Pisau Terbang Li {pendekar Budiman] 3 [Lanjutan Pendekar Baja] Seri Kedua Pisau Terbang

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 13 September 2011

837
Akhirnya terlihat senyum Yu Liong-sing di sudut bibirnya.
Katanya, “Aku merasa cukup terhormat memiliki teman
seperti dirimu. Sayangnya….”
Ia berusaha keras mengumpulkan sisa-sisa nafasnya dan
berteriak, “Sayangnya aku tidak bisa mati di tanganmu!”
***
Fajar.
Tiga kuburan baru terlihat di hutan itu. Satu untuk Yu
Liong-sing. Satu untuk Na Kiat-cu. Satu untuk Budha
Perempuan Mahagembira. Para muridnyalah yang
menggali ketiga kuburan ini.
Para muridnya terlihat tidak terlalu peduli atas kematian
guru mereka. Budha Perempuan ini ternyata tidak
memiliki hati seperti Sang Budha. Ia tidak dikasihi oleh
siapa pun selama hidupnya.
Memang Ling Linglah yang membuat jebol rumah itu.
Ia terlihat cukup bangga atas perbuatannya. “Aku hanya
mengendorkan satu tiang saja, dan seluruh rumah itu
hancur berantakan. Kalau bukan karena kecerdikanku,
kau sudah gepeng sekarang!”
Ketika Ling Ling melihat semua murid Budha Perempuan
Mahagembira pergi dari situ, ia terlihat sangat terkejut.
Mengapa mereka tidak berusaha membalaskan kematian
guru mereka?

838
Kata Li Sun-Hoan, “Mungkin walaupun Budha Perempuan
ini berusaha mengisi perut mereka penuh-penuh, ia tidak
memperhatikan hati mereka sama sekali.”
Kata Ling Ling, “Kau benar. Jika seseorang terlalu
kenyang, ia akan menjadi malas untuk peduli akan apa
pun juga.”
Ling Ling pun cemberut dan berkata, “Aku tahu kau
hanya memiliki Na Kiat-cu dalam hatimu. Memang
kutahu pinggangnya lebih ramping dari pinggangku.”
Tanya Li Sun-Hoan, “Kau pikir hanya Na Kiat-cu yang ada
dalam hatiku?”
“Sudah pasti. Kau bersedia mengorbankan nyawamu
demi dia. Sebenarnya ia telah lama mati. Kau tidak perlu
kuatir tentang dia.”
Kata Li Sun-Hoan, “Jika ia adalah temanku semasa hidup,
ia tetap adalah temanku sesudah meninggal.”
Tanya Ling Ling perlahan, “Apa…Apakah aku juga
temanmu?”
“Sudah tentu.”
“Lalu jika kau mau mengorbankan nyawamu demi
temanmu yang sudah mati, mengapa kau tidak peduli
pada temanmu yang masih hidup?”
Mata Ling Ling menjadi merah. Lanjutnya, “Aku tidak
punya sanak saudara. Kini aku pun tidak punya rumah.

839
Apakah kau tega melihatku mengemis makanan setiap
hari?”
Li Sun-Hoan hanya bisa tertawa getir.
Ia merasa gadis muda ini makin lama makin pintar
bicara.
Ling Ling memandangnya dari sela-sela jarinya yang
menutupi wajahnya. Katanya, “Lagi pula, jika kau tidak
membawaku pergi bersamamu, bagaimana kau akan
menemukan Nonaku? Bagaimana kau akan menemukan
sahabatmu, A Fei?”
***
A Fei sedang menghirup supnya.
Sup daging. Sangat lezat, sangat panas.
A Fei memegang mangkuk itu dengan kedua tangannya
dan mengirupnya perlahan-lahan. Matanya menatap sup
itu dengan pandangan kosong. Seolah-olah ia tidak bisa
membedakan rasa sup yang satu dengan yang lain.
Lim Sian-ji duduk di sampingnya dengan bertopang
dagu. Katanya, “Kelihatannya kau tidak bahagia
beberapa hari terakhir ini. Ayo habiskan supmu. Sup ini
sangat bergizi. Nanti kalau sudah dingin rasanya tidak
enak.”
A Fei menghabiskan mangkuknya dengan cepat.

840
Lim Sian-ji menyeka dagu A Fei dan berkata, “Enak?”
“Ya.”
“Kau mau semangkuk lagi?”
“Ya.”
Kata Lim Sian-ji, “Anak baik. Kau makan sedikit sekali
akhir-akhir ini. Kau perlu makan lebih banyak.”
Ruangan itu tampak sangat sederhana, namun
dindingnya baru saja dicat. Dapurnya pun sangat bersih
karena mereka baru tinggal di situ dua hari.
Lim Sian-ji membawakan semangkuk sup lagi dan
meletakkannya di hadapan A Fei. Katanya sambil
tersenyum, “Walaupun ini kota kecil, namun pasarnya
cukup besar. Sayangnya si penjual daging suka menipu
pendatang baru. Masa setengah kilo daging harganya
sepuluh keping.”
Kata A Fei tiba-tiba, “Kita tidak usah makan sup daging
lagi.”
“Kenapa? Kau tidak suka?”
“Aku suka supnya, tapi kita tidak sanggup membeli
daging semahal itu.”
Lim Sian-ji tersenyum. Katanya dengan lembut, “Jangan
kuatir tentang uang. Kulit rubah cukup laku akhir-akhir

841
ini. Aku mendapat lebih dari 27 tail perak dari hasil
buruanmu bulan lalu.”
Kata A Fei, “Namun uang itu akan habis. Di sini tidak ada
rubah untuk diburu.”
“Jangan kuatir. Aku masih punya tabungan juga.”
Kata A Fei, “Aku tidak mau menggunakan uangmu.”
Wajah Lim Sian-ji memerah. Ia menundukkan kepalanya
dan berkata, “Mengapa? Aku tidak mencuri atau
merampok uang ini. Aku mendapatkannya dari hasil
menjahit, menisik baju orang yang robek.”
Bab 49. Rencana Tiap-Tiap Orang
Saat bicara, air mata turun membasahi wajahnya. Ia
berkata pelan, “Kau tahu bahwa aku sudah
mengembalikan uang yang dulu itu, sesuai dengan
perkataanmu. Kau tidak percaya?”
A Fei menghela nafas panjang. Katanya, “Bukan aku
tidak percaya. Hanya saja…..akulah yang harus
mengurusmu. Aku tidak mau membiarkan kau yang
bekerja mencari uang.”
Lim Sian-ji masih menangis sambil menyahut, “Tapi kita
sudah saling mencintai. Tidak ada lagi ‘milikku’ atau
‘milikmu’ di antara kita. Bahkan hatiku adalah milikmu.
Tidakkah kau tahu?”

842
A Fei memejamkan matanya dan menggenggam tangan
Lim Sian-ji erat-erat. Kalau saja ia dapat menggenggam
tangan ini selamanya, A Fei tidak akan menginginkan
apa-apa lagi.
Akhirnya A Fei jatuh tertidur.
Lim Sian-ji menarik tangannya dari genggaman A Fei.
Lalu ia berjalan ke kamarnya sendiri. Dari balik dadanya,
ia mengambil sebuah botol kecil.
Ia menyedu secangkir teh. Lalu diambilnya sedikit bubuk
dari botol itu dan meminumnya. Ia tidak pernah lupa
minum bubuk itu setiap hari.
Bubuk ini terbuat dari mutiara yang ditumbuk sampai
halus. Seorang wanita dapat mempertahankan
kecantikannya dengan minum bubuk itu.
Sambil memandang botol di tangannya, Lim Sian-ji
terkekeh sendiri.
Jika A Fei tahu berapa harga sebotol kecil bubuk mutiara
ini, mungkin ia akan mati berdiri.
Ia tahu bahwa laki-laki begitu mudah dibohongi, terlebih
oleh wanita yang dicintainya. Oleh sebab itu ia selalu
menganggap bahwa laki-laki itu patut dikasihani,
walaupun mereka lucu juga.
Ia belum pernah bertemu dengan seorang laki-laki pun
yang tidak bisa diperdaya.

843
Mungkin hanya satu….Li Sun-Hoan.
Setiap kali mengingat Li Sun-Hoan, perasaan Lim Sian-ji
jadi jengkel.
Hari ini adalah tanggal lima bulan sepuluh.
Apakah Li Sun-Hoan sudah mati? Mengapa belum ada
kabar?
Tiba-tiba terdengar langkah orang dari kejauhan. Dua
orang pemuda datang membawa tandu. Mereka berjalan
cepat ke arah rumah itu dan berhenti tepat di depan
pintu.
Lim Sian-ji pun keluar tanpa suara. Ia mengunci pintu
dan naik ke atas tandu. Diturunkannya tirai bambu yang
menutupi jendela tandu itu. Tirai itu tidak rapat,
sehingga ia bisa melihat ke luar, tapi orang di luar tidak
bisa melihat ke dalam.
Tandu itu segera diangkat dan pergi dengan cepat.
Dekat rumah itu ada hutan yang cukup lebat. Dedaunan
di sana belum lagi gugur. Di sebelah hutan itu ada
sebuah kuil kecil. Di sebelah kanannya ada tanah
pemakaman yang gundul.
Tandu itu berhenti di sana. Pemuda yang di depan
mengambil lentera dari bawah tandu dan
mengangkatnya di atas kepalanya. Pada lentera itu ada
gambar bunga Bwe berwarna merah.

844
Setelah lentera itu diangkat, embat sosok bayangan
datang dari empat arah. Keempatnya datang ke arah
cahaya ini.
Keempat orang ini bergerak sangat cepat, seolah-olah
mereka tidak sabar menunggu sesuatu. Tapi waktu
mereka tahu ada orang lain yang datang, langkah
mereka melambat. Mereka saling pandang dengan
pandangan menyelidik, juga dengan rasa permusuhan.
Orang yang datang dari arah hutan adalah seorang lakilaki
setengah baya dengan wajah bulat. Ia mengenakan
pakaian yang sangat indah, seperti seorang pedagang
yang kaya raya.
Gerakannya menunjukkan bahwa ia mempunyai tenaga
dalam yang sangat hebat.
Dua orang datang dari arah kuburan. Yang sebelah
kanan adalah seorang laki-laki kecil yang bertingkah
seperti seorang pencuri yang mengendap-endap. Namun
jelas ilmu meringankan tubuhnya tidaklah rendah.
Yang sebelah kiri tidak jangkung tidak pendek, tidak
gemuk tidak kurus. Pakaiannya pun biasa saja. Tidak ada
yang istimewa dari seluruh penampilannya. Namun ilmu
meringankan tubuhnya satu tingkat lebih tinggi daripada
orang pendek di sebelahnya.
Orang yang datang dari arah kuil adalah yang paling
muda, tapi tampaknya kedudukannya lebih tinggi dari
yang lain. Walaupun menggunakan ilmu meringankan
tubuhnya, ia tetap membuat langkah-langkahnya berat.

845
Jelas bahwa orang ini memiliki ilmu silat yang paling
tinggi di antara keempat orang itu.
Lim Sian-ji sudah tahu bahwa keempat orang ini akan
datang. Ia tidak keluar dari tandu. Melongok keluar pun
tidak. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Kalian berempat
sudah menempuh perjalaLam-yang-hu cukup jauh. Maaf
tidak ada arak untuk menyambut kalian.”
Ketika mereka mendengar suara Lim Sian-ji, tanpa sadar
keempatnya tersenyum. Mereka ingin mengatakan
sesuatu, tapi setelah saling pandang, tidak seorang pun
mengatakan apa-apa.
Kata Lim Sian-ji, “Aku tahu kalian berempat ingin bicara.
Siapa yang akan mulai?”
Orang yang berpenampilan biasa memandang tanpa
ekspresi. Kelihatannya ia takut mulai lebih dulu.
Si pemuda berjubah biru mengangkat alisnya. Ia
menaruh tangannya di balik punggungnya dan segera
memutar badannya. Ia menganggap orang-orang ini
tidak sederajat dengannya, oleh sebab itu ia tidak sudi
bicara di depan mereka.
Sun-hoan berwajah bulat tersenyum dan berkata kepada
lelaki berjubah hitam, “Kau saja yang mulai duluan.”
Kelihatannya si jubah hitam tidak keberatan. Ia langsung
maju ke depan tandu itu.

846
Kata Lim Sian-ji sambil tersenyum, “Sejak pertemuan kita
dua bulan yang lalu, kelihatannya ilmu meringankan
tubuhmu sudah ada kemajuan. Selamat!”
Wajah si jubah hitam yang kelihatan jahat itu berbinarbinar
dengan bangga. Katanya, “Terima kasih, Nona.”
Kata Lim Sian-ji, “Aku menyuruhmu melakukan dua hal.
Sudah kau bereskan keduanya, bukan?”
Si jubah hitam mengeluarkan segepok uang kertas dari
sakunya, dan diserahkannya dengan patuh kepada Lim
Sian-ji. Katanya, “Aku sudah berhasil menagih semua
hutang itu. Totalnya 9850 tail. Ginbio (uang kertas) ini
berasal dari Bank ‘Tong-hok-ho’ di Propinsi Soasay.
Tangan Lim Sian-ji yang putih mulus terjulur dari dalam
tandu dan mengambil kertas-kertas itu. Lalu sambil
tersenyum ia berkata, “Maaf telah merepotkanmu. Aku
tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.”
Si jubah hitam terkesima memandangi tempat tangan
Lim Sian-ji keluar tadi. Ia tersadar dan tertawa terpaksa.
Katanya, “Oh, tidak perlu berterima kasih. Kalau kau
masih mengingatku, itu sudah cukup.”
Tanya Lim Sian-ji, “Bagaimana dengan si tukang cerita Si
Tua Sun dan cucu perempuannya? Kau sudah
menemukan lokasi mereka, bukan?”
Si jubah hitam menundukkan kepalanya dan berkata,
“Aku telah membuntuti mereka. Namun tiba-tiba mereka

847
menghilang begitu saja. Seperti….seperti hilang ditelan
bumi.”
Lim Sian-ji diam saja.
Si jubah hitam tersenyum kaku dan berkata, “Gerak-gerik
kedua orang ini sangat misterius. Mereka pura-pura tidak
tahu ilmu silat, tapi sudah pasti tidak demikian. Jika Nona
bersedia memberi sedikit lagi waktu, aku pasti akan
menemukan lokasi mereka.”
Lim Sian-ji berpikir sejenak, lalu mendesah dan berkata,
“Tidak usahlah. Aku memang sudah tahu kau tidak akan
bisa membuntuti mereka. Jadi walaupun kau gagal, aku
tidak menyalahkanmu. Sesudah ini, aku ada beberapa
tugas lain untukmu.”
Si jubah hitam menghela nafas lega dan segera mundur
ke belakang.
Si lelaki berwajah bulat memberi hormat kepada yang
lain dan berkata, “Maafkan aku. Maafkan aku.”
Sambil berbicara ia berjalan ke depan tandu Lim Sian-ji.
Lim Sian-ji tersenyum dan berkata, “Seorang pedagang
memang selalu memiliki sopan santun yang tinggi. Kau
tampak seperti Loya (tuan besar) saja.”
Orang ini tersenyum cerah dan berkata, “Ah, aku hanya
pelayanmu Nona. Tanpa belas kasihan Nona, aku ini
bukan apa-apa. Aku sama sekali tidak pantas disebut
Loya (tuan besar).”

848
Lim Sian-ji menjawab dengan lembut, “Pelayan, majikan,
apalah bedanya? Bisnisku adalah bisnismu juga. Jika kau
terus bekerja dengan giat, tidak lama lagi usaha ini akan
jadi milikmu sendiri.”
Wajah si lelaki bersemu merah.
Ia terus-menerus berterima kasih pada Lim Sian-ji,
sebelum mengeluarkan setumpuk uang kertas dari
sakunya dan menghaturkannya dengan hormat kepada
Lim Sian-ji. Katanya, “Ini adalah penghasilan tahun lalu.
Semuanya dalam bentuk uang kertas dari Bank ‘Tonghok-
ho” juga.”
Sahut Lim Sian-ji, “Ah, kau sudah bekerja begitu keras.
Aku tahu kau memang orang yang sangat jujur dan
rajin….”
Sambil berbicara Lim Sian-ji menerima kertas-kertas bank
itu dan mulai menghitungnya. Tiba-tiba suaranya
berubah bengis. Tanpa sedikit pun kelembutan ia
berkata, “Mengapa cuma ada 6000 tail?”
Kata Sun-hoan, “6300 tail.”
Tanya Lim Sian-ji tajam, “Tahun sebelumnya berapa?”
“9400 tail.”
“Dan sebelumnya lagi?”
Sun-hoan menyeka peluh yang mulai bercucuran.
Jawabnya, “Kurasa….lebih dari 10000 tail.”

849
Lim Sian-ji tersenyum sinis. Katanya, “Kau memang
hebat. Kau sanggup membuat usaha itu semakin kecil
saja tiap tahunnya. Beberapa tahun lagi kurasa aku bisa
menutup saja toko-toko itu.”
Kini seluruh tubuh Sun-hoan basah kuyup oleh keringat.
Ia berbicara terbata-bata, “Dua tahun terakhir ini, jubah
kain satin tidak lagi digemari. Penghasilan dari kain
popLim pun kurang bagus. Tapi aku yakin, tahun depan
pasti lebih baik.”
Lim Sian-ji berpikir sejenak, lalu berkata dengan lembut,
“Aku tahu kau sudah begitu bersusah-payah dua tahun
terakhir ini. Sebaiknya kau kembali ke kampung
halamanmu dan beristirahat.”
Wajah Sun-hoan langsung berubah total. “Ta…tapi, tokotoko
itu….”
Sahut Lim Sian-ji cepat, “Jangan kuatir, akan kusuruh
orang lain untuk mengurusnya.”
Kini wajah Sun-hoan sangat pucat dan penuh
kemarahan. Ia mundur selangkah demi selangkah. Lalu
tiba-tiba meloncat dan lari masuk ke hutan.
Setelah ia berlari beberapa langkah, terlihat sinar terang
berkilat.
Di antara suara jeritan keras, darah mengucur deras ke
tanah. Dan tubuhnya pun berdebam jatuh.

850
Sebilah pedang baja berwarna hijau terlihat di tangan si
pemuda berjubah biru. Darah menetes dari ujungnya.
Si baju abu-abu memandang pemuda itu sekilas, namun
wajahnya tetap kaku. Katanya singkat, “Jurus pedang
yang bagus.”
Si pemuda berjubah biru tidak menggubrisnya sedikitpun.
Ia lalu membersihkan noda darah dari sol sepatunya.
Lalu diputarnya pedang itu dengan gaya yang indah
sebelum dimasukkannya ke dalam sarungnya.
Si baju abu-abu pun tidak berkata apa-apa lagi. Ia berdiri
di situ saja.
Ia menunggu sekian lama, sampai ia pasti bahwa si
pemuda berjubah biru tidak akan berbicara. Lalu ia maju
perlahan-lahan ke depan tandu.
Mungkin Lim Sian-ji tahu bahwa orang ini tidak dapat
digerakkan dengan kata-kata manis. Oleh sebab itu ia
segera menuju ke pokok pembicaraan. Katanya, “Apakah
Liong Siau-hun sudah kembali ke Hin-hun-ceng?”
Si baju abu-abu menjawab, “Ya, sudah hampir dua
minggu. Ia kembali bersama Oh Put-kiu, juga bersama
dengan seseorang bershe Lu. Kudengar ia adalah
saudara tiri Lu Hong-sian. Kelihatannya ilmu silatnya pun
cukup tinggi.”
Tanya Lim Sian-ji lagi, “Bagaimana dengan Si Bungkuk
Sun?”

851
“Ia masih ada di warung itu. Ia menyembunyikan jati
dirinya dengan sangat ketat. Tidak seorang pun tahu apa
pun tentang dia.”
Kata Lim Sian-ji, “Namun aku tahu kau pasti dapat
mengetahuinya cepat atau lambat. Tidak ada sesuatu
pun yang dapat lolos dari pandanganmu.”
Si baju abu-abu tersenyum bangga. “Perkiraanku, si
bungkuk itu ada hubungan keluarga dengan tukang
cerita Si Tua Sun. Mungkin ia adalah ‘Si Gunung di
Punggung, Si Penghancur Gunung’, Jisuheng Sun yang
terkenal di masa lalu itu.”
Lim Sian-ji terlihat agak terkejut mendengar hal ini.
Setelah berpikir-pikir, ia berkata, “Coba kumpulkan lagi
informasi yang lebih banyak. Besok….”
Suaranya terdengar semakin lembut. Si baju abu-abu
harus mendekat untuk bisa mendengarnya. Setelah
mendengar beberapa kalimat, wajahnya yang selalu
terlihat kaku menjadi berbinar-binar. Ketika ia melangkah
pergi, langkah-langkahnya pun menjadi lebih ringan dan
lebih hidup.
Lim Sian-ji memang sungguh tahu bagaimana
menghadapi laki-laki.
Lalu lengan Lim Sian-ji keluar dari tandu itu dan memberi
tanda pada si jubah hitam untuk datang mendekat.
Si jubah hitam berdiri di situ seakan-akan terhipnotis.

852
Kata Lim Sian-ji dengan lembut, “Mendekatlah. Aku ingin
bicara denganmu. Besok malam…..”
Ia berbisik mesra ke telinga si jubah hitam.
Si jubah hitam tersenyum bahagia sambil menganggukangguk.
Sahutnya, “Ya…ya….ya… Aku mengerti….. Mana
mungkin aku bisa lupa?”
Waktu ia berjalan pergi, seakan-akan tubuhnya
bertambah tinggi satu meter.
Setelah orang itu tidak kelihatan lagi, si pemuda berjubah
biru berjalan mendekat dan berkata dingin, “Nona Lim.
Kau benar-benar orang sibuk.”
Lim Sian-ji mendesah dan menyahut, “Apa lagi yang
dapat kulakukan? Mereka semua tidak seperti engkau.
Aku harus berhati-hati terhadap mereka.”
Ia mengulurkan tangannya dan merengkuh tangan
pemuda itu. Ia berkata dengan manja, “Apakah kau
masih marah?”
Wajah si pemuda tetap garang. “Mmmhh.”
Lim Sian-ji terkekeh geli. “Lihatlah dirimu. Seperti anak
kecil saja. Ayo naik ke tandu, akan kuredakan
amarahmu.”
Si pemuda berjubah biru masih ingin bersikap garang,
namun akhirnya tidak tahan juga untuk tidak tersenyum.

853
Saat itulah terdengar jeritan melengking….
Jeritan itu berasal dari dalam hutan.
Si jubah abu-abu sudah masuk ke dalam hutan, namun
saat itu ia melangkah mundur satu-satu. Terlihat jejak
darah mengikuti langkah mundurnya.
Si jubah hitam yang baru akan masuk ke dalam hutan
jadi berhenti di tempat karena melihat pemandangan itu.
Si jubah abu-abu tersungkur di depan kakinya.
Apakah si jubah abu-abu melihat hantu di dalam hutan?
Hantu yang bisa membunuh?
Si jubah hitam tercekat. Ia mengambil pisau dari kakinya.
Ia menatap ke arah hutan lebat itu, dan berkata dengan
terbata-bata, “Siapa di sana?”
Tidak ada suara apapun yang menjawab. Setelah
beberapa saat, seseorang keluar dari sana.
Orang ini sangat jangkung. Ia memakai topi bambu yang
sangat lebar sampai menutupi seluruh wajahnya. Ia
berjalan dengan sangat aneh. Ia pun menempatkan
pedangnya di posisi yang tidak biasa. Pedang itu terlibat
begitu saja di pinggangnya.
Pedang itu tidak panjang dan tidak bersarung.

854
Wajah orang ini pun tidak menakutkan. Namun ketika si
jubah hitam melihatnya, tubuhnya langsung gemetaran.
Keringat dingin membasahi tangannya.
Orang itu memancarkan hawa pembunuhan yang sangat
kuat.
Hing Bu-bing.
Karena Hing Bu-bing masih hidup, pasti Li Sun-Hoanlah
yang mati.
Lim Sian-ji tersenyum menang.
Namun ia hanya tersenyum dalam hatinya. Wajahnya
sangat ketakutan. Ia memeluk si pemuda erat-erat,
katanya, “Orang itu mengerikan sekali. Tahukah kau
siapa dia?”
Si pemuda berjubah biru memaksakan seulas senyum,
katanya, “Tidak jadi soal dia itu siapa. Selama aku ada di
sini, kau tak perlu merasa takut.”
Kata Lim Sian-ji, “Aku tidak takut. Aku tahu kau akan
melindungi aku. Selama aku ada di sampingmu, tidak
akan ada yang dapat menyakitiku.”
Si pemuda berjubah biru membusungkan dadanya. “Baik.
Siapapun dia, jika dia berani mendekat, akan kucabut
nyawanya!”
Sebetulnya ia sangat takut melihat hawa membunuh
Hing Bu-bing. Tapi ia masih amat muda dan ia sama

855
sekali tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita yang
dicintainya.
Hing Bu-bing berdiri di hadapan si jubah hitam.
Si jubah hitam masih memegang pisaunya. Pisau yang
telah menelan begitu banyak korban. Namun saat ini
pisau itu tidak dapat menyerang.
Ia menatap mata Hing Bu-bing yang kosong.
Hing Bu-bing sendiri seperti tidak melihatnya. Ia hanya
bertanya dingin, “Dapatkah pisau di tanganmu itu
membunuh orang?”
Si jubah hitam diam mematung.
Pertanyaan itu terdengar bodoh. Namun karena
seseorang menanyakannya, ia harus menjawab. Maka
jawabnya, “Tentu saja bisa.”
Kata Hing Bu-bing, “Bagus. Bunuhlah aku.”
Si jubah hitam ragu-ragu sesaat, lalu berkata, “Kita kan
bukan musuh. Mengapa aku harus membunuhmu?”
Sahut Hing Bu-bing, “Karena jika kau tidak
membunuhku, akulah yang akan membunuhmu.”
Si jubah hitam mundur beberapa langkah. Ia
mengertakkan giginya dan tiba-tiba pisau itu teracung ke
depan secepat kilat.

856
Saat pisaunya teracung, sebilah pedang pun berkilat di
tengah gelapnya malam.
Terdengarlah suara jeritan keras. Hing Bu-bing masih
berdiri dengan pedang di pinggangnya, seolah-olah tidak
bergerak sedikitpun.
Betapa cepatnya pedang itu!
Si pemuda berjubah biru adalah seorang ahli pedang
yang ternama. Ia selalu berpikir bahwa jurus pedangnya
sangatlah cepat. Tak pernah terpikir olehnya ada yang
lebih cepat lagi.
Sampai saat ini.
Lim Sian-ji melihat urat-urat di wajah pemuda itu
menegang. Tiba-tiba dikendurkannya pelukannya dan
berkata, “Pedang orang ini sangat terlalu dahsyat.
Kau…kau lari saja. Jangan pedulikan aku.”
Jika si pemuda berjubah biru itu sudah berusia empat
puluh atau lima puluh tahun, ia pasti akan segera
mengikuti perkataan Lim Sian-ji. Jika seseorang sudah
hidup sekian lama, ia pasti tahu bahwa hidup itu jauh
lebih berharga daripada wajah yang cantik. Jika ada yang
berkata, ‘Hidup itu sangat berharga, namun cinta itu
lebih berharga’, orang itu pastilah seorang muda yang
masih hijau.
Dan orang seperti itu tidak mungkin hidup sampai lima
puluh tahun.

857
Si pemuda berjubah biru mengertakkan giginya dan
berteriak, “Jangan kuatir. Akan kubereskan dia!”
Namun tidak ada semangat dalam kata-katanya. Ia pun
tidak mulai menyerang.
Kata Lim Sian-ji, “Tidak…kau tidak boleh mati. Kau masih
punya orang tua, istri dan anak-anak yang harus kau
pikirkan. Larilah selagi masih ada kesempatan. Aku akan
manahan dia sedapat mungkin. Aku tidak punya sanak
saudara. Tidak ada yang peduli apakah aku hidup atau
mati.”
Si pemuda berjubah biru meraung keras dan menerjang
ke muka.
Lim Sian-ji pun tersenyum.
Jika seorang wanita menginginkan seorang laki-laki
berkorban untuk dirinya, cara yang terbaik adalah
dengan mengungkapkan rasa cintanya pada si lelaki.
Bahwa ia rela berkorban jiwa raga demi si lelaki.
Lim Sian-ji sudah menggunakan cara ini ratusan kali.
Selalu berhasil.
Kali ini, ia bukan hanya tersenyum dalam hati. Di
wajahnya pun terlihat senyumnya yang cantik.
Karena ia tahu, inilah terakhir kali si pemuda berjubah
biru dapat melihat senyumannya.

858
Pemuda ini bukan hanya mahir ilmu pedang, namun
pedangnya pun pedang pusaka.
Sekejap saja ia telah menyerang Hing Bu-bing lima kali.
Namun ia tidak berkata apa-apa, karena ia menyadari
perkataannya tidak akan berarti apa-apa.
Hing Bu-bing tidak menyerang.
Kelima serangan itu diarahkan ke tempat-tempat yang
sangat berbahaya, namun tidak satupun mengenai
sasaran.
Tiba-tiba Hing Bu-bing bertanya, “Apakah kau dari aliran
Tiam-jong-pay?”
Si pemuda berjubah biru tertegun. Serangannya yang
Keenam batal.
Ia tidak menyangka bahwa orang itu dapat mengenali
jurus pedang gurunya yang istimewa.
Tanya Hing Bu-bing lagi, “Apa hubunganmu dengan Cia
Thian-leng?”
Si pemuda berjubah biru menjawab terbata-bata, “Ia…Ia
adalah guruku.”
Kata Hing Bu-bing singkat, “Aku telah membunuh Kwe
ko-yang.”

859
Kalimat ini seakan-akan berasal dari antah berantah.
Sama sekali tidak berhubungan dengan percakapan
mereka.
Namun si pemuda berjubah biru mengerti apa
maksudnya.
Bab 50. Perangkap Kelembutan
Cia Thian-leng adalah ketua aliran Tiam-jong-pay. Ia
dijuluki Si Pedang Pertama Langit Selatan. Ia tidak
pernah menemukan lawan setanding dalam hidupnya,
kecuali tiga kali dikalahkan oleh Kwe ko-yang. Tigatiganya,
ia kalah telak.
Jika seseorang mampu membunuh Kwe ko-yang, sudah
pasti ia lebih baik daripada Cia Thian-leng. Murid Cia
Thian-leng bukanlah lawannya.
Wajah si pemuda berjubah biru menjadi muram.
Setiap orang bisa merasakan bahwa Hing Bu-bing
bukanlah seseorang yang gemar menyombongkan diri.
Kata Hing Bu-bing, “Aku bisa membunuhmu dalam satu
jurus. Kau percaya?”
Si pemuda berjubah biru hanya menggigit bibirnya. Ia
tidak menyahut.

860
Terlihat sebilah pedang berkelebat. Pedang Hing Bu-bing
yang muncul entah dari mana.
Ujung pedang yang dingin itu berada tepat di depan
leher si pemuda.
Kata Hing Bu-bing sekali lagi, “Aku bisa membunuhmu
dalam satu jurus. Kau percaya?”
Keringat membasahi wajah si pemuda berjubah biru. Ia
menggigit bibir kuat-kuat sampai berdarah. Lalu ia
berteriak, “Bunuh saja aku!”
“Kau ingin mati?”
“Seorang pria sejati tidak takut mati. Silakan saja bunuh
aku!”
Tanya Hing Bu-bing, “Jika aku tidak ingin membunuhku,
apakah kau masih ingin mati?”
Si pemuda berjubah biru terhenyak.
Kalau tidak harus mati, siapakah yang ingin mati?
Kata Hing Bu-bing, “Aku tahu kau ingin mati demi wanita
itu. Supaya ia berpikir bahwa kau adalah pahlawan
penyelamatnya. Tapi jika kau benar-benar mati, apakah
ia masih menyukaimu?”
Ia menambahkan dengan dingin, “Jika ia mati, masihkah
kau mencintainya?”

861
Si pemuda berjubah biru tidak bisa menjawab.
Ia merasa ujung pedang yang dingin itu menjauh dari
lehernya.
Ia merasa seperti seorang tolol.
Kata Hing Bu-bing, “Dalam pandangan seorang wanita,
seratus pahlawan yang mati lebih kecil nilainya daripada
seorang pengecut yang masih hidup. Sama seperti dalam
pandanganmu, seratus wanita cantik yang mati tidak ada
harganya dibandingkan dengan seorang wanita yang
hidup….. Mengertikah engkau?”
Si pemuda berjubah biru menyeka keringat dari
wajahnya. “Aku mengerti.”
Tanya Hing Bu-bing, “Jadi apakah kau masih ingin mati?”
Si pemuda menjawab dengan wajah merah, “Hidup juga
bukan hal yang jelek.”
Kata Hing Bu-bing, “Bagus. Akhirnya kau mengerti.”
Lanjutnya lagi, “Biasanya aku tidak suka bicara berteletele,
namun hari ini aku sudah bicara begitu banyak,
hanya supaya kau mengerti akan hal ini….. Sekarang kau
sudah mengerti, jadi aku bisa membunuhmu.”
Si pemuda berjubah biru jadi terkejut. “Kau ingin
membunuhku?”

862
Sahut Hing Bu-bing, “Aturannya adalah aku hanya
bertanya, tidak pernah menjawab. Tapi aku selalu
membuat perkecualian bagi orang yang sebentar lagi
akan mati.”
“Ta….Tapi kalau kau ingin membunuhku, buat apa kau
katakan semua nasihat itu?”
“Karena aku tidak pernah membunuh orang yang ingin
mati…. Jika kau memang ingin mati, aku tidak mendapat
kepuasan apa-apa waktu membunuhmu.”
Maka si pemuda pun meraung keras dan segera
menyerang dengan pedangnya.
Tapi teriakan itu terpotong pendek, karena saat ia
mengangkat tangannya, pedang Hing Bu-bing sudah
masuk ke dalam mulutnya. Ujungnya yang tajam dan
dingin telah menembus lidahnya.
Rasanya asin.
Akhirnya ia merasakan kematian.
Pedang itu masuk kembali ke dalam sarungnya.
Hing Bu-bing punya kebiasaan yang baik. Ia selalu
menyimpan pedang di dalam sarungnya setelah
digunakannya. Seolah-olah ia tidak akan
menggunakannya lagi dalam waktu dekat.
Ia tahu, jika orang melihat pedangnya berada dalam
sarungnya, mereka akan menjadi lebih sembrono.

863
Ia suka orang yang sembrono. Mereka biasanya mati
lebih cepat.
Selama itu Lim Sian-ji hanya memandanginya,
mengawasi setiap gerakannya. Di wajahnya terbayang
seulas senyum yang lembut, seperti seorang gadis
memandang kekasihnya.
Hing Bu-bing sedikitpun tidak memandangnya.
Lim Sian-ji berdiri dengan gaya menantang, namun Hing
Bu-bing masih tetap mengacuhkannya.
Walaupun wajahnya masih tersenyum, Lim Sian-ji mulai
merasa gelisah.
Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Setiap lelaki yang pernah tidur dengan dia akan berusaha
memandangnya setiap ada kesempatan. Namun mata
orang ini sengaja menghindarinya seperti menghindari
racun.
Sebaliknya, kedua pengangkat tandu itu memandangi
Lim Sian-ji sampai mata mereka seolah-olah akan copot
sewaktu-waktu. Mereka tidak melihat sinar pedang yang
berkelebat.
Tiba-tiba keduanya menjerit, dan pedang Hing Bu-bing
telah kembali ke dalam sarungnya.
Kini ia berdiri di depan Lim Sian-ji.

864
Matanya yang dingin dan mati tetap memandang ke
kejauhan.
Hanya ada kegelapan pekat di kejauhan.
Lim Sian-ji mendesah, katanya, “Mengapa kau tidak mau
memandangku? Apakah kau kuatir bahwa setelah
memandangku, kau tidak sanggup membunuhku?”
Otot-otot di sekitar bibir Hing Bu-bing bergerak-gerak.
Setelah sekian lama, akhirnya ia berkata, “Kau tahu
bahwa aku datang untuk membunuhmu?”
Lim Sian-ji mengangguk dan berkata, “Aku tahu….
Betapapun dinginnya, kejamnya seseorang, kalau ia
harus membunuh seseorang yang dicintainya, wajahnya
pasti akan berbeda.”
Ia melanjutkan sambil tersenyum, “Aku hanya ingin
menanyakan satu hal saja. Karena sebentar lagi aku akan
mati, kau pasti mau menjawab, bukan?”
Hing Bu-bing diam saja. Namun akhirnya ia menyahut,
“Tanyakan saja. Di depan orang yang sebentar lagi mati,
aku tidak pernah berbohong.”
Lim Sian-ji menatap wajah Hing Bu-bing yang kaku dan
bertanya, “Aku hanya ingin bertanya, siapakah yang
menyuruhmu untuk membunuh aku? Apa alasannya?”
Hing Bu-bing mengepalkan tangannya kuat-kuat, lalu
berseru, “Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada alasan.”

865
Kata Lim Sian-ji, “Pasti ada orang lain….karena kau pasti
tidak ingin membunuhku….”
Lim Sian-ji tertawa dingin. Lalu ia berkata dengan suara
pelan, “Aku tahu kau mencintaiku, dan kau tidak akan
pernah menyakitiku.”
Hing Bu-bing mengepalkan tangannya makin kuat. Suara
tulang yang gemeretak hampir bisa terdengar.
Namun wajahnya tetap kaku. Ia bertanya, “Apakah kau
betul-betul tahu? Apakah kau sungguh yakin?”
Sahut Lim Sian-ji, “Ya, aku sungguh yakin. Jika kau tidak
mencintaiku, kau tidak akan membunuh orang-orang ini.”
Hing Bu-bing diam saja, memberi kesempatan bagi Lim
Sian-ji untuk terus bicara.
Sambung Lim Sian-ji, “Kau membunuh mereka….karena
kau cemburu pada mereka.”
Dahi Hing Bu-bing berkerut. “Cemburu?”
Sahut Lim Sian-ji, “Setiap orang yang pernah
menyentuhku, bahkan hanya melihatku, kau ingin
membunuhnya. Itu namanya cemburu. Jika kau tidak
mencintaiku, buat apa cemburu?”
Wajah Hing Bu-bing pucat seperti kertas. Ia berkata
dengan dingin, “Aku hanya tahu bahwa aku ingin
membunuhmu Dan jika aku ingin membunuh seseorang,
orang itu tidak mungkin bisa hidup lebih lama!”

866
Kata Lim Sian-ji, “Jika kau benar-benar ingin
membunuhku, mengapa tak kau pandang diriku sama
sekali? Kau takut?”
Tangan Hing Bu-bing memegang pedangnya erat-erat. Di
bawah sinar bulan yang remang-remang sekalipun,
terlihat jelas keringat membasahi wajahnya.
Keringat dingin.
Lim Sian-ji menatap wajahnya lekat-lekat. Perlahan-lahan
ia berkata, “Melihatku saja kau tidak sanggup. Jika kau
membunuhku, kau pasti akan menyesal.”
Ia mengulurkan tangannya, ingin melihat apa reaksi Hing
Bu-bing.
Hing Bu-bing diam tidak bergeming.
Akhirnya, tangan Lim Sian-ji merengkuh tangan Hing Bubing.
Dan ia segera menghambur ke pelukan lelaki itu.
Katanya, “Jika kau tidak dapat mengambil keputusan,
bawalah aku padanya.”
Belaian Lim Sian-ji sangat lembut, dan ia benar-benar
tahu kapan harus berhenti.
Nafas Hing Bu-bing memburu. Tampak jelas bahwa ia
sangat gelisah. “Si…siapa yang ingin kau temui?”
Sahut Lim Sian-ji, “Orang yang menyuruhmu untuk
membunuhku. Aku tahu aku akan dapat mengubah
pikirannya….”

867
Ia menggigit telinga lelaki itu dengan mesra. Katanya
lagi, “Jangan kuatir, kau tidak akan menyesali
keputusanmu ini.”
Hing Bu-bing tetap tidak mau memandangnya. Namun
kepalanya menoleh ke arah hutan yang gelap itu.
Lim Sian-ji memutar bola matanya dan berbisik, “Apakah
ia ada di dalam hutan?”
Hing Bu-bing tidak menjawab. Ia tidak perlu menjawab.
Lim Sian-ji berkata dengan lembut, “Baiklah, akan
kutemui dia sekarang. Jika ia tetap tidak mau
melepaskan aku, maka kau boleh membunuhku.”
Setelah Lim Sian-ji memutar badan, barulah Hing Bu-bing
berani memandangi punggungnya. Di tengah-tengah
tatapannya yang kelabu dan mati, untuk pertama kali
terlihat sebersit perasaan.
Perasaan apakah itu? Bahagia? Sedih? Benci?
Ia sendiri pun tidak tahu.
Tidak ada cahaya sama sekali dalam hutan itu.
Walaupun Lim Sian-ji berjalan pelan-pelan, ia tiba-tiba
hampir menabrak seseorang.
Orang itu hanya berdiri saja di situ, seperti sebuah
gunung. Seperti sebuah gunung es.

868
Lim Sian-ji bisa saja menghindarinya, namun ia sengaja
menubruknya. Tubuhnya jatuh ke dada orang itu.
Orang itu diam saja, tidak berusaha menahan tubuhnya
supaya tidak jatuh.
Lim Sian-ji berusaha mengatur nafasnya dan berusaha
mengembalikan keseimbangan tubuhnya. Katanya, “Di
sini gelap sekali…. Maafkan aku.”
Jaraknya dari orang itu kira-kira satu kaki. Ia yakin
bahwa orang itu dapat mencium wangi nafasnya. Ia
sungguh yakin bahwa nafasnya dapat menggetarkan hati
lelaki manapun.
Namun orang itu berbicara dengan tenang, “Apakah kau
menggunakan cara ini juga supaya Hing Bu-bing tidak
membunuhmu?”
Kata Lim Sian-ji, “Oh, engkaukah yang ingin
membunuhku? Apakah engkau Siangkoan-pangcu?”
Jawab orang itu, “Ya. Aku juga bisa memberitahukan
padamu bahwa cara ini tidak akan berhasil menaklukkan
aku.”
Nada suaranya tidak dingin, tidak juga kejam, tapi datar
saja, tanpa emosi. Perkataannya seolah-olah sedang
dibacakan dari sebuah buku.
Tanya Lim Sian-ji, “Lalu cara apa yang dapat
menaklukkanmu?”

869
Jawab Siangkoan Kim-hong, “Jika kau masih punya caracara
yang lain, silakan dicoba saja.”
Kata Lim Sian-ji, “Aku tahu bahwa kau bukan laki-laki
yang mudah dirayu. Tapi mengapa kau menyuruh Hing
Bu-bing untuk membunuhku?”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Seorang pembunuh yang
terlatih tidak boleh berperasaan. Dan tidak mudah
melatih seorang pembunuh yang kejam. Aku tidak ingin
ia rusak hanya karena engkau.”
Lim Sian-ji tertawa. Katanya, “Tapi jika engkau
membunuhmu, kerugianmu akan lebih besar.”
“O ya?”
“Karena aku lebih berguna daripada Hing Bu-bing.”
“O ya?”
Sahut Lim Sian-ji, “Hing Bu-bing hanya tahu bagaimana
caranya membunuh. Akupun tahu bagaimana caranya
membunuh. Ia harus membunuh menggunakan pedang
dan menumpahkan darah. Aku dapat membunuh tanpa
senjata, tanpa ada darah.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Tapi ia bisa membunuh lebih
cepat daripada engkau.”
“Bukankah kadang-kadang lebih baik membunuh
perlahan-lahan?”

870
Siangkoan Kim-hong termenung lama. Akhirnya ia
bertanya, “Selain membunuh, apa kehebatanmu yang
lain?”
Jawab Lim Sian-ji, “Aku punya banyak uang. Begitu
banyak sampai tidak terhitung. Sangat banyak sampai
tidak habis dibelanjakan.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Itu memang sangat hebat.”
Perkataannya seolah-olah mengandung senyum, karena
ia tahu persis kegunaan uang yang banyak.
Sambung Lim Sian-ji, “Aku juga sangat pandai. Aku bisa
membantumu dalam banyak masalah.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Kau benar. Orang bodoh
tidak mungkin jadi kaya.”
“Selain itu, aku juga bisa memberikanmu satu hal yang
lain….”
Suaranya semakin lembut sampai seperti berbisik saja.
Lanjutnya, “Kalau kau laki-laki, kau akan segera tahu.”
Setelah berpikir sejenak, Siangkoan Kim-hong berkata,
“Aku laki-laki.”
Kabut menyelimuti seantero hutan itu.
Tubuh Hing Bu-bing terlibat oleh kabut itu.

871
Ia berdiri diam tidak bergerak. Seolah-olah tubuhnya
adalah sebatang pohon.
Kabut itu sangat tebal. Tidak ada sesuatupun yang
terlihat.
Suara apakah itu? Erangan? Atau helaan nafas?
Kata Lim Sian-ji, “Sudah hampir fajar. Aku harus pulang.”
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Kenapa?”
“Seseorang menungguku.”
“Siapa?”
“A Fei. Kau pasti pernah mendengar tentang dia.”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Tak kusangka kau belum
membunuhnya. Kau membuang terlalu banyak waktu.”
Kata Lim Sian-ji, “Aku tak bisa membunuhnya. Juga tidak
berani.”
“Kenapa?”
“Jika aku membunuhnya, Li Sun-Hoan pasti akan
membunuhku.”
Siangkoan Kim-hong terdiam.
Lim Sian-ji menghela nafas. “Aku tahu kau belum
membunuh Li Sun-Hoan. Kalau sudah, kau tidak akan

872
menyuruh Hing Bu-bing untuk membunuhku. Kau masih
membutuhkan Hing Bu-bing untuk membunuh Li Sun-
Hoan, sehingga kau menginginkan dia dalam kondisi
prima.”
Siangkoan Kim-hong berpikir lama sebelum menyahut,
“Apakah kau benar-benar takut sekali pada Li Sun-
Hoan?”
“Aku takut setengah mati padanya.”
“Kau lebih takut padanya daripada aku?”
“Ya. Ia lebih parah daripada engkau. Karena aku masih
dapat menggerakkan hatimu, tapi aku tidak dapat
menyentuh hatinya.”
Ia mendesah dan menambahkan, “Ia tidak menginginkan
apapun juga. Itulah yang membuat dia menjadi sangat
berbahaya.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Tapi ia kan manusia juga. Ia
pasti punya kelemahan.”
Sahut Lim Sian-ji, “Satu-satunya kelemahannya adalah
Lim Si-im. Tapi aku tidak dapat menggunakan Lim Si-im
untuk mengancamnya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak yakin bisa berhasil. Setiap kali aku
melihat Li Sun-Hoan memegang pisau, kepercayaan
diriku melayang entah ke mana.”

873
Ia menghirup nafas panjang dan melanjutkan, “Selama ia
masih hidup, aku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap A
Fei.”
Siangkoan Kim-hong berpikir sekian lama, lalu berkata,
“Jangan kuatir. Ia tidak akan hidup lama.”
Bab 51. Peristiwa Aneh
Kabut mulai menipis.
Hing Bu-bing masih berdiri tegak di tempat yang sama.
Matanya yang kelabu dan mati tertuju pada embun yang
menetes di salah satu sisi topinya.
Ia seperti tidak melihat Siangkoan Kim-hong yang
berjalan keluar hutan sendirian.
Siangkoan Kim-hong pun tidak memandangnya. Ia
berjalan terus melewati Hing Bu-bing dan berkata
dengan ringan, “Ada kabut hari ini. Pasti hari baik.”
Hing Bu-bing terlihat ragu-ragu sesaat, lalu berkata, “Ada
kabut hari ini. Pasti hari baik.”
Ia memutar badannya dan berjalan seirama di belakang
Siangkoan Kim-hong. Seorang di muka, seorang di
belakang. Keduanya lenyap ditelan kabut.
***
Jalanan sangat ramai, hampir seramai Jembatan Langit di
Ibukota. Banyak macam barang yang bisa dibeli di sini.

874
Hari belum lagi siang, namun para pedagang sudah mulai
mendirikan tenda-tenda di tepi jalan. Macam-macam
makanan, macam-macam orang menari dan menyanyi,
macam-macam pembeli.
Perasaan Ling Ling meluap-luap melihat pemandangan
yang meriah ini. Ia belum pernah merasa bahagia seperti
ini.
Dia memang masih anak-anak.
Ia tidak menyangka Li Sun-Hoan akan mengajaknya ke
tempat seperti ini.
Ada kepolosan anak-anak dalam hati kecilnya.
Melihat Li Sun-Hoan memegang gulali, Ling Ling ingin
tertawa terbahak-bahak.
Mereka membeli beberapa tusuk gulali. Gulali yang
berwarna merah cerah, seperti batu mirah besar yang
berkilauan.
Semua anak gadis pasti suka perhiasaan. Ling Ling ingin
membeli semua gulali itu. Sayangnya ia hanya punya dua
tangan, dan tidak mungkin bisa membawa semuanya.
Seorang gadis tidak pernah merasa membeli terlalu
banyak.
Li Sun-Hoan harus membantu membawakan sebagian.

875
Sebenarnya, Li Sun-Hoan pun pernah membeli gulali.
Tapi sudah lama sekali. Waktu itu, ia belum paham apa
artinya duka lara, artinya kekuatiran.
Namun sekarang?
Yang pasti ia sedang menguatirkan sesuatu. Ia menatap
seseorang. Ia sudah menatap orang itu sejak lama.
Orang itu berjalan di depannya. Ia mengenakan jubah
yang kotor dan sepasang sandal jerami. Di atas
kepalanya bertengger sebuah topi jerami yang besar.
Orang ini terus menunduk, seolah-olah ia tidak ingin
melihat atau dilihat orang.
Ia berjalan seperti orang bungkuk. Namun terlihat
bahunya yang bidang. Kalau ia berdiri tegak, pasti ia
akan kelihatan gagah.
Tapi orang ini tidak kelihatan luar biasa. Paling-paling ia
hanya pesilat rendahan. Atau bahkan mungkin hanya
seorang pengemis biasa.
Namun Li Sun-Hoan tertarik padanya sejak pertama kali
melihatnya.
Ke manapun ia pergi, Li Sun-Hoan mengikutinya. Oleh
sebab itulah kini mereka ada di jalanan itu.
Anehnya, bukan hanya Li Sun-Hoan yang menguntitnya.

876
Sebetulnya Li Sun-Hoan berencana untuk menghampiri
dan melihat wajahnya. Tapi tiba-tiba ia melihat ada
orang lain yang menguntit pengemis itu.
Orang itu sangat kurus, sangat jangkung dan mempunyai
langkah yang sangat ringan. Walaupun pakaiannya
sederhana, mata orang itu bersinar terang, penuh
dengan semangat dan tenaga.
Li Sun-Hoan tahu orang ini pasti bukan orang
sembarangan.
Akan tetapi, orang itu tidak memperhatikan Li Sun-Hoan.
Pandangannya hanya tertuju pada si pengemis. Ketika si
pengemis mempercepat langkahnya, ia pun berjalan
lebih cepat. Waktu si pengemis berjalan pelan-pelan, ia
pun berjalan pelan-pelan. Waktu si pengemis berhenti, ia
pun berhenti dan pura-pura merapikan bajunya atau
mengikat sepatunya. Namun matanya tidak pernah lepas
dari pengemis itu.
Orang ini memang mata-mata yang hebat.
Tapi mengapa ia memata-matai seorang pengemis?
Apa tujuannya? Apa hubungan orang ini dengan si
pengemis?
Si pengemis sepertinya tidak tahu bahwa ia sedang
dikuntit. Ia terus berjalan perlahan-lahan, tidak pernah
menoleh ke belakang.

877
Jika seseorang memberinya uang, ia menerimanya
dengan sopan. Namun ia tidak pernah berusaha minta
uang.
Mata Ling Ling berputar terus. Tiba-tiba ditariknya lengan
baju Li Sun-Hoan dan bertanya, “Apakah kita mengikuti
pengemis itu?”
Gadis ini memang sangat pandai.
Li Sun-Hoan mengangguk dan berbisik padanya, “Oleh
sebab itu kita harus bicara pelan-pelan.”
“Siapakah dia? Mengapa kita membuntutinya?”
“Itu bukan urusanmu.”
Katan Ling Ling, “Itu sebabnya aku bertanya. Kalau kau
tidak mau menjawab, aku akan bertanya keras-keras.”
Li Sun-Hoan mendesah, katanya, “Ia seperti teman
lamaku.”
Ling Ling tampak terkejut. Katanya, “Teman lamamu?
Apakah ia anggota Partai Pengemis?”
“Tidak.”
“Lalu siapakah dia?”
Wajah Li Sun-Hoan tampak kesal. “Walaupun kuberi tahu
namanya, kau pasti tidak kenal.”

878
Ling Ling terdiam sejenak, lalu tiba-tiba bertanya, “Ada
orang lain yang membuntuti pengemis itu juga. Apakah
kau melihatnya?”
Li Sun-Hoan terkekeh. “Pandanganmu cukup cermat
juga.”
Ling Ling pun terkekeh dan bertanya lagi, “Siapakah
orang itu? Apakah ia temanmu juga?”
“Bukan.”
“O ya? Jadi apakah ia adalah musuh temanmu itu?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Mungkin….”
Tanya Ling Ling, “Lalu mengapa kau tidak
memperingatkan temanmu itu?”
Li Sun-Hoan mengeluh. “Temanku itu agak aneh
tabiatnya. Ia tidak suka orang lain membantunya.”
“Tapi….”
Ling Ling tidak menyelesaikan kalimatnya.
Ia sudah sibuk memperhatikan sesuatu yang lain.
Memandangnya dengan serius.
Jalan itu cukup panjang. Mereka baru berjalan separuh
saja.
Si pengemis berjalan melewati tukang pangsit.

879
Di dekatnya ada seorang penjual arak pikulan. Beberapa
pembeli sedang minum dekat si penjual arak. Ada juga
seorang peramal buta, wajahnya agak pucat.
Di seberang jalan berdiri seorang bertubuh kekar
berjubah hijau.
Seorang penjual tahu pikulan membawa dua keranjang
tahu yang bau lewat di dekatnya.
Terlihat pula seorang wanita yang sangat jangkung. Ia
sedang melihat-lihat alat-alat rias dan keperluan
menjahit. Tapi pada saat itu ia mengangkat wajahnya.
Satu matanya sudah buta.
Ketika si pengemis berjalan mendekat….
Tiba-tiba si penjual arak menurunkan pikulannya.
Si peramal buta menaruh cawan araknya.
Si lelaki kekar berjubah hijau berjalan keluar.
Si wanita bermata satu memutar badannya dengan
cepat, hampir saja membuat alat-alat rias di sampingnya
jatuh berantakan.
Selain orang kurus jangkung yang sejak tadi
menguntitnya, orang-orang ini mengelilingi si pengemis.
Si penjual tahu tiba-tiba berjalan ke depan si pengemis,
menghalangi langkahnya.

880
Ada banyak orang lain di jalan itu. Namun orang-orang
ini terlihat sangat menonjol. Bahkan Ling Ling pun
merasa ada sesuatu yang ganjil. Wajah Li Sun-Hoan
menjadi gelap. Ia sudah mengira sejak tadi bahwa si
pengemis adalah Thi Toan-kah. Kini ia tidak ragu-ragu
lagi.
Ia harus bersikap ekstra hati-hati.
Ia tahu orang-orang ini mempunyai dendam kesumat
terhadap Thi Toan-kah. Mereka pasti telah
merencanakan perangkap ini matang-matang. Tidak
memberi jalan sedikit pun bagi Thi Toan-kah untuk lolos.
Jika mereka tahu ada orang yang bermaksud menolong
Thi Toan-kah, mereka pasti akan membunuh orang itu
seketika.
Walaupun itu berarti mengorbankan nyawanya, Li Sun-
Hoan tidak akan membiarkan Thi Toan-kah disakiti
orang. Ia tidak berhutang pada banyak orang di dunia
ini. Tapi Thi Toan-kah adalah salah satunya.
Li Sun-Hoan tidak bisa kehilangan sahabat seperti dia.
Saat itu, orang-orang ini telah mengepung si pengemis.
Sekejap saja, tiga pisau yang sangat tajam telah
mengancam tubuh si pengemis. Orang-orang lain di jalan
itu segera menyadari apa yang terjadi, dan cepat-cepat
berlalu.
Tidak ada seorang pun yang ingin terlibat peristiwa
macam ini.

881
Terdengar si peramal buta berkata dingin, “Ayo ikut
dengan kami. Jangan bicara apapun juga. Mengerti?”
Si lelaki kekar berjubah hijau pun berkata, “Ikuti perintah
kami, dan kau akan hidup sedikit lebih lama. Jika kau
berbuat nekad, kau pasti akan mati seketika.”
Reaksi si pengemis sangat lamban. Setelah beberapa
lama, barulah ia mengangguk.
Si wanita bermata satu mendorongnya dari belakang.
Katanya, “Ayo jalan. Apa lagi yang kau tunggu?”
Karena dorongannya, topi jerami itu jatuh, dan terlihatlah
wajah pengemis itu.
Wajahnya tampak kuning, seperti baru saja sembuh dari
sakit parah. Hidungnya bengkok dan bersemu merah.
Mulutnya melebar, tersenyum tidak mengerti.
Apakah orang ini adalah Thi Toan-kah? Tentu saja
bukan. Ia tampak seperti orang terbelakang.
Li Sun-Hoan ingin tertawa.
Si wanita bermata satu menjadi sangat marah. Serunya
tidak sabar, “Gosuheng. Bagaimana ini bisa terjadi?”
Wajah si kurus jangkung pucat pasi. Katanya,
“Tapi…..aku tadi yakin bahwa orang ini adalah Thi Toankah.
Aku tidak pernah melepaskan pandanganku dari
dirinya. Bagaimana mungkin….bisa jadi begini?”

882
Si lelaki kekar berjubah hijau menampar wajah pengemis
itu dan membentak, “Siapa kamu?”
Si pengemis masih tersenyum seperti orang bodoh.
Katanya, “Aku ya aku. Kamu ya kamu. Mengapa kau
memukul aku?”
Kata si penjual arak, “Mungkin dia adalah Thi Toan-kah
yang sedang menyamar. Mari kucoba menanggalkan
topengnya.”
Si peramal buta segera berkata, “Tidak perlu. Orang ini
bukan Thi Toan-kah.”
Hanya wajah si buta saja yang tetap tenang dan dingin.
Si lelaki kekar bertanya, “Jisuheng, apakah kau
mengenali suaranya?”
Sahut si buta, “Thi Toan-kah lebih baik mati daripada
ditampar olehmu.”
Kata si kurus jangkung, “Orang ini pasti bersekongkol
dengan Thi Toan-kah. Entah bagaimana, mereka pasti
bertukar tempat, sehingga Thi Toan-kah bisa lolos.”
Si wanita bermata satu menjerit dengan marah,
“Bagaimana kau dapat membiarkannya lolos begitu
saja?”
Si kurus jangkung menundukkan kepalanya. Katanya,
“Mungkin….waktu ia pergi ke kamar kecil. Tapi aku kan
tidak bisa….”

883
Si lelaki kekar berjubah hijau membentak si pengemis
lagi, “Jadi kau bersekongkol dengan Thi Toan-kah ya.
Akan kubunuh kau!”
Ia mengangkat pikulannya hendak menghajar si
pengemis.
Saat itu, mau tidak mau Li Sun-Hoan harus campur
tangan.
Pengemis itu mungkin memang terbelakang, mungkin
juga tidak. Ia mungkin bersekongkol dengan Thi Toankah,
mungkin juga tidak. Tapi paling tidak ia telah
membantu Thi Toan-kah. Maka Li Sun-Hoan tidak bisa
membiarkan dia mati begitu saja.
Lagi pula, Li Sun-Hoan ingin menanyakan tentang Thi
Toan-kah kepada orang ini.
Tubuh Li Sun-Hoan menerjang ke depan.
Namun segera ia berhenti. Gerakan maju dan berhenti ini
berlangsung sekedip mata saja. Tidak ada yang tahu
bahwa ia sudah bergerak.
Kini ia tidak perlu lagi campur tangan.
Terdengar suara berderak dan pikulan si lelaki kekar
berjubah hijau itu patah menjadi dua. Ia pun kehilangan
keseimbangannya dan hampir terjungkal.

884
Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana pikulan itu
bisa patah. Wajah semua orang langsung tegang. Mereka
sama-sama berteriak, “Siapa yang berani ikut campur?”
Seseorang yang berdiri di samping sebuah toko
menjawab dengan tenang, “Aku.”
Semua orang menoleh le arah orang itu. Ia mengenakan
jubah putih bagai pualam. Tangannya berada di balik
punggungnya. Ia sedang melihat-lihat sangkar burung di
depan toko itu.
Burung di sangkar itu berkicau riang.
Si jubah putih seakan-akan menganggap burung itu jauh
lebih menarik daripada manusia. Ia tidak melirik sedikit
pun pada orang-orang ini.
Di sudut matanya terlihat kerut-kerut kecil. Namun
dengan alis yang lebat dan wajah yang putih bersih, lakilaki
ini terlihat sangat gagah. Tidak seorang pun bisa
menebak berapa usianya.
Si lelaki kekar berjubah hijau bertanya garang, “Jadi kau
yang mematahkan pikulanku?”
Kali ini si jubah putih tidak menggubrisnya sama sekali.
Si lelaki kekar dan si wanita bermata satu menjadi sangat
berang. Mereka ingin segera menghajar laki-laki ini.
Tiba-tiba si peramal buta berkata, “Berhenti.”

885
Ia memungut kepingan perak dari tanah dan berkata
dingin, “Walaupun tuan ini mematahkan pikulanmu,
kepingan peraknya dapat membeli beratus-ratus pikulan
yang baru. Kau seharusnya berterima kasih akan
kebaikan hatinya, bukan malah marah-marah.”
Si lelaki kekar berjubah hijau melihat pada pikulan yang
patah di tangannya, kemudian pada kepingan perak di
tangan si buta. Ia tidak bisa percaya bahwa kepingan
perak kecil itulah yang sudah mematahkan pikulannya.
Si jubah putih tiba-tiba tertawa. Katanya, “Baik.
Kelihatannya kau lebih bijaksana daripada orang-orang
yang bisa melihat. Kau boleh simpan perak itu.”
Si peramal buta menyahut dingin, “Mataku memang
buta, tapi hatiku tidak. Aku tidak mengambil apa yang
bukan hakku.”
Ia mengelus kepingan perak di tangannya dan
melanjutkan, “Satu uang perak cukup untuk membeli
satu pikulan baru. Kepingan perak ini paling tidak
berharga 10 tail. Kau tidak perlu mengganti begini
banyak.”
Sambil berbicara, ia menggosok-gosok kepingan perak
itu menjadi batang kecil. Lalu dengan sentilan tangan
kirinya, sebagian kecil batang itu putus. Kata si peramal
buta, “Terima kasih untuk uang perak ini. Silakan kau
ambil kembaliannya.”
Tangannya melambai dan sejalur perak terlihat mengalir
di udara. Batang perak kecil itu melesat ke arah si jubah

886
putih. Sambitan itu mengandung teknik ‘Seni Pedang
Kebajikan Ganda’ dari Bu-tong-pay.
Sejalur cahaya perak itu terarah pada lima Hiat-to (jalan
darah) utama di dada si jubah putih.
Ketika batang perak itu sampai dekat dada si jubah
putih, tiba-tiba ia menjepit batang perak itu dengan
tangan kanannya. Lalu dua jari yang memegang batang
perak itu dengan lambat mengatup dan memotong
batang perak itu.
Kata si jubah putih, “Jurus pedangmu cukup bagus juga.
Tapi sayang agak terlalu lambat.”
Sambil mengucapkan tiap kata, dipotong-potongnya
batang perak itu dengan jarinya. Ketika selesai bicara, 12
potongan perak telah jatuh ke tanah.
Ling Ling memperhatikan semuanya dari kejauhan. Ia
ternganga melihatnya dan berkata, “Apakah tangan
orang itu terbuat darah dan daging?”
Melihat potongan perak di tangan si buta, wajah semua
orang menjadi kelabu. Semuanya terdiam.
Si jubah putih berkata dingin, “Sekali kulemparkan
keping perak itu, itu sudah menjadi milikmu. Mengapa
tak kau ambil?”
Si peramal buta tiba-tiba membungkuk dan memunguti
potongan-potongan perak itu. Tanpa bicara ia memutar
badan dan pergi.

887
Semua orang yang lain pun pergi mengikutinya.
Ling Ling tersenyum dan berkata, “Paling tidak mereka
tahu kapan harus pergi.”
Li Sun-Hoan masih muram. Tiba-tiba ia berkata, “Kau
lihatkah toko pangsit itu?”
Jawab Ling Ling, “Tentu saja. Sudah sejak tadi aku ingin
mencoba pangsit di situ.”
Kata Li Sun-Hoan, “Bagus. Tunggu aku di situ.”
Ling Ling tampak ragu-ragu, lalu bekata, “Apakah kau
masih ingin mengejar si pengemis itu?”
Si pengemis sudah mulai berjalan lagi. Ia tidak berterima
kasih pada si jubah putih, juga tidak memandang siapa
pun juga.
Seolah-olah tidak ada yang baru saja terjadi.
Li Sun-Hoan mengangguk dan menjawab, “Aku perlu
menanyakan sesuatu padanya.”
Ling Ling menundukkan kepalanya dan bertanya pelan,
“Aku tidak boleh ikut?”
Jawab Li Sun-Hoan singkat, “Tidak.”
Air mata Ling Ling sudah hampir menetes. Katanya, “Aku
tahu apa yang kau perbuat. Kau bermaksud
meninggalkan aku di sini.”

888
Li Sun-Hoan mengeluh dan berusaha berbicara dengan
lembut, “Aku juga ingin mencicipi pangsit di situ.
Masakan aku tidak kembali?”
“Baik. Aku percaya padamu. Jika kau berbohong, aku
akan menunggumu di sini selama-lamanya.”
Si pengemis tidak berjalan cepat.
Li Sun-Hoan pun tidak terburu-buru mengejarnya. Ada
begitu banyak orang di jalan itu.
Di tengah-tengah keramaian tidak leluasa bercakapcakap.
Lagi pula, ia merasa bahwa si jubah putih pun
sudah mengawasinya. Seolah-olah kini ia lebih menarik
daripada burung-burung itu.
Li Sun-Hoan juga ingin berjumpa dengan si jubah putih.
Gayanya memotong batang perak dengan jarinya sangat
menarik hati Li Sun-Hoan.
Tidak banyak orang memiliki kemampuan seperti ini.
Sebenarnya, belum pernah Li Sun-Hoan menjumpai
seseorang dengan kekuatan jari seperti itu. Deskripsi
Ling Ling memang sangat tepat.
Tangan orang itu memang tidak terlihat seperti darah
dan daging.
Setiap pesilat tangguh yang menemui orang seperti dia,
pasti ingin melakukan dua hal. Menantang dia berduel,
atau minum bersama dengannya.

889
Di hari-hari lain, Li Sun-Hoan pun tidak akan berbeda.
Tapi hari ini tidak. Ia telah berusaha mencari Thi Toankah
sekian lama. Ia tidak dapat melepaskan kesempatan
ini.
Si jubah putih berjalan ke arah Li Sun-Hoan. Seolah-olah
ingin menghalangi jalannya.
Untungnya, kerumunan orang segera mengerubungi si
jubah putih. Mereka ingin melihat orang yang luar biasa
ini. Li Sun-Hoan menggunakan kesempatan itu untuk
menyelinap pergi.
Ketika ia melihat ke depan, si pengemis sudah sampai di
ujung jalan dan berbelok ke kiri.
Jalan ini jauh lebih sepi. Dan jauh lebih pendek.
Li Sun-Hoan segera pergi ke sana, namun si pengemis
sudah tidak tampak lagi. Li Sun-Hoan terus menyusuri
jalanan di depan jalan pendek itu. Tetap tidak ada
seorang pun yang kelihatan.
Ke mana perginya si pengemis itu?
Li Sun-Hoan memperlambat langkahnya dan mulai
mencari dengan seksama.
Jalan itu adalah jalan belakang rumah-rumah orang.
Seorang laki-laki duduk dekat sebuah pintu. Ia sedang
menggosok-gosok sesuatu di dadanya.

890
Sebelum ia melihat wajah orang itu, ia melihat topi
jerami itu.
Jadi si pengemis pergi ke situ.
Apa yang sedang dilakukannya?
Li Sun-Hoan tidak ingin si pengemis menjadi takut. Ia
berjalan perlahan-lahan.
Namun si pengemis masih ketakutan juga. Ia segera
berusaha menyembunyikan barang di tangannya.
Sayangnya, mata Li Sun-Hoan jauh lebih cepat daripada
tangan si pengemis. Ia melihat bahwa si pengemis
memegang sepotong perak. Satu potongan yang
dipotong oleh si jubah putih.
Li Sun-Hoan tersenyum dan bertanya, “Bolehkah kutahu
nama sahabat ini?”
Si pengemis menatapnya lama. Lalu ia menjawab, “Aku
bukan sahabatmu. Kau bukan sahabatku. Aku tidak
mengenalmu. Kau tidak mengenalku.”
Li Sun-Hoan masih tersenyum. Katanya, “Aku ingin
bertanya padamu tentang seseorang. Aku tahu kau pasti
mengenalnya.”
Bab 52. Jebakan
Si pengemis menggeleng-gelengkan kepalanya dan
berkata, “Aku tidak mengenal siapapun. Siapapun tidak

891
mengenalku. Aku tidak mengenal seorangpun.
Seorangpun tidak mengenal aku.”
Orang ini pasti agak terbelakang. Kalau tidak, buat apa ia
membuat jawaban yang singkat begitu bertele-tele?
Baru saja Li Sun-Hoan ingin bertanya lagi, si pengemis
sudah kabur.
Larinya cukup cepat, tapi ia pasti tidak bisa ilmu
meringankan tubuh. Sepertinya semua pengemis bisa
berlari cepat. Itulah keahlian mereka yang mendarah
daging.
Tentu saja Li Sun-Hoan bisa berlari lebih cepat.
Sambil berlari, si pengemis bertanya, “Apa yang kau
inginkan? Kau mau mengambil perakku?”
Lalu ia pun berteriak, “Tolong! Tolong! Ada orang yang
mau merampok uangku!”
Untungnya, di jalan ini sama sekali tidak ada orang.
Kalau tidak, Li Sun-Hoan tidak tahu apa yang harus
diperbuatnya. Apa sebutan untuk seseorang ingin
merampok seorang pengemis? Bandit kelas delapan?
Kata Li Sun-Hoan, “Aku tidak menginginkan uangmu.
Tapi jika kau bisa menjawab pertanyaanku, kau bisa
mendapatkan kepingan perak yang lebih besar lagi.”
Si pengemis termenung sejenak, lalu mengangguk.
Katanya, “Baiklah. Apa yang ingin kau ketahui?”

892
Kata Li Sun-Hoan, “Apakah kau mengenal seseorang
bernama Thi Toan-kah?”
Si pengemis menggelengkan kepalanya. “Aku tidak kenal
seorangpun. Bagaimana seorang pengemis bisa memiliki
teman?”
Tanya Li Sun-Hoan, “Kalau begitu, mengapa engkau
membantunya?”
Si pengemis menggelengkan kepalanya lagi. Katanya,
“Aku tidak pernah menolong orang lain. Orang lain tidak
pernah menolongku.”
“Jadi hari ini kau tidak pernah bertemu dengan seorang
lelaki tinggi, kekar, berkulit gelap dan berjenggot besar?”
Si pengemis berpikir sejenak dan menjawab, “Mungkin.”
Li Sun-Hoan bertanya dengan tidak sabar, “Di mana?”
“Di kamar kecil.”
“Kamar kecil?”
Si pengemis berkata, “Kamar kecil adalah tempat buang
air. Aku sedang buang air besar, ketika ia tiba-tiba
masuk. Ia bertanya apakah aku ingin uang untuk minum
arak.”
Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata, “Siapa yang tidak
mau uang minum arak.”

893
Si pengemis melanjutkan, “Tapi kulihat pakaiannya saja
lebih jelek daripada pakaianku. Bagaimana mungkin ia
punya uang untuk diberikan padaku?”
Li Sun-Hoan berkata dengan tersenyum, “Semakin kaya
seseorang, semakin sering ia bergaya seperti orang
miskin. Apakah kau tahu?”
Si pengemis pun tersenyum. Katanya, “Kau benar. Orang
itu betul-betul punya uang. Ketika ia menunjukkan
kepingan peraknya, aku langsung bertanya bagaimana
aku bisa mendapatkannya.”
“Apa jawabnya?”
“Aku pikir ia akan menyuruhku untuk melakukan sesuatu
yang sulit. Tapi ternyata ia hanya ingin bertukar pakaian.
Lalu aku harus berjalan sambil menunduk. Apapun yang
terjadi, aku harus tetap menundukkan kepala.”
Li Sun-Hoan tersenyum. “Cara yang sangat mudah untuk
mendapatkan uang.”
Kali ini, hatinya pun ikut tersenyum. Ia sangat senang
bahwa kini Thi Toan-kah sudah bisa merancang tipuan
seperti ini.
Si pengemis bahkan lebih gembira lagi. Katanya, “Aku
tahu. Oleh sebab itu aku rasa otak orang itu memang
tidak beres.”

894
Kata Li Sun-Hoan, “Otakku lebih tidak beres lagi. Lebih
mudah lagi bagimu untuk mendapatkan kepingan
perakku.”
“O ya?”
Li Sun-Hoan mengeluarkan semua perak dari sakunya.
Ketika ia meninggalkan rumah, Thi Toan-kah sengaja
memeberikan uang padanya untuk keperluan sehari-hari.
Dengan uang inilah Li Sun-Hoan bisa hidup sampai
sekarang.
Mata si pengemis berbinar-binar melihat semua perak
itu.
Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata, “Jika kau bisa
mengantarkan aku pada orang yang otaknya tidak beres
itu, akan kuberikan semua perak ini padamu.”
Si pengemis segera menyahut, “Baik, akan kuantarkan
kau padanya. Tapi kau harus memberikan perak ini lebih
dulu padaku.”
Li Sun-Hoan mengulurkan tangannya untuk memberikan
seluruh perak itu.
Ia bersedia memberikan jantungnya demi bertemu
dengan Thi Toan-kah.
Air liur si pengemis sudah membasahi kepingan perak
itu. Ia menerimanya sambil terkekeh, “Kau pasti mencuri
perak ini ya? Kalau tidak, bagaimana mungkin kau
memberikannya kepada orang lain begitu saja?”

895
Waktu ia menerima kepingan perak itu, tentu saja
tangannya menyentuh tangan Li Sun-Hoan.
Saat tangannya menyentuh tangan Li Sun-Hoan, kelima
jarinya tiba-tiba terpentang dan tertekuk….
Li Sun-Hoan merasa sepasang borgol besi telah
melingkari tangannya.
Ia pun terjengkang jatuh di tanah.
Kecepatan si pengemis memang luar biasa. Gerakannya
sederhana, namun menggunakan empat kekuatan ilmu
silat di dalamnya.
Ketika jari-jarinya menyentuh jari-jari Li Sun-Hoan, ia
menggunakan tenaga dalam penyedot yang sangat kuat.
Siapapun yang tertangkap, tidak akan dapat melepaskan
diri dari genggamannya.
Sesudah itu, ia menggunakan 72 Jalan Meringkus Tangan
dari Bu-tong-pay dan menutul salah satu Hiat-to (jalan
darah) penting Li Sun-Hoan. Siapapun yang diringkus
dengan cara ini akan kehilangan seluruh tenaganya.
Lalu ia menggunakan jurus Tangan Memisahkan Tulang
untuk memisahkan tulang-tulang Li Sun-Hoan.
Akhirnya, ia menggunakan teknik gulat dari Mongol.
Siapapun yang diangkat dan dibanting dengan cara ini
tidak mungkin dapat berdiri lagi.

896
Si pengemis menggunakan keempat teknik ini dengan
sempurna, dengan kekuatan maksimum.
Sekalipun jika Li Sun-Hoan tahu bahwa ia bukan seorang
pengemis biasa, ia pun tidak akan menyangka bahwa
ilmu silatnya setinggi ini. Sekalipun Li Sun-Hoan tahu
bahwa ia adalah pesilat kelas wahid, ia pun tidak akan
menyangka bahwa orang ini akan menyerang tanpa
peringatan apapun.
Li Sun-Hoan belum pernah seterkejut ini dalam hidupnya.
Li Sun-Hoan tergeletak di tanah seperti ikan mati. Ia
merasa sangat pusing, hampir pingsan. Ketika ia
menyadari apa yang terjadi, si pengemis datang ke
sampingnya. Dengan satu tangan ia mencengkeram leher
Li Sun-Hoan. Ia tersenyum lebar.
Siapakah orang ini? Mengapa ia berbuat demikian
padaku?
Apakah sudah sejak tadi ia tahu siapa aku?
Apa hubungan orang ini dengan Thi Toan-kah?
Begitu banyak pertanyaan dalam benak Li Sun-Hoan.
Namun satu pun tidak ditanyakannya.
Dalam situasi seperti ini, ia pikir lebih baik ia diam saja.
Namun si pengemislah yang bicara. Katanya sambil
tersenyum, “Mengapa kau diam saja?”

897
Li Sun-Hoan pun tersenyum, jawabnya, “Jika lehermu
sedang dicengkeram orang, apa yang dapat kau
katakan?”
Kata si pengemis, “Jika seseorang menyerangku tiba-tiba
seperti ini, dan mencengkeram leherku seperti ini, aku
akan menyumpahi delapan belas keturunannya.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Mataku tidak buta, namun aku tidak
bisa melihat kehebatan ilmu silatmu. Jika aku harus
menyumpahi, yang pertama kusumpahi adalah diriku
sendiri.”
Si pengemis terkekeh dan menggeleng-gelengkan
kepalanya. Katanya, “Kau memang orang aneh. Aku
belum pernah bertemu dengan orang seperti engkau.
Jika kau terus bicara, mungkin mukaku akan bersemu
merah seperti seorang gadis.”
Tiba-tiba ia berseru lantang, “Orang ini bukan saja orang
yang terhormat, ia pun seorang yang baik. Orang seperti
inilah yang paling menyebalkan. Jika kalian tidak keluar
sekarang juga, akulah yang akan pergi.”
Ah, jadi ia punya pembantu.
Li Sun-Hoan tidak dapat mengira-ira siapakah para
pembantunya itu. Lalu pintu di sebelah mereka terbuka.
Tujuh orang keluar dari sana. Li Sun-Hoan sangat kaget
melihat siapa yang keluar dari pintu itu.
Ia tidak pernah menyangka bahwa orang-orang inilah
pembantu si pengemis.

898
Orang yang pertama adalah si peramal buta.
Lalu si wanita bermata satu, si lelaki kekar berjubah
hijau, si penjual tahu…..
Li Sun-Hoan mendesah. Katanya, “Rencana yang bagus,
rencana yang bagus. Aku sungguh kagum.”
Si peramal buta berkata dingin, “Kau terlalu berlebihan.”
Kata Li Sun-Hoan, “Jadi ini sama sekali tidak
berhubungan dengan Thi Toan-kah?”
Jawab si buta, “Tidak sepenuhnya benar, kecuali....”
Si pengemis memotong cepat, “Kecuali bahwa aku tidak
pernah bertemu dengan Thi Toan-kah. Mengenal juga
tidak. Pertunjukan yang baru saja berlangsung adalah
untuk dirimu.”
Li Sun-Hoan tersenyum getir. “Pertunjukan yang sangat
hebat.”
Si buta pun berkata, “Kalau tidak, bagaimana mungkin
kami dapat menipu Li Tamhoa?”
“Oh, jadi kalian sudah tahu siapa aku dan sudah tahu
bahwa aku datang ke kota ini?”
Jawab si buta, “Seseorang sudah melihatmu sebelum kau
masuk kota.”
“Tapi bagaimana kalian dapat mengenaliku?”

899
Kembali si buta menjawab, “Mungkin kami tidak
mengenalimu, tapi ada orang yang mengenalimu.”
Kata Li Sun-Hoan, “Kalau kalian tidak kenal denganku,
mengapa kalian merancang pertunjukan ini untuk
diriku?”
Sahut si buta, “Karena Thi Toan-kah!”
Tiba-tiba wajahnya menjadi beringas, dan ia
melanjutkan, “Kami telah mencari-cari dia selama ini.
Namun kami tidak berhasil menemukan dia. Kalau dia
tahu Li Tamhoa ada di tangan kami, dialah yang akan
datang mencari kami.”
Li Sun-Hoan tersenyum. “Bagaimana kalau ia tidak
datang?”
Jawab si buta dingin, “Kau tidak pernah
mengacuhkannya saat ia membutuhkan pertolonganmu,
sama seperti dia tidak akan mengacuhkanmu saat kau
butuh pertolongan. Kami yakin ia pasti akan datang.
Kalau tidak, kami tidak akan repot-repot merancang
rencana ini.”
Kata Li Sun-Hoan, “Aku harus memuji kalian atas
rencana yang hebat ini.”
Sahut si buta, “Jika kami cukup pandai untuk merancang
renana ini, mungkin hari ini aku tidak buta.”
“Maksudmu, bukan kalian yang merancangnya?”

900
“Bukan.”
Si pengemis berkata, “Aku pun tidak merancangnya. Aku
punya problem yang aneh. Setiap kali aku berpikir untuk
menyakiti orang lain, kepalaku berdenyut-denyut.”
Li Sun-Hoan mengguman, “Jadi ada orang lain dibalik
semuanya ini…..”
Kata si buta, “Kau tidak perlu tanya siapa orang itu,
karena sebentar lagi kau akan bertemu dengannya.”
Lalu ia menutup Hiat-to (jalan darah) Li Sun-Hoan
dengan tongkatnya dan menambahkan dengan dingin,
“Saat kau berjumpa dengannya, mungkin kau merasa
bahwa hidup di dunia ini tidak ada artinya dan bahwa
kematian mungkin adalah jalan yang lebih baik.”
Pintu itu tidak besar. Temboknya cukup tinggi.
Tidak ada suara dari dalam pekarangan.
Terdengar suara tawa gembira, dan seseorang berkata,
“Jadi kau sudah berhasil mengundang Toako datang?”
Li Sun-Hoan terkesiap mendengar suara itu.
Itu adalah suara Liong Siau-hun.
Jadi dialah sutradara pertunjukan barusan.
Si buta berkata dingin, “Ya, kami sudah berhasil
mengundang Li Tamhoa ke sini.”

901
Sebelum kalimatnya selesai, seseorang telah masuk
melalui pintu itu. Orang itu bukan lain adalah Liong Siauhun.
Setibanya di ruangan itu, segera ia meraih tangan Li Sun-
Hoan. Katanya, “Tidak terasa sudah dua tahun, Toako.
Setiap hari kuingat akan dirimu.”
Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata, “Jika Toako ingin
bertemu, mengapa tidak kau katakan saja? Tidak perlu
repot-repot begini.”
Si pengemis tiba-tiba tertawa keras. Katanya, “Bagus!
Bagus! Aku kagum akan ketenanganmu. Aku tidak
menyangka kau masih bisa bersikap tenang dalam situasi
seperti ini.”
Liong Siau-hun seolah-olah telah menjadi tuli dan tidak
mendengar apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.
Liong Siau-hun masih memegang tangan Li Sun-Hoan
dan berkata, “Aku tahu kau pasti akan datang. Maka
sudah kupersiapkan arak istimewa untukmu.”
Ia membantu Li Sun-Hoan bangkit berdiri dan berkata
kepada yang lain, “Mari kita bersama-sama merayakan
pertemuan kembali dua saudara angkat.”
Si buta tidak bergeming.
Tidak satupun dari saudara-saudaranya bergerak.
Liong Siau-hun tersenyum dan berkata, “Oh, kalian tidak
bisa ikut?”

902
Sahut si buta, “Kami hanya melakukan ini demi
mendapatkan Thi Toan-kah. Kami telah memenuhi tugas
kami. Jika Thi Toan-kah sudah datang, jangan lupa beri
tahukan pada kami.”
Wajahnya lalu menjadi muram dan melanjutkan, “Untuk
arak Liong-siya, aku tidak berani menyentuhnya. Sudah
jelas, aku tidak cukup pantas menjadi sahabat Siya.”
Setelah selesai bicara, ia segera melangkah pergi.
Meja di pekarangan itu penuh dengan arak dan
makanan.
Makanannya terlihat sangat indah dan lezat. Araknya
semua adalah arak kualitas atas.
Si pengemis tidak merasa perlu untuk berbasa-basi. Ia
segera duduk di salah satu kursi dan berkata,
“Sejujurnya, aku pun ingin segera pergi. Tapi aku tidak
bisa membiarkan makanan dan arak sebaik ini terbuang
percuma.”
Ia mengangkat secawan arak ke arah Li Sun-Hoan dan
berkata, “Kau harus minum secawan dua cawan juga.
Tidak ada gunanya menolak arak Saudara ini. Walaupun
meminum araknya pun juga tidak ada gunanya.”
Kata Liong Siau-hun, “Ini adalah Oh-tayhiap. Toako, aku
rasa kau belum bertemu dengan….”
Potong Li Sun-Hoan, “Oh-tayhiap? Apakah namamu
adalah Put-kui?”

903
Si pengemis tersenyum dan menjawab, “Benar. Oh Putkiu
adalah aku! Kau mungkin memanggilku dengan
sebutan tayhiap, namun dalam hatimu, aku yakin bahwa
kau berpikir ‘Jadi inilah Oh si gila. Tidak heran ia bersikap
seperti orang gila.’ Bukankah begitu?”
Li Sun-Hoan terkekeh. Jawabnya, “Kau benar.”
Oh Put-kiu tertawa. “Kau memang benar-benar orang
aneh, mungkin sebenarnya kau juga gila. Jika kau tidak
gila, bagaimana mungkin kau mau menjadi sahabat
orang seperti Liong Siau-hun?”
Li Sun-Hoan hanya tersenyum.
Lanjut Oh Put-kiu, “Tapi kurasa, aku pun bukan
sahabatnya. Aku hanya membantunya karena aku pernah
berhutang budi padanya. Setelah tugas ini selesai, aku
tidak ingin punya hubungan apa pun lagi dengan dia.”
Tiba-tiba ia menggebrak meja dan berkata lagi, “Namun
tugas ini begitu licik, sangat penuh tipu muslihat yang
jahat. Sangat memalukan, sangat jelek, sangat hina,….”
Sambil berbicara ia menampar pipinya sendiri 17 atau 18
kali. Lalu ia mulai menangis tersedu-sedu dan
menelungkup di atas meja. Sepertinya Liong Siau-hun
sudah terbiasa dengan tingkahnya yang aneh dan tidak
merasa heran sedikitpun.
Namun Li Sun-Hoan merasa sedikit menyesal. Katanya
menenangkan, “Apapun yang terjadi, walaupun aku

904
bersiaga penuh, aku tidak mungkin dapat menghindari
serangan terakhir Oh-heng itu.”
Sekali lagi Oh Put-kiu menggebrak meja dan berseru
dengan marah, “Jangan ngomong sembarangan! Tanpa
tipu daya, mana mungkin aku bisa menyentuhmu? Aku
sudah mencelakaimu, tapi kau masih berusaha
menghibur aku? Apa maksudmu?”
Li Sun-Hoan tidak tahu harus menjawab apa?
Kata Oh Put-kiu, “Aku memang mudah berubah-ubah,
marah tanpa sebab, aku tidak tahu membedakan yang
benar dan yang salah, selalu berbuat kebalikan dari yang
biasanya, menangis jika ingin menangis, tertawa jika
ingin tertawa…. Aku memang penuh kebusukan.”
Tiba-tiba ia melotot pada Liong Siau-hun dan berkata,
“Tapi kau lebih busuk lagi. Dan anakmu ini jauh lebih
busuk lagi. Ia punya sepasang kaki, tapi ia bertingkah
seperti anjing dan merangkak di bawah meja. Apakah ia
mau mengais-ngais tulang di bawah sana?”
Wajah Liong Siau-hun memerah. Ia melihat ke bawah
meja, dan melihat bahwa Liong Siau-in memang sedang
merangkak di bawah sana. Ia memegang sebilah pisau
dan sedang merangkak ke arah Li Sun-Hoan.
Liong Siau-hun segera menariknya keluar dan
mengangkatnya ke atas. Dengan wajah kesal ia
membentak, “Kau ini sedang buat apa?”

905
Wajah Liong Siau-in terlihat sangat tenang. Katanya,
“Kau pernah mengatakan bahwa seorang laki-laki harus
tahu siapa kawan dan siapa lawan, bukan?”
Sahut ayahnya, “Betul.”
“Bukankah dalam dunia persilatan seseorang harus
berusaha membalas dendam dan membalas budi? Ia
telah menghancurkan seluruh ilmu silatku, sehingga aku
menjadi cacad seumur hidup. Menginginkan sepasan
kakinya bukan keterlaluan, bukan?”
Wajah Liong Siau-hun memucat. Katanya, “Jadi kau ingin
membalas dendam?”
“Ya.”
Tanya ayahnya keras, “Tahukah kau siapa dia?”
Jawab Liong Siau-in, “Aku hanya tahu bahwa ia adalah
musuhku….”
Sebelum kalimatnya selesai, ayahnya telah menampar
dia kuat-kuat dan berteriak dengan marah, “Tapi kau kan
juga tahu bahwa ia adalah saudara angkat ayahmu? Ia
berhak memberi pelajaran padamu. Bagaimana kau bisa
berpikir tentang membalas dendam? Bagaimana kau bisa
begitu tidak sopan terhadap dia?”
Setelah kena marah begitu rupa, Liong Siau-in berlutut di
hadapan Li Sun-Hoan. Katanya, “Maafkan aku. Aku sudah
mengerti sekarang. Paman Li, kuharap kau mau
memaafkan keponakanmu.”

906
Li Sun-Hoan tidak tahu harus bilang apa. Namun Oh Putkiu
telah melompat dari kursinya dan berseru, “Ya,
Tuhan, aku sungguh tidak tahan menghadapi dua anakberanak
ini. Aku sungguh ingin muntah rasanya.”
Sambil berteriak, ia keluar dari tempat itu.
Bab 53. Tipuan
Liong Siau-hun berpura-pura tertawa. Katanya,
“Seseorang mungkin punya nama yang salah, tapi
julukan itu selalu benar. Seseorang yang bodoh seperti
keledai mungkin bernama Tuan Pintar. Tapi jika
seseorang dijuluki Si Gila, dia pasti benar-benar gila.
Awalnya Li Sun-Hoan tidak ingin menanggapi. Namun
akhirnya ia berkata, “Namun jika seseorang itu terlalu
pandai, tahu terlalu banyak, mungkin sedikit demi sedikit
ia bisa menjadi gila.”
“O ya?”
“Karena pada akhirnya ia mungkin merasa hidup itu lebih
menyenangkan jika ia menjadi orang gila. Untuk
sebagian orang, penderitaan yang terbesar adalah bahwa
mereka ingin menjadi gila, tapi tidak bisa.”
Liong Siau-hun tersenyum. Katanya, “Untungnya aku
tidak sepandai itu. Jadi aku tidak mungkin mempunyai
penderitaan semacam itu.”
Tentu saja ia tidak mempunyai penderitaan semacam itu.
Ia bahkan tidak pernah menderita.

907
Karena ia memberikan penderitaannya untuk dipikul
orang lain.
Li Sun-Hoan termenung lama. Lalu ia menundukkan
kepalanya dan minum arak perlahan-lahan.
Liong Siau-hun hanya mengawasinya, menunggu.
Ia tahu bahwa jika Li Sun-Hoan minum perlahan-lahan,
ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.
Sampai cukup lama, akhirnya Li Sun-Hoan mengangkat
kepalanya dan berkata, “Toako….”
“Ya?”
“Ada sesuatu yang mengganggu hatiku yang ingin aku
utarakan. Namun aku tidak tahu apakah aku sebaiknya
mengatakannya atau tidak.”
Kata Liong Siau-hun, “Katakan saja.”
Kata Li Sun-Hoan, “Apapun yang terjadi, kita sudah
bersahabat bertahun-tahun.”
Ralat Liong Siau-hun, “Bukan sahabat, saudara angkat.”
“Jadi kau pasti tahu orang macam apa aku.”
“Ya….”

908
Walaupun ia hanya mengatakan satu suku kata, Liong
Siau-hun mengambil waktu begitu lama. Kata itu pun
mengandung sedikit rasa penyesalan.
Apapun yang dilakukannya ia masih seorang manusia.
Setiap manusia pasti masih punya rasa kemanusiaan
dalam dirinya.
Kata Li Sun-Hoan, “Oleh sebab itu, jika kau ingin aku
melakukan sesuatu, seharusnya kau cukup
mengatakannya padaku. Jika hal itu dapat kulakukan,
pasti aku akan melakukannya.”
Perlahan-lahan Liong Siau-hun mengangkat cawan
araknya, seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya.
Li Sun-Hoan sudah berbuat terlalu banyak bagi dirinya.
Setelah sekian lama, ia menghela nafas dan berkata,
“Aku tahu maksudmu. Tapi…..waktu dapat mengubah
begitu banyak hal.”
Wajah Li Sun-Hoan terlihat semakin muram. Katanya,
“Aku tahu ada salah paham di antara kita….”
Tanya Liong Siau-hun cepat, “Salah paham?”
“Ya, salah paham. Namun dalam hal-hal tertentu, Toako,
seharusnya kau tidak salah paham padaku.”

909
Kini wajah Liong Siau-hun sudah pucat pasi. Ia terdiam
sekian lama, dan akhirnya berkata, “Namun dalam satu
hal itu, sama sekali tidak ada kesalahpahaman.”
Tanya Li Sun-Hoan, “Hal yang mana itu?”
Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, Li Sun-Hoan
merasa sangat menyesal menanyakannya.
Seharusnya ia sudah tahu jawabannya. Liong Siau-in
sepertinya merasa bahwa ayahnya akan mengatakan
sesuatu yang sangat penting, sehingga ia segera keluar
tanpa bersuara.
Liong Siau-hun tidak menjawab sampai cukup lama.
Akhirnya ia berkata, “Aku tahu kau telah menanggung
penderitaan yang cukup berat beberapa tahun terakhir
ini.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Sebagian besar orang hidup
menderita.”
“Namun penderitaanmu lebih besar daripada orang lain.”
“Hah?”
Kata Liong Siau-hun, “Karena kau telah melepaskan
wanita yang paling kau cintai. Memberikannya kepada
orang lain untuk menjadi istrinya.”
Sepercik angur tumpah dari cawan, karena tangan Li
Sun-Hoan bergetar hebat.

910
Lanjut Liong Siau-hun, “Namun penderitaanmu tidak
sangat sangat dalam. Karena jika seseorang merasa
bahwa dirinya telah berkorban untuk orang lain, ia akan
berbesar hati. Dan hal ini dapat mengurangi
penderitaannya.”
Perkataan ini sangat tajam, namun juga sangat masuk
akal.
Tentu saja, hal ini tidak bisa disamaratakan untuk semua
situasi.
Tangan Liong Siau-hun pun bergetar. Katanya, “Mungkin
kau masih belum memahami arti penderitaan yang
sesungguhnya.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Mungkin…..”
Kata Liong Siau-hun, “Ketika seorang laki-laki
mengetahui bahwa istrinya adalah hasil pemberian orang
lain, dan bahwa istrinya masih tetap mencintai orang
itu….. Itu adalah penderitaan yang terbesar dalam hidup
manusia!”
Benar sekali.
Ini bukan saja penderitaan yang terbesar, namun juga
penghinaan yang terbesar.
Biasanya, seorang laki-laki merasa lebih baik mati
daripada mengungkapkan hal ini. Bahkan
mengucapkannya pun terasa sangat menyakitkan!

911
Tidak seorang pun yang ingin menyakiti dirinya sendiri,
mempermalukan dirinya sendiri, seperti ini.
Namun Liong Siau-hun telah mengatakannya. Ia telah
mengatakannya pada Li Sun-Hoan.
Hati Li Sun-Hoan pun hancur.
Dari perkataan ini, ia menyadari dua hal. Yang pertama,
Liong Siau-hun pun ternyata merasakan penderitaan
yang sangat besar. Oleh sebab itulah ia berubah,
berubah begitu drastis. Siapapun yang berada di
tempatnya, pasti akan berubah seperti dia juga.
Tiba-tiba Li Sun-Hoan merasa kasihan pada Liong Siauhun.
Yang kedua, karena Liong Siau-hun telah mengatakan
hal ini padanya, dapat dipastikan bahwa hidupnya tidak
akan lama lagi!
Li Sun-Hoan tidak pernah peduli akan hidup dan mati.
Namun dapatkah ia mati sekarang?
Mereka berdua tidak berbicara banyak. Namun tiap kata
keluar dengan hati-hati, setelah dipikirkan masak-masak,
setelah jeda yang begitu lama.
Hari itu mendung. Senja pun sudah mulai turun.
Walaupun hari belum malam, langit sudah sangat gelap.

912
Namun wajah Liong Siau-hun lebih gelap daripada warna
langit saat itu.
Ia mengangkat cawan araknya, lalu diturunkannya
kembali. Diangkat, lalu diturunkan…..
Bukan karena ia tidak bisa minum arak itu. Namun
karena ia tidak ingin minum arak itu. Karena ia tahu,
semakin banyak seseorang minum arak, ia akan menjadi
lebih ceroboh. Seorang yang sangat tenang sekalipun,
kalau ia bertindak ceroboh, keputusan yang diambilnya
adalah berdasarkan perasaannya.
Setelah sekian lama, akhirnya Liong Siau-hun berkata,
“Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu hari ini.”
Li Sun-Hoan tersenyum dan menyahut, “Setiap orang
pernah mengatakan hal-hal yang tidak ingin mereka
katakan. Itulah manusia.”
“Namun aku tidak mengundangmu ke sini untuk
mengatakan hal itu.”
“Aku tahu.”
“Apakah kau tahu mengapa aku mengundangmu ke
sini?”
“Ya.”
Untuk pertama kalinya, Liong Siau-hun terlihat terkejut.
“Kau sungguh-sungguh tahu?”

913
“Aku tahu.”
Li Sun-Hoan tidak menunggu Liong Siau-hun
menanyakan lagi. Ia segera melanjutkan, “Apakah kau
betul-betul mengira bahwa ada harta karun di Hin-hunceng?”
Liong Siau-hun berpikir sejenak dan menjawab, “Ya.”
“Di mana kau pikir harta karun itu berada?”
“Kau pasti tahu tempatnya.”
Kata Li Sun-Hoan, “Aku selalu mempunyai masalah
aneh.”
“Masalah aneh apa?”
“Masalahku adalah bahwa aku tahu hal-hal yang
seharusnya aku tidak tahu. Namun aku malah tidak tahu
hal-hal yang seharusnya aku tahu.”
Mulut Liong Siau-hun terbungkam.
Lanjut Li Sun-Hoan, “Seharusnya kau sudah tahu.
Masalah harta karun ini hanyalah tipuan….”
Liong Siau-hun memotong cepat, “Aku percaya padamu.
Karena kau tidak pernah berdusta padaku.”
Ia memandang Li Sun-Hoan lekat-lekat dan
menambahkan, “Jika ada seseorang yang dapat
kupercaya di dunia ini, orang itu adalah engkau. Jika aku

914
masih mempunyai seorang sahabat di dunia ini, orang itu
adalah engkau. Semua perkataanku mungkin adalah
dusta, namun kali ini aku sungguh-sungguh mengatakan
yang sebenarnya.”
Li Sun-Hoan pun menatap Liong Siau-hun lekat-lekat. Ia
menghela nafas panjang dan berkata, “Aku percaya
padamu karena…..”
Ia tidak melanjutkannya, karena ia sudah mulai terbatukbatuk.
Waktu batuknya berhenti, Liong Siau-hunlah yang
menyelesaikan kalimatnya, “Kau percaya padaku karena
kau menyadari bahwa dirimu sudah tidak berguna lagi
bagiku, sehingga aku tidak lagi punya alasan untuk
menipumu. Betul kan?”
Li Sun-Hoan menjawab pertanyaan ini dengan diam.
Liong Siau-hun bangkit berdiri dan berjalan mengitari
meja.
Tidak ada suara lain di pekarangan itu. Langkahnya
makin lama makin terasa berat.
Seakan-akan ia merasa gelisah…. Atau mungkin ia hanya
ingin Li Sun-Hoan berpikir demikian.
Lalu ia berhenti. Ia berhenti tepat di depan Li Sun-Hoan,
katanya, “Kau pasti mengira aku akan membunuhmu.”

915
Wajah Li Sun-Hoan tetap tenang, sangat tenang. Ia pun
menyahut dengan tenang, “Apapun yang kau perbuat,
aku tidak mempersalahkanmu.”
Kata Liong Siau-hun, “Namun aku tidak akan
membunuhmu.”
“Aku tahu.”
“Ya, kau pasti tahu. Kau sangat memahami diriku.”
Tiba-tiba ia berbicara dengan berapi-api dan
melanjutkan, “Karena walaupun aku membunuhmu, aku
tetap tidak dapat memiliki hatinya. Aku hanya akan
membuatnya membenciku lebih dalam lagi.”
Li Sun-Hoan menarik nafas panjang dan berkata, “Ada
begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang berada di
luar kendali manusia.”
Di luar kendali manusia.
Kalimat yang sangat sederhana. Namun merupakan satu
yang yang paling menyakitkan dalam hidup ini.
Ketika kau berjumpa dengannya, kau tidak dapat
melawannya, kau tidak dapat bertempur dengannya.
Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau usahakan,
hal itu tetap berada di luar kuasamu.
Liong Siau-hun mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Katanya, “Aku tidak bisa membunuhmu, tapi bukan
berarti aku akan melepaskanmu.”

916
Li Sun-Hoan mengangguk.
Karena aku masih berguna bagimu dalam keadaan hidup.
Namun ia tidak mengatakannya.
Bagaimanapun Liong Siau-hun menyakitinya,
mengkhianatinya, ia tidak akan mengucapkan sepatah
katapun yang dapat menyakiti hati Liong Siau-hun.
Liong Siau-hun mengepalkan tangannya lebih kuat lagi.
Karena hanya di hadapan Li Sun-Hoanlah ia merasa
sangat kecil, sangat tidak berarti.
Oleh sebab itulah, rasa setia kawan Li Sun-Hoan yang
begitu besar bukannya melunakkan hatinya, namun
malah membuat amarahnya makin berkobar-kobar.
Ia memandang benci pada Li Sun-Hoan dan berkata,
“Aku akan membawamu menemui seseorang. Orang ini
ingin bertemu denganmu sejak lama. Mungkin….kau juga
ingin menemuinya.”
***
Ruangan itu besar.
Namun walaupun ruangan itu besar, hanya ada satu
jendela di situ. Satu jendela yang sangat kecil dan sangat
jauh di atas.
Jendela itu terbuka. Namun pemandangan di luar tidak
bisa terlihat dari jendela itu.

917
Pintunya juga sangat kecil. Seseorang yang berbahu
lebar harus masuk dengan memiringkan badannya.
Pintu itu juga terbuka.
Dinding ruangan itu dicat putih. Catnya sangat tebal,
seolah-olah supaya orang tidak tahu apakah itu adalah
dinding batu, dinding beton, atau dinding besi.
Ada dua tempat tidur di sudut ruangan.
Tempat tidur kayu.
Seprainya sangat bersih, walaupun tampak sederhana.
Selain kedua tempat tidur itu, hanya ada lagi satu meja
besar di ruangan itu.
Meja itu penuh dengan buku-buku rekening dan berkasberkas.
Seseorang berdiri di depan meja itu. Kadang-kadang ia
memberi satu dua tanda di buku rekening itu dengan
kuasnya. Sekali waktu, terbayang seulas senyum di sudut
bibirnya.
Ia mengerjakannya dengan berdiri!
Ia merasa bahwa jika seseorang duduk, orang itu
menjadi rileks. Dan jika seseorang menjadi rileks, ia akan
lebih sering melakukan kesalahan.
Ia tidak pernah rileks.

918
Ia tidak pernah melakukan kesalahan.
Ia tidak pernah kalah.
Ada seseorang lagi di belakangnya.
Orang itu berdiri bahkan lebih tegak lagi, seperti
sebatang tombak.
Ia hanya berdiri di situ. Tidak tahu berapa lama. Ia tidak
bergerak seujung jari pun.
Seekor nyamuk terbang mengitarinya.
Bahkan matanya pun tidak berkedip.
Nyamuk itu hinggap di hidungnya dan mulai mengisap
darahnya.
Ia tetap tidak bergeming.
Seolah-olah ia tidak punya perasaan. Tidak merasa sakit,
tidak merasa senang.
Mungkin ia pun tidak tahu mengapa ia hidup.
Bab 54. Transaksi
Kedua orang ini tentunya adalah Hing Bu-bing dan
Siangkoan Kim-hong. Mungkin dalam dunia ini tidak ada
orang lain seperti kedua orang ini.

919
Seseorang yang begitu kaya, begitu ternama, begitu
berpengaruh, seperti Ketua Kim-ci-pang hidup di tempat
yang begitu sederhana seperti ini. Tidak pernah akan
pernah ada yang mengira.
Karena dalam pandangan mereka, uang hanyalah sebuah
sarana. Demikian pula, wanita adalah sebuah alat.
Semua kemewahan di dunia ini adalah alat bagi mereka.
Mereka tidak pernah mempedulikan semuanya itu.
Mereka hanya peduli akan kekuasaan. Kekuasaan. Selain
kekuasaan, mereka tidak membutuhkan apa-apa. Mereka
hidup untuk kekuasaan, dan bahkan mungkin mati demi
kekuasaan.
Suasana hening. Selain suara kertas dilembari, hanya ada
kesunyian. Cahaya lilin menerangi mereka. Tidak ada
yang tahu sudah berapa lama mereka bekerja, berdiri di
situ. Yang terlihat hanyalah terang berubah menjadi
gelap, dan gelap berubah lagi menjadi terang. Seolaholah
mereka tidak pernah lelah, tidak pernah lapar. Saat
itu terdengar seseorang mengetuk pintu. Hanya satu
ketukan, sangat perlahan.
Tangan Siangkoan Kim-hong tidak berhenti bekerja.
Mengangkat matanya pun tidak.
Tanya Hing Bu-bing, “Siapa?”
Orang di luar menjawab, “It-jit-kiu )Seratus tujuh puluh
sembilan).”
“Apa yang kau inginkan?”

920
“Ada seseorang yang ingin menemui Pangcu.”
“Siapa?”
“Ia tidak mau menyebutkan namanya.”
Tanya Hing Bu-bing, “Untuk apa ia hendak menemui
Pangcu?”
Jawab orang di luar, “Katanya ia akan menyampaikan
langsung pada Pangcu.”
Hing Bu-bing berhenti bicara.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berkata, “Di mana dia?”
Sahut orang di luar, “Di pekarangan luar.”
Tangan Siangkoan Kim-hong masih terus membalik
lembaran-lembaran buku itu. Ia tidak mengangkat
kepalanya sewaktu berkata, “Bunuh dia.”
Sahut orang di luar, “Baik.”
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong bertanya, “Siapa yang
mengantarkan orang itu kemari?”
“Pat-tocu (kepala seksi delapan), Hiang Siong.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Bunuh Hiang Siong juga.”
“Baik.”

921
Lalu Hing Bu-bing berkata, “Aku pergi.”
Saat ia mengucapkan perkataan itu, sebelah kakinya
sudah berada di luar, dan dalam sekejap saja ia sudah
berlalu. Kalau soal membunuh, Hing Bu-bing selalu
bersemangat. Lagi pula, julukan Hiang Siong adalah
Hong-ih-liu-sing (Si Meteor Angin dan Hujan). Liu-sing-tui
(Sepasang Palu Meteor)nya ada di peringkat ke-19 dalam
Kitab Persenjataan. Bukan hal yang mudah untuk
membunuhnya.
Siapa yang diantarnya untuk menemui Siangkoan Kimhong?
Apa alasannya ia datang? Sepertinya Siangkoan
Kim-hong sama sekali tidak ingin tahu.
Orang ini sungguh tidak berperikemanusiaan.
Kepalanya tidak pernah terangkat. Tangannya tidak
pernah berhenti bekerja.
Pintu terbuka. Hing Bu-bing sudah kembali.
Siangkoan Kim-hong tidak perlu bertanya ‘Apakah dia
sudah mati?’
Karena Hing Bu-bing tidak pernah gagal dalam
membunuh.
Siangkoan Kim-hong hanya berkata, “Jika Hiang Siong
tidak melawan, berikan 10000 tail emas pada
keluarganya. Jika ia melawan, bunuh seluruh
keluarganya.”

922
Kata Hing Bu-bing, “Aku tidak membunuhnya.”
Akhirnya Siangkoan Kim-hong mengangkat kepalanya
dan melotot pada Hing Bu-bing.
Wajah Hing Bu-bing tetap kosong. Katanya, “Karena
orang yang diantarkannya itu tidak dapat kubunuh.”
Suara Siangkoan Kim-hong mengguntur, “Semua orang
bisa dibunuh. Mengapa dia tidak bisa?”
Sahut Hing Bu-bing, “Aku tidak membunuh anak kecil.”
Siangkoan Kim-hong tertegun. Perlahan-lahan
diletakkannya kuasnya. Katanya, “Maksudmu ada
seorang anak kecil yang ingin menemui aku?”
“Ya.”
“Anak macam apa?”
“Seorang anak cacad.”
Mata Siangkoan Kim-hong berkilat tajam. Ia berpikir
sejenak lalu berkata, “Bawa dia masuk!”
Seorang anak kecil berani menemui Siangkoan Kimhong?
Bahkan Siangkoan Kim-hong pun tidak bisa
percaya. Anak ini bukan saja berani mati, mungkin dia
sudah gila.
Namun benar-benar seorang anak kecil yang masuk.

923
Wajahnya putih seperti kertas, seperti mayat hidup.
Ia pun tidak berekspresi seperti seorang anak kecil.
Wajahnya serius seperti orang dewasa.
Ia berjalan perlahan-lahan, dengan punggung agak
terbungkuk.
Anak kecil ini lebih mirip seorang kakek tua.
Anak kecil ini bukan lain adalah Liong Siau-in.
Siapapun yang bertemu dengan Liong Siau-in akan
memperhatikannya dengan seksama.
Demikian pula Siangkoan Kim-hong.
Matanya mengawasi wajah anak kecil ini.
Siapapun yang dipandang seperti ini oleh Siangkoan Kimhong
akan langsung gemetaran. Paling tidak lutut
mereka akan merasa lemas dan tersungkur.
Tapi Liong Siau-in adalah perkecualian.
Ia masuk perlahan-lahan, membungkukkan badannya
memberi hormat dan berkata, “Aku Liong Siau-in, datang
menghaturkan hormat pada Pangcu.”
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Liong Siau-in? Liong Siauhun
itu siapamu?”
Jawabnya, “Ia adalah ayahku.”

924
“Apakah ayahmu menyuruhmu datang ke sini?”
“Ya.”
“Mengapa ia tidak datang sendiri?”
Sahut Liong Siau-in, “Jika ia sendiri yang datang, belum
tentu ia bisa bertemu dengan Pangcu. Malah mungkin ia
akan mati terbunuh.”
Siangkoan Kim-hong membentak, “Kau pikir aku tidak
akan membunuhmu?”
“Aku hanya seorang anak kecil. Hidupku ada dalam
genggamanmu. Bukannya kau tidak akan membunuhku,
namun aku tidak cukup berharga untuk dibunuh
olehmu.”
Wajah Siangkoan Kim-hong berubah cerah. Katanya,
“Kau mungkin sangat muda, dan kau mungkin sakit.
Namun kau sungguh berani.”
Kata Liong Siau-in, “Jika seseorang membutuhkan
sesuatu, ia pasti akan menjadi lebih berani.”
“Kata-kata yang sangat bagus.”
Tiba-tiba ia terkekeh pada Hing Bu-bing. Katanya lagi,
“Jika kau hanya mendengar perkataannya, dapatkah kau
tahu bahwa ia hanya seorang anak kecil?”

925
Walaupun kepalanya masih tertunduk, Liong Siau-in
mengawasi kedua orang ini baik-baik. Ia merasa bahwa
hubungan dua orang ini sangat menarik.
Akhirnya Siangkoan Kim-hong berkata, “Kelebihanmu
yang terutama adalah bahwa kau tidak pernah bicara.
Namun kelemahanmu yang terbesar adalah bahwa kau
tidak pernah mendengarkan orang lain bicara.”
Hing Bu-bing diam saja.
Setelah sekian lama, akhirnya Siangkoan Kim-hong
bertanya pada Liong Siau-in, “Apa yang kau inginkan?”
“Ada banyak cara untuk mengatakan sesuatu. Aku dapat
menyatakan permohonanku dengan cara berputar-putar.
Namun aku tahu, waktu Pangcu sangat berharga. Jadi
aku akan menyampaikannya secara langsung, tanpa
tedeng aLing-aLing.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Bagus. Aku punya satu cara
yang mujarab untuk mengobati orang yang terlalu
banyak omong. Dengan memotong tenggorokan
mereka.”
Kata Liong Siau-hun, “Aku datang untuk melakukan
transaksi.”
“Transaksi?”
Wajah Siangkoan Kim-hong kembali membeku.
Lanjutnya, “Banyak orang mau bertransaksi dengan aku.
Kau tahu apa yang kulakukan terhadap mereka?”

926
Sahut Liong Siau-hun, “Aku mendengarkan.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku punya satu cara yang
mujarab untuk menghadapi mereka. Dengan membunuh
mereka semua!”
Wajah Liong Siau-in tidak berubah sedikitpun. Dengan
tenang ia berkata, “Tapi transaksi ini berbeda. Kalau
tidak, aku tidak mungkin berani datang.”
“Transaksi adalah transaksi. Apa yang berbeda dengan
yang satu ini?”
“Transaksi ini hanya menguntungkan Pangcu.”
“O ya?”
Liong Siau-in berkata, “Pangcu sangat ternama di seluruh
dunia. Kekayaanmu pun tidak terhingga. Kau bisa
memiliki apapun yang kau inginkan di dunia ini.”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Tepat sekali. Oleh sebab
itu, aku tidak bertransaksi.”
Kata Liong Siau-in, “Namun ada sesuatu di dunia ini yang
mungkin tidak bisa didapatkan oleh Pangcu.”
“O ya?”
“Barang ini mungkin tidak berharga tinggi. Namun
nilainya bagi Pangcu berbeda dari orang lain.”
“Barang apa yang kau bicarakan ini?”

927
Jawab Liong Siau-in, “Nyawa Li Sun-Hoan!”
Siangkoan Kim-hong tiba-tiba merasa sangat tertarik.
“Apa kau bilang?”
Sahut Liong Siau-in, “Nyawa Li Sun-Hoan ada di tangan
kami. Jika Pangcu berkenan melakukan transaksi, aku
akan membawanya kepadamu kapan pun kau inginkan.”
Siangkoan Kim-hong mulai berpikir-pikir.
Setelah cukup lama, wajahnya kembali menegang.
Katanya, “Li Sun-Hoan tidak berharga sama sekali. Aku
tidak peduli padanya.”
Kata Liong Siau-in, “Jika demikian, maka aku mohon
diri.”
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia memutar badan dan
berjalan pergi.
Liong Siau-in berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berkata, “Tunggu.”
Senyum puas terbayang di bibir Liong Siau-in. Namun
pada saat ia memutar badannya, di wajahnya hanya
terlihat rasa hormat dan tunduk. Ia membungkukkan
badannya dan berkata, “Ada lagi yang Pangcu ingin
sampaikan?”

928
Siangkoan Kim-hong tidak memandangnya. Matanya
tertuju pada cahaya lilin di atas meja itu. Katanya, “Apa
yang ingin kau tukarkan dengan nyawa Li Sun-Hoan?”
Sahut Liong Siau-in, “Ayah telah lama mendengar
kebesaran nama Pangcu. Ia sangat bersusah hati karena
belum pernah bertemu dengan Pangcu.”
Potong Siangkoan Kim-hong tidak sabar, “Omong
kosong. Cepat katakan yang kau inginkan.”
Kata Liong Siau-in, “Ayah berharap untuk dapat mengikat
persaudaraan denganmu di hadapan semua pendekar
dunia persilatan.”
Mata Siangkoan Kim-hong menyala karena amarah,
namun segera padam. Ia berkata dengan tenang,
“Sepertinya Liong Siau-hun memang orang yang pandai.
Sayangnya ia mengajukan permintaan yang sangat
bodoh.”
Kata Liong Siau-in, “Mungkin juga. Namun kadangkadang
cara yang paling bodoh adalah cara yang paling
efektif.”
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Apakah kau yaking aku
akan setuju dengan transaksi ini?”
“Jika tidak, mengapa aku mempertaruhkan nyawaku
datang ke sini?”
Tanya Siangkoan Kim-hong lagi, “Kau adalah anak
tunggal Liong Siau-hun, bukan?”

929
“Ya.”
“Seharusnya ia tidak menyuruhmu datang ke sini.”
Kata Liong Siau-in, “Tapi jika ia menyuruh orang lain,
kemungkinan besar orang itu tidak akan dapat menemui
Pangcu.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Pada awalnya ini hanyalah
sebuah transaksi. Namun sekarang kau sudah ada di sini.
Situasinya pun kini berbeda.”
“Kau berpikir untuk menggunakan diriku untuk menyuruh
ayah menyerahkan Li Sun-Hoan padamu, bukan?”
“Tepat sekali.”
Liong Siau-in tiba-tiba terkekeh dan berkata, “Pangcu
mungkin tahu segala sesuatu, namun kau salah sangka
terhadap ayahku.”
Siangkoan Kim-hong tersenyum mengejek. “Kau pikir ia
lebih suka membiarkan aku membunuhmu daripada
menyerahkan Li Sun-Hoan?”
“Betul sekali.”
Tanya Siangkoan Kim-hong tidak percaya, “Apa dia
bukan manusia?”
Jawab Liong Siau-in, “Dia manusia biasa. Namun ada
bermacam-macam jenis manusia.”

930
“Jenis yang mana dia?”
“Sama dengan engkau. Segala sesuatu bisa
dimanfaatkan, bisa dikorbankan, demi mencapai suatu
tujuan.”
Siangkoan Kim-hong mengatupkan mulutnya.
Setelah sekian lama akhirnya ia berkata, “Selama dua
puluh tahun ini, belum pernah ada seorang pun yang
bicara seperti ini kepadaku.”
Sahut Liong Siau-in, “Oleh sebab itulah aku
mengatakannya padamu. Untuk dapat membangkitkan
perasaanmu dengan perkataanku.”
Siangkoan Kim-hong melotot padanya dan berkata, “Jika
aku tidak setuju, apakah kalian akan melepaskan Li Sun-
Hoan begitu saja?”
“Ya.”
Siangkoan Kim-hong tertawa dingin. Katanya, “Kalian
tidak kuatir ia akan membalas dendam?”
Jawab Liong Siau-in, “Ia bukan orang semacam itu. Ia
tidak akan pernah berbuat seperti itu.”
Ia tertawa dan melanjutkan, “Jika ia seperti itu, ia tidak
mungkin terjerat dalam situasi seperti ini.”

931
Siangkoan Kim-hong membentak, “Jika kalian
melepaskan dia, kalian pikir aku tidak sanggup
membunuhnya dengan tanganku sendiri?”
Liong Siau-in tersenyum dan menjawab dengan tenang,
“Pisau Kilat si Li tidak pernah luput.”
“Kau pikir aku tidak dapat menghindar dari pisaunya?”
“Paling tidak kau tidak yakin betul, bukan?”
Siangkoan Kim-hong hanya mendengus.
Kata Liong Siau-in, “Mengingat kedudukan dan
keberhasilan Pangcu, mengapa harus mengambil resiko
yang tidak berguna seperti itu?”
Siangkoan Kim-hong tidak menyahut.
Kata Liong Siau-in lagi, “Lagi pula, walaupun ilmu silat
dan ketenaran ayahku biasa-biasa saja, ia adalah salah
satu orang terpandai di dunia ini. Pangcu pasti hanya
akan mendapatkan keuntungan jika memiliki saudara
angkat seperti dia.”
Siangkoan Kim-hong merenung sejenak, lalu tiba-tiba
bertanya, “Li Sun-Hoan pun adalah saudara angkatnya,
bukan?”
“Ya.”
“Jika ia dapat mengkhianati Li Sun-Hoan, mengapa ia
tidak akan mengkhianati aku?”

932
Sahut Liong Siau-in, “Karena Pangcu bukan Li Sun-
Hoan.”
Siangkoan Kim-hong tertawa terbahak-bahak. “Kau betul
sekali. Walaupun Liong Siau-hun berani mengkhianati
aku, ia tidak akan bisa.”
Tanya Liong Siau-in, “Apakah ini berarti bahwa Pangcu
telah setuju?”
Siangkoan Kim-hong berhenti tertawa. “Bagaimana aku
bisa yakin bahwa kalian memang sudah mendapatkan Li
Sun-Hoan?”
Sahut Liong Siau-in, “Jika Pangcu mengirimkan
pemberitahuan kepada para pendekar dunia persilatan
dan mengundang mereka menghadiri upacara
pengangkatan saudara antara Pangcu dengan ayahku….”
Potong Siangkoan Kim-hong, “Kau pikir mereka berani
datang?”
“Itu tidak jadi soal. Yang penting semuanya tahu.”
Siangkoan Kim-hong tersenyum sinis. “Rencana yang
sangat rapi.”
Kata Liong Siau-in, “Aku tahu Pangcu membutuhkan
waktu untuk berpikir. Aku tinggal di Ji-in-kek-can (Hotel
Awan Rejeki), menunggu jawaban Pangcu.”

933
Lalu tambahnya, “Setelah pemberitahuan disebarkan dan
diterima oleh para pendekar, aku akan mengantar Li
Sun-Hoan ke sini.”
Siangkoan Kim-hong mengejek. “Mengantar dia ke sini….
Hmmmh. Mana kalian sanggup?”
Kata Liong Siau-in, “Sudah tentu kami menyadarinya.
Jika Sim-bi Taysu dari Siau-lim-si dan Dian-jitya tidak
dapat melakukannya, bagaimana mungkin aku dapat
melakukannya. Akan tetapi….”
“Teruskan.”
“Jika Hing-siansing dapat membantu mengawal, pasti
tidak akan ada masalah.”
Siangkoan Kim-hong diam saja.
Tiba-tiba Hing Bu-bing berkata, “Aku akan pergi.”
Untuk pertama kalinya, seulas senyum tersungging di
bibir Liong Siau-in. Ia segera berlutut dan menyembah.
“Terima kasih.”
Siangkoan Kim-hong masih terdiam sampai lama. Tibatiba
ia bertanya, “Apakah ilmu silatmu sungguh punah
untuk selama-lamanya? Apakah Li Sun-Hoan yang
melakukannya?”
Wajah Liong Siau-in berubah. Ditundukkannya kepalanya
dan menjawab pendek, “Ya.”

934
Siangkoan Kim-hong mengawasi wajahnya dan bertanya,
“Apakah kau membencinya?”
Liong Siau-in berpikir lama sebelum menjawab, “Ya.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Sebetulnya kau seharusnya
membenci dia, malah seharusnya kau berterima kasih
padanya.”
Liong Siau-in mengangkat kepalanya sedikit karena
kaget, “Berterima kasih?”
Sahut Siangkoan Kim-hong dingin, “Jika ia belum
memusnahkan ilmu silatmu, hari ini kau pasti mati di
ruangan ini.”
Liong Siau-in menundukkan kepalanya semakin dalam.
Sambung Siangkoan Kim-hong, “Kau sudah begitu licik di
usiamu yang sangat muda. Dalam dua puluh tahun kau
pasti bisa menandingi aku. Jika kau tidak cacad,
mungkinkah aku membiarkanmu hidup?”
Liong Siau-in mengertakkan giginya kuat-kuat. Begitu
kuat sampai gusinya berdarah.
Namun kepalanya tetap tertunduk.
Bab 55. ****
Kegelapan.

935
Dalam kegelapan itu terdengar suara nafas merintih.
Lalu sunyi senyap.
Setelah sekian lama, terdengar suara seorang wanita. Ia
berbisik, “Tahukah kau, aku selalu ingin menanyakan
satu hal saja.”
Suara wanita ini sangat lembut dan menggoda. Jika
seorang laki-laki tidak ingin digoda oleh suara ini, ia
sebaiknya menjadi tuli saja.
Seorang laki-laki berbicara, “Apa yang ingin kau
tanyakan?”
Suara laki-laki ini sangat aneh. Jika engkau berada di
dekatnya, suaranya terasa datang dari jauh. Jika engkau
berada di kejauhan, suaranya seakan-akan berada di
sampingmu.
Tanya wanita itu, “Apakah kau benar-benar laki-laki?
Atau kau terbuat dari besi baja?”
Sahut sang pria, “Kau tidak tahu?”
Suara wanita itu terdengar semakin lembut. Katanya,
“Jika engkau adalah seorang laki-laki, mengapa kau tidak
pernah merasa lelah?”
Tanya sang pria, “Kau perlu istirahat?”
Si wanita mengikik manja. Katanya, “Kau pikir aku tidak
bisa mengiringimu? Bagaimana kalau kita coba lagi?”

936
Kata sang pria, “Tidak sekarang!”
“Kenapa?”
“Karena aku memerlukan engkau untuk berbuat
sesuatu.”
Sahut si wanita, “Akan kulakukan apapun yang kau
minta.”
Kata sang pria, “Bagus. Pergilah sekarang membunuh A
Fei.”
Si wanita seperti terhenyak mendengarnya. Setelah
beberapa saat, ia menghela nafas dan berkata, “Telah
kukatakan padamu. Belum saatnya membunuh dia.”
Kata sang pria, “Saat ini saat yang tepat.”
“Kenapa? Apakah Li Sun-Hoan sudah mati?”
“Belum. Tapi sebentar lagi.”
Tanya si wanita tidak sabar, “Di mana… Di mana dia?”
Sahut sang pria, “Dalam genggamanku.”
Si wanita tersenyum dan berkata, “Aku ada bersamamu
setiap malam beberapa hari terakhir ini. Bagaimana kau
dapat menangkapnya? Kau bisa terbelah menjadi dua?”

937
Sahut sang pria, “Jika aku menginginkan sesuatu, aku
tidak harus melakukannya sendiri. Orang lain akan
membawanya kepadaku.”
Kata si wanita, “Siapa yang membawanya kepadamu?
Siapa yang sanggup menangkap Li Sun-Hoan?”
Sahut sang pria, “Liong Siau-hun.”
Si wanita tercekat. Namun ia segera tersenyum dan
berkata, “Ah, sudah tentu Liong Siau-hun. Hanya sahabat
karib Li Sun-Hoanlah yang dapat mencelakai dirinya. Ia
sepertinya kebal akan segala senjata, kecuali perasaan.”
Sang pria berkata dingin, “Sepertinya kau sangat
memahami dirinya.”
Si wanita tertawa, katanya, “Aku memang memahami
lawanku lebih baik daripada sahabatku. Contohnya, aku
sama sekali tidak memahami dirimu.”
Segera si wanita mengalihkan pembicaraan, dan
menyambung, “Aku pun mengenal Liong Siau-hun. Tidak
mungkin ia akan memberikan Li Sun-Hoan kepadamu
tanpa alasan.”
“O ya?”
“Ia tidak ingin membunuh Li Sun-Hoan dengan
tangannya sendiri. Ia hanya ingin memanfaatkan dirimu
untuk melakukan pekerjaan itu.”
Tanya sang pria, “Kau pikir hanya itu tujuannya?”

938
“Apa lagi yang dia inginkan?”
“Ia ingin menjadi saudara angkatku.”
Si wanita mendesah, katanya, “Dia benar-benar tahu
caranya tawar-menawar. Apakah kau sudah
menyetujuinya?”
“Ya.”
“Apakah kau tidak menyadari bahwa ia hanya ingin
memanfaatkanmu?”
Sang pria tersenyum sinis.
Tiba-tiba ia tertawa bengis. Katanya, “Sayang sekali
rencananya terlalu polos.”
Tanya si wanita, “Terlalu polos?”
“Ia pikir jika ia menjadi saudara angkatku, maka aku
tidak akan mencelakainya. Hmmmh, sekalipun ia adalah
saudara kandungku, tidak akan ada perbedaan.”
Si wanita terkekeh. Katanya, “Kau benar. Jika ia bisa
mengkhianati Li Sun-Hoan, pasti ia akan mengkhianatimu
juga.”
Kata sang pria, “Walaupun Liong Siau-hun tidak berarti
apa-apa di mataku, anaknya cukup menarik juga.”
“Kau sudah bertemu dengan setan cilik itu?”

939
Kata sang pria, “Liong Siau-hun tidak datang sendiri
menemui aku. Anaknyalah yang datang.”
Si wanita menghela nafas, katanya, “Kau benar. Anaknya
adalah seorang setan cilik yang sudah matang.”
Sang pria berpikir sejenak lalu tiba-tiba berkata, “Kau
boleh pergi sekarang.”
Kata si wanita, “Kau tidak ingin aku menemanimu lebih
lama sedikit?”
“Tidak.”
Si wanita berkata dengan lembut, “Laki-laki lain selalu
tidak rela ketika mereka harus berpisah denganku.
Mereka ingin berada di sampingku selama mungkin.
Hanya engkau. Hanya engkaulah yang menyuruhku pergi
setelah kita selesai.”
Sang pria menyahut dingin, “Karena aku bukan laki-laki
lain. Akupun bukan sahabatmu. Kita hanya saling
memanfaatkan. Kita berdua tahu akan hal ini, mengapa
harus berpura-pura akrab?”
Ruangan itu gelap gulita, namun ada cahaya dari luar.
Remang-remang, cahaya bintang.
Di bawah cahaya bintang berdirilah seseorang. Ia berdiri
di luar ruangan itu. Matanya yang kelabu dan mati
menatap ke kejauhan. Tubuhnya tegak seperti patung.

940
Namun kini, dalam mata yang kelabu dan mati itu
terbayang suatu penderitaan yang dalam.
Ia tidak tahan berdiri di situ.
Ia tidak tahan mendengar suara yang terdengar dari
ruangan itu.
Namun ia harus bertahan.
Dalam hidupnya, ia hanya setia kepada satu
orang….Siangkoan Kim-hong.
Hidupnya, jiwa raganya, adalah milik Siangkoan Kimhong.
Pintu terbuka.
Sesosok bayang-bayang muncul di balik punggungnya.
Cahaya bintang menyinari wajahnya. Kecantikan,
keayuan, kepolosannya….siapapun yang melihatnya tidak
akan menyangka apa yang baru saja diperbuatnya.
Seorang dewi dari luar, seorang iblis di dalam…. Siapa
lagi kalau bukan Lim Sian-ji?
Hing Bu-bing tidak berpaling.
Lim Sian-ji mengitari tubuhnya dan berhenti di
hadapannya, menatapnya.

941
Matanya menatap lembut, selembut cahaya bintang di
langit.
Pandangan Hing Bu-bing tetap tertuju pada kegelapan di
kejauhan sana. Seolah-olah wanita itu tidak ada.
Tangan Lim Sian-ji menyentuh bahunya, membelai
tubuhnya.
Hing Bu-bing tidak bereaksi. Seolah-olah sekujur
tubuhnya sudah mati rasa.
Lim Sian-ji tersenyum. Dengan lembut ia berkata,
“Terima kasih karena kau telah menjaga pintu untuk
kami. Ketika aku tahu kau berada di luar, aku merasa
aman, merasa lebih bergairah melakukan apapun juga.”
Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hing Bu-bing
dan berbisik, “Aku juga akan memberi tahu padamu
sebuah rahasia. Ia mungkin sudah tua, tapi ia masih
hebat di atas ranjang. Mungkin karena ia lebih
berpengalaman daripada yang lain.”
Lalu ia segera melenggok pergi dengan senyum lebar di
bibirnya.
Hing Bu-bing masih berdiri di situ. Namun sekujur
tubuhnya gemetar hebat.
***
Ji-in-kek-can adalah hotel terbesar di kota itu. Di situlah
orang-orang kaya menghamburkan uang mereka.

942
Jika seorang pelanggan punya uang, ia dapat menikmati
segala kemewahan tanpa harus keluar dari kamarnya.
Di sini ia hanya menjentikkan jari dan para pelayan akan
membawakan makaLam-yang-hu terlezat, penyanyi dan
penari yang terbaik, bahkan pelacur yang paling hebat ke
kamarnya.
Di sini, sepanjang hari kamar-kamar tertutup, seperti
kota mati.
Tapi di malam hari, semua pintu terbuka.
Pertama-tama terdengar bunyi air mengalir. Lalu para
pengangkut barang berteriak-teriak, para pelayan sibuk
mengucapkan terima kasih. Terdengar pula suara
cekikikan para wanita dan sapaan-sapaan seperti ‘Tuan
Zhang’ atau ‘Tuan Ketiga Wang’.
Lalu terdengar suara denting cawan orang bersulang,
wanita-wanita menyanyi dan tawa genit mereka, suara
para pria menyombongkan diri….
Di tempat ini, di tengah malam, akan terdengar segala
macam suara yang tidak pantas.
Hanya satu kamar yang tidak bersuara.
Hanya kadang-kadang terdengar satu dua suara rintihan,
lalu jerit kesakitan.
Pintu kamar itu selalu tertutup.

943
Tiap malam, jika senja sudah tiba, seorang gadis akan
masuk ke sana. Gadis-gadis ini sangat cantik, sangat
muda, dan sangat lembut.
Ketika mereka memasuki kamar itu, mereka berdandan
cantik sekali. Senyum lebar menghiasi wajah mereka.
Walaupun senyuman itu palsu, senyuman itu tetap
menggairahkan.
Namun ketika mereka keluar dari kamar itu di pagi
harinya, semua telah berubah.
Rambut yang tersisir rapi akan berantakan, kadangkadang
malah terjambak sana-sini. Mata mereka yang
berbinar-binar akan menjadi lesu dan kuyu. Wajah
mereka yang cerah dan berdandan rapi terlihat
berantakan dan basah oleh air mata.
Tujuh hari. Setiap kali kejadiannya sama selama tujuh
hari.
Awalnya, tidak seorangpun memperhatikan. Namun
lama-kelamaan orang-orang mulai curiga.
Di tempat orang lain mencari kebahagiaan, kejadian
seperti ini cepat terlihat.
Orang pun mulai kasak-kusuk.
Tapi setiap orang terkesiap mendengar jawabannya.
“Orang di kamar itu sebenarnya belum benar-benar
dewasa!”

944
Ketika ditanyai, beberapa orang gadis langsung gemetar.
Air mata langsung meleleh, dan mereka tidak berani
mengatakan apa-apa.
Sewaktu terus didesak, mereka hanya bisa bilang,
“Ia….bukan manusia….bukan manusia.”
Senja sudah turun lagi.
Pintu kamar itu masih tertutup.
Di seberang pintu ada sebuah jendela. Seorang anak
berwajah pucat duduk dekat jendela itu, memandang ke
luar. Ia tidak bergerak sedikit pun. Termenung sangat,
sangat lama.
Kadang-kadang di matanya terpancar suatu kilatan yang
berbisa.
Liong Siau-in.
Makanan di meja hampir-hampir tidak disentuh.
Ia makan sangat sedikit. Ia sedang menunggu.
Menunggu kenikmatan yang lebih besar. Ia memang
tidak suka makan. Ia merasa, jika seseorang makan
terlalu banyak, kepalanya akan menjadi tumpul.
Akhirnya, terdengar suara ketukan pintu.
Liong Siau-in tidak menoleh. Ia hanya berkata dingin,
“Pintu tidak dikunci. Masuklah.”

945
Pintu terbuka. Suara langkah yang ringan dan perlahan
terdengar.
Satu lagi gadis kecil yang lemah dan sedikit pemalu.
Ini adalah tipe gadis kesukaan Liong Siau-in.
Karena fisiknya sendiri lemah, ia ingin bersikap ‘gagah’.
Hanya di hadapan gadis-gadis semacam inilah ia bisa
berpura-pura ‘gagah’.
Langkah itu berhenti dekat meja.
Tanya Liong Siau-hun, “Apakah orang yang membawamu
ke sini sudah memberitahukan harganya?”
Jawab si gadis malu-malu, “Ya.”
“Harga itu tiga kali lipat harga biasa, bukan?”
Lagi-lagi si gadis mengiakan.
Kata Liong Siau-hun, “Jadi kau akan menuruti
perkataanku, bukan? Kau tidak akan melawan, bukan?”
“Betul.”
“Bagus. Sekarang tanggalkan pakaianmu. Semuanya.”
Gadis itu diam saja. Setelah beberapa saat ia berkata,
“Kau tidak ingin melihatku menanggalkan pakaianku?”
Suara itu merdu, sangat sangat merdu.

946
Liong Siau-in tertegun.
Gadis itu tertawa merdu dan berkata, “Tahukah kau
bahwa melihat seorang gadis menanggalkan pakaiannya
itu sangat menggairahkan. Mengapa tidak kau coba?”
‘Gadis’ itu adalah Lim Sian-ji!
Lim Sian-ji memamerkan senyuman dewinya.
Liong Siau-in seolah-olah berubah menjadi batu.
Namun hanya sekejap saja. Segera ia tertawa dan
berdiri, katanya, “Ah, ternyata Bibi Lim yang datang
untuk bercanda denganku.”
Lim Sian-ji memandangnya mesra dan berkata, “Kau
masih memanggilku bibi?”
Liong Siau-in tersenyum dan menyahut, “Bibi tetap
adalah bibi.”
Tanya Lim Sian-ji, “Tapi kau sekarang sudah dewasa,
bukan?”
Ia mendesah lembut dan menggumama, “Aku baru pergi
tiga tahun saja, dan lihatlah kau sudah begini gagah.”
Liong Siau-in segera mengalihkan pembicaraan. “Kami
tidak pernah berhasil menemukan Bibi Lim selama tiga
tahun ini.”

947
Kata Lim Sian-ji, “Tapi aku tahu banyak tentang engkau.
Kudengar…..terhadap wanita, kau jauh lebih hebat
daripada orang-orang yang jauh lebih tua.”
Liong Siau-in menundukkan kepalanya malu-malu.
Katanya, “Tapi di hadapan Bibi Lim, aku masih anakanak.”
Lim Sian-ji mengangkat alisnya. Ia merengut dan berkata
manja, “Masih juga kau panggil aku bibi? Apakah aku
sudah setua itu?”
Lim Sian-ji berdiri di depannya dengan santai. Namun
keanggunannya, ekspresi wajahnya, senyumnya yang
begitu menggoda, tidak dapat ditemukan pada wanita
lain.
Mata Liong Siau-in mulai berbinar.
Lim Sian-ji menggigit bibirnya, katanya, “”Kudengar kau
suka gadis muda. Aku…Aku hanya seorang wanita tua.”
Liong Siau-in merasa jantungnya berdegup makin
kencang. Ia tidak bisa tidak berkata, “Ah, kau sama
sekali belum tua.”
“Benarkah?”
Kata Liong Siau-in, “Jika seseorang mengatakan bahwa
kau sudah tua, ia pasti seorang tolol, atau seorang buta.”
Lim Sian-ji terkekeh. “Jadi apakah kau adalah orang
tolol? Atau orang buta?”

948
Sudah tentu Liong Siau-in bukan orang tolol, bukan pula
orang buta.
Ketika Lim Sian-ji meninggalkannya, ia merasa agak
kesakitan.
‘Anak’ ini bukan seorang anak, bukan juga seorang tolol,
karena ia adalah seorang gila!
Orang gila yang mengerikan.
Bahkan Lim Sian-ji sekalipun belum pernah bertemu
dengan orang segila ini.
Namun di matanya terbayang suatu kepuasan.
Akhirnya ia mendapatkan informasi yang diinginkannya.
Dalam urusan tentang laki-laki, ia tidak pernah gagal.
Apakah orang itu seorang tolol, seorang pria baik-baik,
ataupun seorang gila!
Walaupun hari sudah mulai fajar, terlihat beberapa orang
yang masih minum.
Seseorang berseru, “Jika kau ingin minum, minumlah
sampai fajar tiba, atau sampai kau jatuh rebah ke
tanah….” Sepertinya, sebelum kalimatnya selesai, ia pun
sudah rebah ke tanah.
Mendengar kata-kata itu, Lim Sian-ji teringat pada
seseorang.

949
Bahkan serasa suara batuknya pun dapat terdengar.
Setiap kali ia ingat akan orang ini, kemarahannya
memuncak.
Karena ia tahu bahwa ia dapat menaklukkan semua pria
di dunia ini, tapi bukan dia.
Dan karena ia tidak dapat memiliki pria itu, maka ia
harus menghancurkannya!
Jika ia tidak dapat memiliki seseorang, siapapun tidak
boleh memilikinya.
Ia mengertakkan giginya dan berpikir, “Walaupun aku
menginginkan engkau mati, kau belum boleh mati
sekarang. Lebih-lebih lagi, aku tidak dapat
membiarkanmu mati di tangan Siangkoan Kim-hong. Jika
ia membunuhmu, tidak ada sesuatupun di dunia ini yang
dapat menghentikannya.”
“Namun suatu hari nanti kau pasti mati di tanganku. Mati
perlahan-lahan….oh, sangat perlahan-lahan….”
Bab 56. Pedang Keluar dari Sarungnya
Pedang.
Sebilah pedang yang sangat tipis. Sangat ringan. Bahkan
pegangannya pun terbuat dari kayu yang paling ringan.
Senjata lain bisa dengan mudah menghancurkan senjata
ini.

950
Namun ketika ia sudah menyerang, tidak ada seorang
pun yang dapat menahannya.
Pedang ini teramat unik. Mungkin hanya ada satu orang
di dunia ini yang bisa menggunakannya, berani
menggunakannya.
Pedang itu tergeletak di samping meja bersama dengan
seperangkat pakaian bersih.
Waktu A Fei terjaga, yang pertama dilihatnya adalah
pedang itu.
Matanya bercahaya.
Ketika ia melihat pedang itu, seolah-olah ia bertemu
kembali dengan kekasihnya yang telah lama pergi,
dengan sahabat lamanya. Darah bergolak di dadanya.
Ia mengangsurkan tangannya dan meraih pedang itu.
Tangannya gemetar. Namun sewaktu ia menggenggam
pegangan pedang itu, tangannya langsung tenang.
Tangannya menggenggam pedang itu, namun matanya
memandang ke tempat yang sangat…sangat jauh….
Pikirannya pun melayang jauh.
Ia teringat ketika pertama kali ia menggunakan pedang
itu. Pertama kali darah menetes dari ujung pedang itu.
Orang-orang yang mati di bawah pedang itu….. orangorang
yang jahat itu.

951
Darahnya bergejolak.
Waktu itu adalah waktu yang penuh duka dan cobaan,
namun juga waktu yang penuh kejayaan dan semangat!
Namun waktu itu telah berlalu, berlalu sangat sangat
lama.
Ia telah berjanji pada wanita yang dicintainya untuk
melupakan masa lalunya.
Walaupun kini ia hidup damai sejahtera, ia hidup
kesepian. Tapi apa salahnya? Bukankah semua orang
berharap untuk bisa hidup tenang?
Tidak ada suara langkah yang terdengar. Namun Lim
Sian-ji sudah berdiri di muka pintu.
Walaupun ia tampak agak lelah, senyumnya tetap
memikat.
Apapun yang dikorbankan A Fei, senyum itu telah
membayar lunas seluruhnya.
A Fei segera melepaskan pedang itu dari genggamannya.
Katanya sambil tersenyum, “Hari ini kau bangun lebih
dulu. Lihat, makin lama aku jadi semakin malas.”
Lim Sian-ji tidak menggubrisnya. Ia malah bertanya,
“Kau suka pedang ini?”

952
A Fei tidak menjawab pertanyaannya. Ia tidak ingin
mengatakan yang sebenarnya, tapi ia juga tidak ingin
berdusta.
Kata Lim Sian-ji, “Tahukah engkau dari mana pedang ini
berasal?”
Jawab A Fei, “Tidak.”
Lim Sian-ji berjalan perlahan-lahan menghapirinya dan
duduk di sampingnya. Katanya, “Aku menyuruh orang
membuatnya semalam.”
A Fei terkejut. “Kau?”
Lim Sian-ji mengangkat pedang itu dan berkata, “Apakah
pedang ini seperti yang dulu kau miliki?”
A Fei diam saja.
Tanya Lim Sian-ji, “Kau tidak menyukainya?”
A Fei berpikir cukup lama sebelum balik bertanya,
“Mengapa kau membuatkan pedang ini untukku?”
“Sebab kau akan memerlukannya.”
Tubuh A Fei menegang. Katanyanya ragu-ragu,
“Kau….Kau ingin aku membunuh seseorang?”
Jawab Lim Sian-ji, “Bukan. Aku ingin kau menyelamatkan
seseorang.”

953
“Menyelamatkan seseorang? Siapa?”
“Sahabatmu yang terbaik…..”
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, A Fei melonjak
dan berseru, “Li Sun-Hoan?”
Lim Sian-ji mengangguk. Wajah A Fei menjadi sangat
merah dan berkata, “Di manakah dia? Apa yang terjadi?”
Lim Sian-ji meraih tangannya dan berkata dengan
lembut, “Duduklah dulu. Kau harus sabar. Mari kuberi
tahu keseluruhan ceritanya.”
Beberapa kali A Fei menghela nafas panjang untuk
menenangkan dirinya, baru akhirnya ia duduk.
Kata Lim Sian-ji, “Selain engkau, ada empat pesilat yang
tangguh di dunia ini. Apakah kau tahu siapa saja mereka
itu?”
“Beritahukan saja padaku.”
“Yang pertama sudah pasti Si Tua Sun Yang Misterius.
Yang kedua adalah Siangkoan Kim-hong. Sudah tentu, Li
Sun-Hoan pun setaraf dengan mereka.”
Tanya A Fei tidak sabar, “Lalu yang terakhir?”
Lim Sian-ji mendesah dan berkata, “Namanya Hing Bubing.
Ia adalah yang paling muda, namun juga yang
paling mengerikan.”

954
“Mengerikan?”
“Karena ia seperti bukan manusia. Ia tidak punya peri
kemanusiaan. Tujuan utama dalam hidupnya adalah
membunuh. Kepuasan yang terbesar yang dirasakannya
adalah saat membunuh. Selain membunuh, ia tidak tahu
apapun juga, tidak peduli apapun juga.”
Terlihat api mulai berkobar di mata A Fei. “Senjata apa
yang digunakannya?”
Sambil meletakkan pedang di tangannya Lim Sian-ji
menjawab, “Pedang!”
Tanpa sadar, tangan A Fei terjulur mengambil pedang itu
dan menggenggamnya erat-erat.
Kata Lim Sian-ji, “Kudengar seni pedangnya sungguh
serupa dengan engkau, cepat dan telengas.”
Sahut A Fei, “Aku tidak tahu seni pedang apa segala. Aku
hanya bisa menggunakan pedang untuk menusuk leher
lawanku.”
“Itulah seni pedangmu. Tujuan dari segala macam seni
pedang itu sama saja.”
Kata A Fei, “Jadi maksudmu….Li Sun-Hoan ditahan oleh
orang ini?”
“Bukan hanya dia, namun juga Siangkoan Kim-hong….
Tapi Siangkoan Kim-hong mungkin tidak akan berada di
sana. Hanya dia sendiri.”

955
Ia tidak membiarkan A Fei menjawab dan terus bicara,
“Hanya jika kau pernah bertemu dengan orang ini sajalah
kau akan tahu betapa mengerikannya dia! Pedangmu
mungkin lebih cepat, namun perasaanmu….”
A Fei mengertakkan giginya. Katanya, “Aku hanya ingin
tahu di mana ia sekarang.”
Lim Sian-ji meremas tangannya dengan lembut. “Aku
tidak ingin kau menggunakan pedangmu lagi, tidak ingin
kau membunuh lagi, menyerempet bahaya lagi. Namun
demi Li-heng ….aku….aku harus merelakan kepergianmu.
Aku tidak boleh egois.”
A Fei memandangnya. Wajahnya penuh rasa terima
kasih.
Air mata mulai membasahi wajah Lim Sian-ji. Katanya,
“Aku bisa memberitahukan padamu di mana dia berada.
Namun kau….kau harus berjanji satu hal padaku.”
“Berjanji apa?”
Lim Sian-ji kembali meremas tangan A Fei dan berkata
sambil menangis, “Kau harus berjanji padaku bahwa kau
akan kembali. Aku akan menantikanmu di sini
selamanya….”
***
Kereta itu sangat besar.

956
Liong Siau-in duduk di sudut kereta itu sambil menatap
orang di depannya.
Orang itu sedang berdiri.
Bahkan di dalam kereta pun, orang ini tetap berdiri.
Betapapun tidak ratanya jalan itu, ia tetap berdiri tegak
seperti patung.
Liong Siau-in belum pernah melihat orang seperti ini. Ia
bahkan tidak pernah membayangkan bahwa ada orang
seperti ini di dunia.
Ia selalu menganggap bahwa orang-orang di dunia ini
sebagian besar sangat tolol, semua bisa dipermainkan
olehnya.
Namun entah mengapa, di depan orang ini ia merasa
sedikit ketakutan.
Selama orang itu ada di situ, ia merasa hawa
pembunuhan yang tebal menyesaki dadanya.
Namun ia pun merasa sangat puas.
Siangkoan Kim-hong telah setuju akan semua
permintaannya.
Surat pemberitahuan itu telah disebarkan. Sebagian
besar orang telah menerima dan membacanya. Upacara
itu sudah ditetapkan akan berlangsung satu bulan lagi.

957
Sekarang, dengan kedatangan Hing Bu-bing bersamanya,
Li Sun-Hoan pasti akan mati.
Ia tidak bisa membayangkan dengan cara apa Li Sun-
Hoan bisa lolos.
Ia menarik nafas panjang dan memejamkan matanya.
Seraut wajah yang cantik terbayang di benaknya. Orang
itu berbaring di pangkuannya dan berkata dengan mesra,
“Sungguh kau memang bukan anak-anak lagi. Kau tahu
jauh lebih banyak daripada kebanyakan orang. Aku tidak
tahu bagaimana caranya kau mempelajari semua ini.”
Saat itu Liong Siau-in tidak dapat menahan senyumnya.
“Ada hal-hal yang tidak perlu dipelajari. Kau akan tahu
saat kau siap melakukannya.”
Ia merasa sungguh dewasa.
Perasaan ini memang selalu membahagiakan bocah lakilaki
manapun juga.
Anak laki-laki berusaha keras bersikap seperti orang
dewasa. Orang-orang tua bangka berusaha mati-matian
bersikap seperti bocah-bocah…. Sungguh, inilah salah
satu ironi kehidupan manusia.
Saat itu, siapapun juga akan berhenti berpikir.
Namun Liong Siau-in malah terus berpikir lebih dalam.
Mengapa Bibi Lim datang kepadaku? Apakah ia hanya
ingin mengetahui di mana Li Sun-Hoan berada?

958
Saat ide itu meLimtas dalam pikirannya, Liong Siau-hun
menjadi lebih waspada. Mengapa ia begitu ingin tahu di
mana Li Sun-Hoan berada? Apakah ia ingin
menyelamatkan Li Sun-Hoan?
Sudah pasti tidak demikian. Liong Siau-in tahu berapa
besar Lim Sian-ji membenci Li Sun-Hoan. Ia pun tahu
bahwa wanita itu pernah berusaha menggunakan
Siangkoan Kim-hong untuk membunuh Li Sun-Hoan.
Lalu mengapa?
Ia tidak bisa berpikir lagi, karena ia sungguh tidak dapat
menemukan alasannya.
Ia tidak tahu bahwa keadaan sudah berubah. Dulu
memang Lim Sian-ji menginginkan Siangkoan Kim-hong
membunuh Li Sun-Hoan. Namun kini sudah berbeda.
Jika ia ingin membuat Siangkoan Kim-hong tetap
memerlukan dia, ia tidak boleh membiarkan Li Sun-Hoan
dan A Fei mati!
Kalau tidak Siangkoan Kim-hong akan langsung
menghabisinya, karena pernah terlepas dari mulut
Siangkoan Kim-hong, “Aku adalah aku. Aku bukan A Fei,
bukan Hing Bu-bing. Kita hanya saling memanfaatkan.
Jika kita tidak saling membutuhkan lagi, sampai sekian
saja perjumpaan kita.”
Arah angin dalam dunia persilatan begitu sering berganti,
sesering bergantinya perasaan hati seorang wanita. Tidak
ada yang tahu ke mana ia akan bertiup selepas ini.

959
Kereta itu berhenti di tempat yang sangat ramai di
tengah kota. Di depan sebuah toko sutra yang ramai dan
megah.
Apakah Li Sun-Hoan disembunyikan di sini?
Liong Siau-hun dan anaknya ini memang adalah orangorang
yang jenius. Mereka tahu bahwa keramaian adalah
tempat yang paling baik untuk bersembunyi.
Liong Siau-in bangkit berdiri dan berkata, “Silakan.”
Kata Hing Bu-bing, “Kau jalan dulu.”
Inilah pertama kalinya ia berbicara pada Liong Siau-in.
Ia tidak ingin berjalan di depan siapapun juga. Lebih
tidak ingin lagi ada seseorang yang berjalan di
belakangnya.
Mereka berjalan masuk ke toko sutra itu sampai ke
dalam.
Di belakang ada gudang.
Apakah Li Sun-Hoan disembunyikan di sini? Tempat ini
memang tempat yang sangat baik.
Namun Liong Siau-in terus saja berjalan, melewati
gudang itu.
Kini mereka sudah melewati pintu belakang.

960
Ada sebuah kereta kuda di balik pintu belakang itu.
Kali ini Liong Siau-in tidak berkata apa-apa. Ia
membungkuk hormat kepada Hing Bu-bing, lalu langsung
masuk ke dalam kereta itu.
Ternyata Li Sun-Hoan tidak ada di sana.
Liong Siau-in hanya mampir ke tempat itu untuk
menyamarkan jejak mereka, jika ada orang yang
menguntit mereka.
Ayah dan anak ini memang pasangan yang sangat licik.
Kereta kuda itu kini melaju menuju ke luar kota.
Mereka berhenti di gudang beras di luar kota itu. Namun
di sini Li Sun-Hoan pun tidak ada.
Di sini mereka turun dari kereta dan naik pedati
pengangkut beras yang ditarik oleh sapi.
Pedati ini mengantarkan mereka kembali masuk ke dalam
kota. Tempat dalam pedati itu sempit, sehingga mereka
berdesakan. Kata Liong Siau-in, “Maafkan atas
ketidaknyamanan ini.”
Hing Bu-bing diam saja.
Rencana mereka memang tidak bercacad. Gerakan
mereka sigap dan perubahan arah pun tajam dan sangat
tiba-tiba.

961
Bahkan penguntit yang sangat teliti pun akan kehilangan
jejak mereka.
Liong Siau-in tahu bahwa Hing Bu-bing tidak akan
memujinya. Ia hanya berharap dapat melihat secercah
senyum Hing Bu-bing di wajahnya.
Jika seseorang sudah berbuat sesuatu yang sangat
dibanggakannya tapi tidak mendapat pujian, itu sama
saja dengan seorang wanita yang sudah berdandan
begitu cantik untuk kekasihnya namun tidak dilirik
sedikitpun juga.
Lagipula, bagaimana pun juga Liong Siau-in memang
masih anak-anak.
Pikiran anak-anak dan pikiran wanita memang mirip.
Wajah Hing Bu-bing tetap kosong.
Kini pedati itu sudah berada di gang yang sepi. Di gang
ini ada tujuh buah rumah.
Ketujuh rumah ini adalah milik orang-orang penting.
Kerabat kaisar atau pejabat penting pemerintahan.
Tiba-tiba salah satu pintu terbuka.
Semua orang tahu ini adalah rumah Gubernur Han Limcoan.

962
Bagaimana mungkin seseorang dari kaum persilatan
memiliki hubungan dengan orang yang berkedudukan
tinggi seperti ini?
Tidak ada seorang pun yang akan menyangka.
Namun yang menunggu di ruang utama bukan lain
adalah Liong Siau-hun.
Ketika Hing Bu-bing keluar dari pedati, Liong Siau-hun
segera menghampirinya dengan senyum lebar. “Telah
lama kudengar kebesaran nama Hing-siansing. Sungguh
merupakan suatu kehormatan bagiku untuk dapat
bertemu dengan Tuan hari ini.”
Hing Bu-bing hanya memandangi pedangnya. Ia tidak
melirik sedikitpun pada Liong Siau-hun.
Liong Siau-hun tetap tersenyum. Katanya, “Aku telah
mempersiapkan makanan dan arak. Silakan Tuan
mencicipinya.”
Hing Bu-bing hanya berdiri saja tidak bergerak. Tanyanya
dingin, “Apakah Li Sun-Hoan ada di sini?”
Sahut Liong Siau-hun, “Ini rumah Han-tayjin. Beberapa
hari yang lalu Han-tayjin ingin pergi cuti untuk beberapa
saat. Kaisar mengijinkan dia beristirahat tiga bulan.”
Sampai di situ senyum puas terbayang di wajahnya.
Lanjutnya lagi, “Han-tayjin tidak punya sanak saudara.
Dan pengurus rumah tangganya adalah sahabat baikku.

963
Jadi setelah dia pergi, aku meminjam rumah ini untuk
sementara waktu.”
Sebenarnya cara dia bisa meminjam tempat ini mudah
saja. Memang uang dapat mengantarkan orang masuk ke
dalam berbagai macam tempat. Namun tidak banyak
orang yang dapat memikirkan tipuan semacam ini.
Tidak heran Liong Siau-hun merasa puas diri.
Hing Bu-bing masih memandangi tangannya sendiri.
Tiba-tiba ia berkata, “Kau pikir tidak seorang pun dapat
menguntit kita ke sini?”
Wajah Liong Siau-hun langsung berubah, namun senyum
tidak pernah lepas dari wajahnya. “Jika seseorang dapat
menguntitmu ke sini, aku akan menyembah dia
menyampaikan rasa kagumku.”
Kata Hing Bu-bing dingin, “Bersiaplah untuk
menyembah.”
Liong Siau-hun tetap tersenyum. “Tapi jika…..”
Setelah dua kata ini, ia berhenti bicara. Senyum pun
segera lenyap dari wajahnya.
Liong Siau-in mengikuti arah pandangan ayahnya.
Wajahnya yang pucat kini bersemu hijau.
Ada orang berdiri di sudut ruangan.

964
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan dia datang,
bagaimana dia masuk.
Bab 57. Kembang Api
Ia mengenakan jubah biasa berwarna hijau. Waktu ia
pertama mengenakannya jubah itu sangat bersih, namun
kini jubah itu penuh dengan lumpur dan keringat.
Celananya robek di lutut.
Tubuhnya kotor dan rambutnya berantakan.
Namun walaupun orang itu hanya berdiri di sudut sana,
Liong Siau-hun dapat merasakan hawa pembunuhan
yang terpancar dari tubuhnya.
Orang itu sama dengan pedang yang terselip di
pinggangnya.
Sebilah pedang tanpa sarung.
A Fei!
A Fei berhasil juga datang.
Mungkin hanya A Fei yang mampu menguntit mereka
sampai di situ.
Binatang yang paling licik, yang paling mudah lolos,
adalah rubah.
Bahkan seekor anjing yang sangat terlatih dan sangat
pandai pun mungkin tidak bisa menangkap rubah.

965
Namun A Fei bisa menangkap rubah sejak berusia
sebelas tahun.
Bukan pekerjaan mudah menguntit kedua orang ini. Oleh
sebab itu sekujur tubuh A Fei sampai kotor begini.
Namun inilah A Fei yang sesungguhnya.
Hanya dengan cara inilah ia dapat memperlihatkan
semangatnya, keteguhan hatinya, bahkan kebrutalannya
yang menggetarkan hati manusia!
Kebrutalan yang tenang! Sungguh kebrutalan yang luar
biasa!
Liong Siau-hun segera menenangkan dirinya. Katanya,
“Oh, ternyata Saudara A Fei. Senang berjumpa kembali
denganmu.”
A Fei melotot, memandangnya dingin.
Kata Liong Siau-hun lagi, “Aku sungguh kagum kau
berhasil tiba di sini.”
A Fei masih melotot padanya. Matanya bercahaya dan
tajam. Setelah dua hari menguntit mereka, akhirnya
matanya kembali memancarkan sinar tajam seperti dulu
lagi.
Ketajaman yang menandingin ketajaman Hing Bu-bing.

966
Liong Siau-hun tersenyum dan berkata lagi, “Walaupun
kau adalah penguntit yang hebat, Hing-siansing masih
dapat menemukanmu.”
A Fei memandang Hing Bu-bing.
Mata mereka beradu, seperti sebilah pedang dingin
beradu dengan batu yang keras.
Tidak ada yang tahu mana yang lebih tajam. Pedang
ataukah batu?
Walaupun tidak seorang pun bicara, sepertinya bunga api
terpercik dari tatapan mata mereka.
Liong Siau-hun memandang Hing Bu-bing, lalu
memandang A Fei. Katanya, “Walaupun Hing-siansing
menemukanmu, ia tidak berkata apa-apa? Tahukah kau
apa sebabnya?”
A Fei seolah-olah terhipnotis oleh Hing Bu-bing.
Kepalanya sama sekali tidak pernah menoleh.
Liong Siau-hun terkekeh. Jawabnya sendiri, “Karena
Hing-siansing ingin kau hadir di sini.”
Lalu ia menoleh ke arah Hing Bu-bing dan bertanya,
“Benar bukan Hing-siansing?”
Hing Bu-bing pun seperti terhipnotis oleh tatapan mata A
Fei. Ia pun tidak bergerak sedikitpun.

967
Setelah cukup lama akhirnya Liong Siau-hun mulai
tertawa. Katanya, “Hanya ada satu alasan mengapa
Hing-siansing ingin kau hadir di sini. Karena ia ingin
membunuhmu!”
Perlahan-lahan tatapan A Fei bergeser ke arah pedang
Hing Bu-bing.
Tatapan Hing Bu-bing pun sepertinya bergerak ke arah
pedang A Fei.
Mungkin dua pedang inilah yang paling mirip satu sama
lain di dunia ini.
Kedua senjata ini bukanlah senjata mustika yang dibuat
oleh pembuat senjata yang ternama.
Walaupun kedua pedang ini sangat tajam, keduanya pun
sangat tipis dan sangat rapuh. Mudah dipatahkan.
Walaupun kedua pedang ini bagaikan kembar, posisi
mereka sangat berlainan.
Pedang A Fei berada di pinggang depan, dengan
pegangan mengarah ke kanan.
Pedang Hing Bu-bing ada di sebelah kanan, dengan
pegangan mengarah ke kiri.
Di antara kedua pedang ini seolah-olah muncul suatu
medan magnet yang luar biasa kuat.

968
Mata kedua orang ini pun tidak pernah lepas menatap
pedang lawan. Mereka berjalan maju saling mendekat,
namun tatapan mereka tetap pada pedang lawan.
Saat mereka berjarak kurang lebih dua meter, tiba-tiba
mereka berhenti!
Lalu tubuh mereka kaku, tidak bergerak seperti patung.
Hing Bu-bing mengenakan jubah sederhana yang pendek
dan berwarna kuning. Jubahnya itu hanya sampai ke
lutut. Lengan jubahnya sangat ketat. Jari-jarinya kurus
dan panjang, dengan tulang-tulang yang menonjol ke
luar, menandakan kekuatannya yang besar.
Jubah A Fei lebih pendek lagi. Jari-jarinya pun kurus
panjang, dan sangat keras bagai terbuat dari batu.
Mereka tidak peduli penampilan namun kuku-kuku
mereka terpotong pendek.
Mereka tidak ingin apapun juga mengurangi kecepatan
mereka menghunus pedang.
Betapa serupanya kedua orang ini!
Akhirnya mereka berjumpa.
Hanya ketika mereka berdiri berdekatan, dan ketika
orang mengamati mereka dengan cermat, baru terlihat
bahwa di balik persamaan kulit luar mereka, terlihat pula
perbedaan mereka.

969
Wajah Hing Bu-bing terlihat seperti sebuah topeng. Air
mukanya kosong dan tidak pernah berubah.
Walaupun wajah A Fei serius dan dingin, selalu ada api
dalam pandangan matanya. Api yang begitu membara,
yang bahkan dapat membakar jiwa dan raganya.
Keseluruh raga Hing Bu-bing seolah-olah mati.
Mungkin sebelum ia dilahirkan, tubuhnya sudah mati
lebih dulu.
A Fei adalah orang yang sangat sabar. Ia bisa menunggu
dengan sabar, namun ia tidak pernah bisa sabar
menghadapi manusia.
Hing Bu-bing bisa membunuh seseorang hanya karena
sepatah kata, mungkin bahkan karena sekilas
pandangan. Namun jika perlu, ia dapat sabar
menghadapi apapun juga.
Keduanya memang unik. Keduanya sama mengerikan.
Tidak ada yang tahu mengapa Tuhan membuat dua
orang macam ini, dan mengapa membiarkan kedua
orang ini bertemu.
Ini sudah akhir musim gugur.
Daun-daun sudah mengering semuanya.

970
Angin tidak bertiup kencang, namun daun-daun terus
berguguran. Apakah mungkin ini karena hawa
pembunuhan yang begitu tebal?
Hawa dingin yang mencekam memenuhi tempat itu.
Walaupun kedua bilah pedang masih berada di pinggang
masing-masing, walaupun kedua orang ini belum lagi
menggerakkan tangan mereka sedikitpun, nafas Liong
Siau-hun dan anaknya sudah kembang kempis seperti
kekurangan oksigen.
Tiba-tiba, selarik cahaya berkilat!
Sepuluh kali cahaya itu berkelebat cepat ke arah A Fei!
Liong Siau-hun menyerang.
Sudah tentu ia tidak berpikir bahwa sambitan senjata
rahasianya akan mengenai A Fei. Namun jika A Fei
kerepotan melayani senjata rahasianya, maka pedang
Hing Bu-bing pasti akan dapat menembus
tenggorokannya!
Pedang berkilat di udara!
Serentetan bunyi ‘Ding, Ding’ terdengar. Sinar-sinar itu
jatuh ke tanah.
Pedang Hing Bu-bing sudah keluar. Ujung pedangnya
menyambar di sebelah telinga A Fei.

971
Tangan A Fei memegang pedangnya, tapi pedang itu
masih tersemat di pinggangnya.
Senjata rahasia Liong Siau-hun dihalau oleh Hing Bubing.
Wajah ayah dan anak sama-sama keruh.
Hing Bu-bing dan A Fei saling pandang. Ekspresi
keduanya tetap kosong.
Lalu Hing Bu-bing pelan-pelan memasukkan pedangnya
ke dalam sarungnya.
A Fei pun mengendurkan pegangannya pada pedangnya.
Setelah cukup lama, akhirnya Hing Bu-bing berkata,
“Apakah kau tahu bahwa tadi pedangku terarah pada
senjata rahasia itu, bukan padamu?”
“Ya, aku tahu.”
Ketika senjata rahasia itu disambitkan, pedang Hing Bubing
langsung bergerak. A Fei bukannya menghunus
pedang, malahan diam saja.
Sebelum A Fei berkata apa-apa lagi, Hing Bu-bing
menambahkan, “Namun reaksimu sudah menjadi
lambat.”
A Fei berpikir lama. Wajahnya menjadi muram. Sahutnya,
“Kau memang benar.”

972
Kata Hing Bu-bing, “Aku bisa membunuhmu.”
A Fei tidak perlu lagi berpikir. “Ya.”
Liong Siau-hun dan putranya saling pandang. Keduanya
menghela nafas lega.
Tiba-tiba Hing Bu-bing berkata, “Tapi aku tidak akan
membunuhmu!”
Wajah dua anak-beranak Liong ini berubah lagi.
A Fei menatap mata Hing Bu-bing yang kelabu dan mati
itu lekat-lekat. Setelah sekian lama, ia bertanya, “Kau
tidak akan membunuhku?”
“Aku tidak akan membunuhmu karena kau adalah A Fei.”
Matanya memancarkan rasa kepedihan yang begitu
dalam. Kini matanya bahkan tampak lebih muram
daripada mata A Fei.
Benaknya melayang jauh, memandang seseorang.
Seorang yang merupakan perpaduan seorang dewi dan
iblis.
Akhirnya ia berkata lagi, “Jika aku adalah engkau, kau
dapat membunuhku hari ini.”
Bahkan A Fei tidak mengerti apa maksudnya. Hanya Hing
Bu-bing yang tahu.

973
Siapapun yang hidup selama dua tahun seperti A Fei
akan mempunyai kecepatan reaksi yang jauh lebih buruk.
Terlebih lagi, ia telah dicekoki obat tidur setiap malam
selama dua tahun ini.
Obat-obatan ini pasti akan membuat reaksi orang
menjadi lambat.
Alasan Hing Bu-bing tidak membunuh A Fei pasti bukan
karena belas kasihan. Namun karena ia mengerti
penderitaan A Fei. Karena ia pun merasakan penderitaan
yang sama.
Mungkin juga ia membiarkan A Fei hidup supaya ada
orang yang sama menderita seperti dirinya.
Ketika seorang yang patah hati mengetahui bahwa ada
orang lain yang juga ditinggalkan oleh kekasihnya,
penderitaannya akan berkurang. Jika seseorang yang
kehilangan uang mengetahui ada orang lain yang
kehilangan lebih banyak, ia akan merasa terhibur sedikit.
A Fei hanya berdiri di situ, seakan-akan sedang berusaha
mencerna kata-kata Hing Bu-bing.
Kata Hing Bu-bing, “Sekarang, pergilah kau.”
A Fei mengangkat kepalanya dan berkata, “Aku tidak
akan pergi.”
Hing Bu-bing jadi bingung. “Kau tidak akan pergi? Kau
ingin aku membunuhmu?”

974
“Ya!”
Liong Siau-in tiba-tiba berteriak, “Bagaimana dengan Lim
Sian-ji? Apakah kau tega meninggalkannya sendirian?”
Kata-kata ini menusuk hati A Fei bagai sebatang jarum
yang tajam. Tubuhnya menjadi lemas.
Hing Bu-bing menoleh ke arah Liong Siau-hun dan
berkata pelan-pelan, “Aku suka membunuh orang. Aku
suka membunuh mereka dengan tanganku sendiri.
Mengerti?”
Liong Siau-hun memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku
mengerti.”
Kata Hing Bu-bing, “Sebaiknya kau benar-benar
mengerti. Kalau tidak, kaulah yang akan kubunuh.”
Ia mengalihkan pandangan dari Liong Siau-hun dan
bertanya, “Di mana Li Sun-Hoan? Antarkan aku
menemuinya.”
Liong Siau-hun melirik sekilas pada A Fei. “Bagaimana
dengan dia…..”
Sahut Hing Bu-bing dingin, “Aku bisa membunuhnya
kapan saja aku mau.”
A Fei merasa perutnya bergolak. Tiba-tiba ia
membungkukkan badan dan mulai muntah-muntah.

975
Muntahnya adalah ludah yang terasa pahit. Hanya ludah
yang terasa pahit.
Sudah dua hari ini dia tidak makan apa-apa.
“Kau harus berjanji bahwa kau akan kembali. Aku akan
menunggumu di sini selamanya…..”
Perkataan ini adalah perkataan wanita yang dikasihinya.
Demi perkataan ini, ia tidak bisa mati.
Tapi Li Sun-Hoan…..
Li Sun-Hoan bukan saja sahabatnya, ia adalah
pahlawannya. Bagaimana mungkin ia hanya berdiri di
situ menonton orang membunuh Li Sun-Hoan?
Ia terus muntah-muntah.
Kini ia sudah muntah darah.
***
Li Sun-Hoan tidak tahu di mana ia berada. Ia pun tidak
peduli.
Ia tidak tahu apakah ini siang atau malam.
Ia tidak bisa bergerak karena semua Hiat-to (jalan darah)
utamanya telah ditutup.
Tidak ada makanan, tidak ada air.

976
Ia sudah berada di situ lebih dari sepuluh hari.
Walaupun Hiat-to (jalan darah)nya tidak ditutup,
kelaparan juga akan membuatnya tidak bisa bergerak.
Hing Bu-bing memandangnya.
Ia tergolek di sudut ruangan.
Ruangan itu remang-remang. Tidak ada yang tahu
seperti apa air muka Li Sun-Hoan. Yang terlihat hanyalah
bajunya yang kotor dan sobek-sobek, wajahnya yang
kurus dan lemah, matanya yang sedih.
Tiba-tiba Hing Bu-bing berkata, “Jadi inilah Li Sun-Hoan.”
Sahut Liong Siau-hun, “Benar.”
Sepertinya Hing Bu-bing kecewa akan apa yang
dilihatnya dan tidak percaya pada Liong Siau-hun. Ia
bertanya lagi, “Inikah Li-tamhoa yang ternama itu?”
Liong Siau-hun mengeluh. “Aku tidak ingin
memperlakukan dia seperti ini. Namun….’Manusia tidak
ingin menyakiti harimau, tapi harimau ingin membunuh
manusia’. Keadaanlah yang memaksaku berbuat seperti
ini.”
Hing Bu-bing terdiam sesaat. Lalu bertanya, “Di mana
pisaunya?”
Liong Siau-hun pun berpikir sejenak. “Apakah Hingsiansing
ingin melihat pisaunya?”

977
Hing Bu-bing tidak menjawab, karena pertanyaan ini
sungguh bodoh.
Akhirnya Liong Siau-hun mengeluarkan sebilah pisau.
Pisau itu ringan, pendek, sangat tipis, seperti selembar
daun.
Hing Bu-bing memegang pisau itu erat-erat, seolah-olah
tidak ingin melepaskannya lagi.
Liong Siau-hun tersenyum sambil berkata, “Sebenarnya
pisau ini tidak istimewa. Juga tidak terlalu tajam.”
Kata Hing Bu-bing, “Tajam? Apakah kau pantas bicara
mengenai senjata yang tajam?”
Matanya melotot ke arah Liong Siau-hun. Katanya,
“Apakah kau tahu apa artinya senjata yang tajam itu?”
Matanya masih kelabu dan mati seperti biasanya. Namun
ada suatu yang menakutkan dalam mata itu, seperti
mata iblis dalam mimpi-mimpimu. Sangat mengerikan,
sampai-sampai kau tetap merasa takut walaupun sudah
terbangun.
Liong Siau-hun merasa ia mulai sesak nafas. Ia
memaksakan diri tersenyum dan berkata, “Tolong
jelaskan padaku.”
Mata Hing Bu-bing kembali menatap pisau itu. Katanya,
“Selama dapat membunuh, maka senjata itu adalah
senjata yang tajam. Kalau tidak, betapa mahalnya dan

978
tajamnya senjata itu, jika jatuh ke tangan orang yang
tidak berguna seperti engkau, senjata itu adalah
sampah.”
Sahut Liong Siau-hun, “Ya, ya. Hing-siansing memang
benar. Aku mengerti…..”
Hing Bu-bing tidak menggubrisnya sedikitpun. Ia tiba-tiba
memotong, “Tahukah kau ada berapa orang yang sudah
mati karena pisau semacam ini?”
“Mungkin….mungkin sudah tidak terhitung.”
Kata Hing Bu-bing, “Terhitung!”
Walaupun Kim-ci-pang baru berdiri kira-kira dua tahun,
mereka telah melakukan penelitian yang mendalam
terhadap dunia persilatan. Semboyan Siangkoan Kimhong
adalah ‘Setiap detil itu penting. Jangan ada
sedikitpun yang terlewatkan’, ‘Sepeser uang, sejumput
panen’.
Bukan keberuntungan yang membuat Kim-ci-pang
menjadi sangat berpengaruh.
Liong Siau-hun pun mendengar bahwa seberlum partai
itu berdiri, Siangkoan Kim-hong telah menyelidiki semua
toloh persilatan.
Berapa besar usaha yang diperlukan untuk mendapatkan
semuanya itu?

979
Liong Siau-hun sepertinya tidak betul-betul percaya. Ia
tidak tahan untuk tidak bertanya, “Jadi ada berapa?”
“Enam puluh tujuh.”
Lalu ditambahkannya dengan dingin, “Dari Keenampuluh
tujuh orang itu, tidak ada yang ilmu silatnya berada di
bawahmu.”
Liong Siau-hun hanya dapat pura-pura tersenyum.
Pandangannya beralih pada Li Sun-Hoan, seakan-akan
ingin Li Sun-Hoan menegaskan perkataan ini.
Namun Li Sun-Hoan tidak punya kekuatan sama sekali
untuk melakukan apapun juga.
Liong Siau-in tersenyum dan berkata, “Jika Li Sun-Hoan
mati di bawah pisau semacam ini. Hehehe….bukankah itu
lucu?”
Sebelum kalimatnya selesai, pisau itu sudah berkilat dan
melesat ke arah Li Sun-Hoan.
Liong Siau-in hampir saja melompat kegirangan.
Namun pisau itu tidak mendarat di leher Li Sun-Hoan,
tapi di batu yang berada di samping Li Sun-Hoan.
Ternyata Hing Bu-bing pun adalah seorang ahli senjata
rahasia.
Tiba-tiba Hing Bu-bing berkata, “Buka Hiat-to (jalan
darah)nya.”

980
Liong Siau-hun tergagap, “Tapi…..”
Hing Bu-bing tidak memberikan kesempatan padanya
untuk membantah. Ia berkata dingin, “Aku bilang, buka
Hiat-to (jalan darah)nya.”
Liong Siau-hun dan putranya saling pandang. Mereka
tahu persis apa maksud Hing Bu-bing.
Kata Liong Siau-hun, “Siangkoan-pangcu hanya
menginginkan Li Sun-Hoan. Tidak harus dalam keadaan
hidup.”
Liong Siau-in menyambung, “Siangkoan-lopek tidak
minum arak. Ia pun pasti membenci pemabuk. Hanya
pemabuk yang mati yang tidak minum arak dan tidak
menyebalkan.”
Liong Siau-hun berkata lagi, “Lagi pula, lebih mudah
membawa orang mati daripada orang yang masih hidup.”
Kata Liong Siau-in, “Tentu saja Hing-siansing tidak akan
membunuh orang yang tidak dapat membela diri. Jadi….”
Potong Hing Bu-bing tidak sabar, “Kalian terlalu berteletele.”
Kata Liong Siau-hun, “Baik, baik. Aku akan buka Hiat-to
(jalan darah)nya sekarang.”
Ialah yang menutup Hiat-to (jalan darah) Li Sun-Hoan.
Jadi membukanya pun tidak sulit baginya.

981
Liong Siau-hun menepuk pundak Li Sun-Hoan dan
berkata dengan lembut, “Toako, sepertinya Hing-siansing
ingin berduel denganmu. Ilmu pedang Hing-siansing
sangat ternama di dunia persilatan. Kau harus berhatihati.”
Di saat seperti ini ia masih punya muka untuk memanggil
Li Sun-Hoan ‘Toako’. Bahkan mengucapkannya dengan
rasa kasih sayang.
Tidakkah orang ini mengagumkan?
Li Sun-Hoan tidak berkata apa-apa.
Tidak ada yang perlu diucapkan. Ia hanya tersenyum
lemah dan perlahan-lahan mengambil pisau di
sampingnya.
Ia menatap pisau itu. Seolah-olah air mata akan menetes
dari matanya.
Ini adalah pisau yang terkenal tidak pernah luput.
Kini pisau ini ada di tangannya.
Namun apakah ia masih punya kekuatan untuk
menyambitkannya?
Seorang wanita yang kehilangan kecantikannya, seorang
pahlawan yang sampai pada ujung jalannya. Keduanya
adalah tragedi kehidupan.
Orang hanya dapat merasa kasihan pada mereka.

982
Namun saat ini, tidak ada yang mengasihani Li Sun-
Hoan.
Mata Liong Siau-in berbinar. Ia tersenyum sambil
berkata, “Pisau Kilat si Li tidak pernah luput. Apakah
masih bisa dikatakan seperti itu sekarang?”
Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan menatap Liong
Siau-in. Lalu ditundukkannya kembali.
Kata Hing Bu-bing, “Waktu aku akan membunuh
lawanku, aku selalu memberi kesempatan padanya.
Inilah kesempatanmu yang terakhir. Mengerti?”
Li Sun-Hoan tersenyum sedih.
Kata Hing Bu-bing lagi, “Baiklah, kau boleh bangkit
sekarang.”
Li Sun-Hoan mulai batuk-batuk.
Liong Siau-in berkata dengan lembut, “Jika Paman Li
tidak bisa bangun sendiri, mari aku bantu.”
Ia mengejapkan matanya dan melanjutkan, “Namun
kupikir tidak perlulah. Kudengar Paman Li dapat
menyambitkan pisau sambil berbaring.”
Li Sun-Hoan mendesah, seperti ingin berbicara.
Namun sebelum ia mengatakan apa-apa, seseorang telah
masuk ke dalam ruangan itu.

983
A Fei!
Wajahnya sangat pucat, seperti tidak ada darah. Tapi
malah ada sedikit darah di sudut mulutnya.
Saat itu ia tampak sangat tua.
Ia masuk secepat kilat, namun ketika ia sudah berada di
dalam, ia diam seperti patung.
Tanya Hing Bu-bing, “Kau masih belum menyerah?”
Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya. Kali ini air mata
menetes dari sudut matanya.
A Fei hanya meliriknya sekilas, hanya sekejap saja. Lalu
ia menoleh pada Hing Bu-bing dan berkata, “Sebelum
membunuhnya, kau harus membunuhku!”
Ia mengatakannya dengan tenang, dengan serius. Tidak
dengan emosi.
Ini menunjukkan ketetapan hatinya.
Mata Hing Bu-bing kini berubah. “Kau tidak peduli
padanya lagi?”
Sahut A Fei, “Walaupun aku mati, ia bisa tetap hidup.”
Ia mengatakannya dengan tenang. Namun di wajahnya
terbayang rasa sedih. Nafasnya memburu.
Hing Bu-bing melihatnya.

984
Sepertinya ia merasa puas mendengar perkataan itu.
Tanyanya lagi, “Kau tidak peduli jika ia merasa sedih?”
“Jika aku tidak merasa puas dalam hidupku, lebih baik
aku mati. Jika aku tidak mati ia akan menjadi lebih sedih
lagi.”
“Kau pikir ia adalah wanita seperti itu?”
“Tentu saja!”
Dalam pikiran A Fei, Lim Sian-ji bukan saja seorang dewi,
ia adalah wanita yang suci bersih.
Sebersit senyum terbayang di bibir Hing Bu-bing.
Tidak ada seorang pun yang pernah melihat dia
tersenyum. Bahkan ia sendiri pun tidak tahu kapan
pertama kali ia tersenyum.
Senyumnya sungguh kaku. Seolah-olah otot bibirnya
tidak tahu bagaimana caranya tersenyum.
Ia tidak pernah ingin tersenyum, karena senyum hanya
akan melunakkan hati manusia.
Namun kali ini senyumnya adalah senyum jenis
lain….senyum yang setajam pedang. Hanya saja, pedang
melukai tubuh manusia, seyum ini melukai hati manusia
yang terdalam.
A Fei sama sekali tidak mengerti arti senyum ini. Katanya
dingin, “Kau tidak perlu tersenyum. Walaupun ada 80%

985
kesempatanmu membunuhku, ada 20% kesempatan aku
membunuhmu.”
Senyum Hing Bu-bing segera lenyap. Katanya, “Karena
aku sudah bilang aku tidak akan membunuhmu, kini aku
tidak akan menyayangkan nyawamu lagi.”
“Memang tidak perlu.”
Kata Hing Bu-bing, “Aku ingin kau tetap hidup supaya
aku dapat melihat…..”
Sebelum kalimatnya selesai, pedang sudah berbicara.
Cahaya pedang menyambar satu sama lain, bergerak
secepat kilat.
Namun ada selarik sinar yang melesat lebih cepat lagi
daripada kedua pedang ini. Apakah itu?
Saat berikutnya, tidak tampak cahaya apapun lagi.
Seluruh gerak berhenti.
Bab 58. Pendekar
Pedang Hing Bu-bing telah menusuk bahu kanan A Fei.
Namun hanya satu inci saja.
Pedang A Fei masih terpaut beberapa inci dari leher Hing
Bu-bing.

986
Darah mengalir dari bahu A Fei, membuat bajunya
menjadi merah.
Mengapa pedang Hing Bu-bing berhenti sampai di situ
saja?
Di bahu Hing Bu-bing telah tertancap sebilah pisau!
Pisau Kilat si Li!
Kekuatan dari mana yang membuat Li Sun-Hoan
sanggup menyambitkan pisaunya?
Wajah Liong Siau-hun ayah dan anak menjadi pucat pasi.
Tangan mereka langsung gemetar, dan sedikit demi
sedikit mereka melangkah mundur. Mereka berdua
sungguh tidak tahu dari mana Li Sun-Hoan mendapatkan
tenaga.
Li Sun-Hoan bangkit berdiri!
Hing Bu-bing memutar badannya dan mengawasi Li Sun-
Hoan. Wajahnya tetap kosong. Setelah sekian lama,
akhirnya ia berkata, “Pisau yang hebat!”
Li Sun-Hoan terkekeh. Katanya, “Ah, tidak juga. Hanya
saja kau terlalu meremehkan aku. Kalau tidak,
bagaimana mungkin aku dapat melukaimu?”
Sahut Hing Bu-bing dingin, “Kau telah berhasil
memperdayai aku. Itu tandanya kau lebih hebat daripada
aku.”

987
“Aku tidak memperdayaimu. Aku juga tidak pernah bilang
bahwa aku tidak punya tenaga untuk menyambitkan
pisau. Kaulah yang berpikir demikian. Matamu sendiri
yang telah menipumu.”
Hing Bu-bing berpikir sejenak. “Kau benar. Akulah yang
salah. Tidak ada hubungannya denganmu.”
Kata Li Sun-Hoan, “Bagus. Kau mungkin adalah
pembunuh, namun kau bukan orang licik.”
Hing Bu-bing melirik pada Liong Siau-hun dan putranya,
lalu berkata dingin, “Orang yang licik tidak pantas
menjadi pembunuh.”
Kata Li Sun-Hoan, “Kau boleh pergi sekarang.”
Tanya Hing Bu-bing, “Mengapa kau tidak membunuh
aku?”
“Karena kau tidak bermaksud untuk membunuh
sahabatku.”
Hing Bu-bing menundukkan kepalanya dan memandang
pisau di bahunya. Katanya, “Namun aku berniat untuk
membuat tangannya cacad.”
“Aku tahu.”
“Tapi luka di bahuku sangat sangat ringan.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Jika seseorang memberiku sepeser,
aku akan membayar kembali tiga peser.”

988
Hing Bu-bing mengangkat kepalanya lagi dan menatap Li
Sun-Hoan. Walaupun ia tidak mengatakan apa-apa,
suatu perubahan aneh terjadi di matanya. Ia
memandang Li Sun-Hoan seperti ia memandang
Siangkoan Kim-hong.
Kata Li Sun-Hoan, “Aku juga ingin memberi tahu padamu
dua hal.”
“Apa?”
“Walaupun aku telah melukai 67 orang, 28 dari mereka
tidak mati. Mereka yang mati, memang pantas mati.”
Hing Bu-bing terdiam.
Li Sun-Hoan terbatuk-batuk kecil beberapa kali. Lalu
lanjutnya, “Aku belum pernah salah membunuh orang
dalam hidupku! Oleh sebab itulah….kuharap kau pun
berpikir dua kali sebelum membunuh orang.”
Hing Bu-bing terdiam cukup lama. Lalu katanya, “Aku
pun ingin mengatakan sesuatu.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Aku mendengarkan.”
“Aku tidak pernah menerima kebaikan orang lain,
ataupun pengajaran orang lain!”
Pada saat yang sama ia menghunjamkan pisau itu
dengan tangannya.
Pisau itu menembus tubuhnya sampai ke belakang.

989
Darah pun tersembur keluar.
‘Tang’, pedang pun jatuh ke tanah.
Tubuh Hing Bu-bing gemetar beberapa saat, namun
wajahnya tetap kosong. Ia tidak menunjukkan rasa sakit
sedikitpun. Tidak di wajahnya, tidak di tubuhnya.
Ia tidak mengatakan sepatah katapun, dan tidak
memandang kepada siapapun. Ia hanya melangkah
keluar ruangan.
Pendekar?..... Seperti apakah pendekar itu? Apakah arti
seorang pendekar?
Seorang pendekar biasanya menggambarkan seorang
yang dingin, brutal, kesepian, tanpa perasaan.
Seseorang pernah berkata begini tentang pendekar:
‘Membunuh orang seolah-olah mereka hanya rumput
kering, berjudi seperti tidak ada hari esok, minum arak
yang terlezat, mengambil tanpa penyesalan’.
Tentu saja tidak semua pendekar seperti ini. Ada juga
yang berbeda.
Namun ada berapa banyak pendekar semacam Li Sun-
Hoan?
Mungkin hanya ada satu hal yang pasti ditemukan dalam
semua pendekar. Hidup mereka sungguh menyedihkan.

990
A Fei menghela nafas panjang. Katanya, “Mungkin ia
tidak akan bisa menggunakan pedang lagi dalam
hidupnya.”
Kata Li Sun-Hoan, “Ia masih punya tangan kanan.”
Sahut A Fei, “Tapi ia sudah terbiasa menggunakan
tangan kirinya. Tangan kanannya pasti jauh lebih
lambat.”
Ia mendesah lagi dan menambahkan, “Bagi ahli pedang,
‘lambat’ berarti ‘mati’.”
Padahal biasanya A Fei tidak pernah mendesah.
Namun kini, ia bukan hanya mendesah bagi Hing Bubing,
namun juga bagi dirinya sendiri.
Li Sun-Hoan mengawasinya, lalu berkata, “Jika seseorang
punya kemauan kuat, walaupun ia tidak punya tangan, ia
masih bisa memainkan pedang dengan mulutnya. Tapi
jika ia patah semangat, walaupun ia punya dua tangan,
keduanya tidak berguna sama sekali.”
Ia terkekeh dan melanjutkan, “Banyak orang di dunia ini
memiliki dua tangan yang sehat. Namun berapa dari
tangan-tangan itu yang memiliki kecepatan kilat?”
A Fei mendengarkan dengan seksama. Setelah beberapa
saat matanya mulai berbinar-binar.

991
Tiba-tiba ia berlari ke samping Li Sun-Hoan dan
mencengkeram lengannya. Katanya, “Aku mengerti
maksudmu.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Aku tahu kau pasti mengerti.”
Saat ia mengatakannya, air mata mengalir membasahi
wajah kedua laki-laki itu. Jika ada orang lain yang
melihat adegan ini, hati mereka pun pasti tergerak.
Sayang sekali Liong Siau-hun dan putranya bukan orang
semacam ini. Diam-diam mereka berusaha kabur.
Li Sun-Hoan memunggungi mereka. Sepertinya ia tidak
tahu apa yang mereka lakukan.
A Fei memandang mereka sekilas saja, dan tidak berkata
apa-apa.
Setelah mereka keluar, A Fei baru mendesah dan
berkata, “Aku tahu kau pasti melepaskan mereka pergi.”
Li Sun-Hoan terkekeh. Katanya, “Ia pernah
menyelamatkan aku satu kali.”
“Ia menyelamatkanmu sekali, namun ia telah
menyakitimu berkali-kali.”
Li Sun-Hoan terkekeh lagi. “Bukannya aku lupa. Tapi
lebih baik aku tidak mengingat-ingatnya, karena ia pun
memiliki kesusahannya sendiri.”

992
A Fei berpikir sejenak, lalu tersenyum. “Akhirnya aku
menyadari bahwa ada begitu banyak ketidakadilan dalam
dunia ini.”
“Ketidakadilan?”
“Ya, ketidakadilan. Misalnya, ada orang yang selalu
melakukan kebajikan dalam hidupnya, namun melakukan
satu kesalahan. Satu kesalahan inilah yang akan
mengikuti dia seumur hidupnya. Orang lain tidak bisa
mengampuninya, dia pun tidak bisa mengampuni dirinya
sendiri.”
Li Sun-Hoan terdiam.
Ia tahu, kata-kata A Fei sungguh benar adanya.
A Fei melanjutkan, “Namun ada juga orang-orang seperti
Liong Siau-hun. Mungkin hanya satu kali ia berbuat
kebaikan dalam hidupnya, yaitu dengan menolongmu
satu kali itu. Dan kau tidak pernah berpikir bahwa dia
orang jahat.”
Kini Li Sun-Hoan menyadari maksud A Fei mengatakan
semuanya itu.
Ia sedang membela Lim Sian-ji.
Ia merasa Lim Sian-ji hanya melakukan satu kesalahan
dalam hidupnya, namun Li Sun-Hoan tidak dapat
memaafkannya.

993
Memang cinta itu luar biasa. Kadang manis, kadang
pahit, kadang mengerikan…. Ia bisa membuat pikiran
orang menjadi bodoh, membuat mata menjadi buta.
Tiba-tiba Li Sun-Hoan tertawa sumbang. Katanya, “Ada
kenangan yang begitu mudah terlupakan, namun ada
juga yang teringat sampai selama-lamanya.”
A Fei menghela nafas. Katanya, “Itu karena kau menolak
untuk mengingat kenangan-kenangan tertentu.”
A Fei memang masih muda, namun pandangannya
tentang hidup terkadang lebih dalam daripada orangorang
yang lebih tua.
Kata Li Sun-Hoan, “Jika kau berusaha melupakan hal-hal
tertentu, pikiranmu malah akan terus memikirkan
tentang hal itu. Seseorang tidak bisa memilih apa yang
ingin diingatnya. Mungkin ini adalah salah satu duka
kehidupan.”
Tanya A Fei, “Bagaimana dengan engkau? Apakah kau
secara jujur hanya mengingat bahwa ia telah
menyelamatkanmu? Apakah kau sungguh melupakan
perbuatannya yang lain?”
***
Ketika Liong Siau-hun dan putranya berhasil lolos,
mereka berdua sungguh merasa puas.
Liong Siau-hun tidak dapat menahan senyumnya dan
berkata, “Ingat, kau harus selalu memanfaatkan

994
kelemahan orang lain. Jika kau bisa memanfaatkan
lawanmu, kau tidak akan pernah kalah.”
Anaknya menjawab, “Aku sudah tahu semua kelemahan
Li Sun-Hoan.”
Sahut ayahnya, “Jadi kita pasti akan mengalahkannya,
cepat atau lambat.”
Tiba-tiba terdengar suara tawa.
Suara itu datang dari sisi atap yang lain.
Seseorang sedang duduk di atas atap sambil makan
sepotong ayam. Tidak lain adalah Oh si gila.
Matanya memandang pada paha ayam yang sedang
dimakannya, bukan pada Liong Siau-hun atau putranya.
Seolah-olah paha ayam itu lebih menarik baginya.
Katanya, “Kalian tidak perlu buru-buru kabur. Li Sun-
Hoan tidak akan mengejar. Kalau tidak, mana mungkin ia
membiarkan kalian keluar dari sana?”
Wajah Liong Siau-hun berubah bengis.
Kini ia tahu bagaimana Li Sun-Hoan mendapatkan
tenaga.
Namun ia tidak bisa menuduh Oh si gila.

995
Liong Siau-hun terpaksa terkekeh dan berkata, “Aku
minta maaf kalau kau harus mengurus Toako beberapa
hari ini.”
Sahut Oh si gila, “Tidak jadi soal. Li Sun-Hoan tidak
makan banyak. Ia hanya makan dua paha ayam dan
sekerat roti setiap hari. Lagi pula, kau menempatkan
orang tolol untuk menjaga pintu. Aku hanya perlu
menutup Hiat-to (jalan darah) tidurnya dua kali sehari,
dan ia benar-benar menyangka bahwa ia ketiduran
sebentar.”
Liong Siau-hun mengertakkan giginya. Ia ingin
memastikan bahwa penjaga pintu itu akan tidur selamalamanya
secepat mungkin.
Oh si gila melanjutkan, “Yang pasti, aku sudah
membayar lunas hutang-hutangku. Kita impas sekarang.
Dan aku tidak sudi berbicara dengan orang semacam
dirimu lagi.”
Liong Siau-hun cuma bisa pura-pura tersenyum.
Kata Oh si gila, “Tapi ada satu hal yang ingin
kusampaikan sebelum pergi.”
“Aku mendengarkan.”
“Kau memang orang busuk, namun Siangkoan Kim-hong
lebih busuk lagi. Jika kau ingin menjadi saudara
angkatnya, kusarankan lebih baik kau mencari tali untuk
menggantung diri saja.”

996
Ini memang perkataannya yang terakhir. Waktu
kalimatnya selesai, orangnya pun telah pergi.
Liong Siau-hun tersenyum, katanya menggumam, “Aku
tidak menyangka begitu banyak orang yang tahu bahwa
Siangkoan Kim-hong dan aku akan mengangkat
saudara.”
***
Mereka berjalan perlahan-lahan.
Li Sun-Hoan dan A Fei tidak berbicara.
Mereka tahu bahwa kadang-kadang diam itu lebih
berharga daripada banyak kata-kata.
Senja.
Terdengar bunyi seruling. Musiknya pun bersenandung
lagu-lagu musim gugur.
Irama semacam ini mudah membuat orang teringat akan
masa lalu, mengingatkan pada orang yang dikasihinya.
Tiba-tiba A Fei berkata, “Aku harus pulang.”
Tanya Li Sun-Hoan, “Apakah dia menantikanmu?”
“Ya.”

997
Li Sun-Hoan diam saja. Tapi tidak berapa lama, ia tidak
dapat menahan pertanyaannya. “Apakah kau yakin ia
sedang menantikanmu?”
Wajah A Fei memucat. Setelah beberapa saat akhirnya ia
menjawab, “Dialah yang menyuruhku pergi untuk
menyelamatkanmu.”
Li Sun-Hoan terdiam, tidak tahu harus bilang apa.
Ia cukup memahami jalan pikiran Lim Sian-ji. Namun kali
ini, ia tidak mengerti mengapa Lim Sian-ji berbuat seperti
itu.
Kata A Fei, “Ada dua orang yang begitu berharga dalam
hidupku. Kuharap….kau bisa berkawan dengannya.”
Ia mengatakannya sepatah demi sepatah, dengan sangat
lambat, dengan kepedihan di hatinya.
Melihat duka di wajahnya, hati Li Sun-Hoan pun sama
pedihnya.
Hanya orang yang pernah mencintai sepenuh hati, tahu
betapa besar kuasa cinta, betapa mengerikannya cinta.
Kata Li Sun-Hoan tiba-tiba, “Aku pun ingin menemuinya.”
Bibir A Fei terkatup rapat.
Kata Li Sun-Hoan, “Tapi jika kurang enak, tolong
sampaikan saja terima kasihku padanya.”

998
Akhirnya A Fei menjawab, “Aku….Aku hanya berharap
kau tidak akan menyakitinya.”
Sebenarnya A Fei tidak perlu mengatakannya. Karena ia
tahu bahwa Li Sun-Hoan tidak pernah menyakiti orang
lain….hanya menyakiti dirinya sendiri saja.
Namun ia tetap mengatakannya, demi Lim Sian-ji.
Ketika mereka mengangkat kepala, sejuta cahaya lilin
menyambut mata mereka.
Entah bagaimana, mereka sudah berada di jalan besar
yang ramai.
Jalan ini lebih ramai dan sibuk di malam hari daripada
siang hari. Ada banyak warung kecil di situ, dengan
begitu banyak lilin yang menerangi barang-barang
dagangan.
Sederetan gulali berkilauan di bawah cahaya lilin.
Tiba-tiba langkah Li Sun-Hoan terhenti.
Seraut wajah seakan-akan tergambar di permukaan
gulali itu.
Wajah seorang gadis muda berbaju merah, dengan mata
besar dan senyum ceria.
Lalu dilihatnya rumah makan yang menjual pangsit itu.
Apakah Ling Ling masih di sana?

999
Li Sun-Hoan merasa sangat malu karena ia sudah
melupakan gadis itu sama sekali.
Ia melihat wajah A Fei sama persis seperti wajah Ling
Ling ketika mereka pertama kali tiba di situ…. A Fei
belum pernah mengunjungi tempat seperti ini.
Li Sun-Hoan tertawa.
Ia merasa bahagia karena sahabatnya ini ternyata belum
kehilangan jiwa kanak-kanaknya.
Tiba-tiba A Fei berkata, “Sudah lama kita tidak minum
arak bersama.”
“Apakah kau ingin minum sekarang?”
“Entah mengapa, kalau bersama denganmu, aku jadi
ingin minum.”
Lalu A Fei pun tertawa.
Perasaan Li Sun-Hoan pun menjadi gembira. Katanya,
“Bagaimana kalau kita pergi ke restoran pangsit di depan
sana?”
A Fei tersenyum dan menjawab, “Boleh juga. Lagi pula
aku memang tidak mampu membayar yang lebih mahal.”
Ada hal-hal yang aneh dalam hidup ini.

1000
Makin jelek seorang wanita, semakin aneh tindakannya.
Makin miskin seseorang, semakin sering ia menjamu
sahabatnya.
Memang menjamu seseorang adalah hal yang
menyenangkan. Sayang sekali, tidak banyak orang yang
tahu bagaimana menikmatinya.
Di meja sudut itu duduk seseorang berjubah putih.
Waktu masuk, Li Sun-Hoan langsung melihatnya.
Siapapun akan tertarik melihat orang itu.
Walaupun tempat ini penuh minyak dan asap,
pakaiannya tampak begitu indah dan bersih. Jubahnya
seperti baru saja dicuci.
Jubahnya tampak sederhana, namun sangat mewah.
Tapi yang paling menarik adalah gayanya.
Ia memiliki karisma yang luar biasa.
Meja-meja di sekelilingnya kosong. Karena semua orang
merasa tidak pantas duduk bersebelahan dengan dia.
Ia adalah orang yang menggunakan sekeping perak
untuk mematahkan pikulan si lelaki kekar berjubah hijau
tempo hari. Orang yang memotong-motong kepingan
perak menjadi serpihan kecil.

1001
Mengapa ia masih di sini? Apakah ia sedang menantikan
seseorang?
Ia sedang mengangkat cawannya. Pada saat Li Sun-Hoan
masuk, tangannya berhenti di udara. Matanya langsung
tertuju pada wajah Li Sun-Hoan.
Di depannya duduk seseorang. Seorang gadis berbaju
merah dengan kuncir panjang.
Bab 58. Pendekar
Gadis itu mengikuti pandangan si jubah putih dan
menoleh. Ketika ia melihat Li Sun-Hoan, segera ia berlari
menyongsong dan memeluk pinggang Li Sun-Hoan.
Ia tersenyum lebar. “Aku tahu kau pasti kembali. Aku
tahu kau tidak akan melupakanku.”
Ling Ling sungguh-sungguh menantikannya….
Li Sun-Hoan kelihatan gembira. Ia menggenggam tangan
Ling Ling dan berkata, “Kau….Kau menungguku selama
ini?”
Ling Ling mengangguk. Ia menggigit bibirnya dan
berkata, “Mengapa kau begitu lama? Kau membuatku
sangat kuatir….”

1002
Kata A Fei tiba-tiba, “Kau sungguh-sungguh menantikan
dia?”
Baru sekarang Ling Ling melihat A Fei. Wajahnya
langsung berubah….. Tentu saja ia mengenali A Fei, tapi
A Fei belum pernah melihatnya.
Ling Ling mengejapkan matanya. Akhirnya ia berkata,
“Jika aku tidak menantikan dia, buat apa aku ada di
sini?”
Sahut A Fei dingin, “Kau bisa berada di sini untuk banyak
alasan. Namun jika kau menantikan seseorang, matamu
akan selalu memandang ke arah pintu. Siapapun yang
sedang menantikan seseorang tidak akan duduk
membelakangi pintu.”
Li Sun-Hoan tidak menyangka A Fei akan berkata
demikian.
A Fei tidak pernah menyakiti perasaan siapapun. Namun
perkataannya kali ini sungguh tajam, sungguh
mengerikan.
Karena ia tidak tahan ada orang membohongi
sahabatnya.
Li Sun-Hoan mengeluh dalam hati.
A Fei memang bisa mengawasi situasi lebih tajam
daripada kebanyakan orang di dunia ini.

1003
Namun bagaimana ia bisa menjadi begitu buta di
hadapan Lim Sian-ji?
Mata Ling Ling memerah. Air mata segera meleleh di
wajahnya. Katanya, “Jika kau sudah menunggu di tempat
yang sama selama sepuluh hari, kau akan tahu mengapa
aku memunggungi pintu.”
Ia menyeka air matanya dan melanjutkan, “Awalnya,
hatiku selalu berdegup saat ada pelanggan yang masuk.
Pikirku, ah, dia sudah kembali. Namun setelah berharihari,
aku merasa jika orang yang kau tunggu tidak akan
datang, apa gunanya memandangi pintu. Mengawasi
pintu akan membuat perasaanmu semakin tertekan.”
A Fei diam saja.
Ia merasa, ia sudah kelepasan bicara.
Ling Ling menundukkan kepalanya, katanya, “Jika bukan
karena Saudara Lu yang menemani aku, mungkin aku
sudah menjadi gila.”
Mata Li Sun-Hoan beralih pada si jubah putih, menemui
tatapannya.
Li Sun-Hoan berjalan menghampirinya dan berkata,
“Terima kasih….”
Si jubah putih langsung memotongnya, “Tidak perlu
berterima kasih. Aku bukan tinggal untuk menemaninya,
tapi untuk menunggumu.”

1004
“Menungguku?”
“Betul.”
Si jubah putih tersenyum dan melanjutkan, “Tidak
banyak orang di dunia ini yang layak untuk kutunggu.
Namun Li-tamhoa adalah salah satunya.”
Sebelum Li Sun-Hoan sempat menyahut, Ling Ling sudah
menyela, “Aku tidak pernah memberi tahu padamu siapa
dia. Dari mana kau tahu?”
Jawab si jubah putih, “Jika kau ingin berkelana dalam
dunia persilatan dan ingin hidup lebih lama, kau harus
mengenal beberapa orang. Li Tamhoan Kecil adalah
salah satunya.”
Tanya A Fei tiba-tiba, “Lalu siapa yang lain?”
Si jubah putih memandangnya dingin dan menjawab,
“Paling tidak, kau dan aku juga termasuk!”
A Fei memandangi kedua tangannya. Rasa letih
terbayang di matanya. Ia duduk di meja sebelah dan
berseru, “Minta arak!”
Si pelayan segera menghampiri, “Selain itu, Tuan ingin
makan apa?”
Sahut A Fei, “Arak kuning.”

1005
Setiap orang yang suka minum tahu, bahwa supaya lebih
cepat mabuk, minumlah arak dengan arak. Minum arak
kuning sebagai teman minum arak.
Namun sebagian besar orang tidak berbuat demikian.
Selain orang yang sangat sedih hatinya, tidak ada orang
yang ingin mabuk terlalu cepat.
Si jubah putih mengawasi A Fei lekat-lekat.
Matanya yang mencorong tajam perlahan-lahan
mengendur, lalu malah kelihatan kecewa. Namun ketika
matanya sampai pada Li Sun-Hoan, kembali
pandangannya menjadi waspada.
Kata Li Sun-Hoan, “Bolehkah kutahu namamu….”
Jawab si jubah putih, “Lu Hong-sian.”
Li Sun-Hoan tidak kelihatan terkejut. Ia tersenyum dan
berkata, “Jadi kau memang benar Si ‘Ruyung Perak Leher
Hangat’, Lu-tayhiap.”
Sahut Lu Hong-sian dingin, “Si Ruyung Perak Leher
Hangat sudah mati sepuluh tahun yang lalu!”
Saat itu Li Sun-Hoan tampak terkejut.
Namun ia tidak bertanya lebih lanjut, karena ia tahu Lu
Hong-sian akan menjelaskan.
Lanjut Lu Hong-sian, “Si Ruyung Perak Leher Hangat
sudah mati, namun Lu Hong-sian belum.”

1006
Li Sun-Hoan merenungkan apa arti perkataannya.
Lu Hong-sian adalah orang yang sombong.
Pek-hiau-sing menempatkan Ruyung Raja Peraknya di
urutan kelima dalam Kitab Persenjataan. Untuk orang
lain, hal ini sangat membanggakan. Namun baginya, ini
adalah penghinaan.
Ia tidak bisa berada di bawah orang lain. Namun ia juga
tahu bahwa Pek-hiau-sing tidak mungkin salah.
Jadi pasti dia sendiri sudah menghancurkan Ruyung Raja
Peraknya, dan menciptakan ilmu silat yang lebih
mematikan.
Li Sun-Hoan perlahan-lahan mengangguk dan berkata,
“Kau benar. Aku seharusnya sudah tahu bahwa Si
Ruyung Perak Leher Hangat sudah mati.”
Lu Hong-sian berkata dingin, “Lu Hong-sian juga sudah
mati sepuluh tahun yang lalu. Namun kini ia telah
dilahirkan kembali.”
Mata Li Sun-Hoan berbinar, tanyanya, “Apakah yang
sudah membangkitkan Lu-tayhiap kembali?”
Lu Hong-sian mengangkat sebelah tangannya, tangan
kanannya.
Ia meletakkan tangannya di atas meja dan berkata,
“Tangan inilah yang telah membangkitkan aku kembali.”

1007
Bagi orang lain, tangan ini kelihatan biasa saja.
Jari-jarinya panjang dan kukunya terpelihara rapi.
Terlihat sangat halus.
Sangat cocok dengan penampilan Lu Hong-siang.
Namun ketika diperhatikan lebih jauh, akan segera
tampak keistimewaannya.
Warna kulit jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis agak
berbeda dari yang lain.
Kulit di ketiga jari ini tampak lebih berkilauan.
Kelihatannya bahkan terbuat dari logam, bukan kulit
manusia.
Namun ketiga jari itu benar-benar menyatu dengan
tangannya.
Bagaimana tangan manusia yang terdiri dari kulit dan
daging mempunyai tiga jari yang terbuat dari logam?
Lu Hong-sian memandangi tangannya sendiri dan
mendesah. Katanya, “Sayang sekali Pek-hiau-sing sudah
meninggal.”
Tanya Li Sun-Hoan, “Memang kalau belum, kenapa?”
“Jika ia belum meninggal, aku akan bertanya padanya
apakah tangan juga termasuk senjata.”

1008
Li Sun-Hoan terkekeh. “Aku mendengar perkataan lain
yang menarik hari ini.”
Tanya Lu Hong-siang, “Apa perkataan itu?”
“Seseorang berkata bahwa jika suatu benda dapat
membunuh, benda itu termasuk senjata tajam.”
Lanjutnya, “Tangan adalah senjata. Tapi jika tangan itu
dapat membunuh, ia bukan saja merupakan senjata, ia
adalah senjata tajam.”
Lu Hong-sian tidak menjawab. Bergerak sedikitpun tidak.
Namun tiba-tiba tiga jarinya itu melubangi meja.
Tanpa suara. Cawan arak di meja tidak bergoyang sedikit
pun. Jari-jarinya menembus meja seolah-olah meja itu
terbuat dari tahu.
Kata Lu Hong-sian, “Jika tangan ini termasuk senjata, di
urutan berapakah dia dalam Kitab Persenjataan?”
Sahut Li Sun-Hoan, “Sulit dikatakan.”
“Kenapa?”
“Karena senjata adalah untuk menyerang manusia,
bukan untuk menyerang meja.”
Lu Hong-sian tertawa terbahak-bahak.

1009
Tawanya dingin dan sinis. Katanya, “Dalam
pandanganku, manusia di dunia ini tidak ada bedanya
dengan meja ini.”
“Benarkah?”
“Tentu saja ada beberapa perkecualian.”
Tanya Li Sun-Hoan, “Siapa?”
“Sebelumnya kupikir ada enam, tapi kini aku rasa hanya
ada empat.”
Sengaja ia melirik A Fei sebelum melanjutkan, “Karena
Kwe ko-yang sudah meninggal. Dan satu yang masih
hidup tidak ada bedanya dengan orang mati.”
A Fei memunggungi Lu Hong-sian, sehingga tidak
tampak air mukanya.
Namun saat itu, wajah A Fei berubah hijau.
Ia tahu apa maksud perkataan Lu Hong-sian.
Li Sun-Hoan tiba-tiba tertawa. Katanya, “Namun orang
itu pun akan bangkit kembali, dan tidak perlu menunggu
sepuluh tahun.”
Kata Lu Hong-sian, “Aku ragu.”
Tanya Li Sun-Hoan, “Jika kau bisa bangkit kembali,
mengapa dia tidak bisa?”

1010
“Aku berbeda.”
“Apa bedanya?”
“Aku tidak ‘mati’ di tangan seorang wanita. Dan hatiku
tidak pernah mati.”
‘Prang’. Cawan arak di tangan A Fei pecah berantakan.
Namun ia masih duduk di situ tanpa bicara.
Lu Hong-sian tidak melirik sedikitpun padanya. Matanya
terus tertuju pada Li Sun-Hoan. Katanya, “Alasanku
masuk kembali ke dunia persilatan adalah untuk
menemukan keempat orang ini. Untuk membuktikan
apakah tanganku ini dapat disebut sebagai senjata
tajam. Itulah alasannya mengapa aku menunggumu di
sini.”
Li Sun-Hoan berpikir cukup lama sebelum bertanya, “Kau
harus membuktikannya?”
“Ya.”
“Untuk siapa kau buktikan hal ini?”
“Untuk diriku sendiri.”
Li Sun-Hoan terkekeh. Katanya, “Betul sekali. Seseorang
bisa berdusta kepada semua orang, kecuali dirinya
sendiri…..”

1011
Lu Hong-sian segera bangkit berdiri dan berkata, “Aku
tunggu kau di luar!”
Entah mengapa, semua pelanggan restoran itu sudah
pergi semua.
Ling Ling ketakutan setengah mati.
Li Sun-Hoan bangkit perlahan-lahan.
Tiba-tiba Ling Ling menarik jubahnya dan berbisik,
“Kau…. Kau benar-benar akan pergi?”
Li Sun-Hoan tersenyum pahit dan menjawab, “Ada
beberapa kewajiban dalam hidup ini yang tidak dapat
dihindari.”
Lalu ia memandang A Fei.
A Fei tidak menoleh.
Lu Hong-sian baru akan keluar pintu.
Tiba-tiba A Fei berkata, “Tunggu sebentar.”
Langkah Lu Hong-sian terhenti, namun ia tidak menoleh.
Katanya, “Apa yang ingin kau katakan?”
Tangan A Fei masih menggenggam erat cawan pecah
tadi.
Darah menetes dari tangannya.

1012
Katanya, “Aku ingin membuktikan sesuatu. Membuktikan
apakah aku hidup atau mati!”
Lu Hong-sian langsung memutar badannya.
Seolah-olah ia baru menyadari keberadaan A Fei di situ.
Lalu matanya memicing dan seulas senyum terbayang di
sudut bibirnya. Katanya, “Bagus. Akan kutunggu kau
juga!”
Kuburan.
Ada banyak duel yang terjadi dalam dunia persilatan
tiap-tiap hari. Beragam orang berduel dengan beragam
cara di berbagai tempat.
Padang rumput, hutan, kuburan….
Pertarungan hidup dan mati hampir pasti berlangsung di
salah satu tempat ini. Karena tempat ini sendiri sudah
berbau kematian.
Hari sudah hampir malam. Kabut tebal menyelimuti
tempat itu.
Jubah Lu Hong-sian putih bagai salju. Ia berdiri di depan
sebuah batu nisan berwarna abu-abu. Di tengah kabut,
ia tampak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang
dikirim dari neraka, datang mengantarkan surat
undangan bagi orang-orang yang akan mati.

1013
Ling Ling berdiri di samping Li Sun-Hoan. Tubuhnya terus
gemetar.
Apakah ia kedinginan? Atau ketakutan?
Tiba-tiba A Fei berseru, “Pergi dari sini!”
Ling Ling langsung meringkuk dan bertanya, “Aku?”
Jawab A Fei, “Kau.”
Ling Ling menggigit bibirnya dan memandang Li Sun-
Hoan.
Li Sun-Hoan sedang memandang ke kejauhan.
Apakah hatinya sudah pergi jauh? Ataukah kabut terlalu
tebal?
Ling Ling menundukkan kepalanya dan menggumam,
“Aku tidak boleh mendengar percakapanmu?”
Jawab A Fei, “Tidak. Tidak ada yang boleh.”
Li Sun-Hoan mendesah dan berkata, “Ia telah
menemanimu selama tujuh hari. Kini kau harus
menemaninya.”
Ling Ling berpikir sejenak dan menghentakkan kakinya.
Ia berseru, “Kau tidak bermaksud datang atau tinggal di
sini. Kalian ini memang orang-orang bodoh. Yang kalian
tahu cuma membunuh. Kau bunuh aku, aku bunuh kau.
Apa arti semuanya ini? Kalian pun tidak tahu mengapa

1014
kalian melakukannya…. Jika semua pendekar seperti
kalian, aku berharap seluruh pendekar di dunia ini mati
saja!”
Li Sun-Hoan, A Fei, dan Lu Hong-sian hanya
mendengarkan saja.
Lalu mereka membiarkan gadis muda itu berlari pergi.
A Fei tidak meliriknya sedikitpun. Setelah didengarnya
langkah kakinya sudah jauh, ia berkata pada Li Sun-
Hoan, “Aku belum pernah minta apa-apa padamu,
bukan?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Kau tidak pernah minta apa-apa
kepada siapapun.”
Kata A Fei, “Namun aku ada permohonan saat ini.”
“Katakan saja.”
A Fei mengertakkan giginya. Katanya, “Aku tidak ingin
kau menghalangi aku. Aku harus melakukannya. Jika kau
menghalangi aku, aku akan…aku akan mati!”
Wajah Li Sun-Hoan tampak kusut. Katanya, “Namun kau
tidak perlu melakukannya.”
Kata A Fei, “Aku harus melakukannya karena….”
Dengan penuh kepedihan ia melanjutkan, “karena Lu
Hong-sian memang benar. Jika aku terus begini, aku

1015
tidak ada bedanya dengan orang mati. Aku tidak bisa
membiarkan kesempatan ini lalu begitu saja.”
“Kesempatan?”
“Jika aku ingin bangkit kembali, inilah kesempatanku
yang terakhir.”
Tanya Li Sun-Hoan, “Maksudmu tidak akan ada
kesempatan lain lagi?”
A Fei menggelengkan kepalanya. “Mungkin ada. Tapi
aku…. Jika aku kehilangan rasa percaya diriku hari ini,
aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi.”
Jika seseorang mengalami kemunduran, ia akan merasa
tertekan. Jika seseorang merasa sangat tertekan,
bagaimanapun kuatnya dia, akhirnya ia akan kehilangan
semangat.
Li Sun-Hoan berpikir lama dan mengeluh. Akhirnya ia
berkata, “Aku tahu maksudmu, tapi….”
Potong A Fei, “Aku tahu, aku tidak lagi secepat dulu.
Karena aku merasa gerak refleksku semakin lama
semakin lambat dalam dua tahun ini.”
Li Sun-Hoan berkata dengan lembut, “Selama kau punya
niat, segalanya pasti akan membaik lagi. Tapi sekarang
bukan waktu yang tepat.”
“Sekarang adalah waktu yang tepat.”

1016
“Sekarang? Kenapa?”
A Fei membuka tangannya. Masih ada pecahan cawan
tertancap di sana.
Jawab A Fei, “Karena tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
Rasa sakit di tubuh tidak akan mengurangi rasa sakit di
hati. Tapi paling tidak dapat membuat seseorang lebih
waspada, lebih cepat bereaksi.”
Memang benar. Rasa sakit dapat membangkitkan pikiran
manusia. Seperti kuda tunggangan. Jika kuda itu
dicambuk, rasa sakit itu akan membuatnya lari lebih
kencang.
Li Sun-Hoan terdiam sejenak dan bertanya, “Apakah kau
yakin?”
A Fei balik bertanya, “Apakah kau tidak yakin akan
kemampuanku?”
Li Sun-Hoan tertawa. Ia menepuk pundak A Fei keraskeras.
“Baiklah. Cepat kalahkan dia!”
Bab 60. Persahabatan
A Fei masih berdiri di situ ragu-ragu. Akhirnya ia
bertanya, “Gadis yang tadi…..siapakah dia?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Namanya Ling Ling. Ia adalah
seorang anak yang tidak bahagia.”

1017
Kata A Fei, “Aku hanya tahu bahwa ia adalah seorang
penipu.”
“O ya?”
“Ia tidak sungguh-sungguh menunggumu….. Atau jika ia
memang menunggumu, ia punya maksud-maksud lain.”
“Begitukah?”
“Jika ia memang berada di situ untuk menunggumu, ia
pasti akan merasa kuatir akan keadaanmu.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Mungkin….”
A Fei langsung memotong, “Hanya dengan melihatmu,
semua orang tahu bahwa kau baru saja mengalami
kesusahan besar. Namun ia tidak pernah bertanya
mengapa kau sampai begini.”
Kata Li Sun-Hoan, “Mungkin belum ada kesempatan.”
“Jika ia betul-betul sayang padamu, ia tidak perlu
‘kesempatan’ untuk menanyakan keadaanmu.”
Li Sun-Hoan berpikir sejenak, lalu terkekeh. “Kau kuatir
aku akan tertipu oleh gadis itu?”
Jawab A Fei, “Aku hanya tahu bahwa ia tidak jujur.”
Li Sun-Hoan tertawa. Katanya, “Jika kau ingin hidup lebih
bahagia, lebih baik jangan berharap bahwa wanita akan
jujur padamu.”

1018
Tanya A Fei, “Menurutmu, semua wanita adalah penipu?”
Seolah-olah Li Sun-Hoan tidak ingin menjawab
pertanyaan ini. Katanya, “Jika kau pandai, jangan
katakan pada wanita itu bahwa kau tahu bahwa dia
berdusta. Karena apapun yang kau katakan, ia selalu siap
dengan penjelasannya. Walaupun kau tidak percaya
penjelasannya, sampai matipun ia tidak akan mengaku
kalau ia berdusta.”
Ia terkekeh lagi dan melanjutkan, “Jadi, jika kau bertemu
dengan wanita yang menipumu, paling baik adalah purapura
percaya. Kalau tidak, kau hanya akan menyusahkan
dirimu sendiri.”
A Fei menatap Li Sun-Hoan sangat, sangat lama.
Tanya Li Sun-Hoan, “Ada lagi yang ingin kau katakan?”
Tiba-tiba A Fei tertawa. “Walaupun ada, tidak ada
gunanya diucapkan. Kau sudah tahu apa yang akan
kuucapkan.”
Lalu ia segera memutar badan. Memandang punggung A
Fei, kegembiraan bergelora di hati Li Sun-Hoan. Anak
muda yang gagah ini belum tamat.
Kali ini, ia bicara banyak, namun tidak sedikitpun
menyinggung Lim Sian-ji.
Apapun yang terjadi, cinta tidak dapat mengendalikan
seluruh hidup seorang laki-laki.

1019
A Fei memang laki-laki sejati.
Jika seorang laki-laki sejati merasa terhina, ia lebih baik
tidak bertemu kembali dengan wanita yang dicintainya,
lebih baik hidup menyepi, lebih baik mati.
Karena ia tidak akan punya muka bertemu dengan
wanita itu.
Namun apakah A Fei benar-benar dapat mengalahkan Lu
Hong-sian?
Jika ia kalah, meskipun Lu Hong-sian tidak
membunuhnya, dapatkah ia terus hidup?
Li Sun-Hoan membungkukkan badannya dan mulai
terbatuk-batuk.
Batuk darah.
Lu Hong-sian sudah berdiri menunggu. Ia tidak berkata
apa-apa.
Orang ini cukup sabar.
Lawan yang sabar adalah lawan yang mematikan.
A Fei segera merobek pakaiannya dan membalut luka di
tangannya.
Pecahan cawan itu masuk semakin dalam ke dagingnya.

1020
Darah, dalam kabut setebal apapun, masih merah
menyala!
Hanya darah segar yang dapat membangkitkan kekuatan
primitif dalam diri manusia. Yang lain, seperti cinta atau
benci, juga bisa membangkitkannya. Namun darah
adalah cara yang paling cepat dan tepat.
Seolah-olah A Fei telah kembali ke alam bebas yang
buas.
Jika kau ingin tetap hidup, lawanmu harus mati.
Lu Hong-sian mengawasi A Fei yang datang mendekat.
Tiba-tiba ia merasa suatu kekuatan meLingkupinya.
Ia merasa bahwa yang datang ini bukanlah manusia,
melainkan binatang buas.
Binatang buas yang terluka!
‘Perbedaan antara sahabat dan musuh sama dengan
perbedaan antara hidup dan mati.’
‘Jika seseorang menginginkan kematianmu, bunuhlah dia
lebih dulu. Tidak ada pilihan lain!’
Inilah hukum rimba. Inilah cara bertahan hidup.
Tidak ada belas kasihan dalam situasi seperti ini.

1021
Darah terus mengucur, tidak berhenti. Otot-otot A Fei
gemetar karena kesakitan. Selain lengannya, seluruh
tubuhnya diam tidak bergerak.
Tatapan matanya semakin lama semakin dingin.
Lu Hong-sian tidak bisa mengerti bagaimana anak muda
ini dapat berubah drastis dalam sekejap.
Namun ia tidak mengerti gaya ilmu pedang A Fei.
Kunci dari ilmu pedang A Fei bukanlah ‘cepat’ atau
‘kejam’, namun ‘tiba-tiba’ dan ‘akurat’.
Tusukan yang pertama harus mematikan, paling tidak
70% kemungkinan berhasil.
Oleh sebab itulah ia harus ‘menunggu’!
Menunggu sampai lawannya memperlihatkan titik
kelemahan mereka, menunggu kesempatan yang terbaik
untuk menyerang. A Fei bisa menunggu jauh lebih lama
dari kebanyakan orang di dunia ini.
Akan tetapi, Lu Hong-sian sudah bertekad bulat, tidak
akan memberi kesempatan sedikitpun padanya.
Kelihatannya Lu Hong-sian sedang berdiri dengan santai
di sana. Seolah-olah seluruh tubuhnya penuh kelemahan,
terbuka untuk diserang. Seolah-olah pedang A Fei dapat
menusuk tempat mana pun pada tubuhnya.

1022
Namun ketika seseorang kelihatan penuh dengan
kelemahan, ia sebenarnya tidak punya titik kelemahan
tertentu.
Tubuhnya telah menjadi sangat fleksibel.
Bisa menjadi ‘fleksibel’ adalah kemampuan tertinggi dari
ilmu silat.
Li Sun-Hoan memandang dari jauh dengan hati yang
risau.
Lu Hong-sian memang pantas untuk menjadi sombong.
Li Sun-Hoan cukup terkejut melihat kehebatan ilmu
silatnya. Ia tidak tahu bagaimana A Fei bisa
mengalahkannya….karena A Fei tidak punya kesempatan
sama sekali untuk menyerang.
Malam bertambah larut.
Tiba-tiba secercah sinar tampak di tengah-tengah
padang rumput itu. Kebakaran hutan!
Angin bertiup dari arah barat. Kebetulan wajah Lu Hongsian
menghadap ke arah barat.
Angin bertiup membawa sepercik api ke wajah Lu Hongsian.
Mata Lu Hong-sian berkedip. Tangan kirinya bergerak
sedikit, seperti akan menyeka percikan api itu, namun
segera berhenti.

1023
Dalam duel hidup dan mati, gerakan-gerakan yang tidak
perlu dapat mendatangkan bahaya bagi diri sendiri.
Namun walaupun tangannya hanya bergerak sedikit, otot
tangan kirinya sudah mengejang karena ‘sudah akan
bergerak’. Ini membuat fleksibilitas totalnya menjadi
berkurang.
Walaupun ini bukanlah kesempatan yang terbaik, ini lebih
baik daripada tidak ada kesempatan sama sekali.
A Fei tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan.
Pedang segera melesat!
Serangan ini sangat menentukan.
Seluruh hidup A Fei bergantung dari berhasil atau
tidaknya serangan ini.
Jika berhasil, ia akan menemukan kembali jati dirinya,
membersihkannya dari semua kekalahan sebelumnya.
Jika gagal, ia tidak akan pernah bisa memiliki
kepercayaan diri lagi. Walaupun ia hidup, mungkin
kematian akan lebih baik baginya.
Oleh sebab itu, ia harus berhasil. Ia tidak boleh gagal.
Namun apakah ia bisa berhasil?
Selarik cahaya berkilat, lalu berhenti.

1024
Pedangnya patah.
A Fei melangkah mundur. Pedang yang patah itu masih
tergenggam di tangannya.
Patahannya terjepit di antara jari-jari Lu Hong-sian.
Namun ujungnya tertanam di bahu Lu Hong-sian.
Walaupun ia berhasil menangkis serangan pedang A Fei,
Lu Hong-sian terlambat sedikit.
Darah mengucur dari bahu Lu Hong-sian.
Akhirnya A Fei berhasil.
Wajah A Fei berbinar aneh…..cahaya kemenangan.
Wajah Lu Hong-sian kosong. Ia melotot ke arah A Fei.
Patahan pedang itu masih tertancap di bahunya, tapi ia
tidak berusaha mencabutnya.
A Fei berdiri tidak bergerak. Ia tidak berusaha
menyerang lagi.
Seluruh kegalauan hatinya telah lenyap bersama dengan
serangannya yang pertama tadi.
A Fei hanya menginginkan ‘kemenangan’ bukan
‘pembunuhan’.
Seolah-olah Lu Hong-sian masih menunggu A Fei untuk
menyerang lagi. Setelah sekian lama, akhirnya ia
berkata, “Bagus. Bagus sekali.”

1025
Semua orang akan merasa bahagia, merasa bangga,
dipuji oleh orang sekaliber Lu Hong-sian.
Sebelum pergi, tiba-tiba Lu Hong-sian berkata,
“Perkataan Li Sun-Hoan sungguh tepat. Ia pun tidak
salah menilai engkau!”
Apa maksudnya? Apa yang dikatakan Li Sun-Hoan
padanya?
Akhirnya Lu Hong-sian menghilang ditelan malam.
Li Sun-Hoan tersenyum.
Ia menepuk pundak A Fei dan berkata, “Lihat, kau masih
seperti dulu. Aku kan sudah bilang tidak ada yang dapat
menghalangimu. Ingatlah, tiap orang punya masa-masa
suramnya. Jangan biarkan hal itu mempengaruhi
pikiranmu.”
Lalu tambahnya, “Kini kau bisa mulai hidup baru. Aku
yakin sepenuhnya padamu….”
A Fei memotong perkataannya, “Kau pikir aku tidak akan
pernah kalah?”
Li Sun-Hoan tersenyum dan menjawab, “Kelihaian Lu
Hong-sian tiada tandingannya. Jika ia tidak mampu
menghidar dari pedangmu, siapa yang bisa?”
Kata A Fei, “Tapi…..sebetulnya aku tidak merasa betulbetul
menang.”

1026
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak secepat dulu lagi.”
“Siapa yang bilang?”
“Tidak perlu ada yang bilang. Aku sendiri bisa
merasakannya…..”
Matanya masih tertuju ke arah perginya Lu Hong-sian.
Lanjutnya, “Aku merasa, sebenarnya ia bisa
mengalahkan aku. Tidak mungkin ia selambat itu.”
Kata Li Sun-Hoan, “Mungkin ia memang lebih hebat
daripadamu. Tapi kau telah memanfaatkan kesempatan
yang terbaik untuk menyerang. Di situlah kau lebih
unggul. Itulah sebabnya kau menang!”
Ia terkekeh dan menambahkan, “Itu sebabnya Lu Hongsian
mengaku kalah tanpa protes. Bagaimana mungkin
kau masih meragukan pujiannya?”
Akhirnya A Fei tersenyum.
Bagi seseorang yang sudah melalui penderitaan yang
begitu berat, apa yang lebih menyejukkan daripada
dukungan seorang sahabat?
Kata A Fei, “Kita harus merayakannya. Apa lagi yang
lebih pantas daripada minum arak?”

1027
Li Sun-Hoan tertawa, sahutnya, “Kau benar. Sudah tentu
kita harus minum arak. Perayaan tanpa arak adalah
seperti sayur tanpa garam….”
A Fei tersenyum. Katanya, “Sebenarnya perayaan macam
itu akan terasa lebih hambar daripada sayur tanpa
garam.”
Kini A Fei pun terlelap.
Arak memang minuman yang aneh. Kadang membuat
orang bahagia, kadang membuat orang cepat tidur.
A Fei hampir-hampir tidak pernah tidur beberapa hari
terakhir ini. Namun setiap kali terlelap, begitu cepat pula
ia bangun kembali. Ia heran mengapa di rumah ia bisa
tidur begitu lama.
Segera setelah A Fei terlelap, Li Sun-Hoan segera
meninggalkan penginapan.
Ia menuju ke penginapan yang lain. Ia pun masuk ke
dalam pekarangan penginapan itu.
Apa yang dilakukannya di situ tengah malam buta seperti
ini?
Hari sudah lewat tengah malam, namun dalam satu
kamar masih tampak cahaya lilin.
Li Sun-Hoan mengetuk pintu perlahan. Orang di dalam
segera menyahut, “Li-tamhoa?”

1028
Sahut Li Sun-Hoan, “Ya.”
Pintu pun terbuka. Lu Hong-sianlah yang membuka
pintu.
Mengapa ia ada di sini? Bagaimana Li Sun-Hoan bisa
tahu ia akan berada di sini? Apa maksud kunjungan ini?
Apakah mereka membuat janji pertemuan secara diamdiam?
Samar-samar terbayang senyuman aneh di wajah Lu
Hong-sian. Katanya dingin, “Li Tamhoa memang orang
yang tepat janji. Kau telah datang.”
Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis muda, “Aku kan
sudah bilang ia pasti menepati janjinya.”
Gadis muda itu tidak lain adalah Ling Ling.
Mengapa Ling Ling ada di sini bersama dengan Lu Hongsian?
Apa yang dijanjikan Li Sun-Hoan?
Li Sun-Hoan masuk ke kamar itu. Lalu ia membungkuk di
hadapan Lu Hong-sian. Katanya, “Terima kasih.”
Sahut Lu Hong-sian, “Tidak perlu berterima kasih. Ini
hanyalah kesepakatan di antara kita.”

1029
Kata Li Sun-Hoan, “Tapi tidak semua orang mau
menerima kesepakatan ini. Oleh sebab itu aku tetap
harus berterima kasih.”
Sahut Lu Hong-sian, “Kesepakatan ini memang aneh. Aku
kaget waktu mendengarnya dari Ling Ling.”
Kata Li Sun-Hoan, “Oleh sebab itu aku memintanya untuk
menjelaskan kepadamu.”
“Sebenarnya penjelasan itu tidak perlu. Kau ingin aku
mengalah dari A Fei karena kau ingin ia mendapatkan
kepercayaan dirinya kembali.”
“Memang itulah tujuanku. Aku merasa ia pantas
mendapat kesempatan.”
“Itu karena kau adalah sahabatnya. Sedangkan aku
bukan….. Aku tidak pernah menyangka ada orang yang
akan memintaku untuk berbuat sekonyol itu.”
“Tapi kau toh menyanggupinya.”
Lu Hong-sian menatap Li Sun-Hoan lekat-lekat. Katanya,
“Kau sungguh yakin aku akan menyanggupinya?”
Li Sun-Hoan terkekeh. Sahutnya, “Setidaknya ada
kemungkinan, karena aku melihat bahwa kau bukanlah
orang biasa. Hanya orang yang luar biasa yang sanggup
melakukan hal-hal yang luar biasa.”
Lu Hong-sian masih menatap Li Sun-Hoan. “Kau juga
yakin bahwa A Fei tidak akan membunuhku.”

1030
“Aku tahu bahwa ketika ia menang, walaupun hanya
seinci saja, ia tidak akan bertindak lebih jauh.”
Lu Hong-sian mendesah. “Kau memang tidak salah
menilai dirinya, juga diriku.”
Lalu tiba-tiba ia tersenyum mengejek. Lanjutnya,
“Namun aku hanya menyanggupinya kalah sekali ini saja.
Lain kali, sudah tentu akan kuhabisi dia.”
Mata Li Sun-Hoan bersinar. Tanyanya, “Apakah kau
begitu yakin?”
Lu Hong-sian balik bertanya, “Kau tidak percaya?”
Dua pasang mata saling pandang. Setelah sekian lama,
akhirnya Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata, “Mungkin
sekarang kau bisa yakin, namun di kemudian hari belum
tentu.”
Kata Lu Hong-sian, “Oleh sebab itu mungkin seharusnya
aku tidak menyanggupi permintaanmu. Membiarkannya
hidup adalah ancaman bagi hidupku.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Tapi kadang-kadang ancaman itu
baik bagi manusia, supaya ada semangat untuk terus
memperbaiki diri. Orang yang betul-betul ‘tidak
terkalahkan’ pasti sangat membosankan hidupnya.”
Lu Hong-sian termenung lama. Akhirnya ia berkata,
“Mungkin….tapi aku tidak menyanggupinya karena alasan
ini.”

1031
“Sudah pasti tidak.”
“Aku menyanggupinya karena aku suka akan balasan
yang akan kau berikan padaku.”
“Sudah pasti.”
Lu Hong-sian menegaskan, “Kau berjanji jika aku
melakukannya, kau akan melakukan apapun yang aku
inginkan.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Betul sekali.”
Bab 61. Permintaan
Tiba-tiba di wajah Lu Hong-sian terbayang kesepian yang
mendalam….. Jika seseorang merasa kesepian, ia pasti
sangat merindukan persahabatan. Sayangnya,
persahabatan sejati tidak dapat dimiliki setiap orang.
Lu Hong-sian berkata dingin, “Jadi maksudmu, kau
sanggup mati demi dia, dan dia sanggup mati demi
engkau?”
Sahut Li Sun-Hoan, “Betul sekali.”
“Tapi kau tahu bahwa aku tidak akan membunuh
engkau. Paling tidak aku tidak akan membunuhmu
dengan cara ini.”
Li Sun-Hoan diam saja.

1032
Lu Hong-sian melotot ke arah Li Sun-Hoan, namun
akhirnya ia menghembuskan nafas lega. Katanya, “Aku
sungguh-sungguh tidak akan membunuhmu…. Kau tahu
sebabnya?”
Li Sun-Hoan tetap diam. Lanjut Lu Hong-sian, “Karena
aku ingin kau selama-lamanya berhutang budi padaku.
Selamanya merasa berhutang padaku….”
Ia tersenyum sambil terus bicara, “Jika aku ingin
membunuhmu, masih ada banyak kesempatan di
kemudian hari. Tapi kesempatan yang ini tidak akan
datang lagi.”
Apa maksudnya? Apakah ia ingin bersahabat dengan Li
Sun-Hoan?
Li Sun-Hoan berpikir cukup lama. Lalu ia pun tersenyum
dan berkata, “Sebenarnya akan ada kesempatan lagi.”
Lu Hong-sian terkejut. “O ya?”
“Aku ingin kau melakukan satu hal lagi.”
Lu Hong-sian menatapnya seperti tidak mengenalnya
sampai sekian lama. Akhirnya ia berkata, “Kau belum lagi
membayar kesepakatan kita yang pertama. Kini kau
sudah minta aku melakukan tugas lain?”
Sahut Li Sun-Hoan, “Ini bukan kesepakatan. Kali ini aku
mohon bantuanmu.”

1033
Wajah Lu Hong-sian menjadi suram, namun matanya
berbinar-binar. Katanya, “Jika tidak mendapat apa-apa,
buat apa aku melakukannya?”
Li Sun-Hoan tersenyum. Senyumnya tenang dan tulus.
Ia menatap Lu Hong-sian lekat-lekat. Sahutnya, “Karena
‘aku’ yang meminta bantuanmu.”
Perkataannya terdengar janggal. Juga terkesan
sombong.
Tidak disangka kata-kata ini keluar dari mulut Li Sun-
Hoan.
Namun Lu Hong-sian tidak marah. Ia malah merasakan
suatu kehangatan dalam dadanya. Karena ia merasa
bahwa Li Sun-Hoan sedang mengulurkan persahabatan
kepadanya.
Mungkin persahabatan seperti inilah yang dapat
menyinari hidup manusia yang sepi.
Cahayanya tidak akan pernah padam. Selama masih ada
kehidupan, masih akan terus ada persahabatan yang
menghiasinya.
Sahut Lu Hong-sian, “Semua orang bilang bahwa Li Sun-
Hoan tidak pernah minta bantuan. Namun hari ini ia
minta bantuan kepadaku. Mungkin aku harus merasa
terhormat.”

1034
Li Sun-Hoan tersenyum. “Aku kan sudah berhutang
padamu. Tidak ada masalah berhutang sedikit lagi,
bukan?”
Lu Hong-sian tertawa. Kali ini, tertawa lepas.
Katanya, “Ada yang bilang bahwa hal yang terpenting
untuk seorang pedagang adalah belajar untuk bisa
mendapatkan bantuan orang lain. Kelihatannya kau ini
pedagang yang hebat.”
Tanya Li Sun-Hoan, “Jadi kau bersedia?”
Lu Hong-sian mengeluh. Katanya, “Aku tidak punya
alasan yang cukup kuat untuk menolakmu. Cepat
katakan permintaanmu sebelum aku berubah pikiran.”
Li Sun-Hoan terbatuk-batuk beberapa kali, lalu wajahnya
menjadi serius. Katanya, “Jika kau bertemu dengan A Fei
beberapa tahun yang lalu, ia pasti akan mengalahkanmu
tanpa aku harus memohon padamu untuk mengalah.”
Lu Hong-sian terdiam. Apakah ia setuju dengan
pernyataan ini?
Lanjut Li Sun-Hoan, “Jika kau bertemu dengannya saat
itu, kau akan melihat orang yang sangat berbeda.”
“Bagaimana ia bisa berubah begitu banyak hanya dalam
waktu dua tahun?”
“Karena ia bertemu dengan seseorang.”

1035
Tanya Lu Hong-sian, “Seorang wanita?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Sudah pasti seorang wanita. Hanya
seorang wanitalah yang dapat mengubah pria 180
derajat.”
Kata Lu Hong-sian, “Kalau begitu ia tidak betul-betul
berubah. Ia hanya sedang mabuk. Orang yang mabuk
karena seorang wanita patut dikasihani. Patut
ditertawakan.”
Li Sun-Hoan mendesah. “Mungkin kau benar. Namun kau
belum pernah bertemu dengan wanita ini.”
“Apa bedanya?”
“Jika kau bertemu dengannya, mungkin kau juga akan
menjadi seperti A Fei.”
“Kau pikir aku bocah kecil yang belum pernah melihat
wanita?”
Kata Li Sun-Hoan, “Mungkin kau pernah bertemu dengan
bermacam-macam wanita. Namun dia….dia sungguh
berbeda dari yang lain.”
“O ya?”
“Ada orang yang menggambarkan dia dengan tepat…. Ia
serupa dewi kahyangan namun ia menyeret laki-laki ke
neraka.”

1036
Mata Lu Hong-sian berbinar. Katanya, “Aku tahu siapa
dia.”
Kata Li Sun-Hoan, “Memang kau pasti bisa menerka.
Hanya ada satu wanita seperti itu dalam dunia ini.
Untung saja hanya satu. Kalau tidak, aku bergidik
membayangkan apa jadinya dunia ini.”
Kata Lu Hong-sian, “Aku mendengar banyak cerita
tentang wanita ini.”
Li Sun-Hoan kembali pada pokok pembicaraan. “Akhirnya
A Fei telah menemukan dirinya kembali. Aku tidak tega
melihatnya terjerumus lagi. Oleh sebab itulah…..
“Kau ingin aku membunuh wanita itu?”
“Aku hanya ingin A Fei tidak bertemu dengan dia lagi.
Jika ia bertemu dengan wanita itu, ia tidak akan dapat
menolaknya.”
Lu Hong-sian berpikir sejenak, lalu berkata, “Kau kan
bisa melakukannya sendiri.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Karena jika A Fei sampai tahu, ia
akan membenciku seumur hidup.”
Kata Lu Hong-sian, “Namun ia harus menyadari bahwa
kau melakukannya demi kebaikannya sendiri.”

1037
Sahut Li Sun-Hoan, “Betapapun pandainya seseorang, ia
akan menjadi orang tolol jika sedang dimabuk cinta.”
Lu Hong-sian berpikir lagi. “Mengapa tidak kau minta
orang lain? Mengapa kau minta aku?”
“Karena jika orang lain dapat mengalahkannya sekalipun,
mereka pasti tidak akan tega membunuhnya. Karena…..”
Ia mengangkat kepala dan memandang Lu Hong-sian.
Lanjutnya, “Lagi pula aku pun sulit menemukan orang
yang bisa kumintai bantuan.”
Dua pasang mata itu kembali bertemu. Kembali hati Lu
Hong-sian penuh dengan kehangatan.
Ia dapat melihat dari mata Li Sun-Hoan seluruh
kesedihannya, seluruh kesepiannya.
Kesepian dan kesedihan seorang pendekar.
Hanya dapat dipahami oleh para pendekar.
Tiba-tiba Lu Hong-sian bertanya, “Di mana wanita itu?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Ling Ling tahu di mana dia berada.
Tapi….”
Ling Ling sudah tertidur.
Li Sun-Hoan memandangnya sekilas, lalu berkata,
“Mungkin kau tidak bisa memaksanya memberitahu di
mana lokasi persisnya.”

1038
Lu Hong-sian tersenyum. “Jangan kuatir. Aku punya cara
tersendiri.”
***
A Fei terbangun. Li Sun-Hoan sudah terlelap.
Dalam tidur pun ia terus menerus terbatuk-batuk. Setiap
kali terbatuk, tubuhnya terguncang karena kesakitan.
Matahari mulai beranjak naik perlahan-lahan di luar
jendela.
A Fei tiba-tiba menyadari bahwa kini ia punya lebih
banyak rambut putih, lebih banyak keriput.
Hanya matanya yang masih berjiwa muda.
Dalam tidurnya Li Sun-Hoan selalu tampak sangat tua,
sangat lemah.
Jubahnya pun kotor.
Siapa yang bisa mengira bahwa dalam kulit seperti itu
terdapat hati yang begitu kuat, karakter yang begitu
agung, dan semangat yang begitu membara?
A Fei memandangnya. Setitik air mata jatuh ke pipinya.
Ia hidup hanya untuk melewati penderitaan demi
penderitaan… dalam berbagai bentuk, kepedihan.

1039
Namun ia tidak jatuh! Ia pun tidak pernah merasa hidup
itu suram dan murung.
Selama ia masih hidup, ia selalu menebarkan
kehangatan, cahaya terang.
Ia selalu membagi kebahagiaan dengan yang lain, dan
menyimpan kesedihan untuk dirinya sendiri.
Air mata A Fei terus menetes.
Li Sun-Hoan terus tertidur pulas.
Baginya, tidur merupakan suatu kemewahan.
Tiba-tiba A Fei merasa ingin pulang. Ingin cepat-cepat
bertemu dengan wajah manis itu. Namun ia tidak ingin
membangunkan Li Sun-Hoan. Maka A Fei membuka pintu
perlahan-lahan dan pergi tanpa suara.
Hari masih pagi. Matahari baru saja melewati atap
rumah. Orang-orang yang terburu-buru pergi sudah
berangkat dari penginapan itu, jadi pekarangan sudah
lengang. Hanya terlihat sebatang pohon yang rindang,
berdiri sendirian di tengah-tengah angin musim gugur
yang dingin.
Li Sun-Hoan bisa diibaratkan seperti pohon ini. Walaupun
ia tahu bahwa musim gugur hampir berlalu dan musim
dingin sebentar lagi akan tiba, ia tidak mau menyerah,
sampai pada detik terakhir.

1040
A Fei mendesah. Perlahan-lahan ia berjalan ke luar
pekarangan itu.
Daun-daun di pohon rindang itu sudah mulai layu. Satu
per satu berguguran. Di depan matanya, jatuh ke
tubuhnya….
***
Api masih menyala. Sup kacang sudah mendidih.
A Fei tidak pernah makan terburu-buru. Ia menyuap sup
ke dalam mulutnya dan menelannya perlahan-lahan. Jika
perut seseorang kenyang, ia akan merasa lebih
bersemangat.
Ia suka perasaan ini.
Seorang pegawai jaga malam akhirnya mempunyai
sedikit waktu senggang. Ia duduk dekat api unggun dan
minum arak perlahan-lahan.
Arak ini arak sisa, sudah dingin. Namun pegawai itu
merasa cukup puas.
Ia berbahagia karena ia merasa puas.
Hanya orang yang sungguh merasa puas dapat
merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
A Fei selalu mengagumi orang seperti ini. Ia ingin minum
bersama dengan orang ini.
Namun ia berusaha menahan diri.

1041
‘Mungkin aku akan segera bertemu dengannya…..’
Ia tidak ingin si dia mencium bau alkohol di tubuhnya.
Sebagian besar orang di dunia ini hidup demi orang
lain….. Sebagian untuk orang yang mereka cintai,
sebagian untuk musuh mereka. Keduanya sama-sama
hidup menderita.
Sangat sedikit orang di dunia ini yang sungguh-sungguh
berbahagia.
Angin bertiup sangat kencang. Debu ikut menari-nari
mengikuti tiupan angin. Tidak banyak orang berjalan di
luar sana.
A Fei mengangkat kepalanya dan melihat ke luar pintu.
Kebetulan dua orang sedang lewat.
Dua orang ini tidak berjalan cepat, namun kelihatannya
mereka sedang terburu-buru. Pikiran mereka terpusat
pada jalan di hadapan mereka, tidak menghiraukan yang
lain.
Orang yang berjalan di depan adalah seorang tua
bertubuh kecil dan berambut putih. Ia memegang pipa di
sebelah tangannya. Jubahnya yang berwarna biru sudah
sangat pudar, hampir kelihatan putih.
Seorang gadis muda berjalan mengiringinya. Matanya
besar dan rambut panjangnya dikuncir ekor kuda.

1042
A Fei mengenali dua orang ini. Ia pernah melihat mereka
dua tahun yang lalu. Mereka adalah si tua tukang cerita
dan cucunya. Ia juga ingat bahwa nama mereka adalah
Sun.
Namun mereka tidak melihat A Fei.
Jika mereka melihatnya, mungkin kejadiannya akan
menjadi lain.
A Fei menghabiskan supnya. Ia mengangkat kepala lagi
dan melihat seorang lain yang sedang lewat.
Orang ini sangat jangkung. Ia mengenakan jubah
berwarna kuning, topi bambu yang lebar dan ditarik ke
bawah dalam-dalam sehingga wajahnya tidak kelihatan.
Cara berjalannya sungguh janggal. Kelihatannya ia juga
sedang terburu-buru dan tidak menoleh untuk melihat A
Fei.
Hati A Fei melonjak.
Hing Bu-bing!
Mata Hing Bu-bing tertuju lurus ke depan. Sepertinya ia
sedang menguntit si tukang cerita. Ia pun tidak melihat A
Fei.
Namun A Fei melihatnya, juga melihat pedang di
pinggangnya. Namun A Fei tidak melihat tangan yang
buntung, yang dibalut kain.

1043
Karena jika A Fei sudah melihat pedangnya, ia tidak bisa
melihat yang lain.
Karena pedang inilah yang telah membuatnya mencicipi
pahitnya kekalahan.
Karena pedang inilah yang hampir saja menghancurkan
hidupnya.
A Fei mengepalkan tangannya. Luka di tangannya
terbuka kembali. Darah mengalir keluar. Tubuhnya
mengejang karena rasa sakit itu.
Ia lupa akan tangan Hing Bu-bing yang buntung.
Ia hanya ingin menantang Hing Bu-bing sekali lagi.
Hanya itu yang diinginkannya.
Hing Bu-bing cepat berjalan lewat depan pintu itu.
A Fei bangkit berdiri. Ia mengepalkan tangannya lebih
kuat lagi.
Semakin sakit rasanya, semakin tajam kewaspadaannya.
Tiba-tiba pegawai itu merasa dingin di sekitarnya. Ia
menoleh kiri-kanan dan bertemu dengan mata A Fei.
Sepasang mata yang berkobar-kobar, namun membuat
orang yang melihatnya merasa dingin sekujur tubuh.
Cawan arak yang sedang di pegang pegawai itu terlepas
dari tangannya dan jatuh ke tanah.

1044
Namun cawan itu tidak sampai menyentuh tanah. Tibatiba
A Fei mengulurkan tangannya dan menangkapnya.
Tidak ada yang bisa melihat bagaimana ia menangkap
cawan itu.
Pegawai itu ketakutan setengah mati.
Perlahan-lahan diletakkannya cawan itu di atas meja.
Lalu ia mengisinya dengan arak dan minum secawan
penuh.
Rasa percaya diri bergolak memenuhi hatinya.
Saat itu, seorang lagi berjalan lewat depan pintu.
Orang inipun berjubah kuning, dengan topi bambu yang
lebar dan ditarik ke bawah dalam-dalam. Ia pun berjalan
dengan gaya aneh.
Siangkoan Hui!
A Fei tidak kenal Siangkoan Hui. Namun ia bisa
merasakan bahwa hubungan orang ini dan Hing Bu-bing
cukup dekat. Dan ia sedang berjalan menguntit Hing Bubing.
Siangkoan Hui sedikit lebih pendek daripada Hing Bubing,
dan juga lebih muda. Namun ekspresi wajah
mereka yang kaku, gaya berjalan mereka yang aneh.
Seakan-akan mereka bersaudara!
Mengapa ia menguntit Hing Bu-bing?

1045
Tempat ini desa yang terpencil.
A Fei berjalan cepat, namun tetap menjaga jarak aman di
belakang Siangkoan Hui.
Si tukang cerita sudah lama berlalu. Hing Bu-bing terlihat
bagaikan bayangan kuning. Namun Siangkoan Hui
berjalan lambat, tidak terburu-buru.
A Fei menyadari bahwa anak muda ini pun pandai
menguntit orang.
Menguntit seseorang diam-diam memerlukan banyak
kesabaran.
Ada sebuah bukit di depan sana. Hing Bu-bing baru
setengah jalan mengitarinya.
Siangkoan Hui mempercepat langkahnya. Sepertinya ia
ingin menyusul Hing Bu-bing di balik bukit itu.
Ketika ia sudah menghilang di balik bukit, A Fei segera
berlari sekencang-kencangnya. Ia tahu dari puncak bukit
itu, ia akan bisa melihat sesuatu yang menarik.
Ia pun tidak kecewa.
Hing Bu-bing tidak pernah merasa takut sebelumnya….
Apa lagi yang kau takuti jika terhadap kematian
sekalipun kau tidak takut?
Namun kini, entah mengapa, mata Hing Bu-bing
memancarkan sedikit rasa takut.

1046
Apa yang ia takuti?
Bab 62. Rahasia Besar
Puncak bukit adalah tempat sangat gersang. Angin
musim gugur bertiup tanpa kenal belas kasihan.
Tangan Hing Bu-bing tiba-tiba meraba gagang
pedangnya….tapi ini tangan kanannya, bukan tangan
yang biasa ia gunakan untuk memegang pedang. Di
tangan ini, pedang tidak bisa disebut senjata yang
mematikan.
Ia hanya meraba gagang pedang itu, lalu segera
melepaskannya.
Langkahnya makin lambat, akhirnya berhenti. Seolaholah
inilah ujung jalan.
Saat itulah terdengar suara tawa Siangkoan Hui.
Siangkoan Hui sudah menyusulnya. Ia tersenyum
mengejek dan berkata, “Berhentilah bersandiwara!”
Hing Bu-bing menoleh. Matanya tidak menunjukkan
perasaan apapun. Ia hanya menatap Siangkoan Hui
lekat-lekat. Setelah cukup lama akhirnya dia berkata,
“Kau pikir ini hanya sandiwara?”
Sahut Siangkoan Hui, “Sudah pasti cuma sandiwara. Kau
berpura-pura menguntit Si Tua Sun. Padahal tidak ada
maksudnya kau menguntit dia.”

1047
“Kalau begitu, mengapa aku menguntit mereka?”
“Karena aku.”
“Karena kau?”
“Karena kau sudah tahu bahwa aku sedang
menguntitmu.”
Hing Bu-bing menyahut dingin, “Itu karena kau yang
tidak tahu bagaimana menguntit orang.”
Kata Siangkoan Hui, “Mungkin. Namun aku tahu
bagaimana caranya membunuhmu. Tentu saja kau pasti
tahu bahwa aku datang untuk membunuhmu.”
Hing Bu-bing memang tahu, oleh sebab itu dia tidak
terkejut.
A Feilah yang terkejut.
Kedua orang ini sudah pasti berasal dari kelompok yang
sama. Mengapa mereka ingin saling membunuh?
Siangkoan Hui bertanya, “Sepuluh tahun yang lalu aku
sudah ingin membunuhmu. Kau tahu sebabnya?”
Hing Bu-bing diam saja…. Ia hanya bertanya, tidak
pernah menjawab.
Siangkoan Hui menjadi semakin kesal. Matanya penuh
dengan bisa dan berteriak, “Jika kau tidak ada, aku bisa
hidup lebih bahagia. Kau bukan saja mengambil

1048
kedudukanku, kau bahkan mengambil ayahku. Setelah
kau datang, kau merampas semua milikku!”
Hing Bu-bing menyahut dingin, “Yang salah kau sendiri.
Aku selalu lebih hebat daripada engkau.”
Siangkoan Hui mengertakkan gigi. Katanya, “Kau tahu
dalam lubuk hatimu bahwa itu bukanlah alasan yang
sebenarnya. Alasan yang sebenarnya adalah…..”
Siangkoan Hui berusaha menahan emosinya, namun
gagal. Ia mulai berteriak dengan marah, “Karena kau
adalah anak haram ayahku! Ibuku sampai mati saking
sedihnya akibat perbuatan rendah ibumu!”
Mata Hing Bu-bing yang dingin dan kelabu tiba-tiba
memicing, tampak seperti dua tetes darah.
Dua tetes darah kering yang sudah berubah warna.
Di atas bukit, rasa sedih juga terbayang di wajah A Fei.
Sama seperti yang terbayang di wajah Hing Bu-bing,
malah mungkin lebih dalam.
Lanjut Siangkoan Hui, “Kalian berdua telah menipuku
selama ini. Kalian pikir aku tidak tahu?”
Ketika ia berkata ‘kalian berdua’, yang ia maksudkan
adalah Hing Bu-bing dan ayahnya.
Ketika Siangkoan Hui mengucapkannya, ia hanya
menyakiti dirinya sendiri, bukan orang lain.

1049
Ia merasa lebih sedih lagi, sehingga ia bisa menjadi lebih
tenang. Siangkoan Hui berbicara lagi, “Aku sudah tahu
semuanya pada waktu ia membawamu pulang. Sejak hari
itulah, aku menunggu kesempatan untuk bisa
membunuhmu.”
Kata Hing Bu-bing, “Kau tidak punya banyak
kesempatan.”
Sahut Siangkoan Hui, “Walaupun aku punya kesempatan
sebelum ini, aku pun tidak akan membunuhmu. Karena
kau masih berguna. Tapi sekarang, tidak lagi.”
Ia tersenyum mengejek dan berkata, “Dulu kau adalah
pedang di mata ayahku, pedang untuk membunuh. Ia
tidak akan memaafkanku jika aku merusak senjatanya.
Namun kini, kau tidak ada bedanya dengan besi
rongsokan. Ayah tidak akan peduli akan hidup matimu
lagi.”
Hing Bu-bing berpikir cukup lama, lalu mengangguk.
Katanya, “Kau benar. Aku sendiri tidak peduli akan hidup
dan matiku. Mengapa dia harus peduli?”
“Orang lain mungkin akan percaya pada bualanmu,
namun aku tidak.”
“Aku membual?”
“Jika kau benar-benar tidak takut mati, mengapa kau
melarikan diri?”
Tanya Hing Bu-bing, “Melarikan diri?”

1050
Kata Siangkoan Hui tidak sabar, “Sandiwara kecilmu
menguntit Si Tua Sun. Itu hanya topengmu untuk
menutupi fakta bahwa kau sedang melarikan diri.”
“O ya?”
“Jika kau sedang menguntit orang lain, aku pasti akan
membiarkanmu menguntit mereka. Supaya kau tahu
kemana mereka pergi atau menunggu waktu yang tepat
untuk membunuh mereka. Baru sesudah itu aku akan
membunuhmu.”
Ia tertawa dan melanjutkan lagi, “Sayangnya kau
memilih orang yang salah. Karena kau tidak akan
mungkin mengetahui ke mana mereka pergi, apalagi
membunuh mereka. Kau tidak pantas menguntitnya
karena kau tidak sepadan dengan dia!”
Hing Bu-bing tiba-tiba tersenyum. Katanya, “Mungkin…..”
Senyumnya tampak aneh, seolah-olah menyembunyikan
suatu rahasia.
Tapi Siangkoan Hui tidak memperhatikan. Ia berkata,
“Oleh sebab itu kau pasti hanya menguntit dia untuk
menutupi hal lain. Kau hanya ingin menunda waktuku
membunuhmu.”
Lalu ia menatap Hing Bu-bing lekat-lekat dan berseru,
“Karena kau takut mati!”
“Takut mati?”

1051
“Sebelum ini kau tidak takut mati, karena memang tidak
ada seorang pun yang mampu membunuhmu dulu.”
Terdengar suara ‘criing’, dan terlihat Liong-hong-sianggoan
(Cincin Naga dan Burung Hong) di tangan
Siangkoan Hui. Katanya dingin, “Namun kini, aku dapat
membunuhmu kapan saja aku mau.”
Hing Bu-bing diam saja sampai cukup lama. Lalu ia
berkata, “Sepertinya kau memang serba tahu.”
Sahut Siangkoan Hui, “Paling tidak aku jauh lebih pandai
daripada yang kau sangka.”
Tiba-tiba Hing Bu-bing tertawa. “Sayangnya ada satu hal
yang tidak kau ketahui.”
“Apa?”
Jawab Hing Bu-bing, “Tidak ada gunanya kau tahu segala
sesuatu yang lain. Jika kau tidak tahu hal ini, kau pasti
akan mati.”
“Jika itu adalah hal yang sangat penting, maka aku pasti
mengetahuinya.”
“Ah, tapi kau tidak mungkin tahu. Karena itu adalah
rahasia pribadiku. Dan aku tidak pernah mengatakannya
kepada siapapun…..”
Tanya Siangkoan Hui, “Apakah kau ingin
memberitahukannya kepadaku?”

1052
Jawab Hing Bu-bing, “Ya. Aku akan memberitahukannya
kepadamu sekarang. Tapi ada satu syarat.”
“Apa?”
“Jika kuberitahukan padamu, maka kau harus mati!”
Siangkoan Hui menatapnya, lalu tertawa keras-keras.
Kata-kata Hing Bu-bing memang sangat menggelikan.
Bagaimana seseorang yang baru dibuat cacad dapat
membunuh?
Di antara tawanya Siangkoan Hui berkata, “Kau ingin
membunuhku dengan apa? Apa kau akan menggigitku
sampai mati?”
Jawaban Hing Bu-bing sangat pendek, sangat tenang,
hanya satu kata.
“Tidak.”
Tawa Siangkoan Hui mulai reda.
Sepertinya Hing Bu-bing tidak sedang berusaha menakutnakuti
ataupun sedang bercanda dengan jawabannya itu.
Kata Hing Bu-bing, “Untuk membunuh, aku gunakan
tangan ini!”
Ia mengangkat tangannya, tangan kanannya.

1053
Siangkoan Hui masih tertawa, tapi kini sudah tampak
dipaksakan. Katanya, “Tangan itu…. membunuh anjing
pun tidak bisa.”
Kata Hing Bu-bing, “Aku hanya membunuh orang, tidak
membunuh anjing.”
Siangkoan Hui berhenti tertawa. Liong-hong-siang-goan
(Cincin Naga dan Burung Hong) telah meluncur ke
depan.
Ada perkataan ‘Seinci lebih pendek, seinci lebih
berbahaya’. Liong-hong-siang-goan (Cincin Naga dan
Burung Hong) ini adalah semacam itu. Dan jurus ini,
‘Naga Terbang Menari Mengelilingi Burung Hong di
Udara’, adalah jurus yang paling mematikan. Namun
kalau seseorang belum terdesak hampir kalah, atau tidak
tahu pasti bahwa musuhnya dapat menangkis serangan
ini atau tidak, sebaiknya ia tidak menggunakan jurus ini.
Sekali dipakai, musuh tidak akan bisa lolos.
Pada saat yang sama, cahaya pedang pun berkilat.
Pedang itu, dalam sekejap saja, sudah tertancap di leher
Siangkoan Hui.
Ujung pedang itu masuk sampai lebih dari dua pertiga
bagian leher.
Sepertinya Siangkoan Hui masih bisa bernafas. Urat-urat
mulai tampak menonjol di keningnya. Bola matanya
serasa hampir copot, menatap Hing Bu-bing.

1054
Dalam kematian sekalipun, ia tidak bisa percaya
bagaimana pedang Hing Bu-bing dapat menusuknya.
Hing Bu-bing hanya menatapnya dingin. Katanya,
“Tangan kananku lebih cepat daripada tangan kiriku. Itu
rahasiaku!”
Pedang pun ditarik dan darah muncrat keluar.
Siangkoan Hui masih memandang Hing Bu-bing, penuh
dengan rasa tidak percaya, rasa sedih, rasa kaget….
Ia masih tidak bisa percaya, sampai ia mati.
Namun ia harus percaya.
Liong-hong-siang-goan (Cincin Naga dan Burung Hong)
di tangan Siangkoan Hui mengenai lengan kiri Hing Bubing.
Lengannya yang patah.
Ia menggunakan lengan ini untuk menangkis serangan
cincin Siangkoan Hui, lalu dengan cepat melakukan
serangan balasan dengan tangan kanannya. Pedang pun
langsung menembus leher Siangkoan Hui.
Serangan yang sangat licik.
Serangan itu pun sangat tepat. Sangat mematikan.
Sangat keji.

1055
‘Tangan kananku lebih cepat daripada tangan kiriku.
Itulah rahasiaku!’
Ia tidak berdusta.
Namun kebenaran ini sangat sulit dipercaya, sangat
mengagetkan.
Siangkoan Hui sudah hidup bersama Hing Bu-bing lebih
dari sepuluh tahun. Tidak sekalipun ia pernah melihat
Hing Bu-bing berlatih menggunakan tangan kanannya.
Itulah sebabnya dalam kematian sekalipun ia tidak tahu
darimana Hing Bu-bing mempelajari ilmu pedang dengan
tangan kanannya.
Namun mau tidak mau ia harus percaya. Karena
kematiannya telah menjadi bukti nyata.
Hing Bu-bing memandangi tubuh Siangkoan Hui. Ia
terlihat sedikit kecewa.
Setelah lama memandang, akhirnya ia menghela nafas
perlahan dan menggumam, “Mengapa kau ingin
membunuhku? Mengapa aku harus membunuhmu?....”
Ia memutar badan dan berjalan pergi.
Ia masih berjalan dengan gaya aneh, seolah-olah sedang
berusaha membuat harmoni dengan sesuatu yang lain.
Kedua cincin itu masih tertancap di lengan kirinya.
Ragu-ragu, terkejut, tidak percaya.

1056
Itulah perasaan A Fei saat itu.
Ilmu pedang Hing Bu-bing sangat mengerikan. Mungkin
memang tidak lebih cepat daripada ilmu pedangnya,
namun lebih mematikan, lebih penuh rahasia.
Apakah aku akan pernah bisa mengalahkannya?
Walaupun ini adalah fakta, ini adalah fakta yang tidak
akan bisa diterima oleh A Fei!
Memandang punggung Hing Bu-bing seakan-akan
membuat tingkat adrenalin A Fei meluap-luap dalam
tubuhnya. Ia ingin sekali segera meloncat dan berlari
turun bukit untuk mengejarnya.
Namun sebuah tangan menahan tubuhnya dari belakang.
Tangan itu sangat tegas dan penuh tenaga.
A Fei menoleh dan menemukan mata Li Sun-Hoan yang
tenang dan bersahabat.
Yang menahan kepergian A Fei bukanlah tangannya,
melainkan matanya.
A Fei menundukkan kepalanya dan mengeluh. Katanya,
“Mungkin dia memang lebih hebat daripada aku.”
Kata Li Sun-Hoan, “Kau hanya lebih buruk daripada dia
dalam satu hal saja.”
“Apa itu?”

1057
“Demi membunuh, Hing Bu-bing bisa melakukan apa
saja, termasuk mengorbankan nyawanya. Kau tidak
bisa.”
A Fei terdiam cukup lama, lalu berkata, “Kau memang
benar. Aku tidak bisa.”
Kata Li Sun-Hoan, “Kau tidak bisa, karena kau
mempunyai perasaan. Ilmu pedangmu mungkin memang
keji, namun kau adalah ahli pedang yang penuh
perasaan.”
“Jadi…aku tidak mungkin bisa mengalahkan dia?”
Li Sun-Hoan menggelengkan kepalanya. Katanya, “Salah.
Kau pasti bisa mengalahkannya.”
A Fei tidak berusaha memotong. Ia hanya
mendengarkan.
Lanjut Li Sun-Hoan, “Dengan perasaan, seseorang dapat
memiliki hidup. Dengan hidup, seseorang dapat memiliki
jiwa, dapat berubah.”
A Fei berpikir lagi. Setelah sekian lama, akhirnya ia
mengangguk dan berkata, “Aku mengerti sekarang.”
“Namun ini bukanlah hal yang terpenting.”
“Lalu apa lagi?”
“Yang terpenting adalah bahwa kau tidak perlu
membunuh dia. Kau tidak boleh membunuh dia”

1058
Tanya A Fei bingung, “Mengapa aku tidak perlu
membunuh dia?”
“Karena ia sudah mati. Mengapa harus dibunuh lagi?”
“Kau benar. Hatinya sudah mati….jadi tidak perlu
dibunuh lagi. Tapi mengapa aku tidak boleh membunuh
dia?”
Li Sun-Hoan tidak menjawab. Ia malah balik bertanya,
“Tahukah kau mengapa ia melatih tangan kanannya
secara diam-diam?”
Tanya A Fei, “Menurutmu karena apa?”
“Menurut pendapatku, karena Siangkoan Kim-hong.”
Kata A Fei, “Ia bertempur secara frontal dengan Lionghong-
siang-goan (Cincin Naga dan Burung Hong)
Siangkoan Hui. Ia ingin menemukan cara untuk
mengalahkan Liong-hong-siang-goan.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Pikiranku juga begitu.”
“Dengan begitu….jika suatu hari perlakuan Siangkoan
Kim-hong terhadap dia berubah, Hing Bu-bing sudah
mempunyai cara untuk membunuh Siangkoan Kimhong.”
“Mungkin dia akan gagal, tapi paling tidak ia bisa
mencoba.”
A Fei berhenti bicara. Matanya menjadi lebih santai.

1059
Sepertinya ia sedang berusaha menyembunyikan
sesuatu.
Kata Li Sun-Hoan, “Alasan mengapa Liong-hong-sianggoan
milik Siangkoan Kim-hong berada di urutan kedua
dalam Kitab Persenjataan, bukanlah karena senjata itu
sangat mematikan atau penuh tipu daya, namun karena
senjata itu sangat pasti.”
“Pasti?”
“Ia telah berhasil melatih senjata yang paling berbahaya
di dunia sampai pada taraf ‘pasti’. Itulah yang membuat
Siangkoan Kim-hong berada di atas yang lain.
Kemampuan Siangkoan Hui masih jauh di bawah
ayahnya.”
“Benarkah?”
“Siangkoan Hui benci sekali pada Hing Bu-bing, terutama
karena Siangkoan Hui menganggap bahwa ayahnya tidak
mengajarkan kepadanya ilmu-ilmu rahasia tingkat yang
tertinggi. Ia malahan mengajarkannya kepada Hing Bubing.”
A Fei merenung.
Lanjut Li Sun-Hoan, “Jika Siangkoan Kim-hong tidak
menggunakan jurus ‘Naga Terbang Menari Mengelilingi
Burung Hong Di Udara’, kemungkinan besar Hing Bu-bing
tidak akan dapat membunuhnya.”
“Mungkin benar.”

1060
“Namun Siangkoan Kim-hong mungkin akan
menggunakannya, karena ia tahu bahwa lengan kiri Hing
Bu-bing sudah patah, jadi ia tidak perlu terlalu waspada.
Oleh sebab itu, Hing Bu-bing masih punya kesempatan
untuk bisa membunuhnya.”
A Fei seperti baru saja terjaga dari mimpi. Ia tiba-tiba
berseru, “Tapi apapun yang terjadi Siangkoan Kim-hong
adalah ayah Hing Bu-bing!”
Sahut Li Sun-Hoan, “Tidak mungkin.”
“Tapi kata Siangkoan Hui….”
Li Sun-Hoan memotongnya, “Itu hanya terkaan
Siangkoan Hui. Terkaan yang salah.”
“Kalau begitu, mengapa ia mengatakan semua itu?
Apakah dia bohong?”
“Ia memang tidak bohong. Ia hanya keliru menafsirkan
hal-hal yang terjadi.”
“Keliru?”
Kata Li Sun-Hoan, “Ia bilang bahwa setelah kedatangan
Hing Bu-bing, ayahnya seperti menjauhi dirinya. Ini
memang benar. Tapi dia tidak menyadari bahwa ayahnya
melakukan ini karena mencintainya.”
Tanya A Fei, “Bagaimana mungkin ayahnya menjauhi dia
karena mencintainya?”

1061
“Karena Siangkoan Kim-hong memang bermaksud untuk
membuat Hing Bu-bing sebagai mesin pembunuhnya.
Bisa dikatakan bahwa hidup Hing Bu-bing berakhir di
tangan Siangkoan Kim-hong.”
A Fei berpikir sejenak. Lalu katanya, “Kau benar. Jika
seseorang hanya hidup untuk membunuh, hidupnya pasti
sangat menderita.”
“Itulah sebabnya Hing Bu-bing sudah mati saat ia
bertemu Siangkoan Kim-hong.”
Lanjut Li Sun-Hoan lagi, “Namun Siangkoan Kim-hong
juga adalah seorang manusia. Manusia mencintai
anaknya sendiri dan tidak akan membiarkan anaknya
mengalami siksaan semacam itu. Oleh sebab itulah,
Siangkoan Kim-hong tidak mengajarkan ilmu silat yang
tertinggi kepada Siangkoan Hui.”
Ia tertawa dan menambahkan, “Sayangnya Siangkoan
Hui tidak pernah mengerti maksud ayahnya yang
sesungguhnya.”
Kata A Fei tiba-tiba, “Kalau begitu, sebenarnya Siangkoan
Hui pun mati di tangan ayahnya juga.”
Kata Li Sun-Hoan, “Jika seseorang menginginkan terlalu
banyak, ia pasti akan membuat banyak kesalahan…..”
Bab 63. Putus Hubungan
Hutan di musim gugur. Hutan yang kering dan layu.

1062
Di luar hutan yang mati ini terdapat jalan setapak yang
sepi. A Fei menunjuk pada secercah cahaya di ujung
jalan itu dan berkata, “Itu rumahku.”
Rumah.
Bagi telinga Li Sun-Hoan kata ini sangat asing, hampir
tidak dikenal.
Mata A Fei masih tertuju pada cahaya itu saat ia berkata,
“Lilin masih hidup, dia pasti belum tidur.”
Dalam rumah kecil itu ada lilin yang terang, baju katun
yang tebal, dan kerjapan bulu mata wanita yang cantik.
Wanita itu sedang duduk menjahit baju dekat cahaya lilin
itu, sambil menunggu kembaLimya sang kekasih pulang
ke sisinya.
Gambaran yang luar biasa indah.
Hanya membayangkannya membuat hati A Fei penuh
dengan kerinduan dan kehangatan. Matanya yang
setajam pisau pun menjadi lembut dan tenang.
Ia adalah orang yang selalu sendirian dan kesepian.
Namun kini ia tahu ada seseorang yang sedang
menantikannya…. Wanita yang paling dicintainya di
seluruh dunia, sedang menantikan kepulangannya.
Perasaan ini sudah tentu sangat menyejukkan hati, tidak
dapat dibandingkan dengan perasaan yang lain, tidak
dapat digantikan oleh apapun juga dalam dunia ini.

1063
Hati Li Sun-Hoan melorot.
Melihat rasa bahagia yang terpancar di wajah A Fei
membuat ia merasa bersalah.
Sebenarnya ia tidak ingin membuat A Fei kecewa. Ia
tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi A Fei ketika
tahu bahwa Lim Sian-ji tidak ada di sana.
Walaupun ia melakukannya demi kebaikan A Fei, supaya
ia dapat terus hidup berbahagia sebagai seorang laki-laki
sejati, Li Sun-Hoan masih tetap merasa bersalah
terhadap sahabatnya ini.
Kesedihan yang seumur hidup tidak dapat dibandingkan
dengan kesedihan sesaat.
Li Sun-Hoan hanya dapat berharap bahwa A Fei dapat
segera pulih dari kesedihan yang akan dialaminya dan
segera melupakan segala sesuatu tentang wanita itu.
Wanita itu tidak pantas mendapatkan cintanya, bahkan
tidak pantas ditangisi.
Sayangnya, orang selalu jatuh cinta pada orang-orang
yang salah. Karena perasaan adalah seperti kuda liar,
sama sekali tidak bisa dikendalikan dan tidak terelakkan.
Ini adalah kesedihan yang terbesar dalam hidup
manusia. Karena inilah, tidak habis-habisnya tragedi
menimpa hidup manusia.
Cahaya terang dan pintu terbuka sedikit. Cahaya
mengalir melalui lubang itu dan menyinari jalan setapak
di luar. Jalan itu basah karena hujan semalam dan di

1064
bawah cahaya remang-remang tampak jejak-jejak kaki
yang tidak beraturan di sana-sini. Jejak seorang laki-laki.
“Siapa yang datang?” tanya A Fei sambil mengerutkan
alisnya. Namun perlahan-lahan ia kembali tenang.
Ia selalu percaya pada Lim Sian-ji. Ia yakin bahwa Lim
Sian-ji tidak mungkin mengkhianati kepercayaannya.
Li Sun-Hoan mengikutinya di belakang. Seakan-akan ia
takut masuk ke dalam rumah itu.
A Fei menoleh dan tersenyum sambil berkata, “Kuharap
sup yang dimasaknya hari ini tidak pakai rebung. Cobalah
sedikit dan kau akan tahu kehebatannya di dapur lebih
daripada kehebatannya menggunakan pedang.”
Li Sun-Hoan hanya menjawab dengan tersenyum. Siapa
yang mengira bahwa senyum ini sarat dengan sejuta
kesedihan?
Jika mangkuk besar berisi sup iga sapi itu memang tidak
ada rebungnya, Li Sun-Hoan sungguh tidak mengerti apa
rahasianya. Tapi mungkin apa yang terjadi hari ini akan
berbeda sama sekali.
Li Sun-Hoan sungguh tidak habis pikir bagaimana
seorang wanita dapat menggunakan cara yang begitu
keji untuk menipu laki-laki sungguh-sungguh mencintai
dan memperhatikannya.
Tapi apa bedanya dengan aku? Akupun menipunya.
Demikian pikiran Li Sun-Hoan.

1065
Mengapa aku tidak bisa berterus terang saja bahwa Lim
Sian-ji tidak ada lagi di sini. Bahwa ini semua adalah
rencananya. Li Sun-Hoan membungkuk dan mulai batukbatuk
keras.
A Fei menoleh ke belakang dan berkata, “Jika kau
bersedia tinggal bersamaku di sini untuk beberapa hari,
batukmu pasti akan sembuh. Karena di sini tidak ada
arak, yang ada hanya sup hangat.”
Namun A Fei tidak pernah menyadari betapa
berbahayanya ‘sup’ itu untuk tubuhnya. Jauh lebih
berbahaya daripada arak.
Tidak sedikit suara pun terdengar dari dalam rumah.
“Ia pasti sedang ada di dapur. Kalau tidak, ia pasti sudah
keluar untuk menyambutmu,” kata A Fei.
Li Sun-Hoan tidak menjawabnya, karena ia tidak tahu
harus bilang apa.
Akhirnya pintu pun terbuka. Ruang duduk yang kecil itu
masih bersih seperti dulu. Lilin di atas meja sudah tidak
menyala, namun masih memancarkan kehangatan.
A Fei menghela nafas lega. Akhirnya ia pulang ke rumah
dengan selamat. Ia tidak mengecewakan kekasihnya.
Tapi di manakah dia?
Di dapur juga tidak tampak cahaya, apalagi sup yang
menantinya. Pintu kamar Lim Sian-ji tertutup rapat.

1066
A Fei memandang Li Sun-Hoan di belakangnya yang
masih berdiri di depan pintu. Katanya, “Ia pasti sudah
tidur. Ia selalu tidur sangat awal.”
Li Sun-Hoan ingin tersenyum, namun otot-otot wajahnya
terasa tegang. Ia mendengar rintihan dari dalam kamar.
Rintihan seorang wanita.
Rintihan seorang wanita yang sedang sekarat!
Wajah Li Sun-Hoan berubah, dan langsung menuju ke
pintu dan menggedornya. “Apakah kau baik-baik saja?
Segera buka pintunya!”
Tidak ada jawaban. Rintihan itu pun tidak terdengar lagi.
Siapapun yang berada di dalam sana pasti sedang
berusaha menjawab, namun tidak bisa bersuara.
Keringat A Fei mulai mengucur deras dan ia pun
mendobrak pintu dengan bahunya.
Li Sun-Hoan memejamkan matanya. Ia tidak ingin
melihat wajah A Fei saat itu. Wajah seseorang yang
memandang kekasihnya yang hampir mati. Siapakah
yang ingin melihat wajah seperti itu?
Li Sun-Hoan tidak saja tidak berani melihat, ia pun tidak
mampu melihat. Bahkan memikirkannya pun tidak
sanggup.
Namun ketika pintu sudah terbuka, ia tidak mendengar
apa-apa. Apakah mungkin A Fei begitu kaget melihat apa
yang terjadi dan jatuh pingsan?

1067
Li Sun-Hoan membuka matanya dan melihat A Fei berdiri
mematung di depan pintu kamar Lim Sian-ji.
Yang aneh adalah wajah A Fei tidak menggambarkan
suatu kesedihan, tapi malah kebingungan.
Apa yang terjadi dalam kamar itu? Li Sun-Hoan sungguh
tidak dapat menerka.
Darah.
Yang pertama dilihat Li Sun-Hoan adalah darah. Lalu ia
melihat seseorang terbaring dalam genangan darah.
Namun ia tidak akan pernah bisa menebak siapa yang
tergolek dalam genangan darah itu, sedang megapmegap
mengambil nafas-nafas terakhirnya. Ling Ling.
Darah Li Sun-Hoan pun membeku. A Fei memandang
tubuh yang tergeletak di lantai itu dengan tenang. Suatu
ekspresi yang aneh tergambar di wajahnya. Apakah ia
mengerti?
Ia tidak bertanya, ‘Apa yang dilakukan gadis ini di sini?’
Tapi ia malah bertanya, “Kali ini, apakah ia juga sedang
menunggumu di sini?”
Li Sun-Hoan merasa hatinya terbelah menjadi dua.
Ia segera meluruk ke dalam kamar dan mengangkat
tubuh Ling Ling yang penuh darah. Segera diperiksanya
nadi dan nafasnya.

1068
Ia hanya berharap bahwa ia belum terlambat untuk
menyelamatkan nyawanya. Ia putus asa.
Akhirnya Ling Ling membuka matanya dan memandang
Li Sun-Hoan. Air mata menetes ke wajahnya.
Air mata ini adalah air mata kesedihan. Namun juga air
mata kegembiraan.
Sebelum mati, ia bisa melihat Li Sun-Hoan untuk terakhir
kalinya.
Mata Li Sun-Hoan pun kini telah basah oleh air mata.
Dengan lembut ia berkata, “Kau masih muda, kau tidak
mungkin mati sekarang.”
Seolah-olah Ling Ling tidak mendengar perkataannya.
Dengan suara bergetar ia berkata, “Kali ini kau salah.”
“Kali ini aku salah,” kata Li Sun-Hoan tanpa bisa
menahan tangisnya.
“Kau seharusnya tahu bahwa tidak ada seorang lelaki
pun yang mau membunuhnya.”
Suara Li Sun-Hoan menjadi parau, hampir-hampir tidak
terdengar. “Aku telah menyeretmu ke dalam persoalan
ini. Aku telah bersalah kepadamu.”
Ling Ling menggapai-gapai ingin meraih tangan Li Sun-
Hoan. “Kau selalu baik padaku. Bukan kau yang bersalah
padaku. Laki-laki itulah yang bersalah.”

1069
“Dia?”
“Dia telah menipuku, dan aku….akupun telah
menipumu.”
“Kau tidak……”
Kuku Ling Ling tertanam kuat di lengan Li Sun-Hoan.
Potongnya, “Aku telah menipumu…. Aku telah
menyerahkan keperawananku kepadanya sejak lama.
Ketika aku menunggumu di sini…. Aku sungguh
membenci diriku karena tidak mengatakannya kepadamu
sejak dulu.”
Suara Ling Ling menjadi lebih jernih, seolah-olah ia
mendapatkan tenaganya kembali. Tapi Li Sun-Hoan tahu
itu hanya bayangannya saja. Kalau bukan karena usianya
yang sangat muda, tidak mungkin ia bisa bertahan hidup
sampai sekarang.
Kata Ling Ling, “Aku berusaha tetap hidup sampai saat
ini, karena aku ingin menjelaskannya kepadamu. Jika kau
bisa mengerti, aku bisa mati tanpa penyesalan.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Ini adalah kesalahanku. Aku salah
karena aku tidak melindungimu….”
“Walaupun ia menipuku, aku tidak membencinya. Karena
aku tahu ia akan mendapatkan balasannya. Ia akan
mendapatkan hukuman yang sepuluh kali lebih berat
daripada yang kualami.”
“Dia yang……”

1070
Sebelum Li Sun-Hoan menyelesaikan kalimatnya, tibatiba
A Fei mendorongnya kuat-kuat ke samping.
Ia menatap Ling Ling dan bertanya, “Kau membawa Lu
Hong-sian ke sini?”
Ling Ling hanya menggigit bibirnya.
Lagi A Fei bertanya, “Diakah yang menyuruhmu
membawa Lu Hong-sian ke sini?”
Ling Ling mengerahkan tenaganya yang terakhir dan
berteriak keras, “Ya, memang dia. Tapi tahukah kau
mengapa dia melakukannya? Tahukah kau betapa
banyak yang telah diperbuatnya demi dirimu? Demi
engkau….”
Suaranya tiba-tiba tercekik dan nafasnya pun berhenti.
Sungguh tenang, kematiannya sungguh tenang.
Tubuhnya tidak bergerak lagi. Tidak ada suara yang
keluar dari mulutnya lagi.
Selain angin yang terus menderu, seluruh bumi
sepertinya kehilangan gairah. Semuanya seolah-olah
menjadi tanah pekuburan yang mati. Tanah pekuburan
tempat segala yang hidup terkubur habis.
Bahkan suara deru angin pun seperti sedang menangis
sedih. Suara tangisan yang dapat mencabik-cabik hati
manusia.

1071
Entah berapa lama, akhirnya A Fei bangkit berdiri. Ia
tidak melirik sedikitpun pada Li Sun-Hoan. Ia hanya
bertanya dingin, “Mengapa kau melakukannya?”
Biasanya Li Sun-Hoan akan segera menjawab pertanyaan
ini tanpa ragu-ragu. Tapi kali ini, ia tidak mengucapkan
sepatah katapun.
Ia tahu dengan berbicara ia tidak hanya menyakiti dirinya
sendiri, namun juga yang mendengar.
A Fei masih memandang ke arah lain. Ia melanjutkan
perlahan-lahan, “Kau menyangka dialah yang membuat
hidupku tertekan. Dan jika ia pergi, aku akan kembali
hidup bersemangat. Tapi tahukah engkau bahwa tanpa
dirinya, aku tidak mungkin terus hidup?”
Li Sun-Hoan menjawab dengan pahit, “Aku hanya
berharap bahwa kau tidak lagi ditipu orang. Berharap
engkau akan bertemu dengan orang yang pantas
mendapatkan cinta dan kasih sayangmu. Berharap
bahwa kau segera dapat melupakan semua
ketidakbahagiaan dalam hidupmu ini.”
A Fei tampak terkejut dan berkata, “Kau pikir ia
menipuku? Dan bahwa ia tidak pantas mendapatkan
kasih sayangku?”
“Yang aku tahu hanyalah sejak kau bertemu dengan dia,
dia hanya membawa keburukan bagi dirimu.”
“Lalu bagaimana kau bisa tahu apakah aku bahagia atau
tidak bahagia?”

1072
Akhirnya A Fei memutar badannya dan menatap Li Sun-
Hoan dengan marah. “Kau pikir kau ini siapa? Kau ingin
mengatur pikiranku dan mengendalikan nasibku? Kau
bukan apa-apa. Kau hanya orang bodoh yang sedang
menipu dirimu sendiri. Kau membiarkan wanita yang kau
cintai masuk dalam bahaya, dan kau masih menganggap
dirimu tinggi dan terhormat?”
Setiap kata terasa tajam seperti pisau. Tidak ada
perkataan lain di dunia ini yang dapat lebih menyakiti
hati Li Sun-Hoan.
A Fei mengertakkan giginya dan melanjutkan, “Dan
walaupun dia hanya membawa keburukan bagiku, apa
bedanya dengan engkau? Apa yang kau bawa untuk
orang-orang di sekitarmu? Kebahagiaan Lim Si-im rusak
total akibat perbuatanmu. Dan masih belum puaskah
engkau, sampai kau harus datang dan merusak habis
kebahagiaanku?”
Tangan Li Sun-Hoan mulai gemetar hebat dan sebelum ia
bisa membungkuk ia sudah batuk darah.
A Fei memandangnya lama sebelum memutar badannya
dan berjalan menuju ke pintu. Sebelum Li Sun-Hoan
berhenti batuk-batuk, ia sudah menerjang ke arah pintu
dan menghalangi jalan A Fei.
“Apa lagi yang kau inginkan?” tanya A Fei tajam.
Li Sun-Hoan menyeka darah di sudut mulutnya dengan
lengan bajunya dan berusaha mengatur nafasnya
kembali. “Kau…. Kau akan mencarinya?”

1073
“Ya!”
“Kau tidak boleh pergi.”
“Siapa bilang?”
“Aku yang bilang. Karena jika kau menemukan dia dan
membawanya pulang, akan lebih menyakitkan bagimu.
Cepat atau lambat, akan tiba harinya dia akan
menghancurkanmu. Aku tidak bisa melihatmu menderita
di bawah cengkeraman wanita seperti dia.”
A Fei berpegangan sangat kuat. Namun setiap kata
diucapkan Li Sun-Hoan, pegangannya pun bertambah
kuat. Buku-buku jarinya memutih karena tekanan yang
begitu kuat.
Wajahnya pun memucat. Matanya menjadi merah
menyala.
Lanjut Li Sun-Hoan, “Kalau kau berpisah dengannya
sekarang, itu hanya membuat dirimu sedih untuk
sebentar saja. Namun jika kau terus hidup bersamanya,
kau akan menderita seumur hidupmu. Waktu kalian
berpisah, sebenarnya kau pasti menyadari apa yang
sudah terjadi….”
A Fei menyelanya, “Kau adalah sahabatku.”
“Ya.”
“Sampai saat ini kau masih sahabatku.”

1074
“Ya.”
“Tapi sejak saat ini, kita tidak bersahabat lagi!”
Li Sun-Hoan terkesiap mendengarnya. “Kenapa?”
“Karena aku tahan jika kau menghinaku, tapi aku tidak
bisa memaafkanmu karena kau telah menghina dia!”
“Kau pikir aku hanya bermaksud menghina dia?”
“Aku sudah berusaha sabar sampai sekarang, karena kita
bersahabat. Tapi mulai hari ini, jika kau menghinanya
sekali lagi, penghinaan itu harus dicuci dengan darah!”
Tubuh A Fei bergetar hebat saat mengatakannya.
“Darahmu atau darahku!”
Li Sun-Hoan tampak seperti baru saja ditonjok orang di
perutnya. Ia melangkah mundur dua kali ke samping
pintu.
Ia mengatupkan mulutnya, tapi darah terus mengalir dari
sudut bibirnya.
Kata A Fei, “Sekarang aku akan mencari dia, dan aku
akan menemukan dia kembali. Kuharap kau tidak
berusaha mengikuti aku. Jika kau melakukannya, kau
hanya akan menyesal!”
Sedikitpun tidak dipandangnya Li Sun-Hoan.
Setelah mengatakannya, ia segera pergi dari rumah itu.

1075
Air mata biasanya terasa asin. Tapi ada air mata yang
masuk langsung ke dalam perut. Rasanya bukan saja
asin, namun sungguh-sungguh pahit.
Darah pun biasanya terasa asin. Namun darah orang
yang terluka hatinya, rasanya lebih pahit daripada air
mata.
Li Sun-Hoan tidak tahu berapa lama ia sudah batuk
darah. Namun seluruh lengan bajunya sudah berwarna
merah. Ia pun tidak bisa berdiri tegak.
Jejak kaki di lantai semua berbercak darah. Tiba-tiba Li
Sun-Hoan teringat pada jejak kaki yang tidak beraturan
di luar sana yang dilihatnya sebelum masuk. Hatinya
membeku.
A Fei pasti akan dapat menemukannya, karena Lim Sianji
sengaja meninggalkan jejak di sana-sini. Memang
supaya A Fei dapat menemukannya.
Tidak harus sesuatu yang kelihatan jelas, karena A Fei
memang sangat berbakat mencari jejak orang.
Kepandaiannya mungkin lebih daripada seekor anjing
pelacak yang terlatih.
Tapi apakah yang akan terjadi waktu A Fei
menemukannya?
Dapat dipastikan bahwa A Fei pasti akan menantang Lu
Hong-sian berduel hidup dan mati.

1076
Dan Lim Sian-ji sungguh menikmati dua laki-laki
bertarung hidup dan mati demi dirinya.
Hanya memikirkan kemungkinan ini membuat Li Sun-
Hoan berkeringat dingin.
Saat ini, A Fei bukan tandingan Lu Hong-sian. Orang
yang dapat menyelamatkannya hanya Li Sun-Hoan,
namun…..
‘Kuharap kau tidak berusaha mengikuti aku. Jika kau
melakukannya, kau hanya akan menyesal!’
Dan Li Sun-Hoan tahu A Fei tidak pernah main-main
dengan perkataannya.
Lagi pula, sudah sangat gelap di luar sekarang.
Kemampuan Li Sun-Hoan mengikuti jejak orang tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan A Fei. Walaupun ia
ingin mengejar mereka, kemungkinan berhasilnya hampir
tidak ada.
Li Sun-Hoan berusaha berdiri. Ia mengangkat tubuh Ling
Ling dan meletakkannya di atas tempat tidur dan
menyelimuti dia.
Apapun konsekuensinya, ia akan berusaha mengejar
mereka. Li Sun-Hoan sudah berkeputusan bulat.
Walaupun A Fei Sudah tidak menganggap dirinya sebagai
sahabat, Li Sun-Hoan akan selalu menganggap A Fei
sebagai sahabatnya.

1077
Rasa persahabatannya terhadap A Fei tidak akan pernah
berubah.
Sama seperti rasa cintanya. Walaupun laut menjadi
kering dan gunung terbelah dua, hatinya tidak akan
pernah berubah.
‘Si-im, Si-im, bagaimana kabarmu?’
Bab 64. Sumber Segala Masalah
Hanya kenangan akan Lim Si-im, sudah membawa rasa
sakit yang menusuk hati Li Sun-Hoan.
Tapi ia tidak merasa perlu untuk mencarinya. Karena ia
tahu bahwa Liong Siau-hun akan selalu
memperlakukannya dengan baik. Walaupun Liong Siauhun
telah banyak berubah, ia tahu bahwa perasaan Liong
Siau-hun terhadap Lim Si-im tetap sama.
Selama ia masih setia terhadap Lim Si-im, Li Sun-Hoan
dapat mengampuni semua kesalahannya.
Saat ini, tidak ada yang dapat menggambarkan betapa
bahagianya perasaan Liong Siau-hun.
Dalam beberapa hari, ia akan menempati posisi Loji
(Jisuheng) dalam Kim-ci-pang, menjadi saudara angkat
seseorang yang paling kuat dan paling berpengaruh
dalam dunia persilatan.
Bahkan wajah anaknya pun tampak begitu cerah.

1078
Tapi yang mengecewakan dia adalah istrinya.
Mengapa ia tidak mau ikut bersamaku? Mengapa ia tidak
ingin berbagi dalam kejayaan dan keberhasilanku?
Namun ia tidak akan membiarkan hal ini merusak
suasana hatinya.
Bagi sebagian orang, keinginan mereka yang terbesar
dalam hidup adalah kekayaan. Sebagian yang lain
menginginkan kekuasaan.
Jika seseorang bisa mendapatkan salah satu saja, segala
penderitaan dan kesakitan dalam kehidupan pribadinya
akan terasa lebih ringan.
Liong Siau-in sedang memandang ke luar jendela, namun
pikirannya melayang-layang entah ke mana.
Liong Siau-hun menepuk pundak anaknya dan bertanya,
“Apakah menurutmu kali ini Siangkoan Kim-hong sendiri
yang akan datang dan menyambut kita?”
Anaknya menoleh dan menjawab, “Sudah pasti. Dan
upacaranya pun pasti akan sangat mewah.”
Liong Siau-hun pun mengangguk setuju. “Aku pun
berpikir begitu. Aku sudah menjadi saudara angkatnya.
Kalau ia memberi muka padaku, artinya ia pun
mengangkat martabatnya sendiri.”
Suaranya merendah saat berkata, “Ketika ia datang,
apakah aku harus menyebutnya ‘Ketua’ atau ‘Toako’?”

1079
Sahut Liong Siau-in, “Tentu saja ‘Toako’. Aku pun harus
mengubah kebiasaanku dan membiasakan diri
memanggilnya ‘Paman’.”
Liong Siau-hun tertawa senang, katanya, “Mempunyai
paman seperti dia…. Kau sangat beruntung. Tapi…..”
Tawanya berhenti saat ia melanjutkan, “Li Sun-Hoan
masih hidup. Apakah kau pikir Siangkoan Kim-hong akan
mengingkari kata-katanya?”
Anaknya tersenyum dan menjawab, “Semua pendekar
sudah tahu akan acara ini. Undangan pun telah
disebarkan. Jika ia mungkir, ialah yang akan kehilangan
kredibilitas dan siapapun tidak akan mempercayai dia
lagi.”
Senyum kembali menghiasi wajah Liong Siau-hun. “Kau
benar. Reputasinya dalam dunia persilatan tergantung
dari ketegasan perkataannya. Jika sudah keluar dari
mulutnya, perkataannya tidak mungkin bisa ditarik
kembali. Walaupun Siangkoan Kim-hong ingin mengubah
keputusannya, sekarang sudah terlambat.”
***
Kertas-kertas di meja luar biasa banyaknya, sepertinya
semakin hari bertambah semakin banyak.
Tanggung jawabnya pun semakin hari semakin besar.
Setiap persoalan selalu memerlukan perhatian dan
keputusan pribadinya.

1080
Ia tidak percaya pada siapapun juga.
Siangkoan Kim-hong berada di mejanya sampai subuh,
bekerja tanpa istirahat sejak lama. Tapi ia tidak merasa
lelah, bahkan sangat menikmatinya.
Pintu terbuka.
Seseorang melangkah masuk.
Siangkoan Kim-hong tidak perlu menoleh untuk melihat
siapa yang masuk. Karena hanya satu orang yang bisa
langsung masuk ke dalam kamarnya.
Hing Bu-bing.
Hing Bu-bing berlaku seperti biasa. Setelah masuk ia
berjalan menuju ke belakang Siangkoan Kim-hong.
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Di mana Li Sun-Hoan?”
“Ia sudah pergi.”
Siangkoan Kim-hong menoleh memandang Hing Bu-bing.
Pandangannya langsung tertuju pada lengan Hing Bubing
yang patah. Lalu ia kembali melanjutkan
pekerjaannya. Ia tidak berkata sepatah katapun.
Wajahnya pun tidak menunjukkan perasaan apapun.
Di wajah Hing Bu-bing pun tidak tampak ada perasaan
apapun. Matanya yang sangat pucat itu hanya
memandang ke kejauhan.

1081
Seolah-olah tidak ada yang berubah.
Ia tidak dimarahi, tapi ia pun tidak dihibur.
Apakah tangannya yang patah, atau kakinya yang patah,
bukan urusan Siangkoan Kim-hong.
Setelah sekian lama, terdengar ketukan pintu.
Setumpuk lagi dokumen dibawa masuk.
Semuanya berwarna kuning. Hanya ada satu yang
berwarna merah, yang kelihatan sangat menyolok.
Siangkoan Kim-hong langsung membukanya dan
membacanya cepat. Hanya tertulis kata-kata singkat,
“Datang ke tempat biasa. Lu Hong-sian menunggu.”
Siangkoan Kim-hong berdiri tanpa suara dan seperti
sedang berpikir keras. Ia segera membuat keputusan.
Ia pergi ke luar tanpa tergesa-gesa.
Hing Bu-bing mengikutinya di belakang seperti bayangan.
Keduanya keluar dari pintu, melalui jalan rahasia, melalui
pekarangan terbuka, melalui seorang penjaga yang
membungkuk dalam-dalam, dan sampai ke tempat yang
terang, penuh sinar matahari.
Matahari musim gugur bagaikan seorang wanita di masa
tuanya. Tidak mampu lagi menggerakkan hati laki-laki.

1082
Kedua orang ini masih berjalan beriringan, satu di depan
satu di belakang….tapi tiba-tiba Hing Bu-bing merasa
bahwa irama langkah Siangkoan Kim-hong telah berubah
sedikit.
Hing Bu-bing tidak lagi dapat mengikuti iramanya dengan
harmonis.
Walaupun langkah Siangkoan tidak bertambah cepat,
namun jarak di antara mereka semakin lama semakin
lebar.
Langkah Hing Bu-bing makin lama makin pelan, dan
akhirnya berhenti sama sekali.
Siangkoan Kim-hong tidak menoleh. Hanya dari sudut
matanya ia melihat bayangan Hing Bu-bing yang makin
lama makin jauh.
Mata yang kelabu dan mati itu sedikit demi sedikit
memancarkan kepedihan yang mendalam dan tak
terkatakan….
***
Hutan pinus yang lebat.
Begitu lebat sampai-sampai sinar matahari tidak dapat
menembusnya sepanjang tahun.
Walaupun gelap, udara di situ lembab. Angin sepoi-sepoi
membawa wangi daun cemara.

1083
Lim Sian-ji sedang bersandar pada sebatang pohon.
Tangannya menggenggam erat tangan Lu Hong-sian.
Tatapan matanya yang lembut dan merayu itu tidak
pernah lepas dari wajah Lu Hong-sian.
Wajah Lu Hong-sian pucat. Keriput mulai tampak di
sudut matanya.
Angin musim gugur bertiup melalui hutan itu dan
membawa kesejukan yang menentramkan hati.
Dengan suara lembut Lim Sian-ji bertanya, “Apakah kau
menyesal?”
Lu Hong-sian menggelengkan kepalanya dan balik
bertanya, “Menyesal? Mengapa aku menyesal? Bersama
denganmu, tidak ada seorang laki-laki di dunia ini yang
merasa menyesal.”
Lim Sian-ji bersandar pada lengan Lu Hong-sian dan
bertanya setengah berbisik, “Apakah aku begitu
istimewa?”
Lu Hong-sian meraih pinggangnya dan tersenyum.
“Tentu saja. Kau jauh melebihi bayanganku sebelumnya,
melebihi apa yang dapat diimpikan laki-laki manapun…”
Perlahan-lahan tangannya meraba naik turun tubuh Lim
Sian-ji.
Suara nafas Lim Sian-ji terdengar semakin berat dan
memekik kecil, “Jangan sekarang….”

1084
“Kenapa?” Lu Hong-sian bertanya dengan tidak sabar.
Sambil menggigit bibirnya Lim Sian-ji menjawab, “Kau
harus menjaga tenagamu untuk menghadapi Siangkoan
Kim-hong.”
Ia melenggokkan tubuhnya, seolah-olah sedang
berusaha menghindar dari Lu Hong-sian, namun akhirnya
lebih mirip sebagai gerakan yang menggoda Lu Hongsian.
Lu Hong-sian terdiam sebentar sebelum ia mulai
membelai tubuh Lim Sian-ji lagi dan berkata dengan
nakal, “Aku bisa ‘bertempur’ denganmu dulu sebelum
bertempur dengan Siangkoan Kim-hong.”
Kata Lim Sian-ji, “Kau tidak boleh meremehkan dia. Ia
tidak mudah dikalahkan seperti yang kau kira.”
“Kau pikir aku tidak setanding dengannya?”
“Bukan….bukan begitu maksudku, hanya saja….”
Lim Sian-ji menggigit mesra telinga Lu Hong-sian, dan
berbisik tepat di samping telinganya, “Setelah kau
membunuh Siangkoan Kim-hong, seluruh dunia akan
menjadi milik kita. Kita akan bisa selalu bersama setiap
saat. Kenapa harus terburu-buru sekarang?”
Kata-katanya yang sangat manis di antara angin musim
gugur terdengar bagaikan lagu yang sangat merdu.

1085
Hati Lu Hong-sian pun terharu dan memeluknya semakin
erat. Katanya, “Kau sungguh memperhatikan aku….”
Tiba-tiba ia terdiam.
Lim Sian-ji segera mendorongnya dan melepaskan diri
dari pelukannya.
Suara langkah yang unik terdengar memenuhi seluruh
hutan raya. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari
suara langkah itu. Namun entah mengapa, setiap
langkah seakan-akan sedang menginjak-injak hati
manusia.
Kini suara langkah itu berhenti.
Siangkoan Kim-hong berdiri di bewah bayangan sebatang
pohon pinus di depan mereka. Ia berdiri di situ tanpa
bicara, tanpa bergerak. Ia kelihatan seperti sebuah
gunung es. Gunung es yang tidak terduga.
Nafas Lu Hong-sian seakan-akan tercekat saat kata-kata
ini keluar dari mulutnya. “Siangkoan Kim-hong?”
“Lu Hong-sian?” Siangkoan Kim-hong membalasnya dari
bawah sebuah topi bambu yang lebar, yang menutupi
matanya. Ia tidak menjawab, malah balik bertanya.
“Ya,” sahut Lu Hong-sian.
Namun sesaat setelah menjawab, Lu Hong-sian merasa
sangat menyesal karena ia menjawab.

1086
Ia merasa kehilangan kendali. Kini kendali berada di
tangan Siangkoan Kim-hong.
Siangkoan Kim-hong tersenyum dingin dan berkata,
“Bagus, memang Lu Hong-sian pantas untuk kulayani
secara pribadi.”
Lu Hong-sian pun tertawa dingin. “Jika kau bukan
Siangkoan Kim-hong, kau pun tidak cukup berharga
untuk kubunuh.”
Setelah mengucapkannya, kembali ia merasa menyesal.
Walaupun perkataannya penuh dengan hasrat
membunuh, ia kedengaran seperti hanya membeo
ucapan Siangkoan Kim-hong.
Siangkoan Kim-hong masih berdiri di sana tidak bergerak
sampai cukup lama. Tiba-tiba ia melirik tajam ke arah
Lim Sian-ji dari balik topi bambunya.
Lim Sian-ji masih berdiri di samping pohon pinus tadi.
Tatapan matanya yang lembut, perlahan-lahan berubah
menjadi tajam dan panas.
Ia tahu sebentar lagi darah akan tercurah.
Ia sangat suka melihat laki-laki mencucurkan darah demi
dirinya!
“Kemari kau,” perintah Siangkoan Kim-hong pada Lim
Sian-ji.

1087
Mata Lim Sian-ji memancarkan rasa kuatir. Ia menoleh
pada Lu Hong-sian, lalu memandang pada Siangkoan
Kim-hong.
Lu Hong-sian tertawa. Katanya, “Ia tidak akan datang
padamu.”
Lagi, Lim Sian-ji bolak-balik memandangi Siangkoan Kimhong
dan Lu Hong-sian.
Lim Sian-ji tahu, saat ini ia harus memilih salah satu di
antara mereka berdua.
Ia pun tahu siapa pun yang dipilihnya harus menjadi
pemenang.
Tapi masalahnya, siapakah yang akan menang?
Siangkoan Kim-hong masih tetap berdiri di situ dengan
tenang. Matanya memancarkan rasa percaya diri yang
besar.
Nafas Lu Hong-sian sudah menjadi tidak teratur. Ia mulai
kelihatan kuatir.
Tiba-tiba Lim Sian-ji menertawainya.
Lu Hong-sian hanya bisa menyumpah-nyumpah dalam
hati saat Lim Sian-ji berlari kecil ke arah Siangkoan Kimhong
bagaikan seekor burung walet.
Ia telah menjatuhkan pilihan. Ia tahu bahwa pilihannya
tidak mungkin salah!

1088
Lu Hong-sian menyipitkan matanya. Hatinya pun mulai
mengkerut.
Inilah pertama kali dalam hidupnya ia merasakan hinaan
orang. Dan ini pun pertama kali dalam hidupnya ia
merasakan kekalahan. Dua rasa sakit hati bergabung,
dua kali lipat pula beratnya untuk menanggungnya!
Ia juga merasakan dua pukulan hebat. Rasa percaya diri
dan kehormatannya hancur berkeping-keping.
Tangannya mulai gemetar.
Siangkoan Kim-hong memandangnya dingin dan berkata,
“Kau sudah kalah!”
Tangan Lu Hong-sian makin gemetaran tidak
tertahankan.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Kau tidak akan
membunuhmu karena kau tidak lagi cukup berharga
untuk kubunuh!”
Siangkoan Kim-hong langsung memutar badannya dan
melangkah pergi.
Lim Sian-ji mengekor di belakangnya. Setelah beberapa
langkah, ia menoleh pada Lu Hong-sian dan berkata
sambil cekikikan, “Kurasa kau lebih baik mati saja.”
Lu Hong-sian telah kalah dalam pertempuran ini sebelum
bergerak satu jurus pun.

1089
Dalam pikirannya pun dia tahu dia sudah kalah telak.
Ia tidak mengucurkan darah setetes pun, namun jiwa
dan seluruh kehidupannya sudah hancur lebur. Semangat
dan rasa percaya dirinya sudah hilang sama sekali.
Ia hanya bisa memandang Siangkoan Kim-hong berjalan
ke luar hutan itu. Ia tidak punya semangat dan
keberanian untuk mengejarnya.
Walaupun Siangkoan Kim-hong tidak menyerang sama
sekali, ia telah merenggut hidup Lu Hong-sian.
‘Kurasa kau lebih baik mati saja.’
Memang sudah tidak ada lagi gunanya terus hidup.
Tiba-tiba Lu Hong-sian jatuh terduduk dan menangis
tersedu-sedu.
Lim Sian-ji berlari ke samping Siangkoan Kim-hong dan
menggamit lengannya.
Katanya dengan manis, “Hanya kau yang ada di hatiku
sekarang!”
“Aku?”
“Ya. Walaupun Hing Bu-bing dengan pedangnya dapat
membunuh paling cepat, kau jauh lebih cepat lagi.
Karena….karena kau dapat membunuh tanpa
mengangkat seujung jari pun!”

1090
“Itu karena aku belum pernah bertemu dengan siapapun
yang cukup berharga bagiku untuk mengangkat seujung
jari.”
“Orang di dunia ini yang setanding denganmu jumlahnya
sangat sedikit…. Aku pikir hanya ada satu.” Saat
mengatakannya, mata Lim Sian-ji bercahaya.
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Li Sun-Hoan?”
Lim Sian-ji menghela nafas dan berkata, “Orang itu
adalah orang yang dapat menghilang sewaktu-waktu,
namun juga orang yang tidak pernah mau pergi. Kadangkadang
aku sendiri tidak tahu orang macam apakah dia.
Apakah ia seorang pria sejati? Apakah ia seorang tolol?
Atau seorang pendekar?”
Jawab Siangkoan Kim-hong dingin, “Sepertinya kau
selalu memperhatikannya.”
Lim Sian-ji tertawa. “Tentu saja aku harus selalu
memperhatikannya, sebab aku tidak ingin mati di
tangannya.”
“Hmm?”
Lim Sian-ji menjelaskan, “Terhadap kekasihnya,
perhatian seseorang pun semakin lama semakin luntur.
Namun terhadap musuhnya, tidak boleh demikian.”
Ia menatap Siangkoan Kim-hong dan melanjutkan, “Aku
yakin kau pasti memahaminya lebih daripada siapapun
juga.”

1091
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Ada beberapa jenis
perhatian. Apakah kau membencinya? Kau takut
padanya? Atau kau mencintainya?”
Lim Sian-ji tertawa merajuk. “Apakah kau mulai
cemburu?”
Siangkoan Kim-hong menundukkan kepalanya.
“Bagaimana dengan A Fei?”
“Dia jelas cemburu.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku hanya ingin tahu
mengapa kau belum juga membunuhnya?”
Lim Sian-ji balik bertanya, “Aku pun ingin tahu, mengapa
Hing Bu-bing tidak membunuhnya?”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Karena awalnya aku ingin
kau yang membunuhnya. Kau tidak tega?”
“Membunuh orang itu gampang. Yang lebih sulit adalah
membuat orang menuruti setiap perkataanmu. Sampai
sekarang, aku belum pernah bertemu dengan orang yang
sepatuh dia.”
Lalu Lim Sian-ji menghambur ke pelukan Siangkoan Kimhong
dan berkata lagi, “Aku datang bukan untuk
berdebat denganmu. Jika kau memang ingin aku
membunuhnya, masih banyak kesempatan di kemudian
hari. Aku pasti akan menuruti keinginanmu.”
Tidak ada seorang pun yang bisa kesal pada Lim Sian-ji.

1092
Ia sama halnya seperti seekor kucing yang mahal.
Sewaktu ia mencakar wajahmu, sebelum kau merasa
sakit, ia sudah menjilatimu dengan sayang.
Siangkoan Kim-hong menatapnya lekat-lekat.
Di bawah sinar matahari terbenam, wajahnya tampak
begitu rapuh bagai porseLim. Sentuhan yang paling
ringan pun dapat merusaknya. Kelembutan angin musim
gugur yang sepoi-sepoi tidak dapat dibandingkan dengan
kelembutan nafas yang keluar dari mulutnya.
Perlahan-lahan Siangkoan Kim-hong menundukkan
kepalanya.
Bibirnya melekat di bibir Lim Sian-ji. Tiba-tiba Lim Sian-ji
mengangkat kepalanya dari dada Siangkoan Kim-hong
dan jatuh ke tanah.
Bola mata Siangkoan Kim-hong berputar, namun
tubuhnya tidak bergerak. Bahkan ujung jarinya pun
masih ada di tempat yang sama.
Ia tidak melirik sedikitpun pada Lim Sian-ji, malah
memandangi rumput yang sudah menguning di situ.
Tidak ada sesuatupun di rumput yang menguning itu.
Namun setelah beberapa saat, sesosok bayangan terlihat
di situ.
Ada yang datang!

1093
Bayangan orang itu memanjang akibat sinar matahari
sore.
Langkah kakinya tidak bersuara. Langkah kaki orang itu
ringan bagaikan seekor rubah.
Siangkoan Kim-hong tetap tidak menoleh. Lim Sian-ji
yang masih terbaring di tanah mulai merintih.
Bayangan itu sudah dekat sekarang. Ia berhenti tepat di
belakang Siangkoan Kim-hong.
Terdengar suara, “Aku tidak pernah membunuh dari
belakang. Tapi kali ini, aku harus membuat
pengecualian.”
Suara orang itu dingin dan tegas. Namun karena marah
dan kegalauan hatinya, terdengar gemetar.
Nada suaranya memang seperti orang yang sebentar lagi
akan membunuh.
Namun Siangkoan Kim-hong tidak bergerak. Ia pun tidak
berbicara.
Bayangan itu mengangkat tangannya.
Ada sebilah pedang di tangannya, namun ia tidak
menusukkannya. Lagi suara itu bertanya, “Apakah kau
tetap tidak mau menoleh?”

1094
Siangkoan Kim-hong menjawab dengan tenang, “Aku
masih bisa membunuh orang yang berdiri di belakangku.
Buat apa repot-repot menoleh?”
Setelah kalimatnya selesai, suara rintihan pun berhenti.
Mata Lim Sian-ji terbelalak dan berseru, “A Fei!”
Ia bangkit dari sisi Siangkoan Kim-hong dan
menghampiri A Fei. Bayangannya menyatu dengan
bayangan di atas rumput kering itu.
Siangkoan Kim-hong menatap dua bayangan di atas
tanah itu. Lalu ia mulai berjalan ke depan perlahanlahan….
dan berhenti saat ia berada tepat di atas kedua
bayangan itu.
Pedang di tangan A Fei telah jatuh ke tanah.
Lim Sian-ji menggenggam tangannya dan berbisik. “Kau
akhirnya datang, aku tahu kau pasti datang….”
Ia mengulanginya sampai beberapa kali. Tiap kali makin
halus, makin lembut, makin merdu.
Kelembutan suaranya dapat mencairkan gunung es.
Hati A Fei pun mulai mencair. Kegelisahannya,
kegundahannya, kebenciannya, langsung mereda.
Kata Lim Sian-ji, “Aku tahu jika kau tidak menemukanku,
kau pasti akan kuatir dan kau pasti akan datang
mencariku.”

1095
Ia melihat wajah A Fei pucat kehijauan. Matanya menjadi
merah dan mulai tersedu-sedu sambil berkata, “Selama
mencariku, kau pasti sangat menderita.”
Sahut A Fei, “Kalau bisa menemukanmu, aku sudah
sangat puas.”
Apapun resikonya, ia akan mempertaruhkan segalanya
demi menemukan Lim Sian-ji.
Apapun yang harus dideritanya, ia akan menanggungnya
demi menemukan Lim Sian-ji.
Tiba-tiba, sebilah pedang berkilat!
Pedang yang tadi tergeletak di tanah telah terangkat
naik, kilat sinarnya secepat pagutan ular, dan pedang
pun kini telah tergenggam.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong telah berdiri di depan
mereka.
Tatapannya yang tanpa emosi terfokus ke ujung pedang.
Pedang ini pedang baja biasa. Sebilah pedang yang
‘dipinjam’ A Fei dari orang yang ditemuinya dalam
perjalanan.
Namun kelihatannya Siangkoan Kim-hong tertarik sekali
pada pedang itu.
Dengan Lim Sian-ji di sampingnya, tidak ada yang dapat
mencuri perhatian A Fei.

1096
Baru kini ia menyadari ada orang lain di situ. Orang yang
tadinya hendak ia bunuh.
Kini pedangnya sudah berada di tangan orang itu.
Pedang biasa itu kini telah berubah menjadi sebilah
pedang yang memancarkan hawa membunuh!
Tanya A Fei tajam, “Siapa kau?”
Siangkoan Kim-hong tidak menjawab. Ia tidak
memandang A Fei sedikit pun. Tatapan matanya yang
dingin masih terpaku pada ujung pedang itu. Akhirnya
senyum enggan tampak di sudut mulutnya. Senyum yang
mengejek.
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Kau ingin membunuh
dengan pedang ini?”
“Memang kenapa pedang itu?”
“Pedang ini tidak bisa membunuhku.”
Jawab A Fei, “Semua pedang bisa membunuh.”
Siangkoan Kim-hong tertawa dan menyahut, “Tapi ini
bukan pedangmu. Jika kau memaksa ingin menggunakan
pedang ini, maka yang akan terbunuh adalah kau
sendiri.”
Pedang berkilat lagi, dan berputar.

1097
Kini Siangkoan Kim-hong memegang ujung pedang itu di
antara kedua jarinya dan menyorongkan gagang pedang
itu ke hadapan A Fei.
Katanya sambil tersenyum lebar, “Kalau kau tidak
percaya, coba saja.”
Sebelum A Fei mengulurkan tangannya, otot-ototnya
telah mengejang.
Ia menyadari bahwa di hadapan orang ini ia merasakan
suatu perasaan aneh. Perasaan yang tidak pernah
dirasakannya sebelum ini. Perasaan yang membuat
hatinya galau, membuat perutnya terasa melilit,
membuat dia ingin muntah.
Namun bagaimana mungkin ia tidak mengambil pedang
itu?
Akhirnya ia mengulurkan tangan. Sebelum tangannya
menyentuh gagang pedang itu, pedang itu telah
dirampas oleh tangan yang lain. Tangan yang halus dan
lembut.
Mata Lim Sian-ji berkaca-kaca saat memandang A Fei
dan berkata, “Apakah kau ingin membunuhnya? Tahukah
kau siapa dia?”
Lanjut Lim Sian-ji, “Ia adalah penyelamatku.”
Bab 65. Manipulasi
Tanya A Fei, “Penyelamat?”

1098
Jawab Lim Sian-ji, “Lu Hong-sian telah……memaksaku,
menyiksaku. Aku ingin mati, tapi tidak dapat. Jika bukan
karena dia, aku tidak tahu apa yang…..” Air matapun
membasahi wajahnya.
A Fei sungguh terkejut.
Lim Sian-ji masih terisak-isak waktu berkata, “Aku
berharap kau dapat membalas kebaikannya, tapi
sekarang kau malah…..”
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong menyela, “Membunuh
seseorang juga bisa menjadi salah satu cara untuk
membalas budi.”
Lim Sian-ji menoleh dan bertanya, “Kau….kau ingin dia
membunuh seseorang untukmu?”
Jawab Siangkoan Kim-hong, “Karena ia berhutang satu
nyawa padaku, mengapa tidak membiarkannya
membalas dengan satu nyawa lain?”
Kata Lim Sian-ji, “Tapi akulah yang kau selamatkan,
bukan dia.”
“Hutangmu adalah hutangnya. Benar kan?” tanya
Siangkoan Kim-hong pada A Fei.
Lim Sian-ji memandang wajah A Fei.
A Fei mengertakkan giginya dan menjawab, “Aku akan
membayar lunas hutangnya!”

1099
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Pernahkah kau berhutang?”
Jawab A Fei tegas, “Tidak pernah!”
Siangkoan Kim-hong tersenyum kecil. “Dengan nyawa
siapa kau akan membayarnya?”
Jawab A Fei, “Siapa saja yang kau inginkan, kecuali satu
orang.”
“Satu orang siapa?”
“Li Sun-Hoan.”
Siangkoan Kim-hong tersenyum mengejek. “Apakah kau
takut padanya?”
Mata A Fei penuh dengan kesedihan saat menjawab,
“Aku tidak akan membunuhnya, karena aku berhutang
padanya lebih banyak lagi.”
Siangkoan Kim-hong tertawa, katanya, “Baik. Kalau kau
mengingat hutangmu padanya, kaupun akan mengingat
hutangmu padaku.”
Tanya A Fei datar, “Nyawa siapa yang kau inginkan?”
Perlahan-lahan Siangkoan Kim-hong memutar badannya
dan berkata, “Ikut aku.”
Hari mulai gelap. A Fei tidak menggandeng tangan Lim
Sian-ji karena ia merasakan kegalauan dalam hatinya.

1100
Hanya saja ia tidak tahu apa yang mengganggu
perasaannya.
Siangkoan Kim-hong yang berjalan di depan tidak pernah
menoleh.
Namun, entah bagaimana A Fei merasa bahwa Siangkoan
Kim-hong sedang mengawasinya sepanjang waktu. Ia
merasakan tekanan yang begitu kuat mengganduli
hatinya.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin berat tekanan
itu.
Bintang-bintang mulai bermunculan di langit malam.
Padang luas itu bagaikan kehampaan yang tidak
terbatas. Suara anginpun tidak terdengar lagi.
Tidak ada secuilpun suara yang terdengar. Bahkan
serangga yang biasanya berdengung dengan giat di
malam musim gugur pun tidak bersuara.
Seakan-akan satu-satunya suara di alam semesta ini
adalah suara langkah kaki mereka.
A Fei baru menyadari bahwa langkahnya yang biasanya
tidak terdengar kini bersuara. Terlebih lagi, suaranya
seirama dengan suara langkah Siangkoan Kim-hong. Satu
setelah yang lain, membuat langkah-langkah mereka
melebur menjadi suatu ritme yang aneh.
Seekor jangkrik yang baru saja melompat dari rumput
kering dekat situ seakan-akan ketakutan mendengar

1101
ritme langkah mereka, dan melompat balik ke dalam
rerumputan itu. Bahkan derap langkah mereka
mengandung hawa membunuh.
Apa yang menyebabkannya?
A Fei tidak pernah bersuara saat berjalan. Tapi mengapa
tiba-tiba kakinya terasa amat berat?
Apa penyebabnya?
A Fei memandang ke bawah dan baru tahu apa
sebabnya. Langkahnya tepat jatuh di antara dua langkah
Siangkoan Kim-hong.
Waktu ia melangkah, Siangkoan Kim-hong akan
melangkah yang kedua. Waktu ia melangkah ketiga,
Siangkoan Kim-hong akan melangkah yang keempat.
Tiap langkah sangat teratur dan tanpa cela.
Jika ia mempercepat langkahnya, Siangkoan Kim-hong
pun akan mempercepat langkahnya. Jika ia
memperlambat, Siangkoan Kim-hong pun akan
memperlambat.
Dari semula, Siangkoan Kim-honglah yang
mengkoordinasi langkah mereka.
Namun kini, ia baru menyadari bahwa waktu Siangkoan
Kim-hong mempercepat langkahnya, secara otomatis
kaki A Fei pun akan mempercepat langkahnya juga.
Waktu Siangkoan Kim-hong memperlambat langkahnya,
kaki A Fei akan memperlambat langkahnya.

1102
Seolah-olah Siangkoan Kim-hong mengendalikan gerakan
kakinya dan ia tidak mampu melepaskan diri dari
kendalinya!
A Fei mulai berkeringat dingin.
Namun entah mengapa, ia merasa bahwa berjalan
seperti ini terasa menenangkan. Ia merasa tiap inci ototototnya
menjadi rileks.
Seakan-akan seluruh jiwa dan raganya terhipnotis oleh
ritme langkah ini.
Derap langkah ini dapat menggetarkan sukma manusia.
Lama-kelamaan, Lim Sian-ji pun merasakannya. Matanya
yang indah itu menjadi awas dan waspada,
memancarkan kekejaman.
A Fei adalah miliknya.
Hanya dia yang boleh mengendalikan A Fei.
Ia tidak akan pernah membiarkan siapapun merampas A
Fei dari genggamannya!
Matahari sudah mulai condong ke barat. Malam akan
segera tiba. Bintang-bintang akan segera menghiasi
langit malam….
***

1103
Hing Bu-bing masih berdiri di situ. Masih berdiri di
tempat yang sama tempat jejaknya yang terakhir.
Tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Pandangan
matanya pun tidak berganti. Namun bayangan Siangkoan
Kim-hong yang tadi nampak di atas tanah sudah
menghilang untuk selamanya.
Tapi kini, sosok Siangkoan Kim-hong tiba-tiba muncul
kembali.
Mula-mula Hing Bu-bing melihat pucuk topi bambunya,
lalu jubah kuningnya, lalu pedangnya yang berkilauan
diterpa cahaya bulan.
Lalu ia melihat A Fei.
Jika seseorang melihat mereka sepintas saja dari
kejauhan, pasti mereka mengira Hing Bu-binglah yang
berjalan bersama Siangkoan Kim-hong, karena irama
langkah mereka begitu unik dan serasi.
Siapa sangka kini A Fei telah mengambil posisi Hing Bubing?
Mata Hing Bu-bing kelihatan lebih gelap daripada abu.
Sangat gelap, sampai cahaya bulan dan bintangbintangpun
kelihatan redup. Kegelapan yang dapat
menyedot fajar yang akan tiba menjadi suatu
kehampaan, kesia-siaan hidup; yang membuat ‘kematian’
pun menjadi tidak berarti apa-apa.
Kehampaan total.

1104
Ekspresi wajahnya lebih kosong lagi daripada sorot
matanya.
Siangkoan Kim-hong berjalan mendekatinya dan berhenti
tepat di hadapannya.
Langkah A Fei pun berhenti.
Tatapan Siangkoan Kim-hong terfokus pada sesuatu di
kejauhan. Tidak sedikitpun ia melirik Hing Bu-bing. Tibatiba
tangannya terulur ke arah pinggang Hing Bu-bing
dan diambilnya pedang Hing Bu-bing.
Katanya dingin, “Kau tidak akan bisa lagi menggunakan
pedang ini.”
“Ya,” jawab Hing Bu-bing pendek.
Suaranya pun mengandung kehampaan. Bahkan dirinya
sendiri pun tidak yakin bahwa perkataan itu keluar dari
mulutnya.
Siangkoan Kim-hong masih memegang pedang baja biru
itu di antara jemarinya. Ia menyerahkan gagang pedang
itu pada Hing Bu-bing. Katanya, “Pedang ini untukmu.”
Perlahan-lahan tangan Hing Bu-bing terulur untuk
menerimanya.
Kata Siangkoan Kim-hong lagi, “Pedang apapun sekarang
tidak ada bedanya bagimu.”

1105
Walaupun ia begitu dekat dengan Hing Bu-bing, tidak
sekalipun Hing Bu-bing dipandangnya.
A Fei pun berada dekat situ dan ia pun tidak memandang
Hing Bu-bing sama sekali.
Lim Sian-ji tersenyum nakal padanya dan berkata,
“Apakah matipun jadi begitu sulit?”
Segumpal awan melayang menutupi langit.
Tiba-tiba suara guntur menggelegar memecahkan
kesunyian dan hujan pun turun.
Hing Bu-bing tetap tidak bergerak, dan berdiri mematung
dalam hujan.
Kini badannya sudah basah kuyup. Titik-titik air
mengumpul di sudut matanya. Apakah itu air hujan? Atau
air mata?
Namun bagaimana mungkin Hing Bu-bing bisa
meneteskan air mata?
Orang yang tidak pernah mengucurkan air mata,
biasanya hanya mengucurkan darah!
Pedang itu. Setipis kertas dan setajam belati.
Cahaya pelita tampak tenang. Terlihat kilatan pedang.
Kilatan biru.
***

1106
Jendela itu tertutup rapat. Hujan begitu lebat di luar.
Hawa dalam rumah sangat sejuk.
Di bawah cahaya pelita yang tenang A Fei dapat meneliti
pedang itu. Matanya terpaku sangat lama pada pedang
itu.
Siangkoan Kim-hong menatapnya lekat-lekat dan
bertanya, “Apa pendapatmu tentang pedang ini?”
“Bagus. Sangat bagus.”
“Dibandingkan dengan yang biasanya kau gunakan?”
“Terasa lebih ringan.”
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong merebut pedang itu
dengan dua jarinya dan membengkokkan ujungnya,
sampai menyentuh badan pedang, sehingga membentuk
Lingkaran. Terdengar bunyi ‘Wung’ yang keras.
Suaranya seperti naga mengaum.
Mata A Fei yang dingin menjadi tertarik.
Siangkoan tersenyum dan bertanya, “Dalam hal ini,
bagaimana jika dibandingkan dengan pedangmu?”
“Pedangku akan patah jika dibengkokkan seperti itu.”
Lalu Siangkoan Kim-hong melepaskan jarinya dan
pedang itu pun melesat kembali.

1107
Cawan teh yang berada di atas meja terbelah menjadi
dua, seakan-akan terbuat dari kayu yang sudah lapuk.
A Fei tidak dapat menahan rasa kagumnya dan berseru,
“Pedang yang luar biasa!”
Siangkoan Kim-hong menjelaskan, “Memang pedang
yang sangat baik. Sangat ringan dan tidak tumpul.
Sangat ringan tapi tidak ringkih. Kuat dan sangat
fleksibel. Walaupun terlihat biasa dan tidak menarik,
pedang ini adalah karya agung seorang ahli pembuat
pedang nomor satu di dunia, Tuan Gu. Dan lagi, pedang
ini khusus dibuat untuk mengakomodasi gaya permainan
pedang Hing Bu-bing.”
Sambung Siangkoan Kim-hong sambil tertawa, “Memang
pedang ini sangat mirip dengan Hing Bu-bing, bukan?”
Sahut A Fei, “Sangat mirip.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Walaupun serangan Hing Bubing
sangat kejam dan mematikan, seranganmu lebih
tepat dan akurat. Karena kau jauh lebih sabar dari dia.
Mungkin pedang ini lebih cocok untukmu.”
A Fei terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Pedang
ini bukan pedangku.”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Pedang tidak punya pemilik
khusus. Siapa pun yang bisa, dapat menggunakannya.”

1108
Ia meletakkan pedang itu ke samping A Fei dan dengan
sorot mata sinis ia berkata, “Dan kini, pedang ini sudah
menjadi milikmu.”
Kembali A Fei terdiam lama. Kata-kata yang keluar dari
mulutnya masih sama. “Ini bukan pedangku.”
“Dengan pedang ini, pedang manapun juga bisa menjadi
milikmu. Dengan pedang ini, kau dapat membunuh
siapapun juga.”
Lalu dengan tersenyum ia menambahkan, “Bahkan kau
dapat membunuhku.”
Kali ini A Fei diam saja.
Lanjut Siangkoan Kim-hong, “Kau berhutang padaku. Kau
harus membunuh untukku. Maka aku memberikan
senjatanya kepadamu. Cukup adil, bukan?”
A Fei mengulurkan tangannya dan mengambil pedang
itu.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Bagus! Bagus sekali! Dengan
pedang ini, hutangmu dapat terbayar lunas besok.”
“Siapa yang kau ingin aku bunuh?”
“Jangan kuatir. Aku tidak akan menyuruhmu membunuh
seorang sahabat….”
Sebelum kalimatnya selesai, Siangkoan Kim-hong sudah
keluar dari ruangan itu dan menutup pintu.

1109
Mereka dapat mendengar suaranya di luar. “Kedua orang
dalam kamar ini adalah tamu-tamuku. Sebelum tiba
besok pagi, jangan biarkan siapapun mengganggu
mereka.”
Kini hanya A Fei dan Lim Sian-ji yang berada di kamar
itu.
Lim Sian-ji dari tadi hanya duduk tenang, tidak
mengangkat kepalanya sama sekali.
Ketika Siangkoan Kim-hong masih berada di sana, ia pun
tidak melirik sedikitpun pada Lim Sian-ji.
Selama itu, ia pun tidak berbicara. Hanya sewaktu A Fei
mengulurkan tangannya untuk mengambil pedang itu,
mulutnya tampak bergerak sedikit, seakan-akan ingin
mengatakan sesuatu, namun tidak jadi.
Kini setelah tingga mereka berdua di sana, barulah ia
bicara, “Apakah kau benar-benar akan membunuh untuk
dia?”
A Fei mendesah. “Aku berhutang padanya, dan aku
sudah berjanji padanya.”
“Tahukah kau siapa yang harus kau bunuh?”
“Ia belum bilang.”
“Apakah kau belum bisa menerka?”
A Fei balik bertanya, “Apakah kau sudah tahu?”

1110
Sahut Lim Sian-ji, “Jika tebakanku benar, orang itu
adalah Liong Siau-hun.”
“Liong Siau-hun? Mengapa?”
Lim Sian-ji tersenyum dan menjawab, “Karena Liong
Siau-hun bermaksud untuk memanfaatkan dia. Tapi ia
tidak akan membiarkan orang memanfaatkannya. Hanya
dialah yang boleh memanfaatkan orang lain.”
“Liong Siau-hun seharusnya sudah dibunuh dari dulu.”
“Tapi sebaiknya kau tidak melakukannya.”
“Kenapa?”
Lim Sian-ji tidak menjawab, malah balik bertanya,
“Tahukah kau mengapa Siangkoan Kim-hong
menyuruhmu membunuh Liong Siau-hun, dan tidak
melakukannya sendiri?”
“Lebih mudah menyuruh orang lain daripada
melakukannya sendiri.”
“Namun jika Siangkoan Kim-hong menginginkan
kematian Liong Siau-hun, itu bukan hal yang sulit. Lagi
pula, pesilat tangguh dalam Kim-ci-pang jumlahnya tidak
sedikit. Jangankan seorang Liong Siau-hun, seratus atau
seribu Liong Siau-hun pun tidak sulit dibasmi. Jika
Siangkoan Kim-hong tidak ingin membunuhnya dengan
tangannya sendiri, ia cukup mengucapkannya dan semua
bawahannya siap melakukannya.”

1111
Tanya A Fei, “Jadi tahukah kau maksud sesungguhnya?”
“Sudah pasti aku tahu….dua hari lagi adalah tanggal
satu.”
“Ada apa dengan tanggal satu?”
Jawab Lim Sian-ji, “Semua orang dalam dunia persilatan
tahu bahwa pada tanggal satu, Liong Siau-hun dan
Siangkoan Kim-hong akan mengangkat persaudaraan.”
A Fei tercengang. “Apakah mata Siangkoan Kim-hong
sudah lamur?”
“Sudah tentu ia tidak ingin menjadi saudara angkat Liong
Siau-hun. Namun ia pun tidak ingin orang
menganggapnya sebagai orang yang tidak pegang janji.
Jadi satu-satunya jalan adalah dengan membunuh Liong
Siau-hun.”
Lim Sian-ji tersenyum sambil menambahkan, “Orang mati
kan tidak bisa menjadi saudara angkat orang hidup.”
A Fei terdiam.
Kata Lim Sian-ji lagi, “Tapi karena mereka sudah
menyebarkan pemberitahuan bahwa mereka akan
mengangkat persaudaraan, Siangkoan Kim-hong tidak
dapat turun tangan padanya lagi. Ia pun tidak dapat
menyuruh bawahannya untuk membereskannya. Maka ia
harus menggunakan tanganmu.”

1112
Tambahnya lagi sambil tersenyum lebar, “Lagi pula, kau
memang orang yang paling cocok untuk membunuh
Liong Siau-hun.”
Tanya A Fei, “Kenapa?”
“Karena kau sama sekali tidak terkait dengan Kim-cipang.
Dan juga karena Li Sun-Hoan adalah sahabatmu.
Semua orang tahu Liong Siau-hun pernah mengkhianati
Li Sun-Hoan.”
Lim Sian-ji menghela nafas panjang dan melanjutkan,
“Oleh sebab itu, jika kau membunuh Liong Siau-hun,
semua orang akan menyangka bahwa kau
membunuhnya demi Li Sun-Hoan. Tidak ada yang akan
tahu bahwa ini semua dirancang oleh Siangkoan Kimhong.”
Kata A Fei dingin, “Walaupun bukan demi siapapun juga,
aku tidak ingin membiarkan orang semacam itu hidup
lebih lama di dunia ini.”
“Akan tetapi, setelah kau membunuh Liong Siau-hun,
Siangkoan Kim-hong akan membunuhmu.”
A Fei terdiam.
Lanjut Lim Sian-ji, “Ia akan membunuhmu bukan saja
untuk menutup mulutmu, tapi ia akan membunuhmu
supaya semua orang mengira bahwa ia melakukannya
sebagai pembalasan kematian saudara angkatnya. Dan
semua orang akan memuji perbuatannya.”

1113
Mata A Fei beralih ke arah pedang di tangannya.
Kata Lim Sian-ji, “Ilmu silat Siangkoan Kim-hong sangat
dalam dan hebat, kau….kau tidak berpikir untuk…..”
I tidak menyelesaikan perkataannya. Ia menghambur ke
dalam pelukan A Fei dan berbisik perlahan, “Ia tidak ada
di sini. Mari kita melarikan diri saja.”
“Melarikan diri?”
“Aku tahu bahwa kau tidak pernah melarikan diri dari
apapun juga. Tapi kali ini, hanya sekali ini saja, bisakah
kau melakukannya demi aku?”
“Tidak,” jawab A Fei datar.
“Tidak juga demi aku?” Suara Lim Sian-ji menjadi sangat
lembut, dan air mata mulai mengalir dari matanya.
Ia telah menggunakan senjatanya yang paling
mematikan.
A Fei tidak memandangnya. Matanya memandang ke
kejauhan. Ia menjawab perlahan, “Demi dirimulah, aku
tidak dapat melakukannya.”
“Kenapa?”
“Demi dirimu, aku tidak akan menjadi pengecut dan
ingkar janji.”
“Ta…tapi….”

1114
Lim Sian-ji meringkuk di dada A Fei dan menangis
tersedu-sedu.
Katanya, “Aku tidak peduli apakah kau seorang pengecut
atau pemberani. Kau adalah orang yang kucintai, dan
aku hanya ingin kau tetap hidup dan berada di sisiku.”
Wajah A Fei yang tegang kembali melemah. Katanya
dengan lembut, “Bukankah aku ada di sisimu sekarang?”
Lim Sian-ji terus menangis. “Kadang-kadang aku tidak
mengerti jalan pikiranmu.”
“Jalan pikiranku sangat sederhana, dan tidak akan
pernah berubah.”
Memang semakin sederhana pikiran manusia, ia pun
semakin teguh dan tidak mudah berubah.
Lim Sian-ji menatapnya dengan air mata berLimang-
Limang. “Apakah prinsipmu tidak akan pernah berubah?”
“Tidak akan.”
Jawabannya pun sangat sederhana.
Lim Sian-ji bangkit dan perlahan-lahan berjalan menuju
ke jendela. Tidak ada sedikit pun suara yang terdengar di
luar. Bahkan tidak terdengar suara dengung serangga
ataupun kicau burung. Mahluk hidup apapun yang
datang ke tempat ini tiba-tiba merasa bahwa hidup ini
sungguh sia-sia.

1115
Satu-satunya yang pati di tempat ini adalah rasa
‘kematian’. Berdiri atau duduk. Di luar atau di dalam.
Perasaan itu terus membuntutimu.
Setelah sekian lama, akhirnya Lim Sian-ji mendesah dan
berkata, “Aku baru menyadari bahwa hubunganmu
dengan Li Sun-Hoan sangat mirip dengan hubungan
Siangkoan Kim-hong dengan Hing Bu-bing.”
“Hmm?”
“Tujuan hidup Hing Bu-bing adalah mengikuti perintah
Siangkoan Kim-hong. Maka sudah tentu Siangkoan Kimhong
memperlakukannya dengan baik, sampai hari
ini…..”
Senyum pahit terbayang di wajahnya saat ia
melanjutkan, “Kini, Hing Bu-bing tidak berguna lagi,
sehingga Siangkoan Kim-hong mengusirnya begitu saja
seperti seekor anjing liar. Kurasa, ia tidak pernah
menyangka bahwa semua akan berakhir seperti ini.”
Kata A Fei, “Seharusnya ia sudah menyadari sejak lama.”
“Kalau ia sudah menyadarinya, apakah ia akan terus
melakukannya?”
“Ia melakukannya karena tidak ada pilihan lain.”
Tanya Lim Sian-ji tajam, “Lalu bagaimana dengan
engkau?”
A Fei kembali terdiam.

1116
Kata Lim Sian-ji, “Li Sun-Hoan memperlakukanmu
dengan baik karena kaulah satu-satunya orang di dunia
ini yang dapat membantunya. Tanpa dirimu, ia sebatang
kara. Tapi jika kau sudah tidak berguna lagi baginya,
tidakkah iapun akan memperlakukanmu sama seperti
Siangkoan Kim-hong memperlakukan Hing Bu-bing?”
Tidak terdengar suara apapun sampai lama. Lalu A Fei
tiba-tiba berkata, “Lihatlah ke sini.”
Ia berkata dengan perlahan namun tegas.
Ia tidak pernah bicara seperti ini terhadap Lim Sian-ji
sebelumnya.
Tangan Lim Sian-ji yang masih memegang daun jendela
mempererat pegangannya.
Tanyanya, “Untuk apa?”
“Karena aku ingin menjelaskan dua hal kepadamu.”
“Aku dapat mendengar dengan baik dari sini.”
“Karena aku ingin kau melihat mataku. Ada perkataan
yang harus kau dengarkan dengan telingamu dan kau
lihat dengan matamu. Kalau tidak, kau tidak akan
mengerti artinya.”
Ia mempererat pegangannya lagi, tapi akhirnya ia
menolehkan wajahnya.

1117
Setelah ia melihat sorot mata A Fei, ia langsung mengerti
apa maksudnya.
Matanya sudah berubah menjadi sama seperti mata
Siangkoan Kim-hong.
Jika sorot mata seseorang terlihat seperti ini, artinya
apapun yang dikatakan orang itu harus didengarkan
baik-baik dan dipatuhi dengan seksama.
Kalau tidak, kau pasti akan menyesal!
Pada saat itulah Lim Sian-ji tahu bahwa ia salah.
Ia mengira bahwa A Fei sepenuhnya berada di dalam
kendalinya, bahwa A Fei akan memenuhi semua
permintaannya. Baru sekarang ia tahu bahwa ia salah
sangka.
A Fei memang sangat mencintainya. Tergila-gila
padanya.
Namun dalam hidup seorang laki-laki, ada yang lebih
penting daripada ‘cinta’, bahkan lebih penting daripada
hidup itu sendiri.
A Fei selalu mematuhi permintaannya, karena sebelum
ini ia belum pernah menyinggung tentang hal ini.
Ia memang bisa meminta A Fei mati demi dirinya, tapi ia
tidak dapat menepis persoalan ini begitu saja.

1118
Tanya Lim Sian-ji sambil memamerkan senyumannya
yang termanis, “Apa yang hendak kau katakan? Aku
mendengarkan.”
Walaupun senyuman itu memang manis, tapi terasa
dipaksakan.
“Aku ingin kau memahami bahwa Li Sun-Hoan adalah
sahabatku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun
menghina dia…SIAPAPUN!”
Lim Sian-ji menundukkan kepalanya. “Dan…..”
Kata A Fei, “Apa yang kau katakan tadi….bukan hanya
merendahkan diriku, tapi kau pun merendahkan Hing Bubing.”
“Hah?” Mata Lim Sian-ji terbelalak.
“Ia pergi karena ia memang ingin pergi. Bukan karena
seseorang mengusirnya pergi.”
Kata Lim Sian-ji, “Tapi aku tidak mengerti….”
Potong A Fei cepat, “Kau tidak perlu mengerti. Kau hanya
perlu mengingatnya.”
“Aku akan mengingat setiap perkataanmu. Tapi aku
berharap kau tidak lupa bahwa kau pernah
berkata….bahwa perasaanmu terhadap aku tidak pernah
akan berubah,” kata Lim Sian-ji sambil menundukkan
kepalanya.

1119
A Fei menatap mata Lim Sian-ji. Menatap dan terus
menatapnya.
Walaupun hatinya seperti gunung es, namun gunung es
itu sedang mencair dengan sangat cepat.
A Fei berjalan perlahan ke arah Lim Sian-ji. Tubuh Lim
Sian-ji seakan-akan memancarkan gaya magnet yang
menarik A Fei terus mendekat. Seolah-olah A Fei tidak
dapat mengendalikan dirinya sendiri.
Lim Sian-ji meliuk menghindari pelukannya dan purapura
enggan. Katanya, “Jangan hari ini….”
Tubuh A Fei langsung menegang.
Lim Sian-ji cekikikan dan berkata, “Hari ini kau harus
banyak istirahat dan tidur lebih awal. Aku akan berjaga di
sampingmu.”
***
Siangkoan berdiri tidak bergerak. Matanya tertuju ke
arah pintu. Ia sedang menunggu.
Siapakah yang ditunggunya?
Penjaga di depan pintu telah undur karena Siangkoan
Kim-hong telah memberi perintah, “Hari ini aku akan
kedatangan tamu dan aku tidak ingin diganggu.”
Siapakah yang akan datang?

1120
Mengapa Siangkoan Kim-hong sangat memperhatikan
orang ini?
Setiap perbuatan Siangkoan Kim-hong pasti ada
tujuannya. Kali ini, apa tujuannya?
***
Hari bertambah malam. Suasana pun bertambah sunyi.
Mata A Fei terpejam. Suara nafasnya teratur. Seakanakan
ia tidur lelap.
Sebenarnya, ia masih terjaga. Betul-betul terjaga dan
awas.
Biasanya ia tidak pernah susah tidur. Karena jika ia tidak
betul-betul lelah, ia tidak akan pergi tidur. Dan di harihari
sebelum itu, sekali kepalanya menyentuh bantal, ia
pasti langsung terlelap.
Tapi sekarang, ia tidak bisa tidur.
Di sampingnya, Lim Sian-ji sudah terlelap. Nafasnya pun
terdengar sangat teratur.
Jika A Fei mau, ia tinggal membalikkan badannya dan
memeluk tubuhnya yang hangat dan lembut.
Namun A Fei berusaha menahan hasratnya. Ia tidak
memandangnya sedikitpun. Ia kuatir jika ia
memandangnya sedikit saja, pertahanannya akan runtuh.

1121
Lim Sian-ji selalu mempercayainya sepenuh hati.
Bagaimana mungkin ia mengkhianatinya?
A Fei dapat mencium keharuman nafas Lim Sian-ji. Ia
memusatkan konsentrasinya dan memusatkan pikirannya
untuk mengendalikan hasratnya.
Bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
Hasrat adalah seperti gelombang lautan. Sedetik ia diam
dan tenang, detik berikutnya ia bergelora dengan
kekuatan penuh.
Terus-menerus ia harus mengendalikannya. Ia mulai
menjadi serupa ikan dalam penggorengan.
Bagaimana mungkin ia bisa tidur?
Nafas Lim Sian-ji terdengar makin berat. Namun matanya
sedikit demi sedikit terbuka.
Matanya yang bercahaya tajam memandangi A Fei dalam
kegelapan.
Rambutnya terlihat acak-acakan di dahinya. Ia terlihat
sangat lelap seperti seorang bayi.
Lim Sian-ji baru menyadari bulu mata A Fei yang lentik.
Ia ingin sekali mengulurkan tangan dan membelainya.
Saat itu, jika ia sungguh-sungguh mengulurkan
tangannya, A Fei akan menjadi miliknya untuk selamaKANG
ZUSI at http://cerita-silat.co.cc/
1122
lamanya. Ia akan meninggalkan segala sesuatu demi Lim
Sian-ji.
Saat itu, tatapan matanya sungguh lembut dan tulus.
Namun saat itu berlalu sekejap saja. Ia menarik
tangannya kembali. Tatapannya yang lembut dan tulus
telah berubah dingin dan kejam.
Ia berbisik, “Fei sayang, apakah kau sudah tidur?”
A Fei tidak menjawab. Ia pun tidak membuka matanya.
Ia sungguh tidak berani.
Ia takut ia akan…..
Lim Sian-ji menanti sebentar lagi. Lalu tiba-tiba ia turun
dari tempat tidur tanpa suara dan mengambil sepatunya.
Dengan sepatu di tangannya, ia membuka pintu diamdiam
dan keluar.
Malam selarut ini, ke manakah dia pergi?
A Fei merasa hatinya begitu sakit seperti ditusuk beriburibu
jarum.
‘Apa yang kau tidak ketahui tidak akan merisaukanmu.
Dalam hidup ini ada hal-hal yang lebih baik tidak kita
ketahui.’
A Fei sungguh memahami hal ini. Kenyataan memang
kejam, memang menyakitkan.

1123
Akan tetapi, ia tidak bisa menahan diri lagi.
***
Pintu pun terbuka.
Seulas senyum terlihat di bibir Siangkoan Kim-hong.
Sebenarnya ia tampak lebih menakutkan saat tersenyum.
Lim Sian-ji membuka pintu dan berdiri di situ. Matanya
menatap Siangkoan Kim-hong. ‘Pluk’, sepatu di
tangannya jatuh ke lantai.
Ia mendesah dan berkata, “Kau sudah tahu bahwa aku
akan datang?”
“Ya.”
Lim Sian-ji menggigit bibirnya, katanya, “Aku sendiri
tidak tahu mengapa aku datang ke sini.”
“Aku tahu kenapa.”
Tanya Lim Sian-ji dengan mata besar, “Kau tahu?”
“Kau datang karena kau sudah tahu bahwa A Fei tidak
begitu penurut seperti yang kau sangka. Jika kau ingin
tetap hidup, kau harus bergantung padaku.”
“Dan aku…..dapatkah aku bergatung padamu?”

1124
Siangkoan Kim-hong tertawa. “Itu, kau sendiri yang
harus menjawabnya.”
Tidak ada seorang laki-laki pun di dunia ini yang dapat
sungguh-sungguh dipercaya.
Seorang wanita dapat bergantung padanya selama
wanita itu memperlakukannya dengan baik.
Tentu saja Lim Sian-ji memahaminya sungguh-sungguh.
Ia tertawa dan menjawab, “Kalau begitu, aku pasti dapat
bergantung padamu, sebab aku tidak akan pernah
mengecewakanmu.”
Matanya pun mulai tertawa.
Lalu tangannya, pinggangnya, pahanya….
Ia telah berkeputusan bulat. Bagaimanapun caranya, ia
harus mendapatkan laki-laki ini.
Dalam tempo yang singkat, ia harus menggunakan
senjatanya yang paling ampuh.
Di mata seorang pria, tidak ada wanita yang lebih
memukau daripada wanita tanpa sehelai benang di
tubuhnya. Dan wanita ini bukan sembarang wanita,
wanita ini adalah Lim Sian-ji.
Anehnya, mata Siangkoan Kim-hong masih tertuju ke
arah pintu.

1125
Seakan-akan pintu itu lebih menarik daripada Lim Sian-ji
yang telanjang bulat.
Lim Sian-ji terengah-engah dan berkata, “Dukunglah aku.
Aku….aku hampir tidak bisa bergerak lagi.”
Siangkoan Kim-hong menggendongnya, namun matanya
masih melihat ke arah pintu.
‘BLANG’. Pintu pun terbuka lebar.
Seseorang meluruk masuk ke dalam kamar seperti
sebuah bola api.
Bola api yang berkobar-kobar!
A Fei!
Tidak dapat dibayangkan kemarahannya saat ini.
Seulas senyum kembali terbayang di wajah Siangkoan
Kim-hong.
Apakah ia sudah mengira bahwa A Fei akan datang?
A Fei tidak melihatnya.
Ia tidak melihat seorang pun di situ. Apa yang dilihatnya
adalah mimpi buruknya.
Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

1126
Lim Sian-ji tidak berkedip. Ia mengalungkan tangannya
pada leher Siangkoan Kim-hong.
Katanya dingin, “Orang yang datang ke sini tidak pernah
mengetuk ya?”
Tangan A Fei terkepal dan ditinjunya pintu itu.
Pintu besi itu!
Darah mengucur dari tinju A Fei. Rasa sakit bergelora di
sekujur tubuhnya dan bibirnya menjadi pucat pasi.
Tapi rasa sakit macam apa yang dapat dibandingkan
dengan rasa sakit dalam hati?
Lim Sian-ji tertawa. Katanya, “Ternyata orang ini sudah
gila.”
A Fei meraung dan berseru, “Jadi kau memang wanita
semacam ini!”
Lim Sian-ji menjawab dengan ringan, “Kau baru tahu?
Aku memang seperti ini. Dari dulu sampai sekarang,
tidak berubah. Kau tidak menyadarinya karena kau
begitu bodoh.”
Ia tertawa dingin dan menambahkan, “Jika kau lebih
pintar sedikit saja, kau tahu lebih baik kau tidak datang
ke sini.”
“Tapi aku sudah di sini.”

1127
“Apa untungnya kau datang? Supaya kau bisa memaki
aku? Ada hubungan apa di antara kita? Kau pikir kau bisa
mencampuri urusanku? Kau pikir kau kau harus
menjagaku?” tanyanya dengan nada mengejek.
Air mata membasahi mata A Fei. Namun air mata itu
membeku.
Matanya menjadi kelabu dan mati.
Warna kelabu yang habis harapan. Sama seperti mata
Hing Bu-bing.
Saat itu, ia merasa ia sudah mencucurkan air mata
darahnya yang terakhir. Saat itu, hidupnya sudah
berakhir.
Ia sudah berubah menjadi orang mati.
‘Seharusnya aku tidak datang, seharusnya aku tidak
datang…..’
Jika ia tahu seharusnya ia tidak datang, mengapa ia
tetap datang?
Orang selalu melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya
sendiri, walaupun mereka tahu bahwa seharusnya
mereka tidak melakukannya.
Bab 66. Menghina Diri Sendiri
A Fei tidak tahu mengapa ia berlari keluar dari ruangan
itu.

1128
Pandangan Siangkoan Kim-hong tetap dingin selama
peristiwa itu, juga saat A Fei berlari ke luar.
Lim Sian-ji berkata dengan lembut, “Aku tunduk
sepenuhnya pada dirimu. Kau percaya sekarang?”
“Aku percaya,” sahut Siangkoan Kim-hong.
Namun sebelum kalimatnya selesai, Siangkoan Kim-hong
telah menghempaskan tubuh Lim Sian-ji ke atas ranjang
dan melompat ke luar.
Tubuh Lim Sian-ji mengejang.
Namun di wajahnya tidak terbayang rasa sedih atau
kuatir. Yang terbayang malahan rasa takut.
Rasa takut yang sama saat ia menyadari bahwa ia belum
menaklukkan A Fei sepenuhnya. Namun ketakutan ini
tidak berlangsung lama.
Apa yang telah kuperbuat? Apa untungnya bagiku?
Apa sebenarnya yang sungguh berharga dalam
kehidupan ini?
Lim Sian-ji bangkit dan memunguti pakaiannya dari
lantai. Lalu dilipatnya perlahan-lahan dengan sangat rapi.
Setelah tubuhnya telah kembali rileks, ia berbaring di
tempat tidur. Senyum yang sangat manis terkembang di
bibirnya.

1129
Ia sudah memutuskan bahwa ia akan terus mencoba.
***
Ujung koridor itu adalah sebuah pintu.
A Fei berlari menerjang pintu itu dan terjatuh.
Ia terkulai ke lantai. Ia tidak berusaha bangkit, tidak
berusaha melakukan apapun juga.
Saat itu, pikirannya sungguh kosong.
Pemandangan yang sangat sulit dibayangkan….
Musim gugur telah lewat. Sebidang tanah kering
memancarkan keharuman dedaunan kering.
A Fei menggigit tanah kering itu dan menelan segumpal.
Tanah yang kasar dan kering itu masuk ke dalam
kerongkongannya dan ke dalam perutnya.
Seolah-olah ia sedang berusaha mengobati rasa laparnya
dengan memakan tanah itu.
Ia telah menjadi seseorang yang berdaging, namun
hampa di dalam. Ia tidak punya pikiran, perasaan, tidak
punya jiwa. Dua puluh sekian tahun kehidupannya
seolah-olah menghilang begitu saja ditelan kehampaan.
Siangkoan Kim-hong berhasil mengejarnya. Ia melirik A
Fei sebentar sebelum melangkah di atas tubuhnya dan

1130
masuk ke dalam rumah di dekat situ untuk mengambl
sebilah pedang.
‘Peng’. Pedang itu menembus tanah, persis di sebelah
kanan wajah A Fei.
Ujung pedang yang dingin itu menjilat darah saat
menggores pipi A Fei. Darah panah mengalir dari badan
pedang, setetes demi setetes jatuh ke tanah.
Lalu terdengar suara Siangkoan Kim-hong yang lebih
tajam daripada pedang itu. “Ini pedangmu!”
A Fei diam tidak bergerak.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Jika kau mati sekarang, tidak
akan ada seorangpun yang akan menangisi kematianmu.
Tidak akan ada seorang pun yang akan mengasihanimu.
Dalam tiga hari mayatmu akan membusuk dalam selokan
seperti bangkai anjing liar.”
Siangkoan Kim-hong tersenyum mengejek dan
melanjutkan, “Karena seseorang yang mati gara-gara
seorang wanita seperti itu, lebih tidak berharga daripada
seekor anjing liar.”
Tiba-tiba A Fei berdiri dan mencabut pedang itu.
Matanya merah bagai darah. Mulutnya masih belepotan
tanah dan lumpur. Ia betul-betul terlihat seperti seekor
binatang buas.

1131
Tanya Siangkoan Kim-hong tenang, “Kau ingin
membunuhku, bukan? Ayo, kenapa tidak kau serang
aku?”
Tangan A Fei gemetar. Pembuluh darahnya terlihat
menonjol di sekujur tangannya.
Kata Siangkoan Kim-hong lagi, “Kalau kau berniat
membunuh wanita itu, aku tidak akan menghalangimu.”
A Fei memutar badannya, tapi langsung berhenti.
“Apakah kau juga sudah kehilangan keberanian untuk
membunuh?” tanya Siangkoan Kim-hong dengan sinis.
A Fei membungkukkan badannya dan mulai muntahmuntah.
Tatapan Siangkoan Kim-hong tidak lagi setajam tadi.
Katanya, “Aku tahu, saat ini hidup rasanya jauh lebih
mengerikan daripada mati. Namun kalau kau mati
sekarang, artinya kau melarikan diri. Dan aku tahu
bahwa kau bukan seorang pengecut.”
Tambahnya, “Lagi pula, kau belum memenuhi janjimu
padaku.”
A Fei sudah tidak muntah-muntah lagi, namun nafasnya
masih tersengal-sengal.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Jika kau masih berani hidup,
ikut aku!”

1132
Lalu ia segera memutar badannya dan berjalan pergi.
A Fei memandangi muntahannya tadi, lalu ia pun
memutar badannya dan pergi mengikuti Siangkoan Kimhong.
Selama itu, tidak setetes air mata pun keluar dari
matanya.
Orang yang tidak mencucurkan air mata, hanya
mencucurkan darah!
Dan ia sudah siap untuk mencucurkan darah.
Di sebelah luar pintu terdapat sebuah pekarangan kecil.
Dalam pekarangan itu ada sebatang pohon willow putih
yang mengangguk-angguk sedih ditiup angin musim
gugur. Seakan-akan sedang bersedih karena singkatnya
kehidupan ini, bersedih karena kebodohan manusia yang
tidak menyadari betapa berharganya hidup yang singkat
ini.
Masih terlihat cahaya di salah satu kamar.
Cahaya itu mengalir keluar dari bawah pintu dan
menyinari kaki Siangkoan Kim-hong.
Siangkoan Kim-hong memandang A Fei, lalu menepuk
bahunya. Katanya, “Tegakkan dadamu. Masuklah ke
dalam dan hapuslah kesedihan hatimu.”
A Fei pun masuk ke dalam kamar itu.

1133
Mengapa Siangkoan Kim-hong membawanya kemari?
A Fei tidak peduli.
Jika hati seseorang sudah mati, apalagi yang ditakutinya?
Ada tujuh orang dalam kamar itu.
Tujuh orang gadis cantik.
Tujuh senyuman yang memikat ditujukan hanya
padanya, tujuh pasang mata yang genit memandanginya.
A Fei sungguh terperanjat.
Siangkoan Kim-hong tersenyum lebar, katanya, “Dia
bukannya satu-satunya wanita cantik di dunia ini.”
Ketujuh gadis cantik itu langsung mengerubungi dan
menariknya ke dalam sambil tertawa cekikikan.
Keharuman tubuh mereka membawa selentingan aroma
arak.
Di sudut ruangan terlihat beberapa kotak kayu yang
ditumpuk.
Siangkoan Kim-hong membuka salah satu di antaranya
dan terlihat cahaya yang gemerlapan di dalamnya.
Kotak itu penuh dengan emas dan permata.

1134
Kata Siangkoan Kim-hong, “Dengan kotak-kotak ini, kau
dapat membeli cinta seratus lebih wanita.”
Salah satu gadis itu berkata dengan genit, “Hati kami
sudah menjadi miliknya. Tidak perlu dibeli lagi.”
Siangkoan Kim-hong tertawa mendengarnya dan
berkata, “Lihat, dia juga bukan satu-satunya wanita yang
bisa berkata-kata manis padamu. Semua wanita sama,
terlahir dengan mulut semanis madu.”
Gadis yang lain cekikikan sambil berkata, “Tapi kami
mengatakan yang sebenarnya!”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Kebenaran adalah
kebohongan, kebohongan adalah kebenaran. Kebenaran
dan kebohongan, sama sekali tidak ada bedanya.”
Perlahan ia menghampiri A Fei dan bertanya, “Kau masih
ingin mati?”
A Fei menenggak seguci arak dan tersenyum lebar sambil
menjawab, “Mati? Siapa yang ingin mati?”
“Bagus. Selama kau tetap hidup, semua yang ada di sini
adalah milikmu!”
A Fei merengkuh salah satu gadis itu ke dalam
pelukannya.
Ia memeluknya erat-erat, seakan-akan ingin
melumatnya.

1135
Siangkoan Kim-hong berjalan ke luar dan menutup pintu.
Suara tawa yang silih berganti terdengar sampai ke luar.
Siangkoan Kim-hong berjalan meLimtasi pekarangan kecil
itu sambil menyilangkan tangan di dadanya. Ia
menengadah melihat bulan dan menggumam, “Hari akan
cerah besok.”
Siangkoan Kim-hong suka hari yang cerah.
Dalam hari yang cerah, darah lebih cepat mengalir dan
orang lebih cepat mati!
Hari yang cerah!
***
Debu beterbangan tertiup angin. Jalan sangat panjang.
Cahaya matahari menyegarkan dan penuh vitalitas.
Seorang penunggang kuda mengendarai kudanya
dengan cepat keluar dari penginapan. Alis matanya tebal,
matanya melengkung, dan wajahnya gagah. Ia
mengenakan jubah kuning yang Longgar. Dadanya yang
bidang menentang angin dan debu yang beterbangan di
bawah cahaya matahari yang hangat.
Hanya ada satu hal dalam pikirannya.
‘Bawa datang A Fei untuk membunuh dua orang, yang
satu berbaju ungu, yang satu berbaju merah.’

1136
Itu perintah langsung Siangkoan Kim-hong.
Jika seorang anggota Kim-ci-pang menerima perintah
Siangkoan Kim-hong, pikiran mereka hanya terfokus
pada perintah itu.
Warna muka Liong Siau-hun hampir sama dengan warna
baju yang dikenakannya, ungu kemerahan.
Ia bukannya baru saja minum arak.
Kekuasaan pun dapat memabukkan orang bahkan lebih
daripada arak.
Siangkoan Kim-hong menyambutnya secara pribadi.
Acara ini pasti akan sangat agung dan megah.
Ia berharap dapat mengundang semua orang dalam
dunia persilatan untuk menyaksikan dirinya dalam
keagungan dan kemegahan ini.
Sayang sekali orang yang datang hari ini sangat sedikit.
Tidak ada orang yang ingin mengundang bahaya yang
tidak perlu bagi dirinya sendiri.
Tiga cawan arak sudah membasahi kerongkongannya.
Wajah Liong Siau-hun makin memerah. Ia mengangkat
cawannya lagi dan berkata, “Toako, kebaikanmu padaku
sungguh tidak dapat kubalas dengan apapun juga. Aku
tidak akan pernah melupakan kemurahan hatimu. Aku
bersulang untukmu dengan cawan ini!”

1137
Kata Siangkoan Kim-hong dingin, “Aku tidak minum
arak.”
Liong Siau-in yang berdiri di belakan mereka segera
menuang secawan teh dan menghaturkannya kepada
Siangkoan Kim-hong. Katanya, “Kalau begitu, Paman,
harap berkenan menerima secawan teh ini.”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Aku juga tidak minum teh.”
Liong Siau-hun tertawa, dan bertanya, “Kalau begitu, apa
yang biasanya Saudara minum?”
“Air putih.”
Wajah Liong Siau-hun terlihat kaget. “Kau hanya minum
air putih?”
“Air putih sangat menyejukkan jiwa. Orang yang suka
minum air putih, pikirannya jernih.”
Liong Siau-in pun mengambil cawan yang lain dan
mengisinya dengan air putih, dan menyuguhkannya pada
Siangkoan Kim-hong.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku hanya minum kalau aku
haus. Saat ini, aku tidak haus.”
Liong Siau-hun mulai tampak gelisah.
Liong Siau-in berkata dengan tenang, “Kalau begitu,
bagaimana kalau aku saja yang menggantikanmu minum
cawan ini?”

1138
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Kau yang mengisinya,
minumlah.”
Liong Siau-in mengangkat cawan arak, cawan teh, dan
cawan air putih, dan minum ketiganya.
Kemudian Liong Siau-in pun berkata, “Di jaman dahulu,
orang mengangkat saudara dengan mengangkat sumpah
dengan darah. Tapi Paman dan ayah adalah orang-orang
yang pandai dan terpelajar, tidak perlulah menggunakan
adat istiadat semacam itu. Tapi kebiasaan untuk saling
memberi hormat dengan hio tidak boleh
dikesampingkan.”
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Apa gunanya hio?”
Jawab Liong Siau-in, “Untuk berterima kasih kepada
langit dan bumi. Untuk memberi hormat pada dewadewa
dan setan-setan.”
“Dewa-dewa dan setan-setan tidak datang
menghormatiku. Mengapa aku harus menghormati
mereka?”
“Memang, Paman adalah pahlawan yang sangat agung
dunia ini, bahkan di dunia lain. Dewa-dewa dan para
setan pun pasti sangat segan padamu.”
“Aku tidak menghormati mereka, mengapa mereka harus
menghormati aku?”
Liong Siau-in kehabisan kata-kata dan terbatuk dua kali.
Akhirnya ia berkata, “Jadi Paman, maksudmu adalah….”

1139
Potong Siangkoan Kim-hong tidak sabar, “Yang akan
mengangkat saudara dengan aku itu kau atau ayahmu?”
“Tentu saja ayahku.”
“Kalau begitu, minggir dan diam!”
“Baiklah,” sahut Liong Siau-in pelan.
Ia menundukkan kepalanya dengan hormat dan mundur
ke belakang. Wajahnya tidak berubah sedikitpun.
Sementara itu wajah Liong Siau-hun menjadi tegang,
katanya tegas, “Anakku yang tidak berguna itu memang
tidak punya sopan santun. Toako, mohon jangan
tersinggung.”
Siangkoan Kim-hong tiba-tiba menggebrak meja dan
berkata tajam, “Anak seperti itu, bagaimana ia bisa
menjadi penerusmu?”
Ia mengeluh dan meneruskan, “Sayang sekali ia bukan
anakku.”
Muka Liong Siau-hun menjadi merah dan tidak tahu
harus bilang apa.
Seseorang tiba-tiba masuk dan langsung menuju
Siangkoan Kim-hong. Alisnya tebal dan matanya
melengkung. Ketika ia tepat berada di belakang
Siangkoan Kim-hong, ia berbisik, “Perintahmu sudah
diberikan, namun….”

1140
“Namun apa?”
“Ia sedang mabuk. Sangat mabuk.”
Siangkoan Kim-hong mengerutkan alisnya dan berkata,
“Siram dia dengan air dingin. Jika belum bangun juga,
siram dengan air kencing.”
“Ya,” jawab orang itu dengan tatapan penuh kekaguman.
Kecuali orang mati, siapapun dapat dibangunkan dengan
siraman air kencing.
Liong Siau-hun tidak dapat mendengar apa yang sedang
dipercakapkan. Ia lalu berkata, “Toako, apakah kau
sedang menantikan seseorang?”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Siapakah yang cukup
pantas untuk kunantikan?”
Kata Liong Siau-hun, “Kalau semua sudah hadir,
mengapa kita tidak….”
Siangkoan Kim-hong memotongnya dengan tawa dan
berkata, “Usiamu?”
“Lima puluh satu.”
“Hm, ternyata kau lebih tua daripada aku. Kelihatannya
aku yang harus memanggilmu Kakak.”
Wajah Liong Siau-hun kelihatan tidak sabar. Ia segera
berdiri dan berkata, “Ah, tidak jadi soal siapa yang tua

1141
siapa yang muda. Yang penting adalah apakah seseorang
mampu atau tidak. Toako, tolong jangan puji aku
berlebih-lebihan.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Kalau kau menganggapku
lebih tua, maka kau harus mendengarkan petunjukku.”
“Ya.”
“Bagus. Duduklah dan mari minum…. Pertama-tama mari
minum untuk sahabat-sahabat di sini.”
Orang yang dapat duduk dan minum di situ, sudah jelas
adalah orang yang cukup terkemuka.
Siangkoan Kim-hong belum mengangkat sumpitnya,
maka sumpit semua orang pun seolah-olah beratnya
menjadi beratus-ratus kilo. Siapa yang bisa makan?
Kata Siangkoan Kim-hong, “Makanan sudah siap. Jika
tidak dimakan, makanan ini akan jadi mubazir. Aku tidak
suka menyia-nyiakan barang. Mari, silakan dicicipi.”
Setelah perkataannya ini, tujuh delapan pasang sumpit
mulai bergerak.
Kata Liong Siau-hun, “Ikannya kelihatan sangat segar.
Toako, cobalah sedikit.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku makan kalau aku lapar.
Saat ini, aku tidak lapar.”

1142
Tambahnya, “Makan sewaktu tidak lapar adalah sama
dengan menyia-nyiakan barang.”
Setelah perkataan itu, beberapa pasang sumpit kembali
diletakkan ke atas meja.
Salah satu di antara yang datang adalah seseorang
dengan wajah pucat dan tubuh yang tinggi. Di jarinya
terlihat sebentuk cincin kumala yang sangat indah.
Sarung pedang yang tergantung di pinggangnya pun
dihiasi dengan batu-batu kumala yang indah.
Walaupun orang ini tidak berkata sesuatupun, wajahnya
kelihatan sangat gelisah.
Ia belum pernah merasakan kegelisahan seperti ini. Kini,
ia menyesal datang ke tempat ini.
Seharusnya ia tidak perlu datang.
‘Kumala Gemerlapan Hin’ adalah merek yang terkenal.
Jika orang dalam dunia bisnis mendengar nama ‘Kumala
Gemerlapan Hin’, itu sama dengan orang dalam dunia
persilatan mendengar nama ‘Pisau Kilat si Li’.
Siauya ‘Kumala Gemerlapan Hin’, Sebun Yu sudah
terbiasa dimanjakan dan dilayani sejak masih kecil. Kalau
ia ingin pergi ke timur, siapapun tidak berani
mengusulkan untuk pergi ke barat.
Waktu ia ingin belajar ilmu pedang, banyak guru pedang
diundang untuk mengajarnya, bahkan mencarikan
untuknya sebilah pedang mustika.

1143
Pada usia 10 tahun, Sebun Yu sudah menggunakan
pedang itu untuk membunuh….
Membunuh tanpa alasan. Ia hanya ingin tahu rasanya
membunuh seseorang. Maka segera dicarikan untuknya
orang yang bisa dibunuhnya.
Orang seperti ini harus duduk di meja dan dipaksa untuk
mengikuti tekanan semacam ini. Tidak heran ia merasa
sangat gelisah.
Ia pun belum menyentuh sumpitnya sama sekali.
Mata Siangkoan Kim-hong memandang Sebun Yu.
Sebun Yu ingin menoleh dan melepaskan diri dari
pandangan itu, tapi mata Siangkoan Kim-hong seakanakan
mempunyai kekuatan magnetis yang membuatnya
tidak dapat melengos sedikitpun.
Jika ia ingin memandang seseorang, orang itu hanya bisa
membiarkan dia memandangnya.
Sebun Yu merasa sekujur tubuhnya menjadi dingin. Mulai
dari ujung jemarinya, perasaan dingin itu merayap ke
punggung, masuk ke dalam tulang-tulangnya, dan
merembes ke dalam hatinya.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berseru, “Apakah
makanan ini beracun?”
Tanya Sebun Yu, “Mengapa beracun?”

1144
“Kalau tidak beracun, mengapa tidak kau makan?”
“Aku juga tidak lapar, jadi aku tidak mau menyia-nyiakan
makanan.”
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Benarkah kau tidak lapar?”
“Ben….Benar.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Menyia-nyiakan makanan
masih dapat dimaafkan, tapi berbohong tidak dapat
ditolerir. Mengerti?”
Sebun Yu tidak dapat menahan rasa marahnya. Katanya,
“Buat apa aku berbohong untuk hal sepele macam ini?”
“Berbohong adalah berbohong. Tidak jadi soal apakah
kau berbohong mengenai hal sepele atau hal penting.”
“Aku sudah bilang, aku tidak lapar,” tegas Sebun Yu.
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Ini sudah lewat waktu
makan. Bagaimana mungkin kau tidak lapar?”
“Karena makananku sebelumnya belum habis tercerna.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Kau makan di Rumah Makan
Fuiyun di bagian selatan kota. Benar kan?”
“Ya, benar.”

1145
“Kau memesan sepiring ayam wijen, semangkuk sup mi
belut, dan bakpao daging. Kau makan dua potong ayam,
setengah mangkuk mi, dan tujuh bakpao. Benar?”
Sebun Yu tertawa dan berseru, “Aku tidak menyangka
Siangkoan-pangcu sudah menyelidiki setiap gerak
langkahku sampai sedetil ini!”
Siangkoan Kim-hong tidak menggubrisnya. Ia terus
berkata, “Karena tadi kau bilang apa yang kau makan
belum habis tercerna, maka seharusnya masih ada dalam
perutmu, bukan?”
“Ya, kurasa begitu.”
Siangkoan Kim-hong menurunkan pandangannya dan
berkata, “Coba buka perutnya dan mari kita lihat apakah
masih ada atau tidak.”
Walaupun setiap orang di situ tahu bahwa ia sedang
mencari gara-gara dengan Sebun Yu, mereka semua
terkejut bahwa peristiwa ini tiba-tiba menjadi separah
itu. Tapi tidak seorang pun berani menunjukkan reaksi
negatif atau rasa heran akan perkataannya itu.
Perintah Siangkoan Kim-hong tidak bisa ditarik kembali.
Sekali diberikan, harus dilaksanakan.
Wajah Sebun Yu langsung memucat. Ia berkata raguragu,
“Ketua, kau hanya bercanda denganku, bukan?”
Siangkoan Kim-hong tidak mempedulikannya sama
sekali. Empat orang berjubah kuning masuk.

1146
Sebun Yu melompat dan menghunus pedangnya.
Gerakannya sangat cermat dan akurat. Tidak seorangpun
pernah melihat dia bertempur, namun mereka segera
tahu bahwa ilmu pedangnya tidak lemah.
Namun sebelum pedang keluar dari sarungnya, terdengar
bunyi ‘Siut’. Sepasang sumpit di tangan Siangkoan Kimhong
telah tertancap di bahu kiri dan kanan Sebun Yu.
Bab 67. Puncak Tertinggi Ilmu Silat
Semua orang tahu bahwa ilmu silat Siangkoan Kim-hong
memang begitu lihai. Namun tidak seorang pun pernah
melihat dia bertempur. Bahkan sekarang pun, tidak
seorang pun melihat dia menyerang.
Seakan-akan tangannya tidak bergerak sama sekali.
Mereka hanya melihat dia menekan meja sedikit sebelum
sepasang sumpit itu terbang melesat di udara. Lalu
Sebun Yu pun terkulai dan rebah ke tanah.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Bawa dia pergi dan periksa
dengan seksama.”
Orang-orang berjubah kuning itu langsung membawa
tubuh Sebun Yu keluar.
Bibir Sebun Yu seolah-olah bergerak sedikit, namun ia
bergitu ketakutan sehingga tidak secuil suara pun keluar
dari mulutnya.

1147
Kata Siangkoan Kim-hong, “Jika memang makanan itu
masih ada di perutmu, aku akan membayar dengan
nyawaku, sehingga kematianmu tidak sia-sia.”
Tidak seorang pun berani bicara. Tidak seorang pun
berani bergerak.
Setiap orang terlihat seolah-olah sedang duduk di papan
berpaku. Pakaian mereka semua basah oleh keringat
dingin.
Salah satu orang berjubah kuning tadi masuk kembali
dan berkata, “Kami telah memeriksanya.”
“Apa yang kalian temukan?”
“Tidak ada. Perutnya kosong.”
“Bagus,” kata Siangkoan Kim-hong.
Matanya lalu menyapu ke setiap wajah di ruangan itu
dan berkata, “Jika kalian berdusta di hadapanku, maka
kalian akan mengalami nasib yang sama. Semua
mengerti?”
Semua mengangguk.
Tanyanya lagi, “Apakah semuanya juga tidak lapar?”
Semua langsung menjawab, “Tidak…tidak, kami
lapar….kami lapar.”

1148
Mereka semua langsung berlomba-lomba menyantap
makanan di meja. Tidak ada yang mengunyah lagi.
Suapan demi suapan langsung ditelan dan masuk perut
begitu saja.
Tiba-tiba, seseorang yang basah kuyup dari kepala
sampai ujung kaki, masuk ke situ dan berdiri dekat pintu.
Matanya merah, penampilannya kusut masai, tubuhnya
lemas. Ia terus-menerus menggumam, “Seseorang yang
berbaju ungu kemerahan, seseorang yang berbaju ungu
kemerahan.”
A Fei!
Liong Siau-hun langsung bangun berdiri.
Mata A Fei hinggap padanya dan berkata, “Ternyata
kau.”
Walaupun matanya sayu dan penampilannya kusut dan
mengantuk, ada pedang dalam genggamannya.
Selama ada pedang di tangannya, itu cukup untuk
membuat Liong Siau-hun merasa tidak nyaman.
Liong Siau-hun mundur selangkah demi selangkah.
A Fei maju selangkah demi selangkah.
Pedang itu bergoyang-goyang dalam genggamannya.
Langkahnya pun tidak mantap.

1149
Namun ketika Liong Siau-hun melihat pedang itu
teracung, segera ia memutar badannya dan lari.
A Fei melompat ke arahnya. Sebelum ia sampai ke situ,
orang-orang sudah bisa mencium bau arak.
Kini wajah Liong Siau-in pun berubah. Ia segera
mengangkat kursi tempat ayahnya tadi duduk dan
melemparkannya ke arah A Fei, untuk menghadang
langkahnya.
A Fei sama sekali tidak melihat kursi itu dan jatuh
tersandung. Ia langsung jatuh ke tanah dan pedangnya
terlontar dari genggamannya.
Ia bahkan tidak bisa menahan pedang itu dalam
genggamannya!
Liong Siau-hun sangat kaget, namun pada saat yang
sama sangat gembira. Ia segera memutar badannya
kembali dan memungut pedang itu. Dalam sekejap mata
saja, kini ujung pedang itu telah tertuju pada kepala A
Fei.
Namun ia tidak langsung menusukkan pedang itu.
Karena dari sudut matanya ia dapat melihat sekilas wajah
Siangkoan Kim-hong.
Wajah Siangkoan Kim-hong saat itu sangat kosong,
terlihat sangat mengerikan. Ia duduk di situ seperti
patung, bergerak seinci pun tidak.

1150
Karena ia tidak bergerak, tidak seorang pun di situ berani
bergerak.
Seru Liong Siau-hun, “Orang ini berani-beraninya berbuat
onar di depan Toako. Ia pantas mati!”
Siangkoan Kim-hong tetap diam. Setelah sekian lama,
barulah ia berbicara, “Ada seekor anjing di depan sana.
Kau lihat tidak?”
Jawab Liong Siau-hun, “Ya, rasanya tadi aku
melihatnya.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Kalau kau ingin membunuh
orang itu, lebih baik kau bunuh anjing di depan sana.”
Tanya Liong Siau-hun, “Toako, apakah maksudmu orang
ini tidak ada harganya, bahkan dibandingkan dengan
seekor anjing sekalipun?”
Siangkoan Kim-hong balik bertanya, “Bagaimana dengan
engkau?”
Liong Siau-hun sangat terperanjat. “Aku….?”
“Dia tidak berharga dibandingkan dengan seekor anjing
sekalipun, namun kau lebih rendah lagi. Ketika anjing
melihat dia, setidaknya anjing itu tidak melarikan diri.”
Liong Siau-hun diam seribu bahasa.
Mata Siangkoan Kim-hong menyapu pada orang-orang
yang ada di situ dan bertanya, “Apakah di antara kalian

1151
ada yang bersedia mengangkat saudara dengan seekor
anjing?”
Jawab semua orang serempak, “Tentu saja tidak!”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Mereka saja tidak mau.
Apalagi aku….”
Lalu Siangkoan Kim-hong memandang Liong Siau-hun
dan berkata, “Kurasa kau dan anjing ini bisa menjadi
sahabat baik. Mengapa tidak kalian berdua saja yang
menjadi saudara angkat?”
Kata-katanya tidak dapat ditarik kembali. Namun
siapakah yang dapat menahan penghinaan sejauh itu?
Wajah Liong Siau-hun berkeringat dan mulai tergagapgagap,
“Kau…. Kau….”
Liong Siau-in segera berlari ke sana dan mengambil
pedang. Katanya, “Ini semua adalah usulanku. Aku tidak
menyangka hal ini akan mendatangkan penghinaan
bagiku dan bagi ayahku. Aku tidak dapat lagi membasuh
kesalahanku. Hanya dengan mencurahkan darah aku
dapat membalas kebaikan ayah padaku. Sungguh
sayang, ibu tidak hadir di sini, karena aku tidak dapat
memutuskan hidup matiku tanpa kehadiran beliau.”
Tiba-tiba diangkatnya pedang itu dan ditebasnya
tangannya sendiri.
Mulut semua orang ternganga, namun tidak ada yang
berani berbuat apa-apa.

1152
Liong Siau-in sangat kesakitan dan tubuhnya pun
gemetaran. Namun ia hanya mengatupkan mulutnya
erat-erat dan mengambil potongan tangannya, lalu
diberikannya kepada Siangkoan Kim-hong. Katanya,
“Apakah kau sudah merasa puas?”
Wajah Siangkoan Kim-hong tidak berubah. Ia
memandang anak itu dingin dan berkata, “Kau ingin
menukar tangan ini dengan nyawamu dan nyawa
ayahmu?”
“A….Aku….”
Sebelum ia bisa berbicara lebih lanjut, rasa sakitnya
sudah begitu dahsyat sehingga ia jatuh pingsan.
Walaupun hati Liong Siau-hun sangat sedih, ia tidak
berani menunjukkannya. Ia hanya berdiri di situ tanpa
bicara.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Demi anakmu, aku ampuni
nyawa kalian berdua. Sekarang pergilah, dan jangan
sampai kulihat kau lagi!”
Akhirnya A Fei pun bangkit berdiri.
Seolah-olah ia tidak menyadari sama sekali apa yang
baru saja terjadi di situ. Kelihatannya, ia pun tidak
menyadari bahwa ada banyak orang di situ. Matanya
langsung tertuju pada guci arak di atas meja dan
perlahan-lahan ia berjalan ke sana dan segera
menyambarnya.

1153
Ia memeluk guci itu erat-erat, seakan-akan guci itu
adalah seluruh hidupnya.
‘Prang’, guci itu pun pecah.
Arak tumpah ke lantai.
Tangan A Fei gemetaran, masih memegangi guci yang
pecah itu.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Arak ini hanya untuk
manusia. Kau tidak pantas meminumnya!”
Lalu ia melemparkan sekeping perak ke lantai dan
berkata, “Jika kau masih ingin minum, sana beli sendiri.”
A Fei mengangkat kepalanya dan memandang Siangkoan
Kim-hong. Lalu ia memutar badannya dan berjalan pergi.
Kepingan perak itu ada di samping kakinya.
Ia menatap kepingan perak itu sejenak, lalu
membungkukkan badannya…..
Seulas senyum tergambar di wajah Siangkoan Kim-hong.
Ia terlihat lebih mengerikan saat tersenyum.
Tiba-tiba terlihat selarik cahaya terang.
Sebilah pisau melesat bagaikan kilat dan memaku
kepingan perak itu di lantai.

1154
A Fei terkejut dan mengangkat kepalanya. Sekujur
tubuhnya membeku.
Seseorang berdiri dekat pintu sedang memandangnya
lalu berkata, “Arak di sini lebih enak daripada arak di
tempat lain. Jika kau ingin minum, akan kutuang
secawan untukmu.”
Masih ada satu guci arak lagi di atas meja.
Orang itu berjalan menuju ke meja, menuang arak ke
cawan dan menyuguhkannya kepada A Fei.
Tidak seorang pun buka suara. Bahkan suara nafas pun
tidak dapat terdengar.
Siangkoan Kim-hong pun tidak bersuara.
Ia hanya menatap orang ini dengan mulut terkunci.
Orang ini tidak jangkung, tapi tidak pendek juga.
Pakaiannya kumal dan lusuh. Ia tampak seperti seorang
laki-laki setengah baya yang penyakitan.
Tapi waktu Siangkoan Kim-hong melihat dia menuang
arak dan memberikan cawan itu kepada A Fei, ia tidak
berusaha mencegahnya. Bahkan ia tidak menunjukkan
reaksi apapun sedikitpun.
Tidak ada seorang pun yang berani membangkang
perintah Siangkoan Kim-hong!

1155
Namun orang ini jelas-jelas mengabaikan perkataan
Siangkoan Kim-hong barusan.
Kini cawan arak itu sudah berada di tangan A Fei.
A Fei menatap itu seperti orang tolol. Dua tetes air mata
perlahan jatuh ke dalam cawan itu.
Ia tidak pernah ragu-ragu mencucurkan darah, namun
air mata selalu berusaha keras dibendungnya.
Mata Sun-hoan pun mulai berkaca-kaca, dan setetes
mulai membasahi sudut matanya. Namun di bibirnya
tetap tersungging senyum yang hangat dan bersahabat.
Senyum itu seakan-akan mengubah penampilan lusuh
lelaki setengah baya ini menjadi seseorang yang begitu
bercahaya dan berkarisma. Tidak ada pernah
membayangkan bahwa seulas senyum bisa begini besar
pengaruhnya.
Ia pun tidak berbicara lagi.
Perasaan yang terkandung dalam senyuman dan air mata
itu tidak dapat diekspresikan dalam kata-kata.
A Fei tidak dapat mengendalikan tangannya yang mulai
gemetaran. Tiba-tiba ia meraung dan membanting cawan
di tangannya itu. Ia segera bangkit dan berlari ke arah
pintu.
Sun-hoan sepertinya sudah akan pergi mengejarnya.

1156
Seru Siangkoan Kim-hong, “Tunggu sebentar!”
Lelaki itu masih melangkah dua langkah lagi sebelum
berhenti.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Jika kau ingin pergi,
seharusnya tadi kau tidak usah datang. Jika sudah
datang, mengapa hendak pergi?”
Sun-hoan berdiri di situ sejenak, lalu menyahut, “Benar.
Aku sudah datang, mengapa hendak pergi?”
Sebelumnya, tidak sekalipun ia melirik Siangkoan Kimhong.
Kini ia memutar tubuhnya perlahan.
Tatapan matanya bertemu dengan mata Siangkoan Kimhong.
Tatapan yang berkobar-kobar!
Bertemunya tatapan kedua orang ini, seakan-akan dapat
menyulut kobaran api.
Kobaran api yang menyala tanpa suara, tanpa bentuk.
Walaupun tidak ada orang yang dapat melihatnya,
mereka semua dapat merasakannya.
Hati semua orang berdebar-debar, seakan-akan jantung
mereka hendak melompat keluar.
Mata Siangkoan Kim-hong bagaikan tangan setan.
Tatapannya dapat mencekik mati jiwa seseorang.

1157
Mata lelaki setengah baya itu bagaikan samudra raya
yang tiada berujung, begitu luas dan tenang membiru.
Begitu luas, sehingga dapat memerangkap semua setan
dan iblis yang gentayangan di dunia ini.
Jika mata Siangkoan Kim-hong diibaratkan pedang, mata
orang ini adalah sarungnya!
Hanya dengan melihat matanya, semua orang tahu
bahwa ia bukan lelaki setengah baya biasa.
Sebagian dari mereka sudah bisa menebak siapa dia.
Akhirnya suara Siangkoan Kim-hong memecahkan
kesunyian, “Mana senjatamu?”
Pergelangan tangan lelaki itu mengedik sedikit, dan
terlihatlah sebilah pisau di antara jemarinya!
Pisau Kilat si Li!
Setelah semua orang melihat pisau itu, mereka tahu
bahwa tebakan mereka memang tepat.
Lelaki itu adalah Li Sun-Hoan!
Akhirnya Li Sun-Hoan datang!
Tangannya sangat mantap. Seakan-akan membeku di
udara.
Jari-jemarinya panjang dan kurus. Kukunya dipotong
rapi.

1158
Tangan ini tampak lebih cocok memegang sebatang pena
daripada memegang sebilah pisau. Namun dalam dunia
persilatan, tangan ini adalah tangan yang paling
berharga, tangan yang paling menakutkan dari semua
tangan yang ada di dunia.
Pisaunya adalah pisau biasa dan sederhana. Namun di
tangan orang ini, pisau itu dapat menjadi senjata yang
amat berbahaya!
Siangkoan Kim-hong berdiri dan berjalan ke hadapan Li
Sun-Hoan.
Jarak di anatara mereka ada tujuh meter.
Tangan Siangkoan Kim-hong masih berada dalam lengan
bajunya.
Ia telah merajai dunia persilatan sejak dua puluh tahun
yang lalu dengan Cincin Naga dan Burung Hong miliknya.
Dalam Kitab Persenjataan, senjata ini berada di urutan
kedua. Satu tingkat di atas Pisau Kilat si Li!
Dalam dua puluh tahun belakangan ini, tidak seorang
pun pernah melihatnya menggunakan cincin itu.
Walaupun semua orang tahu senjata itu amat ampuh,
tidak seorangpun mengetahui sampai sejauh mana
keampuhan senjata itu.
Apakah cincin itu ada di tangannya sekarang?

1159
Kini mata semua orang beralih dari pisau Li Sun-Hoan ke
tangan Siangkoan Kim-hong.
Perlahan-lahan tangannya keluar dari lengan bajunya.
Tangan itu kosong.
Tanya Li Sun-Hoan, “Di mana cincinmu?”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Ada di sini.”
“Di mana?”
“Dalam hatiku.”
“Dalam hatimu?”
“Cincin itu tidak berada di tanganku, namun ada dalam
hatiku!”
Mata Li Sun-Hoan menyipit.
Cincin Siangkoan Kim-hong tidak dapat dilihat!
Karena tidak dapat dilihat, cincin itu dapat berada di
segala tempat. Bisa berada di hadapan matamu, di
depan lehermu, atau di tepat samping nyawamu.
Setelah seluruh jiwamu dihabisinya sekalipun, kau tetap
tidak tahu dari mana cincin itu datang!
‘Cincin itu tidak berada di tanganku, namun ada dalam
hatiku.’

1160
Puncak dari segala ilmu silat!
Ini adalah tingkatan para dewa.
Namun tidak seorang pun mengerti. Tidak seorang pun,
kecuali Li Sun-Hoan.
Semuanya terlihat kecewa.
Begitu banyak orang ingin sekali melihat cincin itu, dan
ingin menyaksikan kekuatan dan kehebatannya. Mereka
tidak dapat mengerti bahwa yang tidak terlihat itulah
yang benar-benar kuat dan hebat.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Tujuh tahun yang lalu
akhirnya tanganku menjadi tidak lagi berbentuk.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Aku sungguh kagum.”
“Kau mengerti?” tanya Siangkoan Kim-hong.
“Begitu samar dan berseni. Tidak ada cincin, tidak ada
keakuan. Tidak ada jejak yang dapat ditemukan, tidak
ada halangan yang tidak tertembus.”
“Luar biasa! Kau betul-betul mengerti!” Siangkoan Kimhong
berseru kegirangan.
Mengerti adalah tidak mengerti. Tidak mengerti adalah
mengerti.
Mereka berdua seakan-akan adalah dua Master Zen yang
sedang beradu filsafat.

1161
Selain mereka berdua, tidak ada seorang pun di situ yang
mengerti sepatah kata pun yang mereka ucapkan.
Mereka tidak mengerti sama sekali. Itulah sebabnya ini
sangat mengerikan bagi mereka….
Satu per satu diam-diam berdiri dan mundur ke sudut
ruangan.
Siangkoan Kim-hong menatap Li Sun-Hoan dan berkata,
“Li Sun-Hoan memang benar-benar Li Sun-Hoan.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Dan hanya Siangkoan Kim-hong
yang dapat menjadi Siangkoan Kim-hong.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Kau adalah generasi ketiga
keluarga Tamhoa, terkenal di seantero dunia dan
berpendidikan tinggi. Kaya dan termashur, membuat iri
semua orang di dunia. Mengapa kau akhirnya menjadi
seorang petualang di kelas bawah dunia persilatan?”
“Aku datang kalau aku mau, aku pergi kalau aku ingin.”
“Kau pikir kau bisa pergi?”
Li Sun-Hoan terdiam sesaat sebelum menjawab, “Aku
tidak bisa pergi dan aku pun tidak ingin pergi.”
“Baiklah. Silakan mulai jurusmu,” tantang Siangkoan Kimhong.
“Aku sudah mulai.”

1162
Siangkoan Kim-hong kelihatan bingung. Tanyanya,
“Mana?”
“Dalam hatiku. Jurusku tidak berada dalam pisau ini,
namun ada dalam hatiku.”
Kini mata Siangkoan Kim-hong yang menyipit.
Mereka yang tidak dapat melihat cincin Siangkoan Kimhong
juga tidak akan dapat melihat mulainya jurus Li
Sun-Hoan.
Namun ketika cincin datang, jurus pun akan
menyambutnya!
Walaupun semua orang sepertinya berdiri dengan
tenang, mereka merasa seolah-olah merekalah yang
sedang bertempur hidup dan mati. Hidup atau mati dapat
ditentukan oleh satu helaan nafas saja!
Walaupun semuanya sudah mundur ke sudut ruangan,
mereka masih dapat merasakan hawa yang sangat
mengerikan.
Tiap-tiap orang dapat merasakan hati mereka makin
mengkerut setiap detiknya!
***
Darah dalam tubuh A Fei mulai menggelegak.
Saat ia berlari kesetanan, ia tidak tahu apa yang
dipikirkannya, apa yang diperbuatnya.

1163
Ia sedang lari dari kenyataan.
Tapi kemanakah ia bisa lari? Dan berapa lama ia dapat
bersembunyi?
Ia tidak mungkin berlari selama-lamanya, karena
sebenarnya ia sedang melarikan diri dari dirinya sendiri.
***
Sementara itu, Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kim-hong
sedang saling memandang. Keduanya tidak bersuara,
keduanya tidak bergerak.
Yang dapat didengar semua orang di situ hanyalah debur
jantung mereka sendiri. Satu-satunya yang dapat mereka
lihat adalah butiran keringat mereka sendiri yang
menetes dari dahi ke lengan mereka.
Karena sekali salah seorang bergerak, gerakan ini akan
mengguncangkan langit dan bumi.
Duel ini dapat meledak sewaktu waktu. Dan dapat
berakhir pada detik yang sama.
Karena pada detik itu salah satu pasti kalah.
Tapi siapakah yang akan kalah?
‘Pisau Kilat si Li, tidak akan lepas dari tangan kalau tidak
akan kena sasaran’

1164
Dalam dua puluh tahun ini, tidak seorang pun dapat lolos
dari pisau Li Tamhoa!
Namun cincin Siangkoan Kim-hong berada di urutan yang
lebih atas. Apakah artinya cincin itu lebih hebat?
Dua orang ini seolah-olah membeku di tempat masingmasing.
Keduanya seakan-akan bercahaya penuh rasa percaya
diri.
Siapakah di dunia ini yang dapat menerka hasil
pertarungan ini?
***
A Fei telah jatuh ke tanah. Nafasnya tersengal-sengal.
Setelah diam di situ beberapa saat, ia mengangkat
kepalanya. Ia tidak tahu di mana ia berada.
Tempat itu adalah sebuah pekarangan kecil.
Di tengah pekarangan itu ada sebatang pohon willow
yang terayun-ayun ditiup angin musim gugur.
Di beranda ada sebuah spanduk yang setengah
tergulung. Pintu tertutup rapat. Tidak terdengar secuil
suara pun dari dalam rumah itu.
Ini adalah tempat ia mabuk-mabukan semalam.
Ia tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sini lagi.

1165
Tiba-tiba pintu terbuka. Seraut wajah yang cantik
mengintip dari dalam. Hasrat yang begitu besar langsung
memuncak dalam diri A Fei, namun wajah itu segera
masuk lagi ke dalam.
Ia adalah salah satu dari gadis-gadis yang menemani dia
semalam.
Bab 68. Antara Dewa dan Setan
A Fei bangkit dan berjalan menuju ke pintu itu.
‘Bruk’. Pintu segera tertutup rapat kembali dan terdengar
suara kunci diselot.
A Fei menggedor-gedor pintu itu sekuat tenaga.
Setelah beberapa saat terdengar suara dari dalam,
“Siapa itu?”
“Aku,” jawab A Fei.
“Siapa engkau?”
“Aku adalah aku.”
Terdengar suara cekikikan di dalam. “Orang ini sudah
gila.”
“Dari nada suaranya, seolah-olah ia adalah pemilik
tempat ini.”
“Tapi siapa yang kenal padanya?”

1166
“Siapa yang bisa menerka orang macam apa dia? Dia
kelihatan seperti habis melihat hantu.”
Suara-suara itu sudah dikenalnya. Baru semalam, suarasuara
yang sama terus-menerus membisikkan kata-kata
yang manis dan merayu di telinganya. Mengapa sekarang
mereka berubah?
Tiba-tiba A Fei merasakan kemarahan dalam hatinya.
Dalam kemarahannya, ia mendobrak pintu itu sampai
terbuka.
Tujuh pasang mata yang cantik sedang menatapnya.
Semalam, ketujuh pasang mata itu tampak seperti air
yang sejuk dan tenang, seperti madu yang manis.
Namun kini, rasa sejuk, tenang, dan manis itu telah
menguap entah ke mana. Air itu telah membeku menjadi
es.
A Fei masuk dan tersandung. Ia langsung menyambar
seguci arak. Guci itu sudah kosong.
“Mana araknya?”
“Tidak ada arak.”
“Cepat ambilkan!”
“Kenapa? Ini bukan pabrik arak!”

1167
A Fei berjalan limbung ke arah gadis itu dan
memandangnya sambil berkata, “Kalian tidak mengenali
aku?”
Sepasang mata yang cantik memandangnya dingin dan
menjawab, “Dan apakah kau mengenali aku? Tahukah
kau siapa aku?”
A Fei jadi bingung. “Apakah semalam aku tidak di sini?”
Sebuah suara lain menjawabnya, “Ini memang tempat
engkau bermalam tadi malam. Tapi kau bukan orang
yang sama seperti orang yang semalam berada di sini.”
Suara yang manis itu rasanya sudah sangat dikenalnya.
Seluruh tubuh A Fei mulai gemetar lagi.
Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak ingin
melihat wanita itu lagi. Ia tidak berani melihat wanita itu
lagi.
Ia adalah wanita yang tidak dapat pergi dari mimpimimpinya.
Ia sanggup mengorbankan apapun juga
dengan rela hati asalkan dapat memandangnya sekejap
saja.
Namun saat ini, rasanya ia lebih suka mati daripada
harus melihatnya.
Wanita itu masih seperti dulu.
Namun A Fei tidak seperti yang dulu lagi!

1168
***
Semua orang masih terdiam, segala sesuatu masih tidak
bergerak.
Debu dari langit-langit perlahan-lahan melayang turun.
Apakah tertiup angin? Apakah karena suasana yang
begitu mencekam di situ?
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong melangkah maju!
Dan Li Sun-Hoan tetap tidak bergerak!
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang memecahkan
keheningan, “Bergerak adalah tidak bergerak. Tidak
bergerak adalah bergerak. Tahukah kau apa artinya?”
Suara itu terdengar seperti suara orang tua yang
bijaksana. Semua orang dalam ruangan itu dapat
mendengarnya dengan jelas.
Namun tidak seorang pun tahu dari mana datangnya.
Kini terdengar suara lain sedang tertawa. Lalu katanya,
“Kalau begitu, bertempur adalah tidak bertempur. Tidak
bertempur adalah bertempur. Lalu apa gunanya
bertempur?”
Suara ini masih sangat muda, manis dan penuh
semangat

1169
Juga tidak ada seorang pun yang tahu dari mana
datangnya.
Kata suara yang tua, “Mereka bertempur karena mereka
tidak tahu apa inti sebenarnya dari ilmu silat itu.”
Suara gadis muda itu terdengar cekikikan sambil berkata,
“Maksudmu mereka berdua sebenarnya tidak mengerti,
walaupun mereka menyangka bahwa mereka mengerti
segala sesuatu dengan jelas?”
Setelah dua kalimat itu diucapkan, kecuali Li Sun-Hoan
dan Siangkoan Kim-hong, wajah semua orang di situ
langsung berubah.
Seseorang berkata bahwa dua orang ini tidak mengerti
ilmu silat.
Jika dua orang ini tidak mengerti ilmu silat, siapakah di
dalam dunia ini yang dapat mengaku mengerti ilmu silat?
Kata suara yang tua lagi, “Mereka berpikir bahwa ‘senjata
itu tidak berada di tangan, namun ada dalam hati’ adalah
puncak tertinggi dari ilmu silat. Namun sebenarnya
mereka salah besar.”
“Salah sebesar apa?” tanya suara yang muda sambil
tertawa geli.
“Sedikitnya 1800 li.”
“Lalu apa sebenarnya puncak tertinggi ilmu silat itu?”

1170
Sahut suara yang tua, “Ketika tangan sudah menjadi
kosong, dan hati sudah menjadi hampa. Senjata dan diri
sudah menjadi satu. Jika mereka mengerti sampai di sini
saja, mereka tidak akan salah terlalu jauh.”
“Tidak salah terlalu jauh? Maksudmu tingkatan itu pun
belum yang tertinggi?” tanya suara yang muda kaget.
“Ya, ada yang lebih tinggi lagi. Tingkatan ilmu silat yang
tertinggi adalah ketika segala sesuatu muncul dari
ketiadaan. Tidak ada lagi senjata, dan tidak ada lagi diri.
Senjata dan diri sudah terlupakan. Ini adalah
ketiadabentukan yang sejati, kedigdayaan yang sejati.”
Saat itu, Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kim-hong tidak
berani berubah ekspresi.
Terdengar suara yang muda berkata lagi, “Setelah
mendengarkan penjelasanmu, aku jadi teringat satu
cerita.”
“Hmmm?”
“Ada satu cerita dalam agama Budha Zen. Ketika murid
utama dari Leluhur Kelima, Shen Hsiu sedang
melantunkan sebuah sajak:
‘Tubuh bagaikan pohon bodhi,
pikiran bagaikan cermin yang mengkilat.
Tiap saat kita menjaganya tetap bersih
Dan tidak sedikit pun ternoda debu’
Ini adalah tingkat pencerahan yang sangat tinggi.”

1171
“Ya, ini sama seperti mengatakan ‘senjata itu tidak
berada di tangan, namun dalam hati’. Untuk sampai ke
tingkat inipun bukan hal yang mudah.”
“Namun kemudian Leluhur Keenam Hui Neng menjawab
dengan sajak yang lebih mendalam lagi:
‘Tidak ada pohon bodhi, tidak ada cermin yang
mengkilat.
Tidak ada sesuatu pun dan tidak akan ada apa pun.
Lalu di manakah debu akan menodai?’
Oleh sebab itulah ia menjadi tokoh agama Budha Zen
yang paling dihormati.”
“Betul sekali. Itulah tingkat pencerahan yang tertinggi.
Jika seseorang sudah mencapai tingkat itu, orang itu
adalah sahabat para dewa.”
“Kalau begitu, teori yang baru saja kau ajarkan padaku
sebenarnya adalah ajaran agama Budha Zen?” tanya
suara yang muda
“Dalam segala hal di dunia ini, ketika seseorang
mencapai tingkat yang tertinggi, teori satu sama lain
tidaklah jauh berbeda,” jawab suara yang tua.
“Jadi dalam segala perbuatan, kita harus selalu menuju
pada ‘Tanpa benda, tanpa diri’. Hanya dengan begitu kita
dapat mencapai puncak kesempurnaan.”
“Tepat sekali.”

1172
“Akhirnya aku mengerti!” seru suara yang muda dengan
gembira.
“Sayang sekali ada orang-orang yang setelah mencapai
tingkat ‘senjata itu tidak berada di tangan, namun dalam
hati’ saja sudah menjadi senang luar biasa dan sombong.
Sayang sekali mereka tidak menyadari bahwa itu
hanyalah kulit luar dari sesuatu yang jauh lebih indah
dan mendalam.”
“Jadi kalau orang di tingkat itu sudah merasa berada di
puncak, mereka tidak akan mungkin maju lebih jauh,”
kata suara yang muda.
“Betul sekali.”
Saat itu, baik Li Sun-Hoan maupun Siangkoan Kim-hong
berkeringat dingin pun tidak berani.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berkata, “Tuan Sun yang
Terhormat?”
Tidak ada jawaban.
Kata Siangkoan Kim-hong lagi, “Jika Tuan Sun sudah
datang, mengapa tidak memperlihatkan diri?”
Masih tetap tidak ada jawaban.
Angin bertiup masuk dari jendela, dan tirai di sisi yang
lain pun menjadi tegak.

1173
Jika Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kim-hong ingin
bertempur, tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat
menghalangi mereka.
Namun percakapan orang tua dan orang muda tadi telah
menyedot seluruh rasa persaingan yang begitu tebal
dalam ruangan itu tadi.
Mereka berdua masih saling berhadapan. Keduanya
masih berdiri dengan cara yang sama. Namun kini semua
orang lain dalam ruangan itu dapat bernafas dengan
lega. Suasana mencekam yang merundung ruangan itu
kini telah lenyap.
Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan berkata, “Naga
hanya menunjukkan kepalanya, tidak menunjukkan
ekornya. Sudah tentu Tuan Sun ada di antara kita.”
Kata Siangkoan Kim-hong dingin, “Semua orang bisa
menyombongkan teori mereka. Pertanyaannya adalah
bisakah mereka mendukung teori mereka dengan
perbuatan nyata?”
Sahut Li Sun-Hoan sambil tertawa, “Mengemukakan teori
seperti itu pun bukan pekerjaan mudah.”
Sebelum kalimatnya selesai, terdengar suara ribut-ribut
di luar.
Empat orang menggotong sebuah peti mati masuk ke
dalam pekarangan.

1174
Peti mati itu masih baru. Catnya pun seolah-olah masih
basah.
Keempat orang itu membawa peti mati itu masuk ke
dalam ruang perjamuan.
Seorang penjaga berjubah kuning berjalan menghampiri
mereka dan berkata, “Kalian salah alamat. Cepat pergi
sekarang juga!”
Salah seorang dari penggotong peti mati itu bertanya,
“Apakah di sini ada Tuan Siangkoan?”
“Apa urusanmu dengan Tuan Siangkoan?” tanya si
penjaga tajam.
“Kalau begitu kami tidak salah alamat. Peti mati ini
adalah untuk Tuan Siangkoan.”
Si penjaga melotot dengan garang. Bentaknya, “Jika
kalian mau cari gara-gara, kurasa peti mati ini lebih
cocok untuk kalian berempat.”
Jawab si penggotong peti, “Peti mati ini terbuat dari kayu
Nanmu yang sangat mahal harganya. Kami tidak pantas
dikuburkan dengan peti mati seperti ini.”
Tinju si penjaga sudah hampir melayang ke wajah si
penggotong peti.
Siangkoan Kim-hong tiba-tiba menyela, “Siapa yang
menyuruh kalian membawa peti mati itu kemari?”

1175
Saat si penjaga mendengar suara itu, tinjunya berhenti di
udara.
Si penggotong peti kini terlihat sangat ketakutan.
Katanya dengan terbata-bata, “Ada seorang Tuan Sung
yang memberikan empat tail perak kepada kami dan
menyuruh kami mengantarkan peti mati ini ke sini. Ia
secara khusus memesan pada kami untuk
menyerahkannya kepada Tuan Siangkoan.”
“Tuan bershe Sung? Orangnya seperti apa?” tanya
Siangkoan Kim-hong.
Jawab seseorang, “Seorang laki-laki tidak terlalu tua,
tidak muda juga. Ia sangat murah hati, tapi sayang kami
tidak melihat wajahnya.”
Tambah seorang yang lain, “Ia datang lewat tengah
malam kemarin. Waktu datang, ia langsung meniup lilin
sampai mati, sehingga kami sama sekali tidak dapat
melihat wajahnya.”
Siangkoan Kim-hong menundukkan kepalanya dan
berpikir keras. Ia tidak menanyai keempat orang itu lebih
lanjut.
Ia tahu bahwa ia tidak akan mendapatkan keterangan
apapun dari mereka.
“Peti mati ini kelihatannya cukup berat…. mungkin ada
seseorang di dalamnya,” kata salah seorang dari mereka.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Buka peti ini.”

1176
Tutupnya belum dipakukan, jadi bisa dibuka dengan
mudah.
Baru saat itu, wajah Siangkoan Kim-hong berubah total.
Wajahnya masih tetap kosong. Bahkan alis dan bibirnya
pun tidak bergerak.
Namun air mukanya sudah berubah.
Begitu berubah, sampai-sampai ia terlihat seperti orang
lain. Seperti seseorang yang sedang mengenakan
topeng.
Ia tidak ingin seorang pun melihat wajahnya saat itu.
Ada begitu banyak orang di dunia ini yang mengenakan
topeng seperti itu. Biasanya tidak akan kelihatan, namun
di saat-saat genting, topeng itu akan terlihat nyata.
Ada yang mengenakannya untuk menutupi kesedihan,
ada yang untuk menutupi kemarahan, memaksakan
seulas senyum, atau menghadapi suasana yang
menekan.
Dan ada pula yang mengenakannya untuk menutupi rasa
takutnya!
Apa alasan Siangkoan Kim-hong mengenakannya?
Memang betul ada mayat dalam peti mati itu!

1177
Mayat itu tidak lain adalah mayat anak Siangkoan Kimhong
satu-satunya, Siangkoan Hui!
Waktu Siangkoan Hui terbunuh, Li Sun-Hoan
menyaksikannya.
Ia tidak hanya menyaksikan Hing Bu-bing membunuh
Siangkoan Hui, ia pun melihat Hing Bu-bing
menguburkannya.
Bagaimana mayat ini bisa ada di sini sekarang?
Siapa yang menggali kuburannya?
Siapa yang mengirimkannya ke sini? Untuk apa?
Mata Li Sun-Hoan mengejap beberapa kali. Ia berpikir
keras.
Topeng di wajah Siangkoan Kim-hong seolah-olah makin
lama makin tebal. Ia terdiam beberapa saat, lalu
menoleh ke arah Li Sun-Hoan.
“Apakah kau pernah melihat orang ini?”
“Ya.”
“Apa pendapatmu saat melihatnya sekarang?”
Mayat itu terlihat sudah dibersihkan dengan seksama.
Sama sekali tidak terlihat bahwa mayat itu digali dari
kuburannya. Ia pun mengenakan jubah yang baru, tidak

1178
ada setitik debu pun, sebercak darah pun yang
mengotorinya.
Hanya terlihat satu luka.
Luka itu di lehernya. Luka tusukan yang dalamnya tujuh
per sepuluh bagian.
Kata Li Sun-Hoan, “Kurasa……ia tidak merasa sakit dalam
kematiannya.”
“Maksudmu, kematiannya sangat cepat?”
Sahut Li Sun-Hoan, “Kematian itu sendiri tidak
menyakitkan. Yang menyakitkan adalah saat menunggu
kematian datang. Tapi aku yakin ia tidak mengalaminya.”
Wajah Siangkoan Hui terlihat begitu damai, seolah-olah
ia hanya tertidur.
Seseorang telah berhasil menghapus wajah ketakutannya
sewaktu ia terbunuh.
Walaupun Siangkoan Kim-hong mengenakan topeng di
wajahnya, topeng itu tidak dapat menyembunyikan
matanya.
Matanya menyala karena marah. Dan mata itu tertuju
pada Li Sun-Hoan.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Orang yang dapat
membunuh dia begitu cepat jumlahnya sangat sedikit.”

1179
Jawab Li Sun-Hoan, “Memang sangat sedikit. Mungkin
tidak lebih dari lima.”
“Dan kau adalah salah satunya.”
Li Sun-Hoan mengangguk dan berkata, “Benar, aku
adalah salah satunya. Demikian juga engkau.”
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Dan mengapa aku
membunuhnya?”
“Tentu saja kau tidak membunuhnya. Aku hanya ingin
kau menyadari bahwa orang yang bisa membunuhnya,
belum tentu adalah orang yang ingin membunuhnya.
Dan orang yang membunuhnya, belum tentu adalah
orang yang dikategorikan bisa membunuhnya.”
Tambah Li Sun-Hoan, “Ada hal-hal yang terjadi di dunia
ini yang tidak dapat kita kendalikan, yang tidak pernah
kita sangka akan terjadi.”
Kini Siangkoan Kim-hong tidak berbicara lagi. Namun
matanya terus memandang Li Sun-Hoan.
Tatapan Li Sun-Hoan menjadi lembut, bahkan hampir
memancarkan rasa simpati. Sepertinya ia telah berhasil
menembus topeng Siangkoan Kim-hong dan melihat
kekagetan dan kesedihan hatinya yang begitu dalam.
Biasanya Siangkoan Kim-honglah yang menyiksa dan
mengancam orang lain.

1180
Kini ia berada di pihak yang kalah, walaupun ia tidak
tahu dari siapa.
Darah lebih kental daripada air. Anak tetap adalah anak.
Siapapun juga dia, rasa sedih kehilangan anak bukan
rasa sedih biasa.
Siangkoan Kim-hong terlihat agak gelisah. Perilakunya
yang dingin dan tidak berperasaan itu sedikit demi sedikit
pudar.
Rasa simpati dalam tatapan Li Sun-Hoan terasa bagaikan
palu godam yang sedikit demi sedikit mengikis topeng
besi di wajah Siangkoan Kim-hong.
Ia tidak dapat menahan diri lagi dan tiba-tiba berteriak,
“Pertempuran antara kau dan aku sudah tidak dapat
dihindarkan lagi.”
Li Sun-Hoan mengangguk mengiakan. “Memang tidak
terhindarkan.”
“Sekarang…,” kata Siangkoan Kim-hong.
Bab 69. Pria Sejati
Karena putra tunggal Siangkoan Kim-hong telah
terbunuh, ia sedang dikuasai amarah yang tidak
terkendali. Ia ingin bertempur dengan Li Sun-Hoan
sampai mati. Dan ia ingin melakukannya sekarang
juga…..

1181
Li Sun-Hoan segera memotong perkataan Siangkoan
Kim-hong, “Jika kau ingin berduel sampai mati, aku akan
menerima tantanganmu kapanpun juga. Kecuali hari ini.”
“Kenapa?”
“Hari ini…..aku hanya ingin minum hari ini.”
Matanya memandang mayat dalam peti mati itu.
Katanya, “Ada waktu-waktu tertentu yang tidak cocok
untuk bertempur, tidak cocok untuk berbuat apapun juga
selain untuk minum arak. Hari ini adalah salah satunya.”
Perkataannya sungguh menyentuh perasaan. Namun
mungkin tidak ada orang lain yang bisa mengerti.
Hanya Siangkoan Kim-hong yang sungguh mengerti.
Karena ia menyadari sepenuhnya perasaannya sendiri.
Dengan beban seperti ini, berduel sama seperti
bertempur dengan satu tangan terikat.
Ia akan memberikan keuntungan yang begitu besar bagi
lawannya!
Li Sun-Hoan bisa saja memanfaatkan kesempatan ini
demi keuntungannya, tapi ia tidak melakukannya,
walaupun ia tahu kesempatan seperti jarang sekali
terjadi. Mungkin tidak akan pernah ada lagi!
Siangkoan Kim-hong terdiam begitu lama. Akhirnya ia
bertanya, “Kalau begitu, kapan waktu yang baik?”

1182
Jawab Li Sun-Hoan, “Aku sudah bilang, kapan pun kau
kehendaki.”
“Ke mana harus kucari dirimu?”
“Kau tidak perlu mencariku. Cukup bilang saja dan aku
akan menunggu di sana.”
“Waktu aku bilang, kau akan mendengar?”
Li Sun-Hoan tertawa, katanya, “Waktu Siangkoan-pangcu
berbicara, seluruh dunia mendengarkan. Tidak sulit untuk
mendengarmu.”
Siangkoan Kim-hong terdiam lagi. Lalu ia berkata, “Jika
kau ingin minum, ada arak di sini.”
Li Sun-Hoan tertawa lagi. “Apakah aku pantas
meminumnya?”
Jawab Siangkoan Kim-hong, “Jika kau tidak pantas, tidak
ada seorang pun di dunia ini yang pantas.”
Ia memutar badannya dan menuang dua cawan besar
arak. Katanya, “Aku minum cawan ini untukmu.”
Li Sun-Hoan minum secawan sekali teguk. Senyumnya
yang lebar menghiasi wajahnya. Ia berseru, “Arak yang
bagus! Secawan arak yang sungguh lezat!”
Cawan Siangkoan Kim-hong pun telah kosong. Ia
memandang cawan itu dan berkata, “Ini adalah cawan
arak yang pertama dalam dua puluh tahun.”

1183
‘Prang’. Cawan pun pecah berkeping-keping.
Siangkoan Kim-hong berjalan ke arah peti mati itu dan
mengangkat tubuh anaknya. Lalu ia berjalan keluar.
Li Sun-Hoan memandangnya tanpa suara. Setelah
Siangkoan Kim-hong keluar dari pintu ia menghela nafas
panjang dan menggumam, “Walaupun hanya Siangkoan
Kim-hong yang dapat menjadi Siangkoan Kim-hong, tapi
mengapa ia tidak bisa menjadi seorang sahabat?”
Ia menuang secawan arak lagi dan meminumnya habis.
Lalu ia berteriak, “Kekasih seorang pria sejati, mengapa
ia mengkhianati niat baiknya?”
‘Prang’. Cawannya pun pecah berantakan di lantai.
Semua orang dalam ruangan itu terlihat seolah-olah
terbuat dari kayu. Segera setelah Li Sun-Hoan keluar dari
sana, semua orang menghela nafas lega.
Beberapa orang mulai kasak-kusuk di antara mereka.
“Li Sun-Hoan memang Li Sun-Hoan. Di dunia ini, kurasa
hanya dia seoranglah yang dapat membuat Siangkoan
Kim-hong bersulang baginya.”
“Sayang sekali mereka tidak bertempur.”
“Entah mengapa, kurasa dua orang itu sangat mirip.”
“Li Sun-Hoan mirip dengan Siangkoan Kim-hong?....Apa
kau sudah gila?”

1184
“Walaupun pembawaan dan perilaku mereka jauh
berbeda, keduanya….keduanya seperti bukan manusia.
Hal-hal yang mereka lakukan tidak dapat dilakukan oleh
manusia.”
“Ya….ada benarnya juga perkataanmu. Mereka berdua
memang seperti bukan manusia, hanya saja….yang satu
adalah orang suci, dan yang satu lagi adalah iblis.”
Garis pemisah antara kebaikan dan kejahatan sangatlah
tipis. Perbedaan antara orang suci dan iblis terletak di
antaranya.
Betul, jika Li Sun-Hoan bukanlah seorang Li Sun-Hoan, ia
pun sangat bisa menjadi seorang Siangkoan Kim-hong.
***
A Fei tidak menoleh.
Lim Sian-ji memindahkan kursinya dan duduk tepat di
belakang A Fei, menutup jalan menuju ke pintu.
Ia hanya duduk di situ saja sampai cukup lama.
A Fei pun tetap berdiri masih dengan cara yang sama.
Gaya berdirinya terlihat agak lucu.
Lim Sian-ji mengikik dan berkata, “Apa kau tidak merasa
lelah berdiri seperti itu? Mengapa tidak duduk dan
bersantai sejenak? Ini ada kursi di sampingku.

1185
Kau tidak ingin duduk? Ah, aku tahu, kau tidak akan bisa
duduk di sini. Bukan seleramu.
Lalu mengapa kau tidak pergi saja?
Walaupun aku duduk di depan pintu, apa susahnya
bagimu untuk menyingkirkan aku. Selain itu, masih ada
juga jendela di situ. Kau bisa keluar dari sana seperti
seorang maLing kecil.
Kau sebenarnya takut, bukan? Aku tahu, walaupun kau
menginginkan aku mati, kau tidak berani menyentuhku
sedikitpun. Bahkan memandangku pun kau tidak berani.
Karena dalam hatimu, kau tahu bahwa kau masih
mencintai aku. Bukankah begitu?”
Suaranya masih tetap merdu dan merayu seperti dulu.
Suara tawanya bahkan terdengar semakin menarik dan
manis.
Karena ia begitu gemar melihat orang menderita, ia
selalu menebarkan bibit-bibit penderitaan kepada setiap
orang di dekatnya.
Sayang sekali, orang-orang yang menderita adalah
orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai dia.
Walaupun ia tidak bisa melihat rasa pedih di wajah A Fei,
ia dapat melihat dengan jelas pembuluh darah di
belakang lehernya begitu tegang, seolah-olah akan
meletus.

1186
Bagi Lim Sian-ji, ini adalah suatu kenikmatan. Ia duduk
dengan nyaman di kursi itu sambil menonton.
Sebenarnya ia ingin sekali bisa menonton sambil
menikmati secawan arak yang lezat.
Tiba-tiba kursi yang didudukinya ditendang orang sampai
ia jatuh terjengkang.
Siangkoan Kim-hong telah kembali dengan menggendong
mayat putranya!
Waktu kursi yang sedang kau duduki dijungkirbalikkan
orang, rasanya hatimu juga terjungkal bersamanya.
Namun Lim Sian-ji tidak mengucapkan sepatah katapun.
Menggerakkan satu otot pun tidak. Ia tahu apapun juga
yang diperbuatnya sekarang, ia tetap akan kelihatan
seperti orang tolol.
Siangkoan Kim-hong pun sedang memandangi leher A
Fei dari belakang.
Bentaknya, “Balikkan badanmu dan lihat siapa ini!”
A Fei masih tidak bergerak, namun pembuluh darah di
lehernya sudah hampir melompat keluar dari dalam
kulitnya. Akhirnya, perlahan-lahan ia menoleh dan
melihat orang dalam gendongan Siangkoan Kim-hong.
Kini matanya pun seakan-akan hendak melompat keluar.
Tanya Siangkoan Kim-hong, “Kau pasti tahu siapa dia,
bukan?”

1187
A Fei mengangguk.
Tanya Siangkoan Kim-hong lagi, “Ia masih hidup,
sehidup-hidupnya, beberapa hari yang lalu, bukan?”
A Fei mengangguk lagi.
“Sekarang kau melihatnya mati, kau tidak kelihatan
sangat terkejut. Itu karena kau tahu bahwa dia sudah
mati, bukan?”
A Fei terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Ya,
aku tahu ia sudah mati.”
“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Siangkoan Kim-hong
tajam.
Jawab A Fei, “Karena pembunuhnya adalah aku.”
Ia mengatakannya tanpa beban sedikitpun. Matanya pun
tidak berkedip. Seolah-olah ia tidak tahu apa
konsekuensinya ia mengaku.
Gadis-gadis di sana ketakutan setengah mati.
Bahkan Lim Sian-ji pun terlihat terhenyak dan kaget.
Pada saat itu, ia merasa ada suatu perasaan aneh
merayapi hatinya. Seperti kesedihan, seperti simpati.
Ia tidak mengerti mengapa ia memiliki perasaan itu pada
A Fei.

1188
Namun ia tahu, sekali Siangkoan Kim-hong bertindak,
nyawa A Fei tidak akan bisa selamat.
Dan kapan pun Siangkoan Kim-hong dapat bertindak.
Ia melihat sorot mata A Fei. Tatapannya sama seperti
tatapan orang mati.
Seorang mati yang sangat bodoh.
Bukan saja orang ini sangat bodoh, ia pasti mabuk berat.
Kalau tidak, mengapa ia mengaku seperti itu? Ah,
memang orang ini sudah tidak ada harapan lagi, buat
apa kupikirkan hidup dan matinya?
Lim Sian-ji melengos dan tidak memandang A Fei lagi.
Ia berharap Siangkoan Kim-hong membunuhnya dengan
cepat. Makin cepat makin baik, supaya ia tidak terlalu
lama terganggu oleh perasaannya.
Namun yang tidak berani ia tanyakan pada dirinya sendiri
adalah, ‘Jika aku memang tidak peduli hidup dan
matinya, mengapa perasaanku terasa amat gundah?’
Siangkoan Kim-hong masih belum juga bertindak.
Ia masih menatap mata A Fei lekat-lekat. Seolah-olah ia
sedang berusaha mengerti sesuatu yang begitu rumit.
Namun ia tidak menemukan jawabannya.
Tatapan A Fei sangat kosong.

1189
Itu bukan mata orang yang masih hidup.
Siangkoan Kim-hong baru menyadari bahwa kini sorot
mata A Fei seakan-akan sudah dikenalnya, seperti sudah
sering dilihatnya sebelum ini.
Sudah pasti ia pernah melihatnya sebelum ini.
Saat ia mengambil pedang Hing Bu-bing dan
menyerahkannya kepada A Fei, sorot mata Hing Bu-bing
sama persis seperti ini.
Saat ia mengambil nyawa seseorang, tatapan kosong
orang itu, sama dengan sorot mata ini. Tidak
berperasaan, tidak bernyawa, tidak peduli lagi akan
apapun juga.
A Fei masih menunggu, menunggu dengan diam.
Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong bertanya, “Apakah kau
sedang menunggu mati?”
A Fei diam saja.
“Kau mengaku membunuh dia, hanya supaya aku
membunuhmu, bukan?”
A Fei tetap diam saja.
Senyum licik tersirat di wajah Siangkoan Kim-hong. Lalu
panggilnya, “Mandor Lu!”
Seseorang segera muncul.

1190
Tidak ada yang tahu bahwa orang ini sudah bersembunyi
di situ selama ini. Dan tidak ada yang tahu apakah ada
orang lain lagi yang bersembunyi di situ. Tidak ada yang
menyangka ada orang yang berani bersembunyi begitu
dekat dengan Siangkoan Kim-hong. Karena jika memang
begitu, maka pasti ada begitu banyak orang yang juga
sedang bersembunyi di situ.
Seseorang yang tidak terlihat, seorang hantu.
Ke mana pun Siangkoan Kim-hong pergi, hantu itu akan
mengikuti tepat di belakangnya.
Perintahnya terdengar seperti mantra. Hanya dialah yang
dapat memanggil hantu itu!
Jika Mandor Lu memang benar adalah hantu, ia sudah
pasti bukan hantu yang kelaparan.
Hantu yang kelaparan tidak mungkin bertubuh segendut
itu.
Ia hampir menyerupai sebuah bola raksasa, namun
gerak-geriknya cukup Lincah. Entah dari mana ia
menggelinding ke situ dan berkata, “Hamba siap
mendengarkan.”
Siangkoan Kim-hong masih menatap A Fei.
Lalu katanya perlahan, “Orang ini ingin mati. Kita tidak
akan membiarkannya mati.”
“Mengerti!” jawab Mandor Lu bersemangat.

1191
Kata Siangkoan Kim-hong, “Kita akan memberikan
sesuatu yang lain baginya.”
“Mengerti!”
“Kita akan memberinya arak yang terbaik, wanita yang
tercantik. Semakin banyak yang diinginkannya, semakin
banyak kita akan menyediakannya.”
“Mengerti!”
Siangkoan Kim-hong terdiam sesaat, lalu melanjutkan,
“Apapun yang dia inginkan, berikan padanya.”
“Mengerti!”
Tiap kali jawabannya keluar tanpa dipikir dua kali. Tapi
kali ini matanya melayang menuju Lim Sian-ji, dan ia
bertanya, “Siapapun juga?”
Sahut Siangkoan Kim-hong, “Siapapun juga yang
diinginkannya. Wanita tua bangka sekalipun, jika ia
menginginkannya, berikan padanya!”
Mandor Lu tersenyum, katanya, “Aku mengerti sekarang.
Akan kubawakan untuknya seorang wanita tua bangka
sesegera mungkin.”
Lim Sian-ji menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tidak tahan
untuk tidak bertanya, “Dan bagaimana jika ia
menginginkan aku?”

1192
Jawab Siangkoan Kim-hong dingin, “Aku sudah bilang,
siapapun yang diinginkannya.”
“Ta….tapi aku kan lain. Aku adalah milikmu. Selain
engkau, tidak ada seorang pun yang….”
Ia berjalan ke samping Siangkoan Kim-hong dengan
senyum menghiasi wajahnya.
Senyum yang luar biasa cantik, dengan gerak langkah
yang luar biasa mengundang.
Siangkoan Kim-hong tidak melirik sedikitpun padanya.
Tiba-tiba ia menampar pipi Lim Sian-ji dan berkata keras,
“Siapapun bisa memilikimu, kenapa dia tidak bisa?”
Tubuh Lim Sian-ji terjengkang karena kerasnya tamparan
itu. Ia sampai terjatuh di halaman depan.
Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku akan memberikan segala
sesuatu yang diinginkannya, karena aku tidak ingin dia
pergi. Aku ingin tahu, akan jadi orang macam apakah dia
setelah tiga bulan.”
“Mengerti!” jawab Mandor Lu.
Siangkoan Kim-hong memutar badannya dan melangkah
keluar.
A Fei menggigit bibirnya dan mengertakkan giginya kuatkuat.

1193
Dengan suara serak ia bertanya, “Aku telah membunuh
putramu, mengapa kau belum juga membunuh aku?”
Siangkoan Kim-hong sudah berada di luar pintu. Ia tidak
menoleh sewaktu menjawab, “Karena aku ingin kau
hidup menderita. Sampai kau tidak punya keberanian
lagi, bahkan untuk mati!”
‘Siapapun dapat memilikimu, kenapa dia tidak?’
‘Hidup dalam penderitaan, sehingga tidak punya
keberanian lagi, bahkan untuk mati!’
A Fei meringkuk, menggulung tubuhnya seperti bola,
seakan-akan sedang menghindari lecutan cemeti yang
tidak kasat mata.
Cemeti itu terus-menerus melecut dia tanpa berhenti.
Mandor Lu berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar.
Katanya, “Jika cawan dalam hidupmu sudah kosong,
mengapa repot-repot mengangkatnya menghadap bulan?
Kehidupan memang seperti ini, jangan terlalu diambil
hati.”
Lalu ia menoleh pada gadis-gadis di situ dan dengan
wajah garang ia berseru, “Mengapa kalian tidak segera
mengambilkan arak untuk Siauya?”
Orang ini memiliki satu wajah untuk menghadapi
Siangkoan Kim-hong, satu wajah lain untuk menghadapi
A Fei.

1194
Dan kini, saat bicara dengan para gadis itu, ia
menggunakan wajah yang lain.
Memang sebagian besar orang di dunia ini punya begitu
banyak wajah. Mereka berganti wajah seperti pemain
sandiwara bertukar topeng di atas panggung. Mungkin
bahkan lebih mudah dan lebih cepat daripada bertukar
topeng.
Semakin sering mereka berganti wajah, semakin cepat
mereka lupa seperti apa wajah mereka yang sebenarnya.
Lebih lama mereka mengenakan topeng-topeng mereka,
lebih susah untuk mencopotnya lagi.
Karena akhirnya mungkin mereka merasa bahwa dengan
mempunyai lebih banyak topeng, akan lebih sedikit
kekecewaan yang mereka alami.
Namun untungnya, masih ada orang-orang yang tidak
punya topeng sama sekali. Satu-satunya wajah yang
mereka miliki adalah wajah mereka sendiri!
Apapun situasinya, betapapun beratnya kegagalan yang
dialaminya, wajah mereka tidak pernah berubah!
Waktu mereka ingin menangis, mereka menangis. Waktu
ingin tertawa, tertawa. Waktu ingin hidup, mereka hidup.
Dan waktu ingin mati, mereka pun akan mati!
Dalam menghadapi kematian sekalipun, mereka tidak
akan berkompromi!

1195
Ini adalah sikap seorang pria sejati!
Jika orang-orang seperti ini tidak ada lagi dalam dunia,
maka kehidupan hanya akan menjadi satu kekecewaan
yang luar biasa besar.
Dan tidak akan ada yang tahu akan jadi apa dunia ini
nantinya.
Arak pun tiba.
Mandor Lu menuang secawan dan berkata, “Minumlah!
Makin banyak kau minum arak, makin kau tahu bahwa
semua wanita itu sama saja. Tidak perlu terlalu
dipusingkan!”
A Fei mengertakkan giginya dan berkata, “Mereka tidak
sama.”
Mandor Lu tertawa keras-keras. “Lalu siapa yang kau
inginkan?”
Mata A Fei berkobar karena marah. Lalu perlahan ia
berkata, “Aku mau istrimu!”
***
Malam.
Pasar malam.
Pasar malam selalu penuh gairah. Berbagai macam orang
dapat ditemui di sini.

1196
Tapi Li Sun-Hoan merasa sebatang kara. Tidak ada
seorang pun yang tertinggal di dunia ini.
Karena orang-orang yang dikasihinya telah menjadi jauh,
sangat jauh. Mereka telah berubah menjadi orang-orang
yang tidak dikenalnya lagi, sangat aneh, sampai-sampai
ia merasa mereka sebenarnya sudah tidak ada lagi.
Ia mendengar bahwa Liong Siau-hun dan putranya sudah
menghilang selama beberapa waktu, tapi…..
Bagaimana dengan Lim Si-im?
Tanpa jejak, tanpa sepatah katapun. Yang tertinggal
hanya kerinduan, kenangan yang membekas sampai
selamanya.
‘Bahkan sampai akhir masa, ada luka yang tidak akan
pernah sembuh’.
Walaupun arti kalimat ini sangat sederhana, perasaan
yang terkandung di dalamnya mungkin lebih dalam dari
lautan yang terdalam.
Namun kecuali mereka yang pernah merasakannya,
siapakah yang dapat memahami betapa pahit dan
pedihnya perasaan itu?
Dari kejauhan terdengar suara seruling mengiringi lagu
yang murung.
Suara seruling itu seakan-akan sedang bercakap-cakap
dengan langit malam.

1197
‘Mengapa perasan kita begitu dalam?’
‘Mengapa kita begitu dimabuk cinta?’
Waktu sekuntum bunga telah mekar dengan segala
keindahannya, ia akan layu dan mati.
Waktu manusia dimabuk cinta, mereka akan menjadi
tidak berdaya….
Ia sedang berada di tepi jurang hidup dan mati, tidak
heran ia merasa begitu tidak berdaya.
Hanya ditemani seguci arak, tidak heran ia merasa begitu
putus harapan.
Matanya yang mabuk mengawasi orang-orang yang
berpasang-pasangan.
Teringat lagi pada air mata yang menetes di saat-saat
yang gelap dan sepi…..
Si peniup seruling sudah cukup kesepian. Mengapa ia
harus menaburkan air mata dan kepedihan hatinya pada
orang lain juga?
Li Sun-Hoan meminum cawannya sekali teguk. Tiba-tiba
ia mengetuk-ngetuk cawan itu dengan sumpitnya dan
bernyanyi lembut.
‘Bunga-bunga bertumbuh tanpa perasaan,
Cepat atau lambat akan layu dan mati,
Manusia tanpa gairah

1198
Juga akan berakhir lelah dan lesu,
Tanpa cinta,
Kemanakah hidup harus mencari cita rasanya?
Kenangan akan air mata di tempat yang gelap dan sepi,
Masih lebih baik daripada tidak bisa meneteskan air
mata.’
Suara seruling pun terdengar semakin sayup. Dan
berganti dengan suara tawa.
Cita rasa apa yang terkandung dalam suara tawa ini?
Bagaimana dengan A Fei?
Sudah setengah harian Li Sun-Hoan pergi ke segala
tempat mencari, mengais-ngais berita.
Tidak seorang pun tahu ke mana dia pergi. Tidak
seorang pun merasa melihat orang seperti dia.
Li Sun-Hoan tidak tahu bahwa pelarian A Fei berakhir di
markas besar Kim-ci-pang.
Namun walaupun ia tahu, ia tidak tahu di mana tempat
itu berada.
Lentera terombang-ambing dipermainkan angin. Arakpun
bergolak dalam cawannya.
Arak yang kental dan pekat. Lentera yang gelap dan
suram.
Ia sedang minum di sebuah warung bakmi kecil.

1199
Sepanjang jalan dipadati dengan tenda-tenda kecil.
Orang-orang yang datang ke situ adalah orang biasa.
Tidak ada yang mengenalinya dan ia pun tidak mengenali
siapapun.
Ia menikmati suasana seperti ini. Walaupun rasanya
suram dan terasing, ia merasa bahwa ini sebuah
pergantian suasana yang baik.
Keberhasilan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesedihan
dalam hidup, itu semua tidak ada artinya bagi orangorang
ini. Selama ada secawan arak, itu sudah lebih dari
cukup.
Di tempat seperti ini tidak ada tawa yang mengundang,
tidak ada lagu yang menyedihkan.
Malam begitu tenang, malam begitu hambar….
Tiba-tiba ketenangan ini terusik.
Seseorang berteriak dan menyumpah-nyumpah.
“Pemabuk yang tidak berguna! Tidak tahu malu! Minum
lalu tidak mau bayar! Walaupun arak itu sudah ada
dalam perutmu, ayo muntahkan segera!”
Mau tidak mau Li Sun-Hoan menoleh.
Ia menoleh begitu cepat karena ia mendengar kata
‘pemabuk’.

1200
Ia melihat seseorang sedang berpegangan kuat pada
seguci arak. Walaupun ia sudah dipukuli, sepertinya
orang itu tidak peduli lagi akan hidup matinya, asalkan ia
bisa minum arak seteguk lagi.
Seorang lelaki tua dengan kain minyak terikat di
pinggang terus berterak dan mencaci-maki, sambil
memukuli orang itu.
Li Sun-Hoan menghela nafas dan melangkah ke sana.
Katanya, “Biarkan dia minum. Aku yang akan
membayar.”
Caci-maki langsung berhenti. Demikian juga pukulan.
Uang dapat mengikat tangan manusia dan dapat
menutup mulutnya.
Orang yang tadi dipukuli masih meringkuk di lantai, ia
tidak bisa bangun. Ia mengangkat guci itu ke mulutnya
dan berusaha minum. Tapi arak malah mengucur
membasahi kepala dan badannya. Tapi kelihatannya ia
tidak peduli.
Seakan-akan ia sedang berusaha tenggelam dalam arak
itu.
Jika bukan karena kenangan yang pahit, mana mungkin
seseorang bisa menjadi seperti ini?
Jika seseorang begitu bergairah, bagaimana ia harus
mengatasi kenangan yang pahit?

1201
Li Sun-Hoan sungguh bersimpati dan berkata, “Tidak ada
selera makan sendirian. Di mejaku masih ada makanan
dan arak. Maukah kau makan dan minum bersamaku?”
Orang itu minum seteguk lagi dari gucinya, lalu tiba-tiba
melompat berdiri dan berseru, “Kau pikir kau ini siapa?
Kau pikir kau pantas minum bersama denganku?
Walaupun kau membeli tiga ratus guci arak, aku tetap
tidak akan minum bersamamu….”
Pada saat itu, sumpah serapahnya berhenti dan kedua
tangannya segera melingkari lehernya sendiri.
Li Sun-Hoan sungguh terkejut dan berkata, “Kau….benar
kau?”
Orang itu lalu membanting guci arak ke lantai dan segera
berlari pergi.
Li Sun-Hoan mengejarnya. “Tunggu, tunggu sebentar.
Sahabat, apakah kau tidak mengenaliku?”
Orang itu lari semakin cepat. “Aku tidak mengenalmu
dan aku tidak ingin minum arakmu….”
Dua orang itu, satu melarikan diri dan satu mengejar,
dalam sekejap saja sudah hilang dari pandangan.
Siapapun yang melihat pasti merasa bahwa ada sesuatu
yang aneh di antara mereka.

1202
“Orang yang mencuri arak itu memang orang gila. Sudah
tahu akan dipukuli masih juga datang untuk minum. Lalu
ada seseorang yang mau membayari, eh dia malah lari.”
“Orang yang mau membayari juga pasti orang gila.
Setelah uangnya diambil, dicaci-maki, ia masih
memanggil si pemabuk itu sahabat. Aku belum pernah
melihat orang seperti dia.”
Tentu saja ia belum pernah melihat orang seperti dia,
karena memang hanya sedikit saja orang di dunia ini
yang seperti itu.
Siapakah orang yang melarikan diri itu?
Mengapa ia melarikan diri saat melihat Li Sun-Hoan?
Orang lain tentu saja tidak akan tahu alasannya. Bahkan
Li Sun-Hoan sendiripun tidak pernah menyangka bahwa
di tempat seperti itu, dalam suasana seperti itu, ia akan
bertemu dengan orang itu.
Pertama kali Li Sun-Hoan bertemu dengannya adalah di
bawah balkon sebuah rumah, di salah satu jalan yang
panjang. Saat itu di sana juga ramai orang.
Pakaiannya putih bagai salju. Di antara orang banyak, ia
tampak seperti seekor bangau di antara kerumunan
ayam.
Walaupun seluruh emas di dunia ini dikumpulkan dan
diserahkan padanya, ia tidak akan sudi berbicara sepatah
katapun pada orang yang tidak disukainya.

1203
Namun kini, hanya karena seguci arak, ia mau menerima
hinaan dan cercaan orang, bahkan rela dipukuli seperti
seekor babi dalam lumpur.
Li Sun-Hoan tidak bisa percaya bahwa dua orang ini
adalah orang yang sama. Ia tidak mau percaya.
Namun ia tidak bisa menyangkal kebenaran.
Orang yang tadi meringkuk di lantai yang kotor itu bukan
lain adalah Lu Hong-sian yang agung dan terhormat!
Apa yang menyebabkan perubahan ini? Perubahan yang
begitu cepat, dramatis, dan sangat mengerikan!
Penerangan di jalan terlihat makin jauh dan suram, dan
bintang-bintang terasa semakin mendekat.
Tiba-tiba Lu Hong-sian berhenti berlari.
Karena ia sudah berada dalam keadaan yang sama
dengan A Fei. Ia sedang melarikan diri dari dirinya
sendiri.
Ada banyak orang di dunia ini yang mencoba melarikan
diri dari dirinya sendiri. Namun tidak seorang pun
berhasil!
Li Sun-Hoan pun berhenti saat jaraknya masih cukup
jauh. Ia membungkuk dan mulai terbatuk-batuk. Ia
merasa bahwa akhir-akhir ini, ia memang jarang batuk.
Namun jika sudah batuk, sangat sulit untuk
menghentikannya.

1204
Bukankah ini sama dengan dimabuk cinta?
Jika kau semakin jarang mengingat akan seseorang, itu
bukan berarti bahwa kau sudah melupakan orang itu. Itu
hanya berarti bahwa kenangan itu sudah semakin
mendarah daging.
Ketika Li Sun-Hoan tidak batuk-batuk lagi, Lu Hong-sian
bertanya, “Mengapa tidak kau biarkan aku lari?”
Ia berusaha menggalang kegagahannya saat berbicara,
namun tidak terlalu berhasil.
Suaranya gemetar seperti seekor kelinci yang tercebur ke
air dingin.
Li Sun-Hoan tidak menjawab, karena ia tidak ingin
menyakiti Lu Hong-sian dengan perkataannya.
Karena jawaban apapun akan menyakiti perasaannya.
Tanya Lu Hong-sian lagi, “Aku tidak berhutang padamu
dan tidak harus melakukan apapun bagimu. Mengapa
kau memaksaku?”
Akhirnya Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan
berkata, “Akulah yang berhutang padamu.”
“Kau tidak perlu membayarnya.”
“Aku tidak bisa membayar hutangku padamu, namun
setidaknya aku bisa membelikan arak untukmu.”

1205
Lu Hong-sian tertawa getir dan berkata, “Aku belum
lupa, kau sudah mengatakannya tadi.”
Tangan Lu Hong-sian terus gemetar, gemetar begitu
hebat sampai tidak dapat memegang cawan araknya
dengan baik.
Ia sudah menggunakan kedua tangannya untuk
memegang cawan itu, namun arak tetap tumpah.
Beberapa hari yang lalu, tangan ini adalah senjata yang
sangat berbahaya!
Apapun yang mengakibatkan perubahan ini, perubahan
ini begitu mengerikan.
Li Sun-Hoan tidak bisa menebak apa sebabnya.
Lu Hong-sian meraih guci arak itu dan menuang lagi.
‘Prang’. Tangannya malah membuat guci itu jatuh dan
pecah.
Matanya memandang tangannya sampai lama, tanpa
berkedip. Lalu tiba-tiba ia meraung keras dan
menjejalkan tangan itu ke dalam mulutnya.
Ia terus menjejalkan dan terus menggigit.
Darah menetes dari sudut mulutnya.
Awalnya Li Sun-Hoan tidak ingin menghalangi apapun
yang diperbuatnya. Namun ia tidak tahan untuk

1206
membiarkannya. Ia menarik tangan itu keluar dari
mulutnya.
Lu Hong-sian berteriak marah, “Lepaskan aku. Aku ingin
menggigitnya sampai putus. Menggigitnya sampai putus
dengan mulutku sendiri dan menelannya bulat-bulat.”
Tangan ini tadinya adalah miliknya yang paling berharga
dan paling dibanggakannya. Namun ketika kesedihan
mendera seseorang, mereka selalu ingin menghancurkan
miliknya yang paling berharga.
Karena satu-satunya cara meringankan penderitaan itu
adalah dengan merusak!
Melumatnya sampai hancur lebur!
Kata Li Sun-Hoan, “Jika seseorang telah bersalah
padamu, orang itulah yang pantas mati. Mengapa kau
menyiksa dirimu sendiri?”
Teriak Lu Hong-sian, “Akulah yang pantas mati,
akulah….”
Dengan sekuat tenaga ia berusaha mendorong Li Sun-
Hoan, namun malah dia sendiri yang terjatuh dari
kursinya.
Ia tidak berusaha bangun. Ia hanya bersimpuh di lantai
dan mulai menangis.
Akhirnya ia menceritakan segala-galanya pada Li Sun-
Hoan.

1207
Cerita yang didengarnya adalah cerita Lu Hong-sian.
Orang yang dilihatnya adalah Lu Hong-sian. Namun yang
terbayang dalam benaknya adalah A Fei!
Hati Li Sun-Hoan tercekat.
Apakah A Fei pun mengalami goncangan serupa ini?
Apakah A Fei pun telah berubah dan menjadi seperti ini?
Li Sun-Hoan tidak ingin bicara pada Lu Hong-sian lagi,
namun entah mengapa pertanyaan ini tidak tertahankan.
“Mengapa kau masih tinggal di sini?”
“Kalau tidak di sini, ke mana aku harus pergi?”
“Pulang, kembali pada keluargamu.”
“Keluarga…..”
Kata Li Sun-Hoan, “Kau sedang sakit sekarang. Dan
hanya ada dua cara untuk menyembuhkannya.”
“Dua cara?”
“Yang pertama adalah keluarga. Yang kedua adalah
waktu. Jika kau pulang ke rumah…..”
Potong Lu Hong-sian, “Aku tidak akan pulang.”
“Kenapa?”
“Karena….karena itu bukan rumahku lagi.”

1208
Kata Li Sun-Hoan, “Keluarga adalah tetap keluarga, tidak
akan pernah berubah. Itulah sebabnya mengapa
keluarga itu begitu berharga.”
Sahut Lu Hong-sian, “Bukan keluargaku yang berubah,
akulah yang telah berubah. Aku bukan lagi seperti dulu.”
“Jika kau pulang dan beristirahat untuk sementara
waktu, kau pasti akan bisa kembali seperti dulu.”
Ia masih ingin menambahkan, namun terdengar
seseorang menyela dari belakangnya, “Dan bagi orang
yang tidak lagi punya keluarga, bagaimana cara
menyembuhkannya?”
Bab 70. Hati Berbisa Seorang Wanita
Suara yang sangat manis dan merdu. Yang dapat
membangkitkan hasrat seseorang untuk membunuh.
Li Sun-Hoan tidak menoleh. Lu Hong-sian langsung
berdiri dan berlari keluar seperti orang kesetanan.
Seakan-akan ia baru saja melihat hantu.
Li Sun-Hoan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa
yang berbicara.
Ia sudah mengerti arti perkataan itu.
A Fei tidak punya keluarga.

1209
Hati Li Sun-Hoan merosot. Ia mengepalkan tangannya
dan berkata, “Aku tidak akan pernah menyangka akan
bertemu denganmu di tempat seperti ini. Tidak akan
pernah menyangka kau mau datang ke tempat seperti
ini.”
Orang itu tidak lain adalah Lim Sian-ji.
Ia tertawa merdu, katanya, “Aku memang biasanya tidak
datang ke tempat seperti ini, tapi aku tahu bahwa aku
bisa menemukan engkau di sini. Untuk dapat
menemukanmu, aku rela pergi ke manapun juga.”
Kata Li Sun-Hoan dingin, “Seharusnya kau tidak datang
mencariku, karena sekarang kau akan menyesal.”
“Menyesal? Kenapa? Kita kan sahabat lama. Kalau aku
sudah tahu kau ada di sini, mengapa tidak boleh mampir
sebentar dan menanyakan kabarmu?”
Suaranya terdengar semakin merayu. Lanjutnya, “Kau
seharusnya tahu bahwa aku selalu merindukanmu
selama ini.”
Jawab Li Sun-Hoan, “Kau seharusnya pun tahu bahwa
aku tahu bagaimana kau memperlakukan A Fei dan Lu
Hong-sian.”
Ia tidak menyambungnya lagi.
Ia tidak suka mengancam. Karena ia tidak merasa perlu
untuk mengancam.

1210
Kata Lim Sian-ji, “Jadi kalau aku membuang A Fei seperti
aku membuang Lu Hong-sian, apa yang akan kau
lakukan? Membunuhku?”
“Kau tahu apa maksudku.”
“Yang aku tahu hanyalah bahwa kau sudah berkali-kali
membujuknya untuk meninggalkan aku. Dengan aku
melepaskannya lebih dulu, bukankah itu berarti aku
menolongmu?” kata Lim Sian-ji.
“Itu tidak sama.”
“Apanya yang berbeda?”
“Aku hanya ingin kau meninggalkannya, bukan
menghancurkannya.”
Tanya Lim Sian-ji tenang, “Lalu bagaimana jika aku
sudah menghancurkannya?”
Kini Li Sun-Hoan menoleh dan menatapnya. “Maka kau
benar-benar menyesal telah datang hari ini.”
Wajah Li Sun-Hoan tetap tenang. Namun entah mengapa
Lim Sian-ji dapat merasakan tekanan-yang-hu begitu
berat di atas bahunya, sampai-sampai sulit baginya untuk
tersenyum.
Itu suatu hal yang sangat aneh bahwa ia tidak bisa
tersenyum.

1211
Senyum adalah senjatanya yang paling ampuh. Kecuali
saat menghadapi Siangkoan Kim-hong. Saat itu,
senyumnya sama sekali tidak berguna.
Kini di hadapan Li Sun-Hoan, ia merasakan hal yang
sama. Ketika rasa percaya diri seseorang sudah habis
tersedot, itu akan tampak nyata di wajahnya.
Setelah sekian lama, akhirnya Lim Sian-ji menggelengkan
kepalanya dan berkata, “Aku tahu, kau tidak akan
melakukannya.”
“Apakah kau yakin betul?”
“Ya.”
“Aku sendiri saja tidak yakin. Kadang-kadang aku
melakukan hal-hal yang mengejutkan diriku sendiri.”
Kata Lim Sian-ji, “Tapi jika kau ingin membuat diriku
menyesal, kaulah yang akan lebih menyesal.”
“Bagaimana bisa begitu?”
“Jika kau masih ingin bertemu dengan A Fei…..”
Tanya Li Sun-Hoan cepat, “Kau tahu di mana dia
berada?”
“Tentu saja aku tahu.”
Lim Sian-ji mulai bisa tersenyum. Lalu ia menambahkan,
“Kurasa, akulah satu-satunya orang di dunia ini yang

1212
dapat mengantarkan dirimu bertemu dengannya. Aku
pun satu-satunya orang yang dapat
menolongnya….karena akulah yang menghancurkannya,
tentu saja aku dapat menyelamatkannya!”
Wajah Li Sun-Hoan langsung berubah.
Ia tahu, kali ini Lim Sian-ji tidak berdusta.
Lim Sian-ji bisa jadi begitu mengerikan saat ia berdusta.
Tapi ternyata ia jauh lebih mengerikan saat ia
mengatakan yang sejujurnya. Karena untuk membuat
orang seperti dia berkata jujur, sudah pasti harga yang
harus dibayar sangatlah tinggi.
Li Sun-Hoan mulai menggosok-gosok jari-jemarinya,
karena tiba-tiba ia merasa dingin. Akhirnya ia berkata,
“Baiklah. Apa yang kau inginkan?”
Lim Sian-ji hanya menatapnya, tanpa berkata apa-apa.
“Apa yang kau inginkan?” desak Li Sun-Hoan.
Lim Sian-ji tersenyum. Katanya, “Dulu ada begitu banyak
hal di dunia ini yang kuinginkan….. Namun kini, yang
kuinginkan adalah menatap wajahmu sedikit lebih lama
lagi.”
Ia berbicara sambil menggigit bibirnya. Lanjutnya,
“Karena aku belum pernah melihatmu marah. Aku selalu
berpikir bagaimana wajah Li Sun-Hoan saat ia marah.
Dan saat ini aku bisa melihatnya. Aku tidak bisa
membiarkannya berlalu begitu saja.”

1213
Li Sun-Hoan terdiam dan kembali duduk. Ia meraih
sebatang lilin dan meletakkannya dekat wajahnya. Lalu
dituangnya arak.
Kalau wanita itu ingin melihat, biarlah ia melihat. Ia ingin
memastikan bahwa wanita itu dapat melihatnya dengan
terang dan jelas.
Kalau seorang wanita menginginkan sesuatu, biarkanlah
dia mendapatkannya. Mereka akan segera menyadari
bahwa yang diinginkannya itu ternyata tidak seindah
bayangan dalam benak mereka.
Rasa tertarik seorang wanita akan sesuatu tidak akan
bertahan lama. Namun jika kau menolak permintaan
mereka, itu hanya akan menambah rasa tertarik mereka
akan hal itu.
Ini adalah salah satu masalah yang terbesar yang dimiliki
wanita. Beribu-ribu tahun yang lalu mereka sudah
memilikinya. Beribu-ribu tahun yang akan datang pun
mereka akan tetap memiliki masalah yang sama.
Anehnya, selama beribu-ribu tahun ini, begitu sedikit lakilaki
yang memahaminya.
Li Sun-Hoan duduk tenang di situ sambil minum araknya.
Lim Sian-ji tersenyum padanya dan berkata, “Kau
memang orang yang aneh. Perkataanmu aneh,
perbuatanmu juga aneh, bahkan cara minummu pun
aneh. Tiap kali aku melihatmu minum arak, aku lalu ingin
menjadi cawan arak di tanganmu. Karena aku sungguh

1214
ingin tahu apakah kau memperlakukan seorang wanita
selembut engkau membelai cawan arak itu.”
Li Sun-Hoan diam mendengarkan.
Lanjut Lim Sian-ji, “Sebenarnya, caramu memperlakukan
wanita lebih aneh lagi. Seolah-olah kau selalu mengerti
apa yang mereka pikirkan, kau selaku melakukan apa
yang mereka harapkan…. Bahkan ada kalanya, waktu
kau tidak melakukan apapun juga, mereka tetap saja
terjerat.”
Ia mendesah dan menambahkan, “Bahkan seorang
wanita yang paling berbisa pun, ketika ia bertemu
denganmu, ia tidak mungkin bisa lolos.”
Li Sun-Hoan duduk tenang mendengarkan.
“Tiap kali aku bertemu denganmu, aku selalu merasa
itulah hari yang terindah. Namun setelah aku
memikirkannya lagi baik-baik, aku baru menyadari bahwa
kau tidak berbicara sepatah katapun.”
Memang kadang-kadang, orang yang paling pandai
berbicara adalah orang yang tidak berbicara sama sekali.
Sayang sekali, banyak orang tidak mengerti akan hal ini.
“Tapi kali ini, aku tidak akan terjebak lagi. Kali ini, aku
ingin mendengar kau berbicara.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Kalau kau sudah selesai menatapku,
aku akan bicara.”

1215
“Baik, aku sudah cukup memandangmu.”
“Lalu apa lagi yang kau inginkan?” tanya Li Sun-Hoan.
Lim Sian-ji menatapnya lekat-lekat. Jika matanya punya
mulut dan gigi, sudah ditelannya Li Sun-Hoan bulat-bulat.
Jika seorang wanita seperti dia memandangmu seperti
itu, walaupun menyenangkan, ada sesuatu yang sangat
tidak mengenakkan. Karena seolah-olah ia sengaja ingin
membuatmu menjadi gila.
Hanya seorang Li Sun-Hoan yang dapat mengatasinya.
Kata Lim Sian-ji, “Aku tidak ingin apapun juga, aku hanya
menginginkan dirimu!”
“Kau meginginkan diriku?”
“Memberikan dirimu sebagai ganti A Fei. Bukankah itu
cukup adil?”
“Tidak,” sahut Li Sun-Hoan datar.
“Apa yang tidak adil? Apakah kau pikir dia bukan milikku
lagi?”
“Ya, karena kau sudah menghancurkannya…..”
Lim Sian-ji tertawa dengan lebih memikat. Katanya, “Aku
berjanji kau tidak akan menyesal…”
Tiba-tiba perkataannya terhenti.

1216
Karena tangan Li Sun-Hoan telah menampar wajahnya.
Tapi ia tidak menghindar. Bahkan ia mengerang
perlahan, lalu jatuh ke dada Li Sun-Hoan sambil
terengah-engah.
“Jika kau ingin memukulku, pukullah aku. Selama kau
mau, aku rela kau memukuliku siang dan malam.”
Tiba-tiba terdengar suara orang bertepuk tangan.
Katanya, “Bagus sekali. Karena ia sudah mengatakannya,
mengapa kau tidak memukulnya sekali lagi?”
Bab 71. Adu Kecerdikan
Lentera yang tergantung di depan warung bakmi itu
sudah menghitam akibat asap lilin.
Di bawah cahaya yang guram itu, seseorang dengan
mata besar dan rambut panjang terkuncir, sedang
berdiri.
Li Sun-Hoan berseru gembira, “Nona Sun!”
Kata Sun Sio-ang, “Aku biasanya tidak suka melihat
wanita dipukul laki-laki. Namun kali ini aku merasa
gembira melihatnya.”
Kata Lim Sian-ji, “Aku pun gembira. Aku sangat
menikmati dipukul laki-laki seperti dia.”

1217
Ia merangkul lengan Li Sun-Hoan dan berkata sambil
tersenyum, “Jika kau cemburu, kau boleh datang ke sini
dan minum bersama dengan kami. Arak dapat mengobati
rasa cemburu.”
Sun Sio-ang benar-benar datang mendekat. Ia menuang
arak ke dalam cawan Li Sun-Hoan dan menghabiskannya
dalam sekali teguk.
Ia meleletkan lidahnya dan mengerutkan alisnya. Lalu
tersenyum dan berkata, “Walaupun arak murahan sulit
dibedakan dari arak bagus jika kau minum cukup banyak,
cawan pertama tetap saja sulit ditelan.”
Lim Sian-ji pun tersenyum dan menyahut, “Lain kali,
kalau Nona Sun mengunjungi rumah kami, kami pasti
akan menyuguhkan arak yang terlezat!”
Lalu ia memandang Li Sun-Hoan dan berkata, “Benar
kan?”
Sebelum Li Sun-Hoan menjawab, Sun Sio-ang sudah
berkata lagi, “Senyummu memang menawan. Walaupun
aku seorang wanita, aku pun ingin memandangnya lamalama.”
Lim Sian-ji tertawa. “Gadis kecil, kau belum menjadi
seorang wanita. Kau masih anak-anak.”
Sahut Sun Sio-ang, “Boleh saja kau tertawa sekarang,
karena sebentar lagi kau tidak akan bisa tertawa lagi.”
“Hmmm?”

1218
“Karena ia tidak mungkin memenuhi permintaanmu.”
“Hmmm?”
“Karena apa yang dapat kau lakukan, akupun dapat
melakukannya.”
Lim Sian-ji tertawa geli. Katanya, “Dan apa yang dapat
kau lakukan? Bocah kecil adalah tetap bocah kecil.
Walaupun mereka tidak tahu apa-apa, tapi mereka
berlaku seolah-olah serba tahu.”
Lim Sian-ji mengikik dan menambahkan, “Memang ada
hal-hal yang dapat kau lakukan karena kau adalah
seorang wanita. Namun bisa tidaknya kau melakukannya
dengan baik, tergantung dari orangnya…. Apakah kau
mengerti maksudku?”
Wajah Sun Sio-ang terlihat bersemu merah. Ia menggigit
bibirnya dan berkata, “Apa yang dapat kulakukan adalah
membawanya kepada A Fei.”
Tanya Lim Sian-ji, “Kau tahu ia ada di mana?”
“Tentu saja. Dan aku pun tahu cara menolongnya.”
“Hmmm?”
“Untuk bisa menolongnya, hanya ada satu cara.”
“Dan apakah itu?” tanya Lim Sian-ji.

1219
“Dengan membunuhmu! Untuk menyelamatkannya, kami
hanya perlu membunuhmu. Kalau kau tidak ada lagi
dalam dunia ini, ia akan terbebas dari segala sakit dan
penderitaannya.”
Li Sun-Hoan minum secawan lagi dan tertawa keras.
“Bagus, benar sekali.”
Lim Sian-ji mendesah dan berkata, “Aku tidak
menyangka kau pun sama seperti A Fei. Tidakkah kau
tahu bahwa perkataan seorang wanita sekali-kali tidak
boleh dipercaya? Kau yakin bahwa ia memang dapat
membawamu kepada A Fei?”
Sahut Li Sun-Hoan, “Bahkan semua laki-laki penipu di
dunia ini mengasuh anak-anak perempuan yang jujur.”
Tambah Sun Sio-ang, “Benar sekali. Jangan pikir semua
wanita itu seperti dirimu.”
Kata Lim Sian-ji, “Baik, Sekarang katakan, di mana A Fei
sekarang?”
“Bersama dengan kakekku. Kakekku telah melepaskan
dia dari tangan Siangkoan Kim-hong.”
Lim Sian-ji tergelak dan memandang Li Sun-Hoan. “Dan
kau percaya bualan anak ini? Siapakah yang bisa
melepaskan A Fei dari tangan Siangkoan Kim-hong?”
Li Sun-Hoan tersenyum. Jawabnya, “Dalam dunia ini,
hanya ada satu. Orang itu adalah kakeknya, Tuan Sun
yang Terhormat.”

1220
Wajah Lim Sian-ji berubah. Katanya, “Baik. Jika memang
demikian, akupun ingin ikut untuk melihat dengan mata
kepalaku sendiri.”
Sahut Sun Sio-ang, “Tidak bisa. Ia tidak ingin bertemu
denganmu.”
Lalu tambahnya, “Lagi pula, kami tidak punya alasan
untuk membiarkanmu tetap hidup.”
“Kau ingin aku mati?”
“Kau seharusnya mati sejak lama.”
“Tapi tidakkah kau pikirkan siapa yang tega
membunuhku?”
Tanya Sun Sio-ang, “Kau pikir aku tidak bisa menemukan
orang yang dapat membunuhmu?”
“Dalam dunia ini, hanya ada satu orang yang dapat
membunuhku. Tapi bahkan diapun, tidak berani maju.”
Matanya lalu memandang Li Sun-Hoan dan berkata lagi,
“Karena ia tahu, jika ia membunuhku, A Fei akan
membencinya.”
Kata Sun Sio-ang, “Sepertinya kau lupa bahwa aku bukan
laki-laki dan aku pun tidak peduli apakah A Fei akan
membenciku atau tidak.”

1221
Lim Sian-ji tertawa terbahak-bahak. “Gadis kecil, jangan
bilang bahwa ini adalah lokasi yang tepat untuk berduel,
dan bahwa kau ingin menantangku?”
Sahut Sun Sio-ang, “Benar sekali. Kau boleh memilih
tempatnya, aku memilih waktunya.”
“Lalu kapan?”
“Sekarang.”
Bukan hanya para lelaki yang berduel, kaum wanita pun
berduel.
Tapi apakah kaum wanita berduel dengan cara yang
sama?
“Aku sudah menentukan waktunya. Sekarang kau yang
menentukan tempatnya,” kata Sun Sio-ang.
Lim Sian-ji berpikir sejenak lalu berkata, “Tidak perlu
pilih-pilih tempat. Di sini pun jadi. Hanya saja….”
“Hanya saja apa?”
“Bagaimana cara kita berduel?”
“Duel adalah duel. Ada berapa macam cara?”
Sahut Lim Sian-ji, “Sudah tentu ada banyak cara. Ada
duel terpelajar, ada duel silat, ada duel senjata, ada duel
meringankan tubuh, ada duel racun, dan masih banyak

1222
lagi. Karena kita adalah wanita, cara kita berduel pun
harus lebih canggih dan anggun.”
“Lalu duel macam apa yang kau usulkan?” tanya Sun Sioang.
“Kau ingin aku juga yang memilih cara kita berduel?”
Kata Li Sun-Hoan tiba-tiba, “Mungkin dia akan
mengusulkan duel racun.”
Sun Sio-ang tersenyum padanya dan berkata, “Duel
racun pun bukan masalah. Paman Ketujuhku adalah ahli
racun. Kehebatannya tidak berada di bawah Ngo-toktongcu.
Hanya saja ia menggunakan racun untuk
menyelamatkan orang, bukan untuk membunuh.”
Kata Lim Sian-ji, “Jika ia bisa menggunakan racun untuk
menyelamatkan orang, sudah pasti ia cukup sakti.
Karena menggunakan racun untuk menyelamatkan orang
jauh lebih sulit daripada untuk membunuh orang.”
Lim Sian-ji mendesah dan melanjutkan, “Kelihatannya
aku tidak akan menang jika kita berduel racun.”
“Pilih apa maumu,” kata Sun Sio-ang mantap.
Karena ia terlihat yakin akan kemampuannya, Li Sun-
Hoan pun diam saja. Ia pun ingin menyaksikan ilmu silat
seorang murid Tuan Sun yang Terhormat.
Lim Sian-ji memandang Li Sun-Hoan dan berkata, “Di
hadapan seorang ahli seperti Li Tamhoa, sungguh

1223
memalukan untuk bertanding ilmu silat. Kita akan
kelihatan seperti dua orang tolol.”
“Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Sun Sio-ang mulai
tidak sabar.
“Karena kita adalah wanita, mari kita berduel seperti
wanita.”
“Apakah ada cara khusus wanita berduel?”
“Tentu saja,” sahut Lim Sian-ji.
“Seperti apa?”
“Laki-laki memang lebih kuat daripada wanita, tetapi ada
hal-hal tertentu wanita lebih cakap melakukan daripada
laki-laki.”
“Contohnya?”
“Contohnya, melahirkan anak….” Jawab Lim Sian-ji.
Sun Sio-ang jadi bingung. “Melahirkan anak?”
“Ya, melahirkan anak adalah keahlian khusus wanita. Itu
juga adalah kebanggaan wanita. Seorang wanita yang
tidak dapat melahirkan anak dipandang rendah oleh
semua orang. Bukankah demikian?”
Kembali wajah Sun Sio-ang merona merah. “Jangan
katakan….”

1224
Kata Lim Sian-ji, “Kita bisa bertanding siapa yang bisa
melahirkan lebih banyak anak, dan siapa yang lebih
cepat.”
“Kau sudah gila ya? Bagaimana mungkin kita bertanding
seperti itu?” teriak Sun Sio-ang.
“Siapa bilang tidak mungkin? Apakah kau tidak bisa
melahirkan anak?”
Kini wajah Sun Sio-ang menjadi merah padam. Ia tidak
dapat menyangkal ataupun mengiakan.
Kata Lim Sian-ji, “Jika kau merasa itu terlalu lama, kita
bisa memikirkan pertandingan yang lain.”
“Sudah tentu kita harus bertanding dengan cara lain.”
“Ada sesuatu yang para lelaki tidak ragu melakukannya,
namun seorang wanita yang paling hebat pun sangat
sulit untuk melakukannya.”
Lim Sian-ji terkikik, lalu menambahkan, “Karena kau
tidak ingin bertanding dalam hal yang dapat dilakukan
setiap wanita, mari kita bertanding dalam hal yang
biasanya para wanita tidak berani melakukannya.”
Kata Sun Sio-ang, “Jelaskan dulu apa itu.”
“Kita bisa membuka baju…..pertandingannya adalah
siapa yang bisa menjadi telanjang bulat lebih cepat. Jika
aku kalah, aku bersedia memberikan kepalaku
kepadamu.”

1225
Mereka berada di tengah-tengah pasar malam. Walaupun
biasanya orang-orang tidak peduli apa yang dilakukan
orang lain, namun jika dua orang wanita menanggalkan
pakaian mereka di situ, mereka tidak mungkin
melewatkannya.
Wajah Sun Sio-ang kembali merah padam. Ia menggigit
bibirnya dan berkata, “Tidak heran bahwa lelaki yang
paling pandai pun tidak berani bertaruh dengan seorang
wanita. Karena wanita semacam engkau selalu bisa
menemukan cara untuk berkelit dari kekalahan.”
“Mengambil keuntungan dari laki-laki adalah hak setiap
wanita. Wanita yang tidak bisa mengambil keuntungan
dari laki-laki adalah wanita yang sangat bodoh, atau
sangat buruk rupa.”
“Aku bukan laki-laki,” tandas Sun Sio-ang.
“Dan aku tidak pernah berusaha mengambil keuntungan
darimu. Kau yang bilang bahwa aku boleh menentukan
cara kita berduel,” sergah Lim Sian-ji.
“Tapi bagaimana aku bisa tahu kalau kau akan memilih
cara-cara yang begitu memalukan?”
“Kau hanya bisa menyalahkan dirimu sendiri. Jika kau
ingin membunuhku, mengapa tidak langsung
menyerang? Siapa suruh mulutmu begitu besar dan
mengusulkan untuk berduel ini dan bertanding itu?” kata
Lim Sian-ji mengejek.

1226
Lalu lanjutnya, “Tapi bukan kesalahanmu sepenuhnya.
Aku belum pernah bertemu dengan wanita yang tidak
besar mulut.”
Jadi akhirnya berduel memang lebih cocok dilakukan oleh
para pria.
Karena duel harus diselesaikan dengan tinju, bukan
dengan mulut. Makin banyak orang berbicara, makin
luntur rasa percaya dirinya dan makin berkurang
semangat tempurnya.
Ketika dua orang yang akan berkelahi mulai adu mulut,
kemungkinan besar perkelahiannya jadi batal.
Walaupun ada juga pepatah yang mengatakan bahwa
pria sejati bertarung dengan kata-kata, bukan dengan
tinju.
Angin musim gugur bertiup lembut dan matahari senja
mulai terbenam di sebelah barat. Dua wanita berdiri
berhadapan tanpa berkata-kata. Menunggu keputusan
yang bisa berarti hidup atau mati.
Siapakah yang pernah melihat pemandangan seperti ini?
Mendengarnya pun belum ada yang pernah.
‘Wanita memanglah wanita’.
Walaupun wanita dan pria sederajat, ada beberapa hal
dalam dunia ini yang tidak pernah akan dilakukan
seorang wanita.

1227
Walaupun ada juga wanita yang mungkin pernah
mencobanya, hasilnya pun sia-sia belaka.
‘Wanita memanglah wanita’.
Tidak ada yang pernah mengerti pikiran mereka.
Senyum di bibir Lim Sian-ji sungguh manis menggiurkan.
Melihat senyuman itu, Li Sun-Hoan jadi teringat pada Na
Kiat-cu.
Walaupun banyak orang memandang rendah pada Na
Kiat-cu, ada yang sangat luar biasa dalam
kepribadiannya.
Li Sun-Hoan merasa sayang mengapa Na Kiat-cu harus
mati.
Wajah Sun Sio-ang yang bersemu merah kini menghijau.
“Kita sudah menentukan waktu, tempat, dan metode
duel ini. Jadi, apakah kau bersedia mulai atau tidak, itu
terserah padamu,” kata Lim Sian-ji.
Sun Sio-ang menggelengkan kepalanya.
Kata Lim Sian-ji lagi, “Kalau kau tidak mau, aku akan
pergi.”
Sahut Sun Sio-ang, “Pergi saja.”

1228
Ia mendesah dan menambahkan, “Salahkan saja nasib
sialmu.”
Tanya Lim Sian-ji, “Maksudmu nasib sialmu?”
Jawab Sun Sio-ang, “Bukan. Nasib sialmu.”
Lim Sian-ji tidak mengerti. “Mengapa aku yang bernasib
sial?”
Jawab Sun Sio-ang, “Walaupun kata-kata yang keluar
dari mulutku sangat keras, seranganku tidak akan
sejahat perkataanku. Aku tidak pernah bermaksud
membunuhmu. Hanya ingin sedikit melukaimu untuk
memberimu pelajaran.”
Tanya Lim Sian-ji lagi, “Jadi maksudmu, nasibku baik,
bukan?”
Kata Sun Sio-ang, “Jika aku melukaimu dan ada orang
lain yang datang membunuhmu, pasti aku tidak akan
membiarkannya, bukan?”
Lalu ia tertawa dan melanjutkan, “Tapi jika sekarang ada
orang yang datang dan membunuhmu, aku tidak peduli
sama sekali.”
Sebelum kalimatnya selesai, Lim Sian-ji sudah menoleh
cepat ke belakangnya.
Dalam situasi tertentu, reaksi Lim Sian-ji tidak lebih
lambat daripada Li Sun-Hoan ataupun A Fei.

1229
Ia memandang menyelidik ke sekitarnya. Ke setiap arah,
ke setiap sudut yang gelap.
Namun ia tidak melihat siapapun juga.
Sun Sio-ang meraih tangan Li Sun-Hoan dan berkata,
“Ayo kita pergi. Aku tidak suka melihat orang dibunuh.”
Tanya Lim Sian-ji cepat, “Maksudmu, ada orang di sini
yang ingin membunuhku?”
Sun Sio-ang balik bertanya, “Kapan aku bilang begitu?”
Lim Sian-ji terus mendesak, “Di mana orang itu? Apakah
kau melihatnya?”
Sun Sio-ang tidak menghiraukannya.
Kini Lim Sian-ji mulai menjadi panik dan berkata lagi,
“Aku tidak melihat orang lain di sini.”
Sahut Sun Sio-ang dingin, “Sudah tentu kau tidak melihat
siapapun. Waktu kau melihatnya, itu sudah terlambat.”
Tanya Lim Sian-ji gugup, “Jika aku tidak bisa melihatnya,
bagaimana kau bisa melihatnya?”
Jawab Sun Sio-ang tenang, “Karena bukan aku yang
ingin dibunuhnya.”
Ia tersenyum dan menambahkan, “Sudah pasti mereka
tidak ingin melihatmu jika mereka ingin membunuhmu.

1230
Karena setelah mereka melihatmu, mana mungkin
mereka sanggup membunuhmu?”
“Si….Siapakah mereka itu?”
“Bagaimana aku bisa tahu siapa yang ingin
membunuhmu? Seharusnya kau lebih tahu.”
Lim Sian-ji masih terus menoleh kiri kanan depan
belakang. Matanya mulai memancarkan rasa ketakutan.
Padahal dia hampir-hampir tidak pernah merasa takut.
Karena ia begitu yakin, bahwa ia pasti dapat membujuk
orang yang ingin membunuhnya untuk membatalkan niat
mereka.
Namun kini, melihat orang yang ingin membunuhnya pun
tidak bisa. Orang itu pun tidak ingin melihatnya.
Senjatanya yang satu-satunya telah dirampas.
Kata Sun Sio-ang, “Jangan bilang kau tidak tahu siapa
yang ingin membunuhmu? Ataukah karena terlalu banyak
orang yang menginginkan kematianmu?”
Perasaan Lim Sian-ji sangat galau dan ia mulai menyeka
peluh di dahinya.
Biasanya, setiap tindakannya, setiap gerakannya, selalu
menggoda dan merayu.
Namun kini, cara ia menyeka peluhnya pun terlihat
sangat menggelikan.

1231
Jika kau ingin menakut-nakuti seseorang, cara yang
terbaik adalah dengan membangkitkan rasa takut dalam
hati mereka sendiri. Dengan begitu, tanpa kau
menggerakkan seruas jaripun, mereka bisa ketakutan
setengah mati.
Li Sun-Hoan memandang Sun Sio-ang, hampir tidak bisa
menahan tawanya.
Saat itu, ia baru menyadari bahwa Sun Sio-ang bukan
anak-anak lagi. Dalam segala hal, ia telah menjadi
seorang wanita dewasa.
Hanya seorang wanita dewasa yang dapat mengatasi
seorang wanita dewasa.
Bab 72. Sifat Dasar Manusia, Tidak Bagus Tidak
Juga Jelek
Walaupun kedua wanita ini tidak menggerakkan jari
mereka sedikit pun, Lim Sian-ji dan Sun Sio-ang telah
melewati dua pertarungan besar.
Ini adalah adu kecerdikan, bukan adu otot.
Lim Sian-ji telah memenangkan pertarungan yang
pertama.
Ia memahami kelemahan seorang wanita, dan ia tahu
bagaimana cara memanfaatkannya demi keuntungannya.
Pertarungan yang kedua jelas dimenangkan oleh Sun
Sio-ang.

1232
Ia pun menang dengan cara yang sama.
Ia tahu bahwa wanita itu selalu curiga, curiga akan
segala sesuatu.
Kecurigaan akan berbuah ketakutan.
Jika Sun Sio-ang adalah seorang laki-laki, ia pasti
langsung membunuh Lim Sian-ji begitu saja.
Jika Lim Sian-ji adalah seorang laki-laki, apapun yang
dikatakan Sun Sio-ang tidak akan digubrisnya, dan dia
sudah pergi sejak lama.
Hanya karena keduanya adalah wanita, maka inilah yang
terjadi.
Jika seorang wanita dan seorang pria bermaksud
mengerjakan hal yang sama, apapun juga itu, cara yang
mereka pilih selalu akan berbeda. Hasilnya pun akan
berbeda.
Sama halnya dengan duel.
Ketika dua wanita berduel, duel itu tidak akan
berlangsung berat, bertenaga dan penuh semangat
seperti duel laki-laki. Duel wanita lebih kompleks, penuh
gaya, dan menarik.
Karena itulah, pasti juga lebih banyak kejutan dan
variasinya.

1233
Perubahan dan variasi dalam duel mereka tidak sama
dengan ilmu silat. Perubahan dan variasinya lebih cepat
dan lebih rumit.
Sayang sekali perubahan dan variasi ini tidak kasat mata.
Jika seseorang dapat melihat variasi yang begitu
kompleks dalam pikiran seorang wanita, orang itu baru
akan menyadari bahwa duel wanita jauh lebih menarik
daripada duel laki-laki.
Wanita memanglah wanita, dan mereka akan selalu
berbeda dari laki-laki.
Siapapun yang mengingkarinya adalah orang bodoh.
Ini adalah pemikiran yang begitu logis, juga sangat
sederhana.
Anehnya, masih banyak orang di dunia ini yang belum
juga memahaminya.
Sun Sio-ang terus menarik tangan Li Sun-Hoan.
Lim Sian-ji mengikuti mereka dari belakang.
Kata Sun Sio-ang, “Kami punya tujuan sendiri, kau punya
tujuan sendiri. Mengapa terus mengikuti kami?”
“A….Aku juga ingin menjumpai A Fei,” sahut Lim Sian-ji
terbata-bata.

1234
“Buat apa kau menemuinya? Apa belum cukup kau
menyakitinya?”
“Aku hanya ingin…..”
Sun Sio-ang memotong cepat, “Kami tidak akan
membiarkanmu menemuinya.”
Sahut Lim Sian-ji, “Aku hanya akan melihat dari jauh.
Terserah apakah dia mau menemui aku atau tidak.”
“Keputusannya ada padamu. Jika kau memang ingin
mengikuti kami, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya
saja….karena kaulah yang memilih untuk mengikuti kami,
jangan menyesal kemudian.”
“Aku tidak pernah menyesali perbuatanku.”
Sun Sio-ang tertawa tiba-tiba dan berkata, “Lihat,
bukankah tadi aku sudah bilang bahwa ia pasti akan
mengikuti kita. Tebakanku selalu tepat.”
Ia berbicara pada Li Sun-Hoan.
Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata, “Kau memang ingin
dia mengikuti kita.”
“Sudah tentu.”
“Kenapa?”
“Tadi aku tidak menemukan cara untuk mengatasinya.
Aku hanya bisa menunggu kesempatan berikutnya. Jika

1235
ia tidak mengikuti kita, bagaimana aku bisa mendapatkan
kesempatan itu?”
Kata Li Sun-Hoan, “Kau tidak perlu menunggu.
Seharusnya sejak tadi kau serang saja dia. Apapun yang
dikatakannya, tidak usah kau pedulikan.”
Sahut Sun Sio-ang, “Biasanya lelaki berkata ‘Janji itu
harganya lebih dari segunung emas’. Apa kau pikir
wanita bisa ingkar janji begitu saja seperti kentut?”
“Namun bagaimana kau bisa tahu kalau ia pasti akan
mengikuti kita?”
“Karena ia ingin perLindungan kita. Ia tahu, dengan
berada dekat Li Tamhoa, siapapun yang ingin
membunuhnya harus berpikir dua kali.”
Sun Sio-ang tersenyum dan menambahkan, “Inilah yang
disebut ‘Rubah pura-pura jadi harimau’. Atau dengan
kata lain, ‘Anjing bersembunyi di belakang manusia’.”
Kata Li Sun-Hoan, “Keduanya tidak kedengaran enak di
telinga.”
Kata Sun Sio-ang datar, “Jika orang memilih untuk
berbuat begini, bagaimana pun tidak enak
kedengarannya, dia hanya bisa mendengarkan.”
Sudah tentu, Lim Sian-ji dapat mendengar percakapan
mereka.
Sun Sio-ang sengaja membiarkan dia mendengarnya.

1236
Namun Lim Sian-ji pura-pura tidak dengar. Ia pun tidak
berkata apa-apa.
Seolah-olah tiba-tiba ia menjadi bisu-tuli.
Tidaklah mudah berpura-pura menjadi bisu-tuli.
Tiba-tiba Sun Sio-ang mengganti pembicaraan. Katanya,
“Tahukah kau apa yang terjadi di antara Liong Siau-hun
dan Siangkoan Kim-hong?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Aku mendengarnya….kau dan
kakekmu datang karena peristiwa itu.”
“Betul. Karena kami tahu kami bisa bertemu dengan
banyak orang di sana.”
Ia menoleh, memandang Li Sun-Hoan dan berkata,
“Namun yang paling utama, aku tahu bahwa kau pasti
datang.”
Li Sun-Hoan balas memandangnya. Tiba-tiba rasa hangat
menjalari hatinya, seolah-olah ia baru saja minum arak
yang terlezat.
Sudah sangat lama ia tidak pernah merasa seperti ini.
Sun Sio-ang merasa seakan-akan berada di kahyangan
saat Li Sun-Hoan memandang langsung ke bola matanya.
Lalu Li Sun-Hoan berkata, “Jika bukan karena kau dan
kakekmu, mungkin aku sudah….”

1237
Sun Sio-ang memotong dengan cepat, “Siangkoan Kimhonglah
yang pasti berakhir dalam peti mati itu.”
Li Sun-Hoan tertawa kecil, dan tidak melanjutkan
pembicaraan ini lagi.
Ia tahu, cepat atau lambat, ia harus berhadapan dengan
Siangkoan Kim-hong. Namun ia tidak suka
membicarakannya.
Ia tidak suka memikirkannya terlalu sering. Karena jika ia
sering-sering memikirkannya, ia akan menjadi kuatir,
konsentrasinya akan terbelah, dan kemungkinannya
untuk menang menjadi lebih tipis lagi.
Kata Sun Sio-ang, “Waktu berhadapan dengan orang
seperti Siangkoan Kim-hong, jangan pikirkan masalah
kehormatan. Jika kau menyerangnya saat ia baru saja
melihat mayat Siangkoan Hui, kau pasti sudah
membunuhnya.”
“Belum pasti,” kata Li Sun-Hoan.
“Belum pasti? Kau pikir pikirannya tidak terpecah saat
melihat anak tunggalnya sudah menjadi mayat?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Darah memang lebih kental
daripada air. Siangkoan Kim-hong masih punya rasa
kemanusiaan dalam dirinya.”
“Lalu mengapa kau tidak menyerangnya saat itu? Kau
kan tahu ia belum tentu akan membalas rasa hormat dan
keadilanmu dengan cara yang sama.”

1238
“Aku dan dia tidak dapat hidup bersama dalam dunia ini.
Tentu saja tidak perlu ada rasa hormat di antara kami
berdua.”
“Lalu mengapa….”
Li Sun-Hoan segera memotongnya dengan tertawa, “Aku
tidak menyerangnya karena aku masih menunggu
kesempatan yang baik.”
Kata Sun Sio-ang, “Namun kesempatan itu adalah
kesempatan yang terbaik yang akan pernah ada.”
“Kau salah.”
“Hah?”
“Walaupun pikirannya terpecah saat melihat anaknya
mati, kesedihan dan kemarahan pun pasti meluap-luap
dalam hatinya. Jika aku menyerangnya saat itu, ia pasti
melampiaskan seluruh kesedihan dan kemarahannya
padaku!”
Li Sun-Hoan mendesah dan melanjutkan lagi, “Ketika
seseorang merasa sangat berduka, kekuatan mereka
bukan saja akan bertambah, semangat dan keberanian
mereka pun akan lebih dari biasanya. Jika saat itu
Siangkoan Kim-hong balas menyerang, aku tidak yakin
aku mampu menahan serangannya.”
Sun Sio-ang tersenyum padanya dan berkata, “Jadi
ternyata kau tidak begitu terhormat seperti yang kupikir.
Kau bisa juga main curang.”

1239
Li Sun-Hoan pun tersenyum. “Jika aku begitu terhormat
dan gagah seperti yang dipikir orang-orang, aku mungkin
sudah mati delapan kali.”
“Jika Siangkoan Kim-hong tahu maksudmu yang
sebenarnya, ia pasti menyesal telah minum cawan arak
itu bersamamu.”
“Ia tidak akan menyesal.”
“Mengapa?”
Sahut Li Sun-Hoan, “Karena ia mengerti maksudku yang
sebenarnya.”
“Lalu mengapa ia mau minum bersamamu?”
“Ia minum bersamaku bukan untuk menghormati
keadilan. Dalam pandangannya, orang yang terhormat
dan orang yang adil hanyalah orang-orang tolol.”
Tanya Sun Sio-ang, “Lalu apa alasannya?”
“Karena ia tahu maksudku yang sebenarnya, ia tahu
bahwa aku bukan orang tolol.”
“Ia tahu bahwa kau pun seperti dia. Kau bisa menunggu,
menunggu untuk saat yang baik, menunggu kesempatan
yang sempurna. Itukah sebabnya ia minum
bersamamu?”
“Ya.”

1240
Kata Sun Sio-ang lagi, “Ia merasa bahwa kalian berdua
sebenarnya sangat mirip, maka ia mengagumimu.
Biasanya kita mengagumi orang yang mirip dengan kita,
karena jauh dalam lubuk hati kita, kita mengagumi diri
kita sendiri.”
“Uraian yang sangat bagus. Aku kagum kau dapat
memahami hal-hal seperti ini dalam usiamu.”
Tanya Sun Sio-ang, “Namun, benarkah antara kau dan
dia ada banyak kesamaan?”
“Dalam hal-hal tertentu, ya. Namun karena kami berdua
tumbuh dalam Lingkungan yang berbeda dan kami pun
menjumpai orang-orang yang berbeda, mengalami
peristiwa yang berbeda, kami menjadi dua pribadi yang
sangat berbeda pula.”
Ia mendesah dan menambahkan, “Ada orang yang bilang
bahwa sifat dasar manusia itu baik, ada yang bilang
jahat. Menurutku, kita tidak dilahirkan baik atau jahat.
Siapa diri kita, dan apakah kita ini baik atau jahat,
ditentukan oleh apa yang kita perbuat dalam hidup ini.”
Kata Sun Sio-ang, “Sepertinya kau bukan hanya mengerti
tentang orang lain, namun kau pun mengerti mengenai
dirimu sendiri dengan baik.”
Sahut Li Sun-Hoan, “Bukan hal yang mudah untu
mengerti diri kita sendiri seutuhnya.”
Wajahnya menjadi sedikit muram. Secercah rasa pedih
dan duka terbayang di matanya.

1241
Sun Sio-ang mengeluh dan berkata, “Jika seseorang ingin
memahami dirinya sendiri baik-baik, mereka harus
melewati lautan kesedihan dan kesengsaraan. Benarkah
begitu?”
“Betul sekali.”
“Kalau begitu, aku tidak ingin memahami diriku sendiri.
Semakin aku mengerti diriku sendiri, semakin banyak
duka dan derita yang harus kulalui. Jika aku tidak
memahami diriku sama sekali, aku pasti adalah orang
yang paling berbahagia.”
Kali ini, Li Sun-Hoanlah yang mengganti pembicaraan.
“Waktu Siangkoan Kim-hong bersulang untukku, apakah
kau dan kakekmu masih di sana?”
“Tidak, kami sudah pergi. Kami mendengar ceritanya dari
orang lain.”
Ia tersenyum dan melanjutkan, “Kau dan Siangkoan Kimhong
sudah menjadi orang terkenal sekarang. Apapun
yang kau lakukan akan menjadi berita besar. Dalam kota
ini saja, aku berani bertaruh ada ratusan ribu orang yang
sedang membicarakanmu pada detik ini. Kau percaya?”
Sahut Li Sun-Hoan, “Itulah sebabnya aku sangat
mengagumi kakekmu. Perbuatannya seperti awan yang
melayang, pikirannya seperti air yang mengalir. Ia bebas
melakukan apapun yang diinginkannya dan tidak pernah
dibebani oleh segudang kekuatiran. Orang semacam itu
sungguh mengagumkan.”

1242
Kata Sun Sio-ang, “Ia memang bisa melihat jauh ke
depan.”
Kembali Sun Sio-ang bertanya hal yang lain, “Tahukah
kau siapa yang mengirim peti mati itu?”
Jawab Li Sun-Hoan, “Aku tidak bisa menebak.”
“Bukan orang yang membunuh Siangkoan Hui?”
Sun Sio-ang tahu siapa pembunuh Siangkoan Hui.
Namun Lim Sian-ji tidak tahu. Ia diam saja selama itu,
namun ia mendengarkan pembicaraan ini dengan
seksama. Ia sangat berharap salah satu dari mereka
akan menyebutkan siapa pembunuhnya.
Jawab Li Sun-Hoan, “Mungkin juga orang yang sama.
Hanya beberapa orang saja yang tahu di mana mayat
Siangkoan Hui dikuburkan.”
Tanya Sun Sio-ang, “Menurutmu, mengapa orang itu
berbuat demikian?”
“Karena ia ingin menakut-nakuti Siangkoan Kim-hong.”
“Orang itu juga membenci Siangkoan Kim-hong?”
Li Sun-Hoan terdiam sesaat, lalu berkata, “Mungkin saja
orang itu tidak membenci Siangkoan Kim-hong. Mungkin
orang itu melakukannya untuk memberi bantuan
Siangkoan Kim-hong setelah ia jatuh.”

1243
“Aku tidak mengerti. Jika orang itu ingin membantu
Siangkoan Kim-hong, mengapa ia harus menakutnakutinya
terlebih dahulu?”
Kata Li Sun-Hoan, “Mungkin juga orang itu ingin
Siangkoan Kim-hong menyesali keputusannya.”
Sun Sio-ang mengeluh dan berkata, “Maksud hati
manusia sungguh sulit dipahami, lebih rumit daripada
apapun juga di muka bumi ini.”
“Betul. Pikiran manusia dan sifat dasar manusia adalah
dua hal yang paling sulit dimengerti dalam hidup ini.
Lebih rumit daripada ilmu silat yang paling hebat
sekalipun.”
Lalu Li Sun-Hoan menambahkan lagi, “Namun jika kau
mengerti sifat dasar manusia, kau bisa mencapai puncak
ilmu silat. Karena semua hal dalam dunia ini
berhubungan dengan sifat dasar manusia. Demikian juga
ilmu silat.”
Kalimat yang bijak ini terlalu dalam untuk dapat
dimengerti sepenuhnya oleh Sun Sio-ang.
Entah ia mengerti perkataan Li Sun-Hoan atau tidak,
namun ia terdiam cukup lama. Akhirnya ia berkata, “Aku
tidak peduli apakah aku mengerti akan ini dan itu. Aku
hanya ingin mengerti tentang dirimu.”
Matanya tertuju pada Li Sun-Hoan. Dalam tatapannya,
terkandung rasa kagum dan kepercayaan yang penuh.

1244
Seakan-akan berkata bahwa Li Sun-Hoanlah satu-satunya
orang tempat ia membuka hatinya lebar-lebar.
Kembali Li Sun-Hoan merasa hatinya dipenuhi
kehangatan. Ia sungguh ingin membelai wajahnya yang
cantik.
Namun tentu saja ia tidak melakukannya.
Ia tidak bisa.
Perlahan dipalingkannya wajahnya, dan mulai terbatuk
kecil.
Sun Sio-ang masih menatapnya lekat-lekat, menunggu
jawabannya. Sedikit demi sedikit, harapan mulai pupus
dari matanya. Katanya, “Tapi kelihatannya kau takut
membiarkan orang mengerti akan dirimu. Kau terusmenerus
berusaha menggagalkannya.”
“Takut? Takut apa?” tanya Li Sun-Hoan.
“Takut kalau ada orang lain yang jatuh cinta padamu.”
Dan Sun Sio-ang menambahkan, “Karena siapapun yang
sungguh-sungguh memahamimu pasti akan jatuh cinta
padamu. Bagimu, lebih baik orang membencimu daripada
jatuh cinta padamu. Benar kan?”
Sahut Li Sun-Hoan sambil tertawa, “Jaman memang
sudah berubah. Gadis-gadis muda dulu tidak pernah
bicara tentang ‘cinta’.”

1245
Kata Sun Sio-ang, “Dan mungkin gadis-gadis sekarang
pun tidak. Tapi aku tidak peduli di jaman apa aku
dilahirkan, apakah seratus tahun yang lalu atau seribu
tahun yang akan lalu. Apa yang kurasakan dalam hatiku,
akan kunyatakan dengan mulutku.”
Di jaman apapun juga, pasti ada orang-orang seperti dia.
Orang-orang ini tidak takut berbicara, tidak takut
bertindak, mencintai, membenci.
Mungkin karena mereka sedikit lebih maju dari
jamannya, maka orang lain menganggap mereka aneh
atau bahkan sedikit tidak waras.
Namun mereka tidak akan peduli. Apapun pendapat
orang lain akan mereka, tidak pernah mereka pusingkan.
Malam itu malam yang berkabut.
Walaupun masih musim dingin, kabut tipis membuat
seolah-olah musim semi telah tiba.
Sun Sio-ang berharap bahwa jalan berkabut ini tidak
akan pernah berakhir.
Awalnya Li Sun-Hoan sangat berharap bisa segera
bertemu dengan A Fei, namun kini rasanya tidak begitu
mendesak lagi.
Dua tahun belakangan ini, perasaannya sungguh
tertekan. Seakan-akan ada belenggu yang tidak kasat

1246
mata yang mengungkung dirinya, sampai-sampai
bernafas pun terasa sulit.
Hanya beberapa hari belakangan saja, saat bersama Sun
Sio-ang, ia merasa lega.
Ia mulai merasa bahwa gadis ini memahami dirinya, lebih
daripada yang dapat dibayangkannya.
Jika bisa melewatkan waktu dengan seseorang yang bisa
memahami diri kita, inilah waktu yang sangat berharga.
Namun Li Sun-Hoan sudah ingin lari lagi.
‘Kau lebih suka orang membencimu daripada jatuh cinta
padamu. Benar kan?’
Hati Li Sun-Hoan mulai terasa perih.
Bukannya ia tidak mau, tapi ia tidak bisa.
Setiap orang punya masalah emosional. Tidak ada orang
lain yang bisa membuatnya dapat mengatasi masalah itu,
kecuali dirinya sendiri.
Itulah problem Li Sun-Hoan. Dan itulah problem A Fei.
Apakah masalah emosional ini akan terus menghantui
mereka selama-lamanya? Apakah mereka akan terus
membawa kenangan pahit dalam hidup mereka sampai
ke liang kubur?

1247
Tiba-tiba Sun Sio-ang berhenti mengoceh dan berkata
singkat, “Sudah sampai.”
Jalan itu seakan-akan tidak berujung. Ada sebuah
pondok kecil di tepi jalan. Cahaya lentera terlihat dari
jendela kecil di sisi pondok itu.
Cahaya lentera itu sangat terang. Pondok sekecil itu
biasanya tidak diterangi oleh lentera sebesar itu.
Sun Sio-ang menoleh ke arah Lim Sian-ji dan bertanya,
“Kau pasti tahu tempat ini, bukan?”
Tentu saja dia tahu tempat itu. Itu adalah rumahnya dan
A Fei.
Ia menggigit bibirnya dan mengangguk, lalu berjalan
malu-malu ke sana.
Katanya, “A Fei sudah kembali ke sini?”
Tanya Sun Sio-ang, “Kau masih ingin masuk dan
menjumpainya?”
“Bo….Bolehkah aku masuk?”
“Ini kan rumahmu. Jika kau ingin masuk, kau tidak perlu
minta izin orang lain.”
Lim Sian-ji menundukkan kepalanya. “Tapi sekarang…..”
Sun Sio-ang tersenyum dingin. “Tapi sekarang memang
tidak seperti dulu. Kau pasti tahu salah siapa.”

1248
Lalu ia melanjutkan, “Sebenarnya dulu kau bisa hidup
dengan damai dan sejahtera, tapi kau tidak mau. Rumah
ini tidak cukup indah untukmu, lelaki itu tidak cukup baik
untukmu.”
Lim Sian-ji masih menunduk. “Aku tahu bahwa akulah
yang salah. Kalau aku bisa bertahan hidup sampai sekian
lama, itu karena dialah yang melindungi aku. Jika bukan
karena dia, aku pasti sudah lama terbunuh.”
Tanya Sun Sio-ang dingin, “Kau pikir sekarang ia akan
melindungimu seperti dulu?”
Air mata Lim Sian-ji mulai menggenang, katanya, “Aku
tidak tahu, aku tidak akan menyalahkan dia….”
Lalu ia mengangkat kepalanya dan berkata dengan
tegas, “Aku ingin menjumpainya dan mengatakan dua
hal saja. Lalu aku akan pergi. Permintaanku tidak
berlebihan, bukan? Maukah kalian berdua berjanji
mengabulkannya?”
Jawab Sun Sio-ang, “Bukan aku tidak mau berjanji.
Hanya saja janjimu itu sangat sulit dipercaya.”
“Jika aku tidak pergi setelah mengatakan dua kalimat itu,
silakan kalian mengusirku.”
Sun Sio-ang terdiam. Ia memandang Li Sun-Hoan.
Selama itu, Li Sun-Hoan hanya berdiri tanpa suara. Air
mukanya pun terlihat kosong.

1249
Namun pikirannya sungguh porak-poranda.
Kelemahannya yang utama adalah bahwa ia terlalu
pemaaf. Walaupun sering kali ia merasa bahwa ia tidak
seharusnya mengalah, rasa simpatinya tidak dapat
terbendung.
Banyak orang tahu kelemahannya ini. Dan mereka suka
memanfaatkannya.
Ia sendiripun menyadarinya, namun entah mengapa, ia
tidak bisa berubah.
Walaupun seseorang menyakitinya sepuluh ribu kali, ia
tetap tidak ingin menyakitinya sekali pun juga. Kadangkadang
ia tahu orang itu menipunya, namun ia tetap
membiarkan dirinya ditipu.
Karena ia sungguh yakin bahwa kalau sekali saja,
seseorang berkata jujur padanya, seluruh
pengorbanannya ini tidak sia-sia.
Li Sun-Hoan adalah orang semacam itu. Ada yang
menganggap dia pria sejati, ada yang menganggapnya
tolol sekali. Tapi paling tidak, semua orang setuju, ia
adalah pribadi yang unik.
Paling tidak, ia tidak menyesali perbuatannya.
Ia hampir-hampir tidak pernah membuat orang
berkeringat dingin, sangat jarang membuat orang
mengucurkan darah. Lebih baik keringat dan darahnya
sendirilah yang terkucur.

1250
Namun hal-hal yang dilakukannya selalu membuat orang
mencucurkan air mata.
Air mata kekaguman. Air mata terima kasih.
Sun Sio-ang mengeluh dalam hati.
Ia tahu Li Sun-Hoan tidak akan tega menolak
permintaannya. Mungkin ia tidak pernah menolak
permintaan siapapun dalam hidupnya.
Kata Lim Sian-ji, “Ini adalah terakhir kali aku
menemuinya. Jika ia tahu kalian berdua menghalangi aku
menemuinya untuk terakhir kali, ia akan membenci kalian
berdua seumur hidupnya.”
Sun Sio-ang menggigit bibirnya dan berkata, “Kau hanya
akan mengatakan dua kalimat saja, bukan? Setelah
selesai, kau akan segera pergi?”
“Aku tidak akan tinggal lebih lama. Akankah kubiarkan
kalian mengusirku keluar? Berjanjilah padaku sekali ini
saja, baru aku bisa meninggal dengan tenang.”
Li Sun-Hoan menghela nafas dan berkata, “Biarkanlah dia
masuk. Dua kalimat tidak akan membahayakan dia.”
Bab 73. Kurungan dan Belenggu
Dalam rumah, hawa terasa sangat panas. Empat tiang
api terbakar menjilat-jilat.

1251
Kobaran api memanasi keempat dinding rumah dan
langit-langit hingga membara.
Wajah A Fei terlihat merah padam. Sekujur tubuhnya pun
merah padam.
Ia berada di tengah-tengah keempat tiang api itu.
Dadanya telanjang. Ia hanya mengenakan celana yang
sudah lusuh.
Celananya basah kuyup oleh air.
Keringatnya mengucur keluar dengan deras dan nafasnya
memburu.
Seluruh tubuhnya terlihat sangat lelah, bahkan
kelihatannya ia hampir semaput.
Seorang tua berambut putih terlihat duduk di salah satu
pojok rumah itu sambil mengisap pipanya.
Asap putih mengalir keluar dari lubang hidungnya dan
memenuhi pojok rumah itu dengan kabut tipis.
Ia memang orang yang aneh.
Tidak ada yang tahu dari mana dia datang, tidak ada
yang tahu ke mana ia akan pergi.
Sebenarnya, bahkan tidak ada yang tahu siapa dia
sebenarnya. Mungkin ia hanya seorang tukang cerita
yang miskin.

1252
Atau mungkin ia adalah ‘Si Bijak dari Surga’ yang tiada
tandingannya!
Siapapun dia, ialah yang pertama kali terlihat saat orang
memasuki pondok kecil itu.
Mata A Fei terpejam. Ia tidak menyadari ada orang yang
masuk ke situ.
Sun Sio-ang terkejut melihatnya dan berseru, “Kakek,
apa yang kau lakukan?”
Mata Tuan Sun pun terpejam. Ia mengisap pipanya sekali
dan menghembuskan segulung uap putih dari mulutnya.
Jawabnya, “Aku sedang mengukusnya.”
Mata Sun Sio-ang makin terbelalak. Katanya,
“Mengukusnya? Memangnya dia bakpao atau kepiting?
Buat apa Kakek mengukusnya?”
A Fei benar-benar kelihatan seperti kepiting yang dikukus
hidup-hidup.
Tuan Sun tersenyum dan berkata, “Aku mengukusnya
karena aku ingin memaksa seluruh alkohol dalam
tubuhnya menguap, supaya ia bisa segera sadar.”
Lalu matanya beralih pada Li Sun-Hoan dan berkata,
“Aku juga sedang berusaha memompa semangat ke
dalam pembuluh darahnya, supaya ia bisa menjadi
manusia seutuhnya lagi.”

1253
Li Sun-Hoan tersenyum dan berkata, “Kalau begitu,
mungkin berikutnya adalah giliranku untuk dikukus. Tapi
takutnya, setelah semua alkohol dalam tubuhku
menguap, aku ternyata tinggal kulit saja.”
Kata Tuan Sun, “Jadi selain arak, tidak ada yang lain
dalam tubuhmu itu?”
Li Sun-Hoan mendesah dan berkata, “Mungkin juga
perutku ini penuh dengan kesempatan yang buruk.”
Tuan Sun tertawa dan menjawab, “Bagus. Jika perutmu
itu tidak penuh dengan pengetahuan, bagaimana
mungkin perkataan yang begitu dalam keluar dari
mulutmu.”
Tiba-tiba ia berhenti tertawa dan berkata, “Sebenarnya
sudah lama juga aku ingin mengukusmu. Aku ingin tahu,
apa lagi yang ada dalam tubuhmu selain arak dan
pengetahuan. Aku ingin tahu apa yang digunakan oleh
Tuhan yang di Surga untuk membentuk orang seperti
engkau.”
“Setelah itu mau diapakan?” tanya Sun Sio-ang.
“Setelah itu aku ingin mengumpulkan semua orang
dalam dunia ini dan menjejalkannya apapun yang
kutemukan dalam tubuhnya ke dalam perut mereka.”
“Maksud Kakek, supaya semua orang sedikit banyak
menjadi serupa dengan dia?”
“Bukan hanya sedikit, makin banyak makin baik.”

1254
Tanya Sun Sio-ang, “Bukankah dengan demikian semua
orang akan menjadi seperti dia?”
Jawab Tuan Sun, “Apa salahnya jika semua orang
menjadi seperti dia?”
“Ada yang salah.”
“Apanya yang salah?”
Sun Sio-ang menundukkan kepalanya dan terdiam.
Kakek dan cucu ini memang selalu berbicara dalam
bentuk tanya jawab. Orang akan merasa sulit untuk
menyela pembicaraan mereka.
Baru sekarang Li Sun-Hoan punya kesempatan untuk
berbicara.
“Cianpwe, jika kau ingin menjadikan seluruh dunia persis
seperti aku, rasanya hanya ada satu jenis orang yang
akan setuju.”
“Jenis orang bagaimana?” tanya Tuan Sun.
“Penjual arak,” jawab Li Sun-Hoan.
Tuan Sun tersenyum dan berkata, “Dalam pandanganku,
hanya ada satu jenis orang yang tidak akan setuju.”
“Siapa?” tanya Sun Sio-ang.

1255
Namun segera setelah pertanyaan itu keluar dari
mulutnya, ingin sekali kata itu ditariknya kembali.
Ia sudah tahu apa jawaban kakeknya.
Kakeknya tersenyum padanya dan menyahut, “Kau.”
Wajah Sun Sio-ang langsung bersemu merah. Ia
menundukkan kepalanya dan berkata dengan gugup,
“Meng….Mengapa aku tidak setuju?”
Jawab kakeknya sambil tersenyum, “Jika semua orang di
dunia ini menjadi persis sama dengan dia, kau jadi tidak
tahu lagi siapa yang kau inginkan.”
Sun Sio-ang langsung menoleh menyembunyikan
wajahnya yang merah padam bagai bara api.
Apakah hatinya pun membara bagai api?
Api yang membara dalam hati perawan muda. Tuan Sun
tergelak dan kembali mengisap pipanya.
Seakan-akan ia tidak melihat Lim Sian-ji dalam ruangan
itu sama sekali. Mungkin ia berusaha mengacuhkannya,
sebab tidak diliriknya wanita itu sekalipun juga. Ia juga
tidak menyadari bahwa pipanya sudah mati.
Tiba-tiba ruangan itu menjadi hening. Satu-satunya suara
yang terdengar adalah letikan bunga api pada tiang api
yang berkobar di situ.
Lim Sian-ji berjalan perlahan menuju ke depan A Fei.

1256
Matanya hanya tertuju pada A Fei.
Cahaya kobaran api itu menerpa tubuhnya. Wajahnya
menjadi sesaat putih, sesaat merah. Waktu wajahnya
merah, ia kelihatan seperti malaikat yang nakal. Waktu
wajahnya putih, ia tampak seperti hantu penasaran.
Manusia memang selalu punya dua wajah. Sesaat cantik,
sesaat mengerikan.
Tapi Lim Sian-ji berbeda. Ia selalu terlihat cantik.
Jika ia adalah seorang malaikat, pasti ia adalah malaikat
yang tercantik di seluruh nirwana. Jika ia adalah hantu
penasaran, ia pasti adalah hantu penasaran yang
tercantik di seantero neraka.
Namun kelihatannya A Fei sudah bertekad bulat. Secantik
apapun dia, A Fei tidak akan memandangnya lagi.
Lim Sian-ji mendesah dan berkata, “Aku jauh-jauh
datang ke sini karena aku ingin mengatakan dua hal
padamu. Apakah kau mau mendengarnya atau tidak,
terserah padamu.”
A Fei tampak tidak peduli.
Namun mengapa tubuhnya kini terlihat membeku seperti
sepotong kayu?
“Hari itu, aku tahu aku sangat menyakiti hatimu. Namun
aku tidak bisa berbuat lain. Aku tidak ingin kau mati di
tangan Siangkoan Kim-hong. Itu adalah satu-satunya

1257
cara untuk membujuk Siangkoan Kim-hong supaya tidak
membunuhmu.”
A Fei masih tampak acuh.
Namun mengapa tangannya kini terkepal erat?
“Hari ini aku datang bukan untuk memohon supaya kau
mau mengerti, atau supaya kau mau mengampuni aku.
Aku sudah tahu bahwa kita sudah selesai….”
Ia mendesah panjang sebelum meneruskan, “Aku
mengatakannya karena aku ingin hatimu menjadi tenang.
Selamanya, aku hanya ingin kau hidup berbahagia. Itu
saja. Tentang diriku….”
“Sudah cukup,” potong Sun Sio-ang tajam.
Lim Sian-ji tersenyum pahit. Katanya, “Kau benar, aku
sudah bicara terlalu banyak.”
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Lim Sian-ji membalikkan
badannya dan berjalan keluar.
Ia tidak tergesa-gesa, namun ia juga tidak menoleh ke
belakang.
A Fei masih terdiam. Matanya terpejam rapat.
Mata Lim Sian-ji manatap lurus ke pintu.
Li Sun-Hoan menahan nafas.

1258
Ia tahu, jika Lim Sian-ji keluar dari pintu itu, A Fei tidak
akan pernah melihatnya lagi untuk selama-lamanya.
Selama A Fei tidak melihatnya lagi, A Fei bisa mulai
dengan hidup barunya.
Lim Sian-ji pun tahu dengan pasti, jika ia keluar dari
pintu itu, ia sama saja dengan keluar dari dunia ini.
Langkahnya tidak menjadi lambat, namun di matanya
kini tersirat rasa takut. Dalam rumah itu, suasana terang
benderang bagai siang, di luar, malam gelap gulita tanpa
cahaya bulan.
Walaupun bintang bersinar terang di angkasa, Lim Sian-ji
tidak pernah peduli dengan langit malam.
Ia hanya menyukai gemerlap dunia materi.
Ia sangat suka pujian, kata-kata manis, tepuk tangan
meriah. Ia menikmati pesta pora, kelimpahan, dan
kemewahan. Ia suka dicintai, ia suka dibenci.
Ia hanya hidup untuk hal-hal ini.
Tanpa hal-hal ini, walaupun hidup, rasanya seperti hidup
dalam kubur.
Kegelapan malam terasa semakin mendekat.
Rasa takut yang terbersit di matanya kini menjadi
kejengkelan dan kebencian.

1259
Saat itu, rasanya ia ingin membunuh semua orang di
dunia ini.
Namun saat itulah, tiba-tiba A Fei berdiri dan berseru,
“Tunggu dulu.”
‘Tunggu dulu’.
Siapa sangka, dua kata ini dapat mengubah hidup begitu
banyak manusia?
Saat itu, Lim Sian-ji pun berubah total.
Kini matanya penuh dengan pesona, rasa percaya diri,
dan kebanggaan. Ia telah kembali berubah menjadi
seorang dewi yang cantik molek.
Belum pernah ia terlihat secantik ini selama hidupnya.
Kebanggaan dan rasa percaya diri adalah riasan wanita
yang paling sempurna.
Seorang wanita tanpa kebanggaan dan rasa percaya diri,
betapapun cantiknya, tidak akan terlihat menarik sama
sekali.
Sama halnya seperti wanita menganggap pria yang
sukses adalah pria yang sangat menarik.
Kesuksesan adalah riasan pria yang paling sempurna.
Langkah Lim Sian-ji terhenti. Ia tidak menoleh, hanya
mendesah halus.

1260
Desahannya sangat lembut, namun membawa nada yang
begitu sedih dan berduka.
Tidak pernah ada yang mengira desahan seperti itu
dapat keluar dari mulutnya, apalagi dengan
kecantikannya saat itu yang tiada taranya.
Hati Li Sun-Hoan melorot.
Ia tahu bahwa tidak ada musik ataupun suara dalam
dunia ini yang lebih efektif daripada desahan seorang
wanita yang tidak berdaya, untuk menggerakkan hati
seorang pria. Tidak juga suara daun beterbangan di
musim gugur, tidak juga suara aliran air sungai yang
deras, tidak juga suara harpa yang merdu di malam
terang bulan, tidak juga suara suling yang merayu-rayu
dalam kegelapan malam. Tidak ada yang bisa menyaingi
desahannya yang putus asa.
Li Sun-Hoan berharap A Fei menoleh padanya dan
mendengar penjelasannya.
Namun mata A Fei lekat pada Lim Sian-ji. Telinganya
hanya bisa mendengar suaranya.
Kata Lim Sian-ji, “Aku sudah selesai berbicara. Aku tidak
bisa tinggal lebih lama.”
“Mengapa?”
“Karena aku sudah berjanji, aku hanya akan mengatakan
dua kalimat, sesudah itu aku akan pergi.”

1261
“Apakah kau memang ingin pergi?” tanya A Fei
“Kalau aku tidak segera pergi, mereka akan mengusirku.”
“Siapa? Siapa yang akan mengusirmu?”
Tiba-tiba matanya menyala dengan semangat yang baru
dan berseru lantang, “Mengapa kau membiarkan orang
mengusirmu. Ini kan rumahmu.”
Kini Lim Sian-ji menoleh dan menatap A Fei.
Matanya sudah basah oleh air mata. Mata itu begitu
lembut, selembut tetesan embun di pagi hari.
Sampai lama ia hanya menatap A Fei, lalu kembali ia
mendesah dan bertanya, “Apakah ini masih rumahku?”
Sahut A Fei, “Tentu saja. Selama kau mau, ini tetap
adalah rumahmu.”
Hati Lim Sian-ji bergejolak. Ia sudah akan menghambur
ke pelukan A Fei, namun tidak jadi dilakukannya.
Katanya, “Tentu saja aku mau, tapi aku takut yang lain
tidak akan setuju.”
A Fei mengertakkan giginya. “Yang tidak setuju, boleh
keluar.”
Tuan Sun sungguh berhasil membuat darah A Fei
mendidih dan membangkitkan semangatnya. Bukan itu
saja, namun seluruh emosi dalam hatinya pun kini
terangkat ke permukaan.

1262
Jika tubuh seseorang menjadi lemah, perasaannya akan
semakin meluap-luap.
Matanya tidak pernah lepas dari Lim Sian-ji. Lalu
katanya, “Di rumah ini, tidak ada yang berhak
mengusirmu. Engkaulah yang berhak mengusir orang
lain.”
“Aku sungguh ingin hidup bersamamu, tapi mereka juga
adalah teman-temanmu….” Kata Lim Sian-ji sambil
tersenyum. Setetes air mata bergulir ke pipinya.
Sahut A Fei, “Siapapun yang tidak ingin bersahabat
denganmu, bukan sahabatku.”
Kini dikalungkannya lengannya di leher A Fei dan
berkata, “Aku sudah puas hanya mendengar engkau
mengatakannya. Aku tidak peduli apa yang dipikirkan
orang akan aku. Aku tidak peduli bagaimana mereka
memperlakukan aku.”
Pintu masih terbuka lebar.
Perlahan Li Sun-Hoan berjalan ke arah pintu dan keluar
ke kegelapan malam.
Sun Sio-ang mengikutinya. Ia menggigit bibirnya dan
berkata, “Apakah kita pergi begitu saja?”
Li Sun-Hoan tidak menjawab. Kata-kata tidak bisa keluar
dari mulutnya.

1263
Sun Sio-ang berjalan menjajarinya. Katanya dengan
marah, “Aku tidak bisa percaya, ternyata dia adalah
orang semacam itu! Masih juga ia memperlakukan wanita
seperti itu dengan baik…. Tidak tahu terima kasih! Ia
hanya peduli akan cintanya dan tanpa ragu-ragu
mengkhianati sahabat-sahabatnya!”
Li Sun-Hoan mengeluh panjang. Katanya, “Kau salah
menilai dia.”
“Bagaimana salahnya? Apakah menurutmu dia bukan
orang seperti itu?”
“Bukan.”
“Kalau bukan, kenapa dia bertindak seperti barusan?”
Suara Li Sun-Hoan tercekat, “Karena….karena….”
Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tuan Sunlah yang
melanjutkan kalimatnya.
“Ia berbuat begitu karena ia tidak bisa mengendalikan
diri saat ini,” kata Tuan Sun sambil menghela nafas.
Tanya Sun Sio-ang, “Mengapa ia tidak bisa
mengendalikan diri? Tidak ada yang mengancamnya
dengan pisau. Tidak ada yang mengikatnya dengan tali.”
Sahut kakeknya, “Memang benar tidak ada yang
memaksanya. Dia sendirilah yang membelenggu dirinya.”

1264
Tuan Sun kembali mendesah dan menambahkan,
“Sebenarnya, setiap orang memang punya belenggu dan
penjaranya masing-masing.”
Sahut Sun Sio-ang cepat, “Aku tidak punya.”
“Kau pikir kau tidak punya, karena kau masih anak-anak
dan kau belum mengerti.”
Suara Sun Sio-ang meninggi karena kesal, “Kalau aku
dianggap masih anak-anak, ya sudah! Bagaimana
dengan dia?”
Ia menunjuk Li Sun-Hoan dan melanjutkan, “Ia bukan
anak-anak, tapi dia tidak punya belenggu ataupun
penjara.”
Sahut kakeknya sabar, “Tentu saja dia punya.”
Sun Sio-ang memandang Li Sun-Hoan dengan matanya
yang besar. “Benarkah?”
Li Sun-Hoan tersenyum dan menjawab, “Harus kuakui,
aku memang punya.”
Kata Tuan Sun, “Ia tidak pernah menyimpan amarah
dalam hatinya. Walaupun orang menghina dia, atau
menyakitinya, ia tidak pernah marah. Sampai-sampai
orang berpikir ia berbuat begitu karena semangat
hidupnya sudah tidak ada.”
Li Sun-Hoan tersenyum.

1265
“Namun ketika ia tahu bahwa sahabatnya ada dalam
bahaya, ia akan meninggalkan segala sesuatu untuk
menolong mereka. Apakah itu artinya masuk ke dalam air
mendidih, atau berjalan melewati bara api, atau ditusuk
dengan pisau di dadanya, ia akan melakukan
segalanya….”
Tuan Sun mendesah dan melanjutkan lagi, “Karena
‘persahabatan’ adalah penjaranya. Hanya penjara ini
yang dapat mendorong semangatnya ke permukaan.
Hanya penjara ini yang dapat membuat darahnya
bergolak.”
Tanya Sun Sio-ang, “Lalu bagaimana dengan orang
seperti Liong Siau-hun. Apakah ia pun mempunyai
penjara?”
“Tentu saja.”
“Apa penjaranya?”
Jawab Tuan Sun, “Kekayaan dan kekuasaan!”
“Namun ia ingin membunuh Li Sun-Hoan bukan demi
harta atau kekuasaan. Ia tahu pasti bahwa Li Sun-Hoan
bukan orang yang akan bertempur demi harta atau
kekuasaan.”
“Ia ingin membunuh Li Sun-Hoan karena belenggu dalam
hatinya,” sahut kakeknya.
“Belenggu apa?”

1266
Tuan Sun menoleh pada Li Sun-Hoan dan berhenti
bicara.
Wajah Li Sun-Hoan terlihat lebih muram daripada
kegelapan malam.
Sun Sio-ang jadi tahu jawabannya.
Liong Siau-hun membenci Li Sun-Hoan karena ia selalu
curiga, selalu cemburu.
Ia curiga Li Sun-Hoan akan membalas perbuatannya
yang dulu.
Ia cemburu akan kehormatan dan kemurahan hati Li
Sun-Hoan. Karena ia tidak mungkin pernah menjadi
seperti itu.
Kecurigaan dan kecemburuan adalah belenggunya.
Sebagian besar orang dalam dunia juga punya belenggu
ini.
Lalu apakah belenggu A Fei?
Tuan Sun menengadah, memandang bintang-bintang
yang gemerlapan di langit malam. “Belenggu A Fei
berbeda sama sekali dengan belenggu Liong Siau-hun. A
Fei dibelenggu oleh cinta.”
Sun Sio-ang jadi bingung. “Cinta pun dapat dianggap
sebagai belenggu?”

1267
“Tentu saja. Sebenarnya belenggu cinta itu lebih berat
daripada belenggu apapun juga.”
“Tapi, apakah betul ia mencintai Lim Sian-ji? Sepertinya
ia mencintai Lim Sian-ji hanya karena ia tidak dapat
memiliki wanita itu,” kata Sun Sio-ang.
Tidak ada jawaban.
Karena memang tidak ada yang dapat menjawab
pertanyaan ini.
Sun Sio-ang mendesah dan memandang Li Sun-Hoan.
Katanya, “Ia adalah sahabatmu. Kau harus memikirkan
bagaimana caranya membebaskan dia dari belenggunya
itu.”
Perlahan Li Sun-Hoan menoleh ke belakang…..
Cahaya dalam rumah itu sudah padam. Pondok kecil itu
berdiri sendirian di tengah hembusan angin barat dalam
kegelapan malam. Seolah-olah menjadi serupa dengan A
Fei, keras kepala, tahan bantingan, kesepian.
Li Sun-Hoan membungkukkan badannya dan mulai
terbatuk-batuk lagi.
Ia tahu tidak ada yang bisa membantu A Fei lepas dari
belenggunya.
Hanya A Fei sendirilah yang dapat melepaskannya.

1268
Bab 74. Orang yang Paling Murah Hati
Api telah padam.
Namun ada kobaran lain yang di sulut dalam rumah itu.
Sepasang tungkai yang panjang dan langsing terjulur di
sisi ranjang. Tampak semakin mempesona di bawah sinar
bulan yang remang-remang.
Kaki wanita itu sedikit tertekuk saat tubuh sang pria
bergetar.
Tubuh A Fei kaku seperti busur yang ditarik.
Anak panah pun sudah siap di atas busur itu untuk
dibidikkan.
Seorang yang berpengalaman pasti tahu betapa sulitnya
bertahan dalam situasi ketegangan seperti itu.
Lim Sian-ji, tidak perlu diragukan, adalah seseorang yang
berpengalaman.
Ia terus menerus menghindar dan mendorong tubuh A
Fei, sambil terus berbisik, “Tunggu….tunggu….”
A Fei tidak menjawab dengan kata-kata, namun dengan
perbuatan.
Ia tidak bisa lagi menunggu.

1269
Lim Sian-ji menggigit bibirnya dan menatap mata A Fei
yang merah terbelalak.
“Meng….Mengapa kau tidak pernah bertanya padaku?”
“Bertanya apa?”
“Apakah Siangkoan Kim-hong dan aku sudah…..”
Tubuh A Fei mengejang tiba-tiba, seolah-olah seseorang
menendangnya di bawah sana.
“Apakah karena hal itu tidak mengganggumu lagi?” tanya
Lim Sian-ji
A Fei mulai berkeringat. Keringat menandakan
kelemahan seseorang.
Lim Sian-ji mulai melihat kelemahannya.
“Aku tahu, hal itu pasti mengganggumu, karena aku tahu
kau sangat mencintaiku.”
Suara Lim Sian-ji terdengar sedih dan tertekan, namun
matanya memancarkan kesenangan yang sadis. Ia
seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus
di bawah tangannya. Ia seperti Siangkoan Kim-hong
yang memandangnya saat ia berada dalam situasi yang
kurang menguntungkan.
“Jadi apakah kau melakukannya atau tidak?” tanya A Fei
dengan suara parau.

1270
Lim Sian-ji mendesah dan menjawab, “Seekor tikus yang
malang dalam genggaman seekor kucing yang kejam.
Kau tidak perlu menanyakan hasil akhirnya.”
Tiba-tiba A Fei tersungkur. Ia merasa sangat marah,
seluruh tubuhnya terasa lemas.
Lim Sian-ji memandang wajahnya, air matanya seolaholah
akan menetes.
“Aku tahu, hal ini pasti membuatmu sangat marah, tapi
aku tidak dapat menyembunyikannya dari dirimu. Aku
ingin mempersembahkan diriku padamu suci dan tidak
bernoda, tapi….”
Ia merayap ke atas dada A Fei dengan air mata di
wajahnya dan berkata, “Kini aku menyesal menunggu
terlalu lama. Walaupun semuanya itu demi engkau, kini
aku….”
Tiba-tiba A Fei berseru, “Aku tahu bahwa semuanya itu
demi diriku. Oleh sebab itu, aku bersumpah akan
mengembalikan kesucianmu kepadamu.”
“Kesucian tidak mungkin didapatkan kembali!” sahut Lim
Sian-ji.
“Bisa, aku punya cara.”
Ia mengepalkan tangannya dan berkata dengan tegas,
“Jika aku membunuh Siangkoan Kim-hong, jika aku
membunuh orang yang telah menodaimu, maka kau
akan kembali suci bersih…”

1271
Ia berhenti bicara, karena tiba-tiba terdengar suara tawa
melengking dari luar jendela.
“Kalau begitu, kau harus siap membunuh banyak sekali
orang!”
Terdengar suara lain menambahkan, “P-e-l-a-c-u-r itu
selamanya tidak pernah bersih! Selain engkau, semua
lelaki yang pernah melihatnya, pernah juga tidur dengan
dia!”
Suara yang ketiga menambahkan, “Jika kau ingin
membunuh semua orang yang pernah tidur dengan dia,
sekalipun kau bunuh 80 orang sehari, sampai tua pun
kau belum akan selesai!”
Rumah itu memiliki tiga jendela, dan ketiga orang itu
berada di balik tiap-tiap jendela.
Ketiga suara itu berbeda, tapi ada juga kesamaannya
yang aneh.
Melengking dan sember. Siapapun yang mendengarnya
pasti merasa mual.
A Fei segera bangkit berdiri dan menutupi tubuh Lim
Sian-ji dengan selimut. Ia menendang sebuah bantal
yang kemudian menggulingkan sebatang lilin di atas
meja. Dengan suara tajam ia bertanya, “Siapa kalian?”
Sebenarnya ia ingin segera memburu keluar, namun
setelah ia berdiri ia memutuskan untuk tetap berada di
samping Lim Sian-ji.

1272
Ketiga orang di luar sana kembali tertawa tergelak.
“Jangan bilang bahwa kau kuatir kami akan melihat
tubuhnya yang telanjang!”
“Baginya, sudah biasa orang memandang tubuhnya. Ia
malah akan merasa tidak nyaman jika orang tidak
memandang tubuhnya!”
‘Pang’. Ketiga jendela itu terpentang.
Tiga larik cahaya masuk ke dalam ruangan itu, langsung
tertuju pada Lim Sian-ji.
Ketiganya itu adalah Lentera Kongming.
Hanya terlihat cahayanya yang terang, tapi tidak terlihat
dari mana datangnya atau siapa yang memegangnya.
Cahayanya begitu terang menyilaukan, sampai-sampai
orang sulit membuka mata.
Lim Sian-ji menutup matanya dengan tangannya. Selimut
katun yang menutupi tubuhnya perlahan-lahan jatuh,
memperlihatkan kakinya, lalu pahanya….
Ia tidak berusaha menarik selimut itu. Ia memang tidak
takut dilihat orang.
A Fei mengertakkan giginya. Ia merenggut pakaiannya
dan memberikannya kepada Lim Sian-ji. “Pakailah ini.”

1273
Lim Sian-ji memutar bola matanya dan tersenyum
mengejek, “Kenapa? Apakah kau malu dengan tubuhku?”
Walaupun ia telanjang bulat, ia masih dapat tersenyum
penuh percaya diri.
Ia telah menggunakan dua senjatanya yang paling
mematikan.
A Fei membanting kursi ke lantai dan mengoyakkan kaki
kursi itu. Katanya, “Siapa yang berani masuk ke sini akan
mati!”
Terdengar ketiga suara itu tertawa lagi. Kali ini terdengar
dari balik pintu.
“Ia masih ingin membunuh.”
“Dalam kondisinya saat ini, lebih baik ia tidak berpikir
untuk membunuh orang.”
“Ia masih bisa membunuh satu orang….dirinya sendiri!”
Terdengar suara ‘Pang’ sekali lagi. Kini pintu kayu yang
tebal itu telah hancur berkeping-keping.
Serpihan kayu masih beterbangan saat ketiga orang itu
masuk ke dalam.
Ketiganya mengenakan jubah kuning.
Ketiganya mengenakan topi bambu yang terikat erat di
kepala mereka, menutupi wajah mereka.

1274
Ini adalah penampilan khas anggota Kim-ci-pang.
Yang pertama mempunyai rantai emas yang terlibat di
tangannya. Cambuk rantai itu terdiri dari dua bagian
yang dihubungkan oleh sebuah palu besi yang besar.
Yang kedua bersenjatakan golok, yang ketiga
bersenjatakan pedang.
Golok Kepala Setan dan Pedang Pintu Kematian.
Ketiga senjata itu telah siap sedia, seolah-olah mereka
kuatir akan melewatkan kesempatan untuk membunuh.
A Fei tiba-tiba berdiri tanpa bergerak. Ia seperti serigala
kelaparan yang mencium daging segar.
Walaupun reaksinya sudah banyak berkurang dan
kekuatannya sudah melemah, naluri alamiahnya belum
menjadi tumpul.
Ia telah mencium bau darah.
Lim Sian-ji terkikik geli saat berkata, “Ah, ternyata Si
Meteor Kembar Angin dan Hujan, Ketua Cabang Hiang
Siong yang terkenal itu. Sungguh aku merasa
terhormat.”
Palu meteor kembar di tangannya terayun ringan ke
depan ke belakang. Ia tampak teguh dan kokoh bagaikan
gunung batu.

1275
“Apakah Ketua Cabang Xiang datang atas perintah
Siangkoan Kim-hong untuk membunuhku hari ini?” tanya
Lim Sian-ji menantang.
“Tebakanmu memang tepat,” jawab Hiang Siong.
Lim Sian-ji mengeluh dan berkata, “Aku tidak percaya
kalau Siangkoan Kim-hong ingin membunuhku sesegera
ini.”
Sahut Hiang Siong, “Orang yang tidak berguna lagi,
harus mati.”
“Kau salah. Ia tidak ingin membunuhku untuk alasan itu.”
“Hmmm?”
“Ia ingin aku mati karena ia kuatir aku akan menemukan
laki-laki lain dan menodai reputasinya.”
Hiang Siong menjawab dingin, “Perintah Siangkoanpangcu
tidak perlu penjelasan. Hanya perlu
dilaksanakan.”
Lim Sian-ji melirik A Fei sekilas dan berkata, “Kalian
bertiga menerobos masuk ke sini untuk membunuhku,
karena kalian pikir ia tidak bisa lagi melindungi aku.”
Jawab Hiang Siong, “Dia boleh mencoba.”
“Tidak ada gunanya mencoba,” kata yang bersenjatakan
golok sambil tertawa dingin.

1276
“Hmmm?”
“Kau sendiri sudah mengatakan di depan mukanya. Kau
pun tidak percaya bahwa ia dapat melindungimu. Kita
semua pun tahu itu. Apa gunanya mencoba?”
Lim Sian-ji tertawa dan berkata, “Benar. Bahkan saat ini,
melindungi diri sendiri saja dia tidak bisa. Aku hanya
akan mempersulit dia, kecuali…..”
Perlahan ia bangkit berdiri. Tubuhnya yang telanjang
diterangi cahaya lentera dan melanjutkan, “Kalian pikir
aku tidak dapat melindungi diriku sendiri?”
Payudaranya tegak menantang, kakinya lurus jenjang.
Di bawah cahaya lentera, kulitnya tampak putih mulus
bagaikan kain sutra yang mahal.
Memang pantas ia bangga akan kemolekan tubuhnya.
Wajah A Fei berkerut kesakitan. Keringat dingin, hampir
sebesar butiran kacang poLiong mulai mengalir dari
dahinya.
Tangan Lim Sian-ji perlahan bergerak turun membelai
tubuhnya sendiri. Dengan suara serak ia berkata, “Tidak
sayangkah jika kalian bertiga membunuhku?”
Hiang Siong mengeluh dan berkata, “Ada wanita yang
menggunakan tubuhnya untuk membeli barang-barang
tertentu. Waktu memilih minyak wangi, atau mencoba

1277
baju baru, dan mereka tidak malu. Tapi kau sama sekali
berbeda.”
“Tentu saja aku berbeda.”
“Kau jauh lebih murah hati dibandingkan mereka. Kau
menggunakan tubuhmu untuk membayar hal-hal sepele.
Selama hatimu senang, kau akan memuaskan nafsu
pegawai rendahan yang membukakan pintu untukmu,”
kata Hiang Siong.
“Apakah kau ingin minta bayaran?”
Lim Sian-ji berjalan perlahan ke arahnya dan berkata,
“Mari datang dan ambillah. Kalau aku ingin membayar
sedikit upah untukmu, tidak ada yang akan bilang itu
terlalu sedikit.”
Hiang Siong berdiri tegak seperti sebatang pohon.
Lim Sian-ji berjalan ke hadapannya dan mulai menciumi
lehernya.
Namun Hiang Siong menyerang tiba-tiba. Palunya
menghantam dada Lim Sian-ji.
Tubuh Lim Sian-ji terpelanting, dan jatuh tepat di atas
ranjang!
Topi bambu lepas dari kepala Hiang Siong, dan
tampaklah wajahnya.

1278
Seraut wajah putih pucat, penuh kerut merut, tapi tanpa
sehelai rambut atau bulu di wajahnya.
Tiba-tiba Lim Sian-ji tergelak dan berkata, “Tidak heran
kaulah yang dikirim Siangkoan Kim-hong untuk
membunuhku. Kau bukan lelaki, bukan juga perempuan!
Kau setengah lelaki-setengah perempuan. Dasar orang
aneh!”
Hiang Siong menatapnya dingin, tanpa perasaan di
wajahnya. Setelah beberapa saat ia berpaling pada A Fei
dan berkata, “Lebih baik kau pergi dulu.”
“Pergi?” tanya A Fei.
“Jangan bilang kau masih ingin melindungi p-e-l-a-c-u-r
ini.”
A Fei menundukkan kepalanya.
“Sebaiknya kau pergi sekarang. Lebih baik kau tidak
berada di sampingnya saat aku membunuh dia.”
“Kenapa?”
“Karena kau pasti ingin muntah waktu melihatnya,”
jawab Hiang Siong dengan garang.
A Fei terdiam, lalu kembali menundukkan kepalanya.
Lim Sian-ji pun sudah berhenti tertawa. Saat ini, ingin
tertawa pun tidak bisa lagi.

1279
Saat itulah A Fei menyerang!
Naluri A Fei masih amat tajam.
Ia benar-benar memilih saat yang tepat untuk
menyerang.
Sayangnya, gerakannya lambat dan tenaganya lemah.
Selarik cahaya emas berkelebat dan meteor kembar pun
menyambar.
Serpihan kayu kembali beterbangan dan kaki kursi di
tangan A Fei sudah hancur.
“Perintah yang kuterima adalah membunuhnya, bukan
membunuhmu. Kau masih hidup karena aku tidak suka
ikut campur,”kata Hiang Siong dingin.
A Fei menggenggam erat dua serpihan kayu di
tangannya, bagaikan orang yang sekarat berpegangan
pada harapannya yang terakhir.
Tapi harapan apakah ini?
Dulu ia adalah sang pembunuh.
Kini ia tidak bisa lagi membunuh. Bahkan di mata orang
lain, ia pun tidak berharga lagi untuk dibunuh.
Ini tandanya ia tidak berguna lagi di mata orang lain.
Apakah dia mati atau hidup, tidak ada bedanya.

1280
‘Begitu sulit untuk merangkak ke atas, bergitu mudah
untuk jatuh ke bawah’.
Tiba-tiba A Fei teringat saat ia pergi untuk
menyelamatkan Li Sun-Hoan. Saat pertama kali ia beradu
pedang dengan Hing Bu-bing….
Saat itu, tidak ada yang berani meremehkan dia.
Tapi sekarang?
Kejadian itu baru beberapa hari yang lalu saja, namun
rasanya seperti kenangan masa silam.
Suara Hiang Siong pun terdengar seperti datang dari
kejauhan.
“Kalau mau, kau boleh tetap di sini dan menyaksikannya.
Akan kuperlihatkan bagaimana seorang pembunuh
membunuh orang.”
Tiba-tiba sebuah suara yang lain masuk ke dalam
ruangan itu, “Dan kau adalah ahli dalam hal membunuh?
Kurasa kau belum pantas disebut pembunuh!”
Anda sedang membaca artikel tentang Pisau Terbang Li {pendekar Budiman] 3 [Lanjutan Pendekar Baja] Seri Kedua Pisau Terbang dan anda bisa menemukan artikel Pisau Terbang Li {pendekar Budiman] 3 [Lanjutan Pendekar Baja] Seri Kedua Pisau Terbang ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/pisau-terbang-li-pendekar-budiman-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Pisau Terbang Li {pendekar Budiman] 3 [Lanjutan Pendekar Baja] Seri Kedua Pisau Terbang ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Pisau Terbang Li {pendekar Budiman] 3 [Lanjutan Pendekar Baja] Seri Kedua Pisau Terbang sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Pisau Terbang Li {pendekar Budiman] 3 [Lanjutan Pendekar Baja] Seri Kedua Pisau Terbang with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/pisau-terbang-li-pendekar-budiman-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar