merasa itu cuma
hanya cerita yang terlalu dilebih-lebihkan.
Karenanya hatinya mendongkol melihat Siangkoan
Giok Lin begitu kegirangan dan yakin dengan adanya
Tang San-Siansu rombongan mereka tak akan
menghadapi kesulitan apa-apa.
Sampai jauh malam kedua sahabat itu, bercakapcakap,
membicarakan rencana-rencana mereka
selanjutnya setelah tiba dikota raja.
Tapi, tanpa mereka ketahui sepasang mata
bersinar tajam tengah mengawasi mereka dari luar
jendela, mengintai dengan sikap hati-hati. Sebagian
dari percakapan mereka telah didengarnya, tapi

1065
sebagian lagi tak terdengar olehnya, karena tadi
waktu Cu Lie Seng memberitahukan rencana
perjalanan mereka kepada kawan-kawannya.
suaranya perlahan sekali.
Setelah melihat Ho-Beng Su dan Siangkoan Giok
Lin berdua yang tertinggal diruang tersebut, orang
yang mengintai itu, yang berpakaian penuh
tambalan, dengan langkah sangat ringan
meninggalkan jendela, berindap-indap mencari
kamar Cu Lie Seng!
Waktu melewati jendela, Ban It Say, di
dengarnya suara isak tangis wanita diseling oleh
suara tertawa senang Ban It Say dan juga bujuk
rayunya, Orang itu yang tak lain pengemis tua yang
tadi telah mempermainkan pelayan Siangkoan Giok
Lin, merasa sebel dan tubuhnya ringan sekali
menjauhi jendela itu, menghampiri jendela kamar
yang lainnya.
Kembali didengar suara lenawa cekikikan dari
Thio Yu Liang dan wanita yang tadi diseret masuk ke
dalam kamar. Rupanya Thio Yu Liang pandai sekali
membujuk gadis pelayan yang tadi begitu ketakutan
dan menjerit ketika berada didalam kamar berdua
Thio Yu Liang kini sudah jinak dan tertawa cekikikan
berdua dengannya.
Pengemis tua itu tidak berhenti di jendela kamar
Thio Yu Liang, ringan sekali langkah kakinya,
tubuhnya meloncat ke dekat jendela kamar lainnya,

1066
dia mendekati jendela itu hati-hati, karena dia yakin
inilah jendala dari kamar yang ditempati oleh Cu Lie
Seng.
Tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia
merapatkan diri di dekat jendela mengintai ke
dalam.
Dugaaannya tidak salah, itulah kamar Cu Lie
Seng. Pemuda bangsawan itu tengah duduk
bersemedhi di pembaringan, untuk mengatur
pernapasannya. Matanya terpejamkan. Si pengemis
mengerutkan alisnya, diam-diam dia kagum bahwa
dalam usia semuda itu Cu Lie Seng dapat mengatasi
diri tak terlibat dalam urusan wanita.
Hal ini memang memungkinkan Cu Lie Seng
mencapai kemajuan yang lebih cepat dalam latihan
tenaga dalamnya.
Mendadak terdengar suara tertawa dari arah
sebelah kanan, cepat-cepat si pengemis tua
melompat ke langkah wuwungan, bersembunyi di
situ, Dua orang pelayan Siankoan Giok Lin muncul
dari arah dapur sambil bercakap-cakap dan tertawatawa.
Mereka tampaknya senang sekali,
membicarakan perihal kelakuan tamu-tamu
terhormat dari majikannya, yang ternyata hampir
semuanya doyan wanita cantik.
Setelah kedua pelayan itu menjauh, si pengemis
tua meloncat turun kembali ke tanah. Dia

1067
bermaksud hendak, mengintai lagi, Waktu itulah
terdengar: "Sahabat, mengapa tidak masuk saja?"
Kaget pengemis tua ini, tak disangkanya Cu Lie
Seng memiliki pendengaran begitu tajam dan sudah
mengetahui kehadirannya. Dia cepat-cepat meloncat
hendak menjauhi, tapi daun jendela sudah terbuka,
disusul melesat keluar sesosok tubuh gesit sekali.
ltulah Cu Lie Seng.
Jilid ke 24
Kepandaian Cu Lie Seng cukup tinggi, dia murid
tokoh tangguh seperti Tang San Siansu dan
beberapa tokoh persilatan lainnya, karenanya
pemuda ini tak kenal takut. Begitu dia mengetahui
ada tamu tak diundang yang berkunjung di depan
jendelanya, dia tak segera berteriak memanggil
orang-orangnya ataupun Siangkoan Giok Lin,
melainkan membuka daun jendela dan melompat
keluar dari jendela kamarnya itu untuk menangkap
sendiri tamu tak diundang tersebut.
Waktu Cu Lie Seng sudah berada di luar jendela
kamarnya, dia melihat sesosok tubuh sedang
melesat hendak pergi, maka dia meloncat lagi tinggi
sekali sambil bentaknya: "Mau lari kemana kau ?"
Tubuhnya seperti juga kilat cepatnya menubruk
kearah bayangan itu. Namun orang yang
ditubruknya juga memiliki kepandaian tinggi, karena
tubrukan Cu Lie Seng mengenai tempat kosong.

1068
"Kalau kau mempunyai nyali, ayo ikut denganku
!" mengejek si pengemis tua itu untuk membakar
hati dan perasaan Cu Lie Seng, dia juga sudah
melesat pergi.
Cu Lie Seng cerdik bukan main, jika saja
pengemis itu berlari terus tanpa menantangnya,
niscaya ia akan mengejarnya untuk membekuk, tapi
sekarang mendengar pengemis itu menantangnya,
dia malah menahan kakinya berdiri di tempatnya.
Hmmm, bukankah dia sedang melaksanakan tipudaya
"memancing harimau meninggalkan kandang"
untuk memancingku !" pikirnya.
Maka dia tidak mengejar, berdiri di tempatnya
mengawasi kepergian si pengemis.
Pengemis yang tadi mengintai sudah berdiri di
atas genteng. Dia menoleh dan kecewa melihat Cu
Lie Seng tak mengejarnya, bahkan berdiri di situ
mengawasinya saja dengan sorot mata tajam.
Pengemis ini segera menyadari bahwa dia sudah
gagal memancing Cu Lie Seng untuk mengejarnya,
namun dia tidak kehabisan akal maka tantangnya:
"Kau ternyata manusia pengecut tak bernyali,
jangan kuatir, tak mungkin kau dikeroyok oleh
teman-temanku !" Ejeknya.
Cu Lie Seng panas hatinya, tapi dia tetap tidak
bergerak dari tempatnya berada. "Siapa kau sahabat
?" tegurnya bengis dan dingin. "Turunlah, kalau kau
punya urusan denganku, mari kita bicara di sini! "

1069
"Hu, aku tak menyangka putera tunggal si kebiri
yang sudah mau mampus itu adalah manusia paling
pengecut di dunia ini, sama seperti bapakmoyangnya
yang selalu bersembunyi ekor tapi
mencelakai rakyat memakai tangan anak buahnya"
mengejek pengemis itu lagi.
Merah mula Cu Lie Seng. Tapi dia sudah yakin
pengemis ini hendak memancing-nya, maka dia
tetap berdiri di tempatnya. Dengar suara dingin dia
bilang: "Kalau kan ingin mengetahui lebih jelas
tentang diriku, turunlah, aku akan perlihatkan
kepadamu apakah aku ini manusia pengecut atau
manusia yang tidak tahu malu seperti yang kau
sebutkan ! Turunlah ! "
"Hemmm, sudah jelas kau manusia paling
pengecut di dunia ini. Bukankah dengan berdiam
terus di situ kau menghendaki nanti temantemanmu,
Ban It say si manusia yang punya tawa
yang menyebalkan itu ! Atau kau mengharapkan
juga bantuan orang she-Thio untuk bersama-sama
mengeroyokku?"
"Aku jamin kau tidak akan dikeroyok! Itu
jaminanku, siapa saja yang berani mengeroyokmu,
akan kuhukum seberat-beratnya !" Menyahuti Cu Lie
Seng tambah gusar.
"Kau tak usah banyak-banyak alasan, pulang saja
ke pangkuan ibumu. menyusulah sepuas-puasmu!"
mengejek pengemis itu lagi.

1070
Habis kesabaran Cu Lie Seng. Walaupun menduga
pengemis ini hendak memancingnya, tapi sekarang
dia sulit mengendalikan diri. Dia jadi kalap diejek
seperti itu. Walaupun bagaimana Cu Lie Seng masih
berusia muda, perasaan yang lebih diutamakan. Dia
juga yakin dirinya memiliki kepandaian tinggi, jarang
orang bisa melukai dirinya, karenanya biarpun nanti
ada teman-teman si pengemis yang tengah menanti
di suatu tempat, dia tidak takut.
Tanpa bicara lagi badannya seperti anak panah
terlepas dari busur, telah melesat menyambar ke
pengemis.
Tapi pengemis itu yang tahu sudah berhasil
memanas-manasi hati Cu Lie Seng, tak membuang
waktu, sama cepat dan gesitnya dengan ginkangnya
melesat pergi meninggalkan rumah Siangkoan Giok
Lin. Kedua orang itu jadi saling mengejar. Karena
terlalu cepat mereka berlari mempergunakan
ginkang tinggi. badan mereka sudah tak bisa dilihat
jelas, cuma tampak seperti kedua sosok bayangan
yang berkelebat samar; kaki mereka seperti sudah
tak menginjak bumi lagi.
Untung saja waktu itu tengah malam dan sepi,
kalau saja ada penduduk kota yang melihat kedua
sosok bayangan yang saling kejar seperti itu, jelas
akan menyangka telah melihat dua setan yang
sedang gentayangan di tengah kota !

1071
Si pengemis memang memiliki ginkang tinggi,
karena sejauh itu Cu Lie Seng tetap tak berhasil
mengejarnya. Biarpun Cu Lie Seng penasaran dan
mengerahkan ginkangnya untuk mengejar lebih
dekat pada pengemis itu, tetap saja usahanya gagal.
Bahkan ketika tiba di sebuah tikungan, ia kehilangan
jejak si pengemis.
Bukan main mendongkol dan penasaran Cu Lie
Seng, dia berpura-pura di tempat itu mencari si
pengemis, yang diduga bersembunyi di sekitar
tempat itu. Tapi usahanya tetap saja tak berhasil.
Waktu itulah mendadal dia teringat sesuatu, dia
cepat-cepat berhenti mencari jejak si pengemis,
malah secepat kilat tubuhnya sudah berlari lari
kembali ke rumah Siangkoan Giok Lin. Keadaan di
rumah Siangkoan Giok-Lin sepi-sepi saja, tak terjadi
sesuatu. Cu Lie-Seng langsung kekamarnya dan
melihat barang-barang di dalam kamarnya sudah tak
teratur seperti semula, bahkan buntalannya dalam
keadaan terbuka. Segera Cu Lie Seng memeriksa
buntalannya, tak ada yang lenyap.
"Hemm, tentu dia mencari ini!" menggumam Cu
Lie Seng sambil merogoh saku bajunya
mengeluarkan segulung kertas." Daftar orang-orang
kangouw inilah yang diincarnya !"
Dan dia tertawa dingin, memasukkan lagi
gulungan kertas itu ke daiam sakunya. Menutup
jendelanya dan pergi tidur!

1072
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
-----
Si pengemis tua yang semula jalan terseok-seok
dan tampak lerrah yang pernah mempermainkan
pelayan Siangkoan Gion Lin, ternyata tak ada apaapa
pada kakinya, dia cuma-pura pura terseok-seok,
karena waktu dikejar oleh Cu Lie Seng dia bisa
bergerak sangat gesit.
Dia berhasil memancing Cu Lie Seng sampai jauh
dan kemudian menyelinap kembali ke-rumah
Siangkoan Giok Lin. Segera dia memeriksa kamar Cu
Lie Seng, sebab tadi didengarnya banwa daftar
orang-orang kangouw yang bersedia tunduk dan
bekerja pada kerajaan berada ditangan Cu Lie Seng.
Tetapi pengemis ini tak berhasil menemukannya.
Rupanya Cu Lie Seng selalu membawa bawa daftar
orang-orang kangouw itu didalam sakunya.
Si pengemis membanting-banting kaki, dia
menyesal tadi tak ngadu kepandaian saja dengan Cu
Lie Seng, dengan kemungkinan bisa mengambil
daftar orang-orang kangkouw disaku pemuda she Cu
tersebut.
Dia bersusah payah memancing Cu Lie Seng
dengan harapan bisa memeriksa kamar si pemuda
she Cu, tapi harapannya ternyata nihil. Barang yang
dicarinya tak berhasil ditemukan.

1073
Karena tahu tak lama lagi Cu Lie Seng akan
pulang kekamarnya ini tak membuang waktu lagi
pengemis meninggalkan kamar itu, cepat luar biasa
dia keluar dari rumah Siang koan Giok Lin. Dan
memang tak lama kemudian Cu lie Seng kembali
kekamarnya, namun tak menemukan si pengemis.
Pengemis itu berlari cepat sekali keluar kota. Dan
dia tiba disebuah tempat yang banyak terdapat
batu-batu gunung berukuran besar, tubuhnya
menyelinap kebelakang batu-batu gunung itu.
"Nona Cang !" panggil si pengemis. perlahan
suaranya.
"Kau sudah kembali? "jawaban dari balik batu.
"Ya sudah kuselidiki keadaan dirumah Siangkoan
Giok Lin, Dia bersama orang-orang raja lalim itu
akan berangkat meninggalkan kota ini pada jam
empat malam ini, menuju kekotaraja!" si pengemis
duduk sambil meletakkan tongkatnya.
Oraug dibalik bongkahan batu itu, nona Cang
berseru kaget. "Kau...kau..." karena dia melihat
yang muncul seorang pengemis tua. bukan Giok
Han, seperti yang disangkanya.
Si pengemis tertawa dia menarik kumis
jenggotnya yang segera terlepas dan membuka baju
luarnya, baju penuh tambalan. "A-ku telah
menyamar sebagai pengemis, ternyata

1074
penyamaranku sangat baik, sampai kau ju ga tak
mengenaliku."
Cang In Bwee tertawa geli, "Nakal kau!" katanya.
"Aku jadi kaget, kukira pengemis mana yang mau
cari urusan denganku ! Aku pernah menyamar
sebagai pengemis, sekarang kau menyamar sebagai
pengemis jelas kita orang segolongan, dari kalangan
pengemis!" Giok Han tertawa. Dia menceritakan
"tadi waktu pergi hendak hendak menyelidiki gedung
Siangkoan Giok Lin, dia bertemu dengan seorang
pengemis. Maka timbul pikiran untuk menyamar
sebagai pengemis. Dia membujuk si pengemis agar
menjual sepotong pakaian penuh tambalan
kepadanya, kemudian diapun memakai kumis dan
jenggot palsu, me ngotori mukanya, sehingga tak
ada lagi orang yang mengenalinya.
Karena diberi uang cukup banyak oleh Giok Han,
pengemis itu tak keberatan memberikan pakaiannya
sepotong pada pemuda yang tak dikenalnya ini.
Kemudian Giok Han juga menceritakan
pengalamannya menyelidiki gedung Siangkoan Giok
Lin, Tentang rencana Stankoan Giok Lin serta
rombongannya yang akan berangkat kekotaraja
pada jam empat pagi ini.
"Hemmm, tampaknya kita tak mudah merampas
daftar orang orang kangouw dari tangan Cu Lie
Seng, Di sampingnya masih banyak yang lainnya,
yang memiliki kepandaian tak rendah. Yang lebih

1075
berbahaya lagi Tang San Siansu akan bersama sama
mereka. Ini sulitnya!" menggumam si gadis dengan
muka murung.
Giok Han mengangguk.
"Sebetulnya ini menggembirakan," kata Giok Han.
"Kita telah memperoleh kesempatan."
"Kesempatan apa yang menggembirakan?" tanya
Cang In Bwee tak mengerti.
"Kau bermusuhan dengan Tang San Si-ansu, dia
musuh besarmu juga orang yang harus
dimusnahkan manurut perintah guruku. Maka kita
bisa saja mampergunakan kesempatan ini untuk
berurusan dengannya, memancingnya dan kita
kemudian menghadapinya bersama-sama. Tak
mungkin dia bisa merobohkan kita. Tetapi urusan
daftar orang-orang kangouw mempunyai
kepentingan yang lebih besar.
Walaupun bagaimana kita harus menyingkirkan
dulu urusan pribadi, kita harus berusaha mengambil
daftar orang-orang kangouw. Kalau tidak niscaya
Thio Hong Gan akan mengalami kesulitan dalam
usaha besarnya...!"
Cang In Bwee mengiyakan membenarkan
perkataan Giok Han. Lalu mengangkat kepalanya
mengawasi si pemuda. "Lalu apa rencanamu ?"
tanyanya.

1076
"Kita akan menguntit rombongan mereka, jika
ada kesempatan barulah kita rampas daftar orangorang
kangouw dari tangan muridnya, Cu Lie Seng.
Tetapi kita harus bekerja hati-hati, jika gagal
habislah harapan kita bisa menghadiahkan daftar
orang-orang kangouw itu pada Thio Hong Gan."
"Baik! Kita atur begitu saja "
"Tapi..." Giok Han tampak ragu-ragu, dia
mengawasi bimbang si gadis.
"Kenapa ?" taaya In Bwee heran.
"Kesehatanmu belum pulih... bagaimana kita bisa
menguntit mereka ?"
"Jangan kuatir," tertawa si gadis. "bukankah kita
cuma meoguntit mereka, dan belum bermaksud
turun tangan? Selama itu aku bisa mempergunakan
kesempatan untuk menyembuhkan lukaku. Asal kita
hati-hati, bukankah tidak ada kesulitan ?"
Giok Han mengangguk. Mereka bertekad
walaupun bagaimana daftar orang-orang kangouw
yang berada ditangan Cu Lie Seng harus mereka
rampas, untuk diserahkan kepada Thio Hong Gan.
-----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------

1077
Enam orang gadis berpakaian serba putih dan
semuanya cantik-cantik, bertubuh montok dan
masih berusia muda, melangkah ringan memasuki
sebuah pintu rembulan yang terukir indah sekali.
Mereka masing-masing membawa sebuah nampan
makanan. Dengan sikap hormat keenam gadis ini
masuk ke ruang yang diatur sangat mewah, yang di
sekelilingnya terdapat taman bunga yang tumbuh
semerbak dengan warna-warnanya yang meriah.
Tak jauh dari undakan anak tangga yang menuju ke
ruang mewah tersebut, ada kolam yang airnya
bening, diatur langat bagus sekali.
Keenam gadis berpakaian patih ita berlutut
setelah menaiki undakan anak tangga. "SianIi
(Dewi), kami telah menyelesaikan tugas kami,"
bilang keenam orang gadis itu dengan sikap hormat
sekali.
"Hemmm, bagus! Masuklah kalian!" terdengar
jawaban dari ruang dalam yang terhalang oleh tirai
sutera yang halus dan indah. Dari dalam ruangan ini
tersiar harum semerbak yang menyebabkan orang
bisa merasakan, dirinya seperti berada di tempat
yang sama indahnya di sorga.
Keenam gadis berpakaian serba putih itu
mengiyakan, mereka bangkit dan membawa nampan
masing-masing masuk ke ruang dalam.
Di dalam ruangan diatur sangat indah, juga luas.
Di sudut kiri dari ruangan itu terdapat sebuah

1078
pembaringan, di atas pembaringan itu rebah seorang
wanita yang cantik luar biasa. Sikapnya angkuh
sekali, dia cuma melirik waktu keenam gadis
berpakaian serba putih itu berlutut di samping
ranjangnya.
"Bagaimana hasil tugas kalian?" tanya wanita
cantik yang rebah di ranjang.
"Semuanya berjalan lancar tak ada ha-largan,
sianli," menyahuti salah seorang dari keenam gadis
berpakaian serba putih itu.
"Berkat doa Sianli, maka kami berhasil
mengumpulkan beberapa pemuda yang kami anggap
memenuhi persyaratan."
"Bagus. Tapi, apakah tak terjadi pertempuran
dalam usaha kalian?" tanya Sianii itu dengan suara
tawar.
"Tidak, Sianli. Bahkan lihatlah.... kami berhasil
mengambil hadiah-hadiah menarik ini untuk Sianli."
Setelah berkata begitu, wanita berpakaian serba
putih tersebut membuka tutup nampannya, ternyata
di situ terdapat barang-barang permata yang
berkilauan, seperti berlian, mutiara dan giok.
Bermacam-roacam perhiasan.
Kelima orang kawannya juga membuka nampan
masmg-masing, isinya bukan makanan, sama

1079
seperti nampan gadis yang pertama tadi, berisi
permata mutu manikam yang nilainya sangat tinggi.
Sianli di atas pembaringan cuma melirik,
tersenyum hangat.
"Bagus, simpanlah semuanya di tempat
penyimpanan itu !" kata si Dewi sambil menunjuk
kepada dinding yang ada di seberangnya.
Keenam gadis cantik berpakaian serba putih itu
telah mengiyakan dan pergi ke dekat tembok. Salah
seorang diantara mereka, yang rupanya jadi
pemimpin dari kelima kawannya, telah menekan
sebuah tombol dan dinding itu bisa terbuka.
Rupanya pada tembok itu dipasangi alat rahasia,
sebagai tempat penyimpanan barang-barang
berharga tersebut. Isi enam nampan itu dipindahkan
ke dalam kotak penyimpanan di tembok.
"Sekarang," kata Sianli itu setelah keenam orang
gadis berpakaian serba putih tersebut berlutut lagi di
samping pembaringan, "kalian bawalah salah satu di
antara calon-calon yang terbaik," dia berdiam
sejenak, kemudian meneruskan, ,.yang termuda dan
yang tergagah !"
"Baik, Sianli. Budak-budakmu akan melaksanakan
perintah dengan sebaik-baiknya, agar Sianli tak
kecewa !"

1080
Keenam gadis berpakaian serba putih itu yang
rupanya pelayan Sianii tersebut, segera
mengundurkan diri. Sedangkan Sianli itu duduk di
tepi pembaringan. Dia tersenyum. "Besok aku harus
mendampingi bocah menyebalkan itu kembali ke
kotaraja ! Hu ! Hu ! Kalau saja bukan murid Tang
San si gundul, tidak akan kupedulikan
permintaannya untuk mengawal keselamatannya !"
Tampak-nya dia jadi kesal sekali.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki
mendekat. Sianli itu menoleh ke pintu, dia melihat
seorang pelayannya yang berpakaian serba putih
sudah muncul diikuti oleh seorang pemuda berwajah
putih halus dan bertubuh cukup gagah. Pemuda itu
memandang bingung sekeliling ruangan dan juga
pada Sianli itu, rupanya dia tak tahu mengapa
dirinya dibawa ke situ.
"Sianli, tugas sudah dilaksanakan !" melapor
pelayan itu dengan sikap hormat.
"Bagus A-hiang. Sekarang kau boleh
mengundurkan diri, mengasolah ! Nanti kalau
kubutuhkan kau, akan kupanggil !"
"Baik, Sianli." Si pelayan melirik pada si pemuda
dan melangkah pergi, waktu lewat di sisi si pemuda
dia masih sempat berpesan, suaranya perlahan
sekali: "Layani Sianli baik-baik, jangan membuat
Sianli gusar kalau sayang jiwamu !"

1081
Pemuda itu diam saja, dia tengah kebingungan.
Ketika Sianli itu melambaikan tangannya menyuruh
dia maju mendekat ke pembaringan, si pemuda
melangkah ragu-ragu.
"Siapa namamu?" tanya Sianli. halus suaranya,
lirikan matanya genit sekali, bergairah.
"Aku Yao Can," menyahuti si pemuda, dia juga
terheran-heran melihat di dunia ada wanita yang
cantik luar biasa seperti yang ada di depannya,
seperti seorang bidadari dari kahyangan. Entah apa
yang diinginkan wanita cantik ini darinya ?
"Berapa umurmu ?" tanya Sianli itu lagi.
"Duapuluh tiga tahun."
"Usia yang masih muda sekali," menggumam
Sianli. "Apakah kau sudah menikah ?"
"Belum..."
"Sayang ! Tentunya kau belum berpengalaman!"
menggumam Sianli itu lagi, membuat si pemuda
yang mengaku bernama Yao Cun bertambah heran
dan tidak mengerti cuma mengawasi saja.
"Siapakah Sianli . . . ? Dan mengapa aku diajak
kemari ?" tanya si pemuda.

1082
"Tentang siapa diriku, tak perlu kau bertanyatanya,
cukup kau panggil aku dengan Sianli saja.
Pertanyaanmu mengapa kau diajak kemari oleh
pelayan-pelayanku, tentu kau bisa ketahui nanti.
Sekarang aku ingin tanya kepadamu, apakah kau
senang berada di sini ?"
Pemuda itu mengawasi keadaan ruangan yang
sangat mewah tersebut, kemudian mengangguk.
"Senang... tetapi ini tempat yang asing sekali
untukku... terlalu mewah..." Sianli turun dari
pembaringan, menghampiri pemuda itu, "Jangan
pedulikan barang-barang yang tak berjiwa itu,
Sekarang lihatlah padaku. Senangkah kau padaku?"
Pemuda itu tambah bingung, tapi melihat sinar
mata yang liar dan memancarkan gairah, si pemuda
tahu apa yang tengah dihadapinya, wanita yang
penuh dengan pengaruh nafsu birahi, yang genit
sekali, yang tampak cantik seperti bidadari.
Laki-laki manakah yang tak senang bercakap
cakap dengan wanita secantik ini? Orang gila saja
masih akan memandang terbengong-bengong pada
kecantikan seorang wanita, apa lagi kecantikan yang
luar biasa seperti wajah wanita ini yang ada
dihadapannya. Maka pemuda itu mengangguk raguragu.
"Tentu saja... aku senang, Tetapi aku tak tahu
siap Sianli sebenarnya..."

1083
Sianli melangkah mendekati pemuda itu, menarik
tangannya sehingga si pemuda melangkah
mendekatinya, diajak duduk di pinggir pembaringan.
Pembaringan itu demikian empuk dan hangat.
"Aku menyukai kau, tapi janganlah kau
membuatku jadi sebal dengan semua pertanyaanmu
yang tetek bengek tak keruan itu. Sekarang aku
menginginkan kau mendampingi ku dengan penuh
kehangatan!" Waktu bicara tangan Sianli merabaraba
tangan pemuda itu yang diusap-usap lembut
sekali.
Tubuh pemuda itu menggigil dia tampak
mengalami tekanan batin yang hebat. Darahnya
mendesir lebih cepat dari yang normal. Tubuhnya
semakin lama menggigil semakin keras. Harum
semerbak yang menerpa hidungnya membuat
semangatnya seperti melayang-layang
meninggalkan raganya, apalagi sekarang tangannya
diusap-usap oleh jari-jari tangan lentik berkulit halus
lembut sekali membuat dadanya berdegup keras.
"Apa... apa maksud Sianli?" tanya pemuda itu
seperti orang tolol.
Sanli tersenyum, dia menarik tangan si pemuda
sehingga tubuhnya berada dekat dengannya dan dia
merebahkan kepala didada si pemuda.
"Peluklah aku....!" pinta Sianli dengan suara yang
sengau serak perlahan, gemetar.

1084
Pemuda itu tambah kebingungan, tapi tangannya
tanpa disadari telah memeluk badan Sianli, yang
montok padat. Tuburi pemuda ini gemetaran,
giginya sampai bergemerutukan. Tapi dia berusaha
mengembalikan gemetar tubuhnya, biarpun selalu
gagal. Hangatnya tubuh wanita cantik dalam
dekapannya membuat dia seperti terbang ke dunia
lain.
"Jari-jari tanganmu dingin sekaii," bisik Sianli
sambil nengusap perlahan-lahan dada pemuda ini.
Dada yang berdegup keras dan cepat.
"Oooo - -" pemuda itu ingin melepaskan
dekapannya, menarik tangannya, kaget sekali
tampaknya. Tapi Sianli sudah memeluknya. "Biarpun
tanganmu dingin, kukira tak apa-apa."
Memang, tangan pemuda itu dingin sekali karena
perasaan yang bergolak di dalam hatinya. Dia tak
kenal siapa wanita cantik yang genit dan hangat
yang berada daiam pelukannya. Tetapi darahnya
bergolak semakin lama semakin keras. Apa lagi
tangan Sianli itu mulai berkeliaran kemana-mana,
sehingga pakaian pemuda itu sudah tak keruan
letaknya.
Lupalah pemuda itu terhadap segalanya, dia
sudah tak berpikir apa-apa lagi, hanya satu yang
diingatnya dan diinginkannya, yaitu tubuh yang
montok dan hangat.

1085
Kamar itu tak berpintu, tapi tak ada seorangpun
di sekitar tempat itu. Sianli juga tak canggungcanggung
bersikap mesra sekali pada pemuda
tersebut. Matanya semakin lama semakin redup.
Cuma, akhirnya dia kecewa setelah semuanya
berlangsung, pemuda ini tak memberikan apa yang
diharapkannya.
Tahu-tahu tangan kanannya menyampok dada
pemuda itu. Perlahan saja kelihatannya, tapi badan
pemuda itu terpental jauh, terbanting di lantai
diiringi jerit kematian. Waktu tubuhnya terbanting di
lantai, dia kelojotan beberapa kali, kemudian
mengejang diam, karena kepalanya telah pecah!
"Hu! Cuma mengotori saja...!" menggerutu Sianli
sambil menyambar bajunya dan mengenakannya
dengan marah-marah. Kemudian dia menepuk
tangan beberapa kali. A-hiang cepat muncul, Dia tak
kaget melihat pemuda yang tadi diajak masuk
olehnya ke ruang itu sudah menggeletak mati
dengan kepala pecah dan tubuh telanjang bulat. Apa
yang disaksikannya seperti juga pemandangan yang
biasa saja. Dengan sikap hormat dia berlutut.
"Ada perintah lagi, Sianli?"
"Bawa yang kedua," perintah Sianli dengan muka
yang masam "manusia apa yang kau bawa ini,
apapun dia tak bisa, cuma mengotori tubuhku saja!"

1086
Muka A-hiang jadi pucat, cepat cepat dia
mengangguk-anggukkan kepalanya dalam keadaan
berlutut. "Ampuni budakmu, Sianli... budakmu akan
berusaha mempersembahkan yang diinginkan
Sianli."
"Cepat laksanakan tugasmu!" perintah Sianli,
tanpa berani berayal, A-hiang segera menggotong
Yao Cun yang masih dalam keadaan telanjang bulat
dan kepala yang telah pecah hancur menyebabkan
kematiannya itu, keluar dari ruangan tersebut.
Seorang pelayan lainnya kawan A hiang sudah
datang membersihkan lantai dari noda darah.
Tak lama kemudian A-hiang muncul lagi, dia
bersama seorang pemuda berpakaian sebagai
pelajar, yang waktu masuk ke dalam ruangan
dengan senyum-senyum ceriwis.
"Sianli, semoga dia tak mengecewakanmu"
melapor A hiang. Sianli yang luar biasa ini,
melambaikan tangannya agar si pemuda yang
tampaknya ceriwis datang mendekatinya.
Pemuda itu melirik pada A-hiang, kemudian
sambil tersenyum senyum menghampiri Sianli
mulutnya juga ceriwis sekali. "Aduhhh, cantik luar
biasa, sungguh membuat aku seperti bermimpi dan
seperti sedang berada di sorga! "puji pemuda itu.

1087
Sianli tersenyum senang mendengar pujian.
Lenyap kemendongkolan hatinya. Tanyanya: "Siapa
namamu?"
Cepat-cepat pemuda ini merangkapkan kedua
tangannya dan menjura. "Hakseng bermana Thio
Giam Keng. Siapakah nama nona?"
"Nanti akan kuberitahukan siapa diriku. Sekarang
jawablah dulu pertanyaan-pertanyaanku." bilang
Sianli.
"Silahkan, silahkan, dengan senang hati Hakseng
akan menjawab dengan jujur dan sebenarnya setiap
pertanyaan nona. Apa yang ingin nona tanyakan."
"Berapa umurmu?" tanya Sianli.
"Duapuluh tujuh tahun."
"Sudab menikah?"
Pemuda pelajar itu tersenyum ceriwis. "Apa
artinya sebuah pernikahan ? Bagi seorang laki laki
menikah atau tidak bukan suatu persoaIan ..."
"Maksudmu ?"
"Bukankah tanpa menikah seorang laki-laki tak
terikat dan bebas bersenang-senang dengan wanitawanita
yang diinginkannya ?" balik tanya si pemuaa
pelajar she Thio tersebut.

1088
Sianli tersenyum. "Maksudmu kau sudah
berpengalaman dalam urusan wanita?"
Thio Giam Keng tersenyum ceriwis. "Hakseng tak
berani berkata begitu, tapi dari sekian banyak
wanita yang pernah bersenang senang dengan Hakseng
tak ada seorangpun secantik nona. Hari ini
benar-benar Hak seng sangat beruntung."
Sianli tersenyum penuh arti, dia menepuk tepi
pembaringan, katanya: "Duduklah kau di sini."
Thio Giam Keng menghampiri, tapi dia tidak
duduk di tepi pembaringan, melainkan tangannya
ceriwis sekali mencolek pipi Sianli pujinya: "Betapa
cantiknya nona... kalau tadi pelayanmu tak
memberitahukan bahwa kau seorang manusia biasa,
pasti aku akan menyangka bahwa kau seorang
bidadari yang baru turun dari kahyangan."
Sianli menyambar menggenggam tangan Thio
Giam Keng. menggenggam hangat dan tangannya
yang lain mengusap-usap.
"Kau pemuda yang sangat menyenangkan!" Dan
dia menarik tangan pemuda itu. Thio Giam Keng
sengaja membiarkan tubuhnya terseret maju ke
dekat Sianli dan malah kedua tangannya tahu-tahu
merangkul tubuh yang padat berisi. Dia juga
mencium pipi Sianli dengan napas yang mendengus
hangat.

1089
"Nona, kau cantik sekali, matipun aku rela jika
bisa bersama kau satu malam saja!" bisik Thio Giam
Keng merayu.
Sianli tertawa kegelian karena cuping telinganya
dicium lagi oleh pemuda itu.
"Benarkah ?" rintih Sianli bergelinjang dalam
rangkulan si pemuda, matanya liar dan basah
berminyak.
"Benar.. di dunia kukira tak ada wanita yang bisa
menandingi kecantikanmu... benar-benar
mengherankan dan hampir membuatku tak percaya
bahwa di dalam dunia ada wanita secantik kau !"
Sianli memeluk erat, hangat sekali. Kedua orang
ini lupa segalanya. Keadaan di ruang itu menjadi
panas sekali, biarpun hawa udara di luar ruang yang
terbuka itu sangat dingin, tapi kedua orang ini
seperti tak merasakannya.
Thio Giam Keng yang sehari-harinya seorang
pemuda bedodoran pengganggu anak isteri
penduduk, ternyata memang sangat pandai merayu.
Tapi, setelah semuanya menjadi dingin, kembali
Sianli kecewa. Dia mengambil jubah luarnya yang
tipis, tubuhnya yang montok berbayang samar. Dia
cemberut dengan muka masam.
"Mana kepandaianmu yang kau tonjol-tonjolkan
tadi ? Bukankah kau mengatakan pandai sekali

1090
dalam urusan wanita ?" mengejek Sianli melirik pada
Thio Giam Keng yang rebah lemas di pembaringan.
Pemuda pelajar ini menyeringai tertawa. "Nanti
kita ulangi, akan kuperlihatkan kepadamu yang lebih
luar biasa.. jangan kau menghinaku dulu, bukankah
kita belum selesai sampai di sini ?"
"Hemmm, bicaramu terlalu besar, aku tak
percaya lagi padamu. Tadi kau bilang rela mati jika
dapat bersenang-senang denganku, walaupun hanya
untuk satu hari saja, bukan?"
Muka Thio Giam Keng berobah pucat, sampai
terlompat duduk memandang Sianli dengan mata
terbuka lebar lebar.
"Aku... apakah aku tak berhasil menyenangkan
hati... nona?" tanyanya gugup.
Tahu-tahu tangan Sianli menjambak rambut
pemuda itu, menghentaknya. Dia sama sekali tak
menjawab pertanyaan pemuda itu. Hentakannya itu
menyebabkan tubuh si pemuda she Thio terlempar
ke lantai dengan bantingan sangat keras, sampai dia
menjerit kesakitan.
"Jawab pertanyaanku ! Bukankah tadi kau bicara
seperti itu ?" bentak Sianli dengan suara dingin.
Thio Giam Keng meringis kesakitan, dia
mengusap-usap pinggul dan meraba kepalanya,

1091
karena rambutnya tadi ditarik dan di-jambak keras
sekali. "Be... benar... memang aku bicara begitu...
tapi aku akan berusaha untuk menyenangkan kau,
nona... percayalah, aku akan berusaha
menyenangkan kau...!"
Muka Sianli dingin sekali, melangkah mendekati si
pemuda dengan tindakan kaki perlahan-lahan.
Sedikitpun tak tampak perasaan apa-apa di
mukanya. Tiba-tiba dia bilang: "Kau juga pemuda
tidak berguna, menyebalkan !"
Lemaslah tubuh Thio Giam Keng, tahulah dia apa
yang akan menimpa dirinya. Tadi sudah
diberitahukan oleh A hiang bahwa dia tak berhasil
menyenangkan hati majikannya, celakalah dia.
Cepat-cepat dia menggoyang-goyangkan tangannya.
"Dengar dulu, nona... dengar dulu..." Tapi, baru
bicara sampai di situ, dia menjerit sekuat suaranya,
karena kepalanya dirasakan seperti di tancap cakarcakar
besi, kelima jari tangan Sianli sudah menoblos
batok kepalanya, sampai berlobang dalam sekali.
Mata Thio Giam Keng terbuka lebar-lebar seperti tak
percaya apa yang terjadi, mulutnya terbuka, suara
jeritannya berobah menjadi suara mengorok,
tubuhnya berkelojotan dua kali, kemudian kejang,
jiwanya sudah melayang Waktu Sianli mencabut
kelima jari tangannya yang berlumuran darah
campur otak dari kepala Thio-Gian Keng. pemuda
pelajar itu sudah menggeletak tak bernapas lagi !

1092
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
--------
"Hemmm!" mendengus Sianli dengan wajah yang
mengejek. "Bwee sim-mo-li hendak dipermainkan
oleh kau ? Mana bisa ? Dengan sombong kau
memiliki kepandaian yang tinggi dalam rayuan dan
cumbuan pada wanita, nyatanya kau tak lebih dari
seekor anjing keparat ! Sudah pantas dan cukup
layak kau dihukum mati dengan cara demikian!"
Setelah berkata begitu, Sianli berteriak keras
memanggil A hiang. Cepat sekali A-hiang muncul.
Melihat tangan Sianli berlumuran darah cepat-cepat
dia mempergunakan sewaskom air dan sepotong
kain sutera mencucinya hati-hati.
"Kembali kau gagal menyerahkan orang yang
benar-benar kuinginkan, A-hiang," bilang Sianli,
yang ternyata tak lain dari Bwee-sim-mo li, iblis
wanita yang paling ditakuti orang-orang kangouw.
Tawar suaranya.
"Ya. Sianli. Budakmu akan berusaha mencari
pemuda yang benar-benar bisa jadi idaman hati
Sianli." Menyahuti A-hiang, sambil membersihkan
hati-hati sekali kelima jari tangan Bwee-sim-mo-li.
"Kukira. sulit mendapatkan pria tambatan hati
seperti yang kuinginkan. Telah lebih dari limapuluh
orang pemuda yang gagal memenuhi keinginanku,

1093
dan mereka semuanya harus membuang jiwa di
ruang ini. Lama-lama aku jadi berpikir, apakah
semua laki-laki memang tak memiliki kemampuan
untuk menyenangkan diriku? Aku mulai kuatir tak
ada pemuda yang bisa menyenangkan hatiku."
"Sianli jangan kuatir," A-hiang bicara hati-hati
sekali. "Nanti suatu saat, jika sudah sampai
waktunya, tentu budak-budakmu berhasil
mencarikan kau pemuda yang benar-benar dapat
menyenangkan hatimu!"
Sianli tertawa tawar. "Ya mudah-mudahan saja
begitu," katanya. "Tapi. biarpun pemuda-pemuda itu
bisa menyenangkan hatiku, sedikitnya mereka sudah
memberikan kemajuan buat latihan lwekangku.
Karena itu aku tak terlalu menyesali kau, A-hiang."
"Terima kasih Sianli" A-hiang selesai
membersihkan jari-jari tangan Sianli. dia membawa
pergi waskom yang berisi air merah bercampur
darah. Kemudian kembali untuk memberikan wangiwangian
pada tangan Bwee-sim-mo li.
Bwee-sim mo-Ii rebah saja di pembaringan,
seperti sedang berpikir sesuatu, sampai akhirnya ia
menghela napas dalam-dalam.
"Apa yang Sianli pikirkan." tanya A-hiang. "Tak
usah Sianli gelisah, budak-budakmu akan sekuat
tenaga mencari pemuda yang Sianli inginkan."

1094
"Aku sedang memikirkan, jika saja lima-puluh
orang pemuda lagi gagal menyenangkan hatiku,
berarti kekecewaan hatiku semakin besar, namun
latihan Iwekangku sudah cukup kuat dengan
diperoleh lebih dari seratus sari-hidup pemudapemuda
itu. Namun aku masih kuatir, apakah sudah
cukup dan sama kuatnya seperti yang dimiliki Tang
San Siansu?"
"Tang San Siansu tak berarti apa-apa bagi Sianli,
jika Sianli telah menyelesaikan latihan sinkangmu,
tentu Tang San Siansu bisa Sianli atasi. Dia memang
memiliki kepandaian tinggi, tapi mana bisa
menandingi Sianli ?" A-hiang memuji dengan sikap
sungguh-sungguh.
Senang hati Bwee-sim-mo-li. "Aku cuma kuatir,
dari seratus sari-hidup pemuda-pemuda itu tidak
semuanya murni. Mereka ada yang sudah pernah
main perempuan-perempuan lain, tidak perjakamurni."
"Kalau begitu, nanti budak-budakmu
mencarikanmu pemuda pemuda yang benar-benar
masih perjaka," berjanji A-hiang.
"Mana bisa?" menggumam Sianli dengan mata
memandang kosong pada langit-langit kamar.
"Apakah kau bisa tahu dan memastikan seorang
pemuda masih perjaka tulen. Laki-laki biasanya
pembohong, juga biarpun mereka belum menikah,
sulit menjamin mereka masih perjaka asli."

1095
Pipi A-hiang berobah merah, mengangguk.
"Benar apa yang Sianli bilang, tapi budak budakmu
nanti akan berusaha menyelidiki sebaik-baiknya
sebelum menyeret pemuda manapun ke hadapan
Sianli. Paling tidak, mereka masih belum
menghambur-hamburkan terlalu banyak sari -
hidupnya, baru satu dua kali saja dia bersenangsenang
dengan wanita lain, itupun kalau benar tidak
ada pemuda-pemuda yang masih perjaka."
Tiba-tiba Bwie-rim-mo-li bangun duduk dan
tersenyum.
"A-hiang, kau benar-benar muridku yang setia
dan patuh, yang selalu berusaha menyenangkan
hatiku. Baiklah, jika kau berhasil mempersembahkan
pemuda yang kuidam-idamkan, yaitu masih perjaka
asli, akan kuwariskan kau pukulan maut, Eng-kutkun"
(Pukulan Tulang Elang)
A-hiang cepat-cepat berlutut. "Terima kasih atas
budi kebaikan Sianli. Budakmu akan berusaha
sekuat tenaga untuk mendapatkan pemuda-pemuda
yang Sianli inginkan."
"Baiklah, kukira jari-jari tanganku sekarang
sudah bersih," kata Bwee-sim mo-li. "Bereskan
mayat pemuda itu."
"Ya, Sianli," cepat-cepat A hiang membawa
mayat Thio Giam Keng, kemudian datang kembali
membersihkan lantai, sedangkan Bwee-sim-mo li

1096
rebah di pembaringan empuk mewah itu dengan
pikian menerawang memikirkan sesuatu.
Mendadak Cun-hiang, salah seorang murid Bweesim
mo-li lainnya muncul dan berlutut dengan sikap
sanpat menghormat.
"Melapor pada Sianli, Tang San Siansu datang
berkunjung dan sedang menanti di luar. Apakah
boleh dibiarkan kemari?" bilang Cun- hiang.
Alis Bwee-sim-mo li mengkerut, tapi akhirnya dia
mengangguk. "Suruh dia masuk," suaranya
perlahan. Dia juga sudah merapikan pakaiannya.
Cun hiang mengundurkan diri. Waktu A-hiang
ingin keluar meninggalkan ruangan setelah
membersihkan lantai dari percikan nona darah,
Bwee-sim mo-li memanggilnya: "Kamari kau, A
hiang."
Cepat-cepat A-hiang mendekat, Bwe-sim-mo li
mengawasi muridnya, dengan suara perlahan dia
bilang: "Pergi kau selidiki, apa yang tengah
dilakukan Cu Lie Seng dan yang lain lainnya dirumah
Siangkoan Giok Lin, nanti berikan laporan
kepadaku!"
"Baik, Sianli ...!" menyahuti A-hiang, dia
mengundurkan diri.

1097
Bwee-sim rao-li duduk terdiam di pinggir
pembaringan. Otaknya tampak bekerja sedang
mennkirkan sesuatu. la ingat, sekarang ini bekerja
buat Cu-kongkong dan selalu diperintah perintah
oleh Cu Lie Seng, putera Cu-kongkong, sebetulnya
membuat hatinya tidak puas. Tapi dia jeri pada Tang
San Siansu, guru Cu Lie Seng, karenanya juga
sementara ini dia tidak memperlihatkan perasaan
tidak puasnya tersebut, cuma saja diam-diam dia
telah melatih dengan giat semacam ilmu tenaga
dalam kelas satu, dengan bantuan dari sari-hidup
pemuda untuk mencapai kesempurnaan, karena
sinkang yang dilatihnya agak sesat.
Dia mempunyai rencana, kalau latihannya sudah
dirasakan cukup, akan dipergunakan menghadapi
Tang San Siansu, berusaha unruk merobonkannya.
Kalau berhasil, dia selanjutnya tak mau di-bawah
perintah Cu Lie Seng. Dengan bantuan 12 orang
murid-muridnya, dia mencari pemuda-pemuda yang
dikehendakinya.
Waktu itu Cun hiang telah muncul kembali
mengiringi seorang pendeta bertubuh kekar dan
perkasa. Dialah Tang San Siansu, satu satunya
orang yang berhasil menundukkan Bwee sim-mo-li,
yang kepandaiannya lebih tinggi dari iblis wanita
tersebut. Waktu memasuki ruangan, Tang San
Siansu sudah tertawa dengan suara parau.

1098
"Bie Lan Moay-moay, mengapa kau menjauhi diri
dari rombongan kami?" tegur pendeta ini.
Bwee-sim-mo-li Liok Bie Lan cepat-cepat
menyambut si pendeta dengan muka berseri-seri,
ramai senyumnya. "Siapa sangka aku memperoleh
kesempatan dan kehormatan dikunjungi Taisu.
Sementara ini aku hendak beristirahat, sambil
menunggu perintah Taisu, karena itu aku tak
menggabungkan diri dengan muridmu itu, Cu Lie
Seng."
"Kukira kau sudah mau memisahkan diri dari
kami," kata Tang San Siansu, tawar. "Tapi mudahmudahan
saja dugaanku itu keliru."
"Mana berani aku memisahkan diri dari Taisu,
justeru Taisulah satu-satunya orang yang
kuandalkan untuk menghadapi semua orang
kangouw."
Tang San Siansu tertawa bergelak-gelak.
"Benarkah itu ? Kukira kau sendiri merupakan ibliswanita
yang sangat ditakuti oleh semua orang
kangouw, bagaimana mungkin kau harus
mengandalkan aku lagi sebagai tulang punggungmu
?"
"Taisu terlalu memuji," bilang Bwee-sim-mo-li.
"Percayalah Taisu, kau satu satunya orang yang
kukagumi. Jika aku menemui kesulitan tentu hanya

1099
kepadamu saja aku bisa meminta pertolongan.
Bukankah begitu?"
Si pendeta tersenyum, mengawasi Bwee-simmoli.
Iblis-wanita ini semakin lama semakin cantik saja.
Biarpun usianya sudah tidak muda lagi, namun Liok
Bie Lan benar-benar merupakan wanita sangat
cantik yang kemontokan tubuhnya tidak kalah
dibandingkan dengan gadis-gadis muda remaja.
Bukan main kagumnya Tang San Siansu, karena
kecantikan wajah Bwee-sim-mo- li memiliki daya
tarik tersendiri yang sungguh menggairahkan,
matanya yang bersinar memancarkan gairah seakan
memiliki kekuatan magnit membetot sukma.
"Bie Lan Moay moay, kau semakin lama kian
cantik saja." puji Tang San Siansu, karena
goncangan hati yang dialaminya melihat kecantikan
Bwee-sim-mo-li yang benar-benar mengagumkan.
"Kukira, banyak sekali pria yang sudah bertekuk
lutut di bawah kakimu, bukan ?"
"Jangan memujiku terus menerus, Taisu, lama
lama aku tak kuat lagi menerima pujianmu dan nanti
bisa jadi berkepala besar," merendah Liok Bie Lan.
"Apakah memang aku masih cantik ?"
"Tentu... aku tak sangka bahwa semakin lama
kau semakin cantik saja. Hari ini baru kulihat bahwa
kau memang benar-benar sangat cantik."

1100
Bwee sim- mo-li tertawa, menghampiri si
pendeta, kemudian merangkul lehernya.
"Taisu, tertarikkah kau padaku ?" bisik Bwee simmo-
li dengan sikap manja, matanya memandang
dengan gairah, tubuhnya begitu hangat memeluk si
pendeta dadanya yang padat membusung rapat
menekan dada Si pendeta.
"Sudah berapa banyak pemuda yang kau
korbankan, Bie Lan Moay-moay ?" balas tanya si
pendeta.
Bwee-sim-mo li terkejut, dia merenggangkan
pelukannya, menatap si pendeta seperti tidak
mengerti apa yang ditanyakan si pendeta "Apa
maksudmu, Taisu ?"
"Kudengar akhir-akhir ini murid-murid-mu rajin
sekali menangkapi pemuda-pemuda muda sama
seperti seorang pemburu menangkap kelinci-kelinci
saja. Tentu semuanya itu atas perintahmu, bukan ?"
"Aku kesepian, Taisu," akhirnya Bwee-sim-mo-li
bisa mengendalikan goncangan hatinya. Semula dia
menyangka si pendeta mengetahui dia
memanfaatkan sari-hidup pe-muda-nemudi itu untuk
kepentingan latihan sinkangnya. Tapi, dia masih tak
yakin bahwa Tang San Siansu mengetahui hal itu,
maka dia beralasan bahwa dia kesepian.

1101
"Tak ada seorangpun yang mau menemaniku.
Pemuda-pemuda itu bodoh-bodoh semua tak ada
yang bisa menyenangkan hatiku, maka aku
mengganti-ganti mereka"
"Mengapa tidak memberitahukan kepada ku sejak
dulu bahwa kau kesepian, Bie Lao Maay-moay ?"
bilang si pendeta sambil tertawa dan memeluk Bwee
sun-mo-li. "Jika saja kau mau berterus terang
padaku, maka aku dapat menggembirakan hatimu.
Benar usiaku tidak muda lagi, tapi kutira bicara soal
pengalaman dalam urusan yang satu itu aku jauh
lebih menang dibandingkan dengan pemuda
manapun juga."
"Akh, Taisu mana mau padaku ? Aku manusia apa
sehingga bisa menerima kehormatan dari Taisu ?"
Sengaja Bwee-sim-mo li merendah, sedangkan
hatiiya merasa lega, sebab si pendeta sudah tidak
mendesaknya terus masalah pemuda-pemuda yang
ditawan oleh murid-muridnya. Tampaknya si
pendeta mau mempercayai keterangannya bahwa
dia kesepian dan hendak ditemani dan dihangati oleh
pemuda-pemuda itu...Taisu hanya bergurau saja."
Tang San Siansu merangkul Bwee sim-mo-li.
dengar sungguh-sungguh dia bilang: "Siapa yang
mengatakan aku main-main ? Apakah aku pernah
bicara main-main dengan kau. Bie Lan Moay moay ?
Aku telah bicara yang sejujurnya, bahwa aku hari ini
baru menyadari kau sebenarnya seorang wanita
yang memiliki kecantikan luar biasa, kedatanganku

1102
kemari sebetulnya hendak memberitahukan
kepadamu, bahwa jam 4 pagi hari ini kita akan
berangkat ke kotaraja, tapi siapa sangka justru aku
melihat kau demikian cantik, marilah kita
melewatkan sisa-sisa waktu kita berdua, untuk
bersenang-senang."
Bwe sim-mo-li tertawa bergelinjang dalam
pelukan si pendeta, liar sekali. Dan memang
akhirnya dia harus mengakui Tang San Siansu bisa
melebihi dari kemampuan pemuda-pemuda yang
pernah coba menghangatinya dan pada akhirnya di
bunuh-bunuhnya itu. Satu kemenangan Tang San
Siansu dia memiliki sinkang yang sudah terlatih
tinggi maka dia bisa memakai sinkangnya yang
disalurkannya sekehendak hati untuk menyenangkan
Bwee sim-mo li.
Ruangan yang semula dingin itu jadi hangat,
Tang San Siansu sendiri seperti lupa, bahwa tak
lama lagi, jam 4 pagi dia harus berangkat bersama
rombongan muridnya untuk kembali ke kotaraja. Dia
sibuk sekali dengan Bwee sim mo-li.
Dua orang manusia yang berbeda kelamin tapi
memiliki tabiat dan watak sama buruk dan bejadnya,
telah bertemu dan merasa sangat cocok satu dengan
yang lainnya menyebabkan mereka berdua lupa
pada segala sesuatu apapun juga.
Dua manusia yang sama kejamnya dan sama
sesatnya ini, menghalalkan apapun yang mereka

1103
senangi. Karenanya juga, mereka sudah tak peduli
lagi sekelilingnya, mereka terlalu sibuk untuk
memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Bwee-si m rno-li sendiri sebetulnya memiliki
rencana yang cuma diketahui olehnya. Dia sengaja
melayani Tang San Siansu dan berusaha
menyenangkan hati si pendeta, jika bisa dia hendak
menguasai pendeta ini dengan memberikan
pelayanan yang sebaik-baiknya. Benar kepandaian
Tang San Siansu lebih tinggi darinya, tapi Tang San
Siansu tetap seorang laki-laki.
Bukankah ada kata-kata yang menyatakan bahwa
laki-laki biasanya bertekuk lutut di bawah kaki
wanita cantik? Dan Bwe sim mo-li ingin
memanfaatkan kecantikan wajah maupun
kemontokan badannya menaklukkan Tang San
Siansu. dan rencana-rencananya itu sudah
memenuhi otaknya, dia menghendaki juga
kepandaian Tang San Siansu.
Bwee sim-mo li yakin, jika berhasil memakai
kecantikannya menundukkan pendeta ini jelas
akhirnya ia berhasil membujuk si pendeta untuk
memberitahukan kouwhoat ( teori ) ilmu silat
andalan sipendeta tersebut.
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
---

1104
JAM empat pagi rombongan Cu Lie Seng
meninggalkan gedung Siangkoan Giok Lin. Mereka
terdiri dari orang-orang yang berkepandaian tinggi
sekali. Bahkan diantara mereka tampak Tang San
Siansu. Bwee-sim-mo li, Pak Mo Tang Mo, See Mo
dan Lam Mo, Ban It Say, Thio Yu Liang dan si
pengemis tua yang sudah mengkhianati kaipang
yaitu Kiu ci-sin kai Ho Beng Su.
Siangkoan Giok Lin selalu jalan berendeng
disamping Cu Lie Seng, dia berusaha bermuka-muka
pada putera Cu kongkong ini.
Dengan jumlah mereka yang cukup banyak dan
semuanya terdiri orang-orang berkepandaian tinggi,
siapa yang berani untuk menghadang mereka buat
merebut daftar orang-orang kangouw? Siapa yang
memiliki nyali dan keberanian untuk berurusan
dengan rombongan orang-orang yang semuanya
sangat lihai dan ganas ini ?
Tang San Siansu sudah memberitahukan kepada
semua orang dalam rombongannya, bahwa mereka
melakukan perjalanan dengan berjalan kaki sampai
dikota Ceng shia, dari sana barulah mempergunakan
kuda. Alasannya agar tidak terlalu menarik perhatian
orang.
Sedangkan pasukan tentara kerajaan yang
semula dibawa Cu Lie Seng, diperintahkan pulang
lebih dulu kekotaraja, karena Tang San Siansu
bilang mereka tak diperlukan lagi. Dengan adanya

1105
dia dalam rombongan itu, di tambah oleh tokohtokoh
persilatan yang semuanya lihai dan
berkepandaian tinggi, tak ada yang perlu dikuatirkan
lagi.
Rombongan Tang San Siansu tiba didepan lembah
yang ada dikaki gunung Cu-san sebelah barat, pada
sore itu, mereka bermaksud beristirahat disitu.
Tapi, waktu Tang San Siansu tengah mengatur
rombongannya untuk mengambil posisi yang
berpencar mendirikan tenda-tenda, mendadak
terdengar suara langkah kaki kuda yang dilarikan
cepat sekali. Mata Tang San Siansu berkilat tajam,
menoleh menatap bengis kepada penunggang kuda
yang tengah mendatangi.
Ternyata penunggang kuda itu seorang laki-laki
tua berusia enam pulah tahun lebih, tubuhnya kurus
mukanya pucat seperti orang penyakitan dan lemah.
Penunggang kuda itu melarikan terus
tunggangannya tanpa menoleh. Ban It Say segera
hendak mengejar, tapi ditahan Tang San Siansu.
"Biarkan dia pergi. Tak mungkin dia mata-mata
musuh. Siapa yang memiliki nyali untuk berurusan
dengan kita?"
Ban It Say mengiyakan. dia juga melihat
penunggang kuda itu pucat dan lemah seperti orang
penyakitan, karenanya diapun yakin bahwa orang itu
mata-mata musuh.

1106
Mereka mendirikan tenda-tenda yang jaraknya
terpisah cukup jauh, Maksud Tang-San Siansu jika
ada rombongan musuh menyerang, mereka tidak
terkepung disuatu tempat, ini bisa memungkinkan
mereka memberikan perlawanan kepada musuh.
Tempat di mana rombongan Tang San-Siansu
bermalam ternyata sangat sepi, tak terlihat seorang
manusiapun lewat di jalan depan lembah tersebut
sejak orang bermuka pucat dan lemah
berpenyakitan itu, tak ada orang lain yang lewat di
situ.
Magrib telah lewat, malam membuat tempat itu
jadi gelap. Rombongan Tang San Siansu beristirahat.
Sedangkan Tang San Siansu didalam tendanya
bukan seorang diri, melainkan berdiam dengan
Bwee-sim-mo-li ! Mereka tengah bermesra-mesraan
untuk melenyapkan dinginnya hawa malam.
Tetapi, di luar dugaan penglihatan Tang-San
Siansu dan rombongannya, justeru diantara semak
belukar dikegelapan malam beberapa sosok tubuh
bergerak hati-hati dan perlahan-lahan mendekati
tenda-tenda tersebut, Jumlah sosok tubuh itu
mungkin lebih dari sepuluh orang, semuanya
berpakaian penuh tambal, tanda bahwa mereka
adalah rombongan pengemis.
Dari sikap pengemis-pengemis yang mendekati
tenda, jelas mereka bersikap hati-hati, agar orangorang
yang tengah beristirahat didalam tenda itu tak

1107
mengetahui kedatangan mereka. Lama juga
rombongan pengemis itu mengintai tenda-tenda
rombongan Tang San Siansu, sampai akhirnya waktu
mendekati tengah malam, terdengar suara pekik
kera, dan para pengemis itu mendekam di tanah.
Ternyata suara pekik kera itu adalah pekik
pemimpin mereka, yang meniru pekik seekor kera.
Rupanya waktu yang mereka nantikan telah tiba.
Pengemis-pengemis itupun bukan hanya belasan
orang saja, sebab di belakang mereka ada
rombongan pengemis lainnya, yang jumlahnya
cukup banyak, mungkin hampir duapuluh orang.
Mereka rupanya memecah diri menjadi dua
rombongan dan perintah-perintah dikeluarkan oleh
pemimpin mereka dengan meniru suara pekik kera.
Perlahan-lahan mereka merangkak mendekati
tenda-tenda rombongan Tang San Siansu.
Waktu terdengar lagi suara pekik kera, mendadak
rombongan penjemis itu menyerbu salah sebuah
tenda yang ada di sebelah kanan, kurang lebih
delapan orang yang menyerbu masuk ke dalam
tenda itu kepandaian mereka rata-rata tinggi,
karena selain gesit,merekapun dapat melakukan
penyerangan ke arah tempat yang mereka duga
penghuni tenda rebah tidur.
Namun mereka kecewa. Tenda itu kosong, tidak
ada seorang manusiapun juga. Cepat-cepat
kedelapan pengemis itu menerobos keluar dari

1108
tenda, tapi sudah terlambat. Di situ tampak Cu Lie
Seng berdua Thio Yu Liang menghadang jalan keluar
pengemis-pengemis itu.
Tanpa banyak bicara pengemis-pencemis itu
menerjang Thio Yu Liang dan Cu Lie Seng, tapi
kedua orang tersebut masing-masing memiliki
kepandaian tinggi, dua orang pengemis yang maju
paling depan dibikin terpental oleh pukulan tangan
Cu Lie Seng, sedangkan Thio Yu Liang membikin
terbanting seorang pengemis lainnya.
Lima orang pengemis lainnya nekad menerjang
terus, tapi dengan mudah merekapun dirubuhkan,
Cu Lie Seng mempergunakan pukulan-pukulan
"Liong-beng-kun" merobohkan lawan-lawannya
karenanya para pengemis itu jadi tak berdaya,
sedangkan Thio Yu Liang mempergunakan
pedangnya untuk melukai lawan-lawannya.
Kedelapan pengemis yang terpelanting itu
merangkak bangun. Cu Lie Seng maju hendak
membekuk salah seorang di antara mereka,
mendadak pengemis itu mengayunkan tangannya.
Cu Lie Seng melihat lawannya menyerang
mempergunakan senjata rahasia, mengibaskan
tangannya untuk menghalau senjata-senjata rahasia
lawan.
Tapi dia mengibas tempat kosong, karena tak ada
senjata rahasia yang berhasil disampoknya. Rupanya
si pengemis cuma menggertak dengan gerakKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
1109
tangannya tersebut, begitu Cu Lie Seng mengibas,
dia menubruk membenturkan kepala pada perut Cu
Lie Seng.
Kaget pemuda che Cu, dia coba berkelit, tapi
terlambat, samping pinggangnya masih kena
diseruduk oleh pengemis itu. Sakit dan gusar Cu Lie
Seng tak pikir dua kali, telapak tangannya
menghantam dahsyat punggung pengemis itu,
sampai terdengar suara "Dessss! Bukkkkkk!", disusul
suara tertahan dari si pengemis. Tapi kemudian
secepat kilat pengemis itu berlari menerobos keluar
tenda, tangannya kembali bergerak.
Cu Lie Seng menubruk karena menyangka
pengemis ini cuma ingin menggertaknya lagi. Tapi
dadanya segera jadi panas, karena sesuatu benda
meledak keras di depan dadanya, asap tebal
mengepul di dalam tenda itu.
Pengemis-pengemis lainnya juga bersama-sama
secara berbareng telah membanting sesuatu benda,
yang meledak dan mengeluarkan gumpalan asap,
sehingga di dalam tenda itu penuh oleh gumpalan
asap.
Gumpalan asap itu membuat mata Cu Lie Seng
dan Thio Yu Liang jadi pedih-pedih... mereka
mengibas-ngibaskan lengan baju untuk
membuyarkan gumpalan asap dan menerobos
keluar. Setelah berada di luar tenda, mereka bisa
bernapas lega.

1110
Tapi pengemis-pengemis itu sudah lari cukup
jauh.
"Kejar !" teriak Thio Yu Liang, Tapi lengannya
dipegang Cu Lie Seng.
"Jangan biarkan mereka lolos, kongcu !"
Thio Yu Liang masih ngotot agar Cu Lie Seng
bersama dia mengejar pengemis-pengemis itu. Tapi
Cu Lie Seng tetap menahannya "Biarkan mereka
pergi !"
Pengemis-pengemis yang lainnya, yang tadi
menyerbu ke tenda lain, sudah berhasil melarikan
diri juga setelah membanting cukup banyak bahanbahan
peledak yang menimbulkan gumpalan asap
tebal.
Tadi Tang San Siansu berdua Bwee-sim-mo-li
tengah asyik-masyuk hangat mesra, jadi terkejut
ada beberapa pengemis yang menerjang masuk ke
dalam tenda mereka. Tang San Siansu menghantam
dengan telapak tangannya, dua orang pengemis
terjengkang rubuh, tapi waktu Tang San Siansu
hendak bangun, berdiri untuk menghajar pengemis
pengemis yang lain, sudah terdengar suara ledakan
yang ramai dan tenda itu sudah dipenuhi oleh asap
tebal.
Rupanya pengemis-pengemis itu membanting
beberapa bahan peledak yang menimbulkan

1111
gumpalan asap tebal di dalam tenda. Bukan main
gusar Tang San Siansu dan Bwee-sim-mo-li, mereka
berusaha mencari jalan keluar dari tenda, karena
napas mereka sesak dan mata mereka pedih sampai
mengeluarkan air mata.
Tetapi pengemis pengemis yang lain sudah
melarikan diri.
Ban It Say, Pak-mo, Tong-mo, Lam-mo dan Seemo
sudah keluar dari tenda mereka, tapi disambut
oleh pengemis pengemis yang melemparkan bahan
peledak yang mengeluarkan asap tebal, sekitar
tempat itu jadi penuh oleh gumpalan asap yang
tebal.
Begitu.juga ketika Ho Beng Su keluar dari
tendanya, disambut oleh ledakan-ledakan yang
menyebabkan keadaan disekitarnya penuh oleh
gumpalan asap. Ho Beng Su memaki kalang kabutan
sambil mengibas-ngibaskan lengan bajunya untuk
menghalau gumpalan asap itu, sambil menyerang
membabi buta dalam gumpalan asap kepada
pengemis-pengemis tersebut.."
Gumpalan-gumpalan asap itu tidak terlalu lama
sudah membuyar dan keadaan di depan lembah bisa
terlihat jelas lagi. Tapi di situ sudah tak ada
pengemis-pengemis yang tadi menyerang, mereka
telah meninggalkan tempat itu.

1112
"Kejar!" teriak Tang San Siansu. "Mereka tak
mungkin bisa pergi jauh!"
Tapi Cu Lie Seng cepat-cepat menghampiri
gurunya. "Suhu, biarkan mereka pergi, kita jangan
memecah kekuatan dengan mengejar mereka ke
berbagai jurusan Jika nanti mereka datang lagi, kita
baru habisi mereka."
Tang San Siansu mendongkol bukan main, tapi
dia anggap alasan yang dikemukakan muridnya
memang benar. Kalau mereka mengejar pengemispengemis
itu, jelas mereka harus membagi diri
keempat penjuru, karena mereka tak mengetahui
kemana perginya pengemis-pengemis itu, apakah ke
jurusan Selatan, Barat, Utara atau Timur. Dia tidak
memaksa lagi untuk mengejar pengemis-pengemis
itu.
Cu Lie Seng merogoh sakunya, tiba-tiba mukanya
berobah. Dia juga mengeluarkan seruan tertahan.
"Kenapa?" tanya Tang San Siansu dan yang
lainnya hampir berbareng, hati mereka merasa tidak
enak menduga sesuatu.
"Daftar itu dapat dicopet oleh salah seorang
pengemis-pengemis itu yang membentur
pinggangku dengan kepalanya," menyahuti Cu Lie
Seng.

1113
"Hah? Celaka!" Berseru Thio Yu Liang dan
Siangkoan Giok Lin hampir bersamaan. Kita harus
mengejar mereka..."
Cu Lie Seng sudah menggeleng, sikapnya sudah
tenang kembali.
"Tenang..! Tenang...!" Dia memberi isyarat agar
semua orang mendekat padanya. "Aku sudah
menduga," katanya dengan suara perlahan, "banyak
pihak yang akan menghadang perjalanan kita.
Karenanya siang-siang sudah kusiapkan salinan
daftar nama orang-orang kangouw itu.
Tentu saja yang kukantongi ini adalah daftar
orang-orang kangouw yang keliru, bukan yang
sebenarnya. Dengan cara demikian kita bisa
membuat mereka saling mencurigai, karena mereka
tak mengetahui siapa yang benar-benar telah
bersedia untuk bekerja demi kerajaan! Aku menulis
nama-nama mereka yang tak bersedia bekerja sama
dengan kita!"
Muka orang-orang itu jadi berobah tenang, malah
tersenyum-senyum. Siangkoan Giok Lin malah
segera memuji: "Sungguh Cu-kongcu sangat cerdik.
Dengan demikian mereka akan keliru memusuhi
teman-temannya sendiri! Bagus! Selanjutnya kita,
harus hati-hati, karena kukira masih ada rombongan
iainnya yang mengincar daftar nama-nama itu! "

1114
Cu Lie Seng mengangguk. "Ya aku telah
membuat lagi daftar palsu, kalau mereka hendak
mengambil daftar palsu itu, tentu kita tak perlu
mati-matian mempertahankan, karena kita tak akan
menderita kerugian apapun juga, bahkan mendapat
keuntungan mereka jadi saling curiga mencurigai di
antara sesama teman mereka!
Tang San Siansu menarik tangan muridnya.
"Daftar nama-nama orang kangouw yang asli kau
simpan di mana?"
Jilid ke 25
"Yang paling utama, kita harus berlaku lebih
waspada. Biarpun yang akan kukantongi adalah
daftar palsu. semuanya harus bersikap seakan-akan
mati-matian melindungi benda ini, untuk
melenyapkan kecurigaan mereka. Kalau kita terlalu
mudah membiarkan mereka merampas daftar palsu,
mereka juga akan berbalik pikir dan curiga."
Semua orang membenarkan perkataan Cu - Lie
Seng. Waktu itu Tang San Siansu menoleh kepada
Ho Beng Su. Katanya: "Ho-kisu, tampaknya mereka
dari partaimu..."
Muka Kiu-ci-sin-kai berobah merah.
"Benar, mereka murid-murid kaipang." dia
menyahuti. "Tadi juga kulihat beberapa orang hiocu
yang telah berkumpul menjadi satu Melihat demikian

1115
kukira urusan ini sudah ditangani langsung oleh
pangcu kai-pang..."
"Hemmm, jadi maksudmu sekarang ini para
pengemis itu bergerak dibawah pimpinan
pangcunya?" menegasi Tang San Siansu.
"Jika ada urusan penting, biasanya cuma
diselesaikan lewat Tianglo. Tetapi kalau urusan
demikian pentingnya, maka semua hiocu dari
berbagai daerah dipanggil berkumpul dan yang
berhak mengumpulkan hiocu adalah pangcu.
Memang menurut perkiraanku sekarang ini yang
memimpin mereka adalah pangcu..."
"Kalau begitu kita tunggu saja biar pangcu
mereka menunjukkan dirinya sendiri !" kata Tang
San Siansu tawar.
Semua orang baru menyadari sekarang mengapa
pengemis-pengemis tadi demikian lihai dan gesit,
sehingga dapat datang dan pergi begitu cepat.
Mereka adalah orang-orang lihai tapi para pengemis
itu bisa membuat mereka jadi kelabakan dan tak
seorang pengemispun yang dapat mereka tawan.
Tak tahunya para pengemis itu merupakan ketuaketua
daerah cabang kaipang yang semuanya jelas
memang memiliki kepandaian tinggi. Lolosnya
semua pengemis itupun disebabkan faktor lain yaitu
semuanya memakai bahan peledak yang
mengeluarkan gumpalan asap menyakiti mata, kalau

1116
tidak. biarpun kepandaian pengemis-pengemis itu
tinggi, tapi lak mungkin mereka bisa pergi
segampang itu.
Cu Lie Seng telah menceritakan rencananya
untuk menghadapi para pengemis dan kemungkinan
serangan rombongan lain, Tang San Siansu sendiri
memberikan petunjuk agar mereka bersikap seakanakan
tak terjadi sesuatu. Dengan sombong Tang San
Siansu bilang:
"Jika nanti mereka memperlihatkan diri lagi, kita
cuma harus hati-hati pada bahan peledak yang
mengeluarkan asap, seterusnya kita harus
menangkap satu-dua orang dari mereka. Kalau
pangcu mereka sendiri yang memperlihatkan diri,
biar aku yang membekuknya."
Merekapun kembali ke tenda masing-masing. tapi
sekarang mereka berlaku hati-hati dan waspada,
karena mereka kuatir di serang mendadak oleh
musuh. Tampaknya bahwa rombongan mereka
selama ini dibayangi musuh.
Malam semakin larut ....
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
-----
Suara burung kulik terdengar terbang di atas
udara dengan suara kepak sayapnya yang memecah

1117
keheningan malam itu. Di kegelapan malam
berkumpul belasan orang. Tempat itu terlindung oleh
batu-batu gunung, dan juga sulit sekali dilihat oleh
orang yang kebetulan lewat di tempat tersebut,
itulah di sebelah barat dari lembah di kaki gunung
Cu-san, tapi tempatnya yang melesak berada di
balik batu-batu tebing yang tinggi, sehingga
siapapun sulit mengetahui bahwa di situ terdapat
tempat yang cukup luas.
Rupanya para pengemis yang tadi menyerang
rombongan Tang San Siansu telah berkumpul di situ.
Di tengah-tengah mereka duduk seorang pengemis
tua dengan muka yang guram. Empat orang
pengemis terluka akibat penyerangan tersebut inilah
yang membuat muka pengemis tua yang jadi
pemimpin mereka murung.
"Apakah luka-luka kalian tak membahayakan ?"
tanyanya pada keempat orang pengemis yang duduk
dengan muka pucat karena luka di dalam tubuh.
"Kami kira masih bisa menyembuhkannya,
pangcu," menyahuti salah seorang dari keempat
pengemis yang terluka. Sedangkan pengemispengemis
lainnya cuma berdiam diri memandang
dengan kuatir kepada ke empat kawan mereka.
"Yang terpenting usaha kita berhasil. Tadi aku
berhasil menerjang Cu Lie Seng dan mencopet daftar
nama orang orang kangouw dari sakunya..." Sambil
berkata begitu, dia merogo sakunya, mengeluarkan

1118
sebuah lipatan kertas, menyerahkan kepada
pemimpinnya.
Muka para pengemis yang berkumpul di situ
tampak berseri-seri. Memang tujuan mereka adalah
merampas daftar nama orang2 kangouw yang
diketahui tersimpan di saku Cu Lie Seng, yang akan
membawanya kekotaraja.
Mereka sebelumnya memang sudah bertekad
hendak mengadu jiwa jika gapal merampas daftar
namun orang-orang kangouw dari tangan Cu Lie
Seng, sebab mereka mengetahui bahwa rombongan
Cu Lie Seng terdiri orang-orang lihai, termasuk Tang
San Siansu.
Mereka yakin, jika mereka berterang menghadapi
rombongan Cu Lie Seng, kemungkinan gagal akan
besar sekali. Karenanya mereka memikirkan cara
yang paling baik dan aman, yaitu dengan
mempergunakan bahan peledak yang mengeluarkan
asap air mata, dan secara nekad akan merampas
daftar nama orang-orang kangouw dari tangan Cu
Lie Seng.
Dan pengemis yang berhasil mencopet daftar
nama orang-orang kangouw dari saku Cu Lie Seng
memang berlaku sangat nekad, membiarkan
tubuhnya dihantam oleh Cu Lie Seng dengan "Liongbeng-
kun" nya, asal dia bisa mencopet daftar nama
orang-orang kangouw.

1119
Dia cuma memasang punggungnya terhantam
telak oleh tangan Cu-Lie Seng, tangannya bekerja
merogoh saku pemuda itu, dan dia untung memilki
lwekang yang tinggi sehingga punggungnya
dilindungi oleh hawa murninya kalau tidak, kontan
di-situ juga si pengemis akan mati.
"Giau-hio-cu, jasamu sangat besar sekali, tanpa
perduli keselamatanmu telah berhasil melaksanakan
tugas ini dengan sebaik-baiknya." menghibur
pemimpinnya, setelah mendengar cerita Giau-hiocu
cara dia bisa mencopet daftar nama orang-orang
kangouw tersebut. "Ini memiliki arti yang sebesarbesarnya
untuk kepentingan sahabat-sahabat
kangouw lainnya, karena dengan daftar ini kita bisa
mengetahui siapa-siapa saja yang berkhianat dan
bekerja untuk raja lalim itu!"
Semua mata mengawasi pangcu kaipang, waktu
pemimpin mereka membuka lipatan kertas yang
berisikan nama-nama orang kangouw.
Lama pangcu kaipang itu membacanya mendadak
mukanya berobah pucat, dia juga mengeluarkan
seruan tertahan. Semua pengemis mengawasi
dengan hati tak tenang. Pangcu kaipang itu
menghela napas, sikapnya jadi lesu.
"Sia-sia pengorbanan kalian," menggumam
pangcu kapang itu pada akhirnya, perlahan
suaranya. Dia meremas daftar nama orang-orang
kangouw dan katanya:"Inilah daftar nama palsu !"

1120
Semua pengemis berseru tertahan, mereka gusar
bukan main telah dipermainkan oleh Cu Lie Seng.
Tapi merekapun heran, mengapa pangcu mereka
bisa ketahui bahwa daftar nama itu adalah palsu?
Setelah terdiam sejenak dan kemarahannya
berkurang, pangcu kaipang itu menyodorkan kertas
daftar nama orang-orang kangouw kepada Giau
hiocu, katanya: "Bacalah ....."
Giau-hiocu dan pengemis-pengemis lainnya
segera melihat isi daftar nama orang-orang
kangouw. Tapi mereka tak mengetahui dimana letak
kepalsuan daftar itu. Pada barisan pertama terlihat
nama Huan su-to-jin dari Kun lun-san, kemudian
Cing Siang Hu, diri Ceng-sia pai. Ada ratusan nama
orang-orang kangouw yang tercatat disitu.
Giou hiocu tidak membaca terus daftar nama itu.
Dia menoleh kepada pangcunya, dengan kecewa dia
bertanya. "Benarkah daftar ini daftar palsu pangcu?"
Pangcunya mengangguk.
"Ya, coba kau baca pada baris keenam belas."
menyahuti pangcu itu dengan suara tawar.
Gihou-hiou segera membaca baris keenam belas.
Dia jadi berseru kaget dan mukanya berobah merah
padam, Di situ tertulis nama Toan Yok, dari kaipang.

1121
Toan Yok adalah pangcu Kaipang ! Dan ini mana
mungkin bisa terjadi?
Jelaslah kini bahwa daftar yang dipegangnya
memang daftar palsu. Tak mungkin nama Toan Yok,
tertulis disitu jika daftar iiu daftar nama yang asli.
Sedangkan Toan Yok mati-matian berusaha merebut
daftar nama-nama orang kangouw, untuk
mengetahui siapa-siapa saja yang sudah jadi
pengkhianat dan mau bekerja pada Kaisar penjajah.
"Sekarang kau sudah mengerti, bukan?" tanya
pangcu kaipang, Toan Yok, dengan muka yang
murung. "inilah liciknya pemuda she Cu itu. Dia
telah membuat daftar palsu dan membiarkan daftar
ini diambil oleh kita untuk mengadu domba satu
dengan yang lainnya diantara sesama kita!
Dia rupanya tahu dalam perjalanan pulang ke
kotaraja pasti akan mengalami rintangan yang tidak
sedikit, maka dipersiapkan daftar palsu ini, Sia-sia
penyelidikan yang kita lakukan selama ini. karena
biarpun kita berhasil merampas daftar nama orangorang
kangouw, inilah daftar palsu!" Dan Toan Yok
menghela napas dalam-dalam kecewa sekali. Tapi
mendadak dia menepuk pahanya.
"Dengarlah!" katanya pada pengemis-pengemis
lain yang duduk dengan murka, penasaran dan
kecewa bercampur aduk menjadi satu. "Ada
untungnya kita memperoleh- daftar nama ini!
Biarpun Cu Lie Seng sangat licik, tapi dia sudah

1122
melakukan suatu kekeliruan ! Nama-nama yang
tercatat di sini semuanya pasti bukan orang-orang
yang bekerja untuk pihaknya, dia sengaja
memfitnah orang kangouw yang tak mau tunduk
padanya. Karenanya, sekarang kita sudah memiliki
pegangan, bahwa orang-orang yang tertulis
namanya di sini adalah sahabat kita dalam
menghadapi kerajaan penjahat ! Sebab itu, daftar
palsu inipun memiliki kegunaan yang cukup besar
buat kita!"
Muka pengemis-pengemis lainnya juga jadi
girang, mereka segera bisa tersenyum-senyum lagi.
Jadi tidak terlalu sia-sia apa yang telah mereka
lakukan belum lama itu dengan penuh kenekadan.
sedikitnya mereka bisa memiliki pegangan bahwa
orang-orang yang tercatat dalam daftar palsu ini
adalah orang-orang yang tak mau bekerja pada
pemerintah penjahat itu !
Toan Yok menghela napas.
"Tadi kalian sudah berjuang demikian gagah dan
terhormat," kata Toan Yok kemudian. "Ini membuat
aku terharu atas kesetiaan kalian. Kalian juga telah
melarang aku sementara ini tidak memperlihatkan
diri, karena kalian kuatirkan keselamatanku ! Melihat
keadaan demikian tampaknya sulit aku berdiam diri
saja, bagaimanapun aku harus tampil untuk
mengurusnya."

1123
"Tapi pangcu... mereka semuanya merupakan
iblis-iblis tangguh, jumlah mereka banyak. Kalau
cuma menghadapi Tang San si keparat, tentu kami
akan menyetujui pangcu mengurusnya, sekarang
keadaannya tidak cocok dan kurang bermanfaat jika
pangcu sendiri yang mengurusnya.
Bukan berarti kami mengartikan bahwa
kepandaian pangcu belum cukup mengatasi mereka,
namun kita harus mempertimbangkan sebaikbaiknya,
agar kerugian kita tidak terlalu besar. Kalau
pangcu lerluka, tentu kami seperti si buta kehilangan
tongkat. Keadaan demikian lebih berat dan
berbahaya, sebab kami tak tahu lagi apa yang harus
dilakukan tanpa memperoleh petunjuk pangcu," kata
Giau-hiocu.
"Sebab itu pangcu, biarlah kami-kami saja dulu
yang mengurusnya. Kalau keadaan sudah terlalu
parah, barulah pangcu yang tampil."
Toan Yok seorang berilmu tinggi dan
berpengalaman. Dia seorang tokoh persilatan
ternama, dengan kaipangnya yang disegani semua
orang kangouw. Tetapi diapun bisa memaklumi
perasaan hiocu-hiocunya ini. lawan berjumlah sangat
banyak, terdiri dari tokoh-tokoh hitam rimba
persilatan, jika dia sendiri yang menghadapinya, ini
sangat berbahaya.
Menghadapi Tang San Siansu seorang saja,
belum tentu Toan Yok bisa merobohkan pendeta itu,

1124
biarpun Tang San Siansu belum tentu bisa
mengalahkannya. Tapi ini merupakan resiko yang
sangat besar, dimana dia harus menghadapi Tang
San Siansu yang didampingi oleh Ban It Say, Cu Lie
Seng, Thio Yu Liang. Bwee-sim-mo-li, Pak-mo, See
mo dan yang lain-lainnya....
"Laporan buat pangcu," kata pengemis yang
duduk disebelah kanan Toan Yok. "Tadi di antara
orang-orangnya si pemuda she Cu ini terdapat Ho
Beng Su."
Toan Yok mengangguk dengan muka muram.
"Ya, kitapun harus menangkapnya, untuk
dihukum atas pengkhianatan yang dilakukannya,"
kata ketua Kaipang. "Dia berkhianat meninggalkan
pintu perguruan kita serta kini menjadi budak raja
lalim itu. Dosanya sangat besar. Walaupun
bagaimana dia harus dapat kita tangkap, untuk
dibawa pulang ke pusat dan menjatuhkan hukuman
sesuai dengan dosanya itu"
"Apakah tak perlu dinasehati satu kali lagi
padanya, pangcu?" tanya pengemis itu.
"Ciang-hiocu, sudah terbukti dia berkhianat dan
menjadi budak raja lalim itu, melanggar pantangan
terbesar dari partai kita. Jika iapun dalam keadaan
terdesak nanti dan tak bisa mengadakan
perlawanan, jatuh ketangan kita dan tahu akan
menerima hukuman berat, kemudian menyatakan ia

1125
menyesal atas jalannya yang keliru itu, lalu apa
yang hendak dipertimbangkan lagi ? Coba jika kita
gagal nanti menangkapnya, jangan berharap dia bisa
menyesali kesesatannya itu!"
Ciang hiocu, pengemis yang duduk di sebelan
kanan itu mengangguk-angguk, demikian juga
pengemis-pengemis yang lainnya.
"Sekarang," kata Toan Yok lebih jauh, "kita harus
mengawasi terus rombongan Tang San si pendeta
busuk, jika ada kesempatan kita akan turun tangan.
Akupun akan perintahkan pada semua Tianglo
berkumpul dan nanti membantu kita menghadapi
pihak Tang San si pendeta jahat !"
Kemudian Toan Yok memberikan berbagai
petunjuk kepada semua pengemis itu, apa yang
harus mereka lakukan lebih jauh. Setelah selesai,
penemuan tersebut bubar, mereka berpencar, tapi
mempunyai tujuan satu, yaitu akan terus mengawasi
rombongan Tang San Siansu, mereka tak akan turun
tangan sebelum ada kesempatan baik.
Mereka menyadari, betapapun Tang San Siansu
dan rombongannya merupakan tokoh lihai rimba
persilatan, karenanya mereka tak dapat turun
tangan secara ceroboh dan sembarangan. Ini bukan
berarti mereka gentar berurusan dengan Tang San
Siansu dan rombongannya, tapi mereka hendak
mencegah jatuh korban dipihak kaipang, kalau bisa
sedikit mungkin dan tujuan mereka tercapai, yaitu

1126
merampas daftar nama orang-orang kangouw yang
asli.
-------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
-------
SINAR matahari pagi mulai menghanga-ti sekitar
lembah di kaki gunung Cu-san, burung-burung mulai
berkicau. Tang San Siansu dan rombongannya
bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka selalu berwaspada terhadap kemungkinan
adanya serangan mendadak dari pihak lawan.
Mereka yakin, di samping pihak kaipang yang
hendak mengganggu dan menyerang mereka, pasti
banyak orang-orang kangouw berbagai aliran yang
tengah mengincar mereka.
Karena itu, walaupun mereka tidak gentar
menghadapi pihak mana pun yang hendak
merampas daftar, tapi setidak-tidaknya rombongan
Tang San Siansu bersikap waspada dan hati-hati.
Inilah yang menyebabkan mengapa Tang San Siansu
memilih perjalanan mereka dengan berjalan kaki,
sebab menurut Tang San Siansu jika mereka
mempergunakan kuda, tentu binatang itu bisa panik
dan lari sembrawut sulit dikendalikan, yang akhirnya
memisahkan mereka satu dengan yang lainnya pada
jarak yang cukup jauh, jika di serangan mendadak
dari pihak lawan.

1127
Sedangkan melakukan perjalanan dengan jalan
kaki menyebabkan mereka selalu bisa tetap bersama
jika ada serangan lawan, sehingga kekuatan mereka
tidak terpecahkan.
Melakukan perjalanan di lembah pada kaki
gunung Cu-san ternyata tidak begitu mudah, karena
selain cukup banyak tempat-tempat yang curam dan
semak-belukar tumbuh liar sekali. Menjelang tengah
hari, mereka berada disebelah lainnya dari lembah
itu, tapi belum berhasil keluar dari lembah tersebut.
Bwee sim-mo-li tampak jengkel dan sering
menggerutu, tapi Tang San Siausu tak mengacuhkan
sikap iblis-wanita ini.
"Kita istirahat disini," kata Tang San Siansu dan
duduk disebongkah batu gunung, menghapus
keringat yang mengucur deras di mukanya.
Yang lainnya segera mencari tempat yang sejuk
dan teduh terhindar dari sinar matahari yang
memancar begitu terik. Tapi, belum lagi mereka
sempat membuka buntalan masing-untuk
mengeluarkan bekal makanan, mendadak terdengar
suara gemuruh yang deras sekali, berisik disertai
jatuhnya batu-batu kerikil. Semua orang menoleh ke
atas dan jadi kaget.
Sebungkah batu gunung berukiran besar
menggelundung turun ke arah mereka.
"Menyingkir!" Teriak Tang San Siansu, dia sendiri
sudah melesat ketempat yang sekiranya aman dari

1128
sambaran batu yang tengah meluncur turun dengan
cepat. Yang lainnya juga cepat cepat menyingkir.
Diiringi suara berisik, batu besar itu ambruk di
bawah tebing, menyebabkan debu bertebaran
kemana-mana, diiringi juga dengan batu-batu kerikil
yang ikut berjatuhan akibat tebing kena benturan
bongkahan batu tersebut.
Gusar bukan main Tang San Siansu menoleh ke
atas, karena pendeta ini menduga pasti ada
seseorang yang sengaja mendorong jatuh batu di
atas tebing itu, untuk mencelakai rombongannya.
Sedangkan Cu Lie Seng dan yang lainnya juga telah
mengawasi ke atas.
Tebing itu cukup tinggi, mungkin hampir seratus
tombak, di tepi tebing itu, berdiri sesosok tubuh,
bahkan terdengar suara tertawa yang nyaring
bergema di sekitar lembah tersebut.
Tidak kepalang marahnya Tang San siansu
darahnya meluap. Dia mengibaskan tangannya,
tubuhnya meloncat gesit dan ringan sekali,
maksudnya hendak mendaki tebing itu buat
mengejar orang yang telah menyerang
rombongannya dengan bongkahan batu besar itu.
Namun, dia membatalkan maksudnya, karena orang
di atas tebing itu justru sambil terus tertawa tengah
meluncur menuruni tebing !

1129
Yang mengejutkan, orang itu tampaknya tak
mengalami kesulitan apa-apa menuruni tebing itu,
tubuhnya berlari-lari dengan telapak kaki setiap
menginjak tebing seperti melekat sehingga tubuhnya
tidak jatuh ke bawah.
Itulah ilmu yang sangat menakjubkan, karena
tebing itu sendiri hampir berada dalam posisi tegak
menjulang ke atas, walau pun ginkang seseorang
sudah mahir, namun berlari-lari menuruni tebing
yang posisinya maupun letak kedudukannya tegak
ke atas seperti tebing ini, merupakan pekerjaan
yang tidak mudah.
Namun kenyataannya orang itu dapat berlari
dengan cepat, bahkan dalam waktu singkat telah
sampai di bawah tebing di dalam lembah.
Sekarang Tang San Siansu dan yang lainnya baru
bisa melihat jelas, dialah seorang nenek-nenek tua
yang mungkin usianya sudah mencapai tujuh puluh
tahun, karena badannyapun sudah agak
membungkuk! Entah siapa nenek tua ini, Tang San
Siansu dan yang lainnya jadi benanya-tanya, karena
nenek tua ini tampaknya sudah makan nyali macan
sehingga berani membentur rombongan pendeta
tersebut.
"Kalian kaget, heh ?" tanya si nenek dengan
suara nyaring, bergema disekitar lembah itu,
sikapnya sinis sekali. "Aku tahu batu itu tak mungkin
bisa mencelakai kalian, tapi yang kuinginkan kalian

1130
menjadi kaget. Nah, kalian tadi kaget, bukan?"
Sambil bertanya begitu- si nenek tua tersebut
memperlihatkan sikap serius sekali, matanya
terbuka lebar-lebar, kemudian tertawa nyaring lagi,
seakan juga apa yang telah dilakukannya
menyebabkannya merasa Iucu.
Ban It Say sejak tadi sudah mendongkol apa lagi
sekarang melihat kelakuan nenek tua seperti
mengejek dan tidak memandang sebelah mata,
sudah tak bisa menahan diri. Tahu-tahu dia
meloncat ke depan, ke dekat si nenek tua, tangan
kanannya menyambar ke pundak nenek tua
tersebut, diiringi bentakannya- "Kau rupanya sudah
tak sabar ingin pergi ke neraka, siluman tua!"
"Ih,ih,ih, ihi. ihi, jangan galak-galak begitu dong!"
menyahuti nenek tua itu, tahu-tahu tubuhnya sudah
melejit ke samping dia sudah terhindar dari
sambaran tangan Ban-It Say.
Congkoan Gi-lim-kun bukan orang sembarangan,
kepandaiannya tinggi, karena itu, dia tambah
penasaran karena nenek tua tersebut bisa
menghindari tangannya, apa lagi peristiwa ini
disaksikan oleh Tang San Siansu dan kawankawannya
yang lain, jelas ini menyebabkan dia
menjadi malu kehilangan muka terang setengah
kalap dia lompat lagi ke dekat nenek tua tersebut,
sekali ini dia menyerang dahsyat dengan kedua
tangannya.

1131
Angin pukulan kedua tangannya menimbulkan
suara kesiutan keras sekali. Sekaligus dia
menyerang empat bagian mematikan dan berbahaya
di tubuh nenek tua itu, dia juga tak tanggungtanggung
mempergunakan tenaga dalam pada
kedua telapak tangannya.
Dalam gusarnya, dia tak peduli bahwa lawannya
ini adalah seorang nenek tua yang karena sudah
tuanya sampai badannya agak membungkuk. Dia
menghendaki kematian si nenek.
Tapi nenek tua itu tetap tenang, bahkan sekali ini
dia tak memperlihat usaha untuk menghindar, cuma
berdiri di tempatnya dengan bibir tersenyum
mengejek, tangan kanannya saja yang terangkat,
jari telunjuk dengan ibu jarinya menjentik, meluncur
benda putih berkilauan tertimpa matahari.
"Serrrr...!" kuat sekali benda putih kecil itu
menyambar ke dada Ban It Say.
Ban It Say kaget sebagai orang berpengalaman
dia menyadari benda ini tak boleh diremehkan. Tapi
dia tak mau menghentikan sambaran tangan
kanannya, yang tetap menyambar ke arah leher si
nenek, sedangkan tangan kirinya menyampok benda
putih itu.
Benda putih itu kena disampok oleh Ban It Say,
tapi tidak terpental, melainkan meledak dan hancur
tanpa bekas.

1132
Kaget Ban It Say, dia menyangka bahwa si nenek
sudah mempergunakan bahan peledak yang
mungkin saja beracun. Tapi yang membuat Ban It
Say lebih kaget lagi, tubuhnya menggigil, sampai
tangan kanannya yang menyambar ke leher si nenek
seperti tergetar keras, memaksa dia menarik pulang
tangan kanannya itu membatalkan serangannya.
Cepat-cepat Ban It Say mengempos hawa murni
tubuhnya, karena dirasakan pecahan benda putih itu
mendatangkan hawa dingin luar biasa pada dirinya,
yang membuat dia jadi menggigil. Dengan
mengerahkan lwekangnya dia bermaksud mengusir
hawa dingin tersebut, tapi gagal. Tubuhnya tetap
menggigil, hawa dingin yang berasal dari ledakan
benda putih sinenek begitu dingin, seakan menusuk
ke tulang-tulang tubuhnya, bahkan kedua kakinya
ikut menggigil.
Menyadari bahaya yang mengancam dirinya, Ban
It Say tidak buang-buang waktu lagi segera
meloncat ke belakang buat menjauhi si nenek.
Dengan keadaan seperti itu, waktu tubuhnya
menggigil kedinginan, si nenek bisa saja
membarengi menyerang dirinya, itulah sebabnya
Ban It Say meloncat mundur.
Semua orang yang menyaksikan kejadian ini jadi
heran bukan main. Mereka melihat tangan kanan
Ban It Say hampir mengenai sasarannya, yaitu leher
si nenek, tapi mendadak mereka melihat Ban It Say
menarik pulang tangan kanannya, bahkan kemudian

1133
berdiri menggigil, dibarengi lagi dengan loncat ke
belakang menjauhi si nenek. Entah apa yang terjadi
?
"Siluman tua, kau gunakan ilmu siluman apa,
heh?" Teriak Ban It Say bertambah kalap, dia sudah
berusaha mengendalikan hawa dingin yang
menyerang dirinya, dia berhasil hatinya dirasakan
ulu hatinya jadi dingin sekali. "Kau harus membayar
semua ini dengan jiwamu!"
Dengan gesit Ban It Say sudah meloncat lagi
kepada si nenek bermaksud untuk membinasakan si
nenek tua. Sekarang dia sudah bersiap-siap, dengan
lwekang yang disalurkan melindungi sekujur
tubuhnya, karena kuatir nenek tua itu
mempergunakan benda putih yang bisa
mendatangkan rasa dingin luar biasa itu.
Sekarang, biarpun si nenek mempergunakan lagi
benda putihnya yang sangat dingin itu, jangan harap
bisa membuat Ban It Say menggigil seperti tadi.
Kalau tadi dia kena dibikin gemetar oleh si-nenek
akibat hawa dingin dari benda putih itu, karena
sebelumnya Ban It Say memandang rendah si nenek
yang sudah tua ini, dia pikir satu atau duakali
serangan sudah bisa merobohkan si nenek.
Sekarang Ban It Say tidak berani meremehkan
lagi, dia mempergunakan delapan bagian tenaganya
untuk menerjang si nenek.

1134
Si nenek tua bungkuk itu tetap tenang, dia sama
sekali tak bermaksud untuk menghindar dari
terjangan Ban It Say, hanya tangannya menjentik
dua kali. Kini dua butir benda putih berkilauan
menyambar pada dada dan perut Ban It Say.
Karena tadi sudah mengalami akibat menyampok
benda nutih itu tubuhnya jadi menggigil kedinginan,
sekarang Ban It Say tidak pedulikan kedua benda
putih itu, yang seperti kristal atau kaca bening, dia
membiarkan saja benda itu menyambar ke dadanya
dan perutnya, sedangkan kedua tangannya telah
diulurkan untuk mencengkeram pundak dan dada si
nenek tua.
Tubuh Ban It Say sendiri menyambar terapung
dari tengah udara, sikapnya seperti seekor elang
yang hendak menyambar arak kelinci.
"Tukkk . . . ! Tukkkk . .. . ! Dua benda putih yang
dijentik si nenek mengenai dada dan perut Ban It
Say. Bukan main akibatnya Ban It Say, congkoan Gilim-
kun dari kota-raja yang berkepandaian tangguh,
ternyata begitu kesambar dua benda kecil berwarna
putih dan sebesar biji lengkeng itu, terpental keras
sekali terbanting di tanah dengan tubuh menggigil
keras.
Karena waktu dia kena disambar kedua benda
tersebut, tubuhnya seperti diguyur air yang sangat
dingin, dadanya seperti beku dan dinginnya bukan

1135
main, membuat tubuhnya menggigil dan tenaganya
seperti lenyap.
Jauh lebih dingin dari yang pertama tadi,
sehingga tak ampun lagi tubuhnya meluncur
terbantihg ditanah! Semua kawan-kawannya jadi
kaget, Tang San Siansu sudah meloncat ke depan si
nenek untuk mencegah nenek itu mempergunakan
kesempatan tersebut menyerang Ban It Say lebih
jauh.
Sedangkan Thio Yu Liang berdua Cu Lie Seng
loncat ke dekat Ban It Say, untuk memberikan
pertolongan.
Muka Ban It Say pucat pias, dia rebah di tanah
dengan badan menggigil keras, giginya sampai
bercatrukan dan bibirnya gemetar tak bisa bicara !
"Ban-taijin, kenapa kau?" tanya Cu Lie Seng
kuatir dan campur heran menyaksikan keadaan Ban
It Say seperti itu.
Ban It Say menggigil keras tak sanggup bicara,
dia cuma menunjuk kearah si nenek tua yang waktu
itu tengah berhadapan dengan Tang San Siansu.
Cepat-cepat Thio Yu Liang memeriksa keadaan
kawannya, alisnya jadi mengkerut dalam-dalam.
Dia tidak menemukan kelainan pada peredaran
darah kawannya ini, tak ada yang tertotok, atau

1136
juga tak ada tubuhnya yang terluka. Tapi mengapa
Ban It Say menggigil keras seperti ini?
Untuk menolongi kawannya, Thio Yu Liang segera
menotok jalan darah Ciu-ma-hiat dan Yui-si-hiat,
untuk menenangkan Ban It Say. Tapi siapa sangka,
begitu kedua jalan darah ini ditotok oleh Thio Yu
Liang seketika Ban It Say menjerit-jerit: "Dingin...!
Dingin..!" Tubuhnya menggigil semakin keras.
"Aduhh... dingin sekali...!"
Thio Yu Liang terkesiap, mukanya pucat. Apakan
dia telah melakukan sesuatu kekeliruan pada
totokannya. Tapi setelah memeriksanya, totokannya
tepat pada tempatnya. Ini memang untuk
pertolongan pertama pada orang yang
keseimbangan dirinya tak terkuasai lagi. Tapi
mengapa begitu Ban It Say tertotok malah bukannya
jadi lebih baik dan lebih tenang, seb-ahtnya jidi
menjerit-jerit karena penderitaannya rupanya
bertambah besar juga.
"Ban-toako... kenapa kau sebenarnya...?" Tanya
Thio Yu Liang sambil menggoncang-goncang badan
Ban It Say dengan kedua tangannya. "Bagian
manamu yang terserang ?"
"Aduhhh...! Dingin... Dinginnn.... Sangat
dinginnnn . . .!" merintih Ban It Say menggigil keras
sekali, giginya tetap bercatrukan.

1137
Ban It Say seorang berkepandaian tinggi di
kotaraja dia merupakan salah seorang jago istana
yang paling diandalkan oleh Kaisar. Tapi sekarang,
tanpa melalui pertempuran seru dengan si nenek
belum lagi berhasil menyerang nenek bungkuk itu,
dia sudah rubuh dan keadaannya jadi seperti ini.
Thio Yu Liang berdua Cu Lie Seng benar-benar
heran dan tidak mengerti, mereka sampai saling
tatap keheranan, akhirnya Cu Lie Seng berkata
sambil mengerutkan alisnya : "Entah ilmu siluman
apa yang dipergunakan nenek tua itu ?"
Cepat-cepat Thio Yu Liang menotok beberapa
jalan darah yang berhubungan dengan jantung yang
bisa mendatangkan hawa hangat pada tubuh jika
jalan darah itu ditotok.
Dan begitu Thio Yu Liang menotok kembali Ban It
Say kelojotan menggigil keras kedinginan, disertai
jeritan-jeritan nyaring. Thio Yu Liang tak peduli, dia
menotok Iagi dua jalan darah, tetap saja dia gagal.
Setiap kali ditotok bukannya lebih tenang dan lebih
baik keadaannya. Ban It Say malah menjerit-jerit
seperti babi hendak dipotong, selalu menyebutnyebut
"Dingin .... Aduhhh dingin... dingin sekali ....
Aduhhh, dingin.
Thio Yu Liang mengerutkan alisnya. Dia berdiri
dengan gusar, Katanya pada Cu Lie Seng. "Cu
kongcu, kita harus membekuk siluman tua itu buat

1138
memaksanya agar menyembuhkan Ban toako. Entah
ilmu siluman apa yang sudah dipergunakannya?!"
Dia segera memutar mbuhnya, tapi dilihatnya
Tang San Sian-su tengah berhadapan dengan nenek
tua bungkuk itu, sedang bicara. Maka Thio Yu Liang
menahan langkah kakinya, dia berdiri diam saja
karena Thio Yu Liang tahu kalau dia maju
mencampuri urusan ini Tang San Sian su pasti
menjadi tak senang dan tersinggung.
Tang San Siansu waktu itu sudah berhadapan
dengan nenek bungkuk sedangkan nenek bungkuk
iiu sama sekali tidak gentar.
"Siapa kau mengapa mengganggu kami?" tegur si
pendeta dengan suara tawar.
Si nenek tertawa nyaring, kemudian mengawasi
tajam Tang San Siansu. "Siapa aku? Huh-huh-huh
apakah kau tak kenal lagi kepadaku ! Kita pernah
ketemu, tak mungkin kau lupa padaku!"
Tang San Siansu mengawasi tajam si nenek tua,
mengurutkan alisnya dan berpikir keras untuk
mengingat-ingat siapa sebenarnya nenek bungkuk
ini. tapi tetap saju gagal untuk mengingatnya.
"Jangan berbelit-belit, perkenalkan siapa dirimu,
aku paling tak mau membunuh orang yang tak
bernama...!"

1139
"Kalau kau memang tak biasa membunuh orang
yang tak mau memberitahukan namanya kepadamu,
ya kau menggelinding pergi-saja tak usah berdiri
didepanku, karena aku tak mungkin
memberitahukan namaku padamu."
Muka Tang San Siansu jadi berobah, matanya
bersinar tajam, dia gusar mendengar jawaban si
nenek tua yang seakan mengejek dan
meremehkannya, si nenek sama sekali tak
memperlihatkan perasaan gentar dan malah
menantang sekali.
Biasanya, jika seseorang berhadapan dengan
Tang San Siansu, tentu akan gentar dan belum apaapa
sudah menjadi gugup. Tapi nenek tua ini bahkan
seperti sengaja hendak memancing kemurkaan Tang
San Siansu.
"Hemm. kalau kau tak mau memberitahukan
namamu secara baik baik, biarlah aku yang akan
memaksa engkau memberitahukan namamu !"
Sambil berkata begitu Tang San Siansu menyampok
dengan tangan kanannya ke dada si nenek tua,
maksudnya hendak memaksa nenek tua itu
meloncat mundur ke belakang dan nanti dia akan
menyusuli dengan pukulan tangan kirinya pada si
nenek tua, pukulan yang menutup jalan keluar si
nenek dari jaring pengaruh lingkungan pukulannya
tersebut. Biasanya, jika Tang San Siansu menyerang
seperti itu, sulit buat lawannya menghindarkan.

1140
Tapi nenek tua ini benar-benar berani di samping
juga sangat lihai, sebab sama sekali dia tidak gentar
menghadapi pukulan-pukulan yang dilakukan Tang
San Siansu. Dia menghindarkan cepat sekali tangan
kanan si pendeta, waktu tangan kiri Tang San Siansu
menyambar menutup jalan keluar baginya, si nenek
juga tidak jadi gugup, cuma jari telunjuknya
menjentil dua kali.
Segera tampak dua butir benda putih masing
masing sebesar biji lengkeng menyambar ke dada
Tang San Siansu.
Tang San Siansu kaget, karena dia merasakan
hawa dingin menyambar pada dada di jurusan ulu
hati. Hawa dingin itu bukan hawa dingin biasa,
karena dinginnya luar-biasa. "Ihhh . . . !" Tang San
Siansu cepat-cepat meugempos sinkangnya, dia
menutup semua jalan darahnya, menahan napasnya
juga.
Dia tidak sampai roboh seperti Ban It Say, karena
sinkangnya memang lebih tinggi dari Congkoan Gi
lim kun itu, dia cuma tergetar duakali, kemudian
bisa membendung hawa dingin yang menyerang
dirinya. Kedua tangannya sudah menyerang lagi
mempergunakan pukulan mematikan yang
mengandung tenaga dalam yang dahsyat !
Muka si nenek berobah, rupanya dia kaget
melihat ketangguhan Tang San Siansu, yang tidak

1141
roboh walaupun dihantam oleh dua butir peluru es
yang dingin luar biasa.
Tadi, Ban It Say waktu menyampok hancur
peluru esnya, congkoan Gi-lim-kun itu sudah
menggigil sekujur badannya, dan waktu dihantam
oleh dua butir peluru, dia roboh dengan menderita
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil : Cula Naga Pendekar Sakti 3 dan anda bisa menemukan artikel Cersil : Cula Naga Pendekar Sakti 3 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-cula-naga-pendekar-sakti-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil : Cula Naga Pendekar Sakti 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil : Cula Naga Pendekar Sakti 3 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil : Cula Naga Pendekar Sakti 3 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-cula-naga-pendekar-sakti-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar