Cerita Silat Online : Seruling Perak Sepasang Walet

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Sabtu, 17 Desember 2011

SERULING PERAK SEPASANG WALET
(GIN TIE SUANG YEN)
Karya: Khulung
Jilid 01
PENDAHULUAN
Bum! Bum! Bum! Itulah suara gelombang yang amat dahsyat.
Gelombang yang amat dahsyat itu menghantam dinding tebing,
menimbulkan buih-buih yang menyerupai bunga. Di bawah
sinar bintang-bintang yang bertaburan di langit, tampak
cahaya bergemerlapan di permukaan laut. Bukan main
indahnya panorama itu! Kalau seorang pelukis ada di sana,
pasti akan melukisnya. Itu adalah tebing Giok Li Hong.
Tergeletak tujuh delapan sosok mayat di atas tebing
tersebut. Darah membanjiri tebing itu. Mayat-mayat itu sudah
tidak utuh. Terlihat beberapa kepala berserakan di sana. Begitu
pula anggota badan.
Perut tersobek oleh senjata tajam. Bahkan sebuah kepala
tampak terbelah dua. Dan.... Sungguh mengerikan
pemandangan itu! Tiada sesosok mayat pun yang utuh. Di
antara mayat-mayat itu, tampak seorang wanita sedang
memeluk erat-erat seorang anak berusiatiga tahunan. Hanya
badan wanita itu yang masih utuh, namun sekujur badannya
berlumuran darah. Menyeramkan. Di bawah sinar rembulan,
sungguh mengerikan pemandangan itu!
Serangkum demi serangkum bau dapatir menyebar
terhembus angin.... Mendadak wanita itu mendongakkan
kepala, lalu menengok ke sekelilingnya. Dia bangkit berdiri,
sambil memeluk anak itu erat-erat. Ternyata wanita itu belum
mati. Disaat bersamaan terdengar pula suara tawa yang
menyeramkan. Suara tawa seram itu berasal dari balik sebuah
batu. Kemudian muncul seorang suseng (Pelajar) berusia
pertengahan, dengan wajah bengis berjalan mendekati wanita
tersebut.

Begitu melihat suseng itu, wanita tersebut langsung
menyingkir ke samping. Suseng itu berhenti, kemudian berkata
dengan suara yang amat lembut sekali, "Cen Soat Ngo, kau
tidak akan bisa kabur!"
"Chiu Tiong Thau, aku bersumpah akan melawanmu!" sahut
wanita itu gusar. Chiu Tiong Thau tertawa terkekeh-kekeh.
"Sudah dua puluh tahun lebih, aku terus menunggumu. Hari
ini...." Dia tertawa terkekeh-kekeh lagi, lalu melesat ke arah
wanita itu.
Dalam waktu bersamaan itu tampak sosok bayangan
berkelebat dan lenyap seketika. Di atas tebing itu kembali
sunyi, menyeramkan dan menakutkan! Di bawah tebing, masih
terdengar suara gelombang bergemuruh, seakan turut berduka
cita atas kematian orang-orang yang berada di atas tebing itu.
Sang waktu terus berlalu. Mayat-mayat di atas tebing Giok Li
Hong semuanya telah membusuk. Kini yang ada hanya tinggal
tulang-belulang. Tiada seorang pun menguburkannya. Juga
tiada seorang pun yang datang ke tempat itu. Karena tempat
itu amat menyeramkan, lagi pula amat berbahaya, siapa yang
akan datang ke tempat itu? Dan siapa pula yang akan
berziarah ke sana? Sebab itu, tulang belulang tersebut tetap
berserakan di atas tebing itu, selamanya berserakan.
Di sini ----- Juga merupakan tempat yang menyeramkan
selama-lamanya. Bunga-bunga salju beterbangan. Angin terus
berhembus kencang. Terdengar suara 'Huuh! Huuuh!' Membuat
merinding sekujur badan orang yang mendengarnya. Malam
semakin larut. Angin terus berhembus kencang dan dingin
sangat mencekam. Bunga-bunga salju beterbangan tak hentihentinya.
Alam semesta amat hening seperti berkabung.
Di sekitar Gunung Tay Pah San, berdiri sebuah rumah yang
amat besar. Karena hawa udara amat dingin, para penghuni
rumah telah tidur lelap. Karena itu, suasana di sekitar rumah
besar itu terasa sepi menyeramkan. Di atas pintu rumah besar
tersebut, tergantung sebuah papan bertulisan Tong Keh Cuang
(Rumah perkampungan Tong). Tampak kamar yang berderet,

dibangun dengan bahan kayu mahal, sungguh merupakan
bangunan mewah.
Di belakang rumah itu terdapat sebuah taman. Banyak
tanaman hias bunga-bungaan di dalam taman itu. Namun
karena saat itu musim salju, maka dedaunan dan bunga-bunga
di taman itu semuanya rontok. Akan tetapi, di sekitar sebuah
bangsal istana, terdapat belasan bunga bwee yang memekar
segar, sebagian tertutup bunga-bunga salju, sehingga
kelihatan indah sekali. Saat itu sudah lewat tengah malam,
mendadak sosok bayangan hitam berkelebat memasuki
bangsal, lalu menaruh barang yang dibawanya di atas meja
batu.
Sungguh di luar dugaan, barang yang dibawa orang itu
ternyata seorang gadis cantik berusia lima belasan. Orang yang
membawa gadis itu adalah seorang pemuda berusia tujuh
belasan. Wajah pemuda itu tampan, hanya saja sepasang
matanya menyorotkan sinar kelicikan, bibirnya menyungging
senyuman puas. Sedangkan gadis yang dibaringkan di atas
meja batu itu sepasang matanya menyorotkan sinar yang
diliputi ketakutan. Pemuda itu menatapnya.
"Adik Ping, kau tidak usah takut, toako (Kakak) tidak akan
mencelakaimu," katanya dengan ringan, sambil menjulurkan
tangannya ingin menanggalkan baju gadis itu. Sepasang
tangan dan kaki gadis itu tidak bisa bergerak, namun mulutnya
dapat mengeluarkan suara 'Aah!'
"Aku Bwee Han Ping memang menumpang di rumahmu. Tapi
kau tidak bisa berbuat semaumu terhadapku...", kata gadis itu.
Akan tetapi pemuda tersebut tetap menanggalkan baju gadis
itu.
"Adik Ping, kalau kau mengabulkan permintaanku, kita akan
baik selama-lamanya," katanya. Baju bagian atas gadis itu
telah terbuka, sehingga tampak sepasang payudara yang amat
montok dan indah. Sepasang mata pemuda itu membara penuh
nafsu birahi, seakan ingin menelannya bulat-bulat. Sedangkan
Bwee Han Ping saking gugup dan panik, akhirnya mengucurkan

air mata. Dia menggigit bibir.
"Tong Eng Kang, kau adalah binatang...!" teriaknya
memilukan
Pemuda itu tidak membiarkannya terus berteriak. Maka
ditotoknya jalan darah gagu gadis itu. Setelah itu, dia tertawa
dingin.
"Bween Han Ping, kau kira teriakanmu akan mengundang
orang kemari menyelamatkanmu? Terus terang. kalaupun ada
orang kemari, orang itu tidak akan bisa berbuat apa-apa
terhadap siauw ya (Tuan Muda)!" Sepasang mata Tong Eng
Kang semakin membara, kelihatan nafsu birahinya telah
memuncak. Bwee Han Ping tidak bisa bergerak, bahkan juga
tidak bisa bersuara. hanya air mata yang bercucuran,
menunggu badai menerpa dirinya....
Tong Eng Kang mulai menanggalkan baju bagian bawah gadis
itu. Kelihatannya dia sudah siap memangsa anak domba yang
berada di hadapannya. Akan tetapi, tiba-tiba di luar bangsal itu
tampak sesosok bayangan kecil. Lantaran agak berat
langkahnya, maka terdengar suara. "Serrt! Serrrt!" Setelah
diperhatikan, ternyata seorang anak lelaki berusia tiga
belasan. Ketika menyaksikan pemandangan di dalam bangsal,
sepasang matanya langsung terbelalak.
"Tong Eng Kang, bagus sekali perbuatanmu!" bentaknya
keras.
Anak lelaki itu segera menerjang ke dalam bangsal.
Mendengar bentakan itu, Tong Eng Kang cepat-cepat
membalikkan badannya. Sepasang matanya tampak bersinar
bengis, kemudian tersenyum licik.
"Anak jahanam, kau makan, pakaian dan tidur dariku! Justru
sekarang kau berani mencampuri urusanku! Kau memang ingin
cari mampus!" Tangan Tong Eng Kang bergerak cepat
mencengkeram lengan anak itu, sekaligus mengayunkan
kakinya menendang, membuat anak itu terpental keluar.

Terdengar suara jeritan anak itu. Ternyata dia roboh pingsan
seperti mati seketika. Bayangkan! Anak itu berusia lima
belasan sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Kalaupun
mengerti, dia tidak akan tahan terkena tendangan
tersebut. Tong Eng Kang berjalan ke luar mendekati anak yang
pingsan itu, kemudian menambah sebuah tendangan lagi. Anak
yang pingsan itu terpental. Sedangkan Tong Eng Kang
berkertak gigi.
"Siauw ya akan menghabiskanmu dulu!" katanya.
Selangkah demi selangkah Tong Eng Kang menghampirinya,
lalu menyambar anak itu seperti menyambar seekor anak
ayam.
Badannya melesat ke luar melalui tembok, ternyata Tong Eng
Kang membawa anak itu ke atas gunung. Bukan main cepatnya
gerakan Tong Eng Kang! Hanya sekejap dia sudah berada di
puncak gunung. Terdengar suara tawa puas, menyusul
terdengar pula Tong Eng Kang berkata dengan sinis.
"Anak jahanam, pergilah mengurusi urusanmu!" Tangan Tong
Eng Kang bergerak, ternyata dia melemparkan anak itu ke
dalam sebuah lembah. Terdengar suara hembusan angin yang
menderu, kedengarannya seperti meratapi nasib anak yang
malang itu. Tong Eng Kang memandang ke bawah lembah itu
sejenak, setelah itu barulah dia melesat pergi menuju kaki
gunung. Pemuda tersebut kembali ke halaman belakang
rumahnya.
Namun tak disangka, di dalam bangsal itu tidak tampak
seorang pun. Kening Tong Eng Kang berkerut, lalu dia melesat
ke arah sebuah loteng. Dalam sekejap bayangannya sudah
tidak kelihatan.
Ternyata ketika Tong Eng Kang melesat turun dari gunung,
terlihat pula sosok bayangan kecil, melesat ringan menuju ke
atas gunung melalui sebuah rimba yang lebat dengan pohon
besar. Sosok bayangan kecil itu, tidak lain adalah seorang
gadis berusia tiga belasan. Begitu sampai di puncak gunung,
sepasang matanya mencari kesana kemari, lalu dia melesat ke
bawah lembah. Samar-samar dia melihat ada sedikit bekas di
sana.

Gadis itu segera meloncat ke atas sebuah batu, lalu
memandang ke arah bekas itu dengan hati berdebardebar.
Batu besar itu lebih tinggi maka gadis itu dapat melihat
tempat yang terdapat suatu bekas. Mendadak dia melihat ada
sesuatu di tempat itu. Karena agak jauh, dia hanya dapat
melihat samar-samar. Gadis itu langsung melesat ke arah
tempat itu. Gerakannya laksana kilat. Sampai di tempat itu,
tanpa sadar dia mengeluarkan seruan.
"Haah...!"
Tanpa ayal lagi gadis itu cepat-cepat membungkukkan
badannya, lalu berseru dengan suara ringan.
"Adik Yin! Adik Yin!"
Ternyata di atas permukaan salju, terdapat seorang anak lakilaki,
tidak lain adalah anak laki-laki yang dilempar ke bawah
lembah oleh Tong Eng Kang. Walaupun gadis itu berseru
berulang kali, namun anak itu tidak menyahut sama
sekali. Gadis itu cepat-cepat meraba dadanya, masih terasa
hangat dan jantung anak laki-laki itu masih berdetak. Oleh
karena itu, gadis tersebut menarik nafas lega, lalu berseru lagi
memanggil anak itu. Anak gadis itu, kelihatan amat
memperhatikan anak laki-laki tersebut. Di saat berseru, air
matanya pun terus berderai. Berselang beberapa saat
kemudian, anak laki-laki itu siuman perlahan-lahan. Mulutnya
mengeluarkan suara rintihan. Betapa girangnya gadis itu!
"Adik Yin, bagaimana keadaan dan rasmau sekarang?"
serunya.
Anak laki-laki itu menatapnya dengan mata sayu, kemudian
meledaklah isak tangisnya.
"Adik Yin, bangunlah! Kita harus cepat-cepat meninggalkan
tempat ini," kata anak gadis itu, lalu memapahnya bangun dan
memeluknya erat-erat. Anak laki-laki itu menahan rasa sedih
dalam hatinya. Dia menatap anak gadis itu dengan penuh rasa
terimakasih.

"Banyak-banyak terimakasih, Kakak Wen!" ucapnya.
Mendadak terdengar suara bentakan bengis dari kejauhan,
sepertinya terjadi di Tong Keh Cuang. Air muka anak gadis itu
langsung berubah dan dia cepat-cepat mengambil tusuk
rambutnya.
"Adik Yin, kau tidak bisa lagi tinggal di rumah kami, lebih baik
cepat pergi! Bawalah tusuk rambutku ini! Tusuk rambut ini bisa
ditukarkan dengan uang perak, di saat kau membutuhkannya,"
katanya sambil memberikan tusuk rambutnya kepada anak
laki-laki itu.
Saat itu di tempat nan jauh masih terdengar suara-suara
bentakan bengis, bahkan tampak pula cahaya api. Anak gadis
itu kelihatan amat gugup dan gelisah. Dia menatap anak lelaki
itu sejenak, lalu melesat pergi. Ketika sampai di Tong Keh
Cuang, tampak perkampungan itu telah berubah menjadi
lautan api. Bayangan-bayangan orang berkelebatan. Terdengar
pula suara-suara bentakan dan suara yang hiruk pikuk
memekakkan telinga. Bukan main terkejutnya anak gadis itu!
Dia langsung melesat ke halaman rumah Tong Keh Cuang
itu....
Sementara anak laki-laki itu memandang kepergian anak
gadis tersebut dengan air mata bercucuran.
"Aku harus pergi ke mana?" gumamnya. Dia melihat
tangannya, ternyata tangannya menggenggam sebuah tusuk
rambut pemberian anak gadis tadi.
"Kenapa Kakak Wen memberiku benda ini?" katanya seorang
diri dengan air mata berderai. Dia kelihatan agak membenci.
Tangannya diangkat sepertinya ingin membuang tusuk rambut
itu.
Akan tetapi, tangannya diturunkan lagi, kemudian
disimpannya tusuk rambut itu di dalam bajunya. Tiba-tiba
wajahnya berubah menjadi keras.

"Setahun lebih, sudah cukup aku menerima siksaan, aku
harus pergi mencari kakek tua berjenggot putih!" katanya
sambil menyusut air matanya. Kemudian dengan menahan rasa
sakit dia berjalan perlahan-lahan ke dalam lembah itu. Di
dalam benaknya, teringat kembali kejadian yang lalu. Dia
pernah mendengar dari kakek tua berjenggot putih, bahwa
namanya adalah Ciok Giok Yin. Dia ikut kakek tua tersebut
belajar membaca, menulis dan ilmu pengobatan. Tiga tahun
yang lalu, dia dibawa oleh kakek tua berjenggot putih itu ke
perkampungan Tong Keh Cuang.
Setelah berada di perkampungan itu, dia berkenalan dengan
Bwee Han Ping. Sejak kecil Bwee Han Ping tidak punya orang
tua, maka keluarga Tong memeliharanya. Dia pernah
mendengar dari Bwee Han Ping, bahwa gadis itu masih punya
hubungan famili dengan keluarga Tong. Tapi bagaimana
hubungan famili itu, dia sama sekali tidak bertanya. Majikan
Tong Keh Cuang di dunia persilatan amat terkenal. Dia
bernama Tong Lip Ceng, julukannya adalah Pah San Hui Pa
(Macan Tutul Terbang Gunung Pahsan), mempunyai seorang
anak laki-laki dan seorang anak perempuan, bernama Tong
Eng Kang dan Tong Wen Wen.
Mereka berdua telah mewarisi kepandaian ayahnya, namun
Tong Eng Kang amat licik terhadap orang, bahkan juga selalu
berlaku sewenang-wenang. Sudah lama dia berniat jahat
terhadap Bwee Han Ping. Akan tetapi, Bwee Han Ping tinggal
bersama Tong Wen Wen, maka membuat Tong Eng Kang
belum berhasil menodai gadis tersebut. Lagi pula Tong Eng
Kang takut pada ayahnya, karena itu niat jahatnya tersebut
belum tercapai. Selain itu, Tong Eng Kang pun amat segan
terhadap kakek tua berjenggot putih.
Setahun yang lalu, kakek tua berjenggot putih berpesan pada
Ciok Giok Yin harus rajin belajar membaca dan menulis, karena
kakek tua itu akan pergi jalan-jalan ke dunia persilatan, dan
entah kapan baru akan kembali. Sejak kakek tua berjenggot
putih pergi, Tong Eng Kang mulai berlaku semena-mena
terhadap Ciok Giok Yin, bahkan mengancamnya apabila berani
memberitahukan kepada orang lain, maka Ciok Giok Yin akan
dibunuhnya. Mengenai Tong Wen Wen, juga pernah

menghinanya, mengatainya sebagai anak yang tidak
mempunyai orang tua.
Memang kebetulan sekali segala urusan itu. Tiga hari yang
lalu, Pah San Hui Pa Tong Lip Ceng diajak pergi oleh teman
akrabnya, maka tidak heran Tong Eng Kang semakin jadi
bertindak sewenang-wenang. Malam ini, Tong Eng Kang
memanfaatkan kesempatan ketika adiknya tidak berada di
dalam kamar. Dia menculik Bwee Han Ping ke halaman
belakang, maksudnya ingin menodai gadis itu. Justru sungguh
di luar dugaan! Di saat bersamaan Ciok Giok Yin tidak bisa
tidur, maka dia jalan-jalan ke halaman belakang itu. Tanpa
sengaja, dia mendengar suara orang di dalam bangsal.
Dia kenal benar akan suara itu, tidak lain adalah suara Kakak
Ping. Segeralah dia ke sana dan menyaksikan.... Akan tetapi,
Tong Eng Kang memang sangat kejam. Dia langsung
menendangnya tanpa ampun, lalu membawanya ke atas
gunung dan melemparnya ke bawah lembah. Yang tak terduga
sama sekali yakni kemunculan Tong Wen Wen. Padahal anak
gadis itu pernah menghinanya, namun kini sebaliknya malah
menolongnya. Ciok Giok Yin teringat lagi pada kakek tua
berjenggot putih. Sebetulnya siapa kakek tua itu dan pergi ke
mana dia? Masih ada Kakak Ping, apakah dia akan ternoda oleh
Tong Eng Kang? Selanjutnya dia akan bagaimana? Kini dia
tidak boleh kembali ke perkampungan Tong Keh Cuang. Lagi
pula dia tidak bisa ilmu silat, maka pasti tidak mampu melawan
Tong Eng Kang. Bagaimana mungkin membantu Kakak Ping?
Mengenai Tong Lip Ceng adalah orang macam apa? Dia orang
baik atau orang jahat? Kelihatannya dia tidak terkesan baik
terhadap Ciok Giok Yin, namun memandang muka kakek tua
berjenggot putih, dia masih tidak berbuat apa-apa. Akan tetapi,
sejak kakek tua berjenggot putih pergi, setiap kali melihat Ciok
Giok Yin, maka Tong Lip Ceng pasti tampak dingin, tak pernah
berseri sama sekali.
Mendadak terlintas suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin,
yaitu apabila ada kesempatan, harus belajar ilmu silat, paling
rendah harus setingkat dengan Tong Eng Kang, agar mampu
melawannya, maka bisa melindungi Kakak Ping. Kecuali begitu,

sama sekali tiada akal lain. Berbagai macam pikiran
berkecamuk di dalam benak Ciok Giok Yin, akhirnya dia
bergumam.
"Aku harus belajar ilmu silat! Aku harus belajar ilmu silat!"
Karena pikiran Ciok Giok Yin sedang menerawang,
membuatnya kurang berhati-hati. Kakinya kesandung sebuah
batu kecil, menyebabkannya jatuh terguling-guling. Mendadak
dia merasa dirinya berada di udara, sepertinya terangkat oleh
sebuah jala besar. Dia terangkat ke atas hampir empat
depa. Secara reflek dia meronta, justrudia meronta, justru
terdengar suara Ting! Ting! Ting! yang amat nyaring.
"Berhasil menangkap satu! Cepat!" terdengar orang berkata.
Terdengar pula suara langkah yang tergesa-gesa.
Saat itu hari sudah mulai terang. Ciok Giok Yin yang berada di
dalam jala. Dia memandang ke bawah, tampak tiga lelaki
bergegas-gegas menuju ke arahnya. Tangan mereka membawa
senjata bercagak tiga, yaitu senjata berburu. Setelah
mendekat, salah seorang dari mereka langsung mengangkat
senjatanya, lalu ditusukkan ke arah jala. Ciok Giok Yin melihat
itu, segera berteriak sekeras-kerasnya.
"Aduuuh! Ibu...!" Lelaki itu cepat-cepat menarik kembali
senjatanya, sekaligus meloncat ke belakang. Dua orang
temannya pun meloncat ke belakang, bahkan air muka mereka
tampak ketakutan. Setelah saling memandang, mereka bertiga
lalu memandang ke arah jala. Karena hari baru mulai terang,
maka mereka bertiga tidak dapat melihat dengan jelas apa
yang berada di dalam jala besar itu.
"Apakah... adalah orang?" kata salah seorang diantara ketiga
lelaki itu. Sedangkan Ciok Giok Yin yang berada di dalam jala
besar itu amat terkejut dan ketakutan. Sekujur badannya
menggigil.
"Paman! Tolong turunkan aku!" sahutnya ketika mendengar
perkataan orang itu.

"Kau adalah orang?"
"Ya!"
"Siapa namamu?"
"Ciok Giok Yin!"
Lelaki yang berbicara itu mendekati seutas tali, kemudian
ditariknya tali itu. Buuk! Jala besar itu jatuh ke bawah.
Terdengar pula suara jeritan Ciok Giok Yin yang amat keras.
"Aduuuuh!" Dia merasa semua tulangnya seakan patah.
Bukan main sakitnya sehingga membuatnya nyaris pingsan.
Ketiga lelaki itu maju serentak, melihat seorang anak kecil
berusia sekitar tiga belasan. Salah seorang dari mereka
melotot. Dia membungkukkan badannya dan mendadak
mengayunkan tangannya menampar Ciok Giok Yin seraya
mencaci.
"Anak sundel! Kami menahan haus, lapar dan dingin menjaga
semalaman di sini untuk menangkap hewan! Tidak pergi
bermain ke tempat lain, justru malah kemari! Dasar anak
nakal!" Saking gusarnya, dua kali lagi lelaki itu menampar
muka Ciok Giok Yin.
Tamparan-tamparan itu membuat mata Ciok Giok Yin
berkunang-kunang dan dari bibirnya keluar darah.
"Paman, aku tidak sengaja, aku..." katanya dengan suara
lemah dan gemetar.
Plak! Lelaki itu menampar lagi.
"Apakah aku yang menghalangi jalanmu?" ben- taknya
kemudian mengayunkan kakinya menendang Ciok Giok
Yin. Sungguh kasihan anak kecil itu! Semalam dia ditendang
dan dilempar ke dalam lembah. Kalau tidak diselamatkan Tong
Wen Wen, mungkin nyawanya telah melayang. Kali ini dirinya

terperangkap ke dalam jala besar, kemudian ditampar
beberapa kali dan ditendang lagi. Itu membuatnya menderita
sekali, sehingga men- jerit-jerit.
"Aduuuh! Sakit sekali!" Mata Ciok Giok Yin jadi gelap,
akhirnya dia jatuh pingsan. Di saat bersamaan, lelaki itu
mengangkat sebelah kaki, lalu membentak sengit.
"Dasar anak sundel! Kami terganggu olehmu, sehingga kami
tidak mendapat hasil apa-apa! Sebaliknya harus mengalami
kedinginan di sini! Kau memang harus mampus!" Lelaki itu
menendang lagi, menyebabkan Ciok Giok Yin terguling-guling
dan membentur batu, sehingga mukanya lecet-lecet dan
berdarah.
Ketiga lelaki itu melototi Ciok Giok Yin. Mereka tidak perduli
anak itu mati atau masih hidup, segera memasang jala besar
itu lagi, siap menangkap hewan yang melalui tempat
itu. Mendadak salah seorang lelaki itu melihat di permukaan
salju terdapat suatu benda yang bergemerlapan. Dia cepatcepat
memungut benda itu, tidak lain adalah sebuah tusuk
rambut. Betapa girangnya lelaki itu!
"Ini tusuk rambut emas!" serunya dengan wajah
berseri. Kedua temannya tidak menghiraukannya. "Omong
kosong! Bagaimana mungkin di tempat ini terdapat tusuk
rambut emas?"
"Lihatlah kalian!" kata lelaki itu. Kedua temannya menoleh ke
arahnya. Mereka melihat tangan lelaki itu memegang sebuah
benda kekuning-kuningan.
"Tusuk rambut emas!" seru mereka berdua serentak.
"Tidak salah kan?"
Bukan main girangnya ketiga lelaki itu! Mereka bertiga
tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha...." Berselang sesaat, salah seorang lelaki itu
berkata.

"Apakah milik anak sundel itu jatuh?" "Geledah!" sahut yang
lain. Mereka bertiga segera menggeledah badan Ciok Giok Yin,
akan tetapi, mereka tidak menemukan apa-apa. Salah seorang
lelaki itu menendangnya saking gusar, membuat Ciok Giok Yin
terguling-guling.
"Jangan-jangan anak sundel ini yang mencurinya?" kata lelaki
itu sengit.
"Dilihat dari pakaiannya, pasti dia bukan berasal dari keluarga
kaya. Tentunya dia boleh mencuri," sahut temannya. Di saat
mereka bertiga sedang bercakap-cakap, haripun semakin
terang. Mereka bertiga sependapat, bahwa kalau anak itu yang
mencuri tusuk rambut emas tersebut, pasti ada orang
mengejarnya. Apabila tidak cepat-cepat pergi,
mungkin.... Mereka bertiga saling memberi isyarat, lalu segera
memberesi jala besar itu. Kemudian mereka bertiga bergegas
meninggalkan tempat itu.
Kini di dalam lembah itu hanya tinggal Ciok Giok Yin seorang
diri. Dia dalam keadaan tergeletak. Sudah mati atau masih
hidupkah dia? Tiada seorang pun yang tahu. Lagi pula hawa
udara amat dingin menusuk tulang. Siapa yang begitu iseng
datang di tempat itu? Sudah pasti tidak!
Sementara sang waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah
mulai sore. Hembusan angin menerbangkan bunga-bunga
salju, sehingga terdengar suara menderu-deru. Bunga-bunga
salju itu kemudian berjatuhan di muka Ciok Giok Yin,
membuatnya merinding.
Perlahan-lahan kesadarannya mulai pulih, namun
pandangannya masih agak kabur.
"Paman, aku bukan sengaja..." gumamnya dengan suara
rendah.
Gumaman berikutnya, tidak terdengar begitu jelas. Berselang
beberapa saat kemudian dia menghela nafas panjang, barulah
betul-betul siuman. Dia merasa tulang-tulangnya seakan telah
remuk. Matanya terbuka perlahan-lahan. Kemudian dia
menengok kesana kemari, tapi tidak tampak seorang pun

berada di sekitarnya.
Dasar, dia masih kecil, setelah mengalami berbagai macam
kejadian yang menyiksa dirinya, tak tertahan lagi akhirnya dia
menangis tersedu-sedu. Lalu di tempat yang amat sepi itu,
siapa yang akan menghiburnya? Dia tidak punya orang tua,
yatim piatu. Tiada seorang pun yang dekat padanya.
Sedangkan kakek tua berjenggot putih, justru tidak ketahuan
jejaknya. Saat ini, yang bisa menghiburnya hanyalah
hembusan angin dingin dan bunga-bunga salju yang
beterbangan. Akan tetapi, hembusan angin dingin dan bungabunga
salju itu sama sekali tidak mempunyai perasaan,
menyebabkan Ciok Giok Yin amat menderita.
"Huuuh! Huuuh...."
Hembusan angin terus menderu-deru. Itu membuat Ciok Giok
Yin merasa kedinginan, terutama bagian dadanya. Dia
mengangkat sebelah tangannya perlahan- lahan, meraba
bagian dadanya. Ternyata baju bagian dadanya terbuka. Ciok
Giok Yin berkertak gigi, bangun duduk lalu menutup bajunya.
Sesudah itu, barulah terasa agak hangat.
Bagi manusia, baik masih kecil atau sudah besar, tentu
memiliki daya untuk terus hidup. Begitu pula Ciok Giok Yin
yang masih kecil itu. Dia tidak mau duduk di situ menunggu
kematiannya. Asal masih terdapat setitik kehidupan, pasti
harus ditempuhnya.
Sejak kecil dia telah terbiasa hidup menderita dan tersiksa,
maka terciptalah sifat keras pada pribadinya. Oleh karena itu,
dia segera menyusut menghapus air matanya, kemudian
bangkit berdiri. Namun sekujur badannya telah terluka, maka
ketika dia bangkit berdiri, sekujur badannya terasa sakit
sekali. Disebabkan itu, akhirnya dia terkulai lagi. Kendatipun
demikian, dia terus berupaya bangkit berdiri.
"Aku harus meninggalkan tempat ini, dan harus berhasil
menemukan kakek tua berjenggot putih! Kalau aku berhasil
mencarinya siapa pun tidak akan berani menghinaku lagi!"
gumamnya. Ciok Giok Yin berusaha bangkit berdiri, akhirnya

dia berhasil, barulah berjalan terseok-seok meninggalkan
lembah itu.
Dia terus berjalan …… Tak terasa haripun sudah malam. Dia
beristirahat di bawah sebuah pohon, mengisi perutnya dengan
daun-daun muda. Setelah hari mulai terang, dia mulai
melanjutkan perjalanan lagi. Ketika hari mulai petang, dia
sudah sampai di sebuah kota kecil. Sepasang kakinya terasa
ngilu tak bertenaga, nyaris tak kuat berjalan lagi. Sampai di
sebuah jalan, dari sebuah rumah makan kecil, tercium aroma
arak dan masakan, membuat air liurnya nyaris mengalir. Ciok
Giok Yin berdiri termenung di depan rumah makan itu. Rasa
haus dan lapar membuatnya tak tahan. Teringat olehnya di
dalam bajunya terdapat sebuah tusuk rambut emas, maka dia
melangkah memasuki rumah makan itu. Seorang pelayan
membawanya ke sebuah meja di dekat jendela.
Dia tidak tahu harus memesan masakan apa, cuma berpesan
semangkok nasi dan semangkok sup sampi. Tak seberapa
lama, pelayan rumah makan sudah rnenyajikan apa yang
dipesannya.
Tanpa membuang waktu, dia langsung bersantap dengan
lahap sekali. Sedangkan pelayan itu terus berdiri di dekat meja,
mengawasi gerak geriknya.
Usai bersantap, Ciok Giok Yin sudah siap mengeluarkan tusuk
rambut emas dari dalam bajunya, agar bisa ditukar dengan
uang perak. Namun tak disangka ketika tangannya merogoh ke
dalam bajunya, justru tidak dapat dikeluarkannya lagi.
Ternyata tusuk rambut emas tersebut telah hilang entah
dimana. Bukan main terkejutnya! Seketika keringat dinginnya
mengucur deras membasahi sekujur badannya. Dia bertanya
dalam hati. 'Kemana tusuk rambut emas pemberian Kakak
Wen? Ini harus bagaimana?'
Gugup dan panik hati Ciok Giok Yin. Dia melirik pelayan itu.
Tampak pelayan itu menatapnya dengan sinis dan sambil
tersenyum menghina. Keringat dingin sudah mulai merembes
keluar dari kening Ciok Giok Yin. Dia tidak berani bangkit

berdiri, cuma duduk termenung di tempat duduknya. Dia tahu,
apabila tidak dapat mengeluarkan uang, pasti akan digebuk
bagaikan seekor anjing, bahkan mungkin juga dirinya akan
dibawa ke pengadilan. Semakin dipikirkan, hatinya semakin
takut, sehingga wajahnya yang semula merah padam, kini
telah berubah menjadi pucat pias.
Pelayan itu memang berpengalaman. Begitu melihat sikap
Ciok Giok Yin, dia sudah mengerti apa yang telah terjadi. Oleh
karena itu, dia terus menatap Ciok Giok Yin dengan mata tak
berkedip.
Sementara hampir separuh tamu yang bersantap di rumah
makan itu sudah pergi. Tiba-tiba pelayan itu tertawa sinis
sambil mendekati Ciok Giok Yin.
"Apakah perlu tambah sedikit makanan lagi?" Ciok Giok Yin
segera bangkit berdiri.
"Ti... tidak usah," sahutnya tersendat-sendat.
"Semuanya berjumlah dua keping perak," kata pelayan itu
lalu melotot.
Ciok Giok Yin menelan ludah, kemudian memberanikan diri
berkata, "Paman! Aku... aku tidak membawa...."
Pelayan itu langsung mencaci. "Anak sundel! masih kecil tapi
sudah bernyali besar! Cepat keluarkan perakmu, tidak boleh
kurang sama sekali!" Saat itu para tamu yang sedang
bersantap semuanya memandang ke arah Ciok Giok Yin.
"Masih berbau susu, sudah belajar makan gratis!" kata salah
seorang tamu.
"Harus diberi sedikit pelajaran, agar dia tahu diri!" sambung
seorang tamu yang lain. Para tamu itu terus memanasi
suasana, dan itu mmembuat pelayan tersebut bertambah
berani. Dia langsung menyambak leher baju Ciok Giok Yin,
sekaligus mengayunkan tangannya. Plak! Pelayan itu
menamparnya seraya membentak sengit.

"Anak sundel! Kalau kau tidak bayar, jangan harap bisa pergi
dengan badan utuh!" Pelayan itu menjinjing Ciok Giok Yin,
kemudian membantinya ke bawah.
"Aduuuh! Paman, aku... aku akan cari akal!" jerit Ciok Giok
Yin kesakitan.
"Cepat bayar!" bentak pelayan.
"Paman, aku... aku sungguh tidak punya uang!" kata Ciok
Giok Yin terputus-putus.
Mendadak seorang pelayan lain berseru, "Tanggalkan
pakaiannya!"
Udara di musim rontoh amat dingin. Kalau pakaiannya
ditanggalkan, tentu Ciok Giok Yin akan mati kedinginan. Oleh
karena itu, Ciok Giok Yin memeluk erat-erat dadanya sendiri
seraya bermohon, "Paman! Jangan...."
Belum lenyap suaranya, sudah tampak dua pelayan
menyambaruya. Salah seorang menamparnya, yang satu lagi
mulai menanggalkan pakaiannya. Justru di saat ini, mendadak
dari luar masuk seorang wanita berusia pertengahan.
"Pelayan, berapa banyak anak itu makan, hitung ke dalam
rekeningku saja! Kalian harus melepaskannya!" katanya
dengan lantang. Kedua pelayan itu menoleh samba menaruh
Ciok Giok Yin ke bawah.
"Tidak begitu banyak, terimakasih!" sahutnya dengan wajah
berseri-seri. Akan tetapi pelayan yang satu lagi masih
mengayunkan kakinya, menendang Ciok Giok Yin hingga anak
itu terpental sampai di luar rumah makan.
"Aaaaakh...!" jeritnya memilukan. Di saat Ciok Giok Yin
terpental ke luar, wanita berusia pertengahan itu sampai di
dalam sekaligus mengayunkan tangannya. Plak! Ternyata
wanita berusia pertengahan itu menampar pelayan yang
menendang Ciok Giok Yin.

"Dasar budak buta! berapa banyak yang dimakannya, pasti
kubayar, tapi kau justru masih menendangnya!" bentaknya.
Pelayan yang kena tampar itu, mulutnya mengeluarkan
darah. Jelas keras sekali tamparan itu. Pelayan yang satu lagi
segera menggeram.
"Wanita busuk, kau berani pukul orang!" Pelayan itu langsung
mengayunkan tinjunya ke arah wanita tersebut, justru
mengarah pada bagian dadanya. Wanita itu tertawa dingin.
"Mau cari mampus?" katanya. Wanita berusia pertengahan itu
berkelit ke samping kiri, sekaligus menepuk bahu pelayan itu,
sehingga membuat pelayan itu terpental jatuh.
“Aduh! Mak!” teriaknya Ternyata hidung pelayan itu telah
mencium lantai. Darah segar langsung mengucur, bahkan dua
buah giginya juga rontok. Pelayan yang satunya ketika
menyaksikan rekannya terpental, cepat-cepat menendang
wanita itu, tepatnya di bagian terlarangnya. Dalam dunia
persilatan jika lelaki bertarung dengan wanita, justru pantang
menyerang bagian dada dan tempat terlarang. Oleh karena itu,
dapat dibayangkan betapa gusarnya wanita berusia
pertengahan itu. Wanita tersebut tidak bergerak, melainkan
menjulurkan tangannya menangkap kaki pelayan itu.
"Kaupun harus tahu bagaimana rasanya terlempar keluar!"
katanya. Disaat bersamaan, badan pelayan itu tampak
melayang ke luar, kemudian jatuh gedebuk di tanah.
"Aduuuh!" jeritnya. Ternyata muka pelayan itu membentur
tanah, sehingga memar. Sementara para tamu yang berada di
dalam rumah makan itu mulai bangkit berdiri. Mereka menatap
wanita berusia pertengahan itu dengan mata berapi-api,
kelihatannya mereka gusar sekali. Menyaksikan itu, wajah
wanita tersebut langsung berubah dingin.
"Kalian mau apa?" tanya sepatah-sepatah.
"Pukul mati wanita busuk itu!" Terdengar sahutan serentak.

Kemudian dengan tiba-tiba salah seorang tamu menerjang ke
arah wanita tersebut. Berdasarkan gerakan tamu itu, wanita
tersebut tahu bahwa dia tidak mahir ilmu silat. Wanita itu tidak
bergerak sama sekali, hanya mengerahkan tenaga murninya,
lalu berisul panjang. Suara siulannya bagaikan hallilintar
menggelegar memekakkan telinga para tamu. Sedangkan tamu
yang menerjang itu, sekujur badannya sudah bergemetar,
bahkan sudah terkencing-kencing. Di saat suara siulan wanita
itu mulai lenyap, mendadak terdengar pula suara bentakanbentakan
sengit di tempat jauh. Air muka wanita itu langsung
berubah. Dia segera mengeluarkan setael uang perak lalu
dilemparkannya ke atas meja.
"Uang ini untuk membayar makanan anak kecil itu. Kalau
kalian masih berani menghinanya, hati-hati batok kepala
kalian!" katanya. Badan wanita itu bergerak, tahu-tahu sudah
berkelebat pergi bagaikan sosok arwah!
Saat itu Ciok Giok Yin menahan rasa sakit sambil bangkit
berdiri. Dia ingin pergi mengucapkan terimakasih pada wanita
itu. Namun, dia justru melihat wanita itu berkelebat pergi
laksana kilat. Dalam waktu sekejap, wanita berusia
pertengahan itu sudah tidak kelihatan bayangannya. Walaupun
cuma memandang sekilas, namun wajah wanita itu sudah
terukur dalam benak Ciok Giok Yin. Dia pernah mengikuti
kakek tua berjenggot putih belajar membaca dan menulis.
Bahkan dia juga pernah belajar ilmu pengobatan, maka dia
tahu dalam hal tata krama, dan bagaimana cara jadi orang.
Dia pun masih ingat akan perkataan kakek tua, bahwa budi
seseorang harus dibalas dengan budi. Oleh sebab itu, Ciok Giok
Yin mengambil keputusan, bahwa kelak dirinya harus
membalas budi kebaikan wanita itu. Ciok Giok Yin tidak berani
lama-lama berada di tempat itu. Maka dengan menahan rasa
sakit, dia segera beranjak pergi. Akan tetapi dunia sedemikian
luas. Kemanakah dia harus pergi mencari kakek tua berjenggot
putih itu? Seandainya kakek tua itu mempunyai nama, tentu
dia akan bertanya pada orang. Namun dia justru tidak tahu
nama kakek tua tersebut, bagaimana bertanya pada orang? Itu
sungguh membingungkan Ciok Giok Yin. Sudah barang tentu
pikirannya pun jadi kacau balau. Tapi kalau dia tidak mencari

kakek tua berjenggot putih, lalu harus pergi mencari
siapa? Sebab di dunia ini, selain kakek tua yang dekat
dengannya, sudah tiada orang lain lagi. Sedangkan mengenai
perkampungan Tong Keh Cuang, kini dia sudah tidak bisa
kembali ke sana.
Ciok Giok Yin berjalan terseok-seok, menimbulkan suara
'Sert! Sert!' Dia mendongakkan kepala memandang ke depan,
yang dilihatnya hanya salju putih menutupi alam
semesta. Tiada jejak manusia, juga tidak tampak hewan lain,
semuanya berada di dalam sarang masing-masing. Ciok Giok
Yin kedinginan, maka wajahnya berubah menjadi kebirubiruan.
Sementara haripun mulai gelap. Hembusan angin dingin yang
tak berperasaan, terus menerus menderu-deru. Bunga-bunga
salju, tak henti-hentinya beterbangan terhembus angin. Angin
dan bunga-bunga salju itu sepertinya sengaja menyiksa anak
yatim piatu yang tak punya tempat tinggal itu. Ciok Giok Yin
menghentikan langkahnya, memandang ke depan lalu
memandang ke belakang.
Di depan hanya tampak salju putih bagaikan
kapas. Sedangkan di belakang, samar-samar masih terlihat
kota kecil itu, hanya tertutup oleh bunga-bunga salju. Dia
berdiri bimbang tidak tahu harus kembali ke kota kecil itu,
ataukah terus berjalan ke depan. Namun Ciok Giok Yin masih
ingin hidup. Kalau dia terus berjalan ke depan, pasti akan mati
kedinginan.
Jalan satu-satunya yang harus ditempuhnya, tidak lain harus
kembali ke kota kecil itu mencari tempat berteduh. Sebab itu,
dia mengambil keputusan untuk kembali ke kota kecil tersebut.
Ketika tiba di kota itu, semua penduduk sudah menutup
pintu, karena tidak tahan akan udara dingin di luar. Mereka
duduk menghadap parapian untuk menghangatkan badan. Ciok
Giok Yin menghampiri sebuah rumah, lalu mengangkat sebelah
tangannya untuk mengetuk pintu. Akan tetapi, mendadak
tangannya ditariknya kembali. Karena sehari semalam itu dia
telah mengalami tiga kali siksaan, bagaimana mungkin masih

berani....
Oleh sebab itu, dia melangkah pergi dengan mata bersimbah
air, tidak berani mengetuk pintu rumah itu Di saat itulah dia
melihat tumpukan-tumpukan rumput. Setelah menyusut air
matanya, barulah dia mendekati tumpukan-tumpukan rumput
itu. Udara memang dingin sekali, membuat sepasang tangan
Ciok Giok Yin berkesemutan dan terasa kaku. Rasa dingin yang
menusuk tulang itu membuatnya merasa tidak tahan, akhirnya
dia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya untuk mengusir
rasa dingin. Akan tetapi, lama kelamaan dia merasa lelah,
maka terpaksa meringkuk di tumpukan rumput itu.
Sedangkan malam semakin larut. Udara pun bertambah
dingin. Ciok Giok Yin sama sekali tidak tidur. Bukan karena
matanya tidak mengantuk, melainkan karena kedinginan,
sehingga membuatnya tidak dapat memejamkan mata. Dia
harus membuka mulut menghembuskan hawa hangatnya ke
arah tangannya, star tidak terlampau dingin. Mendadak tampak
sepercik cahaya muncul di lat yang tak begitu jauh, ternyata di
sana ada seseorang membakar kertas.
Ciok Giok Yin tercengang. Dia tak habis pikir mengapa di
tengah malam ada orang membakar kerta? Dia berharap orang
itu cepat-cepat pergi, agar dia bisa mendekati api itu untuk
menghangatkan badan. Kalau sudah melewati malam yang
amat dingin ini, setelah siang dia sudah tidak merasa takut
lagi. Apa yang diharapkan Ciok Giok Yin tercapai, karena
sebelum kertas-kertas itu habis terbakar, orang itu sudah
bangkit berdiri lalu kembali ke dalam rumahnya.
Ciok Giok Yin tidak berlaku ayal lagi, segera bangkit berdiri
sekaligus menyambar segenggam rumput, cepat-cepat berlari
ke arah api. Namun tak disangka, sebelum dia sampai di
tempat itu, tiba-tiba berhembus angin yang amat kencang,
rnenerbangkan kertas-kertas yang belum terbakar. Sungguh
keterlaluan, kertas-kertas yang masih menyala itu terbang ke
arah tumpukan-tumpukan rumput dan seketika menyala pula
rumput itu.
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin. Dia khawatir api itu

akan membesar, maka segera mengambil sebatang kayu,
kemudian dipukulkannya pada rumput yang terbakar itu. Akan
tetapi, malah membuat api itu semakin membesar. Ciok Giok
Yin amat gugup dan panik.
"Tolong! Tolong padamkan api!" teriaknya sambil terus
memukul rumput-rumput yang terbakar itu. Saat itu di dalam
kota kecil tersebut sudah terdengar suara kentungan yang
amat nyaring.
"Tong! Tong! Tong!" Disusul pula suara teriakan-teriakan
orang.
"Tolong! Tolong! Ada kebakaran!"
Seketika muncul belasan orang membawa tong yang berisi
air, mereka menyiram ke arah api itu. Akhirnya berhasil juga
mereka memadamkan api itu. Namun tumpukan-tumpukan
rumput itu telah terbakar separuh. Salah seorang berkata
dengan heran, "Aneh! Mengapa tumpukan-tumpukan rumput
ini bisa terbakar? Padahal udara sedemikian dingin! Apakah
ada orang sengaja membakarnya? Sebetulnya perbuatan siapa
itu?" Yang lain manggut-manggut. Belasan mata langsung
menengok ke sana kemari. Salah seorang di antara mereka,
tentunya orang membakar kertas tadi.
Ciok Giok Yin berdiri di samping. Dia ingin tahu bagaimana
cara mereka menyelesaikan masalah itu. Apabila perlu, dia
akan tampil sebagai saksi menceritakan hal yang
sebenarnya. Tanpa sengaja dia justru melihat salah seorang
pelayan rumah makan. Pelayan itu mencaci maki.
"Siapa orang yang sialan itu, berani membakar tumpukantumpukan
rumputku! Kalau aku tahu, pasti kubeset kulit orang
itu!" Usai mencaci, wajahnya tampak gusar sekali. Sepasang
matanya yang berbentuk segi tiga mengerling kian kemari
memandang orang-orang di sekitarnya. Sedangkan yang lain
juga saling memandang, seakan tidak tahu siapa yang
membakar rumput itu.
Tiba-tiba, pelayan rumah makan itu menggeram, 'Sudah

ketemu!" Dia langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin.
Ditatapnya anak itu dengan gusar, 'Anak sundel! Ternyata kau
yang membakar tumpukan rumput itu!" bentaknya. Tangan
pelayan itu bergerak, dia mencengkeram Ciok Giok Yin. Begitu
melihat wajah pelayan itu sedemikian Ciok Giok Yin ketakutan
setengah mati, sehingga tak mampu bersuara. Sementara
orang-orang itu pun menatap Ciok Giok Yin.
“Mampusi dia! Mampusi dia!" serunya serentak. Pelayan
rumah makan itu amat sakit hati, karena siang tadi dia
ditampar oleh wanita berusia pertengahan dan rasa sakit
hatinya itu belum hilang. Kini setelah mencengkeram Ciok Giok
Yin, langsung saja membantingnya ke tanah, disusul pula
dengan tendangan keras, membuat anak kecil itu terpental.
"Aduuuh...!" jeritnya kesakitan.
Sedangkan pelayan rumah makan itu masih terus mencaci,
sekaligus menudingnya dengan sengit.
"Kau memang anak sundel! Tadi siang kau makan tak punya
uang, aku menamparmu beberapa kali, tak disangka malam ini
kau malah membakar rumputku!" Pelayan rumah makan itu
mulai menendang Ciok Giok Yin lagi, sehingga anak kecil itu
menjerit-jerit.
"Bukan aku! Melainkan...." Belum usai berkata, Ciok Giok Yin
sudah jatuh pingsan. Coba bayangkan! Bagaimana mungkin
anak kecil yang lemah itu dapat menahan tendangantendangan
yang amat keras? Lagi pula dia dalam keadaan
kedinginan.
Sekonyong-konyong salah seorang berkata, "Jangan pukul dia
lagi, kita akan celaka kalau anak kecil itu mati!"
Pelayan rumah makan itu telah mengangkat tangannya, siap
memukul Ciok Giok Yin. Tapi ketika dia mendengar perkataan
itu, tangannya langsung diturunkan. Memang benar apa yang
dikatakan orang itu, apabila anak kecil itu mati di tangannya,
bukankah pihak pengadilan akan menghukumnya? Oleh karena
itu, dengan sengit dia menendang pantat Ciok Giok Yin. Setelah

menendang, barulah dia tahu bahwa anak kecil itu telah
pingsan.
Hati pelayan rumah makan itu tersentak. Wajahnya yang
penuh kegusaran pun langsung sirna.
"Aku ampuni anak sundel ini!" katanya. Sesungguhnya dia
takut ada orang melapor pada pejabat setempat. Maka dia
sengaja berkata begitu, agar mengurangi dosa perbuatannya,
sebab banyak saksi mata bahwa dia tidak memukul anak kecil
itu hingga mati.
Setelah berkata demikian, pelayan rumah makan itu berjalan
pergi sambil menjinjing teng air. Sudah barang tentu yang lain
pun tidak mau banyak urusan, karena mereka takut urusan
akan menimpanya, oleh karena itu, mereka pun segera
meninggalkan tempat tersebut. Di atas tanah yang penuh
bunga-bunga salju, anak kecil yang nafasnya amat lemah itu
terus terhembus oleh angin dingin. Saat itu dia telah
kehilangan rasa, tidak tahu sakit maupun dingin, karena dalam
keadaan setengah mati.
Entah berapa lama kemudian, Ciok Giok Yin mulai siuman.
Perlahan-lahan anak kecil itu membuka sepasang matanya. Dia
mendapatkan dirinya berada di atas bunga-bunga
salju. Semula dia sama sekali tidak ingat lagi apa yang telah
menimpa dirinya.
“Bagaimana aku berada di atas bunga-bunga salju?"
gumamnya perlahan-lahan. Dia ingin bangkit berdiri, namun
sekujur badannya terasa sakit sekali, seakan semua tulangnya
telah patah. Mendadak dia teringat akan apa yang telah
menimpa dirinya. Sungguh penasaran, dirinya difitnah
melepaskan api! Sedangkan pelayan rumah makan itu, tidak
bertanya lagi langsung memukulnya tanpa ampun. Karena
sekujur badannya terasa amat sakit, akhirnya Ciok Giok Yin
menangis tersedu-sedu.
Mendadak api kebencian menerjang ke rongga dadanya.
Seketika dia berhenti menangis, lalu berkertak gigi menahan
sakit sambil duduk. Dalam hati kecilnya penuh diliputi dendam

dan kebencian.
Asal masih bisa hidup, dia pasti akan mencari orang-orang
yang pernah menghina dirinya. Namun persoalan di depan
matanya, justru harus berusaha cepat-cepat meninggalkan
tempat itu. Kalau esok hari sudah terang, pelayan rumah
makan itu kemari lagi, bukankah dirinya....
Berpikir sampai di situ, dia teringat bahwa kakek tua
berjenggot putih pernah menghadiahkan sebutir pil Ciak Kim
Tan (Pil Emas Ungu) kepadanya, juga berpesan agar baik-baik
menyinipan pil tersebut, kelak dapat dipergunakan untuk
menolong orang. Teringat akan itu, Ciok Giok Yin segera
mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam bajunya.
Kemudian dibukanya kotak kecil itu. Tampak sebutir pil
berwarna ungu di dalamnya. Diambilnya pil tersebut lalu
dimasukkan ke mulutnya. Setelah menelan pil itu, tak lama
rasa sakit di sekujur badannya mulai sirna. Bukan main
girangnya! Dia tidak berani membuang waktu lagi, maka cepatcepat
bangkit berdiri.
Selangkah demi selangkah dia berjalan meninggalkan tempat
itu. Walau jalan yang dilaluinya penuh batu-batu runcing, dia
tetap terus berjalan, tidak berani berhenti sama sekali. Ciok
Giok Yin menuju sebuah lembah. Sementara itu hari sudah
mulai terang, tapi udara masih tetap terasa dingin menusuk
tulang. Karena kedinginan, wajah Ciok Giok Yin telah berubah
menjadi kebiru-biruan. Nafasnya tersengal- sengal karena
terlampau lelah. Akhirnya dia beristirahat di bawah sebuah
pohon.
Dia mengedarkan pandangannya. Tampak berderet
pegunungan, puncak-puncak gunung menjulang tinggi,
diselimuti kabut yang amat tebal. Ciok Giok Yin menundukkan
kepala memandang pakaiannya. Ternyata pakaiannya telah
tersobek sana sini tidak karuan. Dalam keadaan seperti itu,
entah harus bagaimana hidupnya. Bukan hanya itu persoalan
yang dihadapinya. Ternyata dalam benaknya masih terdapat
persoalan lain, yaitu dia harus ke mana? Di mana kakek tua
berjenggot putih berada? Persoalan itu merupakan persoalan
yang amat berat dan penting bagi Ciok Giok Yin. Justru karena
persoalan tersebut, dia pun jadi berkeluh dalam hati, cemas

tidak akan berhasil mencari kakek tua itu. Kalau tidak berhasil,
selanjutnya dia harus bagaimana? Oleh karena itu, tanpa
terasa air matanya bercucuran lagi.
Hembusan angin menerpa wajahnya, sehingga wajahnya yang
sudah murung itu bertambah murung. Di saat bersamaan
terdengar suara helaan nafas panjang tak jauh dari
tempatnya. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin,
menyebabkan sekujur badannya gemetar. Dalam suasana yang
begitu sepi dan udara yang amat dingin, justru ada orang di
dalam lembah? Apakah orang itu juga patut dikasihani seperti
dirinya? Namun dia berpikir sejenak, rasanya tidak benar.
Bagaimana mungkin ada orang bernasib malang seperti
dirinya? Mungkin seekor binatang liar, karena tidak
memperoleh makanan, maka mengeluarkan suara helaan
nafas.
Berpikir sampai di situ, rasa takutnya semakin
mencekam. Dia cepat-cepat bangkit berdiri. Namun ketika baru
siap.... Karena terlalu terburu-buru, dia malah terjatuh. Di saat
itulah terdengar suara yang amat dingin.
"Siapa?"
Ciok Giok Yin memandang ke arah suara itu. Ternyata di balik
sebuah batu besar, duduk seorang pengemis tua. Setelah
melihat pengemis tua itu, legalah hati Ciok Giok Yin.
"Paman pengemis, aku!" katanya sambil memberi hormat.
Pengemis tua itu menatap Ciok Giok Yin dengan mata
melotot.
"Bocah, mau apa kau kemari?" katanya sejenak kemudian.
"Aku mau mencari kakek tua berjenggot putih!" sahut Ciok
Giok Yin sungguh-sungguh. Pengemis tua itu tercengang.
"Siapa kakek tua berjenggot putih itu?" katanya.
Mulut Ciok Giok Yin ternganga lebar, tidak tahu harus

bagaimana menjawabnya.
Mendadak pengemis tua itu membuka mulutnya, terdengar
suara....
"Uaaakh !" Ternyata pengemis tua itu memuntahkan darah
segar.
Ciok Giok Yin terperanjat.
"Paman pengemis sakit ya?" katanya cepat. Pengemis tua itu
mengangguk sambil memejamkan matanya.
"Ya! Aku terluka parah!" sahutnya perlahan-lahan. Ciok Giok
Yin terbelalak.
"Terluka parah?" katanya dengan suara rendah.
"Ng!"
"Terluka karena dipukul orang?" Hati Ciok Giok Yin berdebardebar.
Ternyata dia teringat akan apa yang telah menimpa
dirinya. Bukankah kemarin malam dan malam ini dia juga
dipukul orang hingga terluka? Justru tidak menyangka,
pengemis tua itu pun terluka dipukul orang. Oleh karena itu, di
dalam hati kecil timbul suatu kebencian. Dia berharap dirinya
punya kesempatan untuk belajar ilmu silat, agar kelak dapat
menuntut balas pada orang jahat, jadi orang baik bisa melewati
hari yang tenang. Berselang sesaat, barulah pengemis tua itu
menyahut.
"Tidak salah. Aku dilukai oleh Iblis Sang Yen Hwee
(Perkumpulan Sepasang Walet)."
Ciok Giok Yin tercengang.
"Sang Yen Hwee?"
Pengemis tua itu manggut-manggut, tapi tidak bersuara sama
sekali.
"Paman pengemis, apakah Sang Yen Hwee itu jahat?" tanya

Ciok Giok Yin lagi.
"Untuk apa kau menanyakan itu?"
Mendadak mata Ciok Giok Yin melotot. "Kelak setelah aku
dewasa, harus memiliki kepandaian tinggi, aku ingin
membunuh mereka semua!" sahutnya sambil membusungkan
dada. Usai berkata begitu, dia berdiri dengan gagah, seakan
ada orang Sang Yen Hwee berada di hadapannya. Sikapnya
bukan main, begitu pula air mukanya, tampak seperti telah
menguasai kungfu yang amat tinggi.
Mendadak pengemis tua itu menatapnya dengan tajam,
seolah-olah ingin menembus ke dalam hatinya. Itu membuat
Ciok Giok Yin merasa merinding, kemudian berkata dalam hati.
'Sepasang matanya seperti mata kakek tua berjenggot putih,
amat tajam dan lihay.' Setelah menatap Ciok Giok Yin sejenak,
pengemis tua itu memuntahkan darah segar lagi.
"Uaaakh!" Badan pengemis tua itu bergoyang-goyang seakan
mau jatuh. Ciok Giok Yin cepat-cepat memijit-mijit
punggungnya.
"Paman pengemis, lukamu amat parah dipukul penjahat!"
katanya. Di saat bersamaan, terdengar suara langkah menuju
lembah itu. Sesungguhnya Ciok Giok Yin ingin bangkit berdiri
untuk melihat siapa yang datang, namun sekujur badannya
merasa sakit sekali, membuatnya tidak mampu bangkit berdiri.
Berselang beberapa saat, tampak empat lelaki memasuki
lembah. Begitu melihat Ciok Giok Yin, seketika mereka
mengeluarkan suara ‘Ih!’ Salah seorang dari mereka segera
melesat ke hadapan Ciok Giok Yin, kemudian membentak
sengit,
"Dasar anak sialan! Kau telah menyusahkan kami!" Ternyata
keempat lelaki itu adalah orang-orang Tong Keh Cuang. Ciok
Giok Yin menyurut mundur dua langkah.
"Paman... cari aku?" katanya gemetar.

"Kalau tidak cari kau, cari siapa?"
Tanpa sadar Ciok Giok Yin mundur selangkah lagi.
"Ada urusan apa Paman cari aku?" katanya lagi dengan takuttakut.
Saat ini ketiga lelaki itu juga telah mendekati Ciok Giok
Yin, mengambil posisi mengepungnya. Lelaki yang pertama kali
mendengus dingin, lalu berkata.
"Anak sialan! Kau masih kecil tapi hatimu tidak kecil lho!
Kalau aku tidak mengulitimu, tentu kau tidak tahu
kelihaianku!" Usai berkata, dia pun melangkah maju. Sekujur
badan Ciok Giok Yin gemetar.
"Paman.... Paman...," katanya terputus-putus. Lelaki itu
membentak keras.
"Siapa pamanmu? Dasar anak tak tahu diri! Keluarga Tong
amat baik terhadapmu, budi kebaikan mereka boleh dikatakan
setinggi gunung! Tapi kau malah melepaskan api di halaman
belakang, lalu kabur! Apa maksudmu itu?"
"Buat apa banyak bicara dengan anak sialan itu? Cepat habisi
dia saja!" selak lelaki lain. Lelaki itu menjulurkan tangannya,
wajahnya tampak penuh hawa membunuh. Ciok Giok Yin tidak
bisa berbuat apa-apa, sama sekali tidak mampu melawan,
cuma bisa bermohon sambil terisak-isak.
"Paman, aku... aku tidak melepaskan api. Yang melepaskan
api adalah...." Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, tangan kiri
lelaki itu telah mencengkeram lengannya, sedangkan tangan
kanannya telah diayunkan ke arah Thian Ling Hiat anak kecil
itu. Apabila pukulan itu mendarat di jalan darah tersebut,
jangankan Ciok Giok Yin yang tidak mahir kungfu, sedangkan
yang mahir kungfu pun pasti akan mati seketika.
"Haaah...!" jerit Ciok Giok Yin ketakutan.
Ketika telapak tangan lelaki itu hampir berhasil memukul
Thian Ling Hiat Ciok Giok Yin, mendadak terdengar suara
bentakan keras,

"Kau berani!" Ternyata yang membentak itu pengemis tua.
Dia mengibaskan sebelah tangannya ke arah dada lelaki
itu. Terdengar suara menderu-deru, bahkan terasa amat dingin
pula. Demi keselamatan dirinya, lelaki itu terpaksa harus
berkelit. Sudah barang tentu tidak jadi memukul Ciok Giok Yin.
"Pengemis, siapa kau?" bentaknya.
"Kau masih tidak berderajat menanyakan namaku!"
Bukan main gusarnya lelaki itu! Dia memberi isyarat pada
ketiga temannya. Setelah itu, mereka berempat langsung
menerjang pengemis tua. Pengemis tua telah terluka dalam.
Dia menarik nafas panjang untuk menghadapi mereka. Namun
salah seorang di antara mereka berempat, mendadak
mendekati Ciok Giok Yin. Ternyata dia menggunakan
kesempatan ketiga temannya menerjang pengemis tua, dia
ingin menghabisi anak kecil itu. Dia mengerahkan
lweekangnya, lalu mengangkat tangannya perlahan-lahan siap
memukul Ciok Giok Yin.
Perbuatan lelaki itu tidak terlepas dari mata pengemis tua.
Dia menggeram, mengelak terjangan ketiga lelaki itu,
kemudian mendadak melancarkan sebuah pukulan ke arah
lelaki yang siap memukul Ciok Giok Yin. Plak! Lelaki itu
terpental ke udara, kemudian terdengar lagi suara.
Duuuuk!" Ternyata lelaki itu jatuh menimpa sebuah batu,
hingga kepalanya pecah dan mati seketika. Menyaksikan
kejadian itu, ketiga lelaki lainnya gusar bukan main.
"Pengemis tua! Kau berani membunuh orang?" bentaknya
dengan mata berapi-api. Sesungguhnya pengemis tua itu
masih merasa amat gusar terhadap orang-orang Sang Yen
Hwee yang telah melukainya, maka rasa kegusarannya
dilampiaskan pada lelaki itu, lantaran lelaki itu ingin
membunuh Ciok Giok Yin yang amat lugu.
Oleh karena itu, kemarahan pengemis tua menjadi semakin
memuncak. Sepasang tangannya terus bergerak, melancarkan

pukulan-pukulan yang amat dahsyat. Sebab itu, terdengar lagi
tiga kali suara jeritan yang amat menyayat hati, kemudian
ketiga lelaki itu roboh tak berkutik lagi. Pengemis tua menarik
nafas dalam-dalam, lalu duduk kembali.
Tadi Ciok Giok Yin pingsan saking takutnya. Maka apa yang
terjadi barusan, dia sama sekali tidak mengetahuinya. Kini dia
telah siuman. Ketika melihat darah berceceran, dan kematian
keempat lelaki yang amat mengenaskan, dia terbelalak dengan
wajah pucat pias. Selama ini, dia sama sekali tidak pernah
menyaksikan orang mati. Maka ketika melihat di hadapannya
ada empat sosok mayat, dia sangat ketakutan. Dia tidak berani
lama-lama di situ, segera bangkit berdiri dan meninggalkan
tempat itu.
Namun ketika dia baru mau mengayunkan kakinya, tiba-tiba
terdengar suara nafas memburu, ternyata suara nafas
pengemis tua. Wajahnya pengemis itu pucat pias bagaikan
kertas, kelihatannya sudah sulit untuk ditolong. Ciok Giok Yin
tahu jelas bahwa keadaan pengemis tua menjadi seperti itu
karena demi menyelamatkan dirinya, sehingga harus menguras
tenaga untuk membunuh keempat tukang pukul keluarga Tong.
Kini pengemis itu sudah sekarat, tapi anak kecil itu justru
ingin pergi. Bukankah itu merupakan sikap orang tak
berbudi? Setelah berpikir demikian, Ciok Giok Yin tak jadi
pergi. Dia cepat-cepat meraba dada pengemis tua, ternyata
nafas pengemis itu sudah semakin lemah. Ciok Giok Yin pernah
belajar ilmu pengobatan dari kakek tua berjenggot putih.
Walau dia belum berpengalaman, namun sudah cukup mahir,
maka dia tahu bahwa keadaan pengemis itu sudah payah
sekali.
Karena itu dia segera memeriksa nadi pengemis tua. Justru
mendadak nadi pengemis itu berdenyut normal. Namun itu
bukan pertanda kesembuhan, melainkan pertanda ajalnya telah
dekat. Kecuali terjadi suatu kemujizatan! Kalau tidak, nyawa
pengemis tua itu sudah sulit ditolong. Akan tetapi, Ciok Giok
Yin belum berani memastikan, bahwa pengemis itu akan
mati. Lagipula dia tidak bisa melihat pengemis tua mati begitu
saja, sebab pengemis itulah yang telah menyelamatkan

nyawanya. Bahkan dia pun tahu bahwa pengemis itu
berkepandaian amat tinggi. Apabila bisa menyelamatkan
nyawanya, bukankah boleh berguru padanya?
Ciok Giok Yin terus berpikir, akhirnya dia mengeluarkan
sebutir pil Ciak Kim Tan (Pil Emas Ungu) pemberian kakek tua
berjenggot putih, lalu dimasukkan ke mulut pengemis tua.
"Paman pengemis boleh mengerahkan lwee kang untuk
melumerkan obat Ciak Kim Tan...."
Belum usai Ciok Giok Yin berkata, mendadak sepasang mata
pengemis tua terbuka lebar-lebar, dan tampak berbinar-binar.
"Ciak Kim Tan? Kau peroleh dari mana?" katanya heran.
"Kakek tua berjenggot putih yang berikan padaku" sahut Ciok
Giok Yin. Pengemis tua tampak tercengang.
"Kakek tua berjenggot putih?"
"Ng!"
"Kau tahu namanya?"
Ciok Giok Yin menggeleng-gelengkan kepala. "Orang tua itu
tidak pernah memberitahukan namanya padaku."
Pengemis tua menghela nafas panjang, kemudian duduk
bersamedi untuk menghimpun hawa murninya.
"Kalau dugaanku tidak keliru, yang kau maksudkan kakek tua
berjenggot putih itu adalah Tiong Cu Sin Ie (Tabib Sakti Tiong
Ciu) yang amat terkenal di dunia persilatan!" katanya setelah
bersemedi. Ciok Giok Yin memandang pengemis tua dengan
bodoh, karena kurang mengerti akan perkataan pengemis tua
itu.
Mendadak pengemis itu menggeleng-gelengkan kepala seraya
berkata,

"Aku dikeroyok oleh beberapa iblis dari perkumpulan Sang
Yen Hwee, terkena ilmu pukulan beracun mereka. Kalau obat
Ciak Kim Tan ini milik Tiong Ciu Sin le, pasti bisa
memperpanjang nyawaku beberapa hari, itu pun sudah cukup
bagiku." Usai berkata, pengemis itu berusaha bangkit
berdiri. Ciok Giok Yin cepat-cepat memapahnya.
"Bocah! Papah aku ke tempat yang sepi!" kata pengemis tua.
Ciok Giok Yin mengangguk, lalu memapah pengemis itu
memasuki lembah tersebut. Tak lama kemudian, bukan cuma
Ciok Giok Yin yang berkeringatan, bahkan pengemis tua itu pun
mulai memburu nafasnya. Dapat diketahui betapa beratnya
luka yang diderita pengemis itu. Setelah melewati jalan berlikuliku,
akhirnya mereka berdua sampai di depan sebuah goa batu
alami, dan mereka berdua segera memasuki goa itu. Pengemis
tua duduk, memandang Ciok Giok Yin.
"Bocah, kita beristirahat di sini. Aku ingin bicara denganmu."
Dia memejamkan matanya, kelihatannya ingin beristirahat
sejenak. Dua kali Ciok Giok Yin dipanggil 'Bocah', membuat
hatinya merasa kurang enak. Namun melihat keadaan
pengemis tua, dia tidak mempermasalahkannya. Beberapa saat
kemudian barulah pengemis tua membuka matanya,
memandang Ciok Giok Yin dengan lembut sekali.
"Anak ini...," gumamnya terputus. Kelihatannya pengemis itu
sedang memikirkan sesuatu.
"Bocah, itu tergantung pada peruntunganmu! Menurutku Ciak
Kim Tan memang berasal dari Tiong Ciu Sin le. Ilmu
pengobatan orang itu amat luar biasa. Apabila kau berhasil
mencarinya, kau pasti akan berhasil mempelajari ilmu tinggi,"
katanya sesaat kemudian.
"Maksud Paman pengemis adalah kakek tua berjenggot
putih?"
"Tidak salah."

"Betulkah beliau adalah Tiong Ciu Sin Ie?"
"Menurut dugaanku pasti dia."
"Aku justru ingin pergi mencarinya, namun tidak tahu, beliau
berada dimana."
"Kau boleh mencarinya ke Tionggoan," kata pengemis tua.
Mendengar saran pengemis itu, bukan main girangnya Ciok
Giok Yin, itu berarti dia punya harapan lagi. Seandainya dia
berhasil mencari kakek tua berjenggot putih, dia pasti akan
belajar kungfu tinggi, agar dapat menuntut balas pada orangorang
yang pernah menghinanya. Badan pengemis tua
menggigil sejenak.
"Bocah, kalau nyawaku dapat dipertahankan, aku pasti
membantumu mencarinya. Kini, berkat khasiat obat Ciak Kim
Tan, aku akan pergi menemui seseorang untuk mengobati
lukaku," katanya perlahan-lahan. Usai berkata, pengemis tua
itu bangkit berdiri. Begitu melihat pengemis tua itu akan pergi,
guguplah hati Ciok Giok Yin.
"Paman pengemis mau pergi?" katanya. Pengemis itu
mengangguk.
"Ya. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Sebab kalau aku tidak
bisa menemukan orang itu, diriku pasti celaka."
Dia menatap Ciok Giok Yin, "Kalau aku tidak mati, sebulan
kemudian, kita akan bertemu di sebelah timur kota Lok Yang,
di Kuil Kwan Kong." Badan pengemis itu bergerak, ternyata dia
telah melesat pergi.
Kini di tempat itu tinggal Ciok Giok Yin seorang diri. Dia
berdiri termangu-mangu di tempat. Lama sekali barulah Ciok
Giok Yin mendongakkan kepala memandang langit, ternyata
hari sudah menjelang sore.
Lembah itu amat sunyi, hawa udaranya pun amat dingin. Ciok
Giok Yin cuma mengenakan pakaian tipis, maka rasa dingin itu

betul-betul menusuk ke dalam tulangnya. Dia harus segera
meninggalkan lembah itu, kalau tidak, pasti akan mati
kelaparan.
Di saat bersamaan, perutnya pun mulai berbunyi
keroncongan, pertanda minta segera diisi. Akan tetapi di depan
matanya cuma ada salju putih, bagaimana mungkin mencari
makanan di tempat tersebut? Karena sudah lapar, maka dia
berjalan tertatih-tatih meninggalkan lembah itu. Setelah
berjalan beberapa saat, sekujur badan Ciok Giok Yin terasa
semakin lemah, bahkan pandangannya pun mulai kabur. Perlu
diketahui, perutnya cuma diisi satu kali, lalu melakukan
perjalanan malam, bahkan juga dipukul orang, sehingga
membuat perutnya semakin kosong.
Langkahnya makin lamban, namun lembah itu sepertinya
tiada ujungnya, sulit sekali melewatinya.
Di depan matanya cuma tampak batu curam, dan harus
melewati batu-batu itu, sebab tiada jalan lain. Demi perutnya
yang harus segera diisi, dia terus berjalan meskipun badannya
sudah semakin lemah, tidak menghiraukan bahaya yang ada di
tempat itu. Namun berselang sesaat, sepasang kakinya sudah
tak bertenaga, akhirnya dia terkulai tak mampu bangkit berdiri
lagi. Sungguh kasihan sekali anak kecil itu! Dia masih kecil
sudah mengalami penderitaan yang tiada tara.
Sementara sang waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah
mulai senja. Bunga-bunga salju mulai turun dari
langit. Sedangkan Ciok Giok Yin tergeletak di tanah, tak
mampu bergerak. Tampak sepasang matanya mengucurkan air
mata, mengucur dan terus mengucur.... Namun dia masih
teringat ketika bersama si Kakek berjenggot putih, kemudian
teringat pula ketika berada di keluarga Tong.... Semua itu terus
terbayang di depan matanya. Saat ini dia tidak mengharapkan
apa-apa, cuma berharap ada sedikit makanan untuk mengisi
perutnya. Oleh karena itu, justru membuat perutnya semakin
terasa lapar....

Dia menengok kesana kemari, yang tampak hanya bungabunga
salju beterbangan dihembus angin. Betapa takutnya
anak kecil itu, sehingga sulit diuraikan dengan katakata.
Apabila malam ini dia tidak berhasil meninggalkan
lembah itu, tentunya dia akan terkubur di sana, atau mungkin
juga akan menjadi mangsa binatang buas. Ciok Giok Yin
berkertak gigi, memaksa diri untuk bangkit berdiri. Dia
berhasil, tapi baru berjalan beberapa langkah, dia sudah
terkulai dan matanya gelap, akhirnya pingsan.
Sesungguhnya kalau cuma satu hari tidak makan, Ciok Giok
Yin tidak akan merasa lapar hingga seperti itu. Namun dia
dipukul orang beberapa kali, bahkan juga harus melakukan
perjalanan dalam keadaan cuaca buruk dan dingin, itulah yang
membuat kondisi badannya semakin lemah dan tak dapat
bertahan lagi. Entah berapa lama kemudian, barulah dia
siuman. Dia membuka matanya lalu menengok ke sekeliling,
ternyata hari sudah gelap. Air matanya berderai-derai lagi
membasahi pipinya, bahkan sekujur badannya menggigil.
Di saat itulah dia berpikir, sebetulnya dia orang dari mana? Di
mana kedua orang tuanya? Kakek tua berjenggot putih pernah
memberitahukannya, bahwa beliau menemukannya di sebuah
lembah.
Pada waktu itu usianya baru tiga tahun. Di bajunya bersulam
tiga huruf yaitu Ciok Giok Yin. Itu pasti namanya, tidak akan
salah. Kalau begitu, siapa ayahnya dan mengapa dia dibuang di
dalam lembah itu? Apakah kedua orang tuanya dibunuh oleh
penjahat?
Akan tetapi, kalau kedua orang tuanya dibunuh oleh penjahat,
mengapa dirinya tidak turut dibunuh? Bukankah membabat
rumput harus pula mencabut akarnya? Bagaimana mungkin
dirinya dibiarkan hidup? Dia berpikir lagi, seandainya kedua
orang tuanya dibunuh penjahat, bagaimana mungkin sempat
membuangnya ke lembah itu? Sesungguhnya Ciok Giok Yin
berharap akan berhasil mencari kakek tua berjenggot putih,
lalu bermohon padanya diajarkan ilmu silat. Kalau sudah
memiliki ilmu silat tinggi, dia bukan cuma bisa membalas
dendam, bahkan juga bisa pergi mencari kedua orang
tuanya. Namun kini segalanya telah kandas. Semuanya itu

hanya merupakan suatu mimpi belaka, karena dia akan mati
kelaparan di tempat ini.
Kini Ciok Giok Yin sudah tidak merasa takut lagi. Di saat
orang sedang menunggu ajalnya, justru akan berubah
tenang. Usia Ciok Giok Yin masih kecil, namun dia sering
mengalami berbagai macam penderitaan, maka pikirannya jauh
melebihi anak-anak seusia itu. Sementara bunga-bunga salju
terus menari-nari di angkasa. Angin terus berhembus tanpa
mengenal belas kasihan, menimbulkan suara menderuderu.
Mendadak angin dingin berhembus, membawa suatu
aroma yang amat harum menerobos ke dalam hidung Ciok
Giok Yin.
Seketika semangatnya terbangkit. Sedangkan aroma harum
itu, makin lama makin menebal. Ciok Giok Yin pernah
mendengar dari kakek tua berjenggot putih, bahwa di rimba
liar kadang-kadang terdapat semacam buah langka.
Seandainya nyawanya tidak akan berakhir di sana,
kemungkinan besar dia akan memperoleh buah langka yang
dimaksud Memang menakjubkan, setelah mencium aroma
harum itu, tanpa sadar sekujur badannya terasa agak
bertenaga. Dia langsung bangkit berdiri, memandang ke arah
datangnya aroma harum itu. Akan tetapi hari amat gelap,
maka dia tidak melihat apapun.
Namun berdasarkan aroma harum itu, dia berjalan perlahanlahan
menuju ke sana. Kira-kira dua depa kemudian, tiba-tiba
aroma harum itu hilang. Dia terpaksa membalikkan badannya
untuk berendus-endus lagi.
Tak lama terendus lagi aroma harum itu. Dia cepat-cepat
berjalan ke sana. Tampak sebuah tumbuhan melekat di dinding
tebing. Tumbuhan itu cuma berdaun empat helai agak
bergemerlapan. Di pucuk tumbuhan itu terlihat dua biji
buah. Ketika melihat buah itu, Ciok Giok Yin nyaris bersorak,
kemudian sekujur badannya tergetar.
“Ginseng Daging! Ginseng Daging!” gumamnya perlahan.
Ginseng Daging merupakan buah yang amat langka dan
berkhasiat luar biasa sekali. Bagi orang mahir kungfu, apabila

makan buah Ginseng Daging itu, bukan cuma akan menambah
tiga puluh tahun latihan lwee kang, bahkan juga akan
membuatnya awet muda. Bagaimana Ciok Giok Yin tahu
tentang hal itu? Ternyata kakek tua berjenggot putih pernah
memberitahukannya mengenai berbagai macam buah langka
berikut khasiatnya. Dia pun ingat akan pesan kakek tua
berjenggot putih, bahwa siapa yang dapat menemukan buah
Ginseng Daging, dia betul-betul beruntung sekali. Sebab
khasiat Ginseng Daging dapat menghidupkan orang yang baru
mati. Teringat akan pesan itu, maka Ciok Giok Yin menjulurkan
tangannya perlahan lahan dan berhatihati sekali memetik
kedua biji buah Ginseng Daging itu. Namun tumbuhan itu
malah tercabut semua berikut akarnya.
Saking laparnya, Ciok Giok Yin menyantap satu biji buah
Ginseng Daging itu, bahkan berikut daun, batang dan
akarnya. Ketika dia baru mau menyantap buah Ginseng Daging
yang satu lagi, mendadak teringat akan kakek tua berjenggot
putih. Orang tua itu telah banyak berbudi padanya, mengapa
Ginseng Daging yang satu ini tidak disimpan untuk
beliau? Karena berpikir begitu, dia segera menyimpan Ginseng
Daging itu ke dalam kotak Ciak Kim Tan. Setelah makan
Ginseng Daging itu, Ciok Giok Yin sudah tidak merasa lapar
maupun dingin lagi. Dapat dibayangkan betapa girangnya hati
Ciok Giok Yin! Dia langsung berjalan pergi meninggalkan
lembah itu.
Jilid 02
Ketika Ciok Giok Yin berjalan beberapa langkah, tiba dia
merasa Tantian (Bagian Pusar)nya mengalir hawa panas,
kemudian menjalar keseluruh tubuhnya. Itu membuatnya
merasa tidak tahan, akhirnya dia roboh berguling-guling di
tanah. Saking panasnya hawa itu di dalam tubuhnya,
menyebabkannya menjadi pingsan.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah dia siuman. Dia
merasa badannya kembali segar, tidak merasa lapar dan
bersemangat. Tapi masih terasa hawa panas di bagian

Tantiannya, hanya tidak mengganggu dirinya. Ciok Giok Yin
pernah belajar ilmu pengobatan, maka dia tidak begitu
memperdulikan itu. Dia girang bukan main lantaran badannya
telah regar, maka langsung meloncat bangun. Namun tiba-tiba
dia terbelalak, ternyata badannya berubah menjadi agak tinggi.
Itu sungguh mengherankannya! Dia tidak menyangka bahwa
Ginseng Daging itu berkhasiat begitu luar biasa.
Kini pakaiannya berubah agak pendek, sepatunya juga agak
sempit, sehingga membuatnya tertawa geli. Saat ini, dia
kelihatan seperti telah berusia sembilan belas tahun, padahal
usianya baru menginjak enam belas. Ciok Giok Yin terus
berjalan meninggalkan lembah itu. Justru sungguh di luar
dugaan, langkah kakinya terasa amat ringan. Walau berjalan
perlahan, tapi seperti terbang. Betapa girangnya Ciok Giok Yin,
sungguh sulit dilukiskan! Oleh karena itu, dia berjalan sambil
bersenandung dengan riang gembira.
Dalam rimba tampak asap tipis, gunung dingin menyimpan
kedukaan orang, senja hari memasuki loteng, ada orang
bermuram durja di loteng. Suara nydapatiannya amat merdu,
bergema-gema dan berkumandang ke mana-mana. Dia terus
berjalan, sesekali kakinya menendang bunga salju, bahkan
juga berloncat-loncatan.
Ciok Giok Yin terus berjalan. Mendadak dia melihat di depan
ada sosok bayangan hitam duduk di atas sebuah batu
besar. Ciok Giok Yin tersentak, langsung berhenti, tidak berani
berjalan lagi. Dia tidak dapat melihat dengan jelas, sosok
bayangan itu sebenarnya orang hidup atau mayat. Kalau itu
orang hidup, mengapa dia duduk di situ di malam hari yang
amat dingin? Bagaimana orang itu tahan duduk diam di
situ? Apakah dia tidak merasa dingin?
Karena itu, Ciok Giok Yin tidak berani maju lagi. Sampai lama
sekali Ciok Giok Yin tidak melihat orang itu bergerak, maka
timbullah rasa keberani- annya dan dia mulai maju perlahanlahan.
Setelah dekat, barulah Ciok Giok Yin melihat jetas, orang itu
sudah tua, duduk dengan mata terpejam kelihatannya sedang
bersemadi menghimpun hawa murninya. Ciok Giok Yin cepatKANG
ZUSI http://cerita-silat.co.cc/
cepat memberi hormat. Justru di saat itulah dia melihat jenggot
orang tua itu bernonda darah, dan nafasnya agak
memburu. Ciok Giok Yin memperhatikannya. Kelihatannya
orang tua itu seperti terluka parah. Dia merasa iba dan simpati
pada orang tua itu. Maka, setelah memberi hormat, diapun
bertanya.
"Mohon tanya pada lo cianpwee, apakah lo cianpwee terluka?"
Orang tua itu membuka matanya, menatap Ciok Giok Yin
sejenak, lalu dipejamkan lagi tanpa menghiraukannya. Ciok
Giok Yin bertanya lagi, tapi orang tua itu tetap tidak
menyahut. Karena itu, dia menggeleng-gelengkan kepala,
kemudian berjalan pergi.
Ketika dia baru berjalan belasan depa, mendadak terdengar
suara bentakan di belakangnya.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin segera menoleh ke belakang. Seketika juga
wajahnya berubah menjadi pucat pias, dan sekujur badannya
tampak gemetar. Ternyata Tong Eng Kang dan tiga lelaki
berdiri di belakangnya, Ciok Giok Yin berkertak gigi, dan
sepasang matanya membara. Namun dia tahu dirinya tidak
mengerti ilmu silat, maka terpaksa menekan hawa
kegusarannya. Sedangkan Tong Eng Kang, begitu melihat Ciok
Giok Yin, seketika juga tertegun, karena dalam waktu satu
malam, Ciok Giok Yin telah bertambah besar, dan kelihatan
seperti berusia sembilan belas tahun. Tong Eng Kang tidak
habis pikir, bagaimana seseorang bisa tumbuh besar dalam
waktu satu malam? Ketiga lelaki itu juga tampak tertegun.
Mereka menatap Ciok Giok Yin dengan mata terbelalak.
Begitulah. Mereka saling menatap. Berselang sesaat, Tong Eng
Kang berusaha tersenyum ramah dan lembut.
"Adik Ciok, beberapa malam yang lalu aku telah bersalah
padamu, mohon dimaafkan! Untung adik Ciok tidak terjadi apaapa.
Kemarin pagi ayah tidak melihatmu, maka aku dipukul
oleh ayah! Adik Ciok, silakan ikut aku pulang, jangan
berkeliaran di luar lagi!" Begitu mendengar perkataan Tong Eng

Kang, kemarahan Ciok Giok Yin semakin memuncak.
"Terimakasih atas kebaikanmu. Namun kalaupun aku harus
mati kelaparan di luar, aku tetap tidak mau pulang ke sana,
tiada hubungan apa-apa dengan kalian!" sahutnya dengan
ketus. Usai menyahut, Ciok Giok Yin lalu membalikkan
badannya berjalan pergi. Wajah Tong Eng Kang tampak
tersenyum.
"Adik Ciok, dengarlah dulu! Kau mau pulang atau tidak itu
terserah." Dia memandang ketiga lelaki itu, dan seketika ketiga
lelaki itu meloncat ke arah Ciok Giok Yin, mengurungnya di
tengah-tengah. Sedangkan Tong Eng Kang juga maju beberapa
langkah.
"Adik Ciok, pakaianmu sudah begitu pendek, tidak bisa
dipakai lagi. Untung ketika aku mau kemari, tidak lupa
membawa dua stel pakaian untukmu." Dia mengambil sebuah
bungkusan yang tergantung di punggungnya, kemudian
dibukanya. Ternyata bungkusan itu berisi dua stel pakaian dan
sepatu. "Cepatlah pakai, lalu ikut aku pulang!" Dia
menyerahkan pakaian dan sepatu itu pada Ciok Giok Yin.
Sesungguhnya itu adalah pakaian Tong Eng Kang. Semula Ciok
Giok Yin tidak mau menerimanya, namun mengingat pakaian
dan sepatunya yang dipakainya sudah tidak karuan, maka
terpaksa diterimanya pakaian itu, lalu dipakainya.
"Terimakasih!" ucapnya sambil memandang Tong Eng Kang.
Pakaian dan sepatu itu memang amat pas dengan badannya.
Ketika Ciok Giok Yin sedang mengenakan pakaian itu, Tong Eng
Kang maju dua langkah lagi, sehingga amat dekat dengan Ciok
Giok Yin. Tong Eng Kang adalah pemuda yang licik dan banyak
akal busuk. Dia tersenyum-senyum seraya berkata.
"Adik Ciok, sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi atas
dirimu? Bagaimana dalam waktu satu malam, kau bisa tumbuh
lebih tinggi dan besar?" Berhubung Tong Eng Kang belum tahu
jelas apa yang telah terjadi atas diri Ciok Giok Yin, maka tidak
berani sembarangan turun tangan. Karena Tong Eng Kang
bersikap begitu baik, maka Ciok Giok Yin menyahut dengan

jujur. "Aku telah makan Ginseng Daging."
"Ginseng Daging?"
"Ng"
Wajah Tong Eng Kang langsung berubah, sepasang biji
matanya berputar dan kemudian berkata.
"Adik Ciok, dalam waktu satu malam kau sudah tumbuh
besar. Kalau kau hidup sampai lima enam puluh tahun
kemudian, bukankah kau akan tinggi sekali? Aku pernah
dengar dari orang, setelah makan Ginseng Daging, harus pula
menggunakan Ping Ko (Buah Es) untuk mencairkan Ginseng
Daging itu. Kalau tidak...."
Hati Ciok Giok Yin berdebar-debar mendengar ucapan Tong
Eng Kang itu.
"Bagaimana?"
Tong Eng Kang tertawa licik.
"Setiap hari kau akan bertambah tinggi, cobalah bayangkan!"
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin. Dia langsung bertanya
dengan suara bergemetar.
"Kakak Tong, aku harus bagaimana?"
"Asal kau ikut aku pulang, ayah pasti dapat membantumu,"
sahut Tong Eng Kang sungguh-sungguh. Walau Ciok Giok Yin
pernah ikut kakek tua berjenggot putih belajar ilmu
pengobatan, namun tidak pernah mendengar Ginseng Daging
masih mengandung khasiat seperti itu. Maka tidak
mengherankan kalau dia jadi ragu.
Tong Eng Kang terus menatapnya. Dalam hatinya dia merasa
girang, karena merasa telah berhasil mendustai anak itu. Maka

dia maju setengah langkah lagi dan langsung mencengkeram
lengan Ciok Giok Yin. Sementara itu, orang tua yang duduk di
atas batu, mendengar jelas pembicaraan mereka, tapi dia tetap
diam. Sedangkan Tong Eng Kang, setelah berhasil
mencengkeram lengan Ciok Giok Yin, wajahnya berubah
menjadi bengis. Ciok Giok Yin ingin meronta, tapi sebelah
tangan Tong Eng Kang bergerak cepat mencengkeram
lengannya lagi.
"Ciok Giok Yin! Apa yang kutanyakan harus kau jawab dengan
jujur!"
"Mau bertanya apa?"
"Siapa yang membunuh keempat orangku di dalam lembah
itu?"
Ciok Giok Yin teringat pada keempat lelaki yang ingin
membunuhnya, untung pengemis tua menyelamatkannya. Kini
Tong Eng Kang muncul di tempat ini, tentunya akan membuat
perhitungan dengannya.
Oleh karena itu dia menyahut, "Aku tidak tahu,"
Tong Eng Kang tertawa dingin.
"Tidak tahu?" katanya. Dia mengeraskan cengkeramannya.
Sebetulnya Ciok Giok Yin ingin meronta, namun merasa tak
bertenaga sama sekali, lagipula lengannya terasa mau patah
sehingga keringat dinginnya mulai mengucur. Saat ini Ciok
Giok Yin baru sadar, ternyata tadi Tong Eng Kang cuma berkata
bohong belaka.
"Cepat katakan! Siapa yang membunuh mereka?" desak Tong
Eng Kang.
Ciok Giok Yin tidak menyahut, cuma mendengus.
"Hmmm!" Walau merasa amat sakit, tapi dia tidak mengeluh
sama sekali, sebab sudah terbiasa menderita dan disiksa. Oleh
karena itu, dia menutup mulutnya rapat-rapat sambil berkertak

gigi. Dengan cara kekerasan tidak memperoleh hasil, maka
Tong Eng Kang ingin menggunakan cara lunak Dia
mengendurkan cengkeramannya, lalu berkata dengan lembut.
"Adik Ciok, maafkan aku karena terlampau emosi sehingga
menyakitkan lenganmu. Adik Ciok, beritahukanlah, siapa yang
membunuh mereka! Apakah kau tega membiarkan mereka
mati penasaran?"
Ciok Giok Yin tetap diam. Namun dalam hatinya berkata. 'Aku
yakin Tong Eng Kang juga tidak akan melepaskan diriku. Aku
telah makan Ginseng Daging, langkah kakiku amat ringan,
mengapa aku tidak kabur?' Ketika dia baru mau membalikkan
badan ingin kabur, mendadak ketiga lelaki itu telah
melancarkan tiga buah pukulan ke arahnya. Di saat
bersamaan, Tong Eng Kang tertawa dingin seraya berkata.
"Anak jahanam, kau masih ingin melarikan diri? Kalau kau
tidak mau mengatakan secara jujur, aku pasti menyiksamu
sampai menderita sekali, tidak bisa hidup dan tidak bisa mati!"
Wajahnya berubah menjadi bengis, penuh hawa
membunuh. Sedangkan Ciok Giok Yin tahu bahwa dirinya
sudah tidak bisa lolos dari maut. Maka, dari pada mati konyol,
lebih baik melawan. Karena itu, mendadak dia menerjang ke
arah Tong Eng Kang sambil berkertak gigi. Dia tidak mengerti
ilmu silat, maka pukulannya agak ngawur tidak karuan.
Akan tetapi, Tong Eng Kang langsung mengayunkan kakinya
menendang Ciok Giok Yin, sehingga anak itu terpental
beberapa depa lalu roboh. Tong Eng Kang tidak berhenti
sampai di situ. Dia meloncat ke arah Ciok Giok Yin yang masih
terlentang di tanah, lalu menginjak dadanya.
"Aaaakh...!" jerit anak itu. Mulutnya menyemburkan darah
segar.
Akan tetapi, entah muncul dari mana Ciok Giok Yin
memperoleh kekuatan. Dia menyambar sebuah batu. lalu
disambitkan ke arah kepala Tong Eng Kang. Jaraknya amat
dekat, lagipula Tong Eng Kang tidak menduga kalau Ciok Giok
Yin akan menyambitnya. Maka tidak ampun lagi batu itu

mendarat di keningnya. Bukan main gusarnya Tong Eng Kang!
"Anak sundel! Aku akan menghabisimu!" bentaknya sengit.
Tong Eng Kang mengeluarkan sebilah belati yang
bergemerlapan, tampak tajam sekali. Dia menatap Ciok Giok
Yin dengan bengis, lalu menusuk dadanya dengan belati itu.
Kelihatannya anak yang yatim piatu yang selalu hidup
menderita itu akan mati tertusuk. Namun mendadak terdengar
suara bentakan keras.
"Berhenti!" Tampak sosok bayangan bagaikan setan
gentayangan berkelebat, dan terdengar pula suara menderuderu.
Seketika terdengar suara jeritan.
"Aaaakh...!" Tampak seseorang terpental tiga depa, dan
kemudian jatuh gedebuk di tanah. Ternyata Tong Eng
Kang. Begitu melihat tuan mudanya terpental, ketiga lelaki itu
cepat-cepat mendekatinya, kemudian salah seorang dari
mereka memapahnya bangun. Sedangkan dua orang lainnya
membentak keras.
"Tua bangka! Cari mampus!" Mendadak mereka menyerang
orang tua tersebut. Sepasang mata orang tua itu menyorot
tajam. Begitu tangannya bergerak, terdengar lagi dua kali
jeritan. Ternyata kedua lelaki itu pun terpental lalu jatuh di
tanah. Tong Eng Kang yang telah dipapah bangun,
menyaksikan kepandaian orang tua tersebut. Dia tahu dirinya
bukan lawan orang tua itu, maka tanpa bicara lagi dia langsung
mengajak ketiga lelaki itu Ciok Giok Yin yang telah
memejamkan matanya menunggu mati, tidak menyangka
bahwa orang tua yang duduk diam di atas batu itu, melesat
cepat menyelamatkan nyawanya. Dia segera memberi hormat
kepadanya.
"Terimakasih atas kebaikan to cianpwee telah menyelamatkan
nyawaku!" ucapnya. Orang tua itu menatapnya dengan penuh
perhatian.
"Bocah, siapa namamu?"

"Ciok Giok Yin."
"Kau telah makan buah Ginseng Daging?"
"Ya."
"Pernahkah kau belajar kungfu?"
"Tidak pernah."
Orang tua itu manggut-manggut.
"Sungguh merupakan sebuah mustika yang belum digosok!"
gumamnya. Ciok Giok Yin tidak mengerti apa yang dikatakan
orang tua itu.
"Lo cianpwee bilang apa?"
Orang tua itu tidak menyahut, melainkan malah balik
bertanya.
"Bocah, berapa usiamu sekarang?"
"Enam belas."
Mendadak terlintas suatu pikiran dalam benak Ciok Giok Yin,
orang tua itu berkepandaian tinggi, mengapa aku tidak berguru
padanya untuk belajar kungfu tinggi? Setelah aku berhasil
menguasai kungfu tinggi, bukankah aku bisa balas dendam
kelak?
Karena berpikir begitu, Ciok Giok Yin segera menjatuhkan diri
berlutut di hadapan orang tua itu.
"Lo cianpwee, mohon lo cianpwee sudi menerimaku..."
katanya.
Sebelum Ciok Giok Yin usai berkata, orang tua itu sudah
tertawa terbahak-bahak dan menyergahnya.
"Aku Phing Phiaw Khek, seumur hidup bagaikan daun yang
terapung kesana kemari, tiada tempat tinggal yang tetap.

Lagipula kini aku menderita luka parah, nyawa pun tidak akan
panjang. Bukan aku tidak mau menjadi suhumu, melainkan
tidak pantas. Ayo, bangunlah! Aku akan
menyempurnakanmu." Ciok Giok Yin segera bangkit
berdiri. Phing Phiauw Khek terbatuk-batuk beberapa kali,
kemudian memuntah darah segar, dan badannya pun menjadi
sempoyongan seakan mau roboh. Ciok Giok Yin segera
menahannya agar tidak roboh.
"Lo cianpwee terluka parah ya?"
Mendadak sepasang mata Phing Phiauw Khek menyorot
dingin.
"Tidak salah. Aku dilukai oleh para iblis Sang Yen Hwee."
"Sang Yen Hwee?"
"Eh? Bagaimana kau tahu?"
Ciok Giok Yin segera menceritakan tentang pengemis tua,
kemudian menambahkan,
"Paman pengemis itu pergi mencari seseorang untuk
mengobati lukanya."
Phing Phiauw Khek duduk, menatap Ciok Giok Yin seraya
berkata.
"Lukamu juga tidak ringan, duduklah!" Ciok Giok Yin duduk di
hadapannya.
"Bocah. Sungguhkah kau ingin belajar kungfu?"
"Ya!"
"Aku pasti mengabulkannya, namun setelah kau berhasil
menguasai semua ilmu silatku, kau harus membasmi
perkumpulan Sang Yen Hwee, dan juga harus mencari sebuah
Gin Tie (Seruling Perak) untukku!"

"Seruling Perak?"
"Ng!"
"Setelah berhasil mencari Seruling Perak, lalu bagaimana?"
"Setelah kau berhasil mencari Seruling Perak itu, kau pun
masih harus mencari keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie
Goan. Serahkan Seruling Perak itu padanya!"
"Siapa keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan itu?"
"Tentang itu, kau boleh selidiki sendiri, sebab aku pun tidak
begitu jelas."
"Lo cianpwee, di mana tempat tinggalnya?"
"Itu pun harus kau yang menyelidikinya."
Mencari seseorang yang tiada nama dan tiada alamat jelas,
sungguh merupakan suatu urusan yang amat sulit. Tapi orang
tua itu bilang, mengenai Seruling Perak, tentunya amat penting
terhadap keluarga Ciok itu. Sedangkan Ciok Giok Yin memang
ingin sekali belajar kungfu, maka dia langsung
menyanggupinya.
"Aku pasti melaksanakan tugas itu dengan baik."
Phing Phiauw Khek manggut-manggut.
"Baik. Dalam waktu tiga hari, kau harus tiba di tebing Tong
Eng Kang. Di sana terdapat goa Toan Teng Tong. Carilah
seorang wanita bernama Ho Hong Hoa di sana, dia pasti akan
mewariskan kungfu yang amat tinggi padamu!"
Mendengar itu, Ciok Giok Yin mengerutkan kening.
"Jarak dari sini ke gunung Tong Pek San ribuan mil, mungkin
dalam waktu sepuluh hari pun sulit untuk tiba di sana. Itu
bagaimana?"

"Biar bagaimanapun, dalam waktu tiga hari kau harus sampai
di sana. Kalau terlambat, bukan cuma akan mempengaruhi
rimba persilatan, bahkan juga akan menimbulkan hal lain.”
"Apakah wanita itu amat penting bagi rimba persilatan?"
"Sesungguhnya bukan orangnya, melainkan dia memiliki
suatu benda pusaka."
Ciok Giok Yin tertegun.
"Apakah ada orang ingin merebut benda pusakanya
"Berdasarkan. informasi yang kuterima, Bu Lim Sam Siu (Tiga
Manusia Aneh Rimba Persilatan) telah berangkat ke sana."
Tiba-tiba, Phing Phiauw Khek membentak keras bagaikan
suara geledek menggelegar, memekakkan telinga Ciok Giok Yin
dan badannya pun gemetar. Di saat bersamaan, orang tua itu
menotok jalan darah Ciok Giok Yin agar anak itu pingsan,
setelah itu, menotok lagi jalan darah Pek Hwee Hiatnya.
Entah berapa lama kemudian. Satu jam, dua jam.... Satu
hari, dua hari.... Ciok Giok Yin mulai siuman. Dia membuka
matanya, melihat bintang-bintang bertaburan di langit. Dia
mendapatkan dirinya berada di malam yang amat dingin,
sedangkan di sisinya tergeletak Phing Phiauw Khek, tak
bergerak dan tak bernafas.
Hati Ciok Giok Yin tersentak. Dia masih ingat ketika Phing
Phiauw Khek membentak, lalu dia pun pingsan tak tahu apaapa
lagi. Ciok Giok Yin segera memeriksa pernafasan Phing
Phiauw Khek, ternyata nafas orang tua itu telah putus. Dia
tidak habis pikir, sebenarnya apa gerangan yang telah
terjadi? Melihat mayat orang tua itu, hati Ciok Giok Yin amat
berduka. Kini di tempat itu hanya Ciok Giok Yin seorang diri,
maka dia mencari suatu tempat untuk mengubur mayat Phing
Phiauw Khek.
Di saat mengubur mayat orang tua itu, dia merasa heran,
mengapa tenaganya begitu kuat? Dia mudah mengangkat

mayat itu, dan juga mudah mengangkat batu-batu. Mayat
orang tua dan batu-batu itu amat berat, namun dengan mudah
dia mengangkatnya. Dia tidak mengerti sama sekali, kemudian
tidak mau memikirkannya.
Seusai mengubur mayat orang tua itu, barulah Ciok Giok Yin
teringat akan pesannya, bahwa dalam waktu tiga hari, dia
harus tiba di Goa Toan Teng Tong, di gunung Tong Pek
San. Bagaimana mungkin? Kalaupun melakukan perjalanan
siang malam tanpa beristirahat, juga tidak akan tiba di sana
dalam waktu tiga hari.
Namun dalam tubuhnya terdapat suatu kekuatan, terus
mendorongnya, agar bisa tiba di sana tepat pada waktunya,
sehingga tidak mengecewakan apa yang dipesankan orang tua
itu.
Oleh karena itu, mulailah dia melakukan perjalanan dengan
langkah lebar. Justru sungguh di luar dugaannya, begitu dia
melangkah, badannya terasa amat ringan. Satu kali melangkah
dapat mencapai satu depa lebih. Itu membuatnya segera
berlari. Bukan main! Dia berlari bagaikan terbang. Anehnya dia
tidak meninggalkan bekas kaki di permukaan salju.
Kini barulah Ciok Giok Yin tersadar, bahwa Phing Phiauw Khek
telah menyalurkan hawa murninya ke dalarn tubuhnya, tapi
membuat orang tua itu kehilangan nyawanya sendiri. Budi
kebaikan yang begitu tinggi, harus bagaimana membalasnya?
Ciok Giok Yin bersumpah dalam hati, harus berhasil memenuhi
harapan orang tua tersebut. Saking terharunya, tanpa sadar air
matanya berderai-derai membasahi pipinya.
Pada hari ketiga, Ciok Giok Yin sudah tiba di Gunung Tong Pek
San. Akan tetapi, Gunung Tong Pek San begitu luas, harus ke
mana mencari Goa Toan Teng Tong? Dia menyesal karena tidak
bertanya pada Phing Phiauw Khek. Dan kalau terus mencari,
bukankah akan menyita waktunya? Sejak Ciok Giok Yin makan
buah Ginseng Daging, kecerdasannya pun bertambah. Dia
berpikir sejenak, kemudian mengambil keputusan untuk naik
ke puncak gunung itu. Oleh karena itu dia langsung melesat ke
puncak gunung tersebut.

Namun ketika sedang melesat ke atas, mendadak terdengar
suara pembicaraan di belakangnya. Ciok Giok Yin langsung
berhenti. Di saat bersamaan, dia merasa pandangannya kabur,
ternyata ada tiga sosok bayangan berkelebat di
depannya. Walau cuma sekelebatan, namun Ciok Giok Yin
dapat melihat jelas ketiga orang itu. Mereka bertiga berdandan
seperti sastrawan, berusia sekitar lima puluhan. Mereka bertiga
melesat ke depan bagaikan terbang, membuktikan ginkang
mereka bertiga amat tinggi.
Ketika melewati Ciok Giok Yin, ketiga orang itu masih sempat
melirik ke arahnya, namun tetap melesat ke depan. Begitu
melihat ketiga orang tua itu, hati Ciok Giok Yin tergerak,
kemudian melesati mengikuti mereka. Berselang sesaat, Ciok
Giok Yin bertanya dalam hati.
"Apakah mereka bertiga itu Bu Lim Sam Siu?" Ciok Giok Yin
mulai mengerahkan tenaganya untuk mengejar mereka
bertiga. Dia tidak boleh membiarkan ketiga orang itu tiba lebih
dulu di Goa Toan Teng Tong. Maka dia harus berusaha
mendahului mereka tiba di sana, lalu memberitahukan pada Ho
Hong Hoa agar bersiap-siap terhadap datangnya tiga orang
itu. Bu Lim Sam Siu amat terkenal di dunia persilatan,
bagaimana mungkin mereka bertiga membiarkan Ciok Giok Yin
mendahului mereka? Meskipun Ciok Giok Yin telah berusaha
sekuat tenaga, tapi tetap berada jauh di belakang mereka.
Sementara nafas Ciok Giok Yin mulai tersengal-sengal, tapi
demi pesan Phing Phiauw Khek, dia tetap terus mengejar Bu
Lim Sam Siu. Berselang beberapa saat kemudian, mendadak
Bu Lim Sam Siu berhenti, dan salah satu di antara mereka
menoleh ke belakang.
"Bocah! Ada urusan apa kau terus mengejar kami?" katanya
dengan dingin. Ciok Giok Yin juga berhenti, lalu menarik nafas
dalam-dalam agar nafasnya tidak tersengal-sengal.
"Apakah hanya kalian yang boleh lewat di gunung ini?" sahut
seorang. Orang tua yang bertanya itu tertegun.

"Kalau begitu, kau mau ke mana?"
"Toan Teng Tong."
"Toan Teng Tong?"
"Tidak salah!"
"Mau apa kau ke sana?"
"Tidak dapat kukatakan!"
Orang tua itu terbelalak.
"Aku lihat usiamu masih muda, lebih baik kau pulang saja.
Toan Teng Tong bukan merupakan tempat pesiar. Tempat itu
amat bahaya, jangan dibuat main nyawamu," katanya lembut.
"Terimakasih atas maksud baik Paman, tapi ini adalah
urusanku, harap Paman tidak usah mencemaskan diriku!"
sahut Ciok Giok Yin. Bu Lim Sam Siu sating memandang,
kemudian tertawa gelak.
"Bocah! Kau tahu di mana Goa Toan Teng Tong?" tanya salah
seorang dari mereka. Ciok Giok Yin tertegun ditanya demikian.
"Di tebing Toan Teng," sahutnya hambar.
"Di mana tebing Toan Teng?"
"Aku akan mencari perlahan-lahan."
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata kau belum tahu letak tebing Toan Teng." Dia
menunjuk ke depan. "Tempat itulah yang disebut tebing Toan
Teng."
Ciok Giok Yin memandang ke arah yang ditunjuk orang tua
itu. Di sana tampak sebuah pelataran batu, namun di sekitar
pelataran batu itu terdapat batu-batu terjal yang amat

dalam. Orang tua itu tertawa sinis, tidak menghiraukan Ciok
Giok Yin. Mereka bertiga melesat ke arah pelataran batu itu,
Ciok Giok Yin tidak mau ketinggalan, dia pun ikut melesat ke
sana. Tak seberapa lama, mereka berempat sudah tiba di
pelataran batu tersebut. Bu Lim Sam Siu sama sekali tidak
memperdulikan keberadaan Ciok Giok Yin. Mereka bertiga
berjalan mendekati dinding tebing.
Ternyata pada dinding tebing itu terdapat sebuah goa. Ciok
Giok Yin juga telah melihat goa tersebut. Di atas goa itu terukir
beberapa huruf 'Goa Toan Teng Tong' Bu Lim Sam Siu segera
melangkah ke dalam. Ciok Giok Yin amat gugup.
"Berhenti!" bentaknya.
Bu Lim Sam Siu berhenti, lalu serentak menoleh ke belakang.
"Bocah! Kau tidak usah main gelap-gelapan lagi, sebetulnya
mau apa kau kemari? Kalau kedatanganmu beralasan, aku
tidak akan menyulitkanmu, dan membiarkanmu masuk ke
dalam," kata salah seorang dari mereka.
"Kalau begitu, untuk apa kalian kemari?"
"Berdasarkan nadamu, kedengarannya kita sehaluan."
"Tidak salah."
"Baik, apabila kau punya kepandaian, silakan masuk!" Orang
tua itu segera menyingkir ke samping, seakan mempersiapkan
Ciok Giok Yin masuk Ciok Giok Yin memang pemberani.
Tampak badannya bergerak, dia sudah melesat ke dalam goa
itu. Di dalam goa itu terdapat lorong yang amat panjang. Ciok
Giok Yin berjalan ke dalam dengan bergegas-gegas. Dia
berharap segera bertemu Ho Hong Hoa untuk memberitahukan
semua itu, agar wanita itu berjaga-jaga terhadap Bu Lim Sam
Siu yang ingin merebut benda pusaka.
Setelah melewati beberapa tikungan, Ciok Giok Yin berhenti
termangu-mangu. Ternyata tiada seorang pun berada di dalam
goa itu. Lagi pula di sana banyak sarang laba-laba,

kelihatannya sudah lama tiada penghuninya. Di saat
bersamaan, Bu Lim Sam Siu juga sudah sampai di dalam.
"Bocah! Kalau kau merasa tertarik, ikutlah kami ke dalam!"
kata mereka serentak. Salah seorang dari mereka mendorong
sebuah kursi, dan setelah kursi itu tergeser, tampaklah sebuah
lubang. Bu Lim Sam Siu langsung meloncat ke dalam lobang
itu. Ciok Giok Yin tertegun, tidak menyangka akan mengetahui
rahasia itu. Sudah barang tentu pengalaman anak itu menjadi
bertambah. Kemudian dia ikut meloncat ke dalam lubang
tersebut. Sungguh di luar dugaan, ternyata di dalam lubang itu
terdapat undakan tangga.
Berselang beberapa saat kemudian, di depan mata tampak
sebuah ruang batu yang cukup besar. Namun ruang batu itu
kosong melompong, tidak terdapat satu barangpun di sana.
Hanya di dekat dinding ruangan, terdapat sebuah peti mati
berwarna merah. Hati Ciok Giok Yin, tersentak, kemudian dia
berkata dalam hati. 'Apakah wanita itu....'
Sebelum usai Ciok Giok Yin berkata dalam hati, mendadak
peti mati itu berputar tak henti-hentinya. Seketika sekujur
badan Ciok Giok Yin menjadi merinding. Sedangkan Bu Lim
Sam Siu malah tertawa nyaring.
"Berlakulah sebagaimana mestinya, tidak usah berbuat yang
macam-macam! Kami adalah Bu Lim Sam Siu, Cu Cing Khuang,
Siangkoan Yun San dan Kwee Sih Cun! Selama ini tidak pernah
dipermainkan orang!" kata salah seorang dari mereka. Mata Bu
Lim Sam Siu menyorot dingin, terus menatap peti mati merah.
Salah seorang dari mereka bertiga yang paling tidak sabaran
adalah Siangkoan Yu San. Dia langsung melancarkan sebuah
pukulan ke arah peti mati tersebut. Bum! Peti mati itu langsung
berhenti berputar. Di saat bersamaan, terdengar pula suara
yang amat dingin dari dalam peti mati itu.
"Kalian tidak usah menyebutkan julukan kalian, nona sudah
tahu kalian bertiga adalah Bu Lim Sam Siu! Kini aku beri kalian
waktu, cepat enyah dari sini!"

Siangkoan Yun San tertawa gelak.
"Gampang sekali kami enyah dari sini, namun kau harus
menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw pada kami, maka
kami akan segera meninggalkan goa ini!"
Ketika Ciok Giok Yin mendengar ada suara di dalam peti mati
itu, bahkan suara seorang nona, hatinya menjadi lega, dan
keberaniannya pun bertambah. Dia langsung maju beberapa
langkah mendekati peti mati itu. Di saat bersamaan terdengar
sahutan dari dalam peti merah.
"Nona tidak akan menyerahkan pada kalian!"
"Kalau begitu, kau tidak boleh dibiarkan!"
"Mau bagaimana?"
"Aku akan menghabisimu!" sahut Siangkoan Yun San dingin.
Dia maju beberapa langkah, sepasang matanya menyorot
dingin, siap melancarkan pukulannya ke arah peti merah. Cu
Cing Khuang adalah saudara tertua Bu Lim Sam Siu, tentunya
jauh lebih berwibawa dari yang lain. Cepat-cepat dia mencegah
Siangkoan Yu San sambil memberi isyarat.
"Lo Ji (Saudara Kedua), jangan terburu-buru!" Sepasang
matanya langsung diarahkan pada peti mati merah. "Ho Hong
Hoa, kau harus mengerti. Berdasarkan sedikit kepandaianmu
itu, apakah kau ingin...." Belum juga selesai dia berkata, tibatiba
terdengar suara tawa cekikikan di dalam peti mati merah,
kemudian berkata.
"Nona bilang kalian bertiga tak ubahnya seperti tiga ekor
anjing, hidung kalian masih kurang tajam. Kalian tidak tahu
siapa nona, tapi masih berani membicarakan peta Si Kauw Hap
Liok Touw!"
Dapat dibayangkan, betapa gusarnya Cu Cing Khuang!
Sepasang matanya tampak berapi-api, lalu membentak keras.

"Siapa kau?"
"Siapa aku, perduli amat kau siapa aku?"
"Cepat katakan! Ada hubungan apa kau dengan Ho Hong
Hoa?"
Tiada sahutan dari dalam peti mati merah, sepertinya sedang
mempertimbangkan, apakah harus menjawab atau
tidak! Beberapa saat kemudian barulah terdengar suara yang
amat dingin dari dalam peti mati tersebut.
"Ho Hong Hoa adalah ibuku, nona adalah putrinya bernama
Ho Siu Kouw! Anjing tua, kalian mau apa, cepat
lakukan!" Bersamaan itu, peti mati merah mulai berputar
lagi. Kali ini peti mati itu berputar jauh lebih cepat, sehingga
menimbulkan angin yang menderu-deru. Sementara itu
walaupun Ciok Giok Yin berdiri dua tiga depa dari peti mati
merah, namun angin yang menderu-deru itu membuatnya
merasa tak tahan. Maka, dia terpaksa harus mundur beberapa
langkah dengan hati berdebar-debar tegang.
"Bocah cepat mundur! Apakah kau sudah tidak mau nyawamu
lagi?" seru Cu Cing Kuang. Ciok Giok Yin tidak memperdulikan
peringatannya, karena Phing Phiauw Khek telah berpesan
padanya, harus menemui wanita ini, maka dia tidak mau
mendengar perkataan orang tua itu. Siangkoan Yun San paling
tidak sabaran. Dia langsung menerjang ke arah peti mati
merah sambil melancarkan sebuah pukulan. Dia memiliki lwee
kang yang tinggi, maka tidak heran kalau pukulannya itu amat
dahsyat! Jangankan cuma sebuah peti mati, kalaupun sebuah
batu juga akan hancur terkena pukulannya. Bum!
Terdengar suara ledakan yang memekakkan telinga, tampak
badan Siangkoan Yun San terdorong ke belakang dengan wajah
pucat pias, pertanda dia telah terluka dalam. Di saat orang itu
terdorong ke belakang, terlihat pula asap tipis mengepul
menutupi peti mati merah, yang makin lama makin
tebal. Terdengar pula suara tawa cekikikan dari dalam kepulan
asap itu, yang kemudian disusul oleh suara bentakan yang
amat nyaring.

"Anjing tua Siangkoan! Bagaimana rasanya? Enak sekali
kan?"
Sepasang mata Siangkoan Yun San melotot, dan dia
menggeram.
"Aku akan menghabisimu!" Mendadak dia menjulurkan kelima
jari tangannya, menyerang ke arah kepulan asap. Seketika
terdengar suara jeritan di dalam kepulan asap tebal itu. Pada
waktu bersamaan, Siangkoan Yun San juga mengeluarkan
suara jeritan, dan terhuyung-huyung tiga langkah ke
belakang. Pada waktu bersamaan pula, dia menggunakan
tangan kirinya untuk memutuskan tangan kanannya, maka,
darah segarnya pun langsung mengucur menodai pakaiannya.
Ciok Giok Yin yang berdiri tak jauh, ketika menyaksikan
kejadian tersebut, wajahnya langsung berubah menjadi pucat
pias, matanya terbeliak dan mulutnya juga ternganga
lebar. Sedangkan Kwee Sih Cun yang diam dari tadi, kini
tampak marah besar. Dia menggeram, lalu menerjang ke arah
kepulan asap sambil melancarkan pukulan. Angin pukulannya
menderu-deru, membuat kepulan asap itu agak buyar.
Kebetulan Ciok Giok Yin memandang ke sana, maka dia
melihat seorang gadis yang amat cantik duduk di dalam peti
mati merah. Ternyata tutup peti mati itu telah dihancurkan
oleh Siangkoan Yun San tadi. Gadis cantik itu, pasti Ho Siu
Kouw. Ketika melihat Bu Lim Sam Siu yang berusia lima
puluhan menyerang seorang anak gadis, Ciok Giok Yin menjadi
gusar sekali. Dia mendekati Kwee Sih Cun sambil mengepalkan
tinjunya.
"Kalian orang tua menghina yang muda, apakah masih
terhitung orang gagah dalam rimba persilatan'?" bentaknya
keras. Jangan dilihat Ciok Giok Yin tidak mengerti kungfu.
Karena dia telah makan buah Ginseng Daging, dan ditambah
Phing Phiauw Khek menyalurkan lwee kangnya yang telah
dilatih puluhan tahun ke dalam tubuhnya, maka Ciok Giok Yin

telah memiliki lweekang yang amat tinggi. Tidak heran kalau
pukulannya yang di arahkan pada Kwee Sih Cun itu kelihatan
amat dahsyat.
Akan tetapi, dia tidak pernah belajar kungfu, maka dia
melancarkan pukulannya tidak karuan. Meskipun begitu,
pukulannya cukup mengejutkan Kwee Sih Cun. Bagaimana
pukulan anak muda itu begitu kuat bertenaga? Hanya saja cara
memukulkannya tampak tidak karuan, jelas anak muda itu
tidak pernah belajar kungfu. Kwee Sih Cun mendengus dingin.
"Hmm! Masih berbau susu, sudah sok ingin membela orang
lain!" Dia mengibaskan tangannya ke arah Ciok Giok Yin, maka
terasa serangkum angin yang amat kuat menerjang ke arah
anak muda itu. Ciok Giok Yin yang tersambar angin kibasan itu,
seketika terhuyung-huyung ke belakang delapan langkah.
Kebetulan dia terhuyung-huyung ke arah peti mati merah.
Kalau tidak tertahan oleh peti mati itu, mungkin dia akan
roboh. Mendadak telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang
amat lirih.
"Adik kecil, kau bukan lawan mereka, tetaplah kau berdiri di
sampingku, jangan menimbulkan sifat liar mereka, sebab kita
berdua dalam bahaya!"
Sejak makan buah Ginseng Daging, pikiran Ciok Giok Yin
bertambah cerdas, bahkan badannya pun bertambah agak
tinggi dan besar. Ketika mendengar suara lirih itu, dia tahu
suara tersebut berasal dari nona yang duduk di dalam peti mati
merah. Jarak mereka hampir setengah depa, tapi suara yang
amat lirih itu dapat didengarnya dengan jelas. Sungguh aneh
sekali! Berdasarkan itu, dapat dipastikan bahwa nona itu
berkepandaian amat tinggi. Namun wanita yang harus dicari
oleh Ciok Giok Yin, apakah gadis ini? Dia berharap Bu Lim Sam
Siu cepat-cepat meninggalkan tempat itu, agar dia dapat
bertanya pada gadis tersebut. Ho Siu Kouw melirik Ciok Giok
Yin sejenak. Seketika wajahnya berubah menjadi kemerahmerahan.
Kemudian dia memandang Bu Lim Sam Siu seraya
membentak.

"Kalian bertiga harus segera enyah! Kalau tidak, nona...."
Ucapan Ho Siu Kouw terputus karena Cu Cing Khuang telah
memotongnya.
"Kami bertiga memang gampang enyah dari sini! Asal kau
menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw, kami bertiga pasti
meninggalkan tempat ini, tidak akan menyusahkanmu!"
Kemudian, Bu Lim Sam Siu mengepung peti mati merah,
kelihatannya akan menyerang Ho Siu Kouw dengan serentak.
Saat ini Siangkoan Yu San telah menotok jalan datang di
lengannya, maka lengannya yang putus itu tidak mengucurkan
darah lagi. Dia menatap Ho Siu Kouw dengan bengis, lalu
berkata dengan dingin sekali.
“Walau aku sudah terkena Hong Bwe Tok Mang (Racun Ekor
Tawon)mu, tapi tidak apa-apa! Sedangkan kau sulit untuk
hidup tiga bulan lagi!"
Ho Siu Kouw tertawa cekikikan.
"Kau tidak usah mencemaskan diriku! Mati atau hidup tiada
masalah sama sekali! Namun, sejak ini kau akan menjadi orang
cacat!"
Cu Cing Khuang melotot, dan sepasang matanya menyorot
tajam.
"Cepat serahkan! Kalau tidak, jangan bilang aku berhati keji!"
"Kalian ingin merebut?" tanya Ho Siu Kouw.
"Apabila kau tetap membangkang, kami bertiga terpaksa
harus mengantarmu ke alam baka!" sahut Cu Cing Khuang.
"Kalau begitu, kalian Bu Lim Sam Siu selama berada di dunia
persilatan cuma berpura-pura jadi orang baik? Kaum golongan
hitam sama sekali tidak pernah datang di Goa Toan Teng Tong
ini, tapi justru tidak diduga kalian dari golongan putih, dan juga

termasuk pendekar besar berhati bajik, malah lebih dulu
kemari!"
"Justru karena khawatir, peta itu jatuh ke tangan para
penjahat, maka kami bertiga kemari!" kata Cu Cing Khuang.
"Untuk apa kalian menginginkan peta pusaka itu?"
"Melindungi kedamaian rimba persilatan!"
"Apakah aku tidak dapat melindungi itu?"
"Bocah perempuan! Kau jangan banyak bicara, cepat
serahkan!"
"Aku tidak mau serahkan!"
"Cari mati !"
"Tidak percaya boleh kalian coba!"
Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun menggeserkan badannya,
kemudian menerjang ke depan.
"Kalian cari mati!" bentak Ho Siu Kouw sambil menatap
mereka dengan tajam. Di saat bersamaan, tampak cahaya
gemerlapan meluncur laksana kilat ke arah mereka berdua. Bu
Lim Sam Siu tahu akan kelihayan jarum beracun Hong Bwe Tok
Mang, maka mereka cepat-cepat meloncat ke
belakang. Bahkan Siangkoan Yun San yang telah terluka malah
mencelat ke belakang lebih jauh.
Setelah mencelat ke belakang, Cu Cing Khuang dan Kwee Sih
Cun kembali mencelat ke depan lagi sambil melancarkan
pukulan serentak ke arah Ho Siu Kouw. Mereka berdua amat
mendendam pada gadis itu, maka serangan mereka tampak
sengit sekali. Akan tetapi, mereka berdua cuma dapat
melancarkan pukulan jarak jauh, karena tidak berani terlampau
dekat, lantaran takut akan jarum beracun Hong Bwe Tok
Mang. Oleh karena itu, Ho Siu Kouw terus menyerang mereka
dengan jarum beracunnya, namun gadis itu masih belum

bangkit berdiri. Ciok Giok Yin yang berdiri di sampingnya,
menyaksikan dengan hati berdebar debar tegang, namun tidak
bisa membantu apa-apa. Bahkan kini dia harus mundur
beberapa langkah, sebab merasa tertekan oleh angin pukulan
yangdilancarkan Cu Cing Khuang dan Kwee Sih Cun.
Mendadak telinga Ciok Giok Yin menangkap suara yang amat
lirih.
"Adik kecil, cepat tiarap!"
Ciok Giok Yin tahu bahwa itu suara Ho Siu Kouw, tapi dia
tidak tahu apa sebabnya gadis itu menyuruhnya tiarap. Walau
dalam keadaan tiarap, Ciok Giok Yin tetap mendongakkan
kepala. Ternyata di tempat dia berdiri tadi, tampak cahaya
kebiru-biruan berkelebatan. Kini, barulah dia paham mengapa
tadi gadis itu menyuruhnya tiarap. Apabila dia tidak tiarap,
mungkin saat ini telah mati terserang oleh jarum-jarum
beracun itu. Di saat bersamaan, terdengar suara menderu-deru
bagaikan badai mengamuk. Cu Cing Khuang tertawa gelak.
"Jarum beracun Hong Bwe Tok Mangmu telah habis kan? Kini
sudah saatnya kau menyerahkan peta pusaka itu!"
Sepasang mata Ho Siu Kouw yang bening menyorotkan sinar
kebencian. Dia berkertak gigi seraya berkata,
"Kalau aku masih bisa hidup, kelak pasti akan membeset kulit
kalian bertiga!"
Cu Cing Khuang tertawa terbahak-bahak.
"Mungkin kau sudah tiada kesempatan untuk itu! Cepat
serahkan! Kami akan berbelas kasihan padamu, mengampuni
nyawamu, agar kau bisa hidup beberapa hari lagi!"
Justru di saat ini, mendadak terdengar suara "Uaaakh...!"
Ternyata Ho Siu Kouw memuntahkan darah segar, dan
badannya pun bergoyang-goyang seakan mau roboh. Begitu
melihat situasi di depan matanya, dia berkertak gigi lalu

tangannya merogoh ke dalam bajunya. Ternyata dia
mengeluarkan selembar kulit kambing kumal. Namun ketika dia
baru mau melempar kulit kambing itu, Ciok Giok Yin yang
tiarap itu, langsung meloncat bangun seraya berteriak sekeraskerasnya.
"Nona, jangan!" Ciok Giok Yin memang cerdas. Dia tahu
bahwa kulit kambing yang ada di tangan gadis itu justru peta
Si Kauw Hap Liok Touw. Apabila peta itu diserahkan kepada Bu
Lim Sam Siu, berarti sia-sia dia kemari. Bahkan Phing Phiauw
Khek yang telah mati pun pasti tidak akan tenang di alam
baka. Usai berteriak, Ciok Giok Yin melesat ke arah Ho Siu
Kouw. Akan tetapi, bagaimana mungkin Bu Lim Sam Siu
membiarkannya? Cu Cing Khuang langsung mengibaskan
tangannya ke arah Ciok Giok Yin, membuatnya terhuyunghuyung
ke belakang beberapa langkah.
"Bocah! Lebih baik kau diam di tempat!" kata Cu Cing Khuang
dengan suara dalam. Namun, bagaimana Ciok Giok Yin akan
membiarkan peta pusaka itu terjatuh ke tangan Bu Lim Sam
Siu? Maka dia segera maju lagi. Namun sebelum dia sampai di
hadapan Ho Siu Kouw, gadis itu sudah melotot sambil
mengibaskan tangannya, mendorong Ciok Giok Yin ke samping.
"Kau kemari, tentunya juga demi peta Si Kauw Hap Liok
Touw! Kalau kau berkepandaian, boleh berebut dengan
mereka!" bentaknya keras. Mendadak Ho Siu Kouw
mengibaskan tangannya ke atas, maka peta kulit kambing itu
langsung terbang ke atas pula.
Bu Lim Sam Siu tidak membiarkan Ciok Giok Yin mendekat.
Maka salah seorang Bu Lim Sam Siu yang bernama Kwee Sin
Cun langsung melancarkan beberapa pukulan untuk mendesak
mundur Ciok Giok Yin. Sedangkan Cu Cing Khuang cepat-cepat
mencelat ke atas menangkap peta pusaka kulit kambing
itu. Dia berhasil menangkap peta pusaka tersebut, lalu
melayang turun dengan ringan. Kemudian peta pusaka itu
dibukanya, dan dilihatnya dengan penuh perhatian.
"Ha... ha... haaa! Nona memang tahu diri!" katanya sambil
tertawa terbahak-bahak. Cu Cing Khuang memandang

Siangkoan Yun San dan Kwee Sih Cun.
"Mari kita pergi!" Mereka bertiga langsung melesat keluar,
dan dalam sekejap sudah tidak kelihatan lagi. Tiba-tiba Ciok
Giok Yin menggeram, kelihatannya ingin mengejar Bu Lim Sam
Siu. Ciok Giok Yin telah menyaksikan tingkah laku mereka,
yang membuktikan mereka bertiga bukan orang baik. Kalau
mereka itu orang balk, tentunya tidak akan menghina seorang
gadis. Ketika dia baru mau melesat keluar, tiba-tiba terdengar
suara bentakan Ho Siu Kouw.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin langsung berhenti, lalu menoleh ke belakang.
"Apakah Nona tidak ingin merebut kembali peta pusaka itu?"
"Kau mampu melawan mereka?"
Ciok Giok Yin tertegun, dan berkata dalam hati. 'Bu Lim Sam
Siu rata-rata berkepandaian amat tinggi, sedangkan aku sama
sekali tidak mengerti ilmu silat. Berdasarkan kebisaan apa aku
ingin merebut kembali peta pusaka itu?' Akhirnya Ciok Giok Yin
menundukkan kepalanya.
"Kemari!" seru Ho Siu Kouw. Singkat sekali seruan itu, tapi
mengandung suatu kekuatan, sehingga membuat Ciok Giok Yin
tidak berani membantah. Ciok Giok Yin berdiri di samping peti
mati merah, matanya menatap Ho Siu Kouw.
"Nona ada pesan?"
Ho Siu Kouw menatapnya sejenak, lalu balik bertanya.
"Apa tujuanmu kemari?"
"Aku mendapat petunjuk dari seorang cianpwee untuk
kemari," sahut Ciok Giok Yin dengan jujur.
"Siapa?"

"Phing Phiauw Khek."
"Phing Phiauw Khek?"
"Ng!"
"Apa maksudnya dia memberi petunjuk agar kau kemari?"
"Orang tua itu bilang, di dalam goa ini tinggal seorang wanita
bernama Ho Hong Hoa. Wanita itu akan mengajarku ilmu silat
tingkat tinggi, maka aku bisa membalas dendam."
Ho Siu Kouw mengerutkan kening.
"Kau punya dendam apa?"
"Banyak orang menghinaku, mereka semua ingin
membunuhku."
Ho Siu Kouw tertawa cekikikan.
"Ohya! Siapa namamu?"
"Ciok Giok Yin."
"Kau datang dari mana?"
Pertanyaan tersebut membuat Ciok Giok Yin tertegun, tidak
tahu harus bagaimana menjawabnya. Dia diam, sebab dia
memang tidak tahu di mana tempat kelahirannya, juga tidak
tahu siapa kedua orang tuanya. Mengenai asal usulnya, dia
sama sekali tidak jelas, sehingga membuatnya menjadi salah
tingkah. Ho Siu Kouw manggut-manggut. Ternyata gadis itu
tahu akan kesulitan Ciok Giok Yin.
"Kau tidak jelas akan asal usulmu?"
Ciok Giok Yin mengangguk. Ho Siu Kouw menatapnya dalamdalam.
"Lalu siapa yang membesarkanmu?"

Ciok Giok Yin memberitahukan dengan jujur tentang kakek
tua berjenggot putih. Mendengar penuturan Ciok Giok Yin itu,
Ho Siu Kouw berkesimpulan, bahwa kakek tua berjenggot putih
itu adalah seorang tokoh dunia persilatan. Namun gadis itu
sama sekali tidak mengerti, mengapa kakek tua berjenggot
putih itu tidak mau mengajarnya kungfu? Berselang sesaat, Ho
Siu Kouw mengalihkan pembicaraan.
"Kau tahu siapa aku?"
"Bukankah tadi Nona sudah beritahukan, bernama Ho Siu
Kouw?" sahut Ciok Giok Yin. Ho Siu Kouw manggut-manggut.
Ciok Giok Yin segera melanjutkan.
"Mohon tanya pada Nona, ibumu pergi ke mana?" Tiba-tiba
wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi murung.
"Sudah setengah tahun lebih ibuku pergi, mungkin telah
mengalami kecelakaan," katanya perlahan-lahan. Usai berkata,
gadis itu tampak berduka sekali. Sesungguhnya Ciok Giok Yin
amat heran, karena Ho Siu Kouw terus duduk di dalam peti
mati itu. Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.
"Mengapa Nona tidak pergi mencarinya?"
Ho Siu Kouw mulai mengucurkan air mata, lalu mengangkat
sepasang kakinya. Terdengar hiruk pikuk suara rantai besi.
Ternyata sepasang kaki Ho Siu Kouw terikat rantai besi, pantas
dia tidak bisa meninggalkan peti mati itu. Ho Siu Kouw
menghela nafas panjang.
"Ibu takut aku akan pergi menimbulkan gara-gara, maka
merantai aku di dalam peti mati ini."
"Apakah Nona tidak dapat memutuskan rantai itu?"
"Ini rantai besi murni. Kalau bukan pedang atau golok
pusaka, tidak akan mampu memotong rantai ini."

Ciok Giok Yin termangu-mangu.
"Kalau begitu bagaimana baiknya? Perlukah aku mencari
sebilah pedang pusaka?"
Ho Siu Kouw menggelengkan kepala, sambil menghela nafas
panjang.
"Kau tidak akan berhasil mencari pedang pusaka. Kalaupun
berhasil dan dapat memotong rantai ini, aku tetap tidak
terluput dari kematian."
Ciok Giok Yin tercengang.
"Maksudmu kau akan mati?" katanya dengan mata terbelalak.
Ho Siu Kouw mengangguk.
"Ya."
Ciok Giok Yin menatap Ho Siu Kouw dengan mata tak
berkedip.
"Nona tampak baik-baik saja. Bagaimana mungkin akan
mati?"
Wajah Ho Siu Kouw tampak muram.
"Tadi Siangkoan Yun San berhasil menotok jalan darahku
dengan ilmu Sam Im Coat Hoat, maka aku sulit hidup sampai
tiga bulan."
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin! Gadis yang sedemikian
cantik, namun cuma akan hidup tiga bulan lagi. Sungguh tragis
sekali!
"Nona! Aku bersumpah pasti membalas dendam Nona!"
katanya dengan lantang. Mendadak Ciok Giok Yin membalikkan
badannya, ingin pergi menyusul Bu Lim Sam Siu, bertarung
mengadu nyawa dengan mereka bertiga. Menyaksikan sikap
Ciok Giok Yin, Ho Siu Kouw terharu sekali, dan matanya

tampak bersimbah air.
"Cepat kemarilah!" panggilnya lembut. Ciok Giok Yin berhenti,
lalu membalikkan badannya.
"Nona masih ada pesan lain?"
"Kau mau kemana?"
"Mau pergi mencari Siangkoan Yun San untuk membalas
dendammu."
"Kau yakin dapat melawan mereka bertiga?"
"Aku akan berusaha sekuat tenaga, karena aku tidak tega
melihat Nona mati penasaran." Ciok Giok Yin tampan begitu
berani dan gagah, membuat Ho Siu Kouw amat kagum dan
terharu, sehingga tak terasa air matanya langsung meleleh.
"Ketahuilah, Bu Lim Sam Siu sudah berusia setengah abad
lebih, lagipula mereka bertiga amat terkenal di dunia
persilatan. Kalau ibuku seorang diri melawan mereka bertiga,
mungkin amat sulit memperoleh kemenangan. Sedangkan kau
sama sekali tidak mengerti ilmu silat, pergi cari mereka bertiga
sama juga pergi cari mati."
"Kalau begitu, apakah harus menyudahi saja?"
"Seandainya kelak kau berhasil menguasai kungfu tingkat
tinggi, tidak akan terlambat menuntut balas dendamku ini. Aku
di alam baka, pasti amat berterimakasih padamu." Badan Ho
Siu Kouw tampak menggigil. "Kau kemarilah!"
Ciok Giok Yin segera mendekatinya. Mengenai apa yang
menimpa diri Ho Siu Kouw, Ciok Giok Yin merasa iba dan amat
simpati padanya. Di saat bersamaan, dia teringat akan
penderitaannya beberapa hari yang lalu, maka wajahnya
tampak diliputi selapis hawa dingin. Ho Siu Kouw terus
menatapnya. Sudah barang tentu bayangan Ciok Giok Yin telah
terukir dalam benaknya. Akan tetapi, teringat akan nyawanya
tinggal tiga bulan, lalu masih ada harapan apa? Saking

berdukanya membuat air matanya terus berderaiderai.
Beberapa saat kemudian, gadis itu mengeluarkan
sesuatu yang dibungkus dengan sapu tangan.
"Ini adalah Si Kauw Hap Liok Touw, simpanlah baik-baik!"
katanya sambil menjulurkan tangannya memberikan
bungkusan itu kepada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin terbelalak.
Dia menatap Ho Siu Kouw dengan tidak mengerti dan tertegun.
"Bukankah Nona telah menyerahkan pada mereka?"
Ho Siu Kouw menghapus air matanya.
"Itu palsu."
"Palsu?"
"Ya. Cepat ambillah dan simpanlah baik-baik!"
"Mereka...."
Ho Siu Kouw segera memotongnya.
"Cuma dapat mengelabui mereka beberapa waktu saja. Tidak
bisa mengelabui mereka selama-lamanya. Mungkin mereka
bertiga akan segera kembali."
Ciok Giok Yin belum juga menjulurkan tangannya untuk
menerima bungkusan tersebut.
"Nona, tiada gunanya aku memiliki barang ini, lebih baik Nona
simpan."
Ho Siu Kouw mengerutkan kening.
"Terimalah dulu, aku masih ingin bicara padamu!"
Apa boleh buat, Ciok Giok Yin terpaksa menerimanya, lalu
disimpan ke dalam bajunya. Justru hatinya terus berdebardebar
tidak karuan.

"Peta itu menunjukkan suatu tempat rahasia. Di tempat itu
tersimpan semacam ilmu yang tiada taranya di kolong langit.
Akan tetapi, ilmu itu tidak cocok untuk dipelajari oleh kaum
wanita, maka ibu dan aku, tidak pernah ke tempat rahasia itu
untuk mengambilnya. Kalau kau berhasil memperolehnya, tidak
sulit bagimu untuk menjagoi dunia persilatan. Saat itu, kau
boleh pergi mencari orang-orang yang pernah menghinamu."
"Ini... ini..." kata Ciok Giok Yin tersendat-sendat.
"Ada satu urusan, aku ingin bermohon padamu. Kelak kalau
kau berkecimpung di dunia persilatan, tolong cari informasi
tentang ibuku! Kalau ibuku dibunuh oleh penjahat, maka
dendam kami berdua, kaulah yang harus membalasnya."
Ciok Giok Yin mengangguk. Ho Siu Kouw mengibaskan
tangannya.
"Kau harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini, sebab aku
khawatir Bu Lim Sam Siu akan kemari."
Namun, Ciok Giok Yin malah tidak bergeming. Sepasang
matanya telah basah, teringat nyawa gadis cantik itu cuma
tinggal tiga bulan. Mendadak dia menggenggam tangan Ho Siu
Kouw, dan menangis tersedu-sedu.
"Kakak Siu, aku... aku tidak mau pergi. Aku tidak mau pergi."
Bukan main harunya Ho Siu Kouw! Gadis cantik itu pun
terisak-isak. Akan tetapi, mendadak Ho Siu Kouw membentak
sengit.
"Ciok Giok Yin! Apakah kau tidak tahu lelaki wanita tidak
boleh demikian dekat? Kau harus segera meninggalkan tempat
ini!" wajahnya tampak bengis sekali. Bukan main terkejutnya
Ciok Giok Yin, sehingga tanpa sadar dia menyurut mundur tiga
langkah. Wajahnya yang tampan itu tampak kemerahmerahan.
Ciok Giok Yin merasa bersalah, sebab tidak pantas baginya
menggenggam tangan Ho Siu Kouw.

"Harap.... Nona.... Nona sudi... memaafkanku..." katanya
gagap.
Sesungguhnya hati Ho Siu Kouw amat sedih. Gadis cantik itu
berbuat demikian, tidak lain hanya menghendaki Ciok Giok Yin
cepat-cepat meninggalkan tempat itu, agar tidak bertemu Bu
Lim Sam Siu.
"Aku tidak akan menyalahkanmu, pergilah!" katanya
perlahan-lahan sambil memejamkan matanya. Gadis cantik itu
lalu diam, kelihatannya seperti tidak menghiraukan Ciok Giok
Yin lagi.
Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri tertegun, berselang sesaat
barulah berkata.
"Nona, aku mohon pamit! Harap jaga dirimu baik-baik!"
Ciok Giok Yin membalikkan badannya, lalu berjalan pergi
dengan langkah yang amat berat. Di saat bersamaan air mata
Ho Siu Kouw terus mengucur membasahi pipinya. Dia
membuka matanya sedikit, mencuri memandang punggung
Ciok Giok Yin. Bibirnya bergerak, tapi tidak mampu
mengeluarkan suara. Ciok Giok Yin terus berjalan. Namun
ketika hampir menikung, mendadak dia membalikkan
badannya, lalu berlari laksana terbang mendekati peti mati
merah.
"Kakak Siu! Kakak Siu! Kau pasti tertolong!" serunya dengan
wajah berseri-seri dan penuh harapan.
Ho Siu Kouw cepat-cepat memejamkan matanya, sejenak.
"Bagaimana kau katakan aku pasti tertolong?"
Ciok Giok Yin menyahut memberitahukan dengan wajah
berseri-seri.
"Kakek tua berjenggot putih menghadiahkan padaku sekotak
pil Ciak Kim Tan. Aku pikir pil itu dapat menyembuhkan luka
kakak," sahut Ciok Giok Yin dengan wajah berseri. Dia
mengeluarkan kotak kecil, kemudian mengambil beberapa butir

pil Ciak Kim Tan. Akan tetapi, Ho Siu Kouw malah menggelenggelengkan
kepala.
"Aku pernah dengar tentang Ciak Kim Tan ini, yang membuat
obat ini adalah Tiong Ciu Sin Te. Walau amat berkhasiat,
namun tetap tidak bisa menyembuhkan lukaku yang terkena
ilmu Sam Im Coat Hoat. Lebih baik simpanlah!"
Seketika hati Ciok Giok Yin menjadi dingin. Suasana di dalam
goa itu, berubah menjadi hening. Mendadak Ciok Giok Yin
memecahkan keheningan itu.
"Kakak, silakan coba makan sebutir!" Usai berkata, Ciok Giok
Yin membuka kotak kecil itu. Begitu kotak kecil itu terbuka,
seketika tercium aroma yang amat harum menerobos ke dalam
hidung: Ho Siu Kouw terbelalak dengan hati tergetar, sehingga
tanpa sadar dia berseru.
"Adik Yin, bawa kemari coba kulihat!"
Ciok Giok Yin cepat-cepat menyodorkan kotak kecil itu ke
hadapan Ho Siu Kouw. Gadis cantik itu menatap ke dalam
kotak kecil itu, namun bukan menatap obat Ciak Kim Tan,
melainkan menatap buah Ginseng Daging yang bergemerlapan.
"Aku tertolong! Aku tertolong!" serunya dengan suara
gemetar.
Dia menjulurkan tangannya. Namun belum sampai dia
mengambil ginseng itu, tangannya ditarik kembali, lalu dia
memandang Ciok Giok Yin yang berdiri di hadapannya. Ciok
Giok Yin mengira bahwa Ho Siu Kouw merasa tidak enak
mengambil obat itu, maka segera berkata.
"Kakak Siu, asal dapat menyembuhkan lukamu, kau boleh
ambil obat itu. Kelak kalau aku bertemu kakek tua berjenggot
putih, akan minta padanya lagi."
Ciok Giok Yin menyodorkan lagi kotak kecil itu ke hadapan Ho
Siu Kouw.

Akan tetapi, Ho Siu Kouw tidak mengambil obat tersebut.
"Adik Yin, dari mana kau memperoleh buah ini?" katanya
dengan suara gemetar. Begitu Ho Siu Kouw mengatakan itu,
tersadarlah Ciok Giok Yin, lalu membanting kaki.
"Sungguh mati! Bagaimana aku melupakan buah Ginseng
Daging ini? Kakak, cepatlah kau makan! Nanti akan
kuberitahukan padamu." Padahal cukup lama Ciok Giok Yin ikut
kakek tua berjenggot putih belajar ilmu pengobatan.
Seharusnya dia tahu akan khasiat buah Ginseng Daging
itu. Namun gara-gara perbuatan Bu Lim Sam Siu yang amat
keji itu, kemudian ditambah Ho Siu Kouw menutur masa
lalunya, maka dia telah melupakan buah Ginseng Daging
tersebut!
Ho Siu Kouw menjulurkan tangannya yang masih gemetar
mengambil buah Ginseng Daging itu.
"Adik Yin, dengan adanya buah Ginseng Daging ini, lukaku
pasti segera sembuh. Dari mana kau peroleh buah Ginseng
Daging ini? Maukah kau memberitahukan padaku?"
Ciok Giok Yin menyimpan kotak kecil itu ke dalam bajunya,
lalu menutur tentang kejadian itu.
"Kalau aku tidak memperoleh buah Ginseng Daging ini,
mungkin aku sudah mati kelaparan," tambahnya.
Mendadak air muka Ho Siu Kouw tampak berubah menjadi
hebat.
"Adik Yin, kau harus segera meninggalkan tempat ini."
Ciok Giok Yin tertegun.
"Kakak Siu, apa ada yang tak beres?"
"Mungkin Bu Lim Sam Siu telah kembali."
"Apakah mereka bertiga sudah tahu akan kepalsuan peta
pusaka itu?"

"Itu memang mungkin. Aku tidak menyangka mereka bertiga
akan begitu cepat kembali. Kau harus segera pergi, jangan
sampai peta itu jatuh ke tangan mereka. Kakak tidak mampu
melindungimu."
"Lalu bagaimana dengan Kakak?"
Wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi bengis.
"Kau tidak usah perdulikan aku, cepat pergi! Apabila kita
berjodoh, kelak pasti berjumpa kembali!" bentaknya. Ho Siu
Kouw langsung mengibaskan tangannya, mendorong Ciok Giok
Yin hingga terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah.
Setelah itu, Ho Siu Kouw cepat-cepat makan buah Ginseng
Daging itu. Kemudian peti mati tanpa tutup itu mulai berputarputar
seperti gangsingan. Itu membuat Ciok Giok Yin
termundur-mundur lagi. Walau dia masih kecil, tapi pikirannya
telah dewasa.
"Kakak, aku tidak bisa meninggalkanmu!" serunya.
Tiba-tiba dia mendengar suara yang amat lirih.
"Adik Yin, dengarlah kata-kataku, cepatlah kau pergi!"
Akan tetapi, Ciok Giok Yin memang berhati keras. Dia tidak
mau membiarkan Ho Siu Kouw mati di tangan Bu Lim Sam
Siu. Oleh karena itu, dia tetap tidak mau pergi.
"Pokoknya aku tidak mau pergi!" katanya dengan tegas. Peti
mati itu berhenti berputar, Ciok Giok Yin mendekatinya seraya
berkata.
"Aku mau tetap di sini menemani kakak. Kalau Bu Lim Sam
Siu kembali, aku akan menghadapi salah satu di antara
mereka, yang dua biar kakak yang hadapi."
Ho Siu Kouw menatapnya, sambil menghela nafas panjang.

"Kalau kau tidak mau dengar kata-kata kakak, selanjutnya
kita tidak usah berjumpa lagi!" katanya perlahan. Hati Ciok
Giok Yin tersentak.
"Kakak, aku... aku pasti dengar kata-katamu!"
"Kalau begitu, cepatlah tinggalkan tempat ini!"
"Tidak. Aku harus membantumu menghadapi Bu Lim Sam
Siu."
Tiba-tiba wajah Ho Siu Kouw berubah menjadi dingin sekali.
"Apakah kau telah melupakan tata krama lelaki dengan
wanita?" katanya sengit.
"Kita sudah menjadi kakak adik," sahut Ciok Giok Yin.
"Tapi Bu Lim Sam Siu tidak akan mengatakan demikian, lagi
pula kita bukan kakak adik kandung. Kalau tersiar kedunia
persilatan, bagaimana kakak jadi orang kelak?"
Ciok Giok Yin tertegun dan langsung membungkam. Ho Siu
Kouw segera melanjutkan ucapannya.
"Kau kira setelah makan buah Ginseng Daging dan
memperoleh hawa murni dari Phing Phiauw Khek, lalu bisa
melawan pesilat tinggi rimba persilatan? Kau telah keliru,
sebab kau belum mengerti ilmu silat, juga tidak tahu harus
bagaimana mengerahkan lwee kang. Karena itu, meskipun kau
memiliki lwee kang tinggi itu, boleh dikatakan tetap tiada
gunanya."
Ciok Giok Yin tetap diam.
"Kalau kau berkeras ingin tetap berada di sini, aku sama
sekali tidak bisa melindungimu, maka akan merepotkanku.
Apabila kau tertangkap oleh mereka, bukankah kau akan
kehilangan peta pusaka itu?"
Apa yang dikatakan Ho Siu Kouw memang masuk akal, juga

demi kepentingan Ciok Giok Yin. Akan tetapi, Ho Siu Kouw
justru terbentur Ciok Giok Yin yang berhati amat keras, sama
sekali tidak berniat pergi. Ho Siu Kouw mengerutkan kening,
kemudian berkata sepatah demi sepatah.
"Baiklah! Kalau kau tidak mau pergi, aku yang pergi."
Bersamaan itu, peti mati tersebut mulai berputar
lagi. Berselang sesaat, terdengar suara yang memekakkan
telinga.
Bum! Bum!
Setelah suara itu hilang, peti mati dan Ho Siu Kouw pun sudah
tidak kelihatan lagi. Ciok Giok Yin terperangah. Dia mengucek
matanya. Setelah itu, dia melihat dinding goa di hadapannya
telah merosot ke bawah. Dia cepat-cepat berlari ke sana seraya
berseru-seru.
"Kakak! Kakak...!"
Namun dinding goa itu tidak bergerak lagi, dan meskipun Ciok
Giok Yin terus berteriak, tetap tiada sahutan.
"Kakak! Kakak! Kakak...!" Ciok Giok Yin berdiri termangumangu.
Berselang beberapa saat, barulah dia meninggalkan
goa itu. Sampai di luar, tampak bintang-bintang bergemerlapan
di langit, ternyata hari sudah tengah malam.
Angin dingin terus berhembus. Salju tak henti-hentinya
beterbangan. Tempat itu gelap gulita kelihatan amat
menyeramkan. Suasana yang begitu, sungguh membuat orang
merasa merinding. Selama ini, Ciok Giok Yin belum pernah
mengalami suasana seperti itu, maka bulu kuduknya menjadi
bangun. Ciok Giok Yin berpikir, apabila di saat ini muncul
binatang buas, mungkin dirinya.... Dia tidak berani memikirkan
itu, dan segera mengambil langkah seribu tanpa arah tujuan.
Walau sedang berlari kencang, tapi Ciok Giok Yin juga
berpikir, Ho Siu Kouw mengatakan bahwa Bu Lim Sam Siu
akan segera kembali, tapi kenapa tidak melihat jejak mereka
bertiga? Tentunya Ho Siu Kouw punya tujuan lain. Itu
membuat Ciok Giok Yin merasa malu hati, karena dia

bersungguh-sungguh ingin membela gadis cantik itu, namun
sebaliknya gadis cantik itu malah tidak mengubrisnya. Apakah
peta pusaka yang diberikannya juga palsu? Ciok Giok Yin terus
berpikir, Ho Siu Kouw sengaja mendesaknya pergi, lalu
menyimpan peta pusaka yang asli. Ini memang mungkin!
Sebab kakek tua berjenggot putih pernah mengatakan
padanya, bahwa 'Hati Wanita Merupakan Jarum Didasar Laut'
sulit sekali diraba maupun dirasakan. Hari ini berjumpa Ho Siu
Kouw, membuktikan memang benar apa yang pernah
dikatakan kakek tua berjenggot putih.
Berpikir sampai di situ, Ciok Giok Yin merasa amat gusar.
Ketika dia baru mau merogoh ke dalam bajunya mengambil
bungkusan pemberian Ho Siu Kouw untuk dibuang, mendadak
terdengar suara bentakan dingin di belakangnya.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin langsung berhenti sekaligus membalikkan
badannya, dan seketika juga hatinya tersentak. Ternyata Bu
Lim Sam Siu telah berdiri di belakangnya. Lengan Singkoan
Yun San telah dibalut, sepasang matanya menyorot bengis,
terus menatap Ciok Giok Yin dengan tajam. Begitu pula Kwee
Sih Cun, kelihatan berjaga-jaga agar Ciok Giok Yin tidak
melarikan diri.
Cu Cing Khuang berdiri agak mendekati Ciok Giok Yin,
wajahnya tampak dingin sekali.
"Bocah, siapa namamu?"
"Ciok Giok Yin."
"Ciok Giok Yin?"
"Tidak salah! Apakah ada yang palsu?"
Tiba-tiba Cu Cing Khuang berkata dengan lembut.
"Aku lihat kau bertulang bagus dan berbakat, maka aku ingin
menerimamu jadi muridku."

"Terimakasih atas maksud baikmu."
"Apakah kau tidak bersedia?"
"Betul."
Cu Cing Khuang tidak gusar atau tersinggung oleh sahutan
Ciok Giok Yin yang amat ketus itu.
"Kalau kau berguru padaku, dalam waktu tiga lima tahun, kau
pasti menjadi seorang pendekar muda yang terkenal," katanya
lembut. Ciok Giok Yin telah menyaksikan perbuatan Bu Lim
Sam Siu di dalam Goa Toan Teng Tong, sehingga timbul kesan
buruk terhadap mereka bertiga. Seandainya Ciok Giok Yin tidak
menyaksikan itu, pasti dia akan mengangkat Bu Lim Sam Siu
sebagai suhunya. Akan tetapi, lantaran kejadian di dalam Goa
itu, maka Ciok Giok Yin menganggap mereka bertiga sebagai
penjahat, maka tidak heran kalau Ciok Giok Yin amat
membenci mereka.
"Terus terang, aku sama sekali tidak tertarik pada kalian
bertiga," sahutnya. Air mukaa Cu Cing Khuang langsung
berubah.
"Hmm! Dasar tak tahu diri!"
"Buat apa banyak bicara padanya?" selak Siang- koan Yun. Cu
Cing Khuang menengok ke kanan dan ke kiri, kemudian maju
dua langkah. Saat ini Ciok Giok Yin berdiri tak jauh dari pinggir
mulut jurang yang amat dalam. Jurang itu tidak tampak
dasarnya, karena tertutup kabut tebal, dan Ciok Giok Yin tidak
tahu tentang itu. Apa sebabnya Bu Lim Sam Siu ingin
mengangkatnya sebagai murid? Apa tujuan mereka bertiga?
Hanya itu yang dipikirkannya.
Dia ingin melarikan diri, namun situasi di depan matanya
tidak memungkinkannya untuk melarikan diri, maka
membuatnya menjadi gugup dan agak panik. Apabila dia tidak
dapat melarikan diri, tentu akan celaka di tangan Bu Lim Sam
Siu. Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, justru Cu Cing
Khuang membuka mulut.

"Bocah! Kau datang dari Goa Toan Teng Tong?"
"Tidak salah."
"Kau sudah memperoleh peta Si Kauw Hap Liok Touw?"
Hati Ciok Giok Yin tersentak. Kini dia baru tersadar apa
sebabnya Bu Lim Sam Siu ingin mengangkatnya sebagai murid,
ternyata karena peta pusaka tersebut. Sungguh licik sikap
mereka!
Wajah Ciok Giok Yin berubah menjadi dingin.
"Bagaimana kalau aku sudah memperoleh, dan bagaimana
kalau belum?" sahutnya seperti bertanya.
Wajah Cu Cing Khuang tampak berseri-seri.
"Bocah! Kami bertiga tidak berniat jahat terhadapmu.
Kalaupun kau memperoleh peta itu juga percuma. Lebih baik
kau serahkan padaku. Peta itu akan kusimpan, kelak setelah
kau berkepandaian tinggi, barulah kami kembalikan padamu."
Mendengar ucapan itu Ciok Giok Yin langsung tertawa gelak.
"Bu Lim Sam Siu, kalian bertiga terhitung Bu Lim Cianpwee.
Tapi kalian telah menganiaya seorang gadis demi mendapatkan
peta itu. Kini kalian malah memfitnahku memperoleh peta
tersebut, sebetulnya apa tujuan kalian?"
Cu Cing Khuang tertawa licik.
"Bocah! Yang kudapatkan adalah peta palsu, sedangkan kau
memperoleh aslinya. Maka kalau kau ingin menjaga peta itu,
terlebih dahulu harus belajar kungfu yang tinggi. Kalau tidak,
kemungkinan besar nyawamu juga akan melayang."
"Bocah! Kau sudah peroleh peta itu?" sambung Kwee Sih Cun.
"Kentut! Siapa bocah?"

Kwee Sih Cun mengerutkan kening, lalu menjulurkan kelima
jarinya, kelihatannya dia ingin.... Akan tetapi, Cu Cing Khuang
segera membentak mencegahnya.
"Tunggu, Lo Sam!" Kemudian dia memandang Ciok Giok Yin.
"Bocah, lebih baik serahkan peta itu!" katanya.
"Tidak bisa!"
"Tentunya kau tahu, dirimu tidak bisa melarikan diri!"
"Kalian mau apa?"
Siangkoan Yun San mendengus.
"Hmm! Apabila perlu, kami pasti membunuhmu!"
Mendengar itu, Ciok Giok Yin bukannya gemetar atau takut,
tapi sebaliknya malah menjadi lebih berani.
"Kalau kelak aku tidak membunuh kalian bertiga, aku
bersumpah tidak mau jadi orang!" bentaknya sengit sambil
melotot. Ciok Giok Yin mengepalkan tinjunya, siap untuk
berkelahi. Menyaksikan sikapnya, Cu Cing Khuang tertawa
gelak.
"Sayang sekali, kau sudah tidak punya kesempatan lagi!"
"Hari masih panjang, kesempatanpun masih banyak!"
"Tapi hari ini kau tidak dapat lolos dari tangan kami, maka
hari amat pendek bagimu."
"Kalaupun aku jadi hantu, tidak akan mengampuni kalian
bertiga!"
Ciok Giok Yin berkata dengan gusar sekali, tampaknya ingin
sekali membunuh Bu Lim Sam Siu. Akan tetapi, dia tahu jelas
bahwa dirinya tidak mengerti ilmu silat, maka tidak berani
melancarkan serangan.

"Itu urusan lain, sekarang kau serahkan tidak?" kata Cu Cing
Khuang.
"Tidak!"
"Kau jangan menyesal!"
"Apa yang harus kusesalkan?"
"Kau masih muda, kenapa harus menyia-nyiakan nyawamu?
Kau masih punya masa depan, mengapa harus berkorban demi
peta itu?"
"Kalau begitu, mengapa kalian menginginkan peta itu?"
"Karena kami memiliki kepandaian tinggi, tentunya dapat
melindungi peta tersebut!"
Berdasarkan apa yang dikatakan Bu Lim Sam Siu, tentunya
yakin peta pusaka itu berada pada Ciok Giok Yin. Karena itu,
mereka bertiga terns mendesaknya. Peta pusaka itu memang
menjadi impian setiap kaum rimba persilatan. Kini peta pusaka
tersebut berada di depan mata mereka, bagaimana mungkin
mereka melepaskannya?
"Apakah kalian yakin aku tidak mampu menjaga peta itu?"
kata Ciok Giok Yin dengan gusar.
"Tentu yakin! Sebab kami telah menyaksikan kepandaianmu!"
sahut Cu Cing Khuang. Ciok Giok Yin mendengus dingin.
"Hmmm! Aku dapat menjaga atau tidak, itu urusanku! Tidak
perlu kalian berbaik hati men- cemaskannya!"
"Kau sungguh keras hati dan keras kepala!"
"Kalian ingin rebut, sungguh tebal muka kalian bertiga!" kata
Ciok Giok Yin menyindir. Apa yang dikatakan Ciok Giok Yin,
sungguh menyinggung perasaan Bu Lim Sam Siu. Mendadak
Kwee Sih Cun menjulurkan kelima jarinya, sepasang matanya

menyorotkan sinar kebengisan sambil mencengkeram lengan
Ciok Giok Yin.
Namun di saat kelima jari itu hampir berhasil mencengkeram
lengan Ciok Giok Yin, sekonyong-konyong terdengar suara
siulan yang amat nyaring, yang disusul oleh serangkum angin
yang amat kuat menerjang ke jalan darah Siauw Yauw Hiat
Kwee Sih Cun.
Bukan main terkejutnya Kwee Sih Cun! Kalau pun seandainya
dia berhasil mencengkeram lengan Ciok Giok Yin, namun
nyawanya juga akan melayang. Kwee Sih Cun pasti lebih
mementingkan nyawanya, maka dia bergerak cepat meloncat
ke belakang, justru tepat berada di pinggir mulut jurang,
menyebabkannya mengucurkan keringat dingin. Kwee Sih Cun
memandang ke depan, ternyata seorang wanita buruk rupa
berpakaian merah berdiri di sana, menatap bengis pada Bu Lim
Sam Siu. Begitu melihat wanita itu, Bu Lim Sam Siu berseru
kaget serentak.
"Heng Thian Ceng (Wanita Pendendam Langit)!"
Mereka menyurut mundur beberapa langkah dengan wajah
pucat pias, kelihatannya takut pada wanita itu. Heng Thian
Ceng tertawa dingin, kemudian membentak sengit.
"Mata kalian masih belum buta, cepat enyah kalian!"
"Bocah ini... aku... ingin mengangkatnya menjadi murid...,"
kata Cu Cing Khuang gagap. Heng Thian Ceng langsung
membentak keras, memutuskan perkataan Cu Cing Khuang.
"Kalian masih tidak pantas, cepat enyah!"
Mendadak Hang Thian Ceng mengibaskan tangannya, dan
seketika tampak salju meluncur secepat kilat ke arah Bu Lim
Sam Siu. Bukan main terkejutnya Bu Lim Sam Siu. Mereka
bertiga cepat-cepat berkelit, lalu kabur terbirit-birit. Ciok Giok
Yin yang menyaksikan itu, juga amat terkejut. Entah siapa
wanita buruk rupa ini, hingga Bu Lim Sam Siu yang amat
terkenal itu kelihatan amat takut padanya. Ciok Giok Yin
menarik nafas dalam-dalam, dia ingin meninggalkan tempat

itu, tapi ketika dia baru mau melangkah, mendadak terdengar
suara bentakan yang amat dingin di belakangnya.
"Berhenti!"
Ciok Giok Yin langsung membalikkan badannya perlahanlahan,
kemudian memandang wanita buruk muka itu dengan
rasa takut.
"Siapa namamu?" tanya Hong Thian Ceng sambil menatapnya
dengan tajam sekali.
"Ciok Giok Yin."
"Mengapa Bu Lim Sam Siu berada di sini menyusahkanmu?"
"Lo cianpwee, aku dan mereka bertiga sama-sama memasuki
Goa Toan Teng Tong. Mereka bertiga melukai seorang nona di
dalam goa itu, lalu mencari suatu barang yaitu sebuah peta.
Mereka bertiga cepat-cepat pergi, namun kemudian kembali
lagi, ingin menerimaku jadi murid."
Heng Thian Ceng mengerutkan kening.
"Benarkah urusan itu? Kau melihat mereka mengambil peta
pusaka itu?"
"Aku melihat dengan mata kepala sendiri."
"Baik. Kau tunggu aku di sini, tidak boleh pergi!"
Heng Thian Ceng langsung melesat pergi, dan sekejap sudah
tidak tampak bayangannya. Ternyata Ciok Giok Yin
menggunakan siasat harimau menelan srigala, agar Heng Thian
Ceng membunuh Bu Lim Sam Siu. Siasatnya itu berhasil,
namun dia justru tidak memikirkan akibatnya. Ketika dia baru
mau meninggalkan tempat itu, mendadak di hadapannya
muncul tiga orang, yang tidak lain adalah Bu Lim Sam Siu.
"Bocah! Tak disangka kau pandai menggunakan siasat! Tapi
malam ini kau tidak bisa hidup lagi!" kata Cu Cing Khuan dingin

sambil menatapnya dengan bengis. Mendadak Bu Lim Sam Siu
melangkah maju, lalu menjulurkan jari tangan
mencengkeramnya.
Ciok Giok Yin tahu bahwa dirinya dalam keadaan bahaya.
Maka, dia cepat-cepat mencelat ke belakang. Tetapi tiba-tiba
badannya merosot ke bawah, ternyata kakinya menginjak
tempat yang kosong, yaitu jurang yang amat dalam. Betapa
terkejutnya Ciok Giok Yin.
"Haaah...?" teriaknya.
Suara teriakannya mengandung ketakutan, sedih dan putus
asa.
Cu Cing Khuang menghempas kaki seraya bergerutu.
"Peta pusaka itu, akan lenyap selama-lamanya." Kwee Sih
Cun dan Siangkoan Yun San menggeleng-gelengkan kepala.
Mereka bertiga melongok ke dalam jurang, setelah itu barulah
melesat pergi. Suasana di tempat itu kembali menjadi hening,
sedangkan Ciok Giok Yin yang terjatuh ke dalam jurang pun
sama sekali tiada suaranya....
Jilid 03
Bu Lim Sam Siu melesat pergi dengan wajah muram.
Ternyata mereka bertiga tahu bahwa di dasar jurang itu adalah
Tok Coa Kok (Lembah Ular Beracun). Burung apa pun yang
terbang melewati lembah itu, pasti mati terkena hawa
beracun. Sedangkan Ciok Giok Yin terjatuh ke dasar jurang itu,
bagaimana mungkin masih bisa hidup?
Lembah itu penuh berbagai macam ular beracun. Orang yang
berkepandaian amat tinggi pun, kalau terjatuh ke dasar jurang
itu, tidak akan bisa hidup. Bu Lim Sam Siu tidak menaruh
dalam hati mengenai mati hidupnya Ciok Giok Yin. Mereka
bertiga hanya merasa sayang, peta pusaka itu akan lenyap
selama-lamanya di dasar jurang tersebut.

Bagaimana keadaan Ciok Giok Yin? Apakah dia akan mati di
dasar jurang itu? Ketika badannya merosot ke bawah, dia
masih sempat berteriak. Tak lama dia sudah ditelan kabut
tebal, namun kesadarannya belum kabur. Dia melihat
sekelilingnya amat gelap, akhirnya dia berkeluh.
"Habislah!" Usai berkeluh, diapun pingsan.
Entah berapa lama kemudian, perlahan-lahan dia mulai
siuman. Tetapi dia tidak membuka matanya. Hatinya terasa
hampa, tidak memikirkan apa-apa dan tidak merasa apa-apa
pula. Berselang beberapa saat kemudian, barulah
kesadarannya mulai pulih. Dia berpikir, saat ini dia tidur
dimana? Mendadak terlintas sesuatu dalam benaknya, ternyata
dia sudah ingat apa yang telah terjadi.
Dirinya diserang Bu Lim Sam Siu hingga terjatuh ke dalam
jurang, mungkin kini sudah berada di alam baka. Dia ingat
akan apa yang pernah dikatakan kakek tua berjenggot putih,
bahwa orang mati tidak akan merasa sakit. Kalau begitu, saat
ini dia pasti tidak merasa sakit. Mendadak hatinya tergerak,
dan berkata, "Mengapa aku tidak menggigit jariku untuk
mencobanya?' Ciok Giok Yin segera menggigit jari tangannya,
ternyata masih merasa sakit sekali.
"Apa gerangan yang telah terjadi? Aku... aku belum mati?"
gumamnya. Dia menengok kesana kemari, tiba-tiba terdengar
suara yang amat dingin.
"Bocah! Kalau bukan lohu (Aku Orang Tua), tulangmu pasti
telah remuk semua."
Ciok Giok Yin mendengar dengan jelas suara itu. Dia cepatcepat
bangun, tapi sekujur badannya terasa sakit
sekali. Ternyata di sisinya duduk seorang tua rambut dan
jenggot amat panjang serta putih awut-awutan. Orang tua itu
mengenakan pakaian kasar yang amat kumal dan lusuh,
sepasang matanya merah membara, mirip raja iblis. Setelah
mendengar ucapannya, Ciok Giok Yin tahu bahwa orangtua itu
yang telah menyelamatkan nyawanya. Maka dia segera
berlutut di hadapannya.

"Terimakasih lo cianpwee telah menyelamatkan nyawa...,"
ucapnya. Belum juga Ciok Giok Yin usai berkata, orang tua
aneh itu sudah membentak keras.
"Orang masih kecil tapi tahu kesopanan!" Orang tua aneh itu
mengangkat sebelah tangannya. Bukan main! Dia seperti main
sulap. Ternyata badan Ciok Giok Yin telah terangkat ke
atas. Apa boleh buat Ciok Giok Yin terpaksa berdiri, namun
dengan sikap yang hormat. Orang tua aneh itu menatapnya.
"Bocah, bagaimana kau terjatuh ke dalam lembah Tok Coa
Kok ini?"
"Tok Coa Kok?"
"Kau tidak tahu?"
Sekujur badan Ciok Giok Yin merinding. Dia menggeleng
kepala. Orang tua aneh itu menunjuk ke suatu tempat seraya
berkata,
"Kau lihat!"
Ciok Giok Yin segera memandang ke tempat yang ditunjuk
oleh orangtua aneh. Ternyata di sana tampak begitu banyak
tulang-belulang ular. Walau cuma merupakan tulang belulang,
tapi tetap amat mengerikan.
"Bagaimana ular-ular beracun itu mati di sini?" tanya Ciok
Giok Yin.
"Itu karena perbuatanku," sahut orang tua aneh.
"Lo cianpwee yang membunuh ular-ular beracun itu?"
"Kau tidak percaya?"
"Bukan tidak percaya. Melainkan... begitu banyak ular
beracun, bagaimana cara membunuhnya?"

"Kau belum menjawab pertanyaanku," kata orang tua aneh
dengan dingin.
Ciok Giok Yin segera menutur tentang kejadian yang
dialaminya, namun tidak menyinggung tentang Ho Hong Hoa
dan peta pusaka Si Kauw Hap Liok Touw. Setelah mendengar
penuturan Ciok Giok Yin, orang tua aneh itu menggelenggelengkan
kepala, lalu bergumam tapi sepertinya ditujukan
pada Ciok Giok Yin.
"Bu Lim Sam Siu turun tangan jahat terhadapmu, itu
merupakan kejadian yang amat aneh sekali!" Mendadak
sepasang matanya menyorot dingin. "Dusta!"
bentaknya. Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin, sehingga
tanpa sadar kakinya menyurut mundur selangkah.
"Aku menutur sejujurnya. Karena aku memandang rendah
mereka, tidak sudi menjadi murid mereka, maka mereka amat
gusar dan ingin menangkapku. Karena itu aku meloncat
mundur, akhirnya terjatuh ke dalam jurang ini."
Orang tua aneh itu manggut-manggut.
"Ini masih masuk akal." Dia menunjuk tanah di hadapannya.
"Bocah duduklah di sini!"
Ciok Giok Yin tidak tahu apa maksudnya, namun menurut dan
duduk di hadapan orang tua aneh itu. Akan tetapi, walau Ciok
Giok Yin sudah lama duduk di situ, orang tua aneh itu sama
sekali tidak bersuara. Itu membuat Ciok Giok Yin tidak
sabaran.
"Lo cianpwee, mengapa lo cianpwee tinggal di sini?" katanya.
Orang tua aneh itu mengerutkan kening, kelihatannya sedang
memikirkan sesuatu.
"Pernahkah kau dengar, di dunia persilatan terdapat orang
yang dijuluki Sang Ting It Koay (Satu Siluman Di Jagat)?"
Ciok Giok Yin belum pernah berkecimpung di dunia persilatan,

tentunya tidak tahu tokoh-tokoh besar dunia persilatan. Lagi
pula kakek tua berjenggot putih tidak pernah
menceritakannya. Maka ketika orang tua aneh bertanya
demikian padanya, dia cuma menggeleng-gelengkan kepala.
"Lo cianpwee, aku tidak pernah mendengarnya.”
Orang tua aneh itu tampak tertegun.
"Berapa usiamu sekarang?"
"Enam belas."
"Kau berdusta lagi."
"Aku tidak berdusta, aku berkata sesungguhnya. Usiaku
memang baru enam belas."
Orang tua aneh itu menatapnya dengan penuh perhatian.
"Melihat mukamu, kini kau harus berusia sembilan belas,
tidak mungkin akan salah."
Ciok Giok Yin tersenyum.
"Usiaku memang baru enam betas, tapi... aku pernah makan
buah Ginseng daging...."
Mendengar itu, orang tua aneh tersebut tampak tersentak.
"Apa? Ginseng Daging?"
Ciok Giok Yin mengangguk.
"Tidak salah. Setelah makan Ginseng Daging, di tantian
terasa ada hawa panas, akhirnya aku pingsan. Setelah siuman,
barulah aku tahu diriku bertambah besar dan tinggi."
"Bocah, kau sungguh beruntung! Sebab mulai sekarang kau
akan awet muda."

Orang tua aneh itu terus menatapnya dengan mata tak
berkedip, kemudian manggut-manggut. "Pantas kau tidak
pernah dengar nama itu! Lohu adalah Sang Ting It Koay."
"Bagaimana lo cianpwee bisa tinggal di sini?"
"Empat belas tahun yang lampau, aku dikeroyok oleh Kang
Ouw Pat Kiat (Delapan Pendekar Sejati Dunia Persilatan) dan
para pesilat tinggi dari berbagai partai besar rimba persilatan,
dan aku nyaris mati di tangan mereka. Untung aku
menggunakan ilmu Ku Sip Tay Hoat (Nafas Kura-Kura), maka
mereka mengira aku sudah mati."
"Di mana lo cianpwee dikeroyok?"
"Di puncak Gunung Muh San."
"Tapi... kenapa lo cianpwee tinggal di sini?"
"Sesungguhnya lohu ingin ke sebuah goa, namun ketika di
tengah jalan, lukaku yang beracun mulai kambuh, membuatku
sulit melakukan perjalanan. Aku terus memaksakan diri,
akhirnya malah sampai di lembah Tok Coa Kok ini."
Orang tua aneh itu menghela nafas, kemudian melanjutkan.
"Lohu amat kesal, melihat banyak ular beracun di lembah ini,
maka lohu menggunakan ilmu Sam Yang Hui Kang (Tenaga
Sakti Tiga Matahari) membunuh semua ular beracun itu, dan
terlampiaslah rasa kekesalanku." Berkata sampai di sini, orang
tua aneh itu mengatur pernafasannya.
Sedangkan Ciok Giok Yin berkata dalam hati. 'Kelihatannya
orang tua ini berkepandaian amat tinggi, tapi mengapa aku
tidak....'
Mendadak Sang Ting It Koay melanjutkan penuturannya.
"Setelah lohu membunuh semua ular beracun itu, diri lohu
keracunan. Lohu beristirahat beberapa hari, akhirnya sepasang
kaki lohu membusuk. Lohu ingin meninggalkan tempat ini, tapi

sudah tidak mungkin, maka lohu tinggal di sini. Tak terasa
sudah empat belas tahun, tak terduga kau malah terjatuh
kemari."
Ciok Giok Yin tertegun, sehingga tanpa sadar dia bertanya,
"Empat belas tahun?"
"Kau tidak percaya?"
"Percaya."
Sesungguhnya dalam hati Ciok Giok Yin ada rasa kurang
percaya. Bagaimana mungkin orang tak punya sepasang kaki,
bisa hidup di dalam lembah seperti ini hingga empat betas
tahun lamanya? Oleh karena itu, Ciok Giok Yin menengok
kesana kemari. Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu pengobatan,
maka dia tahu bahwa di dalam hutan belantara, pasti terdapat
rumput obat yang dapat membuat orang tahan lapar. Namun di
tempat itu tidak terdapat rumput obat tersebut. Sang Ting It
Koay terus memperhatikan gerak-gerik Ciok Giok Yin.
"Bocah, kau melihat apa?"
Wajah Ciok Giok Yin agak kemerah-merahan, dan dia tak
dapat menyahut.
"Bocah, kau sedang mencari apa yang kumakan bukan?"
Wajah Ciok Giok Yin bertambah merah, akhirnya dia
manggut-manggut.
"Lo cianpwee, tempat ini...."
Mendadak Sang Ting It Koay menyambar Ciok Giok Yin.
"Jalan!" serunya. Sang Ting It Koa masih dalam posisi duduk,
namun sebelah tangannya menepuk tanah. Seketika badannya
melambung ke atas, sedangkan sebelah tangannya masih
memegang bahu Ciok Giok Yin, maka Ciok Giok Yin ikut
melambung ke atas. Tidak seberapa lama, mereka berdua

melayang ke dalam sebuah goa. Tampak kabut tebal
menyelimuti goa tersebut. Akan tetapi, setelah memasuki goa
itu, justru terasa hangat sekali, membuat Ciok Giok Yin
terheran-heran. Sang Ting It Koay duduk di atas batu besar, di
hadapannya terdapat sebuah sumur, dan tampak kabut putih
mengepul ke luar dari sumur itu.
"Bocah, itu adalah makanan lohu," katanya sambil menunjuk
sumur itu. Kemudian dia menatap Ciok Giok Yin. "Itu adalah
susu bumi, khasiatnya melebihi makanan apapun."
Tiba-tiba Ciok Giok Yin menjatuhkan diri berlutut di hadapan
Sang Ting It Koay.
"Mohon lo cianpwee sudi...," ucapnya.
Akan tetapi Sang Ting It Koay mengibaskan tangannya.
"Kalau kau ingin menjadi muridku, harus mencoba dulu
bagaimana rasanya susu bumi itu."
Kibasan tangan Sang Ting It Koay membuat Ciok Giok Yin
terpental ke dalam sumur. Anak muda itu ingin menjerit, tetapi
mulutnya tak dapat dibuka. Ternyata badannya sudah
tenggelam ke dalam sumur itu, cuma tampak kepalanya. Ciok
Giok Yin ingin meloncat ke atas. Namun jangankan meloncat ke
atas, ingin bergerak pun tiada tenaga sama sekali. Selain
badannya tidak bisa bergerak, mulutnya juga tidak dapat
bersuara. Hanya sepasang matanya yang masih bisa bergerak
kesana kemari. Oleh karena itu, Ciok Giok Yin menatap Sang
Ting It Koay dengan penuh kebencian.
Akan tetapi, saat ini sepasang mata Sang Ting It Koay sudah
terpejam. Dia duduk di atas batu, kelihatannya seperti telah
melupakan urusan di depan matanya. Bukan main
mendongkolnya hati Ciok Giok Yin! Dia berkertak gigi hingga
berbunyi gemeretukan. Kini dirinya seperti berada di dalam
kuali berisi air mendidih. Apa yang dideritanya saat ini, sulit
diuraikan dengan kata-kata. Di depan matanya, justru muncul
bayangan-bayangan masa lalunya. Di keluarga Tong Keh
Cuang, dia dihina dan dipukuli oleh Tong Eng Kang,

membuatnya nyaris kehilangan nyawanya. Terakhir dia
bertemu Bu Lim Sam Siu, justru menyebabkannya terjatuh ke
dalam jurang. Kini malah terjatuh ke tangan orang tua aneh,
kelihatannya dia akan mati di tempat ini.
Tiba-tiba dia teringat pada Kakak Ping. Gadis itu entah berada
di mana sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Atau
mungkinkah telah dihina oleh Tong Eng Kang? Bayangan
tersebut, sirna perlahan-lahan. Setelah itu, muncul pula
bayangan Ho Siu Kouw, gadis cantik yang tinggal di dalam Goa
Toan Teng Tong. Dia telah makan buah Ginseng Daging,
mungkin luka dalamnya telah sembuh. Namun sepasang
kakinya masih dirantai, tentunya dia tidak bisa meninggalkan
peti mati itu. Padahal Ciok Giok Yin berniat mencari sebilah
pedang pusaka untuk memutuskan rantai itu, tapi kini cuma
merupakan impian belaka. Sementara rasa panas itu terasa
hingga ke dalam tulang, namun dia tetap terendam di dalam
sumur tersebut. Wajahnya yang tampan itu, sudah berubah
merah membara seperti kebanyakan minum arak.
Saat ini Sang Ting It Koay telah membuka sepasang matanya.
Wajahnya tampak berseri, tapi tertutup oleh rambut dan
jenggot yang awut-awutan, maka orang luar tidak akan melihat
wajahnya sedang berseri. Sebaliknya akan membuat orang
merasa merinding, sebab sepasang matanya melotot
menyeramkan, lantaran merah membara seperti api. Dia
menjulurkan tangannya ke dalam sumur untuk merasakan
bagaimana air sumur tersebut, lalu menggeleng-gelengkan
kepala. Mendadak dia membuka mulut, lalu menyemburkan
uap putih ke dalam sumur. Tak lama kemudian, air sumur itu
mulai mengepulkan uap putih lagi.
Setiap tiga kali berturut-turut dia menyemburkan uap putih
ke dalam sumur itu, barulah berhenti. Sedangkan keningnya
sendiri sudah mengucur keringat. Ternyata ketika dia
menyembur uap putih ke dalam sumur itu, telah banyak
menguras tenaganya. Setelah itu, dia menatap Ciok Giok Yin
sejenak, lalu memejamkan mata untuk beristirahat.
Sementara sang waktu tak henti-hentinya berlalu. Sedangkan
di dalam goa itu tidak akan tahu dari siang atau malam, tak

terasa tiga hari tiga malam telah berlalu. Dalam waktu tiga hari
tiga malam itu, Sang Ting It Koay juga terus menyemburkan
uap putih dari mulutnya ke dalam sumur. Ternyata dia merasa
air sumur tersebut masih kurang panas. Maka agar bertambah
panas, harus dibantu dengan hawa murninya. Sesungguhnya
tujuan Sang Ting It Koay berbuat demikian, tidak lain ingin
merebus Ciok Giok Yin di dalam sumur tersebut, kemudian
akan menikmati dagingnya hingga tahunan. Akan tetapi, justru
terjadi hal yang di luar dugaan. Wajah Ciok Giok Yin yang
merah membara itu, telah berubah menjadi ungu.
Setelah lewat tiga hari tiga malam, wajahnya menjadi merah
membara lagi. Berselang beberapa saat, wajahnya sudah
berubah normal kembali, bahkan kelihatan bertambah
tampan. Ciok Giok Yin tampak tenang terendam di dalam
sumur itu. Dia bernafas seperti biasa dan tersenyum-senyum,
sepertinya sedang bermimpi indah. Ternyata dia tidak mati di
rebus dalam sumur itu. Bukankah itu aneh sekali? Pada hari
keempat, mendadak Sang Ting It Koay mengangkat sebelah
tangannya, lalu membentak.
"Bocah, naik!"
Akan tetapi, Ciok Giok Yin tetap diam di dalam sumur, tidak
menghiraukan bentakan Sang Ting It Koay. Tentunya membuat
Sang Ting Koay menjadi gusar sekali. Di saat dia baru mau
melancarkan pukulan ke dalam sumur, tiba-tiba Ciok Giok Yin
meloncat ke atas.
"Berhenti!" bentak Sang Ting It Koay. Suaranya mengguntur
memekakkan telinga, membuat Ciok Giok Yin tersentak, namun
tidak merasa takut.
"Aku dengan lo cianpwee tiada...," katanya dengan gusar.
"Bocah, coba kau masuk ke dalam lagi!" sergah Sang Ting It
Koay sambil mengibaskan tangannya. Ciok Giok Yin tidak
sempat berkelit, maka tak ampun lagi dia terpental ke dalam
sumur.
"Aaaah! Panas...!" jeritnya keras. Akan tetapi, setelah

badannya terendam di dalam sumur, justru membuatnya
tercengang. Ternyata dia tidak merasa panas, melainkan
merasa amat nyaman. Oleh karena itu, dia memandang ke
arah Sang Ting It Koay. Dia berharap orang tua aneh itu
memberi penjelasan, mengapa kini dia tidak merasa panas lagi.
Bukankah itu aneh sekali? Sang Ting It Koay cuma tertawa
terkekeh-kekeh, setelah itu, tangannya dijulurkan ke depan
dan disentakkan.
"Bocah, naiklah!" katanya.
Ciok Giok Yin merasa tenaganya telah pulih, langsung
meloncat ke atas. Setelah berada di atas, dia merasa sekujur
badannya amat segar dan nyaman sekali. Itu membuatnya
sendiri termangu-mangu. Dia tidak habis pikir, apa gerangan
yang telah terjadi atas dirinya. Sang Ting It Koay menatapnya
dalam-dalam.
"Bocah, kau ingin belajar ilmu silat?" katanya dengan dingin.
"Mohon petunjuk lo cianpwee," sahutnya.
Sepasang mata Sang Ting It Koay mendelik.
"Baiklah! Kau boleh duduk!"
Ciok Giok Yin tahu, kali ini Sang Ting It Koay tidak akan
mencelakai dirinya, maka cepat-cepat duduk. Ketika Ciok Giok
Yin duduk, jari tangan Sang Ting It Koay bergerak cepat. Kini
badan Ciok Giok Yin tidak bisa bergerak lagi, bahkan mulutnya
tidak mampu bersuara. Berdasarkan pengalaman tadi, Ciok
Giok Yin menjadi tenang, pasrah apa yang akan terjadi atas
dirinya. Sang Ting It Koay beranjak dari tempat duduknya,
kemudian mendorong Ciok Giok Yin ke tempat duduk itu.
Setelah duduk di atas batu itu, bibir Ciok Giok Yin tampak
gemetar, dan keningnya mengucurkan keringat. Dia merasa
seperti duduk di atas bara api, sehingga membuat sekujur
badannya menjadi panas sekali. Semakin lama semakin panas,
dan hawa panas itu menerjang ke dalam tubuhnya, bahkan
menerobos ke seluruh jalan darahnya pula. Sementara Sang

Ting It Koay yang duduk di sampingnya terus
memperhatikannya. Berselang sesaat, Sang Ting It Koay
berkata dengan suara dalam.
"Bocah, bertahanlah! Cuma rintangan ini yang harus kau
lewati."
Ciok Giok Yin menurut. Dia terus bertahan, namun akhirnya
pingsan juga karena tidak tahan. Sang Ting It Koay
menatapnya sambil mengerutkan kening.
"Bocah, kau cukup menderita," gumamnya. Sesaat kemudian,
dia manggut-manggut sambil berkata.
"Kalau tidak begini, waktu tidak mengijinkan." Sang Ting It
Koay menatap Ciok Giok Yin lagi sambil berkata perlahanlahan.
"Aku tersiksa belasan tahun, namun akhirnya menemukan
anak berbakat. Kini legalah...!" Bibirnya bergerak, namun
sudah tidak bisa mengeluarkan suara, hanya berkata dalam
hati. Sang Ting It Koay tampak lelah sekali, dia terbatuk
beberapa kali, terlihat darah segar mengalir ke luar dari
mulutnya. Badannya bergoyang-goyang sejenak, namun
sepasang matanya tetap menatap Ciok Giok Yin. Setelah itu,
barulah memejamkan matanya untuk beristirahat.
Sementara, sang waktu terus berlalu.... Satu hari, dua hari,
tiga hari.... Sang Ting It Koay membuka matanya, menatap
Ciok Giok Yin. Tiba-tiba wajahnya tampak berseri, lalu tertawa
gelak.
"Ha! Ha! Ha...!" Usai tertawa gelak, dia berseru.
"Bocah, bangunlah!"
Ciok Giok Yin membuka matanya. Dia mendapatkan dirinya
masih tetap duduk di atas batu. Kini dia merasa badannya
bertambah segar dan nyaman, sulit diuraikan dengan katakata.

Dapat dibayangkan, betapa girang hatinya! Dia bangkit berdiri
perlahan-lahan, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Sang
Ting It Koay.
"Mohon lo cianpwee sudi...," katanya.
Mendadak serangkum tenaga yang amat kuat, membuat
dirinya terangkat ke samping. Di saat bersamaan, Sang Ting It
Koay yang sudah duduk di atas batu itu, berkata dengan
dingin.
"Bocah, ingat! Sebelum lohu bersedia menerimamu sebagai
murid, kau kularang menyinggung tentang itu! Kalau kau
masih berani menyinggungnya, jangan menyalahkan lohu akan
mengusirmu dari sini."
"Aku tidak berani berlaku kurang ajar terhadap lo cianpwee."
Sang Ting It Koay tertawa gelak.
"Bagus! Aku senang begini!"
Ciok Giok Yin menarik nafas dalam-dalam dan berkata dalam
hati. 'Dia melarangku berguru padanya, lalu aku harus
memanggilnya apa?' Sang Ting It Koay sepertinya tahu akan
apa yang dipikirkan Ciok Giok Yin.
"Bocah, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan! Karena aku
belum bersedia menerimamu sebagai murid, maka kau tidak
tahu harus bagaimana memanggilku, bukan?"
Ciok Giok Yin mengangguk.
"Ya."
Sang Ting It Koay tertawa.
"Kau boleh panggil aku Makluk Tua Aneh saja!"

Ciok Giok Yin terbelalak.
"Bocah, kau tahu sudah berapa hari kau direndam di air susu
bumi itu?"
Ciok Giok Yin menggeleng kepala.
"Mohon lo cianpwee memberitahukan!"
"Kau direndam di situ empat hari empat malam, duduk di atas
batu api tiga hari tiga malam."
Bukan main terkejutnya Ciok Giok Yin.
"Haaah? Kalau begitu, sudah tujuh hari tujuh malam!"
Sang Ting It Koay manggut-manggut.
"Tiga tahun lalu, tanpa sengaja lohu menemukan tempat ini.
Sumur susu bumi dan batu api, justru amat bermanfaat untuk
melatih ilmu Sam Yang Hui Kang (Tenaga Sakti Tiga
Matahari)." Dia menatap Ciok Giok Yin.
"Kuberitahukan, di puncak Gunung Muh San, lohu terpukul
oleh pukulan beracun. Racun itu telah menyerang hati,
mungkin tidak lama lagi lohu akan mati. Untung kau keburu
kemari. Ini sudah merupakan jodoh kita. Sesungguhnya aku
ingin menyantap dagingmu, namun kemudian kubatalkan
niatku itu. Akan tetapi, aku tidak bisa secara cuma-cuma
mengajar kau kungfu, kau harus menyelesaikan beberapa
urusanku, barulah kita bisa menjadi guru dan murid."
"Asal lo cianpwee memberitahukan urusan apa, aku pasti
berusaha menyelesaikannya."
"Kini belum waktunya kuberitahukan."
"Kapan?"
"Setelah kau berkepandaian tinggi."

"Menurut lo cianpwee, aku harus membutuhkan waktu berapa
lama?"
"Itu tergantung pada kecerdasanmu."
Mendadak hati Ciok Giok Yin tergerak, dan dia langsung
berkata.
"Lo cianpwee, aku pernah belajar ilmu pengobatan, maka...."
Belum juga Ciok Giok Yin usai berkata, Sang Ting It Koay
sudah tertawa terkekeh-kekeh, lalu menyergah.
"Bocah, jangankan kau amat mahir ilmu pengobatan.
Kalaupun Tiong Ciu Sin Ie berada di sini, dia juga tidak
sanggup mengobatiku."
Mendengar itu, Ciok Giok Yin berkata dalam hati. 'Sudah dua
orang menyinggung tentang Tiong Ciu Sin le. Obat Ciak Kim
Tan yang berada di dalam bajunya justru adalah buatan Tiong
Ciu Sin Ie, apakah kakek tua berjenggot putih itu adalah....
Tidak salah lagi, Tiong Ciu Sin Ie merupakan tokoh yang luar
biasa di dunia persilatan, pasti tidak sulit mencarinya kelak.
Di saat Ciok Giok Yin sedang berpikir, mendadak Sang Ting It
Koay berkata.
"Bocah, mulai hari ini kau harus merendam di sumur susu
bumi selama tiga empat jam. Setelah itu, harus pula duduk di
atas batu api ini."
Ciok Giok Yin mengangguk.
“Ya.”
Tiba-tiba Sang Ting It Koay membentak.
"Lepaskan pakaianmu!"
Ciok Giok Yin tertegun.

"Le... lepaskan pakaian?" katanya gagap.
"Ng!"
"Mengapa harus melepaskan pakaian?"
"Aku suruh kau lepaskan, kau harus lepaskan."
"Tapi... malu kan?"
"Tidak jadi masalah."
Apa boleh buat, Ciok Giok Yin terpaksa menurut, namun
masih tampak ragu. Seketika sepasang mata Sang Ting It Koay
menyorot dingin.
"Masih tunggu apa lagi?" bentaknya.
Ciok Giok Yin bersifat keras, bahkan juga angkuh, maka
membuatnya amat gusar.
"Lo cianpwee, walau di dalam goa ini cuma terdapat kita
berdua, kalau aku harus bertelanjang bulat, rasanya kurang
baik."
"Siapa suruh kau telanjang bulat?"
"Kalau begitu...."
"Kau masih boleh pakai celana dalam."
Mendengar itu, legalah hati Ciok Giok Yin. Dia cepat-cepat
melepaskan pakaiannya, sehingga hanya memakai celana
dalam.
"Bereskan pakaianmu itu, taruh di samping!" perintah Sang
Ting It Koay sambil menatapnya.
Ciok Giok Yin takut Sang Ting It Koay akan mengambil
pakainnya, karena di dalam bajunya tersimpan peta Si Kauw

Hap Liok Touw pemberian Ho Siu Kouw. Sesungguhnya Ciok
Giok Yin masih ragu terhadap peta pusaka tersebut, namun
masih ingin lihat bagaimana perkembangan selanjutnya. Oleh
karena itu, dia cepat-cepat membereskan pakaiannya, lalu
ditaruh ke samping.
"Mulai sekarang kau boleh belajar kungfu!" kata orang tua
aneh itu.
Demi ingin belajar kungfu, Ciok Giok Yin rela menerima
penderitaan maupun siksaan apapun. Sebab dia ingat akan
sebuah pepatah, bahwa ingin menjadi orang teratas, haruslah
bisa menahan segala penderitaan dan siksaan."
Karena itu, dia langsung masuk ke dalam sumur susu bumi,
untuk merendam diri. Di saat bersamaan, Sang Ting It Koay
mulai memberi petunjuk padanya.
"Bocah, hawa murni yang berada di Tantian, harus disalurkan
ke seluruh nadi, kemudian dialihkan ke jalan darah Thian Koat
Hiat. Selain itu, kau pun harus menghisap hawa susu bumi itu."
Begitu dengar, Ciok Giok Yin sudah paham, dan langsung
dipraktekkan. Kini dia berendam di dalam sumur dengan rasa
nyaman, tidak merasa panas lagi. Karena sebelumnya, dia
telah berendam, di dalam sumur itu selama empat hari empat
malam, maka tubuhnya telah kebal akan hawa panas itu.
"Ganti tempat!" kata Sang Ting It Koay tiga jam
kemudian. Dia menggeserkan badannya ke samping,
sedangkan Ciok Giok Yin duduk di atas batu api
tersebut. Begitulah! Tanpa membedakan siang atau malam,
Ciok Giok Yin terus berlatih di dalam sumur susu bumi dan di
atas batu api. Dengan latihan itu, Ciok Giok Yin berhasil
menyatukan hawa murni dari Phing Phiauw Khek dengan
tenaga buah Ginseng Daging yang pernah dimakannya. Setelah
itu, Sang Ting It Koay juga mengajarnya Soan Hong Ciang
(Ilmu Pukulan Angin Puyuh).
Sang waktu terus berlalu. Sehari lewat sehari, sebulan lewat
sebulan. Tak terasa setahun telah berlalu, maka, kini tubuh

Ciok Giok Yin pun telah tambah besar dan tinggi. Kini dia sudah
berusia tujuh belas, namun kelihatan seperti sudah berusia
sembilan. belas. Sikapnya tenang, gerak-geriknya kalem, dan
wajahnya bukan main tampannya. Sepasang matanya bersinar
terang, akan tetapi, kalau tidak sedang mengerahkan lwee
kangnya, dia tampak seperti pemuda biasa. Pertanda lwee
kangnya telah mencapai tingkat yang amat tinggi. Dia telah
berhasil, namun Sang Ting It Koay, justru kian hari kian
bertambah loyo dan lemah, setiap hari pasti muntah darah.
Sepasang matanya tampak suram dan badannya juga makin
kurus, kelihatan lesu tak bertenaga. Kini, setiap hari dia harus
duduk di atas batu api, demi memperpanjang nyawanya. Akan
tetapi, dia masih memaksakan diri untuk mengajar Ciok Giok
Yin ilmu silat. Sedangkan pemuda tersebut terus berlatih,
kadang-kadang lupa makan dan tidur. Lagipula dia tetap
memakai celana dalam, namun celana dalamnya itu sudah
tidak karuan, kumal, lusuh dan berlubang-lubang. Hari ini Sang
Ting It Koay membuka sepasang matanya, memandang Ciok
Giok Yin sambil manggut-manggut.
"Bocah, pakailah bajumu!"
Ciok Giok Yin tercengang, mengapa mendadak Sang Ting It
Koay menyuruhnya berpakaian? Dia menurut, dan cepat-cepat
berpakaian.
"Masuklah ke dalam sumur susu bumi!" perintah Sang, Ting It
Koay. Sudah sekian lama bersama Sang Ting It Koay, maka
Ciok Giok .Yin sudah paham akan sifat aneh orang tua
tersebut. Karena itu, dia segera masuk ke dalam sumur susu
bumi. Akan tetapi, Sang Ting It Koay mendadak berseru.
"Cepat naik!"
Ciok Giok Yin segera meloncat ke atas.
"Cepat kerahkan hawa murni!"
Sesungguhnya Ciok Giok Yin sudah mulai tidak sabaran,
namun dia tetap menurut dan cepat-cepat mengerahkan hawa

murninya. Seketika hidungnya mengeluarkan uap putih, dan
dalam sekejap uap itu sudah menutupi sekujur badannya.
"Berhenti" bentak Sang Ting It Koay. Ciok Giok Yin membuka
mulutnya, langsung menyedot uap putih itu ke dalam
mulutnya.
Menyaksikan itu, sepasang mata Sang Ting It Koay tampak
berbinar-binar, kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Bocah, lihatlah pakaianmu!"
Ciok Giok Yin menundukkan kepalanya memandang
pakaiannya. Hatinya tersentak kaget. Ternyata pakaiannya
telah kering, maka membuatnya tertegun, tidak habis pikir apa
sebabnya. Sepasang mata Sang Ting It Koay yang tadinya
berbinar-binar, kini tampak sudah buyar. Dia berkata perlahanlahan.
"Itu adalah tenaga sakti Sam Yang Hui Kang. Ketika kau mulai
berlatih, maka aku suruh kau melepaskan pakaian, agar
mengetahui bagaimana perkembangan Sam Yang Hui Kang
yang kau latih itu. Jadi apabila kau berkecimpung di rimba
persilatan, pakaianmu tidak akan tersobek-sobek oleh tenaga
sakti itu. Kini kau paham akan maksudku?"
Ciok Giok Yin langsung berlutut di hadapan Sang Ting It Koay
dan memanggil dengan rasa haru,.
"Suhu...."
":Siapa suhumu? Cepat berdiri!" bentak Sang Ting It Koay.
Ciok Giok Yin tertegun.
"Kita tetap seperti apa yang telah kukatakan dulu. Aku cuma
mengajarmu kungfu, tidak terikat guru dan murid, kau taati
itu! Karena..." kata Sang Ting It Koay. Sang Ting It Koay tidak
melanjutkan ucapannya, tapi sepasang matanya menyorotkan
sinar dendam kebencian. Ciok Giok Yin merinding menyaksikan
itu, lalu berkata dalam hati. 'Mungkin dia teringat akan
peristiwa di puncak Gunung Muh San. Aku harus menuntut

balas untukmu. Meskipun kau tidak mengaku diriku sebagai
muridmu, namun dalam hati aku mengakuimu sebagai
guruku.' Sang Ting It Koay menghela nafas panjang.
"Bocah, tahukah kau sudah berapa lama berada di dalam goa
ini?" katanya lembut. Ketika baru bersama Sang Ting It Koay,
dia amat tersinggung jika dipanggil bocah. Tapi kini, panggilan
tersebut justru membuatnya merasa nyaman dan hangat.
Mungkin sifat aneh makhluk tua itu sudah menular pada
dirinya, sehingga dia pun berubah menjadi makhluk kecil yang
bersifat aneh.
"Mungkin sudah ada setengah tahun lebih," sahutnya.
Sang Ting It Koay menggelengkan kepala. "Tepatnya sudah
satu tahun."
"Satu tahun?"
"Ng!"
Mendadak Ciok Giok Yin teringat pada Bwee Han Ping, lalu
teringat pula akan Ho Siu Kouw yang tinggal di dalam Goa
Teng Tong dengan kaki terikat rantai. Dalam waktu satu tahun
ini, bagaimana keadaan Kakak Ping? Dan juga bagaimana
keadaan Ho Siu Kouw? Apakah luka dalamnya sudah
sembuh? Kedua gadis itu, merupakan orang yang tidak dapat
dilupakan Ciok Giok Yin.
Saat ini, Ciok Giok Yin ingin cepat-cepat meninggalkan goa itu,
ingin segera pergi menengok kedua gadis tersebut. Akan tetapi
Sang Ting It Koay belum menyuruhnya pergi, tentunya akan
merasa tidak enak apabila dia pergi sekarang. Lagipula
keadaan Sang Ting It Koay, kelihatannya.... Maka dia tidak
berani memikirkan hal tersebut. Saat ini suasana di dalam goa
itu amat sunyi. Berselang beberapa saat barulah Sang Ting It
Koay berkata.
"Bocah, aku beritahukan padamu, mengenai ilmu Sam Yang
Hui Kang, kalau kau tidak mengalami suatu kemujizatan,
tentunya sulit berlatih hingga sempurna. Kini di dunia
persilatan, hanya ada seseorang yang telah sempurna ilmu

kungfunya."
"Siapa?"
"Chiu Tiong Thau."
"Siapa orang itu?"
"Murid murtad."
"Murid?"
"Ng!"
"Lo cianpwee tidak pernah menceritakannya?"
"Menceritakannya?"
"Ya."
Wajah Sang Ting It Koay langsung berubah, bahkan juga
berkertak gigi hingga berbunyi gemeletuk.
"Dia adalah musuhku." katanya dengan dingin sekali. Ciok
Giok Yin terbelalak.
"Musuh?"
"Tidak salah."
"Bagaimana kejadian awalnya?"
"Kau terlampau banyak bertanya."
Ciok Giok Yin langsung diam, namun berkata heran dalam
hati. 'Bagaimana murid bisa menjadi musuh? Sungguh aneh
sekali!'
"Hmmm!" Orangtua aneh itu mendengus. "Lima lohu pun
bukan lawannya."

Mulut Ciok Giok Yin ternganga lebar seketika. Dia menatap
seperti dengan mata terbeliak.
"Bocah, ketika aku mulai mengajarmu ilmu kungfu, aku sudah
bilang akan tukar syarat. Oleh karena itu, kini sudah waktunya
kau memenuhi syaratku."
"Mohon lo cianpwee memberitahukan apa syarat itu!"
"Syaratku kau harus membunuh orang."
Ciok Giok Yin tersentak, dan air mukanya langsung berubah.
"Membunuh orang?"
"Sungguh merupakan urusan sulit! Sebab membunuh orang
adalah perbuatan jahat."
Ketika baru mulai belajar kungfu, Ciok Giok Yin cuma berpikir
ingin membalas orang-orang yang pernah menghinanya, tidak
pernah terlintas dalam benaknya akan membunuh orang. Kini
Sang Ting It Koay membuka mulut menyuruhnya pergi
membunuh orang, itu sungguh menyulitkannya.
"Tidak salah, membunuh orang!" sahut Sang Teng It Koay
dengan dingin.
"Membunuh siapa?"
"Kang Ouw Pat Kiat (Delapan Pendekar Sejati Dunia
Persilatan)."
"Mereka orang baik atau orang jahat?"
"Melihat keuntungan melupakan budi luhur, itu tergolong
orang yang amat jahat."
Mendengar itu, Ciok Giok Yin tidak banyak berpikir lagi.
"Mohon lo cianpwee memberitahukan nama mereka!"
katanya.

Pada dasarnya Ciok Giok Yin memang amat membenci orang
semacam itu, maka dia ingin membasmi mereka.
"Sekarang kau harus pergi membunuh Khiam Sim Hweshio,
ketua Kuil Put Toan Si. Setelah itu, kau balik kemari
memberitahukan padaku, lalu pergi cari orang lain." sahut
Sang Ting It Koay.
"Apakah Khiam Sim Hweshio adalah salah satu di antara Kang
Ouw Pat Kiat?"
"Ng!"
"Di mana kuil Put Toan Si itu?"
"Di daerah Ngo Pak. Dari sini ke sana berjarak seratus mil
lebih."
"Bagaimana dengan hweshio-hweshio lain?"
"Mereka tiada dendam apapun dengan lohu, maka kau tidak
boleh membunuh mereka. Tapi Kau harus membunuh Khiam
Sin Hweshio."
Setelah mendengar itu, dalam hati Ciok Giok Yin timbul suatu
kemarahan besar, sepertinya melihat Sang Ting Koay
dikeroyok di puncak Gunung Muh San oleh Kang Ouw Pat
Kiat. Wajahnya yang tampan itu langsung diliputi hawa
membunuh yang amat berat. Kemudian Ciok Giok Yin
membungkukkan badannya dan menjura.
"Su..." katanya.
Maksudnya ingin memanggil suhu, namun cepat-cepat
diubah, sebab Sang Ting It Koay tidak tahu mau dipanggil
suhu.
"Lo cianpwee tunggu beritaku!"
Usai berkata. Dia segera melesat pergi, tapi mendadak Sang

Ting It Kong berseru.
"Kembali!"
Ciok Giok Yin langsung kembali ke hadapan Sang Ting It Koat.
"Lo cianpwee masih ada pesan lain?"
Sang Ting It Koay tampak berpikir keras.
"Ini pertama kali kau keluar, selanjutnya kau akan sering
keluar," sahutnya sesaat kemudian.
Ciok Giok Yin mengangguk.
"Ya. Aku harus memenuhi harapan lo cianpwee."
"Kelak kalau kau berkelana dalam rimba persilatan, tentu
akan mendengar tentang suatu benda pusaka rimba persilatan,
yaitu Gin Tie (Seruling Perak)."
"Gin Tie?"
"Ng!"
"Sesungguhnya itu merupakan pusaka apa?"
"Benda pusaka peninggalan Han Siang Cu."
"Apa gunanya benda pusaka itu?"
"Kini belum waktunya menceritakannya."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kalau kau menemukan benda itu, atau mendengar tentang
jejaknya, maka kau harus berupaya agar memperolehnya.
Setelah itu, kau harus pergi mencari keturunan Hai Thian
Tayhiap-Ciok Khie Coan, dan menyerahkan Gin Tie tersebut
padanya."

Ciok Giok Yin tertegun mendengar itu, karena merupakan
kedua kalinya dia mendengar Gin Tie tersebut harus diserahkan
kepada keturunan Hai Thian Tayhiap-Ciok Khie Goan. Apakah
seruling perak itu amat penting bagi keturunan keluarga Ciok
tersebut?
Karena memikirkan itu, membuatnya lupa akan
pembicaraannya dengan Sang Ting It Koay. Sedangkan Sang
Ting It Koay menatapnya dengan heran.
"Bocah, pernahkah kau mendengar tentang Gin Tie itu?"
Ciok Giok Yin tersentak sadar.
"Aku pernah dengar."
"Dengar dari siapa?"
"Phing Phiauw Khek."
"Phing Phiauw Khek?"
"Ya."
"Apa katanya?"
"Seperti apa yang dikatakan lo cianpwee barusan."
"Kalau begitu, kau harus berupaya mendapatkan Gin Tie itu.
Sekarang pergilah!"
Ciok Giok Yin tidak segera pergi.
"Di mana tempat tinggal keturunan keluarga Ciok itu?"
"Kau boleh menyelidiki sendiri."
Ini pun merupakan urusan sulit, sebab dunia sedemikian luas,
tidak tahu nama dan alamat, bagaimana mungkin mencarinya?
Lagipula harus kemana mencari Seruling Perak itu? Walau dia
akan berupaya semaksimal mungkin, namun tetap akan sia-sia
belaka. Itu bagaimana nanti saja. Pikir Ciok Giok Yin, lalu

melesat pergi. Di lembah Tok Coa Kok hanya terdapat sebuah
jalan setapak, orang keluar masuk harus melalui jalan setapak
itu. Di kanan kiri jalan setapak itu, terdapat tebing yang amat
tinggi dan berlumut. Apabila di hadapan ada orang ingin
masuk, maka salah seorang harus mengalah ke samping,
sebab jalan itu sulit dilalui dua orang. Oleh karena itu, lembah
Tok Coa Kok menjadi terlarang bagi kaum rimba persilatan,
sebab siapa yang ingin cari mati dilembah tersebut?
Sementara Ciok Giok Yin terus melesat di jalan setapak itu,
tampak bayangannya berkelebat kelebat. Tak lama kemudian,
dia sudah berada di luar lembah. Saking gembiranya dia bersiul
panjang. Bukan main nyaringnya suara siulannya, mengejutkan
burung-burung yang bertengger di dahan, sehingga burungburung
itu langsung beterbangan, karena ketakutan.
Malam harinya, tampak seorang pemuda berdandan seperti
pemuda desa, berjalan santai mendaki gunung. Ternyata di
atas gunung itu terdapat kuil Put Toan Si. Jalan menuju kuil
tersebut agak berliku-liku. Langkah pemuda desa itu kelihatan
santai. Namun ternyata jalannya cepat sekali, membuktikan
bahwa dia memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi. Meskipun
pemuda itu berpakaian kasar, tapi wajahnya tampan sekali.
Anak gadis manapun yang melihatnya, pasti akan jatuh hati
padanya.
Berselang beberapa saat, pemuda itu sudah mendekati Kuil
Put Toan Si. Dia mendongakkan kepala. Dilihatnya di atas pintu
kuil terdapat sebuah papan bertulisan 'Put Toan Si' Setelah
membaca huruf-huruf itu, sepasang matanya langsung
menyorot tajam, dan wajahnya diliputi hawa membunuh. Siapa
pemuda itu? Tidak lain adalah Ciok Giok Yin. Dia kemari ingin
membalas dendam Sang Ting It Koay. Ciok Giok Yin berjalan ke
kuil itu melalui undakan batu. Baru saja dia melewati beberapa
undakan, mendadak muncul tiga orang hweshio.
"Kuil kami sedang mulai pelajaran malam, harap sicu segera
turun gunung!" kata salah seorang dari mereka. Ciok Giok Yin
menatap hweshio itu dengan tajam.

"Apa hubungannya pelajaran malam kalian dengan diriku?"
"Peraturan kuil kami, melarang tamu masuk ke dalam kuil di
malam hari," sahut Hwee Shio itu.
"Apakah tidak leluasa bagi orang yang menyucikan diri?'
"Harap sicu mengerti!"
Sembari berkata, Ciok Giok Yin berjalan lagi.
"Kau berani masuk dengan cara paksa?" kata hwee shio itu
dengan suara dalam. Sedangkan dua hweshio lainnya, menatap
Ciok Giok Yin dengan bengis.
"Memangnya kenapa? Apalah di dalam kuil kalian terdapat
suatu rahasia?" sahut Ciok Giok Yin.
"Bocah! Kau memang sudah bosan hidup, berani kemari cari
gara-gara!"
Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin dipanggil 'Bocah'! Sebelah
tangannya langsung bergerak. Plak! Ternyata Ciok Giok Yin
telah menampar hweshio itu, membuat mata hweshio itu
berkunang-kunang.
"Bagaimana seorang hweshio boleh bermulut demikian
kasar?" katanya dengan dingin.
Akan tetapi, ketiga hweshio itu justru gusar sekali.
"Bocah, kau berani memukul orang? bentak mereka serentak.
Ketiga mereka menyerang Ciok Giok Yin dengan serentak pula.
Ciok Giok Yin tidak mau meladeni mereka bertiga, sebab Sang
Ting It Koay telah berpesan padanya, jangan membunuh
hweshio lain, kecuali Khiam Sim Hwee shio. Oleh kerena itu,
Ciok Giok Yin cuma berkelit, sekalipun menerobos ke kuil.
Dalam waktu sekejap, dia sudah memasuki kuil tersebut. Ciok
Giok Yin menuju ruang ketua, karena yang dicarinya adalah

Khiam Sim Hweshio, ketua Kuil Put Toan Si ini. Ketika dia
sedang menuju ruang ketua, mendadak muncul lima hweshio
menghadang di depannya. Menyusul pula tiga hweshio di
belakangnya.
"Hadang dia!" seru ketiga hweshio itu. Ciok Giok Yin berhenti,
lalu menatap para hweshio itu dengan dingin sekali.
"Bolehkah kami tahu nama sicu?" tanya salah satu hweshio
yang berdiri di hadapannya dengan suara dalam.
"Ciok Giok Yin."
"Ada urusan apa, bolehkah sicu memberitahukan, agar kami
melapor pada ketua?"
"Kau tidak pantas."
Sahutan Ciok Giok Yin yang amat ketus, membuat hweshio
itu menjadi naik darah.
"Kau kemari sengaja cari gara-gara?" bentaknya sambil maju
dua langkah.
"Boleh dikatakan demikian."
Seketika terdengar suara seruan serentak.
"Habisi dia!"
"Yang merasa bosan hidup, boleh cari mati!" sahut Ciok Giok
Yin. Bukan main gusarnya para hweshio itu! Mereka mengepal
tinju sambil menatap Ciok Giok Yin dengan bengis. Ciok Giok
Yin juga menatap mereka dengan dingin.
"Kalian tidak percaya, silakan coba!" katanya sepatah demi
sepatah. Salah satu hweshio, langsung menyerang Ciok Giok
Yin dengan jurus Thay San Ap Teng (Gunung Thay San
Menindih Atap). Ciok Giok Yin mendengus dingin.
"Hmmm!" kemudian membentak. "Cari mati!"

Memdadaka dia menjulurkan sebelah tangannya. Seketika
terdengar suara jeritan, ternyata hweshio itu telah roboh dan
nafasnya pun sudah putus. Hati Ciok Giok Yin tersentak dan
membatin. 'Aku... sudah membunuh orang....'
Sesungguhnya dia berhati bajik, hanya saja sering dihina dan
dipukuli orang, maka di dalam hatinya terukir rasa benci.
Namun, dia tidak berniat membunuh orang. Kali ini dia datang
di kuil Put Toan Si mencari Khiam Sim Hweshio, hanya demi
membalas budi kebaikan Sang Ting It Koay yang telah
menyelamatkan nyawanya, bahkan juga mengajarkan ilmu
silat. Oleh karena itu, lawannya sudah pasti Khiam Sim
Hweshio. Tapi kini dia justru kelepasan tangan membunuh
seorang hweshio lain sehingga membuat hatinya tersentak.
Ciok Giok Yin sama sekali tidak menduga, bahwa hweshio itu
begitu tak berguna sama sekali. Padahal tadi dia cuma
menggunakan delapan bagian tenaganya, namun malah
membunuh hweshio tersebut, itu sungguh diluar dugaannya. Di
saat hweshio itu roboh, hweshio-hweshio lain, langsung
berseru serentak.
"Soan Hoang Ciang (Ilmu Pukulan Angin Puyuh)!"
Ketika suara seruan itu sirna, terdengar pula suara pujian
pada Sang Budha di belakang Ciok Giok Yin.
"Omitohud!"
Tampak seorang hweshio tua melayang turun. Badannya
tinggi besar dan sepasang matanya bersinar terang. Begitu
hweshio tua itu muncul, para hweshio segera memberi hormat
padanya.
"Sicu ini masuk secara paksa, ingin bertemu ketua," kata
salah seorang dari mereka. Tidak salah lagi, hweshio menatap
Ciok Giok Yin.
"Apa maksud sicu kecil memhunuh orang di sini?" katanya
perlahan. Ciok Giok Yin menatapnya dingin.

"Siapa kau?"
"Khiam Sim Hweshio."
"Kau adalah Khiam Sim?"
"Tidak salah."
Wajah Ciok Giok Yin langsung diliputi hawa membunuh.
"Khiam Sim! Apakah kau telah melupakan peristiwa empat
belas tahun yang lalu di puncak Gunung Muh San?" bentaknya
keras.
Khiam Sim Hweeshhio tersentak ketika mendengar
pertanyaan Ciok Giok Yin itu.
"Siapa kau?" katanya dengan suara dalam.
"Murid Sang Ting It Koay.... Ciok Giok Yin!"
"Mau apa kau kemari?"
"Menagih hutang!"
"Hutang padamu!"
"Hutang pada suhuku!"
Khiam Sim Hweshio tertawa gelak.
"Sicu kecil, kau mengada-ada dan berdusta! Entah kau
dengar dari mana, lalu kemari mencariku! Perlu kau ketahui,
mungkin saat ini tulang Belulang Sang Ting It Koay sudah
tiada! Kau berani kemari cari gara-gara, lebih baik menurutku
agar hukumanmu menjadi agak ringan!"
"Khim Sim, serahkan nyawamu!" bentak Ciok Giok Yin.
Badan pemuda itu bergerak cepat, begitu pula sepasang

tangannya. Terdengar suara yang menyayat hati, dan tampak
darah segar bercucuran. Ternyata Khiam Sim Hweshio telah
roboh binasa, kepalanya pecah, darah dan otak berhamburan
ke mana-mana. Setelah berhasil membunuh Khiam Sim
Hweshio, Ciok Giok Yin bersiul panjang. Tampak bayangannya
berkelebat, dia melesat pergi meninggalkan Kuil Put Toan Si,
dan dalam sekejap sudah hilang di bawah sinar rembulan.
Para hweshio Kuil Put Toan Si, semuanya masih menggigil
ketakutan. Tidak disangka pemuda yang belum berusia dua
puluh, hanya dalam satu jurus sudah berhasil membunuh
Khiam Sim Hweshio, salah satu Kang Ouw Pat Kiat yang amat
terkenal itu.
Di saat Ciok Giok Yin melesat pergi, terlihat sosok bayangan
hitam berkelebat ke atap kuil itu. Dia mendengar pembicaraan
para hweshio, dan menyaksikan keadaan di kuil itu. Setelah
memahami semuanya, barulah dia melesat pergi.
Keesokan harinya berita itu sudah tersebar luas di dunia
persilatan. Karena itu, nyali Kang Ouw Pat Kiat menjadi ciut,
mereka selalu tercekam rasa tegang dan takut. Mereka sama
sekali tidak menyangka, bahwa bukan hanya Sang Ting It Koay
yang belum mati, bahkan muncul muridnya menuntut
balas. Sementara Ciok Giok Yin terus melesat menuju Lembah
Tok Coa Kok.
Tiba-tiba teringat akan peta Si Kau Hap Liok Touw pemberian
Ho Siu Kouw. Sejak menyimpan peta tersebut, dia tidak pernah
melihatnya. Mengapa tidak melihat sekarang? Sebetulnya peta
itu asli atau palsu? Karana berpikir demikian, Ciok Giok Yin
segera berhenti, kemudian merogoh ke dalam bajunya. Dia
mengeluarkan peta itu yang masih terbungkus sapu tangan.
Berhubung dia pernah merendam dirinya di dalam sumur susu
bumi, maka peta kulit kambing itu masih agak basah.
Dengan hati-hati sekali dia membuka peta tersebut, ternyata
peta itu bergambar sembilan buah patung Buddha. Setiap
gambar patung Budha itu terdapat tulisan 'Sembilan' Namun
salah satu diantara gambar-gambar patung Buddha itu amat
besar dan aneh, juga terdapat tulisan 'Sembilan' Ciok Giok Yin
tidak paham sama sekali.

Ketika dia baru ingin membuang peta itu, tiba-tiba hatinya
tergerak. Niat membuang peta itu dibatalkannya, lalu peta
tersebut dibungkus kembali dengan sapu tangan, dan disimpan
ke dalam bajunya. Sesungguhnya peta tersebut sudah agak
berlubang-lubang, lantaran terlalu sering terendam di dalam
sumur susu bumi. Namun, Ciok Giok Yin memiliki ingatan yang
kuat. Apa yang dilihatnya dalam peta itu, kini telah berpindah
ke dalam otaknya.
Ciok Giok Yin terus melesat menuju Lembah Tok Coa Kok.
Berselang beberapa saat, dia sudah memasuki lembah itu, dan
langsung menuju ke dalam goa. Dia melihat Sang Ting It Koay
duduk di atas batu api, mengiranya sedang bersemedi. Maka
Ciok Giok Yin tidak berani bersuara, cuma berdiri di sisinya
menunggunya usai bersemedi. Akan tetapi sudah satu jam dia
menunggu, Sang Ting It Koay tetap diam dan matanya terus
terpejam. Ciok Giok Yin merasa heran, kemudian
memperhatikan Sang Ting It Koay.
Seketika sekujur badannya bergemetar. Rasa duka pun timbul
mendadak, akhirnya dia menangis sedih. Ternyata Sang Ting It
Koay telah meninggal, padahal Ciok Giok Yin pergi cuma
setengah hari, tapi Sang Ting It Koay sudah tidak sempat
menunggu kabar berita baik itu. Setahun lebih Ciok Giok Yin
bersama Sang Ting It Koay, maka timbul suatu cinta kasih di
antara mereka berdua. Ciok Giok Yin terus menangis hingga
serak suaranya.
"Suhu, meskipun kau melarangku memanggilmu suhu, namun
dalam hatiku tetap menganggapmu sebagai suhu. Maka biar
bagaimana, aku pasti akan memenuhi harapan suhu. Aku...
sudah membunuh Khiam Sim Hweshio, harap suhu dapat
tenang di alam baka, aku pasti mencari yang lain."
Ciok Giok Yin terus menangis. mendadak dia baru ingat, siapa
Kang Ouw Pat Kiat yang lain. Sang Ting It Koay cuma
memberitahukan Khiam Sim Hweshio, tidak memberitahukan
yang lain, lalu selanjutnya harus pergi cari siapa? Oleh karena
itu, Ciok Giok Yin berhenti menangis. Dia menghapus air
matanya, sambil bangkit berdiri. Beberapa saat dia berdiri

termangu-mangu, namun tiba-tiba hatinya tergerak lalu dia
berkata.
"Kang Ouw Pat Kiat amat terkenal di dunia persilatan. Apabila
aku berkelana di dunia persilatan, bukankah aku bisa mencari
informasi tentang mereka?" katanya.
Setelah itu hatinya terasa lega, pasti dapat membalas
dendam suhunya kelak. Kini yang harus dilakukannya, pasti
mengubur mayat suhunya. Ciok Giok Yin segera menggali
sebuat lubang, kemudian mengubur mayat suhunya di dalam
lubang itu. Akan tetapi, ketika dia mengangkat mayat suhunya,
justru melihat sebuah kitap tipis dan beberapa tael uang perak
di atas batu api.
Seusai mengubur mayat suhunya, barulah Ciok Giok Yin
mengambil kitab tipis itu, ternyata berisi riwayat hidup Sang
Ting It Koay dan nama-nama Kang Ouw Pat Kiat. Terakhir
terdapat beberapa baris tulisan berbunyi demikian. 'Ingat! Kau
harus berupaya mencari Seruling Perak dan sebuah kitab Cu
Cian! Apabila kau tidak berhasil mencari keturunan keluarga
Ciok itu, maka kau harus mempelajari ilmu silat yang
tercantum di situ, agar dapat membersihkan pintu
perguruanku! Murid murtad itu bernama Chiu Tiong Thau! Dan
kau harus ingat satu hal, kita bukan guru dan murid,
aku....' Tulisan habis sampai di situ. Mungkin Sang Ting It Koay
sudah tidak kuat menulis lagi, akhirnya menghembuskan nafas
terakhir.
Ciok Giok Yin memegang kitap tipis itu dengan air mata
berderai-derai.
"Suhu, biar bagaimanapun aku tetap menganggapmu sebagai
suhu."
Dia menyimpan kitab tipis itu ke dalam bajunya, lalu
memandang ke sekeliling goa itu sejenak. Setelah itu, barulah
dia meninggalkan goa tersebut. Sampai di luar, dia
memandang ke atas. Yang tampak kabut tebal. Entah berapa
tinggi tebing itu. Sebetulnya dia ingin naik ke atas dengan cara
memanjat tebing itu. Namun dia tidak tahu berapa tinggi
tebing tersebut, lagi pula kalau kurang hati-hati, mungkin akan

terpeleset jatuh.
Akan tetapi, biar bagaimanapun dia harus naik ke atas, sebab
dia ingin berangkat ke Goa Toan Tong untuk menengok Ho Siu
Kouw. Dia yakin dengan lwee kang yang dimilikinya sekarang,
dirinya mampu memutuskan rantai besi itu. Tidak peduli gadis
itu menghadiahkan peta asli palsu, yang jelas dia harus
menolongnya.
Usai berpikir begitu, dia menarik nafas dalam-dalam
mengerahkan lwee kangnya. Seketika tampak badannya
melambung ke atas menembus kabut tebal, kemudian hinggap
di dinding, dan mulai merayap ke atas dengan hati-hati
sekali. Akhirnya dia berhasil sampai di atas. Dia berdiri
termangu-mangu di pinggir jurang. Setahun yang lalu, garagara
Bu Lim Siu, dia terjatuh ke dalam jurang itu. Teringat
akan Bu Lim Sam Siu, timbul pula kegusarannya sehingga
membuat berkertak gigi. Ciok Giok Yin mengambil keputusan
untuk ke Goa Toan Tong dulu, setelah itu barulah ke
perkampungan Tong Keh Cuang menengok Bwee Han Ping.
Dia harus melaksanakan rencananya itu, maka mendadak
badannya bergerak melesat pergi. Berselang beberapa saat,
dia sudah berada di depan Goa Toan Teng Tong. Tanpa banyak
pikir lagi, dia langsung masuk ke goa itu. Namun begitu masuk,
matanya terbelalak, ternyata di dalam goa itu tergeletak
belasan mayat, semua pecah kepalanya sehingga tampak amat
mengenaskan. Akan tetapi, justru tidak tampak bayangan Ho
Siu Kouw. Mengenai peti mati merah, juga tidak kelihatan,
tiada jejak sama sekali. Mungkin dia masih berada di balik
dinding batu, karena itu Ciok Giok Yin segera mengerahkan
lwee kangnya, lalu menghantam dinding batu tersebut.
Maksudnya ingin menghancurkan dinding batu itu dengan
pukulan. Sebab asal dinding batu itu hancur, pasti akan
menemukan Ho Shin Kouw.
Blam!
Terdengar suara benturan yang amat keras memekakkan
telinga, debupun beterbangan, sedangkan Ciok Giok Yin
termundur satu langkah. Akan tetapi, setelah debu-debu
hilang, dinding batu itu masih tampak seperti semula. Pukulan

yang dilancarkan Ciok Giok Yin paling sedikit berkekuatan
ratusan kati. Namun, dinding batu itu tidak hancur maupun
rusak atau berlubang, sebaliknya Ciok Giok Yin malah merasa
lengannya sakit sekali.
Bukan main penasarannya Ciok Giok Yin! Dia memperhatikan
dinding itu, ternyata bukan batu, melainkan terbuat dari besi
yang amat tebal. Ciok Giok Yin termangu-mangu, menatap
dinding besi itu dengan kening berkerut-kerut. Mendadak
terdengar suara bentakan nyaring dan amat dingin di
belakangnya.
"Jangan bergerak!"'
Seketika sekujur badannya menjadi merinding. Di dalam goa
yang menyeramkan ini, justru mendadak terdengar suara
bentakan yang amat dingin. Di saat bersamaan, sebuah jari
menyentuh punggungnya, dan terdengar suara ancaman.
"Apabila kau bergerak, aku pasti menghabisimu!"
Ciok Giok Yin memiliki sifat keras, kemudian ikut Sang Ting It
Koay setahun lebih, maka ketularan sifat anehnya pula. Oleh
karena itu, ketika mendengar suara tersebut, dia bergerak
cepat laksana kilat melesat ke depan, sekaligus membalikkan
badannya.
Begitu melihat orang itu, seketika juga Ciok Giok Yin
mengeluarkan suara 'lh'. Demikian pula orang itu, ketika
melihat Ciok Giok Yin, juga mengeluarkan suara 'Ih'. Siapa
orang itu? Ternyata Heng Thian Ceng, wanita buruk rupa yang
pernah bertemu Ciok Giok Yin setahun yang lalu.
Heng Thian Ceng sama sekali tidak menduga, pemuda yang
berada di hadapannya itu Ciok Giok Yin. Maka, membuatnya
tertegun, menatap Ciok Giok Yin dengan mata terbeliak lebar.
Suasana di tempat itu seketika berubah menjadi
hening. Sekilas wajah Heng Thian Ceng tampak berseri.
"Bocah, cepat serahkan!" katanya dengan dingin.
Ciok Giok Yin tertegun. Namun kemudian terpikir olehnya

bahwa wanita buruk rupa itu menghendaki peta Si Kauw Hap
Liok Touw. Tidak perduli peta itu asli atau palsu, pokoknya
tidak akan diserahkan kepada Heng Thian Ceng.
"Serahkan apa?"
"Seruling Perak!"
"Apa? Seruling Perak?"
Untuk ketiga kalinya Ciok Giok Yin mendengar Seruling Perak
tersebut. Sungguh tak disangka wanita buruk rupa ini pun
sedang mencari Cu Cian. Heng Thian Ceng mengangguk.
"Ng!"
"Aku tidak pernah melihat Seruling Perak atau Seruling
Emas," kata Ciok Giok Yin. Wajah Heng Thian Ceng berubah
menjadi dingin. Sepasang matanya menyorot tajam menatap
Ciok Giok Yin sambil maju selangkah.
"Bocah, kau berani menyangkal? Orang-orang ini adalah
bukti!" bentaknya sambil menunjuk mayat-mayat yang
tergeletak. "Tak disangka dalam waktu setahun, kau telah
berhasil menguasai kungfu tinggi!"
"Bagaimana kau tahu aku yang mengambilnya?" tanya Ciok
Giok Yin.
"Kalau bukan kau lalu siapa?"
"Kau melihat itu?"
"Mayat-mayat di sini adalah saksi. Cepat serahkan! Urusan di
antara kita berdua jadi beres, kalau tidak...."
"Bagaimana?"
"Dua urusan akan diperhitungkan sekaligus!"
"Urusan apa?"

"Tahun kemarin kau membohongiku, katamu peta Si Kauw
Hap Liok Touw berada pada Bu Lim Sam Siu! Walau aku belum
bertemu mereka bertiga, namun mendengar kabar berita di
rimba persilatan, peta itu berada di tanganmu!"
Heng Thian Ceng berhenti sejenak, menatap Ciok Giok Yin
seraya melanjutkan.
"Sekarang asal kau serahkan Seruling Perak itu padaku, tidak
menghendaki peta itu lagi!"
Ciok Giok Yin mendengus dingin.
"Hmm! Aku justru ingin bertanya satu hal padamu!"
"Katakan!"
"Kapan kau kemari?"
"Barusan!"
"Aku kemari cuma lebih cepat sepeminum teh darimu...."
"Selain kau tiada orang lain!"
"Kalau begitu, kau yakin aku yang mengambilnya?"
"Tidak salah!"
Bukan main gusarnya Ciok Giok Yin!
"Jangan memfitnah dan jangan bermulut besar!" katanya
dengan lantang.
"Pasti kau! Tahukah kau siapa aku?"
"Heng Thian Ceng!"
"Tahukah kau mengenai peraturanku?"

"Peraturan apa?"
"Aku ingin membunuh semua kaum lelaki di kolong langit!"
"Hmm! Tidak salah kataku, kau memang bermulut besar!"
Ketika Ciok Giok Yin sedang berkata, sepasang mata Heng
Thian Ceng memandang ke arah dinding batu. Ternyata pada
dinding batu itu terdapat sebaris tulisan. 'Gin Tie... Liok Hap
Kun'
Usai membaca, Heng Thian Ceng juga mengeluarkan suara.
"Iiih!"
Ciok Giok Yin tercengang, lalu segera memandang ke sana.
Begitu melihat tulisan itu, dia langsung membacanya.
"Gin Tie, Liok Hap Kun."
Heng Thian Ceng juga bergumam.
"Liok Hap Kun, Liok Hap Kun."
"Siapa?"
"Nama ini, aku tidak pernah mendengarnya."
Mendadak Heng Thian Ceng berkata dengan suara rendah.
"Ada orang datang, cepat bersembunyi!"
Badan Heng Thian Ceng bergerak cepat, dan dalam sekejap
sudah menghilang. Ciok Giok Yin terbelalak. Ternyata dia tidak
tahu Heng Thian Ceng bersembunyi di mana, bahkan juga tidak
melihatnya. Hati Ciok Giok Yin menjadi dingin. Dia tidak
menyangka bahwa wanita buruk rupa itu memiliki ginkang
yang begitu tinggi. Di saat badan Heng Thian Ceng berkelebat
menghilang, dalam waktu bersamaan masuklah tiga orang
aneh.

Ketiga orang itu, boleh dikatakan mirip tiga sosok mayat.
Sepasang mata mereka tidak berkedip, terus menatap ke atas
dinding batu. Mereka sama sekali tidak memperdulikan
keberadaan Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin merinding dan
berpikir, hari ini begitu banyak orang datang di Goa Toan Teng
Tong, tentunya demi sebatang Seruling Perak. Kemudian ketiga
orang aneh itu saling memandang. Mendadak masuk lagi
seorang aneh kurus kecil. Dia membalikkan badannya menatap
Ciok Giok Yin, seraya bertanya dengan suara parau.
"Siapa kau?"
Ciok Giok Yin langsung balik bertanya dengan nada yang
sama.
"Siapa kau?"
"Sou Bin Koay Siu (Orang Aneh Wajah Kurus), sebetulnya
siapa kau?"
"Ciok Giok Yin!"
"Cepat serahkan!"
"Serahkan apa?"
"Gin Tie!"
"Kau buta huruf?" tanya Ciok Giok Yin sambil menunjuk
dinding batu. Sou Bin Koay Siu-Sang Ceh Cing memandang ke
arah dinding batu yang ditunjuk Ciok Giok Yin. Seketika
wajahnya tampak tertegun. Namun kemudian sepasang
matanya menyorot tajam, menatap Ciok Giok Yin seraya
membentak,
"Bocah, kau berani macam-macam?" Dia menoleh ke arah
tiga orang aneh itu. "Tangkap dia!" serunya lantang. Salah
seorang aneh, langsung menerjang ke arah Ciok Giok Yin.
"Berani kau?" bentak Ciok Giok Yin menguntur.

Mendadak dia mengibaskan tangannya. Kibasan yang penuh
mengandung lwee kang. Dapat dibayangkan, betapa kuatnya
kibasan tangannya itu.
Bum!
Terdengar suara benturan dahsyat, orang aneh itu roboh
seketika.
Akan tetapi, sungguh menakjubkan! Ternyata orang aneh itu
bangkit berdiri lagi, kemudian menyerang Ciok Giok Yin dengan
sepasang tangannya. Ketika roboh, orang aneh itu sama sekali
tidak menjerit, kelihatannya seperti orang gagu. Di saat
bersamaan, Sou Bin Koay Siu membentak.
"Mundur!"
Orang aneh itu langsung mundur, sedangkan Sou Bin Koay
Siu maju menyerang Ciok Giok Yin dengan tiga pukulan. Bukan
main cepatnya gerakan Sou Bin Koay Siu! Ketiga pukulan itu
dilancarkan dengan sekaligus, bahkan amat dahsyat pula,
membuat Ciok Giok Yin terdesak mundur beberapa
langkah. Akan tetapi, mendadak Sou Bin Koay Siu meloncat ke
belakang.
"Bocah, ada hubungan apa kau dengan Sang Ting It Koay?"
"Tidak perlu kuberitahukan!"
Sou Bin Koay Siu maju selangkah.
"Kau tidak mau beritahukan?" bentaknya sambil melancarkan
sebuah pukulan ke arah Ciok Giok Yin. Pemuda itu memang
berkepandaian tinggi, cuma sayang kurang berpengalaman.
Maka dia terdesak mundur, ketika Ciok Giok Yin hampir
kena. Namun mendadak terdengar bentakan keras.
"Berhenti!"
Sou Bin Koay Siu-Sang Ceh Cing langsung mencelat ke
belakang, ke arah datangnya suara bentakan. Seketika sekujur
badannya merinding, sehingga tanpa sadar dia berseru.
"Heng Thian Ceng!"

"Tidak salah, matamu masih belum lamur!"
"Kau kemari demi Gin Tie?"
"Betul terkaanmu!"
"Kau sudah memperolehnya?"
"Kau kok cerewet amat? Cepat enyah!"
Sou Bin Koay Siu sudah sekian tahun terkenal di dunia
persilatan, bagaimana mungkin dia dapat menelan penghinaan
ini? Namun nama besar Heng Thian Ceng telah membuat ciut
nyalinya, sehingga tanpa sadar dia menyurut mundur
selangkah.
Akan tetapi, dia sama sekali tidak berniat meninggalkan goa
itu.
Mendadak badan Heng Thian Ceng bergerak, ternyata dia
maju dua langkah ke hadapan Sou Bin Koay Siu.
"Kau masih belum mau enyah?" bentaknya. Sou Bin Koay Siu
mundur dua langkah sambil melirik Ciok Giok Yin.
"Aku mau bawa bocah ini pergi!" katanya.
Heng Thian Ceng langsung melotot mendengar itu.
"Jangan kentut di sini, dia punyaku! Cepat enyah dari sini!"
bentaknya gusar. Sou Bin Koay mendelik ke arah Ciok Giok Yin,
lalu memberi isyarat pada ketiga orang aneh itu.
"Mari kita pergi!"
Sou Bin Koay Siu dan ketiga orang aneh itu segera
meninggalkan goa, dan dalam sekejap sudah tidak
kelihatan. Heng Thian Ceng menoleh memandang Ciok Giok
Yin.
"Bocah, hari ini aku melepaskanmu! Tapi kelak kalau kita
bertemu lagi, mungkin aku akan membunuhmu, pergilah!"

"Mengapa kau ingin membunuhku?"
"Tidak kenapa-kenapa!"
"Tentunya ada alasan!"
"Tiada alasan sama sekali, hanya tergantung pada
kemauanku!"
"Apakah itu alasanmu?"
"Boleh dikatakan demikian, sebelum pikiranku berubah, lebih
baik kau cepat-cepat pergi!"
Sebetulnya Ciok Giok Yin tidak mau dengar, namun setelah
berpikir sejenak, dia pun meninggalkan goa tersebut. Karena di
dalam goa itu tidak ada Ho Siu Kouw, lalu untuk apa lama-lama
di situ? Ciok Giok Yin melesat ke luar. Berselang beberapa saat
kemudian, dia merasa agak lelah. Karena itu, dia duduk
beristirahat di atas sebuah batu. Tak seberapa lama, rasa
lelahnya sudah hilang. Ketika dia membuka matanya, seketika
terbelalak, ternyata di sekelilingnya telah berdiri dua puluh
orang lebih kaum rimba persilatan, mengepungnya. Seorang
tua maju selangkah, lalu bertanya dengan suara parau.
"Kau bernama Ciok Giok Yin?"
"Tidak salah."
"Kau punya hubungan apa dengan Heng Thian Ceng?"
"Tidak ada!"
"Tidak ada?"
"Memangnya kenapa?"
"Kau harus berkata sejujurnya!"
"Harap Anda bicara lebih jelas!"

"Lohu adalah Sin Ciang (Pukulan Sakti) Yo Sian. Dengardengar
kau dan Heng Thian Ceng telah menemukan Seruling
Perak itu!"
Kini Ciok Giok Yin baru tahu, ternyata kemunculan mereka
karena Seruling Perak.
"Kalian dengar dari siapa?" katanya.
"Kau tidak usah tahu!"
Salah seorang tua maju ke depan.
"Tidak usah banyak bicara padanya," katanya dingin sambil
melancarkan sebuah pukulan ke arah Ciok Giok Yin. Sedangkan
Ciok Giok Yin sudah amat gusar karena didikte mereka,
lagipula tidak menduga orang tua itu akan menyerangnya. Dia
cepat-cepat menggeser badannya, sekaligus balas menyerang
dengan cepat.
Orang tua itu adalah ketua Heng San Pai bernama Kang Sun
Fang. Dia merasa serangan Ciok Giok Yin mengandung hawa
panas, maka tersentaklah hatinya dan langsung mencelat ke
belakang beberapa langkah. Ciok Giok Yin tidak tahu orang tua
itu jahat atau baik. Karena itu dia tidak mau sembarangan
membunuh, lagi pula kemunculan mereka cuma demi Seruling
Perak. Mendadak seorang pengemis tua maju ke depan dan
begitu melihat jelas Ciok Giok Yin, dia langsung mengeluarkan
suara.
"Ih? Kok kau?"
Ciok Giok Yin masih ingat, setahun yang lalu pengemis tua itu
dilukai perkumpulan Sang Yen Hwee. Justru tak disangka
berjumpa kembali dengan pengemis tua itu di sini.
"Paman pengemis!" serunya. Namun pengemis tua itu malah
mendengus.
"Hmm!" Setelah itu berkata. "Bocah, kita jangan

membicarakan urusan lama dulu! Tadi kau bilang tiada
hubungan apa-apa dengan Heng Thian Ceng?"
"Benar. Aku dan Heng Thian Ceng bertemu di dalam goa Toan
Teng Tong, sama sekali tidak punya hubungan apa-apa."
"Lalu kenapa dia melindungimu?"
Kini Ciok Giok Yin sudah paham, ternyata mereka tergosok
oleh Sou Bin Koay Siu.
"Mungkin berdasarkan keadilan rimba persilatan." serunya.
Sesungguhnya pengemis tua itu Te Hang Kay (Pengemis
Bumi) yang amat terkenal.
"Itu bukan alasan yang tepat!" katanya dingin. Mendengar itu,
timbullah rasa gusar dalam hati Ciok Giok Yin.
"Kalian mau bagaimana?" katanya dengan dingin dan ketus.
"Kau harus ikut aku pengemis tua!" sahut Te Hang Kay.
"Bagaimana kalau aku tidak mau?"
"Tentunya tidak bisa!"
Seketika maju empat orang, namun di saat bersamaan
terdengar suara siulan yang amat nyaring, dan tampak sosok
bayangan merah berkelebat laksana kilat lalu melayang turun
di tempat itu.
Orang-orang itu langsung merasa merinding dan hati mereka
menjadi dingin.
Jilid 04
Orang-orang yang berada di tempat itu, rata-rata kaum rimba
persilatan yang sudah terkenal. Namun mereka merasa
merinding akan kehadiran orang berpakaian merah. Orang itu

ternyata Heng Thian Ceng, wanita buruk rupa. Dia berdiri tegak
di samping Ciok Giok Yin. Sepasang matanya menyorot tajam,
memandang ke sekeliling.
"Kalian semua ingin berbuat apa?"
"Ingin menyelidiki satu urusan," sahut Sin Ciang Yo Sian.
"Urusan apa?"
"Jejak Seruling Perak."
"Kalian juga menghendaki Gin Tie itu?"
Sin Ciang Yo Sian tahu akan kelihayan Heng Thian Ceng,
apabila salah menjawab, nyawanya pasti akan
melayang. Karena itu, dia berpikir beberapa saat, setelah itu
baru menyahut.
"Lohu...."
Namun Heng Thian Ceng langsung membentak memotong
perkataannya.
"Kau berada di hadapan siapa menyebut dirimu 'Lohu' cepat
enyah!"
Begitu membentak, Heng Thian Ceng pun maju tiga langkah.
Walau Sin Ciang Yo Sian amat gusar dalam hati, tapi tidak
berani melampiaskannya. Dia melototi Ciok Giok Yin, lalu
melesat pergi tanpa menoleh lagi. Di saat bersamaan mereka
yang lain pun ikut melesat pergi, dalam sekejap mereka sudah
tidak kelihatan. Ciok Giok Yin segera memberi hormat pada
Heng Thian Ceng.
"Terimakasih, lo cianpwee!" ucapnya.
"Tidak usah berterimakasih, aku cuma demi dirimu yang
difitnah!" kata Heng Thian Ceng lalu menatap Ciok Giok Yin.
"Mereka bertanya apa padamu?"

"Hanya bertanya ada hubungan apa aku dengan lo cianpwee."
"Bagaimana kau menjawabnya?"
"Tidak ada hubungan apa-apa."
"Betul. Nah, sekarang kau boleh pergi."
Ciok Giok Yin membalikkan badannya, namun menoleh ke
belakang lagi seraya bertanya.
"Apakah lo cianpwee yang memperoleh Seruling Perak itu?"
"Apa maksudmu bertanya begitu?"
"Hanya...."
Ternyata Ciok Giok Yin melihat wajah wanita itu sudah diliputi
hawa membunuh, maka tidak berani melanjutkan
ucapannya. Akan tetapi mendadak Heng Thian Ceng berkata.
"Aku pernah bilang, kalau kelak kita berjumpa kembali,
mungkin aku akan membunuhmu. Kau masih ingat, bukan?"
Ciok Giok Yin menyahut angkuh. Ternyata sifat aneh Sang
Ting It Koay telah menular padanya.
"Kalau kau yang memperoleh Gin Tie itu, aku pasti berkata
jujur pada orang lain! Namun ketahuilah, mengenai Gin Tie itu,
aku pun harus memperolehnya!"
Heng Thian Ceng tertegun.
"Kau juga ingin merebutnya?" katanya.
"Tidak salah."
"Mau apa kau ingin memperoleh Gin Tie itu?"
"Lo cianpwee juga mau apa ingin memperoleh Gin Tie itu?"

"Untuk dihadiahkan pada orang."
Hati Ciok Giok Yin tergerak ketika mendengar ucapan itu.
"Dihadiahkan pada siapa?"
"Kau sudah terlampau banyak bertanya, pergilah!"
"Lo cianpwee belum memberitahukan padaku, apakah Gin Tie
itu berada pada lo cianpwee?"
"Bukankah tulisan pada dinding batu itu sudah menjelaskan?"
Sesaat Ciok Giok Yin terdiam, namun kemudian berkata.
"Aku telah difitnah oleh Sou Bin Koay Siu. Lo cianpwee harus
menaruh perhatian tentang itu."
Heng Thian Ceng manggut-manggut.
"Aku tahu!"
Setelah itu, dia pun melesat pergi bagaikan segumpal asap.
Dalam waktu sekejap sudah hilang dari pandangan Ciok Giok
Yin.
Sedangkan Ciok Giok Yin berdiri termangu-mangu. Dia tidak
habis pikir, mengapa Heng Thian Ceng selalu melindunginya?
Sungguh aneh! Berselang beberapa saat, barulah Ciok Giok Yin
melesat pergi.
Kini dalam benaknya, selain berisi dendam Sang Ting It Koay,
juga memikirkan Hou Siu Kouw, apakah ibunya telah kembali?
Dan bagaimana keadaan Bwee Han Ping? Saat ini dia tidak
tahu akan jejak Ho Siu Kouw, kalau begitu, tentunya harus
pergi menengok Bwee Han Ping. Apabila gadis itu aman tinggal
di rumah keluarga Tong, Ciok Giok Yin akan mulai menuntut
balas dendam Sang Ting It Koay.
Ketika melakukan perjalanan, mendadak dia teringat akan
kitab tipis peninggalan Sang Ting It Koay. Di dalam kitab itu
tercantum nama Kang Out Pat Kiat, salah seorang di antaranya

Tui Hong Sin Cian (Jenderal Sakti Pengejar Angin) Cu Ling Yun.
Tempat tinggalnya tidak jauh, yaitu perkampungan Hong Yun
Cuang. Mengapa tidak berangkat ke sana dulu'? Ciok Giok Yin
langsung melesat bagaikan kilat menuju perkampungan Hong
Yun Cuang.
Jarak ke perkampungan tersebut tidak begitu jauh. Maka
berselang beberapa saat kemudian, sudah tampak halaman
perkampungan tersebut yang amat luas. Di bawah matahari
senja, tampak beberapa huruf di tembok perkampungan
tersebut, 'Hong Yun Cuang'. Ciok Giok Yin mendekati gerbang
perkampungan itu, dan setelah dekat dia tertegun. Ternyata di
pintu gerbang itu tergantung kain putih, pertanda
perkampungan itu sedang berkabung. Sungguh diluar dugaan!
Di saat orang sedang berduka cita, dia malah datang menuntut
balas, tentunya tidak berperasaan sama sekali. Akan tetapi
Ciok Giok Yin justru merasa tidak rela pergi. Setelah
termenung sejenak, dia pun melangkah memasuki
perkampungan itu. Tiba-tiba dari arah samping pintu gerbang
muncul empat orang, kelihatannya para jongos perkampungan
itu. Salah seorang memperhatikan Ciok Giok Yin, lalu menjura
seraya bertanya.
"Apakah Tuan Muda ingin melawat Cuangcu (Majikan
Perkampungan)?"
Ciok Giok Yin tertegun.
"Cuangcu?"
"Ya."
"Kapan cuangcu kalian meninggal?"
"Semalam."
"Sakit apa?"
"Sakit mendadak lalu meninggal."
"Sebelumnya dia pernah sakit?"

"Tidak pernah."
"Sungguh aneh!"
"Apakah Tuan Muda kemari bukan untuk melawat?"
"Tidak salah. Aku dan Cuangcu kalian ada sebuah janji, maka
hari ini aku berkunjung kemari. Tak diduga dia sudah
meninggal, itu betul-betul di luar dugaan."
"Janji apa?"
Keempat jongos itu termangu-mangu.
Ciok Giok Yin menatap mereka, dan sekilas suatu pikiran
timbul dalam benaknya.
"Yah! Tidak usah kukatakan!" Dia diam sejenak. "Aku sudah
kemari, tentunya harus melawat! Tuan pengurus, harap tunjuk
jalan!" Sudah lama Ciok Giok Yin ikut kakek tua berjenggot
putih, maka dia tahu tata krama. Ucapannya amat sopan,
membuat keempat jongos itu tidak berani menolak. Salah
seorang jongos itu segera membalikkan badannya membawa
Ciok Giok Yin ke dalam. Sedangkan yang lain tetap berdiri di
sana. Ciok Giok Yin mengikuti jongos itu ke dalam. Bukan main
megahnya rumah tersebut! Tampak para jongos dan pelayan
wanita bermuram durja, kelihatan amat sedih
sekali. Berdasarkan itu, membuktikan bahwa Tui Hong Sin
Cian-Cu Ling Yun memang telah meninggal.
Akan tetapi, dalam hati Ciok Giok Yin malah timbul rasa
curiga.
Mendadak terdengar suara tangisan yang amat
memilukan. Ciok Giok Yin segera memandang ke arah ruang
duka. Tampak sebuah meja besar dekat dingin. Di atas meja
besar itu terdapat berbagai macam buah-buahan, makanan
dan sebuah papan nisan bertulisan nama orang yang
meninggal. Di depan meja besar itu, terdapat sebuah peti mati,
sedangkan yang menangis itu tentunya sanak keluarga orang
yang meninggal. Tiba-tiba seorang tua berseru lantang.

"Ada tamu datang melawat, anak yang berbakti harus
mengucapkan terimakasih!"
Sebuah gordyn tersingkap, lalu muncul seorang pemuda
berpakaian duka. Pemuda itu menangis hingga sepasang
matanya membengkak. Namun ketika gordyn itu disingkap,
berkelebat sepercik cahaya. Di saat pemuda berpakaian duka
itu baru mau berlutut, Ciok Giok Yin justru berseru.
"Tunggu!"
Mendengar seruan itu, semua orang menjadi
tertegun. Mereka langsung memandang Ciok Giok Yin dengan
penuh keheranan, Ciok Giok Yin memang tampan. Namun, di
saat ini wajahnya diliputi hawa membunuh. Orang tua yang
berseru tadi maju selangkah, mendekati Ciok Giok Yin.
"Mohon tanya siapa Tuan Muda?"
"Ciok Giok Yin."
Nama tersebut bagaikan sambaran geledek di siang hari
bolong, membuat hati semua orang tersentak, dan wajah
mereka berubah pucat pias seketika. Tak disangka pemuda itu
adalah orang yang membunuh Khiam Sin Hweshio dalam satu
jurus. Semua orang tahu akan maksud kedatangannya,
terutama pemuda berpakaian duka itu, sepasang matanya
menyorot penuh kebencian. Sedangkan suasana di ruang duka
tentu berubah menjadi tegang mencekam. Yang masih tampak
tenang hanyalah orang tua yang berseru tadi.
"Tuan muda Ciok, ada petunjuk apa?" katanya dengan
perlahan.
"Bagaimana Cu Cuangcu mati?"
"Sakit mendadak lalu meninggal semalam."
Ini memang tidak masuk akal. Sebab bagi orang yang
berkepandaian tinggi, tidak mungkin akan sakit mendadak

hingga meninggal. Apalagi Ciok Giok Yin pernah belajar ilmu
pengobatan, lebih tidak percaya tentang itu. Karena itu dia
maju dua langkah, lalu berkata dengan suara dalam.
"Aku mengerti ilmu pengobatan, ingin membuka tutup peti
mati untuk memeriksa Cu Cuangcu, sesungguhnya dia
mengidap penyakit apa?"
Wajah orang tua itu langsung berubah menjadi hebat.
"Peti mati sudah ditutup, tidak boleh sembarangan dibuka
lagi."
"Mungkin aku dapat membuat Cu Cuangcu hidup kembali."
"Apa maksudmu itu?"
"Tiada maksud apa-apa, hanya ingin membuka peti mati ini."
Badan orang tua itu agak bergemetar, kemudian menghadang
di hadapan Ciok Giok Yin.
"Kau berani cari gara-gara di sini?" bentaknya keras.
"Harus Anda mengerti!"
"Apa yang harus kumengerti?"
"Aku punya janji dengan Cu Cuangcu, maka peti mati ini
harus dibuka."
Mendadak pemuda berpakaian duka itu menggeram.
"Kau cari mati!"
Lalu menyerang dada Ciok Giok Yin. Ciok Giok Yin berkelit,
justru ke arah peti mati. Di saat bersamaan tampak sosok
bayangan hitam berkelebat bagaikan setan gentayangan ke
arah Ciok Giok Yin, dan terdengar suara seruan.
"Harap Tuan Muda berhenti!"

Padahal Ciok Giok Yin sudah menjulurkan tangannya sambil
mengerahkan lwee kangnya, siap membuka tutup peti
mati. Namun ketika mendengar suara seruan itu, dia menarik
kembali tangannya sambil menoleh. Ternyata seorang wanita
berpakaian duka berdiri di sana. Sepasang mata wanita itu
masih basah, sedangkan wajahnya tampak berduka sekali. Ciok
Giok Yin tersentak, lalu berkata dalam hati. 'Tidak salah, wanita
ini pasti nyonya Cu. Dari wajahnya dapat diketahui bahwa
benar semua ini.' Ciok Giok Yin segera mundur selangkah.
"Siapa kau?" katanya dingin.
"Aku adalah Nyonya Cu," sahut wanita berpakaian duka itu.
"Nyonya mau bicara apa?"
"Mohon tanya Tuan Muda ada permusuhan apa dengan
mendiang suamiku?"
"Tiada permusuhan apa-apa."
"Punya dendam?"
"Tiada dendam."
"Kalau begitu, kau..." bentak pemuda berpakaian duka
dengan gusar. Dia ingin menyerang Ciok Giok Yin, namun
wanita berpakaian duka itu cepat-cepat mencegahnya.
"Nak, tenang dulu!" katanya dengan suara gemetar.
Kemudian dia memandang Ciok Giok Yin. "Tuan muda dengan
mendiang suamiku tiada permusuhan dan tiada dendam, tapi
mengapa ingin membuka peti mati memeriksa mayat
mendiang suamiku? Bolehkah dijelaskan padaku?"
Ciok Giok Yin menatap semua orang, lalu menyahut dengan
dingin.
"Menuntut balas dendam almarhum suhuku."

"Siapa suhumu?"
"Suhuku adalah Sang Ting It Koay."
"Sang Ting It Koay?"
"Tidak salah."
"Dengar-dengar empat belas tahun yang lampau, dia mati
terpukul orang di puncak Gunung Muh San."
Mendadak Ciok Giok Yin tertawa gelak. Suara tawanya
mengandung kedukaan dan dendam kebencian.... Ternyata dia
teringat akan keadaan Sang Ting It Koay yang mengenaskan,
hidup menderita di lembah Tok Coa Kok tanpa sepasang
kaki. Kalau dia tidak memiliki lwee kang tinggi, tentu sudah
mati dari dulu. Dapat dibayangkan betapa menderita dan
tersiksanya Sang Ting It Koay hidup seorang diri di dalam
lembah itu. Usai tertawa, Ciok Giok Yin lalu berkata dengan
dingin.
"Sayang sekali, beliau tidak mati!"
Bukan main terkejutnya semua orang yang berada di situ!
Mereka saling memandang dengan wajah pucat pias. Begitu
pula Nyonya Cu, dia tampak terkejut sekali.
"Belum mati?" katanya.
"Tidak salah."
"Dia tinggal di mana sekarang?"
"Sekarang dia justru sudah tiada."
"Sudah mati?"
"Dugaan Nyonya memang tidak salah."
"Kalau begitu, Tuan Muda pasti menerima pesan dari
almarhum untuk kemari menuntut balas?"

Ciok Giok Yin mengangguk. Nyonya Cu menghela nafas
panjang.
"Tapi Tuan Muda datang terlambat," katanya dengan sedih.
"Masih belum terlambat."
"Maksudmu?"
"Aku ingin membuka peti mati untuk membuktikannya!"
Air muka Nyonya Cu, pemuda berpakaian duka dan beberapa
orang tua yang berada di rumah itu seketika berubah. Diamdiam
mereka semua sudah bersiap-siap. Asal Ciok Giok Yin
bergerrak, mereka pasti akan menyerangnya dengan
serentak. Gerak-gerik mereka itu tidak terlepas dari mata Ciok
Giok Yin, maka timbullah rasa curiga dalam
hatinya. Bagaimana mungkin begitu kebetulan? Hari ini dia
kemari, justru Tui Hong Sin Cian-Cu Ling Yun meninggal
semalam. Oleh karena itu, dia berkeras ingin membuka peti
mati itu untuk memeriksanya. Suasana di ruang duka menjadi
tegang mencekam. Pemuda berpakaian duka menatap Ciok
Giok Yin dengan penuh kebencian.
"Tuan Muda, orang mati habis hutangnya. Apakah kau masih
tidak mau melepaskannya?" kata Nyonya Cu.
"Aku ingin menyaksikannya dengan mata kepala sendiri, baru
puas hatiku."
"Hanya menyaksikannya dengan mata kepalamu sendiri?"
"Tidak salah."
"Kau ingin merusak mayat?"
"Ini...."
Ciok Giok Yin terdiam, merasa tidak enak hati. Dia terus
berpikir, membuka peti mati merusak mayat, memang dapat

melampiaskan dendam suhu. Namun terhadap sanak famili
orang yang meninggal, merupakan suatu penghinaan
besar. Oleh karena itu, menyebabkan Ciok Giok Yin tidak tahu
harus menjawab apa, hanya berdiri termangu-mangu.
"Apakah Tuan Muda memikirkan akibatnya merusak mayat?"
tanya Nyonya Cu.
"Akibatnya?"
"Ng! "
"Apa akibatnya?"
"Kami semua pasti harus menjaga keutuhan mayat mendiang
suamiku. Maka kami akan menghadapimu dengan serentak.
Apakah kau akan selamat meninggalkan tempat ini?"
Perkataan Nyonya Cu membuat Ciok Giok Yin gusar, sepasang
matanya langsung berapi-api.
"Apakah Nyonya tahu seorang tokoh rimba persilatan
dikeroyok oleh kaum rimba persilatan sehingga menyebabkan
tokoh itu kehilangan sepasang kakinya, akhirnya harus hidup
menderita dan tersiksa di sebuah lembah? Keadaannya yang
mengenaskan itu tentunya akan menimbulkan kegusaran
Nyonya. Ya, kan?"
"Berdasarkan apa yang kudengar, itu cuma merupakan suatu
kesalah pahaman saja."
"Kesalah pahaman?"
"Nyatanya memang begitu!"
Ciok Giok Yin tertawa getir.
"Kesalah pahaman itu sungguh mengerikan!"
"Kalau begitu, kau tetap berkeras ingin membuka peti mati?"

"Ya!"
Air muka Nyonya Cu berubah menjadi hebat.
"Aku punya satu permohonan," katanya dengan suara
gemetar.
"Katakan!"
"Bolehkah kau jangan merusak mayat suamiku?"
Ciok Giok Yin memandang ke sekelilingnya. Tampak semua
orang menatapnya dengan kebencian, dan itu membuat
hatinya tersentak. Sesungguhnya hati Ciok Giok Yin tidak
jahat, bahkan boleh dikatakan amat baik. Mendadak dia
teringat akan sebuah pepatah 'Orang sudah mati, segalanya
telah berakhir.' Teringat akan pepatah tersebut, dia lalu
berpikir, seandainya dia adalah sanak famili keluarga Cu, kalau
ada orang ingin merusak mayat, lalu dirinya harus
bagaimana? Setelah berpikir demikian, Ciok Giok Yin manggutmanggut.
"Nyonya Cu, silahkan buka peti mati! Kalau benar suamimu
sudah mati, maka semua dendam habis sampai di sini!"
"Orang sejati cuma sepatah kata!"
"Pasti! Harap Nyonya membuka peti mati itu!"
Nyonya Cu berpaling, ketika baru mau membuka peti mati
itu. Mendadak pemuda berpakaian duka itu maju selangkah.
"Ibu...," katanya.
"Nak, kalau tidak begini, Tuan Muda Ciok pasti curiga. Kau
mundur saja!"
Pemuda berpakaian duka mundur, namun sepasang matanya
terus menatap Ciok Giok Yin dengan penuh dendam
kebencian. Saat ini, para jongos sudah membawa perkakas.

"Buka peti mati!" seru Nyonya Cu dengan sedih. Para jongos
langsung membuka peti mati itu dengan perkakas yang telah
mereka siapkan.
"Ting! Tang...!"
Tak lama kemudian, peti mati itu terbuka. Ciok Giok Yin
mendekati peti mati itu dengan wajah diliputi hawa membunuh.
Dia menundukkan kepala melihat, tampak seorang tua yang
wajahnya pucat pias terbaring di dalam peti mati itu. Orang tua
itu berpakaian baru, namun memang sudah tidak bernafas
lagi. Ciok Giok Yin tidak melihat sesuatu yang
mencurigakan. Membuktikan bahwa orang tua itu memang
telah mati. Akan tetapi, semua orang yang berada di ruang
duka itu tampak bersiap-siap. Ciok Giok Yin menghela nafas
panjang, kemudian menjura pada Nyonya Cu.
"Aku mempercayai perkataan Nyonya, selamat tinggal!"
ucapnya.
Badan Ciok Giok Yin bergerak, ternyata dia sudah melesat ke
luar. Akan tetapi, di saat bersamaan, mendadak terdengar
suara menderu-deru, ternyata suara angin pukulan yang
mengarah Ciok Giok Yin. Bersamaan itu, terdengar pula suara
bentakan sengit.
"Anak jahanam, kau telah menghina keluarga Cu, sehingga
membuat kami tidak punya muka lagi bertemu kawan-kawan
rimba persilatan! Tinggalkan nyawamu!"
Pemuda berpakaian duka juga ikut melancarkan
pukulan. Sedangkan badan Ciok Giok Yin berada di udara,
tentunya amat sulit baginya untuk menangkis atau
berkelit. Karena itu, dia terpaksa merosot turun lalu berdiri di
tempat. Wajahnya yang tampan berubah menjadi dingin,
sepasang matanya berapi-api menatap
"Kalian mau apa?"
"Menghabisimu!"

"Kalian mampu?"
"Tidak percaya lihat saja!"
Ruang duka itu kini dipenuhi hawa membunuh. Sedangkan
kegusaran Ciok Giok Yin sudah memuncak. Dia mengangkat
sepasang tangannya, tapi mendadak Nyonya Cu berseru
dengan suara gemetar.
"Tunggu, Tuan Muda!"
Ciok Giok Yin menurunkan sepasang tangannya.
"Ada petunjuk apa, Nyonya?" katanya sambil menatap
Nyonya Cu. Nyonya Cu menoleh menatap pemuda berpakaian
duka.
"Binatang! Kau berani berlaku kurang ajar?" bentaknya
sengit.
Pemuda berpakaian duka menundukkan kepala, kelihatannya
amat takut pada Nyonya Cu.
"Ibu....
Nyonya Cu berkata dengan air mata bercucurann.
"Binatang! Mulai sekarang dan selanjutnya kau masih berani
sedemikian kurang ajar, aku pasti tidak mengakumu sebagai
anak lagi! Cepat berlutut di hadapan peti mati!"
Pemuda berpakaian duka segera berlutut di hadapan peti
mati.
Barulah Nyonya Cu menoleh memandang Ciok Giok Yin.
"Tuan Muda Ciok, pandanglah mukaku, kejadian tadi jangan
disimpan dalam hati!" katanya. Ciok Giok Yin merasa tidak
enak melampiaskan kegusarannya.

"Nyonya, aku mohon diri!" Dia segera melesat pergi. Tak lama
kemudian, dia sudah berada di luar perkampungan Hong Yun
Cuang. Saat ini malam sudah larut. Langit diselimuti awan
hitam. Sedangkan salju masih beterbangan, ternyata saat itu
musim rontok. Angin dingin terus berhembus menderu-deru.
Walau pakaian Ciok Giok Yin agak tipis, namun dia memiliki
lwee kang tinggi, maka tidak merasa dingin. Dia terus melesat
di bawah terjangan salju, sambil berkata dalam hati. 'Lebih
baik aku mencari kota untuk bermalam.' Lagi pula dia sudah
merasa lapar sekali. Ternyata sejak meninggalkan lembah Tok
Coa Kok, dia sama sekali tidak makan dan minum. Oleh karena
itu, dia terus melesat.
Berselang beberapa saat dia tiba di sebuah kota kecil, lalu
berjalan perlahan memasuki sebuah jalan. Namun, semua
rumah di kota itu sudah tertutup rapat. Siapa yang ingin keluar
dalam udara yang amat dingin ini? Tentunya mereka sedang
menghangatkan badan di ranjang atau di depan
tungku. Kebetulan Ciok Giok Yin melihat sebuah rumah
penginapan, tapi juga sudah tutup. Dia mendekati penginapan
itu, lalu mengetuk pintu. Lama sekali barulah terdengar suara
serak, terus mencaci tidak karuan.
"Udara sedemikian dingin, masih ada yang ke mari
menyampaikan berita duka? Siapa orang sial dangkalan itu?
Membuat darahku langsung naik!"
Ciok Giok Yin mendengar jelas cacian itu, maka membuatnya
amat gusar. Sementara suara cacian itu sudah sampai di balik
pintu, terdengar lagi suara bentakan.
"Siapa?"
"Aku!"
"Siapa kau?"
"Aku ya aku!"
"Kau kemari menyampaikan berita duka?"

Seketika kegusaran Ciok Giok Yin memuncak. Dia tidak
menyangka ada orang yang begitu tidak tahu tata
krama. Perlahan-lahan dia menjulurkan tangannya, lalu
terdengar suara.
Braak!
Pintu itu telah hancur. Kemudian, Ciok Giok Yin juga
mengayunkan tangannya.
Plaaak!
Ternyata dia menampar orang itu.
"Kau memang anjing buta, berani mencaci sembarangan!"
bentaknya.
Orang itu tidak tahu apa yang terjadi, namun masih sempat
menjerit kesakitan.
"Aduuuh!" Dia menatap Ciok Giok Yin. "Kau berani memukul
orang?" bentaknya gusar. Kini orang itu sudah melihat jelas
Ciok Giok Yin, namun karena Ciok Giok Yin berdandan seperti
pemuda desa, maka orang itu menjadi berani.
"Dasar anak kampungan tak tahu diri! Kau sudah makan..."
cacinya lagi.
"Plaaak!"
Ternyata Ciok Giok Yin sudah menamparnya, bahkan kali ini
jauh lebih keras dari pada tadi, sehingga membuat gigi orang
itu rontok tiga buah, dan pipinya membengkak.
"Aduh! Mak.... Tolong! Ada orang mau pukul aku..." jeritnya.
Tak lama, muncullah beberapa orang dari belakang.
"Ong Sam, apa yang terjadi?" tanya salah seorang dari
mereka.
Di saat bertanya, orang itu sudah melihat Ciok Giok Yin,
begitu pula yang lain. Ciok Giok Yin berdiri dengan wajah
dingin, dan sepasang matanya menyorot tajam menatap
mereka. Orang-orang itu terkejut bukan main. Karena tatapan
Ciok Giok Yin membuat mereka merinding. Sebelum orang
yang dipanggil Ong Sam menyahut, Ciok Giok Yin telah

mendahuluinya.
"Kalian tanya padanya!"
"Dia... dia pukul aku... tanpa alasan," sahut Ong Sam.
Mendengar itu, semua orang menatap Ciok Giok Yin dengan
gusar.
"Mohon tanya..." tanya salah seorang dari mereka.
Mendadak Ciok Giok Yin mendekati Ong Sam.
"Coba katakan sekali lagi!" bentaknya sengit. Ternyata Ciok
Giok Yin teringat akan siksaan yang dialaminya setahun yang
lalu.
Salah seorang lagi, segera teringat akan mulut Ong Sam yang
amat jahat itu, maka dia segera memberi hormat pada Ciok
Giok Yin.
"Harap Tuan jangan marah!" katanya, kemudian orang itu
memandang Ong Sam. "Kau pasti sembarangan mencaci,
sehingga membangkitkan kegusaran tuan ini! Cepat enyah!
Untuk apa punya pelayan yang begini macam!" bentaknya
sengit. Orang itu mengayunkan kakinya menendang Ong Sam.
"Aduuuh...!" jerit Ong Sam. Mendadak dia menjatuhkan diri
berlutut di hadapan orang itu, "Majikan, memang aku yang
bersalah. Jangan pecat aku, maafkan aku kali ini...," katanya
memohon. Ternyata orang itu majikan penginapan.
Menyaksikan itu Ciok Giok Yin malah merasa tidak enak
dalam hati.
"Sudahlah! Ajar dia agar lain kali tidak berlaku kurang ajar
lagi!" katanya kepada majikan penginapan. Ong Sam cepatcepat
berlutut di hadapan Ciok Giok Yin.
"Aku yang bersalah, tidak seharusnya aku mencaci maki Tuan
Muda. Kalau aku dipecat, ibuku yang sudah tua di rumah, pasti
akan mati kelaparan," ujarnya. Diam-diam Ciok Giok Yin

menghela nafas panjang, dia membujuk majikan penginapan
agar tidak memecat Ong Sam.
"Aku memandang muka tamu ini, kali ini kau kuampuni, cepat
bangun!" kata majikan penginapan pada Ong Sam. Bukan main
girangnya Ong Sam! Dia segera bangkit berdiri, kemudian
membawa Ciok Giok Yin ke kamar belakang, dan melayaninya
dengan hormat sekali. Kini dia sudah tahu, pemuda tampan ini
pasti orang dunia persilatan. Kalau tidak, bagaimana mungkin
gerakannya begitu cepat? Diam-diam Ciok Giok Yin tertawa geli
dalam hati, sebab melihat Ong Sam begitu takut dan
menghormatinya.
Sudah setahun lebih Ciok Giok Yin tidak menikmati hidangan
lezat, kali ini dia betul-betul bersantap bagaikan macan
kelaparan.
Seusai makan, barulah Ciok Giok Yin duduk beristirahat.
Mendadak terdengar suara yang amat lirih.
Serrr!
Ciok Giok Yin cepat-cepat membuka matanya. Sekilas dia
melihat seorang wanita berambut panjang mengenakan
pakaian putih, berkelebat melewati pintu kamarnya. Dia segera
meloncat turun. Justru di saat bersamaan tampak sebuah
benda putih meluncur ke arahnya. Ciok Giok Yin bergerak cepat
menyambut benda itu, yang rasanya amat lunak. Kemudan
tanpa melihat benda itu, dia langsung melesat ke luar. Setelah
itu, dia mencelat ke atas atap. Dilihatnya sosok bayangan putih
berkelebat, kemudian menghilang. Ciok Giok Yin tersentak, lalu
berkata dalam hati. 'Sungguh cepat gerakannya, membuktikan
wanita itu memiliki ilmu ginkang yang amat tinggi!'
Ciok Giok Yin tidak tahu akan maksud wanita itu, maka dia
berdiri termangu-mangu di atap. Tiba-tiba dia teringat akan
benda lunak yang di tangannya. Maka benda itu segera
dilihatnya, ternyata gumpalan kertas. Ciok Giok Yin
tercengang. Dia cepat-cepat membuka gumpalan kertas itu dan
kemudian dibacanya. Ternyata tulisan dalam kertas itu hanya
berbunyi ' hati-hati' .

Ciok Giok Yin tertegun. Apa maksud dengan kata 'hati-hati'
itu? Dia tidak kenal wanita itu, mengapa memperingatkannya?
Apakah ada orang menguntitnya dari belakang? Ketika Ciok
Giok Yin sedang berpikir, mendadak terdengar suara dengusan
dingin di belakangnya.
"Hmmmm!"
Ciok Giok Yin segera membalikkan badannya. Dilihatnya
seorang berusia empat puluhan berdiri di belakangnya. Orang
itu mengenakan pakaian hitam, di bagian depan bersulam
sepasang burung walet warna putih. Wajah orang itu tampak
dingin sekali, sepasang matanya terus menatap Ciok Giok Yin
tanpa berkedip.
"Bocah, sungguh cepat langkah kakimu!" katanya.
Ciok Giok Yin tertegun.
"Siapa Anda?"
"Ciu Kah, si Penyelidik dari perkumpulan Sang Yen Hwee!"
"Sang Yen Hwee?"
"Tidak salah!"
"Ada urusan apa?"
"Mari bicara di luar kota!"
Ciu Kah melesat pergi menuju pinggir kota. Ciok Giok Yin
tanpa banyak pikir, langsung mengikutinya. Tak lama mereka
berdua sudah tiba di pinggir kota. Ciu Kah berdiri di hadapan
Ciok Giok Yin.
"Cepat serahkan Gin Tie!" katanya lantang.
"Gin Tie?"
"Tidak salah!"

"Aku juga sedang mencari Seruling Perak itu, cepat
serahkan!"
Ciu Kah tertawa dingin.
"Bocah, kalau kau tidak mengaku, aku pasti menghabisimu!
Lihat kau mau mengaku atau tidak? Dan juga kau pun harus
menyerahkan peta Si Kauw Hap Liok Touw!"
Usai berkata, Ciu Kah langsung menyerang Ciok Giok
Yin. Bukan main gusarnya pemuda itu! Dia tidak menyangka,
bahwa begitu keluar dari Goa Toan Teng Tong, akan begitu
banyak orang mendesaknya menyerahkan Seruling Perak. Ciok
Giok Yin tertawa dingin.
"Peta Si Kauw Hap Liok Touw memang ada padaku, maka
kalau kau punya kepandaian, silakan ambil!" bentaknya sambil
balas menyerang. Seketika serangkum angin yang amat panas
menerjang ke arah Ciu Kah.
"Soan Hong Ciang!" seru orang itu kaget.
"Tidak salah, memang Soan Hong Ciang!"
Ketika tanya jawab itu, pertarungan mereka telah melewati
tujuh jurus. Kedudukan Ciu Kah di perkumpulan Sang Yen
Hwee amat tinggi, tergolong pula pesilat kelas satu. Maka tidak
mengherankan kalau jurus-jurus yang dikeluarkannya amat
lihay. Pertarungan mereka sangat sengit, sehingga
menimbulkan suara yang menderu-deru. Mendadak terdengar
suara siulan panjang, dan tampak sesosok bayangan melayang
turun di tempat mereka bertarung.
Ternyata orang berpakaian hitam yang di bagian dada
bersulam sepasang burung walet warna putih juga. Di lengan
kiri orang itu, melingkar seekor ular beracun warna keemasemasan,
menjulurkan lidahnya menyemburkan uap
beracun. Kemunculan orang itu membuat Ciu Kah menyurut
mundur beberapa langkah, kemudian memberi hormat.
"Tong Cu (Pemimpin Ruang)!"

Ternyata orang itu Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia
mendengus.
"Hm!"
Kemudian Tong Cu itu menatap Ciok Giok Yin. Namun
wajahnya tidak tampak, sebab ditutup dengan kain hitam, yang
tampak hanya sepasang matanya yang menyorot
tajam. Selangkah demi selangkah dia mendekati Ciok Giok Yin.
"Bocah, cepat serahkan Seruling Perak!" bentaknya.
"Jangan harap!"
"Kau cari mati!"
Ciok Giok Yin teringat pada Phing Phiauw Khek yang mati di
tangan para iblis perkumpulan Sang Yen Hwee. Seketika
timbullah rasa dendamnya terhadap orang-orang perkumpulan
Sang Yen Hwee. Maka dia langsung melancarkan sebuah
pukulan dengan sepenuh tenaga ke arah orang itu. Akan tetapi,
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee itu menggerakkan
tangannya perlahan-lahan, membuat tenaga pukulan Ciok Giok
Yin seperti tenggelam ke dalam laut. Kemudian Tong Cu itu
pun mengibaskan tangannya. Bukan main dahsyatnya
kibatasan tangan orang itu! Membuat Ciok Giok Yin terpental
tiga depa ke belakang. Tampak dari mulutnya mengalir keluar
darah segar, dan matanya terasa berkunang-kunang.
Di saat bersamaan sesosok bayangan putih melayang turun
dari angkasa dan langsung menyambar Ciok Giok Yin, sekaligus
dibawa pergi. Bukan main cepatnya gerakan bayangan itu!
"Lepaskan dia!" bentak Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee
dan Ciun Kah dengan serentak lalu melesat
mengejarnya. Bayangan putih membawa Ciok Giok Yin ke
dalam rimba. Setelah sampai di tengah rimba dia menaruh Ciok
Giok Yin ke bawah seraya berkata dengan suara rendah.
"Cepatlah kau pergi, aku akan menghadang dua orang itu!"

Ciok Giok Yin masih dalam keadaan sadar. Dia melihat wanita
itu tidak lain adalah wanita yang melempar secarik kertas
padanya. Namun dia tidak menduga, bahwa wanita itu
berwajah buruk, amat tak sedap dipandang.
Hati Ciok Giok Yin tersentak.
"Mohon tanya Nona...."
Wanita itu menyahut dingin sebelum Ciok Giok Yin usai
berkata.
"Namaku Yap Ti Hui."
"Yap Ti Hui?"
"Ya."
"Ini...."
"Tidak mirip sebuah nama kan? Hi hi hi..:!" Wanita itu tertawa
cekikikan. Suara tawanya amat nyaring dan merdu, sangat
sedap didengar, tidak seperti wajahnya yang tak sedap
dipandang.
"Kau masih belum pergi?" bentak wanita itu.
"Tapi Nona...!"
Tiba-tiba terdengar suara siulan, membuat Yap Ti Hui
mengerutkan kening. Saat ini Ciok Giok Yin telah terpukul oleh
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. Dia tahu jelas bahwa
dirinya tidak bisa membantu wanita itu, bahkan sebaliknya
malah akan merepotkannya. Karena itu, dia langsung menarik
nafas dalam-dalam menghimpun hawa murninya, kemudian
melesat pergi. Baru saja berlari belasan depa, dia mendengar
suara pertarungan antara Yap Ti Hui dengan Tong Cu
perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ci Kah. Mendadak terdengar
bentakan Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee.

"Kau masih ingin kabur?"
Tong Cu itu langsung memanahnya. Karena Ciok Giok Yin
telah terluka dalam, maka telinganya kurang peka. Tahu-tahu
panah itu telah menancap di bahunya, sehingga darah
segarnya langsung mengucur,
"Aduuuuh!" jeritnya lain roboh di tanah.
Untung dia tidak pingsan. Dia menahan rasa sakit dan
berkertak gigi berupaya bangkit berdiri, kemudian kabur
sekencang-kencangnya. Kini pakaiannya berlumuran darah,
lagi pula sebelumnya dia telah terluka parah, maka makin lama
larinya semakin lemah, sebab terlampau banyak darah
mengucur keluar.
Akhirnya dia roboh pingsan di atas salju. Sementara salju
terus brterbangan dan dingin berhembus menderuderu.
Perlahan-lahan tubuh Ciok Giok Yin tertutup salju, namun
panah yang menancap di bahunya masih menongol di
permukaan salju. Suara pertarungan antara Yap Ti Hui dan
kedua orang itu sudah tidak terdengar lagi. Suasana di tempat
itu menjadi sangat hening. Ini sudah keesokan harinya.
Mendadak seseorang bagaikan arwah penasaran muncul di
tempat itu. Tiba-tiba orang itu mengeluarkan suara
'Ih' Ternyata dia melihat sebatang panah nongol di permukaan
salju. Di saat bersamaan, secara mendadak Ciok Giok Yin
siuman. Dia langsung meloncat bangun dan ketika ingin lari,
dia melihat sosok bayangan di hadapannya. Bukan main
gusarnya Ciok Giok Yin!
"Aku akan mengadu nyawa dengan kalian!"
Dia menyerang orang itu. Orang itu terbelalak dan tertegun,
namun cepat-cepat berkelit. Setelah menyerang, Ciok Giok Yin
lalu membalikkan badannya kabur sekencang-kencangnya.
Sekonyong-konyong terdenngar suara di belakangnya. Sambil
terus berlari, Ciok Giok Yin menoleh ke belakang. Ternyata
yang bersiul adalah Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan
Ciu Kah.

"Berhenti, kau ingin membawa pergi Seruling Perak?" bentak
Tong Cu perkumpulan dan Sang Yen Hwee.
Akan tetapi, orang yang muncul tadi menghadang di
depannya.
Tentunya membuat Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee
amat gusar.
"Siapa kau?" bentaknya keras.
"Cak Hun Ciu (Tangan Penusuk Roh)!"
"Kau ingin cari mati?"
"Tidak begitu gampang!"
Blam.
Ternyata mereka berdua sudah saling mengadu
pukulan. Setelah beradu pukulan, Cak Hun Ciu tergerak
hatinya. 'Apakah bocah itu memiliki benda pusaka rimba
persilatan... Seruling Perak?' Karena berpikir begitu, dia
mengerahkan lwee kangnya, lalu melancarkan sebuah pukulan
ke arah Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee. Bukan main
dahsyatnya pukulannya itu! Tidak percuma orang itu
mempunyai julukan Cak Hun Ciu (Tangan Penusuk
Roh). Pukulan yang dilancarkannya, berhasil mendesak Tong
Cu perkumpulan Sang Yen Hwee selangkah ke belakang. Cak
Hun Ciu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia bergerak
cepat menyambar Ciok Giok Yin, lalu dibawa pergi.... Akan
tetapi, Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee tertawa dingin,
lalu bergerak cepat menghadang di depan Cak Hun Ciu.
Apa boleh buat Cak Hun Ciu terpaksa melempar Ciok Giok
Yin, kemudian melancarkan serangan ke arah kedua orang
itu. Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah juga
melancarkan serangan serentak.
Blaaammmm!

Walau Cak Hun Ciu berkepandaian tinggi, namun Tong Cu
perkumpulan Sang Yen Hwee dan Ciu Kah juga berkepandaian
tinggi, itu membuat Cak Hun Ciu tidak kuat menahan
gempuran lwee kang mereka berdua.
"Aaaakh!" jeritnya.
Mulutnya menyembur darah segar. Badannya terpental
beberapa depa, kebetulan jatuh di dekat Ciok Giok Yin. Tong
Cu perkumpulan Sang Yen Hwee menatap ke sana, sepasang
matanya menyorot tajam dan dingin. Dia dan Ciu Kah
mendekati mereka selangkah demi selangkah, kedua orang itu
pun berpikir, Seruling Perak dan peta Si Kauw Hap Liok Touw
pasti akan jatuh ke tangan mereka berdua. Akan tetapi, di saat
bersamaan, medadak melesat ke luar seorang wanita berambut
panjang mangenakan pakaian putih langsung menyerang
mereka berdua. Wanita itu tidak lain adalah Yap Ti Hui, Betapa
gusarnya Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee!
"Akan kuhabisi kan!" bentaknya mengguntur.
"Kau mampu? Kau menginginkan Seruling Perak, akupun
menginginkan peta Si Kauw Hap Liok Touw!"
Blam!"
Plaak!
Ternyata mereka sudah mulai bertarung. Walau dikeroyok
dua orang, Yap Ti Hui masih kelihatan gesit. Kepadaiannya
sungguh amat tinggi dan aneh pula. Akan tetapi, justru
mengherankan, Yap Ti Hui bertarung sambil mundur, seakan
ingin memancing mereka meninggalkan tempat itu. Namun
Tong Cu perkumpulan harus adalah orang licik. Setelah
menyerang, dia malah kembali ke tempat semula. Mendadak
sepasang matanya terbelakak, ternyata dia melihat sebuah
panji kecil menancap di tanah. Panji kecil itu bergambar
sekepal rambut putih.
"Pek Hoat Hujin (Nyonya Rambut Putih)!" serunya kaget.

Apabila panji tersebut muncul, pasti akan muncul pula Pek
Hoat Hujin. Belasan tahun ini, Pek Hoat Hujin telah
menggemparkan dunia persilatan. Baik golongan putih maupun
golongan hitam, tiada seorangpun pernah melihat wajah
aslinya, sebab dia muncul dan hilang selalu secara
mendadak Seketika Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee
memberi isyarat kepada Ciu Kah, kemudian mereka melesat
pergi meninggalkan tempat itu.
"Kalian mau kabur ke mana?" bentak Yap Ti Hui.
Wanita berbaju putih itu langsung mengarahkan ging kang
mengejar mereka berdua. Sementara Ciok Giok Yin siuman
perlahanlahan. Ketika membuka matanya, dia melihat Cak Hun
Ciu pingsan di sebelahnya. Ciok Giok Yin tahu, dia terluka
parah lantaran menolongnya. Oleh karena itu hatinya menjadi
berduka sekali.
"Lo cianpwee! Lo cianpwee!" serunya dengan mata bersimbah
air. Lama sekali. Beberapa saat kemudian Cak Hun Ciu
membuka matanya perlahan-lahan.
"Sobat kecil, aku... aku sudah tidak kuat...," katanya dengan
suara lemah sekali. Hati Ciok Giok Yin, tersentak.
"Lo cianpwee, aku mengerti sedikit tentang ilmu
pengobatan...,"
Cak Hun Ciu tersenyum geitr, sambil menggeleng-gelengkan
kepala.
"Sobat kecil, nyawamu sediripun sulit dipertahankan."
Perkataan Cak Hun Ciu membuat Ciok Giok Yin tersentak
sadar, dan nyaris pingsan seketika. Kini dia baru ingat di
bahunya masih tertancap panah, dan darah segarnya masih
mengalir. Kalau tidak segera menambah darahnya, mungkin
dia hanya bisa hidup tiga atau lima hari lagi. Akan tetapi, di
tempat yang amat sepi ini, ke mana dia harus mencari obat
untuk menambah darahnya? Satu-satunya jalan, dia cuma
duduk diam menunggu kematian. Namun Ciok Giok Yin tidak

rela mati dengan cara begitu. Sebab dia masih punya banyak
urusan yang harus diselesaikannya, yaitu asal-usulnya,
mencari kekek tua berjengot putih, menuntut balas dendam
Sang Ting It Koay, dan mencari Seruling Perak serta sebuah
kitab Cu Cian. Apabila dia mati, bukankah semua itu akan ikut
kandas? Oleh karena itu, Ciok Giok Yin berusaha tenang.
"Lo cianpwee...," katanya.
Cak Hun Ciu menggoyang-goyangkan sebelah tangannya,
"Sobat kecil, terus terang lohu sama sekali tidak berniat
menolongmu, cuma mendengar mereka berkata, kau memiliki
Seruling Perak, lohu ingin.... tapi...," Berkata sampai di sini,
Cak Hun Ciu terbatuk-batuk, kemudian memuntahkan darah
segar.
Ciok Giok Yin merasa tidak tega, maka segera mengurut
dadanya.
"Sobat kecil, betulkah kau telah memperoleh Seruling Perak
itu?" tanya Cak Hun Ciu.
Ciok Giok Yin menggeleng kepala.
"Aku sama sekali tidak pernah melihat Seruling Perak itu...,"
dia menutur apa yang telah dialaminya.
"Mengapa Lo cianpwee menginginkan Seruling Perak itu?"
katanya kemudian.
"Kini urusan sudah jadi begini, tidak usah kukatakan lagi.
Sobat kecil, bagian dadaku telah remuk, aku pikir...,"
Berkata sampai di situ, mulutnya menyemburkan darah segar
lagi, dan wajahnya pucat pasi. Hati Ciok Giok Yin menjadi
kalut.
"Lo cianpwee! Lo cianpwee...,"
"Usiamu masih muda, dan masa depanmu pasti cemerlang.

Maka... aku ingin menyalurkan hawa murniku ke dalam
tubuhmu agar kau dapat hidup beberapa hari lagi. Asal dalam
waktu beberapa hari, kau berhasil mencari Tiong Ciu Sin Ie, dia
pasti bisa menyembuhkanmu." kata Cak Hun Ciu perlahanlahan.
"Tiong Ciu Sin Ie?"
"Tidak salah."
"Sebetulnya bagaimana orangnya?"
Di dalam benak Ciok Giok Yin, muncul bayangan kakek tua
berjenggot putih. Dia yakin kakek tua berjenggot putih itulah
Tiong Ciu Sin Ie.
"Dia sudah berusia lanjut, dan rambutnya putih bagaikan
perak. Dia tahu cara menjaga badan dan mahir ilmu
pengobatan, maka dia tampak seperti baru berusia lima
puluhan. Asal kau berhasil mencarinya, kaupun pasti bisa
sembuh," sahut Cak Hun Ciu.
Ciok Giok Yin manggut-manggut dan amat terharu, sebab Cak
Hun Ciu akan menyalurkan hawa murninya.
"Lo cianpwee tidak boleh berbuat demikian."
Cak Hun Ciu menghela nafas panjang.
"Sobat kecil, apakah nyawa kita berdua harus melayang di
sini? Seandainya ajalmu belum tiba, tentunya dapat mencari
Tong Cu!"
Ciok Giok Yin tidak menyahut. Cak Hun Ciu menatap Ciok
Giok Yin dengan mata suram.
"Lohu ingin bertanya satu hal padamu."
"Mengenai hal apa? Tanyalah!"
"Kau suddah bertunangan belum?"

"Belum."
"Bagus! Lohu punya seorang anak perempuan, namanya Ie
Ling Ling, namun telah hilang belasan tahun. Lohu harap kau
dapat mencarinya, lalu kalian menikah menjadi suami istri.
Kalau permintaan lohu ini kau kabulkan, lohu akan mati dengan
mata terpejam. Ciok Giok Yin tidak tahu harus menjawab apa,
akhirnya dia mengangguk. Cak Hun Ciu tampak girang sekali.
Dia berkertak gigi sambil bangun duduk. Setelah itu, sepasang
telapak tangannya ditempelkan pada punggung Ciok Giok
Yin. Ternyata Cak Hun Ciu mulai menyalurkan hawa murninya
ke dalam tubuh pemuda itu. Seketika Ciok Giok Yin merasa di
punggungnya ada aliran hangat menerobos ke dalam
tubuhnya.
Berselang beberapa saat, sepasang telapak tangan Cak Hun
Ciu merosot ke bawah. Ciok Giok Yin segera menoleh ke
belakang, ternyata Cak Hun Ciu sudah meninggal dengan mata
terpejam.
Demi nyawa Ciok Giok Yin, orang tua itu memperpendek
nyawanya sendiri. Dapat dibayangkan, betapa terharunya Ciok
Giok Yin. Lagi pula kini dia pun menjadi menantu orang tua itu.
Tidak heran dia menangis meraung-raung, lama sekali dia
menangis sedih. Berselang beberapa saat, barulah dia berhenti
menngis, lalu mengubur mayat Cak Hun Ciu. Kuburan itu
diberinya papan nama, agar kelak bisa membawa Ie Ling Ling
ke sana untuk berziarah. Ciok Giok Yin meninggalkan tempat
tanpa arah. Yang jelas dalam waktu sepuluh hari, dia harus
berhasil mencari Tiong Ciu Sin Ie. Kalau tidak, dia pasti akan
mati. Kini dia pun menaruh dendam terhadap perkumpulan
Sang Yen Hwee, karena orang-orang perkumpulan tersebut
telah melukai dirinya, bahkan juga telah membunuh Cak Hun
Ciu, mertuanya itu.
Tapi yang terpenting, dia harus berusaha mencari Tiong Ciu
Sin Ie, sebab kalau tidak, segala-galanya pasti
berakhir. Karena melakukan perjalanan tergesa-gesa,
membuat bahunya mulai mengucurkan darah lagi. Namun dia

tetap bertahan. Dalam perjalanan, dia terus berpikir. Apakah
Tiong Ciu Sin Ie adalah kakek tua berjenggot putih? Kalau
benar, kakek tua itu pasti dapat menyembuhkannya. Akan
tetapi, harus ke mana dia pergi mencari Tong Cu tersebut? Di
dunia persialatan yang sedemikian luas, untuk mencari
seseorang, bukan merupakan hal yang gampang.
Urusan yang samar-samar. Harapan yang samarsamar.
Namun. Justru ada suatu kekuatan terus mendukung
dirinya. Sepertinya dia melihat seorang tua berambut dan
berjengot putih bagaikan perak, berdiri di hadapannya.
Kemudian orang tua itu menjulurkan tangannya mencabut
panah yang menancap di bahunnya, setelah itu mulai
mengobatinya. Ciok Giok Yin yang mengerti ilmu pengobatan,
tanpa sadar berseru.
"Kakek tua...!"
Mendadak terdengar suara tawa dingin di belakangnya, yang
disusul oleh suara parau.
"Bocah, kali ini tiada lagi yang akan menyelamatkanmu!"
Ciok Giok Yin tersentak sadar dari lamunannya. Dia segera
membalikkan badannya dan seketika merasa sukmanya
terbang pergi. Ternyata Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee
dan Ciu Kah berdiri di sana, menatapnya dengan dingin
sekali. Saat ini, Ciok Giok Yin telah terluka parah. Kalaupun
tidak terluka parah, dia juga tidak akan mampu menandingi
kedua orang itu. Musuh berhadapan, mata pasti memerah.
"Bayar nyawa mertuaku!" bentak Ciok Giok Yin.
Dia langsung menerjang ke arah ke dua orang itu. Kedua
orang itu sama sekali tidak berkelit, cuma mendengus dingin.
"Hmmm! Lebih baik kau diam!"
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee menggerakkan
tangannya, sehingga membuat pukulan Ciok Giok Yin kandas
seketika. Di saat bersamaan, dia pun merasakan adanya

serangkum angin halus menerjang ke arahnya, sehingga
sekujur badannya menjadi tak bertenaga. Ciok Giok Yin
menghela nafas panjang dan berkeluh dalam hati,
'Habislah!' Dia memejamkan matanya, keringat sebesar-besar
kacang hijau merembes keluar dari keningnya.
Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee, mendekati Ciok Giok
Yin selangkah demi selangkah, sepasang matanya menyorot
bengis. Langkahnya menimbulkan suara 'Serrr! Serrrr' Mautpun
mulai mendekati Ciok Giok Yin. Apakah dia akan mati di tempat
itu? Sesungguhnya Ciok Giok Yin memang tidak ingin mati,
sebab masih banyak urusan yang harus diselesaikannya.
Namun apa boleh buat, keadaan tidak menginginkanya untuk
hidup. Kini hatinya terasa hampa, apapun tidak dapat
dirasakannya! Mungkin disaat manusia hampir mati, memang
begitu. Karena apabila berpikir yang bukan-bukan, malah akan
menambah penderitaan. Saat ini, Tong Cu perkumpulan Sang
Yen Hwee sudah mendekati Ciok Giok Yin. Dia mengangkat
sebelah tangannya, siap melancarkan pukulan maut ke arah
Ciok Giok Yin.
Mendadak terdengar suara siulan yang amat nyaring,
bergema menembus angkasa. Di saat bersama, melayang
turun sebuah panji kecil di tengah-tengah Tong Cu
perkumpulan Sang Yen Hwee dan Cak Hun Ciu . Panji kecil itu
berwarna merah, di tengahnya ada gambar rambut putih
panjang. Bukan main terkejutnya Tong Cu perkumpulan Sang
Yen Hwee !
"Pek Hoat Hujin!" serunya tanpa sadar. Sekujur badannya
bergemetar, lalu melesat pergi dan diikuti Ciu Kah dari
belakang.
Ciok Giok Yin tidak tahu apa yang telah terjadi. Namun dia
mendengar suara siulan itu dan suara seruan Tong Cu
perkumpulan Sang Yen Hwee. Akan tetapi, Ciok Giok Yin tetap
tidak membuka matanya, menunggu Tong Cu perkumpulan
Sang Yen Hwee turun tangan membunuhnya. Lama sekali tidak
terjadi apa-apa, lagi pula suasana di tempat itu telah berubah
menjadi sangat hening. Ciok Giok Yin merasa heran, kemudian
dengan perlahan-lahan membuka sepasang matanya. Dia

terbelalak, karena Tong Cu perkumpulan Sang Yen Hwee dan
Ciu Kah sudah tidak kelihatan.
Ciok Giok Yin merasa penasaran. Dia menengok ke sekeliling,
namun tidak tampak seorangpun di sekitarnya. Dia berkata
dalam hati. 'Siapa Pek Hoat Hujin? Apakah barusan dia yang
menyelamatkanku? Padahal aku tidak pernah berjumpa
dengannya, juga tidak pernah mendengar tentang dirinya.
Bagaimana dia mau turun tangan menyelamatkan diriku?' Ciok
Giok Yin benar-benar tidak habis pikir tentang itu, tidak habis
pikir, sebetulnya siapa Pek Hoat Hujin tersebut? Dia mencoba
menggerakkan badannya. Ternyata tangannya telah pulih
hanya saja merasa beberapa jalan darahnya agak
tersumbat. Memang wajar, sebab dia banyak kehilangan darah.
Kalau dia memperoleh obat penambah darah, kesehatannya
pasti akan pulih seperti semula.
Bahaya telah berlalu, maka kini timbul lagi harapannya. Dia
mengayunkan kakinya, mulai melesat pergi. Sementara hari
sudah mulai gelap. Sedangkan angin dingin terus berhembus,
sehingga salju tak henti-hentinya beterbangan. Tak seberapa
lama kemudian dia mulai merasa lelah, namun demi mencari
Tiong Ciu Sin Ie, dia harus terus bertahan. Bahunya mulai
mengucurkan darah lagi. Itu membuatnya cepat merasa lelah
dan matanya mulai berkunang-kunang. Dia berharap
mendapatkan sesuatu tempat yang tenang untuk beristirahat
sejenak,Setelah itu, barulah melanjutkan perjalanan. Mendadak
dia behenti. Ternyata dia meihat sebuah kuil tua. Tanpa perduli
ada bahaya atau tidak di dalam kuil tua itu, dia langsung
menerobos ke dalam.
Di dalam kuil tua itu terdapat beberapa buah patung dewa
dan sebuah meja bobrok, tidak terdapat benda lain. Suasana di
dalam kuil tua itu amat mcnyeramkan, sehingga sekujur badan
Ciok Giok Yin menjadi merinding. Tiba-tiba terdengar suara
'Serrt', dan tampak sebuah benda hitam meluncur
turun. Bukan main terkejuinya Ciok Giok Yin, sehingga bulu
kuduknya berdiri. Lama sekali, tidak terdengar suara itu
lagi. Ciok Giok Yin menoleh perlahan-lahan, tapi tidak tampak
ada sesuatu di dalam kuil tua itu, barulah Ciok Giok Yin
menarik nafas lega.

Namun di saat bersamaan, tampak berkelebat sebuah benda
hitam meluncur ke dalam kuil. Kali ini Ciok Giok Yin
memberanikan diri untuk melihat dengan seksama. Setelah
melihat jelas benda hitam yang meluncur ke dalam itu, Ciok
Giok Yin nyaris tertawa geli, karena ternyata adalah
kelelawar. Kini dia betul-betul menarik nafas lega. Dia
mengambil keputusan untuk tidur di kolong meja bobrok itu,
esok pagi baru melanjutkan perjalanan.
Karena itu, dia merangkak ke dalam meja itu.... Akan tetapi,
mendadak dia berseru kaget dan langsung membalikkan
badannya untuk keluar dari kolong meja. Kali ini dia betul-betul
merasa sukmanya terbang entah ke mana dan sekujur
badannya pun merinding. Ternyata ketika dia merangkak ke
dalam kolong meja, tangannya menyentuh tubuh seseorang
yang berlumuran darah.
Walau Ciok Giok Yin tergolong pemuda pemberani, namun di
saat ini, dia seorang diri berada di dalam kuil tua yang
suasananya menyeramkan, membuatnya merasa takut juga.
Apalagi setelah menyentuh tubuh orang yang berlumuran di
kolong meja itu, tentu dia bertambah takut dan merasa seram.
Setelah berada di luar kolong meja, barulah Ciok Giok Yin
ingat, tubuh orang itu masih terasa hangat, pertanda orang itu
belum mati. Seketika timbul rasa simpatinya terhadap orang
yang berlumuran darah di kolong meja. Dia harus memeriksa
luka orang itu, siapa tahu masih bisa ditolong. Dia
membungkukkan badannya, namun ketika dia baru mau
merangkak ke dalam kolong meja, tiba-tiba terdengar suara
siulan yang amat nyaring, dan tak lama kemudian tampak
sesosok bayangan hitam melayang turun di depan kuil.
Ciok Giok Yin segera memandang ke sana. Orang yang baru
datang itu berwajah amat bengis dan seram, sepasang
matanya menyorot liar dan ambutnya awut-awutan. Sungguh
menakutkan orang itu! Dia memandang ke dalam kuil tua itu.
Begitu melihat Ciok Giok Yin, orang itu langsung bertanya.
"Siapa kau?"

Ciok Giok Yin yang telah ketularan sifat aneh Sang Ting It
Koay, menyahut ketus.
"Perduli amat siapa aku?"
"Bocah, aku ingin bertanya satu urusan padamu!" bentak in
itu.
"Urusan apa?"
"Kau harus mengatakannya dengan jujur!"
"Kalau tidak?"
"Aku akan mematahkan tangan dan kakimu, kemudian
membeset kulitmu, setelah itu...,"
"Setelah itu bagaimana?"
"Akan kucincang kau jadi daging halus!"
Hati Ciok Giok Yin tersentak mendengar itu. Kemudian dia
berkata dalam hati. 'Kalau kedatangannya lantaran diriku,
walau aku mengatakan sejujurnya, juga sulit lolos dari bahaya.
Seandainya kedatangannya karena orang yang berlumuran
darah di kolong meja itu...'
"Mau bertanya apa, tanyakan saja!" katanya dengan dingin.
"Kau pernah melihat seseorang?"
"Siapa?"
"Seorang yang terluka parah, sekujur badannya berlumuran
darah!"
Ciok Giok Yin manggut-manggut sambil berkata dalam hati.
'Ternyata memang begitu!'
"Aku melihat!" sahutnya dingin.

"Dia berjalan ke mana?"
"Dia berlari cepat sekali, kelihatannya... berlari ke arah
timur!"
"Baik! Kalau kau berdusta, aku akan kemari mencabut
nyawamu!"
Mendadak sepasang mata orang itu menyorot bengis.
"Tua bangka sialan! Bagaimana kau dapat lolos dari tanganku
Tui Beng Thian Cun (Malaikat Langit Pengejar Nyawa)?"
katanya dengan sengit. Badannya bergerek, tahu-tahu sudah
melesat pergi.
Orang itu menyebut dirinya Tui Beng Thian Cun. Namun Ciok
Giok Yin belum pernah berkecimpung di dunia persilatan, maka
tidak tahu asal-usul orang itu. Namun Ciok Giok Yin yakin,
orang itu bukan dari golongan lurus.
"Kalau aku masih bisa hidup, aku bersumpah akan membasmi
para penjahat di dunia persilatan, agar orang baik tidak
dicelakai para penjahat lagi!" gumamnya.
Mendadak Ciok Giok Yin tersentak, kemudian berkata dalam
hati. 'Kalau Tui Beng Thian Cun itu tidak berhasil mengejar,
pasti akan balik ke mari. Aku dan orang tua berlumuran darah
itu, tentunya akan celaka di tangannya.' Oleh karena itu, Ciok
Giok Yin cepat-cepat merangkak ke dalam kolong meja itu, lalu
membawa orang tua berlumuran darah itu meninggalkan kuil
tua.
Ciok Giok Yin membawa orang tua berlumuran itu menuju ke
arah barat. Dia yakin Tui Beng Thian Cun tidak akan kembali
dalam waktu singgkat. Tak seberapa lama, Ciok Giok Yin
sampai di sebuah gunung. Dia meihat sebuah goa, kemudian
bersembunyi di dalam goa itu, dan rasanya cukup aman. Udara
amat dingin, membuat sekujur badannya menggigil. Itu karena
dia terluka parah, sudah tiada tenaga untuk menghimpun hawa

murninya. Lagi pula tadi dia terus berjalan dengan kencang,
sudah barang tentu melelahkan dirinya, namun membuat
badannya terasa hangat. Kini dia telah berhenti, ditambah
terhembus angin dingin, maka tidak mengherankan kalau
sekujur badannya menjadi menggigil.
Hingga saat ini, dia masih belum melihat jelas wajah orang
tua yang berlumuran darah itu. Maka dia keluar dari goa,
mencari sedikit dahan kering, kemudian dibawa ke dalam
goa. Akan tetapi, bagaimana cara menyalakan api? Dia
termangu-mangu. Mendadak dia teringat pada orang tua yang
berlumuran darah. Dia adalah kaum rimba persilatan, tentunya
membawa barang-barang itu.
Karena itu, Ciok Giok Yin segera merogoh ke dalam baju
orang tua yang terluka parah itu. Benar di dalam baju orang
tua itu terdapat semacam batu yang dapat dipergunakan untuk
menyalakan api. Ciok Giok Yin cepat-cepat menyalakan api dan
membakar dahan-dahan pohon kering itu. Setelah api menyala
dan dahan-dahan itu terbakar, keadaan di dalam goa menjadi
agak terang dan hangat.
Dia justru tidak berpikir, menyalakan api di malam hari pasti
akan terlihat orang. Saat ini barulah dia menengok ke arah
orang tua yang berlumuran darah. Seketika dia terbelalak dan
sekujur badannya menjadi gemetar.
"Kakek Tua! Kakek Tua..." serungnya kaget. Dia
menggoyang-goyangkan badan orang tua itu. "Kakek Tua!
Kakek Tua...." Air matanya bercucuran. Ciok Giok Yin terus
menangis, sehingga tidak mampu berkata. Siapa orang tua
yang badannya berlumuran darah itu? Ternyata kakek tua
berjenggot putih yang sedang dicari Ciok Giok Yin. Justru tak
disangka, kini kakek tua itu terluka parah dengan sekujur
badan berlumuran darah, bahkan nafasnya juga amat
lemah. Ciok Giok Yin terus menangis meraung-raung.
Kakek tua berjengot putih adalah penolongnya, dan juga
satu-satunya orang yang amat dekat dengannya. Kini keadaan
kakek tua berjenggot putih itu sudah sekarat, bagaimana dia
tidak merasa sedih? Saking sedihnya, Ciok Giok Yin menjadi

lupa bertanya pada kakek tua berjenggot putih apa gerangan
yang terjadi. Dia cuma terus menangis dan menangis, kalau
saat ini kakek tua berjenggot putih meninggal, di dunia ini
sudah tiada lagi orang yang amat dekat dengannnya. Dia tidak
boleh membiarkan kakek tua berjenggot putih itu mati.
Mereka berdua harus hidup, sebab masih banyak urusan yang
harus mereka selesikan, juga banyak hal yang harus
ditanyakan pada kakek tua berjenggot putih itu. Dia terus
menangis sambil memanggil kakek tua berjengot putih itu.
"Kakek Tua! Kakek Tua...."
Suara tangisnya amat memilukan. Akhirnya air matanya
berubah menjadi agak kemerah-merahan, ternyata matanya
mulai mengeluarkan air mata darah. Berselang beberapa saat
kemudian, telinga kakek tua berjenggot putih itu sepertinya
mendengar suara tangisan Ciok Giok Yin. Hatinya tergerak, lalu
menarik nafas yang amat panjang. Mendengar itu Ciok Giok Yin
langsung berhenti menangis.
"Kakek Tua , aku adalah Anak Yin..." katanya.
Perlahan-lahan kakek tua berjenggot putih membuka
matanya. Walau pandangannya agak kabur, namun dia masih
dapat melihat seraut wajah yang amat dikenalnya. Seketika
kakek tua berjenggot putih bergumam.
"Apakah ini... ini dalam mimpi...?"
Mendengar suara itu, Ciok Giok Yin bertambah sedih.
"Kakek Tua, ini bukan mimpi, aku benar Anak Yin," sahutnya
terisak-isak. Kakek tua berjenggot putih mengangkat sebelah
tangannya perlahan-lahan, kemudian membelai wajah Ciok
Giok Yin. Sedangkan wajah kakek tua tampak tenang dan
berseri.
"Sungguhkah... kau adalah Anak Yin?"
"Sungguh, Kakek Tua!"

Kakek tua itu membelalakakan matanya, agar dapat melihat
lebih jelas, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukan, kau membohongiku."
"Kakek Tua, aku tidak bohong, aku memang benar Anak Yin."
"Anak Yinku kurang berbakat, lagi pula tidak pernah belajar
ilmu silat. Kau pasti Ciok Giok Yin palsu, yang belum lama
muncul di dunia persilatan. Cepat katakan sejujurnya!"
Ciok Giok Yin tahu saat ini pikiran kakek tua itu masih kabur,
maka dia segera mengeluarkan sebutir obat Ciak Kim Tan, lalu
dimasukkan ke dalam mulut kakek tua itu.
"Kakek Tua, ini obat Ciak Kim Tan pemberian Kakek Tua.
Telanlah obat ini, Kakek Tua pasti dapat melihat dengan jelas
siapa diriku.
Kakek tua itu menelan obat tersebut. Berselang beberapa
saat, mendadak dia memeluk Ciok Giok Yin erat-erat, sambil
berkata dengan suara gemetar.
"Nak, sungguh menyusahkanmu!" Dia berhenti sejenak.
"Nak, tuturkanlah segala apa yang menimpa dirimu!"
lanjutnya.
Ciok Giok Yin mengangguk, lalu menutur tentang apa yang
dialaminya selama ini. Kakek tua berjenggot putih
mendengarkan dengan penuh perhatian. Seusai Ciok Giok Yin
me- nutur, kakek tua itu berkata.
"Nak, sabarlah sebentar!"
Kakek tua itu merogoh ke dalam bajunya untuk
mengeluarkan sebuah botol kecil. Kemudian dia menuang dua
butir obat berwarna putih, sekaligus dimasukkan ke dalam
mulutnya.

"Nak, aku akan bersemedi sejenak. Setelah itu, barulah kita
bicara."
Kakek tua itu langsung duduk bersemedi, mulai menghimpun
hawa murninya. Ciok Giok Yin terus memandangnya. Dalam
hatinya entah merasa girang atau sedih. Dia merasa girang
karena berjumpa kakek tua berjenggot putih, tapi sedih karena
kakek tua itu terluka parah. Seandainya kakek tua itu.... Dia
tidak berani berpikir lagi, cuma air matanya yang meleleh. Di
saat bersamaan, dia pun merasa pandangannya agak gelap. Itu
karena terlampau banyak mengeluarkan darah. Dia segera
duduk dan memejamkan matanya untuk beristirahat.
Akan tetapi, dia sama sekali tidak bisa beristirahat, sebab
pikirannya terus berjalan. Dia memikirkan ilmu pengobatan
yang diturunkan kakek tua berjenggot putih padanya, apakah
terdapat bahan obat yang dapat menahan darah? Walau terus
berpikir, namun sama sekali tidak menemukan itu, hanya ada
satu cara, yaitu mengambil darah orang yang sehat, kemudian
disalurkan ke dalam tubuhnya. Sembari berpikir, dia membuka
matanya memandang ke arah kakek tua berjenggot putih.
Dilihatinya wajah kakek tua itu masih kekuning-kuningan. Kini
dalam hati Ciok Giok Yin amat dendam pada perkumpulan Sang
Yen Hwee, juga pada Tui Beng Thian Cun.
Dia bersumpah apabila dia masih bisa hidup, akan
memusnahkan perkumpulan Sang Yen Hwee. Mengenai Tui
Beng Thian Cun, dia akan mencincangnya demi menuntut balas
dendam kakek tua berjenggot putih. Mendadak kakek tua
berjenggot putih itu membuka sepasang matanya, kemudian
pasang kuping mendengarkan suara di luar. Tapi yang
terdengar hanya suara desiran angin, tidak ada suara
lain. Kakek tua itu tampak lega. Dia segera menggenggam
tangan Ciok Giok Yin, sambil berkata agak terisak.
"Nak, Kakek ke luar justru demi dirimu." Ciok Giok Yin
tertegun.
"Demi diriku?"
"Tidak salah, aku melihat tulangmu tidak cocok untuk belajar

ilmu silat, namun kau justru harus belajar ilmu silat, maka aku
pergi ke gunung mencari bahan obat untukmu."
"Kakek Tua berhasil mencari bahan obat itu?"
"Segala benda pusaka maupun buah langka yang berkhasiat,
tidak bisa dicari. Kalau berjodoh, barulah dapat
menemukannya. Maka, selama itu aku tidak pulang ke Tong
Keh Cuang." Dia memandang bahu Ciok Giok Yin.
"Nak, aku harus mencabut panah itu dulu, barulah kita
bercakap-cakap."
Kakek tua berjenggot putih menotok jalan darah di bahu Ciok
Giok Yin. "Nak, jangan kuatir, tidak akan sakit."
Mendadak tangan kakek tua itu bergerak cepat, ternyata
telah berhasil mencabut panah itu.
"Aduuuh!" jerit Ciok Giok Yin.
Dia nyaris pingsan. Sedangkan kening kakek tua itu
mengucurkan keringat. Dia cepat-cepat menaruh obat pada
bekas luka panah itu.
"Nak, aku akan membantumu melancarkan peredaran
darahmu."
Ciok Giok Yin mengangguk. Kakek tua berjenggot putih mulai
membantu Ciok Giok Yin melancarkan jalan
darahnya. Berselang sesaat, wajah kakek tua itu tampak
berubah hebat.
"Nak, kau cuma bisa hidup enam hari lagi," kata dengan
suara gemetar.
"Aku sudah tahu." Sahutnya , dengan tenang, tanpa terkejut.
"Kau bilang Cak Hun Ciu menyuruhmu pergi mencari Tiong
Ciu Sin le?"

"Ya."
"Tahukah kau siapa aku?"
"Aku...."
Ciok Giok Yin tidak tahu harus menjawab apa. Walau dia
dibesarkan kakek tua berjenggot putih, namun tidak tahu
julukannya.
"Sesungguhnya aku tidak mau memberitahukan, tapi kini
sudah amat terdesak sekali, maka harus kuberitahukan. Aku
memang Tiong Ciu Sin Ie."
"Kakek Tua...."
"Nak,aku telah terluka parah oleh pukulan Tui Beng Thian
Cun. Setelah aku mati, dendamku ini berada pada bahumu,
kau harus menuntut balas dendamku ini!"
"Kakek tua tidak akan..."
Tiong Ciu Sin Ie tersenyum getir.
"Aku menyembuhkan seorang musuhnya. Entah bagaimana
dia mengetahuinya, maka dia menantangku bertarung.
Kepandaiannya memang amat tinggi sekali, cuma dengan
sebuah pukulan, dia telah berhasil melukaiku." Tiong Ciu Sin Ie
menarik nafas dalam-dalam.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Online : Seruling Perak Sepasang Walet dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Online : Seruling Perak Sepasang Walet ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-online-seruling-perak.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Online : Seruling Perak Sepasang Walet ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Online : Seruling Perak Sepasang Walet sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Online : Seruling Perak Sepasang Walet with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-online-seruling-perak.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 22 komentar... read them below or add one }

mang matnur mengatakan...

yeyeyeyeeeeeeeeeeee

Puisi Alam mengatakan...

kapan-kapan saya baca cerita silatnya. panjang banget. keep posting. salam

renovasi rumah mengatakan...

seru juga, teruskan gan cersil nya....

judi bola mengatakan...

wah bagus nih buat anak-anak. lanjutkan yaaaa

dika mengatakan...

Keren nih ceritanya.. sampe 1 jam bacanya :D

Membuat Mie Ayam mengatakan...

panjaaaang banget ceritanya

Membuat-buat mengatakan...

satu jam belum mpe selesai dika. hehhe

Obat Maag mengatakan...

wowww seru banget ya ceritanya..

Obat Alami Jelly Gamat mengatakan...

tulisan yang bagus dan bermanfaat sekali....terimakasih untuk postingannya!

Jelly Gamat Gold mengatakan...

trimakasih telah mau membagi pengetahuannya..
saya yakin itu sangat bermanfaat bagi kita sebagai pembaca juga bagi blog anda dan anda sendiri..

Jelly Gamat Gold G mengatakan...

artikel yang bagus dan bermanfaat..makasih buat infonya

Obat Batu Ginjal mengatakan...

nice share, semoga sukses selalu pak!

Obat Mioma mengatakan...

luar biasa sekali gan infonya .. artikel demi artikel penuh dengan makna dan motivasi

Obat Maag mengatakan...

share nya semoga bermanfaat dan bertambah lagi ilmunya !!! trimakasih atas infonya pencerahan baru untuk saya

Obat Rematik mengatakan...

terima kasih artikelnya yang luar biasa ini ..
sering-sering mas kasih artikel untuk kebaikan situsnya juga...

Obat Demam Berdarah mengatakan...

thanks atas info yang telah diberikan pasti bermanfaat banget dan berguna banget bagi saya thnks banget yah gan

Obat Darah Tinggi mengatakan...

Menarik sekali..
Informasi yang Anda berikan sangat bermanfaat,,
salam semangat..

taf share mengatakan...

bagus artikelnya, di tunggu kunjungannya di Tafshare

jual bed cover murah mengatakan...

artikel yang menarik keep on sharing, .... oh iya salam kenal blooger nubie nih kunjungi balik disini

obat pelangsing badan mengatakan...

terima kasih informasinya

ace maxs mengatakan...

sangat bermanfaat artikelnya..
nice post...

Atasi berbagai penyakit dengan Ace Maxs Herbal
Cara mudah Menambahkan url blogdetik ke Goolge
Daftar harga kasur inoac terbaru

Obat Maag Akut Dan Kronis mengatakan...

good job guys http://goo.gl/Q1avgC http://alfathzahara1.wordpress.com/
alfathzahara1.wordpress.com obat maag akut dan kronis

Poskan Komentar