Misteri Pulau Neraka 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Selasa, 13 September 2011

Misteri Pulau Neraka
( Ta Xia Hu Pu Qui )
Karya : Gu Long
d/h : Pulau Neraka
Disadur oleh : Tjan ID




Jilid 01
DALAM DUNIA PERSILATAN tersiar berita yang
mengatakan begini:
Di tengah lautan timur yang luas terdapat pulau kecil yang
tak berpenghuni setiap malam bulan purnama, di atas pulau
itu akan bermunculan banyak sekali kejadian aneh...
Kentongan ketiga baru saja lewat, ketika suasana amat
hening, sepi tak kedengaran sedikit suarapun, ombak laut
pelan-pelan surut ke tengah samudra, di atas pulau itu pasti
akan terdengar bunyi seruling yang tinggi melengking.
Menyusul suara seruling, maka akan terdengar pula suara
petikan harpa yang merdu.
Ditengah keheningan malam, irama seruling itu sedih dan
menusuk perasaan, membuat orang merasakan hatinya lara
dan duka.
Sebaliknya irama hampa itu ibaratnya beribu-ribu
prajuritnya berkuda yang menyerbu ke medan laga,
bersemangat dan membuat darah dalam badan mendidih.
Kemudian akan membuat juga suara nyanyian yang
lantang membelah keheningan malam, membawakan syair
Toa kang-tang-ki yang bernada keras dan membetot sukma....
Bila nyanyian telah selesai, perpaduan irama seruling dan
harpa telah sirap, gelak tertawa panjang yang memekikkan
telinga akan bergema membumbung tinggi ke angkasa.
Kemudian akan muncul gulungan cahaya merah yang
menyambar-nyambar di atas pulau seperti jilatan api yang
membara, dalam kegelapan malam, cahaya itu terasa
menusuk pandangan mata.
Diantara kobaran api yang membara, akan muncul pula
selapis hawa pedang yang menyilaukan mata.
Mungkin di sana terdapat seorang jago pedang yang
sedang hidup mengasingkan diri?
Akhirnya berkumandang suara pujian kepada sang Buddha
yang menggelegar bagaikan guntur membelah bumi.
Kemudian suasana menjadi hening, sepi dan tiada kejadian
apapun.
Orang persilatan yang mendengar dengan cepat
menyebarkan peristiwa itu ke seluruh dunia persilatan.
Dalam waktu singkat, peristiwa aneh itu menjadi bahan
cerita orang banyak, menjadi buah bibir setiap jago-jago
persilatan.
Ada diantara mereka yang menduga kalau pulau itu dihuni
tokoh sakti, bila mereka berhasil mencapai pulau tersebut,
siapa tahu bakal menemukan kitab-kitab pusaka peninggalan
mereka?.
Ada diantara mereka yang menduga pulau itu dihuni
siluman atau iblis yang hebat, dengan nekat melenyapkan
semua kejahatan dari maka bumi mereka berangkat ke pulau
itu.
Ada pula yang menduga di pulau itu akan dijumpai senjata
mustika peninggalan tokoh sakti di jaman dulu kala, siapa tahu
kalau mereka berjodoh dengan senjata itu.
Ada pula yang menganggap di pulau itu berdiam tokoh silat
yang sedang diliputi kesedihan, mereka ingin menyambangi
dan berkenalan dengannya.
Selain dari pada itu ada pula jago-jago muda dalam dunia
persilatan yang ingin menjadi tenar, ada yang ingin
menghindari kejaran musuhnya, ada yang ingin mencari guru
pandai, tanpa memperdulikan bahaya yang bakal dihadapi,
mereka berangkat untuk beradu untung. Namun hasil yang
dijumpai kawanan jago itu setali tiga uang.
Diantara sepuluh bagian, ada sembilan bagian diantaranya
sudah mundur teratur ditengah jalan mencapai lima li dari
pulau tersebut, Mungkin ada pula diantaranya yang berhasil
lolos dan menyusup ke atas pulau dalam kegelapan malam.
Namun mereka yang berhasil mencapai pulau tersebut, tak
pernah nampak kembali lagi.
Setahun, setahun, kembali setahun.
Waktu berlalu bagaikan kilat yang menyambar diangkasa ..
..
Orang yang bertujuan menyerempet bahaya masih
berdatangan tiada hentinya, namun kebanyakan menjadi
manusia-manusia yang bisa pergi tak pernah kembali.
Akhirnya orang persilatan menghadiahkan nama pulau
pergi tak kembali untuk pulau terpencil tersebut, dimana lamakelamaan
akhirnya lebih dikenal orang sebagai: Pulau Neraka.
Sejak itu, Pulau Neraka menjadi lambang dari suatu tempat
yang mendirikan bulu roma orang, tempat untuk mencoba
keberanian umat persilatan, juga merupakan perangkap bagi
umat persilatan untuk mendapat kematian.
-ooooooo0dw0ooooooo-
BANYAK tahun sudah lewat Pulau Nerakapun masih tetap
seperti sedia kala.
Suara seruling, irama harpa, bayangan pedang, nyanyian
lantang, pekikan nyaring, gelak tertawa keras dan pujian
Buddha yang menggelegar, setiap bulan purnama pasti akan
muncul satu kali.
Hanya saja, bila kau adalah seorang yang teliti, seorang
yang seksama, maka kau jumpa banyak sekali perbedaanperbedaannya.
Suasana suram dan sedih menyelimuti seluruh pulau kecil
itu, kegagahan serasa bagaikan tinggal kenangan.
Permainan harpa kini bernada sedih, suara nyanyian
menyerupai orang yang sedang menangis...
Walaupun hawa pedang yang membelah angkasa semakin
dahsyat kekuatannya, namun tubuh sifat kehidupan
dibaliknya, tidak seperti dulu penuh dengan hawa
pembunuhan yang mencekam.
Syair lagu Toa Kong Tang Ki, kini telah dirubah menjadi
syair So Bo mengangon kambing.
"Si orang tua, mengharapkan anaknya kembali, waktu lewat
bagaikan air...
Ditengah malam sama-sama tidur, siapa bermimpi siapa...
Anak siapakah yang dimaksud? Tak seorangpun yang
tahu.
Seandainya kau mujur dapat mencapai pulau tersebut
beruntung tidak menjadi orang yang bisa pergi tak kembali,
maka akan kau jumpai dua hal yang akan membuat kau tak
percaya....
Ditengah-tengah pulau itu akan jumpai sebuah tugu yang
terbuat dari batu.
Di atas batu tadi akan tertera tiga huruf besar yang dibuat
dengan menggunakan tujuh macam ilmu silat yang berada,
entah pukulan tangan kosong, atau pedang atau golok atau
bekas pukulan berapi, dan ketiga huruf itu berbunyi:
"Jit Hu To."
Rupanya Pulau neraka sesungguhnya sudah mempunyai
nama aslinya, hanya umat persilatan tak ada yang
mengetahuinya belaka.
Selain itu di atas puncak yang bukti yang paling tinggi akan
di jumpai sebuah gardu kecil, Di depan wuwungan gardu
tersebut tiga huruf besar yang terbuat dari susunan bambu
yang berbunyi:
"Wang Ji teng," (Gardu menantikan anak).
Tak heran kalau nyanyian yang bergema membawakan
syair yang berbunyi:
"Si orang tua, mengharapkan anaknya kembali."
Mungkinkah ke tujuh kakek yang menderita itu sedang
mengharapkan anak mereka kembali?
Satu teka-teki besar! Tak seorang manusiapun yang bisa
menjawab pertanyaan ini.
-ooooooo0dw0ooooooo-
Siapakah anak yang tidak berbakti itu?
Tahukah dia ada tujuh orang kakek yang hidup sengsara
sedang merindukan dirinya?
Sedang memanggil-manggil dia? Mengharapkan
kedatangannya?
Dan dia, mungkinkah ia akan kembali ke pulau itu, untuk
bertemu kembali dengan ke tujuh orang tuanya?
Sayang sekali : Tiada umat persilatan yang mengetahui
tentang kabar ini, tidak seorang manusiapun yang tahu.
-ooooooo0dw0ooooooo-
PERISTIWA itu sudah berlangsung lama sekali.
Tiga tahun, lima tahun, mungkin lebih lama lagi sepuluh
tahun begitulah !
Waktu itu suasana dalam dunia persilatan amat tenang,
Semua orang seakan-akan sudah melupakan apa artinya
dendam, apa artinya sakit hati. perguruan-perguruan besar
dan jago-jago persilatan hidup berdampingan secara damai,
semua orang berkumpul dengan wajah berseri.
Sekalipun menjumpai persoalan-persoalan yang tidak
menyenangkan hati asal kedua belah pihak saling
menyodorkan selembar kartu undangan, di depan meja
perjamuan yang menghidangkan arak wangi dan sayur lezat
dan mengucapkan beberapa kata merendah, persoalan besar
akan menjadi kecil, persoalan kecil akan hilang dengan begitu
saja.
Siapapun enggan untuk menimbulkan badai serta
pertumpahan darah mencekam perasaan.
Betul bayangan hitam dari Pulau Neraka masih menghantui
jalan pikiran mereka, namun siapapun merasa enggan untuk
menyinggungnya kembali.
Dari sepuluh orang umat persilatan, ada delapan orang
yang berpendapat demikian:
Permainan di ujung golok bagaimanapun juga merupakan
suatu perbuatan yang berbahaya.
Siapakah yang benar-benar suka mempermainkan nyawa
sendiri tanpa menghargainya?
Dari sepuluh orang umat persilatan, ada sembilan orang
pula yang berkata demikian:
"Kesemuanya ini adalah berkat jasa dari Seng-siu "kakek
malaikat dia orang tua !"
Seng siu ! Satu panggilan yang sangat menghormat sangat
menawan hati, Dan dia pun dengan kebesaran jiwa serta
kebijaksanaannya mengatur dunia persilatan, membuat
kawanan jago yang sukar diatur itu tunduk seratus persen
dihadapannya, mau menuruti perkataannya.
Tentu saja, ketenangannya yang berhasil menyelimuti
dunia persilatan ini membuat setiap umat persilatan tak dapat
melupakan seorang tokoh persilatan yang lain, yakni Tian
ceng "Pendeta sinting" Tay-gi Sangjin.
Andaikata tak ada si pendeta sinting ini, maka dunia
persilatan akan selamanya dikuasai oleh manusia paling keji
dikolong langit, iblis tua itu bernama Pat huang-u-kay, Jiansin-
kui-siu "manusia paling aneh dari Pat-huan, kakek setan
berhati cacad" Siau Lun.
Selama Siau Lun belum dibunuh, dunia persilatan akan
selalu berada ditengah badai pembunuhan.
Oleh karena itu, setiap umat persilatan juga mengagumi
dan menghormati si Pendeta sinting Tay-gi Sangjin atas
tindakannya terhadap Siau Lun.
Belasan tahun telah lewat dengan cepat.
Kini pendeta sinting sudah tak ketahuan lagi ujung
rimbanya.
"Sedang si kakek malaikat? ia tinggal dalam gedung Sianhong-
hu di ibu kota untuk menikmati sisa hidupnya...
Konon, Kaizar akan menganugerahkan gelar raja muda
dunia persilatan kepadanya.
Maka badaipun kembali melanda dunia persilatan....
-ooooooo0dw0ooooooo-
SAAT ini adalah suatu musim gugur belasan tahan setelah
dnnia persilatan memperoleh ketenangan.
Di depan kuil Pek-siu-an di tebing Si-sin-gay bukit Cingshia,
tiba-tiba bermunculan ketua dari Siau-lim-pay, Hui-sin
siansu, ketua Bu-tong-pay Hian-leng totiang, ketua Hoa-sanpay
Tui-hong kiam siu (kakek pedang mengejar angin) Bwekun-
peng, ketua Go bi-pay Cui-sian Sanjin serta Han-sian-huikiam
"pedang mulia" Wici Min salah seorang diantara enam
Tianglo dari Kay-pang.
Kehadiran mereka disertai dengan seorang murid dari tiaptiap
perguruan dan sepucuk surat undangan.
Surat undangan itu dikeluarkan oleh ketua kuil Pek-siu-an
yang selama ini membenci segala macam perbuatan jahat
serta bertindak keji terhadap setiap siluman dan iblis yang
membuat keonaran dalam dunia persilatan Hu-mo-suthay.
Bahkan di atas kartu undangan itu, tercantum pula nama
dari adik seperguruannya, To-liong sinni.
Cing-sia-siang-ni "sepasang rahib dari bukit Cing-shia"
adalah dua tokoh persilatan yang disegani setiap manusia,
undangan ini tentu saja cukup mengejutkan semua orang.
itulah sebabnya, begitu memperoleh kartu undangan, ke
empat orang ketua dari empat partai besar, ditambah seorang
jago lihay dari Kay-pang segera berangkat menuju ke tebing
Si-sis-pay.
Bahkan merekapun membawa serta anak muridnya untuk
datang memohon pengampunan. Ternyata dalam kartu
undangan itu bukan hanya mengundang kedatangan mereka
saja di tebing Si-sin gay kuil Pek-sui-an, bahkan
mencantumkan pula nama-nama dari anggota perguruan
masing-masing yang telah melanggar peraturan dari Pek-suiam.
Dalam surat undangan itu, ditegaskan pula bahwa pada
hari Tiong-yang, masing-masing ketua partai harus sudah
menyerahkan muridnya yang melanggar peraturan itu di bukit
Cing-sia, kalau tidak, kedua orang rahib itu akan mendatangi
perguruan masing-masing untuk menyelesaikan sendiri
persoalan itu dengan cara mereka...
Ketua dari empat partai dan ketua dari Kay-pang yakni Lan
seng tot-hun-siu (kakek bintang jatuh mengejar sukma).
Kongsun Liang cukup mengetahui akan seriusnya masalah itu,
dan mereka sadar ada baiknya untuk jangan mengusik kedua
orang tokoh silat ini.
Bukan saja mereka enggan ribut, lagipula siapapun tak
mau gara-gara persoalan kecil menyebabkan timbulnya
peristiwa berdarah dalam dunia persilatan.
Maka merekapun menepati janji dan berangkat ke tempat
yang dijanjikan, sekalipun Kongsun Liang dari Kay-pang tidak
datang sendiri, akan tetapi dia telah mengirim wakilnya yang
tidak kalah termasyhur dalam dunia persilatan.
Di atas bukit Si-sin-gay, mereka telah berjumpa muka,
masing-masing pihak hanya tertawa getir belaka kemudian
tanpa mengucapkan sepatah katapun bersama-sama
berangkat ke kuil Pek-siu-an.
-ooooooo0dw0oooooooPintu
gerbang kuil Pek-siu-an berada dalam keadaan
terbuka lebar.
Tiada orang yang menyambut kedatangan mereka, juga
orang yang berdiri di depan pintu.
Suasana di situ terasa amat sepi, hening.. sedemikian
heningnya sehingga kecuali kicauan burung yang kadangkala
berbunyi, tak kedengaran suara apapun.
Kelima tokoh silat dari lima partai itu menjadi tertegun,
dengan kening berkerut mereka berpikir hampir bersama:
Besar amat lagak kedua orang nikou tua?
Namun sebagai tokoh-tokoh silat yang berkedudukan
tinggi, mereka tak ingin mengumbar napsu walau menjumpai
keadaan seperti ini, toh setelah bertemu muka nanti urusan
bisa diselesaikan demikian jalan pemikiran mereka.
Sayang sekali, kelima orang tokoh silat ini tak pernah bisa
menyelesaikan persoalan mereka dengan orang yang
bersangkutan.
Kuil Pek-sim-an kini telah berubah menjadi tempat
pembantaian yang mengerikan darah kental tampak
berceceran dimana-mana.
Sepasang Nikou sakti dari bukit Cing-shia telah menjadi
arwah penasaran di alam baka.
Hu mo-su-tay ditemukan tergeletak di ruang tengah kuilnya
dengan pinggang terpapas jadi dua.
Sedangkan To liong sinni ditemukan tewas dengan kepala
terpisah di atas pembaringannya.
Seluruh kuil Pek siu-an sudah berubah menjadi neraka, tak
seorangpun manusia hidup pun yang ditemukan di situ,
sembilan orang murid dari sepasang nikou itu ditemukan
tewas semua dengan anggota badan yang terpisah-pisah.
Darah telah menodai seluruh permukaan tanah dan
membeku menjadi gumpalan-gumpalan yang berwarna merah
tua.
Dilihat dari keadaan mayat-mayat itu, paling tidak mereka
sudah dibunuh pada tiga hari berselang.
Menghadapi peristiwa berdarah seperti itu kelima orang
tokoh persilatan ini hanya berdiri termangu-mangu saking
terkejutnya.
Terutama sekali lima orang murid yang sebenarnya sedang
menantikan hukuman, mereka menggigil keras karena
ketakutan mereka seakan-akan lupa kalau dengan kematian
kedua orang nikou tersebut berarti dosa mereka dapat
diampuni.
Dalam keadaan demikian, Hui-sin siansu dari Siau-lim-pay
hanya bisa memuji keagungan Buddha tiada hentinya,
sedangkan Han-sian hui-kiam Wici Miu dari Kay-pang dengan
mata melotot bergumam dengan marah:
"Perbuatan siapakah ini ? perbuatan siapakah ini?
perbuatan siapakah ini...?"
Tak ada yang tahu, hasil karya siapakah pembunuhan
berdarah ini, pembunuhan ini dilakukan sangat bersih,
sempurna dan sama sekali tidak meninggalkan gejala apaapa.
Walaupun ke empat ciangbunjin dan seorang jago lihay dari
Kay-pang itu sudah melakukan pemeriksaan yang seksama di
seluruh kuil Pek-siu-an tersebut, tiada jejak mencurigakan
yang berhasil ditemukan.
Tampaknya cara kerja pembunuh itu benar-benar
mengagumkan.
-ooooooo0dw0oooooooSesungguhnya
kehebatan orang itu tidak sampai di situ
saja.
Sebulan kemudian, kelima orang tokoh silat itu kembali
bersua muka di puncak bukit Gobi.
Selembar kartu undangan yang dikirim Kim-teng-sin-ih
"nenek sakti dari Kim-teng, membuat mereka harus
berdatangan ketempat itu.
Alasan yang dicantumkan dalam kartu undangan itu adalah
dia berhasil mengetahui pembunuh dari Cing-sia-siang-ni,
maka mereka diundang untuk bersama-sama berkumpul di
puncak Kim-teng serta merundingkan persoalan ini bersama.
Akhirnya ketika kelima tokoh persilatan itu tiba ditempat
tujuan, mereka jumpai si nenek sakti dari Kim-teng yang
sudah empat puluh tahun lamanya tak pernah mencampuri
urusan keduniawian ini ditemukan tewas menyusul arwah
Cing-sia siang-ni ke alam baka.
Untuk kedua kalinya lima orang tokoh persilatan itu menjadi
saksi bagi hasil karya perbuatan keji dari iblis pembunuh
tersebut.
-ooooooo0dw0ooooooo-
Dunia persilatan yang tenang damai, kini bergolak kembali.
Darah, telah membuka jalan menuju ke alam kematian
Maut kini mulai menyelimuti seluruh dunia persilatan dan
mengancam jiwa setiap orang.
Sian-hong-pat-ciang Wan sim seng-siu "Ka" krfc malaikat
delapan pukulan angin puyuh" yang menghuni dalam gedung
Sian-hong hu di ibu kota, Nyoo Thian-wi dibuat gusar oleh
kejadian itu.
Kartu undangan berlapis emas segera disebar luaskan dari
dalam gedung Sian-hong-hu.
Tampaknya si Kakek malaikat telah di buat marah oleh
kejadian itu, dia telah bangkit dan mengajak umat persilatan
untuk menanggulangi bersama kejadian peristiwa berdarah ini.
Berbondong-bondong para jago berdatangan
Lima orang tokoh persilatan yang dua kali menjadi saksi
dari peristiwa berdarah itu, berangkat pula menuju ke ibu kota,
sebab segala sesuatunya harus diteliti dari keterangan yang
bisa diberikan oleh kelima orang tokoh persilatan itu.
Ketika kelima orang tokoh persilatan itu tiba di gedung
Sian-hong-hu, si Kakek malaikat Nyoo Thian wi segera
mengadakan perundingan tertutup dengan mereka.
Hasil dari perundingan itu menetapkan bahwa mereka akan
menyelenggarakan suatu pertemuan Ciang mo-kun eng tayhwe
(pertemuan para enghiong untuk menaklukkan iblis).
Hanya menunggu tiga hari jago dari pelbagai daerah telah
berdatangan untuk turut menghadiri penemuan itu.
Sian hong-hu memang suatu kekuatan dunia persilatan
yang hebat, selain mempunyai banyak pengikut hubungan
juga amat luas, sudah barang tentu untuk menyelenggarakan
suatu pertemuan para enghiong, bukanlah suatu pekerjaan
sukar.
Tak menjumpai banyak kesulitan, semua persiapan untuk
terselenggaranya pertemuan itu sudah beres.
Malam sebelum diadakannya pertemuan itu, untuk kedua
kalinya si Kakek malaikat Kyoo Tnian-wi mengundang kelima
orang ciangbunjin itu untuk menyelenggarakan perundingan
rahasia sekali lagi, perundingan itu baru berakhir pada
kentongan ketiga.
Siapa tahu, pada kentongan ke empat, gedung siau-honghu
telah digemparkan oleh suatu berita besar yang ibaratnya
guntur membelah bumi ditengah hari bolong.
Sian-hong-pat-ciang, si "kakek" malaikat Nyo Thian-wi
ditemukan sudah tewas terbunuh.
Kematiannya sepuluh kali lipat lebih mengerikan daripada
kematian yang dialami Cing-sia-siang-ni serta Kim-teng sin-ih,
tubuhnya dicincang sedemikian rupa sehingga keadaannya
benar-benar mengerikan sekali.
Kematian dari pemimpin mereka itu sangat memukul
semangat para jago persilatan, pertemuan Ciang-mo-hwe pun
dibatalkan sebelum diselenggarakan.
Awan hitam kini semakin menyelimuti seluruh dunia
persilatan.
Kini harapan orang mulai ditujukan pada si pendeta sinting
yang tersohor karena kelihayannya itu.
Tapi pendeta termasyhur ini seakan-akan sudah tenggelam
ditengah samudra saja, ia lenyap tak berbekas! Bahkan sejak
ia berhasil menaklukkan Pai-huang-it~koay. Jiau sim-tui-siu
Siau Lim, tak pernah orang berjumpa lagi dengan dirinya.
Tapi, ada pula yang mulai teringat dengan salah seorang
tokoh persilatan yang angkat nama bersama-sama Kakek
malaikat, yaitu Tionggoan-it-teng "benggolan sakti dari
Tionggoan Leng Hong Bin.
Akan tetapi suami istri yang tinggal di kebun Ci-wi-wan di
wilayah Tlong ciu ini hanya menggelengkan diri untuk
menolong umat persilatan guna melenyapkan gembong iblis
pembunuh tersebut.
Gara-gara penolakannya ini, dalam dunia persilatan segera
tersiar berita sensasi.
"Tionggoan-it-teng Leng Hong Bin dan istrinya Lak-jiu-angsian
(benang merah bertangan keji" Tu-jit-nio adalah dalang
dari tiga kali pembunuhan berdarah itu."
Menanggapi berita sensasi yang tersiar dalam dunia
persilatan itu, Leng-hong-bin cuma tersenyum ewa.
Berbeda dengan Lok jiu ang-siang Tu Jit-nio, istri Leng
Hong-bin, dia naik darah dan segera menyebar undanganundangan
tersebut hanya terdiri dari lima lembar yang masing-
masing ditujukan kepada lima orang tokoh persilatan
yang menyaksikan tiga buah peristiwa berdarah ini, mereka
diundang untuk melakukan pembicaraan dalam kebun Ci-wiwan.
Sebagai tokoh persilatan yang memimpin perguruan besar
dalam dunia persilatan tentu saja mereka dapat memahami
maksud yang sebenarnya dari undangan Leng Hong-bin
suami istri tak mungkin melakukan perbuatan terkutuk
semacam ini, maka dengan senang hati mereka menyanggupi
permintaan dari suami istri ini untuk memberi keterangan
kepada umat persilatan.
Bulan sebelas tanggal delapan, lima orang ciangbunjin dari
lima partai persilatan perkumpulan untuk keempat kalinya.
Didalam kebun Ci-wi-wan, mereka menjumpai Tionggoanit-
teng Leng-hong-bin, Lak jiu-ang sian Tu-jit-nio dan putra
mereka yang baru berusia delapan belas tahun Leng-ki-kong.
Sayang lagi-Iagi kedatangan dari kelima orang ciangbunjin
itu terlambat satu langkah. Mereka sudah tidak memperoleh
kesempatan lagi untuk berbincang-bincang dengan Leng
Hong-bin suami istri.
Leng Hong-hin hanya ditemukan batok kepalanya dengan
sepasang mata yang melotot besar terpantek di atas pohon
dalam kebun itu, sedangkan Tu Jit sio ditelanjangi orang
hingga tak sehelai benangpun melekat di tubuhnya, kemudian
tubuhnya itu dipamerkan dia tas pohon tepat di bawah batok
kepala suaminya dengan tujuh batang panah bambu,
sedangkan putra mereka Leng Ki-kong dibacok menjadi tiga
bagian dan terkapar di bawah pohon.
Benar-benar suatu sistim pembunuhan yang sangat keji.
Betul-betul perbuatan dari seorang iblis berhati keji yang
berdarah dingin.
Lagi-lagi kelima orang ketua dari lima partai besar itu
disodori dengan sebuah adegan pembunuhan yang bersih dan
sempurna.
Untuk beberapa saat lamanya, kelima jago lihay itu hanya
bisa saling berpandangan dengan mata terbelalak lebar-lebar.
Sekarang mereka tak usah membersihkan nama Leng
Hong-bin suami istri dari segala tuduhan lagi, Leng Hong-bin
suami istri telah mempergunakan darah dan kematian mereka
untuk membersihkan diri dari segala tuduhan dan fitnahan.
Tapi kematian keluarga Leng ini benar-benar penasaran,
suatu kematian yang betu!-betul mengenaskan.
Menghadapi keadaan ini, untuk kesekian kalinya Hui-sin
siansu hanya bisa memuji keagungan Buddha.
Hun sian-hui-kiam Wici Min dari Kay-pang juga sudah tidak
berteriak gusar lagi, menanyakan pembunuhan ini dilakukan
siapa, sebaliknya sambil menghela napas sedih ujarnya
kepada empat orang rekannya: "Setelah ini, tiba giliran siapa
untuk dibunuh?"
Ya, siapakah giliran selanjutnya ? Setiap pentolan dunia
persilatan, setiap jago yang punya kedudukan dimata umum,
sekarang sudah menjadi incaran berikutnya.
Ke empat orang ciangbunjin itu hanya bisa saling
berpandangan sekejap dengan mulut membungkam.
Dalam pandangan tersebut, entah terkandung berapa
banyak perasaan yang bercampur aduk ?
Mungkin pandangan yang sekejap itu akan menentukan
saat kehidupan dan kematian mereka.
Mungkin pandangan itu akan menentukan tekad mereka
untuk bersama-sama menanggulangi pembunuhan berdarah
itu.
Atau mungkin juga Mereka hanya memandang punggung
rekannya, apakah sudah basah oleh peluh dingin atau tidak...
Berita tentang terbunuhnya pentolan-pentolan dunia
persilatan seperti si kakek malaikat Nyoo Thian wi dan
bayangan pedang pengejar nyawa Le Hong bin dengan cepat
tersebar luar ke dalam dunia persilatan.
Rasa panik, seram, mengerikan cepat menyelimuti pula
perasaan kawanan jago yang selama ini menganggap mereka
paling top, paling hebat dan paling jagoan.
Dalam suasana seperti inilah, dari sepuluh orang jago-jago
persilatan yang termasuk paling top, ada sembilan orang yang
berpindah rumah. Ternyata semua orang takut menghadapi
kematian.
Sekarang, terungkaplah sudah bahwa kegagahan dan
kehebatan mereka dihari-hari biasa sebetulnya hanya suatu
kepura-puraan belaka, buktinya bila ancaman maut benarbenar
tiba, semua orang pada angkat kaki mencari
keselamatan sendiri-sendiri.
Tapi bagaimanapun juga, kematian memang bisa
mendatangkan perasaan seram....
Maka dalam suasana seperti inilah, dalam dunia persilatan
kembali beredar berita yang mengatakan begini: "lblis siluman
pembunuh itu sudah pasti berasal dari Pulau Neraka, sudah
pasti iblis kejam dari pulau Neraka yang telah hijrah ke
daratan Tionggoan."
Tapi, siapakah yang dapat membuktikannya ? Tak ada !
seorang manusiapun, tak ada. Maka ada seorang mulai
berpikir:
"Jika ada orang menggunakan kesempatan untuk bermain
gila, sudah pasti acaranya akan bertambah meriah, bahkan
sudah bisa dipastikan selama hidup permainan busuknya itu
tak bakal terbongkar, jalan pemikiran manusia selamanya
bagus, tapi betulkah demikian ? Adakalanya apa yang terjadi
dalam dunia persilatan sukar diperhitungkan dengan jalan
pemikiran manusia.
Di atas bukit Lu-san, tepatnya di tepi telaga Kiu-long-tham,
terdapat sebuah gardu bata yang kecil.
Waktu itu, di atas batu besar yang berbentuk pembaringan
dalam gardu itu tampak ada seorang pemuda berbaju putih
yang berusia dua puluh tahunan sedang duduk bertopang
dagu sambil memandang awan di angkasa dengan termangumangu.
Mukanya amat pucat, jelas memperlihatkan sinar keletihan
yang sangat tebal.
Walaupun ia sedang termangu, namun secara lamat-lamat
wajahnya memperlihatkan mimik wajah yang kesepian, ia
sangat tampan, matanya jeli seperti bintang timur, hidungnya
mancung, bibirnya kecil dan agak menekuk ke bawah pada
kedua belah sisinya, ini menunjukkan kecerdasan dan
keangkuhan.
Di sisinya terletak sebuah bungkusan kecil.
Disamping bungkusan kecil itu tergeletak sebilah pedang
yang telah berkarat.
Pita pedang yang berwarna putih, kini telah berubah
menjadi abu-abu, sekeliling sarung pedangnya penuh dengan
retakan-retakan, agaknya pedang tersebut sudah amat kuno
sekali.
Sedang bungkusan tersebut tampak menonjol besar,
tampaknya tidak sedikit isi buntalan tersebut.
Dari sekian hal, ada satu keistimewaan lagi dijumpai pada
pemuda tersebut, yakni wajahnya menunjukkan perasaan
tidak puas kesepian bahkan sangat menganggur.
Memandang awan yang bergerak diangkasa, tiba-tiba
pemuda tersabat bersenandung dengan suara lantang.
Kemudian makin lama bersenandung makin keras, tiba-tiba
setelah tertawa tergelak serunya:
"Thian-ho-tang... Thian-ho-tang..."
Dia membungkukkan badannya memungut buntalan dan
pedang berkaratnya, kemudian siap berlalu dari situ.
Belum lagi melangkah pergi, mendadak belakang gardu
dari balik semak terdengar seseorang berseru dengan gusar:
"Sialan ! Keparat, siapa yang tak tahu diri dengan berteriakteriak
di sini."
Sebutir kepala yang berambut kusut pelan-pelan muncul
dari balik semak, kemudian muncul pula sebuah tangan yang
besar dan hitam menggosok-gosok matanya yang ngantuk.
Pemuda berbaju patih itu berkerut kening kemudian
pikirnya dengan geli:
"Kasar amat orang ini, padahal dia sendiri pun berteriak
teriak masa begitu muncul lantas mencaci maki aku...."
Sekarang, ia sudah mengenali orang itu sebagai seorang
pengemis tua yang amat dekil.
Melihat itu, pemuda yang berbaju putih tersebut tak tahan
mengendalikan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa geli.
Pengemis tua itu semakin marah melihat pemuda itu
tertawa, mendadak sepasang matanya melotot besar hingga
tampak sorot matanya yang menggidikkan hati.
"Tajam amat sepasang mata orang ini..." diam-diam
pemuda berbau putih itu berpikir dalam hati, sementara dia
masih termenung, pengemis tua itu sudah berteriak keraskeras:
"Bocah keparat, kaukah yang berkaok-kaok tadi di sini?"
Pemuda berbaju putih itu manggut-manggut sesungguhnya
paling benci kalau dipanggil "bocah keparat", tapi sekarang ia
enggan berdebat dengan pengemis itu maka sahutnya:
"Aaah, kebetulan saja hatiku lagi lega, maka
kusenandungkan beberapa bait syair...."
"Huh, kentut anjing, kentut anjing !" teriak pengemis tua itu
sambil tertawa dingin tiada hentinya. "Kalau orang tak bisa
memaafkan seperti ini untuk tidur sebentar, sudah pasti dia
adalah seorang manusia tak becus....."
"Tepat sekali, aku memang kebetulan sekali orang yang
becus!" jawab pemuda berbaju putih itu tiba-tiba sambil
tertawa.
Agaknya pengemis tua itu tak menyangka kalau pemuda
berbaju putih itu mengakui dirinya tak becus, untuk sesaat dia
menjadi tertegun dan berdiri melongo, Tapi, sesaat kemudian
dengan gusar ia lantas berteriak:
"Bocah keparat apa kau tak tahu kalau aku si pengemis tua
sedang tidur siang di sini?"
Pemuda berbaju putih itu segera tertawa:
"Tempat inikan bukan kamar tidur, darimana aku bisa tabu
kalau di sini ada orang sedang tidur?"
Untuk kesekian kalinya pengemis tua itu tertegun dengan
jengkel ia tinju batang rumput sampai melengkung kemudian
teriaknya keras-keras:
"Dan sekarang?"
"Sekarang, sudah barang tentu aku sudah tahu !"
"Bagus sekali kalau sudah tahu...." mendadak pengemis
tua itu menghampiri pemuda tersebut.
Paras maka pemuda itu agak berubah dengan perasaan
terkejut, cepat dia berpikir:
"Hebat amat ilmu Leng-siti lo-han-imi yang dimiliki orang
ini..."
Tapi di luar dia berlagak bodoh, katanya tiba-tiba sambil
tertawa tergelak:
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... rupanya kau berdiri di
belakang semak, haaahhh . . . aku malah mengira kau sedang
berbaring tadi..."
Ternyata pengemis tua berbadan cebol, sekalipun sedang
berdiri, tinggi badannya tak lebih hanya mirip orang biasa
duduk, karena itu pemuda berbaju putih tersebut pada
mulanya mengira ia sedang duduk dibelakang semak.
Oleh sebab itu ketika pengemis tua itu berjalan mendekat
tadi, pemuda berbaju putih itu salah mengira kalau lawannya
itu sedang mendemonstrasikan kepandaian melayang datang
sambil duduk.
Menanti pengemis tua itu sudah tiba di hadapannya,
pemuda tersebut baru tak kuat menahan gelinya lagi.
Makin keras pemuda itu tertawa, pengemis tua itu semakin
berang, dengan mata melotot tiba-tiba tegurnya:
"Hei, bocah keparat, kau sedang mentertawakan badanku
cebol?"
"Tidak berani, tidak berani!"
"Hmmm, aku sudah tahu kalau kau tidak berani..."
Setelah berhenti sejenak pengemis tua itu mengamati
pemuda tersebut sejenak, lalu sambil tertawa tergelak katanya
lebih jauh:
"Hei bocah keparat, apa kerjamu? Darimana kau dapat
pedang karatan itu? 0oooh,.. tahu aku sekarang, rupanya kau
ingin berlagak seperti seorang jagoan" Ccu...cccttt..." bukan
main, sayang kalau ingin berlagak jadi pendekar, pedangmu
seharusnya sebilah pedang yang baru, masa pedang karatan
yang begitu tumpul?"
Merah padsm selembar wajah pemuda berbaju putih itu
karena jengah, buru-buru katanya:
"Aku bukannya ingin berlagak menjadi pendekar, sedang
pedang karatan ini adalah hadiah dari angkatan tuaku, maka
akupun tak tega untuk membuangnya."
"Kau bukan orang persilatan ?!" seru pengemis itu dengan
kerutkan keningnya.
"Bukan !"
Sepasang mata pengemis tua itu melotot besar-besar dan
mengawasi pemuda itu tanpa berkedip, agaknya dia ingin tahu
apakah pemuda itu sedang berbohong atau tidak.
Lihat punya lihat, mendadak pengemis tua itu
mengayunkan tinjunya ke depan.
"Bluukk....!" seketika itu juga, pemuda berbaju putih itu
kena dihantam sampai terjengkang dari atas batu besar itu
dan untuk sesaat lamanya tak mampu bangun lagi.
Setelah pemuda itu jatuh terjengkang, pengemis tua itu
baru tertawa terbahak-bahak sambil bersorak:
"Haahh.... haah... naah, bagus, bagus sekali, rupanya kau
memang tidak membohongi aku...."
Sampai setengah harian kemudian pemuda berbaju putih
itu baru bisa merangkak bangun dari atas tanah, sambil
berkerut kening dan menggigit bibir, dia mengambil pedang
karat dan buntalannya kemudian dengan bersalah payah,
mengikatnya dipinggang.
Setelah itu dia mendongakkan kepalanya memandang si
pengemis tua yang masih berdiri di atas batu besar sambil
tertawa terbahak-bahak, kemudian sambil gelengkan
kepalanya dan mendengus dingin, ia segera berlalu dari situ.
Agaknya pengemis tua itu tak menyangka kalau pemuda
berbaju putih itu segera berlalu tanpa mengucapkan sepatah
kalapan setelah kena dihantam keras olehnya.
Sambil menggaruk-garuk rambutnya yang kusut, sepasang
matanya berkeliaran kesana-kemari sekejap, kemudian sambil
berpekik nyaring, dia melompat turun dari atas batu dan
mengejar pemuda tadi dengan langkah cepat.
Sebenarnya pemuda berbaju putih itu tahu kalau si
pengemis cebol sedang mengikuti di belakangnya, namun dia
berlagak seakan-akan tidak tahu, dengan langkah lebar dia
langsung berjalan menuju ke sebuah gedung besar di tepi
telaga Kiu-long-tham.
"Hei bocah keparat, kau hendak kemana?" kembali
pengemis tua itu menegur dengan suara keras.
Seolah-olah tuli, pemuda berbaju putih itu berlagak tidak
mendengar teguran tersebut, bahkan berpalingpun tidak.
Dengan cepat pengemis tua itu memburu ke muka,
kemudian menghadang jalan perginya.
"Hei bocah keparat, apakah kau hendak pergi ke
perkampungan Tang-mo-san-ceng ?"
Pemuda berbaju putih itu hanya tertawa lebar, kemudian
sambil miringkan badannya ia melanjutkan perjalanannya
maju ke depan.
Lama kelamaan habis sudah kesabaran pengemis tua itu,
dengan cepat dia menggetarkan tangannya yang kurus untuk
mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan pemuda
berbaju putih itu, kemudian bentaknya dengan penuh
kegusaran:
"Hei, kau hendak kemana ?"
Pemuda berbaju patih itu menundukkan kepalanya
memandang sekejap urat nadi pada pergelangan tangannya
yang dicengkeram pengemis tua itu, kemudian sambil
menggelengkan kepalanya dan menghela napas sahutnya
pelan:
"Aaai, bukankah kau sudah tahu ?"
"Perkampungan Tang mo-san ceng "Pembasmi iblis ?"
Pemuda berbaju putih itu tertawa dan segera manggutmanggut,
kemudian sambil menguruti nadinya yang bekas
dicengkeram dia melanjutkan perjalanannya ke depan.
Mendadak pengemis t ia itu tertawa terbahak-bahak,
kemudian menyusui lagi ke depan.
"Hei bocah keparat kau kenal dengan pemilik dari
perkampungan Tang-mo-san-ceng tersebut ?"
"Tidak kenal !" sahut pemuda tanpa berpaling.
Pengemis tua itu tertegun, diamatinya pedang karat
dipinggang pemuda itu sekejap kemudian setelah berpikir
sebentar, katanya lagi:
"Bocah keparat, apakah kau miskin?".
"Aku hidup sebatang kara dan mengembara kemana-mana,
rumahku ada di semua tempat, makananku tersedia di segala
penjuru dunia, jika kau menganggap aku miskin, aku justru
merasa diriku kaya raya." sahut pemuda itu sambil tertawa.
"Kau kaya raya ?"
"Bayangkan saja, rumahku ada di dunia, kebunku ada di
tanah perbukitan, bintang dan bulan adalah lenteraku, ikan
dan cengkerik adalah temanku, mengapa kau anggap aku ini
rudin ?"
Agaknya pengemis tua itu tidak menyangka kalau pemuda
yang masih ingusan tersebut sudah mempelajari falsafah
hidup sedemikian dalamnya, untuk sesaat dia menjadi
tertegun dan berdiri melongo.
Setelah hening hampir setengah li perjalanan pengemis tua
itu baru berkata lagi sambil tertawa tergelak:
"Bocah keparat, hampir saja aku kena kau gertak !"
"Aku tidak berniat untuk menggertak orang, aku berbicara
sejujurnya dan apa adanya."
"Hmmm, aku tahu kau memang tak bakal bisa menggertak
aku," dengus pengemis sok itu.
Padahal ia sudah termakan oleh gertakan tersebut hingga
untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan
sepatah katapun.
Tak lama kemudian, sikap sok dari pengemis tua itu
kembali menyelimuti dirinya, sambil terbawa dia lantas berkata
lagi:
"Bocah keparat, jangan-jangan kau sudah edan lantaran
miskin?"
"Hei, mengapa kau selalu menuduh aku miskin?" tegur
pemuda berbaju putih itu setelah tertegun sebentar.
Pengemis tua itu segera tertawa.
"Cukup kulihat dari tampangmu yang rudin serta dari
dandananmu sekarang, bisa ku ketahui kalau kedatanganmu
ke perkampungan Tang-mo sanceng hanya menginginkan
berupa tahil perak, benar bukan? Nah tak salah bukan kalau
aku mengatakan kau sudah edan lantaran miskin.
Kali ini, pemuda berbaju putih tidak menjawab apa, dia
hanya tertawa hambar.
Melihat pemuda itu membungkam, si pengemis tua tersebut
semakin bangga, godanya lagi sambil tertawa gelak:
"Coba lihat, tebakanku amat lihay bukan? Hey bocah
keparat, mengapa wajahmu tidak berubah menjadi merah?"
Pemuda itu tidak menggubris, dia maju beberapa langkah
lagi ke depan, kemudian secara tiba-tiba ia menegur sambil
berpaling:
"Kau sendiri hendak kemana?"
"Mencari sesuap nasi !" jawab pengemis tua itu sambil
menepuk perut sendiri, pemuda berbaju putih itu segera
tertawa, pikirnya. "Kalau dugaannya tepat, masa tak dapat
menduga perut sendiri memang lapar?
Aaaai, pengemis tua ini benar-benar kebangetan sekali
orangnya...."
Berpikir demikian, diapun lantas bertanya:
"Juga akan ke perkampungan Tang-mo san-ceng?"
"Hahhn...haaaaaahhh... lohu mah tak akan sama seperti
kau..."
"Tepat sekali," pikir pemuda itu cepat, "tentu saja kau tak
sama denganku, kau hanya demi perutmu yang lapar saja."
Dengan menahan rasa geli didalam hati, ia menyahut
berulang kali:
"Ooooooh, tentu saja! Tentu saja! Aku kan cuma pergi
kesana untuk melihat-lihat saja."
Tampaknya pengemis tua itu tidak menangkap sindiran
dibalik perkataan pemuda itu dengan bangga kembali dia
berkata sambil tertawa.
"Dengan para jago dalam perkampungan itu, hampir
semuanya kukenal sangat akrab."
Sedang mengibul? Agaknya tidak.
Diam-diam pemuda itu merasa geli didalam hati, tapi
diluaran segera katanya:
"Apakah kau orang tua bersedia mengajak ku kesana ?".
Sejak berbicara sedari tadi, agaknya perkataan inilah yang
paling sedap didengar diri pengemis tua itu.
Dengan hati gembira dia menepuk-nepuk dada sendiri,
kemudian katanya dengan lantang:
"Mengangkat kaum muda agar ternama merupakan citacita
lohu selama ini, bocah muda, mari ikut aku, tanggung
penyakit rudinmu itu akan disembuhkan."
"Waaah, sungguh beruntung aku bisa berkenalan dengan
kau orang tua, entah diantara pemuda-pemuda yang kau
tolong itu, adakah seseorang diantaranya yang kemudian jadi
tersohor ?"
Sepasang mata pengemis tua itu segera melotot besar.
"Masa kau tidak dengar perkataanku tadi? Aku kan bilang
baru kali isi kulakukan pekerjaan semacam ini ! Soal bisa
tersohor atau tidak, hal ini musti ditinjau dulu apakah kau ada
kesempatan untuk maju ataukah tidak"
Pengemis tua itu masih mengibul terus kesana kemari,
seakan-akan orang yang bisa berjumpa dengannya bakal
beruntung sepanjang masa.
Hampir meledak perut anak muda itu saking gelinya.
"Betul-betul seorang pengemis yang pandai mengibul.."
pikirnya dalam hati.
Tapi dia tidak tertawa, malah sambil berlagak hormat, ia
berkata lagi:
"Asal kan orang bersedia mengatrol diriku, sudah pasti kau
akan berusaha dengan sepenuh tenaga."
"Haaaaahhhhh... haaaaahhhhhh.... bagus sekali,"
pengemis tua itu tertawa tergelak " bocah keparat, tampaknya
makin lama lohu semakin suka kepadamu."
Sambil berkata dia lantas menunjukkan lagak seperti
seorang angkatan tua yang kenamaan, sambil
menggoyangkan kepalanya yang kecil, selangkah demi
selangkah berjalan lebih dulu ke muka.
Sesungguhnya pemuda berbaju putih itu ingin sekali
tertawa terbahak-bahak, tapi sekarang dia malah berusaha
untuk mengindahkan perasaan tersebut, tanpa mengucapkan
sepatah katapun dia mengikuti di belakang pengemis tua itu.
Jangan dilihat pengemis tua itu mempunyai kaki yang
pendek, ternyata langkahnya cepat sekali.
Dalam waktu singkat mereka sudah tiba di depan sebuah
gedung sebuah bangunan yang amat megah, gedung itu
kokoh dan tinggi besar, benar-benar merupakan suatu
bangunan yang luar biasa sekali.
"lnilah perkampungan Tong mo-sau-ceng," dengan nada
yang sombong dia berkata.
-ooooooo0dwooooooooTiba-
tiba pengemis tua itu seperti teringat akan sesuatu
urusan penting, dengan cepat serunya:
"Hei, tahukah kau siapakah lohu?"
"Sudah pasti kau orang adalah seorang jago kenamaan
dalam dunia persilatan!" jawab itu dengan hormat.
Mendengar umpakan tersebut, pengemis tua itu merasa
amat gembira, sambil membusungkan dada dan
mendongakkan kepala nya dia menjawab:
"Tepat sekali jawabanmu itu, lohu she Lok bernama Jin-ki,
aku adalah salah seorang dari enam Tianglo perkumpulan
Kay-pang, orang menyebutku si Pikun, oooh, bukan... bukan,
Orang persilatan menyebutku si pengemis sakti yang cerdik,
ingat baik-baik kataku!"
Pemuda berbaju putih itu tertawa, kemudian sahutnya
dengan nada yang menghormat:
"Aku telah mengingat amat jelas, kau Pi-kun, ooh, bukan,
Pengemis sakti yang cerdik Lok Jin-ki locianpwe, seorang
pendekar besar yang suka membawa anak muda menuju ke
anjang kepopuleran!"
Pengemis tua itu mengerutkan keningnya sebentar,
kemudian manggut-manggut.
"Lain kali kalau bicara jangan ditambah dengan kata si
pikun, tahu? Kau anggap siapa.... siapa yang pikun? Hei,
bocah keparat, jangan-jangan kau sendiri yang sudah pikun
lantaran lapar?"
Pemuda berbaju putih itu ingin tertawa tapi tak berani,
mukanya menjadi merah lantaran harus menahan geli hingga
orang tak tahu mengira dia jengah lantaran dinasehati
pengemis tua itu.
"Aku tidak berani, aku tidak berani..." ucapnya kemudian.
Mendadak dengan mata melotot pengemis tua itu berkata
lagi:
"Bocah keparat, hampir saja lohu telah melupakan suatu
masalah besar lagi!"
"Masalah besar apa."
"Pengemis tua itu tertawa rikuh, kemudian katanya:
"Bocah keparat, cepat beritahukan kepadaku namamu dan
tinggal dimana, kalau tidak sebentar kalau Hoa cengcu
menanyakan soal ini kepadaku dan lohu bilang tak tahu,
bukan kah orang akan mengatakan lohu semakin pi..."
Kata "Pikun" belum sempat diucapkan buru-buru dia sudah
membungkam lebih dahulu.
Mendengar perkataan itu, anak muda itu segera tertawa
hambar.
"Apakah persoalan inipun merupakan suatu persoalan
besar ?" katanya.
Dengan wajah agak jengah pengemis tua itu segera
mengangguk.
Sambil tertawa lantas pemuda itu berkata:
"Aku tinggal di bukit In tang san tebing Cing-peng-gay..."
"Suatu tempat yang indah..." puji pengemis tua itu sambil
tertawa.
"Oooh, apakah kau pernah ke situ ?"
Cepat-cepat pengemis tua itu menggeleng.
"Seantero jagad sudah pernah lohu jelajahi, tapi... tapi
hanya bukit In-tang-san dekat lautan timur yang tak berani
kudekati, sebab... sebab lohu memang tak berani berpesiar ke
situ !"
Mendadak ia teringat kalau Pulau Neraka letaknya tak jauh
dari bukit In tang-san, kontan saja paras mukanya berubah
hebat.
Sebaliknya pemuda berbaju putih itu malahan tertawa
terbahak-bahak.
"Haaahh... haaahh... haaahh kalau memang kau orang tua
pernah menjelajahi semua tempat kenamaan dalam dunia ini,
mengapa tidak berpesiar pula ke bukit In-tang san ?"
"Hei bocah muda, mengapa kau suka mencampuri
urusanku...?" teriak pengemis tua itu tiba-tiba dengan mata
melotot.
Pemuda itu menjadi tertegun, kemudian serunya:
"Kalau memang begitu, dari mana kau bisa tahu kalau
tebing Cing-peng gay adalah suatu tempat yang indah ?"
"Bocah keparat, lantaran nama itu kedengarannya indah,
aku yakin tempatnya pasti indah juga."
"Tampaknya kau orang tua memang betul-betul pandai
menduga secara tepat ! Bsnar tebing Cing-peng-gay memang
suatu tempat yang sangat indah pemandangannya...."
"Nah, coba lihat, dugaanku tepat bukan?" seru pengemis
tua itu sambil tertawa bangga "aku memang pengemis sakti
yang cerdik. Hei anak muda, siapakah namamu? Apakah
namamu juga indah?
"Aku rasa tidak seindah bukit Cing-peng-gay!"
"Lantas siapa namamu ?"
"Oh Put kui !"
-ooooooo0dw0ooooooo-
"Oh Put-kui " Oh tidak kembali?" seru pengemis tua itu
dengan mata melotot besar "Benar, tentunya lebih tidak sedap
didengar bukan ?" kata si pemuda berbaju putih sambil
tertawa.
Tiba-tiba pengemis tua itu melompat ke udara sambil
berseru:
"Tidak! Tidak Dibandingkan dengan nama Cing peng-gay,
nama itu lebih sedap didengar!"
"Ooooh, terima kasih atas pujianmu." pengemis tua itu
tertawa aneh, lalu katanya lagi:
"Bocah keparat, kalau kulihat dari dandananmu yang rudin,
sudah jelas kau tidak mirip seorang anak kaya yang cukup
sandang pangan di desa kelahiranmu, apalagi kau sedang
mengembara sekarang, nama Oh Put-kui memang paling
tepat bagimu "
"Yaaa, yaaa, tepat sekali perkataan kau orang tua,
tampaknya kan memang amat cerdas, sampai jalan pikiranku
pun bisa kau pahami."
"Jangan lupa bocah muda, ako toh si pengemis sakti yang
cerdik, sudah barang tentu aku bisa menduga segala
sesuatunya dengan tepat, kalau cuma jalanan pemikiranmu itu
saja masa lohu tak bisa menduganya secara jitu?"
Akhirnya Oh Put-kui atau penanda berbaju putih itu tak
dapat menahan rasa gelinya lagi, dia segera tertawa terbahakbahak:
Pengemis itu tertegun, kemudian tegurnya:
"Hei bocah keparat, apa yang kau tertawakan?"
"Ooooh, tidak apa-apa," Oh Put-kui menggelengkan
kepalanya.
Pengemis tua itu seperti tidak percaya, tapi karena mereka
berdua sudah tiba di perkampungan Tang-mo-san-ceng yang
megah, maki diapun tidak bertanya lebih jauh.
Lok-jin-ki sipengemis cebol itu melotot sebentar biji
matanya, kemudian katanya:
"Hai bocah keparat, bila kau tidak percaya kalau lohu
adalah seorang yang ternama dalam dunia persilatan, segera
akan lohu buktikan kepadamu kalau aku tidak bohong."
"Bagus sekali, aku memang ingin membuktikannya, " pikir
Oh Put-kui geli.
Sementara itu, pengemis tua tadi telah berjalan
menghampiri sebuah dinding tembok yang amat besar sekali.
Di atas dinding tersebut penuh ditempeli dengan nama-nama
manusia.
Begitu sampai di situ, pengemis tersebut segera merobek
selembar kertas putih kemudian melangkah masuk ke dalam
pintu gerbang perkampungan Tang-mo-san-ceng dengan
langkah lebar.
Oh Put-kui segera mendekati pula dinding besar tersebut
setelah membaca ratusan nama yang tertera di situ, pikirnya
kemudian:
"Tampaknya dinding berisi nama orang inilah yang disebut
Papan pengumuman pembasmi iblis !"
Rupaoya diatas dinding tersebut penuh ditempeli dengan
secarik kertas berwarna putih tadi tercantumlah nama dari
seorang gembong iblis atau manusia paling tinggi di kalangan
hek-to. Sudah barang tentu nama-nama yang tercantum di
sana adalah kawanan iblis atau penjahat yang sudah banyak
melakukan kejahatan sehingga mereka semua pantas untuk
dibunuh.
Di bawah papan nama tadi, terdapat pula sekotak tempat
yang berisi pula nama-nama manusia. Hanya saja nama yang
dilampirkan di bawah adalah nama dari pendekar atau jagoan
yang berhasil membunuh gembong iblis atau penjahat yang
namanya tercantum diatasnya.
Asal kau sanggup membunuh seorang penjahat yang
namanya dicantumkan diatas papan nama itu, dijumpainya
pada deretan nama yang berada dibagian bawah akan tertera
pula namamu.
Oh Put-kui melirik sekejap ke atas papan nama itu,
dijumpainya pada deretan nama yang ada dibagian bawah
papan pengumuman tersebut hanya tercantum belasan nama
manusia saja, sedangkan gembong iblis atau penjahat yang
berhasil dibunuh juga hanya manusia-manusia kelas dua atau
kelas tiga saja dalam kalangan hitam.
Sekulum senyuman aneh segera menghiasi bibirnya, tanpa
terasa dia meraba pedang berkaratnya sambil mencorongkan
sinar terang dari balik matanya yang jeli.
Baru saja ia hendak meraba buntalannya, mendadak
terdengar pengemis tua tadi berteriak keras:
"Hei, bocah keparat, jangan tertegun saja di situ, hayo
cepat masuk kemari!"
Oh Put-kui segera mendengus dingin, kemudian sambil
membalikkan badannya ia berjalan masuk ke dalam
perkampungan.
Ketika membalikkan badannya tadi, dengan suatu gerakan
tangan yang begitu cepat hingga sukar diikuti dengan
pandangan mata ia merobek empat lembar nama manusia
yang tertempel pada papan pengumuman pembasmi iblis itu
dan dimasukkan ke dalam sakunya.
Ketika tiba didalam suatu perkampungan tampak olehnya
pengemis tua itu sedang mengibul dengan seorang lelaki
kekar bercambang, bermuka hitam yang perawakan tubuhnya
setinggi beberapa kaki.
Lelaki kekar itu mempunyai ketinggian badan dua kali lipat
bila dibandingkan pengemis tua itu, tapi sekarang justru
sedang membungkukkan badannya memberi hormat sambil
mendengarkan obrolan si pengemis, malah mulutnya tiada
hentinya memuji:
"Lok locianpwe memang hebat, kau memang lihay sekali."
Sambil melangkah masuk ke dalam perkampungan Oh Putkui
segera mendehem berulang kali, Pengemis tua itu segera
berpaling dan tertawa keras, serunya:
"Hei bocah keparat, mari kita masuk ke dalam. .. "
Tanpa memperdulikan lelaki yang tinggi kekar itu lagi dia
segera membalikkan badan masuk ke dalam perkampungan.
Oh Put-kui segera tertawa lebar kepada lelaki kekar itu,
kemudian turut pula berjalan masuk ke dalam perkampungan
Dalam pada itu, dari dalam ruangan telah muncul tiga orang
yang menyongsong kedatangan mereka.
Pengemis tua itu segera berpaling ke arah Oh Put-kui
sambil tertawa bangga, seakan-akan sedang maksudkan:
"Bagaimana ? Lohu kenal dengan setiap orang yang
berada di dalam perkampungan ini bukan ?"
Tapi Oh Put-kui segera melengos ke arah lain, berlagak
seolah-olah tidak mengerti.
Melihat pemuda itu malah melengos, pengemis itu menjadi
amat mendongkol sehingga mendepak-depakkan kakinya ke
tanah, dengan langkah lebar dia segera menyongsong
kedatangan ketiga orang itu.
Dari kejauhan Oh Put-kui mengamati pula ketiga orang itu,
mereka adalah seorang pendeta, seorang tosu dan seorang
preman.
Pendeta itu berusia enam puluh tahunan memakai jubah
berwarna abu-abu dan berperawakan tinggi besar, wajahnya
keren dan sembilan buah taio membekas di atas ubunubunnya,
jelas dia adalah seorang hwesio yang terikat oleh
peraturan yang ketat.
Si tosu itu berusia lima puluh tahunan, berkopiah emas,
berjubah kuning dan bermata setajam sembilu, jenggotnya
bercabang dua dan banyak yang telah beruban, sepintas lalu
dandanannya seperti dewa.
Sebaliknya yang preman justru kelihatan paling menonjol
diantara ketiga orang itu.
Rambutnya yang panjang digelung pada bagian belakang
kepala, umurnya baru pertengahan, dia memakai baju panjang
dengan sebuah ruyung emas melilit pinggangnya, mimik
wajahnya serius dan seolah-olah tiada urusan di dunia ini
yang dipandang sebelah matanya olehnya.
Belum habis Oh Put-kui mengamati ketiga orang itu,
pendeta yang tinggi besar itu telah menegur sambil tertawa
terbahak-bahak:
"Haaaahhh... hahhhhhhh... Sicu cebol, aku rasa dari
kedatanganmu kali ini tentu saja dengan membawa serta
batok kepala dari gembong iblis itu bukan."
"Sungguh memalukan.... sungguh memalukan..." seru
pengemis itu sambil mendehem, mendadak ia teringat kalau
Oh Put-kui yang telah dikibuli berada di belakang tubuhnya
tentu saja dia enggan untuk kehilangan pamor di depan orang,
maka sambil mendongakkan kepalanya dan tertawa aneh
sahutnya:
"Tepat sekali, tepat...."
Pendeta yang tinggi besar itu segera berseru memuji
keagungan sang Buddha, kemudian ia menyingkir dan
mempersilahkan tamunya masuk.
Sebaliknya sastrawan berusia pertengahan itu segera
menegur pula dengan suara dingin:
"Saudara Lok, gembong iblis manakah yang telah tewas di
tanganmu?"
Pengemis tua itu kontan saja melotot, sambil masuk ke
dalam ruangan dengan langkah lebar sahutnya tertawa:
"Sediakan arak dulu, mana araknya? Huuh, kalau cuma
urusan kecil itu mah lebih baik di bicarakan nanti saja..."
@oodwoo@
Jilid ke 2
PERLU DIKETAHUI, perkampungan Tang-mo-san-ceng ini
mempunyai pamor yang tidak lebih rendah dari pada nama
besar Sian-hong-hu ataupun Ci-wi-wan, kepala kampungnya
Ki lok-sian-tong bocah 'dewa kegembiraan' hoa Tay-siu dan
istrinya Yauti-giok li' gadis suci dari nirwana' Lan Ting adalah
jago-jago yang termasyhur dalam duniz persilatan.
Dibandingkan dengan si kakek malaikat Nyoo Thian-wi atau
si bayangan pedang pengejar nyawa leng Hong-bin, mereka
jauh lebih supel dan memperhatikan keselamatan umat
persilatan, apalagi dia adalah kakak seperguruan dari Leng
Hong-bin sendiri.
Semenjak Nyoo thin-wie dan leng hong bin menemui
ajalnya, tanpa terasa perkampungan Tang mo-san-ceng telah
berubah menjadi tempat suci terakhir dimana umat persilatan
menggantungkan harapannya.
Ternyata Ki-lok-sian-tong Tay-siu tidak membuat orang
kecewa setelah Leug Hong bin binasa, dia bersama -sama
mendirikan sebuah papan pengumuman pembasmi iblis dalam
perkampungan Tang mo-san-ceng.
Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus nama gembong iblis
dan pejabat yang sudah banyak melakukan kejahatan mereka
tempelkan di atas papan pengumuman tersebut dengan
catatan barang siapa dapat membunuh seorang diantaranya
akan memperoleh jasa dan pahala.
Didalam keputus-asaan mereka karena gagal untuk
mengetahui siapakah pembunuh keji yang telah membunuh
Cing sia siang ni Kim teng sin ihm wan sim seng siu dan Kiam
in tui hun, terpaksa ditempuhnya cara ini.
Menurut anggapan mereka, seandainya gembonggembong
iblis itu berhasil dibasmi semua, bukankah
pembunuh keji itupun pasti berada diantara orang-orang yang
terbunuh. Tapi kenyataannya, selama tujuh bulan ini kecil
sekali hasil yang berhasil mereka peroleh.
Mereka yang datang merobek nama penjahat di atas papan
pengumuman itu, paling banter hanya bisa membunuh
beberapa orang penjahat dari kelas dua, tiga saja.
Oleh karena itu, Hoa Tay siu maupun jago-jago yang
lainnya itu yang bergabung dalam perkampungan itu menjadi
gelisah sekali.
Celakanya justru mereka tidak berhasil menemukan cara
lain yang jauh lebih baik.
Arak sudah kenyang diminum, akan tetapi pengemis itu
belum juga menyinggung tentang gembong iblis yang dibunuh,
lama kelamaan habis sudah kesabaran sastrawan berusia
pertengahan itu, setelah mendengus dingin, tegurnya:
"Saudara Lok, apakah ulat-ulat arakmu sudah dibunuh
semua?"
"Ehm......eehhmm.....sudah habis dibunuh semua!" jawab si
pengemis dengan mulut masih penuh dengan makanan.
"Hari ini, kau membawa berita kematian dari siapa?"
Mendadak pengemis tua itu mendongakkan kepalanya, lalu
berteriak keras :
"Wan lote jangan buru-buru membicarakan orang mati,
bikin napsu makan orang hilang saja, mari, mari, mari, mari
kuperkenalkan dulu kalian dengan bocah keparat ini!"
Kemudian sambil berpaling ke arah Oh Put Kui katanya :
"Hei bocah keparat, mari lohu perkenalkan dirimu dengan tiga
orang tokoh sakti!"
Sambil menuding ke arah pendeta bertubuh tinggi besar itu
serunya : "Dia adalah tianglo dari siau lim pay, Hui leng taysu!"
Oh Put kui segera menjura dan katanya sambil tertawa:
"Pemimpin dari ruang Lo han tong memang betul-betul
seorang tokoh sakti yang termasyhur!"
Pengemis tua itu segera terkejut bisiknya: "Hei bocah
keparat, tampaknya kau luar bisa sekali!" kemudian sambil
menuding ke arah tosu itu katanya: "Dia adalah Hian pek
Cinjin dari Bu tong pay!
"Salah seorang dari Bu tong siang kiam, sudah lama ku
kagumi nama besarnya!" puji Oh Put kui sambil tertawa.
Pengemis tua itu segera melotot gusar ke arahnya,
kemudian baru menuding ke arah sastrawan berusia
pertengahan itu sambil melanjutkan : "Dan dia adalah Hoa san
tianglo, Kim ci bu tek 'jari emas tiada tandingannya' wan Ciu
beng!"
"Kim ci bu tek dari salah seorang Hoa san sam lo memang
sangat memahami jago-jago persilatan yang berada di
hadapannya untuk sesaat dia menjadi tertegun dan berdiri
termangu-mangu, sampai lama sekali lupa berbicara.
Dalam pada itu Kim ci bu tek Wan ciu beng dapat melihat
bahwa pemuda asing ini meski berbicara secara sungkan,
namun mimik wajahnya tidak menunjukkan perasaan hormat
kepada meraka, hal ini segera menimbulkan perasaan tak
senang dihatinya.
Dengan sinar mata memancarkan cahaya tajam, dia
tertawa dingin, kemudian kepada pengemis itu hardiknya :
"Pengemis Lok, siapakah pemuda yang angkuh ini?"
"Bocah keparat ini bernama Oh Put kui!"
"Oh Put kui?"
"Benar" sahut Oh Put kui sambil tertawa hambar, 'aku
datang dari bukit In tang san tebing Cing peng gay" begitu
selesai berkata, dia lantas mengambil tempat duduk sendiri.
Dengan mata melotot buru-buru pengemis tua itu berseru :
"Kau benar-benar tak tahu sopan santun, hei bocah keparat,
mereka bertiga adalah cianpwe!"
Oh Put kui segera tersenyum "Semangat bukan milik orang
tua saja, kalau ingin mencari seorang cianpwe dia harus
memiliki kemampuan yang melebihi siapapun......" belum
habis dia berkata, Hian pek Cinjin telah menukas :
"Anak muda, kau jangan tekebur, sewaktu pinto sekalian
berkelana dalam dunia persilatan, mungkin sicu belum lahir di
dunia ini dari mana kau tahu kalau pinto sekalian punya
kelebihan?"
Oh Put kui segera tertawa.
Kalau memang cianpwe sekalian memiliki kelebihan
mengapa pula harus mendirikan papan pengumuman
pembasmi iblis? Tolong tanya beberapa orangkah diantara
gembong-gembong iblis yang sebenarnya yang telah berhasil
dibunuh?"
Hian Pek Cinjin menjadi tertegun
"Soal ini......."
"Omitohud!" Hui leng taysu segera tertawa, "Siau sicu,
darimana kau bisa tahu kalau tak seorang pun gembong iblis
yang benar-benar kena dibunuh? Hari ini sipengemis sakti
yang pikun telah datang kemari, siapa tahu kalau dia
membawa hasil seperti yang kita harapkan?
"Ooh, rupanya kau bersama pengemis sakti yang pikun, tak
heran kalau kau mengaku dirimu pintar", pikir Oh Put kui
segera. Sementara itu panas muka sipengemis tua itu pun
telah berubah menjadi merah padam karena jengah, sambil
menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal dia berseru: "Hei,
hwesio, aku si pengemis tua sudah merubah namaku menjadi
Pengemis sakti yang pintar!"
Kim ci bu tek Wan ciu beng segera tertawa dingin.
"Heeehhh..... heeehhh..... heeehhh.... jika kau cukup pintar,
tak nanti akan kau ajak seorang bocah dungu macam begitu
masuk ke dalam perkampungan kita!"
"Tapi .....apa salahnya ku ajak dia kemari?" si Pengemis
sakti yang pikun tertegun.
"Hmmmm, bikin hati orang mangkel saja" Wan Ciu beng
tertawa dingin, Pengemis pikun ini segera tertawa terkekehkekeh
"Waaah, kalau itu mah urusan sendiri, kenapa aku si
pengemis mesti mangkel kepadanya?"
"Yaa, lantaran tiada orang yang pikun macam dirimu itu!"
Wan ciu beng semakin berang.
Mendengar dirinya berulang kali dimaki pikun, lamakelamaan
si pengemis mendongkol juga, dengan mata melotot
segera berteriaknya. "Kau sendiri yang pikun! Sudah hidup
setua ini mataku masih bisa melihat lebih jelas, telingaku
masih bisa mendengar lebih tajam dari pada dirimu,
memangnya aku bisa lebih pikun dari padamu? Sialan......."
Menyaksikan kedua orang itu cekcok sendiri, Hian pek
Cinjin menjadi amat gelisah dia tahu Wan ciu beng adalah
seorang manusia yang tinggi hati, selamanya tak pernah
tunduk kepada orang lain, sebaliknya si pengemis pikun Lok
Jin kui justru seratus persen 'pikun' bila sampai cekcok sudah
pasti perselisihan diakhiri dengan suatu pertarungan. Oleh
karena itu belum sempat pengemis pikun memberondong
dengan serangkaian kata-kata makian yang lebih 'sedap'
didengar, buru-buru dia melerai sambil tertawa tergelak.
"Sudah, sudahlah, mengapa kalian berdua mesti cekcok
sendiri? Yaa, seperti yang dikatakan Hui leng tosu tadi,
kedatangan pengemis Lok kali ini sudah pasti telah berhasil
membantai gembong iblis kenamaan dalam dunia persilatan"
"Aaaah, Cuma suatu hasil yang kecil saja, yang berhasil
kutangkap tak lebih Cuma seekor ular kecil!"
"Tepat sekali, ucapan itu memang sangat tepat," kembali
Kim ci bu tek Wan cui beng menyindir sambil tertawa dingin,
"Pengemis memang kerjanya menangkap ular, tepat sekali
pekerjaan tersebut bagimu ...." Hian pek Cinjin kuatir
pengemis pikun itu menanggapi sendirian tersebut buru-buru
tukasnya. "Saudara Lok sebenarnya ular macam apakah yang
berhasil kau tangkap dari sarannya?"
"Pernahkah kalian bertiga mendengar kalau di wilayah Biau
terdapat seorang raja yang bernama Jian tok coa sin dewa
ular selaksa racun' Ih bun Lam?"
Begitu mendengar nama itu disebut, hui leng taysu segera
melompat bangun seraya berseru. Lok sicu, apakah kau telah
membunuh gembong iblis itu?" Hia pek Cinjin juga segera
menanggapi.
"Pinto benar-benar tidak menyangka kalau saudara Lok
begitu hebat kemampuannya .....?
Bahkan Kim ci bu tek Wan Ciu beng yang sejak tadi hanya
menyindir-nyindirpun kini berubah pula paras mukanya.
Pengemis pikun Lok Jiu ki segera tertawa bangga. "Ilmu
silat yang dimiliki Ih bun Lam benar-benar luar biasa sekali
....." demikian ia berkata.
Mendadak Wan Ciu beng turut menimbrung: "Ilmu pukulan
Cou heng cap jit ciang (tujuh belas pukulan ular berjalan) dari
Ih bun Lam terhitung ilmu pukulan yang dahsyat dalam dunia
persilatan, beracun juga sangat berbahaya kelihatan
kungfunya jauh diluar dugaan siapapun".
Maksud dari ucapan itu jelas sekali, yakni memberitahukan
kepada penemis pikun agar tak usah meminjam kelihayan
ilmu silat dari Jian tok coa si ih bun Lam untuk mengangkat
nama sendiri.
Bagi pengemis pikun yang berpikiran sederhana, tentu saja
dia tidak berpikir sejauh itu, sahutnya sambil tertawa: :Benar!
Apa yang diucapkan Wan lote memang benar!"
"Saudara Lok," kata Hian pek cinjin kemudian sambil
mengangkat cawan araknya" pinto harus menghormati
secawan arak padamu sebagai tanda ucapan selamat bagi
keberhasilanmu!"
Sekali teguk dia habiskan isi cawannya pengemis pikun
buru-buru mengangkat cawangnya pula sambil meneguk isi
cawannya sampai tiga kali beruntun.
Oh Put kui yang menyaksikan semua peristiwa itu diamdiam
harus menahan gelinya.
Diam-diam dia mengeluarkan selembar kertas berisi nama
yang baru saja diambilnya dari papan pengumuman tadi,
kemudian dilihat isi tulisannya: "Ih bun Lam, bergelar Jian tok
coa sin mengangkat dirinya sebagai raja di wilayah Biau,
pernah mencelakai umat persilatan baik dari golongan putih
maupun golongan hitam sebanyak tujuh ratus orang, barang
siapa dapat membunuh orang ini, mendapat selaksa tahil
emas murni!
Sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya berulang
kali, dia melipat kertas itu menjadi tiga bagian, kemudian
menggunakan dikala ke empat orang itu sedang meneguk
arak, diam-diam ia susupkan kertas tadi ke saku si pengemis
pikun.
Selesai melakukan perbuatan tersebut, Oh Put kui baru
mengangkat cawannya dan berkata sambil tertawa:
"Tampaknya aku telah salah berbicara lagi.....aku bersedia
menghukum diriku dengan sepuluh guci arak!"
Setelah meneguk arak beberapa cawan, dia berkata lebih
jauh: "Lok lo kau dapat membunuh Ih bun Lam yang tersohor
sebagai raja di wilayah Biayu betul-betul suatu karya gemilang
dari seorang ciapwe! Cctt......cctt......cctt....anggaplah secawan
arak ini sebagai rasa kagum dan permintaan maafku
kepadamu."
Pengemis pikun Lok jin ki segera tertawa terbahak- bahak:
"Haaahhhh..... hhaaahhh... haaaahhh.... cukup, cukup bocah
muda, kau sudah menghabiskan sepuluh cawan arak, lohu
pun telah menerima maksud baikmu itu, secawan arak ini
sudah tak perlu kau minum lagi, orang muda tak boleh minum
arak kelewat banyak"
"Kalau kau orang tua memang berkata demikian, aku akan
menurut" kata Oh Put kui kemudian serius.
"Haaahhh..... Haaahhh..... Haaahhh.....begitulah perbuatan
seorang anak yang penurut."
Omintohud!" Hui leng tay su menyela tiba-tiba "Lok Siku
apalah kau sudah merobek kartu nama dari atas papan
pengumuman ?"
Sambil memicingkan matanya si pengemis pikun
mengagumkan kepalanya berulang kali.
Sambil tertawa Hui leng taysu segera berkata. "Harap Lok
sicu suka menyerahkan robekan kertas itu kepada pinceng,
agar bisa ditukarkan kepada kasir dengan uang sebesar
selaksa tahil emas murni......"
Begitu mendengar emas murni selaksa tahil si pengemis
pikun segera hilang sifat pikunnya. Mendadak teringat olehnya
kalau kertas yang dirobeknya dari papan pengumuman tadi
hanya bernilai tiga ratus uang perak saja, dari mana
datangnya selaksa tahil emas murni?
Jangan-jangan ..... Jangan-jangan .....dengan cepat ia
tersadar kembali dari lamunannya. Kapankah dia telah
membantai Ih bun Lam?
Teringat olehnya andaikata ia tidak menguasai ilmu Ciang
liong 'penaklukkan naga' dari kay pang yang justru merupakan
tandingan dari ilmu Coa heng cap jit ciang serta
kepandaiannya menangkap ular, delapan bagian saat itu
sudah menjadi mangsanya si dewa ular selaksa racun Ih bun
lam ....... lantas, darimana bisa munculnya cerita kalau dia
telah berhasil membunuh Ih bun lam?
Dengan wajah agak sangsi dan tersipu sipu dia masukkan
tangannya ke dalam saku .....
Diam-diam ia menyumpah didalam hati 'benar-benar
memalukan, padahal aku hanya berhasil membunuh seorang
muridnya Ih bun lam yang bernama Cing coa sin tong bocah
sakti ular hijau, Li put kiat, mengapa aku bisa mengibul telah
membunuh Ih bun lam.......? Aaaaai, semuanya ini gara-gara
si tosu dan si hwesio yang telah mencelakai orang, tidak
menunggu aku si pengemis tua menerangkan duduk
persoalan mereka sudah keburu menyanjung lebih dulu...."
Oleh karena keraguan tersebut, membuat tangannya yang
sudah merogoh ke dalam saku, sampai setengah harian
lamanya belum juga ditarik keluar......
Dalam pada itu sorot mat empat orang bersama-sama
sedang dialihkan ke wajahnya. Rasa panik tiba-tiba
menyerang hatinya, membuat para muka pengemis tua itu
berubah menjadi merah padam. Untung saja sudah minum
arak cukup banyak, sehingga tiada orang yang
memperhatikan warna merah di atas wajahnya.
Kalau dibilang diantara ke empat orang itu ada yang
memperhatikan lebih seksama. Maka orang itu tak lain adalah
Oh Put kui. Tangan si pengemis pikun yang merogoh ke
dalam sakunya belum juga ditarik keluar, namun sorot
matanya telah melotot sekejap ke arah Oh put kui dengan
gemas, diam-diam sumpahnya didalam hati. 'Semua ini garagara
bocah keparat ini, coba kalau dia tidak menyindir orang
dengan mengatakan pembunuh gembong iblis kenamaan, tak
mungkin aku si orang tua bakal dibikin malu seperti
ini.......sialan betul bocah keparat itu......"
Akhirnya tangan itu ditarik keluar dari dalam sakunya.
Dengan wajah merah padam karena malu, dia tertawa jengah,
lalu ujarnya: "Rasanya aku si pengemis tua bakal membuat
kalian kecewa lagi....."
Akan tetapi dikala sorot matanya telah membaca tulisan
yang tertera diatas kertas-kertas itu, mendadak bagaikan
orang-orangan yang ditiup angin, dengan cepat dia
membusungkan kembali dadanya.
"Haaahhhh...... Haaahhhh...... Haaahhhh......ambil lah!" dia
berseru sambil tertawa tergelak, "Sungguh tak kusangka si
ular kecil ini bernilai ribuan tahil emas....."
Oh Put kui yang menjumpai kejadian itu, hampir
menyembur keluar semua isi mulutnya lantaran geli.
Tampaknya si pengemis pikun ini benar-benar sudah pikun!
"Hmmm, sekarang masih bisa berbangga hati, akan kulihat
sebentar kau akan pergunakan bukti apa untuk menunjukkan
kalau Ih bun Lam memang mampus di tanganmu....." demikian
pemuda berpikir......
Setelah menerima kertas berisi nama gembong iblis itu. Hui
leng taysu memeriksa sebentar, kemudian sambil menggape
ke arah dua orang lelaki berpakaian ringkas yang berdiri di
luar ruangan, bentaknya keras-keras: "Bawa tanda bukti ini
untuk menerima uang sebesar selaksa tahil emas murni.
Beritahu kepada kasir, Ih bun Lam telah tewas ditangan
pengemis sakti Lok Jin ki!"
Dua orang lelaki itu segera mengiakan dengan membawa
kertas tadi dengan cepat meraka berlalu dari sana,
Tiba-tiba Kim ci bu tek tertawa dingin kemudian ujarnya
"saudara Lok dapat membunuh gembong iblis yang telah
melakukan kejahatan ini sungguh membuat siaute
kagum,......Cuma saja, sebelum Lok bisa menerima di atas
papan pengumuman pembasmi iblis, perlu kau tunjukkan lebih
dulu barang buktinya......"
"Barang bakti? Barang bukti apa?" arak yang baru saja
diteguk pengemis pikun itu segera menyembur keluar kembali.
Kembali Kim ci bu tek tertawa dingin "Tanda bukti kalau Ih bun
Lam benar-benar sudah mampus!"
"Benda apa yang bisa membuktikan kalau Ih bun Lam
benar-benar sudah mampus?"
Haaahhh...... Haaahhh......Haaahhh.... kau anggap Cuma
lantaran uang emas selaksa tahil, aku si pengemis tua sudi
membopong mayat orang sambil melakukan perjalanannya?"
"Sekalipun tak ada mayatnya, batok kepalapun boleh juga!"
Dengan cepat si pengemis pikun menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Kau suruh aku membawa batok kepala manusia sambil
menempuh perjalanan jauh? Huuuh, memangnya kau anggap
aku tahan dengan bau busuknya?"
Tiba-tiba Kim ci bu tek tertawa tergelak.
"Sandara Lok, pernahkah kau berjumpa Ih bun Lam?
Pertanyaan ini kontan saja membuat pengemis pikun naik
pitam.
Aku sipengemis tua harus banyak bergerak sebanyak
seribu jurus lebih sebelum secara beruntung....
Sebenarnya dia hendak mengatakan "Sebelum secara
beruntung lohu lolos dari ancaman maut Ih bun Lam....' untung
saja perkataan itu belum sempat diutarakan keluar coba kalau
tidak.... sudah pasti semua rahasianya bakal terbongkar.
Setelah berhenti sebentar, dengan wajah serba salah dan
menghela nafas panjang dia melanjutkan.
"Aaaai ..... kemenangan yang kuperoleh benar-benar tidak
gampang.....
"Betul" sambung Oh Put kui tiba-tiba tertawa, kemenangan
itu memang diperoleh dengan susah payah, coba kalau
perubahan jurus Ci gan lik yaa 'menusuk mata mencabut gigi'
dari ilmu Ciang liong ciang hoat mu itu tidak bergerak sangat
cepat, mungkin akibatnya benar-benar sukar dibayangi
dengan kata-kata ......"
Bagaikan disengat ular beracun, mendadak pengemis
pikun itu melompat bangun sambil berteriak: "Bocah keparat,
kau.... kau.... kau.... telah menyaksikan semuanya...?"
"Haaaahhhh.... Haaaahhhh.... Haaaahhhh.... benar....."
seperti bola yang kehabisan udara, tahun-tahu pengemis
pikun itu tergeletak lemas di atas kursinya seperti orang yang
kehilangan semangat.
Melihat kejadian itu. Hian pek Cinjin menjadi tertegun, dia
segera menegur : "Oh sauhiap, sebenarnya apa yang telah
terjadi ......?"
Oh put kui segera berpaling ke arah pengemis pikun,
namun ia ta berkata apa-apa, sementara itu si pengemis tahu
sedang menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan
sementara mulut berguman terus tiada hentinya : "Kau bocah
keparat bukan manusia....kau bocah keparat hanya khusus
ingin mempermainkan aku ....uuuh.....uuuh.....uuuh... kali ini
aku si pengemis tua benar-benar akan kehilangan muka!"
Oh put kui tak kuasa mengendalikan rasa gelinya lagi, dia
tertawa tergelak kemudian kepada Hian pek Cinjin katanya!"
"Aku telah menyaksikan sendiri bahwa Lok lo telah
membunuh Ih bin Lam gembong iblis tersebut"
"Oooh.....kiranya begitu.....ternyata peristiwa ini memang
benar-benar terjadi......"
Sebaliknya Kim ci bu tek Wan ciu beng segera tertawa
dingin. Katanya dengan cepat : "Ucapan seorang anak muda
mana boleh dipercaya. Apa lagi sewaktu ciangbun jin dari lima
partai serta Tang mo cengcu mendirikan papan pengumuman
Tang mo pang telah diputuskan peraturan yang mengatakan
bila tiada bukti yang bersangkutan benar-benar terbunuh,
uang hadiah tak dapat diserahkan"
"ucapan Wan sicu memang benar!" Hui leng taysu segera
menanggapi manggut-manggut. Hian pek cinjin segera
mengalihkan kembali sorot matanya ke wajah anak muda itu
kemudian katanya :
"Oh sauhiap, kalau toh kau telah menyaksikan Ih bun lam
tewas ditangan pengemis Lok, mengapa kau tidak menyuruh
pengemis Lok memenggal batok kepala Ih bun Lam ?"
Tiba-tiba Oh Put kui tertawa aneh, katanya :
"Pengemis Lok hanya berniat untuk bergurau kalian, masa
kalian bertiga tak dapat melihatnya?"
"Aaah, jadi apa yang dikatakan selama ini hanya gurauan
belaka?" seru Hian pek Cinjin tertegun.
Sedangkan Kim ci bu tek paling gusar di antara mereka,
segera bentaknya keras-keras:
"Pengemis Lok, besar amat nyalimu....."
Sambil berkelebat ke depan, dia bersiap-siap menerjang
tubuh si pengemis pikun.
Dengan cepat Hui Leng taysu mengulurkan tangannya
mencegah Wan Ciu beng maju ke depan, cegahnya:
"Sicu, jangan bertindak gegabah....."
Kemudian Oh Put kui katanya sambil tertawa :
"Siau sicu, apa yang kau maksudkan sebagai gurauan
tersebut? Apakah Lok sicu belum berhasil membunuh Ih bun
Lam si gembong iblis tersebut....."
Oh Put kui tidak menjawab, sebaliknya malah tersenyum
belaka dengan mulut membungkam.
Pada saat itulah mendadak si pengemis tua melompat
bangun, kemudian teriaknya keras-keras:
"Bocah keparat, semuanya ini adalah gara-garamu...."
"Plaaak...!" sebuah pukulan dengan telak menghajar tubuh
Oh Put kui membuat badannya tergetar mundur sejauh lima
langkah lebih.
Serangan ini dilancarkan si pengemis tua dalam keadaan
gusar, tentu saja hasilnya luas biasa sekali.
Darah kental segera muncrat keluar dari mulut Oh Put kui.
Mendorong sinar tajam balik mata Hian Pek Cinjiu, segera
tegurnya dengan gusar: "Saudara Lok, dengan sikapmu
terhadap seorang boanpwee, apakah kau tidak kuatir
perbuatanmu ini hanya akan merosotkan pamormu sebagai
tianglo perkumpulan Kay pang?"
Sepasang mat pengemis pikun melotot besar sekali karena
gusar, terdengar ia membentak lagi:
"Bodah keparat ini ....dia.....dia telah mengacaru diriku terus
.....betul menggemaskan ....betul-betul menggemaskan ......"
Oh Put Kui sedikitpun tidak mendendam kepada pengemis
pikun, kendatipun ia sudah kena dihajar, setelah membesut
darah yang menodai bibirnya, seakan-akan tak pernah terjadi
peristiwa apapun, ujarnya kepada Hian pek Cinjin:
"Totiang tak usah menegur pengemis Lok dalam persoalan
ini memang akulah yang telah bersalah!"
Dengan sorot mata memancarkan rasa kagum, Hui leng
taysu berkata sambil tertawa: "Kebesaran jiwa siau sicu, betulbetul
telah membuat lolap merasa amat kagum!"
Oh Put kui segera tertawa hambar "Sudah banyak waktu
aku mengembara dalam dunia persilatan, penderitaan dan
siksaan yang pernah ku alami bahkan seratus kali lipat lebih
hebat dari pada apa yang ku alami sekarang, pujian dari taysu
itu benar-benar tak berani kuterima."
Hian pek cinjin seperti merasa menyayangkan sesuatu, dia
hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.
Sedangkan Kim ci bu tek Wan Ciu beng tertawa dingin
tiada hentinya dengan nada sinis.
Oh Put kui seakan-akan tidak melihat kesemuanya itu
sambil tertawa katanya kemudian kepada pengemis itu:
"Pengemis Lok, serangan yang kau lancarkan itu betulbetul
cukup mematikan!"
Hawa amarah yang berkobar dalam dada pengemis pikun
itu belum mereda, dengan penuh rasa mendongkol serunya
lagi :
"Bocah keparat, saking gemasnya aku si pengemis tua
betul-betul ingin merenggut selembar nyawamu!"
"Pengemis Lok, rasa bencimu kepada aku sungguh
membuat aku merasa amat terkejut...." kata Oh put kui sambil
menggelengkan kepalanya dan tertawa.
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia merogoh sakunya
dan mengeluarkan sebuah batok kepala yang telah
mengering, sambil di angsurkan ke hadapan Kim ci butek wan
ciu beng, ujarnya sambil tertawa dingin:
"Inilah batok kepala dari Ih bun Lam, tak ada salahnya jika
kau periksa dengan seksama! Setelah pengemis Lok berhasil
membunuh iblis ini, meski dia lupa untuk memenggal batok
kepalanya. Namun aku cukup mengetahui kalau manusia di
dunia ini kebanyakan hanya mau percaya kepada diri sendiri
dan enggan mempercayai kemampuan orang lain, oleh sebab
itu aku telah mewakili pengemis Lok untuk memenggal batok
kepala dari iblis itu, aku rasa kalian bertiga pasti tak akan
menaruh curiga kepada pengemis Lok sebagai manusia yang
suka membohong bukan......"
Berbicara sampai dia berhenti sebentar kemudian setelah
menghela nafas panjang lanjutnya:
"Aaaai .....tak kusangka pendekar kenamaan dari dunia
persilatan rupanya tak bisa melepaskan diri pula dari
perebutan soal nama ....."
Ucapan diri Oh Put kui itu jelas bertujuan untuk menyindir
dan mencemooh Kim ci but tek Wan ciu beng. Hal ini
membuat jagoan dari Hoa san itu menjadi amat mendendam
sekali, hanya saja rasa bencinya itu tak dapat diumbar dengan
begitu saja.
Sambil memegang batok kepala manusia yang sudah
mengering itu dia berlagak seakan-akan tidak mendengar
perkataan dari Oh Put kui, di bolak-baliknya kepala itu sampai
sepuluh kali lebih.
Akhirnya setelah tertawa dingin, Wan ciu beng baru berkata
:
"Benar, batok kepala ini memang batok kepalanya Ih bun
Lam!
Setelah mendengar perkataan itu, Hui leng taysu dan Hian
pek Cin jin tersenyum.
Sedangkan si pengemis pikun segera merasakan sekujur
badannya gemetar keras.
Pengemis tua itu kin benar-benar sudah dibuat pikun oleh
keadaan yang dihadapinya.
Dengan termangu- mangu dia mengawasi sekejap pemuda
berbaju putih itu, berbagai ingatan telah berkecamuk dalam
benaknya, tapi dia tidak habis mengerti mengapa batok kepala
Raja wilayah Biau, dewa ular selaksa racun Ih bun Lam yang
berilmu tinggi dan berhati keji itu bisa berubah menjadi Batok
kepala kering yang tersimpan dalam bungkusan tersebut.
Sementara itu, si jari emas tanpa tandingan Wan cing beng
telah membawa batok kepala Jin tok coa sin Ih bun Lam yang
mengering itu menuju ke ruang belakang. Sedang Hui leng
taysu sambil merangkap tangannya di depan dada berkata
lantang:
"Lok sicu, membunuh iblis ini merupakan pahala yang luar
biasa besarnya bagi umat persilatan, moga-moga kau
dilindungi umat Buddha dan diberkahi usia panjang."
"Benar" sambung Hiau pek Cinjin sambil tertawa," pinto
bersedia menyampaikan berita girang ini kepada Hoa loko
suami isteri serta para jago dari Go bi pay, Pay kau dan Kay
pang yang berada di sini."
Mendengar sanjungan demi sanjungan yang ditunjukkan
kepadanya, itu si pengemis pikun tertawa tergelak tiada
hentinya, nampak jelas dia merasa bangga sekali.
Tapi setelah puas tertawa, tiba-tiba air matanya jatuh
bercucuran membasahi pipinya, kemudian diapun menangis
tersedu-sedu.
Sebenarnya Pian pek Cinjin sudah bersiap-siap
meninggalkan tempat itu, tapi setelah menyaksikan kejadian
itu, dia menjadi kaget bercampur keheranan kemudian
membatalkan niatnya untuk pergi.
"Taysu, mengapa dia menangis?" bisiknya kemudian
kepada Hui leng taysu dwngan kening berkerut.
Dengan cepat pendeta itu menggelengkan kepalanya
berulangkali.
"Lohu sendiri pun sampai turut pikun..... mungkin lok sicu
kelewat gembira!"
"Aaah, tidak mungkin, tidak mungkin! Suatu persoalan yang
amat memedihkan hatinya."
"Yaa, betul agaknya Lok sicu sedang menangis dengan
sedih sekali." sahut Hui leng serius.
Setelah berhenti sebentar, kepada Oh Put kui segera
tanyakan :
"Siau sicu, tahukah kau apa sebabnya?" tentu saja
musababnya, tapi ia merasa kurang leluasa untuk
mengutarakan keluar, maka dengan cepat dia menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Aku rasa mendapat taysu tadi memang sangat
beralasan.....mungkin saja pengemis Lok....."
Belum habis dia, berkata, pengemis, pikun sudah meraung
gusar:
"Alasan kentut busukmu ....Oooh, aku si pengemis tua
sungguh merasa sedih sekali uuuh.... uuuh.... uuuh...."
Seperti anak kecil saja, pengemis tua itu menangis sambil
mencak-mencak, serunya lagi :
"Bacah keparat, kau telah membohong aku ....ternyata kau
telah membohongi aku selama hidup lohu paling takut kalau
tertipu, takut masuk perangkap orang, tak tahunya kau si
bocah keparat telah, menjebakku uuuh.... uuuh....
uuuh....percuma saja aku hidup selama ini kalau akhirnya
terjebak juga oleh perangkapmu.... Ooh. aku si pengemis tua
sungguh merasa sedih sekali.....hei Hwesio gede, hidung
kerbau, aku pengemis tua sedih sekali....selama hidup aku
selalu menderita kerugian, sampai orang lainpun memberi
julukan "Pikun" kepadaku....lihatlah betapa penasarannya aku
uuuh.... uuuh.... sekarang. Si bocah ingusan inipun berani
mempermainkan aku, apa gunanya aku hidup terus aku ....aku
....ingin mati, aku ingin mati saja,......"
Isak tangis yang disertai dengan teriakan-teriakan ini benarbenar
bikin pendeta dan tosu itu menjadi kelabakan setengah
mati.
Mereka hanya bisa memandang ke arah pengemis tua itu,
lalu memandang pula ke arah Oh put kui dan akhirnya
terpaksa harus menghela napas panjang .
Sikap Oh Put kui tenang sekali, sambil bergendong tenang
dia hanya menguasai tingkah laku pengemis itu sambil
tersenyum.
Sebenarnya pengemis tua itu sudah makin mereda isak
tangiasnya, siapa tahu ketika dia mendongakkan kepala dan
melihat Oh Put kui sedang memandang ke arahnya sambil
tersenyum tangisannya yang merendah itu tiba-tiba bertambah
keras volumenya.
Bahkan kali ini disertai dengan teriakan-teriakan dan
menarik-nari rambut sendiri. Hebat sekali isak tangis dari
pengemis pikun, sampai-sampai seluruh isi perkampungan
ikut menjadi kaget dan berdatangan.
Dalam waktu singkat ki lok sian tong hoa tay siu siansu dari
Gobi pay, kun liong kui ciang sembilan toya pengurung naga
Ho khi hui, tianglo dari kay pang dan jago pay kan sam siang
cuancu pemilik perahu dari sam siang, Hee jin beng telah
bermunculan di ruang depan.
Tapi begitu menyaksikan apa yang sedang berlangsung di
situ, ke empat orang jago lihay itu menjadi tertegun.
"Hei, bukan dia adalah Lok pikun?" seru Ho khu hui dengan
perasaan terkejut.
Kebetulan Kim cibu tek wan ciu beng sedang melangkah
keluar pula dari ruang belakang setelah mendengar pula dari
ruang belakang setelah mendengar isak tangis tadi, maka
sambil mendengus dingin sindirnya:
"Kalau bukan adik seperguruan kesayangan Hoa heng,
siapa lagi yang tak tahu malu seperti dia?"
Ho khi hui melirik sekejap ke arah Wan Ciu beng dengan
pandangan dingin, lalu katanya: "Suteku ini memang sudah
termasyhur karena pikunnya apakah Wan lote tidak merasa
kalau sindiranmu itu sedikit kelewatan ?"
Wan ciu beng segera tertawa dingin, dengan nada
menghina dia tuding ke arah si pengemis pikun, lalu katanya:
Ho heng, mengapa tidak kau lihat tampak dari sutemu itu?
Apakah manusia macam beginipun dianggap seorang
cianpwe dalam dunia persilatan ? Hmmm....apa yang
dilakukan benar-benar telah menjual semua muka orang Kay
pang, tak kusangka kalau dalam kay pang pang terdapat
manusia macam begini!"
Pada hakekatnya perkataan dari Wan cin beng ini telah
menodai nama baik seluruh anggota Kay pang.
Kontan saja paras muka si sembilan tongkat pengurung
naga Ho Khi hui berubah hebat, saking gusarnya semua
rambutnya yang berubah pada berdiri semua.
"Hei orang she wan, kalau berbicara hati-hati sedikit!"
peringatnya.
Sikap Wan ciu beng semakin sinis, sambil mendongakkan
kepalanya memandang langit-langit ruangan, ejeknya sambil
tertawa dingin:
"Heeehhhh.... Heeehhhh.... Heeehhhh.... aku tak pernah
membuat-buat keadaan, apa yang ku ucapkan selamanya
merupakan kenyataan, memangnya aku telah salah
berbicara?"
Ho khi hui membentak gusar, kepalanya segera diayunkan
ke muka siap melancarkan serangan.
Dengan cepat Ci sin siansu merentangkan tangannya untuk
menarik kembali lengan kanan Ho khi hui.
Pada saat itulah si bocah dewa kebahagiaan Hoa Tay siu
tertawa terbahak-bahak sambil berkata :
"Sudahlah, kalian berdua tak usah cekcok sendiri, kesulitan
yang kita hadapi sudah cukup memusingkan kepala"
Selesai berkata dia lantas menarik tangan Ho Khi hui dan
diajak menghampiri si pengemis pikun.
Hui leng taysu dan Hian pek Cinjin cepat maju ke depan
memberi hormat kepada Hoa Tay siu.
Cepat Hoa Tay siu membalas hormat sambil tertawa,
kemudian sorot matanya dialihkan ke wajah Oh Put kui.
Walaupun Oh Put kui tidak kenal dengan Hao Tay siu,
kepala kampung perkampungan ini, namun dari julukannya
sebagai bocah dewa kebahagiaan, bisa diduga siapa
gerangan orang ini.
Wajah Hoa Tay siu memang sepintas lalu mirip sekali
dengan wajah seorang bocah berusia belasan tahun.
Selain bibirnya berwarna merah dengan dua baris gigi yang
putih, wajahnya yang bersih dan tampan, namun rambutnya
telah berubah dan bajunya berwarna merah tua ditambah lagi
sepatunya yang terbuat dari kain dan ikat pinggang berwarna
putih, membuat gerak-geriknya mirip sekali dengan dewa.
"Kalau orang ini disebut sebagai bocah dewa kebahagiaan,
maka julukan tersebut memang tepat sekali." pikir Oh Put kui.
Waktu Hoa tay siu sedang minta keterangan dari Hui leng
taysu dan Hian pek Cinjin
Si pengemis pikun yang sedang menangis sedih, ketika
melihat Hoa tay siu dan kakak seperguruannya si sembilan
tongkat pengurung naga Ho khi hui telah berdatangan dengan
cepat diapun berhenti menangis.
Setelah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya
untuk sesaat Ho Lay siu pun tak tahu apa yang mesti
dikatakan,
Sebaliknya si kakek berambut merah yang tinggi besar Hoa
Khi hui sedang mengawasi Oh Put Kui dan si pengemis pikun
dengan kening berkerut, kemudian ujarnya pelan :
"Lok Sute kau memang gemar sekali membuat
keributan......"
Pengemis pikun dengan melompat bangun, sambil
menuding ke arah Oh put kui teriaknya :
"Bocah keparat ini pandai sekali membohongi orang...."
Kemudian sambil memandang kerah Hoa Tay siu, dia
berteriak keras-keras.
"Hoa siu lo ko engkoh tua kecil. Coba kau lihat, bocah
keparat itu telah membunuh si raja bisa ular sakti selaksa
racun Ih bun lam, tapi dia tak mau mengakuinya, sebaliknya
melimpahkan hal ini, kepadaku coba kau katakan, perbuatan
ini kurang ajar tidak ? Hmmm, justru karena dia tak becus
maka saking mangkelnya aku sampai kepingin mangkelnya
aku sampai kepingin mati seketika saja...."
Beberapa patah kata yang kedengarannya amat santai itu,
dengan cepat mengejutkan beberapa orang jago persilatan
yang hadir ditempat itu.....
Pemuda ingusan semacam itupun dapat membunuh raja
dari wilayah biau? Siapa yang percaya ?
Tapi mau tak mau merekapun harus mempercayainya.
Walaupun setiap orang tahu kalau pengemis pikun adalah
orang yang blo on, namun mereka yakin seandainya gembong
iblis itu mati di tangannya, tak mungkin dia tak akan
mengakuinya.
Oleh karena itu, beberapa orang jago persilatan itu menjadi
tertegun untuk beberapa saat lamanya.
Sambil tersenyum Oh Put Kui segera berseru :
"Pengemis Lok, bukankah kan tahu kalau aku bukan
seorang jagoan dari dunia persilatan ...........
Belum habis perkataan itu diutarakan si pengemis pikun
telah menukas sambil berteriak keras :
"Bocah keparat, aku si pengemis tua benar-benar sudah
kau tipu habis habisan, permainan sandiwaramu memang
mirip sekali. Andaikata pukulan yang kulancarkan tadi
bersarang dibutuh orang lain, paling tidak pasti akan melukai
ototnya atau mematahkan tulangnya. Tapi kau ......mana
lukamu ? apa artinya darah yang keluar dari mulut itu?"
"Tapi kau orang tua harus tahu, sepanjang tahun aku
berkelana kemana-mana siapa tahu kalau tubuhku lebih kekar
dan kuat dari pada tubuhmu?"
"Kentut anjingmu, hanya setan yang percaya obrolan
sintingmu itu......" teriak pengemis pikun sambil mencakmencak.
Kemudian kepada Ho Tay siu serunya
"Engkoh tua kecil, coba kau lihat mirip kah dia sebagai
seorang manusia yang tak mengerti ilmu silat?"
Sambil tertawa Hoa Tay siu menggeleng. "Siaute kurang
begitu percaya!" setelah berhenti sebentar dia menghampiri
Oh Put kui dengan langkah lebar, kemudian tegurnya: "Lote
siapa namamu? Berasal dari mana? Dari mana perguruanmu?
Apakah kau dapat menerangkan?
Kemudian setelah tertawa, tambahnya: "Lohu adalah
pemilik perkampungan ini, tentunya lote sudah mengetahui
dari julukan diriku bukan?"
Oh put kui segera menjura, katanya :
"Nama besar Hoa cengcu benar -benar bukan nama
kosong belaka, sudah lama aku mengaguminya."
"Aku tak lebih hanya seorang anak dusun dari bukit In tang
san tebing Cing Peng gay orang menyebutku Oh Put Kui!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Hoa Tay siu,
katanya kemudian sambil tertawa:
"Perguruan lote adalah .........
"Asah, aku tak lebih hanya orang gelandangan dari udik,
tak punya perguruan tak punya aliran parta!"
Diam-diam Hoa Tay siu segera berkerut kening, namun
diapun tidak mendesak lebih jauh, hanya ujarnya sambil
tersenyum :
"Apakah Ih bun Lam benar-benar mati ditangan lote?"
Dengan cepat Oh Put kui tertawa hambar "Orangnya toh
sudah mati , dan kejahatannya telah berakhir buat cengcu
mesti persoalkan lagi dia mati ditangan siapa?"
Meskipun perkataannya amat santai dan enteng, namun
sayang dikatakan memang tak salah, kalau toh mereka tak
ada maksud untuk membalas dendam bagi kematian Ih bun
Lam, apa gunanya untuk mencari gembong iblis itu mati
ditangan siapa?
Hoa Tay siu mengamati Oh Put kui dalam-dalam mendadak
katanya sambil tersenyum
"Silahkan duduk!"
Semua orang segera mengambil tempat duduk masingmasing,
Hoa Tay siu baru berkata kepada Oh Put kui sambil
tertawa:
"oh lote, mari lohu perkenalkan beberapa orang sobat
lamaku ini kepadamu."
Sambil menuding si kakek berambut merah yang
berperawakan tinggi besar itu katanya:
"dia adalah tianglo dari kay pang, orang menyebutnya
sebagai sembilan tongkat pengurung naga ho khi hui!"
Sambil tertawa oh put kui segera menjurai Hoa Tay siu
segera menuding ke arah pendeta kurus kecil berambut putih
yang berada di sisinya dan menerangkan.
"Dia adalah ketua Go bi pay, Ci sin taysu
Sebelum berhenti sebentar, sambil menuding seorang
lelaki berwajah bersih berdandan sebagai juragan perahu dan
berusia antara empat puluh tahunan, katanya:
Dan dia adalah jago lihay dari pay kau si juragan perahu
dari sam siang Hee jin beng.
"Selamat berjumpa!" kata Oh put kui hambar sikapnya kali
ini sama sekali berbeda dengan sikap sebelumnya seakanakan
beberapa orang jago ini tidak menarik perhatiannya,
sehingga tidak menimbulkan pula perasaan hormat yang
seharusnya diperlihatkan.
Tampaknya Hoa tay siu sama sekali tidak menyangka
kalau pemuda itu begitu angkuh tapi sebagai tuan rumah,
paras mukanya sama sekali tidak berubah, sambil
mengangkat cawan katanya kemudian sambil tertawa:
"Apa yang dikatakan Oh lote tadi memang benar setelah Ih
bun Lam mati, berarti dunia persilatan aman dari gangguan
seorang iblis, entah siapa yang berhasil membunuh memang
bukan suatu masalah besar, meski demikian, bukankah
pantas kalau kita rayakan bersama peristiwa yang maha besar
ini.....
Sekali teguk dia menghabiskan isi cawannya, kemudian
setelah tertawa terbahak- bahak terusannya lagi:
"Saudara Lok, sekalipun kau tidak berhasil membunuh Ih
bun Lam, kedatanganmu hari ini untuk mengantar batok
kepala siapa?
Sementara itu si pengemis pikun sudah makan minum
dengan lahapnya, mendengar pertanyaan itu dia menjawab
agak ragu:
"Aku .....aku mah cuma berhasil membunuh seorang
muridnya Ih bul Lam,"
Hoa Tay siu segera tertawa.
"Setiap anggota perguruan Co sin bun memang rata-rata
buas dan berbahaya, keberhasilan dari saudara Lok inipun
pantas untuk dirayakan.
Sementara itu si pengemis pikun telah mengeluarkan
secarik robekan kertas dan sebatang seruling pendek yang
segera diserahkan kepada Hian Pek Cinjin.
Sambil tertawa Hian pek Cinjin berkata:
"Seruling kemala merupakan senjata andalan dari Cing coa
sin tong Li pun kiat, tampaknya ular itulah yang berhasil kau
bunuh!"
"Berikan hadiah seperti yang dicantumkan ....!" perintah
Hao Tay siu kemudian.
Seorang lelaki berbaju hitam segera mengiakan dan berlalu
sambil membawa robekan kertas pengumuman dan seruling
kemala itu,
Tiba-tiba Oh Put kui tertawa dan berkata.
"Cengcu, akupun berhasil merobek beberapa lembar kertas
pengumuman!"
"Ooh, Oh lotepun datang untuk menyerahkan buronan?"
seru Hoa Tay siu tertegun. Maksud dari ucapan itu adalah dia
merasa kaget dengan perkataan itu dan merasa heran
mengapa Oh Put kui tidak mengatakannya sejak tadi.
Pelan-pelan Oh put kui mengangguk, dari sakunya dia
mengeluarkan tiga carik nama, lalu sambil tertawa katanya :
"nilai dari ketiga orang ini tentunya tidak berada dibawah Ih
bun Lam bukan.....
Sambil berkata dia lantas mengangsurkannya ke tangan
Hoa Tay siu
Dengan cepat Hoa Tay sin membuka lembaran pertama.
Tapi begitu sorot matanya dengan tulisan yang tertera
didalamnya, kontan saja sekujur badannya bergetar keras.
"Pak bong lo kui (iblis tua dari Pak bong siang kong yong)"
serunya tanpa sadar.
Begitu nama itu diucapkan, semua jago yang hadir dalam
ruangan sama -sama tertegun kemudian bersama
mengalihkan sorot matanya ke wajah Oh Put kui.
Si pengemis pikun Lok Jin ki pun melompat bangun seperti
tersengat lebah, teriaknya tertahan?"
"Apa? Sang kepala gede pun mampus di tanganmu? Bocah
keparat, hebat betul kau!"
Oh put kui tidak berkata apa-apa, dia hanya tertawa
hambar.
Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebutir batok kepala
yang mempunyai ukuran satu kali lebih besar dari pada batok
kepala manusia biasa, lalu diserahkan ke tangan Hoa Tay siu,
bersamaan itu pula dia mengeluarkan juga sebatang kipas
besar dan sebatang tusuk konde dan meletakkannya di atas
meja.
Sepasang mata pengemis pikun terbelalak makin besar, tak
lama kemudian ia baru tertawa tergelak sampai bercucuran air
matanya.
"Bocah keparat. Kau memang amat hebat.....sampaisampai
Siu hun tay siu (Jenderal penyabot sukma) Kui Thian
bu dan Han yan (Si asap pemabok) salah satu dari empat
dayang In hiang lo pun mampus semua di tanganmu......aku si
pengemis tua betul-betul sudah buta matanya!"
Sementara itu Hon Tay siu telah selesai memeriksa dua
lembar nama lainnya, seketika itu juga perasaan tak
senangnya terhadap Oh put kui, karena menganggap teriak
angkuh, lenyap tak berbekas.
Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya tertawa terbahakbahak
kemudian serunya.
"Selama setengah tahun ini, papan pengumuman
pembasmi iblis baru benar-benar akan tercantum nama iblis
buas yang berhasil terbunuh....."
Sambil merentangkan kertas pengumuman itu segera
bacanya, dengan suara lantang:
"Siang kong yong, kui Thian bu aliran perempuan siluman
asap pemabuk....."
Walaupun para jago dari perbagai aliran yang berkumpul
dalam ruangan itu sudah tahu siapa saja yang berhasil
dibunuh Oh Put kui setelah anak muda itu mengeluarkan kipas
baja dan sebatang tusuk konde tapi setelah mendengar namanama
itu disebutkan langsung oleh Hoa Tay siu, urung
perasaan mereka tercekam juga.
Kenyataan ini benar-benar sukar dipercaya oleh mereka.
Dengan mengandalkan kemampuan dari pemuda yang
tidak diketahui asal usulnya ini, benarkah dia memiliki
kemampuan selihay itu?
Tiba-tiba Hian pek Cinjin mengambil ketiga lembar ke atas
nama dan barang bukti yang berada di meja itu, kemudian
tanpa mengucapkan sepatah katapun segera berlalu dari situ.
Dalam waktu singkat suasana dalam ruangan itu diliputi
keheningan yang luar biasa
Bahkan pengemis pikun pun dibikin tertegun oleh
kenyataan yang terbentang di depan matanya.
Akhirnya Oh Put kui tertawa.
Tertawanya ini menambah suasana keramahan dan
kehangatan disekitar tempat itu
"Adapun aku berhasil membunuh beberapa orang gembong
iblis itu sesungguhnya adalah berkat bantuan orang, harap
para cianpwe jangan menilai tinggi diriku gara-gara persoalan
ini....."
Suatu ucapan yang sangat merendahkan diri. Tapi
benarkah persoalan semacam ini pun berkat bantuan orang ?
hal ini benar-benar membuat orang sukar untuk
mempercayainya.
Si sembilan tongkat pengurung Naga Ho Khi hui memang
seorang manusia yang berhati lurus, mendengar perkataan itu
dia segera tertawa tergelak, katanya:
"Ah sauhiap, siapakah yang percaya kalau pekerjaan
semacam ini adalah berkat bantuan orang lain? Aku tahu lote
mempunyai kepandaian silat yang amat tinggi, kaupun pandai
menyembunyikan kemampuanmu, buat kesemuanya itu lohu
sekalian benar-benar merasa kagum sekali ....."
Hui leng taysu juga mengerutkan alis matanya yang putih,
lalu berkata :
"Siau sicu telah membantu kami untuk membasmi empat
orang gembong iblis kenamaan, jasa yang kau buat sungguh
besar sekali."
Ci sin taysu dari Go bi pay juga berkata sambil tersenyum :
"Sejak papan pengumuman pembasmi iblis didirikan, siau
sicu boleh dibilang merupakan jago persilatan pertama yang
benar-benar membasmi gembong iblis lihay pengganggu
masyarakat, lolap doakan semoga Buddha maha pengasih
melimpahkan semua rahmatnya untuk melindungi siau sien,
moga-moga dalam waktu kau pun dapat membasmi kawanan
iblis serta membongkar empat kasus berdarah paling besar
dalam dunia persilatan.............."
Sedangkan Hoa san tianglo, si jari emas tanpa tandingan
Wan ciu beng, meski dalam hati kecilnya merasa kagum atas
kehebatan si anak muda, namun ucapannya masih tetap
dingin seperti katanya :
"Ternyata kau memang benar-benar sangat lihay, tak
kusangka dengan usiamu yang begitu muda ternyata memiliki
ilmu silat yang begitu hebat, tampaknya dari angkatan muda
dunia persilatan kau seharusnya merupakan jago nomor satu!"
Sebenarnya Oh put kui masih tertawa tetapi begitu Wan
Ciu beng menyelesaikan kata-katanya mendadak dia menarik
kembali senyumannya, lalu dengan sorot mata berkilat dia
menjura ke arah Hoa Tay siu sambil berkata :
"Maaf aku hendak mohon diri lebih dulu!" begitu selesai
berkata secepat sambaran kilat dia sudah menyelinap keluar
dari sana, sementara Hoa Tay siu masih tetegun si pengemis
pikun sudah memburu sambil berseru:
"Jangan pergi dulu bocah keparat, uangnya belum diambil!"
Oh Put kui segera miringkan badannya ke samping lalu
menyelinap lewat dari sisi kiri si pengemis pikun.
Sementara pengemis itu makin tertegun, Oh put kui telah
berpaling dan berkata sambil tertawa:
"Pengemis Lok semua uang hadiah itu tolong kau suka
menerimanya"
Betul-betul suatu tindakan yang royal!
Empat orang gembong iblis kenamaan bernilai delapan ribu
tahil emas murni, dihadiahkan semua kepada orang lain,
rasanya jarang ada manusia semacam ini dalam dunia
persilatan.
Tapi kenyataannya dia berkata demikian. Bukan Cuma
berkata begitu saja, bahkan begitu selesai berkata, tubuhnya
turut menyelinap pula keluar dari situ.
Mendadak Hoa Tay siu merasa dirinya seperti kehilangan
muka, dengan cepat dia menggetarkan tangannya, lalu
bagaikan seekor burung raksasa dengan cepat dia
menyelinap keluar.
"Lote!" serunya lantang, "Apakah kau tak sudi memandang
di atas wajah lohu untuk berdiam sebentar lagi di sini?"
Sementara itu si pengemis pikun juga telah menangkap
tangan sebelah dari Oh put kui. "Bocah keparat!" serunya,
"boleh saja kalau kan ingin pergi, tapi harus membawa serta
au si pengemis tua!"
Sekulum senyuman kembali menghiasi wajah Oh Put kui
dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya :
"Pengemis Lok, aku tak berani melakukan perjalanan
bersama kau"
"Kenapa ? kau anggap aku ini miskin ?" sambil berseru
pengemis pikun itu melepaskan cekalannya dan mundur tiga
langkah.
Kembali Oh put kui menggeleng. "Akupun tidak lebih kaya
darimu!"
"Kau tidak lebih kaya dari pada diriku? Bocah keparat,
tahukah kau? Sekarang kau sudah mempunyai delapan ribu
tahil emas murni, sedangkan aku si pengemis setahil pun tak
punya!"
"Tapi uang itu kan sudah menjadi milik mu sekarang.........
Setelah tertawa, lanjutnya: "Aku tak lebih hanya seorang
manusia tak ternama dalam dunia persilatan, bila harus
melakukan perjalanan bersamamu, sudah pasti dimana- mana
akan menjadi perhatian orang, padahal aku tak terbiasa
dengan cara seperti ini"
Mendadak si pengemis pikun menerjang maju ke muka,
sekali lagi dia pegang tangan Oh Put kui sambil teriaknya:
"Bocah keparat, entah apapun yang kau katakan, pokoknya
hari ini aku si pengemis akan mengikut dirimu.........
Oh Put kui segera tertawa getir, belum sempat dia
mengucapkan sesuatu, Hoa Tay siu telah berkata lagi :
"Lote jarang sekali perkampungan Tang mo san ceng ini
bisa menerima kunjungan orang lihay seperti dirimu, harap
kau suka memberi muka kepada lohu untuk berdiam sejenak
di sini..............."
"Betul !" sambung pengemis pikun, "paling tidak kau harus
menunggu sampai aku minum arak sampai puas lebih dulu"
Sambil tertawa kembali Oh Put kui menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Hoa cengcu, bukan aku ada maksud untuk menampik
tawaranmu, adalah disebabkan orang-orang yang berada
dalam perkampungan Tang mo san ceng benar -benar jauh di
luar dugaanku"
Mendengar perkataan itu, merah padam selembar wajah
Hoa Tay sin karena jengah.
"Lote, harap kau jangan mempunyai pandangan yang
sempit terhadap kami, paling tidak......paling tidak lohu............"
@oodwoo@
Jilid 3
SEBENARNYA dia hendak mengatakan kalau "Paling tidak
lohu bukan manusia yang tak tahu diri!"
Tapi teringat akan nama baik Hoa san pay yang mungkin
akan tersinggung ole perkataan itu, ucapan yang sudah
sampai di bibir itu segera ditelan kembali.
Oh put kui segera tersenyum mendadak dia melangkah
menuju keluar, kemudian katanya :
"Maksud baik cengcu, biar kuterima didalam hati saja!"
Sebenarnya tangan yang sebelah kiri masih dipegang
kencang-kencang oleh pengemis tua Lok Jin ki, tapi setelah
dia berjalan dengan cepat, serta merta pengemis itu turut
terseret keluar juga.
Paras muka Hoa Tay siu segera berubah hebat, diam-diam
ia tertawa dingin, pikirannya. "Bedebah kau benar-benar
memandang hina kami semua."
Tapi sebagai tuan rumah, dia tak ingin kehilangan rasa
hormatnya maka sambil menahan rasa gusarnya, ia berkata
lagi :
"Lote sekalipun kau ingin pergi, seharusnya delapan ribu
tahil emas murni ini harus kau bawa serta."
Dalam pada itu Hian pek Cinjin sedang berjalan mendekat
sambil membawa empat lembar uang kertas berlapis perak.
Tanpa berpaling, Oh put kui berkata dengan ketus:
"Semua uang emas itu sudah menjadi milik pengemis Lok,
harap cengcu suka berikan kepada pengemis Lok!"
Mendengar ucapan tersebut, tak tahan lagi Hoa Tay siu
tertawa seram, mendadak pengemis pikun Lok jin ki
melepaskan cengkeramannya dan membalikkan badan,
kemudian setelah merebut kelima lembar uang kertas tadi,
tanpa dilihat lagi dia segera mengejar ke arah Oh Put kui.
"Hei, bocah keparat, uang itu sudah aku terima !" serunya.
"Kalau sudah diterima lebih baik lagi' gunakanlah secara
baik-baik bagimu pribadi" sementara mulutnya berbicara,
kakinya sama sekali tidak berhenti, dalam waktu singkat dia
sudah berjalan keluar dari pintu gerbang perkampungan itu.
Pengemis pikun mengikuti di belakangnya dengan ketat,
sambil tertawa aneh, serunya berulang kali :
"Bocah keparat, kau telah menyiksa aku si pengemis
tua.....kau anggap uang sebanyak ini bisa kupakai sampai
habis? Sampai ke dalam liang kubur pun uang itu belum tentu
habis dipakai......"
Mendadak Oh put kui menghentikan perjalanannya. Si
pengemis tua Lok Jin ki juga segera turut berhenti, bahkan
berdiri dengan mata mendelong.
Ternyata di depan pintu gerbang perkampungan Tang mo
san ceng telah muncul manusia-manusia tak dikenal ketiga
orang itu berdiri tetap di depan pintu.
Yang berada di sebelah tengah adalah seorang manusia
berwajah kuning seperti orang penyakitan, alis matanya
gundul, rambutnya pendek, matanya memancarkan sinar
dingin yang menyeramkan, sebilah pedang tersoren di
punggungnya, dia adalah seorang kakek yang ceking.
Di sebelah kiri berdiri seorang lelaki setengah umur yang
tubuh kekar, penuh bercabang, bermata besar, bermulut lebar
dari mengenakan pakaian ringkas berwarna hijau,
Di bawah ketiak lelaki itu tergantung sebilah pedang aneh
yang amat lebar, sedangkan di sebelah kanannya adalah
seorang gadis berusia dua puluh tahunan, wajahnya amat
cantik Cuma sayang membawa hawa pembunuhan yang
menyeramkan.
Dia memakai baju merah, ketika terhembus angin, ujung
bajunya berkibar-kibar,
Oh put kui tidak kenal dengan ketiga orang ini, lain dengan
si pengemis tua, paras mukanya segera berubah hebat
setelah menjumpai kemunculan orang-orang itu.
"Haaahhh.....rupanya ke tiga orang gembong iblis ini......"
Suara seruan dari pengemis tua, pada hakekatnya jauh
lebih tak sedap dari pada suara menangis.
Mendengar seruan itu, sebelum ketiga orang gembong iblis
itu buka suara, Oh Put kui telah menegur dengan suara dingin:
"Mengapa kalian menghalangi jalan pergiku?"
Sepasang matanya memancarkan cahaya tajam yang
menggidikkan hati, agaknya kakek ceking berbaju merah itu
merupakan pemimpin dari mereka bertiga bentaknya dengan
kening berkerut :
"Apa kedudukanmu dalam perkampungan ini?"
Oh Put kui tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya
malah tertawa terbahak-bahak.
"Aku bukan anggota perkampungan ini, adalah kalian telah
menghadang jalan pergiku, tolong tanyakan maksud kalian
yang sebenarnya?"
Kakek berbaju merah itu segera berkerut kening, tapi
sebelum dia berkata nona berbaju merah itu sudah tertawa
cekikikan, sambil menuding ke arah Oh put kui katanya :
"Kalau bukan anggota perkampungan ini, ada urusan apa pula
datang kemari?"
Oh Put kui memandang sinis ke arahnya lalu tertawa
dingin.
"itu urusan pribadiku sendiri, tak usah banyak bertanya."
Paras muka gadis berbaju merah itu segera berubah hebat,
kontan dampratnya: "Benar-benar manusia yang tak tahu diri!"
Sementara itu, si kakek berbaju merah itu telah membentak
dengan mata melotot besar "Jika kau bukan anggota
perkampungan ini, lebih baik cepat enyah dari sini!"
Setelah itu sambil menyelinap ke depan, serunya lagi
sambil menuding ke arah si pengemis pikun:
"Pengemis Lok, beritahu kepada Hoa Tay siu, lohu
perintahkan kepadanya untuk menghapuskan nama Tang mo
san ceng, kalau tidak lohu segera akan mencuci tempat ini
dengan darah."
Sewaktu menyelinap ke depan tadi, dalam anggapan kakek
berbaju merah itu, tak nanti anak muda tersebut dapat
menghalangi niatnya untuk memasuki pintu gerbang
perkampungan.
Siapa tahu ketika badannya mencapai tengah jalan, dan
ucapannya sampai separuh jalan, tiba-tiba saja dia merasakan
munculnya segulung tenaga tak berwujud yang menghalang
jalan majunya.
Kontan saja dia menjadi terperanjat, sambil mundur tiga
langkah dengan sempoyongan serunya:
"Kau .....kau ......bocah keparat, kau sudah bosan hidup di
dunia ini heh?!"
Kelihayan dari anak muda itu telah mencekam perasaan si
kakek berbaju merah itu.
Sementara itu, lelaki kekar berusia pertengahan itu telah
melirik sekejap ke arah si nona berbaju merah itu segera
menunjukkan mimik wajah yang sangat aneh. Sebaliknya
sikap Oh Put kui tenang sekali sekulum senyuman malah
menghiasi ujung bibirnya.
"Dari mana kau bisa tahu kalau aku sudah bosan hidup?"
katanya tiba-tiba, kemudian sambil memandang wajah kakek
ceking itu, lanjutnya dengan nada hambar: "Kau telah hidup
tujuh delapan puluh tahun lamanya sedangkan aku baru
berusia dua puluh tahun, seandainya ada yang sudah bosan
hidup, sudah pasti orang itu bukan aku"
Berkilat sepasang mata kakek ceking itu, tapi dia masih
mencoba untuk menahan kobaran hawa amarahnya, kembali
ia membentak :
"Bocah keparat, siapa namamu? Benarkah kau bukan
anggota perkampungan ini...?
"Aku adalah Oh Put kui dari bukit Inta san tebing cing peng
gay !"
Baru saja dia habis berkata, si nona berbaju merah itu
sudah menyindir sambil tertawa merdu:
"Huuuh.....gayanya, soknya......."
Oh put kui segera berpaling dan melotot sekejap ke arah
gadis itu.
Paras muka gadis itu segera berubah menjadi merah
padam, dengan tersipu dia menundukkan kepalanya dan tak
berbicara lagi,
"Hmmm....rupanya kau hanya manusia tak bernama !"
terdengar kakek ceking itu mengengek tapi dia tahu meski tak
ternama, anak muda itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay,
buktinya dia sanggup menahan gerak maju tubuhnya,
Maka dengan nada yang berbeda, bentaknya keras-keras :
"Bocah keparat, siapa gurumu?"
"Aku tak punya guru" sahut anak muda itu sambil
menggelengkan kepalanya
Pengemis tua yang hanya bersembunyi di belakang Oh Put
kui tiba-tiba menongol kan kepalanya sambil berseru:
"Suma Hian, gurunya bocah ini adalah nenek moyang
angkatan ke sepuluh...."
Begitu selesai berkata, dia lantas bersembunyi lagi ke
belakang Oh Put kui.
Kalau dibilang pikun, kenyataannya pengemis itu tidak
pikun.
Coba kalau dia tidak menyembunyikan diri dengan cepat,
bisa jadi batok kepalanya sudah kena dihajar keras-keras oleh
serangan lawan.
Kakek ceking yang disebut Suma Hian tadi menjadi gusar
sekali setelah mendengar ejekan tersebut, dengan mata
memancarkan sinar berapi-api, dia melancarkan sebuah
pukulan ke depan.
Tenaga pukulan yang disertakan dalam serangan itu benarbenar
merupakan suatu kepandaian sakti yang jarang
dijumpai dalam dunia persilatan.
Seketika itu juga, terasa ada segulung hawa pukulan yang
amat panas bagaikan kobaran api dahsyat meluncur tiba.
Oh Put kui mendengus dingin, dengan cepat dia sambit
datangnya ancaman maut itu dengan kekerasan pula.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Hoa Tay siu
membentak keras.
"Lote, cepat mundur, itulah pukulan Tok gan mi sim ciang
(pukulan api beracun pembingung sukma) dari ci ih mo kiam
(pedang iblis berbaju merah) Suma Hian, jangan sampai
tersentuh badan...hei, lote mengapa kau begitu gegabah......"
Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tampak
sesosok bayangan manusia menerjang tiba dengan kecepatan
luar biasa.
Cuma saja ketika bayangan manusia itu tiba tak jauh dari
belakang tubuh Oh put kui, gerakan mana segera terbendung
dan tubuhnya terjatuh kembali ke tanah.
Seakan-akan di sana muncul selapis dinding baja yang tak
berwujud saja, ternyata terjangan orang itu tak berhasil
menembusinya.
Dengan perasaan terperanjat, bayangan manusia yang tak
lain adalah Hoa tay siu itu segera berseru: "Lote kehebatanmu
benar-benar membuat lohu merasa terkejut sekali ..."
Oh Put kui masih tetap berdiri di situ dengan tenang, bukan
saja dia tidak terpengaruh oleh serangan pukulan api beracun
dari Suma hian malahan sekulum senyuman menghiasi
bibirnya.
"Terima kasih banyak cengcu atas perhatianmu!" katanya
kemudian dengan suara hambar. Setelah hening sejenak,
mendadak dia berpaling lagi ke arah pedang iblis berbaju
merah, kemudian tegurnya!
"Apakah kau adalah pemimpin dari empat pengawal
pedang dari gedung Tong tian kui hu dimasa lalu?"
Kakek ceking itu tertawa seram.
"Benar, lohu adalah pedang iblis berbaju merah Suma
Hian, pemimpin dari empat pengawal pedang tanpa tandingan
dari Kui ong yang termasyhur dimasa lalu, bocah keparat kau
ketakutan?"
"Haaaaahhhh..... Haaaaahhhh..... Haaaaahhhh..... Aku
memang sedikit merasa takut," sahut Oh put kui sambil
tertawa seram, "tapi yang membuatku ketakutan bukanlah kau
sebagai pengawal pedang tanpa tandingan, melainkan karena
takut akan mendapat malu....."
"Hei bocah keparat, dia sudah mendapat malu..." seru si
pengemis pikun tiba-tiba sambil tertawa.
Agaknya pengemis pikun ini merasa takut sekali terhadap
pedang iblis berbaju merah Suma Hian, begitu selesai berkata
dengan cepat dia menyembunyikan diri lagi.
Pada waktu itu kemarahan dari pedang iblis berbaju merah
Suma Hian telah mencapai berbaju merah suma hian telah
mencapai pada puncaknya, sambil tertawa dingin tiada
hentinya dia berkata :
"Lok Jin ki, hati-hati kalau kau sampai terjatuh habishabisan
......."
"Ciss, jangan sombong dulu, "ejek si pengemis pikun
sambil menongolkan kepalanya dan tertawa, "tak mungkin kau
si iblis tua bakal mendapatkan kesempatan seperti ini."
"Bangsat, kau ingin mampus!" dengan mata melotot besar
Suma Hian segera mata melotot besar Suma Hian segera
menerjang ke depan cepat pengemis pikun menyembunyikan
dirinya kembali di belakang tubuh Oh put kui.
Pada dasarnya dia memang mempunyai perawakan tubuh
yang cebol lagi ceking, maka begitu bersembunyi di belakang
Oh put kui, otomatis terjangan dari Suma Hian ini menjadikan
tubuh Oh put kui sebagai sasarannya.
Dengan kening berkerut Oh put kui segera tertawa dingin,
jengeknya sinis:
"Lebih baik kau tak usah repot-repot!"
Tangan kanannya segera diayunkan ke depan
melancarkan sebuah pukulan yang berhawa lunak dan dingin.
Ketika tubuh si pedang iblis berbaju merah Suma Hian
mencapai ditengah udara, seketika itu juga ia merasakan
badannya menjadi kencang, seakan-akan ada segulung angin
berbau harum menerpa hidungnya, seketika itu juga tenaga
serangannya menjadi buyar,
Dalam keadaan terkejut, buru-buru dia menghimpun sisa
tenaganya untuk mengerem gerakan tubuhnya itu.
Begitu tubuhnya mencapai kembali permukaan tanah,
paras muka Suma Hian telah berubah menjadi pucat pias
seperti mayat.
"Bocah ..... bocah ..... keparat ......kau......telah berhasil
melatih ilmu Cian tham thian liong siang kang?"
Ucapan dari si Pedang iblis berbaju merah Suma Hian ini
segera menggemparkan pula semua jago persilatan yang
telah berkumpul di depan perkampungan Tang mo san ceng
itu.
Benarkah pemuda she oh ini telah berhasil menguasai ilmu
tenaga dalam nomor satu dari kalangan Buddha?
Kenyataan ini benar-benar membuat orang sukar untuk
mempercayainya dengan begitu saja.
Dengan membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar,
nona berbaju merah itu bergumam tiada hentinya.
"Tidak mungkin, tidak mungkin....."
Tapi kenyataan telah membuktikan segala sesuatunya,
sekalipun tidak percaya, mau tak mau juga harus dipercayai.
Sementara itu Hoa tay siu sudah maju ke depan dengan
langkah lebar, sebab dia percaya kalau anak muda itu benarbenar
berhasil menyakini kepandaian tersebut.
Kalau bukan demikian, mana mungkin Oh put kui yang
masih ingusan sanggup membantai beberapa orang gembong
iblis sekaligus?
Dengan cepat Hoa tay siu memburu ke depan Oh put kui
serunya kemudian:
"Lote, siapkah gurumu? Bersediakah kau untuk
memberitahukan kepada kami, agar lohu tak sampai kurang
hormat kepadamu!"
Ucapan ini amat diplomatis dan membuat orang sukar
untuk menampik permintaannya.
Akan tetapi, jawaban dari Oh put kui justru lebih jitu lagi :
"Guruku mengaku sebagai seorang pendeta liar yang
terlepas dari dunia persilatan, dengan sobat-sobat
persilatanmu jarang yang kenal. Hoa cengcu tak usah kuatir
kalau sampai kurang hormat, apalagi usia yang berada di atas
diriku semuanya memang ku anggap sebagai cianpweku!"
"Kalau memang begitu, bagaimana kalau lohu memanggil
lote kepadamu?" ucap Hoa Tay siu dengan wajah berseri.
Oh put kui segera tertawa
"Aku tak berani menerima sebutanmu yang menghormati
itu....."
Senyum di wajah Hoa Tay siu semakin menebal, baru saja
dia bersiap-siap mengucapkan sesuatu lagi, si lelaki
bercambang yang datang bersama si pedang iblis berbaju
merah Suma Hian telah membentak dengan suara keras :
"Hoa tay siu masih kenal dengan aku ?"
Hoa tay isu berkerut kening, kemudian sahutnya sambil
tertawa : "Sudara Kiong, nama besarmu Giok kiam sin mo
(iblis sakti pedang kemala) Kiong hua sik sudah lama kukenal,
masa aku orang she Hoa berani melupakannya? Aku toh
hanya ingin mengajak lote ini berbincang-bincang beberapa
patah kata. Mengapa Kiong heng merasa dengki dan tak
senang hati kepadaku?"
Ketika mendengar kata-kata tersebut, tanpa terasa Oh put
kui mengamati pula lelaki bercambang itu sekejap.
Tampaknya diapun seorang gembong iblis yang luar biasa.
Tanpa terasa sorot matanya beralih kembali ke wajah nona
berbaju merah itu, setelah memandangnya sekejap dia lantas
berpikir:
"Usia nona ini belum begitu besar, apakah diapun seorang
gembong iblis perempuan..........."
Tampaknya Giok kiam sin mo Kiong hua sik adalah
seorang manusia yang berhati lurus, pertanyaan balik dari
Hoa tay siu itu kontan membuat dia menjadi gelagapan.
"Saudara Hoa" serunya kemudian. "Siaute merasa tidak
seharusnya kau pandang rendah kami sekalian....."
Ternyata dia memang seorang lelaki yang polos, buktinya
kata-kata semacam itupun dapat dia utarakan.
Hoa tay si segera tertawa terbahak-bahak
"Haaaahhhh....... Haaaahhhh.......Kiong heng, siapa bilang
kalau lohu memandang rendah kalian bertiga....a"
Sorot matanya segera dialihkan ke wajah nona berbaju
merah itu, kemudian sambil menjura tegurnya:
"Nona Siau un, belakangan ini apakah siacu (pemilik
benteng) berada dalam keadaan baik-baik ?"
Ketika Oh put kui menemukan sikap Hoa tay siu yang agak
munduk-munduk kembali itu, tanpa terasa keningnya segera
berkerut, pikirnya : "Mungkinkah gadis ini mempunyai asal
usul yang jauh lebih besar dari pada kedua orang gembong
iblis itu?
Sementara dia masih berpikir, nona berbaju merah itu
sudah berkata sambil tertawa.
"Ayahku selalu berada dalam keadaan sehat, cuma
belakangan ini dia seringkali pusing kepala...."
"Aaaah, masa sia cu pun bisa diidapi penyakit sakit kepala?
Apakah sudah makan obat?" kata Hoa tay siu sambil
tersenyum.
Dengan cepat nona berbaju merah itu menggelengkan
kepalanya berulang kali
"Untuk menyembuhkan sakit kepala dari ayahku ini,
berbagai macam obat telah dicoba, namun sama sekali tiada
sama sekali kemanjurannya, kecuali kalau aku pulang dengan
hasil sukses kali ini, penyakit ayahku rasanya sulit untuk
disembuhkan.
"Benarkah itu?": satu ingatan dengan cepat melintas dalam
benak Hoa Tay siu, "tolong tanya, mengapa penyembuhan
dari penyakit yang diderita siacu tergantung pada sukses atau
tidaknya perjalanan nona? Dan lagi ....nona siau un,
kesuksesan apakah yang bisa kau raih dari perjalanannmu
kali ini?"
Nona berbaju merah itu tersenyum. "Dalam kota kematian
di lembah Sin mo kok milik ayahku telah kekurangan beberapa
orang jago lihay sebagai pelindung hukum, bila aku berhasil
mendapatkan jago-jago lihay tersebut dan mengajaknya
pulang, sudah pasti sakit kepala dari ayahku akan sembuh
dengan sendirinya!"
"Aku rasa nona pasti telah berhasil mengundang orangorang
itu bukan .............?"
Dengan cepat nona berbaju merah itu menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Belum, aku belum berhasil mengundang kedatangan
usahamu itu!"
Tiba-tiba nona berbaju merah itu tertawa merdu serunya :
"Jadi paman cengcu telah meluluskan permintaanku?"
"Aku?"
Hoa Tay su benar -benar dibuat tertegun oleh perkataan
orang sehingga untuk beberapa saat lamanya dia menjadi
termangu-mangu dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.
Oh put kui pun ikut tergerak hatinya setelah mendengar
perkataan tersebut.
Karena dari nama Lembah Sin mo kok dan kota kematian,
lamat-lamat dia sudah dapat menduga asal usul dari nona
berbaju merah ini.
Dia tahu lembah sin mo kok kota kematian dihuni oleh
seorang gembong iblis yang keterangannya tidak berada di
bawah kepopuleran pemilik gedung Tong thian kui hu ceng
thian kui ong (raja setan penggentar langit) Wi thian yang
orang menyebut pemilik kota kematian ini sebagai Ban mo ci
mo Tay lek kiam sin 'Raja diraja dari selaksa iblis pedang sakti
bertenaga raksasa' Kit Put sia.
Itu berarti nona berbaju merah yang berada di hadapan
matanya sekarang adalah si iblis perempuan yang disebut
orang sebagai Thian mo giok li ' gadis suci iblis langit Kit Siau
un.
Andaikata apa yang diduganya ini benar, dus berarti asalusul
dari nona itu memang besar sekali.
Berpikir sampai di situ, tanpa terasa dia mengamati iblis
perempuan itu beberapa kejap lagi.
Mendadak .....pipinya terasa panas dan jantungnya
berdebar keras, ternyata kit siau un pun sedang
mengawasinya ketika itu.
Sejak dilahirkan dari rahim ibunya, pemuda ini boleh
dibilang tak pernah berhubungan dengan perempuan. Dalam
kehidupannya selama dua puluhan tahun, diapun belum
pernah berbicara dengan perempuan, meski semasa kecilnya
dulu dia punya teman, namun orang itupun tak bisa dianggap
perempuan .
Sejak berusia lim tahun, ia telah diajak gurunya berdiam di
tebing Cing peng gay, dan sejak itu pula dia hampir tak pernah
mempunyai hubungan dengan dunia luar.
Gurunya sebagai orang pendeta yang disebut manusia
paling aneh dalam dunia ini lebih-lebih tak suka mengadakan
hubungan dengan kaum perempuan, maka tanpa terasa
terwujudlah suatu perasaan takut dan ngeri dalam hati
pemuda itu untuk mengadakan hubungan dengan lawan
jenisnya.
Tapi suatu keanehan telah dialaminya hari ini, ternyata
reaksi yang timbul dalam hatinya sekarang jauh berbeda
dengan keadaan di waktu-waktu sebelumnya.
Tiba-tiba saja dia merasa kalau perempuan itu
sesungguhnya tidak lebih mengerikan dari pada apa yang
dibayangkan semula, malah sebaliknya justru mendatangkan
suatu rangsangan aneh yang menimbulkan suatu perasaan
yang tek terlukiskan dengan kata-kata .........Akhirnya merah
padam selembar wajahnya lantaran jengah.
Sementara itu kit siau un telah berkata lagi sambil tertawa
cekikikan dengan suara yang merdu.
"Paman cengcu, kau perlu tahu, sumber sakit kepala yang
menyerang ayahku justru letaknya pada dirimu."
Tiba-tiba saja Hoa Tay siu menjadi paham dengan apa
yang dimaksudkan noa itu, tanpa terasa dia segera
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak- bahak.
"Haaahhh.... Haaahhh.... Haaahhh....nona Siau un
tampaknya ayahmu benar-benar memandang tinggi akan
diriku!"
Thian mo giak li segera memalingkan kepalanya sambil
tertawa manis, katanya kemudian " Paman cengcu, dapatkah
kau menyuruh teman-temanmu pun mengabulkan permintaan
kami ini?"
"Oooh, nona Apakah kau mengira Lohu bersedia
mengabulkan permintaan itu?"
"Tentu saja kau mengabulkan kalau tidak mengapa kau
katakan kalau keponakan pasti akan berhasil?"
"Lohu tak pernah mengabulkan permintaanmu, "seru Hoa
Tay siau dengan kening berkerut, "nona harap, kau sampaikan
kepada ayahmu, perkampungan Tang mo san ceng kami ini
tak pernah memandang ayahmu sebagai musuh....."
Tiba-tiba Kit siau un menghela napas panjang.
"Aaaaa..............paman cengcu, ayahkupun berkata
demikian!"
"Ternyata ayahmu cukup memahami diriku....."
Dengan cepat Kit Siau un menggelengkan kepalanya
berulang kali, sehingga mutiara yang menghiasi sanggulnya
bergoyang keras.
"Paman cengcu, walaupun ayahku tidak memandang
dirimu sebagai musuh tandingannya, tapi....."
Mendadak sekali lagi dia menghela napas panjang,
terusannya:
"Tapi....anak buah dari ayahku justru tak mau berpendapat
demikian..."
Paras muka Hoa Tay siu segera berubah menjadi berat dan
sangat serius, agaknya masalah ini segera menjadi beban
pikirannya.
Setelah berhenti sebentar, sambil menuding ke arah Suma
hian dan Kiong Hhua sik, Kit Siau un berkata lebih jauh.
"Misalkan saja paman Suma dan Kiong toako, mereka tak
akan menyetujui hal ini!"
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata Hoa Tay
siu, serunya kemudian : "Apakah kalian berduapun telah lari
ke kota kematian?"
Sinar matanya yang menyapu lewat di atas wajah si
pedang iblis berbaju merah Suma Hian dan si iblis sakti
pedang kemala Kiong Hua sik pada hakekatnya jauh lebih
tajam daripada sebilah pisau belati, seolah-olah sorot mata itu
hendak menembusi ulu hati mereka.
Pedang iblis berbaju merah Suma Hian segera mendengus
dingin.
"Kit siacu adalah raja diraja dari selaksa iblis, manusiamanusia
macam ohu yang terhitung pula sebagai iblis, tentu
saja harus bergabung dengannya agar iblis hidup bersama
iblis pula."
Pengemis pikun yang turut mendengarkan pembicaraan itu,
tiba-tiba bersiul berulang kali, kemudian teriaknya keras-keras
: "Huuuh.........bau , bau! Siapa lagi yang kentut.............siapa
lagi yang kentut?"
Sebaliknya Hoa tay siu merasakan hatinya amat
terperanjat, dengan wajah serius dia lantas berkata :
"Saudara Suma, ucapanmu itu agak sedikit tidak benar.
"Kalau ucapanku salah, bukankah ucapan Tang mo
'pembasmi iblis' yang cengcu pergunakan lebih keliru lagi?
Tolong tanya, pernahkah perkampungan Tang mo san ceng
mu ini mengalami penyerbuan dari kawanan gembonggembong
iblis..."
Hoa Tay siu segera tersenyum
"Yaa, tampaknya kawan-kawan dari kalangan hitam
memang masih memberi muka kepada lohu,"
Tidak menunggu Hoa Tay siu menghabiskan perkataannya,
sambil tertawa dingin Suma Hian telah berseru:
"Sayang sekali kau Hoa cengcu justru tidak memandang
sebelah matapun terhadap sahabat-sahabat dari golongan
hitam, bukan saja mendirikan perkampungan Tang mo san
ceng, bahkan mendirikan pula papan pengumuman pembasmi
iblis, bukankah tindakan dari Hoa cengcu ini sangat
keterlaluan sekali!?"
Apa yang dikatakan olehnya itu memang kedengarannya
sangat beralasan dan bisa diterima dengan akal sehat.
Tapi dari pembicaraan tersebut, dapat ditarik kesimpulan
pula bahwa para penjahat dari golongan hitampun
berpendapat bahwa mereka sebagai warga persilatan sudah
sewajarnya kalau mempunyai seperti yang mereka senangi.
Hoa Tay siu segera tertawa, sambil menuding ke arah
kawanan jago yang berdiri di belakang tubuhnya, dia berkata:
"Saudara Suma, percayakah kau bahwa teman- temanku
ini pun sependapat dengan aku orang she Hoa?"
"Haaahhh..... Haaahhh..... Haaahhh.....aku rasa kalian tak
lebih setali tiga uang!" sahut Suma Hian sambil
mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Perkataan ini kontan saja membangkitkan kemarahan dari
Wan ciu beng.
Dengan wajah dingin seperi salju, dia maju dengan langkah
lebar dan menghampiri gembong iblis itu.
"Suma Hian! Tempat ini bukan tempat bagimu untuk
mengumbar kekasaran dan kebuasanmu," hardiknya keraskeras.
Pedang iblis berbaju merah Wan ciu beng, lalu tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaah.... Haaaahhh.... Haaaahh.... Wan lote, sewaktu
berada di depan Teng sim tong di bukit Thian cu hong bukit
Hia san, lohu pun pernah berbuat kasar dan kurang ajar,
apakah saudara menganggap kemampuanmu jauh lebih hebat
dari pada gurumu Bwe Tiang hong?"
Sepasang alis mata Wan ciu beng berkenyit kencang,
tampaknya dia merasa gusar sekali,
Mendadak ia membentak keras, sambil mengayunkan
tangannya sudah serangan jari tangan telah dilancarkan.
Wan ciu beng bergelar Kim ci butek atau jari emas yang
tiada tandingannya, bisa dibayangkan kepandaiannya didalam
ilmu jari benar -benar telah mencapai puncak kesempurnaan.
Serentetan hawa desingan yang tajam dengan cepat
membelah angkasa dan langsung menyergap jalan darah
penting di atas tenggorokan Suma Hian.....
Berubah hebat paras muka pedang iblis berbaju merah
Suma Hian ketika menyaksikan serangan maut Kim ci sin
kang dari Wan ciu beng telah menyambar tiba dengan
kecepatan luas biasa.
Tahu akan dahsyatnya ancaman, cepat-cepat ia menarik
kembali kesombongan dan ketinggian hatinya.
Oh Put Kui yang menonton jalannya peristiwa dari sisi
arena, diam-diam lantas mengangguk pikirnya:
"Tampaknya gembong iblis ini, benar-benar mempunyai
kemampuan yang melebihi orang lain, pandai sekali melihat
gelagat,"
Sementara itu, ancaman jari tangan dari Wan ciu beng
sudah hampir menempel di atas tubuh lawan.
Suma Hian segera tertawa seram, telapak tangannya
dengan cepat diayunkan ke atas membabat tubuh lawan.
Serentetan cahaya berwarna merah dengan cepat
menyelimuti angkasa, sementara kekuatan serangan dari ajari
tangan tersebut segera punah tak berbekas.
Inilah ilmu pukulan Tok gan ciang 'pukulan api beracun'
yang maha dahsyat dan disegani oleh setiap orang persilatan.
Paras muka Wan ciu beng berubah hebat sambil
mendengus dingin secara beruntun dia lepaskan tiga buah
serangan jari.
Ketiga buah serangan jari itu dilancarkan makin lama
semakin tajam dan dahsyat bagaimanapun dahsyatnya
ancaman tersebut, Suma Hian sedikitpun tak gentar, diam sih
tetap mempergunakan ilmu pukulan untuk memunahkan
serangan Kim ci sin kang yang tiada tandingannya dari Wan
Ciu beng tersebut.
Dalam waktu singkat Wan cin beng sudah didesak berada
di bawah angin, ia betul-betul merasa keteter hebat.
Wajahnya yang dingin dan berwarna kehijau-hijauan itu,
sekarang telah berubah menjadi merah membara.
Oh Put kui merasa amat tak tega menyaksikan Wan ciu
beng mendapat malu di hadapan orang banyak, sebab
menurut anggapannya meski keangkuhan orang ini
menggemaskan, sesungguhnya dia merupakan seorang
manusia yang berhati lurus.
Dengan sinar mata memancarkan cahaya tajam. Segera
bentaknya suara rendah: "Benar-benar ilmu pukulan yang
hebat, tapi masih dalam perkampungan Tang mo san ceng ini.
Selama ini, sesungguhnya yang menjadi bahan rasa kuatir
dari pedang iblis berbaju merah Suma Hian adalah campur
tangannya pemuda ini, sebab didalam serangannya tadi ia
telah mengetahui sampai dimanakah taraf kesempurnaan
yang dimiliki musuhnya tersebut.
Maka begitu Oh put kui tampilkan dirinya, Suma Hian
segera dibikin tertegun "Bukankah kau menyebut dirimu
sebagai orang yang terlepas dari perkampungan Tang mosan
ceng?"
Tampaknya pedang iblis berbaju merah Suma Hian tak
ingin berselisih dengan sang pemuda yang lihay, maka dia
berusaha kalau bisa menghindarkan diri dari suatu
pertarungan yang tak berguna.
Justru pada waktu itu Oh Put kui mempunyai pendapat
yang bertolak belakang dengannya, sambil tertawa hambar ia
menjawab : "Sekalipun aku bukan anggota perkampungan ini,
tapi aku adalah sahabat Hoa cengcu, oleh karena itu.........."
Mendadak ia berhenti sebentar, kemudian sambil menarik
muka lanjutnya dengan serius : "Aku melarang siapapun
berbuat semena-mena ditempat ini!"
Pendang iblis berbaju merah Suma Hian segera berkerut
kening, kemudian mendengus kening.
Sebagai seorang manusia yang berakal panjang dan licik,
dia tak ingin melangsungkan pertarungan yang kira-kiran tidak
memberikan keuntungan baginya.
Maka walaupun dia mendengus dingin berulang kali, tiada
tanggapan apapun yang diutarakan.
Pengemis pikun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang
sangat bagus itu untuk mengejek lawannya, dia segera
menongolkan dirinya dan bertepuk tangan sambil tertawa
tergelak ejeknya : "Hei Suma si cucu iblis, kali ini kau benarbenar
sudah berjumpa dengan cousu yaya mu! Hayo cepat
menyembah dua kali dengan hormat kemudian mengundurkan
diri asal kau bersedia untuk melakukannya, siapa tahu aku si
pengemis tua dapat mintakan ampun bagimu dari cousu yaya
kecil, kita ini"
Sekalipun Pedang iblis berbaju merah Suma Hian terdiri
dari manusia lumpurpun tentu akan berang setelah
mendengar perkataan itu, apalagi dia merupakan manusia
yang terdiri dari darah daging.
Sepasang matanya segera melotot besar cahaya tajam
yang menggidikkan hati memencarkan ke empat penjuru.
Pengemis pikun menjadi ngeri sendiri, sambil menjulurkan
lidahnya cepat-cepat dia menyembunyikan dirinya kembali.
Kalau Suma Hian masih bisa menahan diri untuk tidak
bertindak semua hatinya sendiri, berbeda dengan Kiong Hua
sik.
Mendengar ejekan-ejekan tersebut, hatinya menjadi
berang, cambangnya pada berdiri semua bagaikan kawat,
sorot matanya memancarkan sinar berapi api yang
menggidikkan hati, sambil meloloskan pedang raksasanya.
diiringi suara bentakan yang menggelegar.
Dengan cepat Oh put kui menghalangi jalan perginya, lalu
menegur sambil tertawa: "Saudara, hendak pergi kemana kau
?"
Giok Kiam sin kiam (pedang kemala iblis sakti) Kiong sin
adalah seorang manusia yang berhati lurus, ia menjadi
tertegun setelah mendengar pertanyaan tersebut.
"Mau apa? Tentu saja untuk pergi mengajar pengemis tua
itu," sahutnya kemudian Oh put kui segera tersenyum dia
memang paling suka berhubungan dengan manusia berhati
lurus seperti itu.
Maka sambil menarik kembali serangannya, ia berkata
dengan suara hambar:
"persoalan ini sama sekali tak ada hubungannya dengan
dirimu, bagaimana kalau saudara menunggu sebentar lagi?"
kembali ke kota kematian, sampaikan juga kepada ayahmu
agar selanjutnya jangan mencoba-coba untuk menyusahkan
orang-orang yang berada dalam perkampungan tang mo san
ceng ini, kalau tidak ..............Hm, aku pasti akan ..."
Belum habis dia berkata, Thian mo giok li kit siau un telah
mendepak-depakkan kakinya ketas tanah seraya menukas:
"Besar amat lagakmu, apa yang kau andalkan untuk
mencampuri urusan ini?"
Oh put kui segera tertawa terbahak-bahak.
Haaahh.... Haaah.... Haaahh melenyapkan kaum iblis dari
muka bumi merupakan kewajiban dari setiap orang, nona lebih
baik turuti saja perkataanku tadi.."
"Hmmm, aku sengaja tak mau menurut, mau apa kau ?"
seru Kit siau un dengan alis mata berkenyit.
Jawaban ini membuat Oh put kui tertegun, kemudian
serunya:
"Nona, apakah kau berhasrat untuk memusuhi diriku?"
"Terserah apapun yang kau pikirkan, pokoknya aku bilang
tidak .........tidak ........."
Dengan perasaan agak serba salah Oh put kui segera
menundukkan kepalanya, ia menjadi termenung dan tak tahu
apa yang mesti dilakukan.
Kalau menyuruh dia taklukkan gadis ini dengan kekerasan,
sesungguhnya ia merasa agak keberatan.
"Tiba-tiba Kit siu un melompat kehadapan Oh put Kui
kemudian dengan lantang dia berseru: "Bebaskan jalan darah
panas Suma yang tertotok!"
Teriakan tersebut pada hakekatnya merupakan suatu
perintah yang tampaknya tak bisa dibantah lagi.
Oh put kui kembali menjadi tertegun haruskah dia menuruti
perkaranya itu?
"Tidak, kau tak boleh menuruti perintah dari seorang iblis
perempuan yang masih asing bagiku......"
Tiba-tiba terdengar si pengemis pikun itu berseru dengan
suara lantang :
"Hei, bocah keparat, jangan kau turuti perkataan dari iblis
perempuan itu, kalau tidak kau akan menyesal sampai
tua........."
Namun, di dunia ini memang seringkali terdapat kejadiankejadian
yang justru berada di luar dugaan setiap orang.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Oh put kui
mendekati pedang iblis berbaju merah, kemudian segera
menepuk bebas jalan darahnya yang tertotok.
Begitu jalan darahnya bebas, buru-buru Suma Hian
masukkan pedangnya ke dalam sarungnya lalu mundur sejauh
satu kaki lebih, terhadap pemuda ini boleh dibilang dia sudah
menaruh perasaan takut yang luar biasa.
Thian mo giok li kit siau un sendiripun sama sekali tidak
menyangka kalau Oh Put kui bakal menuruti permintaannya,
dan benar-benar membebaskan jalan darah si pedang iblis
berbaju merah yang sudah tertotok itu.
Tak heran kalau untuk berapa saat lamanya dia menjadi
berdiri tertegun dan hampir saja dia menjadi berdiri tertegun
dan hampir saja tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di
depan mata.
Beberapa saat kemudian dia baru berkata sambil tertawa
manis : "Oh Kongcu, ternyata kau sangat baik!" Oh put kui
tertawa hambar, sahutnya dengan suara rendah: "pergilah dari
sini nona, jangan membuat aku benar-benar menjadi gusar
sekali..............." Kit siau un tertawa manis sekali.
"Kau suruh aku pergi?"
"Benar, mumpung aku belum ingin membuat kesalahan
terhadap kesalahan terhadap nona, aku minta kalian bisa
cepat-cepat meninggalkan tempat ini......"
Setelah berhenti sebentar, dengan suara yang amat dingin
tiba-tiba dia berkata lagi: selesai berkata, tanpa menunggu
jawaban dari Kiong Hua sik lagi, segera ujarnya pula kepada
Suma Hian: "Aku telah berkata tadi, bahwa kau adalah
pemimpin dari empat pengawal pedangnya Beng Thian kui
ong wi thian yang, sejak wi thian yang tewas di tangan di
kakek malaikat konon kalian berempat pun telah hidup
mengasingkan diri, tak kusangka rupanya kalian telah
membuat keonaran kembali dengan bercokol dalam kota
kematian!"
Sesungguhnya si pedang iblis berbaju merah Suma Hian
sudah diliputi oleh hawa amarah, apalagi setelah mendengar
ucapan tersebut, kemarahannya semakin berkobar napsu
membunuhnya segera menyelimuti di dalam benaknya.....
Mendadak ia meloloskan pedangnya, kemudian ke arah Oh
put kui, bentaknya dengan gusar:
"Urusan lohu lebih baik jangan kau campuri, hmmm....kalau
kau bersikeras ingin mencampuri terus, terpaksa lohu harus
menjagal kau lebih dulu sebelum membasmi perkampungan
Tang mo san ceng yang tak tahu tingginya langit dan tebalnya
bumi ini!"
Oh put Kui segera tertawa terbahak-bahak.
"Haahh...... Haaah..... Haaahh... memang perkataan inilah
yang kutunggu-tunggu!"
Begitu selesai berkata, mendadak ia menerjang ke depan
dengan kecepatan bagaikan kilat.
Lengan kanannya segera diayunkan ke depan, sebuah
serangan jari dengan cepat dilancarkan.
"Thian liong ci!" mendadak terdengar si pengemis pikun
berteriak tertahan.
Sesungguhnya tatkala menyaksikan Oh put kui menyerbu
datang tadi, pedang iblis berbaju merah Suma Hian telah
mempersiapkan senjatanya, malah dia masih menertawakan
musuhnya yang terlalu memandang rendah pedang iblis
miliknya itu, dan tidak tahu betapa buas dan berbahayanya
senjata maut tersebut.
Akan tetapi mendengar teriakan dari pengemis pikun
tersebut, sekujur tubuhnya baru bergetar keras lantaran
kaget/.
Mendadak ia menarik kembali pedangnya yang
memancarkan cahaya kemerah merahan itu, menyusul
kemudian tubuhnya yang ceking juga ikut melompat mundur
sejau tiga kaki lebih.
"Bocah keparat...kau....kau adalah muridnya Thian liong
sang jin...?"
Suara teriakan dari Suma Hian itu kedengaran gemetar
keras.
"Thian liong sanjin?" sahut Oh put kui dengan mata
mendelik, "Nama itu terasa asing bagi pendengaranku....."
Walaupun dimulut dia berbicara, serangan maupun
gerakan tubuhnya sama sekali tidak menjadi lamban, bahkan
kalau dilihat dari mimik wajahnya jelas dia tidak berniat untuk
mengurungkan serangannya.
Maka, baru saja Suma Hian berseru, tahu-tahu dia sudah
berada dihadapannya sambil berseru: "Suma Hian, berdirilah
di sini dengan tenang...."
Belum habis Oh put kui berkata, dengan menurut sekali
Suma Hian sudah berdiri kaku di sana.
Jelas si pedang iblis berbaju merah ini tidak berhasil
menghindarkan diri dari serangan jari yang dilancarkan Oh put
kui tersebut.
Dugaan itu memang tidak salah, rupanya jalan darah Hoa
kau hiat di depan dadanya sudah kena ditotok oleh Oh put kui
sehingga membuat gembong iblis tersebut meski merasa
gusar sekali, akan tetapi tak mampu banyak berkutik.
Oh put kui segera membalikkan badannya, kepada Thian
mo giok li yang sedang berdiri dengan wajah kaget bercampur
tercengang, ujarnya dingin:
"hari ini aku sedang matamu di perkampungan Tang mo
san ceng, aku tak ingin membunuh orang maka lebih baik
nona ajak pendekar ini untuk membunuh Suma Hian
"Beritahu kepada ayahmu, seperti apa yang telah
kukatakan tadi, harap nona jangan melupakannya!"
Sepasang alis mata kit siau un segera berkenyit, serunya
dengan suara merdu: "Seandainya aku tidak bersedia?"
"Kau tidak bersedia?" Oh put kui agak termangu untuk
beberapa saat lamanya.
Dengan cepat dia berpikir : "Aku telah membebaskan jalan
darah dari pedang iblis berbaju merah Suma Hian, itu berarti
aku telah memberi muka kepadamu, masa kau tidak mau
memberi muka pula kepadaku?"
Darimana dia tahu kalau perasaan perempuan memang
paling susah diraba oleh manusia? Terdengar Kit siau un
tertawa cekikikan.
"Aku datang karena mendapat perintah dari ayahku, atas
dasar apakah kau hendak menghalangi niatku ini? Apalagi bila
ayah ku tidak berhasil melenyapkan perkampungan Tang mo
san ceng ini maka lembah Sin mo kok akan mengalami."
Mendadak ia tidak melanjutkan perkataan itu, setelah
memandang sekejap ke arah anak muda itu, lanjutnya dengan
nada sedih:
'Oh kongcu, katakanlah, sebagai seorang putri yang
berbakti, harus kah aku memikirkan keselamatan dari ayah
ibuku?"
"Tampaknya nona bersikeras ingin memusuhi diriku?" kata
Oh put kui sambil tertawa rawan.
Dengan cepat kit siau un menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Tidak aku tidak berniat untuk memusuhi dirimu........"
"Kalau memang nona tak ingin bermusuhan dengan diriku,
harap kau suka menuruti perkataanku dan segera mengajak
Suma sian seng dan kiong cuangcu untuk kembali ke lembah
sin mo kok."
"Tidak mungkin!" seru Kit siau un sambil menggelengkan
kembali kepalanya.
Lama kelamaan naik darah juga Oh put kui menghadapi
kejadian tersebut, dengan cepat dia berseru: "Nona, bila kau
bersikeras hendak melangsungkan suatu pertarungan
denganku, terpaksa aku harus bertindak kasar.........."
Untuk ketiga kalinya kit siau un menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Tidak aku tak ingin berkelahi denganmu, sebab aku tak
ingin berkelahi denganmu, sebab aku datang kemari untuk
mencari paman Hoa......"
Oh put Kui mengerutkan dahinya kemudian mendengus
dingin, tapi kali ini dia tidak berbicara lagi.
Si bocah dewa kebahagiaan Hoa Tau siu segera tertawa
terbahak-bahak.
"Haaahhh......... Haaahh.... Haaahh.... keponakanku,
persoalan lain mungkin saja lohu dapat mengabulkannya, tapi
hanya permintaan paksaan dari ayahmu ini yang tak mungkin
bisa lohu kabulkan dengan begitu saja......"
Senyuman yang semula menghiasi wajah kit siau un
dengan cepat lenyap tak berbekas, suara pembicaraannya
juga berubah menjadi dingin seperti es, katanya : "Paman
Hoa, bagaimanapun juga kau harus meluluskan permintaanku
hari ini........"
"Lohu tidak percaya!"
"Ayahku meras pusing kepala oleh karena tulisan
"pembasmi iblis" yang paman Hoa pergunakan itu, bila nama
itu belum kau hapuskan, tak mungkin beliau bisa beristirahat
dengan tenang dan makan dengan enak oleh karena itu...."
Sorot matanya segera dialihkan ke arah kawanan jago
yang berdiri di belakang Hoa Tay siu, kemudian melanjutkan :
"Kedatangan tit li kali ini sudah disertai dengan rencana
yang matang, bila paman Hoa tahu gelagat, paling baik jika
tak usah saling bentrok dengan kekerasan........."
Gertakan demi gertakan yang diutarakan Thian mo giok li
disertai ancaman ini tanpa terasa membangkitkan kembali
semangat Hoa Tay siu untuk melenyapkan kaum iblis dari
muka bumi.
Dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa seram.
"Haaahh..... Haaahh... Haaahh..... Hian tit li, tak kusangka
kau begitu pandai berbicara, sayang sekali semenjak
dilahirkan lohu tak pernah tunduk kepada segala macam
gertak sambal yang tak ada gunanya, sebab aku lebih percaya
dengan kenyataan,"
Baru selesai berkata, si pengemis pikun telah melanjutkan :
"Benar, aku si pengemis tua nomor satu yang percaya
paling dulu terhadap ucapan dari Hoa Siau ko, Hei budak kit,
lebih baik turuti saja perkataan kami dan pulanglah sebelum
terlanjur kiamat!"
Kit Siau un melototkan sepasang matanya bulat-bulat,
kemudian setelah tertawa dingin serunya:
"Paman Lok, apakah kau ingin mencari bencana buat
dirimu sendiri?"
"Aaah......tidak, tidak ...." sahut si pengemis sambil
menjulurkan lidahnya dengan ketakutan. "Heeehhh.....
Heeehhh..... Heeehhh kalau memang tidak berani, lebih baik
jangan berbicara lagi!"
Pengemis pikun segera menggelengkan kepalanya
berulang kali sambil mengomel: "Mulut toh berada di tubuhku
sendiri, mau berbicara atau tidak apa sangkut pautnya dengan
dia? Apalagi, aku toh tidak menantangmu untuk
berkelahi.....masa marah?"
Ki siau un tidak memperdulikan omelan dari si pengemis
pikun lagi, dia segera mengalihkan sorot matanya ke arah Hoa
tay siu, kemudian setelah tertawa ujarnya:
"Paman Hoa, tit li mohon kepadamu agar berpikir tiga kali
lebih dulu sebelum mengambil tindakan!"
"Tak usah dipikirkan lagi!"
Kit siau un segera tersenyum.
"Paman Hoa, kau harus tahu kendatipun kekuatan dari lima
partai besar digabungkan menjadi satupun belum tentu
mampu untuk menandingi para jago lihay kalangan hitam yang
berkumpul dalam kota kematiannya ayahku, buat apa paman
Hoa mesti berkorban demi kepentingan orang lain ..."
Belum habis dia berkata, mendadak Hoa, kau harus tahu
kendatipun kekuatan dari lima partai besar digabungkan
menjadi satupun belum tentu mampu untuk menandingi para
jago lihay kalangan hitam yang berkumpul dalam kota
kematiannya ayahku, buat apa paman Hoa mesti berkorban
demi kepentingan orang lain..."
Belum habis dia berkata, mendadak Oh put kui yang
selama ini berdiri disamping arena, tertawa dingin tiada
hentinya.
Kit siau un segera berpaling seraya menegur: "Oh kongcu,
apa yang kau tertawakan?"
"Aku menertawakan dirimu yang kelewat berkhayal, seolaholah
dunia ini milikmu seorang." Kit siau un segera menghela
napas panjang katanya :
"Oh kongcu, apa yang kuucapkan adalah kata-kata yang
sejujurnya, aku sama sekali tidak berniat untuk membohong
atau menggertak kalian."
Kembali Oh put kui tertawa dingin.
"Tapi sayang apa yang kau katakan sebagai ucapan yang
sejujurnya itu justru merupakan kata-kata bualan belaka bagi
pendengaranku"
Dengan sedih kti siau un memandang sekejap ke arahnya,
lalu menggelengkan kepalanya berulang kali, kepada Hoa Tay
siu kembali dia berkata :
"Paman Hoa, percayakah kau?"
Hoa Tay siu segera tertawa.
"Lohu mah percaya dengan apa yang diucapkan nona...."
Jawaban ini sungguh berada diluar dugaan Oh put kui,
tanpa terasa dia memandang sekejap ke arah Tay siu.
Hoa Tay siu segera memahami keheranan anak muda itu,
sambil tertawa ia lantas berpaling ke arah Oh put kui,
kemudian ujarnya: "Lote kau harus tahu, dalam kota kematian
memang penuh dengan jago-jago yang berilmu tinggi, aku
tahu apa yang diucapkan nona kit bukan gertak sambal
belaka, kendatipun lima partai besar bergabung menjadi satu,
belum tentu kekuatan kami bisa menandingi mereka ..........."
"Hoa cengcu merasa putus asa?" seru Oh Put kui dengan
kening berkerut kencang.
Hoa Tay siu segera tertawa lebar.
"Buat seorang ksatria, darah lebih baik mengalir daripada
kehormatan dicemooh orang!"
Mendengar jawaban tersebut, dengan perasaan OH put kui
segera manggut-manggut,
Ucapan dari Hoa tay siu itu sudah cukup jelas artinya, dia
lebih baik mat di di medan laga, dari pada menghianati citacita
sendiri.
Para muka kit siau un segera berubah hebat.
"Paman Hoa, kau sungguh-sungguh tidak bersedia untuk
mengabulkan permintaanku?" Serunya.
"Sudah berulang kali lohu menerangkan pendirianku,
apakah Hian tit li mesti beritanya beberapa kali lagi?"
Mendengar jawaban tersebut, mendadak kit siau un
berpaling dan memandang sekejap kearah Oh put kui, lalu
tanyakan:
"Oh Kongcu, kau berdiri dipihak yang mana?"
"tentu saja di pihak perkampungan Tang mo san ceng !"
Jawaban yang amat tegas ini seketika itu juga membuat Kit
siau un merasa muak bila melihat ada orang lelaki yang
menyanjung dan memuji-mujinya, diapun muak oleh sikap sok
gagah-gagahan dari kaum lelaki.
Oleh karena itu, setelah menyaksikan kesederhanaan dan
kepolosan pemuda itu, hatinya segera berdebar keras dan
diam-diam ia telah menaburkan benih cinta kepadanya..
Sayang benih cinta yang mulai tumbuh dalam hatinya itu
harus berumur amat pendek. Dalam waktu singkat, suatu
pertumpahan darah yang mengerikan akan segera
berlangsung di sana.
Untuk berapa saat lamanya dia menjadi termangu-mangu
seperti orang yang kehilangan, tapi akhirnya gadis itupun
menghela napas panjang. Pelan-pelan dia merogoh ke dalam
sakunya dan mengeluarkan sebuah bom udara, kemudian
sekali lagi dia mendongakkan kepalanya dan memandang
kerah Oh put kui dengan sinar mata keputus-asaan, ujarnya
kemudian :
"Oh kongcu, kau bekal menyesal....."
Sejak Thian mo giok li kit siau un termenung sambil
melamun tadi, Oh put kui hanya bergendong tangan belaka
sambil memandang awan diangkasa setelah mendengar
ucapan tersebut tertawa hambar dan berkata:
"Aku tak akan menyesal, jika nona mempunyai suatu
tindakan yang telah dipersiapkan, silahkan saja kau
pergunakan kepadaku!"
Para muka kit siau un segera berubah menjadi dingin
seperti es, sambil menggertak dingin seperti es, sambil
menggertak gigi, bom udara itu dengan cepat dilepaskan ke
tengah udara.....
Sekilas cahaya merah yang menyilaukan mata dengan
cepat membumbung tinggi ke angkasa, lalu meledak dengan
kerasnya beribu-ribu titik cahaya bintang yang berwarna warni
dengan cepat menyebar ke empat penjuru.
Menyusul suara ledakan bom udara tersebut, dari sekeliling
perkampungan Tang mo san ceng tersebut segera
bermunculan beratus-ratus sosok bayangan manusia yang
segera mengurung sekitar tempat itu dengan ketat.
Pada saat itulah Kit Siau un baru tertawa dingin, serunya:
"Paman Hoa, apakah kau benar-benar hendak memaksa tit
li untuk turun tangan mempergunakan kekerasan?"
Setelah menyaksikan ledakan bom udara yang dilepaskan
kit siau un tadi, Hoa tay siu segera mengundurkan diri tiga
langkah ke belakang.
Diam-diam ia merasa terkejut sekali karena kehadiran
begitu banyak ibis dari Mo kau disekitar telaga Kiu liong tham
tanpa diketahui oleh mata-matanya, hal ini menunjukkan kalau
kepandaian silat yang dimiliki musuh-musuhnya luar biasa
sekali.
Tapi sekarang kenyataan sudah berada di depan mata,
sekalipun merasa kaget atau takut, apalah gunanya?
Begitu ki siau un menyelesaikan perkataannya, Hoa Tay siu
segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaah.... Haaah... Haaah.... tak kusangka kalau Hian tit li
begitu lihay, cara untuk menggertak aku, bahkan sekarang
telah bersiap-siap untuk menggigit diriku pula .....
Dia lantas berpaling ke arah Juragan perahu dari Sam
siang Hee ji beng, kemudian perintahnya: "Hee Lote, harap
beritahu kepada para pemanah kita untuk bersiap-siap
menghadapi serbuan !"
Juragan perahu dari Sam sian Hee Jibeng segera
mengiakan dan buru-buru meninggalkan tempat itu.
Tak lama kemudian terdengar bunyi lonceng yang bertalutalu
bergema memecahkan keheningan.
Thiam mo giok li kit Siau un memutar biji matanya
memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian sambil
tertawa terkekeh kekeh katanya dengan lantang :
"Paman Hoa, tampaknya jumlah jagoan yang berada dalam
perkampunganmu tak sedikit jumlahnya....."
Walaupun ucapan tersebut diutarakan dengan santai,
padahal dalam hati kecilnya merasa terkejut sekali,
keyakinannya untuk berhasil memenangkan pertarungan
inipun menjadi tipis sekali.
Dalam waktu singkat dari atas dinding pekarangan di
sekeliling perkampungan Tang mo san ceng telah
bermunculan lelaki kekar berbusur otomatis yang membawa
obor.
Pemanah-pemanah tersebut telah mempersiapkan busur
masing-masing uang berpegas tinggi, bahkan anak panah
yang telah dipersiapkan itu lambat-lambat memancarkan
cahaya biru yang menggidikkan hati.
Itulah ciri khas dari panah-panah berapi!
Anak panah biasa saja sudah merupakan ancaman yang
mengerikan, apalagi panah-panah berapi, siapakah yang
sanggup menahan serangan panah berapi itu dengan anggota
tubuhnya?
Tanpa terasa gadis itu segera berpaling dan memandang
sekejap ke arah Pedang iblis berbaju merah serta iblis sakti
pedang kemala. Dua orang gembong iblis ini pun saling
berpandangan sekejap dengan perasaan terkesiap, kemudian
sambil tertawa getir mereka menggelengkan kepalanya
berulang kali.
Dalam pada itu, ratusan orang jago lihay dari lembah Sin
mo kok telah mengurung sekeliling perkampungan tersebut.
Asal Thian mogiok li melepaskan bom udara untuk kedua
kalinya maka serentak merasa akan maju untuk melancarkan
serangan.
Tapi sampai lama sekali Thian mo giok li belum juga
melepaskan tanda tersebut.
Dalam pada itu, suara genta emas yang dibunyikan bertalutalu
telah mengejutkan Hoa hujin yang berada di
perkampungan bagian belakang.
Pendekar perempuan yang menamakan dirinya Yau ti sian
li (Dewi cantik dari warna) lan tin go ini bukan saja orangnya
cantik, ilmu silatnya juga sangat lihay, dan kelihayannya, tak
berada di bawah suaminya.
@oodwoo@
Jilid 4
SEKARANG, di bawah iringan putrinya Hoa Pek lian dan
menantunya Pek bin kimkong (raksasa berawajah seratus) Ku
Cu Jeng telah berjalan keluar dari dalam perkampungan.
Dengan cepat Oh Put kui menjumpai bahwa beberapa orang
tianglo dari partai-partai besar tersebut bersikap menghormati
sekali terhadap Hoa hujin ini, bahkan jauh lebih menghormati
dari pada sikap mereka terhadap Hoa tay siu.
Selain dari pada itu, diapun menemukan meski usia Hoa
hujin telah mencapai lima puluh tahunan, namun rambutnya
telah beruban semua sehingga sepintas lalu dia nampak
seperti seorang nenek yang telah berusia tujuh puluh tahunan.
Tanpa terasa pikirnya didalam hati: "Sepasang suami istri
benar-benar hebat sekali, yang satu lebih tua sedang yang
lain tampak lebih muda, belum pernah kujumpai kejadian
semacam ini sebelumnya....."
Pelan-pelan Yau ti sian li Lan tin go berjalan ke samping Ho
tay siu, setelah memandang sekejap ke arah Thian mogiok li
Siau un, pedang iblis berbaju merah dan iblis sakti pedang
kemala, ujarnya kemudian: "Siangkong, persoalan apakah
yang menyebabkan lonceng tanda bahaya dibunyikan?" Hoa
Tay siu segera tersenyum.
"Kau baru sembuh dari penyakit yang diderita, mengapa
harus turut keluar? Cukup aku seorang pun persoalan di sini
sudah bisa dibereskan, aku menyuruh Hee lote membunyikan
lonceng tanda bahaya karena ingin memberitahukan kepada
para pemanah agar bersiap-siap menghadapi serbuan
lawan...." mendengar keterangan tersebut, Lau Tin go baru
merasa agak lega, katanya kemudian : "Siangkong, bukankah
dia adalah Siau un titli dari keluarga Kit?
"Benar dan keponakan perempuan kita inilah yang telah
membawa kesulitan untuk kita!"
Baru saja Yau ti siau li Lan Tin go berseru tertahan, Kit Siau
un telah maju mendekat dan memberi hormat kepada Lan Tin
go, kemudian ujarnya dengan lembut : "Bibi, kuucapkan
selamat untuk kesehatan badanmu: "Apakah belakangan ini
Sia cu berada dalam keadaan baik-baik ? Nona, mengapa
tidak masuk ke dalam perkampungan untuk duduk-duduk
dulu?"
Kita Siau un segera tertawa. "Sebenarnya titli ingin
menyambangi bibit ke dalam perkampungan, tapi paman Hoa
justru bersikeras hendak mengajak titli untuk bermusuhan,
maka dari itu....coba lihatlah, akibatnya kita pun mesti bentrok
dan harus bermusuhan malah..."
Lan tin go berkerut kening, kemudian kepada Hoa tau siu
katanya: "Siangkong, sebenarnya apa..."
"Tin go," kata Hoa Tay siu dengan wajah membesi. "Kit Put
sia hendak menyapu perkampungan tang mo san ceng kita
dengan darah, coba kau lihat...."
Sambil menuding ke arah kawanan manusia berbaju hitam
yang mengelilingi sekitar tempat itu, lanjutnya sambil tertawa
dingin. "Orang-orang ini semua adalah kawanan jago dari
lembah Sin mo kok yang sengaja di kirim kemari, jelek-jelek
perkampungan Tang Mo san ceng terhitung jasa suatu
perkampungan yang kenamaan dalam dunia persilatan
apakah kita akan biarkan mereka menginjak-injak di atas
kepala kita....Apakah kita tak akan melakukan perlawanan?"
Lan Tin go tertawa hambar, sorot matanya segera dialihkan ke
wajah Kit Siau Uu, kemudian ujarnya: "Nona, benarkah
ayahmu hendak berbuat demikian?"
Kit Siau Un segera tersenyum, "Selama kata Tang mo tida
dihapuskan, siang malam ayahku tak akan merasa tenang..."
Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Lan Tin go
segera lenyap tak berbekas, katanya kemudian:
"Nona, benarkah ayahmu begitu tak memandang sebelah
matapun terhadap kami?"
"Aaaaah bibi, hal ini toh gara-gara dari kalian lebih dulu...."
"Hmmm., benar-benar selembar bibir yang tajam, "dengus
Lan Tin go. "sudah hampir empat puluh tahunan lamanya aku
mendirikan perkampungan Tang Mo San Ceng ini, mengapa
sampai sekarang ayahmu baru teringat?
Kit Siau un tertawa terkekeh-kekeh. "Hal ini disebabkan
karena sampai sekarang ayahku baru bermaksud untuk
membangun kembali kejayaan dari Mo kau, oleh sebab itu
dalam dunia persilatan tidak boleh sampai ada kata Tang mo
Pembasmi iblis yang dipergunakan !"
"Bagus, bagus sekali!" seru Lan Tin go dengan marah,
rambutnya yang berubah berdiri semua bagaikan landak,
"akan kulihat sampai dimanakah kemampuan kalian untuk
mencuci bersih perkampungan kami dengan darah!"
Seusai berkata mendadak ia menyerbu ke muka dan
melepaskan sebuah pukulan dahsyat.
Jangan dilihat usianya yang tua, lagi pula baru sembuh dari
sakit, namun serangan yang dilancarkan dalam keadaan
gusar ini benar-benar cepat bagaikan sambaran kilat.
Menghadapi ancaman tersebut, Kit Siau un segera tertawa
terkekeh, Kit Siau un segera tertawa terkekeh, kemudian
dengan cekatan menyingkir ke samping.
Dia cukup menyadari kalau Yau ti sian li adalah seorang
jagoan perempuan yang sukar ditandingi. Begitu serangannya
mencapai sasaran yang kosong, kemarahan Lan Tin go
semakin membara, bentaknya lantang :
"Kit Siau un, aku bersumpah akan membekukmu sampai
dapat......"
Dengan suatu gerakan cepat ia menyerbu ke depan dan
mendekati Kit Siau un lagi.
Hoa Tay siu dia menghalangi gerakan dari istrinya ini dan
berkata sambil tertawa:
"Tin go jangan sampai membuang tenaga dengan
percuma, kau jangan melakukan sendiri serangan tersebut...."
Ternyata dia memeluk tubuh Lan Tin go dan
membopongnya mundur ke belakang
Merah padam selembar wajah Lau Tin go lantaran jengah,
bisiknya dengan suara lirih :
"Cepat lepaskan tanganmu......"
Agaknya Hoa Tay siu juga menyadari akan kekhilafannya
itu, dengan wajah merah pada seperti kepiting rebus, buruburu
dia melepaskan rangkulannya. Mendadak dari kejauhan
san berkumandang datang suara gelak tertawa seseorang
yang amat lantang, menyusul kemudian seorang berseru:
"Si muka bocah membopong si rambut beruban, cerita ini
sudah diketahui setiap umat persilatan, Lan siancu, kenapa
mukamu menjadi merah.....yang memalukan justru adalah Kit
Siau un si budak sialan ini, baru melihat pemuda tampan
sudah kehilangan semangat,...... coba kalau lohu tidak datang,
sudah pasti masalah besar akan menjadi terbengkalai."
Walaupun orang itu masih berada beberapa li jauhnya dari
sana, namun setiap patah kata yang diutarakan olehnya dapat
didengar setiap orang dengan amat jelas, kejadian ini dengan
cepat mengejutkan semua jago yang hadir di arena.
Selain itu, dari pembicaraan tersebut mereka juga dapat
menangkap kalau orang itu berpihak pada golongan iblis dari
kota kematian, ini semua membuat mereka makin tercengang.
Oh put kui sendiripun diam-diam berkerut kening, ia dibuat
terkejut juga oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki
orang itu.
Thian mo giok li Kit siau un yang paling malu diantara
sekian banyak orang yang hadir di situ dengan wajah merah
padam lantaran jengah ia menundukkan kepalanya rendahrendah.
Namun terlintas juga rasa gembira dibalik wajahnya yang
merah itu.
Dari sini semakin terbuktilah kalau orang yang bertenaga
dalam amat sempurna itu adalah seorang jagoan lihay dari
golongan hitam.
Ki lok sia tong Hoa Tay su mengerutkan dahinya rapatrapat,
sambil memandang ke tempat jauhan, dia menghimpun
tenaga dalamnya kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Jago lihat dari manakah yang telah berkunjung datang ?
mengapa tidak segera menampilkan diri untuk bertemu...."
Gelak tertawa panjang kembali berkumandang dari atas
puncak bukit itu:
"Haaaaahhh.... haaaahh.... haaahh.... sekalipun Hoa lote
tidak mengundang, lohu juga tetap akan datang....."
Menyusul perkataan itu, dari atas bukit nampak sesosok
bayangan putih berkelebat datang dengan kecepatan
bagaikan kilat.
Benar- benar cepat sekali gerakan tubuh dari orang itu.
Jarak yang beberapa li itu dilalui orang itu hanya diam
sekejap mata saja.
Bagaikan sekuntum awan putih dengan cepatnya orang itu
melayang turun di atas tanah.
Ternyata dia adalah seorang kakek gemuk yang berbadan
cebol.
Kakek cebol ini mempunyai kepala yang botak, bundar dan
besar, tinggi badanya tidak melebihi separuh kepala pengemis
pikun, tapi gemuknya justru dua kali lipat dibandingkan si
pengemis pikun.
Alis panjang yang dikenakannya berwarna putih salju,
kakinya yang besar menggunakan sepatu terbuat dari rumput.
Senyuman lebar selalu menghiasi wajahnya yang cerah.
Oh Put kui tidak kenal siapakah kakek itu, tapi orang lain
semaunya kenal, meski tidak kenal secara langsung, namun
dapat mengenalinya dari bentuk wajah serta potongan
badannya.
Bukan hanya Hoa Tay siu saja yang menjura kepada orang
itu, serentak hampir semua jago yang berada di sana samasama
memberi hormat kepadanya.....
Tergerak hati Oh Put kui dia tahu kakek ini sudah pasti
mempunyai asal usul yang amat besar.
"Aku orang she Hoa mengira ada jago lihay darimanakah
yang telah datang, sehingga suara yang berada berapa li
jauhnya kedengaran seperti berada di depan mata, rupanya
Beng Sin ang yang telah datang, maaf jika aku orang she Hoa
suami istri tidak menyambut kedatanganmu dari kejauhan....."
selesai berkata, suami istri berdua itu segera menjura dalamdalam.
Oh Put kui yang mendengar perkataan itu baru merasa
terkejut, pikirannya kemudian :
"Ternyata tua bangka ini adalah gembong iblis yang paling
sukar dihadapi dalam dunia ini, salah seorang dari dua
manusia aneh menangis dan tertawa yang ditakuti umat
persilatan, Tiang siau sin ang 'kakek sakti gelak tertawa' beng
Pek tim adanya...."
Ketika ia mencoba untuk mengawasi wajahnya dengan
seksama, maka terasa olehnya kalau wajah orang ini memang
mirip sekali dengan Siau mo lek si Buddha tertawa.
Rupanya sebelum berbicara sudah tertawa panjang lebih
dulu merupakan ciri khas dari kakek sakti ini.
Bukan saja gelak tertawanya memekikkan telinga. Juga
amat membetot sukma.
"Saudara Hoa" katanya kemudian, "tampaknya belakangan
ini nama besar kalian suami istri berdua sudah amat
termasyhur dalam dunia persilatan, sampai-sampai aku si
Tiang siau sin ang pun sudah tidak berada dalam pandangan
mata kalian berdua.!"
"Sin ang mengapa kau menyindir kami suami istri berdua,"
kota Hoa Tay siu sambil tersenyum, "entah didalam hal
apakah aku telah melakukan kesalahan terhadap Sian ang?
Tiang siau sin ang Beng Pek tim tertawa tergelak.
"Mana, mana, masa kalian berdua akan melakukan
kesalahan kepada lohu?"
"mungkin lohulah yang telah melakukan kesalahan
terhadap saudara Hoa, harap kalian suka memberi kemurahan
kepada kami
"Mendadak si Pengemis pikun mengintip dari balik celahcelah
kerumunan manusia, lalu panggilnya sambil tertawa
cekikikan:
"Beng toako!"
Sekarangj Tiang Siu sin ang baru menemukan kehadiran
pengemis pikun di sana, dia segera tertawa terbahak -bahak.
"Haaaahhh... haaaaahh... haaahhh.... saudara pikun,
rupanya kaupun berada di sini sungguh tidak kuduga!"
"Aku datang belum lama, Beng toako, ada urusan apa kau
datang ke tempat ini?"
"Pikun, masa kau belum dapat melihatnya?
Beng toako mu dianggap sahabat-sahabat persilatan
sebagai anggota kaum hitam, tentu saja akupun merasa tak
senang dengan penggunaan kata pembasmi iblis tersebut.!"
Sambil menggelengkan kepalanya pengemis pikun tertawa
keras.
"Beng toako," katanya. "kata pembasmi iblis yang
digunakan Hoa cengcu toh bukan secara khusus ditujukan
kepadamu, yaa, sudah pasti delapan puluh persen kau kena
hasutan orang lain."
Oh Put Kui yang menjumpai kejadian itu diam-diam tertawa
geli pikirannya.
"kala dibilang pengemis ini pikun tampaknya diapun tidak
terlampau pikun, bukti nya dia bisa mengucapkan kata-kata
semacam itu."
Dalam pada itu, Tia siau sin ang sudah tertawa tergelak.
"Siapa yang dapat menghasut lohu? Hei, pikun. Kau jangan
membantu saudara Hoa untuk berbicara, pokoknya setelah
lohu datang kemari, nama dari perkampungan Tang mo san
ceng ini harus diganti dengan menggunakan nama lain."
Sepasang matanya yang sipit memandang sekejap ke
seluruh arena dengan pandangan hambar, kemudian ia
mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak lagi.
Melihat iti, si pengemis pikun menjadi tertegun.
"Hal ini mana boleh?" serunya, "Beng toa ko, kan........"
"Tak usah banyak bicara," tukas Tiang siau sin ang sambil
tertawa tergelak, "Pikun kecil, kau jangan menampilkan
kemarahanku, kalau tidak jangan salahkan kalau bahkan
kaupun akan turut menjadi sial...."
Pengemis pikun menjadi terperanjat sekali, kemudian
dengan cepat dia memandang ke arah Oh Put kui dan
menggelengkan kepadanya berulang kali, setelah menghela
napas.
"Kecuali Sin ang untuk membunuh kami berdua...." Hoa
Tay siu menegaskan dengan serius.
Perkataan ini diutarakan dengan sikap yang gagah dan
nada yang berjiwa ksatria membuat hati orang terasa bergetar
keras.
Tiang siau sing ang sedikitpun tidak terpengaruh oleh sikap
gagah orang, dia berkata lagi:
"Selamanya lohu hanya mengenal prinsip siapa menuruti
kehendakku hidup, siapa menentang keinginanku mati, jangan
toh baru membunuh kalian berdua, sekalipun harus mencuci
bersih seluruh perkampungan dengan darahpun, lohu anggap
kejadian ini sebagai suatu permainan kanak-kanak belaka.
Oh Put kui yang mendengar perkataan itu segera
mendengus dingin tiada hentinya.
Sementara kawanan jago yang berada di belakangan Hoa
Tay siu segera memancarkan sinar mata berapi api.
Hanya si Pengemis pikun saja yang memperlihatkan
senyuman aneh, diam-diam ia membisikkan sesuatu ke sisi
telinga Oh Put Kui, sikapnya sama sekali tidak kelihatan
tegang.
Oh put kui segera tersenyum, lalu manggut-manggut.
Dalam pada itu, Thian mo giok li kit siau un juga sedang
membisikkan sesuatu kepada Tiang siau sia ang kemudian
tampak kakek itu menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Hoa tay siu berbisik lirih dengan kawanan
jagonya.
Agaknya suatu pertempuran berdarah yang mengerikan
segera akan berlangsung di sana,.....
Tiba-tiba Oh Put Kui tampil ke depan, kemudian katanya:
"Aku Oh Put Kui ingin memohonkan keringanan bagi orangorang
ini, entah bersediakah kakek Beng mengabulkannya?"
Tiang siau sing ang memperhatikan sekejap anak muda
yang berada dihadapannya, kemudian membentak. Dap
boanpwe maka hari ini akupun atk akan mengusik dirimu, bila
benar-benar sampai membangkitkan kemarahan lohu, akupun
tak akan berpikir lebih panjang lagi....."
"Ucapanmu itu memang tepat sekali, sebab aku memang
berhasrat untuk mengajakmu bertarung.
Akhirnya Tiang siau sin ang tak kuasa untuk menahan diri
lagi, dia mendongakkan kepalanya dan tertawa keras. Bukan
hanya Tiang siau sin ang saja yang tertawa tergelak, bahkan
Thian mo giok li, pedang iblis berbaju merah dan iblis sakti
pedang kemalapun turut mendongakkan kepalanya dan
tertawa tergelak.
Sebaliknya Hoa tay siu suami istri sekalian para jago
merasa terkejut bercampur terkesiap, meraka merasa anak
muda ini selain gegabah juga sangat tak tahu diri.
"Hei, bocah keparat !" Kata Tiang siau sin ang kemudian
sambil tertawa keras "Kau benar-benar seorang manusia yang
tak tahu diri, jangankan kau, sekalipun gurumu atau sucoumu
juga belum tentu berani mengucapkan perkataan semacam itu
kepadaku."
Sekalipun dia dapat menangkap nada gagah dan tak gentar
dibalik ucapan dari Oh Put Kui tersebut, namun dia tak
mungkin merupakan seorang jagoan lihay, bahkan mungkin
saja anak muda itu hanya anak murid dari suatu perguruan
besar.
Tak heran kalau dia anggap ucapan dari pemuda berbaju
putih itu sebagai latah dan tak tahu diri.
Oh Put Kui sama sekali tidak mau menunjukkan
kelemahannya, diapun tertawa terbahak-bahak.
"Si tua Beng, kalau berbicara kaupun harus sedikit tahu diri,
kalau tidak, akhirnya kau pasti akan merasa menyesal."
"Lohu uakin tak akan menyesal."
"Tapi aku yakin kau pasti akan menyesal pada akhirnya!"
"Bocah keparat, bukan lohu sengaja menyombongkan diri,
kalau kau ingin berbuat demikian, baiklah, aku akan memberi
batas sepuluh jurus untukmu, bila dalam sepuluh gebrakan
kau sanggup untuk mempertahankan diri tak sampai kalah,
maka lohu akan memenuhi permintaanmu itu, bagaimana?
Berani tidak?"
Oh Pu kui tertawa hambar.
"Aaaah sepuluh jurus kelewat sedikit tidak adil!"
Ucapan dari si anak muda itu benar-benar membuat Tiang
sian ang Beng pek tim sangat berang, kemarahannya boleh
dibilang sudah memuncak sampai ke dalam benaknya
Sambil meraung keras, teriaknya:
"Bocah keparat, lohu kagum atas keberanianmu, kau
memang cukup berani, cukup tinggi hati, lohu merasa kagum
dan memuji akan kehebatanmu, justru karena itu aku bersedia
memberi kemurahan kepadamu coba dalam kesempatan lain.
Paling banter lohu hanya akan memberi kesempatan
sebanyak lima jurus belaka....."
Oh Put kui memandang sekejap ke arah kawanan jago
yang berada di belakannya, penampilan mimik wajah dari
orang-orang itu segera membuatnya menjadi percaya.
Sebab termasuk juga Hoa tay siu, setiap orang sedang
memandang ke arahnya dengan pandangan gelisah dan
cemas, hal ini menunjukkan kalau dalam hati kecil mereka pun
diliputi oleh perasaan yang amat gelisah serta tidak tenang.
Pemuda itu segera tersenyum, ia sama sekali tidak
terpengaruh oleh keadaan bahkan sikapnya seperti sama
sekali tidak gentar, hal mana membuat Tiang siau sin ang
diam-diam menjadi kaget.
Oh Put kui manggut pelan, kemudian ujarnya sambil
ketawa :
"Si tua Beng, aku percaya dengan ucapanmu itu, tapi
akupun yakin dalam sepuluh gebrakanpun aku tak menderita
kekalahan,......."
"Bagus sekali, "tukas Tiang siau sin ang sambil tertawa,
"Lohu ingin mencoba, apa yang kau andalkan sehingga berani
mengibul di hadapanku! Begini saja, lohu akan meluluskan
sebuah syarat lagi, bila dalam sepuluh gebrakan kau tak
sampai menderita kalah, bukan saja lohu akan menuruti
janjiku dengan mengundurkan diri dari pertikaian ini bahkan
akupun akan melarang pemilik kota kematian Kit Pus sia
mengusik perkampungan tang mo sanceng lagi"
Sekian lama Oh Put kui membakar hati lawan, yang
ditunggu-tunggu justru adalah perkataan ini.
Sekarang, setelah tujuannya tercapai tentu saja dia tak
ingin membuang waktu dengan percuma lagi.
Sambil tersenyum di lantas menjura, kemudian katanya:
"Kakek Beng, kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih
dulu kepadamu....."
Tiang siau sia ang tertawa terkekeh-kekeh dengan
seramnya.
"Bocah keparat, kau betul-betul memiliki selembar bibir
yang pandai bersilat lidah," katanya kemudian, "baiklah, lohu
menyerah kalah, mari kita selesaikan dengan beradu tenaga
saja!"
"Turut perintah!"
Oh Put kui lantas menurunkan buntalannya dan pedang
berkarat itu, kemudian sambil mengayunkan telapak tangan
tunggalnya, dia lepaskan sebuah pukulan keras.
Tiba = tiba Tiang siau sin ang berpaling ke arah pengemis
pikun sambil serunya:
"Hei, si pikun cilik, kau yang menjadi tukang hitung....."
Seraya berkata, tubuhnya segera melompat mundur sejau
tiga depan dari posisi semula.
Ketika dilihantnya tenaga yang dilancarkan Oh Put kui amat
sederhana biasa, sama sekali tak menyolok, tanpa sadar ia
menjadi lengah, bahkan menyempatkan diri untuk berpaling
dan bercakap-cakap dengan si pengemis pikun.
Siapa tahu belum habis ucapan tersebut diutarakan,
mendadak dadanya terasa kencan, tahu-tahu tenaga pukulan
Oh Put kui yang dingin dan lembut itu seperti ambruknya bukit
karang segera menindih datang.
Masih untung ilmu silat yang dimilikinya cukup tangguh
sehingga ia masih sempat menolong diri. dengan tergopoh
gopoh badannya mundur sejauh depan lebih.
Nyaris dia menderita kerugian besar dan terluka di ujung
telapak tangan lawan......
"Bocah keparat, tak nyana kau punya lima simpanan
juga....."
Ditengah gelak tertawa nyaring dari Tiang siau sin ang
dengan cepat dia mengayunkan pula telapak tangannya
melepaskan sebuah serangan balasan.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Put kui
menyaksikan serangan musuh yang melanda tiba, pikirannya:
"Ehmmmm, lihay sekali tua bangka ini!"
Sepasang telapak tangannya segera dirangkap menjadi
satu dengan jurus san cay pay hud 'Orang saleh menyembah
Budha, dia bungkukkan badan sambil rentangkan tangannya
ke muka, sebuah pukulan dahsyat segera memusnahkan
tibanya ancaman mau dari musuh.
Melihat serangannya kembali gagal, Tiang siau sin ang
terkesiap, ia segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaahhh...haaaahhh...haaaahhh.....bagus, bagus sekali
bocah muda, kau adalah satu -satunya pemuda paling lihay
yang pernah lohu jumpai selama ini....."
Walaupun dimulut dia tertawa tergelak tiada hentinya,
gerak serangannya tidak menjadi kendor karena itu.
Dalam sekali kelebatan saja. Secepat kilat dia sudah
melancarkan tiga buah seranngan berantai.
Ketiga buah pukulan itu semuanya merupakan ilmu maut
yang paling diandalkan Tiang siau sin ang selama ini, orang
persilatan menyebutnya sebagai siau thian tui mia sam ciang
(tiga pukulan pengejar nyawa).
Hampir seluruh umat persilatan, kecuali beberapa orang
locianpwe angkatan paling tua belum ada seorang manusia
pun yang sanggup meloloskan diri dari ketiga buah
serangannya itu tanpa menderita kekalahan sayang,
kebiasaan semacam itu justru tidak berlaku pada hari ini.
Bukan Cuma dapat dihindari, bahkan masih mampu untuk
melancarkan serangan balasan.
Dikala Tinag siau sin ang sudah bersiap-siap melancarkan
ketiga buah pukulan mautnya tadi, secara diam-diam Oh put
kui telah mempersiapkan jalan mundur serta kesempatan
untuk melancarkan serangan balasannya secara jitu dan
sempurna.
Begitu ia tahu akan musuhnya tak lain adalah Tiang siau
sin ang (kakek sakti tertawa panjang) Beng Pek Lim, serta
merta dia pun terbayang yang paling diandalkan. Oleh sebab
itu, sekalipun tenaga serangan dari Tiang siau sin ang amat
menggetarkan sukma serangan itu pun dilepaskan secara
cepat dan aneh, namun toh gagal untuk melukai lawannya.
Ditengah serangan yang begitu dahsyat dan menggetarkan
sukma itu, bahkan Oh Put Kui sempat melepaskan dua buah
serangan balasan.
Kenyataan ini mau tak mau membuat Tiang Siau sin ang
terkesiap juga sampai termangu.
"Hei, anak muda, siapa gurumu?" ia segera hentikan
serangannya sambil menegur.
Dengan cepat Oh Put Kui menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Pertarungan sepuluh jurus belum habis maaf aku tak bisa
menjawab pertanyaan ini, lihat serangan!"
Tangan kirinya membuat gerakan melingkar, sementara
telapak tangan kanannnya tiba-tiba menerobos dari bawah
tangan kiri sambil melepaskan pukulan.
Waktu itu, batas sepuluh jurus sudah separuh diantaranya
lewat.
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Tiang siau
sin ang sambil tertawa terbahak-bahak serunya:
"Inilah pukulan Hwee sian ciang, hai bocah muda,
bukankah kau adalah anak murid Liu Thian cong?"
Tangannya segera diangkat untuk menyambut datangnya
ancaman dari Oh Put kui itu, kemudian katanya lagi:
"Pat hong pay siu 'kakek aneh delapan penjuru' bisa
mendidik seorang murid seperti kau, kejadian ini benar-benar
membuat lohu menjadi amat gembira...."
Belum selesai dia berkata secara beruntung ia lepaskan
kembali dua buah serangan berantai .
Kedua buah serangan ini jau berbeda dengan kehebatan
Siau thian ini mia sam ciang tadi.
Tenaga pukulan ini telah membentuk menjadi satu
kekuatan yang nyata yang jauh lebih keras dari pada batu
kemala, hampir saja seluruh tubuh Oh Put kui terkurung
dibalik lapisan hawa pukulan yang amat dahsyat itu.
Menjumpai keadaan seperti ini. Oh Put kui merasa terkejut
bukan kepalang.
Sebenarnya dia tak ingin mengeluarkan kepandaian asli
dari perguruannya bilamana keadaan tidak mendesak kalau
bisa dia hendak mengandalkan pengetahuannya tentang
berbagai ilmu silat lain guna menghadapi Tiang siau sin ang.
Tapi sekarang, dia sudah mulai merasa bahwa Tiang siau
sin ang Beng Pek tim benar-benar merupakan musuh paling
tangguh yang pernah dijumpainya selama hidup.
Dalam keadaan kepepet, mau tak mau dia harus
menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk
menggunakan ilmu Cian tham thian liong sian kang pukulan
naga langit berbau harum.
Dimana segulung angin pukulan yang berbau sangat harum
berhembus lewat, dua buah pukulan dari Tiang siau sin ang
yang disertai dengan tenaga penuh itu langsung tersapu
lenyap tak berbekas.
Sekujur badan Tiang siau sin ang gemetar keras, tanpa
sadar dia mundur dua langkah ke belakang.
Oh Put Kui kembali tertawa tergelak, bentaknya:
"Lihat serangan!"
Bersama dengan berkumandangnya bentakan itu, Oh Put
kui mengayunkan tangan kanannya melepaskan sebuah
totokan maut.
Paras muka Tiang siau sin ang kembali berubah hebat,
tergopoh gopoh dia melesat mundur hebat, tergopoh gopoh
dia melesat mundur sejauh satu kaki lebih.
"Bocah muda, inilah ilmu Thian liong ci!" serunya sambil
tertawa nyaring
Oh Put kui tertawa ewa.
"Bagus sekali, kakek Beng, tampaknya kau memang
mengenal nilai barang......"
Mendadak ia berpaling ke arah pengemis pikun sambil
serunya:
"Saudaranya Lok, sudah penuh kah jumlah sepuluh jurus?"
"Haaahhh.... haaahhh.... haaaahhhh..... kebetulan persis
genap sepuluh jurus, tidak kelebihan juga tidak kurang," jawab
pengemis pikun sambil tertawa tergelak.
Oh Put kui ikut tertawa tergelak.
"Nah kakek Beng !Sekali lagi kuucapkan banyak terima
kasih atas kesediaanmu untuk mengalah!"
Setelah suasana berubah. Hoa Tay siu sekalian baru bisa
menghembuskan napas lega.
Sebaliknya Thiang siau sin ang pun untuk pertama kalinya
sejak kemunculannya, berhenti tertawa.
Dengan wajah penuh rasa hormat, ia maju mendekati Oh
Put kui lalu tegurnya:
"Lote, apakah kau muridnya Thian Liong Sangjin?"
Kalau gembong iblis tua yang kepandaian silatnya hampir
tak terkalah pun sudah merubah sebutannya. Bisa
dibayangkan bertapa lihaynya anak muda kita ini.
Oh put Kui segera tertawa.
"Kau keliru" katanya. "Thian liong sang jin bukan guruku!"
Sebelum Oh Pu kui menjawab, pengemis pikun sudah
menimbrung lebih dahulu:
"Beng toako, bukankah ucapan itu macam ucapan kentut?
Thian liong ci adalah ilmu andalah Thian liong Sang jin. Kalau
bukan sangjin sendiri yang mewariskan ilmu itu kepadanya,
siapa lagi yang bisa menggunakan kepandaian tersebut?"
"Haaahhh.... haaahhh... haaaahhh....tepat, tepat sekali!"
Thian siau sin ang tertawa terbahak-bahak. "Hei si pikun,
agaknya kau sudah semakin pintar sekarang!"
"Aaa,....masa kau belum tahu? Sekarang toh aku sudah
berganti nama menjadi si pengemis cerdik....."
Sambil mengoceh, dengan bangganya dia menggoyangkan
kepalanya kesana kemari persis keriangan.
"Yaaa, memang perlu dirubah memang perlu dirubah!"
Thian siau sin ang manggut-manggut "Lohu yang pertamatama
setuju paling dulu...."
Setelah berhenti sejenak, dia baru berkata lagi kepada Oh
Put Kui sambil tertawa:
Saudara cilik bila sadari tadi kau katakan kalau pandai ilmu
Thian liong ci, sudah pasti pertarungan sepuluh jurus itu tak
akan pernah berlangsung barusan lohu betul-betul telah
berbuat ceroboh...."
"Aaaah, justru kesediaanmu untuk mengalah itulah
membuat aku merasa amat berterima kasih ....."
Thiang siau sin segera tertawa terbahak-bahak
"Haaahhh.... haaahhh... haaahhh.... aku pernah berhutang
budi kepada Thian liong sangjin dimasa lalu, meski lote
enggan mengaku sebagai muridnya tapi dilihat dari
kemampuan lote menggunakan ilmu Thian Liong ci serta ilmu
Cian tham thian liong sian kang dapat diketahui kalau kau
punya hubungan yang erat dengan sangjin, atas dasar ini lohu
mana berani bertindak ceroboh?"
Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa ia
menggelengkan kepalanya berulang kali
"Dengan ilmu si at lote yang begitu lihat serta usiamu yang
masih begitu muda, seandainya bukan murid Thian liong
sanjin jago silat manakah dalam dunia persilatan dewasa ini
yang sanggup memberi pendidikan kepadamu?"
Oh Put kui segera tertawa, sambil mengalihkan pokok
pembicaraan ke soal lain katanya kemudian :
"Beng lo apakah kau bersedia menyelesaikan persoalan di
sini secara damai?"
Tampaknya dia enggan untuk mengungkapkan asal usul
perguruannya, maka pokok pembicaraan sengaja dialihkan ke
masalah lain.
Mendengar ucapan tersebut sudah barang tentu Tinag siau
sin ang merasa tak enak untuk mendesak lebih jauh, ia segera
tertawa kering.
"Jangan toh lote adalah orang dekatnya sangjin, sekalipun
bukan dengan kekalahan ku dalam pertarungan sepuluh jurus
tadi sudah sepantasnya kalau lohu mesti menepati janji...."
Tiba-tiba Thian mo giok li gadis suci iblis langit kit siau un
yang semenjak melihat Oh Put kui berhasil menangkan
pertarungan sepuluh jurus merasa girang tapi juga kesal itu
berseru dengan suara gelisah :
"Beng kongkong benarkah kau akan mengundurkan diri
dari sini?"
Tiang siau sin ang segera tertawa terbahak-bahak .
'Haaahhh.... haaahhh... haaahhh... tentu saja bukan cuma
hari ini saja kalian mesti mundur, sejak detik ii kalianpun tak
boleh mencari gara-gara lagi dengan pihak perkampungan
Tang mo san ceng entah dengan alasan apapun!"
"Tidak bisa jadi!" teriak Thian mo giok li dengan wajah
berubah. "Ayah tidak memperkenankan kami pulang dengan
tangan hampa......"
"Aku yang akan menanggung!" seru Tiang siau sin ang
sambil tertawa dingin, mencorong sinar tajam dari balik
matanya.
Tiba-tiba ia menuding ke arah Cu ih mokiam pedang iblis
berbaju merah Suma Hian sambil bentaknya:
"Mengapa kalian tak cepat pergi? Apakah ingin memusuhi
lohu?"
Siapa yang berani memusuhi pentolan iblis tua ini? Suma
Hian merasa hanya bernyawa satu, sudah barang tentu dia
tak berani bermain-main dengan selembar jiwanya itu.
Ternyata Cu ihmo kiam sangat menurut mendengar
perintah itu ia segera menyahut dengan hormat :
"Boanpwee alam turut perintah !"
Sambil membalikkan badan, dia lantas menarik tangan giok
kiam sin mo iblis sakti berpedang kemala dan berlalu dari situ
dengan langkah lebar....
Baru saja thian mo giok lie hendak menghardik mereka
sambil tertawa seram Tiang siau sin ang sudah berseru lebih
dulu:
"Budak cilik, bila kau tidak menuruti perkataanku lagi,
jangan salahkan kalau aku akan turun tangan terhadapmu!"
Kit siau un tampak sangat murung dengan wajah sedih ia
memandang sambil cemberut.
Akhirnya Tiang siau sin ang naik darah segera bentaknya:
"Hayo jalan!"
Dengan wajah yang amat sedih Kit siau un memandang
sekejap ke arah Oh Put Kui lalu dengan perasaan apa boleh
buat pelan-pelan dia membalikkan badannya dan berlalu dari
sana.
Tiang siau siu ang sama sekali tidak menggubris sikap
munduk-munduk dari Hoa Tay sia sekalian sambil tertawa
katanya kepada Oh Put Kui:
"Lote, bila berjumpa dengan Sangjin, jangan lupa
sampaikan salam lohu kepadanya."
Bayangan putih berkelebat lewat, dia lantas berlalu dari
sana.
"Boanpwe pasti akan menyampaikan salam mu itu...." Oh
Put kui mengiakan sambil tertawa.
-ooooooo0dw0ooooooo-
SUATU ancaman bencana besar, akhirnya dapat diatasi
dalam suasana yang serba aneh
Oh Put kui dengan pengemis pikun pun berangkat
meninggalkan perkampungan Tang mo san ceng.
Kini, dalam saku pengemis pikun telah di penuhi oleh
delapan ribu tahil emas murni, seakan-akan ditindih oleh
delapan ton emas batangan saja, pengemis pikun dibuat
selalu panik dan tak tenang.
Setelah melangkah keluar dari wilayah Lusan, Oh Put kui
melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.
Kemudian setelah melewati An hwei, menyeberangi bukit
Hong san, menembusi Thian bok dan Thian tay....."
Akhirnya sampailah mereka di sebelah utara bukit Gan tang
sun.
Pada saat itulah, tak tahan pengemis pikun tersebut segera
bertanya:
"Hei bocah muda, kita akan menuju ke rumahmu?"
Pengemis pikun jadi tertegun.
"Lantas mau apa kita datang ke bukit gan tang san ini Lok
lo kita Cuma melewati tempat ini saja....."
"Jadi kita masih akan melanjutkan perjalanan?" Pengemis
pikun mulai menggaruk-garuk kepalanya, "Tapi....jika
perjalanan dilanjutkan, kita akan sampai di samudra bebas!"
"Yaaa, benar kita memang akan berpesiar ke tengah
samudra..."
Kali ini, pengemis pikun benar-benar berdiri bodoh.
Bila ia disuruh pergi kemanapun, ia pasti berani untuk
mendatanginya. Tapi kalau dia disuruh pergi ke laut Tang
hay...sampai matipun ia tak berani kesana.
Sebab.....
Jangankan disebutkan untuk membayarkan saja tak berani.
Pulau Neraka! Suatu nama yang betul-betul menggetarkan
hati siapa pun.
Mendadak ia membalikkan badan, laau melarikan diri
terbirit-birit.
Sayang gerakan tubuh Oh Put Kui jauh lebih cepat
daripada gerakannya, sekali melompat tahu tahu dia sudah
menghadang di hadapannya si pengemis pikun itu.
"Mau apa kau ?" pengemis pikun segera menjerit keras.
'bocah muda kau ingin merampas kembali uang emasmu?
Nih, semuanya kukembalikan kepadamu, aku si pengemis tua
memang sudah ditakdirkan miskin sepanjang hidup,
mengantongi uang emas sebanyak ini Cuma akan membuat
jantung berdebar hati kuatir melulu...."
Sambil berkata, ia benar-benar mengeluarkan ke empat
lembar uang kertas emas itu dan disodorkan ke muka Oh Put
Kui, kemudian katanya lagi :
"Bocah muda, leluhur mudaku, siau uaua ku kemana pun
kau akan pergi, aku pasti akan menemanimu, tapi janganlah
menyewa perahu untuk berpesiar ke lautan timur, aku si pingin
tua masih pingin hidup masih pingin makan bakso, makan
ayam panggang jangan kau suruh aku mengorbankan
nyawaku......"
Tampaknya ia benar-benar merasa takut untuk pergi
menghantar nyawa.....takut pergi mampus.....
Oh Put Kui tak kuasa menahan rasa gelinya lagi, dia
segera tertawa terbahak-bahak. "Saudara Lok, mau mungkin
juga percuma......." Katanya. "Ketika berada di perkampungan
Tang mo san ceng. Kau toh bilang sendiri, kemanapun aku Oh
put kui pergi, kau akan selalu mengikuti diriku....."
Pengemis pikun segera mencak-mencak macam kambing
kebakaran jenggot, segera teriaknya keras-keras :
"Haaah, aku betul-betul pernah bilang begitu? Oooh Lok jin
ki .......wahai lok in ki kau sungguh-sungguh seorang manusia
goblok, kau betul-betul pikun seratus persen ......mengapa kau
bersedia mengikuti seorang bocah keparat yang tak tahu asal
usulnya untuk pergi......"
Sambil berteriak sambil melompat, akhirnya sampai air
matapun turut jatuh bercucuran.
Dari sakunya Oh Put Kui mengeluarkan secarik sapu
tangan kumal untuk menyeka air matanya, lalu ujarnya sambil
tertawa:
"Lok tua, bila sudah berjanji dengan seorang janganlah
sekali kali ingkar janji, apa lagi kalau ucapan itu diutarakan
oleh seorang pendekar besar yang sudah lama termasyhur
seperti kau, setiap ucapannya mesti dituruti, kalau tidak tentu
kau akan ditertawakan oleh semua orang yang ada dikolong
langit."
Setelah berhenti sebentar, dia lantas sodorkan saputangan
kumal itu kepadanya:
"Nah, sudahlah, jangan menangis terus kalau kau masih
menangis saja, tentu orang akan menganggap kau sebagai
pengemis pikun yang tidak pintar lagi!"
Ternyata pengemis pikun menurut sekali setelah
mendengar perkataan itu, dia menerima saputangan kumal itu
untuk menyeka air mata dan ingusnya. Sebentar saja
saputangan itu sudah berubah menjadi hitam pekat dan kotor
sekali.
Oh Put kui mendongakkan kepalanya memeriksa keadaan
cuaca, lalu dia mengambil selembar kertas uang yang bernilai
seribu tahil emas, setelah itu ujarnya lagi :
"Lok tua, mari kita ke kota Giok huan sian sia lebih dulu
untuk menukar selembar uang kertas emas ini!"
Pengemis pikun segera tertawa kembali sambil membuang
saputangan kumal itu jauh-jauh serunya:
"Betul ! Kita mesti menukar dengan uang agar bisa dipakai
untuk membeli sesaji guna menghormati kuil perut kita!"
Ketika selesai bersantap, Pengemis pikun sudah ada tujuh
bagian dipengaruhi oleh arak.
Selesai membereskan rekening, Oh Put kui segera
mengajak pengemis pikun keluar dari kota giok huan sia
menuju ke dermaga kali ini ternyata pengemis pikun tidak
menunjukkan ulahnya lagi.
Tapi setibanya di dermaga, penyakit lamanya kembali
kambuh.
Sebab dia sudah melihat air samudra yang luas sedang
menggulung-gulung di depan matanya.
"Bocah muda, dimanakah kita sekarang?" tanpa terasa
pengemis konyol itu bertanya.
"Di pantai lautan timur!" Oh Put Kui tertawa hambar.
"Mau apa datang kemari?"
"Membeli sebuah perahu dan kita akan berpesiar ke tengah
samudra !"
"jangan ..... jangan .....aku .....aku tak mau ikut .....aku tak
mau turut ke tengah laut....." tanpa membuang waktu, dia
segera putar badan dan mengambil langkah seribu......
Oh Put kui segera tertawa terbahak-bahak,
dicengkeramnya tubuh pengemis itu sambil berseru:
"Tidak mau ikut? Sayang sudah terlambat Lok tua, kau
wajib mengikuti diriku!"
Pengaruh arak dalam benaknya kontan rontok separuh
bagian, pengemis tua kembali berkaok-kaok:
"Hei bocah munyuk, kau sudah bosan hidup?"
"Haaahhh.... haaahhh.... haaaahhhh... dalam lima puluh
tahun mendatang, aku masih belum pingin mampus!" pemuda
itu tergelak
Dengan gemas pengemis pikun meludah ke tanah,
sumpahnya:
"Tapi aku lihat, kau tak bakal bisa hidup melewati besok
siang!"
Oh Put kui Cuma tertawa tanpa memperdulikan ocehan
pengemis pikun, Cuma tangannya saja yang masih
menggenggamnya kencang-kencang dan menyeretnya
menuju ke dermaga untuk bertanya apakah ada perahu yang
akan dijual .
Ketika pemilik-pemilik perahu itu mendengar kalau mereka
hendak menuju ke lautan ditengah malam, hampir sebagian
besar menolak menyewakan perahu mereka atau menjualnya
kepada kedua orang itu.
Menghadapi keadaan seperti ini, mau tak mau Oh Put kui
mesti berkerut kening.
Sebaliknya si pengemis pikun segera berjingkrak dan
menari-nari karena kegirangan suara tertawanya yang keras
hampir membelah keheningan malam yang mencekam.
"Oooh.....Lo thianya betul-betul punya mata....." gumannya.
"Hai bocah muda, tampak nasib aku si pengemis tua masih
agak mujur, umurku masih diberkahi usia panjang."
Oh Put kui hampir tidak menggubris seruan-seruan dari
pengemis pikun itu, dia masih saja berputar kian kemari
disekitar dermaga sambil berusaha untuk menemukan pemilik
perahu yang mungkin ingin mencari keuntungan besar.
Sesudah bersusah payah hampir setengah harian lamanya,
pada akhirnya apa yang diharapkan Oh Put kui dapat tercapai
juga. Tapi ongkos sewa yang diajukan betul-betul
mengejutkan hari siapa pun jua.
Untuk lima belas hari lamanya, ongkos sewa perahu itu
mencapai seribu tahil emas murni.
Nilai tersebut betul-betul menjirat leher sebab berbicara
menurut nilai uang waktu itu, seribu tahil emas murni bisa
digunakan untuk membeli lima ratus buah sampan kecil tapi
tanpa berpikir panjang, oh Put kui segera menerima tawaran
gila itu.
Dia berjanji akan berangkat menuju ke samudra pada
kentongan pertama malam nanti, bahkan minta kepada si
nenek pemilik perahu agar mencarikan dua orang pendayung
dengan ongkos yang diperhitungkan di luar beaya.
Sudah barang tentu, transaksi ini membuat si pengemis
pikun sakit dan marah.
Buangkan saja, masa uang emas seribu tahil mesti
diserahkan dengan begitu saja kepada orang lain?
Bahkan dia masih bersedia membayar tukang pendayung
di luar beaya tersebut, peraturan darimanakah yang
menetapkan cara macam begitu?
Makin memikir si pengemis pikun merasa makin tak karuan
hatinya, tak tahan dia lantas berteriak:
"Hei bocah muda, rupanya kau jauh lebih pikun dari pada
aku si pengemis tua...." begitu selesai berkata, dia lantas
tertawa terbahak-bahak.
Ia tertawa sampai terpingkal-pingkal hingga air mata pun
turut jatuh bercucuran entah apapun yang diucapkan Oh Put
kui, dia masih tertawa saja tiada hentinya.
Agaknya dia seperti baru merasa kalau di dunia ini masih
terdapat seorang lain yang jauh lebih pikun dari pada dirinya,
maka saking gembiranya dia sampai tertawa tiada hentinya.
Ombak yang menggulung tiba dan memecah ketika
menumbuk perahu, menerbitkan suara yang keras dan amat
tak sedap di dengar
Pengemis pikun sedang melingkar menjadi satu dan
bersembunyi dalam ruangan perahu, sedangkan Oh Put kui
dengan tenang berdiri di atas geladak perahu tanpa berkutik,
sepasang matanya yang tajam sedang mengawasi tempat
kejauhan sana, lautan luas yang dicekam oleh kegelapan.
Pendayungnya ada dua orang, seorang tua dan seorang
muda.
Yang tua sudah berusia tujuh puluh tahun, berambut putih
mukanya penuh keriput, mungkin karena tiap hari kerjanya
berada di laut maka kulitnya hitam pekat seperti arang, tapi
kekuatannya masih tetap sehat bugar.
Yang muda adalah seorang bocah lelaki berusia dua puluh
tahunan, otot-otot badannya pada menonjol keluar semua,
agaknya dia adalah seorang jago silat.
Sejak berada di atas perahu itu. Oh put kui sudah
menemukan kalau kedua orang pendayung itu adalah
manusia-manusia luar biasa, namun dia tak ambil perduli.
Dia percaya dalam dunia persilatan dewasa ini, paling
banter hanya ada tujuh delapan orang jago saja yang mampu
mengancam keselamatan jiwanya. Oleh sebab itu, dia
selamanya tak pernah mengenal apa arti rasa takut itu.
Justru karena itu pula, dia baru bertekat untuk menyelidiki
Pulau Neraka yang ditakuti setiap orang itu.
"Pulau Neraka disebut pula pulau bis pergi tak akan
kembali......hmmm, benarkah bisa pergi tak akan kembali?"
Diam-diam dia tertawa sendiri karena geli. Sekalipun orang
lain bisa pergi tak akan kembali namun dia akan menciptakan
bisa pergi bisa pula kembali.
Selamanya dia tak percaya dengan tahayul tentu saja
diapun tidak percaya dengan segala macam dongeng yang
tersiar dalam dunia persilatan.
Sampan cepat itu melesat dengan cepatnya ke depan,
menembusi ombak yang menggulung dengan hebatnya.
Kentongan kedua sudah lewat, dari kejauhan sana nampak
bayangan sebuah bukit muncul dari balik kegelapan.
Itulah sebuah pulau! Pulau neraka yang diliputi keanehan,
keseraman dan kemisteriusan, perasaan Oh put kui mulai
bergelora keras, dia merasakan jantungnya berdebar keras.
Pengemis pikun seperti melongokkan kepalanya dan
menengok sekejap ke depan, kepalanya dan menengok
sekejap ke depan kemudian seperti burung unta, cepat-cepat
dia sembunyikan kembali kepalanya.
Melihat kejadian itu, Oh put kui jadi tertawa geli, pikirnya
kemudian dalam hati : "Heran, masa kau tak bisa
dibandingkan dengan kedua orang nelayan ini.........? jelekjelek
kau toh seorang jagoan juga?"
Sementara itu, nelayan tua yang telah berubah itu
meletakkan alat pendayungnya secara tiba-tiba, kemudian
selangkah demi selangkah berjalan menuju ke geladak
perahu. "Siangkong, apakah kau hendak menuju ke Pulau
neraka?" tegurnya kemudian.
Suara teguran dari nelayan tua itu amat nyaring, lantang
dan tajam didengar.
Oh put kui segera manggut-manggut "Yaa, bukankah pulau
itu disebut pula pulau bisa pergi tak bisa kembali...........?"
bisiknya.
Nelayan tua itu segera tertawa.
"Aaaah, itu kan sebutan orang persilatan terhadap pulau
tersebut, sedang buat kami nelayan disekitar tempat ini, pulau
tersebut masih tetap bernama pulau neraka!"
"Boleh aku tahu, siapa nama margamu?"
Oh put kui menegur lagi sambil tertawa hambar
"Lohan she cin!"
Berkilat sepasang mata Oh put kui, sambil tertawa dia
lantas berpaling seraya ujarnya: "Apakah Cin po tiong, cin
locianpwe?"
Mendadak sekujur badan nelayan tua itu bergetar keras,
dengan suara gemetar sahutnya:
"Loo...... Lohan ....... lohan ....."
Tapi, bagaimana mungkin sikapnya itu bisa mengelabuhi
ketajaman mata dari Oh put kui.
Disamping itu, pertanyaan langsung dari Oh put kui yang
dilontarkan secara berterus terang ini justru merupakan cara
yang paling jitu untuk menghadapi para jago persilatan yang
enggan memberitahukan nama aslinya.
"Cin tua!" kembali Oh put kui berkata "Nama besarmu
sebagai Tang hau hi ang nelayan sakti dari lautan timur' sudah
lama kukagumi, sungguh beruntung hari ini aku bisa
berkenalan dengan istrimu, bahkan mesti merepotkan pula
dirimu untuk mendayung perahu buat kami, peristiwa ini boleh
di bilang benar-benar merupakan suatu peristiwa besar
.........."
Karena rahasianya sudah terbongkar, terpaksa kakek
berambut putih itu hanya bisa tertawa getir sambil
menggelengkan kepala berulang kali.
"Saudara cilik, ketajaman matamu benar-benar lihay
sekali!"
Kembali Oh Put Kui tertawa
"Sebenarnya persoalan ini mudah ditebak, andaikata bukan
si Nelayan sakti dari lautan timur Cin po tiong siapakah yang
berani keluar lautan ditengah malam buta begini?"
Dengan cepat Nelayan sakti dari lautan timur Cin po tiong
manggut-manggut.
"Betul, agaknya lo u sudah lupa memikirkan persoalan
ini........."
Setelah berhenti sejenak, kembali ia bertanya: "Saudara
cilik, siapa namamu?"
"Aku Oh put kui 'Oh tidak kembali!"
Dengan kening berkerut Cin Po tiong memandang sekejap
ke arahnya, kemudian tanyanya lagi :
"Kau sendirikah yang memberikan nama itu kepadamu?"
"Bukan nama itu pemberian guruku!"
"Waah, kalau begitu suhu mu pastilah seorang tokoh sakti
yang luar biasa sekali kata Cin po tiong setelah tertegun
sejenak
Oh put kui segera tertawa.
"Aaaah, dia hanya seorang pendeta gunung, maaf
namanya tak dapat kusebutkan kepadamu!"
"Sudah empat kali lohu pergi kesana menyerempet
bahaya...." tiba-tiba dia berkata lagi sambil menuding ke arah
bayangan pulau ditempat kejauhan sana.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh put kui setelah
mendengar perkataan itu, serunya cepat:
"kau orang tua pernah kesana?"
"Belum!"
Jawaban ini cepat membuat Oh put kui kembali termangu.
Agaknya Cin po tiong bisa memahami keheranan orang,
mendadak dengan wajah menunjukkan rasa kaget bercampur
kuatir, bisiknya leb"
"Empat kali sebelum lohu tiba di tepi itu setiap kali aku
sudah dibikin kabur oleh orang karena kaget dan ngeri...."
Cin po tiong menundukkan kepalanya dan berpikir
sebentar, begitu tahu kalau tiada harapan baginya untuk
mengetahui hal-hal lebih detail, diapun segera tertawa
"Cin tua, siapkah yang telah membunuhmu kabur dengan
perasaan kaget bercampur ngeri?" tanya Oh put kui sambil
melototkan matanya bulat-bulat .
Mendengar pertanyaan tersebut, con po tiong segera
menunjukkan perasaan malu dan menyesal, sahutnya setelah
menghela napas panjang :
"Aaaai.......kalau dijawab yang sesungguhnya, mungkin kau
tak akan percaya, pada hakekatnya lohu tak pernah
menyaksikan bayangan tubuh dari orang itu!"
Tentu saja jawaban ini membuat Oh put kui tidak percaya
sebab kejadian itu sama sekali tak masuk diakal.
@oodwoo@
Jilid ke 5
BERBICARA soal ilmu silat yang dimiliki si Nelayan sakti
dari lautan Timur Cin Po-tiong dalam dunia persilatan
sesungguhnya kepandaiannya tidak berada di-bawah
kepandaian silat para ciangbunjin dari pelbagai partai, tapi
kenyataannya dia toh kena dipukul mundur oleh seseorang
yang tak pernah disaksikan bayangan tubuh-nya.
Sambil menuding pulau kecil ditempat ke jauhan sana, Cin
Po-tiong tertawa getir, katanya:
"Saudara cilik, sudah empat kali loohu ke sana, arah yang
kuambil pun selalu berubah-ubah, tapi kejadian yang kualami
selalu sama saja. kegagalan selalu menghantui diriku ..."
"Cin tua. dengan cara apakah mereka mengundurkan
dirimu?" tanya Oh Put Kui kemudian sambil tertawa,
Terlintas perasaan takut dan ngeri dalam sorot mata Cin
Po-tiong, sahutnya setelah itu dengan suara dalam:
"Oleh semacam ilmu silat yang sangat aneh!"
Oh Put Kui jadi tertegun,
Kalau toh dipukul mundur oleh semacam ilmu silat yangsangat
lihay, mengapa tidak nampak bayangan tubuh
musuhnya ?
Dengan termangu-mangu diawasinya wajah Tang-hay-ang
Cin poo-tioug tanpa berkedip,
"Cin tua, yakinkah kau kalau orang itu telah memukul
mundur dirimu dengan ilmu silat?"
Cin Poo-tiong mengangguk
"Lohu rasa tak bakal salah lagi, memang beberapa macam
ilmu silat aneh yang dipergunakan."
Oh Put Kui termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba
katanya lagi sambil tertawa:
"Cin-tua, dapatkah kau mengisahkan kepadaku ke empat
kisah pengalamanmu itu?"
Cin Poo-tiong memperhatikan sejenak lelaki yang
memegang kemudi itu, kemudian memperhatikan arah
anginnya, setelah dilihatnya perahu itu melaju ke depan
mengikuti hembusan angin, dia baru tertawa lega.
"Saudara cilik." Ua berkata, "empat kali lohu kesana, empat
kali pula kujumpai empat macam ilmu silat yang jarang
dijumpai di dalam dunia persilatan, kalau tidak, mana aku
orang she Cin sampai dipukul mundur dengan ketakutan?"
"Benar, dengan nama besar Cin tua, kepandaian silat yang
biasa sudah pasti tak akan menakutkan dirimu."
"Ucapan itu segera mengejutkan hati Cin Poo-tiong.
Sekulum senyumanpun segera menghias wajahnya yang
tua :
"Pertama kali datang kemari, baru saja perahu lohu
mencapai jarak sejauh tiga kaki dari pantai ...,...."
"Dari jarak sejauh ini, seharusnya kau dapat melompat naik
keatas pantai." Kata Oh Put Kui sambil tertawa.
"Tidak bisa," sahut kakek itu tersenyum,
"Bila lohu sampai melompat kedarat dan tiba-tiba disergap,
bisa jadi aku akan tewas seketika itu juga "
Oh Put Kui segera manggut-manggut.
"Yaa, betul, kewaspadaan memang perlu ditingkatkan !"
"itulah sebabnya, lohu segera mengincar umpat pendaratan
yang paling baik serta mendayung sampai menuju kesasaran,
siapa tahu pada saat itulah mendadak dari pulau
berkumandang suara nyanyian yang keras sekali."
"Hmmm, kalau begitu diatas pulau tersebut benar-benar
ada penghuninya." Ucap Oh Put Kui sambil manggutmanggut.
"Tentu saja ada penghuninya ! Cuma ilmu silat yang
mereka miliki sudah mencapai tarap yang amat tinggi."
Setelah berhenti sebentar, dia melanjutkan "Baru saja lohu
tertegun karena mendengar suara nyanyian itu, mendadak
badanku terasa lemas dan kesadaranku menjadi hilang, lalu
tergeletaklah aku diatas perahu, Ketika mendusin kembali,
perahu itu sudah berapa li meninggalkan pulau !"
"0ooh..., sungguh tak kusangka ,." setelah berhenti
sebentar pemuda itu melanjutkan. "Cin tua, apakah kedua
kalinya kau pun dipukul mundur oleh suara nyanyian itu?"
Cin Poo-tiong menggeleng.
"Sewaktu datang lagi untuk kedua kalinya, lohu telah
memperhatikan keanehan dari suara nyanyian tersebut, oleh
sebab itu hawa murniku selalu kuhimpun untuk melindungi
pikiran dan perasaan."
Tiba-tiba ia menghela napas dan membungkam.
"Mengapa tidak kau lanjutkan ceritamu?" tanya Oh Put Kui
kemudian sambil tertawa.
Cin Poo-tiong menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aaaai, lohu tak pernah menyangka kalau dunia persilatan
terdapat seorang jago yang begitu lihay."
Setelah menghela napas dengan suara rendah, lanjutnya:
"Waktu itu lohu hanya teringat untuk melindungi jantungku
dan pikiranku, tapi teledor untuk berwas-was terhadap
datangnya serangan langsung,
"Kau berhasil menyaksikan pihak lawan?"
"Tidak, aku tidak berhasil menjumpainya," Kakek itu
menggeleng. "Tapi tenaga pukulan yang begitu dahsyatnya itu
benar-benar belum pernah menjumpai sebelumnya."
"Kalau begitu kau kena dilukai."
"Terluka sih tidak, Cuma serangan lawan yang dilancarkan
dari jarak sepuluh kaki itu ternyata bisa menghajar telak jalan
darah pingsan di tubuh lohu, kenyataan ini bila tidak kualami
sendiri, memangnya lohu bisa dibikin percaya?"
"Irama seruling itu memiliki kesanggupan untuk membetot
sukma, sebab itu walaupun lohu telah melindungi jantung dan
pikiranku, namun tak dapat melindungi sukma sendiri,
akhirnya aku pingsanketika berada lima kaki dari pantai."
"Bagaimana dengan pengalamanmu yang keempat
kalinya?" pemuda itu tertawa hambar.
Keadaanku makin parah dalam kesempatan yang keempat
kalinya itu!" perasaan ngeri kembali terlintas diwajahnya.
"Masa di dunia ini masih terdapat ilmu silat lain yang jauh
lebih lihay dari pada ke tiga macam kepandaian tersebut?"
Kakek itu manggut-manggut.
"Yaa, ke empat kalinya datang kesana, lohu telah
dihadapkan dengan ilmu pedang terbang seperti apa yang
sering kita dengar."
"Sungguh?"
Tampaknya ilmu pedang terbang itu cukup menarik
perhatian serta kegembiraan Oh Put Kui,
"Masa ilmu pedang terbang yang sudah lama punah dari
dunia persilatan itu bisa mun cuI kembali disini?" Katanya
lebih jauh.
"Siapa bilang tidak? waktu itu perahu lohu berada dua
puluh kaki jauhnya, tapi aku telah bertemu dengan..."
Sambil menggelengkan kepala pemuda itu menghela
napas panjang.
"Waaah tenaga serangan ilmu pedang terbang itu sangat
kuat, buktinya dapat mencapai kejauhan dua puluh kaki lebih!"
selanya.
"Yaa, benar. Kalau dihitung dari jarak antara pantai dengan
perahu yang lohu tumpangi, jaraknya memang dua puluh kaki,
tapi kalau dihitung dari tempat persembunyian orang itu,
sesungguhnya jarak tersebut mencapai dua puluh lima kaki
lebih."
"Cin tua, apakah kau terluka?" pemuda itu menaruh rasa
kuatirnya.
Cin Poo-tiong segera menggeleng.
"Tidak, aku tak sampai terluka, sejak ketika lohu saksikan
ada sekilas cahaya tajam menyambar datang dari pantai,
pada mulanya kukira sebangsa senjata rahasia dalam ukuran
besar, maka kuangkat dayangku untuk menangkis."
"Delapan puluh persen dayungmu lantas patah dan hancur
berkeping-keping."
Entah sedari kapan, ternyata sipengemis pikun telah duduk
pula disitu sambil menimbrung.
Cin Poo tiong berpaling dan memandang pengemis itu
sekejap, kemudian sambil tertawa ia manggut-manggut.
"Perkataan saudara Lok memang benar, dayung besi ini
seketika hancur dan jadi beberapa keping."
"Hei, kau kenal dengan aku si pengemis tua?" tiba-tiba
pengemis pikun itu berteriak.
"Haaaa... haaa... haaa... saudara Lok, salahmu sendiri
mempunyai tampang sejelek ini, tampangmu itulah yang telah
membocorkan asal-usulmu."
"Ooooh... kalau begitu aku si pengemis tua perlu menyaru
untuk merahasiakan wajahku."
Oh Put Kui turut tertwa, katanya:
"Lok tua, asal perbuatan seorang lelaki sejati tulus dan
jujur, mengapa takut dikenali orang?"
Mendengar perkataan itu, pengemis pikun segera bertepuk
tangan sambil bersorak sorai.
"Hei bocah keparat, kau benar-benar cacing dalam perutku,
apa saja yang kupikir, kau selalu dapat menebaknya dengan
jitu..."
Oh Put Kui tersenyum, tiba-tiba katanya kepada Cin Pootiong:
"Cin tua, setelah dayung itu patah, apakah hawa pedang itu
mengundurkan diri dari situ?"
"Tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat lihay, setelah
dayung itu patah, cahaya bianglala yang memancarkan sinar
tajam itu segera berputar sebanyak sepuluh kali lingkaran
diatas udara tepat diatus perahuku."
"Oooh, sungguh hebat!" paras muka Oh Put Kui turut
berubah hebat.
Tiba-tiba saja dia menjumpai kalau tenaga dalam yang
dimiliki si pelepas pedang terbang itu hampir setaraf dengan
tenaga dalam yang dimiliki gurunya.
"Sejak lohu tahu kalau jago lihay yang menghuni di atas
pulau itu ternyata memiliki ilmu silat yang begitu lihay, lohu tak
pernah lagi datang kemari untuk melakukan pengintaian!"
"Yaa, memang tidak perlu lagi!" Oh Put Kui mengangguk
sambil tersenyum pelan.
"Mengapa? Takut mati?" tiba-tiba sipengemis pikun
menyela.
Oh Put Kui ikut tertawa.
"Bukan begitu, kita sudah tahu kalau orang yang menghuni
diatas pulau itu memiliki ilmu silat yang sangat lihay, umat
persilatan didaratan Tionggoan pun sudah tiada yang sanggup
untuk menandinginya Iagi, jika mereka berhasrat untuk
mencelakai dunia persilatan, siapakah yang sanggup
membendung kekuatannya?"
"Tentu tak ada yang sanggup, sekalipun kau si bocah muda
juga tak mampu!"
Sembari berkata, pengemis pikun segera mendongakkan
kepalanya sambil membusungkan dada, seolah-olah orang
yang melepaskan serangan dengan pedang terbang itu adalah
dia.
Oh Put Kui kembali tertawa.
"Diantara para jago lihay dunia persilatan yang datang
menyelidiki pulau ini, kecuali sampah-sampah masyarakat
yang mempunyai maksud tertentu, terdapat pula manusia
seperti Cin tayhiap, tapi tujuan dari manusia semacam Cin
tayhiap ini bermaksud lain bukan? Tentu tujuan Cin tayhiap
kemari hanya untuk mengetahui apakah penghuni pulau ini
orang jahat atau orang baik."
Cin Poo-tiong cuma tertawa sambil manggut-manggut.
Sebaliknya sipengemis pikun segera berseru sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Aku rasa sudah pasti mereka bukan manusia jahat atau
iblis bengis, kalau tidak, mana makhluk tua ini masih bisa
hidup sampai sekarang."
"ltulah dia, kalau toh penghuni pulau itu bukan manusia
bengis atau iblis buas, mengapa Cin tua mesti pergi kesana
untuk mengganggu ketenangan orang ini?"
Dengan cepat pengemis pikun melompat bangun,
teriaknya:
"Tepat sekali! Aku sipengemis setuju sekali dengan
pendapat itu, nah mari kita pulang saja."
Kalau dibilang pikun, ternyata pengemis ini hebat juga,
ternyata dia hendak menggunakan alasan tersebut untuk
menutupi rasa takutnya guna berkunjung ke pulau Neraka.
"Tidak! Kita masih tetap akan melanjutkan rencana kita,"
tukas Oh Put Kui sambil tertawa.
Kontan saja pengemis pikun melotot besar, bentaknya:
"Bocah keparat, apakah kau tidak kuatir kedatanganmu itu
akan mengganggu ketenangan orang?"
"Haaahhh..,haaahhh... haaahhh... Lok tua, tujuanku kesitu
tak lain hanya ingin mematahkan julukan pulau tersebut
sebagai pulau yang bisa didatangi tak bisa ditinggalkan."
Tiba-tiba pengemis pikun naik darah, teriaknya:
"Hmm, mana mungkin kan bisa mematahkan julukan bisa
pergi tak akan kembali itu? Sudah jelas hendak pergi
menghantar kematian, aku kena diseret juga untuk
menghantar nyawa..."
"Lok tua, bila kau tak ingin kesitu, aku-pun tak akan
memaksamu." ujar pemuda itu kemudian sambil tertawa.
Ucapan ini sangat menggirangkan hati si pengemis pikun
itu, jeritnya segera:
"Benarkah itu? Bagus, sekarang juga aku si pengemis tua
akan pergi..."
Tanpa banyak membuang waktu, dia segera membalikkan
badan dan lari dari situ.
Tapi, berapa jauhkah dia bisa lari diatas perahu yang begini
kecil bentuknya itu?
Memandang lautan yang luas dan gelap gulita, pengemis
tua i!u kontan saja berdiri bodoh.
Lama sekali dia tertegun, akhirnya baru meraung keras
sambil membalikkan badannya:
"Bocah keparat, nampaknya mau tak mau selembar
nyawaku mesti kuserahkan kepadamu."
"Aaah, jangan, aku tak berani menerima penyerahan itu,"
kata Oh Put Kui tertawa, "pokoknya asal kau bisa merenangi
samudra seluas puluhan li ini, silahkan kau pergi sesuka
hatimu sendiri, kalau tetap tinggal di-sini, berarti kaulah yang
bersedia sendiri untuk ikut bersamaku."
Hampir meledak dada pengemis pikun itu setelah
mendengar perkataan tersebut.
Tapi..apa lagi yang bisa dia lakukan ditengah samudra luas
yang tak bertepian itu? Yaa, kecuali membelalakkan matanya
lebar-lebar sambil mendepakkan kakinya ke tanah, ia bisa
berbuat apa?
Mampukah dia renangi samudra yang begini luasnya itu?
Mungkin sampai penitisan mendatangpun dia tak akan
berani mengucapkan sesumbarnya.
Oh Put Kui sama sekali tidak berpaling.
Hal ini bukan dikarenakan dia berhati dingin atau segan
untuk berbicara lagi dengan pengemis itu, sebaliknya karena
tahu akan watak si pengemis aneh yang angin-anginan dan
pikun itu.
Bila ia memanasi hatinya terus menerus, maka akhirnya
pasti akan membuat hatinya tak senang hati.
Jangan dilihat si pengemis pikun sedang mendepak
depakkan kakinya dengan kheki sekarang, padahal dalam hati
kecilnya dia amat mengagumi kecerdasan Oh Put Kui.
-ooo0dw0ooo-
Kini perahu yang mereka tumpangi sudah berada setengah
li dari pulau Neraka.
Dengan suara rendah Cin Poo-tiong lantas berbisik kepada
Oh Put Kui:
"Saudara cilik, kita harus mulai berhati-hati "
Oh Put Kui tertawa.
"Kecuali ilmu pedang terbang tersebut yang mungkin akan
memusingkan kepalaku, soal beberapa macam kepandaian
yang lain tentu tak akan pengaruh mempengaruhi kesadaran,
aku rasa belum mampu untuk mengapa-apakan diriku "
Tentu saja Cin Poo-tiong kurang percaya dengan
pernyataan tersebut. Hanya saja hal itu tidak diutarakan
secara berterus terang, hanya katanya seraya tertawa:
"Saudara cilik, kau mungkin saja tidak takut, tapi kami
bertiga toh tak akan mampu untuk mempertahankan diri!"
Oh Put Kui segera tertawa hambar, "Luas sampan ini paling
cuma dua kaki, aku percaya masih mampu untuk melindungi
keselamatan kalian bertiga agar tak sampai menderita
kerugian apa-apa."
Berbicara sampai disitu, mendadak dia membungkam diri
dan tidak berbicara lagi.
Cin Poo-tiong menjadi amat terkejut setelah menyaksikan
keadaan sianak muda itu, cepat tanyanya :
"Saudara cilik, kenapa kau?"
"Tiba-tiba saja aku teringat oleh kawanan jago yang berada
di pulau ini bukan manusia jahat yang berhati bengis " Kata
Oh Put Kui sambil mendongakkan kepala.
"Ya betul, kalau tidak, masa kawanan jago persilatan yang
berani datang kemari hanya dibikin ketakutan saja agar
mundur sendiri?"
"Aku jadi berpikir-pikir, andaikata sampai terjadi
pertarungan lantas apa yang mesti kulakukan?"
Diam-diam Cin Poo-tiong mengangguk setelah merenung
sebentar jawabnya:
"Saudara cilik, apakah kau takut kalau sampai salah
melancarkan serangan hingga melukainya?"
"Bukan dia, melainkan mereka..."
"Saudara cilik, kau menganggap diatas pulau itu
berpenghuni lebih dari satu orang?" Cin Poo-tiong ikut tertawa.
"Tentu saja bukan cuma satu orang," jawab Oh Put-kui,
"kalau cuma satu orang saja, mengapa dia baru pada
kesempatan yang ke empat baru menggunakan ilmu pedang
terbang untuk menakut-nakuti dirimu?"
"Yaa, betul juga perkataan saudara cilik...." Cin Poo-tiong
tertawa.
Setelah merenung sebentar, kembali ujarnya:
"Padahal kau juga tak usah merasa sedih, andaikata kita
dapat naik ke atas darat, kalau bisa berusahalah untuk saling
bersua muka dengan pihak lawan..."
"Yaa, terpaksa kita memang harus berbuat demikian."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, perahu kecil
itu sudah berada lebih kurang sepuluh kaki dari tepi pantai.
Sementara itu, pengemis pikun sudah ngeloyor pergi dari
buritan perahu menuju ke-depan. geladak dan
menyembunyikan diri dibelakang Oh Put Kui, tampaknya dia
hendak mempergunakan si anak muda itu sebagai
tamengnya.
Sudah barang tentu Oh Put Kui mengetahui akan hal ini,
tapi ia justru berlagak seakan-akan tidak tahu.
Dalam pada itu perahu yang mereka tumpangi makin lama
semakin mendekat, dari jarak sembilan kaki menjadi delapan
kaki.... jaraknya semakin lama semakin menjadi pendek.
Tapi suasana diatas pulau itu masih tetap hening, sepi dan
tak kedengaran sedikit sua rapun, sedemikian sepinya sampai
semua orang yang berada didalam perahu dapat
mendengarkan debaran jantung masing-masing, sementara
itu jarak dengan pulau itu sudah makin pendek lagi, enam kaki
sudah dilampaui kini makin mendekati jarak lima kaki... empat
kaki...
Si nelayan sakti dari lautan timur Cin Poo tiong telah
menyelinap kcburitan perahu dan menggantikan pemuda
kekar tersebut untuk memegang kemudi, sementara pemuda
itu sendiri mengambil sebatang gala panjang dan bersiap-siap
untuk mendekati pantai.
Kini jaraknya tinggal tiga kaki... dua kaki
Makin lama pulau itu makin dekat, namun tiada sesuatu
kejadian apapun yang berlangsung didepan mata.
Segala sesuatunya tetap hening, sepi tak kedengaran
suara pun, selain gulungan ombak yang memecah kepantai,
tiada gerakan apapun yang kerja disana.
-ooo0dw0ooo-
Oh Put Kui nampak agak tertegun oleh kejadian tersebut,
apa yang terjadi didepan mata benar-benar berada diluar
dugaannya, Cin Poo-tiong paling tercengang oleh kejadian
tcrsebut, dia sampai termangu-mangu dibuatnya.
Tampaknya perahu itu segera akan mendekati tepi pantai
berkarang, kini jaraknya sudah tinggal satu kaki.
Mendadak...
Dalam suasana yang penuh ketegangan tersebut, dan
tengah udara berkumandang suara petikan harpa yang amat
keras dan memekikkan telinga.
Begitu suara harpa tersebut berkumandang, empat orang
yang berada dalam perahu segera merasakan suatu
getarakan keras didalam hati mereka.
Malahan pemuda yang membawa gala panjang sambil
mempersiapkan pendaratan itu hampir saja terjungkal
kedalam laut.
Oh Put Kui tertawa hambar, tiba-tiba sepasang tangannya
dirangkapkan didepan dada, lalu sambil memejamkan
matanya dia berdiri tenang.
Segulung bau harum yang menyejukkan dengan cepat
menyebar keempat penjuru, demikian sedapnya bau itu
membuat semangat orang serasa berkobar kembali.
Thian-Iiong-sian-kang memang terbukti merupakan suatu
Kepandaian maha sakti dari dunia persilatan.
Nelayan sakti dari lautan timur Cin Poo-tiong, si pengemis
pikun Lok Jin Ki dan pemuda kekar yang berada diatas
perahu, sesungguhnya sudah terpengaruh oleh getaran keras
itu sehingga kesadarannya hampir lenyap, tapi begitu Oh Put
Kui mengerahkan tenaga murninya, seketika itu juga mereka
jadi segar dan sadar kembali.
Dengan perasaan terkejut si Nelayan sakti dari lautan timur
segera menghela napas panjang, katanya:
"Saudara cilik, mau tak mau lohu mesti merasa kagum
sekali atas kemampuanmu..." sekarang perahu mereka sudah
merapat dengan daratan.
Bersamaan dengan merapatnya perahu tersebut dengan
pantai, tiba-tiba saja suara harpa itu terhenti sama sekali.
Tak lama kemudian, dari arah pantai sana
berkumandanglah suara pekikan panjang yang amat keras.
Oh Put Kui memandang sekejap rekan-rekannya, kemudian
berkata sambil tertawa.
"Mari kita bersama-sama naik ke darat!"
Nelayan sakti dari lautan timur segera meninggalkan
beberapa pesan kepada pemuda kekar itu, kemudian dengan
mengikuti dibelakang Oh Put-kui serta pengemis pikun Lok
Jin-ki, dia melompat naik keatas daratan. Ternyata pulau
tersebut merupakan sebuah pulau karang yang penuh dengan
batuan tajam,
Ketiga orang itu memperhatikan sekejap suasana
disekeiiling tempat itu, sekarang mereka baru tahu kalau
tempat itu merupakan sebuah tanah datar yang berbentuk dari
batuan karang yang datang, luasnya mencapai beberapa
hektar.
Jarak antara tanah datar tersebut dengan permukaan laut
kurang lebih mencapai tiga kaki.
Oh Put-kui segera memberi tanda, dan ke tiga orang itupun
bersama-sama, melompat naik keatas tanah datar tadi.
Setelah berada di atas tempat itu, mereka bertiga baru
merasa terkejut sekali.
Ternyata disana duduknya manusia yang berbaju aneka,
bahkan bukan cuma satu orang saja.
Lebih kurang beberapa kaki dihadapan ke tiga orang itu
duduklah berjajar tujuh orang kakek.
Oh Put-kui segera berkerut kening, kemudian sambil
menjura dan tertawa katanya:
"Baik-baikkah kalian bertujuh, orang tua? aku dan rekanrekanku
telah datang mengganggu ditengah malam buta
begini. harap kehadiran kami bisa dimaafkan."
Ke tujuh orang kakek itu saling berpandangan sekejap,
kemudian bersama-sama mengangguk.
Dibagian tengah duduklah seorang kakek yang tinggi
besar, sambil mengerutkan keningnya yang licin dan tertawa
ramah, dia menegur:
"Hei bocah, siapa namamu?"
"Aku bernama Oh Put-kui"
Sementara itu, kakek berwajah kuning berambut putih
sepanjang bahu yang duduk disamping kakek tinggi besar itu
sudah mengawasi terus jago muda kita dengan seksama
sejak Oh Put-kui munculkan diri dihadapan mereka.
Apalagi ketika mendengar Oh Put-kui mengutarakan
namanya, tampak sekujur badan nya bergetar keras.
Dengan sorot mata yang lebih tajam dia mengawasi wajah
anak muda itu makin tak berkedip...
Kakek yang tinggi besar itu segera tertawa, ujarnya: "Wahai
bocah ciIik, siapakah yang telah mewariskan ilmu silat
kepadamu? Mengapa kau tidak takut irama Liat-sim-kim-im
(irama harpa perctak hati) dari Mi Sim-kui-to, Kim-tiong sengjiu
(."tosu setan pembingung hati, tangan sakti pemain harpa)
? Jarang sekali kujumpai manusia yang berkemampuan
seperti ini."
Mendengar pertanyaan tersebut, Oh Put Kui segera tertawa
hambar.
"Suhuku hanya seorang yang sudah mengasingkan diri dari
keramaian dunia, sekalipun diucapkan belum tentu ada
berapa orang yang mengenalnya, oleh karena itu kumohon
maaf kepada kakek bertujuh bila aku tak mampu menjawab
pertanyaan ini," kakek tinggi besar itu segera berpaling kearah
seorang hwesio gemuk yang duduk diurutan ke empat
darinya, kemudian tegurnya sambil tertawa:
"Hei, hwesio ! Apakah kau sudah dapat menduga asal
perguruan dari si bocah cilik ini ?"
Hwesio gemuk berjubah merah itu segera tertawa lebar.
"Menurut dugaan lolap, kemungkinan besar Siau-sicu ini
adalah muridnya Thian liong!"
"Aaaah... masa Thian-liong Sang-jin juga menerima
murid?" kata si kakek tinggi besar sambil tertawa.
"Yaaa, ilmu sakti naga langit memang tidak sepantasnya
lenyap dari peredaran dunia..."
Sementara itu, seorang tojin berbaju hitam yang duduk
diurutan ke enam menimbrung pula sambil tertawa:
"Saudara Ku, apa yang diucapkan Jian-gi memang betul,
kepandaian yang dipergunakan bocah itu untuk melawan Liat
sim kim-im dari pinto tadi tak lain adalah Thian-liong-siankang!"
Kakek tinggi besar she Ku itu segera tertawa terbahakbahak.
"Haaahhh....haaahhh... haaahh... bocah cilik, kau pandai
mempergunakan ilmu Thian liong sian kang, sudah pasti kau
adalah muridnya Thian-Iiong Sang-jin! Entah ada urusan apa,
malam-malam begini kau datang berkunjung ke pulau kami?"
Walaupun Oh Put Kui sudah mendengarkan pembicaraan
dari beberapa orang kakek Itu, namua dia tidak merasakan
sesuatu yang aneh, berbeda halnya dengan si pengemis pikun
Lok-jin-ki serta si Nelayan sakti dari lautan timur Cin Pootiong.
Tiba-tiba saja paras muka mereka berdua berubah hebat
sekali, perasaan ngeri dan segan segera menguasai seluruh
benak...
Sekalipun mereka baru mendengar dua sebutan nama dari
si tosu dan si pendeta yang hadir disana, namun dari nama
Mi-sim-kui to (tosu setan pembingung hati) serta Jin-gi siansu,
tanpa terasa mereka pun terbayang pula akan nama-nama
dari lima orang sisanya...
Apalagi sesudah mereka mendengar panggilan "saudara
Ku" yang diucapkan si tosu tua terhadap kakek tinggi besar
itu, hal mana semakin membuktikan kalau apa yang diduga
mereka berdua dalam hatinya sedikitpun tidak meleset.
Pengemis pikun segera mendongakkan kepalanya dan
memandang sekejap kearah Cin Poo-tiong, kemudian bisiknya
dengan suara lirih:
"Bu-lim-jit-sat kah mereka?"
Cin Poo-tiong segera manggut-manggut sambil menyahut
dengan suara amat lirih:
"Yaa, betuI, mereka juga disebut Bu-lim- jit-seng ( tujuh
malaikat dari dunia persilatan)."
Kalau ditinjau dan orang-orang yang kebanyakan mati
ditangan mereka merupakan manusia-manusia berhati busuk
dan berdosa besar, ketujuh orang itu memang pantas kalau
dipanggil sebagai Jit seng ( tujuh malaikat ) cuma kalau dilihat
dari cara mereka melakukan pembunuhan secara kejam dan
brutal .."
Belum habis ucapan tersebut diselesaikan nelayan sakti
dari lautan timur telah menukas sambil berbisik:
"Hei, pengemis, tahukah kau siapa yang duduk pada urutan
yang kelima itu ?"
Dengan cepat pengemis pikun memperhatikan sekejap
kakek yang duduk diurutan kelima, kemudian sahutnya:
"Orang itu berwajah merah, dibawah dagu tiada jenggot
sementara sorot matanya tajam bagaikan sembilu, delapan
puluh persen orang itu adalah Toan-kiam-huang-seng ( si
latah berpedang kutung ) Liong Siau-thian!"
"Yaa, benar, memang dia," Nelayan sakti dari lautan timur
manggut-manggut, "sedari tadi dia terus menerus melototi kita
berdua.
"Benarkah itu ? Waaah kalau begitu aku sipengemis tak
akan mengajakmu untuk bercakap-cakap lagi, aku benarbenar
tak berani mengusik dirinya..."
Berbicara sampai disitu, pengemis pikun tersebut benarbenar
menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak berbicara lagi.
Sementara itu, Oh Put Kui sedang berbincang bincang
dengan ketujuh orang kakek tersebut:
"Umat persilatan telah menghadiahkan nama PuIau neraka
atau Pulau bisa pergi tak akan kembali untuk pulau kecil yang
kalian bertujuh huni ini, merekapun menganggap kalian
bertujuh sebagai iblis-iblis bengis yang kerjanya raenteror
serta membunuhi umat persilatan secara keji dan brutal."
Baru saja ia berbicara sampai disitu, sastrawan berkepala
uban berjubah kuning yang duduk diurutan ketiga mendadak
mendengus dingin.
Oh Put Kui segera memandang sekejap kearahnya, namun
dengan tenang kembali dia berkata lebih jauh:
"Aku kurang percaya terhadap kabar berita yang tersiar
dalam dunia persilatan itu maka aku sengaja datang kemari,
pikirku bila kalian bertujuh benar-benar adalah kaum iblis keji,
mengapa pula kalian baru akan membunuh orang hanya bila
ada di pulau ini saja?"
Kakek pendek berbaju merah berambut putih yang duduk
dipaling ujung, tiba-tiba tertawa tergelak.
"Haaahhh haaahhh haaahhh bocah cilik, kau anggap kami
sudah membunuh banyak orang diatas pulau ini?"
"Aku sih tidak percaya!" Oh Put Kui tertawa.
"Haaahhh haaahhh haaahhh bocah, kalau toh kau tidak
percaya maka bagaimana dengan penjelasanmu tentang.
"Bisa pergi tak akan kembali" tersebut ?"
"ltulah tujuan dari kedatanganku kali ini!"
Mendadak sastrawan berambut putih yang diurutan ketiga
itu tertawa dingin.
"Hmmm, kau hendak menggunakan gerak-gerikmu sendiri
sebagai bukti?"
"Yaa, benar! Aku memang mempunyai maksud begitu."
"Sunggah bersemangat! Tampaknya loohu sekalian
bertujuh harus memenuhi keinginanmu itu..."
Mendadak kakek tinggi besar yang menjadi pemimpin
mereka itu tertawa nyaring.
Oh Put Kui sama sekali tidak terpengaruh oleh suara
tertawa itu, katanya pelan:
"Aku tidak mengarapkan bantuan dari cianpwee sekalian
untuk memenuhi keinginanku itu, setelah aku bisa datang
kemari, tentu bisa pergi pula meninggalkan tempat ini, cuma
julukan pulau neraka ini sebagai Bisa pergi tak akan kembali
pun mesti dirubah."
Kakek tinggi besar itu menghentikan tertawanya, lalu
dengan wajah serius berkata:
"Sebenarnya pulau ini mempunyai nama sendiri"
"Oooh, benarkah itu? Sayang umat persilatan tiada yang
tahu akan hal ini!" Kakek tinggi besar itu tertawa, "Pulau kecil
yang tak bernama ini, sejak delapan belas tahun berselang,
yaitu semenjak lohu sekalian berdiam disini telah diberi nama,
dan nama itupun telah kami abadikan diatas sebuah tugu!"
"Apa nama pulau ini?"
"Jit-hu-to"
"Pulau tujuh kesepian?"
Tiba-tiba Oh Put kui merasakan sesuatu perasaan yang
sangat aneh sekali.
Tanpa terasa dia memiliki kembali kearah ke tujuh orang
kakek tersebut.
"Tujuh orang kakek yang hidup menyendiri kesepian,
memberi nama pulau tujuh kesepian untuk pulau yang dihuni,
ehmm! Nama tersebut memang sesuai sekali!"
Walaupun daIam hati kecilnya dia berpikir demikian,
diluaran katanya segera:
"Pulau tujuh kesepian memang merupakan nama yang
amat bagus, sekembalinya ke daratan Tionggoan nanti, pasti
akan ku umumkan hal ini kepada segenap umat persilatan di
dunia, agar mareka jangan menaruh perasaan salah paham
lagi...
Belum habis dia berkata mendadak seseorangg telah
menukas sambiI tertawa:
"Sekalipun mereka salah paham kepada kami, apa pula
yang bisa mereka lakukan terhadap lohu ?"
Orang yang berbicara kali ini adalah seorang kakek tanpa
jenggot yang duduk di urutan kelima.
Oh Put Kui memandang sekejap ke arahnya kemudian
berkata lagi sambiI tertawa.
"Apakah kau amat benci terhadap Umat persilatan?"
Kakek tak berjenggot ini tak lain adalah Toan-kim huanseng
"si Latah berpedang kutung" Liong Siau-thian yang
disinggung pengemis tadi, diantara malaikat dunia persilatan
dialah orang yang paling angkuh dan latah.
Ucapan dari Oh Put kui tersebut, bagaimana mungkin bisa
diterima dengan begitu saja?
Kontan dia tertawa dingin, sambil mengeraskan suaranya,
kembali kakek itu berkata dengan Iatah?
"Bocah keparat, kan anggap lohu suka dengan gentonggentong
nasi tersebut? Hmm, mencari nama, merebut
kedudukan pada hakekatnya sama sekali tidak berbau
kemanusiaan...."
Belum habis dia berkata, si hwesio gemuk telah menyela
sambil tertawa:
"Liong sicu, sedikitlah menahan diri dalam berbicara, watak
Liong-te dari dulu sampai sekarang masih saja berangasan
sedikitpun tidak berubah!" sambung kakek tinggi besar itu..
Setelah berhenti sebentar, diapun bertanya kepada Oh Putkui:
"Bocah cilik, apakah kedatanganmu kemari atas perintah
dari orang lain?" Oh Put kui segera tertawa keras, "Dalam
dunia persilatan masih belum ada orang yang pantas untuk
memberi perintah kepadaku."
Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba ia berpaling dan
memandang sekejap ke arah pengemis pikun, kemudian
katanya lebih jauh: "Aku amat sedikit berkenalan dengan
orang-orang persilatan didaratan Tionggoan..."
Ucapnya tersebut dengan cepat membuat wajah ketujuh
orang kakek itu berseri, sorot mata merekapun memancarkan
sinar aneh.
Kakek kurus berwajah penyakitan yang duduk di urutan
kedua dan selama ini hanya membungkam terus itu,
mendadak tersenyum dan berkata:
"Nak, apakah orang tuamu juga jago kenamaan dari dunia
persilatan ?"
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja paras muka Oh
Put-kui berubah menjadi amat sedih.
Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya berulang kali,
sahutnya setelah menghela napas panjang:
Kalau dibicarakan sebenarnya memalukan sekali! Hingga
tahun iai, walaupun aku telah dua puluh tahunan namun
belum pernah kuketahui siapakah orang tuaku. Untuk itu,
harap cianpwe bertujuh jangan mentertawakan !"
Sekiias perubahan yang sangat aneh segera melintas
diatas wajah kakek ceking tanyanya lagi:
"Apakah gurumu tak pernah memberitahukan soal ini
kepadamu?"
"lnsu tak pernah mau memberitahukan hal tersebut
kepadaku!"
"Apakah sejak kecil kau dibesarkan oleh gurumu?" kembali
kakek ceking itu tertawa.
"Tampaknya memang begitu!"
"Nak, mengapa jawabanmu tidak meyakinkan?"
Tampaknya Oh Put-kui menaruh kesan yang baik terhadap
kakek ceking tersebut, dengan wajah termangu dia
memperhatikan kakek itu beberapa saat lamanya, kemudian
sambil tertawa dia berkata:
"Aku seakan-akan teringat pernah berdiam selama
beberapa waktu didalam sebuah gedung yang amat besar!"
"Oooh masih ingatkah kau nak, siapakah tuan rumah dari
gedung tersebut.?"
Dengan cepat Oh Put-kui menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Waktu itu aku sedang belajar berbicara, jadi aku benarbenar
tak bisa mengingatnya secara jelas."
Kakek ceking itu nampak seperti amat kecewa, dia
menghela napas panjang.
Untuk beberapa saat lamanya dia tidak berbicara lagi.
Tiba-tiba tojin berbaju hitam itu tertawa, katanya:
"Saudara Oh, kau tak usah memikirkan lagi, jika takdir
sudah menghendak demikian apakah kau dapat merubahnya
secara paksa? Andaikata dia akan kembali, sedari dulu dia
sudah kembali..."
Kakek ceking itu segera tertawa getir.
"Lohu cukup memahami teori tersebut, cuma..."
Tertawa getir dari si kakek itu mendadak berubah menjadi
suara sesenggukan yang tertahan.
Oh Put-kui menjadi tak tega menyaksikan kejadian seperti
itu, tanpa terasa segera serunya:
"Locianpwe, mengapa kau bersedih hati?"
"Nak, ketika lohu menjumpai dirimu, tanpa terasa aku jadi
teringat dengan putraku yang sudah lenyap amat lama."
"Kini putramu berada dimana?" tanya 0h-Put-kui sambil
tertawa, Dangan cepat kakek ceking itu menggeleng
"Seandainya lohu tahu, tak akan begini sedih hatiku!"
Kembali Oh Put-kui tertawa, "Locianpwe! beritahukan
kepadaku siapa nama putramu itu, sekembalinya kedaratan
pasti akan kucari putramu itu dan menyuruhnya datang kemari
untuk menjumpaimu."
"Anak baik, lohu mengucapkan banyak terima kasih dulu
atas kesediaanmu itu!" kakek ceking itu tertawa terharu.
"Aaaah urusan kecil seperti itu mengapa mesti dipikirkan?
silahkan kau sebutkan nama anakmu itu!"
"Lohu dari marga Oh, tentu saja anak itupun berasal dari
marga Oh pula, sewaktu lohu meninggalkan dia, aku tak
sampai memberi nama kepadanya, oleh sebab itu lohu sama
sekali tidak tahu siapakah namanya."
Mendengar perkataan itu, Oh Put-kui menjadi tertegun
untuk beberapa saat lamanya.
Masa seorang ayah tidak mengetahui nama putra? Hopo
tumon!
Disamping itu, kalau dia diharuskan mencari seorang
pemuda she Oh didalam dunia persilatan yang begitu luas,
mana mungkin ia dapat menemukannya? Apakah keadaan
tersebut tidak ibaratnya mencari sebatang jarum didasar
samudra?
Melihat pemuda itu termenung tidak menjawab, kembali
kakek ceking itu berkata:
"Kalau dihitung-hitung, maka tahun ini mestinya putraku itu
indah berusia dua puluh satu tahun!"
"Oooh, itu berarti seusia dengan diriku?" pikir Oh Put-kui di
dalam hati, "tapi itupun masih sulit untuk mencarinya..."
Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata: "Locianpwe,
sewaktu kau pergi meninggalkannya dulu, kau telah serahkan
putramu itu kepada siapa agar merawatnya?"
Sambil menghela napas kakek ceking itu menggerakan
kepalanya berulang kali.
"Waktu itu lohu sedang berada dalam keadaan tak sadar."
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata kakek itu,
katanya lagi sambil tertawa.
"Aaaah sekarang lohu sudah teringat, bila kau bisa
menemukan Han san-it-koay "manusia aneh dari bukit Hausan"
Kok Cu-keng atau salah seorang diantara empat jago
pedang dibawah pimpinan Ceng-thian-kui-ong "raja setan
penggetar langit" Wi Thian-yang, mungkin bisa kau temukan
setitik sinar terang.
Mendengar perkataan itu, kembali Oh Put kui memutar
otaknya untuk memikirkan persoalan itu dengan seksama.
Sebenarnya kakek ini seorang pendekar yang lurus?
Ataukah seorang iblis sesat?
Mengapa dia menyuruhnya menanyakan soal putra itu
kepada beberapa orang gembong iblis tersebut?
Tapi sewaktu sorot mata Oh Put-kui bertemu dengan sinar
mata si kakek ceking yang penuh permohonan itu, akhirnya
tak tahan dia segera mengangguk.
"Baiklah, aku akan mencari salah seorang diantara kelima
gembong iblis tersebut untuk menyelidiki pesoalan ini..."
"Nak, kalau begitu aku menantikan kabar beritamu..."
Oh Put Kui tertawa hambar dan manggut-manggut..
"Aku pasti akan mengusahakan dengan sepenuh tenaga
untuk menemukan kembali putra kesayangan locianpwe!"
Sorot matanya segera dialihkan kembali kewajah kakek
tinggi besar itu, kemudian katanya sambil tertawa:
"Bolehkah aku tahu nama besar dari cianpwe bertujuh..."
Kakek tinggi besar itu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh...haaahhh...bocah, nyalimu benarbenar
besar! semenjak lohu sekalian menetap dipulan tujuh
kesepian ini, belum pernah ada orang asing yang bisa
memasuki tempat ini lagi, tapi sekarang bukan saja kau
sibocah berani datang kemari, bahkan berani pula
menanyakan nama kami bertujuh, selama delapan belas, baru
kejadian pada hari ini merupakan suatu peristiwa besar!"
Oh Put Kui tertawa hambar.
"Kalau didengar dari pembicaraan locianpwe itu, aku
seharusnya merasa bangga, cuma....."
Sorot matanya berkilat, setelah memandang sekejap
sekeliling tempat itu,, katanya sambil tertawa.
"Locianpwe, tapi aku justru merasa sedi-kitpun tidak luar
biasa.."
Kakek yang tinggi besar menjadi tertegun setelah
mendengar perkataan itu, serunya:
"Bocah, mengapa kau merasa sedikitpun tidak luar biasa?"
Oh Put Kui tertawa.
"Dengan menumpang sebuah sampan menembusi ombak,
mendarat di pulau ditengah malam buta, lalu dengan
kedudukan sebagai boanpwe menyambangi jago lihay dari
dunia persilatan kalau dibilang luar biasa, sesungguhnya
kejadian ini hanya suatu peristiwa biasa saja."
Sastrawan berambut putih itu yang duduk pada urutan
ketiga itu segera mendengus dingin.
"Hmmmm, pandai betul orang ini bersilat lidah!"
"Apakah locianpwe merasa kurang leluasa?"
Paras muka sastrawan berambut putih itu segera berubah
menjadi dingin bagaikan es, katanya:
"Lohu paling benci dan muak terhadap manusia-manusia
yang tak pernah mendapat pendidikan,"
"Haaahhh...haaahhh... haaahh... benar, aku memang hidup
sebatang kara dan berkelana kian kemari, aku memang
kekurangan pendidikan keluarga. jadi perkataan locianpwe itu
tepat sekali." Oh Put Kui tertawa tergelak.
-ooo0dw0ooo-
Ucapan tersebut diutarakan dengan nada cukup tajam,
untuk sesaat lamanya sastrawan berambut putih itu malah
dibuat tertegun, melongo dan ternganga sampai tak mungkin
mengucapkan sepatah katapun.
Pengemis pikun yang menyaksikan kejadian ini segera
tertawa terkekeh-kekeh karena kegelian.
Sebaliknya si Nelayan sakti dari lautan timur Cin Poo-tiong
berkerut kening, dia tahu begitu pengemis pikun tertawa,
kemungkinan besar akan menimbulkan gara-gara di sana.
Benar juga, dengan pandangan dingin sastrawan berambut
putih itu melotot sekejap kearah pengemis pikun, kemudian
tegumya:
"Apa yang kau tertawakan?"
Sekalipun dalam hati kecilnya pengemis pikun merasa
takut, namun dimulut ia tak mau mengalah.
"Aku merasa hidupku gatal sekali, tentu saja suara tertawa
ku segera meledak."
"Kau yang bernama Lok Jin-ki ?" tiba-tiba mencorong sinar
tajam dari balik mata sastrawan berambut putih itu. . "Aaahh..
betul, dan kau, bukankah adalah Leng Tor pengemis Pikun?".
Sastrawan berambut putih itu tak lain adalah Ciat-cing
kongcu kongcu Saan Leng To dari Bu-lim-jit-seng !
Lantas saja amarahnya berkobar.
"Pengemis busuk, kau berani menyebut nama lohu secara
langsung , Hm "
Tiba-tiba nyali si pengemis pikun seperti menjadi
bertambah besar, ia malah tertawa tergelak.
"Haaahhh.. haaahh.... haaahhh.. apa salahnya? Kau bisa
memanggil namaku, apakah aku tak dapat memanggil
namamu? Masa dikolong langit terdapat persoalan yang
begitu tak tahu aturan seperti kejadian ini...!"
Kalau dibilang dia pikun, ternyata ucapan pengemis ini
sedikitpun tidak nampak pikun
Sekali lagi Ciat-cing-kongcu Leng To di buat terbungkam
dan tak sanggup menjawab lagi.
Pada saat itulah sikakek pendek yang duduk diurutan
paling buncit tertawa nyaring.
"Lo-sam, tak usah ribut lagi dengan si pikun itu." katanya
cepat, "memandang pada ketidak beraniannya bersama
nelayan sakti dari lautan timur untuk menyebutkan nama
sendiri setelah berjumpa dengan kita, lepaskan saja mereka!"
Begitu ucapan tersebut diutarakan kontaa saja paras muka
pengemis pikun dan nelayan sakti dari lautan timur berubah
menjadi merah padam seperti kepiting rebus.
Oh Put Kui-yang menyaksikan kejadian itu menjadi tertawa
geli, pikirnya:
"Ternyata mereka sudah saling mengenal satu sama
lainnya!" Berpikir sampai disini, pemuda itu lantas berkata:
"Lok tua, kau kenal dengan locianpwe..."
Dengan perasaan agak rikuh, pengemis pikun segera
mengangguk, sahutnya sambil tersenyum.
"Yaaa... yaaa... cuma... cuma tak berani mengenali saja!"
Perkataan apa itu? Dengan ucapannya itu, bukankah sama
dengan mengertikan dia tak kenal dengan mereka?
"Bagaimana kalau kuperkenalkan untukmu?" kata Oh Put
Kui kemudian sambil tertawa.
Dengan gelisah pengemis pikun segera menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal.
"Soal ini... soaI ini..!"
Sampai setengah harian lamanya, dia mengucapkan kata
"soal ini..." saja, tiada kau selanjutnya yang terdengar.
Sambil menggeIengkan kepalanya, Oh Put Kui segera
tertawa tergelak.
"Lok tua, rupanya kau semakin pikunnya sampai lupa
dengan nama mereka semua?"
"Yaa, betul! Betul. Tiba-tiba saja aku si-pengemis telah
menjadi pikun kembali."
Ternyata dia telah manfaatkan kesempatan itu melepaskan
diri dari belenggu.
Terpaksa Oh Put Kui tertawa lagi.
"Kalau memang tidak ingat, yaa-sudahlah..."
Dia lantas berpaling kearah ketujuh orang kakek itu dan
berkata:
"Locianpwe, apakah aku pantas untuk mengetahui nama
dari kalian bertujuh?"
Perkataan itu diucapkan dengan nada berat dan serius.
Ke tujuh orang kakek itu segera saling berpandangan
sekejap, ternyata mereka mengangguk.
Dengan suara lantang, kakek yang tinggi pesat itu berkata.
"Memandang pada kedudukanmu sebagai muridnya Thianliong
siancu, baiklah, untuk kali ini saja lohu sekalian akan
melanggar kebiasaan..."
Setelah berhenti sebentar dan tersenyum dia melanjutkan.
"Dalam dunia persilatan lohu sekalian bertujuh disebut oleh
manusia dari golongan putih sebagai Jit-seng (tujuh malaikat),
tapi oleh kaum hitam dan sesat, kami di sebut pula sebagai
Jit-sat (tujuh iblis), nah bocah, pernakah kau dengar nama
itu?"
Diam-diam Oh Put Kui merasa amat terperanjat setelah
mendengar perkataan itu, katanya kemudian:
"Sudah lama aku mendengar tentang nama besar Bu-limjit-
seng, sungguh tak disangka kita dapat bersua muka disini!"
Kakek tinggi besar itu tertawa tergelak.
Inilah yang dinamakan: Ditempat mana saja manusia dapat
bertemu. Nah bocah, lohu akan menyebutkan nama kami
bertujuh menurut urutannya:
Pertama adalah It-oi-kit-sn (pertapa bodoh Ku Put-beng),
Kedua, Lee-hun mo-kiam (pedang iblis pelepas sukma) Oh
Ceng-thian.
Ketiga. Ciat-cing Kongcu (kongcu tidak berperasaan) Lengto,
keempat, Jian-gi sian su.
Ke lima. Toan-kiam-buang-seng (manusia telah latah
berpedang kutung) Liong-siau-thian.
Ke enam, Mi sim-kui-to "tosu setan pembingung sukma",
Ke tujuh, Tiang pek-cui-siu "kakek pemabuk dari bukit
Tiang-pek" Tujikhong.
Nah, bocah, ingatkah kau dengan kami semua?"
"Boanpwe telah mengingatnya semua!" buru-buru Oh Put
Kui tertawa dan menjura.
Setelah berhenti sebentar, kembali dia berkata:
Selatta berada dalam dunia persilatan cianpwe bertujuh
selalu menegakan kebenaran dan bernama besar, meski
hawa membunuhnya kelewat tebal namun toh cukup
menggidikkan hati kaum iblis, tapi entah apa sebabnya
sehingga mengasingkan diri ketempat terpencil ini dan
membiarkan kaum durjana dan kaum penjahat meraja lelah
dalam dunia persilatan? sekalipun aku tak becus namun
persoalan ini sungguh membuat hatiku tidak habis mengerti!"
Siapapun tidak menyangka kalau pemuda itu akan
berbicara dengan nada teguran.
Untuk sesaat, ke tujuh orang kakek itu menjadi tertegun.
Tapi akhirnya si kakek pendek, Tiang pek cui Tu Ji-khong
menjawab:
"Bocah, maksudmu didalam dunia persilatan telah terjadi
kekalutan dan mara bahaya, pembunuh berdarah sudah mulai
berlangsung dalam dunia persilatan."
Oh Put kui mengangguk. "Tidak sampai setahun, duniapasti
akan kacang balau tak karuan."
Tiba-tiba Ciat-cing kongcu Leng To tertawa dingin,
tegurnya:
"Hei bocah, kalau berbicara jangan mencla-mencle begitu,
sungguh membuat jemu orang yang mendengar! sebenarnya
apa yang telah terjadi didalam dunia persilataa? Mengapa
tidak kau terangkan lebih jelas?" . Oh Put-kui segera
tersenyum.
"Aku takut cianpwe bertujuh tidak sabar mendengar cerita
semacam itu, maka aku sungkan untuk mengatakannya, tapi
kalau toh kakek Leng ingin mengetahuinya, sudah barang
tentu dengan senang hati akan kukisah kan keadaan dunia
persilatan yang sebenarnya...."
Kembali dia tertawa, kemudian secara ringkas
mengisahkan empat buah peristiwa berdarah yang telah
terjadi didalam dunia persilatan baru-baru ini.
Benar juga, setelah mendengar cerita tersebut paras muka
ketujuh orang kakek itu berubah hebat.
Dengan kemarahan yang meluap, si kakek kutung Liong
Siau-thian membentak keras.
"Apakah sudah diselidiki siapa pembunuhnya?"
Oh Put-kui menggeleng.
"Andaikata pembunuhnya sudah diketahui akupun tak akan
datang kemari...."
Mendadak Tiang pek-cin-siu tertawa tergelak.
"Haaaahhh... haaaahhhh.... haaaahh..... bocah, apakah kau
mencurigai lohu bertujuh?"
Agak memerah paras muka Oh Put Kui setelah mendengar
perkataan itu, sahutnya sambil tertawa.
"Sebelum aku berjumpa dengan cianpwee bertujuh,
memang telah terlintas perasaan curigaku terhadap penghuni
pulau kecil ini..."
"Dan sekarang?"
"Sekararig rasa curigaku sudah hilang, aku tahu
pembunuhnya adalah orang lain."
It-ci Kit-su Ku Pu-beng yang menjadi pemimpin diantara
ketujuh orang kakek itu turut tertawa tergelak, katanya:
"Bocah, apakah kau bermaksud untuk memikul tanggung
jawab tersebut..."
Oh Put Kui tertawa hambar.
"Demi menegakkan keadilan dan kebenaran didalam dunia
persilatan, aku bersedia untuk menyumbangkan segenap
kemampuanku."
It ci Kit su segera manggut-manggut sambil memuji didalam
hati kecilnya.
Sedang Jian-gi siansu pun berseru cepat:
@oodwoo@
Jilid ke 6
"OMINTOHUD, kebajikan siau-sicu sungguh mengagumkan
seandainya lolap sekalian tidak terikat oleh sumpah dan tak
bisa meninggalkan pulau ini, sudah pasti kami sekalian tak
akan duduk sambil berpangku tangan belaka..."
Tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu,
ujarnya kemudian:
"Toa-suhu, sumpah apakah yang telah mengikat kalian
sehingga tak dapat meninggalkan pulau ini ?"
Jian-gi siansu memandang sekejap kearah kakek pada
urutan kedua itu, kemudian sahutnya:
"Persoalan ini timbul dari Mo kiam sicu, maka bila kau ingin
tahu, silahkan bertanya sendiri kepada yang bersangkutan."
Oh Put Kui segera menjura kearah Lei-hun mo-kiam Oh
Ceng-thian, kemudian ujarnya:
"Locianpwe, bolehkah boanpwe minta keterangan tentang
sebab musabab sehingga terjadinya peristiwa ini ?"
Selintas rasa sedih segera menghiasi wajah Lei-hun-mokiam
yang ramah, katanya:
"Kecuali kau dapat menemukan putra tunggal lohu yang
lenyap tak berbekas itu, kalau tidak lohu bertujuh terpaksa
akan berada terus di pulau Jit-hu-to ini sampai mati!"
Oh Put Kui sangat terperanjat.
"Aaah kalau begitu sumpah kalian menyatakan bahwa
kalian bertujuh baru dapat meninggalkan pulau ini bila putra
cianpwe datang kemari dan menyambut kalian bertujuh ?"
"Benar, begitulah!" Lei hun-mo-kiam Oh Ceng-thian
manggut-manggut.
Agaknya Oh Put Kui masih belum-belum mengerti kembali
dia bertanya:
"Aku tahu bahwa ilmu silat yang dimiliki locianpwe bertujuh
telah mencapai tingkat kesempurnaan, siapakah orang dalam
dunia persilatan yang dapat memaksa kalian bertujuh untuk
membuat sumpah tersebut...?"
Lei-hun-mo-kiam Oh Ceng-thian segera menghela napas
panjang,
"Aaaai delapan belas tahun berselang. Ilmu silat yang kami
miliki belum mencapai taraf seperti hari ini, apalagi orang yang
memaksa kami untuk melakukan sumpah tersebut juga tidak
bermaksud jahat."
"Tidak bermaksud jahat? Mengurung orang dalam pulau
terpencil, apakah siksaan ini lebih berat daripada dibunuh?"
Mendadak pengemis pikun berteriak keras?
"Hei, kalian tujuh makhluk benar-benar anehnya bukan
kepalang, sampai bikin orang tidak habis mengerti..."
Belum habis dia berkata, Ciat-cing kongcu Leng-to telah
membentak dengan suara dingin:
"Pengemis Lok di sini tiada tempat bagimu untuk
berbicara,.,."
"Ooooh, tidak berani," pengemis pikun segera menjulurkan
lidahnya dan tertawa. "aku sipengemis cuma merasa tidak
puas untuk ketidak adilan yang telah menimpa kalian,
mengapa sih kau berlagak begitu galak."
Oh PutKui kuatir pengemis pikun banyak berbicara
sehingga menimbulkan keonaran yang tak diinginkan buruburu
katanya sambil tertawa:
"Kakek Oh, bolehkah boanpwe turut mengetahui tentang
jalannya peristiwa tersebut?"
Lei-hun-mo kiam Oh Ceng-thian manggut-manggut,
sahutnya dengan suara lirih:
"Kalau dibicarakan dari sumbernya, maka peristiwa ini
sesungguhnya terjadi karena lohu bertujuh sudah membunuh
orang kelewat banyak..."
Mendengar sampai disitu, Oh Put Kui segera berpikir.
"Orang ini tersohor sebagai sipedang iblis, memang
sepantasnya menjadi seorang gembong iblis yang membunuh
orang tanpa berkedip, tapi anehnya, Mengapa dia berbicara
dengan suara yang begitu ramah dan lemah lembut...?"
Sementara dia masih termenung, si Latah berpedang
kutung Liong Siau thian telah berseru sambil tertawa dingin:
"Oh Jiko, walaupun kami banyak melakukan pembunuhan,
namun belum pernah membunuh orang baik!"
Jelaslah sudah, Bu-lim-jit-seng (tujuh malaikat dari dunia
persilatan) memang merupakan jago-jago silat yang kelewat
banyak membunuh orang."
"Liong-ngo," kata Oh Ceng-thian sambil menghela napas
panjang, "bagaimana pun juga. Thian menghendaki umatnya
untuk melakukan kebajikan, bagaimanapun juga, kita toh tak
bisa hanya mengandalkan membunuh orang untuk menolong
dunia persilatan bukan..."
Setelah berhenti sebentar, katanya lagi ke pada Oh Put
Kui:
"Nak, justru karena kami terlalu banyak membunuh orang,
maka akibatnya kejadian ini menimbulkan rasa tak senang
dari beberapa orang tokoh persilatan yang sudah lama
mengasingkan diri, dan mereka pun munculkan diri untuk
mengatasi kejadian tersebut..."
"Entah siapa saja tokoh-tokoh silat yang munculkan diri
waktu itu?" tanya Oh Put Kui sambil tertawa.
Diluaran dia berkata begitu, sementara daIam hati kecilnya
berpikir lain:
"Moga-moga saja guruku jangan sampai tersangkut
didalam peristiwa ini, kalau tidak, sekalipun aku berniat
membantu mereka, mungkin hal inipun tak bisa
kulaksanakan." sementara itu Lei-hun-mo-kiam Oh Ceng-thian
telah berkata sambil tertawa hambar:
"Nak, kau pernah mendengar nama Thian-tok-siang sat
"sepasang manusia sakti dari ujung langit"?"
"Boanpwe pernah mendengar nama itu, apakah kau
maksudkan Cing-siu-huan-im-siu "kakek tanpa bayangan",
Sawan To dan Pek-ih-bu-yu-khek "tama tanpa murung", It-bun
Hua?"
"Benar, memang kedua orang tua itu yang dimaksudkan."
Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa dia berkata lagi:
"Apakah kau juga tahu tentang Hong-gwa-sam-sian "tiga
dewa dari luar langit"?"
"Apakah Hong-gwa-sam sian juga telah terjun kembali
kedalam dunia persilatan?" Oh Put Kui terkejut.
"Han-saa-ya-ceng (pendeta liar dari bukti Han-san), Poankay
hwesio, Soat nia tou-to (tosu bungkuk dari tebing soatnia),
Thian- hian cinjin serta Giok-hong-sinni ( rahib suci dari
puncak giok hong ) It-im taysu bertiga menerima undangan
dari Thian-tok-ij siang-ciat untuk membantu pihaknya, maka
pada suatu malam pada delapan belas tahun berselang,
mereka telah mengundang lohus bertujuh untuk mengadakan
pertemuan di puncak Thian-tay-hong...."
"Locianpwe, pertarungan yang berlangsung waktu itu sudah
pasti amat seru," kata 0h Put Kni sambil tertawa, "bayangkan
saja Bu-lim-jit-seng sebagai bintang pembunuh dari dunia
persilatan berjumpa dengan Thian tok siang ciat dan Hong
gwa-sam-sian, sudah pasti pertarungan yang berlangsung
meriah sekali..."
Oh Ceng-thian menghela napas panjang.
"Aaaai.,... nak, pertarungan yang berlangsuug waktu itu
memang merupakan suatu pertarungan yang amat seru,
sayang nama
baik Bu lim-jit-seng yang telah dipupuk selama banyak
tanua akhirnya- harus porak poranda tak karuan lagi
bentuknya."
Mendadak Tiang-pek-cui-siu Tu Ji-khong tertawa nyaring.
"Walaupun lohu dikalahkan oleh si hidung kerbau
berpunggung bungkuk dengan ilmuKan lei-hian-kang nya, tapi
seluruh jubah pendeta si Hidung kerbaupun turut berlubang
oleh semburan arakku." serunya.
Suaranya nyaring, wajahnya gagah, sungguh lah
menunjukkan penampilan semangat yang luar biasa.
"Hei setan arak, kita tak lebih cuma prajurit yang kalah
perangi apa gunanya mesti berbicara besar?" tegur Mi-sim
kui-to tiba tiba sambil tertawa.
Tiang-pek-cui-siu melotot sekejap kearah Mi-sim-kui-to,
kemudian sambil tertawa ia memejamkan kembali matanya.
Lei-hun-mo kiam Oh Ceng-thian segera tertawa getir,
katanya lebih jauh:
"Nah, setelah lohu bertujuh menderita kekalahan total
dalam pertempuran tersebut, terpaksa kami harus menepati
janji dengan hidup mengasingkan diri di pulau terpencil ini,
hingga sekarang kami sudah delapan belas tahun berdiam
disini !"
"Locianpwe. selama delapan belas tahun, siapakah yang
mengirimkan makanan untuk kalian?" tanya Oh Put Kui
dengan kening berkerut.
Oh Ceng-thian kembali tertawa, "Soal itu mah soal tugas
dari Thian-tok-siang ciat serta Hong-gwa sam-sian ! Setiap
tahun mereka secara bergilir mendapat tugas untuk mengurusi
rangsum buat kami, selama mendapat tugas mereka tinggal
dalam kuil Kok-cing-si di kota Thian tay dengan setiap bulan
mengirim rangsum kemari, setengahnya mereka datang untuk
mengawasi gerak-gerik lohu sekalian."
"Sungguh amat sempurna jalan pemikiran kelima orang tua
itu," Oh Put Kui tertawa, "entah siapakah yang mendapat
tugas giliran untuk tahun ini ? Salah seorang diantara Thian
tok-siang ciat ataukah salah seorang diantara Hong-gwa-samsian?"
"Yang mendapat giliran pada tahun iniadalah Han-san-yaseng,
si pendeta liar Poan kay hwesio!"
Oh Put Kui manggut-manggut katanya sambil tertawa:
"Kakek 0h. bagaimana kalau boanpwe berkunjung ke kuil
Kok-cing-si, siapa tahu bisa membantu cianpwe bertujuh untuk
meloloskan diri dari pulau ini?"
Belum sempat Oh Ceng-thian menjawab, Leng To telah
menukas sambil berteriak:
"Tidak usah, bocah muda, kau tak usah membuat kami jitseng
mendapat malu, kami tak nanti akan memohon kepada
mereka..."
Mendengar perkataan itu, Oh Put Kui cuma tertawa
hambar, pikirnya:
"Kau memang pantas disebut sebagai Ciat cing kongcu,
hebat benar..."
Tapi diluarnya dia berkata:
"Leng tua, aku bukan memohon kepada mereka, melainkan
ingin membantu kalian untuk mencari keterangan, siapa tahu
kalau dia tahu putra Oh locianpwe telah mengembara sampai
disana."
Leng To memandang sekejap kearah Oh Put kui, kemudian
tanpa mengucapkan sepatah kata pun,dia segera
memejamkan mata untuk beristirahat.
Dengan membungkamnya kakek itu, berarti dia telah
menyatakan persetujuannya, Oh Put Kui kembali tertawa,
namun bukan kepada Leng To, melainkan terhadap Oh Cengthian.
"Locianpwe, dapatkah kau orang tua memberi keterangan
lagi kepada boanpwe sekitar persoalan putramu itu?"
"Anak baik, kebaikanmu itu sungguh membuat lohu merasa
amat terharu....." kata Oh Ceng-thian sambil tertawa sedih.
"Sudah sewajarnya bila yang mnda membantu yang
tua......"
Padahal dihari-hari biasa, sikapnya tak bakal seramah dan
sehangat ini.
Bahkan dia sendiripun secara diam-diam merasa heran,
mengapa sikapnya terhadap Lei-hun-mo kiam Oh Ceng thian
bisa begitu menghormat begitu ramah dan hangat.
Mungkinkah hal ini disebabkan mereka berasal dari satu
marga yang sama..."
Terlintas sinar terang diatas wajah Oh Ceng-thian, katanya:
"Anak baik, bila anakku bisa seperti kau, lohu akan merasa
puas sekali...sayang, ketika bocah itu baru dilahirkan tiga
bulan, ia sudah tertimpa musibah...."
Cahaya terang yang membasahi wajahnya dengan cepat
hilang lenyap tak berbekas.
Bayangan hitam yang penuh diliputi kesedihan dengan
cepat menyelimuti wajah kakek itu.
Oh Put Kui turut merasakan kesedihan katanya dengan
suara dalam:
"Kau... jangan kuatir, sudah pasti putramu akan jauh lebih
hebat daripada boanpwe... orang bilasg kalau bapaknya
harimau, anak nya tentu harimau pula, harap kau orang tua
jangan kelewat bersedih hati..."
Oh Ceng thiau tertawa hambar dan segera manggutmanggut.
"Semoga saja demikian....nak, dalam perjalananmu kembali
ke daratan Tionggoan kali ini, tak ada salahnya kalau kau
selidiki tiga tempat, mungkin ditempat itu kau akan
memperoleh keterangan yang bisa membantumu untuk
menemukan putraku!"
"Silahkan kau katakan!"
"Tempat pertama yang harus kau kunjungi adalah
perkampungan Tang-mo-sanceng.."
"Perkampungan Tang mo.san-ceng?" Oh Put Kui agak
tertegun lalu berseru tertahan.
"Benar, kau boIeh mencari keterangan dari istri Hoa cengcu
yang bernama Yau-ti sian-li (dewi cantik dari nirwana) Lan Tingo,
mungkin dia dapat memberikan sedikit keterangan
kepadamu... sebab dia adalah iparku!"
"Boanpwe pasti kesana!"
"Tempat kedua yang biasa kau kunjungi adalah
perkampunganku Ang yap.san.ceng di bukit Gan-tang-san,
kau boleh mencari Pamannya Ang-yap cengcu Lo seng-sinkiam
"pedang sakti bintang berguguran" Liu Ceng-wan yang
bernama Liu Sam Kong, mungkin dia bisa juga memberikan
keterangan yang diperIukan." Oh Put Kwi tertawa.
"Tempat ketiga adalah puncak Lian hoa-hong di bukit Kiu
hoa san!" ujar Oh ceng-thian lebih lanjut, "bila dua tempat
yang pertama kau tidak berhasil memperoleh keterangan apaapa,
maka kalau boleh ke sana untuk menemui Pat-lo-huang
Siu "kakek latah yang awet muda" Ban Sik thong.
Pertolongan darinya, orang tua itu mempunyai kemampuan
yang Iuar biasa dapat memberikan segala keterangan yang
diperlukan kepadamu..."
Oh Put Kui amat terkesiap sesudah mendengar perkataan
itu.
Kalau ucapan semacam inipun bisa diutarakan oleh Bu iim
jit-seng, dapat diketahui kalau manusia yang bernama Put-lohuang-
siu Ban Sik thong ini sudah pasti adalah seorang
manusia yang luar biasa.
Sekalipun dalam hati kecilnya merasa terkejut, namun
senyuman masih tetap menghiasi ujung bibirnya.
Oh Ceng-thian termenung dan berpikir sebentar, kemudian
katanya kembali:
"Ban Sik-thong berwatak sangat aneh, nak, bila kau pergi
mencarinya nanti harap bertindaklah dengan hati-hati, kalau,
tidak lohu bisa menyesal sepanjang masa..."
Mendadak Oh Put-kui dapat menangkap maksud dari
ucapan si Mo-kiam tersebut.
Tampaknya manusia yang bernama Ban Sik-thong itu
sukar untuk dilayani, bahkan bila dia kesana sendiri, bilamana
tidak dihadapi secara berhati-hati, kemungkinan besar akan
menjumpai suatu mara bahaya....
Diam-diam ia tertawa geli sendiri, karena ia mempunyai
suatu rasa keyakinan, suatu rasa percaya pada diri sendiri
yang amat besar, entah kesulitan macam apapun, baginya tak
ada yang sulit, karena tiada kata sukar dalam kamus
hidupnya.
Maka dari itu katanya sambil tertawa.
"Kau tak usah kuatir, boanpwe tak bakal akan mengalami
sesuatu kejadian yang tidak menguntungkan diriku."
Dengan wajah murung, Oh Ceng-thian tertawa.
"Nak." katanya, "Manusia dalam dunia persilatan amat licik
dan berakal busuk, kau harus berhati-hati menghadapi
mereka..."
Oh Put-kui tertawa dengan perasaan terharu, katanya:
"Locianpwe tak usah kuatir, boanpwe sudah banyak tahun
berkelana dalam dunia persilatan, pelbagai peristiwa sudah
pernah kualami dalam dunia ini, Oleh karena itu boanpwe
cukup mengetahui akan kekuatanku sendiri."
Mendengar sampai disitu, tertawalah kakek itu, karena asal
usul dari bocah ini terasa begitu dekat dan akrab dengan
dirinya.
Tiba-tiba It-ci Kitau Ku Put-beng tertawa panjang pula,
serunya tertahan:
"Nak, kau merupakan tamu istimewa yang pernah
berkunjung ke pulau Ji -hu-to ini selama delapan belas tahun
terakhir, untuk kali ini lohu mengijinkan dirimu untuk berpesiar
keseluruh pulau ini, bahkan lohu pun ingin menghadiahkan
sedikit hadiah untukmu."
Baru saja Ku Put-beng menyelesaikan perkataannya, Oh
Ceng-thian telah berkata pula sambil tertawa:
"Nak, lohu juga mempunyai sedikit kepandaian yang
hehdak kuhadiahkan kepadamu cuma terpaksa kau mesti
tinggal selama beberapa hari disini, entah kau bersedia atau
tidak ??"
Tiba-tiba saja Oh Put Kui merasakan hatinya bergolak
keras, penuh diliputi oleh luapan rasa haru.
Dia merasa sikap ketujuh orang kakek ini kepadanya
benar-benar kelewat baik.
Bagaimana mungkin dia dapat menampik permintaan
mereka ?
Oleh karena itu diapun tinggal disana, bahkan sekali
berdiam pemuda itu telah berdiam selama lima belas hari
lamanya disana.
Selama lima belas hari ini, dia semakin memahami jalan
pikiran maupun perasaan dari ketujuh orang kakek itu.
Bahkan si pengemis pikun dan si nelayan sakti dari lautan
timur pun berhasil meraih keuntungan pula selama itu.
Dari Jian-gi siansu dan Tiang-pek-cui siu, kedua orang itu
berhasil mempelajari banyak macam kepandaian Bagaimana
dengan Oh Put Kui ? Diapun berhasil mendapatkan tujuh
macam kepandaian silat.
Itulah kepandaian maha sakti dari Bu-lim jit-seng "tujuh
malaikat dari dunia persilatan", bahkan setiap orang tanpa
ragu-ragu telah mewariskan segenap kepandaian sakti yang
mereka miliki kepada pemuda yang berkunjung ke pulau
neraka tanpa diundang itu...
Bayangkan saja, bagaimana mungkin pemuda itu tidak
terharu menerima kebaikan yang begini besarnya.
Oleh karena itu dia hendak menolong mereka bertujuh
untuk melepaskan diri dari kurungan pulau terpencil itu.
Disamping itu diapun ingin menemukan putra kakek Oh
secepatnya agar ayah dan anak bisa berjumpa kembali.
Tentu saja, dia tak bakal tahu kalau segala sesuatunya
justru tergantung pada dirinya sendiri.
Bagaimana dengan Oh Ceng-thian? tentu saja dia juga
tidak tahu.
Ia tak tahu kalau Oh Put-kui sesungguhnya adalah putra
tunggalnya yang telah hilang selama dua puluh tahun ini.
Ya, peristiwa ini benar-benar merupakan suatu peristiwa
yang mengenaskan, bayangkan saja ayah dan anak telah
berjumpa muka, namun ternyata mereka tidak saling
mengenal antara yang satu dan lainnya...
-ooo0dw0ooo-
Setelak menyelusuri tebing Huang-ji gay, setelah duduk
sampai senja di gardu Huang-ji-teng, perasaan Oh Put Kui
bertambah berat, bagaikan diberi beban yang beribu ribu ton
beratnya.
Dia amat simpatik kepada ke tujuh orang kakek itu.
Tapi dia pun merasa sedih bagi asal-usul sendiri yang
masih merupakan suatu tanda tanya besar.
Yaa, siapakah yang menjadi orang tuaku? Apakah aku
mempunyai kakak dan adik?
Ia tahu, pertanyaan tersebut masih merupakan suatu tanda
tanya besar baginya.
Maka diam-diam diapun mengampil suatu keputusan
didalam hatinya, setelah kembali ke daratan Tionggoan nanti,
pekerjaan pertama yang akan dilakukan olehnya adalah pergi
ke kuil Kok-cing-si untuk mencari Han san-ya-ceng Poan-kay
hwesio, salah seorang Hong-gwa-sam-sian untuk
membicarakan persoalan tentang ke tujuh malaikat tersebut.
Persoalan kedua adalah pergi ke tebing Cing-peng gay
untuk mencari gurunya dan mencari tahu tentang asal-usul
sendiri.
Persoalan ke tiga adalah menemukan putra kesayangan
dari Mo kiam lojin tersebut.
Kemudian ia menyelidiki siapakah pembunuh dari ke empat
peristiwa berdarah tersebut...
-ooo0dw0ooo-
Selamat berpisah, ke tujuh orang kakek patut di kasihani.
Berada diatas perahu dalam perjalanan pulang, Oh Put Kui
tidak mengucapkan sepatah katapun, sedangkan pengemis
pikun dan nelayan sakti dari lautan timur justru bergurau tiada
hentinya.
Kali ini dia dapat mengibul sambil menambah kecap disana
sini, Yaa, bagaimanapun juga ia sudah pernah berkunjung ke
Pulau Neraka, pulau yang lebih dikenal sebagai pulau yang
bisa pergi tak bisa kembali.
Bagaimana juga, hal ini sudah cukup untuk meningkatkan
kedudukan serta derajatnya dimata umat persilatan lainnya.
Bagaimana tidak? ia dapat membuktikan kepada orang lain
kalau ia berani berkunjung ke Pulau neraka yang dianggap
sebagai momok oleh orang lain.
Beranikah mereka ke sana?
Tentu saja! Paling tidak, orang yang berani menganggap
nyawa sendiri sebagai barang permainan tak banyak
jumlahnya.
Ketika perahu sudah merapat kembali di dermaga, si
Nelayan sakti dari lautan timur Ciu Poo-tiong segera
mengembalikan ke dua lembar uang ribuan emas itu.
Tentu saja Oh Put Kui tak akan menerimanya kembali,
sedang si pengemis pikun Lok Jin-ki pun tak mau
menerimanya, ia malah berkata begini:
"Pulau neraka yang disebut orang sebagai pulau yang bisa
pergi tak bisa kembali pun sudah ku kunjungi, siapa yang
kesudian dengan beberapa tahil perak itu? Cin-loji, lebih baik
gunakanlah uang itu untuk membeli sebuah perahu yang lebih
besar, siapa tahu perahu itu akan kita pakai untuk menjemput
Bu-lim jit-seng untuk pulang ke daratan Tionggoan dikemudian
hari...?"
Oh Put Kui segera tertawa tergelak setelah mendengar
perkataan itu, pikirnya:
"Benar-benar suatu idee yang bagus, tak kusangka kalau
pengemis ini begitu pintar."
Cin Poo-tiong pun terpaksa harus menyimpan kembali
uang emas tersebut setelah mendengar ucapan itu, katanya:
"Baiklah, lohu akan melaksanakan seperti apa yang kalian
berdua katakan."
Sesudah berpamitan dengan nelayan sakti dari lautan timur
Cin Poo-tiong, Oh Put Kui dengan membawa si pengemis
pikun Lok Jin-ki berangkat menuju ke kuil Kok-cing-si di bukit
Thian-tay.
Kuil Kok-cing si merupakan sebuah kuil kuno yang didirikan
di jaman dulu kala, tempat itu merupakan salah satu tempat
pesiar yang amat termashur pada jaman itu.
Oh-Put Kni sedang berdiri ditengah jembatan batu dimuka
kuil tersebut sambil memandang air yang sedang mengalir
dengan termangu.
Sebaliknya pengemis pikun tak sabar menunggu
disampingnya, dia tidak habis mengerti apa bagusnya dengan
air yang sedang mengalir tersebut, sebab kecuali beberapa
ekor ikan yang berenang kian kemari, sama sekali tidak
dijumpai sesuatu yang menarik hati..
Maka tak sabar lagi dia segera berteriak keras:
"Bocah muda, mengapa kau terus termangu disana?
Memangnya air itu bisa diminum?"
Oh Put Kui segera berpaling dan memandang kearahnya,
tak tahan dia segera tertawa geli, pikirnya:
"Sialan betul dengan orang ini..."
Namun ia tak sampai memakinya, katanya ujarnya sambil
tertawa lebar:
"Lok tua, aku sedang berpikir dengan menggunakan cara
apakah Han-san ya-ceng dan Hong-gwa-sam-sian itu baru
bisa dipaksa untuk berbicara terus terang."
Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh...haaahh... haaahhh apa lagi yang mesti
dipikirkan? Dengan mengandalkan kemampuan yang kau
miliki, sudah pasti Han-san-ya-ceng-Poan-kay hweesio dapat
kau paksa untuk berbicara terus terang.
Mendengar perkataan itu, Oh Put Kui segera tertawa
terbahak-bahak, ia merasa pengemis itu kelewat memandang
tinggi tentang kemampuannya.
Maka sambil tertawa ia menggelengkan kepalanya
berulang kali, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia
segera berlalu dari sana.
Pengemis pikun nampak agak tertegun melihat dirinya
ditertawakan orang, segera kejarnya:
"Hai, apa lagi yang kau tertawakan? Memangnya kau si
bocah selalu hebat...!"
Sambil mengomel panjang pendek, dia segera menyusul di
belakang dengan langkah cepat.
Baru saja melangkah masuk dari pintu gerbang kuil Kokcing-
si, mereka telah disambut oleh seorang pendeta berusia
pertengahan.
"Sicu, apakah kau naik gunung untuk bersembahyang?"
sapanya dengan sopan.
Ternyata sikap si pendeta tersebut amat halus dan
menghormat sekali.
Sebaliknya sikap dari Oh Put Kui justru tidak seramah
dihari biasa, sambil mengulapkan tangan sahutnya:
"Aku bukan datang untuk bersembahyang, aku datang
kemari untuk menjumpai seorang pendeta."
"Oooh, jadi sicu datang kemari untuk mencari orang?"
pendeta setengah umur itu tertegun "entah toa-suhu yang
manakah yang hendak kau jumpai..."
"Poan-kay taysu!"
Paras muka lelaki setengah umur itu segera berubah hebat.
"Sicu, kau dari marga mana?" tegurnya kemudian.
"Oh Put Kui, dari tebing Cing-peng gay di bukit Gan-tangsan!"
"Apakah Oh sicu sudah lama kenal dengan Poan-kay
taysu?" kembali pendeta setengah umur itu bertanya dengan
kening berkerut.
"Apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu?"
Pendeta setengah umur itu termenung dan berpikir
sebentar, kemudian sahutnya:
"Poan-kay taysu adalah seorang pendeta suci dari
golongan Buddha dewasa ini. dia hanya menumpang dalam
kuil kami, hongtiang kuil kami telah menurunkan perintah,
siapapun dilarang mengganggu ketenangan taysu."
Oh Put Kui segera tertawa dingin. "Heeehhh......heeehbh
heeehhh sekalipun kalian tidak diperkenankan untuk
mengganggu ketenangannya tapi aku dapat, Cukup kau
katakan kepadaku, Poan-kay taysu berdiam dimana, aku
dapat pergi sendiri ke sana untuk mencarinya!"
Pendeta setengah umur itu tertegun sejenak, kemudian
serunya:
"Hal ini mana boleh jadi? Bila hongtiang sampai tahu,
siauceng bisa menderita akibat nya !"
"Segala sesuatunya biar aku yang menanggung."
Tapi pendeta setengah umur itu masih juga
menggelengkan kepalanya berulangkali.
"Tidak bisa, siauceng tidak berani."
Senyuman yang semula menghiasi wajah Oh Put Kui
seketika itu juga lenyap tak berbekas.
Kemudian dengan wajah sedingin es, dia maju setengah
langkah kedepan.
Ketika tangan kanannya diayunkan kedepan, tahu-tahu
pergelangan tangan kiri hwesio setengah umur itu sudah kena
dicengkeram oleh Oh Put Kui.
"Hayo bawa kesana !" hardiknya
Sementara pembicaraan berlangsung, kelima jari tangan
kanannya yang melakukan cengkeraman itu segera
mengcengkeram dengan lebih keras lagi.
Tentu saja pendeta setengah umur itu tak sanggup untuk
menahan diri, sekalipun ilmu silat yang dimilikinya terhitung
cukup tangguh, tapi setelah berjumpa dengan Oh Put-kui,
ibarat batu beradu dengan batu, sudah barang tentu dia
ketinggalan jauh sekali.
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia harus maju
kedepan menuruti permintaan lawan.
"Hei hwesio, sebelum kau mencapai tujuan, aku hendak
memperingatkan kepadamu lebih dulu," kata Oh Put Kui
sambil tersenyum, "seandainya kau sampai salah membawa
diriku ketempat tujuan, maka jangan salahkan pula kalau kau
menderita siksaan hebat..."
Sebenarnya pendeta setengah umur itu ada maksud untuk
mengajak Oh Put Kui menuju kedepan kamar hongtiangnya.
Tapi Oh Put Kui yang cerdas telah menduga sampai kesitu
lebih duIu, begitu rahasianya ketahuan, tentu saja dia tak
berani berpikir lebih jauh.
Terpaksa dengan sejujurnya dia mengajak pemuda itu
menuju ke ruangan sebelah timur dimana Poan Kay hwesio
berdiam disana.
Baru saja ketiga orang itu melangkah masuk melalui pintu
berbentuk rembulan di-ruang sebelah timur, mendadak dari
balik aneka bunga lebih kurang tiga kaki di hadapan mereka
telah muncul seorang hwesio berjenggot putih.
Bagaikan memperoleh suatu pengampunan besar, buruburu
pendeta setengah umur itu berseru:
"Sicu..dia,...dialah Poan Kay...taysu!"
"Benarkah itu?" Oh Put Kui tertawa. Dia lantas
membalikkan tangannya dan menyerahkan pendeta setengah
umur itu kepada sipengemis pikun.
"Perhatikan dia, jangan sampai terlepas, bila hwesio tua itu
bukan Poan Kay maka aku menggoyangkan tanganku dari
tempat kejauhan, nah Lok tua, saat itulah boleh membetoti
otot dibadan hwesio ini..."
"Baik." sahut si pengemis pikun dengan cepat, "aku
memang paling ahli untuk melaksanakan pekerjaan dibidang
seperti ini..."
Tanya jawab yang sedang berlangsung antara kedua orang
itu kontan saja membuat pendeta setengah umur itu menjadi
ketakutan setengah mati hingga keringat dinginnya jatuh
bercucuran.
Dengan langkah lebar Oh Put Kui berjalan menuju kearah
kebun dan mendekati hwesio berjenggot putih itu.
Agaknya pada waktu itu sang pendeta tua itu sedang
menikmati keindahan bunga, terhadap kedatangan Oh Put Kui
boleh dibilang sama sekali tidak menggubris, menoleh pun
tidak.
Oh Put Kui tertawa hambar, dengan suara lirih segera
ujarnya:
"Toa-Suhu, terimalah salamku ini !" Sambil berkata dia
lantas menjura.
Setelah mendengar teguran, pendeta tua itu baru berpaling
dan memandang wajah Oh Put Koi dengan perasaan
bimbang, kemudian ia baru bertanya dengan lirih:
"Siau-sicu, ada urusan apa ?"
"Tolong tanya taysu, apakah kau bernama Poan-kay !"
Pendeta tua itu tertawa ramah, sahutnya:
"Kalau ditinjau dari sikap siau-sicu sekarang, serta
diketahuinya julukan Ya-san-huang-ceng tersebut, dapat
kuduga kalau kedatanganmu dikarenakan sesuatu hal ! Tadi,
lolap sedang duduk semedi, karena merasa hatiku tak tenang
maka sengaja aku datang kemari untuk berjalan jalan sambil
mencari hawa, sungguh tak nyana kalau siau-sicu memang
datang kemari untuk mengunjungi-ku."
"Bila mengganggu ketenangan taysu, harap taysu suka
memakluminya " Oh Put Kui tersenyum.
Poan-kay hwesio segera merangkap tangannya didepan
dada sambil tertawa.
"0mintohud. tidak berani, tidak berani, silahkan siau-sicu
mengikuti aku masuk ke dalam ruangan!"
Dia lantas berjalan lebih dulu memasuki sebuah ruangan.
Oh Put Kui segera memberi tanda kebela kang untuk
memanggil pengemis pikun agar ikut bersamanya memasuki
ruangan.
Setelah tamu mengambil tempat duduk, seorang hwesio
kecil muncul sambil menghidangkan air teh.
Poan-kay hwesio mengerutkan dahinya sebentar,
kemudian menegur sambil tertawa.
"Entah karena persoalan apakah siau-sicu datang mencari
lolap?"
"Barusan saja aku meninggalkan pulau Jit-hu-to!" ujar Oh
Put Kui sambil tertawa.
Begitu mendengar perkataan Itu, paras muka pendeta
agung ini segera berubah hebat.
Kemudian sambil mencorongkan sinar matanya yang tajam
ia awasi wajah pemuda itu lekat-lekat, kemudian katanya
dengan suara dalam:
"Apakah siau sicu telah mengalami suatu kekagetan atau
suatu kerugian yang besar?"
"Tidak !" Oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya
berulang kali.
Wajah Poan-kay hweesio, segera mengendor kembali.
"Omintohud ! tampak ketujuh orang sicu itu sudah banyak
mengalami perubahan."
"Taysu, sesungguhnya dosa atau kesalahan apakah yang
telah diperbuat oleh ke tujuh orang locianpwe itu sehingga
mereka harus disekap didalam pulau yang terpencil di tengah
lautan bebas dan merasakan siksaan hidup yang amat berat?"
Begitu ucapan tersebut diutarakan, sekali lagi mencorong
sinar tajam dari balik mata Poan-kay hwesio.
"Siau-sicu, tahukah kau bahwa mereka adalah tujuh
malaikat keji dari bu-lim?"
Oh Put Kui tertawa hambar.
Sebaliknya si pengemis pikun segera berteriak cepat:
"Tapi orang persilatan dari kalangan putih menyebut
mereka sebagai bu-lim jit-seng "tujuh malaikat suci dari dunia
persilatan..."
Sekali lagi Poan-kay siansu manggut-manggut seraya
tertawa.
"Ya, benar, apa yang dikatakan sicu pengemis memang
benar, memang ada orang yang menyebut mereka sebagai
Bu-lim-jit-seng !"
"Kalau toh mereka adalah tujuh malaikat suci, apa pula
urusannya dengan kalian Sam-sian sehingga kalian
mengurung orang orang itu diatas pulau terpencil? Apakah
kalian tidak merasa kalau tindakan ini merupakan suatu
tindakan yang kelewat keji.."
"Teguran dari sicu pengemis memang benar sekali," Poankay
siansu kembali manggut-manggut dengan tertawa hambar
"Tapi,tahukah kau bahwa mereka sudah membunuh orang
kelewat banyak? seandainya tidak diberi sedikit pelajaran,
mungkin dikemudian hari mereka tidak dapat berakhir dengan
baik "
Mendadak Oh Put Kui tertawa keras.
"Haaahhh. ...haaahh haaahh kemulian hati taysu sungguh
membuat orang merasa kagum."
"Siau sicu kelewat memuji, lohu tak berani menerimanya
...."
Sambil tertawa tiba-tiba Oh Put Kui berkata lagi :
"Hudcou pernah bilang begini, jika aku tidak masuk neraka,
siapa lagi yang akan masuk neraka, pernahkah taysu
mendengar tentang perkataan ini?"
Perkataan ini selain diucapkan kurang sopan, juga bernada
memandang remeh dan menyindir.
Mendadak Poan-kay siansu mengerutkan dahinya rapatrapat,
kemudian serunya:
"Siau-sicu, apakah kau memandang hina kepada loIap?"
Cepat Oh Put Kui tertawa.
"Waah, rupanya taysu sudah mulai di pengaruhi amarah?"
"Siau-sicu, ucapanmu mengandung arti yang dalam,
sebenarnya apa maksudmu datang kemari?" kata Poan-kay
siansu kemudian dengan sorot mata pedih.
Oh Put Kui kembali tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh haaahhh......haaahhh taysu adalah seorang
pendeta suci yang memikirkan keselamatan umat manusia,
apakah tak pernah taysu pikirkan kalau Bu lim-jit-seng yang
berada di pulau Jit-hu-to sebenarnya bukan manusia-manusia
bengis. Mengapa kalian menyekap mereka selama delapan
belas tahun lamanya tanpa memperkenankan mereka bertujuh
meninggalkan pulau tersebut?"
Tergerak hati Poan-kay siansu setelah mendengar ucapan
yang terakhir itu, katanya tiba-tiba:
"Siau-sicu apakah kau harus datang kemari untuk minta
keringanan hukuman bagi ke tujuh orang sicu tersebut?"
"Penggunaan kata 'minta keringanan hukuman' kurang
tepat kalau digunakan dalam persoalan ini!"
"Lantas maksud siau-sicu?" Poan kay siansu agak
tertegun.
Dengan menjawab serius Oh Put Kui segera menjawab:
"Aku datang kemari untuk mengajak taysu berbicara
menurut keadaan yang sewajarnya!"
Untuk sesaat lamanya, Poan-kay siansu menjadi terbelalak
dan tak tahu bagaimana mesti menanggapi ucapan tersebut.
"Benar-benar seorang pemuda yang berotak cerdas......"
demikian pikirnya di dalam hati.
Berpikir sampai disini, pendeta itu segera tertawa ramah,
katanya pelan:
"Siau-sicu, bila kau ingin mengucapkan sesuatu,
katakanlah secara langsung!"
"Haahhh haaahhh haahhh taysu memang seorang tokoh
persilatan yang lihay, sebelumnya kumohon maaf lebih dulu
bila ucapanku nanti menyinggung perasaan..."
"Ke tujuh orang kakek dari pulau telah menderita kekalahan
total di tangan Thian-tok-siang-ciat dan Hong-gwa-sam-sian
dimasa lalu, masih ingatkah taysu, janji apa kah yang telah
mereka ucapkan?"
"Ya, masih ingat ! Ceng-siu huan-im-siu ( si kakek
bayangan semu ) Samwan sicu pernah menyuruh mereka
untuk mengangkat sumpah bahwa disaat putra tunggal Oh
Ceng thian kembali ke pulau tersebut, saat itulah merupakan
saat bagi mereka untuk meninggalkan pulau tersebut."
"Lantas bagaimana ceritanya sehingga putra Oh tayhiap
bisa lenyap tak berbekas?" tanya Oh Put ICui lagi sambil
tertawa.
"Tiga tahun sebelum pertemuan besar yang kami adakan di
bukit Thian-tay tempo dulu, istri Lei hun mo-kiam yang
bernama Pek-ih-ang-hud (si kebutan merah berbaju putih) Lan
Hong telah melahirkan seorang anak lelaki, tapi tiga bulan
setelah dilahirkan, suami istri berdua itu telah disergap oleh
musuh tangguh, dalam pertarungan tersebut Pek-ih-ang-hud
Lan Hong tewas seketika, sedangkan Lei-bun-mo kiam Oh
sicu dengan mengandalkan ilmu pedangnya yang lihay
berhasil meloloskan diri dari kepungan dan menyelamatkan
diri, namun dalam peristiwa itulah bayi kecil berumur tiga
bulan yang berada dalam bohongan Lan Hong telah lenyap
tak berbekas."
"Tahukah taysu, bocah itu telah terjatuh ketangan siapa?"
tiba-tiba Oh Put Kui menyela.
Poan-kay siansu segera menggelengkan kepalanya.
"Darimana lolap bisa tahu?"
"Bagaimana dengan Samwan To?" tanya Oh Put Kui lebih
lanjut sambil tertawa dingin.
"Lolap rasa diapun tidak tahu!"
Mendadak mencorong sinar tajim dari bilik mata Oh Put
Kui, katanya lebih jauh:
"Jika kalian orang-orang yang bisa berkelana dengan
bebas dalam dalam dunia persiIatan pun tidak tahu bocah
piatu itu terjatuh di-tangab siapa, Oh Ceng-thian yang disekap
dalam pulau terpencil mana mungkin bisa mengetahuinya
pula?"
Pertanyaan ini kontan saja membuat Poan-kay taysu
menjadi terbungkam dalam seriu bahasa, dia nampak tertegun
karena keheranan.
Tiba-tiba Pengemis pikun menimbrung:
"Hai, anak muda, mungkin saja Samwan To suka berlagak
seolah olah tidak tahu, padahal dalam hati kecilnya dia
mengetahui dengan jelas."
Ucapan tersebut segera melintaskan satu ingatan dalam
benak Oh Put-kui, serunya dengan cepat:
"Lok tua, kau benar benar sudah menjadi pintar sekarang."
Pengemis pikun nampak gembira sekali lagi sambil tertawa:
"Pikunku itu memang sengaja kuperIihatkan selama ini, apa
kau anggap aku betul-betul bodoh."
Poan-kay taysu memandang sekejap kearah pengemis
pikun, lalu sambil merangkap tangannya ia berseru:
"Sicu, kau betul-betul memiliki hati yang suci dan mulia, kau
merupakan murid yang paling bagus dari umat Buddha."
"Hei, hwesio gede, aku si pengemis mah tak akan tahan
untuk hidup sengsara didalam kuil seperti kau." Kata
Pengemis pikun dengan mata melotot, "Lebih baik kau tak
usah mencari kesulitan bagiku, meski umurku sudah tujuh
puluh tahun, tapi aku masih ingin mencari bini yang berumur
tujuh delapan belas tahunan, orang bilang asal punya uang,
membeli seorang bini bukanlah pekerjaan sukar, kebetulan
aku si pengemis baru saja menjadi orang kaya baru, kalau
disuruh menjadi pendeta, waaah, bisa sia-sia hidupku didunia
ini."
Perkataan yang diucapkan itu kontan saja membuat Oh Put
Kui tertawa terpingkal-pingkal karena geli.
Bahkan Poan-kay taysu pun turut tertawa geli, katanya:
"Sicu pengemis, nampaknya kau memang masih suka
bersenang-senang, kalau begitu lo lap ucapkan selamat
berbahagia untukmu...."
"Tak usah, tak usah, tak usah merepotkan dirimu."
pengemis pikun itu segera menggoyangkan tangannya
berulang kali.
Dia merasa keren benar, bayangkan saja satu diantara
Hong-gwa-sam-sian pun mengucapkan selamat kepadanya,
apakah hal ini tak pantas untuk dibanggakan?
Oh Put Kui segera berhenti tertawa, lalu ujarnya kepada
Poan-kay taysu:
"Taysu, aku rasa perjanjian yang kalian buat dibukit Thiantay
tempo hari kurang adil !"
"Oooh, tampaknya sicu benar-benar berhasrat untuk
membantu ketujuh orang bintang pembunuh itu?"
"Taysu, aku kurang setuju bila kau masih tetap
menganggap mereka sebagai pembunuh" Ucap Oh Put kui
dengan sepasang alis matanya berkenyit.
"Siancay, siancay! melepaskan golok pembunuh berpaling
adalah tepian, tahu siau sicu hawa pembunuh yang dimiliki
ketujuh orang bintang pembunuh tersebut pada dua puluh
tahun berselang cukup membuat paras muka setiap orang
berubah."
"Tapi mereka toh sudah melepaskan golok sekarang? apa
lagi..."
Sengaja dia berhenti sebentar, kemudian setelah tertawa
panjang katanya lebih jauh:
"Taysu, pernahkah mereka membunuh orang baik di masa
lalu?"
Dengan cepat-Poan-kay taysu menggelengkan kepalanya.
"Sekalipun mereka hanya membunuh orang jahat, tapi
hawa pembunuhan yang mereka miliki toh kelewat berat, bila
tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki hal itu, bisa jadi
perbuatan mereka akan melanggar ajaran Thian kepada
umatnya."
"Haaahh haaahhh haaahhh kalau begitu, taysu pun telah
melakukan kesilafan seperti apa yang mereka lakukan."
"Aaaah, mana mungkin lolap bisa berbuat demikian?
selama hidup belum pernah lolap melanggar pantangan
membunuh!"
Oh Put Kui segera tertawa, "Seandainya ke tujuh orang tua
itu merasa tersiksa jiwa raganya sehingga akhirnya mati di
pulau Jit-hun-to tersebut, apakah taysu bukan termasuk
seorang pembunuh ? Benar Pak-jiu bukan mati karena
kubunuh, tapi Pak-jiu toh mati lantaran aku.?"
Poafi-kay siansu menjadi tertegun.
"Soal ini..."
"Bagaimana?"
Tiba-tiba Poan-kay siansu bangkit berdiri lalu sambil
merangkap tangannya didepaa dada ia menjawab:
"Lolap menerima petunjukmu itu!"
"Taysu memang seorang yang saleh, cepat amat kau bisa
memahami perkataanku itu!" buru-buru Oh Put Kui bangkit
berdiri sambil memberi hormat.
Kembali Poan-kay siansu menghela napas panjang.
"Aaaai siau-sicu, seandainya kau tidak menyinggung soal
tersebut pada hari ini, lolap benar-benar telah berbuat
kesalahan besar terhadap Bu-lim-jit-seng!"
Oh Put Kui tertawa.
"Kalau memang taysu sudah memahami hal ini, dapatkah
kau segera berangkat ke pulau Neraka untuk membatalkan
perjanjian dulu sehingga ke tujuh orang cianpwe itu bisa
bebas kembali ?"
Poan-kay siansu segera menunjukkan perasaan berat
hatinya, dia berkata kemudian:
"Tentang soal ini, lolap tak bisa memutuskannya sendiri."
"Apakah harus menunggu keputusan lima orang lainnya ?"
Poan-kay siansu segera setuju.
"Yaa, begitulah !"
"Mengapa taysu tidak mengirim orang untuk mengundang
kehadiran empat orang lainnya sehingga persoalan ini bisa
segera diselesaikan ?"
"Omitohud, lolap bersedia sekali untuk memberi kabar
kepada mereka semua, tapi..."
"Apakah taysu kuatir ada yang tak akan menyetujui usulmu
itu ?"
"Benar!"
Oh Put-ki-ii tertawa terbahak-bahak.
"Haa... haa... haa... walaupun manusia berusaha, Thian lah
yang menetapkan, taysu toh belum lagi mulai, mengapa kau
sudah sangsi lebih dulu ? Bila sikapmu dalam persoalan yang
lain pun demikian, mungkin selama hidup taysu tak akan bisa
berhasil menyelesaikan persoalan apapun."
Poan-kay taysu merasakan hatinya bergetar keras setelah
mendengar perkataan itu.
"Sungguh cerdas anak muda ini." demikian dia berpikir.
Mendadak ia berhenti sejenak karena tiba-tiba teringat
kalau ia belum menanyakan nama dari anak muda tersebut,
buru-buru katanya:
Siau-sicu, tolong tanya Siapa nama-mu ?"
"Oh Put-kui."
Paras muka Poan-koay taysu berubah hebat setelah
mendengar sama itu, serunya kemudian:
"Benar-benar sebuah nama yang mengandung maksud
mendalam, siau-sicu, apakah ayahmu yang memberi nama
tersebut kepadamu?"
Oh Put Kui segera menggeleng.
"Suhuku yang memberi nama tersebut."
"Siapakah suhumu itu?"
"Aaah, suhuku cuma seorang pendeta liar yang sudah tak
mencampuri urusan keduniawian lagi, diapun enggan
namanya diketahui orang, harap taysu suka memakluminya."
Poan-kay taysu segera mengalihkan sorot matanya ke
wajah Oh Put Kui dan mengawasinya beberapa saat,
kemudian katanya sambil tertawa:
"Siau-sicu bagaimana kalau loIap mencoba untuk
menebaknya?"
"Tidak usah." Oh Put Kui menggeleng, "buat apa taysu
masih ingin mengetahuinya?"
Mendadak Poan-kay taysu seperti merasa terkejut dia
segera berseru:
"Aaah, hari ini sikap lolap agak silaf..."
Oh Put Kui tertawa hambar, kembali dia berkata:
"Sewaktu hendak meninggalkan pulau Jit hu-to, aku telah
menyanggupi permintaan ketujuh orang cianpwe itu untuk
menemukan kembali putra tunggal dari On tayhiap, aku
bersedia melakukan perjalanan bersama dengan taysu, bila
taysu bisa memperoleh dukungan dari Siang-kiat, Sin-ni dan
Tou-to, tak ada salahnya bila kau datang dulu ke pulau Jit-huto
untuk membatalkan janji kalian dulu, agar Bu-lim-jit-seng
merasakan kembali kebebasan hidupnya!"
"Omintohud, lolap bersedia untuk membantu dengan
sepenuh tenaga."
Oh Put Kui tertawa hambar, kembali katanya:
"Bencana besar sudah mengancam dunia persilatan,
dengan kemampuan yang dimiliki Jit-seng sekarang, kekuatan
mereka merupakan suatu bantuan yang maha besar bagi
umat persilatan dari golongan lurus, harap taysu suka
memperhatikan persoalan ini dengan serius !"
Beberapa patah kata itu kontan membuat jantung Poan-kay
siansu berdebar.
Tidak menunggu Poan-kay siansu berbicara, Oh Put-kui
segera bangkit berdiri sambil menjura, katanya:
"Maaf bila aku sudah mengganggu ketenangan taysu,
semoga bila taysu berjumpa dengan Sawan To nanti, sekalian
bisa mencari tahu dimanakah anak tunggal dari Oh tay hiap,
sebab kalau dilihat dari usul Sawan tayhiap dalam hal ini, bisa
disimpulkan kalau dia pun mengetahui akan jejak orang itu.
kalau tidak maka terpaksa aku akan mencurigai tokoh sakti
tersebut sebab sebagai seseorang yang mempunyai tujuan
tertentu !"
Setelah berhenti sebentar dan memandang wajah Poankay
siansu, dia berkata lagi sam bii tertawa:
"Taysu adalah seorang tokoh sakti dari kalangan
beragama, tentunya kau dapat memaklumi kesalahan orang
lain bukan ? Bila aku telah melakukan banyak kesalahan tadi,
dikemudian hari pasti akan kubayar, nah sampai jumpa lagi..."
Selesai berkata dia lantas meninggalkan tempat tersebut.
Pengemis pikun ikut bangkit berdiri pula, katanya sambil
tertawa terbahak-bahak:
"Haa . . . haa , . . haa ." . . hwesio gede aku merasa
beruntung sekali dapat berjumpa dengan wajah seorang dari
Hong-gwa-sam sian bahkan mendengarkan pembicaraannya,
selamat berpisah dan semoga kita akan bersua kembali
dimasa mendatang "
Begitu selesai berkata, ternyata dia berjalan lebih dahulu
dengan mendahului Oh Put Kui.
Han san-ya-ceng Poati-koay taysu tidak menjawab apaapa,
dia hanya merangkap tangannya didepan dada.
Selama hidup boleh dibilang dia selalu disanjung dan
dihormati oleh umat persilatan baru kali ini dia ditegur dan
dinasehati oleh orang Iain, perasaan semacam itu benarbenar
amat tak sedap sekali, dan apa yang didengarpun
sudah cukup baginya untuk berpikir setengah harian lamanya.
Tapi dia bisa menduduki sebagai salah seorang dari Honggwa
sam sian, tentu saja ia memiliki suatu kemampuan yang
melebihi siapapun.
Terlepas dari masalah lain, dia merasa kagum sekali
terhadap pemuda ini, rasa kagum yang benar-benar timbul
dari hati sanubarinya .
Diapun mengagumi pengemis pikun tersebut, meski pikun
orangnya tapi mulia hatinya.
Dia tak menyangka walaupun dia sudah menjadi pendeta
dan setiap hari berdoa, namun dia toh tak bisa melepaskan
diri dari keduniawian.
-ooo0dw0ooo-
Sinar matahari senja sedang memancarkan cahayanya
menerangi pepohonan diatas bukit Gan-tang san.
Diatas sebuah jalan bukit yang menghubungkan tebing
Cing-peng-gay, tiba-tiba muncul dua sosok bayangan
manusia.
Mereka adalah Oh Put Kui serta pengemis pikun.
Oh Put-kui telah merubah rencananya se-mula, sebab dia
merasa lebih baik mencari tahu asal usulnya lebih dulu
sebelum menyelesaikan persoalan lainnya, maka dia tidak
pergi ke perkampungan Ang-yap san-ceng di lembah Hui-imkok,
sebaliknya kembali ke tebing Cing-peng-gay.
Ketika mereka sampai di tebing Cing-peng gay, sinar mata
hari senja telah tenggelam dibelakang bukit.
"Lok tua, mari ikut aku menjumpai suhu didalam gua !" kata
pemuda itu kepada rekannya.
Dengan gerakan yang cepat mereka berangkat menuju ke
sebuah dinding tebing.
Dengan sikap yang sangat hormat Oh Put kui menyembah
sebanyak tiga kali ke arah dinding tebing itu, kemudian
tangannya melepaskan sebuah pukulan ke atas sebatang
pohon siong yang tumbuh diatas dinding tebing tadi.
Diiringi suara gemuruh yang amat memekakkan telinga,
muncullah sebuah pintu diatas dinding tebing tersebut.
Dari balik pintu segera terpancar keluar sinar putih yang
amat menyilaukan mata.
Sambil tertawa Oh Put-kui segera berteriak.
"Suhu, bocah yang mengembara telah pulang."
Dimasa lalu, bila dia telah berteriak maka dari dalam gua
pasti akan berkumandang suara gelak tertawa yang riang dan
penuh kasih sayang.
Tapi berbeda dengan hari ini. Suasana dalam gua itu sunyi
tak kedengaran sedikit suara pun...
Senyuman yang semula menghiasi ujung bibir Oh Put-kui
seketika itu juga berubah menjadi kaku dan lenyap tak
berbekas.
Tanpa membuang waktu lagi dia segera menerjang masuk
ke dalam gua tersebut.
Ternyata gua itu kosong melompong tak ada penghuninya.
Pengemis pikun mengikuti dibelakangnya telah masuk pula
ke dalam gua itu, ternyata luas ruangan dalam gua tadi cuma
lima kaki, sedang perabot yang berada disanapun amat
sederhana.
Selain sebuah meja, sebuah pembaringan dibawah lantai
terdapat pula sebuah kasur duduk.
Disamping meja batu terdapat pula sebuah hiolo, sedang
disisi pembaringan terdapat sebuah rak buku.
@oodwoo@
Jilid ke 7
RAK BUKU itu sangat besar, lebarnya dua kaki dengan
ketinggian beberapa kaki, semuanya terbagi menjadi tujuh rak,
setiap rak penuh dengan buku-buku.
pengemis pikun memperhatikan sekejap sekeliling tempat
itu, mendadak ia merasa agak bingung.
Dia tak mengira kalau gua tersebut begitu kering dengan
udara yang segar, buktinya begitu banyak buku yang
tersimpan dalam gua itu sama sekali tidak lembab dan rusak.
Dia lantas mendongakkan kepala bermaksud untuk
menanyakan hal ini kepada Oh Put Kui.
Tapi mimik wajah Oh Put Kui justru membuatnya semakin
tertegun.
Ternyata Oh Put Kui sedang duduk dikasur duduk sambil
menangis tersedu-sedu.
Pelan-pelan pengemis pikun segera maju menghampirinya
ia menemukan secarik kertas tergeletak didepan anak muda
itu, ketika diambiI maka terlihatlah beberapa patah kata
tercantum disitu:
"Kekasih lama menuntut balas kepada guru, Gi-hweesio
mengembara keujung langit, nak, aku pergi dulu, baik-baiklah
jaga diri, baik-baiklah jaga diri."
Tulisan itu nampak sangat indah dan penuh bertenaga,
membuat pengemis pikun yang melihatnya segera memuji
tiada hentinya.
"Dari sini dapat diketahui kalau pengemis pikun inipun
mempunyai pengetahuan tentang ilmu sastra.
Dia lantas membentangkan kertas surat tersebut didepan
mata pemuda itu, kemudian katanya sambil tertawa:
"Hei, bocah muda, gurumu sudah minggat!" Oh Put Kui
mendongakkan kepalanya, dengan wajah penuh air mata dia
berkata : "Lok tua, mari kita pergi!"
Dia menerima kembali surat peninggalan dari gurunya itu
dan melompat keluar dari ruangan, tanpa berpaling lagi ia
tinggalkan gua tersebut.
Pengemis pikun tak berani berdiam kelewat lama disitu, ia
segera mengikutinya pula dari belakang.
Setelah menutup kembali pintu gua, Oh Put Kui kembali
menyembah tiga kali, Kemudian ia baru berkata :
"Lok tua, kali ini aku benar-benar telah menjadi seorang
gelandangan yang tak punya rumah lagi."
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia membalik sepasang
matanya yang kecil dan berseru:
"Bocah muda, benarkah gurumu adalah seorang hwesio?"
Oh Put-kui manggut-manggut.
Mencorong sinar terang dari balik mata pengemis pikun itu,
serunya kembali:
"Tay-gi sangjin?"
"Dari mana kau bisa tahu?" sahut Oh Put Kui dengan
sekujur badan gemetar keras.
Begitu ucapnya tersebut diutarakan, ia baru menyadari
kalau sudah salah berbicara.
Dengan ucapan tersebut, bukankah sama artinya dengan
memberitahukan kepada pengemis tua, siapa gerangan
suhunya?
Pengemis pikun segera tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... .haaahhh haaaahhh dalam dunia yang begini
luas, hwesio bodoh cuma seorang, dialah sipendeta sinting
Tay-gi sangjin yang disebut orang persilatan sebagai tokoh
sakti!"
"Aaaai Lok tua, kau sangat cerdik!" puji Oh Put-kui sambil
menghela napas.
"Haaahhh..,.haaaahhh haaaahhh masa kau baru tahu anak
muda ?" pengemis tua nampak amat bangga.
"Aaah, tidak! Hal ini sudah kuketahui sejak berada di tepi
telaga kiu liong thian ."
Kali ini pengemis tua yang dibikin tertegun, lama kemudian
dia baru berseru:
"Bocah muda, kau memang amat hebat..."
"Aaaah, Lok tua, kau toh sudah tahu aku ini murid siapa."
"Yaa, betul, kau memang muridnya tokoh paling sakti
dikolong langit." Pengemis pikun tertawa gelak.
Sesudah berhenti sebentar, dia berkata lebih jauh:
"Bocah muda, setiap orang mengatakan kalau gurumu
telah berpulang ke alam baka sesudah berhasil mengalahkan
gembong iblis nomor wahid dari kolong langit, Pat-huang itkoay-
jian-sim jui-siu manusia paling aneh di Pat-huang, kakek
setan berhati cacad, Siu Lun. Tampaknya ucapan itu tidak
benar, rupanya dia orang tua bersembunyi ditengah gunung
untuk mendidik kau si bocah pintar!"
"Yaa, memang guruku berbuat demikian..."
Pengemis tua segera mengawasi bocah muda itu lekat-
Iekat, kemudian katanya lagi. "Bocah muda.siapakah kekasih
lama gurumu? Tahukah kau akan hal ini ?"
Oh Put-kui segera menggeleng. "Aku belum pernah
mendengar suhuku menyinggung tentang soal ini, lagipula
suhu adalah seorang pendekar yang sudah berusia ratusan
tahun, aku tidak percaya kalau dia orang tua masih
mempunyai kekasih lama..."
Kembali pengemis pikun tertawa tergelak. "Haaahhh
haaahh haaahhh kali ini kau benar-benar ketanggor batunya!"
Mendadak tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar
perkataan itu, serunya dengan cepat.
"Lok tua, nampaknya dibalik ucapanmu itu masih ada
ucapan lain!"
"Tentu saja." pengemis pikun tertawa bangga, "aku si
pengemis mah tak bakal disulitkan oleh persoalan semacam
itu!"
Oh Put Kui segera tertawa, pelan-pelan ia duduk di atas
batu besar didepan dinding batu itu, kemudian bisiknya:
"Lok tua, aku bersedia untuk mendengarkan penuturanmu
itu!"
"Penuturanku? Penuturan apa?" pengemis pikun segera
menjatuhkan diri keatas tanah dan menggelengkan kepalanya
sambil tertawa aneh. "aku si pengemis mah tak pandai
bercerita yang unik-unik."
"Lok tua, kau tidak bersedia untuk bercerita?" tanya Oh Put
Kui sambil tertawa hambar.
"Bercerita apa? Aku si pengemis toh cuma gentong nasi "
Diam-diam Oh Put Kui tertawa geli, dia tak menyangka
kalau pengemis itupun pandai jual mahal. Maka sambil
menarik muka dia berseru keras:
"Lok tua, kalau begitu silahkan!" Uaapan mana diutarakan
dengan nada dingin dan ketus.
Pengemis pikun itu jadi tertegun setelah menyaksikan sikap
rekannya itu, cepat dia berseru:
"Hei, kenapa kau Bocah keparat kau hendak mengusir aku
si pengemis pikun. Hayo jawab?"
"Yaa, betuI, kita memang harus berpisah."
Dengan cepat pengemis pikun menggelengkan kepalanya
berulang kali, serunya.
"Hal ini mana boleh jadi ? Hei bocah muda, semua uang
emas itu belum habis dipakai."
Oh Put Kui segera tertawa tergelak, "Aku mah menganggap
uang seperti kotoran kerbau, sedang msnganggap teman
seperti mestika, kalau toh Lok tua tak bisa mempunyai pikiran
dan perasaan yang bisa mencocoki diriku, tentu saja lebih baik
kita berpisah saja."
"Kau membuatku penasaran."
"Benarkah itu?" Oh Put Kui tertawa sinis, "kau sudah jelas
mengetahui kalau aku ingin cepat-cepat mengetahui siapakah
kekasih lama suhuku, dan kaupun jelas mengetahuinya, tapi
justru sengaja jual mahal, bukankah hal ini menunjukkan kalau
kau tidak setia kawan ? Terhadap manusia semacam ini, aku
selalu memandangnya rendah, oleh karena itu lebih baik kita
jangan bertemu lagi mulai sekarang!"
Pengemis pikun segera tertawa geli.
"Oooh. jadi karena soal itu?"
"Apakah belum cukup? Kau sombong dan tidak setia
kawan."
Belum habis Oh Put Kwi berkata, pengemis pikun sudah
tertawa tergelak, sahutnya: "Baiklah anak muda, biar aku si
pengemis bercerita dengan sejelas-jelasnya..."
Mendengar perkataan itu, diam-diam Oh Put Kui tertawa
geli,
"Katakan saja," ujarnya kemudian, "walau pun aku bersedia
untuk mendengarkan tapi aku tak ingin merengek kepadamu."
"Bocah keparat, merengek atau tidak itu urusanmu sendiri,"
si pengemis pikun berkerut kening.
Setelah berhenti sebentar, mendadak wajahnya berubah
menjadi serius, katanya lebih jauh:
"Bocah muda, tujuh puluh tahun berselang ketika gurumu
belum masuk menjadi pendeta, dia sesungguhnya adalah
seorang kongcu muda yang tampan dan romantis sekali."
"OoOh.,.?" Oh Put Kni tak pernah menyangka kesitu.
"Lok tua, siapakah nama preman guruku itu..." sambungnya
kemudian setelah berhenti sebentar.
"Entahlah" pengemis pikun menggelengkan kepalanya
berulang kali, "sejak gurumu terjun kedalam dunia persi!atan,
dia telah menamakan dirinya sebagai Thian-yang-yu-cu (si
pemuda pesiar dari ujung langit), siapapun tidak tahu siapa
nama aslinya. Tapi lantaraa ilmu silatnya sangat lihay, gerakgeriknya
pun seperti naga sakti yang kelihatan kepala tak
kelihatan ekornya, maka orang persilatan memberi julukan
Sin-Iiong-koay-hiap (pendekar aneh naga sakti) pula
kepadanya."
"0ooh...rupanya si pendekar aneh naga sakti adalah guruku
sendiri...." Tiba-tiba Ob Put Kui tertawa.
Pengemis pikun nampak agak tertegun.
"Kenapa Hei bocah muda, siapa yang pernah menceritakan
tentang soal Sin-liong koay hiap ini?"
"Tentu saja guruku sendiri."
"Sangjin sendiri? Ternyata situa ini belum dapat melupakan
kegagahannya dimasa lalu."
Oh Put Kui termenung dan berpikir sebentar lalu katanya
lagi sambil tertawa:
"Lok tua, sekarang aku sudah tahu siapakah kekasih lama
dari guruku itu..."
Pengemis pikun segera manggut-manggut.
"Kalau tokh sangjin pernah menyinggung soal Sin-Iiongkoay-
hiap kepadamu, tentu saja dia pernah menyinggung pula
dengan Thian-hiang-hui-cu "permaisuri cantik Ki Yan-hong!"
"Benar, guruku memang pernah menyinggung soal Thianhiang
Hui-cu Ki Yan-hong!"
"Anak muda, tahukah kau, gara-gara Thian-hiang-hui cu
hendak mendapatkan cinta dari Sin-liong-koay-hiap, hampir
saja dia telah mengacaukan seluruh dunia persilatan?"
"Benarkah itu ?"
Kembali si pengemis pikun tertawa, "Coba kalau
perempuan itu tidak mengejarnya kelewat buas, mana
mungkin gurumu bisa berubah menjadi Tay-gi Sangjin ?"
Oh Put-kui menjadi tertegun. "Kalau begitu suhu dipaksa
untuk mencukur rambutnya menjadi pendeta ?" ia berseru.
"Siapa bilang tidak ?" setelah menggelengkan kepalanya
dan tertawa tergelak, pengemis pikun berkata lebih jauh,
"Sungguh tak kusangka tujuh puluh tahun kemudian, untuk
kesekian kalinya Sangjin harus melarikan diri."
Oh Put-kui tak tahan untuk menghela napas pula.
"Tak heran kalau snhu segera berkerut kening bila
menyinggung soal perempuan.
"Haaah... haah... ketika Thian-hiang Huicu mengejar
sangjin, aku si pengemis tua baru berumur belasan tahun, kini
rambutku sudah beruban semua, tak nyana masih sempat
menyaksikan lagi peristiwa aneh ini, aaai... rasa cinta Thianhiang
Hui-cu kepada gurumu benar-benar hebat sekali."
Tiba-tiba Oh Put kni memejamkan matanya dan termenung.
Melihat pemuda itu termenung saja sehingga terhadap apa
yang diucapkan seolah-olah tidak mendengar, pengemis pikun
itu kembali berseru:
"Hei, anak muda, apa yang sedang kau pikirkan ?"
"Aaah, aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk
berjumpa dengan Thian hiang Hui-cu !"
"Mau apa?" seru pengemis pikun dengan wajah tertegun,
"apakah kau ingin mencari kesulitan buat diri sendiri?"
"Akn hanya ingin membujuknya agar jangan mendatangkan
kesulitan lagi buat guruku."
"Apa gunanya? Dia toh tak akan bisa menemukan gurumu."
Kata si pengemis sambil menggeleng.
Oh Put-kui turut menggelengkan pula kepalanya.
"Tapi aku merasa tak tega menyaksikan guruku berkelana
didalam dunia persilatan, oleh karena itu aku hendak
menganjurkan kepada Thian-hiang Hui-cu agar mematikan
saja ingatan tersebut!"
Mendengar perkataan itu, pengemis pikun tertawa
terbahak-bahak.
"Gurumu saja tak mampu, masa kau bisa melakukannya?"
Oh Put-kui ikut tertawa tergelak.
"Lok tua, mungkin guruku tak mampu untuk melakukannya,
tapi aku pasti akan berhasil."
"Benarkah itu? Bocah muda. mari kita pergi ke kota Kimleng.
-oooOooo-
Tepi sungai Chin-hway merupakan suatu tempat pasiar
yang sudah termashur namanya di seantero dunia.
Apa bila malam tiba, beraneka warna lampu akan
menerangi sekeliling tempat tersebut, Rumah pelacuran Yan
hiang-lo yang tersohor di wilayah Kanglam karena empat
orang pelacur topnya, setiap senja sudah tiba seIalu penuh
dikunjungi oleh tetamu.
Hari itu, didepan rumah pelacuran Yan-hiang-lo telah
kedatangan dua orang tamu yang berdandan sangat aneh.
Seorang tua dan seorang muda ini mengenakan pakaian
yang sangat perlente sedemikian menterengnya dandanan
mereka hingga putra residen pun kalah.
Pada hakekatnya dandanan mereka seperti raja muda,
seperti pangeran dari kerajaan.
Yang muda tampaknya adalah majikan, ia mempunyai
wajah yang ganteng dengan perawakan badan yang gagah.
Pakaian yang dipakai adalah sebuah pakaian bersulamkan
dengan emas, harganya per stel mungkin mencapai seribu
tahil emas.
Yang tua pun berdandan orang kaya, cuma kalau dilihat
gerak-geriknya yang kedesa-desaan, bila diduga kalau dia
datang dari dusun, mungkin orang kaya dusun.
Tua dan muda berdua ini datang dengan sikap yang
menterang pengiringnya amat banyak tak terhitung.
Kontan saja suasana dalam rumah pelacuran Yaa-hiang-Io
menjadi amat sibuk, terutama sekali ibu germonya.
Setelah mempersilahkan tamunya duduk, melihat
dandanan kedua tamu agungnya itu, diam-diam si germo
berkerut kening.
"Tolong tanya siapakah nama loya berdua."
Oh!" jawab kongcu muda itu tertawa hambar.
"Oooo, kiranya Oh kongcu!"
Sedang siorang kaya desa yang memelihara kumis itu
segera menyambung pula dengan suara aneh:
"Lohu adalah Lok toa-loya. Pembesar To-tay dari Holam!"
"Aaaah... rupanya Lok-toa-loya, hamba menyampaikan
salam kepada kau orang tua!" Buru buru Germo itu memberi
hormat dengan sikap munduk-munduk begitu mengetahui
kalau kakek itu adalah pembesar.
Lok-toa-loya segera tertawa, kemudian serunya dengan
suara keras:
"Mengapa kau tidak menyampaikan salam pula kepada Oh
kongcu?"
"Baik ..baik. ."
Mendadak Lok toa-Ioya tertawa dingin, "Heeehhh... heeehh
..heeehhh....kau tahu, siapakah Oh toa kongcu ini?"
"Hamba hamba... dosa hamba besar sekali, hamba tidak
tahu Oh Toa Kongcu."
"Oh Toa Kongcu adalah... adalah..."
Mendadak pembesar To tay dari Holam yang mengaku
bernama Lok Toa-loya ini membungkukkan tubuhnya dalamdalam
sambil bertanya dengan suara lirih:
"Kongcu, bolehkah hamba untuk mengatakannya ?"
Oh Kongcu segera melotot besar.
"Ketika meninggalkan ibu kota, apa pesan ku kepadamu?
Lok tayjin, berhati-hatilah kalau berbicara!"
Sambil menyeka peluh yang membasahi jidatnya, buruburu
Lok tayjin menjura lagi dalam-dalam.
"Baik... baik... Tayjin "
Mendengar tanya jawab tersebut, si Germo tersebut
menjadi semakin ketakutan.
"Waaah... siapa gerangan Oh Kongcu ini?" demikian dia
mulai berpikir, "kalau seorang pembesar To-tay kelas
empatpun begitu munduk-munduk dihadapannya aaah,
jangan-jangan Oh Kongcu ini adalah seorang Raja muda atau
pangeran."
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benak germo
itu, Lok tayjin sudah membentak keras:
"Apakah keempat orang nona ada disini?"
"Ada, ada tayjin!"
"Suruh mereka keluar semua!"
"Baik."
Sambil sipat ekor, germo itu buru-buru menyembah lalu
mengundurkan diri dari situ,
Tak selang berapa saat kemudian, terdengar suara
kegaduhan di luar ruangan sana,
Tiba-tiba Oh Kongcu itu berkerut kening, kemudian
katanya:
"Lok tua, hebat betul permainan sandiwaramu!"
"Benarkah itu?" pembesar Lok tertawa keras, "baru
pertama kali ini selama hidup aku sipengemis..."
Rupanya mereka berdua tak lain adalah Oh Put-kui dan si
pengemis pikun berdua.
"Ssttt.... Lok tua, jangan keras-keras," bisik Oh Put-kui
dengan mata berkilat, "tempat ini bukan sembarangan rumah
pelacuran"
Pengemis pikun segera menjulurkan lidah nya dan tertawa.
"Betul, hampir saja aku si pengemis melupakannya."
Sementara kedua orang itu masih berbincang-bincang, si
germo telah mundul kembali dengan senyuman palsunya.
"Kongcu-ya," dia berkata, "harap tunggu sebentar lagi, ke
empat nona segera akan tiba!"
Oh Put-kui mendengus dingin.
"Hmmm, Lok tayjin," dia berseru, "tampak nya lagak dari
rumah-rumah hiburan di kota Kim-leng ini kelewat besar!"
-oooOooo-
"BENAR.... harap Kongcu maklum." buru-buru pengemis
pikun menjura dengan hormat.
Kemudian sambil melotot kearah germo itu, bentaknya:
"Mengapa tidak segera pergi? Kalau sampai menggusarkan
Kongcu, hmmm, jangan salahkan kalau dari pengadilan akan
muncul opas yang akan menggiringmu masuk bui. Hmm,
kalau sudah sampai begitu, tahu rasa nanti."
Mendengar perkataan itu, si germo segera menjulurkan
lidahnya karena ketakutan.
Setelah mengiakan berulang kali, sambil lipat ekor dia
segera melarikan diri terbirit birit.
Setibanya diluar ruangan, iapun berteriak keras:
"Nona sekalian, cepat sedikit, Kongcu sudah marah."
Hampir meledak suara tertawa pengemis pikun saking
gelinya.
Tapi ruangan itu sangat ramai dan banyak orang yang
berlalu lalang, walaupun pengemis pikun ingin berbicara dia
tak berani bersikap gegabah.
Oh Put Kui sendiri, untuk memperlihatkan sikapnya sebagai
seorang pangeran atau raja muda, mau tak mau harus
menarik kembali sikap acuh tak acuhnya.
Setelah menghidangkan air teh. si germo itupun lari masuk
kedalam ruangan sambil berseru:
"Kongcu-ya....Lok-toa-loya..,nona berempat tiba!"
Tampak tirai disingkap orang, empat orang gadis yang
berdandan model keraton berjalan masuk dengan langkah
yang lemah gemuIai.
Ternyata mereka berempat memang tak malu disebut
pelacur kenamaan dari kota Kim-leng.
Selain mereka berwajah cantik jelita, lagi pula mempunyai
perawakan tubuh yang ramping tapi padat berisi.
Oh Put Kui nampak agak tertegun. Pengemis pikun pun
agak termangu sampai sampai ternganga lebar mulutnya.
Melihat itu, si germo pun tertawa, Karena dilihat dari mimik
wajah kedua orang ini, dia seakan-akan melihat ada uang
segenggam yang dimasukkan kedalam sakunya.
Buru-buru dia maju kedepan sambil memperkenalkan.
"Nona sekalian Kongcu ini adalah Oh Kongcu dari ibu kota,
dan ini adalah Lok-toa-loya, kalian harus baik-baik memberi
pelayanan, percaya Kongcu ya pasti tak akan menyia-nyiakan
kalian."
Empat orang gadis itu bersam-sama memberi hormat,
bahkan hampir bersamaan waktunya berkata lembut:
"Oh Kongcu, Lok loya, terimalah salam kami."
"Nona tak usah banyak adat, siapkan perjamuan!" kata Oh
Put Kui sambil mengulapkan tangannya.
Dengan cepat perjamuan dipersiapkan. Sambil tertawa Oh
Put Kui berkata lagi kepada pengemis pikun:
"Lok to-tay, tampaknya nama besar empat pelacur utama
dari Kanglam memang bukan nama kosong belaka."
Pengemis pikun tersenyum. "Dimasa lalu hamba selalu
menganggap orang cantik yang kujumpai sudah banyak, tapi
sekarang baru hamba ketahui, belum pernah kujumpai empat
wanita secantik ini."
Setelah berhenti sebentar, dia lantas mengangkat
cawannya kearah empat orang perempuan itu sambil
bertanya:
"Nona berempat, siapa nama kalian?"
Benar-benar tak disangka, si pengemis pikunpun dapat
menunjukkan sikapnya yang lembut dan terpelajar.
Dalam pada itu, seorang nona berbaju putih yang berusia
paling tua diantara keempat orang gadis itu tersenyum manis,
lalu menjawab:
"Aku yang rendah bernama Liu Im!"
Sesudah mengerling sekejap kewajah Oh Put Kui, dia
menuding tiga orang gadis lainnya sambil menambahkan:
"Dan mereka adalah Khi cui, Wi Hiang dan Siau Hong."
Sekarang Oh Put Kui baru tahu, rupanya si nona yang
berbaju hijau bernama Khi Cui, yang berbaju kuning bernama
Wi Hiang sedang si nona yang berbaju biru bernama Siau
Hong..."
Sambil tersenyum dia lantas berkata: "Sudah lama
kudengar nama besar kalian."
Padahal dalam hati kecilnya dia merasa jauh lebih terkejut
daripada si pengemis tua.
Nama besar "Liu Im, Khi Cui, wi Hiang dan Han Yan"
sebagai empat orang dayang kepercayaan Thian-hiang Hui-cu
sudah termashur dalam dunia persilatan.
Walaupun Han Yan, salah seorang diantara ke empat
dayang itu sudah dibunuh oleh Oh Put-kui, tapi sekarang
kedudukan "Han Yan" telah digantikan oleh Siau Hong masih
di-tas kecantikan Han Yan.
Diam-diam pengemis pikun mengomel di dalam hati, dia
merasa nyali dari ke empat orang gembong iblis ini benarbenar
sangat besar, sampai namapun sama sekali tidak
berubah.
Sementara mereka berdua masih termenung, Liu Im sudah
mengisi cawan dengan arak lalu berkata:
"Kongcu, silahkan minum arak!"
"Aah merepotkan nona saja!" sambil tertawa Oh Put Kui
menerima cawan berisi arak ini.
"Aaah Kongcu tampaknya baru pertama kali ini berkunjung
ke kota Kim-leng?"
"Di hari biasa banyak urusan dinas yang harus
kuselesaikan sehingga jarang dapat datang ke Kim-leng!"
"Kocngcu-ya, kau pasti seorang yang amat repot..."
timbrung Khi Cui sambil tertawa.
"Urusan tentang negara, lebih baik tak usa nona campuri!"
tukas Oh Put Kui tiba-tiba dengan dingin.
Perubahan sikapnya yang secara tiba-tiba segera membuat
keempat orang pelacur itu menjadi tertegun.
Pengemis pikun yang menyaksikan dari samping, diamdiam
tertawa geli, ia tak menyangka kalau bocah muda itu
sedemikian lihay sehingga dengan perubahan sikap-sikapnya
saja sudah dapat menghilangkan kecurigaan ke empat orang
pelacur itu.
Khi Cui tertawa rawan, lalu menyahut dengan sedih:
Teguran kongcu akan hamba ingat terus, harap kongcu
sudi memaafkan."
"Aku tak akan menyalahkan kalian" jawab Oh Put-kui
dengan gaya pembesarnya, "lebih baik jika kalian menerima
tamu seorang pembesar, janganlah bertanya tentang soal
negara, daripada mendatangkan kesulitan bagi diri sendiri"
"Nasehat kongcu akan hamba ingat selalu didalam hati,"
"Kalau bisa di ingat memang lebih baik" jawab Oh Put-kui
tertawa hambar.
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba katanya kepada si
pengemis pikun:
"Lok tayjin!"
"Kongcu ada perintah apa?" Pengemis tua menjura dengan
sikap menghormat.
"Sewaktu ada di ibu kota, kau selalu memuji ke empat
orang gadis ini sebagai orang yang pandai ilmu silat, tapi
setelah berjumpa hari ini, sungguh membuat hatiku kecewa!"
Pengemis pikun jadi tertegun, bagaimana harus menjawab.
Dalam cemasnya dia lantas berseru tergagap:
"Soal ini soal ini hamba...hamba..."
Oh Put-kui memandang sekejap wajah ke-empat orang
gadis itu, kemudian katanya lagi sambil tertawa:
"Lok tayjin, kau tak usah gugup, aku tidak bermaksud untuk
menegur dirimu."
"Oooh rupanya begitu " si pengemis pura-pura
menghembuskan napas lega, "kongcu, kau..."
Oh Put Kui kembali tertawa, tapi kali ini dia tertawa sambil
memandang kearah Liu Im yang genit.
Sikap Liu Im nampak sangat aneh, agaknya mereka sudah
terpikat oleh kegantengan Oh Kongcu ini, lagi pula
terpengaruh oleh apa yang dikatakannya tadi.
Maka mereka hanya sempat berpikir, siapa gerangan Oh
Kongcu ini ? Apa maksud kedatangannya ?
Ternyata tak seorangpun diantara mereka yang
memperhatikan sorot matanya yang tajam, atau tegasnya
mereka tidak menyangka kalau Oh Put Kui sesungguhnya
adalah seorang jago muda yang berilmu sangat tinggi.
Sudah barang tentu mereka lebih-lebih tak menyangka
kalau pemuda tampan ini adalah Oh Put Kui yang pernah
berkunjung ke Pulau neraka dan dapat pulang dengan
selamat.
Sekalipun demikian, Liu im adalah seorang yang sangat
berpengalaman dalam bidang pelacuran, maka sewaktu Oh
Put Kui tertawa kepadanya, diapun segera mengeluarkan ilmu
merayunya.
Sambil tertawa genit, katanya dengan lembut:
"Kongcu tak pernah meninggalkan ibu kota, dan cuma
mendengar pembicaraan orang saja, sudah barang tentu jauh
sekali dengan kenyataan. Walaupun kami berparas lumayan,
dan mengerti sedikit tentang ilmu sastra, tapi dalam hal ini silat
sesungguhnya kami tidak tahu sama sekali !?"
Oh Put Kui segera tersenyum, dibalik senyuman tersebut
tersimpanlah suatu arti yang sangat mendalam.
"Nona, kalian pandai sekali merendahkan diri !"
Mendadak dia berpaling dan memandang sekejap ke arah
Pengemis pikun, lalu katanya lagi:
"Lok tayjin, kalau kudengar dari pembicaraan nona ini,
bukankah berarti apa yang kau dengar itu tidak benar?"
Kali ini pengemis tua agak tertegun, kemudian baru
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Hamba rasa apa yang hamba dengar sudah pasti dan bisa
dipercaya seratus persen."
"Haaaahhh... haaaaahhh... haaaahhh... benar, kalau tersiar
kabar begini sudah pasti tak akan tersiar tanpa sebab."
Dengan sorot matanya yang jeli dia lantas mengerling
kembali ke atas wajah ke empat orang gadis itu.
Sebodoh-bodohnya Liu Im berempat tentu saja mereka
dapat menangkap arti yang sebenarnya dari ucapan tersebut,
maka tanpa terasa mereka saling berpandangan sekejap.
Siau Hong yang termuda diantara mereka berempat, tibatiba
menutup mulutnya Sambil tertawa, kemudian katanya :
"Kongcu, kau terlalu menyanjung kemampuan kami empat
bersaudara."
Suaranya lemah lembut dan amat merdu bagaikan kicauan
burung nuri, membuat setiap orang yang mendengar akan
terpikat rasanya.
Oh Put Kui tertawa, diamatinya sekejap si nona cantik yang
berada dihadapannya, lalu sambil berpaling kearah pengemis
pikun, dia berseru:
"Lok tayjin, kalau aku tidak salah dengar, agaknya diantara
nama-nama keempat pelacur kenamaan dari rumah pelacuran
Yan-hiang-lo tidak tercantum nama nona Siau-hong, apakah
hal ini keliru?"
"Tidak, tidak keliru, waktu itu diantara nama-nama keempat
nona memang tidak ter dapat nama Siau Hong!"
Oh Put Kui segera berlagak seakan-akan termenung sambil
berpikir sejenak, lalu katanya lagi:
"Kalau aku tidak salah ingat, seharusnya terdapat nona
Han Yan."
"Ya, yaa betul, memang nona itu bernama Han Yan!"
kembali si pengemis pikun bertepuk tangan.
Pelafi-pelan Oh Put Kui segera berpaling kearah Siau
Hong, lalu katanya lebih jauh:
"Nona, kalau begitu kau telah menggantikan kedudukan
nona Han Yan! Atau mungkin nona Han Yan sudah jemu
dengan pekerjaan semacam ini maka dia mengundurkan diri
dari pekerjaannya dan menikah."
Paras muka Liu Im sekalian berempat segera berubah
berulang kali, tapi belum menjumpai sesuatu yang
mencurigakan mereka berempat tak berani sembarangan
berkutik.
Siau Hong sebagai orang yang ditanya, tentu saja tak dapat
berdiam diri terus, maka sambil tertawa paksa sahutnya:
"Dugaan kongcu, kedua-duanya salah besar !"
"Aaah, aneh kalau begitu, aaah jangan-jangan nona Han
Yan telah jemu dengan segala macam kehidupan manusia
biasa, maka dia telah masuk kebidang agama dengan
mencukur diri menjadi rahib?" Siau Hong segera tersenyum.
"Kongcu, walaupun dugaanmu tidak benar toh tidak selisih
jauh, benar enci Han Yan memang telah suci sekarang, tapi
dia suci di alam baka, karena beberapa waktu berselang dia
diserang penyakit aneh dan menghembuskan napasnya yang
penghabisan!"
Oh Put Kui segera menghela napas sedih.
"Aaaa! kalau begitu, nona Han Yan benar-benar seorang
gadis cantik yang bernasib mengenaskan!"
"Siapa bilang tidak?" dengan wajah murung Siau Hong
menghela napas pula, kematian enci Han Yan benar-benar
mengenaskan."
Sekalipun Oh Put Kui telah berperan lebih baik, cuma Oh
Put Kui mengerti bahwa kematian Han Yan telah menimbulkan
pula perasaan ngeri dihati mereka.
Oleh karena itu tidaklah heran jika mereka turut bersedih
hati.
"Kong-cu-ya," pengemis pikun segera berseru sambil
tertawa, "tampaknya berita kematian dari nona Han Yan ini
masih belum tersiar sampai di ibu kota ?"
Oh Put Kui tertawa hambar.
"Kematian seorang pelacur kenapa mesti dianggap begitu
serius dan penting ? Lok tayjin, bukannya aku sengaja
mengurangi suasana gembira disini, tapi sebenarnya
perbuatan para pembesar dari ibu kota betul-betul kelewat
brutal."
Pengemis pikun kesima, kemudian sahutnya berkali-kali:
"Benar... benar..."
Padahal dalam kenyataan dia tidak tahu apa, yang
dimaksudkan oleh Oh Put-kui, tapi dia tahu asal mengucapkan
kata "benar" maka jawaban tersebut sudah pasti tak bakal
salah Iagi.
Sementara itu mimik wajah Liu Im berempat semakin tak
menentu dan berubah-ubah, tamu yang dijumpainya sekarang
boleh dibilang merupakan tamu paling istimewa yang
dijumpainya tahun ini.
Berbicara soal dandanan, Oh kongcu ini memiliki gaya dari
seorang pangeran.
Tapi kalau ditinjau dari soal pembicaraan dia justru lebih
mirip seorang jagoan persilatan dari golongan putih. Mereka
sudah berusaha keras untuk menemukan suatu cara yang
paling baik untuk menghadapi tamu semacam ini, tapi untuk
beberapa saat mereka justru tidak berhasil menemukan sikap
semacam apakah yang sepantasnya diperlihatkan hingga tak
sampai menimbulkan kesulitan.
Oleh karena itu sambil tersenyum, Liu Im segera berkata
kepada Oh Put kui: "Oh kongcu, dalam keadaan seperti ini,
aku sangat berharap bisa berbincang-bincang dengan kongcu
sambil menikmati keheningan suasana, kebetulan kami
berempat mengerti juga tentang seni suara, bagaimana kalau
kami bawakan sebuah lagu untukmu."
Oh Put-kui tahu kalau ke empat orang perempuan
penghibur itu sudah menaruh curiga kepadtnya, sambil
tertawa segera sahutnya:
"Setelah berada dalam barisan perempuan tampaknya aku
harus menurut saja..."
Khi Cui dan Wi Hiang segera tertawa, mereka lantas
mengambil kim dan harpa dari atas dinding, kemudian jari
jemari mereka memetik senar-senar harpa itu membawakan
irama merdu, sedang Liu Im Siu liong menarik suara.
-oooOooo-
Mendengarkan suara nyanyian yang begitu merdunya.
Pengemis pikun sampai melongo dengan mata terbelalak.
Ia benar-benar amat girang, sebab selama hidup baru
pertama kali ini dia merasakan suasana semacam ini.
Arak wangi, hidangan Iezat, perempuan cantik, nyanyian
merdu dan tarian indah.... kesemuanya itu hampir saja
membuatnya menjadi mabuk kepayang.
Oh Put Kui masih saja duduk dengan senyuman dikulum,
padahal perasaannya makin lama semakin berat.
Dia mempunyai rencana untuk menaklukkan ke empat
orang perempuan itu dalam sekali serangan.
Demi gurunya, mau tak mau dia harus turun tangan
terhadap perempuan perempuan penghibur itu.
Dia ingin mencari tahu tempat tinggal Thian hiang Hui-cu Ki
Yan-hong dari mulut ke empat orang dayang tersebut,
kemudian berusaha untuk membebaskan gurunya dari
kesulitan.
Perjamuan telah berlangsung, nyanyianpun telah berakhir.
Sambil tertawa tergelak, pengemis pikun berkata:
"Merdu merayu, lembut mengalun, selain cantik nona
berempat memang mempunyai kepandaian yang amat
menarik hati.!"
Oh Put Kui tak kuasa menahan gelinya, dia segera berseru:
"Lok . . . Lok tayjin, tampaknya kau adalah orang yang amat
mengenal seni suara!"
Mencorong sinar terang dari balik mata pengemis pikun,
sambil tertawa sahutnya:
"Kongcu, aku yang rendah belum pernah merasa
segembira hari ini..."
Liu Im segera memenuhi cawannya dengan arak, kemudian
ujarnya dengan manja:
"Biarlah aku yang rendah sekalian menghormati arak
secawan sebagai rasa terima kasih kami atas pujian kongcu
dan tayjin."
Sambil berkata dia lantas meraba tengkuk si pengemis
pikun dengan lemah lembut.
Serta merta pengemis pikun menyingkir kesamping dengan
perasaan terkejut.
Menyaksikan rabaannya dihindari Liu Im kelihatan tertegun,
lalu katanya lagi dengan lembut:
"Tayjin, apakah kau merasa aku yang rendah kotor?" Satu
ingatan cerdik segera melintas dalam benak pengemis itu,
sambil tertawa dia menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Bukan begitu nona, selama berada dihadapan Oh Kongcu,
terpaksa aku harus tahu menahan diri."
Mendengar itu, Liu Im segera tertawa cekikikan.
Sedang Siau Hoag yang berada disisi Oh Put Kui juga
sudah mulai melancarkan ilmu rayuan mautnya.
Seluruh tubuhnya hampir boleh dibilang bersandar diatas
dada pemuda itu, sambil mendongakkan kepalanya dia
berkata dengan manja:
"Koogcu, suara parau aku yang rendah mungkin hanya
akan mengganggu pendengaran Kongcu saja, bagaimana
kalau kuhormati kau dengan secawan arak sebagai
permintaan maafku ? Kongcu, kau harus memberi muka
kepada aku yang rendah."
Walaupun dihati kecilnya diam-diam Oh Put Kui tertawa
geli, tapi dia merasa tak tahan juga menghadapi rayuan
lembut dari perempuan cantik itu.
Yaa, lelaki mana yang bisa melewati barisan perempuan
dengan selamat? Apalagi Oh Put Kui cuma manusia biasa.
Tangannya segera merangkul pinggang Siau Hong yang
ramping dan menekannya keras-keras, sementara sekulum
senyuman aneh tiba-tiba menghiasi ujung bibirnya.
Dengan sorot mata yang tajam, pengemis pikun
mengawasi wajah pemuda tersebut tanpa berkedip, inilah
keputusan yang terakhir.
Jika senyuman dari Oh Put K.ui telah berubah, maka pada
saat yang bersamaan mereka akan turun tangan secara
serentak.
Tapi senyuman yang menghiasi ujung bibir Oh Put Kui
masih saja tetap dan tak berubah.
"Lama kelamaan habis sudah kesabaran pengemis pikun,
dia lantas berkata dengan lantang:
"Kongcu, Van-hiang-su-hoa memang merupakan empat
bunga yang indah dan menahan di kota Kim-leng, cukup
didengar dari suara nyanyiannya yang begitu merdu, boleh
dibilang jarang sekali dijumpai gadis semacam mereka ini..."
Suara tertawanya amat keras dan nyaring, karena saat
inilah yang mereka nanti-nantikan selama ini.
Sepasang mata Oh Put Kui yang bersinar jeli, tiba-tiba saja
berubah menjadi aneh sekali menyusul gelak tertawa
pengemis pikun yang keras, ketika pengemis pikun
menyaksikan sorot mata tersebut ia segera bersorak didalam
hati.
Tangan kiri Oh Put Kui yang menempel diatas pinggang
Siau Hong itu mendadak menekan keras, sementara tangan
kanannya pada saat yang bersamaan disentilkan ke muka
melepaskan dua buah serangan berantai ka arah tubuh Khicui
dan Wi hiang.
Ditengah jeritan kaget yang berkumandang saling beruntun,
empat orang dari Thian hiang itu sudah kena dipecundangi
semua.
Jalan darah Wi Kiong-hiat ditubuh Liu Im pun kena di totok
oleh pengemis pikun.
Untuk menghadapi seorang korban saja-sudah barang
tentu bagi pengemis tersebut lebih dari cukup.
Sebaliknya Oh Put Kui sendiripun dapat bekerja dengan
enteng dan amat santai.
Buktinya hanya didalam sekali gerakan saja, Khi-cui, Wihiang
dan Siu-hong sudah berhasil dikuasai sama sekali.
Oh Put Kui tertawa hambar, memandang kearah empat
dayang Thian-hiang yang sedang melotot ke arahnya dengan
perasaan gemas. marah, gelisah, jengkel dan kaget itu, dia
berkata dengan suara rendah:
"Maaf, terpaksa aku harus menyiksa kalian berempat!"
Mimpi pun ke empat orang dayang Thian-hiang itu tak
pernah menyangka kalau dalam dunia persilatan masih
terdapat orang berani mencari gara-gara dengan mereka
berempat.
Apa yang terjadi sekarang sungguh membuat mereka tidak
puas, tidak takluk.
Sementara itu si pengemis pikun telah melompat ke depan
pintu dan menguncinya rapat rapat.
"Lok tua, pertunjukkan bagus sekarang baru akan dimulai!"
Oh Put Kui kemudian sambil tertawa hambar.
Pengemis pikun tertawa tergelak.
"Benar, hei bocah muda, aku siap menantikan
perintahmu..."
Dengan sinar mata yang tajam bagaikan sambaran kilat,
Oh Put Kui memandang sekejap ke arah Liu Im, lalu
bentaknya keras-keras:
"Aku hanya ingin menyelidiki tentang satu hal kepada
kalian, asal kalian bersedia untuk menjawab dengan
sejujurnya, maka akupun tak akan menyusahkan kalian!"
Setelah berada dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang
bisa dilakukan oleh Liu im sekalian berempat? Mereka betulbetul
mau menangis tak bisa, tertawa apa lagi.
Jalan darah yang tertotok membuat sekujur badan mereka
tak sanggup bergerak, selain matanya yang masih bisa
bergoyang, hampir seluruh tulang belulangnya terasa sakit
bagaikan remuk.
Diantara ke empat orang dayang itu Liu Im merupakan
pemimpin diantara mereka.
Setelah melirik sekejap kearah ketiga orang rekannya,
dengan perasaan gemas dia berseru.
"Siapakah kau? Mengapa kau melakukan perbuatan
semacam ini terhadap kami? Tahu kah kau, perbuatanmu itu
telah mengundang bencana besar bagi dirimu sendiri ?"
"Nona, kau tak usah bertanya siapakah diriku," kata Oh Put
Kui sambil tertawa, "Sedang bencana besar yang kau
maksudkan bagi pendengaran kami justru amat menggelikan
sebab tujuan dari kedatanganku ke tempat ini adalah untuk
menerbitkan bencana besar..."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" jerit Liu Im dengan
suara tercengang.
"Hmmm, aku hanya ingin mencari tahu tentang kabar berita
seseorang!"
Sekali lagi Liu Im tertegun, "Siapa?"
"Ki Yan-hong!"
Hampir saja ke empat orang dayang itu menjerit tertahan
saking kagetnya setelah mendengar perkataan itu, lama sekali
mereka termangu-mangu dan ternyata tak seorang pun yang
menyahut.
Sambil tartawa dingin Oh Put Kui berkata lagi:
"Tidak kenal? Nona aku percaya kalian pasti sangat
mengenal diri orang itu"
"Kong cu, sebenarnya siapakah kau ?" tanya Liu Im dengan
sinar mata sayu karena duka.
Oh Put Kui tertawa dingin.
"Soal ini tak usah nona tanyakan, apa yang kalian kerjakan
hanya menjawab apa yang ku ajukan kepada kalian !"
Siau-hong, dayang termuda diantara ke empat orang itu
tiba-riba berteriak keras:
"Kau.,.kau si iblis jahanam... cepat bebaskan jalan darah
kami."
"Nona, kau belnm menjawab pertanyaan yang kuajukan
tadi!"
Siau-hong menjadi amat gusar sehingga sepasang
matanya melotot brsar kembali teriaknya:
"Iblis...sampai mati pun aku tak akan memberitahukan hal
ini kepadamu.."
"Benarkah itu?" Pengemis pikun tertawa aneh. "budak cilik,
lebih baik jangan sembarangan berbicara kalau tidak merasa
tulangmu sudah cukup keras!"
Oh Put Kui tertawa dingin, dia mengalihkan pula sorot
matanya kewajah perempuan-perempuan itu dengan sinar
mata setajam sembilu kemudian jengeknya.
"Kalian anggap aku benar-benar tak berani menggunakan
kekerasan untuk memaksa kalian?"
Sikap yang begitu angker dan seram tersebut, seketika
menggetarkan setiap orang.
Gemetar keras sekujur badan Liu Im karena ngeri,
sahutnya kemudian dengan suara lirih:
"Kongcu, tahukah kau siapa kami berempat ?"
Oh Put Kui menjengek sinis.
Sebaliknya pengemis pikun membentak keras:
"Ngaco belo, bicara tak karuan!" tiba-tiba sorot mata Liu Im
pun berkilat, kemudian tertawa, pikirnya dengan cepat:
"Ternyata kalian memang benar-benar anggota dunia
persilatan kalau toh begitu, berarti ancaman terhadap jiwa
kami pun menjadi tipis sekali..."
Ia bisa berpikir demikian karena dia menganggap nama
besar dari majikannya sudah terlampau termashur dalam
dunia persilatan Ditinjau dari keberanian mereka untuk datang
mencari gara-gara dengan majikannya, tentu saja merekapun
tak akan mencelakai dirinya sebagai seorang dayang
sehingga merusak nama baik sendiri, sebab dia cukup
mengetahui titik kelemahan orang persilatan lebih suka
menjaga gengsi dan nama baik daripada mempersoalkan
yang lain.
Berpikir demikian, dia lantas bertanya:
"Kongcu, ada urusan apakah kau mencari majikan kami?"
"Tak usah banyak bicara," bentak pengemis pikun gusar,
"persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan
kalian!"
Liu Im segera mendengus dingin, "Jika kalian berdua tak
mau menerangkan alasannya lebih dulu, terpaksa kamipun tak
bisa memenuhi keinginan kalian itu!"
Pengemis pikun menjadi semakin gusar, bentaknya:
"Budak sialan, kau berani menantang aku? Baik, lohu akan
suruh kau merasakan kelihayanku..."
Begitu selesai berkata, dia lantas mengayunkan telapak
tangannya melancarkan sebuah pukulan kearah punggung Liu
Im.
Oh Put Kui yang menyaksikan kejadian itu segera berseru
cepat:
"Lok, tua ampuni selembar jiwanya!" Waktu itu telapak
tangan si pengemis pikun sudah menempel diatas punggung
Liu Im, tenaga dalamnya juga sudah siap dilancarkan keluar,
seandainya Oh Put Kui tidak membentak tepat pada
waktunya, sudah pasti Liu Im akan merasakan suatu
penderitaan yang luar biasa.
Untung saja kepandaian silat yang dimiliki pengemis pikun
sudah mencapai pada taraf yang sempurna, sehingga
mendengar suara tersebut, dengan cepat dia menarik kembali
tenaga serangannya.
Kendati pun demikian, peluh dingin toh sempat jatuh
bercucuran juga membasahi seluruh badan Liu im.
"Terlalu enakan budak sialan ini...." omel pengemis pikun
dengan perasaan tidak puas.
Oh Put-kui tertawa hambar.
"Lok tua, sabarlah dulu, mereka pasti akan mengakui
dengan terus terang" katanya.
Tapi kemarahan sipengemis tua itu belum juga mereda,
sambil tertawa dingin dia berseru:
"Bocah muda, kau jangan sampai terpikat olehnya."
Mendengar itu, Oh Put-kui tertawa gelak.
"Haaahh.... haaaaahhh haaahhh.... jangan kuatir, didalam
dunia pada saat ini masih belum ada orang yang bisa
membuat diriku jadi terpikat!"
Kemudian sambil menarik kembali senyumanya, dia
berpaling kearah Liu Im dan membentak lagi:
"Nona, terus terang kukatakan bahwa aku tak ingin
mencelakai jiwa kalian, oleh sebab itu akupun berharap nona
bisa baik-baik membawa diri."
"Hmm, memetik bunga didapati kerbau.. ..." kembali
pengemis pikun itu tertawa mengejek.
Agaknya saat ini Lin im sudah tahu kalau kongcu yang
berada dihadapannya sekarang bukan seorang manusia yang
mudah dihadapi, setelah berputar otak sekian lama, akhirnya
berhasil juga dia menemukan suatu akal yang amnt bagus.
"Kongcu, bukannya aku tak mau berkata" katanya
kemudian "melainkan. .,. "
Dia sengaja menjual mahal dan tidak melanjutkan
perkataannya sedang matanya segera mengerling kewajah
Oh Put-kui, si anak muda itu tersenyum.
"Nona, lebih baik kau tak usah berlagak lagi, apa yang kau
pikirkan sudah cukup jelas bagiku!"
Terkesiap juga Liu Im setelah mendengar perkatan itu, tapi
perasaan mana tak berani di-utarakan diatas wajahnya.
Maka sambil berusaha keras untuk mempertahankan
ketenangannya, dia berkata sedih "Kongcu, setelah kau
mengetahui asal usul kami bersaudara tentunya juga tahu
bukan akan tabeat dari majikan kami? Bila kalau sampai
menyebutkan tempat tinggalnya tanpa mengetahui alasannya,
maka mungkin sekali hal ini akan..."
Berbicara sampai disitu, kembali ia berhenti ditengah jalan.
Oh Put-kui berkerut kening, dia seperti mengucapkan
sesuatu, tapi niat tersebut kemudian diurungkan.
Berdua dengan pengemis pikun, habis sudah
kesabarannya menghadapi keadaan seperti itu, dengan gusar
dia lalu membentak
"Budak kecil, bila kau masih saja berbicara mencla-mencle,
jangan salahkan kalau aku si pengemis tua akan segera
membunuhmu!."
Begitu kata "si pengemis tua", disebutkan, maka
terbongkarlah kedudukan dan rahasiaj pengemis tersebut.
Siauw Hong yang pertama-tama menjerit keras lebih dulu:
"Kalian adalah anggota Kay-pang ?" pengemis pikun agak
tertegun sejenak, kemudian bentaknya cepat:
"Kalian tak usah mencampuri urusan ini!" Mungkin dalam
pandangan ke empat orang perempuan itu Kay-pang adalah
suatu perkumpulan lemah yang tak perlu dikuatirkan maka
setelah mengetahui ranasia tersebut mimik wajah mereka
yang semula menegang pun kini menjadi jauh lebih kendor.
Dengan suara lembut Liu Im berkata : "Kau orang tua
sudah pasti adalah salah Satu diantara ke enam orang tianglo
dari kay-pang, sedang kongcu ini, mungkinkah ia adalah murid
pertama dari Kongsun pangcu ?"
Dilihat dari mimik wajah serta nada pembicaraan ke empat
orang perempuan itu, Oh Put-kui sudah dapat menduga apa
yang menjadi pikiran mereka berempat.
Dengan kedudukannya sebagai empat dayang
kepercayaan Thian-hiang Hui-cu Ki Yan-hong, tentu saja
mereka tidak memandang sebelah matapun terhadap
perkumpulan Kay-pang.
Maka sambil tertawa dingin ujarnya: "Kalian jangan lupa,
nyawa kamu berempat sudah berada didalam genggamanku."
tampaknya keberanian ke empat orang perempuan itu makin
lama makin menjadi, baru saja Oh Pni-kui menyelesaikan
kata-katacya, mendadak terdengar Siau Hong berkata dengan
suara dingin:
"Hmm, jangan lagi kalian, sekalipun pangcu kalian Kongsun
Liang juga tak berani mengganggu seujung rambutku pun,
padahal kau tak lebih cuma muridnya Kongsun Liang...
hmmm, kesombonganmu betul-betul mendekati keadaan tak
tahu tingginya langit dan tebalnya bumi..."
Belum habis perempuan itu berkata, pengemis pikun sudah
gusar, mendadak dia mengayunkan telapak tangannya dan
menampar wajahnya keras-geras.
Sekalipun tamparan itu tidak dilakukan tanpa disertai
tenaga dalam, toh akibatnya cukup mengenaskan, lima buah
bekas telapak tangan yang memerah telah membekas jelas
diatas pipinya yang pntih.
"Hmm, kalian anggap nama besar Kongsun pangcu boleh
sembarangan disebut oleh perempuan-perempuan lonte
seperti kalian?" teriaknya marah, "hmm, kalian harus tahu, aku
si pengemis tua tidak sesabar bocah muda itu, kalau berani
mengoceh tak karuan sekali lagi, jangan salahkan kalau aku si
pengemis tua tak akan sungkan-sungkan kepada kalian..."
Sekarang, keempat orang dayang itu baru terperanjat
sebab sepanjang sejarah baru pertama kali ini mereka jumpai
anggota Kay pang yang tidak jeri terhadap nama majikannya.
Sementara itu, paras muka Oh Put-kui juga telah berubah
menjadi amat mengerikan, dengan suara dingin ia
membentak: "Aku sama sekali tiada hubungan apa-apa
dengan pihak Kay-pang, lebih baik kalian jangan salah paham
dengan menghubungkan aku dengan perkumpulan lain..."
Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya:
"Bila kalian merasa berkepandaian silat lebih lihay dari ke
tujuh orang kakek yang menghuni di Pulau Neraka, silahkan
saja, tunjukkan keangkuhan kalian itu."
Begitu mendengar nama "Pulau Neraka," disebutkan, paras
muka ke empat orang perempuan itu berubah menjadi pucat
pias, peluh dingin jatuh bercucuran sementara matanya
terbelalak lebar.
@oodwoo@
Jilid ke 8
Sekarang mereka baru sadar bahwa kongcu yang mereka
hadapi sekarang, ternyata adalah Long-cu koay-hiap
(pendekar aneh pengembara) yang namanya menggetarkan
dunia persilatan belakangan ini.
Tak heran kalau mulut mereka segera terkunci rapat-rapat
dan tak berani berkutik lagi.
orang persilatan telah melukiskan si "pengembara" yang
bernyali besar dan berilmu tinggi sukar diukur ini mendekati
seperti seorang malaikat. Mimpipun mereka tak mengira kalau
si pendekar aneh tersebut masih berusia begitu muda, malah
justru telah muncul dihadapan mereka berempat. Untuk
beberapa saat, mereka jadi termangu mangu dan memandang
wajah oh Put Kui dengan perasaan yang amat terkesiap.
sebaliknya oh Put Kui tetap tenang, dia tahu orang
persilatan telah mengibaratkan dia bagaikan malaikat, itulah
sebabnya dia bersikap acuh tak acuh terhadap pandangan
orang.
Pengemis pikun yang berada disisi arena masih saja
tertawa dingin tiada hentinya, terdengar ia kembali
membentak: "Budak ingusan, kalian sudah berpikir jelas ?"
Tentu saja mereka sudah berpikir jelas, mereka bukan
orang bodoh tentu saja mana yang menguntungkan dan mana
yang merugikan dapat dibedakan dengan jelas.
Liu Im memutar biji matanya yang jeli, kemudian katanya
pelan: "Bolehkah aku yang rendah sekalian menanyakan
nama besar Kongcu?"
"Aku oh Put Kui"
"Oh Kongcu..." kata Liu Im sambil tertawa, "maaf kalau aku
yang rendah sekalian tak bisa memberi hormat kepadamu
karena jalan darah kami masih tertotok...."
"Tidak usah" oh Put Kui sambil tersenyum, "asal nona
berempat bersedia untuk menerangkan dimana letak rumah
kediaman majikan kalian, aku sudah merasa sangat berterima
kasih sekali..."
"Oh Kongcu" kata Liu Im pelan, "bukannya kami tidak
bersedia memberitahukan alamat majikan kami kepada
Kongcu, adalah Kongcu sendiri yang tak mau menerangkan
maksud kedatanganmu, bila aku yang rendah melanggar
peraturan dengan memberikan alamat suhu kami, niscaya
nyawa kami berempat akan terancam...."
Beberapa patah kata itu diutarakan dengan suara
sesengukkan, malah sampai akhirnya hampir saja menangis.
"Sungguhkah demikian ?" tanya oh Put Kui dengan kening
berkerut.
"Masa aku yang rendah berani membohongi Kongcu ?"
oh Put Kui segera menggelengkan kepalanya,
memejamkan mata dan tidak berbicara lagi. sebaliknya
pengemis pikun berseru dengan gusar:
"Waaduhh.... betul betul repot, tampaknya akal bulus kalian
benar benar amat banyak"
"Locianpwe, kau harus maklum, kami mempunyai kesulitan
kami sendiri, harap kalian suka memaafkan."
"Heehhhh.... heeeehhh... heeehhhh. memaafkan- Lohu
sudah cukup memaafkan kalian-"
Kembali Liu Im tertawa sedih.
"Locianpwe, bagaimanapun juga kalian tak akan
membiarkan kami dihukum mati oleh majikan kami sendiri
tanpa berusaha untuk menolong bukan ?" "Hmm..." kembali
pengemis pikun itu tertawa dingin. "Kenapa aku mesti
menolong kalian? Berbicara dari perbuatan terkutuk yang
kalian lakukan selama ini dalam dunia persilatan, sekalipun
mati seratus kali lagi juga belum cukup untuk menebus dosa
tersebut. Lohu mah tak akan memiliki hati yang begitu welas "
Mendengar perkataan itu, Liu Im merasa terkesiap sekali.
"Pengemis itu tampaknya tak bisa didekati dengan cara yang
halus tapi tak dapat pula dihadapi dengan kekerasan. itu
berarti kemungkin mereka berempat bisa lolos dari situ
dengan keadaan selamat menjadi tipis sekali.......
Tanpa terasa ia lantas berpaling kearah oh Put Kui sambil
berkata: "Kongcu, kalau begitu lebih baik bunuhlah kami
berempat................"
setelah menangis tersedu-sedu, kembali lanjutnya:
"Lebih baik kami mati ditangan kongcu saja daripada mati
secara mengenaskan ditangan majikan kami "
Begitu ia selesai berkata, Khi Cui, Wi Hiang dan siau Hong
segera berseru pula bersama sama...
"Kongcu, bunulah kami semuaa..... Kamu tak akan tahan
menerima siksaan keji dari majikan kami.........."
sikap yang diambil keempat perempuan itu sangat
menyusahkan oh Put Kui, karena dia memang tidak berniat
utk membunuh keempat orang itu, tujuan kedatangannya tak
lebih hanya ingin membantu gurunya untuk melepaskan diri
dari kesulitan-
Apalagi setelah ia tahu kalau Thian Hiang Hui Cu Ki Yan
Hong adalah bekas kekasih gurunya, dia lebih lebih tak ingin
menyalahi anak murid dari Thian Hiang Hui Cu.
setelah termenung beberapa saat, akhirnya pemuda itu
menghela napas panjang, katanya :
"Nona, terus terang kuberitahukan kepada kalian,
sebenarnya aku tidak mempunyai dendam sakit hati apa apa
dengan majikan kalian, aku ingin bertemu dengannya karena
ingin berbicara sebentar saja dengannya"
Mendengar perkataan itu, perasaan keempat orang
perempuan itu menjadi lega.
-ooooooosambil
tertawa, Liu Im segera berkata:
"Kongcu, benarkah kau hanya ingin berbicara sebentar saja
dengan majikan kami?"
"Sejak dilahirkan sampai sekarang, aku belum pernah
berbicara bohong...." kata oh Put Kui dengan wajah serius.
Tiba-tiba nona siau Hong tertawa.
"Dengan nama besar Kengcu, kami semua merasa
mempercayainya seratus persen-"
"Hmmm, sekalipun tidak percaya juga harus percaya." sela
pengemis pikun sambil tertawa mengejek.
Buru-buru oh Put Kui mengerling sekejab kearah pengemis
pikun, melarangnya banyak berbicara lagi. Dia kuatir kalau
sampai menggusarkan keempat orang perempuan itu maka
hal mana justru malah akan membengkalaikan urusan-sedang
pengemis pikun memang sangat menuruti perkataan dari oh
Put Kui, begitu diberi tanda, terpaksa manggut-manggut.
Maka sambil tertawa oh Put Kui berkata lagi kepada
keempat orang perempuan itu:
"Nona berempat, aku harap kalian bisa cepat - cepat
memberitahukan kepadaku tempat tinggal Ki locianpwe, sebab
kalau tidak. bila jalan darah kalian berempat tertotok kelewat
lama, maka akhirnya yang bakal menderita adalah kalian
sendiri"
Mendengar perkataan itu, dengan suara rendah Liu Im
lantas berbisik:
"Setelah kami mempercayai kongcu, tentu saja kamipun
akan menghantar kongcu kesana..."
"Apakah kalian berempat akan pergi bersama?"
Liu Im kembali menggelengkan kepalanya.
"Adik siau Hong yang akan membawa kongcu kesana.
sedangkan kami bersaudara masih harus tugas disini....."
Walaupun dia hanya seorang penghibur, akan tetapi
setelah berjumpa dengan manusia seperti oh Put Kui, ternyata
sikap mereka turut berubah juga menjadi serius.
Maka mereka tak berani mengatakan "harus menerima
tamu", melainkan kata itu dirubahnya menjadi "harus bertugas
disini".
Diam-diam pengemis pikun menggelengkan kepalanya
sambil berpikir: "Bocah muda itu benar-benar luar biasa sekali,
sampai sampai lontepun tahu malu...."
sementara itu oh Put Kui telah berkata sambil tertawa
hambar: "Kalau memang begitu, aku harus merepotkan nona
siau Hong...."
Begitu selesai berkata, dia lantas menggerakkan tangannya
melancarkan tiga buah totokan untuk membebaskan jalan
darah Khi cui, Wi Hiang serta siau
Hong yang tertotok.
Pengemis pikunpun segera menepuk bebas jalan darah Liu
Im, cuma sikapnya tidak selembut oh Put Kui, sambil
membebaskan pengaruh totokan tersebut, dia membentak
keras:
"Lebih baik kalian bertindaklah dengan sedikit sopan, kalau
tidak. kalian sendirilah yang bakal menderita"
Begitu totokannya dibebaskan, keempat orang perempuan
itu segera menghela napas panjang.
sambil menggerakkan otot-otot badannya yang kaku, Liu Im
berkata: "Kau orang tua tak usah kuatir. Kami empat budak
Thian- hian bukan manusia yang termasuk golongan licik, apa
yang telah kami ucapkan, selamanya tak pernah disesali
kembali."
setelah berhenti sebentar, katanya kepada oh Put Kui
sambil tertawa: "Kongcu, ikutlah nona siau Hong kesana"
sementara itu nona siau Hong telah bangkit berdiri, setelah
memberi hormat kepada oh Put Kui katanya: "Silahkan
Kongcu"
oh Put Kui segera memberi tanda kepada pengemis pikun,
kemudian dia membuka pintu dan berjalan keluar dari situ
dengan langkah lebar. Dengan cepat pengemis pikun
menyelinap dibelakang tubuh nona siau Hong dan
mengawasinya secara ketat.
Dia tidak percaya dengan budak budak tersebut, maka
untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan,
dia harus bersiap sedia selalu.......
Ternyata Liu Im, Khi Cui dan wi Hiang tidak melakukan
tindakan apa-apa, dengan sikap yang amat menghormati
mereka menghantarkan keberangkatan pemuda tersebut.
Kejadian mana kontan saja membuat oh Put Kui dan
pengemis pikun menjadi tertegun, sebab hal ini sama sekali
diluar duagaannya.
Tapi berada dalam keadaan seperti ini, mereka tak sempat
untuk berpikir lebih jauh lagi, dengan mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya, mereka mengikuti dibelakang tubuh
siau Hong dengan kencang.....
-ooooooo-
Nona siau Hong mengajak oh Put Kui dan pengemis pikun
berdua menuju kedepan sebuah patung sik-ang-tiong yang
besar sekali didepan kuburan siau-leng. Tiba-tiba saja nona itu
tidak berjalan lagi. "Sudah sampai"
"Sudah sampai ? Ki Yan Hong tinggal disini?"
saking herannya pengemis pikun sampai melototkan
matanya besar-besar dan berteriak aneh.
Nona siau-hong tertawa, sahutnya:
"Benar, majikan kami memang tinggal didalam kuburan
sian-leng ini"
"Nona, dimanakah kuburan tersebut? Apakah berada
dibawah tanah?" tanya oh Put Kui sambil tertawa.
Nona siau-hong turut tertawa.
"Apa yang Kengcu ucapkan memang benar, letaknya
memang berada dibawah kuburan siau-leng"
Pengemis pikun menjadi tertegunsungguh
besar nyali Thian-hiang Hui-cu, ternyata dia berani
tinggal didalam kuburannya kaisar Tay-cu-huang-leng. Apakah
pihak kerajaan tak ada yang mengurusi ulahnya ini?
sebaliknya oh Put Kui hanya menggelengkan kepalanya
sambil berkata: "Mengapa majikan kalian berani menghina
dan mengusik ketenangan Kaisar yang telah tiada? Kompleks
pekuburan sian-leng merupakan kompleks pekuburan raja
raja, apakah majikan kalian tidak kuatir ditangkap oleh pihak
Kerajaan ?" Tiba-tiba siau Hong tertawa, sahutnya:
"Kongcu, bila kau telah bersua dengan majikan kami nanti,
persoalannya akan menjadi jelas dengan sendirinya, budak
sekalian tak berani memberikan
kritik seenaknya sendiri, harap kongcu dapat
memakluminya."
oh Put Kui manggut manggut dan tidak berbicara lagi.
sebaliknya si pengemis pikun berseru sambil tertawa aneh:
"Budak, banyak amat permainan busukmu, hayo cepat
katakan, bagaimana cara kita untuk masuk kedalam?"
Nona siau Hong tertawa, dia segera maju kedepan
mendekati patung sik-ang-tiong dan mengetuk bagian
perutnya dua kali, kemudian dia berbelok
kesebelah kiri dan membisikkan sesuatu diantara celah
celah pakaian-... Belum habis dia berbisik, patung sik-angtiong
tersebut telah bergeser sejauh tiga kaki kesamping,
menyusul kemudian muncullah sebuah pintu rahasia.
sambil tertawa terbahak-bahak. pengemis pikun berseru:
"Benar-benar sebuah cara yang sangat bagus, baru
pertama kali ini aku sipengemis tua menyaksikan cara
membuka pintu rahasia dengan cara semacam
ini."
"Benar, selain leluasa juga amat hati-hati" sambung oh Put
Kui sambil tertawa juga.
sambil tertawa nona siau Hong segera melangkah masuk
ke dalam lorong rahasia bersebut, katanya:
"silahkan kalian berdua mengikuti budak masuk kedalam"
"silahkan-....." sambung pengemis pikun-
Mungkin saking girangnya, maka dia mengucapkan kata
sungkan.
Nona siau Hong berpaling dan memandangnya sambil
tertawa, kemudian dia berjalan lebih dulu memasuki lorong
rahasia tersebut.
oh Put Kui dan pengemis pikun segera mengikuti pula
dibelakang tubuhnya. Lorong rahasia itu menjorok ke bawah,
mereka harus berjalan sedalam sepuluh kaki lebih sebelum
mencapai permukaan tanah yang datar. oh Put Kui segera
mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengawasi daerah
disekeliling tempat itu, dijumpainya luas lorong rahasia itu
tidak sampai dua kaki, tapi tingginya mencapai tiga kaki lebih
dan luas sekali. Pada kedua belah dinding lorong rahasia tadi
terdapat beberapa butir mutiara, itulah sebabnya suasana
disekitar tempat itu tidak kelewat gelap. Akan tetapi setelah
mencapai tanah yang datar, suasanannya menjadi terang
benderang.
Disana nampak sebuah pintu besar, pintu itu terbuat dari
batu kemala yang penuh dengan ukiran, sehingga nampak
sangat anggun dan indah sekali. Diatas pintu terpancang
sebuah papan nama yang bertuliskan : "Tee- hu-thian- kiong "
oh Put Kui yang menyaksikan keadaan disana diam diam ia
merasa hatinya bergetar keras. Tampaknya tempat itu bekas
dihuni oleh orang-orang yang bertugas menjaga kuburan rajaraja
itu dimasa lampau.
Tiga ratus berselang, kerajaan Ming sudah runtuh, dan
gedung istana inipun entah sejak kapan berhasil ditemukan
oleh Thian hiang Hui-cu dan dipakai sebagai tempat
tinggalnya.
setelah melewati pintu gerbang, didalamnya merupakan
sebuah ruangan tamu yang luas. setelah ruang tamu terlihat
sebuah ruangan tengah yang luas sekali. Ruangan itu
tingginya mencapai beberapa kali dengan luas hampir puluhan
kaki lebih, betul betul sebuah ruangan yang amat besar.
Untuk membangun ruangan sebesar itu, entah berapa
banyak tenaga, pikiran dan uang yang telah dikeluarkan?
oh Put Kui menjadi gegetun sendiri, karena membangun
ruangan dalam kompleks kuburan dengan segitu megahnya
jelas merupakan suatu pemborosan yang tidak pada
tempatnya.
Waktu itu ruangan tengah yang amat luas itu sunyi senyap
tak nampak seorang manusiapUn.
Tapi didalam ruangan tersebut penuh dengan rak senjata
disekelilingnya, pelbagai macam senjata nampak tersedia
disana.
Setelah memperhatikan sekejap sekitar ruangan tersebut,
sambil tertawa pengemis pikun berkata:
"Tampaknya ruangan ini mirip sekali dengan sebuah
ruangan untuk berlatih silat."
Mendengar itu, Siau Hong segera tertawa sahutnya:
"Benar, ruangan ini memang ruangan yang disediakan
untuk berlatih ilmu silat."
Pengemis pikun tidak menyangka kalau dugaanya bisa
benar, sambil tertawa serunya:
"Benarkah itu?"
Nona Siau Hong kembali tertawa, katanya:
"Kongcu dan locianpwe ini silahkan duduk sebentar, budak
akan segera melaporkan kunjungan kalian kepada majikan
kami,......"
"Silahkan"
sambil tertawa siau Hong segera berlalu dari ruangan itu
dan masuk melewati sebuah pintu berbentuk rembulan disisi
ruangan.
Diam-diam pengemis pikun merasa keheranan setelah
menyaksikan keadaan disana, dia tidak habis pikir kenapa
ruangan Tee-hu-thian-kiong yang begitu luas bisa sunyi
senyap tak nampak seorang manusiapun, apakah Thianhiang
Hui-cu tinggal disana seorang diri?
Ia tidak percaya kalau perempuan tua itu tidak mempunyai
pembantu juga. sebaliknya oh Put Kui juga sedang berpikir
mengapa Ki Yan-hong menggunakan kompleks pekuburan
raja-raja ini sebagai tempat tinggalnya? Mungkinkah dibalik
kesemuanya itu terdapat hal-hal yang luar biasa?
Demikianlah, mereka berdua tercekam dalam lamunan
masing-masing, tapi toh tiada jawaban yang berhasil
didapatkanEntah
berapa lama sudah lewat, mendadak terdengar
suara tertawa merdu berkumandang memecahkan
keheningan, lalu terdengar seseorang berkata dengan merdu:
"oh kongcu, Lok locianpwe, majikan kami mempersilahkan
kalian untuk masuk kedalam."
oh Put Kui tidak merasakan apa-apa sesudah mendengar
perkataan itu, sebaliknya pengemis pikun merasakan hatinya
bergerak.
Ia sudah lama mendengar kabar kalau Ki Yan-hong adalah
seorang gembong iblis yang sangat kejam, mengapa dia
mempergunakan kata "mengundang" untuk
mempersiapkan mereka masuk? Mungkinkah apa yang
tersiar didunia persilatan tidak sesuai dengan kenyataan?
Tapi berada dalam keadaan seperti ini mereka tak sempat
untuk banyak bertanya lagi.
oh Put Kui memandang sekejap kearah wajah siau Hong
yang berdiri ditepi pintu berbentuk rembulan, lalu katanya
sambil tertawa: "Terima kasih banyak nona ?"
selesai berkata, dia lantas berjalan menuju kearah pintu
berbentuk rembulan itu.
Pengemis pikun mengikuti pula dengan kencang
dibelakangnya. setelah masuk kedalam pintu tersebut, oh Put
Kui segera merasakan pandangannya menjadi silau.....
sungguh indah sekali apa yang terlihat didepan mata.
Bangunan loteng, bangunan gardu, gunung-gunungan dan
batu-batuan disusun begitu indah didepan mata, menengok
dari balik pintu, tempat tersebut mana mirip seperti sebuah
kompleks tanah pekuburan? pada hakekatnya menyerupai
istana dilangit.
Tanpa terasa oh Put Kui menghela napas panjang dengan
perasaan amat kagum.
sedangkan peng emis pikunpun memuji tiada hentinya.
sambil tertawa siau Hong kembali berkata:
"Disini terdapat lima puluh delapan buah bangunan loteng
serta gardu indah, bila kongcu mempunyai kegembiraan,
dikemudian hari boleh datang kemari untuk menikmatinya.
Bukan budak sengaja mengibul, istana kaisar diibukotapun
paling cuma begitu saja bila dibandingkan dengan keindahan
tempat ini...."
"Apa yang nona katakan memang benar," ucap oh Put Kui
sambil tertawa, "semua yang indah diibu kota telah
kusaksikan, dan keindahan keraton kaisar memang tak lebih
indah dari tempat ini."
"Budak. tentunya bukan majikanmu yang membangun
keraton ini bukan ?" kata sang pengemis sambil tertawa.
"Tentu saja bukan-..... majikan kami hanya........"
Mendadak ia berhenti berbicara dan tertawa, sambungnya:
"Kongcu, locianpwe, silahkan mengikuti budak masuk
kedalam"
Ia lantas membalikkan badannya dan berjalan menelusuri
gunung-gunungan ditengah sana.
Walaupun oh Put Kui merasa seperti teringat akan sesuatu
setelah mendengar ucapan yang tak selesai itu, tapi karena
siau Hong enggan meneruskan pembicaraannya, tentu saja
diapun merasa kurang leluasa untuk bertanya lebih jauh.
Dengan mulut membungkam, mereka bertiga segera
berjalan menuju kedepan, menurut perhitungan oh Put Kui
secara diam-diam, mereka telah berjalan lima li sebelum tiba
ditempat mereka berada sekarang.
Didepan mata sekarang, tampaklah berdiri sebuah
bangunan loteng yang sederhana.
Dibawah loteng, berdiri dua orang gadis yang menyoren
pedang. siau Hong segera maju dan mengucapkan sesuatu
kepada kedua orang gadis tersebut, dua orang gadis itupun
membuka pintu loteng dan mempersilahkan tamunya masuk.
sambil tertawa oh Put Kui manggut manggut kearah dua
orang gadis itu, katanya: "Merepotkan nona berdua saja"
Kemudian dengan langkah lebar dia lantas berjalan masuk
kedalam ruangan loteng.
setelah memasuki bangunan loteng, dihadapan mereka
terlihat sebuah ruang altar Buddha yang amat indah.
Didepan altar terdapat sebuah kasur untuk duduk. dan
disitu duduklah seorang perempuan cantik setengah umur
yang berdandan model keraton-oh Put Kui segera merasa
terkesiap setelah menyaksikan kesemuannya itu, ternyata apa
yang tersiar dalam dunia persilatan tentang Thian- hiang Huicu,
sama sekali berbeda dengan kenyataannya.
Kalau dibilang perempuan berwajah suci dan anggun itu
adalah seorang iblis keji yang berwatak cabul, maka
perempuan didunia ini bukankah akan menjadi siluman
semua.
Bahkan sipengemis pikun yang tak pernah seriuspun, kini
mulai terpengaruh oleh suasana yang terbentang dihadapan
mukanya, ia tak mampu tertawa lagi. Dengan wajah yang
serius, dia berjalan masuk kedalam ruangan itu dengan
langkah pelan, seolah-olah kuatir kalau langkah kakinya akan
mengusik ketenangan disitu.
Pada saat itulah, siau Hong telah memburu kedepan lebih
dulu, sambil berlutut katanya:
"Majikan, oh Kongcu telah datang"
Perempuan cantik setengah umur yang berbaju putih dan
berwajah anggun itu segera membuka matanya, mencorong
sinar setajam sembilu dari balik matanya. Diam-diam
pengemis pikun berpikir:
"Tajam amat sepasang mata orang ini, nampaknya ilmu
silat yang dimiliki Permaisuri (Hui-cu) ini benar benar
menggidikkan hati." Belum habis dia berpikir, Thian- hiang
Hui-cu telah menatap wajah oh Put Kui dan berkata sambil
tertawa:
"Kongcu, silahkan duduk Dalam loteng yang kuhuni ini
selalu hanya tersedia kasur duduk saja, terpaksa aku harus
merendahkan derajat oh Kongcu dan tianglo dari Kaypang
ini......"
sementara itu, oh Put Kui sudah terpengaruh oleh
keanggunan orang maka mendengar perkataan itu, buru-buru
dia membungkukkan badannya memberi hormat sahutnya :
"Boanpwe oh Put Kui menjumpai Ki locianpwe........."
sembari berkata, dia lantas melakukan penghormatan
besar kepada perempuan itu.
Menyusul kemudian, pengemis pikun pun turut menjura
dalam-dalam. "Tak usah banyak adat, aku tak berani
menerimanya...." seru perempuan itu cepat.
Ujung bajunya dikebaskan kedepan, nyaris tubuh oh Put
Kui terangkat meninggalkan permukaan tanah. sedangkan
pengemis pikun, segera merasakan badannya terangkat satu
depa dari permukaan tanah.
Dari sini dapat diketahui betapa sempurnanya tenaga
dalam yang dimiliki perempuan itu.
Diam-diam oh Put Kui berdua merasa terkejut sekali
sehingga peluh dingin jatuh bercucuran membasahi tubuh
mereka.
Tapi diluarnya, oh Put Kui masih tetap bersikap dengan
hormat, sahutnya sambil menjura: "Terima kasih Ki cianpwe."
sedangkan pengemis pikun berkata:
"Lok Jin-ki dari Kay-pang menjumpai Ki lo....."
"silahkan duduk" tukas Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa
hambar.
"Boanpwe turut perintah......." kedua orang itu masingmasing
duduk diatas kasur yang telah tersedia.
setelah semua orang duduk Thian-hiang Hui-cu baru
mengawasi wajah oh Put Kui dengan seksama, kemudian
tegurnya:
"oh Kongcu, ada urusan apa kau datang mencari diriku?"
Suatu pertanyaan yang langsung ditujukan pada maksud
dan tujuan, hal ini membuat pemuda kita agak tertegun.
Tapi dengan cepat oh Put Kui menjawab dengan hormat:
"Boanpwe datang kemari karena ingin menanyakan tentang
satu hal kepada kau orang tua"
"Persoalan apa? silahkan Kongcu utarakan"
"Boanpwe datang kemari karena urusan guruku," ucap
pemuda tersebut serius, "boanpwe hanya berharap
selanjutnya lociapwe jangan mencari guru boanpwe lagi, agar
guru boanpwe bisa beristirahat dengan perasaan hati yang
lebih tenang......"
Thian-hiang Hui-cu nampak agak tertegun setelah
mendengar pertanyaan itu, serunya dengan cepat: "siapakah
guru Kongcu? Aku....."
Ia berhenti sebentar dan mengelengkan kepalanya
berulang kali, sambungnya: "Kongcu, apakah kau tidak salah
orang?"
"Boanpwe merasa tak mungkin salah orang, mohon
locianpwe sudilah kiranya....."
"sebenarnya siapakah gurumu?" tukas Thian- hiang Hui-cu
sambil tertawa.
"Guru boanpwe disebut orang Pendeta sinting Tay-gi
sangjin".
Begitu ucapan tersebut diutarakan, sekali lagi mencorong
sinar tajam dari balik mata Thian- hian Hui-cu.
Ditatapnya wajah oh Put Kui lekat-lekat, kemudian katanya
sambil tertawa:
"Apakah kau ahli waris dari Tay-gi?"
"Benar"
"Ehmmm......... dengan menggunakan tujuh bagian tenaga
Si-mi-sin-kang, nyatanya aku gagal membuatmu
meninggalkan permukaan tanah, hal ini menunjukkan kau
telah memperoleh warisan langsung dari Tay-gi sangjin-"
setelah tertawa, lanjutnya:
"Tay-gi bisa mempunyai murid seperti kau, rasanya diapun
boleh merasa lega hati"
-ooooooo-
Mendengar perkataan itu, oh Put Kui merasa amat terkejut.
oh Put Kui merasa terharu sekuli, pikirnya:
"Heran, mengapa orang tua ini bisa dianggap sebagai iblis
cabul oleh kebanyakan orang? Padahal apa yang berada
dihadapan ku sekarang ini adalah seorang perempuan anggun
yang menyerupai malaikat........"
Dalam hati dia berpikir begitu, diluar ujarnya:
"Locianpwe begitu memandang tinggi diri boanpwe, hal ini
sungguh membuat boanpwe merasa malu sekali "
Thian-hiang Hui-cu tersenyum, tiba-tiba ujarnya kepada
pengemis pikun: "Hei si pikun kecil, baik- baikkah dengan
Kongsun Liang ?" Buru-buru pengemis pikun melompat
bangun, lalu menjawab dengan sikap yang amat menghormat:
"Pangcu kami berada dalam keadaan sehat wal-afiat,
terima kasih banyak atas perhatianmu...."
Thian-hiang Hui-cu tertawa.
"Duduklah, selamanya aku tidak terlalu memperhatikan soal
adat istiadat atau tata kehormatan"
Buru- buru pengemis pikun mengucapkan terima kasih dan
duduk kembali ditempat semula.
setelah menghela napas panjang, Thian-hiang Hui-cu
kembali berkata: "Pikun kecil, diantara kalian suheng-te
bertujuh, Kongsun Liang memang terhitung paling becus dan
mampu, dulu aku pernah berkata kepada gurumu Ciangliong-
koay-siu (kakek aneh penakluk naga) Huyong Beng,
bilamana perkumpulan Kay-pang bisa dipimpin oleh orang ini,
maka Kay-pang pasti akan semakin besar dan jaya...."
setelah berhenti sebentar dan tertawa hambar, katanya
lebih jauh:
"Sekarang terbukti sudah, Kongsun Liang memang tidak
menyia-nyiakan harapan gurunya"
"Petunjuk berharga dari locianpwe, membuat boanpwe
sekalian merasakan manfaatnya, hal ini sungguh membuat
boanpwe sekalian merasa amat berterima kasih sekali."
Kembali Thian-hiang Hui-cu tertawa.
"Pikun cilik, ketika aku berjumpa dengan kalian ditempat
gurumu dulu, waktu itu kau masih berusia belasan tahun
bukan? Kini enam puluh tahun sudah lewat, aaai...., benarbenar
sudah tua....."
oh Put Kui yang mendengar perkataan itu menjadi terkejut
sekali, kalau didengar dari pembicaraan tersebut, bukankah
berarti usia Thian-hiang Hui-cu telah mencapai seratus tahun
lebih ?
Tapi, kalau dilihat dari paras mukanya mengapa dia
nampak seperti baru berusia tiga puluh tahunan?
sementara itu pengemis pikun buru buru bangkit berdiri
sambil menyahut: "Boanpwe masih ingat kau orang tua.......
enam puluh tahun belakangan ini, ternyata wajah cianpwa
masih saka seperti sedia kala."
"Pikun cilik, kaupun sudah menjadi pintar. sungguh patut
diucapkan selamat, benar-benar pantas menerima
selamat....." kata Thian-hiang Hui-cu tertawa. Merah padam
selembar wajah pengemis pikun setelah mendengar
perkataan itu.
sedang oh Put Kui pun merasa geli, cuma dia tak berani
mengeluarkan suaranya.
Pelan-pelan Thian-hiang Hui-cu mengalihkan kembali sorot
matanya keatas wajah oh Put Kui, kemudian katanya :
"Nak, tadi kau bilang apa ? Kau mengatakan aku telah
mengganggu ketenangan gurumu ? sudah lama sekali aku tak
pernah pergi meninggalkan tempat ini, walau hanya selangkah
pun."
Mendengar perkataan tersebut oh Put Kui menjadi
tertegun-"Kau orang tua......."
Dengan kening berkerut dia segera menjura kepada Thianhiang
Hui-cu, kemudian lanjutnya :
"Boancwe telah menemukan surat yang ditinggalkan
guruku ditebung Cing-peng-gay, dalam surat itu dikatakan......"
Ia berhenti sejenak. kemudian akhirnya membeberkan apa
yang ditulis gurunya pada surat tersebut.
Ketika mendengar isi tulisan tersebut, mendadak Thianhiang
Hui-cu tertawa tiada hentinya.
Meskipun perempuan ini sudah berusia hampir seratus
tahun lebih, namun gerak geriknya masih tak terlepas dari
tingkah laku seorang gadis remaja, sehingga waktu tertawa ia
nampak amat menawan hati. Dengan wajah termangu karena
keheranan oh Put Kui segera bertanya :
"cianpwe, mengapa kau tertawa ?"
"Nak, kau keliru besar "
"Maksud cianpwe, orang yang dimaksudkan suhuku dalam
suratnya itu bukanlah dirimu ?" tanya oh Put Kui agak sangsi.
"Benar nak. yang dimaksudkan gurumu adalah seseorang
yang lainnya......"
Ketika mengucapkan perkataan itu, wajahnya menjadi
murung dan sorot matanya memancarkan sinar duka,
lanjutnya : "Kau keliru besar, orang itu bukan aku "
sekali lagi oh Put Kui berdiri termangu mangu sambil
mengawasi wajah Thian-hiang Hui-cu tanpa berkedip. "Kau
orang tua......"
Ia tak tahu apa yang musti diucapkan, karena sianak muda
itu benar-benar dibikin tertegun oleh keadaan yang sedang
dihadapinya.
sekali lagi Thian-hiang Hui-cu menghela napas panjang,
katanya lebih lanjut
"Nak, yang dimaksudkan gurumu sebagai kekasih lamanya
bukan aku, cuma dia memang sangat mirip sekali wajahnya
dengan diriku, maka orang persilatan banyak yang mengira
dia sebagai aku "
Hampir saja oh Put Kui tidak percaya dengan apa yang
didengarnya barusan, betulkah dalam dunia terdapat kejadian
semacam ini ? sambil menggelengkan kepalanya berulang kali
dia berseru :
"cianpwe, boanpwe benar-benar merasa kebingungan
setengah mati........"
"Nak, tentu saja kau akan merasa kebingungan-" sahut
Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa, "selama banyak tahun ini,
kecuali gurumu, aku dan perempuan itu, siapapun tak akan
mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya........."
oh Put Kui memandang sekejap kearah pengemis pikun,
kemudian manggut- manggut.
"Locianpwe, bolehkah boanpwe menanyakan sumber dari
persoalan ini?"
"Tentu saja boleh," Thian-hiang Hui-cu menghela napas
panjang, " sejak berjumpa dengan kau, aku sudah merasa
senang denganmu nak. aku sudah merasa
sedari dulu bahwa persoalan ini sudah seharusnya dibikin
jelas."
"Terima kasih banyak atas kesediaan locianpwe....." buruburu
oh Put Kui membungkukkan badannya memberi hormat.
Dari balik sorot mata Thian-hiang Hui-cu tiba-tiba terpancar
keluar sinar jengah seperti seorang gadis remaja, kemudian
setengah menghela napas panjang dan tertawa ringan,
katanya :
"Nak. tahukah kau siapa nama preman dari gurumu itu ?"
Dengan cepat oh Put Kui menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Boanpwe tak pernah menanyakan soal ini," sahutnya.
Thian-hiang Hui-cu segera berpaling kearah pengemis
pikun dan bertanya pula "Pikun cilik, pernahkah kau
mendengar seseorang yang bernama Thian-yang-yu-cu si
pengembara dari ujung langit oh sian?"
Pengemis pikun tercengang dan berdiri terbelalak, nama
Thian-yang-yu-cu oh sian sudah lama termashur dalam dunia
persilatan.
Delapan puluh tahun berselang, bila nama tersebut disebut
orang, maka setiap manusia pasti tahu, setiap manusia pasti
pernah mendengar namanya......
Dengan mengandalkan sebilah pedang, ia pernah
membabat mampus delapan orang gembong iblis sekaligus.
sedang kedelapan orang gembong iblis itu rata-rata
memiliki ilmu silat yang sepuluh kali lipat lebih lihay daripada
kepandaian silat ketua dari pelbagai perguruan.
Waktu itu, nasib seluruh umat persilatan hampir sebagian
besar dikuasahi oleh kedelapan gembong iblis itu dan dikuasai
sepenuhnya. Didalam suasana yang serba kritis dan kacau
inilah, mendadak Thian-yang-yu-cu oh sian munculkan diri
dalam dunia persilatan. Dengan kekuatan seorang diri
ditambah sebilah pedang, dia segera mencari kedelapan
orang gembong iblis itu dan menantang mereka untuk berduel
sambil menentukan kehidupan masing-masing.
Maka terjadilah suatu pertempuran sengit diatas bukit
Thay-san tebing Thian-bun-sian, disitulah delapan orang
gembong iblis tersebut berhasil dibereskan nyawanya.
Menurut penuturan salah seorang murid dari delapan iblis
yang menyaksikan jalannya pertarungan tersebut dengan
mata kepala sendiri, selama pertarungan berlangsung, Thianyang-
yu-cu oh sian hanya mengeluarkan delapan jurus
serangan untuk membereskan kedelapan orang iblis tersebut.
Tapi semenjak peristiwa itu pula, jejaknya tahu-tahu sudah
lenyap tak berbekas.
sekalipun demikian, hampir semua jago dari angkatan tua
rata-rata mengetahui akan peranan jago lihay tersebut.
Pengemis pikunpun pernah mendengar soal ini dari
gurunya, maka dia pun tahu.
"Apakah kau maksudkan pendekar besar yang secara
beruntun membinasakan kedelapan orang gembong iblis
dibukit Thay-san itu ?" tanyannya kemudian dengan ragu.
"Yaa, betul. Dialah yang kumaksudkan", sahut Thian-hiang
Hui-cu sambil tertawa.
"Boanpwe pernah mendengar guruku menceritakan tentang
soal ini, cuma kemunculan pendekar besar itu konon hanya
singkat sekali, tak sampai setahun ia muncul dalam dunia
persilatan, tahu-tahu jejaknya sudah lenyap tak berbekas "
"Haaahhhh..... haaaahhhh.....ha^ahhhh.... siapa bilang dia
lenyap tak berbekas ?" seru Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa
tergelak " dia tak lebih hanya mencukur rambutnya menjadi
pendeta "
"Jadi maksudmu..... Tay-gi sangjin sesungguhnya adalah
oh tayhiap......" kata pengemis pikun terperanjat.
"Yaa, memang dia "
Pengemis pikun segera berpaling kearah oh Put Kui,
kemudian serunya dengan cepat:
"Bocah muda, gurumu benar-benar adalah seorang
manusia yang sangat aneh tapi sakti......."
oh Put Kui hanya berdiri terbengong, dia tak tahu
bagaimanakah perasaan hatinya waktu itu. selang berapa saat
kemudian, ia baru berkata sambil tertawa : "Lok tua, terima
kasih banyak atas pujianmu......."
sementara itu Thian-hiang Hui-cu telah berkata lagi sambil
tertawa ramah : "Nak. gurumu tak lain adalah Thian-yang-yucu
oh sian yang amat termashur itu. Bahkan dia bukan cuma
gurumu saja, diapung merupakan empek kandungmu
sendiri....."
"sungguh ?" seru oh Put Kui dengan perasaan bergetar
keras, " kalau begitu locianpwej uga mengetahui akan asal
usul boanpwe ?" Mendengar pertanyaan itu, berganti Thianhiang
Hui-cu yang menjadi tertegun, serunya keheranan :
"Aya?Jadi gurumu tak pernah memberitahukan tentang
asal usulmu itu kepadamu ?"
"Yaa, belum pernah.........." oh Put Kui menggeleng.
"Waaah, kalau begitu lucu sekali......"
setelah berhenti sejenak. dengan cepat dia menambahkan
kembali "Tapi mungkin juga gurumu mempunyai tujuan lain-
....." selama ini oh Put Kui boleh dibilang gelap sama sekali
terhadap asal-usulnya, maka setelah menemukan setitik
cahaya terang tanpa disengaja, tentu saja dia enggan
melepaskannya dengan begitu saja, buru-buru katanya lagi :
"Locianpwe, tentunya kau tahu bukan siapakah ayah ibu
boanpwe?"
"Yaa, tentu saja aku tahu "jawab Thian-hiang Hui-cu sambil
tertawa.
"Dapatkah kau orang tua memberitahukan kepada
boanpwe?"
"Maaf nak. aku tak dapat memberitahukan kepadamu "
"Mengapa ?" tanya oh Put Kui, "Apakah kau......"
"Nak, kalau toh gurumu tidak bersedia memberitahukan
kepadamu, itu berarti dibalik kesemuanya itu pasti ada
sebabnya, mungkin juga karena saatnya belum tiba, jika
kuutarakan kepadamu sekarang, apakah gurumu tak akan
marah kepadaku?"
Tiba-tiba sepasang oh Put Kui menjadi merah, pintanya :
"oooh locianpwe, sejak dilahirkan didunia ini boanpwe
sudah tak punya keluarga lagi, aku hanya hidup bersama
dengan guruku selama ini. Baru kali ini kuketahui kalau suhu
sebenarnya empek boanpwe sendiri, tapi sekarang locianpwe
enggan mengatakan siapakah ayah ibuku, hal ini membuat
boanpwe bersedih hati......"
Ketika berbicara sampai disitu, titik air mata segera jatuh
berlinang membasahi pipinya .
Thian-hiang Hui-cu segera menghela napas panjang.
"Nak. kau tak usah bersedih hati, cepat atau lambat gurumu
pasti akan memberitahukan hal ini kepadamu "
Kemudian setelah tertawa dan berhenti sejenak. kembali
dia berkata : "Nak. apakah kau ingin mendengar kisah cerita
tentang diriku dan gurumu ?"
oh Put Kui tahu, sekalipun dia bertanya lagi sekarang,
Thian-hiang Hui-cu juga tak akan menceritakan asal usulnya,
terpaksa dia mengiakan : "Boanpwe bersedia mendengarkan "
Thian-hiang Hui-cu menarik napas panjang, lalu setelah
tertawa katanya : "Sebelum mencukur rambutnya menjadi
pendeta dulu, gurumu adalah kakak seperguruanku. "
"ooooh........" oh Put Kui baru mengerti sekarang. Thianhiang
Hui-cu manggut - manggut, kembali lanjutnya:
"Gurumu dan aku adalah saudara seperguruan,
sebenarnya hubungan kami selama ini baik sekali......"
sikap jengah seorang gadis, sekali lagi menghiasi wajah
Thian-hiang Hui-cu, sesudah berhenti sejenak. lanjutnya:
"Cuma, kebetulan sekali akupun menpunyai seorang adik
perempuan yang benar benar tak becus...."
"ooh, ternyata kembali ada perempuan yang masuk dalam
lingkaran hidup mereka........" pikir oh Put Kui.
Tiba-tiba Thian-hiang Hui-cu menghela napas panjang,
katanya lagi : "Adik kandungku ini berasal dari Mo-kau, sejak
bertemu dengan gurumu, dia menjadi tergila-gila dan
mengejarnya terus menerus akhirnya karena desakan yang
kelewat batas, gurumu memutuskan untuk mencukur rambut
menjadi pendeta dan tidak mencampuri urusan keduniawian
lagi......"
sesudah menghela napas panjang, ia menambahkan :
"Dan akupun terpaksa harus hidup seorang diri pula hingga
setua ini......"
Ketika mengucapkan kata-kata yang terakhir itu, mendadak
matanya berkaca-kaca.
"Apakah locianpwe tidak membenci adikmu itu ?" tanya oh
Put Kui dengan kening berkerut.
Thian-hiang Hui-cu menggelengkan kepalanya berulang
kali. "Bagaimana aku bisa membencinya? Dia adalah adik
kandungku sendiri, yaaa......... apa boleh buat ? Terpaksa aku
harus menerima kenyataan tersebut sebagai nasib "
"Aaaai.... apakah kejadian ini bukan suatu peristiwa tragis
yang paling mengenaskan didunia ini ?" sela pengemis pikun
sambil menghela napas pula,
"besar benar jiwamu, coba kalau berganti orang lain,
mungkin-..... aaai, kamu memang malaikat suci yang berjiwa
besar....."
sikap si pengemis tua itu selain telah berubah menjadi lebih
manusiawi, bahkan diapun bersikap begitu menaruh hormat
terhadap Thian-hiang Hui-cu..... Thian-hiang Hui-cu tertawa
rawan-
"Kejadian lampau sebagai impian, sekalipun disinggung
kembali juga sama sekali tak ada gunanya..... nak. apakah
kau datang kemari mencariku adalah bermaksud agar aku
jangan merecoki gurumu lagi?"
Merah padam selembar wajah oh Put Kui karena jengah,
dia menyesal karena sudah menaruh prasangka yang salah
terhadap perempuan ini.
Walaupun masih ada hal hal yang masih membingungkan
hatinya, seperti kenapa keempat orang dayang Thian-hiang
Hui-cu Ki Yan-hong menjadi pelacur-pelacur kenamaan-
Mengapa namanya dalam dunia persilatan begitu jelek
sehingga dianggap sebagai iblis perempuan yang berhati keji
?
Tetapi dalam keadaan yang seperti ini, ia merasa tak
sanggup untuk mengutarakannya kembali.
"Boanpwe memang datang kemari dengan maksud
demikian-...." dia mengakui, "cuma sekarang, boanpwe sudah
berubah pendapat. Boanpwe tak ingin memohon apa apa lagi
kepada kau orang tua."
Dia memang tak dapat memohon apa apa lagi.
Seandainya apa yang dikatakan Thian-hiang Hui-cu
merupakan kenyataan, maka penderitaan yang dialaminya
didalam kehidupan ini sudah kelewat berat, bahkan jauh lebih
berat daripada penderitaan manapun yang pernah dialami
kaum wanita.
Bila oh Put Kui sampai mengajukan sesuatu permohonan
lagi kepadanya, hal ini sama artinya dengan kelewat
memaksanya untuk menerima suatu kenyataan. Ketika
mendengar perkataan tersebut, Thian-hiang Hui-cu segera
tertawa, katanya :
"Nak. aku merasa sangat berterima kasih sekali kepadamu
karena kau dapat memahami perasaanku....."
sesudah berhenti sebentar, dia mendehem pelan, lalu
melanjutkan :
"Nak. mungkin dalam hatimu masih ada persoalan
persoalan yang mencurigakan hatimu bukan ?"
oh Put Kui tertawa hambar.
"Boanpwe tak ingin banyak bertanya," sahutnya.
"Anak baik, kalian orang orang dari keluarga oh memang
semuanya merupakan orang-orang aneh."
sekali lagi oh Put Kui merasa terkejut sesudah mendengar
perkataan itu, pikirnya:
"Kalau didengar dari nada pembicaraannya itu, dia seperti
mengenal sekali dengan ayah ibuku......"
Dian ingin bertanya lagi..... tapi diapun tak ingin ketanggor
batunya lagi.
Thian-hiang Hui-cu menatap sekejab kearahnya, lalu
sambil tertawa dia menggelengkan kepalanya berulang kali,
ujarnya:
"Nak. aku tahu persoalan yang tidak kaupahami adalah
mengapa namaku dalam dunia persilatan bisa sebegitu
jeleknya, mengapa siau-hong sekalian budak menjadi pelacur
di sarang pelacuran? Tapi apa yang kau dengar ternyata tidak
sesuai dengan apa yang kau saksikan sekarang, bukankah
demikian ?"
Merah padam selembar wajah oh Put Kui karena jengah,
sahutnya agak tergagap:
"Boanpwe..... hal ini pasti dikarenakan cianpwe mempunyai
sesuatu rahasia yang tak bisa diutarakan-...."
Mendadak mencorong sinar terang dari balik mata Thianhiang
Hui-cu, bagaikan seorang malaikat suci, ia menatap
wajah oh Put Kui sambil tertawa hambar dan manggutmanggut,
sahutnya pelan-
"Nak, tahukah kau akan asal usulku? Aku adalah seorang
yang berasal dari marga cu......."
-ooooooooo-
Begitu Thian-hiang Hui-cu mengatakan kalau dia she Cu,
oh Put Kui dan pengemis pikun Lok Jin-ki segera saling
berpandangan muka dengan wajah berubah hebat. Dengan
cepat mereka teringat akan kompleks pekuburan raja-raja
"Siau-leng" ini. Bukankah Ming-tay-cu adalah seorang dari
keluarga Cu?
Mungkinkah Thian-hiang Hui-cu ada hubungannya dengan
kaisar dari ahala yang lain?
Tampaknya Thian-hiang Hui-cu dapat menebak jalan
pemikiran kedua orang itu, sambil tersenyum dia lantas
berkata:
"Nak, apa yang sedang kalian pikirkan? Apakah ada
sangkut pautnya dengan kompleks pekuburan siau Leng ini ?"
"Boanpwe memang sedang menduga demikian, harap
cianpwe bersedia memberi petunjuk." kata oh Put Kui dengan
wajah serius.
Thian-hiang Hui-cu menghela napas panjang, katanya
pelan:
"Nak, sesungguhnya aku tak lain adalah adik kandung dari
Kaisar si-tiong-liat......"
Tercekat oh Put Kui mendengar ucapan itu, buru-buru dia
bertekuk lutut dan segera menyembah keatas tanah.
Pengemis pikun Lok Jin-kipun ikut melompat bangun dan
menyembah keatas sambil berseru keras :
"Lok Jin-ki murid Kay-pang menjumpai tuan putri....."
Tadi Thian-hiang Hui-cu mencegah mereka untuk
melakukan penyembahan, tapi sekarang dia membiarkan
mereka melaksanakan penyembahan tersebut sebanyak tiga
kali, setelah itu sambil mengulapkan tangan kanannya, dia
berseru sambil tertawa rawan:
"Nak, Lok Jin-ki, bangunlah orang yang sudah kehilangan
negeri tak perlu menerima penghormatan besar lagi,
bangunlah sekarang......"
segulung hembusan angin lembut dengan cepat
mengangkat kedua orang itu untuk bangun berdiri.
Dengan wajah serius dengan sikap yang sangat
menghormat, oh Put Kui berbisik: "Terima kasih Tuan putri "
sekali lagi Thian-hiang Hui-cu menghela napas panjang,
tukasnya : "Nak. kalian tak usah mempergunakan sebutan
semacam itu "
"Sebutan tak boleh ditinggalkan dalam suatu tata
kenegaraan, Tuan putri siau-bin (rakyat kecil) menganggap
soal panggilan tak boleh disebut secara sembarangan "
Thian-hiang Hui-cu segera menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya dengan cepat :
"Nak, aku adalah seorang anggota persilatan, bukan
berada dalam suatu istana kenegaraan, mengapa kalian harus
menggunakan sebutan seperti itu? Apalagi kerajaan telah
runtuh, dinastiku telah berakhir. Penggunaan sebutan hanya
akan menimbulkan kesedihan dalam hatiku saja. Nak. kau tak
usah menolak lagi, bila kau tetap berkeras kepala, terpaksa
aku akan memerintahkan untuk mengusir kalian......"
Terpaksa oh Put Kui mengiakan:
"Kalau begitu terpaksa boanpwe harus menurut perintah
daripada membantah terus."
"Bilamana siau-bin telah melakukan kesalahan tadi, harap
kau orang tua sudi memaafkan...." kata pengemis pikun pula
dengan hormat. Thian-hiang Hui-cu tertawa.
"Tampaknya pengemis pikun sesuai juga dengan namanya,
tentu saja aku tak akan menyalahkan dirimu "
DAlam pada itu, siau Hong telah munculkan diri
menghidangkan tiga cawan air teh.
sekarang oh Put Kui telah merubah sikapnya setelah
mengetahui siapa gerangan tuan rumah tempat itu, maka
metelah menerima teh wangi, dia lantas berkata kepada nona
siau Hong dengan suara yang lembut dan ramah :
"Merepotkan nona saja "
@oodwoo@
Jilid ke 9
Nona Siau-hong tertawa manis, ditatapnya sekejap dengan
penuh arti yang dalam, kemudian bisiknya :
"Kongcu, asal kau tidak menaruh kesalah pahaman
terhadap budak sekalian. Budak sudah merasa gembira sekali
" Selesai berkata, dia lantas ngeloyor pergi.
Tergerak hati oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu,
pikirnya : "Nona ini sungguh menarik hati........"
Dalam pada itu, Thian-hiang Hui-cu telah mengalihkan
kembali sorot matanya kewajah kedua orang itu, kemudian
katanya sambil tertawa.
"Nak, konon kau telah berkunjung ke Pulau Neraka,
benarkah berita tersebut ?"
Oh Put Kui tidak menyangka kalau secara tiba-tiba dia akan
mengajukan pertanyaan tersebut, buru-buru sahutnya:
"Atas dorongan emosiku sebagai anak muda, boanpwe
memang telah berkunjung kesana."
"Menyerempet bahaya memang merupakan kesukaan anak
muda, hal ini tak bisa dibilang sebagai dorongan emosi. Nak,
apakah kau telah berjumpa dengan ketujuh orang tua yang
menghuni di pulau tersebut ?"
Mendengar pertanyaan itu, oh Put Kui menjadi tertegun.
Bukankah Thian-hiang Hui-cu telah hidup terpencil didasar
tanah dalam kuburan ? Mengapa setiap persoalan yang terjadi
dalam dunia persilatan diketahui olehnya ?
Tapi ia toh menjawab juga :
"Yaa, sudah bertemu "
Thian-hiang Hui-cu kembali tertawa.
"Apakah kau juga telah menyaksikan kepandaian silat yang
mereka miliki?"
" Yaa, sudah kusaksikan, kepandaian mereka memang luar
biasa sekali....."
Thian-hiang Hui-cu kembali tertawa.
"Apakah kau juga telah menyaksikan kepandaian silat yang
mereka miliki......"
"Yaa, sudah kusaksikan, kepandaian mereka memang luar
biasa sekali...." Thian-hiang Hui-cu segera tersenyum.
"sepuluh tahun lebih melatih diri secara tekun, tentu saja
kemajuan yang berhasil mereka capai luar biasa sekali."
sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba Thian-hiang Hui-cu
berkata dengan wajah serius :
"Nak, apakah dalam hatimu masih terdapat persoalan yang
mencurigakan dirimu?"
sejak oh Put Kui tahu kalau Thian-hiang Hui-cu adalah tuan
putri dari dinasti Ming yang terakhir, dalam hati kecilnya sudah
tidak mempunyai perasaan curiga lagi.
Ia percaya, setiap perbuatan yang dilakukan perempuan ini
sudah pasti mempunyai maksud yang mendalam. oleh karena
itu, setelah mendengar ucapan tersebut segera sahutnya :
"Boanpwe sama sekali tidak mencurigai apa apa "
"Tidak, kau jangan bohong," seru Thian-hiang Hui-cu
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, "janganlah
dikarenakan kau sudah tahu kalau aku adalah tuan putri dari
dinasti Ming, maka kau telah merubah jalan pikiranmu,
sekalipun tidak kau tanyakan, akupun akan memberitahukan
kepadamu......"
Terkesiap juga hati oh Put Kui setelah mendengar
pernyataan tersebut. "Locianpwe begitu memandang tinggi diri
boanpwe, hal ini sungguh membuat boanpwe merasa tidak
tenang "
"Nak, bukankah kau ingin tahu mengapa keempat orang
dayangku Liu Im, Khi Cui, Wi Hiang dansiau Hong menjadi
perempuan penghibur dirumah pelacuran Yan-hiang-lo ?"
"Boanpwe bodoh dan tak berani menduga secara
sembarangan "
"Kota Kim leng merupakan pusat dari tujuh propinsi
diwilayah selatan, banyak pembesar penting dari kerajaan
Ching yang berkumpul ditempat ini, maka aku menyuruh
mereka berusaha menggunakan segala akal dan daya upaya
untuk menarik mereka agar berpihak ke kita......."
"Locianpwe, dengan berbuat demikian, apakah rahasiamu
tak akan menjadi terbongkar? Misalnya pihak lawan pada
dasarnya memang berjiwa budak, apakah hal mana tak akan
merusak rencana besar ?"
Dia tahu, Thian-hiang Hui-cu berusaha untuk menyuap
pembesar kerajaan Ching dengan maksud hendak
mengenyahkan penjajah bangsa Boan dari muka bumi serta
membangun kembali kerajaan Ming yang jaya.
Tapi dia menganggap mencari orang lewat ruma pelacuran
bukankah suatu cara yang bisa dipercaya keberhasilannya.
selamanya dia memang memandang rendah soal
perempuan penghibur dan kehidupan malam seperti itu.
Thian-hiang Hui-cu segera tertawa hambar.
"Nak, keempat orang dayangku ini mempunyai ketajaman
firasat yang melebihi orang lain. Kalau tidak berjumpa dengan
orang-orang yang rasanya bisa dibujuk untuk berpihak kepada
kita, mereka tak pernah akan membuang tenaga dengan
percuma."
Diam-diam oh Put Kui manggut- manggut setelah
mendengar perkataan itu, tapi secara tiba tiba ia teringat
kembali akan satu persoalan. Maka katanya kemudian dengan
wajah bersungguh-sungguh:
"Locianpwe, boanpwe ingin memohon maaf kepadamu
tentang satu hal yang maha penting "
Tertegun Thian-hiang Hui-cu menyaksikan keseriusan
orang. "Persoalan apa ? seriuskah ?"
"oleh karena boanpwe tak tahu jelas keadaan kau orang
tua yang sebenarnya, maka boanpwe telah banyak
mempercayai berita yang tersiar dalam dunia persilatan dan
benar benar menganggap kau sebagai seorang gembong iblis
dari dunia persilatan......"
"Kau tidak salah nak" tukas Thian-hiang Hui-cu sambil
tertawa, "nama Thian-hiang Hui-cu memang merupakan suata
nama yang penuh dengan dosa, karena nama tersebut selalu
digunakan orang lain untuk melakukan perbUata yang tak
senonoh."
"walaupun cianpwe berkata demikian, tapi boanpwe masih
tetap merasa tidak tenang......" oh Put Kui menggeleng.
sepasang alis mata Thian-hiang Hui-cu segera berkenyit,
serunya cepat: "Nak, kau berulang kali mohon ampun,
sesungguhnya kesalahan besar apakah yang telah kau
lakukan ?"
"Boanpwe..... boanpwe telah salah mencelakai seorang
dayang locianpwe....."
"Ooo, benarkah itu? Itu mah tidak menjadi soal....."
"Tapi..... tapi...... boanpwe telah membunuhnya "
"Siapa yang telah kau bunuh ?" seru Thian-hiang Hui-cu
agak kaget.
"Han Yan "
Mendengar nama tersebut, tiba-tiba Thian-hiang Hui-cu
tertawa tergelak.
"Jadi Han Yan mati ditanganmu ?"
"Benar, boanpwe telah salah membunuhnya "
Dengan cepat Thian-hiang Hui-cu menggelengkan
kepalanya berulang kali, katanya:
"Nak, kau tidak salah membunuh......."
"Kau orang tua tak akan menegur boanpwe ?" seru oh Put
Kui setelah tertegun beberapa saat lamanya.
"Ilmu silat yang dimiliki Han Yan memang sangat lihay,
dalam kami dia sudah terhitung seorang jago lihay kelas
wahid, kecuali kau, rasanya memang tak ada orang yang
sanggup membinasakan dirinya lagi."
" Kepandaian silat yang dimiliki Han Yan memang sangat
lihay," ucap oh Put Kui dengan perasaan ragu, "seandainya
boanpwe tidak mengeluarkan ilmu jari Thian-liong-ci, hampir
saja aku yang kena dipecundangi olehnya, cuma waktu itu
boanpwe tidak tahu kalau dia adalah seorang pembela tanah
air yang berjiwa ksatria, aku telah menghilangkan nyawa
seorang pahlawan perempuan. ....... "
Mendadak Thian-hiang Hui-cu tertawa dingin, tukasnya :
"Nak, dia tidak pantas disebut sebagai seorang pahlawan
perempuan "
setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya :
"Nak, apakah kau telah menemukan dia sedang melakukan
suatu perbuatan biadab yang memalukan sebelum turun
tangan melenyapkannya dari muka bumi"
oh Put Kui mengangguk.
"Yaa, boanpwe berhasil memergoki dia sedang berunding
dengan Jian-tok-coa-sin (dewa ular selaksa bisa) It bun seng
untuk mencelakai seorang tokoh persilatan, maka akupun
turun tangan lebih dulu untuk membereskan nyawa mereka "
Thian-hiang Hui-cu merasa terkejut setelah mendengar
perkataan itu, serunya "Benarkah itu ? siapa yang hendak
mereka celakai ?"
"Locengcu dari perkampungan Ang-yap-san-ceng, Pathong-
koay-siu kakek aneh delapan penjuru Liu Thian-cong "
"Ternyata bajingan tersebut adalah bajingan tua itu........"
seru Thian-hiang Hui-cu dengan gemas.
Tiab-tiba ia berhenti sebentar, lalu katanya lagi :
"Nak. kau memang tidak salah membunuh, Han Yan
memang beralasan untuk menerima kematiannya "
"Kau orang tua benar-benar tak akan menyalahkan diriku ?"
"Nak, sekalipun kau tidak membunuhnya, aku juga akan
menghabisi nyawa perempuan itu......."
"oooh....."
Tiba-tiba oh Put Kui menjadi paham, kemungkinan besar
Han Yan adalah seorang mata-mata dari kerajaan ching.
Berbeda dengan pengemis pikun, dia merasa tidak habis
mengerti. "Locianpwe konon diantara keempat orang
dayangmu itu Han Yan adalah dayang yang paling kau
percayai, sebab itu pula dayang tersebut paling sukar dihadapi
dalam dunia persilatan, entah mengapa kau selalu
mengatakan bahwa dia memang pantas mati ?"
"Pikun, pikun, kau si pikun cilik ternyata menjadi pikun
kembali....." seru Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa.
Pengemis pikun jadi tersipu-sipu. "Boanpwe memang
bodoh......" bisiknya.
Thian-hiang Hui-cu tak dapat menahan gelinya, dia segera
tertawa tergelak, kemudian baru katanya perlahan : "Dia
adalah seorang mata-mata "
"seorang mata-mata ? Waaaah....... kalau begitu dia pantas
dibunuh......"
"Itulah sebabnya, sekalipun bocah ini tidak membunuhnya,
akupun akan turun tangan membereskan dirinya "
"Waaah, jika locianpwe selalu berkata demikian, boanpwe
jadi merasa malu sendiri....." seru oh Put Kui sambil tertawa.
Thian-hiang Hui-cu ikut tertawa.
"Nak, kau telah membantuku melenyapkan penghianat,
sudah seharusnya aku berterima kasih kepadamu "
"Aaah, boanpwe tak berani menerima rasa terima kasih dari
cianpwe, ucapan terima kasihmu hanya membuat boanpwe
malu......"
"Aaaai....., nak. kau tak usah sungkan-sungkan......" Thianhiang
Hui-cu menghela napas pelan.
setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sorot matanya berubah
menjadi amat sedih, lanjutnya :
"Apakah kau ingin mengetahui jejak adik kandungku yang
memalukan itu ?" Tentu saja oh Put Kui ingin mengetahuinya,
tapi dia merasa rikuh untuk bertanya secara langsung, maka
bukan menjawab, dia hanya tertawa jengah. Thian-hiang Huicu
menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya
kemudian
"Selama ini dia selalu mencatut namaku untuk berbuat
segala macam kejahatan dalam dunia persilatan, ada kalanya
aku menjadi marah dan ingin sekali memberi hukuman atau
peringatan kepadanya."
"Ya a, betul, kau orang tua memang harus berbuat
demikian " seru pengemis pikun tanpa sadar.
Tapi Thian-hiang Hui-cu kembali menggelengkan
kepalanya berulang kali, serunya lebih jauh: "Tidak. aku tidak
sanggup untuk turun tangan...."
setelah mendongakkan kepalanya, dengan mata berkacakaca
dia menghela napas panjang, ujarnya lebih jauh:
"Negara hancur rumah berantakan, sakit hati leluhur belum
lagi terbalas, bagaimana mungkin aku bisa turun tangan
terhadap sanak keluargaku sendiri......? oleh karena itu......
aaai, segala sesuatunya terpaksa membiarkan dia bertindak
sesuka hati, dia bisa seperti sekarang, boleh dibilang akulah
yang paling berdosa...... cuma sayang menyesalpun telah
terlambat......"
"Kau orang tua tak usah terlalu menyalahkan diri sendiri "
ujar oh Put Kui sambil tertawa.
"Aaai....nak. kau mana tahu, coba kalau aku tidak
mewariskan ilmu silat ku secara diam-diam kepadanya, mana
mungkin dia bisa mencelakai umat persilatan dan melakukan
banyak kejahatan kejahatan besar bagi umat manusia.....?"
oh Put Kui segera terbungkam dan tak sanggup berbicara
lagi.
Agaknya semua akibat ini bisa terjadi karena gara-gara
perasaan kasih dan sayang yang berlebihan dari Thian-hiang
Hui-cu terhadap adiknya.
Thian-hiang Hui-cu memandang sekejap kearah oh Put Kui,
kemudian berkata lagi.
"Nak, namaku yang sebenarnya adalah Cu Yu-hong,
sedangkan adikku bernama Cu Yu-hun setelah negaraku
musnah, akupun merubah namaku menjadi Ki Yan-hong,
sedangkan diapun berganti nama menjadi Ki Yan-hun. Akan
tetapi orang persilatan tiada yang tahu kalau Thian-hiang Huicu
sebetulnya bukan cuma satu orang......"
setelah tertawa, lanjutnya: "Tentu saja selain gurumu "
"sekarang boanpwe dan Lok-lopun mengetahui akan hal ini
" kata oh Put Kui sambil tertawa.
"Benar, aku merasa persoalan ini memang sudah saatnya
untuk diketahui orang lain aku berharap kau sudi melakukan
suatu pekerjaan bagiku, nak, bersediakah kau ?"
" Harap kau memberikan perintah "
"Nak, bantulah aku untuk membekuk Cu Yu-hun dan
seretlah kemari "
oh Put Kui menjadi tertegun setelah mendengar perkataan
itu, lama kemudian baru katanya:
"Bukankah kau orang tua enggan untuk melukai........ Jikuncu
?"
Dia tak dapat menyebut nama Cu Yu-hun secara langsung,
maka disebutnya sebagai tuan putri kedua.
Thian-hiang HHul-cu menghela napas panjang.
"Aaaai.... aku hanya tak ingin membekuknya dengan
tanganku sendiri Nak, seandainya kau dapat membekuknya
besok. akupun tak akan mencelakai jiwanya, cuma akupun
melarang dia untuk melakukan kejahatan lagi Toh tindakanmu
merupakan suatu tindakan menguntungkan bagi gurumu?
Nak, masa kau tidak mau?"
oh Put Kui termenung sebentar, kemudian katanya:
"Baik, boanpwe bertekad akan membakti demi cianpwe"
Thian-hiang Hui-cu segera tertawa.
"Nak, dia tinggal di....."
Belum selesai perkataan itu diutarakan mendadak
terdengar gelak tertawa yang amat nyaring menggelegar
memotong ucapan Thian-hiang Hui-cu yang belum selesai.
Menyusul gelak tertawa tersebut, terdengar seseorang
membentak dengan suara nyaring:
"Hong-nio, jangan berbuat demikian......"
ooooooooooooo
Mendengar seruan tersebut, Thian-hiang Hui-cu agak
tertegun, kemudian sambil tertawa tegurnya:
"sian-heng kah disitu ?"
suara tertawa nyaring segera menggema lagi:
"Tak nyana Hong-nio masih dapat mengenali suaraku,
benar-benar Budha maha pengasih........"
Belum selesai perkataan itu diutarakan sesosok bayangan
manusia telah meluncur datang. sambil melompat bangun, oh
Put Kui segera menyongsong kedatangan orang itu sembari
berseru :
"suhu....."
sambil berlutut dia memeluk sepasang kaki orang itu
dengan wajah yang binal.
Ketika pengemis pikun berpaling, dia segera saksikan
orang yang baru saja munculkan diri itu adalah seorang
hwesio tua berambut putih, berjubah abu-abu dan berwajah
penuh senyuman.
Mungkinkah pendeta ini adalah si pendeta sinting Tay-gi
sangjin ? Pengemis pikun benar-benar menjadi pikun, untuk
sesaat dia sampai berdiri termangu-mangu.
Dalam pada itu, sipendeta sinting telah membelai kepala oh
Put Kui seraya berkata:
"Ayohlah bangun, jangan seperti bocah umur tiga lagi, nanti
kau bisa ditertawakan orang "
"Tidak" kata oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya
berulang kali, "suhu, teecu tak akan bangun "
"Mengapa? sudah begini besar masih mengambek?"
oh Put Kui segera tertawa.
"Suhu, kau harus mengabulkan sebuah permintaanku dulu
sebelum tecu mau bangun-"
"Soal apa ?" pendeta itu memicingkan matanya.
"Ijinkan aku untuk mengganti panggilanku terhadapmu"
"Kenapa ? Apakah kau sudah tak ingin menjadi muridku
lagi ?" seru pendeta sinting sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja"
Jawaban tersebut kembali membuat pendeta sinting
menjadi tertegun.
"Bocah keparat, sudah merasa sayapnya mulai tumbuh,
kau lantas melupakan asal usulmu? Gurumu sudah dipanggil
pendeta sinting, apakah kau ingin disebut orang sebagai
bocah sinting pula? Hayo cepat bangun."
"Tidak, tidak. Kecuali kalau kau mengabulkan aku
memanggilmu sebagai empek......"
Ketika mendengar ucapan tersebut, sekujur badan pendeta
sinting itu segera bergetar keras, senyuman yang semula
menghiasi wajahnyapun seketika lenyap tak berbekas. Dia
menundukkan kepalanya dan menatap oh Put Kui lekat
lekat.....
"Empek....." oh Put Kui segera memanggil dengan mesra.
Tiba-tiba sorot mata pendeta itu memancarkan sinar
kesedihan, tapi hanya sebentar kemudian, senyuman manis
kembali menghiasi ujung bibirnya.
Ditatapnya sekejap wajah Thian-hiang Hui-cu sorot mata
yang ramah dan penuh welas kasih, setelah itu dia bertanya:
"Hong-nio, kau yang memberitahukan hal ini kepadanya ?"
Thian-hiang Hui-cu segera tertawa.
"Sian-heng aku hanya memberitahukan hal ini saja, yang
lain akupun tidak tahu"
Suatu pemberitahuan yang sangat cantik, Pendeta sinting
segera tertawa, ditepuknya kepala oh Put Kui, lalu bisiknya
lirih:
"Bangun, kukabulkan permintaanmu itu "
oh Put Kui segera bersorak gembira dan melompat bangun.
selama ini sorot mata Thian-hiang Hui-cu tak pernah beralih
dari tubuh pendeta sinting.
Begitu oh Put Kui bangkit berdiri, perempuan itu baru
berseru lagi sambil tertawa: "sian-heng, silahkan duduk"
Dia tidak bangkit berdiri, melainkan hanya sedikit
membungkukkan badan, Pendeta itu segera tertawa.
"Lolap sepanjang hari tak pernah meninggalkan kasur
duduk. persiapan dari sicu benar-benar amat sempurna."
Tiab-tiba saja dia merubah panggilannya. Inilah yang
menyebabkan dirinya disebut sinting ?
Tak tahan lagi Thian-hiang Hui-cu segera tertawa terbahakbahak.
"Haaaaahhhh......haaahhhh....haaaahhhh.... Sian-heng....."
"sicu, lolap Tay-gi" kata pendeta sinting dengan sinar mata
berkilat tajam. Thian-hiang Hui-cu segera tertawa rawan,
katanya dengan nada suara rendah :
"Yaa benar, kau adalah Tay-gi..... sayang sekali,
kesintinganmu belum juga berakhir......"
sementara itu Tay-gi sangjin telah duduk diatas kasur yang
semula ditempati oh Put Kui, ketika mendengar perkataan itu
dia segera merangkap tangannya sambil memberi hormat,
kemudian sambil tertawa tergelak ucapnya pelan:
"sicu, ada sebab pasti ada akibat, karena sebab dan akibat
selalu saling berkaitan, bila tiada akibat, bukanlah hal itu ajaib
namanya ?"
"Aaai..... saudara sian, aah tidak, sangjin, pandanganmu
benar-benar amat terbuka" bisik Thian-hiang Hui-cu sambil
menghela napas rendah.
"Buddha mengajarkan empat kekosongan yang terutama,
mengapa lolap tak bisa berpandangan terbuka?"
"Kalau begitu kuucapkan selamat untuk suheng......"^
"Terima kasih sicu......"
selama ini si pengemis pikun berdiri menanti disamping
arena untuk maju memberi hormat, akan tetapi berhubung
sipendeta sinting berbicara terus dengan Thian-hiang Hui-cu,
maka diapun tak berkesempatan untuk ikut menimbrung.
Karenanya begitu mendengar pendeta tersebut
mengeluarkan kata yang terakhir, dia tidak menyia-nyiakan
kesempatan tersebut dengan begitu saja, dengan cepat
tubuhnya maju kedepan untuk menyembah. "Boanpwe Lok
Jin-ki dari Kay-pang menjumpai sangjin"
sekalipun lagi berpejam mata, ternyata pendeta itu dapat
melihat semua gerak gerik dari pengemis pikun itu dengan
jelas. Baru saja pengemis pikun menbungkukkan badannya
sambil tertawa terbahak-bahak serunya :
"Tidak berani, tidak berani, sicu tak usah banyak adat....."
Walaupun pendeta itu tidak menggerakkan badannya
ataupun tidak mengebaskan ujung bajunya, akan tetapi
nyatanya sipengemis pikun tak sanggup untuk berlutut lebih
jauh.
MEnghadapi keadaan seperti ini, dengan wajah memerah
karena jengah terpaksa pengemis pikun hanya menjura
belaka. saat itulah pendeta sinting baru mengulurkan
tangannya seraya berkata pelan:
"sicu, harap duduk kembali ketempat dudukmu "
"Tidak berani, ada cianpwe berdua disini Lok Jin-ki lebih
baik berdiri saja disini "
Mendengar itu, pendeta sinting segera tertawa terbahakbahak.
"Haaaaahhhh.....haaaahhhh..haaahhhh.. tidak usah,
tidak usah, silahkan duduk"
Tay-gi sangjin tertawa.
" orang sering bilang kalau dalam kaypang terdapat
seorang pengemis yang disebut pengemis pikun, dia kadang
kala pikun kadang kala pintar, ada kalanya sinting ada kalanya
latah, kaukah orangnya?"
Dengan wajah memerah karena jengah, pengemis pikun
menyahut: "Yaa, benar, memang boanpwe...."
"Kau tidak mirip....." ujar Tay-gi sangjin sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali.
Menghadapi jawaban tersebut, sipengemis pikun agak
tertegun untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun. sekali lagi pendeta sinting
tertawa tergelak. katanya:
"seorang enghiong yang sejati adalah seorang manusia
yang berwatak sejati, tidak banyak bertingkah, bila kau tak
bisa menunjukkan watak aslinya, buat apa pula hidup sebagai
manusia?"
Pengemis pikun menjadi terkesiap. sekarang dia baru
merasa kalau dia sudah kehilangan watak sejatinya.
Bagaimana dia adalah seorang jago lihay yang sudah
termasyur banyak tahun, mendengar perkataan itu dia segera
tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhhh.....haaahhhhh....haaaahhhhh...... teguran
locianpwe memang tepat sekali, boanpwe tahu kesalahan dan
pasti akan merubahnya."
"Nah, begitu baru benar....."
Thian-hiang Hui-cu yang menyaksikan kejadian itu menjadi
geli, serunya sambil tertawa:
"Pendeta sinting, pengemis pikun, kalian memang
merupakan pasangan yang paling cocok didunia ini......"
"sicu memang berbicara benar.... itulah yang lolap
harapkan-"
Tingkah laku kedua orang itu segera menimbulkan gelak
tertawa oh Put Kui dan Thian-hiang Hui-cu
sekalipun Thian-hiang Hui-cu sudah tua, ternyata wajahnya
masih kelihatan cantik dan daya tariknya masih nampak
besar.
Pendeta sinting yang menyaksikan kejadian itu segera
bergidik, serunya sambil tertawa:
"sicu benar benar memiliki ilmu awet muda, meskipun
usiamu sudah seratus tahun namun wajahmu masih nampak
muda, lolap ucapkan selamat untuk itu" Thian-hiang Hui-cu
mendongakkan kepalanya kembali, suatu perasaan girang
yang tak terlukiskan dengan kata segera melintas diatas
wajahnya. "saudara sian-...."
"sicu...." pendeta itu segera berkerut kening.
Melihat itu, Thian-hiang Hui-cu segera menghela napas
sedih, tapi hanya sebentar kemudian ia sudah tertawa
kembali, katanya: "Bukankah sangjin berusia lebih tua
daripada diriku ? Apakah kau nampak sudah tua ?"
"Yaah, rambutku sudah putih, jenggotku sudah beruban,
lolap berbeda jauh dari sicu."
setelah berhenti sejenak, mendadak katanya dengan wajah
serius: "Sicu, tentang soal adikmu, bagaimana kalau kau suka
memandang diatas wajah lolap untuk menyudahi sampai disini
saja ?"
Berkilat sepasang mata Thian-hiang Hui-cu.
"Kau....... kau tidak kuatir akan mengganggu
ketenanganmu?"
"Aaah, tidak Tidak takut, adikmu masih belum memiliki
kemampuan seperti itu."
oh Put Kui yang berada disisinya segera menimbrung:
"Empek. bukankah kau melarikan diri dari gua karena
hendak menghindari dirinya?"
Dengan cepat Tay-gi sangjin menggelengkan kepalanya
berulang kali. "Anak bodoh, kau anggap aku benar benar
menyembunyikan diri karena dirinya?"
"Lantas surat yang kau tinggalkan itu?"
"Surat itu sengaja kutinggalkan agar dibaca olehnya."
jawab Tay-gi sangjin sambil tertawa.
"Ananda tidak mengerti."
"Tentu saja kau tak akan mengerti, maksudku agar dia
matikan hatinya itu." seraya berkata sorot matanya dialihkan
ke wajah Thian-hiang Hui-cu. Melihat itu, Thian-hiang Hui cu
segera tertawa, tertawanya kelihatan manis sekali.
"Terima kasih banyak.." bisiknya.
Mengapa dia berterima kasih ? oh Put Kui masih saja tidak
mengerti. setelah tertawa hambar, kembali Tay-gi sangjin
berkata:
"sicu, tak usah berterima kasih..... lolaplah biang keladi dari
dosa ini....."
"Aku akan mengikutimu" kata Thian-hiang Hui-cu sambil
tertawa manis. Tay-gi sangjin menghela napas panjang.
"Aaai.... perkataan itu telah mencelakai sepanjang
hidupmu.... Hong..." Mendadak ia menutup mulutnya kembali.
Thian-hiang Hui-cu tertawa.
"sangjin kelewat kukuh diri sendiri, padahal cinta adalah
sesuatu yang agung....."
"Bukan begitu, apakah sicu lupa kalau lolap sudah menjadi
pendeta, aku sudah melepaskan diri dari segala macam
ikatan."
Berbicara sampai disitu, Thian-hiang Hui-cu hanya bisa
manggut-manggut sambil tertawa rawan.
"Yaa benar, tapi aku tetap akan menurutimu " demikian ia
berbisik. Tanpa terasa Tay-gi sangjin menghela napas
panjang.
"sicu, lolap tak akan melupakan budimu itu untuk
selamanya....."
"Bisa mendengar perkataanmu itu, aku merasa puas
sekali...." Mendadak Tay-gi sangjin tertawa tergelak. serunya:
"Seorang yang berkedudukan terhormat, terseret masuk
didalam dunia persilatan,oohh tuan putri..... kaupun seorang
yang tolol seperti lolap sendiri..."
Diantara gelak tertawanya itu, kelihatan air matanya turut
jatuh bercucuran, sedang Thian-hiang Hui-cu sendiripun telah
bercucuran air mata pula karena sedih.
Menyaksikan keadaan seperti ini, sipengemis pikun hanya
bisa memandang dengan wajah kebingungan.
sedangkan oh Put Kui ikut merasa amat sedih, karena
secara tiba-tiba ia teringat pula akan asal usulnya sendiri
"Empek" akhirnya dia berbisik.
Waktu itu Tay-gi sangjin sedang tertawa tergelak. Ia baru
terperanjat setelah mendengar seruan itu, tanyanya dengan
cepat: "Nak, ada urusan apa?"
"Bagaimana dengan ayahku?"
"Tak usah ditanyakan" Tay-gi sangjin mengelengkan
kepalanya berulang kali.
"Tidak. empek aku harus bertanya. Bagaimana pula
dengan ibuku, aku ingin berjumpa dengan mereka"
"Nak. belum sampai waktunya....." kata pendeta itu sambil
tetap menggeleng.
"Empek. mengapa kau tidak bersedia memberitahukan hal
itu kepadaku? Apakah ayah adan ibuku telah melakukan suatu
perbuatan jahat yang amat berdosa ? Ataukah karena mereka
adalah....."
Dia tak jadi melanjutkan kembali kata-katanya, karena
bagaimanapun juga ia merasa sungkan untuk mengeritik
orang tua sendiri Mendadak Tay-gi sangjin berteriak keras:
"Nak, kau tak boleh menduga sembarangan"
"Empek..... kalau kau tidak mengatakan, ananda tentu akan
terus menduga duga." ujar oh Put Kui dengan air mata
bercucuran.
Thian-hiang Hui-cu yang menyaksikan hal itu dari samping,
segera menimbrung sambil tertawa:
"Yaaa, aku tahu....." Tay-gi sangjin menghela napas.
"Yaa benar, kau toh tak bisa mencegah bocah itu untuk
tidak menduga duga secara sembarangan "
Tay-gi sangjin menghela napas panjang, kemudian
katanya:
"Nak, ayah dan ibumu adalah orang baik semua. Mereka
adalah orang terbaik didunia ini"
"Sungguh ?" senyuman segera menghiasi wajah oh Put
Kui.
"Buat apa aku mesti membohongi dirimu ?" sahut Tay-gi
sangjin dengan wajah bersungguh sungguh.
"Tapi dimanakah? Aku hendak pergi menjumpai mereka.....
empek. kau pasti tahu bukan betapa sedihnya keponakan
selama banyak tahun ini........"
" Empek. kalau toh sudah tahu, mengapa kau tidak
bersedia memberitahukan kepada keponakan?"
sekali lagi pendeta itu menghela napas. "Belum
waktunya....."
"Empek. sampai kapan hal ini baru bisa kau beritahukan
kepadaku?" seru oh Put Kui dengan gelisah.
"Disaat kau sukses dan berhasil" oh Put Kui menjadi
tertegun-
" Kenapa? Apakah takut aku berpikiran cabang?"
"Benar"
ooooooooooooo
"Ananda tak mungkin akan berpikiran cabang, apalagi
kalau aku bisa bertemu dengan ayah ibuku, aku dapat
memusatkan segenap perhatianku untuk memperdalam ilmu
silatku agar bisa menggirangkan hati orang tuaku......"
Mendadak Tay-gi sangjin tertawa tergelak.
"Tidak mungkin nak. pikiranku pasti bercabang, karena......"
Agaknya dia merasa kalau telah salah berbicara sehingga
buru-buru dia membungkam kembali.
oh Put Kui tak mau lepas tangan dengan begitu saja, dia
segera mendesak lebih jauh.
"Mengapa begitu empek ? Mengapa kau tak mau berbicara
?"
Tay-gi sangjin segera menggelengkan kepalanya berulang
kali.
"Nak. bukannya aku enggan berbicara, tetapi
sesungguhnya dibalik kejadian itu masih ada persoalan
lainnya."
Tiba-tiba Thian-hiang Hui-cu menimbrung: "sian-heng,
bocah itu pernah berkunjung kepulau neraka "
Mendengar perkataan itu, sekujur badan Tay-gi sangjin
bergetar amat keras.
Dengan cepat sorot matanya dialihkan kewajah Thianhiang
Hui-cu, kemudian serunya:
"Hong-nio, kau bilang apa ?"
"Dia telah berkunjung kepulau neraka dan bertemu dengan
ketujuh orang tua itu"
Dengan kening berkerut Tay-gi sangjin segera berpaling
kembali kewajah oh Put Kui, setelah menatapnya lekat-lekat,
ujarnya lebih jauh: "Nak.jadi kau telah berkunjung kepulau
neraka yang dikenal orang persilatan sebagai pulau yang bisa
dikunjungi tak bisa kembali itu?"
"Ya benar, ananda telah berkunjung kesana."
"Apa saja yang dikatakan ketujuh orang tua itu kepadamu
?" tanya pendeta sinting itu dengan wajah agak tegang.
"Ananda pergi bersama Lok lo dan Nelayan sakti dari
lautan timur Cin Poo-tiong, agaknya ketujuh orang tua itu
sangat suka dengan ku, kami sudah berdiam beberapa hari
dipulau tersebut "
Mendengar perkataan itu, paras muka Tay-gi sangjin
berubah menjadi amat berat dan serius.
"Nak. aku ingin bertanya kepadamu, apa saja yang mereka
katakan kepadamu ?"
"Mereka mengira aku adalah muridnya Thian- liong susiok.
maka dari itu mereka mengajakku membicarakan banyak
peristiwa yang menyangkut diri Thian- liong susiok dalam
dunia persilatan dimasa lalu..."
"Tidak menyinggung soal aku ?"
"Pernah, tapi ananda berlagak tidak tahu....."
"Bagus sekali," seru Tay-gi sangjin sambil tersenyum,
"apalagi yang mereka bicarakan ?"
"Mereka semua mewariskan semacam kepandaian silatnya
untuk ananda "
"Haaaahhhh.... haaaaahhhhh.... haaahhhhh.... bagus
sekali," Tay-gi sangjin tertawa terbahak-bahak."hei bocah,
nampaknya rejekimu cukup besar juga...."
"Kesemuanya ini adalah berkat doa restu dari empek."
sahut oh Put Kui tertawa, "seandainya empek tidak
memelihara keponakan hingga dewasa, bagaimana mungkin
aku bisa mempunyai kesempatan untuk merasakan rejeki
besar itu ?"
Perasaan Tay-gi sangjin yan semula tegang tampaknya
jauh lebih mengendor lagi sekarang, katanya kemudian sambil
tertawa:
"Bagus sekali nak. kaupun mulai sungkan sungkan
terhadap empek......"
Thian-hiang Hui-cu ikut berkata sambil tertawa:
"sebutnya sih sudah sebut, cuma...."
"Nak, apakah kau telah berhasil mempelajari ketujuh
macam ilmu silat tersebut. Apakah kau juga mengetahui
siapakah nama dari ketujuh orang itu....?"
"Aku tidak tahu "
"Waaah, siapa suruh kau bergaul dengan si pengemis
pikun," seru Tay-gi sangjin sambil tertawa, "tak heran kalau
kaupun ketularan penyakit pikunnya....."
oh Put Kui segera tersenyum.
"Bukannya keponakan tak mau bertanya, hanya sungkan
rasanya untuk mengajukan pertanyaan itu....."
"Masa mereka tidak menyebutkan nama mereka sendiri ?"
tanya Thian-hiang Hui-cu sambil tertawa.
Kontan merah padam selembar wajah oh Put Kui.
"Haaaahhhh....haaaahhhh....hhhhaaaah..... anak muda
apakah karena namanya kelewat banyak maka kau lantas
melupakan nama mereka itu..." seru Tay-gi sangjin sambil
tertawa.
" Keponakan memang telah melupakan....." setelah
berhenti sejenak, ujarnya lagi:
"Cuma aku masih teringat nama dari dua orang diantara
mereka."
"siapakah dua orang ang kau maksudkan?"
"Yang pertama adalah Lei-hun-mo-kiam oh Ceng-thian, dia
merupakan seorang kakek kurus, maka keponakan
mempunyai kesan yang dalam terhadapnya. selain itu ilmu
pedang yang dimilikinya juga sangat lihay sekali, sama sekali
tidak kalah dengan empek....."
sewaktu mendengar nama oh Ceng-thian, paras Tay-gi
sangjin kontan berubah hebat.
Thian-hiang Hui-cu juga menunjukkan sikap yang amat
tegang. Tapi selesai mendengar ucapan dari oh Put Kui,
mereka segera tertawa kembali.
"siapa pula yang lain ?" tanya mereka hampir berbareng.
"Yang seorang lagi bernama Ciat-cing suseng Leng To....
aaaah, keponakan teringat cula dengan seorang lagi yang
bernama Toan-kiam-huang-seng Liong Hui-thian...."
"Benar, ketiga nama itu memang benar, tapi masih ada
empat orang lagi....."
"Boanpwe ingat nama mereka....." timbrung pengemis
pikun tiba-tiba sambil tertawa.
Thian-hiang Hui-cu segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhhh....haaaahhh....hahhhh.... nak, kau tak bisa
menandingi si pikun cilik "
"Bukan begitu, karena boanpwe pernah mendengar nama
mereka dimasa lalu...." cepat-cepat pengemis pikun
menambahkan sambil tertawa jengah. setelah berhenti
sejenak, terusnya:
"Empat orang lainnya adalah It-gi-ki-su Ku Put-beng,jian-gi
siausu, Mi-sim-kui-to dan Tiang-pek-cui-sin "
"Lok tua, hebat benar daya ingatmu " puji oh Put Kui cepat.
Tay-gi sangjin iut tertawa, tanyannya tiba-tiba:
"Nak. kepandaian apakah yang mereka wariskan
kepadamu, bagaimana pula dengan hasil latihanmu?"
"Ku tua mewariskan ilmu Hong-hwe kun (pukulan angin
api)nya kepadaku....."
"Waah, itu mah ilmu andalannya," sela Thian-hiang Hui-cu
sambil tertawa,
"nak. selama hidup dia memusatkan perhatiannya untuk
melatih ilmu pukulan ciptaannya itu sudah pasti luar biasa
dahsyatnya."
"Hong-nio, kalau bukan begitu masa dia dianggap orang
sebagai si manusia gila dari ilmu pukulan ?" sambung Tay-gi
sangjin-
"sedangkan oh lojin mewariskan ilmu pedang Lui-im-kiam
pedang irama gunturnya kepadaku," oh Put Kui
menambahkan sambil tertawa.
"ooooh, ilmu pedang Lui-im-kiam?" mencorong sinar tajam
dari balik mata Tay-gi sangjin-
"Yaa, ilmu pedang Lui-im-kiam, ketika oh lojin
menggunakan ilmu pedang tersebut, suara angin dan
gemuruh yang menyertai ancaman itu amat memekikkan
telinga dan menggidikkan hati....." Tay-gi sangjin segera
menghela napas panjang.
"Aaai...Ji..... akhirnya dia berhasil juga....."
"sian-heng, kuucapkan selamat kepadamu " Thian-hiang
Hui-cu menambahkah sambil tertawa.
oh Put Kui tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi
dia dapat merasakan betapa besarnya perhatian empeknya itu
terhadap oh Ceng-thian-....
Maka tanpa berpikir panjang lagi, dia berkata lebih jauh :
"Leng loji mewariskan ilmu seruling Liu-hou-siau kepadaku,
sedangkan Jiang-gi siansu mewariskan ilmu jari Ban-hud-ci"
"Waaah, semuanya merupakan ilmu paling top didunia ini "
Thian-hiang Hui-cu komentar.
"sedangkan Liong lojin mewariskan ilmu pukulan Im-satciang,
Mi-sim-toojin mengajarkan ilmu gerak badan Tay-siuheng-
poh, sebaliknya To lojin mewariskan ilmu senjata rahasia
terutama menggunakan arak sebagai anak panah "
"Nak. kau benar-benar seorang manusia yang hebat,
hampir semua ilmu silat paling top yang ada didunia ini telah
kau pelajari semua."
"sian heng, belum komplit rasanya...." tiba-tiba Thian-hiang
Hui-cu menyela.
Mendengar perkataan itu, Tay-gi sangjin segera berseru
sambil tertawa "Hong-nio, kau..... kaupun hendak
membuatnya bertambah komplit....?"
"Mengapa tidak? Kalian orang lain bisa.... Mengapa aku tak
dapat ?" sahut perempuan itu sambil tertawa.
"Aku toh tidak mengatakan kau tak dapat?"
Thian-hiang Hui-cu tertawa.
"Kalau memang begitu kaupun tak usah mewariskan
kepandaian apa-apa kepadanya, aku hanya ingin
menghadiahkan semacam barang untuknya." sembari
berbicara dari sakunya dia mengeluarkan sebutir mutiara
sebesar buah kelengkeng yang berwarna warni serta
memancarkan cahaya yang gemerlapan.
Melihat benda itu, dengan heran Tay-gi sangjin segera
berseru: "Hong-nio, kau hendak menghadiahkan mutiara
penghindar hawa sesat untuknya?"
"Tentu saja, barang lain toh tak ada gunanya diberikan
kepadanya ?" sahut perempuan itu tersenyum.
"Aaai.... Hong-nio, kau kelewat baik terhadap bocah ini......"
setelah berhenti sejenak katanya kepada oh Put Kui:
"Nak, selain mutiara itu bisa dipakai untuk menghindari
hawa sesat, juga bisa memunahkan racun, bisa menghindari
air bah dan kebakaran, benda tersebut merupakan salah satu
diantara tujuh benda mustika dari dunia persilatan-"
sementara itu Thian-hiang Hui-cu telah menghadiahkan
mutiara tersebut oh Put Kui sembari berkata :
"Nak, mutiaraku ini akan sangat bermanfaat bagimu
dikemudian hari, ambillah"
sebenarnya oh Put Kui hendak menampik, tapi dia merasa
apa yang dikatakan memang benar, apalagi dalam keadaan
seperti ini. Karena itu dengan sikap hormat dia lantas
menerima pemberian tersebut.
"Terima kasih banyak locianpwe," katanya kemudian.
Perempuan itu kemudian tertawa.
"Tak usah berterima kasih, baik- baiklah
mempergunakannya, asal kau bersedia untuk menerimanya,
aku sudah sangat gembira sekali"
Dengan sangat berhati-hati oh Put Kui menyimpan mutiara
mestika itu kedalam saku lalu mengundurkan diri ketempat
semula, setelah itu tanyanya kepada Tay-gi sangjin:
"Empek. aku masih belum menerangkan kepada
keponakan akan jejak dari orang tuaku"
"Nak, bagaimana sih kau ini ?" Tay-gi Sangjin berkerut
kening. "seandainya aku bersedia memberitahukan
kepadamu, buat apa menunggu sampai kau mengajukan
pertanyaan? "
"Empek. bukankah kau sering berkata asalkan ananda mau
menjelajahi dunia, maka tak sulit untuk menemukan mereka?"
"Asal kau bersedia untuk berbuat demikian, hal mana lebih
baik lagi, paling tidak toh akan banyak melatih diri."
oh Put Kui merasa gelisah juga diliputi perasaan kecewa.
Ditatapnya wajah Tay-gi sangjin lekat-lekat, sementara
tubuhnya sama sekali tak berkutik.
Melihat itu, Thian-hiang Hui-cu kembali berkata sambil
tertawa: "sian-heng, ilmu silat yang dimiliki bocah ini sudah
hebat, buat apa kau mesti merasa kuatir lagi? Beritahukan
saja kepadanya, coba kau lihat tampangnya yang
mengenaskan........"
Mendengar perkataan itu, Tay-gi sangjin menjadi termangumangu,
lama kemudian akhirnya dia baru menghela napas
seraya berkata: "Hong-nio, kau benar-benar berbaik hati."
"Sian-heng, beritahukanlah kepada bocah itu. orang bilang
dendam kesumat orang tua lebih dalam dari samudra, apakah
kau suruh bocah itu hidup selama dua puluh tahun lebih
dengan sia-sia belaka tanpa mengetahui siapa pembunuh
ibunya?"
Bagitu mendengar perkataan tersebut, oh Put Kui menjadi
terkesiap sehingga peluh dingin jatuh bercucuran.
"Ibu.....ibuku telah ter..... terbunuh......?" serunya dengan
suara gemetar.
Tay-gi sangjin menghela napas dengan suara dalam.
"Aaaai.... benar nak, ibumu memang telah dibunuh orang "
sepasang mata oh Put Kui segera memancarkan cahaya
berapi api yang penuh dengan hawa pembunuhan.
"Siapa? siapakah yang telah membunuh ibuku ?" teriaknya
keras-keras. Dengan cepat Tay-gi sangjin menggelengkan
kepalanya berulang kali. "siapa yang tahu?"
Jawaban itu kontan saja membuat oh Put Kui menjadi
tertegun, serunya kemudian:
" Empek, masa kau orang tuapun tidak tahu ?" Tay-gi
sangjin menghela napas panjang.
"Aaaai, andaikata empek tahu, apakah aku tak
membalaskan dendam bagi ibumu sejak dulu-dulu?"
" Lantas ayahku sendiri?" teriak oh Put Kui.
"Dia sendiripun tidak tahu."
"Empek, saat ini ayahku berada dimana?" kembali pemuda
itu bertanya dengan sedih.
"Di pulau neraka"
"Apa? Di Pulau neraka ? siapakah dia empek? Apakah oh
lojin?"
"Yaa benar, oh Ceng-thian adalah ayahmu....."
Tiba-tiba saja oh Put Kui menangis tersedu-sedu, ia benarbenar
merasa sedih.
Dia teringat dengan janjinya kepada oh Lojin, berjanji akan
mencarikan putranya dan diapun telah menyanggupi. siapa
tahu dialah putra yang ditunggu-tunggu, bahkan setelah ayah
dan anak saling bersuapun mereka tidak saling mengenal. Ia
teringat kembali dengan gardu menanti putra. Diapun teringat
dengan tebing penantian putra. Terutama sekali wajah ayah
yang penuh pengharapan, kurus, sayu dan menyedihkan hati.
Dapatkah ia tak sedih? Dapatkah dia tak usah menangis?
Tiba-tiba terdengar Thian-hiang Hui-cu berbisik dengan
lirih:
"Nak, buat apa kau menangis ? Kau sudah seharusnya
merasa gembira."
"Ya benar nak, kau harus gembira. Karena kau telah
berjumpa dengan ayahmu."
Tay-gi sangjin menambahkan.
oh Put Kui segera menyeka air matanya lalu berkata:
"Empek. diatas pulau neraka ayah telah mendirikan sebuah
gardu penantian, dia menantikan kedatanganku, tapi aku.....
ternyata aku tidak mengetahuinya....."
"Jite juga kelewat batas" Tay-gi sangjin menggeleng, "nak.
satu-satunya yang terpenting bagimu sekarang adalah latihlah
ilmu silatmu dengan sebaik-baiknya, karena musuh besar
ibumu hingga kini masih belum diketahui siapa orangnya....."
Dengan air mata bercucuran oh Put Kui mengangguk.
Thian-hiang Hui-cu ikut berkata pula sambil tertawa:
"Nak. aku masih ada satu permintaan yang ingin kuajukan
kepadamu, harap kau sudi mengabulkannya "
" Katakanlah locianpwe"
Dengan wajah bersungguh-sungguh Thian-hiang Hui-cu
ikut berkata:
"Sebelum hari Tiong- yang depan, lebih baik kau jangan
pergi kepulau neraka lagi, karena ilmu silat yang dimiliki
ayahmu bertujuh tinggal selangkah lagi mencapai tingkat
kesempurnaan, bila kau kesana, itu berarti janji mereka telah
berakhir dan mereka pasti akan balik kembali kedaratan
Tionggoan.. nak. kau harus mengabulkan permintaan yang
kuajukan ini "
Walaupun dalam hati kecilnya oh Put Kui merasa berat
untuk mengabulkan permintaan itu namun dia juga tahu kalau
Thian-hiang Hui-cu bisa berkata demikian, hal ini pasti
disebabkan oleh hal-hal tertentu, karena jika tidak mempunyai
maksud yang mendalam tak mungkin perempuan itu berkata
demikian akhirnya diapun mengangguk.
-oooooooooooooooosalju
turun dengan derasnya diwilayah Hoo-say, ditengah
udara yang dingin dan menusuk tulang, tampak dua ekor kuda
berlarian kencang memasuki pintu kota.
Dua orang penunggangnya meski harus menempuh
perjalanan ditengah badai salju, namun wajahnya kelihatan
masih segar bugar.
setelah masuk kedalam kota, mereka berdua melarikan
kudanya menuju kerumah makan Tay-pek-ki yang paling
termashur disitu.
Waktu itu tengah hari telah menjelang.
Dan saat saat seperti ini merupakan saat ramainya orang
bersantap dan minum arak.
Kedua orang itu melompat turun dari kudanya didepan
pintu rumah makan, salah seorang diantaranya segera
membisikkan sesuatu kepada pelayan, kemudian naik keatas
loteng tingkat kedua.
setelah memilih sebuah sudut ruangan yang tidak gampang
diperhatikan orang, setelah melepaskan mantel mereka dan
penutup kepalanya, maka tampaklah raut wajah mereka yang
sebenarnya.
Ternyata mereka adalah Long-cu-koay-hiap (pendekar
aneh sipengembara) oh Put Kui serta sipengemis pikun Lok
Jin-ki.
Mereka telah meninggalkan kota Kim-leng dan menempuh
perjalanan sejauh beberapa ribu li sebelum tiba disana.
sikap oh Put Kui masih tetap santai dan tenang.
sekalipun dia sudah mengetahui asal usulnya, tahu kalau
ayahnya bernama Lie-hun-mo-kiam oh Ceng-thian, tahu kalau
ibunya bernama Pek ih-hong-hud (kebutan merah berbaju
putih) Lan Hong.
Diapun tahu kalau ibunya telah dibunuh oleh seorang
musuh tangguh.
Tapi, dia masih tetap akan bersikap acuh tak acuh, seakanakan
tiada persoalan yang membuatnya pusing.
sipengemis pikun malah nampak lebih segar dan
bersemangat, mungkin hal ini dikarenakan dia telah berganti
dengan pakaian baru.
Waktu itu mereka sedang minum arak sambil berbincangbincang
dengan suara lirih.
@oodwoo@
Jilid ke 10
Kalau dilihat dari sikap mereka, seakan-akan ada
seseorang yang sedang dinantikan kedatangannya .
Dalam kenyataan mereka memang sedang menunggu
orang disitu.
Seperminum teh kemudian, dari bawah loteng muncul
seorang petani tua yang berusia lima puluh tahunan.
Setelah celingukan sebentar, akhirnya sambil tertawa dia
berjalan menghampiri oh Put Kui.
"Oh Kongcu, kau sudah datang lebih duluan?" sapanya. oh
Put Kui tertawa.
"Merepotkan saudara Kou saja, silahkan duduk!"
Petani tua itu tertawa, dia segera menjura pada pengemis
pikun seraya berkata: "Tecu memberi hormat buat tianglo"
"Tak usah banyak adat, silahkan duduk."
setelah petani tua itu duduk. oh Put Kui baru berbicara lagi
sambil tertawa: "Bagaimana? Tentunya perjalanan Kou loko
kali ini tidak sia-sia belaka bukan?"
"Untung lohu tak sampai menyalahi perintah....."
Belum habis dia berkata, Pengemis pikun telah
menimbrung lebih dulu sambil tertawa "Kou cun-jiu, keparat
Cilik Kau berani menyebut saudara terhadap saudaranya
tianglomu?"
Rupanya petani tua yang nampaknya sederhana itu tak lain
adalah Tongcu propinsi shia-kam dari perguruan Kay-pang
yang disebut orang sebagai si petani tua dari Hoo-say, Kou
Cun-jiu.
sekilas pandangan Kou Cun-jiu nampaknya sudah berusia
lima puluh tahunan, padahal kalau dibandingkan dengan si
pengemis pikun, dia masih muda dua puluh tahun lebih, dalam
kedudukan diperkumpulanpun kedudukannya jauh dibawah
kedudukan si pengemis pikun. Maka begitu ditegur si
pengemis pikun, dia benar benar merasa terkejut sekali. "Tecu
tidak berani......" buru-buru serunya.
Kemudian dengan wajah memerah katanya lebih jauh:
"Kongcu, maafkan keteledoran aku si tua tadi, harap jangan
menjadi gusar."
oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali,
serunya sambil tertawa:
"Kou loko, kau tak usah mendengarkan perkataannya, kita
toh berhubungan secara terpisah, terserah saja pada
kehendakmu sendiri"
"siau-loji tidak berani," kata petani tua dari Hoo-say itu
sambil tertawa, "Kongcu...."
"Hei bocah muda, tak usah berputar kayuh lagi, berbicara
saja hal-hal yang penting," timbrung pengemis pikun lagi.
"Baik, tecu turut perintah."
"Nah saudara Kou, apakah Lam kiong Ceng berada
dirumah?" Petani tua dari Hoo say mengangguk.
"Ada, perkampungan siu ning-cengnya ramai sekali
beberapa hari belakangan ini."
"Oooh, apakah ada suatu peristiwa besar?"
"Yaaa benar, dia sedang menarik menantu"
"siapa? Lam kiong Ceng mencarikan bini buat putranya?"
"Bukan, Lam kiong Ceng mencari bini buat dirinya sendiri"
"ooooh..... rupanya Lam kiong Ceng belum kawin....." seru
pengemis pikun sambil tertawa.
satu ingatan segera melintas dalam benak oh Put Kui,
katanya sambil tertawa: "saudara Kou, siapakah pihak
perempuannya?"
"Pihak perempuannya mempunyai nama besar yang jauh
lebih termashur daripada Lam kiong Ceng sendiri"
"oooooh tampaknya Lam kiong Ceng berhasil mendapatkan
mertua yang hebat?" kata pengemis pikun tertegun.
"Perkataan tianglo memang benar, sebab yang dikawini
Lam kiong Ceng adalah putri sulung dari Jiang-li-hu-siu ,
kakek seribu li menyendiri Leng siau-thian, pocu dari benteng
nomor wahid dalam dunia persilatan"
"ooh, kau maksudkan Hian-peng-kui-li (perempuan setan
dari tanah dingin)...."
"Benar, memang dia."
"Bagus sekali, bila Lam kiong Ceng bisa mempersunting
perempuan semacam ini, maka keadaanya ibarat harimau
yang tumbuh sayap"
"Lok tua," kata oh Put Kui sambil tertawa, "tampaknya
keramaian ini tak boleh kita lewatkan dengan begitu saja,
siapa tahu dalam pesta perkawinan Lam kiong Ceng kita bisa
menemukan sesuatu yang menguntungkan?"
"Betul, betul, aku si pengemis memang berpendapat
demikian."
setelah meneguk araknya, oh Put Kui segera bertanya lagi:
"saudara Kou, kapan sih perkawinan itu diselenggarakan?"
"Bulan dua belas, tanggal sepuluh."
"Hari ini tanggal delapan, berarti tinggal dua hari lagi," seru
oh Put Kui tertawa.
"saudara, kesulitannya telah datang " seru pengemis pikun
dengan kening berkerut.
"Kesulitan apa Lok tua?"
"Kadonya Kalau tinggal dua hari, kita mesti kemana untuk
menyiapkan kadonya?"
"soal itu mah gampang, Lok tua, kita beli saja dikota nanti"
Tapi dengan cepat pengemis pikun menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"saudara, kau anggap si Lam kiong Ceng itu manusia apa ?
Kalau kita membeli kado secara sembarangan, niscaya dia
akan menuduh kita sebagai orang pelit....." setelah berhenti
sejenak. dia segera tertawa tergelak. katanya lebih jauh:
"saudaraku,jangan kau lihat aku si pengemis berasal dari
perkumpulan kaum pengemis, kalau soal kado atau tanda
mata, aku tak pernah memberi yang jelek sehingga
ditertawakan orang...."
"Benar, perkataan Lok tua memang benar......"
Kou Cun-jiu ikut menimbrung:
"Kongcu, untuk memberi kado, tampaknya sudah tak
sempat lagi...."
"Maksudmu?" pengemis pikun melototkan sepasang
matanya bulat-bulat. Kou Cun-jiu segera tertawa.
" Lam kiong Ceng adalah congpiau pocu dari orang orang
Liok lim utara sungai besar, kalau cuma soal kado biasa, tak
mungkin dia akan memandang sebelah matapun..."
"Hei, kalau mau berbicara, katakan saja terus terang jangan
berputar kayu tiada hentinya...." tegur pengemis pikun sambil
berkerut kening. Kou Cun-jiu agak terkejut lalu mengiakan
berulang kali:
"Menurut pendapat tecu, asal oh Kongcu menulis sendiri
beberapa patah kata ucapan selamat dan mencantumkan
nama besarmu, aku rasa dengan nama besar dari oh Kongcu
dalam dunia persilatan dewasa ini, Lam kiong Ceng pasti akan
dibikin gelagapan sendiri saking senangnya"
Mendengar usul tersebut, pengemis pikun segera tertawa
terbahak-bahak.
"Haaaahhh....haaaahhhh....haaahhhh, tepat sekali Tepat
sekali Bagus betul usulmu itu..."
"Lok tua, aku pikir usulnya itu kurang tepat," ujar oh Put Kui
tiba-tiba sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Kenapa?" tanya sang pengemis dengan mata melotot.
"Aku kuatir kalau tindakan ini akan merupakan sesuatu
tindakan memukul rumput mengejutkan ular"
Mendengar itu, kembali pengemis pikun tertawa:
"saudaraku, bukannya aku sipengemis pikun hendak
menjelekkan dirimu, tapi kalau kita tidak mengusik ular
tersebut kini, sampai kapankah kau baru bisa menyelidiki
wajah musuh besarmu itu?"
oh Put Kui termenung sebentar, kemudian katanya. "Jadi
menurut pendapatmu, ular ini lebih baik diusik saja agar
terkejut jadinya?"
"Benar, kalau tidak begitu, musuh besarmu tak akan
munculkan diri dan kau tak akan mengetahui selamanya
siapakah pihak lawan dan berada dimanakah dia." Dia seperti
mempunyai suatu keyakinan yang besar, kembali katanya:
"Apalagi bila musuh besarmu itu mengetahui dirimu, dia
pasti tak merasa tenteram lagi, siapa tahu dia bakal
mendahului dirimu dengan datang mencari gara-gara lebih
dahulu?"
Cara yang dipikirkan pengemis pikun memang bagus
sekali, hanya saja dia belum berpikir bagaimana seandainya
pihak lawan mengambil keputusan untuk acuh tak acuh?
Agaknya oh Put Kui telah berpikir sampai disitu, katanya
kemudian:
"Lok tua, andaikata pihak lawan acuh tak acuh dan sama
sekali tidak menggubris, bukankah cara kita ini akan sia-sia
belaka?"
"saudaraku, bila pihak lawan memang tidak menggubris,
kita toh belum terlambat untuk mencari akal lain?" kata
pengemis pikun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan
tertawa.
Kembali oh Put Kui termenung sesaat, akhirnya dia
manggut-manggut, katanya sambil tertawa:
"Baiklah, kalau begitu kita bertindak demikian saja"
oooooooooooo
Bulan dua belas tanggal sepuluh.
suasana disebuah perkampungan yang luasnya seratus
bau diluar kota sebelah barat Cui-swan-sia tampak ramai
sekali.
sejak fajar menyingsing, lalu lintas yang melewati jalan raya
didepan perkampungan itu sudah dipadati oleh kereta serta
beraneka ragam manusia dengan aneka ragam hadiah.
Hampir semua jago dan orang gagah dari enam propinsi
diutara sungai besar telah berkumpul disitu.
Bagi umat Liok-lim, perkampungan siu-ning-ceng memang
merupakan sebuah tempat suci.
Kepala kampungnya Pek kim kong, Thi wan kek (raksasa
penyakitan,jago pergelangan tangan baja) Lam kiong Ceng
selain berilmu tinggi, juga merupakan pentolan dari kaum Lioklim
di enam propinsi sebelah utara sungai besar.
Dihari hari biasa saja banyak orang yang menyambangi
tempat itu, apalagi pada hari pernikahannya, tak heran kalau
lautan manusia hampir berkumpul semua disitu.
Hampir disetiap sudut ruangan dalam perkampungan siuning
ceng dipenuhi para tamu yang tersenyum simpul.
Cong koan dari perkampungan, Nao heng-si-ci (utusan
panca unsur) Tong Tiong-peng dengan pakaian berwarna
keemas-emasannya berdiri didepan pintu dan menyambut
tamunya dengan penuh senyuman-^
-oooooooupacara
perkawinan telah ditetapkan akan diselenggarakan
selewatnya tengah hari.
Kini tengah hari sudah makin dekat, tapi Ngo-heng-si-ci
Tong Tiong-peng belum menyambut kedatangan seorang jago
yang benar- benar mempunyai nama besar dan kedudukan
tinggi dalam dunia persilatan.
Peristiwa ini terntu saja membuat hatinya gelisah
bercampur cemas.
Dia merasa bila dalam perkawinan congpiau pocunya tak
seorangpun jago kenamaan atau pendekar besar dunia
persilatan yang hadir, hal ini akan dianggap sebagai suatu
peristiwa yang amat kehilangan muka. saat tengah hari sudah
hampir lewat......
Pada saat itulah dari depan perkampungan sana muncul
serombongan manusia, rombongan itu terdiri dari lima puluhan
orang.
sebagai orang pertama adalah seorang hwesio bermuka
penuh welas kasih.
Mencorong sinar tajam dari balik mata Ngo-heng-si-ci Tong
Tiong-peng setelah menyaksikan hal itu, dengan langkah
cepat dia segera memburu kedepan untuk menyambut
kedatangannya .
"Tong Tiong-peng, cong koan dari perkampungan siauning-
ceng menyambut kedatangan dari ciangbujin sekalian...."
Rupanya hwesio itu tak lain adalah Hui seng taysu,
ciangbunjin dari siau-lim-pay. Dibelakangnya mengikuti tiga
orang ciangbunjin dari tiga partai besar lainnya.
Mereka adalah Hian-leng tootiang dari Butongpay, Bwee
Kun-peng dari partai Hoa-san serta Cui-sian sangjin dari Go-bi
pay.
Dibelakang keempat orang ciangbunjin itu mengikuti pula
Han-sian-hui-kiam atau pedang dingin Wi ci Ming, tianglo dari
Kaypang.
Dari kelima partai besar yang ada dalam dunia persilatan
dewasa ini, hanya ketua Kay-pang, Lok seng-tui-hun-siu atau
kakek bintang pengejar sukma Kong-sun Liang yang tak hadir.
Hal ini disebabkan belakangan ini Kongsun Liang sedang
menutup diri disuatu tempat untuk melatih semacam ilmu
sakti, maka segala persoalan mengenai kepartaian telah
diserahkan kepada Wici Ming untuk mengatasinya.
Dengan demikian wici Ming boleh dibilang mempunyai
kedudukan yang hampir sederajat dengan seorang ketua
partai.
Dalam pesta perkawinan Lam kiong Ceng, ternyata ketua
dari partai besar itu turut hadir, peristiwa ini jauh diluar dugaan
Ngo-heng-si-ci.
Baru saja kelima orang ciangbunjin dari lima partai besar
datang, Tong Tiong-peng dihadapkan lagi dengan suatu
peristiwa yang menggetarkan hatinya. Ternyata gembong iblis
nomor satu dari dunia persilatanpun hadir disana....
Pat-huang-it-koay, lian-sim-kui-siu (kakek setan berhati
cacad, manusia aneh dari Pat huang) siau Lun ternyata
datang tanpa diundang.
Ketika Tong-tiong-peng membaca kartu namanya itu,
hampir saja ia tak percaya dengan apa yang dilihat.
Tapi, mau tak mau dia harus percaya juga. Karena itu dia
segera menyambut kedatangannya.
seorang kakek berambut putih yang berwajah dingin,
berambut panjang sebahu dan berwajah menyeramkan berdiri
didepan pintu siapa lagi orang itu kalau bukan siau Lun? Buruburu
dia maju kedepan, kemudian sambil menjatuhkan diri
berlutut serunya: "Tong-tiong-peng menyampaikan salam
hormat untuk siau locianpwe" siau Lun segera tertawa
hambar, katanya sambil mengulapkan tangan:
"Tak usah banyak adat, lohu sudah bukan siau Lun yang
dulu, kalian tak usah banyak adat....."
sambil berkata dia lantas masuk kedalam perkampungan
dengan langkah lebar.
Kehadiran kakek ini dalam ruangan upacara dengan Cepat
menggetarkan hati lima orang ciangbunjin dari lima partai
besar.
Hui-sin taysu dari siau lim-pay segera bangkit berdiri sambil
menjura, katanya:
"siau lo-sicu, sudah lama kau mengundurkan diri dari
keramaian dunia. Hari ini bisa berjumpa lagi, hal ini sungguh
merupakan suatu kebanggaan buat boanpwe sekalian......"
siau Lun tertawa terbahak-bahak. diamatinya wajah kelima
orang itu sekejap kemudian sambil tertawa katanya:
"oooh rupanya ciangbunjin sekalian sudah datang? Besar
betul pamor dari Lam kiong Ceng....."
Terkesiap juga Hui-sin taysu mendengar perkataan ini,
buru-buru dia berseru:
"Lam kiong sicu adalah seorang gagah, sudah sepantasnya
kalau boanpwe sekalian ikut memberi selamat kepadanya"
sekilas senyuman menghiasi wajah siau Lun, dia segera
manggut-manggut berulang kepada Ngo-heng-si-ci Tong
Tiong-peng yang menghantar dirinya dia lantas mengulapkan
tangannya sembari berkata:
"silahkan saja kau melayani orang lain, lohu hendak
berbincang-bincang dengan kelima orang lote ini....."
Tong Tiong-peng segera menjura dan mengundurkan diri
Baru tiba dipintu depan, seorang anggota perkampungan
telah berlari mendekati dengan wajah gugup,
Dengan kening berkerut Tong-tiong-peng segera menegur:
"Persoalan apa yang membuat kau gugup?"
"Lapor congkoan, didepan pintu muncul seorang tamu
aneh...." ujar orang itu dengan wajah gugup bercampur
gembira.
"Tamu aneh macam apa?"
"Tecu tidak kenal, dia mengatakan ingin berjumpa dengan
majikan....."
"Hmmm, manusia takebur darimanakah yang telah datang
?" seru Tong-tiong-peng sambil tertawa dingin.
Dengan langkah cepat dia memburu kedepan pintu.
Tapi apa yang kemudian terlihat kontan membuat dia
berdiri tertegun, karena tamu aneh itu sangat dikenal olehnya.
Dia tak lain adalah say-siang-li si perempuan pintar dari
bilik barat, Leng seng-luan, seorang perempuan bertangan keji
yang banyak membuat orang persilatan pusing kepala.
-ooooooooo-
Buru-buru Tong-tiong-peng meredakan hawa amarahnya,
lalu dengan senyuman yang dibuat-buat menyongsong
kedatangan tamunya.
"Nona Leng, baik-baikkah kau? Tong-tiong-peng
menghunjuk hormat untukmu....." serunya.
Ternyata yang datang adalah seorang gadis muda berbaju
putih yang berambut panjang dan berwajah cantik, tapi
sikapnya dingin, kaku dan menyeramkan, dia sedang
memandang kearah pintu perkampungan sambil tertawa tiada
hentinya.
Tapi setelah mendengar ucapan dari Tong-tiong-peng itu,
hawa marahnya sedikit agak mengendor, ujarnya kemudian:
"Tong cong koan, tampaknya pamor dari saudara Lam
kiong makin lama semakin bertambah besar".
Terkesiap juga Tong Tiong-peng setelah mendengar
perkataan itu, buru-buru dia berkata, "Hari ini adalah
perkawinan Lam kiong toako, sedang dia sedang berganti
pakaian, maka tak bisa menyambut kedatanganmu harap
nona Leng sudi memaafkan "
"Oh.... kalau begitu akulah yang telah salah menegurnya..."
Leng-seng-luan tertawa dingin.
seraya dia berkata dia lantas melangkah masuk kedalam
pintu perkampungan.....
Baru saja Tong-tiong-peng hendak memimpin jalan, Lengseng-
luan telah menggoyangkan tangannya sambil berkata:
"Tong congkoan, lebih baik kau berdiri disini saja, biar anak
buahmu yang membawa jalan bagiku "
"Kalau begitu terpaksa aku harus menurunkan derajat
nona........." ujar Tong cong koan sambil tertawa.
Dengan cepat dipanggilnya seorang anak buahnya,
kemudian memerintahkan: "Cepat ajak Leng lihiap menuju
keruangan tamu "
orang itu mengiakan dan mengajak Leng seng-luan
memasuki perkampungan,
Memandang bayangan punggung Leng seng-luan yang
berlalu, diam-diam Tong-tiong-peng menghela napas panjang.
Pada saat itulah dari luar perkampungan telah muncul
empat orang tamu aneh.
Keempat orang itu ialah Kaucu dari perkumpulan pay-Kay
yang disebut orang Jui-sim-huan-im-kek, (jago tanpa
bayangan penghancur hati) Ciu It-cing konon orang ini murid
Hua-im cinjin Li Kim-siu yang menjadi cikal bakal partainya.
Lalu orang kedua adalah Mo-kiam-huang-say (singa latah
pedang iblis) Kit Hu-seng yang merupakan toa kongcu dari
benteng kematian di lembah sin-mo-kok.
orang ketiga adalah Lan-san-gin-kiam atau si pedang perak
berbaju biru seebun Jiu, salah seorang dari empat jago
pedang utama dibawah pimpinan Ceng-thian-kui-ong atau raja
setan penggetar langit wi Thian-yang dari istana Tong-thiankui-
hu di lembah Kiu yu kok.
Dan terakhir adalah putra dari sian- hong-pat- ciang, Wansim-
seng-sin atau kakek suci berhati mulia, delapan pukulan
angin puyuh Nyo Thian-wi, pemilik istana siau- hong- hu
bernama Yu-liong-kuay-kiam atau pedang kilat naga perkasa
Nyo Ban-bu.
sekalipun keempat manusia ini bukan ketua partai, namun
nama besar mereka serta kelihaian ilmu silat mereka jauh
diatas kemampuan dari para ciangbunjin berbagai partai
besar.
Dikunjungi manusia- manusia seperti ini sudah tentu Tong
Tiong-peng tak berani berayal lagi, dengan sikap hormat dia
lalu menghantar tamunya memasuki ruangan upacara.
sementara itu tengah hari sudah lewat, irama musik mulai
diperdengarkan pertanda upacara pernikahan segera akan
diselenggarakan.
Tamu yang mencapai seribu orang lebih hampir boleh
dibilang memadati seluruh ruangan siu ning-ceng dan
lapangan berlatih silat yang luasnya dua puluh bau lebih.
Akhirnya pengantinpun masuk kedalam ruangan upacara.
Lam kiong ceng nampak bertubuh tegap dan kekar seperti
seorang malaikat, sebaliknya sinona lemah gemulai seperti
perempuan setan yang sama sekali tidak berhawa kehidupan.
Jian-li-hu-siu Leng siau-thian duduk ditengah ruangan upacara
dengan senyum dikulum.
sedang dari pihak wali pengantin pria adalah seorang
kakek pendek yang berkepala botak. orang itu duduk diatas
tempat duduk Leng siau-thian dengan wajah yang dingin.
Wajah orang itu sedemikian tak sedapnya dipandang,
seakan akan kehadirannya disana bukan untuk
menyelenggarakan pesta perkawinan, melainkan menghadiri
suatu upacara kematian.
siapakah kakek pendek berkepala botak itu? Anehnya
ternyata tak seorang manusiapun yang hadir dalam ruangan
yang mengenali dirinya.
Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak masing-masing,
bahkanada pula yang berpikir:
"Mungkinkah gembong iblis tua ini adalah suhunya Lam
kiong Ceng?"
siau Lun, si gembong iblis nomor wahid dari kolong langit
turut berkerut kening.
Tiab-tiba Leng seng-luan yang berada disisi yang menegur:
"siau kongkong, kenalkah kau dengan orang tua itu?"
siau Lun segera tertawa seraya manggut-manggut. "Bukan
cuma kenal saja, kami kan sahabat karib" sahutnya.
"oh.... siapakah dia?" seru Leng seng-luan terkejut.
"Nona, pernahkah kau mendengar ucapanperkataan begini:
Lebih baik bertcmu raja akhirat, daripada berjumpa sepasang
hati?"
"Yaa, aku pernah mendengar perkataan itu, bukankah kau
orang tua yang dimaksudkan sebagai sepasang hati?" siau
Lun lantas tertawa.
"Lohu hanya dianggap sebagai satu hati, sedangkan hati
yang lain adalah dia." katanya.
Leng seng-luan menjadi kesima setelah mendengar ucapan
itu, lalu serunya cepat: "Lantas, siapa..... siapakah dia?"
Cui-sian sangjin, ketua Go-bi-pay yang waktu itu kebetulan
berada disisi LEng seng-luan nampak berubah wajahnya
sesudah mendengar perkataan itu, dengan cepat dia berbisik
kepada kakek setan berhati cacad siau Lun:
"Locianpwe, apakah kakek botak itu adalah Tuan-cong-sisim-
sin atau kakek usus putus kehilangan hati Hui Lok yang
disebut orang sebagai siang-sim atau sepasang hati dan
mengangkat nama bersama-sama dirimu itu?"
"Benar, memang dia "
Sekarang Leng Seng-luan baru mengerti, nama si kakek
usus putus kehilangan hati memang cukup menggetarkan
hatinya.
sekarang dia baru tahu kalau Lam kiong Ceng adalah
muridnya gembong iblis itu.
Tak heran kalau semua jago Liok-lim bersama sama tunduk
dan takluk kepadanya, sekalipun umurnya belum mencapai
usia pertengah, rupanya dia mempunyai seorang suhu yang
cukup menggetarkan hati setiap orang.
Dalam kesedihan yang mencekam perasaan Leng sengluan,
tiba-tiba dia tertawa sendiri, karena sekarang dia merasa
hatinya agak lega.
Dulu, dia telah menyerahkan seluruh kasih sayang dan
cinta kasihnya untuk Lam kiong Ceng, tapi kenyataannya Lam
kiong Ceng memandang sinis kepadanya, bahkan
meninggalkannya dan mempersunting Leng Lin-lin.
Gara-gara peristiwa itu, dia pernah bersedih hati dan
melelehkan air mata banyak.
Tapi sekarang dia baru mengerti, ternyata dia adalah
muridnya Hui Lok. murid dari musuh besar gurunya. Apa lagi
yang mesti dirisaukan?
Tak ada lagi, Maka diapun hanya bisa tersenyum dengan
perasaan sedih, dan bahagia.......
sepasang pengantin telah melakukan upacara dan
perjamuan telah dilangoungkan. suasana bertambah semarak
dan ramai, hidangan lewat muncul tiada hentinya.
Mendadak seorang anggota perkampungan muncul
membawa sebuah gulungan kain dan masuk kedalam.
siapa lagi yang mempersembahkan hadiah untuk sepasang
pengantin itu?
Tak lama kemudian gulungan kain itu sudah dibuka
danpara hadirinpada berdiri untuk membaca tulisan tersebut.
Ternyata tulisan itu berisikan sebuah bait syair Yang-cunlok
yang termashur. Diatas syair tersebut tertera beberapa
huruf yang berbunyi: "Peringatan hari perkawinan Lam kiong
tayhiap dengan Hian-peng-li-si " sedangkan dibawahnya
bertuliskan : "Dipersembahkan oleh : Cing-peng-long-cu oh
Put Kui "
oh Put Kui..... sebuah nama yang menggetarkan sukma
setiap orang, tanpa sadar Lam kiong Ceng segera berseru:
"Aah, mungkinkah oh Put Kui yang berjulukan Long cukoay-
hiap atau pendekar aneh gelandangan ?"
Paras muka Hian-peng-kui-li atau setan perempuan
berhawa dingin Leng Bin-pin berubah hebat pula, katanya
cepat:
"Kau kenal dengannya? Bukankah dia telah berkunjung
kepulau neraka ?"
"Aku tidak kenal dengannya," seru Lam kiong Ceng sambil
menggelengkan kepala.
Hui Lok si kakek berkepala botak yang selama ini
membungkam, mendadak berseru dingin:
"Kalau ada tamu terhormat yang datang, silahkan saja
untuk masuk......"
Tampaknya orang itu tak pernah tertawa, maka wajahnya
selalu diliputi oleh hawa pembunuhan yang dingin dan
mengerikan.
"suhu, maksudmu mengundangnya masuk....." bisik Lam
kiong Ceng.
Dengan cepat dia berpaling kearah anak buahnya sambil
menambahkan :
"suruh Tong cong koan mengundangnya masuk. dan suruh
orang pasang tulisan itu keatas dinding "
orang itu mengiakan dan segera berlalu.
sementara dua orang lelaki maju untuk menyambut tulisan
tersebut dan segera menggantungkannya diatas dinding.
Dengan demikian, semua anggota persilatan yang hadir
dalam ruangan itu dapat membaca tulisan mana dengan jelas.
Selesai membaca tulisan itu, Hui-sin siansu ketua dari siaulim-
pay segera berkata sambil tertawa:
"Hian leng toheng, agaknya bakal ada pertunjukan menarik
dalam perjamuan kali ini "
"Apakah taysu kenal dengan orang itu ?" tanya Hian-leng
tootiang sambil tertawa pula. Dengan cepat Hui-sin taysu
menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak. belum pernah ketemu, tapi lolap pernah menerima
surat dari Hui-leng sute, dalam surat itu dikatakan kalau
pemuda tersebut pernah berkunjung ke perkampungan Tangmo-
san-ceng untuk menghantar batok kepala dari empat
orang iblis, bahkan memukul mundur pula Tiang- bi-siau-siu
(kakek tertawa beralis panjang)........."
"Yaa, soal itu memang pernah kudengan dari laporan Hianpek
sute......" kata Hian-leng tootiang kemudian mengangguk.
Ketua Hoa-san-pay si kakek pedang pengejar angin Bwee
Kun-peng ikut menimbrung : "Lohupun pernah mendengar
Wan sute menyinggung tentang bocah ini, konon dia adalah
murid dari Thian-liong taysu, kepandaian silatnya telah
memperoleh warisan dari taysu......"
sementara beberapa orang ketua itu sedang berbisik-bisik,
oh Put Kui telah berjalan masuk kedalam ruangan.
Menyusul dibelakangnya sipengemis pikun Lok Jin-ki.
sedangkan sipetani tua dari Hoo-san Kou Cun-jin jauh
sebelumnya sudah datang duluan, karena sebagai Tongcu
dari kantor cabang Kay-pang untuk wilayah shia-kam,
bagaimanapun juga dia harus menghadiri kejadian besar
tersebut.
Dengan wajah penuh senyuman oh Put Kui berjalan masuk
kedalam ruangan upacara. Buru-buru Lam kiong Ceng bangkit
berdiri sambil berseru:
"saudara oh kah disitu ? siaute Lam kiong Ceng......."
oh Put Kui tertawa, sambil menjura tukasnya :
"Aku datang tanpa diundang, harap kau sudi
memaafkan.........."
Kemudian setelah menatap sekejap wajah orang itu,
lanjutnya :
"saudara Lam kiong, Leng lihiap. kuucapkan selamat
berbahagia untuk kalian berdua semoga bisa hidup rukun
sampai kakek nenek........"
Lam kiong Ceng segera tertawa terbahak bahak.
"Haaaahhh..... haaahhhhh...... haaaahhhh..... terima kasih
saudara oh....."
"Gagah betul lelaki ini......" pikir oh Put Kui.
sedangkan Leng Pin-pin dengan wajah memerah turut
menjura: "Terima kasih oh tayhiap......"
Setelah itu Lam kiong Ceng baru berpaling kearah
pengemis pikun yang berada dibelakang oh Put Kui sambil
berkata: "Lok tianglo, selamat berjumpa......."
Pengemis pikun tertawa tergelak.
"Haaaahhhh..... haaaaahhhh..... haaahhhhh.....pada hari
perkawinan lote, ternyata aku si pengemis pikun datang
terlambat, bagiamana kalau menghukum aku dengan tiga
puluh cawan arak? sudah hampir setahun lebih aku si
pengemis pikun tak pernah beradu minum arak dengan
lote....." sambil berkata dia lantas menyambar cawan arak
didepan Lam kiong Ceng dan meneguk isinya sampai
habis.......
Dia minum dengan cepat ternyata dimuntahkan lebih cepat,
coba kalau bukan oh Put Kui berkelit dengan cepat, niscaya
seluruh tubuhnya sudah kena sembur.
"Hei kenapa kau? Araknya terlalu keras?" tak tahan oh Put
Kui menegur sambil tertawa tergelak.
Dengan suara keras pengemis pikun segera berteriak:
"saudara sekalian, kalian tertipu, yang diminum Lam kiong
lote bukan arak melainkan air teh......"
Paras muka Lam kiong Ceng seketika berubah menjadi
merah padam karena jengah.
"Loko, bayangkan saja. Hari ini siaute mana boleh minum
arak sampai mabuk....." serunya cepat.
Tentu saja pengemis pikun tak ambil perduli soal semacam
itu, kembali dia berteriak. "Tidak bisa, kita tak bisa
membiarkan pengantin lakinya minum air teh, saudara
sekalian, bukankah kalianpun berharap pengantinnya minum
arak sungguhan......."
seruan mana segera disambut gegap gempita oleh tamu
yang lain, sehingga suasana menjadi ramai sekali.
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Lam kiong Ceng
tertawa,
"Baik, baiklah," katanya kemudian, "siaute akan
menggantinya dengan arak sungguhan......"
Kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya kepada pengemis pikun
"Lo ko, kau harus membantunku, janganlah memaksa aku
minum arak terus, atau paling tidak kau mesti mewakili
aku....."
Pengemis pikun menjadi girang sekali setelah mendengar
perkataan itu, serunya cepat: "Baik, kau memang berhasil
menemukan orang yang benar......"
semabri begitu dia lantas duduk dikursi dekat pengantin
lelaki tersebut....
Tindakan mana kontan saja menggusarkan seseorang,
akan tetapi karena hari ini adalah hari baik muridnya, maka
amarah tersebut hanya bisa disimpan dalam hati saja.
Tentu saja si pengemis pikun tidak akan mengetahui hal itu.
Bukan cuma dia bahkan oh Put Kui pun tidak menyangka
kalau dalam ruangan tersebut hadir pula gembong iblis lain
yang bernama besar sejajar dengan nama kakek setan berhati
cacad siau Lunsementara
itu, Lam kiong Ceng telah mengundang oh Put
Kui untuk menempati meja tuan ruma, tapi dengan cepat oh
Put Kui menggelengkan kepalanya.
"Jangan" demikian ia berkata, " aku masih mempunyai
beberapa kenalan lama."
Padahal dia tidak mempunyai kenalan kecuali siau Lun, ia
menampik tawaran tersebut karena dia telah menyaksikan
kehadiran siau Lun disitu.
Begitulah, selesai berbicara ia lantas berjalan menuju
kemeja perjamuan sebelah kiri
Dalam meja perjamuan itu, selain hadir siau Lun, dan
terdapat pula Yu-liong-kuay-kiam (pedang kilat naga perkasa)
Nyoo Ban-bu, Mo-kiam-huang-say atau singa latah pedang
iblis Kit Hu-seng, see-siang-li-si atau pendekar wanita dari bilik
barat Leng seng-luan dan Jui-sim-huan-im-kek atau tamu
penghancur hati tanpa bayangan ciu It-kim.
selain kakek setan berhati cacad siau Lun empat orang
lainnya boleh dibilang jago-jago top dari kaum muda.
Baru saja pemuda itu berjalan mendekat, siau Lun telah
berseru sambil tertawa: "Hei bocah muda, aku tahu kalau kau
bakal datang "
"Kakek siau, akupun tahu kalau kau pun bakal datang....."
sahut oh Put Kui dengan cepat.
Kemudian mereka berdua saling berpandangan dan
tertawa terbahak bahak,
Kontan saja adegan tersebut membuat para jago lainnya
menjadi tertegun dan berdiri melongo, siapapun tidak
menyangka kalau oh Put Kui bukan cuma kenal saja dengan
siau Lun, bahkan tampaknya hubungan mereka cukup akrab
dan hangat.
setelah duduk dan memperkenalkan keempat orang
pemuda lainnya, siau Lun baru berkata lagi sambil tertawa:
"Anak muda, mengapa kau datang terlambat?"
" Kakek Siau, masa kau tidak mengerti......" sahut oh Put
Kui sambil melototkan matanya dan tertawa.
"Bagus, bagus, tampaknya kau hendak jual mahal
kepadaku ?"
"Boanpwe tidak berani."
"Kalau memang tidak berani, mengapa tidak cepat kau
katakan ?"
"Kakek siau," bisik pemuda itu kemudian, "inilah yang
dinamakan memanfaatkan kesempatan untuk menarik
perhatian "
"Bagus anak muda, tampaknya makin lama akal busukmu
semakin bertambah banyak saja....."
"Yaaa, apa boleh buat ? untuk menghadapi orang-orang
semacam ini mau tak mau mesti gunakan akal busuk....."
"Bagus sekali......" kembali siau Lun tertawa terbahakbahak.
ooooooo0dw0oooooooo
Dalam pada itu, singa latah pedang iblis Kit Hu-seng yang
duduk disampingnya telah mengangkat cawannya dan berkata
kepada oh Put Kui sambil tertawa :
"saudara oh, belakangan ini aku sering kali mendengar
nama Long-cu-koay-hiap disebut orang, hari ini dapat
berjumpa muka, hal ini benar- benar merupakan suatu
peristiwa yang menggembirakan....."
Dia mendongakkan kepalanya dan mengangguk kering isi
cawannya, kemudian ujarnya lebih jauh:
"Aku orang she Kit menghormati secawan arak untuk
saudara, harap saudara oh sudi memberi muka."
oh Put Kui tertawa hambar dan lalu mengangkat cawannya
untuk meneguk sampai habis. "Kehebatan saudara Kit sudah
lama siaute kagumi" katanya cepat.
"Haahh....haaahhh...... saudara oh Put Kui sangat
mengagumkan hati, aku orang she Kit bersedia untuk
berteman denganmu "
Dia berjulukan singa latah pedang iblis, seperti juga
namanya, gerak gerik orang ini ternyata mencerminkan
kehebatan dirinya. Diam-diam oh Put Kui tertawa geli,
pikirnya:
" orang ini adalah pemilik muda lembah Bin-mo-kok. namun
nyatanya tidak terpengaruh sama sekali oleh hawa iblis,
kegagahan dan kebesaran jiwa orang ini sungguh
mengagumkan......."
sementara dia masih berpikir, sipedang kilat naga perkasa
Nyoo Ban-hu telah mengangkat pula cawan araknya seraya
berkata: "saudara oh, siautepun ingin menghormati kau
dengan secawan arak "
Walaupun oh Put Kui tidak banyak berkenalan dengan
orang tapi dia memiliki suatu firasat tajam yang aneh.
Terhadap sipedang kilat naga perkasa yang tampan dan
gagah ini, dia justru merasa mempunyai suatu perasaan muak
dan tak senang.
Jika terhadap Kit Hu-seng tadi ia meneguk araknya dengan
tulus hati diiringi gelak tertawa, maja terhadap Nyoo Ban-hu
justru hanya berpura-pura minum dengan wajah senyum tak
senyum.
"Takaran minum siaute kurang baik, biarlah maksud baik
saudara Nyoo kuterima dalam hati saja....."
Dia segera menempelkan bibirnya pada cawan, kemudian
sambil tertawa meletakkannya kembali kemeja.
Berkilat sepasang mata sipedang kilat naga perkasa Nyoo
Ban-hu setelah menyaksikan kejadian ini, serunya sambil
tertawa:
"saudara oh, apakah kau tidak pandang sebelah mata
kepada siaute ?" Dengan cepat oh Put Kui menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Aaaaah, mengapa saudara Nyoo berkata demikian?
Apakah hal ini bukan sama artinya dengan memandang asing
diriku? saudara Nyoo merupakan putra kakek suci, siapapun
manusia didunia ini ingin membaiki saudara Nyoo, sebaliknya
aku tak lebih hanya seorang gelandangan, masa aku berani
memandang rendah saudara Nyoo....."
sepintas lalu perkataan tersebut kedengarannya memang
sedap didengar, namun bagi pendengaran Nyoo Ban-hu justru
membuatnya tak bisa tertawa, tak bisa pula mendongkol,
untuk sesaat dia hanya bisa berdiri termangu-mangu sambil
melototi wajah pemuda itu.
Untung saja Hui-sim-huan-im-kek Ciu It-cing segera
mengangkat cawan araknya untuk menghilangkan kejengahan
yang meliputi sipedang kilat naga perkasa Nyoo Ban-hu.
"saudara oh, aku orang she Ciu pun ingin menghormatimu
dengan secawan arak...."
"Terima kasih saudara Ciu....." sahut oh Put Kui sambil
mengangkat cawannya dan segera meneguk isinya sampai
habis.
Tampaknya Ciu It-kim adalah seorang yang jujur, melihat
itu dia lantas berkata sambil tertawa:
"saudara oh, kalau toh takaran arakmu kurang baik, lebih
baik kurangi saja arakmu"
oh Put Kui menaruh kesan baik terhadap Ciu It-kim, dia
merasa Jui-sim-huan-im-kek yang meneruskan jabatan ketua
Pay-kau itu adalah seorang pemuda sederhana serta jujur.
"Terima kasih atas perhatian dari saudara Ciu" buru-buru ia
menyahut sambil tertawa. Menyusul kemudian Leng seng-luan
turut menghormati arak kepadanya.
oh Put Kui menyambut sambil tertawa, ia merasa gadis itu
cantik sekali, hanya sayang wajahnya kelihatan murung sekali.
la paling takut dekat sama perempuan, apalagi gadis yang
kelihatan murung dan mempunyai rahasia hati, maka jauh
sebelumnya dia sudah berusaha menghindari diri dari tatapan
matanya.
Leng seng-luan sendiri sama sekali tidak mempunyai
ingatan lain, dia hanya merasa Long-cu-koay-hiap oh Put Kui
seperti memiliki suatu daya tarik yang luar biasa, membuat ia
tak terasa teringat akan dirinya.
"Terima kasih nona" katanya kemudian hambar.
setelah meletakkan kembali cawan araknya, ia berbisik
kepada siau Lun:
" Kakek siau, siapa dua orang kakek yang duduk semeja
dengan Lam kiong Ceng itu?"
"Bocah muda, sungguh hebat ketajaman matamu," puji siau
Lun sambil tertawa, " begitu banyak tamu yang hadir dalam
ruangan itu dan begitu banyak ciangbunjin serta jago
kenamaan yang hadir, tapi yang kau tanyakan hanya kedua
orang iblis tua itu....."
"Aah, boanpwe kan belajar banyak dari kau orang tua ?"
"Betul, lohu memang pernah mengajari banyak hal
kepadamu.....jangan perhatikan keningnya, jangan dilihat sorot
matanya, tapi perhatikan tarikan napasnya. Bagaimana?
Cocok bukan? Lohukan tidak membohongi dirimu....." setelah
berhenti sejenak, kakek itu berkata lebih jauh:
"sikakek berambut putih itu adalah ayah dari pengantin
perempuan....."
"Leng siau Thian?" sambung oh Put Kui sambil tertawa.
"Benar, tidak gampang untuk dihadapi bukan?"
"Lantas siapa yang satunya lagi?"
Mencorong sinar terang dari balik mata kakek itu,
mendadak bisiknya lirih:
"sedangkan si kakek yang berkepala botak itu adalah
seorang jago yang mengangkat nama bersama lohu."
oh Put Kui agak termenung setelah mendengar perkataan
itu, kemudian ujarnya tersenyum:
"Kakek siau, aku rasa hal ini tak mungkin terjadi."
"Mengapa tidak?" kata kakek siau sambil tertawa, " kau
pernah mendengar seorang jago yang bernama Toan-ceng-sisim-
siu (kakek pemutus usus pelenyap hati) Hui Lok?"
"Hui Lok? orang yang pernah kau katakan itu?" jerit oh Put
Kui kemudian dengan terperanjat.
"Yaa, benar. Memang dia"
Kali ini oh Put Kui benar- benar dibikin tertegun oleh
ucapan tersebut, belum pernah dia meras akan terperanjat
seperti apa yang dialaminya saat ini.
Mimpipun dia tak pernah menyangka kalau sikakek
pemutus usus pelenyap hati Hui Lok masih hidup didunia ini.
"Bagaimana anak muda? Kau tak pernah menyangka
bukan?" kata siau Lun sambil tertawa hambar.
oh Put Kui manggut.
"Ya. Mimpipun aku tak pernah menyangka"
Tiba-tiba siau Lun menghela napas, kemudian berkata:
"Anak muda, terhadap siapapun kau boleh bertindak
tekebur atau jumawa, tapi jangan mencoba-coba berbuat
demikian terhadap si kakek pemutus usus pelenyap hati Hui
Lok, kalau tidak kau bisa menderita kerugian yang amat
besar...."
"Terima kasih banyak atas petunjukmu itu " seru oh Put Kui
sambil tertawa. siau Lun tertawa lalu menggelengkan
kepalanya berulang kali.
"Anak muda, tampaknya kau kurang percaya dengan
perkataan lohu?" katanya tiba-tiba.
"Boanpwe percaya, cuma boanpwe memang ada niat buat
bertarung melawan dia."
"Kau sudah gila?"
"Tidak. Boanpwe dapat merasakan hal ini, cepat atau
lambat suatu pertarungan sudah pasti akan berkobar antara
aku dengannya."
"Hei anak muda, mengapa kau bisa mempunyai jalan
pikiran seperti ini?" kata siau Lun sambil menggelengkan
kepalanya.
"Apakah kau tidak memperhatikan paras muka dari Hui
Lok?"
Mendengar perkataan itu, siau Lun lantas berpaling kearah
Hui Lok. Begitu melihat apa yang terjadi, kakek itu berseru
dengan perasaan terperanjat: "Hei, sebenarnya apa yang
telah terjadi?"
Ternyata si kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok
sedang melotot kearahnya dengan sinar mata yang
mengerikan. sambil tertawa oh Put Kui segera berkata:
"Antara lurus dan sesat tak bisa dipersatukan, siau tua, dia
hendak mencari gara-gara denganmu "
"Huuuh, dia mah tidak pantas" seru siau Lun sambil tertawa
geli.
"Yaa benar, dia memang tidak pantas"
si singa latah pedang iblis Kit Hu-seng yang berada
disampingnya mendadak menimbrung:
"Jika Hui Lok berani mencari gara-gara dengan siau
locianpwe, Kit Hu-seng lah yang pertama-tama tak akan
mengampuni dirinya"
"aaah, kalian anak- anak muda lebih baik jangan kelewat
emosi," kata siau Lun sambil tertawa, "sekalipun Hui Lok
mempunyai keberanian yang melampaui bataspun, tak nanti ia
berani menantang lohu........"
Belum habis dia berkata, mendadak tampak Hui Lok yang
berada dimeja utama sana telah bangkit berdiri. Bukan cuma
bangkit berdiri saja, bahkan berjalan menuju kearah meja
perjamuan mereka. oh Put Kui segera tertawa hambar setelah
menyaksikan kejadian itu, katanya kemudian-"Bagaimana,
kakek siau?"
"Bocah muda, tunggu saja tanggal mainnya....."
Dalam pada itu si kakek pemut usus pelenyap hati telah
tiba didepan meja perjamuan, setelah memandang sekejap
kearah enam orang yang berada dimeja itu, dia lantas
menyapa siau Lun"
Kehadiran saudara siau sama sekali tak kuketahui, bila
mana dalam penyambutan kurang memadai, harap saudara
siau sudi memaafkan"
siau Lun memandang sekejap kearah oh Put Kui, lalu
menjawab:
"Aaah, mana....... lohu pun sama sekali tak tahu kalau
saudara Hui adalah gurunya Lam kiong lote, kalau tidak
begitu, sudah seharusnya lohu siapkan kado yang lebih baik
untukmu...."
"Aaah, mengapa saudara siau berkata begitu? saudara
Siau bersedia menghadiri pesta perkawinan muridku saja
sudah merupakan suatu kehormatan bagi kami, masa masih
memikirkan soal kado?" siau Lun segera tertawa terbahakbahak.
"Haaahhh...haaahh....haaahhh.... sanjungan saudara Hui
sungguh membuat lohu seolah olah lagi terbang diatas awansebagai
tuan rumah, janganlah gara-gara lohu membuat
masalah lain terbengkalai, silahkan saudara Hui balik
ketempat dudukmu "
Diatas wajah Hui Lok yang sinis terlintas sekulum
senyuman yang aneh. "Kalau begitu, harap saudara siau suka
minum arak lebih banyak....." katanya. Selesai berkata dia
lantas menjura dan balik kembali ketempat duduknya.
sepeninggal gembong iblis itu, oh Put Kui baru bertanya
dengan kening berkerut: "Kakek siau, sebenarnya apa yang
telah terjadi ?"
"Aaah, bukankah kau telah menyaksikan segala
sesuatunya dengan mata kepalamu sendiri ?" kata siau Lun
tertawa.
Dengan cepat oh Put Kui menggelengkan kepalanya:
"sayang aku bodoh sekali sehingga tidak mengetahui apa
yang sebenarnya telah terjadi."
Kembali siau Lun tertawa.
"Tak mungkin Hui Lok akan mencari gara-gara dengan
lohu."
"Tapi boanpwe lihat dia sedang marah, mengapa setelah
mengucapkan beberapa patah kata yang penuh rasa sungkan,
kemudian membalikkan badan dan berlalu dengan begitu
saja?" siau Lun tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh...haaaahhh...haaaahhhh... bocah muda,
tahukah kau dia sedang marah kepada siapa?"
"Tentunya bukan lagi marah kepada boanpwe bukan?"
" Tepat sekali, justru tua bangka itu sedang marah
kepadamu"
"Aaah.... mana mungkin? Boanpwe toh tidak kenal
dengannya, masa dia bisa marah kepadaku?"
"Waah.... tampaknya kau sibocah muda ada kalanya pintar,
ada kalanya menjadi bodoh sekali"
"Mungkin memang begitu, toh sebagai seorang manusia
kita tak bisa selalu pintar bukan"
"Tepat sekali " siau Lun tertawa, "Bocah muda, tahukah kau
siapakah yang mempunyai nama yang paling termashur
dalam dunia persilatan belakang ini ?"
"Boanpwe selamanya tak pernah mempersoalkan nama
maupun kedudukan...." tukas oh Put Kui menggeleng.
"sekalipun kau tidak mengharapkan, tapi perbuatan yang
kau lakukan telah mendatangkan nama serta kedudukan
sendiri untukmu Nah, bocah muda, kau harus tahu, nama
julukanmu Long-cu-koay-hiap boleh dibilang jauh lebih
termashur daripada nama lohu." oh Put Kui segera
menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Locianpwe, bila kau bermaksud untuk mentertawakan
diriku, tidak seharusnya kau ucapkan sindiran tersebut
dihadapan teman-teman yang baru saja kukenal...."
si kakek setan berhati cacad siau Lun memandang
sekeliling tempat itu, lalu katanya sambil tertawa:
"Bocah muda, lohu tidak bermaksud mempermainkan
dirimu atau mencemoohkan dirimu, bila kau kurang perCaya,
beberapa orang lote ini akan menjadi saksi bagi perkataanku
tadi."
si singa latah pedang iblis Kit Hu-seng segera menimbrung
sambil tertawa lebar:
"saudara oh, apa yang dikatakan siau locianpwe memang
benar, belakangan ini nama besar saudara oh boleh dibilang
dihormati dan disanjung orang melebihi malaikat."
"oh ya? siaute benar- benar tidak menduga." seru oh Put
Kui dengan kening berkerut.
sejaktadi, sipedang kilat naga perkasa Nyoo Ban-hu sudah
mendongkolnya setengah mati, begitu melihat ada
kesempatan untuk mengutarakan kemendongkolannya,
dengan cepat dia menimbrung sambil tertawa dingin:
@oodwoo@
Jilid : 11
"Saudara oh, persoalan yang diluar dugaan masih banyak
sekali, menurut berita dalam dunia persilatan, konon bukan
saja saudara oh pernah berkunjung ke pulau neraka,
lagipula......."
Tiba-tiba dia tertawa seram, setelah itu sambungnya:
"Konon saudara oh merupakan jago lihay dari Hud-mosiang-
siu (sepasang manusia sakti Buddha dan iblis) "
"Hud-mo-siang-siu ?" seru oh Put Kui terperanjat, "apa
maksudmu? Mengapa saudara Nyoo tidak mengutarakan
dengan blak-blakan?"
Nyoo Ban-hu tertawa sinis, katanya: "Saudara Oh, buat apa
kau mesti berlagak pilon lagi?"
oh Put Kui benar-benar dibikin tidak habis mengerti oleh
perkataan orang itu.
"Saudara Nyoo, sejak dilahirkan didunia ini aku selalu
berusaha untuk jujur dan tak berbicara bohong walau sepatah
katapun, tapi kini saudara Nyoo menuduhku berlagak pilon,
sebenarnya apa yang kau maksudkan ?"
Nyoo Ban-hu memandang pemuda itu sekejap, kemudian
tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeehhhh... heeehhhh.... heeeehhhh.... saudara oh, masa
apa yang kau lakukan tidak kau pahami sendiri?"
"Saudara Nyoo, sebenarnya apa maksudmu?" seru oh Put
Kui semakin naik pitam.
Tiba-tiba Nyoo Ban-hu tertawa, "saudara oh, apakah pulau
neraka yang berada dilautan timur adalah suatu tempat yang
bisa dikunjungi oleh sembarang orang?"
"Tentu saja bukan setiap orang dapat kesitu."
"Bagaimana dengan umat persilatan?"
"Setiap orang boleh berkunjung kesitu"
Nyoo Ban-hu segera mengalihkan sorot matanya kewajah
setiap orang yang berada disana, lalu katanya sambil tertawa:
"Percayakah kau dengan perkataan itu?"
Kit Hu-seng segera menggelengkan kepalanya berulang
kali. "saudara oh, ucapanmu itu tidak benar"
"Tapi.... saudara Kit, aku berbicara sejujurnya"
"Bukan sejujurnya" kata Kit Hu-seng sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali, "saudara oh, dalam
dunia persilatan dewasa ini, kecuali kau, belum pernah ada
orang yang dapat berhasil mencapai pulau neraka, oleh
karena itu siaute rasa kau tidak berbicara sejujurnya."
oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhhh... hhaaaahhh... haaaahhhh... tapi paling tidak,
si nelayan sakti dari lautan timur cin-poo-tion dan si pengemis
pikun Lik Jin-ki dua orang tua pernah pula berkunjung kepulau
neraka"
"Apakah mereka berangkat kesana bersama sama saudara
oh?" tanya Nyoo Ban-hu sambil tertawa.
"Yaaa benar, mereka memang berangkat kesana bersamasama
aku"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Nyoo Ban-hu, dia
segera tertawa dingin tiada hentinya.
" Ucapanmu itu bukankah berarti ucapan yang sama sekali
tak ada gunanya? Mereka kalau berangkat bersama saudara
oh, berarti sang kelinci berjalan mengikuti rembulan, mereka
membonceng dirimu, tentu saja hal ini tak bisa dimasukkan
hitungan." Mendengar perkataan itu, oh Put Kui merasa
sangat tidak senang hati, katanya:
"saudara Nyoo, kau sangat pandai untuk memutar balikkanpersoalan
guna mencari menangnya sendiri "
"Aaaah, siapa bilang siaute hanya ingin mencari
menangnya sendiri," Nyoo Ban-hu tertawa, " apa lagi toh
bukan aku saja yang berkata demikian, setiap umat persilatan
telah mengabarkan kalau saudara oh mempunyai hubungan
yang erat dengan kawanan iblis yang berdiam dipulau neraka,
aku lihat apa yang dikabarkan itu bukan kabar bohong belaka"
Paras muka oh Put Kui berubah hebat, dia benar-benar dibikin
naik pitam.
"Nyoo Ban-hu," serunya, "pandai sekali kau memfitnah
orang dengan kata-kata seperti itu"
-oooooooooo-
"Jangan marah saudara oh," kata Nyoo Ban-hu dengan
mata berkilat tajam, "aku toh mendengar kabar itu dari berita
yang tersiar dalam dunia persilatan." oh Put Kui tertawa
dingin.
"Heeehhh... heeehhhh... heeeehhhh... pandai benar
saudara bersilat lidah, tolong tanya siapa saja yang berdiam
dipulau neraka dan pernahkah kau melihat mereka?"
"Aku toh belum pernah kesitu, mana mungkin aku bisa
tahu?"
"Hmm, itu bukan kesimpulan yang tepat.Jikalau kau
memang belum pernah menjumpai mereka, dari mana kau
bisa tahu kalau diatas pulau tersebut berdiam gembong iblis?"
"saudara oh," kata Nyoo Ban-hu sambil tertawa dingin,
"tentunya kau pernah mendengar bukan tentang empat
peristiwa besar yang telah terjadi dalam dunia persilatan
berapa tahun berselang?"
"Aku bukan seorang yang tuli, masa tidak tahu akan
peristiwa besar tersebut?"
"Ayahku adalah salah seorang korban dari pembunuhan
biadab tersebut....." seru Nyoo Ban-hu secara tiba-tiba dengan
nada penuh kebencian.
"ooooh.... nasibmu sungguh tragis"
" Itulah sebabnya aku sangat menaruh perhatian terhadap
pulau kecil tersebut....."
"Bukan hanya kau seorang, setiap umat persilatan rata-rata
menaruh perhatian terhadap pulau kecil itu"
"Tapi siaute berbeda dengan orang lain, karena siaute
curiga kalau keempat peristiwa besar itu kemungkinan besar
dilakukan oleh gembong-gembong iblis yang tinggal diatas
pulau tersebut, maka dari itu, siaute ingin menyelidiki hal ini
dengan lebih jelas lagi "
sekujur tubuh oh Put Kui segera gemetar keras saking
gusarnya menahan luapan emosi, segera pikirnya:
"Bocah keparat, kau hendak memfitnah aku dengan
tuduhan-tuduhan tanpa dasar itu?" Mendadak satu ingatan
melintas dalam benaknya, tapi hanya sebentar saja ingatan
tersebut telah lenyap kembali tak berbekas, keningnya kontan
saja berkerut. sementara itu Nyoo Ban-hu telah berkata lagi
setelah berhenti sebentar:
"saudara oh, tadi kau mengatakan bisa masuk keluar dari
pulau neraka dengan leluasa, hal ini membuktikan kalau
saudara oh telah bersekongkol dengan para iblis yang
menghuni dipulau tersebut"
oh Put Kui segera tertawa dingin, dia tak ingin membantah
ataupun mendebat, dia sedang memikirkan persoalan
lainnya....
Mendadak terdengan si singa latah pedang iblis berteriak
pula dengan suara lantang: "Benar ucapan dari saudara Nyoo
memang sangat masuk diakal" sambil tertawa dingin kembali
Nyoo Ban-hu berkata:
"Ilmu silat yang dimiliki saudara oh amat lihay, konon kau
pernah memukul mundur Tiang-sian-sin-ang Beng Pek tim
ketika berada diperkampungan Tang-mo-san-ceng, siaute
rasa bukan mustahil saudara oh yang melaksanakan keempat
peristiwa besar dalam daratan Tionggoan itu..."
"Benar, saudara oh memang berkemungkinan hal ini,"
sambung Kit Hu-seng dengan suara dalam.
Perkataan itu diutarakan dengan nada tegas dan penuh
keyakinan-
Cuma saja ia tidak mengerti apa sebabnya oh Put Kui tidak
berusaha untuk menyangkal?
sementara itu Jui-sim-huan-im-kek 'tamu bayangan semu
penghancur hati' berkata pula sambil tertawa:
"saudara Nyoo, aku rasa dugaan dari saudara Kit kurang
sesuai dan tidak masuk akal."
"Jadi saudara ciu menganggap saudara oh telah difitnah?"
tanya Nyoo Ban-hu tertawa.
"Yaa, siaute memang berpendapat demikian"
"Dapatkah saudara Ciu memberikan penjelasan?" Ciu It
Kim tertawa.
"Tak perlu dijelaskan lagi, karena perkataan dari saudara
Nyoo hanya jalan pemikiran sepihak"
Terkesiap juga Nyoo Ban-hu setelah mendengar perkataan
itu, diam-diam ia lantas berpikir:
" orang she Ciu ini tak boleh dipandang enteng....."
sementara diluaran dia berkata sambil tertawa.
"saudara Ciu, dari mana kau bisa mengatakan kalau
ucapanku hanya jalan pemikiran sepihak? Bukankah saudara
oh tidak menyangkal? Apakah hal ini bukan berarti kalau dia
sudah mengakui kalau apa yang siaute ucapkan tadi adalah
suatu kenyataan?"
"Benar" sambung Kit Hu-seng sambil bertepuk tangan, "
bukankah ia telah mengakui secara diam-diam?"
" Tapi siaute justru tidak percaya " kata Ciu It Kim tertawa.
Nyoo Ban-hu segera tertawa dingin.
"Heeehhh....heeehhhh....hehhhh.... saudara Ciu tidak
percaya adalah urusan saudara ciu sendiri....."
Belum habis dia berkata, Siau Lun telah menengadah dan
tertawa terbahak-bahak.
"siau Locianpwe, mengapa kau tertawa?" tegur Nyoo Banhu
dengan sorot mata berkilat.
Mencorong sinar aneh dari balik mata Siau Lun setelah
mendengar ucapan itu, katanya sambil tertawa:
"Apakah lohu tak boleh tertawa?"
Terkesiap perasaan Nyoo Ban-hu, buru-buru dia berseru:
"Bila kau orang tua ingin tertawa, tentu saja boanpwe
sekalian tak berani menghalanginya......"
"Hmmm, jika mengikuti adat lohu dimasa lampau, dengan
ucapanmu itu, kau sudah bisa mampus"
"Boanpwe benar-benar terlalu gegabah...." Nyoo Ban-hu
segera menjulurkan lidahnya. siau Lun tertawa.
"Kau bukan sembrono, lohu tahu kau lebih cerdik daripada
orang lain.... bocah muda, mengertikah kau akan perkataan
yang berbunyi: orang pintar malah dijadikan bahan
pembicaraan oleh orang pintar?"
"Aaah, jadi siau locianpwe menganggap boanpwe berlagak
sok pintar....?" ucap Nyoo Ban-hu sambil tertawa hambar. siau
Lun kembali tertawa seram.
"Hmmm, bocah muda, berada dihadapan beribu orang jago
silat yang berkumpul disini, kau menganggap dalam bagian
yang manakah lebih cerdik daripada orang lain? Lebih baik
simpan saja kejumawaanmu itu."
Kemudian setelah berhenti sejenak. katanya kepada Kit
Hu-seng:
"Kau sibocah tolol tak lebihpun merupakan seorang telur
busuk yang tak tahu mana yang benar mana yang salah"
si singa latah pedang iblis Kit Hu-seng yang didamprat
menjadi tertegun dibuatnya: "siau locianpwe......"
"Kau tak usah banyak bicara, lebih baik banyak minum
arak," tukas siau Lun sambil mengulapkan tangannya, "lain
kali jika ingin berteman, lebih baik berhati-hatilah, bedakan
mana yang baik mana yang jahat, daripada terperangkap oleh
siasat lawan." sekali lagi si singa latah pedang iblis Kit Huseng
merasakan hatinya terperanjat.
sorot matanya yang menatap wajah oh Put Kui, pelan-pelan
dialihkan pula kewajah Nyoo Ban-hu.....
Mendadak dia seperti memahami sesuatu, ia merasa apa
yang dikatakan sikakek setan hati cacad siau Lun seakanakan
merupakan sesuatu petunjuk....
Dalam pada itu, Nyoo Ban-hu juga sedang mengawasi
wajah Kit Hu-seng dengan sepasang matanya yang jeli dan
tajam.
"saudara Nyoo" tiba-tiba terdengar Kit Hu-seng berkata,
"secara tiba-tiba siauwte merasa bahwa saudara oh tidak mirip
manusia seperti apa yang kau katakan, mungkin apa yang
saudara Nyoo dengar dan utarakan tadi, terdapat banyak
kesalahan atau salah pengertian....."
Mendengar perkataan itu, si kakek setan berhati cacad
segera tertawa, si tamu bayangan semu penghancur hati Ciu
It-kim juga tertawa.
Hanya Nyoo Ban-hu seorang yang tak bisa tertawa,
katanya setelah menghela napas panjang:
"Sungguh tak kusangka saudara Kit pun menaruh kesalah
pahaman terhadap siaute....."
"Apa yang diuraikan saudara Nyoo tadi memang masuk
diakal," kata Kit Hu-seng sambil tertawa, "tapi andaikata
saudara oh benar-benar mempunyai hubungan atau
bersekongkol dengan kawan gembong iblis di pulau neraka, ia
toh tak perlu mengajak si pengemis pikun dan nelayan sakti
dari lautan timur untuk melakukan perjalanan bersama hingga
rahasianya ketahuan orang banyak?"
Jangan dilihat tampang dan perawakan tubuhnya yang
kasar bagaikan singa, seakan-akan seorang lelaki yang tak
berotak. namun nyatanya apa yang dikatakan justru
mematikan. Nyoo Ban-hu kontan saja dibuat tertegun
sehingga tak mampu berbuat apa-apa. Tiba-tiba oh Put Kui
tertawa terbahak-bahak.
"Haaaaahhhh.....haaahhh.....haaahhh... kakek siau,
boanpwe telah memahami akan sesuatu hal "
"Oya ? Persoalan besar apakah yang membuat kau harus
memutar akal memeras otak?" tanya siau Lun sambil tertawa.
oh Put Kui memandang sekejap wajah Nyoo Ban-hu, lalu
ujarnya sambil tersenyum: "Sekarang belum waktunya untuk
diutarakan, maaf kalau aku terpaksa harus jual mahal"
"Haaahhhh....haaaahhhh.....haaaahhhh.... bocah muda kau,
lagi-lagi hendak bermain setan denganku...."
"Tidak, kali ini boanpwe bukan lagi bermain setan, tapi
keadaan dan situasinya tidak mengijinkan bagiku untuk
membocorkan rahasia tersebut, lebih baik kau orang tua
menunggu selama beberapa hari lagi...."
Balum habis dia berkata, sinona Leng Seng-luan yang
selama ini hanya minum arak sambil membungkam telah
melirik sekejap kearah pemuda itu sambil berbisik, "sttt....
sang pengantin sedang menghormati arak untuk tamutamunya......"
Ketika semua orang berpaling, tampaklah Lamkiong Ceng
dan Leng Lin-lin diiringi HHui Lok, Leng siau-thian, Lok Jin-ki
serta Leng Cu-cui yakni adik perempuan Leng Lin-lin sedang
beranjak dari tempat duduknya dan langsung berjalan menuju
kemeja perjamuan yang ditempati siau Lun.
Rentetan mercon terdengar berkumandang dengan
ramainya diluar ruangan upacara.
Ditengah dentuman mercon, sepasang pengantin baru itu
menghormati oh Put Kui sekalian dengan secawan arak.
Waktu itu sipengemis pikun juga sudah dipengaruhi oleh
lima bagian alkohol.
sewaktu rombongan pengantin bergerak menuju kemeja
perjamuan yang ditempati ketua dari lima partai besar, tibatiba
pengemis pikun berbisik kepada oh Put Kui: "Lote, sudah
kau perhatikan?"
"Perhatikan apa?" oh Put Kui tertegun"
si tua bangka berkepala botak itu merasa sangat tak
senang terhadap kehadiranmu?"
"Kau maksudkan Hui Lok?" tanya oh Put Kui tersenyum
setelah mendengar ucapan tersebut.
"Lote, jadi kau sudah tahu siapakah dia?" oh Put Kui
manggut-manggut.
"Yaa, sudah tahu Loko, kau tak usah menguatirkan aku,
kau sendiri yang seharusnya berhati-hati, kalau tidak- Hui Lok
tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja."
"Aku tahu, aku sipengemis tua memang tak berani
menghadapi gembong iblis tersebut....."
"Asalkan loko mempunyai pendapat demikian, siautepun
akan berlega hati......"
Pengemis pikun segera tertawa lebar, sambil mengangkat
cawan araknya dia berkata sambil tertawa tergelak:
"Terima kasih atas kesudian lote memberi muka, aku
sipengemis tua harus mewakili pengantin lelaki minum arak.
maaf tak akan kutemani lebih lama lagi....." seusai berkata, dia
segera memburu kemeja perjamuan lain dengan langkah
cepat. Menyaksikan hal itu, siau Lun segera berkata sambil
tertawa:
"Waaah, tampaknya pengemis pikun ini semakin lama
semakin bertambah cerdik saja."
"siapa bilang kalau dia itu pikun.....?"
Belum habis perkataan itu diutarakan, mendadak dari
seratus kaki diluar ruangan terdengar suara pekikan nyaring
yang amat menusuk pendengaran.....
suara pekikan itu amat kuat dan nyaring meski di ruangan
hadir seribu orang tamu yang bersuara hiruk pikuk. namun tak
sanggup untuk membendung suara pekikan yang amat
nyaring itu
Dalam waktu singkat, suara pekikan tadi semakin lama
semakin mendekati ruang upacara.
sementara para jago yang berada dalam ruangan itu masih
tertegun, suara pekikan tersebut sudah berada ditengah
udara. oh Put Kui merasa amat terperanjat, bisiknya tanpa
terasa:
"Kakek siau, sungguh cepat gerakan tubuh orang ini...."
Dengan wajah terkejut siau Lun manggut-manggut.
"Yaa, tampaknya tenaga dalam yang dimiliki orang ini sama
sekali tidak berada dibawah kepandaianku.... siapakah dia?"
Belum habis dia berkata, suara pekikan panjang tadi sudah
lenyap tak berbekas.
Tampak sesosok bayangan manusia bagaikan bayangan
merah melayang turun dimuka ruangan tengah.
oh Put Kui kembali merasa terkejut setelah menyaksikan
gerakan tubuh orang itu, pikirnya:
" Cepat benar gerakan tubuh orang ini, jarak sejauh berapa
ratus kaki ternyata ditempuh dalam waktu singkat."
singa latah pedang iblis Kit Hu-seng melototkan pula
sepasang matanya bulat-bulat.
"Yaa, kelihayan ilmu silat yang dimiliki orang ini pada
hakekatnya belum pernah ku jumpai sepanjang hidup."
katanya.
"Aaaah, hal ini salah saudara Kit sendiri yang tidak banyak
melihat....." ejek Nyoo Ban-hu sambil tertawa hambar.
Mendengar perkataan itu, sepasang mata Kit Hu-seng
segera memancarkan sinar tajam.
Belum lagi dia mengumbar hawa amarahnya, bayangan
merah itu sudah munculkan diri didepan mata.
Ternyata dia adalah seorang kakek yang berperawakan
tinggi besar.
Begitu kakek itu munculkan diri, suasana dalam arena
seketika itu juga berubah menjadi hening, setiap orang
mengalihkan sorot matanya kewajah tamu yang tak diundang.
Dalam keadaan seperti ini, Kit Hu-seng seperti telah
melupakan peristiwa barusan hingga hawa amarah yang
hendak diumbar keluarpun segera terusungkan.
Perawakan tubuh kakek berbaju merah itu tinggi sekali,
tingginya mencapai delapan depa lebih, dia mengenakan
sebuah jubah merah bersulamkan naga emas dengan
kepalanya mengenakan mahkota tersebut dari emas, alis
matanya amat tebal dengan sepasang biji mata sebesar
gundu, hidung besar muka lebar dan keren sekali.
Waktu itu dia sedang berdiri diatas undak-undakan baru
didepan ruangan tengah tanpa bergerak. sementara sorot
matanya yang tajam memperhatikan setiap orang yang berada
dihadapannya dengan keren dan penuh kewibawaan.
seolah-olah seribu orang jago persilatan yang berada
didalam ruangan itu semuanya adalah anak buahnya saja.
"Benar- benar seorang kakek yang gagah dan perkasa" Kit
HHu-seng menghela napas pelan
oh Put Kui berkerut kening, dia hanya memperhatikan
kakek berjubah merah itu dengan wajah termangu-mangu.
sebaliknya sekulum senyuman aneh yang tidak dipahami
apa artinya telah menghiasi wajah Nyoo Ban-hu.
Mendadak kakek berjubah merah itu menengadah dan
tertawa terbahak bahak, suaranya keras dan nyaring bagaikan
suara guruh.
"Haaahhh.... haaahhhh.... haaaahhhh... saudara Hui,
didalam perkawinan muridmu, mengapa kau tidak mengirim
selembar kartu undangan kepadaku? Jangan-jangan saudara
Hui mengira aku benar-benar sudah mampus.....?"
suaranya menggeledek seperti genta yang dibunyikan
bertalu-talu, sedemikian kerasnya suara itu sehingga
membikin telinga orang serasa bergetar keras.
Kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok sebagai wali
dari pengantin lelaki itu segera mengerutkan dahinya rapatrapat,
setelah itu dia mendehem berulang kali. "Wi Loko......"
Belum habis seruan itu, dari meja perjamuan yang
ditempati lima orang ketua dari lima partai besar telah
melompat keluar sesosok bayangan tubuh dan langsung
menuju kedepan kakek berjubah merah itu.
Dia tak lain adalah Lan-san-gin-kiam (pedang perak
berbaju biru) seebun Jin.
Begitu tiba dihadapan kakek berjubah merah itu, orang itu
sambil membungkukkan badan sambil menjura dalam-dalam.
" Hamba menjumpai majikan...."
sekali lagi suasana dalam ruangan upacara digemparkan
oleh ucapan tersebut, paras muka semua orang berubah
hebat.
setiap orang tahu kalau si pedang perak berbaju hijau
seebun Jin adalah salah satu diantara empat orang pengawal
pedang Ceng-thian-kui-ong 'raja setan penggetar langit' Wi
Thian-yang.
Lantas, mengapakah dia memanggil kakek berjubah merah
itu sebagai majikannya? apakah dia?
Mungkinkah kakek berjubah merah itu adalah Ceng-thiankui-
ong Wi Thian-yang yang ditakuti setiap orang bagaikan
melihat ular berbisa dan pernah mengobrak-abrik dunia
persilatan pada empat puluh tahun berselang?
Bukankah dia sudah mati? Mengapa kini bisa muncul
kembali? sungguh merupakan suatu peristiwa yang sama
sekali tak masuk diakal.
Padahal setiap umat persilatan tahu kalau dia telah tewas
diujung telapak tangan Wan-sim-seng-siu 'kakek malaikat
berhati suci'. Tapi sekarang, mengapa dia hidup kembali?
Kemana saja perginya selama empat puluh tahun terakhir ini?
Dengan munculnya kembali si Raja setan dalam dunia
persilatan, hal ini akan merupakan suatu rejeki atau bencana
bagi umat persilatan?
serentetan pertanyaan yang penuh tanda tanya ini negara
berkecamuk dalam benak setiap orang.....
suasana diluar maupun didalam ruangan berubah menjadi
hening, sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
sedemikian heningnya sampai jatuhnya sebatang jarum
keatas lantaipun dapat terdengar dengan amat jelas.
Yaa, kalau manusia punya nama, pohon punya bayangan.
Bukan saja nama besar wi Thian-yang kelewat termashur
didalam dunia persilatan, lagipula kelewat mengerikan hati....
sedemikian ngerinya sehingga orang lebih ngeri melihat dia
daripada menerima surat undangan dari Raja akhirat.
Tak heran kalau suasana menjadi hening dan semua orang
terbungkam dalam seribu bahasa......
Kakek berjubah merah itu memandang sekejap kewajah
pedang perak berbaju biru seebun Jin, kemudian menengadah
dan tertawa tergelak-gelak. serunya lantang: "Tak usah
banyak adat..... baik-baikkah kalian berempat?"
"Baik sekali" sahut seebunJin sambil menjura dan tertawa.
"Haaahhhh....haaahhh....haaahhhh.... masih tinggal
bersama menjadi satu tempat?"
seebun Jin menggeleng.
"saudara suma berdiam dilembah sin-mo-kok...."
"Apa? suma Hian telah bergabung dengan Kit Put-sia?"
kakek berbaju merah itu melototkan matanya bulat-bulat.
"Bukan- bukan bergabung, sekarang suma heng tinggal
disana sebagai pemilik benteng"
"Bagus sekali, bagaimana dengan kalian?" kakek itu
manggut-manggut.
"Hamba beserta Hui dan The dua orang saudara berdiam di
Tiong-lam"
Kakek berjubah merah itu segera tertawa hambar.
"Apakah mereka masih berada di Tiong-lam-san-...."
"saudara Hui dan saudara The masih tinggal dibukit Tionglam-
san-.."
Mencorong sinar tajam dari balik mata kakek berbaju
merah itu, mendadak ujarnya dengan suara dingin:
"Beritahu kepada mereka, lohu sudah munculkan diri
kembali dalam dunia persilatan, suruh mereka datang
menghadap kepadaku"
"Hamba akan segera berangkat......" sahut seebun jin-
Tapi sebelum beranjak. ia nampak agak sangsi, kemudian
katanya lagi: " Hamba sekalian akan berjumpa dengan
majikan dimana?"
"Cin-si" sahut sikakek sambil mengulapkan tangannya.
seebunJin segera menjura dalam-dalam. "Hamba akan
turut perintah....."
Tampak bayangan biru berkelebat lewat, tahu-tahu
bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.
Benar-benar suatu tindakan yang kurang ajar, bukan saja
tidak meminta diri kepada rekan-rekan semejanya, bahkan
kepada tuan rumahpun tidak dilakukan-....
Terutama sekali tanya jawab mereka tadi pada hakekatnya
tak pandang sebelah matapun terhadap segenap jago yang
hadir diruangan tersebut, tentu saja peristiwa ini selain
membuat tuan rumah Hui Lok menjadi tak senang hati,
bahkan oh Put Kuipun menunjukkan wajah penuh kegusaran-
Kakek setan berhati cacad siau Lun yang menyaksikan
kejadian itu, segera berbisik kepada oh Put Lui:
"Bocah muda, jangan marah. Tunggu saja sebentar lagi,
pertunjukan lain akan segera berlangsung"
"Hmm, raja setan ini benar-benar tak tahu aturan........" oh
Put Kui mendengus dingin.
Dalam pada itu, kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok
dan sikakek sebatang kara Leng siau-thian telah mendekati
Ceng-thian-kui-ong Wi Thian-yang dengan langkah lebar.
sementara Wi Thian-yang masih tetap berdiri tegak ditempat
semula.
Ia memandang sekejap keatas wajah Jian-li-hu-siu Leng
siau-thian, kemudian sambil tertawa terbahak-bahak katanya
"Leng lote, apakah kau yang sedang mengawinkan anak
perempuan?"
"Wi-heng, sungguh amat panjang usiamu....." kata Leng
siau-thian dengan kening berkerut, "dalam upacara
perkawinan siawii, ternyata Kui ong bersedia menghadirinya.
Hal ini sungguh merupakan suatu kehormatan bagi kami"
Ceng-thian-kui-ong mengebaskan jubah merahnya lalu
tertawa seram.
"Heeehhh.... heeehhhh.... heeeehhh..... mana, mana,
tampaknya teknik memaki yang lote kuasai, makin lama
semakin hebat saja"
Kakek yang tinggi besar itu tertawa tergelak lagi, setelah
berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh:
"Leng siau-thian, kalau tidak salah, bukankah kau masih
berhutang budi kepada lohu?"
jin-li-hu-siau Leng siau-thian agak tertegun setelah
mendengar perkataan itu, segera katanya:
"Lohu berhutang budi apa kepada saudara Wi?"
"Lote benar-benar seorang pelupa," kata Ceng-thian-kuiong
sambil tertawa. "seandainya lohu belum mati, mungkin
selama hidup Leng lote tak akan teringat oleh budiku itu....."
Leng siau-thian segera berkerut kening.
"Saudara Wi, sejelek-jeleknya aku orang she Leng. Aku
masih bisa membedakan mana budi dan mana dendam"
Kembali Ceng-thian-kul-ong tertawa seram.
"Haaaahhhh....haaaahhh....haaahhh.... lihatlah, kau Leng
lote adalah orang yang jujur sedangkan lohu tak lebih hanya
raja setan, bukankah begitu? Barusan lohu bilang, cara lote
memaki orang benar-benar memaki sampai kelihatan
tulangnya......"
Berbicara sampai disitu, kembali dia tertawa seram.
Kontan saja paras muka Leng siau-thian berubah sangat
hebat.
sedangkan sikakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok
merasakan hatinya tergerak. cepat dia menjawil ujung baju
Jian-li-hu-siu Leng siau-thian dan mencegahnya agar jangan
marah dulu, kemudian dengan suara dingin dia berkata lagi:
"saudara Wi, hari ini adalah hari perkawinan muridku, jauhjauh
kemari saudara Wi adalah tamu, silahkan duduk. Bila ada
persoalan bagaimana kalau dibicarakan seusainya upacara
perkawinan ini?"
Ceng-thian-kui-ong menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Haaaahhhh.....haaahhh....haaahhhh .... saudara Hui, tentu
saja lohu akan menghormati secawan arak untukmu......"
SEtelah memandang sekejap wajah Leng siau-thian,
katanya lebih jauh sambil tertawa dingini
"Leng lote, persoalan dlantara kita lebih baik dibicarakan
nanti saja......"
Kemudian tanpa menunggu dipersilahkan tuan rumah, dia
segera melangkah kemeja perjamuan yang ditempati
pengantin serta tuan rumah tadi dengan langkah lebar dan
mulai makan minum dengan lahap.
sikap yang acuh seakan-akan tak memandang sebelah
matapun terhadap orang lain ini kontan saja membuat Kit Huseng
merasa kagum sekali......
" Ceng-thian-kui-ong benar benar merupakan seorang
manusia yang amat gagah," tanpa serasa dia bergumam.
"Benar," Nyoo Ban-hu menanggapi," Kui-ong locianpwe
memang seorang enghiong yang luar biasa....."
Jui-sim-huan-im-kek Ciu It Kim yang menyaksikan hal itu
segera tertawa dingin tiada hentinya.
"Heeeehhh....heeehhhh....heeehhhh.... nampaknya kalian
berdua amat mengagumi gembong iblis ini?"
Ciu It Kim menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Perbedaam antara lurus dan sesat dijelaskan secara tegas
saudara Kit, walaupun ayahmu bergelar Ban-mo-ci-mo, Taylek-
sin-kiam 'Ibiis sakti diantara selaksa iblis, pedang sakti
berkekuatan raksasa', namun ayahmu belum pernah
melakukan suatu perbuatan jahat"
"Haaahhh.....hhaaaahhhhh.....haaaahhhh.... tentu saja," Kit
Hu-seng tertawa tergelak. "ayahku adalah seorang jago yang
berhasil menaklukkan kawan iblis, karena keberhasilannya
itulah dia baru mendapat gelar kehormatan tersebut."
"Nah, itulah dia..... saudara Kit, kau harus mengetahui
masa lalu dari si Raja setan ini selama hidup orang ini boleh
dibilang tak pernah melakukan perbuatan baik barang
sebuahpun......"
"saudara Ciu, dari mana kau bisa tahu kalau orang lain tak
pernah melakukan perbuatan baik?" tiba-tiba Nyoo Ban-hu
tertawa dingin.
"saudara Nyoo, tampaknya dalam setiap persoalan kau
seperti mempunyai cara berpandangan yang berbeda dengan
orang lain?" ciu It Kim berkerut kening. Nyoo Ban-hu tertawa.
"Bukannya begitu, aku rasa dalam kehidupannya Wi Thianyang
pernah juga melakukan beberapa macam perbuatan
baik,.... toh seseorang tak mungkin akan selalu melakukan
perbuatan jahat"
"Benar, ucapan saudara Nyoo memang benar" Kit Hu-seng
segera menanggapi sambil tertawa.
Ciu It-kim tertawa dingin.
"saudara Kit, jalan pemikiranmu sungguh amat polos....."
"Yaa,jalan pikiran siaute memang selamanya begini,
maklumlah watak manusia memang sukar berubah....."
sementara ketika orang itu melangsungkan tanya jawab,
maka Ceng-thian-kui-ong wi Thian-yang duduk seorang diri
sambil makan minum dengan lahap. tak selang berapa saat
kemudian tiga guci arak sudah berpindah kedalam perutnya.
setelah itu dia baru mengalihkan sorot matanya dan
memperhatikan sekeliling tempat itu.
Mendadak sorot matanya terhenti..... rupanya dia
menemukan sikakek setan berhati cacad siau Lun berada
disitu.
Kemudian diiringi gelak tertawa yang amat nyaring, si Raja
setan yang tinggi besar itu beranjak dari tempat duduknya dan
berjalan menuju kedepan-
"siau loko, kaupun ikut datang kemari?" tegurnya.
orang itu benar-benar tidak sungkan, begitu sampai disitu,
dia lantas duduk disisi oh Put Kui.
Kakek setan berhati cacad siau Lun mendongakkan
kepalanya dan tertawa tergelak.
"Haaahhhh.....haaaahhhh....haaaahhhh..... Kui-ong saja
sudah tiba disini masa aku sikakek setan tidak ikut hadir pula
disini?"
Ceng-thian-kui-ong segera mengangkat sebuah guci arak
dan tertawa tergelak.
"Waaah..... setelah mendengar ucapan dari loko itu, wajah
siaute menjadi merah padam rasanya lantasan malu......"
"siapa suruh kau memakai julukan Kui-ong untuk
namamu?"
setelah berhenti sejenak, dia menuding kearah oh Put Kui
dan berkata kembali:
"Wi lote, mari lohu perkenalkan teman muda ini kepadamu"
"Dia?" seru Ceng-thian-kui-ong wi Thian-yang sambil
berpaling dan memandang wajah Put Kui.
siau Lun tertawa.
"orang ini she oh bernama Put Kui, dia adalah ahli waris
dari Tay-gi dan Thian-liong dua orang sengjin"
Sebenarnya WiThian Yang sedang memandang kearah oh
Put Kui dengan pandangan menghina.
Tapi begitu mendengar nama Tay-gi dan Thian-liong
disebut, kontan saja paras mukanya berubah hebat.
Mencorong sinar tajam dari balik matanya yang besar dan
bulat, kemudian ia menegur: "Lote, baik- baiklah kedua orang
gurumu?"
oh Put Kui merasa muak sekali menyaksikan sikap tengik si
gembong iblis tersebut, dia hanya tertawa hambar. "Baik"
Begitu mendengar kata yang begitu singkat, sekali lagi Wi
Thian-yang merasakan hatinya bergetar keras.
"Benar-benar amat jumawa bocah keparat ini, masa
dihadapan lohupun berani bertindak begini kasar?" demikian
berpikir.
Akan tetapi, Kui-ongpun mempunyai kelebihan yang sangat
mengagumkan, kendatipun disindir oleh oh Put Kui dihadapan
siau Lun, akan tetapi kemarahan mana tak sampai diumbar
keluar.
"Lote" kembali dia berkata, "sudah hampir empat puluh
tahun lamanya lohu belum pernah bersua muka dengan kedua
orang padri suci itu, bila berjumpa dengan kedua orang padri
suci nanti, jangan lupa sampaikan salam lohu untuknya"
"Aku tak akan melupakan-...." oh Put Kui tertawa.
Pemuda ini benar-benar seorang yang luar biasa kalau tadi
masih menyebut diri sebagai "boanpwe", tapi sekarang dia
sudah membasahai sendiri aku.
Akan tetapi Wi Thian-yang belum juga mengumbar
amarahnya, bahkan dia bersikap seakan-akan tidak
merasakan hal itu, senyuman masih menghiasi ujung bibirnya.
siau Lun yang menyaksikan kejadian itu merasa amat
girang, dengan cepat ia berpaling lagi kearah Wi Thian-yang
sembari bertanya:
"wi lote, apakah wan-sim-seng-siu tidak berhasil melukai
dirimu dimasa lalu?"
"Haaaahhhh.... haaaahhhh.... dengan kemampuan yang dia
miliki mana mungkin berhasil melukai aku? siau loko, hal ini
salahkan siaute yang bertindak salah selangkah sehingga
selama empat puluh tahun aku harus hidup terpencil ditengah
gunung yang sepi."
"Lote, bagaimana ceritanya sehingga kau mengatakan
salah bertindak.....?"
"siaute menilai kelewat tinggi perangai serta watak dari
Nyoo Thian-wi..."
"Ada apa?" siau Lun agak tertegun- "Permainan setan
apakah yang telah dilakukan Wan-sim-seng-siu? " Wi Thianyang
tertawa dingin-
"Kakek suci apa?" serunya "dalam pandangan siaute, tak
lebih cuma kentut anjing...."
oh Put Kui segera mengalihkan sorot matanya memandang
kearah Nyoo Ban-hu.
Tapi sikap Nyoo Ban-hu ternyata kelihatan aneh sekali, dia
sama sekali tidak memperlihatkan rasa gusar, bahkan rasa
kagetpun sama sekali tidak nampak.
orang ini nampaknya sangat pandai menguasai diri
sehingga perubahan wajahnya sama sekali tak terlihat......
"Lote, kau nampak begitu marah, tentunya Nyoo Thian-wi
telah melakukan suatu perbuatan yang telah menyakiti hatimu"
Wi Thian-yang tertawa dingin.
"Heeeehhhh.... heeehhhh... ternyata tua bangka itu telah
menyembunyikan sebatang jarum Bwe-hoa-tok ciam (jarum
beracun bunga bwe) diantara pukulan telapak tangannya,
siaute yang kurang teliti menjadi terkecoh, hampir saja
selembar jiwaku turut menjadi korban akibat kecurangannya
itu."
siau Lun menjadi amat terperanjat setelah mendengar
perkataan itu, segera pikirnya: "Aah... masa Nyoo Thian-wi
mempergunakan racun?"
Ia sangat tidak percaya akan kenyataan tersebut,
karenanya kembali dia berkata:
"Lote, tujuan dari seng-sin memang hendak membinasakan
dirimu diujung telapak tangannya."
"Benar," kata Wi Thian-yang sambil tertawa, "bila dia bisa
menangkan siaute dalam pukulan atau tendangan, tentu saja
siaute tak bisa berkata apa apa lagi, tapi kalau dia ingin
menggunakan perbuatan keji dan licik untuk mencelakai
siaute, sampai matipun siaute tidak akan rela."
"Kau bisa menemukan jarum Bwe-hoa-ciam yang
disembunyikan dalam telapak tangan lawan, hitung-hitung hal
ini merupakan suatu keberuntungan bagimu"
"saudara siau, jangan lupa kalau siaute adalah seorang
yang pandai didalam mempergunakan jarum beracun" seru Wi
Thian-yang tertawa.
"Aaah benar, kenapa lohu bisa melupakan hal ini? Tapi
mengapa kau membutuhkan waktu selama empat puluh tahun
untuk mengobati luka beracun tersebut....?"
Dengan penuh kebencian wi Thian-yang segera memaki:
"Disinilah letak kekejian dari Nyoo Thian-wi si anjing tua
tersebut Racun yang dipoleskan diujung jarumnya itu bukan
saja amat berbahaya dan mematikan, bahkan racunnya dapat
membuat otot-otot manusia menjadi layu dan menyusut."
"Aaah... masa sedemikian lihaynya?" siau Lun menjerit
dengan perasaan kaget.
"siapa bilang tidak?" sahut Wi Thian-yang "karena terlalu
gegabah maka siaute keracunan, dalam keadaan begitu aku
berusaha untuk menyembuhkan luka itu, nyatanya seketika itu
juga aku telah berhasil menyembuhkan luka beracun itu..."
setelah berhenti sejenah, dengan sorot mata tak tenang dia
melanjutkan lebih jauh:
"siapa tahu ketika siaute sedang bersiap sedia hendak
mencari Nyoo Thian-wi untuk membuat perhitungan, tiba-tiba
saja kutemukan peredaran darah didalam tubuhku mulai
menyusut...."
"Tampaknya Wan-sim-seng-siu benar-benar merupakan
seorang manusia yang amat licik" kata siau Lun dengan
kening berkerut.
"Maka dari itu, terpaksa siaute harus menyembunyikan diri
diatas bukit yang terpencil untuk menyembuhkan luka itu,
dengan mempergunakan waktu selama empat puluh tahun
lebih, akhirnya dengan tenaga murni sam-moay-cin-hwee, aku
berhasil menembusi segenap otot dan nadiku dari gumpalan
darah akibat keracunan tersebut...." setelah berhenti sejenak
mendadak dia melanjutkan dengan suara rendah:
"Siau tua , sebentar siaute akan mencari si botak Hui untuk
menuntut keadilan, aku akan membunuhnya untuk mewakili
Nyoo Thian-wi, aku harap engkoh tua jangan menghalangi
niatku tersebut".
Mendengar kalau Mo-thian- kui-ong wi Thian-yang hendak
menuntut keadilan dari si kakek pemutus usus pelenyap hati,
sambil tertawa siau Lun segera bertanya: "Wi lote, apakah kau
mempunyai dendam sakit hati dengan orang itu....?"
Tampaknya dia tak jelas terhadap maksud hati Wi Thian-yang
berkata demikian tadi.
" Engkoh tua, dia telah membunuh Nyoo Thian-wi" ucap Wi
Thian-yang sambil berkerut kening.
"Apa?"
siau Lun benar-benar dibuat tertegun.
Bukan cuma dia seorang yang tertegun, bahkan hampir
segenap orang yang duduk semeja dengannya turut tertegun
pula.
Apakah keempat buah peristiwa pembunuhan yang
menghebohkan dunia persilatan selama ini adalah hasil
perbuatan dari Hui Lok?
siapapun tidak menduga sampai kesitu, tapi kenyataan
menunjukkan kalau hal itu kemungkinan memang begitu.
Apalagi berbicara soal ilmu silat, Hui Lok memiliki
kemampuan untuk berbuat demikian.
Ketika Wi Thian-yang menyaksikan semua orang dibuat
terkesiap oleh kejadian itu, sambil tertawa segera katanya:
" Engkoh tua, tentunya kalian sama sekali tak mengira
bukan?"
"Bukan cuma sama sekali tak mengira, pada hakekatnya
hal tersebut tak pernah melintas didalam benakku"
"Keesokkan harinya setelah luka beracun yang siaute derita
telah sembuh, aku berangkat menuju kekota Peking dengan
maksud untuk mencari Nyoo Thian-wi dan membalas dendam
atas perbuatannya pada empat puluh tahun berselang yang
mengakibatkan aku harus menderita......."
sesudah harus menghela napas panjang, dia
menggelengkan kepalanya berulang kali sambil melanjutkan:
"siapa tahu Nyoo Thian-wi telah mati dibunuh orang"
"Ya, kenyataan memang begitu,"
"WAktu itu siaute amat sedih dan menderita sekali, sebab
bila aku melampiaskan rasa dendamku kepada turunannya,
hal ini akan memperlihatkan jiwaku yang sempit...."
"Yaa benar," seru siau Lun cepat, "ayah yang melakukan,
tidak seharusnya anaknya yang menanggung" Wi Thian- yang
manggut-manggut.
"Itulah sebabnya, siaute lantas berusaha untuk mencari si
pembunuh tersebut."
"Buat apa? Kau hendak membalas dendam bagi kematian
Nyoo Thian-wi..." tanya siau Lun sambil tertawa.
Mendengar pertanyaan itu, wi Thian-yang segera tertawa
dingin. "Heeehhh... heeehhhh.... engkoh tua, siaute bukan
seorang yang suci dan baik hati."
"Kalau memang begitu buat apa kau mencari musuh besar
pembunuh Nyoo Thian-wi?"
"Siaute hendak membunuh orang ini untuk melampiaskan
rasa mangkel dan dendamku"
"oooh, peristiwa semacam ini benar-benar merupakan
suatu peristiwa yang amat jarang terjadi....."
oh Put Kui sendiripun diam-diam merasa amat geli, diapun
berpikir:
"Masa dikolong langit terdapat cara pembalasan dendam
dengan sistem semacam ini?"
Tapi sedikit banyak oh Put Kui merasa kuatir juga bagi
keselamatan jiwa Nyoo Ban-hu.
seandainya gembong iblis tua ini sampai mencari gara-gara
dengan ahli waris Nyoo Thian-wi, sudah pasti Nyoo Ban-hu
tak akan sanggup untuk menahan sepuluh gebrakan serangan
dari Ceng-thian-kui-ong.....
sementara itu, siau Lun telah menarik kembali
senyumannya, kemudian berkata: "Lote, apakah kau telah
berjumpa dengan keturunan dari keluarga Nyoo.....?"
" Engkoh tua, siaute tak pernah mencari gara-gara dengan
kaum muda atau angkatan muda......"
"Haaaahhhh....haaaahhhhh.....haaaahhhh..... bagus sekali
lote, tak kusangka kau masih tetap gagah......"
oh Put Kui, Kit Hu-seng maupun Leng Seng-luan diamdiam
turut merasa kagum akan kebesaran jiwa orang ini.
Cuma, oh Put Kui segera menyusul suatu rencana bagus....
dia ingin mencoba apakah wi Thian-yang benar-benar
merupakan seorang yang berjiwa besar seperti apa yang
barusan dia katakan,
Dengan kening berkerut oh Put Kui segera menimbrung
dari samping:
"Wi tua, apakah kau tahu jika putra sulung dari Nyoo Thianwi
juga duduk semeja dengan kita semua?"
Ucapan itu dengan cepat membuat Siau Lun tertegun, Kit
Hud seng berkerut kening sedang ciu It-kim cuma tertawa
belaka.
Agaknya Wi Thian-yang pun dibikin tertegun oleh perkataan
tersebut, dengan cepat dia berseru:
"oh lote, kau bilang apa?"
"Keturunan dari Nyoo Thian-wipun hadir disini" kata oh Put
Kui sambil tertawa.
Begitu perkataan tersebut diulang sekali lagi, mau tak mau
diam diam Nyoo Ban-hu harus berkerut kening juga.
oh Put Kui yang mengawasi terus sejak tadi, menjadi tidak
habis mengerti dibuatnya.
Dia merasa reaksi yang diperlihatkan Nyoo Ban-hu ini
sangat aneh dan luar biasa sekali.
seandainya berbicara menurut keadaan pada umumnya,
seandainya dia tidak kaget, pasti akan menunjukkan wajah
gusar.
Akan tetapi perubahan mimik wajah yang diperlihatkan
Nyoo Ban-hu sekarang sama sekali tidak termasuk kedua hal
tersebut.
oh Put Kui benar-benar dibikin bingung dan tidak habis
mengerti.
sementara itu Wi Thian-yang telah bertanya sambil
mengerutkan dahinya: "Lote, siapakah yang merupakan putra
Nyoo Thian-wi?"
"Wi tua, apakah kau hendak turun tangan kepadanya?"
tanya oh Put Kui sambil tertawa. Wi Thian-yang segera
tertawa tergelak sesudah mendengar perkataan itu, serunya
cepat:
"Lote, kau anggap lohu adalah seorang yang berbicara
mencle-mencle, ludah yang sudah kubuang kujilat kembali?"
Diam-diam oh Put Kui menganggak. baru saja dia hendak
mengatakan siapakah yang merupakan keturunan dari Nyoo
Thian-wi, Kit Hu-seng telah berteriak dengan penuh
kegusaran"
saudara oh, sungguh rendah amat perbuatanmu"
oh Put Kui tertawa hambar.
"saudara Kit, aku sudah tahu kalau kau bakal
mengucapkan perkataan tersebut, tapi siaute hendak
memberikan kepada saudara Kit, andaikata disini ada orang
menghina nama Kit Put-shia, bagaimana reaksimu.....?
Kit Hu-seng agak tertegun sejenak setelah mendengar
perkataan itu, kemudian sahutnya: "sederhana sekali, siaute
akan beradu jiwa dengannya"
" Itulah dia." seru oh Put Kui lagi sambil tertawa, "saudara
Kit, seandainya disini ada orang memaki dan menghina Nyoo
Thian-wi, apakah putra Nyoo Thian-wi tak akan menunjukkan
satu reaksi?"
"Betul, betul sekali," seru Kit Hu-seng dengan kening
berkerut,
"saudara Nyoo..." Dia berpaling kearah Nyoo Ban-hu dan
berkata lebih jauh:
"Mengapa kau begitu sabar dan tenang? Apakah kau
bukan putra Nyoo Thian-wi?"
"Itulah sebabnya, aku ingin membongkar rahasianya,"
sambung oh Put Kui lebih jauh.
sementara itu Kit Hu-seng sedang mengawasi wajah Nyoo
Ban-hu lekat-lekat, mendengar perkataan itu, dia lantas
manggut-manggut.
"saudara oh, siaute telah salah menegur......aai, saudara
Nyoo, apakah kau adalah seorang manusia pengecut yang
bernyali kecil dan takut urusan? Ketahuilah nama orang tua
bukan suatu yang boleh dihina atau dicemooh"
Nyoo Ban-hu tertawa, belum lagi dia berbicara, Wi Thianyang
telah menegur dengan lantang:
"Apakah kau adalah putra Nyoo-thian-wi?"
"Aku Nyoo Ban-hu Wan-sim-seng-siu memang ayahku"
jawab Nyoo Ban-hu dengan sorot mata berkilat.
Dengan sorot mata yang tajam, Wi Thian-yang
memperhatikan seluruh tubuh Nyoo Ban-hu dari atas hingga
kebawah lekat-lekat.
Leng seng-luan yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam
mengucurkan keringat dingin karena merasa kuatir bagi
keselamatan jiwa orang itu.....
Tampaknya selama ini mereka berdua dapat berbicara
amat cocok satu sama lainnya, sehingga Leng seng luan
menaruh perasaan yang amat kuatir terhadap keselamatan
jiwanya.
Dia benar-benar kuatir kalau dalam gusarnya Wi Thianyang
akan mengayunkan telapak tangannya untuk
melancarkan serangan mematikan-....
siapa tahu, setelah mengawasinya berapa waktu,
mendadak Wi Thian-yang menengadah dan tertawa terbahakbahak.
"Haaaahhhh.....haaahhhhh.....haaahhhh... Nyoo Thian-wi
wahai Nyoo Thian-wi, sekalipun kau sudah mati, kau bisa mati
dengan mata yang meram"
setelah mendengar perkataan itu, diam-diam semua orang
merasa amat lega hati, sebab dibalik perkataannya itu, dia
sama sekali tidak menyertakan nada yang bermaksud jahat.
"Apakah mendiang ayahku akan mati dengan mata meram
atau tidak, rasanya itu bukan urusanmu dan tak usah kau
campuri" ucap Nyoo Ban-hu dengan alis mata berkenyit.
Benar-benar suatu ungkapan perkataan yang amat bernyali.
oh Put Kui yang menyaksikan kejadian itu menjadi geli
sekali dan ingin tertawa.
Dia tak menyangka kalau Nyoo Ban-hu bukan seorang
manusia yang gampang dihadapi
@oodwoo@
Jilid : 12
cheng-Thian-Kui-ong sendiri sama sekali tidak
menunjukkan reaksi apa-apa sekalipun sudah disemprot oleh
pemuda tersebut dengan kata-kata yang pedas. Dia hanya
menggelengkan kepalanya sambil tertawa, lalu berkata :
"Bocah muda, kau benar-benar pantas disebut sebagai
putranya Seng-siu... Hari ini lohu tak akan menyusahkan
dirimu, tapi mengharapkan kau bisa melanjutkan cita-cita
ayahmu dan mengangkat tinggi nama besar ayahmu di masa
lalu..."
Apa yang diucapkan ternyata adalah kata kata semacam
itu, peristiwa mana benar-benar merupakan suatu kejadian
yang sama sekali diluar dugaan siapapun. Untuk sesaat
lamanya Nyoo Ban-bu menjadi tertegun, kemudian serunya
dengan Cepat : "Apa maksud saudara dengan mengucapkan
perkataan semacam itu ?"
Wi Thiau-yang tertawa terbahak bahak.
"Haaah... haaahh... haaahh.. menanti kau sudah
mempunyai nama dan kedudukan separti Wan-sim-seng-siu
dahulu, lohu pasti akan mencarimu dan menantangmu untuk
berduel. Bocah muda, apakah kau belum memahami
maksudku?"
Paras muka Nyoo Ban-bu berubah hebat.
"Saudara. kau tak usah menunggu lebih lama lagi, kalau
ingin bertarung maka sekarang juga aku akan melayani
keinginanmu itu," serunya dengan lantang.
Kit Ha-seng segera bersorak sambil bertepuk tangan:
"Benar saudara Nyoo, kau benar-benar bersemangat"
sedangkan si Kakek setan berhati cacad hanya
menundukkan kepala sambil minum arak, dia berlagak seolaholah
sama sekali tidak mendengar pembicaraan tersebut.
"sobat kecil, apa yang kau ucapkan memang benar," kata
Wi-thian-yang kemudlan dengan suara lirih. "kau memang
benar-benar punya semangat jantan..." setelah berhenti
sejenak, mendadak dia menengadah dan tertawa terbahak
bahak.
"Haahh.... haaahh... haaahhh... sayang sekali
keberanianmu yang membabi buta itu hanya akan merugikan
dirimu sendiri, bahkan bisa merembet pada keselamatan
jiwamu. Coba kalau menuruti tabiat lohu dimasa lalu,
nyawamu itu sudah melayang semenjak tadi..."
"Heehhh... heehhh... heeehhh... asal nama baik bisa dijaga
keutuhannya, sekalipun mati juga tak mengapa," kata Nyoo
Ban-bu sambil tertawa dingin.
Raja setan yang menggetarkan langit Wi-thian-yang yang
mendengar perkataan itu, diam-diam mengangguk, ucapnya:
"Perkataanmu memang benar, tapi tak bermanfaat
bagiseorang manusia sejati... bocah muda, kesetiaan yang
bodoh, kebaktian yang bodoh, keberanian yang bodoh dan
menjaga nama bodoh merupakan perbuatan-perbuatan bodoh
yang hanya dilakukan oleh manusia manusia tak berotak..."
sesudah bernhenti sebentar, sambil menggelengkan kepala
dan menghela napas, terusnya:
"Bilamana kau memiliki kemampuan untuk menahan sabar
dan menunggu sampai mendapat kesuksesan dikemudian
hari, maka segala sesuatunya bisa berjalan dengan sukses,
sebaliknya bisa kau tak mampu menahan gejolak perasaanmu
sekarang, meski dikemudian hari mencapai suatu
keberhasilan tak mungkin keberhasilan itu akan mengejutkan
orang, apalagi menandingi keberhasilan ayahmu"
Nyoo Ban-bu yang mendengar perkataan itu segera
merasakan seluruh badannya gemetar keras, untuk beberapa
saat lamanya dia tak sanggup untuk mengucapkan sepatah
katapun. Wi Thian-yang tertawa, sambil berpaling kearah siau
Lun katanya kemudian: "siau loko, siaute ingin mohon diri
dulu"
"Apakah kau hendak mencari Hui Lok?" tanya siau Lun
sambil meletakkan sumpitnya keatas meja.
"Tidak, aku hendak mencari Leng siau-thian lebih dulu"
"Masa situa bangka itupun pernah mencari gara-gara
denganmu?" tanya siau Lun tertawa.
"Bukan saja dia berani mengusikku, bahkan dimasa lalu
pun pernah berhutang kepadaku."
"Aaai... yang lewat biarkan saja lewat, lote, bilamana bisa
lepas tangan lebih baik lepaskan saja..." kata siau Lun sambil
menggelengkan kepalanya.
"siaute bukannya tidak punya maksud demikian Cuma..."
Mendadak sorot matanya terbentur dengan senyUman
aneh yang menghiasi ujUng bibir oh Put Kut, hatinya kontan
saja tergerak pikirnya dengan Cepat: "Tampaknya bocah ini
sedikit rada aneh..."
siau Lun seperti tidak menaruh perhatian terhadap apa
yang sedang dipikirkan Wi-thian-yang, sambil tertawa kembali
dia berkata:
"Lote, bila persoalan tentang Leng siau-thian bisa
dilewatkan, lebih baik lepaskan saja, toh kita semua sudah
sama sama tua dan hampir mendekati akhirnya masa hidup..."
Ucapan dari siau Lun itu kontan saja membuat hatinya
terkesiap. perkataan itu sama sekali diluar dugaannya... sudah
tua? Mendekati masa hidupnya....?
Tapi baginya, meski masa tua merupakan suatu masa yang
patut disedihkan, namun persoalan itu hanya sebentar saja
melintas dalam benaknya, sementara ambisinya untuk
menguasai dunia persilatan tak boleh menjadi tawar
karenanya. sambil tersenyum dia lantas beranjak, kemudian
katanya :
"siau-loko, memandang diatas wajahmu, siaute berjanji tak
akan bertindak kelewat batas."
"Kalau begitu, lohu akan mewakili Leng siau thian
mengucapkan banyak terima kasih dulu kepadamu."
si Raja setan yang menggetarkan langit tertawa hambar,
dengan langkah lebar dia lantas berjalan menuju ke depan
meja Leng siau-thian. sebelum pergi dia tak lupa untuk
memandang sekejap kearah oh Put Kui...
Dengan wajah yang tenang dan mantap. oh Put Kui
memandang sekejap ke arah wajah si setan yang disegani
banyak orang itu dan tertawa hambar. sedangkan dalam hati
kecilnya dia berpikir : "Kau jumawa, aku bisa lebih jumawa lagi
daripada dirimu..."
Leng siau-thian telah melompat dari tempat duduknya.
Kini wi Thian-yang telah berdiri dihadapannya dengan
wajah penuh kegusaran.
"Leng siau-thian, kau harus memberi keadilan bagiku"
teriaknya dengan suara lantang.
Jian-li-hua-siu (kakek kesepian dari seribu li) Leng siauthian
tertawa terbahak-bahak.
"Haahah... haaahh... haaahhh... Wi Thian-yang, orang lain
mungkin takut kepadamU, tapi lohu tak akan jeri kepadamu"
"Yaa, benar, kau orang she Leng memang tidak takut
kepada lohu," kata Wi Thian-yang sambil tertawa dingin.
"kalau bukan demikian, kenapa barang yang kau dapat pinjam
dari lohu, sampai sekarang belum juga dikembalikan kepada
pemiliknya?"
Tiba-tiba Leng siau-thian mengerutkan alis matanya yang
putih, kemudian balas tertawa dingin.
"Wi Thian-yang, masih ingatkah kau bahwa pedang Hian
peng-kiam merupakan benda keluarga lohu yang berhasil kau
rebut dengan mengandalkan kekerasan? sekarang lohu telah
mendapatkannya kembali, apakah hal ini bisa dianggap
sebagai meminjam?"
Wi Thian-yang tertawa seram.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... bukan didapat dengan
meminjam? Leng siau-thian, percuma kau menjadi seorang
tokoh persilatan di dunia ini, pedang Hian-peng-kiam tersebut
berhasil kudapatkan bukan lewat tanganmu, tentunya kau juga
mengetahui bukan tentang persoalan ini ?"
"Hmmm. lohu tidak ambil perduli kau dapatkan dari mana,
yang pasti adalah benda itu merupakan warisan keluargaku,
maka aku harus menggunakan cara apapun juga untuk
mendapatkannya kembali"
Tiba-tiba Wi Thian-yang tersenyum.
"Leng siau-thian, ucapanmu barusan memang tepat
sekali..." katanya.
"Jadi kaupun sudah mengerti?" ucap Leng siau-thian pula
sambil tersenyum.
"Tentu saja mengerti"
"Kalau sudah mengerti, hal itu lebih baik lagi"
"Mengapa tidak?" seru Wi Thian yang, "seandainya kau
tidak mengingatkan lohu, aku masih tak tahu bagaimana
caranya untuk meminta kembali pedang tersebut, tapi
sekarang, lohu sudah tahu"
"Mau apa kau?" seru Leng siau thian tertegun. Wi-thianyang
segera tertawa.
"Aku akan meniru caramu dengan mempergunakan cara
apapun untuk mendapatkan kembali benda tersebut, Leng
siau-thian, kau anggap perbuatan lohu ini benar atau tidak?"
Leng siau-thian yang mendengar perkataan itu segera
melototkan sepasang matanya bulat bulat, serunya dengan
penuh kegusaran: "Kalau memang merasa mampu, tak ada
salahnya untuk kau coba"
"Tentu saja lohu akan mencobanya," sahut Wi Thian-yang
sambil tertawa seram. setelah berhenti sejenak. sambil
tertawa tergelak serunya lanjut:
"Leng siau thian, tahukah kau dengan meminjam pedang
Hian-peng-kiam tersebut berarti kau telah berhutang budi
kepadaku? Hari ini, bukan saja lohu akan merebut kembali
pedang itu, bahkan akan menagih pula jasa dari budi yang
telah kulepaskan itu"
"Wi Thian yang lohu akan menantikan kedatanganmu..."
seru Leng Siau-thian teramat gusar.
Wi Thian-yang tertawa seram.
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... manusia yang lupa budi,
paling tidak aku harus memberikan pelajaran yang setimpal
kepadamu hari ini..."
Berbicara sampai disitu, mencorong serentetan sinar merah
yang tajam menggidikkan hati dari balik matanya.
Ini pertanda kalau hawa napsu membunuh telah
menyelimuti seluruh wajah Ceng-thian-kui-ong .
si kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok yang
menjumpai kejadian itu ikut merasa terkesiap. buru-buru dia
menjura sembari berkata:
"saudara Wi, siaute mempunyai sepatah dua patah kata
yang hendak diutarakan, apakah saudara Wi bersedia untuk
memberi muka kepadaku?"
Mendengar ucapan itu, sinar mata merah membara yang
menggidikkan hati itu segera lenyap tak berbekas, kata Cengthian-
kui-ong kemudian sambil tertawa: "Kalau ingin
berbicara, katakan saja berterus terang." Hui Lok tertawa.
"saudara Wi, hari ini adalah hari perkawinan adalah putri
sulung saudara Leng dengan muridku Lam kiong Ceng,
apakah saudara Wi bersedia untuk meredakan amarahmu
untuk sementara waktu? Bilamana ada persoalan bagaimana
kalau kita bicarakan lagi selewatnya hari ini?"
Mendengar perkataan itu, Wi-thian-yang segera
menengadah dan tertawa terbahak bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... setelah Hui lote berkata
demikian, sepantasnya bila siaute segera mengabulkan..."
"Terima kasih saudara Wi"
Mendadak meneorong sinar tajam dari balik mata Wi Thianyang,
sambil tertawa dingin serunya :
"saudara Hui, kau tak usah buru-buru mengucapkan terima
kasih kepadaku, ketahuilah selama hidup perbuatan jahat
macam apapun sudah pernah kulakukan, termasUk jUga
perbUatan mengacaU hari perkawinan orang lain, toh
persoalan semacam ini bukan suatu hal biasa oleh karena itu
maafkan kalau lohu tak sanggup permintaan darimu itu..."
Hui Lok menjadi tertegUn, dia sama sekali tidak
menyangka kalau Wi Thian-yang bakal berkata demikian.
seandainya Hui Lok tidak berpikir kalau musuhnya adalah
seorang musuh yang sukar dihadapi disamping dia
merupakan tuan rumah pesta perkawinan kali ini, mUngkin
sedari tadi dia sudah akan beradU jiwa dengan si Raja setan
yang menggetarkan langit Wi Thian-yang.
setelah tertawa tersipu-sipu, katanya kemudian: "Jadi
saudara Wi tidak bersedia memberi muka?"
Wi Thian yang tertawa.
"Bukan lohu enggan memberi muka kepadamu, tapi dalam
kenyataan Leng siau-thian terlampau menghina orang..." ucap
Wi Than-yang sambil tertawa.
sementara itu Leng siau thian telah berpaling dan
memandang sekejap kearah Hui Lok, kemudian ujarnya
sambil tertawa :
"Jin-keh (besan), tak usah bersilat lidah lagi dengan orang
itu..."
Belum sempat Hui Lok berbicara, sipengemis pikun telah
berteriak secara tiba-tiba.
"Yaa, benar, buat apa bersilat lidah melulu seperti lagi adu
berkentut saja, jika memang pingin berkelahi, labrak saja
habis-habisan, dengan begitu aku sipengemis pikun pun akan
turut mencuci mata..."
sekalipun ucapan tersebut diutarakan dalam keadaan
mabuk. tapi justru amat cocok dengan selera beribU orang
jago yang hadir dalam ruangan pesta itu.
Disuatu pihak adalah Cheng-thian- kui-ong (raja setan yang
menggetarkan langit) Wi Thian-yang.
sedangkan dipihak lain adalah Jian-li-hu-siu (si kakek
sebatang kara seribu li) Leng siau-thian.
Berbicara soal kepandaian silat yang dimiliki kedua orang
ini, boleh dibilang mereka termashur dalam kolong langit dan
dikenal setiap manusia, seandainya mereka sampai bertarung
sungguhan dalam kesempatan ini, maka boleh dibilang
kejadian tersebut merupakan suatu tontonan langka yang
amat menarik hati.
oleh sebab itu begitu pengemis pikun menyelesaikan
perkataannya, serentak kawanan jago lainnya bertepuk
tangan menyambut usul tersebut dengan gembira.
Dengan gemas si kakek botak Hui Lok melotot sekejap
kearah pengemis pikun dengan sorot mata yang penuh
kebencian, benar-benar suatu sorot mata yang mengerikan
hati.
Kontan saja pengemis pikun tersadar sebagian dari
pengaruh alkoholnya, melihat keadaan tidak menguntungkan,
bulu kuduknya pada bangun berdiri, dia tahu kalau
kepandaiannya tak mungkin bisa menandingi kelihayan
gembong iblis tua tersebut.
Pikir punya pikir, akhirnya dia merasa mengambil langkah
seribu merupakan suatu tindakan yang paling tepat.
Apa lagi dalam ruangan tersebut memang penuh dengan
manusia, maka dalam dua tiga langkah saja, bayangan
tubuhnya sudah lenyap dibalik kerumUnan orang banyak...
Rupanya dia sudah kabur kembali di sisi oh Put Kui, begitu
munculkan diri dibalik meja perjamuan, sepasang matanya
yang melotot besar segera dialihkan ke wajah Hui Lok dan
menatapnya dengan wajah termangu...
Hanya saja Hui Lok tidak menaruh perhatian kepadanya,
karena pada waktu itu segenap perhatiannya sedang ditujukan
kearah Wi Thian-yang.
Dalam pada itu, Ceng-thian- kui-ong Wi Thian-yang telah
mundur sejauh lima langkah dari posisi semula.
Dengan demikian dia berdiri persis ditengah-tengah
ruangan.
Leng siau-thian dengan rambut putih yang berdiri semua
bagaikan landak berdiri lebih kurang beberapa kaki
dihadapannya. Wi Thian-yang segera berseru sambil tertawa
nyaring:
"Leng siau-thian, lohu akan mengalah tiga jurus kepadamu,
daripada kawan-kawan Liok-lim di enam propinsi diutara
sungai besar mengatakan aku Ceng-thian- kui-ong sengaja
memeras dan mempermainkan angkatan muda..."
Perkataan itu amat besar lagaknya, membuat paras muka
Leng siauw-thian kontan saja berubah menjadi hijau membesi.
"Wi Thian-yang, kau betul- betul kelewat latah," teriaknya
penuh kegusaran.
sesudah berhenti sejenak. mendadak dia menerjang
kemuka sambil melancarkan serangan, bentaknya:
"Lohu akan suruh kau rasakan bahwa aku orang she Leng
bukan seorang manusia yang bisa dipermainkan dengan
begitu saja "
segulung angin pukulan yang maha dahsyat, dengan cepat
meluncur keluar berbareng dengan getaran telapak tangan itu.
mendadak suatu bentakan nyaring berkumandang
memecahkan keheningan: "Gak-hu, silahkan mundur..."
serentetan cahaya merah yang membara dengan cepat
meluncur ketengah arena... Ternyata orang itu tak lain adalah
pengantin pria, Lamkiong Ceng adanya.
Perawakan tubuhnya yang tinggi besar hampir seimbang
dengan perawakan tubuh dari Ceng-thian- kui-ong wi Thainyang,
hanya saja potongan badannya tidak segemuk tubuh si
Raja setan-
"Wi locianpwe, kau kelewat menghina orang..."
Tampaknya Lamkiong Ceng benar-benar sudah dibuat
marah sekali, sehingga nada pembicaraannya pun
kedengaran agak gemetar.
Wi Thian yang memperhatikan wajah Lamkiong Ceng
beberapa saat lamanya, kemudian berkata sambil tertawa :
"saudara, kau benar-benar seorang lelaki sejati "
"Aku tak sudi menerima pujian dan sanjungan dari saudara"
tukas Lamkiong Ceng dengan marah.
Nada panggilannya berubah semakin keras, dari sebutan
locianpwe kini telah menjadi sebutan saudara.
Tampaknya Wi Thian-yang sama sekali tidak ambil perduli
akanpersoalan itu, dia masih menengadah sambil tertawa
terbahak bahak.
"Haahhh... haaahhh... haahhh... lote, hari ini adalah hari
perkawinanmu,pantang untuk berkelahi dengan orang Lebih
baik cepatlah menyingkir dari situ, jangan sampai menunda
malam perkawinanmu. . . "
sambil berkata, kembali dia mendongakkan kepalanya
sambil tertawa terbahak bahak. Lamkiong Ceng melototkan
sepasang matanya bulat- bulat, kemudian berseru dengan
marah: "Bila saudara ingin mengajUkan sUatu permintaan,
aku akan melayani semUanya..."
sementara Lamkiong Ceng menerjang ke depan tadi, Leng
siau Thian telah menarik kembali serangannya sambil mundur
setengah langkah.
Tapi setelah mendengar Lamkiong Ceng menantang
musuhnya untuk bertarung, dia menjadi amat kuatir,
bagaimanapun juga pemuda itu adalah menantunya...
"cengji, cepat mundur," segera teriaknya "persoalan ini
merupakan persoalan diriku..."
Tapi Lamkiong ceng segera menggelengkan kepalanya
berulang kali.
"Gak-hu "ayah mertua", selama berada dalam
perkampungan Siu-ning-ceng ini, pelbagai persoalan yang
terjadi merupakan tanggung jawab dari siau-say "menantu"..."
Belum habis dia berkata, pengantin perempuan telah
memburu pula kesana.
"Ayah, apa yang dikatakan engkoh Ceng memang betul,"
serunya pula, "persoalan dalam perkampungan siu-ning-ceng
ini merupakan tanggung jawab putrimu serta engkoh Ceng,
lebih baik kau orang tua menyingkir saja kesamping..."
sekulum senyuman segera tersungging di ujung bibir Leng
siau Thian...
Cuma dia hanya merasa lega dan gembira karena putrinya
dan menantunya telah menunjukkan rasa bakti mereka,
sementara soal bertarung, tentu saja dia tak rela membiarkan
kedua anak itu menyerempet bahaya. Dia cukup mengetahui
betapa lihaynya Ceng-thian-ku-ong tersebut
"Anak Lin, cepat ajak Ceng-li mundur" segera teriaknya
keras-keras, "jangan lupa siapakah musuh kalian itu, ilmu silat
yang dimiliki Wi Thian-yang amat tangguh, kalian tak mungkin
bisa menangkan dirinya, tapi aku, aku tak akan jeri
kepadanya..."
"Tidak..." tolak Leng Lin-lin sambil menggelengkan
kepalanya berulang kali. Leng siau-thian menjadi marah,
segera hardiknya : "Budak, apakah kau tidak mau mengerti
perkataanku?"
"Ayah, mengapa hari ini kau memaki aku..." seru Leng Lin
lin dengan manja.
Dengan cepat Leng siau-thian menggeleng. "Lin-ji, cepatlah
kalian menyingkir dari situ..."
Dia segera menyelinap kedepan dan berebut untuk berdiri
dihadapan Raja setan yang menggetarkan langit, kemudian
teriaknya :
"Wi Thian-yang, segala urusan lebih baik berurusanlah
langsung dengan lohu"
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... memangnya urusan ini
adalah urusanmu" sahut Ceng-thian- kui-ong Wi Thian-yang
sambil tertawa seram.
Mendorong sinar tajam dari balik mata Leng siau-thian,
mendadak sepasang telapak tangannya diayunkan ke depan.
"Wi Thian-yang, sambutlah sebuah pukulan ini" teriaknya.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... sudah lama kudengar
tentang ilmu Hu-liong-siang ciang, kini ingin kusaksikan
sampai dimanakah kelihayannya Leng siau Thian, bila kau
mengerahkan segenap tenaga yang kau miliki, mungkin sulit
bagimu untuk meloloskan diri dari bencana ini"
sembari berkata dia segera bergerak ke samping untuk
menghindarkan diri dari ancamam kedua buah pukulan dari
Leng siau-thian itu
"Leng siau Thian" serunya kemudian, "sebelum
pertarungan berlangsung, aku hendak menerangkan lebih
dahulu, pertarungan yang berlangsung hari ini hanya terbatas
sepuluh gebrakan belaka,jika kau kalah, maaf, terpaksa
pedang Hianpeng-kiam tersebut harus kau kembalikan
kepadaku..."
"Jika kau yang kalah.. .?^ bentak Leng siau-thian tanpa
menghentikan serangan yang dilancarkan-
Wi Thian-yang segera tertawa terbahak bahak.
"Lohu yakin seratus persen tak bakal menderita kekalahan
ditanganmu..." serunya.
"Manusia laknat..."
Wi Thian-yang sama sekali tidak menggubris terhadap
makian "manusia laknat" tersebut. kembali ujarnya sambil
tertawa :
"Leng siau-thian, sekali lagi kuberitahukan keuntungan
bagimu"
"Lohu tak sudi menerima kebaikan hatimu itu" teriak Leng
siau-thian amat gusar.
"Mau diterima atau tidak. itu adalah urusanmu. Dalam
sepuluh gebrakan mendatang, bila lohu tak bisa menangkan
dirimu, lohu tak akan membicarakan tentang pedang Hianpeng-
kiam lagi "
sekilas perasaan girang melintas diatas wajah Leng siauthian,
tapi diluarnya dia tetap berseru dengan gusar : "Wi
Thian-yang lihat serangan"
Ditengah ayunan telapak tangannya, secara beruntun dia
melepaskan lima buah serangan berantai.
serangan-serangan itu semuanya dilancarkan dengan
kecepatan luar biasa, membuat kawan jago yang berada
diluar maupun dalam ruangan sama-sama menjulurkan lidah.
oh Put Kui sendiripun menggelengkan kepalanya berulang
kali, katanya pelan : "Tampaknya ilmu yang dimiliki tua bangka
itu termasuk lumayan juga..."
"Yaa, cepat bagaikan kilat, berat bagaikan batu karang,
baik bergerak maupun berhenti semuanya dilakukan tanpa
kalut barang sedikitpun juga," kata Kit Hu-seng tertawa.
"bahkan sepasang telapak tangannya dilancarkan berbareng,
ilmu pukulan ini benar-benar merupakan pukulan yang maha
daysyat"
"Saudara Kit, aku rasa ilmu pukulan ini mana lamban,
kurang cekatan lagi" timbrung Nyoo Ban-bu dari sisi arena.
"Benarkah begitu?" seru Kit-Hu-seng tertegun, " apakah
saudara Nyoo pernah menyaksikan ilmu pukulan yang jauh
lebih baik daripada ilmu pukulan ini?"
"Tentu saja pernah"
" Ilmu pukulan apakah itu?"
"sian-hong-pat-ciang (delapan pukulan angin puyuh) "
Mendengar itu, Kit Hu-seng segera tertawa terbahakbahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... rupanya ilmu pukulan
dari keluarga saudara Nyoo sendiri?"
"Benar"
"Apakah saudara Nyoo tidak merasa sudah terlampau
mengibul?" Nyoo Ban-bu tertawa.
"Jika saudara Kit tidak percaya, dikemudian hari kau boleh
membuktikan sendiri"
"Heeehhh... heeehhh... heeehhh... siaute percaya suatu
ketika aku pasti akan membuktikan kehebatanmu itu, mogamoga
saja jangan membuat siaute kecewa."
"Tentu saja tak akan kecewa..." kata Nyoo Ban-bu sambil
tertawa dinginsementara
pembicaraan masih berlangsung, pertarungan
yang berlangsung di arena telah mencapai pada puncak
pertempuran tersebut. Akhirnya sepuluh gebrakan sudah
terpenuhi.
Mendadak terdengar Ceng Thian Kui ong wi Thian-yang
tertawa tergelak, sedangkan Jian-li-hu-sin Leng siau Thian
mengundurkan diri sejauh lima depa dari posisi semula, peluh
dingin tampak membasahi seluruh tubuhnya.
Kalau dilihat dari lengan kirinya yang tergantung lemas
kebawah, bisa diketahui kalau dia sudah menderita luka.
sementara itu sepasang pengantin baru telah berdiri
dikedua belah samping Leng-siau-thian.
sambil menarik kembali senyumannya, Ceng Thian Kui ong
wi-thian-yang telah berkata dingin:
" Leng-siau-thian, tampaknya ilmu pukulan Hui-liong-siangciang
mu tak lebih cuma kepandaian seperti itu, sungguh
membuat hati orang merasa kecewa..." sesudah berhenti
sejenak. katanya lebih jauh:
"Mana pedang Hian-peng-kiam tersebut? Cepat serahkan
kembali kepada lohu"
Leng-siau-thian memejamkan matanya rapat-rapat, sambil
menggigit bibir dia lantas berseru:
"Lin-ji ambil pedang Hiam peng kiam tersebut"
"Ayah... kau tidak apa-apa bukan?" kata Leng Lin-lin
dengan wajah sedih. Leng-siau-thian berkerut kening,
kemudian bentaknya:
"Aku hanya menderita luka ringan cepat ambil pedang
tersebut, aku tak boleh mengingkari janji. . . "
Dengan wajah sedih Leng- lin-lin membalikkan badandan
berjalan menuju keruangan dalam.
sementara itu, Leng-cui-cui yang selama ini hanya duduk
belaka, mendadak menghampiri Leng Lin-lin, kemudian
bisiknya lirih:
"Toa-ci, kau tak usah masuk. biar aku yang mengambilkan
bagimu"
Leng Lin-lin mengangguk. "Kalau begitu cepatan sedikit..."
Bicara sampai disitu, tak tahan lagi air mata segera jatuh
berlinang, dia segera membalikkan badan dan beranjak dari
situ.
Tak selang berapa saat kemudian, dia telah muncul sambil
membawa sebilah pedang berwarna hitam, dengan langkah
cepat dia menghampiri ayahnya.
Ketika Leng-siau-thian menyaksikan putri bungsunya
membawa keluar pedang antik yang telah dipergunakan
sebagai mas kawin bagi putri sulungnya itu, mendadak hatinya
merasa sedih sekali, hingga tanpa terasa dengan titik air mata
bercucuran dia menerima angsuran pedang itu.
Kemudian sambil menyentil pedang itu dia menghela napas
panjang, gumamnya:
"ooo... pedang... wahai pedang... Leng siau thian tak becus
dan tak mampu untuk melindungi benda mestika dari leluhur,
peristiwa ini sungguh memalukan leluhur keluarga Leng saja...
sebetulnya aku harus menggorok leher untuk menebus dosa
ini, tapi..."
setelah memandang pedang Hian-peng-kiam itu sekejap.
kemudian memandang pula putrinya sekejap. akhirnya sambil
menghela napas panjang katanya lebih jauh:
"Kini, aku orang she Leng masih mempunyai banyak tugas
yang belum diselesaikan, apa daya... apa daya... oooh
pedang, dalam sepuluh tahun mendatang, jika kau belum
dapat kembali lagi ke dalam keluarga Leng, Leng siau-thian
pasti akan menebus dosa ini dengan kematian..."
seorang kakek berambut putih berdiri dengan wajah
murung dan air mata bercucuran, kejadian semacam ini
benar-benar merupakan suatu peristiwa yang sangat
mengharukan.
Selesai mengucapkan perkataan itu, Leng siau-thian
segera mencengkeram pedang itu dan berjalan ke hadapan
Wi-thian-yang.
Kemudian kambali menggetarkan tangannya, pedang
berikut sarungnya diangsurkan ke depan-
"Wi-thian-yang" serunya keras, "pedang Hianpeng-kiam
kuserahkan kepadamu untuk sementara waktu, tapi dalam
sepuluh tahun mendatang, lohu pasti akan berusaha untuk
merebutnya kembali... kau harus menyimpannya secara baikbaik"
Wi-thian-yang tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bagus sekali, semoga
lohu bisa memenuhi harapanmu itu sepuluh tahun kemudian-
.."
Dia lantas mengulurkan tangannya dan menerima pedang
itu.
siapa tahu, baru saja pedang itu akan tersentuh oleh
tangannya, tiba-tiba saja pedang Hian-peng-kiam itu melesat
ke udara dan terlepas dari genggamannya.
sementara Wi Thian-yang masih tertegun, tahu-tahu
pedang Hian-peng-kiam itu sudah berpindah tangan-
Peristiwa ini sama sekali tidak disangka siapa pun,
termasuk juga diluar dugaan wi Thian-yang sendiri
Serta merta raja setan yang menggetarkan langit ini melejit
ke tengah udara dan siap untuk mencengkeramnya.
sayang tubrukannya itu kembali mengenai sasaran kosong,
pedang mana sudah terjatuh ke tangan orang lainRasa
terkejut yang dialami Wi Thian yang saat ini sungguh
tak terlukiskan dengan kata kata.
"siapa gerangan yang bisa merebut pedang itu dari
tanganku?" demikian dia berpikir. orang pertama yang dituju
olehnya adalah Kakek setan berhati cacad siau Lun.
Kecuali siau lojin dalam perkampungan siu-ning-ceng saat
ini, termasuk Kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok.
selain tak berkemampuan untuk berbuat demikian, mereka
pun tak akan bernyali untuk berbuat begitu terhadapnya.
Dengan sepasang mata melotot besar, Wi Thian-yang
segera mengalihkan sorot matanya kedepan, tapi apa yang
kemudian terlihat membuatnya menjadi tertegun-
"Bocah keparat, rupanya kau? Hmmm... kau benar-benar
sudah makan nyali beruang rupanya..."jerit Ceng Thian- kuiong
kemudian dengan penuh kegusaran. Rupanya pedang
Hian peng-kiam tersebut kini sudah terjatuh ketangan oh Put
Kui.
Agaknya oh Put Kui telah menggunakan tenaga dalamnya
yang sempurna dan luar biasa itu untuk menghisap pedang
Hian peng-kiam yang berada ditangan Ceng-thian- kui-ong wi
Thian-yang itu sehingga mencelat ketengah udara dan terjatuh
ketangannya. Maksud dari perbuatannya itu memang tak lain
ingin membuat malu si Raja setan ini.
"Wi Thian-yang," terdengar pemuda itu berseru, "hari ini
adalah hari perkawinan Kiong cong piauw pacu, setiap orang
yang datang kemari sudah seharusnya membawa maksud
untuk menyampaikan selamat, kedatanganmu seharusnya
juga tak boleh terkecuali, tapi perbuatanmu sekarang terlalu
mengada ada, selain membuat malu tuan rumah, juga
memaksa tuan rumah untuk memenuhi keinginanmu, tindakan
semacam ini sungguh merupakan suatu tindakan yang
keterlaluan..."
Ucapan tersebut kedengarannya memang bisa diterima
dengan akal sehat dan sesuai dengan kenyataan.
Kontan saja Wi Thian yang dibuat melototkan matanya
bulat- bulat sesudah mendengar perkataan dari oh Put Kui
tersebut, dari malu dia menjadi naik pitam.
sekalipun dia tahu, kedua orang guru bocah itu bukan
musuh yang bisa dianggap enteng, namun dalam keadaan
seperti ini, dia betul-betul tak sanggup untuk mengendalikan
emosinya lagi.
Dengan suara yang keras bagaikan geledek, dia segera
membentak nyaring:
"Manusia jumawa, tahukah kau bahwa perbuatanmu
tersebut melanggar pantangan lohu?"
oh Put Kui segera tertawa.
"Berbicara soal perbuatanku, aku merasa apa yang telah
kulakukan tidak ada satupUn yang salah, sedang soal
melanggar pantanganmU atau tidak. hal ini sama sekali tak
ada sangkut pautnya dengan diriku"
Jawaban yang amat tepat tersebut dengan cepat disambut
oleh siau Lun dengan sekulum senyumansementara
pengemis Pikun segera menggumam:
"Rasain sekarang, akau kulihat apa yang hendak dilakukan
oleh kau si raja setan sekarang..."
Dalampada itu, si raja setan yang menggetarkan langit, wi
Thian yang telah berseru lagi dengan kening berkerut : "oh Put
Kui, cepat kembalikan pedang lohu"
Tampaknya dia tahu tak bakalan bisa menangkan oh Put
Kui bila diajak bersilat lidah, maka dia melangsungkan
pembicaraan tersebut pada tujuan yang sebenarnya.
"Apakah pedang ini milikmu?" tanya oh Put Kui sambil
tertawa.
"Tentu saja" sahut Wi Thian-yang tertawa dingin.
Mendengar itu, oh Put Kui segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... saudara, sungguh tebal
kulit mukamu Perkataan dari Leng siau-thian tadi paling tidak
didengar oleh seribu orang, bagaimana ceritamu pedang Hianpeng-
kiam ini secara tiba-tiba bisa berubah menjadi milikmu?"
Paras muka Wi Thian-yang kontan saja berubah hebat,
serunya dengan penuh kegusaran: "Bocah keparat, kau hanya
mendengar ucapan satu pihak."
"siapa bilang aku hanya mendengarkan perkataan satu
pihak?" oh Put Kui tertawa.
"Wi Thian-yang, aku harap kau sudi menjawab sebuah
pertanyaanku saja, benarkah pedang Hian-peng-kiam ini
merupakan benda warisan dari keluarga Leng?"
"Betul, pedang Hian-peng-kiam memang merupakan benda
warisan milik keluarga Leng" jawab Wi Thian yang sambil
tertawa seram.
Raja setan yang menggetarkan langit memang tak malu
disebut seorang pemimpin dunia persilatan, apa yang
diucapkan memang merupakan perkataan yang sejujurnya. oh
Put Kui tertawa.
"Kau memang tak malu disebut Raja setan, kau berani
berterus terang," serunya.
"Hmmm, selama hidup lohu tak pernah membohong"
"Aku percaya dengan perkataanmu itu, cuma sayang
tindakan saudara dalam merampas pedang mustika itu dari
tangan Leng tua kelewat dipaksakan sehingga mendatangkah
perasaan tidak puas bagi setiap orang."
"Bocah muda, tahukah kau kalau pedang Hian-peng-kiam
ini dipinjam oleh Leng siau-thian dariku? Lagipula setelah
Leng siau-thian meminjam pedang itu, baru saja dia
melewatkan suatu musibah kematian?"
"Apa hubungannya dengan peristiwa pada hari ini?" tanya
oh Put Kui sambil menggelengkan kepalanya.
"Tak ada hubungannya?" Wi Thian-yang segera melototkan
matanya besar-besar. "Bocah keparat, kau benar-benar
kurang ajar..."
Hampir setiap jago liok-lim yang hadir disitu pada
keheranan dibuatnya, sebab watak dari Ceng thian-kui-ong Wi
Thian-yang saat ini sama sekali berbeda dengan apa yang
tersiar dalam dunia persilatan, bahkan dia nampak begitu
sabar menghadapi si anak muda tersebut.
sementara itu, setelah berhenti sejenak. kembali Wi Thian
yang berkata sambil tertawa seram :
"Seandainya Leng Siau-thian tidak meminjam pedang lohu,
buat apa lohu datang kemari pada hari ini?"
oh Put Kui segera tertawa tergelak.
"saudara, berbicara pulang pergi, kau selalu mengatakan
kalau pedang itu diperoleh dari meminjam kepadamu, tapi aku
rasa pedang itu kalau toh merupakan benda mestika dari
leluhur keluarga Leng, tidak sepantasnya bila saudara berniat
untuk mengangkanginya"
"Jadi menurut pendapatmu, pedang tersebut harus
kukembalikan dtngan begitu saja kepada Leng siau-thian?"
"Bila saudara tidak mau memberikan secara gratis, toh
paling tidak bisa mengajukan penawaran."
"Tepat sekali," suara Wi Thian-yang dengan sorot mata
berkilat, "Lohu memang harus mengajukan suatu penawaran,
kalau tidak maka pedang tersebut harus kau kembalikan
kepadaku."
oh Put Kui tertawa.
"Jika saudara ingin mengajukan penawaran, utarakan saja,
aku akan mendengarkannya dengan seksama."
sambil tertawa dingin Wi Thian-yang segera berseru:
"sewaktu lohu mendapatkan pedang ini aku pernah
membayar dengan nyawa sepuluh orang jago"
"oooh... suatu hawa pembunuhan yang amat tebal..." Wi
Thian yang tertawa nyaring.
"Nah bocah muda," terusnya, "bila Leng Siau-thian
menginginkan kembali pedangnya, paling tidak dia harus
membayar dengan nilai yang sama pula..."
"oooh, kalau begitu pedang itu membawa firasat yang
jelek..."
sembari berkata tangannya digetarkan keras keras, pedang
Hian-peng-kiam berikut sarungnya segera menancap keatas
tanah. setelah itu katanya lebih jauh sambil tertawa dingin:
"Dimasa lalu saudara sudah banyak melakukan
pembunuhan berdarah, dalam kemunculanmu dalam dunia
persilatan kali ini, sudah sepantasnya jika banyak melakukan
perbuatan amal, hari ini merupakan suatu kesempatan yang
baik sekali untukmu, mengapa tidak kau pergunakan peluang
itu dengan sebaik baiknya?"
Walaupun dia cuma mengayunkan pedang tersebut
sekenanya, pedang Hian-peng-kiam tersebut berhasil
menembusi permukaan tanah sedalam satu depa setengah.
Padahalpermukaan lantai berupa batu hijau yang sangat
keras, sedangkan pedang itu masih bersarung, kalau dilihat
kenyataannya pedang berikut sarung itu bisa menancap
sedemikian dalamnya, bisa diketahul kalau tenaga dalam yang
dimiliki oh Put Kui betul betul mengerikan sekali.
Wi Thian-yang merasa terkejut sekali setelah menyaksikan
kejadian itu, segera ujarnya sambil tertawa:
"Bocah keparat, tampaknya tenaga sambitan mu cukup
hebat, entah kesempatan macam apakah yang kau
persiapkan untuk lohu? Bocah muda, ketahuilah kejadian
seperti ini merupakan kejadian yang baru pertama kali ini
kujumpai."
oh Put Kui tertawa hambar, katanya:
"Bagaimana kalau sepuluh lembar nyawa ditukar dengan
suatu pertaruhan kecil.Bila darijarak tiga depa kau berhasil
mencabut keluar pedang itu maka aku tak akan mencampuri
urusan ini, sebaliknya bila saudara tak mampu mencabut
pedang ini, terpaksa aku akan "meminjam bunga untuk
menyembah Buddha" dengan menghadiahkan pedang ini
untuk sang pengantin perempuan..."
Mendapat tantangan tersebut, Wi Thian-yang segera
menengadah dan tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, bagus sekali, lohu amat setuju dengan tantangan
semacam itu..." Kembali oh Put Kui tertawa, ujarnya:
"Walaupun kemampuan saudara menghisap benda di
udara kosong memiliki kekuatan seribu kati, tapi aku hendak
memberitahukan kepada saudara, bila pedang tersebut
berada lima depa dihadapanku, maka ilmu penghisap benda
diudara kosongmu itu pasti tak berdaya..."
seandainya dia tak mengucapkan perkataan itu, mungkin
keadaannya masih agak mendingan, tapi begitu ucapan
tersebut diutarakan, kontan saja Wi Thian yang dibikin
terpojok.
Berbicara dari kedudukan serta nama besarnya dalam
dunia persilatan, seandainya pedang Hian-peng-kiam yang
menancap di tanah pun gagal dihisap keluar, maka kejadian
tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang
memalukan sekali.
sekalipun pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam
benak Wi Thian-yang namun diluar dia tetap berkata sambil
tertawa tergelak
"Kau tak usah mengatakan apa-apa lagi, toh asam garam
yang kumakan jauh lebih banyak daripada dirimu."
Kemudian selesai berkata mendadak dia mundur sejauh
tiga depa lebih, setelah itu bentaknya: "Bocah keparat, lihat
saja kelihayanku ini "
Mendadak sepasang tangannya diayunkan ke depan,
kesepuluh jari tangannya dengan memancarkan tenaga
hisapan yang besar langsung menghisap ke arah pedang itu.
Tapi begitu cengkeramannya selesai dilancarkan, tiba-tiba
saja wajah Ceng-thian- kui-ong berubah hebat.
Rupanya pedang tersebut sama sekali tidak bergerak
barang sedikitpun juga.
Padahal Ceng-thian kui ong cukup memahami bahwa
tenaga yang keluar dari kesepuluh jari tangannya itu paling
tidak berbobot ribuan kati, tapi mengapa pedang tersebut tak
berhasil dicengkeram olehnya?
Kejadian tersebut sungguh membuat orang tidak habis
mengerti.
Bukan Wi Thian-yang sja yang tak percaya dengan
kenyataan tersebut, bahkan siau Lun serta Hui Lokpun turut
berubah wajahnya setelah menyaksikan adegan tersebut.
Akhirnya siau Lun tak kuasa menahan diri lagi, sambil tertawa
tergelak serunya:
"Hei bocah muda, tampaknya Thian-liong siau-kang mu
benar-benar telah berhasil dengan sempurna..."
Gelak tertawa siau Lun itu tidak terlampau keras, tapi justru
suaranya berhasil menindih suara kawanan jago lainnya.
Usianya masih begitu muda akan tetapi telah berhasil
mencapai tingkat kedudukan yang begitu tinggi dalam
kepandaian silatnya, andaikata tidak disaksikan dengan mata
kepala sendiri, setiap orang tak akan mempercayai hal itu, tak
heran kalau suasana dalam ruangan itu berubah menjadi
hening sepi dan tak kedengaran sedikit suarapun.
Dalam pada itu, Ceng Thian- kui-ong telah mengerahkan
hawa murni untuk kedua kalinya. Hawa marah yang sangat
tebal dengan cepat memancar keluar dari balik matanya.
Tatkala kesepuluh jari tangannya diayunkan ke depan,
segera terlihatlah sepuluh buah gulung cahaya hijau
memancar keluar...
"sreet... sreeet..." desingan angin tajam yang menderu deru
serasa menusuk pendengaran.
Ketika hawa hijau tersebut menyentuh gagang pedang
Hian-peng-kiam yang menancap diatas tanah, ternyata
senjata itu bergetar amat keras kemudian berayun ke kiri dan
kanan-
Anehnya ternyata pedang mustika itu belum juga bergeser
dari tempatnya semula.
Kopiah emas yang dikenakan Raja setan yang
menggetarkan langit hampir saja menerjang ke udara, jelas
gembong iblis tua ini telah mengerahkan segenap tenaga
dalam yang dimilikinya.
Wajah oh-put-kui sama sekali tidak berubah, pelan-pelan
dia memejamkan kembali matanya.
Ketika kejadian tersebut dipandang oleh beberapa orang
tokoh persilatan yang hadir disitu, semua orang mengerti
kalau oh-put- kui telah mengerahkan pula segenap tenaga
dalam yang dimilikinya untuk melawan kekuatan yang
terpancar ke luar dari tubuh Wi Than-yang.
setengah perminum teh lewat tanpa terasa sementara itu
seluruh jidat Ceng Thian- kui-ong telah dibasahi oleh air
keringat.
Akan tetapi kedua belah pihak masih tetap berdiri kaku
ditempat semula tanpa bergerak barang sedikitpun jua.
Kini getaran yang semula tampak pada ujung pedang Hianpeng-
kiam, kini sudah lenyap tak berbekas.
Tampaknya Ceng Thian- kui-ong Wi Thian-yang sudah
menunjukkan tanda tanda akan menderita kekalahan.
seperminum teh kembali lewat...
Mendadak terdengar Ceng Thian Kui-ong berpekik
panjang, suara pekikan tersebut begitu keras dan nyaringnya
hingga menggetarkan kayu belandar diatas wuwungan rumah.
"Kau menang..." jerit Wi-thian yang dengan suara seperti
orang menangis.
sepasang mata oh Put Kui melotot besar dan
memancarkan cahaya tajam, ucapnya kemudian sambi
tertawa : "Maaf..."
Belum habis dia berkata, mendadak terdengar wi Thianyang
tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya: "Bocah
keparat, cobakau lihat..."
"criiiit..."
Ternyata dikala oh Put Kui sedang berbicara itulah, pedang
Hian-peng-kiam yang semula menancap diatas tanah itu tahutahu
sudah meluncur ketangan kanan Raja setan yang
menggetarkan langit Wi Thian-yang.
Tindakan semacam ini jelas merupakan suatu tindakan
yang rendah dan sangat memalukan.
Paras muka oh Put Kui kontan saja berubah hebat, serunya
sambil tertawa dingin :
"Apakah kau anggap pedang itu berhasil kau dapatkan?"
"Hmmm, memangnya tak masuk hitungan?"
oh Put Kui segera menengadah dan tertawa terbahakbahak.
Dari kejauhan sana terdengar pengemis pikun segera
mengejek :
"Huuuh... manusia yang tak tahu malu Ternyata Wi-thianyang
tak lebih cuma manusia pengecut yang tak tahu malu"
Dengan penuh kegusaran wi Thian-yang membalikkan
badannya lalu tertawa seram : "Lok Jin-ki, kaukah yang
sedang ngebacot disitu?"
Buru-buru pengemis pikun menjulurkan lidahnya sambil
menggelengkan kepala. "Entahlah..."
Dasar pengemis ini memang gentong nasi, keberanian
untuk mengakusaja tidak dipunyai. sambil tertawa dingin Wi
Thian-yang berseru :
"Lok Jin-ki, kau tak usah berlagakpikun, dalam pandangan
mata lohu tidak kemasukan pasir tahu?"
"Betul, yang disebut sebagai Raja setan tentu saja memiliki
sepasang mata yang jeli..."
Kemudian setelah menggelengkan kepalanya dan tertawa
getir, sambungnya lebih jauh:
"Saudara, buat apa kau mencari gara-gara dengan aku
sipengemis? Sobat-sobat yang punya nama dan kedudukan
banyak hadir di sini. lebih baik simpan tenagamu untuk
menghadapi mereka."
Ucapan itu betul- betul membuat Wi Thian-yang ketanggor
batunya, sorot matanya mencorong sinar tajam, tampaknya
dia hendak mengumbar hawa amarahnya.
oh Put Kui juga menarik kembali suara tertawanya ketika
itu, dengan gusar dia berseru kepada Wi Thian-yang :
"Manusia she Wi, kau betul- betul seorang manusia yang
tak tahu malu, manusia bermuka tebal"
"Dalam hal apa lohu tak tahu malu?" sahut Ceng-thian-kulong
seraya berpaling. oh Put Kui tertawa dingin-
"Hmm. setelah mengaku kalah masih main serobot, apakah
tindakan semacam ini bukan suatu perbuatan yang tak tahu
malu?"
Mendengar perkataan tersebut, wi Thian-yang segera
tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh... bocah keparat, apakah
kita tentukan batas waktu dalam saat pengambilan pedang
itu? "
"Tidak" jawab oh Put Kui setelah agak tertegun-Wi Thianyang
kembali tertawa tergelak.
" Kalau toh tiada batas waktunya, mengapa lohu tak boleh
mengambil pedang itu?"
"Betul, sebetulnya kau memang boleh mengambil pedang
itu setiap saat, tapi tidak seharusnya kau lakukan setelah
menderita kekalahan," kata oh Put Kui dengan kening
berkerut,
"saudara, apakah kau tak berniat untuk melindungi nama
baikmua?"
"Heeehhh^ heeehhh... heeehhh... selamanya lohu hanya
tahu bekerja untuk mencapai tujuan, aku tidak memperdulikan
cara apapun yang harus kulakukan."
@oodwoo@
Jilid : 13
"Oooh ..... kalau begitu nama busukmu itu berhasil kau
dapatkan dengan cara yang pengecut dan tak tahu malu ?
"jengek Oh Put Kui sambil tertawa dingin.
Paras muka Wi Thian yang segera berubah hebat setelah
mendengar ucapan itu, dia segera tertawa seram.
"Aku tidak ambil perduli apacah cara itu rendah, pengecut
atau memalukan, lohu ......"
Belum habis dia berbicara, mendadak tampak sesosok
bayanan manusia berkelebat lewat hadapannya.
Dengan perasaan terkesiap buru-buru Ceng-thian-kui-ong
melayang mundur kebelakang .
Tangan kanannya segera diangkat dan diayun menghajar
bayangan tubuh manusia yang berkelebat lewat situ ......
"Weeeesss..........! Tenaga serangan bagaikan
menghantam diatas tumbukan kapas, sama sekali tak
sanggup menimbulkan kekuatan apa-apa.
Dalam terkejutnya Ceng-thian-kui-ong segera perpikir :
"Siapakah orang itu ? Mengapa rang ini tidak takut dengan
tenaga pukulanku ? Mungkinka orang itu .....".
Saking cepatnya gerakan tubuh orang itu membuat Withian-
yang tak sempat melihat jelas siapakah gerangan orang
itu.
Didalam kaget dan herannya, sekali lagi dia mundur setlah
langkah dari posisi semula.
Mendadak Ceng-thian-kui-ong merasakan tangan kirinya
bergetar keras sekali.
Pedang hian-peng-kian yang berhasil direbutnya dengan
akal muslihat tadi ternyata berhasil direbut orang lagi.
Berbareng itu pula ia mendengar suara Oh Put Kui yang
sedang tertawa tergeletak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.... W-thiang-yang,
maafkan aku bila aku terpaksa harus menirukan cara kerjamu
tadi untuk menghadapi dirimu sekarang...."
Paras muka wi Thian-yang segera berubah menjadi merah
padam bagikan hati babi setelah mendengar ucapan itu, dia
benar-benar dibuat marah dan mendongkol.
Sambil mengawasi Oh Put Kui yang berdiri lima depa
dihadapinya sambil memegang pedang, akhirnya dia tak tahan
dan meraung keras, kemudian secepat kilat menerjang ke
muka.
Tangannya diayunan berulang kali, secara beruntun dia
lepaskan tujuh buah serangan berantai.
Oh Put Kui tertawa tergelak, sepasang kakinya berputar,
tahu-tahu dia sudah lolos dari ancaman serangan yang
dilancarkan oleh si Raja setan yang menggetakkan langit itu.
"Aaah...ilmu langkah Tay-siu-huam impoh..." dengan
terperanjat Wi Thian-yang menjerit. "Bocah keparah, apa
hubunganmu dengan Mi-sian-kui-to ?".
Rupanya tanpa sengaja Oh Put-kui telah menggunakan
ilmu langkah Tay-siu-huan-impoh ajaran Mi-sim-kui-to (tosu
setan pembingung hati), bukan saja berhasil meloloskan diri
dari serangan yang dilancarkan Wi Thian-yang, bahkan
memancing pula bentakan kaget dari Wi Thian-yang.
Pemuda itu tahu, semestinya antara Wi Thian-yang dan Misim-
kui-to terikat suatu hubungan tertentu, maka dia tertawa
hambar setelah mengar pertanyaan tersebut.
"Sobat. . . . . ."
Dengan sinar mata memancarkan cahaya dingin yang
menggidikkan hati, Wi Thian-yang membentuk keras:
"Omong kosong ! seandainya Mi-sim kui-to hanya
sahabatamu, masa dia bersedia mewarisi kepandaian silat
andalan kepadamu ? Kau anggap lohu adalah seorang bocah
berusia tiga tahun yang muda ditipu ?"
Oh Put Kui segera tersenyum.
"Aku bicara terus terang, seandainya saudara tidak
percaya, yaa.... Apa boleh buat lagi?".
Dari sorot mata anak muda tersebut. Wi Thian-yang tahu
kalau Oh Put bukan lagi berbohong, dengan kening berkerut
segera ujarnya:
"Bocah muda, dimanakah kah telah berjumpa dengan Tosu
setan pembingung hati itu ?"
Hampir saja Oh Put Kui mengutarkaan itu.
Tapi, anak muda itu sempat menangkap sorot mata penuh
perasaan benci dan dendam dibalik mata Ceng-thian-kui-ong
Wi Thian-yang tersebut, maka dia segera meningkatkan
kewaspadaannya.
Sambil tertawa dia menggalengkan kepalanya berulang
kali, katanya:
"Maaf, aku tak bisa mengutarakan kepadamu!".
"Jadi kau sudah tidak teringat?" seru Wi Thian-yang
dengan wajahh agak tertegun.
"Aku masih ingat !"
"Masih ingat?" seru Wi Thian-yang yang penuh kegusaran,
"mengapa tiak kau utarakan ?"
Oh Put Kui terbahak-bahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.... kau anggap
saudara dapat memerintah aku dengan sekehendak hatimu?
Hmmm, andaikata aku tak tersedia mengutarakan kepadamu,
kau mau apa?"
Wi Thian-yang benar-benar dibuat kehabisan daya oleh
perkataan tersebut ......
Seandainya berganti orang lain, bisa jadi dia akan
mempergunakan kekerasan ataupun siksaan untuk
memaksanya mengaku.
Namun terhadap Oh Put Kui yang begitu lihay, dia merasa
tidak berkemampuan untuk melakukan perbuatan semacam
itu.
Dengan mata terbelalak lebar-lebar, Wi thian-yang berdiri
termangu untuk beberapa saat lamanya, sampai setengah
harian lamanya dia tak tahu apa yang mesti diucapkan.
Oh Put Kui sama sekali tidak menggubris si apunya itu,
sambil membawa pedang pendek tersebt dia menghampiri
Leng Lin-lia.
"Nona, aku telah berhasil merebut kembali pedang Hianpeng-
kian ini, anggap saja sebagai hadiahnya atas hari
pernikahan nona..."
Sembari berkata. Dia angsurkan pedang Hian-peng-kiam
tersebut ke tangan nona itu.
Dengan rasa terharu Leng Liu-lin menggelengkan
kepalanya berulangkali, seraya :
"Hal ini mana boleh jadi.... Oh tayhiap ............. "
Dasar pengantin perempuan, saking malunya dia sampai
tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.
Leng Cui-cui, adik pengantin perempuan yang kebetulan
berada disisinya segera tersenyum, dengan sikap yang supel
ia berseru :
"Biarlah aku mewakili cici mengucapkan banyak terima
kasih kepada Oh Kong-cu !"
Tanpa sungkan dia lantas menerima sodoran pedang Hian
peng-kian tersebut.
Dalam pada itu, totokan jalan darah pada lengan kiri Jian-lihu-
siu (kakek menyendiri dari seribu li) Leng-Siau-thian telah
bebas, dengan penuh rasa haru dan terima kasih, dia menjuru
kepada Oh Put kui.
"Oh kong-cu ! katanya. "Budi kebaikanmu yang telah
merebutkan kembali pedang Hian-peng-kian dari tangan
lawan, tak akan kami lupakan selamanya. Budi ini dikemudian
hari pasti akan kubalas ! Kongcu bila di kemudian hari kau
membutuhkan bantuan, utarakanla terus terang, sekalipun
harus terjun kelautan api, lohu tak akan menolak!"
Oh Put-kui tertawa.
"Ucapan locianpwe terlampau serius ! Menolong sesuatu
yang tak adil sudah merupakan kewajiban kita semua !
Apalagi sebagai tamu yang tak diundang pada hari ini, bisa
menyumbangkans edikit tenaga dan jasa bagi tuan rumah, hal
mana sudah merupakan suatu keharusan...."
Kemudian setelah menjuru, ujarnya lagi :
"Bila locianpwe berterima kasih lagi. Hal mana sudah
merupakan suatu sikap tak memberi muka kepadaku !"
Pada dasarnya Leng Siau-thian memang seorang jago
yang gagah, mendengar perkataan itu dia lantas tertawa
tergelak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.... Kalau memang
begitu, lohu akan menerimanya ........"
Oh Put kui tersenyum. Kepada Leng Cui-cui katanya :
"Nona, cepat bawa pedang tersebut kedalam, daripada
menimbulkan incaran lagi dari orang-orang yang rakus
sehingga mendatangkan kesulitan yang tak terhingga bagi
kalian!".
Leng Cui-cui tertawa lirih dan menyahut:
"Terima kasih atas perhatian kongcu........." Sambil
tersenym dan mengerling sekejap kearah pemuda itu, dia
membalikkan badan dan beranjak dari dri sana.
Oleh kerlingan mata yang indah tersebut, Oh Put Kui
mrasakan hatinya bergetar keras, hampir saja dia akan
berteriak keras :
"Kau amat cantik......"
Tentu saja dia tidak berbuat demikian, apalagi ketika itu
Ceng-thian-kui-ong telah menghampirinya.
"Bocah muda," terdengar berseru, "anggap saja pedang
Hian-peng-kian itu lohu, hadiahkan untukmu!"
Betul-betul suatu tindakan yang tak tahu malu, dari sini pul
dapat diketahui betapa tebalnya muka Wi-thian-yang.
Oh Put Kui tertawa.
"Saudara, kau memang benar-benar berjiwa sosial!
Perlukan kuucapkan terima kasih ku kepadamu?"
Perkataan ini berterus terang dan blak-blakan, sama sekali
tak mengenal arti sungkan.
Anehnya ternyata Ceng-thian-kui-ong tidak menjadi gusar
karena ucapan mana.
"Lote," dia berkata, "masa kau berterima kasih kepadaku?
Kau pedang itu berhasil kau rebut sendiri?"
"Kalau saudara sudah mengerti, memang hal ini lebih baik
lagi..." kata Oh Put Kui sambil tertawa.
Kemudian setelah berhenti sejenak, dengan wajah serius
dia berkata lebih lanjut:
"Wi tua, kita berdua sudah cukup lama mengganggu
jalannya pesta pernikaan ini, apalagi akupun sudah merasa
haus sekali, bagaimana kalau kita mengesampingkan dahulu
semua persoalan untuk menghadiri jalannya pesta pernikahan
ini lebih dulu ?"
"Jangan terburu-buru," tukas Wi Thian-yang sambil tertawa,
"lote, lohu ingin mengucapkan sepatah kata lagi, kemudian
akan segera mohon diri...."
"Berbicara denganku?"
"Benar!"
"Apa yang hendak kau bicarakan ? Katakan saja!"
Wi-thian-yang mengebaskan jubah naganya yang berwarna
merah lalu, berkata sambil tertawa.
"Lote, beritahu kepada lohu, saat ini Mi-sim-kui-to berada di
mana ?"
Pertanyaan itu kontan saja membuat Oh Put Kui menjadi
tertegun dan berdiri termangu.
Secara langsung dia dapat merasakan bahwa Ceng-thiankui-
ong Wi Thian yang seperti ada urusan penting hendak
mencari Misim-kui-to, bahkan delapan puluh persen hal
tersebut menyangkut soal pembalasan dendam.
Untuk sesaat lamanya Oh Put Kui jadi termenung dan
memutar otaknya keras-keras.
Wi Thian yang sendiri sebetulya merasa gelisah sekali,
akan tetapi kegelisahannya tersebut tak sampai diutarkaan
pada wajahnya dengan senyuman dikulum kembali dia
berkata:
"Lote, kini loohu hanya menantikan jawabanmu?"
Oh Put Kui memandang sekejap kearah lawannya,
kemudian bertanya sambil tertawa.
"Ada urusan apa kau mencari Mi-sim-kui.
"Tentu saja ada urusan penting!"
"Dapatkah beritahu kepadaku, persoalan penting apakah itu
?" tanya Oh Put Kui lagi sambil tertawa.
"Lote, jadi kau baru bersedia memberitahukan tempat
persembunyian Mi-sim-kui-to kepada loohu setelah
mengetahui karena persoalan apakah loohu hendak pergi
mencarinya?".
"Memang begitulah maksud hatiku!"
Wi-thian-yang tersenyum,
"Antara loohu dengannya boleh dibilang mempunyai suatu
perselisihan yang harus diselesaikan!"
"Soal pembalasan dendam?"
"Boleh dibilang begitu ! Loohu hendak mengajaknya
berkelahi !". Mendadak Oh Put Kui tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudaraku, lebih
baik pertarungan ini jangan dilanjutkan !"
"Kenapa ?" tanya Wi thian-yang. "Apakah si tosu setan itu
sudah mampus ?
Reaksinya memang cukup cepat, hanya sayang dugaagnya
itu keliru besar.
"Dia belum mati, "kata Oh Put-kui sambil tertawa, "hanya
saja kau sudah bukan tandingannya lagi !"
"Lote, soal menang atau kalah adalah masalah kecil.
Memenuhi janji adalah masalah yang paling utama !"
Betul-betul sepatah kata yang tepat sekali, ucapan mana
segera menggerakkan hati Oh Put-kui.
"Baik!" kata On Put kui kemudian sambil tertawa, "cukup
mendengar pertakaanmu itu, aku bersedia memberitahukan
tempat tinganya kepadamu,"
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh....., kalau begitu lohu
mengucapkan terima kasih lebih dulu!"
Itu mah tak perlu !"
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi :
Wi tua, pernahkah kau mendengar orang persilatan
mengatakan kala dialautan timar sana yang tak pernah
dikunjungi orang?"
"Kau maksukan pulau neraka ?" seru Wi thian-yang
termangu setelah mendengar ucapan itu
"Pulau itu sesungguhnya bukan bernama pulau neraka !"
"Benar!" kta Ceng thian-kui-ong Wi Thian-yang dengan
kening berkerut. "Bocah keparat, akupun tahu kalau kau
adalah satu-satunya orang yang bisa kembali dengan selamat
dari atas pulau tersebut !"
Dengan cepat Oh Put Kui menggelengkan kepalanya
berulang kali, serunya kembali :
"Maksudku pulau itu bukan bernama Pulau Negara,
melainkan mempunyai nama lainnya !"
Setelah berhenti sejenak, dia menyaksikan kawanan jagi
yang berada di tempat penjuru sedang memasang telinya
baik-baik untuk turut mendengarkan perkataan itu.
Menyaksikan semua itu, diam-diam dia menghela napas
panjang, pikirnya :
"Beginilah watak orang orang dunia persilatan. Mereka
aman suka mencampuri urusan dunia persilatan."
Berpikir sampai di situ dia lalu berkata :
"Wi tua, pulau itu sebenarnya bernama Jit-hu-to (pulau
tujuh kesepinah....)"
"Jiu-hu-to ?" Wi Thian-yang tertegun.
"Ehmmm di atas pulau itu berdiam tujuh orang kakek yang
hidup kesepian, itulah sebabnya pulau itu dinamakan pulau
tujuh kesepian!"
Sebuah berita besar yang belum pernah terdengar oleh
setiap umat persilatan, tak heran kalau berita itu segera
menggemparkan setiap orang yang mendengarnya.
Walaupun Nelayan sakti dari lautan timur Cin Poo-tiong
telah menyiarkan berita tentang kehadirat Pendekat aneh Oh
Put Kui di pulau neraka ke dalam dunia persilatan, namun dia
tidak pernah membicarakan tentang siapa siapa yang berda di
pulau itu dan apa nama yang sebenarnya dari pulau tersebut.
Oleh karena itu, hingga kini orang persilatan masih
menamakan pulau kecil yang cukup membuat orang
bertegang syaraf tersebut sebagai pulau neraka.
Tapi hari ini, ada orang telah mengungkapkan nama yang
sebenarnya dari pulau tersebut, tak heran kalau suara helaan
napas panjang segera memenui seluruh arena begitu Oh Put
Kui menyeleaikan perkataannya....
"Tujuh orang kakek maksudmu ?" seru Ceng-thian-kui-ong
Wi-thian-yang dengan pasar muka berubah hebat.
"Benar! Tujuh orang kakek yang mempunyai riwayat besar
...." Kata Oh Put Kui sambil tertawa.
"Lote," kata Ceng-thian-kui-ong lagi dengan wajah sedih,
"ke tujuh orang itu pastilah Bu-lim-jit-sat yang termashur
dimasa lalu......
Dengan cepat Oh Put Kui menggeleng.
"Aku tidak mengetahui apakah benar atau tidak, namun
mereka nebut diri mereka sebagai Bu-lim-jit-sat (tujuh orang
yang kesepian dari dunia persilatan)!"
Tiba-tiba Ceng-thian-kui-ong Wi-thian-yang menengadah
dan tertawa terbahak-bahak dengan seramanya :
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh....., rupanya mereka,
sudah padsti mereka . . . . . . "
Gelak tertawanya itu amat tak sedap di dengar,
Siapa pun tidak menyangka kalau sikap maupun elak
tertawa Ceng-thian-kui-ong Wi-thian-yang dapat berubah
menjadi begitu dingin dan menyeramkan waktu singkat.
Oh Put Kui agak tertegun menyaksikan keadaan lawanya,
dengan cepat dia bertanya :
"Wi tua, kau kenal dengan mereka ?"
"Kenal! Semuanya kukenal . . . . . ?"
Setelah berhenti sebentar, dia menghela napas rendah,
kemudian melanjutkan :
"Lote tepat sekali perkataan itu, ohu memang tak perlu
mencari si Tosu setan lagi..,"
Dia nampak seperti putus asa, sikapnya yang lemah itu
amat tak cocok dengan julakannya sebagai Raja setan.
Sambil tersnyum Oh Put Kui berkata:
"Wi cua jangan lupa. soal mengingkar janji adalah soal
benar!"
Sekujur badan Ceng-thian.kui-ong Wi-Thian-yang bergetar
keras sesudah mendengar ucapan itu.
Ditatapnya Oh Put Kui lekat lekat, mulutnya membungkam
dalam seribu bahasa, diam diam pikirnya sambil menggertak
gigi:
"Sebelum bocah keparat ini dilenyapkan dari muka bumi,
lohu tak akan memperoleh ketenangan di dalam hidupku!"
Dalam hati dia berpikir demikian, diluaran dia menghela
napas panjang, katanya:
"Bila ke tujuh orang manusia aneh ini hadir semua disana,
sekalipun lohu kesitu juga percuma !"
Setelah berhenti sejenak, dia manggut-manggut dan
berkata sambil tertawa:
"Benar, mengingkar janji adalah masalah besar, loohu
memang barus melakukan perjalanan kesitu."
Perawakan tubuhnya yang tinggi besar itu segera berputar
sorot matanya dialihkan ke datam ruangan dan memandang
sekejap kawanan jago disitu. kemudian ujarnya sambil tertawa
nyaring:
"Sekiranya loohu telah mengganggu kegembiraan kalian
semua, harap saudara semua sudi memaafkan !"
Bayangan nerah tampak berkelebat cepat, tahu-tahu dia
sudah melambung ketengah udara.
Benar-benar suatu gerakan tubuh yang sangat cepat
bagaikan sambaran kilat.
Ceng-Thian.kui-ong telah berlalu, namun dari kejauhan
sana masih terdengar suaranya yang bergema tiba-tiba:
"Hui Lok lote, soal pembunuhan yang kau lakukan terhadap
Nyoo Thian Wi pasti akan lohu perhituugkan lagi di kemudian
hari! Tunggu saja kedatanganku nanti !"
Kalau didengar suaranya, orang itu jelas berada beberapa
Ii dari tempat itu.
Namun ucapannya yang terakhir ibaratnya dinamit yang
meledak secara tiba-tiba.
Seketika itu juga suasana dalam ruangan menjadi gempar,
paras muka semua orang jago yang hadir didalam maupun
diluar ruangan sama-sama berubah hebat.
Terutama sekali kelima orang Ciangbujin dan lima partai
besar serentak mereka mereka melompat bangun.
Benarkah si Kakek pelenyap hati pemutus usus Hui Lok
yang melakukan pembunuhan keji itu?
Pembunuhan atas Hu mo-sutay dan Tohong Sutay dan
Pek-siu-an.,..
Nyawa dari Kirn-teng-sin-yu serta Wan-song-siu....,..
Keluarga Leng-hong-biu suami isteri dikebun Ci-wi-wan . . .
. .
Nyatanya peristiwa pembunuhan itu dilakukan oleh Hui Lok
. . . . .
Saking terperanjatnya, kelima orang ciang bunjin itu sampai
membelalakkan matanya lebar-lebar. mereka mengawasi
wajah Kakek pemutus usus pelenyap hati lekat-lekat.
Bagaimana dengan Hui Lok sendiri?
Iblis tua berkepala botak ini nampak diliputi kemarahan
yang meluap luap, hawa napsu membunuh yang amat tebal
tebal telah menyelimuti wajahnya . . .
Dalam anggapan lima orang ciang bunjin dan lima partai
besar gembong Iblis tersebut sudah berniat untuk melakukan
pembunuhan guna membungkamkan mulut mereka.
Padahal yang sebetulnya. Kakek pemutus usus pelenyap
hati Hui Lok sedang dibikin kegusaran oleh sikap dan ucapan
Wi thian-yang tersebut...
Mimpipun dia tak menyangka kalau Ceng Thian-kui-ong
bakal menfitnahnya sesaat sebelum meninggalkan tempat itu,
bahkan fitnahan tersebut merupakan suatu fitnahan yang
membuatnya sulit untuk membebaskan diri dengan begitu
saja.
Untuk mengejar iblis keparat tersebut......rasanya mustahil!
Hui Lok mengerti ilmu silatnya masih berada dalam taraf
seimbang dengan kepandaian si1at yang dimiliki Wi-thianyang.
Mau memberi penjelasan? Rasanya tindakan tersebut
dianggap sebagai suatu tindakan yang berlebihan, tak nanti
orang lain mau mempercayai penjelasannya.
Oleh karena itu si Kakek pemutus usus pelenyap hati Huk
Lok hanya bisa mangkel dihati, andaikata bukan berada dalam
swasana pesta pernikahan, sudah pasti ia telah mencaci maki
kalang kabut.
Pada saat itulah ada seorang yang sedang tertawa tergelak
didalam hatinya.
Orang itu tak lain adalah Nyoo Ban-bu!
Penampilan sikap maupun mimik wajahnya amat aneh dan
luar biasa, seperti lagi senyum tak senyum dan gembira
melihat yang lain tertimpa bencana, iapun menunjukkan sikap
seperti merasa gembira karena dari menyaksikan dua harimau
segera akan tempur ..........
Selama ini Oh Put Ki mengawasi terus gerak geriknya
terutama saat ini .....
Oh Put Kui telah menemukan: Dikala ia memberi kesulitan
dan mempelajari kepada Wi Thiau-yang tadi, putra Nyoo
Thian-wi ini justru menunjukkan sikap gelisah bercampur
gusar.
Sebaliknya dika'a wi Thian-yang merasa bangga dan
gembira, Nyoo Ban-bu turut tertawa gembira pula.
Mengapa dia besikap demikian?
Hanya ada satu kemungkinan dia bisa bersikap demikian,
yakni antara dia dengan wi Thian-yang telah menjalin suatu
hubungan yang istimewa.
Tapi, hal ini merupakan suatu yang sangat tak masuk
diakal?
Sudah selama hampir empatpuluh, tahun Ceng-thian.kui
ong disekap didalam gunung, sebaliknya Nyoo Ban-bu baru
berusia tiga puluhan tahun.
Mustahil mreka saling mengenal, apalagi Wi Thian-yang
sendiripun belum lama lolos dari kurungan, pada hakekatnya
antara mereka berdua tidak terdapat kesempatan untuk saling
bersua.
Semakin dipikir Oh Put Kui merasa pikirannya semakin
kalut dan kebingungan.
Ia merasa makiti dipikir persoatan itu makin aneh, sama
sekali tak dipahami olehnya alasan dibalik peristiwa itu.............
Namun dia masih juga berpikir terus. Hingga akhirnya lima
orang ciangbunjin dan lima partai besar itu berjalan
mendekatinya
Oh Put Kui tidak kenal dengan mereka, maka diapun
merasa tak perlu untuk menyampai, Merski dia sudah
mengetahui sejak tadi kalau kelima orang itu adalah kotua dan
a partai besar.
Tatkala kelima orang itu berada beberapa kaki di
hadapannya, mendadak Oh Put-kui menyelinap ke samping
dan mundur sejauh tiga langkah, setelah itu membalikkan
tubuh berjalan menuju ke tempat duduknya.
Lima orang ciang bujin itu berlagak seotah olah tidak
melihat, mereka tetap melanjutkan perjalanannya menuju ke
depan.
Jalan torus ke depan tiada hentinya.,..,.
Mereka borjalan hingga ko depan Kakek pemutus usus
penyeap hati Hui Lok sebelum berhenti.
Sorot mata Hui Lok dengan ketajaman bagaikan kilat
mengawasi kelima orag dengan tak berkedip.
Sementara kolima orang ciang bujin b1as melotot pula ke
arah Hui Lok.
Mendadak Hui Lok menengadah dan tawa terbahak-bahak
Mengapa ia tertawa ? Ataukah berasa benci ?
Gelak tawa tersebut peuuh meugandung hawa murninya
yang diatih hingga mencapai seratus tahun itu.
Dalam watu singkat dua per tiga dan tamu yang berada di
dalam maupun di ruangan sama-sama meuntupi telinga dan
mernegang dada sendiri keras-keras, bahkan seperti orang
yang sedang mabuk segera roboh bergelimpangan ke tanah.
Mereka tak sauggup menghadapi suara gelak tertawanya
yang amat memekakkan telinga itu.
Tak kuasa lagi Oh Put-kui berkerut kening dan teguraya
"Siau tua, bila gelak tertawa dan Hui Lok tiiak segera
diakhini, kemungkinan besar sebagai dan kawan-kawan. Lioklim
yang berada di sini akan rnenderita luka parah !"
Siau lojin egera tertawa.
"Biarkan dia berbuat sepuas-puasnya! Toh orang orang itu
ada1ah tamunya sendiri !"
Tapi dengan cepat Oh Put kui menggelengkan kepaanya
berulaug kali, sertanya
"Siau tua-kui memang tak main disebut manusia paling
buas dan berhati kejam di didunia ini !"
"Bocah muda, bukanlah bisa yang sudah terjadi merupakan
uruan yang lewat, buat ape ka mesti mencampurinya ?"
"Lantas mengapa kau orang tua tidak menghalangi Hui Lok
untuk segera meng hentikan gelak tertawanya 7"
Sian lojin segera tertawa.
"Bocah muda bukankah kau sendirianpun sanggup untuk
mencegah dia tertawa terus ? Mengapa kau tidak
melakukannya ?"
Oh Pur Kui menjadi tertegun mendengar perkataan itu,
untuk sesaat dia tak mampu untuk menjawab.
Benar juga perkataan itu, bukankah dia sendiripun memiliki
kemampuan untuk berbuat begitu ?
Tak tahan lagi dia segera tertawa tergelak.
"Benar juga perkataan kau orang tua," katanya, "baik,
boanpwe akan memaksakan din untuk mencobanya!"
Baru saja uca pan terakhir dirtarakan, dan tengah arena
telah berkumandang suara ben takan nyaning.
"Hhaaaitt,...!" inilah lirnu Auman singa dan kalangan
Buddha yang amat tersohor itu.
Rupanya Hui-seng taysu, ketua dad Sian-tim-si sudah tak
taha menyastkan keadaan tersebut berlaugsung terus
menerus.
Begitu auman singanya dilontarkan,s egera itu juga Hui Lok
berhenti tertawa.
Sedangkan kawanan jago Liok lim yang berada didalam
ruangan maupun diluar ruangan segera merasakan daya
tekanannya berkurang seteah gelak tertawa itu terhenti semua
orang dapat berdiri tegak kembali dengan dada lapang dan
napas lega.
oooOoo
"HUI SICU, apakah kau tidak kuatir melukai para jago yang
menghadiri perjmuan ini?" tegur Huiseng taysu kemudjan.
Kekek pemutus usus pelenyap hati Hul Lok seperli merasa
tertegun, kemudian bergumam:
"Melukai mereka ?"
"Sicu," kembali Hui-seng taysu berkata dengan kening
berkerut "bila kau himpun tenaga dalam rangka latih selama
puluhan tahun kedaam gelak tertawa bagaimaia mungkin
beribu orang jago yang berada disini bisa menahan diri?"
Sekaraug Hui Lok baru mengerti apa yang dimaksudkan,
katanya dengan suara lirih :
"Ciangbunjin, tadi apakah yang telah memperdengarkan
ilmu auman singa dan kalangan Buddha?"
Hui-sin taysu tertawa.
"Betul, memang itulah perbuatan lolap."
Tiba-tiba Hui Lok menjuara seraya berkata:
"Terima kasih banyak atas teguran ciangbunjin yang telah
menyadarkan loohu.,.
Sikap yang ditampilkan Hui Lok segera membuat kelima
orang cianbunjin tersebut diam-diam merasa kaget.
Hian-leng tootiang dan Bu.tong.pay menjura dan tertawa
pula, katanya kemudian:
"Hui toyu, apakah barusan kau tertawa tergelak lantaran
Ceng-thian.kui.ong Wi Thian-yang berhasil membongkar
rahasia kebusukanmu?"
Pertanyaan yang diajukan secara blakblakan ini amat tak
sedap didengar, bisa di duga pertanyaan itu tentu akan
menimbulkan hawa amarah lawannya.
Betul juga, Kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok
yang sebenarnya sudah agak reda kemarahannya, segera
bermurung muka lagi setelah mendengar perkataan itu.
"Hian leng, apa maksudmu berkata demikian?" tegurnya,
"kau anggap Nyoo Thian-wi benar-benar mati terbunuh
ditangan lohu?"
"Haaahhh....haaahhh...haaahhh..Wi Thian-yang telah
berkata demikian, apakah toyu bermaksud untuk
menyangkal?" seru Hian tootiang lagi sambil tertawa panjang.
Kontan saja Hui-lok melototkan matanya bulat-bulat, segera
bentaknya keras-keras :
"Andaikata Wi Thian-yang mengatakan si hidung kerbau
yang membunuh Nyeo Thian-wi, lohu ingin bertanya, apakah
kau si hidung krbau bersedia untuk mengakuinya ?"
Hian-leng tootiang segera tertawa, ujarnya sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali:
"Pinto ta pernah melakukan perbuatan semacam ini, mana
mungkin Wi Thian-yang akan menuduh pinto?"
Dari ucapan tersebut bisa disimpulkan kalau dia sudah
mempercayai perkataan dari Wi Thian-yang tadi.
Tak heran kalau kemarahan Hui Lok semakin berkobar
sehingga sapasang matanya memancarkan cahaya berapiapi.
"Hian-leng!" teriaknya dengan marah, "lohu akan
memperingatkan kepadamu agar bertindak lebih waspada,
ketahuilah Wi Thian-yang sedang menggunakan siasat
melimpahkan bencana kepada orang lain untuk menfitnah
diriku! Cuma saja..."
Setelah mendongakkan kepalanya dan tertawa dingin, dia
melanjutkan :
"Andaikata kalian menganggap lohu yang telah membunuh
Nyoo Thian-wi, lohu pun tak akan ambil perduli !"
Hiang-leng totiang menjadi tertegun setelah mendengar
perkataan itu, serunya keheranan :
"Wi Thian-yang sedang menfitnah dirimu ?"
"Heeehgh....heeehhh.....heeehh..... mengapa tidak kau
tanyakan sendiri kepada Wi Thian-yang?" Hui Lok tertawa
dingin tiada hentinya dengan perasaan gemas.
"Sayang Wi Thian-yang telah pergi !" Hiang-leng totiang
menggelengkan kepalanya berulang kali.
Han-sian-hui-kim (pedang suci) Wi Min duri Kay-pang yang
berada disisinya segera berkerut kening setelah mendengar
jawaban dari Hian-leng totiang itu.
Hiang-leng toheng, kau benar benar teramat jujur sehingga
mudah ditipu orang!" tegurnya.
Hiang-leng totiang berpaling sambil tertawa.
"Pinto memang tak pernah berbohong !"
Wici Min kembali tertawa getir.
"Toheng, sudah kau dengar jelas bukan apa yang
diucapkan oleh Hui tua tadi ?"
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh....., pinto tidak tuli
tidak bisu, mengapa tidak jelas ?"
Toheng, kalau toh kau mendengar jelas semuanya itu, buat
apa lagi kau ribut terus dengan Hi tua tersebut ?"
Hian-leng totiang segera berkerut kening setelah
mendengar perkataan itu, katanya :
Merecki bagaimana maksudmu ?
Wici Min menggelengkan kepalana berulang kali, katanya :
"To-heng, mengapa kau tidak pikirkan masalahnya dengan
lebih teliti dan seksama lagi .... ?"
Sesudah berhenti sejenak, sambil berpaling ke arah Hui
Lok lanjutnya lebih jauh:
"Hui tua, siasat menfitnah dan melimpahkan bencana
kepada orang lain yang diperbuat Wi Thian-yang memang
terhitung cukup lihay. Hanya saja akupun ingin mengajukan
beberapa pertanyaan kepada Hui tua ......."
Hui Lok tertawa dingin,
"Heeehhh....heeehhh.... heeehhh....., aku tahu bahwa
kalian tak akan menyerah dengan begitu saja, katakanlah!"
"Hui tua, apakah dimasa lampau kau mempunyai ikatan
dendam atau sakit hati dengan Wi Thian-yang?"
"Kalau toh tiada ikatan dendam atau sakit hati, mengapa Wi
Thian-yang melimpahkan bencana kepadamu ?"
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh....., soal ini harus
ditanyakan sendiri kepada Wi Thian-yang!" sahut Hui Lok
sambil tertawa terbahak bahak.
Wici Min turut tertawa.
"Hui Lok, kalau memang begitu jawaban mu tadi
merupakan suatu jawaban yang terdesak!"
Mencorong sinar tajam dari balik mata Hui Lok, katanya
setelah termenung sebentar :
"Wici Min, terserah kepada jalan pikiran mu sendiri. Apa
yang ingin kau pikirkan, pikir saja demikian!"
"Jadi saudara telah mengaku telah memnbunuh Nyoo
Thian-wi?" kata Wici Min sambil tertawa dingin.
"Aku tak pernah mengakui masalah ini, Toh kau sendiri
yang mengatkaan begitu."
Wici Min tertawa dingin pula.
"Aku tidak percaya kalau tanpa sebab tanpa musabab Wi
Thian-yang akan memfitnah dirimu."
Mendengar ucapan mana, Hui Lok mengalihkan wajahnya
ke atas wajah kelima orang ciangbujin tersebut, kemudian
katanya :
"Apakah kalian berlima menganggap peristiwa mana hasil
karya lohu ?"
Baru saja Wici Min tertaw dingin Hui-sin tasyu telah berkata
lebih dahulu :
"Lolap sekalian sama sekali tidak bermaksud untuk berbuat
begitu !"
Hmmm!" Hui Lok mendengar, "tampaknya kau si whesio
cilik masih cukup tahu urusan!"
Waktu itu, Hui-sin taysu selain merupakan ketua dari suatu
perguruan besar lagi pula merupakan seorang yang sudah
lanjut usia, akan tetapi Hui Lok telah memanggilnya sebagai
whesio cilik, kenyataan tersebut kontan saja membuatnya
menjadi menangis tak bisa tertawa pun tak dapat, yang bisa
dilakukan hanya meringis belaka.
"Sicu, pincang sekalian berlima merupakan orang orang
yang muncul paling awal ditempat terjadinya peristiwa
berdarah itu." Demikian ia berkata kemudian. "Maka demi
menegakkan keadilan dan kebenaran didalam dunia
persilatan, mau tak mau pincang sekalian harus melakukan
penyelidikan atas siapa gerangan pembunuh tersebut ..... "
"Heeehhh....heeehhh.... heeehhh....., maksud tujuannya
memang mulia, tak malu menjadi ketua dari perguruan lurus !"
ejek Hui Lok sambil tertawa dingin.
Hui-sin taysu segera merangkap tangannya di depan dada
sambil tertawa.
"Sicu, sewaktu keempat peristiwa pembunuhan berdarah
itu berlangsung, sicu berada dimana ?" tanyanya.
Dengan diutarakannya perkataan itu, berarti dia
menunjukkan sikap tidak percayanya kepada Hui Lok.
Mendengar perkataan itu, Hui Lok segera tertawa seram.
"Heeehhh....heeehhh.... heeehhh....., Hui-sia, untuk apa
kau mengurusi gerak gerikku ?"
"Pinceng percaya kalau lo-sicu bukan pembunuhanya, dan
aku percaya ketika peristiwa pembunuhan itu berlangsung, lo
sicu tak mungkin hadir di arena ...."
"Itu pun belum tentu ! Hui Lok tertawa seram.
Setelah berhenti sejenak, dia berpaling ke arah Kakek
setan berhati cacad, kemudian melanjutkan :
"Siau loko bisa menjadi saksi, keuasan lohu tak akan lebih
rendah dariada kakek setan berhati cacad !"
Sui-sin taysu terpaksa menyimpulkan senyuman getirnya
diujung bibirnya, katanya :
"Hui lo si-cu, nampaknya kau tidak bermaksud untuk
melepaskan diri dari segala tuduhan yang dilimpahkan
kepadamu?"
Mendengar perkataan tersebut, Hui Lok tertawa terbahakbahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... lohu harus
melepaskan diri dari apa ?
Kentua Hoa-san-pay Tui-hong-kiam-siu "Kakek pedang
pengejar angin" Bwe Kumpang yang selama ini membungkam
dalam seribu bahaa tiba-tiba berkerut kening, lalu setelah
tertawa dingin bentaknya dengan suara gusar :
"Hui Lok, apakah kau tidak merasa bahwa ucapanmu itu
kelewat latah .... ?"
Hui Lok tertawa seram.
"Bwee Kun-peng. Ucapan itu kau tujukan kepada lohu ?
Hmmm, ayahnya Bwee Tiang-hong pun tak berani bersikap
begitu kasar kepadaku ..... tampaknya jaman sekarang sudah
jaman terbalik ....."
Berbicara sampai disitu, kembali dia mendongakkan
kepalanya sambil tertawa terbahak-bahak,
Merah padam selembar wajah Bwee Kun-peng karena
jengah, tapi hawa amarahnya justru semakin berkobar,
katanya dengan gusar
"Hui Lok, kalau kau bernyali untuk melakukan, mengapa tak
bernyali untuk mengakui ? Perbuatan yang melempar batu
sembunyi tangan semacam kau itu bukan termasuk perbuatan
seorang enghiong ! Hmm terhitung lelaki macam apakah
dirimu itu ?"
Hawa pembunuhan dengan cepat menyelimuti seluruh
wajah Hui Lok, katanya :
"Jadi apa maksudmu sekarang ?"
"Jika kau memang seorang pembunuh kami akan
membekukmu !"
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... baik ! Terlepas
apakah lohu seorang pembunuh atau bukan, mengapa kalian
tidak mencoba coba lebih kemampuan kalian untuk
menangkap seorang pembunuh ?"
Bwee Kun-peng segera berkerut kening, lalu sambil
berpaling kearah Hui sia taysu katanya :
"Tyasu, tampaknya suatu pertempuran sengit tak bisa
dihindari lagi .... !
Hu-sin taysu memandang sekejap darah Hui Lok, kemudian
katanya
"Hui sicu apakah seorang pembunuh atau bukan, sampai
ini kita belum bisa memastikan, lebih baik kita jangan
bertindak terlalu gegabah."
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... kalian tak perlu
ragu lagi," kata Hui Lok tiba-tiba sambil tertawa tergelak,"
"hei hwosio kecil, lohu ingin menyaksikan kemampuan dan
pantas untuk memimpin suatu perguruan besar, mari ! Maju
saja bersama-sama .... !"
Keadaan sudah bertambah kritis, tampaknya walaupun
kelima orang ciangbunjin itu enggan turun tangan pun
terpaksa harus turun tangan juga.
Cui-sian Sangjin dari Go-bi-pay segera tertawa terbahak
bahak.
"Sicu, lolap akan bertarung dulu melawanmu!" serunya
lantang.
Diantara lima orang ciangbunjin, usianya paling tua,
berbicara soal tingkatkan kedudukan diapun setingkat lebih
tinggi dari pada ke empat orang lainnya, ilmu Tay-sengsiangkang
yang dimiliki telah mencapai tingkatan yang luar
biasa, hal mana membuat dia sangat hambar terhadaps egala
macam perebutan nama maupun kedudukan, setiap
menghadapi persoalan pun dia jarang turun tangan lebih
dahulu.
Tapi hari ini, setelah menjumpai seperti itu, dia tak bisa
bersembunyi lagi.
Begitu selesai berkata, tubuhnya segera melesat kemuka
mendekati Hui Lok.
Hui Lok segera tertawa tergelak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... Cui hwesio, kalau
hanya seorang diri, kau tak bakal mampu untuk menahan diri
!"
Blaamm.....blaammm....." dua kali benturan keras
menggema diangkasa, kedua belah pihak kembali mundur
selangkah.
"Sicu, hebat sekali tenaga pukulanmu itu !" seru cui-sian
sangjin tertawa keras.
Hui Lok tertawa seram pula..
"Cui hweso, aku lihat kau pun bukan seorang manusia yang
terlampau bodoh..."
Bayangan abu-abu berkelebat lewat, mendadak dia
menyerobot maju kedepan dengan kecepatan luar biasa,
teriaknya keras keras :
"Suruh mereka maju bersama, kalau tidak kau tak akan
sanggup menghadapi seratua gebrakan serangan lohu !"
Sambil melancarkan serangan balasan, Cui-siau sangjin
tertawa terbahak-bahak.
Tidak usah..." katanya, "bila lolap tak sanggup menahan diri
nanti, mereka toh akan maju dengan sendirinya!"
Ditengah deruan angin pukulan yang memekikkan telinga,
sepuluh jalur gulungan angin tajam segera memancar
kemana-mana!.
Bagi kawan-kawan jago Liok-lim yang berkepandaian silat
agak cetek, saat itu mereka hanya sempat menyaksikan ada
dua sosok bayangan manusia yang saling bergumul menjadi
satu.
Dalam waktu singkat, kedua belah pihak telah saling
menyerang dua puluh jurus lebih.
Oh Put Kui yang menonton jalannya pertarungan itu segera
berkata sambil sambil tertawa:
"Siau tua, tampaknya ilmu pukulan yang dimiliki Hui Lok
tidak terlampau tinggi!"
"Keliru besar jika kau berpendapat dimikian," kata Siau lojin
sambil tertawa. "bocah muda, Cui-sian sangjin adalah seorang
tokoh tua dan tingkatan yang lebih tiuggi! Seandainya berganti
dengaa ciangbunjin liannya kau akan menyaksikan kelahayan
Hui Lok yang sebenarnya!"
Seperti baru memahami akan Put Kui segera tertawa.
"Siau tua, kalan kudengar dan cara pembicaraanmu tadi,
maksudmu ilmu silat dari Cui-sian sangjin memang tidak lebih
rendah dani pada kepandaian yang dimiliki Kakek pemutus
usus pelenyap hati"
Sian lojin rnanggut-manggut.
"Yaa benar, Cui-sian memang tak pernah memikirkan
persoalan lain kecuali ilmu silat, oleh sebab itu kepandaian
silat yang dimilikinya lihay sekali, cuma jarang sekali orang
persilatan meugetahui akan persoalan ini !"
"Dari mana kau bisa tahu?" tanya Oh Put Kui kemudian
sambil tertawa," Gurumu yang mengatakan !" Oh Put Kui
menjadi tertegun.
"Apa hubungan antara guruku dengan dia?" Dia tahu kalau
gurunya Tay-gi sangjin!
Sangat jarang bergaul dengan orang lain, itu berarti dia pun
jarang mempunyai teman.
Siau lojin segera tertawa.
Bocah muda, Cui-sian sangjin nasih termasuk murid
terdaftar dan gurumu !"
Oooooh ......?" perkataan tersebut semakin membuat Oh
Put Kui menjadi tertegun.
"Bukankah dia adalah seorang ciangbujin dari Go-bi-pay?
Mengapa dia bisa menjadi muridnya guruku ?"
"Apa salahnya menjadi murid terdaftar seseorang ?"
Setelah berhenti sebentar dia berkata lagi :
"Sang Budha maha pengasih hanya bertujuan mewariskan
pelajarannya kepada umat manusia tanpa membedakan
antara kelompok dan perguruan. Mengapa pula dia harus
menitik beratkan pada soal perguruan ?"
Sekarang boanpwe sudah mengerti !"
"Kau sudah mengert ? Kalau begitu kau tahu bukan bahwa
Cui-sian sangjin tidak bakal menderita kekalahan !"
Belum habis Oh Put-kui berbicara, mendadak dari arah
arena sudah berkumandang suara bentakan nyaring.
Menyusul kemudian nampak dua sosok bayangan manusia
saling berpisah satu dan yang lainnya.
Cui-sian sangjin masih berdiri di tempat semula dengan
senyuman dikulum. Sebaliknya Kakek pemutus usus penyelap
hati Hui Lok berdiri lima depa dari tempat semula dengan
wajah terkejut bercampur keheranan. Diawasinya wajah Cuisian
sangjin dengan termangu-mangu, kemudian baru
berteriak penuh kegusaran :
"Cui hwesio, semenjak kapan kau melatih ilmu Thian-liongci
?"
Dengan cepat Cui-sian sangjin menggeleng.
"Hui sicu. Ilmu jari yang kugunakan barusan bukanlah ilmu
jari Thian-liong-ci !"
"Heeehhh....heeehhh.... heeehhh..... bukan Thian-liong.ei ?
Kau ingin membohongi lohu ?"
"Tidak, aku tidak membohongi dirimu, karena ilmu jari yang
gunakan adalah ilmu jari It-ing-ci."
"It-ing-ci ? Mengapa ilmu jari ini jauh lebih lihay daripada
ilmu jari Thian-liong-ci ?.
Mencorong sinar tajam dari mata Hui Lok, katanya lagi :
"Cui whesio, dari mana kau bisa mencuri ilmu silang yang
dimiliki Tay-gi sangjin ?"
"Omintohut !" Cui-sian sangjin segera merangkap
tangannya di depan dada. "Sebagai sesama murid Baddha,
tiada perbedaan antara partai yang satu dengan partai
lainnya. Pinceng memang bernasib baik sehingga mendapat
kesempatan untuk memperoleh petunjuk dari Tay-gi sangjin
Apa yang harus diherankan dalam peristiwa ini ?"
Hampir tidak percaya Hui Lok setelah mendengar
perkataan itu. Sepasang alis matanya segera berkerut kening.
"Cui hweesio. Kau adalah seorang ciang bunjin dari suatu
perguruan besar, kecuali ilmu silat dari Go-bi-pay, mana boleh
kau pergunakan ilmu silat lain ? Apakah kau tidak kuatir jika
perbuatanmu itu telah melanggar aturan dari leluhurmu ?"
Cui-sian sangjin segera tertawa terbahak-bahak setelah
mendengar perkataan itu.
"Hui sicu, sejak partai Go-bi didirikan oleh Kay-ti taysu,
tiada peraturan perguruan yang melarang anggotanya
mempelajari ilmu silat dari perguruan lain, sicu ! Jika suatu
saat kau sudah bosan dengan kehiduan keduniawian, lolap
bersedia untuk mengundang sicu masuk kedalam perguruan
Buddha....,..., "
Tampaknya dia bermaksud untuk mengajak iblis ini kembali
ke jalan yang benar dan mengabdikan diri untuk sang Buddha.
Mendengar perkataan tersebut. Hui Lok segera
menggelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa
terbahak-bahak.
"Cuci hwesio, tampaknya kau memang sudah terlalu
mendalami pelajaran agamamu sehingga dalam tiga patah
katamu pasti ada sepatah kata yang menyinggung soal
agama!"
"Omintohud! Buddha maha pengasih tak pernah menlak
orang yang bertobat.... Sicu, bagaimana kalau pertarungan
pada hari ini kita akhiri sampai disini saja ?"
Ia cukup memahami keadaan yang terbentang didepan
mata saat ini, Cui-sian-sangjin telah mendapat warisan ilmu
silat dari Tay-gi sangjin, itu berarti tipis sekali kemungkinan
baginya untuk menangkan pertarungan tersebut .......
Oleh karena itu, bagi Cui-sian sangjin mengusulkan untuk
menghentikan pertarungan tersebut, dengan cepat dia
menyatakan akur.
Tapi Bwe Kuan-peng tidak setuju kalau persoalan diakhiri
sampai disitu saja, dengan cepat dia berseru :
"Cui taysu, kalau memang Hui Lok adaah seorang
pembunuh kejam, mengapa taysu ...."
Belum habis berkata, Cui-sian sangjin telah tertawa
tergelak sembari menukas :
"Keliru besar, Bwee sicu, kau anggap keliru besar jika
menuduh Hui sicu sebagai seorang pembunuh keji !"
"Cui taysu, darimana kau bisa tahu kalau dia bukan
seorang pembunuh ...." Bwee Kunpeng tidak percaya.
"Benar, darimana dia bisa tahu ?"
Persoalan ini merupakan persoalan yang ingin diketahui
oleh setiap umat persilatan yang berada disitu.
Cui-sian sangjin segera tertawa,
"Sebab Hui sicu masih belum memiliki kemampuan untuk
membinasakan Nyoo thian-wi!"
"Cui taysu, apakah hal itu bisa digunakan sebagai bukti ?"
sela Wici Min tiba-tiba.
"Ilmu silat kalau tak dipakai sebagai bukti, maka kita akan
bergunakan apa sebagai tanda bukti ? Ilmu silat yang dimiliki
Hui Lok memang sangat lihay, tapi dia tak lebih hebat
daripada kedua rang suthay dari kuil Pek-siu-sian, apalagi
kalau dibandingkan dengan Kim-teng-sin yu kepandaian
mereka berimbang, apalagi jika dibangikan dengan Nyoo
Thian-wi ...."
Setelah tertawa dan berhenti sejenak, tambahnya :
"Hui Lok masih kalah satu tingkat !"
"Apakah dia tak bisa melancarkan serangan dengan cara
menyergap ?" seru Wict Min sambil menggeleng.
Kembali cui-sian, andaikata ada yang berilmu silat lebih
cetek daripadmau yang cara diam-iam mendekati dan ingin
mencelakaimu, dapatkah kau merasakan gerak geriknya ?"
"Tentu saja dapat !"
"Nah itulah dia, kalau memang demikian coba pikirkan lagi
dengan seksama ...."
Wici Min segera menundukkan kepalanya dan berpikir
sebentar, setelah itu ia baru berseru dan sambil tertawa
terbahak-bahak.
"Sangjin, sekarang benseng sudah mengerti."
"Kalau sudah mengerti, bagus sekali ....,"
Sampai disitu. Cui-sian sangjin lantas merangkap
tangannya didepan dada dan berkata kepada Hui Lok :
"Hui sicu, bila kami telah menaruh kesalah paham
terhadapmu tadi, lolap mewakili lima partai besar memohon
maaf yang sebesar-besarnya kepadamu, harap Hui sicu tidak
menjadi tersinggung adanya!"
@oodwoo@
Jilid : 14
Sekalipun Hui-Lok merasa mendongkl didalam hati, namun
setelah dihadapkan pada Cui-sian sangjin, rasa
mendongkolnya itu tak bisa diutarakan keluar.
Akhirnya dia berkata sambil tertawa :
"Sangjin terlalu sungkan! Kalau toh kesalahan paham
sudah dapat diatasi, silahkan kalian berlima untuk kembali ke
meja perjamuan masing-masing...."
Cui-sian sangjin tidak berbicara apa-apa lagi, dia lantas
membalikkan badan dan berjalan kembali dulu ke meja
perjamuannya.
Hui-sin taysu, Hian-leng totiang. Bwe Kuan-peng serta Wici
Min terpaksa harus mengikuti pula di belakangnya.
Suatu ancaman hujan badai yang maha dahsyat pun
menjadi buyar dengan begitu saja.
Namun dibalik kesemuanya itu, suatu ancaman yang lebih
besar semakin melandar mengancam hati setiap orang ....
000000000
Sementara itu, dimaja lain Oh Pu Kui telah mengangkat
cawannya dan berkata kepada Nyoo ban-bu sambil tertawa:
"Saudara Nyoo, apakah sebeum ini kau kenal dengan
Ceng-thian-kui-ong Wi-thian-yang?"
Agak terkejut Nyoo Ban-bu setelah mendengar perkataan
itu, buru-buru sahutnya :
"Tidak kenal ! Sewaktu siaute dilahirkan di dunia ini, Withian-
yang sudah disekap ditengah bukit, mana mungkin
suaute kenal dengannya ?"
"Aaah, betul juga! Kalau begitu siaute telah salah
ngomong!"
Kit Hui-seng yang berada disampingnya segera menegur
pula sambil tertawa geli :
"Saudara Oh, mengapa kau punya pikiran seaneh itu
secara tiba-tiba ?"
Oh Put Kui tertawa.
"Saudara Kit, siaute hanya secara tiba-tiba saja berpikir
demikian sebab kulihat saudara Nyoo pernah memuni Ceng-
Thian-kui-ong, oleh karena itu siaute mengira saudara Nyoo
kenal dengan kakek itu!.
"Saudara Oh, bukankah akupun telah memuji Wi-thianyang?"
kata Kit Hu-seng sambil tertawa, "mengapa saudara
Oh tidak mengajukan pertanyaan tersebut kepada siaute ?
Mungkin saudara Oh sudah mempunyai pandangan tertentu
terhadap saudara Nyoo?"
Oh Put Kui segera tertawa terbahak bahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... siaute bisa salah
ngomong pun hanya satu kali, saudara Kit, andaikata siaute
bertanya sekali lagi, bukankah hal ini memperhatikan kalau
siaute adalah serang manusia yang tahu diri ?
Dengan kening berkerut Kit Hu-seng manggut-manggut.
"Yaa, siaute tak sampai berpikir kesitu !"
"Saudara Kit adalah seorang polos dan jujur, tentu saja dia
tak akan memikirkan soal soal yang aneh seperti itu." Kata
Nyoo Banbu sambil tertawa, "saudara Ciu, benar bukan
pandangan siaute ini ?"
Ciu It Kim memandang sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian berkata sambil tertwa.
"Saudara Kit adalah seorang yang jujur, paling baik kalau
saudara Nyoo jauan menyindir dirinya !"
Merah padam selembar wajah Nyoo banbu karena jengah.
Siapa bilang kalau siaute sedang menyindir saudara Kit ?
Tentunya saudara ciu salah paham !" serunya cepat.
"Kalau siaute mah tak pernah menaruh kesalahan paham
terhadap orang lain ..." ujar Ciu It Kim hambar.
Satu ucapan yang amat diplomatis, tidak entengpun tidak
berat, tapi sangat mengena di hati Nyoo Ban-bu sehingga
membuatnya tak sanggup berbicara untuk beberapa saat.
See-siang-li-si Leung-luan memandang sekejap wajah
Nyoo Ban-bu, kemudian seperti membantu pemuda itu untuk
melepaskan diri dari kejengahan, ia tersenyum dan berkata
rendah :
"Saudara Nyo, Ciu tayhiap adalah seorang jujur, kau tak
usah bersedih hati."
Ditatap dengan sorot mata yang begitu indah, Nyoo Ban-bu
merasakan hatinya bergetar keras, Ia segera menengadah
dan tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... nona, masa aku
akan bersedih hati ?"
Tiba-tiba ia mengangkat cawan kemalanya dan berkata
lebih jauh sambil tertawa :
Saudara Ciu, tadi siaute telah salah bicara, aku harus
didenda dengan secara arak!"
Ditengah gelak tertawa yang keras, ia meneguk isi
cawannya hingga mengering habis.
Terima kasih banyak saudara Nyoo!" ucap Ciu It-kim sambil
mengangkat cawannya pula.
Pada saat itulah Oh Put kui berkata lagi sambil tertawa :
"Saudara Nyoo, tentang peristiwa terbunuhnya ayahmu,
apakah saudara Nyoo telah berhasil menemukan suatu tanda
yang jelas ?"
Mendengar perkataan itu, Nyoo Ban-bu tertegun untuk
kesekian kalinya.
Tapi sesaat kemudian, terlintas rasa murung dan gusar
diwajahnya, ia menyahut :
"Siaute tidak becus, dengan berdarah ayah ku masih
merupakan tanda tanya besar, hingga kini siaute belum
berhasil menyelidiki siapa gerangan pembunuh tersebut !"
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba bisiknya lagi dengan
nada misterius :
"Saudara Oh. Siaute tetap menaruh perasaan curiga
terhadap kakek pemutus usus pelenyap hati Hui Lok. Aku
kuatir perkataan dari Cui-sian sangjin tadi tak bisa dipercaya!"
Tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu,
ujarnya sambil tertawa:
Menurut pendapat saudara Nyoo, kemungkinan besar Hui
Lok adalah pembunuh yang telah melakukan peristiwa
berdarah itu ?
"Yaa, kemungkinan besar!" jawab Nyoo Ban-bu tiba-tiba
sambil mencorongkan sinar kebuasan dari balik matanya.
See-siang-li-see Leng Seng-luan berada di sampingnya,
tiba-tiba turut menmbrung :
"Aku puun ikut merasakan jika persoalan ini tidak begitu
sederhana, tak nanti Ceng Thian-kui ong Wi Thian-yang
melakukan tuduhan tanpa dasar, apalagi secara terus terang
menuduh Hui Lok sebagai pembunuhnya !"
"Nona betul-betul seorang gadis yang cerdas ! Nyoo ban-bu
segera sambil tertawa bangga.
"Nona Leng," kata Oh Put kui pula sambil tertawa, "menurut
pendapatku, Hui Lok sudah pasti bukan pembunuhnya !"
"Saudara Oh, kau seperti cacing di dalam perut Hui Lok
saja. Masa setiap perbuatan-nya kau ketahui ? Leng Sengluan
menyindir sambil tertawa.
Oh Put-kui segera tertawa terbahak-bahak,
"Haaaahhh....haaaahhh.... nona, aku baru pertama kali ini
berjumpa dengan Hui Lok!"
"Apalagi saudara Oh baru pertama kali ini bersua dengan
Hui Lok, darimana kau bisa memastikan kalau Hui Lok bukan
pembunuhnya ?"
Oh Put-kui memandang wajah Myoo Ban-bu sekejap,
kemudian katnaya sambil tertawa :
"Nona, Hui Lok memang seorang pembunuh ! tapi aku rasa
Hui Lok bukan pembunuh dari keempat peristiwa besar yang
menggemparkan dunia persilatan. Selain itu, aku rasa ...."
Setelah berhenti sebentar, tiba tiba ia berkata lagi sambil
tertawa dingin :
"Saudara Nyoo, dendam kesumat terbunuhnya orang tua
lebih dalam dari samudra. Kalau saudara menganggap Hui
Lok seseorang yang mencurigakan, mengapa kau tidak
berniat membalas dendam ?"
Begitu pertanyaan tersebut diutarakan, kontan saja Nyoo
Ban-bu tertawa berbahak-bahak.
Kit Hu-seng mengangguk tiada hentinya, sedangkan Ciu Itkim
dingin.
Leng Seng-huan membelalakkan sepasang matanya, ia
seperti agak tertegun.
Pertanyaan tersebut memang diucapkan amat beralasan.
Pengemis pikun yang menyaksikan kejadian itu segera
menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berseru :
"Saudara, ucapanmu benar-benar sangat mengena,
sebuah tususan yang amat telak !"
Paras muka Oh Put-kui berubah menjadi amat sinis, dia
menunggu sambil Nyoo Ban-bu menghentikan tertawanya,
kemudian baru berkata :
"Saudara Nyoo, kau memang seorang yang amat cermat !"
Dengan paras muka tak berubah Nyoo Ban-bu tertawa,
katanya :
"Oooh...sampai perubahan perasaan sinuate pun di
perhatikan saudara Oh terus menerus, hal ini sungguh
membuat siaute merasa gembira sekali ! Cuma saudara O
jangan melupakan nasehat lama ... "
Diam-diam Oh Put Kui merasa terperanjat, pikirnya:
"Manusia ini betul betul licik dan sangat berbahaya ...."
Berpikir demikian, dia lantas menyebut dengan dingin :
Nyoo-heng pun terhitung seorang yang berakal panjang,
benar-benar sangat mengagumkan !"
"Saudara O," ujar Nyoo Ban-bu kemudian dengan kening
berkerut, "Selmanya siaute tidak melakukan perbuatan yang
tidak menyakinkan! Ilmu silat yang dimiliki Hui Lok sibajingan
itu sangat lihay, siaute tak mampu untuk menandinginya,
karena itu apa gunanya melakukan perbuatan yang merugikan
diri "
Baru sekali dia berkata, Leng Seng-luan telah berkata
sambil tersenyum :
"Benar, apa yang dikatakan saudara Nyoo memang benar
!"
"Aaah....jadi saudara Nyoo benar-benar mempunyai pikiran
ini, sungguh membuat hati orang kagum ! kata Oh Put Kui lagi
sambil tertawa.
Nyoo Ban-bu tersenyum.
"Saudara Oh terlalu memuji ..."
Belum habis dia berkata, mendadak dari luar pintu gedung
berkumandang suara rentetan mercon yang gegap gempita.
"Blaaamm...... blaaamm....." ditengah dentuman nyaring,
seorang canteng berlarian masuk dengan langkah tergesagesa.
Ngo-hong-si-ci Tu-tiong-peng sebagai congkoan dari
perkampungan Siu-ning-ning-ceng segera menyelinap keluar
dan menghadang jalan pergi orang itu, tegurnya dengan suara
dalam :
"Persoalan apa yang membuatmu begitu tergesa-gesa?"
"Diluar pintu.... Diluar pintu telah kedatangan se......
sekelompok manusia berkuda...." Kata orang itu dengan wajah
terkejut dan suara gemetar.
"Manusia berkuda? Kalau hanya persoalan itu saja, perlu
apa kau merasa gugup macam begitu?" tegur Tu Tiong-peng
lagi dengan kening berkerut.
"Mereka adalah Kanglam...."
Begitu mendengar kata "Kanglam". Tu Tiong-peng segera
merasakan hatinya terkesiap, segera bentaknya :
"Minggir kau....."
Dengan langkah tergesa-gesa dia menerobos keluar dari
pintu perkampungan.
Sementara itu paras muka semua tamu yang hadir dalam
ruangan telah berubah hebat, bahkan sang pengantin lelaki,
Lamkiong Ceng pun turut berubah muka setelah mendengar
kata tersebut.
Cepat dia membisikkan sesuatu ke sisi telinga pengantin
perempuan, kemudian dia beranjak dan ke luar dari
perkampungan.
Di depan pintu perkambungan benar-benar telah muncul
sepasukan manusia berkuda.
Di atas kuda duduklah lelaki-lelaki kekar dan perkasa.
Mereka mengenakan pakaian berwarna hijau kebiru-biruan
dengan sekumtum bunga putih di dada, bersepatu laras, ikat
kepala dan menggenggam seekor kuda berwarna putih.
Dandanan mereka benar-benar menggetarkan sukma.
Sebagai pemimpinnya adalah seorang sastrawan berusia
pertengahan.
Sastrawan berusia pertengahan ini mengenakan jubah
panjang berwarna biru langit, rambutnya tidak diikat dan
dibiarkan terurai sepanjang bahu.
Dia mempunyai wajah yang bersih dengan sepasang mata
memancarkan cahaya berkilat. Sepasang alisnya tebal dan
berwajah tampan, jelas kelihatan kalau dia adalah orang yang
gagah perkasa.
Kuda yang ditunggangi adalah seekor kuda berwana hitam.
Di antara kelompok kuda putih terlihat seekor kuda hitam,
warna tersebut nampak menyolok sekali.
Beberapa kaki dihadapan rombongan kuda itu, dua orang
lelaki kekar sedang memasang serentengan besar mercon.
Suara berdentuman tersebut tak lain berasal dari atas bahu
kedua orang lelaki kekar itu, nampaknya mercon tersebut
belum setengahnya yang terbakar habis.
Begitu Ngo-heng-si ci Tu Tiong-peng sampai di muka pintu
perkampungan dan menyaksikan adedan tersebut, hatinya
segera menjadi menjadi tenggelam rasanya, diam-diam dia
terpekik :
"Aduh celaka, ternyata benar-benar bajingan ini !"
Sekalipun hatinya terperanjat dan segan untuk bersua
dengan sastrawan berusia pertengahan itu, tapi setelah orang
lain datang, tentu saja ia tak bisa mendiamkan saja.
Terpaksa sambil menggertak gigi ia mejura dalam-dalam,
kemudian sapanya:
"Rupanya Im tayhiap yang telah datang. Maaf, maaf .....
Sastrawan setengah umur itu tertawa hambar,
"Saudara Tu, congpiaupacu kalian benar-benar tidak
memberi muka kepada siaute," katanya, "mengapa kalian tak
mengirim undangan kepada siauto untuk turud menghadiri
pesta perkawinan yang begini meriahnya ini ?"
Tu-tiong-peng segera tertawa setelah mendengar ucapan
itu.
"Im tayhiap banyak urusan dan seorang yang terhormat
karena itu Lamkiong-heng tak berani menganggu Im tayhiap
serta mengirim surat undangan bagimu......, tapi setelah Im
tayhiap datang, hal ini benar benar merupakan suatu
keberuatungan bagi perkampungan kami....."
Tiba-tiba sastrawan setengah umur itu tertawa dingin.
"Mana, mana....saudara Tu, mana Lamkiong ?"
Tu tiong-peng terseuyum, baru saja akan menjawab, dari
dalam perkampungan telah muncul seseorang berseru
dengan suara latang:
"Im-heng, siaute telah datang ...."
Bayangan manusia berkelebat lewat dan balik pintu
perkampuagan, sambil tertawa tergelak orang itu berseru lagi:
"Saudara Im, bila siaute Lamkiong Ceng terlambat
menyambutmu, harap saudara Im sudi memaafkan!"
Tampaknya Lamkioug Ceng telah datang menyambut
sendiri kedatangan orang itu.
Paras muka sastrawam setengah umur itu berubah agak
membaik, katanya sambil tertawa
"Saudara Lamkiong, begini baru memberi muka kepada
siaute!"
Lamkiong Ceng tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh....haaahhh......haaahhh..... teguran saurara Im
memang tepat sekali, siauwto mengaku salah! Silahkan,
silahkan, silahkan, saudara Im turun dari kuda dan turut siauw
termasuk kedalam, bagaimana kalau aku di hukum minum tiga
cawan arak?"
Setelah berhenti sejenak, kepada Tu-tiong peng katanya
lagi :
"Saudara Tu, bagaimana kalau apak buah saudara Im biar
di jamu oleh saudara Tu?"
Buru buru Tu-tiong-peng membungkukkan badan sambil
mengiakan:
"Baik, hamba akan turut perintah!"
Dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri
rombongan manusia berkuda itu.
Tapi sastrawan setengah umur itu tidak turun dari kuda,
mendengar perkataan itu dia tertawa hambar.
"Tunggu sebentar saudara Lamkiong, siaute telah
membawa sebuah hadiah untukmu, harap saudara Lamkiong
jangan mentertawakan ....."
Sesudah berhenti sebentar, tiba tiba dia berpaling sambil
berseru dengan antang:
"Bawa kemari hadiahnya!"
"Diiringi suara ringkikan kuda yang amat keras,s egera
nampak enam ekor kuda putih memunculkan diri dan melewati
semua orang.
Lelaki lelaki yang duduk di atas kuda tersebut, masingmasing
membawa sebuah peti besi yang luasnya dua depa.
Lamgkiong Ceng segera berkerut kening, lalu ujarnya
sambil tertawa:
"Aaaah.... Kurang baik kalau saudara Im mesti membuang
banyak uang untuk kami!"
Sastrawan setengah umur itu tersenyum.
"Tak usah sungkan, barang barang itu tak ada harganya,
hanya turut menyemarakkan suasana saja."
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan:
Perlukah peti peti itu di buka dan periksa isinya ?"
Cepat Lamkiong Ceng menggeleng.
"Hadiah dari saudara Im kubuka dan kunikmati nanti saja,
sadara Im ! Silahkan turun dari kuda dan masuk ke dalam
ruangan!"
Sastrawan setengah umur itu tertawa hambar, dengan
suatu gerakan ringan ia melompat turun ke atas tanah.
Seorang anggota perkampungan segera maju ke depan
siap menuntun kuda tunggangannya.
Mendadak sastrawan setengah umur itu menggoyangkan
tangannya sambil menukas :
"Tak usah repot-repot, anak buahku bisa mengurusi kuda
itu sendiri....
Sementara sastrawan setengah umur itu masih bicara, dari
barisan kuda putih telah muncu dua orang lelaki yang segera
menerim tali les kuda emas tersebut dari tangan anggota
perkampungan.
Lamkiong ceng yang menyaksikan kejadian tersebut,
kembali merasakan hatinya bergetar keras, akan tetapi diapun
tidak memberi komentar apa-apa, hanya ujarnya sambil
mempersilahkan tamunya masuk.
"Saudara Im, silahkan masuk kedalam."
Dengan angkuh dan langkah lebar sastrawan setengah
umur itu menuju kepintu perkampunan.
Sedang Lamkiong Ceng mendampingi disisinya.
Setelah melalui ruang tengah, dia langsung berjalan
menuju kemeja yang ditempati tuan rumah.
Sikap sombong dan terkebur dari sastrawan setengah umur
yang sama sekali tak pandang sebelah mata terhadap orang
lain ini dengan cepat menimblkan kesan jelek bagi
kebanyakan tamu dalam ruangan, sebagian besar diantaranya
segera berkerut kenning dan diam diam mendengus dingin.
Namun, tampaknya sastrawan setengah umur itu
mempunyai nama dan kedudukan yang tinggi. Buktinya
kendatipun begitu banyak orang merasa tak puas dengan
sikapnya, namun mereka hanya berani marah dalam hati dan
tak berani mengutarakannya secara terus terang.
Sebaliknya sahabat-sahabat dari golngan Liok-lim yang
berada diluar ruangan, saat itu sudah menjadi gempar, ratarata
mereka merasa hatinya amat terperanjat.
"Aaaah, rupanya dia? Im Tiong-hok?"
"Oooh dia, Thian-be kim ciong (kuda langit tombak emas)?
"Jadi dialah Liok-lim-pacu dari tujuh propinsi di selatan
sungai besar ?"
Aaaah, kenapa diapun datang ......"
Suara bisikan, helaan napas, jeritan kaget dalam waktu
singkat berkumandang dari empat arah delapan penjuru.
Hampir setiap anggota Liok-lim mengenali dia, karena
orang itu adalah Kuda langit tombak emas Im-tiong-hok yang
angkat nama bersama-sama. Pia-kim-kong-thi-wankek
(raksasa penyakitan tau bertangan baja).
Selain itu, diapun mempunyai nama yang jauh lebih
termashur daripada Lamkiong Cong sendiri.
Sebab dia mempunyai ambisi untuk menyatukan seluruk
Liok tim, memiliki kemampuan untuk melaksanakan citacitanya
itu.
Lantas, mengapa ia datang kemari ? Mengapa ia takut
datang kesana...?
Benarkan tujuannya kesitu hanya untuk menghadiri pesta
perkawinan sambil menyampaikan selamat ?
Atau mungkin maksud tujuan dari kedatangan tamu ini
bukan hanya untuk menyampaikan "selamat" saja?
Setiap anggota Liok-lim mauun jago silat lainnya yang
tertinggal dienam propinsi sebelah utara sungai besar mulai
memeras otak sambil memikirkan masalah tersebut.
Dalam pada itu, sastrawan setengah umur itu sudah
mengambil tempat duduk disisi tuan rumah.
Tampaknya terhadap kakek pemutus usus pelenyap hati
Hai Lok serta Jian-li-hu-siu Leng Siau-leng pun dia tak
menaruh muka barang sedikitpun, tanpa mengucapkan
sepatah katapun, begitu duduk ia lantas meneguk arak
dengan lahap.
Setelah tiga cawan arak perpindah perut, dia baru berkata
kepada Lam kiong ceng sambil tertawa :
"Saudara Lamkiong, aku telah datang terlambar maka
sudah sepantasku dihukum tida cawan arak,"
Setelah berhenti sesaat, sinar matanya segera dialihkan ke
wajah pengantin perempuan Leng Lin-lin serta ditatapnya
lekat-lekat, lalu melanjutkan :
"Mari, mari, mari, biar siaute menghormati saudara
Lamkiong dan enso dengan secawan arak pula."
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... terima kasih
saudara Im !" Lamgkiong Ceng tertawa tergelak.
Setelah ketiga orang itu menegak arak, tiba-tiba Im Tionghok
berkata lagi sambil tertawa:
"Saudara Lamkiong, mengapa kau tidak membuka hadiah
dari siaute agar enso pun bisa turut menyaksikan ?"
"Kado dari saudara Im pasti barang yang luar biasa sudah
sepantasnya kalau dibuka di depan umum !"
Dia lantas menitahkan orang untuk menggotong masuk
keenam buah peti besi itu.
Oh Put-kui yang menyaksikan peristiwa itu, segera berkata
dengan kening berkerut :
"Siau tua, tindak tanduk sastrawan ini aneh sekali !"
"Anak muda, orang itu bernama Im Tiong-hok. Dia adalah
Liok-lim Pacu dari tujuh propinsi di selatan sungai besar,
ambisinya sangat besar. Selama ini dia selalu bercita-cita
untuk menyatukan seluruh Liok lim, aku lihat kedatangannya
hari ini tidak bermaksud baik."
"Lelihay-lihaynya seseorang, tak mungkin dia berani
mendatangi markas musuh dengan begitu saja. Kendatipun
dia bernyali besar, masa orang itu berani bertindak nekad?".
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... bocah muda, kau
terlalu memandang enteng orang ini, tahukah kau dia itu murid
siapa ?"
"Boanpwe belum pernah mendengarnya."
"Kau pernah mendengar tentang tida dewa dari luar
angkasa ?"
"Oooh... kau maksudkan Han-san-ya-ceng, we pernah
mendengar nama mereka dari Thian-liong susiok . . . . .,"
Siau lojin segera tertawa.
"Nah, itulah dia, boocah itu murid mereka bertiga," serunya.
"Ooooh....." Oh Put Kui segera tertawa lirih, "tak heran
kalau orang itu sombongnya bukan kepalang, sampai sampai
Hui Lok pun tidak diberi muka,"
"Bocah muda, kendatipun Im Tiong-hok orangnya sombong
dan rada, jumawa, tapi dia adalah seorang lelaki sejati yang
berhati lurus, seandainya kau ingin mencari teman, manusia
macam Im Tiong-hok itulah rekan yang sejati !"
"Akan boanpwe ingat nasehatmu itu," Oh Put Kui
tersenyum.
Sementara itu Lam-kiong Ceng sudah menuju keruang
tengah dan membuka salah satu diantara peti-peti besi
tersebut.
Biasanya jika peti dibuka maka akan terpancar keluar sinar
gemerlapan yang menyilaukan mata, sebab isi peti besi pada
umumnya adalah intan permata dan mutu umumnya adalah
intan permata dan mutu manikam yang tak terlukiskan
harganya.
Tapi kenyataannya sekarang tidaklah demikian.
Begitu tutup peti besi itu dibuka, senyuman yang semula
menghiasi wajah Lamkiong Ceng seketika berubah menjadi
kaku, kemudian dengan perasaan ngeri mundur selangkah.
Selang sesaat kemudian dia baru menuding kearah Im
Tiong hong-hok sambil membentuk:
"Saudara Im, apa maksudmu?"
Semua jago ikut tertegun oleh sikap tuan rumah, tanpa
terasa semua orang turut melongok kedalam peti besi itu.
Apa yang terlihat ? Ternyata isinya adalah sebutir batok
kepala manusia .... ! Kepala manusia yang masih
berbelepotan darah.
Tak heran kalau Lamkong Ceng dibuat terkejut dan
marahnya bukan kepalang.
Im Tiong-hok masih tetap bersikap tenang malah sekulum
senyman segera menghiasi ujung bibirnya.
"Saudara Lamkiong, apakah kau merasa hadiah kepala
manusiaku ini kuran gmemadahi? Siaute ras intan permata tak
ebih hanya merupakan benda sampingan, hanya nyawa
manusialah baru merupakan hadiah yang benar sangar
berharga, itulah sebabnya siaute telah bekerja keran untuk
mencari enam butir kepala manusia dan dipakai sebagai kado
bagimu."
Paras muka Lamkiong Ceng telah berubah menjadi amat
tak sedap dipandang, terdengar ia berseru lagi dengan suara
dalam:
"Saudara Im. Tahukh kau batok kepala siapakah itu ?"
Im Tiong-ho-tertawa.
"Batok itu adalah kado yang siaute bawa, sudah barang
tentu siaute mengetahuinya."
"Batok kepala siapakah itu ?"
"Yang kau saksikan sekarang adalah batokl kepala dari
Pat-pit-na-cha (Na Cha berlengan delapan) Ki-tiong"!
Mendengar tersebut, hampir saja Lamkiong Ceng
melompat bangun saking terperanjatnya.
Sementara itu para jago liok-lim dari enam propinsi di utara
sungai besar telah melompat bangun dan sama-sama
menunjukkan kemarahan yang berkobar-kobat.
"Im Tiong hok. Tahukah kau Ki Tiong itu aak buah siapa?"
bbentuk Lamkiong Ceng lagi dengan suara menggeledak.
Im Tiong-hok kembali tertawa.
"Bukankah dia adalah anak buah saudara Lamkiong,
pemimpin dari enam toa-cycu lainnya?"
"Heeehhh....heeehhh.... heeehhh..... jika saudara Im sudah
tahu, hal ini lebih baik lagi." Seru Lamkiong ceng sambil
tertawa seram.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan
perasaan terkesiap teriaknya lagi:
"Im Tion-hok, apakah isi dalam ke lima buah peti lainnya
juga batok kepala manusia ?"
"Tepat sekali !"
"Siapakah kelima orang itu ?" bentak Lam-kiong Ceng
marah.
Im Tiong-hok tertawa terbahak-bahak, dia mengeluarkan
secarik kertas putih dan pelan-pelan dibaca :
"menurut urutan yang tercantum dikertas ini, mereka adalah
Bian-ciang "pukulan lembek" Ban Sun, Thi-sim kian "pedang
hati baja" baja" Teng Beng-hui, Jit-hay-kim-ciau "ular emas
"toya tiga unsur" Sian Cun kun serta Cu-bu-teng "paku siang
ma'mum" Li Toa khi !"
Setiap kali Im Tiong-hok menyebut nama satu orang.
Lamkiong Ceng segera mendengus satu kali.
Sebaliknya para jago Liok-lim yang berkumpul diluar
ruangan sama-sama bermandikan keringat dingin.
Tatkala Im tiong-hok selesai membaca nama dari kelima
orang itu, Lamkiong Ceng sudah ber kaok-kaok karena
kegusaran.
Sebaliknya para jag yang tergabung di bawah pimpinan
Lamkiong Ceng berdiri dengan hati kebar kebit. Peluh hampir
membasahi seluruh pakaian yang mereka kenakan.
Im-tiong-hok memandang sekejap kearah Lamkiong Ceng,
lalu ujarnya sambil tertawa.
"Saudara Lamkiong, bukankah kado siaute ini luar biasa
bagusnya? Betul bukan?
"Im-tiong-hok," teriak Lamkiong Ceng sambil menggigit
bibirnya kencang-kencang, "tampaknya kau sudah merasa
bosan didunia ini, mama ingin mencari mampus saja......."
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Lamkiong,
dapatkah kau menunggu sebentar lagi sebelum kau teruskan
marah-marahmu itu ?.
Waktu itu kemarahan Lamkiong Ceng telah membuat
kesadarannya hampir saja punah, mendengar perkataan
tersebut, dia segera berteriak keras.
"Kentut busuk!"
Im-tiong-hok berkerut kening, dia lantas berpaling ke arah
Leng Lin-lin dan melanjutkan:
"Enso baru, bersediakah kau membujuknya agar jangan
marah dulu ? Perkataan siaute, bersediakah kau
membujuknya agar jangan marah dulu ? Perkataan siaute
belum habis diucapkan!"
Mendengar perkataan itu, Leng Lin-liu berpaling dan
memandang sekejap kearah ayahnya.
Leng Siau-thian segera manggut-manggut tanda setuju.
Setelah memperoleh persetujuan dari ayahnya. Leng Lin-lin
baru maju menghampiri Lamkiong Ceng seraya membujuk :
"Engkoh Ceng, mengapa kau mesti marah marah ? Biarlah
dia menyelesaikan perkataannya lebih dulu!"
Lamkiong Ceng hanya mendelik besar, sepatah karapun
tidak diucapkan ........
Tampaknya kematian dar enam orang Toa cay-cu anak
buahnya telah membuat orang ini sewot dan darah tinggi.
Im-tiong-hok masih tetap tersenyum simpul, pelan pelan dia
berkata:
"Saudara Lamkong, orang persilatan mengutamakan soa
kesetiaan kawan, untuk mencegah agar saudara jangan
sampai tertimpa musibah yang tidak diinginkan maka situate
membantu mu untuk membinasakan manusia manusia laknat
tersebut, kemudian menggunakan batok kepala laknat laknat
tadi sebagai kado perkawinanmu, buat apa saudara Lamkiong
malah marah marah kepadaku ?"
Ucapan itu diutarakan dengan santai dan seenaknya,
seakan-akan keenam orang yang dibunuhnya itu adalah
pengkhianat-pengkhianat yang hendak merugikan Lamkiong
Ceng, sedang dia turun tangan membantu Lamkiong Ceng
demi keadilan.
Meski sedang marah besar, namun Lamkiong Cang dapat
mendengar semua perkataan lawan dengan jelas.
Dengan gemas dan penuh kebencian dia lantar berteiak :
"Ki Tiong, Ban-sun sekalian enam saudara adalah anak
buahku, kejahatan yang mereka lakukan sudah sepantasnya
kalau di hukum olehku sendiri. Atas dasar apa kau
mencampuri urusan ini dan membinasakan mereka ?"
Im Tiong-hok tertawa.
"Aku hanya merasa tak puas oleh perbuatan mereka
sehingga membantumu atas dasar keadilan, apalagi antara
saudara Lamkiong dengan siaute mempunyai tugas yang
sama, yakni menjadi congpiaupacu dari orang-orang Liok-lim
utara dan selatan sungai besar. Kini siaute Lamkiong telah
melakukan kejahatan, bila siaute Cuma berpeluk tangan
belaka, bukankah hal ini menunjukkan kalau siaute Cuma
berpeluk tangan belaka, bukankah hal ini menunjukkan kalau
siaute tidak bersahabat ?"
Perkataan itu memang masuk di akal dan bisa diterima
dengan akal sehat setiap orang. Akan tetapi Lamkiong Ceng
makin lama merasa semakin tak sedap, akhirnya karena tak
tahan lagi diapun membentuk :
"Im Tiong-hok, kau benar-benar keterlaluan, kau
membuatku kehilangan muka saja !"
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh.....benarkah begitu ?"
Im Tiong-hok tertawa tergelak.
Lamkiong Ceng tertawa seram,.
"Im-tiong-hok, kau jangan menganggap dirimu sebagai
orang baik, baik atau buruknya caycu anak buahku, masa aku
orang she Lamkiong tidak lebih mengerti daripada dirimu?
Kemudian setelah melotot sekejap Wajah musuhnya, dia
melanjutkan :
"Ada separuh diantara saudara-saudara dari ke enam
benteng tersebut hadir disini sekarang, aku yakin mereka pasti
marah sekali setelah menyaksikan caycu mereka mati
ditanganmu, apakah kau tidak kuatir mereka akan mencari
balas kepadamu ?"
"Benar-benar suatu kejadian aneh !" seru Oh Put Kui
sambil tertawa geli setelah mengikuti pembicaraan mana, "aku
tak menyangka kalau Lamkiong Ceng yang berperawakan
tinggi besar dan kekar, ternyata tak lebih dari tikus bernyali
kecil yang tak berkemampuan apa-apa ....!"
"Yaa, itulah yang dinamakan anggota badan berkembang
besar, otaknya Cuma berisi kotoran manusia...." Sambung
Pengemis sinting sambil tertawa:
"Saudara Lamkiong, apakah kau hendak menyuruh anak
buah mereka untuk membalas dendam?"
Lamkiong Ceng segera tertawa tergelak.
"Aku orang she Lamkiong tak sampai berbuat demikian . . .
. . . ."
Belum habis dia berkata, puluhan orang jago Liok-lim yang
berada diluar ruangan telah bangkit berdiri.
"Kembalikan nyawa caycu kami ....."
"Benar, kita harus menuntut kembali nyawa dari Caycu kita
. . . . ."
"Siapa membunuh orang dia harus memyambar dengan
nyawa sendiri . . . ."
"Orang she Im, locu akan beradu jiwa denganmu...."
Untuk sesaat suasana diluar ruangnn menjadi sangat
gaduh, masing-masing oratg berteriak mengutarakan
kemarahannya.
Mencorong sinar tajam dan batik mata Im-tiong-hok,
serunya kernudian sesudah tertawa terbahak-bahak.
"Haahhh...haaahhh ... haaahhh.. nampaknya kalian penurut
sekali...."
Kemudian setelah berhenti tertawa, lanjutnya mendadak
dengan setengah membentak :
"Caycu kalian mati ditangan aku orang she Im, jika kalian
ingin membalas dendam, aku orang she Im akan menanti
kedatangan kalian disini ! Paling baik lagi jika kalian maju
bersama sama. sebab aku orang she Im tak ingin repot repot.
Suatu ucapan yang amat tegas, amat gagah dan penuh
mengandung hawa pembunuhai yang bisa menggetarkan
sukma,
Para jago Liok-lim yang semula membuat kegaduhan
dengan teriak-teriakannya, kini berdiri kaku di tempat semula.
Ternyata tak seorang manusiapun di antara mereka yang
berani berkutik.
Bagaimanapun juga nama besar Im Tionghok memang
cukup berwibawa. Orang tahu bahwa pimpinan kaum Liok-lim
dari selatan sungai besar ini memiliki kepandaian silat yang
sangat tangguh.
Selain daripada itu, merekapun cukup tahu sampai di
manakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Cay-cu mereka.
Kalau Cay-cu mereka saja kena terbunuh hal ini
membuktikan kalau kepandaian lawan masih jauh diatas
kepandaian caycu mereka, lantas bagaimana kalau
dibandingkan diri sendiri ?
Seandainya ilmu silang mereka hebat, keadaan masih
mendingan, tapi nyatanya untuk menjadi seorang Cay-cu saja
tak mampu, apalagi melebihi kepandaian cay-cu mereka ?
Lamkiong Cong mengerutkan dahinya rapat-rapat, dengan
perasaan terkejut segera pikirnya :
"Sialan amat kawanan kantong nasi itu !"
Tatkala Im Tiong-hok menyaksikan kawan kawan liok-lim
yang berkumpul di luar ruangan tiada yang maju, mendadak ia
melompat bangun, kemudian angkat kepala dan tertawa
berbahak-bahak, katanya sambil mengangkat cawan arak :
"Siaute merasa gembira sekali gembira sekalikarena kalian
mengetahui keadaan sendiri sendiri ! Hari ini merupakan hari
pernikahan dari pimpinan kalian, kalau tidak sampai terjadi
pertumpahan darah, hal ini memang jauh lebih baik, mari, mari
.... Siaute akan menghormati secawan arak untuk kalian
semua....."
Selesai meneguk habis isi cawan tersebut dia mengalihkan
kembali sorot matanya ke wajah Lamkiong ceng, kemudian
melanjutkan :
"Saudara Lamkiong kau sudah sepantasnya mulai
membenahi anak buahmu, sebab belakanga ini orang orang
Liok-lim dari utara sungai besar sudah kelewat banyak
melakukan perbuatan perbuatan yang memaluan."
Hawa amarah yang ditahan dan ditekan selama ini didalam
dada Lamkiong Ceng, akhirnya meledak juga.
Dia melolot besar lalu membentuk keras:
"Im Tiong-hok! Aku orang she Lamkiong akan beradu jiwa
denganmu!"
Ooo.... Mau beradu kekerasan?" seru Im Tiong-hok sambil
tertawa hambar.
Ketenangan orang sungguh mengagumkan, seakan
gawatnya situasi sama sekali tidak mempengaruhi dirinya.
Semakin dipikir Lamkiong Ceng merasa makin gusar.
Gelak tertawanya juga makin lama semakin keras.
"Saudara Lamkoing, jadi kau menginginkan siaute bersama
segenap saudara dari tujuh propinsi di utara sama sama
takluk dan menerima perintahmu ?"
Dalam dusar dan mendongkolnya. Lamkiong Ceng hanya
tahu mengumbar amarahnya saja, pada hakekatnya ia tidak
memikirkan lebih jauh makna yang sesungguhnya dari
perkataan lawan.
Sambil melepaskan ubah penggantiannya yang berwarna
merah, dia berseru lagi sambil tertawa seram:
"Benar aku orang she Lamkiong ingin kau mendendarkan
perkataanku ....!"
Mendengar ucapan mana, Im-tiong-ho segera tertawa
terbahak-bahak.
Kemdian selesai tertawa dia menjura kepada semua jago
yang hadir disana dan serunya dengan lantang :
"Saudara sekalian, barusan kalian telah mendengar dan
menyaksikan sendiri, Lamkiong congpiau pacu telah
mengutarakan maksud hatinya. Dia menginginkan sahabatsahabat
Liok-lim dari tujuh propinsi di selatan pimpinanku
menyatakan menyerah kepada-Nya...."
"Suatu cara yang hebat!" puji Oh Put Kui sambil tersenyum.
"Jangan lupa dia murid siapa!" sambng Siau Lojin
tersenyum.
Dalam pada itu, Im-tiong-hok sudah berkata lagi setelah
berhenti sebenar:
"Meskipun aku orang she Im tidak mempunyai jasa apaapa,
namun aku percaya, semenjak menjabat sebagai.
Bengcu dari sahabat sahabat Liok-lim dari tujuh propinsi di
selatan sungi besar, belum pernah satu kalipun kukalipun
kulakukan perbuatan yang tidak setia kawan, tapi hari ini
Lamkiong Ceng telah memaksakan niatnya untuk
mengangkangi kedudukan orang serta menguasai para
sahabat Liok-lim di selatan sungai besar, hal ini jelas
merupakan suatu perbuatan yang terkutuk. Untuk membela
diri, terpaksa aku orang she Im harus mempertaruhkan jiwa
ragaku untuk bertarung sampai titik darah penghabisan
dengan Lamkiong ceng!"
Selesai berkata dia lantas melejit ketengah udara,
kemudian bagiakan seekor burung walet melayang ketengah
ruangan.
Setelah memasang kuda-kuda, kembali ejeknya:
"Saudara Lamiong, apakah kau tidak merasa bahwa
bertarung dengan siaute hanya akan mengganggu waktumu
untuk bermesraan dengan pengantin perempuan ?"
Sudah menantang, mengejek lagi, betul-betul sebuah
ucapan yang menusuk telak perasaan Lamkiong Ceng.
Tak heran kalau Lamkiong Ceng menjadi naik darah,
dengan mata melotot muka memerah dan wajah menyeringai,
bentaknya keras-keras :
"Kentut, kentut busuk ! Bajingan she Im, serahkan nyawa
anjingnya itu ......"
Langkah kirinya ditekuk, telapak tangan kanannya segera
menydok kemuka melancarkan sebuah pukulan.
"Engkoh Ceng...," jerit Leng-lin lin mendadak.
Jangan dilihat Lamkiong Ceng memiliki perawakan badan
yang tinggi besar, ternyata gerak geriknya cukup cekatan.
Baru saja Leng-lin-lin berseru, dia sudah menarik kembali
seranganya sambil melompat mundur.
"Ada apa ? Kau tak usah mengurusi diriku!" tegurnya
dengan kening berkerut.
"Engkoh Ceng, tidak dapatkah kau bersabar diri?" bisik
Leng-lin lin dengan wajah tersipu.
"Apakah kau sudah lupa hari ini adalah ...." Bagaimanapun
juga, memang sulit buat seorang gadis mengutarakan isi
hatinya dihadapan beribu pasang mata orang. Sebab itu dia
lantas menundukkan kepalanya rendah-rendah dan tak
mampu melanjutkan lagi kata-katanya.
Mungkin saja Lamkong Ceng tak sampai berpikir kesitu,
karena Im Tiong-hok benar-benar sudah membuatnya amat
marah sehingga pikirannya amat kalut.
"Dia kelewat menghina orang, aku bertekat hendak beradu
jiwa dengarnya...." Demikian dia berseru, "adik Lin, harap kau
menyingkir dulu, sesuai pertarungan ini aku pasti akan
meminta maaf kepadamu !"
"Benar." Im Tiong-hok segera menyambung sambil tertawa,
"memang sepantasnya minta maaf, Cuma menurut siaute,
lebih baik saudara Lamkiong minta maaf sekarang saja,
takutnya kalau nanti sudah tak ada kesempatan lagi,"
Lamkiong Ceng yang sudah marah, semakin mencak
mencak kegusaran sehabis mendengar perkataan itu, ucapan
mana terlalu menghina dalam penilainnya seakan-akan dia
sudah tiada harapan lagi untuk memetahankan hidupnya.
"Im Tiong-hk, perkampungan Siu-ning-ceng adalah tempat
untuk mengubur tulang belulangnya....!" Jeritnya mendekati
kalap.
Rupanya Lamkiong Ceng sudah bertekad berada jiwa,
namun Im Tiong hok enggan untuk berbuat demikian.
Meskipun dia tidak memberi ampun pada lawannya dengan
ucapan-ucapan yang tak sedap di dalam kenyataan tidak
begitu dengan hatinya.
Sambil tersenyum dia menggelengkan kepalanya berulang
kali, ujarnya pelan :
"Saudara Lamkiong, aku lihat saat ini masih belum sampai
waktunya bagi kita untuk beradu jiwa."
"Siapa bilang begitu ?" tukas Lamkiong Ceng gusar,
"pokoknya hari ini kalu kau tidak mampus, akulah yang binasa
!"
"Saudara Lamkiong," Im Tiong-hok kembali tertawa seraya
berkrut kening, "tampaknya pertarungan kita ini sudah tak bisa
dihindari lagi...."
"Sejak tadi kau sudah berada dalam sebuah sangkar yang
kuat, kau anggap pertarugan ini masih bisa dihindari ?
"Heeehhh....heeehhh.... heeehhh..... betul-betul omong
kosong !"
"Mungkin saja siaute benar-benar berada dalam sarang
harimau," ujar Im Tiong-hok sambil tertawa hambar, "Tapi,
kendatipun siaute sulit untuk meloloskan diri dari kematian
seperti apa yang kau katakan, sebelumnya aku hendak
menerangkandulu persoalan ini sampai jelas,"
"Baiklah," Lamkiong Ceng tertawa dingin.
Im Tiang-hok tertawa katanya:
"Soal mati hidup leih baik jangan kita bicarakan, sebaliknya
soal kesempatan buat menang atau kalah ada baiknya
dijadikan bahan taruhan, entah bagaimana menurut pendapat
saudara Lamkiong ?"
Kegemaran Lamkiong Ceng sepanjang hidupnya adalah
"bertaruh," tak heran jika hawa amarahnya mereda separuh
setelah mendengar soal peraturan tersebut.
"Baik," katanya kemudian "saudara Im hendak
mempertaruhkan soal apa?"
Sekulum senyuman kembali menghiasi ujung bibirnya.
Diam-diam Im Tiong-hok merasa terperanjat. Dia tak
menduga musuhnya yang sudah hampir kalap tiba-tiba jadi
sadar lagi setelah mendengar tentang pertarungan.
"Aku tahu saudara Lamkiong adalah seorang jado yang
sosial dan suka menolong sesamanya. Sedang siaute pun
bukan seorang manusia yang mempunyai modal besar, oleh
sebab itu bagaimana seandainya wilayah kekuasaan dari
seorang Lik-lim bengcu yang kita jadikan barang taruhannya
?"
Jelas sudah, peraturan tersebut bukan pertaruhan kecilkecilan
lagi namanya.
Bayangan saja wilayah seluas tujuh propsi bukan suatu
daerah yang kecil, berapa nilainya ? Mungkin tak seorang
manusiapun yang bisa menghitungnya.
Apalagi masih ditambah lagi dengan kedudukan sebagai
seorang Liok-lin Bengcu yang menguasai seluruh wilayah
daratan Tionggoan?"
Kontan saja Lamkiong Ceng tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... suatu pertaruhan
yang hebat, benar-benar suatu pertaruhan yang mantap,
begitu baru mantap rasa hatiku !"
"Jadi saudara Lamkiong setuju ?" tanya Im Tiong-huk
sambil tertawa pula.
"Peratutan ini merupakansuaru pertaruan besar masa
siaute tidak menyetujuinya ?"
"Suatu ucapan yang tepat sekali ! Bag sadara Lamkiong,
kalau toh kita telah setuju untuk bertaruh maka beberapa
peraturan harus dibicarakan pula, menurut saudara Lamkiong,
batasan batasan macam apakah yang wajib kita terapkan ?"
000000000
"Aku pikir tak usah memakai peraturan atau batasan
batasan lagi, pokoknya siapa yang berhasil merobohkan
lawannya, dialah yang berhasil unggul, kata Lamkiong Ceng.
"Lagi lagi suatu perkataan yang gagah sebetulnya siaute
tak berani menampik Cuma aku pikir ucapanmu itu kurang
seng dihati, siaute rasa sewajarnya kalau kita memuat berapa
macam peraturan"
"Peraturan yang bagaimana "Lamkiong Ceng tertegun,
"Apakah...."
"Siaute rasa, pertama kita harus mencari seseorang juri !
"Emmm, memang perlu,"
"Kedua, kita harus membatasi berapa jurus serangan yang
boleh kita perrunakan ?"
"Berapa ?"
"Berbicara menurut tingkat kedudukanmu, rasanya seratus
juruspun sudah cukup!"
"Berbicara menurut tingkat kedudukanmu, rasanya seratus
juruspun sudah cukup!"
"Baik, kalau begitu kita tetapkan dengan seratus jurus
saja,"
"Ketiga....."
"Masih ada ketiga lagi " teriak Lamkiong Ceng.
"Ketiga, meang kalah hanya boleh diputuskan dengan
saling menowel belaka."
"Saling menowel?" Lamkiong Ceng berkerut kuning, "aku
rasa, hal ini kurang cocok,"
"Oooh, jadi saudara Lamkiong lebih suka suatu pertarngan
beradu jiwa ?"
"Tentu saja, toh keenam jiwa manusia itu tak boleh
dikorbankan dengan begitu saja,"
"Apakah saudara Lamkiong menganggap kau miliki
keyakinan untuk menangkan pertarungan ini ?"
Lamkiong Ceng segera angkat kepala dan memandang
sekejap kearah Im Tiong-hok, mendadak hatinya merasa
terkesiap.
Ia menemukan bahwa sikap Im Tiong-hok meyakinkan, ia
tetap santai, tenang seakan akan tak ada yang ditakutkan,
belum lagi pertarungan dimulai, ia sudah jelaskanlah dalam
mental. Kalau dibilang ia memiliki keyakinan untuk
merobohkan lawan, rasanya hal ini mustahil .....
Akan tetapi kalau pertaurangan hanya dibatasi seratus
jurus dan terbatas saling menowel belaka, mungkin juga dia
masih bisa memaksanakan suatu kemenangan lewan
pertarungan adu jiwa.
Berpikir sampai disitu, dia lantas menyahut:
"Baiklah, kita hanya boleh saling menowel saja,"
Setelah berhenti sejenak, mendadak sambungnya sambil
tertawa nyaring :
"Saudara Im, bolehkah aku menambahkan dengan sebuah
syarat lagi ....?"
"Tentu saja boleh !"
"Pihak yang kalah bukan saja harus menghormati pihak
yang menang sebagai Liok-lim bengcu, bahkan dia pun
bersdia menjadi tangan kanan pihak yang menang, entah
bagaimana menurut pendapatmu ?"
"Siapa setuju sekali!" seru Im Tiong-hokp sesudah berhenti
sebentar, dia bertepuk tangan lagi dan melanjutkan sambil
tertawa :
"Seandainya saudara Lamkiong dapat menangkap siaute
dan aku bisa menjadi pembantu dirimu, kejadian ini benarbenar
merupakan suatu keberuntungan buat aku orang she
Im."
Ucapan yang bernada mengumpak ini memang gampang
sekali membuat orang merasa bangga dan lupa diri.
Salah seorang diantaranya adalah Lamkiong Ceng sendiri,
dia nampak berseri karena bangga.
Lalu sambil tertawa berbahak bahak serunya :
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... tidak berani ! Tidak
berani ! Seandainya siaute yang mendampingi saudara Im.
Sahabat Liok lim pasti akan merasa bahagia, jauh melebihi
sewaktu siaute yang memegang tampuk pimpinan seorang
diri,"
Oh Put Kui yang menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam
hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.
Ia merasa kedua orang itu sama-sama tangguh dan samasama
lihaynya, kalau yang sat memiliki kelicikan yang
melebihi samudra, maka yang lain jujur dan terbuka seperti
alam jagad.
Oh Put Kui mengerti, maka hakekatnya meski pertarungan
tak usah dilangsungkan, menang kalah sudah kentara sekali.
Kecuali Im Tiong-hok yang berpura-ura saja didalam
sikapnya tadi, kalau tidak makan sepuluh orang Lamkiong
Ceng pun tak akan berhasil menangka dia.
Sementara dia masih berpikir. Im Tiong-hok telah berjalan
menuju kearah tempat duduknya.
Dengan pemandangan tercengang Oh Put Kui memandang
sekejap kearah Im Tiong-hot.....
Akan tetapi Im Tiong-hong sama sekali tidak menaruh
perhatian kepadanya, dia hanya menjuarai kepada Liam-simkui
siu (kakek setan berhati cacad) Siau Ln dan berkata
dengan sikap amat hormat :
Boanpwe sangat berharap agar Siau Lcianpwe berseid
menjadi juri untuk pertaruhan kami ini !"
"Tidak bisa," tampik Jian-sim-kui-siu dengan kening
berkerut. "Selama hidup lohu paling takut kalau dijadikan
seorang juri, sebab kalau kurang berhati-hati bisa
mendatangkan resik buat diri sendiri, apalagi kalai
penilaiannya dianggap kurang jujur, waaah ...... bisa-bisa
nyawa turun melayang."
@oodwoo@
Jilid : 15
OH PUT KUI merasa geli sekali sesudah mendengar
perkataan itu, hampir saja meledak gelak tertawanya.
Dia tak menyangka kalau gembong iblis tua inipun pandai
sekali menggona orang.
Im Tiong hok kelihatan agak tertegus, kemudian serunya
lagi :
"Siau tua, disini hanya kau seorang yang sanggup!"
Sebenarnya dia hendak mengatakan begini:
"Hanya kau seorang yang pantas menjadi juri untuk
pertaruhan kami," tapi secara tiba-tiba ia teringat kalau ke lima
orang ciangbunjin dari lima partai besarpun turut hadir disana,
maka terpaksa ucapan mana ditarik kembali mentah-mentah.
Dia tak ingin gara-gara salah ucapan berakibat kemarahan
dari para diangbunjin dari lima partai besr itu, sebab hal mana
Cuma akan mendatangkan kerugian saja bagi dirinya.
Dari sikapnya ini bisa disimpulkan pula kalau orang ini amat
teliti dan berhati-hati dalam setiap tindakannya.
Siau lojin tetap menggelengkan kepalanya seraya berkata :
"Bocah muda, lohu enggan menjadi juri ... Cuma lohu bisa
memilihkan penggantinya dengan tepat, biar dia saja yang
mewakili lohu dalam menengahi masalah ini !"
Mendengar ucapan terebut, Im Tiong-hok segera berseru
sambil tertawa lebar :
"Jika kau orang tua yang pilihkan, hal ini pasti tak bakal
salah lagi...."
Siau lojin tersenyum, dia segera berpaling ke arah Oh Putkui
sambil bertanya :
"Hei bocah muda. Tolong merepotkan kau sebentar !"
"Aku ?" Oh Put-kui tertawa geli, "memangapa kau orang tua
musti memberikan kesulitan buat boanpwe ?"
"Anak muda, kau dapat mewakili lohu, kesulitan apa sih
yang kau kuatirkan ?"
Sorot matanya segera dialihkan ke Im Tiong-hok yang
masih berdiri dengan kening berkerut, kemudian melanjutkan :
"Bocah muda ini bernama Oh Put-kui, Long-cu-koay-hiap
(pendekar aneh gelandangan) yang termasyur dalam dunia
persilatan belakangan ini, tapi bocah ini menyebut dirinya
sebagai si Gelandangan yang tidak kenal siapa-siapa. Bila dia
yang mewakili lohu untuk menengahi persoalan ini, tanggung
tak bakal terjadi kebocoran-kebocoran yang tak diinginkan,
bagaimana ? Puas tidak ?"
Sesungguhnya Im Tion-hok masih berdiri dengan wajah
termangu, tapi setelah mengetahui dia adalah Oh Put-kui,
seketika itu juga rasa tertegunnya hilang lenyap tak
membekas, sebagai antinya sekulum senyuman segera
tersungging di ujung bibirnya, sahutnya dengan lancang :
"Boanpwe percaya kau orang tua tak bakal salah memilih !"
Kemudian sambil mengalihkan sinar matanya ke wajah Oh
Put-kui, dia melanjutkan :
"Saudara Oh, aku orang she Im memohon kesediaan
saudara Oh !"
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Oh Put-kui
bangkit berdiri, ujarnya sambil tertawa :
"Saudara Im kelewat sungkan ! Siaute kuatir tak bisa
memenuhi harapanmu itu."
Sambil tertawa Im Tiong-hok mempersilahkan Oh Put-kui
untuk berjalan lebih dulu.
Oh Put-kui menjura lalu maju ke tengah arena dengan
langkah lebar ....
Kepada Lamkiong Ceng, Im Tiong-hok segera berkata
sambil tertawa.
"Saudara Lamkiong kenal dengan saudara Oh ?"
"Lamkiong Ceng segera tertawa.
"Saudara Oh masih terhitung tuan siaute, tentu saja aku
kenal dengannya."
Setelah berhenti sejenak, dia menjura kepada Oh Put-kui
sambil berkata :
"Merepotkan saudara Oh saja ?"
Oh Put-kui tersenyum, lagaknya mirip juga dengan seorang
angkatan tua dari dunia persilatan.
"Harap kalian berdua berdiri saling berhadapan dengan
selisih jarak delapan depa !"
Im Tiong-hok serta Lamkiong ceng menurut sekali,
serentakan mereka berdua memisahkan diri kekiri dan kanan
lalu berdiri saling berhadapan ....
Mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Put-kui, serunya
sambil tertawa :
"Begitu siaute memberi komando, harap kalian berdua
segera melancarkan serangan !"
Mendadak dia berpaling ke arah Mo kiam-huan-say" Singa
latah pedang iblis... Kit Hu-seng seraya berseru :
"Saudara Kit, harap kau sudi membantu siaute untuk
menghitung jumlah jurus serangan yang mereka lakukan."
"Siaute siap membantu !" sahut Kit Hu-seng sambil bangkit
berdiri.
Sambil tertawa kembali Oh Put-kui berkata :
"Jika sudah genap seratus gebrakan dan menang kalah
masih belum diketahui, harap saudara Kit sudi memberi tanda
agar jangan smapai menyalahi peraturan!"
"Siaute mengerti!"
Sambil tertawa Oh Put-kui manggut-manggut, sorot
matanya segera dialihkan kembali ketubuh kedua orang itu,
mendadak bentaknya dengan suara parau :
"Mulai !"
Begitu bentakan diutarakan, dua sosok bayangan manusia
secepat sambaran kilat menerjang masuk ke tengah arena.
"Bilaaammmm....!"
Begitu maju bertarung, pada jurus yang pertama mereka
sudah saling beradu kekerasan satu kali.
Begitu telapak tangan masing masing saling beradu, kedua
orang itu segera saling berpisah.
Tapi begitu mundur mereka maju kembali untuk saling
beradu kekuatan lebih jauh.
Secara beruntun terjadi tujuh kali benturan nyaring yang
menggelepar diseluruh angkasa, sedemikian hebatnya
benturan tersebut membuat seluruh ruangan ikut bergoncang
keras.
Tampaknya kedua belah pihak sama sama enggan
mengalah, kendatipun dalam peraturan ditentukan mereka
hanya boleh saling menowel saja, namun apa bedanya
pertarungan yang sedang berlangsung sekarang dengan
suatu peraturan adu jiwa ?
Im Tiong-hok dan Lamkiong Ceng saling bertarung sepuluh
gebrakan lebih, akan tetapi menang kalah masih belum bisa
diketahui.
Siapa pun tidak menyangka bahwasanya Im Tiong-hok
yang nampak halus lembut ternyata memiliki tenaga dalam
yang begitu sempurna.
Sebaliknya Lamkiong Ceng yang sebetulnya termashur
karena kekuatan pukulannya kali ini tidak berhasil
memperlihatkan keunggulan apa apa kendatipun pertarungan
adu kekuatan telah berlangsung belasan gebrakan lebih.
Tak heran kalau Lamkiong Ceng menjadi bersedih hati oleh
kenyataan tersebut.
Tampak ia menggertak giginya kencang-kencang
sementara dari balik matanya mencorong sinar tajam yang
menggidikkan hati.
Ditengah suara pekikan nyaring yang menggetar sukma,
mendadak tubuhnya melejit setinggi tiga kali setengah udara.
Rupanya dia telah mengeluarkan ilmu andalan dari si kakek
pemutus usus pelenyap hati Hui Lok ...
"Aaah, delapan belas pukulan naga terbang!" kedengaran
ada orang menjerit kaget.
Memang tak salah lagi, Lamkiong Ceng memang telah
mengeluarkan ilmu delapan belas pukulan naga terbang yang
maha dahsyat itu.
Begitu tubuhnya melejit ketengah udara, sebuah pukulan
segera dilancarkan dengan jurus Cian-liong gi-si (naga sakti
mencukur jenggot)
Begitu angin pukulan dilancarkan, tiga kaki disekitar Im-
Tiong-hok berdiri segra diliputi oleh hawa serangan yang
menggidikkan hati,
Terkesiap hati Im-Tiong-hok sesudah menyaksikan
kejadian itu, dia tidak menyangka kalau delapan belas pukulan
naga terbang ternyata memiliki kedahsyatan yang begitu
mengerikan.
Akan tetapi dia adalah seorang ahli yang berpengalaman
karenanya meski dibikin terkejut, hatinya tak sampai gugup
menghadapi ancaman yang tiba.
Dengan cepat Im-Tiong-hok merendahkan tubuhnya ke
bawah, telapak tangan kanannya dibalik dari bawah menuu
keatas dan menyongsong datangnya angin pukulan dari
Lamkiong Ceng, segulung angin serangan segera meluncur
keluar.
Berbareng itu juga, tangan kirinya diputar dari luar menuju
kedalam, kemudian melepaskan sebuah sentilan jari.
Tenaga pukulan Lamkiong Ceng yang berat seperti tindihan
bukit Thay-san itu serta merta kena terbendung sehingga
tenaga serangan itu miring kesamping.
"Blaaammmm ........!" suara benturan keras yang
memekikkan telinga segera bergema diangkasa.
Sebuah lubang sebesar satu kaki segera muncul diatas
permukaan lantai yang terdiri dari batu hijau keras itu.
Dari sini bisa diketahui kalau tenaga pukulan dari Lamkiong
Ceng tersebut cukup ganas dan mengerikan.
Kawanan jago yang berada di luar ruangan sama-sama
menjulurkan lidahnya setelah menyaksikan kejadian ini.
Siapa pun mengetahuinya bahwa batok kepala manusia
tidak lebih keras dari pada lantai ubin hijau tersebut, kalau
batu yang begitu kers saja kena dihajar berlubang. Apalagi
batok kepala manusia."
Begitu serangan Lamkiong Ceng dilancarkan, tubuhnya
meminjam daya pental tenaga pukulan sendiri melompat
mundur sejauh lima depa dari posisi semula.
Im Tiong hok tidak manfaatkan kesempatan tersebut untuk
melakukan pengerjaran.
Sesungguhnya dia bisa saja menggunakan peluang itu
untuk maju mendesak sambil melancarkan serangan balasan,
setelah ia berhasil memukul mundur ancaman dari Lemkiong
Ceng dengan mengandalkan ilmu pukulan Kan-lei-ciang
ajaran Thian-hiun cinjin dan Ciang-mo-ci ajaran It-im taysu tiga
orang gurunya.
Namun diapun lantas menduga bahwa Lamkoong Ceng
pasti telah mempersiapkan seangan berikutnya dengan
melancarkan delapan belas pukulan naga terbangnya lagi,
padahal untuk bergerak ditengah udara, pihak lawan jauh
lebih cepat dan cekatan daripada diri sendiri.
Sandainya dia melakukan pengerjaran tersebut, hal ini
sama artinya dengan ia memperlihatkan kelemahan pada
pertahanan sendiri, bisa jadi ia sendiri yang justru akan kena
dipecundangi.
Itulah sebabnya dia mengambil keputusan untuk tetap
berdiri tenang ditempat semula tanpa bergerak.
Gagal dengan serangannya tadi, Lamkiong Ceng segera
menerjang maju lagi sambil melancarkan serangan.
Im-Tiong-hok tertawa terbahak-bahak, dia mengayunkan
telapak tangannya pula menyongsong datangny ancaman
tersebut.
Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah terlibat kembali
dalam suatu pertempuran yang benar-benar amat seru.
Kit Hu-seng yang bertugas menghitung jurus serangan,
berdiri disisi arena dengan sepasang mata melotot besar.
"Lima puluh dua... lima puluh enam...... empat puluh...."
Dengan suara keras dia menghitung terus tiada hentinya.
Oh Put Kui sendiripun mengikuti jalannya pertarungan yang
sedang berlangsung diarena dengan penuh perhatian.
Bukan saja dia mengawasi menang kalah kedua orang itu
dengan seksama, lebih lagi dia perhatikan jurus serangan
yang digunakan kedua orang itu, terlebih-lebih ilmu pukulan
delapan pukulan delapan belas pukulan naga terbang milik
Lamkiong Ceng.
0000000
Setelah diperhatikan sekian lama dia segera menerumakan
bahwa ilmu pukulan tersebut memang lihay, apalagi jika bisa
memperoleh perubahan-perubhan disana siui, pada
hakekatnya merupakan ilmu pukulan yang ganas, dasyat,
tepat daha mematikan.
Sekilas pandangan, Lamkiong Ceng yang bertarung
dengan menganlkan ilmu pukulan tersebut memang lihay,
apalagi jika bisa memperoleh perubahan-perubahan disana
sini, pada hakekatnya merupakan ilmu pukulan yang ganas,
dashyat, tepat dah mematikan.
Sekilas pandangan, Lamkiong Ceng yang bertarung
dengan mengandalkan ilmu depan belas pukulan naga
terbang seperti berhasil merebut posisi yang menguntungkan,
seluruh angkasa seakan-akan sudah dipenuhi oleh bayangan
tubuh Lamkiong Ceng saja.
Bahkan suasana diluar ruangan sudah berubah menjadi
gadung sekali karena dipenuhi suara tepuk tangan dan sorak
sorai dari para jago.
Akan tetapi Oh Put Kui mengerti dengan pasti, taktik
pertarungan yang dipakai Im Tiong-hok adalah taktik
"menaklukkan gerak dengan ketenangan:, suatu taktik ilmu
silat tingkat tinggi.
Percuma saja Lamkiong Ceng menyerang dengan sepenuh
tenaga dengan percuma,
Sebaliknya Im Tiong-hok justru berada dalam posisi yang
lebih menguntungkan, sebab lebih sedikit tenaga yang
dipergunakan oleh.
Setelah perminum the kemudian ...
"Delapan puluh sembilan....sembilan puluh tiga... sembilan
puluh lima..."
Sekarang sudah tinggal lima jurus saja !
Akan tetapi menang kalah antara kedua orang itu masih
belum bisa ditentukan,
Dengan perasaan tercengang Oh Put Kui segera berkerut
kening.
Sudah jelas Im Tiong-hok mempunyai kesempatan untuk
meraih kemenangan, tapi mengapa ia tidak memanfaatkan
kesempatan yang sangat baik itu dengan begitu saja ?
"Sembilan puluh sembilan!" Kit Hui-seng berteriak nyaring,
"sekarang tinggal jurus yang terakhir..."
Disaat Kit Hui-seng meneriakkan angka ke "sembilan puluh
sembilan" itulah tubuh dua orang yang sedang bertempur itu
menadak saling berpiah satu sama lainnya.
Bukan hanya berpisah saja bahkan masing-masing pihak
berdiri dak berkutik.
Menyaksikan kejadian itu, Oh Put Kui segera tertawa, ia
segera mengerti apa gerangan yang sebenarnya telah terjadi.
Dia tahu, kedua orang sama sama ingin mencari cara yang
paling baik untuk meraih kemenangan pada jurus serangan
yang terakhir ini, mencari akan bagaimana caranya untuk
mengalakan pihak lawan dalam satu gebrakan saja.
Para muka Lamkiong Ceng berubah menjadi seius sekali,
dadanya nampak naik turun tak menentu, napasnya
tersengkal sengkal.
Sebaliknya Im Tiong-hok berdiri tenang seperti patung arca,
sorot matanya yang tajam sedang mengawasi tiada hentinya
wajah Lamkiong Ceng.
Akhirnya Im Tiong-hok tertawa terbahak bahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh...., saudara Lamkiong,
jurus serangan yang terakhir ini tak usah dilanjutkan lagi!"
Ucapan tersebut kontan saja membuat Lamkiong Ceng
menjadi tertegun dan tidak habis mengerti.
Demikian juga dengan kawasan jago yang hadir baik di
dalam ruangan maupun diluar ruangan.
Bahkan Oh Put Kui yang bertindak sebagai juri pun turut
tercengah dibuatnya.
Setelah tertegun sesaat, Lamkiong Ceng segera
membentuk dengan nyaring:
"Menang kalah akan segera ditentukan dalam jurus
serangan serangan yang terakhir ini, apakah saudara Im
merasa takut untuk melanjutkan pertarungan ini......?
"Saudara Lamkiong." Kata Im Tiong-hok sambil tertawa,
"dalam sembilan puluh sembilan jurus yang telah lewat,
kitahannya berrung seimbang, dari mana kau bisa tahu kalau
dalam gebrakan yang terakhir ini meng kalah dapat ditentukan
? Oleh karena itu, siaute rasa ta usah dilanjutkan lagi
pertarungan ini !"
"tidak bisa !" Pertarungan ini hasur dilanjutkan sampai
selesai," Teriak Lamkiong Ceng dengan kening berkerut.
"Saudara Lamkiong, kau betul betul seorang yang amat
keras kepala ....!"
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... kalau sudah ada
permulaannya mana boleh tiada akhirnya ?Saudara Im, kau
harus berhati hati .....,"
Sambil berkata, pelan pelan dia bergerak maju kemuka.
Im Tiong-hok segera menghela napas panjang, bisiknya
lirih :
"Saudara Lamkiong, tampaknya sebelum melihat peti, kau
tak akan mengucurkan air mata ......"
Lamkiong Ceng sama sekali tidak berbicara apa, apa, dia
tetap maju kedepan selangkah demi selangkah.
"Baiklah," ucap Im Tiong-hok kemudian sambil tertawa
hambar, "siaute akan memenuhi harapanmu itu...."
Selesai berkata, mendadak dia melompat, maju kemuka
sambil melancarkan.
Telapak tangan kanannya diayunkan kemuka menghantam
tubu Lamkiong ceng.
Menyaksikan tibanya serangan nama, Lamkiong Ceng
berpekik nyaring lalu melejit, kembali ke tengah udara.
Sepasang telapak tangannya segera diayunkan kewabah
menghajar sepasang bahu Im Tiong-hok......"
Melihat jalan darah Cian-keng-hiat dada seasang bahunya
terancam. Im Tiong-hok tertawa berbahak-bahak, dia
menerobs Lamkiong Ceng dari tenaga udara itu, lalu
melayang turun delapan depa dari posisi semula.
Seandainya dia melancarkan serangan balasan pad asaat
itu, niscaya Lamkiong Ceng tak akan lolos dari ancaman
bahasa maut tersebut.
Namun ia tidak berbuat demikian, sebab seratus jurus yang
diinjak telah penuh.
Demikian juga halnya dengan Lamkiong Ceng, tatkala
engkeramanna mengenai sasaran yang kosong, seratus jurus
sudah tercapai.
"Seratus jurus!" Kit Hu-seng segera berteriak keras.
Lamkiong Ceng segera melayang turun ke tanah, kemudian
sambil menggelengkan kepalanya dia tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Im, kita
benar benar seimbang dan sukar di tentukan siapa yang lebih
unggul diantara kita ...."
Namun belum selesai perkataan itu dilanjutkan, mendadak
ia menjadi tergegun dan segera membungkam.
Sebab dia menyaksikan uung baju sebelah kirinya telah
bertambah dengan seuah lubang kecil.
Hal ini menunjukkan kalau dia sudah menderita kekalahan
yang mengenaskan dalam pertarungan beruaha, coba kalau
pihak lawan tidak bermaksud melukai orang, niscaya dia
sudah ......
Tapi Im Tiong-hok segera menyambung kembali perkataan
itu :
Ilmu silat saudara Lamkiong memang sangat hebat, siaute
bisa tidak menderita kekalahan, al ini benar-benar merupakan
suatu keberuntungan besar ........"
Sesudah berhenti sejenak, mendadak dia menghampiri Oh
Put Kui sambil tertawa tergelak, katanya :
"Terima kasih atas bantuan saudara Oh!"
Dalam ada itu, Oh Put Kui telah menyaksikan juga sebuah
lubang kecil yang muncul diujung baju Lamkiong Ceng.
Maka setelah menatap sekejap wajah Im Tiong-hok, dia
dalam pertaruhan ini....."
Belum lagi ucapan "kau yang menang" sempat diutarakan.
Im Tiong-hok telah menukas sambil tertawa terbahak-bahak :
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Oh,
pertaruhan ini memang meruakan pertaruhan terbesar yang
pernah siaute lakukan selama hidupku, untuk saja keadaan
selambang dan tiada yang menang tiada yang kalah, benarbenar
suatu kejadian yang amat mujur sekali !"
Oh Put Kui dapat menangkap kerdipan mata Im Tiong-hok
kepadanya, maka dia segera tahu kalau orang itu ada maksud
untuk menjaga nama baik Lamkiong Ceng.
Pengantin lelaki menderita kalah total pada upacara
perkawintannya, kalau hal ini sampai terjadi maka peristiwa
tersebut benar-benar merupakan satu kejadian yang sangat
tragis.
"Benar, dalam pertaruhan ini kedua belah pihak memang
tiada yang menang dan tiada yang kalah!" serunya kemudian
cepat.
Begitu selesai berkata, dia lants membalikkan badan dan
berjalan kembali ke tempat duduknya.
Tapi, saat itulah Lamkiong Ceng telah berteriak lagi dengan
suara lantang:
"Saudara Oh, kau jangan pergi dulu !"
Sementara itu Oh Put-kui telah kembali ke tempat
duduknya semula, mendengar perkataan itu terpaksa dia
bangkit berdiri dan berkata sambil tertawa :
"Saudara Lamkiong, kepandaianmu seimbang dengan
kepandaian saudara Im, menang kalah sukar ditentukan, aku
lihat soal pertaruhanpun menjadi dibatalkan ! sedangkan
mengenai nyawa dari keenam orang cay-cu, menurut
pendapat siaute lebih baik diselidiki dulu sampai jelas
selewatnya hari perkawinan kalian, jika terbukti seperti apa
yang saudara Im dikatakan tadi dan keenam keenam orang itu
terbukti banyak melakukan kejahatan, sudah sepantasnya
saudara mengucapkan banyak terima kasih kepada saudara
Im ........."
Setelah berhenti sebentar, kembali dia menghela napas
panjang dan melanjutkan:
Selesai menjura, dia perpaling pula ke arah Im Tiong-hok
sambil melanjutkan :
"Saudara Im, beberapa hari lagi pasti siaute akan mengutus
orang buat menyelidiki tindak tanduk ke enam orang anak
buahku itu, bila mereka benar-benar telah melakukan
perbuatan yang jahat, siaute pasti akan berterima kasih sekali
kepada saudara Im..."
Sesudah berhenti sejenak, kembali dia melanjutkan :
"Cuma, seandainya apa yang saudara Im ucapkan tidak
benar, sambil waktunya siaute pasti akan menuntut keadilan
kepada saudara Im atas nasib keenam orang anak buahku itu
!"
Im Tiong-hok segera tertawa berbahak-bahak.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... saudara Lamkiong,
setiap saat siaute akan menantikan pembalasan dari saudara
.... Cuma sebelumnya siaute ingin berbicara, dulu, seandainya
dikemudian hari kau berhasil menelidiki dosa dan kesalahan
yang pernah di lakukan ke enam orang anak buahmu, maka
kau tak boleh memutar balikkan duduknya persoalan sehingga
demi jaga nama baik sendiri, kau lantas menuntut balas
kepada siaute!"
Ketika itu Lamkiong Ceng sudah merasa amat menyesal
disamping rasa kagum yang luar biasa terhaap Im Tiong-hok,
soal mencari balas dan lain sebagainya yang diucapkannya
barusan tak lebih hanya suatu pertanggungan jawab belaka
terhadap khalayak umum.
Maka dikala Im Tiong-hok menyelesaikan perkataannya,
sambil tertawa dia lantas berseru :
"Saudara Im, apakah kau tidak mempercayai siaute lagi ?
Ooooh, tentu saja percaya !"
"Bila saudara Im memang menaruh kepercayaan kepada
siaute, harap kau jangan banyak bicara lagi ...."
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... baik baik, siaute
akan turut perintah."
Kemudian setelah memandang sekejap sekeliling arena,
mendadak ujarnya lagi sambil menjura :
"Siaute hendak mohon diri lebih dulu !"
Lamkiong Ceng menjadi tertegun.
"Kenapa? Mengapa saudara Im terburu-buru hendak pergi
? serunya.
"Sebenarnya kedatangan siaute ke wilayah Kanglam ini
disebabkan ada persoalan yang hendak diselesaikan, justeru
kaena kudengar saudara Lamkiong menikah, maka
kusesampingkan masalah tersebut untuk sementara guna ikut
datang menyampaikan selamat."
"Aaaah, bukankah hal itu disebabkan pelayanku yang
kurang baik?"
"Siaute benar-benar amat terburu-bru, bila kurang hormat,
harap saudara Lamkiong, sudi memakluminya, untuk
berterima kasih saja tak sempat, masa aku marah karena
pelayanan yang kurang baik ?"
Setelah berhenti sejenak, dia menjura keempat penjuru,
kemudian melanjutkan :
"Sobat sekalian. Im Tiong-hok terpaksa harus pergi dengan
terburu-buru, bila ada kesalahan harap dimaafkan, jika kalian
ada wkatu pergi ke kanglam, jangan lupa mampir
ditempatku...."
Selesai berkata, dia lantas melayang pergi meninggalkan
tempat terseut.
Ia datang sangat tiba-tiba, pergi pun amat mendadak, yang
tertinggal hanyalah henaan napas panjang dan pujian dari
para hadirin.
Oh Put Kui yang menyaksikan kejadian itu segera
menggelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya sambil
tertawa :
"Orang ini benar-benar memiliki kewibawaan yang
mengagumkan."
"Betul," sahut Siau lojin sambil tertawa, "ucapanmu
memang tepat sekali anak muda."
"Dia datang dengan sikap yang angkuh, pergi dengan sikap
yang hormat dan merendah, suatu perpaduan yang luar biasa
sekali, boanpwe lihat saat bersatunya kaum Liok-lim di utara
dan selatan sudah tak jauh lagi."
"Tentu saja, lohu memang sudah mengetahui akan hal ini."
"Dari mana kau bisa tahu?" tanya Oh Put Kui keheranan.
Siau lojin tertawa.
"Hal ini menyangkut rahasia langit. Anak muda, lebih baik
kau jangan bertanya dulu."
00000000
Upacara perkawinan berlangsung sampai larut malam,
cahaya lampu masih menerangi seluruh perkampungan siuning-
ceng.
Tapi di atas seuah loteng di belakang bangunan gedung
pun di kejauhan sana, suasana justru gelap gulita tak nampak
setitik cahayapun.
Di tengah kegelapan itulah nampak ada bayangan manusia
sedang bergerak-gerak.
Semua berjumah tiga sosok, mereka bergerak amat
lamban di atas bangunan loteng itu.
Slaah seorang diantara mereka, tampaknya sanggup
melihat dalam kegelapan dengan jelas, buktinya kalau orang
lain hrus berjalan tertitah di tengah kegelapan, maka dia bisa
berjalan dengan santai, seakan-akan di tempat yang terang.
Tak selang berapa saat kemudian, seluruh bangunan
loteng tingkat kedua ini telah mereka periksa dengan
seksama, namun tampaknya mereka amat kecewa.
"Saudara Kau, jangan jangan kau salah mendengar/" suara
Oh Put Kui kedengaran brisik.
Rupanya tiga sosok bayangan manusia yang sedang
berjalan ditengah kegelapan itu adalah Oh Put Kui, pengems
sinting Lok Jin-khi serta petani dari Hosay Kau Cun-jin."
"Tak mungkin saah!" Jawab au Cun-jin pula setengah
berbisik, "Persekonngkelan, Lamkiong Ceng dan Kit Put sia
merupakan suatu peristiwa yang sesungguhnya,"
"Saudara Kau, bilang mereka bersekongkel tapi apa
sebabnya putra Kit-put-sia yakni singa latah pedang iblis Kit
Hu-seng seperti tidak begitu kenal dengan Lamkiong Ceng?"
Kau Cun-jin segera tertawa rendah.
"Kongcu, Kit Hu-seng amat jarang tinggal dalam lembah
iblis saakti, selain itu Ki Put-sia tidak pernah mau
mempergunakan tenaga dari putra kesayangannya ini !"
"Mereka kan ayah dan anak kandung, masa terhadap anak
sendiripun tidak percaya ?" seru Oh Put Kui sambil tertawa.
"Sejak kecil Kit Hu-seng dibesarkan oleh Ibunya."
"Siapa sih ibu Kit Hu seng ?"
"Dia adalah Kim teng-sin-yu nenek sakti dari puncak Kimteng
yang turut terbunuh dibukit Go-bi!"
"Oooo....." Oh Put Kui yang berada di balik kegelapan
nampak tertegun.
"Jadi kim-ten-sin-yu adalah ibu Kit Hui seng?" serunya
kemudian terkejut.
"Yaa, dan urusan ini diketahi oleh setiap umat persilatan!"
Berkilat tajam sepasang mata Oh Put Kui dibalik
kegelapan, kembali ia berkata sambil tertawa.
"Kalau begitu ilmu silang yang dimiliki Kit Hu-seng juga
merupakan warisan dari ibunya?"
"Bukan!" tiba-tiba pengemis sinting menimberung sambil
tertawa, "lote, Kit Hu seng adalah murid Ceng-thian-sin-ciang
(Pukulan sakti penggetar langit) Cian Hau, itulah sebabnya dia
jadi ketularan sikap gagah dan bijaksananya !"
Oh Put Kui tidak mengira kalau Kit Hui seng adalah anak
murid dari Cian Han.
Setelah menghela napas rendah katanya :
"Apakah ilmu silatnya berasal dari gedung Ceng thian
ciangkun-hu?
"Siapa bilang tidak ?"
"Lok loko, Cian Han adalah panglima ternama pada
pemerintah dinasti yang lalu, diapun merupakan seorang
pendekat aneh ketika itu. Bagaimana mungkin dia bisa
menerima putra seorang gembong iblis menjadi muridnya?"
"Lote, kalau soal itu mah kau tak bakal mengetahui lebih
banyak daripada aku si pengemis tua."
"Tentu saja, siapa bilang aku mengetahui lebih banyak dari
pada loko ?" Jawab Oh Put Kui tertawa.
Umpakan tersebut langsung termakan oleh pengemis
sinting.
Terdengar dia tertawa lirih dengan banga, lalu berkata :
"Lote, kau memang pandai sekali mengumpak ! Sudah
jelas aku si pengemis tua tahu kalau kau lagi mengumpakku,
tapi hatiku justru merasa amat nyaman sekali.... Saat lote, aku
benar-benar takluk kepadamu !"
Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang kali sambil
tertawa, katanya :
"Engkoh tua, kau jangan membawa persoalan kelewat jauh
!"
Pengemis sinting tertawa.
"Lote, tahukah kau Kim-teng-sin yu sebenarna bernama
siapa ?"
"Engkoh tua, pertanyaanmu sama artinya dengan
pertanyaan kepada orang orang buta, mana aku bisa tahu ?"
"Dia bernama Cian Sian-koh!"
"Aaaah, mengerti aku sekarang, kalau begitu Cian Han dan
Kim-teng-sin-y tentu saudara sekandung."
"Tepat sekali!" teriak sipengemis lupa diri,
"Sssstt... pelan sedikit ..." buru-buru Oh Put Kui menegur
dengan kening berkerut.
Ditengah kegelapan pengemis sinting membuat muka
setan, kemudian sahutnya berulang kali :
"Baik, baik!"
Pada saat ituah Kau Cun-jin turut menimbrung :
"Kongcu, menurut penyelidikan ku, tusuk konde pemunah
tulang Ngo-im-hua-kut-cha memang disembunyikan dalam
loteng kecil dikebuh belakang perkampungan Siu-nin-ceng!"
"Tapi, kita sudah menggeledah loten ini sampai dua tingkat
!" seru Oh Put Kui dengan kening berkerut.
"Tapi kan masih ada satu tingkat ?" kata Cun-jin sambil
tertawa.
"Masih ada setingkat ? saucara Kau, kau bilang atap dari
loteng tingkat kedua ini ?"
"Benar !"
"Tapi disini toh tiada pintu yang menghubungkan tempat
tersebut?" kata Oh Put Kui berkerut kening.
"Aku si orang tua tahu !"
Sambil berkata ka Cun-jin lantas berjalan menuju kesebuah
sudut ruangan itu.
"Kongcu, tianglo, harap kalian mengikuti aku, "ajaknya
kemudian.
Mereka berdua berjalan menyusul dibelakang Kau Cun-jin,
sementara itu sebuah langit-langit sudah disingkirkan dan
mereka bersiap-siap melompat naik keatas atas loteng itu.
0000000
Mendadak........ terdengar suara tertawa dingin
berkumandang datang dari balik celah itu.
Hoo-see le-nong (petani tua dari Hoo-see) Kau Cun-jin
serentak mundur kebelakang dengan gerakan secepat kilat,
dia betul-betul merasa terperanjat.
"Ada orangnya ? bisik Oh Put Kui dengan sorot mata
berkilat tajam.
"Kongcu, kejadian semacam ini tak pernah kuduga
sebelumnya,s atu-satunya cara yang terbaik sekarang,
menurut pendapatku adalah berusaha naik keatas dan
membungkam mulut saksi hidup itu......"
Ehmmm, miggirlah Kau loko, biar siau orang itu, begitu aku
naik, kalian segera mengikuti dibelakangku, siaute percaya
orang yang berada diatas loteng itu akan berhasil melukai
kalian!"
"Lote, kau harus berhati-hati!" bisik pengemis sinting.
"Jangan kuatir......"
Begitu selesai berkata, dia lantas menarik langit-langit
ruangan itu dan menghimpun tenga dalamnya sambil bersiapsiap
menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Tak selang beberapa saat kemudian, mendadak tubuhnya
melayang naik keatas secara pelan-pelan.
Bagaian segumpal awan, pelan-pelan adannya melambung
dan meluncur ditengah udara.
Dalam pada itu, dari atas ruang loteng tersebut tidak
terdengar suara lagi kecuali suara tertawa dingin tadi.
Dengan suatu gerakan yang cepat Oh Put Kui melayang
kemulut masuk ruang loteng itu, tapi anehnya ternyata tidak
terasa ada kekuatan yang menghalangi gerak majunya hal
mana kontan saja membuat anak muda tersebut merasa
keheranan.
Kalau memang disitu ada orang, mengapa tidak muncul
kekuaran yang menghalangi gerak melambungnya ?
Sementara ingatan tersebut masih melintas dalam
benaknya, sang tubuh masing melambung terus keatas.
Pada saat pinggangnya hendak menembusi langit langit
ruangan itulah mendadak terdengar suara tertawa dingin,
kemudian terasa ada segulung tenaga tekanan yang sangat
berat menghantam tiba.
Oh Put Kui jadi terperanjat sekali, dia merasa bahwasanya
ke hutan tenaga tekanan yang menindih tubuhnya sedemikian
hebat, pada hakekatnya beum pernah di jumpai sebelumnya.
Seketika itu juga, tubuhnya yang sedang melambung
ketengah udara itu terhenti setangah jalan.
Tapi, dia tidak melayang turun kembali kebawah.
Sebab dengan mengandalkan ilmu Kiu-pian tay-sian
sinkang ajaran perguruannya dia masih sanggu
mempertahankan diri, hanya yang diherankan adalah
mengapa kekuatan lawan sanggup beradu seimbang dengan
kemampuan sendiri...."
Kenyataan tersebut hampir saja membuat Oh Put Kui tidak
percaya.
Sementara itu, orang yang sedang berada dalam ruang
lotenganpun hampir tidak percaya dengan kenyataan yang
beraa di depan mata.
Sudah duapulh tahunan lamanya dia berdiam dalam ruang
loteng ini, dan selama dua puluh tahun ini, baru pertama kali
ada orang yang tidak kena dipukul mundur oleh tenaga
saksinya.
Berhubung sudah kelewat lama dia tinggal dalam
kegelapan, maka dia dapat melihat jelas kalau orang yang
melayang masuk kedalam ruangan itu tak lain adalah seorang
pemuda berumur dua puluh tahunan.
Kenyataan ini benar-benar membuat hatinya sangat
terperanjat.
Dia tak habis mengerti, apa sebabnya bocah muda itu bisa
memiliki kepandaian silat yang begitu hebat, bahkan yang
dipakai mirip sekali dengan ilmu Kiu-pian-tay-sian singkang
dari sahabat karibnya.
Begitulah, sementara kedua orang out masih memutar
otak, masing-masing pihak sudah saling berhadapan hampir
setengah perminum teh lamanya.
Kini Oh Put Kui sudah mulai merasa sedikit tak tahan,
tubuhnya hampir saja tenggelam ke bawah.
Mendadak.... saat itulah dia merasa daya tekanan di luar
badannya menjadi enteng, lalu terdengar seseorang berkata
sambil tertawa:
"Naiklah ke atas! Lohu bersedia untuk bersahabat
denganmu..."
Dalam tertegunnya, Oh Put Kui melangkah masuk ke
dalam ruangan loteng itu.
Anak muda ini memiliki juga kemampuan untuk melihat
dalam kegelapan, maka setibanya di dalam ruangan, dia
lantas dapat melihat segala sesuatu yang terbentang disana.
Ternyata luas loteng itu hanya tiga kaki lebih, empat
dinding kosong melompong tak ada sesuatu bendapun, di
tengah ruangan duduklah bersila seorang kakek.
Rambut putih kakek itu terurai sedada, bercampur baur
dengan jenggot putihnya yang memanjang, hampir tak dapat
dibedakan mana yang rambut dan mana yang jenggot.
Selemar wajahnya, ada sebagian yang tersembunyi di balik
rambut dan jenggotnya yang putih.
Oh Put Kui segera menemukan bahwa raut wajah kakek itu
sangat dikenal oleh, seakan-akan mereka sering berjumpa,
namun untuk sesaat dia tak teringat dimanakah mereka
pernah bersua ?.
Alis mata kakek itu sangat tipis, lagi pula belum berubah
memutih. Mulutnya besar sekali, akan tetapi belum berkeriput,
sedang kulit mukanya merah segar seperti bayi.
Sepasang matanya bulat sekali, bulan membawa sifat
kekanak-kanakan. Bajunya berwarna coklat tampat amat
bersih, sepanjang tangannya diletakkan keatas lutut,
sedangkan wajahnya nampak tersenyum ramah.
Diam-diam Oh Put Kui merasa amat terperanjat, sebab dia
menemukan kalau ilmu silat yang dimiliki kakek berambut
putih ini sudah mencapai tingkatan yang luar biasa hingga
pada hakekatnya sudah kembali kealam anak-anak.
Terhadap manusia seperti ini, dia tak ingin bersikap kurang
homat.....
"Bila boanpwe Oh Put Kui telah salah masuk kemari, harap
kau orang tua ....
Kakek berambut putih itu tertawa aneh, sebelum anak
muda itu selesai berbicara, dia telah menukas :
"Lohu tidak perduli siapakah kau, tapi kalau dilihat dari
kemampuanmu untuk menerima serangan Hui-sik-singkang
lohu, sepantasnya kalau kau terhitung jago nomor wahid
dikolong langit, nah anak muda, dengan usia semuda itu
hebat, kenyataan ini sungguh membuat lohu merasa gembira
sekali..... oleh karena itulah aku melanggar kebiasaan dengan
mengijinkan kau naik ke loteng......."
Mungkin lantaran gembira, dia lantas mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Tergerak hati Oh Put Kui sesudah mendengar itu, sambil
menjura segera ujarnya :
"Locianpwe kelewat memuji diriku, membuat boanpwe
menjadi malu sendiri, boleh kah aku tahu siapa nama
cianpwe?"
"Bocah, kau tak usah bertanya siapa namaku, sekarang
jarab dahulu yang kau gunakan untuk melompat naik keatas
tadi adalah Kui-pian-tay-sian sincang ?"
Terkesiap sekali perasaan Locianpwe sesudah mendengar
perkataan itu, serunya tanpa terasa :
"Darimana Locianpwe bisa mengetahui kepandaian sakti
dari perguruannya.
Kakek tersebut tidak menjawab, pertanyaan orang,
sebaliknya sambil menatap wajah anak muda itu lekat-lekat,
katanya lagi sambil tertawa.
Bocah muda, apa hubunganmu dengan Oh Siau ?"
Oh Put Kui semakin terkejut lagi setelah mendengar nama
itu disinggung, segera pikirnya :
"Heran, mengapa orang tua ini bisa mengetahui nama
preman dari empekku yang juga merupakan guruku ? jangan -
jangan dia adalah sahabat karib guruku?"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa sikapnya menjadi jauh
lebih menghormat, sahutnya cepat :
"Dia adalah empekku, juga merupakan guru koanpwe!"
Kakek berambut putih itu segera tertawa panjang.
"Haaaahhh....haaaahhh.... haaaahhh..... tak heran kalau
kau memiliki kepandaian silat sedemikian lihaynya, anak
muda, ternyata kau adalah muridnya ! Oh Sian bisa
mempunyai ahli waris seperti kau, Lohu benar-benar ikut
merasa gembira ......haaahhh........ haaahhh........"
Sambil berkata, kakek itu tertawa tergelak tiada hentinya.
"Apakah locianpwe kenal dengan guru locianpwe?" tanya
Oh Put Kui kemudian serius.
Kakek itu menghentikan gelak tertawanya, lalu berteriak.
"Jika tidak kenal, bagaimana mungkin aku bisa
menyebutkan namanya? Tolol !"
Sementara Oh Put Kui masih tertegun, kakak itu sudah
brkata lagi sambil tertawa :
"Kau bilang siapa namamu? Oh.... Ooooh....... Oh Tuh
(pikun)?
Oh Put Kui ingin tertawa tapi tak berani terpaksa sahutnya
dengan sopan :
Boanpwe Oh Put Kui !"
Bagus sekali, bocah muda, kau berai memakai nama Oh
Put Kui, apakah ingin niru sastrawan Tau Ciu-beng?"
"Aaaaaah..................boanpwe mana berani berbuat begitu?
Harap kau orang tua jangan mentertawakan?"
"Kalau memang begitu, mengapa kau menggunakan nama
seaneh itu untuk namamu?"
"Guruku yang memberi nama tersebut untuku !"
"Ooooh, jadi Oh siang yang mencarikan nama itu ?" si
kakek nampak tertegun.
"Benar, guruku yang memberi !"
Kakek itu menundukkan kepalanya dan termenung
sebentar, kemudian katanya :
"Anak muda, apakah kau pernah bertanya kepada Oh Sian,
mengapa ia memberikan nama seaneh itu untukmu?"
Oh Put Kui segera tertawa.
"Aaaah, kalau angkatan tua yang memberi, masa boanpwe
berani banyak bertanya ?"
"Bagus sekali, anak muda, kau ...." Mendadak kakek itu
tertawa tergelak, "benar-benar tak kuangka kalau kau adalah
seorang yang ahli dalam agama To !."
Diam-diam Oh Put Kui ternayata geli pikirnya :
"Benarah aku ahli dalam agama To ? Rupanya Cuma Thian
yang tahu....... "namun di luaran dia menjawab :
"Boanpwe pernah membaca buu para Nabi, sebab it
boanpwe tak berarti melangar perintah dari pada Nabi.
"Menganggur benar kau rupanya." Seru si kakek sambil
menggeleng, "lou paling takut kalau mendengar orang
menyinggung soal Nabi anak muda ! Jika kau berani
menyinggung soal itu lagi, lohu akan segera mengusirmu dari
sini.
Oh Put Kui tidak menyangka kalau kakek berambut putih itu
membenci kata "Nabi" tapi dia tahu kebnnyakan kebanyakan
orang perliharaan persilatan memang mempunyai penyakit
aneh.
Maka katanya kemudian sambil tertawa :
"Ka1au begitu," boanpwe tidak akan nyinggung lagi !"
Saat itulah si kakek baru berseri kembali, katanya
kemudian:
"Nah, begitulah baru lumayan."
Setelah berhenti sejenak, dia bergerak kembali "
"Anak muda, siapakah kedua orang yang berada di loteng
tingkat kedua itu ?"
"Temanm Boanpwe! Jawab Oh Pit kui tertawa.
Temanmu?" kakek itu segera melotot besar, Lohu sudah
tahu mereka adakah temanu, kakau tidak, masa kalian bisa
melakukan perjalanan bersama-sama? Lohu ingin tahu,
siapakah mereka ?
Oh Pit kui tidak habis mengerti menga kakek ini sebentar
menjadi marah sebentar menjadi marah sebentar menjadi
girang. Perubahan perasaannya berlangsung mendadak
sekali.
Akan tetapi terpaksa dia menyambut juga sambil tertawa
"Dia adalah anggota Kay-pang!"
"Haaahhh.. .haaahhh...haaahhh.... tak bisa dianggap
sebagai manusia luar biasa! Siapa nama mereka? Apakah
Kongsun Liang sibo cah kecil itu?"
Walauputi Oh Put Kui mendengar kakek ini menyebut ketua
Kay-pang sekarang. Lok Soug-tui-hun-siu (kakek bintang sakti
pengejar sukma) Kongsun Liang sebagal bocah kecil, akan
tetapi dia sudah tahu kalau kakek ini merupakan seorang
Locianpwe dalam dunia persilatan, maka ia tak menajadi
heran dibuatnya.
Setelah tertawa hambar, katanya sambil menggelengku
kepala tiga berulang kali:
"Bukan, bukan Kougsu pangcu, dia adalah adik
seperguruannya, sipengemis pikun Lok Jin-khi serta seorang
tongcu kantor cabangnya di Shia Kam, Kau Cun-jin adanya!
Kakek itu menjadi tertegun setelah mendengar kata kata
itu, serunya tercengang:
"Kongsun Liang telah menjadi pangcu?"
"Yaa, sudah hampir dua puluh tahun lamanya!"
Kembali kakek itu tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh.........jiaaahhh.........haaahhh.........betu1, Lohu
sudah hampir dua puluh tahun lamanya ditiggal disini......"
Dibalik gelak tertawanya itu seakan akan diliputi olah
perasaun sedih yang amat tebal.
Sambil tertawa Oh Put hui bertanya 1agi:
"Apakah kau sudah berdiam hampir dua puluh tahun
lamanya disini?"
"Kenapa?" seru sikakek dengan mata melotot, "apakah kau
anggap aku tak tahan berdiam disini?"
"Tentu saja tahan....., cuma, suaranu begitu keras bagaikan
geledek, apakah tidak kuatir kedengaran anggota
perkampungan Siu-ning-ceng? Bila mereka sampai datang
kemari melakukan pemeriksaan loanpwe bisa berabe
dibuatnya.........."
"Kau anggap mereka berani?" seru si kakek sambi1 tertawa
tergelak, "lima puluh kaki disekitar loteng kecil yang dihuni
lohu ini merupakan daerah terlarang, siapapun tak boleh
mendekati kemari......"
"Kalau begitu boanpwe merasa lega !"
"Kalau tidak lega lantas mau apa.........?" kembali si kakek
melotot sampai membentak.
Oh Put Kui jadi tertegun dibuatnya Oleh suara bentakan itu,
kalau tidak lega lantas bagaimana ?
Untuk sesaat dia tak mampu memberi jawaban atas
pertanyaan tersebut.......
Tampak kakek itu tertawa lagi katanya lebih jauh
"Bocah muda, kau bilang orang yang berada dibawah
loteng itu adalah si pikun kecil Lok Jin-khi?"
"Benar, benar dia "
Kakek itu segera tertawa terbahak-bahak.
Haaaahhh......... haaaahhh......... haaaahhh.........suruh dia
naik! Suah lama sekali lohu tak menggoda si pengemis cilik
ini."
Diam-diam Oh Put Kui merasa amat girang, sejak dia tak
berani bertanya sewaktu menanyakan nama kakek tersebut,
hingga kini dia tak berani hertanya lagi. maka setelah
mendengar perkataan itu dia lantas tahu kalau si Pengemis
pikun Lok Jin-khi saling mengenal dengan orang ini, meski
seakrang dia tak berhasil mengorek nama kakek tersebut. dari
si pengemis pikun nanti, hal mana pasti bisa berhasil.
Maka setelah mengiakan, dia berjalan menuju ke arah pintu
celah langit langit ruangan, kermudian berteriaknya:
"Lok loko, naiklah! Saudara Kau, harap kau menanti
sebentar dibawah sana !"
Sejak Oh Put Kui naik keatas loteng tadi pengemis pikun
serta Kau Cunjin selalu merasa kuatir, segenap perhatian
mereka diarahkan keatas loteng untuk mengikui jalannya
pembicaraan.
Maka begitu Oh Put Kui berteriak memanggil, pengemis
pikun segera mengiakan sambi1 melompat keatas.
Sehebat-hebatnya pengemis pikun Lok Jin-khi, dia masih
belum berhasil melatih ilmu melihat dalam kegelapan, tak
heran kalau pemandangan lima depa dihadapanya sudah
tidak terlihat jelas olehnya.
"Lote, apakah orang yang meughuni diatas ruangaa loteng
itu adalah seorang tokoh persilatan ?"
Saking gelisahnya, dia bertanya sambil mencengkeram
tubub Oh Put Kui kencang-kencang.
Oh Put Kui segera tertawa.
"Dia adalah seorang boanpwe berambut putih, loko, dia
kenal baik denganmu !"
"Aaaah, masa iya?" seru pengemis pikun sambil
mendongakkan kepala. "Kejadian ini benar-benar tak pernah
kusangka........."
Belum selesai dia berkata, kakek berambut putih itu sudah
tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh......pengemis cilik,
masih ingat dengan gula-gula pemberian lohu? puluhan tahun
tak bersu, apakah kediua biji gigi gerahammu sudah tumbuh
keluar? "Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh...... hingga hari
ini lohu rnasih ingin tertawa tergelak tiap kali terbayang mimik
wajahmu, ingusmu serta air matamu ketika kau sipikun cilik
kehilaugan gigimu....."
Menyusul perkataan itu, dia tertawa tergeletak tiada
hentinya.
Si Pengemis pikun Lok Jin-khi nmampak tertegun setengah
harian lamanya, mula-mula dia agak tertegun, menyusul
kemudian menjadi termagu seperti orang bodoh.
Akhirnya dia ketularan gelak tertawa karek tu dan turut
tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh.....haaaahhh......haaaahhh......,rupanya kau si
orang tua, bukankah kau adalah empek si bocah binal
berjenggot putih ?"
Sambil berkata kembali pengemis pikun tertawa tergelak.
Oh Put Kui yang mendengarkan dari sisi arena, menjadi
menggelengkan kepalanya berulang kali.
Sebutan macam aakah itu ?
Empek bocan binal berjenggot putih
@oodwoo@
JILID : 16
Kalau dilihat dari usia pengemis pikun sekarang,
sesungguhnya dia sudah terhitung cukup tua.
Tapi kalau didengar dari penuturan si kakek tadi, ketika
pengemis pikun masih suka makan gula-gula, kakek tersebut
sudah mempunyai jenggot berwarna putih.
Lantas berapakah usia si kakek itu ?
Kalau dihitung-hitung, bukanlah usianya paling tidak diatas
seratus dua puluh tahun?
Oh Put Kui lantas berbisik disisi telinga Pengemis pikun:
"Lok Loko, siapa sih locianpwe ini?"
"Lote, kakek ini bernama Pok-huat-wan-tong, put-lo-huangsiu
(Bocah binal berambut putih, kakek latah awet muda)!"
Mendengar nama itu, Oh Put Kui menjadi amat terperanjat,
tanpa terasa dia berseru:
"Jadi dia adalah Ban Sik-thong, Bau lo cianupwe?"
"Haaahhhh.....haaahhhh....... haaahhhh.......kalau bukan
dia, siapa lagi?" sahut pengemis pikun tertawa tergelak.
Sementara itu si Bocah binal berambut putih. Kakek latah
awet muda Ban Sik-thong masih tertawa tergelak terus tiada
hentinya.
Oh Put Kui membelalakkan matanya lebarlebar, setelah
menyaksikan sikap lucu, aneh dan mulut si kakek aneh yang
ternganga lebar itu, dia segera menjadi sadar kembali.
Sekarang dia baru tahu mengapa sewaktu berjumpa
dengan si kakek tadi, terasa olehnya kalau raut wajahnya
seperti amat dikenal.
Rupanya sikap maupun tingkah laku kakek itu mirip sekali
dengan si Pengemis pikun. Sedangkan mimik wajahnya justru
mirip sekali dengan Khi-lok-sian-tong (bocah dewa
kegembiraan).
Tak heran kalau dia seperti amat mengenal dengan raut
wajah orang ini.
Selain daripada itu, Oh Put-kui juga teringat akan pesan
dari Oh Ceng-thian, kakek yang menghuni di Pulau Neraka
yang kini telah diketahui sebagai ayah kandung sendiri itu.
Dia pernah berpesan, bilamana perlu dan ingin mengetahui
lebih jelas tentang hal-hal yang penting, maka dia
dipersilahkan mencari Bau-si-thong (Segala persoalan
dipahami) Ban Sik-tong.
Tentu saja kakek ini sesungguhnya tidak usah dicari lagi,
sebab putra Oh Ceng-thian yang sebenarnya tak lain adalah
dia sendiri. Tapi, sungguh tak disangka meskipun dia tak
mempunyai rencana untuk mencarinya, mereka telah
berjumpa tanpa sengaja...
Mungkin inilah yang dinamakan jodoh atau.....
Teringat akan julukan si kakek sebagai Ban-si-thong
(segala persoalan dipahami) dia lantas berpikir lebih jauh,
andaikata kakek ini bersedia membantunya, siapa tahu
dendam sakit hatinya bisa segera terbalaskan....
Sementara Oh Put-kui masih termenung, pengemis pikun
menegur secara tiba-tiba dengan perasaan tercengang :
"Lote, mengapa kau?"
"Aaah siaute baru teringat akan suatu persoalan, maka aku
jadi melamun dibuatnya."
"Apakah kau ingin memohon petunjuk dari Ban-si-thong
locianpwe ini akan suatu persoalan?"
"Yaa, siaute memang mempunyai maksud untuk berbuat
begitu....
Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh.....haaahh...... haaahh..........saudaraku, bila kau
benar-benar mempunyai niat tersebut, maka akan sia-sia
tertegun setelah mendengar ucapan mana, serunya :
"Mengapa ? Locianpwe ini......"
Tidak menanti si anak muda itu menyelesaikan
perkataannya, pengemis pikun telah menukas sampil tertawa :
"Kau anggap si bocah binal tua ini benar-benar memahami
setiap persoalan yang ada di dunia ini?"
"orang persilatan rata-rata berkata demikian....."
"Aaah, itu mah cuma kentut busuk belaka!" potong
pengemis pikun sambil tertawa.
"Loko, sewaktu berada di Pulau neraka tempo hari, ayahku
pun pernah berpesan agar aku datang mencarinya....."
"Ayahmu suruh kau mencarinya karena dia "berharap" agar
kau bisa meminjam nama besarnya untuk menyuruh orang
lain mewakilinya mencarikan berita kemana-mana....."
Sekalipun Pengemis pikun orangnya, agak ketolol-tololan,
akan tetapi terhadap ayah Oh Pat Kui, tentu saja dia tak
berani sembarangan berbicara, dia kuatir ucapan yang salah
bisa berakibat saudara ciliknya itu menjadi marah.
Seperti memahami akan sesuatu, Oh Pat Kui segera
tertawa, katanya kemudian:
"Engkoh tua, siaute sudah mengerti, rupanya yang
dimaksudkan sebagai memahami dalam kata Ban-si-thong
tersebut, sesungguhnya harus ditambah dengan sebuah kata
"tidak," bukan begitu?"
"Seharusnya hal ini bisa kau pahami sejak tadi........"
Sambil tertawa kembali Oh Put Kui berkata :
"Orang persilatan menggunakan cara seperti ini untuk
menyindir cianpwe ini, apakah tidak kuatir kalau dia sampai
marah?"
Pengemis pikun segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhhh........haaaaahhhh......... haaaaahhhh.........jika
dia bisa marah, tak nanti orang lain akan menyebutnya
sebagai si Bocah binal berambut putih, kakek latah awet
muda. Saudara cilik, sepanjang hidupnya dia tak pernah
marah......"
Belum selesai dia berkata, si kakek latah awet muda telah
berteriak secara aneh.
"Pengemis cilik, kalau banyak berbicara begitu apakah kau
tidak merasa lidahmu menjadi kaku? Hati-hati kalau sampai
menggusarkan lohu, kali ini bukan cuma gula-gula saja yang
kuberikan kepadamu......"
Mendengar ancaman tersebut, dengan wajah ketahukan
pengemis pikun segera menjawab:
"Yaaa, kaku, kaku, lidahku sudah kaku. Harap kau orang
tua jangan mencopot gigiku lagi......"
Tampaknya kakek itu merasa bangga sekali, kembali dia
berteriak lantang :
"Jangan takut pengemis cilik, lohu sudah bilang tak akan
menghadiahkan gula-gula untukmu, kali ini aku hendak
memberi hadiah lain kepadamu........"
"Hadiah apa? Hiiiiiihhhh.......hiiiiiihhhh.........
hiiiiiihhhh.........tentunya lebih enak ketimbang gula-gula
bukan?" seru pengemis pikun sambil tertawa cekikikan.
"Tentu saja, tentu saja! Aku rasa kau si pengemis tua cilik
pasti belum pernah mencicipinya!"
Mendadak kakek itu tertawa terpingkal-pingkal sampai
membungkukkan pinggangnya, setengah harian lamanya dia
tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Pada saat itulah pengemis pikun baru berteriak lagi dengan
suara yang parau :
"Empek jenggot putih, kau memang pelit, aku pengemis tak
akan menggubrismu lagi......."
Sambil berkata dia lantas membalikkan badan dan turun
dari ruangan loteng itu.
Jangan dilihat si kakek itu sedang tertawa terpingkalpingkal,
kenyataannya setiap gerak-gerik pengemis pikun itu
dapat terlihat olehnya dengan jelas sekali.
Baru saja dia membalikkan badang, kakek itu sudah
berteriak dengan lantang :
"Eeeh......jangan molor dulu, pengemis cilik, kemari kau,
segera akan kuhadiahkan kepadamu!"
Sambil bersorak gembira, pengemis pikun segera
membalikkan badan dan lari mendekat.
Oh Put-kui yang menyaksikan kejadian itu, diam-diam
tertawa geli, pikirnya :
"Kedua orang tua bangka ini memang dasarnya
sepasang......"
Sementara itu si kakek latah awet muda Ban Sik-thong
sudah mengambil sebuah bungkusan kecil dari bawah kasur
duduknya dan diangsurkan kepada Pengemis pikun Lok jinkhi.
Setelah menerima benda tadi, Pengemis pikun merasa
bungkusan itu adalah sebuah benda yang lunak sekali.
Dia lantas mengira isinya adalah gula-gula.
"Aneh, ini mah gula-gula, aku tak suka!" segera teriaknya.
"Bukan, bukan!" jawab Kakek latah awet muda sambil
tertawa, "benda itu adalah kueh kim-ciau-ni yang khusus lohu
bikin untuk dimakan pada tahun baru nanti. Sekarang kau
boleh mencicipinya lebih dulu"
"Sungguh!" seru pengemis pikun sambil membuka
bungkusan itu.
"Buat apa lohu membohongi dirimu?" jawab kakek latah
awet muda dengan wajah serius.
Sementara itu pengemis pikun telah membuka bungkusan
itu, benar juga isinya adalah sebuah bungkusan itu, benar juga
isinya adalah sebuah gumpalan benda yang berwarna hitam
kekuning-kuningan. Sambil bersorak gembira dia lantas
menjejalkan benda tersebut ke dalam mulutnya.
Tapi sesaat kemudian dia berkerut kening sambil
mengunyah Kim-cau-ni gumamnya berulang kali :
"Tidak, manis, tidak manis, bahkan rasanya agak bau amis
dan busuk......"
Sementara pengemis pikun melahap Kim cau-ni tadi, kakek
latah awet mudah tertawa semakin terpingkal-pingkal,
sedemikian kerasnya dia tertawa sampai rambut dan
jenggotnya turut terguncang keras.
Apalagi setelah mendengar pengemis pikun mengatakan
"tidak manis......", gelak tertawanya semakin menjadi-jadi
sampai hampir tak sanggup bernapas.
Oh Put Kui menjadi tertegun dibuatnya.
Mengapa Kakek latah awet muda bisa tertawa terpingkalpingkal
karena kegelian?
Mungkin dibalik benda yang disebut kueh Kim-cau ni itu
masih ada hal-hal yang tidak beres?
Mendadak Kakek latah awet muda berhenti tertara, lalu
menegur :
"Pengemis cilik, bukanlah kueh Kim-cau ni itu merupakan
sebuah makanan yang pasing aneh rasanya di dunia ini?"
"Bukan cuma aneh saja baunya, luar biasa sekali rasanya!"
jawab pengemis pkun sambil mengunyah terus.
"Bagaimana luar biasanya?"
"Tidak manis, tidak pedas, tidak kecut tapi terasa agak
getir, agak amis serta bau pesing yang sukar ditahan, kueh ini
dibuat dari bahan apa sih? Mengapa rasanya jadi campur
aduk tak karuan?"
"Pengemis cilik, kau benar-benar seorang manusia yang
tak tahu mutu barang!"
Pengemis pikun menggelengkan kepadanya berulang kali,
sahutnya cepat :
"Mungkin kau sendiri yang tahu bahan, suah pasti kau
ditipu orang selagi membeli bahan makanan itu, masa kue ini
kau buat dengan bahan yang bermutu begini rendah.
Hmmmm, syaang dengan uangmu."
Tiba-tiba Kakek latah awet muda bisa tertawa tergelak.
Haaaahhhh............haaaahhhh............ haaaahhhh............
bukan! Bukan begitu! Bahan-bahan tersebut bukan kubeli dari
orang lain, melainkan milik lohu sendiri......"
Kali ini pengemis pikun dibikin tertegun.
"Dari mana kau bisa mempunyai bahan untuk membuat
kueh?" serunya keheranan.
"Dari tubuhku sendiri!"
"Haaaah, mana mungkin bahan dari tubuh mu bisa dibikin
kueh Kim-cau-ni.....?" Pengemis pikun makin terperanjat.
"Tentu saja mungkin!"
"Aku tidak percaya!"
Sambil menahan rasa gelinya, tiba-tiba Kakek latah awet
muda bertanya lirih :
"Pengemis cilik, apakah tiap hari kau kencing ?"
"Kau tidak kencing, bisa kembung perutku!"
"Nah, itulah dia....." seru Kakek latah awet muda sambil
tertawa cekikikan.
Pengemis pikun turut tertawa tergelak.
"Apa sih hubungannya antara kencing dengan kueh Kimcau-
ni........."
Mendadak paras mukanya berubah hebat, lalu sambil
membungkukkan badan ia muntah-muntah.
Bocah binal berambut putih, Kakek latah awet muda segera
menepukkan sepasang tangannya ke bawah, lalu tidak
nampak bagaimana dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya sudah
melambung setinggi tiga depa lebih.
Kemudian sambil tertawa terbahak-bahak serunya :
"Aduuh jeleknya, aduh jeleknya......pengemis makan tahi
malah dipuji gurih."
Sekarang Oh Put Kui baru tahu apa gerangan yang
sebenarnya telah terjadi, dia turut tertawa terbahak-bahak.
Mimpipun dia tak menyangka kalau Kakek itu akan
menghadiahkan segumpal tahi untuk pengemis pikub.
Sementara itu, pengemis pikun sudah muntah-muntah
hebat sampai keluar semua air kuningnya.
Akan tetapi gumpakah kueh Kim-cau-ni yang ditelannya
tadi belum juga ikut termuntahan keluar.
Terdengarh dia sambil muntah sambil mencaci maki tiada
hentinya :
"Empek tua, kau si telur busuk, tua-tua keladi.....kau berani
mempermainkan aku si pengemis....baik, aku tak akan
bergurau lagi denganmu seumur hidup.....uuuh.....uuuh
..........uuuuhhh......"
Meski punya maki tiba-tiba saja pengemis pikun menangis
tersedu-sedu.....
Melihat pengemis itu sudah menangis, Kakek latah awet
muda segera berhenti tertawa, buru-buru serunya :
"Pengemis cilik, sudahlah, jangan menangis, kalau
menangis bukan seorang enghi-ong! Coba kau lihat,
pernahkan empek tua menangis? Empek tua adalah seorang
enghi ong besar, tahukan kau? Ayolah tirulah aku......."
"Meniru kau? Waaah, dunia bisa kacau balau jadinya........"
Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu hampir saja
meledak gelak tertawanya.
Kini pengemis pikun seakan-akan berubah menjadi
seorang bocah nakal yang baru berusia tiga tahun.
Sedang Kakek latah awet muda sedang membujuknya agar
jangan menangis......
Akhirnya setelah dibujuk hampir setengah harian lamanya,
pengemis pikun baru berhenti menangis.
"Pengemis cilik, nah begitulah baru mirip seorang
enghiong," seru Kakek latah awet muda sambil tertawa.
Dengan mata melotot pengemis pikun segera melompat
bangun dari pelukan kakek itu, segera teriaknya :
"Anjing budugan ! Aku tak mau jadi enghiong, besok aku
harus mencekokimu dengan sebaskom air kencing!"
"Haaahh......haaahhh......haaahh.....boleh, boleh saja, asal
kau mampu saja !"
"Tunggu saja tanggal mainnya," teriak pengemis pikun lagi
penuh kegemasan," aku bertekad hendak mencekokimu......"
"Haaaahhh.....haaaahhhh........haaaahh.....baik, akan
kutunggu! Akan kutunggu.."
Mendadak dia berhenti tertawa, lain serunya :
"Pengemis kecil, cepat duduk dan mengatur pernapasan!"
"Tak usah, aku sengaja tak mau menurut perkataanmu,
mau apa kau?" teriak pengemis pikun dengan gusar.
"Tak mau menurut ya sudah. Cuma kalau smapai Kim cauni
itu terbuang dengan percuma, jangan salahkan aku nanti!"
Pengemis pikun jadi tertegun.
"Kim-cau-ni apa lagi? Paling banter juga tahu anjing!"
serunya sambil menahan geram.
Kembali Kakek latah awet muda tertawa tergelak.
"Haaaahhh........haaa.......haaaahhh.....pengemis cilik kau
jangan mencaci maki lagi! Sudah cukup parah lohu kenakan
maki.....cuma paling baik kalau kau menuruti saja
perkataanku. Duduklah dan mengatur pernapasan lebih dulu,
pokoknya besar sekali manfaat yang bakal kau peroleh !"
"Mengapa?" tanya pengemis pikun kemudian setelah
termangu-mangu beberapa saat.
Sekali lagi kakek itu tertawa nyaring.
"Sudahlah, tak usah kau tanyakan lagi, kita bicara kan
setelah kau selesai mengatur pernapasan nanti!"
Dengan perasaan setengah percaya setengah tidak,
Pengemis pikun duduk bersila diatas tanah.
Kemudian setelah menarik napas panjang-panjang, dia
memejamkan mata dan mengatur napas.
Sambil tersenyum Kakek latah awet muda memandang
sekejap kearah Pengemis pikun, kemudian dengan perasaan
puas manggut-manggut, dia mengelapkan tangannya kepada
Oh Put Kui dan serunya :
"Bocah muda, kemari kau!"
Dengan sikap yang amat menghormat Oh Put Kui maju
mendekat.
Mendadak.......dengan suatu gerakan yang amat cepat
kakek itu mencengkeram tubuhnya.
Sementara Oh-put kui masih tertegun, mendadak dia
merasa lengan kanannya yang kena dicengkeram itu seperti
memperoleh suatu tekanan yang amat berat.
Dengan perasaan terkejut dia lantas mengerahkan
tenaganya untuk melawan.
"Kau orang tua......."
Sambil tertawa Kakek latah awet muda menggelengkap
kepalanya berulang kali, ujarnya sambil tertawa :
"Bocah muda, ilmu Kin-paiu-tay-isian sim-kang mu baru
berhasil mencapai lima bagian kesempurnaan !"
"Boanpwe memang bodoh, hingga sukar untuk mencapai
kemajuan yang pesar...."
"Soal usia memang mempengaruhi dalam hal
kesempurnaan, keadaan seperti ini tak bisa kelewat
dipaksakan, anak muda, asal kau mau berlatih tekun setiap
hari, tak sampai sepuluh tahun niscaya kau sudah berhasil
melampaui gurumu!"
Oh Put Kui merasakan hatinya begetar keras setelah
mendengar ucapan itu, sahutnya cepat :
"Terima kasih banyak atas pujian kau orang tua, boanpwe
tidak berani berpikiran demikian."
"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......siapa
bilang, kalau pikiran ini dinamakan khayalan? Bocah muda,
ucapan lohu tak bakal salah....."
Setelah berhenti sejenak, sambungnya lebih jauh :
"Anak muda, kalian bertiga main sembunyi-bunyi
mendatangi lotengku ini, sebenarnya apa yang hendak kalian
curi?"
Mendengar pertanyaan itu, Oh Put Kui segera berpikir di
dalam hati :
"Aaaah, rupanya dia telah membawa pembicaraan kembali
ke pokok persoalan,"
Berpikir demikian sahutnya :
"Boanpwe datang untuk mencari sebuah benda !"
"Di loteng ini ada benda apa? Kau sedang memaki lohu?"
seru si kakek sambil melotot.
Oh Put Kuitidak menduga bila jalan pikiran Bocah binal
berambut putih, Kakek latah awet muda bisa begini cepatnya,
bahkan caranya menghubungkan satu masalah dengan
masalah lain bisa begini cepatnya. Dia tahu bila dirinya telah
salah bicara tadi, buru-buru sahutnya cepat :
"Boanpwe tak berani memaki lohu, Boanpwe memang
benar-benar datang buat mencari barang peninggalan
seorang leluhur kami !"
"Kau bilang Oh Sian adalah empekmu, kalau begitu kau
pastilah putra Oh Cengthian!" kata Kakek latah awet muda
kemudian sambil tertawa keras.
"Benar, dugaan locianpwe memang tepat sekali!"
"Siapakah ibumu ? Pek-ih aug-hud (baju putih kebasan
merah) Lan Hong ataukah Kuay-ko hoat-cu (pemilik lembah
kebahagiaan) Kiau Ko-jin?"
Mendengar pertanyaan itu, Oh Put-kui menjadi tertegun.
Kuay-hoat-kokcu Kiau Ko-jin ?
Bukankah perempuan cantik dari dunia persilatan ini
termasyur sebagai seorang iblis wanita ? Apakah dia dengan
ayah.....
Si anak muda itu tak berani berpikir lebih jauh, dengan
wajah serius dia lantas menjawab :
"Mendiang ibukum adalah Pek-ih-ang-hud!"
"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......akhir
nya bocah perempuan Lan yang berhasil memenangkan
persaingan ini....." seru si kakek sambil tertawa tergelak.
Mendadak dengan mata melotot dia berteriak :
"Bocah muda, apa kau bilang ? Mendiang ibumu ? Apakah
ibumu telah meninggal dunia ?"
"Yaa, sudah meninggal!" sahut Oh Put kui sedih.
"Apa yang menyebabkan kematiannya " Kena penyakit ?"
"Tidak, dia dibunuh oleh musuhnya."
"Telur busuk, bagaimana dengan ayahmu?" seru si kakek
mendadak dengan penuh kegusaran.
"Ayahku tak bisa bergrak dengan bebas lagi."
"Bocah muda, mengapa kau sendiri tidak berusaha untuk
membalas dendam?"
Diam-diam Oh Put Kui berpikir :
"Siapa bilang aku tidak berusaha untuk membalas
dendam? Tapi....siapakah musuh besarku?"
Berpikir demikian, dia lantas menjawab :
"Beanpwe tidak tahu siapakah musuh besarku itu!"
"Apakah Oh Sian tidak menerangkannya kepadamu?" seru
Kakek latah awet mudah dengan mata melotot.
"Suhu pun tidak berhasil mengetahui akan hal ini."
"Apakah ayahmu juga tidak berhasil menyelidiki siapa
pembunuh keji itu?" sambung Kakek latah awet muda cepat
dengan alis mata berkenyit kencang.
Sebenarnya Oh Put Kui hendak menerangkan bahwa
ayahnya tersekap dalam pulau neraka hingga ia tak mampu
untuk melakukan penyelidikan sendiri, akan tetapi sewaktu
ucapan mana sudah sampai disisi bibir, dia segera berganti
nada :
"Benar, ayahku pun tidak mengetahui akan hal ini!"
Kakek latah awet muda pelan-pelan memejamkan matanya
rapat-rapat, lalu berkata lirih :
"Ada urusan apa kau datang kemari?"
"Boanpwe sedang mencari sebatang tusuk konde Ngo-imhua-
kut-ciam milik mendiang ibuku !"
Mendengar itu, mencorong sinar tajam dari balik mata
kakek latah awet muda, serunya dengan cepat :
"Bocah muda, siapa yang mengatakan kalau tusuk konde
pelarut tulang itu berada diloteng ini?"
"Orang perkampungan ini yang mengatakan !"
"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......boca
h muda, lagi-lagi kau tertipu !"
"Jadi tusuk konde pelarut tulang tidak berada diloteng ini?"
Kakek latah awet muda tidak menjawab apa yang
ditanyakan Oh Put Kui, malah sebaliknya bertanya sambil
tertawa :
"Anak muda, sudah berapa lama ibumu terbunuh ?"
"Waktu itu boanpwe masih berumur tiga tahun."
"Dan sekarang, berapa usiamu?"
"Dua puluh satu tahun!"
Kakek latah awet muda segera tertawa.
"Itu berarti sudah hampir sembilan belas tahun bukan? Tapi
lohu sudah hampir dua puluh tahun tinggal di loteng ini, bila
tusuk konde pelarut tulang itu berada disini, masa lohu tidak
mengetahuinya".
Oh Put Kui segera manggut-manggut.
"Yaa, perkataan kau orang tua memang benar!"
Tapi setelah berhenti sejenak, mendadak ujarnya lagi
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali :
"Tapi, kabar ini justru bersumber dari mulut Lamkiong Ceng
sendiri....."
"Bocah muda, apakah kau merasa keheranan mengapa
Lamkiong Ceng membohongimu?"
"Yaa, boanpwe memang tidak habis mengerti akan hal ini!"
"Sebenarnya sederhana sekali, loteng kecil ini ibaratnya
mulut harimau, setiap orang yang datang kemari hanyak ingin
mencari benda mustika, jadi sebenarnya ditempat ini hanya
tersedia sebuah jalan saja, yaitu bisa masuk jangan harap
bisa keluar lagi!
"Mengapa bisa demikian?" tanya Oh Put Kui tertegun.
"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......meg
napa tidak bisa? Bila disini terdapat seorang jago macam lohu,
tolong tanya jago dari manakah yang bisa meninggalkan
tempat ini dalam keadaan selamat?"
Dengan perasaan terperanjat Oh Put Kui berseru :
"Jadi kau orang tua sudah membunuh banyak orang?"
"Haaaahhhhhh...........haaaaahhh.........haaaahhhh.......apa
salahnya kalau kubunuh beberapa orang manusia yang
kemaruk akan harta?"
Sesudah berhenti sejenak, sambil menghela napas dia
berkata :
"Apalagi hanya pekerjaan ini saya yang bisa lohu lakukan
untuk menghibur diri!"
Oh Put Kui yang mendengar perkataan itu hanya bisa
menggelengkan kepalanya berulang kali.
Baru pertama kali ini dia mendengar kabar seperti itu,
membunuh orang hanya bertujuan untuk menghibur diri.
"Locianpwe, menurut pendapatmu, apakah hal ini
sebenarnya merupakan sebuah perangkap?"
"Yaa, hampir begitulah! Mereka ingin memperalat lohu
untuk melenyapkan musuh-musuh tangguhnya...."
Mendadak mencorong sinar tajam dari balik mata kakek itu,
serunya sambil tertawa tergelak :
"Anak muda, lohu sudah mengerti sekarang......."
"Apa yang kau pahami?" tanya Oh-Put-Kui terperanjat.
"Lohu tak boleh melukai orang lagi!"
"Aaaah.......tentu saja, aku tahu kalau kau orang tua adalah
seorang yang berbudi luhur."
Kakek latah awet muda segera tertawa aneh.
"Lohu berbuat demikian bukan dikarenakan aku berbudi
luhur, hanya saja lohu tak ingin membantu orang lain untuk
membunuhi orang, apalagi menjual tenaga buat musuh besar,
bukanlah perbuatanku ini ibaratnya perbuatan telur busuk
tua?"
Mendengar perkataan ini, diam-diam Oh Put Kui tertawa
geli, segera pikirnya :
"Siapa bilang kau tidak tolol, sekarang pun kau sudah
terhitung seorang telur busuk tua!"
Tapi diluaran, dia segera bertanya :
"Kekek Ban, mengapa kau berdiam selama dua puluh
tahun lamanya ditempat ini?"
Mendengar perkataan tersebut. Kakek latah awet muda
menjadi naik darah, segera sahutnya :
"Kau anggap lohu sudah edan, mau berdiam selama dua
puluh tahun ditempat semacam ini?"
Mendengar itu, Oh Put kui menjadi terkejut. Dia tak mengira
kalau kakek ini cepat marah, cepat gembira dan cepat
murung.
Buru-buru serunya sambil tertawa paksa.
"Boanpwe tidak bermaksud demikian, aku hanya heran,
mengapa kau orang tua.....,"
"Sudah, jangan ditanyakan lagi !"
Mendadak Kakek latah awet muda menggelengkan
kepalanya berulang kali, setelah menghela napas panjang,
sambungnya :
"Aaai, semua ini gara-gara lohu terlalu jujur tehadap orang
lain."
"Aku tahu, kau orang tua memang seorang yang berhati
jujur dan polos...."
Ternyata ungkapan tersebut membuat si kakek menjadi
girang sekali, katanya lebih jauh :
"Seandainya lohu tidak terlalu polos dan jujur, bagaimana
mungkin Jut Put bisa mengurung lohu disini ?"
Oh Put-kui pura-pura terkejut, serunya cepat :
"Apakah kau maksudkan Bau-mo-ci-mo., Tai-kek-sin-kiam
(Iblis diantara iblis pedang sakti tenaga raksasa ? Ilmu silatnya
lihay sekali !"
"Huuuh, iblis diantara iblis apa ? Kentut anjing. Sedang soal
pedang sakti tenaga raksasa, hmm, dia masih belum tahan
menghadapi seujung jariku, hitung-hitung saja Thian masih
memberi usia panjang kepadanya !"
Oh Put-kui tertawa geli di dalam hati pikirnya :
"Siapa yang kentut anjir ? Kalau orang lain dan dia tak
tahan seujung jarimu, mengapa orang lain bisa mengurungmu
selama dua puluh tahun lamanya disini ?"
Bagaimanapun juga, pikiran tersebut tidak berani
diutarakan terang-terangan, maka katanya kemudian :
"Benar juga perkataanmu, kalau begitu kau orang tua harus
meninggalkan tempat ini dan membuat perhitungan
dengannya !"
Ketika mendengar perkataan itu, mendadak kakek latah
awet muda menghela napas panjang, katanya lirih :
"Aaaai, tak mungkin lagi bagiku untuk meninggalkan tempat
ini."
"Kenapa ?"
"Jut Put-shia telah membelenggu lohu"
"Bagaimana caranya membelenggumu ?"
"Dia telah bertaruh dengan lohu dan ia berhasil menangkan
diriku dalam pertaruhan itu."
Kembali Oh Put Kui berpikir :
"Aaaah, dugaanku memang tak salah, si kakek binal ini
memang sudah terjebak oleh akal bulus iblis tua itu."
Maka sambil tertawa dia berkata :
"Bagaimana bisa kalah ? Seharusnya dia tak akan berhasil
menangkan kau orang tua ?"
"Yaa, harus disalahkan diriku sendiri, coba kalau aku tidak
lagi mabuk arak, tak mungkin aku bakal tertipu oleh anjing cilik
itu......"
"Bagaimana cara kalian bertaruh?"
Tiba-tiba paras muka kakek latah awet mudah berubah
menjadi merah padam, katanya:
"Dia menantang lohu untuk bertaruh mata uang !"
"Mata uang?" Oh Put Kui segera tertawa tergelak sampai
terpingkal-pingkal.
Pada mulanya ia menduga taruhan mereka berdua pasti
merupakan suatu pertaruhan besar, tak tahunya yang mereka
pertaruhkan hanya permainan anak kecil saja.
Sambil tertawa getir kembali kakek latah awet muda
berkata :
"Lohu yakin kepandaianku di dalam permainan ini sangat
hebat. Siapa tahu Kit Put shia jauh lebih lihay daripada diriku,
sepuluh buah mata uang yang dilemparkan ternyata
semuanya berada dalam keadaan terbalik....."
Oh Put-kui tertawa geli setelah mendengar perkataan itu,
pikirnya dengan cepat :
"Tentu saja Kut Put-shia bisa berbuat demikian, sebab
orang lain telah sertakan tenaga dalam di dalam permainan
itu."
Dia cukup mengetahui watak kakek latah awet muda ini, dia
tahu dalam permainan tersebut sudah pasti kakek itu tidak
menggunakan tenaga dalamnya, melainkan bermain dengan
cara seperti orang awam.
Sebaliknya Kit-Put-shia pasti sudah menyertakan
permainan curang dalam permainan tersebut.
Bayangkan saja tipisnya sebuah mata uang, bila seseorang
menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam mata uang tersebut,
apa salahnya untuk memutar balikkan sebuah mata uang ?
Belum selesai dia berpikir, kakek latah awet muda sudah
berkata lagi sambil menghela napas :
"Begitulah, setelah lohu kalah maka akupun harus disekap
selama duapuluh tahun disini .....
"Sekarang dua puluh tahun sudah lewat, apakah kau orang
tua boleh ke luar dari sini?" tanya Oh Put kui sambil tertawa.
Kakek itu menggelengkan kepala berulang kali, sahutnya :
"Sepuluh hari lagi akan genap dua puluh tahun, cuma
ketika lohu menderita kalah dulu, aku pernah sesumbar bahwa
dua puluh tahun kemudian aku pasti akan mengalahkan
dia....."
"Kalau tak bisa mengalahkah dia ?"
"Yaa, apa boleh buat. Terpaksa aku akan berdiam selama
dua puluh tahun lagi disini!" kata si kakek sambil menghela
napas.
Oh Put-kui segera tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh......haaahh.......haaahhh.......kali ini kau orang tua
pasti akan menang!"
Mendadak kakek latah awet muda merogoh ke dalam
sakunya dan mengeluarkan sebuah mata uang, lalu sambil
menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata :
"Sukar untuk dibilang, sukar untuk dibilang ! Setiap hari
lohu selalu berlatih melemparkan mata uang sebanyak
sepuluh kali, akan tetapi aku tak pernah berhasil menyamai
permainan dari Kit Put-shia, oleh karena itu lohu tahu, sulit
bagiku untuk meraih kemenangan darinya...."
"Kakek Bau asal kau membawa boanpwe serta dalam
pertaruhan itu, kutanggung kau pasti menang."
"Boleh saja membawamu serta, tapi kau tak boleh
mengacau secara diam-siam, kalau tidak, sekalipun bisa
menang juga tak bisa masuk hitungan!"
Diam-diam Oh Put Kui menggelengkan kepalanya berulang
kali, dia merasa kakek ini kelewat jujur.
Akan tetapi diluarnya dia menyahut sambil tertawa :
"Tentu saja, maa boanpwe berani mengacau ? Justru
karena boanpwe mempunyai kepandaian yang lebih hebat
dalam permainan mata uang ini, maka aku tak percaya kalau
Kit Put-sia bisa menang....."
"Sungguhkah itu? Kalau begitu cepat ajarkan kepada
lohu......" seru kakek latah awet muda kegirangan.
Padahal Oh Put Kui tidak memiliki kepandaian apa-apa, dia
tak lebih hanya bicara sekenanya.
Kini, si kakek latah awet muda menyuruh mengajarkan cara
tersebtu kepadanya, hal ini kontan saja membuatnya
kesulitan.
Tapi sambil tertawa dia lantas mengalihkan pokok
pembicaraan kesoal lainnya, katanya :
"Kakek Bau, persoalan ini tak usah terburu-buru untuk
dilakukan hari ini, sekarang boanpwe justru mempunyai
persoalan yang tidak kupahami, kumohon kau orang tua sudi
memberi petunjuk kepadaku......."
"Baiklah, coba kau tanyakan."
"Kau orang tua mengatakan kalau tusuk konde pelumat
tulang tidak berada disini, sebaiknya Lamkiong Ceng bilang
tusuk konde itu berada di loteng ini, menurut pendapatmu
apakah dibalik kesemuanya ini terselip suatu intrik tertentu ?"
"Yaa, itulah yang dinamakan siasat meminjam pisau
membunuh orang......."
"Mengapa mereka hendak melakukan perbuatan meminjam
golok membunuh orang?"
"Mungkin saja mereka hendak membasmi semua orang
yang ada sangkut pautnya dengan tusuk konde pelumat
tulang itu !"
Tergerak hati Oh Put Kui setelah mendengar perkataan itu,
kembali ujarnya sambil tertawa :
"Kakek Bau, jadi kalau begitu jejak tusuk konde pelumat
tulang itu pasti diketahui oleh Lamkiong Ceng atau Kit Putsia?"
"Tentu saja ?"
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata Oh Put Kui,
serunya lagi :
"Kalau begitu, kemungkinan besar Kit Put-shia adalah
musuh besar pembunuh ibuku?"
Kakek latah awet muda segera tertawa tergelak.
"Haaahh......haaahh.......haaahhh.......mana mungkin hal ini
bisa terjadi? Anak muda, kau berpikir kelewat jauh !"
"Locianpwe, bila Kit Put-sia bukan pembunuh ibu boanpwe,
mengapa dia sengaja menyiarkan berita bohon yang
mengatakan tusuk konse pelarut tulang berada disini?
Mengapa dia gunakan siasat meminjam pisau membunuh
orang ?"
Kakek latah awet muda tertegun.
"Emmm, benar juga perkataanmu itu," serunyam "anak
muda, perkataanmu itu memang masuk diakal !"
"BOANPWE rasa, Kit-put-sia sangat mencurigakan di
dalam peristiwa ini......" kembali Oh Put Kui berkata.
"Emmm, sekaran lohu juga mulai percaya kalau dia
memang sedikit mencurigakan!"
Tiba-tiba dengan wajar sedih Oh Put Kui berkata :
"Locianpwe, boahpwe ingin mohon diri lebih dulu !"
"Kau hendak pergi?" boanpwe ingin mohon diri lebih dulu!"
"Kau hendak pergi ?" seru Kakek latah awet muda
tercengang.
"Yaa, keinginan boanpwe untuk pergi ibaratnya anak panah
yang sudah berada di atas gendewa!"
"Hai ini mana boleh jadi ? Bukanlah kau hendak
mengajarkan lohu untuk bermain lembaran mata uang? Kau
harus mengajarkan dulu kepadaku sebelum pergi !"
Dengan cepat Oh Put Kui menggeleng.
"Dendam sakit hati terbunuhnya ibuku harus segera
boanpwe balas, sebelum hal ini terlaksana, hatiku tak akan
merawa tenteram.......biar cara tersebut kuajarkan kepadamu
setelah boanpwe selesai membalas dendam nanti !"
"Tidak bisa !" teriak si Kakek latah dengan gusar,
"menunggu sampai kau selesai membalas dendam, apa
gunanya aku mempelajari cara kepandaianmu itu ?"
Oh Put Kui segera tertawa.
"Kenapa kau orang tua bersikeras untuk mempelajarinya
lebih dulu ? Kit Put shia.....
Mendadak ia membungkam, karena sekarang dia sudah
memahami maksud hati dan si bocah binal berambut putih,
Kakek latah awet muda tersebut......."
Rupanya dia kuatir ia berhasil membalas dendam dengan
membinasakan Kit Put-sia sehingga kakek itu akan kehilangan
patnernya untuk bertaruh, seandainya hal ini sampai terjadi,
bukankah seumur hidup ia bakal terkurung terus disitu ?
Sambil tertawa geli kembali Oh Put Kui berkata :
"Kakek Bau, aku cukup memahami maksud hatimu itu !"
Kakek latah awet muda mengangguk berulang kali, katanya
kemudian :
"Jika kau sudah memahami maksud lohu, maka kau tak
boleh mohon diri lebih dulu."
Oh Put Kui tertawa pedih, sahutnya :
"Baik, boanpwe bertekad akan menunggumu selama
sepuluh hari !"
"Haaahh......haaahh.......haaahhh.......nah, begitu baru anak
penurut, anak muda!" seru kakek latah awet muda sambil
tertawa terbahak-bahak.
"Boanpwe sampai disitu, kembali dia membungkam.
Sebab dia telah menyanggupi permintaan kakek latah awet
muda, tentu saja sesuatu yang telah disanggupi tak bisa
dirubah lagi, meski begitu timbul juga perasaan yang aneh di
dalam hatinya.
Munculnya pertentangan batin ini segera membuatnya
menutup mulut rapat-rapat.
Kakek latah awet muda segera tertara terbahak-bahak.
"Haaahh......haaahh.......haaahhh.......tak usah risau anak
muda, sekalipun harus menunggu sepuluh hari lagi juga tak
menjadi soal."
Sementara mereka berbicara sampai disitu, mendadak si
Pengemis pikun Lok Jin-hi yang sedang duduk bersila sambil
mengatur pernapasan itu menarik napas dalam-dalam
tampaknya dia sudah menyelesaikan latihan semedinya.
Di tengah kegelapan, sepasang mata pengemis pikun
kelihatan bersinar tajam bahkan jauh lebih tajam dari keadaan
semula. Hal ini membuktikan kalau gumpalan tahi yang
dimakannya itu bukan sia-sia belaka.
Sambil memandang ke arah pengemis pikun, kakek latah
awet muda berkata sambil tertawa :
"Hei, pengemis cilik, kueh Kim-cau-ni buatan lohu dengan
bahan baku dari badan ku ini tidak jelek bukan ?"
Suasana hening menyelimuti ruang penerima tamu
perkampungan Siu-ning-ceng.
Ketua siau-lim-pay Hu-sin siansu dengan berkerut kening
duduk dihadapan keempat orang ciangbunjin partai lainnya,
beberapa kali terdengar dia menghela napas panjang.
Suasana hening dan murung tampak menyelimuti seluruh
ruangan tersebut.
Paras muka Han-sian-hui-kiam Wie Sin dari Kay-pang
diliputi hawa kegusaran, tampaknya kelima orang ciangbunjin
itu sedang dirisaukan oleh sesuatu masalah besar.
Saat ini, suasana diliputi oleh keheningan yang
mencekam......
Meskipun paras muka kelima orang itu berubah amat serius
dan gusar, akan tetapi tak seorangpun yang buka suara.
Kentongan ke empat sudah lewat.
Cui-sian sangjiu yang memejamkan matanya itu mendadak
membuka matanya sambil menghardik :
"Siapa yang sedang mengintip diluar jendela ?"
Bentakan ini kontan saja membangkitkan rasa terkesiap
bagi ke empat ciangbunjin lainnya.
Pendatang sudah berada di depan pintu jendela, mengapa
mereka tidak mendengar sesuatu ?
Gelak tertawa ringan segera bergema dari luar ruangan,
menyusul kemudian seseorang menyahut :
"Tajam amat pendengaran sangjin ! Boanpwe baru saja
tiba, jejakku segera ketahuan !"
Cui-sian sanjin tertawa hambar.
"Ilmu meringangkan tubuh yang siau-sicu miliki pun sangat
lihay sekali, kedatanganmu ditengah malam buta ini tentu
mempunyai maksud tertentu, mengapa siau-sicu tidak masuk
kedalam untuk berbincang-bincang?"
Kembali dari luar jendela berkumandang suara tertawa
ringan.
"Boanpwe akan turut perintah..........."
"Kraaaaakkk !"
Pintu kamar dibuka orang, diantara bergoyangnya sinar
lentera tahu-tahu dalam ruangan telah tambah dengan
seorang pemuda berbaju kuning.
Dia adalah Yu-liong-kuay-kiam (naga sakti pedang kilat)
Nyoo Ban-bu.
Cut-sian sangjin merasa sedikit ada diluar dugaan, serunya
sambil tertawa :
"Nyoo sicu kah?"
Keempat ciangbunjin lainnya turut berkerut kening pula,
kejadian ini diluar dugaan mereka.
Dalam perkiraan mereka semula, oleh karena tenaga
dalam yang dimiliki orang itu sedemikian hebat sampai
kehadirannya hingga ditepi jendelapun tidak disadari, maka
delapan puluh persen dia adalah Long-cu-koay-hiap
(pendekar aneh pengembara) Oh Put Kui !
Tak tahunya yang muncul adalah Nyoo Ban-bu.
Nyoo Ban-bu memandang sekejap wajah ke lima orang
ciangbunjin itu, lalu sambil menjura katanya !
Anda sedang membaca artikel tentang Misteri Pulau Neraka 1 dan anda bisa menemukan artikel Misteri Pulau Neraka 1 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/misteri-pulau-neraka-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Misteri Pulau Neraka 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Misteri Pulau Neraka 1 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Misteri Pulau Neraka 1 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/misteri-pulau-neraka-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar