Pukulan Naga Sakti 4

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 12 September 2011

1348
Mendadak hatinya bergetar keras cepat tanyanya lagi :
“Sobat cilik, apakah kau pelajari ilmu tersebut dari si Pembenci
raja akhirat Kwik Keng thian?”
“Dia orang tua adalah guru boanpwe!” jawab Hui cun siucay
Seng Tiok sian dengan wajah serius.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak.
“Haaaahh... haahhhh.... haaahhhh.. tahukah kau siapakah aku?”
“Dari nada pembicaraan tadi boanpwe sudah mengetahui
tentang locianpwe hanya belum sempat memberi salam saja.”
Kemudian sambil menjura kepada Bu im sin hong Kian Kim
siang, katanya :
“Boanpwe Seng Tiok sian menjumpai locianpwe.”
Belum habis dia berkata, tiba tiba badannya menerjang maju ke
muka, buru buru Bu im sin hong Kian Kim siang mengayunkan
tangannya melepaskan sebuah pukulan tanpa wujud untuk
mengangkat badannya dari atas tanah.
“Apakah kau sudah banyak mengorbankan tenaga dalammu?”
katanya penuh perhatian.
Paras muka Hui cun siucay Seng Tiok sian berubah menjadi
semu merah, sahutnya cepat :
“Tenaga dalam boanpwe memang cetek, ditambah lagi sedang
merasa tegang, aku merasa rada pusing.”
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menempelkan telapak
tangannya keatas bahu Hui cun siucay Seng Tiok sian,
segulung aliran hawa panas segera menyusup ke dalam tubuh

1349
Hui cun siucay Seng Tiok sian, pesannya kemudian :
“Cepat kau salurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh
badan, hari ini jika kau sudah membantu saudara cilik Thi
untuk memulihkan kembali tenaga dalam dari ketiga orang
locianpwe tersebut sehingga memberikan kebanggaan untuk
sahabat sahabat persilatan yang berada di wilayan Im kui siang
juan, supek pasti akan baik baik memberi hadiah untukmu.”
Kemudian setelah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh :
“Bersediakah kau mempelajari ilmu gerakan tubuh Hu kong
keng im milik supekmu ini?”
Mendengar perkataan tersebut Hui cun siucay Seng Tiok sian
menjadi terkejut bercampur girang, hampir saja dia berhenti
bersemedi, buru buru serunya :
“Terima kasih banyak supek!”
Perlu diketahui, Hu kong keng im adalah ilmu gerakan tubuh
andalan dari Bu im sin hong Kian Kim siang, padahal sudah
puluhan tahun lamanya Bu im sin hong Kian Kim siang
termashur dalam dunia persilatan. Bisa dibayangkan betapa
gembiranya Hui cun siucay Seng Tiok sian setelah mendengar
kalau Bu im sin hong Kian Kim siang hendak mewariskan ilmu
andalannya itu kepadanya.
Sementara itu Thi Eng khi menyelesaikan pertolongannya dan
membantu Hui cun siucay Seng Tiok sian mencabut keluar
jarum emas dari tubuh Sim ji sinni. Ciu Tin tin yang amat
sayang kepada gurunya, dengan cepat menempelkan kembali
telapak tangannya diatas tubuh Sim ji sinni, dia berharap
gurunya bisa memperoleh kembali tenaga dalamnya secepat
mungkin.

1350
Tak lama kemudian Hui cun siucay Seng Tiok sian telah
berhasil memulihkan kembali kekuatannya. Sedangkan Thi
Eng khi atas bantuan dari jarum emas, dalam waktu singkat
berhasil pula menyembuhkan luka dari Tiang pek lojin So Seng
pak dan Keng thian giok cu Thi Keng.
Namun dalam pengobatan itu, berhubung Hui cun siucay Seng
Tiok sian memiliki tenaga dalam terlampau cetek, maka dia
harus menerima bantuan dari Bu im sin hong Kian Kim siang
untuk menyelesaikan tugas itu.
Begitulah, setelah ketiga orang tokoh persilatan tersebut
berhasil mendapatkan kembali tenaga dalamnya, mereka lantas
bersemedi untuk mengatur pernapasan. Akibat dari kejadian
ini, semua orang mulai menganggap Thi Eng khi bagaikan
dewa saja.
Pada saat itulah, Hui cun siucay Seng Tiok sian siap hendak
mencabut keluar jarum emasnya dari atas jalan darah Khi juang
hiat dan Thian yu hiat ditubuh Thi Eng khi. Tapi pemuda itu
segera menggelengkan kepalanya sembari berkata :
“Tunggu dulu! Bila jarum emas ini dicabut keluar maka siaute
akan segera roboh lemas tak berkekuatan lagi, keadaanku nanti
seperti orang mati saja, bukan saja hal tersebut tak akan bisa
membantu semua orang di istana Ban seng kiong nanti,
malahan akan merepotkan semua orang untuk mencabangkan
pikiran dan melindungiku, ini jelas tidak leluasa untuk kalian
semua, menurut pendapat siaute, lebih baik jarum emas ini
dicabut keluar setelah kita menyapu rata seluruh istana Ban
seng kiong nanti!”
Dengan perasaan sangat kuatir Hui cun siucay Seng Tiok sian
berkata cepat :
“Saudara Thi, aku percaya ilmu pertabibanmu jauh lebih lihay

1351
daripada siaute, rasanya siaute pun tak usah memberi
peringatan lagi kepadamu, tapi bagaimanapun juga kau harus
memikirkan juga masa depan dari semua umat persilatan yang
ada di dunia ini.”
Namun Thi Eng khi hanya menggelengkan kepalanya berulang
kali dan bersikeras menampik untuk mencabut keluar jarum
emas dari tubuhnya. Hui cun siucay Seng Tiok sian menjadi
amat gelisah, dia lantas memberitahukan hal tersebut kepada
Bu im sin hong Kian Kim siang. Mendengar kabar ini, Bu im
sin hong Kian Kim siang segera melotot ke arah Thi Eng khi
sambil menegur :
“Saudara cilik, benarkah kau ingin menyaksikan semua sahabat
dunia persilatan bersedih hati untukmu?”
Thi Eng khi tertawa getir :
“Kau tak usah kuatir Kian tua, siaute cukup tahu diri, sekali
pun diperpanjang setengah atau sehari pun tak bakal
menghancurkan siaute, saudara Seng tidak mengetahui tentang
penemuan aneh yang siaute terima di gua Yang sim tong, Kian
tua kau harus percaya kepadaku.”
Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi ragu ragu :
“Saudara cilik, bukannya engkoh tua tidak percaya kepadamu,
melainkan tak berani percaya kepadamu, kau tak boleh
sembarangan mengacau!”
Dia segera turun tangan menotok jalan darah Thi Eng khi.
Setelah membantu ketiga tokoh persilatan itu memperoleh
kembali hawa murninya. Thi Eng khi mengalami kerugian
yang besar sekali, sekalipun dia ingin berkelit sayang
kemampuannya sudah tidak memadai lagi. Dalam sekali
ayunan tangan saja, tampaknya jari tangan Bu im sin hong

1352
Kian Kim siang tersebut akan segera mencabut keluar jarum
emas ditubuhnya.
Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara dari
Keng thian giok cu Thi Keng :
“Kian lote, apa sih kesalahan anak Eng? Tolong berilah muka
untuk siaute dan ampunilah dia untuk kali ini!'”
Sambil menghela napas panjang, Bu im sin hong Kian Kim
siang menarik tangannya, lalu berkata :
“Dia sendiri yang pingin mampus, coba bayangkan bikin hati
orang menjadi dongkol atau tidak?”
Walaupun kepandaian silat yang dimiliki Keng thian giok cu
Thi Keng baru saja pulih, namun kegagahan serta
kewibawaannya sama sekali tidak menjadi kurang, dengan
langkah lebar dia menghampiri Thi Eng khi, lalu ujarnya :
“Eng khi, kau anggap setelah memiliki tenaga dalam yang
tinggi maka boleh berbuat menurut kehendak sendiri?”
Jilid 42
Setelah Thi Eng khi bertindak, maka semua orangpun mengikuti
jejaknya dengan mengenakan pakaian baru pemberian dari Hian im
Tee kun. Ketika Hian im ji li melihat begitu tunduknya semua jago
kepada Thi Eng khi maka sikap mereka terhadap Thi Eng khi pun
semakin menghormat lagi.
Thi Eng khi memandang sekejap ke arah Cang ciong sin kiam
Sangkoan Yong yang masih dikuasai kesadarannya, kemudian
berkata ketus :
“Sekarang tentunya nona sudah bisa membebaskan pengaruh
totokan pada diri Sangkoan tayhiap bukan?”
“Apakah ini pun terhitung syarat yang kauajukan?” tanya Hian im
li Cun Bwee.

1353
“Ini termasuk tata kesopanan yang perlu diperhatikan pihak Ban
seng kiong ka¬lian terhadap kami sebagai tamu, jadi bukan
merupakan permintaan atau syaratku.”
Hian im li Cun Bwee termenung dan berpikir sejenak, kemudian
dia baru mengangguk : “Baiklah! Aku akan memberi muka lagi
untukmu, cuma akupun berharap agar kau tahu diri.”
Thi Eng khi tertawa, dengan perhatian khusus dia memperhatikan
bagaimana cara Hian im li Cun Bwee membebaskan pengaruh
totokan dari tubuh Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong. Begitu Hian
im li Cun Bwee selesai membebaskan pengaruh totokan dari tubuh
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, kepada Hian im li Ciu Lan
ujarnya sambil tertawa :
“Jimoay, lebih baik kita bersikap lebih terbuka lagi dengan
mengembalikan senjata mereka, dengan begini kehadiran mereka
dalam upacara pun akan kelihatan lebih angker dan mentereng….”
Hian im li Ciu Lan segera mengiakan dan melaksanakan perintah
tersebut.
Tiba tiba Thi Eng khi berseru sam¬bil tertawa dingin :
“Kalian toh mengetahui bahwa tenaga dalam kami telah punah,
sekalipun ada senjata juga tak mampu banyak berkutik, huuh
terhitung perbuatan macam apakah itu? Jikalau kalian benar benar
ingin berjiwa besar bebaskan pula totokan pada tubuh kami semua.”
Hian im li Cun Bwee segera tertawa :
“Sekarang kau tak usah memanasi hatiku dulu, asal kalian
berkemauan baik dan bersedia untuk bekerja sama, bukan cuma
jalan darah kalian saja yang akan dibebaskan, bahkan tenaga dalam
Thi ciangbunjin yang berhasil dibuyarkan oleh getaran Tee kun kami
pun akan dipulihkan kembali.”
“Waah, kalau sampai demikian adanya aku pasti akan berterima
kasih sekali kepadamu!”

1354
“Kau benar benar akan berterima kasih kepadaku?” Hian im li Cun
Bwee memutar sepasang biji matanya.
“Aku yakin apa yang kuucapkan pasti akan kuwujudkan!”
Hian im li Cun Bwee segera mengalihkan sorot matanya ke wajah
Thi Eng khi dan memandangnya lekat lekat, setelah itu serunya :
“Baik! Kita tetapkan dengan sepatah kata ini, soal mendapatkan
kembali tenaga dalammu serahkan saja tanggungjawabnya keatas
pundakku!”
Sementara itu senjata tajam milik para jago telah dibawa kemari
oleh kawanan iblis dari Ban seng kiong dan dibagikan kepada
pemiliknya. Menerima kembali senjata tajam andalan masing
masing, para jago merasakan jantungnya berdebar keras sekali
sehingga hampir saja mau melompat keluar lewat mulut.
Tiba tiba Hui cun siucay Seng Tiok sian tampil ke depan sambil
berseru :
“Mana kuda hitamku?”
“Waaah, kau sungguh pelit sekali,” seru Hian im li Cun Bwee
sambil tertawa, “masa kedua ekor kuda itu untuk kami dua
bersaudara pun keberatan!”
Dengan wajah gelisah bercampur murung, Bu im sin hong Kian
Kim siang serta Sam ku sinni menunggu selama sehari semalam,
menjelang fajar menyingsing mereka baru menyaksikan si pencuri
sakti Go Jit pulang dengan tangan hampa. Sambil melepaskan
topeng kulit manusia wajahnya, si pencuri sakti Go Jit menghela
napas dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Sudah puluhan tahun boanpwe berkelana dalam dunia persilatan
tapi belum pernah kualami kegagalan total seperti hari ini,” keluhnya
sedih, “jangan lagi mencuri kitab Hian im kui goan keng milik Hian
im Tee kun, untuk menemukan tempat rahasia untuk menyimpan
kitab tersebut pun tak berhasil, aaaai.... mulai hari ini malu aku
memakai sebutan si pencuri sakti lagi.”

1355
Dalam keadaan yang sama sama kecewanya, dengan kedudukan
Bu im sin hong Kian Kim siang dalam dunia persilatan mau tak mau
dia mesti tersenyum guna menghibur hati si pencuri sakti Go Jit :
“Hian im Tee kun adalah manusia yang paling tangguh dalam
dunia persilatan dewasa ini, gagal ditangannya bukan merupakan
sesuatu kejadian aneh, jadi tidak termasuk suatu peristiwa yang
memalukan. Kau sudah sehari semalam tanpa istirahat, sekarang
beristirahatlah dahulu, dengan begitu kita dapat selekasnya sampai
di istana Ban seng kiong.”
“Boanpwe sedang kalut percuma bersemedi, toh aku tak bisa
menenangkan pikiranku dengan sempurna, lebih baik sekarang juga
kita berangkat ke istana Ban seng kiong...”
“Langkah selanjutnya adalah langkah yang penting sekali
artinya,” sela Sam ku sinni cepat, “lebih baik Go tayhiap memulihkan
dulu kondisi badanmu yang penat, agar dengan begitu kita tak usah
mengalami kegagalan lagi.”
Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa si Pencuri sakti Go Jit
harus menguasai gejolak perasaannya dan mulai bersemedi
mengatur pernapasan. Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, si
pencuri sakti Go Jit telah selesai bersemedi dan melompat bangun
dari atas tanah.
Tatkala Bu im sin hong Kian Kim siang melihat rekannya baru
dapat memulihkan tujuh delapan bagian kesegaran badannya, dia
sebenarnya berniat untuk menyuruhnya bersemedi kembali, tapi
oleh karena wajah si pencuri sakti diliputi perasaan gelisah dan tak
sabar, akhirnya niat tersebut diurungkan.
Mereka bertiga segera mengenakan kembali topeng kulit manusia
masing masing kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan
tubuh, berangkatlah menelusuri jalan raya menuju ke istana Ban
seng kiong. Untung saja pada saat itu muncul banyak sekali jago
persilatan yang berbondong bondong berangkat ke istana Ban seng
kiong, dengan mencampurkan diri di antara mereka, dengan cepat
ketiga orang itu berhasil masuk ke dalam istana dengan selamat.

1356
Semenjak pihak Ban seng kiong berhasil menjaring semua inti
kekuatan dari dunia persilatan, mereka sudah tidak memandang
sebelah mata lagi terhadap kawanan jago lainnya. Mereka
menganggap di kolong langit dewasa ini sudah tiada manusia lagi
yang dapat melawan kekuasaan mereka, itulah sebabnya mereka
tidak memandang sebelah matapun terhadap para jago persilatan
yang hadir di sana.
Bukan hanya tidak dibatasi jumlahnya, bahkan merekapun
diperbolehkan masuk keluar dengan semaunya sendiri, agaknya hal
ini sengaja dilakukan untuk mencerminkan kebesaran jiwa orang
orang Ban seng kiong. Justru karena itulah, Bu im sin hong Kian Kim
siang sekalian dapat bergerak ke sana kemari dengan lebih leluasa
la¬gi tanpa kuatir gerak geriknya itu akan mengundang kecurigaan
orang lain terhadap mereka.
Pukul delapan sudah menjelang tiba, lapangan luas di depan
pintu gerbang Ban seng kiong sudah penuh dengan manusia yang
berkumpul dari seantero penjuru dunia, mereka sedang menunggu
saat munculnya tokoh persilatan yang amat lihay itu. Sementara
semua orang sedang menanti dengan perasaan gelisah, dari atas
ruangan istana tiba tiba berkumandang suara tambur dan genta
yang dibunyikan bertalu talu.
Menyusul suara genta tersebut, dari balik pintu berjalan keluar
seorang kakek berwajah kemala yang memakai jubah kebesaran,
gayanya dibuat buat dan gerak geriknya sangat menjemukan.
Sementara semua orang masih mengawasi orang tadi, entah
darimana munculnya suara tertawa kegelian, menyusul kemudian
terdengar seseorang berseru :
“Huuuuh, monyet kesiangan juga diberi pakaian kebesaran,
sungguh menggelikan hati!”
“Siapa sih orang itu?” segera ada yang bertanya.
Setelah tertawa sinis orang itu menyahut lagi :
“Siapa lagi? Dia tak lain adalah Sau tee bun su (sastrawan
penyapu lantai) Lu toaya, masa kalian tidak kenal?”

1357
Tampaknya si sastrawan penyapu lantai Lu Put ji ini mempunyai
nama besar yang cukup termashur, buktinya walaupun tidak banyak
yang pernah menjumpainya, namun sedikit sekali yang tidak
mengetahui tentang dia. Tatkala para jago mendengar kalau orang
yang menampilkan diri adalah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji,
kontan saja semua orang menjengek sinis.
“Huuuhhh, dasar setan hidup.”
Dengan gaya yang dibuat buat, Sastrawan penyapu lantai Lu Put
ji berdiri di depan pintu gerbang, kemudian setelah mendeham
beberapa kali, dengan suara lantang dia berseru:
“Siaute hendak menyampaikan sebuah kabar gembira untuk
saudara sekalian, untuk menunjukkan rasa hormat Tee kun, beliau
telah berangkat ke tengah bukit Wang swan tay untuk menyambut
sendiri kehadiran para jago dari perguruan perguruan kenamaan
yang kali ini sengaja hendak menyatakan takluk mereka kepada
istana kami!”
“Grrrr....!”
Suasana menjadi gempar dan semua orang bersama sama
berdesakan menuju ke Wang swan tay untuk menyaksikan peristiwa
itu.
Pencuri sakti Go Jit turut berebut mencari tempat yang strategis.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut
segera berkata :
“Go lote, jangan terburu napsu, Hian im Tee kun adalah manusia
licik yang banyak tipu muslihatnya, kita jangan gampang tertipu oleh
akal bulusnya, sekalipun hendak kesana, kita harus menunggu
sampai gembong iblis tua itu menampakkan diri...”
Dalam pada itu, Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji telah
berteriak kembali dengan suara lantang :
“Tee kun tiba, harap saudara sekalian bertepuk tangan sebagai
pernyataan hormat!”

1358
Dengan cepat dia menyingkir ke samping lalu menunjukkan sikap
yang hormat kearah balik ruangan bahkan kemudian sambil
mengerahkan tenaga dalamnya dia bertepuk tangan keras keras....
Para penonton keramaian yang berkumpul di sekitar lapangan
segera turut ketularan dengan bertepuk tangan pula keras keras,
ditambah pula para gembong iblis Ban seng kiong yang sudah
menyusup ke balik kerumunan orang banyak membuat suara tepuk
tangan yang bergema makin bertambah nyaring.
Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni dan pencuri sakti Go
Jit sama sama memperlihatkan juga sikap yang jahat. Di tengah
suara tepuk tangan yang gegap gempita, sambil tertawa dan
manggut manggut kepalanya, Hian im Tee kun tampil di depan pintu
gerbang. Dibelakang gembong iblis tersebut mengikuti Keng thian
giok cu Thi Keng, Tiang pek lojin So Seng pak dan Sim ji sinni. Di
paling belakang adalah kawanan manusia yang merupakan kerabat
kerabat Hian im Tee kun.
Sikap maupun gerak gerik Keng thian giok cu Thi Keng sekalian
yang berpandangan kosong macam orang yang tak sadar, membuat
Bu im sin hong Kian Kim siang semua merasa amat sedih. Bahkan si
pencuri sakti Go Jit merasa kuatir sekali bila tiada kesempatan untuk
turun tangan, ia merasa sangat tegang dan hatinya berdebar keras.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyadari keadaan rekannya
itu segera memperingatkan berulang kali :
“Go lote, kau harus menenangkan hatimu, tolong sampaikan pula
kepada Cu Ngo sekalian agar jangan turun tangan secara
sembarangan sebelum ada tanda rahasia dariku!”
Pencuri Sakti Go Jit termasuk jago kawakan yang sudah
berpengalaman sangat luas, dalam situasi semacam ini seharusnya
ia dapat mengendalikan diri, tapi kenyataannya dia seolah olah telah
kehilangan ketenangan hatinya. Hal ini menandakan kalau pengaruh
dari Hian im Tee kun cukup membuat para jago merasa keder
hatinya.

1359
Pencuri sakti Go Jit segera menerima perintah dan berlalu dari
situ untuk menyampaikan kepada Ban li tui hong Cu Ngo serta Siu
Cu. Sedangkan Bu im sin hong Kian Kim siang segera menarik
tangan Sam ku sinni dan bersama sama mendesak ke barisan paling
depan....
Setelah menyaksikan Hian im Tee kun membawa anak buahnya
berjalan lewat dari hadapannya, Bu im sin hong segera
mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya memberi bisikan kepada
Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga. Siapa tahu bisikan
tersebut sama sekali tidak memperoleh tanggapan dari Keng thian
giok cu Thi Keng sekalian, yang membuatnya lebih putus asa adalah
tindakan selanjutnya dari Keng thian giok cu Thi Keng yang
melaporkan isi bisikan tadi kepada Hian im Tee kun. Tapi Hian im
Tee kun cuma tertawa hambar belaka sama sekali tidak menanggapi
dengan serius.
Sikap hambar dan mcmandang rendah dari Hian im Tee kun itu
segera ditanggapi Bu im sin hong Kian Kim siang sekalian sebagai
suatu penghinaan yang luar biasa. Untung sekali Bu im sin hong Kian
Kim siang bukan seorang manusia berangasan bukan menjadi marah
sebaliknya dia malahan meningkatkan kewaspadaan sendiri.
Menyusul di belakang kawanan iblis dari Ban seng kiong
mengikuti serombongan besar para penonton keramaian yang
bersama sama berangkat manuju ke Wang swan tay. Yang
dinamakan Wang swan tay adalah sebuah tanah perbukitan kecil
yang terletak diujung tikungan sebuah bukit dipunggung gunung,
jaraknya dari istana Ban seng kiong cuma sepuluh li. Walaupun
sangat dekat, namun oleh karena permukaan tanah yang tinggi
rendah tak menentu, maka walaupun orang berdiri di atas Wang
swan tay, istana Ban seng kiong tidak nampak dalam pandangan
mata.
Di dekat bukit itu terbentang sebuah sungai dengan arus yang
amat deras, air mengalir turun ke bawah tebing dengan arus yang
amat derasnya, benar benar suatu pemandangan yang sangat indah.
Di sekeliling tanah perbukitan itu sudah penuh berdiri kawanan jago

1360
yang menonton keramaian, karenanya sisa tempat untuk tuan
rumah menjadi sempit sekali.
Tak lama setelah Hian im Tee kun sekalian tiba di Wang swan
tay, dari kejauhan nampak serombongan manusia pelan pelan
bergerak naik ke atas bukit. Yang berjalan di paling depan adalah
Hian im ji li, Cun Bwee serta Ciu Lan. Menyusul dibelakangnya
adalah Thi Eng khi beserta sekalian jago kenamaan dari dunia
persilatan. Pada barisan yang paling belakang mengikuti kawanan
iblis dari istana Ban seng kiong.
Tatkala para jago hampir tiba di Wang swan tay, Hian im ji li
segera melesat ke depan dan naik ke Wang swan tay lebih dulu,
kemudian tampak Cun Bwee membisikkan sesuatu di sisi telinga
Hian im Tee kun.
Selesai mendengar bisikan tersebut, Hian im Tee kun segera
tertawa terbahak bahak, serunya:
“Setelah terjadi pertarungan antara lohu melawan Thi ciangbunjin
da¬ri Thian liong pay, dimana untuk membalas budi kebaikan dari
lohu yang telah mengampuni jiwanya, dia telah membujuk para
ciangbunjin dari berbagai perguruan besar serta jago jago termashur
dari kolong lanqit untuk bersama sama menggabungkan dengan
kami, untuk kesediaan mereka ini harap kalian sudi bertepuk tangan
sebagai tanda hormat!”
Suara tepuk tangan yang gegap gempita pun segera
berkumandang memecahkan keheningan. Di tengah tepuk tangan
yang gegap gempita pun, Thi Eng khi dan sekalian jago bersama
sama memasuki Wang swan tay.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang membaurkan diri diantara
kerumunan orang banyak dapat menyaksikan disebelah kanan Thi
Eng khi berdiri Ciu Tin tin, disebelah kirinya berdiri Pek leng siancu
So Bwe leng, sedangkan dibelakangnya adalah Bu Nay nay.
Dibelakang Bu Nay nay mengikuti pula seorang sastrawan muda
yang gagah, namun Bu im sin hong Kian Kim siang tidak mengenal
siapakah dia. Barulah dibelakang sastrawan muda itu menyusul
ketua Siau lim pay Ci long siansu serta ketua Bu tong pay Keng hian

1361
totiang …..
Yang paling aneh adalah Ci kay dan Ci liong taysu dari Siau lim
pay, Keng ik dan Keng ning totiang dari Bu tong pay, Pit tee jiu
Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari Thian liong
pay, bukannya mengikuti dibelakang ketua masing masing mereka
malah membaurkan diri diantara kawanan jago lainnya.
Beberapa kali Bu im sin hong hendak menyapa Thi Eng khi
dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara, bahkan hendak
memberitahukan kepada Thi Eng khi kalau kakeknya Keng thian giok
cu Thi Keng sekalian sudah dikuasai kesadarannya oleh Hian im Tee
kun.
Akan tetapi, ketika teringat olehnya akan nama baik Keng thian
giok cu sekalian serta teringat akan tindakan yang bakal dilakukan
olehnya, dia merasa lebih baik jangan berterus terang dengan si
anak muda. Padahal kecuali kata kata tersebut, dia merasa tiada
persoalan lain yang perlu dibicarakan lagi. Maka Bu im sin hong Kian
Kim siang segera membatalkan niatnya untuk berbicara dengan Thi
Eng khi.
Sementara itu, Thi Eng khi bersama Ciu Tin tin, Pek leng siancu
So Bwe leng, Bu Nay nay dan si sastrawan muda yang mengikuti di
belakang Bu Nay nay telah meninggalkan rombongan mendekati
Wang swan tay. Sekarang jarak Hian im Tee kun dengan mereka
tinggal beberapa kaki saja. Berdiri tegak didepan musuhnya Thi Eng
khi nampak gagah, perkasa dan penuh berwibawa.
Dia menjura lebih dulu sebagai tata kesopanan, kemudian baru
menyapa :
“Hian kun....!”
Nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan sikap
kehormatan.....
Sambil berkerut kening, Hian im ji li (dua gadis Hian im) tertawa
getir. Nyatanya Hian im Tee kun sama sekali tidak menggubris akan

1362
sikap lawannya, malahan sambil tertawa terbahak bahak dia berkata
:
“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh... jauh jauh Thi Sauhiap
berangkat kemari untuk membaktikan diri dengan istana kami,
tujuan dan maksudmu benar benar patut dikagumi untuk itu lohu
akan menghormati tiga cawan arak kepadamu sebagai pertanda
sambutan hangat dari istana kami.”
Bersama dengan selesainya perkataan itu muncul seorang gadis
berbaju hijau yang membawa sebuah baki kemala putih, diatas baki
terletak tiga cawan arak, perempuan itu langsung berjalan menuju
ke hadapan Hian im Tee kun.
Dengan sikap yang bersungguh sungguh Hian im Tee kun
memenuhi sendiri ketiga cawan tersebut dengan arak, kemudian
kepada Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin
So Seng pak sekalian yang berada di belakangnya dia menitahkan :
“Harap tongcu bertiga sudi mewakili diriku untuk menghormati
secawan arak untuk Thi sauhiap!”
“Hamba terima perintah!” sahut Keng thian giok cu Thi Keng
sekalian dengan sikap yang hormat sekali.
Hian im Tee kun segera melirik sekejap kearah Thi Eng khi,
seolah olah dia hendak melihat bagaimanakah perubahan mimik
wajah si anak muda tersebut. Seandainya ketiga cawan arak itu
diberikan sendiri oleh Hian im Tee kun, maka sebagai tamu Thi Eng
khi pasti akan menerimanya tanpa ragu. Tapi dengan sikap Hian im
Tee kun yang menyuruh anak buahnya mewakili dia, hal ini sama
artinya dengan menganggap Thi Eng khi sebagai anak buahnya pula.
Itu berarti penghormatan arak ini bukan hormat seorang tuan rumah
terhadap tamunya, melainkan arak pujian seorang atasan terhadap
bawahannya. Ditambah lagi orang yang menghormati arak
kepadanya adalah Keng thian giok cu Thi Keng bertiga, menurut
aturan Thi Eng khi harus meneguknya juga. Tapi bila ketiga cawan
arak itu benar benar diteguk olehnya, bila Thi Eng khi hendak
menyangkal kalau dia adalah anak buah Hian im Tee kun
dikemudian hari, hal mana jelas tak akan mudah.

1363
Menghadapi situasi yang serba rikuh ini, bukan Thi Eng khi yang
mesti mengatasinya, melainkan Keng thian giok cu sekalian, karena
saat ini sudah mencapai saat yang paling kritis dimana pertarungan
tak dapat dihindari lagi. Thi Eng khi segera mengalihkan sorot
matanya kearah Keng thian giok cu Thi Keng sekalian bertiga, ketika
dilihatnya ketiga orang itu sama sekali tidak bermaksud turun tangan
terhadap Hian im Tee kun, diam diam dia menghela napas panjang,
pikirnya :
“Sudah pasti ketiga orang tua itu telah mengira ilmu silatku
punah, demi keselamatan jiwaku mereka tak tega melakukan
tindakan yang memalukan ini.... aai mengapa aku tidak mengatakan
hal yang sebenarnya kepada mereka agar mereka dapat turun
tangan menghadapi Hian im Tee kun?”
Begitu ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, dengan ilmu
menyampaikan suara dia lantas berseru :
“Yaya!”
Keng thian giok cu Thi Keng nampak tertegun, sorot matanya
segera dialihkan ke wajah Thi Eng khi. Sebelum pemuda itu berkata
lebih jauh, Hian im Tee kun telah berkata lagi:
“Tongcu bertiga, kalian harus menyampaikan salam hormat tiga
cawan arak ini kepada yang berkepentingan!”
“Bila hamba tak mampu melaksanakan tugas ini, kami rela
menerima hukuman berat,” sahut Keng Thian giok cu Thi Keng
dengan cepat. Kemudian dia maju mendekati Thi Eng khi dengan
langkah lebar...
Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sangat
gelisah, saking cemasnya dia sampai lupa menggunakan ilmu
menyampaikan suara, teriaknya cepat :
“Yaya, sekarang adalah saat bagi kita untuk turun tangan....
“Turun tangan? Apa maksudmu?” Keng Thian giok cu Thi Keng
berseru kembali tanpa menghentikan langkahnya.
Dengan suara lantang Thi Eng khi berteriak :
“Kepandaian silat yang cucunda miliki belum hilang, harap kalian
bertiga bertindak sesuai dengan rencana semula.”

1364
Siapa tahu Keng thian giok cu Thi Keng menjadi gusar sekali
setelah mendengar perkataan itu, dengan suara keras dia berteriak :
“Kau jangan mengaco belo secara sembarangan, apakah kau
senang menyaksikan yayamu disebut orang yang tidak bersetia
kawan....”
Thi Eng khi semakin tertegun lagi, dia belum sempat mengartikan
ucapan dari Keng thian giok Thi Keng, ketika secara tiba tiba gadis
berbaju hijau yang membawa baki itu sudah mengayunkan
tangannya dan melemparkan baki tersebut ke wajah Thi Eng khi.
Menghadapi serangan yang mengancam tiba itu, dengan cekatan Thi
Eng khi berkelit ke samping. Tapi sebelum si anak muda itu
bertindak lebih jauh, gadis berbaju hijau itu sudah menempelkan
telapak tangannya diatas jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng
thian giok cu Thi Keng, kemudian kepada Thi Eng khi bentaknya
keras keras :
“Thi Eng khi, kau berani turun tangan?”
Thi Eng khi merasakan hatinya bergetar keras, benar juga dia tak
berani menitahkan kepada Ciu Tin tin untuk turun tangan. Dengan
cepat gadis berbaju hijau itu membawa Keng thian giok cu Thi Keng
sekalian bertiga kembali ke hadapan Hian im Tee kun. Kemudian
baru menarik kembali telapak tangannya yang menempel diatas
jalan darah Pay sim hiat dipunggung Keng thian giok cu Thi Keng
dan menyingkir ke samping.
Keng thian giok cu sekalian bertiga segera memberi hormat
kepada Hian im Tee kun sembari berkata :
“Hamba sekalian tak mampu melaksanakan tugas secara baik,
harap Tee kun sudi melimpahkan hukuman kepada hamba
sekalian…..”
Dengan cepat Hian im Tee kun mengulapkan tangannya.
“Kejadian ini berlangsung diluar dugaan dan sama sekali tak ada
sangkut pautnya dengan kalian, sekarang menyingkirlah lebih dahulu
sambil menantikan perintah selanjutnya!”

1365
Keng thian giok cu Thi Keng, Sim Ji sinni dan Tiang pek lojin So
Seng pak segera mengundurkan diri ke samping dengan sikap yang
menghormat sekali. Kejadian tersebut membuat Thi Eng khi semakin
kebingungan dan tidak habis mengerti.
Hian im Tee kun segera tertawa seram :
“Heeeehhh.... heeeehhh...... heeeehhh.... Thi Eng khi, kau jangan
berbicara yang bukan bukan, lohu tidak percaya kalau kau mampu
melepaskan diri dari pengaruh ilmu Hek sin thian kang ci ….”
Sambil mengerahkan tenaga dalamnya Thi Eng khi tertawa
terbahak bahak, kemudian serunya :
“Coba dengarkan baik baik, berapa bagian tenaga dalamku yang
telah pulih kembali!”
Mendengar gelak tertawa orang, dengan wajah tertegun Hian im
Tee kun segera berpaling ke arah kakek Oh Yun yang berdiri
dibelakangnya, kemudian menegur ketus :
“Oh Yun, bukankah kau melaporkan sudah menotok jalan darah
Ki tong hiatnya dengan ilmu jari Hek sin thian kang ci?”
Dengan gugup dan ketakutan setengah mati kakek she Oh itu
menyahut :
“Betul, hamba sendiri yang turun tangan dan tidak bakal salah
lagi….”
“Mengapa dia dapat memperoleh kembali kepandaian
silatnya....?” tegur Hian im Tee kun dengan suara menggeledek.
“Soal ini..... soal ini..... hamba….”
Thi Eng khi segera tertawa tergelak, tukasnya :
“Aku mempunyai kemampuan untuk membebaskan sendiri
pengaruh totokan tersebut, sekalipun kau yang turun tangan
sendiripun tak nanti bisa menyusahkan aku.”
Hian im Tee kun segera tertawa dingin :
“Lohu tidak percaya dibalik kesemuanya ini, sudah pasti terdapat
hal hal yang tidak beres!”

1366
Sekali lagi Thi Eng khi tertawa bahak bahak.
“Haaaahhh.... haaaahhh... haaahhh..... iblis tua, masih banyak
persoalan yang tidak dapat kau percayai!”
Sembari berkata dia lantas bertepuk tangan tiga kali dan berpekik
nyaring lebih dahulu. Menyusul kemudian pekikan demi pekikan
nyaring bergema keluar dari mulut para jago yang dalam anggapan
kaum iblis Ban seng kiong sudah kehilangan ilmu silatnya itu. Di
dalam waktu singkat suara pekikan nyaring sudah menggema
memenuhi angkasa dan menggetarkan seluruh bukit Wu san
tersebut....
Berubah hebat paras muka para iblis yang berkumpul di Wang
swan tay, mereka dibuat gelagapan setengah mati, jelas perubahan
yang sama sekali diluar dugaan ini telah memberikan pukulan batin
yang cukup berat bagi mereka semua. Hian im Tee kun segera
berpaling kearah Hian im li Cun Bwee sambil memperdengarkan
suara tertawa dingin yang amat sinis, kemudian jengeknya :
“Kaulah yang harus memikul tanggung jawab ini!”
Dengan gemas Hian im li Cun Bwee melotot sekejap kearah Hian
im Tee kun, kemudian serunya pula :
“Hmmmmmm.... kau sendiripun tak akan terlepas dari tanggung
jawab ini!”
Dari pembicaraan tersebut dapat didengar kalau mereka sedang
saling melemparkan tanggung jawab sehingga bagi yang tidak
mengerti keadaan yang sebenarnya, hal ini tentu saja
kedengarannya agak mengherankan. Untung saja perkataan
tersebut tidak sampai kedengaran orang lain, karena pada saat itu
suara pekikan nyaring dari para jago telah menutupi seluruh
ruangan disekitar sana sehingga tentu saja tiada seorang
manusiapun yang memperhatikan kejadian kecil ini.
Suara pekikan yang menggetarkan seluruh jagad ini berlangsung
kurang lebih setengah perminum teh lamanya sebelum berhenti dan
sirap kembali. Disaat berakhirnya suara pekikan itu dan tatkala

1367
perhatian semua orang belum terpusatkan menjadi satu, mendadak
dari sisi Wang swan tay melayang keluar tiga sosok bayangan
manusia yang segera menerkam ke arah Keng thian giok cu Thi
Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak bertiga.
Berhubung ketiga orang itu muncul dari arah belakang dan disaat
para iblis dari istana Ban seng kiong terpecah perhatiannya maka
terjangan tersebut menimbulkan kepanikan bagi semua iblis bahkan
setelah ketiga sosok bayangan manusia tersebut sudah hampir tiba
disisi tubuh Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek
lojin So Seng pak, mereka baru menyadari. Tapi pada saat itulah tiga
sosok bayangan manusia yang berhasil membekuk Keng thian giok
cu Thi Keng, Sim ji sinni, Tiang pek lojin So Seng pak telah
menerjang kehadapan Thi Eng khi dengan gerakan cepat.
Ciu Tin tin, Pek leng siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay
melompat kemuka membiarkan ketiga orang itu lewat. Kemudian
mereka bertiga sama sama melancarkan serangan yang maha
dahsyat untuk membendung serbuan para iblis dari belakang.
Bersamaan waktunya dari arah samping muncul kembali dua sosok
bayangan manusia yang bersama sama tiga orang yang berhasil
menyambar tubuh Keng thian giok cu Thi Keng sekalian tadi
melayang turun dihadapan Thi Eng khi.
Thi Eng khi dan Hui cun siucay Seng Tiok sian yang berada
dibelakangnya segera mengira kedua orang itu sebagai kaum iblis
Ban seng kiong yang hendak melakukan pengejaran, dengan cepat
mereka mengayunkan telapak tangannya melancarkan serangan
dahsyat untuk menyongsong kedatangan mereka.
Baru saja Thi Eng khi melancarkan serangan, tampak orang itu
sudah berkelit ke samping dengan ilmu Hu kong keng im, kenyataan
ini membuat Thi Eng khi merasa terkejut sekali. Dengan cepat
pendatang itu melepaskan topeng kulit manusianya sembari berseru
:
“Saudara cilik, aku yang datang!”
“Oooh, rupanya Kian tua!” seru Thi Eng khi dengan penuh
kegembiraan.

1368
Sementara itu dipihak lain Hui cun siucay Seng Tiok sian telah
beradu pukulan satu kali dengan Sam ku sinni, akibat dari bentrokan
tersebut Seng Tiok sian terdorong mundur sejauh tiga langkah lebih.
Sementara dia hendak melancarkan tubrukan kembali, Thi Eng khi
sudah berteriak keras :
“Saudara Seng, cepat hentikan seranganmu, kita adalah orang
sendiri.”
Hui cun siucay Seng Tiok sian segera miringkan badan dan
menghentikan gerakan tubuhnya. Sam ku sinni pun segera
melepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan. Dalam suasana
yang serba kacau ini Ban li tui hong Cu Ngo, si pencuri sakti Go Jit
serta Siu Cu telah melepaskan pula topeng kulit manusia masing
masing dan menotok jalan darah Keng thian giok cu Thi Keng
sekalian bertiga sebelum mendudukkan mereka keatas tanah.
Sungguh tak pernah disangka oleh Thi Eng khi kalau Ban li tui
hong Cu Ngo sekalian dapat menguasai kakeknya bertiga, kenyataan
ini membuatnya tertegun.
“Hei, apa yang sebenarnya telah terjadi,” tegurnya kemudian
keheranan.
Bu im sin hong Kian Kim siang menghela napas panjang.
“Aaai.... sesungguhnya kakekmu semua sudah kehilangan
kesadaran dan kepandaian silatnya, jalan pikiran mereka sudah
dikendalikan oleh Hian im Tee kun, seandainya saudara cilik tidak
menyatakan kalau kepandaian silatmu telah pulih kembali, hampir
saja engkoh tua mu hendak melakukan perbuatan yang mungkin
akan kusesali sepanjang masa.”
Menyusul kemudian dia lantas menuturkan bagaimana mereka
berencana hendak membunuh ketiga orang tokoh persilatan itu guna
melindungi nama baik mereka dari aib. Thi Eng khi yang mendengar
penjelasan tersebut menjadi terkejut bercampur terharu, untuk
beberapa saat lamanya dia sampai tak mampu mengucapkan
sepatah kata pun.

1369
Ternyata Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan Thi
Eng khi sudah berhasil memperoleh kembali kepandaian silatnya,
dengan cepat mengambil keputusan untuk merubah rencananya
semula. Diam diam dia mengirim berita kepada Ban li tui hong Cu
Ngo bertiga agar merebut Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni
dan Tiang pek lojin So Seng pak dari cengkeraman musuh.
Oleh karena peristiwa itu berlangsung sangat tiba tiba, maka
mereka pun berhasil memperoleh kesuksesan yang sama sekali
diluar dugaan. Baru saja dipihak sini para jago berhasil merobohkan
Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng
pak, pertarungan yang berlangsung antara Ciu Tin tin, Pek leng
siancu So Bwe leng dan Bu Nay nay melawan para iblis pun telah
berakhir karena hardikan Hian im Tee kun, masing masing pihak
telah balik ke posisi masing masing.
Terdengar Hian im Tee kun tertawa seram tiada hentinya,
kemudian membentak keras :
“Anjing kecil, tempat ini terlampau sempit dan kurang leluasa
untuk dijadikan anjang pertarungan, beranikah kau naik ke gunung
untuk mengadakan pertemuan di istanaku?”
Thi Eng khi tertawa nyaring.
“Haaahhh... haaahhh..... haaahhh... hari ini adalah saat
kiamatnya Ban seng kiong kalian, apa salahnya untuk melepaskan
kau agar bisa melakukan persiapan terlebih dulu?”
“Baik!” kata Hian im Tee kun kemudian sambil tertawa dingin,
“aku akan segera mempersiapkan upacara terakhir bagi kalian
semua....”
Dengan membawa begundal begundalnya, dia lantas
mengundurkan diri dari tempat itu. Sementara itu para penonton
keramaian mulai sadar kalau keramaian yang bakal berlangsung
dalam istana Ban Seng kiong kali ini bukan permainan biasa, mereka
yang bernyali kecil segera membubarkan diri dan pulang ke rumah
masing masing. Hanya mereka yang bernyali besar dan menganggap

1370
dirinya sebagai jagoan persilatan saja yang tetap berada di tempat
semula, mereka telah bersiap sedia mengikuti rombongan Thi Eng
khi untuk melangsungkan pertarungan mati matian melawan para
iblis.
Setelah para gembong iblis dari Ban seng kiong berlalu, maka
pertama yang hendak dilakukan Thi Eng khi adalah memulihkan dulu
kesadaran dari Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni serta Tiang
pek lojin So Seng pak. Seperti diketahui, dalam gua Yang Sing tong
milik Cu sim ci cu Thio Biau liong, Thi Eng khi berhasil mempelajari
semua kepandaian sakti milik tokoh persilatan tersebut, bahkan dari
kitab kitab pusaka yang disimpan disana, dia peroleh pengetahuan
yang luar sekali. Tidak heran kalau Thi Eng khi cukup menguasai
tentang ilmu menotok jalan darah dan bagaimana menguasai
kesadaran seseorang.
Sekalipun demikian, oleh sebab pelbagai ilmu mempunyai ciri
yang berbeda, otomatis cara pengobatannya pun berbeda, maka
bilamana seseorang salah bertindak atau salah memberi
pengobatan, salah salah orang yang ditolong akan menjadi orang
yang bodoh atau lemah ingatan. Itulah sebabnya Thi Eng khi
sengaja membiarkan Hian im li Cun Bwe menotok jalan darah Cang
ciong sin kiam Sangkoan Yong, kemudian menyadap cara Cun Bwee
membebaskan pengaruh totokan tersebut.
Coba kalau tiada petunjuk tersebut mungkin si anak muda ini pun
tak berani turun tangan secara sembarangan guna menolong Keng
thian giok cu Thi Keng bertiga. Sekarang Thi Eng khi sudah
menguasai penuh cara pengobatan yang pernah digunakan Hian im
li Cun Bwee, dikombinasikan pula dengan pengetahuan yang
dimilikinya, dia segera bertindak dengan cepat. Tampak tubuhnya
berputar bagaikan roda kereta dalam waktu singkat dia sudah
menotok dan menguruti semua nadi penting ditubuh ketiga orang
tokoh persilatan tersebut. Tidak sampai dua perminum teh, Keng
thian giok cu Thi Keng bertiga sudan berhasil memperoleh kembali
kesadaran otaknya.
Secara beruntun Thi Eng khi, Ciu Tin tin dan So Bwe leng maju
menghunjuk hormat kepada kakek dan gurunya masing-masing...

1371
Pit tee jiu Wong Tin pak serta Ngo liau sianseng Lim Biau lim juga
segera maju ke depan menjumpai guru serta susioknya. Menyusul
kemudian Bu im sin hong Kian Kim siang menuturkan semua
peristiwa yang telah terjadi selama ini kepada ketiga orang tua
tersebut.
Mendengar penuturan itu, ketiga orang tua itu saling
berpandangan dengan wajah tertegun, sementara harinya berdebar
keras seakan akan baru saja memperoleh sebuah impian yang
sangat buruk. Seakan akan kehilangan sesuatu, Keng thian giok cu
Thi Keng menghela napas panjang, kemudian ujarnya :
“Kian lote, kepandaian silat kami bertiga sudah hilang, terpaksa
rencana kita untuk mengerubuti Hian im Tee kun harus diserahkan
kepada angkatan muda muda untuk menyelesaikannya, walaupun
kalau dipikir kembali sungguh membuat hati orang tak puas .....”
Bu im sin hong Kian Kim siang hanya bisa mengeluh sebab dia
sendiripun tak berhasil menemukan kata yang tepat untuk
menghibur hati mereka.
“Yaya!” kata Thi Eng khi tiba tiba dengan kening berkerut,
“serangan gelap apa sih yang telah dilancarkan Hian im Tee kun
terhadap kalian.”
Kembali Keng thian giok cu Thi Keng menghela napas panjang,
sahutnya sambil tertawa getir :
“Anak Eng, sekalipun kau sudah memperoleh warisan dari seluruh
kepandaian Cu sim ci cu Thio locianpwe, rasanya tidak gampang
untuk menolong yayamu sekalian.”
“Coba yaya utarakan dan kita bisa merundingkan bersama sama,
kalau dibilang sudah tidak ada cara lagi, hal ini mustahil....”
Ketua Bu tong pay Keng hian totiang berbicara :
“Dalam semalaman saja, Thi ciangbunjin berhasil memulihkan
tenaga dalam kami semua, kejadian ini cukup membuat Hian im Tee
kun merasa terkejut, bila kita bisa membantu cianpwe bertiga lagi
untuk memulihkan kembali kepandaian silatnya, kemudian dengan

1372
kerja sama cianpwe bertiga dengan Kian tua, Hian im Tee kun sudah
pasti akan menderita kekalahan total dan pertarungan yang
berlangsung hari ini pun pasti akan kita menangkan secara
keseluruhan.”
Dengan suara dalam Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata
:
“Kami bertiga telah terkena racun Hua kang san dari Hian im Tee
kun, anak Eng, apakah kau punya akal?”
Thi Eng khi termenung sambil berpikir sebentar, kemudian
tanyanya lagi :
“Sudah berapa lama yaya terkena bubuk racun Hua kang san
tersebut?”
Keng thian giok cu Thi Keng menghitung sebentar harinya,
kemudian menyahut :
“Sampai hari ini baru tiga hari!”
“Untung Seng heng hadir disini, Eng ji bisa mencoba dengan
paksakan diri!”
Keng thian giok cu Thi Keng menjadi gembira sekali setelah
mendengar perkataan tersebut, serunya dengan cepat :
“Kalau begitu cepatlah pergunakan caramu itu untuk menolong
kami, hari ini bila yaya tak mampu membunuh Hian im Tee kun,
rasanya sukar untuk melenyapkan rasa benci dari dalam hatiku...”
Thi Eng khi mengeluarkan sembilan butir pil Kim khong giok lok
wan dan dibagikan kepada ketiga orang tua tersebut. Kemudian
meminta kepada Bu im sin hong Kian Kim siang, Sam ku sinni dan
ketua Bu tong pay Keng hian totiang untuk menggunakan tenaga
dalamnya membantu ketiga orang tua tersebut.
Setelah itu, dia menarik Hui cun siucay Seng Tiok sian ke
samping dan mengajaknya berunding.
“Nanti siaute akan mempergunakan hawa murni sam wi cing hui
untuk melumerkan sari racun Hua kang san yang berada dalam

1373
tubuh ketiga orang tua tersebut, harap saudara Seng dengan
mempergunakan ilmu Ban hong ki lun (selaksa lebah mengelilingi
putik) menusuk tiga puluh enam buah jalan darah penting di tubuh
mereka, dengan berbuat demikian maka tidak sulit buat kita untuk
menghilangkan pengaruh racun Hua kang san tersebut.....”
Hui cun siucay Seng Tiok sian adalah seorang yang ahli pula
dalam ilmu pertabiban, setelah mendengar perkataan dari Thi Eng
khi tersebut, dia lantas berkata dengan kening berkerut :
“Saudara Thi, untuk membantu semua orang dalam memulihkan
tenaganya kembali, kau sudah mengorbankan banyak sekali hawa
murnimu, apakah kau masih mempunyai sisa tenaga untuk
membantu ketiga orang tua ini?”
“Sebelum dimulai, harap saudara Seng menusuk jalan darah Ki
juan hiat dan Thian yu hiat ditubuhku dengan jarum emas, dengan
begitu akan merangsang sisa tenaga yang siaute miliki, aku pikir
kekuatan tersebut masih cukup dipakai menyembuhkan sisa racun
yang mengeram ditubuh ketiga orang tua tersebut.”
Hui cun siucay Seng Tiok sian mengerutkan keningnya makin
kencang :
“Saudara Thi, tahukah kau apa akibatnya dengan berbuat
demikian ini?”
Thi Eng khi tertawa bangga.
“Siaute telah mempertimbangkan baik baik .....”
Oleh sebab Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak mengetahui
sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Thi Eng khi,
maka secara khusus dia memperingatkan pemuda itu lagi :
“Saudara Thi, dengan berbuat demikian kau akan
menghancurkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki!”
Thi Eng khi kembali tertawa.
“Bagi siaute cukup beristirahat satu bulan saja, semua tenaga
dalam yang kumiliki akan pulih kembali seperti sedia kala…..”

1374
Hui cun siucay Seng Tiok sian mengira ucapan dari Thi Eng khi
tersebut hanya bermaksud menghibur hatinya, dia beranggapan Thi
Eng khi hendak mengorbankan diri untuk mewujudkan harapan
ketiga orang tua tersebut, maka tanpa terasa ujarnya jauh :
“Tapi dalam pertarungan hari ini, musuh lebih banyak daripada
kita, kau tak boleh sampai ketinggalan!”
“Setelah membantu semua orang memulihkan tenaga dalamnya,
kekuatan yang kumiliki sekarang sudah tak sanggup untuk
menandingi Hian im li sekalipun bertambah dengan aku seorang tak
bisa dianggap banyak, kekurangan aku seorangpun tak bisa dihitung
kurang, sebaliknya bila kubantu memulihkan kembali kekuatan dari
ketiga orang tua tersebut, sekalipun kehilangan aku seorang, tapi
akan bertambah tiga orang jago lihay yang jauh mengungguli Hian
im li, bukankah hal ini jauh lebih untung bagiku.”
Hui cun siucay Seng Tiok sian benar benar dibikin takluk, dia
menghela napas panjang kemudian ujarnya :
“Saudara, siaute benar benar mengagumi watakmu, baiklah, aku
akan turut perintah!”
Thi Eng khi segera mengajak Seng Tiok sian balik kembali ke
hadapan ketiga orang tua itu, pikirnya kemudian :
“Bila aku menolong kakekku lebih dulu, bisa jadi kakek akan tak
senang hati....”
Maka dia lantas menuju ke belakang punggung Sim ji sinni dan
duduk bersila disitu, dia menyuruh Hui cun siucay Seng Tiok sian
menusuk jalan darah Khi juang hiat dan Thian yu hiatnya untuk
merangsang tenaga sisa yang dimiliki, kemudian telapak tangannya
ditempelkan diatas jalan darah Pay sim hiat di punggung Sim ji sinni.
Tindakan Thi Eng khi dalam menggunakan Sam wi ceng hui
untuk melebur racun dalam tubuh Sim ji sinni itu memang tak dapat
disaksikan dengan mata telanjang, maka dari perhatian semua orang
sekarang dialihkan ke wajah Hui cun siucay Seng Tiok sian. Hui cun
siucay Seng Tiok sian sebagai ahli waris dari Tabib nomor wahid
dikolong langit dewasa ini, si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian

1375
memiliki kemampuan yang lihay sekali, kecuali Thi Eng khi boleh
dibilang tiada orang yang bisa menandingi dirinya lagi.
Cuma tiada orang yang mengetahui akan hal ini, siapapun tidak
menyangka kalau pemuda tersebut memiliki ilmu pertabiban yang
luar biasa. Waktu itu dalam genggaman tangannya penuh dengan
jarum emas sementara sepasang mata yang tajam mengawasi terus
perubahan wajah Sim ji sinni tanpa berkedip. Pada mulanya, di
bawah leburan hawa sakti Sam wi ceng hui dari Thi Eng khi, paras
muka Sim ji sinni berubah menjadi merah membara dan dadanya
naik turun amat keras, napasnya tampak susah dan sesak.
Kemudian paras muka Sim ji sinni makin lama berubah semakin
merah, napas
pun makin lama semakin memburu dan tersengkal sengkal,
seakan akan sudah hampir putus napas saja …..
Waktu itu Hui cun siucay Seng Tiok sian berdiri dihadapan Sim ji
sinni, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran pula membasahi
seluruh wajahnya, jelas dia pun merasa sangat tegang sekali….
Sudah barang tentu rasa tegangnya ini dikarenakan dia harus
menggunakan jarumnya pada saat yang paling tepat, salah yang
kecil pun bukan saja akan menghancurkan Sim ji sinni bahkan Thi
Eng khi sendiripun akan turut musnah…..
Sekarang paras muka Sim ji sinni sudah berubah merah darah,
dari tenggorokannya pun mulai bergema suara gemerutuk yang
sangat aneh. Ketika suara tersebut berkumandang untuk ketiga
kalinya, suara sudah kedengarannya lemah sekali, atau dengan
perkataan lain sudah mencapai saat orang hendak menghembuskan
napasnya yang penghabisan.
Di saat seperti inilah Hui cun siucay Seng Tiok sian mengayunkan
sepasang tangannya bersama sama, selapis cahaya tajam yang
berwarna keemas emasan menyebar di seluruh angkasa, tahu tahu
kedua puluh tiga batang jarum emas tersebut sudah menancap pada
kedua puluh tiga buah jalan darah penting ditubuh Sim ji sinni
(kecuali jalan darah pada alat kelaminnya).

1376
Dalam sekali sambitan dua puluh tiga batang jarum emas
dilancarkan bersamaan, sasaranpun amat tepat, hal tersebut
membuat puluhan jago yang hadir di arena sama sama menghela
napas panjang. Selesai melancarkan ke dua puluh tiga batang jarum
emas tersebut, Hui cun siucay Seng Tiok sian menghembuskan
napas panjang dan menyeka keringat yang membasahi wajahnya.
Kemudian dia mengeluarkan kembali dua belas batang jarum emas
dan digenggam dalam tangannya.
Sementara itu paras rnuka Sim ji sinni dari warna merah sudah
berubah menjadi semu merah lalu berubah menjadi pucat pias,
akhirnya wajahnya benar benar menjadi pucat pasi. Lama, lama
kemudian dari warna semu berubah kembali menjadi warna tua dan
akhirnya pulih menjadi merah.
Sekali pun demikian, dengusan napas Sim ji sinni meski masih
agak memburu namun jauh lebih enteng dan lega. Pada kesempatan
yang selanjutnya, kembali Hui cun siucay Seng Tiok sian
mengayunkan tangannya untuk melancarkan kedua belas batang
jarum emas yang berada ditangannya. Sebenarnya Hui cun siucay
Seng Tiok sian berdiri saling berhadapan dengan Sim ji sinni, tapi
jarum emas yang dilancarkan olehnya justru berkelebat diantara
kilauan cahaya emas dan bersama lama menancap diatas dua belas
jalan darah penting dipunggung Sim ji sinni
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian
tersebut tanpa terasa memuji :
“Benar benar suatu gerakan Hui hong hui hong (Pelangi terbang
angin berpusing) yang hebat!”
Mendadak hatinya bergetar keras cepat tanyanya lagi :
“Sobat cilik, apakah kau pelajari ilmu tersebut dari si Pembenci
raja akhirat Kwik Keng thian?”
“Dia orang tua adalah guru boanpwe!” jawab Hui cun siucay Seng
Tiok sian dengan wajah serius.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak.

1377
“Haaaahh... haahhhh.... haaahhhh.. tahukah kau siapakah aku?”
“Dari nada pembicaraan tadi boanpwe sudah mengetahui tentang
locianpwe hanya belum sempat memberi salam saja.”
Kemudian sambil menjura kepada Bu im sin hong Kian Kim siang,
katanya :
“Boanpwe Seng Tiok sian menjumpai locianpwe.”
Belum habis dia berkata, tiba tiba badannya menerjang maju ke
muka, buru buru Bu im sin hong Kian Kim siang mengayunkan
tangannya melepaskan sebuah pukulan tanpa wujud untuk
mengangkat badannya dari atas tanah.
“Apakah kau sudah banyak mengorbankan tenaga dalammu?”
katanya penuh perhatian.
Paras muka Hui cun siucay Seng Tiok sian berubah menjadi semu
merah, sahutnya cepat :
“Tenaga dalam boanpwe memang cetek, ditambah lagi sedang
merasa tegang, aku merasa rada pusing.”
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menempelkan telapak
tangannya keatas bahu Hui cun siucay Seng Tiok sian, segulung
aliran hawa panas segera menyusup ke dalam tubuh Hui cun siucay
Seng Tiok sian, pesannya kemudian :
“Cepat kau salurkan hawa murni untuk mengelilingi seluruh
badan, hari ini jika kau sudah membantu saudara cilik Thi untuk
memulihkan kembali tenaga dalam dari ketiga orang locianpwe
tersebut sehingga memberikan kebanggaan untuk sahabat sahabat
persilatan yang berada di wilayan Im kui siang juan, supek pasti
akan baik baik memberi hadiah untukmu.”
Kemudian setelah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh :
“Bersediakah kau mempelajari ilmu gerakan tubuh Hu kong keng
im milik supekmu ini?”

1378
Mendengar perkataan tersebut Hui cun siucay Seng Tiok sian
menjadi terkejut bercampur girang, hampir saja dia berhenti
bersemedi, buru buru serunya :
“Terima kasih banyak supek!”
Perlu diketahui, Hu kong keng im adalah ilmu gerakan tubuh
andalan dari Bu im sin hong Kian Kim siang, padahal sudah puluhan
tahun lamanya Bu im sin hong Kian Kim siang termashur dalam
dunia persilatan. Bisa dibayangkan betapa gembiranya Hui cun
siucay Seng Tiok sian setelah mendengar kalau Bu im sin hong Kian
Kim siang hendak mewariskan ilmu andalannya itu kepadanya.
Sementara itu Thi Eng khi menyelesaikan pertolongannya dan
membantu Hui cun siucay Seng Tiok sian mencabut keluar jarum
emas dari tubuh Sim ji sinni. Ciu Tin tin yang amat sayang kepada
gurunya, dengan cepat menempelkan kembali telapak tangannya
diatas tubuh Sim ji sinni, dia berharap gurunya bisa memperoleh
kembali tenaga dalamnya secepat mungkin.
Tak lama kemudian Hui cun siucay Seng Tiok sian telah berhasil
memulihkan kembali kekuatannya. Sedangkan Thi Eng khi atas
bantuan dari jarum emas, dalam waktu singkat berhasil pula
menyembuhkan luka dari Tiang pek lojin So Seng pak dan Keng
thian giok cu Thi Keng.
Namun dalam pengobatan itu, berhubung Hui cun siucay Seng
Tiok sian memiliki tenaga dalam terlampau cetek, maka dia harus
menerima bantuan dari Bu im sin hong Kian Kim siang untuk
menyelesaikan tugas itu.
Begitulah, setelah ketiga orang tokoh persilatan tersebut berhasil
mendapatkan kembali tenaga dalamnya, mereka lantas bersemedi
untuk mengatur pernapasan. Akibat dari kejadian ini, semua orang
mulai menganggap Thi Eng khi bagaikan dewa saja.
Pada saat itulah, Hui cun siucay Seng Tiok sian siap hendak
mencabut keluar jarum emasnya dari atas jalan darah Khi juang hiat
dan Thian yu hiat ditubuh Thi Eng khi. Tapi pemuda itu segera
menggelengkan kepalanya sembari berkata :

1379
“Tunggu dulu! Bila jarum emas ini dicabut keluar maka siaute
akan segera roboh lemas tak berkekuatan lagi, keadaanku nanti
seperti orang mati saja, bukan saja hal tersebut tak akan bisa
membantu semua orang di istana Ban seng kiong nanti, malahan
akan merepotkan semua orang untuk mencabangkan pikiran dan
melindungiku, ini jelas tidak leluasa untuk kalian semua, menurut
pendapat siaute, lebih baik jarum emas ini dicabut keluar setelah
kita menyapu rata seluruh istana Ban seng kiong nanti!”
Dengan perasaan sangat kuatir Hui cun siucay Seng Tiok sian
berkata cepat :
“Saudara Thi, aku percaya ilmu pertabibanmu jauh lebih lihay
daripada siaute, rasanya siaute pun tak usah memberi peringatan
lagi kepadamu, tapi bagaimanapun juga kau harus memikirkan juga
masa depan dari semua umat persilatan yang ada di dunia ini.”
Namun Thi Eng khi hanya menggelengkan kepalanya berulang
kali dan bersikeras menampik untuk mencabut keluar jarum emas
dari tubuhnya. Hui cun siucay Seng Tiok sian menjadi amat gelisah,
dia lantas memberitahukan hal tersebut kepada Bu im sin hong Kian
Kim siang. Mendengar kabar ini, Bu im sin hong Kian Kim siang
segera melotot ke arah Thi Eng khi sambil menegur :
“Saudara cilik, benarkah kau ingin menyaksikan semua sahabat
dunia persilatan bersedih hati untukmu?”
Thi Eng khi tertawa getir :
“Kau tak usah kuatir Kian tua, siaute cukup tahu diri, sekali pun
diperpanjang setengah atau sehari pun tak bakal menghancurkan
siaute, saudara Seng tidak mengetahui tentang penemuan aneh
yang siaute terima di gua Yang sim tong, Kian tua kau harus percaya
kepadaku.”
Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi ragu ragu :
“Saudara cilik, bukannya engkoh tua tidak percaya kepadamu,
melainkan tak berani percaya kepadamu, kau tak boleh
sembarangan mengacau!”
Dia segera turun tangan menotok jalan darah Thi Eng khi.
Setelah membantu ketiga tokoh persilatan itu memperoleh kembali

1380
hawa murninya. Thi Eng khi mengalami kerugian yang besar sekali,
sekalipun dia ingin berkelit sayang kemampuannya sudah tidak
memadai lagi. Dalam sekali ayunan tangan saja, tampaknya jari
tangan Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut akan segera
mencabut keluar jarum emas ditubuhnya.
Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara dari
Keng thian giok cu Thi Keng :
“Kian lote, apa sih kesalahan anak Eng? Tolong berilah muka
untuk siaute dan ampunilah dia untuk kali ini!'”
Sambil menghela napas panjang, Bu im sin hong Kian Kim siang
menarik tangannya, lalu berkata :
“Dia sendiri yang pingin mampus, coba bayangkan bikin hati
orang menjadi dongkol atau tidak?”
Walaupun kepandaian silat yang dimiliki Keng thian giok cu Thi
Keng baru saja pulih, namun kegagahan serta kewibawaannya sama
sekali tidak menjadi kurang, dengan langkah lebar dia menghampiri
Thi Eng khi, lalu ujarnya :
“Eng khi, kau anggap setelah memiliki tenaga dalam yang tinggi
maka boleh berbuat menurut kehendak sendiri?”
Jilid 43
Sejak kecil Thi Eng khi sudah dididik secara ketat untuk menjadi
seorang anak yang disiplin, sekalipun dia merasa punya banyak
alasan untuk membantah, namun ia tak berani berbuat demikian
dihadapan kakeknya, maka untuk sesaat dia menjadi terbungkam
dan menundukkan kepalanya rendah rendah.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan Keng thian giok
cu Thi Keng benar benar memberi nasehat kepada Thi Eng khi dia
menjadi tak tega, buru buru serunya lagi:
“Thi tua, kau jangan salah menegurnya, perkataan siaute belum
selesai diutarakan.”

1381
Keng thian giok cu Thi Keng sendiripun tidak tega setelah melihat
keadaan dari Thi Eng khi maka setelah menghela napas, katanya :
“Moga moga saja kau tidak melakukan perbuatan salah!”
Kemudian sambil berpaling kembali, dia siap mendengarkan
perjelasan dari Bu im sin hong Kian Kim siang. Secara ringkas Bu im
sin hong Kian Kim siang segera menceritakan bagaimana Thi Eng khi
tak segan segan mengorbankan tenaga dalamnya dengan bantuan
rangsangan dari tusukan jarum emas untuk menolong orang bahkan
tak mau menuruti nasehatnya dengan bersikeras hendak berangkat
ke Ban seng kiong tanpa melepaskan jarum emas tersebut.
Keng thian giok cu Thi Keng adalah manusia yang
berpengalaman sangat luas kecuali Hian im Tee kun, tiada orang
kedua yang mampu menandinginya. Selesai mendengarkan
penjelasan dari Bu im sin hong Kian Kim siang, dia baru mengerti
bahwa Thi Eng khi bukanlah manusia tekebur yang suka bersikap
sombong.
Maka sambil menarik muka dan airmata bercucuran karena
terharu, katanya :
“Eng khi, apakah kau tak dapat beristirahat lebih awal?”
Dengan semangat berkobar Thi Eng khi segera berkata :
“Jago jago yang berpihak Ban seng kiong banyak sekali,
sedangkan Hian im Tee kun adalah manusia licik yang sangat
berbahaya, cucunda benar benar tak tega membiarkan mereka
bertarung sendiri!”
Keng thian giok cu Thi Keng segera manggut manggut.
“Walaupun ucapanmu benar, namun kau toh tak berkemampuan
lagi untuk melangsungkan pertarungan, sekalipun tak lega hati,
apapula yang dapat kau lakukan?”
“Seandainya Ban seng kiong menurunkan segenap jago lihaynya,
adakah kesempatan bagi pihak jago kita untuk memperoleh
kemenangan.....?”

1382
Sudah cukup lama Keng thian giok cu Thi Keng mengendon
dalam istana Ban seng kiong, terhadap kekuatan yang
sesungguhnya dari pihak lawan boleh dibilang jelas sekali. Dia
memandang sekejap ke arah wajah kawanan jago tersebut, lalu
sahutnya :
“Kalau berbicara menurut kekuatan yang kita miliki sekarang,
nampaknya kecil sekali harapan kita.”
Tapi setelah berhenti sejenak tiba tiba dia berkata lagi dengan
lantang :
“Namun yaya berempat telah bersumpah hendak beradu jiwa
dengan Hian im Tee kun, kami akan melawan terus sampai titik
darah penghabisan, asal Hian im Tee kun sudah mati, walaupun
kekuatan dari para jago sekarang belum mampu mengungguli
mereka paling tidak kita dapat menggempur pihak Ban seng kiong
sehingga terluka parah dan tidak membahayakan dunia persilatan
lagi.”
“Kalau toh kita berhasrat untuk beradu jiwa dengan musuh,
mengapa cucunda hidup sendiri? Dan apa pula bedanya untuk
mencabut keluar jarum emas tersebut sekarang atau jauh lebih
lambat beberapa saat.”
Yaa, berbicara yang sebenarnya, kalau toh mereka sudah
dihadapkan pada situasi untuk adu jiwa bersama sama, kendatipun
jarum emas tersebut dicabut sekarang, begitu pertarungan berkobar,
diapun tidak akan lolos dari tangan keji pihak Ban seng kiong. Alasan
ini sangat sederhana, sudah barang tentu Keng thian giok cu Thi
Keng cukup memahaminya. Bukan hanya begitu, bahkan Ci kay
taysu dan Ci liong taysu dari Siau lim pay, Keng it totiang dan Keng
ning totiang dari Bu tong pay serta Pit tee jiu Wong Tin pak serta
Ngo liu sianseng Lim Biau lim yang belum pulih kekuatan tenaga
dalam nya tak akan lolos pula dari musibah tersebut.
Akan tetapi didalam kenyataan, Thi Eng khi bukannya belum
pernah berpikir sampai ke arah kegagalan, namun setelah
menyaksikan keadaan di depan mata, dia merasa kawanan jago dari
kaum lurus masih mempunyai beberapa syarat baik untuk meraih
kemenangan dengan andalkan jumlah yang kecil. Ditambah pula

1383
rencana matang yang telah dipersiapkan sebelumnya, dia merasa
berkemampuan untuk menghajar pihak Ban seng kiong sehingga
tercerai berai.
Namun berhubung tenaga dalam yang dimiliki ketiga orang tua
itu sudah pulih, dengan hadirnya angkatan tua di situ, tentu saja ia
merasa sungkan untuk mengambil oper kedudukan pemimpin
tersebut, tentu saja diapun merasa sungkan untuk memberitahukan
maksud hatinya itu.
Maka diapun memutuskan untuk menghadapi situasi menurut
keadaan waktu itu, kemudian baru melakukan tindakan tindakan
selanjutnya. Tapi, diapun tak bisa tidak untuk menyusun suatu
alasan yang cukup kuat untuk menanggulangi situasi yang sedang
dihadapnya sekarang. Tentu saja tindakan semacam ini akan sangat
merugikan tenaga dalamnya yang sudah berkurang, tapi untung saja
dia berhasil melatih tubuh yang kuat. Paling tidak dia hanya akan
merasakan tersiksa berapa waktu, karena cepat atau lambat tenaga
dalamnya toh akan pulih kembali seperti sedia kala.
Sudah barang tentu Keng thian giok cu Thi Keng bisa menduga
maksud hati Thi Eng khi, setelah mendengar jawaban dari si anak
muda tersebut, sambil tertawa terbahak bahak katanya :
“Kian lote, ucapan anak Eng memang benar dan hanya berbuat
beginilah dia baru bisa disebut anak keturunan keluarga Thi, kau tak
perlu membujuknya lagi.”
Kemudian dengan wajah serius dia berkata lagi kepada Thi Eng
khi :
“Yaya lebih suka menyaksikan kau mati karena kehabisan tenaga
daripada membiarkan kau hidup tanpa berbuat apa apa, walaupun
kau sudah tak mampu lagi untuk bertarung melawan kaum iblis dari
Ban seng kiong, namun dengan kemampuan yang kau miliki masih
dapat mengawasi keadaan situasi, bahkan setiap saat kau bisa
mempergunakan otakmu untuk menunjukkan kelemahan musuh,
dengan memperbaiki kekurangan di pihak kita dan menunjukkan titik
kelemahan musuh, pihak kita pasti akan beruntung sekali. Moga
moga kau bisa baik baik mengatur diri.”

1384
Ucapan tersebut memang cocok sekali dengan tujuan utama Thi
Eng khi, maka dia mengangguk berulang kali :
“Petunjuk yaya memang sangat tepat, cucunda akan
melaksanakannya dengan sepenuh tenaga!”
Mendengar perkataan mana, Keng thian giok cu Thi Keng segera
tertawa terbahak bahak.
“Haaahhh… haaahhh…. Haaahhh…. saudara sekalian, kita harus
segera berangkat naik ke atas bukit.”
Segenap jago mengiakan dan bersama sama berangkat ke istana
Ban Seng kiong di atas bukit. Tatkala semua orang sampai di depan
pintu gerbang istana Ban seng kiong di puncak Wong soat hong,
tanpa terasa serentak berhenti dan saling berhadapan dengan wajah
tertegun. Rupanya lapangan di depan Ban seng kiong sudah
dipenuhi oleh bayangan manusia yang berlapis lapis, mereka
membentuk lingkaran yang meninggalkan sebidang tanah kosong
tepat menghadap ke depan pintu.
Dengan demikian, apabila orang hendak memasuki pintu gerbang
tersebut, maka mereka harus melalui celah sempit diantara
kerumunan manusia tersebut. Ditinjau dari barisan tersebut,
tampaknya bila para jago berani memasuki lingkaran manusia itu
maka lebih banyak bahayanva daripada keberuntungan. Tapi jikalau
para jago tak berani memasuki lingkaran manusia itu, berarti mereka
sudah dibikin keder oleh orang orang Ban seng kiong, atau dengan
perkataan lain mereka tak akan punya muka untuk bermusuhan lagi
dengan Hian im Tee kun.
Tindakan yang dilakukan pihak Ban seng kiong ini benar benar
menempati posisi yang menguntungkan sekali, baik dalam hal
jumlah orang, tempatnya maupun keadaannya. Sementara para jago
masih saling berhadapan dengan wajah terkejut dan tak tahu
bagaimana harus menghadapi situasi semacam itu, mendadak dari
depan pintu menyelinap keluar Sau tee si bun(sastrawan penyapu
lantai) Lu Put ji.

1385
Dengan sepasang mata memandang ke atas dan hidungnya
seakan akan dirambati ular, dia mendengus berulang kali, kemudian
berkata :
“Tee kun ada perkataan yang hendak disampaikan kepada kalian,
bila kamu semua beranggapan kurang kuat untuk menghadapi kami,
tak ada salahnya untuk menunda pertarungan ini sampai lain waktu.
Hari ini kamipun tak akan mencari keuntungan dengan jumlah yang
banyak, kami bersedia memberi sebuah jalan kehidupan untuk kalian
semua.”
Kalau didengar dari nada suaranya, jelas dia memandang rendah
dan memandang hina terhadap para jago. Padahal kawanan jago
yang berkumpul di situ kalau bukan ciangbunjin suatu partai besar,
tentulah seorang enghiong hohan yang tak pernah memandang
serius soal mati hidup, sebelum datang ke Ban seng kiong bahkan
mereka sudah bertekad untuk tidak kembali sebelum berhasil. Tentu
saja mereka tak akan mendiamkan perkataan dari Sastrawan
penyapu lantai Lu Put ji yang jelas jelas bernada menghina itu….
Memandang sikap tengik dari sastrawan penyapu lantai Lu Put ji,
Keng thian giok cu Thi Keng tertawa dingin tiada hentinya sebelum
ia sempat berbicara, Bu im sin hong Kian Kim siang telah menyelinap
keluar lebih dulu.
Sebagaimana diketahui, ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im
milik Bu im sin hong Kian Kim siang merupakan suatu kepandaian
yang tiada tandingannya di dunia ini, apalagi waktu itu sastrawan
penyapu lantai Lu Put ji sedang memandang ke atas, dia tidak
menyangka kalau musuh akan mendekatinya. la baru terperanjat
setelah di hadapan mukanya tahu tahu sudah bertambah dengan
seorang manusia, dengan cepat dia mundur selangkah ke belakang,
kemudian serunya agak gugup :
“Kau….”
Bu im sin hong Kian Kim siang tidak memberi kesempatan
baginya untuk berbicara, jari tangannya segera menyodok ke muka
secepat kilat menotok jalan darah bisunya. Kemudian lengannya
diputar dan membanting sastrawan penyapu lantai Lu Put ji keras
keras ke atas tanah, bentaknya dengan suara menggeledek :

1386
“Kau harus merangkak di muka kami!”
Sesungguhnya sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memiliki
kepandaian silat yang terhitung lumayan namun dibawah serangan
Bu im sin hong Kian Kim siang yang begitu cepat, dia sama sekali
tak berkesempatan lagi untuk mengeluarkannya. Begitu selembar
bibirnya yang lihay terbungkam oleh serangan Bu im sin hong Kian
Kim siang, kontan saja dia mati kutu, sebab kalau dia disuruh
berhadapan secara laki laki, tiada kemampuan yang bisa diandalkan.
Kini, dia benar benar ketakutan, sekujur tubuhnya gemetar keras
karena ketakutan bahkan air mata pun bercucuran dengan derasnya.
Dengan melakukan ancaman dengan telapak tangannya, Bu im sin
hong Kian Kim siang segera membentak :
“Jika kau tak ingin segera mampus, ayo cepat merangkak
didepan kami!”
Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memang seorang pengecut
yang takut mampus, dia benar benar kuatir jika Bu im sin hong Kian
Kim siang benar benar melancarkan serangannya. Dengan gugup dia
menganggukkan kepalanya berulang kali kemudian merangkak
didepan para jago dan menghantar musuh musuhnya memasuki
lingkaran kepungan.
Anggota Ban seng kiong ternyata membawa musuhnya masuk ke
gedung dengan jalan merangkak, jelas peristiwa ini merupakan
suatu penghinaan dan pukulan yang berat bagi pihak Ban seng
kiong. Dalam keadaan seperti ini, kendatipun pihak Ban seng kiong
berhasil membinasakan segenap jago yang hadir disitupun,
kemenangan mereka sudah tidak gagah lagi.
Berbicara sesungguhnya, mungkin dari antara empat tokoh sakti
yang hadir disana, hanya Bu im sin hong Kian Kim siang seorang
yang bisa mempunyai ide dan melakukan hal semacam itu.
Hian im Tee kun yang menyaksikan kejadian tersebut segera
mengerutkan dahinya, kemudian dengan ilmu menyampaikan suara
katanya kepada kakek she Liu yang pernah bertarung mati matian
melawan Bu Im itu :

1387
“Liu bun tongcu, cepat kau binasakan sastrawan penyapu lantai
Lu Put ji, dia terlalu menghilangkan pamor kita, nama baik kita bisa
hancur di tangannya...”
“Baik!” sahut kakek she Liu itu cepat.
Dengan langkan lebar dia segera berjalan menyambut
kedatangan para jago. Thi Eng khi yang menyaksikan kejadian
tersebut segera berbisik kepada Ciu Tin tin :
“Enci Tin, Hiam im Tee kun telah mengirim orang untuk
membinasakan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji.”
“Buat apa manusia semacam ini dibiarkan hidup terus di dunia
ini? Biarkan saja dia mampus, apakah kematiannya patut
disayangkan?”
Ciu Tin tin tertawa geli. Kembali Thi Eng khi tertawa.
“Kalau kita mempertahankan kehidupannya, maka kita pun bisa
melalui dia untuk membuat malu orang orang Ban seng kiong,
bahkan kalau bisa menyayat kulit muka gembong gembong iblis
tersebut..”
“Adik, kau suruh aku melindungi keselamatan jiwanya?” kata Ciu
Tin tin dengan kening berkerut.
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi :
“Mengapa sih kau tidak menyuruh orang lain saja?”
Sudah jelas dia memandang hina sastrawan penyapu lantai Lu
Put ji sehingga tak sudi untuk turun tangan. Thi Eng khi dapat
menebak suara hati gadis itu, maka sambil tertawa dia berkata lagi :
“Saat ini diantara kita dan musuh, selain Hian im Tee kun hanya
kepandaian silatmu seorang yang tiada tandingannya, aku minta kau
turan tangan, bukan hanya untuk melindungi keselamatan sastrawan
penyapu lantai Lu Put ji saja, yang lebih penting adalah
menggunakan kemampuanmu yang lihay untuk memecahkan nyali
orang orang Ban seng kiong agar mereka ketakutan dan ngeri
sebelum bertarung, pukulan batin semacam ini pasti akan

1388
menguntungkan sekali pihak kita bila pertarungan massal sampai
terjadi nanti.”
Mendengar ucapan tersebut, Ciu Tin tin segera tertawa.
“Adik Eng, kau tak usah mengumpak diriku, sekalipun kepandaian
silatku tinggi semuanya ini berkat jasamu, kau tak usah kuatir, aku
pasti akan berusaha dengan sepenuh tenaga dan tidak akan
membuat kau kehilangan muka.”
Thi Eng khi tertawa.
“Siaute sudah mempunyai perhitungan yang cukup matang, bila
kau bisa membuatku malu, tak nanti aku akan meminta
bantuanmu.”
Ciu Tin tin segera beranjak dari tempatnya dan menyelinap ke
belakang tubuh empat tokoh besar dunia persilatan itu. Dalam pada
itu, kakek Liu berlagak tidak menggubris keadaan dari sastrawan
penyapu lantai Lu Put ji, dia berjalan terus sehingga mendekati
orang itu sampai jarak sepuluh langkah. Bu im sin hong Kian Kim
siang tidak mengetahui apa maksud dari kehadiran kakek Liu
tersebut, melihat dia berjalan mendekat, dengan suara lantang
segera tegurnya :
“Hei, orang she Liu, kau bukan tandinganku, kalau tahu diri cepat
cepatlah mengundurkan diri.”
“Lohu Kui im cu (si bayangan setan) Liu Biau, sudah lama
kudengar tentang kelihayan ilmu meringankan tubuh Hu kong keng
im dari kau si Kian tua, beranikah kau beradu ilmu meringankan
tubuh denganku?”
Dengan mengandalkan ilmu gerakan tubuh setan gentayangan
atau Kui pok sin hoat, si bayangan setan Liu Biau sudah malang
melintang dalam dunia persilatan selama hampir lima puluh tahun
lamanya, selama ini orang mengakui ilmu meringankan tubuhnya
merupakan kepandaian yang hebat.

1389
Bu im sin hong Kian Kim siang sudah puluhan tahun lamanya
terkurung di atas puncak Sam liu hong, sudah barang tentu tidak
kenal dengan orang ini. Sambil tertawa dingin segera serunya :
“Kepandaianmu belum pantas untuk diadu dengan
kemampuanku!”
Tentu saja si bayangan setan Liu Biau bukan bersungguh hati
hendak beradu ilmu meringankan tubuh Bu im sin hong Kian Kim
siang, sesungguhnya dia hendak memecahkan perbatian Bu im sin
hong Kian Kim siang saja agar dia mempunyai kesempatan yang
baik untuk turun tangan terhadap sastrawan penyapu lantai Lu Put
ji..
Sedangkan terhadap Keng thian giok cu Thi Keng sekalian
bertiga, menurut apa yang diketahuinya merupakan orang orang
yang sudah kehilangan tenaga dalamnya, sehingga tak perlu
dirisaukan lagi.
Oleh sebab itu, pada hakekatnya dia tidak memandang sebelah
matapun terhadap ketiga orang itu. Dia tidak menjawab pertanyaan
dari Bu im sin hong Kian Kim Siang, dengan mengandalkan Kui pok
sim hoatnya dia berputar kencang dari kanan ke kiri. Bayangan
tubuhnya segera berputar kencang mencapai delapan kaki dari
permukaan tanah. kemudian dari kanan bergerak pula ke kiri, dari
kiri ke kanan dengan suatu gerakan yang manis tahu tahu dia sudah
balik kembali ke tempat semula. Dengan wajah tak berubah, katanya
kemudian dengan suara sedingin es :
“Dengan mengandalkan kepandaian semacam ini, masa kau
orang she Kian sanggup melakukannya?”
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bu im sin hong Kian Kim
siang setelah mendengar perkataan itu, katanya sembari manggut
manggut berulang kali :
“Betul, gerakanmu ini bernama Im sian yang coan, memang
kepandaian tersebut cukup disebut kepandaian sakti dalam dunia
persilatan dewasa ini, namun tiada harganya sama sekali dalam
kepandaianku.”

1390
“Setiap orang bisa berbicara mengibul, kepandaian sakti apa sih
yang kau andalkan? Berani tidak kau perlihatkan kepadaku...?”
Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak setelah
mendengar perkataan tersebut.
“Haaahhh.... haaahhhh.... haaahhhh.... kau ingin menyaksikan
kepandaianku? Baik, untuk memberi muka untukmu, kau boleh
mengajukan persoalan.”
Bayangan setan Liu Biau segera memutar otaknya sebentar,
kemudian sambil membungkukkan badannya memungut sebutir
batu, dia rnengerahkan tenaganya dan menghancurkan batu
tersebut sampai dua puluhan butir, setelah dihitung sebentar, katanya
kemudian :
“Dalam genggaman lohu sekarang terdapat dua puluh lima biji
hancuran batu, dengan ilmu Boan thian hoa yu (hujan bunga
memenuhi angkasa) lohu akan menyebarkan batu ini ke angkasa,
bila batu tersebut sudah kusebarkan dan kau dapat mempergunakan
ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im untuk menangkap kembali ke
dua puluh lima biji batu tadi, lohu akan mengakui dirimu sebagai
jago berilmu meringankan tubuh nomor wahid di kolong langit ....!”
Setiap orang dapat menduga, disaat menyebarkan batu nanti si
bayangan setan Liu Biau pasti akan mempergunakan segenap
kekuatan yang dimilikinya dan gerakan meluncurnya pasti cepat
sekali. Untuk mengejar sebutir batu saja sukarnya bukan kepalang,
apalagi dua puluh lima biji sekaligus dan dipancarkan dengan ilmu
Boan thian hoa yu, bisa dibayangkan betapa sukarnya untuk
menangkap semua batu ini.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa hambar, katanya :
“Silahkan kau melempar batu batu tersebut!”
Dengan demikian, bukan cuma para jago saja yang terkejut,
bahkan segenap orang yang hadir di sana pun bersama sama
membelalakkan matanya lebar lebar. Diantara sekian orang, hanya
Ciu Tin tin seorang yang menaruh perhatiannya ke atas tubuh si
Bayangan setan Liu Biau. Bayangan setan Liu Biau memang

1391
bertujuan untuk memancing pergi Bu im sin hong Kian Kim siang
agar dia berkesempatan untuk turun tangan membinasakan
sastrawan penyapu lantai Lu Put ji.
Sambil tertawa seram, ke dua puluh lima biji batu kecil itu segera
disebarkan ke arah timur. Bersama dengan disebarkannya batuan
tersebut, bayangan tubuh Bu im sin hong Kian Kim siang turut
lenyap tak berbekas. Menanti semua orang memasang mata baik
baik, ternyata Bu im sin hong Kian siang sudah melampaui hancuran
ba¬tu itu dan menerjang balik.
Berada ditengah udara, bagaikan ular emas yang berkelebat saja,
tahu tahu kedua puluh lima biji batu kecil tersebut sudah ditangkap
semua. Disatu pihak, Bu im sin hong Kian Kim siang menangkapi
batuan kecil tersebut, dipihak lain si bayangan setan Liu Biau telah
tertawa seram sambil miringkan badannya dia menubruk ke arah
jalan darah Hong yan hiat ditubuh sastrawan penyapu lantai Lu Put
ji.
Sebagaimana diketahui, sastrawan penyapu lantai Lu Put ji masih
merangkak di atas tanah, ketika menyadari kalau gelagat tidak baik,
jari tangan bayangan setan Liu Biau sudah tinggal berapa depa saja
diatas jalan darah Hong yan hiatnya. Bagaimana mungkin tenaga
dalam yang dimiliki sastrawan penyapu lantai Lu Put ji bisa
menandingi si bayangan setan Liu Biau? Ditambah lagi dia memang
pengecut dan takut mati, saking kagetnya seluruh badannya menjadi
lemas tak tertenaga untuk menghindarpun tidak bertenaga lagi.
Betapa senangnya si bayangan setan Liu Biau setelah
menyaksikan rencana busuknya hampir berhasil, dari tertawa dingin
dia segera tertawa terbahak bahak. Siapa tahu, baru saja gelak
tertawanya berkumandang dan si sastrawan penyapu lantai Lu Put Ji
belum lagi mampus, seseorang telah menegur secara tiba tiba.
“Nonamu sudah menduga akan maksud hatimu itu!”
Segulung angin serangan yang tajam langsung menerjang ke
arah jalan darah Hong yan hiatnya. Walaupun bayangan setan Liu
Biau mempunyai kesempatan untuk menotok mati si sastrawan

1392
penyapu lantai Lu Put ji, namun bila hal ini dilanjutkan juga niscaya
dia sendiripun tak akan hidup. Tentu saja dia tak akan
mengorbankan diri hanya demi mencabut nyawa sastrawan penyapu
lantai Lu Put ji. Tak sempat meneruskan serangan mautnya lagi,
dengan cepat dia berkelebat dan melayang mundur sejauh lima depa
dari tempat semula.
Sekalipun tubuhnya sudah mundur, bukan berarti rasa kagetnya
turut hilang malah sebaliknya rasa kaget dan ngerinya semakin
bertambah tambah. Rupanya dia merasa orang yang menyergap
dirinya itu seperti bayangan setan saja menempel terus di
belakangnya sedangkan jari tangannya telah menempel diatas jalan
darah Hong yan hiatnya, cuma belum sampai mengerahkan tenaga
serangannya.
Ilmu gerakan tubuh Kui pok sin hoat yang diandalkan ternyata
tak mampu menghindari serangan lawan, kejadian tersebut tak
pernah diduga sebelumnya, tidak heran kalau rasa terkejutnya
bukan alang kepalang. Pada saat itulah orang yang berada di
belakang tubuhnya telah menarik kembali jari tangannya sambil
berkata :
“Kau tak usah takut nonamu tak akan melukai orang secara diam
diam, balikkan dulu tubuhmu, nonamu akan menyuruh kau
menyaksikan kepandaian silatku yang sebenarnya?”
Bayangan setan Liu Biau menarik napas dingin, ketika
membalikkan tubuhnya dan melihat Ciu Tin tin yang berada di
hadapannya, berubah hebat paras mukanya :
“Ooooh, rupanya kau!”
Sampai dimanakah kelihayan Ciu Tin tin rasanya si bayangan
setan Liu Biau sudah pernah menyaksikannya sendiri, sekarang bulu
kuduknya pada bangun berdiri. Dengan wajah serius Ciu Tin tin
berkata :
“Bila dalam tiga gebrakan kau berhasil lolos dari cengkeramanku
maka nona akan mengampuni dosamu yang telah menyergap
sastrawan penyapu lantai Lu Put ji secara diam diam!”

1393
Ketika bayangan setan Liu Biau mendengar Ciu Tin tin hanya
menyuruh dia menerima tiga jurus serangannya belaka, dalam hati
kecilnya segera berpikir :
“Walaupun tenaga dalamku masih belum mampu menandingi
lawan, masa dengan gerakan Kui pok sin hoat yang kumiliki tak
mampu untuk menghindari ketiga jurus serangannya?”
Berpikir demikian, keberaniannya semakin bertambah, sambil
tertawa dingin katanya kemudian :
“Jangan lagi cuma tiga jurus, tiga ratus jurus pun tak akan
membuat lohu menjadi jeri!”
“Bagus, kalau begitu berhati hatilah nonamu akan segera turun
tangan!”
Sembari berkata pelan pelan dia mengangkat lengannya ke atas,
namun tenaga serangannya tidak dilepaskan, sedangkan tubuhnya
tidak pula menyerang ke depan, dia hendak menanti si bayangan
setan Liu Biau menghindarikan diri lebih dahulu. Bayangan setan Lui
Biau segera bergerak ke samping kiri, tapi begitu tiba di kiri dia
melompat pula ke sebelah kanan. Bersamaan waktunya sambil
tertawa dingin, dia berseru :
“Kau bisa mengapakan aku ....”
Belum habis dia berkata, kata kata selanjutnya sudah putus
sampai di tengah jalan. Rupanya telapak tangan Ciu Tin tin sudah
tinggal lima inci dari depan dadanya, bagaimanapun dia
menggerakkan tubuhnya, ternyata tidak berhasil meloloskan diri dari
intaian Ciu Tin tin tersebut. Bukan cuma gagal meloloskan diri dari
kejaran gadis tersebut, bahkan telapak tangan Ciu Tin tin yang
berada di depan dadanya selalu berada lima inci saja di depan
dadanya.
Cukup berbicara tentang hal tersebut, si bayangan setan Liu Biau
sudah tak mampu berkata kata lagi. Kebetulan sekali waktu itu Bu
im sin hong Kian Kim siang sedang berjalan balik di tengah tempik
sorak yang gegap gempita, menyaksikan kejadian tersebut, serunya
sambil tertawa terbahak bahak :

1394
“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhhh.... coba kau rasakan sendiri,
bagaimanakah ilmu Hu kong keng im yang dipergunakan nona Ciu
itu bila dibandingkan dengan gerakan tubuh Kui pok sim hoatmu?”
Sementara itu, Ciu Tin tin merasa tujuannya sudah tercapai maka
dalam telapak tangannya dia hanya menggunakan tenaga dalam
sebesar tiga bagian saja, dengan cepat dia berhasil menghajar tubuh
si bayangan setan Liu Biau sejauh tiga kaki lebih sehingga muntah
darah dan mengundurkan diri. Inipun berkat kebaikan hati Ciu Tin
tin sehingga cuma melenyapkan daya kemampuannya untuk
bertarung, coba kalau gadis ini lebih keji, niscaya selembar jiwa
tuanya ikut melayang.
Berhasil melukai si bayangan setan Liu Biau, Ciu Tin tin segera
berseru dengan lantang :
“Masih ada siapa lagi yang ingin mencabut nyawa si sastrawan
penyapu lantai Lu Put ji?”
Ketika sastrawan penyapu lantai Lu Put Ji mendengar jiwanya
sudah ada yang menjamin, dia lantas menyembah berulang kali
dihadapan Ciu Tin tin, tapi berhubung jalan darah bisunya sudah
tertotok sehingga tak mampu berbicara, terpaksa dia hanya bisa
menyembah berulang kali untuk menarik rasa belas kasihan orang.
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian
tersebut segera mengerutkan dahinya rapat rapat, kemudian dengan
suara nyaring bentaknya :
“Babi, mengapa tidak selekasnya menghantar kami masuk ke
dalam...?”
Kali ini sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tak berani berayal lagi,
dia segera merangkak kembali menuju ke tengah lapangan. Dalam
pada itu barisan para jago yang semula kacau balau, oleh karena
petunjuk dari Thi Eng khi, maka kini sudah mengalami perubahan
yang sangat besar. Suatu bentuk barisan yang sangat aneh sudah
terwujud dalam waktu singkat. Tapi berhubung barisan ini masih
tetap mempertahankan wujud kacau balau dari bagian luarnya,
maka Hian im Tee kun yang begitu lihay pun tak sempat menduga
sampai ke situ.

1395
Secara garis besarnya, para jago mengambil posisi sebagai
berikut :
Ciu Tin tin tetap berdiri di belakang sastrawan penyapu lantai Lu
Put ji yang sedang merangkak diatas tanah. Di belakang Ciu Tin tin
adalah Bu im sin hong Kian Kim siang, di belakang Bu im sin hong
Kian Kim siang adalah tiga sesepuh yang berdiri berjajar, Keng thian
giok cu Thi Keng berada di tengah, Sim ji sinni di sebelah kanan
sedangkan Tiang pek lojin So Seng pak di sebelah kiri.Di belakang
ketiga orang sesepuh tersebut adalah Sam ku sinni ditengah, Bu Nay
nay di sebelah kanan dan Pek leng siancu So Bwe leng di sebelah
kiri, merekapun berdiri berjajar.
Sedangkan sisanya seakan akan berdiri semaunya sendiri tanpa
beraturan dengan menempatkan Thi Eng khi serta enam jago yang
belum pulih kekuatannya ditengah tengah barisan.
Sejak bayangan setan Liu Biau yang diutus untuk membunuh
sastrawan penyapu lantai Lu Put ji mengalami kegagalan total, Hian
im Tee kun mulai jeri terhadap keampuhan Ciu Tin tin, dia tidak
mengutus orang lain lagi. Berhubung Ciu Tin tin sudah menunjukkan
kelihayan silatnya, maka walaupun jagoan dari pihak Ban seng kiong
sangat banyak, namun bila harus bertarung satu lawan satu, kecuali
Hian im Tee kun turun tangan sendiri, mungkin tiada orang yang
sanggup menandingi kehebatanya.
Sementara itu, Hian im Tee kun juga sedang mempergunakan
saat para jago memasuki lapangan untuk berunding dengan Hian im
ji li yakni Cun Bwee dan Ciu Lan tentang bagaimana caranya
menghadapi serbuan para jago. Diantara sekian jago yang hadir
sekarang, yang dianggap Hian im Tee kun sebagai musuh yang
tangguh tentu saja Thi Eng khi, sedang Ciu Tin tin menempati
urutan kedua.
Diantara empat tokoh besar yang hadir, Hian in Tee kun
menganggap tenaga dalam yang dimiliki Keng thian giok cu Thi
Keng, Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak sudah buyar,
maka hanya kekuatan Bu im sin hong Kian Kim siang seorang tidak
perlu dikuatirkan. Sisanya seperti Sam ku sinni, Bu Nay nay dan Pek

1396
leng siancu So Bwe leng dikirim dua jago lihay rasanya tidak sukar
untuk diatasinya ….
Sedangkan mengenai kawanan pendekar yang berhasil dibekuk
Hian im li Cun Bwee itu, dengan jago jago dari Ban seng kiong yang
berilmu tinggi rasanya masih dapat menandingi mereka, atau paling
tidak mereka dapat meraih kemenangan dengan mengandalkan
jumlah banyak .....
Maka dari itu, Hian im Tee kun tidak terlalu memikirkan mereka
di dalam hati. Dalam pandangan Hian im Tee kun, musuh tangguh
yang terutama adalah Thi Eng khi serta Ciu Tin tin. Hian im Tee kun
kuatir Thi Eng khi akan bekerja sama dengan Ciu Tin tin untuk
menghadapinya, maka dia tidak berniat untuk turun tangan sendiri
menghadapi sepasang muda mudi itu, dia telah berencana hendak
mempergunakan kekuatan dari puluhan jago lihay untuk bersama
sama menghadapi Thi Eng khi dan Ciu Tin tin....
Begitu para jago memasuki ke tengah kerumunan kaum iblis dari
Ban seng kiong, pintu masuk tadi segera merapat kembali dan
mengurung seluruh jago di dalam kepungan. Sementara kawanan
jago persilatan yang datang hanya untuk melihat keramaian
semuanya tertahan di pintu luar dan harus menahan rasa kecewa.
Padahal tindakan semacam ini bukan tindakan yang keterlaluan
bagi Ban seng kiong, sekalipun mereka jahat, toh bagaimana pun
jua tetap sebagai manusia tentu semuanya ingin menjaga nama baik
sendiri. Bagaimanapun jua tentu saja mereka tak dapat membiarkan
dirinya kehilangan muka dengan membiarkan orang lain
menyaksikan semua kejelekan sendiri.
Dalam arena, Bu im sin hong Kian Kim siang segera menuding ke
arah sastrawan penyapu lantai Lu Put ji yang sedang berlutut di
tanah lalu sambil tertawa sinis ejeknya : “Terima kasih banyak atas
penyambutan yang begitu besar dari utusan kalian!”
Sembari berkata dia mengebaskan ujung bajunya dan
membebaskan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji dari pengaruh
totokan. Oleh karena sastrawan penyapu lantai Lu Put ji tidak

1397
mengetahui apa maksud tujuan Bu im sin hong Kian Kim siang yang
sebenarnya, maka walaupun jalan darah bisunya sudah dibebaskan,
ia belum berani berdiri dari tempat semula, masih tetap berlutut dan
menyembah berulang kali, katanya:
“Terima kasih banyak atas kesudian Kian tua melepaskan aku.....”
Bu im sin hong Kian Kim siang menggelengkan kepalanya
berulang kali, katanya kemudian sambil menghela napas :
“Enyahlah kau dari hadapanku!”
Mendengar Bu im sin hong Kian Kim siang melepaskan dirinya,
tanpa membuang waktu lagi sastrawan penyapu lantai Lu Put ji
segera ngeloyor pergi dari situ. Belum mencapai berapa kaki,
mendadak Pek leng siancu So Bwe leng membentak keras.
“Lu Put ji, jangan lari dulu! Nona masih ada perkataan hendak
disampaikan kepadamu!”
Waktu itu sastrawan penyapu lantai Lu Put ji sudah berapa kaki
jauhnya meninggalkan para jago, dalam anggapannya para jago
sudah tak mampu berbuat apa apa lagi dengannya, oleh sebab itu
wajah bengisnya segera diperlihatkan kembali. Sambil menghentikan
langkahnya, dia mencaci maki dengan penuh amarah :
“Kentut busuk apa yang hendak kau lepaskan? Toaya sudah tidak
sabar lagi untuk menunggumu!”
Pek leng siancu So Bwe leng tidak menjadi marah, dia malahan
tertawa cekikikan, katanya :
“Hei, ngapain kau pulang lagi ke istana Ban seng kiong untuk
menghantar kematian?”
Setelah diperingatkan sastrawan penyapu lantai Lu Put ji baru
teringat kembali akan hal itu, berubah hebat paras mukanya
seketika, dengan wajah pucat pasi, bibir gemetar keras, peluh dingin
segera jatuh bercucuran membasahi tubuhnya. Pek leng siancu So
Bwe leng memang berniat mempermainkannya, dia berkata lebih
jauh :
“Kau memang tak becus sehingga menghilangkan wajah orang
orang Ban seng kiong, coba kalau enci Tin tidak menyelamatkan

1398
selembar jiwamu tadi, mungkin kau sudah dihantar pulang oleh si
bayangan setan Liu Biau.”
Sastrawan penyapu lantai Lu Put ji memang sudah berpikir
sampai disitu, apalagi disinggung kembali oleh Pek leng siancu So
Bwe leng, dia semakin ketakutan setengah mati. Sambil
menjatuhkan diri berlutut, serunya sambil menangis tersedu sedu :
“Nyonya muda oooh..... nyonya mudaku, orang yang budiman
tak akan mengingat ingat kesalahan orang rendah, bila ucapan
hamba kurang sedap didengar tadi, anggaplah sebagai kentut busuk
saja, harap kau sudi berbuat baik dengan mengijinkan hamba
melepaskan jalan sesat kembali ke jalan yang benar, biar hamba
menjadi kerbau atau kuda pun pasti akan berterima kasih tiga
keturunan kepada tayhiap sekalian!”
Dengan wajah yang begitu mengenaskan, sungguh membuat
siapa pun yang memandang merasa beriba hati. Di pihak lain, Hian
im li Ciu Lan segera berseru pula sambil tertawa dingin :
“Manusia yang tak tahu diri, mereka adalah patung lumpur yang
hendak menyeberang sungai untuk melindungi diri saja tidak
mampu, sekalipun kau menjadi kerbau atau kuda mereka selama
delapan belas keturunan pun tak nanti mereka dapat melindungi
keselamatan jiwamu, mengapa kau tidak tahu kembali dan mohon
pengampunan dari Seng li (perempuan suci)?”
“Aduuuuh celaka, mengapa aku tidak sempat berpikir ke situ...?”
pikir sastrawan penyapu lantai Lu Put ji secara diam diam.....
Berpikir sampai ke situ, dia lantas melompat bangun kemudian
sambil membusungkan dada katanya kepada Pek leng siancu So Bwe
leng dengan suara lantang :
“Aku Lu Put ji adalah seorang lelaki sejati, hidup sebagai manusia
Ban seng kiong, setelah matipun harus menjadi setannya Ban seng
kiong, aku bukan manusia pengecut yang takut mampus, Cuuuh!
Cuuuhh...! Bila suatu ketika kau sampai terjatuh ke tangan lohu,
sudah pasti lohu akan membeset kulit tubuhmu!”
Kemudian dia membalikkan badan dan lari menuju ke arah Hian
im li, baru saja dia berseru :

1399
“Seng li .... ”
Belum habis dia berkata, Hian im li Ciu Lan sudah melepaskan
sebuah totokan atas jalan darahnya. Sastrawan penyapu lantai Lu
Put ji menjadi sangat terperanjat, segera rengeknya :
“Seng li, bukankah kau berjanji akan mengampuni selembar jiwa
hamba?”
Hian im li Ciu Lan tertawa licik.
“Aku memang pernah berkata hendak mengampuni selembar
jiwamu, tapi toh tak pernah berjanji tidak akan memberi hukuman
hidup untukmu?”
Luka totokan yang diderita sastrawan penyapu lantai Lu Put ji
segera kambuh, sambil menjerit lengking dia roboh ke tanah dan
berguling guling diatas tanah penuh penderitaan. Selang berapa saat
kemudian dia sudah membuat sebuah lubang besar diatas tanah
suara jeritannya parau dan tak sedap didengar, jelas siksaan yang
dideritanya membuat dia sangat menderita sekali.
Ciu Tin tin yang menyaksikan kejadian tersebut segera berkerut
kening, mendadak dari jarak dua kaki dia lepaskan sebuah pukulan
udara kosong ke atas jalan darah kematian ditubuh sastrawan
penyapu lantai Lu Put ji, maksudnya untuk melepaskan dia dari
penderitaan.
Hian im li Ciu Lan yang menyaksikan kejadian tersebut segera
tertawa merdu, serunya :
“Lu Put ji arwahmu dialam baka pasti tahu, yang tak mau
mengampuni jiwamu bukanlah orang Ban seng kiang!”
Ciu Tin tin yang mendengar perkataan tersebut menjadi gusar
sekali, dengan wajah membesi bentaknya keras keras :
“Perempuan siluman, ayo cepat keluar, nonamu harus memberi
pelajaran dulu atas kekejianmu itu!”
Hian im li Ciu Lan mengerling sekejap ke atas kepala Ciu Tin tin
dengan sikap menghina, lalu sembari mendengus katanya :

1400
“Orang bilang si pembawa bendera maju duluan, aku mah bukan
si pembawa bendera, bila kau ingin bertarung, pasti akan muncul
orang dari seangkatan denganmu untuk melayani kemauanmu
tersebut!”
Hian im li Ciu Lan tahu kalau kepandaian silatnya masih belum
mampu untuk menandingi Ciu Tin tin, tapi untuk menjaga nama baik
sendiri selain untuk melaksanakan rencana pengepungan yang telah
direncanakan Hian im Tee kun, maka dia sengaja memandang hina
Ciu Tin tin dengan maksud untuk memberi malu anak gadis tersebut.
Siapa tahu Ciu Tin tin selain berilmu tinggi, imamnya pun cukup
tebal, setelah tertawa hambar katanya :
“Berbicara soal usia dan kedudukan, aku memang hanya seorang
prajurit kecil dihadapan para locianpwe tapi aku jadi ingin tahu selain
Hian im Tee kun, siapa sih di antara kalian manusia manusia Ban
seng kiong yang sanggup menerima tiga jurus serangan nonamu?”
Dia telah mengembalikan penghinaan tersebut langsung kepada
Hian im li Ciu Lan. Hian im li Ciu Lan betul betul bermuka tebal, dia
segera berlagak seolah olah tidak mendengar perkataan itu, dari
sakunya diambilnya selembar panji segitiga berwarna merah
kemudian dikibarkan ke tengah udara serunya :
“Dimana Thian lam pat koay (delapan manusia aneh dari Thian
lam)..?”
“Seng li ada perintah apa?”
Delapan kakek yang tangan kirinya telah kutung segera tampilkan
diri. Ke delapan Kakek ini merupakan delapan jagoan lama dari Ban
seng kiong yang kena dikutungi sebuah lengan kirinya ketika Hian im
Tee kun menjajah Ban seng kiong tempo hari. Setelah peristiwa
tersebut, Hian im Tee kun segera memanjakan mereka dengan cara
diam diam mewariskan banyak sekali kepandaian ampuh dan
serangkaian ilmu kerja sama yang tangguh.
Kemampuan ke delapan orang tersebut sekarang, dalam
pandangan Hian im Tee kun kecuali dia sendiri yang mampu
mengendalikan mereka karena dirinya cukup memahami titik
kelemahan orang orang tersebut, sukar rasanya untuk mencari

1401
seseorang dalam dunia persilatan ini yang sanggup menandingi kerja
sama kedelapan orang tersebut.
Berhubung tenaga dalam yang dimiliki Thian lam pat koay telah
bertambah dengan pesat kendatipun sudah kehilangan sebuah
lengan kirinya namun boleh dibilang gara gara bencana mendapat
rejeki, maka rasa benci dan dendamnya kepada Hian im Tee kun
pun turut memudar. Menyaksikan sikap hormat dari Thian lam pat
koay, Hian im li Ciu Lan tersenyum, sambil mengangkat panji
segitiga berwarna merahnya itu dia berseru :
“Hian kun ada perintah, harap kalian berdelapan segera
membekuk budak tersebut!”
Baru pertama kali ini Thian lam pat koay bersua dengan Ciu Tin
tin, walaupun barusan mereka dapat melihat kalau kepandaian gadis
itu sewaktu menghadapi bayangan setan Liu Biau tidak lemah,
namun mereka beranggapan belum cukup pantas untuk menyuruh
mereka berdelapan turun tangan bersama sama.
Tidak heran kalau wajah mereka segera menunjukkan sikap acuh
tak acuh. Hian im li Ciu Lan dapat menebak isi hati Thian lam pat
koay, dengan ilmu menyampaikan suara segera bisiknya :
“Budak tersebut memiliki kepandaian silat yang luar biasa, jago
jago lihay kita pernah merasakan kelihayannya sewaktu di kuil Thian
ki bio tempo hari, harap kalian berdelapan hilangkan sikap
memandang rendah musuh, yang penting harus bertindak lebih
berhati hati.”
Mendengar ucapan mana, Thian lam pat koay segera tertawa
terbahak bahak :
“Haaahhh...haaahhh...haaahhh... Seng li tak usah kuatir, lohu
sekalian sudah tahu!”
Delapan orang itu memutar badannya bersama sama dan
beranjak bersama pula, mereka maju berjajar dan berdiri dihadapan
Ciu Tin tin tanpa menimbulkan sedikit suarapun, sikap mereka yang
begitu angkuh dan tinggi hati membikin hati orang menjadi gemas
rasanya.

1402
Ciu Tin tin masih tetap mempertahankan senyuman diatas
wajahnya, pelan pelan dia berkata :
“Delapan cianpwe hendak turun tangan bersama? Ataukah
hendak maju satu per satu?”
Sebutan “cianpwe” tersebut segera melenyapkan sikap ketus
yang semula menghiasi wajah Thian lam pat koay, akhirnya siluman
pertama berkata :
“Kau anggap dirimu sudah cukup berharga bagi kami delapan
bersaudara untuk turun tangan bersama sama?”
Hian im li segara menggeleng, kepada Hian im Tee kun katanya
tiba tiba :
“Seandainya harus bertarung satu lawan satu, mungkin Thian lam
pat koay akan dikeokkan semuanya oleh Ciu Tin tin!”
“Budak itu tinggi hati, ucapan dari Thian lam pat koay telah
membuatnya naik darah apakah kalian tidak melihat kalau keningnya
telah berkerut?”
Betul juga, Ciu Tin tin segera berkata sambil tertawa nyaring :
“Gabungan kalian berdelapan hanya bisa dianggap empat orang,
titik kelemahan atas gabungan inipun lebih banyak dari empat
orang, jelas hal tersebut merupakan kerugian yang amat besar bagi
kalian. Apalagi ilmu meringankau tubuhku berasal dari ajaran Kian
locianpwe yakni ilmu Hu kong keng im, jelas ini menguntungkan
sekali bagiku, aku rasa kalau ingin bertarung secara adil, lebih baik
kalian berdelapan maju bersama sama saja!”
Selesai berkata, Ciu Tin tin lantas mencabut keluar senjatanya,
jelas hal ini merupakan suatu tindakan memberi muka untuk Thian
lam pat koay, sebab paling tidak ia tak berniat menghadapi lawan
dengan tangan kosong belaka. Senjata yang dipergunakan Ciu Tin
tin sekarang tak lain adalah seutas angkin atau ikat pinggang
berwarna putih yang semula melilit dipinggangnya. Ikat pinggang
tersebut hanya lima depa panjangnya dengan kedua ujungnya
berbentuk simpul terbuat dari perak.

1403
Ketika berkibar terhembus angin, cahaya perak yang memancar
keluar amat menyilaukan mata, coba kalau benda tersebut tidak
diloloskan siapa pun tak akan mengira kalau benda tersebut
merupakan senjata andalan Ciu Tin tin.
Sebagai anak gadis yang berperasaan halus, Ciu Tin tin memang
tidak senang membawa senjata tajam apalagi semenjak tenaga
dalamnya memperoleh kemajuan yang pesat, dia telah menguasai
betul betul ilmu pedang Gin kong liu soat kiam (pedang cahaya
perak lintasan bianglala) warisan keluarganya.
Ikat pinggangnya itu pada dasarnya bukan termasuk sejenis
senjata, karena sesungguhnya merupakan hiasan saja bagi Ciu Tin
tin. Dengan ujung jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya
menjepit bagian tengah ikat pinggang tersebut, Ciu Tin tin segera
menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam senjata tersebut. Tak
selang berapa saat kemudian, ikat pinggang yang semula lemas
tersebut segera menegang keras, sudah jelas tenaga dalam yang
dimiliki gadis tersebut benar benar telah mencapai pada
puncaknya....
Demonstrasi tenaga dalam semacam ini hanya dianggap sesuatu
yang biasa tiada keanehan bagi pandangan kawanan iblis tersebut,
semua orang hanya memandangnya sembari tertawa geli, terhadap
Ciu Tin tin pun segera timbul perasaan memandang rendah. Siapa
tahu, dalam sekejap mata inilah kedua ujung angkin bersimpul perak
tadi mulai bergerak seperti ular lincah yang mencari mangsanya,
simpul perak tersebut berputar ke atas bawah, kiri kanan tiada
hentinya.
Sekarang orang baru dapat merasakan betapa hebatnya si anak
gadis tersebut, sebab kepandaian seperti ini sepuluh kali lipat lebih
sukar dilakukan daripada melakukan tindakan tadi. Sebagaimana
diketahui kawanan iblis yang tergabung dalam istana Ban seng kiong
rata rata adalah kawanan iblis diantara iblis, kecuali terhadap Hian
im Tee kun seorang yang tampak selisih jauh sekali, boleh dibilang
tenaga dalam maupun kepandaian silat mereka sudah mencapai
tingkatan yang luar biasa.

1404
Sudah barang tentu mereka pun dapat menyaksikan betapa
dahsyat dan lihaynya kepandaian silat Ciu Tin tin bahkan selain Hian
im Tee kun seorang, tiada seorang pun yang mampu
menandinginya.
Seketika itu juga paras muka mereka yang semula memandang
hina dan rendah, berubah menjadi kaget dan amat terkesiap. Paras
muka Thian lam pat koay berubah pula menjadi amat serius, masing
masing orang meningkatkan kewaspadaan masing masing dan tak
berani bertindak secara gegabah.
Tujuan Ciu Tin tin memang ingin memecahkan nyali kawanan
iblis tersebut sehingga sikap mereka terhadap pihak pendengar tak
memandang hina, maka setelah mendemonstrasikan kelihayannya
tersebut, pelan pelan dia berjalan maju sejauh lima langkah
kemudian katanya :
“Silahkan saudara!”
Sikapnya yang anggun tapi santai membuat siapapun tak berani
memandang enteng dirinya lagi. Sekarang, Thian lam pat koay tak
berani lagi memandang rendah Ciu Tin tin serentak mereka
meloloskan senjata tajam. Empat bilah senjata yang mereka
pergunakan hampir sama bentuknya, yakni sebuah huncwee yang
panjangnya mencapai dua depa delapan inci. Empat siluman yang
membawa senjata dan empat siluman yang bertangan kosong
belaka, berdiri berselang seling, sehingga dengan demikian masing
masing pihak saling mengisi kekurangan dari rekannya.....
Terdengar siluman pertama tertawa terbahak bahak, kemudian
serunya dengan lantang:
“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh... tenaga dalam nona Ciu amat
sempurna, ketenanganmu bagaikan batu karang, jelas
kesempurnaan tenaga dalam nona sudah mencapai tingkatan yang
sangat luar biasa, rasanya kami berdelapan memang cukup berharga
untuk turun tangan bersama sama.”
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia menyambung lebih jauh
dengan suara dalam : “Saudara saudara sekalian, ayo rnaju!”

1405
Bayangan manusia berkelebat kian kemari, delapan manusia
tersebut segera menyebarkan diri dengan posisi barisan Pat kwa....
Ciu Tin tin tahu bahwa orang orang itu bersikap sok tua dan jelas
tak akan turun tangan lebih dahulu, maka dengan suara lantang
segera bentaknya :
“Lihat serangan!”
Angkin berwarna perak yang berada di tangannya itu langsung
diayunkan ke muka menyambar jalan darah Jit kan hiat di tubuh
siluman pertama, ujung simpul perak tersebut membentuk seperti
payung dan segera mengurung sebagian besar dada siluman
pertama. Siluman pertama tidak membawa senjata apa apa, dia
berdiri dengan telapak tangan disilangkan didepan dada.
Segulung angin pukulan segera dilepaskan menghantam bagian
tengah dari ikat pinggang Ciu Tin tin yang sedang menyambar tiba,
bersamaan waktunya dia bergeser dua depa kesamping. Diantara
gerakan mana, ji koay menerobos maju ke depan secara tiba tiba,
senjata huncweenya langsung dihantamkan ke ujung angkin dari
gadis tersebut. Hampir bersamaan waktunya angin pukulan dari toa
koay dan huncwee dari ji koay menghantam bersama diujung ikat
pinggang Ciu Tin tin....
Ikat pinggang Ciu Tin tin masih tetap tenang seperti sedia kala, ia
tidak berkelit pun tidak berniat untuk menghindarkan diri...
Sebaliknya Toa koay maupun ji koay sama sama terkena pentalan
tenaga yang amat kuat sehingga kuda kudanya gempur dan
dadanya terasa sesak. Untung saja mereka semua sedang sama
sama bergerak memutar, sehingga orang lain tak sempat melihat
dengan jelas, padahal dalam jurus pertama saja mereka sudah
menderita kerugian yang sangat besar....
Menyusul kerugian yang dideritanya, Toa koay segera berpekik
nyaring, delapan orang yang mengurung Ciu Tin tin segera mulai
berputar, bahkan makin berputar semakin bertambah cepat. Ciu Tin
tin masih tetap berdiri tegak ditengah arena, walaupun demikian dia
dapat merasakan kalau segulung pusaran hawa serangan yang

1406
dipancarkan ke delapan manusia aneh itu makin lama menekan
tubuhnya semakin berat.
Ciu Tin tin hanya tersenyum saja dengan mengerahkan tenaga
sedalam enam bagian dia mencoba untuk melawan aliran hawa
serangan yang menekan datang dari empat arah delapan penjuru
itu.
“Kalian terlalu memandang rendah aku,” demikian ia berpikir
dihati.
Belum habis ingatan tersebut lewat, mendadak terasa olehnya
tenaga tekanan dari aliran udara disekeliling tubuhnya kian lama
kian bertambah berat. Ciu Tin tin segera berseru tertahan, satu
ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya :
“Aduh celaka, inilah yang disebut pusaran hawa sakti penghancur
jagad!”
Ciu Tin tin bukan hanya sempurna di dalam tenaga dalam, atas
petunjuk Thi Eng khi, dia pun sudah banyak membaca buku buku
yang disimpan dalam gua Yang sim tong sehingga pengetahuan
yang dimilikinya selain Thi Eng khi, boleh dibilang tiada orang kedua
yang dapat menandingi. Perlu diketahui pusaran hawa penghancur
jagad merupakan suatu gejala alam yang bisa terjadi di alam jagad
ini, tentu saja kekuatan yang dipancarkan luar biasa sekali.
Walaupun pusaran hawa sakti penghancur jagad yang dilakukan
oleh Thian lam pat koay merupakan gejala yang diciptakan manusia,
namun tidak terlepas dari gejala alam, sehingga akibat yang
dihasilkan juga turut menjadi hebat.
Ciu Tin tin harus mengerahkan tenaga dalamnya mencapai
delapan bagian sebelum secara berat dapat menahan aliran hawa
pusaran yang mendesak ke arah tubuhnya. Saat ini, bila Thiam lam
pat koay melancarkan serangan ke arah Ciu Tin tin, oleh karena
bertumpuknya kekuatan maka asal mereka menambah tenaga
serangannya dengan dua bagian saja, niscaya kekuatannya akan
mencapai sepuluh bagian.

1407
Bila delapan manusia aneh itu baru melancarkan serangan
bersama disaat pusaran hawa sakti itu sudah sempurna, maka
kendatipun Ciu Tin tin memiliki kepandaian silat yang luar biasapun
sulit rasanya untuk menyambut satu dua jurus serangan mereka.
Tapi sayang sekali mereka tidak turun tangan pada saatnya, disaat
mereka hendak turun tangan, Ciu Tin tin sudah keburu memahami
rahasia dibalik kesemuanya itu sehingga berkelit dengan
menggunakaa ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im bahkan berputar
berlawanan arah dengan aliran pusaran tersebut.
Dengan berbuat demikian maka tekanan akibat pusaran tersebut
menjadi jauh berkurang. Dengan bantuan dari tenaga pusaran yang
maha sakti itulah, delapan manusia aneh tersebut sudah dapat
melangsungkan suatu pertarungan keras lawan keras. Tampak
bayangan manusia berputar seperti angin, debu beterbangan
memenuhi angkasa, Thian lam pat koay telah bertarung seru sekali
melawan Ciu Tin tin.
Dengan makin mantapnya pertarungan dipihak ini, Hian im li Ciu
Lan segera tertawa licik, kemudian berseru :
“Thi Eng khi! Beranikah kau tampilkan diri untuk merasakan
kelihayan dari Im kek toa tin kami?”
Lagi lagi dia hendak menggunakan jumlah orang yang banyak
untuk mengerubuti Thi Eng khi. Untuk memulihkan tenaga dalam
rekan rekannya, hampir boleh dibilang Thi Eng khi sudah kehilangan
banyak tenaga dalamnya, sekarang dia bisa bertahan karena
bantuan tusukan jarum emas, sudah barang tentu dia tidak
berkekuatan lagi untuk melakukan pertarungan melawan orang lain.
Dengan teriakan dari Hian im li Ciu Lan ini, sama artinya dengan
menusuk langsung ke titik kelemahan para jago. Apakah Thi Eng khi
harus menampilkan diri? Saat ini siapapun berkemampuan untuk
membinasakan Thi Eng khi seketika. Kalau Thi Eng khi tidak
menampilkan diri, hal ini tidak masuk diakal, bahkan bisa jadi Hian
im li Ciu Lan akan mengetahui rahasia bahwa Thi Eng khi sudah
kehilangan daya kemampuannya untuk bertarung lebih jauh.

1408
Dalam keadaan serba salah, Tbi Eng khi tertawa nyaring, sambil
menampilkan diri dari rombongan serunya kepada Hian im Tee kun
dengan suara lantang :
“Di dalam pertarungan kita tempo hari menang kalah belum
ditentukan, bagaimana kalau kutantang dirimu sekarang untuk
melanjutkan sisa pertarungan kita yang belum selesai dulu?”
Hian im Tee kun dibuat tersipu sipu oleh ucapan tersebut, namun
hanya sebentar saja sudah hilang kembali, dia tertawa seram lalu
berkata :
“Jago jago kami banyak tak terhitung dengan jari, kalau aku
mesti melayani tantanganmu itu. Hmmm, bukankah hal ini akan
menurunkan pamorku saja? Ciu Lan! Gerakan barisan Im kek toa tin
untuk membekuk bajingan cilik itu!”
Hiam im li Ciu Lan segera mengibarkan panji merahnya tiga kali
ke atas kepala. Empat puluh sembilan orang kakek segera
munculkan diri dari empat arah delapan penjuru dan menerjang ke
arah Thi Eng khi. Serentak para jago menyerbu ke depan pula serta
melindungi Thi Eng khi.
Keng thian giok cu Thi Keng membentak pula dengan suara
biasa.
“Tunggu dulu!”
Walaupun tenaga dalam yang dimilikinya telah pulih kembali,
namun berhubung ingin merebut suatu kemenangan tak terduga
sehingga memberi pukulan batin yang di luar dugaan bagi Hian im
Tee kun maka hal tersebut untuk sementara waktu tetap
dirahasiakan secara ketat.
Empat puluh sembilan orang yang menerjang keluar dari Ban
seng kiong segera menghentikan pula gerakan tubuhnya sambil
menantikan perintah terakhir dari Hian im Tee kun. Dengan cepat
Hian im Tee kun mengulapkan tangannya memberi tanda kepada
kawanan kakek tersebut agar menunda serangan mereka, kemudian
sambil mengangkat kepalanya memandang ke arah Keng thian giok
cu Thi Keng dia berseru :
“Thi Keng! Apalagi yang hendak kau katakan?”

1409
Jilid 44
Berbicara soal kedudukan, Hian im Tee kun tidak lebih tinggi
dari Keng thian giok cu Thi Keng, namun caranya berbicara
semacam itu sungguh amat tak sedap didengar. Adapun tujuan
dari Keng thian giok cu Thi Keng adalah ingin melenyapkan
gembong iblis tua tersebut dari muka bumi dia tidak gusar
malah ujarnya sambil tertawa hambar :
“Apakah maksud hati kami berempat, rasanya kaupun sudah
tahu dengan pasti, beranikah kau bertarung dengan kami
berempat?”
Hian im Tee kun yang hadir hari ini benar benar sangat aneh,
ternyata dia tak berani bertarung melawan Thi Eng khi, tapi
tidak menampik tantangan dari Keng thian giok cu Thi Keng
sekalian berempat. Seharusnya tindakan yang diperlihatkan
olehnya sekarang mengandung dua kemungkinan :
Ke satu! Sejak pertarungannya melawan Thi Eng khi tempo
hari hingga sekarang dia masih belum memiliki suatu
keyakinan untuk merenggut kemenangan dari Thi Eng khi,
maka dia tak berani menyerempet bahaya.
Ke dua! Dia menganggap Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji
sinni serta Tiang pek lojin So Seng pak sekalian bertiga masih
terkena bubuk Hua kong san sehingga tenaga dalamnya masih
punah, mustahil kekuatan mereka bisa pulih seperti sedia.
Maka dia beranggapan dengan kemampuan yang dimilikinya
sekarang meski tampaknya dia harus menghadapi empat jagoan
tangguh namun dalam kenyataan hanya menghadapi Bu im sin
hong Kian Kim siang seorang. Dengan kemampuan yang
dimilikinya ini sudah barang tentu dia pasti akan

1410
memenangkan pertarungan tanpa bersusah payah, maka dengan
senang hati diterimanya tantangan mana.
Dalam pada itu, Pek leng siancu So Bwe leng telah munculkan
diri pula, sambil menuding ke arah Hian im li Ciu Lan serunya
dengan suara lantang :
“Siluman perempuan, beranikah kau tampilkan diri untuk
bertarung sebanyak tiga ratus gebrakan dengan nonamu?”
Hian im li Ciu Lan dengan Pek leng siancu So Bwe leng sudah
menjadi musuh bebuyutan, siapa memandang siapa pasti akan
menjadi gusar. Maka Hian im li Ciu Lan segera memberi tanda
kepada Hian im li Cun Bwee, kemudian sambil melompat ke
hadapan Pek leng siancu So Bwe leng, serunya sambil tertawa
dingin :
“Dalam pertarungan hari ini, aku tak akan melepaskan dirimu
lagi!”
Mendadak dia mengeluarkan sebilah senjata tangan setan Hian
im li kui jiu dan dicekal ditangan kirinya, senjata ini persis
seperti senjata yang pernah dihancurkan oleh Thi Eng khi
tempo hari, mungkin dia telah membuat sebuah lagi. Pek leng
siancu So Bwe leng sudah pernah merasakan kelihayan senjata
Hian im kui jiu tersebut, memandang senjata cakar setan yang
berada di tangan Hian im li Ciu Lan tersebut, dia segera
berkerut kening, lalu dengan gusar dicabutnya senjata Hua boa
giok ci (jari kemala pemisah bunga) miliknya, kemudian
membentak keras :
"Lihat serangan!”
Senjata berikut tubuhnya dengan menciptakan selapis cahaya
hijau langsung menerjang ke arah Hian im li Ciu Lan. Dengan
demikian, pertarungan antara Pek leng siancu So Bwe leng
melawan Hian im li Ciu Lan malahan berlangsung jauh

1411
mendahului pertarungan antara empat tokoh sakti melawan
Hian im Tee kun...
Disaat Pek leng siancu So Bwe leng melangsungkan
pertarungan melawan Hian im li Ciu Lan, Keng thian giok cu
Thi Keng, Sim ji sinni, Tiang Pek lojin So Seng pak dan Bu im
sin hong Kian Kim siang telah mengambil ancang ancang pula
siap melangsungkan pertarungan.
Sambil membuka posisi serangan, Bu im sin hong Kian Kim
siang berseru lantang : “Kami berjumlah jauh lebih banyak
darimu, silahkan kau si gembong iblis tua harus membuka
serangan lebih dahulu!”
Siapa tahu Hian im Tee kun merubah rencananya secara tiba
tiba, sambil berkerut kening katanya :
“Aku rasa pertarungan kita ini seharusnya diundur sampai pada
urutan yang terakhir nanti, dengan begitu baru cocok
namanya...”
“Iblis tua! Kau hendak mengulur waktu untuk menyusun siasat
busuk lainnya?”
Hian im Tee kun tertawa seram :
“Haaahhh…. haaahhh...haaahhh…. rencana kami untuk
menghadapi kalian sudah kususun secara matang dan
sempurna, tak perlu dipikirkan lagi secara pusing pusing aku
hanya merasa lebih baik mengundurkan pertarungan ini agar
kalian mempunyai kesempatan untuk menolong orang sendiri,
masa kalian tak dapat melihat sendiri bagaimanakah situasi
yang sedang kalian hadapi sekarang?”
Betul juga, empat puluh sembilan orang yang membentuk
barisan Hian im toa tin telah mengepung para jago rapat rapat

1412
bahkan mulai melancarkan serangkaian serangan yang sangat
gencar. Bersamaan waktunya, Bu Nay nay terlibat pula dalam
pertarungan yang amat seru melawan Hian im li Cun Bwee.
Jadi yang belum turun tangan sekarang tinggal empat tokoh
silat bersama Hian im Tee kun.
Disamping itu, dari pihak Ban seng kiong masih terdapat dua
tiga puluh orang kakek yang belum turun tangan, mereka
sedang mengawasi situasi dalam pertarungan dengan sorot
mata tajam, agaknya setiap saat mereka siap terjun ke arena
untuk memberikan bala bantuan...
Keng thian giok cu Thi Keng sekalian berempat menjadi
terperanjat sekali setelah menyaksikan kejadian itu, dalam hal
jumlah orang sudah jelas pihak Ban seng kiong menempati
posisi yang lebih menguntungkan, tapi situasi pertarungan
masih sukar diduga berhubung pertarungan baru saja
berlangsung. Tapi kenyataan sudah terbentang didepan mata,
bagaimanapun ruginya pihak Ban seng kiong, mereka sudah
menyediakan orang yang cukup untuk menggantikan
kedudukan rekannya.
Sedangkan di pihak para jago, selain Keng thian giok cu Thi
Keng sekalian berempat yang belum turun tangan, tinggal
mereka yang belum pulih tenaga dalamnya saja yang belum
terjun, sedangkan sisanya sudah terlibat semuanya dalam suatu
pertarungan yang amat seru.
Setelah mendengar perkataan dari Hian im Tee kun, dan
setelah menyaksikan pula situasi dalam arena pertarungan, Bu
im sin hong Kian Kim siang merasakan hatinya berdebar keras.
Tanpa terasa dia mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya
berbisik kepada Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni serta
Tiang pek lojin So Seng pak :

1413
“Walaupun kami belum mengerti maksud hati dari si gembong
iblis tua itu, namun berbicara dari keadaan situasi yang sedang
kita hadapi, ditundanya pertarungan oleh gembong iblis
tersebut tidak terlalu merugikan pihak kita, entah
bagaimanakah pendapat dari kalian bertiga?”
Dengan kening berkerut, Sim ji sinni segera menyahut dengan
ilmu menyampaikan suara pula :
“Kalau menurut pengamatan pinni atas sorot mata gembong
iblis tersebut, tampaknya dia merasa sangat tidak tenang, apa
kalian bertiga memperhatikan pula akan hal itu? Sekalipun kita
boleh menunda jalannya pertarungan, paling tidak harus
mengawasi gerak geriknya, jangan kita biarkan dia kabur dari
tempat ini…..”
Sedangkan Tiang pek lojin So Seng pak lebih setuju untuk
segera turun tangan dan tak usah ditunda tunda lagi. Sebaliknya
Keng thian giok cu termenung sebentar kemudian ia baru
berkata :
“Pertarungan antara kita berempat melawan Hian im Tee kun
merupakan suatu pertarungan adu kekerasan, dengan
kemampuan yang dimiliki Hian im Tee kun, rasanya kecil
sekali kemungkinan kita untuk berhasil, padahal posisi para
jago sekarang sedang menguntungkan, bila kita kelewat cepat
nekad beradu jiwa, hal ini justru akan mempengaruhi kejiwaan
para jago sehingga bisa berakibat menimbulkan kegagalan atau
kekalahan. Menurut pendapat siaute, entah bagaimanakah hasil
pertarungan para jago, paling tidak kita harus menghindari
pengaruh dari mati hidup kita ini atas semangat juang mereka.”
Dengan ilmu menyampaikan suaranya Sim ji sinni segera
menyatakan kesanggupannya:
“Perkataan dari Thi sicu memang betul dan pinni setuju sekali,

1414
lebih baik kita menanti dulu sebentar sambil melihat perubahan
situasi, kemudian baru mengambil langkah selanjutnya.”
Tiang pek lojin So Seng pak serta Bu sin im hong Kian Kim
siang memang mengekor Thi Keng, maka mereka pun tidak
segera bertarung melawan Hian im Tee kun melainkan mulai
menguatirkan keadaan situasi dalam arena pertarungan.
Sementara itu pertarungan antara para pendekar melawan kaum
iblis yang membentuk barisan Hian im toa tin dari Ban seng
kiong berlangsung paling seru, tampak debu dan pasir
beterbangan di angkasa, bahkan jeritan ngeri yang memilukan
hati berkumandang silih berganti. Namun mereka yang jerit
kesakitan dan roboh hampir semuanya adalah kaum iblis dari
Ban seng kiong sedangkan pihak pendekar masih tetap kokoh
seperti batu karang sama sekali tidak terpengaruh oleh serbuan
mana. Padahal kalau dilihat formasi dari para pendekar pun
tidak menunjukkan suatu kelebihan yang terlalu luar biasa.
Thi Eng khi menempati posisi tengah, disampingnya adalah
suata lingkaran yang terdiri dari tujuh orang, diluar tujuh orang
terdapat lagi satu lingkaran yang terdiri dari delapan orang,
kemudian pada lingkaran lapisan terakhir terdiri dari sembilan
orang jago. Namun ke sembilan orang ditempatkan pada
lapisan paling luar adalah kawanan jago yang memiliki tenaga
dalam paling sempurna.
Mereka adalah Sam ku sinni, ketua Siau lim pay Ci long
siansu, ketua Bu tong pay Keng kian totiang, ketua Kay pang si
pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, Cang ciong sin
kiam Sangkoan Yong, Beng seng sutay dari kuil Ci tiok an,
Giok koay popo Li Ko ci, pemilik pulau Soh sim to si bidadari
penyebar bunga Leng Cay soat dan si Unta sakti Lok It hong
bersembilan. Malahan mereka semua telah menyimpan

1415
kembali senjata masing masing dan menghadapi musuh dengan
tangan kosong belaka.
Tampak empat puluh sembilan orang iblis yang membentuk
barisan Hian im toa tin, bagaikan banyak setan gentayangan,
mereka maju mundur tiada hentinya sambil melancarkan
serangkaian serangan gencar ke arah para pendekar. Namun
setiap serangan yang dilancarkan orang orang Ban seng kiong
itu entah yang memakai senjata ataupun yang bertangan
kosong, hampir bersamaan waktunya lagi menerjang ke arah
para pendekar, mereka selalu terpental balik ke belakang malah
ada yang tangan atau kakinya patah serta menderita luka parah.
Jeritan ngeri yang bergema berulang kali tadi bukan lain
berasal dari mulut para penderita tersebut.
Walaupun dewasa ini Sam ku sinni boleh dianggap bertenaga
dalam paling tinggi diantara para pendekar yang hadir namun
dengan kemampuannya seorang mustahil dia dapat
mementalkan seorang iblis dari Ban seng kiong hanya didalam
sekali pukulan saja. Sebab setiap gembong iblis yang
tergabung dalam istana Ban seng kiong boleh dibilang
semuanya merupakan jago jago kelas satu dalam golongan
hitam, kepandaian silat mereka pun tidak lebih rendah dari
kepandaian seorang ciangbunjin dari suatu partai besar.....
Kejadian yang sama sekali diluar kebiasaan ini tentu saja
mendatangkan perasaan tercengang dan keheranan bagi siapa
pun yang memandangnya. Bu im sin hong Kian Kim siang
segera tertawa terbahak bahak, serunya :
“Gembong iblis tua! Aku lihat Hian im toa tin mu itu sudah tak
bisa dipertahankan lagi!”
Hian im Tee kun yang melihat hal mana segera membentak
dengan suara keras :

1416
“Gi hoa ciat bok (memindah bunga menyambung dahan), Pek
sui kui goan (beratus aliran kembali ke sumbernya), asal urat
Jin tok dapat ditembusi, siapapun tidak sulit untuk
menaklukkan formasi semacam itu.”
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menyindir :
“Tapi kenyataannya barisan Hian im toa tin mu tak mampu
berbuat apa apa terhadap mereka!”
Untuk beberapa saat lamanya Hian im Tee kun cuma
membungkam dalam seribu bahasa, jelas dia sedang memutar
otak untuk mencari sesuatu akal. Tergerak hati Keng thian giok
cu Thi Keng menyaksikan kejadian tersebut, segera pikirnya :
“Andaikata kawanan iblis dari Ban seng kiong sudah
mengetahui akan teori tersebut lalu membalas dengan senjata
yang sama yakni memakai cara Pek sui kui goan, dengan
tenaga dalam gabungan empat puluh sembilan orang, sudah
pasti para jago akan terkocar kacir.”
Sesungguhnya jalan pemikiran dari Keng thian giok cu Thi
Keng ini bukannya sama sekali tanpa dasar. Akan tetapi Thi
Keng seperti lupa kalau barisan tersebut diselenggarakan oleh
cucu kesayangannya sendiri yakni Thi Eng khi, dengan
kepandaian maha sakti serta pengetahuan yang begitu luas dari
Thi Eng khi bagaimana mungkin si anak muda tersebut akan
membiarkan kawanan iblis dari Ban seng kiong menempati
posisi yang lebih menguntungkan?
Sewaktu Keng thian giok cu Thi Keng berpikir sampai disitu,
diam diam dia merasa terkejut sekali, dia kuatir Hian im Tee
kun berhasil pula menemukan teori tersebut. Maka dia merasa
wajib untuk tidak memberi waktu lagi bagi Hian im Tee kun
untuk berpikir lebih jauh, dengan cepat serunya memberi

1417
peringatan :
“Waktu kita sudah tiba.... ”
Belum habis dia berkata, kebetulan sekali Hian im Tee kun
sedang berseru sambil tertawa terbahak bahak :
“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh aku pun sudah dapat
menemukan... ”
Keng thian giok cu Thi Keng adalah seorang manusia yang
berpengalaman sekali, mendengar ucapan mana, dia lantas
mengetahui kalau Hian im Tee kun berhasil pula memahami
teori tersebut, tentu saja dia tak boleh membiarkan dia
menyampaikan hal tersebut kepada kawanan iblis. Maka tidak
sampai Hian im Tee kun menyelesaikan perkataannya, dengan
suara keras bentaknya :
“Gembong iblis tua, sudah tiba saatnya buat kita untuk turun
tangan, lihat serangan!”
Begitu ucapan selesai diutarakan, serangan telah dilepaskan
dengan amat dahsyatnya. Berada dalam keadaan seperti inipun
Keng thian giok cu Thi Keng masih tetap mempertahankan
kebesaran jiwa serta kejujurannya sebagai seorang pendekar
sekali dia enggan melakukan penyerangan secara menggelap
tapi dengan berbuat begini maka Hian im Tee kun pun tak
sempat lagi menyampaikan jalan pemikiran sendiri kepada
kawanan iblis tersebut. Sesungguhnya tujuan dari Keng thian
giok cu Thi Keng adalah untuk menghalangi Hian im Tee kun
untuk berbicara, maka setelah melancarkan serangan, dia tidak
meneter lebih hebat lagi, sebab dia kuatir serangannya yang
kelewat dahsyat akan melukai diri Hian im Tee kun, hal ini
jelas akan mencerminkan kelicikan dan ketidak jujurannya.
Namun Keng thian giok cu Thi Keng bertiga dalam anggapan
Hian im Tee kun masih merupakan manusia manusia yang

1418
sudah kehilangan tenaga dalamnya. Serangan yarg dipancarkan
oleh Keng thian giok cu Thi Keng sekarang sudah cukup
membuat hatinya merasa terperanjat sekali. Sudah barang tentu
dia tak sempat lagi berbicara, buru buru seluruh perhatiannya
dipusatkan untuk menghadapi keempat orang tokoh maha sakti
tersebut.
Hian im Tee kun segera menggerakkan sepasang bahunya dan
menghindarkan diri dari serangan Keng thian giok cu Thi Keng
yang sebetulnya tak berharga untuk dihadapi. Menyusul
kemudian, terdengar Bu im sin hong Kian Kim siang
membentak pula :
“Sambutlah sebuah pukulan ini!”
Segulung angin pukulan kembali menyambar ke tubuh Hian im
Tee kun. Kali ini tenaga serangan yang dipancarkan
sedemikian dahsyatnya sehingga terasa mengerikan sekali.
Lagi lagi Hian im Tee kun menghindarkan diri ke samping
namun dia belum juga melancarkan serangan balasan. Secara
bergilir Sim ji sinni dan Tiang pek lojin So Seng pak
melancarkan sebuah serangan pula, namun semuanya berhasil
dihindari oleh Hian im Tee kun tanpa melancarkan serangan
balasan.
Oleh karena keempat orang tokoh sakti kita turun tangan secara
bergilir, maka Hian im Tee kun baru berkesempatan untuk
menghindarkan diri, jikalau mereka bisa memanfaatkan
kesempatan yang terbaik untuk turun tangan, bisa jadi Hian im
Tee kun tak akan semudah ini untuk menghindarkan diri. Tapi
empat tokoh sakti itu turun tangan secara bergilir, hal ini sudah
jelas mengingat kedudukan mereka berempat yang begitu
tinggi, jikalau dengan pamor mereka yang begitu tinggi,
ternyata mereka berempat harus mengerubuti seseorang maka
bila kejadian tersebut sampai tersiar dalam dunia persilatan,

1419
sudah pasti mereka akan ditertawakan orang. Apalagi sebelum
Hian im Tee kun secara resmi melancarkan serangan balasan,
tidak menjaga kedudukan sendiri bisa semakin ditertawakan
orang.
Sedangkan mengenai apa sebabnya Hian im Tee kun sampai
tidak melancarkan serangan balasan? Hal ini sukar rasanya
untuk menemukan alasan yang tepat. Sementara itu keempat
tokoh sakti itu pun sedang merasakan keheranan atas sikap
serta tindak tanduk Hian im Tee kun yang sama sekali
berlawanan dengan keadaan biasanya. Keng thian giok cu Thi
Keng segera menghentikan serangannya, lalu berkata :
“Gembong iblis tua! Mengapa kau tidak melancarkan serangan
balasan?”
Hian im Tee kun segera tertawa dingin :
“Mau melancarkan serangan balasan atau tidak, toh urusanku
sendiri, buat apa kalian mesti banyak bertanya?”
“Thi tua!” sela Bu im sin hong Kian Kim siang cepat, “untuk
melenyapkan bibit bencana dari muka bumi, buat apa kita
mesti mempersoalkan masalah yang tetek bengek? Lebih baik
kita berempat turun tangan bersama sama masa dia tak akan
membalas serangan tersebut...?”
“Perkataan saudara Kian tepat sekali, mari kita turun tangan
bersama sama!” seru Tiang pek lojin So Seng pak pula.
Keng thian giok cu Thi Keng melototkan matanya bulat bulat,
kemudian tertawa nyaring. “Haaahhh..... haaahhhh....
haaahhhh.... siau heng bukan sayang dengan nama yang
kumiliki, aku hanya merasa gembong iblis ini belum berhasil
memulihkan kembali tenaga dalamnya sejak menderita getaran

1420
hawa pedang dari Eng ji, kalau toh demikian halnya, kita tak
usah lagi menghadapinya dengan berempat....”
Sebagai seorang ahli yang berpengalaman, dalam sekilas
pandangan saja akan diketahui ada atau tidak. Hian im Tee kun
tidak menerima serangan empat musuhnya bahkan sewaktu
berkelit pun kurang gesit dari ini dapat diketahui kalau tenaga
dalamnya sudah menderita kerugian yang besar sekali.
Sewaktu mendengar ucapan tersebut Hian im Tee kun nampak
terkesiap, kemudian segera bentaknya :
“Thi siaupwe, kau tak usah berlagak sok pintar, sekarang
kalian boleh maju berempat, lihat saja nanti apakah tenaga
dalamku sudah berkurang atau tidak!”
Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa dingin.
"Heeehhh... heeehhh.... heeehhh.... mengapa harus maju
berempat? Cukup dengan mengandalkan Hu kong keng im, aku
pasti dapat memaksamu untuk melancarkan serangan, kalau
tidak, sejak saat ini juga akan kuhapuskan nama besarku
sebagai angin sakti tanpa bayangan.”
Begitu selesai berkata, secepat sambaran petir dia lantas
menerjang ke arah Hian im Tee kun. Segulung angin pukulan
yang maha dahsyat ikut menyambar pula ke depan langsung
menghantam bahu kanan Hian im Tee kun. Hian im Tee kun
tertawa sinis :
“Serangan yang sangat bagus!”
Dia segera membuang bahu kanannya ke samping sembari
merendahkan tubuhnya, menggunakan kesempatan mana
tubuhnya berkelebat tiga langkah ke samping untuk
menghindarkan diri dari serangan Bu im sin hong Kian Kim
siang tersebut. Gerakan tubuh dari Bu im sin hong Kian Kim

1421
siang benar benar cepat bagaikan sambaran kilat, semua
gerakannya dilakukan dengan kecepatan luar biasa, gagal
dengan serangan yang pertama, serangan kedua segera
menyusul tiba.
Tampak dia menerjang dengan kecepatan luar biasa, kemudian
tiba tiba saja menghindar, dengan menggunakan suatu sudut
yang sukar diduga sebuah pukulan disapukan lagi ke depan.
Kembali terasa segulung angin pukulan yang maha dahsyat
menghantam ke pinggang Hian im Tee kun.
Gerakan tubuh dari Hian im Tee kun memang sukar untuk
mengatasi kelihayan Bu im sin hong Kian Kim siang yang pada
dasarnya memang termashur sekali akan ilmu meringankan
tubuhnya, tak usah menggunakan tiga jurus serangan, pada
serangan yang kedua pun dia telah berhasil memaksa Hian im
Tee kun untuk melancarkan serangan balasan. Seandainya Hian
im Tee kun tak mau melancarkan serangan balasan, terpaksa
dia harus menerima pukulan tersebut, sebab memang sudah
tiada kemungkinan lagi untuk menghindarkan diri.
Dalam keadaan terdesak mau tak mau Hian im Tee kun harus
membela diri, telapak tangan kanannya segera dikebaskan ke
depan, dia tidak memakai tenaga telapak tangan, melainkan
dengan ujung bajunya saja menyongsong datangnya serangan
dari Bu im sin hong Kian Kim siang. Begitu dua gulung angin
serangan saling bertemu, terjadilah suatu ledakan keras yang
memekikkan telinga.
“Blaammmm….!”
Berbicara soal tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun,
paling tidak dia harus berhasil melemparkan tubuh Bu im sin
hong Kian Kim siang sejauh satu kaki lebih. Namun kenyataan

1422
yang terbentang di depan mata jauh berbeda, Bu im sin hong
Kian Kim siang hanya terpukul mundur sejauh tiga langkah,
sedangkan Hian im Tee kun sendiri meski tidak mundur, akan
tetapi permukaan tanah dimana kakinya berpijak telah melesak
masuk sedalam lima inci. Dalam hal ini peristiwa tersebut
benar benar jauh diluar dugaan keempat manusia sakti tersebut.
Kenyataannya tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun
jauh berbeda dengan kesaktiannya dimasa lampau. Keng thian
giok cu Thi Keng segera tertawa terbahak bahak, kemudian
serunya :
“Saudara Kian, harap kau mundur dahulu, biar siaute yang
bertarung menghadapi gembong iblis tua ini!”
Diantara keempat tokoh sakti tersebut, tenaga dalam yang
dimiliki Keng thian giok cu Thi Keng boleh dibilang paling
sempurna, dengan kepandaian dari Hian im Tee kun sekarang,
dia masih cukup untuk menarik kembali modalnya. Bu im sin
hong Kian Kim siang segera mengundurkan diri kebelakang,
katanya sembari tertawa :
“Baik! Thi tua, silahkan kau unjukkan kelihayanmu!”
Keng thian giok cu Thi Keng segera mendesak maju ke muka,
sembari mengayunkan telapak tanganuya dia berseru :
“Iblis tua, lihat serangan!”
Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung
dilontarkan ke arah dada Hian im Tee kun. Sejak bentrokan
kekerasan yang terjadi antara Hian im Tee kun melawan Bu im
sin hong Kian Kim siang tadi, sehingga rahasianya terbongkar,
sekarang Hian im Tee kun telah memperlihatkan sepasang
telapak tangannya dari balik ujung pakaian, agaknya dia sudah
bersiap sedia untuk bertarung mati matian melawan Keng thian
giok cu.

1423
Empat orang jago tersebut dapat melihat kalau telapak tangan
kiri Hian im Tee kun masih tetap dibalut dengan kain putin,
nampaknya dia bermaksud untuk menghilangkan perasaan
malunya. Sementara itu tampak Hian im Tee kun berkelit dua
langkah ke samping kanan dan menghindarkan diri dari
serangan Keng thian giok cu Thi Keng, kemudian melepaskan
sebuah serangan balasan dengan sebuah bacokan dahsyat.
Begitu mereka berdua saling bertarung, tampaklah bayangan
telapak tangan saling menyambar ke sana ke mari, hawa
serangan memenuhi seluruh angkasa bayangan manusia saling
bergumul satu sama lainnya sehingga sukar sekali untuk
dibedakan mana musuh mana teman, ini menandakan kalau
pertarungan yang sedang berlangsung benar benar amat sengit.
Dengan tenaga dalam yang dimiliki Keng thian giok cu Thi
Keng ternyata mampu bertarung seimbang melawan Hian im
Tee kun tanpa memperlihatkan tanda tanda kalah, hal ini
membuat ketiga orang tokoh sakti lainnya yang belum turun
tangan menjadi kaget, tercengang dan tidak habis mengerti.
Padahal Hian im Tee kun memiliki kepandaian silat yang luar
biasa sekali, kendatipun sewaktu pertarungannya melawan Thi
Eng khi telah menderita luka dalam, tidak seharusnya luka
tersebut separah ini sehingga mempengaruhi tenaga dalamnya
sampai merosot sejauh ini. Jelas kenyataan yang berada di
depan mata sekarang sukar diterima dengan begitu.
Mendadak terdengar tiga kali pekikan nyaring bergema dari
balik barisan Hian im toa tin. Ketiga orang tokoh sakti itu
segera berpaling. Tampak Hian im toa tin dari Ban seng kiong
sudah berhenti melancarkan serangan, jumlah manusia yang
sudah tak lengkap itu segera dilengkapi kembali oleh kawanan
manusia yang berada disekitar arena. Mereka yang sudah
bertarung cukup lama dengan korban yang cukup parah

1424
tampaknya sudah mulai merasakan titik kelemahan sendiri dan
teringat untuk menggantikan tenaga gabungan empat puluh
sembilan orang guna menghadapi lawannya.
Sekarang mereka sedang menyusun barisan baru siap
melancarkan serangan kembali ke arah kawanan jago. Dalam
pada itu barisan berbentuk bulat dari para jago, kini telah
berubah menjadi suatu barisan berbentuk segitiga. Thi Eng khi
yang pada mulanya berdiri dipusat lingkaran barisan, sekarang
malah berdiri diujung segitiga yang persis saling berhadapan
muka dengan kawanan iblis. Sebaliknya pada dua sudut
lainnya masing masing ditempati oleh Sam ku sinni dan yang
lain oleh ketua Siau lim pay Ci long siansu.
Serangan dari orang orang Ban Seng kiong kembali bergerak,
tampak empat puluh sembilan orang kakek itu dipimpin oleh
seseorang dan berkumpul menjadi satu dengan rapatnya,
tangan bergandeng tangan bahu menempel bahu. Sejak dari
jarak puluhan kaki mereka sudah berpekik nyaring, kemudian
diiringi hamburan debu langsung menerjang ke arah Thi Eng
khi dengan kecepatan yang luar biasa.
Keadaan semacam itu sungguh mengejutkan hati siapapun
yang melihatnya. Tiga tokoh tua yang melihat keadaan tersebut
diam diam mulai menguatirkan keselamatan Thi Eng khi.
Sementara itu selisih jarak antara ke dua barisan tersebut makin
lama semakin bertambah mendekat.
Kemudian ………….
“Blaaammm! Blaaaammm...!” pada suatu saat yang sudah
diduga terjadilah ledakan dahsyat yang amat memekikkan
telinga. Menyusul benturan dahsyat ini, debu yang tebal segera
membumbung tinggi ke angkasa dan menyelimuti seluruh

1425
arena pertarungan dan menutupi pula bayangan manusia yang
sedang beradu kekuatan.
Pelan pelan.... ketika angin gunung berhembus lewat
membuyarkan debu terlihat hasil dari bentrokan kekerasan
tersebut…..
Di pihak para jago :
Barisan belum membuyar, tapi semua orang sedang duduk
bersila sambil mengatur pernapasan, di sisi kiri dan kanan
barisan mereka masing masing muncul sebuah liang yang besar
sekali.
Sebaliknya di pihak Ban seng kiong :
Bentuk barisan mereka sudah kacau balau tidak karuan
bentuknya, ada yang di kanan ada yang di kiri, ada pula yang
tergeletak di atas tanah sambil merintih, ada pula yang sedang
mengatur napas dengan wajah lesu dan bermuram durja.
Namun tegasnya jumlah mereka yang terluka dan roboh jauh
lebih banyak sedangkan yang masih dapat mengatur napas
tinggal tak seberapa banyak lagi.
Dengan cepat segenap jago lihay dari Ban seng kiong yang
masih berada disisi arena maju ke depan dan mengisi kembali
barisan Hian im toa tin yang sudah terpukul hancur itu. Dalam
pada itu di pihak para jago pun telah membentuk kembali
barisan bulat seperti semula. Tampaknya serangan berikutnya
sudah akan dilancarkan kembali.....
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian
tersebut segera memuji tiada hentinya.
“Thi sauhiap memang benar benar luar biasa, sekalipun dia
sendiri sudah kehabisan tenaga namun masih bisa memakai
ilmu Hua lik hun kong (memisahkan tenaga membuyarkan

1426
kekuatan) untuk menghancur lumatkan serangan gabungan dari
empat puluh sembilan orang gembong iblis dari Ban seng
kiong.”
Sementara dia baru selesai berkata, mendadak terdengar Keng
thian giok cu Thi Keng membentak keras :
“Kena!”
Dengan jurus Kim liong tham jiu (Naga emas mementangkan
cakar) secepat sambaran kilat langsung mencengkeram bahu
kiri Hian im Tee kun. Dengan cepat Hian im Tee kun
mengeluarkan jurus Siau kui to tho (setan kecil mencuri buah
tho) untuk menghadapinya, bahu kirinya dibuang ke samping
lalu ke lima jari tangan kanannya yang dipentangkan bagaikan
cakar balas mencengkeram pergelangan tangan Keng thian
giok cu Thi Keng.
Sewaktu melancarkan serangan, kedua belah pihak sama sama
mempergunakan ilmu mencengkeram namun sewaktu saling
beradu ternyata dari ilmu mencengkeram mereka telah berubah
menjadi ilmu pukulan, sebuah bentrokan kekerasan pun segera
terjadi. Tujuan Keng thian giok cu Thi Keng adalah
melenyapkan bibit bencana dari muka bumi, maka semua
serangan yang digunakan merupakan serangan serangan beradu
jiwa yang dahsyat sekali.
Hian im Tee kun sendiripun merasa dendam dan benci sekali
kepada Keng thian giok cu Thi Keng, terutama sekali kebuasan
lawannya yang meneter dirinya habis habisan. Maka saat ini
dia menyerang tanpa berbelas kasihan lagi, semua jurus
serangan yang mematikan dipergunakan sehabis habisnya
dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dia miliki.
Akibat dari bentrokan tadi, Keng thian giok cu Thi Keng
merasa sepasang bahunya bergetar keras sebelum dapat berdiri

1427
tegak sedang kakinya sama sekali tidak bergerak dari posisi
semula. Hian Im Tee kun dengan kedudukannya sebagai
jagoan nomor wahid dikolong langit malahan terdorong
mundur sejauh satu langkah setengah akibat dari bentrok
tersebut.
Dengan sebuah pukulan ternyata Keng thian giok cu Thi Keng
berhasil mendesak Hian im Tee kun mundur sejauh satu
langkah setengah, tanpa terasa semangatnya segera berkobar
dan keinginannya untuk melenyapkan gembong iblis itupun
semakin membulat.
Ditengah gelak tertawa nyaring yang memekikkan telinga,
kemball dia terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit
melawan Hian im Tee kun. Dalam waktu singkat napas kedua
belah pihak sudah berubah menjadi berat dan ngos ngosan.
Beberapa saat kembali sudah lewat, ditengah bentakan gusar
dan dengusan tertahan yang bergema bersamaan waktunya, dua
sosok bayangan manusia itu saling berputar secepat petir
kemudian saling berpisah.
Paras muka Keng thian giok cu Thi Keng berubah menjadi
pucat pias seperti mayat napasnya tersengkel sengkal dan
keringat telah membasahi seluruh jubah birunya. Hian im Tee
kun berdiri saling berhadapan dengan Keng thian giok cu Thi
Keng namun paras mukanya sama sekali tidak mengalami
perubahan apa pun. Akan tetapi dadanya naik turun dengan
hebatnya, bahkan berkali lipat lebih parah keadaannya
ketimbang Keng thian giok cu Thi Keng.
Jelas dalam pertarungan yang barusan berlangsung,
keadaannya jauh lebih parah dari pada Keng thian giok cu Thi
Keng, hanya yang tidak mengerti adalah mengapa paras

1428
mukanya sama sekali tidak berubah menjadi pucat pias seperti
keadaan Keng thian giok cu Thi Keng.
Sementara Sim ji sinni masih tidak habis mengerti, tiba tiba
tampak Hian im Tee kun membungkukkan badannya dan
memuntahkan darah segar. Keng thian giok cu Thi Keng segera
menghembuskan napas panjang, katanya :
“Hian im Tee kun sudah terkena sebuah pukulan siaute yang
amat berat, isi perutnya sudah hancur dan tak mungkin bisa
hidup lebih lama lagi, tampaknya bibit bencana mungkin sudah
dapat kita lenyapkan.”
Dengan cepat dia menotok tiga buah jalan darah ditubuh Hian
im Tee kun agar tidak kehilangan banyak darah serta
mempertahankan hidupnya untuk sementara waktu. Sim ji
sinni, Tiang pek lojin So Seng pak serta Bu im sin hong Kian
Kim siang yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi sangat
gembira, serunya dengan cepat :
“Thi tua! Sekali lagi kau berhasil menyelamatkan dunia
persilatan dari bencana besar, hal ini benar benar suatu
peristiwa yang patut digembirakan!”
Keng thian giok cu Thi Keng tertawa :
"Berkat jasa dan bantuan saudara sekalian tugas ini dapat
diselesaikan dengan baik kalau tidak, siaute pun merasa sukar
untuk berhasil seperti sekarang ini."
Tiba tiba Bu im sin hong Kian Kim siang berseru :
“Biar siaute mengumumkan tentang kekalahan yang diderita
Hian im Tee kun ini kepada semua orang, agar kawanan iblis
dari Ban seng kiong tahu kalau keadaan sudah berubah dan
pertarungan sengit tak usah dilanjutkan lagi.”

1429
“Saudara Kian, kalau begitu tolong kau lakukan dengan
segera!” ucap Keng thian giok cu Thi Keng. Selesai berbicara,
dia lantas duduk bersila diatas tanah dan mulai mengatur
pernapasan.
Dengan suara keras bagaikan geledek Bu im sin hong Kian
Kim siang segera berteriak lantang :
“Hian im Tee kun sudah berhasil dihajar oleh Keng thian giok
cu Thi Keng sehingga terluka parah dan tertawan, harap kalian
dari Ban seng kiong segera menghentikan serangan dan
menyerahkan diri.”
Begitu berita tentang tertawannya Hian im Tee kun tersiar
keluar, Ban seng kiong menderita pula kekalahan secara total,
maka para iblis tersebut tak berani tinggal lebih lama lagi di
situ, serentak mereka melarikan diri terbirit birit meninggalkan
tempat tersebut. Hanya kawanan iblis yang terluka dan tak
mampu kabur saja tetap tinggal ditempat, mereka kuatir para
jago pendekar membunuh mereka, namun tak dapat menahan
rasa sakit yang sedang diderita, sehingga suasana menjadi
kacau balau dengan jeritan dan erangan kesakitan.
Selain daripada itu, ditengah arena masih ada dua pasang
manusia melangsungkan pertarungan dengan sengitnya, satu
pasang terdiri dari Bu Nay nay melawan Hian im li Cun Bwee,
sedangkan yang lain adalah Pek leng siancu So Bwe leng
melawan Hian im li Ciu Lan. Sesungguhnya Hian im ji li
bukannya tidak berniat untuk kabur meninggalkan tempat
tersebut, akan tetapi Bu Nay nay dan Pek leng siancu So Bwe
leng mengurung mereka secara mati matian, hai ini membuat
mereka sama sekali tak berkutik lagi.
Bu Nay nay mengurung Hian im li Cun Bwee dan
menyerangnya habis habisan karena pada dasarnya dia

1430
memang sangat membenci segala bentuk kejahatan dia
menganggap Hian im li sebagai anteknya Hian im Tee kun
sebagai otak dari semua kejahatan, maka dia tak rela
membiarkan antek dari segala kejahatan ini lolos dengan begitu
saja. Itulah sebabnya dia mengurung dan mengepungnya terus
secara ketat sekali.
Sebaliknya antara Pek leng siancu So Bwe leng melawan Hian
im li Ciu Lan disamping karena dendam secara umum juga
masih terselip sakit hati pribadi. Pada hakekatnya Pek leng
siancu So Bwe leng sudah membenci Hian im li sampai
merasuk ke tulang sumsumnya, sudah barang tentu dia tak akan
membiarkan musuhnya itu kabur dari sana.
Sementara itu, kawanan pendekar telah turun tangan menolong
kawanan iblis yang tak mampu kabur karena luka yang parah.
Oleh sebab itu ditengah arena masih nampak bayangan
manusia yang berkelebat kian kemari. Sim ji sinni yang
menyaksikan Bu Nay nay masih bertempur seru macam orang
kesurupan, dia segera menggelengkan kepalanya berulang kali
sambil menghela napas katanya :
“Nay nay, pentolannya sudah tertangkap, buat apa sih kau
merecoki terus orang ini? Lepaskan saja dia! Adikmu toh
tertawan oleh musuh, kita harus segera mencarinya.”
Teringat akan nasib adiknya Bu lm, semangat tempur Bu Nay
nay segera pudar, dengan cepat dia menghentikan serangannya
lalu berseru kepada Hian im li Cun Bwee.
“Aku mempunyai seorang saudara bernama Bu Im, kalian telah
menyekapnya di mana?”
Hian im li Cun Bwee yang menyaksikan situasi telah berubah
segera memberitahukan tempat Bu Im disekap, setelah itu dia
sendiri cepat cepat melarikan diri meninggalkan tempat

1431
tersebut. Bu Nay nay pun tidak ambil diam, dia segera melesat
ke depan untuk mencari Bu Im.
Hanya pertarungan antara Pek leng siancu So Bwe leng
melawan Hian im li Ciu Lan masih berlangsung terus dengan
serunya. Pek leng siancu So Bwe leng sudah terbiasa menuruti
adat sendiri pada hakekatnya dia tak mau menuruti perkataan
dari Sam ku sinni maupun kakeknya Tiang pek lojin So Seng
pak, dia bersikeras hendak bertarung habis habisan melawan
Hian im li Ciu Lan. Akhirnya Keng thian giok cu Thi Keng
yang maju ke depan dan memberitahukan kepadanya kalau Thi
Eng khi sudah hampir tak mampu menahan diri. Berita itu
membuat Pek leng siancu So Bwe leng jadi terperanjat dan tak
sempat melanjutkan pertarungan melawan Hian im li Ciu Lan
lagi, cepat cepat dia kabur mencari Thi Eng khi.
Keng thian giok cu Thi segera memperingatkan Hian im li Ciu
Lan agar tidak berbuat kejahatan lagi dan menganjurkan
kepadanya untuk kembali ke jalan yang benar. Berhasil lolos
dari kematian, Hian im li Ciu Lan nampak sangat terharu,
beberapa kali dia seperti hendak mengucapkan sesuatu namun
selalu tiada kesempatan dan tak berhasil mengutarakan isi
hatinya. Menanti Keng thian giok cu Thi Keng sudah selesai
berkata dan berlalu dari situ. Hian im li Ciu Lan berdiri sambil
termenung beberapa saat, dia merasa bila isi hatinya diutarakan
kepada para pendekar, tindakan tersebut bisa jadi akan
memancing pandangan hina orang lain kepadanya. Terpaksa
dia menghela napas sedih dan segera berlalu pula dari situ.
Thi Eng khi yang menyaksikan usaha mereka telah sukses,
semangatnya pun mengendor, dia setuju untuk mencabut keluar
jarum emas dari tubuhnya dan segera tertidur pulas. Hui cun
siucay Seng Tiok sian dengan peluh membasahi seluruh
tubuhnya mengurut tiada hentinya disekujur badan Thi Eng

1432
khi, kalau dilihat dari sikap tegang yang menghiasi wajahnya
dapat diketahui kalau tertidurnya Thi Eng khi bukan suatu
gejala yang wajar....
Pek leng siancu So Bwe leng buru buru lari mendekat, melihat
keadaan dari Thi Eng khi tersebut, tanpa berpikir panjang lagi
dia lantas menjerit :
"Engkoh Eng!"
Dia hendak menubruk ke atas tubuhnya. Untung sekali Ciu Tin
tin bertindak cepat dan menghalanginya, sehingga tidak sampai
kejadian tersebut mengganggu Hui cun siucay Seng Tiok sian
yang sedang melakukan pengobatan. Setelah berhasil
menghalangi Pek leng siancu So Bwe leng, Ciu Tin tin segera
menariknya ke samping dan ujarnya :
"Adik Leng, jangan gelisah, adik Eng tidak apa apa, seandainya
dia terjadi sesuatu, coba lihatlah masa cici dapat bersikap
tenang seperti ini?"
Bicara punya bicara suaranya menjadi parau dan tak
terbendung lagi air matanya segera jatuh bercucuran.
"Enci Tin!"
Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru lirih. Mereka
saling bergenggaman tangan erat erat, dua hati seperti
mempunyai perasaan yang sama, seakan akan menghadapi
perubahan cuaca yang tak menentu sehingga napasnya terasa
menjadi sesak sekali. Lama sekali Hui cun siucay Seng Tiok
sian bekerja keras sampai sekujur tubuhnya basah oleh
keringat, akhirnya sekulum senyuman mulai menghiasi ujung
bibirnya, dia berkata:

1433
"Saudara Thi memang benar benar memiliki bakat yang luar
biasa sekali, sekarang kesempatannya untuk hidup sudah
tumbuh dan pelan pelan kekuatannya akan pulih kembali,
sekarang biarkan saja dia tidur barang sepuluh atau setengah
bulan lamanya!"
"Apa? Tertidur sampai sepuluh hari atau setengan bulan?
Apakah dia tak akan mati kelaparan?" seru Pek leng siancu So
Bwe leng dengan terkejut.
Ciu Tin tin segera memperingatkan Pek leng siancu So Bwe
leng :
"Adik Leng, jangan lupa orang yang menggunakan ilmu Ku si
toa hoat hun bisa bertahan untuk hidup selama setengah tahun
tanpa dahar, sepuluh hari atau setengah bulan masih belum
terhitung seberapa... "
"Tenaga dalam yang dimiliki engkoh Eng sudah punah,
bagaimana mungkin dia dapat mempergunakan ilmu Ku si toa
hoat lagi?"
"Seng tayhiap telah melaksanakan ilmu Ci liong jiu hoat diatas
tubuh Adik Eng, kasiatnya tidak berbeda jauh dengan ilmu ku
si toa hoat, cuma yang satu secara otomatis sedangkan yang
lain dilakukan orang."
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Thi Eng
khi yang tertidur ditemani oleh Pek leng siancu so Bwe leng
dan Ciu Tin tin. Tatkala Keng thian giok cu Thi Keng sekalian
menyaksikan persoalan tentang Thi Eng khi sudah beres,
mereka lantas meminta kepada Hui cun siucay Seng Tiok sian
untuk menolong Hian im Tee kun dengan maksud agar
menyelamatkan selembar jiwanya yang sedang kritis...

1434
Waktu itu Hian im Tee kun memang sudah bernafas lemah
sekali, jaraknya dengan kematian pun sudah tidak jauh lagi.
Secara beruntun Hui cun siucay Seng Tiok sian menotok tujuh
buah jalan darah Hian im Tee kun dan mencecoki sejumlah
obat obatan ke dalam mulutnya, kesempatan hidup dari Hian
im Tee kun pun lambat laun pulih kembali.
Hui cun siucay Seng Tiok sian memeriksa dahulu denyutan
nadi kanan Hian im Tee kun, kemudian memeriksa pula
denyutan nadi sebelah kirinya. Dengan tiga jari tangannya
menempel di nadi sebelah kiri Hian im Tee kun, dia segera
merasakan denyutan nadinya menunjukkan gejala aneh. Sebab
dia pernah mendengar orang berkata lengan kiri Hian im Tee
kun sudah terpapas sebagian oleh sambaran pedang terbang Thi
Eng khi, namun sewaktu memeriksa denyutan nadinya
sekarang, dia menemukan sebuah lengan kiri yang masih utuh.
Begitu timbul perasaan curiganya, untuk membuktikan
kebenaran dari kecurigaannya tersebut Hui cun siucay Seng
Tiok sian segera melepaskan balutan tangan kiri Hian im Tee
kun. Apa yang diduga ternyata benar, dia berhasil menemukan
sebuah lengan yang utuh. Ketika semua orang menyaksikan hal
tersebut, maka timbullah kecurigaan kalau orang ini bukan
Hian im Tee kun yang sesungguhnya.
Hui cun siucay Seng Tiok sian mencoba untuk memeriksa raut
wajah Hian im Tee kun, akan tetapi tidak dijumpai pula topeng
kulit manusia atau sebangsanya disitu, hal mana semakin
membingungkan para jago. Tapi, kalau toh lengan kirinya tetap
utuh bagaimana mungkin dia adalah Hian im Tee kun yang
asli? Perasaan heran, kaget dan curiga segera meliputi seluruh
wajah para jago bahkan mereka lupa untuk memikirkan suatu
kenyataan yang sesungguhnya mudah untuk membuktikan hal
tersebut.

1435
Pelan pelan Hian im Tee kun sadar kembali dari pingsannya,
dengan lemah tak bertenaga dia memandang sekejap ke wajah
empat tokoh sakti itu dan akhirnya berhenti diwajah Keng thian
giok cu Thi Keng, setelah menunjukkan senyuman getir yang
lemah, bisiknya dengan lesu :
“Thi lojin, lohu sudah melatih diri selama empat puluh tahun
namun nyatanya belum berhasil menangkan dirimu, apa artinya
bagiku untuk hidup lebih jauh?”
Selesai berkata dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya yang
baru pulih untuk memutuskan urat nadi sendiri tak ampun dia
segera muntah darah segar dan tewas seketika. Sekarang para
jago baru teringat akan seseorang, serunya kemudian tertahan:
“Ooh… rupanya Hian im Tee kun gadungan ini hasil
penyaruan dari Huan im sin ang Ui Sam ciat!”
Keng thian giok cu Thi Keng menghela napas pula sembari
berkata :
“Ilmu menyaru muka dari Huan im sin ang Ui Sam ciat
memang betul betul sangat lihay, seandainya dia tidak
mengungkapkan sendiri identitasnya, lohu benar benar tidak
habis mengerti apa sebabnya tenaga dalam yang dimiliki Hian
im Tee kun tak mampu menandingi lohu...”
Rupanya semenjak istana Ban seng kiong nya dirampas dan
diduduki Hian im Tee kun, Huan im sin ang Ui Sam ciat sadar
kalau dia tak akan berhasil merebut kembali istana dari tangan
musuh maka dengan mewujudkan suatu sikap yang sangat
hormat dan berbakti, Hian im sin ang Ui Sam ciat berusaha
untuk bekerja dengan bersungguh hati. Ditambah pula dia
memang pandai menarik kepercayaan Hian im Tee kun,
akhirnya selain memperoleh kepercayaan, bahkan tenaga
dalamnya yang punah berhasil diperoleh kembali. Bukan cuma

1436
begitu, diapun banyak memperoleh pelajaran ilmu silat dari
bekas lawannya ini.
Sejak pertarungannya melawan Thi Eng khi, selain Hian im
Tee kun kehilangan separuh tangannya, baik bagian luar
maupun isi perutnya telah peroleh luka yang cukup parah. Hian
im Tee kun sadar kalau Thi Eng khi bukan seorang musuh
yang mudah dihadapi, maka diapun meminta kepada Huan im
sia ang Ui Sam ciat untuk menyaru sebagai dirinya dan
menduduki istana Ban seng kiong, sementara pelbagai tugas
dan kewajiban diserahkan kepada Hian im ji li. Hian im Tee
kun sendiri menyembunyikan diri di suatu tempat yang rahasia
dan terpencil untuk mempelajari beberapa macam kepandaian
yang lebih hebat sebagai persiapan untuk menghadapi Thi Eng
khi.
Sekarang sudah semua orang tahu bahwa Hian im Tee kun
gadungan hasil penyaruan dari Huan im sin ang otomatis
pikiran semua orangpun dialihkan ke masalah Hian im Tee kun
yang asli, maka pelbagai pertanyaan pun segera bermunculan :
“Ke mana perginya Hian im Tee kun? Ke mana perginya Hian
im Tee kun...?”
Pertanyaan tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh istana
Ban seng kiong. Bu im sin hong Kian Kim siang mendongkol
sekali, dengan penuh amarah serunya :
“Mari kita segera mencari kawanan anak iblis yang terluka itu,
coba ditanyakan ke mana kaburnya Hian im Tee kun!”
Sim ji sinni yang menyaksikan kegusaran orang segera
tersenyum dan menggelengkan kepalanya berulang kali,
katanya :
“Sekalipun Huan im sin ang hidup kembali, belum tentu dia

1437
akan tahu ke mana perginya Hian im Tee kun, apalagi orang
orang lainnya.”
“Masa kita harus menyudahi persoalan sampai disini saja?”
seru Bu im sin hong Kian Kim siang sambil menghela napas.
Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata pula :
“Sehari Hian im Tee kun belum berhasil dilenyapkan dari
muka bumi, dunia persilatan tak akan pernah mengecap
ketenangan dan kedamaian, sudah barang tentu kita tak boleh
melepaskan dirinya dengan begitu saja, cuma persoalan toh tak
usah terburu buru harus diselesaikan dalam sehari, lebih baik
kita selesaikan dulu kawanan iblis yang berada di istana Ban
seng kiong, kemudian baru berunding lebih jauh.”
Menyelesaikan kawanan iblis dari Ban seng kiong memang
merupakan tugas yang harus segera diselesaikan secepatnya,
karena sekali salah bertindak, bisa jadi akan menimbulkan bibit
bencana yang lain, maka para jago mau tak mau harus
bertindak dengan berhati hati sekali. Untung saja semua orang
mempunyai sikap berbesar hati dan berpandangan luas dengan
tak bosan bosannya mereka membujuk dan menasehati
kawanan ibis itu sampai mereka dapat menghilangkan sifat
jahatnya sebelurn dilepaskan pergi dengan harapan mereka
dapat hidup sebagai manusia lain. Sedangkan kawanan iblis
kecil yang tidak masuk hitungan, ditugaskan pendidikannya
kepada Ban li tui hong Cu Ngo, si pencuri sakti Go Jit dan Siu
Cu untuk diselesaikan.
Kini, meskipun istana Ban seng kiong berhasil dilumpuhkan
namun Hian im Tee kun belum berhasil dilenyapkan. Para jago
sekarang boleh dibilang baru berhasil menyelesaikan setengah
dari tugasnya, sedangkan tujuan untuk melenyapkan ancaman
bahaya bagi keselamatan dunia persilatan masih ada setengah

1438
lagi yang belum terselesaikan. Dari posisi terang Hian im Tee
kun telah beralih ke tempat kegelapan, tugas untuk
melenyapkan dirinya sekarang pun akan menjadi suatu tugas
yang tidak gampang.
Karena para jago sadar kalau untuk mengumpulkan kekuatan
seperti ini bukan suatu pekerjaan yang gampang, maka untuk
sementara waktu semua orang berkumpul di istana Ban seng
kiong guna mempermudah tugas dan tujuan mereka
menghadapi Hian im Tee kun.
Bu tong pay terletak paling dekat dengan istana Ban seng
kiong, ketua Bu tong pay Keng hian totiang segera
mengundang datang jago jagonya dalam jumlah yang lebih
banyak agar lebih mempermudah pengawasan. Sedangkan
ketua ketua dari partai lain pun segera menurunkan perintah
kepada anak buahnya agar melakukan penyelidikan yang teliti
atas jejak Hian im Tee kun sehingga mempermudah usaha
mereka untuk membasminya.
Dalam jangka waktu yang cukup lama ini, jago jago yang
belum berhasil memulihkan kembali tenaganya seperti Ci kay
taysu dan Ci liong dari Siau lim pay, Keng it dan Keng ning
totiang dari Bu tong pay, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu
sianseng Lim Biau lim dari Thian liong pay, atas bantuan dari
Ciu Tin tin dapat pula memperoleh kembali tenaga dalamnya.
Masalah yang masih tersisa sekarang tinggal bagaimana
caranya untuk memulihkan kembali kekuatan dari Thi Eng khi.
Padahal Thi Eng khi sudah berhasil melatih tubuhnya sehingga
kebal dan luar biasa, masalah untuk memulihkan kembali
kekuatannya sudah bukan menjadi masalah lagi, karena tinggal
menunggu waktu belaka.

1439
Akan tetapi berhubung para jago tidak jelas mengetahui sampai
dimanakah kekua¬tan tubuh serta kepandaian yang
dimilikinya, maka penilaian mereka terhadap Thi Eng khi pun
menurut penilaian orang orang pada umumnya, jadi sebenarnya
merupakan suatu kekeliruan yang cukup fatal. Namun dengan
makin berlarutnya sang waktu, oleh karena paras muka Thi
Eng khi juga mengalami perubahan yang menggembirakan,
maka rasa kuatir serta perasaan murung para jago pun secara
otomatis turut menjadi lenyap.
Pada hari kesembilan puluh setelah Ban seng kiong berhasil
direbut para jago, Thi Eng khi juga berhasil memulihkan
kembali tenaga dalamnya. Namun selama beberapa waktu itu,
jejak Hian im Tee kun ibaratnya sebatang jarum ditengah dasar
samudra yang luas, sulit untuk menemukan kembali jejaknya.
Hari ini para jago kembali melanjutkan perundingan mereka
tentang bagaimana caranya menemukan jejak Hian im Tee kun
yang menghilang.
Thi Eng Khi yang berhasil memperoleh kembali tenaga
dalamnya turut pula didalam perundingan tersebut. Sementara
semua orang masih berunding dengan serius, mendadak Thi
Eng khi teringat akan satu persoalan yakni ketika pertama
kalinya berjumpa dengan Hian im Tee kun.
Waktu itu Thi Eng khi baru saja memperoleh Kim khong giok
lok wan dari gua Yang sim tongnya Cu sim ci cu Thio Biau
liong dan bermaksud baik untuk memenuhi undangan si
pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, namun dituduh orang
sebagai pembunuh Ting tayhiap dari bukit Huan keng san
sehingga persoalan harus diakhiri dalam keadaan tidak
gembira.

1440
Ketika Thi Eng khi yang harus menyelamatkan jiwa Pek leng
siancu So Bwe leng harus berangkat kembali ke Sah si, tak
beruntung ia dijebak oleh Huan im sin ang dan dijebak dalam
sebuah kuil dimana nyaris dia mati dibakar hidup hidup.
Kemudian Thi Eng khi dengan menggunakan ilmu Heng kian
sinkang berhasil menyembunyikan diri dibawah tanah dan
tanpa sengaja terjerumus ke dalam sebuah lorong rahasia dan
menemukan sebuah gua batu.
Waktu itu berhubung dia harus buru buru kembali ke bukit
Siong san dan tak ingin mencari gara gara maka dia tidak
langsung masuk ke gua untuk melakukan penyelidikan lebih
jauh. Akan tetapi sewaktu hendak keluar dari lorong rahasia
tersebut, dijumpainya seorang kakek berwajah putih berjubah
hijau bersama seorang gadis yang cantik jelita sedang keluar
dari lorong rahasia tersebut. Oleh sebab itu, tak sulit untuk
diduga kalau kedua orang tersebut memang berdiam dalam
istana dibawah lorong rahasia tersebut….
Kemudian Thi Eng khi baru tahu kalau tua dan muda itu bukan
lain adalah Hian im Tee kun serta Hian im li Cun Bwee. Atau
bila diduga selangkah lebih maju, bisa jadi gua tersebut
merupakan sarang dari Hian im Tee kun. Bahkan sekarang pun
bisa diduga kalau Hian im Tee kun besar kumungkinannya
sedang bersembunyi didalam sarangnya tersebut. Setelah
mempunyai pemikiran demikian, maka diapun lantas
mengungkapkan hal tersebut kepada semua orang.
Jilid 44
Berbicara soal kedudukan, Hian im Tee kun tidak lebih tinggi dari
Keng thian giok cu Thi Keng, namun caranya berbicara semacam itu
sungguh amat tak sedap didengar. Adapun tujuan dari Keng thian
giok cu Thi Keng adalah ingin melenyapkan gembong iblis tua

1441
tersebut dari muka bumi dia tidak gusar malah ujarnya sambil
tertawa hambar :
“Apakah maksud hati kami berempat, rasanya kaupun sudah tahu
dengan pasti, beranikah kau bertarung dengan kami berempat?”
Hian im Tee kun yang hadir hari ini benar benar sangat aneh,
ternyata dia tak berani bertarung melawan Thi Eng khi, tapi tidak
menampik tantangan dari Keng thian giok cu Thi Keng sekalian
berempat. Seharusnya tindakan yang diperlihatkan olehnya sekarang
mengandung dua kemungkinan :
Ke satu! Sejak pertarungannya melawan Thi Eng khi tempo hari
hingga sekarang dia masih belum memiliki suatu keyakinan untuk
merenggut kemenangan dari Thi Eng khi, maka dia tak berani
menyerempet bahaya.
Ke dua! Dia menganggap Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji
sinni serta Tiang pek lojin So Seng pak sekalian bertiga masih
terkena bubuk Hua kong san sehingga tenaga dalamnya masih
punah, mustahil kekuatan mereka bisa pulih seperti sedia. Maka dia
beranggapan dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang meski
tampaknya dia harus menghadapi empat jagoan tangguh namun
dalam kenyataan hanya menghadapi Bu im sin hong Kian Kim siang
seorang. Dengan kemampuan yang dimilikinya ini sudah barang
tentu dia pasti akan memenangkan pertarungan tanpa bersusah
payah, maka dengan senang hati diterimanya tantangan mana.
Dalam pada itu, Pek leng siancu So Bwe leng telah munculkan diri
pula, sambil menuding ke arah Hian im li Ciu Lan serunya dengan
suara lantang :
“Siluman perempuan, beranikah kau tampilkan diri untuk
bertarung sebanyak tiga ratus gebrakan dengan nonamu?”
Hian im li Ciu Lan dengan Pek leng siancu So Bwe leng sudah
menjadi musuh bebuyutan, siapa memandang siapa pasti akan
menjadi gusar. Maka Hian im li Ciu Lan segera memberi tanda
kepada Hian im li Cun Bwee, kemudian sambil melompat ke hadapan
Pek leng siancu So Bwe leng, serunya sambil tertawa dingin :
“Dalam pertarungan hari ini, aku tak akan melepaskan dirimu
lagi!”

1442
Mendadak dia mengeluarkan sebilah senjata tangan setan Hian
im li kui jiu dan dicekal ditangan kirinya, senjata ini persis seperti
senjata yang pernah dihancurkan oleh Thi Eng khi tempo hari,
mungkin dia telah membuat sebuah lagi. Pek leng siancu So Bwe
leng sudah pernah merasakan kelihayan senjata Hian im kui jiu
tersebut, memandang senjata cakar setan yang berada di tangan
Hian im li Ciu Lan tersebut, dia segera berkerut kening, lalu dengan
gusar dicabutnya senjata Hua boa giok ci (jari kemala pemisah
bunga) miliknya, kemudian membentak keras :
"Lihat serangan!”
Senjata berikut tubuhnya dengan menciptakan selapis cahaya
hijau langsung menerjang ke arah Hian im li Ciu Lan. Dengan
demikian, pertarungan antara Pek leng siancu So Bwe leng melawan
Hian im li Ciu Lan malahan berlangsung jauh mendahului
pertarungan antara empat tokoh sakti melawan Hian im Tee kun...
Disaat Pek leng siancu So Bwe leng melangsungkan pertarungan
melawan Hian im li Ciu Lan, Keng thian giok cu Thi Keng, Sim ji
sinni, Tiang Pek lojin So Seng pak dan Bu im sin hong Kian Kim siang
telah mengambil ancang ancang pula siap melangsungkan
pertarungan.
Sambil membuka posisi serangan, Bu im sin hong Kian Kim siang
berseru lantang : “Kami berjumlah jauh lebih banyak darimu,
silahkan kau si gembong iblis tua harus membuka serangan lebih
dahulu!”
Siapa tahu Hian im Tee kun merubah rencananya secara tiba
tiba, sambil berkerut kening katanya :
“Aku rasa pertarungan kita ini seharusnya diundur sampai pada
urutan yang terakhir nanti, dengan begitu baru cocok namanya...”
“Iblis tua! Kau hendak mengulur waktu untuk menyusun siasat
busuk lainnya?”
Hian im Tee kun tertawa seram :

1443
“Haaahhh…. haaahhh...haaahhh…. rencana kami untuk
menghadapi kalian sudah kususun secara matang dan sempurna, tak
perlu dipikirkan lagi secara pusing pusing aku hanya merasa lebih
baik mengundurkan pertarungan ini agar kalian mempunyai
kesempatan untuk menolong orang sendiri, masa kalian tak dapat
melihat sendiri bagaimanakah situasi yang sedang kalian hadapi
sekarang?”
Betul juga, empat puluh sembilan orang yang membentuk barisan
Hian im toa tin telah mengepung para jago rapat rapat bahkan mulai
melancarkan serangkaian serangan yang sangat gencar. Bersamaan
waktunya, Bu Nay nay terlibat pula dalam pertarungan yang amat
seru melawan Hian im li Cun Bwee. Jadi yang belum turun tangan
sekarang tinggal empat tokoh silat bersama Hian im Tee kun.
Disamping itu, dari pihak Ban seng kiong masih terdapat dua tiga
puluh orang kakek yang belum turun tangan, mereka sedang
mengawasi situasi dalam pertarungan dengan sorot mata tajam,
agaknya setiap saat mereka siap terjun ke arena untuk memberikan
bala bantuan...
Keng thian giok cu Thi Keng sekalian berempat menjadi
terperanjat sekali setelah menyaksikan kejadian itu, dalam hal
jumlah orang sudah jelas pihak Ban seng kiong menempati posisi
yang lebih menguntungkan, tapi situasi pertarungan masih sukar
diduga berhubung pertarungan baru saja berlangsung. Tapi
kenyataan sudah terbentang didepan mata, bagaimanapun ruginya
pihak Ban seng kiong, mereka sudah menyediakan orang yang
cukup untuk menggantikan kedudukan rekannya.
Sedangkan di pihak para jago, selain Keng thian giok cu Thi Keng
sekalian berempat yang belum turun tangan, tinggal mereka yang
belum pulih tenaga dalamnya saja yang belum terjun, sedangkan
sisanya sudah terlibat semuanya dalam suatu pertarungan yang
amat seru.
Setelah mendengar perkataan dari Hian im Tee kun, dan setelah
menyaksikan pula situasi dalam arena pertarungan, Bu im sin hong
Kian Kim siang merasakan hatinya berdebar keras. Tanpa terasa dia

1444
mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya berbisik kepada Keng
thian giok cu Thi Keng, Sim ji sinni serta Tiang pek lojin So Seng pak
:
“Walaupun kami belum mengerti maksud hati dari si gembong
iblis tua itu, namun berbicara dari keadaan situasi yang sedang kita
hadapi, ditundanya pertarungan oleh gembong iblis tersebut tidak
terlalu merugikan pihak kita, entah bagaimanakah pendapat dari
kalian bertiga?”
Dengan kening berkerut, Sim ji sinni segera menyahut dengan
ilmu menyampaikan suara pula :
“Kalau menurut pengamatan pinni atas sorot mata gembong iblis
tersebut, tampaknya dia merasa sangat tidak tenang, apa kalian
bertiga memperhatikan pula akan hal itu? Sekalipun kita boleh
menunda jalannya pertarungan, paling tidak harus mengawasi gerak
geriknya, jangan kita biarkan dia kabur dari tempat ini…..”
Sedangkan Tiang pek lojin So Seng pak lebih setuju untuk segera
turun tangan dan tak usah ditunda tunda lagi. Sebaliknya Keng thian
giok cu termenung sebentar kemudian ia baru berkata :
“Pertarungan antara kita berempat melawan Hian im Tee kun
merupakan suatu pertarungan adu kekerasan, dengan kemampuan
yang dimiliki Hian im Tee kun, rasanya kecil sekali kemungkinan kita
untuk berhasil, padahal posisi para jago sekarang sedang
menguntungkan, bila kita kelewat cepat nekad beradu jiwa, hal ini
justru akan mempengaruhi kejiwaan para jago sehingga bisa
berakibat menimbulkan kegagalan atau kekalahan. Menurut
pendapat siaute, entah bagaimanakah hasil pertarungan para jago,
paling tidak kita harus menghindari pengaruh dari mati hidup kita ini
atas semangat juang mereka.”
Dengan ilmu menyampaikan suaranya Sim ji sinni segera
menyatakan kesanggupannya:
“Perkataan dari Thi sicu memang betul dan pinni setuju sekali,
lebih baik kita menanti dulu sebentar sambil melihat perubahan
situasi, kemudian baru mengambil langkah selanjutnya.”
Tiang pek lojin So Seng pak serta Bu sin im hong Kian Kim siang
memang mengekor Thi Keng, maka mereka pun tidak segera

1445
bertarung melawan Hian im Tee kun melainkan mulai menguatirkan
keadaan situasi dalam arena pertarungan.
Sementara itu pertarungan antara para pendekar melawan kaum
iblis yang membentuk barisan Hian im toa tin dari Ban seng kiong
berlangsung paling seru, tampak debu dan pasir beterbangan di
angkasa, bahkan jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang
silih berganti. Namun mereka yang jerit kesakitan dan roboh hampir
semuanya adalah kaum iblis dari Ban seng kiong sedangkan pihak
pendekar masih tetap kokoh seperti batu karang sama sekali tidak
terpengaruh oleh serbuan mana. Padahal kalau dilihat formasi dari
para pendekar pun tidak menunjukkan suatu kelebihan yang terlalu
luar biasa.
Thi Eng khi menempati posisi tengah, disampingnya adalah suata
lingkaran yang terdiri dari tujuh orang, diluar tujuh orang terdapat
lagi satu lingkaran yang terdiri dari delapan orang, kemudian pada
lingkaran lapisan terakhir terdiri dari sembilan orang jago. Namun ke
sembilan orang ditempatkan pada lapisan paling luar adalah
kawanan jago yang memiliki tenaga dalam paling sempurna.
Mereka adalah Sam ku sinni, ketua Siau lim pay Ci long siansu,
ketua Bu tong pay Keng kian totiang, ketua Kay pang si pengemis
sakti bermata harimau Cu Goan po, Cang ciong sin kiam Sangkoan
Yong, Beng seng sutay dari kuil Ci tiok an, Giok koay popo Li Ko ci,
pemilik pulau Soh sim to si bidadari penyebar bunga Leng Cay soat
dan si Unta sakti Lok It hong bersembilan. Malahan mereka semua
telah menyimpan kembali senjata masing masing dan menghadapi
musuh dengan tangan kosong belaka.
Tampak empat puluh sembilan orang iblis yang membentuk
barisan Hian im toa tin, bagaikan banyak setan gentayangan,
mereka maju mundur tiada hentinya sambil melancarkan
serangkaian serangan gencar ke arah para pendekar. Namun setiap
serangan yang dilancarkan orang orang Ban seng kiong itu entah
yang memakai senjata ataupun yang bertangan kosong, hampir
bersamaan waktunya lagi menerjang ke arah para pendekar, mereka
selalu terpental balik ke belakang malah ada yang tangan atau
kakinya patah serta menderita luka parah. Jeritan ngeri yang

1446
bergema berulang kali tadi bukan lain berasal dari mulut para
penderita tersebut.
Walaupun dewasa ini Sam ku sinni boleh dianggap bertenaga
dalam paling tinggi diantara para pendekar yang hadir namun
dengan kemampuannya seorang mustahil dia dapat mementalkan
seorang iblis dari Ban seng kiong hanya didalam sekali pukulan saja.
Sebab setiap gembong iblis yang tergabung dalam istana Ban seng
kiong boleh dibilang semuanya merupakan jago jago kelas satu
dalam golongan hitam, kepandaian silat mereka pun tidak lebih
rendah dari kepandaian seorang ciangbunjin dari suatu partai
besar.....
Kejadian yang sama sekali diluar kebiasaan ini tentu saja
mendatangkan perasaan tercengang dan keheranan bagi siapa pun
yang memandangnya. Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa
terbahak bahak, serunya :
“Gembong iblis tua! Aku lihat Hian im toa tin mu itu sudah tak
bisa dipertahankan lagi!”
Hian im Tee kun yang melihat hal mana segera membentak
dengan suara keras :
“Gi hoa ciat bok (memindah bunga menyambung dahan), Pek sui
kui goan (beratus aliran kembali ke sumbernya), asal urat Jin tok
dapat ditembusi, siapapun tidak sulit untuk menaklukkan formasi
semacam itu.”
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menyindir :
“Tapi kenyataannya barisan Hian im toa tin mu tak mampu
berbuat apa apa terhadap mereka!”
Untuk beberapa saat lamanya Hian im Tee kun cuma
membungkam dalam seribu bahasa, jelas dia sedang memutar otak
untuk mencari sesuatu akal. Tergerak hati Keng thian giok cu Thi
Keng menyaksikan kejadian tersebut, segera pikirnya :
“Andaikata kawanan iblis dari Ban seng kiong sudah mengetahui
akan teori tersebut lalu membalas dengan senjata yang sama yakni
memakai cara Pek sui kui goan, dengan tenaga dalam gabungan

1447
empat puluh sembilan orang, sudah pasti para jago akan terkocar
kacir.”
Sesungguhnya jalan pemikiran dari Keng thian giok cu Thi Keng
ini bukannya sama sekali tanpa dasar. Akan tetapi Thi Keng seperti
lupa kalau barisan tersebut diselenggarakan oleh cucu
kesayangannya sendiri yakni Thi Eng khi, dengan kepandaian maha
sakti serta pengetahuan yang begitu luas dari Thi Eng khi bagaimana
mungkin si anak muda tersebut akan membiarkan kawanan iblis dari
Ban seng kiong menempati posisi yang lebih menguntungkan?
Sewaktu Keng thian giok cu Thi Keng berpikir sampai disitu, diam
diam dia merasa terkejut sekali, dia kuatir Hian im Tee kun berhasil
pula menemukan teori tersebut. Maka dia merasa wajib untuk tidak
memberi waktu lagi bagi Hian im Tee kun untuk berpikir lebih jauh,
dengan cepat serunya memberi peringatan :
“Waktu kita sudah tiba.... ”
Belum habis dia berkata, kebetulan sekali Hian im Tee kun
sedang berseru sambil tertawa terbahak bahak :
“Haaahhh.... haaahhh.... haaahhh aku pun sudah dapat
menemukan... ”
Keng thian giok cu Thi Keng adalah seorang manusia yang
berpengalaman sekali, mendengar ucapan mana, dia lantas
mengetahui kalau Hian im Tee kun berhasil pula memahami teori
tersebut, tentu saja dia tak boleh membiarkan dia menyampaikan
hal tersebut kepada kawanan iblis. Maka tidak sampai Hian im Tee
kun menyelesaikan perkataannya, dengan suara keras bentaknya :
“Gembong iblis tua, sudah tiba saatnya buat kita untuk turun
tangan, lihat serangan!”
Begitu ucapan selesai diutarakan, serangan telah dilepaskan
dengan amat dahsyatnya. Berada dalam keadaan seperti inipun
Keng thian giok cu Thi Keng masih tetap mempertahankan
kebesaran jiwa serta kejujurannya sebagai seorang pendekar sekali
dia enggan melakukan penyerangan secara menggelap tapi dengan
berbuat begini maka Hian im Tee kun pun tak sempat lagi
menyampaikan jalan pemikiran sendiri kepada kawanan iblis

1448
tersebut. Sesungguhnya tujuan dari Keng thian giok cu Thi Keng
adalah untuk menghalangi Hian im Tee kun untuk berbicara, maka
setelah melancarkan serangan, dia tidak meneter lebih hebat lagi,
sebab dia kuatir serangannya yang kelewat dahsyat akan melukai
diri Hian im Tee kun, hal ini jelas akan mencerminkan kelicikan dan
ketidak jujurannya.
Namun Keng thian giok cu Thi Keng bertiga dalam anggapan
Hian im Tee kun masih merupakan manusia manusia yang sudah
kehilangan tenaga dalamnya. Serangan yarg dipancarkan oleh Keng
thian giok cu Thi Keng sekarang sudah cukup membuat hatinya
merasa terperanjat sekali. Sudah barang tentu dia tak sempat lagi
berbicara, buru buru seluruh perhatiannya dipusatkan untuk
menghadapi keempat orang tokoh maha sakti tersebut.
Hian im Tee kun segera menggerakkan sepasang bahunya dan
menghindarkan diri dari serangan Keng thian giok cu Thi Keng yang
sebetulnya tak berharga untuk dihadapi. Menyusul kemudian,
terdengar Bu im sin hong Kian Kim siang membentak pula :
“Sambutlah sebuah pukulan ini!”
Segulung angin pukulan kembali menyambar ke tubuh Hian im
Tee kun. Kali ini tenaga serangan yang dipancarkan sedemikian
dahsyatnya sehingga terasa mengerikan sekali. Lagi lagi Hian im Tee
kun menghindarkan diri ke samping namun dia belum juga
melancarkan serangan balasan. Secara bergilir Sim ji sinni dan Tiang
pek lojin So Seng pak melancarkan sebuah serangan pula, namun
semuanya berhasil dihindari oleh Hian im Tee kun tanpa
melancarkan serangan balasan.
Oleh karena keempat orang tokoh sakti kita turun tangan secara
bergilir, maka Hian im Tee kun baru berkesempatan untuk
menghindarkan diri, jikalau mereka bisa memanfaatkan kesempatan
yang terbaik untuk turun tangan, bisa jadi Hian im Tee kun tak akan
semudah ini untuk menghindarkan diri. Tapi empat tokoh sakti itu
turun tangan secara bergilir, hal ini sudah jelas mengingat
kedudukan mereka berempat yang begitu tinggi, jikalau dengan
pamor mereka yang begitu tinggi, ternyata mereka berempat harus
mengerubuti seseorang maka bila kejadian tersebut sampai tersiar

1449
dalam dunia persilatan, sudah pasti mereka akan ditertawakan
orang. Apalagi sebelum Hian im Tee kun secara resmi melancarkan
serangan balasan, tidak menjaga kedudukan sendiri bisa semakin
ditertawakan orang.
Sedangkan mengenai apa sebabnya Hian im Tee kun sampai
tidak melancarkan serangan balasan? Hal ini sukar rasanya untuk
menemukan alasan yang tepat. Sementara itu keempat tokoh sakti
itu pun sedang merasakan keheranan atas sikap serta tindak tanduk
Hian im Tee kun yang sama sekali berlawanan dengan keadaan
biasanya. Keng thian giok cu Thi Keng segera menghentikan
serangannya, lalu berkata :
“Gembong iblis tua! Mengapa kau tidak melancarkan serangan
balasan?”
Hian im Tee kun segera tertawa dingin :
“Mau melancarkan serangan balasan atau tidak, toh urusanku
sendiri, buat apa kalian mesti banyak bertanya?”
“Thi tua!” sela Bu im sin hong Kian Kim siang cepat, “untuk
melenyapkan bibit bencana dari muka bumi, buat apa kita mesti
mempersoalkan masalah yang tetek bengek? Lebih baik kita
berempat turun tangan bersama sama masa dia tak akan membalas
serangan tersebut...?”
“Perkataan saudara Kian tepat sekali, mari kita turun tangan
bersama sama!” seru Tiang pek lojin So Seng pak pula.
Keng thian giok cu Thi Keng melototkan matanya bulat bulat,
kemudian tertawa nyaring. “Haaahhh..... haaahhhh.... haaahhhh....
siau heng bukan sayang dengan nama yang kumiliki, aku hanya
merasa gembong iblis ini belum berhasil memulihkan kembali tenaga
dalamnya sejak menderita getaran hawa pedang dari Eng ji, kalau
toh demikian halnya, kita tak usah lagi menghadapinya dengan
berempat....”
Sebagai seorang ahli yang berpengalaman, dalam sekilas
pandangan saja akan diketahui ada atau tidak. Hian im Tee kun
tidak menerima serangan empat musuhnya bahkan sewaktu berkelit

1450
pun kurang gesit dari ini dapat diketahui kalau tenaga dalamnya
sudah menderita kerugian yang besar sekali. Sewaktu mendengar
ucapan tersebut Hian im Tee kun nampak terkesiap, kemudian
segera bentaknya :
“Thi siaupwe, kau tak usah berlagak sok pintar, sekarang kalian
boleh maju berempat, lihat saja nanti apakah tenaga dalamku sudah
berkurang atau tidak!”
Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa dingin.
"Heeehhh... heeehhh.... heeehhh.... mengapa harus maju
berempat? Cukup dengan mengandalkan Hu kong keng im, aku pasti
dapat memaksamu untuk melancarkan serangan, kalau tidak, sejak
saat ini juga akan kuhapuskan nama besarku sebagai angin sakti
tanpa bayangan.”
Begitu selesai berkata, secepat sambaran petir dia lantas
menerjang ke arah Hian im Tee kun. Segulung angin pukulan yang
maha dahsyat ikut menyambar pula ke depan langsung
menghantam bahu kanan Hian im Tee kun. Hian im Tee kun tertawa
sinis :
“Serangan yang sangat bagus!”
Dia segera membuang bahu kanannya ke samping sembari
merendahkan tubuhnya, menggunakan kesempatan mana tubuhnya
berkelebat tiga langkah ke samping untuk menghindarkan diri dari
serangan Bu im sin hong Kian Kim siang tersebut. Gerakan tubuh
dari Bu im sin hong Kian Kim siang benar benar cepat bagaikan
sambaran kilat, semua gerakannya dilakukan dengan kecepatan luar
biasa, gagal dengan serangan yang pertama, serangan kedua segera
menyusul tiba.
Tampak dia menerjang dengan kecepatan luar biasa, kemudian
tiba tiba saja menghindar, dengan menggunakan suatu sudut yang
sukar diduga sebuah pukulan disapukan lagi ke depan. Kembali
terasa segulung angin pukulan yang maha dahsyat menghantam ke
pinggang Hian im Tee kun.

1451
Gerakan tubuh dari Hian im Tee kun memang sukar untuk
mengatasi kelihayan Bu im sin hong Kian Kim siang yang pada
dasarnya memang termashur sekali akan ilmu meringankan
tubuhnya, tak usah menggunakan tiga jurus serangan, pada
serangan yang kedua pun dia telah berhasil memaksa Hian im Tee
kun untuk melancarkan serangan balasan. Seandainya Hian im Tee
kun tak mau melancarkan serangan balasan, terpaksa dia harus
menerima pukulan tersebut, sebab memang sudah tiada
kemungkinan lagi untuk menghindarkan diri.
Dalam keadaan terdesak mau tak mau Hian im Tee kun harus
membela diri, telapak tangan kanannya segera dikebaskan ke depan,
dia tidak memakai tenaga telapak tangan, melainkan dengan ujung
bajunya saja menyongsong datangnya serangan dari Bu im sin hong
Kian Kim siang. Begitu dua gulung angin serangan saling bertemu,
terjadilah suatu ledakan keras yang memekikkan telinga.
“Blaammmm….!”
Berbicara soal tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun, paling
tidak dia harus berhasil melemparkan tubuh Bu im sin hong Kian Kim
siang sejauh satu kaki lebih. Namun kenyataan yang terbentang di
depan mata jauh berbeda, Bu im sin hong Kian Kim siang hanya
terpukul mundur sejauh tiga langkah, sedangkan Hian im Tee kun
sendiri meski tidak mundur, akan tetapi permukaan tanah dimana
kakinya berpijak telah melesak masuk sedalam lima inci. Dalam hal
ini peristiwa tersebut benar benar jauh diluar dugaan keempat
manusia sakti tersebut. Kenyataannya tenaga dalam yang dimiliki
Hian im Tee kun jauh berbeda dengan kesaktiannya dimasa lampau.
Keng thian giok cu Thi Keng segera tertawa terbahak bahak,
kemudian serunya :
“Saudara Kian, harap kau mundur dahulu, biar siaute yang
bertarung menghadapi gembong iblis tua ini!”
Diantara keempat tokoh sakti tersebut, tenaga dalam yang
dimiliki Keng thian giok cu Thi Keng boleh dibilang paling sempurna,
dengan kepandaian dari Hian im Tee kun sekarang, dia masih cukup
untuk menarik kembali modalnya. Bu im sin hong Kian Kim siang
segera mengundurkan diri kebelakang, katanya sembari tertawa :

1452
“Baik! Thi tua, silahkan kau unjukkan kelihayanmu!”
Keng thian giok cu Thi Keng segera mendesak maju ke muka,
sembari mengayunkan telapak tanganuya dia berseru :
“Iblis tua, lihat serangan!”
Segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung
dilontarkan ke arah dada Hian im Tee kun. Sejak bentrokan
kekerasan yang terjadi antara Hian im Tee kun melawan Bu im sin
hong Kian Kim siang tadi, sehingga rahasianya terbongkar, sekarang
Hian im Tee kun telah memperlihatkan sepasang telapak tangannya
dari balik ujung pakaian, agaknya dia sudah bersiap sedia untuk
bertarung mati matian melawan Keng thian giok cu.
Empat orang jago tersebut dapat melihat kalau telapak tangan
kiri Hian im Tee kun masih tetap dibalut dengan kain putin,
nampaknya dia bermaksud untuk menghilangkan perasaan malunya.
Sementara itu tampak Hian im Tee kun berkelit dua langkah ke
samping kanan dan menghindarkan diri dari serangan Keng thian
giok cu Thi Keng, kemudian melepaskan sebuah serangan balasan
dengan sebuah bacokan dahsyat.
Begitu mereka berdua saling bertarung, tampaklah bayangan
telapak tangan saling menyambar ke sana ke mari, hawa serangan
memenuhi seluruh angkasa bayangan manusia saling bergumul satu
sama lainnya sehingga sukar sekali untuk dibedakan mana musuh
mana teman, ini menandakan kalau pertarungan yang sedang
berlangsung benar benar amat sengit. Dengan tenaga dalam yang
dimiliki Keng thian giok cu Thi Keng ternyata mampu bertarung
seimbang melawan Hian im Tee kun tanpa memperlihatkan tanda
tanda kalah, hal ini membuat ketiga orang tokoh sakti lainnya yang
belum turun tangan menjadi kaget, tercengang dan tidak habis
mengerti.
Padahal Hian im Tee kun memiliki kepandaian silat yang luar
biasa sekali, kendatipun sewaktu pertarungannya melawan Thi Eng
khi telah menderita luka dalam, tidak seharusnya luka tersebut
separah ini sehingga mempengaruhi tenaga dalamnya sampai

1453
merosot sejauh ini. Jelas kenyataan yang berada di depan mata
sekarang sukar diterima dengan begitu.
Mendadak terdengar tiga kali pekikan nyaring bergema dari balik
barisan Hian im toa tin. Ketiga orang tokoh sakti itu segera
berpaling. Tampak Hian im toa tin dari Ban seng kiong sudah
berhenti melancarkan serangan, jumlah manusia yang sudah tak
lengkap itu segera dilengkapi kembali oleh kawanan manusia yang
berada disekitar arena. Mereka yang sudah bertarung cukup lama
dengan korban yang cukup parah tampaknya sudah mulai
merasakan titik kelemahan sendiri dan teringat untuk menggantikan
tenaga gabungan empat puluh sembilan orang guna menghadapi
lawannya.
Sekarang mereka sedang menyusun barisan baru siap
melancarkan serangan kembali ke arah kawanan jago. Dalam pada
itu barisan berbentuk bulat dari para jago, kini telah berubah
menjadi suatu barisan berbentuk segitiga. Thi Eng khi yang pada
mulanya berdiri dipusat lingkaran barisan, sekarang malah berdiri
diujung segitiga yang persis saling berhadapan muka dengan
kawanan iblis. Sebaliknya pada dua sudut lainnya masing masing
ditempati oleh Sam ku sinni dan yang lain oleh ketua Siau lim pay Ci
long siansu.
Serangan dari orang orang Ban Seng kiong kembali bergerak,
tampak empat puluh sembilan orang kakek itu dipimpin oleh
seseorang dan berkumpul menjadi satu dengan rapatnya, tangan
bergandeng tangan bahu menempel bahu. Sejak dari jarak puluhan
kaki mereka sudah berpekik nyaring, kemudian diiringi hamburan
debu langsung menerjang ke arah Thi Eng khi dengan kecepatan
yang luar biasa.
Keadaan semacam itu sungguh mengejutkan hati siapapun yang
melihatnya. Tiga tokoh tua yang melihat keadaan tersebut diam
diam mulai menguatirkan keselamatan Thi Eng khi. Sementara itu
selisih jarak antara ke dua barisan tersebut makin lama semakin
bertambah mendekat.
Kemudian ………….

1454
“Blaaammm! Blaaaammm...!” pada suatu saat yang sudah diduga
terjadilah ledakan dahsyat yang amat memekikkan telinga. Menyusul
benturan dahsyat ini, debu yang tebal segera membumbung tinggi
ke angkasa dan menyelimuti seluruh arena pertarungan dan
menutupi pula bayangan manusia yang sedang beradu kekuatan.
Pelan pelan.... ketika angin gunung berhembus lewat
membuyarkan debu terlihat hasil dari bentrokan kekerasan
tersebut…..
Di pihak para jago :
Barisan belum membuyar, tapi semua orang sedang duduk
bersila sambil mengatur pernapasan, di sisi kiri dan kanan barisan
mereka masing masing muncul sebuah liang yang besar sekali.
Sebaliknya di pihak Ban seng kiong :
Bentuk barisan mereka sudah kacau balau tidak karuan
bentuknya, ada yang di kanan ada yang di kiri, ada pula yang
tergeletak di atas tanah sambil merintih, ada pula yang sedang
mengatur napas dengan wajah lesu dan bermuram durja. Namun
tegasnya jumlah mereka yang terluka dan roboh jauh lebih banyak
sedangkan yang masih dapat mengatur napas tinggal tak seberapa
banyak lagi.
Dengan cepat segenap jago lihay dari Ban seng kiong yang masih
berada disisi arena maju ke depan dan mengisi kembali barisan Hian
im toa tin yang sudah terpukul hancur itu. Dalam pada itu di pihak
para jago pun telah membentuk kembali barisan bulat seperti
semula. Tampaknya serangan berikutnya sudah akan dilancarkan
kembali.....
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian
tersebut segera memuji tiada hentinya.
“Thi sauhiap memang benar benar luar biasa, sekalipun dia
sendiri sudah kehabisan tenaga namun masih bisa memakai ilmu
Hua lik hun kong (memisahkan tenaga membuyarkan kekuatan)
untuk menghancur lumatkan serangan gabungan dari empat puluh
sembilan orang gembong iblis dari Ban seng kiong.”

1455
Sementara dia baru selesai berkata, mendadak terdengar Keng
thian giok cu Thi Keng membentak keras :
“Kena!”
Dengan jurus Kim liong tham jiu (Naga emas mementangkan
cakar) secepat sambaran kilat langsung mencengkeram bahu kiri
Hian im Tee kun. Dengan cepat Hian im Tee kun mengeluarkan jurus
Siau kui to tho (setan kecil mencuri buah tho) untuk
menghadapinya, bahu kirinya dibuang ke samping lalu ke lima jari
tangan kanannya yang dipentangkan bagaikan cakar balas
mencengkeram pergelangan tangan Keng thian giok cu Thi Keng.
Sewaktu melancarkan serangan, kedua belah pihak sama sama
mempergunakan ilmu mencengkeram namun sewaktu saling beradu
ternyata dari ilmu mencengkeram mereka telah berubah menjadi
ilmu pukulan, sebuah bentrokan kekerasan pun segera terjadi.
Tujuan Keng thian giok cu Thi Keng adalah melenyapkan bibit
bencana dari muka bumi, maka semua serangan yang digunakan
merupakan serangan serangan beradu jiwa yang dahsyat sekali.
Hian im Tee kun sendiripun merasa dendam dan benci sekali
kepada Keng thian giok cu Thi Keng, terutama sekali kebuasan
lawannya yang meneter dirinya habis habisan. Maka saat ini dia
menyerang tanpa berbelas kasihan lagi, semua jurus serangan yang
mematikan dipergunakan sehabis habisnya dengan mengerahkan
segenap tenaga dalam yang dia miliki. Akibat dari bentrokan tadi,
Keng thian giok cu Thi Keng merasa sepasang bahunya bergetar
keras sebelum dapat berdiri tegak sedang kakinya sama sekali tidak
bergerak dari posisi semula. Hian Im Tee kun dengan kedudukannya
sebagai jagoan nomor wahid dikolong langit malahan terdorong
mundur sejauh satu langkah setengah akibat dari bentrok tersebut.
Dengan sebuah pukulan ternyata Keng thian giok cu Thi Keng
berhasil mendesak Hian im Tee kun mundur sejauh satu langkah
setengah, tanpa terasa semangatnya segera berkobar dan
keinginannya untuk melenyapkan gembong iblis itupun semakin
membulat.

1456
Ditengah gelak tertawa nyaring yang memekikkan telinga,
kemball dia terlibat dalam suatu pertarungan yang amat sengit
melawan Hian im Tee kun. Dalam waktu singkat napas kedua belah
pihak sudah berubah menjadi berat dan ngos ngosan. Beberapa saat
kembali sudah lewat, ditengah bentakan gusar dan dengusan
tertahan yang bergema bersamaan waktunya, dua sosok bayangan
manusia itu saling berputar secepat petir kemudian saling berpisah.
Paras muka Keng thian giok cu Thi Keng berubah menjadi pucat
pias seperti mayat napasnya tersengkel sengkal dan keringat telah
membasahi seluruh jubah birunya. Hian im Tee kun berdiri saling
berhadapan dengan Keng thian giok cu Thi Keng namun paras
mukanya sama sekali tidak mengalami perubahan apa pun. Akan
tetapi dadanya naik turun dengan hebatnya, bahkan berkali lipat
lebih parah keadaannya ketimbang Keng thian giok cu Thi Keng.
Jelas dalam pertarungan yang barusan berlangsung, keadaannya
jauh lebih parah dari pada Keng thian giok cu Thi Keng, hanya yang
tidak mengerti adalah mengapa paras mukanya sama sekali tidak
berubah menjadi pucat pias seperti keadaan Keng thian giok cu Thi
Keng.
Sementara Sim ji sinni masih tidak habis mengerti, tiba tiba
tampak Hian im Tee kun membungkukkan badannya dan
memuntahkan darah segar. Keng thian giok cu Thi Keng segera
menghembuskan napas panjang, katanya :
“Hian im Tee kun sudah terkena sebuah pukulan siaute yang
amat berat, isi perutnya sudah hancur dan tak mungkin bisa hidup
lebih lama lagi, tampaknya bibit bencana mungkin sudah dapat kita
lenyapkan.”
Dengan cepat dia menotok tiga buah jalan darah ditubuh Hian im
Tee kun agar tidak kehilangan banyak darah serta mempertahankan
hidupnya untuk sementara waktu. Sim ji sinni, Tiang pek lojin So
Seng pak serta Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan
kejadian tersebut menjadi sangat gembira, serunya dengan cepat :
“Thi tua! Sekali lagi kau berhasil menyelamatkan dunia persilatan
dari bencana besar, hal ini benar benar suatu peristiwa yang patut
digembirakan!”

1457
Keng thian giok cu Thi Keng tertawa :
"Berkat jasa dan bantuan saudara sekalian tugas ini dapat
diselesaikan dengan baik kalau tidak, siaute pun merasa sukar untuk
berhasil seperti sekarang ini."
Tiba tiba Bu im sin hong Kian Kim siang berseru :
“Biar siaute mengumumkan tentang kekalahan yang diderita Hian
im Tee kun ini kepada semua orang, agar kawanan iblis dari Ban
seng kiong tahu kalau keadaan sudah berubah dan pertarungan
sengit tak usah dilanjutkan lagi.”
“Saudara Kian, kalau begitu tolong kau lakukan dengan segera!”
ucap Keng thian giok cu Thi Keng. Selesai berbicara, dia lantas
duduk bersila diatas tanah dan mulai mengatur pernapasan.
Dengan suara keras bagaikan geledek Bu im sin hong Kian Kim
siang segera berteriak lantang :
“Hian im Tee kun sudah berhasil dihajar oleh Keng thian giok cu
Thi Keng sehingga terluka parah dan tertawan, harap kalian dari Ban
seng kiong segera menghentikan serangan dan menyerahkan diri.”
Begitu berita tentang tertawannya Hian im Tee kun tersiar keluar,
Ban seng kiong menderita pula kekalahan secara total, maka para
iblis tersebut tak berani tinggal lebih lama lagi di situ, serentak
mereka melarikan diri terbirit birit meninggalkan tempat tersebut.
Hanya kawanan iblis yang terluka dan tak mampu kabur saja tetap
tinggal ditempat, mereka kuatir para jago pendekar membunuh
mereka, namun tak dapat menahan rasa sakit yang sedang diderita,
sehingga suasana menjadi kacau balau dengan jeritan dan erangan
kesakitan.
Selain daripada itu, ditengah arena masih ada dua pasang
manusia melangsungkan pertarungan dengan sengitnya, satu
pasang terdiri dari Bu Nay nay melawan Hian im li Cun Bwee,
sedangkan yang lain adalah Pek leng siancu So Bwe leng melawan
Hian im li Ciu Lan. Sesungguhnya Hian im ji li bukannya tidak berniat
untuk kabur meninggalkan tempat tersebut, akan tetapi Bu Nay nay

1458
dan Pek leng siancu So Bwe leng mengurung mereka secara mati
matian, hai ini membuat mereka sama sekali tak berkutik lagi.
Bu Nay nay mengurung Hian im li Cun Bwee dan menyerangnya
habis habisan karena pada dasarnya dia memang sangat membenci
segala bentuk kejahatan dia menganggap Hian im li sebagai
anteknya Hian im Tee kun sebagai otak dari semua kejahatan, maka
dia tak rela membiarkan antek dari segala kejahatan ini lolos dengan
begitu saja. Itulah sebabnya dia mengurung dan mengepungnya
terus secara ketat sekali.
Sebaliknya antara Pek leng siancu So Bwe leng melawan Hian im
li Ciu Lan disamping karena dendam secara umum juga masih
terselip sakit hati pribadi. Pada hakekatnya Pek leng siancu So Bwe
leng sudah membenci Hian im li sampai merasuk ke tulang
sumsumnya, sudah barang tentu dia tak akan membiarkan
musuhnya itu kabur dari sana.
Sementara itu, kawanan pendekar telah turun tangan menolong
kawanan iblis yang tak mampu kabur karena luka yang parah. Oleh
sebab itu ditengah arena masih nampak bayangan manusia yang
berkelebat kian kemari. Sim ji sinni yang menyaksikan Bu Nay nay
masih bertempur seru macam orang kesurupan, dia segera
menggelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela napas
katanya :
“Nay nay, pentolannya sudah tertangkap, buat apa sih kau
merecoki terus orang ini? Lepaskan saja dia! Adikmu toh tertawan
oleh musuh, kita harus segera mencarinya.”
Teringat akan nasib adiknya Bu lm, semangat tempur Bu Nay nay
segera pudar, dengan cepat dia menghentikan serangannya lalu
berseru kepada Hian im li Cun Bwee.
“Aku mempunyai seorang saudara bernama Bu Im, kalian telah
menyekapnya di mana?”
Hian im li Cun Bwee yang menyaksikan situasi telah berubah
segera memberitahukan tempat Bu Im disekap, setelah itu dia
sendiri cepat cepat melarikan diri meninggalkan tempat tersebut. Bu

1459
Nay nay pun tidak ambil diam, dia segera melesat ke depan untuk
mencari Bu Im.
Hanya pertarungan antara Pek leng siancu So Bwe leng melawan
Hian im li Ciu Lan masih berlangsung terus dengan serunya. Pek
leng siancu So Bwe leng sudah terbiasa menuruti adat sendiri pada
hakekatnya dia tak mau menuruti perkataan dari Sam ku sinni
maupun kakeknya Tiang pek lojin So Seng pak, dia bersikeras
hendak bertarung habis habisan melawan Hian im li Ciu Lan.
Akhirnya Keng thian giok cu Thi Keng yang maju ke depan dan
memberitahukan kepadanya kalau Thi Eng khi sudah hampir tak
mampu menahan diri. Berita itu membuat Pek leng siancu So Bwe
leng jadi terperanjat dan tak sempat melanjutkan pertarungan
melawan Hian im li Ciu Lan lagi, cepat cepat dia kabur mencari Thi
Eng khi.
Keng thian giok cu Thi segera memperingatkan Hian im li Ciu Lan
agar tidak berbuat kejahatan lagi dan menganjurkan kepadanya
untuk kembali ke jalan yang benar. Berhasil lolos dari kematian, Hian
im li Ciu Lan nampak sangat terharu, beberapa kali dia seperti
hendak mengucapkan sesuatu namun selalu tiada kesempatan dan
tak berhasil mengutarakan isi hatinya. Menanti Keng thian giok cu
Thi Keng sudah selesai berkata dan berlalu dari situ. Hian im li Ciu
Lan berdiri sambil termenung beberapa saat, dia merasa bila isi
hatinya diutarakan kepada para pendekar, tindakan tersebut bisa
jadi akan memancing pandangan hina orang lain kepadanya.
Terpaksa dia menghela napas sedih dan segera berlalu pula dari
situ.
Thi Eng khi yang menyaksikan usaha mereka telah sukses,
semangatnya pun mengendor, dia setuju untuk mencabut keluar
jarum emas dari tubuhnya dan segera tertidur pulas. Hui cun siucay
Seng Tiok sian dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya
mengurut tiada hentinya disekujur badan Thi Eng khi, kalau dilihat
dari sikap tegang yang menghiasi wajahnya dapat diketahui kalau
tertidurnya Thi Eng khi bukan suatu gejala yang wajar....

1460
Pek leng siancu So Bwe leng buru buru lari mendekat, melihat
keadaan dari Thi Eng khi tersebut, tanpa berpikir panjang lagi dia
lantas menjerit :
"Engkoh Eng!"
Dia hendak menubruk ke atas tubuhnya. Untung sekali Ciu Tin tin
bertindak cepat dan menghalanginya, sehingga tidak sampai
kejadian tersebut mengganggu Hui cun siucay Seng Tiok sian yang
sedang melakukan pengobatan. Setelah berhasil menghalangi Pek
leng siancu So Bwe leng, Ciu Tin tin segera menariknya ke samping
dan ujarnya :
"Adik Leng, jangan gelisah, adik Eng tidak apa apa, seandainya
dia terjadi sesuatu, coba lihatlah masa cici dapat bersikap tenang
seperti ini?"
Bicara punya bicara suaranya menjadi parau dan tak terbendung
lagi air matanya segera jatuh bercucuran.
"Enci Tin!"
Pek leng siancu So Bwe leng segera berseru lirih. Mereka saling
bergenggaman tangan erat erat, dua hati seperti mempunyai
perasaan yang sama, seakan akan menghadapi perubahan cuaca
yang tak menentu sehingga napasnya terasa menjadi sesak sekali.
Lama sekali Hui cun siucay Seng Tiok sian bekerja keras sampai
sekujur tubuhnya basah oleh keringat, akhirnya sekulum senyuman
mulai menghiasi ujung bibirnya, dia berkata:
"Saudara Thi memang benar benar memiliki bakat yang luar
biasa sekali, sekarang kesempatannya untuk hidup sudah tumbuh
dan pelan pelan kekuatannya akan pulih kembali, sekarang biarkan
saja dia tidur barang sepuluh atau setengah bulan lamanya!"
"Apa? Tertidur sampai sepuluh hari atau setengan bulan? Apakah
dia tak akan mati kelaparan?" seru Pek leng siancu So Bwe leng
dengan terkejut.
Ciu Tin tin segera memperingatkan Pek leng siancu So Bwe leng :

1461
"Adik Leng, jangan lupa orang yang menggunakan ilmu Ku si toa
hoat hun bisa bertahan untuk hidup selama setengah tahun tanpa
dahar, sepuluh hari atau setengah bulan masih belum terhitung
seberapa... "
"Tenaga dalam yang dimiliki engkoh Eng sudah punah,
bagaimana mungkin dia dapat mempergunakan ilmu Ku si toa hoat
lagi?"
"Seng tayhiap telah melaksanakan ilmu Ci liong jiu hoat diatas
tubuh Adik Eng, kasiatnya tidak berbeda jauh dengan ilmu ku si toa
hoat, cuma yang satu secara otomatis sedangkan yang lain
dilakukan orang."
Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Thi Eng khi
yang tertidur ditemani oleh Pek leng siancu so Bwe leng dan Ciu Tin
tin. Tatkala Keng thian giok cu Thi Keng sekalian menyaksikan
persoalan tentang Thi Eng khi sudah beres, mereka lantas meminta
kepada Hui cun siucay Seng Tiok sian untuk menolong Hian im Tee
kun dengan maksud agar menyelamatkan selembar jiwanya yang
sedang kritis...
Waktu itu Hian im Tee kun memang sudah bernafas lemah sekali,
jaraknya dengan kematian pun sudah tidak jauh lagi. Secara
beruntun Hui cun siucay Seng Tiok sian menotok tujuh buah jalan
darah Hian im Tee kun dan mencecoki sejumlah obat obatan ke
dalam mulutnya, kesempatan hidup dari Hian im Tee kun pun
lambat laun pulih kembali.
Hui cun siucay Seng Tiok sian memeriksa dahulu denyutan nadi
kanan Hian im Tee kun, kemudian memeriksa pula denyutan nadi
sebelah kirinya. Dengan tiga jari tangannya menempel di nadi
sebelah kiri Hian im Tee kun, dia segera merasakan denyutan
nadinya menunjukkan gejala aneh. Sebab dia pernah mendengar
orang berkata lengan kiri Hian im Tee kun sudah terpapas sebagian
oleh sambaran pedang terbang Thi Eng khi, namun sewaktu
memeriksa denyutan nadinya sekarang, dia menemukan sebuah
lengan kiri yang masih utuh. Begitu timbul perasaan curiganya,
untuk membuktikan kebenaran dari kecurigaannya tersebut Hui cun

1462
siucay Seng Tiok sian segera melepaskan balutan tangan kiri Hian im
Tee kun. Apa yang diduga ternyata benar, dia berhasil menemukan
sebuah lengan yang utuh. Ketika semua orang menyaksikan hal
tersebut, maka timbullah kecurigaan kalau orang ini bukan Hian im
Tee kun yang sesungguhnya.
Hui cun siucay Seng Tiok sian mencoba untuk memeriksa raut
wajah Hian im Tee kun, akan tetapi tidak dijumpai pula topeng kulit
manusia atau sebangsanya disitu, hal mana semakin
membingungkan para jago. Tapi, kalau toh lengan kirinya tetap utuh
bagaimana mungkin dia adalah Hian im Tee kun yang asli? Perasaan
heran, kaget dan curiga segera meliputi seluruh wajah para jago
bahkan mereka lupa untuk memikirkan suatu kenyataan yang
sesungguhnya mudah untuk membuktikan hal tersebut.
Pelan pelan Hian im Tee kun sadar kembali dari pingsannya,
dengan lemah tak bertenaga dia memandang sekejap ke wajah
empat tokoh sakti itu dan akhirnya berhenti diwajah Keng thian giok
cu Thi Keng, setelah menunjukkan senyuman getir yang lemah,
bisiknya dengan lesu :
“Thi lojin, lohu sudah melatih diri selama empat puluh tahun
namun nyatanya belum berhasil menangkan dirimu, apa artinya
bagiku untuk hidup lebih jauh?”
Selesai berkata dia lantas mengerahkan tenaga dalamnya yang
baru pulih untuk memutuskan urat nadi sendiri tak ampun dia segera
muntah darah segar dan tewas seketika. Sekarang para jago baru
teringat akan seseorang, serunya kemudian tertahan: “Ooh…
rupanya Hian im Tee kun gadungan ini hasil penyaruan dari Huan im
sin ang Ui Sam ciat!”
Keng thian giok cu Thi Keng menghela napas pula sembari
berkata :
“Ilmu menyaru muka dari Huan im sin ang Ui Sam ciat memang
betul betul sangat lihay, seandainya dia tidak mengungkapkan
sendiri identitasnya, lohu benar benar tidak habis mengerti apa
sebabnya tenaga dalam yang dimiliki Hian im Tee kun tak mampu
menandingi lohu...”

1463
Rupanya semenjak istana Ban seng kiong nya dirampas dan
diduduki Hian im Tee kun, Huan im sin ang Ui Sam ciat sadar kalau
dia tak akan berhasil merebut kembali istana dari tangan musuh
maka dengan mewujudkan suatu sikap yang sangat hormat dan
berbakti, Hian im sin ang Ui Sam ciat berusaha untuk bekerja
dengan bersungguh hati. Ditambah pula dia memang pandai
menarik kepercayaan Hian im Tee kun, akhirnya selain memperoleh
kepercayaan, bahkan tenaga dalamnya yang punah berhasil
diperoleh kembali. Bukan cuma begitu, diapun banyak memperoleh
pelajaran ilmu silat dari bekas lawannya ini.
Sejak pertarungannya melawan Thi Eng khi, selain Hian im Tee
kun kehilangan separuh tangannya, baik bagian luar maupun isi
perutnya telah peroleh luka yang cukup parah. Hian im Tee kun
sadar kalau Thi Eng khi bukan seorang musuh yang mudah dihadapi,
maka diapun meminta kepada Huan im sia ang Ui Sam ciat untuk
menyaru sebagai dirinya dan menduduki istana Ban seng kiong,
sementara pelbagai tugas dan kewajiban diserahkan kepada Hian im
ji li. Hian im Tee kun sendiri menyembunyikan diri di suatu tempat
yang rahasia dan terpencil untuk mempelajari beberapa macam
kepandaian yang lebih hebat sebagai persiapan untuk menghadapi
Thi Eng khi.
Sekarang sudah semua orang tahu bahwa Hian im Tee kun
gadungan hasil penyaruan dari Huan im sin ang otomatis pikiran
semua orangpun dialihkan ke masalah Hian im Tee kun yang asli,
maka pelbagai pertanyaan pun segera bermunculan :
“Ke mana perginya Hian im Tee kun? Ke mana perginya Hian im
Tee kun...?”
Pertanyaan tersebut dengan cepat menyebar ke seluruh istana
Ban seng kiong. Bu im sin hong Kian Kim siang mendongkol sekali,
dengan penuh amarah serunya :
“Mari kita segera mencari kawanan anak iblis yang terluka itu,
coba ditanyakan ke mana kaburnya Hian im Tee kun!”
Sim ji sinni yang menyaksikan kegusaran orang segera tersenyum
dan menggelengkan kepalanya berulang kali, katanya :

1464
“Sekalipun Huan im sin ang hidup kembali, belum tentu dia akan
tahu ke mana perginya Hian im Tee kun, apalagi orang orang
lainnya.”
“Masa kita harus menyudahi persoalan sampai disini saja?” seru
Bu im sin hong Kian Kim siang sambil menghela napas.
Keng thian giok cu Thi Keng segera berkata pula :
“Sehari Hian im Tee kun belum berhasil dilenyapkan dari muka
bumi, dunia persilatan tak akan pernah mengecap ketenangan dan
kedamaian, sudah barang tentu kita tak boleh melepaskan dirinya
dengan begitu saja, cuma persoalan toh tak usah terburu buru harus
diselesaikan dalam sehari, lebih baik kita selesaikan dulu kawanan
iblis yang berada di istana Ban seng kiong, kemudian baru berunding
lebih jauh.”
Menyelesaikan kawanan iblis dari Ban seng kiong memang
merupakan tugas yang harus segera diselesaikan secepatnya, karena
sekali salah bertindak, bisa jadi akan menimbulkan bibit bencana
yang lain, maka para jago mau tak mau harus bertindak dengan
berhati hati sekali. Untung saja semua orang mempunyai sikap
berbesar hati dan berpandangan luas dengan tak bosan bosannya
mereka membujuk dan menasehati kawanan ibis itu sampai mereka
dapat menghilangkan sifat jahatnya sebelurn dilepaskan pergi
dengan harapan mereka dapat hidup sebagai manusia lain.
Sedangkan kawanan iblis kecil yang tidak masuk hitungan,
ditugaskan pendidikannya kepada Ban li tui hong Cu Ngo, si pencuri
sakti Go Jit dan Siu Cu untuk diselesaikan.
Kini, meskipun istana Ban seng kiong berhasil dilumpuhkan
namun Hian im Tee kun belum berhasil dilenyapkan. Para jago
sekarang boleh dibilang baru berhasil menyelesaikan setengah dari
tugasnya, sedangkan tujuan untuk melenyapkan ancaman bahaya
bagi keselamatan dunia persilatan masih ada setengah lagi yang
belum terselesaikan. Dari posisi terang Hian im Tee kun telah beralih
ke tempat kegelapan, tugas untuk melenyapkan dirinya sekarang
pun akan menjadi suatu tugas yang tidak gampang.

1465
Karena para jago sadar kalau untuk mengumpulkan kekuatan
seperti ini bukan suatu pekerjaan yang gampang, maka untuk
sementara waktu semua orang berkumpul di istana Ban seng kiong
guna mempermudah tugas dan tujuan mereka menghadapi Hian im
Tee kun.
Bu tong pay terletak paling dekat dengan istana Ban seng kiong,
ketua Bu tong pay Keng hian totiang segera mengundang datang
jago jagonya dalam jumlah yang lebih banyak agar lebih
mempermudah pengawasan. Sedangkan ketua ketua dari partai lain
pun segera menurunkan perintah kepada anak buahnya agar
melakukan penyelidikan yang teliti atas jejak Hian im Tee kun
sehingga mempermudah usaha mereka untuk membasminya.
Dalam jangka waktu yang cukup lama ini, jago jago yang belum
berhasil memulihkan kembali tenaganya seperti Ci kay taysu dan Ci
liong dari Siau lim pay, Keng it dan Keng ning totiang dari Bu tong
pay, Pit tee jiu Wong Tin pak dan Ngo liu sianseng Lim Biau lim dari
Thian liong pay, atas bantuan dari Ciu Tin tin dapat pula
memperoleh kembali tenaga dalamnya.
Masalah yang masih tersisa sekarang tinggal bagaimana caranya
untuk memulihkan kembali kekuatan dari Thi Eng khi. Padahal Thi
Eng khi sudah berhasil melatih tubuhnya sehingga kebal dan luar
biasa, masalah untuk memulihkan kembali kekuatannya sudah bukan
menjadi masalah lagi, karena tinggal menunggu waktu belaka.
Akan tetapi berhubung para jago tidak jelas mengetahui sampai
dimanakah kekua¬tan tubuh serta kepandaian yang dimilikinya,
maka penilaian mereka terhadap Thi Eng khi pun menurut penilaian
orang orang pada umumnya, jadi sebenarnya merupakan suatu
kekeliruan yang cukup fatal. Namun dengan makin berlarutnya sang
waktu, oleh karena paras muka Thi Eng khi juga mengalami
perubahan yang menggembirakan, maka rasa kuatir serta perasaan
murung para jago pun secara otomatis turut menjadi lenyap.
Pada hari kesembilan puluh setelah Ban seng kiong berhasil
direbut para jago, Thi Eng khi juga berhasil memulihkan kembali
tenaga dalamnya. Namun selama beberapa waktu itu, jejak Hian im

1466
Tee kun ibaratnya sebatang jarum ditengah dasar samudra yang
luas, sulit untuk menemukan kembali jejaknya. Hari ini para jago
kembali melanjutkan perundingan mereka tentang bagaimana
caranya menemukan jejak Hian im Tee kun yang menghilang.
Thi Eng Khi yang berhasil memperoleh kembali tenaga dalamnya
turut pula didalam perundingan tersebut. Sementara semua orang
masih berunding dengan serius, mendadak Thi Eng khi teringat akan
satu persoalan yakni ketika pertama kalinya berjumpa dengan Hian
im Tee kun.
Waktu itu Thi Eng khi baru saja memperoleh Kim khong giok lok
wan dari gua Yang sim tongnya Cu sim ci cu Thio Biau liong dan
bermaksud baik untuk memenuhi undangan si pembenci raja akhirat
Kwik Keng thian, namun dituduh orang sebagai pembunuh Ting
tayhiap dari bukit Huan keng san sehingga persoalan harus diakhiri
dalam keadaan tidak gembira.
Ketika Thi Eng khi yang harus menyelamatkan jiwa Pek leng
siancu So Bwe leng harus berangkat kembali ke Sah si, tak
beruntung ia dijebak oleh Huan im sin ang dan dijebak dalam
sebuah kuil dimana nyaris dia mati dibakar hidup hidup. Kemudian
Thi Eng khi dengan menggunakan ilmu Heng kian sinkang berhasil
menyembunyikan diri dibawah tanah dan tanpa sengaja terjerumus
ke dalam sebuah lorong rahasia dan menemukan sebuah gua batu.
Waktu itu berhubung dia harus buru buru kembali ke bukit Siong
san dan tak ingin mencari gara gara maka dia tidak langsung masuk
ke gua untuk melakukan penyelidikan lebih jauh. Akan tetapi
sewaktu hendak keluar dari lorong rahasia tersebut, dijumpainya
seorang kakek berwajah putih berjubah hijau bersama seorang gadis
yang cantik jelita sedang keluar dari lorong rahasia tersebut. Oleh
sebab itu, tak sulit untuk diduga kalau kedua orang tersebut
memang berdiam dalam istana dibawah lorong rahasia tersebut….
Kemudian Thi Eng khi baru tahu kalau tua dan muda itu bukan
lain adalah Hian im Tee kun serta Hian im li Cun Bwee. Atau bila
diduga selangkah lebih maju, bisa jadi gua tersebut merupakan
sarang dari Hian im Tee kun. Bahkan sekarang pun bisa diduga

1467
kalau Hian im Tee kun besar kumungkinannya sedang bersembunyi
didalam sarangnya tersebut. Setelah mempunyai pemikiran
demikian, maka diapun lantas mengungkapkan hal tersebut kepada
semua orang.
Jilid 45
Sambil menepuk bahu Thi Eng khi, Bu im sin hong Kian Kim siang
segera berseru :
“Saudara cilik, mengapa tidak kamu katakan sedari dulu dulu
sehingga membiarkan Hian im Tee kun hidup tiga bulan lebih lama?
Kali ini, Kita empat tua bangka harus bertarung mati matian
dengannya!”
Thi Eng khi tersenyum :
“Kian tua!” katanya, “tenaga dalam Eng khi telah pulih kembali
seperti sedia kala, aku tak berani merepotkan kalian empat orang
tua lagi!”
Mendengar ucapan tersebut, Bu im sin hong Kian Kim siang
segera mencak mencak serunya :
“Tidak bisa! Tidak bisa! Usiamu masih begitu muda, saatmu
untuk sukses dan berhasil masih panjang, tidak seperti kami tua
bangkotan yang semakin dekat dengan ajal, siapa tahu setelah ini
tiada kesempatan sebaik ini lagi bagi kami untuk berbakti kepada
dunia persilatan? Aku tahu tenaga dalammu memang lebih
sempurna dari kami, toh tidak sepantasnya jika kau berebut jasa
dengan kami bukan?”
Baru saja Thi Eng khi hendak berbicara, Pek leng siancu So Bwe
leng telah menukas sambil tertawa :
“Kian yaya! Kau memang tak tahu malu, siapa sih yang akan
berebut jasa denganmu?”
“Budak ingusan!” Bu im sin hong Kian Kim Siang tertawa, “tidak
besar tidak pula yang kecil, siapa sih yang menyuruh kau banyak
berbicara?”

1468
Pek leng siancu So Bwe leng segera mencibirkan bibirnya yang
kecil, lalu berkata lagi :
“Kian yaya, kau tidak adil, kau memanggil engkoh Eng sebagai
saudara cilik, itu berarti aku Leng ji adalah adik kecilmu pula, siapa
bilang tidak yang besar tidak yang kecil.”
Pek leng siancu So Bwee leng memang binal sekali, ucapan mana
kontan saja menimbulkan gelak tertawa seisi ruangan. Tiang pek
lojin So Seng pak tak tahan turut pula tertawa terbahak bahak,
kemudian sambil sengaja menarik wajahnya dia berkata dengan
suara dalam :
“Leng ji, kau benar benar tak tahu aturan, siapa suruh kau
berbuat binal?”
“Kenyataannya memang begitu?” bantah Pek leng siancu So Bwe
leng sambil ngotot, “Kian yaya menganggap engkoh Eng adalah
saudaranya dan engkoh Eng menganggap Kian yaya sebagai engkoh
tua nya, bukankah ini berarti pula diapun terhitung engkoh tua dari
anak Leng?”
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa terbahak bahak
setelah mendengar perkataan tersebut :
“Haaahhhh... haaahhh.... haaahhhh..... tepat sekali! Tepat sekali!
Anak Leng, aku dan yayamu saling menyebut sebagai saudara,
apakah kaupun hendak saling menyebut saudara dengan yayamu?”
“Kian yaya!” Pek leng siancu So Bwe leng tak mau kalah “kau dan
engkoh Eng saling menyebut saudara, mengapa kau tidak suruh
engkoh Eng saling menyebut saudara dengan Thi yaya?”
Menyusul kemudian sambil tertawa cekikikan dia berkata lebih
lanjut :
“Kita toh berhubungan secara terpisah dan tiada ikatan satu
sama lainnya!”
Bu lm sin hong Kian Kim siang benar benar mati kutunya, sambil
menggelengkan kepalanya dan menghela napas dia berseru :
“Aaaai, dunia sudah berubah! Dunia benar benar sudah berubah,
aku memang kalah diharuskan bersilat lidah denganmu!”

1469
Dari tempat kejauhan buru buru Pek leng siancu So Bwe leng
menjura, kemudian katanya lembut :
“Kian yaya, harap kau jangan marah, terimalah hormat dari anak
Leng!”
Perbuatan dari gadis ini benar benar membuat Bu im sin hong
Kian Kim siang mati kutunya, mau tertawa tak bisa, mau
menangispun tak dapat. Persoalan tidak berhenti sampai disitu saja,
mendadak Pek leng siancu So Bwe leng berkata lagi dengan wajah
serius :
“Kembali ke persoalan yang utama, anak Leng merasa masalah
mengerubuti Hian im Tee kun adalah masalahku dengan engkoh
Eng.... ”
Keng thian giok cu Thi Keng segera tersenyum :
“Anak Leng,” dia berkata, “apa alasanmu? Mengapa kau
bersikeras mempertahankan pendapatmu itu?”
Berada dihadapan Keng thian giok cu Thi Keng, sudah barang
tentu Pek leng si¬ancu So Bwe leng tak berani sembarangan
berbuat binal, katanya dengan serius :
“Locianpwe berempat sudah lanjut usia, pamor dan kedudukan
kalian sudah cukup termashur dalam dunia persilatan, kalian pun
sudah lama disanjung dan dihormati orang, apabila kalian berempat
harus mengerubuti Hian im Tee kun, sekalipun dapat menang, orang
lain pasti akan menambah bumbu pula didalam ceritanya sehingga
akan mempengaruhi nama baik kalian.”
Kemudian setelah berhenti sejenak dia melanjutkan :
“Ini kalau menang, sebaliknya kalau sampai terpeleset sehingga
menderita kekalahan total, bukankah nama baik kalian akan hancur
berantakan tak karuan lagi wujudnya?”
Keng thian giok cu Thi Keng segera manggut manggut setelah
mendengar perkataan itu, katanya :
“Anak Leng, perkataanmu memang sepintas lalu kedengarannya
sangat masuk diakal, namun kami berprinsip untuk menolong umat

1470
persilatan dan melenyapkan bibit bencana, soal kehilangan nama
atau kedudukan bukan menjadi masalah buat kami.”
“Seandainya di dalam dunia persilatan memang benar benar
sudah tiada manusia lagi yang bisa mengalahkan Hian im Tee kun,
demi ditegakkannya keadilan dan kebenaran, locianpwe berempat
memang wajib berbuat demikian sekalipun harus berkorban jiwapun,
karena hal ini memang merupakan watak dan tujuan dari cianpwe
berempat, namun keadaan yang kita hadapi sekarang toh sama
sekali berbeda dengan keadaan tersebut?”
Bu im sin hong Kian Kim siang yang mendengar sampai disitu,
tak tahan lagi segera menggoda :
“Leng ji, berbicara pulang pergi nampaknya kau nekad hanya
dikarenakan eng¬koh Eng?”
“Siapa bilang? Aku berbuat demikian demi kepentingan umat
persilatan.....”
“Omitohud!” bisik Sim ji sinni sambil menukas pembicaraan Pek
leng siancu So Bwe leng, “perkataan dari anak Leng memang ada
benarnya, kita semua sudah berlanjut usia, sekarang memang bukan
waktunya bagi kita untuk menarik otot lagi. Thi sauhiap gagah dan
perkasa, dia memang satu satunya pilihan untuk memimpin dunia
persilatan, selain melenyapkan Hian im Tee kun, dia pun bertugas
membina serta melindungi keselamatan umat persilatan dimasa
mendatang, aku pikir seharusnya kita memberi kesempatan untuk
mereka.”
“Yaa, ketika siaute meninggalkan perbatasan kali ini, sebenarnya
akupun datang dengan membawa cita cita yang besar,” ucap Tiang
pek lojin So Seng pak, “namun kenyataannya aku mesti
menanggung malu berulang kali, hanya kesuksesan dari anak Eng
lah yang dapat menghibur hatiku yang kecewa.”
Sedangkan Keng thian giok cu Thi Keng tidak berkata apa apa,
dia cuma tersenyum belaka. Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa
terbahak bahak, serunya kemudian :

1471
“Tampaknya lohu harus mengibarkan bendera putih untuk
menyerah dan mundur teratur, anak Leng, kau memang akan
menjadi luar biasa di kemudian hari.”
Dengan serius Pek leng siancu So Bwe leng menjura dalam
dalam, kemudian katanya :
“Dimasa masa mendatang aku masih membutuhkan banyak
petunjuk serta bimbingan dari Kian yaya!”
Ucapan tersebut segera membuat Bu im sin hong Kian Kim siang
tertegun, serunya kemudian :
“Anak Leng, kau maksudkan aku si tua bangka masih harus
menempuh perjalanan jauh demi kalian? Tidakkah kau merasa
tindakan tersebut kelewat batas?”
Sam ku sinni tertawa.
“Kian lo sicu, dihari hari biasa kau suka memuji angkatan muda,
itulah sebabnya kau tak bisa bermalas malasan lagi sekarang,
apalagi Thi sau sicu memang tak bisa kekurangan bantuanmu!”
Padahal Bu im sin hong Kian Kim siang memang benar benar
berhasrat sekali un¬tuk membantu Thi Eng khi, akan tetapi dia tak
mau mengalah dengan begitu saja, sambil menggelengkan
kepalanya dia berkata lagi :
“Tidak bisa! Tidak bisa! Sudah terlalu lama aku meninggalkan Tin
kui, aku mesti pulang untuk menengok teman teman lama, selain itu
aku pun masih pingin menjadi raja di wilayah Barat daya selama
beberapa tahun lagi!”
Thi Eng khi segera maju ke muka sambil menjura katanya
kemudian :
“Kian tua, Eng khi merasa sangat membutuhkan bantuanmu
apalagi keberhasilanku sekarangpun berkat bimbinganmu, harap
Kian tua sudi mengabulkan permintaan ini!”
Wajah Bu im sin hong Kian Kim siang segera berseri seri, sambil
tertawa tergelak katanya :

1472
“Sudahlah, tak usah menempelkan emas lagi diwajahku, lohu tak
mau jual muka kepada siapa pun tapi saudara cilik begitu
memandang tinggi diriku, terpaksa aku pun harus menjual nyawa
tuaku ini untukmu!”
Sekali lagi Thi Eng khi menjura dalam dalam :
“Terima kasih banyak atas cinta kasih Kian tua!”
“Jangan berterima kasih, jangan berterima kasih,” Bu im sin hong
Kian Kim siang menggoyangkan tangannya berulang kali, “aku hanya
berharap kau memperketat pengawasanmu saja terhadap bocah
perempuan ini, asal dia tidak mencari gara gara lagi denganku, aku
sudah merasa berterima kasih sekali.”
Pek leng siancu So Bwe leng tertawa :
“Kian yaya, kau tak ingin menjadi raja barat daya lagi?” godanya.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera melotot besar,
“Urusan di barat daya sudah lohu atur semua, siapa sih yang
menyuruh kau banyak mulut?”
Pek leng siancu So Bwe leng segera membuat muka setan,
sambil memandang ke arah Bu im sin hong Kian Kim siang, dia cuma
tertawa belaka. Bu im sin hong Kian Kim siang segera berpaling dan
mengeluarkan sebuah tanda pengenal yang diserahkan kepada Hui
cun siucay Seng Tiok sian, kemudian katanya :
“Tiok sian, ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang lohu miliki,
sudah kuwariskan kepadamu, soal barat daya di kemudian hari pun
lohu serahkan penyelesaiannya kepada mu, bawalah tanda pengenal
ini dan beritahu kepada semua orang, kini lohu tak bisa memisahkan
diri, jadi untuk sementara waktu tak akan pulang ke wilayah barat
daya.”
Dengan wajah menjadi tegang, Hui cun siucay Seng Tiok sian
berseru :
“Boanpwe masih muda dan belum berpengalaman, mungkin aku
hanya akan menyia nyiakan kasih sayang supek saja!”

1473
“Saudara cilik Thi masih lebih muda daripadamu tapi dia toh
berkeberanian untuk memikul tanggung jawab yang berat, masa kau
sama sekali tidak berkeberanian untuk memikul tanggung jawab
sekecil ini?” kata Bu im sin hong Kian Kim siang dengan wajah
bersungguh sungguh.
Hui cun siucay Seng Tiok sian adalah seorang pemuda berdarah
panas, dia disulut oleh Bu im sin hong Kian Kim siang, tak tahan lagi
dia segera berseru :
“Boanpwe tak dapat membuat kau orang tua kehilangan muka,
baik aku akan turut perintah!”
Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa nyaring :
“Nah, begitu baru benar, sebagai seorang pemuda, kau harus
memiliki keberanian, aku percaya di bawah pimpinanmu, wilayah
barat daya sana pasti akan berjaya.”
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi :
“Sekarang, pulanglah dulu ke wilayah barat daya!”
Setelah berpamitan dengan para cianpwe dan kawanan jago yang
pernah hidup berjuang bersama, dengan berat hati Hui cun siucay
Seng Tiok sian menjanjikan saat perjumpaannya dengan Thi Eng khi
dan berangkat menuju wilayah See lam.
Setelah berpisah dengan Hui cun siucay Seng Tiok sian, Thi Eng
khi berunding kembali dengan keempat tokoh sakti dan sekalian
para jago, kemudian ditetapkan Bu im sin hong Kian Kim siang, Thi
Eng khi, Ciu Tin tin, So Bwe leng, Bu Nay nay, Bu Im, Unta sakti Lok
it hong, pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po serta Ban li tui
hong Cu Ngo sekalian berdelapan berangkat ke Sah si untuk
mengobrak abrik sarangnya Hian im Tee kun.
Saat kejadian ini, dengan puluhan hari mundur ke belakang.
Tempat kejadiannya, di luar kota Sah si sarang Hian im Tee kun si
gembong iblis tua itu. Sejak pertarungannya melawan Thi Eng khi
tempo hari, walaupun Hian im Tee kun berhasil melukai Thi Eng khi,
namun dia sendiripun tergetar oleh hawa pedang yang dipancarkan

1474
Thi Eng khi sehingga isi perutnya terluka, malahan separuh
lengannya terpapas kutung...
Atas terjadinya peristiwa ini, otomatis sikap angkuh Hian im Tee
kun yang menganggap dirinya sebagai Tokoh nomor wahid dikolong
langit pun menjadi pudar. Hian im Tee kun memang tidak malu
disebut seorang gembong iblis berpengalaman ternyata reaksinya
terhadap kenyataan tersebut cukup tajam. Mula pertama dia
menyelesaikan lebih dulu segala persoalan di istana Ban seng kiong,
kemudian seorang diri pulang ke markasnya untuk melatih beberapa
macam ilmu beracun sebagai persiapan menghadapi Thi Eng khi lagi
dikemudian hari.
Dua bulan lebih sudah dilewatkan, ilmu sakti yang dilatih Hian im
Tee kun pun menurut rencana sudah berakhir. Saat tersebut bukan
lain adalah saat dimana Thi Eng khi bersama para jago persilatan
berhasil menghancurkan istana Ban seng kiong, dan saat itu, Hian
im Tee kun sebetulnya sudah bersiap siap hendak berangkat ke
istana Ban seng kiong, pada saat itulah dia menjumpai Hiat im li Cun
Bwee kabur pulang dengan rambut yang kusut serta menceritakan
kisah kekalahan dan kehancuran istana Ban seng kiong. Menyusul
kemudian, Hian im li Ciu Lan pulang pula ke sarang tersebut.
Hian im Tee kun memang tak malu disebut gembong iblis tua
yang paling tersohor sejak ratusan tahun terakhir ini. Walaupun
mengalami pukulan sedemikian beratnya dan bagaimanapun
gusarnya dia, namun perasaan tersebut tak sampai diungkapkan
keluar. Dia hanya berkata dengan suara hambar :
“Sekarang, kalian pergilah beristirahat dulu, aku dapat mengatasi
sendiri persoalan ini.”
Kemudian Hian im Tee kun termenung seorang diri memikirkan
masalah tersebut, kemudian dipanggilnya kedua gadis itu dan
menyampaikan pesan kepada mereka, Hian im ji li segera berangkat
lagi meninggalkan tempat itu.
Menunggu Hian im ji li sudah pergi, kembali Hian im Tee kun
membenahi sekitar guanya, yang paling hebat adalah di sekitar
mulut gua dan lorong gua tersebut, dia menanamkan berapa puluh

1475
ribu kati obat peledak, asal ada orang berani memasuki gua itu,
niscaya obat peledak itu akan meledak dan mencabik cabik tubuh
korbannya.
Ternyata Hian im Tee kun adalah seorang yang amat teliti dan
cerdik, rupanya dia teringat kembali dengan kisah lolosnya Thi Eng
khi dari kurungan api di kuil kecil tempo dulu. Setelah dilakukan
penelitian yang seksama, akhirnya ditemukan cara pemuda tersebut
untuk meloloskan diri, maka serta merta diapun lantas menduga
kalau guanya ini sudah diketahui lawan.
Dimasa lalu, oleh sebab ada Huan im sin ang yang munculkan diri
dalam istana Ban seng kiong dengan wajahnya, sudah barang tentu
Thi Eng khi tak akan pikir sampai ke gua ini. Akan tetapi setelah
Huan im sin ang mati deminya dan seandainya rahasia penyaruan
dari Huan im sin ang diketahui orang, niscaya Thi Eng khi akan
teringat pada gua tersebut. Dan bila Huan im sin ang sudah mati
dan rahasianya diketahui pemuda itu, jikalau Thi Eng khi hendak
mencarinya, mungkin dia akan punya rencana untuk mendatangi
gua rahasia itu.
Walaupun kesemuanya itu hanya dugaan Hian im Tee kun
belaka, tapi kenyataannya memang berhasil tertebak semua
olehnya. Maka persiapan yang dilakukan olehnya untuk menghadapi
segala kemungkinan ini mendatangkan ancaman yang serius bagi
Thi Eng khi, bahkan membahayakan jiwa anak muda tersebut, cuma
kejadian ini berlangsung belakangan nanti, jadi untuk sementara
waktu tidak diceritakan dulu.
Sementara itu, Hian im Tee kun yang sudah selesai melakukan
persiapan di dalam sarangnya, di sepanjang jalan dia meninggalkan
tanda rahasia, dan membawa rencana busuknya yang sudah
dipersiapkan dengan matang, berangkatlah dia menuju ke wilayah
Siang kui.
Gembong iblis ini memang licik dan banyak akal muslihatnya,
sekalipun sudah puluhan tahun dia tak pernah munculkan diri dalam
dunia persilatan, padahal situasi dunia persilatan selama puluhan
tahun ini dikuasai olehnya dengan jelas sekali. Sekarang, dia sudah

1476
berencana untuk menguasai daerah pemukiman dari si Pembenci
raja akhir Kwik Keng thian. Perlu diketahui, tempat tinggal si
Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian ini terletak di tengah
pegunungan yang terpencil dengan sekelilingnya merupakan tanah
bukit yang tinggi, jalan menuju ke situ pun cuma satu yakni melalui
gua yang panjangnya puluhan li, boleh dibilang tempat itu selain
terpencil, rahasia pun mudah dalam pertahanan. Atau dengan
perkataan lain tempat itu merupakan markas besar umat persilatan
yang diidamkan setiap orang.
Bila perkampungan Huan keng san ceng dapat dikuasai pula
hingga tempatnya lebih strategis, usahanya untuk membangun
kembali istana Ban seng kiong dan bertarung melawan Thi Eng khi
akan semakin cerah. Hian im Tee kun terhitung seorang manusia
yang berakal licik dan berpengalaman luas, dia berhasil menyelidiki
dengan segala watak si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian. Maka
dengan membawa beberapa macam obat obatan yang langka dan
berperan sebagai seorang pencari obat, dia munculkan diri disekitar
tempat kediaman si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian...
Semenjak terjadi kesalahan paham yang tidak menyenangkan
dengan Thi Eng khi tempo hari, menyusul kemudian tersiar dalam
dunia persilatan tentang gugurnya Huang oh siansu di istana Ban
seng kiong serta pertarungan Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun.
Berhubung pertarungannya ini, Thi Eng khi menjadi ternama dan
menjadi lambang keadilan dunia persilatan. Tentu saja berita ini
tersiar pula ke dalam telinga si pembenci raja akhirat Kwik Keng
thian serta Jit gwat siang beng, dengan perbuatan Thi Eng khi yang
begitu mulia dan gagah, bila dikatakan pemuda itu adalah seorang
manusia rendah yang mengincar harta orang lain niscaya semua
orang tak akan percaya. Maka, si pembenci raja akhirat Kwik Keng
thian bersama Jit gwat siang beng dan Hui cun siucay Seng Tiok sian
sekali lagi mengadakan pemeriksaan dengan seksama.
Persoalan yang semula sudah disimpulkan, tapi berhubung sudah
memperoleh pandangan lain, maka penyelidikan dan kesimpulan
yang kemudian berhasil dikumpulkan membuktikan kalau mereka
telah salah menuduh Thi Eng khi. Dengan demikian, tanpa perantara
dari Bu im siang hong Kian Kim sing sebagai penengah pun mereka

1477
sudah mempercayai seratus persen atas perkataan dari Thi Eng khi
ini. Justru karena itu pula, Hui cun siucay Seng Tiok sian baru
membawa kuda Hek liong kou untuk dikembalikan kepada Thi Eng
khi selain mohon maaf darinya. Malah secara kebetulan pula dia
turut serta dalam penumpasan terhadap istana Ban seng kiong.
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sendiri, sehabis
mengutus Seng Tiok sian terjun ke arena persilatan, kemudian
mendengar pula tentang munculnya tokoh tokoh lama untuk
menyertai perjuangan menumpas Hian im Tee kun, diam diam
timbul pula semangat tuanya untuk ikut terjun pula ke dalam dunia
persilatan. Dalam hati kecilnya dia pun mengambil keputusan,
menanti Hui cun siucay Seng Tiok sian sudah kembali nanti, dia akan
melakukan pula pergerakan. Untuk mengisi waktu senggang mereka
sambil menunggu kedatangan Seng Tiok sian, si pembenci raja
akhirat Kwik Keng thian dan Jit gwat sian beng To bersaudara
rnengisi waktu dengan mengenang kembali kegagahan mereka di
masa silam. Ada kalanya, mereka pun turun gunung untuk berjalan
jalan, tidak mendekam terus seperti dulu lagi.
Hian im tee kun yang secara diam diam mengintip gerak gerik si
pembenci raja akhirat Kwik Keng thian selama banyak hari,
pengertiannya atas orang ini semakin mendalam, itulah sebabnya
dia dapat menciptakan kesempatan yang baik untuk mengulurkan
cengkeraman mautnya terhadap Kwik Keng thian. Berita tentang
ditumpasnya Ban seng kiong oleh Thi Eng khi, tersiar pula di sekitar
tempat tinggal mereka, akan tetapi oleh sebab beritanya tidak jelas,
hal mana tidak memuaskan hati si pembenci raja akhirat Kwik Keng
thian.
Pagi ini, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bersama To
bersaudara turun gunung menuju ke kota yang terdekat untuk
mencari berita. Siong tho adalah sebuah kota yang tidak begitu
besar, akan tetapi oleh sebab tempat itu merupakan urat nadi
perdagangan antar propinsi, maka manusia yang berlalu lalang
dikota itu amat banyak, rumah makan dan rumah penginapan pun
tak terhitung jumlahnya.

1478
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bersama Jit gwat siang
beng To bersaudara memasuki sebuah rumah makan yang disebut
Ban hoa lo, setelah berpesan beberapa macam sayur dia pun
bersantap bersama kedua orang rekannya. Tentu saja minum arak
bukan tujuan yang pertama, sebab tujuan mereka adalah mencari
kabar tentang ditumpasnya istana Ban seng kiong.
Sementara mereka sedang memasang telinga untuk mencari
kabar dari gemuruhnya suara pembicaraan orang, mendadak dari
arah anak tangga muncul seorang kakek berwajah putih yang
mengenakan jubah berwarna tembaga, pada pinggangnya
tergantung sebuah kantung obat dan sikapnya nampak seperti
dahaga dan lapar sekali.
Begitu muncul dihadapan mereka, dengan dialek Zhuchuan yang
medok dia bertanya :
“Masih ada tempat kosong?”
“Aaah, orang yang baru datang dari Zhuchuan!”
Ingatan tersebut segera melintas dalam benak pembenci raja
akhirat Kwik Keng thian hingga semangatnya segera bangkit, bahkan
dia pun hendak mencari kesempatan untuk dapat berdekatan
dengannya.
Sementara itu pelayan telah membawa tamu itu mencari tempat
duduk, jaraknya cuma selisih satu meja dengan tempat dimana si
pembenci raja akhirat Kwik Keng thian duduk, sekalipun diantaranya
terdapat dua meja lain, namun arahnya boleh dibilang saling
berhadap hadapan.
Setelah meneguk dua cawan arak, orang itu nampak lebih
bersemangat, malah mu¬lai mengalihkan pandangan matanya
mengawasi para tamu lainnya. Beberapa kali sorot matanya
memandang wajah si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, tapi
seperti tidak memperhatikan saja, dalam sekilas pandangan saja dia
lantas melengos ke arah lain......

1479
Waktu itu, si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sudah tidak
tahan ingin berkenalan dengannya. Mendadak kakek itu menarik
kembali sorot matanya sambil berseru :
“Pelayan!”
Sang pelayan mengiakan dan segera memburu mendekat,
tanyanya dengan cepat :
“Kek koan, kau ada urusan apa?”
“Lohu ingin mencari tahu tentang sebuah alamat, entah kau tahu
tidak?”
“Harap kek koan menyebutkan lebih dulu, bila hamba tidak tahu,
tentu akan kutanyakan kepada orang lain!”
“Baik!” seru si kakek sambil tertawa nyaring, “berdasarkan
ucapanmu barusan, lohu merasa perlu untuk menghadiahkan uang
sebesar lima tahil perak!”
Dari sakunya dia mengeluarkan lima tahil perak dan diletakkan
keatas meja, kemudian katanya lagi :
“Pelayan simpan dulu uang itu, kemudi¬an lohu baru akan
bertanya kepadamu.”
Daerah pedalaman memang tidak banyak orang kaya, apalagi
sekali memberi persen mencapai lima tahil perak, seingatnya belum
pernah kejadian ini pernah berlangsung. Tak heran kalau pelayan itu
dibuat gelagapan setengah mati, agak tergagap segera serunya :
“Kek koan ini….. ini… ini terlalu banyak, hamba… hamba tidak
berani….. tidak berani menerimanya....!”
Rupanya dia pun kuatir, kuatir kalau uang itu tidak gampang
untuk menerimanya. Sambil tertawa hambar kakek itu berkata :
“Kau tak usah kuatir, sekalipun pertanyaanku tak mampu kau
jawab lohu tak akan minta kembali uang tersebut!”
Dengan perkataan tersebut, pelayan tersebut baru berani
menerima uang tadi, bahkan agak emosi dia bertanya :
“Apa yang ingin kau tanyakan?”

1480
“Apakah disekitar tempat ini terdapat suatu tempat yang
bernama Lembah batu hitam?”
Pelayan itu memutar otaknya sambil berpikir beberapa saat,
kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali, ia berkata
:
“Hamba tidak mengetahui tentang tempat ini, harap kau orang
tua menunggu sebentar, hamba akan menanyakan kepada orang
lain.”
Selasai berkata dia membalikkan badan siap berlalu.
“Siau ji ko, kau tak usah pergi, lohu mengetahui alamat
tersebut....”
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian yang sudah tidak tahan
semenjak tadi segera menimbrung. Dengan senyum menghiasi
wajahnya, kakek itu segera menjura kepada si pembenci raja akhirat
Kwik Keng thian sambil ujarnya :
“Terima kasih banyak atas petunjuk lotiang, bagaimana kalau
kalian bertiga pindah kemari untuk minum bersama?”
Memanfaatkan kesempatan tersebut si pembenci raja akhirat
Kwik Keng thian dan Jit gwat siang beng To bersaudara segera
berpindah tempat. Kata si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian
sambil tertawa lebar :
“Lotiang datang dari jauh sebagai tamu, biarlah aku yang
menjadi tuan rumahnya.”
Dia lantas menitahkan kepada pelayan untuk menyiapkan
hidangan baru. Tapi kakek itu menampik dan bersikeras hendak
menjamu ketiga orang tamunya. Dengan wajah serius si pembenci
raja akhirat Kwik Keng thian segera berkata :
“Bila totiang menampik lagi, ini menunjukkan kalau kau
memandang rendah orang dusun dan tak sudi berteman!”
Setelah mendengar perkataan itu, si kakek baru tidak berbicara
lagi dan buru buru mengucapkan terima kasih kepada si pembenci

1481
raja akhirat Kwik Keng thian. Dalam pembicaraan selanjutnya yang
berlangsung lebih akrab, kakek itu mengaku bernama Ong See ing,
dia mengaku sebagai seorang umat persilatan yang tujuannya pergi
ke Hek Sik kok adalah mendapat pesan seseorang untuk mencoba
mencari semacam obat mustajab yang amat langka.
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menyebutkan nama
marganya tanpa menyinggung tentang nama lengkapnya sedangkan
Jit gwat siang beng To bersaudara malah mengatakan secara terang
terangan nama lengkap mereka. Dengan sikap yang hormat dan
serius Ong See ing memuji muji To bersaudara, pujian mana
membuat Jit gwat siang beng merasa gembira sekali.
Oleh karena sikap Jit gwat siang beng terhadap si pembenci raja
akhirat amat hormat maka keadaan ini memberitahukan pula kepada
Ong See ing bahwa kakek ter¬sebut berkedudukan amat tinggi.
Kesemuanya ini membuat sikap Ong See ing terhadap si pembenci
raja akhirat Kwik Keng thian pun makin menaruh hormat.
Manusia memang demikianlah, asalkan kedua belah pihak sudah
saling mengenal maka hormat menghormat pun akan tumbuh
apalagi penampilan Ong See ing yang luar biasa, selain menaruh
hormat kepada orang lain, dia sendiripun menampilkan sikapnya
yang anggun sehingga si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian pun
tak berani memandang rendah kepadanya.
Menggunakan kesempatan mana si pembenci raja akhirat Kwik
Keng thian menanyakan kisah cerita tentang keberhasilan Thi Eng
khi menumpas istana Ban seng kiong. Dengan mencorongkan sinar
tajam dan wajah berseri, Ong See ing berkata :
“Saudara Kwik, terus terang saja kukatakan, siaute ikut serta
didalam peristiwa besar itu.”
Kemudian secara ringkas diapun bercerita bagaimana dia
mengikuti Thi Eng khi menumpas istana Ban seng kiong. Si
pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menjadi kegirangan setengah
mati, seakan akan dia sendiripun turut serta didalam peristiwa besar
tersebut.

1482
Tiba tiba Ong See ing merendahkan suaranya sambil berbisik :
“Kedatanganku kali inipun sesungguhnya atas pesan dari Thi
sauhiap...”
Ketika berbicara sampai ditengah jalan sengaja dia menghentikan
perkataannya dan menantikan perubahan wajah dari si pembenci
raja akhirat Kwik Keng thian sekalian. Benar juga paras muka si
pembenci raja akhirat Kwik Keng thian agak berubah, katanya
dengan cepat :
“Apakah kau datang mencari seseorang?”
Berbicara sampai disitu, dengan kening berkerut dia lantas
berpikir kembali :
“Kalau dibilang lohu yang dicari, mengapa dia tidak menyuruh
anak Tiok?”
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa dia mengawasi beberapa kali
wajah Ong See ing dengan seksama. Sambil tersenyum Ong See ing
berkata :
“Lotiang memang hebat sekali, sekali tebak sudah dapat
menduga maksud kedatanganku!”
Tiba tiba dia memberi penjelasan lagi.
“Sebenarnya Hui cun siucay Seng sauhiap yang hendak
ditugaskan kembali ke rumah, akan tetapi berhubung Thi sauhiap
masih memerlukan bantuan dari Seng sauhiap oleh sebab itu
akhirnya akulah yang diutus kemari.”
Dengan adanya penjelasan tersebut, seketika itu juga kecurigaan
si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian menjadi hilang lenyap tak
berbekas katanya sambil tertawa nyaring :
“Kalau begitu akulah orang yang sedang saudara Ong cari, kalau
toh kau sebagai sahabat Thi sauhiap, akupun rasanya tak bisa
mengelabuhi dirimu lebih jauh.”
Ong See ing berlagak sangat terkejut serunya kemudian agak
tertahan :
“Apakah lotiang adalah Kwik tayhiap, Kwik Keng thian
tayhiap….?”

1483
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera tertawa
terbahak bahak :
“Haaahhh…. Haaahhh….haaahhh…… apabila lohu bersikap
kurang hormat, harap saudara Ong sudi memaafkan…..”
Buru buru Ong See ing menjura,
“Aku benar benar punya mata tak berbiji sehingga tidak
mengenali bukit Thay san, harap kau jangan menertawakan.”
Kedua orang itu segera tertawa terbahak bahak dengan
gembiranya, selang berapa saat kemudian, Ong See ing baru
mengeluarkan sebuah kotak kemala hijau dan diangsurkan ke
hadapan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sambil berkata :
“Tatkala Thi sauhiap berhasil menumpas istana Ban seng kiong,
dari dalam gudang harta Ban seng kiong telah ditemukan benda Pek
giok cian gi ini, itulah sebabnya aku diutus kemari untuk
mengembalikannya kepada Kwik tayhiap, sekalian menitipkan satu
persoalan.”
Sambil tertawa terbahak bahak si pembenci raja akhirat Kwik
Keng thian menerima kembali Pek giok cian gi tersebut, kemudian
setelah memandang sekejap ke arah Jit gwat siang beng To
bersaudara, katanya lagi :
“Thi sauhiap begitu berjiwa besar, kejadian ini benar benar
membuat lohu malu kepada orang yang telah tiada.”
Dengan perasaan si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian
sekarang, jangan lagi Thi Eng khi hanya meninggalkan satu pesan
saja, sekalipun beribu macam masalah pun tentu akan disanggupi
semua. Ong See ing memang pandai sekali melihat keadaan, tidak
sampai si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian bertanya la¬gi, dia
sudah berkata lebih jauh :
“Tempat ini banyak orang dan kurang leluasa untuk berbincang,
bagaimana kalau kita berpindah ke tempat yang lebih aman dan
tenang saja?”
Si Pembenci raja akhirat Kwik Keng thian segera menarik tangan
Ong See ing seraya berkata :

1484
“Lote, rumahku tak jauh letaknya dari sini, apabila kau tidak
menampik, bagaimana kalau kita berbicara di sana saja?"
Tenaga dalam Ong See ing sudah mencapai tingkatan yang luar
biasa sekali, hal ini membuat wajahnya kelihatan jauh lebih muda
ketimbang si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian. Sekarang, si
pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sudah menganggap istimewa
Ong See ing, dengan sendirinya diapun bersikap hangat seperti
terhadap sobat lama saja. Mengikuti sikap raja akhirat Kwik Keng
thian, Ong See ing pun turut berganti sebutannya :
“Saudara Kwik, inilah keinginan siaute sebelum jauh jauh datang
kemari, harap saudara Kwik membawa jalan."
Mereka berempat segera berangkat meninggalkan loteng Ban hoa
lo, diiringi perbincangan yang hangat dan gelak tertawa yang riang
gembira berangkatlah mereka menuju ke tempat kediaman si
pembenci raja akhirat Kwik Keng thian.
Di tengah jalan Ong See ing menuturkan pula maksud
kedatangannya ke situ. Menurut penuturan Ong See ing, dalam
pertarungan menumpas istana Ban seng kiong, walaupun Thi Eng
khi berhasil menumpas semua gembong iblis yang berada disitu,
namun pentolannya berhasil kabur, sehingga hal ini menambah
ancaman bagi dunia persilatan.
Kemudian diperoleh kabar yang mengatakan Hian im Tee kun
telah kabur ke situ, maka diapun sengaja diutus kemari untuk
membantu si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian dalam usahanya
menghimpun para jago yang berada di sekitar sana untuk bersama
sama menghadapi Hian im Tee kun.
Di samping itu, Hian im Tee kun pun konon berhasil membuat
semacam obat beracun yang mematikan bila terkena tubuh manusia,
itulah sebabnya si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian diminta
menyelidiki obat pemunahnya sebagai persiapan bila digunakan
dikemudian hari...
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian yang pernah menuduh
Thi Eng khi dimasa silam, selalu menyesal di hatinya, maka untuk

1485
menebus kesalahan ini, apa saja yang dikehendaki Thi Eng khi
segera dipenuhinya.
Setibanya di dalam lembah Hek sik kok, si pembenci raja akhirat
Kwik Keng thian segera mencari suatu tempat yang tenang,
kemudian membawa obat racun dari Hian im Tee kun yang
diserahkan Ong See ing kepadanya itu untuk diselidiki obat
penawarnya.
Di samping itu, diapun berpesan kepada Jit gwat siang beng To
bersaudara agar menyebarkan Eng hiong tiap dan mengundang
segenap jago yang tinggal diseputar situ untuk bersama sana
berkumpul di perkampungan Huan keng san ceng sambil menuruti
perintah Ong See ing. Begitulah, dengan suatu cara yang sangat
sederhana, Ong See ing berhasil menghimpun suatu kekuatan baru.
Tak lama kemudian Thi Eng khi mengutus datang pula beberapa
jago lihay yang semuanya terjebak oleh tipu muslihat Ong See ing
dan dikendalikan olehnya.
Si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian sendiri sepanjang hari
sedang dibikin pusing oleh persoalan pelik yang dia¬jukan Ong See
ing tersebut, siang malam ia selalu bekerja keras untuk menyelidiki
obat penawar racun, otomatis diapun tidak mengetahui kalau para
jago yang berada di sekitar daerah itu sudah terjebak semua oleh
tipu muslihat Ong See ing. Walaupun akhirnya Jit gwat siang beng
To bersaudara melihat kalau gelagat kurang beres, tapi oleh sebab
mereka tidak berkekuasaan apapun, ditambah pula selalu diawasi
oleh Ong See ing secara ketat, maka kecuali memperalat mereka
untuk mempengaruhi para jago, mereka tak mampu berbuat apa
apa.
Begitulah, Hian im Tee kun berhasil menginjakkan kakinya di
wilayah See lam. Dalam keadaan seperti inilah, Hui cun siucay Seng
Tiok sian pulang ke lembah Hek sik kok, tempat tinggal gurunya
dengan menunggang kuda Hek liong kou nya. Ong See ing sama
sekali tidak menyangka kalau Hui cun siucay Seng Tiok sian dapat
kembali sedemikian cepatnya.

1486
Hui cun siucay Seng Tiok sian sendiri mimpi pun tidak menyangka
kalau daerah yang bakal dikembangkan olehnya dikangkangi orang
lain. Semenjak tiba di kota Bau sian, Hui cun siucay Seng Tiok sian
sudah merasakan ketidak beresan tersebut. Sebagai seorang
pemuda yang cerdas, setelah melihat kecurigaan mana maka Hui
cun siucay Seng Tiok sian memutuskan untuk tidak pulang secara
langsung melainkan kembali dulu ke rumahnya sendiri. Tempat ini
tak lain adalah tempat di mana untuk pertama kalinya Hui cun siucay
Seng Tiok sian berkenalan dengan Thi Eng khi.
Walaupun perencanaan dari Hian im Tee kun sangat cermat dan
seksama, namun ia sama sekali tidak menduga kalau Hui cun siucay
Seng Tiok sian masih mempunyai rumah lain, salah perhitungan
yang amat kecil ini membuat Hui cun siucay Seng Tiok sian berhasil
lolos dari bencana kematian.
Ketika Hui cun siucay Seng Tiok sian pulang ke rumah sendiri,
pembantunya Seng Liang segera menggelengkan kepalanya dan
menghela napas seraya berkata :
“Kongcu, sahabatmu Thi ciangbunjin jelas bukan seorang
manusia baik baik!”
“Seng Liang,” tegur Hui cun siucay Seng Tiok sian sambil
berkerut kening, “apa maksud perkataanmu itu? Seandainya aku
tidak memandangmu sebagai orang tua dari keluarga Seng kita, aku
sudah bersikap tidak sungkan sungkan lagi kepadamu.”
Dengan wajah sedih Seng Liang berkata :
“Kongcu, aku Seng Liang tidak akan berkata demikian seandainya
aku tidak melihatmu semenjak masih kecil dulu tumbuh hingga
dewasa, hamba pun sudah ba¬nyak menerima budi kebaikan dari
loya berdua, untuk itu, walaupun kongcu hendak membunuhku pada
hari ini, hamba tetap bersikeras hendak mengutarakan keluar semua
uneg uneg didalam hatiku!"
Menyaksikan kesetiaan Seng Liang tersebut, Hui cun siucay Seng
Tiok sian segera menghela napas panjang.

1487
"Baiklah asal ucapanmu itu cengli, aku tak akan menjadi marah,
akan tetapi bila ucapanmu itu ngaco belo tak karuan, selanjutnya
kau pun tak usah berbincang bincang lagi denganku!"
"Kongcu!" kata Seng Liang kembali dengan serius, "apabila kau
menganggap ucapan hamba tidak seharusnya diutarakan, hamba
pun tak akan memperepotkan kongcu, aku bisa menempuh
perjalananku sendiri... "
Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak berbicara lagi, dengan tenang
dia menantikan kata kata berikutnya dari Seng Liang. Sekali lagi
Seng Liang menghela napas panjang, lalu berkata :
“Wilayah barat daya kita ini sudah dibikin kacau tak karuan oleh
orang orang yang diutus oleh Thi sauhiap!”
“Thi sauhiap telah mengirim orang? Siapakah dia?” tanya Hui cun
siucay Seng Tiok sian dengan wajah tertegun.
“Dia mengaku bernama Ong See ing, apakah kongcu tidak kenal
dengan orang ini?”
Hui cun siucay Seng Tiok sian segera berteriak keras keras :
“Sejak aku berpisah dengan Thi ciangbunjin, sepanjang jalan
tanpa berhenti langsung pulang kemari, bila kuketahui tentang
peristiwa ini, buat apa kutanyakan lagi kepadamu?”
“Sudah hampir dua bulan lebih Thi sauhiap mengutuskan orang
datang kemari, sekarang semua jago dari sekitar tempat ini telah
terjatuh ke tangannya, suasana yang kacau balau tidak seperti
beberapa waktu berselang lagi.”
“Sudah dua bulan lebih?” Hui cun siu¬cay Seng Tiok sian
bergumam seorang diri.
“Waktu yang lebih tepat adalah dua bulan lebih delapan belas
hari,” Seng Liang menerangkan lebih jelas lagi.
Dengan wajah serius dan nada yang panik Hui cun siucay Seng
Tiok sian segera berseru:

1488
“Tujuh puluh delapan hari berselang Thi ciangbunjin masih
berada dalam keadaan sakit, pada waktu itu hakekatnya dia tidak
mencampuri urusan apa pun. disamping itu tiada seorang manusia
pun diantara para jago yang bernama Ong See ing.”
Kemudian setelah berjalan bolak balik sambil termenung tiba tiba
ia bertanya lagi :
“Seng Liang, apakah kau pernah bersua dengan manusia yang
bersama Ong See ing itu?”
“Dari kejauhan aku pernah melihat dirinya satu kali, dia
mengenakan jubah berwarna tembaga dengan usia sekitar enam
puluh tahunan, wajahnya putih bersih tanpa berkumis, semangatnya
segar seperti pemuda tapi berwajah penuh kewibawaan.”
Hui cun siucay Seng Tiok sian termenung sebentar, lalu tanyanya
lebih jauh :
“Ciri khas apa lagi yang dimilikinya? Seperti kedua belah
tangannya apakah mempunyai kelainan?”
“Dia selalu mengenakan jubah yang lebar dengan
menyembunyikan sepasang tangannya dibalik pakaian, belum
pernah ada orang yang menyaksikan bentuk lengannya.”
“Selain Ong See ing, masih ada siapa lagi?”
“Konon yang diutus kemari semuanya sudah berusia lanjut, tapi
hamba pernah menyaksikan ada seorang gadis yang masih muda
dan cantik lagi, hamba lihat hubungannya dengan Un sangat
akrab...”
“Apakah tiada dua orang gadis muda?”
“Yang terlihat sekarang baru seorang, mungkin rekannya belum
sampai sini. Apakah kongcu kenal baik dengan mereka?”
Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak menjawab pertanyaannya
dari Seng Liang tersebut, hanya dalam hati kecilnya diam diam ia
berpikir keras :

1489
“Heran, di antara Hian im ji li, mengapa baru seorang yang
munculkan diri?”
Melihat majikannya Hui cun siucay Seng Tiok sian tidak
menjawab, Seng Liang segera sok pintar, katanya lagi :
“Bagaimanakah watak nona Un, kau bersua dengan mereka
nanti, lebih baik berlagaklah seakan akan belum pernah mengenal.”
Baru saja Seng Liang menyelesaikan kata katanya, dari luar pintu
sana sudah terdengar suara ujung baju yang terhembus angin
berkumandang datang. Buru buru Hui cun siucay Seng Tiok sian
menggoyangkan tangannya mencegah Seng Liang berkata lebih
lanjut. Sesaat kemudian terdengar seseorang berseru dari luar pintu
:
“Engkoh Tiok, kau ada di rumah?”
Bayangan merah berkelebat lewat, nona Ting Un dengan
mengenakan baju berwarna merah sudah menyelinap masuk ke
dalam ruangan. Dengan senyuman dikulum Hui cun siu¬cay Seng
Tiok sian segera menyongsong kedatangannya seraya menegur :
“Adik Un, darimana kau tahu kalau aku sudah kembali?”
Ting Un tertawa katanya :
“Sanjin merasa hati berdebar, maka setelah dihitung hitung,
kuketahui bahwa kau telah datang.”
“Ooooh, kau mendapat tahu dari mulut mereka?”
“Kalau toh sudah pulang, mengapa kau tidak datang menengok
diriku....?” seru Ting Un lagi dengan wajah mendongkol.
Melihat gadis itu sengaja mengalihkan pembicaraan ke arah lain,
dengan perasaan gelisah dia mendepak depakan kakinya berulang
kali seraya berseru :
“Adik Un, sekarang bukan waktunya untuk mengumbar watak
nonamu, kau harus tahu Ong See ing sesungguhnya adalah hasil
penyaruan dari Hian im Tee kun, cepat katakan kepadaku, apakah
ada orang yang sengaja memberitahukan kepadamu bahwa aku
telah pulang?”

1490
Begitu mendapat tahu kalau Ong See ing adalah Hian im Tee
kun, Ting Un merasa terkejut sekali serunya kemudian cepat cepat :
“Tapi apa sangkut pautnya dengan kita?”
“Sangkut pautnya besar sekali orang justru memperalat dirimu
untuk mengajak mereka datang kemari!”
“Yaa, mungkin aku benar benar sudah terjebak oleh siasat budak
itu,” seru Ting Un kemudian sambil menyumpah nyumpah.
Baru selesai dia berkata, dari luar pintu sudah kedengaran
seseorang berseru :
“Sayang sekali terlalu lambat kau mengetahui akan hal ini....”
“Siapa diluar?” bentak Hui cun siucay Seng Tiok sian setengah
menghardik.
Dengan cepat dia menarik Ting Un kebelakang tubuhnya,
sementara senjata kipas emasnya sudah dicabut keluar, hawa murni
segera dihimpun dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan
yang tidak diinginkan. Ting Un dan Seng Liang yang berdiri
di¬belakang Hui cun siucay Seng Tiok sian serentak meloloskan pula
senjata masing masing untuk menghadapi segala kemungki¬nan.
Nona Ting Un mempergunakan sebilah pedang Gin kong kiam,
sedangkan senjata andalan Seng Liang adalah sebilah golok raksasa.
Pada saat itulah dari luar pintu berjalan masuk Hian im li Cun Bwee,
sambil berdiri ditepi pintu dan memandang ke arah Ting Un katanya
sambil tertawa dan manggut manggut tiada hentinya,
“Adik kecil, enci mesti berterima kasih kepadamu, coba kalau kau
tidak bertindak sebagai petunjuk jalan, enci tak pernah akan
menyangka kalau Seng tayhiap memiliki rumah yang begini indah
disini...... "
"Hmmm!” Ting Un mengumpat keras keras, “sekarang kedok
palsu kalian sudah terbongkar, kami jago jago dari See lam tidak
akan percaya lagi dengan kalian.”

1491
“Siapa bilang kedok kami sudah terbongkar?” Hian im li Cun
Bwee tertawa licik.
“Tentu saja, sebab kami sudah mengetahui identitas kalian yang
sebenarnya!”
Hian im li Cun Bwee segera tertawa terkekeh kekeh.
“Heeehhh... heeehhh.... heeehhh... walaupun kalian bertiga tahu
akan persoalan ini, namun aku yakin kalian tak akan mampu untuk
mengatakan kepada siapa pun.”
“Hmmmm, setan baru tak bisa berbicara!” seru nona Ting Un
sambil menarik wajahnya.
Buru buru Hui cun siucay Seng Tiok sian mengerahkan ilmu
menyampaikan suaranya memperingatkan Ting Un dan Seng Liang :
“Kalian harus berhati hati, mereka hendak membunuh orang
untuk melenyapkan saksi, lebih baik kalian saksikan saja cara
kerjaku, siapa tahu dengan cara itu kita masih bisa lolos dari
kepungan ini... ”
Ketika Hian im li Cun Bwee menyaksikan Hui cun siucay Seng
Tiok sian berkemak kemik tanpa kedengaran suaranya, sadarlah dia
bahwa lawan lawannya tak akan takluk dengan begitu saja, maka
sambil tertawa seram katanya :
“Seng sauhiap, aku lihat kau tak usah membuang waktu dan
tenaga dengan percuma, kalian tak akan mempunyai kesempatan
lagi untuk meloloskan diri dari sini!”
Berbicara sampai disitu dia lantas berpekik nyaring, menyusul
suara pekikan itu dari sekeliling bangunan rumah itupun bergema
suara sahutan yang nyaring. Hal ini menunjukkan kalau Hui cun
siucay Seng Tiok sian sekalian sudah terkepung rapat rapat. Setelah
bergemanya suara pekikan itu, sambil tertawa kembali Hian im li Cun
Bwee berkata :
“Orang orang yang berada diluar rumah merupakan komplotan
kepercayaan dari Hian im Tee kun, tak seorangpun diantara mereka
merupakan sahabat kalian.”

1492
“Tidak kabur yaa tidak kebur, siapa sih yang takut kepadamu?”
seru Ting Un sangat gusar.
Perkataannya ini sangat polos dan lucu, dianggapnya sangat lihay
dan tidak kuatir menghadapi kepungan tersebut. Padahal dalam
pendengaran orang lain, hal ini sangat menggelikan sekali.
“Saat ini, hanya ada dua jalan yang dapat kalian tempuh!” kata
Hian im li Cun Bwee lebih jauh.
Hui can siucay Seng Tiok sian pernah menderita kerugian di
tangan Hian im li Cun Bwee, diapun cukup mengetahui akan
kelihayannya, semenjak kemunculan perempuan iblis tersebut, dia
jarang sekali berbicara, sementara otaknya berputar terus mencari
akal bagaimana caranya meloloskan diri dari situ, itulah sebabnya
dia membiarkan Ting Un berteriak teriak tiada hentinya. Tapi kalau
dilihat dari situasi yang berada didepan mata, nampaknya mereka
sudah tidak memiliki kesempatan apapun untuk meloloskan diri dari
situ.
Dalam keadaan demikian, timbullah gagasan Hui cun siucay Seng
Tiok sian untuk beradu jiwa dengan lawannya, sambil tertawa
terbahak bahak dia lantas berseru :
“Haaahhhh... haaahhhh..... haaahhhh.... siluman perempuan,
kepandaianmu sudah pernah kurasakan, sekarang kita pun tak usah
banyak berbicara lagi, lihat serangan!”
Dengan mengerahkan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang
lihay, dia menyelinap ke hadapan Hian im li kemudian senjata kipas
emasnya dengan disertai segulung tenaga serangan yang sangat
kuat langsung membacok pinggang Hian im li Cun Bwee. Mimpi pun
Hian im li Cun Bwee tak pernah menyangka kalau Hui cun siucay
Seng Tiok sian pernah mempelajari ilmu Hu kong keng im, gara gara
keteledorannya hampir saja dia termakan oleh serangan lawan.
Berada dalam keadaan seperti ini, kontan saja dia kena terdesak
oleh sapuan kipas emas Hui cun siucay Seng Tiok sian sehingga
mundur ke samping. Dengan cepat Hui cun siucay Seng Tiok sian
menyerbu ke depan pintu dan menghadang jalan mundurnya.

1493
Agaknya Hian im li Cun Bwee sudah dapat menduga maksud hati Hui
cun siucay Seng Tiok sian, dengan cepat dia berjalan ke arah
tengah, lalu sambil melirik sekejap wajah ketiga orang itu dengan
pandangan sinis. Katanya sambil tertawa dingin :
“Hanya mengandalkan kalian bertiga sudah ingin mengancam
diriku? Huuuh......kalian masih ketinggalan jauh sekali….”
Selesai berkata dia lantas merentangkan sepasang tangannya,
seakan akan sedang berkata begini :
“Untuk menghadapi kalian, aku tak perlu mempergunakan
senjata lagi.”
Ting Un sudah memperoleh segenap warisan ilmu keluarganya,
dalam lingkungan perkampungan Huan keng san ceng terhitung
seorang manusia yang luar biasa. Dengan keadaan seperti ini, tak
heran kalau dia mempunyai pandangan tidak tahu tingginya langit
dan tebalnya bumi. Dialah yang pertama tama tidak tahan dulu
menghadapi sikap angkuh dari Hian im li Cun Bwee.
Pedang Gin kong kiamnya segera dimasukan kembali ke dalam
sarungnya, lalu serunya sambil tertawa dingin :
“Nonamu tak ingin mencari keuntungan diatas senjata, akan
kusuruh kau sadari bahwa di atas langit masih ada langit, diatas
manusia masih ada manusia lain!”
Gadis ini memang berwatak demikian begitu ingin bertarung
lantas turun tangan dengan cepat. Sambil bertekuk pinggang dia
melompat ke depan, lalu dengan jurus Giok li tou huan (gadis suci
masuk ke dalam pelukan) dia menyambarkan telapak tangannya ke
depan menghantam jalan darah Jit kan hiat di dada Hian im li Cun
Bwee.
Hui cun siucay Seng Tiok sian cukup mengetahui akan kelihayan
Hian im li Cun Bwee, melihat nona Ting Un bersikap tak tahu diri, dia
sadar dalam satu gebrakan pun nona ini bakal menderita kerugian di
tangan lawannya maka sambil berkerut kening bentaknya keras
keras :
"Lihat serangan!"

1494
Lagi lagi dia menyelinap maju ke depan nona Ting Un dengan
gerakan Hu kong keng im lalu menghalangi dihadapannya sehingga
nona Ting Un tak mampu melanjutkan serangannya, kemudian
tangannya bergerak cepat memainkan jurus Hong seng im tong
(angin muncul awan bergerak) menciptakan selapis bayangan kipas
yang bersama sama membabat pinggang Hian im li Cun Bwee.
Jilid 46
Tujuannya yang terutama di dalam melancarkan serangan ini
adalah untuk menyelamatkan nona Ting Un dari kegegabahannya
melancarkan serangan, karenanya sementara tangan kanan
melepaskan serangan, tangan kirinya dipergunakan untuk menahan
nona Ting Un agar tidak maju lebih ke muka.
“Adik Un,” teriaknya keras keras, “untuk menghadapi manusia
jahat seperti ini, lebih baik kita bertiga sama sama mencabut
senjata…”
Maksud dari teriakannya itu adalah menyadarkan nona Ting Un
agar secepatnya meloloskan pedangnya.
Hian im li Cun Bwee sendiri ketika menyaksikan sikap Ting Un
begitu polos dan kekanak kanakan, bahkan ingin menghadapinya
dengan tangan kosong belaka, dengan perasaan geli dia lantas
berhenti bergerak, dia ingin melihat dulu gerak serangan dari
lawannya sebelum turun tangan meringkus gadis tersebut.
Menurut perhitungannya, seandainya Ting Un berhasil dibekuk
dan dijadikan sandera, niscaya dia tak perlu repot repot lagi untuk
melangsungkan pertarungan. Siapa tahu Hui cun siucay Seng Tiok
sian sangat menguatirkan keselamatan Ting Un dan tiba tiba saja
menyerobot maju ke depan sambil melepaskan serangan.
Tatkala Hui cun siucay Seng Tiok sian mempergunakan gerakan
Hu kong keng im untuk pertama kalinya tadi, oleh karena
kecepatannya diluar dugaan Hian im li Cun Bwee, maka walaupun
tenaga dalam yang dimiliki gadis itu cukup lihay, namun berhubung

1495
dia tak tahu kalau ilmu Hu kong keng im yang dipelajari Hui cun
siucay Seng Tiok sian sudah mencapai pada kesempurnaan, dalam
gugupnya dia kena terdesak mundur sejauh tiga langkah lebih.
Sebagai gadis yang cerdik, Ting Un segera dapat merasakan
betapa kasihnya Hui cun siucay Seng Tiok sian untuk melindungi
keselamatannya tadi, dia menjadi terperanjat. Sekarang dia baru
menduga kalau Hian im li adalah seorang manusia yang sukar
dihadapi, itulah sebabnya Hui cun siucay Seng Tiok sian baru
menghadang dihadapannya untuk melindungi keselamatan
jiwanya….. Maka setelah mundur ke belakang, dengan cepat dia
meloloskan kembali pedang Gin kong kiamnya untuk bersiap sedia
menghadapi segala kemungkinan.
Setelah bergeser tiga langkah ke samping, Hian im li Cun Bwee
segera mendengus dingin seraya berseru :
“Baru berpisah beberapa hari, kemajuan yang kauperoleh benar
benar pesat sekali, sejak kapan kau berhasil mempelajari ilmu
gerakan tubuh Hu kong keng im nya si Kian tua?”
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lagi :
“Dengan dasar kepandaian silat yang kau miliki sudah pingin
pelajari ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im? Hmmm, aku lihat
akhirnya toh tiada gunanya juga.”
Telapak tangannya segera diayunkan ke depan melancarkan
sebuah pukulan dahsyat yang membuat bayangan kipas dari Hui cun
siucay Seng Tiok sian tergetar keras dan mencelat ke samping.
Diantara kalangan angkatan muda, Hui cun siucay Seng Tiok sian
termasuk seorang jagoan yang menonjol, apalagi setelah
memperoleh banyak kebaikan dari Bu im sin hong Kian Kim siang
selama berada di istana Ban seng kiong, tenaga dalamnya boleh
dibilang sudah maju setapak lagi. Siapa tahu serangan yang
dianggapnya cukup dahsyat tersebut dalam kenyataannya berhasil
dipunahkan oleh Hian im li Cun Bwee dengan sangat gampang, ini
menyebabkan hatinya tercekat, segera bentaknya keras keras :
“Adik Un, Seng Liang, mari kita maju bersama sama.”

1496
Dengan jurus Keng to pak an (ombak dahsyat memecah ditepian)
kipas emasnya disodok kembali menyerang Hian im li Cun Bwee.
Seng Liang dengan mengayunkan golok raksasanya memainkan
jurus Heng sau cian kun (menyapu rata seribu prajurit), segulung
desingan angin golok segera menyambar di udara dengan amat
dahsyat…..
Nona Ting Un tidak ambil diam, pedang Gin kong kiamnya
memainkan jurus Tin go ci hou (Tin go menusuk harimau) dan
memancarkan serentetan cahaya perak yang amat menyilaukan
mata. Tampak Hian im li Cun Bwee memutar badannya dua
lingkaran serta menghindarkan diri dari sambaran pedang Gin kong
kiam dari nona Ting Un dan bacokan golok dari Seng Liang,
kemudian tiba tiba saja dia memutar pergelangan tangannya dan
secara beruntun melepaskan tiga jurus serangan berantai ke arah
Hui cun siucay Seng Tiok sian.
Ketiga jurus serangan ini dilancarkan dengan kecepatan luar
biasa dan disertai kekuatan yang amat dahsyat, arah yang
diserangpun berupa jalan darah penting diseluruh badan Hui cun
siucay Seng Tiok sian, kontan saja pemuda itu terdesak sehingga
mundur empat langkah ke belakang. Begitu berhasil mendesak
mundur Hui cun siucay Seng Tiok sian, Hian im li Cun Bwee
membalikkan lengan dan bertekuk pinggang, tangan kiri serta
tangan kanannya digerakkan bersama sama, lagi lagi dia berhasil
mendesak mundur nona Ting Un dan Seng Liang sejauh tujuh
langkah lebih dalam satu gebrakan saja.
Selesai mendesak mundur Hui cun siucay Seng Tiok sian, nona
Ting Un dan Seng Liang bertiga mendadak Hian im li Cun Bwee
membentak nyaring :
“Sekarang, kalian pun saksikan kelihayanku ini!”
Mendadak dia melompat ke tengah udara, kemudian tubuhnya
bergerak lemas seperti daun yang liu yang bergoyang terhembus
angin, tahu tahu sesosok bayangan manusia sudah berkelebat di
dalam ruangan itu. Hui cun siucay Seng Tiok sian segera mengerti
bahwa Hian im li Cun Bwee bermaksud memamerkan kekuatan
tenaga dalamnya dalam gerakan ini, dia tidak berani berayal lagi,

1497
sambil mengembangkan ilmu Hu kong keng im nya yang lihay, dia
bergerak mengikuti perubahan lawan.
Tiba tiba saja dari dalam ruangan bergulung lewat angin puyuh
yang menderu deru, hawa serangannya maha dahysat tersebut
segera memancar ke empat penjuru. Bayangan kipas, cahaya
pedang, sinar golok, angin pukulan seketika bercampur aduk
menjadi satu, suatu pertarungan yang sengit dan menggidikkan hati
pun berlangsung di sana.
Kurang lebih seperminum teh kemudian, mendadak terdengar
Seng Liang menjerit keras dan.....
“Traaaang!” golok raksasanya terhajar oleh pukulan Hian im li
Cun Bwee sehingga mencelat ke belakang dan jatuh ke tanah.
Sementara orangnya ikut terhajar pula sampai mundur sejauh lima
langkah lebih, akhirnya dia jatuh terduduk ke tanah dan
memuntahkan darah segar.
Pada saat Seng Liang menderita luka, nona Ting Un menjerit pula
dengan suara keras, pedang Gin kong kiamnya terlepas dari tangan
dan tubuhnya mundur ke sudut ruangan dengan wajah pucat pias
seperti mayat dan napas tersengkal sengkal, akhirnya setelah
bersandar di dinding dengan tubuh gemetar, ia jatuh terduduk ke
atas tanah.
Rupanya jalan darah Cian keng hiatnya sudah terhajar Hian im li
Cun Bwee sehingga gadis tersebut kehilangan kemampuannya untuk
melanjutkan pertarungan. Walaupun demikian, masih untung isi
perutnya tidak sampai terluka parah, namun begitu si nonapun
untuk sementara waktu tak dapat menerjunkan diri lagi dalam arena
pertarungan. Setelah berhasil melukai dua orang lawannya, kini Hian
im li Cun Bwee tinggal menghadapi Hui cun siucay Seng Tiok sian
seorang saja. Dengan kemampuan yang dimiliki Hui cun siucay Seng
Tiok sian, bayangkan saja bagaimana mungkin dia bisa menandingi
kelihayan Hian im li Cun Bwee?
Untung saja dia baru mempelajari ilmu Hu kong keng im yang
sangat lihay, sehingga kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Hian

1498
im li cukup lihay, untuk sesaat dia tak mampu merobohkan
lawannya. Tapi hal itu sudah jelas tertera pula menang atau kalah
adalah masalah waktu belaka.
Kecuali Bu im sin hong Kian Kim siang, ketua Siau lim pay Ci long
siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang bertiga yang selama
hidup tak pernah menunggang kuda, atau para jago anggota Siau
lim pay dan Bu tong pay kurang leluasa menunggang kuda, maka
Thi Eng khi, Pek leng siancu So Bwe leng, si pengemis sakti bermata
harimau Cu Goan po, Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong, si Unta
sakti Lok It hong serta kakak beradik Bu Nay nay dan Bu Im
bersama sama menunggang kuda jempolan dan menuruni bukit Ban
seng kiong menuju ke kota Sah si dimana sarang Hian im Tee kun
berada.
Tentu saja Thi Eng khi telah menunggang kuda kesayangannya
Hek liong kou lagi. Bu im sin hong Kian Kim siang, ketua Siau lim
pay Ci long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang bertiga
tetap berjalan kaki mengikuti dibelakang.
Bagi penglihatan umat persilatan, jarak dari Ban seng kiong yang
berada di bukit Wu san sampai di kota Sah si tidak termasuk suatu
perjalanan yang terlampau jauh, apalagi dengan menunggang kuda
tanpa berhenti, tak sampai berapa hari kemudian mereka sudah tiba
di tempat tujuan. Sekarang mereka melakukan tindakan kilat,
bagaikan segulung angin puyuh, seluruh daerah di sekitar sarang
Hian im Tee kun sudah terkepung rapat rapat.
Begitu melayang turun dari kudanya, semua orang mengepung
pohon besar dimana mulut masuknya terletak, kemudian setelah
berunding sejenak, diputuskan Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian
Kim siang berdua yang melakukan penyelidikan lebih dulu.
Sedangkan sisanya dipimpin oleh Ciu Tin tin, bertugas untuk
mencegah usaha Hian im Tee kun kabur dari situ.
Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang dengan cepat
melompat masuk ke balik batang pohon dan lenyap dari pandangan
mata. Dengan Thi Eng khi berjalan di muka, Bu im sin hong Kian Kim
siang menyusul dibelakangnya, secepat kilat mereka sudah selesai

1499
menelusuri lorong rahasia itu. Dihadapan mereka sekarang sudah
nampak cahaya terang yang memancar keluar dari balik gua.
Pintu gua berada dalam keadaan terbuka lebar, seperti apa yang
dilihat Thi Eng khi tempo hari, keadaannya sama sekali tidak
berubah, cahaya itu memancar keluar dari balik penyekat dan
menyinari sebagian dari lorong rahasia tersebut. Setibanya di depan
pintu gua, Thi Eng khi bersiap siap akan menerjang masuk secara
langsung. Tapi Bu im sin hong Kian Kim siang yang berpengalaman
segera menarik tangan Thi Eng khi dan berbisik dengan ilmu
menyampaikan suara :
“Saudara cilik, harap tunggu sebentar! Hian im Tee kun bukan
manusia sembarangan, pintu gua yang terbentang lebar lebar ini
cukup mencurigakan sebab sama sekali berlawanan dengan kejadian
yang wajar, kita tak boleh menyerempet bahaya tanpa perhitungan,
dari pada akhirnya mesti menderita kerugian besar.”
Merah jengah selembar wajah Thi Eng khi setelah mendengar
perkataan itu, katanya kemudian :
“Perkataan Kian tua memang benar, dari pada kita terperangkap
oleh tipu muslihatnya, lebih baik kita tantang saja gembong iblis
tersebut secara terang terangan.”
“Betul, kita tantang saja secara terang terangan, agar gembong
iblis tua itu terperanjat.”
Thi Eng khi segera menghimpun tenaga dalamnya, kemudian
berseru dengan nyaring :
“Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi datang
menyambangi Hian im Tee kun!”
Suaranya yang keras dan nyaring segera menggema ke dalam
gua tersebut, lama sekali suara itu mendengung, akan tetapi tidak
terdengar seorang manusia pun yang memberi tanggapan. Dengan
kening berkerut Thi Eng khi segera berseru :
“Jangan jangan Hian im Tee kun sudah merasakan gelagat tidak
beres dan melarikan diri?”

1500
Dengan suara menggeledek Bu im sin hong Kian Kim siang turut
berteriak lantang :
“Gembong iblis tua, jika kau tidak menjawab, lohu akan
menyerbu langsung ke dalam!”
Suasana didalam gua masih tetap sepi dan tidak kedengaran
sedikit suarapun, seakan akan gua tersebut memang berada dalam
keadaan kosong. Menyaksikan keadaan ini, Bu im sin hong Kian Kim
siang segera berkata :
“Saudara cilik, entah permainan setan apakah yang sedang
dipersiapkan Hian im Tee kun? Mari kita lakukan penggeledahan
secara besar besaran, lancarkan dulu sebuah pukulan dari kejauhan,
dengan demikian dia tak akan berkesempatan untuk menunjukkan
permainan busuknya.”
Thi Eng khi segera menghimpun tenaga dalamnya dan siap
melepaskan sebuah pukulan ke depan. Seandainya serangan ini
dilancarkan, niscaya anak muda itu akan terjebak oleh siasat busuk
Hian im Tee kun dan tubuhnya hancur berkeping keping oleh
ledakan keras. Tapi sebelum serangan dahyat itu sempat
dilancarkan, tiba tiba saja dari dalam gua itu terdengar suara yang
amat lirih bergema memecahkan keheningan. Padahal tenaga dalam
yang dimiliki Thi Eng khi sudah mencapai tingkatan yang luar biasa,
serta merta dia menarik kembali pukulannya dan berbisik :
“Dari dalam gua terdengar suara yang bergema.......”
Bu im sin hong Kian Kim siang mencoba untuk memasang telinga
dan mengamati suasana di dalam situ, benar juga, dari dalam gua
dia mendengar ada seseorang sedang berbisik dengan suara
terputus putus.
“Harap kalian jangan bertindak secara gegabah, kalau tidak,
siapa pun tak akan bisa lolos dalam keadaan selamat!”
Orang yang berseru itu nampak lemah sehingga suaranya tidak
keras kedengarannya, coba kalau tidak mengerahkan tenaga sudah
pasti suara tersebut tak gampang terdengar.
“Siapakah kau?” Bu im sin hong Kian Kim siang segera menegur.

1501
Suaranya yang lemah di dalam gua itu menyahut :
“Kalian harus mengabulkan sebuah syarat ku lebih dulu sebelum
kuberitahukan sia¬pakah diriku!”
Ternyata orang itu cukup cerdik dan licik, berada dalam keadaan
seperti inipun dia tidak ingin dirugikan. Bu im sin hong Kian siang
kembali berseru :
“Kami datang kemari mencari Hian im Tee kun, kalau toh Hian im
Tee kun tidak berada disini, kami pun belum tentu harus mengetahui
siapakah kau, jikalau engkau berkeberatan untuk mengutarakan,
kami pun tak akan memaksa lebih jauh!”
Kemudian dia berkata lagi :
“Saudara cilik, mari kita pergi!”
Bu im sin hong Kian Kim siang dapat mendengar kalau orang
yang berada dalam gua itu sedang menderita luka parah dan perlu
pertolongan cepat, itulah sebabnya dia memanfaatkan situasi
tersebut dengan sebaik baiknya. Siapa tahu orang yang berada
dalam gua itu berkata lagi :
“Bila kalian enggan menyanggupi syaratku ini maka jangan harap
bisa lolos dengan selamat dari tempat ini.”
“Tahukah kau siapakah kami? Seandainya kami betul betul
hendak pergi, siapa yang mampu menghalangi kepergian kami?”
“Siapakah kalian, aku rasa kalian sudah menyebutkannya tadi,
siapa bilang aku tidak tahu?” ucap orang yang berada dalam gua itu
dengan suara yang lemah.
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh :
“Cuma sayangnya kalian telah berdiri ditengah kurungan alat
rahasia yang sengaja dipersiapkan oleh Hian im Tee kun, asal kalian
meninggalkan daerah seluas lima depa ini, maka sumbu bahan
peledak yang telah dipersiapkan pasti akan bekerja, waktu itu bukan
hanya kalian saja bahkan aku pun akan turut menjadi korban
peledakan tersebut”
Orang itu betul betul licik, selesai berkata sampai disitu, dia
masih menambahkan lagi : “Bila kalian tak percaya, silahkan

1502
dibuktikan sendiri, cuma kalau sampai hal ini terjadi, dalam dunia
persilatan mungkin tiada orang lagi yang mampu menandingi Hian
im Tee kun!”
Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi tertegun sesudah
mendengar perkataan ini, untuk beberapa saat dia tak mampu
mengambil sesuatu keputusan. Thi Eng khi segera berkata :
“Kian tua, apakah kita benar benar termakan oleh gertak
sambalnya itu?”
“Apakah kau sudah dapat mengenali si¬apakah yang sedang
berbicara dengan kita saat ini?” tanya Bu im sin hong Kian Kim siang
seraya berpaling, Thi Eng khi segera menggelengkan kepalanya
berulang kali.
“Tampaknya dia sengaja memaraukan suaranya sehingga sulit
untuk kita kenali.”
“Aku pikir, lebih baik percaya dengan apa yang dia katakan
barusan dari pada sama sekali tidak mempercayainya, bagaimana
kalau kita bicarakan dulu prasyaratnya dengan orang itu?”
Thi Eng khi agak marah bercampur mendongkol oleh ucapan
mana, dia berkata :
“Hei, syarat apa sih yang hendak kau ajukan? Ayo cepat
diutarakan..... ”
“Syaratku sederhana sekali, cukup asal kalian berjanji tidak akan
membunuhku, setelah itu sudah lebih dari cukup untukku!” kata
orang yang berada didalam gua itu tetap parau.
“Aku bukan manusia yang gemar membunuh, kenapa kau menilai
diriku dengan pikiran picik seorang siaujin?”
“Biar siaujin juga boleh, Kuncu juga boleh, mau tak mau aku
mesti mempersoalkan hal tersebut, karena persoalan itu mempunyai
arti yang amat penting bagiku. Ayo jawab, bersedia tidak?”

1503
Bu im sin hong Kian Kim siang segera memberi tanda dengan
anggukan kepalanya.
Terpaksa Thi Eng khi menghela napas panjang dan menyahut
dengan cepat :
“Baiklah menolong orang memang merupakan suatu kewajiban
bagiku, bukan saja aku tak membunuhmu, bahkan akan
kusembuhkan pula lukamu itu, nah, kau sudah merasa puas dengan
jawabanku ini?”
Untuk beberapa saat lamanya suasana dalam gua tersebut
menjadi hening dan tak kedengaran sedikit suara pun. Akhirnya
suara helaan napas sedih bergema kembali memecahkan
keheningan, dia berkata :
“Sekarang aku baru mengerti, tampaknya orang baik dan orang
jahat memang berbeda sekali!”
“Sebenarnya siapa sih kau ini? Mengapa belum kau sebutkan juga
namamu?”
Suara parau orang yang berada dalam gua itu segera berubah
sama sekali, napasnya meski makin lemah namun suaranya berubah
menjadi suara seorang wanita. Kedengaran dia berkata :
“Kalian pasti tak pernah menyangka bukan, aku adalah Hian im
seng li Ciu Lan!”
“Ooooh........, rupanya kau,” Thi Eng khi berseru.
Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh :
“Kami toh sudah pernah mengampuni selembar jiwamu, buat apa
kami mencelakai dirimu lagi? Kau benar benar kelewat menaruh
curiga, kesulitan apa sih yang sedang kau hadapi? Mari, sekali lagi
kubantu di¬rimu!”
Sembari berkata dia lantas beranjak dan menuju ke arah dalam
gua tersebut. Tatkala Hian im seng li Ciu Lan mendengar Thi Eng khi
hendak memasuki gua tersebut, dia segera menjerit kaget,
kemudian serunya keras keras :
“Kalian jangan sembarangan bergerak, kalau sampai bergerak
niscaya kita semua akan tewas!”

1504
“Memangnya kau menyuruh kami berdiri terus di tempat ini
sepanjang masa?” seru Bu im sin hong Kian Kim siang.
“Tentu saja kita mesti mencari sebuah akal yang bagus untuk
mengatasi keadaan ini!”
Kemudian setelah berhenti sejenak dia berkata lebih jauh :
“Satu diantara kalian berdua harap meninggalkan rekannya untuk
sementara waktu, sedang yang lain tetap tinggal di tempat, dengan
cara ini maka sumbu bahan peledak yang terinjak di bawah kaki tak
akan sampai terbakar dan meledak.”
Mendengar perkataan itu, Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa
terbahak bahak :
“Haaahhh..... haaahhh..... haaahhh..... apa sulitnya ini? Saudara
cilik, ambillah beberapa buah batu besar dan tekankan diatas alat
rahasia tersebut, bukankah pada saat yang bersamaan kita bisa
meninggalkan tempat ini?”
Thi Eng khi pun merasa bahwa cara ini memang paling tepat, dia
segera ke sisi lorong gua dan mengambil dua batu besar yang
kemudian diletakkan di tempat depan pintu gua dimana mereka
berdiri, dengan tertekannya alat rahasia itu maka sumbu menuju ke
bahan peledak pun segera tertekan. Kemudian mereka bersiap siap
akan masuk kembali ke dalam ruang gua.
Tapi suara dari Hian im seng li Ciu Lan kembali berkumandang :
“Di dalam gua ini penuh dengan obat peledak yang mudah
terbakar, setiap langkah bisa mendatangkan resiko yang besar
sekali, apabila kalian hendak masuk lebih baik kaki jangan sampai
menginjak tanah terlalu keras, tubuh pun jangan sampai menyentuh
setiap benda yang berada di sini, dengan demikian ancaman bahaya
baru dapat dikurangi.”
Bu im sin hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi segera
mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka dan menyusup
masuk ke dalam ruang gua. Dinding gua tersebut dari batu kemala
berpanca warna, di bawah pantulan sinar mutiara nampak

1505
membiaskan berbagai cahaya pelangi yang sangat indah. Bukan
cuma begitu, bahkan setiap perabot maupun dekorasi yang berada
dalam gua itu rata rata megah, mewah dan luar biasa, mungkin jauh
lebih mewah dan megah daripada keraton seorang kaisar sekalipun.
Dengan sorot mata yang tajam kedua orang itu memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu, namun bayangan tubuh dari Hian im
seng li Ciu Lan belum juga ditemukan. Baru saja Bu im sin hong Kian
Kim siang hendak bertanya, mendadak suara dari Hian im seng li Ciu
Lan telah berkumandang lagi dari belakang gua.
“Aku telah menderita luka yang sangat parah sehingga gerak
gerikku kurang lelua¬sa, bagaimana kalau kalian membawaku keluar
dari gua ini?”
Mengikuti sumber dari suara tersebut, Thi Eng khi segera
membalikkan badan dan lari masuk ke dalam gua.
“Saudaraku, berhati hatilah!” pesan Bu im sin hong Kian Kim
siang dari kejauhan.
Sementara itu Thi Eng khi sudah mendekati sisi dinding ruangan,
pada saat itulah dia baru menjumpai sebuah pintu kecil di atas
dinding gua tersebut, pintu itu tertutup oleh cahaya pelangi yang
berwarna warni sehingga bila orang tidak berjalan mendekati tempat
itu sukar rasanya untuk menemukan. Mau tak mau Thi Eng khi harus
mengagumi kelihayan Hian im Tee kun dalam mengatur tata
ruangan tersebut, dengan cepat dia melayang masuk ke dalam
ruangan.
Di balik pintu adalah sebuah kamar tidur yang sangat mewah dan
megah, Hian im seng li Ciu Lan berbaring di tengah ruangan itu
dimana dalam genggamannya memegang sejilid kitab kecil berkulit
kambing, sekujur tubuhnya telah dilapisi hawa berwarna merah.
Rupanya si nona tersebut bukan cuma terluka parah, bahkan
menderita luka keracunan yang sudah mendalam.
Thi Eng khi segera mengambil keluar sebutir pil Kim khong giok
lok wan, kemudian serunya :

1506
“Pentangkan mulutmu lebar lebar!”
Hian im li Ciu Lan menurut dan segera membuka mulutnya lebar
lebar, dengan cepat pil Kim khong giok lok wan tersebut meluncur
masuk ke dalam mulutnya. Dengan suatu gerakan yang cepat Thi
Eng khi menotok tujuh buah jalan darah penting ditubuh Hian im li
Ciu Lan, kemudian perintahnya :
“Sekarang kau boleh bangkit berdiri!”
Hian im li Ciu Lan masih belum percaya tapi begitu hawa
murninya coba dihimpun, tanpa menimbulkan kesulitan dia segera
bangkit berdiri bahkan kesempurnaan tenaga dalamnya tidak selisih
banyak ketimbang sebelum terluka tadi. Kejut dan girang segera
menyelimuti perasaannya. Dia berseru tertahan,
“Aaaaah, luka racunku telah sembuh sama sekali!”
“Aku hanya menggunakan ilmu tiam hiat kui goan hoat untuk
membangkitkan hawa murnimu sementara waktu, soal
penyembuhan luka tersebut baiklah kita bicarakan sekeluarnya dari
gua ini!”
Kemudian dia menambahkan pula :
“Masih ada barang lain yang hendak kau ambil?”
Dengan cepat Hian im li Ciu Lan menggelengkan kepalanya
berulang kali :
“Andaikata aku tidak kembali kemari untuk mengambil benda
sialan ini, tak mungkin akan menderita bencana seperti hari ini,
setiap benda yang berada disini nampaknya tak boleh dijamah lagi,
mari kita cepat cepat keluar dari sini!”
Sembari berkata dia memperlihatkan kitab kecil bersampul kulit
kambing di tangannya. Namun Thi Eng khi sama sekali tidak
memperhatikan benda tersebut...
Dengan cepat mereka bertiga melayang keluar dari gua itu dan
muncul melalui batang pohon. Tatkala Pek leng siancu So Bwe leng
menyaksikan kemunculan Hian im li Ciu Lan, tanpa terasa jengeknya
sambil tertawa dingin tiada hentinya :

1507
“Siluman perempuan, kau tak mengira bukan akan menjumpai
hari seperti ini?”
Hian im li Ciu Lan membungkam diri dalam seribu bahasa,
rupanya dia dibikin malu dan menyesal sekali. Sambil tertawa, Thi
Eng khi segera mencegah pandangan permusuhan dari So Bwe leng,
katanya cepat :
“Adik Leng, kaupun jangan marah, an¬daikata dia tidak memberi
peringatan tadi mungkin aku dan Kian tua tak bisa keluar dari sini
dalam keadaan selamat!”
Ucapan tersebut tentu saja membuat sepasang mata Pek leng
siancu So Bwe leng terbelalak lebar lebar, beberapa saat lamanya
dia memperhatikan Hian im li Ciu Lan dari atas sampai ke bawah,
akhirnya sambil menghela napas panjang katanya :
“Kalau begitu, aku pun tak mendendam kepadamu lagi.....”
Buru buru Hian im li Ciu Lan menjura dalam dalam :
“Terima kasih banyak atas kebesaran jiwa nona!”
Thi Eng khi merasa kurang leluasa untuk turun tangan sendiri
menguruti seluruh badan Hian im li Ciu Lan guna menyembuhkan
lukanya, maka dia mengeluarkan lagi sebutir pil dan menyuruhnya
menelan, kemudian baru minta bantuan Ciu Tin tin untuk
mewakilinya menguruti gadis tersebut. Tidak sampai setengah
pertanak nasi kemudian, luka keracunan yang diderita Hian im li Ciu
Lan telah sembuh kembali seperti sediakala, saking terharu dan
berterima kasihnya atas pertolongan ini. Hian im li Ciu Lan pun mulai
membeberkan semua rahasia yang diketahui olehnya selama ini.
Rupanya Hian im ji li mendapat perintah dari Hian im Tee kun
untuk berangkat lebih dulu menghubungi sisa sisa kekuatan mereka
yang tercerai berai agar bersama sama berkumpul di sekitar wilayah
See lam...
Mungkin lantaran terlalu tergesa gesa sehingga Hian im li Ciu Lan
lupa membawa serta sejilid kitab pusaka ilmu silat yang diperolehnya
secara tak mudah. Tatkala tugas yang dilakukan olehnya sudah
selesai dikerjakan, ia baru teringat akan hal ini dan pulang ke gua

1508
untuk mengambilnya. Tentang sudah dipersiapkannya gua tersebut
dengan bahan peledak, gadis ini memang tahu garis besarnya,
dengan berhati hati sekali dia berhasil menghindari ancaman
peledakan tersebut.
Siapa tahu sebelum meninggalkan gua tersebut Hian im Tee kun
telah mempersiapkan permainan busuk lainnya, hal ini menyebabkan
dia terluka parah dan keracunan lagi. Seandainya Thi Eng khi tidak
datang tepat pada saatnya, mungkin ia sudah mati semenjak dulu
dulu. Dan sekarang, selembar nyawanya sama halnya seperti sudah
dipungut kembali, penderitaan yang dialaminya tersebut
membuatnya sadar akan kesalahan yang pernah dilakukannya dulu,
hingga timbullah niatnya untuk kembali ke jalan yang benar.
Tak terlukiskan rasa kaget para jago setelah mengetahui
kenyataan yang sebenarnya terutama sekali Bu im sin hong Kian Kim
siang yang sangat menguatirkan keselamatan sahabat sahabat
lamanya di wilayah See lam, tanpa berhenti sedetikpun, dia
tinggalkan rombongan dan berangkat lebih dulu ke situ.
Thi Eng khi kuatir Bu im sin hong Kian Kim siang seorang diri
menyerempet bahaya maka dia minta kepada ketua Siau lim pay Ci
long siansu dan ketua Bu tong pay Keng hian totiang yang
didampingi Hian im li Ciu Lan tetap tinggal ditempat untuk
menyelesaikan sarang dari Hian im Tee kun. Sedangkan dia sendiri
bersiap siap menyusul Bu im sin hong Kian Kim siang menuju ke See
lam.
Hian im li Ciu Lan segera berkata :
“Dalam gua tersebut sudah penuh ditanami bahan peledak yang
sulit sekali diatasi, menurut pendapat siau li, lebih baik Thi
ciangbunjin segera turun tangan untuk memusnahkannya saja,
kemudian kita berangkat bersama sama.”
Ucapan mana segera menyadarkan Thi Eng khi, cepat dia berkata
:
“Perkataan nona memang betul dan masuk diakal, seandainya
kurang sempurna dalam penyelesaiannya nanti, bisa jadi akan
merupakan bibit bencana dikemudian hari. Apabila kita musnahkan

1509
sekarang juga, urusan akan menjadi beres dan tiada ancaman lagi
dikemudian hari, cuma waktu tidak mengijinkan kita berbuat
demikian, bagaimana baiknya?”
“Tenaga dalam yang Thi ciangbunjin miliki amat sempurna, asal
kau melancarkan sebuah pukulan ke arah lorong gua sehingga
menggetarkan isi gua tersebut, niscaya bahan peledak itu akan
meledak serta menghancurkan segala sesuatunya.”
Thi Eng khi segera menghimpun segenap tenaga dalamnya dan
melontarkan sepasang telapak tangannya ke dalam lorong gua
tersebut. Setelah dilepaskan tiga puluh enam buah pukulan,
terdengarlah suata ledakan yang memekikkan telinga menggema
keluar dari bawah tanah sana. Walaupun jaraknya amat jauh, tapi
berhubung lorong itu saling berhubungan, maka tenaga serangannya
dapat mencapai ke dalam sana.
Tak lama kemudian ledakan keras yang menggelegar dari
permukaan tanah berpusat pada tempat dimana bekas kuil tokoan
tersebut berada, asap tebal disertai percikan bunga api memancar
ke seluruh angkasa. Sarang Hian im Tee kun pun termakan oleh
pukulan Thi Eng khi yang dahsyat sehingga menyebabkan
bekerjanya alat rahasia dan meledaknya bahan bahan peledak.
Begitu selesai membereskan tempat itu, maka semua orang
segera berangkat ke arah barat daya karena mereka beranggapan
Bu im sin hong memerlukan bantuan secepatnya. Kuda hitam Hek
liong kou yang ditunggangi Thi Eng khi bergerak paling cepat,
setelah meninggalkan beberapa pesan kepada Ciu Tin tin, tanpa
memperdulikan rombongan yang lain, dia mencemplak kudanya dan
berangkat lebih dulu.
Ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im yang dimiliki Bu im sin
hong Kian Kim siang memang termasuk suatu kepandaian maha
sakti di kolong langit dewasa ini tapi sayang perjalanan yang harus
ditempuh kelewat jauh, hal ini menyebabkan kecepatan geraknya
tak dapat selalu berimbang. Sebelum tiba di kota Goan leng, dia
berhasil disusul oleh Thi Eng khi.

1510
Waktu itu Bu im sin hong Kian Kim siang yang mesti menempuh
perjalanan dengan tergesa gesa sudah kelelahan hingga badannya
bertambah kurus. Atas bujukan Thi Eng khi berulang kali, terpaksa
untuk melanjutkan perjalanan dia mesti mengubah kebiasaan sehari
hari dengan membeli seekor kuda jempolan untuk meneruskan
perjalanan.
Waktu itu, walaupun Hui cun siucay Seng Tiok Sian telah
berangkat pulang lebih dulu, namun berhubung dia tidak menempuh
perjalanan dengan tergesa gesa, perjalanan pun dilakukan dengan
amat lambat, maka berbicara soal waktu, meski Thi Eng khi mesti
berputar dulu ke kota Sah si, tapi oleh sebab perjalanan yang
kemudian ditempuh siang malam tak pernah berhenti, akibatnya
selisih waktu tibanya di tempat tujuan pun tidak terlalu banyak.
Selain itu, Thi Eng khi berdua pun datang dengan membawa
suatu maksud tujuan tertentu, gerak gerik mereka selalu
dirahasiakan, ditambah lagi Bu im sin hong Kian Kim siang sangat
menguasai keadaan medan disitu, maka sepanjang perjalanan
mereka tak berhasil diketahui jejaknya oleh anak buah Hian im Tee
kun.
Dikala Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang berada
dalam perjalanan melalui jalan gunung diluar tempat tinggal Hui cun
siucay Seng Tiok sian, ternyata Kuda Hek liong kou yang ditunggangi
Thi Eng khi tidak menuruti perintah lagi, bahkan kabur terus menuju
ke tempat tinggal Hui cun siucay Seng Tiok sian.
Sudah puluhan tahun lamanya Bu im sin hong Kian Kim siang tak
pernah pulang ke dusun, tentu saja dia tidak mengetahui tentang
tempat kediaman Hui cun siucay Seng Tiok sian ini. Tatkala
dilihatnya perjalanan mereka diselewengkan ke arah jalan setapak
yang sempit, buru buru dia memerintahkan kepada Thi Eng khi
untuk berganti melewati jalan besar.
Mendadak tergerak hati Thi Eng khi, segera ujarnya :
“Tempat tinggal Hui cun siucay Seng heng berada diatas bukit ini,
kalau dilihat dari kecerdasan kuda ini, mungkin dia sudah
mempunyai hubungan batin yang amat akrab dengan kuda Hek liong

1511
kou milik saudara Seng, karena tahu saudara Seng sudah pulang ke
rumah, maka dia hendak menuju ke sana. Kian tua, mengapa kita
tidak menengok dulu ke sana? Bila saudara Seng sudah berada di
rumah, dari mulutnya kita bisa mendapatkan kabar cerita tentang
situasi akhir akhir ini, bukankah hal tersebut jauh lebih baik lagi...?”
Bu im sin hong Kian Kim siang segera menganggukkan kepalanya
berulang kali.
“Baik, mari kita larikan kuda kita lebih cepat!”
Dua ekor kuda itu segera dilarikan lebih kencang menelusuri jalan
setapak yang membujur didepan mata. Dan pada saat itulah secara
kebetulan mereka dapat mendengar suara teriakan Hian im li Cun
Bwee serta sekalian kawanan iblis yang sedang mengepung rumah
kediaman Hui cun siucay Seng Tiok sian.....
Mendengar suara hiruk pikuk tersebut, buru buru Bu im sin hong
Kian Kim siang berseru:
“Ayo cepat, dalam rumah kediaman Tiok sian telah terjadi
kekalutan....”
“Kian tua, untuk lebih merahasiakan jejak kita, bagaimana kalau
kita tinggalkan kuda disini?”
“Baik!” sahut Bu im sin hong Kian Kim siang cepat.
Dia segera melompat bangun dari kudanya dan menerjang ke
depan dengan kecepatan tinggi. Thi Eng khi tidak ketinggalan, dia
melejit dari punggung kudanya dan menyusul di belakang Bu im sin
hong Kian Kim siang....
“Saudara cilik!” dengan perasaan yang tulus Bu im sin hong Kian
Kim siang segera memuji, “ilmu gerakan tubuh Hu kong keng im mu
benar benar jauh lebih hebat daripadaku, di kemudian hari gerakan
ini pasti akan banyak membonceng ketenaranmu, bila engkoh tua
terbayang akan hal ini, ooooh..... betapa gembiranya diriku hingga
tak terlukiskan dengan kata!”
Dengan agak rikuh buru buru Thi Eng khi berkata :

1512
“Oleh sebab siaute mendengar dari arah rumah kediaman
saudara Seng bergema suara pertarungan maka aku pikir lebih baik
kita selekasnya tiba di situ, aku kuatir jika sampai terlambat mungkin
keadaan sudah tak sempat lagi!”
Tubuhnya secepat sambaran kilat segera meluncur ke depan,
dalam waktu singkat Bu im sing hong Kian Kim siang telah
ditinggalkan jauh jauh. Bu im sin hong Kian Kim siang yang
menyaksikan kejadian tersebut selain gembira juga terhibur hatinya,
tanpa terasa ia bergumam seorang diri :
“Ya, nampaknya Hu kong keng im baru kelihatan kehebatannya
bila saudara cilik yang mempergunakan, bila aku yang menggunakan
rasanya cuma menyia nyiakan kehebatan kepandaian saja...!”
Sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya dia
segera mengejar dari belakang. Padahal seandainya tiada manusia
berbakat macam Thi Eng khi, siapakah dikolong langit dewasa ini
yang mampu menandingi kesempurnaan Bu im sin hong Kian Kim
siang didalam mempergunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong keng
im?
Dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir dalam
waktu sekejap mata Thi Eng khi sudah berada hanya sepuluh kaki
saja di depan rumah kediaman Hui cun siucay Seng Tiok sian. Suara
pertarungan yang sedang berlangsung dari dalam rumah terdengar
makin jelas, bahkan seorang manusia biasa yang tidak memiliki
ketajaman pendengaran pun dapat mendengar suara tersebut
dengan nyata.
Thi Eng khi yang sudah berapa lama berkelana dalam dunia
persilatan, pengalaman maupun pengetahuannya saat ini boleh
dibilang telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat, walaupun
dia memiliki tenaga dalam yang tiada tandingannya, namun dia toh
tak ingin berbuat gegabah dengan melakukan tindakan sombong.
Sebaliknya dengan sikap berhati hati sekali dia mulai melakukan
pemeriksaan yang amat seksama disekitar bangunan rumah Tiok
sian tersebut. Dalam waktu singkat Thi Eng khi sudah dapat

1513
mengetahui siapa siapa saja gembong gembong iblis yang dibawa
oleh Hian im li Cun Bwee.
Thi Eng khi segera mengerahkan ilmu gerakan tubuhnya yang
amat lihay, dalam suatu keadaan yang mimpi pun tak pernah
mereka bayangkan, seorang demi seorang roboh terkapar diatas
tanah dalam keadaan jalan darah tertotok.
Selesai dengan pekerjaan tersebut, ia baru berdiri di luar pintu
dan bersiap sedia membantu Hui cun siucay Seng Tiok sian bilamana
diperlukan. Sementara itu, Bu im sin hong Kian Kim siang telah
sampai di tempat tujuan, ketika menyaksikan pertarungan yang
sedang berlangsung antara Hui cun siucay Seng Tiok sian melawan
Hian im li Cun Bwee tersebut, dia menggelengkan kepalanya
berulang kali sembari berkata :
“Kemampuan yang dimiliki Tiok sian sangat terbatas, gerakan
tubuh Hu kong keng im yang dilakukan olehnya sungguh membuat
lohu merasa amat bersedih hati.”
Thi Eng khi segera tertawa :
“Saudara Seng kan baru belajar, tenaga dalamnya selisih jauh
pula dari Hian im li dia bisa bertahan tanpa kalah, hal ini sudah
bukan termasuk suatu kejadian yang enteng baginya. Kian tua,
apakah perkataanmu barusan tidak kebangetan?”
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa :
“Selama hidup, engkoh tua hanya merasa takluk dan tunduk
kepada kau seorang, baiklah apa yang kau bilang yaa bilanglah,
cuma Tiok sian merupakan satu satunya pewaris engkoh tua
disekitar wilayah See lam kau tak boleh membiarkan dia kehilangan
muka...“
Thi Eng khi tertawa.
“Cu sim ci su Thio locianpwe memiliki serangkaian ilmu kipas
Toalo san hoat yang sesuai bagi saudara Seng, siaute pun sudah
membawakan kitab pusaka tersebut bagi saudara Seng, apabila
kejadian disini telah usai, bila saudara Seng bersedia melatih diri
selama tiga tahun lagi, niscaya ilmu kipasnya akan merupakan
manusia nomor wahid di kolong langit, sampai saatnya, mungkin

1514
engkoh tua akan menyalahkan siaute lagi yang telah membantu
saudara Seng sehingga pamor engkoh tua menjadi berkurang!”
Bu im sin hong Kian Kim siang dibuat kegirangan setengah mati,
ia segera berteriak keras :
“Tidak menjadi soal, tidak menjadi soal, jiwa engkoh tua mah tak
akan sedemikian sempitnya, kalau begitu kuutarakan rasa terima
kasihku dulu untukmu!”
Kali ini Bu im sin hong Kian Kim siang berbicara dengan suara
lantang sehingga mereka yang bertarung dalam gedungpun dapat
mendengar pembicaraan itu dengan jelas. Cuma saja siapa pun tidak
menduga kalau orang yang barusan berbicara tak lain adalah Bu im
sin hong Kian Kim siang.
Hui cun siucay Seng Tiok sian yang dibikin kacau ketenangan
hatinya, kontan saja dibuat kalung kabut dan tak sanggup
menangkis serangan lawan berikutnya. Sebaliknya Hian im li Cun
Bwee mengira orang yang sedang berbicara diluar adalah anak
buahnya, dengan kening berkerut ia lantas membentak :
“Hei, siapa yang sedang berteriak teriak diluar? Ayo cepat
menggelinding pergi dari hadapanku!”
Bu im sin hong Kian Kim siang tertawa terbahak bahak, bersama
Thi Eng khi mereka berjalan masuk ke dalam ruangan.
“Siluman perempuan cilik!Pentangkan matamu lebar lebar dan
coba lihat siapakah lohu!”
Diam diam Hian im li Cun Bwee merasa terkejut setelah
mengetahui siapa yang datang, diam diam dii berpikir :
“Waaah, nampaknya jika aku tak berhasil membekuk seseorang
untuk dijadikan sandera, sulit bagiku untuk meloloskan diri dari
tempat ini.”
Berpikir demikian tanpa menimbulkan sedikit suarapun dia
langsung menerjang ke arah nona Ting Un. Siapa tahu Thi Eng khi
bertindak jauh lebih cepat daripadanya, tahu tahu saja dia sudah
melayang turun dihadapan nona Ting Un, bahkan sambil tertawa
dingin jengeknya :

1515
“Selama aku berada disini, kuharap kau jangan mempunyai
pikiran jahat!”
Walaupun Hian im li Cun Bwee tidak memandang sebelah
matapun terhadap orang lain, sesungguhnya dia benar benar merasa
jeri terhadap Thi Eng khi. Tanpa sadar secara beruntun dia mundur
sejauh enam tujuh langkah dari posisi semula, kemudian dia
meloloskan senjata Hian im kui jiu nya, dia berpekik untuk
mengumpulkan segenap anak buahnya.
Melihat perbuatan gadis itu, sambil tertawa Bu im sin hong Kian
kim siang segera berkata :
“Siluman perempuan kecil, segenap orang orangmu yang berada
diseputar ruargan ini telah dibasmi sampai habis oleh saudara cilikku
ini, sekarang tinggal satu jalan saja yang dapat kau tempuh yakni
menyerah saja untuk kami bekuk!”
Hian im li segera memutar biji matanya memandang kesana
kemari, tampaknya dia sedang berusaha untuk mencari kesempatan
guna melarikan diri dari situ. Sementara itu, Hui cun siucay Seng
Tiok sian telah mengundurkan diri ke samping, setelah mencekoki
sebutir pil ke mulut Seng Liang, dia mulai mengobati luka yang
diderita oleh nona Ting Un.
Nona Ting Un yang membelalakkan ma¬tanya, kebetulan
menangkap biji mata Hian im li Cun Bwee yang sedang berputar kian
kemari serta merta dia berteriak keras :
“Hati hati, perempuan siluman itu sedang merencanakan siasat
busuk untuk melarikan diri.”
Mendengar niatnya dibongkar secara blak blakan, tak terlukiskan
rasa gusar Hian im li Cun Bwee, alis matanya sampai berkerut
kencang, tapi diapun tak bisa berbuat banyak terhadap nona Ting
Un. Dengan suara dalam Thi Eng khi segera berkata :
“Asal kau bersedia meninggalkan jalan sesat dan kembali ke jalan
benar, aku tak akan menahanmu atau menyiksamu lebih jauh,
seperti misalkan sumoaymu Ciu Lan saja merupakan seorang contoh
yang baik.”

1516
“Apa yang telah kau lakukan terhadap adikku?” teriak Hian im ii
Cun Bwee dengan perasaan terkejut.
Dari ucapan mana dapat terlihat bahwa dia menaruh hubungan
yang amat akrab dengan saudaranya, sehingga dia amat
menguatirkan keadaan Ciu Lan. Titik kelemahan didalam hubungan
tersebut mungkin tidak terlihat oleh Thi Eng khi namun tak dapat
lolos dari ketajaman mata Bu im sin hong Kian Kim siang.
Dengan cepat orang tua itu berkata :
“Thi ciangbunjin telah menyelamatkan jiwa adikmu, karena
kejadian mana adikmu menjadi bertobat dan melepaskan jalan sesat
untuk kembali ke jalan benar. Kalau bukan lantaran dia, bagaimana
mungkin kami bisa tahu kalau kalian semua berada disini?”
“Sekarang Ciu Lan berada dimana?”
“Dia datang bersama sama rombongan yang lain, tak lama
kemudian tentu akan tiba di sini.”
Hian im li Cun Bwee termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya kemudian katanya :
“Kami kakak dan adik berdua sebenarnya merupakan anak yatim
piatu, kemudian kami dipelihara oleh Tee kun dan diwarisi ilmu silat
yang tinggi, walaupun kami melepaskan jalan sesat dan kembali ke
jalan yang benar, bukan berarti kami mempunyai alasan untuk
memusuhi Tee kun. Apabila kalian mengijinkan aku dan adikku pergi
meninggalkan tempat ini dan menyingkir sejauh jauhnya, kami pasti
akan bertobat dan tidak melakukan kejahatan lagi, tapi hari ini kami
tak bisa membantu kalian untuk menghadapi Tee kun. Bila kalian
menyetujui hal ini, akupun akan berjanji kepada kalian, kalau tidak,
biar sampai mati pun kami tak akan takluk.”
Walaupun perempuan ini termasuk se¬orang manusia sesat yang
banyak melakukan kejahatan, namun beberapa patah kata ini
diutarakan dengan alasan yang cu¬kup matang, dan begitulah
watak dan sikap seorang umat persilatan sejati. Baik Bu im sin hong
Kian Kim siang maupun Thi Eng khi segera memperoleh pandangan
lain terhadap Hian im li Cun Bwee, mereka tahu biasanya bila

1517
manusia semacam ini sudah bertobat dan kembali ke jalan yang
benar, mereka tak akan melakukan kejahatan lagi di kemudian hari.
Seketika itu juga mereka berdua mengabulkan permintaannya,
begitu Ciu Lan sudah tiba mereka berdua dipersilahkan
meninggalkan tempat tersebut dan tidak memaksa mereka untuk
memusuhi Hian im Tee kun...
Bahkan untuk menghormati kesetiaan tersebut, baik Thi Eng khi
maupun Bu im sin hong Kian Kim siang, tak seorangpun diantara
mereka yang mencoba mencari berita tentang Hian im Tee kun dari
mulutnya.
Melihat kegagahan dan kebesaran jiwa Thi Eng khi serta Bu im
sin hong Kian Kim siang, Cun Bwee dibuat sangat terharu, kesannya
terhadap kawanan jago dari golongan kaum lurus pun semakin
mendalam. Akhirnya malah dia sendiri yang tidak tahan dan
menceritakan keadaan yang sesungguhnya secara garis besar
kepada Thi Eng khi...
Ternyata, walaupun Hian im Tee kun berhasil membohongi
kawanan jago persilatan dari wilayah See lam namun oleh karena
waktu yang terlampau singkat, kecu¬ali sebagian berbakat kurang
baik sehingga kemampuan mereka hanya bisa dimanfaatkan untuk
pekerjaan ringan ringan, sebagian lainnya harus melalui proses
pembujukan yang mendalam lebih dulu sebelum benar benar dapat
dimanfaatkan kekuatannya.
Berada dalam keadaan seperti ini, demi keamanan dalam
pengendalian selanjutnya Hian im Tee kun menempatkan komplotan
dan orang orang kepercayaannya di tempat kediaman si pembenci
raja akhirat Kwik Keng thian, sementara para jago persilatan dari
See lam serta sebagian dari orang orang persilatan yang telah
mereka kendalikan ditempatkan didalam perkampungan Huan keng
san ceng.
Hui cun siucay Seng Tiok sian sangat menguatirkan keselamatan
gurunya si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, menggunakan
kesempatan tersebut dia berkata :

1518
“Saat ini guruku berada dimana? Bagaimana keadaannya
sekarang....?”
“Gurumu merupakan lambang kepemimpinan umat persilatan
wilayah See lam setelah Bu im sin hong Kian tua, Hian im Tee kun
menganggap dia memiliki nilai yang amat berharga untuk diperalat
kemampuan dan pamornya, maka sampai sekarang dia belum diapa
apakan, tapi hanya dibelenggu oleh sebuah persoalan pelik yang
sengaja diajukan kepadanya, mungkin hingga sekarang dia masih
terkecoh dan belum menyadari kalau dirinya sedang dibohongi
orang. Tentang berada dimanakah dia sekarang, kami tidak begitu
tahu... ”
Selanjutnya dia pun menjelaskan bagaimana Hian im Tee kun
meminta kepada si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian untuk
menciptakan sejenis obat penawar racun. Setelah mengetahui
keadaan yang sebenarnya, Hui cun siucay Seng Tiok sian ba¬ru bisa
menghembuskan napas lega.
Kesempatan baik segera akan hilang lenyap dengan begitu saja,
maka Thi Eng khi dan Bu im sin hong Kian Kim siang dengan cepat
mengambil sebuah keputusan. Thi Eng khi seorang diri langsung
me¬nuju ke tempat kediaman Hian im Tee kun untuk menyumbat
jalan keluarnya, agar Hian im Tee kun tidak melarikan diri setelah
mengetahui datangnya ancaman ma¬ra bahaya. Sedangkan Bu im
sin hong Kian Kim siang dengan mengajak nona Ting Un langsung
menuju ke perkampungan Huan keng san ceng dengan kewajiban
menyadarkan umat persilatan wilayah See lam yang terpengaruh
dan mengalihkan kekuatan mereka untuk bersama sama mengepung
Hian im Tee kun. Sebaliknya Hui cun siucay Seng Tiok sian, Seng
Liang dan Cun Bwee bertiga mendapat tugas untuk menyambut
kedatangan rombongan Ciu Tin tin ditengah jalan dan
memberitahukan kepada mereka agar segera berkumpul dilembah
Hek sik kok.
Di saat semua orang berpisah, nona Ting Un menunjukan
perasaan kuatir karena Hui cun siucay Seng Tiok sian menempuh
perjalanan sama sama Cun Bwee. Akan tetapi berhubung Bu im sin
hong Kian Kim siang dan Thi Eng khi menaruh kepercayaan penuh

1519
terhadapnya, dia merasa kurang leluasa untuk mengungkapkan
rahasia hatinya, terpaksa dengan sikap yang berat hati dan kuatir
dia memandang ke arah Hui cun siucay Seng Tiok sian.
Sebagai manusia yang cerdik Cun Bwee segera dapat menebak
rahasia hati nona itu, buru buru digenggamnya tangan nona Ting Un
sambil berkata :
“Nona Un, kau tak usah kuatir, aku bukan seorang manusia yang
lain di mulut lain di hati!”
Bu im sin hong Kian Kim siang yang menyaksikan kejadian
tersebut segera tertawa terbahak bahak.
“Haaahhh... .haaahhh.... haaahhh... budak Un, masa terhadap
aku si orang tuapun kau tidak percaya? Ayo cepat berangkat...”
Dia segera menarik tangan nona Ting Un dan mengajaknya
berlalu dari situ, dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah
lenyap dari pandangan. Gerakan tubuh Thi Eng khi sewaktu
meninggalkan tempat tersebut jauh lebih cepat lagi, sampai sampai
Cun Bwee tidak sempat menyaksikan dengan cara apakah pemuda
tersebut berlalu dari situ.
Dengan wajah termangu mangu Cun Bwee memandang
kepergian mereka, sementara dalam hati kecilnya muncul suatu
perasaan ngeri dan takut yang tak terlukiskan dengan kata kata, dia
tahu nasib akhir dari Hian im Tee kun sudah ditetapkan.
Mendadak ia mendengar suara dari Hui cun siucay Seng Tiok sian
bergema di sisi telinganya :
“Nona Cun Bwee, kita pun harus segera melakukan perjalanan!”
Dalam pada itu, Thi Eng khi yang akan berhadapan dengan
musuh tangguh merasa kurang leluasa untuk membawa kuda Hek
liong kou kesayangannya.
Jilid 47

1520
Untuk mempermudah gerak geriknya dia menetapkan untuk
melanjutkan perjalanannya dengan mengerahkan ilmu gerakan
tubuh Hu kong keng im. Walaupun begitu ternyata kecepatan
geraknya tidak berada dibawah kecepatan lari kuda Hek liong kou
tersebut. Tidak sampai setengah harian, dia telah tiba di depan
lembah Hek sik cun, tempat kediaman si pembenci raja akhirat Kwik
Keng thian.....
Gua yang panjangnya mencapai beberapa li dengan mulut gua
yang lebar, kini telah siap menantikan kedatangannya. Adapun
tujuan Thi Eng khi yang terutama adalah memutuskan hubungan
para gembong iblis yang berada di dalam gua dengan dunia luar,
maka begitu sampai ditempat tujuan, dia langsung berdiri tegak di
depan mulut gua sambil bersiap siaga.
Belum lama dia berdiri tegak disitu, mendadak dari balik gua
berkumandang suara langkah kaki manusia yang cukup ramai,
menyusul kemudian terlihat munculnya empat orang kakek. Thi Eng
khi tidak kenal dengan mereka, namun keempat kakek tersebut
rupanya cukup mengenalinya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun
mereka menjerit kaget, membalikkan badan dan melarikan diri
terbirit birit. Nampaknya mereka tak berani memusuhi Thi Eng khi
yang dipandang sebagai momok oleh mereka.
Sambil tertawa nyaring Thi Eng khi segera berseru :
“Sekarang aku telah hadir disini, akan kulihat kemanakah kalian
mau lari!”
Suara seruan yang menggaung dalam lorong gua itu bergema
sampai beberapa li jauhnya dan mendengung di sisi telinga Hian im
Tee kun. Begitu awal kemunculan Thi Eng khi di situ, pada
hakekatnya sangat mencengangkan Hian im Tee kun, bahkan
membuatnya sama sekali diluar dugaan, terutama sekali sikap Thi
Eng khi yang berjaga jaga di depan mulut gua, hal ini membuatnya
semakin kesulitan untuk menghadapinya. Sebab mulut gua itu amat
sempit, dalam keadaan seperti ini boleh dibilang komplotannya tak
mampu dimanfaatkan lagi kekuatannya.

1521
Sebaliknya kalau mesti bertarung seorang diri? Kecuali dia
sendiri, siapakah yang mampu menandingi kelihayan dan kehebatan
Thi Eng khi? Kalau dikeroyok saja beramai ramai? Dalam keadaan
seperti ini, mana mungkin dia dapat main kerubut...? Kalau dia pasti
muncul sendiri untuk menerima tantangan Thi Eng Khi?
Dia pun tidak tahu berapa banyak konco yang diajak Thi Eng Khi
datang kesana, padahal konco konconya tak bisa dimanfaatkan
kemampuannya disitu, bila sampai terjebak ke dalam perangkap Thi
Eng khi bukankah hal tersebut akan semakin berabe? Oleh karena
itu, Hian im Tee kun tetap membiarkan Thi Eng khi berpekik tiada
hentinya di luar gua, sementara dia sendiri hanya memutar otak dan
membungkam dalam seribu bahasa.
Hingga keempat kakek yang siap keluar gua tadi datang
melaporkan kalau cuma Thi Eng khi seorang yang berjaga jaga
diluar gua. Hian im Tee kun baru memutuskan untuk memanfaatkan
peluang ini guna menghadapi Thi Eng Khi. Dia segera memimpin
langsung sejumlah kawanan iblis untuk menyerbu keluar dari gua
dan siap melangsungkan pertarungan mati hidup dengan si anak
muda tersebut.
Semenjak pertarungannya melawan Thi Eng khi tempo hari,
walaupun Hian im Tee kun merasa masa depan si anak muda itu
cukup cemerlang dan di kemudian hari bakal menjadi seorang
musuh yang sangat menakutkan, namun dia yakin seyakin yakinnya
bahwa kemampuan yang dimilikinya sekarang masih cukup untuk
mengungguli Thi Eng khi, terutama sekali setelah pengasingan
dirinya selama ini dan mempelajari beberapa macam kepandaian
lagi, dia semakin tidak memandang sebelah mata terhadap pemuda
itu.
Boleh saja Hian im Tee kun mempunyai perhitungan demikian,
dan hal ini memang tak dapat menyalahkan dia, sebab penampilan
Thi Eng khi dikala penumpasan terhadap Ban Seng kiong tempo hari
memang tidak memperlihatkan kelebihan kelebihan lain yang dapat
mengungguli atau melampaui dirinya.

1522
Begitulah, dengan membawa keyakinan yang sangat besar Hian
im Tee kun memimpin sejumlah kawanan iblis munculkan diri dari
dalam gua pertahanannya. Benar juga, dia menyaksikan Thi Eng khi
berdiri seorang diri diluar gua. Namun gembong iblis tua ini masih
kuatir apabila pemuda itu mempersiapkan jago jagonya disekitar
tempat itu, yaa, siapa tahu kalau kemunculan Thi Eng khi seorang
diri dimulut gua tersebut hanya sebuah pancingan belaka?
Setelah berpikir sebentar, dia memutuskan untuk melangsungkan
pertarungannya melawan Thi Eng khi di dalam gua, asal Thi Eng khi
berhasil dibunuh, maka dia lebih lebih tak usah kuatir menghadapi
kerubutan kawanan jago lainnya. Setelah berpikir pulang pergi,
akhirnya Hian im Tee kun menganggap jalan pemikirannya tak bakal
salah lagi, apalagi bila dia menyerbu keluar gua dan bertarung
melawan Thi Eng khi, dibawah komandonya langsung,
dikombinasikan dengan kerja sama para iblis, mungkinkah Thi Eng
khi bisa mempertahankan diri?
Padahal tindakan Hian im Tee kun tersebut justru telah
menghemat banyak tenaga dan kekuatan dari Thi Eng khi.
Sambil memandang kearah Thi Eng khi, Hian im Tee kun tertawa
dingin tiada hentinya, kemudian ejeknya :
“Beranikah kau untuk melangsungkan duel satu melawan satu
denganku di dalam lorong gua ini?”
Mendengar tantangan tersebut, Thi Eng khi segera tertawa
terbahak bahak.
“Haaahhh .....haaahhh... haaahhh.... iblis tua, pokoknya asal kau
yang turun tangan sendiri, dimanapun dan pada saat apapun pasti
akan kulayani!”
Hian im Tee kun segera memerintahkan kepada kawanan iblis
yang berada dibelakangnya agar mengundurkan diri, sementara dia
sendiripun ikut mundur sejauh tiga kaki lebih. Dengan langkah lebar
Thi Eng khi berjalan masuk ke dalam gua tersebut kemudian setelah
saling berhadapan dengan Hian im Tee kun, dia berkata :
“Iblis tua, kali ini kau seharusnya yang mempergunakan senjata
tajam!”

1523
Sudah barang tentu maksud dari perkataan ini adalah pernyataan
bahwa dia sendiri akan menghadapi tantangan tersebut dengan
sepasang tangan kosong belaka. Rasa benci Hian im Tee kun
terhadap Thi Eng khi boleh dibilang sudah merasuk sampai ke tulang
sumsum, kalau bisa dia ingin sekali dapat membinasakan Thi Eng khi
dalam satu gebrakan saja, kemudian mencincang tubuhnya sehingga
hancur berkeping keping.....
Sudah barang tentu, untuk mewujudkan keinginannya tersebut,
dia tak akan memberi kesempatan kepada lawannya untuk lebih
banyak meraih keuntungan. Tatkala mendengar perkataan tersebut,
dia segera tertawa terbahak bahak saking gusarnya, kemudian
berkata :
“Aku bukan seorang manusia pengecut yang ingin meraih
kemenangan dengan mengandalkan senjata tajam, bila kau ingin
memakai senjata pedang emas naga langit, silahkan saja digunakan,
buat apa sih membuat alasan yang tidak tidak?”
Kembali Thi Eng khi tertawa :
“Aku lihat, seandainya kau tidak mempergunakan senjata
mungkin kau tak akan mampu menghadapi diriku sebanyak seratus
gebrakan pun....”
“Sudah, tak usah banyak ngomong, rasain dulu sebuah pukulan
ku ini....!” teriak Hian im Tee kun gusar.
Begitu selesai berbicara, Hian im Tee kun segera berdiri tegak
dengan wajah serius, pelan pelan hawa murninya dihimpun menjadi
satu, sementara paras mukanya yang semula putih bersih, dalam
waktu singkat saja telah dilapisi oleh hawa hijau yang sangat tebal.
Kemudian tak lama setelah itu, paras mukanya telah berubah
menjadi hijau membesi.
Kalau menurut catatan dalam Hian im cing khi, maka bilamana
hawa murni seseorang sudah dihimpun sehingga paras mukanya
berubah menjadi hijau membesi, maka secara otomatis udara
disekeliling tempat itupun akan turut terpengaruh sehingga berubah
menjadi dingin sekali sampai merasuk ke dalam tulang sumsum.

1524
Tapi kenyataan yang terbentang di depan mata sekarang bukankah
demikian, bukan saja Thi Eng khi tidak merasakan hawa dingin yang
mencekam bahkan malah sebaliknya dia merasakan udara yang
hangat dan sangat nyaman.
Thi Eng khi yang hadir hari ini, meski usianya masih sangat muda
namun dia telah membekali segenap pengetahuan yang terdapat di
dalam kitab kitab pusaka milik Cu sim ci cu Thio Biau liong. Atau
dengan perkataan lain, si anak muda ini sudah berpengetahuan
begitu luas sehingga sukar bagi orang lain untuk mengimbanginya...
Namun dia merasa kaget dan terperanjat juga setelah
menyaksikan kejadian ini, segera pikirnya :
“Benar benar tak kusangka, hanya didalam beberapa bulan yang
demikian singkatnya, ternyata dia telah berhasil melatih Hian im
ceng khinya hingga mencapai taraf apa yang disebut Im khek yang
seng (puncak dingin yang menimbulkan kehangatan) tampaknya dia
bukan musuh sembarangan musuh, aku tak boleh memandang
terlalu rendah tentang dirinya.”
Perlu diketahui apabila ilmu Hian im ceng khi telah dilatih
mencapai tingkat ke sepuluh, bila ingin mencapai taraf apa yang
dinamakan Im khek yang seng atau puncak dingin yang
menimbulkan kehangatan, maka seseorang harus melewati dulu
suatu percobaan yang berbahaya sekali. Dengan tenaga dalam Hian
im Tee kun yang begitu sempurna, dia sendiripun tak berani
mencoba secara sembarangan, sampai pertarungannya kemudian
melawan Thi Eng khi, dan menyadari betapa mengerikannya
kemampuan Thi Eng khi, dia baru nekad menyerempet bahaya
dengan menyelesaikan taraf terakhir yang belum pernah diselesaikan
olehnya selama puluhan tahun ini.
Begitu menyadari akan datangnya ancaman bahaya, diam diam
Thi Eng khi menghimpun segenap hawa murninya untuk melindungi
semua jalan darah penting didalam tubuhnya, lalu bersiap sedia
menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
Pelan pelan Hian im Tee kun mengangkat telapak tangan
kanannya yang digoyangkan berulang kali dengan lambat, seketika

1525
itu juga muncullah segulung tenaga kekuatan yang sangat dahsyat
tapi hangat dan memabukkan langsung menerjang ke atas tubuh Thi
Eng Khi....
Thi Eng khi sadar bahwasanya tenaga dalam yang dimiliki Hian
im Tee kun sekarang sudah melewati taraf hawa dingin dan menuju
ke peralihan hawa panas dan hawa racunnya sudah menyebar
sampai ke mana-mana. Berada dalam keadaan begini, entah
tubuhnya berlatih tenaga im kang ataupun tenaga yang kang,
mustahil bisa membendung hawa serangan ini. Apalagi jika sampai
terkena hajaran secara telak, sekalipun tidak sampai mati paling
tidak isi perutnya pasti akan terpengaruh oleh hawa serangannya
hingga menimbulkan reaksi yang cukup serius sebagai akibatnya
sudah barang tentu penderitaan yang diperoleh pun tidak
terlukiskan....
Sementara itu, Thi Eng khi sudah buru buru mengerahkan tenaga
dalamnya untuk melindungi seluruh tubuhnya, bersamaan itu pula
hawa sakti tay kim sinkang yang dilatihnya dihimpun ke dalam
tangan dan mengayunkannya ke muka untuk menyongsong
datangnya ancaman tersebut.
Segulung hawa pukulan yang lembek dan bersih dengan cepat
saling beradu dengan tenaga im kang yang telah berubah jadi hawa
yang kang tersebut.
“Blaaammmmm!”
Ledakan yang memekikkan telinga segera berkumandang
memecahkan keheningan. Sebagai akibat dari bentrokan kekerasan
itu, Thi Eng khi terdorong tubuhnya sampai terhuyung mundur,
sedangkan Hian im Tee kun tak sanggup menahan dorongan yang
kuat dan secara beruntun mundur sejauh tiga langkah lebih.
Dengan wajah tenang namun serius Thi Eng khi segera berkata
lagi :
“Iblis tua, nampaknya aku benar benar sudah menilai dirimu
kelewat rendah!”

1526
Ketika Hian im Tee kun menyaksikan serangan dahsyatnya
ternyata tidak berhasil melukai Thi Eng khi, secara diam diam diapun
merasa terkejut. Mendadak saja dia melangkah maju dengan
tindakan lebar, begitu menerjang ke sisi badan Thi Eng khi, telapak
tangannya langsung diayunkan ke muka melepaskan sebuah
bacokan kilat.
Thi Eng khi segera mengeluarkan jurus Sia ci yang khi
(mengibarkan bendera dengan posisi miring) yang disertai tenaga
Tay kim ceng khi untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut
dengan keras lawan keras.
Di dalam bentrokan yang kemudian terjadi untuk kedua kalinya,
Hian im Tee kun merasakan tenaga serangan sendiri seolah olah
sedang menghantam diatas kapas yang lunak, ternyata tenaga
pukulannya tak mampu mewujudkan kekuatan penghancurnya yang
maha dahsyat tersebut. Untuk kesekian kalinya dia merasa
terperanjat sekali, segera pikirnya :
“Tenaga Tay kim ceng khi yang dimiliki bocah keparat ini benar
benar sangat aneh, mungkinkah dia telah memperoleh penemuan
aneh lainnya?”
Sementara otaknya masih berputar memikirkan hal tersebut,
telapak tangannya sekali lagi telah melancarkan bacokan maut ke
tubuh Thi Eng khi...
Di dalam serangan yang dilancarkan kembali dia telah
menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, tentu saja
kedahsyatan luar biasa sekali, hawa serangan yang hangat tapi kuat
itu seolah olah berdatangan dari empat arah delapan penjuru dan
bersama sama menubruk ke arah Thi Eng khi.
“Serangan yang bagus!” bentak Thi Eng khi keras keras.
Kembali dia menyambut datangnya serangan tersebut dengan
keras lawan keras. Dalam bentrokan kali ini, kedua belah pihak sama
sama menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki. Hian im Tee
kun yang termakan tenaga Tay kim ceng khi dari Thi Eng khi segera
tergetar mundur sejauh lima langkah lebih. Sebaliknya Thi Eng khi

1527
termakan juga oleh tenaga pukulan Hian im Tee kun sehingga
tergetar mundur sejauh satu langkah.
Sesudah mundur ke belakang, dengan cepat Thi Eng khi
memejamkan matanya untuk mengatur napas dan memulihkan
kembali kekuatannya. Sedangkan Hian im Tee kun tertawa rawan
lalu berkata :
“Tahun ini usiaku sudah mencapai puncaknya, baik, aku akan
beradu jiwa denganmu!”
Berbicara sampai disini, dia lantas merogoh ke dalam sakunya
dan mengeluarkan sebutir pil yang segera ditelannya. Paras
mukanya yang semula berwarna hijau membesi segera berubah
menjadi merah darah, sambil memutar sepasang telapak tangannya,
dia membentak nyaring :
“Sambutlah sebuah pukulanku lagi, coba kau rasakan sampai
dimanakah kelihayanku!”
Tenaga pukulan yang terpancar keluar dari balik telapak
tangannya terasa panas menyengat badan, bahkan secara lamat
lamat terlihat juga cahaya merah darah yang menyelimuti seluruh
angkasa....
Thi Eng khi sama sekali tidak menghindar ataupun bermaksud
untuk berkelit, dia mengayunkan pula sepasang telapak tangannya
melepaskan pukulan dengan tenaga Tay kim ceng khi. Tatkala kedua
gulung tenaga pukulan tersebut saling membentur untuk kesekian
kalinya, ternyata keadaan yang kemudian terjadi jauh berbeda.
Akibat dari bentrokan ini, Hian im Tee kun cuma tergetar mundur
sejauh satu langkah, sebaliknya Thi Eng khi sendiripun tidak berhasil
memperoleh suatu keberuntunganpun, malah dia sendiri terpaksa
mundur juga sejauh satu langkah. Ternyata kekuatan yang mereka
miliki sekarang telah meningkat menjadi berimbang.
Hian im Tee kun hanya menelan sebutir saja, namun
kenyataannya dari posisi yang terdesak dan dibawah angin, ternyata
dia pun mampu memperbaiki posisinya menjadi berimbang.
Menghadapi Hian im Tee kun yang tak segan segan

1528
mempertaruhkan jiwa raganya dengan menggunakan sebutir obat
untuk merangsang seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya
guna beradu jiwa dengannya, diam diam pemuda ini gelisah dan
merasa sangat tidak tenang.
Dikala Hian im Tee kun melancarkan serangannya lagi, Thi Eng
khi tak berani beradu kekerasan lagi dengan Hian im Tee kun,
terpaksa dia harus mempergunakan ilmu gerakan tubuh Hu kong
keng irn untuk berkelit kesana menghindar kemari sembari mencari
kesempatan untuk melancarkan serangan balasan.
Dalam waktu singkat udara di dalam lorong gua itu dipenuhi oleh
hawa pukulan yang menderu deru, batu gunung dan pasir segera
berguguran ke atas tanah membuat kawanan gembong iblis tersebut
tak mampu berdiam terus di dalam gua, terpaksa mereka mundur
keluar dari gua tersebut.
Dengan begitu, didalam lorong gua yang panjangnya mencapai
beberapa li ini hanya diisi oleh dua orang saja yakni Hian im Tee kun
serta Thi Eng khi yang terlihat dalam pertarungan mati hidup.
Bersamaan waktunya dengan berkobarnya pertarungan sengit
antara Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun, dipihak lain, Bu im sin
hong Kian Kim siang beserta nona Ting Un telah sampai pula di
perkampungan Huan keng san ceng.
Mimpipun nona Ting Un tak pernah menyangka kalau dalam
kolong langit dewasa ini terdapat ilmu meringankan tubuh yang
begini sempurna. Dia hanya merasakan lengan sendiri ditarik oleh Bu
im sin hong Kian Kim siang dan tubuhnya segera melayang layang di
tengah udara seperti layang layang.
Bukan cuma kakinya saja yang tidak menempel permukaan
tanah, bahkan badannya turut melayang di udara. Malah saking
cepatnya mereka bergerak nona ini merasa dadanya sesak dan sukar
untuk bernapas. Kendatipun dalam hati kecilnya masih terdapat
banyak persoalan yang hendak dibicarakan, akan tetapi dia merasa
tak mampu untuk membuka suara. Hingga mereka berada tak jauh

1529
dari perkampungan Huan keng san ceng, Bu im sin hong Kian Kim
siang baru memperlambat gerakan tubuhnya.
Pada saat itulah, Ting Un baru dapat menghembuskan napas
panjang, katanya kemudian :
“Kian yaya, hari ini sepasang mata Un ji betul betul sudah
terbuka lebar, lewat beberapa hari, kau harus mengajarkan
kepandaian sakti ini kepadaku.”
Nada pembicaraannya selain lincah, polos, juga tidak sungkan
sungkan, bahwa di tengah keterus terangannya terlintas pula sifat
kekanak kanakannya. Dianggapnya ilmu Hu kong keng im tersebut
sudah pasti akan diwariskan Bu im sin hong Kian Kim siang
kepadanya. Pada dasarnya Bu im sin hong Kian Kim siang memang
bukan seorang manusia yang terlalu terikat dengan segala macam
peraturan, malah sebaliknya dia justru gembira dan senang sekali
dengan kejujuran, keterusterangan serta kepolosan gadis ini.
Walaupun begitu, ia sengaja menunjukkan mimik wajah yang
serius dan keren, kemudian setelah mendengus, katanya dengan
suara rendah :
“Mengapa lohu harus mewariskan ilmu gerakan tubuh Hu kong
keng im ini kepadamu?”
Tampaknya nona Ting Un tak pernah menduga bakal
memperoleh pertanyaan semacam ini, dia menjadi tertegun, lalu
serunya :
“Mengapa? Mengapa harus mengapa? Kau orang tua kan tak
punya anak murid, masa kau hendak membawa pulang ilmu sakti
yang menggetarkan dunia persilatan ini sampai ke dalam liang
kubur?”
Tampaknya apa yang terlintas dalam benak gadis ini segera
dilontarkan keluar olehnya tanpa dipikir lebih jauh, tak bisa disangkal
lagi, inilah watak dari seorang budak liar yang sudah terbiasa hidup
dimanja. Sikap semacam ini selain menggelikan bagi yang
memandang, juga mendatangkan rasa hangat yang jauh
mengakrabkan hubungan.

1530
Jalan permikiran nona Ting Un masih sangat polos, dia
menganggap Bu im sin hong Kian Kim siang sebagai lambang
kepemimpinan dari umat persilatan di wilayah See lam, sedangkan
dia pun sebagai angkatan muda diwilayah See lam, sudah pasti
permintaan yang diajukan itu akan dipenuhi.
Bu im sin hong Kian Kim siang sendiri pun terhitung seorang
manusia yang sangat aneh,
andaikata nona Ting Un memohon kepadanya secara beraturan
dan lemah lembut agar ilmu Hu kong keng im tersebut diwariskan
kepadanya, mungkin belum tentu dia akan mewariskan kepandaian
itu kepadanya. Tapi sekarang, cara dari gadis itu telah menimbulkan
rasa gembira dalam hatinya, tanpa berpikir panjang lagi dia
menyatakan persetujuannya dihati.
Hanya saja untuk menggoda gadis tersebut, sengaja dia menarik
muka sambil berkata lagi :
“Ilmu silat maha sakti hanya diwariskan untuk murid berbakat,
apakah kau menganggap berkemampuan untuk mempelajari ilmu
sakti Hu kong Keng im tersebut?”
Nona Ting Un segera tertawa lebar.
“Kalau hanya masalah itu mah bukan persoalan, dikala yayaku
masih hidup dulu beliau sering kali berkata demikian : Anak Un
pandai dan cekatan, apabila dapat bersua dengan Kian loko dan
mempelajari ilmu Hu kong keng im miliknya, sudah pasti kau akan
menjadi sekumtum bunga aneh dari wilayah See lam. Percayakah
kau dengan perkataan yayaku ini?”
Mendadak gadis itu menyinggung kembali tentang sobat
lamanya, pudarlah keinginan Bu im sin hong Kian Kim siang untuk
menggoda gadis tersebut lebih jauh, dia segera menghela napas
panjang.....
“Aaaai, kalian manusia manusia angkatan muda, nampaknya
makin hari mukanya semakin tebal satu inci....”
"Yaya aku pun sering berkata begini,” kembali nona Ting Un
berkata dengan wajah serius “bilamana menghadapi persoalan,

1531
manfaatkanlah waktu dan janganlah mengalah bilamana tidak perlu
untuk mengalah. Bila kau orang tua pergi dan lenyap lagi selama
tujuh delapan puluh tahun, bagaimana mungkin aku bisa
mempelajari ilmu Hu kong Keng im mu lagi?”
Bu im sin hong Kian Kim siang semakin gembira lagi dibuatnya,
tak tahan dia tertawa terbahak bahak :
“Haaahhh.... haaaahhh…. Haaahhh.... sayang sekali ilmu Hu kong
keng im ku sudah mempunyai ahli warisnya!”
“Bolehkah ahli warisnya diperbanyak seorang lagi?” rengek nona
Ting Un.
“Bukan saja aku telah memperbanyak ahli warisku dengan
seorang, bahkan sudah mencapai tiga orang banyaknya!”
Nona Ting Un segera tertawa lebar.
“Sudah ada dua pasti tiga, sudah tiga tentu ada empat, toh kau
sudah mempunyai tiga orang ahli waris, berarti kau pun dapat
menerima ahli waris yang keempat, atau dengan perkataan lain aku
pasti mempunyai bagian untuk itu, baik sekarang juga aku akan
mengangkatmu sebagai guruku!”
Tanpa menunggu apakah Bu im sin hong Kian Kim siang setuju
atau tidak, dia segera bertekuk pinggang dan menjatuhkan diri
berlutut.
Pada hakekatnya Bu im sin hong Kian Kim siang memang bukan
tandingan dari gadis cilik itu terpaksa ujarnya kemudian sambil
tertawa :
“Aaaai, angkatan muda patut disegani, angkatan muda patut
disegani, baiklah, memandang diatas wajah yayamu itu rasanya
sungkan kalau kutampik keinginanmu untuk mempelajari ilmu Hu
kong keng im, cuma soal pengangkatan guru mah tidak usah, ayo
bangun, kita harus menyelesaikan dulu urusan penting yang sedang
berada di depan mata.”

1532
Cepat dia menyambar tangan Ting Un dan tidak menanti gadis itu
berbicara dia memaksanya untuk bangkit berdiri. Terpaksa nona
Ting Un harus bangun berdiri, katanya kemudian sambil tertawa :
“Kian yaya, kau jahat amat! Padahal aku tahu sejak tadi kau
sudah berencana hendak mewariskan ilmu Hu kong keng im tersebut
kepadaku, tapi kau sengaja hendak menggoda aku rupanya...”
Ucapan tersebut membikin Bu im sin hong Kian Kim siang tak
sanggup menahan diri lagi, kontan saja dia mendongakkan
kepalanya dan tertawa terbahak bahak. Baru saja pulang ke
kampung halaman yang sudah lama ditinggalkan puluhan tahun
lamanya, kini Bu im sin hong Kian Kim siang berjumpa dengan
seorang nona cilik yang binal, pintar, dan membuat hati orang
gembira, hal tersebut membuatnya kegirangan setengah mati.
Tidak heran kalau gelak tertawanya itu berkumandang sampai
beberapa li jauhnya dan membumbung tinggi menembusi lapisan
awan di angkasa. Belum habis gelak tertawanya berkumandang, dari
arah perkampungan Huan keng san ceng telah meluncur keluar
empat sosok bayangan manusia yang menerjang tiba dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Sebagaimana diketahui, Bu im sin hong Kian Kim siang sudah
puluhan tahun lamanya berkelana di luar daerah, dengan demikian
dia pun tidak kenal dengan keempat manusia yang merupakan jago
jago lihay dari wilayah See lam tersebut. Sebaliknya ke empat jago
pun merupakan jago jago angkatan terakhir dari wilayah See lam,
mereka muncul agak terlambat dalam dunia persilatan sehingga tak
seorangpun diantara mereka yang pernah bersua muka dengan Bu
im sin hong Kian Kim siang.
Itulah sebabnya ketika kedua belah pihak saling berjumpa muka,
kedua belah pihak sama sama tidak mengenal. Nona Ting Un segera
menyongsong kedatangan orang orang itu, lalu serunya dengan
lantang :
"Empek dan paman berempat, Kian yaya telah datang, ayo cepat
kalian memberi hormat kepada Kian yaya!"

1533
Dari keempat orang tersebut, Jit gwat siang beng To bersaudara
termasuk pula diantaranya. Hingga sekarang Jit gwat siang beng To
bersaudara masih belum mengerti keadaan yang sebenarnya, tatkala
mereka mulai curiga dengan situasi, waktu itu gerak gerik mereka
sudah dapat dibatasi oleh Hian im Tee kun, bahkan keadaan dunia
persilatan untuk wilayah See lam telah dikuasai gembong iblis
tersebut.
Terjadinya peristiwa mana cukup membuat kedua orang
bersaudara itu menjadi sedih dan menyesal setengah mati, sayang
mereka tak berkemampuan untuk menolong keadaan.....
Nona Ting Un memang terkenal sebagai seorang gadis yang
binal, manja dan cerdas, apalagi dia memang dsayang oleh cikal
bakalnya perkampungan Huan keng san ceng, hal mana
menyebabkan semua orang merasa segan dan sungkan kepadanya.
Sekarang, Jit gwat siang beng To bersaudara mengira si nona
lagi lagi hendak me¬nyusun permainan setan untuk menjebak
mereka berdua karenanya walaupun sudah menghentikan gerakan
tubuhnya, dengan nada kurang percaya mereka berseru :
"Nona Un, permainan busuk apalagi yang sedang kau
persiapkan? Ayo cepat pulang ke rumah, tahukah kau kepergianmu
kali ini tanpa pamit telah membuat gegernya perkampungan Huan
keng san ceng....?"
Menyaksikan orang orang itu tak mau mempercayai
perkataannya, nona Ting Un menjadi sangat gelisah, sambil
mendepak depakkan kakinya berulang kali, serunya keras keras :
"Goblok, pikun, tolol! Bukankah saban hari kalian merindukan
kedatangan Kian yaya? Sekarang Kian yaya sudah muncul disini tapi
kalian justru enggan mempercayainya betul betul membuat hati
orang mendongkol saja!"
Jit gwat siang beng To bersaudara pernah terkecoh oleh gadis ini
semenjak saat itu mereka tak mau percaya dengan setiap perkataan
nona Ting Un maka ketika mendengar ucapan mana mereka lantas
membalikkan badan dan berjalan mendekati Bu im sin hong Kian
Kim siang, katanya kemudian seraya menjura,

1534
"Nona Un memang paling senang bergurau dengan kamu,
bilamana lotiang juga terkecoh oleh ulahnya, harap kau sudi
memaafkan..."
Bu im sin hong Kian Kim siang segera tertawa tergelak.
"Haaaahhh.. haaahhh... haaahhh... lohu adalah Kian Kim siang,
boleh kutahu siapa nama kalian berdua?"
Untuk beberapa saat lamanya Jit gwat siang beng To bersaudara
menjadi tertegun melongo, tak sepatah katapun yang mampu
diutarakan keluar. Selang berapa saat kemudian mereka gelengkan
kepalanya berulang kali artinya mereka tak ingin mempercayai
kenyataan tersebut dengan begitu saja, mereka harus menyelidiki
persoalan tersebut dan membuktikan kebenarannya lebih dulu
sebelum mempercayainya secara seratus persen.
Pada saat itulah, dari arah perkampungan Huan keng san ceng
kembali muncul tiga sosok bayangan manusia, begitu bertemu
dengan Bu im sin hong Kian Kim siang, mereka segera menjerit
kaget :
"Aaaai, Bu im sin hong Kian Kim siang ..... "
Ketiga orang ini merupakan orang orang kepercayaan dari Hian
im Tee kun, sewaktu berada di istana Ban seng kiong tempo hari,
mereka pernah berjumpa muka dengan Bu im sin hong Kian Kim
siang, itulah sebabnya mereka cukup mengenal tokoh sakti tersebut,
tidak heran kalau mereka langsung menjerit kaget begitu bersua
muka sekarang.
Akan tetapi mereka pun terhitung manusia yang cerdas dan
berpengalaman luas, sekilas pandangan saja, mereka sudah
mengenali situasi yang berada di depan mata. Tampaknya orang
belum mengenali si Bu im sin hong Kian Kim siang sebagai pemimpin
mereka, terutama sekali umat persilatan dari wilayah See lam. Maka
dengan perasaan menyesal buru buru mereka menutup mulutnya
rapat rapat.

1535
Sekalipun mereka tutup mulut dengan cepat, toh ucapan tadi
sudah terlanjur diutarakan, hal ini menimbulkan perhatian khusus
dari Jit gwat siang beng To bersaudara.
Dengan cepat kedua orang bersaudara itu berpaling, kemudian
tanyanya :
“Jadi dia orang tua adalah Bu im sin hong Kian Kim siang, Kian
locianpwe?”
Salah seorang diantara ketiga orang kepercayaan Hian im Tee
kun itu segera menggeleng.
“Tidak bisa dikatakan demikian, sebab kalau dibilang dia mirip Bu
im sin hong Kian Kim siang, agaknya perawakan Bu im sin hong Kian
Kim siang yang sesungguhnya masih lebih rendah lima inci daripada
perawakan tubuhnya!”
Dengan perasaan lega, Jit gwat siang beng To bersaudara
menghembuskan napas panjang.
"Nah kalau begitu tak bakal salah lagi!"
Mereka betul betul merasa kuatir apabila telah melakukan suatu
kesalahan besar sebab hal ini akan menyebabkan mereka merasa
malu terhadap umat persilatan wilayah See lam dikemudian hari.....
Bu im sin hong Kian Kim siang yang mendengar perkataan
tersebut, dengan cepat mengerahkan ilmu Sut kut sin kang (ilmu
sakti menyusut tulang) nya hingga perawakan tubuhnya segera
berubah menjadi lebih pendek lima inci, setelah itu, ujarnya lagi
sambil tertawa :
"Nah, sekarang lohu pasti sudah mirip dengan Bu im sin hong
Kian Kim siang bukan?"
Jit gwat siang beng To bersaudara yang menyaksikan kejadian
tersebut menjadi tertegun, tapi senyuman segera menghiasi wajah
mereka berdua :
"Lotiang, ilmu saktimu betul betul sangat hebat, boanpwe
sekalian sungguh dibuat kagum sekali!"

1536
Kalau didengar dari nada pembicaraan ini, tampaknya mereka
masih belum mau mengakuinya sebagai Bu im sin hong Kian Kim
siang...
Tiba tiba nona Ting Un berteriak karas :
"Nah sudah datang! Sudah datang! Orang yang kenal dengan
Kian yaya telah datang!"
Ketika semua orang berpaling ke arah perkampungan Huan keng
san ceng, maka terlihatlah seorang nenek yang dihari hari biasa
dipanggil Popo oleh nona Ting Un sedang meluncur datang dengan
kecepatan luar biasa.
Begitu mendekat, nenek itu segera berteriak keras :
"Nona Un ke mana saja kau telah pergi? Membuat aku si nenek
merasa panik setengah mati!"
Sambil melayang maju ke muka untuk menyambut kedatangan
nenek tersebut, nona Ting Un segera berseru :
"Popo, aku telah berhasil mengundang datang Bu im sin hong
Kian Kim siang, cuma mereka tak mau mempercayainya dengan
begitu saja......!"
"Ooo... ada kejadian seperti ini?" seru si nenek cepat.
Ia segera melayang turun dihadapan Bu im sin hong Kian Kim
siang lalu sambil memperhatikan Bu im sin hong Kian Kim siang
beberapa saat lamanya, dia menggeleng seraya berseru :
"Kau bukan Bu im sin hong Kian loyacu!"
"Popo, kau jangan ngaco belo!" kontan saja nona Ting Un
melompat bangun sambil berteriak marah.
Sambil tersenyum Bu im sin hong Kian Kim siang yang berada di
sampingnya menimbrung :
"Tang soat, atas dasar apa kau tidak mengenali lohu sebagai Bu
im sin hong Kian Kim siang?"

1537
Tang soat merupakan nama kecil si nenek di saat masih muda
dulu, semenjak yayanya Ting Un meninggal dunia, selama puluhan
tahun terakhir ini boleh dibilang belum pernah ada orang yang
memanggilnya dengan nama tersebut.
Bukan cuma tiada orang saja yang memanggil dengan nama itu,
mungkin selain si pembenci raja akhirat Kwik Keng thian, mungkin
cuma Bu im sin hong Kian Kim siang seorang yang mengetahui
nama kecilnya tersebut.
Ternyata Tang soat adalah dayang dari nenek Ting Un sebelum
kawin dulu, sejak kecil dia sudah mengikuti keluarga Ting hingga
kini, bukan saja masa remajanya dikorbankan, orangnya pun amat
setia dengan keluarga. Itulah sebabnya dia selain disegani juga
dihormati oleh semua anggota keluarga Ting semenjak dari yang tua
sampai yang muda. Maka dari itu, sejak Ting Un dapat berbicara, dia
selalu membahasai dirinya sebagai popo.
Si nenek itupun amat menyukai Ting Un bahkan pada hakekatnya
menganggap gadis ini sebagai nyawa sendiri.
Dalam pada itu, kulit wajah si nenek telah mengejang beberapa
saat lamanya, lama kemudian dia baru berkata :
"Budak masih ada satu persoalan yang tidak mengerti, bila kau
benar benar adalah Kian loyacu, mengapa perawakan tubuhmu
Nampak jauh lebih pendek daripada Kian loyacu yang dulu?"
Sebagaimana diketahui, walaupun orang sudah meningkat tua,
walaupun raut wajahnya mungkin bisa berubah namun sebagian
besar masih dapat dikenali dengan jelas. Tentang perawakan
tubuhnya, sekalipun karena usia tua mungkin akan menjadi
membungkuk, namun perbedaannya tidak akan lebih banyak
daripada perawakan dulu.
Dari sini dapatlah disimpulkan bahwa Tang soat tidak berani
mengenali Bu im sin hong Kian Kim siang, lantaran perawakan
tubuhnya dia rasakan terlalu pendek.
Sambil tertawa Bu im sin hong Kian Kim siang segera berkata
lantang.

1538
"Barusan ada orang mengatakan perawakan tubuhku kelewat
tinggi, sekarang kau mengatakan perawakanku terlalu pendek,
waaah.... nampaknya makin tua nasibku semakin jelek!"
Sambil berkata dia lantas membungkukkan tubuhnya dan
memulihkan kembali ukuran perawakan tubuhnya seperti semula.
Dengan sikap yang sangat hormat si nenek segera berkata :
"Harap Kian loyacu sudi memaafkan kelancangan Tang soat
barusan...!"
Baru saja senyuman cerah menghiasi ujung bibir Bu im sin hong
Kian Kim siang mendadak paras mukanya berubah, kemudian ia
membentak nyaring :
"Mau kabur ke mana kalian?"
Dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat ia
segera menerjang ke arah tiga orang anggota Ban seng kiong itu.
Rupanya ketiga orang penjahat tersebut dapat merasakan kalau
gelagat tidak beres, mereka bersiap siap hendak mengundurkan diri
ke perkampungan Huan keng san ceng dan bersiap sedia turun
tangan lebih dulu untuk mempengaruhi jago jago See lam dan
bersama sama menghadapi Bu im sin hong Kian Kim siang.
Sayang sekali perbuatannya segara ketahuan Bu im sin hong Kian
Kim siang dan jalan pergi mereka segera dihadang. Bagaimana
mungkin ilmu meringankan tubuh yang dimiliki ketiga orang
gembong iblis tersebut bisa melebihi ilmu gerakan tubuh Hu kong
keng im dari Bu im sin hong Kian Kim siang yang amat tersohor
tersebut. Belum lagi mencapai beberapa kaki dari posisi semula,
mereka bertiga sudah berhasil disusul oleh Bu im sin hong Kian Kim
siang bahkan jalan perginya segera dihadang.
Menyusul kemudian si nenek Tang soat dan nona Ting Un
memburu pula ke depan dan melangsungkan pertarungan sengit
melawan ketiga orang itu. Hanya Jit gwat siang beng To bersaudara
dan kedua orang lainnya yang tidak berniat turun tangan meski
sudah ikut memburu ke depan, malah salah seorang diantaranya
segera mencoba melerai :

1539
“Kian locianpwe, bila ada masalah lebih baik dibicarakan saja
secara baik baik, buat apa Kita mesti saling gontok gontokan
sendiri?"
Bu im sin hong Kian Kim siang menjadi gusarnya setengah mati,
kontan saja dia mengumpat :
"Manusia goblok, kenapa kalian masih berpeluk tangan belaka?
Ayo cepat turun tangan membantu Un ji untuk membekuk kawanan
anak iblis tersebut!"
Sambil berbicara, dia sendiripun mengerahkan segenap kekuatan
yang dimilikinya untuk meneter musuhnya lebih gencar. Kontan saja
orang yang bertarung melawannya itu dibuat keteter hebat dan
kalang kabut sendiri, tak lama kemudian ia sudah terdesak di bawah
angin.
Sedang Jit gwat siang beng To bersaudara masih tetap berdiri
tertegun dengan wajah melongo dan kebingungan, mereka tidak
turun tangan melainkan hanya mematung. Berada dalam keadaan
demikian, Bu im sin hong Kian Kim siang tahu bahwa banyak
berbicara tak ada gunanya, dengan mempergencar serangannya dia
meneter musuhnya habis habisan kemudian merobohkannya dengan
sebuah totokan jalan darah.
Menyusul kemudian dia melayang ke depan menerjang orang
yang sedang bertarung melawan Ting Un, tapi tak sampai empat
lima gebrakan kemudian, diapun dapat merobohkan kembali seorang
lagi. Rupanya tokoh sakti kita ini bertekad akan menyelesaikan
pertarungan di dalam waktu singkat, dengan cepat dia menerjang
pula anakan iblis yang sedang bertarung melawan Tang soat itu,
tidak sampai tiga gebrakan kembali dia sudah berhasil merobohkan.
Begitu selesai merobohkan orang orang itu, ia baru melayang
turun di hadapan Jit gwat siang beng To bersaudara dan menegur
dengan penuh kegusaran :
"Mengapa kalian enggan melaksanakan perintah?"
Agaknya Jit gwat siang beng To bersaudara mempunyai alasan
mereka yang cukup kuat, segera ujarnya :

1540
"Kian locianpwe, harap kau jangan marah dulu, perlu diketahui
Kwik locianpwe dewasa ini masih berada di tangan mereka, demi
keselamatan Kwik locianpwe, mau tak mau kami harus berpikir tiga
kali sebelum mengambil keputusan dalam menghadapi setiap
persoalan... "
Oleh karena alasan tersebut, Bu im sin hong Kian Kim siang
menjadi sungkan untuk mengumbar hawa amarahnya lagi, terpaksa
dia mengisahkan kembali tindakan dari Thi Eng khi di lembah Hek sik
kok serta bakal tibanya serombongan besar jago jago lihay.
Jit gwat siang beng To bersaudara baru kegirangan setelah
mendengar perkataan tersebut, segera ujarnya :
"Kian locianpwe, sekarang juga kami akan memberitahukan hal
ini kepada semua orang yang ada di perkampungan, agar mereka
bekerja sama menumpas kawanan iblis yang mengawasi kami
selama ini, kemudian kami baru berangkat bersama sama menuju ke
lembah Hek sik kok untuk membantu usaha Thi sauhiap!"
Begitu selesai berkata, secepat terbang mereka lari masuk ke
dalam perkampungan. Sambil tertawa getir, Bu im sin hong Kian Kim
siang segera berkata :
"Tampaknya puluhan tahun tidak pulang kampung halaman,
umat persilatan di wilayah See lam ini sudah banyak yang
melupakan diri lohu ..... "
Ucapan ini meluncur keluar tanpa disadari olehnya, sebab
kenyataan yang memperlihatkan bahwa umat persilatan wilayah See
lam sudah melupakan dirinya ini pada hakekatnya merupakan suatu
peristiwa yang sangat melukai martabat dan nama baiknya. Padahal
dia mana tahu kalau Jit gwat siang beng mempunyai watak yang
sangat istimewa, yakni mereka bukan bermaksud tidak takluk
kepadanya.
Nona Ting Un yang cerdik dan teliti, dengan cepat dapat
merasakan kalau kesepian dan kesedihan Bu im sin hong Kian Kim
siang timbul akibat dari ulah Jit gwat siang beng, sambil tertawa dia
lantas berkata :

1541
"Paman To berdua memang berwatak demikian, walaupun
sesungguhnya mereka termasuk jago jago berdarah panas, di
kemudian hari kau orang tua pasti akan mengetahui bagaimanakah
watak mereka yang sebenarnya .... "
"Aaaah, dasar kawanan katak dalam sumur, tempo hari pun
hampir saja kalian mencelakai saudara cilik Thi gara gara salah
paham ...... " umpat Bu im sin hong Kian Kim siang sambil tertawa
tergelak.
Dengan gelak tertawanya itu, pembicaraan pun segera diakhiri....
Sementara itu, suara pertarungan sudah mulai berkumandang
dari dalam perkampungan, jelas para jago See lam sudah bangkit
dan sadar kalau dirinya terkecoh hingga pertarungannya melawan
kawanan iblis yang semula menjaga perkampungan pun berkobar.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera mengajak nenek Tang soat
dan nona Ting Un untuk bersama sama menyerbu ke dalam
perkampungan Huan keng san ceng. Walaupun kepandaian silat
yang dimiliki kawanan iblis dari Ban seng kiong amat tinggi, namun
jumlah mereka jauh lebih sedikit ketimbang kawanan jago dari
wilayah See lam, ditambah pula kehadiran Bu im sin hong Kian Kim
siang yang memiliki kepandaian silat jauh melebihi kawanan iblis
tersebut. Tidak heran kalau pertarungan massal yang berkobar ini
yang menyebabkan kawanan iblis yang berhasil lolos dari situ tidak
banyak jumlahnya.
Tanpa banyak mengalami kesulitan, perkampungan Huan keng
san ceng telah dibebaskan kembali dari cengkeraman maut kawanan
iblis dari Ban seng kiong. Bu im sin hong Kian Kim siang segera
memilih dua tiga puluhan jago lihay dan bersama sama berangkat
menuju ke lembah Hek sik kok.
Pertarungan sengit antara Thi Eng khi melawan Hian im Tee kun
yang berlangsung didalam gua lembah Hek sik kok berlangsung
dengan ketatnya, ribuan jurus sudah lewat namun pertempuran
belum juga mereda, sementara menang kalah juga belum diketahui.

1542
Tatkala Bu im sin hong Kian Kim siang beserta rombongannya
tiba di situ, Ciu Tin tin sekalianpun belum lama tiba pula ditempat
tersebut. Setelah satu sama lainnya menggabungkan diri menjadi
satu, selain melototkan matanya lebar lebar memperhatikan deruan
angin puyuh yang berhembus keluar dari balik gua, tak seorang pun
diantara mereka yang bersuara.
Bu im sin hong Kian Kim siang segera berpaling ke arah Ciu Tin
tin, kemudian katanya : "Apakah Thi sauhiap sedang bertarung mati
matian melawan gembong iblis tua itu di dalam gua?"
Pertanyaan tersebut sesungguhnya merupakan pertanyaan yang
sudah tahu tapi ditanyakan juga, hal ini disebabkan rasa kuatirnya
terhadap Thi Eng khi menjadi jadi sehingga tidak tahan dia
mengajukan pertanyaan tersebut.
Ciu Tin tin segera menganggukkan.
"Barusan boanpwe telah mengadakan kontak langsung dengan
adik Eng melalui ilmu menyampaikan suara, menurut adik Eng
kepandaian silat yang dimiliki gembong iblis itu sudah melemah, dia
sudah mulai mempergunakan bahan obat obatan untuk menambah
tenaganya, jelas iblis tua itu sudah mulai nekad dan ingin beradu
jiwa ...."
Mendengar perkataan tersebut, Bu im sin hong Kian Kim siang
menjadi sangat terkejut, segera serunya dengan cepat :
"Kalau sampai hal ini terjadi, mana mungkin saudara cilik
sanggup menahan diri? Mengapa kita tidak masuk ke dalam gua
untuk membantunya?"
"Ruang gua itu terlampau sempit, siapa pun tak mungkin bisa
turut serta di dalam pertarungan tersebut, apalagi di dalam ruang
gua itu sudah dipenuhi hawa pukulan yang sangat kuat, aku pikir
tiada seorang manusia pun dalam kolong langit dewasa ini yang
sanggup menerobos masuk ke dalam gua itu."
"Kau sudah pernah mencobanya?" tanya Bu im sin hong Kian Kim
siang dengan kening berkerut.

1543
"Tenaga dalam yang boanpwe miliki masih belum mampu
menandingi Hian im Tee kun, apalagi dengan tenaga gabungan Hian
im Tee kun bersama adik Eng, buat apa aku mesti mencobanya lagi?
Jelas percuma saja .... "
"Lantas apakah kita harus berpeluk tangan belaka membiarkan
mereka sendiri yang menentukan menang kalahnya pertarungan
tersebut....?"
"Satu satunya cara yang dapat kita tempuh adalah menunggu
sampai pertarungan mereka mencapai pada puncaknya dan kedua
belah pihak sama kelelahan dan kehabisan tenaga. Waktu itu tenaga
pancaran yang dihasilkan di seputar ruang gua pasti akan melemah,
didalam keadaan seperti inilah kita baru mempunyai harapan untuk
menerobos masuk kedalam."
Bu im sin hong Kian Kim siang adalah seorang tokoh persilatan
yang sangat menonjol diantara kelompok jago jago kenamaan
lainnya, sudah barang tentu dia memahami teori tersebut, Maka
setelah menghela napas panjang, dia pun membungkam diri dalam
seribu bahasa.
Siapa tahu pada saat itulah mendadak dari kerumuman orang
banyak meluncur keluar sesosok bayangan manusia, kemudian
dengan kecepatan yang luar biasa bagaikan sambaran kilat di tengah
angkasa langsung menyusup ke dalam gua. Dengan perasaan
terperanjat, Ciu Tin tin segera berteriak keras keras :
"Sangkoan tayhiap, jangan bertindak gegabah, ayo cepat mundur
dari situ…."
Belum selesai peringatan itu diutarakan tampak Cang ciong sin
kiam Sangkoan Yong sudah mencapai tepi mulut gua. Sayang sekali
sebelum tubuhnya sempat menerobos masuk ke dalam gua itu,
segulung angin pukulan yang maha dahsyat telah menggetarkan
tubuhnya dan melemparkan orang tua itu sejauh dua kaki lebih ke
tengah udara. Ketika terjatuh kembali ke atas tanah dia muntah
darah segar dan tak mampu bangkit kembali.

1544
Si pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po segera melompat
ke depan dengan niat menolong Sangkoan Yong, siapa tahu dengan
kesempurnaan tenaga dalam yang dimilikinya, ia belum berhasil juga
mendekati lokasi tersebut. Tentu saja peristiwa ini menimbulkan
perasaan kaget dan terkesiap bagi kawanan jago tersebut, tanpa
terasa semua orang menjulurkan lidahnya sambil menggelengkan
kepalanya berulang kali. Akhirnya semua orang harus merepotkan
Bu im sin hong Kian Kim siang yang maju ke tempat lokasi, dengan
demikian Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong yang terluka pun
dapat dikeluarkan dari lingkaran hawa murni tersebut.
Ditinjau dari kenyataan ini, dimana hanya salah seorang dari
empat tokoh sakti yaitu Bu im sin hong Kian Kim siang yang sanggup
melewati lingkaran hawa murni itu, para jago seangkatan dengan
Cang ciong sin kiam Sangkoan Yong sama sama menggelengkan
kepalanya sambil menghela napas.
Sebagai jagoan yang berpengalaman, sebetulnya Cang ciong sin
kiam Sangkoan Yong cukup menyadari resikonya apabila dia
menerjang masuk ke dalam gua itu. Tapi dia nekad juga menyerbu
ke depan, hal ini disebabkan ia selalu merasa menyesal dan
berhutang budi kepada Thi Eng khi, terutama setelah hatinya benar
benar ditaklukkan anak muda tersebut. Ia selalu berusaha untuk
mencari kesempatan guna membalas budi kebaikan pemuda mana.
Semenjak diketahui olehnya bahwa Thi Eng khi Sedang
melangsungkan pertarungan sengit melawan Hian im Tee kun dalam
gua, bahkan pertarungan yang sudah berlangsung lama belum juga
menghasilkan kemenangan, ditambah lagi sudut pandangan tak
mampu mengikuti jalannya pertarungan itu, kesemuanya ini
membuat rasa kuatirnya mencapai tingkat tak terkendali.
Pada dasarnya dia memang seorang manusia yang berdarah
panas, walaupun kepandaian silatnya masih jauh dibawah
kepandaian silat Ciu Tin tin, Bu im sin hong Kian Kim siang atau Pek
leng siancu So Bwe leng, namun dalam keadaan gelisah yang tak
tertahankan, emosi menguasah seluruh benaknya yang membuat dia
tidak memperdulikan segala resikonya.

1545
Bukan cuma dia, Pek leng siancu So Bwe leng yang berdiri disisi
Ciu Tin tin pun berperasaan demikian, coba kalau tiada Ciu Tin tin
yang setiap saat mencegahnya maju, mungkin sedari tadi dia sudah
menyerbu masuk ke dalam gua.
Setelah Cang cong sin kiam Sangkoan Yong tertolong, Hui cun
siucay Seng Tiok sian segera turun tangan untuk mengobati luka
yang dideritanya. Namun perasaan kuatir dari para jago ketika itu
sudah mencapai tingkatan yang hampir saja tak terkendalikan.
Apalagi pada saat yang bersamaan dari dalam gua lamat lamat
kedengaran Hian im Tee kun sedang membentak keras.
"Kau anggap bisa kabur dari sini?"
Menyusul kemudian terdengar ledakan keras yang memekikkan
telinga diikuti pusaran angin pukulan yang menyapu keluar dari
dalam gua. Hampir copot rasanya jantung semua orang setelah
mendengar kejadian itu. Kalau didengar menurut nada suara Hian im
Tee kun barusan, siapapun dapat mendengar, sudah pasti dalam
pertarungan yang berlarut lama Thi Eng khi tak sanggup menahan
pengaruh daya kerja obat yang membuat tenaga dalam Hian im Tee
kun berlipat ganda lebih dahsyat hingga timbul niatnya untuk
melarikan diri. Namun usahanya itu agaknya tak berhasil karena
Hian im Tes kun menghalangi usahanya tersebut secara mati
matian….
Situasi semacam ini, dimana mau kabur namun tak berhasil dapat
dirasakan para jago sebagai suatu keadaan yang amat pelik bahkan
jauh lebih menderita ketimbang dihalangi golok oleh orang lain
diatas tengkuk sendiri.
Bu im sin hong Kian Kim siang tak sanggup menahan diri lagi, dia
segera membentak keras :
“Lohu akan beradu jiwa!”
Seraya berkata dia langsung menerjang ke arah mulut gua dan
bersiap siap membantu Thi Eng khi. Siapa tahu baru saja badannya
mencapai tepi mulut gua, segera terasa olehnya munculnya
segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat langsung menghantam
dadanya.

1546
Buru buru Bu im sin hong Kian Kim siang mengerahkan segenap
tenaga dalam yang dimilikinya untuk mencoba melakukan
perlawanan. Apa mau dikata tenaga yang memancar keluar tersebut
betul betul menggidikkan hati, dia dipaksa mencelat ke belakang
tanpa berhasil menahan diri.
Coba andaikata ilmu meringankan tubuh Hu kong keng im yang
dimilikinya tidak mencapai tingkatan yang amat sempurna di mana
tenaga dalamnya dapat dipergunakan semau hatinya sendiri,
mungkin akibat yang dideritanya akan jauh lebih parah daripada
keadaan yang dialami Cang ciong sin kiam. Walaupun dia tidak
sampai menderita luka dalam, toh hawa darah yang mengelora
didalam dadanya membuat napasnya menjadi sesak dan sukar
bernapas.
Cepat cepat dia mengatur napas dan bersemedi sejenak, sebelum
segala sesuatunya dapat pulih kembali seperti sedia kala.
Mendadak....
Suasana didalam gua itu menjadi hening, sepi dan tidak
kedengaran sedikit suarapun. Suara pertarungan yang semula
bergema dengan ramai, kini telah lenyap, angin puyuh yang
menderu deru pun kini mulai memudar dan hilang ....
Semua orang mulai menduga, agaknya nasib Thi Eng khi telah
berakhir secara tragis ...
Pek leng siancu So Bwe leng yang pertama tama tak sanggup
menahan diri, bagaikan orang yang kehilangan ingatan, dia menjerit
keras lalu tanpa memperhitungkan apa akibatnya, dia langsung
menerjang ke arah mulut gua. Ciu Tin tin tidak ketinggalan, dia pun
menyusul dibelakang Pek leng siancu So Bwe leng menuju ke arah
mulut gua yang diliputi keheningan.
“Mari kita bersama sama mencari gembong iblis tua itu untuk
beradu jiwa dengannya!” demikian dia berteriak dengan nada amat
sedih.

1547
Menyusul kemudian serombongan manusia mengikuti dibelakang
mereka, langsung mendekati mulut gua. Gerakan tubuh Ciu Tin tin
dan Pek leng siancu So Bwe leng paling cepat, ketika mencapai
mulut gua, para jago masih tertinggal sejauh dua tiga kaki di
belakang. Siapa tahu pada saat itulah, mendadak dari balik gua
menggulung keluar lagi sebuah hawa pukulan yang begitu kuatnya,
sehingga Ciu Tin tin dan Pek leng siancu So Bwe leng segera
terpental dan mundur kembali ke belakang.
Masih untung disamping Pek leng siancu So Bwe leng hadir Ciu
Tin tin yang memiliki tenaga dalam amat sempurna, dengan
demikian ia berhasil lolos tanpa terluka. Coba kalau dia berada
seorang diri, sudah pasti gadis tersebut akan menderita luka dalam
yang parah.
Dengan terjadinya peristiwa ini, suasana diantara para jago
menjadi kalut, masing masing pihak segera mengundurkan diri
kembali ke tempat semula. Menyusul kejadian ini, suasana didalam
gua pun diliputi keheningan dan ketenangan yang luar biasa.
Setelah ada pengalaman pertama, saat ini siapa pun tak ada
yang berani untuk menerjang masuk ke dalam gua. Pek leng siancu
So Bwe leng yang dibuat amat gelisah tak mampu berbuat lain selain
menangis tersedu sedu dengan amat sedihnya...
Ciu Tin tin yang lebih tenang, mencoba mencari kabar dengan
mengerahkan ilmu menyampaikan suaranya, akan tetapi tidak
memperoleh jawaban dari Thi Eng khi. Kenyataan ini mulai
menggelisahkan gadis tersebut, baru saja dia bersiap hendak
menerjang masuk lagi ke dalam gua.
Mendadak terdengar ada orang berteriak dengan suara keras.
“Aaaah, itu dia, sudah muncul! Sudah muncul!”
Tapi menyusul kemudian bergema lagi suara keluhan bernada
amat kecewa.
“Aaaah, ternyata dia!”

1548
Nada suaranya penuh diliputi nada sedih. Tampak Hian im Tee
kun munculkan diri dari balik gua dengan langkah sempoyongan, dia
menerjang keluar tanpa memandang ke kiri maupun ke arah kanan.
Namun belum sampai satu kaki dia meninggalkan mulut gua
tersebut, mendadak ia terhuyung kemudian roboh terjengkang ke
atas tanah.
Ciu Tin tin, Bu im sin hong Kian Kim siang, Pek leng siancu So
Bwe leng, Pengemis sakti bermata harimau Cu Goan po, ketua Siau
lim pay Ci long siansu, ketua Bu tong pay Keng hian totiang, si unta
sakti Lok It hong, kakak beradik Bu serta Hui cun siucay Seng Tiok
sian dan nona Ting Un serentak berlarian seperti angin melewati
tubuh Hian im Tee kun yang terkapar ditanah dan menyerbu masuk
ke dalam gua.
Sementara di luar gua, kawanan jago dengan wajah murung dan
sedih berdiri mematung ditempat semula, Hian im Tee kun telah
roboh binasa dengan darah kental bercucuran melalui ke tujuh
lubang inderanya.
Hian im ji li Ciu Lan dan Cun Bwee meski sudah meninggalkan
jalan sesat dan kembali ke jalan kebenaran, namun setelah
menyaksikan iblis tua yang telah memelihara serta mendidik mereka
selama belasan tahun tewas dalam keadaan yang begini
mengenaskan, tanpa terasa titik titik air mata jatuh berlinang
membasahi pipinya.
Selanjutnya...
Suasana disekeliling tempat itu diliputi keheningan yang luar
biasa, sedemikian heningnya sampai keadaan terasa mengerikan
sekali....
Padahal kenyataan yang sesungguhnya bukan demikian, kejadian
tersebut hanya berlangsung di dalam setengah penanak nasi belaka,
namun di dalam perasaan semua orang, mereka seakan akan
sedang menunggu ribuan tahun saja....

1549
Mendadak, dari balik gua sana berkumandang suara gelak
tertawa yang amat nyaring. Menyusul kemudian tampak Thi Eng khi
dengan wajah yang cerah, segar dan senyuman dikulum munculkan
diri dari dalam gua dengan langkah lebar. Tempik sorak yang gegap
gempita segera bergema memecahkan keheningan. Ciu Tin tin dan
Pek leng siancu So Bwe leng tak mampu menahan diri, serentak
mereka berlarian menyongsong pemuda pujaannya dengan pelukan
yang mesra.
Beberapa bulan kemudian, Thi Eng khi melangsungkan
perkawinannya dengan Ciu Tin tin dan Pek leng siancu So Bwe leng,
kehidupan mereka amat bahagia, apalagi setelah kedua istrinya
memberi putra putri untuknya, dunia terasa bagaikan sorga.
Sampai disini pula kisah ini dan sampai jumpa lain kesempatan.
TAMAT
Anda sedang membaca artikel tentang Pukulan Naga Sakti 4 dan anda bisa menemukan artikel Pukulan Naga Sakti 4 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/pukulan-naga-sakti-4.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Pukulan Naga Sakti 4 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Pukulan Naga Sakti 4 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Pukulan Naga Sakti 4 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/pukulan-naga-sakti-4.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar