cersil : Pedang Golok Yg Menggetarkan 1 - boe beng tjoe

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Kamis, 25 Agustus 2011


cersil Pedang Golok Yg Menggetarkan
Thian Kiam Coat To
Karya : Wo Lung Shen
Saduran : Boe Beng Tjoe
Judul lama : Pedang Penakluk Golok Pembasmi

Synopsis :
Dunia persilatan sangat mengharapkan Thian Kiam - Kie Tong
(pemilik Ong To Kiu Kiam) dan Pa To - Siang Go (pemilik Toan Hun
It To) berduel untuk mengetahui siapa yang lebih unggul, dapatkah
Ong To Kiu Kiam membendung Toan Hun It To. Sayang sekali tidak
pernah tersiar kabar pertarungan kedua jago tersebut, karena
mereka berdua saling menghindari bentrokan, sama-sama tidak
yakin bisa mengatasi lawan. Akhirnya sama-sama menyeberangi
Seng Su Kio (jembatan hidup mati) dan hidup mengasingkan diri di
sana karena tidak pernah ada orang lain lagi yang berhasil selamat
menyeberangi Seng Su Kio yang diliputi kabut tebal dan pusaran
angin kencang.
Berpuluh tahun kemudian, barulah Coh Siauw Pek, bocah berusia
lima belasan tahun yang diliputi rasa putus asa dan dendam akibat
terbasminya orang tua, saudara dan seluruh keluarga berjumlah
seratus jiwa lebih oleh 9 partai besar dan 9 bun / pang / hwee
ternama, berhasil tanpa sadar melewati Seng Su Kio dan bertemu
dengan Kie Tong dan Siang Go.
Berbekal Ong To Kiu Kiam dan Toan Hun It To warisan Thian
Kiam dan Pa To, Coh Siauw Pek keluar lagi dari Seng Su Kio dan
mulai menyelidiki misteri di balik pembasmian keluarganya yang
bermula dari dituduhnya ayah bunda Coh Siauw Pek membunuh 4
orang ketua dari 4 partai besar. Dalam usahanya tersebut, Coh
Siauw Pek bertemu dan berserikat dengan beberapa orang gagah
yang mendukungnya, membentuk Kim To Bun (Perkumpulan Golok
Emas; Kim To ini pernah menjadi lambang keadilan warisan seorang
cianpwee). Menariknya, dalam Kim To Bun ada 2 orang kakak
beradik perempuan yang cerdik pandai (keduanya cantik jelita tapi
sang kakak buta dan sang adik bisu) yang bertindak sebagai kunsu
(penasihat) bagaikan Cukat Liang / Khong Beng dalam cerita Sam
Kok...................
JILID 1
LAWAN-LAWAN GANAS
Ketika itu cuaca guram bercampur hujan rintik rintik,Justru itu
lima ekor kuda tunggang tengah beriari lari dengan kencang dijalan
yang berlumpur, tanpa menghiraukan turunnya air langit itu.
Anginpun turut bertiup tiup.
Kuda yang lari terdepan dikendalikan oleh seorang anak muda
usia empat atau lima belas tahun- Dia berpakaian biru singsat,
sepatunya sepatu ringan, dan pada pelananya tergangung sebuah
pedang.
Penunggang kuda yang kedua adalah seorang nona berumur
delapan atau semblan belas tahun parasnya cantik. Hanya ketika
itu, wajahnya muram duka dan letih, seperti juga rambutnya yang
kusut. Pakaiannya berlepotan lumpur. Sedangkan lengannya yang
kiri dibalut dengan sapu tangan putih yang tembus oleh darah
merah
Penunggang kuda yang ketiga tak dapat dijelaskan warna
pakaiannya, sebab dia bagaikan habis mandi lumpur, hanya usianya
diduga dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun- Dia adalah
seorang pemuda.
Sebagai penunggang kuda yang keempat adalah seorang nyonya
setengah baya, yang sepasang alisnya hampir menempel satu
dengan lain- Wajahnya sangat muram karena kedukaan Ia
membalut lehernya dengan saputangan yang juga ditembus oleh
darah merah. Ia seperti baru terkena luka.
Penunggang kuda yang kelima, yang terakhir adalah seorang pria
umur lima puluh tahun lebih. Dia ini berdandan singkat dan
membekal sebatang golok. Dia memelihara janggut yang panjang
dan telah ubanan. Dia bermata tajam akan tetapi disaat ini, kedua
belah matanya seperti digenangi air, sedangkan mukanya
bergoreskan empat lintang luka luka golok. yang dua di antaranya
masih baru.
Dipandang dari seluruhnya, teranglah bahwa kelima penunggang
kuda ini tengah melarikan diri atau menyingkir dari sesuatu. semua
kuda mereka nampak sudah letih sekali.
Cuaca sementara itu makin muram dan hujan dengan perlahan
lahan mulai tambah deras turunnya...
Si orang tua berjanggut putih itu memandang kesekitarnya. Tiba
tiba dia mengeduttali kudanya, membuat kudanya itu terkejut lalu
berjingkrak untuk terus berlompat lari, hingga sesaat kemudian dia
telah dapat menyusul sinyonya setengah tua.
"Marilah kita beristirahat sebentar" katanya sambil menghela
napas panjang. "segera kita akan melanjutkan perjalanan kita ini.
Bagaimana dengan lukamu itu? Parah juga, bukan?
Berkata demikian, tanpa merasa, orang tua ini melelehkan air
matanya. Nampaknya dia sangat berduka. Air matanya jatuh
berderai.
Si nyonya yang diajak bicara, yang tadinya berwajah duka,
tersenyum.
"Tak apa apa" sahutnya tenang, sedang sebenarnya, dia terpaksa
mesti menguatkan hatinya melawan rasa dukanya. "Inilah luka
ringan yang aku masih dapat mengatasinya. Hanya... ah aku
menguatirkan anak Koan-.. dia..."
Si nona, yang menjadi penunggang kuda yang kedua, tiba tiba
berpaling.
"Ibu, aku tak kurang suatu apa" ucapannya. Tapi, walaupun dia
tersenyum, dua tetes air matanya masih jatuh berderai.
"Anak Koan, jangan kau mendustai ayahmu..." kata si pria tua.
"Ayah, aku memang tak kurang suatu apa" kata si nona cepat.
Diam diam dia menggertakkan giginya. Dia pun mengangkat
sebelah lengannya. "Ayah lihat, lenganku tak sakit lagi"
Akan tetapi, dengan mengangkat dan menggerakkan tangan itu,
timbul rasa nyerinya yang hebat, hingga nona itu mengeluarkan
peluh dingin- Lekas lekas dia menyampingkan mukanya, untuk tak
memperlihatkan wajahnya kepada kedua orang tuanya itu. Terus dia
menjepit perut kudanya, membuat binatang tunggangannya itu
berlari kencang.
orang tua itu bermata jeli, ia bagaikan dapat melihat luka lengan
puterinya itu. ia mengerti, tanpa perawatan yang cepat, lengan itu
bisa bercacat, saking berduka, ia berdongak. mengawasi langit.
"Aku Tjoh Kam Pek..." keluhnya, "melihat keatas aku tak malu
kepada langit, melihat ke bawah, aku tak malu kepada bumi,
karenanya mengapa kami sampai menjadi begini? Kenapa aku mesti
membuat isteri dan anak anakku tersangkut paut hingga mereka
mesti mengikutiku sengsara merantau menyingkirkan diri?..."
si nyonya melarikan kudanya, menyusul si orang tua, suaminya.
setelah datang dekat, ia mengulurkan lengan kanannya, untuk
menyeka tangan kiri si suami.
"Janganlah kau berduka suamiku," katanya, halus. "Manusia baik
akan memperoleh berkah Tuhan yang Maha Kuasa... salah paham
ini penasaran kita ini akhir akhirnya akan dapat dibikin jelas juga.
Kapan telah tiba saatnya maka orang orang Rimba Persilatan itu
pasti bakal menjadi malu sendirinya..."
orang tua itu, yang menyebut dirinya Tjoh Kam Pek.
menggelengkan kepala.
"sudah delapan tahun..." sahutnya, sedih bercampur murka. "Kita
telah melintasi air air yang hitam dan gunung gunung yang putih,
kita telah menjelajah padang pasir dan tegalan belukar, akan tetapi,
dimanakah tempat kita mendiamkan diri? Ah... sudah delapan
tahun, belum pernah kita dapat beristirahat tenang barang tiga hari,
kita terus mesti berlari lari... sakit hati ini, yang dalam bagaikan
lautan. tak ada harinya untuk dilampiaskan.... Terang sudah bahwa
orang orang Rimba Persilatan, semuanya menghendaki dapat
membekuk kita sekeluarga, baru mereka akan merasa puas
walaupun aku memiliki lidah tajam seperti souw Tjin, sulit bagiku
untuk memberikan penjelasan..."
"Jangan bersusah hati, suamiku, berkata si nyonya, "sang waktu
masih panjang, siang hari masih banyak. tak usahlah kita terburu
napsu..."
Kam Pek mengawasi isterinya. Ia melihat sapu tangan putih yang
melilit leher isterinya yang telah menjadi merah seluruhnya. Itulah
bukti bahwa darah segar masih mengalir keluar. sejenak, ia merasa
malu pada dirinya sendiri, karena tidak mampu membelai
melindungi isteri itu
"Kita telah berlari lari satu malam dan setengah hari," katanya
kemudian. "Jikalau aku tidak salah hitung, seng su Kio pasti tak ada
seperjalanan seratus mil lagi, karena itu, marilah kita beristirahat
sebentar." Dengan perlahan lahan sinyonya mengangguk
"Baiklah" sahutnya. "Kitapun perlu memeriksa lukanya anak
anak... Ah kasihan anak-anak yang tidak berdosa ini, mereka mesti
mengikuti kita untuk menderita kesengsaraan selama delapan
tahun, belum pernah ada satu haripun dimana kita dapat berdiam
dengan tenang." Bukan kepalang berdukanya Kam Pek.
"Aku adalah seorang laki-laki sejati," katanya "akan tetapi aku
tidak sanggup melindungi istri dan anak-anakku. sungguh
memalukan" suara orang tua ini menggetar.
"Jangan kau sesalkan dirimu, suamiku," berkata sang istri.
"Biar bagaimana sebab musabab dari ini semua adalah aku
sendiri, istrimu." Kam Pek mengangkat kepalanya, dia menghela
napas.
"Bukankah didepan sana itu ada sebuah rumah suci?" katanya.
"Mari kita pergi kesana, untuk melindungi diri dari hujan dan angin."
Begitu habis mengucapkan kata katanya itu orang tua ini segera
menarik tali kudanya, untuk melarikan binatang itu ke arah kuil yang
disebutnya. Nyonya Kam menyusul suaminya diikuti oleh anak-anak
mereka. Tujuan mereka adalah arah barat utara, barat laut.
sang hujan, dari gerimis telah semakin keras, semakin lebat.
Cuaca juga menjadi bertambah guramJauh disebelah depan, sebuah
gunung bagaikan diliputi uap-uap yang seperti menyambungkan
bumi dengan langit.
Perjalanan itu tak jauh lagi, akan tetapi karena semuanya
dikaburkan keras, kelima kuda Kam Pek berlima menjadi sangat
letih, tapi syukurlah mereka segera juga tiba ditempat tujuan.
Itulah san sin Bio sebuah kuil malaikat gunung. saking kecilnya,
ruang melainkan satu. Walaupun kecil, tembok seluruhnya putih
bersih, gentingnya baru, dan pintunya baru juga. semua itu
menandakan bahwa kuil ini baru diperbaharuhi.
Paling dulu Kam Pek lompat turun dari kudanya. Ketika ia
membentangkan kedua belah tangan untuk menyambut istrinya,
dan membantuinya turun dari kudanya, istri itu sebaliknya
mendahului lompat turun dari atas kuda tunggangannya.
"Tak usah melayani aku," kata sinyonya perlahan "Lekas lihat si
Koan, anak kita..."
sementara itu sinona, yang disebut anak Koan telah lompat turun
dari kudanya menyusul turun ayah bundanya. setelah itu ia
langsung menghampiri anak laki-laki usia empat atau lima belas
tahun itu.
"Adik, mari turun", kata lembut, "Kita beristirahat disini."
Bocah itu ketika menghentikan kudanya tidak segera lompat
turun. ia hanya mengangkat mukanya, sedangkan sepasang alisnya
berkerut, seolah sedang memikirkan sesuatu yang tak ringan- ini
adalah karena, berlari larian selama delapan tahun telah membuat
ia dalam penghidupannya matang terlalu siang. Didalam usia empat
tahun atau lima belas tahun itu, telah lenyap masa kegembiraan
yang wajar, hingga ia tak lagi mirip dengan seorang anak yang baru
mulai besar...
sinona mengulurkan tangannya, dengan sabar mencekal lengan
kanan bocah itu.
"siauw Pek. kau memikirkan apa?" suaranya halus.
Bocah itu, yang dipanggil siauw Pek. nampak terkejut, tetapi
hanya sekilas saja. segera ia lompat turun dari kudanya, bahkan ia
tersenyum.
"Aku tidak memikirkan apa apa, kakak," sahutnya "Apakah kita
hendak beristirahat?" si nona tertawa sedih.
"Ya," sahutnya. "Kita sudah berlari lari selama satu malam
setengah hari... Kuda kita pun telah lelah, hingga tak dapat lari
terlebih jauh lagi..."
Habis berkata, si nona memandangi adiknya itu. Ia mengira ngira
tinggi tubuhnya si adik, Tiba tiba air matanya turun menetes. Ia
ingat, ketika mereka lari meninggalkan rumah mereka, adik ini
masih seorang bocah cilik yang belum tahu apa apa, akan tetapi
sekarang, dia telah menjadi besar mirip dengan seorang pemuda. si
adik diajak lari menyingkir didalam usia enam atau tujuh tahunsiauw
Pek pun mengawasi kakaknya itu sang enci atau kakak
wanita.
"Kakak. tubuhku lebih tinggi daripada tubuhmu" ujarnya.
Kakaknya tertawa tawa.
"Ya, kau lebih tinggi" katanya. "Kau telah jadi besar"
Delapan tahun lamanya. Keluarga Coh ini hidup didalam
perantauan merantau sambil berlari lari bersembunyi dari
pengejaran musuh musuh mereka selama itu mereka sering
kehujanan, kelaparan, dan kehausan. selama itu juga, merekapun
telah mengenal banyak, belajar bukan sedikit. Hingga masing
mereka tak ingin membuat mereka satu pada lain menjadi berduka.
Bersama sama mereka saling menguatkan hati, saling mencoba
untuk menderita sendiri sendiri
Disaat itu datanglah sianak muda, mendekati si bocah. Dia
adalah seorang yang berusia dua puluh dua atau dua puluh tiga
tahun. Dengan tiba tiba saja dia mengulurkan tangannya menyabuti
tali kuda adiknya.
"Pergilah kamu bersama sama ayah dan ibu masuk kedalam kuil
untuk beristirahat" katanya, sambil tertawa.
" Kakak, kau justru yang paling lelah," kata si nona pada pemuda
itu. Ia bicara dengan suara sangat perlahan dan halus.
Pemuda dengan pakaian bermandikan lumpur itu tertawa
hambar. Dia tidak menjawab, hanya terus menuntun kelima ekor
kuda mereka menuju sisi kuil dimana ada sebuah pekarangan yang
ditumbuhi rumput. Disitu kelima ekor kuda itu lantas makan rumput
dengan lahapnya karena mereka sudah sangat lapar. Kam Pek
menggebriki air hujan pada bajunya.
"Ki Pek, tinggalkan kuda itu", katanya pada putera sulungnya.
"Kau juga harus turut beristirahat".
"sebentar, ayah." sahut si pemuda. "sekarang ini baiklah ayah
periksa dahulu luka ibu dan adik Koan."
Kam Pek mengangguk, ia melurut jenggotnya yang panjang,
terus melangkah kedalam kuil, menyusul isteri dan kedua anaknya.
Memang biasanya, setiap ada waktu untuk istirahat, Ki Pek selalu
mengurus dahulu kelima ekor kuda mereka, supaya semua binatang
tunggangan itu dapat makan dan mengaso cukup. Ia mengerti
pentingnya hal itu. selama delapan tahun, belum pernah ia lalui
walau sehari juapun.
Didalam ruang kuil yang kecil itu, Kam Pek duduk berempat
bersama isteri dan dua anaknya. Ia meloloskan kantung kain minyak
yang diikat pada pinggangnya, untuk membuka kantung itu, ia
mengeluarkan isinya, ialah bekal santapan kering.
"Anak mari makan" katanya. "Ini mungkin perjalanan kita yang
terakhir, setelah ini, bisa jadi tidak akan ada orang lagi yang
menyusul dan mengejar ngejar kita..."
sembari berkata-kata, Kam Pek membuka tutup sebuah botol
yang terbuat dari batu kemala putih. setelah itu ia memandang
isterinya, sambil tertawa sedih.
"Ini juga botol kita yang terakhir..." katanya, pelan. Terus ia
menoleh kepada anak gadisnya, dan selanjutnya berkata : "Anak
Koan mari, aku hendak lihat lukamu."
" Luka ku tak parah, ayah," kata sinona. "Baiklah ayah periksa
dahulu lukanya ibu."
si nyonya, atau sang ibu tertawa tawar.
"lbumu telah berusia lanjut, luka ini baginya tidak ada artinya,"
katanya. "Luka dileher ini, andaikata tidak diobati, paling juga akan
menimbulkan satu cacad. Tidak demikian dengan kau, anak. Kau
masih muda, jika tanganmu cacad, kau bakal menyesal seumur
hidupmu..."
"Tapi obat ini cukup untukmu berdua", Kam Pek menyela.
Berkata begitu, suami ini lantas membuka balutan pada leher
isterinya, hingga ia melihat bekas suatu bacokan yang dalam sekira
satu dim, luka mana hampir mengelilingi seluruh leher, Luka itu
masih mengeluarkan darah. Maka ia menjadi terkejut sekali.
"Hebat juga golok ini" katanya didalam hati. "syukur lukanya
tidak sampai mengenai otot besar..."
Tidak ayal lagi Kam Pek memakaikan obat pada luka istrinya,
ialah obat bubuk warna putih, cepat-cepat ia membalutnya.
"sekarang giliranmu, anak Koan" katanya kemudiansembari
membuka balutan pada lengannya Bun Koan, demikian
nama anak dara itu menghampiri ayahnya lantas melonjorkan
tangannya.
Luka itu diperolehnya beberapa hari yang lalu karena kurang
terawat, dan terkena angin dan air hujan, tampak mulai bernanah.
Ayah itu mengerutkan alisnya. "Anakku, katanya, menghela
napas, kalau terlambat dua hari lagi, akan hebatlah kesudahannya
luka ini, yaitu lengan kirimu ini bakal bercacad..."
Habis berkata, Kam Pek menuang sisa isi botolnya, lalu botol itu
dilempar dan kemudian dibalutnya pula luka puterinya.
"Mudah mudahan inilah perjalanan kita yang terakhir. tak usah
kita tercandak dan terkepung lagi oleh musuh kita yang tangguh..."
katanya perlahan, dengan wajah yang suram.
"Ayah", tiba-tiba siauw Pek. sianak tanggung berkata, "ada suatu
hal yang aku tidak mengerti, aku tidak tahu, aku dapat bertanya
atau tidak..."
Kam Pek tercengang. segera ia mengawasi putera bungsunya itu.
Ia melihat wajah si putera muram, bagaikan orang yang gusar. Tiba
tiba ia menghela napas panjang.
"Kau tanyalah, anak" serunya kemudian. "sebenarnya, sekalipun
kamu tidak menanyakannya, aku toh bakal memberi penjelasan
kepada kamu"
"Aku ingat," berkata sianak. "di itu hari yang aku ingat dan
mengerti, itulah saatnya kita serumah tangga sedang berada
didalam pelarian"
"oh, anakku." berkata si nyonya usia pertengahan, yang tak
dapat menahan turun air matanya, " ketika pada tahun itu kita mulai
meninggalkan rumah kita untuk meying kirkan diri, usiamu belum
lewat tujuh tahun..."
"sekarang ini, berapa tahun usiaku?" si anak bertanya.
"Lima belas", jawab sang ayah.
"Aku turut berlari dalam usia tujuh tahun." berkata lagi si anak,
"sekarang umurku lima belas tahun. itu berarti aku telah turut
merantau selama delapan tahun. selama itu aku ingat aku turut
melintasi gunung, menyeberangi sungai, menjelajah keselatan dan
keutara, ke perbatasan, kedaerah es dan salju, menginjak tanah
padang pasir dimana angin keras menderu deru selama itu kita
sekeluarga belum pernah mempunyai tempat dimana kita bisa
menginjakkan kaki kita sampai lama, dimana mana selalu ada saja
musuh-musuh yang menyandak kita oh, ayah, sebenarnya
perbuatan salah apakah yang pernah ayah lakukan hingga
menyebabkan semua orang rimba persilatan didalam dunia ini
serempak memusuhimu,"
Muda usia si anak akan tetapi sudah sejak beberapa tahun ia
memikirkan soal ini yang membuatnya tak mengerti dan heran,
hingga ia menerka-nerka didalam masgul dan bingungnya. Baru hari
ini ia dapat kesempatan mengajukan pertanyaannya ini.
Belum lagi ayahnya memberikan jawaban dengan suaranya yang
keras, Siauw Pek sudah berkata pula : "setiap kali muncul orang
orang menempur ayah, ibu, kakak dan enci, setiap kalinya mereka
itu adalah orang orang yang berlainan. Mungkinkah mereka itu
mempunyai dendam kesumat yang hebat sekali terhadap ayah ?
Mungkinkah mereka orang-orang jahat semua."
"Tutup mulut " mendadak berseru sang ibu "Bagaimana kau
berani bicara begini rupa terhadap ayahmu? Apakah kamu tidak
tahu aturan".
Mendengar teguran ibunya, bocah itu nampak sabar, akan tetapi
ia masih menatap ayahnya dan sembari menangis, ia berkata :
"Maaf ayah, aku bersalah " segera ia menjatuhkan diri, berlutut
dihadapan ayahnya itu. Kam Pek menoleh kepada isterinya.
"Jangan tegur dia," katanya sabar. ia menghela napas. "Dengar
aku si orang she Coh yang tak punya guna," tambahnya. "Aku telah
membuat isteri dan anak anakku turut merantau sengsara selama
bertahun tahun..." ia mengangkat tangannya mengusap usap kepala
anak bungsunya itu, lalu dengan suara parau, ia berkata pula :
"Anak. kau tidak salah. Ayahmu tidak berdaya mencuci salah paham
dan dendam penasaran ini, hingga kamu semua, anak anakku,
terpaksa mendapat nama yang tidak bersih" siauw Pek mengangkat
kepalanya, ia mengawasi ayahnya.
"Ayah Dendam penasaran ini dapatkan ayah menjelaskannya
kepadaku?" ia bertanya. Ayahnya tertawa sedih, seraya
mengangguk.
"Tentu dapat aku menjelaskan kepadamu, anak-anakku".
jawabnya. "saat ini justeru saat yang terakhir. Memang, walaupun
kau tidak menanyakan, ayahmu hendak menggunakan kesempatan
ini buat cerita kepada kamu, supaya kamu semua tahu duduknya
persoalan."
Coh Bun Koan, siputeri, yang sejak tadi diam saja mengawasi
ayahnya, tiba-tiba menyela.
"Ayah, sabar", katanya "Kita sudah bisa menyingkir selama
delapan tahun, belum pernah musuh-musuh kita berhasil
memuaskan hati mereka karena itu, kenapa kita tidak dapat memikir
terlebih jauh ? Ilmu silat kakak bertambah maju setiap hari, aku
sendiri merasakan diriku memperoleh kemajuan juga, maka itu,
baiklah kita tunggu sampai luka lenganku ini sudah sembuh, nanti
kita mencoba melawan pula musuh musuh kita itu. Kali ini, kita akan
melawan secara mati matian Hanya ada satu hal yang tidak aku
mengeri. Kenapa ayah rela menerima luka-luka serangan dari
musuh musuh kita tetapi ayah sendiri tak sudi membalasnya dengan
serangan balasan yang mematikan mereka ?"
Wajah Kam Pek bersedih dan muram, akan tetapi mendengar
pertanyaan puterinya itu, ia tersenyum. Dengan suara yang bernada
menghibur, ia menjawab. "Tak dapat ayahmu melakukan kesalahan
lagi sesudah terlebih dahulu d la membuat suatu kekeliruan.
sekarang ini ayahmu sudah berusia lebih daripada setengah abad,
kalau aku mesti mati, aku rela, tak usah jadi penjelasan.
Mungkinkah aku membuat permusuhan lebih hebat yang akibatnya
bakal diderita oleh kamu semua ? Tidak. aku tak dapat menanam
bibit permusuhan semacam itu"
"Ayah sangat bermurah hati," berkata sinona, berduka. "Tetapi
disamping itu, ayah, musuh-musuh kita yang mengejar kita tak
henti hentinya itu sama sekali tak sudi memberi ampun kepada kita.
selama beberapa tahun, ayah dan ibu telah menghadapi ratusan kali
pertarungan, sempat ayah dan ibu mendapat luka ringan dan berat
toh semua itu tak dapat merobah hati musuh-musuh ganas itu.
Tetap mereka masih mengejarnya untuk membasmi kita Kenapa
semangat ayah bagaikan telah runtuh ?" Tjoh Kam Pek
menggelengkan kepala.
"Bukan, anak. semangan ayahmu belum runtuh " katanya. "Aku
menjadi seperti tak berdaya karena paksaan suasana. sebab aku
insaf tak dapat kita menghindarkan diri dari ancaman marabahaya
melainkan dengan kita bekerja sama dan berkelahi mati matian.
Musuh-musuh kita itu, sembilan partai yang telah mengirim
pemberitahuan kepada seluruh dunia Rimba Persilatan
menganjurkan orang-orang Rimba Persilatan yang mana saja untuk
membekuk ayahmu ini. Mereka itu telah dijanjikan, siapa saja yang
berhasil menawan hidup hidup diriku, dia akan diberi hak memulih
dan mendapatkan tiga macam ilmu silat yang istimewa dari
kesembilan partai persilatan yang besar itu, sedangkan siapa yang
bisa menangkapku dalam keadaan mati ia akan memperoleh satu
macam ilmu kepandaian istimewa. Itulah hadiah yang luar biasa,
yang belum pernah ada sejak dahulu kala. Itulah hadiah yang paling
berharga hingga orang tertarik. siapa tidak tahu bahwa setiap partai
itu memiliki masing masing tiga macam ilmu kepandaian yang
istimewa Bukanlah sembilan partai itu menjadi dua puluh tujuh ilmu
silat yang mahir sekali? siapa mempunyai ilmu silat itu, pasti dia
bakal menjagoi dunia sungai Telaga, dunia Persilatan"
"sekarang aku telah mengerti," kata Nona Bun Koan. "Rupa
rupanya musuh kita itu, yaitu disebabkan mereka ingin memperoleh
ilmu silat yang istimewa itu, mereka memusuhi kita walaupun kedua
belah pihak tak ada pemusuhan yang besar."
"Ya, begitulah duduknya hal sebenarnya," sahut Kam Pek,
memastikan- " Karena itu, semua orang di Rimba Persilatan telah
menjadi musuh musuh kita sekeluarga. Coba pikir dapatkah kita
menentangnya?" Ia menarik napasnya panjang panjang, terus
menambahkan :
"oleh karena itu, bagi kita semua, tidak ada menyingkirkan diri
Aku tidak percaya bahwa didalam dunia yang begini luas bakal tidak
ada satu tempat dimana kita bisa berlindung yang tenang dan
aman. Memang sudah delapan tahun kita berlarian dan masih belum
menemukan tempat itu, akan tetapi, kita tak berputus asa. Kita
harus mencari kehidupan dalam kematian. Kita harus mencoba
mencari jalan hidup" Bun Koan masih hendak menanyakan lebih
jauh, tapi siauw pek, adiknya, menyela.
"sebenarnya, ayah," tanya si anak bungsu. "urusan apakah yang
menyebabkan kesembilan partai besar itu memusuhi ayah sampai
mereka mengumumkan berita menjanjikan hadiah ilmu silat yang
istimewa?".
sebelum menjawab Kam Pek menoleh pada isterinya, lalu ia
tertawa sedih.
"Kali ini, apakah mati atau hidup, sulit untuk dapat dipastikan.
oleh karena itu, jika sekarang kita tidak memberi penjelasan pada
anak anak kita ini, mungkin sudah tidak ada temponya yang lain
lagi..."
sang nyonya istri itu menyahut sabar: "Kalau begitu, terserahmu
suamiku".
segera Kam Pek mengangkat palanya. Dan ia menghela napas,
melegakan hatinya.
"Anak inilah satu soal yang sulit sekali, suatu salah paham yang
sukar untuk dijelaskan". Katanya kemudian. "Bicara sebenarnya,
sampai disaat ini, ayahmu masih belum dapat menerka tepat,
apakah itu fitnah atau suatu kebetulan saja. Coba kesembilan partai
itu tidak terus terusan mengejar padaku, mungkin selama delapan
tahun aku telah berhasil membekuk si pelaku utamanya yang
bersalah."
Tiba tiba sang ayah itu menghentikan kata katanya. Mungkin
kuatir, anak anaknya tidak akan mempercayainya.
"sakit hati apakah itu ayah?", tanya siauw Pek. " Kenapa ayah tak
bicara terus?"
"Jikalau aku bicara terus", kata sang ayah ragu, "Aku kuatir kau
sukar mempercayai..." Ia diam sejenak. tiba tiba berkata keras :
"Kie Pek. mari ayah ingin bicara kepadamu semua".
Putera sulung itu, yang masih berada diluar kuil, menyahut
panggilan ayahnya terus lari masuk.
"Ada apakah ayah?", tanyanya sambil menggibriki air hujan pada
bajunya. Ayahnya bangkit dengan perlahan lahan.
"Tahukah kami sebabnya kesembilan partai besar mengirimkan
pemberitahuannya itu? Kenapa mereka bersatu padu hendak
memusnahkan kita sekeluarga?" Demikian pertanyaan ayah itu
akhirnya. Kam Pek menghela napas perlahan-
"Aku hanya ketahui ayah mempunyai dendam penasaran yang
hebat sekali," sahutnya.
"Tahukah sebabnya?"
"sebegitu jauh yang aku tahu itu disebabkan empat ketua dari
kesembilan partai besar itu telah dibunuh secara diam diam," sahut
sang anak. "Dan didalam hal itu kesembilan partai besar telah
mencurigai dan menuduh ayah yang melakukan pembunuhan gelap
itu, lalu membabi buta tanpa memberi penjelasan, mereka
menitahkan murid murid mereka mencari dan menyerang ayah.
Demikianlah sudah terjadi, para murid kesembilan partai besar itu
telah menyerbu Pek Ho Po yang mana dilakukan diwaktu malam
gelap gulita, mereka membasminya sampai kita terpaksa
mengangkat kaki dari rumah kita itu..."
Rumahnya keluarga Tjoh itu dinamakan "Pek Ho Po", yang
berarti "dusun burung Jenjang putih". sebagai umumnya, dusun itu
merupakan perkampungan orang orang she Tjoh berikut para
pegawainya.
Tiba tiba siauw Pek memandang kakaknya dan bertanya: "
Kakak, kenapa mereka itu menyangka ayah?" Ditanya begitu, Kie
Pek melengak.
"Entahlah," sahutnya sejenak kemudian-"Aku tak jelas..."
Habis menjawab adiknya, kakak itu berpaling kepada ayahnya.
"Rupa- rupanya," ia meneruskan setelah hening sejenak. "justru
di saat ketua-ketua dari keempat partai besar itu, yaitu siauw
Limpay, Bu Tong Pay, Ngo Bie Pay dan Khong Tong Pay, telah
dibinasakan orang, justru ayah tiba dipuncak Yan-le Hong di bukit
Pek Man itu"
Pek Ma san, atau bukit "Kuda Putih", adalah bukit di mana terjadi
bencana atas diri ketua keempat partai itu, dan tempat terjadinya
ialah diatas Yan-le Hong, puncak "Asap dan Hujan".
Jawaban Kie Pek ini ditujukan kepada siauw Pek. adiknya, akan
tetapi tak langsung tertuju juga kepada ayahnya. Biar bagaimana,
iapun merasa heran, hingga ia meragu ragukan keterangan ayahnya
itu.
Kam Pek mengusut janggutnya yang panjang. Ia tertawa
menyeringai, terus memandang istrinya.
"Tidak heran jikalau kesembilan partai besar mengirim
pemberitahuan kepada kau Dunia sungai Telaga untuk menjanjikan
hadiah guna membinasakan kita," katanya perlahan, "kau lihat
sendiri, sekalipun anak anak kita, mereka juga menyaksikan ayah
sendiri." Kaum sungai Telaga, Yang ouw, adalah sama dengan kaum
Rimba Persilatan, Bu Lim.
Mendengar kata kata ayah itu, mendadak siauw Pek
menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan orang tuanya, sembari
menangis, ia berkata. "Sama sekali bukan aku mencurigai ayah,
melainkan mengharap ayah sudi memberikan keterangan yang jelas
supaya kelak dikemudian hari aku dapat melakukan penyelidikan
guna mencuci bersih penasaran ayah ini."
Wajahnya Kam Pek tiba tiba menjadi pucat tubuhnyapun
bergemetar. Teranglah bahwa hatinya telah terguncang keras.
Karena ini, buat sekian lama, tak dapat ia mengucapkan sesuatu.
Tiba tiba Nonya Tjoh berkata. "suamiku kau beritahukanlah
kepada mereka Ah, sampai disaat ini, tak usah kau menolongku
melindungi muka terangku..." Kam Pek menarik napas perlahan. ia
memandang anak anaknya. "Tahukah kamu tempat tujuan kita?"
tanyanya.
Bun Koan, yang sekian lama itu berdiam saja, menyahut dengan
tiba tiba. "Itulah seng su Kio "
Siauw Pek heran, Seng Su Kio adalah nama jembatan, dan
artinya "Peng Lu" itu ialah " Hidup mati". sebenarnya ia hendak
meminta keterangan akan tetapi melihat muka ibunya, yang
mengucurkan air mata deras, ia menahan kehendaknya. Kam Pek
memandang anak anaknya satu persatu.
"Tahukah kamu, kenapa tempat itu diberi nama seng Lu Kio?" ia
bertanya.
"Aku tidak tahu", jawab Bun Koan sang puteri.
"Itu adalah sebuah tempat yang keadaannya sangat berbahaya",
mengerangkan sang ayah. "Di dalam kalangan Rimba Persilatan,
nama tempat itu tak pernah lenyap dari benak pikiran. Apakah
sebabnya itu? sebenarnya, aku sendiri tidak mengetahuinya jelas,
cuma aku dengar telah pernah ada ratusan, ya ribuan orang orang
Rimba Persilatan yang telah membuang jiwa raganya di situ"
"Jikalau tempat itu sedemikian berbahaya, buat apakah kita pergi
kesana?" tanya Bun Koan
"Mustahilkah di dalam dunia yang begini lebar ini tidak ada satu
tempat juga dimana dapat kita menaungkan diri?"
"Tidak, tidak ada lagi" sahut sang ayah.
"Di gunung yang lebat, disungai yang luas, juga dipadang pasir
dan tanah belukar, ditempat mana saja kemana kita dapat pergi,
kesana mereka akan dapat menyusul dan menyandak, kecuali seng
su Kio. Di sana, sebaliknya, walaupun tempat sangat berbahaya,
kita masih dapat mencari suatu jalan hidup,.."
"Maafkan anakmu, ayah," tanya Nona Bun " Kenapa tempat itu
diberi nama seng su Kio jembatan Hidup Mati yang demikian
seram?"
"Menurut cerita," menjawab Kam Pek. yang memberikan
keterangannya, "tempat itu sebenarnya adalah sebuah jembatan
batu, yang sepanjang tahun gelap tertutup kabut hitam dan tebal,
dan siapa menginjak dan jalan di atas jembatan itu maka dalam hal
hidup atau mati, dia sudah tidak berkuasa lagi atas dirinya. Begitu
jauh, selama beberapa puluh tahun, cuma ada dua orang yang
berhasil menyeberang melintas ijembatan maut itu, akan tetapi
tentang mereka, tak ada yang tahu mati atau hidup, semenjak
berhasilnya dua orang itu, belakangan lantas ada orang orang
Rimba Persilatan yang mencoba mengikuti jejak mereka, hanya, tak
ada di antara mereka yang mencapai maksud hatinya."
"Jikalau begitu, ayah, dapatkah kita menyeberangi?" tanya sang
puteri. Ayah itu tertawa, dia menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tak tahu," sahutnya. " Karena kedua tjianpwee itu
telah mendahului kita dan telah berhasil, kita juga dapat
mencobanya. siapa tahu jika di dalam kematian ada kehidupan? Kita
pun terpaksa, bukan? Terpaksa ayahmu mengajak kamu, untuk
mencoba coba..."
Kam Pek menghargai ke dua yang telah berhasil melintasi seng
su Kio itu maka juga ia menyebut mereka dengan panggilan
"tjianpwee" yang berarti "orang yang terdahulu yang terlebih tua,
yang dihormati."
Mendadak wajah ayah ini berubah menjadi keren. ia bicara terus,
perlahan tetapi tetap. Katanya : "Asal diantara kamu ada satu orang
saja yang berhasil tiba disebrang, dilain tepi dijembatan itu, maka
berarti bahwa Keluarga Coh tak akan putus, akan ada anggotanya
yang dapat menyambungnya hidup terus. Bagiku itu sudah cukup."
Baru saja berhenti suaranya Kam Pek, maka terdengarlah suara
gemuruh ringkiknya kuda, yang datang dari tempat yang jauh. Kam
Pek kaget sehingga mukanya menjadi pucat.

Anda sedang membaca artikel tentang cersil : Pedang Golok Yg Menggetarkan 1 - boe beng tjoe dan anda bisa menemukan artikel cersil : Pedang Golok Yg Menggetarkan 1 - boe beng tjoe ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/08/cersil-pedang-golok-yg-menggetarkan-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel cersil : Pedang Golok Yg Menggetarkan 1 - boe beng tjoe ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link cersil : Pedang Golok Yg Menggetarkan 1 - boe beng tjoe sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post cersil : Pedang Golok Yg Menggetarkan 1 - boe beng tjoe with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/08/cersil-pedang-golok-yg-menggetarkan-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 3 komentar... read them below or add one }

Jasa SEO mengatakan...

kebawa ceritanya @_@

Jasa SEO

obat mata minus ampuh mengatakan...

hait mau adu pedang nih.....tunggu dulu buka celana dulu ya...hahaha

sabun penghilang bau badan mengatakan...

jembatan apakah gerangan...serem amat

Poskan Komentar