Cersil : Pendekar Laknat 2 tamat

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 21 September 2011

450
dan memanggil kepada seorang pengawalnya, “Kasih tahu
pada semua penjaga diluar gunung dan pos2 penjagaan di
lembah, supaya masuk semua ke dalam lembah!"
Dengan memimpin belasan anak buah, orang itu pun
segera berangkat melakukan perintah.
Saat itu Siau-liong hanya terpisah 10-an tombak dari Iblispenakluk-
dunia. Apa yang dilakukan iblis itu, diketahui semua.
Ia merasa girang tetapi pun cemas. Girang karena dunia
persilatan masih timbul gerakan lagi untuk menumpas Iblis
penakluk-dunia. Bahkan imam Ceng Hi yang Sudan
mengasingkan diri bertapa selama 20 tahun, juga ikut serta
dalam gerakan itu. Dengan begitu kekuatan mereka tentu
lebih besar.
Tetapi ia cemas karena Iblis-penakluk-dunia dan Dewi
Neraka itu licin sekali dan banyak tipu muslihat. Keadaan
Lembah Semi sangat berbahaya, penuh dengan alat-alat
jebakan. Dan Iblis penakluk-dunia pun sudah sumbar bahwa
kali ini Ceng Hi totiang tentu akan dihancurkan. Jika hal itu
terjadi, memang dunia persilatan takkan terdapat pengganti
tokoh yang sesuai untuk memimpin gerakan pembasmian itu!
Saat itu gemuruh teriakan serbuan tadi sudah berhenti.
Memandang jauh kemuka, ia melihat sekelompok bayangan
hitam berhamburan menyerbu ke dalam lembah.
Tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia memberi hormat kepada
Lam-hay Sin-ni, ujarnya, “Aku masih mempunyai lain urusan.
Apakah Sin-ni suka masuk sendiri ke dalam lembah?"
Lam-hay Sin-ni tertawa mengekeh, “Ah lebih baik kutunggu
disini sambil melihat-lihat saja!"

451
Dengan ucapan itu jelas Lam-hay Sin-ni tak mempunyai
selera untuk mencampuri urusan yang terjadi di Lembah Semi.
Iblis-penakluk-dunia tertawa kecewa lalu lari menuju ke
arah tempat yang diserbu musuh itu. Kawanan pengawalnya
pun segera mengikuti dengan ketat.
Rombongan pendatanq itu terdiri dari belasan orang.
Mereka hentikan jalannya ketika melihat Iblis-penakluk-dunia,
lalu berjalan menghampiri pelahan-lahan.
Dari atas pohon Siau-liong dapat melihat bahwa pemimpin
rombongan tetamu itu seorang imam kurus. Jenggotnya yang
putih perak, memanjang sampai ke dada Punggung
menyanggul sebatang hudtim atau kebut pertapaan. Sikapnya
berwibawa seperti seorang dewa.
Rombongan pengikutnya yang mengawal disebelah kanan
kiri dan belakang. kebanyakan Siau-liong tak kenal kecuali Toh
Hun-ki, keempat Su-lo dari Kong-tong-pay Ti Gong taysu dari
Siau-lim-pay.
"Imam tua itu tentulah Ceng Hi totiang, ketua lama dari
partai Kun-lun-pay!" diam-diam Siau-liong membatin.
Saat itu Iblis-penakluk-dunia pun berhenti setombak
jauhnya dan rombongan pendatang itu. Lam-hay Sin-ni masih
tetap berdiri ditempat semula, ditemani Dewi Neraka.
Iblis penakluk-dunia tertawa menyeringai seraya memberi
salam kepada imam tua itu, “Totiang sudah lama tak
berjumpa....” ia berhenti keliarkan mata sejenak, lalu berkata
pula, "kudengar sudah lama sekali totiang mensucikan diri dari
debu kotoran dunia. Entah mengapa hari ini totiang berkenan
datang kelembah gunung belantara sini?"

452
Imam tua itu memang Ceng Hi totiang, ketua Kun-lun-pay
yang lama. Ia tersenyum menjawab, “Memang sudah hampir
20 tahun aku mengasingkan diri dari keramaian dunia dan
sebenarnya tak mau campur tangan dengan urusan dunia
persilatan lagi. Tetapi kudengar kalian berdua suami isteri
telah mengirim undangan kepada seluruh kaum persilatan
supaya menghadiri pertemuan Adu Kesaktian....”
Belum selesai imam tua itu bicara, Iblis Penakluk-dunia
sudah cepat menukas, “Kami suam isteri melihat kenyatakan
dunia persilatan yang selalu tak aman dari pergolakan, yang
kuat makan yang lemah. Maka terpaksa kami mengambil
tindakan, mengundang seluruh kaum persilatan datang
kelembah sini. Pertama, untuk mempererat hubungan. Kedua,
menggunakan kesempatan adu kesaktian itu, memilih seorang
tokoh yang cerdas bijaksana dan pandai dalam ilmu sastera
serta silat, menjadi pemimpin dunia persilatan. Dengan
demikian dunia persilatan akan mempunyai suatu wadah dan
pimpinan. Segala pergolakan mau pun pertikaian dan
pertumpahan darah, tentu akan dapat dihentikan. Jika hal itu
terlaksana, jerih payah kami berdua, tentu takkan sia2!"
Dengan ucapan itu se-olah2 Iblis Penakluk dunia
menempatkan dirinya sebagai seorang pahlawan penyelamat
dunia persilatan.
Ceng Hi totiang mendengar dengan sabar keterangan Iblis
Penakluk-dunia itu. Setelah selesai barulah ia tersenyum.
"Peristiwa berdarah pada 20 tahun yang lalu rupanya masih
membekas dalam hati sekalian kaum persiatan. Sekali pun
dalam mulut mereka terpaksa mengiakan tetapi dalam hati
mereka tetap masih tak puas. Jika menurut pendapatku
kuanjurkan kalian berdua supaya menghapus saja cita2 ke-
Angkaraan itu. Lebih baik hiduplah menyepi dipegunungan
yang tenang untuk melewati sisa penghidupan, agar....”

453
Iblis Penakluk-dunia tertawa meloroh.
"Adakah karena tak menerima undangan maka totiang
marah? Jika totiang memang masih mempunyai keinginan
untuk menguasai dunia persilatan, kami dengan segala senang
hati segera akan menghaturkan surat undangan....” Iblis
Penakluk-dunia menutup katanya dengan melirik rombongan
pengikut Ceng-hi totiang. Lalu melanjutkan pula, “Adu
kepandaian akan diselenggarakan besok malam. Karena
saudara2 datang lebih pagi sehari, maaf, aku tak siap
menyambut. Jika saudara hendak memberi pelajaran, harap
datang besok malam saja!"
Ketua Siau-lim-si, Ti Gong taysu. tak dapat menahan diri
lagi. Setelah menyerukan kata 'omitohud', ia menggembor
dengan nyaring, “Jangan dengarkan ocehannya! Lembah Semi
penuh dipasangi alat-alat jebakan rahasia. Jika tidak....
ditujukan orang, aku dan beberapa saudara mungkin sudah
binasa dalam lembah itu. Apa yang disebut sebagai Pertemuan
besar Adu Kesaktian itu, tak lain hanyalah suatu perangkap
untuk menjerat seluruh kaum persilatan!"
Iblis-penakluk-dunia tertawa nyaring, “Lem-bah Semi
adalah tempat kediaman anakku perempuan. Jika benar
terdapat alat-alat rahasia itu tentulah atas perintah dari
anakku yang masih gemar bermain-main. Masakan alat-alat
semacam itu dapat mengurung para orang gigih. Apakah
ucapan lo-siansu itu tak terlalu berlebih-lebihan?"
Ti Gong taysu menggerung marah, “Kalau begitu.
dimanakah beradanya ketua Tiam jong-pay Shin Bu-seng,
ketua Bu-tong-pay It Hang totiang. ketua Ji-tok-kau Tan Inhong,
ketua Tong-thing-pang Cu Kong-leng serta Kun-lun
Sam-cu itu?"

454
Dengan tenang Ibls-penakluk-dunia menjawab, “Kami
suami isteri dengan hati yang sungguh hendak mengatur
dunia persilatan. Tetapi lo-sian-su dan It Hang totiang
menggunakan pikiran siau-jin (orang rendah) mengukur hati
orang. Diam-diam lo-siansu dan It Hang totiang memimpin
rombongan menyelundup ke dalam lembah untuk mencelakai
kami. Sudah suatu kesungkanan kalau kami tak menarik
panjang urusan itu. Tetapi sayang lo-siansu masih ada muka
untuk mengungkat lagi hal itu....”
Ti Gong taysu menggerung hendak turun tangan tetapi
buru-buru dicegah Ceng Hi totiang. Dengan ilmu Menyusup
suara, ketua lama dari partai Kun-lun-pay itu berseru kepada
Ti Gong taysu, “Menghadapi urusan kecil tak dapat menahan
diri. tentu dapat membikin kapiran urusan besar. Harap losiansu
suka sabarkan diri."
Habis berkata ketua Kun-lun-pay itu memandang ke arah
Lam-hay Sin-ni dengan heran.
Iblis-penakluk-dunia tertawa dingin, “It Hang totiang dan
rombongannya tak kurang suatu apa. Besok pagi kalau datang
ke lembah, saudara2 tentu mengetahuinya!"
Sambil mengurut jenggotnya yang menutup dada, Ceng Hi
totiang berkata, “Atas nama wakil dari seluruh partai
persilatan, kami menolak undangan saudara. Selain itu,
akupun hendak mohon bertanya dua buah hal....”
Sejenak menatap pada Iblis penakluk-dunia jago tua itu
berkata pula dengan nada mantap, “Kesatu, sebelum matahari
terbit, besok pagi It Hang totiang dan ke-7 kawan2nya harus
sudah dibebaskan. Kedua, lebih baik kalian berdua kembali
kedaerah luar perbatasan lagi, jangan mencampuri urusan
dunia persilatan di Tiong-goan!"

455
Wajah Iblis penakluk-dunia berobah dingin, serunya,
“Adakah totiang hendak mengulang cerita pada 20 tahun jang
lalu untuk mengusir kami dari Tiong-goan?"
“Sesungguhnya aku menjunjung perdamaian, harap
saudara suka mempertimbangkan semasak-masaknya!" kata
Ceng Hi totiang, lalu berpaling ke belakang dan berseru,
“Kasih tahu pada keempat kelompok kita. Besok pagi sebelum
mendapat perintahku, jangan sembarangan bertindak sendiri!"
Iblis-penakluk-dunia tertawa mengekeh, "Perintah itu tak
perlu disiarkan. Aku sudah memikir masak, besok sore kami
akan menyambut kedatangan para tetamu. Kami berdua
suami isteri akan bertindak sebagai tuan rumah yang layak.
Tetapi kalau hal itu tak mendapat perhatian, jangan salahkan
kami akan bertindak ganas!"
Ceng Hi totiang menghela napas panjang, “Segala apa
memang sudah kehendak Takdir. Aku tak dapat menentang
takdir. Tetapi sayang, entah berapa banyak korban yang akan
berjatuhan dalam pertempuran itu nanti!"
Iblis-penakluk-dunia tertawa seram, “Sekarang bukanlah
sama dengan 20 tahun jang lalu. Jika totiang memang
menjunjung kedamaian dan ketenteraman, silahkan totiang
masuk ke dalam lembah untuk berunding empat mata dengan
kami. Mungkin dapat diperoleh jalan keluar....”
Ceng Hi totiang merenung diam. Hanya matanya
memandang ke arah rombongannya, dengan pandang
meragu.
Toh Hun-ki ketua Kong-tong-pay berseru nyaring,
“Berunding dengan kedua iblis itu, tak ubah seperti berunding
dengan harimau mengenai kulit. Totiang memikul tanggung

456
jawab keselamatan dunia persilatan, mana boleh
sembarangan menempuh bahaya?"
Ceng Hi totiang mengangguk lalu memandang Iblis
penakluk-dunia, serunya, “Kata-kataku hanya sampai disini.
Tak perlu untuk berunding apa2 lagi. Jika besok sampai
matahari menyingsing kami tak melihat It Hang totiang dan
kawan-kawan, terpaksa akan kupimpin serangan ke Lembah
Semi....”
“Kebajikan yang utama ialah mengusahakan perdamaian
pada umat manusia, katanya pula, "harap kalian suka pikir
sekali lagi. Ketahuilah, seluruh kaum persilatan sudah
berkumpul disini. Betapa berbahayanya Lembah Semi, namun
tetap tak mungkin mampu menghadapi serbuan seluruh kaum
persilatan!"
Habis berkata imam tua itu terus hendak mengajak
rombongannya pergi. Tetapi tiba-tiba terdengar Iblis
penakluk-dunia tertawa gelak2 dan menyusul terdengarlah
sebuah lengkingan tajam membentak, “Hm, macam apakah
ini!"
Pada saat Ceng Hi totiang memandang kemuka, entah
kapan datangnya tahu2 Lam-hay Sin-ni sudah berada dimuka
dan memandang tajam kepada rombongan orang gagah.
Rahib sakti dari Lam-hay itu memang jarang berkelana di
dunia persilatan. Sebagian besar kaum persilatan tak kenal
padanya. Tetapi tokoh2 semacam Ceng Hi totiang, Toh Hunki,
Ti Gong taysu dan beberapa jago tua, semua sudah pernah
melihat rahib itu. Kebanyakan kaum persilatan selalu bersikap
menghormat dan menjauhi rahib sakti yang aneh wataknya
itu.

457
Segera Ceng Hi totiang memberi hormat, ujarnya, “Konon
kabarnya Sin-ni mengasingkan diri digunung Bu-ih-san. Tak
kira kalau hari ini dapat bertemu disini. Entah apakah maksud
kunjungan Sin-ni kemari....”
Lam-hay Sin-ni mendengus lalu balas bertanya, “Ho,
engkau kenal aku juga?"
Ceng Hi totiang tertawa, “Pada pertemuan ditelaga Leng-ti
dahulu, aku beruntung dalam berjumpa sekali dengan Sin-ni.
Pada masa itu Sin-ni masih agak muda dan akupun masih
seorang pemuda....”
Ketua Kun-lun-pay itu berhenti sejenak untuk bersenyum
lalu, “Menurut perhitungan, peristiwa itu sudah berlangsung
20 tahun yang lalu!"
Wajah Lam-hay Sin-ni agak tenang, ujarnya, “Benar,
ingatanmu masih bagus sekali!" -tiba-tiba wajah rahib itu
mengerut tegang lag!, “Perlu apa kalian datang kemari?
Apakah juga akan mencari pusaka?"
Ceng Hi totiang terkesiap, sahutnya, “Sudah hampir 20
tahun aku menutup diri dari keramaian dunia. Kali ini terpaksa
muncul kedunia persilatan lagi adalah karena hendak
mencegah pertumpahan di dunia persilatan. Sama sekali tiada
keinginan hendak mencari pusaka. Dan lagi kitab pusaka itu
hanya suatu kabar cerita yang sudah berlangsung beberapa
ratus tahun. Adakah kabar itu dapat dipercaya, aku tak berani
memastikan!"
Tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia menggunakan ilmu
Menyusup suara kepada Lam-hay Sin-ni, “Imam tua itu telah
membawa ribuan pengikut untuk mengepung Lembah Semi
sini. Jika tindakan itu bukan untuk mencari kitab pusaka,

458
apakah ada lain alasan lagi yang dapat membohongi seorang
anak kecil?"
Lam-hay Sin-ni mengangguk. "Benar, masakan aku dapat
dikelabuhinya.... rahib itu diam sebentar lalu bertanya, “Tetapi
apakah tujuan Adu Kepandaian di Lembah Semi yang hendak
kalian selenggarakan itu?"
Iblis penakluk-dunia tetap gunakan ilmu Menyusup suara
untuk menyahut, “Dewasa ini setiap orang persilatan tentu
mengiler akan kitab pusaka itu. Dengan menggunakan
keadaan Lembah Semi yang berbahaya ini, aku hendak
mencegah tindakan mereka, dan lagi....”
Iblis itu tersenyum lalu berkata pula, “Yang separoh bagian
dari peta Giok-pwe itu menang berada padaku, tetapi yang
separoh lagi kemungkinan berada pada mereka. Aku hendak
merebut yang separoh itu dari tangan mereka untuk
kupersembahkan kepada Sin-ni."
Berseri-seri gembiralah wajah Lam-hay Sin-ni. Tetapi pada
lain saat. tiba-tiba wajahnya mengerut lagi, “Kitab pusaka dari
Tio Sam-hong, setiap hidung tentu menginginkan. Masakan
kalian suami isteri tak menghendakinya? Apalagi sama sekali
aku tak pernah melepas budi kepadamu, mengapa kalian
begitu ihlas hendak menyerahkan peta itu kepadaku?"
Mata rahib itu berkilat-kilat memandang Iblis-penaklukdunia
dengan penuh kecurigaan.
Iblis-penakluk-dunia tercengang, Tetapi cepat ia dapat
menguasai keadaan. Iapun tertawa sinis.... Memang tak salah
kalau Sin-ni menaruh kecurigaan. Aku memang masih
mempunyai alasan yang belum kuberitahukan....”

459
Ia merenung sejenak lalu berkata dengan tenang,
“Pertama, kami berdua suami isteri amat mengagumi sekali
akan ilmu sakti Cek-ci-sin-kang dari Sin-ni. Kedua, kami
mempunyai sebuah persoalan yang ingin memohon bantuan
Sin-ni....”
“Soal apa? Lekas katakanlah!"
“Kami suami isteri selalu bersikap baik kepada orang tetapi
entah bagaimana kami selalu dimusuhi orang saja. Dua puluh
tahun yang lalu, kami telah dikepung dan hendak dibunuh
oleh Ceng Hi totiang dan kawan-kawannya sehingga kami
terpaksa melarikan diri keluar perbatasan....”
Iblis penakluk-dunia menghias tutur ceritanya dengan
sebuah helaan napas. "Seperti kali ini, baru beberapa hari
kami pulang ke lembah, tokoh2 partai persilatan itu terus
berbondong-bondong datang kemari hendak membikin
perhitungan kepada kami. Bahkan pada tengah malam begini,
mereka tetap masuk ke dalam lembah hendak mencelakai diri
kami. Saat ini Ceng Hi totiang kembali membawa
rombongannya hendak menghancurkan lembah kami.
Rupanya jika kami berdua suami isteri belum mati, mereka
tetap tak puas Oleh karena itu, dengan menggunakan
kesempatan Adu Kepandaian itu, kami hendak mohon bantuan
Sin-ni untuk menundukkan mereka. Bukan karena kami ingin
menguasai dunia persilatan, melainkan agar kami dapat hidup
disini dengan tenteram. Sudah tentu budi pertolongan Sin-ni
itu kami takkan lupa selama-lamanya!"
Rupanya Lam-hay Sin-ni mudah sekali percaya omongan
manis. Seketika timbullah rasa simpatinya kepada Iblis
penakluk-dunia. Berulang kali ia mengangguk-angguk kepala.
"Itu mudah saja, aku akan membantumulah."

460
“Lebih dulu terimalah persembahan terima kasih kami atas
budi pertolongan Sin-ni!" serta-merta Iblis penakluk-dunia
menjurah memberi hormat.
Dengan wajah berseri, rahib itu berpaling ke arah Ceng Hi
totiang. bentaknya, “Adu Kepandaian itu akan dilangsungkan
besok malam. Mengapa kalian sekarang sudah datang?"
Ceng Hi totiang memang tak tahu apa hubungan antara
suami isteri iblis itu dengan Lam-hay Sin-ni. Apalagi
pembicaraan mereka dilakukan dengan menggunakan ilmu
Menyusup-suara. Yang dilihatnya hanya bibir kedua orang itu
tak henti2nya bergerak. Ia duga mereka tentu sedang
bercakap-cakap. Dan menilik nada serta sikapnya, tahulah
Ceng Hi totiang bahwa rahib itu datang karena hendak
mencari pusaka peninggalan Tio Sam-hong.
Menilik betapa licik manusia Iblis-penakluk-dunia itu dan
mengingat betapa picik pengalaman Lam-hay Sin-ni yang
jarang keluar kedunia persilatan itu, diam-diam Ceng Hi
Totiang gelisah. "Ah, kalau kitab pusaka itu sampai jatuh
ketangan orang yang tak bertanggung jawab semacam Iblispenakluk-
dunia, alangkah ngerinya nasib dunia persilatan
nanti....”
Toh Hun-ki, Ti Gong taysu dan lain-lain tokoh, cukup
mengetahui kelihayan ilmu sakti Cek-ci-sin-kang dari rahib
itu.... Mereka gelisah. Kalau rahib itu sampai dipergunakan
Iblis penakluk-dunia, tentu hebatlah akibatnya bagi
rombongan Ceng Hi totiang.
Ceng Hi totiang gelagapan mendengar bentakan rahib itu.
Buru-buru ia memberi hormat, sahutnya, “Selama ini Sin-ni
selalu menjauhkan diri dari pergolakan dunia persilatan yang
kotor. Dan kaum persilatan menaruh perindahan tinggi kepada

461
Sin-ni. Maka heranlah kami mengapa saat ini Sin-ni muncul
dan membantu kedua suami isteri durjana itu?"
Lam-hay Sin-ni deliki mata, membentak, “Apakah engkau
hendak memberi nasehat kepadaku?"
Pun Iblis penakluk-dunia cepat menambahi kata, “Totiang
amat termasyhur di dunia persilatan dan sangat diindahkan
sekali oleh dunia persilatan. Sekali pun kata2 totiang itu
menyinggung perasaanku, tetapi aku rela menerimanya.
Tetapi kalau totiang menghina pada Sin-ni, ah, sungguh
keterlaluan sekali!"
Lam-hay Sin-ni yang polos dan jujur tetapi agak tolol,
seketika terbakarlah kemarahannya mendengar ucapan Iblis
penakluk-dunia itu. Segera ia ayunkan tangan, melontar
pukulan.
Bum.... sebuah batu besar hancur bertebaran keempat
penjuru!
Ternyata pukulan rahib itu ditujukan pada sebuah batu
besar yang terpisah beberapa meter dari tempat Ceng Hi
totiang.
Tetapi tak kecewalah Ceng Hi sebagai seorang datuk
persilatan. Ia memiliki toleransi yang besar sekali. Setitikpun ia
tak terpengaruh oleh pameran ilmu kesaktian dari rahib itu. Ia
tetap tegak dengan tenangnya.
“Dengan Kekuatan menaklukan orang, tidaklah seindah
menaklukkan orang dengan Keluhuran budi. Apalagi dunia
persilatan selalu mengutamakan Keadilan dan Kebenaran!"
kata imam tua itu dengan tertawa hambar, lalu menghela
napas. Seolah-olah menyesalkan tindakan Lam-hay yang

462
karena hendak mencari kitab pusaka telah rela bekerja-sama
dengan suami isteri durjana.
Lam-hay Sin-ni tertawa mengekeh, “Selama mengasingkan
diri digunung sepi, aku tak pernah melepaskan diri dari
persoalan manusia. Kemungkinan nanti aku pun akan menjajal
kepandaian dengan kalian!"
Ceng Hi totiang terbeliak. Benar-benar ia tak mengira
bahwa seorang rahib tua yang memiliki salah satu dari ilmu
Panca Sakti dan sudah berpuluh tahun mengasingkan diri
ternyata masih belum mencapai kesadaran. Masih tak dapat
membedakan antara Putih dengan Hitam. Masih dikuasai
nafsu untuk mengejar nama dan keuntungan. Adakah rahib itu
benar-benar kurang waras! pikirannya?
Toh Hun-ki dan rombongan serta Ti Gong taysu yang lebih
banyak dipengaruhi rasa jerih terhadap kesaktian rahib itu, tak
berani ikut bicara.
Dengan wajah berseri riang Lam-hay Sin-ni memandang
sekalian orang itu kemudian berpaling kepada Iblis-penaklukdunia,
“Sekarang mari kita masuk ke dalam lembah untuk
mengambil Giok-pwe yang separoh bagian itu?"
Iblis-penakluk-dunia mengangguk, “Baiklah, mari kuantar
Sin-ni!" -ia terus berputar diri dan ayunkan langkah.
Dewi Neraka cepat melesat kesamping Lam-hay Sin-ni.
Tangan kiri mencekal tongkat kepala naga, tangan kanan
memapah lambung Lam-hay Sin-ni.
Ceng Hi totiang memandang bayangan rahib itu dengan tak
berkata suatu apa. Tetapi ketika Lam-hay Sin-ni baru berjalan
beberapa langkah, tiba-tiba dari udara terdengar suara
gemboran menggeledek, “Sin-ni, berhentilah!"

463
Sesosok tubuh melayang dari atas gerumbul pohon.
Gerakannya mirip dengan seekor burung rajawali. Dan tepat
orang itu melayang turun beberapa langkah dimuka Sin-ni.
Baik rombongan Ceng Hi totiang maupun suami isteri Iblis
penakluk-dunia, terperanjat sekali dan buru-buru hentikan
langkah.
Kiranya yang muncul itu adalah Siau-liong dalam
penyamaran sebagai Pendekar Laknat.
Ceng Hi totiang dan rombongannya pun tak jadi tinggalkan
tempat itu.
Sejenak terkejut, Iblis-penakluk-dunia segera tenang
kembali. Ia tertawa dingin, “Tua bangka Laknat, umurmu
benar-benar masih panjang!"
Pun Dewi Neraka dengan heran2 kejut, berseru,
“Bagaimana engkau dapat menemukan jalan rahasia dalam
lembah? Asal engkau mau mengatakan, kami takkan
menyusahkan engkau lagi!"
Siau-liong tertawa; "Sudan kukatakan semula, tempat
sebagai Lembah Semi itu, aku senang datang terus datang,
senang pergi pun pergi. Segala macam alat perangkap dan
tempat yang berbahaya dalam lembah, masakan mampu
merintangi kebebasanku?"
Pada saat kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia hendak
menyahut, Lam-hay Sin-ni cepat mencegahnya. Kemudian
rahib itu tersenyum pada Siau-liong, serunya, “Uh, hampir saja
kulupakan engkau? Apakah engkau tetap bersembunyi di atas
pohon itu?"

464
“Benar, apa yang Sin-ni dan kedua iblis bicarakan tadi,
telah kudengar semua!"
Lam-hay Sin-ni memandang wajah Siau-liong, serunya, “Ya,
omonganmu itu benar sekali....” -ia menunjuk pada suami
isteri Iblis -penakluk-dunia, berkata pula; "memang Giok-pwe
yang separoh bagian itu berada ditangan mereka dan
sekarang hendak kuambil ke dalam lembah!"
Siau-liong berkata dingin, “Kukuatir separoh Giok-pwe itu
Sin-ni tak dapat memperolehnya dan lagi. Jangan masuk ke
dalam lembah!"
“Mengapa?" bentak rahib itu dengan marah.
“Selama ini Sin-ni hanya tinggal menyepi digunung dan tak
menghiraukan urusan dunia. Kali ini kedatangan Sin-ni untuk
mencari kitab pusaka Tio Sam-hong, kurasa bukanlah
dikarenakan hendak memburu harta permata yang tak ternilai
jumlahnya itu!"
"Sudah tentu," sahut Lam-hay Sin-ni, "aku tak butuh
dengan segala harta kekayaan dunia!"
“Karena tak menginginkan harta permata, jelas tentulah
hanya untuk Kitab pusaka itu saja....”
Siau-liong berhenti sejenak memandang sekalian orang
yang tegak berdiri diam, lalu berseru nyaring, “Walaupun ilmu
Thian-kong-sin-kang itu tergolong salah satu dari Panca Sakti,
tetapi hanya ilmu itulah yang mendasarkan pada Sin
(semangat). Jadi jauh di atas ilmu sakti Thian-jim-sin-kang,
Jit-hua-sin-kang, Yi-li-sin-kang dan ilmu Cek-ci-sin-kang yang
Sin-ni miliki. Maka apabila ilmu Thian-kong-sin-kang yang
tertera pada kitab pusaka itu sampai jatuh ketangan lain
orang, Sin-ni pasti akan tergeser dalam kedudukan sebagai

465
tokoh kelas dua. Jika Sin-ni dapat memperoleh ilmu Thiankong
sin-kang itu, Sin-ni akan memiliki dua buah ilmu sakti
yang tiada taranya dan dengan sendirinya Sin-nilah satusatunya
tokoh nomor satu dalam dunia persilaran....”
Ceng Hi totiang dan sekalian orang mendengarkan dengan
penuh perhatian. Sekalipun ilmu Panca Sakti itu sudah tersiar
dalam dunia persilatan sejak berpuluh-puluh tahun tetapi
karena sudah lama sekali tak pernah muncul tokoh yang
menggunakan ilmu sakti itu, maka orang menganggapnya
hanya sebagai khayalan saja. Maka pada saat Pendekar
Laknat Siau-liong mengungkapkan lagi tentang kelima ilmu
sakti itu dengan jelas, sekalian tokoh2 yang hadir disitu sama
tercergang-cengang....
Lam-hay Sin-ni tertawa mengekeh, “Meskipun kata-katamu
itu tak sedap, tetapi memang kenyataannya bcgitulah, aku
Lam-hay Sin-ni memang tak mau campur tangan urusan dunia
persilatan tetapi aku pun tak rela kalau ada orang yang lebih
unggul kepandaiannya dari diriku!"
Siau-liong memandang kedua suami isteri Iblis-penaklukdunia
lalu tertawa hambar, "Selama ini Sin-ni hanya
mengabdikan diri pada ajaran suci dan tak mau mergotorkan
diri pada kejahatan dunia. Jika kitab pusaka yang berisi Thiankong-
sin-kang itu akan menjadikan seseorang melonjak dalam
kedudukan sebagai tokoh persilatan nomor satu, masakan
kedua Suami isteri itu mau begitu rela menyerahkan pada Sinni?
Dalam hal itu tentulah....”
Iblis-penakluk-dunia cepat menukas dengan tertawa
melengking nyaring, “Betapapun engkau hendak
menggunakan lidahmu yang tajam tetapi tak mungkin dapat
memecah belah Sin-ni dengan aku....”

466
“Jangan mengerat omongan orang! Biarkan dia bicara
sampai habis dulu!" bentak Lam-hay Sin-ni.
Siau-liong mendengus ejek lalu melanjutkan kata-katanya,
“Jelas kedua suami isteri iblis itu mengandung hati durjana.
Jika Sin-ni sampai terjebak masuk ke dalam lembah, berarti
Sin-ni akan terjerumus ke dalam liang naga. Bukan saja
separoh Giok-pwe itu takkan Sin-ni peroleh, bahkan Sin-ni
sendiri tentu sukar akan keluar dari situ....”
Siau - liong berhenti sejenak untuk mengatur kata2.
Setelah itu berserulah ia dengan keras, “Jong Leng lojin
adalah contohnya!"
"Siapakah Jong Leng lojin itu?" tanya Lam -hay Sin-ni.
“Jong Leng lojin adalah salah seorang tokoh yang memiliki
ilmu sakti Jit-hua-sin-kang!" teriak Siau-liong, "dia sekarang
berada dalam penjara dibawah tanah dengan kedua kakinya
dirantai!"'
Lam-hay Sin-ni maju selangkah dengan mata berkilat-kilat
tajam, serunja; "Benarkah itu?"
"Aku menyaksikan sendiri!" sahut Siau liong.
Wajah Lam-hay Sin-ni tampak membeku lalu berpaling ke
arah Iblis-penakluk-dunia.
Juga Ceng Hi toting dan sekalian orang terperanjat
mendengar keterangan Pendekar Laknat Siau-liong itu.... Jika
hal itu benar, sungguh suatu peristiwa yang tiada tara
ngerinya. Jong leng lojin sudah berpuluh-puluh tahun tak
muncul di dunia persilatan. Orang mengira dia tentu sudah
mati atau sudah lenyap. Tetapi mengapa ternyata
dipenjarakan Iblis penakluk-dunia dalam Lembah Semi?

467
Sekalian orang setengah meragukan keterangan Siau-liong
itu.
Diantara sekian banyak orang, hanya Ceng Hi totianglah
yang paling rapat hubungannya dengan Pendekar Laknat.
Sudah beberapa kali ia bertemu dengan momok itu maka
tahulah ia bagaimana watak dan pribadi momok itu.
Sejauh ingatan Ceng Hi totiang, dahulu Pendekar Laknat itu
seorang manusia yang sukar diraba pendiriannya. Malang
melintang di dunia persilatan menurut sekehendak hatinya
yang angkuh dan ganas. Tetapi mengapa sekarang, dua puluh
tahun kemudian, momok itu tiba-tiba berobah begitu sadar,
dapat membedakan mana yang lurus dan mana yang jahat?
Dan yang paling tak dimengertinya ialah dua puluh tahun
yang lalu Pendekar Laknat itu bertubuh pendek tetapi
mengapa sekarang berobah begitu tinggi besar? Masakan
makin tua makin bertambah tinggi!
Saat itu suasana makin bertambah tegang. Sekalian orang
memandang ke arah Lam-hay Sin-ni. Rupanya rahib yang
memiliki salah satu dari ilmu Panca Sakti, hendak berbalik
memusuhi Iblis penakluk-dunia.
Tetapi Iblis-penakluk-dunia tetap mengulum senyum dan
memberi homat kepada rahib itu, “Adakah Sin-ni percaya akan
omongan itu?"
"Kalau melihat dengan mata kepala sendiri, tentulah tak
bohong!" sahut Sin-ni.
Iblis penakluk-dunia tertawa nyaring, “Jong Leng lojin
memiliki ilmu sakti Jit-hua-sin-kang. Dalam dunia persilatan
kedudukannya sama dengan Sin-ni. Masakan kami berdua

468
mampu menjebloskannya dalam penjara dibawah tanah?
Apalagi....”
Ia memandang Siau-liong dan rombongan Ceng Hi totiang.
"Si tua Laknat, Toh Hun-ki ketua Kong-tong pay, Ti Gong
taysu dari Siau-lim-si, To Kiu-kong ketua Kay-pang dan lainlain
pernah masuk ke dalam lembah dan dapat keluar dengan
tak kurang suatu apa. Jika lembah itu penuh dengan alat
jebakan dan kami mempunyai kemampuan untuk
memenjarakan Jong leng lojin, masakan rombongan mereka
dapat lolos dari tangan kami? Masakan mereka dapat berdiri
disini dan menyerang kami dengan fitnah yang tajam?"
Lam-hay Sin-ni mengangguk angguk, “Omonganmu benar
juga. Hampir saja aku dapat dikelabuhi!"
Dengan mata berkilat-kilat rahib itu menatap Siau-liong.
Melihat itu Iblis-penakluk-dunia cepat menambah minyak ke
dalam api. Serunya, “Masih ada sebuah hal penting yang
hendak kuberitahukan kepada Sin-ni Giok-pwe yang separoh
bagian itu berada pada si tua Laknat!"
Seketika berobahlah wajah Sin-ni terkejut girang. Cepat ia
menegur Siau-liong, “Benarkah itu?"
"Benar!" Siau-liong tertawa hambar.
"Lekas serahkan padaku!"
Siau-liong tertawa dingin, “Sekabpun aku ingin
menyerahkan Giok-pwe itu, tetapi sekarang sudah tak dapat."
Berhenti sejenak, Siau liong mengangkat muka memandang
kelangit dan berseru pula dengan nada tawar, “Kitab pusaka
tulisan Tio Sam-hong dan harta karun yang nilainya dapat
dibelikan sebuah kota, sejak saat ini bakal lenyap dan tinggal

469
merupakan sebuah teka-teki saja. Andaikata benar ada pun
harta pusaka itu tak mungkin diketemukan orang lagi dan
akan terpendam dalam tanah untuk selama-lamanya."
“Perlu apa engkau mengoceh belo tak keruan itu." bentak
Lam-hay Sin-ni.
Siau - Hong tertawa lepas. Dengan tandas ia berkata:
.”Separoh Giok-pwe itu telah kuremas hancur berkepingkeping....”
Seketika berobahlah wajah lblis penakluk-dunia. Tetapi
beberapa saat kemudian ia tertawa gelak2; "Omongan
semacam itu, anak kecil umur 3 tahunpun tak mungkin
percaya!"
Lm-hay Sin-ni tertegun lalu melengking, “Aku pun juga tak
percaya!"
Siau-liong menertawakan Iblis-penakluk-dunia, serunya,
“Aku tak butuh engkau percaya atau tidak! Tetapi jelas kalau
separoh bagian Giok-pwe itu sudah kuhancurkan. Dengan
begitu yang separoh bagian lagi sudah tak berguna."
Dengan murka sekali Lam-hay Sin-ni membentaknya, “lekas
serahkan separoh bagian Giok-pwe itu. Kalau tidak terpaksa
aku turun tangan!"
Bentakan itu dilambari dengan tenaga dalam yang hebat
sehingga sekalian orang yang hadir disitu seperti mendengar
halilintar meletus. Mereka terkejut dan memandang ke arah
rahib itu.
Dibawah sinar rembulan, tampak dengan mata berapi-api
rahib itu memandang Siau-liong seraya pelahan-lahan maju
menghampiri....

470
Tampak jubahnya yang gerombyong itu berkibar-kibar
keras. Tanah yang dilaluinya meninggalkan bekas telapak
sedalam tiga inci. Dahinya memancar sinar pembunuhan yang
buas.
Siau-liong memandang gerak-gerik Sin-ni itu dengan penuh
perhatian. Diam-diam ia kerahkan seluruh tenaga dalam Bukek-
sun-kang. Walau pun belum yakin akan menang, namun
ia bertekad untuk menghadapi Sin-ni itu.
Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka berdiri disamping
sambil tertawa sinis. Seri wajahnya amat riang karena
siasatnya mengadu domba akan berhasil.
Tidak demikian dengnn ketua Kong-tong-pay, Toh Hun-ki.
Diam-diam ia keluarkan keringat dingin karena mencemaskan
Pendekar Laknat Siau-liong. Buru-buru ia gunakun ilmu
Menyusup Suara untuk berseru kepada Ceng Hi totiang.
"Pendekar Laknat yang sekarang jauh sekali bedanya
dengan dahulu. Kami dan kawan2 ketika dikurung dalam
lembah, jika tak ada dia yang menolongi, tentulah sudah
binasa. Dapatkah totiang membantu sedikit tenaga kepadanya
dalam menghadapi keganasan Iblis penakluk-dunia dan Dewi
Neraka dan untuk menyelamatkan dunia persilatan, jika bisa
mendapatkan tenaganya, tentu sangat berguna sekali"
Ceng Hi totiang kerutkan dahi. Mengangguk tetapi tak
menyahut apa2.
Beberapa langkah dimuka Siau-liong, Lam-hay Si-ni
berhenti, bentaknya pula, “Apakah engkau masih tak mau
menyerahkan Giok-pwe itu?"

471
Siau-liong deliki mata, “Sudah kukatakan, Giok-pwe itu
sudah kuhancurkan. Tetapi engkau berkeras tak percaya, apa
boleh buat!"
Bentak rahib itu, “Telah menjadi keputusanku untuk
mencari pusaka itu. Dengan menyimpan separoh Giok-pwe itu,
bagimu pun tak berguna. Bahkan malah akan menghilangkan
nyawamu yang sudah tua itu!"
Siau-liong tertawa angkuh, “Harap Sin-ni jangan
mengagulkan ilmu Cek-ci-sin-kang untuk memandang rendah
orang, Jika Sin-ni tak mau makan nasehatku, tentulah Sin-ni
akan mengalami nasib serupa Jong Leng lojin yang
dipenjarakan dibawah tanah oleh kedua suami isteri iblis itu!"
Wajah Sin-ni berobah pucat dan membentaklah ia dengan
kalap, “Apakah engkau benar-benar tak takut mati!" Tiba-tiba
ia mengangkat tangan kanan hendak memukul....
Diam-diam Siau-liong menimang, “Mati hidup sudah takdir!
Jika aku memang harus mati ditangan rahib ini, mau lari
kemana lagi? Hm....?"
Siau-liong telah mengambil keputusan. Andaikata sekarang
tidak, pun setahun lagi ia pasti akan mati juga. Baginya tiada
yang diharap lagi. Pikiran kacau, hatinya pun gundah. Maka
tetap tegaklah ia ditempat. Kedua tangan telah disiapkan
dengan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang dan ia benar-benar
hendak mengadu jiwa dengan Lam-hay Sin-ni.
Mata Lam-hay Sin-ni memang tajam sekali. Cepat ia
melihat bahwa kedua tangan Siau-liong menjadi merah
membara. Seketika tertawalah ia mengekeh.
“Heh, heh, dengan mengandalkan ilmu liar itu, engkau
hendak melawan aku?" serunya mengejek.

472
Ucapan itu diserempaki dengan gerakan tangan kanannya
yang sudah diangkat tadi.... Seketika terdengar deru angin
yang tajam melanda kepala Siau-liong....
Siau Liong memang sudah siap. Ia sudah kerahkan seluruh
tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Kedua tangan diangkat kedada
lalu pe-lahan2 disongsongkan kemuka.
Bam.... terdengar ledakan keras. Tubuh Siau liong bergoyang2
beberapa kali. Wajahnya tetap tak berobah dan tetap
tegak ditempatnya.
Dan ketika kedua pukulan itu berbentur, berhamburanlah
hawa panas kesekeliling. Sekalian orang yang hadir
merasakan hawa itu.
Ternyata ilmu sakti Cek-ci-sin-kang itu berdasar pada hawa
panas dalam tubuh. Sedang tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang itu
pun juga berdasar pada api dalam tubuh. Kedua tenaga sakti
itu sama2 tergolong tenaga keras yang panas.
“Hai, Laknat tua, kepandaianmu hebat juga!" seru Lam-hay
Sin-ni tertawa.
Siau-liong pun tertawa hambar, “Ah, Sin-ni keliwat
memuji....”
Diam-diam Siau-liong heran. Ketika berhadapan dengan
Jong Leng lojin di penjara bawah tanah, ia tak mampu berbuat
apa2 menghadapi tenaga-sakti Jit-hua-sin-kang tokoh tua itu.
Pun dengan Randa gunung Busan yang memiliki tenaga-sakti
Ya-li-sin-kang. Walaupun ia belum pernah bertempur, tetapi
dari kesaktian anak perempuannya yang adu tenaga dengan
dia itu, jelas kalau ilmu Ya-li-sin-kang itu jauh lebih unggul
dari Bu-kek-sin-kang.

473
Adalah karena terpaksa, maka ia nekad menghadapi
serangan Lam-hay Sin-ni. Tadi dalam adu pukulan ia telah
menggunakan 10 bagian tenaga sakti Bu-kek-sin-kang.
Sekalipun tak dapat menghalau Lam-hay Sin-ni, tetapi ia juga
tak menderita apa2.
Seketika timbullah nyalinya.
Tiba-tiba Lam-hay Sin-ni tertawa mengekeh, “Pukulanku
dengan dua bagian Cek-ci-sin-kang tadi dapat membunuh 3
ekor harimau. Tetapi engkau mampu menerimanya, sungguh
hebat juga!"
Siau-liong terbeliak kaget. Kiranya Sin-ni hanya
menggunakan dua bagian dari ilmu sakti Cek-ci-sin-kang. Ah,
maka perbawanya tak begitu hebat.
Pada saat rasa ngerinya mulai membayangkan bagaimana
akibatnya apabila rahib itu memukul dengan tenaga penuh,
tiba-tiba terdengar Lam-hay Sin-ni membentak keras.
“Setan tua, nih cobalah terima pukulan dari empat bagian
Cek-ci-sin-kang....! "
Anginpun men-deru2 dahsyat sekali....
---ooo0dw0ooo---
Jilid 09
Jika Singa Ketemu Macan

474
Dalam keadaan seperti saat itu, Siau-liong bagaikan
seorang yang naik di punggung harimau. Terus naik celaka,
turunpun tentu dimakan.
Tetapi dari pada turun, lebih baik ia lanjutkan naik terus.
Siapa tahu nanti akan terjadi sesuatu yang diluar dugaan.
Darah muda Sian-liong meluap. Dan bulatlah sudah
tekadnya. Lebih baik pecah sebagai ratna dari pada mati
bertekuk lutut....
Tanpa banyak pikir lagi, ia gerakkan kedua tangannya
dengan jurus Thay-siang-bu-kek yang dilambari dengan
tenaga sakti Bu-kek-sin-kang!
Bum....
Regukan angin yang panas ditaburi pecahan batu dan pasir
yang berhamburan ke sekeliling penjuru!
Tubuh Siau-liong bergoyang gontai maju mundur beberapa
kali. Tetapi masih tetap dapat tegak berdiri di tempatnya.
Ternyata dia telah mengkombinasikan ilmu pukulan Thaysiang-
ciang dan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Oleh karena dia
telah makan buah Im-yang-som dan minum darah binyawak
purba, maka tenaganya pun lebih unggul dari Pendekar Laknat
yang asli. Dengan demikian dapatlah ia bertahan dari pukulan
Lam-hay Sin-ni.
Di antara sekalian tokoh yang hadir, adalah To Kiu-kong
ketua Kay-pang yang paling terkejut sendiri. Dia benar-benar
tak mengerti mengapa Pendekar Laknat dapat menggunakan
pukulan Thay-siang ciang. Pada hal ilmu pukulan itu adalah
milik Pengemis Tengkorak Song Tay-kun yang jelas menjadi
musuh dari Pendekar Laknat!

475
Juga Ceng Hi totiang yang luas pengalaman dan
pengetahuannya segera dapat mengetahui keanehan pada diri
Pendekar Laknat Siau-liong itu. Tokoh tua dari Kun-lun-pay itu
memandang Siau-liong dengan saksama.
"Aneh!" juga Lam-hay Sin-ni sendiri tertegun memandang
Siau-liong seraya mengingau. Rahib itu juga tak habis
herannya.
Pada waktu ia gunakan dua bagian dari tenaga sakti Cek-cisin-
kang tadi, jelas diketahuinya bahwa Pendekar Laknat Siauliong
itu sudah kepayahan.
Dan pada pukulan yang kedua itu ia telah menambahkan
empat bagian tenaga sakti Cek-ci-sin-kang. Hal itu pasti akan
menghancurkan Siau-liong. Kalau tak mati tentu terluka parah.
Tetapi mengapa orang itu masih tetap kuat bertahan seperti
yang pertama tadi?
Siau-liong yang paling tahu jelas keadaan dirinya. Adalah
karena menggunakan ilmu pukulan Thay-siang-ciang yang
dikombinasi dengan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang maka ia
mampu menerima pukulan Lam-hay Sin-ni. Tetapi apabila
rahib itu menambahi lagi tenaga saktinya, ia pasti tak kuat!
Toh Hun-ki yang menyaksikan adegan pertempuran maut
itu, bingung tak karuan. Buruan ia gunakan ilmu Menyusup
suara kepada Ceng Hi totiang.
“Saat ini sudah jelas bagaimana kekuatan kedua tokoh
yang adu pukulan itu. Jelas kedua suami isteri iblis hendak
menggunakan tangan Lam-hay Sin-ni untuk membinasakan
Pendekar Laknat. Jika kita berpeluk tangan membiarkan
Pendekar Laknat mati dipukul Lam-hay Sin-ni, sungguh tidak
bijaksana!"

476
Ceng Hi totiang menyahut dengan ilmu Menyusup suara
juga, “Lam-hay Sin-ni itu orang linglung tetapi memiliki ilmu
sakti Cek-ci-sin -kang. Harus dilawan dengan kepintaran tak
boleh dengan kekerasan. Aku telah menyanggupkan diri untuk
menerima beban kewajiban dari kawan2 persilatan. Saat ini
kita menghadapi bermacam-macam bahaya. Sekali tak
waspada, besar bahayanya. Bukankah hal itu akan memberi
keuntungan pada kedua suami isteri iblis untuk menguasai
dunia persilatan....”
Sejenak berhenti ketua Kun-lun-pay itu melanjutkan pula,
“Pendekar Laknat pada 20 tahun yang lalu dengan sekarang,
sungguh berbeda sekali. Begitu pula ucapannya sekarang ini
tiadalah sesombong dan seliar dahulu, tetapi penuh dengan
nalar yang tepat. Tetapi dia tetap berhati keras karena
walaupun jelas tak bisa melawan Lam-hay Sin-ni namun dia
tetap berani menghadapinya. Apakah itu bukan berarti dia
mancari mati sendiri? Sekalipun aku ingin menolongnya tetapi
tenagaku tak mampu!"
Toh Hun-ki tahu jelas bahwa tujuan dari Lam-hay Sin-ni itu
adalah untuk memperoleh Giok-pwe dan bukan hendak
bermusuhan dengan partai2 persilatan. Jika karena hendak
membantu Pendekar Laknat sampai menimbulkan kemarahan
rahib itu, tentu celakalah sekalian rombongan orang gagah.
Diam-diam ketua Kong-tong-pay itu mengakui kebenaran
ucapan Ceng Hi totiang. Ia makin gugup tetapi tak dapat
menemukan suatu akal.
Kebalikannya, Siau-long saat itu malah makin tenang.
Hatinya bulat, pikiran mantap.

477
Menggunakan kesempatan lawan sedang tertegun, diamdiam
ia kerahkan lagi tenaga sakti Bu-kek-sin-kang, siap
menunggu serangan yang ketiga....
Setelah beberapa saat memandang Siau-liong dengan
heran. tiba-tiba mata Sin-ni itu menyala lagi. Tangan
kanannya pelahan-lahan diangkat dan berserulah ia nyaring.
"Kali ini akan kugunakan delapan bagian tenaga sakti Cekci-
sin-kang untuk menghancurkan dirimu!"
Siau-liong diam saja. Hatinya sudah bulat untuk mati.
Sepasang tangannya segera bergerak menyongsong kemuka.
Tangan kanan gunakan jurus Ki-lok-po-ti dan tangan kiri
dengan jurus Siu-lo-pan-cha. Dua jurus dahsyat dari ilmu
pukulan Thay-siang-ciang!
Gerakan tangan Lam-hay Sin-ni itu tampaknya lebih
pelahan dari yang tadi. Tetapi melihat wajahnya yang begitu
membesi, tahulah sekalian orang bahwa pukulan rahib itu
dahsyatnya bukan alang kepalang.
Sedang kedua tangan Siau-liong tadi bergerak dengan
keras. Tetapi begitu berbentur dengan tenaga sakti Cek-ci-sinkang,
sirnalah tenaga Bu-kek-sin-kang itu seperti tenggelam
ke dalam laut.
Lam -hay Sin-ni tertawa mengekeh, bentaknya, “Tua
bangka Laknat, serahkan jiwamu!"
Dan serempak dengan itu tangannya pun bergerak cepat.
Angin mendesis tajam, melanda ke arah kepala Siau-liong.
Siau-liong terkejut tetapi tak berdaya. Ia meramkan mata
menunggu kematian....

478
Tetapi pukulan maut Sin-ni itu tak kunjung datang. Bahkan
saat itu ia mendengar jeritan kaget dari sekalian orang
termasuk Iblis penakluk-dunia dan Dewi Neraka.
Buru-buru ia membuka mata. Ketika memandang kemuka,
dilihatnya wajah Lam-hay Sin-ni pucat seperti kertas dan
tubuhnya terhuyung-huyung mau jatuh. Jelas rahib itu telah
menderita luka....
Siau-liong cepat dapat menyadari bahwa tentu ada seorang
sakti yang menolong jiwanya. Buru-buru ia berpaling. Ah,
beberapa langkah disampingnya, tampak seorang wanita
berpakaian hitam tegak berdiri dengan tenang.
Randa gunung Bu-san!
Di belakang wanita itu tampak si dara baju bijau yang
pernah adu pukulan dengan dia (Siau-liong). Dara itu
memandangnya dengan mata penuh dendam kebencian....
Juga tubuh janda dari Bu-san itu agak gemetar, wajahnya
pun pucat.
Kiranya pada saat pukulan maut Lam-hay Sin-ni akan
mencabut nyawa Siau-liong, tiba-tiba muncullah Randa Bu-san
yang segera ayunkan tangan menangkis pukulan Sin-ni.
Ya-li-sin-kang dari Randa Bu-san yang semula keras itu
tiba-tiba berobah menjadi lunak. Dan hapuslah tenaga sakti
Cek-ci-sin-kang dari Lam-hay Sin-ni. Adalah karena kedua
wanita itu berimbang kesaktiannya maka kedua-duanya pun
menderita luka kecil.
Setelah mengetahui siapa penolongnya, buru-buru Siauliong
memberi hormat, “Terima kasih atas pertolonganmu,
aku....”

479
Randa Bu-san mendengus. Tanpa menunggu orang selesai
bicara, ia terus berpaling ke arah Lam-hay Sin-ni.
Siau-liong tersipu-sipu malu. Untunglah saat itu perhatian
orang tertumpah pada Randa Bu-san sehingga kekikukan
Siau-liong itu tak ada yang memperhatikan.
Menatap tajam kepada wanita Bu-san, melengkinglah Lamhay
Sin-ni ”Mengapa engkau membantunya?"
"Hanya kebetulan jalan disini dan melihat hal yang ganjil!"
sahut Randa Bu-san dengan dingin.
Lam-hay Sin-ni membentak tajam, “Apakah bukan karena
hendak mencari pusaka....?"
Mata rahib itu berkeliaran beberapa kali. Tiba-tiba ia
kerahkan tenaga dalam lalu berteriak, “Hari ini terpaksa aku
harus adu jiwa dengan engkau!"
Randa Bu-san hanya tertawa dingin. "Dalam adu jiwa, duadua
tentu sama terluka, Ketahuilah, Ya-li-sin-kang tidak
dibawah Cek-ci-sin-kang!"
Sepasang tangan Lam-hay Sin-ni yang sudah diangkat ke
atas itu kembali diturunkan. Ia deliki mata kepada wanita itu,
“Baik dalam mencari Giok-pwe, engkau dan aku masingmasing
mendapat separoh. Besok pagi pada saat ini, akan
kutunggumu disini. Kita tentukan siapa yang berhak memiliki
kitab Thian-kong-sin-kang itu!"
Randa Bu-san tertawa dingin, “Tamak menginginkan
barang yang bukan miliknya, menjadi penyebab kematian.
Rupanya engkau memang takkan lama hidup di dunia ini!"

480
“Siapa yang mati dan hidup, besok pagi pada saat ini. baru
diketahui!" sahut Lam-hay Sin-ni.
Randa Bu-san menghela napas, “Apakah engkau tetap
hendak ke dalam lembah?"
“Kalau aku tak pergi masakan kubiarkan engkau yang
pergi!" bentak Lam-hay Sin-ni.
Randa Bu-san gelengkan kepala dan berkata dengan nada
kecewa, “Silahkan pergi” ia terus berputar tubuh dan
melangkah pergi.
Kesempatan itu cepat digunakan Iblis penakluk-dunia untuk
melangkah kesamping Lam-hay Sin-ni dan membisiki
beberapa patah kata.
Wajah rahib itu berseri girang. Dipandangnya Randa Busan,
Siau-liong dan rombongan Ceng Hi totiang. Tiba-tiba ia
berputar tubuh terus ayunkan langkah diikuti oleh suami isteri
iblis dan rombongan anak buah Lembah Semi.
Siau-liong melangkah maju dan berkata kepada Randa Busan,
“Lam-hay Sin-ni seperti orang linglung ia pasti celaka
ditangan Iblis-penakluk-dunia. Mungkin nasibnya seperti Jong
Leng lojin....”
“Seretlah ia supaya jangan kesana!" Randa Bu-san deliki
mata.
Siau-liong tercengang.
Setelah deliki mata, Randa Bu-san segera melangkah pergi
sambil menggandeng puterinya. Tetapi dua langkah
kemudian. ia berhenti pula dan menghela napas, “Segala hal
memang sudah suratan takdir yang tak dapat dilawan....!"

481
Ucapan itu bernada rawan dan tanpa berpaling ke arah
Siau-liong. Sesaat kemudian ia menghela napas lagi.
Sementara si dara baju hijau tetap memandang Siau-liong
dengan sinar mata penuh kebencian, seolah-olah hendak
menelannya.
Saat itu rembulan purnama. Adalah karena kata2 Randa
Bu-san tentang takdir itu, perasaan Siau-liong tersinggung.
Beberapa tetes air mata menitik keluar....
Tetapi ketika ia menyadari pandang mata si dara baju hijau
yang penuh dendam itu, ia tersentak kaget dan buru-buru
membungkukkan tubuh memberi hormat kepada Randa Busan,
“Atas pertolongan tadi, aku merasa menyesal karena tak
dapat membalas....”
Ia tak dapat melanjutkan kata2 karena tersekat oleh rasa
haru yang hampir menitikkan air mata.
Randa Bu-san hanya mendengus, “Bermula aku hendak
membunuhmu! Tak kira kalau menolongmu.... ah "
Nadanya juga penuh dengan kedukaan.
Siau-liong teringat memang si dara baju hijau itu begitu
melihat dirinya sebagai Pendekar Laknat, terus menyerangnya
mati-matian. Dan ketika ia pingsan, lapat2 ia mendengar
wanita itu mengatakan hendak membunuhnya. Tetapi
mengapa tadi wanita itu menolongnya?
Beberapa saat kemudian, Randa Bu-san berpaling pelahanlahan.
Sepasang matanya berapi-api menatap wajah Siauliong
yang berlinang-linang, serunya, “Apakah saat ini engkau
juga mempunyai perasaan menyesal?"

482
Siau-liong tak mengerti apa maksud pertanyaan wanita itu.
Pikirnya; “Aku tak kenal pada kalian ibu dan anak. Tak pula
terikat dendam permusuhan. Mengapa engkau berkata
begitu?"
Tetapi segera ia menyadari bahwa dirinya saat itu sedang
dalam penyamaran sebagai Pendekar Laknat. Sudah tentu
Randa Bu-san itu tak tahu siapa dirinya yang asli.
Siau-liong terlongong-longong. Peristiwa apakah yang
terjadi dahulu antara Randa dengan Pendjekar Laknat
mempunyai hubungan bagaimana sehingga wanita itu
membenci setengah mati. Tetapi anehnya, dalam saat
Pendekar Laknat Siau-liong dalam bahaya. wanita itu cepat
manolongnya?
Randa Bu-san itu menganggap Siau-liong atau Pendekar
Laknat telah menyesal. Dengan begitu kemungkinan dahulu
Pendekar Laknat aseli itu tentu telah melakukan sesuatu yang
menyalahi ibu dan puterinya itu.
Siau-liong teringat. Bahwa pada dinding batu tempat
Pendekar Laknat dahulu, hanya terdapat tulisan yang
manyatakan supaya ia (Siau-liong) suka mewakili Pendekar
Laknat datang kepuncak Sin-li-hong untuk memenuhi sebuah
janji. Begitupun pernyataan yang diucapkan Randa Bu-san
ketika Siau-liong pingsan dan dibawa oleh Mawar Putih
kepondok kediaman wanita itu.
Rangkaian kejadian itu, memberi kesimpulan kepada Siauliong
bahwa dahulu semasa hidupnya, Pendekar Laknat aseli
itu tentu pernah mengikat dendam dengan Randa Bu-san.
Tetapi ia tak tahu, dendam pertikaian apa yang telah terjadi
diantara mereka.

483
Menilik umurnya, Rauda Bu-san itu seorang wanita
serengah tua. Sedang Pendekar Laknat paling tidak tentu
sudah berumur 70 tahun. Dan menilik pula pada wajah
Pendekar Laknat yang begitu menyeramkan, tak mungkin
dendam dengan Randa Bu-san itu mengenai soal Asmara.
Tetapi kalau mengingat betapa gemas sikap Randa Bu-san
yang hendak membunuh Pendekar Laknat tetapi pun mau
menolongnya dan kerut wajahnya yang menampilkan
kemesraan walau pun mulutnya selalu mengucap kata2 yang
tajam dan membenci, kemungkinan pertikaian antara kedua
orang itu tentulah akibat dari hubungau asmara....
Siau-liong teringat pula bahwa selama hidupnya, Pendekar
Laknat itu hanya seorang diri. Tiada sanak kadang, tiada
handai taulan. Ia malang melintang di dunia seorang diri.
Tetapi mengapa kini tahu2 terdapat seorang janda yang
mempunyai dendam kesumat kepadanya?
Sampai beberapa lama, belum juga Siau-liong dapat
memecahkan teka teki itu. Akhirnya ia berkata kepada Randa
Bu-san;
“Dahulu....”
Randa Bu-san menghela napas rawan, ujarnya, “Peristiwa
yang lampau, ternyata engkau masih mempunyai muka untuk
mengatakan lagi, engkau....”
Ia hentikan kata-katanya. Sejenak keliarkan mata, ia
melanjutkan pula, “Hal itu juga termasuk Karma. Kalau tidak
begitu, aku pun takkan menjadi pewaris dari ilmu sakti Ya-lisin-
kang. Tetapi aku tetap tak dapat mengampuni Engkau
hanya karena hal itu....” "

484
Ketika Siau-liong menatap kemuka, dilihatnya Wajah Randa
Bu-san berlinang-linang air-mata. Sambil menepuk bahu
puterinya, wanita dari Bu-san itu berkata pula, “Andaikata aku
dapat mengampunimu, anak kita ini tentu tak mau
melepaskan engkau!"
Siau-liong terkejut. Tetapi ia tak mau banyak bicara karena
kuatir akan ketahuan penyamarannya. Untung Randa Bu-san
pun tak menaruh kecurigaan kepadanya.
Kembali Randa Bu-san gentakkan kakinya ke tanah,
serunya; “Ingatlah, besok pertengahan musim Rontok tahu
muka, datanglah ke puncak Sin-li-hong untuk menerima
kematian. Dalam waktu setahun ini, engkau boleh mengatur
pesanan2 yang perlu engkau tinggalkan!"
Siau-liong tertawa hambar dan berkata seorang diri;
“Benar, tak peduli bagaimanapun juga, aku toh takkan hidup
lebih dan waktu pertengahan musim rontok itu....”
Randa Bu-san memandangnya dengan heran. Ia hendak
membuka mulut tetapi tak jadi. Menarik tangan puterinya,
tanpa berpaling ke belakang lagi, ia terus ayunkan langkah.
Siau-liong memandang terlongong-longong akan bayangan
kedua ibu dan anak itu lenyap dalam gerumbul pohon.
Tiba-tiba ia teringat sebuah hal yang penting. Ia harus
menyelidiki jejak Mawar Putih. Maka ia hendak menyusul
Randa Bu-san. Tetapi baru kaki hendak diangkat, tiba-tiba
terdengar orang berteriak gugup, “Pendekar Laknat....!"
Siau-liong terpaksa batalkan langkahnya dan berpaling.
Ternyata Toh Hun - ki ketua Kong-tong-pay sedang berdiri
sambil memberi hormat dengan tersenyum simpul.

485
“Apakah hendak menegur aku mengapa tak mendatangi
perjanjian?"
Toh Hun-ki terkesiap. Buru-buru ia berkata, “Ah, bukan.
Pendekar Laknat tentu mempunyai lain urusan yang penting
sehingga tak dapat hadir!"
Siau-liong menghela napas rawan, “Memang aku
mempunyai urusan penting. Tetapi aku bukan orang yang tak
pegang janji. Dalam penyerangan kesarang suami isteri iblis
nanti, aku akan membantu sedikit tenaga!"
Sikapnya yang dingin kepada ketua Kong-tong-pay itu
disebabkan: Kesatu, ia harus membawa sikap seperti
Pendekar Laknat yang angkuh dan dingin. Agar jangan
diketahui Toh Hun-ki, Ceng Hi totiang dan lain-lain orang.
Kedua, Toh Hun-ki itu adalah pembunuh ayahnya. Kelak pada
suatu saat ia harus membunuhnya. Ketiga, hatinya sedang
resah gelisah. Penuh dendam dan kemarahan. Maka nada
ucapannya pun ketus dan angkuh seperti Pendekar Laknat
yang asli.
Tetapi betapa pun, dia bukanlah Pendekar Laknat,
melainkan Siau-liong yang menjunjung Keadilan dan
Kebenaran. Demi membalas budi Pendekar Laknat maka ia
menyaru menjadi tokoh itu tetapi dengan sepak terjang yang
berlainan agar dapat mengembalikan nama baiknya.
Terhadap Toh Hun-ki, musuh yang telah membunuh
ayahnya, diam-diam ia mempunyai kesan lain. Ia tertarik akan
peribadi ketua Kong-tong-pay yang tak gentar menghadapi
ancaman dan tekanan. Ketua itu tetap berani membela
Kebenaran. Adakah dia sampai hati untuk membunuh seorang
tokoh yang begitu lurus peribadinya?

486
Dan pula Toh Hun-ki itu bersikap mengindahkan dan
melindungi Pendekar Laknat. Baik dengan ucapan mau pun
dengan tindakan yang nyata. Dan yang paling hebat, ketua
Kong-tong-pay itu dengan serta-merta telah rela menyerahkan
sebagian Giok-pwe itu kepada Pendekar Laknat!
Merenung kesemua itu, timbullah rasa sesal dalam hati
Siau-liong. Tertawalah ia dengan rawan, “Separoh Giok-pwe
yang engkau berikan kepadaku tempo hari, memang benarbenar
sudah kuhancurkan!"
Tetapi Toh Hun-ki tak terkejut. Dengan tenang ia
menyahut, “Begitupun juga baik! Jika kitab pusaka itu jatuh
ketangan orang baik, tentu merupakan suatu berkah bagi
dunia persilatan. Tetapi jika sampai ketangan manusia jahat,
dunia persilatan tentu celaka!"
Sejenak memandang ke arah Ceng Hi totiang, To Kiu-kong
dan beberapa orang, berkatalah Siau-liong kepada ketua
Kong-tong-pay itu, “Aku masih mempunyai lain urusan, untuk
sementara terpaksa akan pergi!" -habis berkata ia segera
ayunkan langkah menyusul Randa Busan dan puterinya tadi.
“Pendekar Laknat!" tiba-tiba Toh Hun-ki berseru
memanggil.
Siau-liong terpaksa berhenti, bentaknya, “Mengapa?"
"Saat ini disekitar gunung Tay-liang-san penuh dengan
tokoh2 dari partai2 persilatan. Dengan pergi begitu saja,
kemungkinan Pendekar Laknat.... akan bersua dengan
beberapa hal yang tak leluasa....” -kata Toh Hun-ki lalu
menyerahkan sehelai sutera kuning kepada Siau-liong, “sutera
ini merupakan pertandaan bagi kawan2 kita. Baiklah engkau
membawanya agar jangan terjadi salah faham."

487
Siau-liong menyambuti dan menghaturkan terima kasih.
Tetapi ketika ia hendak berjalan, tiba-tiba Ceng Hi totiang, Ti
Gong taysu dan beberapa orang menghampiri kemukanya.
Siau-liong kerutkan alis. Ia terpaksa memberi hormat,
serunya, “Saudara2....”
Ti Gong taysu menyerukan Omitohud lalu melangkah maju
dan memberi hormat, “Aku hendak menghaturkan terima
kasih atas pertolongan saudara!"
Siau-liong tertawa, “Ah, hanya soal kecil, usah taysu ingat
lagi!"
Juga To Kiu-kong dan Pengemis-tertawa Tio Tay-tong dan
kedua pengemis pincang, maju menghampiri kehadapan Siau
-liong. Memberi hormat lalu mundur lagi tanpa berkata suatu
apa.
Kiranya To Kiu-kong masih meragu. Jelas ketika bertempur
dengan Lam-hay Sin-ni tadi, Pendekar Laknat telah gunakan
pukulan Thay-siang-ciang.
Ceng Hi totiang memandang beberapa saat kepada Siauliong
lalu berkata, “Bahwa Pendekar Laknat telah kembali
kejalan yang terang, sungguh merupakan suatu berkah bagi
dunia persilatan. Ijinkan kuwakili seluruh kaum persilatan
untuk menghaturkan terima kasih kepada saudara. Kali aku
menyanggupkan diri turun gunung untuk memimpin
rombongan kawan2, sesungguhnya aku merasa malu dalam
hati karena kepandaianku masih belum cukup....”
Ia berhenti bejenak, menghela napas lalu melanjutkan
pula, “Pula suasana saat ini tak sama dengan 20 tahun yang
lalu. Adakah kami dapat menumpas gerakan kedua suami
isteri iblis itu atau tidak, masih belum dapat dipastikan!"

488
Siau-liong tahu bahwa pada 20 tahun yang lalu imam tua
itulah yang paling sering berhubungan dengan Pendekar
Laknat. Maka jika ia tak berhati-hati, tentulah mudah diketahui
oleh imam itu. Maka ia hanya mendeham pelahan dan tak
menjawab.
Berkata pula Toh Hun-ki, “Sekembalinya ke Siok-ciu,
ternyata banyak tokoh2 persilatan dari segala penjuru
berbondong-bondong datang. Mereka hendak
menggabungkan diri pada gerakan kami untuk menumpas
suami isteri iblis itu. Dalam waktu 10 hari saja, telah
berkumpul ribuan tokoh2. Apalagi kami beruntung dapat
mengundang Ceng Hi totiang untuk memimpin gerakan itu.
Saat ini Lembah Semi telah dikurung ketat oleh rombongan
orang gagah....”
Berhenti sejenak memandang ke arah sekalian orang, ketua
Kong-tong-pay itu berkata pula. "Hanya saja kalau kali ini
sampai menemui kegagalan akibatnya sukar dibayangkan bagi
dunia persilatan!"
Siau-liong ikut prihatin, ujarnya, "Lembah Semi
mengandalkan kehebatan keadaan alamnya dan kehebatan
perlengkapan alat-alat rahasia, barisan pedang. Sekalipun
rombongan orang gagah itu terdiri dari jumlah yang besar,
tetapi dikuatirkan....”
"Akupun mencemaskan hal itu, oleh karena itulah....” Ceng
Hi totiang hentikan kata?nya.
Siau-liong tertegun. Tanyanya sesaat kemudian, “Apakah
totiang hendak menggunakan api untuk menggempur sarang
mereka....”

489
Wajah Ceng Hi totiang berobah seketika. Diam-diam ia
terkejut. Katanya dengan nada berat, “Benar, memang aku
mempunyai rencana begitu. Dengan mengandalkan jumlah
orang yang begitu banyak kalau kita gunakan api untuk
membakar lembah ini, tentulah dapat membasmi kedua suami
isteri iblis....”
Sejenak berhenti ia melanjutkan pula, “Kumohon Pendekar
Laknat jangan membocorkan rencanaku ini, agar....”
Siau-liong tertawa, “Harap totiang jangan kuatir, aku tentu
akan menyimpan rahasia itu!"
Tiba-tiba pikiran Siau-liong melayang. Memang dengan cara
penyerangan api itu, tentulah kemungkinan besar rombongan
Ceng Hi totiang akan berhasil membasmi Lembah Semi. Tetapi
dengan pembasmian itu, pemilik lembah ialah Poh Ceng-in
tentu akan ikut binasa. Bukankah ia telah diberi minum racun
Jong-tok oleh wanita itu. Dengan racun itu, apabila salah
seorang mati, yang lainpun akan mati juga. Maka jika Poh
Ceng-in mati, iapun tentu akan ikut mati!
Begitu pula dengan Jong Leng lojin yang dipenjara dibawah
tanah dengan kaki dirantai. Kalau Ceng Hi totiang melakukan
serangan pembakaran itu, bukankah Jong Leng lojin akam
mati terbakar hidup-hidup?
Sesaat Siau-liong tertegun gelisah.
Melihat itu, agak curiga juga Ceng Hi totiang, segera ia
batuk2 lalu menegurnya “Apakah saudara tak setuju dengan
rencana seranganku itu?"
Siau-liong terkejut dan buru-buru berseru, “Tidak, tidak!
rencana totiang itu memang yang paling sempurna, tentu

490
akan berhasil.... ia menghela napas pelahan, "bilakah totiang
hendak melaksanakannya?"
Setengah meragu, menyahutlah Ceng Hi totiang; “Telah
kuberi waktu kepada lblis-penakluk-dunia agar membebaskan
It Hang totiang dan rombongan sampai besok pagi. Apabila
dia tak melaksanakan permintaanku itu, segera akan
kulakukan serangan itu!"
Memandang kelangit, Siau-liong memperkirakan saat itu
sudah menjelang magrib.... Jadi tinggal lebih kurang dua jam
dari batas waktu yang diberikan Ceng Hi totiang kepada Iblispenakluk-
dunia.
Berkata Ceng Hi totiang pula, “Dalam waktu satu hari untuk
menghancurkan anak buah dan semua alat perangkap dalam
lembah. Tiga hari untuk meratakan seluruh isi lembah. Dalam
waktu empat hari itu tentulah dapat diketahui berhasil
tidaknya rencanaku itu!"
Sejenak merenung, Siau-liong lalu mengambil resep obat
dari bajunya, diberikan kepada To Kiu-kong, katanya, “Aku
hendak minta tolong supaya suka menyuruh anak buah
saudara ke Siok-ciu membelikan. resep ini!"
Buru-buru To kiu-kong menyambut, tanyanya “Bilakah
Pendekar Laknat hendak memerlukan obat ini?"
Diam-diam ketua Kongtong-pay itu heran mengapa
Pendekar Laknat tak minta tolong pada Ceng Hi totiang
melainkan kepadanya.
"Secepat mungkin, paling lambat jangan sampai besok
malam," sahut Siau-liong.

491
To Kiu-kong mengiakan dan menyatakan besok sebelum
tengah hari tentu obat itu sudah datang.
Kemudian Siau-liong menyatakan kepada Ceng Hi totiang
dan Toh Hun-ki bahwa ia masih ada lain urusan penting.
Tetapi besok sebelum tengah hari ia pasti akan kembali kesitu
lagi.
Demikianlah Siau-liong segera melangkah pergi. Ia lari
secepat-cepat mengejar Randa Bu-san dan puterinya tadi.
Cepat sekali ia sudah melintasi hutan dan tiba dimulut jalan
keluar. Tetapi karena cukup lama tadi ia bercakap-cakap
dengan Ceng Hi totiang dan Toh Hun-ki, maka ia tak berhasil
menemukan jejak ibu dan anak itu.
Siau-liong bingung dan gelisah sekali. Ia harus menemukan
Randa Busan untuk meminta keterangan tentang diri Mawar
Putih. Dan setelah itu ia harus kembali menggabungkan diri
dengan rombongan Ceng Hi totiang untuk melakukan
serangan pada Lembah Semi.
Untuk menggempur Lembah Semi, bukanlah sukar. Tetapi
yang menyulitkan dirinya ialah ia harus secara diam-diam
melindungi keselamatan Poh Ceng-in. Karena jika pemilik
lembah itu sampai mati, ia sendiri pun tentu ikut mati juga!
Dalam pada itu ia sudah keluar dari mulut tikungan
gunung. Tampak beberapa puluh sosok bayangan sedang
bersembunyi ditempat gelap. Tergeraklah hatinya, ia kembali
balik tak jadi melanjutkan perjalanan lagi.
Pikirnya: Kedua ibu dan anak itu tentu tak mengambil jalan
besar karena tak mempunyai tanda jalan. Tentu mereka tak
mau bentrok dengan tokoh2 persilatan yang sedang siap
mengepung lembah itu.

492
Siau-liong gunakan gerak Naga melingkar-18 kali. Ia
melambung dan berjumpalitan beberapa] kali di udara.
Dengan gunakan ilmu itu dapatlah dalam waktu singkat ia
mencapai sebuah puncak. Dari atas puncak itu ia dapat
memandang lepas keseluruh penjuru.
Kiranya jalanan yang dilaluinya tadi terletak disamping
kanan mulut lembah. Pada ujung jalanan itu penuh dijaga
ketat oleh tokoh2 persilatan.
Siau-liong menduga kedua ibu dan anak itu tentu sudah
pulang kepondoknya. Asal ia kesana, tentu dapat menjumpai
mereka.
Setelah menentukan arah, ia turun dan lari menyusur tepi
lembah, menuju kepondok Randa Busan Disepanjang jalan ia
harus berjalan hati2 agar Jangan sampai kepergok dengan
patroli rombo-ngan orang gagah. Dan disamping, iapun harus
cermat menentukan arah agar jangan sampai tersesat.
Seluruh semangat dan perhatian ditumpahkan dalam gerak
Naga-melingkar-18 kali untuk berloncatan melintasi hutan dan
mendaki puncak.
Seperti telah diterangkan, Lembah Semi itu dikelilingi oleh
puncak gunung yang curam dan landai sehingga merupakan
sebuah tempat yang amat strategis sekali.
Sewaktu Siau-liong mencapai satu li, rembulan makin
terang benderang sehingga ia dapat melihat bebas keempat
penjuru.
Ia kendorkan langkah lalu berhenti. Dilihatnya dari barisan
pohon bunga Lembah Semi itu jaraknya teraling sebuah
puncak. Asal ia berputar arah mengambil jalan dari belakang

493
lembah, tentulah ia dapat mencapai tempat kediaman wanita
janda itu.
Tetapi ia mendapat kesukaran. Karena seluas berpuluh
tombak, tempat itu dijaga ketat oleh rombongan orang gagah.
Sekalipun membawa Tanda pengenal pemberian Toh Hun-ki,
tetapi ia tak mau menggunakannya. Ia tetap hendak mecari
akal untuk menghindari kelompok orang gagah itu.
Tengah ia termenung mencari pikiran, tiba-tiba dari arah
belakang terdengar desir lambaian pakaian orang mendesis.
Semula ia kira tentulah rombongan orang gagah yang
dipimpin Ceng Hi totiang. Tetapi telinganya yang tajam segera
mengetahui bahwa orang itu pelahan-lahan menghampiri
ketempatnya.
Sekalipun suara itu pelahan sekali namun telinganya yang
tajam dapat menangkap bahwa orang itu tengah pelahanlahan
menghampiri ketempatnya.
Semula ia kira tentu salah seorang anggauta rombongan
Ceng Hi totiang maka ia tak begitu menaruh perhatian. Tetapi
pada lain saat ia cepat menyadari sesuatu yang tak wajar.
Ia teringat bahwa Ceng Hi totiang sudah mengeluarkan
perintah bahwa anggauta rombongannya tak boleh gegabah
bertindak sendiri. Kecuali memang ada orang yang hendak
menerjang kepungan itu barulah mereka dapat bertindak.
Siau-liong jelas mengetahui bahwa pendatang itu
mengandung maksud hendak menyerangnya secara gelap.
Siau-liong pasang jebakan. Sengaja ia pura-pura tak tahu
dan berjalan pelahan. tetapi diam-diam ia sudah siapkan
tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang.

494
Tetapi dugaannya itu ternyata tak benar. Pendatang itu
bukan bermaksud menyerangnya. Dia berhenti di belakang
Siau-liong lalu membentak garang “Tua bangka Laknat!”
Siau-liong terkejut. Cepat ia berputar. Ah! ternyata yang
muncul itu adalah suami isteri Iblis penakluk-dunia dan Dewi
Neraka.
Iblis-penakluk-dunia tertawa mengekeh, “Laknat tua,
sekarang rasanya tiada si janda Bu-san. yang akan
menolongmu lagi?"
Siau-liong tak gentar kepada suami isteri iblis itu tetapi
hanya terhadap Lam-hay Sin-ni ia agak takut. Dan lagi saat itu
ia memang tak mempunyai selera untuk bertempur dengan
suami isteri iblis itu. Maka sejenak memandang mereka, ia
terus hendak melangkah pergi.
Tetapi baru kaki hendak dilangkahkan, dari belakang
terdengar orang tertawa, “Ho, engkau tak mungkin lolos lagi!"
Ternyata entah kapan dan bagaimana caranya, tahu2 Lamhay
Sin-ni sudah berdiri dibelakangnya.
Siau-liong paksakan tertawa dan hentikan langkahnya.
Melangkah kehadapan Siau-liong, rahib itu ulurkan tangan,
“Berikan kepadaku! Jika engkau sudah serahkan Giok-pwe itu
kepadaku, kujamin jiwamu pasti selamat!"'
Siau-liong kerutkan alis lalu tertawa dingin, “Dengan
meminta secara paksa itu apakah Sin-ni tak takut kehilangan
nama harum? Apakah tak kuatir Sin-ni akan ditertawai dunia
persilatan?"

495
Lam-hay Sin-ni membentak bengis, “Siapakah tokoh
persilatan yang berani menertawakan aku?"
“Sekalipun tak berani terang-terangan, tetapi diam-diam
mereka tentu menghina Sin-ni!" sahut Siau-liong dengan
tertawa hina. Dimana ia mengatur rencana untuk melolos diri
dari tekanan rahib itu.
Tetapi Iblis-penakluk-dunia yang licin segera dapat
mencium siasat Siau-liong. Buru-buru ia maju selangkah dan
berkata kepada Lam-hay Sin-ni. "Si tua Laknat itu banyak akal
muslihatnya. Dia licin seperti belut. Harap Sin-ni jangan kena
diselomoti. Biar dia bicara apa saja, yang penting ringkus dulu
agar kita dapat merampas Giok-pwenya!"
“Benar!" Lam-hay Sin-ni tertawa. Tiba-tiba ia ayunkan
tangan kanannya dalam jurus Bunuh-naga-memotongcenderawasih.
Kelima jarinya mengeluarkan bunyi mendesisdesis
tajam, mencengkeram dada Siau-liong.
Jurus itu dahsyatnya bukan main, cepatnya bukan
kepalang.
Siau-liong terkejut. Buru-buru ia menyurut mundur seraya
berseru, “Tunggu dulu....!"
Lam-hay Sin-ni hentikan serangannya dan berseru, “Lebih
baik engkau serahkan sajalah!"
Siau-liong sengaja menghela napas dengan sikap kecewa,
katanya, “Baiklah!"
Ia merogoh baju dan mengeluarkan sebuah bungkus kecil
dari kain sutera.

496
Melihat itu girang Lam-hay Sin-ni bukan kepalang. Segera
ia ulurkan tangan hendak menyambuti. Tetapi Siau-liong cepat
menyurut mundur.
“Jika engkau berani maju selangkah lagi, Giok-pwe ini tentu
akan kuremas hancur!"
Lam-hay Sin-ni tertegun. Dia tak berani maju lagi.
Demikianpun kedua suami isteri iblis itu. Mereka percaya,
seorang momok seperti Pendekar Laknat tentu akan
melakukan ancamannya itu kalau keliwat didesak.
Lam-hay Sin-ni bingung dan beberapa kali lambaikan
tangannya, “Jangan dihancurkan, jangan dihancurkan, mari
kita berunding dengan baik!"
Siau-liong tertawa dingin, “Tak ada yang perlu
dirundingkan lagi. Kecuali.... engkau mau meluluskan dua
buah syaratku!"
"Katakanlah!" buru-buru Lam-hay Sin-ni berseru.
Sejenak merenung, berkatalah Siau-liong, “Pertama, Iblispenakluk-
dunia dan Dewi Neraka harus tinggal disini. Kedua,
harap Sin-ni suka mengantar aku keluar dari sini satu ii
jauhnya. Giok-pwe segera akan kuhaturkan kepada Sin-ni."
“Boleh, boleh, aku setuju!" seru Lam-hay Sin-ni lalu
berpaling membentak suami isteri iblis, “Kalian harus tinggal
disini, jangan mengikuti aku!"
Iblis-penakluk-dunia agak bersangsi, tetapi, terpaksa ia
mengiakan juga, “Baik harap Sin-ni hati2 saja."
Demikian Siau-liong dan Lam-hay Sin-ni segera tinggalkan
tempat itu. Kiranya dalam saat itu Siau-liong memang tak

497
punya akal untuk meloloskan diri. Terpaksa ia memutuskan,
menghindari dulu kedua suami isteri iblis itu, baru nanti
pelahan-lahan cari daya untuk menghadapi tekanan Lam-hay
Sin-ni yang tolol.
Sesungguhnya sudah bulat dalam hatinya. Andaikata Giokpwe
itu belum dihancurkannya, iapun tetap tak mau
menyerahkan kepada Sin-ni Sekalipun karena menolak itu ia
harus kehilangan jiwanya. Karena ia tahu jelas akan tipu
muslihat Iblis-penakluk-dunia yang lihay. Menyerahkan Giokpwe
itu kepada Lam-hay Sin-ni berarti menyerahkan kepada
suami isteri iblis itu. Dan sekali kedua suami isteri itu
mendapatkat Giok-pwe yang lengkap dan berhasil
memperoleh kitab pusaka Thian-kong-sin-kang, maka
hancurlah seluruh dunia persilatan!
Tetapi iapun tahu bahwa sitolol Lam-hai Sin-ni itu tentu
berkeras hendak meminta separoh Giok-pwe. Jika tahu kalau
ditipu, rahib itu tentu akan membunuhnya.
Sambil berjalan pelahan-lahan, pikiran Siau-liong bekerja
keras untuk mencari akal.
Sekonyong-konyong tak berapa jauh disebelah muka,
tampak berkelebat sesosok bayangan dari pada lain saat itu
orang itu berseru menegurnya; "Siau.... Laknat tua!"
Siau-liong terkejut. Ternyata yang muncul itu adalah si dara
Mawar Putih menyaru sebagai Wanita-ular Ki Ih.
Pada lain saat Mawar Putih pun lari menghampiri.
"Siapa orang itu!" tanya Lam-hay Sin-ni.
Belum ditanya, diam-diam Siau-Liong sudah menimang
dalam hati. Dengan kedatangan Mawar Putin itu, berarti akan

498
tambah sebuah jiwa yang akan mati ditangan Lam-hay Sin-ni.
Ia gelisah sekali. Tetapi ia tak punya banyak waktu untuk
berpikir lagi. Akhirnya ia nekad.
Pada saat perhatian Lam-hay Sin-ni sedang tertuju pada
Mawar Pulih, cepat ia kerahkan seluruh tenaga dalam lalu
dengan sekuat-kuatnya ia mendorong lambung rahib itu!
Setitikpun Lam-hay Sin-ni tak menduga kalau ia bakal
diserang. Karena tak bersiap, ia terpental dan terhuyunghuyung
sampai delapan langkah jauhnya.
Sedangkan Siau-liong, habis mendorong terus loncat
menyongsong Mawar Putih seraya berseru gugup, “Lekas lari!"
Mawar Putih tak sempat bertanya apa2. Ia terpaksa
mengikuti Siau-liong melarikan diri.
“Hai, masakan engkau mampu melarikan diri?" teriak Lamhay
Sin-ni seraya mengejar.
Siau-liong dan Mawar Putih lari sekencang angin tetapi ilmu
lari cepat dari rahib itu jauh lebih sempurna. Baru Siau-liong
dan Mawar Putih lari dua tombak, rahib itu sudah melayang di
atas kepala mereka dan meluncur menghadang disebelah
muka.
Lam-hay Sin-ni marah sekali sehingga wajahnya pucat.
"Lekas serahkan Giok-pwe itu atau kuhancur-leburkan kalian!"
Mawar Putih tak kenal Lam-hay Sin-ni dan tak tahu kalau
Sin-ni itu memiliki ilmu sakti Cek-ci-sin-kang. Tetapi ia benarbenar
ketakutan dan tak dapat membuka mulut melihat wajah
dan sinar mata Lam-hay Sin-ni yang begitu bengis dan seram.

499
Siau-liong mengeluarkan lagi bungkusan kain kuning dan
berseru, “Sebelum engkau turun tangan, ini tentu
kuhancurkan dulu!" ia menarik Mawar Putih, berputar diri dan
lari lagi.
Ancaman Siau-liong itu berhasil Lam-hay Sin-ni tak berani
turun tangan. Ia hanya mengikuti kedua orang itu saja.
Sekalipun begitu, sudah cukup membuat Siau-liong kelabakan
setengah mati.
Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka pun ikut menyusul.
Tetapi mereka pun kuatir kalau Siau-liong sampai
menghancurkan Giok-pwe itu. Maka mereka hanya mengikuti
dari kejauhan di belakang Lam-hay Sin-ni saja.
Siau-liong hanya lari asal lari saja. Ia tak sempat lagi untuk
memeriksa tempat yang ditujunya. Ia tak tahu lagi dimana
saat itu ia berada. Tiba-tiba dilihatnya disebelah depan tampat
sebuah puncak gunung. Dikaki gunung itu terdapat sebuah
lorong jalan yang memanjang ke dalam. Tanpa banyak
berpikir lagi, Siau-liong terus menarik Mawar Putih masuk
kejalan itu....
Lam-hay Sin-ni menggembor lalu hendak mengejar. Tetapi
dicegah Iblis-penakluk-dunia, “Biarkan mereka kesana, Sin-ni
tak usah mengejar!"
Rahib itu hentikan langkah dan bertanya, “Apa? Tidak
mengejar? Apakah membiarkan Giok-pwe itu hilang?"
Iblis-penakluk-dunia buru-buru memberi keterangan,
“Jalanan itu akan tiba disebuah gua yang tak sampai dua
tombak dalamnya dan hanya dua meter tingginya. Bukan saja
sebuah jalan buntu pun di dalam situ terdapat beratus ekor
ular beracun. Merupakan salah satu dari 10 buah gua yang
memang kujadikan tempat memelihara ular....”

500
Ia tersenyum, katanya pula, “Andaikata mereka tidak digigit
ular, pun mereka pasti akan pingsan karena ketahan hawa
yang luar biasa anyirnya!"
Habis berkata ia bersama isterinya lalu duduk di tepi
sebuah gua.... Setelah merenung sejenak, Lam-hay Sin-ni pun
mengiakan. Ia ikut duduk disitu menunggu keluarnya Siauliong
dan Mawar Putih.
Oleh karena kedua suami isteri iblis duduk dikedua samping
mulut gua sedang Lam-hay Sin-ni ditengah. Maka gua itu
praktis telah dijaga ketat oleh mereka bertiga.
Semula Siau-liong mengira kalau terowongan itu akan
tembus kesamping gunung sebelah Sana. Maka dalam
keadaan gugup, ia tak banyak berpikir lagi terus menyelundup
masuk adalah setelah masuk ke dalam barulah ia menyadari
kalau terowongan itu buntu. Dan iapun mendengar juga
pembicaraan Iblis-penakluk-dunia dengan Lam-hay Sin-ni. Dan
setelah memeriksa keadaan terowongan, memang apa yang
dikatakan iblis itu benar.
Bukan saja dalamnya hanya kira2 dua tombak pun
hawanya lembab dan anyir. Untunglah tidak seseram yang
dikatakan Iblis-penakluk. Dan lagi juga tak terdapat kawanan
ular berbisa.
Siau-liong menghela napas, ujarnya, “Mengapa engkau
seorang diri datang kemari?"
“Mencarimu!" kata Mawar Putih, “tahukah engkau, ketika
engkau lenyap dalam keadaan terluka parah itu, betapa aku
merasa.... ah, syukurlah, engkau tak kurang suatu. Malam
itu....”

501
Siau-liong menunjuk keluar gua, tukasnya; "Saat ini kita
seperti ikan dalam jaring. Kedatangan nona kemari ini hanya
berarti tambah mengorban sebuah jiwa saja.... Hanya kasihan
ibuku yang sedang mengidap sakit diluar lautan itu. Bukan
saja tak dapat mengharapkan kedatangan puteranya, pun
mungkin seumur hidup takkan dapat berjumpa lagi!"
Rasa haru akan ibunya, menyebabkan mata Siau-liong
berlinang-linang....
Mawar Putihpun ikut terharu dan menangis tertedu-sedu.
Sampai lama baru ia berhenti menangis lalu mendekati Siauliong,
katanya, “Ada sebuah hal yang harus kuberitahukan
kepadamu.... Ah, aku sungguh menyesal sekali....”
Ia menghela napas panjang lalu melanjutkan, “Sudah
kupertimbangkan, untuk sementara waktu ini baik dapat atau
tidak menuntut balas, kita harus segera menuju keseberang
laut mencari guruku. Mungkin begitu melihat engkau, beliau
tentu sembuh penyakitnya!"
Siau-liong hanya diam saja karena tak tahu bagaimana
harus bicara. Ia menyadari keadaan saat itu bagaikan telur
diujung tanduk. Sukar bagi kedua pemuda itu untuk lolos dari
genggaman Lam-hay Sin-ni.
Kembali Mawar Putih menghela napas lagi, katanya,
“Tempo hari memang akulah yang jahat. Kalau aku tak
menekan engkau supaya membunuh Toh Hun-ki dan keempat
Su-lo, tentulah saat ini kita sudah berada disisi suhu!"
Mawar Putih menyudahi kata-katanya dengan menangis
beriba-iba lagi. Hati Siau-liong seperti disayat sembilu....
Tiba-tiba terdengar suara Iblis-penakluk-dunia berkata,
“Lekas keluar! Asal engkau mau menyerahkan Giok-pwe itu

502
kepada Sin-ni kujamin keselamatanmu untuk meninggalkan
Lembah ini!" Lam-hay Sin-ni pun ikut berteriak, “Kalau kalian
tak mau keluar, tentu akan kuhancurkan gua ini agar kalian
mati terkubur hidup-hidupan!"
Geram sekali Siau-liong mendengar ancaman itu. Ia
menghantam dinding, tetapi hantaman itu....
Bung....!!! terdengar kumandang yang dahsyat.
Siau-liong mengulang lagi dengan beberapa pukulan seraya
membisiki Mawar Putih, “Dengarkanlah!”
“Benar dinding gua ini seperti kosong!" sahut Mawar Putih
riang.
Siau-liong juga terkejut girang Kalau dinding gua itu kosong
tentulah berisi suatu alat perangkap atau sebuah terowongan
rahasia. Dia tak takut terperangkap dalam perkakas rahasia
karena dengan memiliki peta pemberian Jong Leng lojin, ia
tentu dapat keluar dari lembah.
Memang dinding gua disitu terbuat daripada campuran
pasir dan pecahan batu. Begitu di hantam, dinding itu
berguguran rontok. Siau liong tak mau membuang waktu. Tak
berapa lama ia berhasil membuat sebuah lubang sedalam
setengah meter.
Terdengar bunyi menggemuruh dan terbukalah sebuah
lubang gua lagi. Setelah mempersihkan lubang pintu itu. ia
melongok kesebelah dalam. Ah, ternyata gua disamping itu
merupakan sebuah terowongan yang terbuat dari pada batu
marmar putih, Siau-liong cepat menarik Mawar putih diajak
masuk.

503
Ternyata ia berada dalam sebuah terowongan, dinding batu
marmar putih dan terang benderang, Siau-liong cepat
mengeluarkan peta lalu memeriksa dengan teliti.
Tetapi sampai sekian lama, masih juga ia belum mengerti
Menilik bentuk dan letak terowongan tentu merupakan sebuah
tempat yang amat penting. Tetapi anehnya dalam peta tak
terdapat tanda2 tentang tempat itu.
Terpaksa ia simpan lagi peta itu lalu pelahan-lahan mulai
menyelidiki. Terowongan itu condong turun ke bawah. Kira2
tiga tombak jauhnya baru tiba diujung terakhir yang ternyata
merupakan sebuah pintu.
Sampai beberapa lama Siau-liong berdiri dimuka pintu batu
itu. Setelah berpaling kepada Mawar Putih yang berada
dibelakangnya, tiba-tiba ia mendorong pintu itu. Pintu terbuka
seketika. Dan legalah perasaan Siau-liong karena ternyata
dibalik pintu itu tiada terdapat suatu perkakas rahasia. Ia
segera melangkah masuk.
Apa yang disaksikan dalam ruang itu benar-benar
membuatnya terkejut sekali. Pada 4 sudut ruang terdapat
sebutir mutiara sebesar telur itik sehingga ruang terang
benderang.
Ruangpun lengkap dengan meja kursi. Dibawah kaki
dinding sebelah kanan, tertumpuk 3 buah peti besi yang
besar. Sedang ditengah meja, terdapat sebuah kotak kecil
yang terbuat dari pada baja. Besarnya hanya setengah meter.
Ketika Siau-liong dan Mawar Putih maju menghampiri
kemeja, mata kedua pemuda itu terbeliak seketika.
Pada tutup kotak baja itu tertulis 8 huruf besar dengan
tinta emas:

504
KITAB PUSAKA THIAN KONG SIN KANG.
Siau-liong tertegun. Ia saling tukar pandang mata dengan
Mawar Putih tanpa dapat berkata apa2.
Tulisan emas pada tutup kotak itu makin berkilauan
gemilang tertimpa cahaya mutiara dari empat jurusan.
Kini sadarlah Siau-liong bahwa saat itu ia benar-benar
berada dalam ruang penyimpan harta pusaka peninggalan Tio
Sam-hong, cikal bakal pendiri partai Bu-tong-pay!
“Apakah kita sedang bermimpi....?" Mawar Putih
mengingau tersendat-sendat. Sikapnya amat tegang sekali.
Wajahnya menampil rasa kejut2 girang.
Siau-liong pun merasa seperti dalam impian sahutnya
tersedu, “Mungkin tidak....!"
--ooo0dw0oo--
Pewaris
Siau-liong tercengkam dalam keraguan. Bermula ia anggap
kitab pusaka Thian-kong-sin-kang itu hanyalah suatu khajalan
belaka. Ia memang tak percaya.
Tetapi apa yang dilihat saat itu, benar-benar diluar
dugaannya. Ketiga peti besar yang berisi permata ratna mutumanikam
yang tak ternilai harganya. Keempat butir mutiara
sebesar telur itik yang gilang gemilang dan kotak berisi kitab
pusaka ilmu sakti Thian-kong-sin-kang. Kesemuanya saat itu
terbentang dihadapannya.

505
Siau-liong benar-benar seperti bermimpi.
Entah berapa ribu jago2 persilatan yang membuang waktu
dan tenaga berjerih payah mencari harta pusaka itu tanpa
berhasil. Tetapi tanpa sengaja, ia karena ketakutan dikejar
Lam-hay Sin-ni, malah tersesat masuk ke dalam tempat harta
pusaka itu.
Adakah itu memang sudah takdir?
Ruang itu tampaknya tiada diberi lubang hawa sedikit pun
juga. Tetapi anehnya, Siau-liong dan Mawar Putih tak merasa
pengap. Dan karena terowongan terbuat daripada batu
marmar putih, walaupun Sudah ratusan tahun tetap bersih
seperti baru. Dengah begitu peti kitab itu sedikitpun tiada
karatan.
Dengan gemetar, Siau-liong membuka peti kitab itu. Dalam
pada itu otaknya tetap bekerja. Timbul pertanyaan dalam
hatinya. Ruang penyimpan harta pusaka hanya terpisah
sebuah dinding dari campuran batu, dengan gua. Tetapi
mengapa sampai sekian ratus tahun, tiada seorangpun yang
mampu menemukan tempat itu?
Tiba-tiba siau-liong teringat. Tadi sewaktu masih berada
dalam gua, ia dengar Iblis-penakluk-dunia mengatakan
kepada Lam-hay Sin-ni bahwa gua itu penuh dengan kawanan
ular berbisa. Aneh, mengapa sampai saat itu ia tak melihat
barang seekor ular pun juga?
Pikirannya melayang lebih lanjut....
Sebagai seorang tokoh luar biasa pada jamannya, sudah
tentu Tio Sam-hong membangun tempat penyimpan harta
pusakanya sedemikian rupa pelik dan amannya. Kalau tidak,

506
masakan. sampai beratus ratus tahun orang tak mampu
menemukannya.
Ketika peti dibuka, hatinya mendebur tegang sekali. Di
dalam peti itu terdapat sebuah kitab bersampul sutera kuning.
Isinya tipis, hanya beberapa lembar. Pada sampul kitab tertulis
4 huruf 'Thian Kong Sin Kang'.
Siau-liong membuka lembaran pertama dan membaca
bersama Mawar Putih:
Kitab pusaka ilmu sakti Tersimpan beribu tahun.
Dua orang masuk keruang Hanya seorang yang berjodoh.
Sejak ini dan kemudian hari Hanya seorang pewaris tunggal
Basmi Kejahatan dan Kelaliman Jangan congkak jangan
serakah.
Dibawahnya terdapat sebaris tulisan huruf2 kecil berbunyi:
Yang melanggar pasti dikutuk 'Sin-beng' (malaikat sakti).
Siau-liong kucurkan keringat dingin. Karena ia terkejut dan
ngeri. Adakah Tio Sam-hong itu dahulu seorang yang pandai
meramal sehingga kejadian yang belum berlangsung ratusan
tahun ia dapat mengetahui? Kalau tidak, mengapa ia dapat
menulis secara begitu gamblang?
Menilik kenyataan itu. tindakan Tio Sam-hong untuk
membagi peta Giok-pwe menjadi dua bagian, maksudnya
adalah untuk menyulitkan orang agar kitab pusaka itu tak
mudah diketemukan orang!
Lebih jauh ia merenungkan tentang kita2 yang berbunyi
'jika dua orang masuk, hanya seorang yang berjodoh'.... Ia
meneliti dirinya. Bermula ia mendapat pelajaran dari Tabibsakti
Kongsun Sin To. Lalu bertemu dengan Pendekar Laknat,
Pengemis Tengkorak sakti. Walaupun tidak langsung, tetapi

507
kedua tokoh itu juga mempunyai hubungan sebagai guru dan
murid dengannya. Karena dari kedua tokoh itulah maka ia
dapat memiliki ilmu tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang dan ilmu
pukulan sakti Thay-siang-ciang.
Agaknya Tio Sam-hong memang mempuyai perhitungan
yang jitu. Jelas tokoh Bu-tong-pay itu tak menghendaki ia
(Siau-liong) menjadi pewaris ilmu sakti Thian-kong-sin-kang.
Dan pula, ia toh hanya tinggal satu tahun umurnya karena
minum racun jong-tok dari Poh Ceng-in. Masakan Tio Samhong
akan memilih seorang yang sependek itu umurnya?
Kalau begitu yang tepat menjadi pewaris Thian-kong-sinkang
itu hanyalah Mawar Putih!
Dengan kesimpula. itu cepat ia serahkan kitab pusaka
kepada si dara, “Nona, kitab pusaka ini Seharusnya engkau
yang memiliki!"
Mawar Putih menyurut mundur selangkah seraya goyanggoyangkan
tangannya; “Tidak! Tidak! Aku tak dapat....”
Dara itu gugup dan tegang, serunya “Kutahu rejekiku tipis
dan lagi aku tak sanggup memikul beban seberat itu!"
Dengan wajah serius berkatalah Siau-liong, “Dalam lembar
pertama dari kitab itu jelas dicantumkan. Hanya seorang yang
mempunyai jodoh Rasanya yang berjodoh itu hanyalah nona!"
Tiba-tiba Mawar Putih menghambur tawa, “Bagaimana
engkau tahu?"
Siau-liong menghela napas, “Aku sudah terlanjur
mempelajari ilmu aliran Hitam, mungkin tak sesuai lagi untuk
mempelajari ilmu sakti dari aliran Putih. Pula.... paling lama
aku pun hanya hidup sampai satu tahun lagi. Tio Sam-hong

508
cousu benar-benar dapat meramalkan peristiwa saat ini. Tak
mungkin beliau akan memilih diriku untuk menjadi pewaris
Thian-kong-sin-kang itu!"
Mawar Putih terkejut memandangnya, “Engkau mengoceh
apa itu? Bagaimana engkau tahu kalau umurmu hanya tinggal
setahun saja!"
Siau-liong hendak berkata tetapi tak jadi Sukar baginya
untuk menuturkan pengalamannya dengan Poh Ceng-in itu.
Setelah merenung beberapa saat, barulah ia berkata, “Jika
engkau tetap berkeras menolak, aku mempunyai cara untuk
menentukan!"
Mawar Putih tertawa, “Katakanlah, apa caramu itu!"
"Tio Sam-hong mendirikan ruang rahasia untuk menyimpan
harta pusaka dan meninggalkan tulisan pada kitab pusaka itu,
seolah-olah sudah mengetahui bahwa kitalah yang akan
masuk kemari. Hal itu disebabkan mungkin.... Karena Tio
Sam-hong cousu mengerti akan ramalan perbintangan. Oleh
karena itu marilah kita gunakan cara ramalan itu untuk
meminta kepada arwah Tio Sam-hong cousu supaya memberi
petunjuk kepada siapakah kitab itu harus diserahkan....”
Siau-liong terus mengeluarkan sebuah uang tembaga lalu
diberikan kepada Mawar Putih, “Harap engkau berdoa.
Katakanlah pilihannya, mau yang bagian muka atau belakang
dan lemparkanlah sampai tiga kali."
Mawar Putih tak mau berbantah.... Sepera ia menyambuti
uang itu lalu bersoja memberi hormat kelangit ssraya berdoa
dengan suara lantang, “Mohon arwah Tio Sam-hong cousu
suka memberi petunjuk mengenai kitab pusaka Thian-kongsin-
kang itu. Jika harus.... diberikan engkoh Siau-liong. mohon
supaya uang ini mengunjukkan bagian muka sampai tiga kali."

509
Habis berdoa, Mawar Putih lalu lemparkan mata uang itu ke
atas. Dan ah.... ketika jatuh dilantai ternyata memang bagian
mukanya yang tampak diatas. Diulangnya lagi lemparan itu
sampai dua kali, tetap dua kali berturut-turut uang itu
mengunjuk bagian muka.
Mawar Putih tertawa memandang Siau-liong, “Tuh lihatlah!
Tio Sam-hong cousu benar-benar seperti malaikat. Tiga kali
lemparan tiga kali tetap menunjuk engkau!"
Siau-liong tak dapat menjawab apa2, Ia memungut mata
uang itu lalu berdua dengan suara nyaring, “Murid Tong Siauliong,
dengan khidmat memohon kepada arwah Tio Sam-hong
cousu, Jika benar cousu memilih murid menjadi pewaris Thiankong-
sin-kang, mohon memberi petunjuk agar uang itu tiga
kali ber-turut2 jatuh dengan terbalik!"
Setelah memberi hormat kelangit, Siau-liong lalu lemparkan
uang itu ke atas....”Tring", jatuhlah uang itu dengan
permukaan terbalik ke bawah. Sampai tiga kali ia
melemparkan uang, tetap uang itu mengunjuk permukaan
bagian belakang.
“Hola!" Mawar Putih bertepuk tangan, “kali ini engkau tentu
tak dapat berkutik lagi....”
Wajah Siau-liong mengerut gelap. Setitik pun ia tak merasa
gembira bahkan malah menghela napas....
Sudah tentu Mawar Putih heran dan menegurnya,
“Kabarnya Thian-kong-sin-kang itu merupakan ilmu sakti yang
nomor satu di dunia. Sudah ratusan tahun ilmu itu merajai
dunia persilatan.Maka engkau tentu bakal menjadi jago nomor
satu di dunia!"

510
Siau-liong tak mengerti apa maksud dara itu. Tetapi ia
menyadari bahwa dirinya memang dalam keadaan gelisah.
Dalam kitab pusaka itu ditulis pesanan supaya menggunakan
dari kitab Thian-kong-sin-kang dicantumkan amanat
'membasmi Kelaliman dan Kejahatan', Jika ia menerima kitab
pusaka itu dan menjadi pewaris dari ilmu Thian-kong-sin-kang,
dia harus melaksanakan tugas untuk membasmi kejahatan
dan kelaliman termasuk kedua suami isteri Iblis penaklukdunia
dan Dewi Neraka.
Bukan karena ia tak mau melakukan beban kewajiban itu
tetapi adalah karena hidupnya hanya terbatas satu tahun saja,
selain melakukan beberapa hal untuk kepentingannya. ia
sudah tak mempunyai waktu lagi. Kalau ia sampai terlibat
dalam pergolakan dunia persilatan dewasa itu, bukankah
berarti ia tak sempat mencari ibunya keseberang lautan lagi?.
Dan masih ada lain keberatan lagi. Sebagai sebuah ilmu
yang sakti, tentulah tidak mudah untuk mempelajari Thiankong-
sin-kang. Mungkin sebelum berhasil ia sudah mati.
Karena dicengkam oleh berbagai keresahan itu, maka
menyahutlah ia agak segan, “Manusia yang sakti masih ada
yang lebih sakti. Di atas langit masjh terdapat angkasa raya.
Maka Tio Sam-hong cousu dahulupun tak berani mengatakan
dirinya sebagai tokoh yang tiada tandingnya di dunia. Di
dalam rimba belantara dan pegunungan raya, mungkin
bersembunyi banyak totoh2 berilmu yang tak mau muncul
dimasyarakat ramai. Apa yang disebut tokoh nomor satu itu
tak lain hanya tokoh yang paling hebat kepandaiannya dalam
dunia persilatan, bukan yang tersakti diseluruh dunia! Dan
lagi.... terus terang, aku tak ingin menjadi pewaris ilmu Thiankong-
sin-kang, karena....”
Karena Siau-liong tak mau melanjutkan perkataannya,
maka Mawar Putih segera menukas, “Kalau begitu, baiklah kita

511
lekas menuju keseberang laut saja! Tak perlu kita hiraukan
dunia persilatan dan kedua suami isteri iblis itu lagi!"
Sekali pun mulut mengatakan begitu namun dalam hati,
Mawar Putih timbul pertentangan batin sendiri. Mengingat
suhunya berulang kali mengharap akan berjumpa dengan
puteranya yang hilang (Siau-liong), mungkin suhunya itu
bermaksud memberi bisikan halus bahwa ia (Mawar Putih)
akan dijodohkan dengan puteranya yang hilang itu. Tetapi
kalau teringat akan ramalan Janda Bu-san yang mengatakan
bahwa ia tak mempunyai rejeki terangkap suami isteri dengan
Siau-liong, maka hati Mawar Putih merasa gundah sekali.
Maka jika ia cepat membawa Siau-liong keseberang lautan.
tentulah kemungkinan besar suhunya segera akan
menikahkan mereka. Dan ramalan Janda Bu-san yang menjadi
ibu-angkatnya itupun tentu gugur.
Mawar Putih kerutkan alis dan berkata, “Hayo, kita segera
berangkat keseberang lautan. Soal Toh Hun-ki dan keempat
Su-lo kelak kita urus lagi. Apakah engkau tak ingin lekas2
menjenguk ibumu yang sedang menderita sakit itu
Sekarang?....”
Siau-liong gelengkan kepala; "Tak mungkin kita berangkat
sekarang. Paling tidak harus tunggu sampai empat lima hari
setelah penyerangan rombongan Ceng Hi totiang itu berhasil.
Saat itu barulah aku akan mengambil keputusan!"
Dia sudah memberikan janjinya kepada Toh Hun-ki. Tak
dapat ia mengingkarinya. Setelah melaksanakan hal itu dan
membangun kembali nama baik Pendekar Laknat, barulah ia
akan pergi menemui ibunya.
Jangankan sekarang ia sudah memiliki amanat dari kitab
Thian-kong-sin-kang untuk membasmi Kelaliman dan

512
Kejahatan. Sekalipun tidak begitu, ia tetap tak dapat melihat
sambil berpeluk tangan saja akan kejahatan2 yang tengah
berkecamuk dalam dunia persilatan dewasa itu.
Mawar Putih hanya dapat deliki mata. Tetapi pada saat
dara itu hendak membuka mulut, tiba-tiba terdengar suara
teriakan orang dari luar gua.
“Kalau gua ini gua buntu, masakan mereka mampu
meloloskan diri?" seru Lam-hay Sin-ni.
Iblis-penakluk-dunia menjawab agak pelahan, “Harap Sin-ni
jangan resah....”
Karena kelanjutan Iblis-penakluk-dunia berkata dengan
suara amat pelahan maka tak dapat ditangkap lagi
pembicaraannya.
Siau-liong terkejut. Ia teringat bahwa dinding gua yang
dibobolnya tadi masih terbuka. Jika Lam-hay Sin-ni dan Iblispenakluk-
dunia masuk ke dalam terowongan gua, mereka
tentu akan menemukan bobolan dinding itu dan dapat masuk
ke dalam ruang disitu. Sekalipun sudah mendapatkan kitap
pusaka Thian-kong-sin-kang tetapi ia belum sempat
mempelajarinya. Apabila Lam-hay Sin-ni sampai tahu, tentu
kitab itu akan direbutnya.
Cepat Siau-liong menyimpan kitab itu ke dalam bajunya lalu
kerahkan tenaga dalam bersiap-siap menghadapi segala
kemungkinan.
Tetapi ternyata sampai sekian lama Lam-hay Sin-ni dan
Iblis-penakluk-dunia tak tampak masuk ke dalam gua. Dan
beberapa saat kemudian terdengar suara pekik bentakan yang
riuh disusul dengan suara yang amat hiruk pikuk.

513
Suara hiruk pikuk itu seperti suara orang berbaku hantam.
Sepintas mirip Lam-hay Sin-ni sedang menumpahkan
kemarahan untuk menghancurkan gua itu. Tetapi sepintas
juga mirip seperti rombongan Ceng Hi Totiang yang
mengadakan serbuan kepada mereka.
Sampai sekian lama, belum juga Siau-liong maupun Mawar
Putih dapat menduga apakah suara hiruk pikuk diluar gua itu.
Beberapa lama kemudian, suara hiruk pikuk itupun reda
dan suasaua sunyi senyap lagi.
Kata Siau-liong; “Lam-hay Sin-ni dan Iblis-penakluk dunia
tak mungkin begitu mudah melepaskan kita berdua. Paling
tidak sebelum hari terang tanah, kita tak dapat lolos keluar.
Dalam kesempatan ini, harap engkau suka beristirahat tidur
dulu....”
Sejak hilangnya Siau-liong dari pondok Randa Bu-san pada
10-an hari yang lalu, memang tiap malam Mawar Putih tak
dapat tidur nyenyak. Tiga hari kemudian dengan membohongi
Randa Bu-san dan si dara baju hijau, diam-diam ia tinggalkan
pondok untuk mencari Siau-liong. Selama itu ia kurang tidur
kurang makan dan tak kenal letih. Begitu Siau-liong
mengingatkan supaya ia tidur, ia segera mengangguk dan
minta pemuda itu tidur juga. Selekas membaringkan diri maka
tidurlah Mawar Putih dengan nyenyak sekali.
Melihat dara itu sudah tidur, Siau-liong menghela napas.
Iapun segera duduk menghadap kelubang dinding bobol tadi
dan pejamkan mata bersemedhi. Tetapi ternyata pikirannya
penuh dengan berbagai persoalan. Lama sekali belum juga ia
mampu menenteramkan pikirannya.
Sampai saat itu keadaan diluar gua masih sunyi senyap.
Tampaknya Lam-hay Sin-ni dan Iblis penakluk-dunia benarTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
514
benar sudah tinggalkan tempat itu. Timbul dugaannya.
Adakah hiruk pikuk tadi benar-benar disebabkan terjadinya
penyerangan kepada Lam-hay Sin-ni dan Iblis-penakluk-dunia
sehingga kedua tokoh itu dapat dipikat untuk pergi dari situ?
Jika benar demikian, terang orang yang melakukan
serangan itu tentu seorang yang berilmu sakti!
Tiba-tiba ia mengambil keluar kitab pusaka Thian-kong-sinkang.
Tetapi ia bimbang dan tak dapat segera memutuskan
apakah ia perlu membuka halaman kitab itu.
Siau-liong menyadari bahwa dirinya takkan berumur
panjang. Jika tak membuka kitab itu, ia masih dapat
memberikannya kepada tokoh yang dianggapnya pantas
menjadi pewaris ilmu sakti itu. Tetapi kalau sekali
membukanya, dengan sendirinya dialah yang akan menjadi
pewaris Thian-kong-sin-kang.
Jika ia sampai tak dapat menunaikan tugas seperti yang
diamanatkan dalam kitab pusaka itu, bukankah berarti ia telah
mensia-siakan harapan Tio Sam-hong?
Ketika matanya tertumbuk pada sampul sutera kuning,
entah bagaimana kitab itu seolah-olah mempunyai daya tarik
yang hebat. Diluar kehendaknya timbullah keinginannya yang
keras untuk membuka kitab itu.
"Ah, paling banyak hanya sepenanak nasi, kitab ini tentu
sudah dapat kubaca habis. Mungkin Thian-kong-sin-kang itu
memang mudah untuk dipelajari.!" pikirnya.
Diapun ingat akan hasil lemparan mata uang tadi. Diamdiam
ia merasa Tio Sam-hong itu benar-benar seorang
pujangga yang dapat meramal dengan jitu. Dan arwah Tio
Sam-hong pun tentu tahu bahwa umurnya hanya tinggal satu

515
tahun. Namun kalau Tio Sam hong tetap menghendaki dia
yang menjadi pewaris Thian-kong-sin-kang, tentulah hal itu
sudah menjadi garis hidupnya.
Merenungkan hal itu tanpa ragu2 lagi ia segera membuka
lembaran kitab itu dan membacanya.
Siau-liong memang berotak cerdas. Kitab Thian-kong-sinkang
yang hanya terdiri dari belasan lembar itu, dalam waktu
sepenanak nasi Saja telah dapat dihafal semua.
Habis membaca, ia termenung agak meragu. Semula ia
mengira Thian-kong-sin-kang sebagai ilmu nomor satu di
dunia, tentu sukar dan dalam sekali pelajarannya. Tetapi
setelah membaca isi kitab itu. ia merasa hambar karena tiada
sesuatu yang luar biasa pada isinya.
Separoh yang dimuka, berisi pelajaran tentang ilmu
Pernapasan yang hampir sama dengan pelajaran dari ilmu
lain. yang berbeda hanya pada bagian memusatkan,
“Semangat, Hati, tujuan, pikiran, ketenangan, gerakan,
kekosongan dan kenyataan."
Memang ada beberapa bab yang belum dapat ia mengerti
antara lain tentang palajaran yang menyebut, “Dalam Tenang
timbul Gerak, dalam Gerak lahir Tenang....” dan lain baris
yang berbunyi: 'Kehendak lahir dari Pikiran. Pikiran
berhubungan dengan Hati. Semangat dan Kehendak bersatu,
Hati dan Semangat berjalin....”-dan lain-lain kalimat yang tak
dimengertinya.
Separoh bagian yang dibagian belakang, memuat ilmu
Pukulan Thian-kong. Terdiri dari sebuah Pukulan, tiga buah
Tamparan dan empat buah Tutukan jari. Diterangkan dengan
jelas sekali. Setiap jurus disertai dengan gerak langkahnya.
Tetapi semua pelajaran itu tampaknya sederhana sekali.

516
Ilmu pukulan Thay-siang-ciang dari Pengemis Tengkorak
dan ilmu pukulan Membalik-langit serta ilmu pukulan Gun-gociang
ajaran tabib sakti Kongsun Sin-tho lebih indah dan sukar
dari ilmu pukulan Thian-kong-ciang itu.
Dalam kekecewaan, diam-diam Siau-liong bersangsi,
“Apakah ada orang yang sengaja memalsu dan kitab ini bukan
tulisan dari Tio Sam-hong cousu?"
Kalau tidak, mengapa kitab pusaka Thian-kong-sin-kang
yang begitu dimashyurkan kesaktiannya, ternyata begitu biasa
sekali?
Tetapi pada lain saat ia harus membantah kesangsiannya
itu. Kalau memang benar sebelumnya ada orang yang sudah
masuk kemari, tentulah empat butir mutiara yang tak ternilai
harganya itu akan diambilnya. Nyatanya mutiara itu masih
berada ditempatnya!
Lenyapnya kesangsian, membuat Siau-liong mencurahkan
perhatiannya pada isi kitab itu lagi. Dalam waktu tak lama, ia
dapat membaca habis isi kitab itu.
Namun ia masih belum dapat menyelami inti daripada kitab
Thian-kong-pit-kip yang sudah termashyur ratusan tahun itu.
Kemudian ia coba untuk melakukan pernapasan sesuai
dengan petunjuk dalam kitab itu. Tetapi karena banyak kata2
yang tak dapat dimengerti, iapun tak dapat mempraktekkan
dengan tepat.
Suatu hal yang mengejutkan hatinya telah terjadi, setelah
satu kali melakukan pelajaran Bernapas, ia dapatkan cara
Pernapasan yang tampaknya sederhana itu ternyata
mengandung sesuatu yang luar biasa. Ia rasakan dirinya

517
seperti terbenam dalam samudera dan terhanyut dibawa
alunan ombak.
Setelah itu ia coba untuk melakukan gerak dari pelajaran
Pukulan-tamparan-tutukan, Walau pun keterangannya amat
jelas sekali tetapi dikala mempratekkan, ternyata sukarnya
bukan kepalang. Ada beberapa gerak yang ia anggap tak
mungkin dipraktekkan.
Ternyata setiap jurus itu mengandung beberapa gerak
langkah dan perobahan. Dan dalam keterangan tersebut,
perobahan itu sekaligus dilakukan dengan serempak dalam
dua atau tiga cara. Sudah tentu hal itu dianggap tak mungkin
oleh Siau-liong.
Tiba-tiba ia teringat akan kata2 dalam pelajaran ilmu
Bernafas. Disitu jelas disebut bahwa 'Dalam tenang timbul
Gerak. Dalam Gerak lahir Ketenangan'. Ah, apakah Thian-kong
itu benar-benar begitu islimewa saktinya? tanpa
menggerakkan tangan, sudah dapat bunuh lawan?
Dengan kecerdasan otaknya. dapatlah Siau-liong menyadari
bahwa ilmu pukulan yang terdiri dari sebuah Tinju. tiga
Tamparan, empat tutukan jari itu, tentu harus dilembari
dengan pelajaran yang pertama yakni ilmu bernafas.
Dan setelah melakukan pernapasan beberapa kali,
walaupun masih belum dapat keseluruhannya, tetapi makin
menambah kepercayaannya....
Untuk yang ketiga kalinya, ia mengulang baca sekali lagi
kitab itu.... Saat itu ia merasa telah dapat menghafal isinya
diluar kepala.
“Ah, Thian-kong sin-kang yang tampaknya sederhana itu,
ternyata mengandung inti pelajaran yang dalam sekali. Tak

518
mungkin dapat kupelajari dalam waktu sehari semalam saja.
Saat ini aku aku masih teramcam bahaya. Walaupun aku
masih dapat menghadapi Iblis penakluk-dunia dan Dewi
Neraka, ia masih sanggup menghadapi. Tetapi kalau dengan
Lam-hay Sin-ni, ia merasa masih kalah. Jika kitab pusaka itu
sampai dapat direbut lawan bukankah ia berdosa terhadap
pencipta kitab itu?
Siau-liong merenung diam. Sekonyong-konyong ia
genggam kitab itu lain meremasnya.
Thian-kong-pit-kip, kitab pelajaran ilmu Thian-kong-sinkang
yang sudah berumur ratusan tahun saat itu hancur lebur
berhamburan menjadi abu.
Ia menghela napas lalu mencoba lagi untuk
mempraktekkan ilmu Bernapas dalam kitab itu. Saat itu
ketegangan hatinya sudah banyak reda. Dengan tenang ia
melakukan ilmu pernapasan dan tak lama dapatlah pikirannya
tenggelam dalam alam kehampaan.
Entah berlangsung berapa lama, ia terkejut mendengar
desir ujung baju. Ketika membuka mata, tampak Mawar Putih
sedang ter-longo2 memandang hamcuran kitab yang
bertebaran di tanah.
“Engkau sudah bangun?" Siau-liong tersenyum.
Sambil menuding pada abu kertas yang berserakan dilantai,
dara itu bertanya, “Apakah itu?"
Siau-liong menghela napas kecil, “Yah, itulah kitab pusaka
Thian-kong-pit-kip....”
“Engkau menghancurkannya....?" Mawar Putih menjerit
kaget tetapi pada lain saat ia tertawa, “Jadi engkau sudah

519
memutuskan takkan mencampuri pergolakan dunia persilatan
lagi dan bersama aku keseberang lautan menghadap
ibumu....”
Rupanya perasaan dara itu tegang sekali. Belum Siau liong
menyahut, ia sudah melanjutkan kata2nya, “Jika engkau suka
kita tinggal saja dipulau itu dan tak menginjak kedunia
persilaian se-lama2nya!"
Siau-liong menghela napas rawan, “Aku bukanlah orang
yang bekerja kepaiang tanggung. Selama urusan disini belum
selesai, tak dapat kutinggal pergi. Sekalipun kitab pusaka itu
sudah hancur tetapi seluruh isinya sudah dapat kuhafal
semua. Dengan begitu aku telah tambah sebuah beban yang
berat!"
Berkata Mawar Putih dengan serak, “Semua terserah
padamu sajalah! Mungkin ibu angkatku itu benar....”
“Siapa ibu angkatmu?" Siau-liong terkesiap.
Menatap Siau-liong, dara itu memberi jawaban kepada
yang bukan ditanyakan, “Lebib baik kita lekas tinggalkan
tempat ini. Mungkin Lam-hay Sin-ni dan kedua suami isteri
iblis itu sudah pergi!"
Habis berkata dara itu terus menghampiri ke lubang,
bobolan. Sesaat Siau-liong kehilangan faham. Ia tak dapat
menghadapi rasa kasih yang dicurahkan dara itu. Tiba-tiba ia
tersadar dan cepat loncat mendahului.
Kedua suami isteri iblis itu banyak tipu muslibatnya, biarlah
aku yang mempelopori jalan!" serunya terus merangkak ke
dalam terowongan. Mawar Putih mengikuti dibelakangnya.

520
Tak lama kemudian mereka tiba di dalam gua yang
berdinding tanah. Searus hawa busuk dan anyir segera
menampar hidung.
Gua itu tak berapa dalamnya. Setelah memeriksa, Siauliong
yakin tiada terdapat bekas seseorang lain yang Balik
kesitu. Pun keadaan diluar gua sunyi senyap. Lam-hay Sin-ni
dan kedua suami isteri iblis itu benar-benar sudah pergi.
Ketika berpaling. diam-diam Siau-liong terkejut. Ternyata
dari dalam gua itu tampak jelas sekali bobolan dinding dan
ruang lempat penyimpanan harta pusaka. Sekali Lam-hay Sinni
dan kedua suami isteri iblis masuk, tentu dengan cepat
mereka mengetahui tempat penyimpanan harta pusaka itu.
Diam-diam Siau-liong merasa aneh juga. Menpapa setelah
menunggu diluar sampai sekian lama rombongan Lam-hay
Sin-ni tak mau memasuki gua dan malah pergi?
Melihat Siau-liong terlongong, Mawar Putih mendengus lagi
terus melesat keluar.
Siau-liong kaget dan cepat2 berseru, “Nona"
Mawar Putih hentikan langkah, berpaling, “Mengapa?" —
Nadanya sedingin es. Agaknya dara itu masih penasaran.
Siau-liong menatap sejenak, tertawa, “Jika engkau dalam
penyamaran begitu, tentu....”
Kiranya saat itu Mawar Putin masih menyaru sebagai Dewi
Ular Ki Ih, Tetapi ketika masuk ke dalam gua, terpaksa ia
lepaskan kerudung mukanya.
Setelah mengawasi dirinya sendiri, dara itupun tertawa lalu
mengenakan kerudung muka lagi.

521
Siau-liong kerutkan alis, ujarnya, “Saat ini Ceng Hi totiang
sedang memimpin penyerbuan ke Lembah Semi. Banyak
tokoh2 persilatan yang sudah tiba. Dahulu ibuku banyak sekali
mengikat permusuhan dengan partai2 persilatan, sebaiknya
nona....”
"Baiklah, kalau begitu aku tak mengenakan pakaian ini!"
Mawar Putih tertawa dingin.
Karena masih mengkal Siau-liong tak mau diajak ke
seberang lautan, dara itu marah. Dua tiga kali gerakan
tangan, ia merobek kain kerudung dan pakaian
penyamarannya.
Siau-liong hanya dapat menghela napas, ujarnya, “Adakah
sedikit pun nona tak mengerti diriku? Ah....” —kembali ia
menghela napas dengan penuh kerawanan.
Mawar Putih cebirkan bibir. Sikapnya tetap dingin. Ternyata
dara itu sedang berjuang keras untuk menahan turunnya air
mata.
Setelah menguatkan perasaannya lalu sejenak memandang
ke arah terowongan, Siau-liong berkata, “Harta benda
peninggalan Tio Sam-hong masih ada 3 peti besar....”
"Isinya tentulah harta karun yang berlimpah-limpah
menyamai gudang negara. Bawalah pulang sendiri....” tukas
Mawar Putih....
Siau-liong menghela napas; “Aku bukan orang yang tamak
harta. Hanya saja, kalau harta karun ini sampai jatuh
ketangan manusia jahat tentu lebih menambah kejahatannya.
Lebih baik diberikan kepada badan amal dan menolong kaum
fakir miskin!"

522
Mawar Putih tertawa ewah, “0, kiranya engkau seorang
yang berhati mulia....”
Siau-liong tahu bahwa dara itu masih penasaran
kepadanya. Sejenak merenung, sekonyong-konyong ia
dorongkan kedua tangannya kemuka. "Bruk".... terdengar
bunyi menggemuruh disusul dengan hamburan debu dan
pasir. Langit gua hancur dan rubuh menutup terowongan
dengan bobolan dinding ruang penyimpan harta pusaka.
Sepintas pandang menyerupai sebuah gua yang rusak
tertimbun tanah. Jika tak digali, tak mungkin diketemukan.
Mawar Putih membersihkan tanah pada bajunya lalu
melangkah keluar.
"Nona....” cepat Siau-liong menghadang lagi....
“Mengapa lagi?" tanya Mawar Putih.
“Diluar penuh dengan alat jebakan. Mungkin kedua suami
isteri iblis itu belum pergi....”
Mawar Putih menukas dengan tertawa keras, “Kiranya
nyalimu besar sekali! Nah, silahkan engkau tinggal disini
selamanya....” tiba-tiba ia berganti nada; "sekarang engkau
sudah menjadi pewaris ilmu Thian-kong-sin-kang. Pendekar
besar dalam dunia persilatan! Silahkan engkau disini
mengunjuk kesaktianmu itu! Aku akan pergi....”
Dara itu cepat2 berpaling agar dua titik air mata yang
menetes dari sudut pelupuknya, tak terlihat Siau-liong.
Kemudian sambil menghunjam-hunjamkan kaki ke tanah, ia
menggeram. "Aku segera akan kembali keseberang laut dan
takkan datang ke Tionggoan lagi!"

523
Sekali melesat, dara itu sudah loncat keluar gua. Saat itu
Siau-liong masih termakan oleh kata2 tajam dari Mawar Putih.
Ia terkejut karena dara itu melesat keluar. Cepat ia mengejar.
Saat itu ternyata fajar sudah mnlai menyingsing. Angin
meniup segar, Mawar Putih lari menuju ke dalam hutan.
Tetapi pada lain saat terdengar suara bentakan bercampur
bergemerincing senjata beradu!
Walau pun teraling pohon yang lebat dan tak dapat melihat
jelas, tetapi Siau-liong cepat dapat menduga bahwa Mawar
Pulih tentu bentrok dengan rombongan orang gagah anak
buah Ceng Hi totiang yang tengah menyerang Lembah Semi.
Ketika Siau-liong menerobos masuk ke dalam hutan,
tampak Mawar Putih sedang berhantam dengan empat lelaki
berpakaian ringkas. Keempat pengeroyok itu menggunakan
golok, pedang dan golok pendek. Sedang di tepi tempat
pertempuran itu berjajar beberapa belas orang yang
menyaksikan pertempuran itu.
Rupanya Mawar Putih hendak tumpahkan kemarahannya
pada keempat orang itu, pedang Kilat dimainkan laksana
hujan mencurah. Ganasnya bukan kepalang.
Tetapi keempat orang itupun memiliki kepandaian tinggi.
Apalagi mereka maju serempak. Maka buyarlah maksud
Mawar Putih hendak mencincang mereka, kebalikannya ia
masih terdesak pontang panting.
Sejenak tertegun, Siau-liong lalu berseru menghentikan
mereka dan secepat kilat ia loncat menghampiri.
Tetapi iapun cepat disambut oleh belasan orang bersenjata
yang mengepungnya. Selain permainan senjata yang cepat

524
dan gencar, pun mereka dapat menempat diri dalam posisi
yang sesuai.
Seolah-olah seperti sudah terlatih dalam suatu formasi
barisan. Sudah tentu hal itu mengejutkan Siau-liong.
Sedang keempat orang yang mengeroyok Mawar Putih itu
tak mengacuhkan dan tetap manyerang dengan gencar.
Tiba-tiba beberapa tombak jauhnyn, muncul seorang lelaki
bermuka brewok. Bergegas-gegas ia menghampiri,
memandang Siau-liong, lalu mencabut panji putih segi tiga
yang terpancang di bahunya, melambaikan seraya berseru,
“Mundur....!"
Belasan orang yang mengepung Siau-liong segera
menyingkir kesamping. Demikianpun keempat orang yang
menyerang Mawar Putih itu, juga loncat mundur.
Pendatang yang bermuka brewok itu tertawa gelak2. Ia
melangkah maju kehadapan Siau-liong, memberi hormat,
“Pendekar Laknat!"
Seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar, alis tebal mata
bundar. Sekujur mukanya hampir tertutup oleh brewok.
Seorang lelaki yang benar-benar gagah perkasa, mirip dengan
Tio Hwi, seorang pahlawan termashyur pada jaman Sam Kok.
Siau-liong balas memberi hormat, “Saudara ini....?"
Dengan suara menggeledek, orang itu menukas, “Aku Lu
Bu-ki, dunia persilatan menggelari dengan julukan Ruyungbesi-
pelor-sakti. Pemimpin dunia Rimba Hijau daerah
selatan....”

525
Kemudian sambil menunjuk kepada berpuluh orang yang
mengepung Siau-liong tadi, Lu Bu-ki menerangkan, “Mereka
adalah jago2 pilihan dari Rimba Hijau!"
Dalam membawakan kata2 itu, disertai juga dengan
gerakan tangan dan kaki.
"Hm, kiranya orang ini seorang benggolan penyamun!"
diam-diam Siau liong membatin.
“Bagaimana saudara kenal padaku?" tanyanya.
Jawab sitinggi besar. "Aku datang memenuhi undangan
Ceng Hi totiang dan tahu kalau Pendekar Laknat juga ikut
serta dalam gerakan membasmi Lembah Semi. Dengan begitu
kita ini sekarang menjadi orang sendiri....”
Dia berhenti sejenak, menatap wajah Siau-liong lalu
tertawa, “Dahulu aku tak sempat ikut dalam gerakan Ceng Hi
totiang untuk menindas Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka.
Sekalipun belum pernah bertemu dengan saudara, tetapi
sudah mendengar cerita orang. Maka sekali lihat aku sudah
dapat mengenal saudara....”
Ucapannya gamblang, nadanya nyaring dan tertawanya
lepas bebas. Ia maju menghampiri lalu menepuk bahu Siauliong,
“Aku paling kagum pada saudara. Membunuh manusia
yang harus dibunuh, sebagai suatu kesenangan. Selama
hidup. aku memang berpendirian begitu juga!"
Siau-liong diam-diam membatin, orang itu benar-benar
amat kasar tingkahnya.
Setelah keempat penyerangnya mundur, Mawar Putih
memandang dengan isyarat mata kepada Siau-liong.

526
Maksudnya suruh pemuda itu menyusulnya. Habis memberi
isyarat, ia terus loncat lari.
Tetapi karena terhalang oleh sitinggi besar Lu Bu-ki,
disamping ia memang masih suka membawa kemauan sendiri,
Siau-liong tak mau. Ia masih mengkal kepada dara itu.
Andaikata saat itu Mawar Putih mau membawanya keseberang
laut menemui ibunya, tentulah ia tak usah mengalami
penderitaan di Lembah Semi. Tak usah ia harus meminum
racun jong-tok dari Poh Ceng-in.
Sekarang dirinya sudah menjadi sedemikian rupa,
nyawanya tinggal setahun lagi, lalu dara itu bersedia
mengajaknya keseberang laut. Huh, apa perlunya?
Dengan mendendam perasaan mendongkol itu, Siau-liong
tak mempedulikan dara itu dan malah melanjutkan
percakapannya dengan Lu Bu-ki.
Karena ternyata Siau-liong tak menyusul, tak berapa
jauhnya, Mawar Putih pun berhenti dan beristirahat dibawah
sebatang pohon.
Dalam pada itu teringatlah Siau liong akan Lam-hay Sin-ni
dan rombongan Iblis-penakluk-dunia yang tiba- tiba
meninggalkan gua. Maka bertanialah ia kepada kepala begal
itu, “Apakah saudara sejak tadi terus tetap menjaga di tempat
ini?"
“Benar, dilingkungan 50 tombak dari tempat ini semua
dijaga oleh anak buahku....” kata Lu Bu-ki.... Kemudian ia
menunjuk ke arah kiri, katanya, “Yang sebelah kiri itu adalah
rombongan Ang-cek-pang, sebelah kanan Siau-lim-pay.
Sekeliling Lembah Semi sudah dikepung rapat sekali,
Sekalipun seekor burung, tak mungkin dapat terbang keluar
dari lembah."

527
Kepala penyamun daerah selatan itu memang seorang yang
suka bicara secara blak-blalan. Dan sekali bicara tentu tak
kena disetop. Maka ia terus melanjutkan saja kata-katanya,
“Ceng Hi totiang telah mengeluarkan perintah rahasia. Akan
menggunakan api untuk membumi-hanguskan Lembah Semi.
Rasanya saat ini tentu sudah akan segera bergerak....”
Memandang jauh kemuka, memang Siau-liong melihat
dibalik semak dan tempat2 jang pelik, terdapat persiapan2
bahan pembakar serta berkarung-karung obat api.
Melihat Lu Bu ki itu seorang kasar yang agak ketololtololan,
Siau-liong tak mau mendesak pertanyaannya tentang
Lam-hay Sin-ni dan rombongan Iblis-penakluk-dunia lagi. Ia
anggap tak berguna.
Lalu ia alihkan pertanyaan, “Apakah saudara tahu dimana
tempat rombongan Kay-pang?"
Lu Bu-ki segera menuding, “Dari sini kekiri kira2 satu li,
melalui tempat rombongan Ang-cek-pang. Go-bi-pay, Tiamjong-
pay, Ji-tok-kau, disiiulah pos penjagaan rombongan Kaypang!"
Karena anggap tak perlu lebih lama berada disitu, Siauliong
segera pamit. Lu Bu-ki benar-benar amat menghormat
kepada Siau-liong. Dengan tersipu-sipu ia memberi hormat
dan mempersilahkan Siau-liong tinggalkan tempat itu.
Baru beberapa langkah Siau-liong berjalan, tiba-tiba dari
sebelah kanan hutan muncul seorang baju hitam dengan
memegang panji warna merah.

528
Lu Bu-ki cepat maju menyongsong. Orang baju hitam
membisiki kedekat telinga Lu Bu-ki lalu bergegas-gegas
melanjutkan berjalan kemuka lagi.
Sitinggi besar Lu Bu-ki tertawa nyaring. Wajahnya gembira,
semangatnya menyala. Sambil gerakkan kedua tangan ke
atas, ia berseru nyaring, “Anak-anak, kita segera akan
bergerak!"
Dari dalam hutan, berhamburan keluar berpuluh-puluh
lelaki berpakaian ringkas. Kebanyakan mereka berumur antara
30-an tahun.
Dipimpin Lu Bu-ki, kawanan anak buah penyamun itu
segera membawa kayu bakar, obat pasang dan bahan2
pembakar, menuju kepuncak gunung dari Lembah Semi.
Siau-liong memandang cuaca. Saat itu diperkirakan sudah
jam 7 pagi. Ia duga Iblis-penakluk-dunia tentu tak mau
melepaskan It Hang totiang dan rombongannya. Maka Ceng Hi
totiang segera mengeluarkan perintah untuk menyerang
Lembah Semi.
Tetapi pada saat memandang kepuncak gunung yang
mengelilingi Lembah Semi, diam-diam Siau-liong kerutkan alis.
Lembah itu luasnya tak kurang dari 10 li. Dengan api,
dikuatirkan tak dapat memberi hasil seperti yang diharapkan.
Dengan bahan peledak, mungkin dapat menghancurkan alatalat
jebakan dalam lembah itu. Tetapi kalau hendak
meratakan lembah itu menjadi karang api, benar-benar tak
mungkin.
Tengah ia merenung, tampak ratusan batang kepala
manusia tengah bergerak masuk kemulut lembah. Dan
sepanjang kaki puncak gunung pun telah terbakar. Merupakan
sebuah gunung yang bersalur jalur api.

529
Apalagi kala itu sedang dalam pertengahan musim rontok.
Pohon dan tumbuh-tumbuhan kering semua. Api cepat sekali
meranggas besar.
Siau-liong memperhatikan dengan seksama. Kecuali
melepas api, pun segenap pelosok hutan penuh bersembunyi
ratusan tokoh2 anggauta rombongan Ceng Hi totiang yang
siap untuk bergerak. Mulut lembah itu merupakan satusatunya
jalanan masuk-keluar lembah. Dan mulut lembah itu
telah dijaga ketat sekali sehingga tak mungkin orang Lembah
Semi dapat terhindar dari sergapan mereka.
Diam-diam Siau-liong memuji kelihayan Ceng Hi totiang
mengatur barisan. Rasanya Lembah Semi pasti dapat
dihancurkan.
Dalam pada itu pikiran Siau-liong masih melekat pada
peristiwa digua tadi. Mengapa Iblis-penakluk-dunia tak berani
memasuki gua itu dan hanya menunggu diluar saja. Lalu
apakah Lam-hay Sin--ni sudah dapat dipikat kedua suami isteri
iblis itu masuk ke dalam lembah?
Sambil berpikir, kaki Siau-liong tetap berjalan dan saat itu
hampir tiba ditempat Mawar Putih menunggu. Dara itu berdiri
menghadap kesebelah belakang, tak mau berpaling
menyambut Siau-liong.
Diam-diam Siau-liong tak puas melihat perangai Mawar
Putih yang mau menang sendiri. Maka sengaja ia tertawa
dingin dan menegur, “Ah, apakah nona masih belum
berangkat?"
Mawar Putih diam saja. Tetapi kedua bahunya bergetaran
seperti orang yang tengah menangis.

530
Melihat itu timbullah rasa penyesalan Siau-liong. Betapa
buruk perangai dara itu, namun dia sudah melayani ibu Siauliong
bertahun2. Atas dasar kenyataan itu, dapatlah sudah
dara itu dianggap sebagai adiknya sehdiri. Apalagi sekarang
Mawar Putih seorang diri mengembara di dunia persilatan
Tiong-goan, demi melaksanakan pesan ibu Siau-liong untuk
menuntut balas dan mencari jejak Siau-liong.
Ah, seharusnya ia membalas budi kepada Mawar Putih.
Mengapa dikarenakan sedikit percekcokan mulut saja. ia harus
memperlakukan dara itu dengan sikap yang dingin?
Makin merenungkan, Siau-liong makin berkabut sesal. Dan
terbayanglah sikap dan kebaikan, dara itu selama ini. Tanpa
disadari Siau-liong air mata berlinang-linang terharu.
“Adik Mawar....!" serunya pelahan.
Serentak dara itu berpaling diri. Tampak mukanya masih
membekas air mata.
"Adik Mawar, tak seharusnya kuperlakukan engkau begini,
aku....” Siau-liong menghela napas, "aku pantas dicincang!"
Sepasang mata dara itu berkilat-kilat menatap Siau-liong.
Sekonyong-konyong ia lari dan menubruk kedada Siau-liong.
“Akulah yang salah. Tak seharusnya kubikin panas
hatimu.Maafkanlah....”
Mawar Putih mengangkat muka memandang muka Siauliong,
“belasan tahun aku melayani suhu. Tiap kali suhu tentu
membicarakan dirimu. Dan tiap kali itu pula ia selalu
mengatakan bahwa beliau mengharapkan, kelak kita
berdua....”

531
Mawar Putih menghela napas, lalu melanjutkan, “Memang
aku sendiri yang salah. Jika tempo hari lekas2 kubawa engkau
pulang keseberang lautan, segala apa tentu beres! Ho.... aku
memang celaka!"
Sesaat Siau-liong pun tak dapat berkata apa2. Bayangan
maut tetap menghantui dirinya. Paling lama ia dapat hidup
setahun lagi. Dan pada saat itu ia masih memikul beban tugas
yang banyak dan berat. Sekalipun dapat berjumpa dengan
ibunya, tetapi hanya berapa lamakah ia dapat berkumpul
dengan ibunya itu?
“Segala sesuatu memang sudah diatur menurut garis hidup.
Ada beberapa hal yang kita manusia tak mampu merobah
garis perjalanan hidup itu. Karenanya terpaksa kita pasrah
saja," kata Siau-liong dengan rawan.
“Apakah kita tak dapat pergi sekarang?"
Siau-liong gelengkan kepala, “Sekarang aku masih
mempunyai beberapa kewajiban yang harus kuselesaikan lebih
dulu. Tetapi semua itu pun paling lama dalam empat hari
tentu sudah rampung....”
Berhenti sejenak. Siau-liong berkata pula, “Apakah nona
mau menunggu aku di siok-ciu?"
Mawar Putih deliki mata, “Ih, mengapa memanggil 'nona'
lagi? Apakah hubungan kita....”
“Adik Mawar” buru-buru Siau-liong menukas.
“Aku tak mau membiarkan engkau seorang diri menghadapi
bahaya disini. Jika engkau tak mau berangkat keseberang
laut, aku pun tetap akan menemani engkau disini!"

532
Siau-liong kerutkan alis, “Dalam waktu singkat lembah ini
akan menjadi gelanggang pertumpahan darah.... maaf, terus
terang kukatakan, jika engkau berada disini, bukan saja tak
dapat membantu bahkan kebalikannya malah menambah
bebanku!"
Tetapi Mawar Putih tetap menolak....
---ooo0dw0ooo---
Jilid 10
"Apapun juga dan tak peduli engkau hendak pergi kemana,
aku tetap ikut. Sampai kita nanti ke seberang laut menjumpai
suhu!" kata Mawar Putih.
Siau-liong terpaksa mengiakan. Dilihatnya orang2 yang
berada dalam hutan itu menumpahkan perhatian ke arah api
yang sedang berkobar di atas gunung. Mereka tak
mempedulikan gerak gerik Siau-liong dan Mawar Putih.
Berkata pula Mawar Putih, “Mulai saat ini aku menurut saja
apa perintahmu. Apakah kita akan berangkat sekarang?"
Siau-liong tertawa hambar, menarik Mawar Putih terus
diajak lari ke arah kiri. Saat itu api makin berkobar besar.
Lembah Semi seolah-olah terbungkus oleh gumpalan asap
tebal.
Tak dapat disangsikan lagi, gunung itu pasti akan gundul.
Adakah pembakaran itu akan dapat menjalar ke dalam
Lembah Semi atau tidak, tapi sekurang-kurangnya Iblispenakjuk-
dunia tentu akan getar nyalinya. Dan Lembah
Semipun akan terpencil menjadi semacam pulau tersendiri.

533
Dengan begitu mudahlah dikurung dari segenap penjuru oleh
barisan orang gagah yang dipimpin Ceng Hi totiang.
Apa yang dikatakan Lu Bu-ki tadi memang benar.
Sepanjang jalan, Siau-liong melihat rombongan orang2 Angcek-
pang, Go-bi-pay, Tiam-jong-pay dan Ji-tok-kau mengatur
barisan dengan ketat. Seolah-olah merupakan tembok
manusia.... Mereka bergerak dengan rapi. Baik melepas api,
melakukan penyelidikan, penjagaan dan pekerjaan koordinasi
satu sama lain.
Agaknya Ceng Hi totiang memang sudah memberitahukan
kepada sekalian rombongannya tentang ikut sertanya
Pendekar Laknat membantu gerakan mereka, Maka walaupun
tanpa membawa pertandaan apa2, hanya dengan melihat
wajahnya saja, orang2 itu sudah mengetahui Pendekar Laknat
dan membiarkan dia berjalan.
Tak berapa lama, tibalah Siau-liong dan Mawar Putih
ketempat penjagaan yang dijaga oleh anak buah Kay-pang.
Ternyata tempat itu terletak disamping kanan barisan pohon
Bunga, di belakang Lembah.
To Kiu-kong tampak bersemangat sekali memimpin orangorangnya,
menebang pohon dan mengangkuti batu, melepas
api membakar gunung. Mereka terkejut serta melihat Siauliong
dan Mawar Putih muncul.
Menurut anggapan To Kiu-kiong, dara itu mempunyai
hubungan istimewa dengan cousu-ya Kay pang yakni Kongsun
Liong. Sudah tentu mereka heran melihat Mawar Putih
muncul, pada hal jelas Kongsun Liong masih belum ketahuan
hasilnya dalam lembah.
Dan masih ada sebuah hal yang membuat To Kiu-kong tak
habis mengerti. Ketika kemarin malam Pendekar Laknat

534
berbaku hantam dengan Lam-hay Sin-ni, jelas dilihatnya
Pendekar Laknat telah menggunakan ilmu pukulan Thaysiang-
ciang. Pada hal ilmu pukulan itu adalah ajaran dari
ajaran Pengemis Tengkorak Song Thay kun.
Pengemis-tertayya Tio Tay-tong dan kedua pengemis
pincang segera menghampiri ke belakang To Kiu-kong.
Mereka memandang Siau-liong dan Mawar Putih dengan
penuh keheranan.
"Pendekar Laknat," tegur To Kiu-kiong dengan menekan
keheranan.
Siau-liong cepat membalas hormat, “Semalam aku minta
tolong padamu untuk membelikan obat, entah apakah ,....”
To Kiu-kiong cepat menyambuti, “Malam itu juga telah
kusuruh orang untuk membelikan ke Siok-ciu.... ," ia kerutkan
dahi, katanya pula, “mungkin segera datang!"
Siau-liong mendesah lalu melanjutkan langkah kemuka.
Disebelah muka situ merupakan daerah barisan Pohon Bunga
yakni satu-satunya jalan keluar masuk Lembah Semi.
Disebelah muka barisan pohon Bunga itu. dijaga oleh para
imam tua yang mengenakan jubah warna kuning, menyanggul
pedang dipunggung.
Ternyata mereka adalah rombongan murid Kun-lun-pay
yang dipimpin sendiri oleh Ceng Hi totiang.
Ceng Hi totiang yang berperawakan tinggi kurus itu sedang
berdiri dimuka barisan pohon bunga. Dibelakangnya dikawal
oleh lima imam kecil-menyanggul pedang.
Siau-liong dan Mawar Putih segera menghampiri.

535
“Ah, Pendekar Laknat benar-benar menepati janji....” seru
Ceng Hi totiang seraya memberi salam.
Kemudian ia memandang mawar Putih, bertanya, “Dan
ini....”
“Nona Putih, Mawar Putih, kenalan lama," buru-buru Siauliong
menyambutinya. Lalu tertawa.
Sambil mengurut jenggotnya, Ceng Hi totiang pun tertawa,
“Sungguh mengharukan sekali bahwa nona Putih yang masih
muda belia, bersedia ikut juga dalam gerakan membasmi
kaum durjana!-'
“Ah, totiang keliwat memuji, " Mawar Putih merendah lalu
tersenyum kepada Siau-liong. Tetapi pemuda itu batuk2 dan
cepat palingkan muka agar jangan sampai ketahuan Ceng Hi
totiang.
Saat itu hutan disekeliling lembah sudah terbakar hanya
barisan pohon Bunga dimuka lembah itu yang masih utuh.
Sejenak merenung, berkatalah Ceng Hi totiang, “Mulut
lembah, amat sempit sekali. Hanya dapat untuk seorang
berjalan. Rasanya lebih baik mengambil jalan dari belakang
lembah!"
Siau-liong membenarkan. Ceng Hi totiang segera suruh
seorang imam kecil untuk memberitahukan kepada bagian
penghubung. Semua pemimpin rombongan supaya datang
kesitu untuk berunding.
Tak berapa lama dari kepergian imam kecil itu, para
pemimpin dari rombongan partai2 datang bersama jago2nya
yang tangguh. Tak kurang dari seratus orang jumlahnya.

536
Kebanyakan mereka memang tak kenal dengan Pendekar
Laknat. Tetapi menilik dandanan Siau-liong yang aneh itu,
mereka dapat menduga tentulah Pendekar Laknat.
Menolong To Hun-ki, Ti Gong taysu dan beberapa tokoh
sehingga bentrok dengan Iblis-penakluk dunia serta Lam-hay
Sin-ni, cepat sekali membuat Pendekar Laknat dipuja oleh
seluruh orang gagah yang ikut dalam gerakan menyerbu
Lembah Semi itu.
Setelah para tokoh2 mengambil tempat duduk, maka
berkatalah Ceng Hi totiang dengan nada serius, “Setelah api
padam, rintangan disekelihng Lembah Semi menjadi lenyap.
Kedua durjana itu hendak menyerang dari sebelah mana, kita
tetap dapat mengetahui....”
Ceng Hi memandang ke arah hadirin, lalu melanjutkan
pula, “Kedua suami isteri itu licin sekali. Entah siasat apa yang
hendak mereka gunakan nanti tetapi yang jelas kita tentu
akan menghadapi suatu pertempuran yang menentukan mati
atau hidup!"
Kembali ketua dari Kun-lun-pay itu berhenti mengurut-urut
jenggotnya. Kemudian menyambung, “Menurut hematku,
betapapun tinggi ilmu hitam dari kedua suami isteri itu, tetapi
rasanya mereka tentu takkan menyerang keluar. Mereka tentu
hanya mengandalkan pada keadaan berbahaya dari lembah
untuk menghadapi serbuan kita. Menilik keadaan itu,
kuputuskan untuk mengambil jalan dari belakang lembah saja.
Tetapi kita gunakan api untuk menyerang masuk. Hancurkan
setiap rintangan dan alat-alat jebakan dalam lembah itu!"
Sekalian hadirin berdiam diri. Beberapa saat kemudian, Toh
Hun-ki melangkah maju kemuka Ceng Hi totiang, memberi
hormat berkata, “Usaha terakhir untuk menghancurkan sarang

537
durjana, terletak di tangan totiang. Silahkan saja totiang
memberi perintah. Para hadirin disini tentu akan menurut!"
Ketua Kong-tong-pay itu sejenak memandang sekalian
hadirin. Tampak sekalian pemimpin partai persilatan
mengangguk.
Ti Gong taysu dan Lu Bu-ki hampir serempak berseru,
“Karena kami telah mengangkat totiang sebagai pemimpin,
sudah tentu kami akan mentaati perintah totiang!"
Ceng Hi totiang terhibur mendapat dukungan luas itu.
Dengan tersenyum ia segera mengatur persiapan untuk
menyerbu Lembah Semi.
Diam-diam Siau-liong memperhatikan cara imam tua itu
mengatur barisan. Ternyata Ceng Hi merupakan seorang
pucuk pimpinan yang cemerlang dan pandai. Selain
dibentuknya barisan pelopor, barisan bala bantuan, induk
barisan, barisan sayap kanan kiri serta barisan untuk
menjebak musuh. Barisan pelepas api kemudian regu
penghubung. Pendek kata, barisan itu telah diatur lengkap
dan rapi.
Setelah menerima pembagian tugas, maka barisan2 itupun
segera mulai bergerak.
Ceng Hi totiang menghampiri Siau-liong katanya dengan
palahan, “Barisan pohon Bunga itu merupakan satu2nya jalan
di belakang lembah. Telah kuperintahkan orang untuk
melepaskan api. Setelah terbakar, dapat dipastikan tentu akan
terbuka jalan ke dalam lembah. Kukira Iblis-penakluk-dunia
dan Dewi Neraka tentu akan memimpin rombongannya keluar.
Tetapi jika tidak keluar, tentulah mereka mempunyai
persiapan lain dalam barisan pohon bunga itu....”

538
Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Saudara telah
menolong Ti Gong taysu dan rombongannya dari lembah itu.
Tentulah saudara kenal baik keadaan lembah itu. Mengenai
barisan pohon Bunga....”
Berkat peta pemberian Jong Leng lojin maka Siau-liong
dapat mengetahui alat-alat perlengkapan Lembah Semi
dengan baik. Maka iapun anggukan kepala, “Selain tertanam
puluhan ribu batang pohon bunga yang dapat menyesatkan
pikiran orang, dalam barisan pohon Bunga itupun masih
terdapat pula Pagar Harimau, Pagar Singa dan Sarang Ular,
Liang Serangga beracun dan lain-lain. Tetapi....”
Siau-liong merenung sebentar lalu berkata pula; "Segala
perlengkapan itu hanya dapat digunakan terhadap musuh
yang berjumlah kecil. Kalau barisan besar seperti kali ini sama
melepas api, tentulah pohon2 bunga itu akan musnah semua.
Juga kalau dibakar dengan bahan peledak, kiranya kawanan
binatang buas itu tentu akan mampus juga. Maka menurut
hematku....”
Sejenak Siau-liong memandang pada Ceng Hi, lalu; "Jika
tak mengundurkan diri ke dalam barisan Tujuh Maut dan
Lembah Maut, setelah barisan bunga itu dimusnahkan, kedua
durjana itu tentu keluar bertempur!"
Ceng Hi totiang mengangguk, “Pandangan anda sungguh
tepat. Yang kukuatirkan adalah kekuatan kedua durjana itu.
Kita belum tahu jelas sampai dimana kekuatan mereka. Jika
kali ini kita kalah, dunia persilatan pasti akan menderita
kehancuran!"
Pada saat itu api sudah mulai berkobar ditengah barisan
pohon Bunga. Beberapa saat kemudian Ceng Hi berkata,
“Barisan bunga itu dalam beberapa waktu baru dapat musnah.
Selama itu kedua durjana tentu takkan menerobos keluar.

539
Silahkan saudara bersama nona Putih beristirahat dihutan
belakang,"
Memandang wajah Siau-liong, ketua Kun-lun-pay itu
menambah pula, “Dalam pertempuran untuk menentukan mati
hidupnya dunia persilatan ini, harap saudara suka membantu
sekuat tenaga!"
Habis berkata Ceng Hi totiang hendak mengantar Siau-liong
berdua ke belakang hutan tetapi Siau-liong minta imam itu
tinggal disitu saja karena masih mempunyai tugas penting.
Siau-liong bersama Mawar Putih menuju ke arah hutan.
Di dalam hutan terdapat sebuah kemah. Beberapa imam
kecil yang menjaga kemah itu, segera mempersilahkan Siauliong
dan Mawar Putih duduk di atas dua lembar permadani
dan menghidangkan dua cawan teh wangi.
Kedua muda mudi itu duduk beristirahat. Dalam pada itu
diam-diam Siau-liong merenung. Setelah barisan pohon bunga
itu terbakar habis, tentu akan timbul pertempuran dahsyat.
Sekali pun Ceng Hi totiang sendiri yang memimpin dan hampir
dikata seluruh tokoh2 persilatan ikut serta dalam barisan,
tetapi mengingat kedua suami isteri Iblis penakluk-dunia itu
sangat licik dan banyak tipu muslihat, ia masih belum dapat
memastikan apakah gerakan orang gagah itu akan berhasil.
Tokoh2 Harimau Iblis, Naga Laknat, Jong Leng lojin dan
Lam-hay Sin-ni. Jika mereka dapat digunakan oleh Iblis
penakluk-dunia, tentulah barisan orang gagah akan menemui
kesulitan besar.
Saat itu Siau-liong sudah memperoleh kitab pusaka Thian
Kong pit-kip. Jika dalam saat2 yang genting dan penting
seperti kala itu ia tak dapat memberi bantuan, bukankah ia

540
merasa malu terhadap pencipta kitap pusaka Thian-Kong-Sinkang?
Seketika ia kosongkan seluruh pikirannya dan mulai
melakukan pernafasan sesuai dengan petunjuk dari kitap
pusaka itu.
Kemah ini kosong Setelah Siau-liong dan Mawar Putih
beristirahat, kawaran imam kecil itu pun segera
mengundurkan diri keluar. Mereka hendak melihat jalannya
peperangan ke Lembah Semi.
Saat itu....
Pada saat Siau-liong sedang asyik melakukan penyaluran
tenaga dalam, tiba-tiba ia mendengar suara mendesis tajam
melayang ke arahnya. Ia terkejut. Dengan gunakan ilmu
Mendengar-suara-membedakan-arah, ia menyambar benda
itu.
Ah, kiranya bukan senjata rahasia melainkan secarik kertas.
Cepat ia loncat melesat keluar. Tetapi kecuali beberapa imam
kecil yang tengah menjaga kemah itu, ia tak melihat seorang
lain lagi.
Terpaksa ia kembali masuk ke dalam kemah. Mawar Putih
menyambutnya dengan pandang penuh pertanyaan.... Tetapi
Siau-liong tak sempat memberi keterangan. Cepat ia
membuka kertas itu. Ah, ternyata tulisan dari gurunya, Tabibsakti-
jenggot-naga Kangsun Sin-tho. Bunyinya ringkas:
“Lekas mundur, jangan menyerang. Rencanakan lagi baru
bergerak."
Siau-liong tertegun. Ia yakin gurunya itu tak mungkin akan
bergurau menggertak dengan ancaman kosong. Jika gurunya

541
menyuruh ia mundur dan jangan lanjutkan penyerbuan,
tentulah keadaan tak menguntungkan. Kemungkinan besar
suami isteri Iblis penakluk-dunia itu tentu sudah siapkan
rencana untuk menghancurkan rombongan Ceng Hi totiang.
Ia merasa sulit. Barisan sudah mulai akan menyerang.
Bagaimana mungkin diperintahkan mundur dengan seketika.
Dan lagi, perintah penarikan mundur itu akan mengakibatkan
turunnya semangat para orang gagah. Kemungkinan pula,
akan menimbulkan pertikaian diantara sesama kawan sendiri.
Pemimpin barisan orang gagah itu adalah Ceng Hi totiang.
Dapatkah ia menasehatkan imam tua itu untuk menarik
barisannya? Ah.... Lama Siau-liong termangu memandang
surat dari gurunya itu. Demikian pun Mawar Putih.
Sekonyorg-konyong diluar terdengar suara langkah orang
berlari menghampiri. Dan pada lain saat terdengar suara itu
bertanya kepada imam kecil penjaga kemah; "Adakah
Pendekar Laknat berada di dalam kemah ini?"
Cepat Siau-liong melongok keluar. Ah, kiranya yang datang
itu adalah Pengemis tertawa Tio-Tay-tong.
Dia membawa sebuah bungkusan kecil. Melihat Siau-liong
buru-buru pengemis itu berkata, “Karena mendapat tugas
untuk menyerang Lembah Semi maka pemimpin kami tak
dapat datang kemari sendiri dan suruh aku menyerahkan obat
ini....” -ia terus menyerahkan bungkusan kecil itu kepada Siauliong.
Ia minta maaf kepada Siau-liong karena agak terlambat
membawa pulang obat.
Hal itu disebabkan karena ada beberapa macam ramuan
sukar didapat.

542
Siau-liong menyambuti obat itu seraya mengucap terima
kasih.... Tiba-tiba terlintaslah dalam benaknya apa yang harus
dikerjakan saat itu. Ah, kemungkinan hal itu akan dapat
merobah kekalahan menjadi kemenangan.
"Paling sedikit memakan waktu tiga empat jam lagi barulah
barisan pohon Bunga itu terbakar habis. Jika dalam waktu
yang singkat itu, aku dapat menyelundup ke dalam Lembah
Semi untuk membebaskan Jong Leng lojin. Kemungkinan
sebelum rombongan orang gagah menyerang ke dalam
lembah, aku tentu sudah berhasil meringkus kedua suami
isteri durjana itu!" pikirnya.
Ya, hanya dengan siasat itulah kiranya ia dapat
menyumbangkan tenaga kepada rombongan orang gagah.
Karena sedang terbenam dalam renungan, Siau-liong tak
mendengar ucapan minta diri dari Pengemis tertawa Tio Taytong.
Setelah memasukkan bungkusan surat itu ke dalam
pinggangnya. ia berpaling ke arah Mawar Putih, “Harap adik
suka menunggu disini, aku hendak mengantarkan obat ini....
Setelah itu barulah kita pulang keseberang laut!"
Selesai memberi pesan, Siau-liong terus berputar diri dan
pergi.
Sudah tentu Mawar Putih terkejut dan buru-buru
menghadangnya; “Hendak kemana engkau?"
"Menyerahkan obat kepada Ti Gong taysu!"
Karena tak biasa bohong, maka wajah Siau-liong tersipusipu
merah. Untung ia mengenakan kedok muka sehingga tak
dapat dilihat Mawar Putih.

543
“Bukankah hal itu dapat menyuruh orang lain yang
mengantarkan?" Mawar Putih deliki mata kepadanya.
“Obat ini amat berharga dan sukar dicari. Jika sampai
hilang....”
Mawar Putih mendengus dingin, “Jangan harap engkau
dapat mengelabuhi aku. Kalau mau pergi, aku tetap ikut!"
Siau-liong terpaksa tak dapat berbuat lain kecuali menghela
napas panjang. Terpaksa mengajak dara itu keluar dari kemah
dan membeluk kesamping kanan. Oleh karena sudah faham
keadaan lembah itu. maka Siau-liong tak ragu-ragu lagi.
Saat itu rombongan orang gagah sudah berpusat diluar
barisan pohon Bunga yang terletak di belakang Lembah.
Penjagaan disepanjang tempat yang dilaluinya, dijaga ketat
oleh anak buah partai2 persilatan. Karena lari pesat, tak
berapa saat tibalah Siau - liong dimuka jalanan rahasia ke
dalam Lembah Semi....
Semak pohon yang menutup mulut jalan, saat itu sudah
terbakar habis. Tetapi karena terowongan gua itu rendah
sekali, Siau-liong sukar mencari jalan.
Siau-liong berputar tubuh tertawa masam, ujarnya,
“Memang kepergianku ini amat berbahaya sekali tetapi pun
amat penting sekali.... Bagaimanapun, aku harus menempuh
bahaya itu!"
Mawar Putih kerutkan dahi. Tetapi ia menyadari bahwa
percuma saja ia akan mencegah pemuda yang keras kepala
itu. Maka sengaja ia tertawa, “Bukan maksudku hendak
mencampuri urusanmu. Tetapi, janganlah engkau
meninggalkan aku seorang diri!"

544
Habis berkata dara itu terus menerobos ke dalam
terowongan rahasia itu.
Karena terowongan itu melalui tempat yang sedang dilanda
kebakaran besar. maka terowongan itu pun amat panas sekali.
Ditambah pula dengan hawa lembab bercampur bau busuk,
setelah berjalan beberapa langkah saja, Mawar Putih rasakan
kepalanya pesing, perut mau tumpah.
Siau-long tak tahan melihat kelambatan langkah Mawar
Putih. Cepat ia mendahului dimuka. Sambil menutup hidung,
ia berjalan bersama dara itu.
Terowongan lembab basah dengan air sumber gunung.
Tanahnya makin berlumpur sehingga sukar dilalui.
Beberapa kali Mawar Putih hampir tergelincir jatuh.
Pakaiannya kotor berlumpuran lumpur. Tetapi sedikitpun ia tak
mengomel. Dengan tubuh terhuyung-huyung, ia kuatkan diri
berjalan disamping Siau-liong.
Kurang lebih setengah jam, mereka tiba dimulut Lembah
Maut. Tetapi kedaan pintu lembah itu gelap karena ditutup
oleh batu besar.
Diam-diam Siau-liong menimang. Tempo hari ia menolong
Toh Hun-ki dan kawan-kawannya dengan mengambil jalan
dari mulut terowongan, tentulah hal itu sudah diketahui oleh
Son-beng Ki-su, Iblis penakluk-dunia dan anak buah Lembah
Maut. Oleh karena itu maka pintu terowongan ditutup dengan
batu.... Dan kalau saat itu gerak geriknya diketahui orang
Lembah Semi tentu celakalah. Tak mungkin ia dapat melintasi
barisan Tujuh Maut untuk menolong Jong Leng lojin.
Setelah merenung beberapa saat, ia membisiki beberapa
patah kata ketelinga Mawar Putih. Setelah itu ia kerahkan

545
tenaga dalam lalu mulai mendorong batu penutup pintu
terowongan itu.
Batu besar berderak-derak bergerak keluar. Selekas batu
itu menggelinding keluar, Siau-liong cepat loncat keluar. Ah....
ternyata dugaannya benar. Dua samping pintu terowongan
telah dijaga oleh empat orang berpakaian hitam. Mereka
terkejut ketika melihat Pendekar Laknat muncul.
Siau-hong tak mau membuang waktu. Dengan kedua
tangannya ia gunakan jurus, Angin-meniup-daunberhamburan,
menyerang keempat penjaga.
Tiga orang baju hitam remuk tulangnya. Tanpa dapat
menjerit, mereka rubuh binasa.
Yang seorang rupanya agak cerdik. Pada saat Siau-liong
menghantam ketiga kawannya, ia loncat melarikan diri
sembari siapkan panah api untuk memberi tanda kepada
markas.
Siau-liong terkejut. Jika orang itu sampai dapat melepaskan
panah api, tentulah Iblis penakluk-dunia dan rombongan anak
buahnya akan menyerbu kesitu.
Dengan gerak Harimau-lapar-menerkam-mangsa, ia loncat
membayangi orang itu. Sebelum orang itu berhasil
meluncurkan panah api, bahunya sudah dapat dicengkeram
Siau-liong. Orang itu menjerit ngeri lalu terkulai ke tanah
bersama anak panahnya.
Siau-liong masih belum puas. Ia tutuk tiga buah jalan darah
maut pada tubuh orang itu. Sesaat kemudian ia merasa
menyesal juga karena telah membunuh empat jiwa.

546
Saat itu Mawar Putih pun sudah keluar terowongan.
Pakaiannya berlumuran lumpur, tubuhnya mandi keringat.
Untunglah karena terlindung oleh jajaran gunung, maka
Lembah Maut itu tak menderita kebakaran. Hanya saja asap
api itu mengerumun penuh dalam lembah, ditambah pula
dengan tebaran kabut, lembah itu seolah-olah tertutup oleh
lautan asap tebal.
Hal itu malah menguntungkan Siau-liong karena jejaknya
tentu sukar diketahui orang Lembah Semi.
Siau-liong tak mau membuang waktu lagi.
Sebelum kebakaran pada barisan pohon bunga itu padam,
ia harus sudah dapat membebaskan Jong Leng lojin.
Segera ia menggandeng tangan Mawar Putih lalu melintasi
lembah yang penuh dengan hutan pohon dan lautan batu2
aneh. Berkat peta dari Jong Leng lojin dan pula tempo hari ia
pernah memasuki lembah itu untuk mencari jejak Mawar
Putih, maka saat itu ia sudah faham akan keadaan lembah.
Tak berapa lama dapat ia mencapai titik jalan yang
menghubungkan Lembah Maut dengan barisan Tujuh Maut.
Tanpa membuang waktu lagi, Siau-liong terus ajak Mawar
Putih menyusup ke dalam terowongan dibawah tanah yang
panjang dan dalam itu.
Saat itu agaknya Mawar Putih kumat lagi tabiatnya yang
manja. Sambil menarik lengan baju Siau-liong ia berseru
dengan nada beriba, “Engkoh Liong, apakah yang hendak
engkau lakukan? Terowongan ini penuh dengan alat jebakau
rahasia. Apakah engkau hendak mengantar jiwa?"'
Siau-liong berhenti, menghela napas menatap wajah dara
itu; “Memang kita sedang menempuh bahaya. Tetapi mudahTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
547
mudahan langkah kita ini dapat menghentikan pertumpahan
darah di dunia persilatan, menyelamatkan beribu jiwa.
Tentang alat-alat rahasia yang memenuhi terowongan ini....”
Ia berhenti dan tertawa, “Kini bagiku, tempat itu tak ubah
seperti jalan besar Yang-kwan saja!"
Mawar Putih memandangnya dengan heran tetapi tak mau
bertanya apa2 lagi. Dara itu sudah percaya penuh kepada
Siau-liong. Walaupun tahu bahwa pemuda itu sedang
menepuh jalan maut, namun Mawar Putih tetap mengikutinya
tanpa ragu2.
Siau-liong merabah bungkusan obat yang disimpan dalam
pinggang bajunya ia hendak berjalan tetapi berhenti lagi.
Teringat ia ketika bertemu dengan Jong Leng lojin, ia tidak
menyamar sebagai Pendekar Laknat. Jika saat itu ia masih
menyamar sebagai Pendekar Laknat, bukankah akan
menimbulkan kecurigaan orang tua itu?
Segera ia melepas kedok muka dan pakaian
penyamarannya. Setelah itu baru ia ajak Mawar Putih
lanjutkan perjalanan.
Saat itu ia tiba didinding batu yang cekung ke dalam.
Tetapi apa yang dilihatnya dalam ruang itu, membuatnya
terkejut sekali!
Ruang itu kosong melompong. Jong Leng lojin lenyap....
Rantai besi yang mengikat kaki orang tua itu kutung
menjadi dua dan berhamburan di tanah. Rupanya telah
dipapas dengan pedang pusaka yang amat tajam. Disekeliling
ruang, tak terdapat djejak yang mencurigakan.

548
Siau-liong menimang. Menilik rantai besi yang putus itu,
kemungkinan besar long Leng lo-jin tentu ditolong orang.
Tetapi orang tua yang begitu sakti kepandaiannya, pun tak
manpu memutuskan rantai borgolannya, lalu siapakah tokoh
yang begitu sakti dan memiliki senjata begitu tajam hingga
dapat memutuskan rantai borgolan itu?
Pikiran Siau-liong melayang lebih jauh. Menurut
anggapannya, hanya dua orang yang ada kemungkinan telah
menolong Jong Leng lojin. Kesatu, gurunya sendiri ialah
Tabib-sakti-jenggot-naga Kongsun Sin-tho. Dan yang lain
adalah Randa Bu-san....
Tetapi Siau-liong tetap bersangsi. Karena ditilik dari sudut
manapun, kedua tokoh itu tak mungkin dapat mengetahui
tempat rahasia itu dan menolong Jong Leng lojin! Ah, lalu
siapakah orang itu?
Tiba-tiba bulu kuduk Siau-liong meremang tegang. Ia
mencemaskan kemungkinan yang ketiga. Jika kedua suami
isteri durjana itu dapat memenjarakan Jong Leng lojin disitu,
tentulah mereka mampu juga untuk melepaskan orang tua itu.
Dan kemungkinan itu memang bukan mustahil. Untuk
menghadapi serangan besar-besaran dari rombongan Ceng Hi
totiang kemungkinan Iblis-penakluk-dunia hendak
menggunakan orang tua itu untuk menghadapi mereka.
Menurut perhitungannya saat itu Sudah hampir sejam
lamanya barisan pohon Bunga dilanda api. Dua jam lagi,
setelah api padam, rombongm Ceng Hi totiang tentu akan
menyerbu dan tentulah akan terjadi pertempuran yang
dahsyat dan mengerikan!
Siau-liong makin gelisah tetapi tak dapat menemukan suatu
akal. Akhirnya ia memutuskan, karena sudah memasuki
tempat itu, lebih baik ia mengadakan penyelidikan seluasTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
549
luasnya. Maka ia segera ajak Mawar Putih lanjutkan
perjalanan menyusup terowongan dibawah tanah itu.
Pintu keluar dari terowongan itu. sebagian dibuat orang.
sebagian memang berasal dari gua alam. Letaknya persis
dimuka Barisan Tujuh Maut.
Disebelah muka gua yang menjadi pintu keluar dari
terowongan dibawah tanah itu, terbentang sebuah dataran
yang ditengahnya terdapat sebuah hutan pohon siong.
Pada saat Siau-liong hendak lanjutkan langkah, tiba-tiba
dari arah hutan iiu terdengar suara orang tertawa nyaring. Dia
tersentak kaget.
Tak salah lagi, suara tertawa itu adalah tertawa si Iblispenakluk-
dunia.
Cepat Siau-liong mundur kembali. Tetapi gerumbul pohon
dan semak belukar yang mengaling mulut gua itu sedemikian
lebatnya hingga ia tak dapat melihat jelas siapa2 yang keluar
dari hutan itu.
Siau-liong mencari akal. Disebelah kiri gua itu terdapat
sebuah batu karang yang menjulang tinggi. Jika bersembunyi
disitu tentulah ia dapat melihat keadaan disekeliling penjuru.
“Adik Mawar, jagalah mulut terowongan ini. Jika musuh
muncul, lekas hubungi aku. Aku hendak meninjau keadaan
musuh dari atas karang itu!" ia memberi pesan kepada Mawar
Puiih lalu merayap ke atas. Setelah mencapai puncak dan
memandang ke arah hutan, kejutnya bukan kepalang.
Dalam hutan itu tampak berpuluh sosok tubuh manusia,
bergerak kian kemari. Ada lelaki ada pula wanitanya.
Jumlahnya tak kurang dari seratus orang.

550
Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka duduk disebuah
tempat yang tinggi. Dibelakangnya dijaga oleh sepuluh gadis
baju merah. Iblis itu tengah mencekal sebatang pedang yang
berkilau-kilauan cahayanya.
Dihadapan iblis Itu tegak berjajar 20 barisan lelaki
perempuan yang mengenakan pakaian serba ringkas dan
menghunus senjata.
Disebelah kanan rombongan orang itu, tampak sebuah
kereta tetapi belum dirakit dengan kuda. Dimuka kereta, dua
orang baju hilam berdiri disebelah kanan dan kiri. Mereka
memegang poros kereta seperti orang yang menarik kereta
itu. Selain mengenakan baju hitam, pun kedua orang itu juga
membungkus kepalanya dengan kain sampai pada lehernya.
Hanya pada kedua matanya yang diberi lubang. Jika pada
malam hari, orang tentu mengira mereka adalah setan2
kuburan yang keluyuran keluar.
Di belakang kereta dikawal oleh dua buah barisan orang
baju hitam. Tetapi kepalanya tidak dibungkus rapat dengan
kain hitam melainkan dengan sutera tipis. Setiap barisan
terdiri dari lima orang.
Kereta itu kosong tiada isinya. Tetapi menurut dugaan,
tentulah disediakan untuk Iblis-penakluk-dunia dan Dewi
Neraka.
Sesungguhnya yang hendak dicari Siau-liong hanyalah Jong
Leng lojin. Diawasinya dengan penuh perhatian setiap orang
dan gerak-gerik mereka. Tetapi ia tak melihat kehadiran Jong
Leng lojin.
Tiba-tiba Siau-liong melihat seorang lelaki baju kelabu
berlari-larian dari mulut gunung menuju ketempat Iblis -

551
penakluk-dunia. Begitu tiba di tepi hutan, orang itu hentikan
larinya lalu menghampiri kehadapan Iblis-penakluk-dunia dan
memberi hormat.
“Melaporkan pada bapak pemimpin, barisan pohon Bunga
sudah terbakar separoh bagian. Pagar Singa dan Pagar
Harimau, telah diledakkan oleh rombongan Ceng Hi totiang.
Kawanan binatang disitu mati hangus semua!" seru orang itu.
Iblis-penakluk-dunia bukannya terkeiut, kabalikannya malah
tertawa mengekeh, “Ah, hal itu memang sudah
kuperhitungkan....” -ia melirik ke arah isterinya lalu
membentak orang itu, “Bagaimana dengan tempat!"
“Empat penjuru lembah, api sudah padam. Sebagian besar
dari anak buah Ceng Hi totiang berkumpul diluar barisan
pohon Bunga. Rupanya begitu api padam, mereka tentu akan
menyerbu!" jawab orang itu.
Iblis-penakluk-dunia mendengus, “Hm, aku sudah tahu,
pergilah!"
Orang itu menjurah lalu angkat kaki. Sambil mengurut
jenggotnya yang menjulai sampai kelutut, Iblis-penakluk-dunia
gelengkan kepala dan merenung. Beberapa saat kemudian
berkatalah ia kepada isterinya, “Setelah pertempuran hari ini,
lihat saja siapakah tokoh persilatan yang berani menentang
aku lagi!"
“Tolol! Mereka telah kerahkan sejumlah besar tokoh2
persilatan dan mengumumkan hendak meratakan Lembah
Semi ini. Adakah engkau mempunyai keyakinan untuk
memenangkan mereka?" sahut Dewi Neraka.

552
Iblis-penakluk-dunia tertawa, “Sekalipun mereka benar
berjumlah puluban ribu orang, aku tetap dapat membereskan
mereka....”
Kemudian menunjuk pada ke 12 orang baju hitam yang
berada dimuka dan belakang Iblis-penakluk-dunia berkata pula
dengan beberapa orang itu saja kiranya dapat melayani
sepuluh ribu musuh!"
Siau-liong terkesikap. Dipandangnya kepada orang baju
hitam itu tak bergerak seperti patung.
Dewi Neraka mendengus lagi; "Sekalipun nanti akan
menang, tetapi bukan berarti tak ada yang perlu dicemaskan
lagi....” -ia menatap wajah suaminya lalu melanjutkan, “Paderi
Kurus dari gunung Thian-san, Manusia Aneh dan Pak-I-ciang,
Sepasang imam dari gunung Bu-san, Empat Seram dari
gunung Im-san, kelana dari gunung Hong-san, Randa gunung
Bu-san dan masih ada pula Pendekar Laknat....”
Iblis perempuan itu tak melanjutkan kata-katanya
melainkan hanya menghela napas.
Semula Iblis-penakluk-dunia tertegun juga tetapi pada lain
saat ia tertawa lepas; “Jangan kuatir, isteriku. Berkat
kepandaian dan kecerdasan kita berdua, adalah semudah
orang membalikkan telapak tangannya jika hendak menguasai
dunia persilatan!"
Ia lambaikan tangan dan dua orang tua yang masingmasing
berumur 50-an tahun segera maju kehadapannya dan
menjurah.
“Beritahukan kepada anak buah kita di belakang barisan
panah. begitu api yang membakar barisan pohon bunga itu

553
padam, mereka suruh lepaskan anah panah!" tukas Iblispenakluk-
dunia.
Kemudian kedua orang itu cepat melakukan perintah. tibatiba
Iblis-penakluk-dunia berbangkit lalu jalan menghampiri
kereta.
Siau-liong sedang menumpahkan seluruh perhatian untuk
mengawasi gerak gerik Iblis-penakluk-dunia dengan anak
buahnya. Sedemikian asyiknya ia mengikuti mereka sehingga
tak ingat akan keadaannya sendiri. Tiba-tiba ia mendengar
Mawar Putih menjerit kaget.
Siau-liong terkejut dan berpaling. Hai....
Mawar Putih yang menjaga dimulut gua tadi, ternyata
sudah tak tampak disitu.
“Adik Mawar! Adik Mawar....!" serunya berbisik. Tetapi
tiada penyahutan sama sekali.
Cepat Siau-liong meluncur turun dan menghampiri gua.
Ternyata apa yang dikuatirkan memang benar. Ketika tiba
dimulut gua. sayup2 ia mendengar suara orang tertawa dingin
dan pada lain saat muncullah seorang baju merah menyala.
Ah.... Poh Ceng-in, nona pemilik Lembah Semi.
Mata Siau-liong berkunang-kunang dan hampir jatuh.
Tetapi wanita itu malah tertawa mengejek, “Merdu sekali
engkau memanggilnya. Sayang ia sekarang sudah tak dapat
menyahut lagi!"
Dada Siau-liong seraya meledak. ingin ia
menghancurkannya tetapi dia tahu bahwa hal itu akan
membawa akibat pada dirinya sendiri. Terpaksa ia menahan
kemarahan dan berseru agak ketus, “Engkau apakan dia!"

554
Poh Ceng-in tertawa dingin, “Lihatlah sendiri kesini....!" -ia
berputar diri dan berseru ke arah terowongan, “Suheng,
bawalah ia keluar!"
Siau-liong buru-buru menghampiri dan memandang ke
dalam mulut gua. Dilihatnya Mawar Putih berdiri beberapa
langkah dalam mulut gua tetapi punggung dan mulutnya
didekap oleh seorang aneh yang bertubuh amat kurus sekali.
Sekurus manusia yang tinggal tulang berbungkus kulit. Dan
orang itu bukan lain adalah Soh-beng Ki-su!
Marah Siau-liong bukan kepalang. Diam-diam ia kerahkan
tenaga dalam dan maju hendak menerjang. Tetapi Soh-beng
Ki-su tertawa sinis.
“Budak, jika engkau berani maju, budak perempuan ini
akan kujadikan mayat hidup dengan ilmu tenaga sakti Pekkut-
kang!" serunya mengancam.
Sekalipun Siau-liong mampu menghadapi 10 Soh-beng Kisu,
tetapi karena Mawar Putih berada ditangan pertapa itu,
terpaksa ia tak berani lanjutkan tindakannya.
"Hm, kiranya engkau seorang pemuda hidung belang." seru
Poh Ceng-in' “siapakah dia?"
Karena marahnya, gigi Siau-liong sampai bercaterukan,
sahutnya getus, “Tak perlu engkau tanya!"
“jangan lupa, engkau dan aku sehidup semati....”
Siau-liong marah dan mengkal. Melirik ke arah rombongan
Iblis-penakluk-dunia yang berada dalam hutan, ia membentak
wanita itu, “Sekali telah kululuskan janji untuk mati bersama
setahun nanti, tentu akan kulaksanakan!"

555
“Tetapi engkau sudah berjanji dalam setahun ini takkan
bergaul dengan perempuan lain!" tukas Poh Ceng-in.
Sekali tak dapat berkutik karena ditutuk jalan darahnya
oleh Soh-beng Ki-su, tetapi Mawar Putih dapat mendengar
pembicaraan Siau-liong dengan wanita baju merah itu dengan
jelas. Ia deliki mata kepada Siau-liong lalu meronta sekuat
tenaganya untuk melepaskan mulutnya dari dekapan tangan
Soh-beng Ki-Su, lalu berteriak, “Siau-liong, engkau....”
Tetapi belum sempat dara itu berteriak, punggungnya telah
ditutuk oleh Soh-beng Ki-su. Hati Siau-liong seperti disayat.
Untuk kedua kali ia nekad hendak menerjang lagi. Tetapi
dibentak Poh Ceng-in, “Diam!"
Dengan mata berkilat buas, Soh-beng Ki-su lekatkan
tangan kiri kepunggung Mawar Putih, sedang tangan kanan
ditebarkan mencengkeram dada dara itu. Rupanya ia hendak
melaksanakan rencana ganas.
Siau-liong menghela napas dan palingkan muka. Terdengar
Poh Ceng-in tertawa dingin, berkata kepada Soh-beng Ki-su,
“Suheng, bawalah pergi budak perempuan itu....!" -kemudian
menuding Siau-liong ia berseru, “ Dia mempunyai peta
terperinci dari keadaan Lembah Semi. Engkau harus mencari
tempat lain yang sukar dicari."
Soh-beng Ki-su kerutkan dahi, ujarnya, “Budak itu hebat
sekali, sumoay engkau....”
Poh Ceng-in tertawa mengekeh, “Tak peduli dia bagaimana
saktinya tetapi tak mungkia dia berani membunuh diriku. dan
tak mungkin akan membunuhku,"

556
Soh-beng Ki-su tertawa menyeringai. Memanggul Mawar
Putih, ia terus menyusup ke dalam terowongan.
Dapat dibayangkan betapa perih dan pedih hati Siau-liong
melihat Mawar Putih dibawa Soh-beng Ki-su tanpa ia mampu
memberi pertolongan. Darahnya bergolak keras, hingga
hampir saja ia pingsan.
Setelah Soh-beng Ki-su pergi, barulah Poh Ceng-in
menghampiri kemuka Siau-liong, katanya, “Yang salah adalah
engkau sendiri, jangan sesalkan aku berhati kejam.... kini
hanya tinggal dua pilihan....”
Siau-liong memandang lekat kewajah wanita pemilik
lembah itu tetapi tak berkata apa2.
Dipandang begitu rupa oleh Siau-liong, bingung juga
wanita itu. Ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu.
“Jika engkau mau segera menjadi suami isteri dengan aku,
akan kubiarkan engkau sendiri yang melepaskan budak
perempuan iiu. Kalau tidak, kita bertiga akan segera mati
bersama!"
Siau-liong tak mengacuhkan kata2 wanita itu. Ia tetap
tegak termangu-mangu memandangnya. Tiba-tiba wajahnya
berobah.
“Apakah benar racun Jong-tok yang engkau berikan
kepadaku itu tiada obatnya lagi?" tanyanya.
“Tidak ada!" sahut Poh Ceng-in," sekalipun engkau makan
obat dewa, juga tak berguna!"
Dengan wajah beku, Siau-liong maju selangkah, serunya
dengan nada sarat, “Jika aku tak tahan lagi dan memukulmu

557
mati, lalu kuminum darahmu atau menggunakan darah anjing
hitam mulus untuk pengantar, mengorek hatimu lalu
kumakan, entah bagaimanakah akibatnya?"
Seketika pucatlah wajah Poh Ceng-in sehingga ia
teihuyung-huyung mundur dan berseru dengan nada gemetar,
“Engkau dengar dari siapa cara itu.... oh, engkau kejam
sekali.... engkau hendak membunuh aku agar dapat menolong
budak perempuan itu lalu engkau menikah dengannya,
engkau....”
Siau-liong menghela napas.
“Sayang, aku tak berhati buas seperti engkau. Mungkin
sukar melakukan hal semacam itu, Hanya....” Siau-liong
berhenti sejenak, sekali gerak cepat ia menutuk jalan darah
dibahu kanan Poh Ceng-in.
Tepat pada saat itu, dari bejauhan tampak tiga larik sinar
api yang cepat sekali mendekati. Dan dari arah hutan
terdengarlah Iblis-penakluk-dunia berteriak keras dan
serempak terdengarlah suara kereta berjalan berderak-derak.
Kereta yang dikawal oleh barisan orang hitam itu segera
berjalan menuju keluar mulut gunung.
Siau-liong terkejut. Diperhitungkannya saat itu api yang
membakar barisan pohon Bunga masih sejam lamanya. Tetapi
mengapa anak buah Lembah Semi sudah memberi pertandaan
lebih dulu.
Tetapi dia tak sempat berpikir lagi. Sambil mencengkeram
bahu Poh Ceng-in, ia segera menyusup ke dalam terowongan.

558
Sekalipun ia faham akan jalan terowongan dan berjalan
secepat lari, tetapi ia harus menggunakan waktu setengah jam
juga baru dapat menyusur keluar dari terowongan.
Selekas keluar, cepat ia lari ke arah barisan pohon Bunga.
Sayup2 ia mendengar suara jeritan ngeri dari suatu
pertempuran dahsyat.
Memandang kemuka, tampak barisan pohon Bunga yang
penuh asap tebal itu diserbu oleb berpuluh-puluh sosok tubuh
manusia.
Siau-liong arahkan larinya kesana. Tiba-tiba beberapa belas
orang bersenjata, menghadang jalan. Mereka terdiri dari kaum
imam dan orang biasa Kepalanya seorang imam mencekal
sebatang golok kwat-to, tanpa berkata apa2 terus menyerang
Siau-liong.
Siau-liong terkejut dan cepat loncat kesamping seraya
membentak, “Hai, apakah tak kenal padaku!"
Tebasannya luput, imam itu maju membabat pinggang
Siau-liong seraya menghardik, “Budak keparat, aku tak kenal
padamu!"
Melihat pemimpinnya menyerang, anak buahnya pun
segera ikut menyerang Siau-liong.
Siau-liong terkejut. Saat itu baru ia teringat kalau tak
menyamar sebagai Pendekar Laknat. Apa boleh buat, terpaksa
ia harus menghadapi mereka.
Sambil menyikap Poh Ceng -in dibawah ketiak, Siau-liong
tak mau balas menyerang, melainkan berloncatan menghindar
serangan mereka.

559
Sambil menghindar, berulang kali ia berteriak, “Berhenti
dulu! Aku membawa Surat Jalan dari Ceng Hi totiang!"
Mendengar itu, imam yang menjadi pemimpin rombongan
penghadang itu segera membentaknya, “Kalau membawa
surat jalan, mengapa dari tadi tak lekas mengeluarkan!"
Rombongan penyerang itupun hentikan serangannya.
Namun masih mengepung Siau-liong. Pemuda itu buru-buru
merogoh bajunya. Tetapi yang diketemukan hanya peta
pemberian Jong Leng lojin. Buru-buru ia masukan lagi. Lalu
merogoh saku. Tetapi yang diketemukan hanyalah beberapa
butir pil pemberian Poh Ceng-in.
Sudah tentu Siau-liong gugup tak keruan. Kemanakah
gerangan perginya Surat Jalan itu? Merenung sejenak, barulah
ia teringat kalau Surat Jalan itu disimpannya dalam baju
Pendekar Laknat. Tetapi baju Pendekar Laknat itu sudah
dilipat dan dililitkan pada pinggang. Jika mengambil dan
membuka pakaian itu tentulah diketahui orang. Berarti juga,
rahasianya tentu bocor. Ah....
Siau-liong benar-benar bingung. Apalagi saat itu di dalam
barisan pohon Bunga sudah berlangsung pertempuran
dahsyat. Jika rombongan Ceng Hi totiang sampai menderita
kekalahan, bukankah ia ikut bertanggung jawab karena tak
dapat membantu mereka?
“Dari partai manakah suhu ini?" segera ia bertanya kepada
imam itu.
Imam bersenjata golok kwat-to mendengus dingin, “Akulah
yang seharusnya bertanya begitu kepadamu!"
Siau-liong paksakan tertawa, “Aku bernama Kongsun Liong,
juga hendak membantu gerakan Ceng Hi totiang untuk

560
membasmi kedua suami isteri durjana itu. Tentang Surat
Jalan.... mungkin karena terburu-buru, telah hilang dijalan!"
Ternyata imam itu tak pernah mendengar nama Kongsun
Liong. Dengan mata berkilat-kilat ia membentak, “Jangan coba
mengelabuhi orang! Ceng Hi totiang sudah mengeluarkan
perintah. Barang siapa yang tak membawa Surat Jalan, harus
diperlakukan sama seperti anak buah Lembah Semi....”
Kemudian mata imam itu memandang ke arah Poh Ceng-in
Ialu berkata, “Jika engkau masih ingin hidup, beritahukan
siapa dirimu sebenarnya!"
Pada saat Siau-liong mencari Surat Jalan tadi, terpaksa ia
letakkan tubuh Poh Ceng-in di tanah. Belasan orang yang
mengepungnya itu segera lekatkan ujung pedang keseluruh
jalan darah disekujur tubuh kedua anak muda itu. Semula hal
itu tak diacuhkan Siau-liong. Pikirnya, begitu mengambil keluar
Surat Jalan, segalanya tentu beres. Tak kira kalau Surat Jalan
itu disimpan dalam baju Pendekar Laknat.
Dalam gugup terpaksa ia berseru nyaring, “Aku adalah
murid pewaris dari Pengemis Tengkorak Song Thai-kun dan
kini diangkat menjadi ketua Kay-pang. Jika taysu tak percaya
silahkan suruh memanggil murid Kay-pang untuk dipadu!"
Imam itu tertawa memanjang. Kemudian bertanya kepada
rombongan, “Adakah salah seorang dan saudara yang kenal
akan Cousu-ya bayi ini.”
Sekalian orang tertawa gelak2; "Jangan dengarkan
ocehannya! Anak umur 3 tahun pun takkan percaya!"
“Tuh dengarlah! Jangan lagi tiada seorang pun yang
percaya omonganmu. Sekalipun ada yang percaya. pun sukar
untuk mencari anak murid Kay-pang yang saat ini sedang ikut

561
Ceng Hi totiang menyerbu ke dalam Lembah Semi....” imam
itu berhenti sejenak lalu berkata pula, “Terpaksa engkau harus
kita tahan. Nanti setelah Lembah Semi beres, dan ternyata
engkau memang bukan anak buah Iblis penakluk-dunia,
barulah dapat kami lepaskan."
“Ikat dia dan perempuan baju merah lalu bawa ke markas
depan!" imam itu memberi perintah.
Selagi imam itu bicara, diam-diam Siau-liong mencari lirik
kesekeliling penjuru. Dilihatnya pada setiap puncak pohon dan
belakang batu terdapat orang yang siap dengan senjata
panah. Diam-diam ia memuji akan kelihayan Ceng Hi totiang
mengatur barisan untuk mengepung musuh.
Bukannya ia takut akan balasan orang yang mengepungnya
itu tetapi ia menyadari bahwa dalam pertempuran, tentu ada
korban yang jatuh. Disamping itu sukar dicegah kemungkinan
Poh Ceng-in akan terluka bahkan bisa mati. Kalau wanita itu
mati, bukankah ia juga akan ikut mati....
Siau-liong termenung gelisah. Tiba-tiba seorang paderi
berkepala dan telinga besar, menutuk dada Siau-liong. Ia
yakin karena Siau-liong sudah tak berdaya, tentu mudah untuk
ditutuk jalan darahnya.
Tetapi alangkah kejutnya ketika belum lagi jarinya
menyentuh dada Siau-liong, paderi itu sudah menjerit ngeri
dan terhuyung-huyung mundur lima enam langkah. la rasakan
jarinya seperti terbakar api panas.
Kawan-kawannya tersentak kaget. Tetapi karena peristiwa
itu berlangsung cepat dan mendadak sekali, mereka tak tahu
apa sebab paderi itu sampai pontang panting begitu macam!

562
Imam yang menjadi kepala rombongan pun tak tahu
peristiwa itu. Tetapi ia seorang yang banyak pengalaman. Ia
duga Siau-liong tentu memiliki kepandaian tinggi. Maka cepat
ia memberi perintah untuk menyerang pemuda itu. Bahkan dia
sudah mendahului untuk menebas dengan goloknya.
Melihat sikap keras kepala dari rombongan itu, terpaksa
Siau-liong melayani juga. Sebelumnya ia memang sudah
menjaga setiap kemungkinan. Setelah mengundurkan paderi
tadi, diam-diam ia salurkan tenaga sakti Bu-kek-sin-kang
ketangannya. Begitu belasan orang itu menyerbu, ia pun cepat
tamparkan kedua tangannya.
Pemimpin dan anggauta rombongan itu memang tak
memandang mata kepada Siau -iong. Tetapi alangkah kejut
mereka ketika tamparan tangan pemuda itu menghamburkan
tenaga dahsyat yang panas. Beberapa jeritan ngeri terdengar
dan empat orang telah terlempar menyusur tanah....
Untunglah rombongan pengroyok itu tak punya akal untuk
menyerang Poh Ceng-in yang menggeletak di tanah.
Andaikata mereka bertindak begitu, tentu Siau-liong sudah
mati kutu.
Setelah berhasil mengacau-balaukan musuh, dengan
menggembor keras, Siau-liong menyambar tubuh Poh Cengin.
Rencananya hendak dibawa lari menerjaug mereka.
Tetapi pada saat itu, serangkum angin tajam menyambar
punggunguya. Terpaksa ia lepaskan tubuh Poh Ceng-in dan
terus berputar diri untuk menghalau penyerangnya.
Imam kepala rombongan itu ternyata memang hebat.
Walaupun sudah dipukul mundur oleh Siau-liong, tetapi ia
tetap maju menyerang lagi.

563
Siau-liong mendongkol sekali. Setelah mendoroog golok
kesisih, dengan kerahkan tenaga-sakti Bu-kek-sin-kang ia
hendak menghantamnya.
Imam itu ternyata murid dari Go-bi-pay. Walaupun
kepandaiannya tak lemah tetapi tak mungkin ia dapat
menerima pukulan Bu-kek-sin-kang. Dia pasti hancur binasa
apabila Siau-liong gerakkan tangannya.
Pada saat Siau-liong sudah hendak ayunkan tangannya,
tiba-tiba terdengar suara orang membentak, “Berhenti."
Nada orang itu amat berwibawa. Apalagi Siau-liong
memang tak bermaksud hendak melukai orang. Maka cepat2
ia menarik kembali pukulannya.
Ketika sekalian orang mencari siapa yang berseru itu tibatiba
dari puncak sebatang pohon, melayang turun sesosok
tubuh yang kurus. Begitu kurus sehingga seperti daun yang
melayang ke tanah.
Pada saat tiba di tanah barulah dapat diketahui bahwa
orang itu ternyata seorang paderi bertubuh kurus kering.
Boleh dikata hanya sesosok kerangka tulang terbungkus
kulit.... Tetapi sepasang matanya memancarkan sinar berapiapi,
mengandung perbawa yang memaksa orang menaruh
keseganan.
“Ah....” imam pemimpin rombongan tadi mendesus pelahan
dan buru-buru merangkap kedua tangan, menyebut
"Omitohud" lalu memberi hormat kepada paderi kurus itu
dengan khidmat, “Murid Li Hun menghaturkan hormat atas
kehadiran Seng-ceng!"
Paderi kurus itu tersenyum; “Telah kupesatkan jalanku
tetapi tetap terlambat sedikit....”

564
Sambil memandang ke arah barisan pohon Bunga, ia
bertanya pula: ,,Apakah pertempuran sudah berjalan lama?"
Imam kepala rombongan yang menyebut namanya Li Hun
itu buru-buru menyahut, “Baru beberapa saat saja."
Paderi tua kurus itu mengangguk lalu memandang Siauliong
dan Poh Ceng-in yang menggeletak di tanah. Tampak
wajahnya mengerut cemas.
Buru-buru Li Hun melangkah kehadapan paderi tua kurus
itu, katanya, “Budak ini telah keluar dari Lembah Semi sambil
membawa wanita baju merah itu. Enlah apa maksudnya.
Tetapi jelas tentu anak buah Iblis-penakluk-dunia. Murid telah
mendapat perintah dari Ceng Hi totiang supaya mengatakan
tempat ini, karena itu....”
"Biarlah kutanyainya," tukas paderi kurus itu. Li Hun
mengiakan, lalu memberi isyarat supaya rombongan yang
mengepung itu mundur.
Siau-liong tertegun memandang paderi kurus itu. Diamdiam
ia heran mengapa imam tadi begitu menghormat sekali
kepada paderi itu. Pula cara paderi itu muncul memang
menunjukan seorang yang sakti. Dan mendengar penibicaraan
mereka tadi, rupanya paderi kurus itu datang dari jauh.
Siau-liong tak tahu siapa paderi kurus itu. Pikirnya, lebih
baik ia tinggalkan tempat itu saja agar jangan terlambat
waktunya. Maka ia mundur dua langkah dan hendak
mengangkat tubuh Poh Ceng-in.
"Ah, jangan begitu tegang," tiba-tiba paderi kurus itu
berseru dengan tersenyum; "sekalipun engkau berada satu

565
tombak jauhnya dari tempatku, tetapi rasanya sukar kalau
engkau hendak meloloskan diri....”
Nadanya angkuh, jelas tak memandang mata pada Siauliong.
Siau-liong tertegun dan terpaksa batalkan rencananya.
“Kenalkah engkau padaku?" tegur paderi kurus itu pula.
Siau-liong tak kenal siapa paderi itu. Tetapi menilik dia
datang hendak membantu rombongan Ceng Hi totiang, ia
duga paderi itu tentu Seorang cianpwe dari sebuah partai
persilatan. Maka cepat ia memberi hormat. menjawab,
“Justeru aku hendak mohon tanya gelaran mulia dari losiansu."
"Aku Liau Hoan, selama ini mengasingkan diri digunung
Thian-san....” kata paderi itu dengan nada yang penuh welas
asih, "memang tak dapat dipersalahkan kalau engkau tak
kenal padaku, Menurut perhitungan, aku sudah 40 tahun tak
pernah menginjak dunia persilatan lagi. Dan umurmu itu tentu
belum seberapa....”
Siau-liong terkesiap. Sudah berulang kali ia mendengar
orang mengatakan tentang paderi Liau Hoan dari gunung
Thian-san itu. Setitik pun ia tak kira bahwa paderi yang
termasyhur itu ternyata paderi bertubuh kurus yang berdiri
dihadapannya saat itu. Ah, gelar Paderi Kurus yang diberikan
kepadanya, ternyata memang tak salah.
Beberapa saat Siau-liong tertegun gelisah. Suara teriak
jeritan dari barisan pohon Bunga, makin lama makin keras dan
gencar. Walaupun belum mengetahui siapa yang menang,
tetapi ia tetap teringat akan surat peringatan yang diberikan
Kongsun Sin-tho itu.... Jika berlangsung makin lama,
akibatnya tentu makin runyam.

566
Ia pikir, paderi kurus Liau Hoan itu tentu akan percaya
akan keterangan imam Li Hun, yang mengatakan dirinya
(Siau-liong) seorang-anak buah Iblis-penakluk-dunia. Ah, jika
ia menempur paderi kurus itu, tentu akan memakan waktu
dan tenaga. Dan kemungkinan bahkan akan menderita luka.
“Usiamu masih muda dan wajahmu juga tak sembarangan
tetapi mengapa rela menjadi kaki tangan kedua suami isteri
durjana itu?" tegur paderi Liau Hoan.
Buru-buru Siau-liong membantah, “Hal itu sama sekali tidak
benar, aku....”
“Bukankah engkau habis keluar dari Lembah Semi?" cepat
paderi itu menukas.
Terpaksa Siau-liong menyahut, “Benar, tetapi....”
Sambil kebutkan lengan jubahnya. Liau Hoan berkata,
“Sudahlah, tak perlu membantah....”
Kemudian menunjuk pada Poh Ceng-in yang menggeletak
di tanah, paderi itu berkata pula, “Apakah wanita itu engkau
bawa dari Lembah Semi?"
"Benar, tetapi....”
Wajah Liau Hoan mengerut gelap, bentaknya, “Apakah
hidupku begini tua hanya hidup perc-ma saja! Apakah perlu
engkau jelaskan baru aku dapat mengetahui keadaan yang
sebenarnya....?"
Mau tak mau Siau-liong mendidih juga darahnya karena di
bentak2 itu. ia pun menyahut dengan suara lantang, “Jika tak
kuterangkan. bagaimana lo-siansu dapat mengetahui
persoalannya yang berliku-liku itu....”

567
“Tutup mulutmu!" bentak Liau Hoan marah. Lengan jubah
paderi itu diangkat ke atas, seperti hendak menyerang.
Sudah tentu Siau-liong terkejut dan buru-buru bersiap-siap.
Tiba-tiba Liau Hoau tertawa; “Anak muda, engkau murid
Iblis-penakluk-dunia atau bukan, tetapi aku akan memberimu
kesempatan untuk menyerang aku sampai 30 jurus. Jika
dalam 30 jurus itu engkau sanggup mengundurkan aku satu
langkah saja, aku segera tinggalkan tempat ini!" seru paderi
kurus itu.
Siau-liong tertawa dingin, “Kaki dan tangan tak bermata.
Jika berkelahi tentu takkan terhindari dari hal2 yang
menimbulkan derita luka!"
“Dalam 30 jurus aku takkan balas menyerang! Silahkan
engkau menyerang sesukamu saja!" bentak paderi itu.
Siau-liong anggap paderi kurus itu juga manusia yang
membawa kemauan sendiri dan angkuh sekali.
Diam-diam ia menimang, “Jangan lagi 3o jurus, dalam 3
jurus saja jika tak mampu mengudurkan engkau, aku pun
takkan muncul dalam dunia persilatan lagi!"
Maka menyahutlah ia dengan lantang, “Karena lo-cianpyye
yang memerintah, akupun terpaksa menurut saja. Silahkan locianpwe
bersiap!"
Habis berkata ia terus mengangkat tangan kanan lalu
ditamparkan dengan jurus. Menurut-aliran-air-mendorongsampan,
kedada Liau Hoan.

568
Paderi itu tegak diam. Sepasang tangan dirangkapkan
kemuka dada. Tiba-tiba serangkum suara lembut seperti kapas
memancar dari tangannya, menghapus tenaga pukulan Siauliong,
seraya tertawa hambar.
“Pukulan semacam itu, banyak terdapat dipasar persilatan!"
Siau-liong tak mau menyahut melainkan lepaskan lagi
sebuah pukulan Tay-lo-kim-kang ke arah kepala paderi itu.
Liau Hoan agak terkejut. Cepat ia dorongkan kedua
tangannya kesamping untuk 'menarik' tenaga pukulan Siauliong
kesamping. Kedua bahunya pun ikut condong kesamping
tetapi secepat itu berayun kemuka lagi. Sepasang kakinya
tetap tak berkisar sedikitpun jua.
Tetapi mau tak mau wajah paderi itu berobah, kaget,
serunya, “Pukulan Thay-siang-ciang! Adakah engkau benarbenar....”
Tetapi tiba-tiba ia hentikan kata2nya dan berganti dengan
sebuah bentakan yang bengis “Masih ada 28 jurus, lekas
teruskan seranganmu!"
Diam-diam Siau-liong terkesiap dalam hati. Apa yang
disohorkan orang ternyata benar. Kepandaian Liau Hoan
memang hebat sekali. Sekali lawan bergerak, segera ia dapat
mengetahui nama jurus dan alirannya.
Semula Siau-liong mengira dalam 3 jurus,ia tentu dapat
mengalahkan paderi itu dengan pukulan Thay-siang-ciang
yang dilambari tenaga sakti Bu-kek-sin-kang. Tetapi apa yang
disaksikan, benar-benar membuatnya termangu-mangu.
Rupanya Liau Hoan tak sabar, ia membentak dengan
nyaring; “Lekas serang!"

569
Sejenak merenung, Siau-liong tiba-tiba lempangkan tangan
kanan mendorong lurus kemuka.
Gerakan itu memang aneh. Meninju bukan, tamparan pun
bukan. Dan lagi gerakannya amat pelahan sekali.
Liau Hoan kerutkan alis. Sesaat ia tak tahu jurus apakah
yang sedang dimainkan anak muda itu.
Ternyata jurus yang digunakan Siau-liong itu disebut
Sebatang-tonggak-menyanggah-langit. Salah sebuah jurus
dari apa yang disebut Satu pukulan-Tiga tamparan-Empat
tutukan. ialah pelajaran yang termasuk dalam kitap pusaka
Thian-kong-sin-kang.
Jurus itu mengandung perobahan yang rumit sekali. Oleh
karena Siau-liong baru saja satu kali melatih pelajaran itu dan
tak memiliki latihan dasar dari tenaga dalam Thian-kong-sinkang.
maka ia tak dapat menggunakannya dengan tepat.
Namun karena Liau Hoan sudah berjanji tak balas
menyerang, maka timbullah keinginan Siau-liong untuk
mencoba pelajaran itu. Maka tanpa menghiraukan adakah
latihannya sudah sesuai atau belum, ia segera menggunakan
jurus itu.
Sambil lepaskan pukulan, diam-diam Siau-liong
menumpahkan pikirannya untuk menghafalkan gerak
perobahan selanjutnya. Oleh karena itu maka gerakannyapun
dilakukan dengan pelahan.
Liau Hoan kaget dan meragu. Pukulan Siau-liong dengan
ilmu Thay-siang-ciang tadi, sudah membuatnya tak berani
memandang rendah pada anak muda itu lagi.

570
Sepintas pandang pukulan anak itu memang tak berharga
dan lambat sekali. Tetapi anehnya, Liau Hoan benar-benar tak
tahu ilmu apakah pukulan Siau-liong itu. Maka ia terpaksa
diam-diam kerahkan semangat dan tenaga dalam untuk
bersiap-siap.
Pada saat tangan Siau-liong mendorong lurus sekonyongkonyong
ia menggembor keras dan tiba-tiba tangan anak itu
bergerak cepat sekali. Tahu2 dada Liau Hoan termakan
tinju....
“Hai....!" mulut paderi kurus itu menjerit aneh dan
tubuhnya menyurut mundur selangkah.
Imam Li Hun dan anak buahnya terkejut menyaksikan
peritiwa itu. Mereka terkesiap memandang Siau-liong.
Liau Hoan tak menderita luka berat. Ia menatap Siau-liong
sambil mengusap keningnya lalu tundukkan kepala merenung.
Siau-liong sendiri juga termangu-mangu. Ia tak menyangka
bahwa pelajaran yang masih setengah matang itu ternyata
mempunyai perbawa yang sedemikian hebatnya.
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras. Siau-liong
terkejut. Memandang ke arah barisan pohon Bunga. ternyata
tempat itu penuh dengan gulung asap tebal yang membubung
ke udara. Suara itu tentulah berasal dari gerakan rombongan
Ceng Hi totiang yang tengah meledakkan semua alat rahasia
dan rintangan dalam lembah.
Tetapi alangkah kejutnya ketika berpaling, ternyata Poh
Ceng-in yang menggeletak di tanah tadi sudah lenyap.
Dilihatnya imam Li Hun dan anak buahnya sedang
memandang dirinya seraya pelahan-lahan menyurut mundur.

571
Segera ia menduga, tentulah mereka yang melarikan Poh
Ceng-in.
Kemudian mata Siau-liong beralih memandang ke arah
barisan pohon Bunga. Tanpa banyak pikir lagi, ia terus
gunakan gerak loncat Naga-berputar-18-kali, melesat ke arah
barisan pohon Bunga.
Setelah merenung beberapa saat, tiba-tiba Liau Hoan
tersadar dan berseru pelahan, “Thian-kong-sin-kang! Tentulah
ilmu sakti Thian-kong-sin-kang....!"
Memandang ke muka, ternyata Siau liong sudah lari. Paderi
itu menggembor keras lalu loncat mengejar.
Gerak Naga-berputar-18-lingkaran dari Siau-liong telah
mencapai tataran yang tinggi. Dalam dua gerak loncatan saja,
ia sudah mencapai belasan tombak jauhnya.
Ketika masih melayang di udara, tiba-tiba ia memperoleh
akal. Cepat ia meluncur ke arah sebuah semak yang tinggi,
terus berganti pakaian sebagai Pendekar Laknat.
Tepat pada saat ia selesai menyamar sebagai Pendekar
Laknat, paderi Liau Hoan pun tiba. Bagaikan seorang gila,
paderi itu memandang ke sekeliling penjuru seraya tak hentihentinya
mengingau seorang diri, “Thian-kong sin-kang!
Tentulah ilmu sakti Thian-kong-sin-kang....!"
Paderi itu melihat juga pada Siau-liong. Tetapi karena saat
itu Siau-liong sudah berganti dandanan sebagai Pendekar
Laknat maka Liau Hoan hanya memandangnya dengan tawar
terus menyusup ke dalam gerumbul untuk mencari pemuda
tadi.

572
Siau-liong tertawa dingin. Dia tak mau menghiraukan
paderi kurus itu melainkan terus melesat ke arah barisan
pohon Bunga. Dalam sekejab mata ia sudah berada di tengah
puing barisan pohon Bunga.
Saat itu suara teriakan, tidaklah sengeri tadi. Dan yang
tampak hanya berpuluh-puluh jago silat tengah lari kian
kemari. Entah apa yang terjadi dengan pertempuran di
sebelah muka. Juga kereta yang dinaiki Iblis-penakluk-dunia
dan Dewi Neraka tak tampak bayangannya.
Siau-liong menerjang di antara orang2 itu, melintas ke
muka Karena sudah menerima penerangan dari Ceng Hi
totiang, maka rombongan jago2 silat itu sama menyisih untuk
memberi jalan kepada Pendekar Laknat.
Tampak ketua Siau-lim-si Ti Gong taysu dengan 20-an
paderi lari menghampiri. Ketua Siau-lim-si itu agak tertegun
ketika melihat Pendekar Laknat Siau-liong. Buru-buru ia
memberi hormat dan berseru nyaring, “Pendekar Laknak....”
"Di mana Ceng Hi totiang dan rombongannya?" seru Siauliong
tegang.
Sambil menunjuk ke arah lembah, ketua Siau lim-si itu
berseru, “Masih memimpin rombongan orang gagah
bertempur dengan kedua, durjana. Tetapi gelagatnya tidak
menguntungkan fihak kita, kedatangan saudara sungguh
kebetulan sekali....” berhenti sejenak ketua Siau-lim-si itu
berkata pula, “Tadi menerima laporan bahwa ada kaki tangan
musuh yang keluar dari terowongan rahasia. Maka aku
mendapat perintah untuk menangkapnya!"
Habis berkata, ia memberi salam terus lanjutkan perjalanan
lagi.

573
"Ti Gong taysu....!" cepat Siau-liong maju selangkah
meneriakinya.
Ketua Siau-lim-si itu berhenti dan berpaling, “Saudara
mempunyai keperluan apa?"
Sejak ditolong dari Lembah Maut, ketua Siau-lim-si itu
bersikap baik kepada Pendekar Laknat.
"Cousu-ya dari Kay-pang yakni Kongsun Liong seorang diri
menyelundup ke dalam Lembah Semi dan berhasil menangkap
seorang wanita siluman baju merah, tetapi....” —ditatapnya
wajah paderi itu lalu berkata pula, “Kabarnya pada waktu dia
ke luar dari Lembah, telah salah faham dengan beberapa
rombongan paderi yang bertugas disitu. Wanita baju merah itu
disembunyikan oleh rombongan paderi.... ah, wanita baju
merah itu penting sekali. Dapatkah aku minta tolong pada
taysu untuk memintakan wanita baju merah itu dan serahkan
padaku? "
Ti Gong menatap wajah Siau-liong, tanyanya, “Entah
rombongan paderi dari fihak manakah yang menawan wanita
itu? Dan lalu kemana saja perginya ketua Kay pang itu?"
"Yang kuketahui nama dari kepala rombongan itu adalah
paderi Li Hun!"
Tay Gong merenung sejenak lalu berkata, “Li Hun adalah
paderi Go-bi-pay! Baiklah, permintaan saudara pasti akan
kulaksanakan....” habis berkata ketua Siau-lim-si itu terus
bergegas melangkah pergi dengan rombongannya.
Siau-lim-si pun lanjutkan langkahnya ke arah lembah.
Barisan pohon Bunga yang lebat, kini hanya tinggal tumpukan
puing yang asapnya masih bergulung-gulung tebal, Di sana
sini bertebaran mayat manusia dengan tubuh yang

574
mengerikan dan terbakar. Dan mayat berhamburan kemanamana.
Menilik keadaannya, pertempuran itu belum berselang
berapa lama.
Pekik jeritan tak terdengar lagi. Binatang2 buas dan ular
beracun serta alat-alat perangkap rahasia dari Lembah Semi,
boleh dikata sudah hancur berantakan. Tetapi Ceng Hi totiang
pun harus membayar mahal dengan korban2 rombongan
orang gagah yang banyak berjatuhan. untuk penghancuran
itu.
Saat itu menjelang petang hari. Rombongan Ceng Hi
totiang tengah menggempur pertahanan di belakang lembah
yang dijaga oleh suami isteri Iblis-penakluk-dunia.
Masuk dari jalan yang dipertahankan Iblis-penakluk-dunia
itu, akan mencapai pusat lembah. Bangunan betingkat dari
lembah itu, tampak menjulang jauh dimuka.
Siau-liong maju lagi. Dilihatnya Ceng Hi to-tiang sedang
memimpin rombongan untuk menyerbu pos jalanan itu. Jalan
itu berbentuk seperti sebuah pintu dari sebuah kota. Tetapi
terbuat dari pada batu alam. Hanya cukup dilewati beberapa
orang.
Dari tempatnya, Siau-liong dapat melihat bahwa di dalam
jalan mulut jalan itu, Iblis-penakluk-dunia dan rombongannya
tak kelihatan. Rupanya mereka sudah mengundurkan diri.
Keadaan didepan mata sudah jelas. Ceng Hi totiang dan
rombongannya sudah bertekad untuk membobolkan setiap
rintangan. Jika dapat, membasmi kedua suami isteri durjana.
Jika gagal, sekurang-kurangnya dapat menghancurkan sarang
Lembah Semi.

575
Teringat akan surat peringatan dari gurunya (tabib sakti
Kongsun Sin-tho),makin gelisah. Tetapi jika menasehati Ceng
Hi totiang supaya menarik mundur rombongannya, jelas tak
mungkin.
Ceng Hi totiang segera mendapat laporan tentang
kedatangan Pendekar Laknat. Cepat tokoh tua itu
menyambutnya; “Ah, kedatangan saudara sungguh kebetulan
sekali....”
Memandang kemuka, Siau-liong dapatkan Ceng Hi totiang
dikawal oleh berpuluh orang, paderi, imam dan beberapa
tokoh2 persilatan segala aliran. Antara lain Toh Hun-ki dan
keempat Su-lo dari Kong-tong-pay, ketua Kay-pang To Kiukong
serta kepala Rimba Hijau daerah selatan yakni setinggi
besar Lu Bu-ki. Dan masih ada lain-lainnya yang Siau-liong tak
kenal.
Atas penyambutan Ceng Hi totiang. buru-buru Siau-liong
balas memberi hormat; "Karena ada sedikit urusan maka
sampai terlambat datang, maaf, maaf....”
Diam-diam Siau-liong heran. Kalau Ceng Hi totiang dan
rombongannya sudah memutuskan untuk menyerbu lembah,
mengapa mereka masih berada dimulut jalanan yang tiada
dijaga musuh situ?.
Menurut peta dari Jong Leng lojin, pada mulut jalanan itu
tak terdapat alat-alat rahasia yang berbahaya. Karena alat-alat
dan perkakas2 rahasia itu kebanyakan dipasang dalam barisan
Tujuh Maut.
Jika Iblis-penakluk-dunia tak mau bertempur mati-matian
dengan rombongan Ceng Hi, terang mereka tentu akan
mengundurkan diri kebarisan Tujuh Maut. Rupanya mereka

576
hendak menggunakan alat-alat jebakan dan perkakas2 maut
untuk menghancurkan rombongan orang gagah.
Toh Hun-ki maju menghampiri untuk memperkenalkan
tokoh2 yang hadir disitu kepada Pendekar Laknat. Ternyata
mereka kebanyakan pada 20 tahun yang lalu pernah melihat
Pendekar Laknat. Diam-diam mereka heran dan kagum atas
perobahan tingkah laku Pendekar Laknat sekarang. Sungguh
seperti langit dengan bumi beda Pendekar Laknat sekarang
dengan 20 tahun yang lalu!
Agar penyamarannya tak diketabui, terpaksa Siau-liong
bersikap sedapat mungkin untuk melayani mereka. Setelah itu
cepat2 ia alihkan perhatian kesekeliling penjuru dan bertanya
kepada Toh Hun-ki, “Iblis itu sudah mundur, mengapa kalian
tak menyerbu ke dalam lembah?"
Toh Hun-ki menghela napas pelahan, sahutnya, “Jika hanya
Iblis-penakluk-dunia dan anak buahnya, tentu mudah
dihancurkan. Paling tidak tentu terulang seperti peristiwa 20
tahun yang lalu, yang mengusirnya dari wilayah Tiong-goan,
tetapi tak kira....”
Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari dalam mulut jalanan,
terdengar sebuah suitan panjang yang nyaring. Wajah Toh
Hun-ki berobah seketika.
Ceng Hi totiang memberi isyarat dan berseru keras, “Iblispenakluk-
dunia menyerbu lagi, lekas mundur” kemudian
berpaling ke arah Pendekar Laknat, ujarnya; “Dalam
pertempuran tadi, telah jatuh beberapa korban sahabat kita,
menilik keadaan sekarang ini....” tiba-tiba ia menarik Siauliong
terus diajak loncat keujung sebuah batu karang, katanya
pula, “Menilik gelagatnya sekarang ini, Iblis-penakluk-dunia
dapat menggunakan kedua durjana Harimau Iblis dan Naga
Terkutuk serta Lam-hay Sin-ni....”

577
Gelombang teriak jeritan melengking disusul dengan bunyi
kereta berderak-derak. Beberapa barisan wanita dan pria dan
tiap barisan terdiri dari lima orang, muncul dari dalam mulut
jalanan itu seraya berteriak-teriak. Iblis-penakluk-dunia dan
Dewi Neraka duduk dalam kereta sambil tersenyum-senyum.
Kereta ditarik oleh kedua orang yang mukanya bertutupan
kain hitam dan dikanan kiri kereta dikawal oleh barisan baju
hitam. Tepat seperti yang dilihat Siau-liong ketika mereka
mengadakan persiapan dalam hutan itu.
Ceng Hi totiang dan rombonpan orang gagah segera
membentuk diri dalam formasi seperti sebuah jaring. Bersiap
kira2 20-an tombak jauhnya dari mulut jalanan itu.
Oleh karena pelengkapan alat-alat rahasia telah diledakkan
hancur maka tanah disitu tinggi rendah tak menentu. Kereta
Iblis-penakluk-dunia berhenti pada sebuah lekukan tanah.
Iblis-penakluk-dunia tertawa sinis lain berteriak nyaring,
“Hai, Ceng Hi totiang! Apakah engkau sudah
mempertimbangkan omonganku tadi?"
Ceng Hi totiang melangkah maju dan membentak, “Aku
telah menerima permintaan dari para sahabat persilatan untuk
memimpin gerakan ini. Selama engkau berdua durjana belum
lenyap, dunia persilatan tentu takkan aman. Dalam keadaan
seperti saat ini tiada lain pilihan lagi kecuali melanjutkan
gerakan ini. Atau kalian mau menyadari kesalahan dan
menyingkir jauh keluar perbatasan, gerakan ini akan segera
kuhentikan! "
Iblis-penakluk-dunia tertawa mengejek, “Imam hidung
kerbau, maut sudah di depan mata, mengapa engkau masih
jual lagak bermulut besar!"

578
Iblis itu menutup kata2nya dengan gerakkan tangan kiri
memberi komando, “Serang!"
Kedua barisan baju hitam yang di belakang kereta segera
maju. Salah seorang yang berada paling depan tanpa bicara
apa2, terus menyerang Ceng Hi totiang.
Gerakan orang itu luar biasa cepatnya. Pukulannya
menghamburkan deru angin yang tajam sekali. Dan pukulan
itu adalah ilmu pukulan sakti Merampas-jiwa-mengejar-nyawa.
Ceng Hi totiang tak berani ayal. Cepat ia menangkisnya.
"Plak". terdengar letupan keras. Penyerang itu dan Ceng Hi
totiang masing-masing menyurut mundur selangkah.
Kiranya baju hitam yang menyerang itu bukan lain adalah
salah seorang dari Lima Durjana yang termasyhur, yakni si
Harimau Iblis. Entah mengapa tokoh itu mau menjadi kaki
tangan Iblis-penakluk-dunia!
Tanpa menunggu komando Ceng Hi totiang lagi, belasan
orang gagah itu cepat loncat maju menghadang Harimau Iblis.
Serangan perlama tertahan. Harimau Iblis maju menyerang
lagi. Kain penutup mukanya dari sutera tipis. Tertiup angin,
dapatlah diketahui wajahnya yang agak aneh. Terutama
sepasang matanya yang ketolol-tololan tetapi sepasang alisnya
menampilkan nafsu pembunuhan yang menyala-nyala.
Memang Ceng Hi totiang sudah mengetahui perobahan
wajah Harimau Iblis yang tidak wajar itu. Ia berputar diri
menghindari pukulan Harimau Iblis.
Tetapi yang benar-benar mengejutkan orang adalah
rombongan barisan baju hitam itu. Diantaranya terdapat juga
It Hang totiang dan ketiga tokoh Kun-lun-sam-cu. Mereka

579
mengikuti di belakang Harimau Iblis untuk menyerang Ceng Hi
totiang.
Iblis-penakluk-dunia barbangkit dan tertawa nyaring. Tibatiba
ia gerakkan tangan kanan memberi komando lagi,
“Serang!"
Kembali barisan baju hitam yang lain, menyerbu ke luar,
menerjang rombongan orang gagah.
Siau-liong diam-diam memperhatikan barisan baju hitam
itu. Yang menjadi pemimpin ternyata si Naga Terkutuk dan
anggautanya terdiri dari si Penebang-kayu dari Tiam jong-san
Shin Bu-seng, ketua Ji-tok-kau Tan It-hong, ketua Tong-thingpang
Cu Kong-leng bergelar Kipas-banci dan seorang yang tak
diketahui.
Tokoh2 yang hilang dalam Lembah Semi tempo hari
ternyata kini menjadi kaki tangan Iblis—penakluk-dunia!
Karena fihak Iblis-penakluk-dunia mengeluarkan barisan
baju hitam yang kedua, maka rombongan orang gagah yang
mengepung diluar barisan pohon Bunga pun segera
berhamburan keluar, menyongsong mereka. Seketika
pecahlah pertempuran yang dahsyat.
Naga Terkutuk dan Harimau Iblis memang tak usah
dilukiskan kesaktiannya. It Hang totiang, Kun-lun-sam-cu pun
tergolong jago kelas satu dalam dunia persilatan Karena
pikiran mereka sudah tak normal lagi, mereka pun menyerang
dengan sekehendak hati. mengeluarkan jurus2 kepandaiannya
yang hebat. Maka dalam beberapa saat saja, difihak
rombongan orang gagah telah jatuh 20-an korban yang
binasa.

580
Ceng Hi totiang menyadari keadaan itu. Cepat ia mengatur
barisannya lagi. Dia bergerak kian kemari dalam pertempuran
yang kacau balau itu. Dengan demikian dapatlah keadaan
barisan orang gagah itu berkurang bahayanya.
Ceng Hi totiang memerintahkan belasan jago2 sjlat untuk
mengepung kedua durjana Harimau Iblis dan Naga Terkutuk.
Dengan demikian walaupun kedua durjana itu berkaok-kaok
seperti singa kelaparan tetapi untuk sementara ruang gerak
mereka dapat dibatasi.
Yang meresahkan pikiran Ceng Hi totiang adalah tentang
diri It Hang totiang dan beberapa tokoh lainnya. Jelas mereka
sudah hilang kesadaran pikirannya. Rombongan orang gagah
diperintahkan supaya hati2 menghadapi mereka. Jangan
sampai dibunuh, cukup kalau dikepung dan dapat ditawan
hidup-hidupan. Tetapi sulitnya, mereka memiliki kepandaian
yang tinggi. Tinju dan tutukan jari mereka, hebatnya bukan
alang kepalang. Untuk menangkap mereka, sukarnya melebihi
menangkap seekor harimau buas.
Oleh karena terpancang oleh perintah itu, rombongan
orang gagah menemui kesulitan juga. Bahkan ada beberapa
yang terkena pukulan dan tutukan jari mereka.
Selama itu Siau-liong masih tetap berdiri di pinggir belum
mau turun tangan. Ia sedang mencari akal untuk mengatasi
kekacauan itu.
Setelah kekacauan fihak orang gagah dapat diredakan,
longgarlah pikiran Ceng Hi totiang. Tetapi ketika melihat It
Hang lotiang dan Kun-lun Sam-cu masih belum dapat diatasi,
mau tak mau Ceng Hi totiang gelisah juga hatinya.
Ceng Hi totiang sudah kerahkan barisan ko-jiu (tokoh sakti)
untuk mengepung kedua durjana Harimau Iblis dan Naga

581
Terkutuk, tetapi ternyata kekuatannya pun hanya berimbang
saja. Demikian pun dengan barisan dari tokoh-tokoh kelas
satu yang diperintahkan untuk menawan It Hang totiang dan
Kun-lun Sam-cu, juga masih belum berhasil. Jika kedua suami
isteri Iblis-penakluk-dunia itu menceburkan diri atau menyuruh
kedua penarik kereta yang misterius itu turun tangan,
bukankah akibatnya akan lebih menderita bagi fihak
rombongan orang gagah?
Ceng Hi totiang kerutkan alis berpikir keras. Tiba-tiba ia
memberi perintah secara rahasia agar rombongan yang
mengepung diluar barisan pohon Bunga siapkan obat pasang
dan bahan peledak. Setiap waktu, apabila perlu, akan diberi
perintah lagi.
Setelah ketegangan mereda, barulah Siau-liong loncat
turun kesamping Ceng Hi totiang, serunya; “Adakah totiang
sudah mempunyai rencana yang lengkap untuk menghadapi
keadaan saat ini?"
Ceng Hi totiang terkesiap, sahutnya, “Aku telah berusaha
sekuat tenaga, berhasil atau gagal, tak dapat kupastikan.
Terserah kepada Allah!"
Dari nada penyahutannya, jelas kalau Ceng Hi totiang
bersikap dingin kepada Siau-liong. Kiranya memang sejak 20
tahun yang lalu, walau pun tak dipandang sejahat Iblispenakluk-
dunia dan isterinya, tetapi Ceng Hi totiang memang
tak mempunyai kesan baik terhadap Pendekar Laknat.
Adalah karena keterangan Toh Hun-ki yang memuji-muji
Pendekar Laknat sekarang ini, ditambah pula dengan
kenyataan bahwa Pendekar Laknat yang sekarang ini memang
telah menolong Ti Gong laysu, Toh Hun-ki dan rombongan To
Kin-kong dari Lembah Maut. Kemudian sikap Pendekar Laknat
yang terang-terangan memusuhi kedua suami isteri IblisTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
582
penakluk-dunia sehingga sampai bertempur dengan Lam-hay
Sin-ni, makin menguatkan kepercayaan Ceng Hi totiang bahwa
Pendekar Laknat yang sekarang ini benar sudah kembali ke
jalan yang terang.
Tetapi kepercayaan itu goyah pula ketika Ceng Hi totiang
sedang menyusun barisan, Siau-liong tiba-tiba lenyap dan
kemunculannya pada saat itu pun tak ubah hanya sebagai
penonton saja. Sama sekali tak mau ikut membantu.
Siau-liong menatap Ceng Hi totiang dan berkata dengan
suara tandas; “Aku hendak menghaturkan sepatah kata, entah
apakah totiang sudi mendengarkannya atau tidak?"
Samhil mengawasi jalannya pertempuran, tanpa berpaling
menyahutlah Ceng Hi totiang; “Jika anda mempunyai saran.
silahkan mengutarakan. Sudah tentu aku senang
mendengarkannya!"
Melihat sikap orang yang acuh tak acuh, Siau-liong
menghela napas, “Suami isteri Iblis-penakluk-dunia itu belum
mengerahkan seluruh kekuatannya namun berpuluh-puluh
orang gagah telah mengorbankan jiwanya. Andaikata kedua
durjana itu benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatannya
untuk menempur, mungkin nasib dari beratus-ratus tokoh
persilatan tentu akan ludas ditangan totiang!"
Mendengar itu serentak berpalinglah Ceng Hi totiang
kepada Siau-liong. Ia menghela napas. “Keadaan memang
begitu, lalu bagaimana kita harus berdaya?"
Berkata Siau-liong “Menangkap maling harus membekuk
benggolannya dulu! Jika tak dapat merencanakan siasat untuk
meringkus suami isteri durjana itu tetapi hanya mengadu
kekuatan secara begini saja, kita tentu akan menderita
kekalahan!"

583
”Lalu apakah anda mempunyai saran yang baik?" tanya
Ceng Hi totiang.
“Tak ada lain jalan kecuali menarik pulang barisan dulu dan
mengatur rencana yang lebih sempurna lagi!" sahut Siauliong.
Ceng Hi totiang terbeliak, “Adakah anda maksudkan supaya
aku memimpin rombongan Orang gagah meloloskan diri dari
sini?"
Dengan nada serius Siau-liong menyahut, “Seorang ksatrya
harus mahir menggunakan kekuasaan dan pandai dalam
menghadapi perobahan. Sekalipun menderita sedikit hinaan
tetapi asal dapat membentuk dasar dari kemenangan....
Kemenangan akhir tak mungkin orang akan mencela tindakan
totiang karena hari ini telah menarik mundur barisan!"
Ceng Hi totiang kerutkan alis.... Setelah beberapa kali
mengeliarkan mata, ia menghela napas, “Saat ini sudah ibarat
orang naik dipunggung harimau. Beribu tokoh persilatan
sedang menyala semangatnya. Setiap orang tak menghiraukan
soal kehilangan jiwa. Sekalipun aku mempunyai kekuasaan
untuk menarik mundur barisan tetapi dikuatirkan mereka tak
mau tunduk pada perintah itu!"
Diam-diam Siau-liong mengakui kebenaran ucapan totiang
itu. Maka terpaksa ia tak mau buka mulut lagi.
Saat itu kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia dan Dewi
Neraka tetap duduk di atas kereta dan mengatasi kedua
barisan baju hitam serta berpuluh-puluh anak buahnya pria
dan wanita menempur barisan orang gagah. Iblis itu tak hentihentinya
tertawa.

584
Tetapi ketika menyaksikan Ceng Hi totiang dapat mengatasi
kekalutan barisannya dengan memerintahkan belasan tokoh2
sakti untuk mengepung kedua durjana Harimau Iblis, Naga
Terkutuk, Iblis-penakluk-dunia mulai gelisah.
Tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia itu tertawa dan bicara
beberapa patah kata kepada Dewi Neraka lalu lontarkan
segulung api.
Siau-liong terkejut dan cepat2 meneriaki Ceng Hi totiang,
“Totiang, hati-hatilah! dengan tipu muslihat mereka! "
Memang Ceng Hi totiang sudah dapat menduga bahwa api
pertandaan yang dilepas Iblis-penakluk-dunia itu tentu ada
tujuannya. Maka ia tumpahban perhatian untuk mengawasi
perobahan yang akan terjadi dalam mulut jalanan.
Tetapi sampai beberapa lama belum juga tampak tanda2
timbulnya suatu perobahan apa2.
Selang sepeminum teh lamanya, tiba-tiba angin berhembus
membawa bau yang harum. Bau harum itu bertebaran
kemana-mana.
Siau-liong yang cepat dapat mencium bau harum itu,
banting2 kaki seraya menghela napas, “Celaka! Angin ini
mengandung bau harum. Tentulah anak buah Iblis-penaklukdunia
telah menghamburkan Racun penyesat pikiran! "
Buru-buru ia merogoh botol pil pemberian Poh Ceng-in
yang tinggal separoh isinya. Hanya tinggal 8 butir saja.
Setelah ia sendiri minum sebutir, sisanya lalu diberikan kepada
Ceng Hi totiang, “Tolong, pil ini berkhasiat menawarkan hawa
beracun. Sayang hanya tinggal sedikit!"

585
Setelah menerima, bermula Ceng Hi agak ragu2 tetapi
akhirnya ia minum juga sebutir. Sisanya ia bagikan kepada
beberapa tokoh yang sedang bertempur dengan Harimau Iblis
dan Naga Terkutuk.
Bau harum makin lama makin keras dan seketika terjadilah
perobahan dalam gelanggang pertempuran.
Barisan orang gagah itu mulai lemas. Kebalikannya
Harimau Iblis, Naga Terkutuk dan rombongan It Hang totiang
makin bersemangat. Serangan mereka makin dahsyat.
Kekuatan yang semula berimbang, saat itu berobah.
Seketika terdengar jerit pekikan ngeri ketika Harimau Iblis,
Naga Terkutuk dan rombongan It Hang totiang mengamuk.
Mereka tak ubah seperti gerombolan harimau yang sedang
mengganas kawanan anak kambing, Ketika di fihak barisan
orang gagah makin bertambah menumpuk.
Untunglah karena barisan pohon Bunga itu sudah berobah
menjadi sebuah lapangan yang luas maka angin pun meniup
agak keras. Bau harum itu tak dapat berkerumun lama dan
terus hanyut dibawa tiupan angin.
Melihat barisannya banyak yang berguguran, marah dan
sedihlah Ceng Hi totiang. Dengan bersuit nyaring ia mencabut
kebut pertapaan yang diselipkan di punggungnya lalu loncat
melayang ke gelanggang pertempuran. Rupanya jago tua itu
tak tahan lagi melihat banyak jago2 persilatan yang menjadi
korban.
Sampai saat itu Siau-liong tetap tak mau turun tangan. Ia
hanya memandang lekat2 ke arah kedua orang berkerudung
hitam yang menarik kereta Iblis-penakluk-dunia itu.

586
Iblis-penakluk-dunia tetap tertawa-tawa dengan
congkaknya. Dalam suasana pertempuran yang berhias pekik
jelitan ngeri dan gemerincing senjata beradu, suara ketawa
iblis itu makin menusuk telinga orang.
Pada lain saat Dewi Neraka yang berdri sambil mencekal
tongkat Kepala naga itu, tiba-tiba membentak suaminya,
“Tolol! Mengapa engkau hanya tertawa saja!"
Iblis-penakluk dunia hentikan tertawanya. Tiba-tiba ia
menarik sebatang kendali lalu memukul punggung salah satu
dari kedua orang yang menarik kereta itu.
Orang itu mengeluh pelahan lalu berpaling ke belakang dan
bertanya kepada Iblis-penakluk-dunia, “Apakah perintah Thian
cun!"
Iblis-penakluk-dunia menunjuk dengan tangkai kendali ke
arah Ceng Hi totiang, serunya, “Apakah engkau melihat imam
tua yang memakai kebut pertapaan itu? Lekas tawan dia
hidup-hidupan!"
Orang berkerudung kain hitam itu mengiakan. lalu enjot
tubuhnya melambung ke udara. Setelah mencapai ketinggian
10-an tombak, ia segera menukik ke bawah. Dalam jurus
Menyelam ke dalam laut-menangkap-naga, ia meluncur ke
arah Ceng Hi totiang!
Semula Ceng Hi memang mencurahkan perhatian untuk
mengawasi gerak gerik kedua orang kerudung hitam yang
menarik kereta Iblis penakluk-dunia itu. Tetapi karena suasana
saat itu makin genting, terpaksa ia tak dapat bersabar lebih
lama lalu terjun kegelanggang pertempuran.
Memang tak kecewalah Ceng Hi totiang diangkat sebagai
pemimpin dari barisan orang gagah. Hanya dalam beberapa

587
gebrak saja, ia sudah dapat menolong keadaan dari belasan
orang gagah yang sedang terdesak oleh kedua durjana
Harimau Iblis dan Naga Terkutuk. Gerakan kebut pertapaan
totiang itu hampir saja berhasil merobohkan kedua durjana
itu.
Ceng Hi totiang terkejut ketika melihat orang berkerudung
muka itu menukik hendak menyerang dirinya. Cepat ia
tinggalkan kedua durjana. Sebelum orang berkerudung itu
meluncur ke tanah, ia mendahului menyerangnya.
Orang berkerudung itu menggembor keras. Sepasang
tangannya yang bersikap hendak mencengkeram tadi tiba-tiba
diganti menjadi gerak tamparan.
"Plak".... terdengar letupan keras. Ceng Hi totiang terpental
sampai lima enam langkah ke belakang Darahnya bergolakgolak
dan dengan susah payah barulah ia dapat menjaga
keseimbangan tubuhnya jangan sampai rubuh.
Kebalikannya orang berkerudung muka itu enak-enak saja
meneruskan peluncurannya ke tanah. Secepat kilat ia
gerakkan kedua tangannya untuk menampar. Seketika
terdengarlah jeritan ngeri dan tiga imam dari Kun-lun pay
yang berada didekatnya pecah tulangnya dan mati seketika!
Gerakan menukik dari udara yang luar biasa dan sekali
pukul dapat melemparkan Ceng Hi totiang serta
membinasakan tiga tokoh Kun-lun-pay, benar-benar membuat
sekalian orang menjerit kaget.
Setelah mengambil napas beberapa saat, Ceng Hi totiang
maju menyerang lagi.
Dia seorang jago tua yang banyak pengalaman dan luas
pengetahuan. sekali pun orang itu seluruh mukanya ditutup

588
kain hitam, tetapi ia dapat mengetahui dari pukulannya tadi
bahwa orang itu bukan lain adalah tokoh yang sudah
menghilang selama berpuluh tahun yakni Jong Leng lojin,
pemilik ilmu tenaga-sakti Jit-hoa-sin kang.
Sekalipun menyadari bahwa ia bukan lawan orang tua itu,
tetapi ia tahu bahwa kecuali dirinya, tiada seorang pun yang
mampu menghadapi orang tua itu. Sekalipun dengan
keroyokan, juga sia-sia saja.
Mulut Jong Leng lojin mendesis desis mengeluarkan suara
aneh. Sepasang matanya yang tampak dari dua buah lubang,
berkeliaran kian kemari. lalu memandang lekat ke arah Ceng
Hi totiang.
Tiba-tiba ia tebarkan kedua tangannya dalam sikap hendak
mencengkeram lalu selangkah demi selangkah maju
menghampiri.
Gulungan asap harum sebentar menguap sebentar hilang.
Barisan orang gagah makin lemas. Kebalikannya Harimau lbiis
dan Naga Terkutuk makin mengganas. Segera terdengar jerit
pekikan ngeri dan korban pun makin lama makin banyak....
Jong Leng lojin walaupun ditahan oleh Ceng Hi totiang.
Tetapi jelas takkan dapat bertahan lama. Paling banyak dalam
tiga jurus Ceng Hi totiang tentu akan kalah.
Saat itu keadaan sudah jelas. Ceng Hi totiang terang tak
kuat berhadapan dengan Jong Leng lojin Dan Iblis penaklukdunia
masih mempunyai seorang jago lagi yang belum
diajukan, yakni orang baju hitam dan berkerudung muka yang
menarik kereta itu.

589
Menyaksikan keadaan rombongan orang gagah yang sudah
makin payah dan korban2 yang berjatuhan tak terhitung
banyaknya, Ceng hi totiang mengalirkan air mata....
Jong Leng lojin makin maju mendekati. Kedua tangannya
lurus dilempangkan ke muka. Sekali pun tiada seorangpun
yang tahu ilmu apa yang akan dilakukan orang tua itu, tetapi
diam-diam mereka mengucurkan keringat dingin karena
mencemaskan nasib Ceng Hi totiang Ceng Hi totiang pun
segera bersiap. Sepasang tinju digenggamnya erat2 dan
disaluri dengan sembilan bagian tenaga-dalam.
Diam-diam teringatlah Ceng Hi totiang akan kata-kata
Pendekar Laknat Siau-liong tadi....
“Hidup matinya dunia persilatan terletak di tangan
totiang....”
Ceng Hi totiang berpaling. Dilihatnya Pendekar Laknat Siauliong
masih tegak berdiri di tempatnya. Rupanya tengah
merenung sehingga tak mengacuhkan keadaan di
sekelilingnya....
Ceng Hi totiang menghela napas lalu kerahkan seluruh
semangat dan pikiran untuk menyambut serangan Jong Leng
lojin.
Rupanya Jong Leng lojin kuatir kalau Ceng Hi totiang akan
meloloskan diri. Maka sengaja ia berjalan lambat2 sambil
mengawasi gerak gerik imam itu. Setelah kira2 dua langkah di
muka Ceng Hi totiang, dengan tiba-tiba Jong Leng lojin
menguak keras dan secepat kilat kedua tangannya
mencengkeram bahu Ceng Hi.
Dalam kalangan partai2 persilatan dewasa itu, Ceng Hi
totiang merupakan satu-satunya tokoh angkatan tua yang

590
masih tertinggal. Saat itu ia susupkan kebut pertapaan
kebahunya lagi lalu gerakkan kedua tangannya untuk
menghantam dada dan perut Jong Leng lojin.
Gerakan Ceng Hi itu benar-benar suatu gerakan yang amat
berbahaya. Karena ia menyadari bahwa cengkeraman Jong
Leng itu merupakan salah sebuah jurus istimewa dari iimu
sakti Jit-hoa-sin-kang. Kecuali tokoh yang kepandaiannya
setingkat dengan dia, jangan harap lain orang mampu
menghindari.
Ceng Hi menyadari hal itu. Ia merasa jauh kalah sakti
dengan orang tua itu. Maka ia memutuskan untuk melakukan
serangan yang nekad. Biarlah dua-duanya sama terluka!
Tetapi ternyata Jong Leng tak mau lanjutkan
cengkeramannya. Cepat ia robah sasarannya, menyambar
lengan Ceng Hi. Cepat dan tak terduga sama sekali gerakan
itu sehingga Ceng Hi tak mampu menghindar lagi. Seketika ia
rasakan kedua lengannya tercengkeram oleh dua buah jepitan
besi. Ceng Hi kerahkan seluruh tenaga dalam untuk meronta.
Tetapi tetap tak berhasil. Bahkan tenaga dalamnya itu
berbalik mendampar ke dalam tubuhnya.
"Huak".... Ceng Hi totiang muntah darah.
Sepasang lengannya terasa kesemutan dan seketika
hilanglah daya perlawanannya
---ooo0dw0ooo---
Jilid 11

591
Telur di ujung tanduk
Melihat keadaan Ceng Hi totiang terancam sekalian orang
gagah terkejut. Mereka segera menyerbu Jong Leng lojin
dengin apa yang dapat dilakukan. Pukulan, senjata dan
senjata rahasia.
Saat itu Jong Leng lojin hendak mengepit tubuh Ceng Hi
totiang untuk ditawan. Melihat dirinya diserang kalang kabut
dari segala jurusan, ia lemparkan tubuh Ceng Hi lalu
tamparkan kedua tangannya ke arah rombongan orang gagah.
Serentak terdengar jeritan ngeri dari beberapa orang gagah
yang terkena tamparam orang tua itu. Ada yang rubuh
terluka. Ada yang remuk binasa. Ada pula yang terlempar
sampai setombak jauhnya....
Setelah berhasil menghalau rombongan orang gagah, Jong
Leng lojin kembali memutar tangan kiri lalu secepat kilat
diayunkan ke arah Ceng Hi totiang.
Tokoh tua dari Butong-pay itu sudah terluka dalam. Dia
masih belum mampu bangun dari bantingan Jong Leng lojin
tadi. Sudah tentu ia tak berdaya menghadapi hantamam Jong
Leng lojin.
Rombongan orang gagah yang dipimpin It Hang totiang
masih sibuk menghadapi amukan Harimau iblis dan Naga
terkutuk. Sedang rombongan orang gagah yang hendak
menolong Ceng Hi tadi pun sudah dihantam kocar kacir oleh
Jong Leng lojin. Tak mungkin mereka dapat menolong Ceng Hi
totiang lagi.
Imam tua itu pasti binasa.
Pada saat maut hendak merenggut jiwa Ceng Hi, sekonyong2
dari celah2 sinar matahari yang sudah condong

592
kebarat, tampak sesosok tubuh melayang di udara. Dan belum
tiba di tanah, orang itu sudah lepaskan pukulan seraya
berseru membentak Jong Leng lojin, “Berhenti!"
Gerakannya yang luar biasa tangkasnya membuat sekalian
orang terperanjat.
Kiranya orang yang telah menolong Ceng Hi itu adalah
Siau-liong si Pendekar Laknat.
Selama memperhatikan jalannya pertempuran itu, Siauliong
diam-diam telah membuat perhitungan. Berdasarkan
pengalamannya ketika menerima pukulan Jong Leng lojin
dalam bilik terowongan dibawah barisan Tujuh Maut tempo
hari, ia menyadari bahwa pukulannya Thay-siang-ciang yang
dilambari tenaga sakti Bu-kek-sin-kang, tetap kalah dengan
pukulan Jong Leng lojin. Apabila ia membantu Ceng Hi totiang
bukan saja sia-sia, pun dirinya sendiri juga pasti hancur.
Tetapi ia ingat dikala berhadapan dengan sipaderi kurus
Liau Hoan. Sekenanya saja ia gunakan jurus Sebatang-tiangmenyanggah-
langit, ialah sebuah jurus yang dilambari dengan
tenaga sakti Thian-kong-sin-kang yang sama sekali belum
difahaminya. Namun hasilnya sudah mengejutkan sekali.
Paderi Liau Hoan yang sakti dapat dihantam dadanya. Ah.
mengapa ia tak mau mencoba dengan ilmu pukulan itu lagi!
Begitu mendapat keputusan, diam-diam ia kerahkan
semangat dan pusatkan pikiran untuk mengingat-ingat ketiga
buah pukulan Thian-kong-sin-kang dengan perobahanperobahannya.
Tetapi ia tak dapat merenung lama karena saat itu
dilihatnya Ceng Hi totiang terancam bahaya maut dari Jong
Leng lojin. Maka tanpa membuang waktu lagi ia segera loncat

593
ke udara dan lepaskan salah sebuah dari ketiga pukulan
Thian-kong-ciang yang disebut Sapu-jagad.
Terdengar letupan keras. Jong Leng lojin tersurut mundur
dua langkah. Tetapi ketika Siau-liong tiba di tanah, iapun
terhuyung-huyung empat lima langkah jauhnya. Buru-buru ia
mengambil napas.
Didapatinya darah dalam tubuhnya hanya bergolak sedikit,
tak membahayakan.
Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Nerakapun tahu akan
kemunculan Pendekar Laknat itu. Tetapi mereka tenang saja
karena yakin Jong Leng lojin pasti dapat menghancurkannya.
Tetapi apa yang disaksikan saat itu, benar-benar membuat
mereka terbelalak kaget! Buru-buru Iblis-penakluk-dunia
mengangkat cambuk kuda lalu diayunkan ke arah punggung
orang berkerudung hitam yang satunya.
Ternyata orang baju dan berkerudung hitam itu bukan lain
adalah Lam-hay Sin-ni, pewaris dari ilmu sakti Cek-ci-sin-kang.
Karena tak mendengarkan nasehat Randa Bu-san dan
Pendekar Laknat Siau-liong, akhirnya Lam-hay Sin-ni pun
mengalami nasib serupa dengan Jong Leng lojin ialah diracuni
Iblis-penakluk-dunia hingga hilang kesadaran pikirannya!
"Apa perintah tuan!"seru Lam -hay Sin-ni.
Sambil menuding dengan tangkai cambuk, Iblis-penaklukdunia
memberi perintah. "Lekas tangkap hidup atau mati
Pendekar Laknat!"
Lam-hay Sin-ni mengiakan. Sekali kedua bahunya bergetar,
tahu2 tubuhnya meluncur ke udara dan menerjang Siau-liong.

594
Saat itu Jong Leng lojin gelagapan. Ia tak mengerti
mengapa ia sampai terpental dua langkah. Setelah biji
matanya berputar-putar, dengan suara yang parau ia
menggembur lalu maju menyerang lagi.
Siau-liong tahu juga kalau Lam-hay Sin-ni sedang
menyerbu dari udara. Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam
Thian-kong-sin-kang lalu gunakan ilmu Menyusup suara
berseru kepada Jong Leng, “Lo-cianpwe, apakah engkau
masih ingat ketika dirantai dalam bilik dibawah tanah itu?"
Pada saat itu Lam-hay Sin-ni pun sudah tiba dan
menghantam kepada Siau-liong. Anak muda itu pun
menyambutnya dengan pukulan tangan kanan dalam jurus
Angin-awan-berobah-warna.
Kembali terdengar letupan dan baik Siau-liong maupun
Lam-hay Sin-ni sama2 terhuyung-huyung mundur beberapa
langkah.
Sepanjang hidupnya, Lam-hay Sin-ni tinggal mengasingkan
diri dipedalaman gunung. Jarang ia bertempur dengan orang.
Dalam benaknya hanya terkilas suatu tujuan. Memperoleh
ilmu sakti Thian-kong-sin -kang dan menjadi tokoh yang tiada
tandingannya di dunia.
Serupa dengan Jong Leng lojin tadi, rahib itu pun terkejut
sekali karena dapat dipukul mundur oleh Pendekar Laknat.
Tetapi oleh karena kesadarannya hilang, maka setelah deliki
mata kepada Siau-liong, iapun terus hendak menyerang lagi.
Sesungguhnya Siau-liong tak kurang menderitanya. Adu
pukulan dengan Sin-ni itu menyebabkan matanya berkunangkunang,
kepala pusing tujub keliling, darah bergolak-golak
sehingga ia hampir tak kuat lagi berdiri tegak.

595
Ilmu sakti Thian-kong-sin-kang baru saja dipelajari. Boleh
dikata hanya kulitnya saja. Adalah berkat otaknya yang cerdas
dan pernah makan buah Im-yang-som serta minum darah
binatang purba dalam perut gunung, maka dapat ia
menggunakan tenaga sakti Thian-kong-sin-kang itu dengan
hasil yang mengejutkan. Dua tokoh yang memiliki dua dari
kelima tenaga sakti di dunia, sekaligus dapat dilawannya.
Tetapi bagaimanapun juga, karena baru lapisan luar saja yang
diketahuinya tentang ilmu Thian-kong-sin-kang itu, mau tak
mau ia harus menderita sekali.
Melihat Lam-hay Sin-ni hendak bergerak, dengan paksaan
diri ia gunakan ilmu Menyusup suara membentak rahib itu
“Sin-ni. Apakah engkau masih ingat tujuanmu datang
ketempat ini.... apakah engkau sudah tak menghendaki peta
Giok-pwe tempat penyimpan kitab pusaka Thian-kong-pit-kip
lagi?"
Serupa dengan Jong Leng lojin, Lam-hay Sin-ni tertegun
juga. Dipandangnya Siau-iong dengan mata berkeliaran dan
pandang keheranan.
Siau-liong tak banyak waktu untuk berpikir lagi. Ia tahu
bahwa Lam-hay Sin-ni tentu juga menderita pembiusan seperti
Jong Leng lojin. Untuk menyadarkan pikiran kedua tokoh itu,
harus memerlukan waktu yang panjang. Tak mungkin dalam
hanya beberapa detik saja. Pada saat Lam-hay Sin-ni
terlongong, Siau-liong cepat2 melakukan pernapasan untuk
memulihkan tenaga.
Pada saat Siau-liong adu pukulan dengan Jong Leng lojin
dan Lam-hay Sin-ni tadi, sambil duduk melakukan pernapasan
untuk mengobati luka dalam, Ceng Hi totiang pun
memperhatikan jalannya pertempuran itu. Ketika melihat Siauliong
tidak menggunakan pukulan Bu-kek-sin-kang tetapi
pukulan yang memancarkan kemilau emas dan berhasil

596
mengundurkan kedua tokoh lawannya, girang Ceng Hi bukan
kepalang. Serentak ia bangkit dan gunakan Ilmu Menyusup
Suara bertanya kepada Siau-liong.
"Pendekar Laknat, pukulanmu tadi.... apakah bukan....
tenaga sakti Thian-kong-sin-kang....?"
Sesungguhnya luka dalam yang diderita Ceng Hi totiang itu
amat parah. Terdorong oleh luapan rasa girang, darahnya pun
bergolak keras lagi. Buru-buru ia duduk kembali....
Siau-liong sendiri pun menderita luka dalam yang parah
juga. Ia terpaksa tak menyahut pertanyaan Ceng Hi,
melainkan terus laujutkan usahanya untuk memulangkan
tenaga guna menghadapi kedua tokoh itu lagi.
Sekalian orang gagahpun tertegun ketika menyaksikan
Siau-liong adu pukulan dengan kedua tokoh sakti itu. Tetapi
Harimau Iblis, Naga Terkutuk dan rombongan It Hang totiang
tak mengacuhkan segala apa. Mereka tetap menyerang
sehingga banyak dari rombongan orang gagah yang menjadi
korban lagi.
Jong Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni masih tetap tegak
ditempatnya sambil merenung. Melihat itu Iblis-penaklukdunia
segera tertawa nyaring lalu ayunkan cambuknya di
udara.
Mendengar suara geletar cambuk yang nyaring baik Jong
Leng lojin maupun Lam-hay Sin-ni serempak berpaling ke arah
Iblis-penakluk-dunia seraya meraung-raung aneh. Tiba-tiba
mereka bergerak menghantam Siau-liong lagi!
Siau-liong terkejut. Dengan menggembor keras ia gerakkan
kedua tangannya, Tangan kiri dalam jurus Angin-awanberobah-
warna dan tangan kanan dengan jurus MenjungkirTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
597
balikkan-matahari-rembulan untuk menangkis pukulan Jong
Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni.
Tar.... tar.... terdengar letupan dahsyat. Debu dan pecahan
batu bertebaran keempat penjuru, angin menderu-deru keras.
Tampak tubuh Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin
bergoyang-goyang maju mundur beberapa kali. Sedang Siauliong
jungkir balik sampai sepuluhan langkah jauhnya. Tetapi
secepat itu ia dapat berdiri tegak lagi.
Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin tertegun. Tetapi pada
lain kejap, mereka mulai menyerang lagi.
Ceng Hi totiang cemas sekali. Tetapi ketika melirik ke arah
Siau-liong, dilihatnya muka Pendekar Laknat itu tetap tenang.
Hanya tubuhnya tidak henti-hentinya bergetar. Diam-diam Cen
Hi totiang kucurkan keringat dingin.
Tetapi ia sendiri sedang menderita luka parah, sukar untuk
memberi pertolongan. Sekalipun rombongan orang gagah
yang berkerumun disekitar barisan pohon Bunga itu berjumlah
banyak tetapi mereka tak mungkin dapat membantu Siauliong.
Apalagi mereka pun masih sibuk menghadapi amukan
Harimau Iblis, Naga terkutuk dan rombongan It Hang totiang.
Berturut-turut telah jatuh lagi beberapa korban pada
rombongan orang gagah itu. Diam-diam Ceng Hi totiang
menghela napas pedih. Ia tak dapat berbuat apa2 kecuali
meramkan mata menunggu apa yang akan terjadi.
Sebelum Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin bergerak,
Siau-liong cepat mendahului menyerang dengan jurus
Sebatang-tonggak-menyanggah-langit kepada Lam-hay Sin-ni.
Sedang Jong Leng lojin dihantamnya dengan jurus Anginawan-
berobah-warna.

598
Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin masing-masing telah
lepaskan lima kali pukulan. Dan Siau-liong menghadapinya
dengan ilmu pukulan sakti Thian-kong-ciang yang belum
difahami benar-benar.
Pertempuran itu amat dahsyat sekali. Sinar kemilau emas
dari pukulan Siau-liong itu bagai tebaran awan yang berarakarak
kian kemari.
Habis memukul. Siau-liong pun rubuh menggeletak di
tanah. Sudut mulutnya mengumur darah. Keadaannya seperti
orang tengah meregang jiwa.
Kini kedua tokoh itu mulai menyerang lagi. Lam-hay Sin-ni
dari kiri, Jong Leng lojin dari kanan. Tetapi jelas kedua tokoh
itu terengah napas dan gemetar tubuhnya. Dengan susah
mereka mengangkat sepasang tangannya untuk menghantam
Siau-liong.
Siau-liong pejamkan mata. Dadanya berombak naik turun.
Rupanya dia seperti pelita kehabisan minyak. Hanya tinggal
tunggu saat saja.
Jumlah korban yang jatuh dalam pertempuran itu cukup
banyak. Pihak Iblis-penakluk-dunia hanya kehilangan belasan
anak buah yang mati. Tetapi anggauta barisan yang dipimpin
Harimau Iblis dan Naga terkutuk masih utuh. Satu pun tak ada
yang menjadi korban.
Sedang difihak orang gagah, tak kurang dari dua tiga ratus
yang binasa.
Ceng Hi totiang tak dapat berbuat apa2. tak mungkin lagi ia
dapat memimpin pertempuran lagi. Saat itu pertempuran
sudah mencapat detik2 yang kritis. Iblis-penakluk-dunia dan
Dewi Neraka pasti akan memperoleh kemenangan besar.

599
Pada saat pukulan Jong Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni
serempak akan melanda Siau-liong, sekonyong-konyong Iblispenakluk-
dunia bersuit nyaring. Rupanya suitan itu merupakan
sebuah pertandaan karena nyatanya Jong Leng lojin dan Lamhay
Sin-ni serempak menarik pulang pukulannya lalu loncat
kembali ke kereta Iblis-penakluk-dunia.
Pertempuran yang dahsyat seketika berhenti. Beberapa
anak buah Iblis-penakluk-dunia pun segera kembali ketempat
masing-masing.
Sambil tertawa nyaring, tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia
ayunkan cambuknya. Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin
segera menarik kereta. Kereta pun meluncur pesat sekali.
Saat itu Ceng Hi totiang sudah ditolong oleh dua orang
imam kecil. Dia terkejut menyaksikan tindakan Iblis-penaklukdunia.
Toh Hun-ki dan keempat Su-lo dari partai Kon-tong-pay,
ketua Kay-pang To Kiu-kong dan beberapa tokoh persilatan,
sudah tak keruan rupanya. Dengan berlumuran darah mereka
paksakan diri untuk menghampiri Siau-liong.
Lu Bu-ki sitinggi besar yang menjadi pemimpin kaum Rimba
Hijau daerah selatan, pelahan-lahan mengangkat bangun
Siau-liong seraya berseru memanggil, “Pendekar Laknat!
Pendekar Laknat....!"
Siau-liong masih sadar pikirannya. Pelahan-lahan ia
membuka mata dan menghela napas. Tetapi begitu melihat
kereta Iblis-penakluk-dunia meluncur, tiba-tiba Siau-liong
menggembor keras lalu loncat bangun.

600
"Huak".... belum berdiri tegak ia sudah muntah darah dan
terkulai rubuh lagi.
Iblis-penakluk-dunia ayunkan cambuknya lagi dan
keretapun berhenti tepat dimuka Siau-liong. Sambil
memandang kesekeliling dengan wajah berseri puas, Iblis -
penakluk-dunia lalu menudingkan dengan cambuk kepada
Siau-liong, bentaknya; “Tua bangka Laknat!"
Siau-liong berusaha untuk menggeliat dan paksakan diri
memandang ke arah kereta lalu tersenyum dingin dan
kemudian pejamkan mata tak mau menyahut.
Iblis-penakluk-dunia tertawa meloroh, serunya, “Laknat
tua! Saat ini asal aku memberi perintah, engkau tentu mati....
tahukah engkau apa sebab aku tak mau membunuhmu!"
Semula Siau-liong menduga kedatangan kereta Iblispenakluk-
dunia itu tentulah hendak membunuhnya atau paling
tidak tentu akan menawannya. Tentulah iblis itu hendak
menjadikan dirinya seperti Jong Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni.
Maka diam-diam dia kerahkan tenaga dalam untuk bersiap
menghadapi tindakan lawan. Dia telah bertekad hendak
mengadu jiwa. Tetapi ketika mendengar kata2 si iblis,
terkesiaplah ia.
Sekalipun terluka parah tetapi kesadaran pikirannya masih
belum lenyap. Saat itu dengan dipapah oleh Lu Bu-ki dan Ton
Hun-ki ia berusaha duduk.
Melihat Siau-liong sudah begitu lemah, Iblis-penakluk-dunia
tertawa nyaring, “Laknat tua, ketahuilah bahwa jiwamu sudah
tergantung ditanganku. Membunuhmu atau menjadikan
engkau kaki tanganku, terserah pada kemauanku. Tetapi aku

601
dapat memberi pengecualian kepadamu. Tahukah engkau apa
sebabnya?"
Diam-diam tergerak juga hati Siau-liong. Kalau menilik
keganasan iblis itu, tentulah ia sudah dibunuh. Dan apa pula
sebabnya iblis itu tak menyebut-nyebut tentang peta Giok-pwe
lagi? Adakah dia sudah tahu kalau kitab pusaka Thian-kongsin-
kang itu sudah dihancurkannya?"
Tiba-tiba ia tersadar. Ah. tentulah kedua suami isteri itu
tahu kalau anak perempuannya (Poh Ceng-in) telah
ditawannya. Ya, tentulah mereka kuatir kalau anak
perempuannya itu akan dibunuh!
Tetapi dugaan itu cepat dihapusnya. Karena apabila Sohbeng
Ki-su sudah melaporkan, tentulah Iblis -penakluk-dunia
tahu bahwa yang membawa Poh Ceng-in keluar dari lembah
itu bukanlah Pendekar Laknat melainkan Siau-liong dalam
perwujutan sebagai Kongsun Liong ketua Kay-pang.
Jelas Iblis-penakluk-dunia mau pun Dewi Neraka masih
belum tahu bahwa Pendekar Laknat itu adalah penyamaran
dari Kongsun Liong.
Beberapa jenak tak dapat Siau-liong menduga apa yang
dikehendaki Iblis-penakluk-dunia. Ia termenung-menung
memikirkan itu.
Melihat itu Iblis-penakluk-dunia segera gunakan ilmu
Menyusup Suara kepadanya, “Laknat tua, pernah kukatakan
tempo hari bahwa engkau satu-satunya perintang dalam
usahaku untuk menguasai dunia persilatan. Tetapi saat ini,
jiwamu sudah berada dalam tanganku."

602
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Tetapi aku tak
mau mengandalkan beberapa manusia patung itu untuk
meuguasai dunia persilatan....”
Tiba-tiba iblis itu berhenti lalu memandang tajam ke arah
Siau-liong.
Sekalipun dalam kata-katanya iblis itu tak menyebut
tentang ilmu sakti Thian-kong-sin-kang, tetapi Siau-liong duga
iblis itu tentu sudah mengetahui bahwa dirinya sudah memiliki
ilmu sakti itu. Dari tindakan Iblis-penakluk-dunia yang tak mau
segera membunuh atau menawannya. makin keraslah dugaan
Siau-liong kalau iblis itu tahu bahwa kitab pusaka Thian-kongpit-
kip sudah berhasil dimilikinya dan dihancurkannya. Iblis itu
tentu berusaha untuk mendapatkan pelajaran ilmu Thiankong-
sin-kang dari dia.
Ia menggeliat dan berseru dengan tandas, “Iblis tua,
jangan mimpi....”
Iblis-penakluk-dunia tertawa meloroh, “Laknat tua, sekali
pun engkau sudah memperoleh Thian-kong-sin-kang, tetapi
saat ini engkau sudah tak mampu bertempur lagi. Dan lagi
kalau tak salah, luka dalam yang engkau derita itu hanya
memungkinkan engkau hidup tiga hari saja....”
Iblis itu menutup kata2nya sambil mengangkat cambuk.
Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin segera menarik kereta
ketempat Ceng Hi totiang. Dengan isyarat cambuk, kereta
itupun berhenti.
“Imam tua, apakah masih berani bertempur lagi!" ejek
Iblis-penakluk-dunia dengan tertawa.
Tubuh Ceng Hi totiang berlumuran darah, wajah pucat lesi
dan mata merah membara. Dengan mata memancar dendam

603
kemarahan, ia menatap Iblis-penakluk-dunia lalu kerahkan
tenaga berseru, “Selama hayat masih dikandung, jangan
harap engkau mimpi dapat melaksanakan angkara
murkamu....”
Iblis-penakluk-dunia tertawa nyaring, “Saat ini, asal kuberi
perintah, berapapun jumlah jago2 silat yang engkau bawa,
dalam waktu dua jam saja tentu akan ludas....”
Memandang kesekeliling mayat2 jago silat yang menumpuk
bukit, Ceng Hi totiang tundukkan kepala lalu memandang ke
arah sisa rombongannya. Ia tahu bahwa Iblis-penakluk-dunia
itu memang tidak main gertak. Kenyataan dengan jumlah
yang begitu besar tetap kalah melawan gerombolan iblis itu.
Dia dan Pendekar Laknat saat itu telah menderita luka
parah. Jika melanjutkan pertempuran tentu hancur. Maka ia
hanya mendengus tak mau menyahut tantangan Iblispenakluk-
dunia.
Iblis itu tertawa dan berkata pula, “Tetapi sekalipun
siasatku ganas, aku tak bermaksud hendak membunuh kalian
habis-habisan. Karena aku masih memerlukan bantuan tenaga
kalian....”
Tiba-tiba wajah iblis itu mengerut gelap lalu berteriak
keras, “Akan kubebaskan kalian pergi. Tetapi dalam waktu tiga
hari kalian semua harus menuju kepuncak gunung Gobi,
mendirikan sebuah panggung. Menyediakan daftar nama dari
seluruh anggauta partai persilatan, baik golongan Hitam
maupun Putih, kaum dunia persilatan mau pun Rimba Hijau
(penyamun ). Setiap partai harus mengajukan sebuah wakil
untuk memimpin rombongan masing-masing. Pada hari ke-4
tengah hari, aku akan datang kesana. Pada saat itu tak peduli
siapa saja tanpa memandang kedudukan, harus sudah
menyambut dikaki gunung. Saat itu dunia persilatan akan

604
kupersatukan dibawah pimpinanku. Jika kalian menolak, dalam
tiga bulan, dunia persilatan pasti akan berlimpah darah,
mayat2 berserakan membusuk....”
Menuding kepada Ceng Hi totiang, iblis itu berseru pula,
“Tugas itu engkaulah yang memimpin penyelenggaraannya.
Jika tak sesuai dengan permintaanku tadi, akibatnya engkau
dapat memikirkan sendiri!"
Iblis-penakluk-dunia menutup kata-katanya dengan tertawa
panjang lalu ayunkan cambuk memberi perintah kepada Lamhay
Sin-ni dan Jong Leng lojin supaya menarik kereta lagi.
Kereta itu cepat sekali menuju ke dalam mulut jalanan.
Harimau Iblis, Naga Terkutuk, It Hang totiang dan
berpuluh-puluh kaki tangan kedua suami isteri iblis itu, segera
mengikuti di belakang kereta. Tak berapa lama mereka lenyap
dari pandangan.
Saat itu hari sudah petang. Sisa rombongan orang gagah
sibuk mengangkati mayat dan menolong yang terluka.
Pemandangan saat itu sungguh memilukan hati.
Dengan dipapah oleh kedua imam kecil, Ceng Hi totiang
melangkah pelahan-lahan kemuka Siau-liong, “Pendekar
Laknat....” -serunya pelahan. Beberapa butir airmata menitik
turun dari pelupuk jago tua itu.
Siau-liong pun bangun berdiri dibantu Lu Bu-ki dan Toh
Hun-ki. Ia menghela napas, “To-tiang....”
Pemuda itupun tak dapat melampiaskan kata-katanya
karena tersendat oleh rasa harunya.
Setelah menghapus airmata, Ceng Hi totiang berkata pula,
“Kata-kata saudara tadi memang benar. Rupanya harapan dari

605
dunia persilatan telah hancur di tangan ku....” ia menghela
napas dan geleng2 kepala.
Setelah mengambil pernapasan beberapa saat tadi, kini
semangat Siau-liong sudah bertambah segar. Sahutnya,
“Sekalipun saat ini kita menderita kekalahan tetapi sebagian
besar dari inti kekuatan kita, masih belum hancur. Hendaknya
totiang lekas mempersiapkan rencana lagi untuk menghadapi
keadaan bahaya ini. Sekalipun Iblis-penakluk-dunia itu suruh
kita mengumpul seluruh kaum persilatan berkumpul digunung
Go-bi nanti tiga hari lagi, tetapi dia tentu tetap mengawasi
gerak-gerik totiang. Jika mengetahui totiang tak mau
melaksanakan perintahnya, kemungkinan sebelum tiga hari
dia tentu sudah turun tangan kepada totiang!"
Ceng Hi totiang kerutkan dahi dan merenung sampai
beberapa saat. “Ah, kemungkinan aku akan datang ke Gobi....
, " kata imam tua itu.
Siau-liong terkejut. Tetapi sebelum ia membuka mulut,
Ceng Hi totiang sudah bertanya pula, “Adakah Pendekar
Laknat menderita luka parah?"
Sampai beberapa saat Siau-liong tak dapat menjawab.
Setelah mengambil napas barulah ia tahu keadaan lukanya.
Apa yang dikatakan Iblis-penakluk-dunia memang benar.
mungkin dia hanya dapat hidup 3 hari saja.
“Aku masih dapat bertahan," katanya.
“Demi menyelamatkan kaum persilatan, saudara telah
berjoang mati-matian. Atas nama seluruh dunia persilatan,
kuhaturkan terima kasih tak terhingga kepada saudara!" kata
Ceng Hi.

606
Siau-liong hanya tersenyum getir dan mengatakan tak usah
Ceng Hi totiang begitu sungkan. Tiba-tiba ia teringat suatu hal
yang penting. Cepat ia berpaling dan bertanya kepada sitinggi
besar Lu Bu-ki, “Tolong saudara selidiki apakah Ti Gong taysu
sudah kembali....”
Lu Bu -ki mengiakan. Tetapi baru ia hendak pergi, seorang
paderi baju kelabu yang sejak tadi berdiri diam didekat situ
segera melangkah maju seraya memberi salam, “Suhuku yang
mendapat perintah untuk menyelidiki orang aneh yang
menyelundup ke dalam terowongan dibawah tanah itu, sampai
saat ini belum kembali. Menurut laporan yang kami terima,
karena hendak merebut seorang wanita baju merah, suhu
telah bentrok dengan paderi Liau Hoan Wanita baju merah itu
telah dilarikan paderi Liau Hoan dan suhu bersama
rombongannya segera melakukan pengejaran!"
"Hai. apakah Liau Hoan siansu juga datang?"
Paderi itu cepat menyahut, “Kabarnya beliau datang karena
hendak membantu pertempuran. Tetapi entah mengapa, dia
malah berhantam sendiri dengan suhu karena berebut
tawanan wanita baju merah itu....”
Ceng Hi totiang menghela napas, ujarnya; “Lekas suruh
orang mengejar jejak mereka. Nasehatilah suhumu agar
jangan menggunakan kekerasan dan undanglah Liau Hoan
siansu kemari!"
Paderi itu mengiakan dan segera hendak melakukan
perintah. Tetapi Siau-liong mencegah; “Tunggu dulu....”
Ceng Hi totiang suruh orang itu berhenti lalu menanyakan
apakah Siau-liong masih mempunyai perintah lain.

607
“Tawanan wanita baju merah itu amat penting sekali
artinya. Semula ia jatuh ditangan imam Go-bi-pay maka
kuminta tolong pada Ti Gong taysu untuk memintanya
kembali." Siau-liong kerutkan dahi. Napasnya terasa memburu
keras. Diam-diam ia menimang, “Rasanya lukaku sudah tak
ada harapan sembuh lagi. Rombongan Ceng Hi totiang
menderita kekalahan. Sedang difihak Iblis-penakluk-dunia
ternyata mempunyai tenaga2 sakti seperti Jong Leng lojin,
Lam-hay Sin-ni, Harimau Iblis, Naga Terkutuk dan It Hang
totiang. Kesadaran pikiran mereka sudah dilenyapkan oleh
Iblis-penakluk-dunia sehingga mau melakukan segala perintah
iblis itu. Jika melanjutkan pertempuran, terang pasti hancur.
Kini satu-satunya senjata untuk menguasai kedua iblis itu
hanyalah diri anak perempuannya!"
Kemudian Siau-liong teringat pula. Bahwa jika dirinya mati
saat itu, Poh Ceng-in pun tentu segera ikut mati karena racun
Jong-tok itu. Bila terjadi begitu, tentu tak berhasil menjadikan
Poh Ceng-in sebagai senjata untuk menekan Iblis-penaklukdunia
dan Dewi Neraka.
Setelah membayangkan kemungkinan2 itu, berkatalah
Siau-liong lebih lanjut, “Wanita baju merah itu sebenarnya
adalab anak perempuan dari Iblis-penakluk-dunia dan Dewi
Neraka. Karena hanya mempunyai seorang puteri tunggal,
kemungkinan wanita itu dapat dijadikan sandera untuk
menekan kedua iblis. Totiang....”
Mendengar itu berserilah wajah Ceng Hi totiang dengan
riang, “Kalau begitu segera akan kukirim jago2 sakti. Asal
belum diketahui kedua suami isteri iblis, tentulah dapat
menawan wanita itu!"
"Tetapi wanita itu paling lama hanya dapat hidup 5 hari.
Harap totiang dapat menggunakan kesempatan itu sebaikbaiknya,
"kata Siau-liong pula.

608
“Mengapa saudara tahu begitu jelas?" Ceng Hi totiang
terkejut heran.
Siau-liong tertawa rawan; “Apa yang kukatakan tadi semua
memang kenyataan. Kuharap totiang jangan mendesak
dengan pertanyaan lebih jauh.... habis berkata Siau-liong
paksakan diri untuk berdiri, lalu berkata pula, “Aku merasa
amat menyesal sekali karena tak dapat memberi bantuan
kepada totiang lebih lanjut. Maka saat ini terpaksa aku hendak
minta diri!"
“Anda hendak kemana?" Ceng Hi totiang makin kaget.
Siau-liong tertawa hambar, “Masih ada lain urusan penting
yang hendak kukerjakan. Tak tentu arah yang hendak kutuju.
Mungkin kita tak akan berjumpa lagi!" -ia terus bergeliatan
hendak ayunkan langkah.
Ceng Hi totiang cepat memberi isyarat agar Toh Hun-ki dan
Lu Bu-ki mencegah Siau-liong.
"Memang aku tak dapat memaksa saudara hendak
melakukan urusan yang lain. Tetapi saat ini saudara sedang
menderita luka parah, Kurang baik kalau berjalan jauh. Tak
jauh dari sebelah luar lembah ini terdapat sebuah tempat yang
baik untuk bsristirahat. Harap saudara suka beristirahat disitu
untuk merawat luka saudara dulu."
Juga sitinggi besar Lu Bu-ki dan Toh Hun-ki ikut membujuk,
“Pendekar Laknat menderita luka berat, baiklah jangan pergi
seorang diri dulu!"
Habis berkata entah Siau-liong setuju atau tidak, kedua
orang itu terus memapahnya menuju keluar barisan pohon
Bunga dan tiba disebuah lamping gunung yang terdapat

609
beberapa kubu. Mereka masuk ke dalam sebuah kubu yang
besar dan beristirahat disitu.
Karena sungkan atas kebaikan kedua orang itu. Siau-liong
terpaksa mau juga duduk bersemedhi di atas sebuah
permadani. Sedang Lu Bu-ki dan Toh Hun-ki pun juga
pejamkan mata menyalurkan tenaga dalam.
Beberapa saat kemudian ketika Siau-liong membuka mata,
dilihatnya bulan bersinar terang benderang. Saat itu barulah ia
teringat kalau malam itu tanggal 15 bulan 8.
Para ketua partai persilatan dan tokoh2 ternama dalam
rombongan Ceng Hi totiang itu ber-bondong2 mengunjungi
kubu. Mereka menjenguk keadaan Siau-liong. Terhadap
Pendekar Laknat, mereka menaruh perindahan yang tinggi.
Ceng Hi totiang karena menderita luka dalam yang parah,
tak dapat datang sendiri dan melainkan mengirim muridnya
untuk menjenguk sampai tiga kali.
Sepenanak nasi lamanya, Siau-liong duduk terkulai seperti
tertidur. Toh Hun-ki dan Lu Bu-ki keluar pelahan-lahan.
Saat itu lapangan pertempuran di barisan pohon Bunga
sudah bersih. Korban2 yang mati sudah ditanam. Hanya yang
terluka masih terdengar mengerang kesakitan....
Siau-liong berusaha untuk bangkit dan mencoba berjalan
beberapa langkah. Ternyata ia merasa kuat. Maka iapun
segera melangkah keluar. Ternyata diluar kubu dijaga oleh
dua orang imam. Kedua imam itu buru-buru lari menghampiri.
Tetapi Siau-liong memberi isyarat supaya mereka mundur.
Kemudian ia berjalan ke belakang kubu. Di belakang kubu

610
terdapat hutan. Karena melihat penjagaan disitu tak berapa
banyak, ia segera masuk ke dalam hutan.
Ternyata karena merasa dirinya pasti mati, Siau-liong akan
menghindari orang terutama Ceng Hi totiang, agar mereka
jangan sampai tahu siapakah sebenarnya dirinya itu.
Pikirnya Mawar Putih yang terjebak dalam Lembah Semi itu
tentu terancam jiwanya. Kemungkinan besar bahkan sudah
binasa. Dengan begitu tak mungkin lagi ia dapat berjumpa
dengan ibunya diseberang lautan. Ah, ia merasa menjadi
seorang anak yang tak berbakti....
Juga Tiau Bok-kun, entah bagaimana nasibnya. Sedang dia
masih balum dapat menunaikan kewajiban2 yang telah
dipikulnya. Dari sekian banyak kewajiban, satu-satunya yang
baru dapat diselesaikan ialah memulihkan nama baik Pendekar
Laknat!
Pada lain kilas ia teringat akan pesan Koay suhu atau
Pendekar Laknat yang mengajarkan padanya dua buah hal: B
u n u h dan, B e n c i .
Tetapi sekalipun ia dapat membunuh Soh-beng Ki-su yang
telah membunuh Pendekar Laknat itu, juga ia tak dapat
memenuhi pesan Pendekar Laknat untuk mewakilinya bertemu
dengan Randa Bu-san pada nanti pertengahan musim rontok.
Karena dalam beberapa hari ini ia pasti sudah mati. Ah,
bagaimanakah nanti ia ada muka untuk bertemu dengan
arwah Pendekar Laknat dialam baka!
Selain itu, iapun masih gelisah memikirkan tentang ilmu
sakti Thian-kong-sin-kang. Tentulah menjadi harapan dari Tio
Sam-hong yang menciptakan buku pusaka Thian-kong-sinkang
bahwa kelak tentu akan terdapat seseorang yang
berhasil menemukan simpanan kitab pusaka itu lalu

611
dikembangkan untuk menyelamatkan dunia. Tetapi ah,
sebelum ia dapat mempelajari kitab pusaka itu, ia harus sudah
mati. Dan lagi kitap pusaka itu sudah terlanjur dihancurkan.
Dengan demikian ilmu sakti nomor satu di dunia bakal lenyap
untuk selama-lamanya!
Dengan pikiran yang tak keruan itu, tibalah ia di tepi
sebuah anak sungai. Ia berhenti lalu pelahan-lahan
menanggalkan pakaian Pendekar Laknat. Sambil melipatnya
pakaian ia menimang, “Ah, sejak saat ini Pendekar Laknat dan
Kongsun Liong akan lenyap selama-lamanya dari dunia....”
Karena letih sekali, ia duduk di tepi anak sungai itu. Tibatiba
terdengar kesiur angin dan pada lain saat sesosok
bayangan melesat datang.
Siau-liong terkejut ketika mendapatkan pendatang itu
adalah puteri dari Randa Bu-san, dara baju hijau yang pernah
bertempur dengannya tempo hari.
Dara itu terkesiap memandang Siau-liong, tegurnya, “Eh,
bukankah engkau bersama dengan taci Mawar ”
Siau-liong mengangguk, “Benar, tempo hari kami membikin
repot nona dan bibi....”
Diam-diam Siau-liong bersyukur karena sudah melucuti
pakaiannya Pendekar Laknat. Kalau tidak, tentulah ia mati
ditangan dara itu.
"Apakah engkau bertemu dengan taci Mawar?" tanya dara
itu pula.
“Tidak," sahut Siau-liong rawan.

612
“Hai, kemana sajakah dia?" seru dara itu dengan banting2
kaki, “sudah beberapa hari aku dan ibu mencarinya tetapi tak
ketemu....”
Belum Siau-liong membuka mulut, dara itu berkata lagi
“Tetapi kutahu ia hendak mencarimu!"
Siau-liong mengucurkan beberapa titik air mata, katanya,
“Ah, mungkin kita takkan berjumpa lagi untuk selama -
lamanya!"
Dara itu tebeliak dan memandang Siau-liong beberapa saat.
Sekonyong-konyong ia berteriak; “Mengapa? Apakah engkau
terluka?”
Siau-liong mengangguk; "Ya, luka berat yang pasti
membawa maut!"
Dara baju hijau itu memandang lekat, “Tak apalah,
mamahku dapat mengobatimu!"
Siau-liong menghela napas. Pada saat hendak berkata tibatiba
terdengar kesiur sesosok tubuh berlari secepat angin
mengarah datang.
Dibawah sinar rembulan, tampak sosok tubuh hitam itu
melayang ke udara bagaikan seekor burung rajawali lalu
menukik turun menerjang.
Siau-liong terkejut sekali. Dia sudah tak punya daya
melawan lagi. Dan orang itu hebat sekali gerakannya. Siauliong
tetap tenang saja. Ia merasa sudah dekat ajal, tak perlu
melawan. Karena malawan pun pasti sia-sia....
“Ibu....!" tiba-tiba dara itu melengking girang.

613
Ternyata pendatang itu memang Randa dari Bu-san.
Setelah memandang beberapa jenak kepada Siau-liong,
bertanialah wanita sakti itu kepada puterinya, “Apakah sudah
menemukan jejak tacimu Mawar"
Dara itu gelengkan kepala, “Belum, tetapi disini berjumpa
dengan dia yang pergi bersama taci Mawar....”-ia berpaling ke
arah Siau-liong lalu berkata pula; "Dia terluka, bu.... obatilah!"
Karena rasa kejut tadi, darah Siau-liong bergolak keras
sehingga ia tak kuat berdiri lagi dan duduk tak berkutik.
“Lo-cianpwe, maaf karena menderita luka aku tak dapat
menyambut dengan berdiri," kata Siau-liong.
Randa Busan itu hanya mendengus lalu menatapnya tajam,
“Dimanakah puteriku angkat itu."
Siau-liong tak bisa bohong. Tetapi ia tidak enak kalau
mengatakan Mawar Putin telah ditawan Soh-beng Ki-su. Maka
sampai beberapa jenak ia tergagap-gagap tak dapat bicara.
Adalah dara baju hijau yang mewakili memberi keterangan
bahwa Siau-liong tak berjumpa dengan Mawar Putih.
"Bagaimana engkau tahu!" bentak wanita kepada
puterinya.
Dara itu tersipu-sipu merah mukanya lalu tundukkan kepala
tak berani bicara lagi.
Randa Busan itu geleng2 kepala, ujarnya; "Aku mengerti
ilmu perbintangan. Sekalipun engkau tak bilang tetapi aku
dapat mengetahui juga."

614
Ditatapnya wajah Siau-liong dengan tajam lalu bertanya
pula; "Anak itu tak menghirau keselamatan jiwanya lagi, demi
amat mencintaimu. Tetapi sebaliknya engkau tanpa kasihan
membiarkan dia tercengkeram bahaya. Apakah engkau
merasa perbuatanmu itu bukan suatu perbuatan orang yang
bermoral tipis?"
Dengan kata-kata itu tampaknya Randa Bu-san sudah
seperti melihat sendiri peristiwa So-beng Ki-su menawan
Mawar Putih.
“Ah, aku....” Siau-liong menghela napas sedih dan sesal. Ia
tak dapat melanjutkan kata-katanya karena tersekat oleh air
matanya yang bercucuran.
“Perlu apa menyesal, toh sudah terlambat....!" dengus
Randa Bu-san. Kemudian ia bersenandung;
Ratna pecah, bunga gugur bukan tiada sebabnya Peristiwa
lampau yang hampa, sukar diimpikan pula Sungguh
menggelikan sekalilah wanita yang gila asmara Mengapa
mencintai kemati-matian pria yang berhati culas.
Habis besenandung, Randa Bu-san itu juga menghela
napas sendiri. Seperti tersinggung hatinya oleh suatu
kesedihan dalam lubuk nuraninya. Seolah-olah pada malam
purnama ditengah hutan belantara yang suuyi, ia
menumpahkan isi hatinya....
Sejenak memandang ibu dan Siau-liong, bertanialah dara
itu kepada Randa Bu-san, “Menurut perhitunganmu,
kemanakah taci Mawar sekarang ini?"
Randa Bu-san yang sedang terbenam dalam kenangan
masa lampau, agak terkejut mendengar pertanyaan puterinya
itu. Memandang sejenak kepada Siau-liong. ia menyahut,

615
“Menurut ilmu petangan, dia berada dalam bahaya. Tentulah
ia terjebak dalam Lembah Semi. Sekali pun belum binasa
tetapi kesempatan lolospun hanya sedikit. Dan lagi menurut
petangan itu....”
Ia menuding Siau-liong dan berseru marah; "Kesempatan
hidup dari tacimu itu hanya tergantung padanya! Tetapi
ternyata dia enak2 tak mau mengacuhkan sehingga
kemungkinan hidup tacimu Mawar pasti lenyap!"
Dara baju hijau kerutkan kening. Tampaknya ia sedang
dicengkam oleh rasa sedih dan marah. Dipandangnya Siauliong
yang berlumuran darah dan pucat itu beberapa saat.
Entah bagaimana timbullah rasa kasihan kepada pemuda itu.
"Mungkin karena hendak menolong taci Mawar maka ia
sampai menderita luka begitu parah....” katanya. Dan cepat2
ia bertanya kapada Siau-liong, “Hai, bukankah begitu?"
Siau-liong paksakan diri mengangkat muka. Baru ia hendak
bicara, Randa Busan sudah mendengus, “Mungkin dia
memang mempunyai maksud begitu tetapi tanpa disadari dia
telah mensia-siakan kesempatan yang bagus. Saat ini jiwanya
sendiri terancam, mana bisa membicarakan lain-lain soal!"
Siau-liong tegang sekali. Dengan terengah-engah ia
berkata, “Ramalan lo-cianpwe sungguh tepat sekali. Sekali pun
nona Mawar sudah tertawan di Lembah Semi tetapi dia sudah
seperti adikku sendiri. Aku rela hancur raga asal dapat
menyelamatkan jiwanya. Pada saat itu jika tak terpaksa oleh
keadaan, masakan kubiarkan dia tertawan musuh....”
Siau-liong menghela napas lalu kuatkan diri melanjutkan
berkata, “Memang, saat ini aku sudah hampir mati. Hanya
dendam penasaran yang terkandung dalam kematianku nanti.

616
Adik Mawar dan lo-cianpwe dapat memaafkan diriku atau
tidak, aku pun tak dapat berbuat sua u apa lagi!"
Kerena rasa tegang dan duka, darah dalam tubuh Siauliong
bergolak menyungsang. Dia muntah darah lagi dan
rubuh.
Si dara baju hijau hendak menolongnya tapi tak jadi dan
berpaling ke belakang, "Ibu....”
Randa Bu-san yang tegak disamping, membentaknya;
“Mengapa!"
"Betapapun halnya dia adalah pemuda yang hendak dicari
taci Mawar.... Apalagi dia saat ini sedang menderita luka
parah. Adakah kita sampai hati untuk melihatnya saja?" seru si
dara.
“Manusia yang tipis budi, lupa kasih semacam dia, mati
atau hidup sama saja!" sahut Randa Bu-san.
Tetapi anehnya, ia pelahan-lahan menghampiri Siau-liong.
Lalu berjongkok dan mulai memeriksa keadaan pemuda itu.
Sesaat kemudian ia berbangkit seraya gelengkan kepala,
“Luka keliwat parah sekali. Sudah tak dapat ditolong lagi....!"
“Hai!" si dara menjerit kaget, “tadi saja ia masih dapat
berjalan dan bicara, Mengapa dalam beberapa detik saja
sudah tak dapat ditolong....!"
Randa Bu-san tak menghiraukan kata2 puterinya. Ia
berjongkok lagi memeriksa Siau-liong. Mulutnya mengingau
seorang diri, “Aneh! Urat jantungnya sudah putus dan isi
dadanya sudah berhenti bekerja tetapi mengapa dia belum
mati!"

617
Memang sekalipun menggeletak tak ingat diri, tetapi dada
Siau-liong masih berombak keras. Suatu pertanda bahwa
pernapasannya masih belum berhenti.
Lebih mengherankan lagi ternyata alat pendengarannya
masih tajam. Ia membuka mata memandang Randa Bu-san
dengan pandang mata yang penuh dendam penasaran.
Randa Bu-san menatap tajam, lalu berkata seorang diri
lagi, “Benar, rupanya hatimu masih penasaran sehingga hawa
murni dalam dadamu membeku tak mau cair.... Ai, sayang
denyut urat nadimu sudah tak ada. Betapa pun engkau
hendak paksakan diri tetapi tentu tak dapat tahan lama....!"
Siau-liong membuka mata lebar2, mencurah kemuka
wanita itu. Bibirnya bergerak-gerak tetapi tak dapat
mengeluarkan kata2.
Randa Bu-san berbangkit dan berkata dengan nada heran,
“Benar-benar suatu hal yang belum pernah kusaksikan selama
hidup....”
Wanita itu tegak terlongong-longong.
Sedang si dara baju hijau terkejut. Dalam anggapannya,
ibunya itu seorang wanita yang all round alias tahu segala
apa. Selama ini belum pernah ia melihat ibunya sedemikian
sikapnya, ragu2 dan heran. Apalagi berkali-kali ibunya
mengoceh seorang diri.
Akhirnya tak sabar lagilah dara itu, tanyanya, “Bu,
bagaimanakah keadaannya? Apakah dia benar-benar sudah
tak dapat ditolong lagi?"
Randa Bu-san tertawa getir, “Ibu sendiri pun heran. Dia
tidak seperti manusia biasa.... Menilik lukanya, dia tentu sudah

618
mati. Tetapi dia masih hidup bahkan ingatannya masih terang
sekali!"
Memang saat itu Siau-liong sudah tak dapat bicara. Hanya
matanya yang masih berkilat-kilat bergantian memandang
Randa Bu-san dan si dara baju hijau.
Tiba-tiba dara baju hijau itu berpaling dan berseru. “Bu,
tolonglah dia! Lihatlah, betapa kasihan sekali dia itu....!"
Randa Bu-san mendengus, “Ling, mengapa engkau hari ini?
Mengapa terus mendesak ibu supaya menolong pemuda yang
tak berbudi?"
"Aku memikirkan kepentingan taci Mawar....” kata si dara
lalu tundukkan kepala.
Randa Bu-san menghela napas panjang; “Mungkin ibu akan
berusaha untuk menolongnya. Meskipun belum pasti dapat
menyelamatkannya tetapi akan kucoba juga....”
Sesaat berhenti, ia berkata pula, "Hanya sayang tacimu
Mawar tak berada disini sehingga kita berdua tak berdaya
menolongnya!"
“Mengapa? Apakah taci Mawar yang dapat menolongnya?
Masakan....”
Tiba-tiba wajah wanita itu mengerut bengis dan
membentaknya, “Jangan banyak tanya, mari kita pergi!"
Sudah tentu si dara terkejut melihat sikap ibunya yang
begitu bengis. Belum pernah sebesar itu ia mendengar ibunya
bicara begitu bengis seperti saat itu. Sejenak ia memandang
lagi ke arah Siau-liong lalu cepat2 menyusul ibunya.

619
Baru berjalan dua langkah, ternyata Randa Bu-san
menyadari bahwa sikapnya terhadap anaknya tadi keliwat
bengis. Maka ia menepuk bahu si dara dan berkata dengan
lembut. "Obat mujijat hanya untuk orang yang belum
takdirnya mati. Pintu agama hanya terbuka kepada orang
yang berjodoh. Apabila seseorang sudah ditakdirkan mati,
siapapun tak mungkin dapat menolongnya!"
Dara itu mengangguk kepala tak menyahut. Tetapi diamdiam
ia mencuri kesempatan untuk berpaling ke belakang.
Dilihatnya Siau-liong masih terkulai di tanah.... Sepasang
matanya masih memandang ke arahnya. Dari sinar rembulan
jelas dara itu dapat melihat, betapa putus asa hati Siau-liong
yang dipancarkan dari pandang matanya itu....
Tak terasa hidung dara itu basah dan matanya bercucuran
air mata....
Sesaat kemudian ia terkejut sendiri. Ia merasa heran
mengapa sampai kehilangan peribadi. Mengapa ia harus
mencucurkan air mata untuk pemuda itu, Bukankah ia tak
mempunyai hubungan apa2!
Dengan kuatkan hati dara itu segera menyusul ibunya.
Tetapi entah bagaimana, beberapa saat kemudian, hatinya
kembali terasa pepat. Seolah-olah tertindih oleh sebuah batu
besar. Tak tahu ia, apa sebabnya. Makin keras hendak
melupakan makin keras ia teringat lagi....
Tiba-tiba ia terkejut karena bahunya ditepuk oleh ibunya.
Ternyata Randa Bu-san melesat keluar dari balik sebuah batu
besar dan menepuk bahu puterinya.
Dan habis menepuk Randa Bu-san terus loncat ke balik
sebuah batu. Dara itupun cepat2 menyusul ibunya.

620
"Ada orang disebelah sana....” bisik Randa Bu-san. Dan
menurut arah yang ditunjuk ibunya. si dara memang melihat
sesosok bayangan sedang menyusur tepi sungai berjalan ke
arah tempat mereka.
Tetapi orang itu masih berada pada jarak dua tombak lebih
jauhnya.
Orang itu berjalan pelahan sekali sehingga beberapa waktu
kemudian baru tiba didekat tempat Randa Bu-san dan
puterinya bersembunyi.
Makin dekat makin jelaslah perwujutan orang itu.
Rambutnya terurai kusut masai. Pakaiannya berlumuran debu
dan lumpur. Rupanya sudah beberapa hari tak dandan.
Sepasang matanyd berkeliaran memandang kekanan kiri dan
berjalan dengan langkah amat pelahan. Sepintas pandang
ditengah hutan belantara pada malam yang sunyi, orang itu
mirip dengan sesosok hantu yang keluar dari kuburan.
Tiba-tiba Randa Bu-san memungut sebutir batu lalu
dilemparkan ketempat Siau-liong berbaring. Batu itu tepat
jatuh dionggok batu yang terletak disamping Siau-liong.
Sekalipun tak keras, tetapi karena malam sunyi sekali, batu itu
pun mengeluarkan bunyi yang cukup terdengar jelas.
Orang yang datang itu yang ternyata seorang gadis,
terkejut dan serentak berhenti lalu pasang telinga. Dengan
seksama ia memandang ke arah bunyi batu jatuh tadi.
Tetapi karena tubuh Siau-liong kebetulan teraling oleh
tumpukan batu, maka ia tak dapat melihatnya. Setelah
tertegun beberapa jenak, barulah ia melangkah ketempat
onggok batu itu.

621
Ketika si dara baju hijau mencuri lihat, dilihatnya gadis
yang tak keruan keadaannya itu ternyata memiliki raut wajah
yang cantik sekali. Rambul kusut masai, pakaian kotor, hanya
seperti tebaran awan yang menutup sang rembulan. Dibalik
awan itu merupakan Dewi Rembulan yang cantik gilang
gemilang. Demikian dengan keadaan nona itu.
Rupanya gadis itu mengetahui tubuh Siau-liong. Ia
berjongkok memeriksanya dan seketika menjeritlah ia, “Siauliong!
Oh, Siau-liong....”
Ratap tangis berhamburan tersedu-sedu.
Melihat itu wajah Randa Bu-san berseri girang, bisiknya,
“Mungkin dia memang belum ditakdirkan mati....”
Cepat ia menarik tangan puterinya lalu diajak menghampiri.
Karena terbenam dalam kesedihan besar, rupanya gadis itu
tak mengetahui kedatangan kedua ibu dan anak.
“Apakah dia sudah mati?" tiba-tiba Randa Bu-san menegur.
Nona itu tersentak kaget seraya cepat2 berbalik diri. Tetapi
rupanya ia tercengkam dalam kedukaan, Habis melihat Randa
Bu-san dan si dara baju hijau, ia kembali berputar tubuh lagi
dan menangisi Siau-liong.
“Siau-liong, mengapa engkau mati begini mengenaskan
sekali....”
Dara baju hijau terkejut. Cepat ia mengawasi Siau-liong.
Tampak sepasang mata pemuda itu menutup rapat seperti
orang mati.
“Hai, apakah engkau tak mendengar pertanyaan ibuku?"
bentaknya.

622
Nona berhenti menangis lalu berputar tubuh, serunya;
“Mungkin sudah tak dapat ditolong lagi!"
“Asal dia masih bernapas, ibuku tentu dapat menolong!"
sahut si dara.
Nona itu tertegun lalu cepat2 menempelkan jarinya kemulut
Siau-liong. Setelah itu ia ber-lutut dihadapan Randa Bu-san
seraya meratap, “Dia masih hidup, harap lo-cianpwe suka
menolongnya....!"
Randa Bu-san menghela napas. Ia berjongkok
memeriksanya. Kaki dan tangan Siau-liong sudah kaku,
matanya menutup rapat. Hanya tinggal napasnya yang masih
kedengaran lemah.
Randa Bu-san berbangkit lagi, katanya, “Hawa murni yang
berkumpul dibagian jantungnya sudah mulai memencar.
Mungkin sukar ditolong lagi!"
Nona itu menangis makin keras seraya meratap-ratap, “Locianpwe,
tolonglah.... tolonglah dia....”
Randa Bu-san merenung. Tiba-tiba ia menutuk tiga buah
jalan darah didada Siau-liong. Siau-liong tak membuat reaksi
suatu apa. keadaannya seperti orang mati. Setelah ditutuk
jalan darahnya oleh Randa Bu-san, napas Siau-liong malah
berhenti sama sekali.
Nona itu terkejut dan tertegun lalu tiba-tiba menangis
gerung2. "Dia sudah mati! Engkaulah yang mencelakainya!"
Dengan kalap gadis itu terus menyerang Randa Bu-san.
Wanita itu mendengus dingin seraya mencengkeram siku

623
lengan kanan gadis itu. Sekali pijat, gadis itu tegak seperti
patung. Separoh tubuh kesemutan.
Randa Bu-san menatap gadis itu dengan pandang kasihan
lalu lepaskan cekalannya, “Denyut keenam inderanya sudah
tiada, hawa dalam darahnya sudah kering. Jika hawa murni
dalam jantung pun buyar, sekali pun dewa turun dan langit,
juga sukar menolongnya lagi. Kututuk jalan darahnya untuk
menutup hawanya agar dia masih dapat bertahan dua jam
lagi....”
Berhenti sejenak ia melanjutkan; “Menilik keadaan lukanya,
dia pasti mati. Sekali pun akan kucoba mengusahakan tetapi
aku tak yakin dapat menolongnya!"
Mendengar penjelasan Randa Bu-san, gadis itu serta-merta
terus berlutut....
Diam-diam si dara baju hijau girang karena ternyata ibunya
sudah meluluskan untuk menolong, Ia menghela napas lalu
mundur kesamping memandang gadis yang tak dikenal itu.
Randa Bu-san mengangkat bangun gadis itu; “Apakah
hubunganmu dengan dia? Mengapa engkau menangis begitu
sedih?"-tanyanya.
“Aku dan dia.... dia pernah menolong jiwaku, aku....”
Randa Bu-san menghela napas, “Budi dan Cinta bercampur
jadi satu. Engkau dan dia memang sukar terhindar dari
hubungan Asmara, ketahuilah....”
Dipandangannya wajah gadis itu lekat2, lalu Randa Bu-san
melanjutkan pula. “Ketahuilah, dia bukan seorang pemuda
yang hanya mencintai seorang gadis saja. Engkau sukar
terangkap jodohnya dengan dia!"

624
Namun gadis itu tanpa ragu2 berseru; “Tak peduli dia
memperlakukan diriku bagaimana, aku tetap akan membalas
budinya!"
Berkata Randa Bu-san dengan serius, “Kalau engkau
berkorban dan dia selamat, apakah engkau bersedia?"
Tanpa bersangsi. gadis itu mengangguk, “Aku bersedia!"
"Karena engkau rela berkorban aku pun akan berusaha
sungguh2....” kata Randa Bu-san lalu menunjuk Siau-liong dan
berkata, “Angkatlah tubuhnya pelahan-lahan!"
Tanpa banyak bertanya, gadis itu segera melakukan
perintah Randa Bu-san. Tubuh Siau-liong telentang lurus di
atas kedua lengannya, Setelah itu Randa Bu-san lalu suruh
sigadis mengangkut Siau-liong dan ikut ia pulang.
Ditengah jalan bertanialah si dara baju hijau nama gadis
itu.
“Aku bernama Tiau Bok-kun....” gadis itu menerangkan.
Kedua pipinya tampak merah, ujarnya lebih lanjut, “Ah, aku
memang linglung sekali sehingga belum bertanya nama locianpwe
dan taci....”
“Namaku Song Ling....” dara baju hijau itu menjawab," dan
beliau adalah ibuku....” -habis berkata dara itu membisiki
kedekat telinga Tiau Bok-kun, “Asal ibu sudah meluluskan
mengobatinya, dia tentu sembuh. Jangan kuatirlah!"
Tiau Bok-kun memandang dara itu. Dua butir air mata
menitik turun....

625
Si dara baju hijau atau Song Ling tak dapat merangkai
kata2 untuk menghibur. Maka dalam berjalan itu ia diam saja.
Dalam pada itu karena kuatir Siau-liong akan tergoncang
tubuhnya maka Randa Bu-san sengaja berjalan pelahan-lahan.
Kira2 sepertanak nasi lamanya barulah mereka tiba dipondok
gunung Bu-san.
Saat itu sudah malam. Rembulan tertutup awan sehingga
menimbulkan suasana yang rawan. Randa Bu-san suruh Tiau
Bok-kun letakkan tubuh Siau-liong di atas balai2 bambu.
Wanita itu cepat masuk ke dalam kamarnya dan tak lama
keluar membawa baskom air panas berisi daun2 obat. Air
brrwarna merah darah.
Baskom itu diserahkan kepada Tiau Bok-kun beserta
sebuah kain putih. Tiba-tiba Randa Bu-san membentak Song
Ling, “Bukan urusanmu, lekas keluar!"
Song Ling tertegun. Terpaksa ia melangkah keluar. Setelah
itu Randa Bu-san mengambil kursi dan duduk membelakangi
balai2 tempat Siau -liong.
"Tiau Bok-kun, karena engkau sudah ber-sungguh2
menolongnya, engkau harus menurut petunjukku!"
Tiau Bok-kun mengiakan.
“Kalau begitu lekas engkau lucuti pakaiannya!"
Tiau Bok-kun meragu. Sampai beberapa jenak ia diam saja.
Tetapi karena ia sudah mengatakan hendak mengorbankan
diri demi menolong jiwa Siau-liong, masakan disuruh begitu
saja ia sudah mogok? Apalagi.... Tanpa banyak pikir lagi, ia
segera membuka pakaian Siau-liong yang berlumuran darah
dan debu itu.

626
“Benamkan kain ke dalam air lalu bersihkan kaki dan
tangannya!" kembali Randa Bu-san memberi perintah.
“Kemudian Randa Bu-san mengeluarkan sebuah bungkusan
sutera. Ternyata berisi 12 batang jarum perak. Lalu
dipanggilnya Tiau Bok-kun, “Hendak kulakukan pengobatan
tusuk jarum untuk menghalau darah kental yang mengeram
dalam kelima inderanya. Tetapi aku tak leluasa mengerjakan
sendiri. Engkau harus melakukan petunjukku!"
Ia menyerahkan bungkusan jarum kepada nona itu. Tiau
Bok-kun bingung, “Tetapi aku tak mengerti ilmu tusuk jarum,
jika....”
“Tak apa, asal dapat mengenal letak jalan darah dengan
tepat, tentu tiada berbahaya....”
Belum sempat Tiau Bok-kun menjawab. Randa Bu-san
sudah berkata lagi; “Pertama kali, tusuklah jalan darah Thantiong
didadanya!"
Tiau Bok-kun tak berani berayal terus menghampiri ke
balai2 tempat Siau-liong.
“Tusuk sampai 3 dim dalamnya!" seru Randa Bu-san pula.
Dengan menindas tangannya yang gemetar, setelah
menentukan letak jalan darah, akhirnya Tiau Bok-kun
memberanikan diri menusuk jarum itu.
Saat itu Randa Bu-san tetap duduk membelakangi. Tetapi
rupanya ia seperti melihat apa yang dilakukan Tiau Bok-kun.
Kembali ia memberi perintah pelahan-lahan, “Yang kedua,
tusuk jalan darah Tiong-kek-hiat dibawah pusarnya, sampai
berdarah....”

627
Tiau Bok-kun pun melakukan perintah itu.
“Yang ketiga, tusuklah jalan darah Beng-bun di belakang
pusar.... Yang keempat, jalan darah Ci-tong-hiat pada ketiak
kanannya."
Demikianlah dibawah petunjuk Randa Bu-san, Tiau Bok-kun
telah melakukan pengobatan tusuk jarum pada tubuh Siauliong.
Lebih kurang sepertanak nasi lamanya, barulah pengobatan
itu selesai. Kepala Tiau Bok-kun basah kuyup dengan keringat.
Tetapi ia dapatkan napas Siau-liong mulai agak keras, kaki
dan tangannya pun tidak kaku lagi. Seri wajahnya mulai agak
merah. Diam-diam nona itu girang dan cepat menghaturkan
terima kasih kepada Randa Bu-san.
Tetapi Randa Bu-san mengatakan bahwa pengobatan
dengan tusuk jarum itu hanya dapat mencairkan hawa jahat
yang menyumbat peredaran jalan darahnya. Dapatkah hal itu
menyembuhkan Siau-liong, ia masih belum yakin.
Sudah tentu Tiau Bok-kun terkejut karena dugaannya
bahwa Siau-liong sudah sembuh ternyata belum pasti.
“Mengapa tak lekas memakaikan pakaiannya lagi!" bentak
Randa Bu-san. Tiau Bok-kun merah mukanya lalu buru-buru
melakukan perintah.
"Ling -ji!" Randa Busan memanggil puterinya.
Song Ling muncul. Lebih dulu memandang ketempat Siauliong
kemudian baru menghampiri ibunya, Randa Bu-san
suruh dara itu mengambil sebuah cawan perak. Lalu wanita itu

628
mengeluarkan sebuah botol kecil dan menuang sebutir pil
warna hitam diberikan kepada Tiau Bok-kun.
“Inilah pil Penyambung nyawa buatanku sendiri. Tetapi
harus dicampur dengan segelas darah orang baru manjur.
Maukah engkau memberikan darahmu untuknya?"
“Mau....” sahut Tiau Bok-kun.
Saat itu Song Ling muncul dengan membawa cawan perak.
Ternyata cawan itu dua kali besarnya dengan cawan biasa.
Menyambuti cawan itu, Randa Busan lalu menyerahkan
kepada Tiau Bok-kun; "Perlu secawan penuh!"
Setelah menyambuti cawan itu dan diletakkan dimeja,
tanpa bersangsi lagi, Tiau Bok-kun terus mengeluarkan badik
dan membelek urat lengan kirinya. Darah mengucur deras ke
dalam cawan. Tak berapa lama penuhlah cawan itu.
Tiau Bok-kun sudah bertekad hendak menyelamatkan jiwa
Siau-liong. Sekalipun menerjang lautan api, ia tetap akan
melakukan. Tetapi karena darahnya keluar begitu banyak,
kepalanya pun terasa pening mata ber-kunang2. Hampir saja
ia rubuh. Untunglah Song Ling cepat memapah dan membalut
lukanya.
Randa Bu-san menghela napas. Memandang Tiau Bok-kun,
mengambil cawan berisi darah lalu menghampiri ketempat
Siau-liong.
Pemuda itu masih pingsan. Lebih dulu pil hitam tadi
disusupkan ke dalam mulutnya lalu dingangakan dan diminumi
darah....

629
Setelah cawan habis isinya, wanita Bu-san itu menghela
napas, “Aku hanya dapat mengobati sampai disini. Adakah dia
dapat hidup kembali, tergantung pada nasibnya!"
Tiau Bok-kun yang masih pucat wajahnya, tak berkedip
mengawasi air muka Siau-liong Ternyata cepat sekali terjadi
perobahan. Tak berapa lama wajah pemuda itu merah segar
seperti orang sehat lagi. Kaki dan tangannyapun mulai dapat
bergerak.
Girang Tiau Bok-kun bukan kepalang. Serta-merta ia
membisiki telinga anak muda itu, “Siau-liong, Siau-liong....”
"Jangan menganggunya dulu!" bentak Randa Bu-san,
sekalipun dia dapat sembuh tetapi paling tidak dua jam lagi
baru sadar!"
Tetapi serempak dengan kata2 wanita itu sekonyongkonyong
Siau-liong mengerang dan terus menggeliat duduk.
Sudah tentu wanita Bu-san kaget sekali. Cepat ia melesat
kehadapan Siau-liong dan menatapnya seraya berkata seorang
diri, “Sungguh aneh! Benar-benar suatu keajaiban yang baru
pertama kali ini kusaksikan seumur hidup! Mengapa anak
muda ini memiliki tenaga murni yang sedemikian besarnya?"
Siau-liong memandang kian kemari seperti tak mengerti
apa yang telah terjadi pada dirinya. Pelahan-lahan matanya
tertumbuk wajah Tiau Bok-kun, ia berteriak kaget, “Nona Tiau,
engkau....”
Tiau Bok-kun juga terkejut girang. Cepat ia berpaling ke
arah Randa Bu-san, “Terima kasih atas pertolongan locianpwe!"

630
“Locian.... pwe....” seru Siau-liong tersekat. Ia baru saja
sembuh, darahnya masih belum normal. Karena diguncang
oleh rasa kejut dan haru, bergolak lagilah darahnya. Seketika
matanya gelap dan rubuhlah ia kembali.
“Tak jadi apa," cegah Randa Bu-san ketika Tiau Bok-kun
hendak menolong Siau-liong. "tetapi biarpun dia mempunyai
tenaga dalam yang tinggi, setelah menderita luka itu, harus
beristirahat selama sepuluh sampai lima belas hari baru benarbenar
sembuh....”
Kemudian wanita itu berpesan, setelah Siau-liong tersadar,
Tiau Bok-kun supaya membawanya pergi kesebuah tempat
yang sunyi agar dapat beristirahat menyembuhkan lukanya.
Saat itu fajar mulai menyingsing. Randa Bu-san segera ajak
puterinya untuk beristirahat. Setelah kedua ibu dan puteri itu
keluar, Tiau Bok-kun menghela napas panjang. Dilihatnya saat
itu Siau-liong masih tidur pulas, Terkenang akan
pengalamannya selama beberapa hari ini. Selama berhari-hari
itu ia terus menerus mencari Siau-liong. Dan ketika
diterowongan Lembah Maut ia berjumpa dengan Pendekar
Laknat yang terluka. Ia kira Siau-liong tentu sudah menuju
keseberang laut. Tetapi ketika masuk kekota Siok-ciu, ia
mendengar berita bahwa Siau-liong terjebak dalam Lembah
Maut. Maka ia nekad menuju ke Lembah Semi lagi untuk
mencari pemuda itu.
Kini akhirnya ia dapat berjumpa dengan pemuda yang
dikenang siang dan malam itu. Ia merasa telah berhutang jiwa
kepada pemuda itu. Disamping itu ia masih mempunyai suatu
perasaan yang sukar diutarakan terhadap pemuda itu.
Tiba-tiba teringatlah ia akan peristiwa tadi. Demi
kepentingan pengobatan tusuk jarum ia diperintah Randa Busan
untuk membuka pakaian Siau-liong. Seketika merahlah

631
wajah nona itu. Diam-diam ia berjanji untuk membujuk Siauliong
agar mau diajak mencari tempat yang sunyi supaya
lukanya sembuh sama sekali.
Benak nona itu melalu lalang dengan lamunan yang indah.
Karena semalam suntuk tak tidur tanpa terasa iapun jatuh
pulas. Letih dan kantuk melelapkan nona itu dalam ketiduran
yang panjang. Ketika sadar ternyata hari sudah malam. Ia
tidur sehari penuh.
Kamar masih gelap belum ada penerangannya Diluar
pondok, angin membawa deru hujan. Pelahan-lahan ia turun
dari pembaringan. Diruang pondok sunyi senyap. Nyonya
rumah dan si dara baju hijau tak kedengaran suaranya.
“Nona Tiau....” tiba-tiba terdengar orang memanggilnya.
Nona itu terkejut dan berpaling, “Ah, engkau sudah
bangun?"
“Nona Tiau, ah, membikin susah padamu....” Siau-liong
tertawa rawan.
Seketika meluaplah rasa haru nona itu. Tak tahu
bagaimana ia harus bicara. Air matanya berderai-derai turun
membasahi kedua pipinya.
Siau-liong menghela napas panjang dan pelahan-lahan
duduk. Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Song Ling
dengan membawa lilin. Dara itu tersenyum. Ia terkejut heran
ketika melihat Siau-liong duduk.
"Eh, engkau sudah sembuh?" tanyanya seraya meletakkan
lilin di atas meja terus lari keluar.

632
Tak berapa lama Randa Bu-san pun masuk. Song Ling
sibuk membawa hidangan dan teh. Siau-liong seperti orang
bermimpi. Dengan dipapah Tiau Bok-kun ia turun dari
pembaringan lalu menghaturkan terima kasih kepada nyonya
rumah dan puterinya.
Entah bagaimana tampak dara baju hijau itu tertegun
seperti orang yang kehilangan semangat. Mata memandang
Siau-liong tak berkedip.
Dengan wajah dingin dan nada tegas, Randa Bu-san
berkata, “Yang menolongmu sesungguhnya bukan aku
melainkan nona ini....” -ia menunjuk Tiau Bok-kun, "jika tiada
nona itu, sekali pun engkau mempunyai jiwa rangkap dua
lembar, tetap habis tentu riwayatmu!"
Tiba-tiba Siau-liong teringat kalau wanita itu menyesalinya
karena melepaskan Mawar Putih jatuh ketangan Soh-beng Kisu.
Ia merasa malu dan tak berani bicara apa2 lagi. Untunglah
Randa Bu-san tak mengungkat soal itu lagi. Demikian mereka
berempat segera makan malam bersama.
Setelah makan bubur, semangat Siau-liong makin segar. Ia
teringat sudah tiga kali itu datang kepondok Randa Bu-san.
Pertama dengan membawa Mawar Putih yang terluka. Kedua
kali dalam penyamarannya sebagai Pendekar Laknat ia telah
bertempur dengan si dara baju hijau hingga menderita luka
parah lalu dibawa Mawar Putih kepondok situ. Untunglah ia
telah dibawa lari oleh gurunya. Tabib-sakti-jenggot-naga
Kongsun Sin-tho.
Dan kali ini adalah yang ketiga kalinya ia berkunjung kesitu
dengan membawa luka yang hampir saja merenggut jiwanya.
Teringat akan peristiwa itu, diam-diam Siau-liong termenung.

633
Si dara baju hijau yang masih makan, beberapa kali
lepaskan lirikan ke arah pemuda itu. Tetapi tiap kali bertemu
pandang dengan mata Siau-liong, cepat2 dara itu alihkan
pandangan matanya kelain arah.
Rupanya Randa Bu-san mengetahui juga tingkah laku
puterinya itu. Ia deliki Song Ling dengan mata membengis.
Setelah selesai makan, ia berkata kepada Siau-liong dan Tiau
Bok-kun.
"Saat ini dunia persilatan sedang diamuk kekacauan dari
kedua suami isteri durjana. Memang bintang Iblis-penaklukdunia
dan Dewi Neraka serta gerombolannya itu, masih
terang. Kita tak dapat melawan kehendak alam. Pondok ini
dekat dengan Lembah Semi, kurasa kurang tepat kalau kalian
beristirahat disini. Setiap saat kedua durjana itu dapat
mengirim orang untuk menyelidiki. Sekarang sudah malam
dan hujan pun terus menerus mencurah deras. Baiklah kalian
beristirahat semalam lagi. Besok pagi kalian boleh mencari lain
tempat untuk menyembunyikan diri dari gangguan mereka!"
Siau-liong dan Tiau Bok-kun serempak berbangkit. Tetapi
ketika mereka hendak membuka mulut, tiba-tiba wajah wanita
itu berobah. jarinya menutuk kening seperti orang yang
sedang memikir sesuatu.
Siau-liong terpaksa tak berani bicara dan menunggu.
Beberapa jenak kemudian, mata wanita itu berkilat-kilat.
Tiba-tiba ia menampar meja dan serentak berdiri.
“Bu, mengapa engkau?" teriak Song Ling heran.
Sambil memegang dahi, wanita itu berjalan beberapa
langkah sembari berkata seorang diri, “Aneh, mengapa tibatiba
hatiku terasa tak tenteram....”

634
Tiba-tiba ia berhenti lalu menyuruh Song Ling
mengambilkan alat hitungan. Dara itu cepat keluar dan cepat
kembali membawa seperangkat alat-alat yang terdiri dari
ember kayu, beberapa helai kulit kura, tulang ikan, kulit
kerang dan lain-lain.
Randa Bu-san segera memasukan benda2 itu ke dalam dua
buah mangkuk kayu lalu digoyang-goyangkan beberapa jenak
Setelah itu diambil dan dijajar di atas meja. Tingkahnya tak
ubah seperti seorang anak kecil yang sedang bermain-main.
Wajah wanita sakti itu sebentar merah sebentar pucat dan
akhirnya mengucurkan keringat. Beberapa saat kemudian ia
menghela napas lalu berbangkit.
“Alat Ka-kut-sin-go ini tak pernah melesat dalam
memperbitungkan sesuatu, Dalam perhitungan tadi, ternyata
memberi gambaran jelek, Dalam pondok ini segera akan
terjadi peristiwa hebat yang tak baik....” -ia berhenti sejenak
lalu melanjutkan, “Sebenarnya akan kusuruh kalian tinggal lagi
semalam disini. Tetapi mengingat bahaya itu, lebih baik kalian
sekarang juga tinggalkan pondok ini!"
Saat itu diluar hujan masih turun dengan deras. Dinginnya
menggigit tulang. Melirik ke arah Siau-liong yang baru
sembuh, diam-diam Tiau Bok-kun gelisah.... ”Terpaksa harus
begitu, tiada jalan lain lagi....” kembali Randa Busan
mendesak.
Kemudian wanita itu menyuruh Song Ling mengemasi
bungkusan persediaan obat, “Kita juga harus pergi sekarang
juga.
Song Ling cepat melakukan perintah ibunya.

635
Siau-liong tak begitu percaya akan segala perhitungan atau
ramalan. Bermula ia duga wanita itu tentu mencari alasan saja
agar dapat menyuruh pergi. Tetapi alangkah kejutnya ketika
mendengar wanita itu juga akan pergi dari rumahnya. Barulah
Siau-liong mulai menaruh kepercayaan.
Song Ling muncul dengan membawa kantong obat-obatan
dan buntelan pakaian. Dengan wajah cemas ia berkata, “Bu,
sudah kukemas semua. mari kita berangkat!"
Dara itu memang percaya penuh kepada ibunya. Ia agak
gugup juga karena mengira bahaya itu akan segera tiba.
Siau-liong pun segera teringat akan buntelannya yang
berisi pakaian Pendekar Laknat. Untunglah karena Tiau Bokkun
sibuk menolong dirinya, tak sempat membuka buntelan
itu.
Saat itu Randa Bu-san dan Song Ling sudah tiba diambang
pintu. Melihat Siau-liong dan Tiau Bok-kun masih berada
dalam ruangan, wanita itu cepat berseru memberi peringatan,
“Selama hidup aku tak suka merangkai keterangan yang
membohongi orang supaya takut. Jika tak lekas pergi, jangan
menyesal!"
Juga Song Ling ikut memberi peringatan, “Petangan ibu tak
pernah meleset. Taci Tiau, lebih baik kalian lekas pergi!"
Dalam pada berkata itu, ibu dan puteri sudah berada diluar
pintu. Begitu pintu terbuka, serangkum angin dingin meniup
masuk. Siau-liong dan Tiau Bok-kun menggigil.
“Ah, karena lo-cianpwe itu mengatakan dengan begitu
sungguh2, tentulah ada sebabnya. Marilah kita lekas
tinggalkan pondok ini," kata Siau-liong.

636
Tetapi melihat badai hujan diluar, Tiau Bok-kun berkata,
“Apakah engkau kuat bertahan?"
Siau-liong tersenyum. Baru ia hendak menjawab tiba-tiba
dari jauh terdengar suara orang tertawa nyaring.
Siau-liong dan Tiau Bok-kun tersentak kaget. Sekalipun
dalam deru badai hujan yang hebat, tertawa itu masih
terdengar jelas. Dan Siau-liong tak asing lagi bahwa tertawa
itu adalah nada suara Iblis-penakluk-dunia!
Menyusul terdengar lengking suara tajam.... Tetapi karena
gemuruh badai, lengking suara itu pun tak terdengar jelas.
“Wanita Bu-san memang tepat sekali perhitungannya.
Tetapi dia sendiri tentu tak keburu menyingkir dan pasti akan
kesompokan dengan Iblis-penakluk-dunia. Demi membalas
budinya, aku takkan berpeluk tangan tak mempedulikan....”
Sambil berkata Siau-liong terus melangkah keluar. Lukanya
baru saja sembuh. Terdampar oleh angin keras dan hawa
dingin, tubuhnya terhuyung-huyung mau rubuh. Tetapi ia
kuatkan diri menuju ke arah suara orang itu.
Tiau Bok-kun cepat lari untuk memapahnya.
“Andai kata benar wanita Bu-san tadi bertempur dengan
suami isteri Iblis-penakluk-dunia, engkau pun tak dapat
membantunya. Ah, lebih baik....”
"Aku bekerja untuk melapangkan ketenteraman hati," kata
Siau-liong, "aku....” - ia menghela napas dan lanjutkan
langkah kemuka.
Diam-diam Siau-liong menimang. Kedatangan Iblispenakluk-
dunia bersama isteri pada malam hujan deras dan

637
menerobos kepungan rombongan orang gagah itu, tentu
penting. Kalau tidak hendak mencari Randa Bu-san dan
puterinya tentulah sudah mencium jejaknya (Siau-liong).
Menurut ukuran kepandaiannya, kedua suami isteri durjana
itu tak menang dari Randa Bu-san yang memiliki tenaga sakti
Ya-li-sin-kang. Tetapi karena ternyata kedua suami isteri iblis
itu berani datang kepondok wanita Bu-san, tentulah mereka
sudah siap dengan rencana hebat.
Teringat akan tokoh2 Jong Leng lojin, Lam-hay Si-ni, Naga
Terkutuk, Harimau Iblis dan It Hang totiang yang telah
dikuasahai Iblis-penakluk-dunia, diam-diam menggigillah hati
Siau-liong.
Tiau Bok-kun menyadari bahwa percuma saja menasehati
pemuda itu. Ia tahu pula bahwa Randa Bu-san dan puterinya
itu juga sehaluan dan seperjuangan dengan Siau-liong dalam
usahanya menentang Iblis penakluk-dunia. Maka ia pun tak
bersangsi lagi mengikuti langkah Siau-liong.
Siau-liong menggamit tangan nona itu dan menunjuk
kemuka. Menurut arah yang ditunjuk pemuda itu. Tiau Bokkun
melihat pada jarak beberapa tombak jauhnya, tampak
Randa Bu-san berdua dengan puterinya tengah berdiri
berhadapan dengan dua orang tinggi pendek mengenakan
pakaian serba hitam. Di belakang kedua orang baju hitam itu
tegak kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia dan Dewi
Neraka.
Diam-diam menggigillah perasaan Siau-liong. Ia tahu
bahwa kedua orang berpakaian serba hitam itu adalah Lamhay
Sin-ni dan Jong Leng lojin.

638
Terdengar Randa Bu-san berkata dengan nada dingin,
“Adakah kedatangan saudara berdua pada malam hujan deras
ini karena hendak mencari aku?"
Iblis-penakluk-dunia tertawa; “Benar! Rupanya kedatangan
kami berdua tepat sekali. Jika terlambat sedikit saja, mungkin
sukar mencari kalian berdua ibu dan anak'"
“Dengan maksud apa kalian hendak mencari aku." bentak
Randa Bu-san murka.
Iblis-penakluk-dunia tertawa iblis, “Tempat ini tak layak
buat bicara. Harap ikut kami ke dalam Lembah Semi untuk
berunding!"
Randa Bu-san mendengus: ,,Aku tak suka campur urusan
dunia persilatan. Oleh karena itu aku cukup bersabar terhadap
gerak gerik kalian. Apakah kalian kira aku tak tahu tipu
muslihat yang sedang kalian rancang itu?"
Dengan masih tetap tertawa Iblis-penakluk-dunia
menyahut; “Jika kalian tak mau mencampuri urusan dunia
persilatan, mengapa dari gunung Bu-san yang begitu jauh,
kalian datang kemari?" Ditatapnya wanita itu tajam2, lalu
melanjutkan kata-kata pula, "Kedatangan nyonya kemari
bukan aku tak tahu maksudnya. Adalah demi soal itu maka
kuundang nyonya datang ke Lembah Semi untuk berunding,"
“Bu, tak perlu menghiraukannya! Mari kita pergi!" Song
Ling menyelutuk. Diam-diam dara baju hijau itu memang agak
jeri menyaksikan kedua orang bepakaian serba hitam yang
karena tertimpa air hujan, wajahnya makin seram.
Iblis-penakluk-dunia tertawa, “Ah, sudah terlambat kalau
sekarang kalian hendak pergi....”

639
Dia terus mengeluarkan cambuk terus disabatkan ke udara
seraya maju selangkah kehadapan Randa Bu-san bentaknya,
“Ilmu sakti Thian-kong-sin-kang sudah muncul di dunia lagi!
Dergan begitu terpaksa aku harus mengadakan banyak
perobahan dalam rencanaku. Paling tidak, ilmu sakti yang
empat buah itu tak boleh lolos dari tanganku!"'
Mendengar getar cambuk Iblis-penakluk-dunia tadi mata
Jong Leng lojiu dan Lam -hay Sin-ni berapi-api memberingas.
“Jahanam! Jangan banyak tingkah!" damprat Randa Busan,
seraya lontarkan sebuah hantaman ke arah Iblispenakluk-
dunia. Tampaknya pelahan dan lemah tetapi pada
hakekatnya pukulan itu mengandung tenaga sakti yang
mampu menghancurkan batu karang.
Baru pertama kali itu Iblis-penakluk-dunia menghadapi ilmu
pukulan sakti Ya-li-sin-kang. Tetapi karena dia amat licin dan
banyak pengalaman begitu merasa kedahsyatan pukulan
wanita itu, ia terkejut dan cepat2 loncat mundur.
Tetapi betapapun cepat ia menghindar tetap tubuhnya
terdampar angin dari pukulan itu. Seketika separoh tubuhnya
terasa kesemutan nyeri sekali. Dengan berjumpalitan sampai
dua kali, barulah ia terhindar dari deru angin maut.
Dengan menyeringai kucing. iblis itu merangkap bangun.
Dipandangnya Randa Bu-san dengan geram sekali. Ia tertawa
menyeringai lalu ayunkan cambuk ke arah kedua orang baju
hitam itu, bentaknya, “Lekas ringkus wanita baju hitam itu
kalau tidak kalian tentu kuhukum mati!"
Orang berpakaian serba hitam yang berperawakan lebih
tinggi maju lebih dulu, Dengan mengangkat kedua tangan dan
merentang sepuluh jarinya ia terus menerjang Randa Bu-san.

640
“Tolol, apakah kamu sudah gila benar!" bentak Randa Busan,
seraya songsongkan kedua tangan menyambut serangan
Lam-hay Sin-ni.
Lam-hay Sin-ni sudah hilang kesadaran pikirannya. Dia
sudah dapat dikuasai seluruhnya oleh Iblis-penakluk-dunia.
Sama sekali Sin-ni itu tak menghiraukan segala bahaya.
Tambahan pula karena Ya-li-sin-kang dari Randa Bu-san itu
bersifat lembut. Maka sekali maju Sin-ni tetap menerjang!
Tetapi sesaat kemudian sekonyong-konyong Sin-ni seperti
membentur suatu dinding karet yang kokoh dan kuat sekali
daya membaliknya. Ketika Sin-ni hanya tinggal beberapa
langkah dari Randa Bu-san, tiba-tiba ia mental dan terlempar
ke belakang sampai setombak lebih jauhnya....
Setelah dapat mengundurkan Lam-hay Sin-ni Randa Bu-san
cepat mengajak puterinya, “Petangan memberitahukan
bahaya. Hayo, kita lanjutkan perjalanan!"
Bagaikan dua ekor burung rajawali, kedua ibu dan anak itu
loncat lari kemuka. Tetapi baru dua tombak jauhnya,
terdengarlah cambuk Iblis-penakluk-dunia menggeletar di
udara. Sesosok tubuh kecil kurus melambung ke udara dan
melayang turun mencegat kedua ibu dan anak. Dan tanpa
berkata suatu apa, orang itu terus menghantam.
Penyerang itu bukan lain adalah Jong Leng lojin, pemilik
ilmu sakti Jit-hoa-sin-kang, salah sebuah dari lima tenaga-sakti
dalam dunia.
Randa Bu-san berhenti dan menyongsongnya.
Ilmu tenaga sakti Jit-hoa-sin-kang dari Jong Leng lojin itu
serupa jenisnya dengan ilmu Ya-li-sin-kang dari Randa Bu-san.

641
Kedua-duanya bersifat lembut dan tak mengeluarkan deru
suara apa2.
Ketika kedua tenaga sakti itu saling berbentur, keduanya
sama2 terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Dan
menyusul terdengarlah letupan keras diserempaki dengan
pasir dan debu seluas satu tombak sama berhamburan seperti
dilanda angin puyuh.
Randa Bu-san tak berminat untuk bertempur. Ia segera
mengajak puterinya lari. Tetapi justeru karena perhatiannya
terbagi untuk puterinya, gerak tubuhnya agak lamban sedikit.
Pada saat ia hendak loncat, serangkum angin dahsyat
mendampar punggungnya.
Wanita sakti itu mengeluh. Terpaksa ia miringkan tubuh
sambil berputar setengah lingkaran. Setelah menghindar
serangan Lam-hay Sin-ni, Randa Bu-san tutukkan jarinya
kelambung Sin-ni sambil berseru kepada Song Ling; “Ling,
lekas lari sendiri dan cepat tinggalkan tempat ini!"
Dari ucapan itu, rupanya Randa Bu-san sudah mengetahui
apa yang bakal terjadi ditempat itu.
Sudah tentu Song Ling tak mau, bahkan melihat ibunya
dikerubut dua orang, dia melengking nyaring dan terus
menyerang Jong Leng lojin.
Randa Bu-san gugup sekali, serunya; “Ling, apakah engkau
tak mau hidup!"
Sambil berseru, Randa Bu-san lontarkan tiga kali pukulan
kepada Jong Leng lojin.
“Turut perintah mamah dan lekas lari!" bentak Randa Busan
kepada puterinya pula.

642
Sekalipun kesadaran pikirannya lenyap tetapi naluri Jong
Leng lojin masih tajam. Dia cepat mengetahui kalau dirinya
diserang dari belakang oleh si dara. Tetapi karena saat itu ia
sedang dicecar tiga buah pukulan oleh Randa Bu-san, maka ia
tak sempat berputar tubuh melayani Song Ling.
Dua buah pukulan dara itu berhasil mendarat dipunggung
Jong Leng lojin. Betapapun tingginya kepandaian orang tua
itu, namun si dara sudah mendapat pelajaran dasar ilmu sakti
Ya-li-sin-kang dari ibunya. Pernah menjajal kekuatan dengan
Pendekar Laknat dan berakhir dua-duanya sama menderita
luka parah.
Dua buah pukulan yang dilancarkan Song Ling itu
diperuntukkan menolong ibunya. Sudah tentu dilambari
dengan tenaga penuh. Tetapi bukan kepalang kejutnya ketika
pukulan tenaga sakti itu tak mengakibatkan suatu apa pada
Jong Leng lojin. Tenaga sakti dara itu seolah-olah lenyap
terhapus oleh tenaga sakti yang dipancarkan Jong Leng lojin
untuk melindungi tubuhnya.
Seruan kedua kalinya dari Randa Bu-san, tetap tak
diacuhkan Song Ling. Betapapun halnya tak mungkin ia mau
meninggalkan ibunya yang sedang terancam bahaya itu.
Maka walaupun pukulannya kepada Jong Leng lojin tadi tak
berhasil, dara itu tetap kalap menyerang kalang kabut pada
Jong Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni.
Dalam kelima jenis tenaga sakti yang merajai dunia
persilatan, hanyalah ilmu sakti Thian-kong-sin-kang yang
paling unggul. Keempat ilmu yang lainnya boleh dikata
berimbang kesaktiannya.

643
Dikerubut dua oleh lawan yang memiliki kesaktian
berimbang dengan dirinya, Randa Bu-san agak kuatir. Apalagi
ia masih harus memperhatikan puterinya. Karena konsentrasi
pikirannya terganggu, wanita itu menjadi sibuk dan agak
kacau sehingga terdesak oleh lawan.
Melihat keadaan ibu dan anak itu dalam bahaya, Siau-liong
sibuk bukan main. Akhirnya ia menghela napas dan berkata
kepada Tiau Bok-kun; “Harap nona tetap bersembunyi disini.
Jangan gegabah ikut campur. Ketahuilah. ketiga tokoh yang
bertempur itu merupakan tokoh sakti dalam dunia persilatan
dewasa ini....”
Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Jika sampai terjadi
sesuatu, harap nona lolos menyelamatkan diri!"
Tiau Bok-kun terbelalak, “Lukamu baru sembuh,
bagaimana....” -tetapi belum sempat ia menyelesaikan katakatanya,
Siau-liong sudah melayang ketempat kedua suami
isteri Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka dan
menyerangnya.
Pada saat itu kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia
tengah gembira ria karena melihat Randa Bu-san sudah mulai
payah. Tetapi betapa kejut mereka ketika tahu2 melihat
sesosok tubuh melayang turun dari udara dan menyerangnya!
Oleh karena baru saja sembuh, pada saat Siau-liong
membuat gerakan melayang ke udara itu, darahnya terasa
bergolak keras, kepala berkunang-kunang dan hampir tak
dapat berdiri tegak di tanah. Ia menggunakan kesempatan
ketika kedua suami isteri durjana itu sedang tertegun kaget,
untuk menyalurkan napas.

644
Mata Dewi Neraka berkilat-kilat memandang pemuda itu
lalu berkata kepada suaminya, “Tolol! Bukankah dia anak
muda yang hilang itu?"
Menunggu beberapa waktu yang lalu ketika di Lembah
Semi. Siau-liong telah diperkenalkan oleh Poh Ceng-in kepada
kedua orang tuanya Suami isteri Iblis-penakluk-dunia
mempunyai maksud hendak mengambil menantu pada Siauliong.
Maka ketika mendapat laporan bahwa Siau-liong dan
Poh Ceng-in lenyap dalam barisan Tujuh Maut, kedua suami
isteri itu sibuk menyebar anak buahnya. Tetapi ternyata tak
berhasil menemukan kedua pemuda itu.
Iblis penakluk-dunia mendengus, “Hm, benar, budak itu
dapat muncul lenyap seperti setan!"
Habis berkata ia terus menghantam Siau-liong.
"Tolol! Jangan melukainya....” cepat Dewi Neraka
hadangkan tangan mencegah suaminya.
Kemudian Dewi Neraka berpaling dan menegur Siau-liong, “
Mengapa engkau muncul kemari! Tahukah engkau puteriku
Ceng-in....”
“Perempuan siluman, tutup mulutmu!" bentak Siau-liong
Kemudian dengan nada bengis ia mengancam, “jiKa engkau
menginginkan anakmu masih hidup, suruh mereka berhenti
bertempur!"
Dewi Neraka tertawa heran, “Nak, apa katamu? Suruh
mereka berhenti bertempur mempunyai sangkut paut apa
dengan puteriku itu?"
Mata Iblis-penakluk-dunia mengeliar, serunya; “Budak itu
licin sekali, harap dinda jangan terkena tipunya!"

645
Tetapi Dewi Neraka tak mempedulikan kata suaminya. Ia
melanjutkan berkata kepada Siau liong, “Katakanlah terus
terang bagaimana sikapmu terhadap puteriku itu. Engkau
mencintainya atau tidak? Mengapa diam-diam ia meloloskan
diri?"
Saat itu pertempuran antara Randa Bu-san lawan Jong
Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni makin dahsyat. Randa Bu-san
berkelahi dengan sekuat tenaga.
”Puteri kesayanganmu itu telah kuculik diluar lembah. mati
hidupnya tergantung ditanganku. Jika ingin ia hidup, lekas
suruh mereka berhenti." bentak Siau-liong.
Dewi Neraka terbelalak mengicupkan mata ke arah
suaminya, "Benarkah itu?"
Iblis-penakluk-dunia tertawa, “Jangan percaya obrolannya.
Sama sekali tiada buktinya!"
Dewi Neraka merenung sejenak lalu berkata, “Kalau begitu
akan kuringkusnya lebih dulu baru nanti kita selidiki
kebenarannya lagi!"
Wanita iblis itu melesat ketempat Siau-liong dan secepat
kilat terus mencengkeram bahu kiri pemuda itu.
Siau liong menggembor keras. Dihantamnya dada wanita
itu. Serangkum sinar emas memancar dan tubuh Dewi Neraka
yang pendek gemuk itu pun jungkir balik terlempar sampai
dua tombak jauhnya....
Ternyata Siau-liong telah gunakan pukulan Sapu-jagad dari
Thian-kong-sin-kang. Meskipun belum sempurna latihannya,
dan tenaganya pun tak memadai, tetapi tetap mampu

646
melemparkan Dewi Neraka sampai dua tombak dan rubuh
dengan luka parah!
“Thian-kong-sin kang!" teriak Iblis-penakluk-dunia dengan
penuh kejut.
Tetapi sehabis memukul, darah Siau-liong makin bergolak,
tenaganya habis. Ia terhuyung-huyung rubuh.
Melihat itu tak tahan lagi Tiau Bok-kun berpeluk tangan.
Tanpa menghiraukan suatu apa lagi, ia terus melayang turun
dan lari menghampiri pemuda itu, “Siau liong.... Siau-liong....!"
Iblis-penakluk-dunia benar-benar termangu kaget melihat
Siau-liong dapat menggunakan pukulan Thian kong-sin-kang.
Kemarin dimuka barisan pohon bunga, iapun menerima
pukulan Thian-kong-sin-kang dari Pendekar Laknat. Ia kira
ilmu sakti Thian-koag sin-kang telah didapatkan oleh Pendekar
Laknat. Maka amatlah kejut dan herannya ketika menyaksikan
Siau liong pun dapat menggunakan pukulan sakti itu juga.
Iblis-penakluk dunia adalah seorang manusia julig yang
kaya akan siasat dan mahir dalam tipu muslihat. Tetapi
menghadapi kenyataan itu, benar-benar ia kehilangan
faham....
Tetapi ia tak sempat merenung lebih lama dan terus lari
menolong Dewi Neraka.
Randa Bu-san juga terkejut. Ia tak kira kalau Siau-liong
ternyata memiliki ilmu Thian-kong-sin-kang. Tetapi ia tak
sempat memperhatikan diri pemuda itu lagi karena Jong Leng
lojin dan Lam-hay Sin-ni menyerang deras dari muka dan
belakang.

647
Tengah Randa Bu-san sibuk menghadapi tekanan kedua
lawannya sekonyong konyong ia terkejut mendengar lengking
jeritan Song Ling.
Dara itu kena terhantam Lam-hay Sin-ni dan terlempar
rubuh sampai tujuh langkah jauhnya....
---ooo0dw0ooo---
Jilid 12
Badai
Randa Bu-san terkejut dan cepat loncat ketempat
puterinya. Tetapi tindakan itu telah memberi kesempatan
bagus kepada Jong Leng lojin dan Lam-ha Sin-ni.
Lam-hay Sin-ni menebas lambung wanita Bu-san itu.
Sedang Jong Leng lojin menutuk punggungnya.
Karena tergesa-gesa hendak menolong puterinya, Randa
Bu-san terus saja loncat tanpa menghiraukan suatu apa.
Serangan mendadak dari kedua lawannya itu, sungguh diluar
dugaan. Betapa pun saktinya wanita Bu-san namun kedua
lawannya itu juga termasuk tokoh yang sejajar tingkatannya.
Tak mungkin wanita itu menghindar lagi.
Masih wanita Bu-san itu dapat menghalau Lam-hay Sin-ni
tetapi ia tak berdaya menjaga tutukan Jong Leng lojin.
Seketika separoh tubuhnya kesemutan dan rubuhlah wanita
itu!
Jong Leng lojin masih menyusuli pula dengan sebuah
tutukan sehingga Randa Bu-san lak dapat berkutik lagi.

648
Sejenak Jong Leng lojin saling bertukar pandang dengan
Lam-hay Sin-ni. Kemudian ia mengangkat tubuh Randa Bu-san
lalu pe-lahan2 menghampiri ketempat Iblis-penakluk-dunia.
Pertempuran dahsyat telah selesai. Randa Bu-san tertawan,
si dara baju hijau terkapar di tanah karena terkena hantaman
Lam-hay Sin-ni.
Iblis-penakluk-dunia mengangkat isterinya. Baju wanita itu
berlumuran darah. Suatu pertanda bahwa ia telah menderita
luka dalam yang parah. Entah berapa kali muntah darah.
Tetapi menilik ia masih dapat berjalan, luka itu walaupun
berat tetapi tak sampai membahayakan jiwanya.
Pada saat Iblis-penakluk-dunia menolong isterinya, Tiau
Bok-kun pun segera mengangkat tubuh Siau-liong hendak
dibawa pergi.
Walaupun karena darahnya bergolak sehingga rubuh ke
tanah, tetapi pikiran Siau-liong masih sadar. Dengan meronta,
ia berseru kepada nona itu, “Jangan hiraukan aku, lekas
engkau lari.... kalau tidak kita semua tentu jatuh ditangan iblis
itu!"
Tetapi sebagai jawaban Tiau Bok-kun segera membawanya
lari.
Walaupun sedang menolong Dewi Neraka, tetapi Iblispenakluk-
dunia tetap menguasai keadaan disekelilingnya.
Cepat ia ayunkan cambuk dan memberi perintah kepada Lamhay
Sin-hi supaya manangkap Tiau Bok-kun.
Setelah mengiakan, sekali enjot tubuh, Lam-hay Sin-ni
sudah melayang di belakang Tiau Bok-kun. Sebelum nona itu
sempat berbuat apa2, punggungnya sudah ditutuk Lam-hay

649
Sin-ni. Dengan mudah Lam-hay Sin-ni membawa kedua anak
muda kehadapan Iblis-penakluk-dunia lagi.
Setelah beberapa saat memperhatikan keadaan Siau-liong
yang lentuk. Menilik keadaannya lemas lunglai seperti orang
tak bertenaga itu, tentulah pemuda itu menderita luka parah.
"Tinggalkan budak itu bersama anak perempuan dari Busan
disini!' teriaknya.
Lam-hay Sin-ni mengiakan. Sekali lepas tangan, tubuh
Siau-liong pun jatuh ke tanah.
"Tolol!" tiba-tiba Dewi Neraka membentak suaminya "budak
itu telah melukai aku begini berat. Dan dia ternyata memiliki
ilmu Thian-kong-sin-kang. Bawa ke dalam lembah dan periksa
keterangannya sampai jelas. Mengapa engkoh malah suruh
membiarkan dia disini....”
Iblis-penakluk-dunia tersenyum. Ia membisiki beberapa
patah kata kedekat telinga isterinya. Bermula wanita iblis itu
diam saja. Tetapi beberapa jenak kemudian wajahnya tampak
berseri.
"Tolol! Silahkan engkau melaksanakan rencanamu yang
kurang ajar itu," katanya.
Iblis-penakluk-dunia tertawa bangga. Segera ia memapah
isterinya dan berjalan pelahan-lahan. Lam-hay Sin-ni dan Jong
Leng lojin seperti manusia patung, pun segera mengikuti di
belakang kedua iblis itu. Kedua tokoh itu masing-masing
menjinjing Randa Bu-san yang tertutuk jalan darahnya dan
Tiau Bok-kun. Tak berapa lama merekapun lenyap dalam
kegelapan malam.

650
Angin reda, hujanpun berhenti. Rembulan muncul pula
menerangi bumi. Dan malam pun makin merayap. Serangkum
angin malam yang dingin telah membuat Siau-liong gemetar.
Dengan paksakan diri ia bangun dan duduk. Buku tulangtulangnya
seperti berhamburan lepas, kepala berat, kaki
lentuk. Tenaganya seperti habis sehingga rasanya tak mampu
untuk bergerak sedikit saja.
Ia menghela napas panjang dan tertegun memandang
bulan. Apa yang terjadi beberapa saat tadi, dilihatnya dengan
jelas. Tetapi setelah ia lepaskan hantaman, darahnya bergolak
keras dan tenaganya pun amblas. Maka ia tak berdaya sama
sekali untuk membantu pertempuran itu dan melainkan
melihat dengan hati terkecoh.
Tertawannya Randa Bu-san, membuat perasaannya gundah
sekali. Ia yakin Randa Bu-san tentu akan mengalami nasib
serupa dengan Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin, ialah
dijadikan manusia tanpa kesadaran pikiran untuk diperbudak
kedua suami isteri durjana itu....
Tiba-tiba timbullah rasa keheranannya. Bukankah Iblispenakluk-
dunia tahu bahwa ia telah memiliki ilmu Thian-kongsin-
kang? Tetapi mengapa iblis itu iak membunuhnya?
Mengapa ia dibiarkan menggeletak disitu? Dan apa sebab
Song Ling, si dara baju hijau juga tak diganggu?
Siau-liong paksakan diri berpaling. Dilihatnya dara itu masih
menggeletak di tanah iak berkutik. Entah mati atau masih
hidup. Walaupun jarak tempat dara itu hanya terpisah dua
tombak dari tempatnya, tetapi ia rasakan tak berdaya untuk
menghampiri. Tenaganya benar-benar lenyap!
Karena jengkel, marah dan sedih, ia sampai mengucurkan
airmata....

651
Akhirnya setelah pikirannya agak tenang, mulailah ia
melakukan pernapasan untuk menyalurkan hawa murni. Sejak
mempelajari ilmu sakti Thian-kong-sin-kang, setiap kali
melakukan pernapasan ia tentu menggunakan ajaran ilmu itu.
Maka hasilnya pun lebih cepat.
Lebih kurang sepeminum teh lamanya, ia rasakan darahnya
agak tenang dan dapatlah ia berdiri lalu dengan terhuyunghuyung
ia menghampiri ketempat Song Ling.
Dara itu menggeletak ditempat tanah becek yang berair
sehingga mukanya berlumuran lumpur, tubuhnya tak keruan
kotornya.
Ketika diperiksa pernapasan hidungnya, ternyata dara itu
masih bernapas walaupun lemah. Diam-diam terhiburlah hati
Siau-liong. Dara itu hanya menderita luka parah sehingga
pingsan.
Siau-liong segera melakukan pertolongan dengan ilmu
mengurut, Tetapi sayang, tenaganya masih belum pulih
sehingga tak dapat memberi penyaluran tenaga dalam kepada
dara itu. Lewat dua jam kemudian, barulah dara itu tersadar.
Dara itu memandang Siau-liong Sejenak, kemudian
memandang kesekeliling penjuru dan tiba-tiba berseru, “Mana
ibuku?" -seraya terus hendak berbangkit.
Siau-liong memegang bahu dara itu; "Nona masih
menderita luka dalam. Lebih baik melakukan pernapasan
menyalurkan tenaga murni dulu. Kalau darah sampai
membeku dalam dada, tentu bisa....”
Tetapi dara itu tak menghiraukan kata2 Siau-liong. Dengan
kalap ia menjerit, “Ibuku? Kemanakah perginya?.... dan Iblispenakluk-
dunia serta kedua orang baju hitam tadi.... mengapa

652
hanya tinggal engkau saja yang disini.... lekas terangkanlah....
,!"
Siau-liong menghela napas pelahan, ujarnya, “Nona, ai....”
-sesaat tak dapat ia memulai kata-katanya, kecuali hanya
menghela napas dan berdiam diri.
Dara itu menatap Siau-liong lekat2. Tubuhnya gemetar dan
tiba-tiba menangislah ia sekeras-kerasnya!
Siau-liong merasa tak dapat menghiburnya.... Maka ia
biarkan dara itu menangis agar melonggarkan kesesakan
hatinya. Dan mudah-mudahan karena menangis itu, darahnya
yang mengumpul didada dapat menyalur lancar.
Siau-liong duduk disamping dara itu. Hatinya terasa seperti
disayat sembilu....
Lama sekali Song Ling baru berhenti menangis. Siau-liong
menghiburnya; "Harap nona suka menjaga kesehatan diri.
Soal ibu nona nanti pelahan-lahan kita berdaya untuk
menolongnya."
"Apakah engkau melihat ibuku ditawan mereka?" Song Ling
masih meminta penegasan.
Siau-liong mengangguk, “Beliau dan nona Tiau telah
ditawan mereka. Aku menyaksikan dengan mata kepala
sendiri."
Sambil kepalkan tinju, dara itu menggeram, “Jika tak dapat
menolong ibu.... lebih baik aku mati saja!"
Setelah diam sejenak, dara itu gelengkan kepala menghela
napas putus asa. Ilmu sakti Ya-li-sin-kang dari ibu tiada

653
tandingannya di dunia. Jika mereka dapat menawan ibu,
apakah kita mampu menolongnya!"
Kembali dara itu menangis tersedu-sedan.
Diam-diam Siau-liong menimang dalam hati. Dewasa ini
kecuali ilmu sakti Thian-jin-sin-kang dari guruku Kongsun Sintho,
ketiga tokoh yang memiliki tiga macam ilmu sakti telah
dapat ditawan Iblis-penakluk-dunia. Rasanya Randa Bu-san
tentu akan menderita nasib seperti Lam-hay Sin-ni. Apabila
berjumpa lagi, kemungkinan Randa Bu-san tak kenal lagi pada
puterinya dan bahkan akan menyerangya.... Sekalipun saat itu
ia (Siau - liong) sudah memperoleh ilmu sakti Thian-kong-sinkang,
tetapi belum sempat mempelajari.
Untuk memahami ilmu sakti itu, paling tidak harus
memerlukan waktu satu setengah tahun. Dalam waktu itu
tentulah terjadi banyak perobahan yang tak terduga-duga.
Sekurang-kurangnya, dunia persilatan tentu sudah dikuasai
oleh kedua suami isteri durjana itu!
Dan mengapa Iblis-penakluk-dunia melepaskan dirinya?
Bukankah mereka tahu bahwa ia memperoleh ilmu sakti
Thian-kong-sin-kang? Apakah mereka tak takut kalau ia
sempat meyakinkan ilmu sakti itu dan menghancurkan
mereka? Ah, menilik kelicikan dan keganasan suami isteri iblis
itu, tak mungkin mereka mau berlaku begitu murah hati!
Tentulah mereka sedang memasang jerat. Ya, tentulah
mereka akan mengawasi setiap gerak geriknya....
Sedang Siau-liong terbenam dalam renungan, tiba-tiba
Song Ling menghela napas dan wajahnya yang berlumuran
lumpur itu berpaling kepadanya, “Lalu bagaimana kita
sekarang ini?"

654
Siau-liong menjawab, “Saat ini rombongan Ceng Hi totiang
sedang terkurung diluar Lembah Semi. Dalam pertempuran
kemarin walaupun menderita kekalahan. tetapi kekuatan
mereka masih belum hancur. Baiklah kita meninjau keadaan
mereka kemudian baru kita mengatur rencana untuk
menolong ibu nona dan nona Tiau "
Song Ling menyetujui. Ia paksakan diri berdiri lalu
mendahului berjalan. Tetapi luka dalam tubuhnya masih
belum sembuh. Darahnya masih membeku. Ditambah pula
dengan derita pukulan batin yang hebat, langkah dara itu
terhuyung-huyung hampir rubuh.
Sebaliknya setelah melakukan. pernapasan tadi, keadaan
Siau-liong jauh lebih baik. Segera ia maju untuk memapah
dara itu.
"Apakah nona kuat bertahan?" tanyanya.
Dara itu menggigit bibir dan anggukan kepala. ia tetap
kuatkan diri berjalan. Tempat rombongan orang gagah kira2
masih dua li jauhnya. Setelah melintasi sebuah lereng dan
sebuah anak sungai, tentu sudah mencapai tempat mereka.
Siau-liong dan Song Ling keduanya masih belum sembuh.
Untuk ayunkan kaki saja, mereka harus berjuang sekuat
tenaga. Sepenanak nasi lamanya barulah mereka tiba di anak
sungai itu. Tiba-tiba Siau-liong mengeluh dan berhenti.
“Mengapa?" Song Ling terkejut heran.
“Mengingat Ceng Hi totiang tak mempunyai hubungan
dengan kita, apalagi saat ini kita dalam keadaan begini rupa,
mungkin mereka tak mau menerima kedatangan kita!" kata
Siau-liong.

655
“Mengapa sebelumnya engkau tak memikirkan hal itu?
Kalau begini, kan lebih baik kita tak usah kesana saja!" seru
Song Ling agak mengkal. Dara itupun jauhkan diri duduk di
atas sebuah batu.
Memang saat itu barulah Siau-liong menyadari. Bahwa dia
dihormati oleh rombongan Ceng Hi totiang itu adalah dalam
kedudukan sebagai Pendekar Laknat. Dan saat itu ia bukan
Pendekar Laknat melainkan peribadi Siau-liong. Dikuatirkan
rombongan orang gagah dan Ceng Hi totiang akan
mencurigai. Dengan pemikiran itulah maka Siau-liong hentikan
langkah.
Selama berjalan tadi, sesungguhnya Song Ling sudah tak
kuat. Hanya dengan kemauan keras, ia paksakan diri berjalan
sekian jauh.... Setelah saat itu berhenti, iapun segera
pejamkan mata melakukan pernapasan.
Diam-diam Siau-liong merenung, “Mawar Putih, Tiau Bokkun,
berturut-turut telah jatuh keLembah Semi. Pun
rombongan tokoh persilatan yang dipimpin Ceng Hi totiang,
sudah payah keadaannya. Sedang ia dan Song Ling pun
terluka parah, tentang penyamarannya. Lalu bagaimanakah
harus bertindak?'
Tiba-tiba ia teringat akan Poh Ceng-in. Apakah wanita itu
sudah dapat meminta wanita itu dari paderi Liau Hoan?
Mengingat ia tunggal nyawa dengan wanita itu. apabila karena
marah Ceng Hi totiang membunuh wanita itu, tentulah dirinya
juga akan mati.
Akhirnya setelah menimbang beberapa saat, ia
memutuskan untuk menemui Ceng Hi totiang.
“Nona Song....”

656
Dara itu membuka mata dan berseru “Apakah engkau
sudah memperoleh jalan, kemana kita akan pergi?"
“Aku hendak mohon tanya padamu mengenai sebuah hal,"
kata Siau - liong.
"Soal apa? Katakanlah!" seru Song Ling.
”Apakah nona kenal akan Pendekar Laknat?"
Dengan heran Song Ling memandangnya, “Bukan
melainkan kenal saja, pun juga....” dengan nada geram ia
berseru; "Aku mempunyai dendam permusuhan tak mau hidup
dibawah satu matahari dengan dia!"
Diam-diam Siau-liong bercekat dalam hati, ujarnya; "Entah
apakah dosanya kepada nona?"
Song Ling melirik dan menatap sejenak pada Siau-liong,
“Dia telah membunuh ayahku!"
Semula dalam menanyakan soal Pendekar Laknat tadi,
diam-diam Siau-liong hendak menyatakan tentang
penyamarannya. Tetapi demi mendengar kebencian Song Ling
terhadap tokoh itu, terpaksa Siau-liong batalkan maksudnya.
Melihat pemuda itu tertegun sampai lama, Song Ling
menegurnya pula, “Mengapa tiba-tiba engkau menanyakan
soal itu....?"-tiba-tiba pula dara itu bertepuk tangan, “Ha, aku
tadi teringat akan sebuah tempat, hayo, kita kesana!"
Dan sebelum Siau-liong berkata, dara itu sudah mendahului
lagi, “Aku tadi bingung sehingga lupa pada beliau orang tua
itu....”

657
Menilik kerut wajah si dara, Siau-liong mendapat kesan
seolah-olah dara itu telah menemukan orang bintang
penolong. Maka bertanialah ia, “Yang nona katakan itu....”“
Ke gua Ko-hud-tong digunung Go-bi mencari Pertapa-saktimata-
satu. Beliau tentu dapat berdaya menolong ibuku!" tukas
si nona.
Dengan sangsi Siau-liong berkata, “Dalam dunia persilatan
kabarnya hanya Ilmu-sakti yang paling hebat. Tiada yang
menandingi lagi. Mengapa nona tahu....”
"Tahukah engkau siapa orang tua itu!" Song Ling
melengking sembari banting2 kaki," dia adalah kakek guruku!
Adalah setelah ayahku dibunuh orang, ibu baru berjumpa
dengan beliau. Ilmu sakti Ya-li-sin-kang ibu itu adalah beliau
yang mengajarkan!"
Mendengar itu seketika tergeraklah hati Siau-liong. Ia
anggap kemungkinan itu akan memberi harapan.
Song Ling menghela napas, katanya, “Tetapi beliau
memang aneh wataknya. Dahulu ketika menerima ibu sebagai
murid, setahun kemudian terus mengusir kami berdua ibu dan
anak dari guanya. Katanya, dia hendak bertapa tak mau keluar
dari gua lagi. Peristiwa itu terfadi pada 15 tahun yang lalu.
Selama 15 tahun itu, ibu tak pernah mengatakan hendak
menjenguk kakek guru. Entah apakah dia masih....” -sampai
disitu nada dan wajah Song Ling berobah rawan.
Siau-liong menghiburnya. Ia mengatakan bahwa hubungan
antara guru dan murid itu tak ubah seperti orang tua dengan
anak. Asal si dara memintanya dengan sungguh2, orang tua
itu tentu takkan berpeluk tangan mendiamkan saja; "Jangan
kuatir, pergilah nona kesana!"

658
Song Ling terkejut dan menatap Siau-liong, “Apakah
engkau tak mau mengantar aku kesana?"
Siau-liong menghela napas, “Ah, aku masih mempunyai
beberapa urusan penting dan tak dapat tinggalkan tempat ini.
Tetapi.... , "
Song Ling tertawa dingin menukas, “Tak perlu mengatakan,
aku sudah jelas. Yang salah adalah aku dan ibu sendiri....”-
suaranya berobah gemetar, “Kami berdua memang buta!"
Dua titik air mata mengalir dari pelapuk dara itu. Ia terus
berbangkit dan ayunkan langkah.
Cepat Siau-liong mencegahnya “Kalau nona salah faham,
aku lebih suka mati! Ketahuilah, aku juga mempunyai
kesulitan yang sukar kukatakan sekarang ini!" -Rasa haru telah
mencengkam sanubari Siau-liong sehingga ia pun menitikkan
ai mata.
Sudah tentu Song Ling tertegun. Ia duduk lagi. Siau-liong
menghela napas. Tak tahu saat itu bagaimana ia harus
memberi penjelasan kepada si dara.
Ia harus menemui Ceng Hi totiang untuk mempersiapkan
sisa2 tenaga rombongan orang gagah. Begitu pula ia harus
mencari tahu jejak Poh Ceng-in, Untuk hal itu ia harus
menyamar lagi sebagai Pendekar Laknat. Tetapi hal itu tak
mungkin dilakukannya dihadapan Song Ling.
Karena hal itulah maka ia tak dapat tinggalkan Lembah
Semi ikut si dara kegunung Gobi. Karena ia tahu bahwa
jiwanya setiap saat tentu amblas. Dan kalau ditengah jalan ia
sampai mati, bukankah berarti ia telah merusak harapan
pencipta ilmu sakti Thian-kong-sin-kang? Ah, benar-benar ia
merasa serba sulit!

659
Akhirnya setelah memandang beberapa saat ke arah si
dara, berkatalah ia dengan tandas, “Sekali pun andai kata
nona berhasil minta bantuan pada kakek guru nona untuk
menolong ibu nona, tetapi Iblis-penakluk-dunia itu manusia
julig yang licin sekali. Buktinya tokoh2 sakti semacam Jong
Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni pun telah dapat dikuasainya.
Dan kemungkinan ibu nona pun akan mengalami nasib
serupa....”
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan dengan suara sarat,
“0leh karena itu menurut pendapatku, sekalipun kakek guru
nona turun gunung, belum tentu dapat menindas kedua suami
isteri durjana itu. Sebagai penggantinya, aku mempunyai
rencana yang hebat, tetapi hal itu memerlukan jangka waktu
yang cukup panjang....”
"Sebenarnya apakah maksudmu itu?" Song Ling tak sabar
lagi.
"Hendak kujadikan nona seorang tokoh sakti. Dalam waktu
satu tahun saja, nona pasti akan merajai dunia persilatan.
Ilmu sakti yang manapun juga pasti tak dapat menandingi
nona. Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka pasti tak mungkin
lolos dari tangan nona!"
Song Ling tertawa hambar.
"Kecuali engkau pewaris ilmu Thian-kong-sin-kang, lebih
baik engkau jangan omong besar seperti itu!" lengking si dara.
Dengan wajah dan nada serius, berkatalah Siau-liong
seketika, “Justeru memang Thian-kong-sin-kang itulah yang
hendak kuajarkan kepadamu!"

660
Song Ling terkesiap. Baru ia hendak membuka mulut, tibatiba
dari arah hutan disebelah muka terdengar orang
membentak, “Siapakah itu!"
Menyusul beberapa sosok tubuh melesat keluar terus
menerjang kedua anak muda itu....
Siau-liong dan Song Ling terkejut.
Yang memimpin penyerang itu seorarg tua berjenggot putih
menjulai sampai kedada. Mencekal sebatang tongkat Kumala
Hijau. Gerakannya amat pesat dan ringan sekali.
Ketika memandang orang tua itu, lepaslah kejut Siau -
liong. Yang datang itu ternyata rombongan Kay-pang yang
dipimpin si Jenggot perak To Kiu-kong Ikut serta Pengemis
tertawa Tio Tay-tong dan kedua pengemis pincang.
Begitu melihat Siau-liong, To Kiu-kong tertegun. Buru-buru
ia menghaturkan hormat; “Ah, cousu-ya, maaf engkau....”
Tio Tay-tong dan kedua pengemis pincang segera berlutut,
mengikuti tindakan To Kiu-kong.
“Ah, Kiu-kong, tak usah banyak beradatan," kata Siau-liong
seraya mengangkat bangun To Kiu-kong.
Setelah bangun, berkatalah To Kiu-kong, “Sejak bertemu
dengan cousu-ya ketika terkepung dalam Lembah Maut tempo
hari, walaupun kami berusaha untuk mencari cousu-ya tetapi
gagal. Bahkan berita saja, kami tak dapat memperoleh sama
sekali....”
Kemudian ketua Kay-pang itu meghela napas, “Jika tidak
berulang kali Pendekar Laknat memberi bantuan, tentulah hari
ini kami tak dapat menghadap cousu-ya!"

661
Sekali pun lemah lembut dan halus tutur kata2 itu tetapi
diam-diam terselip suatu penyesalan mengapa sebagai cousuya,
Siau-liong tak mau berkumpul dengan anak buah Kaypang.
Begifu pula saat itu mata To Kiu-kong dan rombongannya
mencurah lekat ke arah Siau-liong dan Song Ling. Pandang
mata penuh dengan rasa heran atas sepak terjang cousu-ya
mereka yang masih berusia muda itu.
Mereka heran mengapa selagi rombongan orang gagah
yang dipimpin Ceng Hi totiang berjuang mati matian untuk
menggempur Lembah Semi, cousu-ya mereka malah
menyembunyikan diri bersama seorarg dara? Tiau Bok-kun,
Mawar Putih dan kini seorarg dara yang tak dikenal lagi!
Dan makin besarlah keheranan mereka melihat keadaan
Siau liong dan si dara yang berlumuran lumpur itu.
Darimanakah cousu-ya itu?
Karena Siau-liong tak mau mengatakan apa2, rombongan
To Kiu-kong itupun tak berani menanyakan. Mereka sama
berdiam diri.
Hanya batin To Kiu-kong yang berduka. Ia mengharap
cousu-ya muda itu akan dapat muncul di dunia persilatan
untuk mengangkat nama Kay-pang. Ia harap berkat ilmu
pukulan sakii Thay-siang ciang ajaran Pengemis Tengkorak
Song Thay-kun, Siau-liong akan mengharumkan pamor Keypang.
Tetapi ah, siapa tahu. ternyata harapan itu buyar. Cousuya
muda itu ternyata seorang pemuda yang misterius gerak
geriknya dan seorang yang amat romantis....

662
Rupanya Siau-liong dapat membaca isi hati ketua Kay-pang
itu. Tetapi ia tak dapat memberi penjelasan apa-apa kecuali
hanya tertawa murung dan diam.
Tiba-tiba Pengemis Tertawa Tio Tay-tong maju selangkah,
memberi hormat, “Harap cou-suya maafkan aku hendak
berkata sepatah kata".
Siau-liong membalas hormat dan suruh orang itu
mengatakan maksudnya.
Dengan kepala menunduk Pengemis Tertawa berkata,
“Saat itu Ceng Hi totiang sedang memimpin rombongan orang
gagah untuk menggempur Iblis penakluk-dunia dan Dewi
Neraka. Tetapi rupanya gerakan Ceng Hi totiang mengalami
kegagalan. Banyak arang gagah yang menjadi korban,
menderita luka dan binasa. Keadaan dunia persilatan dewasa
ini amat gawat sekali. Bila cou-suya suka memikirkan
kepentingan partai kita, mohon Cousu-ya jangan tinggalkan
kita lagi....”
Makin lama makin teganglah perasaan pengemis iiu
sehingga dalam kata2 ia seolah-olah menghamburkan seluruh
isi hatinya.... Sehingga To Kiu-kong buru-buru mencegahnya
bicara.
Pengemis Tertawa Tio Tay-tong menghela napas panjang
lalu memberi hormat dan mundur.
Siau-liong diam saja. Hanya dalam hati ia menimang;
“Mungkin kesulitan yang kuhadapi dan kenyataan yang
kuderita, tak mungkin kalian ketahui. Dan aku pun tak mampu
menjelaskan kesulitan itu kepada kalian selama-lamanya....”

663
Siau-liong mengangkat kepala memandarg rembula.
Rembulan saat itu terang benderang, memancarkan
cahayanya yang putih bersih keseluruh penjuru.
Tiba-tiba Siau-liong rasakan dadanya longgar. Seolah-olah
Dewi Rembulan telah memberi petunjuk jalan keluar
kepadanya. Pada wajahnya yang kotor berlumuran lumpur itu,
pelahan-lahan menampil kerut tawa. Dan hatinya pun makin
mantap, “Seorarg lelaki harus memikul tanggung jawab
perbuatannya sendiri. Asal perbuatan itu tidak menialahi Allah,
tidak mercelakai orang, itulah sudah cukup. Apa guna segala
kemashuran nama yang kosong?"
Setelah hatinya merasa tenang dan mantap, iapun tertawa,
ujarnya; “Telah kuteliti diri, jelas aku tak mampu memikul
tanggung jawab partai. Oleh karena itu, maka kuulangi lagi
maksudku yang dulu, Hendak minta tolong kepada To Kiukong
supaya memilih seorang tunas berbakat untuk kuberi
pelajaran ilmu Thay-siang-ciang, demi membangun kejayaan
partai Kay-pang."
To Kiu-kong tersipu-sipu berlutut; “Ah, berat sekali perintah
cou-suya itu. Mana Kiu-kong dapat memikul tugas seberat
itu?"
Pengemis-tertawa Tio Tay-tong dan kawan2 serta-merta
ikut berlutut. Siau-liong mengangkat mereka bangun lalu
dengan tertawa riang ia berkata:.... Apa yang kukatakan itu
keluar dari isi hatiku sesunguhnya. Harap Kiu-kong secepat
mungkin mencari tunas pewaris itu. Karena.... tak berapa lama
lagi aku segera pergi jauh. Mungkin kelak kita takkan
berjumpa lagi."
Kembali To Kiu-kong termangu. Sesaat ia tak dapat
berkata-kata.

664
Melihat mereka tertegun mendengar ucapanya Siau-liong
pun menyadari kesulitan mereka. Mengingat keadaan dunia
persilatan dewasa itu tedang terancam bahaya kehancuran,
maka cepat ia alihkan pembicaraan, “ Apakah kalian tahu saat
ini Ceng Hi totiang mempersiapkan rencana apa lagi?"
Wajah To Kiu-kong menggelap, sahutnya setelah menghela
napas, “Ceng Hi totiang memimpin rombongan orang gagah
untuk menyerang dari belakang Lembah Semi dengan
gunakan api dan bahan peledak. Tetapi tak terduga Iblispenakluk-
dunia dan isterinya....”
“Hal itu sudah kuketahui semua." tukas Siau-liong.
To Kiu-kong terbeliak, “Apakah cousu-ya tahu peristiwa
Pendekar Laknat membantu pertempuran kemarin itu? Jika
tidak....”
Siau-liongpun cepat mengerat, “Kemarin barisan penyerang
Ceng Hi totiang telah dikalahkan Iblis-penakluk-dunia. Iblis itu
memberi perintah supaya dalam waktu tiga hari Ceng Hi
totiang dan sekalian orang gagah harus datang kegunung
Gobi. Yang ingin kuketahui, apakah rencana Ceng Hi totiang
menghadapi perintah itu?"
To Kiu -kong benar-benar tak mengerti. Bukankah sousu-ya
itu menghilang tak kelihatan ikut dalam pertempuran?
Mengapa dapat mengetahui jalannya peristiwa dengan jelas?
“Ceng Hi totiang memutuskan akan pergi kepuncak Gobi....
, " akhirnya To Kiu-kong menjawab lalu menghela napas,
berdiam diri.
Tiba-tiba Song Ling yang sejak tadi tak bersuara, saat itu
menyelutuk; “Perlu apa mereka hendak kegunung Gobi?"

665
Dengan pandang tawar, To Kiu-kong melirik sejenak
kepada dara itu lalu memandang Siau-liong lagi. Seolah-olah
tak leluasa menjawab pertanyaan dara itu sebelum mendapat
idjin Siau-liong.
Siau-liong menatap ketua Kay-pang itu dan berkata
perlahan; “Memang hal itulah yang ingin kuketahui. Tak apa
silahkan mengatakan saja!"
To Kiu-kong masih bersangsi. Ia maju menghampiri
kedekat Siau-liong dan berkata dengan suara perlahan;
"Dengan ilmu Hitam melenyapkan kesadaran pikiran orang,
kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia itu dapat memperalat
Jong Leng lojin, Lam-hay Sin-ni, Naga Terkutuk, Harimau Iblis
dan beberapa tokoh lainnya. Kekuatan mereka jauh berlainan
dengan 20 tahun yang lalu. Demi menyelamatkan seluruh
kaum persilatan, terpaksa Ceng Hi totiang memutuskan untuk
melakukan permintaan kedua suami isteri iblis. Dalam tiga hari
nanti akan menuju kepuncak Gobi....”
Ketua Kay-pang itu berhenti sejenak. mengeliarkan mata
memandang keempat penjuru lalu melanjutkan lagi;
“Sekalipun menurut perintah kedua iblis kepuncak Gobi, tetapi
diam-diam Ceng Hi totiang sudah menyiapkan rencana.
Kabarnya di atas puncak Gobi, terdapat seorang sakti yang
luas pengetahuan dan tinggi ilmu silatnya....”
”Kiu-kong, nama orang sakti itu....?" Siau liong cepat
bertanya.
Tetapi To Kiu-kong gelengkan kepala, “Walaupun umurku
sudah setua ini dan mempunyai pengalaman luas dalam dunia
persilatan. Tetapi jika bukan Ceng Hi totiang yang
mengatakan, tentu aku tak tahu. Orang tua itu tak pernah
muncul dalam dunia persilatan dan tak dikenal namanya".

666
Siau-liong kerutkan dahi dan bertukar pandang dengan
Song Ling. Tetapi tak bicara apa2.
“Kemarin Ceng Hi totiang telah mengadakan rapat rahasia
dengan para tokoh2 persilatan," kata To Kiu-kong pula, "Ceng
Hi totiang akan memimpin rombongan tokoh persilatan dan
segenap pendekar dari seluruh penjuru, menghadapi orang
sakti di atas puncak Gobi, untuk minta bantuannya. Namun
gagal terpaksa mereka akan bertempur mengadu jiwa dengan
Iblis-penakluk-dunia. Lebih baik pecah sebagai ratna dari pada
menjadi budak kedua iblis itu. Biarlah puncak Gobi akan
bersiram darah para pendekar gagah....”
Siau-liong gelengkan kepala.
“Rencana Ceng Hi totiang itu masih kurang sempurna.
Adakah orang sakti itu mau membantu atau tidak, masih satu
pertanyaan. Taruh kata ia meluluskan, pun belum tentu dapat
melawan Iblis-penakluk-dunia yang mempunyai jago2 seperti
Jong Leng lojin, Lam-hay Sin-ni dan lain-lain tokoh yang sakti.
Jika sampai menderita kekalahan lagi dan kedua iblis itu lagi,
bukan saja seluruh tokoh persilatan yang hancur binasa pun
pembunuhan2 tentu akan berlargsung hebat sehingga dunia
persilatan betul2 tak berkutik dan dapat dikuasai Iblis
penakluk-dunia!"
To Kiu-kong tertawa tawar, “Ah, selama masih ada ayam,
takkan telur habis. Misalnya, dalam pertempuran kemarin itu,
walaupun fihak orang gagah menderita kekalahan, namun
semangat mereka tak pernah ludas. Mereka tetap akan
melanjutkan perjuangan kegunung Gobi. Apabila gagal lagi, ya
apa boleh buat, terserah pada kehendak Tuhan!"
Siau-liong tertegun diam. Saat itu ia memang tak punya
rencana. Jong Leng lojin dan Lam-hay Sin-ni tiada yang
mampu melawan. Apalagi masih ditambah dengan Naga

667
Terkutuk, Harimau Iblis dan beberapa tokoh lain. Sekalipun
rombongan orang gagah yang dipimpin Ceng Hi totiang itu
berjumlah lebih besar pun tak berguna. Bahkan malah
menambah jumlahnya korban saja.
Setelah terdiam beberapa saat barulah To Kiu-kong
berkata, “Selain dari itu, Ceng Hi totiang masih mempunyai
setitik harapan kepada seorang sakti lain....”
"Siapakah orang itu?" Siau-liong terkesiap.
"Tokoh yang sejajar dengan kedua suami isteri iblis itu
yakni Pendekar Laknat. Kemarin dia telah membantu dengan
sepenuh tenaga. Pada waktu bertempur melawan Jong Leng
lojin dan Lam-hay Sin-ni. dia telah gunakan tenaga sakti
Thian-kong-sin-kang....”
To Kiu-kong berhenti sejenak mencari kesan. Tetapi ia
heran karena Siau-liong tak menampilkan reaksi apa2.
Terpaksa ia melanjutkan penuturannya lagi.
"Thian-kong-sin-kang merupakan ilmu sakti Nomor satu di
dunia persilatan. Sayang tampaknya Pendekar Laknat itu
masih belum sempurna peyakinannya, Diduga ia telah berhasil
memperoleh kitab pusaka peninggalan Tio Sam-hong tetapi
belum sempat mempelajarinya dengan sempurna. Sayang
dalam pertempuran kemarin, tokoh tersebut telah menderita
luka parah lalu melenyapkan diri. Ceng Hi totiang sudah
menyebar orang untuk mencarinya tetapi sampai sekarang
belum ketemu.".
Siau-liong tersenyum , "Karena terluka parah tentulah
Pendekar Laknat itu sukar datang lagi untuk membantu. Harap
Kiu-kong sampaikan kepada Ceng Hi totiang agar jangan
mencarinya lagi".

668
To Kiu-kong memandang Siau-liong dengan heran, “Apakah
cou-suya tahu....”.
Tiba-tiba ketua Kay-pang itu tak melanjutkan ucapannya
karena teringat sewaktu di Lembah Maut, Pendekar Laknat
pun pernah mengatakan tak perlu menunggu Siau-liong. Dia
mengatakan bahwa Siau-liong itu seorang Pendekar muda
nomor satu dalam dunia persilatan dewasa itu. Dan pula tokoh
itupun mengatakan lagi kemungkinan Siau-liong tentu sudah
keluar dari Lembah Maut. Teringat akan hal itu, To Kiu-kong
mendapat kesan. seolah-olah antara Siau-liong dengan
Pendekar Laknat itu sudah saling tahu satu sama lain.
Betapa luas pengetahuannya dan pengalaman To Kiu-kong,
namun ia benar-benar tak mengerti tentang Pendskar Laknat
dan Siau-liong yang misterius.
Tengah To Kiu-kong tertegun. tiba-tiba Siau-liong bertanya
pula, “Bagaimana dengan wanita baju merah yang ditawan
paderi Liau Hoan itu? Apakah Ceng Hi totiang sudah dapat
merebutnya....”
Kembali To Kiu-kong terbeliak kaget. Paderi Liau Hoan
sampai saat itu belum diketahui jejaknya. Peristiwa
penawanan wanita baju merah itu adalah Pendekar Laknat
yang mengatakan. Mengapa Siau-liong tahu? Bahkan
mengapa Siau-liong amat menaruh perhatiannya kepada
peristiwa itu?
Tetapi To Kiu-kong tak leluasa menanyakan soal itu.
Terpaksa ia hanya menjawab; "Soal itu aku tak mengetahui
jelas. Beberapa orang yang telah disebar Ceng Hi totiang,
belum juga menemukan jejak paderi itu. Sampai saat ini
sudah sehari semalam masih juga rombongan Ti Gong belum
kembali."

669
Siau-liong terkejut ia tak tahu mengapa Paderi Ti Gong
menawan Poh Ceng-in. Jika sampai terjadi sesuatu dengan
wanita itu. bukankah dirinya juga akan celaka.
“Apakah engkau juga akan ikut ke Gobi?" tanyanya
beberapa jenak kemudian.
Buru-buru To Kiu-kong menyahut, “Segala rencana telah
ditetapkan oleh Ceng Hi totiang, partay Kay-pang hanya
mengirim aku seorang diri pergi ikut kesana....”
Siau-liong mengangguk, “Kalau begitu, aku hendak pergi
dulu nanti kita berjumpa digunung Gobi lagi!"
Ternyata Siau-liong teringat akan Poh Ceng-in yang diculik
Liau Hoan itu. Ia harus cepat2 merampasnya kembali agar
jangan sampai terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Selain itu,
oleh karena Ceng Hi totiang sudah memutuskan ke Gobi, tak
perlu lagi ia menemuinya. Maka ia memutuskan untuk
mengantar Song Ling menghadap kakek gurunya dipuncak
Gobi. Dan dalam perjalanan, ia akan mencari kesempatan
untuk menurunkan Thian-kong-sin-kang kepada dara itu.
Sudah tentu Song Ling girang sekali karena pemuda itu
merobah keputusannya. Cepat ia mengikuti Siau-liong yang
saat itu sudah ayunkan langkah.
To Kiu-kong bergegas menyusul, serunya; “Cousu-ya
apakah tidak perlu pesan apa2 lagi? Mengapa cousu-ya tak
perlu bertemu Ceng Hi totiang?"
Ketua Kay-pang itu tak berani mencegah Siau-liong tetapi
pun tak dapat membiarkan cousu itu pergi. Maka ia mencari
kata2 lain sebagai alasan.

670
Siau-liong hentikan langkah, “Dengan Ceng Hi totiang, aku
tak begitu kenal. Nanti setelah peristiwa Gobi selesai. masih
ada waktu untuk menemuinya. Dan sekali lagi kuulangi
permintaanku. Lekaslah engkau cari seorang tunas yang
berbakat untuk menjadi pewaris kita!"
Habis berkata Siau-liong terus mengajak Song Ling
lanjutkan perjalanan.
--ooo0dw0ooo--
Walaupun menderita luka dalam yang parah. tetapi baik
Siau-liong maupun Song Ling tak mau diketahui To Kiu-kong.
Dengan kuatkan diri mereka melangkah tegap. Setelah jauh
barulah mereka berhenti....
Napas si dara terengah-engah. Tulang belulangnya seraya
lepas, sakit dan letihnya bukan kepalang. Ia segera duduk
numprah. Untunglah To Kiu-kong dan rombongannya.
Setelah beberapa waktu, Siau-liong mengajaknya berjalan
lagi. Song Ling mengiakan. Demikianlah kedua anak muda itu
segera melanjutkan perjalanan lagi.
Siau-liong memang belum memberi penjelasan kepada si
dara. Tetapi ia sudah mempunyai rencana. Pertama, ia hendak
menuju kebengawan Bin-kiang untuk mengejar jejak Liau
Gong dan meminta kembali Poh Ceng-in. Dari sungai itu, terus
kegunung Gobi hanya 20-an li jauhnya.
“Apakah engkau tahu jalanan ke Gobi?" tanya Song Ling.
Siau-Hong mengatakan bahwa sekalipun ia belum faham,
tetapi ia tahu gunung itu terletak disebelah barat laut. "Kita
mengarah kesana dan bila perlu dapat bertanya pada orang,"
katanya.

671
Tetapi saat itu mereka masih dalam lingkungan
pcgunungan Tay-liang san yang luas. Kecuali rankaian
puncaknya yang memanjang, pun jalanannya sukar dan
berkeluk-keluk. Hampir dua jam berjalan, mereka masih belum
keluar dari wilayah gunung itu.
Saat itu hari sudah mulai terang tanah. Sambil menarik
lengan Siau-liong. Song Ling menekan dahinya dan berkata
dengan lemah, “Aku benar-benar sudah tak kuat. Kita cari
tempat beristirahat".
Siau-liong sendiri pun rasakan kakinya lemas, kepala
pening mata berkunang-kunang. Karena tak faham jalan, tak
tahu ia sudah sampai dimana. Dilihatnya dalam hutan yang
tak jauh disebelah muka, tampak sebuah dinding merah. Ia
duga tentu sebuah biara. Kesanalah ia ajak dara itu.
Tiba-tiba Song Ling menjerit kaget seraya menunjuk ke
arah semak di tepi jalan . “Lihatlah!"
Ketika melihat ke arah yang ditunjuk si dara, Siau-liong
melihat semak itu berlumuran darah dan semak2 belukar
banyak yang rebah. Dan tak jauh dari semak itu terdapat
sebatang pedang yang kutung.
Siau-liong memungut pedang kutung itu dan memeriksa.
Tak ada tanda apa2 hingga tak diketahui siapa pemiliknya....
Tetapi jelas ditempat itu tentu telah terjadi pertempuran
dahyat. Dan dari darah yang berceceran itu, jelas tentu adalah
yang mati atau terluka.
Menilik darah yang sudah berwarna merah hitam, tentulah
pertempuran itu terjadi beberapa jam yang lalu. Tetapi kecuali
pedang kutung itu, tiada terdapat mayat dan lain-lain jejak.

672
Tempat itu sudah jauh dari Lembah Semi, tak mungkin
yang bertempur itu anak buah Iblis-penakluk-dunia. Sampai
beberapa saat Siau-liong tak dapat memecahkan peristiwa itu.
Tiba-tiba ia terkejut karena mendengar suara orang
membaca kitab suci (Buddha). Nadanya pelahan sekali dan
asalnya dari arah hutan. Segera Siau-liong menurutkan arah
suara dan tibalah ia pada sebuah biara kuno. Suara itu jelas
berasal dari dalam biara. Tetapi saat itu pembacaan kitab tadi
sudah berhenti. Memandang tempat itu ternyata sebuah biara
yang rusak. Tak mungkin terdapat paderi yang menghuni. Apa
lagi saat itu masih pagi sekali, tak mungkin sepagi itu paderi
sudah membaca kitab.
Siau-liong makin heran. Karena dirinya masih terluka, ia
kuatir kalau berjumpa dengan musuh yang kuat. Maka
ditariknialah Song Ling seraya membisikinya, “Suara
pembacaan kitab tadi, mencurigakan sekali. Tentu ada
seseorang yang bersembnnyi, entah kawan entah lawan,
belum dapat kita pastikan. Lebih baik kita bersembunyi dulu
melihat perkembangannya.
Song Ling tiada pandapat lain kecuali menurut saja. Begitu
mereka segera mencari tempat persembunyian dibawah kaki
sebuah anak bukit. Anak bukit itu dikelilingi semak rumput
yang lebat dan tinggi.
Dari tempat persembunyian yang sukar deketahui orang
itu, dapatlah Siau-liong memandang keluar dan beristirahat.
Kedua pemuda itupun lalu bersemedi memulangkan
semangat.
Sesungguhnya luka dalam yang diderita Song-Ling itu tak
berapa parah. Adalah karena ia bersedih melihat ibunya

673
tertawan musuh maka sampai membuatnya lemas. Karena
letih, begitu bersemedhi, ia segera terbanam dalam kelelapan.
Tidak demikian dengan Siau-liong. Pikirannya ruwet tak
keruan sehingga sukar untuk memusatkan semangat. Sejam
kemudian baru pikirannya agak tenang dan mulailah ia dapat
menyalurkan hawa murni.
Pada saat Siau-liong dalam alam kehampaan, tiba-tiba
terdengar derap langkah orang. Siau-liong terkejut bangun.
Tampak seorang yang dandanannya amat aneh tengah
meneliti jejak tapak orang dan perlahan-lahan menghampiri
ketempat persembunyiaannya.
Kepala orang itu sebesar kepala kerbau, rambutnya yang
putih terurai sampai kebahu. Tingginya tak kurang dari dua
meter. Jenggotnya yang bercabang lima, menjulai turun
sampai ke perut. Entah berapa usianya. Tetapi wajahnya
masih segar kemerah-merahan. Mengenakan baju serba putih
dan mantel warna kuning telur. Tangannya mencekal
Sebatang tongkat besi.
Seketika teringatlah Siau-liong akan dongeng tentang dewa
Taypek Li Kim-ce yang turun kebumi.... Orang itu tak mirip
dengan manusia dunia.
Sambil menyusur jejak telapak kaki, orang tua aneh itu
memandang kian kemari. Sepasang matanya berkilat-kilat
memancar api, mengandung sinar jahat.
Diam-diam Siau-liong berdebar-debar. Terang yang hendak
dicari orang tua itu tentulah dirinya berdua. Karena masih
hijau dalam dunia persilatan. Tak tahu ia aliran orang tua itu
dan mengapa hendak mencari dirinya.

674
“Siapakah kakek yang mirip setengah dewa setengah setan
itu?" tiba-tiba Song Ling bertanya. Ternyata ia pun sudah
tersadar dari persemedhiannya.
Sambil memandang ke arah kakek aneh yang menghampiri
ke arahnya, Siau-liong menyahut dengan bisik2, “Apakah
tenagamu sudah pulih?"
”Hawa dalam masih belum tenang, tenaga murni belum
pulih tetapi sudah banyak kebaikan?"
Siau-liong sendiri masih payah. Lukanya sudah
disembuhkan Randa Bu-san tetapi luka dalam masih parah.
Jika berhadapan dengan musuh tangguh. tentu belum mampu
menandingi.
Saat itu si kakek aneh sudah keluar dari hutan dan tengah
menyiak-nyiak semak rumput yang dilaluinya. Pelahan-lahan
makin mendekati. Dan beberapa jenak kemudian sudah tiba
dua tombak dimuka tempat Siau-liong.
Karena merasa tak mungkin dapat bersembunyi lagi, Siauliong
memberi isyarat kepada Song Ling lalu berbangkit.
Rupanya kakek aneh itu terkejut sehingga menyurut
mundur dua langkah. Matanya berkeliaran memandang Siauliong.
“Masuk ke dalam gua rahasia dan mendapat kitab pusaka
Thian-kong-sin-kang, tentulah engkau, bukan?" tiba-tiba kakek
aneh itu bertanya.
Siau-liong terkesiap. Ia merasa belum pernah bertemu
dengan kakek itu, mengapa sudah mengenal dirinya dan
bahkan tahu tentang kitab pusaka itu.

675
Seketika ia menyahut dengan nada tidak menyangkal pun
tidak mengakui “Entah siapakah lo-cianpwe ini? Mengapa tahu
orang yang masuk ke dalam gua rahasia dau mengambil kitab
pusaka Thian-kong sin-kang?"
Mata kakek itu berkilat lalu tertawa gelak2, “Mataku belum
buta, sudah tentu takkan salah lihat!"
Heran Siau-liong makin menjadi-jadi. Ia tak tak tahu
dengan tujuan apakah kakek aneh itu mencarinya? Sesaat ia
tak dapat mencari akal untuk menghadapinya.
Beberapa jenak kemudian baru ia berkata, “Ucapan locianpwe
itu sungguh mengherankan sekali. Aku baru kenal
saja dengan lo-cianpwe. Dengan dasar apa lo-cianpwe....”
“Ilmu petanganku tak pernah meleset!" tukas kakek itu.
Siau-liong tertawa, “Ah, kiranya lo-cianpwe mengetahui
peristiwa itu dari ilmu petangan".
Walaupun mengatakan begitu, tetapi diam-diam hati Siauliong
tergetar juga. Semula ia memang tak percaya ilmu
meramal dan segala ilmu mistik. Tetapi sejak peristiwa Randa
Bu-san itu, pandangannya pun agak berubah. Dan kali ini
berhadapan lagi dengan seorang kakek ahli nujum, mau tak
mau ia harus menaruh sedikit kepercayaan juga.
“Setelah kuhitung sampai beberapa kali, barulah aku
bergegas-gegas datang kemari!" kata kakek itu pula.
Kepercayaan Siau-liong makin tumbuh, tanyanya “Entah
apa maksud lo-cianpwa hendak mencariku?"
Kakek aneh itu gelengkan kepala menghela napas, “Karena
sembrono maka sampai menimbulkan kesalahan besar.

676
Sekalipun telah kuusahakan untuk menolong, mungkin tetap
tak dapat terhindar dari kutukan. Kehancuran sukar
kembali....”
Siau-liong tercengang.
“Lo-cianpwe meresahkan soal apa saja? Jika menghendaki
tenagaku, silahkan memberi pesan. Aku tentu akan berusaha
sekuat tenaga....”
Berkata sampai disitu, tiba-tiba Siau-liong berhenti karena
teringat akan keadaan dirinya saat itu. Ia masih terluka dalam.
Sedang tongkat besi dari kakek itu sebesar telur itik. Tentulah
beratnya tak kurang dari 200 kati. Tetapi kakek itu dapat
memegang seenaknya saja. Jelas tentu seorang yang memiliki
ilmu yang sakti. Apalagi seorang ahli nujum yang lihay.
Masakan kakek itu memerlukan bantuannya lagi?.
Tetapi diluar dugaan kakek itu mengangguk; “Memang
sebaiknya begitulah....” ia berkeliaran memandang keempat
penjuru, ujarnya, “Tempat ini tak leluasa untuk bicara.
Silahkan kalian ikut kebiara sana!"
Habis berkata tanpa menunggu Siau-liong setuju atau
tidak, ia terus berputar tubuh dan melangkah ke arah biara.
Siau-liong kerutkan alis lalu bertukar pandang dengan Song
Ling. Sesaat ia merasa bersangsi.
Tetapi entah bagaimana, baik sikap dan nada ucapan kakek
tua itu, mempunyai daya tarik yang kuat dan berwibawa
sehingga Siau-liong tak dapat menolak lagi.
Akhirnya ia mengajak Song Ling; “Kita....”
“Terserah engkau....” tukas si dara.

677
Kakek aneh itu berjalan pelahan sekali, tanpa berpaling ke
belakang. Seolah-olah yakin kalau kedua anak muda itu tentu
akan mengikutinya.
Tak berapa lama, tibalah mereka di biara. Menilik
bangunannya, tentulah dahulu biara itu sebuah tempat
pemujaan yang megah. Tetapi kini sudah rusak dan tak
terawat. Dindingnya rubuh dan gempal, halaman penuh
ditumbuhi rumput dan pintunya bertimbun sarang gelagasi.
Papan nama yang sudah rusak dan lecet tulisannya itu
masih dapat terbaca, Ternyata biara itu memakai nama Sam
goan-kiong.
Kakek tua itu berhenti dimuka pintu. Setelah Siau-liong dan
Song Ling tiba, barulah ia melangkah masuk. Memang besar
sekali bangunan biara itu. Pohon siong yang tumbuh
dihalaman biara itu tinggi sekali. Tentulah sudah berumur
ratusan tahun. Daunnya yang lebat, menimbulkan suasana
yang menyeramkan juga.
Siau-liong bergandengan tangan dengan Song Ling
mengikuti kakek aneh yang melangkah keruang besar.
Ternyata dalam ruangan besar itu masih mengepul asap
wangi. Walaupun juga rusak tetapi keadaan ruangan itu masih
cukup lumayan. Ditengah ruang terdapat patung dewa Thay
Siang Lokun dan Goan Si Thian-cun. Tetapi sudah rusak
keadaannya. Tikus dan kelelawar bersarang pada lubang2
patung itu.
Meja sembahyang rupanya telah dibersihkan. diberi
penerangan lilin, sebuah area kecil. Tempat pedupaan masih
mengepul asap.

678
Begitu masuk, lebih dulu kakek aneh itu meletakkan
tongkat besinya pada sudut dinding lalu berlutut dihadapan
meja sembahyangan dan memberi hormat sampai empat kali.
Setelah itu ia bangun dan berkata, “Inilah area dari Tio Samhong
cousu, lekas haturkan hormat!"
Mendengar itu Siau-liong terkejut dan tanpa disadari ia
menarik tangan Song Ling diajak berlutut memberi hormat.
Setelah itu, barulah Siau-liong menjurah dihadapan kakek
aneh dan berkata, “Petunjuk apakah yang hendak lo-cianpwe
berikan kepadaku?"
Sejenak keliarkan mata berkatalah kakek itu dengan nada
sarat, “Dihadapan area Tio Sam-hong cousu, kalian tak boleh
omong sepatah kata yang bohong....”
“Aku tak pernah berdusta. Tetapi adakah lo-cianpwe ini....
bangsa manusia atau dewa? Mohon lo-cianpwe suka
memberitahukan nama lo-cianpwe yang mulia?"
Kakek aneh itu tersenyum, “Aku mendapat tugas untuk
menjaga tempat penyimpanan kitab pusaka peninggalan Tio
Sam-hong cousu....” Ia menghela napas lalu berkata pula,
“Pada waktu itu kebetulan aku keluar sehingga terjadi
kesalahan besar itu!"
Siau-liong tertegun memandang kakek itu. Tak pernah
disangkanya bahwa kitab pusaka Thian-kong-sin-kang,
ternyata ada penjaganya.
Timbul keheranannya. Tio Sam-hong sudah hampir seribu
tahun meninggal dunia. Setua-tua kakek itu, paling banyak
hanya berusia 100 tahun lebih. Lalu siapakah yang
memerintah dia menjaga kitab pusaka itu?

679
Gua rahasia penyimpanan kitab pusaka itu, tiada pintunya
sama sekali. Dahulu karena tak sengaja membobol dinding,
maka dapatlah ia masuk ke dalam ruang rahasia itu. Sedang
kakek itu tinggal diluar. Bagaimana ia dapat keluar masuk ke
dalam ruang itu? Dan lagi pada lembar pertama dari kitab itu
jelas tertera kata2.... dua orang masuk keruang ini, hanya
seorang yang berjodoh....”
Kata2 itu seperti diperuntukan ia dan Mawar Putih yang
sama2 masuk ke dalam ruang itu. Jika kakek itu benar-benar
seorang ahli nujum yang lihay, mengapa tahu bahwa pada
hari itu akan ada orang yang masuk ke dalam ruang rahasia,
dia malah bepergian keluar?
Siau-liong mulai meragu tetapi ia tak berani tak
mempercayai kakek aneh itu. Buktinya, belum Pernah sama
sekali ia bertemu dengan si kakek tetapi mengapa dia tahu
bahwa ia telah masuk ke dalam ruang penyimpanan kitab
pusaka dan mengambil kitab Thian-kong-sin-kang!
Dan yang mengherankan. Pada saat ia masuk ke dalam
ruang tempat kitab itu, ia sedang menyamar sebagai Pendekar
Laknat. Ah, kalau kakek itu tak mengerti ilmu petangan, tak
mungkin dapat mengetataui gerak geriknya.
Tiba-tiba kakek itu tertawa pelahan, “Sudah tentu engkau
curiga. Tetapi ketahuilah, sekalipun Tio Sam-hong sendiri
masih hidup, beliau pun tentu tak luput dari kelengahan.
Aku....” Kembali ia menghela napas. ujarnya, “ Ya,
kesalahanku yang besar itu, memang tak dapat ditebus lagi.
Sudah 21 leluhurku yang turun menurun bertugas menjaga
kitab pusaka itu. Tak nyana akhirnya kitab itu musnah
dibawah penjagaanku!"
Nadanya penuh penyesalan dan kedukaan. Seolah-olah ia
ingin untuk menebus dosa.

680
"Adakah lo-cianpwe tinggal di dalam ruang rahasia itu?"
tanya Siau-liong.
"Benar, sudah berpuluh-puluh tahun aku mengasingkan diri
dalam ruang rahasia itu....”
“Tetapi ruang rahasia itu tiada berpintu dan tak ada
persediaan makanan. Bagaimana lo-cianpwe dapat hidup
selama berpuluh tahun itu?"
Kakek itu tertegun, matanya berkeliar dan lalu tertawa,
“Ada pintu rahasianya. Hanya saja engkau tak dapat
menemukan!"
Siau-liong diam tetapi dalam hati setengah tak percaya.
Kakek itu berkata lebih lanjut, “ Aku ditugaskan menjaga
kitab pusaka itu sampai datang orang yang berjodoh Siapa
kira tempat itu engkau terobos dengan tak terduga-duga....”
“Kalau begitu, aku bukan orang yang berjodoh," Siau-liong
menghela napas.
"Dahi bibirmu pendek, tentu bernasib malang. Gurat2
alamat itu sudah nampak, dalam beberapa hari ini tentu akan
terjadi. Maaf, kalau aku berkata terus terang, mungkin engkau
takkan bisa hidup lebih lama dari 10 hari....” kakek itu
menghela napas lalu melanjutkan, “dan engkau telah
melakukan tindakan yang tak selayaknya. Seharusnya jangan
menghancurkan kitab pusaka itu. Masakan kubiarkan kitab itu
sampai lenyap selama-lamanya?"
Siau-liong tergetar hatinya. Ucapan kakek itu sepatah demi
sepatah bagaikan ujung belati menusuk ulu hatinya.

681
Song Ling menarik lengan baju Siau-liong dan membisiki
didekat telinganya; "Jangan menghiraukan ocehannya.
Mungkin kakek ini bukan orang baik!"
“Jangan takut aku dapat menghadapinya," Siau-liong
menghibur.
Kiranya ia memang sudah mempunyai rencana. Tak peduli
kakek itu orang baik atau jahat. tetapi karena ia merasa sudah
menghancurkan kitab pusaka Thian-kong-sin-kang. Apapun
yang akan terjadi, ia siap menghadapi.
“Ya, semua telah terjadi, entah lo-cianpwe hendak
mengusahakan bagaimana untuk menolong soal itu?"
tanyanya sesaat kemudian.
Kakek aneh itu tersenyum, “Telah kupikirkan lama sekali
tetapi tetap tak memperoleh daya untuk menolong. Ah,
ternyata cara yang hendak kuajukan itu sudah engkau pikirkan
juga....”
“Aku sungguh tak mengerti maksud lo-cianpwe. Masakan
aku sudah....”
Kakek aneh itu tertawa meloroh lalu maju menghampiri
kedua anak muda itu. Siau-liong terkejut dan cepat bersiap.
Kakek itu berhenti dimuka mereka berdua. Ditatapnya wajah
Song Ling dengan tajam. Beberapa saat kemudian ia tertawa,
“Tulang bagus bakat tinggi. Benar-benar seorang tunas yang
hebat....”
Kemudian ia beralih memandang Siau-liong, katanya,
"Bukan engkau pernah hendak menurunkan Thian-kong-sinkang
kepada anak perempuan ini?"

682
Kembali Siau-liong terkejut. Ia benar-benar percaya kalau
kakek aneh itu seorang ahli nujum yang sakti. Kalau tidak
bagaimana ia tahu hal itu?
“Benar, memang aku pernah bermaksud begitu," akhirnya
ia mengaku.
Kerut wajah kakek itu berubah serius, “Karena itu, agar
kitab pusaka itu jangan sampai lenyap dari dunia, engkau
harus berdoa kepada arwah Tio Sam-hong cousu untuk
meminta idjin menurunkan ilmu Thian-kong-sin-kang kepada
seorang pewaris....!"
Ia berhenti sejenak lalu menatap Siau-liong, “Pertama,
engkau harus mengajarkan ilmu Thian-kong sin-kang itu
kepada nona Song ini. Tak boleh ada sepatah kata yang
kelewatan.
Kedua, selama engkau masih hidup dalam beberapa waktu
ini, tak boleh engkau mengatakan soal ilmu itu kepada
siapapun juga. Lebih2 jangan sekali-kali memberikan pelajaran
itu kepada lain orang. Nah, apakah engkau dapat menerima
syarat itu?"
Syarat yang dikehendaki kakek aneh itu justeru tepat
seperti yang direncanakan Siau-liong. Ia memang hendak
menurunkan pelajaran Thian-kong-sin-kang kepada Song Ling.
Menilik bakat dan kecerdasan dara itu, ia percaya dalam waktu
setahun saja, dara itu tentu akan menguasai ilmu sakti
tersebut. Apabila kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia tak
dapat dibasmi, sekurang-kurangnya ia dapat meletakkan
harapannya kepada dara itu. Dalam waktu setahun lagi,
setelah faham ilmu Thian-kong-sin-kang, tentulah dara itu
akan dapat melenyapkan kedua durjana pengganggu dunia
persilatan itu!

683
“Baiklah, aku menerima seluruh permintaan lo-cianpwe,"
kata Siau-liong, "tetapi aku masih mempunyai sebuah
permintaan....”
"Silahkan kalau engkau mau menyatakan apa2," kata kakek
aneh seraya mengelus jenggot.
“Adanya kuhancurkan kitab pusaka Thian-kong sin-kang itu
adalah karena aku kuatir kitab itu sampai jatuh ketangan
orang jahat. Demi menjaga hal itu, maka penurunan ilmu itu
harus dilakukan secara rahasia. Akan kuucapkan seluruh isi
kitab itu kepada nona Song. Menilik kecerdasannya, ia pasti
dapat mengingat dengan lekat".
“Ya, baiklah, aku setuju....” kata kakek itu, “tetapi berapa
lama engkau dapat menurunkan pelajaran itu?"
Sejenak Siau-liong terdiam, sahutnya, “Dalam dua jam atau
paling lambat dalam tiga jam saja, tentu sudah selesai!"
Kakek tua segera meminta kedua pemuda itu supaya
segera mulai pelajaran itu bertempat diruang samping,
katanya, “Aku yang menjaga disini untuk pengamanan kalian".
“Baiklah," kata Siau-liong lalu menarik Song Ling diajak
keruang samping. Tetapi diluar dugaan dara itu mendengus
dingin ,,Perlu apa harus keruang samping?"
“Ih, apakah tadi engkau tak mendengar pembicaraan
kami?" Siau-liong kurang senang.
“Kalau mendengar lalu bagaimana?"
Siau-liong terbeliak. Thian-kong-sin-kang merupakan ilmu
sakti nomor satu di dunia persilatan. Siapa yang dapat
menguasai tentu akan menjadi tokoh tanpa tanding. Setiap

684
orang persilatan tentu ngiler memimpikan ilmu sakti itu. Tetapi
mengapa dara itu bersikap enggan?
“Hendak kuberikan pelajaran ilmu Thian kong-sin-kang
kepada nona. Apakah engkau tak mau?" tegurnya.
Song Ling tertawa dingin, “Engkau menduga tepat! Aku tak
kepingin ilmu itu!"
Siau liong terkesiap.
Setelah menunggu sampai beberapa jenak dara itu tak
membuat reaksi pernyataan lagi, tahulah Siau-liong bahwa
Song Ling tentu masih mencurigai si kakek.
Ternyata kakek aneh itu juga mendengar kata2 Song Ling.
Dia juga heran. Matanya berkeliaran kian kemari tetapi tak
berkata suatu apa.
Siau-liong meringis. Tak tahu ia bagaimana harus
bertindak. Duduk berdiri serba salah, wajahnya tersipu-sipu
malu.
Song Ling melirik. Rupanya dara itu tak sampai hati
membiarkan pemuda itu dalam kekakuan begitu. Ia tertawa
mengkikik: ,,Baiklah, mari kita keruang samping. Tetapi bukan
berarti aku akan minta pelajaran ilmu Thian-kong-sin-kang,
lho....”
Kemudian dara itu melirik ke arah kakek aneh dan berkata
pula, “Siapapun jangan susah payah berkesal hati!"
Kakek itu tertegun. Tiba-tiba ia tertawa meloroh, “Tak
pernah selama ini aku salah lihat. Tak seorang tokoh
persilatan yang tak ngiler akan ilmu sakti Thian-kong-sinkang....”

685
Sambil memandang ke arah kedua pemuda yang
melangkah ke arah ruang samping, ia berseru lagi, “Harap
nona belajar yang teliti dan mengingat baik2. Aku tetap yang
menjaga disini!"
Kakek itu lalu tegak diambang pintu sambil lintangkan
tongkat besinya. Rambut putih dengan jubah kuning yang
berkibaran dihembus angin, sepintas pandang kakek itu
benar-benar menyerupai dewa yang turun kebumi....
Ruang samping itu terpisah empat lima tombak dari sikakek
berdiri. Song Ling duduk ditempat yang agak bersih lalu
berkata; “Sepasang mata tua bangka itu tak henti2nya
berkeliaran. Tentu mengandung maksud jahat. Apa yang
dikatakan tadi hanya ngawur saja, belum tentu....”
Siau-liong cepat mengerat, “Harap nona jangan banyak
kecurigaan. Tak peduli maksudnya bagaimana, aku akan
mengajaran isi kitab itu secara rahasia sekali sehingga tak
meninggal jejak. Tak nanti dia mendapat keuntungan....”
Song Ling tertawa dingin, “Pengalamanmu kurang sekali!
Mana dia mau tegak mematung disana saja? Tetapi asal
engkau sungguh hendak mengajarkan ilmu itu kepadaku, kita
nanti cari akal agar dapat kuterima dengan baik".
Merah wajah Siau-liong. Diam-diam ia mengakui kebenaran
kata2 itu. Jika ia lengah dan ilmu itu sampai terdengar orang
yang jahat, kematian tetap belum mampu menebus dosanya.
Siau-liong tundukkan kepala.
“Kucurigai jangan2 kakek itu kaki tangan si Iblis-penaklukdunia
Siapa tahu kemungkinan dalam biara ini masih
tersimpan orang2 yang menyembunyikan diri secara rahasia.

686
Bahkan bukan mustahil kalau kedua suami isteri durjana ini
berada disini sendiri!"
"Siau-liong seperti dipagut ular. Ah, benar, benar! Mengapa
ia selolol itu? Cepat ia bergeliat bangun dan memandang
keluar pintu. Tetapi sekeliling penjuru sunyi senyap. Tiada
sesuatu yang mencurigakan. Kakek aneh itupun tetap berdiri
diambang pintu menghadap kesebelah luar.
Setelah meneliti beberapa saat, ia kembali ketempat Song
Ling, ujarnya; “Tampaknya tempat ini tak ada tanda2 yang
mencurigakan dijadikan tempat persembunyian rahasia. Tetapi
demi pengamanan, akan kugunakan ilmu Menyusup Suara
untuk mengajarkan ilmu itu kepadamu".
Song Ling tertawa, “Pernahkah engkau mendengar tentang
ilmu Meneropong langit, mendengar bumi? Jika orang yang
bersembunyi memiliki ilmu semacam itu, asal masih dalam
lingkungan 10 tombak saja, tentu masih dapat menangkap
setiap gerak gerikmu dan setiap patah ucapanmu. Jangan kira
ilmu Menyusup Suara itu sudah aman. Ilmu itu tetap dapat
ditangkap orang....”
Sejenak memandang kesekeliling, dara itu melanjutkan
pula, “Segala rencana ini tentu dirancang Iblis-penakluk-dunia.
Mengingat saat ini kita masih terluka, jika sampai
membocorkan seluruh isi kitab Thian-kong sin-kang itu,
tentulah mereka segera menghabisi jiwa kita. Dan ilmu itu
akan dimiliki Iblis penakluk-dunia dan isterinya untuk selamalamanya.
Dunia persilatan pasti akan mereka genggam!"
Siau-liong tergetar hatinya; “Benar, nona sungguh cerdas
sekali!"
Song Ling tersenyum, “Ah, sebenarnya hal itu sudah
gamblang. Tetapi karena engkau terlalu jujur sehingga mudah

687
percaya omongan kakek itu. Karena engkau yang memperoleh
dan yang menghancurkan kitab Thian kong-sin-kang, kedua
suami isteri Ibils-penakluk-dunia tentu tak mau membunuhmu
dulu. Mereka hendak mengatur siasat untuk memperoleh
pelajaran kitab itu!"
Siau-liong kerutkan jidat, katanya, “Kalau begitu, kita
gunakan kesempatan ini untuk memulangkan tenaga. Dalam 3
jam saja, kita tentu sudah cukup kuat untuk menerobos keluar
dari tempat ini!"
“Jika tak salah dugaanku," sahut Song Ling, “Jika tahu
kalau engkau tak mengajarkan ilmu itu kepadaku, Iblispenakluk-
dunia tentu tak mau menunggu sampai 3 jam....”
Berhenti sejenak, dara itu menghela napas pasrah, “Ah,
terserahlah saja kepadamu....”
Ia menyadari dari keadaan saat itu. Tenaga mereka berdua
belum pulih sehingga tak mampu bertempur. Jangankan
dengan barisan pedang yang bersembunyi disekelilmg biara
situ, sedangkan sikakek aneh yang bertongkat besi dari 200
kati itu saja, sudah sukar dihadapi. Karena tiada lain jalan,
terpaksa Song Ling menyetujui usul Siau-hong. Mereka segera
pejamkan mata bersemedhi memulangkan tenaga.
Keduanya telah membulatkan tekad. Hanya menggunakan
kesempatan beberapa jam itu untuk memulangkan tenaga.
Hanya dengan jalan itu mereka mempunyai harapan untuk
lolos.
Tampaknya kakek aneh itu benar-benar mewajibkan diri
sebagai penjaga keamanan. Dan sama sekali seperti tak
manghiraukan Siau-liong yang sedang menurunkan pelajaran
kepada si dara itu.

688
Sambil melakukan penyaluran napas dan hawa murni, Siauliong
merenungkan kembali isi pelajaran kitab Thian-kong-sinkang
untuk menyalurkan pernapasan, tetapi dia sesungguhnya
masih banyak yang belum jelas akan soal2 Semangat, hati,
Nafsu, Pikiran, Ketenangan, Gerakan, Kehampaan dan
Kenyataan dalam ilmu pernapasan itu. Maka dalam melakukan
pernapasan itu pun masih belum seluruhnya berhasii seperti
yang dikehendaki, Tetapi untunglah ia memiliki otak yang
cerdas dan kemauan keras. Sedikit banyak dapat juga ia
menyelami beberapa bagian dari rahasia pelajaran itu.
Kira2 dua peminum teh lamanya, kakek aneh itu tiba-tiba
berbalik memandang ke arah kedua pemuda. Dilihatnya Siauliong
dan Song Ling duduk bersemedhi. Kakek itu kerutkan alis
lalu menghadap kemuka lagi.
Setelah sejam kemudian, kakek tua itu masih tetap berdiri
diambang pintu. Siau-liong memang curiga terhadap kakek itu.
Sambil menyalurkan pernapasan, diam-diam ia
memperhatikan gerak gerik kakek itu. Tetapi karena ternyata
kakek itu tak membuat suatu gerakan apa2, mulailah Siauliong
lepaskan perhatian dan tumpahkan semangatnya untuk
menyalurkan pernapasan.
Tiba-tiba diluar biara samar2 terdengar suara orang bicara.
Siau-liong serentak hentikan penyaluran napas dan pasang
telinga. Ah, benar, memang ada pendatang yang berada diluar
biara.
Sesaat itu teringatlah Siau-liong akan ceceran noda darah.
Ia percaya pendatang itu tentu akan memasuki biara untuk
menyelidiki. Dan ketika mendengarkan dengan seksama,
ternyata pendatang itu tak kurang dari 3 atau 6 orang
jumlahnya. Mereka sedang bercakap-cakap dengan pelahan.
Rupanya kuatir pembicaraan mereka terdengar oleh orang
dalam biara.

689
“Jika kakek aneh itu benar-benar kaki tangan Iblispenakluk-
dunia, pendatang itu tentulah rombongan Ceng Hi
totiang," diam-diam Siau-liong menimang.
"Anda kalau mau masuk, masuk sajalah segera. Mengapa
kasak kusuk disini?" tiba-tiba terdengar suara orang berseru
nyaring. Menyusul terdengar derap langkah orang
mendatangi.
Siau-liong tergetar hatinya. Ia tak asing dengan nada suara
itu. Tetapi sesaat ia lupa pernah bertemu dimana.
Song Ling pun sudah membuka mata. Dengan pandang
bertanya ia menatap Siau-liong lalu mencurahkan perhatian
untuk mendengarkan gerak gerik pendatang2 diluar biara itu.
Kakek aneh itu bermula masih tenang. Seolah-olah tak
mengacuhkan. Tetapi saat itu tiba-tiba ia mulai gelisah.
Beringsut dari ambang pintu, ia menyurut mandur ke dalam.
Sambil memperhatikan kedua muda mudi yang masih duduk
itu, ia beringsut mundur ke belakang jendela. Tiba-tiba ia
lontarkan passer pertandaan keluar.
Walaupun passer atau anak panah itu hanya memencar
sinar lemah tetapi tetap dapat dilihat Siau-liong. Kini
tersadarlah ia. Kakek aneh itu benar-benar memang kaki
tangan Iblis-penakluk-dunia!
Dengan pemberian panah rahasia itu, jelas kalau kakek itu
bukan seorang diri melainkan dengan rombongan. Siau-liong
segera memberi isyarat mata kepada Song Ling. Keduanya
serentak bangkit lalu mengumpat disudut ruang yang gelap
dan menunggu apa yang terjadi.

690
Derap kaki orang tadipun segera tiba dimuka biara. Dan
sehabis melepas panah pertandaan, kakek aneh tadipun
segera kembali berdiri disamping meja. Tegak menjaga sambil
mencekal tongkat besi.
Rupanya pendatang itu masih bersangsi diluar pintu. Tibatiba
ia terbeliak kaget karena melihat arca di atas meja
sembahyang dan sikakek aneh yang menjagu disamping meja.
Segera orang itu melangkah masuk.
“Pak tua, apakah engkau penjaga biara ini?" tegurnya
dengan suara nyaring.
Tetapi secepat itu ia merasa kalau pertanyaannya salah
alamat. Dilihatnya kakek itu bukan bangsa paderi atau imam.
Dan biara rusak itupun tentu sudah lama tiada dirawat orang
dan tiada penjaganya.
Tiba-tiba pendatang itu tertawa gelak2 lalu bertanya pula,
“Hai, pak tua, apa kerjamu disini? Mengapa engkau
mengadakan sembahyangan ditempat ini?"
Kakek tua itu bersikap pura-pura tak mengacuhkan. Tetapi
ia berusaha untuk mengalingi pandangan pendatang itu
supaya jangan sampai melihat ke arah ruang samping. Lalu
msnyahut, “Aku seorang kelana dan kebetulan sedang
beristirahat disini....”
Sejenak menatap pendatang itu, ia melanjut-kan pula,
“Apakah saudara juga sedang lalu didaerah ini?"
Diruang samping, Siau-liong sudah melihat jelas siapa
pendatang itu. Ya. tak salah lagi. Dia adalah sitinggi besar Lu
Bu-ki, kepala Rim-ba Hijau daerah Lam-lok yang terkenal
dengan julukan Ruyung-besi-pelor-sakti.

691
Lu Bu-ki sambil mencekal ruyung besi menatap dengan
pandang curiga kepada kakek aneh itu. Dibelakangnya tampak
4 orang jago2 silat siap dengan senjata terhunus.
Siau-liong yang sudah tahu jelas status kakek aneh itu,
karena kuatir Lu Bu-ki kena dikelabuhi, cepat2 menyalurkan
pernapasan.... Setelah merasa peredaran darahnya longgar
dan tenaganya banyak pulih, segera ia berbangkit hendak
melangkah keluar.
Tetapi tiba - tiba terlintas sesuatu dalam pikirannya. Dan ia
batalkan niatnya.
Kiranya ia teringat bahwa walaupun si tinggi besar Lu Bu-ki
itu amat mengagumi dan mengindahkan dirinya tetapi dalam
kedudukan sebagai Pendekar Laknat. Dan sekarang kalau ia
muncul sebagai Siau-liong, orang tinggi besar itu pasti takkan
mengenalnya. Mengingat sitinggi besar itu seorang jujur dan
berangasan, ia kuatir akan menimbulkan salah faham. Apa
boleh buat terpaksa ia sabarkan diri dan menunggu saja
bagaimana perkembangannya barulah ia akan bertindak
bersama Song Ling.
Ternyata sitinggi besar Lu Bu-ki tak menyahut hanya
memandang kesekeliling penjuru lalu berkata, “Pak tua,
tempat ini bukan tempat yang aman. Lebih baik lekas2
tinggalkan tempat ini. Apakah selama dalam perjalananmu
engkau tak pernah mendengar tentang sepak terjang suami
iSteri Iblis-penakluk-dunia yang hendak menguasai dunia
persilatan dan melakukan pembunuhan secara besar-besaran
itu?"
Kakek aneh itu tertegun, lalu tertawa.

692
“Aku berkelana keseluruh penjuru dunia.... Tak
mencampuri urusan dunia persilatan. Aku tak peduli siapapun
juga!" serunya.
Seorang tinggi kurus yang berdiri mencekal pedang di
belakang Lu Bu-ki. memandang lekat pada kakek aneh itu.
Saat itu tiba-tiba mendekati Lu-Bu-ki dan membisiki beberapa
patah kata.
Si tinggi besar Lu Bu-ki keliarkan matanya dan mengerung,
“Benar.... benar, lalu ia maju dua langkah kehadapan kakek
aneh dan membentaknya, “Pak tua, kapankah engkau datang
kebiara ini?"
Kakek tua itu mundur selangkah dan merjawab tersendat;
"Baru kemarin malam dan sekarang akan melanjutkan
perjalanan lagi....” kemudian ia menggerutu, “Aku tak biasa
didesak orang dengan pertanyaan2. Kalau tak ada urusan lagi,
silahkan saudara tinggalkan aku seorang diri."
Lu Bu-ki membentaknya, “Pak tua, kalau ketemu tuanmu
ini engkau memang celaka. Kalau memang semalam engkau
sudah datang, tentu engkau tahu siapa yang bertempur diluar
biara ini?"
Kakek itu gentakkan tongkat besinya. Rupanya ia marah
tetapi ia tetap tertawa hambar dan gelengkan kepala, “Telah
kukatakan, aku tak peduli dengan urusan dunia persilatan.
Jangankan memang tak mendengar suara ribut2 itu, sekalipun
dengar akupun tak ambil pusing!"
Lu Bu-ki lintangkan ruyung besi dan membentak nyaring,
“Pak tua, sudah 20 tahun aku berkecimpung dalam dunia
persilatan. Mataku sudah kenyang melihat apa2, Hayo lekas
bilang siapakah sesungguhnya dirimu ini!"

693
Nadanya keras, sikapnya kasar. Benar-benar suatu lagak
yang biasa diunjuk oleh orang persilatan yang kasar.
Demikian keempat orang yang mangawal di belakang itu.
Begitu melihat sitinggi besar bersikap hendak turun tangan,
mereka pun cepat mencabut senjata masing-masing dan terus
mengepung kakek aneh itu.
Diam-diam Siau-liong gelisah melihat tingkah laku sitinggi
besar itu. Jangankan kakek itu masih mempunyai gerombolan
yang menyembunyikan dari disekitar biara situ. Sekali pun
hanya seorang diri, tetapi kakek yang mencekal tongkat besi
seberat 200-an kati itu tentu sukar dilawan.
Tetapi apa yang terjadi saat itu, benar-benar diiuar
dugaannya. Sikakek yang tampak seperti seorang dewa itu
dan dikira tentu mempunyai kepandaian yang sakti, tetapi
ternyata berhadapan dengan si kasar Lu Bu-ki, kakek itu
mengunjuk wajah yang ketakutan. Dia beringsut-ingsut
mundur ke belakang. Tetapi matanya tak henti2nya
memandang keluar jendela seperti orang sedang menunggu
datangnya bala bantuan.
Karena kakek itu diam saja, si kasar Lu Bu-ki terus ayunkan
ruyungnya dengan jurus Menyiak-bunga-menggoyang-pohon.
Sebagai pemimpin Rimba Hijau dari wilayah Lam-lok, sudah
tentu Lu Bu-ki memiliki kepandaian yang tinggi. Gerakan
menutuk dengan ruyung itu menimbulkan desis suara yang
amat tajam.
Kakek itu mengangkat tongkat hendak menangkis tetapi
tubuhnya pun cepat2 miring kesamping. Secepat menarik lagi
tongkat dan mundur hendak menyingkir.

694
Tetapi saat itu ia berada didekat dinding ruang. Apalagi
masih ada keempat pengawal Lu Bu-ki yang menyerang.
Kakek itu tak mampu menghindar lagi.
Tring.... betapa kakek itu mundur, tak urung tongkatnya
berbentur juga dengan ruyung besi dari sitinggi besar Lu Buki.
Tiba-tiba sitinggi besar tertegun dan mundur selangkah.
Dipandangnya kakek itu dengan terlongong-longong. melihat
pemimpinnya tak melanjutkan serangannya keempat
perngawal itupun masing-masing mundur selangkah dan sikap
menunggu.
Kakek aneh yang sudah terpojok disudut dinding itu,
tampak ketakutan.
“Ho, kiranya engkau binatang!" tiba-tiba Lu Bu-ki berteriak
sesaat kemudian. Dan menyusul ruyungpun segera diayunkan
dengan deras untuk mendesak kakek aneh itu.
Kakek itu sudah patah nyalinya. Tongkatnya tak keruan
gerakannya. Cepat sekali tongkatnya terpukul jatuh oleh
ruyung Lu Bu-ki.
Siau-liong dan Song Ling melihat jelas apa yang terjadi itu.
Sepintas pandang tongkat besi kakek aneh itu amat berat
sekali tetapi ternyata dapat disabat terpental oleh ruyung Lu
Bu-ki. Jelas tongkat itu bukan dari besi melainkan dari besi
tipis yang dibalut kulit.
Diam-diam Siau-liong memaki dirinya sendiri mengapa tak
cermat menilai orang sehingga mudah dikelabuhi.

695
Setelah tongkatnya terpental, tampak kakek itu bingung tak
keruan. Tiba-tiba ia menjerit keras. "Thian-cun, tolonglah!
tolonglah....”
Lu Bu-ki terkesiap. Ia mendengus dingin, lalu sabatkan
ruyungnya kepinggang si kakek.
"Bluk".... kakek itu terpental sampai setombak lebih
jauhnya dan terkapar rubuh di tanah.
Lu Bu-ki memburunya, “Binatang, engkau masih berani
pura-pura pingsan!" Ia terus mencopoti rambut, jenggot,
jubah dan mantel kakek itu.
Ternyata orang itu mengenakan kedok muka palsu. Dia
bukan lagi sikakek tua melainkan seorang lelaki yang baru
berumur 50-an tahun. Pakaiannya yang asli hanya
seperangkat pakaian yang sudah rusak, butut dan compangcamping.
Seorang tukang khwat-mia atau tukang ramal yang
berkelana mencari penghidupan di dunia persilatan.
Lu Bu-ki menginjak dada orang itu lalu membentaknya,
“Hai, mulut besi, masih kenal aku!"
Kiranya orang itu bernama Ong Thiat-go Orang si Mulut
besi. Seorang tukang ramal yang menuntut penghidupan
sebagai penipu. Sedikit2 dia memang belajar silat dan pernah
berlatih ilmu tenaga dalam. Maka sabatan ruyung Lu Bu-ki tadi
tak sampai membuatnya pingsan. Dengan bergeliatan dan
berkaok-kaok ia memanggil Thian-cun atau bapak kepala.
Tetapi sampai kerongkongannya serasa pecah, tetap tiada
penyahutan atau bantuan yang datang. Setelah Lu Bu-ki
menginjak dadanya, barulah ia tak berani bertingkah lagi.
"Poh-cu, hamba memang berdosa, hamba....”

696
"Jangan banyak bicara! bentak sitinggi besar, "Lekas bilang
mengapa engkau berani menyaru seperti setan tua!"
Karena dadanya terhimpit sehingga sukar bernapas, si
Mulut besi itu mencekal kaki Lu Bu-ki erat2 dan tak dapat
bicara.
Sitinggi besar mendengus lalu longgarkan injakannya,
“Lekas bilang kalau berani bohong otakmu tentu berhamburan
keluar!"
Setelah merghela napas dan memandang sejenak ke arah
luar jendeia, berkatalah ia dengan sikap ragu2, “Poh-cu, suami
isteri Iblis-penakluk-dunia berada dalam biara ini.... hamba....”
Memang pada waktu si Mulut besi berkaok-kaok minta
tolong pada “Thian cun", Lu Bu -ki sudah menduga kalau
kedua suami isteri durjana itu tentu berada disekitar tempat
situ. Tetapi sebagai kaum persilatan, Lu Bu-ki dan
rombongannya tak menghiraukan lagi soal mati atau hidup.
Walaupun kasar dan berangasan, tetapi ternyata Lu Bu-ki
cerdik juga. Ia sadar kalau kawan-kawannya sukar lolos dari
cengkeraman Iblis-penakluk-dunia. Tetapi sebelum mati, Lu
Bu-ki harus dapat menggagalkan rencana Iblis-penakluk-dunia
untuk kemudian ia laporkan pada Ceng Hi totiang.
Kiranya saat itu Ceng Hi totiang sudah mengajak
rombongan orang gagah tinggalkan Lembah Semi. Sepanjang
jalan, banyak tokoh yang dianjurkan pulang ketempat masingmasing.
Dengan hanya membawa beberapa puluh tokoh2
terkemuka dari partai2 persilatan, mereka menuju kegunung
Gobi, Lu Bu-ki bertugas menjadi pelopor dimuka.
"Tak peduli setan belang yang berada disini, jika engkau
tak mau bilang sejujurnya, tuanmu tentu segera akan....” -

697
bentak Lu Bu-ki seraya mencengkeram bahu si Mulut-besi.
bentaknya, “Biarlah engkau rasakan dulu bagaimana rasanya
ilmu Hun-kin-soh-kut itu!"
Hun-kin-soh-kut artinya Menceraikan urat nadi dan
mengunci tulang. Sudah tentu si Mulut-besi kelabakan
setengah mati. "Harap Poh-cu memberi ampun. Hamba akan
bilang! Ya, akan bilang....”
Sejenak menghela napas, si Mulut-besi segera berkata,
“Hamba sebenarnya menjadi tawanan orang. Semua rencana
disini adalah menurut perintah Iblis-penakluk-dunia. Hamba
disuruh menyaru sebagai penjaga tempat kitab pusaka
peninggalan Tio Sam-hong cousu. Dan harus menipu Kongsun
liong siauhiap agar mau menurunkan iimu Thian-kong-sinkang
kepada kawan seperjalanannya nona Song....”
"Ngaco belo!" bentak Lu Bu-ki, "apa itu iimu Thian-kongsin-
kang dan Kong sun Liong!"
Kalau sitinggi besar tak percaya obrolan si Mulut-besi,
memang beralasan juga. Karena ia telah melihat bagaimana
dalam barisan Pohon Bunga di Lembah Semi tempo harl,
Pendekar Laknat gunakan iimu Thian-kong-sin-kang untuk
melawan Jong Leng lojin dan Lam-hay sin-ni. Ia yakin
Pendekar Laknat tentulah yang mewarisi ilmu sakti itu.
Segera ia tambahi tenaga cengkeramannya pada bahu si
Mulut-besi sehingga orang itu menjerit-jerit seperti kerbau
hendak disembelih.
“Poh-cu, apa yang hamba katakan itu memang benar. Asal
Kongsun Liong mau menurukan ilmu Thian-kong-sin-kang
kepada nona Song, Iblis-penakluk-dunia segera gunakan ilmu
Meneropong-langit mendengar-bumi untuk mencuri dengar.

698
Setelah itu ia akan membunuh kedua anak muda itu dan ilmu
itu akan dimiliki tunggal oleh Iblis-penakluk-dunia sendiri....”
"Makin lama engkau makin tak keruan bicaramu!" bentak
sitinggi besar, “jika memiliki Thian-kong-sin-kang, masakan
Iblis-penakluk-dunia mampu membunuhnya? Dan mengapa ia
hendak menurunkan ilmu sakti itu kepada lain orang?"
Habis berkata siberangasan itu terus hendak menyiksanya
lagi. Si Mulut-besi berusaha menunjuk ke arah ruang samping,
serunya, “ Kalau tak percaya, silahkan tanya kepada kedua
pemuda itu.... Dia sudah setuju hendak menurunkan iimu
Thiau-kong-sin kang tetapi nona itu dapat mengetahui tipu
muslihat....”
Tiba-tiba dari luar jendela meluncur sebertik sinar bintang
yang langsung mengarah ketenggorokan si Mulut-besi. Lu Buki
terkejut. Ia hendak menolong tetapi sudah tak keburu lagi.
Sebatang anak panah kecil yang amat tajam, menembus
tenggorokan si Mulut-besi. Dia menguak tertahan, tubuh
meremang2 dan pada lain saat kaki tangannya pun menjulur
kaku. Nyawanya amblas.
Sekitar luka pada anak panah itu berwarna hitam. Jelas
mengandung racun ganas.
Cepat Lu Bu ki lari keluar Ternyata Siau-liong dan Song Li
sudah berada di pintu. Hampir saja si berangasan
menumbuknya. Ia berhenti dan membentak, “Omongan si
Mulut besi tadi....”
"Seluruhnya benar! Aku memang hampir saja aku terkena
tipunya....”

699
Sambil mencekal rujung besinya, si tinggi besar berseru
pula, “Aku benar bingung mendengar semua ini! Hal ini.... hal
ini.... benar-benar sukar dipercaya!"
“Tak peduli engkau percaya atau tidak, saat ini aku tiada
waktu memberi penjelasan panjang lebar, hanya saja....” —
tiba-tiba ia tutukkan kedua jarinya kesebuah batu merah yang
terhampar dilantai.
"Krek".... batu merah itu pun pecah berantakan.
Mata si tinggi besar mendelik dan menjeritlah ia dengan
kaget, “Thian-kong-sin-kang! Benar-benar memang....”
keempat pengawal dibelakangnya pun ter-longong2 seperti
patung.
Tiba-tiba Siau-liong gunakan ilmu Menyusup suara kepada
Lu Bu-ki, “Ketahuilah hai, saat ini kita sedang dikepung Iblispenakluk-
dunia. Sekali pun aku memiliki ilmu Thian-kong-sin
kang, tetapi belum lama mempelajarinya. Masih sukar
menggunakannya dan lagi sedang menderita luka. Kalau Iblispenakluk-
dunia berada disini, mungkin masih sukar
menghadapinya. Dia tentu membawa Jong Leng lojin dan
Lam-bay Sin-ni. Akibatnya suka dibayangkan bagi kita!"
Tetapi si tinggi besar tak mau berpikir panjang. Setelah
mengetahui dengan mata kepala sendiri bagaimana Siau-liong
dapat menggunakan tutukan Thian-kong-sin-kang, segera ia
suruh dua orang anak buahnya untuk memberi laporan pada
Ceng Hi totiang.
Setelah itu ia menunjuk belakarg jendela dan pintu. Kedua
anak buah itu segera berpencaran Menyebar lari ke belakang
dan muka.

700
Kedua orang itu adalah jago2 rimba hijau, merekapun
orang2 yang terkenal dalam dunia Bu-lim. Mereka jelas akan si
tuasi saat itu.
Tetapi secepat mereka loncat keluar setitik sinar perak
segera menyambarnya. dahsyat sekali sehingga kedua orang
dapat menangkis.
Lu Bu-ki dan Siau-liong terkejut mereka lihat arah
datangnya senjata gelap menyambar.
Terdengar dua erang tertahan. Ada juga yang melompat
naik, seorang yang sedang melayang di udara menukik jatuh
ke tanah. Seperti keadaan sekarat, setelah me-regang2 tubuh
dan serta kaki dan tangan mereka menjulur berapa saatpun
lantas mati. Jelas kedua orang ini mati disambar anak panah
beracun.
Si tinggi besar meraung seperti singa kelaparan. Tetapi ia
tak dapat berbuat suatu apa kecuali hanya melihat kedua anak
buahnya mati secara mengenaskan.
Tiba-tiba terdengar gelak tertawa nyaring. Siau-liong
terperanjat. Ia tahu nada suara itu berasal dari Iblis-penaklukdunia.
Tetapi karena iblis itu menggunakan ilmu tertawa
Gelombang-hawa, maka sukar ditentukan arah datangnya.
Hening lelap beberapa saat kemudian. Diluar biara tiada
terdengar suara apa2 lagi. Tetapi keadaan itu merupakan
babak permulaan dari sesuatu yang sukar dibayangkan.
Berapakah jumlah anak buah yang dibawa Iblis-penaklukdunia
itu? Dan tindakan apa yang hendak mereka lakukan?
Dan dengan berada dalam ruang biara itu, Siau-liong, Lu Bu-ki
beserta kawan2 seperti terkurung!

701
Song Ling menarik Siau-liong, Song Ling berkata pada dia
begini saja, lambat laun tentu tersekat diri mereka Menilik
durjana itu menanti saat lengah kita dan takut kepada Thian
kong-sin-kang yang kau miliki, mengapa kita tidak menerobos
saja!"
Sesaat Siau-liong tak dapat mengambil keputusan. hanya ia
setuju untuk mmerobos keluar. Tetapi saat ini musuh ada
dalam tempat gelap dan dirinya ditempat terang. Oleh karena
gagal mempergunakan si mulut-besi untuk mengorek ilmu
Thian-kong-sin-kang, kemungkinan iblis itu tentu marah dan
hendak membunuh dirinya. Atau mungkin ia akan dijadikan
palung hidup seperti Jong Leng lojin, Lam-hay Sin-ni, Randa
Bu-san dan lain-lain.
Agaknya Song Ling juga memikirkan kemungkinan itu. Ia
menghela napas pelahan dan tak mau mendesak Siau-liong
lagi, Ia memandang kesekeliling penjuru, menunggu apa yang
akan terjadi.
Oleh karena tahu kalau memiliki Thian-kong-sin-kang. Lu
Bu-ki menaruh perindahan pada Siau-liong. Ia berdiri tegak
disamping pemuda itu sedang kedua anak buah menjaga
dipintu dan di belakang dan jendela.
Tiba-tiba tampak dua sosok bayangan muncul dari pintu
muka dan melangkah masuk pe-lahan2. Sekalian orang
berseru kaget melihat kedua pendatang itu.
Yang dimuka seorang wanita berpakaian merah. Kepalanya
menunduk, keadaannya mengenaskan. Kedua tangannya
diikat ke belakang. Dan yang dibelakangnya, seoraug paderi
bertubuh kecil pendek. Memelihara jenggot kambing.
Sepasang matanya ber-kilat2 tajam penuh wibawa.

702
Siau-liong terkejut girang. Paderi itu bukan lain adalah Liau
Hoan sipaderi kurus dari Thian-san yang hendak dicarinya.
Sedang wanita baju merah itu adalah Poh Ceng-in, pemilik
Lembah Semi.
Rupanya paderi Liau Hoan tak mengetahui bahwa biara itu
sedang menjadi sarang harimau2 yang akan berkelahi. Maka
seenaknya saja ia masuk ke dalam ruang.
“Liau Hoan siansu....” seru Siau-liong dengan nada
tergetar.
Paderi kurus itu terkejut. Matanya ber-kilat2 mencari orang
yang memanggilnya tadi. Tetapi serentak dengan itu, tiga
bintik sinar menyambar kepala dada dan kakinya.
Saat itu Poh Ceng-in hanya terpisah dua langkah dari
paderi Liau Hoan. Serangan gelap itu berasal dari samping dan
dilakukan dengan cepat dan dahsyat. Tampaknya tak mungkin
Liau Hoan dapat menghindar.
Tetapi tadi karena Siau-liong berseru memanggilnya, paderi
itu terkejut dan siap. Dan memang paderi itu bukanlah
sembarang paderi, melainkan seorang tokoh sakti yang
termasyur dalam dunia persilatan.
Tampak tubuhnya meluncur dan secepat kilat
mencengkeram Poh Ceng-in. Aduh.... terdengar wanita itu
menjerit lalu jatuh tertelentang.
Liau hoan bergerak luar biasa cepatnya. Ia melesat ke
belakang Poh Ceng-in untuk menghindari serangan gelap.
Tetapi karena dicengkeram Poh Ceng-in rubuh ke belakang
dan tepat menyongsong serangan senjata gelap itu. Ia
menjerit dan rubuh seketika.

703
Kejut Siau-liong bukan alang kepalang.... Menyiak Song
Ling, cepat ia enjot kakinya melayang ketengah ruang.
Sambil masih mencengkeram Poh Ceng-in yang me-rintih2
kesakitan itu, Liau Hoan membentak, “Hm, akhirnya dapat
juga kucarimu....”
Siau-liong tak sempat menjawab. Cepat ia merebut Poh
Ceng-in dari tangan paderi itu lalu membawanya lari keruang
besar.
Liau Hoan pun segera mengikuti.
Song Ling, Lu Bu-ki dan kedua anak buahnya terkejut
melihat kejadian itu. Apakah hubungan wanita baju merah itu
dengan Siau-liong sehingga pemuda itu begitu ngotot sekali
untuk menolongnya?
Lu Bu-ki kenal pada Liau Hoan, segera ia memberi hormat
dan menegur. Tetapi diluar dugaan paderi itu tak
mengacuhkan. Hanya sejenak memandangnya dingin lalu
menghampiri Siau-liong.
Siau-liong tampak bergegas memeriksa luka Poh Ceng-in.
Kaki kiri wanita itu terkena sebatang passer tajam. Sekitar
dagingnya sudah berwarna merah gelap.
Cepat Siau-liong menutuk jalan darah dikaki wanita itu
untuk menghentikan perdarahan. Lalu mencabut anak panah
itu.
Karena senjata rahasia itu mengenai kaki kiri dan bukan
bagian yang berbahaya, maka Poh Ceng-in tak cepat2 mati
seperti Ong si Mulut-besi. Dan setelah ditutuk jalan darahnya,
peredaran racunnya pun tak sampai mengalir ke jantung
sehingga wanita itu pun sadar pikirannya.

704
Karena ujung anak panah itu agak membengkok, pada saat
dicabut Siau-liong, sakitnya bukan main sehingga Po Ceng-in
menjerit ngeri dan pingsan.
Siau-liong tak mempedulikan kesakitan atau tidak. Ia
mencabut belati dan segera mengupas daging yang sudah
memerah gelap itu.
Poh Ceng-in benar-benar setengah mati sekali. Ber-ulang2
kali ia sadar dan siuman.
Sambil menutup muka, Song Ling bertanya, “Siapakah
wanita ini?"
Siau-liong sedang sibuk mengoperasi luka Poh Ceng-in.
Tampaknya ia gelisah sekali sehingga tak mengacuhkan
pertanyaan Song Ling.
“ Hai, apakah engkau tuli!" karena tak dipedulikan, Song
Ling membentaknya.
Siau-liong kicupkan mata, menyahut segan, “Kalau hendak
bertanya nanti sajalah....” —ia terus merobek bajunya dan
membalut luka Poh Ceng-in.
Song Ling marah sekali, tubuhnya menggigil, “Tidak, harus
menerangkan dulu!"
Dara itu terus mencengkeram tangan kanan Siau-liong.
Sudah tentu Siau-liong terkejut dan hentikan pertolongannya
pada Poh Ceng-in.
“Ah, hal itu tak dapat kuterangkan dalam waktu singkat.
Tetapi kalau dia sampai mati, aku pun takkan hidup juga!"

705
Si dara memandangnya sejenak. Tiba-tiba ia lepaskan
cengkeramannya dan mundur dua langkah lalu tertawa keras,
“Ah, kiranya engkau seorang yang tak kenal budi! Sayang
taciku Mawar buta matanya. Termasuk kami ibu dan anak! "
Ia terus berputar tubuh menghadap dinding dan menangis
gerung2. Siau-liong menghela napas. Setelah membalut luka
Poh Ceng-in ia lalu menghampiri Sang Ling dan menepuk
bahunya pelahan-lahan, “Nona Song, aku mempunyai rahasia
yang sukar kukatakan, wanita itu....”
Song Ling meronta dan menjerit kalap, “Tak perlu omong!
Aku sudah tahu semua!"
Siau-liong banting2 kaki dan menghela napas lalu kembali
ke tempat Poh Ceng-in.
Wajah Poh Ceng-in berwarna gelap, napas terengah-engah
tetapi sudah sadar. Begitu membuka mata dan memandang
Sian-liong, ia segera berseru, “Siau-liong! Siau....”
Siau-liong deliki mata dan membentaknya, “Perempuan
siluman, engkau telah menyiksa diriku....”
Poh Ceng-in tertawa rawan, “Kalau aku menyiksa dirimu,
mengapa engkau menolong aku?"
Siau-liong kerutkan geraham. Ia marah sekali tetapi tak
dapat berbuat apa-apa.
Wanita itu masih kesakitan. Butir2 keringat mengucur deras
dari kepalanya. Tetapi ia masih kuatkan diri tertawa
mengekeh, “Sudah tentu bukan karena menolong aku
tetapi.... karena hendak menolong dirimu sendiri....”

706
Berhenti sejenak, wanita itu berkata pula, “Tetapi sekarang
percuma saja engkau hendak bilang apa2. Sekalipun dapat
menolong aku tatapi engkau tetap tak mampu menolong
dirimu. Anak panah itu khusus dibuat ayahku. Siapa kena
tentu mati. Paling lama hanya kuat bertahan sampai satu
jam!"
"Perempuan siluman, aku akan meminum darahmu!" teriak
Siau-ling kalap.
Poh Ceng-in tertawa keras, “Huh, sudah terlambat!
Darahku sudah tercampur racun yang ganas. Kalau tak minum
darahku, engkau masih dapat hidup sampai tiga hari. Tetapi
jika minum, paling lama engkau hanya kuat hidup 2 jam saja!"
Tiba-tiba Siau-liong ayunkan tangannya menghantam muka
wanita itu. "Plak", seketika separoh wajah wanita itu
membegap besar. Darah mengucur deras....
Tetapi Poh Ceng-in makin kalap. Ta tertawa sekeraskerasnya.
Saat itu Song Ling sudah berhenti menangis dan
memandang tercengang peristiwa itu. Ia benar-benar heran
terhadap pemuda itu. Bukankah tadi begitu tekun menolong,
mengapa sekarang menghantamnya begitu rupa?
Juga Lu Bu-ki bingung. Ia dapat menduga kalau Poh Cengin
itu puteri dari kedua suami isteri Iblis penakluk-dunia.
Tetapi ia heran mengapa Siau liong mau menolongnya tetapi
tiba-tiba hendak membunuhnya?
Kalau Song Ling dan Lu Bu-ki tercengang-cengang adalah
Liau Hoan diam saja. Ia tak mau mengurus Siau-liong yang
sedang marah kepada wanita pemilik Lembah Semi itu.
Tiba-tiba kedua pengawal Lu Bu-ki berteriak, “Poh-cu,
diluar ada orang datang!"

707
Sekalian orang terkejut. Karena terpikat perhatiannya
kepada Siau-liong, mereka sampai tak memperhatikan
keadaan di luar biara.
Ketika memandang keluar, tampak seorang wanita
berambut setengah putih, melangkah pelahan-lahan ke dalam
ruang. Begitu tiba di dalam. ia memandang kian ke mari dan
akhirnya menatap Poh Ceng-in dan Siau-liong. Ia segera
menghampiri.
Lu Bu-ki cepat menghadangkan ruyungnya, Bmembentak,
“Siapa engkau? Mengapa berani mati!"
Wanita berambut kelabu itu balikkan kelopak matanya dan
tertawa, “Aku adalah orang Lembah Semi. Aku tak butuh
berkelahi dengan kalian!"
Menyiak ruyung si tinggi besar, ia terus maju menghampiri
Poh Ceng-in Kemudian ia berjongkok dihadapan Poh Ceng-in,
“Apakah nona menderita siksaan?"
Tiba-tiba Poh Ceng-in membentaknya, “Jangan
mempedulikan aku! Lekas enyah dari sini....” napasnya terengah2.
"Pulang kasih tahu pada ayah dan ibuku. Aku mati
terkena anak panah beracun buatan mereka. Matipun ikhlas
dan tak mendendam kepada siapapun juga!" katanya lebih
lanjut.
Wanita berambut kelabu itu menghela napas.
“Ayah bunda nona, amat cemas sekali. Siang dan malam
memikirkan diri nona. Sekarang su-heng nona Soh-beng Ki-su
dijebloskan dalam gua Im-hong-tong dan akan dicincang....”

708
Poh Ceng-in tertawa dingin, “Ah, soal ini tiada sangkut
pautnya dengan suheng. Tak usah menghukum orang yang
tak bersalah!"
Wanita berambut kelabu itu mengeluarkan sebuah botol
warna putih perak. "Hamba mendapat perintah dari Thiancun
untuk mengantarkan obat ini kepada nona!" katanya lalu
memandang Siau-liong dan membentak, “Obat ini khusus
untuk menyembuhkan anak panah racun Ngo-tok-bi-hun (lima
racun pencabut nyawa). Lekas minumkan kepadanya!"
Betapa geram Siau-liong saat itu, tetapi ia terpaksa
melakukan juga. Tetapi se-konyong2 Poh Ceng-in menendang
botol obat itu. Untunglah karena kedua tangannya terikat, ia
tak dapat bergerak leluasa. Dan Siau-liong pun sudah dapat
menyambuti botol itu.
"Tolol! Apakah engkau tak tahu kalau aku dan dia sudah
sama2 minum racun Jongtok?" Poh Ceng-in mendamprat
keras wanita itu.
Wanita berambut kelabu tertegun, serunya, “Kalau begitu,
dia tentu takkan mencelakaimu."
“Gila! Dia sudah tahu caranya melunturkan racun Jong-tok.
Asal racun dalam tubuhku sudah bersih, dia tentu
membunuhku!" Poh Ceng-in melengking makin marah.
Wanita berambut kelabu tertawa. “Tak apa," katanya,
“Thian-cun pesan agar nona jangan kuatir apa apa!"
Wanita itu berpaling menatap Siau-liong....
---ooo0dw0ooo---

709
Jilid 13
Ibu dan Anak
“ Seorang nona Pik dan seorang nona Tiau," kata wanita
itu, "saat ini ditawan oleh Thian-cun, mencelakai nona Poh. "
Habis berkata ia terus berdiri. Dengan memandang
kesegenap hadirin, wanita itupun hendak melangkah pergi.
"Berhenti!" bentak Siau-liong.
Wanita berambut kelabu itupun berhenti dan berpaling,
serunya, “Apakah Kongsun siau-hiap hendak memberi pesan
lagi?"
"Ya," sahut Siau-liong, "kasih tahu pada kedua suami isteri
Iblis-penakluk-dunia. Kuberi waktu sampai matahari silam
supaya kedua nona Pik dan Tiau itu, Randa Busan serta It
Hang to-tiang dan tokoh2 yang ditawan itu dibebaskan
semua....”
Wanita rambut kelabu itu tetawa hambar. "Maksud
Kongsun siauhiap hendak mengadakan tukar menukar antara
nona Poh dengan para tawanan itu?"
“Anggaplah begitu!" sahut Siau-liong, “kalau tidak, jangan
sesalkan aku bertindak ganas. Akan kuhukum mati secara
pelahan-lahan puteri kesayangannya mereka itu!"
“Kalau Kongsun siauhiap suka menukarkan nona Poh kami
dengan kedua nona Pik dan Tiau, mungkin akan diluluskan
Tetapi kalau Randa Bu-san, It Hang totiang dan beberapa
tokoh itu, mereka telah menyatakan sendiri hendak mengabdi
kepada thian-cun kami. Oleh karena mereka mengindahkan

710
sekali akan kewibawaan dan kesaktian thian-cun (Iblispenakluk-
dunia dan Dewi Neraka). Walaupun thian-cun
hendak membebaskan, mungkin mereka sendiri yang tak
mau....”
“Ngaco!" bentak Song Ling, "manusia apakah Iblispenakluk-
dunia dan isterinya itu? Ibu tak mungkin....”
Karena marah dan kalap, dara itu sampai tak dapat
melanjutkan kata-katanya.
Wanita berambut kelabu hanya tertawa dingin, “Baiklah!
Akan kusampaikan pesanmu itu. Tetapi bagaimana keputusan
thian cun, aku tak berani mendahului....”
Ia berhenti dan memandang Siau-Liong, serunya; “Harap
Kongsun siauhiap lekas minumkan obat itu kepada nona Poh.
Jika nona kami sampai terjadi apa2, bukan melainkan seluruh
tawanan itu akan diludaskan pun kalian tentu tak ada
seorangpun yang akan diberi hidup!"
Habis berkata, wanita berambut kelabu itu mendengus
seraya ayunkan langkah ke luar.
Setelah wanita itu lenyap, sekalian orang masih terlongong
tak dapat bicara. Si tinggi besar Lu Bu-ki mondir mandir
dimuka meja sembahyang. Hawa amarah dalam perutnya
serasa mau meledak.
Paderi Liau Hoan mengucap doa keagamaan. Dengan
wajah tenang ia duduk di sudut ruangan seraya memandang
lekat2 pada Siau-liong.
Saat itu Siau-liong mencekal botol kecil berisi obat. Sesaat
kemudian ia menghela napas panjang lalu membuka sumbat

711
botol. Isinya hanya setengah botol bubuk putih. Karena tak
ada air dan mangkuk, sesaat ia termangu-mangu.
Napas Poh Ceng-in makin memburu. Alisnya memancar
warna hijau gelap. Menandakan bahwa racun sudah mulai
bekerja, menjalari seluruh tubuhnya.
Walaupun tiada tenaga untuk memandang Siau-liong,
namun kesadaran pikirannya masih baik, serunya, “Aku tak
mau minum obat itu.... aku lebih suka mati....”
"Benar," geram Siu-liong, "engkau minta mati tetapi aku
ingin hidup." ia terus menampar kaki wanita itu. Walaupun
hanya pelahan tetapi karena racun sudah menjalar keseluruh
tubuhnya, tamparan itu membuat Poh Ceng-in pinsang
seketika.
Sesungguhnya Siu-liong bukanlah seorang pemuda yang
kejam. Tetapi ia sudah terlanjur benci setengah mati kepada
Poh Ceng-in. Kalau dapat ingin ia mencincang wanita itu dan
memakan hatinya atau minum darahnya.
Tetapi saat itu ia tak dapat melakukan tindakan begitu.
Karena Iblis-penakluk-dunia sudah berhasil memperalat
tokoh2 sakti seperti Jong Leng lojin, Lam-hay Sin-ni, Naga
Terkutuk, Harimau Iblis dan Randa Bu-san untuk mengacau
dunia persilatan. Satu2nya jalan untuk mencegah rencana
kedua suami isteri durjana itu hanyalah anak perempuan
mereka. Kalau wanita pemilik lembah itu dibunuhnya saat itu,
Iblis-penakluk-dunia dan isterinya tentu akan mengamuk dan
akibatnya sukar dilukiskan lagi.
Siau-liong termenung beberapa saat sambil memegang
botol obat itu. Kemudian ia memandang ke arah sekalian
orang dan menanyakan siapa yang membawa air.

712
Lu Bu-ki maju menghampiri dan melolos kantong air pada
pinggangiya, diserahkan kepada Siau-liong, “Masih ada
setengah kantong."
Demikian Siau-liong lalu menuang air dan obat bubuk.
Ketika diaduk, baunya anyir, membuat orang mau muntah.
Setelah itu Siau-liong segera ngangakan mulut Poh Ceng-in
lalu menuangkan air obat itu. Perut wanita itu terdengar
berkerucukan dan tak berapa lama kemudian tubuhnya mulai
bergeliatan, dahinya mengucurkan keringat hangat. Dan
warna hijau gelap pada alisnya pun mulai hilang. Kedua
pipinya makin merah. Rupanya racun telah hilang.
Kira2 sepeminum teh lamanya, Poh Ceng-in siuman. Tetapi
masih lemah dan tak henti2nya merintih.
Hampir setengah hari ia bergeliatan meregang-regang. Ia
paksakan diri memandang Siau-liong dan berkata ter-sendat2,
“Siau Liong.... minta tolong padamu sebuah hal.... maukah?"
"Katakan!"
“Lepaskan.... tali yang mengikat.... tanganku ini.... Siau
Liong kerutkan alis. Ia sudah tak percaya lagi kepada wanita
itu. Walaupun keadaannya lemah lunglai tetapi ia tetap curiga
jangan2 wanita itu hendak memasang siasat, Kalau wanita itu
sampai bebas, bukankah menimbulkan banyak kemungkinan?
Mungkin akan melarikan diri dan mungkin akan melakukan
hal2 yang tak terduga lainnya.
"Tak apalah kalau engkau menderita sedikit dulu. Asal
kedua orangtuamu mau meluluskan permintaanku agar para
tawanan itu dibebaskan, engkau tentu segera mendapat
kebebasan juga!" sahutnya.

713
Poh Ceng-in menghela napas, “Engkau.... sungguh
kejam.... benar, benar.... sedikitpun.... tak mempunyai rasa
kecintaan....” —ia terus pejamkan mata lagi.
Saat itu haripun sudah lohor. Tetapi karena cuaca mendung
tampaknya ruangan itu sudah mulai gelap.
Mayat simulut besi Ong Thiat-go sudah digotong kesudut.
Wajahnya berwarna hitam gelap. Suatu pertanda betapa
ganas racun yang telah merenggut jiwanya itu. Sekalian orang
diam semua. Hanya wajah mereka tampak mengerut seperti
orang berpikir keras.
Kini Song Ling sudah mengetahui peribadi Siau-liong.
Bukan saja kemarahannya lenyap, pun dara itu juga menaruh
simpati kepadanya. Dara itu menghampiri ketempat Siau-liong
dan duduk di sisinya.
"Aku tadi salah sangka. Apakah engkau.... tak marah?"
katanya tersekat.
Saat itu pikiran Siau-liong tengah dicurahkan untuk mencari
jalan menghadapi suasana pada saat itu. Sampai dara itu
menghampiri dan duduk disamping, ia tak mengetahui sama
sekali.
Ia baru gelagapan setelah mendengar kata2 si dara. Lalu
cepat2 menyahut, “Aku bukan orang yang berhati sempit.
Harap nona jangan pikirkan hal itu."
Song Ling tertawa. Ia memandang lekat pada Siau-liong,
ujarnya, “Ih, seri wajahnya sudah cerah. Apakah lukamu
sudah sembuh?"

714
Siau-liong tertawa masam, pikirnya, “Lukaku ini paling tidak
4-5 hari baru sembuh. Masakan begini cepat sudah bisa pulih?
"
Lalu ia menanyakan bagaimana dengan luka Song Ling
sendiri. Dara itu menjawab sudah baik. Tetapi nada
ucapannya rawan seperti tak mau bilang terus terang kepada
Siau-liong.
Siau-liong memandangnya tajam dan terkejutlah ia. Wajah
dara itu tampak lesi kebiru-biruan, matanya tak bersinar dan
kedua tangannya gemetar. Suatu pertanda bahwa dara itu
masih menderita luka dalam.
Melihat itu Siau-liong segera minta si dara lekas bersemedhi
memulangkan kesehatannya.
"Sudahlah, jangan engkau memikirkan lain orang. Engkau
sendiri juga harus beristirahat!" tukas Song Ling.
Siau-liong tersenyum, “Terus terang kukatakan. Aku
memang telah mendapat rejeki yang luar biasa. Makan buah
Im yang-som yang berumur ribuan tahun dan minum darah
dari binyawak purba dalam kerak gunung, dan....”
Dia hendak mengatakan bahwa Pendekar Laknatpun sudah
menyalurkan seluruh tenaga murninya kepadanya. Tetapi
segera ia menyadari bahwa keterangan itu tak perlu. Maka
buru-buru ia berganti kata, “Dan lagi akupun sudah
memperoleh ilmu pelajaran sakti Thian-kong-sin kang. Sejam
beristirahat saja, sama dengan orang biasa beristirahat satu
hari. Apalagi lukaku sudah diobati oleh ibu nona....”
Song Ling tertawa, “Akupun juga sudah memiliki dasar ilmu
tenaga sakti Ya-li-sin-kang. Lukaku ini juga tak jadi soal!"

715
Dara itu memandang ke arah Poh Ceng-in, tanyanya,
“Apakah dia benar puteri dari suami isteri durjana itu?"
Siau-liong mengangguk, “Benar, asal dia jangan sampai
lolos, sekalipun Iblis-penakluk-dunia hendak menggunakan
siasat apapun, tentu kita dapat mengatasi."
Song Ling masih belum jelas tentang ucapan Poh Ceng-in
tentang racun Jong-tok dan pembicaraan wanita berambut
kelabu tadi. Maka bertanialah dara itu, “Apakah wanita itu
juga seganas ibunya (Dewi Neraka)?"
Siau-liong tiba-tiba merasa geli, sahutnya, “Mungkin lebih
ganas dari ibunya!"
Rupanya Poh Ceng-in dengar juga pembicaraan itu. Ia
membuka mata memandang Siau-liong lalu menghela napas
dan pejamkan mata lagi.
Diam-diam Siau-liong terkesiap. Ia merasa menyesal
karena telah menyiksa batin seorang perempuan yang sudah
tak berdaya. Ia menyadari perbuatan itu tidak ksatrya. Maka
ia tak mau lanjutkan kata-katanya lagi.
Suasana hening lelap. Saat itu Liau Hoan siansu yang sejak
tadi diam saja, tiba-tiba berteriak, “Kongsun sicu!"
Siau-liong gelagapan. Memang sejak tadi ia hampir
melupakan paderi itu. Maka buru-buru ia menyahut.
Paderi Liau Hoan tertawa, “Hampir 10 jam perempuan
siluman merah ini berada dalam tanganku, hampir saja
beberapa kali meloloskan diri. Tetapi kutahu betapa
pentingnya wanita ini untukmu. Maka aku selalu menjaganya
keras dan akhirnya dapat menyerahkan kepadamu!"

716
Paderi sakti itu sungkan sekali bicaranya. Suatu hal yang
membuat Siau-liong heran. Ia masih ingat betapa dingin sikap
paderi itu ketika bertemu padanya. Mengapa sekarang
berobah begitu ramah.
“Terima kasih lo-siansu," sahutnya.
“Tak perlu sicu berterima kasih kepadaku. Bahkan akulah
yang harus lebih dulu menghaturkan selamat kepadamu."
Siau-liong menghela napas panjang, “Apakah hal yang
terjadi pada diriku sampai lo-siansu hendak menghaturkan
selamat kepadaku?"
"Omitohud," ucap Liau Hoan siansu, "sicu telah beruntung
mendapat pusaka yang tiada keduanya di dunia ilmu sakti
Thian-kong-sin-kang. Kelak sicu tentu menjadi jago nomor
satu di dunia persilatan. Bukankah hal itu pantas kuhaturkan
selamat?"
Siau-liong tertegun. Namun ia masih menghela napas, “Ah,
lo-siansu hanya tahu aku telah mendapatkan Thian-kong-sinkang,
tetapi tahukah....” tiba-tiba ia menganggap tak perlu
mengatakan keadaan dirinya kepada paderi sakti itu. Maka ia
tak mau melanjutkan kata-katanya.
Liau Hoan tersenyum, “Walaupun saat ini sicu mempunyai
kesulitan, tetapi semuanya akan berjalan selamat....”
Siau-liong kicupkan mata enggan, ujarnya, “Terus terang
kukatakan, bahwa ilmu Thian-kong-sin-kang itu belum dapat
kupelajari dan jiwaku sudah seperti lilin tertiup angin.
Ditambah pula dengan sepak terjang kedua suami isteri Iblispenakluk-
dunia. Aku tak dapat meramalkan bagaimana jadinya
nanti. Bahkan mungkin saat ini, kita tak dapat selamat keluar
dari ruang ini....”

717
Liau Hoan tertawa keras, “Ah, sicu memang cemas
berkelebihan. Jangan lagi ada barang tanggungan berupa
siluman baju merah ini, sekalipun tak ada sandera, masakan
sicu takut?"
Timbullah rasa malu dalam hati Siau-liong. Sesaat ia tak
dapat bicara.
"Jauh2 aku datang kemari, adalah karena hendak membela
kepentingan dunia persilatan. Selain itu, aku hendak minta
bantuan sicu."
Siau-liong terkejut. Pikirnya, dia tak kenal dengan paderi
itu. Bahkan pernah bertempur tetapi mengapa sekarang
hendak minta bantuannya?
Menilik sikap Liau Hoan yang terkejut karena mengetahui ia
telah memiliki ilmu sakti Thian-kong-sin-kang, ia duga paderi
itu tentu serupa dengan Lam-hay Sin-ni dan lain-lain orang.
ialah merasa gentar.
"Aku belum kenal dengan lo-siansu. Mengapa lo-siansu
hendak minta tolong padaku? " tanyanya.
Dengan terus terang, Liau Koan menyahut, “ Walaupun
belum kenal pada sicu tetapi kenal akan ilmu Thian-kong-sinkang.
Terus terang hendak kukatakan. Jika bukan karena ilmu
Thian-kong-sin-kang itu, tak nanti aku datang kesini....”
"Ah. sayang lo-siansu agak terlambat. Thian-kong sin-kang
telah kuperoleh dan lo-siansu terpaksa harus kembali dengan
tangan kosong! " Siau-liong tertawa dingin....
Liau Hoan tertawa, “Sama sekali tidak terlambat. Bahwa
Thian-kong-sin-kang sicu yang mendapatkan, sungguh patut

718
membuat orang girang. Menandakan bahwa segala apa di
dunia ini memang sudah mempunyai ketentuan sendiri."
Ia berhenti sejenak lalu berkata pula, “Sama sekali aku tak
mempunyai kemilikan apa2, melainkan hanya hendak minta
bantuan sicu akan sebuah hal."
“Entah apakah yang lo-siansu hendak suruh aku
mengerjakan itu?"
Kata Liau Hoan, “Sehabis sicu menyelesaikan urusan sicu,
kuminta sicu datang kegunung Thian-san. Dengan pinjam ilmu
Thian-kong sin-kang yang sicu miliki, untuk menghimpaskan
cita2 dalam hidupku yang belum terlaksana....”
Dengan mata meminta, Liau Hoan menatap Sian-liong,
“Kujamin, bantuan sicu itu akan merupakan pahala yang tiada
ternilai harganya."
Siau-liong tak mempunyai selera untuk menanyakan urusan
iiu. Karera ia sudah merasa bahwa hidupnya takkan lama.
Banyak beban kewajiban dibahunya tetapi apa daya,
tenaganya sudah tak mencukupi lagi.
Akhirnya ia menyahut dengan tertawa rawan, “Asal aku
masih hidup di dunia, tentulah akan kulakukan perintah losiansu
itu."
"Ucapan seorang lelaki, terpaku laksana sebuah gunung.
Harap sicu jangan menyesal" seru Liau Hoan.
Siau-liong tertawa tawar, “Besuk pertengahan musim
rontok tahun depan, apabila aku masih hidup, tentu akan
kegunung Thian-san melaksanakan permintaan lo-siansu.
Tetapi....” ia menghela napas, "ah, sekalipun mendapat

719
berkah dari Allah, hidupku pun hanya sampai pada
pertengahan musim rontok tahun depan!"
Habis berkata ia memandang ke arah Po Ceng-in telapi tak
bicara apa2.
Liau Hoan tertawa tak acuh, “ Dengan janji ini, sicu telah
meluluskan permintaanku!"
Saat itu Lu Bu-ki yang sejak tadi berjalan mondar-mandir
diruangan, rupanya sudah habis kesabarannya Segera ia
menghampiri Siau-liong dan berseru lantang, “Kongsun
siauhiap, apakah kita tetap menunegu disini saja?"
“Lalu saudara Lu mempunyai pendapat bagaimana?" Siauliong
balas bertanya.
“Jika menurut pendapatku, lebih baik kita menerobos
keluar. Bila bertemu kedua suami isteri durjana itu, kita
tempur saja agar lekas dapat kita ketahui mati atau hidup.
Lebih baik begitu daripada dadaku terhimpit kesesakan hawa
amarah!"
Lu Bu-ki, orangnya tinggi besar, tenaganya gagah perkasa
dan wataknya berangasan.
Memandang keluar, Siau-liong tak tahu saat itu sudah jam
berapa maka ia menanyakan hal itu kepada Lu Bu-ki.
"Saat ini tentunya matahari sudah terbenam," sahut Lu Buki.
"Telah kuminta kepada wanita berambut kelabu itu untuk
menyampaikan kepada Ibiis-penakluk-dunia, bahwa setelah
Matahari terbenam harus membebaskan para tawanan....”

720
Lu Bu-ki cepat menukas, “Ah, tak mungkin! Menilik
kelicikan kedua iblis itu....”
"Akupun sudah tahu kalau mereka tentu takkan berbuat
begitu. Tetapi sekalipun hendak tinggalkan tempat ini kita juga
harus tunggu sampai hari baru agak aman!" kata Siau-liong.
Liau Hoan siansu tiba-tiba menyelutuk, “ Menurut hematku,
paling lama dalam waktu sejam, tentu akan terjadi perobahan.
Kedua suami isteri durjana itu tentu sudah siapkan rencana
untuk menghadapi kita!"
Rupanya pendapat paderi sakti itu disetujui sekalian orang.
Jika mereka bersabar menunggu, tantulah fihak Iblispenakluk-
dunia tak dapat tinggal diam.
Terutama adalah Song Ling yang gelisah. Seumur hidup,
belum pernah ia berpisah sehari pun dengan ibunya. Tak kira
kalau ibunya telah ditawan Iblis penakluk-dunia sehingga
hancur luluhlah hati dara itu.
Ia paksakan diri untuk melakukan pernapasan beberapa
saat. Setelah itu ia membuka mata lagi dan memandang Siauliong.
Saat itu ruangan makin gelap. Rupanya sudah petang hari.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring memanjang. Jelas
orang itu menggunakan ilmu tertawa Mengacau-gelombangudara
sehingga sukar diduga berapa jauhnya jarak orang itu.
Tetapi Siau-liong dan sekalian kawan2 mengetahui bahwa
yang tertawa itu adalah Iblis-penakluk-dunia. Begitu pula
merekapun dapat menerka bahwa iblis itu berada dalam biara
tua situ.

721
Sekalian orang pun menyadari bahwa tertawa itu
merupakan tanda permulaan musuh hendak bertindak.
Teganglah seketika hati mereka. Segera mereka siap2.
Setelah memberi isyarat, Siau-liong dan Song Ling
mengambil tempat, duduk dikanan kiri Poh Ceng-in.
Selekas tertawa itu lenyap, terdengarlah suara bentakan
menggeledek, “Laknat tua!" Sekalian orang terkesiap.
Siau-liong berdebar-debar. Ia duga Iblis penakluk-dunia
tentu sudah mengetahui rahasia penyamarannya. Kalau tidak,
mengapa dia memanggil dengan sebutan begitu.
Syukurlah Iblis-penakluk-dunia tak melanjutkan panggilan
itu dan tertawa lagi. Tiba-tiba ia berseru dengan lain
panggilan, “Kongsun hiapsu!"
Siau liong hendak menjawab tetapi Lu Bu-ki tak dapat
bersabar lagi terus membentak, “Iblis tua, jangan coba2 jual
tingkah dihadapan tuan besarmu! Kalau berani hayo keluar
dan bertempur secara terang-terangan saja!"
Iblis-penakluk-dunia telap tertawa, “Aku tak punya tempo
adu muiut dengan kalian. Ketahuilah, engkau tak pantas
bicara dengan aku!"
Rambut dan jenggot Lu Bu-ki meregang tegak. Dengan
menggemhor keras ia terus mencabut cambuk besi dan
hendak menerjang. Tetapi dibentak Siau-liong supaya
berhenti. Si tinggi tertegun dan tegak terlongong.
"Kalau dalam soal kecil tak dapat menahan perasaan,
pekerjaan besar tentu terbengkalai. Kalau saudara hendak
maju sama halnya sepenggal anai2 membentur api.

722
Mengantar jiwa secara sia2. Lebih baik bersabar dulu
beberapa saat lagi," kata Siau-liong.
"Keadaan saat ini, lambat atau laun tentu harus bertempur.
Mengapa tak sekarang saja kita menyerbu keluar?" teriak Lu
Bu-ki.
"Musuh ditempat gelap dan kita di tempat terang.
Menyerbu dengan membabi buta, hanya akan mengantar diri
ke dalam jebakan si iblis. Tetapi jika berlaku tenang
menunggu gerakan lawan, sekurang-kurangnya kita dapat
menahan musuh! " kata Siau-liong:
"Siancai! Siancai!" sahut Liau Hoan, Kongsun siauhiap
benar tak kecewa menjadi pewaris ilmu sakti Thian-kong-sinkang!"
Walaupun Lu Bu-ki sudah makin percaya bahwa Siau-liong
memang telah memperoleh ilmu Thian-kong-sin-kang yang
sakti, tetapi karena belum menyaksikan sendiri anak muda itu
menggunakan ilmu sakti tersebut, diam-diam Lu Bu-ki merasa
penasaran. Ia mendengus lalu berputar tubuh tak jadi
menerobos ke luar.
Terdengar kata2 Iblis-penakluk-dunia pula, “Budak she
Kongsun, baik bertanding silat maupun kecerdasan, aku tak
mungkin kalah dengan engkau. Hanya peristiwa engkau
berhasil menemukan kitab pusaka Thian-kong sin-kang itulah
yang membuat aku kagum tak terhingga. Tetapi aku tetap
mempunyai daya untuk menghadapi engkau. Karena kitab
pusaka itu sudah terlanjur engkau ambil, maka tiada jalan lain
kecuali membunuhmu sebelum engkau dapat mempelajari
ilmu itu!"
Siau-liong tertawa dingin. Iapun gunakan Mengacaugclombang-
hawa, tertawa, “Iblis tua, batas tempo yang

723
kuberikan sudah habis. Jika tak mau menurut perintahku,
jangan menyesal kalau kubunuh puterimu "
Iblis-penakluk-dunia tertawa keras, “Budak Kongsun!
Selama hidup aku tak pernah menerima tekanan orang....
Selembar rambut anakku engkau rontokkan, tentu akan
kusiksa para tawanan itu dengan cara yang ganas.”
Tiba-tiba Poh Ceng-in bergeliat dan berseru keras, “Yah,
jangan hiraukan dia! Lekas bunuh saja semua orang tawanan
itu! Jika ayah mau membunuh kedua gadis itu. berarti ayah
sudah membalaskan sakit hatiku, Karena aku.... toh harus
mati....”
Siau-liong marah. Ia segera menutuk jalan darah
perempuan itu sehingga ia tak dapat berkutik kecuali masih
dapat bernapas saja.
Iblis-penakluk-dunia tertegun sampai lama baru
membentak, “Budak Kongsun, akan kuturut permintaanmu
untuk membebaskan para tawanan itu!"
Habis berkata, Iblis-penakluk dunia termangu-mangu
sehingga keadaan dalam ruang biara rusak itu sunyi senyap
lagi.
Saat itu hari pun sudah gelap. Angin musim rontok
menderu-deru di luar biara itu. Tetapi Siau-liong dan sekalian
rombongannya, tetap dapat melihat jelas keadaan di sekeliling
situ.
Sepeminum teh lamanya, tiba-tiba Lu Bu-ki berseru, “Ada
orang datang kemari!"
Ternyata orang tinggi besar itu menunggu di-muka pintu.
Jika ada orang datang, dialah yang pertama melihatnya.

724
Karena kuatir meninggalkan Poh Ceng-in dari tempatnya
jauh dari pintu maka ia tak dapat melihat jelas siapa
pendatang itu.
"Berapa orang?" tanyanya.
Dengan masih mermandaug keluar biara, si tinggi besar
menyahut, “Hanya seorang!"
Siau-liong berpaling ke arah Liau Hoan dan melambaikan
tangan, “Harap lo-siansu suka datang kemari!"
Liau Hoan tiba-tiba melayang ke samping Siau-liong.
Sekalian orang terpesona melihat gerakan paderi sakti itu.
Dengan masih duduk, tubuhnya melambung sampai dua
meter tingginya dan keiika melayang disamping Siau-liong
ternyata paderi itu masih duduk. Sedikitpun posisi duduknya
tak berobah.
Siau liong dan Song-ling pun terbeliak kaget.
"Pesan sicu apakah yang perlu kusampaikan?" tanya Liau
Hoan.
"Perempuan itu kuserahkan lagi lo-siansu untuk
menjaganya. jika musuh berani menyerang kita, lekaslah tutuk
jalan darahnya!"
Dalam mengucapkan kata2 yang terakhir, Siau-liong
sengaja perkeras suaranya.
Paderi Liau Hoan mengiakan. Siau-liong ce-pat melesat
kesamping pintu. Ah, ternyata gerombolan yang datang itu
berjumlah hanya seorang. Siau-liong kejut2 girang ketika
mengetahui pendatang itu bukan lain adalah Randa Bu-san.

725
Randa Bu-san berhenti dimuka pintu biara. Setelah itu baru
pe-lahan2 ayunkan langkah menuju keruang biara.
Buru-buru Siau-liong memberi hormat, “Ah, akhirnya bibi
kembali juga. Puteri bibi, aku dan sekalian kawan2 amat
mencemaskan sekali nasib bibi."
Kemudian ia berpaling ke arah Song Ling yang duduk
disudut ruang. Dara itu ternyata terlongong memandang
ibunya. Dan pada lain kejab ia terus lari menghampiri seraya
berseru gemetar, “Mah, jika engkau tak kembali, aku tentu
mati kebingungan!" —ia terus jatuhkan diri dalam pelukan
ibunya dan menangis tersedu-sedu.
Randa Bu-san juga berduka sekali. Dipeluknya sang puteri
seraya menghibur, “Nak, jangan menangis! Hatiku tak keruan
rasanya!"
Wanita itu menarik kerudung sutera yang menutupi
mukanya lalu mengusap airmata puterinya. Tiba-tiba
terdengar pula suara tertawa nyaring dari Iblis-penaklukdunia.
Seketika wajah Randa Bu-san berubah. Sepasang
matanya memberingas memandang sekalian orang. Wajahnya
tampak menyeramkan sekali. Alisnya memancar sinar
pembunuhan.
Pada saat matanya tertumbuk pada tubuh Poh Ceng-in
yang menggeletak di tanah, ia segera menghampiri.
Langkahnya amat sarat. Setiap langkahnya meninggalkan
bekas tiga dim di tanah.
Melihat itu Siau-liong cepat melesat kemuka wanita itu,
serunya, “Cianpwe, engkau....”
“ Menyingkirlah! " bentak Randa Bu-san.

726
Song Ling yang masih menggelendot di bahu Randa Busan,
juga cemas melihat keadaan ibunya. Sambil menarik
lengan kiri ibunya, ia berseru, “Mah, engkau ini bagaimana?....
Engkau mau apa?"
Randa Bu-san tertegun, membelai rambut Song Ling, “
Nak....”
Belum selesai ia mengucap, tiba-tiba terdengar pula suara
tertawa Iblis-penakluk-dunia melantang panjang. Seketika
tubuh Randa Bu-san gemetar lalu menarik lengannya yang
dicekal Song Ling dan memandang pula ke arah Poh Ceng-in.
Sesaat ia lanjutkan langkah maju menghampiri lagi.
Melihat itu Siau-liong buru-buru berseru kepada Liau Hoan
siansu, “Lekas buka jalan darah wanita siluman itu dan
tamparlah sekeras-kerasnya lukanya!"
Saat itu Randa Busan sudah berada setombak jaraknya
dengan Liau Hoan siansu dan Poh Ceng-in. Suatu jarak yang
tepat untuk menyerang.
Liau Hoan menatap lekat pada Randa Bu-san tetapi iapun
menurut perintah Siau-liong untuk membuka jalan darah Poh
Ceng-in lalu secepat kilat menampar telapak kaki Poh Ceng in
yang terluka.
Begitu terbuka jalan darahnya, Poh Ceng-in hendak
membuka mulut. Tetapi sebelum sempat berkata apa2,
kakinya ditampar. Ia menjerit ngeri dan pingsan lagi.
Secepat itu Siau-liong lalu gunakan ilmu Mengacaugelombang-
udara, membentak Iblis-penakluk-dunia, “Iblis tua,
apakah engkau benar-benar tak menghendaki anak
perempuanmu?"

727
Iblis-penakluk-dunia tertawa nyaring, “Budak, aku hanya
menurut kata2mu untuk membebaskan tawanan....”
Tiba-tiba dari jauh terdengar beberapa jeritan ngeri. Siauliong
terkesiap dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dia tak asing dengan nada suara itu. Ya, tak salah lagi....
Mawar Putih dan Tiau Bok-kun.
Siau-liong kertak gigi. Wajahnya berobah pucat dan
keringat dingin mengucur deras. "Iblis tua, hentikanlah!"
bentaknya kepada Iblis-penakluk-dunia.
"Kalau begitu engkau pun jangan menyiksa Ceng-ji. Aku
menurut kata2mu untuk membebaskan tawanan satu
persatu," seru Iblis-penakluk-dunia dengan nada longgar.
Saat itu jeritan Mawar Putih dan Tiau Bok-kun pun
berhenti. Randa Bu-san memandang lekat2 pada Siau-liong.
Tiba-tiba ia mendengus dingin merentang kedua tangannya
terus menyergap ketempat Poh Ceng-in.
Siau-liong terkejut. Ia menyadari bahwa Randa Busan
berada dibawah ilmu sihir Iblis-penakluk-dunia. Sama halnya
dengan Lam-hay Sin-ni, Jong Leng lojin dan lain-lainnya.
Randa Bu-san tentu mendapat perintah untuk merebut Poh
Ceng-in. Kalau Poh Ceng-in yang akan dijadikan sandera itu
sampai direbut kembali oleh Iblis-penakluk-dunia, akibatnya
tentu hebat.
Gerakan menyambar dari Randa Busan itu aneh dan
dahsyat. Siau liong tak sempat banyak berpikir lagi. Ia
menghantam kedua lengan Randa Bu-san. Terpancar sinar
keemasan dan Randa Bu-san segera terpental tiga langkah ke
belakang.

728
Dan saat itu Paderi Liau Hoan pun sudah menyambar Poh
ceng-in terus dibawa mundur beberapa langkah ke belakang.
Setitik pun Randa Bu-san tak menyangka bahwa ia bakal
dipukul siau-liong. Marahlah ia. Dengan mata memberingas ia
menatap Siau liong,mendengus dingin lalu mengangkat
hendak menghantamnya.
Song Ling gugup dan cemas, Ia menarik tangan Randa Busan
sekuat-kuatnya seraya meratap, "Mah.... mah....”
Ternyata Randa Bu-san walaupun lenyap kesadaran
pikirannya, namun masih tetap teringat dan tak lupa pada
anaknya. Ia kerutkan dahi lalu turunkan tangan kanan, “Nak,
mengapa engkau hari ini? Mengapa engkau mengurusi
urusanku!"
Song Ling banting2 kaki serunya, “Mah, apakah engkau
benar-benar linglung? Mengapa hendak menghantamnya.
Apakah engkau lupa kalau pernah menolong jiwanya?" Dia
kan orang baik....”
Randa Busan kerutkan alis, membentaknya, “Nak, engkau
tak mengerti hal ini. Dengarkan omonganku. Aku telah
mencarikan tempat yang baik bagimu. Kita bedua akan dapat
menikmati kebahagiaan selama-lamanya!"
Dengan berlinang-linang airmata, Song Ling menangis,
“Mah, apakah yang engkau maksudkan....?"
Mata Randa Bu-san berkeliar dan memandang ke arah Poh
Ceng-in lagi, lalu menudingnya, “Setelah mamah merebutnya,
segera akan kuajakmu tinggalkan tempat ini."
Habis berkata ia terus menghampiri ke tempat Liau Hoan
siansu dan Poh Ceng-in.

729
"Mah, ingatlah! Mengapa engkau sampai disesatkan
mereka....!" teriak Song Ling seraya menarik ibunya.
Karena tak menduga akan ditarik dan Song Ling pun
menarik dengan sekuat tenaga, Randa Bu-san terhuyunghuyung
mundur beberapa langkah dan hampir rubuh.
Setelah berdiri tegak, dengan wajah membeku dingin,
Randa Busan melengking, “Nak, apakah engkau benar-benar
hendak menentang ibumu?"
Kata2 itu penuh mengandung kemaranan.
Siau-liong yang menyaksikan peristiwa itu, gelisah bukan
main. Buru-buru ia berseru kepada Song Ling, menganjurkan
dara itu supaya berusaha menyadarkan pikiran Randa Bu-san
agar ingat akan peristiwa yang lain.
Song Ling menurut. Ia segera memeluk ibunya, “Mah,
apakah engkau masih kenal pada anakmu?"
Randa Bu-san terpukau. Alisnya mengerut penuh kedukaan.
Ia paksakan tertawa, “Anak tolol ngoceh apa engkau....!"
Dua butir air mata menitik turun dari kelopak wanita itu.
Lalu katanya rawan, “Mamah hanya mempuanyai seorang
puteri tunggal Masakkan aku bisa lupa kepadamu....”
Melihat ibunya dapat disentuh perasaannya, dara itu buruburu
menyusuli kata2 lagi, “Apakah mamah masih ingat
mengapa kita datang kemari?"
Randa Bu-san menatap lekat wajah puterinya sampai
beberapa jenak. Kemudian berkata, “Anak tolol! Mengapa
engkau masih bertanya yang tidak2!"

730
"Pertama, kami hendak mencari Pendekar Laknat untuk
membalas dendam sakit hati ayahku! Kedua, walaupun kita
tak kepingin mendapatkan kitab pusaka Thian kong-sin-kang,
tetapi kita akan berusaha supaya ilmu sakti itu jangan sampai
jatuh ke tangan kedua durjana Iblis penakluk-dunia!"
Wajah Randa Bus-an makin terlongong. Matanya
berkeliaran beberapa kali dan tiba-tiba ia menghela napas
panjang.
Song Ling mengguncang-guncang tubuh ibunya pelahanlahan,
“Kata-kata itu, bukankah mamah sendiri yang
mengatakan kepadaku? Mamah sering mengatakan,
perjalanan hidup di dunia ini penuh aral bahaya. Hati manusia
banyak yang culas Di dunia persilatan penuh dengan duri dan
perangkap. Tetapi mengapa mamah sendiri sampai kena
ditipu orang....?"
Rupanya kata2 Song Ling itu dapat menyentuh nurani
Randa Bu-san. Ia hanya terlongong-longong tak berkata apa2.
Hati Siau-liong ikut rawan menyaksikan adegan itu. Hampir
saja ia mengucurkan air mata. Ia pernah ditolong oleh wanita
dari Busan itu. Ia anggap wanita itu selain berilmu silat sakti,
pun luas sekali pengetahuannya. Seorang wanita yang dapat
digolongkan tingkat cianpwe. Siau liong serasa disayat sembilu
hatinya melihat wanita itu sampai kena diperalat suami isteri
durjana Iblis-penakluk-dunia.
Siau-liong menyurut mundur kesamping Liau Hoan,
katanya, “Randa Bu-san nyata2 telah dikuasai Iblis penaklukdunia.
Sebagai seorang yang luas pengalaman, bagaimana
pendapat lo-siansu untuk menolongnya?"

731
Liau Hoan geleng2 kepala, “Aku tak faham ilmu Hitam, dan
lagi.... menilik kesadaran pikirannya masih belum lenyap sama
sekali, mengapa ia sampai tak dapat membedakan golongan
Hilam dengan Putih? Mengapa ia begitu linglung mau
melakukan perintah Iblis penakluk-dunia? Hal ini benar-benar
membingungkan pikiranku. Sebaliknya dapat menawannya
hidup2 dan pelahan-lahan memeriksa keadaannya. Mungkin
kita akan dapat menemukan sumber penyakitnya....”
Siau-liong mengela napas, “Randa Bu-san adalah pewaris
ilmu Ya-li-sin-kang. Merupakan tokoh kelas satu dewasa ini.
Untuk menangkapnya, bukanlah suatu hal yang mudah!"
Melihat mamahnya masih belum sadar. Song Ling menjerit,
“Mah, masakan engkau tak tahu bahwa kedua suami isteri
Iblis-penakluk-dunia adalah durjana yang membahayakan
dunia pesilatan?"
Ditengah malam yang sunyi, kembali terdengar gelak
tertawa nyaring dari Iblis-penakluk-dunia.
Randa Bu-san kerutkan alis. Selekas tertawa itu berhenti,
tiba-tiba wajah wanita itu berobah dan membentak Song Ling
dengan bengis, “Nak, jangan sembarangan bicara. Iblispenakluk-
dunia dan Dewi Neraka adalah dua tokoh besar pada
jaman ini. Jangan engkau hina semau-maumu sendiri....”
Berhenti sejenak ia berkata lagi, “Aku telah mengatur
segala sesuatu untukmu. Kutanggung engkau tentu akan
bahagia. Tak nanti engkau mengalami nasib seperti mamah
dahulu?"
Tukas Song Ling; "bukankah dahulu mamah telah memberi
nasehat dan pelajaran2 padaku? Mah, apakah engku tak ingat
lagi?"

732
Randa Bu-san menghela napas, “Ah, itu memang kesalahan
mamah yang dulu!"
“Mah, mengapa engkau makin lama makin linglung!" teriak
song Ling seraya menggoncang-goncangkan tubuh ibunya.
Randa Bu-san deliki mata. Sekonyong-konyong ia
menampar muka dara itu. "Plak".... karena tak menyangka
akan ditampar ibunya, Songs Ling tak berjaga-jaga dan
pipinya termakan tamparan. Seketika matanya berbinar-binar,
kepala pening, mulut mengucurkan darah.
Rupanya Randa Bu-san masih belum puas. Ia mendorong
tubuh puterinya hingga terhuyung-huyung beberapa langkah,
lalu maju menghampiri Liau Hoan.
Sambil mendekap pipi sebelah kanannya yang sakit, Song
Ling menjerit, “Mah, jangan....” -dara itu terus melesat
ketempat Randa Bu-san.
Siau-liong terkejut. Ia tahu bahwa Randa Bu-san memang
sudah dikuasai Iblis penakluk-dunia. Pikiran wanita itu sudah
linglung. Jika Song Ling tetap melibatnya, Randa Bu-san tentu
marah dan lupa. Wanita iiu tentu akan turun tangan sungguh2
kepada puterinya sendiri.
“Nona, mundurlah!" Siau liong cepat berseru mencegah
Song ling seraya loncat menarik dara itu dengan tangan kiri
dan tangan kanan mendorong bahu Randa Bu-san.
Liau Hoan pun tangkas sekali. Pada saat Randa Bus-an
hendak merebut Poh Ceng-in, cepat sekali paderi itu sudah
membawanya menyingkir.
Karena kedua tangannya diikat ke belakang punggung dan
kakinya terluka. Poh Ceng-in tak dapat berbuat apa2 ketika

733
paderi Liau Hoan yang bertubuh kurus itu membawanya kian
kemari.
Randa Busan marah sekali. Dengan melengking nyaring ia
tinggalkan Poh Ceng-in yang dibawa Liau Hoan. Berputar
tubuh ia memandang Siau-liong tajam2. Kini ia tumpahkan
kemarahannya kepada pemuda itu. Secepat kilat ia
menghantam kepala pemuda itu!
Siau-liong terkejut. Ia menyadari bahwa pukulan wanita itu
bukan olah2 hebatnya. Tak mau ia menangkis dan buru-buru
loncat menghindar ke samping seraya mendorong lagi bahu
wanita itu.
Song Ling pun makin bingung. Ia menangis dan meraungraung.
Melihat Siau liong bertempur dengan mamahnya, dara
itu cepat lari menyerbu ke muka, “Jangan melukai mamahku!
Ah....”
Sekalipun terpaksa harus berkelahi, tetapi Siau-liong masih
sadar pikirannya. Ia tahu bahwa Randa Bu-san itu pernah
menolong jiwanya. Ia tahu pula bahwa wanita itu memang
bertindak di luar kesadaran pikirannya sendiri karena telah
dibius oleh Iblis-penakluk-dunia. Maka beapapun halnya, ia tak
mau mencelakai wanita itu.
Hanya saja ia mempunyai kesulitan. Randa Bu-san memiliki
ilmu sakti Ya-li-sin kang, adakah ia mampu menandingi
dengan ilmu Thian kong-sin-kang yang baru dipelajari kulitnya
itu? Apalagi ia masih menderita luka dalam yang parah.
Untunglah dalam melancarkan serangan itu gerak Randa
Bu-san tidaklah seperti orang sehat melainkan agak ketololtololan.
Ketika kedua pukulan saling beradu, Randa Bu-san
dan Siau-liong sama2 mundur beberapa langkah.

734
Randa Busan menatap Siau-liong dengan mata berapi-api
seraya berkata seorang diri, “Thian-kong-sin-kang, benarbenar
Thian-kong sin-kang....” tiba-tiba ia menghantam lagi.
Siau-liong mengandalkan kelincahan untuk menghindar
kian kemari. Setempo balas menyerang dari samping untuk
mendesak wanita itu mundur.
Dalam sekejab mata, ia sudah lancarkan lebih dari 20 jurus.
Angin menderu-deru, debu berhamburan. Song Ling tak hentihentinya
menjerit dan menangis....
Bermula Siau-liong masih kuatir kalau tak mampu
menghadapi. Tetapi setelah 20 jurus berlalu, timbullah
kepercayaannya. Ia merasa bukan saja luka dalamnya tidak
kambuh, pun ilmu Thian-kong sin-kang yang baru dipelajari
sedikit itu, terasa tambah maju.
Saat itu ia merasa, setiap pukulan atau tutukan jari serta
tamparan, lebih dahsyat dari semula. Dan yang lebih
menggirangkan, setiap gerakan yang dilancarkan, tak perlu
harus memikir lama.
Sambil bertempur dengan Randa Bu-san, otak Siau liong
berusaha keras untuk mengingat isi pelajaran kitab pusaka
Thian-kong-sin-kang. Teringat ia akan sebaris kata2 yang
terdapat dalam kitab itu:....”Keinginan timbul dari Pikiran.
Pikiran tembus pada hati. Apabila Semangat dan Keinginan
bersatu, Hati dan Semangat saling kontak.... maka lahirlah....
Dalam Tenang timbul Gerak, dalam Gerak timbul Tenang....
dan lain-lain.
Berkat otaknya yang cerdas, dapatlah Siau-liong menyelami
kata2 dalam kitab itu. Seketika meluaplah kegirangannya.
Seketika gerakannya makin cepat. Ia berlincahan mengepung
Randa Bu-san.

735
Sitinggi besar Lu Bu-ki dan anak buahnya, bertugas untuk
menjadi pintu belakang dan muka. Saat itu mereka merasa
dimuka pintu bermunculan beberapa sosok tubuh yang
melangkah ke dalam ruangan. Mereka berjumlah tujuh orang.
Pakaiannya seragam warna biru. Muka ditutupi sutera tipis.
Dengan langkah lenggang mereka memasuki ruangan.
Lu Bu-ki berputar tubuh dan menjerit, “Ada beberapa orang
yang datang!"
Dalam pada berseru itu, sitinggi besarpun melangkah
menghadang pendatang yang berjalan paling muka dan
membentaknya, “Berhenti!"
Diluar dugaan ke-7 orang baju biru tak mengacuhkannya.
Bahkan orang yang berjalan paling depan, segera ayunkan
tangan menampar muka Lu Bu-ki.
Lu Bu-ki marah sekali. Dengan menggerung laksana seekor
harimau, ia menghindar lalu mencambuk dengan ruyung besi.
Ia gunakan jurus Burung-bangau-tebarkan-sayap.
Suasana senjap semakin kacau. Lu Bu ki bersama kedua
pengawalnya segera bertempur dengan pendatang itu. Empat
orang baju hitam segera lari menghampiri tempat Song Ling.
Sambil bertempur lawan Randa Bu-san, Siau-liong diamdiam
mencuri kesempatan untuk memperhatikan kawanan
pendatang itu. Diam-diam Siau-liong makin gelisah.
Walaupun kawanan pendatang itu sama mengenakan kain
kerudung sutera menutup muka yang amat tipis, tetapi karena
hari makin gelap, sukar untuk menentukan pendatang2 itu
tokoh2 persilatan yang mana.

736
Untunglah Siau-liong memiliki indera penglihatan yang luar
biasa tajamnya. Ia tetap dapat melihat wajah2 dibalik kain
kerudung itu. Ternyata pendatang2 berkedok kain sutera itu
diantaranya terdapat It Hang, ketua partai Siau-lim-si, Thi Buseng
tokoh dari partai Tiam jong-pay, ketua Ji-tok-kau Tan Ihong,
ketua perhimpunan Tong-thing pang si Kipas Im-yang
Cu Kong-leng dan ketiga tokoh Kun-lun Sam-cu.
Lu Bu-ki bertiga bertempur dengan Kun-lun Sam-cu.
sepuluh jurus kemudian, salah seorang anak buah Lu Bu-ki
tiba-tiba menjerit ngeri dan rubuh di tanah.
Tetapi si tinggi besar Lu Bu-ki tak gentar. Ruyung besinya
diputar laksana hujan deras. Untuk beberapa saat ketiga tokoh
dari Kun-lun-pay itu tak dapat melepaskan diri.
Paderi Liau Hoan meletakkan Poh Ceng-in di sudut ruang
lalu bersama Song Ling bahu membahu menghadapi musuh.
Song Ling walaupun belum sembuh sama sekali, tetapi ia
sudah mendapat latihan dasar dari ilmu sakti Ya-li sin-kang.
Pukulannya amat dahsyat. Sedangkan Liau Hoan sebagai
seorang tokoh sakti dalam dunia persilatan, sudah tentu
memiliki kesaktian yang menonjol. It Hang totiang berempat,
untuk beberapa saat saat tak mampu berbuat apa2.
Walaupun pengetahuan Siau-liong tentang il-mu Thiankong-
sin-kang sudah bertambah maju, tetapi untuk
mengalahkan Randa Bu-san, bukanlah soal yang mudah. Maka
ia tak sempat lagi untuk memperhatikan keadaan kawankawannya.
Suatu hal yang membuat gelisah hatinya ialah
apabila Iblis penakluk-dunia menyuruh beberapa tokoh seperti
Lam-hay Sin-ni, Jong Leng lojin dan lain-lain, untuk maju.
Tentulah akan lain si tuasinya.

737
Kurang lebih sepeminum teh lamanya, tiba-tiba diluar
terdengar suara tertawa nyaring dari Iblis-penakluk-dunia.
Nadanya bagai senjata tajam yang me-nyayat2 sehingga Siauliong
dan kawan2nya ngeri.
Mendadak Randa Bu-san menyerang hebat, Mulutnya mendesis2
seperti seekor harimau yanj ter-engah2 hendak
menelan korbannya.
Demikiah It Hang totiang dan ke-7 kawannya Mereka
terkena pengaruh dari suara tertawa durjana itu. Mata mereka
terbuka lebar2. Dengan menumpahkan seluruh kepandaian,
mereka menyerang kalap sepeiti orang kemasukan setan.
Semula Siau-liong masih ringan, tetapi setelah Randa Busan
berobah memberingas, ia menjadi sibuk juga. Ia masih
belum sembuh. Lama kelamaan tenaganya makin lemah,
darah mulai bergolak. Keringat dingin mulai mengucur deras,
napas pun ter-engah2 keras.
Siau-liong mulai payah. Setiap saat ia terancam kehancuran
dari serangan2 yang berbahaya dari Randa Bu-san.
Suara tertawa Iblis-penakluk-dunia sebentar putus sebentar
melengking. Tak ubahnya seperti seorang iblis yang sedang
menikmati korban yang disiksanya.
Terdengar pada jerit rintihan yang ngeri. Anak buah Lu Buki
kena ditendang perutnya oleh Ti-ki-cu (salah seorang Kunlun
Sam-cu), sehingga terlempar sampai setombak jauhnya,
terbentur tembok dan rubuh tak berkutik lagi....
Walaupun keempat anak buahnya sudah rubuh, namun Lu
Bu-ki tetap tak gentar menghadapi ketiga Kun-lun Sam-cu.
Kematian keempat kawannya itu membuatnya sedih dan
marah. Ia memberingas laksana seekor singa. Ruyung besi

738
dimainkan sederas hujan. Diam-diam tangan kirinya
mempersiapkan tiga butir pelor baja.
Lu Bu-ki termasyhur dengan gelar Thiat-pian sin-tan atau si
Ruyung besi Pelor-sakti. Ilmunya melontar senjata rahasia itu,
memang bukan olah2 hebatnya.
Demikianlah pada saat ia mainkan ruyung dengan gencar,
tiba-tiba ia susuli dengan menimpukkan tiga pelor besi ke arah
Kun-lun Sam-cu.
Jaraknya amat dekat dan ilmu lontaran dari Lu Bu-ki itu
amat tepat dan dahsyat. Ti-ki-cu yang menyerang paling
depan sendiri, lebih dulu yang menderita. Mata kirinya
terhantam sebutir pelor sehingga biji matanya meluncur
keluar. Darah mengucur deras sehingga seketika berobah ia
seperti seorang manusia bermuka merah.
Tetapi Ti-ki-cu memang luar biasa. Walaupun sebuah biji
matanya sudah coplok dan menderita luka berat, tetapi ia
agaknya seperti tak merasa dan tetap menyerang hebat.
Betapapun dingin hati Lu Bu-ki membunuh orang, tetapi
menghadapi seorang manusia luar biasa seperti Ti-ki-cu,
gentarlah hatinya. Permainannya ruyung pun kacau.
Liau Hoan dan Song Ling yang menghadapi It Hang totiang
berempat, masih dapat bertempur dengan berimbang. Tetapi
setelah Iblis-penakluk-dunia tertawa tadi, It Hang totiang
menyerang kalap sehingga Liau Hoan dan Song Ling
kelabakan.
Liau Hoan menyambar tubuh Poh Ceng-in dan ditegakkan
di tangan sudut ruang. Ia melayani serangan musuh dengan
sebelah tangan. Tetapi makin lama ia tak sabar lagi. Tiba-tiba
ia melantangkan doa 'Omitohud. lalu berseru, “Untung celaka

739
tiada pintunya. Hanya manusia sendiri yang membuatnya.
Terpaksa aku harus membuka pantangan membunuh!"
Siau liong terkejut dan buru-buru berteriak, “Mereka adalah
tokoh2 persilatan yang telah dilenyapkan kesadaran pikirannya
oleh Iblis-penakluk-dunia. Harap lo-siansu suka bermurah hati
agar jangan sampai saling bunuh membunuh sendiri....”
Liau Hoan tertawa panjang, “Bunuh membunuh sudah
sejak tadi terjadi. Jika engkau masih tak tegah, tentu kita
sukar lolos dari sini!"
Ucapan itu mengandung anjuran supaya Siau-liong jangan
ragu2 untuk mengeluarkan ilmu sakti Thian-kong-sin- kang.
Rupanya Song-ling dapat menangkap maksud paderi itu.
Cepat ia berseru, “Siau-liong.... bagaimanapun halnya, jangan
melukai mamah!"
“Jangan kuatir! Sekalipun tubuhku hancur lebur, tetapi tak
nanti akan melukai mamahmu!" seru Siau-liong.
“Nona, jagalah wanita siluman ini!" tiba-tiba Liau Hoan
membentak dan terus dorongkan tubuh Poh Ceng-in.
Song Ling tak berani membantah. Pada saat ia menyambuti
tubuh Poh Ceng-in, Liau Hoan sudah berputar tubuh dan
lepaskan tiga tamparan dan lima pukulan. Angin menderu
hebat dan It Hang totiang berlima terpaksa mundur sampai
lima langkah.
Tetapi secepat itu juga mereka segera maju lagi. Mereka
benar-benar seperti tak menghiraukan keselamatanya dan
menyerang kalap.

740
Liau Hoan agak tertegun. Begitu kawanan penyerangnya
maju, tiba-tiba ia menggembor keras dan hamburkan pukulan
bertubi-tubi lagi.
Ilmu kepandaian dari paderi Liau Hoan itu lebih tinggi dari
kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka.
Paderi itu termasyhur dengan ilmu jari sakti Kim kong-ci (Jari
baja), amat getarkan dunia persilatan. Tetapi karena ia jarang
ke luar ke dunia persilatan, maka namanya pun jarang
dibicarakan orang.
Dalam menghadapi pertempuran saat itu, ia sudah
menyadari bahwa jika tak menggunakan serangan kilat untuk
mengakhiri pertempuran, tentulah kedua durjana Iblis
penakluk-dunia akan mengeluarkan lain rencana yang lebih
ganas lagi.
Amukan Liau Hoan itu telah memberi hasil. Tiba-tiba Tan
It-hong ketua Ji-tok-kau terjungkal rubuh di tanah. Dia kena
tertutuk jalan darah diperutnya.
Dengan rubuhnya seorang, tekanan fihak It Hang totiang
menjadi berkurang. Tetapi sekonyong-konyong Iblis-penaklukdunia
tertawa memanjang lagi. Dan secepat berhenti tertawa,
iblis itu berseru, “Apa yang kukatakan tentu kulakukan.
Pembebasan tawanan gelombang ketiga, segera
berlangsung!"
Tak berapa lama dua sosok tubuh menerobos masuk.
Ketika Siau-liong memandang kedua pendatang itu, diam-diam
ia mengeluh, “Celaka "
Ternyata yang datang itu adalah Naga Terkutuk dan
Harimau Iblis.

741
Begitu masuk tanpa berkata apa2, kedua durjana itu terus
menyerang. Naga Tertutuk menerjang Siau-liong, Harimau
Iblis merabu Liau Hoan siansu.
Walaupun sudah dapat menutuk rubuh Tan Ih-hong, tetapi
Liau Hoan masih mengalami kesulitan menghadapi tokoh2
utama semacam It Hang totiang. Dan kini bertambah pula
dengan seorang Harimau Iblis. Dengan serangan yang dahsyat
sebanyak tiga jurus, Harimau Iblis dapat membuat Liau Hoan
kelabakan. Liau Hoan gagal untuk merebut kedudukan.
Keadaannya dibawah angin lagi.
Keadaan Siau-liong pun begitu juga. Dia diserang dari
muka dan belakang oleh Naga Terkutuk serta Randa Bu-san.
Dia kelabakan dan hanya mampu bertahan diri saja.
Melihat Liau Hoan siansu terdesak mundur, Song Ling
terpaksa bertindak. Ia lepaskan Poh Ceng-in dan ikut terjun
dalam pertempuran.
Keadaan Lu Bu-ki makin payah lagi Ruyung besinya sudah
terpental. Bajunya sudah compang camping. Sepintas
pandang, keadaannya mirip dengan orang gila.
Dalam himpitan kedua tokoh Naga Terkutuk dan Randa Busan,
keadaan Siau-liong benar-benar berbahaya sekali. Sekali
ia lengah atau salah tangan tentulah ia akan remuk binasa.
Betapapun ia berlaku hati2 dan cermat, namun akhirnya
dadanya kena tertampar angin pukulan Randa Bu-san. Namun
angin itu bukanlah angin biasa, melainkan angin dari Ilmu Ya li
sin-kang. Seketika Siau-liong rasakan tulang belulangnya
seperti hancur berantakan. darahnya bergolak keras. Mata
serasa gelap dan ia tak dapat menahan lagi. Segumpal darah
segar menghambur dari mulutnya....

742
Namun ia menyadari bahwa saat itu sedang berada dalam
pertempuran mati hidup. Sekali ia lengah, jiwanya pasti
amblas. Dalam keadaan terancam itu, akhirnya ia terpaksa
berjuang. Dengan kerahkan sisa tenaganya, ia lepaskan
pukulan jurus Tonggak-menyanggah-langit ke arah Randa Busan
dan gunakan jurus Sapu-jagad menghantam Naga
Terkutuk.
Kedua pukulan itu adalah jurus dari ilmu Thian-kong-sinkang
Serangkum sinar emas memancar, walaupun Randa Busan
cepat2 gerakkan kedua tangannya untuk menyongsong,
tetapi tubuhnya tetap ber-guncang2 keras mau rubuh.
Sedang Naga Terkutuk pun ter-huyung2 mundur sampai 7-
8 langkah, membentur meja sembahyang. Berulang kali ia
hendak berusaha menegakkan tubuh tetapi gagal. Akhirnya ia
rubuh dengan menderita luka parah.
Setelah menghantam, Siau-liong rasakan tenaganya telah
habis. Tulang-belulangnya serasa berhamburan lepas,
sehingga ia tak kuat lagi untuk berdiri tegak. Lukanya masih
belum sembuh sama sekali. Dan saat itu ia menderita luka
lagi. Betapa kokoh tenaga-dalamnya, tetapi ia benar-benar
sudah kehabisan tenaga....
Setelah melakukan pernapasan beberapa jenak, Randa Busan
rasakan lukanya sudah sembuh. Dengan melengking
nyaring, wanita itu hantamkan kedua tangannya ke arah Siauliong.
Saat itu Siau-liong sudah tak berdaya lagi. hanya
memandang kesima ke arah pukulan maut dari Randa Bu-san
itu....
Liau Hoan siansu. Song Ling dan Lu Bu-ki pun sudah
kenabisan tenaga. Walaupun mengetahui Siau-liong terancam

743
bahaya tetap mereka sendiri sudah payah. Tak mungkin dapat
memberi pertolongan lagi. Apalagi yang mengancam Siauliong
itu adalah tenaga-sakti Ya-lin-sin-kang. Sekali pun ketiga
orang itu serempak maju menolong pun juga tak berguna.
Bahkan malah akan menambah jumlah korban saja.
Karena tak dapat melepaskan diri dari seangan It Hang
totiang dan Cu Kong-leng, maka menangislah Song Ling
seraya menjerit, “Mah, jangan membunuhnya, engkau tak
boleh....”
Tetapi Randa Busan tak menghiraukan. Ia tetap lancarkan
kedua pukulan mautnya ke arah Siau-liong.
Tahu kalau detik itu harus mati, Siau liong pejamkan mata
menunggu ajal.
Sekonyong-konyong dari luar biara melesat masuk sesosok
bayangan. Dan sebelum berdiri tegak, orang itu secepat kilat
untuk menutuk lengan Randa Bu-san.
Kedatangan orang itu sama sekali tiada mengeluarkan
suara. Gerakannya secepat angin. Jika tak mengetahui dengan
mata kepala sendiri, orang tentu mengira pendatang itu bukan
manusia tetap bangsa setan.
Tokoh semacam Randa Busan yang memiliki Ya-li-sin-kang,
pun tak mampu mendengar kedatangan orang itu. Baru ia
gelagapan kaget ketika lengannya hendak ditutuk orang itu.
Tetapi Randa Bu-san tak kecewa diagungkan orang sebagai
tokoh sakti jaman itu. Ia tak mau berputar tubuh melainkan
malah maju ke muka seraya mengganti kedua pukulannya tadi
dengan jurus Angin-puyuh-menyambar-pohon, untuk
menyapu pendatang itu.

744
Orang itu mendengus dingin. Begitu kakinya menginjak
tanah, ia balikkan tangan kanan yang hendak menutuk lengan
Randa Bu-san tadi, untuk menyongsong kedua pukulan wanita
Bu-san itu.
Baik pukulan Randa Bu-san maupun gerakan tangan orang
itu, sama-sama tergolong tenaga-da-lam lunak. Sedikit pun
tak mengeluarkan suara apa-apa. Walaupun gerak pukulannya
mereka tak begitu dahsyat, tetapi angin halus dari pukulan itu
telah menimbulkan badai keras yang memekakkan telinga.
Begitu pukulan saling beradu, tubuh kedua tokoh itu sama2
berguncang. Rupanya kekuatan mereka berimbang.
Siau Liong yang pejamkan mata tadi karena merasa sampai
beberapa jenak pukulan Randa Bu-san belum juga tiba, tetapi
ia mendengar deru angin menyambar di udara, buru-buru ia
membuka mata.
Begitu membuka mata, ia terkejut girang Yang datang itu
bukan lain adalah Tabib-sakti-jenggot-naga Kongsun Sin-tho,
gurunya sendiri.
"Suhu! Engkau....”
Belum Siau-liong selesai berteriak, Kongsun Sin-tho sudah
cepat goyangkan tangannya, “Jangan banyak omong! Lekas
beristirahat salurkan tenagamu!"
Habis berseru, tabib itu segera dorongkan kedua tangannya
untuk menyongsong pukulan Randa Bu-san.
Seperti orang yang hidup lagi dari kematian apalagi
mendapat kunjungan dari suhu yang dicintainya, legalah hati
Siau-liong. Cepat ia melakukan perintah snhunya. Duduk
bersemedhi menyalurkan pernapasan dan tenaga murni.

745
Tetapi ia menyadari bahwa keadaannya saat itu benarbenar
berbahaya sekali. Ia harus cepat-cepat pulihkan
tenaganya agar dapat menghadapi si tuasi saat itu.
Diluar dugaan ketika ia menguapkan hawa-murni dalam
perut, ia rasakan serangkum hawa panas mengalir naik. Suatu
hal yang tak sama seperti biasanya. Diam-diam ia girang,
pikirnya, “Adakah dalam beberapa hari ini aku memperoleh
kemajuan luar biasa dalam ilmu tenaga-dalam."
Segera ia mulai mengatur hawa panas itu menurut jalan
darah yang tersebar diseluruh tubuhnya. Dan pada beberapa
kejab kemudian, ia telah mencapai dalam kehampaan. Pikiran
dan semangatnya manunggal. Ia tak ingat lagi apa yang
terjadi disekeliling tempat situ. Semua kosong melompong....
Karena diganggu oleh Tabib-sakti-jenggot-naga Kongsun
Sin-tho, marahlah Randa Bu-san. Dengan meraung seperti
singa betina yang kehilangan anak, ia menyerang tabib itu
dengan gencar sekali.
Hanya dalam sekejab mata saja, ia sudah lancarkan lebih
dari 20 jurus.
Tetapi Kongsun Sin-tho melayani dengan tenang. Serangan
dari wanita Bu-san yang menggunakan jurus ganas itu, satu
demi satu dapat dihapusnya. Betapapun Randa Bu-san seperti
orang yang kalap, tetapi sedikitpun tak mampu berbuat apa2
terhadap tabib sakti itu.
Ilmu tenaga-sakti Thian-jim-sin-kang yang dimiliki Kongsun
Sin-tho itu, walaupun sederajat dengan tenaga sakti Ya-Ji sinkang,
Jit-hua sin-kang dan Cek-ci-sin-kang, tetapi Than-jimsin-
kang itu mempunyai keefektifan tersendiri. Dan karena
Kongsun Sin tho telah mencapai tingkat yang tinggi dalam

746
pelajaran ilmu Thian-jim-sin-kang itu. maka kepandaiannya
pun setingkat lebih tinggi dari Randa Bu-san.
Melihat perkembangan itu, semangat Liau Hoan dan Lu Buki
pun bangkit kembali. Tetapi Song Ling makin gelisah. Ia tak
kenal siapa Kongsun Sin-tho itu. Maka ia kuatir kalau
mamahnya sampai terluka oleh kakek tua berjenggot putih itu.
Kongsun Sin-tho memang sakti. Sambil melayani Randa Busam,
diam-diam iapun pancarkan tenaga kisar (putar) untuk
melanda Harimau Iblis dan Kun-lun Sam-cu.
Tenaga kisar dari Thain-jim-sin-kang itu, walaupun tidak
sampai melukai orang, namun mampu juga untuk memaksa
Harimau Iblis dan kawan2nya sempoyongan jatuh.
Bantuan Kongsun Sin-tho itu benar-benar meringankan Liau
Hoan siansu dan Lu Bu-ki. Saat itu mereka siap untuk merebut
kemenangan lagi.
Sekonyong konyong terdengar suitan nyaring dan panjang.
Nada dan suaranya amat ngeri sekali, mirip dengan suara
harpa yang dipetik sekeras-kerasnya. Membuat anak telinga
serasa pecah.
Dan memang pada saat suitan itu berhenti, nadanya tak
ubah seperti senar harpa yang putus!
Randa Bu-san, Harimau Iblis dan rombongannya tertegun.
Pada lain saat, mereka segera mengamuk lagi, menyerang
dengan dahsyat dan ganas.
Tiba-tiba Harimau Iblis menyambar tubuh Tan Ih-hong
yang terluka di tanah. Sekali enjot, ia membawanya
menerobos ke luar.

747
Randa Busan lancarkan serangan gencar. Setelah berhasil
mengundurkan Kongsun Sin-tho, cepat ia menyambar tubuh
Naga Terkutuk yang duduk bersandar pada meja
sembahyang, lalu dibawah kabur keluar.
It Hang totiang, Shin Bu-seng, Cu Kong-leng dan ketiga
tokoh Kun-lun Sam-cu, pun mulai mengundurkan diri. Satu
demi satu mereka melangkah keluar biara dan lenyap dalam
kegelapan malam.
Dengan begitu dapatlah ditarik kesimpulan bahwa suitan
panjang tadi tentu berasal dari Iblis-penakluk-dunia yang
memberi komando supaya jago-jagonya mundur.
Kala itu sudah menjelang tengah malam. Angin meniup
keras dan tak lama kemudian hujan pun mencurah lebat.
Ruang biara kembali sunyi senyap. Siau-liong dan
rombongan orang gagah, masih terengah-engah napasnya
karena kehabisan tenaga. Untunglah Poh Ceng-in masih
berada pada mereka.
Song Ling menangis tersedu-sedu. Tak henti-hentinya ia
mengoceh tetapi tak jelas apa yang di-ocehkan itu. Tentulah
karena memikirkan nasib ibunya. dara itu sampai hancur
hatinya.
Kongsun Sin-tho melangkah beberapa tindak, tiba-tiba
berhenti dan menghela napas panjang.
Setelah napasnya agak tenang, Lu Bu-ki terlongonglongong
memandang kedua anak buahnya yang binasa itu.
Setelah merapikan pakaiannya. si tinggi besar itu menghampiri
kemuka Kongsun Sin-tho Memberi hormat, serunya, “Terima
kasih atas budi pertolongan lo-cianpwe. Entah siapakah nama
lo-cianpwe yang mulia?"

748
Kongsun Sin-tho tersenyum, “Aku bernama Kongsun sintho,
seorang tabib yang suka berkelana dalam dunia
persilatan."
Lu Bu-ki tersentak kaget, “0, kiranya Kong-sun cianpwe....”
si tinggi besar terlongong-longong sehingga tak dapat
melanjutkan kata-katanya.
Memang ia pernah mendengar nama Kongsun Sin-tho yang
termasyhur sebagai seorang tabib sak-ti. Setitikpun ia tak
menyangka bahwa tabib itu ternyata memiliki ilmu kepandaian
yang teramat sakti.
Liau Hoan siansu juga menghampiri, serunya sambil
memberi hormat, “Ilmu ketabiban sicu yang telah
menyelamatkan jiwa manusia, tersebar harum dalam dunia
persilatan. Ah, tak kira kalau sicu ternyata pewaris dari ilmu
sakti Thian-jim-sin-kang. Maafkan karena lengah
menghaturkan hormat!"
Kongsun Sin-tho tertawa, “Sedikit ilmu kepandaian yang tak
berarti itu, masakan dapat lolos dari pengawasan lo-siansu....”
Behenti sejenak ia melanjutkan berkata lagi, “Walaupun
saat ini musuh sudah mundur, tetapi menurut hematku,
pengunduran mereka itu tentu mengandung siasat. Setiap
saat mereka mungkin akan menyerang lagi. sebaiknya
saudara2 suka beristirahat memulangkan tenaga!" Habis
berkata tabib itu terus duduk numprah di tanah.
Lu Bu-ki memang sudah kehabisan tenaga. Tanpa diulang
lagi, ia segera menurut anjuran Kongsun Sin-tho. Ia duduk
sandarkan diri pada meja sembahyang.

749
Demikianpun Liau Hoan siansu. Bertempur lawan Harimau
Iblis dan rombongannya, paderi kurus itu kehabisan tenaga.
Terpaksa ia duduk numprah. Hanya Song Ling seorang yang
masih tak henti-hentinya menangis.
Setelah beristirahat sepeminum teh lamanya Siau-liong
berbangkit dan menghampiri Kongsun Sin-tho. Ia berlutut di
hadapan guru itu.
"Lukamu masih parah. Jika tak cepat dirawat, kecuali akan
gagal mempelajari ilmu Thian-kong sin-kang, pun engkau
bakal cacad seumur hidup! " seru Kongsun Sin-tho.
"Harap suhu jangan kuatir, murid sudah banyak baikan,"
Siau-liong tertawa.
Kongsun Sin-tho mengamati wajah pemuda itu. Lalu
menjamah bahu dan keningnya. Tiba-tiba mulutnya
menghambur puji, “Benar-benar ilmu sakti nomor satu di
dunia. Liong-ji, rejekimu benar-benar besar sekali!"
Ilmu Thian-kong-sin-kang memang sudah lama lenyap dari
dunia persilatan. Kongsun Sin-tho tak tahu sampai dimanakah
kesaktian Thian-kong-sin kang itu. Tetapi ia anggap, segala
macam ilmu sakti walaupun aliran ajarannya berbeda, tetapi
semua ilmu sakti itu tentu berpusat pada ajaran pokok yakni
melatih Tenaga dan Khi (hawa murni).
Thian-kong-sin-kang walaupun mengutamakan Sin
(semangat) sebagai sumber pokoknya, tetapi caranya berlatih
tentu tak jauh bedanya dengan lain-lain ilmu. Demikian
anggapan Kongsun Sin-tho.
Tetapi alangkah kejutnya, ketika ia dapatkan luka yang
diderita Siau-liong sudah enam tujuh bagian sembuh setelah
pemuda itu menjalankan penyaluran hawa murni hanya dalam

750
waktu yang singkat saja. Saat itu barulah Kongsun Sin-tho
benar-benar mengakui bahwa ilmu Thian-kong-sin-kang itu
memang nyata lebih unggul dari segala ilmu sakti yang
terdapat dalam dunia persilatan.
Berkata pula tabib itu kepada Siau-liong, “Karena engkau
telah makan buah Im-yang-som dan minum darah binyawak
purba, maka engkau dapat mempelajari Thian-kong-sin-kang
dengan cepat. Sekarang engkau sudah mempunyai dasar2
tenaga dalam Thian-kong-sin-kang. Dengan begitu, apabila
engkau terus giat berlatih dalam beberapa waktu lagi, paling
tidak engkau tentu sudah dapat menguasai separoh bagian
dari ilmu itu. Cukup dengan mencapai lima bagian saja, cukup
bagimu untuk menjagoi dunia persilatan. Hanya saja....”
Tabib itu menghela napas, sambungnya pula, “Pada
dewasa ini dunia persilatan sedang diamuk pergolakan besar.
Mungkin tak memberi kesempatan padamu untuk meyakinkan
ilmu itu dengan tenang."
Song Ling masih menangis saja. Kongsu Sin-tho heran dan
menanyakan pada Siau-liong; "Apakah dia puteri dari Randa
Bu-san?"
"Ya." sahut Siau-liong, "Randa Busan pernah menolong jiwa
murid. tetapi saat ini....” ia menyhela napas tak melanjutkan
kata2nya.
Sambil mengusap-usap tangan, Kongsun Sin-tho suruh
Siau-liong menghibur dara itu.
Memang Siau-liong bermaksud hendak menghibur dara itu
tetapi sungkan terhadap gurunya Setelah Kongsun Sin-tho
menyuruhnya, cepat2 ia menghampiri dara itu.

751
Siau-liong membisiki beberapa patah kata ke dekat telinga
Song Ling. Entah bagaimana dara itu terus berhenti menangis
dengan mendadak ia berbangkit, menarik tangan Siau liong
diajak kehadapan Konsun Sin-tho.
"Lo-cianpwe," kata dara itu dengan menangis sesunggukan,
"mohon lo-cianpwe suka menolong mamahku.... mohon locianpwe
suka menolong mamahku....” Dara itu mendekap kaki
kanan Kongsun Sin-tho dan menangis tersedu-sedu amat
mengibakan sekali.
Tabib tua itu kerutkan alis lalu bertanya kepada Siau liong,
“Liong-ji. engkau bilang apa saja kepadanya?"
Siau-liong tundukkan kepala menyahut sendat, “Murid tak
mengatakan apa2, hanya memberitahu bahwa kemungkinan
suhu dapat menolong ibunya."
Kongsun Sin-tho menghela napas, “Karena keadaan sudah
begini, sudah tentu aku tak dapat berpeluk tangan. Tetapi
ketahuilah. Kemampuanku terbatas. Sedang saat ini Iblispenakluk-
dunia sudah menguasai "tiga tokoh pemilik ilmu Yali-
in-kang, Jit-hua-sin-kang dan Ce ci-sin kang Kekuatan
mereka tentu dapat menguasai dunia persilatan. Dan lagi....”
Tabib tua itU berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Yang
kukuatirkan, menilik kecerdikan iblis itu, kemungkinan dia
akan minta secara paksa ketiga ilmu sakti Ya-li, Jit-hua dan
Ce-ci itu. Jika hal itu terdjadi dia pasti akan memiliki tiga
macam ilmu sakti dan sukar dicari tandingannya lagi!"
Siau-liong tertegun. Apa yang dikatakan suhunya itu,
benar-benar belum pernah dipikirkan. Sedang Song Ling masih
tetap mendekap kaki Kongsun Sin-tho seraya menangis
merengek-rengek.

752
Akhirnya Kongsun Sin-tho mengangkat bangun Siau-liong
dan Song Ling, ujarnya, “Akan kuusahakan sekuat tenagaku,
Sudahlah jangan menangis saja. Karena keadaan tak dapat
ditolong dengan menangis!"
Song Ling berhenti menangis. Sepasang kelopak matanya
membenjul. Ditatapnya Kongsun Sin-tho dengan pandang
memohon.
“Pertempuran antara golongan Hitam dan Putih pada
beberapa hari yang lalu memang dahsyat sekali," kata
Kongsun Sin-tho pula, "Bukan karena aku bermaksud hendak
berpeluk tangan saja. Tetapi memang ada beberapa
pertimbangan. Dengan menguasai ketiga tokoh pewaris ilmu
Ya-li-sin-kang, Jit-hua-sin-kang dan Ce-ci-sin-kang itu, berarti
Iblis-penakluk-dunia sudah memperoleh tiga dari lima buah
ilmu sakti dalam dunia persilatan. Sekali pun Ceng Hi totiang
mengundang seluruh orang gagah dalam dunia, tetap sia2
saja, seperti kawanan kambing hendak menyerbu kesarang
harimau....”
Tabib itu menghela napas, katanya lanjut; “Sudah
beberapa kali aku masuk ke dalam Lembah Semi dan secara
diam-diam menyelidiki keadaan Jong Leng lojin yang telah
dihilangkan kesadaran pikirannya itu. Pikirku hendak
mengusahakan obat untuk memulih kesadaran mereka. Tetapi
akhirnya kurasa, keadaan tokoh itu memang tak dapat
ditolong lagi....”
Mendengar itu Song Ling menangis lagi, “Kalau begitu
mamahku juga tak mungkin dapat disembuhkan lagi....?"
Kongsun Sin-tho cepat2 gelengkan kepalanya, “Boleh dikata
hidupku kuabdikan pada ilmu pengobatan. Aku tak
mengatakan pasti bahwa keadaan mereka tak dapat
disembuhkan. Apalagi soal ini menyangkut hidup matinya

753
dunia persilatan. Maka dalam beberapa hari ini aku pergi
mencari obat ke perbagai tempat. Rencanaku hendak
membuat pil mujijad untuk menyembubkan segala penyakit!"
"Apakah dapat menyembuhkan Randa Bu-san yang terkena
ilmu sihir itu?" buru-buru Siau-liong menukas.
Wajah tabib itu berobah serius, “Apakah mampu mengobati
atau tidak, sekarang masih sukar kukatakan. Tetapi dalam
penyelidikan sekali yang lebih mendalam, aku berhasil
menemukan suatu obat.... Jika obat itu tetap gagal, akupun
tak dapat berbuat apa2 lagi kecuali harus mundur teratur....”
"Apakah pil buatan lo-cianpwe itu sudah selesai?" tukas
Song Ling.
Kongsun Shin-tho tertawa, “Pil yang kunamakan Sip-siau
cwan-soh-sin-tan itu memerlukan 10 macam obat. Caranya
membuat mudah saja. Dalam empat jam saja sudah selesai.
Tetapi ke-10 bahan obat itu, ada tiga macam yang sukar
dicari!"
Ia berhenti sejenak memandang Siau-liong dan Song Ling,
katanya pula, “Kesatu, sebatang Ho-siu-oh berumur seribu
tahun. Kedua, buah som salju berumur ratusan tahun....”
Siau-liong menghela napas: , Ah, memang bahan itu tak
mungkin didapatkan. Walaupun orang menggunakan
waktunya seumur hidup, belum dapat memperolehhya Apalagi
saat ini kita didesak oleh keadaan!"
Kongsun Sin-tho tersenyem, “Kemasyhuran namaku dalam
dunia persilatan adalah Karena pandai mencari bahan2
ramuan obat. Untung dua dua macam bahan obat itu sudah
kuperoleh. Dan kini tinggal yang ketiga saja....”

754
“Apakah yang ketiga itu?” buru-buru Siau-liong mendesak.
"Ramuan obat yang ketiga adalah seekor Tenggoret emas
berkaki tiga. Beberapa tahun yang lalu aku sudah menjelajahi
seluruh gunung dan sungai, tetapi belum pernah bertemu
dengan binatang itu. Kabarnya paderi Kim Ting dari Go-bi-pay
memelihara seekor. Tetapi paderi tua itu berwatak aneh.
Mungkin sukar memintanya....”
“Rasanya paderi Kim Ting itu tentu seorang paderi yang
saleh. Asal kita menuturkan tentang ancaman Iblis penaklukdunia
yang hendak menguasai dunia persilatan, tentulah
paderi itu akan suka memberikan kepada kita!" kata Siauliong.
“Hal itu masih sukar dikata," kata Kongsun Sin-tho, "kita
boleh berusaha tetapi nasib yang akan menentukan!"
Tiba-tiba tabib itu mengambil buli2 arak pada
punggungnya. Ia mengambil sumbat penutupnya lalu dengan
hati2 sekali mengeluarkan dua bungkusan sutera. Yang
sebuah diserahkan kepada Siau-liong.
“Dua macam ramuan obat dan tujuh macam ramuan yang
lain, telah kubungkus menjadi dua. Di dalam bungkusan itu
terdapat resep untuk membuat obat itu. Asal sudah mendapat
Tenggoret-emas berkaki tiga dari paderi Kim Ting, bolehlah
ramuan obat itu segera dikerjakan."
Berkata Kongsun Sin tho dengan wajah gelap; "Saat ini kita
masih terkepung disini. Iblis-penakluk-dunia itu bukan olah2
licin serta ganasnya. Jika dia menyuruh ketiga tokoh pewaris
ilmu sakti dan beberapa anak buahnya kemari, aku tak yakin
mampu lolos dari sini!"

755
Siau-liong terkejut. Ia menyadari ucapan gurunya itu tentu
bukan sendau gurau. Siau-liong tergagap melongo.
Kongsun Sin-tho tertawa hambar, ujarnya, “Orang pandai
yang kaya akan pertimbangan, sekali pasti jatuh juga. Ingat
kata pepatah Sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali
pasti akan jatuh juga. Dalam hal itu, aku memang
mengutamakan tindakan yang hati2. Mati hidupnya, timbul
lenyapnnya dunia persilatan dewasa ini, seolah-olah telah
jatuh dibahu kita berdua. Selama salah satu diantara kita
masih hidup, tentulah masih ada harapan untuk membasmi
kawanan iblis durjana yang hendak merajalela menyebar
keganasan dan kelaliman itu....”
Siau-liong anggukkan kepala Kini baru ia terbuka matanya.
Suhu yang diangganya tak mau campur tangan urusan dunia
persilatan itu, ternyata orang yang paling memperhatikan
golak-gejolak dunia persilatan. Demi menyelamatkan tokoh2
persilatan yang terancam bahaya maut, suhunya ini tak
menghiraukan keselamatan dirinya sendiri.
“Lekas engkau simpan dalam bajumu. Lebih baik engkau
lekatkan pada tubuhmu. Selekas tenaga sekalian kawan pulih
kembali, kita segera tinggalkan tempat ini....”
Wajah tabib itu berobah bengis. katanya pula, “Setelah
dapat keluar dari sini, segera saja menuju ke gunung Gobi.
Jangan sekali-kali berhenti ditengah jalan. Dan jangan
memikirkan aku dan kawan-kawanmu. Ingat, apabila aku
sudah keluar dari tempat ini, tentu takkan balik kanan disini
lagi. Jika tak kuat mengekang hati untuk hal2 yang kecil, tentu
bisa mengakibatkan gagalnya rencana besar!"
Siau-liong kerutkan alis. Tetapi demi melihat wajah
suhunya tampak serius, ia tak berani membantah dan
terpaksa mengiakan sambil tundukkan kepala.

756
Setelah melakukan pernapasan untuk menyalurkan darah,
Lu Bu-ki dan Liau Hoan pun sudah pulih tenaganya.
Menyambar tubuh Poh Ceng-in yang menggeletak di tanah,
Liau Hoan segera menuju ke belakang Siau-liong dan duduk.
Kongsun Sin-tho sejenak memandang ke arah Poh Ceng-in,
kerutkan dahi tetapi tak berkata apa2.
"Perempuan ini adalah anak perempuan dari suami isteri
Penakluk-dunia dan Dewi Neraka, "buru-buru Siau-liong
memberi keterangan, "jika membawanya menerobos keluar
dari kepungan, mungkin kedua suami isteri iblis itu tak berani
terlalu mendesak kita!"
Kongsun Sin-tho tertawa hambar....”Apakah dalam
pertempuran tadi engkau tak pernah menggunakan wanita itu
untuk menekan Iblis-penakluk-dunia!"
Siau-liong terbeliak. Ia ingat bagaimana sikap Iblispenakluk-
dunia dan isterinya waktu diancam dengan jiwa
anaknya. Jelas kedua suami isteri itu tak takut.
Merahlah wajah Siau-liong. Ia tundukkan kepala tersipusipu.
Saat itu, guruh dan guntur tak henti-hentinya bersahutsahutan.
Hujan makin deras. Puncak wuwungan biara yang
sudah tak terurus itu pecah2 sehingga air hujan meluncur
masuk. Lantai penuh air.
Sudah beberapa hari Siau-liong tak mandi. Pakaiannya
berlumuran debu kotor dan noda darah. Juga keadaan Lu Buki
dan Liau Hoan tak keruan.

757
Melihat keadaan orang2 itu, Kongsun Sin-tho menghela
napas pelahan. Sekonyong-konyong angin berembus.
membawa hawa yang harum sekali. Siau-liong terkejut. Ia tak
asing lagi dengan bau harum itu.
"Iblis-penakluk-dunia sedang menyebarkan hawa beracun
pemusnah jiwa!" serunya, "orang yang mencium bau itu tentu
lemah lunglai tak bertenaga....”
Tiba-tiba ia teringat botol obat penawar pemberian Poh
Ceng-in yang masih separoh isinya. Tetapi obat penawar itu
telah dimakannya habis. Dalam gugup. terlintas sesuatu pada
pikirannya. Cepat ia berputar tubuh lalu menerkam Poh Cengin.
Tetapi setelah beberapa saat merabah-rabah pakaian
wanita itu, tetap ia tak menemukan apa2.
Tiba-tiba sepasang mata Kongsun Sin-tho terentang lebar2
dan memancarkan sinar yang menakutkan orang.
Rupanya tabib itu sedang membenam diri dalam renungan.
Sampai lama baru ia tertawa dan berkata seorang diri.
"Aneh, benar-benar suatu hal yang sukar dimengerti!" seru
tabib itu.
Mendengar kata2 suhunya, Siau-liong hentikan
penggeledahannya.
Saat itu hawa yang mengandung bau harum itu makin
menebal. Diantara rombongannya, Lu Bu-kilah yang paling
rendah kepandaiannya. Tampaknya ia sudah mulai tak tahan.
Beberapa kali a batuk2.

758
"Bau ini hanya sejenis obat bius biasa," kata Kongsun Sintho,
"kedua suami isteri iblis itu tentu sudah tahu
kemasyhuranku sebagai tabib. Tetapi mengapa mereka
mengeluarkan permainan yang tak berarti itu....”
Berhenti sejenak, ia melanjutkan, “Tentulah dia masih
menyiapkan siasat lain yang lebih ganas lagi. Yang dikeluarkan
sekarang ini hanya tipu muslihat kosong!"
Habis berkata tabib itu mengambil buli2 merah yang
dipanggul di punggung. Ia mengeluarkan beberapa pil merah
dan dibagi-bagikan kepada rombongan Siau-liong.
Begitu masuk ke dalam perut, pil itu terasa menyegarkan
semangat. Rasa muak dari hawa wangi tadi, lenyap seketika
Dan tak berapa lama, hawa harum itupun enyap sama sekali.
Kongsun Sin-tho kerutkan dahi seperti tengah merenungkan
soal yang penting tetapi belum dapat memecahkan.
Tiba-tiba terdengar lengking suara yang nyaring dan tajam
sekali. Sekalian orang gagah seperti robek anak telinganya.
Menyusul terdengar pula suara yang memuakkan telinga. Mirip
dengan seruling, pun mirip dengan gemerincing golok saling
beradu.
Suara yang hiruk itu setempo melengking tinggi setempo
pelahan. Tetapi terus menerus tak henti-hentinya, sehingga
mengganggu ketenangan hati sekalian orang.
Kongsun Sin-tho berseru lantang, “Ah, itu hanya suatu
permainan tak berarti untuk mengacau pikiran orang. Tetapi
mengapa Iblis penakluk-dunia menggunakan permainan itu
terhadap aku?"
Kemudian tabib itu minta kepada sekalian orang supaya
memusatkan semangat dan pikirannya! Jangan sampai

759
tercengkam dengan suara itu, Setelah melakukan perintah,
ternyata sekalian orang merasa tenang lagi pikirannya. Tak
berapa lama kemudian, suara kacau itupun lenyap.
Kongsun Sin-tho pelahan-lahan bangkit dari tempat
duduknya. Sambil mendukung kedua tangan di punggung, ia
berjalan mondar-mandir. Rupanya ia sedang memeras otak
untuk mencari daya....
Tiba-tiba ia berhenti dan memandang sekali orang,
serunya, “Betapapun halnya, tempat ini sudah tak sesuai lagi.
Kita harus lekas2 tinggalkan tempat ini!"
Saat itu hujan amat lebatnya. Tetapi setelah berkata,
Kongsun Sin-tho terus melangkah keluar. Sekali loncat, ia
sudah tiba ditengah halaman.
Siau-liong dan kawan2, begitu tiba diambang pintu tak mau
cepat2 meniru tindakan Kongsun Sin-tho melainkan berhenti
dan mengawasi sepak terjangnya tabib itu.
Begitu tegak ditengah halaman, sekonyong-konyong tubuh
Kongsun Sin-tho meluncur lima enam tombak ke udara. Dia
berputar-putar di atas udara Kemudian ia melayang turun.
Selain gemuruh hujan, saat itu tiada terdengar suara apa2
lagi Siau liong dan Song Ling menjaga dipintu sedang Liau
Hoan sambil menjinjing tubuh Poh Ceng-in mengikuti di
belakang mereka. Lu Bu-ki siap dengan senjatanya. Tangan
kanan mencekal ruyung besi, tangan kiri menggenggam pelor
baja.
Keempat orang itu tegang sekali. Tiba-tiba Siau-liong
berkata kepada Liau Hoan dengan nada menyesal, “Ah,
membikin repot lo-cianpwe saja. Baiklah aku yang akan
membuka jalan!"

760
“Jangan kuatir!" sahut Liau Hoan, “asal aku masih bernapas
saja, tentu takkan melepaskan perempuan siluman ini!"
Tiba Kongsun Sin-tho melambai dan memanggil Siau-liong
berempat. Siau-liong dan kawan-kawannya cepat menyusul
tabib itu. Tetapi dalam hujan yang selebat itu, pandangan
mata mereka tak dapat menembus lebih dari setombak
jauhnya.
Kongsun Sin-tho segera mempelopori berjalan dimuka. Dia
tak mau keluar dari pintu besar melainkan menerobos dari
sebuah lubang ditembok.
Pada saat rombongan Siau-liong hendak menyusup lubang
itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring memecah
angkasa. Pada lain saat muncul belasan orang yang
mengepung mereka.
Ah, ternyata rombongan Tblis-penakluk dunia. Bahkan iblis
itu sendiri yang memimpinnya. Disamping kanan kirinya
tampak Lam-hay Sin-m Jong Leng lojin, Randa Bu-san, It
Hang totiang. Harimau Iblis dan beberapa anak buah lainnya.
Iblis-penakluk-dunia tertawa mengekeh, “Kongsun tua,
Sepandai-pandainya tupai melompat, sesekali akan tergelincir
juga.... ha, ha, tepat sekali kata2mu itu. Tahukah engkau
bahwa aku memiliki ilmu Menembus-langit meneropong-bumi
sehingga apa yang kalian bicarakan tadi, dapat kudengar
semua?"
Kongsun Sin-tho mendengus dingin. Tanpa berkata apa2, ia
terus songsongkan kedua tangannya ke arah rombongan Iblispenakluk-
dunia seraya berseru kepada Siau liong, “Liong-ji,
lekas lari!"

761
Diantara kelima ilmu sakti, adalah ilmu Thian-jim-sin-kang
yang dimiliki Kongsun Sin-tho itu yang paling hebat sesudah
Thian-kong-sin-kang.
Dua buah hantaman Kongsun Sin-tho yang dilancarkan
dengan sekuat tenaga itu, cepat dan dahsyatnya bukan main.
Karena tak sempat menghindar maka Iblis penakluk-dunia,
Lam-hay Sin-ni Jong Leng lojin, Randa Bu-san dan lain-lain,
terhuyung-huyung mundur beberapa langkah. Setelah
kerahkan tenaga, barulah mereka dapat berdiri tegak.
Pukulan Kongsun Sin-tho itu menimbulkan deru gelombang
angin yang dahsyat sehingga lumpur muncrat berhamburan
ke-mana2. Hujan lebat angin keras dan lumpur berhamburan.
Benar-benar membuat rombongan Iblis-penakluk-dunia tak
dapat membuka mata.
Sedang Siau-liong dan kawan2 pun segera melakukan
perintah Kongsun Sin-tho. Siau-liong menarik tangan Song
Ling terus diajak loncat menerobos lubang tembok.
Iblis-penakluk-dunia marah sekali. Setelah berdiri tegak, ia
segera tertawa nyaring. Tar, tar, ia getarkan cambuknya
beberapa kali di udara.
Lam-hay Sin-ni, Randa Bu-san, Jong Leng lojin serempak
menggerung. Bagaikan tiga ekor singa buas, mereka
menerjang dan menyerang Kongsun Sin-tho dengan kalap.
Hujan pukulan dari ketiga tokoh itu telah menimbulkan
badai sedahsyat gunung rubuh....
Saat itu Siau-liong dan Song Ling sudah lari sejauh belasan
tombak. Ketika berpaling, Siau-liong tak dapat melihat apa2
karena lebatnya hujan ia terkejut dan berhenti. Dipandangnya

762
dengan seksama, namun tetap tak tampak suhunya menyusul
ia makin gelisah.
“Harap nona melintasi hutan ini dulu aku hendak kembali
membantu suhuku!" katanya.
“Akupun hendak menolong mamah!" sahut si dara.
Dan pada saat Siau-liong berputar tubuh Song Ling pun
mengikuti juga. Tetapi pada saat kedua anak muda itu hendak
ayun tubuh, tiba-tiba terdengar Kongsun Sin-tho membentak
dengan ilmu Menyusup-suara, “Liong ji, lekas pergi ke puncak
Go-bi. Aku akan menyusul belakangan!"
Siau-liong tertegun. Cepat ia menarik tangan si dara.
"Eh, mengapa engkau?" seru Song Ling.
Siau liong menghela napas dan menerangka bahwa
suhunya tak memperbolehkan ia masuk ke dalam biara lagi.
“Jika kembali masuk, pun belum tentu dapat menolong
mamahmu. Lebih baik kita turut perintah suhu mencari
Tenggoret emas kepuncak Gobi! katanya pula.
Song Ling meragu, katanya, “Sehari tak dapat menolong
mamah, sehari hatiku tak tenteram. Ah.... kalau mau pergi,
cepat saja!"
Kedua anak muda itu segera gunakan ilmu meringankan
tubuh. Melintasi hutan terus menuju ketimur. Hanya dalam
waktu sepeminum teh saja, mereka sudah naencapai 5-6 li
jauhnya.
Bermula kedua ana kmuda itu masih dapat mendengar
suara tertawa Iblis-penakluk-dunia dan teriakan jeritan orang2

763
yang bertempur. Tetapi makin lama suara itu makin jauh dan
akhirnya lenyap ditelan kelebatan hujan.
Siau-liong mengajak Song Ling berhenti dan meneduh
dibawah sebatang pohon besar yang rindang daunnya.
“Rasanya tak perlu kita lari ke mati2an begini. Iblispenakluk-
dunia tak mengejar kita. Kita tentukan arah dulu
baru lanjutkan perjalanan lagi!" kata Siau-liong.
“Aneh, mengapa Iblis-penakluk-dunia dua kali sengaja
lepaskan kita lolos, ini....” kata Song Ling.
Siau-liong pun heran tetapi ia tak dapat berkata apa2.
Hanya diam-diam ia gelisah, memikirkan keselamatan
suhunya, Liau Hoan siansu, Lu Bu-ki dan Poh Ceng-in.
Betapapun bencinya terhadap Poh Ceng-in tetapi karena hidup
matinya harus bersama wanita itu, terpaksa ia harus
memikirkan keselamatan wanita itu. Jika dalam keadaan
terdesak paderi itu sampai menutuk mati Poh Ceng-in,
tentulah ia juga akan ikut binasa.
Dan lagi tadi Iblis-penakluk-dunia mengatakan bahwa iblis
itu dengan ilmu Menembus-langit-meneropong-bumi dapat
mendengar pembicaraannya dengan Kongsun Sin-tho. Lalu
mengapa iblis itu tak mau suruh anak buahnya merintangi?
Adakah iblis itu tak begitu menganggap penting ataukah
memang mempunyai lain rencana lagi?
Melihat Siau-liong diam saja, Song Ling berseru pula, “Iblispcnakluk-
dunia sangat menginginkan ilmu Thian-kong-sinkang
yang engkau miliki. Tetapi mengapa dia tak mau
menawanmu? Apakah dia tak kuatir engkau lolos? Bukankah
amat berhahaya sekali apabila engkau dapat meloloskan diri?
Karena setelah mempelajari ilmu Thian-kong-sin-kang, engkau
tentu akan mencarinya?"

764
Siau-liong menghela napas, “Iblis itu tentu sudah
memperhitungkan bahwa tak mungkin dalam keadaan saat ini,
aku akan melarikan diri untuk belajar ilmu Thian-kong-sinkang
itu. Tetapi mengapa dia tak mau menawanku, memang
benar-benar mengherankan sekali!"
Siau-liong duga Iblis-penakluk-dunia itu tentu sudak dapat
menduga bahwa dialah yang menyamar sebagai Pendekar
Laknat. Dugaan itu makin diperkuat, ketika di dalam biara
rusak Iblis-penakluk-dunia memanggilnya dengan sebutan
"Pendekar Laknat tua."
Siau-liong masih melanjutkan renungannya. sewaktu dalam
barisan Pohon Bunga bertempur lawan Lam-hay Sin-ni dan
Jong Leng lojin, ia telah menderita luka. Begitu pula ketika
Randa Busan dapat ditawan Iblis-penakluk dunia. Siau-liong
ingat, paling tidak dua kali sebenarnya ia sudah jatuh
ketangan Iblis-penakluk-dunia. Tetapi mengapa iblis itu
sengaja membiarkan dirinya lolos?
Sudah pasti Iblis-penakluk-dunia itu tahu bahwa dialah
(Siau-liong) yang menemukan kitab pusaka Thian-kong-sinkang
dan menghancurkan kitab itu. Jika Iblis-penakluk-dunia
hendak memburu ilmu itu, seharusnya menangkap dan
memaksanya supaya mengajarkan ilmu itu.
Sejak siasat Iblis-penakluk-dunia menggunakan si Mulut
Besi Ong Tiat-go gagal, Siau-liong memang lebih waspada.
Tetapi terhadap gerak gerik iblis itu yang membiarkan dirinya
lolos begitu saja, benar-benar Siau-liong tak mengerti!
Karena makin memikir makin gelisah, akhirnya Siau-liong
menghela napas, ujarnya, “Setelah tiba di Gobi, lebih dulu
akan kuturunkan ilmu Thian kong-sin-kang itu kepadamu.
Apabila Iblis-penakluk-dunia telah berhasil menguasai dania

765
persilatan, sebaiknya nona mengasingkan diri di tempat yang
sunyi untuk meyakinkan Thian-kong-sin-kang. Setelah berhasil
barulah nona berusaha untuk mencari balas!"
“Sudahlah, jangan banyak omong. Aku sudah mempunyai
rencana sendiri dan takkan menerima ilmu Thian-kong-sinkang
itu....” sahut si dara, "jangan pindahkan beban berat itu
kepadaku."
"Sama sekali aku tak bermaksud hendak mengalihkan
tanggung jawab kepadamu....”
“Tak peduli engkau bilang apa saja, toh percuma! Lebih
baik engkau tentukan arah yang harus kita tempuh sekarang
ini!" tukas Song Ling.
Siau-liong menghela napas, “Apakah nona sungguh2 tak
mau meluluskan?"
Rupanya Song Ling tak sabar lagi.
“Tidak! Tidak! Huh, tak malu engkau sebagai anak lelaki,
mengapa merengek-rengek begini macam!"
Tiba-tiba dara itu loncat menerjang hujan....
---ooo0dw0ooo---
Jilid 14
Go-bi-san
Siau-liong tertegun dan malu hati. Cepat ia loncat
mengikuti dara itu. Mereka tak faham jalan-jalan di
pegunungan Tay-liang-san. Apalagi tengah malam hujan angin

766
seperli saat itu mereka tak tahu arah yang akan ditempuh.
Terpaksa mereka hanya berjalan menurut apa yang dapat
dilalui.
Dalam waktu singkat mereka telah mencapai dua li
jauhnya. Hujanpun sudah berkurang. Tiba-tiba mereka
tertegun berhenti. Ternyata mereka berhadapan dengan dua
simpang jalan. Sesaat tak tahu mereka harus mengambil jalan
yang mana.
Song Ling menatap Siau-liong dengan pandang bertanya.
Tetapi pemuda itupun bimbang sendiri. Ia menyadari bahwa
Tay-liang-san itu merupakan pegunungan dan beribu puncak.
Sekali kesasar, tentu sukar keluar.
Pada saat ia belum dapat mengambil putusan, tiba-tiba dari
jauh terdengar derap kaki orang menghampiri.
Langkah kaki itu amat pelahan sekali apalagi sedang hujan.
Tetapi berkat telinganya yang tajam, dapatlah Siau-liong
menangkap suara langkah itu. Apalagi saat itu ia pasang
telinga dengan seksama sehingga dapat mendengar jelas.
Ia terkejut dan cepat menarik tangan Song Ling lalu diajak
bersembunyi digerumbul semak.
Song Ling tak mendengar apa2, tetapi karena ditarik Siauliong
ia duga pemuda itu tentu mendengar sesuatu.
Saat itu keduanya berada diujung jalan kecil yang terletak
diatas. Dan gerumbul semak itu terletak di tepi jalan. Apabila
pendatang dari jalan kecil juga, tentulah akan mengetahui
mereka.
Langkah kaki itu makin lama makin dekat dan jelas
langkahnya berat. Terang bukan orang persilatan.

767
"Apakah dia seorang pemburu? Tetapi mengapa keluar
tengah malam hujan lebat?" pikir Siau-liong.
Tepat pada saat itu dilihatnya sesosok tubuh yang
terhuyung-huyung meughampiri. Segera Siau-liong mengenali
siapa pendatang itu. Girangnya bukan kepaang. Buru-buru ia
berkata kepada Song Ling:
"Itulah Lu Bu-ki!"
Samar2 Song Ling juga melihatnya Serunya heran,
“Mengapa hanya dia seorang? Dan mengapa tampaknya
terluka?"
Memang orang itu terhuyung-huyung sehingga sampai
beberapa saat baru tiba ditempat Siau-liong bersembunyi.
Tubuhnya berlumuran darah, pakaian compang-camping dan
berjalan dengan susah payah.
Siau-liong cepat meneriakinya, “Saudara Lu!"
Lu Bu-ki tersentak kaget dan cepat mencabut pedang
dipunggungnya. Tetapi setelah melihat siapa yang memanggil
itu, ia menghela napas, “Ah, kiranya saudara Kongsun dan
nona Song. Menjapa kalian disini?"
Siau-liong tak menjawab melainkan melanjutkan
pertanyaannya, “Apakah saudara Lu melihat suhuku dan Liau
Hoan taysu....”
Lu Bu-ki menukas dengan helaan napas, “Ah, hidup selama
40 tahun lebih, baru hari ini mataku terbuka. Kongsun Sin-tho
locianpwe itu, ternyata seorang sakti Seorang diri dia mampu
menghadapi empat tokoh sakti si Iblis-penakluk-dunia, Lamhay
Sin-ni, Jong Leng lojin dan Randa Bu-san. Beaar2 suatu

768
pertempuran yang belum pernah terjadi dalam sejarah
persilatan....”
Sambil terengah-engah. Lu Bu-ki seperti menggambarkan
pertempuran itu dengan gerak2 yang bersemangat.
Siau-liong tergopoh menukasnya, “Bagaimanakah
kesudahannya pertempuran itu? Suhuku....?"
Lu Bu-ki tertegun, sahutnya, “Aku dan Liau Hoan taysu pun
bertempur sendiri dengan Harimau Iblis dan It Hang
totiang....”
Berhenti sejenak ia berkata pula, “Tetapi karena
kepandaianku jelek, dalam tiga jurus saja aku sudah
menderita luka. Sedang Liau Hoan taysu karena
mencengkeram perempuan baju merah itu, gerakannya tak
leluasa. Pihak kita hanya mengandalkan kekuatan Kongsun locianpwe
seorang....”
Tiba-tiba ia berhenti lagi dan terengah-engah.
Sesungguhnya Siau-liong gelisah sekali tetapi ia sungkan
untuk mendesak. Terpaksa dengan sabar ia bertanya, “Apakah
engkau terluka parah?"
Setelah terengah sejenak, Lu Bu-ki paksakan tertawa,
“Hanya beberapa luka luar saja, tidak jadi apa....”
Tetapi tampaknya kedua kakinya sudah tak kuat berdiri
lagi. Maka duduklah ia di tepi jalan lalu berkata pelahan-lahan.
"Sebenarnya dalam pertempuran itu aku sudah bertekad
untuk mengadu jiwa. Tetapi karena Kongsun lo-cianpwe
berulang kali menyerukan supaya aku dan Liau Hoan taysu
segera mengundurkan diri, bahkan dalam kesibukan
menghadapi keroyokan keempat lawannya yang tangguh itu,

769
Kongsun locianpwe masih sempat juga untuk membantu
aku....”
Mata sitinggi besar itu berkaca-kaca dan berseru dengan
nada tegang, “Saat itu aku dan Liau Hoan taysu terdesak
musuh. Tetapi karena dibantu Kongsun lo-cianpwe dengan
sebuah hantaman yang memaksa Harimau Iblis dan It Hang
totiang mundur bahkan Shin Bu-seng dari Tiam-jong-pay
menderita luka, sambil menyeret perempuan siluman baju
merah itu, segera menerobos keluar dari biara. Kemudian
akupun menyusul keluar Tetapi karena malam Itu hujan lebat
dan angin kencang, suasana di luar gelap pekat. Begitu keluar
aku tak melihat Liau Hoan taysu lagi. Tentulah dia sudah lari
jauh....”
Siau-liong banting2 kaki dan menghela napas, “Kalau
begitu engkau tak mengetahui bagaimana kesudahan
pertempuran suhuku itu?"
Lu Bu-ki gelengkan kepala menghela napas, “Karena tak
melihat Liau Hoan taysu dan menderita luka, sedang keadaan
diluar gelap gulita sekali .dan saat itu Kongsun lo-cianpwe
gunakan ilmu Menyusup suara untuk menyuruh aku lekas....
aku lekas pergi dan lagi....”
Ia berhenti memandang Siau-liong, “Suhumu suruh aku
apabila bertemu dengan engkau, supaya menyampaikan
pesannya suruh engkau lekas menuju ke gunung Gobi,
menemui paderi sakti Kim Ting. Minta Tenggoret-berkaki-tiga
dari paderi itu. Suhumu mengatakan pula. Beban berat untuk
menyelamatkan dunia persilatan dewasa ini, terletak
dibahumu. Suruh engkau menyadari tugas berat itu. Setiap
tindakan harus hati2....”

770
Siau-liong menghela napas, “Kalau begitu, suhu
kemungkinan besar tentu tertimpah bahaya!" sesaat ia gelisah
dan cemas sekali.
"Kalau aku bisa meloloskan diri, tentulah Kongsun cianpwe
takkan tertimpah apa2 ,....” Lu Bu-ki menatap Siau-liong dan
tiba-tiba diam.
Siau-liong menghela napas, “Itulah karena Iblis penaklukdunia
tak berniat menangkapmu. Tetapi terhadap suhu....
dengan mengandalkan pada ketiga tokoh sakti yang telah
menjadi orangnya itu, betapa pun sakti kepandaian suhu
tetapi mungkin.... ah! Tertawannya Randa Bu-san merupakan
salah satu contoh....”
Makin memikir, makin gelisahlah Siau-liong. Ia merasa pasti
bahwa suhunya tentu celaka.
Song Ling yang selama itu hanya mendengarkan mereka
bicara, pikirannya pun agak tenang.
Tetapi mukanya basah dengan airmata campur hujan.
Setelah menghela napas panjang ia bertanya kepada Lu Bu-ki,
“Mamahku.... apakah masih linglung pikirannya?"
Lu Bu-ki terpaksa mengangguk, “Selama ilmu siluman dari
kedua suami isteri iblis itu belum dapat dipecahkan, keadaan
ibu nona tentu sukar sembuh....”
"Lalu berpaling dan berkata kepada Siau-liong, “Menurut
hematku, baiklah saudara melakukan pesan Kongsun cianpwe
untuk lekas mencari paderi sakti Kim Ting di Gobi dan minta
Tenggoret-emas-berkaki-tiga itu!"
Siau-liong mengangguk. Lalu ia menanyakan bagaimana
dengan luka sitinggi besar itu.

771
Dengan gagah Lu Bu-ki teriawa, “Aku masih kuat
menahan!" —Habis berkata ia terus loncat bangun. Tetapi
sebelum kakinya tegak, iapun terhuyung-huyung mau jatuh
lagi. Jelas bahwa lukanya memang berat tetapi ia paksakan
diri bertahan.
Siau-liong cepat2 memapahnya tetapi sitinggi besar itu
menghindar ke samping lalu tertawa garang, “Habis hujan,
tanah licin. Sama sekali bukan karena aku tak dapat berjalan!"
Ia terus ayunkan langkah lebar berjalan. Hampir setengah
dari umurnya telah dipergunakan berkecimpung dalam Rimba
Hijau. Sekali pun jarang sekali datang ke gunung Tay-liangsan,
tetapi Lu Bu-ki cukup mengenal jalan di daerah itu. Maka
berjalanlah ia menempuh hujan yang masih belum reda
dengan diikuti Siau-liong dan Song Ling.
Untunglah makin lama hujan pun makin reda dan akhirnya
berhenti. Langitpun cerah juga. Rembulan muncul bagaikan
sebuah bola lampu yang tergantung di atas barisan puncak
gunung.
Tetapi karena sudah terlanjur basah kuyup ketika dihembus
angin malam, ketiga orang itu menggigil kedinginan. Song
Ling yang bermula mengikuti persis di belakang Lu Bu-ki, lama
kelamaan merasa letih juga dan akhirnya ia berjalan menjajari
Siau-liong. Berkali-kali ia sandarkan tubuhnya ke bahu
pemuda itu.
Siau-liong diam-diam kerahkan tenaga dalam. Ia
memperhatikan keadaan sekeliling penjuru. Maka bermula ia
tak memperhatikan Song Ling. Baru setelah dara itu gemetar
keras. ia terkejut, “Apakah engkau kedinginan?"

772
Suatu pertanyaan yang sesungguhnya dapat dijawab
sendiri karena dia juga gemetar kedinginan.
"Tidak," sahut Song Ling.
Siau-liong terkejut mendengar nada suara dara itu lain dari
biasanya. Buru-buru ia berhenti, Ternyata wajah Song Ling
berobah pucat, giginya bercaterukan keras. Tangannya dingin
sekali tetapi dahinya amat panas.
"Engkau sakit!" seru Siau-liong.
Song Ling paksakan diri, “Hanya cape sedikit, tetapi tak
mengapa....” —tetapi mendadak ia mencengkeram lengan
Siau-liong dan meronta, “Pelahan-lahan saja!"
Siau-liong iba sekali melihat keadaan dara itu sehingga
hampir menangis. Song Ling menderita luka parah pada tubuh
dan hatinya. Lalu menempuh perjalanan ditengah malam yang
berhujan lebat, angin keras. Sudah tentu dara itu tak kuat
bertahan.
Tetapi sikap si dara yang tetap gagah, sinar matanya yang
memancar kekerasan hati dan katup bibirnya yang angkuh
pantang mundur, diam-diam menimbulkan rasa kagum pada
Siau-liong.
Tak berapa lama malam pun berganti pagi. Pemandangan
sekeliling penjuru, makin terang. Diam-diam Siau-liong
gelisah. Jika saat itu Iblis-penakluk-dunia melakukan
pengejaran, tentulah sukar untuk meloloskan diri lagi.
Lu Bu-ki benar-benar tak kecewa sebagai seorang jantan
perkasa. Walaupun tubuhnya berhias luka2 tetapi ia tetap kuat
berjalan. Mendengar berulang kali Siau-liong menghela napas,
ia tahu isi hati pemuda itu. Segera ia berhenti, katanya, “TayTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
773
liang-san walaupun terdiri dari ribuan puncak, tetapi
mempunyai jalan keluar sampai berpuluh-puluh buah.
Kongsun lo-cianpwe dan Liau Hoan siansu tentu sudah
meloloskan diri dari lain jalan!"
"Eh, apakah nona sakit? " tiba-tiba ia terkejut melihat
keadaan Song Ling.
"Entah masih berapa jauh lagi dapat keluar dari
pegunungan ini? Kecuali nona Song tak kuat bertahan lagi....”
tiba-tiba Siau liong alihkan kata-katanya, “Dalam keadaan
berlumuran darah begini tidaklah leluasa kalau bertemu orang.
Lebih baik kita cari tempat beristirahat dulu."
Sambil menunjuk jauh kesebelah muka, Lu Bu-ki
mengatakan, “Setelah melintasi gunduk gunung itu, segera
kita sudah keluar dari Tay-liang-san.... dibawah gunung kita
akan tiba dikota, Ma-pian-koan. Disana nanti kita cari hotel.
untuk mengobati sakit nona Song dan sekalian beristirahat. "
Mendengar itu timbullah semangat Siau-liong. Tetapi saat
itu Song Ling benar-benar sudah tak kuat lagi. Dengan napas
memburu keras, ia sandarkan tubuh ke bahu Siau-liong.
"Nona....” seru Siau-liong.
"Hm.... ," gumam Song Ling terus rubuh. Siau-liong
terkejut. Terpaksa ia memandang dara itu terus lanjutkan
perjalanan lagi.
Ternyata Lu Bu-ki memang kenal jalanan disitu. Setelah
melintasi gunduk, mereka tiba di tanah datar. Dari jauh
tampak sebuah kota. Paling jauh hanya tiga li jaraknya.
Sekalipun ingat akan pesan suhunya supaya jangan
menunda perjalanan ke Gobi tetapi jarak ke Gobi tak kurang

774
dari 7-8 puluh li. Sedang saat itu Song Ling menderita sakit
sehingga tak kuat berjalan lagi. Maka Siau-liong terpaksa
memutuskan untuk beristirahat dulu di kota Ma-pian-koan
Ternyata kota itu tak berapa besar, kalah besar dan ramai
dengan kota Sok-cu.... Karena saat itu baru saja terang tanah
maka rumah2 dan jalanan masih sepi....
Lu Bu-ki dan Siau-liong berhenti disebuah rumah
penginapan di gang yang sepi. Papan nama yang tergantung
pada rumah penginapan itu berbunyi, “Pondok Toa Ong Ki"
Sebuah pondok penginapan yang sudah tua dan kecil....
Lu Bu ki mengetuk pintu tetapi sampai lama tiada
penyahutan. Sitinggi besar yang beradat berangasan lalu
mendebur sekeras-kerasnya seraya berteriak, “Hai, pintu,
lekas bukakan pintu."
Siau-liong terkejut. Ia memperingatkan siberangasan
supaya hati2 karena kota itu masih masuk lingkungan daerah
Tay-liang san.
Lu Bu-ki terpaksa bersabar dan menunggu. Paling tidak
sepeminum teh lamanya baru terdengar langkah kaki orang
dan pada lain saat terdengarlah pintu dibuka. Seorang lelaki
tua muncul. Tetapi begitu melihat kedua pendatang yang
berlumuran darah dan bahkan yang seorang memondong
seorang gadis, orang tua itu menjerit kaget lalu bergegasgegas
hendak menutup pintu lagi.
Lu Bu-ki mendorong daun pintu dan membentak, “Tua
bangka, bukankah engkau membuka rumah penginapan? Aku
membawa uang....”
Siau-liong cepat melangkah maju, “Lo sianseng, kami
mendapat kesulitan dalam perjalanan. Minta tolong menyewa
kamar disini. Semua rekening tentu akan bayar lunas!"

775
"Apakah kalian ini....” tanya orang tua itu tak henti2nya
memandang bergantian kepada tetamunya.
Siau-liong takut si tinggi besar omong keliru, buru-buru ia
mendahului, “Kami adalah.... pedagang yang baru pertama
kali ini menjual kain kedaerah Biau sini. Tak terduga ketika
melintasi pegunungan Tay-liang-san kami telah mendapat
kesulitan karena dihadang oleh orang Biau. Barang2 dagangan
kami telah dirampas semua....”
Kemudian memandang ke arah Song Ling yang
dipondongnya, Siau-liong menghela napas, “Adikku ini
menderita kegoncangan kaget dan karena kehujanan,
terserang sakit.... harap lo-sianseng suka menolongi."
Rupanya pemilik pondok itu percaya, katanya, “Memang
tahun ini berdagang keluar daerah tidak mudah. Masih untung
kalian bisa selamat. Beberapa hari yang lalu, ada rombongan
pedagang kain yang yang masuk ke daerah Biau, ketika
melintasi pegunungan Tay-liang-san pun dibegal orang Biau
liar. Dari lima orang yang dapat lolos hanya seorang saja
selamat. Kabarnya yang empat orang itu mati terkena panah
beracun dari orang Biau.... ai.... silahkan masuk!"
Rupanya pemilik pondok yang tua itu kasihan pada Siauliong.
Sambil menunjukkan jalan, ia mengingau, “Memang tak
mengherankan kalau nona itu jatuh sakit.... jangankan hanya
seorang wanita, bahkan lelaki yang gagah perkasa pun tentu
terserang penyakit kalau menempuh perjalanan yang begitu
berat....”
"Apakah kalian terluka oleh mereka?" tanya orang tua itu
sambil mengawasi pakaian Siau-liong dan Lu Bu-ki yang
berlumuran darah.

776
"Tidak, melainkan diwaktu meloloskan diri telah jatuh
beberapa kali sampai terluka. Tetapi tak jadi apa. " sahut Siauliong.
Pemilik pondok itu membawa tetamunya kebagian ruang
belakang. Saat itu dari sebuah kamar, muncul seorang lelaki
berumur kira2 30-an tahun. Kepala besar, mata kecil,
wajahnya menyeramkan. Tak henti-hentinya dia memandang
Siau-liong saja.
Setelah mempersilahkan Siau-liong bertiga masuk ke dalam
sebuah kamar, pemilik pondok berseru memanggil lelaki tadi,
“Tho Tao-ciang lekas hangatkan arak dan hidangan tuan2
tetamu ini. Lalu masak lagi air panas untuk mereka."
Siau-liong menghaturkan terima kasih. Setelah orang tua
itu mengingau seorang diri, lalu pergi.
Ruang kamar ternyata teramat bersih. Tetapi hanya
terdapat ranjang besar untuk dua orang. Siau liong segera
letakkan Song Ling di atas kasur. Tepat pada saat itu pelayan
yang disebut Tho Tao-cing tadipun datang membawa arak
hangat.
Setelah meminumkan dua cawan arak kepada Song Ling,
tampaklah dara itu sadar. Ketika membuka mata, serentak ia
hendak meronta bangun.
“Jangan kuatir, beristirahatlah dengan tenang. Sekarang
kita berada dalam pondok penginapan. Setelah engkau
sembuh, kita lanjutkan perjalanan lagi." kata Siau-liong.
Tetapi Song Ling gelisah. Dengan napas gopoh ia berkata,
“Aku hanya menderita sedikit angin dingin, Sama sekali tidak
merasa sakit, Setelah istirahat, kita pergi. Apakah engkau lupa
akan pesan suhumu....”

777
Siau-liong memberi isyarat mata, “Karena sudah berada di
tempat yang aman, sekarang atau nanti akhirnya toh kita akan
kesana juga!"
Rupanya Song Ling cukup cerdas. Ia tahu Siau-liong tentu
mencurigai pelayan yang berwajah seram itu. Maka iapun tak
mau bicara lagi.
Lu Bu-ki mengambil sekeping perak 10-an tail lalu diberikan
kepada pelayan itu:"Harap belikan pakaian untuk bertiga,
sediakan hidangan dan sisanya untukmu!"
Dengan tertawa-tawa, pelayan menyambuti perak terus
melangkah pergi. Cepat sekali ia sudah menyediakan pesanan
Lu Bu-ki. Ia datang membawa tiga stel pakaian baru.
Saat itu hari sudah siang. Tetamu2 lain yang jumlahnya
hanya 4-5 orang sudah berkemas untuk melanjutkan
perjalanan.
Setelah mandi air hangat dan ganti pakaian, agak segarlah
perasaan Siau-liong bertiga. Kemudian mereka menutup pintu
dan makan. Tetapi walaupun sakitnya sudah agak berkurang,
Song Ling tetap tak dapat menelan nasi. Terpaksa ia tidur saja
di ranjang.
Sesuai dengan tubuhnya yang tinggi perkasa, Lu Bu ki
gemar sekali minum. Setelah menghabiskan tiga cawan,
semangatnya makin beringas. Lukanya seolah-olah dilupakan.
Siau-liong hanya makan sedikit Setelah Lu Bu-ki habis makan,
Siau-liong suruh dia beristirahat di tempat tidur untuk
memulangkan tenaga.
Tetapi si tinggi besar tetap menolak, “Aku tidak lelah. Lebih
baik engkau yang beristirahat dulu.“

778
Karena Lu Bu ki tetap menolak, Siau-liong terpaksa naik
ketempat tidur. Karena letih, ia jatuh pulas.
Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba ia terkejut
mendengar suara berisik yang lembut sekali. Dilihatnya Song
Ling masih tidur pulas, Lu Bu-ki pun mendengkur di atas kursi.
Suara gemersik itu berasal dari jendela. Ia duga tentulah
perbuatan sipelayan. Maka sengaja ia batuk2 lalu duduk
diranjang.
Orang yang mengintai diluar kamar itu segera berjingkatjingkat
pergi. Dia meninggalkan sebuah lubang pada kertas
jendela.
Sekalipun sudah berhati-hati sekali, tetap terdengar Siauliong.
Jelas orang itu tak mengerti ilmu silat.
"Betapapun lihaynya tetapi tak mungkin Iblis-penaklukdunia
menanam pengaruhnya sampai di tempat semacam ini.
Tentulah pelayan itu mencurigai gerak-gerik kita," pikir Siauliong.
Diluar ruangan, sunyi senyap. Kecuali Siau-liong bertiga,
pondok penginapan itu sudah tak ada tetamu lain lagi.
Saat itu matahari sudah condong ke barat. Ia berjalan
keluar. Terasa tubuhnya ringan sekali. Rasa letih sudah hilang.
Ia menghampiri ketempat Song Ling. Dilihatnya pipi dara itu
merah sekali. Dirabanya pipi dara itu. Panas sekali tetapi kaki
tangannya dingin, napasnya sesak.
“Ah, dia benar-benar keras hati. Sakitnya begini berat,
masih paksa diri bertahan," pikir Siau-liong. Ia memanggil
pelayan minta alat tulis.

779
Lu Bu-ki terkejut bangun dan melonjak dari kursinya, ia
tertawa sendiri, “Ho, baru liyer2 sebentar, sudah jatuh pulas!"
"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Siau-liong.
Orang tinggi besar itu mengatakan sudah sembuh. Saat itu
pelayan datang membawa alat tulis. Entah bagaimana, ia
tampak ketakutan berhadapan dengan Siau-liong dan Lu Buki.
Siau liong duga pelayan itu ketakutan karena merasa
perbuatannya mengintai tadi, tentu diketahui Siau liong.
Sejak kecil Siau-liong ikut pada Kongsun Sin Tho. Walaupun
tabib sakti itu tak mengajarkau ilmu pengobatan, tetapi karena
biasa mendengar dan melihat suhunya meramu obat, maka
Siau-liong pun mengerti juga sedikit2. Segera ia menulis resep
dan suruh pelayan iiu membelikan ke rumah obat.
Setelah pelayan pergi, bertanialah Siau-liong kepada Lu Buki,
“masih jauhkah perjalanan ke gunung Gobi itu?"
“Dari sini kita menyeberang sungai, kira2 hanya 40-an li.
Jadi semua hanya 70-an li. Tetapi.... perjalanan itu merupakan
daerah pegunungan, tiada jalan datar. Tak bisa ditempuh
dengan kuda atau kereta. Bahkan jalan kaki saja sukar.
Mengingat nona Song masih sakit....”
Siau-liong cepat menukas dengan serius, “Kedua suami
isteri Iblis-penakluk-dunia itu sudah jelas hendak berusaha
menguasai dunia persilatan. Ceng Hi totiang terpaksa
menuruti perintahnya untuk menghadiri pertemuan di Gobi.
Tentulah saat ini mereka sudah menuju ke Gobi. Kemarin
malam dengan gunakan ilmu Mendengar langit-menembusbumi,
dia telah mencuri dengar pembicaraanku. Tentulah dia

780
sudah mengetuhui perjalanan kita ke Gobi ini. Sekalipun dia
tak muncul tetap tentu sudah mengatur rencana untuk
menangkap kita. Menurut penilaianku, di gunung Gobi sudah
dirobah menjadi suatu perangkap. Kaki tangan Iblis-penaklukdunia
sudah tersebar diseluruh pelosok gunung itu.
Lebih baik kita berangkat pada malam hari saja dan besok
pagi2 sudah dapat mencapai puncak Kim-ting dari gunung
Gobi....”
"Hai!" tiba-tiba Lu Bu ki menggebrak meja, mengapa aku
lupa? Ya, aku teringat akan sebuah jalan singkat yang dapat
mencapai belakang gunung Gobi. Jalan itu sepi sekali
sehingga tak diketahui orang. Biarlah nanti malam aku yang
menjadi penunjuk jalan!"
Siau-liong gembira mendengarkan. Setelah setengah hari
beristirahat, semangat merekapun sudah segar kembali.
Tetapi Song Ling masih tidur sedang Siau-liong dan Lu Bu-ki
duduk bersemedhi memulangkan semangat.
Tak berapa lama sipelayan tadi muncul dengan membawa
obat yang sudah dimasaknya. Lebih dulu Siau-liong mencicipi
obat itu baru ia angkat tubuh si dara dan pe-lahan2
meminumkannya.
Ternyata manjur juga obat buatan Siau-liong itu. Tak
berapa lama semangat si dara pun mulai berangsur-angsur
pulih. Tetapi berulang kali dara itu berteriak-teriak hendak
melanjutkan perjalanan dan tak henti-hentinya mengoceh
seorang diri, menangis dan menghela napas. Terang dara itu
menanggung kedukaan yang menggoncangkan perasaannya
sehingga belum pulih.
Siau-liong menghiburnya dan menjelaskan mengapa baru
berangkat nanti malam. Rupanya dara itu mau menerima

781
penjelasan dan sikapnya pun agak tenang. Demikian mereka
bertiga segera bersemedhi memulangkan semangat. Pada saat
matahari hampir silam, pelayan tadi pun mengetuk pintu dan
berseru;
“Tuan-tuan.... ada seorang tetamu hendak bertemu!"
Siau-liong dan Lu Bu-ki terkejut, pikir mereka, “Pagi2 sekali
kita datang kepondok penginapan ini dan sepanjang hari tak
pernah keluar. Mengapa ada orang yang hendak menemui
kita?"
Belum mereka mengambil putusan menemui orang itu atau
tidak, tiba-tiba terdengar derap kaki orang berjalan masuk
Siau-liong cepat menarik Lu Bu-ki. Keduanya siap2.
"Apakah tinggal dideretan kamar timur? " t-riak orang itu
dengan nyaring.
"Ya, ya, " sahut sipelayan tadi, "kamar yang inilah."
“Hayo, engkau keluar!" bentak orang itu seraya terus
masuk ke dalam pintu.
Lu Bu-ki terkejut tetapi setelah mengetahui siapa
pendatang itu, ia segera tertawa gelak2, “Ah! kiranya Auyang
pangcu!"
"Benarkah saudara Lu yang bicara ini?" seru orang itu.
Lu Bu ki cepat membuka pintu untuk pendatang itu.
Seorang lelaki tua berumur 60-an tahun rambut dan
jenggotnya sudah menjunjung uban,pinggang menyelip
sepasang senjata Poan-kwan-pit melangkah masuk. Mata
orang itu berbentuk segi tiga hidung bengkok macam burung
wulung. Wajahnya menampilkan seorang licin.

782
Orang itu memandang Siau-liong sampai beberapa jenak
baru memberi hormat dan berseru dengan tertawa, “Saudara
ini tentulah Kongsun siau-hiap, bukan?"
Siau-liong mengiakan lalu minta tanya nama orang itu juga.
Lu Bu-ki menerangkan, “Saudara Auyang Pa ini, adalah
pangcu (ketua) dari 28 kelompok yang tersebar diperairan
telaga Pohyang-ou. Kali ini memenuhi undangan Ceng Hi
totiang untuk menggempur sarang Iblis-penakluk-dunia."
Siau-liong menatap Auyang Pa, tanyanya dengan nada
serius, “Apakah Auyang pangcu belum berjumpa dengan
rombongan Ceng Hi totiang? Mengapa tahu kalau aku dan
kawan2 berada disini?"
Sejenak mengeliarkan mata, Auyang Pa menyahut, “Karena
kuatir ditengah jalan menemui kesulitan, maka Ceng Hi
totiang dan rombongan mengambil jalan singkat yaitu melalui
jembatan Ngo-tong-kiau, gunung Lok-san lalu mengitari
gunung. Aku mendapat perintah supaya menjaga ditempat ini
untuk menyelidiki gerak-gerik Iblis-penakluk-dunia. Tak
terduga semalam dipuncak Lok-beng-nia aku telah berjumpa
dengan seorang cianpwe yang ternama....”
Siau-liong terbeliak kaget sekali. Serunya gopoh, “Auyang
pangcu maksudkan....”
Auyang Pa tertawa, “Benar, memang suhumu Tabib-sakti
jenggot-naga Kongsun locianpwe!"
"Dimanakah suhuku sekarang."
Tenang2 Auyang Pa menjawab, “Semalam menjelang
tengah malam aku bertemu dengan Kongsun cianpwe dibiara

783
Leng-hun-si dipuncak Lok-beng-nia. Rupanya beliau menderita
luka kecil, sedang beristirahat dalam biara itu....” Berhenti
sejenak ia melanjutkan pula, “Beliau minta tolong kepadaku
apabila berjumpa dengan Kongsun siau-hiap supaya
menyampaikan pesan. Beliau....”
“Apakah suhu tak ke Gobi?" tanya Siau-liong.
Auyang Pa tertawa pula, “Beliau mengatakan pasti kesana.
Tetapi untuk sementara ini beliau hendak mengerjakan suatu
urusan yang penting sekali. Mungkin akan terlambat beberapa
waktu, Beliau mengatakan malam nanti akan datang ke Makoan
dan minta engkau menunggu disini!"
Siau-liong kerutkan alis bertanya, “Apakah luka suhuku itu
tak berbahaya?"
"Hanya menderita luka ringan. Ketika beristirahat dalam
biara, dia tetap tertawa-tawa seperti biasa. Jelas tentu tak
apa2." .
Siau-liong merenung sejenak. Tiba-tiba dengan mata
berkilat-kilat ia mengajukan pertanyaan pula, “Apakah suhu
tak bilang apa2 lagi? Apakah dia tak mengatakan mengapa
suruh aku tunggu disini?"
Auyang Pa tersenyum menepuk keningnya sendiri, “Benar!
Kongsun cianpwe mengatakan, karena saat itu keadaannya
berbahaya maka suruh engkau cepat2 menuju ke Gobi. Tetapi
karena sekarang bahaya itu sudah lewat dan
memperhitungkan tak mungkin kedua suami isteri durjana itu
akan menyergap di tengah jaian, maka ia minta engkau
menunggunya agar dapat bersama-sama ke Gobi. Paderi sakti
di puncak Kim-ting itu beradat aneh. Jika bicara kurang sesuai
sedikit saja, tentu sukar untuk mendapat tenggoret berkaki
tiga itu!"

784
Rupanya Lu Bu-ki cepat percaya penuh. Maka
menyelutuklah ia, “Kalau begitu, kita tunggu saja disini,
tetapi....” ia kerutkan dahi lalu berkata pula, "eh, mengapa
Kongsun cianpwe tahu kalau kita berada di pondok sini?"
Auyang Pa tertawa, “Itu mudah. Aku membawa dua orang
pengikut. Sekarang mereka menunggu diluar. Suruh mereka
menunggu kedatangan Kongsun cianpwe dijalan."
Habis berkata ia terus melangkah keluar.
“Memang kubuktikan sendiri kesaktian Kongsun cianpwe
itu. Dan kuyakin dia tentu dapat lolos dari bahaya....” kata Lu
Bu-ki dengan gembira.
Siau-liong tetap merenung diam. Sudah tentu si tinggi
besar heran, “Eh, mengapa saudara malah kelihatan kurang
senang?"
“Apakah saudara kenal baik dengan Auyang Pa itu?" Siauliong
balas menegur.
Lu Bu-ki terkesiap, sahutnya, “Meskipun tak erat tetapi
kami sudah kenal lama. Dan lagi kali ini kami bersama-sama
memenuhi undangan Ceng Hi totiang. Dia merupakan seorarg
dari berpuluh jago2 ternama yang diundang Ceng Hi totiang.
Baru dua hari ini aku berpisah dengan dia.... tentu tak
mungkin sampai....”
“Menilik ucapan dan sikapnya, kurasa ada sesuatu yang tak
wajar pada dirinya," tukas Siau-liong.
Lu Bu ki hendak menjawab tetapi tiba-tiba saat itu Auyang
Pa melangkah masuk lagi seraya tertawa nyaring, “Telah
kuatur beres dan juga sudah kusuruh jongos menyediakan

785
hidangan untuk kita. Malam ini aku yang menjadi tuan rumah.
Minum sampai puas dulu baru kija berangkat!"
Begitulah ketika lilin mulai dipasang, si pelayan Tho Thauciang
pun masuk membawa dua teratak lilin, ditaruh di meja
lalu beringsut-ingsut keluar. Tingkah lakunya mirip seperti
tikus yang takut keluar.
Siau-liong memperhatikan bahwa tiada seorang tetamu lagi
yang datang ke pondok penginapan situ Auyang Pa
bergembira ria, ber-cakap2 sambil minum. Sedang Song Ling
masih duduk bersandar pada ranjang. Gadis itupun
memandang tingkah laku Auyang Pa dengan heran.
Siau-liong lebih dulu mengambilkan makanan untuk Song
Ling agar dara itu tak usah turun dari tempat tidur. Dan Song
Ling pun segera makan. Rupanya ia tak senang dengan
Auyang Pa maka tak mau ikut campur bicara.
Si tinggi besar Lu Bu-ki walaupun juga mempunyai sedikit
rasa curiga terhadap Auyang Pa, tetapi ia tetap makan dan
minum dengan gembira bersama orang itu.
Auyang Pa tampaknya bersikap lapang dan wajar. Tetapi
diam-diam pandang matanya tak putus2nya melirik ke arah
Siau-liong.
Siau-liong menuang secawan arak lalu disongsongkan ke
muka Auyang Pa, “Auyang pangcu termashyur di dunia
persilatan tetapi baru pertama kali ini aku beruntung dapat
bertemu muka. Maka dalam kesempatan ini aku hendak
menghaturkan arak kehormatan kepada Auyang pangcu!"
Auyang Pa tergopoh menyambuti, “Apa yang disohorkan
orang itu hanya nama kosong belaka. Aku sendiri merasa
malu. Adalah Kongsun siau-hiap yang harus dikagumi. Karena

786
dalam usia semuda itu sudah mendapat warisan ilmu sakti
Thian-kong-sin-kang!" —habis berkata ia terus meneguk habis
cawan arak itu.
Siau-liong hanya tertawa dingin. Tiba-tiba ia bertanya
dengan serius, “Bagaimana Auyang pangcu tahu kalau aku
menjadi pewaris ilmu Thian-kong-sin-kang?"
Auyang Pa tersentak kaget. sesaat tampak ia agak gugup
dan hampir tak dapat menjawab. Akhirnya ia pura-pura batuk
dan menyahut dengan ter-sendat2, “Aku.... hanya....
mendengar dari Kongsun cianpwe....”
Siau-liong mengangguk tertawa, “O, kiranya begitu....” —
kemudian ia berpaling kepada Lu Bu-ki lalu bertanya pula
kepada Auyang Pa, “Apakah Auyang pangcu suruh anak buah
menunggu suhuku di tengah jalan?"
Auyang Pa paksakan tertawa, “Benar, asal tahu suhu
saudara lewat disini, tentu akan diketahui."
"Sayang aku segera berangkat, tak sempat menunggunya
lagi," tiba-tiba Siau-liong berkata dengan nada dingin.
Auyang Pa terkejut sekali, serunya, “Mengapa Kongsun
siauhiap hendak buru-buru....” —tiba-tiba kisarkan tubuh.
Rupanya ia hendak menunggu kesempatan pada saat Siauliong
lengah, harus hendak loncat kabur.
Siau-liong pura-pura tak melihat dan masih lanjutkan
kata2nya, “Jika tak mengalami peristiwa semacam diri Ong
Tiat-go, mungkin aku tentu dapat engkau kelabuhi!"
Lu Bu ki mulai curiga, “Saudara Kongsun, apakah dia....”

787
"Kongsun sauhiap, apa maksudmu!" Auyang Pa menukas
dengan berteriak keras. Dan tiba-tiba ia melesat dari tempat
duduknya.
Tetapi Siau-liong lebih cepat. Pada saat Auyang Pa hendak
bergerak, ia sudah cepat mencengkeram pergelangan tangan
kirinya. Seketika itu juga Auyang Pa rasakan lengan kirinya
kesemutan. sakitnya bukan kepalang....
Siau-liong tertawa kepada Lu Bu-ki, “Pada saat kutanya
mengapa suhu tahu kita berada disini, dia gelagapan tak
dapat menjawab lancar. Sebenarnya dia tak mungkin tahu kita
disini kecuali si pelayan The Thau-ciang itu menjadi kaki
tangannya."
"Brak," Lu Bu-ki menghantam meja dan menggembor, “Ya,
benar! Mengapa aku tak dapat memikir sampai disitu....”
Siau-liong mendengus, “Kedua kalinya, suhu tak pernah
merobah pesan yang telah diberikan, Karena beliau sudah
suruh aku lekas ke Gobi, tak mungkin dia akan merobah
perintah suruh aku menunggunya disini....”
Lu Bu-ki berjingkrak seperti orang yang kebakaran jenggot,
“Keparat, sungguh tak kira kalau si tua ini mau juga menjadi
kaki tangan Iblis penakluk-dunia....”
Tetapi pada lain saat, ia bertanya dengan nada meragu,
“Tetapi dia adalah ketua dari Poh-yang-pang. Dan baru dua
hari aku berpisah dengan dia. Mengapa cepat sekali ia sudah
berganti haluan?"
Sekalipun Auyang Pa itu seorang jago yang dapat
digolongkan kelas satu tetapi ditangan Siau-liong, dia tak
mampu berkutik sama sekali.

788
Siau-liong menghela napas, “Memang Iblis-penakluk-dunia
itu benar-benar hendak melaksanakan cita2nya untuk
menguasai dunia persilatan dan memiliki ilmu Thian-kong-sinkang.
Segala rencana dan siasat akan ditempuhnya!"
"Apakah Auyang Pa juga terkena ilmu siluman dari Iblispenakluk-
dunia?" Lu Bu-ki belalakkan matanya lebar2.
"Belum dapat dipastikan....” kata Siau-liong lalu
memandang Auyang Pa dengan cermat, katanya pula, “Lebih
baik tanya saja padanya!"
Habis berkata ia terus memijat lebih keras sehingga Auyang
Pa menjerit kesakitan dan me-ronta2, “Ampun! Ampunilah....
jiwaku!"
Siau-liong tertawa dingin. Ia hentikan pijatannya, “Hayo
bilang! Bagaimana engkau dapat bersekutu dengan Iblispenakluk-
dunia itu? Apakah engkau sungguh ketemu dengan
suhuku? Apakah rencana Iblis-penakluk-dunia mengirim
engkau ke mari?"
Auyang Pa menghela napas, “Ah, kalau Kongsun siauhiap
tetap tak mau percaya omonganku, akupun tak dapat berbuat
apa2. Tetapi apa yang kukatakan tadi memang benar
seluruhnya. Sebelum tengah malam nanti, suhu Kongsun
siauhiap tentu datang kemari. Nah, saat itu barulah Kongsun
siauhiap percaya pada omonganku!"
Siau-liong tertawa dingin, “Aku berani memastikan bahwa
engkau tak pernah bertemu dengan suhuku. Coba saja
bayangkan. Suhu berhadapan dengan tiga pewaris ilmu sakti.
Jika tak menderita luka parah, pun tentu tak dapat lolos dari
cengkeraman Iblis-penakluk dunia....”

789
Berberang sejenak, ia berkata pula, “Kalau kemungkinan itu
tidak menimpa pada suhu, pun tak mungkin dia akan berhenti
ditengah jalan memberi pesan kepadamu. Suhu tentu sudah
melintasi sungai!"
Seketika pucatlah wajah Auyang Pa. Dia tak dapat
membantah lagi dan hanya meratap minta ampun.
"Plak," tiba-tiba Lu Bu ki menampar muka Auyang Pa,
“Apakah engkau masih tak mau bicara terus terang....?"-
kemudian orang tinggi besar itu minta idjin kepada Siau-long
untuk 'menyelesaikan' Auyang Pa. Dan sebelum Siau-liong
sempat buka suara, sitinggi besar sudah mencengkeram bahu
Auyang Pa dan dipijit sekeras-kerasnya.
Lu Bu ki gunakan ilmu Hun kin jo-kut atau Pencarkan-uratsesatkan-
tulang.
Waktu ditampar tadi tadi, mulut Auyang Pa mengucur
darah dan matanya berkunang-kunang hampir pingsan.
Kemudian ketika dipelintir oleh si tinggi besar, seketika ia
rasakan sekujur tubuhnya seperti digigiti ribuan ekor semut.
Gemetarlah kaki tangannya, giginya pun bercaterukan keras.
Keringat berderai-derai membanjir.
Beberapa saat kemudian barulah Lu Bu ki membuka jalan
darah Auyang Pa lagi lalu membentaknya, “Hayo, mau bilang
atau tidak!"
Auyang Pa rasakan tubuhnya seperti setengah mati.
Akhirnya ia tak kuat dan berteriak, “Ya, ya, aku bilang....”
Ia melirik Siau-liong dan melanjutkan kata2nya, “ Suhumu
Kongsun cianpwe, sudah....”

790
Tetapi belum ia menyelesaikan kata2nya, tiba-tiba dari luar
jendela melayang setitik sinar kemilau yang langsung
menyasar ketenggorokan Auyang Pa. Cepat dan tepat sekali
senjata rahasia itu menyusup ke dalam tenggorokan Auyang
Pa.
Siau-liong dan Lu Bu-ki terkejut sekali. Bahkan Song Ling
pun menjerit kaget, terus loncat turun dari ranjang.
Siau-liong menampar padam lilin. Lalu ia memeriksa
Auyang Pa. Tetapi ternyata ketua Poh-yang-pang itu sudah
mati. Kematiannya serupa dengan Ong Tiat-go. mati terkena
panah Ngo-tok-tui-han-cian dari Iblis-penakluk-dunia!
"Menilik gelagat, mungkin kedua suami isteri iblis itu sudah
mengejar kemari. Jika mereka membawa anak buah, kita
tentu sukar lolos!" bisik Siau-liong. Diam-diam ia menyesal
karena tak mengindahkan pesan suhunya supaya ia jangan
menunda perjalanan ke Gobi.
Tiba-tiba Song Ling berbisik kedekat telinga Siau-liong,
“Yang melepas panah Ngo-tok-tui-hun-cian, kemungkinan
tentu anak buah Iblis-penakluk-dunia. Kalau kita tetap berada
disini, jelas tentu makin berbahaya. Lebih baik kita menerjang
keluar saja!"
"Apakah engkau dapat bertahan diri?" tanya Siau liong.
Si dara tersenyum, “Aku hanya menderita serangan angin
dingin, Setelah minum obat tadi, dan tidur satu hari penuh,
semangatku sudah pulih segar lagi!"
Siau-liong lega hatinya. Kemudian ia membagi tugas. Ia
yang akan mempelopori menerjang keluar, Lu Bu-ki dan Song
Ling supaya mengikuti dari belakang. Habis memesan, ia
membuka daun jendela terus loncat ke ruang tengah.

791
Pada waktu meloncat itu, diam-diam ia sudah kerahkan
tenaga-sakti untuk melindungi diri. Pikirnya, sekalipun musuh
melepas panah beracun, tetap tak dapat melukainya.
Tetapi diluar dugaan, ternyata ruang tengah sunyi2 saja.
Tiada terancam serangan panah gelap. Siau-liong berhenti
sejenak lalu enjot tubuhnya melayang ke puncak rumah.
Saat itu hampir menjelang tengah malam. Sekeliling
penjuru pondok penginapan itu gelap dan sunyi. Seolah-olah
kosong dengan tetamu. Sedang di ruang pemilik pondok pun
tak kedengaran suara apa2.
Tetapi Siau-liong tak sempat meneliti. Cepat ia melayang
turun dan melambai kepada Lu Bu-ki, “Hayo, lekas kemari!"
Demikianlah dengan dipelopori Siau-liong dimuka dan
diikuti Lu Bu-ki dan Song Ling dari belakang, mereka lari
tinggalkan pondok penginapan itu. Tak berapa kejab,
merekapun sudah berada diluar kota.
Setelah tak tampak orang mengejar, Siau-liong longgar
hatinya. Ia berpaling kepada Song Ling dan Lu Bu-ki,
“Sungguh diluar dugaan! Orang yang lepaskan panah kepada
Auyang Pa tadi, seharusnya menjaga jangan sampai kita lolos.
Tetapi mengapa orang itu tak merintangi sama sekali?"
Lu Bu-ki kerutkan dahi. Ia heran juga atas kejadian itu.
Song Ling maju selangkah kesisi Siau liong, katanya, “Saat
ini kita tetap belum terlepas dari lingkungan jaring Iblispenakluk-
dunia. Siapa tahu sembarang saat kita akan
diserang. Maka janganlah meninggalkan kewaspadaan!"
"Benar," Siau liong mengiakan.

792
Kini ganti Lu Bu-ki yang menjadi pelopor jalan. Mereka
bertiga berlarian di sepanjang jalan kecil yang tinggi rendah
tak rata.
Untung luka Song Ling sudah baik. Sambil bergandengan
tangan dengan Siau-liong, keduanya dapat berlari dengan
cepat. Tak berapa lama tibalah mereka di tepi sungai.
Bengawan Bin-kiang amat luas. Lu Bu-ki membuat sebuah
perahu kecil. Setelah selesai mereka bertiga segera naik
perahu itu. Dengan tenaganya yang besar, Lu Bu-ki dapat
mendayung perahu itu hingga mencapai tepi seberang.
"Dari sini ke Gobi hanya tinggal 30-an li jauhnya!" seru Lu
Bu-ki gembira.
Baru mereka bertiga naik ke daratan, tiba-tiba tampak
sebuah perahu meluncur datang dengan kecepatan yang
tinggi.
Ditengah perahu itu duduk seorang laki2 tua Belum perahu
tiba ditepi, orang itu sudah berseru, “Hai, apakah Liong-ji yang
berada di daratan situ?"
Melihat munculnya perahu itu, diam-diam Siau-liong
terkejut girang. Apalagi setelah mendengar orang yang berada
dalam perahu, ia makin girang sekali.
"Ya, benar," sahutnya. Lalu berpaling kepada Song Ling
dan Lu Bu-ki, “Suhuku datang!"
Selekas merapat ketepi, orang itu segera loncat kedaratan
lalu lemparkan sekeping perak kepada tukang perahu dan
suruh tukang perahu pergi.

793
Siau-liong tercengang. Dilihatnya tukang perahu itu
seorang lelaki pertengahan umur, memakai caping dan
berpakaian seperti seorang pencari ikan.
Kongsun Sin-tho bergantian memandang kepada Siau-liong
lalu berkata, “Sudah sehari semalam mengapa kalian baru tiba
disini?"
"Karena murid....”
Tetapi tanpa menunggu Siau-liong menyelesaikan
kata2nya, Kongsun Sin-tho sudah menukas, “Tak apalah, asal
aku sudah dapat bertemu kalian di sini, segera akan
kuselesaikan hal itu."
Siau liong tertegun, “Apakah suhu terluka dalam
pertempuran itu?"
Kongsun Sin-tho tersenyum, “Jika terluka, masakan saat ini
aku bisa berada disini?"
Siau-liong merenung sejenak, lalu bertanya, “Apakah suhu
bertemu dengan Auyang Pa dan memberi pesan supaya murid
menunggu di kota Ma-koan?"
“Tidak!" sahut Kongsun Sin-tho, "apakah kalian bersua
sesuatu ditengah jalan?"
Siau-liong menghela napas, “Iblis penakluk-dunia mengirim
orangnya pura-pura bertemu suhu dan mengaku menerima
perintah supaya aku menunggu kedatangan suhu di Ma-koan,"
Siau-liong lalu menuturkan pengalamannya dengan Auyang
Pa, "syukur tipu muslihat itu dapat kuketahui dan dapat murid
segera lanjutkan perjalanan lagi!"

794
Kongsun Sin-tho menghela napas. Ia segera mengajak
Siau-liong bertiga untuk melanjutkan perjalanan.
Karena melihat sikap dan bicara Kongsun Sin-tho dingin,
Song Ling dan Lu Bu ki tak berani ikut campur bicara.
Keduanya hanya mengikuti di belakang Siau-liong saja.
Saat itu jalanan pun agak datar. Kongsun Sin-tho diam
saja. Setelah berjalan dua li, tiba-tiba ia melintas keseberang
dan belok kebarat. Sebuah jalan kecil yang kedua tepi penuh
ditumbuhi gerumbul pohon lebat.
“Kongsun cianpwe!" seru Lu Bu-ki seraya maju dua
langkah.
Tabib sakti itu berhenti dan menanyakan apa maksud
sitinggi besar.
"Aku cukup faham dengan jalanan di daerah sini. Jalan kecil
yang cianpwe tempuh ini akan menuju kelain jurusan. Makin
lama tentu makin jauh dari Gobi!" kata Lu Bu ki.
Siau-liong dan Song Ling terkesiap.
“Jika Kongsun cianpwe suka percaya padaku, biarlah aku
yang menjadi penunjuk jalan!" kata Lu Bu-ki pula.
Kongsun Sin-tho tertawa gelak2, “Dahulu aku pernah
berkeliaran di sini mencari daun obat, Tak mungkin tersesat
jalan, hanya....”
Lu Bu-ki seorang kasar yang berwatak polos. Tanpa
menunggu tabib itu habis berkata, ia terus menyelutuk,
“Tahun yang lalu aku pun lewat dijalanan ini sampai dua kali.
Kecuali takkan menuju ke Gobi, pun jalanan ini sunyi dan
terasing, penuh dengan tanjakan yang sukar dilalui....”

795
Tiba-tiba Kongsun Sin-tho membentaknya, “Justeru aku
memang hendak mencari tempat yang sunyi untuk
menyelesaikan suatu urusan besar. Adakah engkau kira aku
benar-benar tak kenal jalan?"
Lu Bu-ki tergagap tak dapat menyahut. Ter-sipu2 ia
tundukkan kepala.
Sejenak berdiam diri, tiba-tiba Kongsun Sin-tho berseru,
“Lu tayhiap!"
Lu Bu-ki buru-buru mengiakan.
"Aku hendak bicara dengan muridku dan nona Song
mengenai suatu urusan yang penting. Bolehkah kuminta Lu
tayhiap menunggu disini saja?" kata Kongsun Sin tho.
Lu Bu-ki melirik Siau-liong lalu buru-buru mengiakan,
“Karena Kongsun cianpwe yang memberi perintah, sudah
tentu aku menurut saja!"
Tabib sakti itu terienyum, “Terima kasih atas kesediaan Lu
tayhiap " —Kemudian ia berkata kepada Siau-liong, “Tak jauh
dari sini terdapat sebuah pondok. Mari engkau dan nona Song
ikut aku kesana untuk merundingkan suatu hal yang penting!"
Siau-liong heran. Tetapi melihat suhunya bersikap
sungguh2, ia duga tentu ada suatu urusan penting yang
hendak dibicarakan. Maka segera ia menarik tangan si dara
untuk menyusul Kongsun Sin-tho.
Jalanan berkelak-kelok naik turun dan ber-biluk2. Setelah
beberapa saat, mereka melihat sebuah gubuk di atas sebuah
bukit kecil yang tak berapa jauh jaraknya. Gubuk itu seperti
baru saja dibangun.

796
Sejenak Kongsun Sin-tho berpaling memandang Siau-liong
berdua lalu melangkah kegubuk itu.
Ternyata gubuk di puncak bukit kecil itu, merupakan
tempat peristirahatan dari para pencari kayu dan pemburu
yang masuk ke daerah situ. Tetapi menilik bahan2nya, gubuk
itu tentu belum lama didirikan. Dan menilik halamannya,
seperti belum pernah didatangi orang.
Siau-liong resah. Tak tahu ia apa yang hendak dibicarakan
suhunya nanti. Mengapa suhunya begitu serius mengajaknya
bicara di tempat yang sesunyi itu?
Begitu masuk ke dalam gubuk, Kongsun Sin-tho terus
duduk di tanah dan suruh Siau-liong berdua duduk di
sampingnya.
Anak bukit tempat gubuk itu didirikan, ternyata dikelilingi
oleh bukit2 kecil yang lebih tinggi dan hutan2 lebat.
Kongsun Sin-tho menghela napas, ujarnya, “Dewasa ini
pengaruh kekuatan Iblis penakluk-dunia sukar dilawan.
Semalam apabila tak terlindung oleh hujan deras,
kemungkinan aku sukar meloloskan diri....”
Siau-liong diam saja. Ia tahu dan mengakui bahwa dewasa
itu Iblis penakluk-dunia memang berhasil menyusun
kekuasaan besar. Lam-hay Sin-ni. Randa Bu-san, Jong Leng
lojin dan beberapa tokoh sakti sudah dapat dikuasainya.
Kongsun Sin-tho berkata pula, “Menyelamatkan
kehancuran, mempertahankan kelangsungan hidup. Tugas
berat itu terletak dibahu kita berdua. Apabila kita ini tertimpah
bahaya maka habislah harapan dunia persilatan untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya....”

797
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Dalam rangka itu,
kurasa kepergian kita ke Gobi itu, tidaklah banyak
manfaatnya."
Siau-liong tersentak kaget, serunya gopoh, “Adakah suhu
kuatir paderi sakti Kim Ting itu tak mau mermberikan
Tenggoret-kaki-tiga?"
Kongsun Sin-tho menghela napas, “Itu hanya salah satu
sebab. Andaikata ia mau menyerahkan binatang mustika itu,
belum tentu pil mujijad Cap-siau-cwan-soh-sin-tan buatanku
itu dapat menyembuhkan Lam-hay Sin-ni dan beberapa tokoh
rombongannya....”
Siau liong teringat bahwa ketika dalam biara rusak dahulu,
suhunya memang pernah menyatakan hal itu. Ia kerutkan alis,
mengepal tangan untuk menekan kegelisahan hatinya.
"Sekalipun pil buatanku itu mempunyai khasiat untuk
menyembuhkan Lam-hay Sin-ni dan kawan2, tetapi pun masih
suatu pertanyaan, bagaimanakah cara untuk meminumkan
kepada mereka. Apa lagi Iblis penakluk-dunia itu seorang
tokoh yang licin dan cerdik sekali. Bukankah dia sudah dapat
menangkap pembicaraan kita dalam biara rusak itu? Masakan
dia tak segera bersiap mengadakan penjagaan. Maka....”
Siau-liong terlongong dan berseru geram, “Kalau begitu,
pertumpahan darah tak mungkin terhindar dalam dunia
persilatan lagi!"
Kongsun Sin-tho tiba-tiba tertawa, “Hal2 yang kukatakan
tadi hanyalah timbul dari kecemasanku sendiri. Mungkin
keadaan tak sedemikian berbahaya. Tetapi....”

798
Seketika berobahlah wajah tabib sakti itu lalu berkata
dengan nada serius, “Kusuruh engkau datang kemari ini,
adalah justeru hendak merundingkan rencana yang sesuai."
"Murid bersedia mendengar apapun yang suhu
perintahkan!"
Kongsun Sin-tho merenung sejenak lalu berkata pula Dalam
dunia persilatan, hanya ilmu sakti Thian-kong-sin-kang yang
engkau miliki itu benar-benar tiada tandingnya. Ilmu yang
paling ditakuti Iblis-penakluk-dunia! Sayang penemuanmu ilmu
sakti itu, terlalu pendek sekali waktunya hingga engkau belum
sempat meyakinkan dengan sempurna. Paling tidak harus
membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mempelajari ilmu
itu sampai pada tataran tertentu. Tetapi keadaan saat ini,
tidaklah menyempatkan engkau melakukan latihan. Karena
setiap saat keadaan bisa berobah makin memburuk. Kita tak
sempat menunggu hasilmu....”
Siau-liong memandang wajah suhunya tanpa berkata
sepatahpun juga.
“Saat ini walaupun kurang tepat kalau menghapus rencana
menuju ke gunung Gobi. Tetapi resiko yang kita hadapipun tak
kecil. Misalnya sampai terjadi sesuatu digunung itu,
katakanlah, kita ini akan kehilangan jiwa di sana. Lalu
siapakah yang akan muncul untuk menyelamatkan dunia
persilatan dari cengkeraman Iblis-penakluk-dunia nanti? Maka
setelah kupertimbangkan lagi dengan seksama, lebih baik kita
mengatur persiapan yang tepat lebih dulu....”
Kongsun Sin tho melirik Song Ling lalu melanjutkan katakatanya,
“Nona Song mempunyai tulang dan bakat yang amat
bagus sekali. Lagi pula berotak cerdas. Disamping itu ia sudah
memiliki dasar-dasar latihan ilmu Ya-li sin kang. Menurut
pendapatku, baiklah engkau....”

799
Tanpa menunggu suhunya selesai bicara, Siau-liong cepat
menukas, “Bukankah suhu menghendaki supaya kuajarkan
ilmu Thian-kong-sin-kang itu kepada nona Song?"
Wajah Kongsun Sin-tho membesi, ujarnya, “Memang
begitulah maksudku.... '. Setelah mendapat pelajaran ilmu
Thian-kong-sin-kang, sebaiknya nona Song mencari tempat
yang tersembunyi untuk meyakinkannya. Paling lambat
setengah tahun kemudian, tentu sudah ada hasilnya.
Sekalipun andaikata dalam pertemuan Gobi nanti kita sampai
terluka atau binasa, nona Song tetap masih ada dan kelak
pasti dapat membasmi gerombolan durjana itu!"
Siau-liong berulang anggukkan kepala, ujarnya, “Memang
sejak semula aku sudah mengandung maksud begitu. Hanya
nona Song masih belum mau....”
Kongsun Sin tho beralih memandang Song Ling, serunya,
“Dunia persilatan harus tetap menghidupkan setitik Hawa
Murni agar jangan sampai ludas selama-lamanya. Nona juga
memikul beban berat, mengapa menolak?"
Agak tersipu Song Ling memandang ke arah tabib sakti itu,
tiba-tiba ia berteriak dengan nada gemetar, “Aku tak mau!
Aku tak mau lepaskan usahaku untuk menolong ibuku hanya
karena mengurusi soal Thian-kong-sin kang. Sekalipun dalam
waktu setengah tahun akan berhasil mempelajari, tetapi
mungkin pada waktu itu aku sudah tak dapat melihat wajah
ibuku lagi."
Dara itu menangis tersedu-sedu. Tetapi rupanya Kongsun
Sin-tho tak menghirau.... Ia membentaknya bengis, “Usahaku
ini bukan semata-mata hanya untuk menyelamatkan dunia
persilatan, pun juga untuk menolong ibumu dan lain-lain tokoh
yang sedang menderita dibawah cengkeraman Iblis-penaklukTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
800
dunia. Ingatlah, apabila pertemuan di Gobi itu sampai gagal
dan kita menderita kekalahan, engkaupun takkan mempunyai
harapan untuk berjumpa dengan mamahmu untuk selamalamanya!"
Siau liong pun ikut menghibur dan membujuk Song Ling
Sampai lama ia memberi penjelasan panjang lebar, sehingga
dara itu agak tenang.
Tiba-tiba Kongsun Sin-tho berseru, “Waktu sudah tak
banyak lagi, hayo segeralah mulai!"
Memandang kesekeliling penjuru, Siau-liong bertanya,
“Apakah ditempat ini juga?"
"Telah kusiapkan penyelidikan yang teliti, ternyata tempat
ini yang paling aman. Sudahlah, jangan engkau kuatirkan
apa2 lagi dan segeralah engkau turunkan pelajaran itu dengan
sepenuh hati!"
Tiba-tiba terlintas sesuatu pada benak Siau-liong. Ia agak
bimbang. Sejak kecil ia hidup bersama gurunya itu maka ia
kenal baik sekali akan adat perangai gurunya Tetapi apa yang
dilihatnya saat itu, memberinya kesan bahwa sikap dan
tingkah laku gurunya itu agak berbeda dengan biasanya.
Dan lagi setelah melintasi sungai barulah gurunya itu
muncul dengan naik perahu. Tetapi mengapa mengatakan
kalau sudah lebih dulu tiba di tempat situ dan mempersiapkan
tempat dipondok sunyi itu? Bukankah itu membingungkan.
Diam-diam Siau-liong curiga.
Melihat pemuda itu masih berayal, Kongsun Sin-tho cepat
mendesaknya, “Mengapa engkau membuang-buang waktu
saja? Mengapa masih tak lekas2 mulai menurunkan
pelajaran?"

801
Dalam pada berdiam diri itu, Siau-liong diam-diam
menimang. Atas teguran suhunya, ia segera menjawab, “Jika
hendak menurunkan seluruh isi kitab pusaka itu, paling tidak
tentu memerlukan waktu empat jam. Mungkin besok pagi baru
dapat habis!"
"Soal waktu, tak jadi apa. Aku akan menjaga disini.
Curahkan pikiranmu untuk menurunkan pelajaran, lain-lain hal
aku yang mengatur!"
Siau-liong tak dapat berbuat apa2. Tetapi ia tetap meragu.
Tiba-tiba Song Ling mendekati dan berbisik kedekat
telinganya, “Perhatikanlah sorot mata suhumu itu!"
Siau-liong terkejut. Buru-buru ia menatap wajah suhunya.
Dilihat sepasang mata Kongsun Sin-tho itu lurus menyorot
kemuka. Sinarnya memancarkan cahaya yang aneh.
Seketika hati Siau-liong seperti diguyur es. Tubuhnya
menggigil. Jelas diketahuinya bahwa sorot mata suhunya itu
tidak wajar lagi.... Suatu pancaran sinar yang mengandung
keganasan, kelinglungan dan ketololan. Suatu keadaan yang
Siau-liong tak asing lagi. Karena hai itu serupa seperti yang
terjadi pada diri Randa Bu-san Siau-liong terkejut dan gelisah.
Pikirnya, “Adakah suhu juga....” Tak berani ia melanjutkan
dugaannya. Tetapi diam-diam ia kerahkan tenaga untuk
bersiap.
Tiba-tiba Kongsun Sin tho berpaling dan menegurnya,
“Bagaimana? Mengapa masih belum mulai?"
Siau-liong berusaha menekan kegelisahannya. Sahutnya,
“Murid pertimbangkan lagi Soal ini agaknya.... masih terdapat
hal2 yang tak leluasa....”

802
Ditatapnya wajah Kongsun Sin-tho, lalu melanjutkan
berkata, “Kalau suhu sudah mendengar pendapat murid,
baiklah soal itu dipertangguhkan saja setelah nanti habis dari
Gobi, baru....”
“Apakah engkau hendak menentang perintahku?" cepat
Kongsun Sin tho membentak.
Buru-buru Siau-liong menyahut dengan kepala menunduk,
“Budi suhu kepadaku sedalam lautan. Sekalipun tubuh murid
hancur-lebur, murid tentu akan melaksanakan perintah suhu.
Tetapi maaf, ilmu Thian-kong sin-kang itu bukanlah suhu yang
mengajarkan kepada murid. Dan sejauh yang murid ketahui,
rasanya suhu tak pernah memaksa murid untuk mengajarkan
suatu ilmu kepada lain orang!"
Gemetarlah tubuh Kongsun Sin-tho mendengar penyahutan
itu. Sepasang matanya ber-kilat2 tajam. Lalu membentak,
“Muridku! Tampaknya engkau memang sudah tak mau
menurut perintahku lagi!"
Siau-liong hendak menyahut tetapi saat itu tiba-tiba dari
jauh terdengar derap langkah orang mendatangi. Dan tak
berapa lama terdengar suara parau dari Lu Bu-ki, “Kongsun
cianpwe.... Kon-sun siauhiap....”
Siau-liong terkejut. Cepat ia berpaling. Dilihatnya sitinggi
besar Lu Bu-ki tengah ber-lari2 mendatangi kepondok itu.
Sekonyong-konyong Kongsun Sin-tho berbangkit seraya
membentak keras, “Berhenti!"
Lu Bu-ki tertegun tetapi ia tetap melangkah masuk dan
berseru, “Kongsun cianpwe, dari tepi seberang sungai....”

803
Kongsun Sin tho membentak marah dan tiba-tiba ia
menghantam Lu Bu-ki!
Sitinggi besar terkejut. Ia tak menduga sama sekali kalau
bakal menerima kemarahan Kongsun Sin-tho. Dalam gugup ia
tak dapat berusaha menghindari lagi. Pun andaikata ia sudah
siap. juga tak mungkin ia mampu menerima pukulan sakti dari
Kongsun Sin-tho itu.
Dalam keadaan seperti saat itu, tak boleh tidak, sitinggi
besar Lu Bu-ki pasti celaka!
Untunglah sejak melihat keadaan suhunya tak wajar itu,
Siau liong sudah siap2. Melihat suhunya menghantam Lu Bu-ki
yang tak bersiap-siap itu, kejut Siau-liong bukan kepalang. Ia
tahu bahwa pukulan ilmu sakti Thian-jim-sin kang dari
suhunya itu pasti akan menghancurkan Lu Bu-ki.
Siau-liong tak banyak berpikir lagi. Untuk menyelamatkan
tokoh tinggi besar itu, ia harus cepat bertindak.
Serentak melonjak bangun ia songsongkan tangannya ke
arah pukulan suhunya "Bum".... terdengar getaran keras.
Akibatnya gubuk yang baru didirikan itu hancur lebur
berantakan.
Lu Bu-ki tercengang. Serunya gopoh, “Ini.... ini.... Kongsun
siauhiap.... apakah sebenarnya....”
Tetapi Siau-liong tak sempat menjawab. Segera ia berseru
kepada suhunya, “Suhu.... engkau.... ini bagaimana? Apakah
engkau juga....”
Akibat dari pukulan dihapus oleh pukulan Siau-liong, tubuh
Kongsun Sin-tho agak berguncang. Dipandangnya Siau-liong

804
tajam2 lalu membentaknya, “Murid, sungguh tak nyana kalau
engkau berani menghantam aku!"
"Suhu! Murid sungguh terpaksa. Engkau....” air mata Siauliong
bercucuran. Dipandangnya wajah suhunya. Tiba-tiba ia
mendapat kesan bahwa sikap suhunya itu berobah seperti
asing. Jauh sekali bedanya dengan suhunya yang dulu.
Apa yang dilakukan tadi, benar-benar suatu hal yang tak
pernah diimpikan semula. Walaupun hal itu terdesak oleh
keadaan namun hati Siau-liong seperti diiris-iris rasanya.
Sambil menatap Siau-liong, Kongsun Sin-tho membentak,
“Apakah engkau tahu bahwa jika engkau tak mau menurut
perintah suhu, hanya jalan kematian yang engkau peroleh?"
Begitu saling bertatap pandang dengan suhunya, Siau-liong
tiba-tiba menangis, “Suhu, murid rela mati ditangan suhu!
Engkau.... bunuhlah murid! Matipun murid takkan
penasaran....”
Habis berkata, Siau-liong terus berlutut dihadapan Kongsun
Sin-tho, tundukkan kepala siap menunggu kematian!
Song Ling dan Lu Bu-ki yang berdiri di samping hanya
terlongong-longong menyaksikan adegan itu fanpa dapat
berbuat sesuatu apa.
"Apakah engkau benar-benar rela mati?" bentak Kongsun
Sin-tho.
"Benar, mati dibawah tangan suhu, murid merasa ikhlas
dan akan mati dengan meram!"

805
Kongsun Sin-tho rentangkan kedua matanya lebar2.
Dipandangnya Siau-liong dan mulailah ia mengangkat tangan
kanannya pelahan-lahan ke atas.
Tetapi wajahnya tiba-tiba memantulkan kesedihan. Dan
tangan kanannya itupun berhenti di atas saja. Sampai lama
tak juga dihantamkan ke bawah.
Karena sampai lama belum juga gurunya memukul, Siauliong
pelahan-lahan mengangkat kepala. Tepat matanya
bertatapan dengan mata suhunya.
Dilihatnya mata suhunya tiba-tiba mengucurkan beberapa
titik air mata. Dan air mata itu tepat menetes ke muka Siauliong.
Siau-liong menghela napas, serunya rawan; "Suhu,
suhu....”
"Muridku....” sahut Kongsun Sin-tho dengan iba....
"Suhu, lebih baik kita menuju ke Gobi dulu," kembali Siau
liong mengulang permintaannya.
Tiba-tiba wajah Kongsun Sin-tho berobah lagi dan segera
membentaknya bengis, “Tetapi engkau lebih dulu engkau
harus menurut perintahku untuk memberikan ilmu Thiankong-
sin kang itu kepada nona Song."
Siau liong menghela napas, “Suhu, apakah engkau benarbenar
juga terkena ilmu siluman dari Iblis-penakluk-dunia....”
"Tutup mulutmu!" bentak Kongsun Sin-tho dengan mata
berapi-api,.... untuk yang terakhir kali jawablah. Engkau mau
menurut perintahku atau tidak?"

806
Siau-liong merenung sejenak lalu menyahut tegas, “Murid
hanya menurut perintah yang sehat. bukan perintah yang
kacau! Apabila suhu hendak memaksa murid melakukan
perbuatan yang mencelakai dunia persilatan, biar mati murid
tetap tak mau menurut!"
Seketika tegaklah rambut Kongsun Sin-tho. Dengan
menggembor keras ia mengangkat tangan kanan terus hendak
dihantamkan ke arah kepala Siau-liong.
Song Ling dan Lu Bu-ki sudah siap2. Tetapi karena berdiri
pada jarak beberapa langkah, mereka tak berdaya
membendung pukulan Kongsun Sin-tho yang dilancarkan
secepat kilat.
Bum.... terdengar letupan dahsyat disertai hamburan debu
dan pasir serta ranting2 pohon yang berhamburan keempat
penjuru. Suatu keadaan yang mirip dengan ledakkan
halilintar....
Song Ling terkejut pucat. Dalam hamburan debu yang
masih menebal, ia menjerit sekuatnya, “Siau-liong! Siauliong....”
-terus loncat menyusup ke tempat Siau-liong.
Tetapi apa yang disaksikan saat itu, benar-benar
membuatnya terlongong-longong.
Kongsun Sin-tho berdiri beberapa langkah jauhnya.
Wajahnya tenang, terlongong-longong tak bicara apa2.
Sedang Siau-liong pun tak kurang suatu apa. Dan sudah
bangun berdiri. Disampingnya tampak seorang tua berbaju
ungu Orang tua tak dikenal itu tengah tertawa dingin.
Karena tak menduga sama sekali, maka Song Ling tak
dapat mengetahui kapankah orangtua baju ungu itu
munculnya? Tetapi cepat ia dapat menduga bahwa tentulah

807
orangtua baju ungu itu yang telah menyelamatkan jiwa Siauliong.
Dandanan orangtua itu memang aneh. Selain pakaiannya
yang berwarna ungu, pun mukanya tertutup dengan sutera
ungu yang tebal. Dari bayang2 sutera ungu tampak jelas
jenggotnya yang putih memanjang sampai keperut Tetapi
wajahnya tak tampak jelas.
Siau-liong memandang Kongsun Sin-tho lalu memandang
ke arah orang tua yang tak dikenal itu. Kemudian memberi
hormat, “Mohon tanya mengapa lo-cianpwe menolong diriku?"
Orangtua baju ungu itu tertawa dingin, “Ada dua macam
kematian. Mati segempar gunung Thaysan rubuh dan mati
sepele seperti jatuhnya bulu burung. Mati seperti yang hendak
engkau tempuh ini, mati yang tak berharga....”
Kemudian menuding pada Kongsun Sin tho ia berkata pula,
“Sekalipun dia merupakan guru yang telah melepas budi besar
kepadamu! Tetapi kesadarannya sudah hilang. Apa yang
dilakukannya, semata-mata hanya menurut apa yang
diperintahkan orang yang menguasainya dengan ilmu hitam.
Jika engkau relakan dirimu dihantamnya, bukankah engkau
akan mati dengan penasaran?"
Siau liong merenung ucapan orangtua baju ungu itu dan
merasa memang benar. Serentak teringatlah ia akan tindakan
suhunya ketika berada dalam biara rusak yang lalu. Saat itu
Kongsun Sin-tho memberi padanya separoh dari pil Cap-siau
cwan-soh-sin-tan. Mungkin saat itu gurunya sudah menduga
akan terjadi kemungkinan yang menimpah dirinya seperti saat
ini. Maka jelaslah maksudnya, Kongsun Sin-tho
menugaskannya ke puncak Kim-ting untuk meminta
Terggoret-emas-kaki-tiga kepada paderi sakti. Karena hanya
binatang pusaka itulah yang harus menjadi campuran ramuan

808
pil Cap-siau-cwan-soh-sin-tan agar benar-benar dapat menjadi
obat mujijad untuk menolong suhunya dan sekalian tokoh2
yang dibius Iblis-penakluk-dunia.
Diam-diam Siau -iong kucurkan keringat dingin. Pikirnya,
“Jika orang tua baju ungu ini tak menolong pada waktu yang
tepat, tentulah saat itu dirinya sudah mati. Bukankah aku
bakal menjadi seorang yang berdosa karena telah
menelantarkan tugas berat yang dipikulnya?"
Memandang ke arah Kongsun Sin-tho, dilihatnya mata
gurunya itu sudah redup. Pandang matanya sudah hampa
seperti orang tolol. Kongsun Sin-tho memandang berkesiap
kepada dirinya dan orang tua baju ungu itu.
Tiba-tiba terdengar lengking suitan ngeri yang menusuk
telinga. Berasal dari tengah hutan. Kumandang suitan itu
sampai lama belum hilang.
Dan serentak terbeliak kagetlah Kongsun Sin-tho
mendengar suitan itu. Ia memandang kesekeliling penjuru lalu
menghela napas. Tanpa berkata apa, tiba-tiba ia loncat ke
udara. Dalam dua tiga loncatan saja, ia sudah menghilang
dalam gerumbul pohon yang lebat.
Siau-liong bercucuran air mata memandang bayangan
suhunya. sesaat ia berdiri terlongong-longong. Tiba-tiba ia
berputar tubuh lalu berlutut dihadapan orang tua baju ungu,
“Terima kasih atas budi pertolongan lo-cianpwe. Bolehkah
kumohon tanya nama lo-cianpwe yang mulia?"
Orang tua baju ungu itu tertawa gelak2. Ia mengangkat
bangun Siau-liong, serunya, “Karena engkau ini sudah menjadi
pewaris ilmu sakti Thian-kong-sin-kang, tak perlulah engkau
menjalankan peradatan begitu.... Aku sungguh2 tak berani
menerima....”

809
Berhenti sejenak ia melanjutkan berkata, “Dahulu rasanya
aku pun pernah punya nama. Tetapi karena tinggal
dipegunungan sampai belasan tahun, telah kulupakan semua!"
Siau-liong terkesiap. Ia anggap orangtua itu benar-benar
seorang aneh.
Saat itu Lu Bu-ki dan Song Ling pun sudah menghampiri.
Keduanya serta-merta memberi hormat kepada orang tua
aneh itu.
Orang tua itu mengangguk tertawa lalu membelai rambut
Song Ling, tegurnya, “Nak, berapakah umurmu sekarang?"
Song Ling terkesiap, sahutnya, “Delapan belas tahun!"
Orang tua aneh itu tiba-tiba menghela napas, ujarnya, “Ah,
waktu benar-benar cepat sekali! Dalam sekejab mata saja
sudah 15 tahun....”
Tampaknya dia sayang sekali kepada Song Ling. Sambil
mengelus-elus kedua bahu dan pipi si dara, ia berkata,
“Kuingat ketika melihatmu dulu, engkau baru seorang budak
kecil berumur tiga tahun."
"Lo-cianpwe, apakah engkau tak salah lihat?" seru Song
Ling heran.
Orangtua baju ungu itu tertawa gelak, “Sekalipun burung
yang terbang pada 15 tahun berselang, aku pasti masih
mengenalinya!"
Habis berkata tiba-tiba orang tua itu menarik sutera
kerudung mukanya....

810
Seorang tua yang wajahnya masih merah segar,
jenggotnya putih seperti salju tetapi matanya sebelah kiri
buta.
Melihat itu serta-merta Song Ling berlutut dan berseru
dengan isak tangis, “Ah, kiranya kakek guru.... Pertapa-sakti
mata satu!"
Pertapa-sakti itu menepuk-nepuk bahu si dara dan tertawa
gelak2, “Nak, engkau seperti ibumu, cerdas sekali!"
Makin sedih dan air matanya pun berderai-derai seperti
banjir. Ia memeluk kaki orang tua itu seraya meratap,
“Mohon, kakek guru suka menolong ibu. Dia sekarang....”
Orang tua itu mengangkat si dara bangun, ujarnya, “Sudah
tentu, sudah tentu.... tetapi....”
Rupanya orangtua itu tak yakin mampu melakukan hal itu.
Maka sampai lama sekali ia tak dapat melanjutkan kata2nya.
Walaupun belum mendengar kesanggupan yang positip,
tetapi bertemu dengan kakek gurunya itu, cukup membuat
hati Song Ling terhibur. Ia berpaling ke arah Sau liong dan
suruh anak muda itu menghadap kakek gurunya.
"Aku yang rendah, menghaturkan hormat kepada locianpwe!"
kata Siau liong seraya memberi hormat.
“Ah, jangan banyak peradatan....” orang tua
menganggukkan kepala lalu bertanya, “Apakah engkau ini
putera dari Tong Gun-liong dan murid dari Kongsun Sin-tho?"
Siau-liong tertegun, katanya tergagap, “Ya benar."

811
Ia heran mengapa orang tua itu tahu asal usulnya begitu
jelas. Jika begitu, kemungkinan orang tua itu tentu tahu juga
bagaimana peristiwa yang dialaminya ketika masuk ke dalam
pusar bumi dan mendapat rejeki yang luar biasa.
Song Ling dan Lu Bu-ki pun terperanjat juga. Mereka hanya
tahu bahwa Siau-liong itu memakai she Kongsun Tak pernah
mereka mendengar bahwa penuda itu putera dari Tong Gunliong.
Setelah tertegun beberapa saat, sitinggi besar Lu Bu-ki
maju kehadapan Pertapa-sakti mata-satu itu, memberi
hormat, “Aku yang rendah Lu Bu-ki, menghadap lo-cianpwe."
Pertapa-sakti-mata-satu tertawa, “Ah, sungguh
menggembirakan sekali dapat bertemu dengan Lu tayhiap
yang menguasai Rimba Hijau wilayah selatan!"
“Ah, lo-cianpwe keliwat memuji....” tersipu-sipu sitinggi
besar menyahut, "Tadi aku telah melihat beberapa sosok
bayangan menyusup kegerumbul pohon. Mungkin Iblispenakluk-
dunia sudah datang bersama anak buahnya....”
Pertapa-sakti-mata-satu itu tertawa meloroh, “Ah, mungkin
mataku yang tinggal satu ini kurang awas. Tetapi aku
memang tak melihat seseorang yang bersembunyi disekeliling
sini....”
Sejenak pertapa itu memandang Lu Bu ki lalu Siau-liong.
katanya pula, “Karena kalian hendak menuju ke Gobi, marilah
bersama sama dengan aku kesana!" —Habis berkata ia terus
menarik tangan Song Ling dan diajak berjalan.
Lu Bu ki terlongong sejenak.... Suara suitan tinggi tadi
tentulah tanda dari Iblis-penakluk-dunia untuk memanggil
Kongsun Sin-tho. Tetapi mengapa pertapa mata-satu itu

812
mengatakan tak melihat orang bersembunyi disekeliling
tempat situ?
Tetapi walaupun kasar, Lu Bu-ki itu cerdas juga. Ia
memperhatikan kilatan mata pertapa-sakti itu seperti memberi
isyarat rahasia kepadanya. Maka iapun tak mau banyak bicara.
Ia melangkah pelahan-lahan mengikuti Pertapa-sakti-mata
satu.
Tenang sekali pertapa-sakti itu ayunkan langkah memimpin
tangan Song Ling sambil tanya ini itu. Begitu lambat ia
berjalan hingga sepenyala dupa lamanya barulah ia keluar dari
persimpangan jalan itu lalu belok menuju, kejalanan yang
menjurus ke Gobi.
Siau-liong masih sedih memikirkan suhunya yang juga telah
menjadi korban kehilangan kesadaran pikirannya. Ia berjalan
di belakang Pertapa-sakti-mata-satu itu tanpa bicara apa2.
Lu Bu-ki tak henti2nya memandang kian kemari. Tetapi
sekeliling penjuru sunyi senyap Kecuali deru air sungai yang
bergemuruh dari kejauhan, hanya angin yang mendesis-desis
menghembus pohon-pohon.
Tetapi diam-diam kepala Rimba Hijau wilayah selatan itu
sudah menduga bahwa Iblis-penakluk-dunia tentu telah
menyembunyikan anak buahnya. Gerak-gerik dan
pembicaraan kawan2nya tentu sudah didengar mereka.
Tetapi ia memperhatikan betapa tenang Pertapa-saktimata-
satu itu berjalan Sedikit pun tak mengacuhkan keadaan
di sekelilingnya. Mau tak mau terpengaruh juga hati Lu Bu-ki.
Iapun berlaku setenang mungkin.

813
Tiba-tiba Pertapa-sakti-mata-satu percepat langkahnya....
Tak berapa lama gunung Gobi pun sudah tampak dari
kejauhan. Lebih kurang hanya tinggal 20-an li jauhnya.
Tiba-tiba orang tua aneh itu berhenti lalu terlawa meloroh,
“Sungguh tak nyana, dalam usia setua ini, aku masih
menemani kalian untuk menikmati pemandangan alam yang
permai....”
Sekonyong-konyong orang tua itu berputar tubuh ke arah
Lu Bu-ki, serunya, “Iblis-penakluk-dunia sudah membawa
anak buahnya bersembunyi dalam gerumbul pohon. Berkat
peyakinanku selama berpuluh tahun dalam ilmu Hun-yu-thanbi
atau Menyiak-sunyi menyusup-kelebatan, aku dapat
mendengar suara ulat atau unggas yang bergerak pada jarak
10 li jauhnya. Gerak gerik mereka tak lepas dari
pendengaranku. Tetapi aku memang sengaja pura-pura tak
mendengar agar dapat mengelabuhi perhatian mereka. Kalau
tidak....”
Ia tersenyum dan berkata pula, “Aku tentu tak mampu
menghadapi serangan gabungan dari Empat tenaga-sakti!"
"Apakah ibu juga.... datang?" tanya Song Ling.
"Datang sih datang tetapi aku tak berdaya menolongnya!"
kata Pertapa-sakti-mata-satu.
Siau-liong memandang ke arah jalan yang dipandang
pertapa itu. Tiba-tiba ia melihat beberapa sosok bayangan
berkelebat dan lenyap lagi.
Kiranya perkataan Pertapa-sakti-mata-satu itu memang
benar. Iblis-penakluk-dunia telah datang bersama rombongan
anak buahnya. Segera Siau-liong berkata kepada orang tua

814
sakti itu, “Apakah lo-cianpwe melihat dalam gerumbul pohon
itu....”
Pertapa-sakti-mata-satu tertawa, “Sudah kukatakan, setiap
ulat dan unggas yang bergerak dalam lingkungan 10 li, tak
mungkin lolos dari telingaku....”
Siau-liong menundukkan kepala tak membantah. Tetapi
diam-diam ia merasa orang tua itu terlalu besar omongannya
Pikirnya, “Biarpun telingamu amat tajam, tak mungkin engkau
mampu mendengar gerak-gerik ulat dan burung sejauh 10 li.
Apalagi matamu hanya tinggal satu."
Tiba-tiba Pertapa-sakti-mata saru berkata pula, “Memang
Iblis-penakluk-dunia agak takut juga kepadaku. Kalau tadi dja
tak berani keluar, saat ini pun tentu tak berani mengejar kita."
Ia tertawa meloroh lalu berseru nyaring, “Hayo, kita
lanjutkan jalan lagi!" —ia terus menggandeng tangan Song
Ling dan melangkah kemuka. Siau-liong dan Lu Bu-ki terpaksa
mengikuti.
Saat itu mereka sudah menyusur jalanan gunung. Puncak
Gobi tampak menjulang tinggi kelangit. Gunung yang
berselaput rimba hijau, bertaburan dengan gumpal awan putih
yang tak henti2nya ber-arak2an kian kemari.
Gunung Gobi benar-benar merupakan gunung keramat
tempat para dewa yang indah tenang alamnya.
Pertapa-sakti-mata-satu itu tetap berjalan pelahan-lahan.
Tetapi ternyata langkahnya itu amat cepat sekali sehingga Lu
Bu-ki terpaksa harus mengejar dengan berlari agar jangan
sampai ketinggalan jauh.

815
Gua Ko-hud-tong itu terletak di belakang gunung. Maka
setelah mendaki beberapa waktu, Pertapa-sakti-mata-satu lalu
mengajak rombongannya mengitari ke belakang gunung.
Walaupun dalam hati ingin sekali segera mendapatkan
paderi sakti Kim Ting untuk meminta Tenggoret berkaki-tiga.
Tetapi ia tak kenal jalanan dan tak kenal pula pada paderi
sakti itu. Oleh karena ia sungkan untuk bertanya kepada
Pertapa-sakti-mata-satu, terpaksa ia hanya mengikuti di
belakang orang tua itu saja. Hanya diam-diam ia
memperhatikan keadaan disekeliling penjuru.
Rupanya pertapa sakti itu tahu akan kegelisahan si dara.
Tak henti-hentinya ia tertawa-tawa menghibur hati dara itu.
Siau-liong tak dapat menangkap apa yarg dikatakan
Pertapa-sakti itu kepada Song Ling. Tetapi dilihatnya berulang
kali si dara berpaling memandang ke arahnya dan memberi
isyarat kicupan mata kepadanya.
"Sudahlah, jangan mempedulikan dia!" Pertapa-sakti-matasatu
tertawa, "dia memang seorang budak tolol!"
Ia berpaling memandang Siau liong. Siau-liong tertegun.
Cepat2 ia maju selangkah, “Apakah lo-cianpwe' hendak bicara
kepadaku?"
Song Ling tertawa mengikik, “Apakah engkau tuli? Kakek
guru bilang engkau ini....” -tiba-tiba ia berhenti dan menutup
mulutnya yang tertawa.
Merah telinga Siau-liong. Ia menunduk diam. Pertapa saktimata-
satu itu menganggukkan kepala, katanya, “Aku hendak
menjelaskan dulu namamu yang sesungguhnya agar dapat
memanggil dengan tepat."

816
Siau-liong tersipu-sipu tak berani mengangkat muka.
Mulutnya tergagap menyambut, “Aku sebenarnya memang
orang she Tong. Karena hendak menghindari ancaman dunia
persilatan dan demi usahaku untuk membalas sakit hati orang
tua, maka aku terpaksa berganti memakai she suhuku
Kongsun. Tetapi....”
"Kalau begitu baik tetap kupanggil Kongsun siauhiap
sajalah!"' cepat2 orang tua itu menukas.
"Ah. jangan, lo-cianpwe. Harap lo-cianpwa cukup panggil
namaku saja!"
Pertapa-sakti-mata satu itu tertawa, “Thian-kong-sin-kang
merupakan ilmu sakti nomor satu di dunia persilatan. Saat ini
Kongsun siauhiap merupakan jago nomor satu di dunia.
Masakan aku berani berlaku kurang hormat?" sahut pertapamata-
satu itu.
“Ah, masakan aku berani menerima sanjung pujian yang
begitu tinggi," buru-buru Siau-liong berseru.
Tetapi orang tua itu tak menghiraukan kata2 Siau-liong, ia
menghela napas, “Sayang ilmu sakti itu belum dapat engkau
pelajari sempurna. Apabila sudah dapat engkau kuasai, Iblispenakluk-
dunia dan keempat tokoh ilmu sakti itu, tak mangkin
mampu menandingi kesaktianmu. Cukup engkau seorang diri
saja, sudah pasti dapat membasmi gerombolan Iblis-penaklukdunia
dan menyelamatkan dunia persilatan!"
Diam-diam Siau-liong menghela napas. Ucapan orang tua
baju ungu itu memang tak bohong. Ia baru mengetahui sedikit
tentang ilmu Thian-kong-sin-kang itu tetapi kepandaiannya
sudah maju begitu pesat. Apalagi kalau ia sudah dapat
menguasainya semua. Tetapi, ah, sayang ia tak mempunyai
kesempatan untuk meyakinkan ilmu itu.

817
Dengan nada rawan berkatalah Pertapa sakti-mata-satu itu,
“Segala apa tergantung takdir. Kita hanya dapat berusaha
tetapi Allah yang kuasa....”
Tiba-tiba mata orang tua yang tinggal sebelah itu berkilatkilat
tajam dan berkatalah ia dalam soal lain, “Tadi kukatakan
bahwa ilmuku Hun-yu-than-bi itu dapat mendengar gerakgerik
ulat dan unggas yang bergerak dalam jarak 10 li....
Kongsun siauhiap tentu tak percaya hal itu, bukan?"
“Ah, mana aku berani tak percaya," buru-buru Siau-liong
berseru.
“Tapi memang begitulah. Maka hendak kutunjukkan bukti
kepadamu....” tiba-tiba orangtua itu menuding kemuka,
tanyanya, “Apakah Kongsun siauhiap melihat sesuatu?"
Siau-liong tertegun. Ia memandang ke arah yang ditunjuk
pertapa tua itu. Tetapi kecuali puncak gunung yang tinggi
menyusup kelangit dan bertutup hutan belantara yang lebat
dengan lingkaran jalan2 kecil, Siau-liong tak melihat apa2 lagi.
“Rasanya aku tak melihat apa2," kata Siau-liong.
“Apakah mendengar apa2?" tanya pertapa tua itu pula.
Siau-liong pasang telinga mendengari dengan penuh
perhatian. Tetapi ia tak mendengar apa2, sahutnya; “Yang
kudengar hanya deru angin dan desir serangga. Lain tidak!"
“Kudengar pada jarak tiga li, dua orang sedang berjalan.
Mereka mempunyai hubungan dengan engkau!" kata pertapa
tua itu.

818
Siau-liong, Lu Bu-ki dan Song Ling terhenti, seketika,
memandang orangtua aneh itu.
“Apakah lo-cianpwe tak bergurau?"
“Aku tinggal dibalik gunung sana," orang tua itu menunjuk
pada hutan disebelah kiri, "setengah jam lagi kita jumpa digua
Ko-hud-tong." habis berkata ia terus melangkah pergi.
“Hai, kakek guru, dia tak kenal jalan." si dara memburunya.
“Hus, budak perempuan, dia tak tahu jalan apa sangkutpautnya
dengan dirimu....” bentak orang tua itu lalu membisiki
telinga si dara, "setelah gerombolan Iblis-penakluk-dunia
tertumpas, kakek tentu akan menjomblangkan perjodohan
kalian!"
Song Ling tersipu-sipu malu....
---ooo0dw0ooo---
Jilid 15
Paderi Kim-ting
"Sucou. engkau....” teriak Song Ling.
Siau-liong tak mendengar apa pun yang dibisikkan
orangtua itu kepada Song Ling, Ia terus melesat pergi.
"Maaf, akupun akan mengikuti saudara Kongsun." sitinggi
besar Lu Bu-ki pun segera memberi hormat kepada Pertapasakti-
mata-satu itu terus menyusul Siau-liong.
Song Ling hanya memandang terlongong ke arah bayangan
pemuda itu. Walaupun ucapan orang tua itu hanya kata2

819
menghibur, tetapi tak urung hati dara itu tergerak juga. Entah
bagaimana saat itu ia merasa seperti dicengkam oleh suatu
perasaan yang belum pernah dirasakan selama ini.
Sejak kecil ia hidup bersama ibunya di gunung Busan yang
sepi. Selama itu tak pernah ia berkawan dengan anak lelaki. Ia
berangkat dewasa dalam alam kesunyian.
Sejak berkenalan dengan Siau-liong, walau pun keduanya
saling menjaga kesopanan tetapi tanpa terasa dalam hati dara
itu tumbuh semacam perasaan yang aneh. Suatu perasaan
yang belum pernah dialami seumur hidup. Ia merasa takut
kalau ditinggal pergi pemuda yang baik budi itu.
“Nak, apakah engkau sungguh2 suka kepadanya?" tiba-tiba
orang tua sakti itu menegurnya.
Song Ling mendesus lalu tertawa tersipu-sipu. Ia tak mau
menjawab melainkan mengikuti di belakang kakek gurunya
berjalan.
Sementara itu karena menggunakan ilmu meringankan
tubuh, dalam beberapa kejab saja dapatlah Sau-liong
mencapai tiga li jauhnya.
Sambil lari, ia tetap memperhatikan keadaan
disekelilingnya. Tetapi sampai sejauh itu ia tak melihat barang
seorang pun jua. Seketika timbullah rasa curiganya, “Huh,
jangan2 orang tua bermata satu itu hanya mengelabuhi aku
supaya pisah dengan Song Ling....”
Dengan napas terengah-engah, Lu Bu-ki menyusul tiba,
serunya, “Apakah saudara Kongsun melihat seseorang?"

820
”Kita tentu ditipunya. Sampai sepuluh li jauhnya tak
kelihatan apa2. Memang di dunia tak mungkin terdapat orang
dan ilmu seaneh itu," sahut Siau-liong.
Lu Bu-ki banting2 kaki dan menggembor; “Benar! Aku juga
tak percaya pada ilmu begitu!"
Sejenak meragu, Siau-liong lanjutkan larinya lagi. Kira-kira
dua puluh tombak jauhnya ia tiba dibawah kaki sebuah
gunung. Kaki gunung itu penuh ditumbuhi gerumbul rumput
dan aneka pohon seperti di dalam hutan. Tetapi Siau-liong tak
mendengar suara dan melihat sesuatu.
Berpaling ke arah Lu Bu-ki, ia gelengkan kepala terus
hendak pergi. Tetapi tiba-tiba ia terkejut mendengar bunyi
cengkerik dari balik sebuah batu besar.
Siau-liong dan Lu Bu-ki tertegun. Setelah pasang
pendengaran barulah mereka mendengar suara orang bicara.
"Engkau mau pergi atau tidak!" seru seseorang.
Seorang wanita menjawab, “Ah, aku memang benar-benar
tak dapat berjalan lagi!"
Mendengar suara itu, girang Siau-liong bukan kepalang.
Kedua orang yang berbicara dibalik gerumbul itu jelas paderi
Liau Hoan dari Thian-san dan pemilik Lembah Semi Poh-Cengin.
Terdengar Liau Hoan membentak, “Apakah suruh aku
menggendongmu?"
Poh Ceng-in menghela napas panjang, ujarnya, “Lebih baik
bunuh aku sajalah!"

821
Liau Hoan tertawa dingin; “Jika memang membunuhmu tak
perlu kubawa engkau kian kemari seperti ini!"
Siau-liong kerutkan dahi. Dilihatnya paderi kurus dari
Thian-san itu muncul dari balik batu sambil menjinjing tubuh
Poh Ceng-in.
Begitu melihat Siau-liong, paderi itu girang sekali. Ia maju
menghampiri, “Kukira engkau sudah mendaki kepuncak Kimting,
tak kira kalau dapat bertemu disini."
Memandang Poh Ceng-in, berkatalah Siau-liong, “"Ah, losiansu
tentu payah dalam perjalanan, aku selalu
memikirkan....”
Liau Hoan tertawa, “Jika tak punya sandera wanita baju
merah ini, mungkin aku sudah celaka dan tak dapat berjumpa
lagi!"
Poh Ceng-in tak mau banyak bicara melainkan memandang
Siau-liong dengan penuh dendam. Ia tertawa geram lalu
pejamkan matanya.
Siau-liong agak kasihan. Dilihatnya kedua tangan wanita itu
masih terikat ke belakang, rambutnya terurai kusut, tubuhnya
berlumuran kotoran dan napasnya terengah-engah.
Sejenak meragu, Siau-liong menghampiri kesamping Poh
Ceng-in, serunya, “Tak perlu engkau mendendam kepadaku.
Kalau mau marah, marahlah kepada ayah bundamu....” ia
menghela napas lagi, katanya, "aku bukan seorang yang
kejam tak kenal perikemanusiaan. Hanya karena terpaksa oleh
keadaan, dan lagi aku pasti memenuhi janji setahun lagi
bertemu digunung Bu-san."

822
Poh Ceng-in membuka mata dan mendengus, “Hm, tak
perlu omong lagi! Karena sudah tahu cara mengobati racun
dalam tubuhmu, silahkan bunuh aku.... aku cudah cukup
menderita siksaan macam begini!"
Tiba-tiba wanita pemilik lembah itu tertawa melengking,
“Pula sekarang aku sudah sadar. Bahwa hubungan laki
perempuan itu memang tak dapat dipaksa!"
Kedua pipi Poh Ceng-in bercucuran air mata. Wajahnya
rawan. Seolah-olah orang yang menyesal.
Siau -liong terlongong beberapa saat. Ia heran mengapa
dalam detik-detik menderita kesulitan seperti itu, Poh Ceng-in
yang ganas seperti menyadari kesalahannya.
Siau - liong memang berhati welas asih. Diam-diam iapun
menyesal telah menyiksa seorang wanita sampai begitu rupa.
Beberapa saat kemudian, ia berkata kepada paderi Liau
Hoan, “Selama membawa wanita ini menempuh bahaya maut,
tentulah lo-siansu letih dan payah sekali!"
Liau Hoan tertawa, “Ah, tak apa. Karena tahu wanita itu
amat penting bagi Kongsun hiapsu, maka aku tetap
menjaganya mati-matian."
“Apakah lo-siansu tak keberatan menyerahkan wanita itu
kepadaku?" tanya Siau-liong pula.
Liau Hoan tertegun, serunya, “Sudah tentu aku menurut
saja apa pesan Kongsun siauhiap!"
Baik sikap dan nada ucapannya, paderi dari Thian-san itu
amat menghormati sekali kepada Siau-liong.

823
Siau-liong segera berjongkok dan membuka tali pengikat
Poh Ceng-in, memapahnya berdiri lalu berkata hambar,
“Silahkan pergi!"
Sepasang mata wanita pemilik Lembah Semi itu memancar
sinar heran. Dipandangnya Siau-liong, “Engkau lepaskan aku
pergi?"
Siau-liong tertawa tawar, “Benar, engkau bebas!"
Lu Bu-ki dan Liau Hoan terkejut sekali, hampir keduanya
serempak berseru; "Kongsun siau-hiap, wanita siluman itu tak
boleh dilepaskan!"
Liau Hoan maju selangkah, katanya, “Aku mengabdikan diri
ke dalam gereja. Meskipun tak menyetujui pembunuhan tetapi
kejahatan wanita itu benar-benar melebihi takeran. Dan lagi
dia telah menguasai jiwa Kongsun siauhiap. Mana boleh....”
Lu Bu-ki pun sudah mencabut ruyung besi dan
menghadang Poh Ceng-in, “Betul! wanita siluman itu tak boleh
dilepas!"
Seru Siau-liong tenang, “Mati hidup tergantung takdir. Kaya
miskin pun sudah suratan nasib. Kalau aku memang sudah
ditakdirkan harus mati, bagaimanapun hendak berdaya tentu
tak berguna. Apalagi menjadikan seorang perempuan lemah
sebagai sandera. Sekalipun dapat mengalahkan Iblis-penaklukdunia,
tetapi cara itu bukan ksatrya!"
Melihat sikap Siau-liong yang jantan itu, mau tak mau Liau
Hoan dan Lu Bu-ki mengindahkan juga. Mereka serempak
mundur.
Tetapi Poh Ceng-in pun tak mau segera pergi. Ia tertegun
memandang Siau-liong.

824
"Omitohud!" seru Liau Hoan siansu, "Kong-sun siauhiap
berbudi walas asih dan berwatak ksatrya. Sekalipun sudah 40
tahun lamanya aku mengabdikan diri dalam gereja, tetapi
ternyata masih kalah dengan peribudinya!"
Paderi itu menarik Lu Bu-ki, “Lu tayhiap, biarkan dia pergi!"
Poh Ceng-in rupanya hendak bicara, tetapi sampai sekian
lama bibirnya bergerak, belum juga terluncur kata-kata. Tibatiba
ia menutup mukanya, berputar tubuh terus melangkah
pergi dengan terhuyung-huyung.
Sekonyong-konyong Siau-liong loncat memburu, “Tunggu
dulu!"
Poh Ceng-in berhenti, “Apakah engkau menyesal?"
Siau-liong tertawa dingin, “Kaum persilatan menjunjung
tinggi janji. Sekali seorang lelaki berkata, takkan bergoyah
seperti gunung yang kokoh. Masakan aku menyesal?"
Poh Ceng-in berputar diri. Dengan air mata berlinang-linang
ia menatap Siau-liong; "Kalau begitu, engkau....”
“Tolong sampaikan pada suami isteri Iblis-penakluk-dunia.
Bahwa sejak dahulu sampai sekarang, Kejahatan itu tak
mungkin dapat mengalahkan Kebenaran. Dengan siasat keji
dan ilmu Hitam, orang tuamu itu hendak menguasai dunia
persilatan, meskipun dapat berhasil tetapi tak akan tahan
lama. Maka sebelum terlambat, harap lekas sadar agar
mereka dapat melewati pada hari tua mereka dengan
tenteram. Dan yang kedua kalinya....”
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan; “Engkau pun harus
memegang janji dibarisan Tujuh-maut tempo hari. Jika dalam

825
setahun ini, racun jong-tok itu tak bekerja, besok tahun muka
pada pertengahan musim rontok seperti hari ini, aku tentu
datang ke Busan.”
Poh Ceng-in menunduk memandang tanah, katanya,
“Apakah masih ada lain pesanan lagi?”
“Tak ada, silahkan pergi!”
“Baik, semuanya kuingat!” kata Poh Ceng-in seraya
melangkah pergi.
Beberapa saat kemudian, Liau Hoan siansu berkata;
“Adakah Kongsun siauhiap masih ingat akan janji untuk
bersama aku menuju ke Thian-san?”
Siau-liong tertawa hambar, “Kuharap lo-siansu pun dapat
mengingat bahwa aku meluluskan hal itu setelah nanti tahun
depan pertengahan musim rontok. Pada saat itu apabila aku
masih hidup, tentu akan memenuhi janji itu!”
Liau Hoan tersenyum; “Baik akan kutunggu.”
Sejenak memandang keempat penjuru, Siau-liong bertanya
kepada kedua orang itu apakah mereka tahu jalan kepuncak
Kim-ting.
Lu Bu-ki tampil kemuka; “Apakah saudara Kongsun tak mau
bertemu dengan Tok Bok lojin itu?”
Siau-liong menghela napas, “Saat ini Iblis penakluk-dunia
sudah membawa rombongannya. Entah rencana apa yang
mereka siapkan. Maka kurasa hendak kepuncak Kim-ting dulu
meminta Tenggoret berkaki-tiga kepada paderi sakti itu!”

826
Lu Bu-ki menatap Liau Hoan siansu, serunya, “Kalau begitu,
aku yang menunjukkan jalan!”
Sitinggi besar itu terus ayunkan langkah mendahului
berjalan. Ternyata dia memang faham jalanan disitu. Kira2
sepenanak nasi lamanya, mereka tiba disebuah gunung
karang yang menjulang tinggi. Dipuncak gunung itu penuh
dengan pohon cemara dan jati.
“Sudah sampai Puncak itu adalah puncak Kim-ting dari
gunung Gobi !”Lu Bu-ki berhenti.
“Omitohud! Benar2 sebuah tempat yang keramat!” seru
Liau Hoan siansu.
Rupanya Lu Bu-ki teringat akan sesuatu hal yang penting
maka tiba2 ia berseru; “Dalam pertempuran diLembah Semi
tempo hari, kaum persilatan telah menderita kekalahan.
Dengan dapat menguasai dua tokoh pewaris ilmu sakti serta
beberapa tokoh sakti lainnya, Iblis-penakluk-dunia dapat
mengalahkan Ceng Hi totiang dan Pendekar Laknat.
Impiannya untuk menguasai dunia persilatan, rupanya akan
segera menjadi kenyataan. Tetapi mengapa tiba-tiba ia
mundur lagi dan mengadakan janji kepada Ceng Hi totiang
supaya dalam waktu tiga hari datang kepuncak Kim-ting?”
Siau-liong juga heran.
Liau Hoan tertawa gelak2, “Sekali pun aku tak berani
mengatakan tahu betul rahasia itu, tetapi sedikit banyak aku
dapat menduganya ...”
Ia menunjuk kearah puncak Kim-ting yang tinggi, katanya,
“Puncak Kim-ting dari Gobi, setelah menjadi tempat
pertandingan ilmu pedang dan adu pedang dari Tio Sam-hong
dengan paderi Sembilan-jari Sapolo pada seribu tahun yang

827
lalu, maka tempat itu dianggap sebagai tempat keramat oleh
kaum persilatan. Beratus-ratus tahun lamanya entah sudah
terjadi berapa banyak peristiwa besar dipuncak gunung itu
Pemilihan Ketua dunia persilatan angkatan ketiga yang
dilangsungkan pada seratus tahun yang lalu, juga
diselenggarakan dipuncak itu. Sekalipun sudah dapat
mengalahkan Ceng Hi totiang dan menundukkan sebagian
besar kaum persilatan, tetapi apabila Iblis-penakluk-dunia tak
dapat mengadakan rapat besar di puncak Kim-ting unUk
mengumumkan pengangkatannya sebagai Penguasa Dunia
persilatan, tentu sukarlah bagi dia hendak menguasai dunia
persilatan selama-lamanya.” “
Berhenti sebentar, paderi Liau Hoan melanjutkan pula,
“Yang kedua kalinya, Iblis-penakluk-dunia sudah
memperhitungkan bahwa kekuatan dunia persilatan sekarang
ini sudah rapuh. Tiada seorang lawan yang mampu
menentangnya lagi. Maka ia suruh seluruh tokoh2 persilatan
datang ke Kim-ting dimana nanti ia akan mengumumkan
pengangkatan dirinya sebagai Penguasa Dunia persilatan. Ia
sudah memperhitungkan sekalipun barangkali nanti ada
sementara orang yang berani menentangnya, tetapi ia yakin
dengan memiliki keempat tokoh pewaris ilmu sakti itu, ia tentu
dapat menghancurkan setiap perintang .....”
Siau-liong mendengarkan dengan diam. Diam2 ia
merenungkan suhunya dan Randa Bus-an serta tokoh2
pewaris ilmu sakti yang ditawan Iblis-penakluk-dunia itu. Ia
menghela napas panjang.
Sambil memandang Siau liong, Liau Hoan siansu
melanjutkan kata-katanya, “Iblis-penakluk-dunia mengetahui
bahwa Kongsun siauhiap masih belum sempat mempelajari
ilmu Thian-kong-sin-kang. Maka untuk saat ini dia tak takut.
Tetapi paling lama dalam 10 hari, apabila ia tak dapat merebut

828
kitab pusaka Thian-kong-sin-kang, ia tentu akan berusaha
sekuat tenaga untuk melenyapkan Kongsun siauhiap!”
Siau liong menyadari bahwa ucapan paderi itu memang
bukan ancaman kosong. Tiba2 ia teringat akan ucapan
suhunya Kongsun Sin-tho, bahwa kemungkinan Iblis-penaklukdunia
sudah dapat mempelajari ilmu sakti Jit-hoa-sin-kang,
Cek-ci sin kang dan lain-lainnya. Tetapi ia (Siau-liong)
sungguh lacur. Berulang kali ditawan dan dilepas oleh Iblispenakluk-
dunia. Dan beberapa kali dikelabuhinya hingga
hampir saja ia hendak mengajarkan ilmu Thian-kong-sin-kang
itu kepada Song Ling.
“Saudara Kongsun, mari kita lanjutkan jalan lagi!” tiba2 Lu
Bu-ki berseru.
Siau-liong gelagapan. Ia menyadari kalau tadi ia tertegun
melamun. segera ia mengiakan dan terus mengikuti
dibelakang Lu Bu-ki. Mereka bertiga menyusur jalan yang
berlingkar-lingkar baik.
Sambil berjalan, Siau liong menghela napas, “Entah
bagaimana dengan paderi sakti dari puncak Kim-ting itu? Jika
ia tak menyerahkan tenggoret ajaib itu, lalu bagaimana kita
harus bertindak.....?”
Berkata Liau Hoan siansu, “Sekalipun sempit pengalaman
karena jarang keluar ke Tionggoan, tetapi menurut hematku,
sejak muda paderi sakti Kim-ting itu sudah masuk ke dalam
gereja. Setelah masuk menjadi murid gereja Bik-hun-si yang
terletak di bagian depan gunung Gobi, ia lalu pindah
mengasingkan diri di puncak Kim-ting ini. Selama 100 tahun
terakhir ini, jarang orang melihatnya turun gunung. Mengenai
apakah dia sakti dalam ilmu silat atau tidak, mungkin tiada
seorangpun yang tahu. Juga berapa usianya sekarang ini,

829
orang pun tak ada yang mengetahui. Tetapi mungkin tak
kurang dad 120-an tahun umurnya.....”
Berhenti sejenak, ia melanjutkan pula, “Selama 100 tahun
terakhir ini, di puncak Kim-ting pun telah terjadi beberapa
peristiwa besar. Tetapi selama itu tak pernah terdengar orang
bercerita tentang kehadiran paderi sakti itu. Orang yang
mendaki keatas pun kebanyakan jarang dapat menjumpainya
Bahkan sedikit sekali kaum persilatan yang tahu manakah
paderi sakti itu. Soal apakah dia benar2 memelihara
Tenggoret-berkaki-tiga dan apakah dia saat ini masih hidup,
aku sendiripun tak jelas!”
“Jika tak mendengar dari Ceng Hi totiang, akupun tak
mengetahui kalau di puncak Kim-ting tinggal seorang paderi
....tetapi karena dia disebut sebagai paderi sakti, tentulah
mahir dalam ilmu kesaktian dan tentu amat bijaksana juga.
Jika mengetahui babwa binatang ajaib itu dapat
menyelamatkan banjir darah dalam dunia persilatan, tentulah
ia tak sayang memberikannya!”
Dalam pada bercakap cakap itu, merekapun sudah mulai
mencapai puncak. Ternyata di sekeliling barisan puncak
gunung itu, terdapat sebuah tanah datar. Puncak penuh
pohon cemara dan jati yang tinggi serta air terjun dan sumber
air terdapat dimana-mana. Sungguh sebuah tempat yang
mirip tempat dewa2.
Mereka bertiga terus melintasi hutan dan ketika tiba di
ujung hutan, tetap mereka tak menemukan barang sebuah
rumah atau biara. Sekeliling penjuru hanya gunung belantara
yang senyap. Sedang di depan gunung itu hanya jurang
karang yang amat curam.
Siau-liong berhenti dan berkata heran, “Apakah saudara Lu
tak salah?”

830
Lu Bu-ki menampar kepalanya, “Sekalipun ditengah malam,
tak mungkin aku salah jalan!”
Liau Hoan menyelutuk, “Memang paderi sakti Kim-ting itu
tinggal didalam gua. Belum tentu tinggal di puncak sini .....”
Tiba2 sitinggi besar Lu Bu-ki berteriak kaget, “Hai, lihatlah
ke arah hutan cemara di sebelah kiri itu .....”
Siau-liong dan Liau Hoan serempak memandang ke arah
yang ditunjuk. Diatas anak puncak yang bersambung dengan
puncak Kim-ting, memang terdapat sebuah hutan pohon
cemara. Dan di tengah hutan itu tampak beberapa sosok
tubuh melintas..
Oleh karena tertutup oleh hutan yang lebat, maka tak
dapat terlihat jelas bagaimana pakaian orang2 itu. Tetapi
menilik gerakannya yang amat cepat sekali itu, jelaslah kalau
mereka itu tentu orang2 persilatan yang berkepandaian tinggi.
Begitu melesat, kawanan orang itupun lenyap,
bersembunyi dalam gerumbul hutan lebat.
Siau-liong merenung. Tiba2 ia berkata, “Mereka tentulah
rombongan Ceng Hi totiang!” —ia terus loncat dua tombak.
“Hai, benar, kecuali mereka siapa lagi!” seru Lu Bu-ki
seraya terus lari menyusul.
Jalan yang merentang kearah hutan cemara di samping
puncak itu, agak menurun kelain puncak yang lebih rendah.
Luasnya hanya terpaut sedikit dengan puncak Kim-ting, tetapi
keadannya lebih berbahaya. Penuh dengan karang curam dan
gunduk batu aneh yang lebat seperti sebuah hutan.

831
Sekalipun para pemburu, juga takkan memilih tempat
seperti itu.
Adalah Siau-liong yang lebih dulu lari menghampiri. Dalam
beberapa loncatan saja ia sudah tiba di tempat sosok2 tubuh
yang muncul lenyap tadi. Memandang kedalam hutan.
memang terlihat beberapa sosok tubuh tadi masih bergerakgerak
pelahan.
Ia girang sekali. Jelas rombongan orang itu adalah
rombongan yang dipimpin Ceng Hi totiang.
Segera ia melangkah menghampiri ke tempat mereka.
Jalanan bermula hanya 3-4 tombak lebarnya, tetapi makin
lama makin lebar. Dikedua samping jalan, merupakan dua
buah puncak gunung yang penuh dengan hutan cemara dan
jati. Tetapi kira2 seratus tombak lagi, jalan itu terhadang oleh
sebuah karang gunung yang tinggi. Rupanya karang itu
merupakan ujung terakhir lalu disambung jalan lagi yang
membiluk ke sebelah kanan.
Ceng Hi totiang dan rombongannya sedang berhenti dan
mondar mandir di bawah karang gunung itu.
Mereka cepat melihat kedatangan Siau-liong. Empat orang
imam pengawal Ceng Hi totiang segera maju menghadang
dengan pedang melintang, “Siapa engkau?”
Baru Siau-liong hendak menyahut, Lu Bu-ki dan Liau Hoan
siansupun telah tiba. Cepat sitinggi besar loncat kemuka Siauliong
dan memberi isyarat kepada keempat imam itu seraya
berseru, “Orang sendiri, harap kalian jangan salah faham.....”

832
Kemudian berpaling menunjuk Siau-liong, Lu Bu-ki berkata,
“Kongsun siauhiap ini, adalah pewaris dari ilmu Thian-kongsin-
kang!”
Ceng Hi totiang bersama lebih kurang 50 tokoh-tokoh
persilatan, terkejut ketika mendengar keterangan Lu Bu-ki.
Mereka serempak memandang kearah Siau-liong.
Ceng Hi totiang segera maju menghampiri dengan heran.
Diam2 Siau-liong geli juga. Bukan baru pertama kali itu ia
berjumpa dengan Ceng Hi totiang. Tetapi perjumpaannya
dahulu memang bukan sebagai Kongsun Liong, tetapi sebagai
Pendekar Laknat.
Lebih dulu Ceng Hi totiang memberi salam kepada Lu Bu-ki,
“Ah, saudara Lu tentu lelah!” Setelah itu baru ia mengucap
Omitohud kepada Liau Hoan siansu. Terhadap Siau-liong,
tampaknya Ceng Hi tak begitu menganggap penting.
Sehabis balas memberi ucapan salam keagamaan,
berkatalah Liau Hoan siansu, “Harap totiang jangan menegur
aku dulu ... ,” — ia berpaling kepada Siau-liong dan berkata
pula, “Kongsun siauhiap Ini telah mendapat rejeki luar biasa.
Ia telah memperoleh pelajaran ilmu Thian-kong-sin-kang.
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup dunia persilatan
dari ancaman Iblis-penakluk-dunia, rasanya tiada lain orang
lagi kecuali Kongsun siauhiap ini!”
Ceng Hi terkesiap. Menilik kedudukan dan kebesaran nama
Liau Hoan totiang, ia percaya penuh. Maka berpalinglah ia ke
arah Siau-liong, serunya, “Ah, maaf, aku agak terlambat
menghaturkan hormat!”
Rombongan Ceng Hi totiang itu terdiri dari tokoh-tokoh
pilihan yang tergolong jago kelas satu. Diantaranya termasuk
para ketua partai persilatan dan kepala dari beberapa aliran

833
perguruan silat. To Kiu-kong dari partai Kaypang, Pengemistertawa
Tio Tay-tong, Toh Hun-ki ketua Kong-tong-pay dan
Keempat Su-lo, juga ikut dalam rombongan itu.
Begitu melihat Siau-liong bersama Lu Bu-ki dan Liau Hoan
siansu tiba2 muncul, To Kiu-kong dan Tio Tay-tong girang
sekali. Serempak keduanya maju memberi hormat kepada
Siau-liong, seraya berseru, “Sucou-ya!” terus hendak berlutut
dihadapan Siau-liong.
Siau-liong cepat mencegah, serunya; “Kiu -kong, jangan
banyak peradatanlah!”
Ceng Hi totiang tertawa gelak2, “Kongsun siauhiap sungguh
seorang pemuda yang luar biasa. Kiranya murid dari
Pengemis-tengkorak Siong lo-enghiong. Aku merasa makin
kurang menghormat tadi...”
Berhenti sejenak mengicup mata, Ceng Hi melanjutkan
pula, “Tetapi tadi saudara Lu Bu-ki dan Liau Hoan siansu
mengatakan bahwa Kongsun siauhiap adalah pewaris ilmu
Thian-kong-sin-kang. Ini sungguh membingungkan. Menurut
pengetahuanku ....”
Kuatir kalau imam tua itu terus mendesak pertanyaan,
buru2 Siau-liong menukas, “Hanya secara kebetulan saja aku
telah mendapatkan suatu cara belajar dari sebuah ilmu sakti.
Tetapi mungkin berbeda dengan ilmu Thian-kong-sin-kang.
Pun karena belum dapat mempelajari sampai sempurna maka
masih sukar untuk menggunakannya.....”
Sepasang mata Ceng Hi totiang berkilat-kilat menatap anak
muda itu, serunya, “Kongsun siauhiap, apakah ergkau tak
keberatan bicara dengan empat mata kepadaku?”

834
Siau-liong tahu bahwa imam tua itu mulai curiga. Maka ia
menyatakan setuju. Ceng Hi totiang tersenyum lalu
mendahului melangkah kebelakang sebuah batu karang yang
besar. Siau-liong segera mengikuti.
Menilik kedudukan Ceng Hi totiang dalam rombongannya,
ketika ia bicara dengan Siau-liong tadi, tiada seorang pun
yang berani ikut bicara. Mereka hanya mengawasi Ceng Hi
totiang dan Siau-liong menyelinap kebalik batu.
Setelah agak jauh dari rombongan tokoh-tokoh persilatan
itu, barulah Ceng Hi totiang berhenti. Ia anggap disitu aman,
takkan didengar orang lagi.
“Tadi Liau Hoan siansu dan Lu tayhiap mengatakan bahwa
Kongsun siauhiap adalah pewaris ilmu Thian-kong-sin-kang.
Kupercaya keterangan itu tentu tak bohong....” Ceng Hi
totiang mulai membuka pembicaraan.
Siau-liong hanya tersenyum tak menjawab. Ceng Hi totiang
berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Sudah ribuan tahun ilmu
Thian-kong-sin-kang itu tak muncul didunia. Kaum persilatan
dari masa kemasa selalu berusaha untuk mencari ilmu sakti
itu. Tetapi tiada seorangpun yang berhasil. Dua bulan yang
lalu, munculnya peta pusaka pada Giok-pwe, telah
menimbulkan kegemparan besar dikalangan persilatan.
Munculnya Iblis-penakluk-dunia ke Tionggoan lagi untuk
melaksanakan tujuannya menguasai dunia persilatan, tak lain
maksudnya memang hanya akan mencari kitab pusaka Thiankong-
sin-kang.”
Melihat imam tua itu tak menyinggung keraguan terhadap
dirinya, Siau-liong tak sabar lagi. Ia barus lekas-lekas
mendapatkan paderi sakti Kim-ting untuk meminta Tenggoretemas-
berkaki-tiga. Ia tak mau membuang waktu maka segera
ia menyelutuk, “Kalau totiang hendak mengajukan

835
pertanyaan, silahkan. Pokok, aku tak mau membohongi
totiang!”
Dalam keadaan seperti itu, ia cepat dapat menduga bahwa
Ceng Hi totiang tentu sudah dapat melihat kelemahannya.
Maka Siau-liong pun bersedia untuk memberi keterangan
sejujurnya.
Ceng Hi agak terkesiap, ujarnya; “Tempo hari dalam
pertempuran lawan Iblis-penakluk-dunia di Lembah Semi, aku
telah menderita kekalahan habis-habisan. Untung saat itu
Pendekar Laknat muncul dan dapat menghadapi Jong Leng
Lojin serta Lam-hay Sin-ni, sehingga aku dan rombongan
dapat terlepas dari kehancuran. Kala itu Pendekar Laknat telah
menggunakan ilmu Thian-kong-sin-kang. Pun tampaknya ia
baru saja mempelajari ilmu sakti itu hingga belum sempurna.
Tetapi kupercaya bahwa kitab pusaka Thian-kong-sin-kang
yang sudah lenyap beribu tahun itu telah jatuh ditangan
Pendekar Laknat. Sayang, pada malamnya Pendekar Laknat
telah menghilang lagi. Dan sampai sekarang belum terdengar
kabar beritanya ....”
Siau-liong kerutkan dahi, hendak mengatakan bahwa
”aku.....”
Ceng Hi totiang tertawa panjang, “Maaf kalau aku bicara
dengan terus terang ini. Pendekar Laknat pada 20 tahun yang
lalu, aku pernah kenal dengan baik. Tetapi Pendekar Laknat
yang muncul sekarang ini, kecuali wajahnya yang mirip, Ilmu
kepandaian dan perawakan tubuhnya, sama sekali berbeda
dengan Pendekar Laknat yang dulu, Yang paling
mengherankan ialah ilmu Thian-kong-sin-kang itu. Tak
mungkin sekali gus akan timbul dua orang Pendekar Laknat,
ini...ini.....” tiba2 Ceng Hi totiang berhenti dan memandang
Siau-liong dan tersenyum.

836
Siau-liong menduga bahwa Ceng Hi totiang telah
mengetahui semuanya. Maka setelah batuk2 sebentar, ia
berkata, “Ah, totiang sungguh awas. Memang aku tak mau
bohong .....”
Kemudian ia menuturkan segala apa yang dialaminya. Dari
masa kecil sampai belajar silat di gunung Hongsan sehingga
sekarang.
Akhirnya ia menutup penuturannya, “Adalah karena
menjunjung totiang sebagai seorang imam yang sakti maka
kuberitahu semua yang mengenai diriku. Kuharap totiang suka
menyimpan rahasia itu, jangan diberitahukan kepada lain
orang. Apa bila beruntung dapat menindas Iblis-penaklukdunia,
aku masih berharap dapat menggunakan sisa hidup
dalam satu tahun itu untuk membalas sakit hati ayahku lalu
menemui ibuku di seberang laut!”
Ceng Hi totiang menghela napas panjang. Dengan wajah
bersungguh ia berkata, “Kongsun siauhiap seorang pemuda
gagah yang berhati perwira. Maka tak heranlah kalau
mendapat berkah yang luar biasa itu. Arwah nenek guruku Tio
Sam-hong tentu akan puas dialam baka. Harap jangan kuatir,
aku pasti akan menyimpan rahasia itu ...”
Berhenti sejenak ia melanjutkan lagi, “Apa rencana
Kongsun siauhiap tetap akan memenuhi perjanjian mati
bersama dengan wanita pemilik Lembah Semi itu?”
Siau-liong menghela napas, “Sekali sudah berjanji, sukar
untuk mengingkari. Sekalipun mengenai soal kematian yang
penting, tetapi aku tak dapat melanggar janji!”
Ceng Hi totiang mengangguk hormat, “Watak dan tindakan
Kongsun siauhiap itu, makin menimbulkan rasa hormatku!”

837
Tersipu-sipu Siau-liong membalas hormat.
Setelah itu maka Ceng Hi totiang pun segera alihkan
pembicaraan tentang soal yang menyangkut kepentingan saat
itu.
“Walaupun paderi sakti dari Kim-ting itu jarang diketahui
dunia persilatan tetapi kutahu dia memang seorang tokoh
aneh yang jarang muncul diluar. Kedatanganku bersama
rombongan tokoh2 persilatan itu tak lain memang hendak
memohon supaya orang tua sakti itu mau keluar membantu
kami. Tadi telah kukatakan hal itu kepada seorang Sian-thong
(murid penjaga guha) untuk menyampaikan pada beliau. Saat
ini kukira tentu sudah ada keterangan. Karena Kongsun
siauhiap juga akan menemuinya, baiklah kita sama2
menghadap.”
Melihat bahwa Ceng Hi totiang yang sudah berumur 90
tahun lebih itu masih menyebut dengan kata2 yang sungkan
'beliau orang tua' kepada paderi sakti Kim-ting, diam2 makin
besarlah rasa hormat Siau-liong. Segera ia mengikuti Ceng Hi
totiang.
Di atas karang gunung yang membelok ke sebelah kanan
dari lereng puncak, terdapat sebuah guha seluas satu tombak.
Tetapi guha itu amat dalam.
Dua orang kacung yang satu berpakaian warna biru dan
yang satu putih, sedang menjagu disamping pintu guha
dengan pedang terhunus.
Rombongan orang gagah berhenti beberapa tombak
jauhnya dari guha itu Mereka bebisik saling membicarakan
pertapa sakti dari Kim-ting itu. Tetapi setelah Ceng Hi totiang
muncul bersama Siau-liong, merekapun lalu diam dan hanya
memandang ke arah kedua orang itu.

838
Ti Gong taysu, ketua Siau-lim-si, segera tampil kemuka dan
setelah menyebut doa keagamaan, “Omitohud! Tingkah lalu
paderi sakti ini agak berlebih-lebihan. Bahkan sampai pada
kacungnya saja sudah begitu garang ... “
Buru2 Ceng Hi totiang melangkah maju mencegahnya;
“Harap taysu jangan marah, ketahuilah bahwa paderi sakti
.....”
“Hai, engkau bilang apa!” kedua kacung itu melangkah tiga
langkah dan salah seorang membentak Ti Gong taysu. Deliki
mata dan lintangkan pedang bersikap hendak menyerang.
Ti Gong taysu terkenal beradat keras. Sudan tentu ia tak
dapat membiarkan dirinya diperlakukan begitu kasar oleh
seorang kacung kecil. Serentak ia membentak, “Budak sekecil
engkau mengapa berani begitu kurang ajar. Tahukah engkau
siapa yang datang kesini ini?”
Kacung baju putih itu mendengus dingin, sahutnya, “Tak
peduli kalian ini orang apa, kalau Seng-ceng tak mau
menemui, tentu tetap tak mau keluar...”
Seng-ceng adalah sebutan menghormat dari kacung itu
kepada paderi sakti Kim-ting.
Kacung baju biru pun ikut menghampiri dan membentak,
“Selamanya tak pernah ada orang yang berani bikin ribut
disini. Jika kalian tak lekas angkat kaki, jangan sesalkan kami
berlaku kurang ajar!”
Ti Gong tertawa meloroh, “Ho, bagaimana pun juga, aku
tetap akan menemui Seng-ceng. Apakah kalian kacung kecil
berdua ini mampu mengusir kami?”

839
Seketika itu kedua kacung deliki matanya Serentak mereka
putar pedang dan menyerang Ti Gong taysu. Ketua Siau-lim-si
terbeliak kaget. Ternyata ilmu permainan pedang kedua
kacung itu hebat dan cepat sekali. Karena terdesak, ia
terpaksa mundur sampai 7- 8 langkah.
Kedua kacung itu hentikan serangannya. membentak, “Jika
Seng-ceng tak memperbolehkan kami membunuh jiwa, batang
kepala yang gundul itu tentu sudah terpisah dari badanmu!”
Karena marahnya, Ti Gang taysu menguak-nguak seperti
kerbau gila. Berpaling kepada Ceng Hi totiang ia berseru,
“Harap totiang suka maafkan aku. Aku hendak memberi
sedikit hajaran kepada kedua budak kecil itu!”
Tetapi Ceng Hi totiang buru2 mencegah, “Jika dalam
urusan kecil tak dapat menahan diri, urusan besar tentu akan
kacau. Harap taysu suka memikirkan kepentingan kita semua!”
Ti Gong taysu mendengus-dengus dan mengundurkan diri.
“Imam hidung kerbau, mau omong apa engkau?” tiba2
kedua kacung itu membentak Ceng Hi.
Walaupun dihina begitu, namun dengan tetap tenang Ceng
Hi totiang menjawab, “Harap siauko berdua jangan marah
dulu. Kami beramai-ramai hendak menemui Seng-ceng adalah
karena ada urusan yang amat penting sekali.”
Kacung baju biru tertawa, “Daripada paderi gemuk
bertelinga lebar tadi, rupanya engkau lebih jinak sedikit.”
Ceng Hi totiang tetap tertawa, “Harap siau¬ko berdua suka
menolongi kepentingan kami dan membujuk supaya Sengceng
suka menerima kedatangan kami!”

840
Kacung baju biru tiba2 berpaling sejenak kepada kacung
baju putih, ujarnya, “Harap sute suka menjaga mulut guha
sana agar mereka tak menerobos masuk sehingga
mengganggu Seng-ceng!”
“Lebih baik halau mereka pergi dan perlu apa harus
meladeni mereka?” seru sikacung baju putih. Ia terus mundur
menjaga di mulut guha.
Setelah itu barulah kacung baju biru berpaling dan berkata
kepada Ceng Hi totiang lagi, “Seng-ceng tadi bilang tak dapat
menemui. Tak peduli engkau hendak mempunyai urusan apa,
tetap tiada gunanya!”
“Apakah siauko pernah kasih tahu gelaran namaku kepada
Seng ceng?” tanya Ceng Hi.
“Apakah dahulu engkau pernah bertemu dengan Sengceng?”
tanya sikacung.
“Sekali pun belum pernah bertemu muka tetapi sudah lama
aku mengagumi namanya. Jika engkau mau menerangkan
sedikit kepada Seng-ceng, mungkin beliau orang tua itu tentu
akan kenal namaku yang tak berharga itu ....”
Ceng Hi totiang berhenti sesaat, lalu berkata lagi, “Dan lagi
kedatanganku kemari bukanlah untuk kepentingan pribadi
melainkan demi keselamatan dan kelangsungan hidup dunia
persilatan.”
Jawab sikacung, “Seng-ceng mengasingkan diri bertapa.
Selamanya tak pernah mencampuri urusan dunia persilatan.
Kurasa omonganmu tadi percuma saja. Lebih baik kalau kalian
segera angkat kaki dari sinilah!”

841
“Jika Seng-ceng memang tak mau menemui, akupun tak
dapat berbuat apa2. Tetapi harap engkau mengingat jerih
payah kami datang kemari dan suka melapor sekali lagi
kepada Seng-ceng....”
Rupanya kacung bajn biru itu tak sabar. Ia membentak
bengis, “Jika tak mau enyah.” dia memandang ke sekeliling
lalu melanjutkan, “Tentu terpaksa kupanggilkan keempat
Suheng yang menjaga guha ini untuk menghadapi kalian!”
Mendengar omongan kacung itu makin lama makin kurang
ajar, Ti Gong taysu tak dapat menahan diri lagi. Sambil
menyebut Omitohud, ia melangkah keluar, serunya, “Murid
agama menjunjung welas asih dan perikemanusiaan. Apabila
Seng-ceng itu benar2 seorang imam sahid, tak mungkin
bertindak begitu kasar. Tentulah kalian sendiri jang
menghalang-halangi kami. Nanti setelah kami menerobos
masuk menemui Seng-ceng. barulah tahu.....”
Ketua partai Siau lim si itu berpaling kepada Ceng Hi
totiang dan berseru lantang, “Karena dengan cara baik2 tak
berguna, terpaksa kita harus menggunakan kekerasan!”
Kacung baju biru itu lintangkan pedang dan tertawa
dingin..
Ceng Hi totiang menghela napas. Waktu ia hendak
membuka mulut tiba2 terdengar suara suitan panjang dari
kejauhan.
Sekalian orang terkejut. Dan sebelum sempat menduga
apa2, kembali terdengar suara tertawa yang bernada congkak
sekali.
Saat itu barulah semua orang menyadari bahwa suitan dan
tertawa itu berasal dari Iblis-penakluk-dunia!

842
Memang Iblis penakluk-dunia itu seorang durjana yang julig
dan banyak tipu akal. Bahwa secara tiba2 ia muncul disitu,
tentulah karena hendak melaksanakan rencananya untuk
menguasai dunia persilatan.
Suara tertawa itu berasal dari puncak Kim-ting. Jelaslah
bahwa iblis itu tentu sudah berada di puncak itu. Hanya
teraling dengan hutan lebat dari tempat rombongan Ceng Hi.
Secepat suara tertawa lenyap, terdengarlah Iblis-penaklukdunia
berseru bengis, “Kepada Ceng Hi imam tua!”
Serentak terdengar empat lima suara serempak mengulang
kata2 itu, “Kepada Ceng Hi imam tua!”
Sekalian orang tegang tegang dan bersiap-siap menghadapi
segala kemungkinan. Mereka mencurahkan pandang mata ke
arah Ceng Hi totiang.
Tiba2 kacung baju biru itu tertawa, “Ih, siapa yang datang
lagi itu? Apakah pemimpin kalian?”
Ceng Hi totiang menyahut gopoh, “Yang datang itu adalah
durjana iblis yang hendak menimbulkan pertumpahan darah
dalam dunia persilatan , ......”
Ia berputar tubuh dan berkata pelahan kepada rombongan
tokoh2 gagah, “Saat ini tibalah sudah detik2 yang genting.
Harap saudara2 jangan sembarangan bergerak sendiri!”
Melihat wajah rombongan tetamu itu amat tegang, kacung
baju biru tertawa makin keras, “Hai, kalian orang2 persilatan
itu mengapa suka bermusuhan dan berkelahi untuk cari
kemenangan......”

843
Kemudian bocah itu menyerut wajah dan berseru pula,
“Kalau mau berkelahi, pergilah cari tempat di puncak Kim-ting
sana. Jika berani mengganggu ketenangan tempat ini,
awaslah.....”
Ceng Hi totiang menghela napas lirih. Pada saat ia hendak
berputar diri untuk menghadapi keadaan saat itu, tiba2 dua
sosok tubuh melintas di sebelah muka. Seorang kakek mata
satu berpakaian ungu muncul dengan memimpin tangan
seorang dara baju hijau.
Sekalian orang amat terkejut sekali!
Menilik pandangan mata mereka yang tajam termasuk diri
Ceng Hi totiang, setiap gerakan dari suatu apapun. tentu tak
lepas dari pandangan mereka. Tetapi kemunculan kakek
bersama itu benar2 tak diketahui sama sekali.
Saat itu Siau-liong, Liau Hoan siansu dan Lu Bu-ki berdiri di
samping. Diam2 mereka gelisah melihat sikap keras dari
kacung penjaga guha yang menolak memberi laporan kepada
Seng-ceng. Sedang saat itu Iblis-penakluk-dunia bersama
rom-bongannya sudah muncul.
Ketika melihat Kakek Mata-satu muncul secara tiba2, girang
hati Siau-long tak terperikan. Cepat ia maju memberi hormat,
“Lo-cianpwe ... nona Song .....”
Kakek Mata-satu tersenyum, “Apakah Kongsun siauhiap
sudah mendapat kedua kawanmu itu?”
“Lo cianpwe memang sakti sekali. Aku benar2 bertemu
dengan mereka!” sahut Siau-liong.

844
Sekalian orang dalam rombongan Ceng Hi totiang berdiam
diri dan memperhatikan pembicaraan Siau-liong dengan kakek
bermata satu itu.
Setelah merenung beberapa saat, Ceng Hi totiang
menganggukkan kepala lalu maju memberi hormat kepada
kakek itu, “Bukankah cianpwe ini pada 60 tahun yang lalu .....”
Pertapa-sakti-mata satu goyangkan tangan, tertawa, “Tak
perlu mengatakan lagi! Asal engkau sudah tahu saja ...”
kemudian ia menunjuk kearah matanya yang tinggal satu itu,
katanya pula, “Kemungkinan mataku yang tinggal sebiji ini
lebih dapat diingat lagi orang. Memang tak mengherankan
kalau engkau masih memikirkan peristiwa pada 60 tahun yang
lampau itu.”
Tersipu sipu Ceng Hi totiang memberi hormat, “Ah, ucapan
cianpwe itu kelewat berat. Adalah karena kagum dan
mengindahkan akan keperwiraan dan keluhuran cianpwe
maka sekalipun sudah lewat berpuluh tahun, aku masih tak
lupa pada pertapa sakti itu bukan karena melihat matanya
yang tinggal satu.” Tetapi ia pikir, ucapan itu terlalu
menyinggung peiasaan orang Maka ia tak mau melanjutkan
....
Saat itu kacung baju biru menghampiri, teriaknya, “Hai,
paman Buta!” ia memandang sipertapa sakti lalu bertanya lagi,
“Apakah paman kenal pada mereka?”
Pertapa-sakti-mata satu tertawa, “Bukan hanya kenal tetapi
mereka adalah sahabatku!”
Kacung kecil itu terkesiap serunya tertawa, “Ah, paman
Buta ngaco lagi. Bukankah paman serupa dengan suhuku.
Setahun penuh tak mau bertemu orang? Mengapa mendadak
sontak mempunyai sekian banyak kawan?”

845
Pertapa sakti mata satu tertawa keras, serunya, “Kalau
begitu, anggap sajalah mereka itu musuh!”
Ceng Hi totiang terkejut.
Kacung baju biru tertawa makin keras.
Beberapa saat kemudian baru ia berkata, “Kalau begitu, tak
usah menghiraukan mereka saja!” sahut Pertapa-sakti-matasatu.
“Apakah hari ini engkau hendak menantang suhuku
bermain catur?” tanya kacung itu pula.
“Tidak,” jawab si pertapa, “hari ini aku sengaja membawa
cucu perempuanku bermain-main!”
Bocah itu tercengang. Dipandangnya Song Ling sejenak,
katanya, “Hari ini sungguh aneh sekali! Segala apa berobah
aneh. Mengapa dulu tak pernah kudengar paman mempunyai
seorang cucu perempuan?”
“Baru berapa tahunkah engkau hidup di dunia? Masakan
engkau tahu segala urusan!” Pertapa-sakti mata satu tertawa.
Kacung baju biru tertawa mengikik, “Ah, paman
mengandalkan diri sebagai orang tua.. “Cobalah paman bilang,
hari ini paman hendak mengapa?”
Pertapa-sakti masukkan tangannya kedalam saku. Sampai
beberapa saat baru pelahan-lahan ia menariknya keluar.
Tetapi tangannya digenggam sehingga tak tahu apa isinya.
“Hari ini aku membawa sebuah mainan yang aneh
untukmu!”

846
Bocah itu girang sekali, “Terima kasih paman Buta. Apakah
barang itu?”
“Didalam genggamanku ini. Tetapi engkau harus
menebaknya. Kalau menebak tepat, baru kuberikan
kepadamu!”
Kacung itu tertawa, “Ai, paman hendak mempermainkan
orang lagi. Aku tak mau menebaklah dan tak menginginkan
benda itu!”
“Kalau begitu jangan engkau menyesal lho. Mainan ini akan
kuberikan kepada sutemu!” kata si pertapa seraya membuka
tangannya. Suatu benda yang berkilat-kilat warnanya
memancar diantara celah jarinya. Tetapi cepat2 pertapa itu
mengatupkan genggamannya lagi.
“Ya, ya, aku akan menebaknya .....” seru kacung itu gopoh.
Ia kerutkan dahi beberapa saat lalu menerka, “Tentulah
sebutir mutiara Ya-beng cu ......”
Pertapa-sakti-mata-satu gelengkan kepala; “Salah!”
“Mata kucing!” seru bocah itu pula.
“Salah!” si pertapa menggeleng.
Bocah itu mengerut kening dan mengomel; “Ini salah itu
salah, lalu bagaimana orang harus menebaknya!”
Bocah yang menjaga dimulut guha tadi pun rupanya tak
sabar. Ia segera menghampiri, serunya, “Ah, paman Buta
memang berat sebelah. Punya barang baik tak mau
memberikan kepadaku.”

847
Pertapa itu tertawa, “Engkau pun boleh ikut menebak.
Kalau betul, tentu kuberikan kepadamu.”
Bocah baju putih dan baju biru benar2 saling berebut
menebak. Tugas untuk menjaga mulut guha hampir dilupakan.
Pada saat Pertapa-sakti-mata-satu sedang bergurau
mengadakan tebakan dengan bocah penjaga guha itu. Ceng
Hi totiang dan rombongan orang gagah, gelisah. Tetapi
mereka tak berani campur mulut. Untunglah saat itu suara
Iblis-penakluk-dunia tak kedengaran lagi.
Kemudian setelah bocah baju putih yang menjaga di mulut
guha itu ikut menimbrung ke tempat pertapa sakti, tahulah
Ceng Hi totiang akan maksud dari pertapa sakti itu. segera ia
lontarkan isyarat mata kepada Siau-liong.
Siau-liong memang berotak terang. Cepat ia dapat
menangkap isyarat Ceng Hi totiang. Dengan gerakan yang tak
mengeluarkan suara dan tak menarik perhatian orang, ia
berjengket-jengket mundur menyingkir dari pengawasan mata
kedua kacung itu. Setelah mendekati mulut guha, cepat ia
menyelundup masuk.
Gerakan Siau-liong itu dilakukan dengan cepat sekali dan
tak mengeluarkan suara apa2. Walau pun Ceng Hi totiang dan
rombongan orang gagah dapat melihat jelas, tetapi kedua
bocah penjaga guha itu tak dapat mengetahui sama sekali.
Setelah tahu Siau-liong sudah menyelundup masuk,
Pertapa-sakti-mata-satu tertawa, “Hai, mengapa hari ini kalian
begitu tolol? Apakah masih tak mampu menebak?”
Karena berulang kali menebak, si pertapa tetap gelengkan
kepala. Akhirnya marahlah sibocah baju putih. serunya geram,
“Ai, tentu tak lebih hanya sebutir batu!”

848
Pertapa-sakti teriawa nyaring, “Ho, ternyata engkau yang
lebih cerdas dan dapat menebak jitu!” —ia membuka
genggamannya dan ternyata memang sebutir batu mengkilap.
Kedua Bocah itu serempak membentak, “Kutahu paman
Buta memang tak bermaksud baik dan sengaja hendak
mempermainkan kami saja. Tetapi lain kali jangan harap dapat
mengingusi kami lagi! Sungguh sial!”
Pertapa-sakti tertawa, “Sedang apakah suhumu saat ini?”
“Duduk!” sahut kedua bocah itu.
Menunjuk pada Ceng Hi totiang dan rombongannya,
berkata pula pertapa itu, “Mereka hendak bertemu dengan
suhu kalian, mengapa kalian tak mau melaporkan?”
Bocah baju biru buru2 menerangkan, “Sudah kulaporkan
tetapi suhu tak mau menemui!”
Pertapa-sakti mengangguk tertawa, “Kalau begitu kalian tak
salah, tetapi.....” ia picingkan matanya yang tinggal satu,
berkata lagi, “Karena tadi kalian hanya mengurus untuk
menebak batu dalam genggamanku, andaikata ada orang
yang menyelundup masuk kedalam guha. bagaimanakah
suhumu akan menghukum kalian?”
“Yah, ngeri!” seru kedua bocah itu, “paling ringan tentu
akan suruh kami menghadap tembok sampai 10 hari
lamanya!”
“Mungkin tak memberi makan kami sampai tiga hari.” si
bocah baju putih menambahi.

849
Pertapa-sakti tertawa, “Kalau suhumu hendak memberi
hukuman, timpahkan saja segala kesalahan itu padaku!”
Kedua bocah itu terkejut, “Bagaimana? Apakah benar2 ada
orang yang menyelundup kedalam?”
“Ah, sukar dikatakan,” kata pertapa-sakti, karena kalian
mempunyai empat biji mata saja tak mampu melihat, apalagi
aku yang tinggal satu. Sudah tentu lebih tak kelihatan lagi!”
Bocah baju biru memandang geram kesekeliling lalu
mengawasi Ceng Hi totiang dan rombongannya dengan
dendam, serunya, “Kukira mereka tentu tak punya keberanian
untuk berbuat begitu. Dengan mengandalkan tenaga keempat
Su-leng (Empat arwah) yang menjaga guha, sekalipun mereka
beramai-ramai masuk semua, tentu tiada seorang pun yang
mampu melewati penjagaan ...”
Tiba2 bocah baju biru itu berpaling kearah kawannya baju
putih dan membentak, “Suruh engkau menjaga mulut guha
dengan ketat, mengapa engkau lari kemari?”
Bocah baju putih itu tersipu-sipu ketakutan terus kembali
ke mulut guha lagi.
Sejenak meragu, bocah baju biru itu berkata, “Apakah
paman Buta tak masuk?”
Pertapa sakti goyangkan tangan, “Pemandangan alam di
sini paling indah. Aku bersama cucuku ini akan duduk
beristirahat disini sebentar!”
“Kalau begitu, maaf, kami tak dapat menemani paman
disini!” seru bocah itu terus kembali ke mulut guha. Keduanya
menjaga di kanan kiri guha.

850
Pertapa-sakti-mata-satu itupun sungguh mencari tempat
duduk. Sambil menunjuk kesana sini, ia berkata dengan bisik2
kepada Song Ling. Sama sekali ia tak menghiraukan Ceng Hi
totiang dan rombongan orang gagah.
Ceng Hi totiang tegak disamping. Sesaat ia tak tahu apa
yang harus dilakukan. Tiba2 terdengar pula suara teriakan
pelahan dari Iblis-penakluk-dunia, “Untuk yang kedua kalinya,
ditujukan kepada imam tua Ceng Hi!”
Serentak berturut-turut terdengar suara menyambut-ulang,
“Untuk yang kedua kalinya, ditujukan kepada imam tua Ceng
Hi .....!”
Beberapa saat lagi, kembali Iblis-penakluk-dunia berseru,
“Untuk yang kedua kalinya, apabila tidak datang, akan
dihukum mati!”
Riuh rendah suara menyambut dan mengulang seruan itu
terdengar dari seluruh penjuru.
Ceng Hi tertawa masam. Saat itu ia belum dapat
menentukan keputusan. Tengah dalam keadaan gelisah, tiba2
telinganya terngiang oleh suara seseorang yang menggunakan
ilmu Menyusup suara, “Imam tua tak perlu gelisah. Yang
dapat mengatasi malapetaka hari ini tak lain hanyalah pemuda
Kongsun yang memiliki ilmu Thian-kong-sin¬king itu. Aku
sendiri sukar memberi bantuan!”
Ceng Hi totiang cepat dapat mengetahui bahwa yang bicara
dengan ilmu Menyusup suara itu tak lain dari Pertapa-saktimata-
satu. Ia pun segera menjawab dengan ilmu menyusup
suara juga, “Terima kasih atas perhatian cianpwe. Tetapi
keadaan ini benar2 gawat sekali. Kedua suami isteri iblis itu
sudah tiba kemari. Dalam waktu beberapa saat tentu sukar
terhindar dari pertempuran berdarah.....” '

851
Pertapa-sakti tertawa, “Apakah engkau takut dihukum mati
oleh iblis-penakluk-dunia?”
Ceng Hi totiang menyahut gopoh, “Sudah hampir 20 tahun
kusarungkan pedang. Jika takut mati, masakan aku mau
muncul lagi di dunia persilatan?”
“Kalau begitu gunakan siasat mengulur waktu sampai
beberapa jam. Mungkin Kongsun siauhiap itu sudah dapat
keluar dari guha!”
“Ah, tetapi keadaan sudah sukar diundurkan lagi, kecuali
.....” Ceng Hi berhenti meragu sejenak. katanya pula, “Adakah
cianpwe menghendaki supaya aku bertekuk lutut kepada Iblispenakluk
dunia?”
Pertapa-sakti tertawa, “Pandai menyesuaikan keadaan,
tahu mencari kesempatan pada setiap perobahan. Segala cara
dan siasat boleh digunakan!”
Ceng Hi totiang menghela napas panjang. Ia diam. Oleh
karena pembicaraan itu dilakukan dengan ilmu Menyusup
suara, maka sekalian orang tak dapat mendengar. Mereka
hanya menduga-duga saja apa yang sedang dibicarakan
kedua tokoh itu.
Pada saat itu kembali terdengar teriakan menggeledek dari
Iblis-penakluk-dunia, “Untuk yang ketiga kali, ditujukan
kepada imam tua Ceng Hi!”
Seperti seruan yang dua kali tadi, dan empat penjuru
terdengarlah suara orang mengulang perintah Iblis-penaklukdunia
itu.

852
Seluruh mata rombongan orang gagah tertumpah pada
Ceng Hi totiang. Sikap imam sakti itu tenang sekali. Dengan
suara tenang serius ia berkata, “Saat ini kita menghadapi
ancaman maut. Karena tak berguna, aku telah menyia-nyiakan
kepercayaan saudara2 yang dilimpahkan pada diriku.. Sekali
pun mati, aku masih merasa berdosa.....”
Ti Gong taysu, ketua Siau-lim-si, dapat berseru lantang,
“Soal ini tak dapat menyalahkan totiang. Oleh karena sudah
menjadi suratan takdir, kami ikhlas mengorbankan jiwa. Kalau
kalah, tetap akan meninggalkan nama harum. Matipun tiada
menyesal.....”
Ceng Hi totiang cepat menukas, “Mengandalkan keberanian
seperti harimau, mengandalkan jumlah banyak seperti air
sungai, bukan termasuk keberanian seorang ksatrya sejati.
Aku hendak mengajukan pertanyaan kepada saudara2 ...”
Toh Hun-ki ketua Kong-tong-pay yang berdiri disamping
Ceng Hi, pun menyeletuk, “Totiang saat ini adalah pemimpin
rombongan orang gagah. Apa yang totiang rasa baik, silahkan
memberi perintah saja. Masakan totiang kuatir ada orang yang
berani menentang?”
Ceng Hi totiang menghela napas panjang, “Apabila saudara
percaya padaku. Apa pun yang hendak kulakukan, harap
saudara tahankan emosi agar aku leluasa melaksanakan
rencanaku.”
Dengan menekan rendah suaranya, berkatalah Ti Gong
taysu, “Silahkan totiang memberi perintah Kecuali disuruh
menyerah pada Iblis-penakluk-dunia, kuyakin tiada
seorangpun yang akan menentang perintah totiang!” -habis
berkata ketua Siau-lim-si itu memandang kearah rombongan
orang gagah.

853
Ceng Hi totiang kerutkan kening lalu gunakan ilmu
Menyusup suara kepada Ti Gong taysu, “Apa yang kukatakan
justeru mengenai soal itu. Demi untuk menyelamatkan
kelangsungan hidup dunia persilatan Terpaksa untuk
sementara waktu kita harus pura2 menyerah kepada Iblispenakluk-
dunia!”
Bukan kepalang kejut Ti Gong taysu sehingga ia melonjak
dan menggerung seperti singa kelaparan, “Apakah aku tak
salah dengar bahwa ucapan itu berasal dari totiang?”
Dengan masih gunakan ilmu Menyusup suara, Ceng Hi
berkata, “Jika dalam soal kecil tak dapat menahan perasaan,
tentulah soal2 besar akan gagal, Tadi Kongsun siauhiap sudah
menyelundup ke dalam guha menemui Seng-ceng. Menurut
perhitunganku, paling tidak dalam beberapa jam tentu sudah
membawa laporan. Hanya untuk beberapa waktu itu kita
pura2 menyerah, begitu Kongsun siauhiap sudah keluar, kita
harus cepat2 berbalik haluan. Jika rencana itu gagal, tiada
jalan lagi kecuali harus bertempur sampai mati!”
Ti Gong taysu terlongong. Memandang kepada Ceng Hi
totiang, didapatinya wajah imam tua itu menampil kedukaan
tetapi tetap memancar keperibadian yang pantang menyerah.
Ti Gong taysu menghela napas, tundukkan kepala tak
berkata apa2. Rombongan tokoh2 persilatan pun berdiam diri.
Mereka percaya penuh pada Ceng Hi totiang.
Tiba2 terdengar suara bentakan menggeledek, “Panggilan
untuk imam tua Ceng Hi supaya segera datang kemari.
Apabila masih berayal, tentu akan dihukum mati!”
Kini tiada lagi Ceng Hi bersangsi. Dengan tenang ia segera
ayunkan langkah ke puncak Kim-ting. Sekalian orang gagah

854
tanpa berkata sepatah pun, tundukkan kepala dan mengikuti
dibelakang imam tua itu.
Pertapa-sakti-mata-satu tetap duduk di tempatnya dan
masih tetap tersenyum-senyum bicara dengan si dara Song
Ling. Liau Hoan siansu pun masih duduk di samping, tak ikut
pada rombongan orang gagah.
Song Ling gelisah resah. Terkenang akan ibunya yang
menjadi tawanan Iblis-penakluk-dunia, memikirkan Siau-liong
yang masuk ke dalam guha. Tak henti2nya ia celingukan kian
kemari. Apa yang dikatakan Pertapa- sakti kepadanya, sama
sekali tak dihiraukan.
Ceng Hi totiang bersama rombangan orang gagah melintasi
beberapa gerumbul hutan dan kini disebelah muka tampak
sebuah dataran. Di ujung dataran itu tampak suatu jajaran
sosok tubuh manusia. Jumlahnya tak kurang dari seratusan
orang. Terdiri dari lelaki dan perempuan dengan berbagai
corak pakaian. Tetapi yang paling menonjol sendiri, ialah
jajaran paling depan yang terdiri dan belasan orang baju
hitam, Mereka mengenakan kerudung muka sehingga tak
dapat melihat roman mukanya.
Tetapi begitu melihatnya, segeralah Ceng Hi totiang dan
rombongannya dapat menduga. Barisan baju hitam itu
tentulah keempat tokoh pewaris empat jenis ilmu sakti, kedua
momok Naga Terkutuk dan Harimau Iblis serta rombongan It
Hang totiang.
Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka tegak berdiri
ditengah-tengah. Di belakangnya dijaga oleh empat lelaki dan
empat wanita. Demi melihat Ceng Hi muncul dengan kepala
menunduk, iblis itu segera tertawa nyaring.

855
Secepat hentikan tertawanya, Iblis-penaklak-dunia pun
segera membentak keras, “Imam tua Ceng Hi, lupakah
engkau akan perintahku tempo hari?”
Mendengar kata2 itu seketika wajah sekalian orang gagah,
berobah merah padam. Kata2 Iblis-penakluk-dunia itu benar2
suatu hinaan besar. Mereka adalah tokoh2 persilatan yang
ternama. Mereka lebih memberatkan nama daripada jiwa.
Seketika mereka siap hendak menyerbu.
Wajah Ceng Hi pun berobah-robah, hijau membesi lalu
pucat lesi. Suatu pertanda bahwa hatinya lebih tegang dari
rombongannya. Tetapi pada lain saat ia tersenyum lalu
berputar tubuh menghadang ke arah rombongan orang
gagah.
Setelah mengeliarkan pandang mata kesekeliling, ia
berkata, “Tuan mengatakan bahwa empat hari kemudian akan
datang ke puncak Kim-ting. Tetapi hari ini baru hari yang
ketiga.”
Dari belakang kedua suami isteri iblis segera terdengar
seorang lelaki gagah memaki, “Imam-hidung-kerbau, sungguh
besar nian nyalimu! Sejak saat ini kita semua ini adalah anak
buah kedua pemimpin kita. Mengapa engkau menyebut
dengan panggilan begitu? Hayo, lekas memberi hormat
haturkan maaf!”
Ceng Hi totiang seorang tokoh yang namanya amat
diindahkan orang. Dihadapan rombongan tokoh persilatan dari
berbagai aliran, benar2 ia akan kehilangan muka apabila
sampai minta maaf kepada Iblis-penakluk-dunia. Maka sampai
beberapa jenak ia berdiam diri saja.
Rombongan orang gagah pun merah tegang wajahnya.
Suasana makin gawat.

856
“Hai, apakah engkau tuli?” bentak lelaki gagah itu pula.
Ceng Hi totiang menghela napas lalu anggukkan kepala,
“Ya, aku merasa salah!"
Walaupun mulut berkata begitu, tetapi dari pelupuk
matanya, mengembang air mata. Sepanjang hidupnya, baru
pertama kali itu ia menderita hinaan sedemikian besar. Tetapi
demi kepentingan umum, terpaksa ia tahankan perasaannya.
Iblis-penakluk-dunia tertawa nyaring; "Aku sih tak terlalu
mengutamakan soal2 peradatan kecil. Asal kelak dapat
merobah kesalahan saja, cukuplah sudah....”
Berhenti sejenak ia berkata pula, “Kuanggap diriku ini
memiliki kecerdasan jauh lebih tinggi dari orang biasa. Kalau
tidak masakan aku dapat berhasil seperti hari. Pepatah
mengatakan 'prajurit akan bermanfaat karena dapat bergerak
cepat' Jika besok pagi aku baru datang kemari, entah tingkah
yang bagaimana macamnya lagi yang hendak kalian unjukkan
padaku....”
Menunjuk ke arah gua tempat tinggal paderi sakti dari Kimting,
ia berkata pula, “Gerak-gerik kalian selama ini, sudah
berada dalam pengawasanku. Sekalipun kalian dapat
menyeret keluar paderi dari gua itu, pun tetap tak berguna....”
Habis berkata ia berpaling ke belakang, “Dimana engkau,
muridku!"
Soh Beng Ki-su sambil berkaok-kaok, segera maju
kehadapan suhunya.
“Segala yang dikerjakan, kuserahkan kepadamu untuk
memberi perintah. Aku hendak beristirahat sebentar. Dalam

857
waktu tiga jam, apa yang kuserahkan kepadamu harus sudah
selesai!"
Soh Beng Ki-su mengiakan. Sambil tertawa meloroh, Iblispenakluk-
dunia dan isterinya segera berjalan turun dari
puncak. Anak buahnya mengikuti. Tak lama ia sudah
menghilang ke dalam gerumbul hutan.
Yang masih berada di tanah datar itu tinggal Soh Beng Kisu
beserta 10 orang lelaki berpakaian ringkas. Diantara ke 10
orang itu, ada 8 orang yang bahunya dihinggapi burung elang
besar. Yang dua orang lagi, tangannya mencekal pena pit dan
tinta bak. Keduanya menjinjing selipat kain sutera putih.
Dengan tertawa mengekeh, Soh Beng Ki-su berkata kepada
Ceng Hi, “Aku mendapat perintah dari suhu. Apabila dalam
ucapanku ada yang kasar, harap totiang jangan sesalkan
dihati....”
Ia menyapukan pandang matanya ke arah Ceng Hi totiang
dan rombongan orang gagah, katanya pula, “Apa yang
dikehendaki suhuku hanya dua hal. Pertama, segera didirikan
panggung seluas dua tombak dan setinggi tiga meter.
Panggung itu akan diperuntukkan pengangkatan suhuku
sebagai Bu-lim bengcu (pemimpin dunia persilatan). Kedua,
lekaslah kalian beramai-ramai membuat dan menanda-tangani
surat pernyataan mendukung atas pengangkatan beliau itu.
Buatlah 64 pucuk undangan yang kalian beramai-ramai
menanda-tangani....”
Menunjuk pada ke 8 ekor burung elang besar yang hinggap
dibahu kedelapan lelaki berpakaian ringkas itu, Soh Beng Ki-su
berkata pula, “Ke 8 ekor burung itu dapat mengedarkan surat
Undangan itu kealamat yang dituju. Agar seluruh kaum
persilatan tahu dan mentaati."

858
Diam-diam Ceng Hi terkejut, pikirnya, “Segala
permintaannya masih dapat kupaksakan diri untuk menerima.
Tetapi surat dukungan yang akan disiarkan ke seluruh penjuru
dunia persilatan itu, benar-benar suatu hal yang tak boleh
terjadi."
Maka dengan suara tersendat-sendat, Ceng Hi
menyanggah, “Ini.... ini....”
Soh Beng Ki-su mendengus dingin, “Tak perlu ini itu lagi.
Apa yang diperintahkan suhu, kalian tentu sudah mendengar.
Kedua hal itu hanya diberi waktu tiga jam harus sudah selesai.
Jika terlambat mengerjakan, kalian tahu sendiri akibatnya."
Ceng Hi merenung sampai lama baru berkata, “Kalau
begitu, aku menurut saja!"
Ia memandang tenang kepada rombongan orang gagah,
katanya, “Harap saudara2 suka membantu aku membuat
panggung itu!"
Dengan lesu sekalian orang mengiakan. Mereka segera
mulai membuat sebuah panggung. Diam-diam Ceng Hi
memberi isyarat rahasia agar mereka bekerja selambat
mungkin.
Soh Beng Ki-su tak mau mendesak. Bersama ke 10 orang
berpakaian ringkas, ia duduk diujung puncak sambil
mengawasi pekerjaan Ceng Hi dan rombongannya.
Sekarang kita tinggalkan sejenak pembuatan panggung itu
untuk menjenguk keadaan dalam gua.
Setelah berhasil menyelundup masuk, Siau-liong dapatkan
gua itu tak begitu gelap. Setelah memusataan perhatian,
barulah ia dapat melihat jelas. Kiranya tempat itu tak mirip

859
dengan sebuah gua melainkan sebuah lorong terowongan
yang panjang ke dalam.
Siau-liong makin tegang. Cepat2 ia ayunkan langkah dan
tak berapa lama sudah tiba di ujung akhir terowongan itu.
Di muka ujung terowongan itu terbentang sebuah lapangan
kosong yang ditumbuhi pohon2 bunga aneh dan rumput2.
Walaupun saat itu berada dalam pertengahan musim rontok,
tetapi pohon-pohon bunga disitu tetap menghamburkan
bunga2 aneka warna.
Batang2 pohon cemara yang tumbuh lurus disebelah muka,
menjulang linggi sampai menyusup ke dinding karang. Sayup2
tampak sebuah mulut gua seluas satu tombak ditengah pohon
cemara itu. Pikir Siau-liong. paderi sakti di puncak Kim-ting itu
tentu tinggal dalam gua tersebut.
Segera berjalan menuju ke gua itu. Sekonyong-konyong,
serangkum angin keras menyambar punggungnya. Siau-liong
terkejut sekali dan segera miringkan tubuh loncat mundur
sampai lima langkah.
Setelah terhindar, ia cepat memandang ke arah
penyerangnya itu. Ah, bukan kepalang kejutnya. Yang
menyerang itu ternyata seekor kera berbulu emas yang
besarnya hampir menyerupai orang.
Pukulan yang dilancarkan kera bulu emas itu bukan
kepalang dahsyatnya sehingga ketika luput dan menghantam
tanah, pasir dan debu segera muncrat berhamburan dan
tanah pun berlubang sampai setengah meter.
Siau-liong cepat dapat menduga bahwa kera bulu emas itu
tentulah binatang piaraan Paderi sakti Kim-ting. Maka ia tak

860
mau balas menyerang, Malah ia terus mengangkat tangan
memberi salam kepada kera itu.
Tepat pada saat ia sedang memberi hormat, kepada kera
bulu emas itu, tiba-tiba serangkum angin keras menyambar
punggungnya lagi. Dalam kejutnya, ia cepat apungkan tubuh
melayang beberapa meter.
Ah, kiranya seekor kera bulu emas lagi. Bahkan yang ini
tampaknya amat galak. Sambil menyeringaikan giginya yang
runcing, ia memandang Siau-liong dengan buas.
Belum sempat Siau-liong menenangkan diri, kembali ia
diserang oleh dua ekor kera bulu emas lagi.
Siau-liong benar-benar gelisah dan serba sulit. Ia tak mau
balas menyerang karena kuatir menimbulkan kemarahan
paderi sakti Kim-ting. Namun dengan mengalah itu, ia harus
banting tulang setengah mati untuk menghindari serangan
keempat ekor kera bulu emas yang gencar itu.
Keempat ekor kera bulu-emas itu memang lihay. Serangan
mereka serba aneh dan sukar diduga. Untunglah dengan
mengandalkan ilmu meringankan tubuh, dapatlah Siau-liong
berlincahan menghindarinya.
Tetapi betapapun juga, karena tak mau balas menyerang,
maka setelah dapat bertahan sampai sepeminum teh lamanya,
akhirnya ia mulai tak dapat bertahan lagi.
Keempat ekor kera bulu-emas itu meraung keras.
Serempak mereka menyerang makin gencar. Angin menderuderu,
tangan keempat binatang itu berhadapan mengarah
bagian tubuh Siau liong beberapa yang berbahaya.

861
Siau-liong makin gugup. Jika tak mau balas menyerang, ia
tentu akan terluka dibawah pukulan kera bulu-emas itu.
Dengan menggerung keras, ia segera mulai menyerang
dengan jurus Angin-awan-berobah-warna.
Hamburan pukulan yang bersinar emas itu berkelebat kian
kemari dan terdengarlah serangkum suitan bernada macam
naga meringkik.
Untunglah Siau-liong masih mengingat pada paderi sakti
Kim-ting. Ia hanya gunakan sepertiga bagian tenaganya dan
tak mau mengarah pada tempat yang berbahaya dari tubuh
kera berbulu emas itu.
Diluar dugaan, begitu Siau-liong memukul kawanan kera
bulu emas itu segera hentikan serangannya. Mereka
memandang wajah Siau-liong sampai sekian lama. Kemudian
mereka menyeringai dan bercuit-cuit beberapa kali. Pelahanlahan
mereka mulai menyurut mundur dan masuk ke dalam
gerumbul pohon bunga.
Siau-liong mengusap keringatnya dingin. Setelah itu cepat2
ia lanjutkan perjalanan lari ke arah gua.
Begitu tiba di pintu gua, ia berbenti. Dilihatnya di atas
sehelai permadani tinggi yang terletak beberapa meter dalam
pintu gua, duduklah seorang paderi tua dengan mata
memejam.
Paderi tua itu amat kurus sekali. Duduk di atas
permadadani tak ubah seperti sesosok tulang kerangka. Tetapi
wajahnya menampilkan suatu perbawa yang mengundang
rasa perindahan orang. Tanpa disadari, Siau-liong pun seaera
berlutut.

862
Rupanya paderi tua kurus itu tak mendengar dan tak
mengetahui kedatangan Siau-liong. Dia tetap duduk pejamkan
mata tak bergerak.
Diam-diam Siau-liong menimang. Walaupun paderi tua itu
seorang tuli tetapi masakan tak mendengar suara
pertempuran hebat antara ia dengan keempat kera bulu emas
tadi. Ah, tentulah paderi tua itu hanya berpura-pura saja.
Siau-liong tak berani mengganggu. Terpaksa ia tetap
berlutut menunggu sampai paderi itu terjaga.
Lebih kurang sepenyulut dupa lamanya, barulah paderi tua
itu pelahan-lahan membuka mata. Sepasang matanya yang
berapi-api, menatap Siau-liong sejenak lalu dipejamkan lagi.
Siau-liong baru hendak membuka mulut atau tiba-tiba
paderi itu sudah mengatupkan matanya pula. Ia bingung.
Tetapi terpaksa bersabar menunggu lagi.
Kira-kira sepeminum teh lamanya, tetap paderi tua itu diam
saja. Akhirnya Siau-liong tak sabar lagi. Segera ia berseru
pelahan, “Seng-ceng, Seng-ceng . ,.... lo-cianpwe, locianpwe....”
Rupanya paderi kurus itu memang Seng-ceng atau paderi
sakti dari Kim-ting. Ia terkejut mendengar seruan Siau-liong.
Cepat ia membuka mata dan membentak, “Kedua kacung
Hitam Putih itu?"
Siau-liong tersendat-sendat menyahut, “Mereka masih
berada diluar gua."
Seng-ceng itu mendengus, serunya pula, “Keempat kera
penjaga gua itu?"

863
Siau-liong termenung sejenak. Ia duga yang dimakud itu
tentu keempat ekor kera bulu emas.
“Aku tak melukai mereka!" sahutnya.
Tiba-tiba paderi sakti dari Kim-ting itu membentak murka,
“Nyalimu sungguh besar sekali berani menyelundup ke gua
sini!"
Pada saat Siau-liong hendak memberi penjelasan, entah
bagaimana caranya bergerak tadi, tahu2 Siau-liong merasa
empat buah jalan darah di dadanya tertutuk oleh sambaran
jari paderi sakti itu Seketika Siau-liong rasakan tubuhnya
lemas lunglai, kaki tangannya pun melentuk.
"Bluk".... rubuhlah anak muda itu dan terkapar di tanah....!
Mata paderi tua itu sejenak memancar lalu pe-lahan2
mengatup lagi.
Bukan main gelisah dan bingung Siau-liong. Diam-diam ia
memaki paderi itu sebagai seorang yang tak kenal
perikemanusiaan. Tidak mau membantu, pun tak apa. Tetapi
mengapa menyerang orang dengan cara gelap begitu. Itu
bukan tingkah laku seorang padri saleh tetapi seorang
penjahat kejam.
Karena jalan darahnya tertutuk dan kaki tangannya sakit
sekali, tubuh kaku seperti orang mati, sekali pun Siau-liong
dapat bicara tetapi tak mampu bergerak. Maka ia hanya deliki
mata memandang geram kepada paderi itu.
Tampak paderi tua itu membuka mata lagi, tegurnya,
“Mengapa engkau berani memaki-maki aku?"

864
Siau-liong seperti tersengat kala kagetnya, “Aku
memakinya dalam hati, mengapa dia tahu?" pikirnya.
Dipandangnya paderi itu dengan terpesona.
Paderi Kim-ting itu tersenyum, ujarnya, “Tak usah engkau
merasa heran. Dari sinar matamu tahulah aku isi hatimu dan
apa yang terkandung dalam pikiranmu!"
Diam-diam Siau-liong tertawa, pikirnya, “Ah, kiranya dia
hanya menduga-duga saja dari kerut wajahku."
Ia segera katupkan mata.
Saat itu masuklah kedua bocah penjaga gua tadi. Bukan
kepalang kejut melihat Siau-liong rubuh di tanah dengan jalan
darah tertutuk. Tetapi yang menggoncangkan hati kedua
bocah itu ialah mengapa pemuda itu dapat menyelundup
masuk ke dalam gua. Dari mana dan kapankah dia masuk.
Kedua bocah itu saling bertukar pandang lalu serempak
berlutut menghadap sipaderi sakti.
"Kemari!" seru paderi Kim-ting.
Kedua bocah itu ter-sipu2 bangun dan menghampiri. Mata
mereka menggeram ke arah Siau-liong. Begitu tiba di hadapan
paderi sakti, kedua bocah itu terus berseru: '“Murid harus
dihukum!" Serempak mereka berlutut.
Paderi, sakti itu mendengus dingin, “Kemanakah kalian
tadi?"
Bocah baju putih memang kawannya baju biru lalu
menjawab tersekat, “Tak pergi kemana-mana, hanya terus
berada di pintu gua....”

865
“Kalau menjaga di mulut gua, mengapa tak tahu orang
masuk kemari?" bentak paderi sakti.
Bocah baju putih tersendat-sendat menjawab; “Murid....
murid....”
Tetapi anak itu tak dapat menemukan alasan yang tepat.
Maka sampai beberapa saat ia hanya dapat berkata 'murid....
murid.... ' saja.
“Apakah kalian pergi cari burung ke bawah karang?" seru
paderi sakti pula.
Tiba-tiba bocah baju biru menyelutuk, “Tadi paman Buta
datang kemari membohongi kami dengan sebuah batu
berkilau sehingga dia dapat menyelundup kemari!"
Paderi sakti itu menyebut Omitohud pelahan, ujarnya;
"Binatang, kalian harus menerima hukuman apa?"
Tanpa ragu2 lagi sibocah baju putih berseru, “Murid rela
menghadap tembok selama 10 hari agar dapat sungguh2
bertobat!"
Paderi sakti Kim-ting mengangguk pelahan, bertanya
kepada kacung baju biru; "Engkau?"
"Murid rela tiga hari tak makan!" sahut kacung itu.
Paderi sakti Kim-ting tersenyum, “Tetapi hari ini aku
memberi kelonggaran takkan menghukum kalian!"
Kedua bocah itu terkejut dan saling berpandangan dengan
wajah girang. Buru-buru mereka menundukkan kepala sampai
ke tanah selaku memberi hormat. Setelah itu mereka berdiri
dan menghaturkan terima kasih.

866
Kemudian paderi sakti Kim-ting menunjuk ke arah Siauliong
dan suruh kedua murid supaya menggeledah badan
pemuda itu.
Kedua kacung itu segera melakukan perintah. Sekujur
badan Siau-liong habis digeledahnya. Dari badik yang terselip
dipinggang, pedang yang terpanggul dibahu dan bungkusan
pakaian yang terisi penyamaran Pendekar Laknat sampai pada
bungkusan kecil isi pil Sip-siau-cwan-soh-sin-tan semua
digeledah oleh kedua kacung itu.
Walaupun sedih dan geram, bingung dan marah, tetapi
karena jalan darahnya tertutuk, Siau-liong pun tak dapat
berbuat suatu apa kecuali hanya deliki mata memandang
perbuatan kedua bocah kacung itu.
Semua benda hasil geledahannya ditaruh dihadapan paderi
sakti Kim-ting; "Suhu. semua barang yang terdapat pada
tubuhnya telah kami ambil semua!"
Paderi sakti Kim-ting merenung sejenak lalu suruh kedua
bocah itu mengangkut Siau-liong kegua Hang Gan-li.
"Apakah suhu hendak membakarnya?" seru sikacung baju
putih terkejut.
"Jangan banyak tanya!" bentak paderi itu.
Bocah itu buru-buru mengiakan. Lalu bersama kawannya
sibaju biru mengangkut Siau-liong menyusuri dinding gunung
yang membelok kesebelah kanan.
Diam-diam Siau-liong mengeluh, “Ah, kali ini tentu tamat
riwayatku!"

867
Ia memandang dengan murka sekali kepada paderi Kimting
tetapi yang dipandang hanya tersenyum saja. Siau-liong
benci sekali kepada paderi yang pura-pura alim itu. Jika ia
sampai berhasil lolos, tentu akan diajaknya paderi itu
mengadu jiwa. Tetapi apa daya. Pada saat itu ia tak dapat
berkutik kecuali hanya deliki mata penuh dendam dan
kebencian kepada paderi itu.
Cepat sekali kedua kacung itu telah tiba dimuka sebuah
mulut gua yang gelap gulita.
"Kita lemparkan saja ke dalam! Toh dia sudah tak bakal
hidup lagi!" seru sikacung baju putih.
Kacung baju biru setuju. Setelah menggoncang-goncang
tubuh Siau-liong maju mundur beberapa kali, barulab kedua
bocah itu lemparkan Siau-liong ke dalam gua. "Bum"....
Kedua bocah itu tertawa ngikik lalu mendorong sebuah
batu karang yang berada di tepi gua, menutup mulut gua. Gua
makin gelap pekat sehingga orang tentu tak dapat melihat jari
jemarinya sendiri.
Tetapi lemparan kedua bocah itu tak sampai melukai tubuh
Siau-liong. Walaupun tubuh tak berkutik tetapi kesadaran
pikirannya masih hidup. Berkat ilmu tenaga dalamnya yang
makin sempurna, tak berapa lama ia sudah biasa akan
keadaan gua. Diperhatikannya sekeliling tempat itu. Gua
hanya kira-kira dua tombak luasnya. tapi dindingnya terdiri
dari batu-batu yang runcing.... Sepintas pandang amat
menyeramkan sekali! '
Siau-liong benar-benar kalap. Perasaannya hampir seperti
orang gila. Dia bendak berteriak tetapi tak dapat bersuara. Dia
bendak menghancurkan gua itu tetapi tak dapat berkutik. Ia
hendak lolos dan menghajar paderi Kim-ting itu tetapi

868
mengangkat tangan saja ia tak mampu. Hatinya panas seperti
dibakar.
Entah berapa lama, nafsu kemarahannya yang menyalanyala
didadanya itu makin reda. Sebagai gantinya saat itu ia
merasa berduka sekali.
Gurunya, Kongsun Sin-tho yang tertawan musuh, ibunya
yang berada diseberang laut, Tiau Bok-kun, Mawar Putih....
bayangan mereka satu demi satu mulai melintas kealam
pikirannya. Peristiwa2 yang lampau mulai membayang dalam
benaknya.
Teringat akan pertapa-sakti-mata-satu, yang jelas menjadi
suhu dari Randa Bu-san atau pewaris angkatan terdahulu dari
ilmu sakti Ya-li-sin-kang yang amat diindahkan orang
persilatan, telah memberi bantuan besar kepadanya. Karena
pertapa sakti itu memikat perhatian kedua kacung untuk main
terka, sehingga ia mendapat kesempatan untuk menyeludup
masuk ke dalam gua. Adakah pertapa sakti-mata-satu itu
mempunyai maksud sengaja hendak mencelakai dirinya?
Lalu ia teringat akan Ceng Hi totiang. Dialah yang
merupakan satu2nya tokoh yang tepat memimpin berisan
orang persilatan. Ceng Hi begitu menghormat sekali kepada
paderi sakti Kim-ting. Adakah Ceng Hi totiang itu benar-benar
tak tahu bagaimana pribadi paderi kurus dari puncak Kim-ting
yang begitu dingin dan tak kenal perikemanusiaan?
Bukankah sia2 belaka usaha Ceng Hi totiang untuk
bersusah payah merendah diri meminta bantuan paderi sinting
dari Kim-ting itu?
Makin merenung, Siau-liong makin gelisah dan tak dapat
menemukan pemecahannya.

869
Sekonyong-konyong ia merasa seperti dilanda gelombang
hawa panas. Bermula hanya ringan tetapi makin lama makin
dahsyat. Ketika memperhatikan keadaan tempat itu, kejutnya
bukan kapalang.
Ternyata hawa panas itu berasal dari dinding gua yang
mulai berbongkah-bongkah mengeluarkan asap putih. Asap itu
amat menusuk hidung karena berbau belirang.
Hawa panas makin lama makin keras. Keempat dinding gua
seakan akan membara. Asap pun makin tebal. Betapapun
tajam mata Siau-liong, namun akhirnya ia tak mampu melihat
keadaan di sekelilingnya lagi.
Kecuali panas, pun asap itu amat menyesakkan napas
sehingga ia harus ngangakan mulut lebar-lebar untuk
melakukan pernapasan.
Siau-liong hampir putus asa. Ia merasa tentu takkan hidup
lagi. Tetapi naluri sebagai manusia yang tak menyerah pada
ancaman maut, membangkit semangat hidupnya. Cepat ia
kerahkan semangat, pusatkan seluruh pikiran. Menekan hawa
darahnya yang bergolak. Ia hendak gunakan ilmu bernapas
dari Thian-kong-sin-kang untuk membuka jalan darahnya yang
tertutuk.
Tetapi sayang tindakannya itu terlambat. Jalan darahnya
yang tertutuk itu seolah-olah ditutup oleh empat batang paku
besar. Betapa keras tenaga dalam yang dipancarkan dari
perutnya, namun tetap tak mampu menjebolkan paku itu.
Ia hentikan usahanya. Napasnya terengah-engah, keringat
membanjir turun.

870
Saat itu asap mulai menipis. Demikian pula dengan hawa
panas, pun mulai berkurang. Akhirnya asap dan hawa itu
lenyap dan gua pun kembali seperti sedia kala.
Diam-diam ia mengeluh. Sejam lagi asap dan hawa belirang
itu berhamburan, ia tentu mati.
Pikirannya melayang pada Ceng Hi totiang dan rombongan
tokoh2 persilatan. Entah bagaimana keadaan mereka saat itu!
Tetapi apabila terjadi pertempuran, akibatnya mudah diduga.
Ceng Hi totiang dan rombongannya pasti sudah dihancurkan
oleh kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia.
Dalam keadaan tak berdaya seperti saat itu, terpaksalah
Siau-liong kembali pada keputusannya tadi. Ia harus
merenungkan ini pelajaran ilmu Thian-kong-sin-kang lagi.
Kitab pusaka itu benar-benar menyerupai laut yang lidak dapat
diukur dalamnya. Begitu membenamkan pikiran menjelajah isi
kitab Thian-kong-sin-kang, iapun segera lelap dari alam
kesunyian yang hampa dari Ke-akuan.
Ia berusaha untuk merenungkan arti dan kegunaan dari
intisari pelajaran Thian-kong sin-kang antara lain mengenai
apa yang disebut Semangat, hati, keinginan, pikiran, gerakan,
ketenangan, kehampaan dan isi.
Entah berapa lama ia tenggelam dalam laut pencarian
rahasia kitab Thian-kong-sin-kang itu, tiba-tiba gua mulai
terasa dingin. Bermula masih dapat ditahan tetapi makin lama
makin menggigilkan tubuh. Ia rasakan'seperti dibenam dalam
sungai es, sehingga darahnya serasa membeku.
Tetapi saat itu ia masih bergulat untuk memeras otak
memecahkan isi kitab Thian-kong-sin-kang. Betapa hebat
hawa dingin itu menyerang, ia masih dapat bertahan.

871
Kira2 sepeminum teh lamanya, hawa dingin itu pun
mereda. Tetapi sebagai gantinya, memancar pulalah hawa
panas yang tadi.
Dari dingin mendadak berganti panas, walau pun orang
yang memiliki tubuh baja sekalipun, tentu sukar bertahan.
Apalagi seperti Siau-liong yang jalan darahnya masih tertutuk.
Dia benar-benar seperti sam-sing atau ayam sesaji
sembahyangan.
Tetapi dalam penderitaan yang hebat itu, Siau-liong
menemukan sesuatu yang belum pernah dimilikinya. Suatu
tenaga sekokoh baja yang tak tergoyahkan. Walaupun
jasmaniah ia menderita siksaan yang sedemikian hebat, tetapi
dalam rohaniah ia telah mendapat suatu rasa kesadaran yang
tenang. Ia tetap terlelap dalam lautan ilmu sakti yang sukar
dipelajari.
Dalam pada itu perobahan hawa dalam gua tetap
berlangsung sampai berulang kali. Dingin mendadak berobah
panas. Panas tiba-tiba berganti dingin.
Keadaan itu telah berlangsung sejam lamanya, Siau-liong
seperti digodog dalam kawah gunung berapi lalu dilemparkan
ke dalam sungai es....
---ooo0dw0ooo---
Jilid 16
Katak berkaki tiga

872
Pada permulaan, rasa dingin panas yang saling bergantian
secara mendadak itu, benar-benar menyiksa Siau-liong. Tetapi
lama kelamaan ia menjadi kebal. Dan anehnya, rasa sakit
dalam tubuhnya pun lenyap.
Pelahan-lahan pikirannya pun tenang kembali. Ia merasa
dalam waktu sejam itu telah mengalami perobahan besar
sekali. Beberapa bagian dalam kitab pusaka Thian-kong-sinkang
yang sukar dimengerti, saat itu sebagian besar sudah
dapat difahami artinya.
Pelajaran yang mengemukakan tentang sifat2 Semangat,
Mati, Keinginan dan Pikiran yang tak dapat diselaminya selama
ini, saat itu satu demi satu sudah dapat merabah intisarinya.
Diam-diam Siau-liong terkejut girang. Tak tahu ia sampai
berapa jauhkah ia dapat mengerti isi kitab pusaka itu. Tetapi
yang jelas, ia merasa kepandaiannya amat dangkal sekali,
sebelum memahami isi kitab pusaka itu.
Diam-diam ia geli atas tingkah laku paderi tua dari puncak
Kim-ting itu. Paderi itu hendak menghukumnya mati. Tetapi
tanpa disadari, hukuman pembakaran api dan membenamkan
dalam es itu, telah mendorong pikirannya untuk memecahkan
intisari dari bagian2 pelajaran yang sukar dari kitab pusaka
Thian-kong-pit-kip.
Tengah ia terbenam dalam renungan tiba-tiba ia dikejutkan
oleh bunyi mendesis-desis yang mendatangi ke arah
tempatnya. Buru-buru ia curahkan perhatian untuk
mendengarkan bunyi itu.
Ia tersirap kaget ketika melihat di atas dinding gua sebelah
kanan, tiba-tiba muncul seekor ular besar. Kepala ular itu
tumbuh jambul merah dan tubuhnya bergariskan kembang2
warna hitam biru. Jelas tentu seekor ular ganas.

873
Rupanya ular itu sudah mencium bau tempat beradanya
Siau-liong. Maka pelahan-lahan ia merayap menghampiri.
Sudah tentu Siau-liong kaget setengah mati. Saat itu jalan
darahnya sedang tertutuk, tak dapat berkutik. Bukankah ia
akan mati digigit ular berbisa itu?
Tetapi pada jarak masih terpisah dua meter dari tempat
Siau-liong, ular itu pun berhenti. Binatang itu gerak-gerakkan
kepala dan mengebas-ebas ekor seraya berbunyi mendesisdesis.
Dalam menghadapi suasana yang seram akan datangnya
maut, Siau-liong sudah kehabisan daya.
Satu-satunya jalan ialah mengerahkan seluruh tenaga dan
serentak ia terus berguling-guling ke samping. Dua kali ia
bergulingan dan telah tiba di bawah dinding gua sebelah kiri.
Tetapi alangkah kejutnya ketika memandang ke dalam,
ternyata ular itu masih merayap mengikutinya.
Kepalanya yang diangkat sampai setengah meter ke atas,
memancarkan sinar mata yang berapi api.
Karena gugup, Siau-liong menggembor keras dan
menyambar kepala ular itu. Terus dilontar ke muka. "Bluk"....
lontaran Siau-liong bukan olah2 kuatnya sehingga kepala ular
itu pecah berhamburan.
Setelah tenangkan hati, cepat ia berbangkit dan hampir
saja ia berteriak kaget. Karena dicengkeram oleh rasa tegang,
ia sampai lupa bahwa seharusnya ia tak dapat membunuh ular
itu karena jalan darahnya masih tertutuk. Tetapi ternyata ia

874
dapat bergerak bebas. Lalu bilakah jalan darahnya yang
tertutuk itu terbuka?
Ah, segera ia teringat apa yang terjadi. Tentulah ketika ia
kerahkan tenaga dan berguling-guling diri di tanah tadi, jalan
darahnya itu terbuka sendiri.
Bukan mainlah girangnya saat itu. Cepat2 ia duduk
menyalurkan napas. Dirasakannya darah mengalir dengan
lancar, tenaga dalam pun mulai bergolak. Hawa panas dalam
perut, mengalir keseluruh tubuh.
Beberapa saat kemudian iapun bangun. Dipandangnya
keadaan dalam gua itu dengan seksama. Tampak pintu gua
yang tertutup, terdapat beberapa celah2 yang tidak rata
bentuknya. Segera ia kerahkan tenaga dan coba2 untuk
mendorong pintu itu. Ah, berat benar. Hampir ia merasa tak
kuat lagi mendorongnya. Tetapi karena gugup, ia terpaksa
mencobanya lagi.
Krek.... ternyata pintu itu mulai bergerak. Siau-liong girang
sekali dan segera tambahkan tenaganya untuk mendorong.
Krek, krek.... pintu batu itupun terbuka sampai setengah
meter lebarnya.
Dengan bersuit panjang, ia cepat loncat keluar. Tetapi
sebelum sempat melihat keadaan di sekeliling, tiba-tiba
terdengar suara orang tertawa gelak-gelak, “ Omitohud!
Dorongan itu paling tidak tentu beribu-ribu kati tenaganya,
Rupanya bukannya mati tetapi engkau malah mendapat rejeki
besar!"
Siau-liong mengangkat muka dan melihat paderi Kim-ling
tegak berdiri setombak dari gua situ. Saat itu barulah Siauliong
dapat melihat jelas roman muka paderi itu. Seorang
paderi tua yang bertubuh tinggi kurus. Jubahnya penuh

875
dengan tambalan, sepatu rumput. Sepasang matanya besinarsinar
tajam sekali. Tetapi tak dapat diketahui bagaimana
sikapnya saat itu. Girangkah atau marah?
Siau-liong mendengus dingin. serunya, “Paderi tua,
mungkin engkau tak pernah menyangkanya....”
Ia tampil dua langkah dan membentak, “Aku tak punya
dendam permusuhan suatu apa kepadamu. Mengapa engkau
terus menerus mendesak hendak membunuh aku?"
"Menyelundup ke dalam gua dan hendak mengambil katak
berkaki tiga. Apakah dosa itu tak layak dihukum mati?"
Siau-liong tertawa hatinya. Kemarahannyapun reda, “Sekali
pun belum lama berkelana dalam dunia persilatan, tetapi
seumur hidup aku belum pernah mencuri milik orang....”
Ia berhenti sejenak, berkata pula, “Kedatanganku kemari
memang benar-benar hendak meminta katak mustika itu.
Tentu soal menyelundup ke dalam gua, adalah karena kedua
murid lo-siansu tak mau memberitahu kepada lo-siansu!"
Paderi Kim Ting tertawa, “Katak kaki-tiga itu merupakan
binatang ajaib penunggu gua. Dengan tindakanmu yang liar
dan kasar itu bagaimana engkau hendak memperoleh katak
itu?"
Siau-liong berseru lantang, “Kedua suami isteri Iblispenakluk-
dunia dan Dewi Neraka telah mengganas dunia
persilatan karena ingin menguasainya. Sekalian tokoh-tokoh
gagah dalam dunia tiada yang mampu menandingi dan
terpaksa menyerah. Mereka kini berkumpul di puncak Kim
Ting sini. Saat ini merupakan detik2 yang menentukan mati
hidupnya dunia persilatan. Kedatanganku untuk meminta
katak mustika itu sama sekali bukan untuk kepentinganku

876
peribadi melainkan untuk menyelamatkan nasib dunia
persilatan....”
Wajah Siau-liong berobah tegang dan nada suaranya pun
makin rawan. Sejenak menghela napas ia berkata pula,
“Apabila kedua suami isteri iblis itu benar-benar dapat
menguasai dunia persilatan, mungkin lo-siansu pun tak dapat
duduk dengan tenang dalam gua ini!"
Paderi Kim Ting tertawa, “Selama ini aku tak mau ikut
campur pergolakan dunia persilatan. Dan kali inipun tak
terkecuali."
“Aku bukan hendak memohon lo-siansu ikut campur urasan
dunia persilatan tetapi hanya hendak mohon katak berkakitiga
itu....” cepat Siau-liong menukas.
“Itupun sukar.... ," paderi Kim Ting berhenti lalu dengan
mata berkilat-kilat ia berkata, “walaupun hawa dingin panas
dalam gua itu tadi dapat membunuhmu tetapi untuk keluar
dari gua ini, bukanlah suatu hal yang mudah bagimu. Maka
tak perlu engkau hendak minta katak mustika itu!"
Siau-liong terbeliak kaget. Memang apa yang dikatakan
paderi itu benar. Menilik ilmu tutukan jalan darah dari paderi
itu saja, tahulah ia bahwa paderi itu memang sudah mencapai
tataran tinggi kepandaiannya.
Jika paderi itu benar hendak membunuhnya, tentu sukar
baginya untuk lolos. Dalam keadaan begitu percumalah ia
hendak minta katak mustika segala macam....!
"Maksud lo-siansu hendak menghukum mati aku?" katanya
beberapa jenak kemudian.

877
Paderi kurus itu tersenyum, “Hal itu tergantung bagaimana
kepandaianmu nanti!"
Siau-liong marah sekali. Ia benar-benar tak dapat
mengendalikan diri dan membentak dingin, “Semula kukira
engkau seorang paderi luhur. Oleh karena itu aku selalu
bersabar untuk mengalah. Hendaknya engkau harus
mengetahui. bahwa sekali pun umurku masih begini muda
tetapi aku adalah pewaris dari ilmu sakti Thian-kong-sinkang."
Paderi kurus itu teriawa keras, “Ilmuku sakti Ih-kah-sinkang,
tiada lawannya di dunia. Satu-satunya yang mampu
mengimbangi ilmuku itu hanyalah Thian-kong-sin-kang. Tetapi
itu pun harus dilihat sampai dimana tingkat pelajaran orang
yang mempunyai Thian-kong-sin-kang itu!"
Sejenak paderi itu memandang Siau-liong tajam-tajam lalu
tiba-tiba membentak, “Hayo, bertempur!"
Siau-liong mendengus dingin terus hendak menghantam
tetapi tiba-tiba benaknya terlintas sesuatu dan menurunkan
tangannya lagi.
"Hm, takut kepada paderi tua ini?" ejek paderi Kim Ting
Siau-liong tertawa dingin, “Seumur hidup aku tak pernah
mengenal kata2 takut! Hanya ingin sekali lagi kujelaskan,
bahwa maksudku hendak meminta katak mustika itu bukanlah
untuk kepentingan diriku peribadi melainkan untuk menolong
seluruh tokoh persilatan yang sedang terkurung di puncak Kim
Ting. Keempat tokoh pewaris dari empat macam ilmu saktipun
telah ditawan oleh Iblis-penakluk-dunia, maka akupun
sesungguhnya tak mempunyai selera bertempur dengan
engkau!"

878
Paderi itu deliki mata dan tertawa, “Budak! Kecerdasanmu
sebagai seorang setan cilik memang boleh juga” -ia berhenti
sejenak lalu: ”Dengan cara bagaimanakah supaya dapat
kubangkitkan seleramu bertempur dengan aku?"
Mata Siau-liong sejenak berkeliaran lalu berkata, “Jika aku
sampai kalah, terserah saja bagaimana lo-siansu hendak
menghukum diriku. Tetapi bila aku beruntung menang....”
Paderi Kim Ting cepat tertawa menukas, “Asal engkau
mampu menangkan aku, katak berkaki-tiga itu pasti akan
kuberikan kepadamu!"
"Apakah lo-siansu takkan menyesal?"
Siau-liong berdebar-debar menunggu kesempatan itu.
Memang ia tak mempunyai harapan besar untuk
memenangkan pertempuran itu namun iapun tak lekas putus
asa untuk menyerah. Mudah-mudahan nasib akan membawa
perobahan baik kepadanya.
Paderi itu membentak, “Huh, engkau kira aku seorang yang
tak dapat dipercaya?"
Siau-liong terkejut. Dilihatnya sepasang mata paderi kurus
itu berapi-api. Wajahnya tidak menampil kemarahan tetapi
kewibawaan yang menonjol, sehingga Siau-liong merasa kecil
diri.
Sekalipun ia tak dapat memastikan dapat mengalahkan
paderi itu. tetapi karena keadaan sudah mendesak, maka
bagaimanapun juga ia harus mencoba dengan sekuat
tenaganya. Apabila ia beruntung dapat menang, ia akan
memperoleh katak mustika yang amat diperlukan untuk
pembuatan pil Sip-siau-cwan-soh-sin-tan. Pil yang akan
menolong para tokoh2 dari kebiusan.

879
Dengan tujuan itu, longgarlah hati Siau-liong. Sekalipun ia
mati dalam pertempuran dengan paderi Kim Ting itu, tak
apalah. Ia serahkan saja pada nasib.
Dengan kebulatan tekad yang pasrah itu, ia segera
salurkan tenaga dalam bersiap-siap.
Wajah paderi sakti dari Kim Ting itu tetap tenang sekali.
Kakinya pun bebas tak mengunjukkan persiapan apa2. Tetapi
sekali pun begitu, paderi itu memancarkan perbawa yang
menggetarkan hati orang.
Setelah mengempos semangat, berserulah Siau-liong
dengan nada serius, “Silahkan lo-siansu mulai!"
Paderi sakti itu tersenyum, ujarnyy, “Berkelahi dengan
engkau masakan aku masih menginginkan menyerang lebih
dulu?"
Siau-liong menyadari bahwa paderi itu memang sakti
sehingga tak memandang mata kepadanya. Diam-diam ia
girang karena paderi itu menghendaki supaya diserang lebih
dulu.
"Kalau begitu maafkan aku berlaku kurang hormat!"
serunya tertawa lalu balikkan tangan kiri dan pelahan-lahan
diarahkan kepada paderi itu. Aneh sekali gerakan Siau-liong
itu. Seperti menghantam tetapi pun seperti menutuk. Seperti
mencengkeram tetapi pun seperti menampar. Suatu gerakan
tangan yang memungkinkan seribu akibat.
"Budak! Gerakanmu itu hanya gertakan kosong, masakan
engkau mampu mengelabuhi aku!" seru paderi Kim Ting
tertawa. Ia tak mau bergerak sama sekali dari tempatnya dan
seolah-olah tak mengacuhkan tangan Siau-liong.

880
Siau-liong terkejut. Ia heran mengapa lawan tahu gerak
serangannya itu kosong. Tetapi secepat kilat ia terus gerakkan
tangan kanan dengan jurus Hun-hoa-hud-liu untuk
mencengkeram siku lengan kiri dari paderi itu.
Namun paderi itu tetap tertawa lepas dan tak mau bergerak
dari tempatnya berdiri.
Diam-diam Siau-liong girang. Ia tambahi tenaga dalam
pada tangan kanan untuk mencengkeram lengan sipaderi.
Pikirnya, “Karena engkau tak mau menghindar dan
menangkis, rupanya Tuhan memang menghendaki aku
menang!"
Tetapi alangkah kejutnya ketika ia merasa tentu dapat
mencengkeram tangan orang, tiba-tiba entah bagaimana. ia
mencengkeram angin kosong. Jangankan siku lengan, bahkan
ujung baju paderi itupun tak mampu dijamahnya.
Dan ketika memandang kemuka, dilihatnya paderi kurus itu
masih tegak di tempatnya. Tampaknya ia tak berkisar sama
sekali.
Kejut Siau-liong bukan kepalang, pikirnya, “Adakah paderi
ini menggunakan ilmu setan?"
Tengah ia terlongong, tiba-tiba paderi sakti itu tertawa,
“Menyerang dengan dahsyat, termasuk ilmu tingkat
rendah....!"
Berhenti sejenak ia berkata pula, “Budak, adakah begitu
jelek engkau mempelajari ilmu Thian-kong-sin-kang itu?"
Siau-liong tersipu malu. Diam-diam ia makin terkejut dan
menyadari bahwa yang dihadapinya itu benar-benar seorang

881
paderi yang berilmu tinggi. Jelas pertempuran itu nanti sia2
belaka.
Tetapi ucapan paderi itu menyadarkan Siau-liong akan
beberapa kenyataan. Bahwa selama digodok dalam gua
dengan hawa dingin panas. ia berhasil memecahkan beberapa
pelajaran sulit dalam kitab Thian-kong-pit-kip.
Walaupun ilmu tersebut kebanyakan tergolong pada ilmu
Nafas dan tampaknya tiada hubungannya dengan ilmu
pukulan dan tutukan, tetapi otak Siau-liong yang cerdas
segera dapat menyadari.
Thian-kong-sin-kang adalah suatu ilmu ajaran yang
mengutamakan Sin (semangat). Bahwa selama dalam gua tadi
dengan susah payah ia berhasil memahami pelajaran2 tentang
Semangat, Hati, Keinginan, Pikiran, Gerakan, Ketenangan,
Kosong dan Isi. Mengapa saat itu ia tak menggunakan apa
yang diketahui itu? Siapa tahu kemungkinan hal itu
merupakan inti dari pelajaran Thian-kong-sin-kang.
Maka tersenyumlah ia berkata, “Harap lo-siansu jangan
menertawakan, berhati-hatilah!"
Pada saat itu ia tetap bergerak dalam jurus Hun-hua-hudliu
untuk mencengkeram pergelangan tangan kiri paderi Kim
Ting.
Tiba-tiba paderi Kim Ting tertawa gelak2, “Ho-la! Thiankong-
sin-kang memang benar-benar bukan ilmu picisan!"
Siau-liong terkejut sekali. Baru pikirannya merencanakan
untuk mengembangkan Semangat, Hati, Keinginan, Pikiran
dan lain-lain dalam jurus Hun-hua-hud-liu, tahu2 lengan kanan
paderi itu telah dapat dicengkeramnya.

882
Ia benar-benar tak menyadari bahwa lupa kalau sedang
bergerak dalam jurus itu. Karena tercengang kejut ia sampai
lupa untuk menggunakan tenaga menggenggam lengan
orang.
Paderi Kim Ting tertawa. Lengan kirinya tiba-tiba
memancar tenaga dalam sehingga separuh tubuh Siau-liong
terasa kesemutan dan tangan kanannya terlempar gemetar.
Tangannya itu serasa diborgol dengan rantai. Kiranya paderi
King Ting balas mencengkeram pergelangan tangannya.
“Ho, dari kalah jadi menang!" paderi itu tertawa keras.
Siau-liong terkejut. Cepat ia kerahkan tenaga dalam ke
arah pergelangan tangan. Tetapi walau pun kelima jari paderi
itu amat kurus sekali, namun kuatnya tak kalah dengan baja.
Karena Siau-liong menggempur dengan tenaga dalam, tenaga
dalam itu terhalau balik dan hampir saja menghancurkan isi
dadanya sendiri.
"Habislah riwayatku sekarang!" diam-diam Siau-liong
menghela napas.
Tiba-tiba paderi itu membentaknya, “Goblok! Apakah
engkau tak tahu apa yang disebut Menyerang untuk menindas
serangan? Adakah ilmu dasar itu tak dapat engkau gunakan?"
Serentak Siau-liong seperti orang yang dibangunkan dari
mimpi. Ia mengeluh dalam hati mengapa tak ingat akan cara
itu. Maka cepat ia rentangkan kelima jari kiri dan menutuk
dada lawan. Gerakan itu berlangsung serempak dengan
Angan-angannya. Benar-benar suatu perpaduan antara
keinginan dan Gerakan tangan.
Karena terdesak, paderi Kim Ting terpaksa miringkan
tubuh, Tetapi secepat itu kelima jari Siau-liong pun ditarik

883
mundur lalu dirobah untuk memapas pergelangan tangan
sipaderi.
Paderi Kim Ting tertawa gelak2. Ia lepaskan tangan kirinya
lalu mundur tiga langkah, serunya, “Bahan yang boleh
dijadikan....!"
Siau-liong tertegun.
Ia merenungkan pertempurannya lawan paderi Kim Ting
itu. Begitu bergebrak sudah dikuasai paderi itu. Bila paderi itu
tak memberi petunjuk, mungkin ia tentu sudah kalah.
Tiba-tiba paderi itu berkata pula, “Walaupun tak pernah
berkelana di dunia persilatan tetapi kupercaya ilmuku Ih-kasin-
kang itu pasti tak ada orang yang mampu bertahan sampai
tiga jurus. Menilik usiamu yang masih muda tetapi mampu
bertanding seri dengan aku, engkau benar tak mengecewakan
dirimu sebagai pewaris Thian-kong-sin-kang Sejenak
mengicup mata, paderi itu melanjutkan pula, “Karena belum
tahu menang atau kalah, kali ini kulanggar peraturan untuk
memberi ampun kepadamu. Tetapi jangan harap engkau
mampu mendapat katak mustika itu....! lekas keluar dari gua
ini!"
Siau-liong malah maju selangkah lalu berlutut di hadapan
paderi itu, “"Sungguh mataku tak dapat melihat gunung
Thaysan, Bila perbuatanku tadi ada yang kurang ajar, harap
losiansu sudi maafkan....”
Saat itu ia telah menyadari tujuan paderi Kim Ting yang
baik. Sambil memaki dirinya yang tolol, ia melanjutkan
ucapannya menghaturkan terima kasihnya, “Atas petunjuk
yang lo-cianpwe berikan, wanpwe.... ,"

884
"Engkau keluar sendiri atau harus kuhalaumu? " tukas
paderi sakti itu dengan wajah beku.
Siau-liong tertegun, sahutnya, “ Biarlah aku pergi sendiri!
Tetapi....” —ia pelahan-lahan berbangkit, serunya, “Barang
bekalku yang diambil oleh kedua sian-tong tadi, harap lo
cianpwe suka mengembalikan!"
"Masakan aku sudi mengambil barangmu!" bentak paderi
itu dengan marah seraya ayunkan tangannya.
Saat itu Siau-liong sudah tak punya prasangka jelek kepada
paderi Kim Ting. Dan pukulan paderi itu sama sekali tak
mengeluarkan suara. Pada saat Siau-liong terkejut, tubuhnya
sudah dilanda oleh gelombang tenaga dahsyat. Untunglah
tenaga itu amat lunak sehingga tak melukai tubuh Siau-liong.
sekalipun begitu Siau-liong terpental sampai lima enam
tombak jauhnya....
Ketika ia berdiri tegak barulah menyadari bahwa dirinya
sudah berada di luar gua.
Kedua bocah baju biru dan putih, melesat keluar gua.
Dengan pandang dingin mereka menatap Siau-liong sejenak
lalu menekan tepi pintu gua. Terdengar bunyi berderak-derak
dan dari kedua tepi, meluncurlah sekeping pintu batu,
menutup gua rapat2.
Siau-liong menghela napas panjang. Ia tegak terlongonglongong.
Tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya
lembut, “Siau-liong! Siau....”
Siau-liong terkejut dan berpaling. Ketika memandang
seksama, kejutnya bukan kepalang. Tampak si dara Song Ling
tegak di sampingnya sambil menatap dengan pandang

885
bertanya. Sedang Kakek Mata-satu masih duduk dua tombak
jauhnya dari pintu gua, tersenyum-senyum tak berkata apa2.
Bertanya Siau-liong gopoh, “Nona Song, bagaimana dengan
Ceng Hi totiang dan rombongannya. Saat ini....”
Song Ling menunjuk ke sebelah jauh, “Mereka berada
disana!"
Sambil memandang ke arah yang ditunjuk si dara, Siauliong
bertanya pula, “Apakah mereka tak bertempur lawan
kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia?"
Song Ling gelengkan kepala, “Agaknya tidak....” —
kemudian dara itu bertanya, “Bagaimana dengan katak
berkaki-tiga? Apakah sudah engkau peroleh?"
Siau-liong menghela napas, “Ah, paderi itu memang
berwatak aneh sekali, sukar dirabah hatinya....”
Dalam pada berkata-kata itu, ia sudah tiba dihadapan si
Kakek Mata-satu. Ia lalu menuturkan semua pengalaman yang
dialaminya.
Song Ling kerutkan batang hidung, “Kalau begitu, paderi itu
memang tak dapat diajak berunding dengan baik2. Dia tak
mau memberikan katak mustika itu sih tak apa. Tetapi
mengapa masih menahan barang2 orang dan menyiksa orang
begitu rupa....!"
Kemudian dengan pandang menggeram, dara itu berpaling
ke arah kakek gurunya, “Bukankah sucou mengatakan sering
mengunjungi dan bermain catur dengannya? Mengapa sucou
tak menemuinya dan mendampratnya!"

886
Siau-liong tertawa, “Tetapi paderi sakti itu memang tak
kecewa sebagai seorang paderi yang luhur. Walaupun aku
disiksa setengah hari dijebluskan dalam gua, tetapi aku
memperoleh manfaat yang tak sedikit!"
"Apakah dia memberi petunjuk ilmu silat kepadamu?" tanya
Kakek Mata-satu.
Siau-liong mengangguk, “Boleh dianggap begitulah."
"Apakah sekarang ia merasa akan mampu menghadapi
keroyokan keempat tokoh pewaris ilmu sakti itu?"
"Ini.... ini aku tak berani memastikan. Dan lagi....” Siauliong
banting kaki menghela napas, “Dan lagi, guruku dan lainlain
tokoh masih dikuasai kedua suami isteri iblis itu. bahkan
obat-obatan dan resep2 berharga pemberian guruku juga
turut hilang.Sekalipun aku dapat melawan keempat pewaris
ilmu sakti mitu, tetapi apa gunanya? Apakah suruh aku
menjadi seorang murid yang mencelakai guru?
Habis berkata hidungnyapun lembab, beberapa air mata
menitik turun.
Song Lingpun dengan cemas memegang ujung baju kakek
gurunya, “Cousu-ya, harap engkau lekas mencari daya!
Apakah engkau benar-benar tak memikirkan nasib ibuku?"
Kakek Mata-satu itu mengelus-elus bahu si dara seraya
menghiburnya, “Nak, jangan ributlah...."
Kemudian memandang ke langit, kakek mata satu itu
melanjutkan, “Sekarang hari masih pagi. Walaupun kedua iblis
itu hendak mengadakan rencana apa saja, tetapi tentu akan
menunggu sampai tengah malam. Baiklah kita tunggu saja
bagaimana perkembangannya nanti. Kurasa paderi kurus itu

887
tentu tak berhenti sampai disini. Mungkin....” — ia mengeluselus
jenggotnya yang panjang dan berdiam diri.
Sepasang mata dara itu berkaca-kaca dan sandarkan
kepalanya pada bahu kakek gurunya.
Saat itu matahari sudah condong ke barat Siau-liong
mempertajam pendengarannya. Dari atas puncak Kim Ting,
terdengar suara batu berdebak-debuk berjatuhan tetapi tak
terdengar suara orahg.
Beberapa saat kemudian, bertanialah Siau-liong dengan
heran, “Sedang sibuk apakah Ceng Hi totiang dan
rombongannya itu?"
"Sedang sibuk membuat panggung yang akan
dipergunaKan Iblis-penakluk-dunia untuk mengumumkan
pengangkatan dirinya sebagai pemimpin dunia persiatan!"
sahut Kakek Mata-satu.
Siau-liong terkejut, “Apakah Ceng Hi totiang takut mati
sehingga rela diperbudak kedua iblis itu?"
Kakek Mata-satu tertawa, “Justeru kebalikannya! Tindakan
Ceng Hi totiang itu hanya sebagai siasat untuk menunggu bala
bantuan....” — kemudian menatap dengan pandang rawan ke
arah Siau-liong, Kakek Mata-satu berkata pula, “Mereka telah
melihat engkau masuk ke dalam gua maka seluruh harapan
mereka tertumpah padamu. Yang mereka harapkan sebagai
bala bantuan tak lain ialah engkau dapat mengajak paderi Kim
Ting itu keluar dari guanya!"
Siau-liong menghela napas, “Kalau begitu yang mereka
harapkan, akan sia2 saja harapan mereka! Sedang katak
berkaki-tiga saja dia tak mau memberikan apalagi disuruh
keluar membantu!"

888
Kakek Mata satu tetap tertawa, “Walaupun dengan cara
menyiksa dirimu itu memang agak keterlaluan tetapi hal itu
dapat membuatmu dalam waktu yang singkat, mengetahui
pelajaran2 yang sukar dalam kitab Thian-kong-pit-kip.
Bukankah itu berarti dia sudah memberi bantuan?"
Siau liong terbeliak kaget. Diam-diam ia mengakui ucapan
kakek buta itu memang tepat. Dipandangnya kakek itu tanpa
berkata apa2. Tetapi dalam hati, penuhlah tanda tanya yang
beraneka macamnya.
Tiba-tiba terdengar suara berderak-derak. Siau-liong
terkejut dan buru-buru memperhatikan ke arah gua. Pintu gua
yang tadi menutup rapat, tiba-tiba berderak-derak terbuka
pelahan-lahan.
"Kutahu paderi kurus itu bukan manusia yang temaha pada
harta orang .... (tak terbaca)....” Kakek Mata satu tersenyum
Kedua bocah baju biru dan putih membawa beberapa
barang dan dengan tersenyum simpul melangkah ke tempat
Kakek Mata-satu.
Bukan kepalang kejut Siau-liong saat itu. Yang dibawa
kedua bocah itu bukan lain adalah barang2 miliknya ialah alat
penyamaran sebagai Pendekar Laknat. Jelas kedua bocah itu
telah membuka buntalannya dan mengeluarkan topeng
berwajah Pendekar Laknat dengan rambut palsu, sepasang
alis tebal dan sebuah hidung merah. Topeng berwajah
Pendekar Laknat yang seram itu dibawa oleh sibocah baju
biru.
Begitu tiba di depan Siau-liong, kedua bocah itu lalu
lemparkan benda itu sepotong demi sepotong, serunya,
“Cobalah cocokkan, apakah ada yang kurang?"

889
Sambil membawa topeng Pendekar Laknat, bertanyalah
bocah baju biru, “Perlu apa engkau membawa benda begini
macam? Apakah engkau hendak menyaru jadi setan untuk
menakuti orang?"
Siau-liong cepat merebut topeng itu, jawabnya, “Mengapa
engkau berani sembarangan memeriksa buntelan bekalku?"
Bocah baju biru terkesiap, serunya gopoh, “Sebuah topeng
setan macam itu, siapa sudi mengambilnya!"
Siau-liong tahu bahwa si dara Song Ling benci setengah
mati kepada Pendekar Laknat. Apabila topeng itu sampai
diketahui Song Ling tentu akan menimbulkan pertanyaan yang
runyam. Maka cepat2 ia segera membungkusnya lagi.
Tetapi terlambat. Song Ling sudah melihat semua. Cepat ia
melengking, “Apa itu?"
Siau-liong tertawa meringis, “Tidak apa2! Hanya barang
permainanku dahulu!"
“Berikan padaku!" bentak Song Ling, seraya terus
merebutnya.
Siau-liong tak dapat berbuat apa2 kecuali membiarkan
benda itu direbut si dara.
“Rebutlah sepuas hatimu! Masakan benda macam muka
setan begini, hendak kalian rebutkan?" bocah baju biru
tertawa mengikik.
Sebaliknya bocah baju putih berkata kepada Kakek Matasatu,
“Suhu tahu kalau engkau tentu sibuk hari ini maka beliau
tak mau mengundangmu bermain catur!"

890
“Benar," sahut Kakek Mata-satu, “aku harus menemaninya
bermain-main sehari penuh. Sampaikan terima kasihku
kepadanya!"
Setelah saling bertukar pandang, kedua bocah itu segera
minta diri.
Karena topeng Pendekar Laknat direbut Song Ling, hati
Siau-liong gelisah resah. Selekas kedua bocah itu pergi, buruburu
ia memeriksa obat2 pemberian gurunya, Kongsun Sintho.
Ia terkejut melihat bungkusan obat itu menyurut kecil
sekali. Tentulah sudah dibuka orang. Dan lebih terkejut pula
ketika ia membuka bungkusan itu. Obat2 pemberian gurunya
telah lenyap semua. Dan pada buntelan itu hanya terisi
sebuah ho-lou atau buli2 berwarna kuning emas. Dalam buli2
itu berisi 20 butir pil warna hitam.
Dari kaget, berobahlah hati Siau-liong menjadi rasa girang
yang tak terkira. Sambil memegang buli2 pil itu, ia berseru
tersendat-sendat, “Ini.... ini....” - walaupun hatinya dapat
menduga tetapi ia tak berani mengatakan dengan pasti.
Kakek Mata satu tertawa, serunya, “Paderi seorang paderi
luhur. Tak mungkin ia sampai hati melihat keadaan ini. Pil itu
tentu pil Sip-siau-cwan-soh-sin-tan yang dibuatnya untuk
diberikan kepadamu!"
Sambil memandang ke arah gua yang pintunya sudah
tertutup lagi, Siau-liong menyatakan hendak menghaturkan
terima kasih kepada paderi itu. Tetapi Kakek Mata-satu
menertawakannya, “Sejak kecil dia sudah masuk menjadi
paderi. Dan saat ini dia sudah tak mau campur tangan urusan
duniawi lagi. Perlu apa engkau menggaturkan terima kasih
kepadanya?"

891
Memandang kepada kakek itu, diam-diam Siau-liong
membenarkan. Katanya dalam hati, “Ya, benar, paderi Kim
Ting itu sudah tak menghiraukan urusan dunia lagi. Percuma
menghaturkan terima kasih kepadanya. Lalu bagaimana
caraku membalas budi kepadanya?"
Berkata pula Kakek Mata-satu, “Paderi tua itu paling gemar
bermain catur. Jika senggang akan kutemani dia bermain
catur dan akan kukatakan kepadanya bahwa aku mewakili
engkau untuk membalas budinya. Tetapi....” — tiba-tiba ia
berhenti sejenak lalu tertawa, “Aku mempunyai sebuah urusan
yang hendak kuminta engkau meluluskan lebih dulu."
"Apapan juga, harap lo-cianpwe bilang. Asal mampu
melakukan, tentu akan kukerjakan sekali pun harus masuk ke
dalam lautan api!"
"Ah, tak begitu serius. Soal itu.... ," Kakek Mata-satu
tertawa penuh arti, "pokoknya tentu membawa kebaikan
kepadamu. Tak perlu harus menerjang lautan api karena
cukup aman."
"Soal apakah itu?" Siau-liong makin heran.
Kakek itu gelengkan kepala tertawa, “Rahasia alam tak
boleh dibocorkan. Yang penting engkau mau meluluskan atau
tidak?"
Siau-liong memandang kakek itu makin tak mengerti,
“Bilakah lo-cianpwe menghendaki aku melakukan hal itu?"
"Paling cepat pun nanti setelah kedua suami isteri iblis itu
sudah terbasmi!"
Siau-liong mengangguk dan menyatakan persetujuannya.

892
Dengan wajah mengerut serius, Kakek Mata-satu itu
berkata, “Pernyataan dengan mulut, tiada jaminannya. Harap
engkau mengangkat sumpah!"
Tanpa banyak keraguan lagi Siau-liong terus mengikrarkan
sumpah, “Apabila aku menyesal atas apa yang kusetujui itu,
biarlah aku mati ditumpas Allah!"
"Bagus!" Kakek Mata-satu tertawa, "sumpah itu cukup
gawat dan dapat dipercaya!"
Siau-liong tak menghiraukan hal itu. Ia percaya Kakek
Mata-satu itu tentu bermaksud baik kepadanya Apalagi hal itu
baru dilaksanakan setelah Iblis-penakluk-dunia terbasmi.
Saat itu Siau-liong teringat akan si dara. Ketika melirik
kesamping, dilihatnya Song Ling masih memandang topeng
Pendekar Laknat dengan penuh perhatian dan kegeraman.
Begitu Siau-liong melirik ke arahnya, cepat dara itu
membuang topeng dan melengking, “Mengapa engkau
memiliki benda ini? Apakah hubunganmu dengan Pendekar
Laknat?"
"Aku....” Siau-liong gugup.
Song Ling deliki mata dan menuding Siau-liong dengan
marah, “Apakah engkau muridnya?"
Siau-liong gelengkan kepala menghela napas, “Aku bukan
muridnya, dan lagi....”
Song Ling melonjak dan meraung-raung seperti singa
betina yang kehilangan anak, “Bagus! Engkau ternyata
mengakui, engkau.... engkau.... ah. mataku sungguh buta!"

893
Habis menumpahkan kemarahannya, dara itu terus
menangis gerung-gerung.
Siau-liong gopoh tetapi tak dapat berbuat apa-apa. Setelah
dara itu berhenii menangis, barulah ia coba menghibur, “Nona,
Pendekar Laknat sudah meninggal....”
Song Ling terbeliak tetapi cepat mendengus dingin, “Ngaco!
Kapankah dia meninggal?"
Siau-liong menghela napas, “Dia sudah meninggal di dalam
Lembah Penasaran di gunung Hongsan. sama sekali dia tak
pernah muncul di dunia persilatan lagi."— ia berhenti meragu
sejenak lalu melanjutkan, “Yang muncul sebagai Pendekar
Laknat di dunia persilatan itu sesungguhnya adalah aku
sendiri....”
“Kalau begitu yang bertempur dengan aku di lembah Mati
dulu itu, juga engkau?"
Siau-liong mengiakan, “Ya, aku terpaksa melakukan hal itu,
harap nona maafkan."
Song Ling duduk lagi seraya bertanya, “Apa perlumu
engkau melakukan hal itu?"
“Ah, panjang sekali kalau diceritakan," Siau liong menghela
napas, "pokoknya, walaupun aku dan dia tak mempunyai
ikatan sebagai guru dan murid tetapi dalam kenyataan aku
telah menerima pelajarannya. Jika dia tak mengorbankan
hawa murninya selama berpuluh tahun untuk memberi
penyaluran kepada tubuhku, tentulah aku sudah mati dalam
Laut Penasaran itu. Dan jika dia tak menyalurkan tenaga
murninya itu kepadaku, tentu belum meninggal....”

894
Siau-liong berhenti sejenak lalu melanjutkaa pula, “Dan lagi
walaupun dia disohorkan orang sebagai manusia laknat yang
ganas, tetapi menurut pengamatanku, sebenarnya dia seorang
tua yang berbudi luhur, seorang tua yang kesunyian
hidupnya!"
Sambil bercucuran airmata, Song Ling bertanya, “Tahukah
engkau bahwa dia itu manusia yang membunuh ayahku?"
Siau-liong menghela napas.
“Bagaimana beliau mengikat permusuhan dengan nona,
aku tak tahu. Tetapi aku selalu membedakan budi dan
dendam. Pendekar Laknat telah melepas budi besar kepadaku.
Sudah tentu aku wajib membalasnya. Tindakanku menyamar
sebagai Pendekar Laknat, tak lain karena hendak memulihkan
nama baik beliau dalam dunia persilatan. Agar beliau
mendapat perindahan dan penghormatan dari kaum
persilatan."
Tiba tiba Song Ling berbangkit, bentaknya, “Engkau hendak
membalas budi dan aku hendak membalas dendam! Oleh
karena Pendekar Laknat sudah mati, maka perhitungan itu
akan kuminta kepadamu!"
Habis berkata nona itu terus mengangkat tangan hendak
memukul. Melihat itu Kakek Mata-satu cepat ulurkan tangan
melerai, “Ah, perlu apa harus begitu?"
Sesungguhnya Song Ling tak bermaksud memukul Siauliong.
Adalah karena menumpahkan kegeramannnya maka ia
sampai marah begitu rupa. Setelah dicegah Kakek Mata-satu.
cepat ia menarik pulang tangannya dan menangis tersedusedu.

895
Kakek itu menghela napas panjang, ujarnya; “Karena
Pendekar Laknat sudah mati maka dendam permusuhannya
pun sudah habis....”
Kemudian menunjuk pada Siau-liong, kakek itu melanjutkan
pula, “Bahwa anak itu hendak membalas budi Pendekar
Laknat, sungguh langkah yang patut dipuji....”
"Apa yang patut dipuji . ,....” dengus Song Ling.
Kakek Mata-satu tertawa, “Nak, apakah engkau suka kalau
dia menjadi seorang manusia yang tak tahu membalas budi!"
Song Ling balikkan kelopak matanya, “Apa sangkut paut
diriku denran dia. Mulai saat ini, aku takkan
memperdulikannya lagi!"
Dara itu terus palingkan muka.
Kakek Mata-satu hanya geleng2 kepala. Katanya pula,
“Tentang hubungan ibumu dengan Pendekar Laknat dahulu,
mungkin engkau belum jelas. Maukah engkau mendengar
ceritaku?"
Song Ling terdiam sejenak lalu berseru, “Ceritakanlah!"
Dengan permusuhan antara Randa Busan dengan Pendekar
Laknat dan bagaimana ayah Song Ling sampai mati ditangan
Pendekar Laknat. memang ingin sekali diketahui Siau-liong....
Maka pemuda itu mendengarkan cerita sikakek dengan penuh
perhatian.
Setelah batuk2 sebentar, kakek Mata-satu itu berkata
kepada Song Ling, “Dahulu ibumu itu seorang anak sebatang
kara yang dibuang oleh orangtuanya. saat itu ia baru berumur

896
tiga tahun dan menderita sakit keras seorang diri ditinggalkan
dalam hutan....
Song Ling kerutkan alis dan cepat menyelutuk, “Kakek,
jangan mengibuli aku!"
Mata sikakek yang tinggal satu itu mendelik, "Masakan aku
sampai hati membohongi engkau!"
Song Ling tertegun . lalu tundukkan kepala.
Kemudian kakek Mata-satu pun melanjutkan ceritanya lagi.
"Pada waktu itu kebelulan Pendekar Laknat lewat di hutan
situ. Ia tak sampai hati melihat seorang anak perempuan kecil
terkapar diantara gunduk batu dalam keadaan menderita sakit
parah. Diambilnya arak itu pulang. Keadaan ibumu saat itu
benar-benar amat parah sekali. Hidupnya yang menderita
kekurangan dan penyakit yang diidapnya begitu parah, lalu
dibuang dalam hutan beberapa hari tak makan tak minum,
didera hujan dan angin. menyebabkan ibumu tak mungkin
ditolong jiwanya lagi....
Kakek itu berhenti menghela napas.
"Melihat anak itu sudah meregang jiwa tetapi masih
bernapas, Pendekar Laknat membawanya ke gunung Kun-lun
yang jauh. untuk minta obat kepada Se Hong sanjin, seorang
tabib sakti. Tetapi sungguh sial. Tabib itu sedang berkelana
keluar, sehingga Pendekar Laknat tak dapat berjumpa. Ibumu
benar-benar sudah tiada harapan tertolong lagi. Tetapi sekali
pun begini, Pendekar Laknat tetap tak sampai hati untuk
membuangnya. Sambil membopongnya, ia mondar mandir
menghela napas panjang pendek....”

897
Song Ling rentangkan sepasang biji mata dan bertanya,
“Kakek! Mengapa engkau tahu keadaan ibuku begitu jelas?"
Kakek Mata-satu itu tersenyum, sahutnya! "Karena pada
saat itulah aku berjumpa dengan mereka....”
Mata sikakek tampak berkilat-kilat seperti mengenangkan
peristiwa itu. Lalu ia melanjutkan pula.
"Walaupun aku tak mengerti ilmu pengobatan, tetapi
kebetulan aku masih mempunyai pil Kiu-cwan-koh-wan-tan
pemberian si Tabib-sakti Se Hong saniin. Atas permintaan
Pendekar Laknat, kuberikan kepadanya sebutir pil itu. Karena
belum takdirnya mati, setelah minum pil itu, ibumu pun
sembuh. Pendekar Laknat lalu membawanya pulang ke
Hongsan.
Karena wajahnya yang buruk dan menyeramkan maka
Pendekar Laknat mengasingkan diri di gunung dan tak mau
bergaul dalam masyarakat ramai. Beberapa tahun kamudian
dalam asuhan dan rawatan Pendekar Laknat, anak perempuan
itu cepat tumbuh dewasa. Beberapa belas tahun kemudian,
anak itu sudah menjadi seorang gadis yang berumur 20-an
tahun.
Dalam masa yang begitu panjang itu, dari seorang anak
perempuan yang tak tahu apa2, ibumu telah menjadi seorang
gadis dewasa. Tetapi dia hidup dalam lingkungan alam
pegunungan yang berpenghuni pohon dan binatang. Satusatunya
manusia yang menjadi teman pergaulannya hanya
Pendekar Laknat. Dalam pandangan ibumu, wajah buruk dari
Pendekar Laknat itu tidak menyeramkan karena sudah biasa.
Sejak kecil ia melayani Pendekar Laknat dan menganggapnya
manusia biasa seperti dirinya.

898
Bermula mereka hidup sebagai ayah dan anak. Umur
Pendekar Laknat lebih tua 30 tahun. Tetapi ketika ibumu
berumur 20 tahun, hubungan merekapun mengalami
perobahan....”
Kakek Mata-satu berhenti sejenak, menghela napas. Lalu
melanjutkan ceritanya lagi.
"Soal itu aku berani mengatakan pasti tentang diri
Pendekar Laknat. Sekalipun ibumu merobah pandangannya
kepada Pendekar Laknat, dari ikatan ayah dan anak menjadi
cinta kasih wanita dan pria, tetapi selama itu Pendekar Laknat
tetap tak mau melanggar garis2 terlarang....”
Kembali kakek Mata-satu itu berhenti dan menghela napas
rawan.
"Mereka hidup dalam kesunyian dan ketenangan. Tetapi
mereka merasa bahagia. Tiap hari mereka selalu berburu
burung, mencari ikan. Hari2 dilewati dengan penuh
kegembiraan. Sampai pada akhirnya, Pencekar Laknat telah
melakukan suatu tindakan yang salah....”
"Tindakan apa?" karena tak sabar lagi, Song Ling cepat
bertanya.
"Tidak seharusnya Pendekar Laknat membawa ibumu
melihat-lihat ke kota! Mungkin karena hendak mengambil hati
ibumu supaya senang, atau mungkin karena lain sebab, maka
Pendekar Laknat membawa ibumu turun ke dunia persilatan.
Sebagai seorang gadis yang tak pernah bergaul dengan
orang, segala yang dilihat dan dijumpai, selalu membuat
ibumu heran, Kemudian ia menyadari bahwa dunia ini ternyata
amat luas dan ramai. Sejak itu, pandangan ibumu terhadap
Pendekar Laknatpun berobah. Mereka sering cekcok dan

899
bertengkar. Sampai pada suatu hari, ibumu telah mengenal
seorang pemuda she Song dan kedua saling intim....” Kembali
kakek Mata-satu berhenti seraya geleng-gelengkan kepala.
"Apakah dia.... ayahku....” Song Ling berseru gopoh.
"Benar," sahut Kakek Mata-satu, "pemuda she Song itu
adalah ayahmu. Ibumu memutuskan, untuk meninggalkan
Pendekar Laknat dan lari bersama pemuda itu. Sekalipun
Pendekar Laknat amat berduka atas peristiwa itu, tetapi dia
dapat memaafkan ibumu. Dia menyadari bahwa hal itu
memang tak dapat dicegah lagi. Maka ia tak mau mengejar
dan lalu pulang ke gunung Hong-san. Sejak itu ia hidup
dirundung duka. Walaupun ia dapat memaafkan ibumu, tetapi
ia teiap tak dapat melupakan kenangan hari2 yang bahagia
bersama ibumu. Sejak itu ia menjadi manusia pembenci dunia.
Dia benci kepada seluruh manusia di dunia ini. Dua puluh
tahun yang lalu, muncullah keempat momok Thian, Te. Liong,
Hou atau Iblis-penakluk-dunia, Dewi Neraka, Harimau Iblis
dan Naga Terkutuk. Dunia persilatan dilanda banjir darah.
Mendengar itu, Pendekar Laknat pun turun gunung dan
melakukan pembunuhan tanpa pandang bulu. Baik tokoh
golongan Putih maupun Hitam, dibunuhnya semua. Karena
tindakannya yang ganas itu, maka oleh kaum persilatan,
mereka dijuluki sebagai Lima Durjana.
Sebenarnya, hanya suatu fitnah belaka bahwa Pendekar
Laknat itu, membunuh secara membabi buta tanpa pandang
bulu. Karena sesungguhnya yang dibunuh itu kebanyakan
hanya kaum persilatan yang bejat moralnya. Dan selama itu
tak pernah ia bergabung dengan keempat momok itu.
Kemudian tampillah Ceng Hi toiang memimpin barisan
orang gagah untuk menghalau Iblis-penakluk-dunia dan
gerombolannya itu dari Tionggoan. Sejak itu, Pendekar
Laknatpun pulang ke gunung Hongsan lagi. Dua tahun

900
kemudian pada pertengahan musim rontok, ibumu dan
pemuda Song itu telah menikah. Entah bagaimana, kedua
suami isteri itu membawa puterinya yang masih bayi ialah
engkau, menjenguk Pendekar Laknat di gunung Hong-san.
Sebagai anak yang telah dirawat sejak kecil ibumu memang
masih mempunyai ikatan batin kepada Pendekar Laknat
sebagai ayah. Walaupun sudah menikah dengan lain orang
namun ia masih tetap terkenang akan orang tua yang hidup
sepi seorang diri di gunung itu. Maka diajaknyalah sang suami
dan puterinya untuk menyambangi orang tua itu. Ia ingin
menghibur orang tua yang telah melepas budi besar
kepadanya. Tetapi kunjungan yang bermaksud baik itu telah
menimbulkan peristiwa yang menyedihkan. Saat itu watak
Pendekar Laknat memang sudah berobah. Dari seorang tua
yang sabar dan murung dia telah menjadi seorang manusia
yang pemarah dan gemar membunuh. Dia menafsirkan
kedatangan ibumu bersama suaminya itu sebagai suatu
tindakan untuk mengejeknya. Apalagi ayahmu yang masih
muda itu memang berhati tinggi dan angkuh. Setitik pun dia
tak memandang hormat kepada Pendekar Laknat. Dalam
percakapan, timbullah salah faham dan karena sama
ngototnya, mereka segera berkelahi....”
Kakek Mata-satu menghela napas, berdiam Diri.
“Begitulah Pendekar Laknat lalu membunuh ayahku?" tanya
si dara.
Kakek Mata-satu mengangguk pelahan.
“Jika Pendekar Laknat benar-benar sayang pada ibuku, tak
seharusnya ia membunuh ayahku!" Song Ling menggeram
pula. Namun nadanya agak berkurang bencinya kepada
Pendekar Laknat.

901
Kakek itu menghela napas, “Aku berani mengatakan,
bahwa semula pendekar Laknat memang tiada maksud untuk
membunuh ayahmu. Hal itu lebih cenderung kalau kesalahan
tangan saja. Tetapi ibumu marah sekali dan seketika itu juga
ia pergi dan bersumpah akan melakukan pembalasan. Sejak
itu berulang kali ia menantang Pendekar Laknat supaya
datang kepuncak Hong-san pada hari Tiong jiu (pertengahan
musim rontok)'untuk menyelesaikan hutang darah itu. Tetapi
Pendekar Laknat tak pernah datang! Dan pada tahun kematian
suaminya itu, ibumu datang berguru kepadaku!"
Selesai mendengar cerita kakek gurunya, Song Ling
menutup matanya dengan kedua tangan dan menangis
tersedu sedan.
Siau-liong juga tergerak hatinya. Timbul rasa
perindahannya kepada Pendekar Laknat. Tanpa disadari, ia
telah mengenakan topeng Pendekar Laknat itu kemukanya.
Song Ling tak berkata apa2. Tiba-tiba dilihatnya Siau-liong
memakai topeng Pendekar Laknat. Seketika ia tertawa dan
berseru, “Huh, seram sekali!"
Siau-liong hanya tersenyum. Saat itu ia telah menyimpan
pil pemberian paderi Kim Ting ke dalam bajunya. Dapat atau
tidaknya ia menolong para tokoh2 yang ditawan Iblispenakluk-
dunia itu, nanti malam akan ketahuan hasilnya.
Saat itu sudah petang hari. Suasana dalam hutan pun
makin sunyi dan menyeramkan. Tiba-tiba kakek Mata satu
berkata kepada Siau-liong, “Saatnya sudah hampir tiba, Iblispenakluk-
dunia dan Dewi Neraka itu....” — tiba-tiba kata2nya
terhenti oleh suara tertawa nyaring yang bergelombang di
udara.

902
Ah, itulah suara tertawa si Iblis-penakluk-dunia. Nyata dia
sudah kembali ke puncak Kim Ting lagi....
Siau-liong menjurah di hadapan kakek Mata-satu dan
berkata, “Musuh sudah menampakkan diri, untuk sementara
ini terpaksa wanpwe hendak minta diri."
Song Ling pun juga berbangkit dan berkala gopoh, “Cousuya,
mohon cousu-ya suka membantunya menolong ibuku!"
Kakek Mata-satu menarik tangan Song Ling; "Saatnya
belum tiba, untuk sementara ini lebih baik kita menunggu saja
bagaimana perobahannya." —Lalu ia berkata kepada Siauliong,
“Bertindaklah menurut gelagat. Jangan mengandalkan
keberanian semata-mata lalu bertindak menurutkan kehendak
kemarahan. Pergilah!"
Siau-liong mengiakan lalu loncat kemuka dan lari mendaki
ke puncak Kim Ting.
”Apakah dia mampu menolong ibuku dan tokoh2 itu?"
tanya Song Ling dikala mengantar kepergian Siau-liong
dengan pandang mata harap2 cemas.
"Dia seorang pemuda yang berani, sakti dan pandai
menyesuaikan diri," sahut kakek Mata-satu, “diapun telah
menyadari betapa gawatnya peristiwa ini. Rasanya dia tentu
dapat bertindak hati2 dan berhasil menunaikan tugasnya."
"Mengapa kakek tak ikut menyertainya? Bukankah dia akan
merasa lebih kuat?" tanya si dara pula.
"Ah, tampaknya memang begitu. Tetapi sesungguhnya dia
akan dapat bertindak lebih leluasa apabila pergi seorang diri.
Dengan kusertai, mungkin musuh cepat dapat mengetahui
jejak kita."

903
"Bagaimana kalau dia gagal?" kata si dara pula dengan
resah.
"Kita hanya dapat berusaha dan tak dapat memastikan
kalau berhasil. Namun setiap perbuatan baik, tentu diberkahi
Allah. Ah, sudahlah, kita tunggu saja bagaimana
perkembangannya!"
---ooo0dw0ooo---
Saat itu Cong Hi totiang dan rombongan yang berada
dipuncak Kim Ting, gelisah resah pikirannya....
Walaupun Soh Beng Ki-su berulang kali mendesak supaya
cepat2 menyelesaikan pembuatan panggung itu, tetapi Ceng
Hi totiang dan rombongan orang gagah itu tetap hendak
mengulur waktu. Dengan segan2 mereka mengusung batu2
besar. Maka sampai hari sudah petang, panggung itu belum
juga selesai.
Serempak dengan suitan yang memecah angkasa itu,
kedua suami isteri Iblis penakluk-dunia pun memimpin
berpuluh anak buahnya, kembali kepuncak.
Melihat hasil pembuatan panggung, Iblis-penakluk-dunia
membentak, “Lekas panggil Ceng Hi si imam tua itu kemari!"
Soh Beng Ki-su segera membentak, “Imam hidung kerbau,
apakah engkau tuli?"
Ceng Hi totiang terpaksa maju dua langkah tetapi tak
berkata apa2.
Iblis-penakluk-dunia membentaknya, “Oleh karena cita2
untuk memimpin dunia persilatan sudah terlaksana, maka aku

904
selalu bermurah hati kepada orang. Tak mau membunuh
orang yang tak bersalah. tetapi mengapa engkau malah
menentang perintahku?"
Saat itu hati Ceng Hi totiang amat gelisah sekali. Siau-liong
yang sudah berjam-jam masuk ke dalam gua menemui paderi
Kim Ting, sampai saat itu belum juga keluar. Dan saat itu
adalah detik-detik yang menentukan. Rasanya kecuali harus
berjuang sendiri, tiada lain jalan lagi.
Setelah mantap dengan keputusan itu, ia segera berpaling
ke arah rombongan orang gagah. Tampak mereka berdiam diri
semua tetapi wajahnya menampil kerut kedukaan dan
kemarahan. Jelas mereka hanya menunggu komando. Begitu
ia memberi perintah, segera mereka akan menyerbu.
Tetapi Ceng Hi totiang cukup jelas akan kekuatan lawan
dan fihaknya. Memberi komando penyerbuan, berarti
menyuruh mereka mengantar jiwa.
Dengan pertimbangan itu, ia bersangsi sehingga tak dapat
menjawab kata2 Iblis-penakluk-dunia.
Melihat Ceng-Hi diam saja, Iblis-penakluk-dunia
membentaknya, “Hm, rupanya engkau benar-benar sudah
bosan hidup?"
Ceng Hi totiang menyadari bahwa saat itu ia sudah tak
dapat mengulur waktu lagi. Dia tak rela membiarkan Iblis
penakluk-dunia menguasai dunia persilatan. Ia tak mau
diperintah oleh gerombolan iblis itu. Maka tiada lain pilihan
lagi kecuali harus bertempur.... Lebih baik pecah sebagai ratna
dari pada hidup bercermin bangkai!
Pada saat ia hendak memberi komando kepada
rombongannya, tiba-tiba sesosok tubuh melayang dari udara

905
dan tahu2 meluncur di tengah2 Ceng Hi dengan Iblispenakluk-
dunia. Ketika melihat siapa yang muncul itu, sekalian
orang berteriak kaget.
Dengan girang Ceng Hi totiang segera maju selangkah dan
berseru, “Pendekar Laknat, dalam pertempuran di barisan
pohon tempo hari, mengapa saudara pergi dengan membawa
luka? Telah kusuruh orang untuk mencari kesegenap penjuru
tetapi tak berhasil....”
Tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia tertawa nyaring dan berseru,
“Tong Siau-liong, engkau sungguh pandai bermain
sandiwara....”
Sejenak berhenti, iblis itu mengertek gigi dan berseru pula,
“Jika kali ini engkau mampu lolos dari tanganku, aku akan
tinggalkan Tionggoan selama-lamanya!"
Sekalian tokoh yang hadir disitu terbeliak kaget. Benarbenar
mereka tak mengerti mengapa Iblis-penakluk-dunia
menyebut Pendekar Laknat sebagai Siau-liong. Di antara
mereka adalah Toh Hun-ki dan keempat Su-lo dari Kong-tongpay
segera maju menghampiri dan memandang bayangan
punggung Siau-liong dengan lekat.
Siau-liong sendiri pun juga tak kurang kejutnya. Ia duga
Iblis-penakluk-dunia tentu sudah mengetahui rahasianya.
Tetapi karena Iblis itu menelanjangi dirinya dimuka sekalian
banyak tokoh iapun merasa tak enak juga.
"Iblis tua!" teriaknya dengan marah, "hari akhirmu sudah
tiba, jangan....”
Iblis-penakhak-dunia menukas tawa, “Benar, memang hari
ini bakal ada orang yang akan habis riwayatnya! Tetapi
engkau harus tahu siapakah orang itu....” -sejenak ia keliarkan

906
mata lalu melanjutkan pula, "aku menyesal mengapa tempo
hari tak membunuhmu. Tetapi sekarang engkau mau bicara
apa saja, pokok jangan harap engkau mampu lolos dari
tanganku!"
Siau-liong memancar pandang lalu gunakan ilmu
Menyusup-suara berkata, “Iblis tua, memang tak salah kalau
engkau menyesal bahwa dulu engkau tak membunuh aku.
Sekarang menyesal pun tiada gunanya!"
Iblis-penakluk-dunia tertawa nyaring, “Untuk membunuhmu
adalah semudah membalikkan telapak tanganku. Kecuali
engkau sudah mempelajari ilmu Thian-kong-sin-kang itu
dengan sempurna. Tetapi betapapun cerdasmu, paling sedikit
engkau harus menggunakan waktu setengah tahun untuk
mempelajarinya. Oleh karena itulah maka beberapa kali
kusengaja memberimu jalan hidup!"
Masih dengan ilmu Menyusup suara, Siau-liong menjawab,
“Aku orang she Tong tak sudi menerima kebaikanmu itu.
Bahwa engkau tak mau membunuh aku itu bukan lain karena
engkau hendak merencanakan berbagai siasat untuk menipu
aku supaya mau memberikan pelajaran ilmu Thian-kong sinkang!"
Iblis penakluk dunia membentak bengis, “Aku dapat
menangkapmu hidup2 dan membiusmu supaya hilang
kesadaran pikiranmu....” kemudian ia menunjuk ke arah
Kongsun Sin-tho dan beberapa tokoh lainnya, “Seperti mereka
itulah contohnya. Masakan engkau tak mau mengatakan ilmu
pelajaran itu?"
Siau-liong tertawa, “Sudah tentu hal itu engkaulah yang
paling tahu. Di dunia ini hanya orang yang faham ilmu Thiankong-
sin-kang itulah yang akan menundukkan engkau. Segala

907
ilmu iblis yang engkau gunakan tak mampu menyesatkan
pikiranku....”
Berhenti sejenak, Siau-liong berkata pula.
“Jangan mengira kalau dalam waktu setengah tahun itu
engkau mampu menipu aku supaya menerangkan pelajaran
itu. Ho, engkau salah hitung dan harus membayar dengan
jiwamu!"
Dengan marah Iblis-penakluk-dunia berteriak nyaring,
“Semua tokoh2 sakti dalam dunia telah kukuasai. Masakan
usaha yang sudah berhasil itu mampu engkau gagalkan?" —
habis berkata ia terus gerakkan ruyung dan membentak
kawanan Baju hitam yang berada dibelakang, “Lekas tangkap
budak itu. Bunuh saja kalau melawan!"
Dua orang Baju Hitam pun segera menerjang maju.
Pakaian keduanya warna hitam dan mukanya pun
mengenakan kerudung hitam, hanya bagian mata yang diberi
lubang. Yang seorang tinggi dan seorang pendek. Mereka tak
lain adalah Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin!
Secepat kilat mereka bergerak menghantam dari kanan dan
kiri.
Siau-liong diam saja. Secepat kedua pukulan mereka tiba,
barulah ia berteriak keras dan gerakkan kedua tangannya
menyongsong. "Bum. bum".... terdengar letusan keras disusul
dengan hamburan pasir dan pecahan batu.
Siau-liong tetap tegak ditempatnya sedang Lam-hay Sin-ni
dan Jong Leng lojin terhuyung-huyung lima enam langkah
jauhnya.

908
Sorak-sorai menggemuruh dari mulut rombongan orang
gagah!
Siau-liong sendiri masih tegak termangu ditempatnya.
Kiranya dalam waktu setengah hari, Siau-liong berhasil
mengetahui bagian yang paling sukar dari kitab Thian-kongsin-
kang. Gerakannya telah mencapai tataran, bersatu dengan
angan2nya. Apa yang diangan-angankan, tangannyapun
sudah bergerak.
Iblis-penakluk-dunia pucat. Berpaling ke arah isterinya, ia
lecutkan lagi ruyungnya memberi isyarat. Kongsun Sin-tho dan
Randa Bu-san yang berdiri di sampingnya segera loncat
menyerbu Siau-liong.
Setelah dipukul mundur oleh Siau-liong, Lam-hay Sin-ni dan
Jong Leng lojin termangu. Tetapi pada lain saat mereka
menggerung lalu maju menyerang lagi.
Bermula Siau-liong tak tahu sampai dimanakah kemajuan
ilmunya yang telah dicapai. Tetapi setelah mengetabui bahwa
ia mampu memukul mundur Lam-hay Sin ni dan Jong Leng
lojin, kepercayaan pada dirinya makin besar. Ia segera
menyambut serangan Lam-hay Sin-ni dan Jong Leng lojin
dengan pukulan yang bertubi-tubi hingga mereka terpaksa
mundur lagi.
Tetapi selekas Kongsun Sin tho dan Randa Bu-san ikut
menyerang, situasinya berobah.
Siau-liong tersentuh hatinya ketika melihat gurunya.
Kongsun Sin-tho dan Randa Bu-san mengenakan pakaian
seragam biru dan kepalanya ditutup dengan kerudung hitam.
Adalah karena terharu melihat keadaan gurunya dan kuatir
nanti melukainya, maka gerakan Siau-liong pun agak lambat
dan pukulannya juga terpancang.

909
Kebalikannya Kongsun Sin-tho dan Randa Bu-san
menyerangnya dengan kalap. Setiap pukulan selalu
menggunakan jurus yang ganas dan mematikan. Tampaknya
mereka amat bernapsu untuk membunuh Siau-liong.
Demikian pewaris2 dari lima aliran ilmu sakti, saling
berbaku hantam dengan seru. Deru angin yang menyambarnyambar,
menghamburkan debu dan pasir yang bertebaran
menutup sekeliling mereka sehingga sekalian orang sukar
melihat bayang2 mereka.
Menyaksikan Pendekar Laknat mampu menghadapi
keempat tokoh sakti itu dan kepandaiannya jauh lebih maju
ketika bertempur dibarisan Pohon Bunga dilembah Semi
tempo hari, girang Ceng Hi totiang bukan kepalang.
Sekalian orang benar-benar terpesona menyaksikan
pertempuran paling dahsyat dalam jaman itu. Mereka
terlongong-longong....
Kelima orang itu makin lama makin menggila. Debu dan
pasir serta pecahan batu berhamburan mencurah seperti
hujan. Angin dan letupan benturan pukulan tak henti2nya berdentang2!
Setelah berpuluh jurus menghadapi keempat tokoh sakti
itu, Siau-liong makin tenang. Dia makin mengetahui sampai
dimana kepandaiannya saat itu. Ternyata bukan saja ia
mampu melayani mereka, pun bahkan masih ada sisa untuk
balas menyerang.
Pula iapun menyadari mengapa Thian kong-sin-kang
merupakan ilmu nomor satu dari kelima ilmu sakti itu. Sejak
dijebloskan dalam gua oleh paderi Kim Ting, berkat
menumpahkan seluruh pikirannya, dapatlah ia mengetahui

910
rahasia dari ilmu Thian kong-sin-kang yang berintikan
semangat sebagai pusat penggerak.
Bagi yang melihat, serangan keempat tokoh itu tak
mungkin dihindari. Tetapi bagi Siau-liong, serangan meieka itu
amatlah lambat. Dengan enak sekali ia dapat melihat jelas
gerak-serangan setiap lawannya serta tenaga mereka. Dengan
demikian mudahlah ia menangkis dan balas menyerang. Maka
betapa deras dan dahsyat keempat tokoh itu, namun tak
dapat melukainya sama sekali. Tetapi hatinya resah bukan,
kepalang. Pertama, karena keempat tokoh pewaris ilmu sakti
itu telah dikuasai oleh Iblis-penakluk-dunia. Dan kepandaian
yang dicapainya, pun hanya tiba cukup untuk bertanding serie
dengan mereka. Dengan demikian sukarlah kiranya ia hendak
meminumkan pil Sip-siau-cwan-soh-sin-tan itu kepada mereka.
Kecuali ia dapat menawan hidup keempat tokoh itu, tentu tak
mungkin ia dapat mengobati mereka. Tetapi keempat tokoh
itu amat sakti, sekali salah gerak, dirinya bisa celaka sendiri.
Apabila mereka berempat serempak mengeroyok Betapa
dahsyatnya, dapat dibayangkan. Siau liong tak tahu, sampai
kapan pertempuran itu akan selesai. Mungkin seribu jurus pun
takkan rampung.
Iblis-penakluk-dunia tahu jelas keadaan itu Kegelisahannya
lebih besar dari Siau-liong. Mereka benar-benar tak mengerti
mengapa dalam waktu yang begitu singkat, Siau-liong sudah
mencapai kemajuan yang begitu pesat dalam mempelajari
ilmu Thian kong-sin-kang. Tetapi kedua suami isteri iblis itu
tak sempat memikirkan diri Siau-liong lagi Saat itu mereka
harus lekas berdaya untuk menghadapi suasana yang gawat
itu.
Saat itu masih ada Naga Terkutuk dan Harimau Iblis serta
rombongan It Hang totiang yang masih dikuasainya. Mereka
merupakan barisan tenaga yang akan menindas Ceng Hi
totiang dan rombongan orang gagah.

911
Tetapi Ceng Hi totiang berpendapat, tak mau gegabah
turun tangan. Menang atau kalah, hanya tergantung kepada
Pendekar Laknat yang menempur keempat tokoh sakti itu. Jika
Ceng Hi ikut bergerak, ia kuatirakan mengganggu pikiran
Pendekar Laknat. Oleh karena itu Ceng Hi menahan diri dan
menunggu perkembangan selanjutnya.
Dalam pada itu Siau-liong pun memeras otak untuk
mencari jalan. Bukan untuk mengalahkan atau melukai
keempat lawannya, melainkan untuk mencari jalan bagaimana
dapat meminumkan pil. Hanya dengan begitu dapatlah si tuasi
berobah menuju ke arah kemenangan.
Tetapi Kongsun Sin-tho dan keempat pewaris ilmu sakti itu
menyerang dengan ketat dan hebat sehingga memaksa Siauliong
bertempur serie. Dalam beberapa kejab saja mereka
telah bertempur sampai 500 jurus.
Ceng Hi totiang dan rombongan orang gagah cemas sekali.
Jika Siau liong sampai kalah, tentu Iblis-penakluk-dunia akan
memperoleh kemenangan besar. Semua orang gagah tentu
akan dibasminya. Bagi Ceng Hi totiang, matipun tak soal tetapi
bagaimana dengan nasib dunia persilatan nanti?
Tiba-tiba Toh Hun-ki ketua Kong-tong-pay menghampiri
Ceng Hi totiang dan berbisik, “Totiang, menilik keadaannya....”
"Bukankah saudara Toh menghendaki aku supaya memberi
perintah untuk menyerbu?"
"Meskipun kepandaian Pendekar Laknat maju pesat sekali
tetapi menghadapi keempat tokoh sakti itu, mungkin....”
Baru Toh Hun-ki berkata begitu, tiba-tiba Iblis—penaklukdunia
gentarkan cambuknya beberapa kali. Getaran itu

912
menimbulkan bunyi yang amat tajam sehingga Siau-liong yang
sedang bertempur pun mendengarnya juga.
Dan keempat tokoh yang mengeroyok Siau-liong itu, tibatiba
tambah menyala semangatnya. Cambuk itu merupakan
perintah kepada mereka dan menyeranglah mereka dengan
jurus2 yang ganas.
Siau-liong terkejut.... Sesaat ia menjadi sibuk tak keruan
dan pontang panting bertahan diri. Tiba-tiba setelah
melakukan serentetan serangan maut keempat tokoh itu
serempak loncat mundur beberapa tombak, memandang Siauliong
tanpa berkata sepatah pun.... Kemudian mereka mundur
ke belakang Iblis-penakluk-dunia dan tegak berdiri seperti
patung.
Iblis-penakluk dunia sengaja memperdengarkan tertawa
gelak lalu melangkah ke muka Siau-liong. serunya, “Budak!
Kepandaianmu maju pesat sekali....” —lalu dengan mata
berkilat-kilat ia berseru pula, “Dengan begitu tambah
mantaplah keputusanku untuk melenyapkan engkau!"
Siau-liong menggerung marah, “Akupun memutuskan untuk
membasmimu juga!"
Iblis-penakluk-dunia tertawa tak acuh, “Lihat saja siapa
yang lebih beruntung....” —kemudian ia kerutkan wajahnya
dan membentak, “Sebelum tengah malam nanti, di puncak
Giok-li-hong dibawah puncak Kim-ting ini akan kusaksikan
engkau masuk ke dalam perangkap. Baik engkau mau datang
kesitu atau tidak, apa yang kukatakan ini pasti akan terjadi
pada dirimu. Hanya....”
Matanya mengeliar seram dan melanjutkan lagi, “Tidak
sampai tengah malam nanti. ya. ketahuilah bagaimana
siasatku yang ganas. Takkan memberi ampun sama sekali!"

913
“Andaikata aku tak pergi, mau apa engkau!" bentak Siauliong
marah.
“Dalam hal itu engkau harus memikir panjang. Tiau Bokkun,
Mawar Putih dan Kongsun Sin-tho, Randa Bu-san dan
semua lokoh2 yang telah kutawan, satu demi satu akan
kubunuh semua." Iblis-penakluk-dunia tertawa ibiis.
“Tak mungkin engkau berani....!" Siau-liong menggembor
seraya hantamkan kedua tangannya.
Saat itu mereka terpisah dua tiga meter. Ilmu Thian-kong
sin-kang yang dimiliki Siau-liong sudah mencapai apa yang
disebut dapat digerakkan menurut kehendak hatinya.
Tetapi Iblis penakluk dunia sudah siap2. Maka ia tak berani
maju lebih dekat. Namun tetap ia terkejut ketika menyaksikan
gerakan Siau-liong yang begitu cepat. Buru-buru ia menyurut
mundur sambil dorongkan kedua tangannya menangkis.
Maksud Siau-liong, sekali pukul ia hendak menghancurkan
iblis itu. Tetapi ia terkejut ketika iblis itu dapat menyurut
mundur begitu cepat. Pukulan iblis itupun dapat menahan
dirinya yang hendak menyerbu maju. Mau tak mau ia
terlongong heran, pikirnya, “Rupanya kepandaian iblis itu maju
pesat juga. Aneh....”
Tiba-tiba Iblis-penakluk-dunia tertawa gelak, “Aku telah
memiliki keempat ilmu sakti itu. Sekalipun berkelahi satu
lawan satu, akupun dapat melayanimu sampai ratusan jurus.
Apalagi....” — ia menunjuk ke belakang dan berkata pula,
“Kalau tak sampai lima jurus saja, tak perlu kuperintahkan
mereka maju. Sebaliknya dari itu, sekali kuberi perintah,
keempat tokoh pewaris ilmu sakti itu tentu akan mati-matian
menyerbumu. Tak mungkin engkau dapat menyerang aku!"

914
Siau-liong menyadari bahwa ucapan iblis itu memang tidak
bohong. Hatinya makin mengeluh dan terpaksa ia menghela
napas panjang.
Sambil mengerut jenggotnya yang menjulai kedada, Iblispenakluk-
dunia itu tertawa menghina, “Telah kukatakan,
usahaku untuk menguasai dunia persilatan sudah berhasil.
Oleh karenanya aku tak mau menumpahkan darah lebih
banyak lagi. Asal sebelum tengah malam nanti engkau mau
memenuhi undanganku untuk memberikan ilmu Thian-kongsin-
kang itu kepadaku, bukan saja Tiau Bok-kun, Mawar Putih
tentu akan kuserahkan kepadamu, bahwa Kongsun sin-tho
dan kawanan orang gagah yang menjadi tawananku itu juga
akan kubebaskan. Ketahuilah aku bukan manusia yang tak
dapat dipercaya. Kalau tidak....”
Berhenti sejenak, ia berkata pula, “Bukan saja engkau tak
mau lari dan jaringanku itu, pun Ceng Hi si imam tua dan
rombongannya itu, akan kulenyapkan dari muka bumi!"
Kembali Siau liong dihadapkan sebuah soal yang sulit.
Sesaat ia tak dapat berkata apa2.
Pada saat Siau-liong sedang termenung, se-konyong2 Iblispenakluk-
dunia maju dua langkah dan secepat kilat
menyambar muka Siau-liong. Karena sedang termenung dan
lengah perhatian, gerakan Iblis-penakluk-dunia yang dilakukan
cepat sekali itu tak sempat lagi dihindari Siau-liong.
Seketika kedok muka Pendekar Laknat yang menutup
mukanya itu, terjambret oleh Iblis-penakluk-dunia.
“Budak!" Iblis-penakluk-dunia tertawa keras, "kedok
permainan anak2 ini memang dapat mengelabuhi orang lain

915
tetapi tak mungkin dapat menipu aku....” ia menutup kata2nya
dengan tertawa kumandang yang menggetarkan langit.
Dalam pada tertawa itu Iblis-penakluk-dunia pun niengisar
ke samping Dewi Neraka dan membisiki beberapa patah kata
lalu mengajaknya turun dari puncak Kim Ting.
Keempat pewaris ilmu sakti dan tokoh2 yang merjadi kaki
tangan Iblis-penakluk-dunia pun segera berbondong-bondong
mengikutinya.
Siau liong tegak termangu beberapa saat. Akhirnya
pelahan-lahan ia berputar tubuh lagi. Oleh karena kedok
mukanya sudah copot, ia merasa malu menghadapi Ceng Hi
totiang dan rombongan orang gagah.
Ceng Hi totiang maju dua langkah dan berseru, “Pendekar
Lak....” -tiba-tiba ia tersentak melihat wajah Siau-liong dan
cepat2 berganti nada, “Kongsun siauhiap....”
Siau liong gelengkan kepala berkata dengan nada
menyesal, “Ah, aku telah membohongi saudara2 sekalian.
Tetapi hal itu....”
Ceng Hi totiang goyangkan tangan. ujarnya, “Tak perlu
Kongsun siauhiap menerangkan, akupun samar2 sudah dapat
menduga. Walaupun Pendekar Laknat disohorkan sebagai
seorang pembunuh yang berdarah dingin tetapi kutahu bahwa
sebenarnya dia seorang manusia yang berhati baik....”
Sikasar Lu Bu-ki pun melangkah maju dan menyelutuk,
“Kongsun siauhiap, sungguh tak kira kalau Pendekar Laknat
itu ternyata engkau sendiri! Aku adalah pengagum Pendekar
Laknat, entah apakah dia....”

916
Siau-liong menghela napas rawan, “Beliau sudah
meninggal....”
Kemudian ia menuturkan tentang peristiwa yang
dialammya ketika berjumpa dengan Pendekar Laknat di dalam
gua gunung. Sekalian orang yang mendengar cerita itu tak
ada yang tak terharu.
Toh Hun-ki menghampiri ke samping Siau-liong dan
berkata, “Kongsun siauhiap, sekalipun pada pertempuran
dengan Iblis penakluk-dunia tadi belum selesai, tetapi tentulah
nyali iblis itu sudah berantakan. Menurut hematku, saat ini
telah terjadi perobahan. Nasib dunia persilatan, hanya
tergantung pada Kongsun siauhiap seorang! Kita harus
gunakan siasat untuk melenyapkan pengacauan Iblis-penakluk
dunia!"
Saat itu sekalian orang gagah mencurah pandang ke arah
Siau-liong dengan perasaan kejut2 girang. Diantaranya yang
paling girang sendiri adalah To Kiu-kong, ketua partai Kaypang....
Betapa pun halnya, pewaris ilmu sakti Thian-kong-sinkang
itu adalah cousu-ya dari partai Kay-pang. Maka
tergopohlah ia menyiak para orang gagah dan maju ke muka
Siau-liong. Serta-merta ia hendak berlutut sembari mengucap,
“Cousu-ya....”
Siau-liong buru-buru memapahnya bangun dan tertawa
tersipu-sipu, “Kiu-kong, jangan berlaku begitu!"
To Kiu-kong sejenak memandang sekalian orang gagah lalu
berdiri di samping Siau-liong. Tampaknya ia bangga
mempunyai seorang cousu-ya sebagai Siau-liong. Selekas
Iblis-penakluk-dunia dan gerombolannya terbasmi, tentulah
kedudukan partai Kay pang akan terangkat tinggi.

917
Siau-liong memandang ke arah ketua Kong-tong-pay, tibatiba
ia berseru, “Apakah Toh lo-enghiong tahu she dan
namaku yang sebenarnya?"
Tanpa ragu2 lagi, Toh Hun-ki menyahut, “Kongsun siauhiap
sebenarnya orang she Tong. Hal itu bukannya aku tak tahu."
Siau-liong tertawa rawan, “Bagus, tetapi entah apakah
saudara masih ingat akan janji saudara ketika di Lembah Maut
itu?"
Sejenak ketua Kong-tong-pay itu berpaling memandang
keempat Su-lo yang berada dibelakangnya lalu menjawab,
“Janjiku sekokoh gunung. Begitu gerombolan Iblis-penaklukdunia
sudah terbasmi, aku bersama keempat suteku segera
mengantarkan Kongsun siauhiap kegunung Hong-san.
Dihadapan makam Tong Gun-liong, kami akan membunuh diri
agar Kongsun siauhiap dapat menunaikan bhakti kepada
ayahmu."
Keempat Su-lo itu tak berkata apa2. Tetapi wajah mereka
tampak tenang sekali.
Siau-liong menghela napas, lalu beralih kata kepada Ceng
Hi totiang, “Saat ini malam baru mulai. Kalah atau menang,
tergantung nanti tengah malam....” ia berhenti sebentar lalu
berkata pula, “harap Ceng Hi totiang dan sekalian orang
gagah beristirahat disini Aku hendak menemui kakek Matasatu
untuk merundingkan siasat menghadapi musuh nanti!"
Ceng Hi totiang serta-merta mempersilahkan Siau-liong
pergi dan ia berjanji akan menunggu disitu.
Siau-liong segera lari menuju ketempat Kakek Mata-satu
dan Song Ling. Saat itu rembulan belum muncul. Cuaca pun
masih gelap. Siau-liong hati-hati sekali lari sepanjang jalan.

918
menguatirkan kemungkinan Iblis penakluk-dunia memasang
jerat untuk menangkapnya.
Diapun tak tahu adakah Kakek Mata-satu dan si dara Song
Ling masih berada ditempatnya semula. Tetapi ketika hampir
tiba ditempat itu, ia mendengar suara orang bercakap-cakap
diseling gelak tertawa. Dalam percakapan itu, kecuali suara
kakek Mata-satu dan Song Ling, masih terdapat pula seorang
lain. Dan rasanya ia sudah kenal dengan nada suara orang itu.
Ketika makin dekat, benar juga ditempat Kakek Mata satu
duduk, terdapat lagi seseorang. Seorang wanita baju merah.
Siau-liong berdebar tegang. Cepat ia lari menghampiri.
Ah, memang benar. Disamping Kakek Mata-satu dan Song
Ling, memang terdapat seorang wanita baju merah. Dia bukan
lain ialah Poh Ceng-in, pemilik Lembah Semi.
Siau-liong tertegun dan hentikan larinya. Benar-benar ia
heran. Nona pemilik Lembah Semi itu telah dilepaskannya,
mengapa tiba-tiba datang kesitu? Adalah dia dijadikan umpan
oleh ayahnya, Iblis-penakluk-dunia?
Kakek Mata-satu memandang Siau-liong yang berdiri
setombak jauhnya lalu menegur, “Apakah dalam pertempuran
dipuncak Kim-ting, Iblis-penakluk-dunia sudah dipukul
mundur?"
Dengan masih tetap memandang ke arah Poh Ceng-in,
Siau-liong menjawab tawar, “Memukul mundur saja, tidak
berguna. Harus membasmi gerombolan Iblis-penakluk-dunia
itu barulah dunia persilatan akan terbebas dari bahaya
selama-lamanya!"

919
Karena hatinya dirangsang dendam kemarahan, maka nada
Siau-liong pun amat tajam. Dan lagi iapun hendak menyelidiki
reaksi dari Poh Ceng-in.
Diluar dugaan Poh Ceng-in diam saja. Seolah-olah tak
mempunyai sangkut-paut dengan Iblis-penakluk-dunia.
Dengan sinar mata redup, nona itu memandang Siau-liong lalu
tundukkan kepala tak bicara apa2.
Siau-liong benar-benar bingung. Mengapa Song-Ling mau
mengenal Poh Ceng-in? Bukankah dara itu tahu bahwa Poh
Ceng-in puteri dari Iblis-penakluk-dunia dan dewi Neraka?
Mengapa Song-Ling mau duduk bersamanya?
Tiba-tiba Siau-liong merasa bahwa sikap Song Ling agak
berbeda terhadap dirinya. Seharusnya kedatangannya itu
tentu disambut si dara dengan berbagai pertanyaan. Paling
tidak tentu akan menanyakan tentang mamahnya. Tetapi
mengapa saat itu si dara diam saja?
Dilihatnya dara itu kerutkan alis dan duduk ditengah-tengah
antara Kakek Mata-satu dengan Poh Ceng-in. Sama sekali dara
itu tak mau memandang kepadanya. Siau-liong
memperhatikan bahwa sekalipun dara itu tak mengunjuk
senyum tetapi pun tidak menampilkan kerut kemarahan. Dia
duduk berjajar dengan Poh Ceng-in dan bersikap diam seperti
umumnya seorang cadis.
Tengah Siau-liong terheran-heran, Kakek Mata-satupun
tertawa, “Apakah Kongsun siauhiap sudah mempunyai
rencana untuk membasmi Iblis-penakluk-dunia?"
Siau-liong menghela napas, “Membasmi suami isteri iblis itu
tidak sukar, tetapi yang sukar....” —memandang Poh Ceng-in,
ia berhenti berkata.

920
Kakek Mata-satu hanya tersenyum simpul tetapi tak bilang
apa2. Tiba-tiba Poh Ceng-in membisiki telinga Song Ling.
Setelah saling berpandangan keduanya lalu tertawa mengikik.
Siau liong benar-benar bingung. Dipandang dari sudut
apapun juga, tak mungkin Song Ling mau bersahabat dengan
wanita semacam Poh Ceng-in. Apalagi mereka baru saja
berkenalan.
Cepat Siau-liong menyadari bahwa nada ketawa kedua
wanita itu tidak wajar Walaupun Poh Ceng-in berusaha untuk
menutupi getaran hatinya, namun dari nada tertawanya jelas
memancarkan rasa kesedihan yang sukar diutarakan.
Sedang Song Ling pun lebih hebat cara penyamarannya.
Dia seorang dara yang baru saja melangkah kedunia luar.
Bahwa dia hendak menutupi isi hatinya dengan tertawa yang
dibuat-buat, tentu mudah sekali ketahuan.
Setelah merenung beberapa.saat, akhirnya Siau-liong
memanggil Song Ling dengan lirih, “Nona....”
Tanpa2 mengangkat kepala, Song Ling pun menjawab
pelahan, “Mengapa?"
Melintaslah pandang mata ke arah Poh Ceng-in, Siau-liong
berkata pula, “Apakah engkau tak tahu bahwa wanita ini
adalah puteri dari Iblis-penakluk-dunia?"
Tiba-tiba Song Ling mengangkat kepala dan menatap
pemuda itu, “Kalau tahu lalu bagaimana?"
Siau-liong terkesiap. serunya, “Wanita siluman ini berhati
ganas dan banyak tipu muslihatnya, Janganlah engkau sampai
termakan tipunya. Mungkin dia disuruh orang tuanya untuk
menjalankan tipu muslihat!"

921
Song Ling tertawa dingin, “Tak mungkin aku dapat
dipengaruhi orang. Adalah engkau sendiri yang harus berpikir
dengan cermat!"
Poh Ceng-in tersenyum lalu berkata kepada Song Ling,
“Adik Song, cobalah engkau dengarkan betapa melukai hati
katanya itu!"
Diluar dugaan, Song Ling malah menghibur Poh Ceng in,
“Memang di dunia ini banyak kaum lelaki yang tak kenal
membalas budi. Dari seribu orang, jarang ada seorang yang
baik!"
Kakek Mata-satu tertawa meloroh dan berseru kepada Song
Ling, “Nak, apakah engkau tak sungkan mengucapkan kata2
semacam itu?"
Song Ling cepat menyadari kalau ia kelepasan bicara.
Wajah dara itu merah padam dan tersipu-sipu tundukkan
kepala.
Poh Ceng-in tertawa tawar, “Adik Song, sekalipun ucapan
itu bukan engkau yang seharusnya mengatakan, tetapi hal itu
memang suatu kenyataan, sedikitpun tak salah!"
Habis berkata, Poh Ceng-in memandang Siau-liong dengan
bengis lalu palingkan muka.
Siau-liong benar-benar seperti orang berjalan dalam kabut
tebal. Cepat ia berpaling dan memberi hormat kepada Kakek
Mata satu, “Lo-cianpwe, bagaimana soal ini
sesungguhnya....?"

922
Mata kakek yang tinggal satu itu, mengeliar lalu berseru,
“Soal itu harus bertanya pada dirimu sendiri! Bagaimana aku
tahu?"
Siau-liong banting2 kaki dan menghela napas, “Wanita
siluman itu amat berbahaya sekali, mengapa lo-cianpwe
membiarkan dia disini."
Tiba-tiba Kakek Mata-satu tertawa, serunya, “Kalau dia
benar berbahaya mengapa engkau mau mengikat perjanjian
sehidup semati dengannya?"
Siau-liong seperti dipagut ular kejutnya, “Soal itu karena
amat terpaksa. Ya, karena dia telah memberi minum racun
Jong-tok kepadaku....”
Kakek Mata satu tertawa, “Itu pertanda dia amat cinta
kepadamu! Buktinya mengapa dia tak memberi minum racun
Jong-tok kepadaku?"
Siau-liong meringis seperti kunyuk membau terasi. Tak
tahu ia bagaimana harus menjawab.
"Bukankah setahun kemudian engkau akan melaksanakan
janji sehidup-semati itu dengan dia?" tanya Kakek Mata-satu
pula.
Sau-liong menghela napas, “Asal dia tak mencampuri
urusan yang kukerjakan selama setahun ini, aku tentu akan
melaksanakan janjiku itu!"
Kakek Mata-satu mendengus, “Hm, tampaknya engkau
benci setengah mati kepadanya. Tetapi mengapa engkau mau
mati bersamanya? Bukankah itu diluar kemauanmu?"

923
Berkata Siau-liong dengan wajah serius, “Sekali seorang
lelaki sudah mengucap, tak mungkin akan dijilat kembali.
Betapapun kubencinya, itu lain soal. Tetapi aku tetap tak mau
mengingkari ucapanku!"
Kakek Mata-satu tertawa, “Kalau begitu, Ajaran kuno itu
tetap berharga. Menurut pendapatku....” —ia berhenti
memandang Poh Ceng-in, “curahan hati nona Poh terhadap
dirimu itu, harus engkau terima dengan hati yang lapang.
Artinya kalian lebih baik segera mengikat perjodohan sebagai
suami isteri. Perlu apa harus mati berdua?"
Siau-liong benar-benar tak mengerti mengapa secara tibatiba
Kakek Mata-satu itu dapat mengucapkan kata-kata begitu.
Dilihatnya Song Ling tundukkan kepala tak bicara apa2.
Sedang Poh Ceng-in pun seperti tak mengacuhkan kata2
Kakek Mata-satu. Nona pemilik Lembah Semi itu tak
menampilkan reaksi apa2. Tidak marah, pun tidak girang.
Akhirnya dengan geram, Siau-liong menghampiri Poh Cengin
dan membentaknya, “Telah kubebaskan engkau pergi,
mengapa engkau tidak mau pergi malah datang kembali
kesini?"
Poh Ceng-in tertawa dingin, sahutnya, “Aku kembali kesini
bukan karena hendak mencarimu!"
Kembali Siau-liong terbentur tembok sehingga ia tak dapat
bicara apa2. Memandang Song Ling dan Kakek Mata-satu,
tampak keduanya tak menghiraukan dirinya. Karena malu,
Siau-liong berseru lagi kepada Poh Ceng-in, “Harap engkau
jangan lupa bahwa aku sudah mengetahui cara untuk
pemunahkan racun itu!"

924
Poh Ceng-in menyahut tawar, “Asal engkau suka, setiap
saat engkau dapat mengusir racun itu dari tubuhmu....”
"Apakah engkau yakin bahwa aku tentu takkan
membunuhmu?"
Poh Ceng-in tak menyahut melainkan mengambil sebatang
badik dari pinggangnya lalu diserahkan kepada Siau-liong.
Siau-liong ingin sekali membunuh wanita itu. Tetapi suara
hatinya yang luhur melarangnya bertindak begitu. Apalagi di
hadapan Song Ling dan Kakek Mata-satu, makin tak dapat ia
melakukan hal semacam itu.
"Engkau wanita siluman!" Akhirnya Siau liong hanya dapat
menumpahkan kemarahannya dengan mendamprat. Tiba-tiba
ia memandangnya.
Saat itu Poh Ceng-in sedang duduk bersila. Sudah tentu ia
tak dapat menghindar. Dan rupanya ia memang tak
bermaksud untuk menghindar.
"Plak.".... tendangannya tepat mengenai dada wanita itu.
Walaupun tak menggunakan tenaga dalam tetapi tendangan
itu membuat Poh Ceng-in terpental dan bergelundungan
beberapa meter hingga hampir tiba di tepi tebing karang yang
curam, Badik ditangannya pun terlempar melayang di atas
sebatang pohon dan menancap pada dahannya.
"Kongsun siauhiap! Engkau bersalah! Tak peduli bagaimana
pun, apakah perbuatanmu sekejam itu terhadap seorang
perempuan lemah, dapat dipuji sebagai tingkah seorang
ksatrya?" bentak Kakek Mata-satu.
Juga Song Ling tak menyangka kalau Siau-liong akan
menendang Poh Ceng-in begitu rupa. Cepat ia

925
mendampratnya, “Engkau seorang lelaki buas....!" —ia terus
lari memburu ketempat Poh Ceng-in.
Siau-liong merasa menyesal, Walaupun ia tak menendang
keras, tetapi perbuatan itu memang kasar.
Tetapi iapun heran mengapa kakek mata-satu tetap
membela Poh Ceng in.
Dalam pada itu Song Ling sudah datang lagi dengan
mendukung Poh Ceng in. Tampaknya Song Ling begitu
memperhatikan sekali kepada Poh Ceng-in. sambil
membersihkan pakaian nona pemilik Lembah semi dari debu
kotoran, Song Ling pun menanyakan juga apakah Poh Ceng-in
menderita luka.
Kedua pipi Poh Ceng-in basah dengan air mata namun ia
tetap mengunjukkan tertawa rawan, katanya, “Adik Song,
apakah engkau anggap berharga bagiku untuk berbuat begini
demi kepentingannya?"
“Kelak dia tentu menyesal sendiri," jawab Song Ling
menghiburnya.
Karena tak tahan menderita keheranan, bertanyalah Siauliong
kepada si dara, “Nona Song, mengapa saat ini engkau
begitu aneh? Apa saja kata wanita siluman itu kepadamu?"
Song Ling deliki mata, “Jika engkau masih berbudi,
seharusnya engkau lekas minta maaf kepada taci Poh!"
Siau-liong tertawa, “Nona, engkau harus tahu bahwa dia
adalah puteri dari suami isteri Iblis-penakluk-dunia
Kedatangannya, mungkin melakukan perintah ayahnya.
Janganlah nona percaya pada mulutnya yang manis!"

926
Sekonyong-konyong Poh Ceng-in tertawa melengking.
Nadanya dingin dan rawan, “Adik Song, soal itu engkau tentu
sudah mendengar dan melihat sendiri. Tak peduli
bagaimanapun juga, dalam pandangannya aku ini tetap
seorang wanita siluman yang ganas....”
Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Adik Song, aku
hendak pergi sekarang!"
Wanita pemilik Lembah Semi itu terus menggeliat bangun
dan terus hendak melangkah pergi.
Tetapi Song Ling cepat menghadang di depannya dan
berkata setengah meminta, “Taci Poh, engkau....” dara itu tak
dapat melanjutkan ucapannya karena terus menangis tersedusedu.
Sambil membelai rambut si dara, Poh Ceng-in
menghiburnya, “Adik Song, janganlah bersedih hati. Apa yang
kukatakan tentu akan kulakukan. Tak peduli perasaan hatinya
bagaimana, tetapi aku tetap akan serahkan jiwa.... Asal dia
mau memberikan obat itu, aku tentu akan melakukan dengan
pengorbanan jiwa!"
Poh Ceng-in lepaskan tangannya dari cekalan Song Ling
lalu ayunkan langkah menuju ke dalam hutan....
---ooo0dw0ooo---
Jilid 17
Mula dari keakhiran

927
Siau-liong benar tak mengerti. Tetapi sempat juga ia
memperhatikan, ketika Poh-Ceng-in angkat kaki tadi, telah
melontarkan pandang mata kepadanya. Jelas sinar mata
wanita itu jauh berbeda dengan yang lalu. Tidak memancar
sinar kemarahan, tidak menumpah sinar kesedihan, tidak pula
menghambur sinar kecabulan. Mata wanita itu tiba-tiba
berobah alim dan serius.
Setelah bayangan Poh Ceng-in lenyap, sekonyong-konyong
Song Ling berlutut di hadapan Siau-liong. Sudah tentu pemuda
itu terkejut sekali dan tergopoh-gopoh mengangkatnya
bangun, tanyanya, “Mengapa engkau nona?"
Song Ling tetap tak mau diangkat bangun. Bahkan ia malah
menangis dan berseru, “Kong-sun tayhiap, tolonglah
mamahku....!"
Karena tak berhasil mengangkatnya bangun, Siau-liong pun
terpaksa ikut berlutut, “Dengan bersikap begini, berarti nona
hendak menyiksa diriku! Sudah tentu aku tak berani menerima
penghormatan nona yang begitu besar!"
Song Ling hentikan tangis dan berkata dengan beriba,
“Kecuali terhadap ayah bundaku, baru pertama kali ini aku
berlutut dihadapan orang....”
Kemudian dara itu mengusap air matanya dan berkata
pula, “Harap dengan memandang mukaku, engkau suka
menolong mamahku itu!"
Siau-liong gopoh menyahut, “Masakan hal itu perlu nona
minta lagi? Sekali pun tulangku hancur lebur, aku tentu akan
menolong beliau!"

928
Ia menarik tangan dara itu seraya berkata, “Harap nona
jangan gelisah. Nanti kalau kembali aku tentu merundingkan
hal ini dengan nona."
Song Ling gelengkan kepala, “Ah, tak perlu berunding lagi.
Saat ini sudah terdapat cara yang terbaik untuk menolong
mamahku....” —ia menghela napas lalu melanjutkan lagi,
“tetapi dikuatirkan engkau tentu tak mau meluluskan!"
"Telah kukatakan," sambut Siau-liong tepat, "sekal ipun
tulang-tulangku hancur lebur, asal nona sudah mempunyai
rencana yang baik, harap segera jelaskan. Asal menyangkut
usaha untuk menolong ibu nona, aku tentu akan
melaksanakan!"
Wajah Song Ling berobah, ujarnya, “Kalau begitu lekaslah
engkau tolong puteri dari suami-isteri Iblis-penakluk-dunia itu!
Siau-liong terbeliak kejut, serunya, “Harap nona jangan
termakan kelabuhannya. Wanita siluman itu luar biasa
bahayanya....”
Song Ling cepat membentaknya dingin, “Kerena engkau tak
mau mengorbankan diri, ya sudahlah! Harap engkau segera
pergi dari sini dan sejak saat ini, janganlah kita saling
memperdulikan lagi!
Siau-liong banting2 kaki seraya menghela napas, “Mengapa
nona begitu tak mau mendengar permintaanku. Ketahuilah....”
Tiba-tiba kakek mata satu menukas, “Walaupun aku tak
mempunyai kepandaian istimewa apa2, tetapi aku masih
dapat menyelidiki orang. Hati nurani nona Poh itu masih
belum lenyap sama sekali. Rasanya saat ini engkau harus
membantunya, barulah akan terjadi perobahan yang memberi
harapan....”

929
"Adakah lo-cianpwe bermaksud hendak mengatakan bahwa
aku harus menyusul dan menolong wanita siluman itu?" Siauliong
menegas.
Kakek mata satu mengangguk, “Seorang lelaki harus tahu
tempat dan keadaan. Apalagi nona Poh itu amat ter-gila2
kepadamu. Demi mengobati racun dalam tubuhmu yang
menyiksa itu, engkau mau rendahkan diri untuk sementara
waktu!"
Song Ling kembali menangis.
Sejenak berpikir maka Siau-liong pun menghela napas,
“Tak perlu nona bersedih. Ya, baiklah, aku menurut saja
perintah nona."
Song Ling berhenti menangis, ujarnya, “Mungkin dia masih
belum jauh, lekaslah engkau menyusulnya!"
Siau-liong tak mau banyak bicara lagi. Dengan menindas
kegelisahahan hatinya, setelah memberi hormat ia segera lari
menyusul Poh Ceng-in.
Song Ling pun hanya menghela napas rawan.
Tetapi hutan itu penuh dengan pohon2 cemara yang
rindang dan lebat sehingga suasana disitu amat gelap. Untuk
mencari apakah Poh Cen-in masih berada disitu, memang
sukar. Sambil berjalan, Siau-liong menyelidiki kesegenap
penjuru.
Tiba-tiba terdengar suara orang menghela napas pelahan.
Siau-liong cepat hentikan langkah. Tak jauh dibawah sebatang
pohon cemara besar, duduklah Poh Ceng-in. wanita yang
hendak dicarinya itu.

930
Setelah bersangsi beberapa saat, akhirnya Siau-liong
menghampiri, “Mengapa engkau masih berada disini?"
tegurnya.
“Apa pedulimu?" sahut nona itu dengan getus.
Siau-liong tertegun, “Memang aku tak bermaksud
mengurusmu. Hanya ingin bertanya, apakah sesungguhnya
yang engkau katakan kepada nona Song tadi?"
Poh Ceng-in tertawa dingin, “Apakah engkau berhak
bertanya?" -nona itu terus berbangkit dan lanjutkan langkah.
Siau-liong mendengus lalu menyelinap kemuka Poh Cengin,
bentaknya, “Jika engkau tak mau menerangkan terus
terang, jangan harap engkau dapat pergi dari sini!"
Poh Ceng-in memandangnya sejenak, serunya, “Karena
engkau begitu membenci diriku, lebih lekas bunuhlah saja!"
Kembali Siau-liong lemas hatinya. Tampak nona itu
pejamkan kedua mata dan bercucuran air mata. Tubuhnya
gemetar dan sikapnya seperti orang putus asa.
Siau-liong menghela napas, “Apakah maksud nona yang
sebenarnya? Walaupun kutahu cara mengobati racun tok-jong,
tetapi tetap kubiarkan engkau pergi dan mau memenuhi
perjanjian dalam satu tahun itu. Kurasa aku tak menyalahi
engkau tetapi mengapa engkau selalu melihat aku saja?"
Poh Ceng-in menghela napas; “Sekarang engkau benci
kepadaku, tetapi mungkin kelak engkau tentu memikirkan
aku....”

931
Siau-liong terkesiap tetapi sesaat kemudian ia tertawa
dingin.
"Meski aku menialahi engkau dalam beberapa hal, tetapi
engkau pun juga menyalahi aku....” kata Poh Ceng-in, “ah,
tetapi sekarang tiada guna dibicarakan lagi! Aku sudah
menyanggupi adik Song untuk menolong ibunya, hanya....” -ia
berhenti sejenak. lalu berkata pula, “Jika....”
Siau-liong meragu, katanya, “Entah dengan cara
bagaimana nona hendak meminumkan pil itu kepada
mereka?"
Sahut Poh Ceng-in, “Dalam itu aku harus mencari
kesempatan yang bagus. Terus terang, saat ini aku memang
belum mempunyai rencana tertentu!"
Melihat wajah Poh Ceng-in menampil kesungguan dan
teringat pula akan kata2 kakek Mata-satu serta sikap Song
Ling yang begitu sungguh2 memohon bantuannya,
berkuranglah kecurigaan Siau-liong. Tetapi ia masih ragu2
sehingga untuk beberapa saat ia tak dapat bicara apa2.
Poh Ceng-in gelengkan kepala, “Aku ini seorang wanita
siluman yang banyak tipu muslihat. Mungkin engkau takkan
percaya....”
Sejenak keliarkan mata, wanita itu berkata pula, “Masih ada
sebuah hal yang belum kukatakan kepada adik Song.
Sekarang marilah kuajak engkau menjumpai seseorang yang
engkau kenangkan!"
Habis berkata ia terus ayunkan langkah. Karena tiada lain
faham, terpaksa Siau-liong mengikuti wanita itu. Poh Ceng-in
melangkah masuk ke dalam hutan.

932
Lebih kurang 20 li jauhnya, tibalah mereka dibawah lereng
gunung. Tiba-tiba tampak sebuah biara. Biara itu seperti tak
berpenghuni. Pintunya tertutup rapat. Tetapi samping biara
terdapat penerangan. Rupanya dihuni orang.
Setelah mengetuk pintu, Poh Ceng-in berseru pelahan, “
Kan-ma.... Kan-ma....”
Kan-ma artinya ibu-angkat. Dan dari dalam ruang itu
terdengar suara bertany, “In-ji?" —terdengar tubuh
menggeliat bangun dari tempat tidur lalu derap kaki
menghampiri pintu dan membukanya.
Dengan penuh keheranan, Siau-liong memandang ke dalam
ruang itu. Tampak seorang wanita pertengahan umur tegak
berdiri diambang pintu. Wanita itu memandang Siau-liong
dengan terkejut.
Wanita itu bertubuh kurus, macam orang yang baru
sembuh dari sakit. Tetapi sinar matanya yang ber-api2
mengunjuk bahwa dia seorang wanita yang berkepandaian
tinggi.
“Kan-ma, kenalkah engkau padanya?" tanya Poh Ceng-in
pelahan.
Wanita itu memandang Siau-liong dengan keheranan.
serunya tersekat, “Apakah.... apakah dia itu....”
Tergerak hati Siau-liong melihat sikap wanita itu. Dia
merasa sinar mata wanita itu mengandung perbawa yang
amat besar. Tanpa disadari. Siau-liong segera mengangkat
tangan memberi hormat, “Aku yang rendah ini adalah
Kongsun Liong, mohon tanya lo-cianpwe....”

933
Wajah wanita itu tiba-tiba mengerut kecewa, ia mengingau
seorang diri, “Kongsun Liong.... Kongsun.... liong....”
Tiba-tiba ia berpaling dan bertanya kepada Poh Ceng-in,
“In-ji, bukankah engkau mengatakan."
Poh Ceng-in tersenyum, “Kan-ma, jangan bingung....
biarlah dia duduk dulu!"
Wanita itu mendesis, “Eh, mungkin karena sudah tua aku
menjadi begini pelupa. Ya, mari, silahkan masuk!"
Ia membuka pintu dan mempersilahkan Poh Ceng-in serta
Siau-liong masuk.... Tetapi saat itu Siau-liong masih meragu
diluar pintu. Poh Ceng-in segera melambarinya, “Mengapa
engkau masih tak lekas masuk?"
Siau-liong meragu. Tetapi akhirnya ia melangkah masuk
juga. Dilihatnya wanita pertengahan umur tadi sudah duduk
dikursi besar. Ia memandang lekat pada wajah Siau-liong,
sehingga anak muda itu merasa tak leluasa dan tundukkan
kepala....
Poh Ceng-in tertawa, “Sekalipun dia bernama Kongsun
Liong, tetapi sesungguhnya dia bukan orang she Kongsun....”
Serentak mata wanita itu memancar cahaya lagi, serunya
dengan nada gemeta, “Dia she apa?"
Sejenak mata Poh Ceng-in berkeliaran dan lalu memandang
kepada wanita dengan sikap tersenyum, “Dia orang she Tong
dan namanya Siau-liong!"
Habis berkata, ia terus berputar tubuh dan melangkah
keluar dari ruangan.

934
Tiba-tiba wanita pertengahan umur itu berbangkit dari
kursinya. Tubuhnya gemetar keras. Sepasang matanya
bercucuran air mata. Dipandangnya Siau-liong dengan
pandang yang penuh arti, katanya tersendat, “Benarkah yang
dikatakannya itu? Ayahmu itu....”
Sekonyong-konyong hati Siau-liong seperti dicengkam oleh
rasa duka yang tak dimengerti asalnya. Dia hanya merasa
hatinya amat pepat, hidungnya basah menahan isak.
Sahutnya, “Aku memang orang she Tong. Ayahku bernama
Tong Gun-liong. Tetapi ketika aku masih bayi, ayah telah mati
dibunuh orang. Beruntung atas pertolongan suhuku Kongsun
Sin-tho, aku dapat diselamatkan dan dirawat sampai besar.
Untuk menghindari incaran musuh maka suhu mengganti sheku
dengan she Kongsun....”
Hampir wanita itu tak kuat menahan tangisnya tetapi ia
berusaha sekuat hati untuk bertanya, “Lalu siapakah ibumu?"
“Ibu sedang menderita sakit diseberang laut."
Wanita itu cepat mencegah Siau-liong melanjutkan
kata2nya, “Sejak kecil ibumu telah melantarkan engkau.
Apakah engkau tak membencinya?"
“Beliau tentu mengira kalau aku dan ayah tentu sudah
binasa dilembah Hok-liong-koh digunung Kong-tong-san.
Karena itu ibu lalu mengembara meninggalkan diriku. Sudah
tentu itu bukan kesalahannya dan bagaimana aku dapat
membencinya....”
Tiba-tiba wanita itu maju dua langkah dan berkata, “Nak....
aku inilah ibumu! Oh, terima kasih Tuhan bahwa kami anak
dan ibu akhirnya dapat berjumpa kembali....!"

935
“Mah....!" menjeritlah Siau-liong dengan hati yang tegang
regang. Tetapi tiba-tiba ia meragu. Sejak kecil ia belum
pernah melihat wajah ibunya. Memang wajah wanita
dihadapannya itu mirip dengan wajahnya. Tetapi apakah
begitu saja ia terus mempercayainya? Bagaimana kalau wanita
itu orang suruhannya kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia?
Kalau Iblis penakluk-dunia itu menggunakan siasat mencari
wanita yang mirip dengan wajahnya untuk mengaku sebagai
ibunya lalu membujuknya untuk memikat supaya ia mau
menceritakan ilmu Thian-kong-sin-kang, apakah ia takkan
celaka!
Maka iapun segera menyurut mundur dua langkah lagi dan
bertanya dengan dingin, “Engkau tentulah orang suruhan
Iblis-penakluk-dunia."
Berhenti sejenak, Siau-liong berseru pula dengan bengis,
“Apakah bukan karena hendak menipu ilmu Thian-kong-sinkang
itu?"
Wanita itu menyurut selangkah dan berseru dengan
gemetar, “Nak, apa katamu? Bukankah tadi engkau
mengatakan takkan membenci aku?"
Siau-liong tertawa muak, “Mungkin karena engkau ini
bukan ibuku! Cobalah engkau katakan, bagaimana mendadak
engkau datang kemari dari seberang lautan? Dan mengapa
engkau dapat mengambil anak perempuan dari Iblis-penaklukdunia
itu sebagai anak angkat?"
”Engkau mengatakan Ing-ji itu puteri dari Iblis-penaklukdunia?"
wanita itu mengulang dengan heran.
“Masakan engkau tak tahu?"

936
Wanita itu menghela napas panjang, “Itu lebih hebat lagi....
Memang baru setengah hari kukenal padanya tetapi
kebaikannya yang dilimpahkan kepadaku sungguh tiada
taranya.... ah, sejak murid si Mawar Putih menuju ke tanah
Tiong-goan sini, siang malam aku selalu memikirnya.
Kemudian setelah penyakitku agak baik, aku segera bergegas
menyusul kemari. Setiba di Tiong-goan segera kudengar
tentang Iblis-penakluk-dunia yang muncul di dunia persilatan
lagi dan bermarkas di Lembah Semi pegunungan Tay-liangsan.
Ceng Hi totiang pun muncul lagi dan memimpin
rombongan orang gagah untuk menumpas Iblis-penaklukdunia.
Dalam gerakan itu, kuduga orang Kong-tong-pay tentu
ikut serta. Mawar Putihpun tentu akan mencari ketua Kongtong-
pay untuk membalas dendam. Maka bergegaslah aku
memburu kemari. Begitu tiba segera kudengar bahwa gerakan
yang dipimpin Ceng Hi totiang itu telah menemui kegagalan.
Mereka terpaksa melakukan perintah Iblis-penakluk-dunia
untuk berkumpul dipuncak Kim-ting. Cepat aku pun menyusul
ke Kim-Ting. Tetapi penyakitku ternyata masih belum sembuh.
Begitu tiba dikaki gunung Gobi, akupun pingsan.”
“Apakah dia yang menolong?" seru Siau-liong setengah
meragu.
Wanita itu mengangguk, “Jika bukan dia yang menolong,
mungkin kita takkan bertemu muka lagi....”
Ia menghapus air mata lalu melanjutkan lagi, “Tentang
persoalanmu dengan dia, juga telah diberitahukan kepadaku,
hanya dia tak mengatakan kalau dirinya puteri dari Iblispenakluk-
dunia. Apabila benar begitu, benar-benar hal itu
sukar dipercaya....”
Oleh karena sudah beberapa kali menderita tipu muslihat
Iblis-penakluk-dunia, maka Siau-liong tak mudah lekas

937
mempercayai keterangan orang. Dipandangnya wanita yang
mengaku sebagai ibunya itu dengan lekat.
Wanita itu rnenghela napas, ujarnya, “Demi engkau, ia tak
segan menghianati orang tuanya. Dengan begitu ia telah
menumpahkan cinta dan melepas budi sekaligus kepadamu.
Dan lagi dia seperti telah menolong jiwaku dan membebaskan
muridku si Mawar Putih dari tangan kedua suami isteri Iblispenakluk-
dunia....”
“Benarkah dia telah membebaskan Mawar Putih?" buruburu
Siau-liong menegas.
Wanita itu memandang lekat kepada Siau-liong, “Masakan
mah hendak menipumu?"
“Lalu dimanakah dia sekarang?"
Wanita itu berpaling dan memandang kesekeliling penjuru,
berkata, “Mereka berada di belakang rumah itu. In-ji telah
memanggilnya!"
Diam-diam Siau-liong gembira. Jika benar-benar begitu
jelas kalau wanita itu tentu ibunya. Asal Mawar Putih muncul
tentu dapat memberi keterangan asli tidaknya wanita yang
mengaku sebagai ibunya itu.
Dengan tegang, Siau-liong menunggu, Benar juga tak
berapa lama terdengar derap kaki orang berlari. Dan jelas
bukan hanya seorang. Pun derap kaki itu menandakan kalau
bukan orang yang mengerti ilmu silat. Melainkan derap kaki
orang biasa.
Siau-liong tak berani bertindak sembarangan. Sambil diamdiam
mempersiapkan tenaga dalam, dia segera berputar
menghadap ke arah suara itu.

938
Begitu pintu terbuka, muncullah tiga orang nona, Mawar
Putih, Tiau Bok-kun dan Poh Ceng-in. Girang Siau liong bukan
kepalang.
Mawar Putih cepat menghampiri kesamping wanita
pertengah umur itu dan bertanya, “Suhu, apakah dia benarbenar
datang kemari?"
Wanita itu batuk2 sejenak lalu menjawab, “Datang
memang sudah datang! Tetapi ia masih menganggap aku
mamahnya palsu....”- habis berkata ia terus tundukkan kepala
menangis.
Tetapi hal itupun tak dapat menialahkannya Aku tak
memenuhi kewajibanku sebagai ibu. Sekalipun dia tak mau
mengakui aku sebagai ibu, pun aku juga tak dapat berbuat
apa2!"
Mendengar itu air mata Siau-liong ber-derai2 turun. Cepat
ia berlutut dihadapan ibunya, Coa-Sik Se-si dan berkata
dengan ber-iba2, “Mah, anak memang tak berbakti. anak....”
ia tak dapat melanjutkan kata2nya karena tersekat oleh isak
tangisnya.
Coa-sik Se-sipun menangis sedih. Mawar Putih, Tiau Bokkun
dan Poh Ceng-in masing-masing mempunyai perasaan
sendiri2. Mereka terharu atas peristiwa itu dan ikut menangis.
Tak berapa lama, Poh Ceng-in yang berhenti menangis
paling dulu, lalu menghampiri kesamping Coa-sik Se-si dan
menghiburnya, “Kan-ma, seharusnya saat ini engkau harus
bergembira hati....”

939
Memandang keluar jendela, ia menuding, “Sekarang sudah
malam, masih ada beberapa hal penting yang harus
dikerjakan....”
Coa-sik Se-si hentikan tangisnya lalu berkata kepada Poh
Ceng-in, “Nak, ah, hanya membikin repot engkau saja.... aku
tentu takkan melupakanmu....”
Poh Ceng-in tertawa rawan. Memandang sejenak pada
Siau-liong lalu berpaling memandang Mawar putih dan Tiau
Bok-kun. Kemudian ia berjalan ke belakang Coa-sik Se-si dan
tundukkan kepala.
Siau liong berbangkit dan pe-lahan2 memberi hormat
kepada Mawar Putih, “Nona Pek....”
Mawar Putih mendengus, “Tak seharusnya engkau
mengelabuhi aku, urusanmu dengan tatji Poh....” ia deliki
mata kepada Siau-liong dan berkata pula, “Ketika di Lembah
Maut dalam barisan Tujuh Maut, walaupun Soh Beng Ki-su
mendapatkan perintah untuk menangkapku, tetapi
kesemuanya itu adalah karena engkau. Jika aku yang menjadi
taci Poh, aku tentu juga berbuat begitu. Maka aku tak
membencinya.... Sekarang taci Poh pun telah menolong
membebaskan diriku dari Iblis-penakluk-dunia. Aku berterima
kasih kepadanya. Apalagi dia pun telah menolong suhu
sehingga kami berdua dapat berjumpa disini....”
Habis berkata ia terus melangkah ketempat Poh Ceng-in.
Diam-diam Siau-liong menimang, “Sekalipun Poh Ceng-in
sudah sadar tetapi dia tetap anaknya Iblis-penakluk-dunia.
Dulu dia juga sahabat orang tuanya. Ia tahu cara untuk
mengobati racun, tetapi ia tak mau membunuh Poh-Ceng-in
dan rela melepasnya. Adakah hal itu bukan telah memberi

940
kelonggaran kepadanya? Mengapa dia dipersalahkan berlaku
kejam kepada wanita itu?"
Siau-liong menghela napas panjang lalu berkata kepada
Tiau Bok-kun, “Nona Tiau, aku sungguh.... amat menyesal
sekali....”
Buru-buru Tiau Bok-kun tundukkan kepala, “Aku banyak
menerima budi siangkong, masakan aku berani menyalahkan
engkau?"
Siau-liong memandangnya lekat dan menghela napas,
“Nona pun telah menolong jiwaku dan jika bukan karena
diriku, tak nanti nona sampai dapat ditawan Iblis-penaklukdunia.
Budi nona sungguh mengharukan hatiku....”
Tiba-tiba Poh Ceng-in menyeletuk kepada Coa-sik Se-si,
“Kan-ma, sekarang sudah tiba saatnya aku hendak
berangkat!"
“Liong-ji....!" teriak Coa-sik Se-si.
”Mamah hendak memberi perintah apa kepadaku?" sahut
Siau-liong.
Memandang Poh Ceng-in, Coa-sik Se-si berkata, “In-ji
seorang yang berjiwa besar. Demi kepentingan dunia
persilatan, ia rela menghianati orang tuanya.... Peristiwa
malam ini, menyangkut kepentingan dunia persilatan....
memang tak dapat memikirkan kepentingan pribadi,
menelantarkan urusan umum. Lekaslah engkau
menyertainya!"
Sejenak Siau-liong memandang Poh Ceng-in. Ia tampak
meragu.

941
“Bagaimana? Apakah engkau masih meragukan dirinya?"
Coa-sik Se-si kerutkan dahi.
Siau-liong menyahut gopoh, “Ya, baiklah, aku menurut....”
Kemudian ia berputar tubuh dan menjurah kepada Poh
Ceng-in, “Aku seharusnya berterima kasih kepada nona!"
Poh Ceng-in tersenyum. Ia tak menghiraukan Siau-liong
melainkan berkata kepada Coa-sik Se-si, “Kan-ma aku hendak
berangkat!"
Setelah melambai pada Mawar Putih dan Tiau Bok-kun, ia
terus berputar tubuh dan melangkah keluar.
Dengan segan, Siau-liong memandang ke arah Coa-sik Sesi
lalu melesat keluar mengikuti Poh Ceng-in Saat itu sudah
malam. Angin malam berhembus keras sehingga Siau-liong
agak menggigil. Tetapi serempak dengan itu, pikirannya yang
kalut tadi pun menjadi hening.
Bukan karena dia seorang pemuda yang banyak curiga.
Tetapi adalah karena beberapa kali tertipu oleh Iblis-penaklukdunia
maka ia tingkatkan kewaspadaan. Terutama terhadap
diri Poh Ceng-in. Ia masih belum dapat mempercayainya
penuh.
Setelah berjalan satu li, Poh Ceng-in kendorkan langkah
sembari berkata kepada Siau-liong yang mengikuti
dibelakangnya, “Ayahku memang banyak curiga terhadap
orang. Dia amat hati2 sekali, Bahkan terhadap orang
kepercayaannya pun, dia tetap tak dapat percaya penuh.
Maka kita pun tak dapat bergerak dengan leluasa....”

942
Ia berhenti lalu melolos buntalan kain dan diberikan kepada
Siau-liong, “Demi amannya rencana, terpaksa engkau harus
menyamar!"
Siau-liong menyambuti buntalan itu. Ternyata berisi
seperangkat pakaian hitam seperti yang dipakai tokoh2
tawanan itu. Sejenak meragu, akhirnya ia mau juga
memakainya. Kepala dan mukanya ditutup dengan sutera
hitam.
Poh Ceng-in tersenyum. Tanpa banyak bicara lagi ia terus
lanjutkan perjalanan.
Diam-diam Siau-liong memperhatikan tempat2 yg dilaluinya
itu. Seluas satu li, dilihatnya sebuah puncak gunung yang tak
berapa tinggi. Disebelah kiri dari puncak gunung itu adalah
puncak Kim-ting yang tinggi. Ditengah kedua puncak itu
dipisah oleh dua buah belantara.
Baru berjalan belum lama, tiba-tiba dari belakang sebuah
batu besar, melesat keluar seorang lelaki berpakaian hitam
dan mencekal pedang.
“Berhenti!" tiba-tiba orang itu membentak.
Poh Ceng-in berhenti dan balas membentak, “Tidak kenal
padaku?"
Lelaki itu memberi hormat, “Maafkan kami berlaku kurang
hormat, tetapi Thian-cun telah memberi perintah....”
“Supaya memeriksa aku?" Poh Ceng-in tertawa dingin.
"Hamba tak berani!" orang itu menyahut gopoh.
“Lalu bagaimana maksudmu?"

943
Jawab orang berbaju hitam itu, “Entah apakah Koh-cu
mempunyai....”
Poh Ceng-in tertawa lalu mengeluarkan sehelai panji
segitiga berwarna hitam dan dikibarkan kemuka sibaju hitam,
“Mau memeriksa benda ini?"
Pada saat sibaju hitam hendak menyambuti, Poh Ceng-in
cepat menarik kembali. Sejenak meragu, sibaju hitam
menunjuk Siau-liong, “Dan saudara ini....”
Poh Ceng-in deliki mata, melengking, “Dia aku yang bawa.
Mengapa engkau ribut2 saja? Masakan aku membawa mata2
musuh masuk kemari....?"
Si Baju Hitam buru-buru menyurut mundur dua langkah
dan berseru tersendat, “Hamba tak berani mencurigai Koh-cu,
tetapi Thian-cun telah memberi perintah keras....”
Poh Ceng-in mendengus, “Kalau begitu lekas engkau
menghadap ayah dan suruh ayah sendiri yang keluar
menyambut kedatanganku!"
Baju Hitam tertegun lalu berkata dengan nada enggan,
“Koh-cu, silahkan masuk!"
Poh Ceng-in tertawa dingin lalu menarik Siau-liong diajak
masuk.
Diam-diam Siau-liong menimang. Tempat itu hanya
terpisah satu li dari puncak Giok-ci-hong dan Iblis-penaklukdunia
sudah mengadakan penjagaan yang begitu ketat.
Sungguh iblis itu cermat sekali.

944
Tetapi diam-diam Siau-liong pun tertawa. Adalah karena
menginginkan ilmu Thian-kong-sin-kang, maka Iblis-penaklukdunia
tak membunuhnya. Dan karena tak dibunuh, ia pasti
dapat membasmi iblis itu.
Selama dalam perjalanan memang penuh dengan pos2
penjagaan tetapi dengan mudah Poh Ceng-in dapat melalui.
Begitu tiba dikaki puncak Giok-ci-hong, tampaklah beberapa
buah kemah.
Tetapi keadaannya sunyi-senyap. Rupanya orang2 dalam
kemah itu sudah tidur pulas. Tiba-tiba Poh Ceng-in gunakan
ilmu Menyusup suara membisiki Siau-liong, “Kita sudah tiba
dipos terakhir. Penjagaan disini luar biasa kerasnya.
Penjaga2nya jago2 kelas satu kepercayaan ayah. Kita harus
bergerak menurut gelagat!"
Siau-liong hanya mengangguk tetapi tak mau menjawab. Ia
sudah tahu apa artinya kata2 Poh Ceng-in. Kemudian Poh
Ceng-in melangkah lebar. Rupanya sengaja ia menimbulkan
suara.
Benar jugalah. Dari belakang gerumbul pohon, segera
bermunculan empat orang. Yang dua dimuka, yang dua
dibelakang. Kedua orang yang dimuka itu segera menghadang
dihadapan Poh Ceng-in, serunya, “Apakah Koh-cu membawa
tanda amanat dari Thian-cun?"
Seperti yang tadi, Poh Ceng-in segera mengeluarkan tanda
pengenal diri. Tetapi se-konyong2 ia berseru kaget, “Hai,
mengapa tanda pengenal diri yang kubawa itu hilang....!"
Keempat orang itu tenang2 saja memandang Poh Ceng-in
dan Siau-liong dengan pandang bermusuhan.

945
Poh Ceng-in merogohi baju, sibuk sampai beberapa lama
tetap tak dapat menemukan tanda pengenalnya. Kemudian ia
bertanya kepada kedua orang yang menghadangnya itu,
“Kalau tanda pengenal diri hilang lalu bagaimana?"
Salah seorang yang memelihara jenggot kambing segera
menyahut, “'Saat ini kita sedang menghadapi ancaman
musuh. Selembar rambut tercabut berarti seluruh tubuh
tergetar. Apalagi Thian-cun pun sudah memberi perintah.
Karena Koh-cu kehilangan tanda pengenal diri, terpaksa Kohcu
harus menunggu dulu disini. Hamba akan melaporkan pada
Thian-cun....” -habis berkata ia memberi isyarat kepada dua
orang yang berada dibelakang, “Lekas beritahukan Thian-cun,
bilang....”
“Tunggu dulu, biarlah kucarinya lagi," buru-buru Poh Cengin
menukas.
Kedua orang yang menerima perintah tadi terus akan pergi
tetapi demi mendengar ucapan Poh Ceng-in terpaksa mereka
berhenti.
Poh Ceng-in sengaja mencari kian kemari. Diam-diam ia
berputar diri dan memberi isyarat kepada Siau-liong.
Siau-liong mengangguk tertawa. Tiba-tiba ia maju
selangkah, serunya, “Kohcu, tanda pengenalmu berada
padaku!"
Poh Ceng-in tertawa, “Kalau begitu lekas tunjukkan kepada
mereka!"
Siau-liong mengiakan. Sambil masukkan tangan kedada
baju, ia maju ketempat kedua orang yang menghadangnya
itu.

946
“Berhenti! Mengapa engkan seliar itu!" bentak sijenggot
kambing.
Tetapi Siau-liong seperti tak mendengarnya. Dalam pada
berkata itu ia sudah tiba dihadapan kedua orang. Tahu2 kedua
orang itu sudah kaku tak dapat berkutik lagi. Ternyata Siau
liong guna gerakan yang luar biasa cepatnya untuk menutuk
jalan darah kedua orang itu. Sedemikian cepatnya Siau-liong
bergerak sehingga setelah kedua orang itu terpaku seperti
patung, barulah kedua kawannya yang di belakang itu tahu
kalau kawannya yang dimuka dicelakai orang.
Kedua orang yang di belakang itupun hendak bertindak
tetapi kalah cepat dengan Siau-liong yang sudah loncat dan
sebelum kedua orang itu sempat bersuara, Siau-liong sudah
menutuk jalan-darah mereka.
Dalam beberapa kejap saja, keempat orang itu pun sudah
dikuasai Siau-liong. Poh Ceng-in tercengang. Ia tak kira kalau
Siau-liong sudah mencapai kemajuan yang sedemikian
pesatnya. Maka berkatalah ia, “Sekarang sudah malam. Sekali
pun pada saat ini dapat menyelamatkan diri, tetapi tak lama
tentu akan diketahui mereka. Kita harus lekas bertindak!"
Habis berkata ia terus mendahului lari mendaki kepuncak
gunung. Siau-liong mengikuti dibelakang. Sekalipun dalam
perjalanan bertemu dengan beberapa peronda, tetapi mereka
tak bertanya apa2.
Rupanya karena dalam pos penjagaan tiada terdengar
pertandaan apa2, mereka anggap tak terjadi suatu apa.
Di atas puncak merupakan sebuah tanah datar. Beberapa
kubu yang didirikan disitu, tampak sunyi-senyap. Poh Ceng-in
langsung menuju kekubu yang nomor tiga.

947
Siau-liong memperhatikan bahwa dalam sebuah kubu
terdapat 4-5 orang baju hitam yang tengah duduk
bersemedhi. Rupanya mereka tengah menenangkan semangat
dan tak menghiraukan kedatangan kedua orang itu.
Tiba-tiba terdengar orang berseru, “Apakah itu In-ji?"
Poh Ceng-in dan Siau-liong terkejut. Tak salah lagi, itulah
suara Iblis-penakluk-dunia. Poh Ceng-in segera memberi
isyarat mata kepada Siau-liong lalu menuju kekubu yang
kedua. Siau-liong tetap mengikuti dibelakangnya. Ia berjalan
dengan tundukkan kepala agar kawanan baju hitam itu tak
melihatnya.
Tampak diluar kubu berjajar delapan orang lelaki
berpakaian ringkas sama tegak seperti patung.... Pinggangnya
menyelip senjata.
Ditengah kubu terdapat sebuah meja pendek. Di atasnya
diberi sebuah tempat pedupaan yang masih ber-kepul2
asapnya. Iblis perakluk-dunia dan Dewi Neraka tengah duduk
dengan berpakaian lengkap.
Poh Ceng-in berjalan kemuka kubu dan berseru dengan
nada manja, “Yah! Mah! sudah begini....”
Dengan bengis Iblis-penakluk-dunia membentak, “Baru saja
engkau terhindar dari bahaya, mengapa sudah keluyuran
kemana-mana?"
“Aku hanya ber-jalan2 didekat sini," sahut Poh Ceng-in.
Berkata Iblis-penakluk-dunia pula, “Saat ini sebenarnya
Ceng Hi si imam tua dan gerombolannya itu sudah tak
berdaya. Tetapi anak macan yang kupelihara itu ternyata
mengacau. Tong Siau-liong muncul sebagai musuhku yang

948
tangguh. Oleh karena itu malam ini mungkin takkan terhindar
dari pertempuran besar. Setelah budak itu tertangkap, barulah
hatiku tenteram. Menurut dugaanku, habis tengah malam
nanti, budak itu tentu akan datang. Maka telah kuperintahkan
supaya diadakan penjagaan yang ketat. Mengapa engkau
masih lari2 ke-mana2? Apabila berjumpa dengan budak itu,
apakah tidak berbahaya....”
“Penjagaan disini begini kuatnya, masakan dia mampu
melayang turun dari langit?" bantah Poh Ceng-in.
Iblis-penakluk-dunia menghela napas kecil serunya, “Soal
itu tak dapat kuperhitungkan. Budak itu telah mencapai
kemajuan luar biasa dalam ilmu Thian-kong-sin-kang. Ya,
sudah dapat mencapai tataran yang tak terduga....!"
Tiba-tiba ia membentak bengis, “Mengapa engkau tak lekas
kembali ke dalam kubumu!"
“Tolol! Mengapa engkau marah2 kepada anak sendiri?
Dalam beberapa hari ini dia sudah cukup menderita!" teriak
Dewi Neraka.
Kemudian berpaling ke arah Poh Ceng-in dan berkata
dengan nada lembut, “Beristirahatlah! Kelak engkau tentu
takkan menderita apa2 lagi!"
Dengan nada kemanja-manjaan, Poh Ceng-in mengiakan
dan terus melangkah pergi. Tetapi baru beberapa langkah, ia
mendengar ayahnya membentak, “Kembali!"
Poh Ceng-in terkejut dan buru-buru berpaling, “Mengapa,
yah?"

949
Iblis-peuakluk-dunia tersenyum, “Karena engkau segan
beristirahat, baiklah engkau panggilkan suhengmu suruh
kemari. Aku hendak memberi pesan kepadanya!"
"Dimana?"
"Di belakang Empat Roh!"
Poh Ceng-in mengiakan, terus menuju ke belakang.
Dengan tanpa bersuara, Siau-liong mengikuti Poh Ceng-in
seperti bayangannya. Walaupun Iblis-penakluk-dunia itu
seorang yang banyak curiga, tetapi ia tak begitu gila untuk
mencurigai anak perempuannya sendiri. Maka walaupun
melihat Siau-liong berdiri beberapa belas langkah dimuka, ia
tak bertanya apa2.
Kubu kedua itu hanya terpisah tiga tombak dari kubu
ketiga. Poh Ceng-in memberi isyarat mata kepada Siau-liong.
Tanpa berkata suatu apa ia terus lari lagi.
Tampak diluar kubu ketiga itu dua orang penjaga. Begitu
melihat Poh Ceng-in, mereka segera memberi hormat tetapi
tak berkata apa2.
Poh Ceng-in dan Siau-liong melangkah masuk ke dalam
kubu. Di dalam kubu telah digelari empat lembar permadani
bundar. Keempat pewaris ilmu sakti sedang duduk
bersamadahi di atas permadani itu....
Disamping mereka terdapat sebuah kursi bambu. Dengan
memegang cambuk Penenang-jiwa milik Iblis-penakluk-dunia,
Soh Beng Ki-su duduk miringkan tubuh. Begitu melihat Poh
Ceng-in, ia berseru menyapa dan berbangkit.
Poh Ceng-in tersenyum, “Ayah memanggil su-heng supaya
datang kesana."

950
Tanpa curiga apa2, Soh Beng Ki-su serahkan cambuk
kepada Poh Ceng-in, katanya, “Tolong sumoay menjaga
mereka!"- tanpa berpaling lagi, ia terus lari keluar kubu.
Poh Ceng-in menghela napas longgar. Setelah Soh Beng Kisu
pergi, ia membentak pelahan pada Siau-liong, “Ayah
hendak suruh mereka makan obat, mengapa engkau tak lekas
mengobati mereka!"
Sambil berkata Poh Ceng in cepat melirik ke arah kedua
penjaga diluar kubu. Melihat mereka tak mengacuhkan apa
yang terjadi dalam kubu, tenanglah hati Poh Ceng-in.
Siau liong mengiakan. Cepat ia mengeluarkan pil Sip-siaucwan
soh-sin-tan. Tetapi tiba-tiba ia agak meragukan khasiat
obat itu. Adakah pil itu dapat menyembuhkan mereka. Setelah
merenung beberapa saat, ia memutuskan untuk memberi dua
butir pil pada masing-masing tokoh itu.
Setelah Siau-liong meminumkan pil itu, Poh Ceng-in pun
segera gentakkan cambuk dimuka ke empat tokoh itu dan
membentaknya pelahan, “Bangunlah!"
Hatinya amat tegang sekali tanganpun gemetar. Untung
keempat tokoh itu serempak membuka mata dan memandang
cambuk kulit dari Poh Ceng-in dengan ter-longong2.
Tiba-tiba terdengar suara suitan melengking di udara. Siauliong
terperanjat. Jelas suitan itu berasal dari anak panah
pertandaan bahaya yang dilepas anak buah Iblis-penaklukdunia.
Kedua penjaga kubu serentak memberi hormat kepada Poh
Ceng-in, “Lapor pada koh-cu. dibawah puncak mengirim tanda
bahaya!"

951
“Lekas laporkan pada Thian cun berdua!" Poh Ceng-in
berseru gugup.
Kedua penjaga itu terbeliak kaget. Tetapi mereka pun
cepat2 lari menuju kekubu kedua.
"Lekas! Lekas....!” Poh Ceng-in membentak Siau-liong
sambil banting2 kaki. Siau-liong cepat memberi dua butir pil
kepada Jong Leng lojin yang duduk dekat pintu kubu.
"Telanlah!" bentak Poh Ceng-in seraya gentakkan
cambuknya.
Wajah Jong Leng lojin berobah. Tetapi setelah tertegun
sejenak, ia terus menelannya. Saat itu suasana diluar kubu
sudah kacau. Berpuluh sosok tubuh orang lari kian-kemari
amat berisik sekali.
Siau-liong tak dapat banyak berpikir lagi. Ia segera
memberikan dua butir pil kepada Lam-hay Sin-ni. Untunglah
kesemuanya itu berjalan lancar. Dibawah gentakkan cambuk
Poh Ceng-in, Lam-hay Sin-ni, Randa Bu-san dan Kongsun Sintho
mau menelan pil pemberian Siau-liong. Setelah itu mereka
pejamkan mata bersemedhi lagi. Tampaknya tiada reaksi
apa2.
Poh Ceng-in menghela napas longgar, serunya, “Pil telah
mereka telan. Bagaimana reaksinya tunggu saja nanti
perobahan mereka!"
Siau-liong yang saat itu sudah menaruh kepercayaan penuh
kepada Poh Ceng-in segera menjurah memberi hormat,
“Nona, aku....” -baru ia berkata begitu tampak sesosok tubuh
lari mendatangi. Dan muncullah Soh Beng Ki-su ke dalam

952
kubu seraya berseru gopoh, “Musuh sudah unjuk jejak, suhu
perintahkan aku supaya membawa keempat orang itu keluar!"
"Mereka berjumlah berapa banyak?" sengaja Poh Ceng-in
bertanya.
"Saat ini belum diketahui jelas, tetapi musuh yang tangguh
sudah tiba dipuncak gunung sini....”
Sambil menyerahkan cambuk kepada Soh Beng Ki-su lagi,
Poh Ceng-in membentak Siau-liong; "Lekas ambilkan
senjataku!"
Siau-liong mengiakan. Ia berputar tubuh terus pergi. Begitu
berada ditempat gelap, Siau-liong terus membuka pakaian
warna hitam yang dipakainya. Diam-diam ia menimang,
“Entah apakah pil itu berkhasiat atau tidak, tetapi malam ini
merupakan malam yang memutuskan. Aku harus mengadu
jiwa dengan kedua suami isteri iblis itu!"
Setelah memutuskan rencana, ia segera loncat apungkan
diri melayang kekubu kedua. Kubu yg ditempat Iblis-penaklukdunia
dan isterinya.
Saat itu Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka tengah
berdiri berdampingan diluar kubu. Sekeliling dijaga rapat oleh
kawanan anak buahnya Baju Hitam. Begitu melihat Siau-liong
meluncur dari udara, mereka kaget sekali.
“Budak kecil, akhirnya ia masuk ke dalam jaring sendiri!"
Iblis-penakluk-dunia tertawa nyaring.
"Iblis tua! Kematian sudah didepan mata, engkau masih
bermimpi!" bentak Siau-liong.

953
Iblis-penakluk-dunia tertawa angkuh.... Begitu mengangkat
tangan, kawanan penjaganya itu segera menyurut mundur.
Pelahan-lahan dia maju dua langkah. tetapi tetap terpisah
setombak jauhnya dari Siau-liong.
Dengan tertawa mengejek ia berseru, “Sudah kukatakan
bahwa aku tak mau memaksa orang. Asal ia mau
mengajarkan ilmu Thian-kong-sin-kang itu kepadaku dengan
lengkap, aku tentu akan pegang janji. Tiau Bok-kun dan
Mawar Putih kedua nona serta Kongsun Sin-tho dan lain-lain,
semuanya akan kubebaskan. Tetapi kalau tidak....”
Ia berhenti sejenak keliarkan pandang lalu melanjutkan
pula, “Apa yang kukatakan tentu akan kulaksanakan. Dan apa
akibatnya engkau tentu sudah tahu sendiri....”
Tiba-tiba ia berpaling membentak seorang pengawal yang
berada di belakangnya, “Bawa kemari kedua budak
perempuan yang berada dikurungan itu!"
Pengawal itu mengiakan terus lari ke belakang. Siau-liong
tak mau berkata apa2. Ia hanya tertawa dingin memandang
Iblis-penakluk-dunia.
Walaupun sepintas pandang Iblis-penakluk-dunia itu
tampak tenang tetapi dalam hati ia gelisah bukan kepalang.
Dan tanpa berkata apa2, Siau-liong pun melangkah maju.
Melihat itu Iblis-penakluk-dunia membentaknya, “Berhenti!
Apakah engkau benar menghendaki kubunuh kedua nona itu?"
Siau-liong tak menyahut tetapi tetap maju. Melihat itu Iblispenakluk-
dunia terpaksa mundur pelahan-lahan. Kini ia
mundur sampai dimuka kubu.

954
Saat itu siiblis sudah tak dapat mundur lagi. Sekonyongkonyong
ia membentak keras dan menghantam Siau-liong.
Tetapi anak muda itu hanya tersenyum saja. Diangkatnya
tangan kanan untuk menyapu. Terdengar letupan dan debu di
belakang Iblis-penakluk-dunia itu pun bergulung-gulung
tiba....
Saat itu Iblis-penakluk-dunia cukup banyak juga
mempelajari keempat ilmu sakti dari Lam-hay Sin-ni, Jong
Leng lojin, Kongsun Sin-tho dan Randa Bu-san. Kesaktiannya
jauh lebih hebat dari sebelumnya. Maka beranilah ia
menyongsong pukulan Siau-liong. Siapa tahu Siau liong
ternyata sudah hampir seluruhnya memahami Thian-kong-sinkang.
Bukan kepalang kejut iblis itu ketika pukulannya seperti
terbenam dalam lautan dan tiba-tiba pula ia dilanda oleh
tenaga yang hebat sehingga darahnya bergolak-golak
Dewi Neraka terkejut sekali. Cepat ia gentakkan tongkatnya
kepala naga. Tiba-tiba kepala naga itu cepat dan melayang ke
arah Siau-liong. siau-liong mendengus dingin. Sekali ia
menghantam, kepala naga dan tongkat wanita iblis itu
mencelat dan serempak itu terdengar suara orang tertahan.
Dewi Neraka terpental mundur sampai tujuh delapan langkah
jauhnya.
"Huak!".... wanita itu muntah darah!
Begitu kubu ketika melayang kabur, kubu ketiga segera
tampak. Tampak kawanan anak buah Iblis-penakluk-dunia
berdiri terlongong. Kesatu karena mereka terpesona melihat
kesaktian Siau-liong.... Kedua, karena belum mendapat
perintah dari pemimpinnya.

955
Seielah mengundurkan kedua suami isteri iblis, Siau-liong
masih maju menghampiri mereka.
Iblis-penakluk-dunia gugup tetapi ia tetap menutupi dengan
tertawa angkuh seraya menyurut mundur.
Dan pada saat itu ia sudah mundur ke kubu nomor tiga.
Dan apa yang terjadi dalam kubu ketiga itu pun sudah
kelihatan.... Soh Beng Ki-su sambil mainkan cambuk sambil
membentak keempat tokoh yang masih duduk, “Lekas
bangun! Bangun....!"
Tetapi keempat tokoh itu tetap pejamkan mata dan duduk
setenang patung Poh Ceng-in yang berdiri disamping,
tampaknya seperti gugup juga.
Tiba-tiba pengawal yang disuruh Iblis-penakluk-dunia untuk
membawa Tiau Bok-kun dan Mawar Putih tadi, pun sudah
datang. Tetapi sikap mereka ketakutan sekali. Sambil berlari
mendatangi mereka sudah berteriak-teriak, “Thian-cun, kedua
budak perempuan itu sudah lolos!"
"Mundur!" bentak Iblis-penakluk-dunia gugup. Ia terus
menerobos ke dalam kubu.
Melihat keempat tokoh itu duduk mematung, diam-diam
Siau-liong girang. Ia duga pil itu tentu sudah bekerja. Ia tak
mau memburu masuk, melainkan menunggu diluar.
Dengan wajah pucat lesi, Iblis-penakluk dunia cepat
mengambil cambuk dari tangan Soh-Beng ki-su lalu
digentakkan beberapa kali seraya membentak, “Hayo,
mengapa tak lekas bangun!"
Cambukan itu berhasil membangunkan Jong Leng lojin.
Tokoh itu serentak berbangkit. "Tar".... Iblis-penakluk-dunia

956
mencambuk punggung Jong Leng lojin seraya membentak,
“Lekas tangkap budak itu, mati atau hidup!"
Di luar dugaan, Jong Leng lojin tak mau menyahuti dan
melakukan perintah. Bahkan tiba-tiba ia menyambar cambuk
Iblis-penakluk-dunia dan balas membentaknya, “Siapa engkau
ini!"
Kali ini Iblis-penakluk-dunia seperti disambar petir kejutnya.
Ia lemparkan cambuk terus lolos ke luar kubu.
Dengan masih dalam pikiran tak sadar, Jong leng lojin
menghantam. Iblis-penakluk-dunia lari kemati-matian tetapi
tetap tak dapat terhindar dari hantaman Jong Leng. Tubuhnya
yang melambung di udara itu tiba-tiba menukik turun dan
jatuh di samping Siau-liong!
"Iblis tua, apakah engkau masih mimpi mau lari?" bentak
Siau-liong seraya menutuk dada dan tenggorokan iblis itu.
Saat itu Dewi Neraka pun sudah terluka pukulan Siau-liong
tadi. Tahu gelagat jelek, ia hendak lari. Tetapi ia ingat akan
Poh Ceng-in.
Pada saat Dewi Neraka meragu, tiba-tiba terdengar suara
berisik mendatangi.... Siau-liong kira tentulah anak buah Iblispenakluk-
dunia yang hendak menyerbu untuk menolong
pemimpinnya. Tetapi ternyata yang muncul itu adalah Ceng Hi
totiang dan rombongan orang gagah.
Dewi Neraka yang sudah menderita luka itu makin bingung.
Begitu memandang keadaan ditempat situ, tahulah Ceng Hi
apa yang telah terjadi. Cepat ia kebutkan lengan jubah untuk
menutuk jalan darah Dewi Neraka.

957
"Hai, apakah kalian ini kawanan roh orang mati?" teriak
Iblis-penakluk-dunia yang walau pun sudah tertutuk jalan
darahnya namun masih dapat bicara.
Saat itu kawanan Baju Hitam baru tersandar. Dengan
bersuit keras, mereka segera maju mengepung. Tetapi Jong
Leng lojin yang menjaga disamping Iblis-penakluk dunia,
segera menghantam kian kemari mencegah mereka.
Rombongan orang gagah yang dipimpin Ceng Hi totiang itu
segera menyerang sehingga terjadilah pertempuran dahsyat.
Sedangkan Siau-liong ter-longong2 sendiri. Ia benar-benar
terpukau karena melihat keadaan saat itu. Ia merasa seperti
telah menghidupkan kembali orang yang sudah mati.
Tiba-tiba Poh Ceng-in melengking, “Suheng, tunggulah aku
ber-sama2 lari!"
Saat itu barulah Siau-liong seperti diingatkan pada Soh
Beng Ki-su. Dengan menggerung, ia enjot tubuh melambung
ke udara dan melayang turun di belakang kubu.
Ternyata Soh Beng Ki-su yang bertubuh kurus kering itu
sedang siap hendak melarikan diri dari kubu. Siau-liong cepat
membentak dan mencengkeram dadanya. Soh Beng Ki-su
terkejut. Ia tebarkan jaringnya hendak melancarkan pukulan
Pek-kut-kang. Tetapi sudah terlambat. Dadanya sudah
dicengkeram Siau-liong. Seketika itu ia rasakan dadanya
seperti pecah. Siau Hong sudah menutuk tiga buah jalan
darah orang itu. Kemudian ia terus hendak melangkah ke
dalam kubu. Tetapi saat itu To Kiu-kong, Ti Gong taysu dan
kawan2nya bermunculan datang. Siau-liong cepat lemparkan
Soh Beng Ki-su kepada To Kiu-kong.

958
"Inilah manusia yang membunuh Pendekar Laknat! Tolong
engkau menjaganya. Kelak hendak kubawanya untuk sesaji
dimakam Pendekar Laknat!"....
Habis berkata Siau-liong terus loncat kekubu lagi. Dilihatnya
keadaan sudah berobah.
Kedua suami isteri iblis sudah dibekuk dan dijaga oleh
belasan tokoh2 kelas satu yang ditugaskan Ceng Hi totiang.
Untuk menjaga agar kedua iblis itu jangan sampai lolos,
mereka lekatkan ujung senjatanya pada jalan darah kedua
orang itu.
Pertempuran masih berjalan seru. tetapi karena pemimpin
sudah dibekuk, si tuasi pertempuran pun dapat dikuasai Ceng
Hi totiang. Yang sukar diatasi hanya beberapa tokoh seperti
Naga Terkutuk, Harimau Iblis, It Hang totiang dan lain-lain.
Setelah Jong Leng lojin maka ber-turut2 bangunlah
Kongsun Sin-tho, Randa Bu-san dan Lam-hay Sin-ni. Mereka
merenung beberapa waktu, baru menyadari apa yang telah
terjadi pada diri mereka selama ini.
"Suhu, apakah engkau sudah sembuh sama sekali?" buruburu
Siau-liong menghampiri Kongsun Sin-tho.
Kongsun Sin-tho menghela napa, “Liong-ji. Apakah engkau
yang membuatkan pil dari katak-kaki-tiga itu? Dimanakah kita
sekarang ini?"
"Kita saat ini berada dibawah puncak Kim-ting. Pil itu dibuat
oleh paderi sakti Kim-ting!"
“Ah, tak kira kalau akupun juga....”

959
Kongsun Sin-tho menghela napas panjang. Merenung
sejenak tokoh itu berkata pula, “Berapa banyak pil yang telah
dibuatnya? Sisanya berikan kepadaku!"
Siau-liong segera menyerahkannya. Setelah menerima,
Kongsun Sin-tho lalu memberi keterangan kepada Randa Busan
dan lain-lain. Kemudian keempat tokoh itu segera turun
kegelanggang pertempuran.
Dengan kesaktian mereka, mudahlah untuk menundukkan
Naga Terkutuk. Harimau Iblis, It Hang totiang dan lain-lain.
Kemudian setiap orang diberinya pil itu sebutir. Tak berapa
lama mereka pun pulih kesadarannya. Dan saat itu
pertempuran pun sudah selesai. Beberapa anak buah Iblispenakluk-
dunia berhasil melarikan diri. Tetapi yang tak dapat
lolos terpaksa menyerah.
Kongsun Sin-tho memberi sisa tiga butir pil kepada Siauliong,
“Pil itu tak mudah diperoleh. Selain dapat mengobati
segala macam racun, pun mempunyai daya untuk
menghidupkan orang yang sudah meregang jiwa. Harap
engkau simpan baik dan apabila perlu dapat engkau
gunakan."'
Siau-liong segera menyimpannya.
Saat itu suasana pertempuran sudah sunyi. Ceng Hi totiang
saling berpandang pandangan dengan keempat tokoh sakti. Ia
menuturkan kepada mereka semua peristiwa yang telah
terjadi selama ini. Terutama jasa-jasa Siau-liong yang pantang
mundur dalam menghadapi huru hara dari Iblis-penaklukdunia.
Sekalian orang gagah bertepuk sorak memuji-memuji
keberanian dan kegagahan anak muda itu!

960
Tetapi Siau-liong sendiri merasa malu dalam hati. Jika
tanpa bantuan siKakek Mata-satu, paderi sakti Kim-ting dan
Poh Ceng-in. tak mungkin ia sendiri dapat menyelesaikan
huru-hara itu.
Berturut-turut Randa Busan, Lam-hay Sin-ni, Jong Leng
lojin, Naga Tertutuk, Harimau Iblis, It Hang totiang dan lainlain,
menghaturkan terima kasih kepada Siau-liong. Mereka
berlutut dihadapan pemuda itu. Sudah tentu Siau-liong
terkejut dan tersipu-sipu mengangkat mereka bangun.
Pada saat itu tiba-tiba berdatangan pula dua rombongan.
Rombongan yang pertama ialah Coa-sik Se-si bersama Mawar
Putih dan Tiau Bok-kun. Dan rombongan kedua ialah Kakek
Mata-satu bersama si dara Song Ling.
Melihat suhu dan puterinya datang, girang Randa Bu-san
bukan kepalang.
Sementara itu, Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka masih
dikepung oleh rombongan orang gagah. Jong Leng lojin, Naga
Tertutuk, Harimau Iblis dan beberapa tokoh segera
menghampiri. Tokoh-tokoh itu geram sekali....
Jong Leng lojin memungut sebatang pedang yang terleiak
di tanah dan membentak, “Dosa kedua suami isteri iblis itu
sudah melewati takeran. Adakah saudara2 masih suka
memberi ampun kepada mereka?"
"Tidak! Mati pun mereka masih ringan kalau dinilai dari
dosanya!" seru sekalian orang gagah.
Tiba-tiba terdengar suara orang menangis. Dan pada lain
saat tampak Poh Ceng-in lari menghampiri lalu berlutut di
hadapan Siau-liong, “Tong siauhiap! Harap engkau suka
berlaku murah memberi ampun jiwa ayah bundaku itu!"

961
Saat itu Coa-sik Se-si pun menghampiri lalu mengangkat
bangun Poh Ceng-in, “Nak, ah, engkau cukup banyak
menderita....”
Buru-buru Siau-liong berkata kepada Jong Leng lojin, “Locianpwe,
sukalah lo-cianpwe menerima sebuah
permintaanku?"
"Silahkan, apa pun yang Tong siauhiap bilang, aku tentu
menurut " sabut Jong Leng.
Siau-liong menghela napas, “Saat ini huru-hara sudah
teratasi. Kedua suami isteri Iblis-penakluk-dunia itu sudah tak
berdaya lagi. Marilah kita melakukan budi kebaikan untuk
mengampuni jiwa mereka!"
Ceng Hi totiang dan Kongsun Sin-tho segera melangkah
menghampiri Siau-liong. Kata Kongsun Sin-tho, “Untuk
memberi ampun jiwa mereka, pun boleh saja! Tetapi demi
menjaga timbulnya bahaya dikemudian hari lagi, ilmu
kepandaian mereka barus dilenyapkan."
Melihat Siau-liong diam saja, Ceng Hi totiang pun segera
mencabut sebilah badik yang terselip di pinggangnya.
Dipotongnya urat nadi penting dari kedua suami isteri iblis itu
lalu dibebaskannya jalan darah mereka yang tertutuk itu.
Iblis-penakluk-dunia dan Dewi Neraka terpaku seperti
patung. Wajah mereka suram muram.
Poh Ceng-in lari kesamping ibunya dan berseru pelahan,
“Mah, aku.... aku sungguh menyesal dan bersalah
kepadamu....” — ia segera menangis tersedu sedan.

962
Lama sekali Poh Ceng-in tumpahkan kesedihan hatinya.
Setelah berhenti menangis ia segera mengangkat bangun
kedua ayah bundanya dan dibawanya turun gunung.
Tiba-tiba Coa-sik Se-si memberi perintah kepada Siau-liong,
“Lekas kau susul mereka dan bawa kembali kesini!"
Siau-liong segera lari mengejar seraya berteriak memanggil
Poh Ceng-in, “Nona Poh....”
Tetapi tanpa berpaling muka, Poh Ceng-in berseru
membalas, “Aku hendak pergi!"
"Aku sungguh menyesal sekali! Aku memutuskan.... akan
mengambil engkau sebagai isteri!" Siau-liong berteriak gopoh.
Poh Ceng-in menjawab rawan, “Ah, terima kasih atas
kebaikanmu itu. Tetapi sekarang lain halnya! Aku sudah
menyadari semua! Jika kau memang orang yang pegang janji,
engkau datang tahun depan untuk memenuhi janji mati
bersama aku!"
Kedua sudah isteri iblis yang dipapah berjalan oleh Poh
Ceng-in itu terkejut dan berpaling memandang Siau-liong.
Tetapi mereka cepat menghadap kemuka lagi dan
melanjutkan perjalanan turun gunung. Tak berapa lama
mereka pun lenyap dalam kegelapan malam.
Siau-liong tertegun beberapa saat lalu berjalan balik
ketempat mamahnya. Sekalian orang gagah segera
mengerumuni Siau-liong. Mereka mendengar apa yang
dibicarakan Siau-liong dengan Poh Ceng-in tadi. Tetapi
walaupun mereka tak mengerti apa maksud pembicaraan itu.
mereka tak berani bertanya kepada Siau-liong.

963
Saat itu karena pertempuran sudah selesai dan keadaan
kembali aman, rombongan orang gagah itu saling bergembira
ria dan tertawa-tawa.
Setelah puas bercakap-cakap, Ceng Hi totiang menghampiri
Siau-liong, “Rasanya tiada berguna aku menunggu lama disini.
Sebaiknya aku akan kembali. Maka ijinkanlah Tong siauhiap,
kami hendak mohon diri!"
Sekali pun pada saat itu Siau-liong dipandang sebagai
bintang penyelamat dunia persilatan dan seorang tokoh silat
yang telah memiliki kepandaian sakti, tetapi diam-diam hati
pemuda itu gelisah. Mendengar Ceng Hi totiang dan beberapa
tokoh hendak pulang, walaupun merasa tindakan mereka itu
terlalu bergegas, namun Siau-liong tak mau banyak bicara.
Demikian setelah beberapa tokoh itu tinggalkan gunung,
keadaan makin sepi. Saat itu sudah menjelang fajar. Angin
makin dingin. Keempat tokoh pewaris ilmu sakti masih berada
disitu.
Kongsun Sin-tho menghampiri Siau liong dan memberi
salam, “Siau-liong, akupun juga akan pergi....!"
Siau-liong bercekat hatinya dan tanpa tersadar, ia
bercucuran air mata, “Apakah suhu hendak pulang ke
Hongsan?"
Jawab tabib sakti itu, “Segala kehendakku sudah selesai.
Sebelum mati, ingin aku pesiar menikmati keindahan gunung2
dan sungai2 yang terkenal. Sekarang aku hendak memulai
pesiar kepegunungan Tang-gak. Dunia begini luas, jejakku
sukar ditentukan."
Habis berkata tokoh itu terus ayunkan langkah. Siau-liong
benar-benar tersayat hatinya. Ia masih ingin bicara banyak

964
sekali dengan gurunya yang baik budi itu. Tetapi ketika ia
hendak melangkah mencegahnya, tiba-tiba tampak Mawar
Putih lari dan berlutut dihadapan Coa-sik Se-si, menangis,
“Suhu, mohon engkau sudi meluluskan sebuah permintaanku!"
Coa-sik Se-si buru-buru mengangkatnya bangun, “Kalau
ada apa2, bilanglah! Tentu akan kululuskan permintaanmu
itu!"
Mawar Putih masih sesenggukan berkata, “Mohon suhu
suka meluluskan aku menjadi rahib! Lam-hay Sin-ni locianpwe
hendak mengambil aku....”
Sesaat Coa-sik Se-si tak dapat berkata apa2. Ia tahu apa
sebab muridnya hendak masuk menjadi rahib itu. Berpaling ke
arah Siau-liong, dilihatnya puteranya itu ter-longong2
mengucurkan air mata. Sampai beberapa lama, barulah ia
berkata, “Lam-hay Sin-ni lo-cianpwe adalah salah seorang
tokoh sakti yang mewarisi salah satu dari lima ilmu sakti.
Beliau hendak menerimamu sebagai murid, memang suatu
keberuntungan bagimu. Tetapi....”
Coa-sik Se-si tak dapat melanjutkan ucapannya karena saat
itu Mawar Putih sudah mengeluarkan sebilah badik dan terus
memotong rambutnya. Coa sik Se si hendak mencegah tetapi
sudah terlambat. Terpaksa ia hanya menghela napas panjang
dan tak berkata suatu apa.
Tiau Bok kun yang sejak tadi berdiri disamping tak ikut
bicara, demi melihat Mawar Putih memotong rambut, tiba-tiba
ia segera menghampiri Siau-liong, “Tong siangkong! Atas budi
pertolonganmu kepadaku itu, mungkin dalam kehidupan
sekarang aku tak dapat membalas....!'"- habis berkata iapun
segera memotong rambutnya juga.

965
Saat itu Siau-liong termangu-mangu seperti patung. Dia tak
dapat berkata apa2 kecuali bercucuran air mata....
Setelah mengucap terima kasih kepada Coa-sik Se-si, Lamhay
Sin-ni segera memimpin tangan Mawar Putih diajak pergi.
Jong Leng lojin tertawa gelak2. Ia melangkah kemuka Tiau
Bok-kun, katanya, “Aku masih belum punya pewaris, entah
apakah engkau suka....”
Tiau Bok-kun girang sekali. Buru-buru ia berlutut dan
memberi hormat dengan khidmat, “Suhu....”
Jon Leng lojin tertawa meloroh. kemudian berseru kepada
Lam-hay Sin-ni, “Muridku juga tak kalah dengan muridmu itu!"
Kemudian Randa Bu-san pun hendak pamit. Sementara si
dara Song Ling berdiri jauh tak mau memandang Siau-liong.
Karena ditinggal pergi oleh tokoh2 itu, hati Siau-liong
seperti tertindih batu. Ia hendak menangis, tetapi ai rmatanya
sudah kering. Akhirnya ia bertanya kepada Randa Bu-san;
"Apakah Cianpwe juga akan pergi?"
Randa Bu-san tertawa, “Di dunia tiada perjamuan yang
takkan berakhir. Kalau saatnya harus berpisah, kita pun harus
berpisah!"
Demikian para tokoh2 itu satu demi satu segera tinggalkan
tempat itu. Yang ada kini hanya Siau-liong dan mamahnya.
Wajah Siau-liong penuh bekas air mata. Pikirannya
melayang pada masa yang lalu. Bayang2 orang satu demi satu
melintas pada benaknya.

966
Tetapi mengingat bahwa mereka telah mendapat tempat
yang tepat, hatipun tenang. Ia menghapus air mata dan
paksakan tertawa, “Mah, mari kita tinggalkan tempat ini juga!"
Saat itu hati Coa-sik Se-si pun girang dan sedih. Serentak ia
berbangkit, ujarnya, “Marilah kita kegunung Hongsan untuk
menyambangi makam ayahmu!"
Siau-liong terhibur hatinya. Sambil menggandeng tangan
mamahnya, mereka segera berjalan pe-lahan2 menuruni
gunung.
Karena sudah tiada urusan yang penting, mereka pun
melakukan perjalanan dengan pelahan.... Setiba dibawah
gunung lebih dulu mereka mencari penginapan dirumah
penginapan. Setelah itu mereka menyewa kereta. Lebih
kurang setengah bulan kemudian barulah mereka tiba
digunung Hongsan.
Pada saat mereka mendaki ke atas gunung, apa yang
disaksikannya membuat mereka terkejut sekali.
Ceng Hi totiang dan rombongan orang gagah yang terdiri
dari be-ratus2 orang, muncul menyambut mereka. Didekat
kuburan almarhum Tong Gun-liong, didirikan beberapa buah
bangsal. Selusin bujang perempuan segera memimpin tangan
Coa-sik Se-si diajak masuk ke dalam bangsal.
Karena terkejut, Siau-liong sampai tak dapat berkata apa2.
Ia tak mengerti mengapa tokoh2 persilatan berada disitu.
Kiranya untuk membalas jasa Siau-liong, Ceng Hi totiang
memimpin rombongan kaum persilatan menuju ke Hong-san
dan mendirikan bangsal dan membangun sebuah gedung yang
mewah. Gedung itu akan dipersembahkan kepada Siau-liong
sebagai tempat tinggal ibunya.

967
Siau-liong sukar menolak kebaikan Ceng Hi totiang dan
tokoh2 persilatan. Terpaksa ia mengucapkan terima kasih
Gunung Hongsan yang biasanya sunyi, saat itu ramainya
bukan kepalang. Beratus-ratus tokoh persilatan
bersembahyang didepan makam Tong Gun-liong. Mereka
dipelopori Ceng Hi totiang yang bersembahyang dengan
berlutut di depan nisan, Coa-sik Se-si dan Siau-liong berdiri, di
samping makam untuk membalas hormat.
Coa-sik Se-si benar-benar terharu melihat upacara yang
belum pernah terjadi dalam sejarah dunia persilatan. Ia
bercucuran air mata dan berkemak-kemik mendoa, “Gunliong,
Gun-liong.... jika engkau tahu keadaan ini. engkau pasti
dapat meram dengan puas dialam baka!"
Selesai upacara sembahyangan, tiba-tiba Toh Hun-ki ketua
Kong-tong-pay bersama keempat Su-lo maju ke depan makam
dan berseru, “Dahulu kamilah yang salah memberi keputusan.
Maka kami akau menebus kesalahan itu dengan kematian!"
Habis berkata mereka sama mencabut badik dan terus
hendak bunuh diri.
Sesungguhnya Siau-liong tak sampai hati melihat mereka
membunuh diri. Tetapi ia tak berani lancang mengambil
tindakan. Maka ia berpaling memandang ibunya.
Ternyata Coa-sik Se-si sudah bergegas maju menghampiri
dan berseru, “Cianpwe sekalian, harap jangan bertindak
begitu. Bagaimanapun halnya, Gun-liong adalah muridmu.
Pada masa itu dia telah melanggar peraturan perguruan.
Sudah seharusnya menerima hukuman....”
Ceng Hi totiang pun juga menghampiri dan tertawa,
“Peristiwa yang lampau sudah lalu! Hari ini benar-benar suatu

968
peristiwa bersejarah bahwa seluruh kaum persilatan
melakukan upacara sembahyang. Soal yang lalu, tak perlu
diungkat lagi!"
Siau-liong juga ikut menasehati sehingga tokoh-tokoh
Kong-tong-pay itu mau juga batalkan niatnya membunuh diri.
Mereka menghaturkan terima kasih kepada ketiga orang itu.
Dan suasana berkabung, kini berobah menjadi suatu peristiwa
yang menggembirakan.
Hari kedua, rombongan kaum persilatan pun mengadakan
sembahyangan dimakam Pendekar Laknat dan Pengemis
Tengkorak.
To Kiu-kong menyerahkan Soh Beng Ki-su kepada Siauliong.
Dihadapan makam Pendekar laknat, Siau-liong menusuk
dada Soh Beng Ki-su mengambil hatinya dan
disembahyangkan didepan makam Pendekar Laknat.
Selesai upacara sembahyangan itu, Ceng Hi totiang hendak
mengangkat Siau-liong sebagai pemimpin dunia persilatan.
Tetapi Siau-liong tetap menolak. Ia menyatakan lebih senang
menjadi cousu dari partai Kay-pang dan berkedudukan sama
dengan ketua partai2 persilatan lain.
Sudah tentu partai Kay-pang girang sekali. Mereka
menyambut pernyataan cousu-ya mereka itu dengan berlutut
menghaturkan terima kasih. Sejak itu Kay-pang makin
menjulang namanya. Partai itu seolah-olah dianggap sebagai
pemimpin dunia persilatan.
Setelah hampir sebulan berada di gunung Hong-san, sekali
pun tokoh-tokoh persilatan Itupun segera berbondongbondong
pulang ke tempat masing-masing.

969
Sejak itu Siau-liong bersama ibunya tinggal di gunung
Hong-san. Mereka melewatkan kehidupan yang bahagia.
Tetapi Siau-liong tetap gelisah memikirkan nasib Mawar
Putih, Tiau Bok-kun, Poh Ceng-in dan lain-lain. Ia pun ingat
bahwa besok tahun muka pada pertengahan musim rontok, ia
harus menuju ke gunung Busan untuk memenuhi
perjanjiannya dengan Poh Ceng-in.
Rupanya Coa-sik Se-si tahu apa yang terkandung dalam
hati puteranya. Ia menasehati agar Siau-liong dapat
mempengaruhi pikiran Poh Ceng-in supaya membatalkan
rencana untuk mati bersama itu. Dan sebagai perobahan,
Siau-liong supaya menerima Poh Ceng-in sebagai isteri....
Siau-liong mengiakan. Setelah tiba waktunya ia segera
berangkat menuju ke Busan.
Dalam perjalanan, ia menimang, “Randa Bu-san tentu
sudah tahu bahwa Pendekar Laknat itu sebenarnya sudah
mati. Dengan begitu perjanjian mereka untuk mengadakan
pertempuran, dengan sendirinya gugur. Dan sekarang hanya
sebuah perjanjian dengan Poh Ceng-in yang harus ia
selesaikan!"
Tiba di gunung Busan, tepat pada pertengahan bulan
delapan pagi. Perjanjiannya dengan Poh Ceog-in ialah hari
kedua dari pertengahan bulan delapan. Ia duga, apabila Poh
Ceng-in datang memenuhi janji, tentu tak mungkin datang
lebih dulu dari dirinya.
Tetapi diluar dugaan, begitu membelok pada sebuah
tikungan gunung, ia melihat di tengah sebuah hutan telah
dibangun sebuah makam. Dan ah.... ternyata Poh Ceng-in
sudah berada di situ, Ia tetap mengenakan pakaian merah
menyala dan duduk disamping makam.

970
"Nona Poh!" serentak Siau-liong berseru seraya lari
menghampiri.
Poh Ceng-in serentak berbangkit tetapi tiba-tiba ia menjerit
dan rubuh lagi.
Siau-liong terkejut dan cepat memapahnya bangun. Sambil
ulurkan tangan kiri, Poh Ceng-in mengerang, “Lenganku digigit
ular beracun yang kupelihara! Lekas bantu menghisap racun
itu!"
Waktu memeriksa, Siau-liong memang melihat lengan kiri
nona itu terdapat dua buah lubang yang masih bercucuran
darah. Tanpa banyak berpikir lagi. ia terus menghisapnya
dengan mulut.
"Lekas hisap! Lekas isap! Kalau racun keburu masuk ke
dulam jantung, tiada obatnya lagi!" berulang kali Poh Ceng-in
merintih rintih.
Karena gugup, Siau-liong terus menghisap kemati-matian.
Karena darah terus mengalir tak berhenti, Siau-liong tak
keburu meludahkan ke tanah sehingga terus ditelannya.
Keadaan itu berlangsung sampai lama.
"Apakah sekarang nona sudah merasa enak?" tanyanya
beberapa saat kemudian. Tetapi serentak dengan itu
wajahnya pun berobah. Dilihatnya wajah Poh Ceng-in pucat
lesi seperti orang yang mau mati.
Kemudian nona itu paksakan tertawa rawan, “Aku tak
pantas menjadi jodohmu.... racun jong-tok itu.... su.... dah....
punah....!"

971
Habis berkata wanita pemilik Lembah Semi itu pun kelentuk
kepalanya dan meramkan mata selama-lamanya.
Siau-liong terkejut. Tanpa disadari ia menangis dan
berkabung melihat penderitaan dan pengorbanan wanita itu.
Saking sedihnya ia sampai pingsan.
Setelah sadar barulah ia mengetahui bahwa Kakek Matasatu,
Randa Bu-san dan Song Ling sudah menjaga
disampingnya. Siau-liong segera menanam Poh Ceng-in ke
dalam liang yang telah disiapkan itu.
Kemudian Siau-liong tegak berdiri di samping makam itu
seperti orang yang kehilangan semangat. Kakek Mata-satu
dan Randa Busan menghiburnya dan akhirnya dapat
membujuknya diajak pulang ke Hong-san.
Coa-sik Se-si juga berduka mendengar peristiwa kematian
Poh Ceng-in. Sedang Siau-liong tetap lesu seperti orang sakit.
Ia lebih suka membenam diri dalam kamar.
Dua bulan kemudian barulah ia mulai dapat kembali
semangatnya yang hilang itu. Hari itu ia merasa semangatnya
segar, kedukaan hatinya pun berkurang. Maka keluarlah ia
dari kamarnya. Tetapi alangkah kejutnya ketika ia melihat
keadaan di luar.
Di ruangan besar, penuh dengan meja perjamuan dan
tetamu2 yang terdiri dari ketua partai2 persilatan serta tokoh2
ternama.
Siau-liong heran bukan kepalang. Buru-buru ia mencari
mamahnya untuk bertanya. Sudah dua bulan ia tak pernah
keluar dari kamar sehingga tak tahu apa yang terjadi dalam
rumah.

972
Coa-sik Se-si keluar menyambut diiringi oleh bujang
perempuan. Dengan wajah berseri tawa, wanita itu berkata
kepada puteranya, “Siau-liong, sekali pun dalam urusan ini
aku tak pernah mengatakan kepadamu, tetapi engkau jangan
menolak! Hari ini adalah hari kebahagiaanmu!"
Siau-liong kaget setengah mati, “Bagaimana ini....”
Coa-sik Se-si menukas tertawa, “Mempelai perempuan
adalah Song Ling. Mamahlah yang mencarikan jodohmu itu!"
Sekali pun Siau-liong tak berani membantah tapi ia
banting2 kaki dan menghela napas panjang.
Tiba-tiba Kakek Mata-satu muncul dengan tertawa-tawa,
“Buyung, apakah engkau tak ingat janjimu yang telah engkau
berikan kepadaku di puncak Kim-ting tempo hari?"
Siau-liong seperti disadarkan. Teringatlah ia mengapa
kakek buta sebelah mata itu memaksanya supaya meluluskan
sebuah permintaannya Kiranya permintaan kakek itu tak lain
ialah hendak menjodohkan cucu muridnya atau si dara Song
Ling dengan dirinya. Ah.... ia tak berani banyak bicara lagi dan
biarkan sekalian orang hendak mengatur bagaimana kepada
dirinya.
Upacara perkawinan berlangsung megah sekali. Gunung
Hong-san selama dua bulan ramainya bukan main.
Karena terjalin budi dan cinta, kedua mempelai itu hidup
rukun dan berbahagia. Randa Bu-san dan Coa-sik Se-si girang
sekali melihat putera puteri mereka telah mendapat jodoh
yang sepadan.

973
Bahkan Randa Busan menerima baik tawaran Coa-sik Se-si
untuk tidak kembali ke Busan tetapi tinggal di gunung Hongsan
bersama anak dan menantunya.
Setelah sekalian tokoh2 persilatan pulang ketempat
masing-masing, paderi Liau Hoan masih tinggal di situ. Ia
menemui Siau-liong dan mengingatkan janjinya dahulu.
Ternyata pada 30 tahun yang lalu gunung Thian-san
meletus. Batu2 besar menutup sebuah gua tempat tinggal
kawanan orang-utan. Selama 30 tahun itu paderi Liau Hoan
suruh muridnya memberi makanan. Tetapi kini orang-utan itu
berkembang biak menjadi ratusan ekor jumlahnya. Lama
kelamaan mereka tentu akan mati karena sesak. Maka Liau
Hoan minta Siau-liong kesana untuk menghancurkan batubatu
besar yang menutup pintu gua....
"Hanya ilmu Thian-kong-sin-kanglah yang menghancurkan
batu2 raksasa itu. Maka kumohon siauhiap suka bersama aku
pergi ke Thian-san," kata paderi itu.
Siau-liong mengajak isterinya memenuhi janji ke Thian-san.
Setelah berhasil, maka kedua suami isteri pendekar itu
berkelana melakukan amal perbuatan yang luhur dan berguna
bagi rakyat.
Dengan berseri-seri kedua penpantin remaja itu, Siau-liong
— Song Ling, menghaturkan hormat minta doa restu kepada
tokoh2 persilatan
-- T A M A T--
974
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil : Pendekar Laknat 2 tamat dan anda bisa menemukan artikel Cersil : Pendekar Laknat 2 tamat ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-pendekar-laknat-2-tamat.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil : Pendekar Laknat 2 tamat ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil : Pendekar Laknat 2 tamat sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil : Pendekar Laknat 2 tamat with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-pendekar-laknat-2-tamat.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar