CERSIL TJAN ID : Imam Tanpa Bayangan 2

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Kamis, 25 Agustus 2011

CERSIL TJAN ID : Imam Tanpa Bayangan 2
Jilid 4 : Bekas merah darah diatas jidat

SADAR bahwa Ouw-yang Gong adalah seorang manusia yang paling aneh dikolcng langit, serangan lancarkan dalam keadaan gusar tentu luar biasa hebatnya.

Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya tanpa berpikir panjang lagi ia sambar tubuh Pek In Hoei dan bagaikan sebuah tameng lempar tubuh sianak muda itu untuk
menghalangi terjangan Ouw-yang Gong lebih jauh.

Cucu kunyuk! begitu kejam hatimu manusia semacam kau tak boleh dibiarkan hidup lebih lama !"
Sambil membentak orang tua she Ouw yang ini menerjang kemuka semakin cepat.

Song Ci Hauw terdesak mundur kebelakang, setelah melemparkan tubuh Pek In Hoei tadi, sepasang telapaknya berputar kemuka, segenggam jarum lembut berwarna
biru segera disambit kedepan sedang badannya loncat mundur lagi sejauh beberapa tombak.

Ouw-yang Gong menjerit lengking, lima jari tangan kirinya dipeotang lebar-lebar, setelah merandek kebawah ia mumbul keatas, mengikuti gerakan tersebut
tangannya yang lain menyambar tubuh Pek In Hoei.

Pada detik yang bersamaan pula serangan senjata rahasia telah tiba dihadapan mukanya
la bersuit panjang, sepasang kakinya menjejak tanah keras-keras lalu mencelat lama depa ketengah udara, badannya miring kesamping meloloskan diri dari
ancaman Senjata rahasia kemudian berkelebat mengejar kearah Song Ci Piauw.

Tongcu Kadal Biru terdesak terus kebelakang, begitu kakinya menginjak tanah dengan cepat tangannya merogoh kedalam saku dan ambil keluar sebatang seruling
kecil berwarna perak, benda itu segera ditiupnya keras-keras.

Serentetan suara lengkingan yang tinggi dan tajam berkumandang diangkasa, anak murid perguruan Seratus Racun yang bersembunyi dibalik semak belukar segera
pada munculkan diri.

Ouw-yang Gong membentak keras, jenggotnya berkibar kencang bagaikan terembus angin puyuh, huncweenya diputar dengan gerakan menjungkir balikkan jagad ia
hajar lengan kanan Song Ci Piauw.

Tongcu kadal biru yang sedang meniup seruling peraknya sama sekali tidak mengira kalau serangan huncwee dari Ouw-yang Gong bisa datang dengan begitu
cepatnya, tergopoh-gopoh ia miring kesamping meloloskan diri dari ancaman.

Hmmm! kau ingin lari kemana!" jengek Ouw-yang Gong. Huncweenya ditekan kebawah, dari dasar ia tusuk keatas dau dengan telak menghantam persendian lengan kiri
Song Ci Piauw.
Aduuuuh .... Tongcu Kadal Biru menjerit ngeri, darah segar muncrat keempat penjuru, seketika itu juga lengan kirinya batas siku patah jadi dua bagian.
Setelah berhasil membereskan musuhnya, Ouw-yang Gong baru dapat menyaksikan bahwasanya diatas jidat Pek ln Hoei terdapat seekor kadal besar yang sedang
menghisap darah, hatinya terperanjat, buru-buru jari tangannya disentil kemuka.

Sreeeeet......... ! Segulung desiran angin tajam segera menyambar kemuka menghanpiri kadal tersebut hingga mencelat beberapa .ombak jauhnya.

Meski binatang terkutuk itu berhasil dihajar mati, namun diatas jidat Pek In Hoei tepatnya diatas alis si ana k muda itu terti.nggal sebuah bekas darah yang
segar dan amat nyata.

Di bawah serotan sinar sang surya, bekas darah itu kelihatan begitu nyata aneh dan bersinar tajam, membuat wajahnya yang ganteng berubah jadi mengerikan.

Ouw-yang Gong tertegun, lama sekali dia berdiri termangu-mangu . . . mendadak sinar matanya terbentur dengan seekor laba-laba hitam yang masib menggigit
leher sianak muda itu.

Ia menjerit keras, telapaknya menyambar kemuka mencengkeram laba-laba tersebut kemudian digenggamnya kencang-kencang sehingga dalam sekejap mata binatang
berbisa itu hancur lebur.

Setelah menyaksikan pelbagai peristiwa kejam yang diperlihatkan orang-orang perguruan seratus Racun, Ouw-yang Gong. sedang marah semakin naik pitam, napsu
membunuh mulai menyelimuti seluruh wajahnya.

„Keturunan kunyuk yang harus dibunuh

Dan betul-betul berhati kejam dan tidak punya perikemanusiaan" Teriaknya dengan bengis. „Kalian toh sudah tahu kalau bocan ini sama sekali tidak mengerti
ilmu silat, kenapa kamu semua menyiksa dirinya dengan perbuatan begitu keji? Hmmm! ini hari kalau aku tidak ledakkan sarang burung kalian ini hingga rata
dengau tanah tidak akan kutinggalkan tempat ini!"

Sambil mencaci maki dengan kata-kata ang kotor, laksana kilat tangannya bekerja keras menotok jalan darah penting ditubuh Pek In Hoei kemudian membarigkannya
diatas tanah!

Cahaya bengis dan buas yang mengerikan memancar keluar dari balik sepasang matanya yang sipit, wajah yang dasarnya sudah merah kini berubah makin gelap
sehingga mengerikan sekali.

la tarik napas panjang panjang, dari dalam sakunya ambil keluar sebuah kotak sempit lagi panjang, lalu sambil memandang anak murid pergurun seratus racun
yang menyerbu datang sambil berteriak-teriak, serunya gemas :

„Mulai hari ini, aku siorang tua akan membuka lagi pantangan membunuhku

Semenjak lengannya dipatahkas oleh ketukan huncwee Ouw-yang Gong, Tongcu Kadal Biru tidak berani mendekati manusia aneh itu lagi, ia segera menjatuhkan diri
berguling diatas tanah dan ngeloyor pergi kebawah bukit, dia takut kaiau-kalau musuh nya melancarkan serangan lagi dan mencabut jiwanya.

Dalam pada itu Ouw-yang Gong telah tertawa terbahak-bahak dengan seramnya, ia selipkan huncwee gedenya kesisi pinggang lalu membuka ketak kayu ilu dan ambil
keluar biji kelereng sebesar buah kelengkeng yang berwarna hitam pekat.

„Selama tujuh belas tahun aku selalu simpan peluru Pek Lek Cu secara baik2 ! aku rasa kini sudah saatnya bagiku untuk menggunakan benda tersebut Gumamnya
sambil mengawasi anak murid perguruan Seratus racun yang makin mendekat.

Bersamaan dengan suatu bentakan keras, tangannya diayun kemuka .... biji kelereng berwarna hitam pekai itupun laksana kilat meluncur tiga tombak kemuka.

Blmuuummm......... ! suara ledakan dahsyat menggema di seluruh angkasa, bumi bergoncang pasir dan batu beterbangan keudara, hampir separuh bukit itu rontok
dan hancur, hancuran bangkai manusia, cipratan darah segar bertebaran dimana-mana membuat suasana berubah jadi ngeri dan menyeramkan.

Ditengah jeritan jeritan ngeri yang menyayatkan hati, anak murid perguruan Seratus Racun yang beruntung tidak mati sama-sama berteriak ketakutan dan
melarikan diri terbirit-birit.

Ouw-yang Gong tertawa seram, tangan kanannya kembali ambil keluar sebiji peluru Pek Lek Cu

Matanya berubah jadi merah darah, wajahnya hitam menyeramkan, sambil bersuit nyaring ia loncat lima tombak keangkasa dan melesat kedepan, rupanya simanusia
aneh ini siap2 melemparkan pelurunya kembali uniuk meledakkan bangunan-bangunan rumah dibawah bukit.

Sekonyong-konyong.... sesosok bayangan manusia berwarna kuning emas berkelebat lewat, disusul teriakan keras berkumandang diangkasa :

„Ouw-yang Thayhiap, harap kau jangan turun tangan keji1" „Haaaaahh . . . haaaaaah... haa ... sekarang kalian baru suruh aku jangaa turun tangan keji1" Jerit
Ouw-yang Gong sambi! loncat turun keatas tanah. Kalian cucu monyet keturunan kunvuk jika tidak dikasi sedikit kelihaian, teatu kiranya aku siorang tua bisa
dihina dan permainkan seenaknya!" "Ouw-yaug Thayhiap!" pinta Tongcu kelabang Emas Ku Hong dengan wajah ngeri „Harap kau jangan turun tangan keji terhadap
kami . "

„Kentut busuk makmu ! Kalian toh tega Turun tangan keji terhadap seorang bocah yang lemah tak bertenaga serta tidak mengerti akan ilmu silat, kenapa aku
siorang tua harus berlaku sungkan-sungkan terhadap kalian?"

Begitu terbentur dengan sepasang mata lawon yang bengis, buas dan penuh diliputi napsu membunuh, sekujur badan Ku Hong gemetar keras. Ia meraung dahsyat
badannya laksana harimau teriuka menubruk kedepan dengan maksud merampas peluru Pit Leng cu yang ada ditangan Ouw-yang Gong.

Melihat datangnya tubrukan, Ouw-yang Gong genjotkan badanrnya melengos kesamping, diikuti kakinya melancarkan satu tendangan kilat menghantam jalan darahi
Hiat Cong ditubuh musuh.

Gerakan badan Ku Hong merancu tangan kanannya dengan gerakan yang tidak berubah meneruskan sambarannya ketangan Ouw-yang Gong, sementara telapak kirinya
menghantam berubah jadi babatan menghajar kaki lawan yang mengancam dirinya.

Merasakan adanya babatan lawan Ouw-yang Gong putar badannya cepat2 diikut tangan kanannya meraup dengan gerakan setengah busur kemudian menghantam tekuk dan
kaki kiri Ku Hong. „Enyah dari sini teriaknya.

Bruuuk . . . . .! sepasang kaki Ku Hong jadi lemas dan tidak ampun lagi ia jatuh berlutut keatas tanah, menggunakan kesemutan itu Ouw-yang Gong menambahi
lagi dengan sebuah sapuan kilat, badan orang she Ku yang sudah terjatuh, kena ditendang lagi dengan dahsyatnya membuat ia menjerit kemudian terbanting
ketanah dan tidak bangun lagi.

O uw-yang Gong ayun tangannya, peluru Pek Lek cong kembali hendak dilempari, kedepan.
Tiba tiba Thian Go suatu jeritan laitang menggema datang.

Seluruh tubuh Ouw-yang Gong bergetar keras, dengan cepat sinar matanya dialih kearah berasalnya suara tadi.

Tampak seorang nyonya setengah bs dengan memakai jubah abu abu dan membawa tasbeh perlahan-lahan munculkan diri dari balik bukit, meskipun. rambutnya telah
beruban dan wajahnya penuh keriput namun kecantikan wajahnya dikala masih muda masih jelas membekas.

Siauw Hong" gumam Ouw-yang Gong dengan bibir gemetar.

Perlahan-lahan nyonya setengah baya itu berjalan mendekat, tatkala menyaksikan hancuran mayat serta noda darah yang meyelimuti permukaan bumi, ia segera
berang tangannya berseru :

„Omitohud ! siancay... siancay...!"'. „Siauw Hong, kau... kau.,

Nyonya setengah baya itu mendongak, dipandangnya wajah Ouw yang Gong tajam tajam lalu menghela napas panjang.

Thian Go, mengapa sifotmu berubah di berangasan dan kejam?" tegurnya.

Siauw Hong, benarkah kau?"

matanya terbelalak lebar-lebar. , Kau belum mati? kau . . kau masih hidup dan..... dan sudah cukur rambut jadi nikouw?

Nyonya setengah baya itu tertawa getir Aku memang belum mati, tapi . . . hati sudah lama mati . . . Kurang-ajar, cucu monyet manusia kunyuk kalau begitu dia
sudah membohongi aku, dia bilang kau sudah mati! dia... dia... mengapa dia biarkan kau cukur rambut jadi nikouw? kenapa... kenapa Siok Peng pun berkata bahwa
kau sudah mati?".

„Aaaaaaaai... peristiwa masa silam telat berlalu bagaikan asap dilangit, apa gunanya kita ungkap kembali? Thian Go kau sudah tua, tapi watakmu yang
berangasan dan suka marah masih tetap saja seperti sedia kala, bahkan makianmu yang kotorpun tidak berubah juga.

Kena ditegur Ouw yang Gong tertawa jengah.

Bukit dan sungai bisa dirubah, tabiat ma nusia mana bisa diganti? selama hidup beginilah keadaanku, tapi kau . . kau

„Aku sudah cukur rambut jadi nikouw persoalan keduniawian telah lama tak kupikirkan lagi didalam bati.
Ouw yang Gong tertawa pahit.

Siauw Hong! tahukah kau mengapa waktu itu aku mengganti namaku jadi Gong? hlal ini tidak lain karena aku sudah ogah mememikirkan berbagai urusan lain, semua
kejadian kurasakan hampa dan kosong semua

sinar matanya berkilat" dan lebih lebih aku tidak mengira kalau perempuan tercantik dari Tionggoan, Kwee Siauw Hong

Siauw Hong sudah mati" tukas nyonya itu dengan cepat "Gelarku sekarang adalah Ko In, harap kau sebut aku dengan gelar ini aja".

Ia tarik napas panjang, setelah merandek sejenak tambahnya :

Dengan membawa peluruh Pek Lek-cu dari Dewa Peluru Hong Loei kau telah menciptakan pembunuhan yang sadis dan kejam, apakah Giong Lam dia "

Hmmm ! sejak aku mendapatkan tiga butir peluru Pek Lek-cu dan Hong Loei pada tiga puluh tahun berselang, belum pernah sekalipun kugunakan benda tersebut,
tapi sekarang akan kugunakan peluru sakti ini untuk meledakkan seluruh lembah seratus racun hingga rata dengan tanah, aku hendak membalas dendam bagi sakit
hatiku, Siauw Hong! harap kau jangau nasehati diriku lagi!".

Ia berhenti sejenak, kemudian pentang mulutnya lagi dan mulai memaki :

Bukan saja semua cucu buyut kunyuk kunyuk itu yang kubunuh sampai ludus, terutama sekali Giong Lam bangsat tua, bajingan tengik dan anak haram itu akan
kuremas badannya hingga gepeng bagaikan perkedel

Sepasang alis Ko In Nikouw kontan berkc rut kencang.

„Baiklah, kita jangan bicarakan soal Giong Lam. Aku mau tanya kepadamu dendam permusuhan apakah yaug telah terikat antara kau dengan anggota anggota
perguruan seratus racun? apa sebabnya kau hendak mem basmi mereka semua ?".

,Coba kau pikir, toh mereka sudah tahu kalau bocah itu tidak mengerti akan ilmu silat" Teriak Ouw yang Gong sambil menuding Pek In Hoei yang menggeletak
diatas tanah„Tapi apa yang mereka lakukan? mereka siksa bocah itu, aniaya bacah itu dengan kejam. apakah perbuatanmu semacam ini tidak patut dibasmi? apakah
manusia keji seperti itu tak boleh dibunuh?

„Aaaaaaaai! dari dulu aku sudah tahu, jika angkat nama dengan andalkan makhluk ?makhluk beracun, tentu tidak akan terhindar banyak korban berjatuhan
ditangannya, maka diri itu sering aku perintahkan Siok Peng untuk pergi mencari bahan obat obatan dan membuat pilpenawar racun sebanyakbanyaknya .

Dari dalam saku nikouw itu ambil keluar sebuah botol porselen kemudian lambat2 maju kedepaa terusnya

„Thian Go, maukah kau memandang diatas perhubungan kita pada masa silam untuk simpan kembali peluru Pek Lek-cu itu dan berlalu dari selat Seratus Racun?".

Ouw yang Gong mengerutkan sepasang alis nya dalam benaknya terbayang kembali kenangan kenangan pada masa yang silam, lama sekali ia termenung kemudian sambil
menghela napas kakek aneh ini mengangguk.

„Aaaaaaaai baiklah! Memandang diatas wajibmu, kau kuampuni jiwa cucu buyut kunyuk ini".

Omitohod siancay... siancay! Dimana bisa mengampuni jiwa manusia, ampunilah sebanyak banyaknya mari, akupun akan coba menyembuhkan luka yang diderita bocah
itu !'.

Perlahan-lahan Ko In Nikouw berjalan men dekati Pek ln Hoei lalu berjongkok dan ambil keluar sebutir pil Leng Botan dari da lam saku.

Tapi sebelum ia sempat masukkan pil tadi kedalam mulut sianak muda itu, mendadak sinar mukanya berubah hebat, dengan cepat dia bangun berdiri.

Apa yang sudah terjadi?" tanya Ouw yang Gong dengan nada terperanjat.

Apakah orang itu adalah muridmu?".

Ouw yang Gong menggeleng.

Bukan ! apakah itu keracunan hebat dan tidak terlolong lagikah jiwanya ?

Aaaaaaai... mimpipun aku tak peroh menyangka kalau di kolong langit bisa terdapat seorang mauusia yang begini aneh gumam Ko In Nikouw sambil menghela napas
panjang, ia melirik sekejap kearah Ouw yang Gong dan tambahnya. Dipandang dari garis wajahnya. orang ini mempunyai napsu membunuh yang sangat tebal namun
banyak pula terlihat garis garis budiman, sepintas lalu kelihatannya dia punya kecerdasan yang luar biasa tapi tampak juga sangat bodoh sungguh aneh

„Soal itukah yang mengejutkan hatimu?

„Coba kau lihat bekas merah yang terlihat diatas alisnya, sungguh menakutkan sekali sambung Ko ln Nikouw lagi." Dengan adanya bekas merah diatas jidatnya
itu, membuat napsu membunuhnya bertambah tebal, kecerdasan otaknya yang .luar biasa akan melebihi semua orang pun tertera semakin nyata, dikemndian hari dia
pasti akan jadi seoraog gembong iblis yang paling kejam, membunuh orang paling banyak dan menjadi penerbit keonaran didalam dunia persilatan"

„Bekas merah itu bukan bskas alami yang dibawa sejak dia lahir, barusan jidatnya digigit oleh seekor kadal beracun, hisapan binatang terkutuk itulah yang
meninggalkan bekas tersebut, apa yang kau kageti dan takuti? apalagi kejadian-kejadian yang akan datang, darimana kau bisa tahu ?"

Sekali lagi Ko In Nikouw memperhatikan wajah Pek In Hoei tajam-tajam, namun dengan cepat ia geleng kepala kembali.

„Omintohud! aku tidak dapat meoyaksikan dunia persilatan dilanda lagi oleh bencana hebat tanpa bisa mencegah, aku tidak ingin banyak manusia menemui ajalnya
diujung golok dan melihat darah manusia berceceran diatas permukaan tanah.

„Tadi maksudmu kau tidak sudi menyelamatkan jiwanya?"

Dengan wajah serius ko In Nikouw mengangguk ia masukkan kembali kotak porselennya kedalam saku kemudian angkat kepala dan memandang angkasa yang penuh
berawan.

Siauw Hong, jadi kau benar-benar tidak sudi menolong jiwanya dan kau ingin menyaksikan dia mati konyo! " teriak Ouw-yang Gong dengan nada tertegun.

Ko In Nikouw tidak ambil perduli omongan orang, ia lepaskan tasbehnya dari atas leher dan mulai membaca doa.

Melihat perkataannya tidak digubris, Ouw yang Gong mendongak dan tertawa seram.

„Aku tertalu dipengaruhi oleh kejadian masa silam, sedang kau kesemsem oieh kejadian yang akan datang, rupanya kita berdua memang tidak bisa bekerja sama!"

Ia merandek sejenak, lalu teriaknya: „Bagus, kau tidak sudi menolong jiwanya akupun akan mulai turun tangan lagi untuk meledakkan lembah kunyuk ini hingga
rata dengan bumi"

„Kau boleh meratakan lembah ini dengan tanah, tapi pertama-tama bunuhlah aku terlebih dulu"

„Siauw Hong, tindakanmu ini bukankah berarti ada maksud memusuhi diriku?" maki Ouw-yang Gong penuh kegusaran setelah ia dibikin melengak oleh jawaban lawan.

„Thian Go kalau kau hendak bertindak melawan perintah Thian, aku akan berusaha menghalangi2mu terus .

„Haaah .... haaaaah .... haaaah . . . berbuat melawan perintah Thian? justru aku hendak berbuat kejam, bertindak kejam bertindak jahat, kau mau apa?

Wajahnya berubah jadi serius. "Memandang diatas wajahmu, untuk kali ini aku bisa memberi jalan bidup buat mereka, tapi ingat lima tahun kemudian aku pasti
akan kembali lagi kesini untuk menuntut balas bagi sakit hati ini, waktu itu aku akan bssmi semua orang yang ada disini, meledakkan seluruh bukit hingga rata
dengan tanah"

„Omintohtid"

Dengan gemas dan dongkol Ouw-yang Gong yang mulai lenyap dibalik bukit, Ko In Nikouw angkat kepalanya perlahan-lahan dan menghela napas panjang.

Aaaaaai............ rupanya dunia persilatan tidak akan aman lagi, lebih baik aku kembali dulu kedalam kuil"

Dia putar badan dan berlalu dari situ dengan langkah lambat cahaya sang sarya menyoroti tubuhnya meninggalkan bayangan yang suram.....

Angin berhembus lewat....... bau amis darah tersebar kemana mana membuat suasana jadi seram dan meugerikan.

Senja telah menjelang tiba, cahaya matahari yang lemah mulai redup dan bergeser kebalik gunung, bunyi cengkerik bargema disegala penjuru menambah kejemuan di
suasana yang tidak sedap itu....

Bangsat cengkerik cengkerik itu betul-betul terkutuk, bunyinya sudah tidak enak, gerak terus tiada hentinya.... Hmmmm1 kalau kegusaran aku sioraug tua sudah
memuncak, akan kubakar seluruh bukit ini hingga jadi abu

Ouw-yang Gong sambil berdiri disebuab lekukan !embah mencaci maki kalang kabut dengan gusarnya, begitu mendongkol hati siorang tua itu akhirnya semua
kemangkelan dihatinya disalurkan keluar dengan menghantam sebuah batu cadas disisinya.

Dibelakang batu cadas tadi terbentang sebuah selokan kecil dengan air gunung yang jernih gan segar, bunyi aliran air yang tiada hentinya menambah kejemuan
hati siorang tua itu.

Sekujur badan Pek In Hoei telah dibenam kau kedalam air, kini hanya tinggal wajahnya yang pucat pias dengan bekas merah darah diatas jidatnya saja yang
tertinggal diluar, hawa hitam mulai menyelimuti wajahnya..........

„Aaaaii . . . kalau aku sendiri yang terluka, aku bisa menggunakan racun lain memunahkan racun yang mengeram dalam tubuhku." Gumam Ouw-yang Gong sambil
menghisap huncweenya dalam dalam lalu menyemburkan segumpal asap tebal „Tapi bocah ini... dia sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, obatpun tak ada
disekkar sini, bagaimana aku bisa punahkan racun yang mengeram dalam badannya?"

Dengan alis berkerut tangan kirinya garuk garuk kepala yang tidak gatal, lama sekal ia gigit bibir dau akhirnya berseru

„Baiklah, satu-satunya jalan yang bisa kutempuh pada saat ini adalah mengerahkan tenaga murni untuk menotok keseratus delapan buah jalan darahnya dan coba
paksa racun itu mengalir keluar. Seandainya dia punya nasib yang mujur mungkin saja Jien dan tok dua urat pentingin bisa sekalian kutembusi, sebaliknya kalau
dia nasib jelek.... yaaah sudahlah, paling-paling jiwanya tidak tertolong!"

Ia hembuskan asap huncwee-nya keras-keras, kemudian putar badan tarik napas dalam-dalam dan mulai duduk bersila.

Badan Pek In Hoei yang masih terbenam didskm air selokan diseretnya keatas darat tangannya bekerja cepat melepaskan baju tameng mustika yang masih dikenakan
pemuda itu, hawa murnipun dipersiapkan guna mengusir racun dari tubuh sianak muda tadi Belum sempat ia turun tangan, tiba-tiba

„Disirii Disini " terdengar merdu lagi nyaring berkumandang datang dari arah depan.

Mendengar suara itu Ouw-yang Gong segera mendongak, tampaklah diatas sebuah tonjolan balu cadas pada tebing seberang berdiri seekor burung beo berwarna putih
dengan paruhnya berwarna merah darah waktu itu burung tadi meoggerakan sayap tiada hentinya sehingga menggerakan genta kecil yang tergantung diatas leher
burung itu.

Ia be seru tertahan laksana kilat tangannya berkelebat menyambar, burung beo tadi segera berseru lagi :

„Nona tolong aku? nona, tolong aku "

„Burung cilik cerdik betul kau ! puji Ouw-yang Gong sambil tertawa.

Dalam pada itu burung beo tadi tiada hentinya menggerakkan sepasang sayap sehingga genta kecil itu berbunyi terus dengan nyaring

„Nona, tolong aku nona tolong aku."

„Heeeh . heeeeh aku kan tidak melukai dirimu, buat apa kau panggil nonamu untuk datang menolong"

Hei sihuncwee gede jangan lukai Pek Leng kesayanganku!" mendadak terdengar teguran nyaring berkumandang dari belakang.

Begitu mendengar teguran tersebut Ouw yang Gong segera mengerti siapakah yang telah datang, dengan cepat ia berpaling.

Heei setan cilik yang pintar, darimana kau bisa datang kesini?"

,,Heeei huncwee gede, jangan kau lukai Pek Leng kesayanganku !" kembali gadis .u berseru.

Ouw-yang Gong tidak membangkang lagi ia lepaskan burung beo tadi yang mana segera terbang keudara dan hinggap dibahu Hee Siok Peng.

„Setan cilik yang pintar, sejak kapan kau pelihara burung beo itu ? Kenapa aku tak pernah menjumpai burung beo itu?"

Selamanya Pek Leng ada didaiam kuil suhuku" jawab Hee Siok Peng sambil membelai burung beo tadi dengan penuh kasih sayang. Kalau tidak ada urusan penting dia
jarang diajak keluar. Ooh yaah! Suhu perintahkan aku datang kemari untuk menyerahkan lima butir pil Leng Wu-tan kepadamu". „Suhumu adalah Ko In nikouw" Hee
Siok Peng mengangguk biji matanya berputar, tiba tiba ia jumpai Pek In Hoei menggeletak diatas tanah, air mukanya kontan berubah hebat

„In Hoei....... Pek In Hoei " teriaknya sambil memburu dalang lebih dekat.

Tatkala menjumpai air muka Pek In Hoei pucat pias bagaikan mayat, hatinya semakin terkesiap buru buru teriaknya: „Huncwee gede, kenapa dia?" „Dia dicelakai
oleh beberapa tongcu perguruan Seiatus Racun sehingga keracunan hebat" jawab Ouw-yang Gong,

„Justru karena itulah suhumu perintahkan kau datang menghantar pil Leng-wu tan untuk menyelamatkan jiwanya."

Buru buru Hee Siok Pcug berjongkok ia menjejalkan pil Leng wu-tan tadi kedalam bibir Pek In Hoei, kemudian dengan -pasang tangannya ia ambil air selokan
untuk diminumkan kepada sianak muda itu. Setelah menelan pil tadi, dengan penuh kasih sayang kembali ia belai rambutnya dan menggosok bekas merah diatas
jidat In Hoei, tetapi sekalipun digosok ber ang kali, bekas itu tetap tertampak jdas.

Sekarang kau boleh pulang dan lapor kejadian ini kepada suhumu .... ujar Ouw yang Gong dengan serius sambil melepaskan serangan untuk menepuk bebas jalan
darah Pek In Hoei yang tertotok. „Katakan padanya bahwa aku mengerti apa yang ia harapkan, sejak hari ini aku pasti akan menjagaa diri Pek In Hoei baik baik
dan tidak membiarkan dia melakukan perbuatan yang keliwat batas

Ia merandek sejenak lalu tambahnya: "Lima tabun kemudian dia pasti kcmbali lagi kelembah Pek-tok-kok. . ."

Dengan hati sedih Hee Siok Peng tundukkan kepala rendah rendah.

„Benarkah kau hendak suruh dia datang kemari untuk menuntut balas? Tali permusuhan apakah yang terikat antara dia dengan a yahku?"

,,Aku sendiripun tidak kenal asal usulnya tapi kau tak usah kuatir, sebelum dia mendatangi lembah seratus racun, aku pasti akan suruh dia pergi menemui
gurumu terlebih dahulu

Dengan pandangan termangu mangu Hee Siok Peng memperhatikan wajah Pek In Hoei, lama sekali ia baru menghela napas panjang.

„Pertama kali aku tolong jiwanya, fajar baru ssja menyingsing dan sinar matahari baru saja memancarkan cahaya keemas emasannya, waktu itu rambutnya kusut dan
badannya penuh dengan lumpur dan dia keracunan hebat. Sekarang senja baru menjelang tiba, keadaannyapun tiada berbeda, bajunya basah kuyup daa badannya
keracunan pula. Aaaai" perlahan lahan ia berjalan kemuka, terusnya. „Benarkah antara dia dengan perguruan Seratus Racun terikat dendam sakit hati sedalam
lautan? Benarkah ah dia adalah anak murid Tiam-cong-pay?

Dengan pandangan sayu dan pikiran bimbang Ouw-yang Gong memandang wajah Siok Peng tajam tajam, diapun sedang memikirkan banyak persoaian, peristiwa yang elah
dialaminya pada masa silam ....

Dalam benaknya terbayang kembali senyuman kegembiraannya dikala masih muda kekesalan hati yang sedih dikala dewasa dan kehampaan dikala tua, diam diam ia
mengbela napas panjang, pikirnya:

..Gadis cilik ini mirip sekali dengan Siauw Hong dikala masih muda, kelembutan hatinya, kecantikan keramahan seita perhatiannya terhadap orang lain tak
satupun yang berbeda tapi semua orang yang dicintainya ternyata punya dendam sakit hati dengan keluarganya .... aaaai sungguh jelek nasib mereka ...

Dalam pada itu terdengar Hee Siok Peng sedang bergumam seorang diri:

„kenapa antara dia dengan aku terkait dendam permusuhan? Kenapa begitu? Kenapa?"

Pek Leng siburung beo ygog bertengger diatas bahu majikannya segera ikut menirukan pula kata-kata itu : „Kenapa antara dia dengan aku terikat dendam
permusuhan? kenapa begitu? kenapa?...."

Ouw-yang Gong mendongak dan menjawab :

Dalam kehidupan setiap manusia didalam jagad, ada dendam tentu ada cinta, dendam pada suatu saat bisa lenyap, namun cinta tak akan bisa bersemi lagi. Dendam
bisa lenyap, cinta sukar bersemi lagi" bisik Hee Siok Peng dengan wajah tertegun.

Mendadak sinar matanya berkilat, dengan perasaan terima kasih ia pandang wajah Ouw-yang Gong, namun sejenak kemudian butiran air mata sudah mengucur keluar
membasahi wajahnya.

„Aku tidak tnfau apa yang harus kuperbuat ? bisiknya lirih.

„Kalau kau tidah coba berbuat sesuatu, darimana bisa tahu bisa diperbuat atau tidak?"

Hee Siok Peng mengerdipkan matanya, titik air mata meaetes keluar dari balik alis matanya yang tebal.

Tatkala suasana diliputi kesedihan itulah mendadak Pek In Hoei merintih dan membalikkan badannya.

Cepat-cepat Hee Siok Peng membesut airmata yang membasahi pipinya dengan ujung baju.

Dipandangnya wajah Pek In Hoei dengan penuh rasa cinta, lalu bisiknya sedia:

Sebelum dia sadar kembali, lebih baik aku pulang dulu untuk melaporkan kejadian ini kepada suhu!"

Dimanakah suhumu tinggal? dalam kuil apa ?". Kuil Ko In io disebelah barat selat!" Sekali lagi ia pandang wajah Pek In Hoei dengan sinar mata yang lembut dan
penuh rasa cinta, kemudian putar badan, menghela napas panjang dan berjalan pergi

Memandang bayangan punggungnya yang langsing dan menawan hati itu, Ouw-yang Gong ikut menghela napas sedih.

Perlahan-lahan Hee Siok Peng menjulurkan jari tangannya yang runcing dan halus lalu membelai bulu burung beonya yaug berwarna putih, bisiknya lembut :

,,Pek Leng, hari sudah malam, mari kita pulang!"

„Hari sudah malam, nona mari kita pulang!" sahut burung beo putih itu seraya mengebaskan sayapnya.

Bunyi keliningan kian lama kian menjauh bayangan tubuh Hee Siok Peng yang tinggi semampai itupun lenyap dibalik tebing yang terbentang jauh disana.

„Aaaaaai..... !" Ouw-yang Gong menghela napas panjang. ..Seorang gadis yang lincah dan polos, satu kali terjerumus dalam lembah percintaan sikap maupun gerak
geriknya telah berubah jadi begitu murung, kesa! dan sayu

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya: „Dia telah dewasa... dia memang telah dewasa."

Suasana jadi sunyi.... sepi... tak kedengaran sedikit suara pun kecuali tetesan air gunung yang mengalir didalam selokan

Angin gunung berhembus sepoi tiba-tiba Pek In Hoei merintih diikuti ia pentang mulutnya lebar-lebar dan muntahkan cairan kuning kehitam-hitaman yang bau dan
amis.

Seketika itu juga keadaan disekeliling tempat itu berubah jadi memuakkan, bau amis yang menusuk hidung berhembus lewat tidak hentinya membuat orang jadi ikut
mual.

Ouw yang Gong tersadar kembali dari lamunannya, ia berseru tertahan kemudian mendorong tubuh Pek In Hoei masuk kedalam selokan Sesudah direndam beberapa saat
badan sianak muda itu baru diseret kembali keatas daratan.

„Aku tidak mau mati.... aku tidak mau mati....." Terdengar Pek In Hoei menjerit-jerit sambil meronta kesana kemari.

„Hey bocah cilik! kau belum mati, coba bukalah sepasang matamn dao perhatikanlah keadaan disekelilingmu!"

Dengan perasaan kaget dan tercengang- Pek In Hoei mementangkan sepasang matanya lebar-lebar
„Kau belum mati ?" tegurnya bimbang.

Bocah keparat, bau betul kentut yang kau lepaskan" maki Ouw-yang Gong gusar „Ayoh cepat bangun, coba kau teliti apakah aku sikambing tua sudah modar atau
belum? kurang ajar! rupanya kau harap kao aku cepat-cepat mati konyol?"

Kena ditegur Pek In Hoei melengak, akhirnv» ia tertawa geli dan merangkak bangun.

„Cianpwee, kau yang telah menolong jiwaku?"

„Bocah edan, sudahlah, jangan terus-terusan mengucapkan kata-kata yang tak berguna.
Kau sudah lepaskan aku dari kurungan, masa aku tega menyaksikau kau mati konyol tanpa menolong?"

Ia merandek sejecak, kemudian tambahnya :

„Ooouw yaah, aku mau beritahu sesuatu kepadamu, mulai sekarang kau tidak boleh sebut aku dengan panggilan cianpwee... cianpwee segala, lain kali kau harus
panggil aku si huncwee gede atau sisetan asep tua mengerti?"

Pek In Hoei membesut air yang membasahi wajahnya lalu tertawa getir.

„Cianpweekah yang membenamkan badan ku kedalam air selokan? coba kau lihat bajuku sekarang basah kuyup dan aku tidak punya pakaian lain apa yang harus
kuperbuat?"

„Eeeeei.... bukankah aku suruh kau jangan banyak omong yang fak berguna siapa suruh kau sengaja ngoceh terus?" Bentak Ouw-yang Gong dengan sepasang mata
melotot besar. „Bocah keparat ! seandainya aku tidak membenamkan badanmu kedalam air, darimana kau bisa mendusin dari pingsan?

Ia tabok paha sendiri, sambil bangkit berair? terusnya .

„Aku siorang tua sudah mulai merasa lapar, biasanya pada waktu sekarang putra bisa cucu racun itu sudah menghantarkan nasi dan sayur buatku. Aaaaai ... kini
setelah bebas, waaah malah tambah susah, perut keroncongan tak ada yang memberi makan, agaknya aku harus melanjutkan perjalanan sambil menahan perut yang
kosong"

Mengungkap soal makan, Pek In Hoei seketika itu juga merasakan perutnya ikut jadi lapar, segera tanyanya :

„Cian... eeeeei... si ular asep tua, masih jauhkah jarak dqri sini sampai kekota yang terdekat? perut cayhepun terasa agak lapar

„Tempat ini masih terletak diatas gunung, paling sedikit kita harus berlarian selama satu jam untuk mendapatkan makanan untuk menangsal perut. Tapi... bocah
cilik! jangan keburu kita bicarakan soal makanan, kau harus jawab beberapa buah pertanyaanku lebih dahulu ".

Seraya menatap sianak muda itu tajam2 tegurnya :

„Apakah kau adalah anak murid partai Tiam-cong?".

Cayhe belum pernah belajar ilmu silat, tapi ayahku memang anak murid dari partai TIam-cong ...

Teringat akan kemusnahan partai Tiam-cong ditelan lautan api yang berkobar dengan dahsyatnya, dengan sedih ia berbisik :

Tapi sayang......... sejak kini partai Tiam-cong sudah tak dapat menancapkan kakinya lagi didalam dunia persilatan"

„Bocah cilik apakah kau ingin belajar ilmu silat dan aku siorang tua lalu beruaha menuntut balas bagi kemusnahan partai Tiam cong?"

Dengan cepat Pek In Hoei menggeleng.

Aku ingin belajar ilmu silat darimu, aku hendak menemukan ayahku terlebih dahulu

Hmrnai l Saking kekinya Ouw yang Gong mendengus berat „Banyak orang ingin
belajar silat dengan diriku, tapi kutolak semua permohonan mereka, sedang kau sekarang mendapat tawaran dariku bahkan telah mengalami bencana besar yang
berubah penghidupanmu, sebaliknya kau tolak tawaranku untuk belajar silat. Hmmm... Hmmm... rupanya gelar si manusia aneh dari daratan Tionggoan yang kumiliki
terpaksa harus dihadiahkan kepadamu"

Maksud cayhe bukan begitu, aku ingin menemukan ayahku lebih dahulu kemudian minta diajari ilmu pedang Tiam-cong Kiam Hoat

Dengan nada kukuh dan gagah tambah nya :

Aku bersumpah hendak membalas dendam sakit hati segenap anggota partai Tiam-cong dengan ilmu pedang Tiam-cong Kiam Hoat

Punya semangat" puji Ouw yang Gong sambil acungkan jempolnya, tapi dengan alis berkerut segera terusnya. "Tapi dengan adanya kejadian itu bukankah
kesanggupanku untuk mengabulkan tiga buah keinginanmu tak bisa dijadikan kenyataan untuk selama nya? tidak... tidak bisa! kau harus belajar ilmu silat
dariku.

Ia harus ulapkan tangannya mencegah Pek In Hoei berbicara, lalu terusnya :

„Bocah cilik! sekalipun kau belajar ilmu silat dengan aku siasep tua, namun kau tak usah panggil aku dengan sebutan suhu. sebab aku mengajari ilmu silat
kepadamu hanyalah untuk menenteramkan hatiku belaka, kalau kau tidak menyanggupi penawaranku ini mungkin untuk makanan aku merasa tidak enak

„Uler asep tua kau tak usah berbuat begitu! bagaimanapun juga aku tidak nanti di belajar ilmu silatmu Tetapi kau boleh nenghantar aku pergi kepuncak gunung
Cing sia, anggap saja inilah permintaanku yang pertama".

Mendengar perkataan itu Ouw yang Gong di sangat mendongkol, dia mencak mencak dan berteriak keras :

Baik! malam ini juga akan kuhantar kau kepuncak gunung Cing Shia, akupun tak mau tahu apa sebabnya kau hendak ke..... begitu cukup bukan?"

Aku

Tak usah banyak bicara lagi" tukas Ouw yang Gong goyang tangannya. "Cepat kenakan baju tameng mustika itu didalam jubahmu kita segera lanjutkan perjalanan".

Tanpa banyak bicara lagi ia lantas berjalan I keluar dari balik tebing curam.

Pek ln Hoei tak berani banyak bicara, ia kenakan baju tameng mustika tadi dan ikut menyusul dibelekang siorang tua itu.

Sang surya telah lenyap dibalik gunung, kegelapan malam mulai mencekam seluruh jagad bintang bintang bertaburan diangkasa memancarkan cahayanya yang redup.

Ditengah kegelapan malam, Ouw yang Gong tarik tangan sianak muda itu loncat turun ke bawah gunung dan dalam sekejap mata telah lenyap dibalik hutan yang
lebat

Sehari lewat dengan cepatnya, kini senja menjelang kembali, sinar mata hari yang sudah condong kebarat memancarkan sisa cahayanya menerangi gunung Cing-shia
yang sunyi.

„Oooow senja yang sangat Indah” puji Pek In Hoei sambil menghela napas panjang

Ouw yang Gong menggeleng.

"Orang bilang gunung Go-bie adalah puncak vang Iembut, sedang gunung Cing Shia adalah puncak yang indah, ucapan ini sedikitpun tidak salah setelah penuhi
semua permintaanmu, seorang diri akan kujelajahi seluruh tempat yang indah dikolong langit, aku tak sudi mencampuri persoalan dunia persilatan lag !".

„Aaaaaasaai kau bisa melepaskan diri dari keramaian dunia kangouw, tapi sebaliknya aku, sejak kini aku sudah terjerumus ke kancah dunia persilatan, sejak
kini aku ikut terombang ambing diantara perbuatan bunuh membunuh yang memuakkan

Ouw yang Gong melirik sekejap kearah Pek In Hoei, tampaklah dari sinar mata si anak muda itu memancar keluar cahaya tajam yang menggidikan bati setiap orang,
begitu keren dan berwibawa cahaya matanya sehingga ia jadi tertegun dan berdiri melongo.

Suatu ingatan berkelebat daiam benaknya ia teringat kembali akan ucapan yang pernah diutarakan Ko In Nikouw, tanpa sadar ia perhatikan bekas merah darah
diatas jidat Pek In Hoei tajam-tajam.

Mendadak matanya terasa jadi kabur, ia merasa seolah olah bekas merah darah yang ada dijidat pemuda itu kian lama berkembang kian meluas, segera gumamnya:

„Aaaaaah......... tidak salah dalam dunia persilatan bakal dilanda kembali oleh badai pembunuhan yang luar biasa, banjir darah akan mengenangi seluruh jagat
dan mayat bergelimpangan dimana mana

Dengan perlahan Pek In Hoei melirik sekejap kearah orang tua itu, menyaksikan cahaya matanya diliputi rasa ngeri dan ketakutan, dengan perasaan tercengang
segera tegurnya:

„Kenapa kau ?"

„Aaah, tidak mengapa !" buru buru Ouw yang Gong menenteramkan hatinya, ia alihkan sinar mata yang sayu keatas puncak nun jauh disana, sambungnya:

„Ayoh cepat naik keatas gunung, hari sudah mulai gelap

Sambil mengempit tubuh Pek In Hoei ia lari menaiki undak undakan batu dan berkelebat menuju keatas puncak.

Baru beberapa puluh tombak mereka berjalan tiba tiba sinar mata kedua orang itu terbentur dengan noda darah yang berceceran diatas undak undakan batu, bau
amis darah tercium amat menusuk hidung, tanpa sadar Ouw-yang Gong berseru tertahan:
"Aaaaaah ! Mungkin disini ada orang" Beberapa sosok mayat tampak bergelimpangan dipinggir jalan, sepintas pandang terlihatlah bahwa mayat mayat itu roboh
karena bacokan pedang yang tajam, bahkan letak luka dari mayat mayat itupun tak ada bedanya, yaitu bagian dada terbacok dalam dalam sehingga menembusi tulang
iga

Alisnya langsung berkerut serunya: "Suatu ilmu pedang yang sangat lihai, pembunuhan yang rapi dan sempurna, hanya seorang jago pedang kelas utama saja yang
sanggup mencabut jiwa seseorang dalam sekali bacokan"

Mungkinkah orang orang itu mati ditangan ayahku" suatu ingatan berkelebat dalam benak Pek In Hoei, segera serunya:

"Aku ingat segenap serangan yang menggunakan jurus sang surya kehilangan cahayanya letak lukanya pasti ada diatas dada!"

"Oooow! Kalau begitu ayahmu pasti sudah diserang orang banyak, ayoh lekas berangkat, kita segera naik keatas gunung!"

Laksana kilat ia loncat naik keatas, tampak pada undak undakan batu sebelah atas menggeletak mayat yang jauh lebih banyak sekilas pandang semua mayat itu
menggeletak mati karena iganya tertusuk, jelas semua itu hasil perbuatan satu orang. Dalam hati dia lantas berpikir:

"Sejak kapan partai Tiam-cong muncul seorang jago pedang yang begini Ubinnya bukan saja cara menyerangnya sangat istimewa bahkan lihaynya luar biasa, tapi
apa sebabnya dia dikerubuti oleh orang yang begitu banyak musuh? Mungkin orang itu ada sangkut pautnya dengan si Pedang sakti dari Tiam-cong yang lenyap pada
beberapa puluh tahun berselang"

la teringat kembali kepada si pedang sakti dari Tiam-cong yang berangkat ke gunung Cing-shia pada beberapa tahun berselang untuk menghadiri suatu penemuan
besar ciangbunjien delapan partai besar, akhirnya mereka semua lenyap tak berbekas.

Selama puluhan tahun peristiwa ini telah menjadi suatu peristiwa Bulim yang tiada akhirnya, anak murid partai partai besar yang kehilangan ketuanya sama sama
mengutus orang untuk menemukan jejak ketua mereka, namun hasil mereka tetap nihil.

Akhirnya setelah lewat empat puluh tahun lamanya, karena latar belakang peristiwa ini tak berhasil juga diungkap maka orangpun mulai melupakannya.

Dalam pada itu meski dalam hati Ouw yang Gong coba menghubung hubungkan peristiwa yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri saat itu dengan kejadian
puluhan tahun berselang, namun gerakan tubuhnya sama sekali tidak berhenti, malahan ia semakin mempercepat gerakannya menuju keatas puncak. Rupanya dia ada
maksud membuktikan jalan pikirannya dia ingin menyaksikan sandiri sampai dimanakah rahasia yang menyelimuti ilmu pedang penghancur sang surya dari partai
Tiam-cong.

Sebaliknya Pek In Hoei sendiri jauh lsbih gelisah hatinya setelah tercium bau amis darah yang menusuk hidung serta mayat mayat orang Bu-lim yang bergelimpang
an distsi jalan, ia ingin cepat cepat tiba di atas puncak untuk melihat nasib ayahnya.

Sepanjang perjalanan tumpukan mayat yang bergelimpangan disisi jalan makin lama semakin banyak, potongan baju yang dikenakan mayat2 itu pun makin campur
aduk, bahkan diantara mereka terdapat pula kaum hweeshio serta toosu.

Darah manusia berceceran dimana mana diatas undakan batu diatas rumput dibawab lembah maupun d atas teoing ... . merah nya darah membuat rumput yang hijau
beruban warna suasana amat mengerikan sekali.

Kian keatas mayat yang mereka jumpai makin banyak, dengan sinar mata Ouw-yang Gong yang tajam. Ia dapat saksikan bahwa sebab kenapa orang orang ini tidak
terbatas pada bagian dada saja, banyak di antaranya terluka pada bagian lain, lagipula kacau dan tidak menentu. Jelas orang yang menggunakan pedang itu sudah
terluka parah sehingga seranganya makin ngawur.

Diam diam makinya didalam hati:

"Nenek maknya.. keturunan monyet semua! Masa tiga puluh orang banyaknya mengerubuti satu orang, bahkan menyediakan pula jebakan jebakan yang begitu banyak.
Hmmm ! Rupanya bajingan bajingan itu berasal dari berbagai partai besar atau mungkin peristiwa besar yaivg pernah terjadi puluhan tahun berselang telah
terulang kembali

Ia mengempas tenaga lalu loncai naik keatas dahan pohon, meminjam daya pental ranting tadi badannya melesat enam tombak kemuka.

Batu cadas dilaluinya dengan cepat, angin gunung berhembus kencang, dalam sekejap mata Ouw yang Gong sudah melewati sebuah tanah rerumputan yang luasnya tiga
tombak dan berdiri diatas sebuah batu adas, dari situ ia dapat menangkap suara beradunya senjata tajam . . .

bersambung ke jilid 5...

Jilid 5 : Kematian sang ayah, Pek Thian Hong

DENGAN CEPAT sinar matanya dipasang tajam tajam, nun jauh depan sana, dialas sebidang tanah datar melihat tiga sosok bayangan manusia sedang adu tenaga dalam
dengan serunya. Ouw-yang Gong ingin loncat kearah situ tapi sacara tiba tiba terdengar jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang diangkasa, ketiga
sosok bayangan manusia itu segera saling berpisah.

Satu diantara ketiga orang itu terdengar menjerit keras lalu berteriak :

“Hoei-jie, aku tak dapat berjumpa lagi dengan dirimu, kau harus balaskan dendam sakit hati ini !"

Orang itu meraung keras, sebilah pedang panjang dengan berubah jali sekilas cahaya tajam segera meluncur kearah dinding tebing dihadapan mukanya.

Dua sosok ba>angan manusia yang ada disisinya mendadak bergabung jadi satu dan tertawa seram.

"Pek Tian Hong akhirnya kau modar jugal"

„Aduh celaka !" seru Ouw ycng Gong didaiam hati. Rupanya kedatanganku terlambat satu langkah" Segera ia turunkan Pek Ia Hoei keatas tanah. Huncweenya
digetarkan, sambil membentak keras badannya meluncur kedepan.

Dua sosok bayangan manusia tadi kelihatan rada tertegun tatkala menjumpai ada orang lalu berkelebat maju kearah barat. Dua orang itu segera memencarkan diri
dan lenyap di balik kegelapan.

Pek In Hoei menjerit keras, tanpa memperdulikan keadaan disekelilingnya lagi ia lari kedepan, sementara air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

Raga manusia yang tertinggal tadi masih berdiri tenang ditempat semula, sedikitpun tidak berkutik, menanti Pek In Hoei menghampirinya, perlahan lahan roboh
di atas tanah tak jauh Pek In Hoei sudah dapat mengenali bahwasanya bayangan manusia itu bukan lain adalah ayahnya yang tercinta sipedang Penghancur sang
surya Pek Tian Hong, ketika itu seluruh badannya bermandikan darah segar, mulut luka bekas bacokan senjata tersebar dimana mana, bajunya compang camping
tidak keruan dia mati dengan mata tidak meram

Menjumpai ayahnya mati dalam keadaan mengenaskan Pek In Hoei tak dapat menahan diri lagi, ia menjerit keras dan menangis tersedu sedu

„Ayah ! Ooooh . . . . !"

Air mata bagaikan bendungan yang jebol mengalir keluar dengan derasnya membasahi seluruh wajah.

Rembulan telah muncul diatas awan, bintang bertaburan dimana mana menambah semaraknya suasana dimalam yang sunyi, angin gunung berhembus sepoi sepoi
menerbangkan rangkai daun serta rerumputan.

Pek In Hoei masih berlutut dihadapan jenasah ayahnya ia tidak bergerak maupun berkutik, seakan akan dia sudah melupakan segala sesuatu yang ada didaiam jagad
ia tak mau tahu lagi dengan kejadian kejadian disekeliling tubuhnya.

Bibirnya terkancing amat rapat, air muka nya berubah jadi keren dan serius.

Lama .... lama sekali .... akhirnya bibir yang terkancing rapat mulai bergetar ia mulai berbicara ... ia bergumam seorang diri :

"Aku harus membalas dendam sakit hati. Aku harus membasmi orang orang jahanam itu . tapi ... tapi..... aku tidak tega membunuh orang

Suaranya serak tapi dingin sedih seolah olah baru datang dari kutup yang dingin dan kaku membuat samudra disekeliling sana seakan akan ikut membeku.

Sekujur badannya bergetar keras, hampir saja ia tidak percaya kalau suara itu berasal dari mulutnya, tapi tatkala teringat olehnya bahwa disini hanya dia
seorang diri maka mau tak mau dia harus percaya juga

Aaaaaai........... ! Sianak muda itu menghela napas panjang, sinar matanya yaog sayu perlahan-lahan dialihkan ke tubuh Pek Tian Hong yang telah berubah jadi
mayat.

Sekali lagi ia memperhatikan ayahnya yang mau dengan mata tidak meram, memperhatikan sekujur badan ayahnya yang penuh dentan mulut luka . . .

Tanpa terasa ia bergumam kembali dengan nada lirih. „Dia adalah ayahku, ayahku yang selalu sayang kepadaku, memanjakan aku tapi selalu memberi pelajaran dan
peringatan keras kepadaku. Dia suruh aku balajar silat luk melindungi diri sendiri, tapi dia sendiri ... akhirnya mati dikerubuti

Aaaaai .... siapa yang belajar silat ia akhirnya mati juga diujing golok..."

Rasa sedih berkelebat dalam benaknya, perubahan yang menimpa dirinya telah merubah sianak muda ini jadi bertambah murung

"Barang siapa belajar silat pada akhirnya ia mati juga diujung senjata" pikiran tersebut beberapa kali berkelebat dalam benaknya dengan rasa sedih la
berpikir lebih

"Selama hidup aku paling benci belajar silat, aku tidak ingin menyaksikan peristiwa saling bunuh membunuh yang mengerikan tapi selama dua hari aku harus
bergelimpangan terus diantara bau amisnya darah segenap anggota partai Tiam-cong dibasmi sampai mati ."
Ia gigit bibir dan meneruskan berpikir: "Dendam berdarah partai Tiam cong harus dituntut balas, dan kini ayahku sudah mati, semua tanggung jawab dan tugas
berat ini terjatuh keatas pundakku, aku harus menuntutnya satu demi satu, maka aku tak bisa menghindarkan diri lagi dari tugas pembunuhan ini"

Wataknya yang halus, ramah, welas kasih dan budiman saling berbentrokan dengan sakit hati yang berkobar kobar, hal ini mem buat hatinya terasa amat tersiksa,
seakan akan dua bilah pisau belati yang menusuk hatinya.

Sejenak kemudian ia mulai menjerit keras teriaknya :

"Akan kubunuh semua orang orang itu, akan memoleskan darah segar mereka diatas tanah."

Sepasang tangannya dikepal kencang kencang, air mata bercucuran bagaikan hujan gerimis, membasahi peluruh pipinya. Dia mendongak memandang rembulan yang
tergantung jauh diawan, serunya dengsn rasa amat sedih:

"Aku bersumpah akan mempelajari ilmu silat yang paling jempolan dikolong langit lu harus menjadi jagoan yang paling lihai didalam jagat, kemudian akan
kubunuh semua orang yang belajar silat.......". "Akan kubinasakan mereka semua dibawah pedangku ...."

Dari balik air mata yang mengembang dimatanya terpancar keluar sorot mata yang kukuh dan keras hati, membuat sianak muda ini kelihatan sangat menyeramkan.

Angin malam berhembus lewat disisinya tubuhnya, mengibarkan rambutnya yang kusut dan awut-awutan, perlahan-lahan dia angkat tangan kanannya membesut air mata
yang menggenangi pipinya, kemudian berjongkok untuk membopong mayat ayahnya. Setelah itu bangun berdiri dan berjalan turun gunung.

Setelah melewati tanah rerumputan setinggi pinggang, ia berjalan masuk kedalam sebuah hutan.

Malam semakin larut, narnun pemuda itu berjalan berjalan terus tidak berhentinya, gemerciknya daun kering terpijak kaki kedengaran begitu nyaring ditengah
kesunyian yang mencekam.

Tiba tiba ia berhenti dan berdiri tertegun ditengah kesunyian telinganya secara lapat lapat menangkap tetabuhan suara khiem yang merdu merayu.

Begitu merdu suara itu sampai ia terpesona, kepedihan yang telah terpendam dalam hatipun kini terungkap kembali dia merasa kesedihan yang sedang dirasakan
seirama dengan suara khiem tersebut ...

Lama sekaii Pek In Hoei berdiri termangu-mangu disini, entah sejak kapan dua baris air mata membasahi pipinya, tanpa sadar kakinya bergerak menuju kearah
mana berasalnya suara khiem itu, sebab dia ingin tahu siapakah yang sudah memainkan irama lagu yang begitu sedih sehingga membangkitkan kedukaan orang

Makin jauh berjalan makin jauh ia meninggalkan hutan, suara khiem tadipun kedengaran makin dekat, kini ia sudah memutari sebuah tebing curam yang menjulang
keangkasa dan tiba di depan sebuah gua batu berbentuk aneh

Mendadak ia berhenti, dengan sinar mata ragu ragu ditatapnya sebuah batu besar disebelah kiri.

Batu itu datar lagi licin bagaikan sebuah cermin, diatas batu tadi duduk seorang perempuan berambut panjang yang memakai baju serba hitam. Dibawah sorotan
sinar rembulan tampak gadis itu seakan akan duduk ditengah kabut, potongan badannya yang ramping dan menggiurkan menandakan bahwa dia adalah seorang dara
yang cantik jelita.

Dihadapan gadis itu terletak sebuah khiem, angin malam berhembus lewat menggoyangkan jubahnya yang hitam menambah kecantikan serta keagungan orang itu.

Dengan termangu mangu Pek In Hoei awasi jubah hitam sang gadis yang berkibar tiada hentinya, tanpa terasa ia bergumam seorang diri:

„Gadis berbaju hitam duduk dibawah cahaya rembulan yang cerah, kesedihan yang mencekam serta irama khicm yang lembut merupakan suatu perpaduan yang sangat
serasi

Tiba2 gadis berbaju hitam itu angkat kelima jarinya membentuk gerakan setengah lingkaran diudara kemudian menghentikan permainan khiem nya ia tertunduk dan
menghela napas panjang.
Berat sekali helaan napas itu seolah olah nembentur hati Pek In Hoei yang mana segera ikut menghela napas tanpa sadar.

Setelah msnghela napas tadi, gadis ua mulai menangis terisak, bahunya goncarg keras, rambutnya yang panjang bergetar dan mengombak, hal ini mempertandakan
bahwa ia menangis sejadi jadinya karena sesuatu yang amat menyedihkan hatinya.

„Persoalan sedih apakah yang menimpa gadis itu? Kenapa ia menangis tcrsedu-sedu begitu dukanya?" pikir Pek In Hoei didala, hati. "Apakah dikolong langit yang
luas ini benar benar tiada sedikit kegembiraanpun? Benarkah segala penjuru dunia hanya ada kepedihan serta kedukaan belaka?"

Belum habis ia termenung, mendadak hatinya dikagetkan kembali oleh suara suitan yang amat nyaring.

Dia cepat cepat angkat kepala, begitu . gadis berbaju hitam yang sedang menangis terisak itu, kapalanya didongakkan keatas dan memandang kearah Barat-laut.

Mengikuti arah sorotan mata gadis tadi, Tampak sesosok bayangan manusia berwarna abu abu laksana sambaran kilat berkelebat datang.

Dikala sianak muda itu masih terperanjat dan berdiri melengak, bayangan manusia tadi akan2 sehelai daun kering tahu tahu sudah layang turun dihadapan
perempuan itu.

Hmmmm! gadis berbaju hitam itu segera mendengus dingin "Apa maksudmu datang kemari?

Orang yang barusan datang tadi adalah seorang pemuda berpakaian ringkas warna abu dengan sebilah pedang tersoreng diatas punggungnya. Mendengar teguran tadi,
ia segera menjura dan menjawab :

Keponakan murid Pay Boen Hay mendapat perintah dari suhu untuk datang kemari mengundang sukouw

Tutup mulut" hardik gadis berbaju hitam itu dengan suara keras, ia lantas duduk dan melanjutkan :

„Suhumukah yang suruh kau mengucapkan kata kata semacam itu. Hmmm. Perguruan Seng Sut Hay kami tidak terdapat murid macam kau ! ayoh cepat berlutut

Pay Boen Hay tertegun, segera bantahnya :

„Suhu dia orang tua segera akan.........
„Berlutut" tukas gadis berbaju hitam itu.

Pay Coen Hay kelihatan ragu ragu. namun akhinya ia jatuhkan diri berlutut

Gadis beibaju hitam itu segera mendengus.

Hmmmm! pantangan pertama dari perguruan kita adalah dilarang bersikap kurang hormat terhadap angkatan yang lebih tua, apa berani melanggar dia harus dihukum
mati. Kau anggap setelah mempelajari ilmu ilat perguruan lantas boleh malang melintang dengan sombong dan jumawa?

"Keponakan murid tidak berani" sahut Pay Boen Hay dengan serius, keangkuhannya ketika lenyap tak berbekas.

"Ehmm..! pergilah kau dari sini". "Sukouw, suhu dia orang tua sudah datang perkampungan Thay Bie san cung harap sukouw

Aku mengerti, kau boleh segera pergi dari sini!"

Perlahan lahan Pay Boen Hay bangun berdiri kemudian sekali lagi memberi hormat dengan penuh sungguh sungguh, tapi tatkala dia putar badan sinar matanya
segera terbentur dengan tubuh Pek In Hoei yang sedang berdiri kurang lebih tiga tombak dari situ.

Pek In Hoei sendiri pun merasa kaget sewaktu berbenturan dengan sinar mata orang itu ia rasakan betapa tajam dan bengisnya Orang tadi sebelumnya ia sempat
bertindak
sesuatu terasa angin tajam berhembus lewat tahu tahu orang she-pay tadi satu sudah berdiri dihadapannya.

"Siapa kau?" hardik orang itu dengan suara dingin, tatkala sinar matanya terbentur dengan mayat yang ada di tangan Pek In Hoei ia kelihatan kaget bercampur
tercengang.

Pek In Hoei bungkam dalam seribu bahasa, ia merasa pemuda ini bukan saja ganteng
dan gagah perkasa, sayang bibirnya terlalu tebal dan senyumannya terlalu menghina, hal membuat dia sungkan untuk berhubungan denganl orang tadi.

Melihat Pek In Hoei tidak menjawab Pay Boen Hay mendengus dingin lalu maju selangkah kedepan, tangannya bergetar kencang, pedang berkelebat lewat membentuk
kuntum bunga pedang, ujung pedangnya menyambar robek baju yang dikenakan sianak muda itu.

Sungguh dahsyat serangan orang ini, hawa pedang yang tajam merasa menyayat badan membuat Pek In Hoei tidak tahan dan mundur selangkah kebelakang. Pay Boen
Hay putar pedangnya masukkan kembali senjata itu kedalam sarung lalu jengeknya sinis :

"Hmmmm kiranya kau adalah manusia bisu"

Sewaktu menyaksikan dari balik pakaian Pek In Hoei yang robek tersambar pedang sama sekali tidak mengucurkan darah, kembali orang itu berseru tertahan.

Ia tercengang sebab tadi ia merasa bahwa ujung pedangnya sudah menembusi badan lawan sedalam dua coen lebih, namun pihak lawan sama sekali tidak mengeluarkan
suara sebaliknya hanya mundur sambil membuka sedikit mulutnya, dia lantas mengira Pek In Hoei adalah bisu.

Tapi kini setelah menemukan pemuda itu tidak terluka, air mukanya kontan beiubah hebat

"Siapa kau?" segera bentaknya.

"Pek In Hoei!" sahut pemuda itu hambar mendadak suatu ingatan aneh berkelebat dalam benaknya, segera serunya dengan nada berat:

"Pek In Hoei dari partai Tiam-cong"

Pek In Hoei dari partai Tiam-cong? diantara partai Tiam-cong masih ada orang??".

Partai Tiam-cong tidak akan musnah dari muka bumi untuk selamanya partai Tiam-cong selalu ada orang"

Sepasang biji mata Psy Boen Hay berputar, seraya memandang mayat yang ada ditangan anakk muda itu tegurnya:

"Siapakah mayat yang ada ditanganmu"

Tatkala menjumpai begitu banyak mulut luka yang membekas diatas tubuh Pek Tian Hong serta kematiannya yang mengerikan, terasa ia kerutkan sepasang alisnya,
Pek In Hoei dapat melihat semua perubahan orang itu dengan cepat, ia melirik sekejap kearahnya dengan pandangan benci, mulutnya tetap membungkam dalam seribu
bahasa.

"Keparat cilik aku dengar dari partai Tiam-cong terdapat seorang jago yang disebut orang si pedang sakti penghancur sang surya Pek Tian Hong..." ia maju
kemuka. "Apakah mayat yang ada ditarganmu adalah mayatnya?"

Sekujur badan Pek In Hoei gemetar keras tiba tiba ia teringat kembali akan perkataan ayahnya yang mengatakan ia diundang sigolok perontok rembulan Ke Hong
serta si Bintang kejora menuding langit Boen Thian Bong untuk menaiki gunung Cing Shia.

Teringat pula akan ucapan Pay Boen Hay yang mengungkap soal perkampungan Tay Bie san-cung, tanpa terasa segara tanya nya :

Perkampungan Thay Bie San cung yang maksudkan tadi, apakah tempat tinggal sigolok perontok rembulan Ke Hong?"

Dengan sinar mata bengis dan sinis Pay Boen Hay memandang wajah Pek In Hoei, jengeknya berat :

"Sungguh tak nyana sipedang sakti penghancur sang surya telah menemui kematiannya dengan begitu mengenaskan sampai sampai mayatnya tak ada tempat untuk
mengubur!"

"Tutup mulutmu aku mau bertanya kepadamu, apakah Ke Hong pada hari ini anak gunung bersama-sama kau?"

Bajingan cilik yang tak tabu tingginya langit tebalnya bumi, Ke suheng sedang murung karena takut tak bisa membasmi rumput sampai seakan akarnya, aku lihai
terpaksa cayhe harus mewakili dirinya untuk turun tangan melenyapkan dirimu !"

"Oooooouw..... jadi ini hari merekalah yang sudah menyusun rencana husuk untuk mancelakai ayahku disini!" raung Pek In Hoei dengan amarah yang berkobarz.

Dengan pandangan dingin Pay Boen Hiy melirik sekejap Pek In Hoei.

"Bocah keparat, tak ada gunanya kau mengetahui kejadian itu terlalu banyak, sebab kau bakal modar diujung pedangku 1"
.
Sambil tarik napas dalam dalam pedangnya dicabut keluar dari dalam sarung, diikuti cahaya tajam meluncur kedepan laksana sambaran kilat, tahu tahu ia tusuk
tenggorokan Pek In Hoei.

Dalam pada itu pemuda she Pek tadi sedang bersiap siap menanyakan kejadian yang telahh menimpa ayahnya, mendadak pandangan matanya jadi kabur, cahaya pedang
lawan telah menyambar tiba dengan hebatnya.

Tidak sempat melihat jelas datangnya, ancaman, dengan tergopoh gopoh pemuda itu menggerakkan badannya kesamping dengan maksud menghindari cahaya pedang yang
menyorotinya.

Pay Boen Hay yang melibat pihak lawan buang badannya kesamping sehingga bagian iga sebelah kanannya terbuka sebuah lubang kelemahan tak mau membuang
kesempatan ini dengan sia sia. pergelangan secara ditekan bawah, ujung pedang berkilat membentuk sebuah jaiur yang sangat indah menusuk jalan darah
Suo-sim-hiat ditubuh lawan.

"Bieeeeet..... diiringi suara robekan baju, ujung pedang itu dengan telak menusuk kedada Pek In Hoei.

Pemuda she-Pek itu mendengus dingin, ia merasakan dadanya amat sakit sehingga badannya terdorong satu langkah kebelakang oleh tenaga dorongan lawan.

"Aaaaaaa......I" Pay Boen Hay berseru kaget, dalam sangkaannya pihak musuh pasti akan mati terkapar keatas tanah setelah termakan tusukan kilat itu, siapa
sangka Pek In Hoei hanya mundur selangkah kebelakang tanpa menunjukkan perubahan apapun jua.

Dengan hati terperanjat, pedangnya kembali didorong kemuka dengan gerakan kota genting terlanda salju, ujung pedang dengan berubah jadi serentetan cahaya
tajam langsung menusuk kembali dada musuh.

Breeeeet....... sekali lagi baju Pek In Hoei robek tersambar senjata musuh dan bef kibaran tertiup angin.

Dengan adanya serangan terakhir, badannya tak kuasa menahan diri lagi, ia jatuh terjengkang keatas tanah dan mayat Pek Tian Hong yang berada dalam
pelukanyapun ikut terlempar jatuh.

Sinar mata Pay Boen Hay berkilat tiba2 ia mendongak dan tertawa terbahak-bahak:

Haaah...haaah...haaaah... semula ake mengira kau telah berhasil melatih ilmu weduk yang tidak mempan terhadap bacokan senjata, sehingga hawa pedang serta
tusukanku tidak berhasil membinasakan dirimu, kiranya kau telah memakai tameng mustika. balik bajumu

Air mukanya kontan berubah hebat, pedangnya diayun kembali siap membabat batok kepala sianak muda itu Mendadak.

"Criiiing.. criiing... dua sentilan irama khiem menggema diangkasa, sentilan khiem itu nyaring bagaikan pukulan martil yang mengena dalam lubuk hatinya,
seketika itu juga seluruh tubuh Pay Boen Hay gemetar keras, jantungnya berdebar dan peredaran darah dalam nadinya bergolak, hampir hampir saja ia muntahkan
darah segar.

Bukan begitu saja, bahkan pedangnya yang telah dipersiapkan untuk melancarkan babatan ikut bergetar dan akhirnya rontok ketanah.

Air mukanya segera berubah hebat, dengan cepat ia angkat kepala. Tampaklah bibi gurunya Kioe Thian Jien Sian atan sidewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng
telah mempersiapkan kembali kelima jari tangan kanannya.

"Kau masih coba ingin turun tangan?" tegur gadis itu sambil menoleh.

Pay Boon Hay tarik napas dalam dalam.

Toa suheng mendapat perintah dari suhu untuk membinasakan sipedang penghancur surya Pek Tian Hong, sedang keparat ini adalah putra dari Pek Tian Hong!".

"Perduli siapakah dia, kau sudah tak dapat membinasakgn dirinya lagi",

"Kenapa?".

“Kalau kau adalah anak murid yang berasal dari perguruan Seng Sut Hay dalam tiga buah tusukan jika tak bisa mencabut nyawanya terutama sekali terhadap
seieorang yang sama sekali tidak mengerti ilmu silat apakah kau tidak merasa malu"

Dengan hati mendongkol Pay Boen Hay menyimpan kembali pedangnya kedalam sarung, lalu ujarnya kepada diri Pek In Hoei.

"Bajingan cilik! hitung hitung anggap saja nasibmu masih mujur, malam ini kuampuni selembar jiwa anjingmu. Hmmm apabila lain kali kau sampai berjumpa lagi
dengan diriku, aku pasti akan mencabut jiwa anjingmul"

"Kalau kau punya nyali, ayoh laporkan namamu!" Teriah Pek ln Hoei pula dengan penuh kebencian, hawa nalsu membunuh mulai menyelimuti seluruh wajahnya.
"Apabila dikemudian hari aku berjumpa pula dengan dirimu, aku tidak akan lupa untuk menghadiahkan pula beberapa bacokan keatas tubuhmu".

"Haaaah...... haaaah.......... . Haaah.........".

Setan cilik, dengarkan baik baik. Sam-ya adalah sipemuda ganteng berpedang sakti Pay Boen Hay"
Pek In Hoei mendengus dingin, tiba-tiba merah darah yang ada diaias jidatnya memancarkan cahaya darah yang tajam dan gerikan sekali.

Gelak tertawanya kontan sirap, dengan pandangan terbelalak dan penuh rasa takut ia awasi bekas merah darah diatas jidatnya.

Hendak . . . suara tetabuhan irama khiem berbunyi kembali, begitu tajam suara itu sampai serasa menusuk kedalam tulang sum sum

"Kau masih belum pergi juga dari sini" hardik Kim In Fng dengan penuh kegusaran. Kau masih punya muka untuk tetap beradadisini? perguruan Seng Sut Hay tidak
terdapat anak murid yang tidak tahu malu macam kau"

Pay Boen Hay jadi jeri, dengan sikap menghormat buru-buru ia menjura.

"Terima kasih atas nasebat serta petunjuk dari Sukouw !"

"Hmmm ! kau merasa tidsk puas?"

"Sutit tidak berani !"

Kim In Eng mendengus dingin, jari tangannya menyentil diatas khiem dan berkumandanglah serentetan suara yang tajam dan nyaring

"Aaaaah !...." Pay Boen Hay menjerit kesakitan urat nadinya tergetar keras seakan-akan tertumbuk oleh irama khiem yaug tak berwujud tidak ampun lagi muntah
darah segar.

"Sungguh tak kunyana ilmu permainan yang sukouw miliki telah mencapai yang begitu tinggi" Serunya kemudian berhasil menenangkan golakan darah dadanya. "Sutit
merasa sangat beruntung bisa memperoleh pelajaran darimu!"

"Hmmm! jadi kau anggap aku sudah membela orang lain dan memusuhi anggota perguruan sendiri?"

"Tentang soal ini aku rasa dalam hatimu sudah merasa jelas sekali, tak usah diungkap lagi !"

"Haah... haaaah.... haaah....." menadak Kim In Eng tertawa seram." pun aku sudah membantu pihak partai Tiam-cong, suhumu bisa berbuat apa terhadap diriku?"

Ia tarik kembali gelak tertawanya yang sedap didengar itu, dan terusnya :

"Dua puluh tahun berselang, karena persoalan sipedang sakti dari gunung Tiam-cong Cia Ceng Gak dia sudah tidak memperdu!ikan lagi hubungan persaudaraan
diantara kita, apakah sekarang aku tidak boleh. melindungi anak murid partai Tiam-cong?" Kembali ia merandek, setelah tukar napas. terusnya dengan nada
dingin :

"Keponakan muridnya telah kalian celak, sampai mati, cucu muridnya sudah sepantasnya kalau kulindungi keselamatannya, katakan saja kepada suhumu, barang
siapa yang berani mengganggu Pek In Hoei, dia harus mencari aku lebih dahulu"

Pay Boen Hay tidak berani membangkan. Ia memberi hormat kemudian dengan mulut membungkam berlalu dari situ. Dengan termangu-mangu Pek In Hoei awasi bayangan
punggung Pay Boen Hay yang lenyap dibalik kegelapan, ia lantas memberi hormat dan berkata

"Cianpwee, terima kasih atas budi pertolonganmu kepada diri boanpwee! budi ini takkan kulupakan untuk selamanya!" Dewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng
bungkam dalam seribu bahasa, ia tak menjawab maupun berpaling, dengan pandangan dan sayu berdiri diatas tebing sambil awasi rembulan nun jauh diawang2. Lama
sekali baru kedengaran ia menghela napas panjang dan bergumam seorang diri:

"Aiiiiiii Cia-lang, dapatkah kau mendengar jeritanku? dapatkah kau baca pikiran serta kepedihan hatiku? nafanya sedih dan penuh kepiluan membuat Pek in Hoei
tidak tega untuk meninggalkan gadis itu seorang diri. dengan bimbang dan pikiran kosong ia ikut berdiri tertegun disitu, matanya awasi tubuh Kim In Eng
dengan sinar mendelong.

Perlahan-lahan Kim In Eng tundukkan kepalknya, lima jari mulai menari kembali memainkan tali senar khiem dalam pangkuannya.

Irama merdu berkumandang keangkasa, lagu yang dimainkan bernadakan sedih...... seolah-olah ia sedang menumpahkan segala isi hatinya kedalam irama lagu itu

Lama ......... lama sekali ia mainkan lagu itu, Pek In Hoei yang ikut mendengarkan lagu tadi tanpa terasa ikut meogucurkan air mata, ia ikut merasa sedih dan
bayangan ayahnya yang tercintapun ikut muncul dalam benaknya

"Aaaaaaai!" ditenggah helaan napas yang panjang, permainan khiem berhenti dan suasana pun kembali diliputi oleh kesunyian.

Pek In Hoei makin tertagun, dalam benaknyaa masih terbayang kembali irama lagu sedih yang baru saja dimainkan gadis itu, lama sekali akhirnya ia ikut
menghela napas. "Kau masih belum pergi?" terdengar gadis she Kim itu menegur. "Cayhe terpengaruh oleh irama khiem Cianpwee yang begitu merdu menawan hati,
sampai sampai aku lupa keadaan sekelilingku, apabila ada hal-hal yang kurang harap cianpwee suka memaafkan"

"Aku tidak merapunyai banyak waktu untuk bicara tak berguna dengan dirimu, ayoh cepat enyah dari sini"

Pek In Hoei melengak, ucapan yang amat kasar itu kontan menimbulkan perasaan kurang senang didaiam hatinya, segera ia berpikir :

"Hmmm! berhubung kau saling mengenal dengan supek-couw-ku lagi pula sudah menolong jiwaku maka aku bersikap sangat menghormat kepadamu. Siapa kira sekarang
kau bersikap becitu sinis kepadaku, dianggapnya aku lantas merengek-rengek ?"

Sambil tundukkan kepalanya Pek In Hoei melepaskan jubah luar yang dikenakan-, lalu membungkus jenasah ayahnya baik-baik dan berlalu dari tempat itu.

Baru saja ia berjalan empat langkah dari sana tiba-tiba Kim In Eng berteriak
kembali!"

In Hoei melengak dan segera putar dengan sorot mata keheranan diawasinya gadis tadi.

"Apakah kau anak murid partai Tiam-Cong?" tegur Kim In Eng sambil bangkit , perlahan-lahan ia bereskan rambutnya yang panjang. "Tentu kau kenal bukan pedang
sakti dari partai Tiam Cong, Cia Ceng Gak?"

"Cio Ceng Cak adalah supek ayahku, telah lenyap sejak dua puluh tahun."

"Aku mengerti bahkan tahu juga kalau Dia sudah lenyap tak berbekas. Aaaaa.... diatas gunung Cing Shia Inilah mereka lenyapkan diri hingga sekarang"

Gadis itu merandek sejenak nenghela napas, lalu terusnya:

"Kalau didengar dari ucapanmu barusan seolah olah kau maksudkan bahwa dirimu bukanlah anak murid partai Tiam-cong?"

"Cayhe sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat, tentu saja tak bisa dianggap sebagai anak murid partai Tiam-cong sebetulnya, namun"

Dengan sedih ia menghela napas. "Partai Tiam-cong sudah lenyap dari muka bumi sejak kini nama besarnya terhapus dala. dunia persilatan"

"Aaaaaah......!" rupanya Kim In Eng merasa amat terperanjat dengan kabar tadi sehingga dia berseru kaget, sesudah termenung beberapa saat ujarnya :

"Sedikit ilmu silatpun tidak kau miliki, mana mungkin kau bisa balaskan dendam sakit hati partai Tiam-cong?"

"Dengan andalkan semangat serta kemauan yang kumiliki, aku bersumpah akan belajar ilmu silat nomor Wahid dikolong langit, aku pasti akan membalaskan sakit
hati dari anak murid partai Tiam-Cong"
"Punya semangat....jenasah yang berada dalam pangkuanmu?"

In Hoei tundukkan kepalanya dengan sedih:

"Ini adalah jenasah ayahku tercinta, menemui ajalnya ksrena dikerubuti kurang lebih tiga puiuh orang jago Buliml"

"Aaaaai dendam serta budi yang ditinggalkan generasi berselang rupanya telah dituntut balas oleh generasi akan datang, saling dendam mendendam saling bunuh
membunuh entah sampai kapan baru akan berakhir"

"Aku tahu, kesemuanya ini adalah hasil karya dari sigolok perontok rembulan Ke Hong yang bercokol diperkampungan Tay Bie San-cung"

Kim In Eng termenung sebentar lalu katanya :

"Kau naiklah kemari, aku ada perkata yang hendak disempaikan kepadamu"

Pek In Hoei rada sangsi, namun akhirnya sambil membopong jenasah ayahnya ia bertindak naik keatas tonjolan batu dati tadi dengan langkah lebar. Baru saja ia
maju dua tombak jauhnya terdengar Kim In Eng nembentak :
"Hati-hati"

Bersamaan dengan ucapan tadi seutas ikat pinggang berwarna hitam meluncur datang laksana kilat, kemudian bagaikan ekor ular membelilit pinggang sianak muda
kencang-kencang.

DALAM pada itu Pek In Hoes merasakan pinggangnya mengencang, diikuti sisi telingnnya mendengar deruan angin kencang, tahu tahu sekujur badannya sudah ditarik
naik keatas batu oleh tarikan ikat pinggang berwarna hitami tadi.

Begitu tiba diatas batu, sianak muda itu merasa kaget, dalam hati pikirnya :

"Dia adalah kcnalan dari Supek-couw, nengapa usianya masih begitu muda?"

Kiranya perempuan yang berdiri dihadapanya saat itu bukan saja berwajah cantik, bahkan masih muda belia.

Alisnya yang tipis lagi panjang, bibirnya yang kecil mungil serta hidungnya yang mancung merupakan suatu perpaduan yang sangat serasi, mencerminkan
kecantikan wajah seorang bidadari.

Dengan termangu-mangu pemuda itu berdiri melongo disana, untuk beberapa saat lamanya tak sepatah katapun yang berhasil diutarakan.

Menjumpai keadaan sianak muda itu, Kim In Eng meraba wajah sendiri dan menghela napas.

"Asaaaai ..... I aku makin bertambah tua"

"Tidak! Cianpwee..... kau masih tampak muda '

Kim In Eng geleng kepala dan menghela oapaj kembali.

"Pada usia lima belas tahun aku telah berjumpa dengan dirinya, hingga kini dua puluh tiga tahun sudah lewat, setiap hari tiap malam aku selalu memikirkan
dia, menangisi nasibnya yang jelek dan terjerumus dalam lembah kedukaan, siapa bilang aku tidak bertambah tua"

"Cianpwee, aku tidak bohong, kau benar-benar masih kelihatan sangat muda." seru Pek In Hoei dengan wajah merah padam,

"Ulat sutera akan berhenti mengeluarkan seratnya bila dia sudah mati, api lilin akan padam setelah sumbunya habis, aka tetap mempertahankan selembar jiwaku
tidak lebih untuk perlahan2 mengenang kembali ke masa silam! Aaaaai . . . makin kini hatiku terasa makin pedih....." Ia melirik sekejap kearah Pek In Hoei
katanya :

"Kau duduklah nak"

Pek In Hoei mengiakan dan duduk keatas tanah.

Perlahan-lahan Kim In Eng pun duduk diatas tanah, dengan tangan kanan ia peluk dan tangan lain menyentil senarnya? Rentetan irama merdu menggema diangkasa.

la berpaling memandang sianak muda itu, tegurnya :

Apakah kau ingin belajar ilmu silat?" Anak muda itu mengangguk, aku ingin belajar silat, sebab aku harus memmbalas dendam sakit hati ini"

"Maukah kau belajar ilmu silat dengan diriku ? Jadi anak muridku"

"Cianpwee, tolong tanya apakah ilmu silatmu merupakan ilmu silat yang paling lihay dikolong langit?"

Kim ln Eng tertegun, dengan cepat ia menggeleng.

Dalam kolong langit tidak akan ada ilmu silat yang paling lihay, siapa berani berkata bahwa ilmu silatnya nomor satu di dalam jagat?"

Kalau begitu aku tidak ingin belajar silat darimu !"

Aku adalah anak murid dari perguruan Seng Sut Hay, kepandaian silat partai kami mengutamakan kelunakan, kelincahan serta bersumber pada tenaga lunak,
meskipun belum bisa disebut sebagai ilmu silat nomor satu dida!am dunia, tapi jarang sekali ada jago didaratan Tionggoan yang dapat menandingi, kenapa kau
tidak ingin belajar kepadaku?"

Aku telah tersumpah mempelajari ilmu silat yang paling lihay dikolong langit kalau tidak maka aku harus belajar ilmu penghancur sang surya dari partai
Tiam-cong mengutamakan kekerasan, setiap digunakan hawa pedang menjelimuti rasa, kekuatannya luar biasa " mendadak sinar matanya redup bisiknya dengan suara
lirih:

Ketika untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan Cia-lang, dimana menggunakan ilmu pedang penghancur sang surya beradu kepandaian dengan toa suhengku Ku
Loei, waktu itu dia berusia tiga puluh dua tahun, bukan saja ganteng dan gagah iapun berhasil mendapatkan gelar sebagai sipedang sakti.

Sinar matanya terang kembal ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu lalu terusnya :

Aku dengan cinta kasih yang paling suci dari seorang gadis mencintai dirinya, kelembutanku akhirnya memperoleh balasan cinta yang setimpal darinya, setelah
ia berhasil menangkan ilmu pedang Liuw Sah Kiam-hoat dari perguruan kami, aku lantas diajak berpesiar kemana-mana, kami berdua melewatkan suatu musim gugur
yang amat panjang. Waktu itu merupakan musim gugur yang tak terlupakan selama hidupku, kami sama-sama menghitung daun kering yang gugur, bersama-sama
menangkap kunang2, waktu malam membicarakan impian indah dimasa mendatang.

Wajahnya bersemu merah, dengan halus manja ia belai rambut sendiri yang panjang dan hitam, sambungnya :

Ketika itu dia paling suka dengan rambutku yang hitam dan panjang terurai ini, ia bilang dibalik rambutku yang panjang tersembunyi suatu rahasia yang dalam
membuat dalam hatinya timbul banyak lamunan dan kenangan

Dari perubahan sikap serta air muka yangg diperlihatkan Kim ln Eng, pemuda kita bisa membayangkan betapa bahagianya perempuan ini bersama sipedang sakti Cia
Ceng Gak dikala muda dahulu, waktu itu mereka berdua tentu saling sayang menyayangi dan melewatkan suatu hidup yang penuh kebahagiaan sehingga membuat Cia
Ceng Gak akhirnya merasa berat untuk kembali ke Tiam cong .

Tiba tiba nada ucapan Kim In Eng berubah jadi gelisah ia meneruskan :

"Pada bulan ssembilan musim gugur tahun itu juga, delapan partai besar dari daratan Tionggoan dengan dipelopori oleh partai Sauw lim, Bu-tong, Hoa son serta
Go bie mengundang jago jago dari lima partai lainnya untuk mengadakan pertemuan dipuncak gunung Cing-shia pada saat itula dengan menggembol pedangnya pergi"

„Sebenarnya dia berkata kepadaku bahwa besok sorenya dia akan balik lagi, tapi sampai musim salju yang amat dingin dan panjang itu sudah berakhirpun dia
belum juga kembali hingga sekarang?"

air mata mulai membasahi matanya

Dengan sedih ia menyambung sejak dia pergi, aku merasakan kekosongan kehampaaa serta kesunyian yang tak terkira, setiap malam telah tiba dan aku pejamkan
mata, bayangan tubuhnya selalu muncul didepan mata dia datang sambil membawa kegembiraan serta kebahagiaan yang tak terkirakan bagiku. Setiap kali kubuka
mataku dia lenyap tak berbekas. Sambil meninggalkan kehampaan serta kesunyian yang makin menebal mata jatuh berlinang makin deras membasahi wajahnya dan
menetes diatas wajahnya.

Malam semakin kelam embun makin tebal. . Aaaai Kabut telah tiba, bergerak mengikuti hembusan angin gunung." In Hoei berdiri termangu mangu bagaikan patung
arca, ia awasi Kim In Eng dengan sorot mala melongo, dalam hatinya timbul pula rasa duka yang tebal

Diam-diam ia berpikir :

Seandainya suatu hari aku berhasil pula menemukan gadis yang benar-benar mencintai diriku, aku tidak nanti meninggalkan dirinya sehingga mendatangkan
kesedihan serta kepedihan yang tak terhingga baginya

Tiba-tiba..... serentetan suara dengusan yang berat lagi nyaring hingga menggetarkan telinganya berkumandang datang.

Dengan terperanjat dia mendongak, sementara air muka Kim In Eng pun berubah hebat, ia awasi tempat kejauhan dengan wajah serius.

"Siapa yang telah datang?" sianak muda itu segera bertanya.

"Toa suhengku". " Couw suhunya Pay Boen"

"Benar" Kim In Eng mengangguk dengan wajah berat. "Dia adalah si Rasul pembenci Langit Ku Loei"

"Rasul Pembenci Langit...... Rasul Pembenci Langit ?"

"Haaa --- haaaah .... haaaaah.... "

Suara tertawa yang amat mengerikan berkumandang keluar dari balik kabut menggetar seluruh lembah bukii tersebut.

Bocah, cepat bersembunyilah dibelakang tubuhku seru Kim ln Eng seraya menghampiri sianak muda itu. "Watak Toa suheng kurang baik, bukan saja ia kasar bahkan
berangasan sekali, hati hati terhadap dirinya jangan sampai isi perutmu terluka oleh alunan irama harpanya

Kendati didalam hati Pek In Hoei merasa tidak begitu jelas apa sebabnya irama suara yang diperdengarkan dapat melukai orang, namun mau tak mau dia harus mem
percayai akan kenyataan dari kejadian itu.

Sebab tadi, dengan mata kepala sendu ia saksikan isi perut Pay Boen Hay diluka oleh irama khiem sehingga muntah darah maka diapun percaya bahwa irama harpa
dari sirasul pembenci langit bisa meluka puia isi perutnya.

Meski begitu, pemuda kita masih keliha an sangsi, untuk beberapa saat dia masih berdiri ditempat semula.
"Cepat bopong jenasah ayahmu dan se bunyikan kebelakang tubuhku" seru Kim In En g dengan nada cemas. "Sekarang dia masih berada lebih duapuluhtombak dari si
kalau dia sudah ada tiga tombak jauhnya maka kau pasti akan teriuka ditangannya"

Pek ln Hoei tidak ragu ragu lagi, ia bowa jenasah ayahnya dan berjalan kebelakang Kim In Eng lalu duduk keatas tanah. "Bocah, kenapa kau tidak mengubur saja
jenasah ayahmu disini? Daripada kau kerepotan sendiri?" tegur perempuan itu sen alis berkerut.

"Tidak, ayahku mati diatas gunung Cing-Shia aku tidak ingin mengebumikan jenasah ditempat ini."

"Aaaai bocah, kenapa kau ingin cari susah buat dirimu sendiri?"

"Ih dimanapun saja, apa bedanya dikubur disini atau ditempat lain ?"

"Sumoay! bentakan keras laksana guntur disiang hari bolong bergetar diseluruh angkasa, dibalik buyarnya kabut muncul seorang kakek tua berjubah merah yang
penuh cambang diwajahnya, matanya bulat gede seperti mata harimau perawakannya tinggi besar bagai raksasa.

Begitu tiba ditempat itu, dia lantas mengawasi baju hitam yang dikenakan Kim In Fng kemudian sambil menghela napas tegurnya:

"Sumoay, hingga kini kau masih berkabung untuk kematiannya?"

"Selama hidup aku cuma mencintai dia seorang, dia telah mati dicelakai kalian semua tentu saja aku harus terkabung baginya. Sepanjang hidupku tak nanti
kukenakan pakaian dengan warna lain. Selama hidupku akan selalu berkabung bagi kematiannya"

"Sumoay, bukankah pandanganmu itu sempit bagaikan pandangan seorang bocah cilik? Coba katakan, apa sangkut pautnya antara lenyapnya Cia Ceng Gak beserta
ketua delapan partai besar dengan diriku? Apakah kau anggap aku benar benar mempunyai kekuatan yang begitu besar untuk membinasakan mereka semua?"

"Diam. Kau jangan menganggap aku , seperti bocah cilik lagi, tahun ini umurku sudah hampir mendekati empat puluh, kau anggap aku masih sudi mempercayai
obrolanmu itu.

Ku Lui mengerutkan alisnya "Coba kau lihat, selama banyak tahun kau telah ngambek dan tidak mau pulang ke Seng Sut-Hay, tidak mau mengikuti aku sebagai toa
sukomu, bahkan mengecat khiem kuno hadiah suhu dengan warna hitam, apakah tingkah lakumu tidak mirip buatan seorang bocah cilik?"

"Hmmmm I Sejak dulu kan aku sudah bilang, aku sudah bukan anggota perguruan Seng Sut Hay lagi, kenapa aku harus kembali kesana ?"

"Perbuatanmu benar benar keterlaluan sekali, selama enam belas tahun kau selalu menghindari pertemuan diantara kita. Hay-jie yang kuutus untuk mencari
dirimu, kau usir pergi bahkan ketika aku perintahkan Hay jie untuk mengundang kau mendatangi perkampungan Tay Bie San cung, isi perutnya kau lukai dengan
irama khiem sehingga muntah darah"

"Dia tidak menghormati angkatan yang lebih tua, apa salahnya kalau kuberikan kepahitan buat dirinya ?"

"Tapi tidak seharusnya kau lindungi orang lain " seru Ku Loei lalu tarik napas dalam dalam.

Sinar matanya beralih dari wajah Kim ln Eng menyorot Pek In Hoei yang bersembunyi dibelakang.

Tatkala matanya terbentur dengan tameng mustika diatas badan sianak muda itu, kakek berewok ini menunjukkan sikap tercengang dengan cepat perhatiannya
dikumpulkan keatas wajah pemuda itu.
{bersambung ke jilid 6)


JILID 6 : Ilmu sakti peninggalan delapan partai

SUNGGUH tebal napsu membunuh bajingan cilik ini!" pikirnya da!am hati dengan perasaan kaget. "Sungguh cerdik pula otaknya, dia punya tulang dan bakat yang
bagus tidak enak kalau dilindungi keselamatan jiwanya"

Karena berpikir begitu, segera tanyanya :

"kenapa kau lindungi keselamatan bajingan cilik yang berada di belakangmu? dia anak murid partai Tiam-cong . . . ."

"Justru karena dia berasal dari partai Tiam-cong mska kutolong jiwanya!" lalu dengan wajah serius tegurnya. "Mengapa kan hendak membasmi habis seluruh
anggota partai Tiam cong?"

"Kapan aku pernah membasmi seluruh anggota partai Tiam-cong?" Ku Loei balik bertanya dengan nada melengak.

"Hmmmm! tiga puluh tahun berselang ilmu pedangmu menderita kekalahan total ditangan Cia Ceng Gak, sejak itu dalam hatimu selalu membenci orang-orang partai
Tiam-cong. Bukankah sekarang kau telah mengutus Ke Hong beserta tiga puluh orang lebih untuk membinasakan Pek Tian Hong dsrl Tiam-cong-pay ?

"Hmmm! apa yang hendak kau katakan lagi?"

"Apa?" teriak Ku Loei dengan mala melotot. "Sejak Couwsu mendirikan perguruan Liuw-sah-boen dilaut Seng Sut Hay selama dua ratus tahun rasanya tidak pernah
ada anggota perguruan kita yang melakukan perbuatan terkuiuk serendah itu, kau sebagai anak murid perguruan ternyata berani menghina perguruan ternyata
berani menghina perguruan, merendahkan nama Couwsu, tahukah kau bahwa kau telah melanggar dosa yang sangat besar?"

"Sudah lama aku bukan anak murid perguruan lagi, kenapa aku harus terikat oleh peraturan perguruan?". "Sumoay, benarkah kau tidak sudi kembali kedalam
perguruan? apakah kau sudah melupakan semua pesan dsri suhu?"

Kim In Eng gelengkan kepalanya.

"Keputusanku sudah bulat, sekalipun kau hendak mengucapkcan kata kata seperti itu tidak nanti aku akai kembali ke Seng sut Hay"

Ku Loei meraung gusar, cambanguya pada berdiri semua bagaikan landak, dengan keadaan yang menyeramkan bentaknya:

"Kim In Eng, aku hendak menggunakan kedudukanku sebagai toa suhengmu menjatuhkan hukuman kepadamu!"

Kim In Eng tertawa dingin, terhadap tingkah laku Ku Loei yang sedang diliputi kemarahan ia tidak ambil gubris.

Si Rasul Pembenci Langit Ku Loei makin gusar, matanya melotot bulat bagaikan kelereng, mendadak ia angkat tangan kanannya memperlihatkan sebilah pedang
pendek berwarna emas.

"Anak murid angkatan kedelapan dari perguruan Liuw-sah Boen Kim In Eng harap dengar perintah" serunya sambil melangkah maju setindak.

Serentetan cabaya aneh memancar keluar dari balik msta Kim In Eng, ia cuma melirik sekejap kearah pedang emas itu kemudian tidak ambil gubris, bukan begitu
saja, bahkan ia malah berpaling dan berkata kepada Pek In Hoei :

"Bocah, apakah kau ingin tahu sebab sebab yang menyebabkan kematian supek cauwmu sipedang sakti dari partai Tiam-cong, Cia Ceng Gak?"

Pek In Hoei mengangguk.
“Aku bersumpah akan membalaskan dendam sakit hati setiap anggota partai Tiam cong yang mati terbunuh"

Seakan-akan sedang mengisahkan satu Kim In Eng mulai berkata:

"Dengan membawa pedang sakti penghancur sang surya Cia Ceng Gak terjunkan diri
kedalam dunia persilatan. Waktu itu Ku Losi beserta murid kedua Cfciu Tiong dan siauw sumoay mereka Kim In Eng sama-sama berkelana pula dalam dunia kangouw,
dalam waktu singkat Cia Ceng Gak berhasil merebut gelar sipedang sakti dalam Bulim Sebagai pemimpin dari partai Tiam cong, disambali pula ilmu silatnya lihay
dan wajahnya sangat ganteng, banyak gadis cantik sama2 jatuh cinta padanya, tetapi sayang Cia Ceng Gak bukan seorang yang romantis bukan saja ia tidak
menggubris gadis2 itu bahkan pura2 berlagak pilon...... oleh sebab itulah, dalam kangouw dia pun mempunyai satu gelar yang kurang sedap didengar silelaki
tampan yang tidak romantis".

"Apakah pada saat itu supek-couw berkelana sambil menggembol pedang sakti penghancur sang surya?" tanya Pek In Hoei.

Kim In Eng melirik sekejap kearah sianak muda itu, lalu mengangguk. "Hmmm! Seandainya ia tidak mengandalkan kemisteriusan dari pedang itu, tidak nanti aku
menderita kalah ditangannya" Jengek sirasul pembenci langit dengan suara bengis

Kim In Eng mendengus, ia lirik sekejap suhengnya dengan pandangan dingin lalu menyahut:

"Hatimu kejam, licik dan buas. Mana mungkin bisa melatih ilmu pedang terbang yang merupakan suatu ilniu pedang tingkat atas? Sekalipun umpama kata Cia-lang
tak mati, ilmu pedangmu tidak nanti bisa menandingi dirinya !"

"Perempuan yang tidak tahu malul" teriak Ku Loei penuh kegusaran. "Hmmm Aku tidak pernah mencelakai orang lain dengan siasat busuk, tidak pernah memperkosa
anak gadis orang, tidak peraah menggunakan akal licik untuk mengangkangi siauw sumoaynya sendiri, kenapa aku tidak tahu malu"

Si Rasul Pembenci Langit meraung keras ujung jubahnya dikebut kedepan dan serentetan desiran angin tajam berhawa dingio segera meluncur keluar.

Pek In Hoei menggigil ia rasakan suhu udara disekeliling tubuhnya mendadak merendah dengan cepatnya," dalam sekejap mata dis rasakan tubuhnya seolah olah
terjerumus kedalam gudang es yang amat dingin, giginya saling beradu keras karena tak tahan sianak muda itu bersin beberap« kali.

Terhembus desiran angin tajam tadi, ujung baju Kim In eng yang berwarna hitam berkibar kencang, namun ia sama sekali tidak terluka, sambil tersenyum menghina
jengeknya :

"Heeeh...... heeeeh........heeeh........kepandaian silaimu tidak lebih cuma begitu saja?"

Sambil berkata lima jari tangan kanannya diayun keluar, lima rentetan desiran angin serangan meluncur keluar dari ujung kelima jarinya menghantam kemuka.
Meski desiran itu halus bagaikan hembus angin malam, namun mengakibatkan jubah yang dikenakan Ku Loei bergelombang, bagaikan tertusuk lima bilah pedang
tajam, desiran angin serangan itu menembusi pukulannya hingga melubangi pakaian yang ia kenakan.

Kontan air mukanya berebah hebat.
"Hmmm Sungguh tak nyana ilmu totok Lan Hoa-ci dari subo berhasil kau latih"

"Ilmu telapak Han Pang-ciang dari suhu yang kau milikipun tidak jelek, cuma sayang heeeh...... heeeh...... heeeeh...... semua ilmu silat dari Seng Sut Hay
mengutamakan tenaha Im yang lunak. Sekalipun kaliau kaum pria berlatih giatpun tidak nanti bisa peroleh hasil yang lebih baik daripada kaum wanita !"

Ia berpaling kembali kearah Pek In Hoei dan menyambung:

"Kau harus perhatikan baik baik, semua ilmu silat dari Seng Sut Hay mengutamakan tenaga Im-kang yang bersifat lunak, hanya tenaga Yang-kang yang bersifat
keras dan panas saja bisa menaklukan, kalau tidak maka kau harus benar benar menguasai kelincahan serta kelunakan dari tenaga Im-kang, kalau tidak ingin
dikecundangi olehnya ... "

Perempuan itu menghela napas panjang setelah merandek tambahnya:

"Semula aku memang ada maksud menerima kau sebagai muridku, tetapi sekarang setelah kupikir lagi, meskipun kau berlatih selama hiduppun tidak nanti bisa
mengalahkan dirinya, maka sekalipun kau tidak sudi anak muridku, akupun tidak akan merasa sedih" Dengan hati mendongkol rasul pembenci langit mendengus
berat. "Walaupun kau berhasil melatih ilmu jari Lan Hoa-cie, aku masih punya cara untuk menaklukkan dirimu Sumoay! Kau jangan keburu senang. Lihat saja
nanti... Dewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng tidak menggubris ancaman orang kepada Pek In Hoei ujarnya lagi dengan suara halus.

"Kau harus perhatikan baik baik ilmu pukulan salju yang ia lepaskan tadi bisa membekukan cairan darah dalam tubuh seseorang, seandainya darah dalam tubuh
iawan sudah membeku maka dia akan kehilangan daya perlawanan, pada saat itulah serangannya dengan dahsyat akan menghancurkan badan musuh Oleh sebab itu bila
dikemudian hari kau berjumpa dengan dirinya, pertama tama hindarilah lebih dahulu hawa dingin, yang tcrpencar keluar dari serangan tersebut

"Lonte tengik !" teriak Ku Loei sangat gusar. "Sekalipun kau beberkan semua rahasia ilmu silat perguruan kita kepadanya tidak nanti ia bisa lolos dari
tanganku dalam keadaan hidup"

Kim In Eng tidak menggubris, ia pejamkan matanya dan berkata lagi: "Tahun itu aku baru berusia lima belas tahun, sebenarnya tidak pantas bagiku untuk
berkelana kedalam Bulim Tetapi berruntung aku disayang oleh subo dia ia tidak merintangi keinginanku untuk berpesiar didaerah Kanglam, maka setelah ribut
beberapa kali permintaanku dikabulkannya.

"Sepanjang jalan kedua orang suhengku itu berusaha menyenangkan hatiku, setiap tiba disuatu daerah maka dipilihnya tempat tempat yang paling baik untuk ajak
pesiar, memilih makanan yang paling untuk aku makan, mereka berdua takut aku tidak senang hati"

"Hmmm...! Rupanya kau masih ingat bahwa kami bersikap sangat baik kepadamu" dengus Ku Loei. "Aku kira hatimu sudah digondol anjing"

Kim In Eng tidak gubris sindiran suhengnya, kembali ia lanjutkan kisahnya ;

"Pada masa itu partai partai besar dalam Bulim saling tidak akur, saling curiga mencurigai, pada hari hari biasa jarang berhubungao satu sama lainnya. Tetapi
sejak anak murid Seng Sut Hay munculkan diri tanpa sadar mereka bersama sama bersatu padu untuk memusuhi kami, dan perjalanan kamipun seringkali mendapat
gangguan. Sayang sekaii partai Sauw-Iim, Bu-tong, Go- bie serta Hoa san yang dianggap sebagai partai lurus dalam dunia kangouw tidak memiliki ilmu silat yang
lihay maka dari itu satu demi satu jago jago mereka keok semua ditangan kedua orang suhengku"

"Hasaah .... haaaah.......... haaah........."

Rasul Pembenci Lsngit tertawa terbahak-bahak. "Jago jago tahu dan tempe dari berbagai partai mana bisa menandingi kehebatan perguruan kami?". Mendengar
suhengnya menimbrung terus dari samping, Kim In Eng kerutkan alisnya dan menjerit:

"Tutup bacot onjingmu, enyah jauh dari sini!".

Si Rasul Pembenci Langit membungkam dengusan dingin menggema tiada hentinya. Untuk sesaat suasana diliputi kesunyian.
Setelah merandak beberapa saat perempuan itu melanjutkan:
"Jago pedang yang ternomo pada seat kecuali sipedang naga terbang dari Kunloen Pay hanyalah sipedang sakti Cia lang seoorang. Ketika kami tiba dikota
Siok-Chlu, sipedang naga terbssg dengan merubungi wajahnya malam itu telah mendatangi kuil Han san-sie dan mencari kami untuk diajak beradu ilmu silat"

"Kuil Han-sao sie ? apakah kuil Han san sie yang dimaksudkan Pujangga Thio Sie dalam syairnya Jambatan Hong-Kiau ditengah malam?".

"Sedikitpun tidak solah, justru karena aku pernah membaca syair itu maka aku bersikeras untuk menginap dikuil Han-san- sie. Siepa sangka pada malam pertama
tidurku telah dibangunkan oleh kehadiran orang manusia bekerudung yang mencari Hay-thian Siang-Kiam untuk diajak Pibu Bocab tahukah kau bahwa bilamana
seorang telah mendapatkan sedikit nama seandainya ia bertindak kurang hati hati maka kemungkinan besar nama besamya akan hancur dalam waktu singkat? Peda
waktu itu tujuan Hwie Lioag Kiam menyatroni Han san sie dengsn wajah berkerudung bukan lain untuk menghindari ejekan orang banyak seondainya dia menderita
kekalahan....."

Perempuan itu menghela nopas panjang sambungnya:

"Tetapi akhirnya dia menderita kalah, kalah diujong pedang toasuhengku.

"Benar" sela Ku Loei dengan bangga, pada jurus yang keenam pUub tujuh, pedangku berbasil melepaskan kain kerudung yang ia kenakan

"Fui.... tak tahu malu. meski kau mengatakan Hwie Liong Kim pada jurus yang enam puluh tujuh, namun kau sendiri juga dipaksa keok dengan pedang terlepas dari
tangan oleh Cia Ceng Gak sebelum jurus yang kelima puluh”.

"Hmmm ! kalau dia tidak curang, mana mungkin aku bila kalah? dia menyerang aku tatkala aku baru saja menyelesaikan pertarunganku melawan sipedang naga tebang
dari Kun-loen Pay, waktu itu tenagaku sudah habis dan badanku lelah"

"Ooouw......... begitu? keospa tidak sekalian kau ceritakan bahwa kalian suhengte berdua telah mengerubuti orang lain dengan ilmu pedang Liuw-sah Kiam-hoat?"

"Lonte buauk! sebenarnya kau masih menganggap dirimu sebagai anggota perguruan Liuw sah Boen atau tidak? mengapa keu selalu membantu oraog lain?"

"Hmm! bukankah sejak tadi aku sudah bilang bahwa aku telah melepaskan diri dari keanggotaan perguruan Liuw Sah Boen?"

Ku Loei semakin mendongkol, dengan penuh rasa benci teriaknya:

"Kau sendiri yang berkata begitu, nanti kalau lerpaksa aku harus menghukum dirimu menurut peraturan perguruan, jangan salahkan aku terlalu kejam"

"Kenapa harus tunggu sampai nanti? sekarang saja tunjukkan kelihayanmu"

"Akan kulihat sampai dimanakah ketebatan mukamu untuk mengungkap kembali peristiwa lampau yang memalukan itu, agar kudengar sampai dimanakah baunya peristiwa
memalukan yang psrnah kau perbuat".

Pek in Hoei mendengus berat. "Hmmml macam begitulah sepak terjang seorang ketua perguruan? bila bisa mengucapkan kata kata sekotor don serendah itu. Hmmm aku
lihat perbuatanmu tidak lebib seperti seekor anjing dan babi yang hina"
.
Ucapan tersebut terlalu menghina, air muka Ku Loei kontan berubah hebat sambil loncat bangun teriaknya penuh kemarahan :

"Bajingan cilik, anjing kecil kau berani memaki diriku?".

Telapaknya diputar lantas dibabat keluar dengan kecepatan bagaikan ki1st. Sreeet... dalam sekejap mata serentetan babatan tajam menyapu kearah tubuh Pek In
Hoei.

Kim In Eng tidak ambil diam dengan datangnya serangan itu, dia membentak nyaring, badannya melengkung bagaikon busur lalu meletik bangun, liua juinye di
pentang lebar lebar lalu meayapu kedepan.

Bruuuk .... I gerakan tubuhnya terbendung, sekilas rasa kaget borkelabat di atas wajahnya. laksana kilat telapak kirinya didorong kemuka mengirim sebuah
pukulan lagi.

Bluuuum........ kembali perempuan itu tertahan ditebgoh jalan bahkan terdorong setengah langkah kebelakang, diatas batu munculah sebuah bekas telapak kaki
sangat nyata.

"Haaa.... haaaah.... haaaah...... bagaimana dengan seranganku ini?" jengek rasul pembenci langit sambil tertawa terbahak bahak dengan seramnya.

"Ilmu silat apakah itu?"

“Kitab ilmu golok perontok rembulan yang ditinggalkan oleh suhu dahulu dalam kitab
pusaka Ku Thian Pit Kipnya"

"Ilmu golok perontok rembulan?"

Si Rasul Pambenci Langit menjengek dingin, hawa murninya segera dikumpulkan keatas telapak. Dalam sekejap mata seluruh angkasa telah dipenuhi dengan selapis
cahaya tajam bewarna keperak perakan yang memancar keluar dari telapak tersebut.

Criiiilt ! seakan akan membelah suhu, sebuah batu cadas yang berat lagi keras telah terbabat putus jadi dua bagian oleh babatan telapek tangannya.

Pek In Hoei sendiri tertegun dibuatnys setelah menyaksikan kepandaian silat yang didemonstrasikan lawan, dengan hati terkesiap diam diam pikirnya:
"Iimu silat apakah itu? kenapa telapaknya bisa lebih tajam daripada sebilah golok?"

Sementara itu Si Rasul Pembenci Langit tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeh... heeeh.... inilah kepandaian silat tandingan yang diciptakan suhu untuk membalas dendam sakit hatinya terhadap subo ia sengaja menciptakan ilmu ini
untuk menghancurkan kepandaian Hoei Koo- Chiu dari subo"

Kim In Eng tertegun, lalu dengan benci serunya:
"Sekalipun ilmu silatmu dianggap nomor wahid dikolong langit, tidak nanti bisa menutupi kejelian dalam hatiku, tidak mungkin bisa melenyapkan kejelekan yang
pernah kau lakukan"

"Apa? kau bilang aku takut kepada siapa? perbuatan jelek apa yang pernah kulakukan?"

"Kau pernah menderita kekalahan total ditangan seorang jago pedang dari partai Tiam Cong, maka kau takut dari partai Tiam Cong akan muncul kembali seorang
jago lihay yang akan mengalahkan dirimu sekali lagi....."

Dengan sinis dan pandangan hina ia mendengus, kemudian terusnya:
"Tahukah kau apa sebabnya pada hari itu Cia Ceng Gak telah muncu! dikuil Hon san sie setelah kehadiran Hwie Liong Kiam dari partai Kunlun? ternyata dia telah
menemukan banyak anak gadis dalam kota Siok Chiu mati telanjang ditanah malam setelah diperkosa orang secara paksa, dan semua perbuatan terkutuk itu ada lah
hasil karyamu".

Si Rasul Pembenci Langit Ku Loei mengerutkan sepasang alisnya yang tebal, tiba tiba ia meraung keras, telapak tangannnya dengan ilmu golok perontok rembulan
segera dibabat kedepan.

Kim In Eng berkelebat kesamping, dengan suatu gerakan yang lincah lima jarinya disentil keluar diikuti secara beruntun ia kirim beberapa serangan berantai
secepat sambatan kilat.

Ku Loei enjotkan badannya bcrkelabat keatas gerakan telapaknya berubah, ditengah desiran tajam kembali ia kirim tiga buah babatan dahsyat. Saat ini tubub Kim
In Eng terus berada ditengah udara, kesepuluh jarinya secara bergantian mengirim serangan serangan kilat. seketika itu juga seluruh angkasa ditutupi oleh
bayangan jari yang tajam dan meyilaukan mata.

Pek In Hoei yang menonton jalannya pertempuran dari samping berdiri dengan mata terbelalak mulut melongo. Hampir saja ia tidak percaya kalau ada orang yang
bisa bergerak sedemikian cepatnya, bahkan melayang ditengah udara.

Detik itulah ia baru mulai menyadari bahwa menariknya ilmu silat, kalau dibandingkan belajar syair dan sastra, ilmu silat jauh iebih menyenangkan. Maka dalam
hati ia lantas berpikir:

Kepandaian silat sehebat dan sedashyat inipun tidak bisa dianggap sebagai ilmu silat nomor wahid dikolong langit, lalu ilmu silat macam apakah baru dapat
dikatakan nomor satu? Aaoaai... kiranya belajar silat bukan suatu pekerjaan enteng"
Otaknya berputar dan ia teringat kembali akan cerita Kim in Eng yang mengatakan bahwa dahulu Ku Loei pernah di kalahkan Cia Ceng Gak, maka pikirnya lebih
jauh :

"Asalkan aku dapat mempelajari ilmu pedang penghancur sang surya dari perguruan, bukankah dengan gampang pula kupukul keok dedongkot dari perguruan Liuw Sah
Boen ini? Seketiko otaknya masih memikirkan berbagai persoalan tiba tiba ia mendengar Ku Loei berteriak keras, begitu keras suaranya sampai sampai gendang
telinganya terasa sakit dan ia tak sanggup mendongak. Sementara Kim In Eng telah duduk bersila ditanah, kedua tangannya diangkat sejajar dada.

Setelah berteriak si Rasul Pembenci langit maju selangkah kedepan berdiri didepan sumoaynya, telapak kanan diangkat sejajar dada dan saling merapat dengan
telapak Kim In Eng, sedang tangan kirinya mencekal harpa kunonya kencang kencang

"Eeeei... apa yang sedang mereka lakukan?" pikir Pek in Hoei dengan hati tercengang.

Tiba2 ia berseru tertahan. ternyata kedua kaki Ku Loei yang berdiri diatas batu mengikuti gerak tubuhnya perlahan lahan amblas kedalam batu, sebaliknya
sekujur badan Kim In Eng gemetar keras, jubah hitamnya berkibar tiada hentinya walaupun tidak ditiup angin, bukan begitu saja bahkan seolah olah rambut serta
bahunya ikut gemetar semua.

Pemuda ini jadi heran, perlahan lahan ia maju mendekati perempuan itu untuk melihat apa yang sebenar telah terjadi.

Siapa sangka baru saja dua langkah ia berjalan, sambil melolotkan matanya bulat selat Ku Loei berpaling kearahnya, selurub cambang diatas wajabnya berdiri
kaku bagaikan landak, keadaannya betul betul mengerikan.

"Cepat2 menyingkir!" tiba tiba Kim in eng merjerit,

Pemuda itu tertegun, belum sampat ia menghindarkan diri, dua gulung angin puyuh maha dahsyat telah meluncur datang dengan cepatnya, menubruk dadanya tanpa
bisa ditahan, ia mencelat dua kaki dari tempat semula.

Blumm ... batu cadas itu membelah dua bagian, batu kerikil bergelinding, debu pasir beterbangan memenuhi angkasa..... sambil loncat ketengah udara teriak Ku
Loei dengan napas terengah-engah
"Kau anggap dengan menggunakan akal bisa menangkan pertandingan tenaga ini?"

Sinar matanya berkilat, mendadak la jumpai tubuh Pek In Hoei sedang melayang ditengah udara sekilas bayangan berkelebat dalam benaknya.

Senar harpa yang ada ditangan kanannya dengan cepat disentil. Ting! Serentetan suara harpa yang berat dan menusuk pendengaran menggema diangkasa.

Pek In Hoei menjerit kesakitan, sesudah bergulingan beberapa kali ditengah udara badannya terjatuh tiga tombak dari tempat semula.

Ku Loei mendengus dingin.

"Hmmm, urat nadiaya telah putus, jangan harap dia bisa hidup lebih jauh"

Sekilas rasa sedih berkelebat diatas wajah Kim Ib Eng, ia tarik napas dalam2. dua jarinya menyentil senar Khiem dan kemudion irama Khiem yaog lembut pun
berkumandang

Begitu mendengar irama Khiem, sekujur badan Ku Losi gemetar keras, lalu ia himpun tenaga dalamnya dan duduk bersila diatas tanah.

Irama khiem yong berkumandang itu memiliki nada yang sangat sedih, tapi di balik kepedihan mengandung pula nasu membunuh yang membara baraa Ku Loei tidak
berani gegabah dan harus menghadapinya denga serius.

Kiranya dia tahu Kim In Eng sudah meyakini permainan Khiem itu sejak lama. Kepandaian dalam ilmu tersebut luar biasa sekait, mokin tenang irama yang
diperdegarkan makin semakin gampang memecahkan perhatian orang satu kali pikirannya berlubang maka ia akan terpengaruh irama dan perutnya terluka.

Irama Khiem berkumandang bagaikan kabut yang menyelimuti sekeliling tempat itu, makin lama tubuh Ku Loei makin terkurung seolah2 sekujur badannya hendak
dibelenggu.

Mendadak Ku Loei membuka matanya, dengan serius ia letakkan harpanya keatas lutut kemudian tarik napas dalam2.
Criiing ...criiiing. . . dua sentilan diatas harpanya menghasilkan dua rentetan tajam yang menembusi irama khiem lawan bagaikan tusukan dua bilah pedang
tajam.

Irama Khiem tetap berkumandang bagaikan mengalirnya air, meski kena tertusuk oleh irama harpa namun tetap mengalir keluar tiada hentinya. . .

Air muka Ku Loei amat serius den berat, tiada hentinya ia menyentil harpa untuk melawan suara khiem

Malam semakin kelam. Kabut telah nembuyar .. rembulan hilang dibalik awan bintang mulai menyembunyikan diri

Peraduan irama Khiem serta irama harpa berlangsung dengan serunya mengalun keseluruh penjuru gunung Cing Shia.

Angin malam berhembus lewat menggoyangkan ranting, daun serta rerumputan. Pek In Hoei yang terbanting kedalam semak mulai merintih, mulai bergerak dan
akhirnya merangkak bangun.

Ia merasakan seluruh persendian tulangnya amat sakit bagaikan pecah semua, kepala pusing tujuh keliling dan hampir saja ia tak sanggup bangun berdiri, namun
dengan berusaha sekuat tenaga. Setelah itu barsusah payah akhirnya berhasil juga ia bangun berdiri.

Angin malam kembali berhembus lewat, sianak muda itu tarik napas dalam2 lo merasa kesadarannya mulai jernih dan pengalaman yang baru dialamipun terbayang
kembali.

Selangkah demi selangkah ia barjalan menembusi hutan. Ia mendengar pertarungan irama Khiem dan harpa masih berlangsung dengm serunya diatas tebing. iram«
tadi membuat darah segar dalam dadanya bergelora kembal. ia menjerit menutupi telinganya dan mulai berlari menjauhi tempat itu.

Lama.. lama sskali la berlari, akhirnya sianak muda itu berhenti disisi sebuah, pohon besar, ketika itu irama khiem dan irama harpa sudah tak kedengaran lagi
dadanya terasa nyaman dan segar

Suasana disekeliling tempat itu sunyi.. yang terdengar hanyalah dengusan napasnya sendiri yang memburu, tanpa terasa dia tertawa getir, pikirnya :
"Aaaai tak kusangka Irama harpa bisa digunakon untuk melakai orang. untung luka yang kuderita tidak terlalu parah."

Belum habis ia berpikir; tbia tiba berkelebat sesosak bayangan manusia, potongan orang itu sangat dikenalnya membuat Pek In Hoei segera mengenalinya.
"Bukankah dia adalah si Uler asep tua"

Sedikitpun tidak salah, dari tempat kejauhon masih kedengaran teriakan aneh dari Ouw yang Gong berkumandang dalang : "Cucu monyet kemana dia perginya?"
teriak Ouw yang Gong.
"Uler asep Tua aku ada disini" Pek In Hoei segera berteriak. Sambil berseru ia lari kearah hilangnya bayangan orang aneh itu dalam sekejap mata ia sudah
kehilangan jejak dan tersesat ditengah hutan tebing suram .yang penuh dengan tumbuhan rotan.

"Kemana perginya Siuler asep tua itu? atau mungkin dia tidak dengar teriakanku?"

Dari manusia aneh she Oow-yang, pemuda ini teringat kembali akan dendam sakit hati perguruanuya, terutama sekali kematian Pek Tian Hong ayahnya dalam keadaan
sangat mengenaskan . . . "

"Ayah mati korena dikerubuti orang banyak.... pikirnya, "Tapi dia melawan terus dengan segenap tenaga meski dikerubuti orang banyak. Aku harus mencontoh
kegagahan serta kejantanan ayah. Akan kubunuh semua orang yang terlibat dari peristiwa pengeroyokan itu, aku hendak memaksa mereka hadapi diriku dalam
keadaan ketakutan, setelah itu kutusuk perut mereka dengan jurus serangan yang mereka andalkan... aku bersumpah hendak mempelajari ilmu silat nomor wahid
dikolong langit, aku harus mempelajari ilmu silat yang ada dikolong langit.."

Saking bersemangatnya sianak muda itu berpikir, tanpa sadar ia memungut sebutir batu cadas lalu dia sambit keatas diading tebing disisinya.

Tiba tiba..... suatu kejadian aneh berlangsung didepan mata. dinding tebing dimana kena sambit oleh batunya tadi mulai longsor, pasir yang ada diatasbya
berguguran kebawah sehingga akhirnya munculah sebuah lubang gua yang cakup besar. Ruponya lubang yang sebenarnya terdapat diatas dinding tebing dan tertutup
oleh timbunan rotan serta pasir itu segera gugur karena terkena sambitan bata dari Pek in Hoei yaog cukup besar itu.

Dengan pandangan tercengang sianak muda itu melongok kedalam gua, bau apek dan amis yang memuakkan segera berhembus keluar dari balik lubang gua tadi.

Bau busuk yang berhembus keluar dari dalam gua hampir hampir saja memuakkan pemuda kita, buru buru dia bangun berdiri dan tarik napas dalam dalam, setelah
itu dengan rasa ingin tabu ia menerobos masuk kedalam goa tadi.

Gua itu dalam sekali, hawanya lembab dan dingin, angin kencang yang entah datang berasa! darimana berhembus keluar tiada hentinya.

Tiba tiba ia temukan sskilas cahaya emas diatas tanah, dengab cepat dijemputnya benda itu.

"Aaaai...... " Pek In Hoei berseru kaget, kiranya benda emas yang dia jemput itu bukan lain adalah sebatang peluru berbentuk naga kecil yang terbuat dari
emas.

Ukiran diatas senjata rahasia itu sangat hidup dan indah, bahkan sampai sisik dan ekot dari naga tadi diukirnya dengan rata.

Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya:
:Gua ini lembab lagi gelap, darimana muncul cahaya dari dalam sana?" Dengan perasaan heran dan ingin tahu, Pek in Hoei melanjutkan kembali perjalanannya
masuk kedalam gua.

Siapa sangka baru saja ia maju tiga langkah, sekali lagi ia temukan cahaya emas diatas tanah, waktu ia jemput benda itu ternyata bukan lain adalah senjata
rahasia berbentuk naga kecil seperti apa yang ditemukan semula.

Beginilah secara beruntun ia sudah temukan sepuluh bataeg senjata rahasia berbentuk naga kecil sepanjang lorong gua itu sebelum akhirnya dia tiba disuatu
tempat yang diterangi oleh cahaya terang.

Dengan tercengeng sianak muda itu mendongak, tampaklah didalam sebuah ruang batu yang luas bertebaran intan permata dalam jumlah besar, beberapa butir
mutiara besar memancarkan cahaya yang menerangi seluruh tempat.

"Tempat apakah Ini?" pemuda iiu kontan bergumam. "Sungguh royal pemilik gua ini, rupanya dia sudah boyong semua intan permata serta mutiara yang ada dikolong
langit untuk menerangi tempat ini..."

Dengan sinar mata tercengang ia awasi lagi sekeliling tempat itu kemudian ia berfikir :

"Tapi apa sebabnya ia tempelkan semua intan permata serta mutiara itu diatas dinding ruangan ini. sebaliknya mengguna kan cahaya emas senjata rahasia
berbentuk naga kecil itu sebagai penunjuk jalan bagi orang yang tersesat? Apakah dia ingin tinggalkan harta kekayaan ini bagi orang yang menemukannya?"

Serentetan pertanyaan yang mencurigakan berkelebat dalam benaknya, ia memandang sekitar sana hingga akhirnya sinar mata sianak muda itu berhenti diatas
sebatang ma nau cerah yang ada disebelah kanan.

Seluruh dinding ruangan ditaburi giok wirna bijau, hanya Ma Nau itu saja yang berwarna merah, penonjolan secara menyolok ini segera mengingatkan Pek In Hoei
akan satu persoalan. Ia maju menghampiri memandang dengan seksama dan segera ditemui bahwasanya Ma Nau tadi menonjol keluar tiga coen dari dinding seakan
sebuah anak kunci yang telah dimasukkan kedalam lubang kunci.

Ia berpikir sejenak, kemudian menekan batu Ma Nau merah tadi dan didorongnya kedalam kuat-kuat.
Seketika itu juga terdengar bunyi tri.t.. cuit yang nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, dinding berlapis batu giok hijau dibelakangnya tiba2 berputar
kesamping dan tak dikuasai lagi badannya ikut tertarik masuk kedalam.

Baru ia silangkan tangannya didepan dada siap menghindarkan diri dari segala ancaman yang mungkin saja menimpa dirinya.

Tetapi.... tiada sesuatu apapun yarg terjadi, menanti ia berdiri tegak, tampaklah sebuah batu dinding warnaputih berdiri tegak dihadapnnya, diatas dinding
batu tadi terukir beberapo buah huruf dalam ukuran besar.

Tulisan tadi kira2 berbunyi demikian:
“Barang siapa yang masuk kedalam gua harap segera berlutut.”

"Berlutut??" berpikir sianak muda itu, “kenapa aku harus berlutut dihadapan dinding batu putih ini?"

Dengan sepasang mata berkerut ia berjalan kesisi dinding tadi dan masuk kedalam sebuah Ruang batu lain.

Ruang itu luasnya lumayan, dari belakang ruangan terdengar bunyi gemuruh air yang amat memekikkan telinga, hembusan angin dingin melanda datang tiada
hentinya membawa hawa yang amat menusuk tulang

Sebuah tiang salju yang amat besar dan teba! berdiri tegak didalam dinding batu yang cekung keatas, seketika itu juga sianak mula itu berdiri tertegun dengan
mata melotot dan mulut melongo, hampir saja ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

Rupanya Pek In Hoei telah menjumpai sesuatu yang aneh didalam tiang salju yang amat besar tadi duduk bersila seorang hweesio berjubah warna merah darah,
hweesio itu pejamkan maunya rapat rapat dan seoiah olah sedang bersemedi.

Lama sekali Pek In Hoei berdiri melongak disitu, ia tidak mengerti apa sebabnya hweesio itu bisa terbungkus didalam tiang salju sebesar daa setebal itu, lama
sekali ia putar otak namun gagal juga mendapatkan jawaban.
Akhirnya la tinggalkan tempat itu dia mulai nenyapu sekeliling ruangan, kecuali tiang salju tadi dalam ruangan tadi terdapat sebuah meja yang terbuat dari
batu, diatas batu terletak sebilah kapak besar warna hijau pekat, sejilid kitab, beberapa batang pit dan sebuah hioloo kaki tiga.

Perlahan lahan ia menghampiri meja batu itu. dimana pada permukaan meja yang dapat terukir pula beberapa kata kata yang berbunyi :

"Pinceng adalah Thian Liong Toa Lhama, Pelindung Hukum Kerajaan pada jaman ini yang berasal dari Tibet. Sudah lama pinceng kagum kebudayaan bangsa Han, jauh
ketika aku masih menjabat ketua kuil Thian Liong Sie telah mendapat perintah dari Buddha hidup untuk tinggalkan gurun mendatangi daratan Tionggoan, dimana
aku telah berdiam dalam istana serta menjabat kedudukan pelindung Hukum yang dibelakang Kaisar kepadaku, meski begitu seringkali aku berkelana dalam dunia
persilatan dengan menyaru.

Pada suatu musim gugur sampailah pinceng diatas gunung Cing Shia, darimana sayup sayup berkumandang irama khiem yang merdu merayu, aku jadi tertarik dan
segera naik keatas gunung, disana tanpa sengaja aku telah bertemu dengan Dewi Khim bertangan sembilan Kim In Eng”

Membaca sampai disini Pek in Hoei berdiri tertegun, diam diam pikirnya dalam hati "Sungguh aneh sekali, sebelum aku tiba didalam gua dan berjumpa dongan
hweesio ini, aku tehah bertemu lebih dahulu dengan dewi Khiem bertangan sembilan Kim cianpwse. Heei siapa sangka hweesio inipun telah bertemu pula dengan Kim
cianpwee sebelum tiba disini.”

Berpikir sampai disitu, iapun melanjutkan membaca tulisan tadi

"Sejak kecil aku telah cukur rambut jadi pendeta dikuil Thian Liong Sie, sepanjang hari berdoa dan berdoa terus, sama sekali tidak pernah terpengaruh oleh
pikiran tentang gadis. Siapa tahu setelah berjumpa dengan Kim In Eng rasa cinta dalam dadaku bergelora sukar ditahan, selama tiga hari tiga malam aku telah
duduk dipuncak gunung Cing Shia sambil menikmati kecantikan wajahnya.

Irama Khiem telah buyar gadis cantik lenyap tak berbekas namun pinceng belum sadar kembali, kujelajahi seluruh gunung untuk menemukao kembali jejak gadis
cantik itu, tapi sia sia belaka. Akhirnya dengan hati sedih aku turun gunung".

Membaca sampai disini Pek in Hoei temukan tulisan tadi makin lama makin kusut dan tidak karuan, maka dibacanya sepintas lalu.

Dalam tulisan berikutnya hweesio itu menceritakan bagaimana setelah dia kembali ke ibukota. siang malam selalu memikirkan dan membayangkan Kim In Eng, setiap
saat tak dapat melupakan bayangan tubuh serta irama Khiemnya yang merdu merayu hati terasa sedih dan tersiksa.

Maka pada suatu hari dia lari masuk ks dalam gudang harta den memboyong benda benda berharga itu kegunung Cing Shia dengan maksud mempersembahkan benda benda
berharga itu kepada Dewi Khiem Bartangan sembilan Kim In Eng sambi! memohon kepadanya agar suka menemani dia berpesiar kemana mana.

Siapa tahu Kim In Eng telah melimpahkan rasa cinta dan sayangnya kepada lain orang, permintaan serta permohonannya itu ditolak mentah mentah.

Karena ditolak Thian Liong Hweesio merasa gemas sedih dan perih bagaikan dipagut ular, dengan hati putus asa dan sedih ia membawa benda benda berharga itu
turun gunung, dimana ia temukan gua tersebut dan mengurung diri disana sambil bertobat untuk menebus dosa. Tapi ia tak sanggup menahan birahi yang bergolak
terus menerus, akhirnya ia tak kuat menahan diri dan mati"

"Napsu birahi sukar dilenyapkan dari dada, aku musnah karena cinta" Baca Pek ln Hoei berulang kali.

Dia angkat kepala memandang kearah hweesio dalam tiang solju tadi, tampaklah diatas dadanya secara lapat lapat terlihat cahaya bekas luka berwa na hitam
pekat, ketika dipandang lebih seksama ia merasa luka itu memang sangat mirip dengan seekor ular.

Sekilas perasaan aneh berkelebat dalam otaknya, ia berpikir kembali:

"Luka yang disebabkan oleh karena napsu birahi ternyata jauh lebih hebat daripada luka karena senjata, seorang padri macam diapun bisa mati karena tak kuasa
menahan napsu birahi yang berkobar dalam dadanya, bukankah hal ini sama artinya menunjukkan bahwa setiap msnusia sukar untuk menahan diri dari pengaruh
nafsu. Birahi...."

Kembali sinar matanya menyapu keatas meja, disana masih tertinggal dua baris tulisan kecil yang berbunyi demikian:

"Pinceng tinggalkan sebilah kapak sakti yang tajam dan terbuat dari baja berusia selaksa tahun serta sejilid kilab ilmu silat Sembilan Kapak Pembuka langit,
sembilan belas perubahan dari ilmu sakti sembilan belas merubah naga langit bagi siapa saja yang masuk kedalam gua ini".

Dibawah kapak besar itu, tercatat pula beberapa huruf yang berbunyi begini :
"Tatkala elmaut hampir mencabut jiwaku, pinceng dengar dari dinding gua sebclah daiam barkumandang datang suara manusia. Barangsiapa yang beruntung masuk
kedalam gua ini, harap suka membelah dinding belakang gua ini dengan kapak, selidikilah asal mulanya suara nanusia itu”

Menulis sampai disitu, rupanya ajal sudah tiba maka Thian Liong Toa Lhnma mengakhiri kelimat yasg belum selesai itu sampai ditengah jalan saja.

Pek In Hoei menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri memandang dinding batu dibelakang tiang salju dan berpikir :

"Entah sudah berapa puluh tahun hweesio isi mati disini, sekalipun dibelakang dinding batu benar2 terdapat ruang kini satelah lewat banyak tahun kendati ada
oraog pernah masuk kedalam sana mereka tentu sudah keluar lagi.

Tapi ia berpikir kembali:

"Aku benar benar tidak percaya, masa sebilah kapak hitam yang jelek dan kecil ini mampu membelah dinding batu yarg tebal?"

Dengan perasaan ingin tahu ia ambil kapak sebesar tiga depa itu dan berjalan ke belakang liang salju.

Dinding beton dibelakaag liang salju itu berwarna hijau karena tumbihan lumut yang tebal dan subur, Pek In Hoei angkat kapaknya dan segera membabat keatas
dinding batu itu.

"Bruuuuk........" sebuah batu cadas yang sangatbesar rontok kebawah setelah terima babatan itu, begitu lunak dan gampang seolah2 sedang membabat tahu.

Dengan perasaan kaget dan tercengang Pek in Hoei angkat kapaknya lagi dan meneruskan babotannya keatas dinding.

Dalam sekejap mata batu cadas berguguran diatas tanah, dimana saja kapak itu mampir batu segera rontok kebawsh, dalam sekejap mata munculah sabuah lubang
yang amat besar diatas dinding tersebut.

Pek In Hoei segera melongok kedalam, ia temui bahwa dibalik dinding tadi munculah sebuah ruang batu yang penuh dengan tiang batu diatas tanah menggeletak
pula beberapa sosok mayat.

Ia berseru tertahan, rasa ingin tahunya semakin bertombah delam hati, kapaknya segera bekerja cepat membabat dinding batu sebingga dalam waktu singkat ia
dapat menerobos kedalam.

Bau apek dan amis berhembua keluar menusuk hidung, disepanjang tiang batu dalom ruang itu menggeletak delapan sosok mayat. Dandanan mereka acak2on dan
perawakan tubuh merekapun berbeda, namun ada satu yang sama yaitu wajab mereka menunjukkan penderitaan yang hebat serta diatas badannya tidak ditemui bekas
luka.

Pek In Hoei berjalan masuk kedalam, ia jumpai diantara mayat itu ada yang berdandan hwesio, ada yang berdandan toosu dan ada pula yang berdandan sebagai
manusia biasa, tetapi yang aneh temyata menunjukkan sikap yang aneh, badan mereka bangkok dan melengkung. Jelas sebelum ajal mereka tiba telah terjadi suatu
pertarungan yang maha seru.

Menyaksikannya itu, pemuda she Pek ini menghela napas panjang.

"Aaaai mereka semua mati didalam suatu pertempuran yang amat sengit, justru karena hawa dingin yang membeku dalam ruang batu ini maka jenasah mereka tetap
utuh dan tidak sampai membusuk. Tetapi-- apa sebabnya mereka saling bunuh membunuh? apa yang sedang mereka rebutkan?"

Tiba2 suatu ingatan berkelebat didalam benaknya.

"Mungkinkah mereka adalah mayat dari kedelapan ketua partai besar yang sudah lenyap puluhan tahun lamanya"

Sekujur badannya gemetar keras, ia segera minghitung jumlah mayat diatas tanah sedikitpun tidak salah semuanya berjumlah delapan orang.

Rasa tegang yang menyelimuti benaknya segera ditahan lagi, disebabkan karena ia akan segera mengetahui rahasia kematian dari kedelapan ketua partai besar
yang lenyap dipuncak gunung Cing shia sejak puluhan tabun berselang, pemuda itu nengucurkan keringat dingin.

Ia segera tundukkan kepalanya memeriksa mayat seorang hweeiio tua yang menggeletak paling dekat dengso dirinja, ia jumpai tangan kanan hwesio itu menuding
kearah tiang batu den ia mati dalam keadaan kaku.

Mengikuti arah yang dituding jari lengan mayat hwesio tua tadi, ia temukan bebarapa huruf terukir diatas tiang, tulisan yang berbunyi:

"Ilmu jari Kim Kong Ci dari partai Siauw lim"

Dibswah tulisan itu terukirlah bagaimana cars melatih ilmu jari itu dan bagaimana cara bersemedi dan bagaimana cara mengerahkan tenaga. Pek In Hoei berseru
tertahan, buru2 ia menengok keetas tiang batu lainnya, disana ia jumpai pada setiap tiang batu terukirlah ilmu sakti berbagai partai serta cara untuk
melatihnya.

Ia menghembuskan napat panjang, pikirnya:

"Ooouw........ Ilmu meringankan tubuh otau Ginkang dari partai Kunlun, ilmu pukulan penakluk harimau dari partai Gobi, ilmu pedang Siuw Cing Kiam hoat, ilmu
pedang Lak-Koo Kiam Hoat dari Parti Hoasan. ilmu pedang penakluk iblis dari partai Khong tong, ilmu pedang Kan san Kiam host dari partai Tiang Poy, ilmu
pedang Poo Hong Kiam Hoat dari portai Butong, ilmu pukulan Leng Bwee ciang dari partai Thian san. begilu banyak ilmu sakti yang terdapat di sini. kesemuanya
ini sudah cukup untuk menciptakon diriku sebagai jago sakti . . . "

Ia tertegun kemudian berpikir kembali :

"Tapi. . . bukankah Supek couw sipedang sakti dari Tiam cong pun ikut serta dalam pertemuan besar ini? kenapa hanya dia ia orang yang tidak kelihatan?",

Ia bangkit berdiri dan siap mencari jenasah dari Cia Ceng Gak, dan secara tiba tiba ia teringat kemhaii akan sumber cahaya yang menyoroti seluruh ruang batu
itu.

Kembali ia berpikir :

"Kenapa aku tidak pernah berpikir darimana datangnya cahaya sehingga aku dapat membaca tulisan tulisan kecil di tiang batu itu ?"

Belum hilang pikiran itu, dia telah menemukan datangnya cahaya itu kiranya berasal dari balik beberapa buah tiang batu nun jauh disana, begitu tajam
cahayanya sehingga seluruh ruangan jadi terang benderang,

Pek In Hoei maju menghampiri sumber cohaya tadi, ia lihat sebilah padang mustika yang panjang tertancap diatas tiang batu, pada gagang pedang tadi
terdapatlah sebutir intan bewarna merah darah, cahaya terang tadi bukan lain adalah sinar yang tcrpancarkan dari batu intan tersebut:

Dengan mata yang silau oleh cahaya, ia maju lebih dekat lagi kemudian cabut pedang tersebut dari atas tiang.

Mendadak kakinya tersangkut sesuatu hingga hampir saja terjungkal keatas tanah, kiranya benda itu bukan lain adaiah sesosok mayat.

Orang itu berwajah persegi berwarna merah kehitam hitaman, janggotnya panjang dan bercabang tiga, tangan kanannya berada ditengab udara seolah olah sedang
mendorong sesuatu sedang pada tangan kirinya mencekal sebuah sarung pedang berwarna merah yang memancarkan cahaya gemerlapan.

Kambali satu ingatan berkelebat dalam benaknya, buru buru dia angkat pedang mustika itu dan diporiksa dengan seksama diatas tanah pedang yang berwarna biru
kehitam hitaman terukirlah beberapa patah kata.

"Pedarg sakti Penghancur Sang Suryal",

"Apa pedang sakti penghancur sang surya?" Gumam Pek In Hoei dengan nada kurang percaya. "Kalau begitu... kalau begitu.... mayat yang menggeletak diatas tanah
bukan lain adalah supek couwku sipe dang sakti dari Tiam-cong, Cia Csng Gak adanya?"

Dengan pandangan mcndelong diawasinya wajah supek-couwnya yang telah mati puluhan tahun berselang, bayangan Kim in eng yang merana karena ditinggal Cia Ceng
gak berkelabat pula dalam benaknya

Begitulah, sejak hari itu Pek in Hoei lantas menetap didalam gua sambil mempelajari dan mendalami semua ilmu silat maha sakti yang ditinggalkan para ketua
delapan partai besar itu.

Ia berlatih giat dan rajin, tiap malam dengan tak mengenal lelah dilatih dan diyakini terus ilmu silat tersebut, dalam hati ia hanya punya satu cita2 setelah
menyelesaikan pelajarannya yaitu mambalas dendom bagi kematiao ayahnya serta
menuntut balas bagi kemusnahan anak murid partai Tiam-cong

( Bersambung kejilid 7 )


JILID 7 : Pesona kecantikan sang putri Gubernur

HEMBUSAN angin Barat laut yang dingin dan membekukan badan telah berlalu, musim semipun menjelang tiba. Daun yang hijau mulai bersemi diatas pohon Liuw dan
rerumputan nan hijau mulai tumbuh diatas permukaan tanah yang basah
Angin musim semi berhembus lewat menyegarkan suasana diatas gunung Cing Shia, awan putih bergerak diangkasa memperlihatkan puncak gunung yang secara
lapat-lapat masih berselimutkan salju. Tanah nan hijau yang membentang dipunggung bukit menunjukkan bahwa musim semi telah tiba.

Pagi itu udara sangat cerah, sinar matahari memancarkan cahayanya menerangi seluruh jagad.

Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia dengan langkah lebar berjalan turun dari atas puncak gunung Cing Shia.

Orang itu memakai jubah panjang berwarna merah, diatas punggungnya tergantung sebuah buntalan, disisi pinggang tergantung sebuah kapak hitam dan ditangannya
membawa sebuah bungkusan kain yang panjang. Gerak-geriknya aneh dan mencengangkan hati.

Manusia aneh berjubah merah itu dengan memakai sepasang sepatunya yang usang dan rusak selangkah demi selangkah berjalan melewati tanah lumpur yang becek,
memandang puncak gunung nun jauh disana, dengan alis berkerut ia bergumam: "Selamat tinggal, gunung Cing-shia !" Sambi berjalan, kembali ia berpikir:

"Berkumpul selama dua tahun membuatku berubah jadi seorang manusia yang kosen meski aku pernah cuourkan air mata disini namun aku berharap pada kunjunganku
yang akan datang aku telah menjadi seorang jago nomor wahid dikolong langit, semoga aku kembali dengan membawa kebanggaan serta kegembiraan."

Dengan langkah lebar ia melanjutkan perjalanan menuju kearah kota, dandanannya aneh tentu akan menarik perhatian banyak orang seandainya jalan raya itu penuh
dengan orang yang melakukan perjalanan nanun untung waktu itu jarang orang bepergian maka jalan raya sunyi sepi hanya dia seorang.

Langkah manusia aneh berjubah merah ini sangat enteng, setiap langkah ia dapat melalui satu tombak lebih lima depa lebih, begitu enteng dan gesit dia
berjalan seolah-olah capung yang terbang diangkasa.

Siang hari telah menjelang tiba, tatkala orang aneh itu masih melanjutkan perjalanan tiba-tiba terdengar dari arah belakang berkumandang datang suara
keleningan kuda, disusul seekor kuda berlari mendatang dengan cepatnya.

la segera menyingkir kesamping memben jalan buat kuda itu lewat, kuda pertama berlari kencang disusul kuda berikutnya lari lebih kencang lagi lumpur segera
beterbangan mengotori seluruh badannya.

Orang itu mengerutkan alisnya yang tebal dan angkat kepala memandang kedepan.

Ditemuinya kedua orang penunggang kuda itu adalah dua orang nona berbaju hijau yang mempunyai kuncir panjang diatas kepalanya.

Semula manusia aneh itu sudah siap mengumbar amarahnya, namun setelah menyaksikan bahwasanya kedua orang penunggang kuda itu adalah dua orang gadis manis, ia
batalkan niatnya dan tidak bicara apa2 lagi. Dengan hati mendongkol, ia menyeka lumpur yang menempel diatas bajunya dan meneruskan kembali perjalanannya.
Suara derap kaki kuda mendadak berkumandang kembali dari arah belakang, kali ini kuda tersebut lari dengan kencangnya, sebelum manusia aneh berjubah merah
itu membentak dengan kasar :

"Bangsat, ayoh cepat menyingkir, apa kau cari mati?"

"Sreeet....! serentetan desiran angin tajam segera menyapu datang berbareng dengan bentakan tadi.

Merasakan datangnya sambaran dengan sepasang kening berkerut manusia aneh berjubah merah itu angkat tangan kirinya keatas, lima jari laksana kilat
mencengkeram ujung cambut dan membetotnya kebawah.

Deruan angin tajam menyambar lewat diiringi suara ringkikan panjang kuda tersebut berkelebat melewati diatas kepalanya.

Berhubung sentakan keras dari dua tenaga yang saling berlomba cambuk kuda tadi putus jadi dua bagian dan rontok ketanah.

Sebaliknya sekujur badan manusia tadi basah kuyup lagi kotor oleh cipratan kaki kuda , melihat badannya kotor ia membentak gusar, tangan kirinya bergerak
memhentuk gerakan lingkaran lalu menyambsr kemuka, ia cengkeram ekor kuda yang masih ada diteogah udara, sementara tangan kirinya meraup kepinggaog binatang
itu dan menyentaknya kebelakang.

Kraaaaak ... ekor kuda itu mentah mentah terbetot patah, knda itu meringkuk kesakitan dan segera meloncat tujuh depa ketengah udara.

Oleh loncatan tadi penunggang kuda itu berseru tertahan dengan rasa kaget kemudian melotot kearah orang berjubah merah, dengan sorot mata gusar.

Sebaliknya orang aneh berjubah msrabpun dengan penuh kegusaran loncat meju empat tombak kemuka, sebelum tubuh kuda yang meloncat ketengah udara tadi hampir
menginjak permukaan bumi, ia sambar pinggangnya lalu diangkat keatas dan dibanting keatas tanah.

Kuda itu meringkik panjang, ia lemparkan ke penunggangnya keatas udara kemudian berkelejit sejenak dan akhirnya tak berkutik lagi. mati dengan kspala remuk.

Demonstrasi kepandaian sakti dari manusia aneb itu mengagetkan semua orang, dua orang gadis pertama tsdi segera berubah air muka dan berdiri dengan mulut
melongok.

Sebaliknya penunggang ketiga yang merupakan seorang pemuda gantengpun berdiri menjublek diatas tanah, rupanya tidak mengira kalau pihak lawan mempunyai
kekuatan sedemikian hebatnya.

Dengan sorot mata gusar manusia aneh berjubah merah itu awasi sekejap wajah pemuda itu, kemudian menegur dengan suara berat:
".Orang muda, usiamu masih amat kecil namun sepak terjangmu kasar dan jumawa. Hmmm seandainya aku tidak memiliki sedikit ilmu kepandaian bukankah sejak tadi
aku sudah mati terpijak kudamu? maka dari itulah sekarang aku hendak meghukum dirimu untuk meneruskan perjalanan dengan berjalin kaki, agar dikemudian hari
lebih berhati hati kau dalam menunggang kuda".

Habis berkata ia segera putar badan dan berlalu dergan langkah lebar.

Melihat dirinya ditegur dan dimaki didepan kedua orang nona !tu, merah padam selembar wajah pemuda itu saking mendongkolnya, menjumpai manusia aneh itu
hendak pergi, segera Ia loncat kedepan sambil membentak:
"Tunggu sebentar!"
"Koko...... " hampir bersamaan waktu nona yang ada desebelah depan berseru.

"Kau tidak usah ikut campur " hardik sang pemuda sambil menoleh "Ini hari aku harus memberi sedikit pelajaran kepada manusia jadah itu."

Dalam pada itu manusia aneb berjubah merah tadi baru saja melangkah tiga tindak, mendengar makian itu segera putar badan dan bertanya:

"Kau maki siapa manusia jadah?"

"Sauwyamu memaki dirimu sebagai manusia jadah, kau mau apa... ?" sahut sang pemuda sambil tepuk dada sendiri.

Setelah merandek sendiri sejenak, dengan alis berkerut serunya kembali :

"Jangan kau anggap dengan andalkan tenaga kasarmu sebesar dua kati itu lantas bisa jual tampang didepanku. Akan kurobek bacot anjingmu itu..... "

Orang aneh tersebut tertawa dingin

"Hammm... pada masa yang silam, entah kedua orang tuamu sudah bikin dosa apa sehingga memperoleh putra jempolan semacam kau. Tadi aku ampuni dirimu karena
memandang diatas wajah kedua adikmu itu, sekarang.. Hmm..... Hmm.... akan kulihat dengan andalkan kepandaian apakah kau hendak tunjukkan kelihayanmu"

"Bangsat tak usah banyak bacot lagi, lihat serongan lihay dari sauwyamu"

Seraya membentak badannya dengan lincah berkelebat kemuka, lima jari dipentang dan seketika itu jaga selurub angkasa dipenuhi efek bayangan jari.

Rupanva manusia aneh berjubah merah itu tidak meogira kalau pemuda perlsnte semavam diapun mempunyai kepandaian silat yang demikian dahsyat, in berseru
tertahan, tubuh bagian atas segera bergeser lima coen kesamping sementara telapak klrinya membabat keluar mengunci tubuh bagian luar, sedang lima bagian jari
tangannya menyerang bagian laksana sebuah jepitan mencengkeram urat nadi musuh.

Lelaki muda itupun diam2 merasa terperanjat tatkala menyaksikan penjagaan musuh yang ketat, berada ditengah udara tubuhnya merandek sejenak.

Dan dikala badannya merandek itulah, lima jati tangan kanan manusia aneh berjubah merah itu telah menyapu tiba.
Dia mendengus dingin. mendadak jart tangannya menutu! ke!uar membabat urat nadi dltangan lawan,

Serentetan napsu membunuh bersemi diatas wajahnua, tangan kiri digetarkan pula tanpa mengeluarkan sedikit usahapun kelima jarinya yang penuh mengandung hawa
sinkang menerobos masuk lewat titik kelemahan dibawah lengan kanan lawan.

Ancaman ini datangnya sangat berbahaya disamping keji jnga ganas, manusia aneh berjubah merah itu segera kebutkan jubah merahnya dan loncot mundur delapan
langkah kebelakang. dengan suatu gerakan yang manis ia bcrhasil melepaskan din dari totokan maut itu

"Kemana kau hendak lari?" hardik pemuda iiu, dengan gerakan yang tak berbeda ia menyusul kedepan"

Manusia aneh berjubah merah itu segera bersuit nyaring, mendadak badannya berputar dua lingkaran dltengah linkaran dan !oncay lima tombak keluar kalangan,
untuk kesekian kalinya dia berhasil meloloskan diri dari serangan musuh-

"Siapa yang mengajarkan ilmu jari ini kepadamu?" Tegurnya dengan alis berkerut "apakahi Kun Thian Jien Sian?" Pemuda itu tertawa seram.

"Aka mengira kau betul betu! memi!iki ilmu silat yang maka sakti, Hmmm tak tahunya cuma seorang prajurit tanpa nama dari partai Kun Iun ..."

Mendadak sir mukanya berubah keren, serunya :

"Cuma ilmu jari dari Kiong siauwya pun tidak mengerti, buat apa kau tampil didalam dunia persilatan untuk menjual kejelekan? siapa itu Dewi Khiem bcrtangan
sembilan atau bertangan sepuluh? pun sauw-ya sama sekali tidak kenal!"

Karena menyaksikan ilmu jari lawan sengat aneh, sakti dan mirip dengan kepandaian dari Kas Thian Jien Sian. maka ia ajukan pertanyaan tersebut, siapa tahu
pemuda itu amat sombong hal ini seketika itu juga menimbulkan kegusarannya.

Secara tiba tiba sekilas cahaya merah berkelebat diatas dahinya, kian lama warnanya kian membara.... Ia melangkah satu tindak kemuka, lalu tegurnya dengan
nada berat :

"Kau adalah putra dari Kiong Thian Bong?"

"Sedikitpun tidak salah, pun sauwya adalah Kiong Ci Yu" sahut pemuda itu jumawa. "Berani benar kau sebut nama besar ayahku?"

"Haaah.... haaah...... haaah....... Kiong Thian Bong adalah manusia macam apa.... tidak sejeriji dalam pandanganku . . . "

Mendengar ayahnya dihina Kiong Ci Yu meraung gusar, sepulub jarinya diputar kedepan, laksana sepuluh buah pedang kecil secara serentak menusuk ketubuh musuh.

Manusia aneh berjubah merah itu mendengus dingin, menunggu hingga serangan itu hampir mengenaitubuhnyn mendadak ia berputar kencang, laksana kilat tangan
kanannva bergerak kemuka mencengkeram jalan darah Pit Sie Hiat dilengan kiri pemuda she Kiong itu.

"Enyah dari sini!" bentaknya, Begitu jalan darah dilengan kirinya terpegang, Kiong Ci Yu meratasan separuh badannya jadi kaku, tanpa memiliki daya untuk
bertahan lagi badannya segera dilemparkan enam tombak jauhnya oleh manusia aneh berjubah merah itu.

"Bluuuum... " Tidak ampun badannya tercebur kedalam kolam lumpur disisi jalan.
Dua bentakan nyaring tiba tiba kerkumandang memecahkan kesunyion disusul menyambar datangnya dua desiran angin tajam.
Dengan cepat manusia aneh itu miringkan badan bagian atas kesamping, lengan kanannya berputar membentuk satu gerakan bujur dan menyerang dengan jurus Liauw
Koan Seng Gwat atau Memandang Bintang menikmati rembulan.

Weeess....Sreeet... l sebuah kuncir besar mengiringi sepasaog telapak yong halus dengan cepatnya meluruk datang. Manusia aneh itupun putar sepasang
telapaknya menyambut datangnya ancaman lawan.

Bruuuk.. walaupun berada dalam keadaan tidak siap, namun dalam bentrokan barusan manusia aneh itu dapat menilai sampai dimanakah taraf tenaga kepandaian yang
dimiliki gadis ini.

Badannya segera bekelebat menyingkir kesamping, namun dara itu tak mau kasih kesempatan baginya sambil membentak kuncinya kembali dikebaskan keluar. Manusia
aneh berjubah merah itu terus mundur kebelakang. Suatu saat tiba tiba ia kabulkan ujung jubahnya kearah depan, gumpalan angin serangan yang maha dahsyat.
segera menggulung kedepan.

Nona berbaju hijau itu mendengus dingin badannya merandek lalu berjongkok dan melitik keatas. Bagaikan seekor ikan belut yang berkelejitan diatas lumpur.
dengan manis ia berhasil menerobos angin serangan tersebut.

Kejadian yang sangat aneh ini segera membuat manusia aneh itu berdiri tertegun sebelum ingatan kedua berkelebat lengan baju bagian dadanya sudah kena
dicengkeram lawan.

la mendengus, sepasang telapak diputar kencang lalu mengayun kemuka membabat persendian lawan.

Gadis itu membentak nyaring, sepasang telapak balas berputar pula kearah yang berlawanan, seketika itu juga muncul segulung angin berputar yang mencoba
inembanting tubuh lawan kedalam lumpur.

Manusia aneh berjubah merah itu tidak mengira kalau sepasang telapak lawan bisa menghasilkan tenaga putaran yang begitu aneh, badannya tak sanggup berdiri
tegak seketika itu juga dia terjengkang keatas tanah.

Tampaknya ia akan segera tercebur pula kedalam lumpur, mendadak sepasang lengan dikebas kesamping badannya meluncur kembali lima depa ketengah udara, setelah
berputar satu lingkaran dengan tenang dan selamat badannya melayang turun dua tombak dari tempat semula:

"Apakah kau putrinya Kiong Thian Bong sibintang kejora?" Tegurnya kemudian dengan wajah penuh diliputi rasa kaget.

Sementara itu gadis tadipun merasa kaget bercampur tercengang melihat kegesitan orang pikirnya didalam hati:

"Sejak kapan partai Kun lun rnuncul seorang jago sakti semacam ini? ternyata ilmu meringankan tubuh memotong angkasa berputar kayun dari pertai tersebut
berhasil dilatih hingga sedemikian sempurna”
Saking tercengangnya, hingga untuk bsberapa saat lamannya ia lupa untuk menjawab pertanyaan orang,

"Hmmmn...!" terdengar orang aneh itu mendengus. "Bukankah Kepandaian silatmu itu ajaran dari Ouw-yang Gong?"

"Siapa kau ?" bentak sang dara dengan wajah berubah hebat.

"Siapakah aku lebih baik kau tak usah tahu!"

"Kurang ajar jawab dulu pertanyaan yang kuajukan tadi!" dengar gusar gadis itu pentang kelima jarinya dan menubruk kembali kemuka.

"Budak ingusan yang tak tahu diri"

Dengan hati dongkol simanusia aneh moju menyongsong kedatangan lawan, kelihatannya suatu pertarungan sengit segera akan berlangsung lagi.

Sebelum pertarungan itu meletus, mendadak gadis kedua yang berada diatas kudanya loncat turun dan melayang ketengah kalangan, kepada rekannya dia berseru:

"Yan Yan, kau bukan tandingannya" kemudian sambil menjura dia menambahkan "Tolong tanya siapakah nama besar cianpwee"

Sikap yang manis dari gadis kedua ini melunakkan pula wajah manusia aneh berjubah merah itu

"Kau datong bersama sama dia, tentu kalian kenal bukan dengan diri Ouw-yang Gong?".

"Dia orang tua adalah suhu kami"

"Cia Cia, buat apa banyak bicara dengan bajingan itu! " hardik Kiong Ci Yu dari samping dengan wajah penuh kegusaran. Dengan badan berlepotan lumpur ia
melangkah mendekat bentaknya lagi penuh kebencian. "Kalau kau punya nyali terimalah sembilan jurus ilmu jari bintang kejoraku!"

".Heeeh...... heeeeh...... heeeh..... dengan andalkan bakatmu yoag bobrok semacam itu, lebih baik berlatihlah sepuluh tahun lagi sebelum menghadapi diriku"
serentetan cahaya aneh berkelebat dalam wajahnya, lalu ia menyambung:

"Tidak lama kemudian akan kucari orang tuamu Kiong Thian Bong, dendam ini hari biarlah kuperhitungkan sekalian"

Ucapan ini membuat Kioog Ci Yu melengak, namun dengan cepat ia tertawa seram:

"Setiap saat pun sauwya akan menantikan kehadiranmu dalam perkampungan".

"Keparat cilik kalau kau punya nyali ayoh sebutkan namamu!"

Manusla aneh berjubah merah itu sama kali tidak menggubris ucapnn orang, perlahan2 dia alihkan pandangannya kearah gadis Cia Cia yang sedang mengawasi
dirinya dengan wajah gelisah, seakan akan dara itu kuatir bila dia turun tangan keji terhadap pemuda tersebut.

Dia melengak, diikuti sinar matanya membentur dengan eebilah golok lengkung berwarna perak yang menyoren diatas punggungnya, seketika serentetan cahaya aneh
berkelebat aalam pandangannya...... "Kau adalah keturunan dari sigolok perontok rembulan Ke Hong?" . Tegurnya,

"Benar Ke Hong sigo!ok perontok rembulan adalah ayahku " sebut dara itu mengangguk.

"Apakah cianpwee datang dari perbatasan?"

Belum sempat orang itu menjawab, dua rentetan desiran angin tajam telah menyerang datang mengancam punggungnya.

Dia sama sekali tidak memperdulikan datangnya ancaman, begitu merasa desir angin sudah berada dibelakang punggungnya ia baru balik telapak tangan kebelakang,
kepada Ciong Yan Yan serunya :

"Inilah mutiara milikmu sendiri, nah ambilah kembali".

Sebutir mutiara yang kecil segera meluncur keluar dari telapaknya melayang kearah Kiong Yan Yan.

Dalam pada itu serangan pit dari Kiong Ci Yu yang melancarkan bokongan di belakang telah tiba.

Seketika itu juga air muka dara tersebut berubah hebat, jeritnya :
"Koko...... "

Sebelum ia sempat mengutarakan kata2nyai, kedua batang senjata poan koan pit ditangan pemuda she Kiong itu sudah mendekati titik diatas punggung manusia aneh
berjubah merah itu.

"Keparat, modar kau... " jerit Kiong Ci Yu sambil tertawa seram.

Belum habis dia tertawa, mendadak orang aneh itu putar badan sambil mencengkeram kebelakang.

Melihat serangan barusan itu air muka kiong Ci Ya berubah hebat, tangan kanannya segera bergetar coba menarik kembali.
Sayang dia kalah cepat dari pada lawan tahu2 seutas rantai perak telah mencengkeram sepasang senjatanyaa hinggs tak berkutik.

"Selama hidup aku paling benci terhadap manusia kurcaci yang suka main bokoog"

Creet.... sekilas cahaya tajam berkelebat lewat, terdengar Kiong Ci Yu menjerit ngeri, lengan kanannya seketika terpapas putus oleh senjata kapak lawan dan
darah segar muncrat keempat penjuru.

Kiong Yan Yan meojarit keras, badonnya segera menubruk kedepan.

Manusia aneh berjubah merah itu tidak mau melayani tubrukan orang badannya segera berkelejat kesamping uatuk meloloskan diri.
"Apa permusuhanmu dengan dirinya?" jerit Ke Ciang Ciang dengan airmata membasahi wajahnva, "Kenapa kau begitu keji memapas putus sebuah lengannya hingga dia
jadi cacad seumur hidup?"

"Berapa kali aku sudah memberi ampun kepadanya namun dia berkeras kepala juga untuk mencari kematian buat diri sendiri hal ini janganlah salahkan kalau aku
berbuat kelewat kejam, sebab kalau aku tidak membinasakan dirinya, dialah yang akan membunuh diriku. Hmm! tindakanku benar2 boleh dibilang sudah terlalu
sungkan kepadanya. Sedang mengenai dendam permusuhan, Hmm.... mempunyai ikatan dendam sedalam lautan dengan kalian. Ini hari pulanglah dengan memandang
diatas wajah Ouw Yang Gong aku tak ingin ribut lagi dengan kalian Nahi pulanglah dan beri tahu kepada Ke Hong, dalam lima hari mandatang suruhlah dia berhati
hati!".

Ke Cian Cian tertegun, belum sempat dia berpikir lebih jauh tampaklah Kiong Yan Yen bagaikan kalap telah menubruk kembali kedepan.

"Kau bunuhlah pula diriku" jeritan sambil menangis.

Manusia aneh berjubah merah itu ayunkan tangan kanannya kedepan. rabtai perak beserta dua batang senjata poan koan pit itu segara meluncur kedepan menghadang
jalan pergi dari gadis ske Kiong.

"Janganlah kalian paksa diriku untuk melakukan pembunuhan lagi" Bentaknya keras keras

Dari sikap Kiong Yan Yan yang kalap, Ke Cian Cianpun lantas mengira Kiong Ci Yu telah mati terbunuh, maka sambil meoggigit bibir ia cabut keluar golok
lengkungnya lalu membacok dari sebelah kanan.

Mendengar desiran angin serangan dari arah samping, manusia aneh berjubab merah itu membentak keras, sepasang bahunva bergerak tahu tahu ia sudsh berada
dihadapan gadis Cang Ciang sementara tangannya menyapu keluar.

Ke Cian Cian terperanjat, tanpa berpikir panjang lagi ia perkencang genggamanya dan membabat kebawah.

Manusia aneh berjubah merah itu mendengus dingin, kampak kecilnya diputar keacang dan dengan satu gerakan yang sangat aneh dia ayun keluar.

Gerakan ini cepat laksana kilat, jaraknya pun dekat maka tanpa ampun lagi....... Criing golok lengkung ditangan gadis itu terpapas kutung.

Ke Cian Cian tidak mengira kalau kampak kecil Lawan yang jelek dan tak terpandang itu ternyata begitu tajam, melibat goloknya kutung, telapak kiri segera
dipukulkan kedepan.

Gerakan ini dilancarkan dengan menempuh bahaya dan sama sekali tidak mempedalikan jiwa sendiri, maka dari itu dengan telok serangan tadi bersarang didadai
manusia aneh berjubah merah itu.

Plaaak ..... orang aneh itu meraung gusar, ia melangkah setengah tindak kedepan sikut kanannya langsung disodok.

Tatkala menyaksikan serangannya sama sekali tidak berbasil mengapa apakan pihak lawan Ke Cian Cian kelihatan amat terperanjat terutama sekali setelah
menjumpai sikut musuh telah mengancam jalan darah Hian Kie Hiat ditubuhnya, ia nampak jauh lebih ketakutan.

Tampaknya sebentar lagi dia bakal mati konyol ditangan lawan, atau secara tiba tiba orang aneh berjubah merah itu miringkan sikutnya kebawah, ia cengkeram
lengan kanan gadis itu seraya membentak :

"Ayoh berhenti tidak kau?".

Tangan diayun, tubuh Ke Cian Cian dilemparkan keudara danterbanting diatas pelana kuda kuda kurang lebih tiga tombak dari tempat semula.

"Memandang diatas wajah Ouw yang Gong sekali lagi kuampuni selembar jiwa kalian" Serunya keren. "Aku harap kalian segera pulang kerumah dan bawa serta
keparat cilik mustika kalian itu. Kalau tidak dia akan modar tak ketolongan lagi".

"Dia belum mati?" Tanya Ke Cian Cian melegak sambil membelalakkan matanya.

"Jalan darahnya telah kutotok, untuk sementara waktu dia tidak akan modar Ayo cepat gusur orang ini pulang kerumah!" Ke Cian Cian melegak. akhirnya ia
berseru
"Yan Yan, mari kita pergi".

"Hey bangsat, kalau kau punya nyali sebutkan namamu kepada kami?" Teriak Kiong Yan Yan sambil menggigit bibir
Lima hari kemudian aku pasti akan muncul dalam perkampungan Tay-Bie San Cung untuk mencari Ke Hong, sampai waktunya kau akan tahu sendiri siapakah diriku".

"Hmmm.... sungguh memalukan kau memiliki kepandaian silat yang sangat lihay, ternyata takut menyebut nama sendiripun tak berani rupanya kau adalah sebangsa
manusia kurcaci yang sukanya bermain sembunyi. Cisss .. msnyebalkan".

Ucapan ini membuat orang aneh itu mengerutkan sepasang alis.

"Baiklah, setelah sampai dirumah katakan bahwa keturunan dari Pek Tiang Hong pedang penghancur sang surya, Pek In Hoei dalam beberapa hari kemudian akan
berkunjung keperkampungas kalian untuk minta seberapa petunjuk dari Ke Hong si Golok perontok rembulan serta Kiong Thian Bong jari Bintang kejora".

„Apa ? jadi kau adalah Leng-Hiat Kiam Khek sijago pedang berdarah dingin Pek in Hoei?.. Seru Ke Cian Cian serta Kiong Yan Yan hampir berbareng dengan wajah
terperanjat, matanya terbelalak lebat.

Rupanya Pak in Hoei sendiripun merasa tercengang atas julukan itu, dengan alis berkerut pikirnya dalam hati :

"Ini hari aku baru pertama kali turun daii gunung, kenapa mereka sebut aku sebagai jago pedang berdarah dingin? apakah mereka tidak salah lihat?"

Sementara itu terdengar Kiong Yan Yan mendengus dingin.

Sijago pedang berdarah dingin Pek In Hoei adaleh seorang pemuda perlente yang gagah, dia tidak mirip dirimu yang compang camping macam pengemis budukan"
jengeknya.

"Haah .... haaaah . . . haaaah..... sungguh tak kunyana aku Pek In Hoei telah dituduh orang sebagai manusia gagoh tatkala untuk pertama kalinya turun dari
gunung, peristiwa aneh yang terdapat dikolong langit benar benar tak terhingga banyaknya" rambutnya yang kusut bergetar keras, tiba tiba nada suaranya
berubah jadi sangat dingin, sambungnya :

“Perduli aku adalah sijago pedang berdarah dingin Pek In Hoei yang tulen atasi bukan, dalam lima hari mendatang diperkampungan Tay Bie San cung pasti akan
terlihat ilmu pedang penghancur sang surya deri partai Tiam Cong menunjukkan kesaktiannya".

Sinar mata berkilat, perlahan lahan gantungkan kampak baja itu keatas pinggang, kemudian sambil melepaskan bungkusan. panjang dari pungungnya ia berguman
seorang diri:

"Sekarang juga akan kusuruh kailan saksikan kehebatan dari pedang sakti Penghancur Sang Surya, agar kalian bisa bedakan mana yang tulen dan mana yan
gadungan......"

Bersama dengan selesainya ucapan tersebut serentetan suara desiran tajam yang amat memekikkan telinga berkumandang membelah angkasa disusul berkelebatan
serentetan cahaya merah yang menyilaukan mata memenuhi seluruh jagad.

Mendadak Pek In Hoei menggetarkan tangannya ..... Criiing l bagaikan pe kikan naga yang membelah angkasa, sarung pedang itu meluncur keangkasa msnciptakan
sekilas cahaya yang amat tajam.

Cahaya tajam tadi berkilauan diudara berputar dua kali diangkasa kemudian meluncur kearah Barat Laut dengan menciptakan serentetan bekas cahaya yang amat
tajam, dalam sekejap mata bersama tubuhnya lenyap tak berbekas

Dengan termangu-mangu Ke Cian Cian memandangi angkasa, lama sekali dia baru menghembuskan napas panjang.

"Ilmu pedang penghancur sang surya..... ilmu pedang penghancur sang surya..." gumamnya.

"Aaaaah, ilmu pedang itu merupakan ilmu pedang terbang yaag merupakan bersatunya senjata serta batin!" bisik Kiong Yan Yan pula dtengah napas bergidik.

"Yan Yan cepat pulang dan laporkan kejadian ini kepada ayahmu, seandainya Pek In Hoei benar benar datang ayahku pasti bukan tandingannya"

"Percuma meskipun Susiok hadir pula disitu, belum tantu mereka adalah tandingannya

Ke Cian Cian termenung daa berpikir sebentar, akhirnya dia berkata:

"Aku akan pulang kerumah mencari suhu, mungkin dia kenal dengan manusia yang bernama Pek In Hoei, sedangkan kau berangkatlah kegunung Gobie dan undanglah in
Coen Liong sipedang naga datang membantu, ilmu pedang Kun Lun pay juga dipelajarinya mungkin dapat digunakan untuk menandingi ilmu pedang penghancur sang
surya ari partai Tiam cong.

"Sekarang hanya inilah satunya2 jalan yang bisa kita tempuh . gadis she Kiong ini menghela napas panjang lalu sambungnya. Semuanya ini engkohkulah yang bikin
gara2, mengapa dia ajak kita bertanding lari kuda sehingga menimbulkan bencana besar yang memusingkan kepala ini".

"Aaaai..... bagaimanapun juga, antara sipedang penghancur sang surya dengan kita memang terikat dendam sakit hati, akhirnya dia akan berhasil juga menemukan
kita, rupanya setelah hilang dua tahun badai pertumpahan darah akan melanda kita lagi.

Klong Yan Yan tidak banyak bicara lagi; dia bopong tubuh Kiong Ci Yu dan loncat naik keatas kuda.

"Enci Cian, mari kita berangkat" serunya.

Tanpa menuggu kawannya lagi ia larikan kudanya segera msninggalkan tempat itu.
.
Teogah hari sudah tiba, sinar sang surya dengan panasnya yang menyengat menyinari seluruh kota Seng Tok Hoe.

Pada saat seperti itulah Pek In Hoei sambil membopong buntalannya dengan langkah lebar masuk kedalam kota.

Rambutnya kusut lagi kacau, jenggotnya menutupi seluruh janggut dan ditambah pula jubahnya yang merah dan penuh noda lumpur, menambah keseraman serta
kedengkilannya.

Banyak penduduk kota yang melirik kearahnya dengan sinsr mata mengejek, sebentar mereka melirik kearah sepatunya yang kotor oleh lumpur, kemudian memandang
jubah merahnya yang dekil dan akhirnya melirik rambutnya yang kusut juga kator .

Jelas. dalam kota tersebut belum pernah dijumpai manusia aneh semacam ini maka semua orang memandang kerahnya dengan sinar mata tercengang, kendati begitu
tak, seorangpun berani menertertawakannyaa.

Sebaliknya Pek In Hoei sendiri sama sekali tidak menggubris tingkah laku orang, ia meneruskan langkahnya taapa menoleh kekiri kanan.

Ketika tiba tiba dipintu kota dan menyaksikan pintu gerbaag yang hancur berantakan, pemuda she Pek ini menghela napas panjang.

"Aaai....... kota kuno ini mengapa bisa hancur berantakan jadi begini? sampai2 pintu gerbangpun tak terawat. Propinsi ini terkenal dengantanahnya yang kaya.
kenapa uang untuk ganti pintu gerbangpun tak punya ... " gumamnya seorang diri.

Jelas para pembesar tidak ada yang menaruh perhatian sampai kesitu, setiap hari kerja mereka melulu berpesta pora belaka

Dalam pada itu terdengar suara tambur yang ramai diiringi detak kaki kuda berkumandang dari belakang, diikuti para penduduk yang ada disekitar sana sama2
menyingkir kesamping.

Seorang perwira muda yang berpakaian perang warna merah dengan menunggang seekor kuda putih yang gagah per!ahan2 jalan mendekat, dibelakangnya mengikuti
prajurit bersenjata tombak.

Dan pada barisan yang paling belalang merupakan empat buah tandu yang digotong orang.

Dengan termangu-mangu Pek Io Hoei berdiri ditepi pintu kota, dijumpainya tandu tandu itu bergerak cepat melewati hadapannva, tandu itu mewah semua, para kuli
tandupun memakai baju seragam yang bersih dan gemerlapan,

Tiba tiba..... dari balik tandu keempat berkumandang keluar suara tertawa yang amat merdu diikuti seseorang berseru:

"Nona, coba lihat simanusia aneh berjubah merah yang berdiri ditepi pintu kota sungguh dekil sekali"

Ucapan ini menyinggung perasaan Pek In Hoei, alisnya kontan berkerut, dengan sinar mata tajam ia awasi tandu tadi dimana secara lapat2 terlihatlah seorang
nona berkepang dua dengan dandanan seorang dayang sedang memandang kearahnya sambil tertawa.

Dia tahu keadaan dirinya yang dekil lagi kusut telah menggelikan hati orang, maka ejekan tadi dia tidak ambil perduli.

Ketika itulah dari balik tandu ketiga berkumandang suara teguran yang lembut
lagi merdu :

"Coei-jie, jangan menertawakan orang! kau lihat pintu kota kita, bukankah kotor lagi kusut hal itu bukanlah disebabkan pemerintah tak punya uang untuk
memperbaiki belaka, hal itu bukanlah satu hal yang patut dimalukan. Nah, lain kali janganlah kau menghina orang, kita harus kasihan terhadap keadaan orang
yang rudin."

"Siapa dia ?" pikir Pek In Hoei didalam hati dengan hati bergetar keras, "Begitu merdu suaranya lagi pula simpatik sekali

"sungguh sukar ditemui orang kaya yang berhati mulia seperti dia...."

Mendadak kain horden tersingkap dan dari balik tandu ketiga itu muncul sebuah tangan yaag halus, putih dan menarik hati.

Tongan yang putih halus itu diayun ke muka dan sekeping uang perak segera meluncur keluar dari genggamannya menggelinding kehadapan kaki Pek in Hoei.

Dari balik kain korden tadi, sekilas pandang Pek Io Hoei dapat menemui selembar wajah yang cantik jelita, alisnya yang indah, biji matanya yang bening
hidungnya yang mancung bibirnya yang kecil mungil dan berwarna merah membara merupakao suatu perpaduan yang sangat mempersonakan hati.

Seketika itu juga pemuda kita tertegun, dengan pandangan termangu-mangu ia awasi gadis cantik itu dengan mata terbelalak mulut melongo...... Ouwww, benar
benar seorang bidadari yang baru turun dari kahyangan.”

Rupanya gadis itu sendiripun belum pernah menjumpai tampang ketolol-tololan macam Pek In Hoei, tak tertahan lagi ia tertawa cekikikan hingga kelihatan
sebaris giginya yang putih bersih, ia turunkan kembali kain hordennya dan menggunakan tangan menutupi bibirnya yang mungil

Senyuman ini semakin mempersonakan hati pendekar muda itu, ia rasakan sukmanya seolah olah sudah terlepas dari raganya, dengan termongu mangu diikutinya
tandu tadi dari belakang.

"Hmmmm.... ada katak buduk sedang merindukan bulan" tiba tiba terdengar dayang Coei Jie yang ada ditandu keempat mengejek sambil mendengus sinis. Lebih baik
cepat cepat pungut kepingan uang perak diatas tanah itu untuk beli baju, buat apa berdiri termangu-mangu macam orarg goblok disitu"

Pek In Hoei tersadar kembali dari lamunannya, ia sama sekali tidak memperdulikan ucapan dayang itu sebaliknya memandang tandu yang semakin menjauh tadi
dengan termangu mangu.

Menanti iring iringan tandu tersebut sudah lenyap dibalik tikungan tembok kota, Pek In Hoei baru menghembuskan napas panjang dan memungut uang perak
tersebut.

Sekarang dia baru merasakan betapa banyak orang yang sedang menengok kearahnya, merah jengah selembar wajahnya, sambil tertawa jengah buru2 ia masuk kedalam
kota

Sepanjang perjalanannya, bayangan gadis cantik itu terbayang terus dalam benaknya, pikirnya didalam hati:
“Sungguh tak kusangka dikolong langil ternjata terdapat gadis yang demikian cantiknya sehingga menyilaukan mata setiap orang yang memandangi .. ."

Menengok sekejap kearah kepingan uang perak yang ada ditangan, seo!ab2 dia merasakan betapa jari tangannya membelai tangan gadis yang halus dan lembut.
Dengan pikiran yang kalut membayangkan kecantikan wajah gadis yang baru di ditemuinya, Pek In Hoei melangkah kedalam kota tenpa arah tujuan yang pasti,
menanti dia angkat kepalanya tahu2 tubuhnya telah berdiri didepan sebuah rumah makan, segera pikirnya : "Kenapa aku tidak pesan kamar dirumah penginapan ini
untuk mandi dan bertukar pakaian lebih dulu? Aaaaah, lebih baik kucari tahu lebih dulu tandu itu berasal dari keluarga mana"
Dengan langkah lebar ia berjalan masuk kedalam rumah penginapan "Feng An" yang terletak disebelah kanan, kepada ssorang pelayan serunya : "Hey pelayan cepat
kemari!".
Dari dalam penginapan muncul seorang Pelayan jang masih picingkan matanya karena mengantuk, ketika menyaksikan keadaan Pek In Hoei ia kelihatan tertegun,
kemedian teriaknya : "Hey, mau apa kau darang kesini? jangan kau anggap tempat ini tempat yang cocok untuk mengemis, ayoh enyah dari sini sebelum pantatmu
kugebuk"
"Kurang ajar, bajingan bermata anjing". Kontan Pek In Hoei naik pitam, telapaknya menghajar permukaan meja hingga berbekas sebuah telapak tangan sedalam tiga
coen. "Pentang mata bangsatmu lebar2, ccba tengok siapakah aku? apakah tampangku adalah tampang orang kere? Bangsat sialan".
Menyaksikan kelihayan orang, pelayan itu jadi kaget dan ketakuan.sambil menahan badan yang gemetar keras ia berjongkok kebawah dan berteriak minta ampun.
"Pelayan anjing bermata bangsat" Teriak pemuda she Pek itu kembali sambil meugeluarkan sekeping uang emas dan dibanting keatas meja "Pentang mata anjingmu
dan libat benda apakah yang ada dimeja itu! sialan, ayo cepat siapkan sebuah kamar yang terbaik untukku, kemudian siapkan air panas untuk cuci muka, sayur
dan nasi yang paling lezat untuk makan, ahli pangkas kenamaan untuk membersihkan rambutku dan belikan dua stel pakaian dalam, dua stel jubah luar berwarna
perak"
Ia merandek sejenak, kemudian dengan mata melotot tambahnya: ”Disamping itu siapkan pula seekor kuda putih yang bagus, Ehmmm berapa jumlah uangnya semua?".
Pelayan itu berdiri menjublak sambil berkemak kemik, matanya mendelong sepert orang tidak percaya, seraya mienelan air liur lehernya terputus putus: "Toa....
toaya....... kurang ..... kurang lebih membutuhkan! lima tahil perak".
Dengan jarinya Pek In Hoei menjepit uang emas yang ada dimeja hingga tergunting kurang lebih tiga tahil, lalu ujarnya lagi:
"Aku mau menanyakan satu persoalan kepadamu, kau tentu melihat iring iringan tandu yang barusan lewat didepan sana bukan? cepat beritahu kepalaku mereka
berasal dari keluarga mana? Hmmm disini semuanya ada tiga tahil uang emas, cukup tidak untuk semua biaya belanja".
"Cukup ... cukup... bahkan masih ada sisanya".
"Bagus, segera lakukan perintahku dan sisanya boleh kau terima sebagai persenan, ayoh cepat pergi, tak usah berterima kasih lagi".
Betapa gembiranya hati sipelayan itu, dengan wajah berseri seri ia ambil uang tadi: tadi dan segera perasiapkan kamar serta barang keperluan dari Pek In
Hoei.
Sang surya telah condong kebarat menandakan sore hari telah menjelang tiba, waktu itu sang pelayan sedang menghitung uang masuk diluar dugaan yang
diperolehnya hari itu, mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang datang
Dengan cepat dia angkat kepala, tampaklah seorang pemuda ganteng berjubah warna putih keperak perakan dengan ikat kepala berwarna perak dan menyoren sebilah
pedang berwarna merah perlahan lahan berjalan keluar dari dalam.
Wajah orang itu sangat tampan, wajahnya putih dengan bibir yang indah, hidungnya mancung tingkah lakunya sopan dan penuh semangat.
Dengan mata terbelalak sang pelayan memperhatikan pemuda itu beberapa saat lama, lama sekali dia memandang ... tiba tiba teringat olehnya bahwa jubah
berwarna putih keperak perakan adalah dia yang barusan pergi membelinya, segera satu ingatan berkelebat dalam benaknya.
"Siangkong, apakah kau adalah toaya yang tadi?" tanyanya kemudian dengan suara tergagap.
Pek In Hoei tersenyum. "Kenapa kau sudah tidak kenali diriku lagi?" setelah merandek sejenak tambahnya: "Bagaimana dengan urusan yang kuperintahkan kepadamu
untuk diselidiki?"
"Siangkong, keadaan sekarang betul betul jauh berbeda dengan keadaan tadi, kau seolah olah baru saja berganti kulit" "waaaah.... ganteng dan mempesonakan”
puji pelayan itu seraya tertawa kikuk, kemudian sambil garuk garuk kepala terusnya : „Ooouw.... persoalan yang kau perintahkan kepadaku telah kulaksanakan
dengan baik. Iring iringan tandu tadi berasal dari Gedung Gubernur propinsi Su Czin sedang orang yang ada didalam tandu adalah putri kesayangan dari Gubernur
Wie, menurut berita yang tersiar diluaran katanya ny onya Gubernur sedang menderita sakit yang parah, maka putrinya sengaja pergi kekuil San Hoa Sie yang
terletak di luar kota untuk mohonkan keselamatannya”
"Dimanakah letak kuil San Hoa Sie tersebut? kalau aku mau kesitu harus melewati jalan mana?".
"Siangkong, kalau kau hendak keluar kota naik kuda maka jalanlah kearah kanan, setelah melewati sebuah jembatan batu maka akan terlihat sebuah hutan pohon
Song dibalik hutan Song itulah terletak kuil San Hoa Sie ..."
Pek In Hoei mengangguk, tanpa hendak bicara lagi ia segera keluar dari rumah penginapan itu, dimana sudah tersedia seekor kuda putih yang tinggi dan gagah
miliknya.
Suara derak kaki kuda bergema diatas jalan batu yang memanjang keujung kota. kegagahan serta ketampanan wajah sianak muda ini seketika memancing perhatian
banyak orang, sekarang sinar mata mereka memancarkan rasa kagum yang tak terhingga
Orangnya cakep kudanya jemplan dan berjalan perlahan lahan melewati jalan raya yang lebar, dalam sekejap mata jendela jendela lonceng sama sama dibuka,
berpuluh puluh pasang sinar mata muncul dibalik horden... Namun Pek In Hoei sama sekali tidak ambil perhatian bahkan matapun tak melirik sekejap, ia
meneruskan perjalanannja keluar dari kota
Tiada bayangan lain yang memenuhi hatinya saat Ini kecuali bayangan sigadis manis di balik tandu yang telah menghadiahkan seketip perak kepadanya tengah hari
tadi, hanya gadis cantik semacam itulah yang berkenan dihatinya sejak dia tahu urusan dan berkelana dalam dunia persilatan
Tanpa terasa ia meraba kepingan uang petak yang ada dalam sakunya, ia tertawa hambar den pikirnya :
"Entah bagaimana perasaannya tatkala dia menyaksikan aku mengembalikan kepingan uang perak ini kepadanya?..."
Kemudian ingatan lain berkelebat dalam benaknya, ia berpikir lebih lanjut :
"Padahal aku sendiripun tidak tahu apa yang harus kuucapkan terhadap dirinya aku banya ingin berjumpa sekali lagi dengan wajahnya yacg cantik, sebab aku
belum pernah berjumpa dengan seorang gadis bfgitu menarik, begitu cantik dan mempesonakan hatiku ..."
Kenangan lama berkelebat didepan matanya. ia teringat kembali akan pemandangan sewaktu ada digunung Cing Shia dimana dewi Khiem bertangan sembilan Kim In Eng
bermain khiem dibawah cahaya rembulan, ketika ini dia merasa gadis she Kim adalah gadis tercantik yang pernah ditemuinya, tapi sekarang dia merasakan betapa
jauhnya perbedaan antara kecantikan wajah Kim In Eng dengan putri gubernur tersebut ....
"Oooouw, . hal ini mungkin disebabkan usia Kim cianpwee yang telah meningkat tua. dia kekurangan daya tarik yang segar, kekurangan sifat polos yang lincah
dan kekanak kanakan, lagipula wajahnya selalu murung, selalu kesal tidak dihiasi Seyuman maka wajahnya kelihatan tidak secantik nona Wie..."
Sambil memikirkan yang bukan bukan dia meneruskan perjalanannya kedepan di mana akhirnya ia temui sebuah jalan kecil yang menyabang dari jalan rasa, secara
lapat lepat terdengar suara aliran air sungai berkumandang datang dari kejauhan.
Derap kaki kuda kembali menggema memecahkan kesunyian, mengikuti suara yang berisik otaknya kembali membayangkan pelbagai persoalan yang memenuhi becak nya
selama ini. ia teringat kembali akan ucapkan Ke Cian Cian tengah hati tadi dimana ia disebut sebagai Leng Hiat Khek atau si jago pedang berdarah dingin
dengao alis berkerut pikirnya : Entah siapa yang teleh menyaru dan menggunakan namaku, entah perbuatan apa pula yang telah dilakukan sehingga nama ku
memperoleh sebuah gelar sejelek itu Hmmmm ... jago pedang berdarah dingin, siapa yang tahu aku sijago pedang berdarah dingin karena ingin berjumpa dengan
seorang gadis cantik sengaja telah melakukan perjalanan jauh untuk datang kemari benarkah aku berdarah dingin ".
Maka diapun lantas teringat pula akan persoalan Cia Ceng Gak sipedang sakti dari parta! Tiam Cong yang pernah dikisahkan Kim In Eng kepadanya tempo dulu,
ketika itu Cia Ceng Gak pun mempunyai gelar yang bernama Thiat Sek Lang Koen, sipemuda ganteng berhati batu. Mundadak hatinya bergidik, pikirnya : "Tujuanku
turun gunung kali ini adalah menyelidiki apa sebabhnya dari sembilan partai sama sama keracunan dan masuk kedalam gua tersebut pada masa yang lampau. Sungguh
aneh sekali, mengapa mereka tinggalksn segenap kepandaian silat yang dimilikinya namun tidak menceritakan peristiwa yang sebenarnya telah terjadi? Aaaaeh...
sungguh membuat orang jadi bingung dan tidak habis mengerti."
Ia larik napas panjang panjang lalu pikirnya lebih jauh: "Aku tak bisa menghalangi rencanaku untuk membalas dendam hanya disebabkan urutan seorang gadis
cantik seperti itu dua hari kemudian aku harus berangkat keperkampungan Tay Bie San cung untuk menemui sigolok perontok rembulan, di samping itu jenasah
ayahku hingga kin! belum berhasil ketemukan, rupanya sidewi khiem bertangan sembilan Kim In Eng telah menguburnya aku harus temu dirinya!".
Teeeeng...! suara genta bergema lantang ditengah udara menembusi hutan pohon Song yang lebat. Ditengah dentuman suara genta, perlahan2 Pei. In Hoei
menyebrangi jembatan batu dan masuk kedalam hutan Pohon Song. Angin terhembus sepoi sepoi menggoyangkan ranting dan dedaunan dalam suasana yang hening dan
sunyi hanya kedengaran derap kaki kuda bergerak diatas jalan beralaskan batu gunung. Selang beberepa saat kemudian dari kejauhan terlihatlah aebuah bangunan
kuil yanog megah berdiri mentereng dari balik pepohonan, tembok yang merah dan tinggi menambah keagungan ditengah hutan tersebut.
Setelah melewati hutan maka terbentanglah sebuah kebun bunga yang sangat indah rupanya Pek In Hoei tidak mengira kalau dibelakang hutan tong disisi kuil itu
terdapat kebun yang begitu indah. ia tertegun dan berdiri melengak.
Akhirnya dia menyaksikan seorang dayang berkepang dua yang memakai baju warna hijau sedang mengejar kupu2 dalam kebun tadi.
Gerak gerik dayang itu sangat lincah dan enteng, kesana kemari dia kejar knpu2 tadi, namun tak seekor pun berhasil didapatkan.
Setelah berputar kesana kemari, akhirnya dayang tadi mengejar kupu kupu itu hingga kedepan kuda pemuda kita, dia kelibatan terperanjat dan segera berdiri
merandek.
Dengan wajah herubah dan sinar mata tercengang ia awasi wajah Pek In Hoei, lama sekali tak mengucapkan sepatah katapun jua.
Menyaksikan keadaan orang, Pek Ia Hoei tertawa hambar. "Nona cilik. apakah kau tinggal disini?" tegurnya.
Merah jengah selembar wajah dayang berbaju hijau itu, dia mundur dua jangkah kebelakang lalu geleng kepala.
Sekilas pandang Pek In Hoei segera kenali dayang ini sebagai Coei Jie yang telah mengejek dia sewaktu ada dipintu kota tadi, sekali lagi dia tertawa hambar.
"Kalau begitu kau tinggal didalam kota?"

Dengan wajah berubah menjadi merah padam, Coei jie mengangguk.
Pek In Hoei tersenyum, biji matanya berputar beberapa kali, mendadak sambil tertawa tegurnya:
„Bukankah kau bernama Coei jie?".
"Darimana kau bisa tahu?" dengan rada kaget dan mata yang terbelalak lebar dayang itu berseru.
"Haaaah... haaaah... bukan begitu saja, bahkan akupun tahu kalau nonamu sedang bersembahyang dalam kuil ini, benar kan?"
( Bersambung kcjilid 8)


Jilid 8 : Namanya Wie Chien Siang

DENGAN SINAR mata tercengang Coei-jie mengawasi pemuda ganteng diatas kuda jempolan berwarna putih itu lalu ia berseru tertahan. "Kalau kulihat dari
dandananmu, jelas kau bukan penduduk kota ini, tapi kenapa kau bisa tahu"

Pek ln Hoei tersenyum, sebelum dayang itu menyelesaikan kata katanya dia telah menukas sambil loncat turuti dari kudanya. "Cayhe memang bukan penduduk kota
ini, tetapi......"
Dia merandek, diawasinya wajah Coei jie tajam tajam kemudian baru menambahkan: "Darimana pula kau bisa tahu kalau aku. bukan penduduk kota ini ? Coba katakan
!"

Sebab belum pernah kutemui manusia macam kau didalam kota ini"
Habis bicara ia tutupi wajahnya dengan kipas dan segera berlalu dari situ.
"Coei-jie tunggu sebentar, ada sesuatu benda yang hendak kuperlihatkap kepadamu..."

Mendengar seruan itu Coei-jie berhenti dan segera berpaling.
"Pernahkah kau jumpai benda seperti ini?" tanya pemuda kita sambil melangkah, maju kedepan.
Coei-jie lersenyum, sambil putar badan dan menyingkirkan kipasnya dari wajah ia bertanya :
Benda apa sih yang hendak kau perlihatkan kepadaku? Apakah....?"

Mendadak matanya terasa jadi silau, dengan sinar mata penuh rasa kaget dan tercengang ia awasi tangan Pek In Hoei dengan wajah termangu mangu, lama sekali
tak sanggup meneruskan kata katanya.
"Pernahkah kau saksikan perhiasan MaNau yang begini indah"

Rupanya benda yang beraba ditangan Pek In Hoei saat ini adalah sebuah perhiasan Manau yang berbentuk jadi buah to, diatas buah to tadi terdapat dua lembar
daun yang hijau, buah to itu berwarna merah saga dan kelihatan seakan akan merupakan benda sungguhan.
Coei-jie membelalakkan matanya lebar2.
"Oooouw... belum pernah kujumpai perhiasan MaNau yang begini indah, begitu menarik seperti ini"
"Inginkah kau mendapatkannya?"
"Maksudmu kau hendak....." seru Coei jie tertegun.

Pek In Hoei mengangguk. Aku hendak hadiahkan benda itu kepa damu Nah, kemarilah dan ambillah benda ini!"
„Aduuuh ... yaaah mama! Kau benar benar hendak hadiahkan kepadaku Tetapi dengan cepat dia menggeleng. "Aku tidak berani menerimanya"
"Eeeei aneh benar kau ini, coba lihat betapa indah dan menariknya perhiasan Manau ini, kenapa kau tak mau ?"

"Sekalipun sangat berharga sekali benda itu namun aku tidak berani menerimanya? Aku takut nona tahu dan mendamprat diriku.... "
"Haaah.... haaah.... haaah... soal itu sih kau tak usah kuatir!" seru Pek In Hoei tersenyum hambar. "Bilamana nonamu mendamprat, akulah yang akan
menanggung."
Dengan sinar mata tercengang Coei-jie mengawasi wajah Pek In Hoei tajam tajam, Mengapa kau hadiahkan benda berharga yang tak ternilai harganya itu kepadaku ?
Apakah kau...?"
"Haaah... haaah... haaah ... Apakah kau takut aku berbuat sesuatu yang tidak beres terhadap dirimu?" Dengan wajah serius tambahnya : "Aku berbuat demikian
karena aku tahu betapa baiknya liangsimmu, bahkan aku pernah menerima budi kebaikanmu, maka kuhadiahkan perhiasan ini sebagai tanda terima kasih yang tak
terhingga kepadamu..."

"Apa ? Kau pernah menerima budi kebaikanku? " Seru Coei-jie. melegak, ia tidak habis mengerti duduknya perkara. "Aku sama sekali tidak kenal dengan dirimu,
mana pernah kulepaskan budi kebaikan kepadamu? Apa kau tidak salah melihat orang?"

Baru saja ia menyelesaikan kata katanya terdengar dari belakang ada orang memanggil.
Dengan cepat Pek In Hoei alihkan sinar, matanya kearah suara panggilan tadi, tampak seorang perwira mnda yang pernah ditemui siang tadi munculkan diri dari
balik kebun bunga.

Air muka Coei-jie seketika itu juga berubah setelah menjumpai kemunculan perwira tersebut, cepat bisiknya:
"Hey, cepat menyingkir Gak kongcu telah datang!" Pek In Hoei tersenyum. "Cayhe kan bukan pencuri ataupun pencoleng, kenapa harus takuti dirinya?"
Sementara itu perwira muda tadi telah membentak lagi dengan wajah keren.
"Coei-jie. nona sudah mencari dirimu kemana mana, apa yang kau kerjakan disitu ?"

Menyaksikan Pek In Hoei sama sekali tidak mau menyingkir dari situ bahkan memandang kearahnya sambil tersenyum, Coei jie merasa amat gelisah bercampur cemas
sambil mendepak kakinya keatas tanah buru buru ia putar badan dan menyahut : "Gak kongcu..."
"Siang Piauw-moay sudah memanggil dirimu berulang kali namun belum juga kelihatan kau muncul. Hey, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan disini?"

Merah padam selembar wajah Coei-jie,
"Aku sedang mengejar kupu kupu... "
Belum sampai beberapa langkah dia berlalu, mendadak dayang itu berhenti lagi seraya berseru:
„Aaaah, mungkin pembicaraan nona dengan Ci 1m Loo Hong-tiang telah selesai, aku harus segera pergi kesitu ..."
"Tunggu sebentar!" bentak perwira muda itu dengan wajah keren.
Sambil menatap wajah dayang itu tajam tajam serunya:
"Siapakah orang itu ?"
"Dia.. dia adalah orang yang tersesat dan bertanya jalan..."
"Heeeh ... heeeeh ... heeeh ... dia adalab orang yang bertanya jalan jengek sang perwira muda sambil tertawa dingin... Dengan amat jelas aku dengar dia
sedang menanyakan nama nona kita"
Ia berpaling kearah Pek In Hoei. ditatapnya wajah pemuda itu dengan sinar mata sinis kemudian tambahnya ketus :
"Setama dua tabun belakangan sudah terlalu banyak kujumpai manusia manusia hidung bangor yang mendekati pelayan pelayan keluarga wie hanya untuk alasan
mendekati nona Wie belaka, namun belum pernah kujumpai manusia kedua yang menyuap dayang orang dengan barang berharga macam dirimu. Hmmm! Dari sini dapat
kunilai betapa rendah dan bejadnya moralmu cisss... sungguh memuakkan"
"Hey kawan, janganlah kau memfitnah orang dengan kata kata seenak udelmu sendiri!" tegur Pek In Hoei dengan alis berkerut.
"Haaaah... haaah... haaah "perwira muda itu segera tertawa keras "Pelajar rudin yang lemah tak bertenaga macam kau pun menggantung pedang pura pura berlagak
enghiong. Cuuuh! Keadaanmu benar benar mirip seekor anjing yang menghiasi ekornya dengan bunga harum. Hmmm jual lagak murahan!"
"Heeeh... heeeeh... heeeeh kau anggap aku seorang sastrawan lemah lantas boleh dihina dan dicemoohkan sekehendak hatinya? Tahukah kau bahwa seorang lelaki
sejati lebih baik dibunuh daripada dihina orang... "
Menyaksikan kegagahan Pek In Hoei di kala sedang marah rasa dengki dan iri dalam bati perwira muda itu kian lama bertambah tebal, dengan gemas teriaknya:
"Aku perintahkan kau segera enyah dari sini, kalau tidak akan kubabat tubuhmu jadi dua bagian
"Jangan! Jangan! Gak kongcu, kau ..." teriak Coei-Jie dengan hati terperanjat.
"Enyah dari sini dayang sialan, apa yang sedang kau lakukan disitu? Mau apa kau berdiri terus disana?"
Mimpipun Pek In Hoei tidak mengira kalau dia harus bentrok dan ribut dengan perwira muda ini banya disebabkan karena dia ingin bertemu dengan gadis manis
dibalik tandu, terhadap sikap kurang ajar dan tidak pakai aturan dari pihak lawan ia merasa tersinggung dan mendongkol.
"Hey orang she Gak" ujarnya dengan menahan hawa marah yang berkobar kobar "Antara dirimu dengan aku sama sekali tidak terikat oleh dendam permusuhan ataupun
sakit haii apapun jua mengapa dalam perjumpaanmu yang pertama kali dengan diriku, kau lantas punya pikiran uotuk mencabut jiwaku "
"Bajingan hidung bangor, kalau kau takut modar cepat cepatlah sipat ekor anjingmu dan enyah dari hutan pohon song ini, sejak kini bila kau berani memandang
sekejap kearah piauw-moayku lagi, akan kucongkel matamu!"
Sekarang Pek In Hoei baru tahu bahwa gadis cantik dibaiik tandu yang pernah dijumpainya siang tadi bukan lain adalah adik misan perwira muda ini maka dia
segera tertawa menghina.
"Ooouw ... ! Aku kira kenapa saudara marah marah kepadaku, kiranya kau sedang menaruh cemburu terhadap diriku. Hmmm Sekalipun piauw-moaymu memiliki wajah
yang tercantik dikolong langit pada dewasa ini, tidak nanti aku sudi korbankan sepasang mataku hanya untuk menengok sekejap kearahnya... "
Air muka perwira muda itu kontan berubah hebat, telapak tangannya diayun kedepan kemudian membabat kebawah langsung menghajar jalan darah Hiat-cong biat
ditubuh Pek In Hoei
Melihat datangnya ancaman anak muda she Pek segera kebaskan ujung bajunya dua Jari tangan kirinya menegang dan langsung membabat urat nadi lawan.
Jurus "Giok-soh-yien-yauw" atau Pohon kumala bergoyang pinggul yang digunakan perwira muda itu belum sempat digunakan sampai habis, sekujur tubuhnya tahu
tahu sudah terbungkus dalam kurungan musuh kejadian ini seketika menggetarkan hatinya, dengan cepat ia mundur setengah langkah kebelakang dan lintangkan
tangannya melindungi dada.
Pek in Hoei tertawa hambar. “Ilmu Cian-sie-chiu dari partai Go-bie bukan termasuk suatu ilmu silat yang amat sakti, namun terhadap seorang yang baru saja kau
kenal telah menggunakan ilmu serangan mematikan yang demikian keji, boleh dibilang hatimu betul betul telengas"
Ia maju selangkah kemuka dan menambahkan: "Hey bocah keparat, kau adalah anak murid angkatan keberapa dari partai Gobie?"
Sekilas rasa kaget berkelebat diatas wajah perwira muda itu, dengan termangu mangu ditatapnya wajah Pek In Hoei beberapa saat lamanya, kemudian ia baru
menyahut: "Cayhe adalah anak murid angkatan kedua puluh satu dari partai Go-bie Leng-siang-kiam atau sipedang salju Gak Heng. Sekarang aku ingin mohon
petunjuk mengenai ilmu pedang dari saudara"
Kembali Pek In Hoei lertawa dingin. "Heeeh ... heeeh ... heeeh ... ilmu pedang Liuw-im-kiam boat dari partai Go- bie mengutamakan kemantapan serta kegagahan,
bagi manusia berangasan yang berhati kasar dan buas macam kau, sekalipun berlatih sepuluh tahun lagi pun belum tentu bisa berhasil mencapai taraf yang paling
tinggi, aku lihat lebih baik kita tak usah bertanding lagi! Percuma" Gak Heng meraung gusar, badannya bergeser dan maju empat langkah kedepan, pedangnya
berkelebat menembusi angkasa, diantara titik titik cahaya tajam ujung pedangnya mengancam sekujur badan lawan.
Pek In Hoei mendengus dingin, ia berkelebat masuk kedalam kurungan cahaya pedang lawan, lengan kanannya berputar kesamping dan langsung membacok iga kiri
perwira tersebut.
Gak Heng buang tubuh bagian atasnya kebelakang, ujung ujung pedangnya berputar membentuk satu lingkaran busur kemudian dari samping sekaligus melepaskan tiga
buah babatan berantai, gerakan ringan lincah dan mantap, sedikitpun tidak membawa keragu raguan.
Melihat kehebatan orang, Pek In Hoei lantas berpikir didalam hatinya ; "Sungguh tak kusangka manusia yang gampang marah dan terlalu tebal rasa curiganya
seperti dia ternyata sanggup melatih ilmu pedang Liauw-im Kiam-heat hingga mencapai puncak kesempurnaan aaah, pekerjaan ini bukanlah suatu pekerjaan yang
gampang. Rupanya aku sudah terlalu pandang rendah dirinya"
Kendati otaknya berputar namun gerakan tubuhnya sama sekali tidak berhenti, lengan kanan segera dipentangkan lurus kedepan. lima jari dipantangkan bagaikan
cakar dan menyapu menggunakan jurus "Pek in-yoe-yoe" atau awan putih memenuhi angkasa
Dalam gerakan barusan ia menggunakan lengannya sebagai pedang, walaupun serangan yang dilancarkan rada terlambat namun sasarannya tidak lebih duluan dari
lawannya dengan memakai gerakan yang sama serta ancaman yang sama ia dahului serangan lawan.
Melihat perbuatan tersebut Gak Heng si perwira muda itu kerutkan dahinya, sekilas rasa terperanjat berkelebat dalam benaknya cahaya pedang berkilauan, dengan
memaka1 jurus yang tak berbeda ia babat tengkuk musuh.
Dari gerakan tubuh bagian atas lawan yang miring kesamping ditambah pula getaran ujung pedang yang mengancam keatas dalam sekali pandang saja Pek In Hoei
lantas bisa menebak maksud hati orang jelas ia hendak menebas kutung lengannya lebih dahulu kemudian dengan memakai jurus "in-siauw-boe-san" atau awan hilang
kabut buyar ujung pedangnya akan menusuk ulu batinya hingga ia mati konyol.
Mengingat kekejaman orang, hatinya jadi panas, makinya didalam hati :
"Bajingan keparat sungguh keji maksud hatimu" Karena mangkel maka dia pura pura berlagak pilon, ditunggunya hingga pedang Gak Heng berputar hendak menebas
lengannya saat itu tiba tiba Pek In Hoei unjuk gigi, lengan kanannya digetarkan dan langsung menghajar punggung pedang musuh.
Plaaaak ... Diiringi suara yang amat nyaring, senjata pedang ditangan Gak Heng siperwira muda itu terpapas kutung jadi dua bagian.
Pek In Hoei tidak berhenti sampai disitu saja, ia maju semakin kedepan pergelangannya berputar dan menyodok kedalam secara tiba tiba lima jarinya laksana
kilat menotok dada lawan.
Ditengah getaran sang telapak yang berpusing, hawa murni memancar keluar bagaikan bendungan yang bobol, tidak ampun seluruh tubuh Gak Heng terangkat ketengah
udara dan terlempar beberapa tombak jauhnya dari tempat semula.
Bruuk... Diiringi suara keras, badannya tidak ampun lagi mencium tanah.
Kutungan pedang yang berada ditangani Gak Heng pun mengikuti gerakan terlemparnya sang badan keudara mencelat keangkasa dan menancap diatas sebuah dahan
pohon Song.
Sambil menahan rasa sakit dipantat akibat bantingan itu, perwira muda tadi tiada hentinya bergumam dengan wajah kemimik°
"Awan Putih memenuhi angkasa... Awan lenyap kabut buyar... "
"Sedikitpun tidak salah, Im-siauw-boe-san jurus yang barusan kau gunakan" sambung Pek In Hoei dingin.
Gak Heng meraung keras, ia muntah darah segar dan roboh menggeletak di tanah.
Sebagai murid terakhir dari Tay Hong siangjien itu ciangbunjien dari partai Go-bie dia amat disayang dan dimanja oleh gurunya, iimu pedang Go-bie Kiam-hoat
yang dikuasainya merupakan jago paling lihay dalam murid angkatan kedua.
Siapa sangka sekarang dia harus menelan pil pahit ditangan seorang pelajar rudin dengan menggunakan jurus yang sama dari ilmu pedang Liauw im Kiam-hoat yang
dikuasainya, tidak mengherankan kalau dia muntah darah saking kesal dan dongkolnya.
Dalam pada itu terdengar Pek In Hoei telah berkata lagi dengan wajah serius :
"Pantangan yang paling besar bagi orang yang belajar ilmu pedang adalah sombong tinggi hati dan terlalu pandang enteng musuhnya kalau kau tak dapat mendalami
inti sari dari pelajaran silat tersebut, maka sebagai akibatnya..."
Belum selesai dia berkata mendadak terdengar suara raungan yang rendah tapi berat dan sangat memekikan telinga berkumandang datang, membuat sianak muda itu
diam diam kaget dan merasakan kepalanya pening.
Alisnya kontan berkerut, mendadak matanya berkilat terlihatlah serentetan cahaya bianglala yang pendek laksana kilat meluncur datang kearah tubuhnya.
Terasalah hawa pedang dingin bagaikan salju, begitu dingin hingga merasuk ke tulang sumsum, hawa pedang menekan dan menggencet dadanya,
Pek 1n Hoei menggeram rendah, badannya mencelat keangkasa sambil meloloskan pedangnya.
Sekilas cahaya merah yang sangat menyilaukan seketika membumbung keangkasa, bersamaan dengan munculnya segumpal hawa pedang, ancaman cahaya bianglala jadi
seketika lenyap tak berbekas.
Criiiing...! diirirgi suara bentrokan nyaring sebilah pedang pendek rontok keatas tanah dalam keadaan terkutung tiga bagian, diikuti munculnya seorang
hweesio tua berjenggot putih dari balik pohon Song.
Sekilas rasa kaget dan tercengang berkelebat diatas wajah Pek In Hoei, kemudian dengan wajah keren dan ditatapnya hweesio tua itu tajam tajam. "Omitohud !"
terlihatlah hweesio itu merangkap tangannya kedepan dada untuk memberi hormat. "Loolap adalah Ci In. Tolong apakah siauw-sicu adalah Kiam Leng koen tampan
berpandangan sakti amat tersohor dalam dunia persilatan."
Pek In Hoei tidak menjawab pertanyaan orang, perlahan-lahan ia angkat kakinya yang telah meninggalkan dua bekas dalam diatas permukaan tanah, lalu pujinya :
"Hweesio tua, sungguh hebat ilmu pedang Tatmo Kiam-hoat dari partai Sauw-lim yang kau miliki"
"Pedang Poo-kiam milik siuaw-sicu pun luar biasa tajamnya!" balas Ci In Tootiang dengan wajah jengah. Perlahan-lahan sinar mata berkisar keatas pedang sakti
penghancur sang surya yang tergantung dipinggang sianak muda itu, alisnya terkerut kencang seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
Pek In Hoei tertawa hambar. "Hey hweesio tua, ujung bajumu hampir kutung..."
Ci In Hong-tiaag tersentak kaget dan segera angkat tangan kanannya, kini ia baru temukan bahwasanya ujung bajunya telah terbabat robek oleh ketajaman pedang
lawan, kini ujung baju itu sedang berkibar tiada hentinya tertiup angin.
Air mukanya kontan berubah hebat, seraya menyapu sekejap kearah Gak Heng yang meog geletak diatas tanah serunya : "Siauw sicu, kau datang kemari untuk
mengunjungi Buddba, tidak sepantasnya kalau didepan pintu kuil mengumbar napsu membunuh dan melukai orang lain ".
"Apa yang kau katakan? aku bukan datang kemari untuk mengunjungi Buddha, aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan, cayhe datang kesini adalah disebabkan...
"
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak sinar matanya berhenti bergerak dan memandang terus kearah depan tanpa berkedip barang sedikitpun jua.
Rupanya dari balik sebuah jalan kecil disisi kebun muncul seorang gadis yang amat cantik.
Dibelakang dara ayu itu mengikuti Coei jie yang berbaju hijau, ia berjalan dengan kepala yang tertunduk rendah2.
Kemunculan gadis ayu yang diharap-harapkan selama ini kontan membuat Pek In Hoei berdiri termangu-mangu, sinar matanya menatap wajah gadis tadi dengan cahaya
terpesona.
Dalam pada itu sinar mata gadis cantik itupun sedang berkisar kearahnya, tatkala sepasang mata mereka saling membentur, diatas wajah sang gadis yang dingin
terlintas rasa tercengang dan kaget yang tak tehingga?", namun sebentar kemudian dia sudah melengos kearah lain.
Pek In Hoei merasakan hatinya terjelos, sikap yang dingin dan ketus dari gadis cantik itu hampir saja membuat dia buang muka, putar badan dan berlalu.
Namun dengan cepat pelbagai pikiran berkelebat dalam benaknya ia tarik napas panjang2 lalu dengan langkah lebar berjalan menyongsong kehadirannya.
Dengan langkah menggiurkan gadis cantik berbaju kuning itu berjalan maju beberapa langkah kedepan, setelah melirik sekejap Gak Heng serta Ci In Hong tiang ia
segera berjalan balik kehadapan Pek in Hoei.
"Apakah kau yang bernama nona Wie?" sianak muda ini segera menegur dengan wajah serius.
Dengan pandangan dingin gadis cantik itu mengangguk, seakan akan dia sama sekali tidak tertarik oleh ketampanan wajah Pek In Hoei serta kegagahannya.
Melihat sikap dara ayu itu diam2 Pek In Hoei menghela napas panjang, akhirnya ia gigit bibir dan berkata : "Tengah hari tadi cayhe telah mendapat persenan
sekeping uang perak dari nona dibawah pintu kota sana, dan kini aku sengaja datang kemari untuk mengembalikan uang tersebut kepada diri nona!"
Seraya berkata ia ambil keluar kepingan uang perak tadi dari dalam sakunya kemudian diserahkan ke tangan Coei-jie, setelah itu tanpa mengucapkan sepatah
katapun ia segera putar badan dan berlalu.
Sekilas rasa kaget dan tercengang berkelebat diatas wajah gadis cantik itu, akhirnya ia tak dapat menahan diri dan berseru: "Hey! kau..."
Perlahan-lahan Pek In Hoei berpaling "Cayhe bukan lam adalah orang desa yang memakai jubah merah kumal, berambut kusut dan berjenggot siang tadi.
"Aaaaah... !" dara ayu berbaju kuning !tu menjerit kaget, cepat ia tutupi bibirnya sendiri dengan talapak tangan.
Sementara itu Coeijie pun sedang memandang kearah Pek In Hoei dengan mata terbelalak lebar, mulut melongo besar, seakan akan ia tidak percaya dengan apa yang
didengarnya barusan.
Melihat sikap dayang itu, pemuda kita segera tersenyum, mula mula dia ambil keluar lebih dulu perhiasan MaNau tadi untuk diletakkan keatas tangannya kemudian
baru berkata : "Terimalah perhiasan Ini sebagai tanda terima kasihku". atas belas kasihan yang pernah kau perhatikan kepadaku tengah hari tadi, sekarang kau
tidak sepantasnya untuk menampik bukan?".
Kembali tangannya merogoh kedalam saku ambil keluar sebutir mutiara sebesar buah lengkegg, dan sambungnya lebih jauh : “Mutiara Ek Seng Coe ini adalah tanda
mata dariku untuk nona kalian, anggaplah benda ini tebegai rasa terma kasihku yang mendalam terhadap dirinya"
Dengan pandangan mendelong dan kebingungan Coei-jie mengawasi diri Pek In Hoei, ia benar benar tidak habis mengerti akan maksud kedatangan sianak muda itu.
Menanti mutiara yang dingin dan nyaman tersebut telah disusupkan kedalam genggamannya, dia baru tersentak kaget dan berseru gugup: "Tidak | Tidak..."
Pek In Hoei tertawa getir. "Dapatkah kau katakan kepadaku, siapakah nama siocia kalian itu?"
Coei Jie tertegun, ditatapnya wajab gadis berbaju kuning itu dengan pandangan bodoh, untuk beberapa saat lamanya ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Dara ayu berbaju kuning itu sendiripun melengak, mimpipun ia tidak menyangka kalau Pek In Hoei bisa menanyakan namanya dihadapan dirinya sendiri, ia sangsi
sejenak, lalu sambil gigit bibir sahutnya : "Aku bernama Wie Jien Siang!".
"Terima kasih atas pemberitahuanmu". Setelah mengucapkan terima kasih pemuda kita putar badan, loncat naik keatas kudanya dan berlalu dari situ.
Dalam sekejap mata suasana dalam hutan pohon Song itu diliputi kesunyian, keempat orang itu sama-sama dibikin tertegun dan melengak oleh tingkah lakunya yang
aneh dan serba diluar dugaan itu, untuk beberapa saat siapapun tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Suara derap kaki kuda berkumandang menjauh, disaat itulah mendadak sipedang salju Gak Heng berteriak keras :
"Hey bangsat, siapa namamu ? kalau punya nyali ayoh tinggalkan namamu !".
"Cayhe Pek in Hoei!" suara sahutan yang lantang bergema dari balik hutan nun jauh disana.
"Apa ? Pek ln Hoei ?" jerit Gak Heng dengan air muka berubah hebat. "Dia... dia adalah sijago pedang berdarah dingin Pek In Hoei.
Sementara itu sekujur badan Wie Jien Siang sidara ayu berbaju kuning itupun gemetar keras, tiba2 teriaknya ; "Pek In Hoei, tunggu sebentar "
Ujung bajunya bergetar keras, bagaikan burung walet tahu tahu gadis itu meloncat keatas udara, dalam beberapa kali jumpalitan saja tubuhnya sudah berada
beberapa tombak jauhnya, arah yang dituju bukan lain adalah arah dimana Pek In Hoei melenyapkan diri tadi.
Selama hidupnya belum pernah Coei-jie menyaksikan nonanya bisa meloncat dan melayang ditengab udara, menyaksikan perbuatan nonanya ia menjerit ketakutan :
"Nona..."
Sebaliknya air muka Ci In Loo Hong-tiang pun berubah hebat, ia berseru tertahan kemudian berdiri menjublak di tempat semula.
Air muka sipedang salju Gak Heng pun berubah hebat sekali. "Piaw-moay... Piauw-moay... tunggu sebentar. tunggu... kau hendak kemana?" jeritnya lengking.
Tanpa memperdulikan yang lain lagi, ia loncat bangun dari atas tanah kemudian mengepos tenaga mengejar dari belakang.
Angin gunung berhembus lewat membuat daun dan ranting pohon Song bergoyang tiada hentinya di tengah kesunyian hanya tertinggal Ci In Hong-tiang serta Coei
jie yang masih ada disitu.
Terdengar Ci In hweesio bergumam seorang diri dengan nada lirih : "Aaaaaai... sungguh susah dipercaya ... sungguh membuat orang tidak habis mengerti, tak
kusangka nona halus yang lembut dan lemah gemulai itu ternyata memiliki ilmu silat ini yang demikian lihay... aaaai ... rupanya aku sihweesio tua memang
benar benar sudah terlalu tua sehingga matapun jadi kabur dan rabun.... agaknya sekarang memang sudah saatnya bagiku untuk mengundur diri dari keramaian
dunia persilatan."
Suaranya penuh rasa duka dan sesal... ia tidak habis mengerti apa sebabnya seorang nona yang lemah lembut, seorang putri gubernur yang manja secara tiba-tiba
bisa jadi kosen dan lihaynya luar biasa.
Lama sekali dia berdiri tertegun disana, untuk kemudian dengan perasaan apa boleh buat kembali kedalam kuilnya.
TENGAH malam telah tiba, kabut yang tipis melayang diatas permukaan tanah menyelimuti seluruh jagad.
Bintang bertaburan diangksa mengeliling rembulan yang memancarkan cahaya redup, ditengah malam yang sunyi tak kedengaran sedikit suarapun berkumandang
Mendadak... muncul sebuah lampu lentera berwarna marah menyinari kegelapan yang mencekam, suara Ketukan kayu menggema memecahkan kesunyian.
Kentongan kedua tebal, kabut kian lama kian bertambah tebal, seluruh jagat hampir terbungkus rata. Malam semakin sunyi.
Dari balik kabut yang tebal, kembali muncul sebuah lampu lentera berwarna merah menerangi kegelapan.
Pada saat itulah terdengar suara derap kaki kuda yang rendah dan perlahan menggema dan balik kabut, perlahan-lahan bergerak menuju kearah lampu lentera merah
itu.
Kabut yang tebal seakan akan membekukan seluruh angkasa, oleh sebab itu suara derap kaki kuda tadi tidak sampai bergema hingga ketempat jauhan.
Tokkkk... tooook... toook... di tengah derap kaki kuda yang gencar, mendadak terdengar bentakan nyaring menggema keangkasa:
"Siapa ?"
"Aku sipedang naga terbang...?" jawab orang yang ada diatas kuda, belum habis ia berkata tiba tiba terdengar jeritan ngeri berkumandang keangkasa diikuti
desiran angin tajam menyambar dari segala penjuru, dalam sekejap mata hujan anak panah bermunculan dari mana2.
Ringkikan kuda teriakan gusar sipenunggang kuda berkecambuk jadi satu, terdengar orang yang ada diatas kuda itu menghardik penuh kegusaran :
"Siapa yang suruh kalian melepaskan anak panah? aku adalah It Boen Liong".
"Haaaah... fcaaaah... haaaah..." suara gelak tertawa yang nyaring dan keras menggema dari arah sebelah kanan, bersamaan itu pula dari balik kabut berkelebat
keluar serentetan cahaya tajam berwarna merah.
Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang tiada hentinya, hujan panah seketika terhenti.
It Boen Liong segera loloskan pedangnya dan loncat kearah berasalnya cahaya tajam berwarna merah itu.
Namun dikala badannya mencapai permukaan bumi, cahaya tadi segera lenyap tak berbekas, yang tertinggal hanyalah baunya darah yang amis dan memuakkan.
Dengan cepat ia periksa keadaan sekitar sana, tampak empat sosok mayat menggeletak diatas tanah, pada bagian leher setiar korban yang mengeletak mati itu
tebekas sebuah babatan pedang yang mematikan kecuali tiada terlihat bekas luka lainnya lagi.
"Hmmm ! sungguh indah dan lihay cara pembunuhan yang dilakukan orang itu" pikirnya didalam hati.
Mendadak... pedangnya berputar putar. sambil berputar seratus delapan puluh derajat bentaknya : "Siapa disana ?".
Suasana dibalik kabut tetap sunyi senyap kedengaran sedikit suarapun, lama sekali ia baru tarik napas panjang dan berpikir lebih jauh :
"Mungkinkah aku sudah salah dengar. Pada saat pikirannya sedang berputar itu. kurang lebih dari enam depa dihadapannya berkumandang datang suara bentakan
indah yang nyaring dan lantang :
"Kau sama sekali tidak salah mendengar akulah yang berada disini.
"Siapa kau ?" bentak It Boen Liong pedang naga terbang sambil geserkan badannya kesamping, dengan cepat pedangnya dilintangkan didepan dada siap menghadapi
segala kemungkinan"
Sekilas cahaya mutiara yang redup muncul didepan matanya, bersamaan dengan itu muncul pula seorang pemuda ganteng baju putih keperak perakan, sikap gagah dan
keren sekali.
Ketika itu sambil mencekal sebutii mutiara sebesar buah lengkeng pemuda berbaju putih keperak perakan tadi menatap wajah It Boe Liong dengan pandangan
dingin, mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.
Diam diam It Boen Liong merasa terperanjat, meminjam cahaya mutiara tersebut ia awasi tubuh orang dari atas sampai kebawah kemudian baru tegurnya dengan nada
berat: "Sebenarnya siapakah kau ?"
Pemuda ganteng tadi tersenyum. "Apa maksudmu datang keperkampungan Tay Bie San-cung? ada urusan apa kau berkunjung kemari ?".
"Hmmm... Ehth musuhku tinggal dalam perkampungan ini, apa salahnya kalau kau berkunjung kemari?"
Tiba tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya. segera bentaknya lagi : "Apakah kau adalah si jago pedang berdarah dingin Pek in Hoei"
"Sedikitpun tidak salah, cayhe adalah Pek In Hoei, namun bukan sijago pedang berdarah dingin yang kau maksudkan barusan"
It Boen Liong nampak tertegun, namun dengan cepat hawa gusarnya telah berkobar,
"Apa dosa Kiong Hiante ku dengan dirimu? mengapa kau tebas lengannya hingga kutung".
"Hmmm terhadap manusia yang suka bikin onar dan malang melintang dengan andalkan nama serta pengaruh ayahnya, sudah untung kalau aku cuma tebas kutung sebuah
lengannya, toh selembar Jiwa anjingnya masib utuh"
"Baiklah, kalau toh kau anggap ilmu pedang yang kau miliki sangat lihay, sekarang aku ingin sekali mohon petunjuk ilmu pedang, hati2".
Pek In Hoei tidak langsung melayani tantangannya, diam diam pikirnya didalam hati:
"Tadi, sebelum masuk kedalam perkampungan, kalau bukan telah bertemu dengan Ouw yang Gong siuler asep tua itu dan dia bisa membuktikan bahwasanya hanya
sigolok perontok rembulan Ke Hong serta sijari bintang kejora Kiong Thian Bong saja yang terlibat dalam keroyokan terhadap ayahku sewaktu ada digunung Ceng
Shia tempo dulu, sejak tadi aku sudah lakukan pembunuhan secara besar besaran, Aaaaaah sembari menunggu kehadiran Ouw yang Gong. kenapa aku tidak layani
tantangannya untuk bermain main beberapa jurus dengan dirinya... "
Maka secara tiba tiba ia berkata .
"Setiap kali pedang poo-kiam ku lolos dari sarung, dia harus bertemu dulu dengan noda darah sebelum dikembalikan kedalam sarungnya kalau memang kau tidak
suka mendengarkan nasehatku, baiklah, terpaksa aku harus memenuhi harapanmu."
It Boen Liong gusarnya bukan kepalang, tanpa banyak bicara lagi badannya bergerak maju kedepan, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun pedangnya menebas tubuh
lawan.
Cahaya mutiara tiba tiba lenyap, tanpa mgeluarkan suara badan Pek In Hoei pun ikut lenyap dibalik kabut.
It Boen Liong segera menggetarkan ujung pedangnya, belum sampai badannya mencapai permukaan tanah pedangnya telah ditusuk kembali kearah Barat.
Angin pedang menderu deru, kabut yang tebal segera terbelah kesamping dan senjata tadi laksana kilat meluncur kedalam.
Pek In Hoei putar lengannya, dengan suatu gerakan yang aneh dia balas mengirim satu serangan balasan.
Mendengar datangnya ancaman It Boen Liong membolang baiingkan pedangnya, serentetan bayangan pedang seketika memenuhi angkasa dan mengurung tubuh pemuda she
Pek itu kedalam kepungan.
Walaupun Pek In Hoei selama ini tak dapat melihat bagaimana pihak lawannya melepaskan serangan, namun dari beberapa serangan yang mengancam tubuhnya dengan
begitu hebat, ia dapat menarik kesimpulan dimanakah letak kelihayan serta kebagusan serangan musuh.
Tiba tiba ia melepaskan satu tendangan kilat sambil membentak: "Bagus! jurus serangan ilmu pedangmu memang tidak jelek"
Belum sempat It Boen Liong menjawab, tahu tahu tendangan musuh yang datang secara tiba tiba itu sudah mengancam badannya dan berada tepat didepan jalan darah
Hiat Cong Hiat.
Buru buru lambungnya ditarik kebelakang gagang ditekan kebawah dan membentur tumit lawan.
Pek In Hoei tertawa ringan, berada ditengah ancaman ujung pedang lawan tahu-tahu ia berhasil ngeloyor pergi.
"Coba kau rasakan pula ilmu pedang angin puyuh tengah gurunku ini!" Bentak It Boen Liong.
Secara beruntun dia melancarkan delapan buah serangan berantai namun setiap kali berhasil dihindari pihak musuh yang melayani dengan tangan kosong belaka,
keadaan seperti ini membuat dia jadi serba salah, maka permainan pedangpun lantas dirubah, dengan hebat dan gencarnya dia teter musuhnya habis habisan.
Angin pedanng menderu deru membuat kabut tebal yang menyelimuti daerah sekitar beberapa tombak ditempai itu tersapu bersih, begitu dahsyat serangan tersebut
seakan-akan angin puyuh yang menyapu guruu pasir...
Hawa pedang menusuk ketulang sumsum, secara beruntun Pek In Hoei meloloskan diri dari lima buah tusukan pedang lawan, sementara badannya sudah mundur dua
tombak lebih dari tempat semula.
Diam diam ia terperanjat jaga menyaksikan kehebatan lawan, pikirnya dalam hati :
"Sungguh tak kusangka ilmu pedang yang dimiliki It Boen Liong demikian hebat dan luasnya, bukan saja ganas bahkan telengas, tidak malu ia disebut sebagai
manusia yang berbakat bagus...
Sembari berpikir mendadak badannya meloncat empat tombak kedepan, pedangnya menjungkat keatas, serentetan cahaya pedang seketika menyebar keempat penjuru.
It Boen Liong tarik napas dalam dalam, ia berdiri dengan sepasang kaki dibentangkan lebar, badan bagian atas membungkuk kebelakang, senjata pedang menebus
ketengah udara mengirim tiga babatan maut.
Baru saja ketiga jalur hawa pedang itu menumpuk jadi satu. It Boen Liong rasakan serentetan hawa serangan yang tajam seakan akan hendak menembusi tubuhnya,
menubruk tiada hentinya diatas hawa pedang tersebut.
Dengan suara berat dia membentak keras, pedangnya menjungkil keatas, sambil membuka satu lowongan ditubuhnya ia terjang kedepan.
Dua bilah pedang bergesek menimbulkan suara bentrokan yang tajam, nyaring dan memekikkan telinga, seketika itu juga seluruh pedang yang ada ditangan It Boen
Liong melengkung bagaikan busur.
Dengan penuh kesakitan dia merintih. pergelangannya gemetar keras dan sekati lagi ia menjungkit setengah coen keatas.
Traaang pedangnya sebatas gagang pedang tahu tahu patah jadi dua bagian.
Dengan lenyapnya tenaga tekanan tersebat maka tak bisa ditahan lagi badannya terjengkang kebelakang, hampir hampir saja ia roboh keatas tanah.
Pek In Hoei segera menggerakkan pedangnya membabat lewat dari depan dadanya, mengikuti gerakan pedang tersebut badannya meloncat dua tombak kesamping.
Bersama dengan berkelebatnya pedang, It Boen Liorg rasakan dadanya panas dan sakit, bajunya segera robek dan tampaklah kulit tubuhnya yang kekar.
Sebuah jalur luka pedang yang memanjang terbentang didepan mata, darah segar mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh pakaian
"ilmu pedang apakah yang barusan kau gunakan?" tegurnya sambil menggigit bibir menahan gusar.
"Jie Loen Jut Sian atau Sang Surya baru muncul jurus kedua dan ilmu pedang penghancur sang surya " jawab Pek In Hoei serius sambil perlahan lahan memasukkan
pedangnya kedalam sarung.
"Ilmu pedang penghancur sang surys ?" gumam It Boen Liong tercengang. "Terima kasih atas kebaikanmu yang tidak membinasakan dinku."
"Antara kau dengan diriku sama sekali tidak terikat oleh dendam maupun sakit hati, kenapa aku harus membinasakan dirimu?"
Ia merandek sejenak untuk tukar napas lalu sambungnya : "Kau adalah satu satunya jago pedang yang memiliki ilmu pedang paling lihay di antara jago-jago yang
pernah kujumpai"
Ucapan ini segera disambut It Boen Liong dengan senyuman getir yang memilukan. "Bagi prajurit yang telah kalah perang seperti aku, ada ucapan apa lagi yang
bisa di utarakan keluar?".
Sepasang alisnya berkerut, setelah tarik napas dalam dalam terusnya : "Satu bulan kemudian aku menantikan kedatanganmu, disini aku ingin sekali lagi mohon
petunjuk ilmu pedang penghancur sang surya milikmu."
"Ehmmm, sampai saatnya aku bisa menantikan kehadiramu disini". It Boen Liong se gera merangkap tangannya menjura, kemudian putar badan dan berjalan kebalik
kabut yang sangat tebal.
Pek In Hoei tarik napas panjang panjang, perlahan-lahan dia angkat kepalanya, tampak kabut telah mulai membuyar, tiga lentera merah yang terpancang ditengah
angkasa dapat terlibat dengan jelasnya.
Dalam hati lantas dia berpikir kembali :
"Sebenarnya ada kejadian apakah yang menimpa perkampungan Tay Bie San Cung pada hari ini! kenapa mereka sebar jebakan jebakan ditempat luar? lagi pula
segenap kekuatan perkampungan yang mereka miliki dikumpulkan dalam ruang tengah semua Tidak mungkin kalau mereka berbuat demikian karena mengetahui akan
kehadiranku"
Dengan termangu-mangu dia berdiri ditengah kabut yang makin menipis, otaknya memikirkan kejadian kejadian yang telah lampau, ia teringat kembali bagaimana
jenasah ayahnya tertinggal disamping tubuh si dewi khiem bertangan sembilan Kim In Eng kemudian dirinya masuk kedalam gua
Kembali pikirnya : "Saat ini entah sidewi bertangan sembilan Kim In Eng cianpwee berada dimana?"
Air kabut membasahi wajahnya yang tampan, sambil menyeka kelembaban yang membasahi pipinya dia berpikir lebih jauh: "Selama dua tahun terakhir aku selalu
berada didalam gua, kenapa sekarang ada orang munculkan diri dengan menyaru namaku sehingga akhirnya memperoleh gelar sebagai sijago pedang berdarah dingin,
aku tidak percaya kalau dikolong langit masih terdapat orang lain yang bernama Pek ln Hoei pula"
Malam semakin kelam, suasana semakin sunyi teringat akan Sucouwnya yang mati diracuni orang ia terbayang kembali akan kematian ayahnya yang dikerubuti orang
banyak, dari situ pelbagai persoalan pun segera menyelimuti benaknya ...
"Aaaai... Dunia persilatan benar benar terselubung oleh pelbagai masalah yang aneh, misterius dan mencengangkan hati, sekali aku terjun kedalam kangouw saat
itu juga aku akan terjerumus dalam kancah masalah yang memusingkan kepala... "
Dengan hati hampa dia mengbela napas panjang.
Sekonyong-konyong ... sesosok bayangan manusia meluncur datang, dari balik kabut terdengar suara Ouw yang Gong yang serak serak basah berkumandang datang.
"Nenekrya cucu monyet, keparat cilik goblok, belum sampai beberapa hari kau terjunkan diri kedalam dunia persilatan, kenapa terhadap masalab dunia kangouw
sudah bosan? Aku siorang tua yang sudah reot dan pikunpun masih lari kesana lari kemari bekerja buat dirimu apa kau tidak malu dengan dirimu sendiri ?"
Bersamaan dengan selesainya ucapan tadi Ouw-yang Gong si manusia kukoay yang berambut awut awutan, memakai kulit kambing dan lagak lagunya edan telah berdiri
tegak dihadapannya.
"Ulcr asep tua, bagaimana hasilnya?" Pek In Hoei segera maju menyongsong kedatangannya.
"Huuu... hampir saja aku siuler asep tua tak berbasil lari keluar... " omelnya sambil tarik napas panjang, ia sulut tembakau dalam huncweenya dengan api,
setelah menyedotnya beberapa kali sambungnya lebih jauh :
"Dua setan tua dari Seng-sut-hay entah sejak kapan telah berkumpul semua dalam perkampungan itu, mereka menyelundup masuk kedalam perkampungan dan berlatih
semacam ilmu iblis yang maha sakti dibelakang telaga Liok-jiet-ouw. "Waduh... penjagaan yang diatur disekitar ruang Liok jiet-teog pada malam ini benar benar
sangat ketat, hampir saja aku tak sanggup meloloskan diri"
"Hei, sebenarnya sudah ketemu belum?"
Dengan cepat Ouw-yang Gong mengangguk.
"Aku masih hutang dua buah syarat darimu, sekalipun harus pertaruhkan selembar jiwa tuaku persoalan yang kau perintahkan pasti akan kulakukan sampai
selesai!"
Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah buntalan kain dan segera diserahkan ketangan Pek In Hoei. ujarnya lebih jauh:
"Didalam buntalan ini terdapat surat dari delapan partai besar yang bekerja sama menulis surat buat sigolok perontok rembulan serta sijari bintang kejura,
bagaimana kejadian sebenarnya mengenai pengeroyokan terhadap ayahmu bisa kau baca dengan jelas dalam surat surat itu"
Pek In Hoei terima buntalan tadi dan segera disimpannya baik baik dalam sakunya.
Terdengar Ouw-yang Gong mengomel lebih jauh.
"Sejak dua tahun berselang aku kehilangan jejakmu, aku telah berkelana kesana kemari mencari dirimu. Kemudian aku pikir kau tentu telah berangkat
keperkampungan Tay-bie-san-cung, maka aku lantas menyusup kedalam perkampungan ini. Eeeei... siapa tahu baru ini hari kau sampai disini, dan tidak kusangka
pula ini hari dalam perkampungan telah terjadi peristiwa besar lain... "
Ia tepuk benak sendiri seraya menambahkan :
"Oooouw... ! Aku telah melupakan satu urusan. Keparat cilik, mari kita pergi dari sini"
"Ada apa ? Begitu seriuskah persoalanmu itu?"
"Kemungkinan besar malam ini kedua setan tua itu telah menyelesaikan latihannya, dan kemungkinan besar pula pada malam ini ada musuh tangguh yang akan datang
mencari satroni dengan mereka, maka lebih baik kita jangan ikut campur diair keruh malam ini... "
"Ada musuh luar yang datang mencari satroni dengan mereka tanya Pek In Hoei semakin tercengang.
"Pernahkah kau mendengar kisah tiga buah pulau dewa diluar lautan ? Menurut kata orang diatas pulau pulau dewa itu hiduplah tiga orang manusia yang berumur
seratus tahun lebih. Nah malam ini salah satu diantara anak muridnya akan mendatangi perkampungan Tay-bie-san cung ini untuk mencari balas.
"Apa sih yang sedang kau maksudkan? Siapa yang kau katakan nanusia beurumur seratus tahun itu? Dan siapa pula muridnya? Aku sama sekali tidak mengerti apa
yaeg sedang kau katakan?" seru Pek ID Hoei dengan alis berkerut.
Melihat sikap sianak muda itu, Ouw-yang Gong menghela napas panjang.
bersambung ke 9


Jilid 9 : Itboen Pit Giok dari luar lautan

"SELAMA ratusan tahun belakang ini dalam dunia persilatan telah tersiar berita yang mengatakan bahwa diluar lautan terdapat tiga buah pulau dewa di atas
setiap pulau dewa itu terdapatlah keraton marmer yang sangat indah, dan dalam keraton tadi hidup tiga orang kakek tua, mereka telah berhasil melatih ilmunya
hingga mencapai taraf seperti dewa, api dan air tidak bisa menghancurkan tubuh mereka."

"Aku tidak percaya"

Belum habis sianak muda itu menyelesaikan kata katanya, mendadak dari tempat kejauhan terdengarlah suara keleningan yang merdu serta irama musik yang merdu
merayu berkumandang datang.

Dengan wajah melengak Pek in Hoei segera berpaling, tampaklah dari balik kabut yang menyelubungi sekitar tempat itu entah sejak kapan telah muncul dua baris
lentera merah yang perlahan lahan sedang bergerak mendakat.

Dalam sekilas pandang, ia dapat menghitung jumlah lentera merah yang terbagi jadi dua barisan itu berjumlah dua puluh empat buah

Mendadak air muka Ouw Yang Gong berubah hebat.

„Waduh .... celaka, mungkin permaianan yang barusan kumaksudkan telah datang

Kabut putih laksana sutera, lampu lampu lentera itu bermunculan dari balik kabut

tadi ditengah malam buta warna warni lampu lentera tadi menambah kesetaraan dan kemisteriusan

Angin malam berhemnbus lewat membayarkan kabut yang menyelibungi seluruh jagad, di tengah kesunyian nampaklah kedua puluh empat buah lentera merah itu dengan
terbagi jadi dua barisan perlahan lahan bergerak menuju kearah perkampungan Tay-bie san-cung.

Memandang lampu2 lentera merah yang bergerak secara misterius itu, dengan rasa tercengang Pek in Hoei berbisik:

„Sungguh aneh sekali kemunculan kedua puluh empat buah lentera merah ini, sedikitpun tak ada suara yang kedengaran „Dilihat dari keanehan serta kemisteriusan
lampu lampu lentera merah ini, semakin jelas menunjukan kalau mereka datang dari tiga pulau diluar lautan"

Belum habis ia berseru, mendadak manusia aneh ini menjerit keras

„Aduh celaka dibalik irama musik itu ada setannya"

Dengan wajah tertegun Pek in Hoei berpaling. Ditatapnya wajah Ouw-yang Gong dengan sinar mata penuh tanda tanya.

„Coba kaudengar!" Ouw yang Gong berseru kembali. „Irama musik itu seakan akan membetot isi peruiku, aduh hatiku seperti diiris iris dengan pisau tajam......"

Mendadak ia tekan lambungnya dengan sepasang tangan, sementara badannya berdiri termangu mangu disitu. Sebentar saja seluruh wajah dan tubuh OuW-yang Cong
telah basah kuyup bermandikan keringat, badannya berkerut tiada hentinya seolah2 sedang menahan rasa sakit dan penderitaan.

„Eeeei ular asep tua, kenapa kau?" segera tegurnya dengan nada kaget.

Ouw-yang Gong pejamkan matanya geleng kepala berulang kali, mendadak ia jatuhkan diri duduk bersila keatas tanah kemudian bersemedi dan mengerahkan segenap
tenaga lweekang yang dimilikinya untuk melawan suara lembut yang menyerang hebat itu.

Pek in Hoei benar benar dibikin tercengang dan tidak habis mengerti atas sikap ouw-yang Gong yang seakan akan tersiksa hebat itu, pikirnya dalam hati:

„Kenapa irama musik itu lama sekali tidak mempengaruhi diriku? Sedangkan si uler asep tua kelihatan begitu tersiksa dan menderita? .... Aneh aneh sekali"

Otaknya telah diperas sedemikian rupa namun belum berhasil juga meremukan sebab sebabnya, maka akhirnya ia pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengar.

Namun disaat yang amat singkat itulah irama musik yang lembut merdu tadi sudah tidak kedengaran lagi suasana disekeliling tempat itu telah pulih kembali
dalam kesunyian.

Hatinya jadi bergidik, segera pikirnya lebih jauh:

„Suara irama musik jfu muncul tanpa suara pergi tanpa gerakan, bahkan bisa melukai isi perut orang tanpa terasa... oooh sungguh mengerikan sekali..."

Ketika ia berpaling lagi, terlihatlah kedua puluh empat lampu lentera merah tadi sudah berada kurang lebih empst tombak dihadapannya, lampu lampu itu
bergoyang tiada hentinya dari balik kabut yang menyelubunginya.

Sekarang, Pek In Hoei dapat melihat jelas bahwasanya dari balik kabut muncul dua baris gadis gadis muda berbaju putih berdandan dayang keraton yang membawa
sebuah ranting bambu berwarna keperak perakan ditangan kiri dan sebuah lampu lentera merah ditangan kanannya.

Gerak genk gadis gadis cantik itu ringan dan enteng seakan akan tidak menempel tanah, dipandang dari kejauhan mereka mirip para bidadari yang baru turun dari
kahyangan.

Pek In Hoei merasa amat tercengang dengan kemunculan dua baris gadis gadis cantik yang sargat misterius ini, tanpa sadar rasa bergidik muncul dari dasar
hatinya, bulu kuduknya sama sama pada bangun berdiri.

Ia tarik napas panjang panjang, dengan mulut membungkam ditatapnya kedua puluh empat lentera merah itu muncul dari balik kabut, untuk beberapa saat lamanya
dia lupa untuk meninggalkan tempat itu.

Mendadak...... sisi telinganya berkumandang suara teguran yang lembut dan merdu:

„Hei! Apakah Kau anggota perkampungan Tay-bie-san-cung?..... "

Ucapan itu amat lembut, halus dan enak didengar, seakan akan bisikan mesrah sang kekasih membuat hati tergoncang keras dan badan terasa nyaman

Pek In Hoei berseru tertahan, ia tidak temukan suara tadi berasal dari mana, jika memandang sekelilingnya maka kecuali terlihat kabut yang mulai buyar,
Ouw-yang gong yang masih duduk bersila ditanah serta dua baris gadis gadis keraton itu

tidak tampak bayangan manusia lainnya ada disitu.

Ingatannya segera ditujukan kearah dua baris gadis yang membawa lampu lentera itu.

Sedikitpun tidak salah, terdengar suara kembali berkumandang disisi telinganya:

„Hei! Sudah kau dengar pertanyaanku tadi....?"

"Kau sedang berbicara dengan diriku" bentak Pek In Hoei. „Sudah tentu dengan dirimu" berjalan didepan tadi berhenti, di bawah sorotan dua puluh empat buah
lentera tampak dua orang lelaki kekar berjubah merah dan berperawakan tinggi kekar sambil menggotong sebuah tandu munculkan diri dari barisan.

Warna tandu itu putih keperak perakan diatas atap tandu terdapat sebutir mutiara yang memancarkan cahaya kehijau hijauan.

Dikala Pek ln Hoei masih berdiri termangu-mangu, kedua orang lelaki kekar itu sambil menggotong tandunya telah berada kurang lebih tiga depa dihadapannya.

Kain horden tersingkap dan dari balik tandu muncul selembar wajah yang cantik jelita.

„Hanya kau seorang diri berdiri disitu kalau aku tidak ajak kau bicara lalu dianggapnya aku lagi bicara dengan siapa?" terdengar dara ayu itu menegur.

Begitu wajah gadis itu munculkan diri Pek In Hoei segera pusatkan seluruh perhatiannya keatas wajah dara tadi.

Sebqb ia merasa kecantikan wajah gadis itu benar benar sukar dilukiskan dengan kata kita dibawah sorotan cahaya mutiara wajahnya tampak begitu agung, begitu
ayu dan menawan seakan akan bidadari.

Sinar mata gadis itu tajam sekali, dalam suatu adu pandangan Pek in Hoei merasa hatinya bsrdebar keras, timbul perasaan rendah diri dalam hatinya hingga
tanpa sadar ia telah tundukkan kepalanya rendah rendah.

„Kau tidak berani adu pandang dengan diriku?" tegur sang gadis sambil tersenyum tatkala menyaksikan sikap sianak muda itu.

"Apa kau bilang?" darah panas segera bergolak dalam dada Pek Ia Hoei, alisnya? berkeiut dan sinar matanya kembali menatap wajah gadis itu tajam tajam.

Gadis itu tidak mengira kalau sianak muda itu bisa memandang dirinya dengan cara begitu, ia merasakan betapa tajam dan hebatnya sinar mata orang membuat hati
sendiri timbul suatu perabaan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata kata.

ia tertegun, sekilas rasa jengah berkelebat diatas wajahnya, namun dengan cepat, air mukanya berubah jadi dingin kembali, sepasang alis berkerut kencang dan
hardiknya nyaring:

„Hm! Kenapa kau melototi diriku?" "Hm Kau mengatakan aku tak berani memandang dirimu, maka aku pandang dirimu sekarang..... Eeeei......... sekarang kembali
kau melarang aku memandang dirimu. Hmmm, kurang ajar! Sebenarnya bagaimana maksudmu? Suruh lihat wajahmu arau tidak?"

"Sekali aku bilang tak boleh memandang ayoh cepat berpaling kearah Iain"

Pek in Hoei melegak, ia tidak menyangka kalau sikap gadis ini benar benar tak tahu aturan, dengan dingin ia melirik sekejap kearah gadis itu lalu melengos
kearah lain.

Sikap pemuda kita yang acuh tak acuh kontan menggusarkan hati gadis itu, air mukanya berubah hebat, tangannya yang berada dibalik jendela mendadak disentil
kedepan, serentetan angin totokan segera menyambar kedepan.

Merasakan dirinya diserang laksana kilat Pek in Hoei putar badannya meloloskan diri dari aacaman tersebut, terasa jalan darah Ming-bun -hiat diafas
pinggangnya terhajar telak, namun untung bawa sinkangnya segera melinduogi badan hingga isi perutnvg tidak sampai terluka,

Dengan cepat ia berpaling tampaklah gadis itu sedang memandang kearahnya dengan mata terbelalak, sinar matanya mengandung rasa heran dan tercengang yang tak
terhingga.

„Hei, apa yang telah kau lakukan?7" bentak pemuda kita dengan nada gusar.

Gadis itu mengkerutkan alisnya. bibirnys yang kecil terbuka sedikit, dengan termangu mangu ia menatap wajah Pek In Hoei tak berkedip, untuk beberapa saat
lamanya tak sepatah katapun sanggup diutarakan keluar.

„Hai, keparat cilik kenapa kau meraung macam anjing kesakitan" terdengar suara teriakan Ouw-yang Gong berkumandang dari arah belakang

Dengan cepat Pek in Hoei berpaling ia lihat 0uwyarg Gong mengerdipkan matanya berulang kali kepadanya. lalu maju beberapa jangkah kedepan dsn menjura kearah
gadis itu.
"Nona, tolong tanya apakah kau datang dari tiga pulau dewa didasar lautan?".

„Eeei... sungguh aneh, darimana kau bisa tahu kalau aku berasal dari luar lautan?"

„Haah... haaah... haah meski pun sudah hampir enam puluh tahun lamanya tiga dewa dari luar lautan tidak tancapkan kakinya kembali didaratan Tionggoan, namun
ilmu sakti seruling baja sembilan lubang dari Thiat Tie Thaysu masih tefap berkumandang dalam dunia persilatan irama musik yang barusan noaa perdengarkan
bukankah merupakan irama penakluk iblis pembuyar sukma dari dia orang tua?".

Mendengar manusia aneh itu menyanjung nyanjung nama gurunya, wajah gadis itu segera benseri seri.

"Sungguh tak kusangka didaratan Tionggoan masih ada orang yang mengenal ilmu kami milik suhuku sungguh luar biasa"

Biji matanya berputar, kemudian tanyanya :

„Entah siapakah nama cienpwee?".

"Haaah... haaah... haaah... aku- bernama Owyang Gong, orang tahu diriku sebayai si huncwee gede. Ooh yaah, dan siapa nama nona..."

Gadis manis iiu melirik sekejap kearah huncwee gede yang berada diitengah Ouw-yang Gong, kemudian tersenyum dan menjawab:

"Boanpwee bcrnama It Boen Put Giok

Mendenger gadis ini she It Boen pula seperti halnyas It Boen Liong yang baru saja berlalu, tanpa terasa Pek In Hoei melirik sekejap kearahnya dalam dalam.

It Boen Put Giok pun melirik sekejap kearah Pek in Hoei. kemudian bertanya „Cianpwe?, apskah dia adalah muridmu?". „Oooh bukan bukan, aku tidak mempunyai
hokkie sebesar itu untuk menerima dirinya sebagai muridku, dia bukan lain adalah sahabat kecilku.."

"Hmm, tidak aneh kalau lagaknya begitu congkak" sekali lagi gadis itu melirik sekejap kearah Pek In Hoei" Meskipun ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay,
namun itu saja tak ada artinya sebab ia tak bakal bisa menerjeng keluar dari barisan lampu morahku, karena kesombonganya dia tak nanti bisa mendalami inti
sari ilmu silat yang paling atas"

Pek In Hoei mendengus dingin, sebelum dia sempat mengucapkan sesuatu Ouwyang Gong telah mengerdipkan matanya berulang kali.

Sekalipun begitu. dengusannya tadi telah cukup merubah air muka It-boen Pit Giok jadi dingin dan kaku dengan suara yang ketus ia berseru kembali :

„Hmmm ! kalau kau tidak percaya, ayoh ikutilah diriku masuk kedalam perkampungan Tay Bie San cung, nanti kau akan saksikan sendiri betapa liheynya Ang Teng
Toa tin ku itu......."

"Nona jangan kau rewelsi dirinya lagi, dia adalah seorang bocah tolol...... " karena situasi semakin tidak menguntungkan maka haru buru Ouw yang Gong
menimbrung

Dengan termangu mangu Pek in Hoei berdiri membungkam disitu, suatu perasaan aneh berkelebat dalam benaknya, dia merasa heran apa sebabnya Ouwyang Gang yang
pada hari hari biasa merupakan manusia yang berani bicara berani berbuat, Tidak takut langit dan tidak takut bumi namun terhadap It boen Pit Giok yang
misterius dan aneh ternyata sikapnya begini menghormat, ia tidak habis mengerti apa sebabnya manusia kukoay itu bersikap demikian.

Sementara itu Ouwyang Gong sendiri sama sekali tidak menduga kalau Pek In Host telah memandang rendah dirinya, terdengar dia berkata lebih lanjut :

"Nona, kecuali Thiat Tie thaysu cianpwee, apakah Poh Giok Ca Ko Ek loocianpwee serta Tay Chi Loo Seng Sian masih....."

„Terima kasih atas perhatianmu, supek semuanya berada dalam keadaan sehat walafiat.".

"Nenek kunyuk, anak monyet! panjang benar usia kura kura setan tua itu" maki Ownyang Gong dalam hatinya. Sampai sekarang belum juga modar modar, sudah
seratus dua puluh tahun mereka hidup di kolong langit... sudah sepantasnya kalau orang-orang itu masuk keliang kubur?".

Pada saat itulah mendadak Pek In Hoei maju selangkah kedepan, lalu Ia berseru lantang

„Cayhe sudah ambil keputusan untuk mohon petunjuk dalam ilmu barisan lampu merahmu itu, akan kulihat sampai dimanakah kelihayan iimu kepandaian dari tiga
Dewa Hay Gwa Sam Sian".

It-hoen Pit Giok mencibirkan bibirnya menunjukkan sikap memandang hina anak muda itu, ia singkap horden dan dengan ringan loncat keluar.

Selama ini dua orang manusia raksasa itu bagaikan pagoda baja berdiri kaku disitu dengan wajah adem dan tidak menunjukkan perasaan apa2 terhadap kejadian
yang berlangsung disitu buksn saja tidak ambil gubris melirikpun tidak.

Dalam pada itu It boen Pit Giok telah loncat kehadapan Pek in Hoei, serunya dengan nada dingin:

"Sebentar lagi kau akan saksikan ilmu sakti ysng manunggal dari Kay Gwa Sam Sian"

Bersamaan dengan seiesainya ucapan itu, dua orang gadis yang membawa lanlera merah itu segera loncat kebelakang It Boen Pit Giok.

Kabut telah buyar, udara malam tampak bersih tak bermega, rembulan memancarkan cahayanya yang redup menyinari tubuh gadis yang cgntik jelita itu.

pakaian putih yang ia kenakan entah buat dari apa, terkena sorotan sinar rembulan memantulkan cahaya keperakan yang sangat menusuk pandangan.

Dalam keadaan seperti ini walaupun dalam hati kecilnya Pek In Hoei benci dengan sikapnya ysng dingin, angkuh dan ketus, namun tak urung memuji pada
kecantikan wajahnya yang amat menawan hati itu

Pikirannya didalam hati :

„Walaupun wajahnya lebih cantik daripada Hee Siok Peng maupun Wie Chin Siang, namun kecantikan wajahnya seolah2 berasal dari langit, tidak gampang diterima
oleh umat manusia, ditambah pula sikapnya yang begitu dingin dan ketus, lebih2 membuat orang tidak berani mendekatinya. Aaaaai., keadaan gadis ini jauh lebih
sukar dipahami daripada gadis Wie Chin siang maupun Hee Siok Peng..."

Ketika teringat akan diri Hee Siok Peng, ia teringat kembali betapa sedihnya gadis itu menangis tatkala ia berlalu dari lembah seratus bisa, kesedihan ysng
tercermin, diatas wajahnya membuat sianak muda itu diam2 menghela napas panjang.

"aaai...... kenapa dia adalah putri dari musuh besarku?"

Maka ia berusaha keras untuk menekan perasaan serta pikirannya sendiri untuk tidak memikirkan dia lagi.

Mika diapun alihkan kembali sinar matanya kearsh It boen Pit Giok yang berdiri dibadapannya, delam sekilas pandang ini Intinya tanpa terasa jadi makin gusar,
segera teriaknya :

"Hmmmm, Luar lautan hanya merupakan tempat tinggal manusia2 liar yang tidak beradab. kepandaian lihay mgcam apalagi yang bisa kalian miliki? memandang
wajahmu yang sombong dan tinggi hati, aku rasa tidak ada kepandaian apa2 lagi yang patut kau perlihatkan dihadapanku"

Sungguh hebat ucapannva kali Ini, kalau dibandingkan makian dari It Boen Pit Giok tadi boleh dibilang laksana langit dan bumi, kali ini bukan saja suaranya
keras, ketus dan dingin bahkan kata2nya pedas dan sangat menusuk perasaan, membuat dua orang gadis keraton yang membawa lampu lentera itupun berubah hebat
mukanya.

Ouw yang Gong sendiri diam2. merasa tobat dalam hatinya.

Aduuh celaka ! keparat cilik tolol ini kembali mengumbar napsu kerbaunya, waaah... waaah ....kalau sampai mengusarkan Pob Giok Cu Ko Ek si tua bangka itu
hingga muncul kembali dideretan Tionggoan, dunia kangouw bakal tidak aman lagi! sialan..... goblok benar keparat kunyuk ini".

Tatkala dilihatnya air muka It-boen Pit Giok telah berubah jadi hijau membesi saking gusarnya, dalam hati diam2 ia bergidik, buru buru tangannya berkelebet
menutupi mulut Pek In Hoei agar tak bisa berbicara lebih lanjut.

"Kau.... kau..... kau berani memaki kami sebagai orang2 liar yang tak beradab... " teriak It boen Pit Giok dengan suara gemetar.

Ouwyang Gong tidak ingin urusan makin kacau, buru2 ia tertawa terbahak-bahak dan menukas

"Nona It boen, kau tak usah marah semacam itu! bukankah sejak permulaan tadi sudah kukatakan bahwa dia adalah seorang kunyuk goblok? tak usah kau anggap
ucapanya sebagai kata yeng susungguhnuya"

"Apa yang cavhe ucapkan merupakan tanggung jawab dari diriku sendiri.... " Sela Pek In Hoei sambil melemparkan sebuah kerlingan menghina kearah orang tua itu
" Aku tidak akan jeri atau takut terhadap tiga dewa atau empat setan dari luar lautan!"

"Kau... apa varg kau katakan? coba... coba kau ulangi sekali lagi ?" saking gusarnya sekujur badan gadis she It Boen ini gemetar keras

Pek In Hoei mendengus dingin.

"Ham meskipun cayhe bukan seorang yang super luar biasa, namon aku belum jeri terhadap tiga dewa empat setan dari luar lautan

"Nenek, maknys.. cucu kura kura... anak sialan, tutup bacot anjingmu, lekas kau kurangi perkataanmu yang sama sekali tak berguna itu?.... " berkata 0uw Yang
Gong dengan gusarnya. Pek Ia Hoei melirik sekejap kearah Ouw yang Gong, lalu meludah kelantai.

"Hey manusia edan, bukankah kau masih berhutang satu syarat dariku?" "Benar! " sahut huncwee gede setelah tertegun sesaat. "Tiga permintaan jang menyiksa
baru kulaksanakan dua buah"

"Bagus sekali! kalau begitu sekarang dengarkanlah baik baik, sekarang juga aku minta agar kau jangan mencampur! urusanku lagi, aku perintahkan dirimu segera
tinggalkan tempat ini".

Mula mula pemuda kita memandang Oowyang Gong sebagai seorang locianpwee yang pegang janji dan setia kawan, tetapi sekarang setelah terjadinya peristiwa ini,
dia anggap kakak tua she Oawysng ini sebagai tua bangka tolol yang takut urusan, oleh sebab itulah dia usir orang tua ini agar segera berlalu.

Ucapan iersebut benar benar menggusarkan hati uler asep tua ini, airmukanya kontan berubah hebat.

"Nenek monyet, cucu kura kura...maknya" makinya kalang kabut, namun sejenak kemudian dia telah menghela napas panjang.

Memandang wajah Pek In Hoei yang diliputi kegusaran dia menghela napas dan berpikir didelam hati.

"Aaai.... mana kau bisa memahami maksud hatiku...."

kiranya tujuh puluh tahun berselang diam diam dunia persilatan amat kacau. setiap partai sama2 pada berdiri sendiri ling unntuk berebut kekuasaan, oleh
karena itu- setiap partai sama sama memperdalam ilmunya untuk berusaha menonjolkan diri dalam Bulim.

Suatu musim gugur, dari samudra Seng It Hay tiba tiba muncul sepasang suami istri yang masih muda, mereka berdua dengan andalkan kepandaian silat yang sangat
hebat dan lihay dalam waktu yang singkat telah menjagal habis semua ciangbunjien i «embilan partai besar, hingga nama 5eng Sut Hay Siang Mo atau sepasang
sadis dari laut Seng Sut Hay amar menggetarkan dunia persilatan.

Si iblis sakti Liong Pek ini tak lain adalah suhu dari Si Rasul pembenci langit Ku Loei, sedang istrinya Pek Giok Jien Mo atau siiblis, Khiem kumala hijau
bukan lain adalah suhu dari Xoe Thien Jien siau Kim In Eng.

Berhubung tindak tanduk serta perbuatan perbuatan sepasang iblis dari lauy Seng Sut Hay ini, akhirnya menggusarkan tiga orang pertama sakti yeng tinggal jauh
diluar lautan, dengan kepandaian saktinya mereka mereka hendak mengusir kedua orang iblis itu dari atas daratan tionggoan.

Akhirnya dalam pertemuan para jago di atas gunnng Hoang san, dibawah kerjasama Thay Ghi Siansu serta Pob Giok cu Ko Eng dalam jurus yeng kedua puluh delapan
mereka berhasil mengalahkan sepasang iblis dari laut Seng Sut Hay ini, sedangkan Thiat Tay Sin nie dengan seruling berlubang sembilannya memperdengarkan
irama penakluk iblis pembuyar sukma yang akhirnya memaksa khiem kuno dari Pek Giok Jien Mo kehilangan ketujuh lembar senarnya.

Sejak kekalahan tersebut sepasang iblis kembali kelaut Seng Sut Hay untuk mengasingkan diri, sedang Thay Chi siansu bertiga pun lenyap tak berbekas dari muka
bumi.

Sejak peristiwa itulah nama besar dari Hay Gwan Sam Sian menggetarkan seluruh sungai telaga, walaupun orang kangouw semua tahu bahwa diluar lautan terdapat
tiga buah pulau dewa namun tak seorang pun pernah berkunjung kesitu. dan tak seorangpun yang pernah melihat ketiga orang dewa tadi muncul kembali dalam dunia
periilatan, maka lama kelamaan kejadian itupun mulai dilupakan orang.

Sungguh tak nyana enam puluh tahun kemudian, Hay Gwaa Sam Sian telah mengutus seorang muridnya datang kedaratan Tionggoan bahkan telah bertemu dengen anak
murid dari sepasang iblis Seng Sut Hay Siang Mo untuk bertanding ilmu silat didalam perkampangan Thay Bie Sen cung.

Seandainya kabar berita ini tersiar keluar, niscaya seluruh dunia persilatan akan gempar dibuatnya.

Tatkala Ouwyang Gong pertama kali belajar ilmu silat dahulu, ia sudah pernah mendengar tentang kisah kegagahan tiga dews dari luar lautan mengalahkan
sepssang iblis didaratan Tionggoan. maka dia pun mengerti sampai dimanakah kelihayan orang tidaklah aneh kaiau orang tua ini tidak berani mencari gara2
dihadapan It boen Pit Giok.

Siapa sangka Pek In Hoei masih muda dan berdarah panas, karena tidak senang menyaksikan sikap serta tingkah laku It Boen Pit Giok yang jumawa den ketus telah
bentrok dengan dirinya, bahkan mengajukan pula satu2nya syarat yang pernah dijanjikan dua tahun berselang untuk mengusir dia pergi dari situ.

Memandang wajah sianak muda yang gagah dan penuh semangat, orang tua itu menghela napas panjang, pikirnya:

"Siapa yene bilang aku jari kepadanya? aku takut dengan robohnya gadis ini kemungkinan besar aksn memancing kehadirannya kembali tiga manusia dewa dari luat
lautan iiu, seandainya dalam keadaan gusar merek telah melakukan perbuatan2 yang tidak menguntungkan umat Bulim hingga terbitkan gelombang badai dalam dunia
kangouw, siapa yang sanggup mengusir mereka? siapa ysng sanggup memikul tanggung jewab ini? dalam dunia persilakan dewasaa ini, kepandaian silat siapa yssg
lebib lihay dari mereka?"

Dalam sekejap mata itulah dalam benaknya tiba2 teringat kembali peristiwa dilembah seratus bisa tempo dulu. teringat ,kembali akan ucapan dari Ke in Sin nie
sewaktu hendak mengobati Pek In Hoei yang keracunan hebat.

Dibawah sorotan sinar rembulan yang redup, seakan2 ia saksikan bekas merah darah yang ada diatai kening Pek In Hoei kembali memancarkan cahaya aneh.

ekilas bayangan datang berkelebat d!depan metanya, dengan wejah keren dan serius segera ujarnya

"Baiklah, aku segera akan angkat kaki dari sini, tapi aku tetap berharap agar kau jaagao terlalu mengikuti psrasaan sendiri hingga megakibatkan dunia
persilatan jadi kacau dan tidak tenteram"

It Boen Pit Giok yang mendengar ucapan tersebut dari sisi kalangan segera tertawa dingin,

"Terhadap manusia bandel yang keras kepala macam dia, buat apa kau bersikap begitu baik?" serunya. "Hinmm ! perbuatanmu tidak lebih bagaikan mementol khiem
didepan kerbau dungu"

Ouwyang Gong tidak menanggapi ucapan gadis itu, sebaliknya dia segera menjura dan berpesan

"Nona. aku berharap setelah nona memenuhi janjimu dengan anak murid dari sepasang iblis Ssng Sut Hay Siang Mo janganlah melakukan perbuatan2 lain yang
keterlaluan, agar tindak tandukmu tidak sampai mencemarkan nama baik ketiga

oang suhumu yang pernah datang kedaratan Tionggoan dengan membawa misi yailu mengusir kaum iblis dari muka bumi..." "Ehmmm!" It boen Pit Giok mengangguk.
"Maksud kedatanganku kedaratan Tionggoan kali ini tidak lebih hanya yntuk memenuh janji kami dengan Sirasul Pembenci langit Ku Loei serta si Rasul Pengtuk
langit Chin Tiong, aku datang kesini bukan untuk mencari musuh dengan kawan2 dunia persilatan, harap cianpwee legakan hati".

"Kalau memang nona sungguh berbuat begitu, akupun bisa berlega hati".

Dia ayun huncwee gedenya kearah Pek In Hoei dsn serunya:

"Kalau begitu kita sampai jumpa lagi lain kesempatan...."

Mendadak hatinya torasa sedih, bisiknya lirih.

Selama gunung tetap menghijau dan air sungai tetap mengalir, aku harap bisa berjumpa lagi dengan dirimu dikemudian hari, abu harap namamu dalam waktu singkat
dapat menggentarkan seluruh jagat"

Secara tiba tiba Pek In Hoei pum marasakan hatinya sedih, dia segera menjura dan serunya;

"Terima kasih atas bantuan yang cianpwee berikan kepadaku selama ini."

"Cucu kura kura... maknya" tiba2 Ouwyang Gong memaki. Kau seharusnya sebut aku sebagai siuler asep tua, kenapa kau panggil cianpwse kepadaku

Pek in Hoei tertegun, namun dengan cepat dia berseru :

"Uler asep tua selamat tinggal"

Ouwyang Gong tertawa terbahak bahak,- badannya segara mencelat empat tombak keudara dan didalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik
kegelapan.

Gelak tertawanya yang nyaring menggema tiada hentinya diudara, namun Pek in Hoei tetap berdiri termangu mangu ditempat semula, rasa menyesal tiba tiba muncul
dari dalam hati kecilnya.

"Hmmm sungguh tak nyana kau adalah seorang manusia yang begitu romantis" sindir It boen Pit Giok dengan nada dingin. Manusianya entah sudah sampai dimana,
kau masih berdiri ketolol tololan disitu sambil memandang langit".

Ketika itu Pek In Hoei sedang murung dan kesalnya bukan kepalang, kini setelah mendengar sindiran dari gadis tersebut hawa gusarnya kontan memuncak, dengan
cara melotot ia menoleh kebelekang.

"Kalau aku tidak memandang dirimu sebagai seorang perempuan, sejak tadi kau telah...." "Kau berani berani berbuat apa terhadapku?"

„Kalau kau seorang lelaki, aku pasti akan cabut selembar jiwamu"

Sekujur badan It Boen Pit Giok mendadak gemetar keras, dari matanya memancar keluar cahaya murung dan kesal yang bukan kepalang, terdengar gadis itu bergumam
seorang diri, Mengapa dia ucapkan kata kata semacam itu kepadaku..."

Dalam waktu yang amat singkat itulah baru sadar bahwa dia sengaja menyindir Pek In Hoei bukan lain adalah ingin mendengar pemuda itu bicara lebih banyak
lagi, agar dia bisa memandangi wajahnya yang diliputi rasa gusar.

Ia teringat pula sebagaimana setiap hati dia hanya memandang ombak yang memecah ditepi pantai sewaktu masih ada dipulau Bong Lay to dilautan Timur, meskipun
di atas pulas itu terdapat pelbagai macam binatang yang jinak, namun yang dipikirkan terus menerus waktu itu hanyalah keadaan didaratan Tionggoan.

Beberapa kali dia hendak menunggang rakit untuk menyebrangi samudra dan datang kedaratan Tionggoan untuk melihat pemandangan disitu, berkenalan dengan
manusia yang ada disana

Karena sejak kecil dia dipelihara dan diambil murid oleh Thiat Tie Sinnie, apalagi sangat dimanja oleh guru gurunya maka terbentuklah tabiat yang sombong dan
jumawa dalam hati kecil gadis ini.

Tetapi.... siapa sangka ketika ia mendapat perintah untuk datang kedaratan tionggoan guna mencari murid dari Seng Sut Hay Sieng Mo serta mencari tahu asal
usulnya. diluar perkampungan Tay Bie San cung ia telah berjumpa dengan Pek in Hoei yang sombong dan tinggi hati.

Selama hidnp belum pernah ia berjumpa dengan orang yang berani menatap langsung wajahnya, lebih lebih manusia yang berani mencari gara gara dengan dirinya
oleh sebab itu dia sangat memperhatikan pria ganteng yang ada dibelakannya ini.

Tatkala dia menatapi wajahnya yang ganteng, dalam hati tiba tiba muocul suatu perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata kata, membuat dia ingin sekali
mengucapkan beberapa patah kata dengan dirinya, memandang lebih lama lagi wajahnya.

Namun ketika la melukai perasaannya, diapun dengan kata kata yang tajam menusuk perasaannya.

Sekilas rasa menyesal dan sedih terlintas diatas wajahnya. alisnya yang tebal perlahan lahan menjungkat keatas, Sekarang dia baru meresa menyesal, tidak
seharusnya ia lukai perasaannya, tidak seharusnya dia paksa si anak muda itu mengucapkan kata kata yang begitu galak.

Sebaliknya Pek in Hoei sendiripun merasakan hatinya bergetar keras tatkala melihat gadis itu menunjukkan sikap sedih dan murung, tak tertahan timbul rasa
sesal pula dalam hatinya;

Diam diam ia menghela napas panjang pikirnya:

"Aaaai... buat apa aku cari gara gara dengan dirinya? dia hanyalah tidak lebih seorang gadis yang sudah terbiasa dimanja hingga akibatnya jadi sombong dan
tinggi hati, apa gunanya aku menyindir dan menyakiti hatinya? bukankah aku sama eekali tidak kenal dengan dirinya? apa gunanya mengucapkan kata kata sepedas
itu!".

Hampir saja dia maju kedepan untuk minta maaf, namun gengsi seorang pria memaksa dia tidak berbuat begitu, hanya diliriknya sekejap wajah gadis itu kemudian
perlahan lahan berlalu

Belum sampai beberapa langkah dia berlalu mendadak terdengar It been Pit Giok membentak keras:

"Kembali".

Matanya melotot bulat bulat, dengan penuh kegusaran teriaknya

"Apskah hanya begini saja kau lantas hendak berlalu?".

"Lalu kau mau apa ?" tanya Pek in Hoei seraya berpaling suaranya hambar.

"Asalkan kau dapat menahan sembilan jurus ilmu seruling bajaku, akan kubiarkan kau berlalu dari sini dengan leluasa".

"Kau benar benar hendak paksa aku untuk turun tangan" ditatapnya wajah gadis itu dalam dalam lalu putar badan,

"Hmm! semua lelaki yang ada dikolong langit tak ada seorangpun manusia baik baik terutama sekali kau, kau adalah manusia ysng paling jelek, paling jahat
malam ini, kalau aku tidak berhasil mcmatikan kecongkakanmu itu, kau pasti akau benar benar menganggap bahwa diluar lautan benar benar tiada ilmu sakti yang
bisa diandalkan

"Haaah.... haaah..... haaaah..... baiklah! akan kuberi kesempatan kepadamu untuk melihat sampai dimanakah kelihayan dari ilmu silat daratan Tionggoan.

Perlahan lahan It boen Pit Giok mengetarkan seruling besinya yang panjang dan ramping itu hingga memancarkan selapis Cahaya hitam yang menyilaukan mata,
serentetan suara aneh yang tinggi melengking seketika membumbung keangkasa,

Mendadak lampu lentera berwarna merah itu mulai bergerak, ditengah kegelapan lampu tadi menyebar keempat penjuru dan mengurung Pek in Hoei ditengah kalangan.

Cahaya retak berkelebat lewat, it boen pit giok sambil putar seruling besinya perlahan lahan menotok dada Pek In Hoei Gerakan ini sepintas lalu nampak amat
lambat namun arah yang diserang bukan saja jitu bahkan aneh dan luar biasa sekali.

dalam waktu singkat dia telah mengunci seluruh jalan mundur pihak lawan.

Menyaksikan kehebatan lawsn pek in Hoei terkesiap. berbagai jurus serangan berkelebat dalam benaknya, namun ia merasai setiap jurus serangan yang ada dalam
benaknya terasa sulit untuk menyambut serangan seruling lawan, kecuali mundur ke belakang rasanya tiada cara lain untuk menghadapinya,

Meskipun sianak muda itu sadar, bilamana dia mundur kebelakang maka serangan musuh pasti akan membanjir datang bagaikan bendungan yang bobol, namun dia
dipaksa oleh ancaman seruling yang semakin mendekat, membuat dia mau tak mau harus mundur selangkah kebelakang.

Melihat musuhnya mundur It boen Pit Giok tersenyum manis, serulingnya menekan kebawah, serentetan suara Jang rendah dan tidak enak didengar seketika
berkumandang diangkasa. mengikuti arah mundur lawan kembali ia kirim satu serangan

mematikan.

Oleh irama seruling yang rendah dan tidak sedap didengar itu Pek In Hoei merasakan pikirannya jadi kacau, ia semakin

bingung harus menggunakan jurus serangan bagaimana untuk menghadapi lawannya. Dalam keragu raguannya itu, bayangan

asing bagaikan ambruknya gunung Thay san segera meluruk keatas tubuhnya;

Ia jadi gugup den kaget, dalam keadaan terdesak pemuda kita ini meraung keras, sepasang telapaknya dengan jurus "Nuh cang Ku Tan" atau sampan terpencil
tenggelam kesungai dengan dahsyatnya membabat keangkasa.

"Hmmmm ilmu kepandaian aliran Hoa san" jengek It boen Pit Giok, pergelangannya segera ditekan kebawah, seruling besinya dengan membentuk satu lingkaran busur
segera menotok urat nadi diatas petgelangan lawan.

"Coba kau saksikan jurus serangganku ini" teriak Pek In Hoei lagi sambilan langkah sepasang kakinya.

Telapak dikobarkan kemuka, telapak kanan mendadak menegak, jari tengah laksana kilat menotok tubuh musuh.

Serentetan angin totokan dengan tajamnya menembusi angkasa menghajar urat nadi lawan.

"Eeeei..... bukankah ilmu tersebut adalah ilmu jari Kim Kongci dari partai Siauw~lim?" seru It boen Pit Giok.

Pek In Hoei meraung gusar, dengan tapak sebagai ganti golok mendadak is membabat keluar, angin pukulannya menderu dengan dahsyatnya segera menyapu telapak
musuh yang mencekal seruling.

Tubuh It boen Pit Giok bagaikan ranting pohon liuw yang lemas, dengan enak ia melayang kesana kemari melepaskan diri dari ancaman musuh, teriaknya kembali

"Hmm ! jurus serangan ini tidak lebih merupakan jurus "Hong Na Tiap Coei" atau pohon rindang memenuhi bukit dari ilmu telapak Cian-sau ciang hoat aliran
Thian san Pay, tidak mengherankan"

Menyaksikan setiap jurus serangan yang gunakan segera berhasil ditebak sumbernya oleh gadis itu, dalam hati Pek In Hoei merasa sangat terperanjat, buru2 ia
mundur dua langkah kebelakang, jurus "Hong Nia Tiap Coei" tersebut belum sampai digunakan seluruhnya telapak tangan segera ditarik kembali kemudian sekali
tonjok ia kirim sebush bogem mentah lagi ketubuh musuh,

"Aaaah..... bukankah gerakan ini adalah jurus kesebelas dari Bu-tong Tiong Koen?..."

Dengau enteng badannya melesat kesamping, serulingnya dilintangkan didepan dada lalu mengemplang sejajar kemuka. diantara pekikan irama seruling yang kacau
terlintas sekilas cahaya hitam yang barsusulan.

"He sabenarnya kau anak murid partai mana ?" tegurnya dengan nada tercengang.

Pek In Hoei bersuit lantang, sepasang kakinya menjejak tanah dan dengan suatu gerakan secepat kilat meloncat satu tombak kebelakang, dengan gerakan yang
manis ia berhasil meloloskan diri dari datangnya ancaman bayangan seruling yang bersusunan

[a sadar musuhnya kali ini bukan saja memahami ilmu silat berbagai aliran bahkan seruling besinya dapat mengeluarkan berbsgai irama aneh yang bisa
menyesatkan pikiran musuh.

Ditambah lagi jurus serangannya yang kukoay dan ampuh, bilamana ia kurang hati hati maka kemungkinan besar badannya akan terkurung dibawah senjata lawan dan
roboh dalam lima jurus kemudian.

Oleh sebab itulah sebelum kejadian yang tidak diharapkan berlangsung, ia gunakan ilmu meringankan tubuh yang terkenal dari partai Kun lun untuk melepaskan
diri

It boen Pit Giok membentak njaring, seakan akan seekor burung walet yang terbang diangkasa. dengan membsws serentetan bsyacgan cahaya yang memanjang ia kejar
si anak muda itu.

Begitu mendengar irama musik yang kacau. Pek in Hoei sadar bahwa pihak musuh telah mengejar datang, segera ia bersuit panjang, sepasang telapak membentang
kesamping, badannya dengan sebat dan indah berputar saja lingkaran ditengah udara, setelah berputar dua kali badannya telah berada kurang lebih satu tumbak
dari permukaan.

It been Pit Giok membentak nyaring, serulingnya bergetar keras, sambil mengirim satu pukulan udara kosong dengan telapak kirinya ia meluncur ketengah udara
dan mengejar dengan jurus serangan yang tak berubah.

Menyaksikan kelihayan lawan Pek In Hoei terperanjat, buru buru ia tarik napas panjang, sepasang kakinya cepat menjejak tanah kemudian melayang datar
kesamping, serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata, segera melindungi seluruh tubuhnya.

Begitu pedang diloloskan dari sarung. segera terdengarlah bentrokan nyaring berkumandang diangkasa, dengan jitu dan tepat ia berhasil menyampok datangnya
serangan dari seruling besi tadi.

Percikan bunga api bermuncratan ditengah udara, tubuh It Boen Pit Gfok segera tertekan kebawah den melayang balik keates peremukaan tanah.

Sedangkan Pek In Hoei sendiri dengan tenang melayang pula keatas tanah, ia berdiri kurang lebih tujuh depa dihadapan

gadis tersebut dengab wajah serius, pedangnya dilintangkan didepan dada dan menatap musuh dengan pandangan dingin.

Buru feuru It boen Pit Giok memeriksa serulingnya. tiba tiba ia jumpai seruling kesayangannya telah gumpil kedalam setengah coen lebih oleh goresan pedang
lawan.

Air mukanya seketika itu juga berubah hebat, hampir hampir saja ia menangis saking dongkol dan sedihnya, sebsb seruling besi berlubang sembilan yang
panjangnya mencapai empat depa ini merupakan senjata keseyangan suhunya dikala berkelana dalam dunia persilatan tempo dulu, sepanjang masa belum pernah cacat
atau rusak, siapa sangka kini gumpil dan tergores oleh pedang mustika Pek In Hoei, tentu saja hatinya terasa amat sedih.

Sambil menggigit bibir segera teriaknya

"Benar benar nyalimu, berani merusak senjata seruling milik suhuku, Ini hari aku bersumpah akan membinasakan dirimu"

Serulingnya perlahan laban diangkat keatas udara, dengan wajah serius dan keren ditatapnya wajah lawan tak berkedip kemudian maju lima langkah kedepan.

Rasakanlah delapan belas jurus ilmu seruling penakluk iblisku" serunya dengan suara yeng adem.

Hanya didalam lima langkah tersebut seruling baja ditangan gadis itu telah berubah berulang kali jelas It boen Pit Giok sudah menggunakan inti sari ilmu
seruling penakluk iblisnya yang paling lihay untuk mengalahkan dirinya. Ia tarik napas dalam dalam, pelbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, terakhir ia
ambil keputuoan untuk menggunakan ilmu pedang penghancur sang surya guna menghadapi gadis she It Boen ini.

"Sekalipun kepandaian silatku sejelek dan secetek apapun, paling sedikit rasanya masih sanggup untuk menahan lima jurus serangannya yang terakhir" pikirnya.

Belum habis dia berpikir, serangan seruling dari It boen Pit Giok telah mendului tiba

Terasa cabaya hitam berkelebat lewat empat bagian diluar tubuhnya tahu tahu sudah terbendung oleh cahaya seruling tersebut, sekilas sinar tejam laksana kilat
menghajar jalan darah "Chiet Kun" diatas dadanya.

Cepat cepat pek In Hoei gerakan tangan kirinya, ujung pedang bergetar keras menciptakan selapis cahaya tajam yang menggidikkan, dengan jurus "Si Jiet Tong
Seng"

s Sinar Surya terbit ditimur pemuda kita melancarkan serangan balasan

Trang... untuk kesekian kalinya pedang dan seruling saling bentrok satu sama lain, namun dengan cepat kedua belah pihak sama sama tarik kembali senjatanya
masing masing, Pek In Hoei mundur setengah langkah kebelakang, bedan bagian atasnya miring setengah coen kesamping kemudian meraung keras, cahaya pedang
berkelebat lewat, secara beruntun ia melepaskan sebuah serangan berantai.

"Chit Liong Jut Seng" atau Sang Surya Muncul, "Hoo Ek Haong Kiong" dan Hoo Ek menarik gendewa, "Kioe Chi khiem Ti" atau Sembilan Irama miringkan pedang delam
sekejap mata tiga jurus serangan yeng maha dahsyat membumbung menyelimuti angkasa, hawa pedang menderu2 bagaikan gelungan ombak yang tiada putusnya
menggulung dan melanda kedepan tiada hentinya.

Tadi berhubung dia kehilangan posisi yang menguntungkan maka keadaannya dipaksa keposisi yang terdesak hingga ia tak sanggup melancarkan serangan balasan.
maka dari itu sekarang setelah memperoleh perisi yang lebih baik, serangan gencar yang maha dahsyatpun dilepaskan tanpa sungkan sungkan.

Didesak oleh gulungan bawa pedang ysng berlapis lapis dan dahsyat laksana gulungan ombak yang tiada putusnya itu, It boen Pit Giok tak sanggup berdiri tegak
lagi, buru buru ia mundur tiga langkah kebelakang, serulingnya diputar kedepan mengirim dua serangan berantai, dengan susah payah akhirnya ia berhasil juga
menahan serangan pedang lawan yang sangat hebat itu

Mimpipun dia tidak mengira kalau kepandaian ilmu pedang lawan telah mencapai puncak kesempurnaan yang begitu dahsyat, menggunakan kesempatan sedetik itu
serulingnya segera balas mengirim serangan gencar guna membendung serangan pedang lawan yang saling susul menyusul. Pek In Hoei yang melancarkan ilmu pedang
menghancur sang surya dengan pedang Sie Jie Kiam kelihatan jauh lebih gagah lagi. selangkahpun ia tak berhasil dipaksa hergeser dari tempat semula, semua
serangan balasan lawan berhasil ia patahkan setengah jalan.

It boen Pit Giok tidak mengira kalau pertahanan musuh begitu ketat den kuat, menyaksikan serangan balasannya berhasil dipatahkan semua oleh lawanya ditengah
jalan, ia jadi putus asa, serangannya jadi kendor dan tenaganya jauh berkurang.

Melihat kesempatan baik ini Pek in Hoei segera membentak nyaring pedangnya dengan ringan membabat keluar diri sampirg dan bergerak maendekati tubuh lawan
dengan mengikuti gerakan serulieg itu.

Dalam melancarkan serangan ini dia telah menggunakan, ilmu pedang Liuw in Klam Hoat dari partai Go bie, gerak geriknya bukan saja enteng dan ringan bahkan
cepat dan mantap, jauh berbeda dengan gerakan ilmu pedang penghancur sang surya dari partai Tiam cong

Dalam suatu kesempatan pedangnya mendadak nyelenong masuk kedalam dan tahu2 sudah berada didalam pertahanan tubuh lawan

It boen Pit Giok menjerit kaget, sebelum dia sempat bergerak, sesaat pedang musuh tanpa mengeluarkan sedikit suarapun tahu2 sudah membabat iganya.

Untung diapun bukan seorang jagoan yang berkepandaian cetek, kendati terancam mara bahaya pikirannya tidak sampai jadi bingung, jari tangannya segera
disentil kedepan, serentetan tenaga serangan yang tajam dengan cepat menggulung keluar.

Tring.... dalam suatu bentrokan pedang Sianak muda itu tergetar keras dan miring empat coen kesamptng dengan mengeluarkan suara yang amat nyaring.

Menggunakan kesempatan itu It been Pit Giok bergeser kesamping, melalui lubang jarum yang amat sempit dia meloloskan dari ancaman, sementara seruling bajanya
menjangkau dan menutul tepat menghantam jalan darah "Ci Tong Hiat"didada . Pek in Hoei.

Tetapi dalam detik yang bersamaan itu pedang ditangan kiri sianak muda itu telah bergerak, lima jaring dipentang dan menyambar kemuka menggunakan jurus
serangan "Kim Liong Tan Jiauw" atau naga emas mementang cakar.

Semua gerakan ini merupakan serangan jarak dekat oleh sebab itu dilakuksn dengan kecepatan bagaikan kilat, dalam sekejap mata Pek in Hoei telah membentak
keras den loncat mundur lima depa kebelakang.

(Bersambnng kejilid 10)


Jilid 10 : Gadis tercantik di kolong langit

Kelima jari tangan kirinya tepat mencengkeram pakaian It boen Pit Giok, mengikuti gerakan mundurnya maka tidak ampun lagi diiringi suara yang nyaring,
pakaian putih gadis itu tersambar robek.

lt-Boen Pit Giok tidak mengira kalau reaksi pihak lawan jauh lebih cepat dari pada dirinya, sedikit ia ragu-ragu baju bagian atasnya telah tersambar robek
sehingga terlihatlah pakaian dalamnya yang berwarna merah

Merah jengah selembar wajahnya, sambil menutupi wajah sendiri buru2 gadis itu putar badan dan melarikan diri,

Walaupun Pek ln Hoei mengenakan kutang lemas pelindung badan dari perguruan seratus bisa, namun kena gebukan dari It boen Pit Giok barusan mengakibatkan
darah dalam dadanya bergolak juga, hampir saja ia muntahksn darah segar,

Dalam keadaan rerkejut buru2 badannya loncat lima depa kebelakang, sambil menarlk napas panjang2 dia berusaha menekan dan menenangkan pergolakan darah dalam
rongga dadanya.

Dia tahu, seandainya badannya tidak dilindungi oleh kutang lemas pelindung badan tersebut, niscaya ia sudah muntah darah terluka parah, bahkan urat nadinya
munhkim sudah pecah dan mati binasa.

Ilmu silat dari luar lautan benar benar lihay! inilah ingatan pertama yang berkelebat dalam benaknya.

Ketika diangkatnya kepala maka ingatan kedua yang berkelebat dalam benaknya adalah:

"It Boen Pit Giok merupakan gadis yang paling cantik dikolong langit dewasa ini"

Hatinya bergolak keras karena rasa malu lemah lembut yang diperlihatkan gadis itu

Kutangnya yang kelihatan terbentang didepan mata serta wajahnya yang jengah menahan malu membuat hatinya bergetar keras, sekarang dia baru sadar bahwa
kejadian itu tak akan terlupakan olehnya sepanjang masa.

Dikala ia masih berdiri tertegun itulah mendadak lampu lentera itu mulai bergerak delam sekejap mata deruan angin serangan yang maha dahsyat menggulung tiba
dari empat penjuru.

Sebelum ingatan ketiga berkelebat dalam benaknya, dari empat penjuru sealah olah muncul selapis jepitan baja yaag mengurung dirinya, hawa udara disekeliling
tempat itu seakan akan dipompa keluar semua hingga membuat dia sesak dan dadanya jadi sakit.

Mendadak meraung keras, pedangnya dengan suara payah diguratkan keatas tanah, hawa pedang laksana hembusan taupan dan sambaran petir menyapu empat penjuru.

Jurus ini merupakan jurus kesembilan dari ilmu pedang penghancur sang surya yaitu. "Shia Yang Yauw-Yauw" atau Sinar Surya Terang Benderang, daiam sekejap
mata dalam satu jurus pedangnya melepaskan enam gerakan yang berantai mengakibatkan hembusan hawa pedang yang tiada taranya, diiringi pekikan nyaring, cahaya
pedang memenuhi angkasa.

lampu lentera merah bergoyang dan melayang kesamping, ditengah gulungan hawa pedang yang medengung keenam gerakan pedang Pek In Hoei mengerat tempat
kesasaran

Ia menghembuskan nspas panjang, dengan cspat pedangnya ditarik kembali kebelakang, badannya bergeser dan berputar satu lingkaran.

Dua puluh empst orsng gadis berbaju putih yang ada diluar kalangan lambat2 mulai menggerakkan tubuhnja, lampu lentera merah saling tergetar dalam sekejap
mata bayangan manusiapun sukar dibedakan lagi dengan jelas.

Menyaksikan hal tersebut pemuda kita terperanjat, buru2 ia pejamkan matanya sambil berpikir:

"Tidak salah kalau ia begitu yakin dengan kehebatan barisan iampu lentera merahnya barisan ini sungguh sangat lihay, ternyata sanggup menimbulkan bayangan
yang tak genah dalam benak orang..."

"Aaaaai....." suara belaan napas panjang mendadak bergema dari sisi tubuhnya membuat hatinya bergetar keras, pikirannya yang mulai kalutpun mulai jadi tenang
kembali.

Menanti dia membuka matanya kembali tampaklah kedua puluh empat lentera merah tadi sudah berhenti ditengah udara gadis gadis berbaju putih itupun telah
berbaris jadi dua barisan, tandu tersebut terletak diatas tanah dan dua orang raksasa penggotong tandu itu sambil silangkan tangannya didepan dada
mendampingi It Boen Pit Giok berjalan mendekati kearahnya.

Ketika itu It boen Pit Giok telah mengenakan kain mantel warna abu2 untuk menutupi baju bagian dalamnva air mata masih membasahi pipinya yeng halus.

Tiba jalan kehadapan sianak muda itu dan berhenti kurang lebih empat depa dihadapannya, ditatapnya wajah Pek In Hoei tanpa mengucapkan sepatah katapun,
wajahnyaa basah dan mengenaskan sekali. Melihat kesedihan gadis cantik itu timbul rasa kasihan dalam hati kecil Pek In Hoei, seraya membopong pedang
mustikanya, ia balas menetap pula wajah gadis itu.

Suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, lama sekali mereka saling pandang tanpa mengucapkan sesuatu. akhirnya pemuda kita tak sanggup menahan
diri dan segera melengos kesamping

"Kau adalah satu satunya lelaki sejati yang pernah kujumpai seumur hidupku" ujar It boen Pit Giok tiba2 dengan suara yang lirih

Pek in Hoei mengerutkan alisnya dan segera berpaling kearah gadis itu, ia tak mengerti apa sebabnya gadis tersebut mengucapkan kata2 seperti itu.

Terdengar It-boen Pik Giok dengan suara sedih berkata lebih jauh.

"Tetapi kaupun merupakan satu2nya laki2 yeng paling kubenci....." ia merandek sejenak, lalu dengan suara keras teriaknya:

"Aku benci dirimu"

Pek In Hoei gemetar keras, bagaikan di sambar petir disiang hari bolong ia berdiri mendelong, telinganya mendengar keras dsn benaknya dipenuhi ucapan itu

Air mata mengubur keluar dengan derasnya membasahi pipi It-boen Pit Giok, namun matanya sama sekali tidak berkedip, ia biarkan air matanya merembet kebawah
membasahi bajunva.

Dalam keadaan seperti ini Pek In Hoei tidak tabu bagaimana perasaan hatinya sekarang, diapun menatap wajah It Boen Pit Giok yang basah oleh air maia itu
dengan wajah tertegun selangkahpun ia tidak bergeser dari tempat semula.

"Kau adalah satu2nya lelaki yang menyinggung perasaan halusku sebagai seorang gadis, selama hidup aku akan selalu membenci dirimu.....” seru gadis itu
kembali sambil menahan isak tangis.

"Akan kuingat selalu ucapanmu itu" jawab Pek In Hoei seraya menjura, kemudian ia mendongak memandang angkasa yeng gelap, lalu bergumam seorang diri. "Selama
hidup, akupun tak akan melupakan ucapsnmu itu"

Perlahan lahan It boen Pit Giok angkat tangannya membesut air mata yang menetes keluar, lalu tertawa sedih.

"Akupun berharap agar kau bisa selalu mengingat ingat ucapanku itu. sepanjang masa aku akan selalu mambenci dirimu!".

Pek In Hoei menghela napas panjang, ia pandang wajah gadis itu dalam dalam kemudian putar badan berjalan menuju kekegelapan,

Hatinya yang sedang risau dan bingung membuat langkahnya terasa berat sekali, belum jauh ia melangkah terdengar It boen Pit Giok telah berseru kembali:
Tunggu sebentar!". Dengan dingin ia tatap Wajah Pek In Hoei yang berpaling, lalu tanyanya :

"Kau belum beritahu kepadaku siapakah namamu?".

Pek In Hoei melegak diikuti ia mendongak dan tertawa terbahak bahak.

Alis It boen Pit Giok berkerut, namun diam2 dan dengan tenang memandang sianak mada itu tak berkedip. Lama sekali gelak tertawa itu bergema angkasa akhirnya
sirap dan suasanapun kembali dalam kesunyian.

"Apakah aku demikian gobloknya hingga mengakibatkan kau tertawa begitu keras untuk mengejek diriku tanya gadis itu sambil tertawa sedih.

"Aku sama sekati tidak menertawakan dirimu, aku hanya menertawakan diriku sendiri

Sekilas rasa heran dan tidak habis meegerti berkelebat diatas wajah gadis itu

"Apakah yang membuat kau menetawakan dirimu sendiri?".

"Hingga kini aku baru merasa bahwa antara aku dengan dirimu sama sekali tidak pernah terikat dendam sakit hati ataupun permusuhan apapun juga, sebaliknya kau
pun tidak memahami kaadaan diriku, tetapi antara kita berdua telah terjadi suatu ingatan saling mendendam dan napsu ingin saling membunuh, sungguh
membingungkan".

"Oooh, jadi kau sedang menertawakan diriku, namapun tidak tahu namun bisa mengucapkan kata kata semacam itu???". dia menghela napas panjang. Kau tentu
mengerti bukan akan sepatah kata yang mengatakan:

"Rambut telah beruban bagaikan baru, rambut baru dicukur bagaikan telah lama?...."

Pek In Hoei mengangguk.

"Ehmm, itu artinya banyak orang yang sudah berkenalan hampir puluhan tahun lamanya namun setiap kali berjumpa mereka hanya anggukan kepala belaka, tetapi ada
pula sebagian manusia yang baru saja kenalan namun mereka telah menganggap bagaikan sehabat lama yang berjumpa kembali. tatoe sekali tidak canggung Canggung,
tetapi apa sangkut pautnya dengan dendam sakit hati....". "Nah, itulah dia, sejak pertame kali aku berjumpa dengan dirimu dalam hatiku segera timbul rasa
benci yang tak terhingg, seakan akan rasa benci yang terpendam dalam hatiku ini sudah lama sekali tersimpan ia disana..."

Dengan pandangan tertegun Pek In Hoei awasi wajahnya yang cantik, dafam hati timbul suatu perasaan yeng sukar dilukis dengan kata kata, otaknya kosong
melompong bagaikan selembar kertas putih.

It boen Pit Giok tertawa sedih ujarnya lagi:

"Kau masih belum memberitahukan siapa namamu".

"Aku belum memahami ucapan itu" gumam pemuda kita seraya menggeleng perlahan.

"Pikirkanlah perlahan lahan, Suatu hari kau akan memahami dengan sendirinya".

Mendadak Pek In Hoei temukan suatu perasaan yeng aneh muncul dari balik sinar matanya, namun dengan cepat perasaan tadi lenyap tak berbekas.

"Suatu hari mungkin saja aku akan jadi paham dengan sendirinya"

akhirnya diapun bergumam.

"Aaaai..... kentongan ketiga hampir tiba, malam ini benar benar merupakan suatu malam yang amat panjang......." ia berpaling. "Kau belum siap memberitahukan
namamu?".

"Cayhe she Pek bernama Pek In Hoei."

"Pek In Hoei! oooh nama yang indah dan penuh mengandung arti kata syair yang mendalam".

Pek In Hoei tersenyum hambar, ia lirik sekejap kedua puluh empat buah lentera merah itu lalu menyahut:

"Namamu pun tidak terlalu jelek, It boen Pit Giok" dia mendongak keatas. "Akupun akan selalu mengingat namamu..."

"Aku tidak butuh kau mengingat ingat namaku, aku hanja berharap kau selalu ingat didalam hati bahwa sepanjang masa aku selalu membenci dirimu".

Pek In Hoei tidak menyangka kalau watak pihak lawan begitu cepat dapat berubah-ubah, ia lirik sekejap wajah It-boen Pit Giok yang adem dan ketus, sekilas
rasa bergidik timbul dalam hatinya. Namun ia tidak mengucapkan sesuatu lagi, setelah putar badan segera berlalu menuju ketempat kegelapan.

Memandang bayangan punggung Pek In Hoei yang mulai lenyap dari pandangan, It Boen Pit Giok menghela napas panjang

SEBENARNYA apa yang sedang kulakukan? apa yang sedang kupikirkan?" ingatan ini berkecamuk terus dalam hatinya, membuat pikirannya terasa kalut dan tidak
tenang.

Tanpa terasa ia teringat kembali sewaktu nasib berada dipulau Dewa diluar lautan, rasa sedih dan kesal pada waktu itu terbayang kembali dalam benaknya,
terdengar ia bergumam lirih:

"Ucapan suhu sedikitpun tidak salah, sekali injak daratan Tionggoan pelbagai kemurungan akan berkecamuk dalam pikiran, hanya diatas pulau Dewa diluar lautan
saja kita baru bisa peroleh ketenangan serta kebahagiaan.

Namun dengan cepat dia menggeleng kembali, pikirnya lebih jauh.

"Semua kemurungan dan kekesalan hatiku dialah yang berikan kepadaku."

"Aaaaai...... kenapa aku tak dapat melupakan bayangan tubuhnya? Oooh, betapa bencinya hatiku kepadanya"

Padahal iapun sadar bahwa bayargen Pek In Hoei yang tinggi hati dan gagah itu tak dapat hilang dari benaknya.

Hanya saja selama hidup beium pernah dia alami perasaan hati yang mirip cinta namun mirip pula benci semacam ini.

Keadaan muda mudi selamanya memang demikian, setiap kali mereka tak dapat membedakan cinta atau benci, maka tatkala rasa bencinya mencapai pada puncaknya,
rasa cintapun akan ikut mencapai pada puncaknya.

Antara cinta dan benci tidak lebih hanya terpaut oleh suatu penghalang yang amat tipis, asalkan dinding pemisah itu berhasil disentuh maka cinta dan benci
segera akan bercampur aduk.

Oleh sebab itulah tatkala dalam benak it boen Pit Giok tertera beyangan Pek In Hoei yang tinggi hati dan gagah, dia selalu menganggap itulah sebabnya dia
terlalu membenci pemuda itu karena dia telah menyinggung perasaan halusnya, merobohkan gengsinya, tetepi dalam kenyataan rasa cinta telah bersemi dibalik
kebenciannya tersebut, hal ini membuat pikirannya mulai goyah dan kegoyahan tersebut mengakibatkan dia kesal, murung dan kebingungan.

Suasana amat sunyi... suara kentongan dibunyikan sebanyak tiga kali bergema dari perkampungan Tay Bie San-cung.

"Aaaaai.... kentongan ketiga telah tiba" mendadak It boen Pit Giok angkat kepalanya, titik air mata jatuh menetes dari matanya yang mulai memencarkan cehaya
tajam.

Lampu mulai menerangi seluruh perkampungan Tay Bie San cung semua kegelapan terusir pergi dan sinar hiruk pikuk manusia menggema ditengah kesunyian, pintu
perkampungan perlahan2 terbentang lebar.

It boen Pit Giok menyeka pipinya yang basah oleh air mata, air mukanya berubah hebat den napsu membunuh menyelimuti wajahnya yang ayu.

Dibawah cahaya rembulan tampaklah dari balik tembok pekarangan perkampungan yang tinggi muncul dua orang lelaki membawa lampu lentera berbentuk bulat, ia
berjalan terus hingga kepintu depan lalu berpisah dan membentuk lingkaran setengah busur.

"Hmm! dua orang setan tua ftupun berani menggunakan beberapa buah lampu lenteng tengah untuk menakuti orang!" dengus It boen Pit G!ok mendongkol, ia ulapkan
tangannya den segera berseru keras :

"Atur barisan lentera marah!"

Diiringi bentakan nyaring, lentera merah sering berkelebat memenuhi angkasa, dalam sekejap mata kedua puluh empat buah lampu lentera merah itu telah menyebar
dibelakang tubuhnya, ditangan kiri gadis2 pembawa lentera itupun telah bertambah dengan sebuah seruling pendek, suasana seram den penuh wibawa.

Mendadak.... terdengar gelak tertawa yang amat nyaring bergema diangkasa dari dalam perkampungan Tay Bie San-cung melayang keluar dua sosok barengan manusia
yang tinggi besar.

Si Rasul pembenci langil Ku loei dengan mengunakan jubah warna merah, sambil tertawa tergelak malayang ketengah kalangan, sekejab itu tegurnya dengan suara
keras

"Haaah.... haaaah..... haaaah.... ternyata arak murid tiga dewa dari luar lautan adalah manusia yang benar2 pegang janji, malam ini sesuai dengan saat
perjanjian telah berkunjung kemari, bilamana loolap rada terlambat menyambut kadatangan kalian harap suka dimaafkan..."

Mendadak ia merendek, sinar matanya dari arah tubuh It boen Pit Giok parlahan lahan beralih keatas tanah.

Mengikuti arah sinar matanya gadis it boen pun ikut memandang kebawah, tampaklah mayat manusia bergelimpangan dimana mana, darah warna hitam yang telah
membeku dimana keadaannya menyeramkan.

Ku Loei menyentil harpa kunonya berat berat hingga menerbitkan suara getaran amat keras, teriaknya:

"Sungguh berbahagia kematian ketiga puluh orang ini, sungguh tak nyana mereka bisa berpulang kealam baka diiringi irama penukluk iblis pembuvar sukma dari
Thiat Tia Sinnie", wajahnya berubah membesi, terusnya lebih jaub, "Atas nama mereka, loolap mengucapkan banyak terima kasih kepadan ahli waris dan sin-nie."

Mereka sama sekali bukan mati dibawah irama musik seruling bajaku...." tukas ft boen Pit Giok kembali melirik sekejap kearah mayat mayat tersebut.

Kematian mereka tanpa meninggalkan bekas luka dibadan, atau mungkin..."

"Siapa bilang mereka mati karena irama serulingku? coba periksa, bukankah mereke mati karena termakan ilmu telapak lembek dari Butong Pay...."

Sebelum Ku Loei sempat buke suara, kakek kurus kering berjubah hijau yang ada disampingnya telah menyela dengan suara dingin :

Orang2 itu sudah modar semua, apa gunanya kita urusi mereka lagi? kalau memang mereka mati karena ilmu pukulan Butong pay, hutang darah ini bisa kita tagih
kepada pihak partai Butong dikemudian hari"

ia maju setindak kedepan, lalu berseru

Loolap adalah Chin Tiong, tolong tanya siapa nama nona?".

Dengan pandangan mendalam It boen Pit Giok memandang sekejap wajah si Rasul Pengutuk Langit Chin Tiong. kemudian lambat2 jawabnya:

"Aku bernama It boen Pit Giok, Saya Gwan Thiat Kie Khek sipenunggang kuda baja dari luar perbatasan It boen Cu Tok yang mati dipuncak Pek Long Hong gurun
pasir sebelah utara pada enam beias tahun berselang bukan lain edalah ayahku"

Sekilas rasa keget berkelebat diatas wajah Chin Tiong, Sementara air muka si Rasul Pembenci Langit Ku Loei berubah hebat.

"Enam belas tahun berselang kalian telah bekerja sama untuk membinasakan ayahku dan merampas peternakan Pek Liong

beserta ketujuh belas cabangnya ini malam aku sengaja datang kemari untuk menuntut dendam berdarah ini, aku hendak membalaskan dendam darah ayah dan semua
keluargaku, oleh sebab itulah pada dua bulan berselang dengan seruling baja aku telah memberi kabar kepada kalian untuk berjumpa disini pada kentongan
ketiga: "

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya. Sebab malam ini pada kentongen ketiga, enam belas tahun berselang bukan lain adalah saat kematian kedua orang tuaku".

Chin Tiong tertawa seraya,

"Heeh... heeeh.... heeeh.... tadinya aku mengira Thiat Tie Sinnie tidak ingin menyaksikan perkampungan Tay Bie San Cung tancapkan kaki dalam dunia persilatan
maka telah turunkan perintah Iblis Tit leng. tak tahunya hanya disebabkan persoalan nona it boen"

Dengan wajah serius sambungnya

"Pada lima belas tahun berselang loolap serta suhengku tidak pernah meninggalkan laut Seng Sut Hay barang setapakpun, apa lagi mengunjungi puncak Pek Liong
Hong yang ada digurun pasir sebelah utara. Aku rasa persoalan mengenai ayahmu..."

"Hmm, aku mengerti bahwasanya kalian tidak akan mengakui perbuatan kalian yang terkutuk itu, tapi tahukah kalian bahwa tepat disaat terjadinva peristiwa itu
kebetulan suhuku yeng sedang mencari bahan obat obatan digurun pasir dapat menyaksikan semua peristiwa mengerikan didalam peternakan Pek Liong dengan amat
jelas apakah dia orang tua bisa keliru mengenali ilmu silat aliran Seng Sut Hay kalian? maka dari itu dalam sekilas pandang saja beliau telah tahu siapakah
orang yang melancarkan serangan terkutuk itu

"Haaah..... haaaah... haaah... " Si Rasul pembenci Langit Ku Loei tertawa seram." Seandainya pada saat itu Thiat Tie Sinnie benar benar hadir disitu. kenapa
ia tidsk turun tangan nntuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut?".

Titik titik air mata jatuh berlinangan membasahi pipi It Boen Pit Giok yang halus.

"Dari tempat kejauhan suhu menyaksikan terjidinya suatu kebakaran hebat ditengah padaeg rumput, ketika beiiau mengejar sampai keaitu, kalian telah
membinasakan seluruh orang yang ada dalam peternakan Pek Liong dan sedang kabur dari situ. sebenarnya dia orang tua hendak menyusul kamu sekalian, namun
disebabkan ia jumpai diriku yang ada didalam gentong ditengah reruntuhan puing puing rumah, maka tidak sempat menyusui kalian beliau menolong dinku lebih
dahulu...

"Hmm, hanya berdasarkan petunjuk itu, kau lantas menuduh kami yang membakar peternakan Pek Liong?" Seru Ghin Tiong ketus, ia tertawa dingin "Perbuatan itu
tidak lebih hanya perbuatan perbuatan dari orang gelandangan, apa sangkut pautnya dengan kami?".

"Benar Kami anggota perguruan Seng Sut Hay tidak anti melakukan perbuatan rendah seperti membakar rumah, membunuh orang seperti apa yang kau katakan barusan,
rupanya suhumu telah salah melihat".

"Jadi kalian tetap bersikeras tak mau mengaku??" seru It boen Pit Giok sambil menatap wajab kedua orang itu tajam tajam.

Sekalipun Ilmu silat kalian luar lautan sangat ampuh dan lihay, belum tentu kami dari aliran Seng Sut Hay jeri, kenapa tidak berani mengakui perbuatan
semacam itu?".

"Heeeh... heeeh... heeeh... jadi kau telah mengaku".

Untuk sesaat Ku Loei dibikin bungkam oleh desakan lawan yang tajam, tak sepatah katapun ranggup dia ucapkan lagi.

Air muka Chin Tiong berubah hebat, tiba tiba serunya:

"Meskipun paluhan tahun betselang tiga dewa dari luar lautan berhasil memaksa suhu kami hingga tak sanggup tancapkan kaki dari daratan Tionggoan dan harus
mengasingkan diri, tapi hal mi,belum berarti bahwa ilmu silat aliran luar iautan adalah nomor wahid dikolong langit, aku lihat lebih baik kau jangan membolak
balikkan kenyataan dan memfitnah kami dengan tuduhan yang bukan bukan karena andalkan pergaruh Thiat Tie sinnie...".

"Ooooh jadi kalian belum juga mau mengaku?".Teriak It boen Pil Giok dengan gusarnya, tiba tiba dia ayunkan tangan kirinya, Cobs lihat, benda apakah ini?".

Mengikuti gerakan tangan lawan Chin Tiong sagera berpaling, tampaklah diatas telapak It boen Pit Giok yang putih bagus terletak sebuah tanda pengenl besi
yang berwarna hitam perak

Begitu menyaksikan benda tadi, air muka si Rasul Pengutuk langit ini kontan berubah hebat... Nama stepa yang terukir diatas tanda pengenal itu? coba
jawab!.... benda ini bukan milikku?". teriak sang gadis semakin menjadi, tertawa dingin bergema tiada hentinya.

Air muka Cbin Tiong berubah semakin hebat, setelah hening sesaat jawabnya:

"Tanda pengenal Seng-Gwat-Thiat Pay milikku itu sudah hilang sejak dua puluh tabun berselang, darimana bisa kau daoatkan?".

"Benda inilah' yang berhasil didapatkan suhuku ditengah lapangan peternakan itu".

Ia tarik napas dalam dalam, lalu sambungnya:

"Kau tak usah mungkir lagi, malam ini akan kusuruh kalian saksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu silat aliran Luar Lautan, kemudian jiwa kalian baru akan
ku cabut".

Seruling bajanya diayun ketengah udara dan senandungnya lirih

"Lampu lentera meaciptakan selaksa bayangan, seruling hitam muncul dipintu laksa

Seketika itu juga lampu merah mulai bergerak, gadis2 berbaju merah itupun bergerak silih berganti kesana kemari, dan dalam waktu singkat dua tombak
disekeliling kalangan telah terkurung rapat.

Selangkah demi selangkah It boen Pit Giok melangkah kedepan, ujarnya

"Sekarang kalian telah terkurung didalam lampu merahku, tak nanti kalian bisa lolos dengan keadaan selamat...

Ia tutul seruling baja ditangannya hingga menerbitkan suara aneh yang membisingkan kepalam, cahaya tajam berkilauan memenuhi angkasa membuat suasana jadi
seram

"Sekarang, rasakanlah dahulu dua belas jurus ilmu aeruling bajaku, kemudian nikmatilah irama penakluk iblis pembuyar sukmaku" serunya dingin.

Ku loei terawa psnjang.

"Loo jie, sekarang adalah saatnya bsgi kita untuk menjajal ilmu bintang dan rembulan berebut cahaya".

Ia sisipkan harpa kuno yang dipeluknya diatas punggung, telapak kanan berputar, diiringi suara desiran tajam serentetan angin teranpan bagaikan sabetan golok
membabat keluar.

Chin Tiong putar badannya, lima jari tangannya dipentangkan bagaiken cakar, mengimbangi gerakan Ku Loei dari kanannya,

bentuk gerskan satu lingkaran busur dan menyapu keluar.

Dengan bergeraknya tubuh mereka maka terlihatkan sautu kerjasama yang erat srangan msreka tergulung dsn menyapu b»gaikan hembusan angin taupan, menembusi
tubuh It boen Pit Giok seketika itu juga terkurung rapat

Dalam pada itu gadis cantik dari luar lautan ini belum melakukan sesuatu tindakan, tatkala dirasanya segulung angin tajam meayambar datang dengan hebatnja
dengan cepat Kakinya bergeser kesamping, meoggunaksn ilmu langkah Leng Pou Wie Poh ia hindari datangnya ancaman ilmu pukulan golok perontok pukulan iawan.

Lengannya dipentangkan seruling baja tersebut diiringi musik yang lembut menotok telapak kanan Ku Loei.

Chin Tiong mendengus dingin, lima jarinya dipentangkan lebar2, laksana kaitan ia mencakar keluar, kemudian diikuti telapak kirinya dengan menggunakan jurus
"Seng Lok Goan Yat" atau Bintang Rontok di padang tandus menghantam punggung It boen Pit Giok

Dalam pada itu Ku Loe! sedang didesak mundur oleh serangan lawan, tampaklah It boen Pit Giok mengayun gaunnya hingga beterbangan, seruling bajanya diiringi
desiran ysng memekikkan telinga segera menyapu kearah bawah.

Ketika itu sepuluh jari Chin Tiong baru saja dipentang keluar, mendengar irama seruling yang begitu aneh dan tajam itu seketika hatinya lergetar keras,
sentilan kesepuluh jarinya pun rada merandek sejenak

Cahaya hitam segera memenuhi angkasa, beribu ribu batang cahaya seruling baja dengan memenuhi angkasa menyapu datang.

Chin Tiong meraung keras, tubuh bagian atasnya berjongkok kebawah, sepuluh jarinva menyentil berbareng, desiran angin totokan yeng dingin dan tajam langsung
menyambar bayangan seruling yang memenuhi angkasa.

Perubahan ini dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat bayangan seruling seketika sirap dan tahu2 senjata gadis itu telah berhasil dicengkeramnya.

It boen Pit Giok mendengus dingin pergelangannya digelarnya seruling bajanya seketika membentuk tiga buah lingkatan kecil yang dengan cepat membentur
pergelangan Chin Tiong dikala jari tangan lawan hampir menggenggam

Tiba2 Ku Loei membentak keras, telapak kanannya diarak balik untuk melindungi diri, tangan kiri menyapu keluar diikuti kakinya maju riga langkah kemuka,
dengan Gwat Hoen Lok" atau Sukma Rontok dibawah sinar rembulan ia babat badan lawan.

Dalam sekejap mata Chin Tiong membentak, badannye bergeser mundur enam depa kebelakang, sedangkan Ku Loei menggetarkan sepasang lengannya dan ikut loncat
pula delapan depa kebelakang, wajahnya menunjukkan rasa kaget bercampur gusar yang tak terhingga.

Tiga soiok bayangan manusia segera berpisah, It-boen Pit Giok memutar jari telunjuk tangan kirinya membeniuk gerakan setengah busur lalu ditarik melindungi
dada, wajahnya serius dan ia tatap seruling sendiri dengan pandangan tajam.

Chin Tiong rangkap sepasang telapaknya, sepuluh jari berbunyi gemerukan yang keras, oleh hantaman seruling gadis sbe It Boen hampir saja sekujur badannya
pada kaku.

"Loo toa. apakah kau menderita kerugian?" tegur Chin Tiong.

"Loo jie, hati hati dengan budak ingusan ini dia mengerti pula ilmu jari sakti "Tan Cie Saan Tiong" dari kalangan budha".

"Hmmm, kepandaian kalian tidak jelek" jengek It boen Pit Giok sambil melirik sekejap mantelnya yang terhantam hingga robek, "Tenyata mantelku yang begitu
lunak dan halus pun berhasil kalian hantam sampai robek!".

Ku Loei tertawa dingin tiada hentinya, tidak gubris ocehan orang sementara hawa murninya segera disalurkan keseluruh badan guna siap siap menghadapi serangan
berikutnya.

Tiba tiba sebuah bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, seorang lelaki muda munculkan diri dari balik barisan lampu lentera merah yang telah
menyebar diempat penjuru itu.

"Socouw, pil obat ini telah siap" terdengar orang itu berteriak keras.

Mendengar seruan itu air muka Ku Loei maupun Chin Tiong menunjukkan tanda tanda kaget bercampur girang.

Mereka saling bertukar pantangan sekejap, kemudian terdengar Ku Loei bertanya

"Apakah Hoa Tuo mengatakan bawa obat ini harus segera ditelan?"

"Hoa sucouw memerintahkan obat itu segera harus ditelan, sebab sebentar lagi daya kerja obat itu akan menunjukkan hasilnya.

Ku Loei segera menyambut sebuah botol porselen yang ditempatkan kearahnya.

Ke Liat, cepat kau kembali kedalam perkampungan" serunya.

Kcmudian dibukanya botol porselen tadi dan ambil keluar dua butir pil yang segera ditelan kedalam perut, setelah itu dia serahkan botol porselen tadi
ketangan Chin Tiong.

Tatkala menyaksikan Chin Tiong serta Ku Loei menelan dua buah pil yang dikirim oleh seorang peronda, dalam hati It Boen Pit Giok segera berpikir:

"Rupanya tadi mereka berdua memang sengaja sedang mengulur waktu dengan tujuan hendak menantikan kedatangan obat tersebut, Hmm aku tidak percaya kalau obat
tadi sanggup menahan gabungan irama penakluk iblis pembuyar sukma serta barisan lampu merahku".

Maka dia lantas mendengus dingin den berseru:

"Barisan Icmpu merah hanya mengijinkan orang masuk tak mengijinkan mereke keluar, sekarang kau masih ingin melarikan diri?"

Jari jari tangannya yang halus dan putih ramping itu segera bergerak, seruling ditempelkan dibiblr dan berkumandanglah irama seruling yang tinggi melengking
bergema diseturuh angkasa.

Tubuh Ke Liat yang sedang lari kemuka seketika merengek ditengah jalan, sepasang kakinya jadi lemas dan tak ampun dia jatuhkan diri berlutut diatas tanah,
wajahnya berkerut kencang menahan penderitaan serta siksaan yang hebat, sambil menjerit lengking dari mulutnya segera menyembur keluar darah segar.

Menyaksikan keadaan cucu muridnya menderita sekarat, buru buru Ku Loei lepaskan harpa kunonya dari panggung, sepuluh jari bergerak cegat dan...... Cring!
Cring! dua rentetan irama keras segera menghalau gema irama seruling yang berkumandang diangkasa.

It boen Pit Giok tertawa dingin.

"Hmmm kalau memang kalian begitu berminat untuk mendengarkan irama Penakluk iblis Pembuyar sukmaku? Nah! pentanglah telinga kelian lebar lebar dsn nikmatilah
Irama penghantar kealam baka ini!" jengeknya

"Aku harap kau suka lepaskan cucu muridku ini berlalu dari sini" mohon Chin Tiong.

It been Pit Giok sama sekali tidak menggubris ucapan orang lima jarinya bergerak cepat, irama serulingpun seketika berkumandang kembali memenuhi angkasa.

Mengikuti bergemanya irama seruling tersebut, gadis gadis berbaju putih yang membawa lentera merah itupun mulai bergerak kelana kemari, maka dalam waktu
singkat irama seruling yeng rendah berat tadi telah memenuhi setiap ruang kosong disekeliling sana.

Bergeraknya lampu lentera semakin mengaburkan pandangan orang, seolah olah beribu ribu buah lampu secara serentak bergerak berbareng menyumbat dan penuhi
setiap ruang kosong disekeliling sana

"Aduh celaka....." teriak Chin Tiong, tanpa mempedulikan keselamatan Ke Liat lagi. ia tarik tangan Ku Loei untuk kemudian sama sama duduk bersila diatas
tanah

la pejamkan matanva rapat rapat, dari dalam saku diambilnya due buak genderang yang segera dijepit diantara kakinya dan mulai dipukul berlalu talu.

Ku Loei duduk dengan punggung bersandar punggung dari Chin Tiong yang satu memeluk harpa kuno yang lain menjepit ember kecil, mengikuti irama seruling lawan
berlangsunglah duel musik yang menegangkan urat saraf.

Beberapa saat telah berlalu dengan cepatnya. gabungan irama musik yeng menggema diangkasa itu membuat telinga siapapun yang mendengar teresa mau meledak.
Tiba tiba Ke Liat menjerit keras, sepasang matanya menekan dada keras keras, matanya melotot besar dan menetap wajah It boen Pit Giok tak berkedip.

Bibirnya bergema perlahan namun tak sepatah katapun sanggup diutarakan keluar. sinar matanya memancarkan penderitaan yang bukan kepalang, bslum sampai dua
langkah ia maju sempoyongan tubuhnya roboh kembali keatas tanah.

Dan mulutnya menyembur keluar pancuran darah segar yang segera muncrat keempat penjuru dan membasahi seluruh tubuhnya, orang itu menjerit jerit dengan suara
serak, kemudian berkelejet beberapa kali dan akhirnya badannya menegang, putuslah jiwanya.

It Boen Pit Giok mengerutksn sepasang alisnya, perlahan lahan ia melengos kesamping. Sejak dilahirkan belum pernah ia saksikan betapa menderita dan
tersiksanya eseorang yang sedang msnghadapi sekarat, tanpa terasa timbul suatu perasaan yang aneh dan sukar dilukiskan dangan kata2 dari dasar hatinya.

Pada saat itulah mendadak suara tambur dsn harpa berubah, dari irama yang gencar dan cepat kini berubah jadi lambat dan tenang bagaikan awan diangkasa.

Seketika itu juga irama seruling terbendung, irama harpa yang bercampur dengan irama tambur parlahan laban menggema dan menusuk telinganya.

Perasaan It boen Pit G!ok seketika bergoncang keras, irama harpa lawan dengan cepat menyerang kedalam hatinya, dalam sekejap mata paadangannya jadi kabur dan
muncullah suatu bayangan seseorang yang ganteng dan gagah..

"Pek In Hoei" hatinya bergetar keras, ia merasa seakan akan dihadapannya muncul bayangan pemuda itu yang mana sambil tersenyum menghampiri dirinya. Tanpa
sadar ia turunkan serulingnya dari bibir.....

Dengan kacaunya irama seruling, maka irama tamburpun semakin meninggi, sekeliling tempat itu segera dipenuhi oleh gabungan irama harpa dan tambur

Ku Loei menyeka air keringat yang telah membasahi wajabnya resa tegang yang menyelimuti wajahnya perlahan menyusut hilang, ia berpaling memandang sekejap
wajah It boen Pit Giok yang masih termangu mangu, lalu pikirnya:

"Asalkan irama serulingnya dimainkan sampai tingkat yang ketiga, tenaga kami niscaya akan terkuras habis dan hawa darah dalam urat nadi akan kacau dan
akhirnya pecah dan mati Namun kenapa secara mendadak ia menghentikan serangannya den memberi kesempatan kepada kami untuk meloloskan diri dari maut..."

Dia tidak tahu apabila It boen Pit Giok sewaktu menerima pelajaran irama penakluk iblis pembayar sukma dari Thiat Tie Sinnie masih merupakan seorang gadis
suci yang tidak dibebani dengan pelbagai pikiran, lagi pula gadis itupun tidak tahu bila irama sakti ini mempunyai daya serang yang begitu hebat hingga
sanggup menghancurkan urat syaraf orang.

Maka dari itu tatkala menyaksikan betapa seram dan ngeriuya Ke Liat di saat yang terakhir, hatinya jadi melengak dan saat itulah pikirannya segera
terpengaruh oleh serangen irama harpa lawan.

Maka dari itu bayangan Pek In Hoei yang melekat terus daiam benaknya segera muncul didepan mata, membuat ia tak sanggup meneruskan permainan serulingnya dan
memberi kesempatan bagi Ku Loei serta Chin Tiong untuk berganti napas.

Dengan tertegunnya gedis ini, maka gadis gadis diempat penjurupun mulai kacau terpengaruh irama gabungan lawan, barisan lampu merah yang ampuh dan kuat
itupun mulai kacau dan berantakan tidak karuan.

Menyaksikan keadaan pihak lawan, meskipun seluruh tubuh Chin Tiong basah kuyup oleh keringat namun wajahnya kelihatan amat bangga, ia pentangkan matanya
memandang kawanan gadis berbaju putih yang mulai limbung den lari kesane kemari tidak karuan, pikirnja dalam hati:

"Tidak sampai teperminum teh lagi mereka pasti akan muntah darah dan modar.

Belum habis ingatan tersebut berkelebat didalam benaknya, tiba tiba terdengar suara bentakan dahsyat laksana guntur membelah bumi disiang hari bolong
menggema diangkasa, sesosok bayangan manusia berwarna keperak perakan dengan cepatnya meloncat masuk kedalam barisan.

Chin Tiong tertegun, belum sempat pikiran kedua berkelebat dalam benaknya, serentetan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata telah meluncur datang.

Si Rasul Pengutuk Langit ini jadi kaget, buru buru ia menghindar kesamping, namun sayang gerakannya rada terlambat satu langkah. tahu tahu tambur kecil yang
dijepit diantara kakinya telah hancur terpapas oleh sapuan senjata lawan.

Melihat senjata kesayangannya hancur orang she Chin ini naik pitam, ia balas membemak keras den kesepuluh jarinya dengan membentuk bayangan yang menyilaukan
mata segera menyapu keluar.

Pek In Hoei atau sipemuda yang berusan munculkan dari dalam kalangan Itu mendengus dingin, pedangnya diputar membentuk gerakan setengah busur lalu membabat
kemuka.

Cahava pedang berkelebat menyilaukan meta, sacara beruntun tiga lapis hawa pedang secara bersusun menyapu tiba.

Chin Tiong berkelit kesamping, sebelum serangan dari kesepuluh jarinya mencapai pada puncaknya, ia sudah didesak balik oleh cahaya pedang lawan yang dahsyat.

"Breeecet.... tubuh hijau bagian dadanya segera tersambar pedang lawan dan muncullah sebuah robekan panjang.

Dengan menahan rasa sakit ia msraung keras, gerakan tubuhnya tetap tak berubah, dengan punggung menempel diatas punggung Ku Loei ia melayang empat depa
kemuka. nyaris sekali ia berhasil loloskan diri dari serangan berantai lawan.

Perubahan yang terjadi secara tiba2 ini seketika mengejutkan It-boen Pit Giok, ia mendusin dari lamunannya dan segera menyadari bahwa girinya telah
terjerumus kedalam pengaruh orang.

Dalam pada itu Pek In Hoei sambit mencekal pedangnya yang masih basah oleh darah lawan berdiri gagah dibadapannya, dengan serius terdengar ia menegur;

"Apaksh kau terluka?"

It-boen Pit Giok berseru tertahan, merah jengah selembar wajhnya, sambil menatap wajah Pek In Hoei tajam2 mulutnya membungkam dalam seribu bahasa.

Menyaksikan wajahnya menampilkan rasa terperanjat, sianak muda she Pek ini lantas mengira kalau gadis itu telah terluka, buru-buru ia melangkah kedepan
mendekatinya, sekali lagi ia menegur:

"Apakah kau terluka?"

Bukannya berterima kasih, mendadak hawa gusar bercampur malu muncul dari lubuk hati It-boen Pit Giok, sambil ayunkan telapaknya kedepan, makinya kalang
kabut:

"Kaulah yang mencelakai diriku, gara2 kau ini hari ini aku menderita kekalahan total!"

Mimpipun Pek In Hoei tidak menyangka kalau secara tiba2 gadis itu bisa menampar wajahnya, disaat ia masih tertegun

Ploook sebuah gaplokan keras telah mendarat dipipinya, seketika Itu juga terbekaslah lima jari yang merah diatas wajahnya yang ganteng.

Pek In Hoei makin tertegun, ia tatap wajab lawan dengan mata terbelalak, sepatah katapun tak sanggup diutarakan.

It boen Pit Giok sendiripun dibikin sadar kembali setelah mendengar gaplokan yang nyaring itu. ia sendiri berdiri tertegun dengan mulut melongo, matanya
memandang pemuda itu dengan mata terbelalak dan untuk beberapa saat diapun tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Lama sekali akhirnva hawa gusar menyelimuti wajah Pek In Hoei, tegurnya dengan rasa mendongkol:

"Mengapa kau gaplok pipiku? apakah aku sudah salah menolong dirimu?..."

Ia tarik napas dalam2, kemudian dengan suara keras ujarnya kembali:

"Coba libat barisanmu itu, dan lihat pula bajingan2 yang membawa lampu putih diluar barisanmu. Hmm mereka semua membawa tabung rahasia yang berisi cairan
racun. Asal selangkah saja aku datang terlambat cairan racun dalam tabung rahasia mereka tentu sudah dimusnahkan kedalam, seandainya sampai terjadi begitu
kau anggap jiwa kalian bisa selamat?"

Titik airmata jatuh berlinang membasahi wajah It boen Pit Giok, lama sekeli ia berdiri tertegun sambil menatap wajah Pek Ia Hoei, tiba2 ia tutup wajah
sendiri dengan tangan lalu sambil menangis terisak putar badan dan kabut dari situ,

Dalam sekejap mata para gadis pembawa lentera merahpun ikut berlalu dari situ.

Dengan termangu mangu Pek In Hoei memandang bayangan punggung It Boen Pit Giok yang mulai menjauh dari sana, dalam hati kecilnya timbul suatu perasaan sangsi
yang sukar dilukiskan dengan kata kata,

Rupanya sewaktu ia berlalu sambil melangkah perlahan lahan tadi, sepanjang perjalanan bayangan dari It boee Pit Giok selalu muncul dalam benaknya dan ucapan
gadis Itu selalu mendengung disisi telinganya, semakin ia berusaha untuk menghilangkan bayangan gadis tadi. bayangan It Boen Pit Giok semakin nyata membekas
di hatinya.

Akhirnya ketika ia tiba ditepi tembok kota, pemuda she Pek ini baru dapat memahami apa artinya cinta dan benci, maka buru2 ia lari balik ketempat semula.
disana ditemuinya gadis dari luar lautan iru sedang berada dalam keadaan bahaya.

Siapa sangka setelah ia berhasil menyelamatkan jiwanya, bukan terima kasih yang didapatkan sebaliknya ia dipersen sebuah tempelengan oleh gadis tersebut.

Maka pikiran yang mulai terbuka kini terbuka kini, kembali. sebab ia tidak mengerti apa sebabnye wajahnya ditampar olehnya.

"Kaulah mencelakai diriku, gara2 kau sku hampir saja celaka..." Dengan hati tercengang ia membatin. "Kapan aku celakai dirinya?"

Semakin dipikir kepalanya semakin pusing namun belum juga didapatkan alasan untuk nemecahkan teka teki tersebut, akhirnya ia menghela napas panjang dan
berseru : "Aaaai hati kaum gadis memang gampang berubah bagaikan awan diangkasa, sukar dipahami oleh siapapun juga."

Pada saat itulah, mendadak dsri tengah kalangan terdengar suara orerg berseru kaget disusul suara Ku Loei berkumendang memecahkan kesunyian:

"Aaaah dia, dia adalah putra sipedang penghancur sang surya dari partai Tiam cong dia adalah anak dari Pek Tiang Hong"

Dengan cepat Pek In Hoei putar badan ditatapnya wajah Ku Loei yang tertampak dengan mata melotot, pemandangan dikala manusia she Ku ini bertarung melawan.
Kim In Eng sewaktu ada digunung Cing Shia tempo dulupun segera terbayang dalam benaknya.

"Tidak salah" dia mengangguk tanda membenarkan. "Aku adalal Pek In Hoei putra dari Pek Tiang Hong"

"Pek Iin Hoei?" Seru Chin Tiong melengak, dipandangnya sekejap luka didepan dadanya. "Jadi kau yang disebut orang kangouw sebagai sijago pedang berdarah di
dingin Pek In Hoei?"

"Cayhe adalah Pek In Hoei, namun bukan sijago pedang berdarah dingin yang kau maksudkan"

Ku Loei sambil membp ong harpa kunonya memandang sekejap kearah Chin Tiong lalu katanya:

"Sedikitpun tidak salah, dia memang bukan sijago pedang berdarah dingin Liong jie pernah berjumpa dengan manusia itu sewaktu ada dikota Yong Shia bahkan
pernah minta petunjuk ilmu pedangnya pula, dalam pertarungan itu kedua belah pihak tak ada yeng menang dan tak ada yang kalah. waktu itu aku lantas berani
ambil kesimpulan bahwasanya sijago pedang herdarah dingin adalah murid In Eng

Pak In Hoei mengerti yang dia maksudkan pastilah Kim Lang Boen, maka dengan alis berkerut tanyanya:

"Mengenai jejak dari Kim in Eng Cianpwee....?"

"Keparat cilik jadi kau adalah sikeparat busuk yang bersembunyi dibelakang In Eng malam jtu?" tiba2 Ku Loei membentak keras, ia maju selangkah kedepan
tambahnya:

"Aku sedang ada maksud mencari dirimu"

"Hmmm akupun sedang kemari untuk mencari dirimu"

"Keparat cilik ini rada2 lihay" bisik Chin Tiong sambil menarik tubuh Ku Loei kesisinya. Dua serangan jari bintang kejora yang kuhantam keatas dadanya tadi
sama sekaii tidak memberikan reaksi apapun juga, kemungkinan besar dia adalah anak murid dan Thay Chi lang Jen, si setan tua diluar lautan, dan telah
berhasil melatih ilmu sinkang yang kebal senjata serta pukulan...."

Dsogan pandangan yang tajam Pek In Hoei mengawasi jubah yaag dikenakan Chin Tiong, tiba dari sakunya dia ambil keluar secarik potongan kain, lalu bentaknya
keras:

"Kau masih ingat dengan benda ini? sewaktu sda dipuncak gunung Cing Shia..."

Begitu mendengar kata2 Puncak gunung Cing Shia, air muka Rasul pengutuk langit ini seketika berubah hebat dengan hati jeri dia mundur selangkah kebelakang.

Pek In Hoei tahu tindak tanduknya yeng ngawur barusan kemungkinan besar akan berhasil mengetahui salah satu dari pengerubut ayahnya waktu ada dipuncak gunung
Cing Shia tempo dulu darah panas dalam dadanva segera bergolak, napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya.

Bekas tanda merah yang ada diantara sepasang alisnya kian lama kian membara hingga akhirnya begitu merah semakin akan darah tegar

Dari sekujur badannya memancar keluar suatu tenaga misterius yeng maha dahsyat yang mana segera mengejutkan hati Ku Loei maupun Chin Tiong. air muka mereka
berubah mengenaskan sekali.

(Bersambung kejilid 11)


Jilid 11 : Tenggelam di dasar telaga

"MASIH ingatkah apa yang pernah kau ucapkan sewaktu mengerubuti ayahku diatas puncak gunung Cing shia waktu itu? sepanjang masa takkan kulupakan kata-katamu
itu!"
Nadanya dingin dan ketus seakan akan udara yang berhembus keluar dari gua salju berusia ribuan tabun, seketika membuat tubuh Chin Tiong gemetar keras

Mendadak Pek In Hoei melangkah maju setindak kemuka, pedang penghancur sang surya diayun kedepan membentuk sekilas cahaya tajam yang menggidikkan hati.
Serunya lantang:
"Kau berkedudukan sebagai seorang Bulim cianpwee ternyata dengan tindakan yang rendah dan bejat menyembunyikan empat lima puluh orang untuk mengeroyok ayahku
sampai mati, seandainya ayahku almarhum tidak memotong secarik kain jubahmu serta suaramu hingga kini tidak berubah, dendam berdarah sedalam lautan ini entah
sampai kapan baru bisa kubalas setan tua! serahkan jiwamu kepadaku"

Chin Tiong tarik napas dalam dalam, ia tenangkan lebih dahulu rasa jeri dan takut yang berkecamuk dalam dadanya,
kemudian sepasang lengannya digetarkan hingga sekujur tubuhnya memperdengarkan suara gomerutuk yang amat keras.
"Loojie! kiranya rencana malam itu kaulah yang susun" bisik Ku Loei dengan nada lirih. "Jangan takut, pil sakti Pek Loo Tay Wan dari Hoa Loo jie telah
memperlihatkan kehebatannya! mari kita turun tangan mencabut rumput keakar akarnya, daripada meninggalkan bibit bencana bagi kita dikemudian hari

Ia mendengus dingin, tulang belulang sekujur badannya memperdengarkan suara gemerutuk yang amat nyaring, ditengah suara krok... krook yang keras telapak
tangannya dilintangkan kemuka melindungi diri, sementara wajahnya dengan serius mengawasi tingkah laku musuh. Dalam sekejap mata telapak tangannya yang besar
dan kaku itu mulai berubah jadi warna abu2 tua.

Tempo dulu ketika Pek In Hoei masih belum mengerti akan ilmu silat, ia pernah saksikan Ku Loei memotong sebuah batu cadas yang besar dipuncak gunung Ching
Shia dengan ilmu sesat golok perontok rembulannya.
Waktu itu dia anggap kepandaian silat semacam itu merupakan auatu ilmu yang maha sakti dan menggidikkan hati, maka dalam hati kecilnya selalu menganggap Ku
Loei sebagai seorang musuh yang tangguh.
Oleh sebab itulah seluruh perhatian dipusatkan kearah Ku Loei, sedang Chin Tiong tidak dipandangnya walau sebelah matapun.
Perlahan lahan Chin Tiong maju beberapa langkah kedepan, wajahnya berubah cerah membara, sepuluh jarinya bagaikan kaitan dipentang lebar2 tiap merobek tubuh
lawan,
Mendadak Ku Loei membentak keras, badannya menubruk kedepan, telepaknya disertai desiran angin tajam bagaikan sebilah golok segera membabat keluar
Pek In Hoei tertawa dingin, ujung pedangnya digetar manciptakan dua coen hawa tajam berwarna kemerah merahan. dalam stiatu kebasan hawa pedang seketika
memenuhl angkasa.
Criiiit.. tubuh Ku Loei berkelit ke Kanan, telapak kirinya laksana kilat dihsntam kedepan menutupi kekosongan akibat tiba2 hawa pedang sianak muda itu.
Dalam pada itu Chin Tiong tanpa mengeluarkan sedikit auarapun melancarkan satu serangan bokongan dengan kelima jarinya, angin dingin menderu deru mengancam
tiga buah jalan darah penting didada kanan P«k In Hoei.
Merasakan datangnya ancaman pemude she Pek busungkan dadanya kemuka. mendadak ia bersuit rendah pedang penghancur sang surja diputar setengah lingkaran,
dengan jurus "Sip-Jit Tong Thian" atau Sepuluh Hari siang melulu dalam sekejap mata ia lancarkan sepuluh buah tusukan kilat.
Criiiit ! Criiit hawa pedang membumbung keangkasa, sekilas cahaya yang amat tajam mendadak menjungkit keudara, diiringi sepuluh desiran tajam mengurung tubuh
lawan rapat rapat.
Serangan pedang ini benar2 mempunyai kekuatan bagaikan menyapu selaksa prajurit begitu sepuluh jalur hawa pedang menguasai daerah sekeliling delepan depa
segera terkurung rapat. badan Ku Loei serta Chin Tiong pun tertahan delapan depa disisi kalangan.
Melihat kelihayan sianak muda itu, air muka Chin Tiong berubah hebat, badannya beruntun mundur empat langkah kebelakang, sekali jumpalitan badannya loncat
satu tombak keudara, lima jari tangan kirinya bagaikan bayangan setan meluncur kebawah mencengkeram belakang tengkuk Pek In Hoei.

Ku Loei meraung keras, beruntun ia mundur empat langkah kebelakeng, kakinya merandek dan bagaikan terpantek diatas tanah ia berdiri tak berkutik, sepasang
telapak dirapatkan jadi satu kemudian perlahan lahan membabat kemuka
Telapak tangan yang berwarna keperak perakan dengan membawa sekilas bayangan cahaya yang tajam menembus hawa pedang lawan yang kuat dan dahsyat.
Ujung pedang bergetar keras, Pek In Hoei segera merasakan adanya segulung tenaga tekanan yang maha kuat menembusi lingkaran hawa pedangnya dan langsung
menghantam kearah dada.
Alisnya kontan berkerut, jurus pedang dirubah, kaki bergeser satu lingkaran busur, dari arah sisi ia kirim satu serangan balasan.
Dengan adanya sapuan ini maka gabungan serangan Ku Loei yang barusan ia kirim kemuka seketika mengenai sasaran kosong.
Matanya melotot bulat2, cambang yang memenuhi wajahnya berdiri tegak bagaikan kawat, dengan cepat ia tarik kembali telapaknya kebelakang, bagian bagian atas
meneguk, secara tarpisahia kirim lagi dua buah serangan berantai,
Ngoooag... ngooong... desingan tajam menggema diangkasa, deri antara getaran ujung pedang musuh muncul sebuah lingkeran cahaya tepat didepan matanya,
"Duuuuk...." Ku Loei kirim lagi satu babatan kilat kemuka, namun matanya segera jadi silau oleh bayangan cahaya yang muncul didepan matanya itu, begitu silau
pandangannya oleh cahaya tajam tadi hingga ia tak sanggup memandang dimanakah Pek in Hoei berada,
Detik itu juga berbagai ingatan berkelebat dalam benaknya, ia teringat kembali bagaimana dia patahkan pedang dan angkat sumpah untuk tidak akan menggunakan
pedang lagi setelah mengalami kekalahan diujung pedang Cia Ceng Gek sipedeng sakti deri partai Tiam cong dalam jurus yang kesebelas
Cahaya tajam yang memancar keluar dari ujung sebilah pedang ini dirasakan seolah olah sebatang tongkat iblis yang muncul dari balik cahaya sang surya.
"Jurus apakah itu ? belum pernah kutemui jurus serangan semacam ini didalam ilmu pedang penghancur sang surya!..."
Pelbagai Ingatan kembali berkelebat dalam benaknya, namun sayang ia tidak menyadari bahwa lingkaran cahaya yang menyilaukan mata itu adalah hasil gabungan
dari pengaruh tiga serangan sebelumnya, jurus ini memang merupakan salah setu jurus dari ilmu pedang penghancur seng surya dari partai Tiam cong.
Mendadak ia meraung keras, telapak kanannnya ditarik kebelakang diikuti telapak kirinya menyapu datar kesamping, sambil menahan penderitaan dan siksaan
dibadan ia loncat dari kalangan.
Rupanya Pek In Hoei telah menggunakan jurus ketiga belas dari ilmu pedang Si Jiet Kiam Hoat yang disebut "Kiam Coan Liat Yang" atau Pedang menembusi teriknya
sang Surya jurus ini merupakan jurus ciptaan dari Cia Ceng Gak sewaktu terkurung didalam gua batu.
Kendati sianak muda itu telah salurkan segenap kemampuan dan kekuatannya dalam jurus serangan ini, tak urung dia masih sempat merasakan pula betapa sakit
batok kepalanya ketika terjepit oleh kelima jari tangan lawan,
Pada detik itu juga dia segara menyadari, sekalipun serangan pedangnya akan berhasil membinasakan Ku Loei namun kelima jari musuhpun akan mencengkeram
lehernya serta mematahkan batok kepalanya.
Dalam saat yang kritis dan sangat berbahaya ini, otaknya dengan cepat mengambil keputusan,
Dia meraung keras, badannya maju empat inci kemuka, sedang ujung pedang ditekuk tiga coen kebawah dan tepat meluncur kemuka dengan gerakan yang sama
Mendadak ujung pedang diantara lingkaran cahaya yang menyilaukan mata Itu menembusi hawa pukulan Ku Loei yang sedang menggulung tiba dan merobek dahinya yang
lapang....
Ku Loei menjerit keras, badannya gemetar keras, sambil menahan sakit yang lak terkirakan ia loncat keluar,
Pada saat itulah ilmu jari bintang kejora dari Chin Tiong telah bersarang telak lima coen dibawah leher Pek In Hoei. Breeet! bajunya segera tersambar robek.
Pek In Hoei bersuit nyaring ujung pedangnya berputar kebelakang, seluruh badan bergeser tujuh depa ditengah udara, setelah berjumpalitan dua kali sambil
membawa pedang ia sapu kedepan,
Ditengah kegelapan malam tampaklah ujung pedangnya meluncur dengan membawa sekilas cahaya warna merah yang tawar.
"Coba rasakanlah serangan Lek Liong Hwie Jiet atau enam Naga memandang sang suryaku ini!" hardiknya.
Chin Tiong ysng ada ditengah udara segera merasakan pandangannja jadi kabur, bunga pedang bermunculan didepan mata, ia meraung keras wajahnya seketika
berubah jadi hijau membesi, perlahan lahan tangan kanannya diulur kemuka
Karena seluruh perhatian serta kemampuannya harus dipusatkan keatas tangan kanannya yang sedang meluncur ketepi, maka badannya yang masih ada diudara segera
anjlok kebawak.
Pek In Hoei membentak keras, mengikuti gerakan tubuh lawan yang merosot kebawah pedangnya segera meluncur kedepan.
Ditengah getaran pergelangannya, ujung pedang telah bergeser tiga coen lebih kebawah.
Dikala ujung pedangnya masih bergetar keras itulah, tiba tiba Chin Tiong mementangkan kelima jarinya, laksana kilat ia cengkeram senjata tajam,
Menyaksikan pihak lawan dengan kelima jarinya vang berwarna kehijau hijauan berani mencengkeram kearah pedangnya, Pek In Hoei tertawa dingin, pedangnya
segera di dorong kedepan dan laksana kilat membabat keatah bawah.
Ujung pedang dengan cepat menggurat telapak Chin Tiong hingga muncul sebuah guratan panjang berwarna putih, babatan tadi gagal memasung seluruh
pergelangannya Karena kesakitan Chin Tiong mengatup kelima jarinya, dengan begitu pedang Si-Jiet-Kiam pun berhasil ia cengkeram.
Meminjam tenaga dari pedang tersebut, ia tukar napas, badannya melengkung dan seluruh tubuhnya tergantung diatas pedang.
Mimpipun Pek In Hoei tidak menyangka kalau pihak lawan mampunya! jurus kepandaian yang begitu aneh dan tidak takut akan ketajaman senjatanya, karena
tercengkeram maka pergelangannya segera menekuk kebawah dan seluruh badannya tertarik kebawah.
Chin Tiong tertawa seram. tubuhnya yang melengkung diangkasa mendadak mencelat keudara, sepasang kakinya menendang berbareng menyepak dada sianak muda itu
Pek In Hoei mendegus, lengan kirinya berputar membentuk gerakan satu lingkaran busur, menggunakan jurus "Leng Bwee Kwe Cu" atau Bunga Bwee bergelatung
didepan pinggiran telapaknya langsung membabat persendian kaki lawan, sementara jarinya mencengkeram jalan darah Yong-Gwan-Hiat ditelujuk kaki musuh.
Sepasang kaki Chin Tiong yang lagi menendang cepat2 ditarik kembali, kemudian sambil menggepit ujung kakinya tiba tiba melayang lima coen lebih keatas
mengancam tenggorokan sianak muda itu.
Air muka Pek In Hoei berubah hebat, tangan kirinya segera merendah kebwah lalu dipukul sejajar dengan dada, jurus yang digunakan adalah jurus "Peng Kong Hoe
Hauw" atau menundukkan harimau ditebing datar dari ilmu pukulan Hoe Hauw Koen aliran Go bie Pay, dari telepak ia rubah Jadi kepalan dan langsung menjotos
ujung tumit lawan yang mengancam tiba,
Bruuuuk! kaki kanan Chin Tiong yang tak sempat ditarik balik segera termakan oleh jotosan lawan, seketika tulangnya patah dan dia menjetit kesakitan, buru
buru sepasang kakinya ditarik kembali kebelakang.
Dengan masing masing pihak mencekal salah satu ujung pedang, dari udara hingga keatas bumi masing masing pihak telah saling bertukar dua jurus serangan
kilat.
Begitu ujung kakinya menempel diatas permukaan tanah, tangan kanan Pek in Hoei sekuat tenaga segera ditarik kebelakang, sementara tangan kirinya berbareng
diayun keluar, jari telunjuknya menyedok menotok leher Chin Tiong
Serentetan desiran angin serangan segera meluncur keluar.
Merasakan datangnya ancaman Chin Tiong memantek sepasaag kakinya diatas tanah, tubuh bagian atas menekuk kebelakang ia pasang tangan sambil mencengkeram
ujung pedang musuh meraung keras, tangannya cepat cepat diangkat keatas.
Sekujur badannya perdengarkan suara gemerutuk yeng nyaring badannya makin membesar, sambil kerahkan tenaga ia berusaha mengangkat tubuh sianak muda itu
keangkasa.
Sambil mencengkeram gagang pedangnya Pek In Hoei memantek kakinya kuat kuat diatas tanah, namun ia tak sanggup berdiri tegak, dalam tarikan serta sentakan
lawan yang disertai dengan tenaga angkatan sebesar ribuan kati ini, kuda kudanya gempur, seketika badannya terangkat ketengah udara,
"Suatu jurus Pa Ong Kie Teng atau Raja buas mengangkat Hioloo yang sangat indah" Puji Ku loei keras. Loo jie, aku segera menyusul datang".
Sambil menahan rasa sakit ditelapak kirinya ia melayang kedepan, telapaknya dengan kerahkan ilmu golok perontok rembulan melenturkan satu babatan kebawah,
serentetan cahaya tajam berwarna keabu abuan seketika menyapu keatas senjata pedang itu.
Bruuuuk.... pedang Si Jiet Kiam bergetar keras dan memperdengarkan bunyi dengungan yang amat nyaring.
Pak In Hoei segera merasakan pergelangannya jadi kaku, ia kaget dan tak mengira kalau tenaga hantaman Ku Loei yang disalurkan lewat senjata pedangnya bisa
menghasilkan daya tekanan yang demikian dahsyatnya.
"Loo toa cepat menyingkir" terdengar Chin Tong berteriak lantang dengan suaranya ysrg keras bagaikan geledek.
Lengannya bergetar lalu memutar, badan Pek In Hoei yang ada ditengah udara segara diputarnya satu lingkaran kemudian dibanting keras keatas tanah.
Dalam banting seperti ini, apabila sianak muda itu tak mau lepas tangan niscaya badannya akan hancur berantakan.
Disaat yang amat kritis itulah mendadak Pek In Hoei bersuit nyaring, dia lepas tangan lalu loncat keatas dan berdiri diatas gagang pedang Si Jiet Kiemnya
itu.
"Hmmm" ia mendengut dingin, seluruh badannya menekan kebawah, kakinya bagaikan melekat diatas pedang mengikuti daya bantingan Chin Tiong semakin menekan
kebawah.
Rasul Pergutuk Langit Chin Tiong merintih kesakitan, lengannya melengkung den sekuat tenaga diangkatnya senjata itu lima coen lebih keatas.
Sinar meta Pek In Hoei berkilat, kaki tanannva mendadak melangkah satu tindak lebih kedepan, seketika gagang pedangnya melengkung lima coen lagi kebawah.
Sambil tertawa dingin jengeknya:
"Dengan andalkan ilmu sesatmu yang tak mempan dibacok senjata lantas kau ingin coba2 mencengkeram pedang penghancur sang suryaku? ..Hmmm sekarang akan
kusuruh kau rasakan betapa tajamnya senjata mustikaku ini...."
Chin Tiong mendengus berat, tangannya diangkat keatas dan kembali ia angkat pedang itu tiga coen lebih keatas.
Pek In Hoei tidak ingin memberi kesempatan bagi musuhnya untuk berganti napas, kakinya kembali bergeser setengah langkab kesamping. dengan demikian pedang
yeng telah terangkat kini tenggelam kembali dua coen kebawah.
"Kau anggap dengan andalkan kemustajaban pil tenaga Pek Loo Tay Lek Wan lantas bisa rebut kemenangan dengan gampang" kembali sianak muda itu menjengek. "Kau
anggap pedang mustika peoR hancur sang suryaku ini bisa kau rebut tanpa buang banyak tenaga..."
Saking beratnya sekujur badan Chin Tiong telah basah kuyup oleh keringat, air mukanya makin lama berubah semakin menghijau, kakinya setengah melengkung
kebawah dan telapaknya telah masuk ke dalam tanah hingga bekas tumit.
Oleh ejekan ejeken Pek In Hoei yang sengaja memanaskan hati musuhnya ini, hampir saja membuat dada rasul Pengutuk Langit ini meledak saking dongkolnya, namun
ia tetap tak sudi lepas tangan, dengan ngotot dan keras kepala ditahannya terus posisi tersebut.
Ku Loei sendiri yeng ada disisi kalangan juga kaget setelah menyaksikan rekannya dipencundangi oleh pihak lawan kerena kurang berhati hati, ia sadar meskipun
rekannya tidak jeri akan senjata tajam karena andalkan ilmu sakti "Jan Seng Cie"nya. namun berhadapan dengan senjata mustika yang terkena! akan ketajamannya
ini dia tak nanti bisa bertahan lama.
Ia tarik napas dalam dalam, dengan langkah sebat segera maju kedepan, telapak kanan diangkat keatas siap membabat punggung sianak muda itu.
"Hmmm manusia she Ku." seru Pek In Hoei sambil mendengus. Seandainya kau gunakan ilmu pukulan golok perontok rembulanmu, maka saat ini juga Chin Tiong akan
mati konyol"
Mendengar ancaman itu Ku Loei terkesiap, mengerti Pek in Hoei hendak meminjam tenaga pukulannya untuk disalurkan ketubuh pedang dan menghantam Chin Tiong
yang ada dibawah, dengan adanya tekanan ini maka sirasul pengutuk langit pasti akan terluka parah dan kemungkinan besar mati konyol.
Hatinya jadi sangsi dan telapak kananpun segera diturunkan kembali.
Sekilas senyum sinis menghiasi ujung bibir Pek In Hoei.
"Malam ini kalau aku tidak membiarkan kau jumpai kelihayan dari tenaga murni partai Tiam-cong, tentu selamanya kau akan beranggapan bahwa partai Tiam cong
benar benar telah lenyap dari dunia persilatan..."
Kulit wajah Chin Tiong berkerut kencang menahan siksaan dan rasa sakit yang makin menjadi, rasa gusar, mendongkol, jeri dsn takut memancar keluar dari balik
cahaya matanya, ia mendengus berat, ia palang lengannya dengan gunakan segenap tenaga yang dimilikinya mangangkat pedang bersama tubuh sianak muda itu dua
coen lebih keatas.
Psk In Hoei angkat kaki kirinya den melangkah lagi setengah tindak kemuka, seketika pedang Sang surya terangkat tenggelam legi tiga coen kebawah.
Dengan penuh kesakitan Chin Tiong meraung keras, ujung kaki kanannya yang patah oleh hajaran sianak muda itu melesak kedalam tanah, darah segar segera
muncrat membasahi tubuhnya, begitu sakitnya sampai sekujur badannya menggigil keras.
Sekilas cahaya tajam menyorot keluar dari mata Pak In Hoei, serunya dengan suara berat:
"Kalian pernah dikalahkan oleh pedang penghancur sang surya. maka setiap berjumpa dengan pedang mustika ini dalam hati akan timbul rasa jeri, karena itu
kalian berusaha hendak merampas pedang ini. Sekarang kau harus rasakan dulu bagaimana menderitanya kalau tulang yang lepas dari tempatnya dan harus menancap
dalam tanah
Sembari bicara tenaganya dikerahkan semakin besar, dengan segenap tenaga ia tekan pedangnya kebawah
Senjata mustika itu segera melengkung kebawah, diantara berkilaunya cahaya kemerah merahan Chin Tiong berteriak keras tangannya robek oleh tekanan senjata
itu dan darah segera mengucur keluar dengan derasnya.
Karena benturan hawa murni ini sepasang kakinya terbenam tiga coen lebih dalam diatas tanah.
Hawa darah dalam dadanya kontan berontak keras, seakan akan dihantam dengan martil sebesar ribuan kati ia tak dapat menguasai diri lebih jauh. sambil
menjerit kesakitan ia muntah darah segar, pedangnya dilepaskan dan badannya segera roboh keatas tanah.
Menyaksikan rekannya roboh, Ku Loei membentak keras, tenaga lweekang yeng telah dihimpunnya selama ini begaikan bendungan yeng jebol segera dilepaskan
keluar, sekilas cahaya putih dengan dahsyat menghantam dada Pek !n Hoei.
Sianak muda itu tertawa lantang, badannya mundur kebelakang, berbareng kaki kanannya menjungkil lalu menjangkau, dalam waktu yang singkat pedang Si Jiet Kiam
tadi, sudah dicekal kembali dalam genggamannya.
Dengan senjata ditangan kehebatannya semakin meningkat, pedangnya diayun kemuka, hawa pedang segera berkelebatan memenuhi angkasa
Beruntun Ku Loei lancarkan beberapa serangan untuk memunahkan dua tusukan kilat lawan, kemudian la tarik napas dalam dalam dan mengirim kembali emoat buah
serangan berantai.
Cahaya tajam berkilauan menusuk pandangan. deruan angin pukulan bagaikan gulungan ombak ditengah samudra menyapu dan menghantam dengan hebatnya.
Seketika itu juga Pek In Hoei rasakan ujung pedangnya seakan-akan membentur lapisan dinding baja yang kuat, hatinya jadi kaget pikirnya:
"Sungguh aneh, apa sebabnya tenaga serangan mereka kadangkala nampak lemah kadang kala nampak kuat kembali.
Secara beruntun empat buah serangan golok perontok rembulan dari Ku Loei telah memaksa pihak lawan mundur lima langkah kebelakang, diapun berpikir:
"Walaupun keparat cilik ini berhbasil melatih ilmu pedang penghancur sang suryanya hingga mencapai puncak kesempurnaan namun masih banyak terdapat intisari
kepandaian itu belum berhasil dipahami, kalau dibandingkan dengan permainan Cia Ceng Gak tempo dulu, benar benar ketinggalan."
ia tarik napas dalam dalam, sambil maju dua langkah kedepan telapaknya kembali mengirim empat buah serangan berantai.
Menyaksikan sikap Pek In Hoei tatkala terdesak mundur kebelakang, ia lantas berpikir:
Semula aku mengira dengan pedang sakti Si Jiet Sin Kiamnya keparat cilik ini bisa mengerebkan hawa pedang hingga mencapai pada puncaknya, maka delapan jurus
golok perontok rembulanku tak berani kugunakan, kalau memang terbukti ia belum berhasil mencapai ketingkat tersebut, kenapa aku harus jeri lagi?"
Sementara itu Pek In Hoei yang menyaksikan enam jurus serangannya terbendung semua oleh permainan lawan, hatinya pun dibikin, terkesiap segera pikirnya:
"Rupanya dia sudah tahu kalau inti sari dari ilmu pedang Si Jie Kiam Hoat belum bsrbesil kukuasai semua, maka ilmu golok perontok rembulannya dilancarksn
secara berantai..."
Sambil mundur dua langkah kebelakang permainan ilmu pedangnya segera berubah secara beruntun diapun mengirim tiga buah serangan berantai yang tak kalah
hebatnya.
Didalam tiga jurus serangan tersebut ia telah gabungkan intisari serta gerakan gerakan aneb dari tiga partai paling terkemuka saat itu yaitu partai Go-bie;
Hoa san serta partai Bu torg
Kalau dibandingkan dengan permainan pedangnya yang mengutamakan kekerasan serta kecepatan, permainannya sekarang jauh berbeda dan sama sekali diiuar dugaan
Ku Loei, maka darl itu semua serangannya berhasil mengalutkan pikiran lawan.
Dengan hati terperanjat Ku Loei segera berpikir:
"Sungguh luar biasa asal usul keparat cilik ini, bukan saja aliran permainan pedangnya kalut dan beraneka ragam, diapun ulet den gagah. rupanya aku harus
bertarung sampai ratusan jurus bila ingin mengalahkan dirinya".
Dengan cepat matanya melirik kearah Chin Tong, ia saksikan air muka rekannya telah berubah jadi hijau membesi, meskipun sepasang kaki masih terbenam dalam
tanah namun orangnya telah berada dalam keadaan tidak sadar.
Sambil menggertak gigi pikirannya dengan cepat berputar, pikirnya :
"Bila Loojie tidak cepat2 diberi obat penyembuh luka. dia pasti akan mati konyol, buat apa kau barus bcrtarung percuma dengan bajingan ini,
Karena berpikir begitu maka ia lantas membentak keras, senara betuntun ia lepaskan tiga buah serangan maut.
Menanti pihak lawan terdesak mundur kebelakang badannya segera loncat kebelakang, disambarnya tubuh Chin Tiong dan segera dibawa kabur kembali keperkampungan
Tay Bie San cung.
Mimpipun Pek In Hoei tidak menyangka kalau secaaa mendadak Ku Loei kabur balik kedalam perkampungannya, la jadi sangsi dan segera pikirnya:
"Orang yang menjadi dalang dari rencana pengeroyokan terhadap ayahku waktu itu kecuali Chin Tiong masih ada seseorang lagi, tadi aku telah lupa mencari tahu
nama orang itu, kalau tanda terang isi sampai putus bukankah aku akan kehilangan jejak yang mengetahui siapakah musuh besarku yang satunya lagi"
Ia egera membentak, badannya loncat kedepan dan bagaikan kilat yang menyambar disusul Ku Loei dengan kencang.
Baru saja melewati pagar kayu, didepannya telah terbentang sebuah benteng penjagaan yang sangat tinggi, dibelakang benteng penjagaan merupakan hangunan rumah
yang bersusun susun.
Seluruh perkampungan tercekam dalam kegelapan. tak ada lampu yang menyala dan tak ada suara yang terdengar, seakan akan perkampungan itu berada dalam
kesunyian yang tak terhingga.
Mendadak matanya menangkap berkelebatnya bayangan manusia. dengan cepat ia berpaling, tampaklah Ku Loei sambil mengempi! Chin Tiong telah melayang kearah
depan dan dalam sekejap mata lenyap dibalik pepohonan yang lebat.
Tanpa ragu2 atau curiga barang sedikitpun juga Pek In Hoei segera menyusul kedalam hutan belukar itu.
Angin malam herhembus kencang menggerakan daun di sekeliling sana, suasana dalam hutan itu gelap gelita dan tiada nampak sesuatu benda apapun.
Sambil mencekal pedang Psk In Hoei mengerling keadaan disekeliling tempat itu, dengan cepat ia dapat saksikan situasi hutan tadi.
Sebuah jalan kecil yang beralaskan batu cadas membentang jauh kedalam menembusi hutan rimba yang lebat tadi.
Dengan alis berkerut sianak muda kita berpikir:
"Rupanya perkampungan ini luas sekali hanya saja kenapa disini tak kujmpai seorang manusiapun...?"
Perlahan lahan dia melangkah masuk kedalam hutan, berjalan keatas lorong terbuat batu dan laksana kilat menerobos terus kedalam. -
Setelah berputar kesana kemari beberapa saat lamanya, pandangan berubah.. kini setelah berada dihadapan sebuah telaga yang sangat besar
Tadi sewaktu menerobos hutan suasana gelap gulita susah melihat sesuatu apapun kini setelah keluar dari pepohonan terlihatlah udara bersih sekali, rembulan
serta bintang bertaburan diangkasa.
Memandang pemandangan alam yang indah, ia menghembuskan napas panjang, gumamnya:
"Sungguh tak nyana disini terdapat sebuah telaga yang begini indah dan menawan".
Sinar matanya perlahan lahan menyapu permukaan telaga yang tenang. mendadak matanya menemui sorotan cahaya lampu memancar keluar dari lobang bangunen rumah
ditengah telaga.
Diikuti sesosok bayangan hitam berkelebat lewat dari tepi telaga menuju karah jembatan panjang yang membentang ketengah, bayangan tadi langsung bergerak
menuju kebangunan tersebut.
"Aaaah!" Dengan hati kaget Pek 1n Hoei berseru tertahan. "Apa maksud Ku Loei dengan membopong Chin Tiong lari menuju kebangunan ditengah telaga itu? apakab
disitulah letak bangunan rahasia mereka untuk berlatih ilmu silat?"
[a termenung sejenak kemudian mundur selangkah kebelakang dan berdiri dibawah kegelapan, dengan cermat diperiksanya keadaan disekeliling tempat itu.
Suasata disitu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, hanya hembusan angin malam yang menggetarkan ranting menimbulkan gemerisikan yang 1irih...
Ia tarik napas dalam dalam, pedang mustika Sie Jiet Kiamnya dimasukan kembali kedalam sarung, lalu sebarang lengan bergetar dan ia melayang empat tombak
kedepan. bereda ditengah udara badannya berjumpalitan satu kali, seolah olah seekor burung elang dengan enteng dan ringan melayang keatas jembatan tersebut.
Baru saja kakinya menginjak diatas jembatan. segera terlihatlah pintu ruangan di tengah telaga itu terbentang lebar dan seseorang munculkan diri dari dalam.
"Keparat! kau berani datang kemari ?" terdengar Ku Loei membentak keras.
Pek Hoei miringkan tubuhnya kesamping dan melangkah maju dua tindak kedepan dari sisi tubuh Ku Loei yang tinggi kakar ia dapat melihat dengar, jelas keadaan
dalam bangunan air itu.
Dalam ruangan terbentang sebuah pembaringan, diatas pembaringan duduklah seorang kakek tua berambut putih, dihadapannya terletak sebuah hioloo kuno terbuat
dari tembaga, asap hijau perlahan lahan mengepul keluar dan menyebar ke empat penjuru.
Berhubung Ku Loei berdiri tepat didepan pintu maka Pek Ia Hoei tak dapat melihat lebih jelas lagi apa yang sedang dilakukan sikakek tua yang ada didalam
ruangan itu.
Ia bungkam dalam seribu bahasa, ditatapnya wajah Ku Loei dengan pandangan dingin sementara otaknya berputar memikirkan apa sebabnya pihak lawan mengucapkan
kata2 seperti iiu.
"Hmmm ! mungkinkah dia hendak andalkan kekuatan sikekek itu maka sengaja memancing aku masuk kedalam?".
Belam lenyap ingatan itu diri dalam benaknya, tiba2 terdengar suara rintihan berkumandarg keluar dari bangunan air iiu. Ku Loei segera berpaling dan bertanya
dengan suara kaget ;
"Bagaimana dengsn Loo-jie ?".
"Dia tak akan mati." jawab kakek berjenggot panjang itu tanpa berpaling.
Ku Loei tidak bicara lagi, is segera berpaling menatap kembali sianak muda she Pek ini.
Tiba2 kakek yang sedang bersila itu menoleh lalu berkata :
"Didalam bangunan air ini telah kupasang alat rahasia yang kuciptakan sendiri dengan susah payah. aku yakin kau tak nanti berani maju tiga langkah lagi
kedepan!". "Pek 1n Hoei, sudah kau dengar perkataan itu?" sambung Ku Loei sambil tertawa dingin.
Pek In Hoei tetap bungkam dalam seribu bahasa, ia berusaha menahan keinginannya untuk menerjang masuk kedalam bangunan air itu, seraya memandang wajah kakek
tua itu pikirnya :
"Entah siapakh manusia itu? rupanya Ku Loei telah menghormati dia sebagai seorang tamu agung dan memeliharanya dalam bangunan air ini!".
Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, segera pikirnya lebih jauh :
"Mungkinkah dia adalah guru dari Ku Loei, si iblis sakti berkaki telanjang dar Cing Hay ?".
Sebaliknya tatkala Ku Loei menyaksikan Psk In Hoei hanya berdiri ditepi jembatan tanpa ada maksud untuk maju kedalam lebih jauh segara mendengus dingin.
"Hmmm ! sungguh tak nyana Cia Ceng Gak yang dahulu pernah malang melintang dengan gagahnya tanpa takut terhadap langit dan bumi bisa mempunyai cucu murid
kere macam kau. Hmmm...1 sungguh memalukan nama besar partai Tiam cong!" Pek Ia Hoei tertawa dingin:
"Seandainya kau menganggap dirimu sebegai seorang enghiong tidak nanti bersembunyi terus didepan pintu macam kura2. kalau berani ayoh kita ketepi sana !".
Dengan gusarnya Ku Loei meraung keras badanny bergerak siap loncat kemuka.
Tiba kakek tua dalam ruangan itu mendehem ringan lalu menegur dengan suara berat.
"Ku Loei, sampai tuapun watak berangasmu masih belum bisa hilang kemanakah hasil latihanmu selama ini? masa dengan kesabaran seorang pemuda pun tak mampu
menandingi."
Rupanya Ku Loei sangat jeri terhadap orang itu, mendengar teguran tadi ia tidak membantah bahkan mundur selangkah kebelakang dengan wajah tersipu.
"Ucapan kau si orang tua tepat sekali," jawabnya cepat, "Seandainya pada masa yang lalu aku tidak bertabiat kasar dan berangasan semacam ini tidak nanti aku
bisa terluka ditangan Cia Ceng Gak."
"Babatan pedang Cia Ceng Gak tepat mematahkan urat urat It Meh membuat latihanmu selama dua puluh tahun tidak mendatangkan hasil yang diinginkan seandainya
tak ada pil mustajab Pek Loo Tay Lek Wan yang kubuat khusus untukmu, mungkin ilmu silatmu telah punah sama sekali?"
Setelah mendengar ucapan sikakek tua itu, Pek In Hoei baru mengerti epa sebabnya ilmu silat dari Ku loei kadang kala lemah kadangkala kuat kiranya urat
penting im mehnya telah dilukai oleh sucouwnya pada pertarungan tempo dulu maka itu ilmu silatnya tak bisa berkembang lebih jauh dengan andalkan obat yang
khusus dibuat kakek itu baginya ia baru bisa menekuni ilmu Sim-hoat aliran Liauw-sat Boen.
Otaknya memang cerdik, ia lantas teringat kembali akan pertarungan Ku Loei melawann Kim In Eng sewaktu ada dipuncak gulung Hoasan tempo dulu, segera pikirnya
dengan hati tercengang:
"Rupanya paristiwa ini tidak diketahui siapapun termasuk sumoaynya sendiri, lalu apa sebabnya kakek itu sengaja mengatakannya kepadaku?"
Sejak terjadinya perubahan besar diatas gunung Tiam-cong diikuti mengalami pula perbagai pengalaman pahit, boleh dikata selurub keadaan sianak muda ini telah
berubah, kejujuran serta kepolosannya dahulu kini telah lenyap tak berbekas. terhadap siapapun dan apapun dia telalu menaruh curiga. otaknya terlalu berputar
mencari tahu sebab sebabnya persoalan yang sedang dihadapi.
Maka dari itu dengan hati sangsi dia penuh curiga ditatapanya wajah kakek tua itu tajam tajam. ita tak mau maju kedalam lebih jauh dengan gegabah.
Sementara itu kakek tadi melirik sekejap kearah Pek in Hoei yang berdiri disisi jembatan kemudian katanya:
"Ku Loei, masuklah kedalam, pil Tiang coen wan didalam tungku ini telah masak, sudah waktunya kau berikan kepada Chin Tiong !"
"Hoa Loo!" kata Ku Loe sambil angkat telapak kirinya. "0bat yang ada diatas telapakku sudah boleh diambil bukan?"
"Hmmmm setengah jam kemudian telapak tangan yang kubalut akan sembuh kembali seperti sedia kala, aku tanggung keparat cilik yang masih bau tetek itu tak akan
berani maju tiga langkah kedepan"
Menyaksikan Ku Loei melangkah masuk kedalam bangunan air itu, Pek In Hoei mendengus, pikirnya :
"Dengan pelbagai macam hasutan dari ucapan kau hendak memancing aku maju tiga langkah kedepan. Hmmm dianggapnya aku lantas ikuti ucapanmu dan benar benar
maju tiga langkah? justru aku mau sengaja maju sampai kelangkah yang keempat...!"
Ia tarik napas dalam dalam, hawa murninya disalurkan keseluruh badan kemudian maju dua langkah kedepan dan enjotkan badsn melayang enam depa kemuka.
Siapa tahu ketika ujung kakinya menginjak papan jembatan disebelah depan, tiba2 jembatan itu roboh dan tenggelam kedalam telaga hingga tinggal separuh
jembatan yang ada didekat bangunan air itu saja yang masih berdiri seperti semua.
Ia mendengus dingin, sepasang lengannya bergetar keras den badannya melayang sembilan depa keatas, bagaikan seekor burung alap alap kembali dan lewati dua
tombak jauhnya dan melayang keatas jembatan yang masih tersisa.
Siapa sangka jembatan itupun seakan akan makhluk hidup, belum sampai ujung kakinya menginjak papan jembatan mendadak jembatan tadi tenggelam pula kedasar
telaga hingga kakinya menginjak tempat kosong.
Sekaleng dia baru merasa kaget, badannya segera melengkung membentuk gerakan busur seteiah itu meloncat sekuat tenaga kearah depan.
Daiam perkiraannya dengan jurus "Cing Liong Hoan" atau Naga Hijat berjumpalitan diawan ia pasti bisa melewati permukaan telaga tadi dan melayang balik ke
atas daratan, aiapa sangka air telaga itu dinginnya luar biasa, baru seja kakinya menyentuh air tersebut seketika itu juga terasa adanya segumpal hawa dingin
yang luar biasa dahsyatnya menyusup kedalam tubuhnya lewat kaki, membuat seluruh kakinya jadi kaku dan mati rasa.
Baru saja badannya meloncat lima depa keatas, hawa murni daiam tubuhnya telah buyar dan badannya segera anjlok kebawah, Pek In Hoei benar benar merasa amat
terperanjat, sinar matanya berputar cepat mengawasi sekelilingnya namun dengan cepat ia dapat melihat dengan jelas keadaan dirinya yang sebenarnya.
"Sekarang jarakku dengan bangnnan air itu masih beberapa tombak sedangkan untuk kembali kedaratan masih ada empat tombak jauhnya, bawa murniku tak akan bisa
memantulkan tubuhku kembali kesitu."
Disaat yang amat kritis itulah satu ingatan berkelebat dalam benaknya, segera ia bersuit nyaring, keempat anggota badannya dipentingkan lebar lebar, dengan
jurus ketiga dari , Im Liong Pat Sih" aliran Kun lun Pay yaitu "Yoe Liong Swe In" atau Naga sakti Bermain diawan, tubuhnya berputar setengah busur diudara
kemudian meluncur kearah bangunan air itu.
Laksana kilat badannya meluncur kearah bangunan tersebut, meskipun akhirnya ia tiba disisi jembatan gantung, namun dengan pengalaman yang sudah pemuda kita
tak berani langsung melayang keatas tangan kenannya dengan cepat menjangkau mencengkeram wuwungan bangunan air itu
"Hmm" jengekan dingin berkumandang memecahkan kesunyian, mendadak muncul sesosok bayangan manusia dari balik atap dan tahu2 Ku Loei telah muncul disitu
sambil melancarkan sebuah pukulan dahsyat
dengan ilmu pukulan golok perontok rembulan.
Dslam pada itu kelima jari Pek in Hoei baru saja menyentuh dinding wuwungan, atau secara tiba tiba sesosok bayangan putih berkelebat lewat dihadapan matanya
segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menyapu keatas dadanya.
Seakan2 dibabat dengan sebuah kampak raksasa, sianak muda itu merasakan napasnya sesak dan badannya segera merandek.
Pek In Hoei terkejut, ia membentak nyaring, telapak kirinya langsung menyapu keluar mengirim satu pukulan dengan jurus "Im Hoa Ciat Bok? atau memindahkan
bunga menyambang ranting.
SIKUTNYA menekan kebawah lalu menggetar, maksudnya dia hendak memotong datangnya angin pukulan musuh yang kuat dan berhawa dingin itu, namun gerakannya
terlambat, telapak lawan tahu-tahu sudah menghajar telak dadanya.
Bruuk pukulan golok perontok rembulan yang tajam dan ampuh itu bersarang telak diatas dadanya.
Dengan penuh rasa sakit ia mendengus, kelima jarinya mencengkeram semakin keras hingga membuat atap wuwungan patah dan seluruh tubuhnya. tercebur kedalam
sungai.
Percikan air muncrat keempat penjuru, permukaan teia?a yang tenang segera mucul ombak yang keras dan menggoncangkan seluruh bangunan air tersebut.
Ku Loei yang berdiri diatap rumah, sambil memandang gulungan ombak diatas permukaan telaga tertawa seram tiada hentinya :
"Haaah.... haaaah....... haaaaah....sekalipun kau memiliki ilmu silat yang bagaimana lihaypun, jangan harap bisa loloskan diri dari dasar telaga Lok Gwat Ouw
dalam keadaan hidup hidup".
Bayangan manusia berkelebat lewat, si kakek tua itupun. munculkan diri dari balik bangunan air, katanya pula ::
"Kalau ia tidak mati karena kedinginan. tubuhnya tentu akan hancur oleh tekanan air yang maha dahsyat didasar telaga ini."
"Hoa loo, kau benar benar tidak malu disebut sebagai Cukat Liang kedua, ternyata keparat Cilik ini telah terjerumus ke dalam siasatmu yang lihay." puji Ku
Loei tiada hentinya.
Kakek tua itu tertawa hambar.
"Terhadap manusia yang berotak panjang seperti dia. bila tidak kugunakan siasat yang palsu adalah sungguh dan yang sungguh adalah palsu, mana mungkin ia
terjerumus kedalam jebakan yang telah kuatur?"
"Haaaah... haaaah... haaah... sekarang kita hanya tunggu tenaga sinkang suhu berhasil mencapai pada puncaknya maka seluruh kolong langit akan menjadi milik
kita"
"Dewasa ini sembilan partai besar didataran Tionggoan telah kehabisan jago jago lihaynya" ujar kakek tua itu sambil mengelus jenggotnya, rencana kita yang
sudah diatur sejak dua puluh tahun berselangpun segera akan terlaksana, waktu itu seluruh dunia persilatan yang ada dikolong langit akan tunduk dibawah
telapak laki perguruan Liauw sat Boen kita......."
"Kesemuanya ini bisa berjalan lancar, tidak lain berkat jasa Hoa Loo cianpwee yang tak terhingga besarnya."
Kakek tua itu mengulurkan lengannya menekan sebuah tombol didekat pintu, maka jembatan kosong yang tenggelam kedasar telaga tadipun perlahan lahan muncul
kembali keatas permukaan dan beserta dengan satu sama lainnya.
Ia angkat kepalanya memandang rembulan yang tergantung diwuwungan, ujarnya:
"Dewasa ini kita harus berusaha untuk meaghadapi tiga dewa dari luar lautan, agar mereka tidak sanggup tancapkan kakinya kembali didaratan Tionggoan."
Ia menghela napas panjang gumamnya lebih jauh :
"Susah payahku selama enam puluh tahun akhirnya mendatangkan hasil juga, Hoo Mong Chin kau akan menyaksikan betapa lihaynya rencanaku!"
Ia membelai jenggot sendiri yang panjang, seakan akan mengeluh bisiknya kembali :
"Seluruh enam puluh tahun bidup berdampingan dengan awan mega diangkasa, hidupku terasa hampa dan kosong Aai
.... dunia kangouw.... dunia kangouw...."
Perlahan dia putar badan dan berjalan masuk, dibawah sorotan sinar rembulan tampak perawakannya yang tinggi besar berjalan rada pincang, rupanya dia adalah
seorang manusia yang berkaki pincang sebelah.
Ku Loei menoleh keatas permukaan telaga yang telah menjadi tenang kembali: sambil tertawa dingin jengeknya:
"Kali ini Partai Tiam cong benar2 telah lenyap dari permukaan bumi."
Air telaga yang dingin dan membekukan tubuh menyusup kadalam tulang, begitu Pek In Hoei tercebur kedalam telaga Lok Gwat Ouw, sekujur badannya seketika jadi
kaku.
Berteguk teguk air telaga telah terlelan kedalam perutnya, paru parunya mulai jadi sesak membuat badannya menggigil keras, dalam keadaan yang kritis terpaksa
sianak muda itu tutup seluruh pernapasannya.
Dengan susah payah dan penuh penderitaan ia meronta, sepasang tanganaya tanpa sadar mendayung kesana kemari, dalam sekejap mata golakan air telaga
disekeliling tak ubahnya seolab olah berubah jadi selembar jaring yang kian lama membelenggu tubuhnya semakin kencang.
Deburan ombak yang kuat laksana berpuluh puluh buah martil besar menghantam badannya, untung ia kenakan kutang mustika pelindung badan yang segera menolak
sebagian besar tekanan tersebut, kalau tidak mungkin badannya sudah hancur lebur termakan daya tekanan air yang maha berat dan maha dahsyat itu.
Ia meronta terus tiada hentinya, sambil menahan napas! tangannya mendayung kesana kemari, sianak muda itu bernafas untuk munculkan diri keatas permukaan
telaga.
Nsmun deburan ombak yang kuat dan dahsyat tiada hentinya menumbuk tubuhnya, membuat badannya bukan timbul keatas sebaliknya makin lama semakin tenggelam
kedasar air.
Dadanva terasa sakitnya bukan kepalang beberapa kali mulutnya hendak dipentungkan untuk muntahkan barang barang yang ada dilambung namun kesadarannya belum
hilang, sekuat tenaga ia gertak gigi kencang kencang agar air telaga yang dingin membekukan tubuh itu tidak sampai masuk kedalam perutnya.
Mula2 kesadarannya masih bisa dipertahankan, namun lama kelamaan ia mulai kabur dan saking dinginnya seluruh badannya jadi mati rasa.
Keempat anggota badannya mulai berhenti mendayung, ia biarkan tubuhnya terseret oleh aliran diatas telaga menuju ke arah bawah.
Mendadak..
Sekujur badannya gemetar keras, sepasang tangannya dengan penuh penderitaan memutar kesana kemari, membuat pakaian diiuar kutang wasiatnya robek2 dan
terlepas semua.
Air darah mulai mengucur keluar dari ujung bibirnya, didasar air telega yang berwarna biru air darah tadi kian menyebar kemana mana.....
Ketika itulah badannya telah tenggelam didasar telaga dan bergelinding kedalam batu batu cadas yang memenuhi dasar telaga itu.
Sebuah batu cadas yang runcing bagaikan pedang merobek kantong kulit dipinggangnya dan beberapa butir mutiara segera tercerai-berai.

(Bersambung ke jilid 12)



Jilid 12 : Lelaki ganteng berwajah kemala

DALAM SEKEJAP MATA AIR telaga yang biru kegelap-gelapan jadi terang benderang, mutiara mutiara yang jatuh diatas tanah tadi memberikan penerangan atas daerah
sekeliling tujuh depa disana.

Pek In Hoei masih belum sadar, mengikuti tonjolan batu cadas tadi ia menggelinding kedalam selokan didasar telaga tadi.

Akhirnya ia jatuh pingsan dan tak sadarkan diri... lama... lama sekali tiba2 satu cahaya tajam membuat dia mendusin kembali, darah yang mengucur keluar dari
ujung bibirnya semakin deras, dadanya naik turun dengan cepat dan sianak muda itu kembali munstahkan darah segar.

Ingatan yang mulai kabur kian lama kian jsdi terang, ia mulai teringat secara bagaimana dadanya dihantam Ku Loei dengan ilmu pukulan golok perontok
rembulannya hingga menyebabkan dia terjerumus kedalam telaga.

Segera pikirnya didalam hati:

"Kenapa air telaga ini begitu dingin dan membekukan tubuh? Walaupun begitu mengapa tidak sampai beku air air disini? apa sebabnya demikian?"

Urat2 nadi syarafnya makin menyusut, rasa kaku semakin menjadi dan tubuhnya gemetar semakin keras.

Hatinya jsdi terkejut. buru2 hawa murninya dikumpulkan dipusar dan coba salurkan tenaga lwaekangnya keseluruh tubuh, namun baru saja ia tarik napas tiadanya

dadanya terasa sakit, begitu sakit hingga hampir saja ia jatuh pingsan,

"Aaaai....!" akhirnya dia menghela napas. "Tak kusangka ilmu pukulan golok perontok rembulan dari Ku Loei mendatangkan kekuatan yang begitu dahsyat, bukan
saja kutang wasiatku bisa ditembusi isi perutku pun terluka parah, ditambah lagi telaga yang mencekam, rupanya ajalku telah akan tiba..."

matanya beralih kesamping, setelah memandang pusaran air telaga dilingkaran luar, Pek In Hoei jadi paham, segera pikirnya:

"Tidak aneh kalau aku meresa menderita luka dalam yang sangat parah, rupenva hal itu disebabkan oleh karena tumbukan gelombang air dalam TELAGA air. Kalau
begitu aku telah merusak keseimbangan takaran air telaga Leng Gwat Ouw yang biasanya tak pernah disentuh oleh siapapun jua, dengan terceburnya aku maka
pusaran air membuat aku harus merasakan tumbukan2 dahsyat gelombang air ini..."

Kesadarannya kian jsdi tenang, pikirnya lebih jauh:

"Kenapa aku tak bisa mendapatkan pengertian mengenai munculnya lingkaran cahaya berbentuk payung dalam air telaga

ini..."

Sepasang tangannya meraba kesamping mencengkeram beberapa butir mutiara yang bergelindingan dari tubuhnya, muncul rasa sedih dalam hatinya Kembali dia
berpikir:

„Apa gunanya Thian Liong Taysu meninggalkan begitu banyak mutiara berlian bagiku? Hmm. Pek Swie, Ciat Seng.... Yu Bing. apa gunanya semua benda itu?
sekalipun dengan membawa mutiara Pek Swie Coo aku bisa naik keatas permukaan telaga, api gunanya kalau aku tak kuai menahas dinginnya air telaga yang sangat
membekukan badan ini, bagi orang yang hampir mati macam aku, sekalipun ditimbuni dengan mustika yang bagaimanapun banyaknya juga percuma, benda itu seakan
akan barang tak berharga didalam pandangannya".

„Aaaaaa dia menghela nafas panjang.

Mendadak dari sisi tubuhnya muncul pula helaan nafas yang amat pangjang.

Helaan napas itu seakan akan muncul dari neraka tingkat sembilan, begitu sedih pedih dan menggugah perasaan membuat siapapun yang mendengarkan jadi duka dan
mengucurkan airmata.

Walaupun begitu, bagi pendengaran Pek In Hoei suara itu amat menakutkan hati ia jadi bergidik dan bulu pada

bangun berdiri. wajahnya yang telah pucat jadi berubah semakin hijau, sinar matanya mencerminkan betapa kaget dan terkejut dengan penuh seksama didengarnya
lagi suara tadi....

Suasana disekeliling tempat itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun. helaan napas yang penuh kesedihan dan kegukaan tadi seakan akan lenyap tak
berbekas, tak kedengaran lagi

Ia gigit bibirnya keras2 lalu berpikir:

"mungkinkah urat syarafku sudah tidak normal? Kecuali aku seorang mana mungkin ada manusia lain tinggal didalam telaga ini dan mengehela napas."

Ia menertawakan diri sendiri. Gumamnya lebih jauh:

" Aku harus mati didasar telaga boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang sukar ditemui sepanjang masa, siapa yang menyangka aku Pek In Hoei tidak mati
karena terbakar, tidak mati karena keracunan, tidak mati karena bacokan senjata sebaliknya harus mati kedinginan didasar telaga yang begini membekukan
badan!"

Pada saat itulah secara tiba2 kembali ia mendengar suara benturan besi berkumandang datang. Air mukanya kontan berubah hebat, ia pusatkan seluruh
perhatiaannya untuk mendengar.

Sedikitpun tidak salah suara itu memang suara beradunya besi bahkan muncul tepat dibawah dasar telaga dimana ia berada sekarang.

Hampir saja Pek In Hoei tidak percaya dengan telinga sendiri, dengan gemetar tangannya meraba lumpur yang basah didasar telaga memegang ganggang yang tumbuh
disisinya, sekarang ia baru percaya bila tubuhnya benar benar berbaring didasar telaga.

"Didasar telaga ini apakah masih ada dasarnya lagi?" Dengan hari kaget bercamput tercengang ia membatin: "Tekanan didasar telaga begini besar dan berat tidak
mungkin dibawa dasar telaga masih ada dasarnya lagi.... tetapi bagaimana dengan suara beradunya rantai rantai besi tadi?.... jelas suara itu muntul dari
bawah dasar telaga...."

Saking tegang dan tercenganggnya ia sampai lupa dengan rasa dingin yang merasuk ketulang sumsumnya, seluruh perharian tenaga serta kemampuannya dipusatkan
jadi satu untuk mendengarkan suara beradunya rantai besi itu.

Namun sekalipun ia sudah pertajam pendengarannya dan pusatkan semua perhatiaanya,suara tadi tak kedengaran lagi suasana kembali pulih dalam kesunyian...

Suasana didasar telaga hening bagaikan semuanya telah mati. tak ada gema tak ada suara yang nampak hanya air yang berwarna hijau serta bening bagaikan kaca,
indah dan menawan hati.

Pemandangan Aneh yang terbentang didepan matanya saat ini membuat dia seolah olah berada disebuah gua.

"Didalam gua.... didalam gua...." Ucapan ini diulangi sampai beberapa kali, dalam benakpun segera terlintas gambaran sebuah gua yang penuh dengan tiang batu
cadas.

Mayat bergelimpangan memenuhi permukaan gua itu, setiap mayat telah berwarna hitam pekat.....

Dalam sekejap mata muncul delapan sosok mayat didepan matanya, raut wajah mayat mayat itu menampilkan rasa sedih dan menderita yang tak terhingga terutama
seorang lelaki berusia pertengahan . tangan kanannya menggapai gapai ketengah udara seperti mau mengambil sesuatu namun tak sesuatu apapun berhasil ia ambil.

"Pedang penghancur sang surya." serunya kemudian dengan nada terkejut. "Kiranya Sucouw Hendak mengambil pedang mustika Su Jiet Kiam bukankah ia sudah
keracunan, apa gunanya ia ambil pedang pusaka tersebut?"

Dalam Benaknya dipenuhi dengan pelbagai persoalan yang memusingkan kepalanya, masalah ini sudah dipikirkannya selama setahun sejak ia masih berada didalam
gua diatas gunung hoasan tempo dulu, namun hingga kini belum ada jawaban yang berhasil dipecahkan.

Mengapa mereka keracunan bersama sama? kenapa mereka serentak melarikan diri kedalam gua? kenapa mereka tinggalkan dahulu kepandaian silat andalannya sebelum
mati? mereka adalah ketua dari partai partai besar, bagaimana mungkin keracunan berbareng? Siapakah yang telah meracuni meereka?".

Serentetan pertanyaan berkelebat memenuhi benaknya, namun kendati sudah dipikir bolak balik belum berhasil juga dipecahkan.

sekujur badannya sudah mulai membeku, perasaannya telah mati dan anggota badannya tak sanggup bergerak lagi. satu satunya yang masih segar hanyalah
ingatannya. disaat saat menjelang kematiannya ia tetap tenang dan tidak gugup.

"Oooh, sungguh dingin sekali." jeritnya didalam hati,Aku tak boleh mati....... Aku tak boleh mati dulu banyak persoalan yang harus aku kerjakan, ilmu pedang
penghancur sang surya tak boleh lenyap dari mukan bumi."

Mendadak..... ia tersentak kaget. otaknya tiba tiba teringat akan sesuatu..... maka semua perhatiannya segera dipusatkan keatas pedang Si Jiet Kiam tersebut.

Ia masih ingat, ketika pedang mustika itu diambilnya tempo dulu secara tidak sengaja tangannya telah menyentuh mutiara diujung gagang pedang, dalam
pandangannya ketika itu ia seolah olah menemukan tiga lukisan manusiadan dua baris tulisan.

Setiap kali matanya dipejamkan, dua barisan tulisan tadi segera tertera dengan jelas didepan mata, tanpa sadar gumamnya:

"Liat Yng Sin kang, kepandaian maha sakti dari kolong langit."

Diulangnya kata2 tersebut sampai beberapa kaii, sekian harapan untuk hidup muncul dalam batinya, segera ia mengengos napas dan dengan susah payah
digerakkannya tangan yang telah kaku itu untuk mencabut mutiara diujung gagang pedangnya,

Sekilas cahaya merah merah memancar keempat penjuru. tatkala tangan kanannya berhasil mencekat mutiara tadi, tiba2 terasalah adanya suatu aliran hawa panas
memancar keluar dari benda tadi, menembus urat uratnya yang kaku dan mengalir ke seluruh tubuhnya, seketika lima jarinya yang kaku dapat digerakan kembali.

Dengan penuh rasa gembira ia cekal pedang mestika itu kencang kencang, Kliiik....! diiringi suara nyaring. mutiara pada ujung gagang pedang segera tenggelam
kebawah, tatkala benda tadi ditekan dengan jari tangannya, muncullah tiga buah gambar manusia yang sangat kecil sekali,

Disisi lukisan manusia tadi, tertera beberapa patah kata yang berbunyi :

"Liat-Yang Sin Kang, Kepandaian Maha Sakti dari Kolong langit".

Ia tarik napas panjang2. hati yang berdebar berusaha ditenangkan kembali, semua perhatiannya dipusatkan keatas dua baris kalimat tadi dimana ia dapat membaca
beberapa baris kata yang berbunyi demikian:

"Bencana besar melanda negeri Tayii, ketika Kaisar Aje duduk dalam pemerintahan kaisar keluarge kita Toan Seng mati ditangan penghianat, putra mahkota Toan
To segera melarikan diri jauh di negeri Thian Tok, disitu dengan Susah payah ia berhasil melatih suatu kepandaian sim hoat aliran Thian Tok paling atas yang
bernama Thay Yang Sin kang dalam tujuh tahun kemudian ia berhasil menguasai kepandaian tadi, membasmi kaum penghianat dan pulihkan kembali kejayaan kita.

Kepandaian silat ini kemudian turun temurun hingga kini, ketika Cing Coe Cu dari partai Tiam cong dengan membawa pedang Si Jiet Sin Kiamnya datang
berkunjung, dengan sembilan jurus ilmu pedangnya ia mendapatkan ilmu tadi diubahnya menjadi Liat Yang Sin-kang".

Membaca sampai disini dangan hati kaget bercampur tercengang Pek In Hoei segera berpikir:

"Cing Cioe-cu adalah couwsu pendiri partai Tiam-cong kami, entah secara begaimana ia bisa mendapatkan ijin dari kaisar keluarga Toan dari negeri Tayli untuk
mengukir kepandaian maha sakti dari negeri Thian-Tok itu diatas gagang pedangnya, apakah hanya sembilan jurua Si-Jiet Kiam hoat saja yang bisa ditukar dengan
tiga macam kepandaian bersemedi ini?".

Hatinya segera dibikin kaget dan tercengang oleh penemuan yang tak terduga ini, rasa dingin jang menusuk ketulang sama sekali tak dirasakan lagi.

Maka dibacanya tulisan itu lebih lanjut.

"Ilmu Sakti Liat Yang Sin kang atau Surya kencana serta ilmu pedang penghancur sang surya sama sama mengutamakan Hawa yang2 panas dan keras, cara berlatihnya
hampir sama dan peredaran hawa nyaris sama, tatkala Kaisar angkatan kesebelas dari kerajaan kami menemukan kejadian ini maka bersama sama Cing Cioe Cu
dilakukan penyelidikan selama belasan hari lamanya dalam istana negeri Tayli, akhirnya tarciptalah satu kepandaian gabungan yang maha sakti antara kedua
macam ilmu tersebut.",

Dibawahnya terukir beberapa kata lagi:

"Tulisan ini dibuat oleh ahli ukir nomor: WAHID dikolong langit Toan Leng kaisar kesebelas negeri Tayli".

Selesai membaca tulisan tersebut, sianak muda she Pek ini kembali berpikir didalam hatinya:

"Aaaai..... sungguh tak nyana seorang kaisar dari sebuah negeri kecilpun tak bisa melepaskan diri dari keinginannya untuk memiliki sebuah nama kosong....
walau begitu, ditinjau dari ukirannya yang lembut dan halus, dia memang tidak malu disebut ahli ukir nomor wahid dikolong langit."

Dengan pusatkan seluruh perhatian ia segera awasi ketiga buah lukisan manusia itu dengan seksama, tampak diatas gambaran tadi terukir jelas garis garis serta

kerutan kerutan lembut yang menandakan bagaimana cara mengerahkan tenaga, menghimpun tenaga serta melancarkan serangan.

Berada didasar telaga yang dingin, ingatannya jau lebih jernih daripada ada didaratan, hanya dipandang beberapa Kali ketiga buah lukisan tersebut telah hapal
diluar kepala.

Begitulah sambil memeluk pedangnya ia duduk kaku disitu, dalam benaknya terbayang terus ketiga buah lukisan tadi, dengan mengikuti garis garis dalam lukisan
tersebut dicobanya untuk melatih kepandaian tadi, namun dengan cepat ia temukan betapa dalam dan tukarnya untuk mempelajari ilmu Liat Yang Sin kang tembus
semakin kedalam semakin sulit dipahami hingga pada akhirnya ia tidak mengerti sama sekali.

Matanya segara dipejamkan rapat rapat, pikirnya:

"Waaaah.... sulit benar untuk mempelajari kepandaian ini, jikalau dalam sekali tarikan hawa murni aku harus menerjang tiga buah jalan darah sekaligus dan
harus pula segera kumpulkan kembali hawa murninya dipasar..... lama kelamaan urat nadiku bisa pecah dan mati konyol...."

Tetapi pada saat itulah seluruh urat nadi dalam tubuhnya telah membeku, satu satunya yang masih tersisa hanyalah sedikit hawa murni yang berkumpul di Tan
Thian atau pusar,

Ia tertawa getir, dalam hati pemuda ini mengerti bila dalam setengah jam kemudian tak ada bantuan maka hawa murninya itu akan buyar dan jiwanya akan
melayang.

Menghadapi bayangan maut yang setiap saat mengancam keselamatannya, ia peluk pedang Si Jiet Sin-kiamnya erat2. mutiara psda gagang senjata ditekan diatas
lambungnya agar daerah sekitar puear terasa hangat dan nyaman.

Sambil membelai pedang mustikanya Ia menghela napas panjang, pikirnya didalam hati.

"Beginilah manusia yang hidup dikolong langit, terhadap benda yang ada dikolong langit terlalu sayang dan terlalu banyak meninggalkan kenangan, walaupun
begitu apa gunanya kalau benda tadi dipegangnya kencang2.

Ia tertawa sedih, pikirnya lebih jauh :

"Berhadapan dengan tantangan maut siapa yang bisa melampaui nasib yang telah ditetapkan dan menangkan suatu kematian? siapa pula yang bisa membawa
kehidupannya menuju kealam baka."

Memandang aliran didasar telaga yang perlahan2 bergerak, hatinya bergetar keras.

"Manutia dikolong langit ada siapa yang bisa menyerupai diriku, sambil memeluk benda mustika menikmati pemandangan aneh didasar telaga, bahkan aku berhasil
mendapatkan pula pelajaren sakti, pedang mustika... kenapa aku harus tunduk begitu saja dengan kematian? sekalipun nasibku memang ditakdirkan demikian,
kenapa aku harus melepaskan setiap kesempatan untuk hidup yang kumiliki?"

Dengan cepat ia mengambil keputusan daiam hati kecilnya.

"Bagaimanapun juga, sebelum ajalku tiba, aku harus menguasai lebih dahulu ketiga macam lukisan tersebut. perduli Thay Yang Sam Si dapat digunakan untuk
mengusir hawa dingin atau tidak, akan kucoba terus hingga detik yang terakhir, aku tidak mau membuang setiap kesempatan untuk hidup yang kumiliki."

Maka ia segera pejamkan matanya dan mulai berlatih sesuai dengan petunjuk lukisan pertama.

Suasasa hening... sunyi... lama dan lama sekali. akhirnya Pek la Hoei buka matanya, sekilas rasa kecewa.... putus asa... terlintas diatas wajahnya.

Ia mendongak memandang air telaga yang hijau, dengan rasa sedih gumamnya:

"Aaaai..... hari sudah terang tanah, kesempatan beberapa jam telah kubuang dengan percuma."

Haruslah dikelabui sim-hoat dari lukisan itu sama sekali berbeda dengan cara orang Tionggoan mempelajari sim-hoat tenaga dalamnya, apalagi dengan aliran
Tiam-cong yang dipelajarinya, oleh sebab itu walaupun Pek In Hoei telah berlatih satu jam lamanya, ia belum berhasil juga mengerahkan hawa murninya mengikuti
petunjuk yang aneh dan kukoay dari ajaran itu.

Dengan mulut membungkam ia tatap air telaga yang hijau, pikirnya :

„Sungguh tak kunyana dasar telaga begini tenang, begini indah dan menarik bagaikan dalam alam impian..."

Tiba tiba ia teringat kembali akan satu masalah, dengan hati sangsi pikirnya lebih jauh:

"Eeei.... kenapa di dasar telega tidak nampak seekor ikanpan yang berenang kian kemari?"

Namun dengen ccpai ia berhasil mendapatkan jawabannya, segerompok ikan kecil berwarna putih berenang lewat didepannya.

Ikan ikan kecil itu mempunyai sisik berwarna putih keperak perakan, kepalanya lancip dan badannya sempit lagi panjang, ekornya halus lagi lembut seakan2
gemas tapi yang bergerak dalam air.

Dengan bati kaget sianak muda itu membatin:

"Sungguh tak nyana didalam telaga yang dingin bagaikan salju dan penuh dengan tekanan air yang kuat bisa terdapat jenis ikan yang begitu aneh. ikan2 itu
sempit dan panjang bagaikan tali namun ia bisa bergerak kian kemari tanpa mati terkena tekanan air yang berat, sungguh merupakan suatu keajaiban...
seandainya mereka tidak memiliki badan yang sempit den panjang serta bisa mengimbangi godakan ombak yang berat.

Tiba tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, sekujur tubuhnya segera gemetar keras.

"Aaah, kenapa aku luapa.... bukankah dia bergerak ikuti aliran ombak tersebut?"

Setelah menyadari bahwa ia berbasil memecahkan kunci penting untuk mempelajari ilmu Tay Yang dengan hati penuh

kegirangan bisiknya didalam hati:

"Asal kulupakan semua pelajaran Sim-Hoat yang pernah kupelajari. bukankah otakku akan bersih bagaikan selembar kertas putih? mau diberi Warna apapun bisa
tertera dengan gampang...

Maka Pek In Hoei segera buang semua pikirannya dari dalam benak dan pusatkan segenap semangt serta kemampuannya untuk mempelajari ilmu Tay Yang Sam Sih.

Entah berapa saat sudah lewat, wajahnya yang pucat makin lama berubah semakin merah, asap putih yang tipis perlahan2 menyebar dari batok kepalanya.

Sepasang kakinya yang kaku kini bisa digerakkan kembali, maka dari berbaring pemuda itupun bisa duduk bersila.

Kabut putih kian lama berkumpul kiam memebal, seluruh badannya hampir boleh dibilang terbungkus rapat,

Mendadak.....

Ia mendengus rendah, sepasang lengannya menyapu kesamping, kabut putih disekeliling tubuhnya berubah jadi butiran air dan menyebar kemana mana.

Hawa murni yang berada dalam tubuhnya dari jalan darah Wie Liu segera menerjang jalan darah Ming boen, Gi Kiong dan langsung mendesak masuk kedalam Ihian To
Hiat.

Mendadak... mulutnya bergetar keras, bagaikan ledakan guntur menggoncangkan air dalam telaga,

Segumpal hawa panas muncul dari Tan Thian laksana kilat menyebar keseluruh badan dan mengisi setiap jalan darahnya.

Wajah Pek In Hoei berubah jadi merah membara, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar dari jidatnya, begitu panas hawa murni yang mengalir dalam
tubuhnya membuat tulang terasa dipanggang di bawah api yang berkobar kobar

Suatu tekanan hawa dalam tubuhnya membuat kulit serta dagingnya seperti merekah dan hangus. dengan penuh kesakitan ia meraung keras kemudian loacat bangun.

Sepasang telapaknya diayun kemuka, tangan yang putih halus dalam sekejap mata berubah jadi marah membara, serentetan cahaya merah menyambar lewat air telaga
menggulung dahsyat dan menggetar bagaikan dilanda gempa bumi.

Bumi bergoyang air te!aga mengguncang dahsyat, seakan2 bumi akan kiamat.... permukaan tanah dimana terkena hantaman tersebut seketika berubah jadi hitam
hangus.

Dengan pandangan tertegun Pek In Hoei memandang ombak telaga yang menggulung daksyat dialas kepalanya, ia tak mengerti genangan tersebut diakibatkan karena
pukulan "Yang Kong Bu Cau" atau cahaya Sang Surya Bersinar terang atau bukan.

Ia tidak percaya bila dalam waktu yang amat singkat bukan saja ia berhasil mempelajari tiga jurus ilmu Sang Surya bersinar dari Liat Yang Sin kang bahkan
dapat pula mengusir hawa dingin yang telah membekukan tubuhnya, dari rasa takut menghadapi maut ia jadi kegirangan setengah mati.

Untuk sesaat ia berdiri tertegun ditempat itu, ia lupa kalau tubuhnya masih berada didasar telaga Lok Gwat Leng

"Aaaai...!" mendadak suara helaan napas yang amat sedih berkumandang datang dari sisinya.

Pek In Hoei terperanjat, dengan cepat ia berpikir:

"Aku tidak pernah menghela napas panjang darimana datangnya helaan napas yang begitu berat dan penuh kepedihan Itu?".

Pedang Si Jiet Sin Kiam dicekalnya kencang-kencang, dengan wajah penuh rasa terkejut ia memandang keatas tanah, dimana ia jumpai tanah lumpur yang basah
telah berubah jadi hitam. bahkan batupun hangus seakan akan baru saja terjadi kebakaran. Ia tidak akan menyangka kalau ilmu Liat

Sin kang yang mengutamakan hawa Yang kang berhasil ia pelajari dengan begitu cepat kerena saat itu badannya berada di dasar telaga Lok Gwat Ouw yang
dinginnya luar biasa.

Disaat ia masih terkejut dan diliputi rasa heran itulah, suara helaan napas panjang yang berat dan sedih tadi berkumandang kembali diikuti suara beradunya
rantai besi dari dasar tanah.

Dalam keadaan yang segar, sekarang ia berani memastikan bila helaan napas serta suara beradunya rantai besi itu benar benar muncul dari dasar tanah.

Dibalik kesemuanya ini tentu ada hal yang tidak beres, kalau tidak mengapa tiang batu itu bisa berdiri tegak didasar telaga bagaikan sebilah pedang?".

Ditelitinya keadaan sekeliling tempat itu dengan seksama, didasar telaga kecuali ganggang serta batu cadas tidak tampak ada tiang batu setinggi tujuh depa
macam itu lagi.

Maka segera bentaknya keras keras :

"Siapa yang menghela napas dibawah?"

Serentetan suara beradunya rantai besi berkumandang nyaring diikuti seruan kaget seseorang dengan nada yang serak dan berat.

Sekarang Pek In Hoei semakin yakin kalau tiang batu itu jauh menembusi dasar telaga, dan didasar telaga tentu ada guanya.

Sambil mencekal pedangnya kencang kencang ia salurkan hawa murninya keujung senjata, setelah itu ia gurat satu tiang batu besar tadi.

Cahaya pedang berkilat, tiang batu tadi sebatas tanah terpapas putus jadi dua bagian dan terlihatlah dasar daripada tiang tadi.

Suara beradunya rantai kedengaran semakin nyata, seakan akan suara itu muncul didepan mata. Serentetan suara manusia yang serak dan berat dengan penuh rasa
kaget berseru ;

"Siapa yang tenggelam didasar telaga Lok Gwat Ouw? jangan sekali kali kau patahkan tiang batu itu."

"Siapa kau ?" seru Pek In Hoei temaViu kaget. "Kenapa kau berada didasar telaga?".

Orang yang ada didasar tanah itu rupanya tidak menyangka kalau ucapan, lawan bisa terdengar begitu jelas, ia merandek sejenak kemudian menjawab:

"Apakah air dalam telaga sudah kering cepat beritahu kepadaku apakah air telaga telah mengering?".

"Apakah didasar situ tidak ada tanah kering ? Hey, apa yang sedang kau kerjakan disitu ?".

"kalau air telaga belum mengering, siapa yang dapat berdiri didasar telaga?" kembali orang itu berteriak teriak.

Pak In Hoei tidak menggubris ucapannya lagi, ia maju satu langkah kedepan, kakinya menginjak tanah keras keras kemudian dengan sekuat tenaga ditendangnya
keatas tiang tersebut.

"Kraaaak......!" sungguh hebat tenaga himpunan yang disalurkan pemuda she Pek pada kakinya, diiringi suara yang amat nyaring tiang batu itu patah jadi dua
bagian lumpur disekitar situ jadi gugur dan muncullah sebuah lubang besar.

Pek In Hoei tidak ambil pusing siapakah penghuni gua itu, sambil mencekal pedang pusakanya ia loncat masuk kedalam gua tadi.

Mulai mulai air masih memenuhi gua tadi. namun semakin bergerak kedepan permukaan tanah kian lama kian meninggi hingga akhirnya muncullah sianak muda to dari
permukaan air.

Dihadapannya sekarang terbentang satu lorong yang amat panjang, suasana diliputi gelap gulita, batu cadas berserakan dimana mana . setelah berputar satu
lingkaran tibalah dia disebuah ruangan, disana terdapat seorang manusia aneh berambut panjang sedang memandang kearahnya dengan pandangan terperanjat.

Pek In Hoei sendiripun terkejut ketika berjumpa dengan orang itu, pedangnya segera dilintangkan didepan dada siap menghadapi segala kemungkinan ynng tidak
diharapkan,

Manusia aneh itu mengenakan baju warna hitam yang telah koyak koyak tidak karuan, sepasang tangan serta kakinya diborgol deogan rantai besi, sementara ujung
rantainya terikat pada sebuah tiang batu yang sangat kuat, sehingga mengingatkan anjing kita yang sedang dirantai didepan rumah,

Pek in Hoei tarik napas daiam dalam, ia merasa hawa dalam gua itu sangat apek dau lembab, membuat dada jadi sesak dan perut jadi mual.

"Siapa kau ?" setelah hening sejenak, ia menegur dengan sepasang alis berkerut, "Kenapa kau dikurung dalam gua didasar telaga ini ? siapa yang mengurung
dirimu ?"

Sepasang mata manusia aneh itu menatap wajah Pek In Hoei tajam tajam, wajahnya masih menampilkan rasa kaget dan tercengang yang tebal, setelah membungkam
beberapa saat lamanya ia mulai jadi tenang, bibirnya bergetar keras dan meluncurlah beberapa kata:

:Siapakah kau?"

Bersama dengan selesainya ucapan tadi, darah segar muncrat keluar dari mulutnya.

Pek in Hoei kerutkan alisnya, dengan pandangan minta maaf dia melirik sekejap rantai besi yang mambelenggu tubuh orang itu, sedang dalam hati pikirnya:

"Entah orang ini telah melanggar dosa apa, ternyata badannya dirantai dengan rantai besi sebesar itu dan dikurung dalam gua batu selembab ini, tentu
disebabkan aku mematahkan tiang batu tersebut barusan mengakibatkan dia tarluka."

Maka dengan suara lirih segera ujarnya:

"Maaf... aku benar benar tidak tahu kalau kau terikat diatas tiang batu itu...?"

Manusia aneh itu tidak menggubris ucapan Pek In Hoei, sepasang matanya menatap pedang penghancur sang surya tak berkedip, diantara sinar matanya jelas
memancarkan suatu keinginan yang membara.

Pek in Hoei bukanlah manusia goblok begitu melihat keadaan lawan ia lantas dapat menebak keinginan orang itu yang mengharapkan dirinya bisa mematahkan rantai
besi tadi dengan pedangnya.

Sskilas cahaya merah berkelebat lewat, Traug.... diiringi letupan bunga api, ramai besi yaug kasar dan kuat tadi segera kutung jadi dua bagian dan rontok
keatas tanah.

Melihat rantainya telah putus napas manusia aneh itu memburu keras, dari tenggorokannya perdengarkan suara raungan lirih yang serak dan berat, sepasang
lengannya diayun kesana kemari bagaikan orang gila.

"Hoa Pek Tuo... Hoa Pek Tuo..." serunya sambil tertawa kalap... Kau tak akan berhasil membelenggu diriku lagi!"

"Siapa kau?" kembali Pek In Hoei menegur. "Mengapa Hoa Pek Too mengurung dirimu dalam gua batu ini?".

Manusia aneh itu tidak mengubris ucapan sianak muda she Pek ini, bagaikan setengah gila ia lari menuju kearah lorong.

Sekali lagi Pak In Hoei berteriak memanggil. orang itu merandek dengan hati sangsi, namun akhirnya dengan terhoyong hoyoag dia lari balik kehadapannya.

Dengan sekujur badan gemetar keras, ia tatap wajah Pek In Hoei tajam tajam, bibirnya gemetar serunya:

"Orang muda terima kasih atas bantuanmu?"

Kembali dari mulutnya muntahkan darah segar, sepasang tangannya menekan dada kencang kencang, setelah menjerit badannya roboh kembali keatas tanah.

Menyaksikan keadaan orang itu Pek In Hoei berseru tertahan, buru buru dia masukkan pedangnya kedalam sarung, lalu berjongkok dan memasang bangun manusia aneh
tadi seraya bertanya :

"Kenapa kau ?"

Manusia aneh itu tertawa sedih.

"Selama dua puluh tahun aku terkurung didalam gua yang gelap, lembab dan apek seperti ini, tiada harapan lagi bagiku untuk berlari keluar, dengan badan yang
diborgol dengan rantai besi! ini paling jauh hanya satu tombak aku bisa mancangkan, setiap hari aku hanya mengharap harapkan kedatangan orang yang mengirim
nasi begitu."

"Selama ini kau terkurung disini. apakah sama sekali tak ada kesempatan bagimu untuk meloloskan diri...?"

Napas orang aneh itu sedikit memburu, dengan suara gemetar jawabnya.

"Semua urat serta otot2 kaki dan tanganku telah dipotong, tiga lembar urat nadiku sudah disayat2 lagi pula dibelenggu diatas tiang batu yang begitu kuat,
seandainya kupatahkan tiang batu itu dengan kekuatanku sendiri, maka kemungkinan besar dinding gua ini bakal bobol dan air telaga akan menenggelamkan diriku,
apa gunanya aku berbuat hal yang tidak menguntungkan?"

Sekujur badannya gemetar keras, gumamnya seorang diri :

"Hoa Pek Tuo, kau benar2 berhati keji. kau benar2 tidak memberi kesempatan hidup bagi diriku..."

Mendadak ia cengkeram lengan kanan Pek In Hoei, kemudian dengan suara serak sambungnya.

"Aku hendak minta pertolonganmu untuk mambunuh seseorang, untuk bantuanmu itu aku pasti akan memberi balas jasa kepadamu."

Ucapan ini membuat Pek In Hoei jadi kebingungan, ia tidak menyangka kalau manusia aneh tersebut bisa mengucapkan kata kata seperti itu, setelah sangsi
sebentar katanya:

"Aku..... kepandaianku sudah terlalu banyak."

"Aku mohon kepadamu." jerit orang aneh tadi dengan menahan penderitaan.

Dari sinar matanya yang memancarkan permohonan serta biji matanya yang mula2 pudar seakan akan manusia yang hampir mendekati ajalnya, timbul rasa kasiban
dalam hati pemuda kita, terpaksa ia mengangguk.

"Baiklah, kukabulkan permintaanmu."

"Aku minta kau mewakili diriku untuk membuilah Hoa Pek Tuo..."

"Hoa Pek Tuo?" bayangan kakek tua yang sedang duduk bersila didepan bangunan air segera terbayang didepan matanya. "Kenapa aku harus membinasakan dirinya?"

"Membasmi bibit bencana bagi dunia persilatan, dan memberi kehidupan bagi para jago kang ouw".

"Apa maksud ucapan itu?".

Orang aneh itu membuka mulutnya lebar lebar namun tak sepatah ketapun yang meluncur keluar, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya;

Pek In Hoei terperanjat, ia tarik napas panjang panjang, telapak kirinya segera ditempelkan keatas lambung orang itu dan salurkan hawa murninya melalui Tan
Thian.

Mendapat bantuan tenaga dari luar, sekujur badan manusia aneh itu gemetar keras, semangatnya segera bangkit lagi, dan katanya:

"Karena dia sudah bersongkel dengan Cia Ku Sia Mo si iblis sakti berkaki telanjang dari seng Sut Hay, Kioe Boen Teh Sin Wu si Dukan sakti berwajah seram dari
Lam Ciang serta Ay Sian Pouw sat si malaikat suci berbadan cebol dari negeri Thian Tok untuk bersama2 merampas daratan Tionggoan dari tangan orang orang
Bulim kemudian membagi baginya menjadi daerah kekuasaan mareka."

Belum pernah Pek In Hoei mendengar beberapa nama orang sakti itu, ia melengak dan segera bertanya : "Bagaimana kalau orarg orang itu dibandingkan dengan tiga
dewa dari luar lautan ? apakah....."

"Tiga dewa dari luar lautan?" sekilas rasa girang berkelebat diatas wajah manusia sneh itu. "Apakah kau adalah anak murid dari tiga orang dewa sakti itu?"

Dengan hati tercergang Pek In Hoei menggeleng.

"Bukan. aku adalah anak murid partai Tiam cong".

Air muka manusia aneh itu segera berubah bebat, darah panas bergolak dalam dadanya dan kembali ia memuntahkan darah segar.

Melihat keadaan orang Itu kian lama makin bertambah parah:, muramlah wajah pemuda kita, dengan cepat ia tempelkan telapak kanannya keatas jalan darah "Ming
Boen Hiat" dipinggang orang itu, hawa murninya segera disalurkan keluar dan beru aba mengendalikan golakan bawa darab dalam dadanya.

Namun sayang tiga urat urat Im Mehnya telah disayat orang sampai putus, setelah mengalami golakan batin yang amat besar hawa darah yeng bergolak sukar untuk
dikendalikan lagi, hawa murni yang disalurkan dari luar segera tercerai berai begitu tiba didada, jelas jiwanya sudah tiada harapan untuk diselamatkan lagi.

Sepasang alis Pek In Hoei segera berkerut kencang, lima jarinya bekerja cepat, dalam sekejap mata dua belas buah jalan darah penting ditubuh manusia aneh itu
telah ditotok, dengan susah payah dia berusaha untuk mengumpulkan hawa murni yang telah buyar itu.

Sayang usahanya sia sia belaka, kendati segala kemampuan serta tenaganya telah dukerahkan, namun hawa murni yang telah jadi lemah dan tinggal satu satunya
itu sukar dikumpulkan.

Ia seka keringat yang membasahi wajahnya. tarik napas panjang panjang dan dengan wajah sedih menundukkan kepalanya.

Hawa murni yang disalurkan kedalam tubuhnya pun sedikit demi sedikit ditarik kembali, dalam keadaan seperti ini percuma berusaha melindungi detak jantungnya
belaka agar jangan sampai putus.

"Apakah partai Tiam Cong dalam keadaan baik baik?" tanya orang aneh itu dengan suara serak.

Pek In Hoei tertawa sedih.

"Apakah cianpwee kenal dengan anak murid partai Tiam cong?"

"Aaah..... kejadian masa lampau telah berlalu bagaikan asap yang buyar diudara, lebih baik tak usah diungkap kembali".

Ia tarik napas panjang panjang setelah meronta ujarnya lagi:

"Waktu yang ksmiliki sudah tidak banyak lagi, sekarang juga akan kuberitahu kau semuanya kepadamu."

Napasnya memburu, dengan tersengal sengal ia sambungnya lebih jauh.

"Kepandaian yang paling kuandalkan adalah ilmu menyaru diri, sering kali aku muncul didalam dunia persilatan dengan Pelbagai macam corak serta kedudukan,
oleh karena itu orang orang sebut diriku sebagai Cian Hoan Lang Koen atau silelaki ganteng berwajah seribu. Disebabkan oleh kehebatanku inilah aku bisa
muncul dan berada dalam kalangan yang berbeda, mengikuti rapat serta persidangan orang lain yang sedang merencanakan siasat busuk untuk mencelakai orang."

Sekilas warna merah menghiasi wajahnya yaag kusut, setelah mengatur napasnya sejenak ia melanjutkan :

"Dua puluh tahun berselang, ketika aku berada dipuncak Mong-Yong Hong digunung Hoa-san dengan tanpa sengaja telah berjumpa dengan Cia Ku Sin Mo si iblis
sakti berkaki telanjang dari laut Seng Sut-Pay bersama istrinya Pek Giok Jien Mo iblis khiem kumala hijau. Waktu itu dia sedang berlatih main khiem diatas
gunung, setiap pagi burung burung yang ada disekitar sana esma sama beterbangan kepuncak sana untuk mendengarkan irama khiemnya yang merdu dan menawan hati.

"Benarkah dikolong langit terdapat kepandaian main khiem yang begitu tinggi dan lihay ?" pikir Pek in Hoei dengan alis berkerut. "Entah bagaimanakah
permainan khiemnya kalau dibandingkan dengan dewi Khiem bertangan sembilan Kim Ie Eng? siapa yang lebih unggul diantara mereka?"

Ia tidak tahu kalau iblis Khiem kumala adalah guru dari Kim
In Eng. hanya saja sang garu suka menggunakan kepandaian permainan khiemnya untuk orang, sedang sang murid

mencampur adukkan perasaan cintanya kedalam irama khiemnya antara kedua orang itu memperoleh julukan yang bertentangan satu sama lain yaitu si iblis khiem
serta si dewi khiem,

Terdengar Cian Hoa Long koen melanjutkan kembali kata2nya:

"pada waktu itu aku merasa heran dan tercengang, sebab irama khiem yang bisa menjinakan kawanan burung sudah pasti bukan irama khiem biasa yang bisa dilatih
oleh manusia biasa apalagi didaratan Tionggoan belum pernah ada orang yang berhasil mencapai tingkat begitu tinggi, maka dari itu aku lantas teringat akan
diri si iblis Khiem kumala hijau dari laut Seng Sut Hay."

"Waktu itu belum sampai seperminum teh lamanya irama khiem itu berkumandang diankasa, beribu ribu ekor burung telah memenuhi angkasa membuat udara jadi gelap
dan semua pepohonan dipenuhi oleh burung burung tadi..."

"Begitulah makin mendengar aku semakin terpengaruh akibatnya seluruh kesadaranku terpengaruh oleh irama khiem tadi hampir saja aku tak sanggup menguasai diri
dari bergerak menuju kehadapannya, bila mana waktu itu aku sampai munculkan diri niscaya dia akan bunuh diriku sampai mati."
Pek In Hoei terbelalak, ia bungkam dalam seribu bahasa sementara otaknya membayangkan betapa ngerinya kalau seluruh puncak sebuah bukit dipenuhi dengan
beribu ribu ekor burung.

Cian Hong long Koen pejamkan matanya sejenak dan meneruskan.

"Untung disaat yang paling kritis itulah dari tengah udara berkumandang suara suitan panjang yang amat nyaring dimana irama khiem saling lembut dan merdu
tadi seketika terdesak, akupun segera sadar kembali dari lamurnya yang hampir menghampiri diriku kelembah kehancuran."

"Suara suitan itu nyaring laksana guntur membelah bumi disiang hari bolong, suaranya bergema diseluruh penjuru menggetarkan semua bukit dan mengagetkan
burung burung yang telah memenuhi bukit dan suasana segera jadi kacau, suara burung yang telah memenuhi bukit tadi bergema memusnahkan kesunyian.

"Melihat kegembiraannya diganggu orang dengan wajah penuh kegusaran si iblis khiem kumala hijau angkat kepalanya memandang empat penjuru, saat itulah dari
tengah udara malayang datang sesosok bayangan manusia, munculnya bayangan Jadi seolah olah seekor burung raksasa yang terbang diiringi beratus ratus ekor
burung, dalam waktu singkat dia telah tiba dipuncak Mong Yong Hong."

"Apakah orang itu adalah si iblis sakti berkaki telanjang dari laut Seng Sut Hay?" sela Pek In Hoei,

Dsngan napas memburu Cian Hoan Long koen mengangguk.

"Iblis sakti berkaki telanjang mempunyai kepala yang botak, tinggi badannya mencapai sembilan depa dan tidak memakai sepatu. Begitu tiba diatas puncak dia
lantas terbahak bahak aku mengerti betapa lihaynya sepasang iblis dari laut Seng Sut Hay ini, maka begitu melihat munculnya si iblis sakti berkaki telanjang
tubuhku semakin kusembunyikan dibalik sekumpulan, bergerak sedikitpun tidak berani.

"Hubungan antara suami istri sangat aneh sekali, begitu saling berjumpa segera meluncurlah kata kata makian yang sangat Kotor, Setelah cekcok mulut mereka
berduduk bermesraan, membicarakan urusan rumah tangga dan keadaan situasi didaratan Tionggoan."

Air mukanya berubah semakin merah, dengan penuh emosi katanya.

"Sejak menderita kekalahan didaratan Tionggoan pada enam puluh tabun berselang dan diusir balik kelaut Seng Sut Hay, sepasang suami istri ini segera
merencanakan usaha pembalasan dendam dengan menghubungi jago jago lihay disekitar perbatasan untuk bersama2 menghadapi tiga dewa dari luar lautan dan
menjajah dunia persilatan..."

"Tatkala aku mendapat tahu bahwasanya mereka telah bekerja sama dengan 8 dewa cebol dari negeri Thian Tok serta Tay Sauw Sin koen dari suku Oo can di
Mongolia, maka akupun lantas menarik kesimpulan pasti ada seseorang dibelakang layar yang merencanakan kesemua itu untuk membasmi semua partai besar".

Ia merondek sejenak, air mata jatuh berlinang2 membasahi wajahnya, sambil menahan isak tangis katanya.

“Tatkala aku mengetahui rencana keji tersebut betapa terkejutnya hatiku ketika itu, aku baru bersiap siap mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki untuk
menyelidiki siapakah orang yang mengatur rencana besar itu. Maka akupun menyusup kedalam perkampungan Tay Bie San Cung dan bercampur baur dengan mereka.
Disitu akupun berhasil mengetahui rencana busuk mereka yang lebih mendalam Tapi sayang pada saat aku hampir memahami sebagian besar dari rencana mereka, pada
saat itulah dalam dunia persilatan tiba-tiba tersiat berita yang mengatakan aku telah menjadi anak buah si dukun sakti berwajah seram dari Lan ciang dan
membunuh anak murid pelbagai partai besar.”

(Bersambung kejilid 13)


Jilid 13 : Racun dari Hua Pek Tuo

“MAKA ketika aku kembali keperguruan dan membeberkan kejadian ini kepada suhu, ciangbun suhu telah menurunkan perinlah untuk menangkap diriku serta menjatuhi
hukuman
mati kepadaku. Karena itulah begitu aku tiba digunung Tiam cong, mereka segara meringkus diriku. Untung engkohku dengan memandang hubungan persaudaraan
secara diam dia telah lepaskan diriku dari kurungan, maka dalam keadaan kecewa, putus asa dan gusar aku kembali
lagi keperkampungan Tay Bie San cung dengan harapan bisa membinasakan otak dari semua rencana pembasmian terhadap orang Bulim ini yaitu manusia latah Hoa Pek
Tuo"

"Jadi Cianpwee pun anak murid partai Tiam Cong ?" sela Pek In Hoei dengan hati terperanjat.

Dengan wajah penuh air mata silelaki tampan berwajah seribu gelengkan kepalanya.

"Sejak dulu! aku telah diusir dari perguruan, aku telah bukan menjadi anak murid partai Tiam Cong lagi."
Dia menghela napas panjang.

ketika aku telah kembali keperkempungan Tay Bie San cung, sebelum mendapat kesempatan untuk membinasakan Hoa Pek Tuo, mereka telah meracuni diriku lewat
santapan yang dihidangkan kepadaku. menanti aku sadar dari pingsan tubuhku telah dikurung ditempat ini. Selama tiga puluh tahun setiap detik setiap saat aku
berusaha mencari jalan keluar namun semua usahaku sia2 belaka, sebab aku tahu bahwa diluar dinding gua ini merupakan air telaga." sangat dingin, asal
kupatahkan ruang itu maka tubuhku akan kedinginan dan mati kutu".

Air mata yaog mengalir keluar semakin deras terusnya :

"Hoa Pek Tuo adalah manusia licik yang puava banyak akal, untung dengan adanya peristiwaku maka terpaksa dia harus bekerja dengan- hati hati lagi, rencana
pembasmian umat Bulim didaratan Tioinggoan pun telah diundurkan lebih dari dua puluh tahun.

"Aaaai.. tetapi aku "

Pek In Hoei ikut terharu oleb pengalaman pahit yang dialami Cian Huan Lang koen demi menyelamatkan umat Bulim dari kehancuran tanpa terasa airmata jatuh
berlinang membasahi pipinya, sambil menggigit bibir ujarnya :
"Cianpwee, perduli bagaimanakah pandangan semua orang dikolong langit terhadap dirimn, perduli kau pernah diusir dari perguruan Tiamcong aku dapat memahami
kesulitanmu. aku pasti akan umumkan jasa jasamu yang tak ternilai besarnya ini kepada semua orang dijagad, agar orang orang Bulim dikolong langit memuji
dirimu dan menyanjung dirimu."

Lelaki tampan berwajah seribu menghela napas panjang.

Sejak pertama kali aku berjumpa dengan dirimu, aku lantas tahu bahwa hanya kau seorang yang sanggup melenyapkan bencana besar ini, pedang Sie Jiet Kiam yang
kau cekal sekarang bukan lain adalah pedang milik suhengku yang lenyap sewaktu ada digunung Hoa-san, dan kini kau berhasil mendapatkannya kembali, dlkemudian
hari kau pasti akan berhasil menjabat kedudukan
ciangbunjien dari partai Tiam cong " Susiok couw partai
Tiam cong telah dibasmi orang hingga hancur berantakan." bisik Pek In Hoei sedih.

"Apa? sungguhkah ucapanmu itu?" Teriak Cian Hoan Long koen dengan mata melotot besar, darah segar muncrat keluar dari mulutnya.

Pek In Hoei kaget setengah mati ketika menyaksikan sikap susiok couwnya yang penuh diliputi emosi ini, hawa murni yang disalurkan lewat tangan kanannya
hampir tak sanggup menguasai golakan hawa darah didalam tubuhnya.
Melihat jantungnya berdebar semakin keras dan telah menunjukkan tanda tanda hendak mati, dengan cepat ia membentak keras:

"Hei kalau kau tidak menceritakan latar belakang
kejadian ini, mana mungkin aku bisa balaskan dendam sakit hatimu? cepat tenangkan hatimu...."

Sekujur badan lelaki tampan berwajah seribu gemetar keras, seakan akan telah bartemu dengan malaikat ia tarik napas dalam dalam.

"Aku pasti akan beritahukan seluruh latar belakang kejadian ini kepadamu, kalau tidak aku tak akan mati."

"Susiok couw, maafkanlah kekasaran cucu muridmu barusan."

Cian Hoa Lang koen mengangguk, giginya terkatup kencang. sambil menahan lelehan air mata yang membanjir keluar katanya:

"Dalam sepatuku ada sejilid kitab pelajaran bagaimana caranya menyaru muka, ambilah dan pelajarilah dengan seksama kemudian gunakanlah cara itu untnk
mengubah wajahmu dan berkelana didalam dunia persilatan, hanya dengan cara ini dendam sakit hatiku bisa terbalas dan semua usahamu bisa berjalan dengan
lancar."
"Cucu murid pasti akan munculkan diri didalam dunia persilatan sebagai Si Lelaki tampan berwajah seribu, dendam sakit hati susiok couw sedalam lautan pasti
akan kutuntut balas."

Cian Hoan Lang koen menghembuskan napas panjang.

"Hoa Pek Tuo adalah manusia yang cerdik dan mempunyai akal yang sangat banyak, bukan saja dia pandai ilmu pertabiban, ilmu racun, ilmu barisan ilmu jebakan
dan kepandaian mencari berita, orangnya juga licik, kejam dan sangat berbahaya, kalau berjumpa dengan dirinya kau harus bertindak dengan sangat hati hati."

Mendadak hati Pek Ia Hoei bergerak, ia teringat kembali akan keadaan didalam gua pada puncak gunung Hoa san, dimana semua jari sembilan ketua partai besar
serta Cia Ceng Gak sipedang sakti dari partai Tiam Cong ditemukan mati keracunan.

Didalam hati segera pikirnya:

"Mungkinkah mereka terjebak oleh siasat Hoa Pek Tuo yang licik dan mati keracunan? kalau tidak rencana apa lagi yang bisa berjalan dengan begitu rahasia dan
sempurna seperti itu hingga mengakibatkan ketua dari sembilan partai besar mati bersama sama ?".
Dengan hati bergidik segera serunya:

"Cucu muridpun terkena siasatnya yang licik hingga tercebur kedalam telaga Lok Gwat Oauw...?"

Cian Hoan Lang koen tidak memberi komentar atas ucapan si anak muda itu barusan, diapun tidak menanyakan apa sebabnya dia tidak mati oleh hawa dingin yang
luar biasa dalam air telaga itu, semua perhatian, tenaga maupun pikirannya telah di pusatkan jadi satu untuk memberitahukan seluruh peristiwa serta kejadian
yang diketahuinya pada masa lampau sebelum ajalnya tiba.

Dengan suara gemetar dan kurang jelas ia berkata kembali

"Seluruh tubuh Hoa Pek Tuo merupakon racun yang keji,
disamping ia pandai menjebak orang terjerumus kedalam
perangkapnya, diapun pandai ilmu pertabiban hingga dalam
dunia kangouw dia dikenal orang sebagai tabib tskti yang
suka menolong orang. setiap penyakit yeng diobatinya
pasti sembuh dengan cepat, maka nama harumnya
tersebar dimana mana menutupi kebusukan hati yang
jahat terkutuk itu

Berhubung wajahnya bersih dan penuh welas kasih, sikapnya ramah tamah dan berbudi mulia maka orang dikolong langit tidak nanti akan percaya kalau dia adalah
manusia paling keji dikolong langit. dialah olak daripada rencana pembunuhan terhadap umat Bulim.

Dengan lengannya yang kurus kering Cian Hoan Lang koen mencengkeram baju Pek In Hoei, teriaknya:

"Kau harus menggunakan akal serta kepintaranmu untuk membongkar kebusukan serta kejahatannya, agar setiap manusia dikolong langit tahu kalau dia adalah
manusia yang paling busuk didunia ini, kalau kau tidak berbuat demikian maka dengan tenagamu seorang tak nanti bisa melakukan banyak hal, ingat! ingatlah!
jangan sampai kau mengalami nasib seperti diriku."

Dengan air mata bercucuran Pek In Hoei mengangguk.

"Akan cucu murid ingat selalu pesan susiok couw ini, aku tidak akan mengbaikan nasehatmu dan bertindak seperti apa yang telah ditunjuk."

CIAN HOAN LANG KOEN menghembuskan napas panjang. "Hanya sayang aku tak dapat membantu dirimu, aku hampir mati."

Pek In Hoei tak dapat menahan air matanya yang mengalir keluar bagaikan bendungan yang bobol, ia bungkam dalam seribu bahasa dan tidak mengucapkan sepatah
katapun, sebab setelah mengucapkan kata kata sebanyak itu maka masa terang sebelum padam yang dialami Cian Hoan lang koenpun mencapai pada akhirnya, setelah
seluruh tenaga badannya musnah, jiwanyapun tak akan tertolong lagi.
"Setelah aku mati " kata lelaki tampan berwajah seribu
sambil pejamkan matanya. Janganlah kau bawa pergi mayatku, tenggelamkan saja kedasar telaga, sebab dengan demikian maka ada kemungkinan jejak lelaki tampan
berwajah seribu akan muncul kembali dalam dunia persilatan. Aaaai... selama tiga puluh tahun... "

Mendadak ia pentang matanya lebar lebar.

"Dapatkah kau berikan pedang mustika penghancur sang surya itu agar kulihat sejenak? sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah melihat mustika perguruan,
ooh betapa rindunya batiku."

Pek In Hoei tidak membantah, ia lepaskan pedangnya dan serahkan ketangan orang aneh itu, yang mana segera diterima oleh lelaki tampan berwajah seribu dengan
tangan gemetar.

Sambil membelai sarung pedang itu, kata Cian Hoan Lang koen dengan suara lirih,

"Setelah lenyap berpuluh puluh tahun lamanya sungguh beruntung pedang pusaka perguruan kita berhasil
ditemukan kembali, Aaaai teringat ketika aku masih
muda memandang pedang penghancur sang surya yang digantung diatas dinding kamar suhu, tak tahan ingin kulihatnya sebentar.
Mendadak ucapannya putus dan badannya terkulai kebawah.

Melihat keadaan itu Pek In Hoei berseru tertahan, dengan cepat dia meraba pernapasan orang tua itu, ternyata denyutan jantungnya telah berhenti dan jiwanya
telah melayang.

Air mata segera mengucur keluar dengan detilnya, dengan suara lirih bisiknya :

"Beristirahatlah dengan tenang, aku akan muncul kembali didalam dunia persilatan sebagai si lelaki tampan berwajah seribu, akan kugemparkan seluruh Bulim
dengan perbuatan perbuatan yang luar biasa."

Perlahan lahan ia letakkan jenasah Cian Hoan Lang koen keatas tanah, kemudian melepaskan sepatunya dan mengambil keluar Sejilid kitab yang disembunyikannya
disitu.

Kemudian setelah mengikat baik pedangnya, ia jatuhkan diri berlutut dihadapan jenasah susiok couwnya dan memberi hormat dengan penuh rasa iba, doanya:

"Sosiokcouw, beristirahatlah dengan tenang dialam baka, cucu murid pasti akan laksanakan perintahmu, Nah selamat tinggal."

Tiba tiba... dari ujung lorong sebelah dalam berkumandang datang suara genta yang amat lirih, walaupun perlahan sekali suaranya namun cukup mengejutkan hati
pemuda kita. ia segera berpaling, tampaklah cahaya apu muncul diujung lorong sebelah sana dan perlahan bergerak mendekat.

Dengan ai!s berkerut buru buru Pek in Hoei membesut air mata yang membasahi wajahnya, kemudian sambil membopong -jenasah Cian Hoan Lang koen mengundurkan
diri ketempat kegelapan.

Dsngan punggung menempel diatas dinding, ia awasi terus cahaya api yang kian lima kian mendekat, dengan cepatnya sesosok bayangan manusia telah muncul
disitu, ditangan kirinya orang itu membawa sebuah lampu lentera sedang tangan kanannya membawa sebuah pedang, wajahnya serius dan gerak geriknya sangat
berhati hati.

Meminjam sorotan cahaya lampu lentera yang menerangi kegelapan, Pek In Hoei dapat melihat raut wajah orang itu. Dia adalah seoraeg pemuda yang berwajah
ganteng. sepasang alisnya panjang melentik keatas hidungnya mancung dan gagah sekali.

Dalam hati segera pikirnya:

"Walaupun dia berwajah ganteng. namun sayang terlalu dingin dan ketus, seakan akan dalam pandangannya tak seorang, manusia dikolong langit yang dipandang
olehnya."

Sementara ia masih termenung, pemuda tadi telah tiba didepan tumpukan batu cadas.

"Aaah. dimana orangnya?" terdengar ia berseru kaget,

Tatkala dirasakan cahaya lampu lenteranya sacara tiba tiba berubah jadi redup dengan bati melengak ia mendongak segera matanya tertumbuk dengan sebutir
mutiara.

Pek Swie Coe yang menggeletak disana.

"Aaaai. mutiara Pek Swie Coe. Bukankah mutiara itu adalah mutiara Pek Swie Coe." serunya dengan rasa kaget.

"Tidak salah, mutiara itu adalah mutiara Pek Swie Coe."

Tanpa mengeluarkan ssdikit suarapun tahu tahu Pek In Hoei telah munculkan diri dari tempat persembunyiannya.

Orang itu terperanjat, dengan cepat ia loncat mundur satu langkah kebelakang sambil silangkan pedangnya didepan dada, siap menghadapi segala kemungkinan yang
tak diinginkan.

"Siapa?" hardiknya.

"Aku."

Ketika orang itu berhasil melihat jelas wajah Pek In Hoei yang tampan serta mengenakan kutang mustika pelindung badan yang memancarkan cahaya gemerlapan,
untuk sesaat ia dibikin tertegun dan berdiri melongo.

"Siapakah kau ?" tegur Pek In Hoei sambil tersenyum.

"Pak In Hoei... " jawab pemuda tadi dengan wajah dingin, ditatapnya pihak lawan dengan pandangan tajam.

"Apa? kau adalah sijago pedang berdarah dingin Pek In Hoei?" seru pemuda kita terperanjat.

Pemuda yang menamakan dirinya jago pedang berdarah dingin itu mengangguk sombong.

"Tidak salah." ia lirik sekejap Pek In Hoei lalu balik bertanya:

"Dan siapakah kau?"

"Sekarang, aku sendiripun tidak tahu siapakah sebenarnya diriku ini?"

"Apa maksud ucapanmu itu ?"
"Sebab namaku hanya satu tetapi sering kali digunakan orang lain uatuk gagah gagahan coba pikirlah, dalam keadaan seperti itu apakah aku bisa memahami
siapakah sebenarnya diriku?"

"Heeeee heeeeh heeeeh rupanya kau adalah
seorang kenamaan hingga ada orang yang memalsukan namamu untuk gagah gagahan.

"Heeeeh heeeeeh heeeeh sebenarnya aku hanya
seorang prajurit tanpa nama yeng tak dikenal oleh orang, kangouw. tetepi dalam hatiku benar benar merasa tercengang, kenapa dikolong langit bisa terdapat
menusia goblok yang memalsukan namaku untuk menjagoi kolong
langit? "
Air muka pemuda itu kontan berubah hebat.
"Kau sedang memaki siapa?" tegurnya.

"Aku sedang memaki orang yang telah menggunakan
namaku, kenapa sih? toh aku tidak lagi memaki dirimu?"
kemudian dengan wajah menunjukkan rasa tercengang
tambahnya. "Apakah kaupun seringkali menggunakan nama
orang lain "

"Hmmmmm... pandai benar kau bersandiwara

"Ooooh. cerdik benar kau hey pemuda ganteng aku memang pandai sekali bersandiwara!"

"Kau ingin merasakan sebuah tusukanku?" tanyanya dengan wajah meringis.

"Haaaaaah... haaaaaaa haaaaaa Pek In Hoei tertawa
terbahak bahak, ia maju selangkah kedepan. kebetukan sekali aku memang ingin mengetahui dengan dasar apa saudara menggunakan nama Pek in Hoei malang
melintang dalam dunia persilatan sehingga memperolej julukan sebagai sijago pedang berdarah dingin."

Orang itu bungkam dalam seribu bahasa.

Padangnya dibabat kemuka dan melancarkan sebuah serangan dengan jurus yang sangat aneh.

Merasakan datangnya ancaman Pek in Hoei geserkan kakinya menyingkir dua langkah kesamping lima jarinya dipentang dan segera menyambar jalan darah pek Jie
Hiat ditubuhnya.

Serangan ini datangnya cepat diluar dugaan dikala berganti jurus sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda apapun. terasa cahaya pedang menyambar lewat tahu
tahu ujung pedangnya telah mengancam diatas siku si anak muda itu.

Pek in Hoei tetkesiap, lengan kirinya buru buru ditekuk kebawah, jari tangannya secara tiba tiba menyebar kedepan menutul kcarah gagang pedang musuh.

Totokan jarinya barusan telah menggunakan Imu jari kim Kong cie yang ampuh dari partai Siauw lim. angin serangan menderu dero dengan hebatnya,

Triing dengan telak totokan tadi bersarang digagang
pedang lawan, membuat terlempar beberapa coen kesamping.

Melihat senjatanya disentil sampai mencelet, orang itu berseru kaget. buru buru pedangnya diobat ablikan keseluruh perjuru, dalam sekejap mata hawa pedang
melanda dahsyat cabaya tajam mengelilingi seluruh angkasa dan mengurung Pek [n Hoei ditengah kalangan,

"Hmm." jari serta telapak Pek In Hoei dilancarkan berbareng mengirim lima serangan berantai, setelah membendung ancaman musuh, sepasang telapaknya kembali
disodok kedepan dengan jurus "Lak hoo Mong Mong" atau Enam Berpadu dunia kosong, seluruh jalan maju pihak lawan segera terkunci.

"Hey, ilmu pedang apakah yang kau gunakan?" segera teriaknya dengan suara keras.

"Hmm." sambil bungkukan badan orang itu loncat kesamping, mendadak ujung pedangnya berputar dan menusuk dari samping. Inilah ilmu pedang Liuw sat Kiam Hoat
dari gunung pasir!"

"Liuw Sat Kiam hoat " tanya Pet In Hoei tertegun. "Jadi kau adalah anak murid partai Liauw sat Boen yang ada dilaut Seng sut hay?"

Ia tarik napas dalam dalam, kakinya dengan cepat mundur lima langkah, pergelangan diputar pedang mustika penghancur suryapun diloloskan dari sarungnya.

Dalam pada itu pemuda tadi sedang melancarkan tiga buah serangan berantai, jurus demi jurus ia mendesak terus kedepan, namun secara tiba tiba pandangannya
jadi

kabur. cahaya tajam disertai hawa pedang yang menggidikan hati tahu tahu mendesak tubuhnya.

Ia terkesiap, sambil tarik kembali pedangnya buru buru mengundurkan diri kebelakang, pedangnya diputar membentuk satu lingkaran. dengan sekuat tenaga
dicobannya untuk melepaskan diri dari pengaruh lawan yang kuat dan tiada bertepi itu.

Pek in Hoei mendengus dingin, ombak pedang menggulung kembali, dengan memakai jurus "Hoo Ek Si Jiet" atau Ho Ek memapah matahari ia serang lawannya.

Dalam sekejap mata cahaya tajam yang memancar keluar dari ujung pedangnya mencapai dua coen panjangnya, mengikuti gerakan tersebut ia babat senjata lawan
sehingga patah jadi beberapa bagian.

Setelah itu sambil tertawa tergelak, pedang Si Jiet Kiam menggulung dan menyapu kukungan pedang yang sedang berhamburan keatas tanah tadi segera hancur
berkeping keping.

Cahaya tajam menyebar ketengah udara bagaikan hujan gerimis dikala orang tadi sedang berdiri tertegun dengan hati kaget, pedangnya kembali menyapu kemuka
menyambar batok kepala lawan, kopiah yang dikenakan orang tadi segera terlepas,

Mendadak cahaya tajam sirap kembali, dan pedangnya telah disarungkan kembali dipinggangnya.

Tatkala ia mendongak kembali, tampaklah rambut orang itu panjang lagi hitam, bagaikan air terjun terurai diatas pundaknya.

"Aaaah kau kau adalah seorang wanita?" jeritnya
terperanjat.

Mimpipun Pek In Hoei tidak pernah menyangka kalau orang yang memalsukan namanya dan berkelana dalam dunia persilatan sehingga mendapatkan julukan sebagai
sijago pedang berdarah dingin bukan lain adalah seorang wanita, bahkan seorang gadis yang cantik jelita.

Dikala Pek in Hoei sedang menikmati kecantikan wajahnya dengan sinar mata tertegun gadis itu berseru tertahan kemudian sambil menutupi wajahnya putar badan
dan melarikan diri lorong tersebut.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benak si anak muda itu. bagaikan disambar petir disiang hari bolong ia memandang bayangan punggung gadis yang sedang
berlalu itu dengan mata mendelong, suatu bayangan yang serasa pernah dikenal muncut dalam matanya.

"Aaaaah. dia adalah Wie Chin Siang," akhirnya ia berseru
tertahan. "Hey Wie Chin Siang tunggu sebentar."

Suaranya memantul dalam lorong yang panjang itu, namun tak kedengaran suara jawaban dari gadis itu,

Dalam sekejap mata pelbagai persoalan yang memusingkan kepala memenuhi benaknya.

"Bukankah dia adalah putri kesayangan dari Gubernur? darimana bisa memiliki ilmu silat."

"Kenapa ia berkelana didalam dunia persilatan dengan memalsukan namaku?"

"Kenapa ia bisa muncul didalam perkampungan Tay Bie San
Cung dan muncul didalam lorong rahasia dibawah dasar
telaga?"

"Kenapa ia hendak mencari Cian Hoan Lanh Koen? dan darimana pula bisa tahu kalau aku terkurung disini?"

Pelbagai persoalan itu bagaikan benang ruwet menyelimuti benaknya, membuat ia bingung dan tidak habis mengerti.

Ia menghembuskan napas panjang, angkat kepalanya memandang mutiara Pek Swie Coe didinding gua dan akhirnya berkelebat keluar dari lorong itu.

Lorong tertebut amat panjang sekali, bukan saja gelap gulita bahkan lembab dan bau busuk sekali.

"Wie Chin Sang." teriak Pek In Hoei keras keras.

Suaranya memantul kembali dari tempat kejauhan kemudian bergema dan mengalun , tiada hentinya dalam lorong tadi.

Mendadak.. badannya yang sedang bergerak cepat itu merandek ditengah jalan kemudian miringkan badan dan menoleh kekanan.

Ternyata dari kedua belah dinding lorong yang gelap dan luasnya mencapai delapan depa itu memancarkan cahaya terang berwarna hijau, warna itulah yang membuat
si anak muda she Pek ini jadi melengak.

Ia tidak mengerti apa sebabnya dalam lorong yang panjang dan pada dinding bagian tanah dipelesi dengan bubuk belerang.

Ia tak bisa memecahkan teka teki ini namun ia bisa memahami sampai dimanakah kegunaan benda itu sebagai bangunan yang dibangun sendiri oleh Hoa Pek Tuo untuk
mengurung si lelaki tampan berwajah seribu, tentu dia sudah bikin persiapan persiapan seperlunya untuk mencegah orang Itu melarikan diri.

Dalam hati pikirnya:

"Entah bagaimana Wie Chin Siang bisa berlalu dari lorong
ini dengan gampang dan leluasa disekitar tempat ini tentu
ada lorong rahasia lain "

Ia tidak berhenti lebih lama lagi disitu, badannya bergerak dan segera lari menuju ketempat yang terang didepan sana.

Di kala ia sedang berderak itulah. ditemui di dinding lorong yang telah ditaburi dengan bubuk belerang itu menindak bergerak keatas akhinya kini miring
kesamping, samentara sebuah pintu batu muncul diujung lorong, dari balik pintu tadi memancar masuk cahaya yang amat terang.

Hatinya jadi girang. cepat cepat dia lari maju kedepan pintu batu tersebut.

Seluruh pintu batu itu tersebut dari batu granit, diantara keripan sinar posfor tampak empat huruf besar yang berwarna merah terpancang disana.

Pek In Hoei mendongak, terbaca olehnya tulisan itu berbunyi demikian.

"Jangan sentuh pintu ini."

Segera pikirnya:

"Entah benar tidak peringatan itu? apakah bencana aneh segera akan kutemui bila kusentuh pintu itu?".

Ia gigit bibirnya menahan emosi. kembali pikirnva lebih
jauh.

"Asalkan, pintu batu itu kutarik maka badannya dengan cepat dapat loncat keluar, sekalipun didalam loteng ini benar benar sudah dipasang alat rahasia yang
sangat lihay, rasanya tidak nanti bisa lukai badanku!",

Suatu keinginan yang meluap luap berkobar dalam dadanya membuat si anak m uda kita beberapa kali hendak membuka pintu baja itu, namun setiap kali pula ia
berhasil menahas keinginannya yang berkobar kobar tadi.

Walaupun begitu ingatan tersebut selalu berkecambuk dalam benaknya, baru saja ia mundur selangkah dengan hati sangsi kembali badannya maju satu langkah
kedepan.

"Apakah aku harus mengundurkan diri hanya disebabkan oleh empat huruf yang terpancang diatas pintu itu? kalau cuma h

karena soal kecil aku lantas lari, apa gunanya aku jadi
keturunan keluarga Pek yang gagah perkasa? buat apa aku
jadi seorang lelaki sejati yang berhati jantan? "

Secara tiba tiba ingatan itu berkelebat dalam benaknya, pemandangan tatkala ia digandeng oleh ayahnya berangkat kegunung Tiam cong pun segera terbayang
kembali didepan mata.

"Aku sama sekali tidak suka belajar silat tetapi sekarang aku telah terjerumus ke dalam kancah masalah dunia kangouw, sudah sepantasnya kalau aku harus
melupakan kesukaan serta ketidaksenangan diri pribadi!" gumamnya seorang diri, Ayah apa yang kulakukan sekarang semua

adalah demi dirimu, demi partai Tiam cong dan kini aku harus memikirkan pula bagi keselamatan seluruh umat Bu lim yang ada dikolong langit."

Ia merasa tanggung jawab yang berada dipundaknya kian lama kian bertambah berat, saking beratnya sampai dia harus bertindak dengan hati hati dalam menghadapi
segala persoalan, dia harus waspada dan teliti agar dirinya tidak sampai terluka lebih dahulu.

Sambil termenung ia tarik napas dalam dalam, telapak kanannya mendadak diulur kedepan tiap mendorong pintu
itu,

Tetapi baru sampai ditengah jalan, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

"Mungkinkah diatas piutu batu ini telah diolesi dengan racun keji dengan bubuk belirang itu sebagai kamuflase? tetapi karena takut orang tak berani meraba
bubuk belirang itu maka ditulisnya empat huruf besar itu untuk memancing rasa ingin menang bagi yang melihat hingga terjerumus kedalam perangkapnya ?"

Setelah berpikir demikian maka tungannyapun cepat cepat ditarik balik, pedang muitika pecghancur sang surya yang berada dipunggungnya dicabut keluar, dengan
memakai ujung senjata itulah ia siap membuka pintu batu itu.

Mendadak terdengar suara jeritan kaget
berkumandang datang dari belakang tububnya.
Dengan menengok ia menoleh kebelakang, terlihat olehnya entah sejak kapan Wie Chin Siang telah berdiri kurang lebih setombak dibelakangnya, wsktu itu ia
sedang menutupi mulutnya dengan tangan kanan dan memandang kearahnya dengan mata penuh rasa kaget.

"Ooooh, ternyata kau belum pergi dari sini." tegurnya dengan nada tercengang.

"jangan tarik pintu itu... " teriak gadis itu sambil menuding kearahnya.

"Ooouw. aku masih menduga karena urusan apakah sehingga membuat dia terperanjat dan kaget, kiranya dia takut aku

mendorong pintu batu ini." pikir Pek In Hoei, sambil tersenyum segera jengeknya:

"Apakah kau takut aku mendorong pintu besi itu sehingga membuat semua yang ada didalam perkampungan Tay bie San Chung pada tahu kalau dikolong langit masih
ada juga orang yang memalsukan nama Pek In Hoei...?"

Wie Chin Siang tidak menggubris sindiran sianak muda itu, ujarnya dengan wajah berkerut:

"jangan sekali kali kau sentuh pintu batu itu, kalau tidak maka selama lamanya kita tak akan bisa keluar lagi dari sini."

Pek in Hoei tertegun dari sikap serta wajahnya yang menunjukkan keseriusan ia yakin bahwasanya gadis itu bukan sedang berbohong, pedang sakti penghancur sang
surya yang teiah berada didalam celah pintu baru itupun segera dicabut keluar.

"Haaaah haaaaah haaaaah sungguh tak nyana kau
sebagai anak murid seng sut hay ternyata takut terkurung disini, sungguh menggelikan masa terhadap orang sendiripun mereka tega turun tangan keji.

Wie Chin Siang gigit bibitnya kencang kencang, dari wajahnya jelas terlihat bahwa ada meksud meninggalkan tempat itu.

"Suhuku berkata bahwa pintu batu itu merupakan kunci penggerak yang mengunakan selutuh alat rahasia dalam lorong ini, jangan sekali kali pintu itu disentuh
atau digeser. terdengar ia berkata.

"Siapakah suhumu itu? darimana dia bisa tahu akan rahasia lorong dalam perkampungan Tay bie San cung ini?".

"Sudah amat lama suhuku mencari dirimu nssi itu tidak tahu siapakah dia?"

"Siapakah suhumu itu ?" dengan tercengang dan tidak habis mengerti Pek in Hoei bertanya,

"Kenapa aku harus bcritahukan kepadamu ?",

Pek In Hoei tertegun, sebenarnya diapun ingin buka suara menegur gadis itu. apa sebabnya berkelana dalam dunia persilatan dengan menggunakan namanya, tatapi
sebelum ucapannya sempat diutarakan keluar, mendadak dari balik pintu gua itu berkumandang datang suara tertawa dingin yang seram dan mengerikan.

Sekalipun kalian hendak andalkan bantuan dewa atau malaikat, jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat."

"Siapa disitu?" hardik pemuda she Pek sambil berpaling.

Dari balik celah pintu batu munculah seorang kakek tua berbadan kurut kering dengan jenggot kambing menghiasi jenggotnya. ketika itu dia sedang memandang
kearah mereke berdua demgan wajah penuh nafsu membunuh.

"Tak seorang manusiapun dapat melarikan diri dari Lorong Pengurung naga ini." terdengar kakek itu menjengek dengan

suara seram Sekalipun kau tahu akan namaku juga percuma. tak ada artinya."
Ia bergeser kedapan empat langkah. mendadak telapak kanannya diangkat tinggi tinggi sehingga tampaklah kulit telapaknya perlahan lahan berubah jadi putih
keperak perakan.

Tatkala menyaksikan orang inipun menggunakan ilmu golok perontok rembulan yang sangat lihay, bahkan cahaya perak yang terpancar kelaur dari telakpak yang
jauh lebih cemerlang dan tajam daripada sewaktu Ku Loei yang menggunakan, hatinya bergetar keras, tanpa sadar serunya:

"Kau adalah sigolok perontok rembulan Ke Hong."

"Haaa haaaa haaaa... sedikitpun tidak salah, akulah Ke
Hong".

"Sungguh aneh sekali," diam diam Pek in Hoei berpikir. Bukankah Ke Hong adalah murid dari Ku Loei si Raiul Pembenci langit dari laut Seng Sut Hay? kenapa
ilmunya jauh melebihi suhunya sendiri?".

Desiran angin tajam berkelebat lewat disisi. tubuhnya, tahu tabu Wie Chia Siang telah loncat kesisi tubuhnya sambil bertanya dengan suara kaget

"Siapa yang ada disana?".

Pek In Hoei merasakan bau harum semerbak yang aneh berhembus lewat. ketika ia menoleh maka tampaklah Wie Chin Siang yang cantik dengan biji mata yang jeli
telah berdiri disisi tubuhnya, jantungnya kontan berdebar keras, beberapa saat kemudian dia baru menjawab serius:

"Sigolok perontok rembulan Ke Hong." Rupanya Ke Hong tidak menyangka kalau dalam gua itu masih ada orang lain mul mula ia tampak melengak diikuti segera
tertawa seram.

"Hemm tak kunyana orang yang hendak mengantar kematiaanya bukan hanya seorang saja

Ie meraung rendah, telapak tangannya dengan membawa desiran angin tajam disapu keatas pintu batu itu.

"Jangan biarkan dia mendorong pintu." jerit Wie Chin Siang dengan suara lengking

Pek In Hoei tertegun, menyaksikan wajahnya yang gelisah den penuh diliputi rasa ngeri dan takut, tanpa berpikir panjang ia membentak nyaring, pedangnya
bergetar dan segera mengirim satu tusukan kilat menutul celah celah diatas pintu,

Messs... pintu batu terhantam hingga berbunyi gemericikan perlahan lahan bergeser kesamping,

Pek in Hoei tidak menyangka kalau Ke hong mengundurkan diri eetelah melancarkan serangan tadi, dengan sendirinya tusukan pedsngnya segera mengenai sasaran
yang kosong.

Mendadak pintu batu itu terbentang lebar, ia tarik napas dalam dalam, badannya melengkung dan siap loncat keluar.

"Pek In Hoei... " tiba tiba Wie Chin Siang berteriak keras sambil menarik tangan kenannya." Kau tak boleh keluar."

Belum habis dia berkata, mendadak dari kedua belah dinding diluar pintu batu itu meluncur keluar dua baris tombak yang amat tajam, bagaikan pagar besi dengan
rapatnya saling menancap pada dinding dihadapanya,

Diam diam sianak muda itu bergidik setelah menyaksikan kekejian lawan, pikirnya :

"Seandainya tubuhku melayang keluar pintu ini dikala
terbuka tadi, tentu dadaku sudah berlubang tertusuk oleh
dua baris tombak yang amat tajam itu, kendati dengan
cara apapun rasanya sukar untuk menghindarkan diri "

Sementars itu Wie Chin Siang pun sedang memandang dua bsris tombak tajam diluar dinding batu dengan wajah termangu mangu, air mukanya mendadak berubah hebat
seakan akan teringat akan sesuatu sambil menarik tangan Pek In Hoei teriaknya,

"Cepat mundur kebelakang "
Sianak muda itu tidak bersiap sedia, kena ditarik kuda kudanya segera tergempur dan mundur selangkah kebelakang. Dengan alis berkerut ia segera menoleh

"Kau "

Namun ketika sinar matanya membentur alitnya yang tebal, hidungnya yang mancung, bibirnya yang kecil merekah serta biji matanya yang jeli dan memancarkan
rasa kaget itu, jantungnya kontan berdebar kerss, untuk beberapa saat lamanya sepatah katapun tak sanggup diutarakan keluar.

Karena tak terdengar susra sianak muda itu Wie Chin Siang segera mendongak, namun ketika ditemuinya sianak muda itu sedang memendang kearahnya dengan
terkesime, merah padam selembar wajahnya buru buru ia melengos kesamping.

"Nona...." Pek In Hoei merasa jantungnya berdebar semakin keras, hatinya terasa semakin tertarik dengan gadis ini hingga tanpa terasa ia memanggil.

Wie Chin Siang menoleh, kali ini wajahnya telah berubah serius, katanya:

"Hoa Pek Tuo telah memasang alat jebakan yang lihay
diatas pintu batu itu "
Belum selesai dia berkata terdengar suara gemerutukan yang nyaring menggema diangkasa, pintu batu yang sangat berat tadi seakan akan didorong oieh seseorang,
dengan cepatnya telah menutup kembali.

Setelah piatu tersebut menutup rapat dengan sendirinya, tiba tiba dari atas dinding batu diatas lorong tersebut membentang lebar sebuah lubang diikuti sebuah
lampu gantung terbuat dari tembaga kuning perlahan lahan dikerek kebawah seketika itu juga cahaya yang terang benderang menerangi seluruh ruangan.

"Aaah... lihat api itu..." tiba tiba Wie Chin Siang menjerit dengan wajah terkesiap.

"Aduuuh celaka." pikir Pek In Hoei dia sadar seandainya letupan api di dalam lampu gantung tembaga kuning yang diturunkan dari atas itu mencapai permukaan
bumi, maka bubuk belerang yang telah dipoleskan disekeliling dinding lorong itu pasti akan terbakar, jika demikian keadaannya niscaya dia akan mati
dipanggang hidup hidup dalam lorong tersebut.

Dengan cepat dia membentak keras, pedangnya diputar kencang kemudian menyambitnya kearah depan.

Sekilas cahaya pelang menyambar lewat laksana bintang yang meluncur diangkasa ...Creeeet... menghantam tembaga tadi dan menembusinya...

Sungguh hebat tenaga serangan yang terhimpun didalam sambitan pedang itu, seketika itu juga tembaga kuning tadi tersampuk miring kesamping, letupan api di
dalamnya beterbangan seakan akan mau terlempar keluar dari Mangkuk tembaga tersebut.

Pek In Hoei tarik napas dalam dalam, sepasang telapaknya sekuat tenaga dihantamkan kemuka dengan jurus "Yang-Kong Pau-Cau" atau Cahaya sang surya memancar
terang.

Dalam sekejap mata terlihatlah telapak tangannya yang putih seketika berubah jadi merah darah, segulung hawa panas yang sangat menyengat badan memancar
keluar dari tubuhnya, seketika itu juga suhu dalam lorong tersebut berubah jadi sangat panas.

Sungguh luar biasa dahsyatnya tiga jurus ilmu sakti Surya Kencananya ini, terdengar suara gemerincingan yang amat nyaring rantai baja yang menggantung
mangkuk tembaga tadi seketika merekah dan patah jadi beberapa bagian, mangkuk tembaga tadi terbakar hancur hingga meleleh dan menggumpal jadi satu, dengan
membawa pedang sakti penghancur sang suryanya rontok keatas tanah.

Selama hidup belum pernah Wie Chin Siang menyaksikan kepandaian silat yeng demikian saktinya, seketika itu juga air mukanya berubah hebat saking kagetnya,
sepasang matanya melotot bulat bulat sementara dengan mulut melongo diawasi telapak tangan sianak muda yang merah itu tanpa herkedip.

Pek In Hoei sendiripun berdiri kaku ditempat semula, diawasinya belahan mangkuk tembega yang sedang melayang kearah lorong kemudian perlahan lahan ia tarik
kembali sepasang telapaknya.

Bruuuk mangkuk tembaga itu terjatuh keatas tanah,
setitik gumpalan api meloncat keluar dari lelehan tembaga
tersebut dan seketika itu juga sekeliling tempat tadi
terjilat api dan berkobar dengan hebatnya

"Aduuuh celaka!" teriak Pek In Hoei terperanjat "Sungguh tak kusangka isi mangkuk lembaga itu adalah minyak."

Dalam keadaan seperti ini tak sempat lagi baginya untuk berpikir panjang, sepasang lengannya bekerja cepat, disambarnya pinggang Wie Chin Siang kemudian
sekali jejak laksana anak panah terlepas dari busurnya meluncur ke muka melewati dinding atap kolong itu.

Pada detik terakhir itulah seluruh dinding bata tersebut telah terbakar hebat jilatan api bagaikan ular menyapa bubut belerang yang memolesi dialas dinding
tersebut. kebakaran hebatpun terjadi dalam lorong tersebut. Suhu udara dalam lotong yang panas menyengat badan serta jilaten api yang menari kian kemari
mengagetkan

Wie Chin Siang, dia menjerit keras, matanya dipejamkan Edited by Angon rapat rapat, seluruh wajahnya disusupkan kedalam dada Pek In Hoei tanpa berani
berkutik.

Sungguh hebat Pek In Hoei, dalam sekejap mata dia sudah berhasil melewati lautan api yang telah menjalar sampai tiga tombak jauhnya itu, setibanya ditepi
tiang batu yang dihantam roboh olehnya tadi baru berhenti dan beristirahat.

Ditaruhnya Wie Chin Siang keatas batu, lalu menghembuskan napas panjang panjang dan gumamnya:

"Aaaaah nyaris benar kejadian yang baru saja
berlangsung, satu langkah aku terlambat bertindak niscaya diriku bakal terkurung didalam lautan api itu." Wie Chin Siang sendiri sementara itu sudah hilang
rasa kagetnya, ia periksa tubuh sendiri, dijumpainya kecuali celananya reda hangus terbakar badannya sama sekali tidak terluka, tanpa sadar ia hembuskan
napas panjang.

"Kau tidak sampai terluka bukan?" terdengar Pek In Hoei menegur. "Bila aku salah setindak lancang barusan harap...." Merah padam selembar wajah Wie Chin
Siang, teringat dirinya yang telah bersandar didada orang, rasa jengah yang muncul dari lubuk hatinya sungguh sukar dilukiskan dengan kata2.

Bersambung jilid 14


JILID 14
JANTUNGNYA berdebar keras, cepat cepat ia tarik kembali rasa malunya, sambil mundur dua langkah kebelakang ujarnya dengan nada dingin :
"Seandainya kau tidak berdiam terlalu lama didepan pintu batu tadi, tidak nanti Ke Hong berhasil menemukan jejak kita yang ada didalam lorong..... dan akupun
pasti berhasil lolos dari lorong rahasia ini....
semuanya ini gara gara kau yang ceroboh."
Pek in Hoei tak menyangka kalau si gadis cantik jelita macam Wie Chin Siang bisa berubah ubah dalam waktu yang amat singkat, dia jadi melongo dan terkesima
ditatapnya raut wajah yeng dingin kaku itu beberapa saat lamanya.
Kemudian timbul rasa sedih dalam hatinya. dia lantas mendengus dingin dan menyahut:
"Hmm ! apa aku yang suruh kau berlarian didalam lorong rahasia ini? kalau memang kau hendak salahkan diriku, lebih baik masuklah kembali sendirian."
Wie Chin Siang sebagai seorang putri Gubernur yang sepanjang masa selalu disayang, dimanja dan dihormati, belum pernah ia dimaki orang lain dengan cara yang
begitu kasar. sekarang terbentur batunya ditangan Pek In Hoei maka dapat dlbayangkan betapa sedih hatinya, hampir saja titik air mata jatuh berlinang.
Namun ia berusaha menahan lelehan air mata itu, bibirnya gemetar keras. lama sekali.... akhirnya ia berseru
"Kau.... kau...."
Pek In Hoei mendengus, ia berpaling memandang jilatan api yang berkobar tiada hentinya dalam lorong itu, bibirnya terkatup rapat sementara dalam hati
pikirnya: "Begini hebatnya kobaran api yang membakar lorong tersebut, aku rasa dalam waktu yang singkat tak mungkin dapat padam Aaaaai.... entah bagaimana
nasib pedang mustika Si-Jiet-Kiam ku sekarang?"
"Pek In Hoei, bagus sekati perbuatanmu...." mendadak terdengar Wie Chin Siang berteriak dengan suara gemetar, bibirnya yang merah digigit kencang2,
Pek In Hoei kaget. la rasakan nada suaranya yang penuh dengan kesedihan kegusaran serta kebenciannya itu seakan akan martil besar yang menghantam lubuk
hatinya, membuat jantungnya berdebar keras sukar ditahan.
Dengan cepat ia berpaling, ditatapnya wajah sang gadis yang penuh penderitaan itu dengan sinar mata sayu.
Sekujur badan Wte Chin Siang gemetar keras, ujarnya lagi dengan suara berat :
"Kau adalah manusia yang paling sombong kau anggap eemua gadis yang ada dikolong langit bakal tundukkan kepala semua dengan dirimu? sekalipun Ilmu silat yang
kau miliki sangat lihay, wajahmu ganteng dan menawan hati tetapi kau tidak mempunyai kelebihan lain yang patut kau sombongkan, jangan dikata keselamatanmu
berada didalam genggaman orang, untuk menjaga dan merawat jenasah ayahmu sendiripun kau tidak mampu...."
"Kau.... kau adalah....." jerit Pek in Hoei sangat terperanjat, sekilas ingatan berkelebat dalam benaknya, teriaknya lagi dengan suara keras :
"Kau tahu dimanakah jenasah ayahku berada....?"
Wie Chin Siang tartawa dingin.
"Walaupun saat ini kau tahu dimanakah jenasah ayahmu berada, tapi apa gunanya? sebentar lagi kita bakal modar semua di tempat ini?"
"Apa? apa maksud ucapanmu itu?
Selapis hawa dingin yang membakukan hati terlintas diatas wajah dara ayu itu, jawabnya dingin!
"Diatas dinding batu ini telah dilapis dengan bubuk racun rumput penghancur hati "Coen Sim Tok Cau" yang dihasilkan disamudra Seng Sut Hay, bila bubuk
belerang itu telah terbakar habis maka suhu panas yang menyengat badan akan menyebarkan daya kerja racun Coen Sim Tok Ciu itu keseluruh ruangan kita berada
didalam lorong yang tersumbat. Hmm, kau anggap dalam keadaan begitu kita masih dapat hidup dalam keadaan segar bugar....
"Kau.... darimana kau bisa tahu kesemuanya ini...."
"Kenapa aku tidak mengetahui kesemuanya ini? suhuku adalah putri angkat dari Hoa Pek Touw?"
Pek In Hoei dibikin semakin bingung,
"Siapakah suhumu ? kenapa dia suruh kau memasuki lorong rahasia ini ?"
"Hmm, suhu perintahkan aku berkelana didalam dunia persilatan dengan menggunakan namamu, maksud tujuannya bukan lain untuk berusaha mencari tahu dimanakah
kau berada siapa sangka kau malah tidak tahu siapakah dia orang tua?"
Gadis itu angkat kepalanya memandang mutiara pemisah air yang ada diatas dinding batu lalu menghela napas. sambungnya!
"Oooh suhu.... suhu..... dengan susah payah dan tidak kenal marabahaya kau orang tua melindungi keselamatan Pek in Hoei, siapa tahu orang yang kau lindungi
dengan mati matian bukan lain adalah seorang manusia yang tidak kena budi, membuat jiwa muridmupun harus berkorban ditangannya. Aaai ! kalau dia kenal
siapakah suhu masih mendingan. siapa sangka ia tak tahu siapakah kau dan siapa pula namamu, buat apa melindungi keselamatannya lagi? manusia yang tak kenal
budi dan berhati kejam seperti dia tidak sepantasnya kalau cepat2 mati..."
Sungguh hebat mskian dari dara ayu itu hingga membuat anak muda kita jadi mendelik dan kerutkan alisnya rapat rapat namun ia tidak membantah sebab ia tidak
tahu siapakah suhu dari dari Wie Chin Siang.
Pelbagai pertanyaan yang membingungkan hati berkelebat dalam benaknya, ia merasa dirinya toh tak pernah kenal dengan putri angkat dari Hoa Pek Touw. maka
sesudah putar otak beberapa saat lamanya kambali dia bertanya:
"Coba tebaklah sendiri!" jawab Wie Chin Siang tanpa berpaling, matanya masih tetap menatap mutiara diatas dinding itu.
"Suruh aku menebaknya sendiri?" diam2 Pek In Hoei tertaws getir. "Berada dalam keadaan yang begini bahayanya kau masih punya kegembiraan untuk mengajak aku
main tebak tebakan. bukankah hal ini sama artinya menggunakan jiwa kita sebagai bahan gurauan?".
Ia gigit bibirnya kencang lalu memaki di dalam hati kecilnya :
"Huuu. dasar oreng perempaan. Sedikitpun tak mengerti akan berat entengnya persoalan, yang diketahui cuma berpura pura manja den jual mahal... Hmmm sialan."
Biji matanya berputar, dipandangnya jilatan api yang kini telah berubah jadi hijau gelap, rupanya sebentar lagi api bakal padam hawa panas yeng menyengat
badan mulai berkurang dan tak begitu menyiksa lagi.
Sepasang kepalannya digenggam kencang hingga berbunyi gemerutukan, dengan hati cemas pikirnya:
"Seandainya ia bukan sedang membohongi aku. maka aku harus berusaha secepatnya meninggalkan tempat ini kalau tidak seandainya rumput racun penghancur hati
itu sampai lerbakar maka aku bisa kehabisan akal dan mati konyol disini."
Dalam pada itu tatkala Wte Chin Siang mendengar suara gemerutuknya jari tangan tanpa sadar telah melirik sekejap kearah Pek In Hoei.
Tatkala dijumpainva sianak muda itu sedang berdiri dengan wajah cemas dan tidak tenang, dalam hati diam2 ia tertawa dingin, dengan wajah yang kaku ejeknya:
"Katanya saja seorang lelaki sejati tidak takut langit dan bumi, tak tahunya punya nyali sekecil tikus Hmm, manusia macam kau bisa mengaku sebagai cucu
muridnya Tiam Cong Siu Kiam, sungguh memalukan.".
Dengan pandangan dingin Pek in Hoei melirik sekejap gadis itu. ia tidak gusar sebaliknya menyahut dengan suara berat:
"Katau kau tidak takut mati berdiri saja disitu dan jangan bergerak, aku sih harus mencari akal untuk keluar dari sini karena aku tak ingin mati konyol
dengan cara yang bodoh, tentu saja bagi manusia goblok yang setiap harinya makan kenyang tak ada kerjaan dan tahunya cuma bersenang senang belaka, kematian
merupakan tempat tinggalnya yang tarakhir."
Air muka Wie Chin Siang berubah beberapa kali, mendadak ia menoleh dan membentak:
"Siapa yang sedang kau maki?".
"Aku memaki manusia2 ymg goblok seperti telur busuk itu." ia merandek sejenak, kemudian sambil tersenyum penuh arti balik tanyanya.
"Apakah kau mengakui bahwa dirimu adalah seorang manusia goblok seperti telur busuk?".
Dapat dibayangkan betapa gusar dan mendongkolnya hati Wie Chin Siang mendengar pertanyaan yang mengandung makian itu, untuk beberapa saat lamanya dia tak
tahu bagaimana harus menjawab, sementara sekujur badannya gemetar keras menahan emosi.
"Bagus." teriaknya sambil nendepakkan kekinyi keatas tanah. "Akan kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana caranya manusia yang mengaku cerdik itu
menemukan hidupnya".
Selesai berkata itu sambil menggigit bibir dia putar badan dan lari menuju kearah lorong.
Sementara itu kobaran api yang maha dahsyat tadi sudah mulai padam, yang tersisa diatas kedua belah dinding lorong itu hanyalah cahaya lampu yang berwarna
kehijau hijauan, membuat lorong tadi kelihatan bertambah seram dan mengerikan.
Memandang bayangan punggung Wie Chin Siang yang sedang berlari menjauh, pelbagai ingatan berkelebat didalam benaknya, tiba2 sekilas ingatan terang berkelabat
dalam otaknya.
Segera pikirnya:
"Asalkan kucabut mutiara penampik air itu dari atas dinding. maka air telaga diatas gua ini akan segera membanjiri lorong api. dalam keadaan begitu, kendati
Hoa Pek Tou masih mempunyai pelbagai jebakan pun juga percuma saja. setelah digenangi air jebakan tersebut tidak nanti bisa tunjukkan kelihaiyannya. pada
saat itu bukankah aku bisa berusaha meloloskan diri dari sini?".
Ingatan itu laksana kilat berkelebat didalam benaknya, ia segera tepuk kepala sendiri sambil berpikir lebih jauh:
"Kenapa tidak kupikirkan hal ini sejak tadi? sebaliknya malah buang waktu dengan perempuan untuk cekcok dengan dia, aaaai.... kalau dipikir kembali, apa
sebabnya ribut dengan gadis binal seperti dia itu?."
Ia menertawakan kebodohannya sendiri lalu barpalirg kearah lorong, dimana sianak muda ini ada maksud melihat apakah gadis itu sudah lenyap dari situ atau
belum.
Tetapi sewaktu dia angkat kepala, kebetulan sekali dilihatnya Wie Chin Siang entah dengan cara apa meraba dingin lorong sehingga muncullah sebuah lubang
besar diatas dinding itu.
Sembari melangkah masuk kedalam gua tadi, mendadak dara itu berpaling dan menjerit lengking :
"Kalau aku tidak takut mati, ayoh masuklah lewat gua ini."
"Kalau kau hendak pergi berangkatlah seorang diri jangan kau perdulikan diriku.° Wie Chin siang tertawa dingin.
"Disamping itu aku hendak memberitahukan sesuatu kepadamu, suhuku adalah Kim In eng..."
"Si Dewi Khiem berjari sembilan Kim In Eng?" Sekarang pahamlah sudah Pek In Hoei. "Kenapa tidak kuingat diri Kim loocianpwee sejak tadi..."
Sementara dia sedang menyesal dan berduka, terdengar Wie Chin Siang kembali menjerit lengking. Kali ini suaranya penuh dengan penderitaan serta rasa sakit
yang luar biasa.
"Rumput racun penghancur hati...."
Pek In Hoei terperanjat, dilihatnya Wie Chin Siang sedang memegangi tenggorokan sendiri dengan penuh penderitaan, kemudian badannya terjengkang kebawah dan
robob tak berkutik lagi.
Sadarlah sianak muda ini bahwa marabahaya sedang mengancam jiwanya, sebelum dia sempat bertindak sesuatu mendadak hidungnya mencium bau harum yang tawar
diikuti segumpal hawa uap berwarna merah menyebar kesegala pelosok ruangan.
Sewaktu untuk pertama kalinya dia berjumpa dengan Hee Siok Peng tempo dulu, pernah dilakukan olehnya dengan mata kepala sendiri pelbagai macam makhluk
beracun yang aneh aneh bentuknya serta lihaynya bubuk racun serta ilmu pukulan beracun.
0leh karena Itu tatkala hidungoye mengendus bau harum yang tersiar keluar dari balik gua tadi, cepat cepat dia tutup semua pernapasannya.
Meskipun dia cukup waspada namun sayang tindakannya terlambat satu langkah.
Terasa bau harum semerbak tadi menyerang kedalam paru parunya membuat dia merasakan kepalanya jadi pening dan berkunang kunang, sekujur badannya jadi lemas
dan hampir saja ingin pejamkan matanya untuk tidur nyenyak.
Ia mendengus berat, lima jadinya baru dipantangkan keluar, dengan segenap tenaga dia melawan keinginannya untuk tidur itu, kemudian sekali jambret
dicengkeramnya mutiara penampik air tadi dari atas dinding batu.
Cahaya mutiara berkilat memenuhi angkasa, sambil membawa mutiara tersebut badannya meluncur kearah lorong.
Suara air telaga terdengar menggulung dibelakang tubuhnya, bagaikan bendungan yang ambrol air telaga menyapu tiba dan seketika memenuhi seluruh lorong
tersebut.
Dengan sempoyongan dia lari tujuh delapan langkah kedepan, seraya membungkuk kebawah disambarnya pedang penghancur sang surya yang menggeletak diatas tanah
itu.
Air telaga menerjang kebawah laksana air terjun, seluruh lorong dipenuhi dengan air bagaikan selaksa prajurit berkuda meluncur datang dengan hebatnya
membuntuti dibelakang sianak muda itu.
Da!am pada itu sewaktu Pek In Hoei memegang pedang Sie Jiet Kiamnya tadi, dia merasakan matanya jadi berat dan sukar dipentangkan lebar2. rasa mengantuk
semakin menyerang dirinya membuat dia merasa ogah untuk bergerak dari tempat semula.
Sekalipun begitu dia masih sadar akan mara bahaya yang mengancam keselamatan jiwanya, asal ia tak kuat menahan diri dan roboh keatas tanah maka Wie Chin
Siang pasti ikut mati tenggelam didasar telaga itu.
Oleh sebab itulah dia meraung keras bibirnya digigit kencang kencang sehingga terluka den darah segar mengucur keluar membasahi bajunya -
Rasa sakit yang menyengat hati membuat rasa ngantuknya jadi berkurang. sekuat tenaga ia genggam mutiara itu dan lari secepat cepatnya meninggalkan tempat
itu.
Beruntun puluhan langkah berlalu dilewati dan tibalah dia dipintu masuk lorong rahasia itu. ia sambar tubuh Wie Chin Siang lalu dengan mati matian ia lari
kencang didalam lorong tadi.
Disaat kesadarannya semakin kabur dan ingatannya makin menghilang, secara lapat2 ia dengar dari dinding batu dibelakang tubuhnnya secera otomatis menutup
sendiri suara air tenaga yang menghantam dinding meniggalkan dengungan yang keras, apa yang terjadi selanjutnya dia tidak tahu.
Sebab pada saat itulah badannya terjungkal dan roboh keatas tanah kesadaran punah sama sekali dan diapun jatuh pingsan....

=================
Kegelapan yang mencekam malam hari kian lama bertambah luntur, sinar sang surya yang terang perlahan2 muncul sebelah timur, beberapa butir bintang masih
tertinggal disebelah barat dan menyorotkan sinarnya yang lemah.
Permukaan air telaga Leng Gwat Ouw tenang bagaikan cermin angin pagi berhembus sepoi meninggalkan reak kecil diatas permukaan... suasana amat sunyi dan sepi
-
Pada saat itulah dari telaga melayang datang seorang kakek tua berperawakan kurus kering, badannya bergerak bagaikan terbang. seolah mengitari pepohonan
ditengah telaga sampailah orang itu ditep1 jembatan batu .
Memandang sang surya yang muncul di ufuk Timur dia tarik napas dalam2, kemudian teriaknya dengan suara keras:
"Sisa Rembulan mengampungkan golok perak. Sisa bintang membuatkan badik emas!"
Ditengah kesunyian pagi hari yang mencekam seluruh jagad, seruan itu berkumandang hingga ditempat kejauhan, dari balik pendopo air yang ada ditengah telaga
segera terdengar suara sahutan disusul seorang dengan suara yang serak tua menegur.
"Siapa yang ada diluar?"
"Tecu Ke Hong".
Suara batuk berkumandang keluar dari pendopo air, diikuti pintu depan terbuka dan muncullah Ku Loei dari balik ruangan tersebut.
Sepasang alisnye yang putih, panjang dan lebat itu nampak berkerut, kemudian terdengar ia menegur.
"Apakah Hong jie yang berada disitu? kenapa sampai sekarang baru kembali? apakah dipihak Siauw lim telah terjadi perubahan?"
Dengan penuh rasa hormat Ke Hong si golok perontok rembulan menjura dalam2:
"Lapor suhu, kemari malam tecu baru saja pulang dari gunung Siong-san ,baru saja hendak melaporkan kejadian didalam partai Siauw lim kepada suhu, mendadak di
dalam lorong rahasia sebelah Selatan kutemui ada orang terjebak disitu"
"Ouw. disana ada orang?"
"Benar eubu, didalam lorong itu terkurung dua orang manusia, satu pria dan satu wanita, namun tecu telah menggerakkan alat rahasia yang dipasang disitu, tecu
rasa mereka pasti sudah mati terbakar disana".
Sebelum Ku Loei sempal menjawab terdengar Hoa Pek Tou yang ada didalam ruangan telah menyela :
"Panggil dia masuk kadalam !"
Ku Loei mengiakan: "Masuklah kedalam!".
Ke Hong mengangguk, dia melayang melewati jembatan mengapung kemudian meluncur kearah pendopo air.
Ke Hong segera masuk kedalam ruangan, baru saja kakinya melangkah masuk hidungnya segera mendengus bau obat yang sangat tebal, diikuti tampaklah Chin Tiong
menggeletak dialas pembaringan, dia jadi terperanjat dsn segera tanyanya:
"Apa yang telah terjadi dengan diri susiok?"
"Tidak mengapa. dia cuma menderita sedikit luka"
Sekilas rasa kaget dan curiga terlintas diatas wajah Ke Hong. naenun ia tak berani bertanya maka sinar matanya lantas berputar memandang seluruh ruangan itu,
disatu sudut disisi hioloo besar ditemuinya seorang manusia aneh berkerudung hitam berjubah lebar duduk bersila disana.
Belum lagi ia menanyakan asal usul orang itu, kembali Ku Loei telah berseru, dengan suara berat :
"Coba ceritakanlah hasil dari perjalananmu menuju kepartai Siauw-lim..."
"Sejak ciangbun Hong-tiang pertai Siauw ]im yang lampau lenyap secara misterius, ciangbunjin yang sekarang Hoei Kok Taysu telah melarang anak muridnya
mencampuri pelbagai persoalan yang menyangkut urusan dunia persilatan, tetapi sejak dua puluh orang anak murid pertai Siauw lim kembali lenyap secara
misterius pada tahun berselang, pihak Siauw-lim mulai mengirim orang orangnya terjun keutara dunia kangouw untuk menyelidiki peristiwa tersebut..."
"Aku sudah mengetahui akan kejadian itu karena semuanya itu adalah hasil karya dari susiokmu, coba kau ceritakan peristiwa apa lagi yang telah terjadi disitu
baru2 ini?"
Sekilas ras ragu dan curiga berkelebat diatas wajah Ke Hong, namun ia tak berani bertanya, ujarnya lebih jauh:
"Belum lama berselang, ketua dari perkumpulan Kay-pang yang telah lama lenyap dari keramaian dunia kangouw dan bernama Hong jie Kong dengan gelar Loo Ie Koay
Kie atau pengemis aneh berbaju dekil secara tiba tiba telah muncul diatas gunung Siong san seorang diri, beruntun selama tiga hari tidak nampak ia turun dari
gunung tersebut dan pada hari keempat tiba tiba partai Siauw lim telah mengutus keempat belas Loo Hannya dengan menyebarkan tanda perintah Giokr im Leng Pay
telah mengundang para ciangbunjin dari pelbagai partai untuk berkumpul digunung Siong san."
"Aaah! benarkah telah terjadi peristiwa seperti ini?" seru Ku Loei amat terperanjat.
"Coba ceritakan kisah yang sejelasnya kepadaku." Terdengar kakek berkerudung hitam itu menyela.
Dengan hati kaget bercampur tercengang Ke Hong menoleh kearah Ku Loei, lalu bertanya :
"Tecu rasa dia adalah..."
"Dia edalah susiok cuowmu."
Dengan pandangan kaget dan tercengang Ke Hong berpaling memandang sekejap kearah Hoa Pek Touw. rupanva dia tidak menyangka kalau SUCOUWnya si Iblis sakti
berkaki telanjang Cia Ku sin masih mempunyai seorang adik seperguruan, buru buru dia maju memberi hormat seraya sapanya :
"Susiokcouw...." -
"Duduklah lebih dahulu, aku hendak menanyakan sesuatu kepadamu!" ujar manusia berkerudung itu sambil memandang Ke Hong dengan sinar mata tajam, "Setelah
pengemis aneh berbaju dekil Hong jie Kong naik keatas Siauw lim apakah dia tidak turun gunung lagi?"
Ke Hong mengangguk,
"Sebelum cucu murid berangkat pulang, tidak kulihat pengemis aneh berbaju dekil turun dari gunung siong san".
"Ehm aku sudah memahami peristiwa itu" mendadak terdengar Hoa Pek Touw menimbrung setelah sejenak. "Coba kau ceritakan dahulu kejadian apa yang telah.
kau alami didalam lorong rahasia daerah terlarang kita"
"Pada malam hari itu juga cucu murid berangkat dari Sauw lim langsung pulang kerumah, siapa sangka suasana didalam perkampungan sunyi senyap hingga sedikit
suarapun tak kedengaran" bicara sampai disitu dengan mata sangsi ia melirik sekejap kearah Ku Loei.
Buru buru orang she Ku itu mendehem dan menyambung:
"Berhubung tujuh dewa dari luar lautan telah mengutus muridnya untuk datang kemari dan aku takut terjadi peristiwa yang ada diluar dugaan, maka kuperintahkan
semua orang yang ada didalam perkampungan untuk menyembunyikan diri didalam ruang bawah tanah..."
"Ooouw tidak aneh kalau susiok terluka...."
"Perkataan yang tak berguna lebih baik tak usah dibicarakan" tukas Hoa Pek Touw sambil melototkan matanya. "Cepat katakan peristiwa apa yang sudah terjadi
didalam lorong bawah tanah".
Ke Hong berpaling. tatkala dilihatnya sorot mata Hoa Pek Touw yang memancar keluar dari balik kain kerudung hitamnya begitu sadis dan mengerikan dia jadi
bergidik, buru buru sambungnya :
"Berhubung suasana dalam perkampungan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun dan tidak kujumpai sosok bayangan manusia yang ada disitu maka aku merasa
keheranan setengah mati. segera kuperiksa sekeliling perkampungan dengan teliti dan seksama. Tatkala aku tiba didaerah terlarang sebelah selatan mendadak
kusaksikan sekilas cahaya merah yang sangat tajam berkelebat lewat dimulut lorong, dibawah sorotan sinar rembulan secara lapat lapat kurasakan cahaya itu
mirip dengan sebilah pedang."

"Ooouw" Ku Loei berseru tertahan. dia lantas berpaling kearah Hoa Pek Touw dan berseru :
"Jangan jangan cahaya merah itu adalah pedang penghancur sang surya dari Pek In Hoei?"
Hoe Pek Touw mengangguk.
"Biarlah dia lanjutkan kembali kata katanya?"
Ke Hong tidak berani banyak bertanya, ia lanjutkan kembali kisahnya :
"Karena curiga maka cucu murid segera menerobos masuk kedalam daerah terlarang disebelab selatan itu, saat itulah aku baru merasakan bahwa orang itu
menghubungkan tempat luar dengan lorong rahasia dimana kita kurung Cian Hoan Long koen. Pada saat itu bisa dibayangkan betapa kaget dan herannya hatiku
karena selama tiga puluh tabun belakangan kecuali penghantar nasi yang masuk melewat lorong rahasia balum pernah ada orang lain yang pergi kesitu. tapi kali
ini telah muncul seieorang disana... hatiku makin curiga...
Dia merendek sejenak, kemudian tambahnya:
"Sewaktu aku tiba didepan lorong rahasia itulah, kujumpai seorang pemuda yang sangat ganteng dengan mencekal sebilah pedang mustika sedang berdiri dibalik
pintu, pedang yang berada ditangannya radaan mirip dengan pedaDg mustika penghancur sang suryu dari partai Tiam cong".
"Nah, itulah dia. tak bakal salah lagi" saru Ku Loei sambil bertepuk tangan. "Orang itu pastilah Pek in Hoei, sungguh tak nyana dia berhasil meloloskan diri
dari tekanan air yang berpusar didasar telaga Lok Gwat Ouw serta dinginnya air telaga yang membekukan darah...
"Ucapan suhu sedikitpun tidak salah, jurus serangan yang dia gunakan bukan lain adalah jurus pedang partai Hoa san. disamping itu tecupun mendengar ada
seorang gadis sedang memanggil dirinya dari dalam dengan sebutan Pek In Hoei tiga patah kata!".
"Apakah kau tidak salah mendengar?" Sela Hoa Pek Touw mendadak sambil menegakkan badannya. "Benarkah orang itu bernama Pek In Hoei?...
Ke Hong berpikir sejenak kemudian mengangguk.
"Sadikitpun tidak salah, orang itu memang dipanggil dengan sebuian Pek In Hoei tiga patah kata".
"Hmm, suugguh tak kusangka ternyata ada orang berhasil meloloskan diri dari dasar telaga Lok Gwat ouw. sungguh membuat orang merasa tidak percaya.".
Ke Hong sendiri diam2 merasa tercengang dan tidak habis mengerti siapakah sebenar sih manusia yang bernama Pek In Hoei itu, semakin tak dapat menebak pula
mengapa Susiok couwnya yang dingin dan sadis itu sekarang bisa menunjukkan emosinya yang meluap luap sehingga kini kerudung hitamnya pun gemetar keras
Dengan hati sangsi dan diliputi tanda tanda pikirnya.
"Sekalipun pedang yang berada ditangan Pek In Hoei benar benar adalah pedang mustika penghancur sang surya, toh belum tentu dia adalah anak murid partai Tiam
cong. aaasach jangan jangan dia adalah anak murid dari Hay Gwa Sam Sian tiga dewa diri luar lautan?".
Berpikir sampai disitu tak tahan lagi segera tanyanya.
"Walaupun Pek In Hoei sangat lihay dan luar biasa, namun setelah terjebak didalam lorong pengurung naga, tecu rasa dia pasti telah mati terbakar hangus
disitu!"
Hoa Pek Touw tarik napas dalam dalam, sekuat tenaga dia berusaha menekan golakan perasaan dalam hatinya, setelah itu perlahan lahan ujarnya :
"Dia berhasil menembusi gua didasar telaga Lok Gwat 0uw. hal ini menunjukkan bahwa dia memiliki mutiara penolak air dalam sakunya, kalau tidak air telaga
tentu sudah memenuhi lorong pengurung naga sejak tadi, mungkinkah dia akan menunggu sampai kau menggerakkan alat alat rahasia tersebut."
Dia bangun bardiri dan menambahkan:
"Aku rasa pastilah gadis itu sudah mengetahui rahasia jalan lorong dibawah tanah itu, kalau tidak, tak nanti dia berhasil memasuki lorong pengurung naga itu
tanpa mengeluarkan sedikit suarapun" Dia menghela napas panjang, terusnya :
"Aku cuma berharap Cian Hoan Long Koen telah modar lebih dahulu sebelum mereka berhasil memasuki gua tersebut kalau tidak maka rencanaku terpaksa batal
dilaksanakan sebelum saat yang telah ditetapkan"
"Tapi bukankah didalam lorong pengurung naga telah kita pasang pelbagai alat rahasia " seru Ku Loei tercengang "Apakah mereka sanggup melarikan diri dari
situ..."
"Aku sendiripun berharap agar mereka tak sanggup melepaskan diri dari jilatan api serta serangan racun, tapi serangan api dan air tak dapat bekerja sama.
seandainya dia lepaskan air telaga sehingga memenuhi lorong, bukankah semua alat rahasia yang telah kupersiapkan disitu tak akan sanggup menunjukkan daya
kerjanya?".
"Aneh... sungguh aneh..." gumam Ku Loei sambil menggaruk garuk rambutnya "Kenapa dia sanggup melawan dinginnya air telaga bahkan sanggup pula melubangi dasar
telaga..."
"Apakah kau lupa bahwa dia memiliki pedang mustika penghacur sang surya?" Seru Hoa Pak Touw. Ia merandek sejenak untuk melirik sekejap Chin Tiong yang
berbaring diatas pembaringan, lalu tambahnya -
"Kalian tunggulah disini merawat dia, aku mau pergi kelorong rahasia untuk melakukan pemeriksaan."
Perlahan lahan ia berjalan keluar dari pendopo air itu melalui jembatan gantung, selangkah demi selangkah berangkat menuju ketepi telaga diseberang sana.
Memandang langkahnya yang terpincang pincang, dengan perasaan heran dan tercengang Ke Hong barkata :
"Suhu, mengapa selama tiga puluh tahun belakangan ini aku belum pernah mengetahui kalau masih mempunyai seorang susiok couw macam dia. kalau dipandang rupa
serta keadaannya seakan akan orang yang sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat."
Ku Loei mendelik hardiknya
"Tutup mulutmu, jangan kau membicarakab soal dia orang tua dibelakangnya. Haruslah kau ketahui bahwa kecerdasan serta kapintarannya tiada tandingan dikolong
langit dan semua orang mengenali dirinya serta mengaguminya, jangan dikata suhumu meski sucouwmu pun menaruh beberapa bagian rasa hormat kepadanya, Hmmm kau
manusia macam apa, berani benar membicarakan soal dia orang tua dibelakangnya."
Merah jengah selembar wajah Ke Hong dia tidak menyangka setelah berusia lima puluh tahun dan selama berkelana dalam dunia persilatan telah memperoleh nama
besar sehingga bernama sipedang penghancur sang surya serta bintang kejora manuding langit disebut Tionggoan Sam Sut kiam kini harus ditegur pedas oleh
gurunya
Ku Loei melirik sekejap kearah muridnya meyaksikan air muka Ke Hong menampilkan rasa malu bercampur gusar kembali dia mendengus dingin:
"Hmm ! mungkin kau mesih belum puas, haruslah kau ketahui bahwa perkampungan Tay Bie San-cung serta Banteng Bintang Kejora adalah hasil karya dirinya, sedang
sidewa kate dari negeri Thian Tok serta Sin-Koen bertenaga raksasa sudi menggabungkan diri dengan Liuw Sah Boen kita adalah berkat undangan dari dia orang
tua. Hmm ! dikolong laneit dewasa ini masih ada manusia manakah yang sanggup mengundang kehadiran "Kioe Boen Toh Sin Wa" sidukun sakti berwajah seram dari
propinsi Lam Ciang? hanya dia orang saja yang mampu melakukan kesemuanya itu, cukup layangkan sepucuk surat mereka segera berangkat kemari, Hmm kau berani
pandang hina dirinya? dalam waktu singkat seluruh dunia persilatan bakal terjatuh didalam cengkeramannya!"
Ke Hong melongo dan berdiri terbelalak, mimpipun dia tidak menyangka selama puluhan tahun dia harus berkelana ditempat luar maksud tujuannya bukan lain
adalah berjuang agar perguruannya menjagoi dunia persilatan, semakin tak menduga lagi kalau semua rencana tersebut bukan lain adalah hasil pemikiran dari
sikakek pincang tadi.
Dengan rasa kaget segera tanyanya:
"Suhu, kau perintahkan kami sekalian menyusup kedalam pelbagai partai besar, ternyata maksudnya bukan lain adalah untuk menjagoi seluruh dunia kangouw?"
Ku Loei mengangguk penuh kegirangan.
"Tidak lama kemudian segenap dunia kangouw bakal terjatuh didalam cengkraman perguruan Liuw Sah Boen kita, segenap jago yang ada didalam dunia persilatan
bakal jadi anak buah perguruan kita. kesemuanya ini bukan lain adalah cita cita yang selalu diimpi impikan sucouw mu dan kini apa yang dahulu selalu diimpi
impikan sekarang hampir terlaksana didepan mata"
Ia merandek sejenak, lalu dengan serius tambahnya:
"Sebenarnya rahasia besar ini tak boleh kukatakan kepadamu, tetapi berhubung saat yang dinanti nantikan selama ini sudah hampir terlaksana maka rasanya tiada
halangan bagiku untuk memberitahukan kepadamu”.
“Kalau begitu, apakah lenyapnya para ciangbunjien dari sembilan partai besar pada dua puluh tahun berselang juga merupakan hasil karya dari rencana besar
susiok cuow kita ini?" tanya Ke Hong sambil menggigit bibirnya.
"Sedikitpun tidak salah, itulah rencana bersama dari sucouw serta susiok-couw mU sewaktu ada di gunung Cing shia."
Belum selesai dia berbicara tiba tiba terdengar suara bentakan yang amat dahsyat. berkumandang datang memecahkan kesunyian disusul jeritan kaget seorang
gadis.
"Ada orang menyerang perkampungan kita.." teriak Ke Hong sambil melompat bangun.
Ku Loei tidak banyak bicara tangannya segera mendekati punggung kursi kemudian laksana panah yang terlepas dari busurnya meluncur kedepan, ujung kakinya
menutul dijembatan gantung dan dalam dua tiga kali loncatan dia sudah tiba ditepi telaga.
Ke Hong tak berani banyak buang tempo lagi, dia tarik napas dalam dalam. badannya berputar loncat keluar dari pendopo air, setelah menutup pintu depan diapun
loncat ketepi telaga menyusul dibelakang subunya Ku Loei.
Berada ditapi telaga Ku Loei merandek sajenak. kemudian badannya langsung menerobosi hutan lebat dan berlari menuju kearah barat daya, sambil berlarian
pikirnya,
"Kalau didengan dari suara bentakan keras tadi rupanya mirip sekal dengan suara dari Hoa Loo jie. jangan jangan dia telah berjumpa dengan musuh tangguh?”
Satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, dangan amat terperanjat pikirnya lebih jauh:
"MungkinIt Boen Pit Giok telah datang lagi?"
Baru saja ingatan itu berkelebat lewat, terdengar jeritan kaget dari It Boen Pit Giok berkumandang datang lagi :
"Hey setan tua, benarkah kau berasal dari perguruan Liuw sah Boen?..."
Hoa Pek Touw tertawa seram.
"Heee... heee.... heee.... janganlah kau anggap setelah mempelajari permainan kucing kaki tiga dari Hoo Beng jien lantas bisa berbuat sewenag wenang
dihadapanku. Ini hari sengaja kulepaskan dirimu pulang agar kau bisa beritahu kepada suhumu si setan tua itu bahwa sahabat lamanya tempo dulu hingga kini
masih belum mati. Cepat atau lambat aku pasti akan datang mencari balas kepadanya"
Ku Loei terparanjat, badannya dengan cepat berkelebat menyembunyikan diri dibelakang pohon besar, meminjam dahaan pohon yang lebat dia mengintip kearah muka.
Tampaklah Hoa Pek Touw dengan seram berdiri tegak ditengah kalangan, kurang lebib satu tombak dihadapannya berdiri seorang dara cantik yang menutupi dadanya
dengan tangan, rasa kejut dan tercegang dengan jelas masih tertera diatas wajahnya.
Dalam sekilas pandang saja ia dapat melihat dengan jelas bahwa dara cantik yang berada disitu bukan lain adalah it Boen Pit Giok yeng telah dijumpainya
kemarin malam, entah sejak kapun dia telah menyusup kembali kedalam perkampungan Tay Bie San Cung.
Perawakan tubuh Hoa Pek Touw yang tinggi besar itu tiba tiba memanjang satu kali lipat, dia mendongak dan tertawa seram.
"Haaah... haaah... haaah... Hoo Bong Jien... Hoo Bong Jien meskipun kau telah mensucikan diri jadi pendeta, namun aku tetap akan membikin malu dirimu
sehingga kau tak punya muka lalu mati penasaran..."
Mendengar ocehan itu air muka It Boen pit Giok seketika berubah hebat, dengan darab yang meluap luap bentaknya:
"Kurang ajar, bajingan kau herani menghina dan memaki maki suhuku? rupanya kau sudah bosan hidup?"
"Heeh... heeeeh... heeh... seandainya aku tidak ingin berjumpa dengan Hoo Bong Jien, ini hari juga akan kusuruh kau mati kelejetan diatas genangan darah!".
Dalam mengutarakan kata kata tersebut kerudung hitam yang dikenakan Hoa Pek Touw nampak bergetar keras, sorot matanya yang tajam dan menggidikkan hati
memancar keluar.
Kiranya didalam perjumpaannya dengan Hoa Pek Touw tadi, dalam sekali gebrakan saja It Boen Pit Giok telah kena dihantam sehingga darah panas dalam rongga
dadanya bergolak keras, nadinya berdenyut cepat dan dan hampir saja muntahkan darah segar.
Mimpipun dia tak pernah meagira kalau didalam perkampungan Tay Bie san Cung masih terdapat seorang jagoan lihay yang memiliki ilmu silat sedemikian
tingginya, oleh karena dia tidak percaya kalau Hoa Pek Touw adalah anggota perguruan Liuw Sah Boen.
Sebab sebelum dia menyebrang lautan Timur berangkat menuju kedaratan Tionggoan. Thiat Tie Sin Nie sitabib sakti seruling baja telah memberitahukan kepadanya
Bahwa sapasang iblis dari samudra Seng 5ut Hay telah binasa semua dan didaratan Tionggosn tak nanti akan tardapat manusia yang dapat menendingi kepandaian
silatnya.
Namun sekarang fakta membuktikan lain, bukan saja didalam dunia persilatan masih terdapat manuaia yang berkepandaian jauh melebihi dirinya, bahkan kakek
berkerudung hitam yang kini berdiri dihadapannya dapat memukul mundur dirinya hanya dalam sekali gebrakan saja. bisa dibayangkan betapa dahsyatnya kepandaian
silat yang dimiliki orang itu?.
Hal lain yang lebih mengherankan hatinya adalah kenapa dia bisa tahu akan nama asli suhunya sebelum mencukur rembut jadi nikouw ? apa sebenarnya hubungan
antara suhunya dengan kakek tua ini?
It Boen Pit Gok termenung berpikir sejenak, lalu tanyanya kembali :
"Sebenarnya kau adalah si iblis sakti berkaki telanjang dari samudra Seng Sut Hay atau bukan?"
10
HOA PEK TOUW TERTAWA dingin.
"Apa matamu buta Hee budak dungu? coba periksa apakah kakiku telanjang ataukah memakai sepatu
"Kalau kau memang bukan iblis itu lalu apa sebabnya wajahmu kau kerudungi dengan kain hitam? apakah Wajahmu jelek hidungmu hilang atau mungkin bibirku
sumbing?"
Dengan seramnya Hoa Pek Touw mendengus.
"Hmm tak ada artinya kau menggunakan cara tersebut untuk memanasi hatiku, cepat pulang kesarangmu sana dan katakan kepada Hoo Bong Jien, sahabat karibnya
yang telah dia usir dari istana Hoei Coei Kiong pada waktu yang silam, kini telah hidup kembali.
"Hidup kembali?" Rupanya It Boen pit Giok tidak habis mengerti akan penggunaan satu patah kata itu, tidak sempat berpikir panjang lagi dia segera tertawa
dingin dan mengejek."
"Ooouw rupanya kau pernah diusir dari istana Hoei Coei Kiong bagaikan seekor anjing budukan. Hmm! tidak aneh kalau kau tak berani menjumpai diriku dengan
wajah aslimu. Huuu sialan tak tahu malu"
Hoa Pek Touw mendengus dingin, dia tetap berdiri tegak ditempat semula tanpa kerkutik. hanya saja dengan suara yang dingin dan menyeramkan ancaman.
"Rupanya kau ingin dilukiskan sebuah tato diatas wajahmu itu, kau harus tahu bahwa loohu adalah ahli Tato yang paling lihay dikolong langit dewasa ini".
Ancaman ini sungguh manjur sekali, seketika itu juga it Boen Pit Giok dibikin ketakutan setengah mati, sampai sampai air mukanya berubah jadi pucat pias
bagaikan mayat. Mula mula dia memang ada maksud untuk mengundurkan diri dari perkampungan Tay Bie San Cung, namun setelah teringat kembali akan msksud
tujuannya
mendatangi perkampungan tersebut dengan menempuh perjalanan siang malam, diam-diam dia lantas gertak giginya dan berpikir.
"Karena persoalanku Dia telah menyusup masuk kedalam perkampungan Tay Bie San Cung, hingga kini kabar beritanya lenyap tak berbekas kutanyakan kepada sisetan
tua ini namun dia tak mau bicara, mana boleh kutinggalkan tempat ini demikian saja? baik atau buruk aku harus lawan bajingan tua ini!".
Berpikir demikian maka hatinya jadi mantap, tanpa mengeluarkan sedikit suarapun dia cabut keluar seruling berlubang sembilannya dari dalam saku, kemudian
dendan serius katanya:
"Apabila kau sanggup menandingi sembilan jurus seruling bajaku serta dua belas jurus ilmu penunjuk iblisku, maka saat itulah kau baru berhak untuk mengusir
aku dari daratan Tionggoan untuk kembali kegunung tiga dewa diluar lautan"
Menyaksikan It Boen Pit Giok mengeluarkan seruling baja berlubang sembilannya dari saku, Hoa Pek Touw segera mendongak dan tertawa seram, seraya mengepal
sepasang tinjunya kencang kenoang selangkah demi selangkah dia maju kedepan,
Diam diam It Boen Pit Giok terkejut dan jeri menyaksikan sikap sang kakek yang amat menyeramkan itu. terutama sekali sinar matanya yang berubah jadi merah
dan begaikan seekor binatang liar,
tanpa sadar dia mundur selangkah kebelakang
"Seruling bsja berlubang sembilan?... seruling baja berlubang sembilan..." Gumam Hoa Pek Touw kembali dia tertawa seram.
"Haah... Haaaah... haah.... sungguh tak kusangka seruling yang kubuat dengan susah payah hingga membuang banyak tenaga dan pikiran, kini malahan mengangkat
nama Hoo Bong Jien sehingga berkibar didalam dunia persilatan. Haah... haaah... haah... haaah.... Thiat Tie Sin Nie....?"
Mendadak matanya malotot gusar, dengan suara setengah meraung teriaknya:
"Ciiss... Nikouw sakti seruling baja macam apakah dia... Hmm tidak lebih cuma seorang lonte busuk,"
It Boen Pit Giok benar benar tak perneh menyangka kalau pihak lawan bisa memaki suhunya dengan kata kata yang demikian kotor, tanpa sadar jantungnya berdebar
debar keras, merah padam selembar wajahnya.
Dia membentak nyaring, tidak sampai menantikan Hoa Pek Touw menubruk. datang lengannya telah dipentangkan lebar, badannya secara beruntun maju tiga langkah
kedepan, seruling baja berlubang sembilannya diputar kencang dan mengirim satu serangan dahsyat dengan jurus "Thian Gwa Lay Hong" atau Belibis sakti luar
langit.
Seruling panjang yang berwarna hitam pekat dengan memancarkan serentetan cahaya tajam berwarna hitam bagaikan air bah menggiring keluar, irame seruling yang
tajsm dan tinggi melengking hingga menembusi awan bagaikan hendak merobek robek jantung manusia mengiringi dibelakang gulungan angin serangan tersebut.
Tubuh Hoa Pek Touw yang tinggi besar bergerak mengigos kesamping bagaikan selembar daun kering mengikuti datangnya sambaran seruling baja itu melayang
kedepan kemudian bergerak seolah olah menempel diantara cahaya hitam tadi.
Dengan hati bergidik It Boen Pit Giok menggeser badannya kesamping, tiba tiba serulingnya menikung kesamping lalu menekan kebawah. laksana kilat menotok
jalan darah Hoe Ciat serta Hiat Hay" dibawah lambung Hoa Pek Touw.
Sungguh cepat dan lincah perubahan jurus yang dia lakukan barusan ini, irama aeruling seketika lenyap dan tahu tahu suara tajam tadi telah menotok keatas
lambung Hoa Pea Touw dan nampaknya perut siorang tua itu segera akan tertembusi,
Siapa sangka disaat yarg paling kritis dan detik yang terakhir itulah sekonyong konyong Hoa Pek Touw tertawa dingin mendadak badannya berputar kencang
bagaikan sebuah gangsingan, dengan cepat dan lincah dia telah berputar kalian arah.
Mengikuti pergesekan jubah bajunya dikala berputar itulah seruling baja tadi kehilangan arah sasaran dan gagal menotok jalan darahnya.
AIR muka It boan Pit Giok berubah hebat, seruling bajanya diayun kembali kedepan, jar! telunjuk dan jari tengah lengan kirinya dijulurkan kedepan, sesudah
berputar satu lingkaran dia sentil kemuka teriaknya:
“Aku tidak percaya kalau kau betul betul telah berhasil melatih Ilmu khie-kang pelindung badan".
(bersambung ke jilid 15)


Jilid 15
SERENTETAN angin serangan yang tajam laksana titiran air hujan meluncur kedepan langsung menyodok jalan darah Thian Toh Hiat diatas tenggorokan kakek
berkerudung hitam itu.

Sentilan jari yang diiringi dengan babatan seruling baja ini bukan lain adalah jurus "Ngo Hoed Ci Pay" atau Buddha sakti maha pengasih, suatu jurus serangan
yang maha sakti.

Tampaklah beribu-ribu buah jalur bayangan seruling segera mengepung dan membabat batok kepala lawan.

Gerakan perputaran tubuh Hoa Pek Touw yang gencar laksana ganjsingan itu mendadak berhenti kemudian badannya roboh kearah belakang, kembali dia berhasil
meloloskan diri dari dua buah ancaman lawan yang tajam dan maha ampuh tadi.

Dia meraung rendah, seluruh badannya bagaikan sebatang anak panah yang terlepas dari busurnya meluncur keangkasa, berada ditengah udara badannya kembali
berputar, sepasang lengannya diputar keda!am dan melayang turun keatas permukaan dalam sikap yang lurus.

Kendati kakinya pincang tetapi beberapa jurus serangan itu dapat dilakukan dengan sempurna, badannya bagaikan seekor naga sakti menari dan menerobos kesana
kemari -antara kurungan beribu-ribu buah bayangan seruling.

Tatkala menyaksikan dua buah jurus serangannya mengenai sasaran yang kosong, It boen Pit Giok segera tarik kembali serulingnya untuk melindungi badan,
setelah itu badannya loncat mundur tiga langkah kebelakang takut musuhnya dengan menggunakan kesempatan yang sangat baik itu melancarkan bokongan lagi
kepadanya.

Namun Hoa Pek Touw tidak berbuat demikian, dia tetap berdiri serius ditempat semula sambil melingkarkan lengannya.

Air muka gadis cantik dari luar lautan berubah hebat, diam-diam pikirnya dengan hati terperanjat :

"Mana mungkin?... darimana dia bisa menguasai pula ilmu sakti Pouw Giok Cioe?"

"Heeeh.... heeeeh..... heeeh.... apakah kau ingin menjajal pula bagaimana lihaynya tujuh jurus Pouw Giok Chiet Sin ku ini?" terdengar kakek itu menjengek
sambil tertawa seram.

"Sebetulnya siapakah kau? kenapa kaupun bisa menguasai ilmu Pouw Giok Chiet Sih dari Ko Supek ku?"

Hoa Pek Touw cuma mendengus dingin tanpa menjawab, mendadak sepasang lengannya diputar, tangan kiri mengayunkan satu pukulan keluar sementara telapak kanan
menekan kedalam, satu berputar yang lain membalik dalam sekejap mata munculkan satu tenaga pukulan yang maha dahsyat menggulung kearah depan.

It-boen Pit Giok tarik napas dalam2, seruling baja ditangan kanannya digetar sejajar dengan dada, dengan menciptakan beribu-ribu bayangan seruling yang
menggabung jadi satu lapisan cahaya, dia berusaha melindungi dada sendiri.

"Bruuuuk!" tubuh It-boen Pit Giok mundur dengan sempoyongan, angin pukulan yang maha dahsyat laksana gulungan ombak ditengah samudra itu dengan telak
mengenai senjata seruling bajanya hingga seketika ia mundur dua langkah kebelakang.

Hoa Pek Touw mendengus dingin, sepasang telapaknya berpisah kedua belah samping, laksana kilat mencengkeram senjata seruling itu.

Belum sempat It boen Pit Giok berdiri tegak, kesepuluh jari lawan telah tiba didepan mata, seketika itu juga tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan
diri, senjata seruling baja dalam genggamannya kena dicengkeram oleh lawan.

Dalam keadaan gelisah bercampur gusar gadis ayu ini jadi nekad, mendadak ia lancarkan satu tendangan kilat dengan kaki kanannya.

Hoa Pek Touw membuang tubuh bagian atasnya kebelakang, kaki kanan maju menyilang satu langkah kedepan, setelah menghindarkan diri dari datangnya tendangan
tersebut sikut kanan bekerja cepat, dalam satu gerakan yang manis tahu-tahu dia sudah berhasil merampas seruling tersebut dari tangan lawan.

Langkah kaki It-boen Pit Giok jadi mengambang, kena dibetot oleh tenaga musuh yang lebih besar daripadanya tanpa dikuasai lagi dia ikut maju dua langkah
kedepan.

"Lepas tangan!" bentak Hoa Pek Touw ketus.

Sikut kanannya disodokan kebelakang diikuti dengkulnya ikui bekerja, mengiringi satu desiran dahsyat dihajarnya lengan kiri It boen pit Giok keras keras

Kreeetak..! sungguh jitu datangnya sodokan sikut tersebut, belum sempat gadis dari luar lautaun ini melancarkan serangan balasan, tahu tahu persendian tulang
tangan kirinya telah patah.

Rasa sakit yang tak terhingga segera menyerang kedalam ulu hatinya membuat sekujur badan gadis ini gemetar keras, keringat dingin mengucur keluar membasahi
seluruh jubahnya, buru buru ia lepas tangan dan loncat mundur kebelakang.

Hoa Pek Touw mendengus dingin.

"Hmm ! Loohu sanggup menciptakan seruling ini, maka kini akupun sanggup pula untuk memusnahkan senjata terkutuk ini dari mula bumi"

Sepasang telapaknya diremas, perlahan-lahan menpgencet dan merapatkan bagaikan mesin pres.

Diantara menonjolnya otot o!ot tangan yang berwarna hijau, seluruh badan senjata seruling itu bagaikan dibuang kedalam tungku yang berapi dahsyat segera
berubah jadi merah padam, asap hijau membumbung ketengah udara dan perlahan lahan besi tadi meleleh dan membengkok.

Dalam waktu singkat seruling baja berlubang sembilan tadi telah ditekuknya hingga jadi satu lingkaran gelang, diikuti tangan kanannya diayun kemuka kakek tua
she Hoa ini menyodorkan senjata yang sudah berubah bentuknva itu kepada diri It boen Pit Giok, ujarnya:

"Bawalah lingkaran baja ini pulang ke istana Hoei Coei kiong mu dipulau Bong Lay To, aetelah melihat benda ini Hoo Bong Jien akan segera mengetahui siapakah
diriku"

It boen Pit Giok menerima seruling bajanya yang kini telah bernbah jadi gelang lingkaran itu, teringat akan musnahnya senjata mustika kesayangannya ini tanpa
sadar air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang ayu.

Dengan termangu mangu dia pandang wajah Hoa Pek Touw tanpa berkedip, beberapa saat kemudian dia baru berkata:

"Seandainya kau manguasai ilmu Pouw Giok Chiet Sah maka ilmu Poh Giok Kang pun pasti telah kau kuasai. Kalau tidak maka kau tak akan bisa menandingi supekku
dan pada saat itu suhuku pun tak usah turun tangan sendiri untuk membereskan kau"

Mendengar ucapan itu Hoa Pek Touw mendongak dan tertawa terbahak bahak.

"Haah... haaah... haaah.... apa hebatnya Ko Ek? Hmm ! ilmu Poh Giok Kang..."

Tiba tiba tangannya diluruskan kemuka, sambil menggenggam kepalanya kencang kencang dia ayunkan satu pukulan ketengah udara.

Terdengar suar ledakan yang amat dahsyat dan memekikkan telinga berkumandang memecahkan kesunyian, sebuah pohon besar yang berada kurang lebih empat tombak
dihadapannya tahu tahu tumbang dan roboh keatas tanah.

Pasir dan debu segera beterbangan memenuhi angkasa, suara patahnya ranting dan dahan mengiringi gemerisiknya dedaunan yang mencium tanah.

Ilmu pukulan yang maha dahsyat ini bukan saja mengejutkan It boen Pit Giok sidara ayu dari luar Lautan ini, bahkan Ku Loei yang bersembunyi dibelakang
pohonpun dibikin terkesiap sehingga untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, matanya terbelalak lebar dan mulutnya melongo.

Mimpipun tidak menyangka kalau Hoa Pek Touw yang selamanya tak pernah membicarakan soal ilmu silat dan seharian penuh selalu menyelidiki soal pertabiban.
ilmu barisan, ilmu alat rahasia serta ilmu jebakan itu sebetulnya bukan lain adalah seorang jagoan Bulim yang maha sakti dan maha lihay.

Terdengar Ke Hong yang bertiarap dibelakang tubuhnya berseru dengan nada kaget bercampur ngeri.

"Suhu, bukankah ilmu yang barusan merupakan ilmu Khie kang tingkat tinggi dari aliran Hian Boen? sungguh tak nyana tenaga lwekangnya sedemikian dahsyat dan
hebatnya..."

"Akupun tak pernah menyangka kalau Hoa Loo jie sebetulnya berasal dari luar lautan dan berasal dari satu perguruan dengan "Poh Giok cu" Ko Ek sang Loo jie
dari tiga dewa bahkan semakin tak mengira kalau dia masih mempunyai ikatan dendam dengan Thiat Tie Sin Nie!" seru Ku Loei pula dengan suara lirih.

Belum habis dia berkata, tampaklah batang pohon besar yang tumbang keatas tanah dan tersisa satu batang dahan sepanjang tiga depa itu tatkala terhembus
angin, ternyata bagaikan bubuk tepung saja segera tersebar kemana mana dan dalam sekejap mata lenyap tak berbekas.

Air mukanya berubah semakin hebat, dengan hati terkesiap dia melototi dahan pohon yang lenyap bagaikan bubuk tepung itu, meski ia sendiri adalah seorang
jagoan lihay dari perguruan Seng Sut Hay namun sepanjang hidupnya belum pernah ia jumpai kepandaian sedahsyat ini.

Tampaklah It Boen Pit Giok tertawa sedih.

"Aku tak pernah mengira kalau kau berasal dari perguruan Hian It Boen di luar lautan dan merupakan saudara seprguruan dari Ko supek, Hmm demikianpun boleh

juga, dengan beigitu akupun bisa memberikan pertanggungan jawab dihadapan guruku nanti.

Ia merandek sejenak, kemudian sambil menahan rasa sakit tambahnya lagi:

"Dalam tiga bulan mendatang, tiga dewa dari luar lautan pasti akan muncul kembali didaratan Tionggoan. aku harap kau masih tetap menanti kedatangan kami
disini"

"Selama tiga puluh tahun terakhir belum pernah loohu merasa gembira dan puas seperti hari ini. Nah pergilah dari sini, sebelum aku berubah ingatan untuk
membinasakan dirimu, lebih haik kau sedikit mengerti gelagat"

It boen Pit Giok tidak banyak bicara lagi, sambil memegangi lengan kirinya yang terasa amat sakit dia putar badan dan berjalan menuju keluar hutan,

Mendadak..

Satu bentakan nyaring berkumandang datang, Ku Loei dengan langkah lebar munculkan diri dari balik pepohonan.

"Tunggu sebentar!" serunya. "Kau anggap aku bisa memberikan peluang baik bagimu untuk meninggakan tempat ini?"

"Ku Loei!" sela Hoa Pek Touw sambil menegur. "Apa yang kau katakan?"

Kena ditegur Ku Loei terperanjat dan segera berpaling, tampaklah Hoa Pek Touw dengan sepasang mata yang merah .membara bagaikan binatang membara bagaikan
binatang liar sedang mengawati wajahnya dengan buas dan menyeramkan.

Dia jadi ngeri, pikirnya :

"Selama lima puluh tahun belakangan belum pernah kujumpai dirinya menunjukkan sikap gusar, kenapa pada hari ini dia bisa berubah dari keadaan biasanya Aach!
rupanya kalau aku tetap membangkang maksud hatinya, dia pasti akan menyusahkan diriku! lebih baik aku sedikit tahu diri..."

Ingatan tersebut dengan cepatnya berkelebat didalam benaknya, dia segera tertawa jengah dan berseru.

"Baiklah akan kuturuti maksud hati dari Hoa Loo jie. Nah! pergilah dari sini!"

"Ku Loei, apakah kau masih mempunyai pesan lain?" jcngek It boen Pit Giok dingin.

"Cepat enyah dari sini!" Sekilas rasa sakit hati, pedih dan sedih terlintas diatas wajah It boen Pit Giok yang cantik, dia angkat tangannya untuk menyeka air
mata yang membasahi wajahnya, lalu sambil gertak gigi serunya. "Didalam tiga bulan aku pasti akan menghancur leburkan perkampungan Tay Bie San cung jadi rata
dengan tanah,"

"Hmm... Hum... akan kunantikan kedatangan kalian" sahut Hoa Pek Touw dingin.

Ia merandek sejenak, kemudian sambil tertawa seram katanya lagi.

"Hoo Bong jien... Hoo Bong Jien... akan kulihat kau bisa hidup sampai kapan lagi?"

Diiringi tertawanya yang serem, dengan tubuh sempoyongan dia berjalan menuju kearah tanah rerumputan disebelah selatan.

It Boen Pit Giok bungkam dalam seribu bahasa, diapun putar badan dan masuk kedalam hutan.

Melihat gadis itu hendak berlalu, Ku Loei sgera mengerling memberi tenda kepada Ke Hong, setelah itu diapun ikut berlalu mengintil dibelakang Hoa Pek Touw.
Ke Hong tidak segera bertindak,ditunggunya lebih dahulu sehingga bayangan tubuh Ku Loei serta Hoa Pek Touw lenyap dibalik pepohonan, setelah itu dia baru

enjotkan badannya berkelebat mengejar kearah mana perginya It boen Pit Giok tadi.

Baru saja badannya membumbung tinggi ketengah udara terdengar Hoa pek Touw telah membentak dengan nada menyeramkan.

"Ke Hong, kau pingin modar?".

Air muka Ke Hong berubah hebat, buru2 dia melayang turun keatas permukaan dan tidak berani mengejar lagi.

"Kau cepat kembali ketelaga Lok Gwat Ouw, mungkin Chin Tiong telah siuman dari pingsannya!".

Kemudian terdengar gelak tertawa Hoa pek Touw yang menyeramkan bergema keluar dari balik pohon, diiringi suara senandung yang nyaring dan lantang
mendengungkan diangkasa tiada hentinya.

"Dilautan Timur ada gugusan pulau,

Bong Lay namanya

Ditengah gugusan pulau dewa Bong Lay.

terdapat satu gunung.

Puncak gunung tinggi menjulang keangkasa.

istana dewa berdiri disana,

Kumala sebagai tiangnya, jamrud sebagai atapnya, emas sebagai penglarinya dan kumala putih sebagai ubinnya.

Dalam istana hidup seorang gadis cantik,

Bong jien namanya

Bening matanya manis senyumnya cantik

melebihi seluruh negeri

Aku sayang aku kagum kepadanya, kuingat kurindukan siang dan malam

Kian lama suara senandung itu kian menjauh hingga akhirnya hanya alunan euara yang lirih saja masih mengalun ditengah udara terbawa hembusan angin.

Cahaya sang surya yang berwarna keemas2an menembusi awan diangkasa menyoroti seluruh permukaan telaga Lok Gwat Ouw yang tenang, riak kecil menggulung kian
kemari mengiringi hembusan angin yang sepoi sepoi basah

Lorong Koen Liong To didasar telaga tetap gelap gulita dan lembab, tiada sinar terang yang memancar keluar lagi dari bilik dinding batu yeng berdiri kokoh di
situ.

Air telaga perlahan lahan mengalir masuk lewat celah dinding yang retak, air membanjiri lorong dan memenuhi lorong rahasia disekelilingnya.

Pek In Hoei yang menggeletak diatas tanah mulai basah tergenang air, lengan kirinya masih merangkul tubuh Wie Chin Siang erat erat sementara pedang
penghancur Sang surya berada ditangan kanannya,

Sebiji mutiara yang memancarksn cahaya hijau menerangi seluruh lorong. Benda itu berada didalam genggaman pemuda tadi bukan lain adalah mutiara penolak air.

Entah berapa saat lamanya telah lewat, mendadak tubuhnya bergetar keras diikuti dia menghembuskan napas panjang.

"Aaaach !" dia rasakan seluruh tubuhnya panas seperti dibakar sementara punggungnya dingin membekukan darah, panas dan dingin yang bersamaan ini membuat
badannya seperti disiksa. sangat tidak enak dirasakan.

Baru saja badannya meronta, dia temukan sesosok tubuh manusia menindihi badannya membuat separuh tubuhnya bagian kanan jadi linu dan kaku.

Dibawah sorot cahaya mutiara yang suram, Pek in Hoei melihat jelas bahwa saja orang itu bukan lain adalah Wie Chin Siang. bulu matanya yang panjang,
hidungnya yang mancung, bibirnya yang kecil serta rambatnya yang hitam menambah kecantikan wajah gadis itu,

Perlahan lahan dia menghembuskan napas panjang, bau harum semerbak tersiar keluar dari tubuh dara itu menyerang lubang hidungnya, lama sekali akhirnya ia
gigit bibir dan berpikir :

"Bagaimanapun juga aku tak boleh tidur terus ditempat ini sambil memeluk tubuhnya. kalau dia sampai mendusin dan melihat keadaan ini tentu hatinya akan jadi
malu. dan akupun jadi merasa tidak enak hati terhadap dirinya.....

Sementara dia masih melamun tidak keruan, mendadak terdengar suara senandung yang tinggi melengking berkumandang datang dari luar lorong rahasia itu,

Meskisun tidak begitu jeias senandung tadi mengalun datang, namun ia dapat merasakan betapa dalamnya kasih sayang serta perasaan cinta yang terkandung
dibalik senandung tersebut.

Sepasang alisnya berkerut, diam diam pikirnya:

"Sangguh aneh... kenapa didalam satu baik syair senandung tersebut bisa mengandung begitu banyak perasaan? bukan saja mengandung perasaan sedih, gembira,
penderitaan dan siksaan batin bahkan secara lapat lapat terkandung pula ejekan terhadap diri sendiri.

Rasa ingin tahu membuat sianak tanda itu pusatkan segenap perhatiannya untuk mendengarkan irama nyanyian yang kian lama kian bertambah dekat itu, setelah
suara itu semakin dekat maka tiap bait syair itupun dapat didengarnya dengan sangat nyata.

Akhirnya dia pejamkan, mata dan menghapalkan bait nyanyian tersebut,

Dilaut Timur ada Gugusan Pulau,

Bong Lay namanya

Ditengah gugusan pulau Bong Lay,

terdapat satu gunung

Puncak gua yang tinggi menjulang

keangkasa, istana dewa berdiri disana

Kumala sebagai tiang, jamrud sebagai atap, emas sebagai penglari dan kumala putih sebagai ubin

Dalam istana hidup seorang gadis cantik, Bong Jien namanya

Bening matanya manis senyumnya,

cantik melebihi seluruh negeri

Aku sayang, aku kagum kepadanya,

kuingat, kurindukan siang dan malam

Namun semuanya tinggal kenangan,

Ooh betapa pedih dan sedih hatiku"

"Aaaah, kiranya sebuah lagu cinta...." gumam pemuda she Pek itu. Untung aku tak pernah merindukan seorang gadis hingga menyerupai orang itu,

Suatu ingatan mendadak berkelebat diatas benaknya, ia berpikir lebih jauh:

"Kalau ditinjau dari bait syair nyanyian rupanya dia sedang membayangkan pulau dewa Bong lay dilautan Timur, bukankah It Been Pit Giok pun berasal dari situ
luar lautan? lalu siapakah gadis yang bernama Bong Jien itu? tapi aku rasa dara itu tentu cantik jelita bagaikan bidadari, kalau tidak tak nanti orang itu
demikian kagum dan cinta kepadanya...

Ia buka matanya menatap wajah Wie Chin Siang kemudian pejamkan matanya kembali membayangkan wajah It boen Pit Giok, namun untuk sesaat sukar baginya untuk
membedakan mana yang lebih cantik diantara kedua orang gadis itu. Kembali dia berpikir:

"Entah bagaimanakah kalau kedua orang gadis ini dibandingkan dengan gadis yang hidup distana Hoei Coei Kiong itu? siapa yang lebih cantik diantara mereka,"

Baru saja ingatan itu berkelebat didalam benaknya, segera terdengarlah suara langkah kaki manusia yang berat berkumandang dari dalam lorong rahasia itu.

Langkah kaki tersebut yang sebelah terdengar berat sedang yang lain ringan, seakan akan seorang pincang sedang berjalan perlaban lahan.

"Tidak salah, jelas orsng itu pincang kaki sebelahnya" pikir Pek In Hoei dengan hati terkesiap. "Jangan jangan Hoa pek Tonw sirase tea yeng licik dan lihay
itu telah datang"

Cepat cepat dia genggam mutiara penolak air semakin semakin kencang, dia berusaha agar cahaya mutiara itu Jangan sampai memancar keluar namun usahanya
percuma sebab cahaya hijau itu masih sempat menerobo5 keluar dari celah celah jari tangannya dan menerangi seluruh ruangan.

Dalam keadaaan gugup dan gelisah pemuda kita tak sempat untuk berpikir panjang segera dia susupkan mutiara mutiara tadi kedalam tubuh Wie Chin Siang.

Baru saja tangannya disusupkan kedalam tubub gadis itu, terdengar Wie Chin Siang merintih lirih, putar badan dan menyandarkan kepadanya diatas dadanya yang
bidang.

Pek In Hoei jadi gugup, tanpa sengaja tangannya yang berada di dalam baju gadie itu menekan diatas sebuah gumpalan daging yang empuk dan mengkal, rasa hangat
dan halus segera menyerang batinnya lewat permukaan telapak tangan.

Pikirannya jadi kacau dan jantung berdebar semakin keras, hampir hampir saja dia peluk tubub Wie Chin Siang semakin kencang,

Namun, bagaimanapun juga Pek In Hoei bukanlah seorang pemuda yang rendah martabatnya sekalipun dia merasakan birahi yang melonjak lonjak namun imannya masih
cukup teguh untuk mempertanhankan kesadarannya, dia angkat kepala dan tarik napas dalam dalam, ingatan menuju kebirahi dihilangkan dan segenap perhatiannya
dipusatkan untus mencari akal bagaimana caranya melepaskan diri dari pencarian Hoa Pek Touw.

"Aach, bukankah ditempat ini terdapat banyak sekali pintu pintu lorong akupun aku tidak mengerti apa kegunaan dari pada pintu yang demikian banyak jumlahnya
itu namun asalkan aku menerobos kedalam salah satu diantara pintu pintu itu maka untuk menemukan jejakku dia harus membuang waktu yang sangat banyak.
Bukankah ketika yang sangat baik ini dapat kugunakan untuk meloloskan diri dari sisi?"

Setelah ingatan tersebut laksana kilat berkelebat dalam benaknya, tanpa berpikir panjang lagi dia putar badan memasuki kembali pedang Si Jiet Kiamnya kedalam
sarung kemudian memeluk tubuh Wie Chin Siang dan berlalu dari situ.

Suara langkah kaki yang berat dan datang itu secara tiba tiba berhenti bergerak diikuti terdengar suara pintu yang dibuka orang:

Diintipnya kearah lorong rahasia itu, secara lapat lapat tampaklah bayangan tubuh Hoa Pek Touw yang tinggi besar sedang bergerak dibawah sorot cahaya lampu.

Dengan cepat ia barkelebat kesamping sambil bersandar diatas dinding tangan kanannya meraba pintu disekitar sana lama sekali akhirnya tombol pintu teraba
juga olehnya, menggunakan ketempatan dikala Hoa Pek Touw menutup pintunya hingga mengeluarkan senjata karas, dia menerobos kedalam pintu tadi dan menyelinap
masuk.

Sekilas cahaya yang lembut mengikuti gerakan tubuhnya yang menyelinap kedalam ruangan berkelebat didepan matanya.

Ia menghembuskan napas panjang setelah debaran jantung agak berkurang matanya mulai memeriksa keadaan di sekeliling tempat itu.

Terlihatlah dimana ia berada saat ini merupakan sebuah ruang besar, didalam ruangan itu terdapat beberapa buah meja yang terbuat dari kayu cendana, tetapi
sangat aneh ternyata disitu tidak nampak sebuah kursipun.

Tepat ditengah ruangan tergantung sebuah tempat lilin yang sangat besar, ditengah tempat lilin tadi terletak tiga buah mutiara yang memancarkan cahaya
menerangi permadani merah diatas lantai, cahaya yang suram tadi menambah cantik serta semaraknya tempat itu.

Kembali sinar mata pek in Hoei berputar dari permadani merah ia mulai gerakan pandangannya menatap sebuah pintu kecil yang setengah terbuka disebelah kiri
ruangan itu.

Pikirnya didalam hati:

"Entah didalam tanah ada penghuni atau tidak? seandainya disitu ada orang hingga kini Wie Chin Siang belum sadar sedang aku sendiripun harus berusaha keras
menahan daya kerja racun yang membakar tubuhku, tak nanti aku bisa bertahan terlalu lama".

Beberapa saat dia sangsi, tetapi akhirnya Pek In Hoei mengambil kepuutusan untuk masuk kedalam ruangan itu.

Dalam pada itu suara laugkah kaki dari Hoa Pek Touw telah tiba didepan pintu, rupanya sebentar lagi dia akan masuk kesitu.

Keadaan yang semakin mendesak dirinya itu membuat Pek In Hoei tak dapat berpikir lebih jauh, bagaikan hembusan angin dia peluk tabuh Wie Chin Siang kemudian
menerobos masuk kedalam ruangan tadi.

"Aaaaah... " mendadak pemuda itu menjerit kaget, sepasang matanya terbelalak lebar dan menatap diatas dinding dalam ruangan itu tak berkedip.

Sorot matanya yang terpancar keluar dari balik matanya menunjukkan kekaguman rasa tegang dan kaget yang tak terhingga:

sepasang kakinya seolah olah terpantek diatas tanah. badannya sedikinpun tidak berkutik.

Lama sekali.... dia baru dapat menghembuskan napas panjang dan pujinya.

"Oooh sungguh cantik wajahnya..."

Sambil membopong Wie Chin Siang selangkah demi selangkah dia berjalan mendekati lukisan yang tergantung diatas dinding tembok itu, kurang lebih delapan
langkah kemudian ia baru berhenti dsn kembali memuji :

"Sungguh cantik wajah oreng itu! sungguh cantik lukisan tersebut...."

Rupanya ruangan tersebut adalah kamar tidur seorang gadis, tepat diatas ruangan itu kecuali sebuah toilet, sebuah pembaringan besar serta beberapa buah
kursi.

seluruh dinding dipenuhi dengan gantungan lukisan,

Tetapi diantara lukisan lukisan tersebut hanya sebuah lukisan yang tergantung di atas pembaringan itu saja yang terbesar, maka dari itu setiap orang yang
masuk ke dalam ruangan segera akan melihat lebih dahulu lukisan gadis cantik itu.

"Aaai benar benar sangat indah" kembali Pek In Hoei bergumam seorang diri "Entah siapakah yang melukis lukisan ini",

Dia melangkah dua tindak lebih kedepan, terlihatlah disebelah kiri lukisan tersebut tsrtera sebuah cap nama sipelukis, cuma warna merah cap tadi sudah hampir
luntur, sekalipun begitu tulisan yang tertera masih kelihatan nyata sekali.

"Aaaah. Hoa pek Touw yang melukis lukisan ini?" dengan segera ia membatin. "Sungguh lihay orang itu, kepandaian apapun berhasil dia kuasai"

Dalam sekejap mata otaknya telah dipenuhi dengan pelbagai pikiran:

"Manusia yang berbakat seni den memiliki banyak macam ilma, macam dia itu sebenarnya merupakan seorang yang sangat cerdik, entah apa sebabnya telah
bersekongkol dengan sepasang iblis dari samudra Seng Sut Hay untuk menaklukkan dunia persilatan"

Ia mendongak memandang kembali lukisan gadis cantik diatas dinding, lalu pikirnya lebih jauh:

"Rupanya lukisan gadis ini bukan lain adalah gambar dari gadis bernama Bong Jien yang dipuja dan dicintainya itu. tidak aneh kalau dia bisa begitu kegila
gilaan serta merindukannya siang dan malam. kecantikan wajah dara ini memang luar biasa sekali."

Ia geleng2 kepala dan menghela napas panjang.

"Asaai entah apa sebabnya dia telah melepaskan diri dari cinta kasih sang gadis yang begitu mendalam, sebaliknya malah melakukan perbuatan perbuatan sadis
dan terkutuk terhadap umat Bulim”

Sepasang alisnya berkerut, pikirnya lebih jauh:

"Atau mungkin gadis itu telah terbunuh oleh jago Bulim dari daratan Tioaggoan maka sekarang Hoa Pek Touw akan membalaskan dendam berdarah itu dan disebabkan
peristiwa inilah muncul keinginannya untuk mempersatukan seluruh dunia kangouw dibawah kekuasaannya?"

Pelbagai ingatan tersebut dengan cepatnya memenuhi banek sianak muda itu. sementara dia masih berusaha mencari sebab sebab yang mengakibatkan Hoa Pek Touw
hendak menguasai seluruh Bulim dengan andalkan kecerdikannya, mendadak terdengar pintu besar didorong orang.

Diikuti terdengar suara langkah yeng sempoyongan bergerak menuju keruang tidur tersebut, langkahnya berat dan kedengarannya seolah olah hendak menerjang
masuk kedalam.

Pek In Hoei terperanjat, ia mendusin dari lamunannya, dengan cepat sinar matanya bergerak memeriksa keadaan disekitar ruangan itu untuk coba mencari tempat
yang dapat digunakan untuk menyembunyikan diri.

Suara teriakan keras Hoa Pek Touw yang berada diluar ruangan kedengaran semakin nyata, dan apa yang diteriakan pun hanya beberapa patah kata yang sama

"Bong Jien.... Ooooh, Bong Jien..."

Pek in Hoei makin terkesiap, ia sadar bahwa sejenak lagi kekek she Hoa itu pasti akan tiba didalam ruangan itu. maka akhirnya tanpa berpikir panjang lagi
menerobos masuk kebawah pembaringan.

"Braaaak...!" pintu kayu terbentang lebar kena dorongan yang keras, Hoa Pek Touw dengan langkah sempoyongan menerjang masuk kedalam ruangan.

Dia lari terus hingga tiba ditepi pembaringan. disana badannya kembali sempoyongan dan akhirnya jatuh berlutut keatas tanah, serunya berulang kali

"Bong Jien.... Oooh Bong Jien ku sayang...!"

Suaranya rendah dan mendatar penuh diliputi rasa cinta yang meluap-luap, seakan akan kekasihnya berdiri dihadapannya dan ia sedang memeluk gadis pujaan
hatinya itu.

"Bong Jien... Oooh... Bong Jienku sayang!" serunya dengan suara gemetar. lni hari aku telah berjumpa dengan anak murid perempuan rendah itu, meskipun selama
puluhan tahun ini aku telah bersumpah untuk tidak berjumpa kembali dengan parempuan rendah itu dan aku tak akan menggunakan ilmu silatku lagi, tetapi...
tetapi... akhirnya aku tak dapat menahan diri..."

ia terbatuk batuk, setelah merandek sejenak terusnya :

"Aku telah melukai dirinya, aku suruh dia kembali kelaut Timur den beritahu kepada Ho Bong Jien siperempuan rendah itu. Bahwa didalam tiga bulan mendatang
mereka pasti akan tinggalkan luar lautan untuk datang kedaratan Tionggoan. Bong jien sukmamu berada tidak jauh dari sini, sampai waktunya kau dapat
menyaksikan sendiri bagaimana kubalaskan dendam sakit hatimu itu..."

Beberapa patah perkataannya ini segera membuat Pek In Hoei yang bersembunyi dibawah kolong pembaringan jadi bingung setengah mati, dengan rasa tercengang dia
tidak habis mengerti pikirnya:

"Kalau didengar dari teriakannya Bong Jien, Bong Jien terus terusan aku masih mengira dia rindu dan sayang terhadap kekasihnya, sekarang.... kembali dia
sebut sebut Hoo Bong jien dari lautan Timur... Huuu...! sebenarnya dia mau mengangkangi dunia persilatan dan memperbudak jago jago kangouw adalah disebabkan
dia mencintai Bong jien ataukah benci terhadap gadis yang bernama Bon Jien?

Pertanyaan itu merupakan satu tanda tanya yang sangat besar baginya, dan untuk sesaat dia tak sanggup memecahkan teka teki ini.

Suara gumaman Hoa Pek touw yang samar dan rendah lapat lapat masih kedengaran berkumandang disisi telinganya, namun apa yang sedang diucapkan sianak muda ini
tak dapat memahaminya.

Pek In Hoei yang berada dikolong pembaringan hanya dapat saksikan sepasang lutut Hoa Pek Touw yang berlutut diatas tanah. dan sama sekali tak dapat
menyaksikan perubahan air mukanya, oleh sebab itu diapun tidak tahu apa yang sedang dia lakukan pada saat ini.

Nsmun hal yang paling menyiksa batin Pek In Hoei adalah tubuh Wie Chin Siang yang masih dipeluknya dengan kencang itu, bau harum semerbak tubuh seorang gadis
perawan tiada hentinya menusuk lubang hidung pemuda ini ditambah lagi dengan tubuhnya yang panas dan bersandar rapat ditubuhnya, dadanya yang empuk dan
menempel didada sendiri membuat darah panas dalam tubuhnya bergolak hebat, denyutan nadinya bermbah lebih cepat dan lapat lapat napsu birahi mulai bangkit.

Sianak muda ini sadar akan saat ini dia tak kuasa menahan diri maka satu peristiwa yang hebat pssti akan berlangsung, maka dari itu dia berusaha untuk
membuang jauh pikiran yang menunjukkan bahwa tubuh Wie Chin Siang yang halus, empuk dan merangsang itu berada didalam pelukannya.

Tetapi tubuhnya yang panas tetap menggetarkan hatinya. bahkan napasnyapun terasa kian lama kian bertambah panas.

Ia basahi bibirnya yang kering dengan lidah, terasa kobaran api dalam tubuhnya semakin membara, keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada
hentinya membasahi pipinya dan jatuh ketanah...

Dengan hati gelisah pikirnya:

"Rumput racun penghancur hati itu entah termasuk dalam jenis apa? walaupun hawa racun yang kuhisap tidak banyak ditambah pula dengan pengerahan hawa murni
untuk mencegah perluasan racun itu kedalam tubuh, tetapi rasanya tubuhku seakan akan dibakar hangus Sebaliknya dia berada sangat dekat dengan tempat
kejadian, hawa racun yang dihisapnya tentu jauh lebih banyak daripada diriku, kobaran hawa panas dalam tubuhnya pasti sukar ditahan, kalau tidak cepat
kuperiksa keadaannya sehingga racun itu menyusup kcdalam jantung... waah bisa jadi jiwanya tak akan tertolong lagi..."

Saking cemasnya, hampir saja ia cabut pedangnya untuk menerjang keluar..

Mendadak....terdengar Hoa Pek Touw menangis tersedu sedu, bagaikan orang edan teriaknya dengan suara setengah menjerit :

"Kalau aku tidak membinasakan tiga orang setan tua dari lautan timur, dan seandainya aku tidak membunuh serta menginjak injak semua orang kangouw yang pandai
bersilat dibawah kakiku, aku bersumpah tidak mau jadi orang"

Teriakan itu menggidikkan hati Pek in Hoei, terasa bulu kuduknya pada bangun berdiri, sekujur badannya gemetar keras, segera pikirnya:

"Latah benar orang ini dan benar besar ambisinya, belum pernah didalam dunia persilatan terdapat manusia sesombong dan sepongah dia. seandainya dia adalah
seorang manusia biasa masih mendingan, tetapi kecerdikannya melebihi orang lain, kepandaian silatnya luar biasa... Aaaaai tampaknya pembunuhan besar besaren
tak akan terhindar dari dunia persilatan."

Dua rentetan cahsya mata yang sangat tajam memancar keluar dari balik matanya, bekas merah darah diantara, jidatnya kelihatan semakin nyata, mengikuti
golakkan hatinya yang berkobar kobar hampir saja dia merangkak keluar dari tempat pensembunyiannya untuk membinasakan Hoa Pek Touw sikakek tua itu.

Tetapi ketika itulah bagaikan seguluag hembuean angin puyuh, Hoe Pek Touw telah menerjang keluar dari pintu ruangan, diiringi dengan suara raungannya yang
keras dia berlalu dari pintu.

Dalam sekejap mata suara raungan itu telah menjauh dan akhirnya tak kedengaran lagi. yang tertinggal hanyalah kesunyian serta kesepian yang mencekam seluruh
ruangan, membuat keadaan disitu seolah olah kosong dan hampa....

Satelah dia yakin bahwa Hoa Pek Touw tak bakal balik lagi Pek In Hoei menghembuskan napas panjang, sambil mengendorksu hatinya yang tegang perlahan lahan dia
merangkak keluar dari tempat persembunyiannya.

Saat inilah dia baru merasakan betapa bahayanya keadaan yang mencekam dirinya barusan, karena pada detik itulah ia telah teringat kembali akan perkataan dari
Cian Hoan Lang Koen silelaki tampan berwajah seribu yang berkata:

"Hoa Pek Touw adalah manusia yang paling licik, paling berbahaya dan paling kejam dikolong langit dewasa ini, kecerdasannya, kelihayannya mengatasi lawan
serta kehebatannya menggunakan racun tiada tandingannya didalam jaged..."

Sambil membaringkan tubuh Wie Chin Siang diatas pembaringan, pikirnya lebih lanjut:

"Apa yang dilakukannya tadi siapa tahu kalau cuma sandiwara belaka? terhadap manusia yang berakal licik dan sukar diraba perasaan hatinya macam dia harus
dihadapi pula dengan kecerdasan serta sikap yang waspada dan hati hati. Kini setelah dia berlalu dari sini, aku rasa tak nanti dia balik lagi kemari"

Ia besut keringat yang membasahi tubuhnya, tundukkan kepala memandang Wie Chin Siang yang sedang tidur dengan nyenyak terasalah betapa cantik wajah gadis itu
pipinya yang merah, hidungnya yang mancung serta bibirnya yang mungil membuat jantung terasa berdebar keras.

Tenaga tekanan atau golakan hatinya tadi, saat ini seakan akan bendungan yang ambrol sukar dipertahankan lagi, golakan hawa panas dalam dadanya bagaikan
gulungan ombak segera mempengaruhi seluruh pikiran.

Suatu keinginan untuk menubruk keatas pembaringan, menindih tubuh gadis itu dan melampiaskan napsu birahinya meluap dalam benaknya, tetapi ia masih coba
mempertahankan diri. digigitnya ujung bibir keras keras sehingga terasa amat sakit sekali ingin dia berhasil menekan golakkan nafsu birahi tersebut

Hingga darah segar menetes keluar dari mulut luka diatas bibirnya ia baru sadar kembali, pandangan matanya segera coba dialihkan ketempat, lain dan
sebiasanya menghindari bentrokan dengan tubuh gadis yang padat berisi dan menawan hati itu.

Menahan napsu birahi adalah suatu perbuatan yang amat sulit dilaksanakan, dan juga merupakan suatu pekerjaan yang amat menyiksa batin, suatu penderitaan yang
benar benar luar biasa.

"Akhirnya eku berhasil juga menguasai golakkan nafsu dalam tubuhku..." gumam peronda itu sambil tertawa getir,

"Tapi dengan demikian aku tak sanggup melakukan pemeriksaan ditubuhnya umuk mencari tahu dibagian manakah dari tubuhnya yang keracunan...."

Sementara dia merasa serba salah, mendadak terdengar Wie Chin Siang berseru

"Air .... aku minta air".

Pek In Hoei jadi sangat girang, cepat cepat dia berpaling sambil bertanya:

"Nona Wie, apa yang kau minta?"

"Air... aku minta air...”

"Air" Pek Ia Hoei celingukan kesana kemari dan akhirnya tertawa getir. "Disini mana ada air?".

Rupanya Wie Chin Siang merasa sangat tersiksa sepasang tangannya mengurut urut dada sendiri, bibirnya yang terus bergerak tiada hentinya.

pek In Hoei mengerti pastilah seluruh tubuh gadis itu terasa panas bagaikan dibakar karena daya kerja dari racun rumput penghancur hati yang mengeram
ditubuhnya karena kekeringan maka dia ingin minum air, tetapi... darimana ia bisa dapatkan air?

Sementara dia merasa serba salah, mendadak sepasang tangan Wie Chin Siang yang sedang mengurut dadanya itu mencengkeram pakaian yang dikenakan dan kemudian
ditariknya hingga robek.

"Breeet baju luarnya terkoyak koyak sehingga tampaklah pakaian dalamnya yang berwarna merah.

Pek In Hoei terperanjat, terlihatlah olehnya dibalik pakaian dalamnya yang berwarna merah nampak kulit tubuhnya yang putih bersih bagaikan salju.. getaran
tubuhnya yang menawan membuat pikiran orang terasa melayang entah kemana.

Perasaan hatinya kembali bergolak. buru buru dia melengos kesamping, namun satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya, bila ia selain berbuat
demikian maka gadis itu pasti akan msti keracunan, oleh sebab itu dengan berat hati dia berpaling kembali.

Sambil gigit bibirnya kencang kencang, tangan kanannya segera ditempelkan keatas pusar gadis itu, maksudnya ia hendak mengucurkan hawa lweekangnya untuk
memaksa keluar racun yang mengeram didalam tubuhnya.

Tetapi baru saja telapaknya menempel dibawah pusar gadis itu, mendadak sekujai badan Wie Chin Siang gemetar keras, sepasang lengannya bagaikan dua ekor ular
dengan cepat merangkul tubuhnya, segulung

bau harum ysng memabukkan memancar keluar dari mulutnya dan menusuk lubang hidung pemuda kita.

Rangsagan ini betul betul luar biasa, goncangan hati sianak muda itu sukar dipertahankan lagi, sepasang lengannya segera balas memeluk tubuh gadis itu
diikutinya tubuhnya pun menubruk keatas pembaringan dan menindihi tubuh gadis she Wie itu. Terutama sekali bibirnya yang panas segera saling menempel dengan
bibir gadis tadi, diciumnya tubuh dara itu. dihisapnya. digigit dan ditempelkannya dengen penuh bernapsu.

Suatu perasaan aneh muncul didalam tubuhnya, ia rasakan bibir Wie Cbin Siang begitu lunak, empuk dan merangsang hingga membuat Pek in Hoei seolah olah sedang
menghirup isi cawan arak yang lezat dan menawan hatinya....

Makin lama lengannya yeng memeluk tubuh gadis itu semakin kencang, seakan akan dia hendak peras seluruh isi madu ditubuh dara itu dan dihisapnya hingga
habis....

"Ehmmm...." Wie Chin Siang perdengarkan rintihannya yang lirih dan rendah tubuhnya yang halus dan lunak bagaikan seekor ular menggeliat kesana kemari dalam
pelukannya, sang badan ikut bergerak kesana kemari menggesekkan setiap pori tubuhnya diatas tubuh pemuda itu..,

Pak In Hoei menghembuskan napas panjang, ia kendorkan lengannya yang memeluk tabuh dara ayu itu, bibirnya pun meninggalkan bibir lawan yang lembut, dari alam

impian dia telah balik lagi kealam kenyataan.

Matanya dipantang kembali memandang bulu matanya yang halus, hidungnya yang mancung serta bibirnya yang merekah bagaikan bunga mawar, jantungnya terasa
berdebar keras.

Kobaran hawa panas dalam tubuhnya membakar isi perutnya semakin hebat, ia hembuskan napas panjang, terasa olehnya api dalam badannya seakan akan hendak
melumerkan seluruh tubuhnya.

"Kalau mau melumer, biarkanlah kami melumer bersama!" gumamnya seorang diri.

Rupanya pemuda ini sudah tak dapat menguasai diri lagi, dia angkat wajah gadis itu kemudian dicium bibirnya seakan akan lebah yang sedang menghisap madu
diatas bunga mawar...

Rangsangan yang bangun membuat sekujur badan Wie Chin Siang gemetar keras, ia merintih rintih kegirangan sepasang lengannya memeluk leher Pek in Hoei kencang
kemudian perlahan lahan bergeser meraba punggungnya...

Gerakan yang seperti sengaja dan seperti pula tidak disengaja ini memancing golakkan napsu birahi yang semakin hebat dari Pek in Hoei. darah panas bergolak
makin kencang dan ia rasakan tububnya seakan akan semakin menggelembung besar...

Napasnya makin berat, sepasang tangannya dengan kasar mencengkeram rambutnya...

"Ehmm..." Wie Chin Siang goyangkan kepalanya memperdengarkan rintihan sakit, lengannya ditekuk dan coba mendorong tubuh sang pemuda yang menindih tubuhnya
itu

Tetapi Pek In hoei sedang berada dalam kekuasaan birahi, dia sama sekali tidak merasakan akan dorongan tersebut

Kembali Wie Chin Siang gerakkan kepalannya. melepaskan bibirnya dari hisapan lawan.

Bibir Pek in Hoei yang panas berkobar tergeser dari bibirnya keatas pipi, diapun menciumi leher dan tengkuk gadis itu.

Wie Chin Siang merintih semakin menjadi, tiba2 ia buka mulutnya dan menggigit telinga pemuda itu...

"Aduuh..." Pek In Hoei menjerit kesakitan. cepat ia lepaskan pelukannya dan meloncat bangun.

Birahinya seketika berkurang beberapa bagian, dengan pandangan bingung diawasinya wajah gadis itu, dalam hati dia tak mengerti apa yang telah terjadi.

Senyuman manis menghiasi bibir Wie Chin Siang yang basah, wajahnya bersemu merah dadu, sambil pejamkan matanya gadis Itu berseru tiada hentinya :

"In Hoei... Oooh, in Hoei..."

(bersambung ke jilid 16)
Anda sedang membaca artikel tentang CERSIL TJAN ID : Imam Tanpa Bayangan 2 dan anda bisa menemukan artikel CERSIL TJAN ID : Imam Tanpa Bayangan 2 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/08/cersil-tjan-id-imam-tanpa-bayangan-2.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel CERSIL TJAN ID : Imam Tanpa Bayangan 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link CERSIL TJAN ID : Imam Tanpa Bayangan 2 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post CERSIL TJAN ID : Imam Tanpa Bayangan 2 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/08/cersil-tjan-id-imam-tanpa-bayangan-2.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

obat maag yang ampuh mengatakan...

terima kasih telah berbagi berita nasional yang telah anda berikan.
salam sejahtera Indonesia

Poskan Komentar