CerSIL KHULUNG : Kereta Berdarah 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Kamis, 08 September 2011

CerSIL KHULUNG : Kereta Berdarah 1
Kereta Berdarah
Karya : Khulung
Diceritakan oleh Tjan ID
Jilid 1
Bab 1
SINAR REMBULAN nan terang memancarkan sinarnya
memenuhi seluruh permukaan tanah, sebuah bangunan
rumah yang amat besar dan angker berdiri di bawah
kegelapan malam yang membuta.
Dari dalam bangunan rumah itu terlihatlah sinar lampu
yang redup secara samar-samar memancarkan sinarnya
berkelap-kelip, suasana begitu sunyi.... sedikitpun tidak
terdengar suara.
Saat ini merupakan musim rontok yang cukup dingin, angin
berhembus dengan santarnya di sekeliling rimba membuat
pepohonan pada bergoyang dan mengeluarkan suara yang
amat berisik.
Di bawah sorotan sinar rembulan, tiba-tiba.... dari dalam
hutan berlarilah mendatang seekor kuda dengan amat
cepatnya di atas kuda itu duduklah seorang pemuda berusia
kurang lebih dua puluh tahunan, pada tubuhnya memakai
seperangkat pakaian singsat yang berwarna putih keperakperakan,
pada punggungnya yang tertutup oleh secarik mantel
berwarna hijau tua tersorenlah sebilah pedang panjang ikat
kepala yang berwarna putih berkibar tak henti-hentinya
bertiup angin.

Jika dilihat dari wajahnya kelihatan sekali dia amat lelah,
bahkan penuh dikotori oleh debu serta pasir.
Ketika dilihatnya bangunan besar itu cepat-cepat dia
menarik tali les kudanya, suatu senyuman segera muncul
menghiasi bibirnya diikuti oleh hembusan napas lega.
“Heeeey.... akhirnya sampai di rumah juga,” pikirnya di
dalam hati. “Sekarang aku tidak usah terlalu cemas lagi.”
Dengan perlahan dia menjalankan kudanya ke depan pintu,
sesudah meloncat turun dari punggung tunggangannya
dengan perlahan dia mulai mengetuk pintu rumah.
Beberapa saat kemudian, terdengarlah suara langkah yang
ribut semakin lama semakin mendekat diikuti terbukanya pintu
besar dengan amat perlahan seorang kakek tua berbadan
bongkok dengan perlahan muncul di depan pintu dan
memperhatikan sang pemuda dengan penuh keheranan.
Air muka pemuda itu sekali lagi memperhatikan senyuman
manisnya.
“Tiong-siok,” panggilnya sambil tertawa. “Bagaimana
keadaan kamu orang tua? Apa sudah lupa pada diriku?”
Air muka kakek tua bongkok itu segera berubah sangat
hebat, titik-titik air mata menetes keluar dari kelopak
matanya.
“Ing Siauw ya!” serunya dengan nada gemetar. “Kiranya
kau sudah pulang.”
Pemuda itu tertawa, dengan menggunakan tangannya dia
menepuk-nepuk pundak si orang tua, ujarnya kembali sambil
tertawa.
“Tiong-siok, tidak bisa salahkan kamu yang sudah lupa
padaku, kita sudah ada sepuluh tahun lamanya tidak bertemu.
Sesudah menerima surat dari Tia, karena suhu dia orang tua
sedang sakit, maka dia menyuruh aku berangkat terlebih

dahulu, entah Tia, dia orang tua apakah dalam keadaan baikbaik
saja?”
“Kenapa?” seru si kakek tua bongkok itu tertegun.
“Suhumu Ku Kiam Seng atau si pendekar pedang
menyendiri dari gunung Chin Leng, Cu Thayhiap tidak ikut
datang?” pemuda itu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Sebetulnya di rumah sudah terjadi peristiwa apa?”
ujarnya, “di dalam suratnya Tia tidak memberi penjelasan,
penyakit yang diderita suhu sangat berat dia tidak ikut
datang.”
Si kakek tua bongkok itu berdiri tertegun kembali beberapa
saat lamanya, akhirnya dengan nada amat sedih ujarnya,
“Loo-ya sudah tiga hari lenyap tanpa bekas.”
“Apa?” teriak pemuda itu terperanjat. “Tiong-siok,
perkataanmu apa betul?”
Dengan perlahan kakek tua bongkok itu menundukkan
kepalanya rendah-rendah, tidak sepatah katapun diucapkan
keluar.
Pemuda itu benar-benar dibuat terperanjat oleh berita ini
dia berdiri tertegun di tempat, titik-titik air mata menetes
keluar membasahi wajahnya, dia sama sekali tidak menduga
dengan nama besar ayahnya sebagai Siang Kiang Thayhiap,
Koan Thian Jen ternyata bisa lenyap tanpa bekas.
“Bagaimana keadaannya sekarang ini? Sebetulnya sudah
terjadi peristiwa apa?”
Dengan termangu-mangu dia menoleh kembali ke arah
kakek tua bongkok itu lalu tanyanya kembali, “Tiong-siok,
sebetulnya sudah terjadi peristiwa apa?”
Dengan perlahan-lahan si kakek tua bongkok itu menghela
napas panjang.

pada setengah bulan yang lalu mendadak di belakang
rumah kita muncul sebuah pintu
rahasia, aku beserta Loo-ya lalu bersama-sama pergi
mencari dan membuka pintu tersebut.... Heey.... coba kau
terka barang apa yang ada dibalik pintu rahasia itu? Sebuah
tengkorak manusia, di atas kening tengkorak manusia itu
tertancaplah sebilah pedang pendek.
Begitu Loo-ya melihat benda tersebut air mukanya segera
berubah sangat hebat, sesudah menutup kembali pintu
rahasia itu dia segera kirim surat kepadamu meminta suhumu
datang ke sini, dia sudah memutuskan sebelum suhumu
datang ke sini tidak perduli sudah terjadi urusan apapun aku
dilarang memasuki pintu rahasia itu lagi.... Heeeey.... Tidak
disangka pada tiga hari yang lalu Loo-ya entah sudah pergi
kemana?”
Dengan termangu-mangu Koan Ing mendengarkan kisah
itu, sebuah tengkorak manusia? Di atas keningnya tertancap
sebilah pedang pendek? Selamanya dia belum pernah
mendengar orang berkata kalau di dalam Bu-lim ada
perkumpulan atau partai yang menggunakan cara begitu
sebagai tandanya.
Dengan termangu-mangu Koan Ing termenung berpikir
keras, akhirnya dengan menggigit kencang bibirnya dia
berkata kembali, “Tiong-siok, mari kita pergi kesana lihatlihat!”
Seketika itu juga si kakek tua bongkok itu menjadi
melengak.
“Tetapi.... tetapi Cu Thayhiap.... ”
“Suhu tidak akan segera datang kemari, apalagi Tia sudah
tiga hari lenyap tanpa bekas, dia orang tua tentu memasuki
tempat itu.”

Teringat akan lenyapnya ayahnya selama tiga hari air
mukanya segera berubah menjadi amat murung bercampur
sedih.
Tiba-tiba Koan Ing membuka mulutnya kembali
menyadarkan lamunan dari si kakek tua bongkok itu, “Tiongsiok.
Kau tidak perlu merasa kuatir buat diriku, aku sudah
cukup besar, aku masih bisa menjaga diriku sendiri.”
“Ing Siauw-ya,” akhirnya ujar si kakek tua bongkok itu
sambil menghela napas panjang, “ibumu sudah meninggal
dunia sejak dahulu, kini tinggal kau seorang saja yang
hidup.... kau harus lebih berhati-hati menjaga diri.”
Ketika Koan Ing mendengar si orang tua bongkok ini
mengungkit kembali soal ibunya yang sudah meninggal dunia,
teringat kembali ayahnya yang lenyap tanpa bekas, tidak
terasa lagi hatinya serasa ditusuk oleh berjuta-juta batang
golok sukar ditahan.
“Tiong-siok, aku sudah tahu!” serunya sambil mengerutkan
keningnya rapat-rapat.
Sekali lagi si orang tua bongkok itu menghela napas
panjang, kemudian dengan terpaksa dia putar badannya
berjalan masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam ruangan tengah mereka
melanjutkan perjalanannya menuju ke ruangan belakang dan
masuk ke dalam kamar paling ujung.
Sesampainya di dalam kamar itu terlihatlah si orang tua
bongkok itu ragu-ragu sebentar akhirnya dia ulurkan
tangannya menekan sesuatu pada dinding kamar.
Di balik pintu rahasia itu terlihatlah keadaan yang gelap
gulita, tanpa berpikir panjang lagi Koan Ing segera menerobos
masuk ke dalam tetapi mendadak dia menghentikan
langkahnya, karena saat itulah dia sudah mendengar suara
jeritan tertahan dari si orang tua bongkok itu.

“Tiong-siok ada apa?” tanyanya.
“Itu.... itu tengkorak manusia, kenapa sekarang sudah
rubuh ke atas tanah?”
Mendengar perkataan dari si orang tua bongkok itu dengan
cepat Koan Ing memutarkan badannya dan berjalan keluar
dari lorong tersebut. “Selama ini apakah pintu ini ditutup
terus?”
“Selamanya aku belum pernah masuk lagi ke dalam, kecuali
Loo-ya tidak ada orang luar lagi yang pernah masuk kesana.”
Beberapa perkataan dari Koan Ing baru saja ini sebetulnya
diucapkan secara kebetulan saja, pada saat dia berbicara
berbagai pikiran sudah berkelebat di dalam benaknya.
Mendadak dia maju kembali ke depan lantas masuk ke
dalam pintu rahasia tersebut dan berjongkok memeriksa
keadaan dari tengkorak itu dengan amat teliti, agaknya dia
punya maksud untuk menemukan sesuatu dari benda
tersebut.
Baru saja tubuhnya berjongkok sampai separuh jalan,
mendadak dia merasakan segulung angin pukulan yang amat
santar menyambar dari belakang badannya, hatinya menjadi
sangat terperanjat, tanpa menoleh lagi dia sudah tahu ada
orang sedang membokong dirinya dari arah belakang.
Dengan kecepatan yang luar biasa tubuhnya berputar ke
samping, jari telunjuk serta jari tengah tangan kirinya dengan
cepat ditonjokkan ke depan menotok jalan darah “Yao Hu
Hiat” pada punggung orang itu.
Tetapi baru saja tangan kiri dari Koan Ing ini tiba di tengah
jalan secara tiba-tiba terasalah olehnya suatu golakan hati
yang amat keras menerjang hatinya, buru-buru dia mundur
dua langkah ke belakang sedang bulu kuduknya pada berdiri.

Kiranya orang yang baru saja membokong dirinya dari
belakang itu bukanlah seorang manusia hidup, melainkan
sesosok mayat yang sudah dingin kaku.
Dari gerakan menotok tangan kirinya segera diubah
menjadi telapak biasa dan menyambut datangnya mayat
tersebut, di bawah sorotan sinar lampu lilin yang samar di
dalam satu kali pandang saja dia sudah mengenal kembali
kalau mayat itu bukan lain adalah mayat dari ayahnya Koan
Thian Jen.
Seketika itu juga Koan Ing merasakan seluruh tubuhnya
kaku, bagaikan baru saja dia mentas dari gentong yang
berisikan air dingin seluruh tubuhnya meringkik. Kepalanya
pening matanya berkunang-kunang seperti baru saja dipukul
dengan sebuah martil besar.
Mendadak.... dia mendengar suara teriakan dari Tiong-siok
yang amat keras, dia sadar kembali dari kagetnya, bayangan
pertama dengan cepat berkelebat di dalam benaknya.
Dengan perasaan amat gusar dia bersuit panjang,
tubuhnya bagaikan kilat cepatnya menubruk ke arah samping
terus naik ke atas wuwungan rumah pada lorong tersebut.
Setelah mengikuti suhunya si pendekar pedang menyendiri
dari gunung Chin Leng selama sepuluh tahun lamanya,
imannya sudah dilatih cukup kuat, sekalipun baru saja dia
menemui kejadian yang menyedihkan hatinya tetapi untuk
sementara dia masih sanggup untuk menguasai dirinya
sendiri.
Dengan perasaan amat gusar Koan Ing meloncat ke atas
wuwungan rumah, dalam lobang itu dengan menggunakan
sepasang matanya yang amat tajam dia memperhatikan
keadaan di sekelilingnya, di bawah sorotan sinar api lilin yang
redup mendadak matanya terbentur dengan sesosok
bayangan manusia yang sedang berlari menjauhi tempat itu.

Dalam hati dia merasa terkejut dan bercampur gusar, satusatunya
ingatan yang berkelebat di dalam benaknya saat ini
hanyalah ingin menangkap si pembunuh.
Tubuhnya segera berkelebat ke depan, laksana seekor
burung elang dengan gerakan yang amat cepat bagaikan anak
panah yang terlepas dari busurnya dia melayang ke depan
mengejar ke arah bayangan hitam itu.
Dia sama sekali tidak menduga dengan nama besar dari
ayahnya Siang Kiang Thayhiap ternyata bisa dibunuh orang
dengan demikian mudahnya, bahkan masih ada satu teka teki
buat dirinya siapakah bayangan hitam itu? Sungguh besar
nyalinya sehingga berani menyatroni diri Siang Kiang Thayhiap
yang sudah punya nama terkenal di dalam Bu-lim.
Walaupun di dalam hatinya Koan Ing terus berpikir keras
tetapi kakinya sedikit pun tidak berhenti, bagaikan kilat
cepatnya dia mengejar terus ke arah orang itu.
Di dalam dua tiga kali loncatan saja akhirnya Koan Ing
berhasil mendekati sampai di belakang badan orang itu.
Agaknya orang itupun sama sekali tidak menduga kalau
Koan Ing bisa mengejar begitu cepatnya, tubuhnya mendadak
berhenti sambil membalikkan badannya dia melancarkan satu
pukulan dahsyat menghajar pundak kiri dari Koan Ing.
Saat ini Koan Ing memangnya sedang bersiap-siap
menawan pihak musuh, melihat datangnya serangan ini
dengan dinginnya dia mendengus, tubuhnya semakin
mendesak ke depan sedang tangan kanannya di ayun
menotok jalan darah Cian Cing Hiat pada pundak orang itu.
Tubuh Koan Ing semakin mendekati tubuh orang itu, baru
saja jarinya mau melancarkan totokan mendadak pergelangan
tangan orang itu berputar balas mencengkeram tangannya.
Koan Ing menjadi sangat terperanjat untuk menghindar sudah

tidak sempat lagi, telapak tangan kiri orang itu dengan amat
tepat menghajar dada kirinya.
Terdengar dia mendengus dengan amat beratnya, untung
sekali tenaga dalam orang itu tidak tinggi sehingga
pukulannya ini tidak terlalu berat bersarang di dadanya,
walaupun begitu dia merasakan juga dada kanannya teramat
sakit.
Ketika orang itu melihat serangannya mencapai pada
sasarannya tanpa menunggu Koan Ing berganti napas lagi
tubuhnya bertindak semakin maju mendesak tubuh Koan Ing,
pada saat tangan kanannya berkelebat pada genggamannya
sudah bertambah lagi dengan sebilah pedang pendek
kemudian dengan dahsyatnya di tusukan ke iga Koan Ing.
Karena sedikit gegabah Koan Ing terkena hajaran dari
pukulan orang itu, dalam hatinya dia benar-benar merasa
terkejut bercampur gusar, kini mana dia mau mengalah lagi?
Mendadak tangan kanan dengan mendatar berputar setengah
lingkaran di depan dada.
Orang itu mendengus dengan dinginnya serangan dari
Koan Ing ini kelihatan amat aneh dan tidak jelas arah yang
hendak dituju, tetapi orang itu tidak perduli, tubuhnya
semakin maju ke depan.
Baru saja pedang pendek orang itu di tusukan ke depan,
tangan kanan dari Koan Ing yang berputar setengah lingkaran
di depan dadanya mendadak berkelebat ke depan, tiga jari
tangannya menyambar pergelangan tangannya dengan amat
dahsyat.
Orang itu menjadi sangat terperanjat karena dia sekarang
baru sadar ketiga jari tangan dari Koan Ing yang mengancam
urat nadi pergelangan tangannya ini sukar untuk dihindari,
walaupun dia mau berkelit dengan cara apapun tidak mungkin
akan bisa berhasil.

Waktu yang dibutuhkan mereka berdua untuk bertempur
baru-baru ini sangat singkat sekali, belum sempat dia berpikir
panjang mendadak terasalah olehnya urat nadi pada
pergelangan tangan kanannya sudah terbentur dengan tiga
jari totokan dari Koan Ing.
Di dalam keadaan yang amat terperanjat terburu-buru dia
mundur ke belakang, dia tahu jika dia mau selamat maka
pedang pendek itu harus dilepaskan, sedangkan tangan
kirinya bersamaan waktunya pula melancarkan pukulan ke
arah dada Koan Ing.
Tiga jari dari Koan Ing dengan cepat dibalik merebut
pedang pendek yang ada di tangan orang itu kemudian
dengan gerakan cepat pula dia meloncat mundur ke belakang.
Begitu dia mundur, orang itupun tidak berani mendesak
kembali, masing-masing berdiri diarah yang berlawanan
sambil saling berpandangan.
Agaknya orang itu sama sekali tidak menduga kalau tenaga
dalam dari Koan Ing jauh di atas seperti apa yang diduga
semula, tidak disangka pukulan yang dilancarkan olehnya
ternyata sudah mencapai sasaran yang kosong.
Dalam hati Koan Ing semakin merasa terperanjat lagi, dia
tahu pada saat ini orang yang bisa melancarkan serangan
sambil memutarkan pergelangan tangannya saja cuma si
manusia aneh dari Laut Timur Ciat Ie Toocu, Ciu Tong beserta
anak muridnya.
Karena sifatnya yang aneh dan berkepandaian tinggi para
jago yang ada di dalam Bu-lim tidak seorangpun yang berani
mencari gara-gara dengan Ciu Tong ini, tidak perduli orang itu
punya hubungan atau sangkut paut dengan Ciat Ie To,
asalkan berbuat salah kepada mereka maka orang-orang itu
tentu akan menawan orang tersebut, tetapi.... dengan
kepandaian silat yang dimiliki ayahnya tidak mungkin beliau
bisa terbunuh oleh orang semacam ini.

Pikirannya dengan cepat berkelebat, akhirnya di dalam hati
dia mengambil kesimpulan bahwa kematian ayahnya tentu
mempunyai sangkut paut yang sangat erat dengan orang ini.
Berpikir sampai di sini, pandangan matanya segera beralih
ke atas wajah orang itu, di tengah kegelapan dia hampirhampir
tidak sanggup untuk melihat lebih jelas lagi bentuk
wajahnya, tetapi secara samar-samar dia masih bisa tahu
kalau lawan di hadapannya merupakan seorang pemuda yang
usianya masih muda.
“Heee.... heee.... kau punya hubungan apa dengan Ciat Ie
Toocu dari lautan Timur?” terdengar Koan Ing dengan
dinginnya berseru.
Pemuda itu menjadi melengak, dia sama sekali tidak
menduga karena satu jurus serangannya tadi sudah
memberitahukan perguruannya kepada Koan Ing sedang
sampai kini dia sendiri masih tidak tahu jurus-jurus aneh yang
digunakan Koan Ing tadi berasal dari perguruan mana.
Dia berdiam diri beberapa waktu lamanya, kemudian
dengan congkaknya mendengus.
“Hmm, kalau sudah tahu aku orang punya hubungan
dengan pihak pulau Ciat Ie, kenapa kamu orang masih tidak
mundur teratur dari tempat ini?”
Sepasang alis dari Koan Ing dikerutkan semakin
mengencang.
Pada sembilan belas tahun yang lalu sewaktu diadakan
pertemuan puncak para jago di atas gunung Hoa-san, Ciat Ie
Toocu dengan mengandalkan ilmu silatnya yang sangat aneh
dan lihay pernah menggetarkan seluruh dunia persilatan
sehingga mendapat sebutan sebagai Chiat Hay Mo Su atau si
iblis sakti dari luar lautan, sejak itulah tidak ada orang yang
berani mencari gara-gara lagi dengan si iblis dari pulau Ciat Ie
To ini.

Sekalipun di dalam hatinya Koan Ing tahu itu si iblis sakti
Ciu Tong sukar untuk dilayani tetapi dendam sakit hati
ayahnya harus dibalas, dia tidak akan mundur teratur karena
hal ini.
Terdengar dia tertawa dingin tak henti-hentinya, ujarnya
kemudian, “Hee.... hee sekalipun kamu orang punya sangkut
paut dengan orang-orang pulau Ciat Ie To, aku juga tidak
akan membiarkan kau pergi dari sini.”
Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak maju
mendesak ke arah orang itu.
Orang itu sama sekali tidak menduga Koan Ing begitu
bernyali berani mencari gara-gara dengan pihak pulau Ciat Ie
To, dia tahu dirinya bukanlah tandingan tubuhnya dengan
cepat berjumpalitan di tengah udara kemudian dengan
tergesa-gesa mengundurkan diri dari situ.
Dalam hati Koan Ing sudah ambil keputusan untuk
menawan orang itu, sudah tentu dia tidak akan membiarkan
dia pergi dengan seenaknya, tubuhnya segera melayang pula
ke depan mengejar dari belakang badannya.
Dengan cepat orang itu melarikan diri ke dalam sebuah
lorong kecil di bawah tanah kemudian dengan cepatnya
lenyap di tengah kegelapan.
Melihat keadaan disana Koan Ing menjadi ragu-ragu. dia
tidak paham seluk beluk di tempat itu tapi diapun tidak ingin
melepaskan orang itu begitu saja.
Tangan kanannya dengan cepat dibalik memasukkan
pedang pendek itu ke arah pinggangnya, sepasang telapak
tangannya sesudah melancarkan satu serangan dahsyat
tubuhnya baru berkelebat ke arah lorong tersebut.
Kiranya dia menggunakan tenaga pantulan dari angin
pukulan tadi untuk mengetahui keadaan di sana, tubuhnya
tanpa berhenti lagi dengan cepat melayang ke dalam.

Lorong kecil di bawah tanah itu sangat sempit dan ruwet
sekali, cabang kecil-kecil banyak tersebar di sekitar sana
membuat dia yang sedang melakukan pengejaran di dalam
sekejap saja sudah kehilangan jejak musuhnya.
Untuk beberapa saat lamanya Koan Ing menjadi sangat
bingung, dia berdiri termangu-mangu di sana.
Lama sekali dia pusatkan perhatiannya untuk
mendengarkan keadaan di sekelilingnya tetapi selama ini tidak
terdengar sedikit suarapun.
Diam-diam pikirnya di dalam hati, “Dengan kepandaian
yang dimiliki orang berbaju hitam tadi, tidak mungkin dia bisa
berjalan tanpa menimbulkan suara.... Hmm, kecuali dia sudah
berhenti bergerak di sekitar tempat itu.”
Koan Ing agak ragu-ragu sebentar, sepasang telapaknya
mendadak melancarkan satu serangan dahsyat ke depan
sedang tubuhnya bersamaan waktunya pula membuka pintu
besi itu untuk menerobos masuk ke dalam.
Berpikir sampai di sini, sepasang mata Koan Ing yang
sangat tajam mulai memperhatikan keadaan di sekitar tempat
itu.
Lorong kecil di bawah tanah itu sangat gelap sekali
sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri, tetapi pada
sebelah kiri dari tempat itu secara samar-samar memancar
keluar sinar yang agak remang.
Koan Ing semakin mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia
mulai berjalan mendekati tempat berasalnya sinar itu.
Kurang lebih sesudah berjalan sepuluh kaki jauhnya
terlihatlah sebuah pintu besi muncul di hadapannya, dari balik
pintu secara samar memancar keluar sinar merah darah yang
agak tawar, di dalam kegelapan sinar merah itu sangat
menusuk mata membuat hati setiap orang yang melihat
serasa bergolak dengan kerasnya.

Begitu tubuh Koan Ing masuk ke dalam ruangan itu, dari
samping tubuhnya segera terdengar suara dengusan yang
amat dingin bergema mendatang, segulung angin pukulan
yang sangat dahsyat menerjang dirinya dari arah samping.
Dia benar-benar merasa sangat terperanjat sekali, dari
angin pukulan yang baru saja dilancarkan oleh orang itu dia
sudah tahu kalau tenaga dalam orang itu sudah mencapai
pada tingkat yang jauh lebih tinggi dari dirinya sendiri, tangan
kanannya dengan cepat dibalik lalu batas melancarkan satu
serangan gencar mengarah pergelangan tangannya.
Jurus yang digunakan si pembokong itu ternyata sangat
hebat dan mempunyai perubahan yang sangat aneh sekali,
serangan yang dilancarkan Koan Ing dengan penuh
perhitungan ini ternyata sudah mencapai pada sasaran yang
kosong.
Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa sangat
terperanjat, segera teringat olehnya kemungkinan sekali orang
inipun merupakan orang-orang dari pulau Ciat Ie To di lautan
Timur, walaupun saat ini dia sudah tahu tetapi dia sama sekali
tidak mempunyai pengalaman bertempur dengan musuhmusuh
yang menggunakan ilmu silat demikian anehnya
karena itu diapun tidak mempunyai cara-cara untuk
memecahkan ilmu tersebut.
Terlihatlah pergelangan tangan orang itu tiba-tiba menekuk
ke bawah menyambar badannya, dengan cepat Koan Ing
berjongkok untuk menghindar.
“Sreeeet....!” mantel di punggungnya sudah terkena
sambaran tersebut sehingga terobek.
Tubuhnya dengan cepat bergeser ke samping, di dalam
keadaan yang amat kritis itulah dia berhasil menghindarkan
diri dari serangan musuh kemudian berkelebat untuk berdiri di
pinggir ruangan saat ini seluruh tubuhnya sudah basah kuyup
oleh keringat dingin yang mengucur keluar dengan amat

derasnya, dengan tenaga dalam yang begitu tinggi dari orang
itu bilamana serangannya tadi dengan tepat menghajar
badannya, saat ini dia pasti binasa atau sedikitnya terluka
amat parah.
Setelah badannya bisa berdiri tegak, sepasang matanya
dengan amat tajam menyapu sekejap ke arah sekeliling
tempat itu.
Di bawah sorotan sinar yang agak remang terlihatlah tepat
di hadapannya duduklah bersila seorang lelaki berusia tiga
puluh tahunan dengan wajah penuh kegusaran, di sampingnya
berdirilah si pemuda berbaju hitam yang memancing dirinya
kemari tadi.
Sekali lagi Koan Ing merasa sangat terperanjat,
kelihatannya orang yang baru saja melancarkan serangan
bokongan kepadanya itu bukan lain adalah orang yang duduk
bersila
Jika dilihat keadaannya jelas orang itu adalah seorang yang
cacat tetapi.... seorang cacat saja kepandaiannya sudah begitu
lihay, jelas sekali ilmu silat yang dimilikinya memang betulbetul
mengerikan sekali.
Ayahnya telah dibunuh orang, tidak salah lagi orang yang
ada di hadapannya inilah si pembunuh yang sesungguhnya.
Orang itu dengan pandangan amat dingin memandang ke
arah Koan Ing, mendadak sepasang telapaknya menggebrak
permukaan tanah tubuhnya laksana kilat yang menyambar
berkelebat menubruk ke arah diri Koan Ing, bersamaan pula
telapak tangannya dengan mengancam belakang maupun
muka tubuhnya mengirim satu pukulan dahsyat ke arah diri
Koan Ing.
Saat ini Koan Ing sudah melakukan persiapan, tangan
kanannya dengan cepat membalik.

“Criiing!” pedang panjang yang tersoren di punggungnya
sudah dicabut keluar, di dalam sekejap mata dia sudah
melancarkan tiga tusukan dahsyat.
Setiap tusukan pedangnya selalu berbentuk bulat setengah
lingkaran, tetapi kecepatan arah yang diancam pedang itu
memaksa orang itu mau tidak mau menarik kembali
serangannya.
Mereka berdua saling serang menyerang sebanyak tiga
jurus banyaknya, tampaklah orang itu secara tiba-tiba
melancarkan satu serangan kosong ke depan sedang
tubuhnyapun dengan cepat berkelebat kembali ke tempat
semula.
Sepasang matanya jelas memperlihatkan perasaannya yang
amat terkejut, air mukanya berubah menjadi merah padam
saking gusarnya.
Koan Ing yang dipelototi sudah tentu tidak mau
mengunjukkan kelemahannya, diapun balas memandang ke
arah musuh dengan pandangan amat gusar sedang dalam hati
diam-diam dia merasa sangat kaget, kehebatan dari tenaga
dalam orang itu sungguh-sungguh memaksa dia sama sekali
tidak mempunyai kesempatan untuk melancarkan serangan
balasan.
Beberapa saat kemudian terdengarlah orang itu baru
membuka mulutnya bertanya, “Hmmm. Tentu kau anak murid
dari itu Kong Bun-yu.”
Kong Bun-yu yang dimaksud adalah si pendekar aneh
Thian-yu Khie Kiam daripada Siao, Khet, Sin, Mo atau si dewa
aneh, sakti, iblis daripada empat aneh di dalam dunia
kangouw saat itu, dia merupakan suheng daripada suhunya si
pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng, Cu Yu.
Kiranya suhunya Cu Yu suheng-te pada masa yang lalu
dikarenakan suatu urusan sudah berbentrok sehingga tidak

akur, dan kini masing-masing pada mengambil jalannya
sendiri-sendiri.
Kini sewaktu mendengar orang itu menyebut dirinya
sebagai murid Kong Bun-yu dia segera tertawa dingin, belum
sempat dia membuka mulutnya untuk memberikan jawaban
terdengar orang itu dengan dinginnya sudah berkata kembali.
“Aku adalah anak murid dari Ciat Ie Toocu, Bun Ting-seng,
lebih baik urusan yang sudah terjadi disini kau tidak usah ikut
campur.”
Diam-diam Koan Ing sedikit merasa terperanjat, tidak
terkira olehnya orang yang ada di hadapannya sekarang ini
adalah si iblis sakti dari dalam Bu-lim, Cing Ie Kongcu atau si
sastrawan berbaju sutera, Bun Ting-seng adanya.
Tidak tahu dikarenakan persoalan apa dia bersembunyi di
tempat ini bahkan sepasang kakinya sudah cacat?
Tidak menanti Koan Ing berbicara, Bun Ting-seng sudah
keburu menyambung kembali, “Perguruanmu maupun
perguruanku tidak ada hubungan apa-apa dan selamanya
tidak saling ganggu mengganggu, walaupun karena
keteledoranmu ini aku harus mengorbankan latihanku selama
tiga tahun, tetapi memandang wajah suhumu aku akan
menyudahi saja urusan ini hari.”
Si pendekar pedang Thian-yu Khei Kiam, Kong Bun-yu
memiliki kepandaian silat yang sangat aneh sekali, dengan
mengandalkan ilmunya yang amat sakti Thian-yu Khie Kang
dia merajai dunia persilatan, baik di dalam melancarkan
pukulan maupun ilmu pedangnya selama ini selalu membuat
setengah lingkaran dulu di depannya sendiri tetapi
ketepatannya tidak pernah meleset, pihak lawannya bilamana
tidak membubarkan serangannya sendiri maka dia pasti
terluka di bawah serangan pedang atau pukulannya, karena
itulah walaupun Bun Ting-seng merupakan seorang iblis yang
amat lihay terhadap diri Kong Boeo Yu pun dia tidak berani

berlaku kasar apalagi menyalahi dirinya. Koan Ing tertawa
dingin tak henti-hentinya.
“Hee.... hee.... heee.... suhuku adalah si pendekar pedang
menyendiri dari gunung Chin Leng, sama sekali bukan itu si
pendekar pedang aneh Thian-yu Khei Kiam, kau sudah salah
sangka apalagi dendam terbunuhnya ayahku aku harus minta
ganti pula.”
Bun Ting-seng jadi melengak, dia adalah seorang jago
kawakan di dalam Bu-lim apapun juga dia sudah bisa
menduga, dia tahu Koan Ing merupakan seorang pemuda
yang baru saja menerjunkan diri ke dalam dunia kangouw dan
kini mau mengadu jiwa pula dengan dirinya, untung saja dia
bukan anak murid dari Kong Bun-yu tetapi Koan Ing itu pasti
tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.
Bilamana dia sungguh-sungguh berkelana di dalam dunia
kangouw setelah mengetahui siapa dirinya, siapa yang berani
mengganggu Su Khei Sam Ceng atau si empat aneh tiga
genah?
Dia tertawa dingin pula.
“Kau memiliki ilmu aneh Thian-yu Khei Keng, memandang
hal itu untuk sementara aku lepaskan kamu orang satu kali ini,
apalagi urusan yang sudah terjadi disinipun kau tidak tahu.
Hmmm.... Hmm perlu aku beritahu padamu, ayahmu modar
karena dia cari jalan kematian ini sendiri!”
Sinar mata Koan Ing segera berkedip-kedip dengan
gusarnya, dia tahu si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng
ini jadi orang amat ganas dan kejam sekali, tetapi haruskah
dia mengalah cuma karena atasan itu?
Apalagi ketidak akuran antara suhunya si pendekar pedang
menyendiri dari gunung Chin Leng ini dengan si pendekar
pedang aneh Thian-yu Khei Kiam semua orang sudah
mengetahuinya, bentroknya dia dengan pihak pulau Ciat Ie To
dari pihak Kong Bun-yu tidak mungkin kau membantu dirinya

tapi kenapa Bun Ting-seng mau menyudahi urusan ini.
pikirannya dengan cepat bergerak memikirkan hal ini.
Bun Ting-seng yang melihat Koan Ing tetap tidak mau pergi
air muka berubah menjadi sangat hebat....
“Kamu orang tidak mau pergi, apa sengaja menunggu saat
kematian buat dirimu?” bentaknya dengan amat gusar.
Koan Ing pun mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Hmm.... hmmm.... ” dengusnya dengan amat gusar.
“Sebelum dendam sakit hati kematian ayahku dilunasi aku
tidak akan pergi dari sini.”
Air muka Bun Ting-seng berubah semakin menghebat,
tangannya dengan cepat menggape memberi tanda kepada si
pemuda berbaju hitam yang berdiri di sampingnya.
Si pemuda berbaju hitam itu segera putar badannya dan
menekan sesuatu di atas dinding, tampaklah sebuah pintu
rahasia terbuka dengan perlahannya ke arah samping.
Dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat, tubuhnya
meloncat ke atas untuk menubruk ke depan, sedang mulutnya
dengan perasaan amat gusar membentak, “Ini hari aku orang
mau mencoba-coba kepandaian sakti dari Teng Hay Mo Kang!”
Baru saja tubuhnya mencelat ke atas mendadak tampaklah
olehnya air muka Bun Ting-seng sudah berubah menjadi
merah darah, dia membentak keras tangan kanannya dibabat
ke depan dua bilah pedang pendek bagaikan kilat cepatnya
sudah meluncur menghajar badan Koan Ing.
Pedang pancang yang ada di tangan Koan Ing cepat-cepat
di pontang-pantingkan ke depan memukul jatuh kedua bilah
pedang pendek itu.
Tetapi dengan cepat pula tubuhnya tergetar ke belakang
beberapa tindak, pergelangan tangannya terasa sakit sekali

tergetar oleh tenaga dalam yang disalurkan ke dalam kedua
bilah pedang pendek itu.
Karena terdesak oleh kedua bilah pedang pendek itu tubuh
Koan Ing jadi berhenti sejenak, saat itulah sepasang tangan
dari Bun Ting-seng sudah memukul ke atas permukaan tanah,
tubuhnya dengan cepat melayang ke atas sambil melancarkan
lima serangan dahsyat mengancam seluruh tubuh musuhnya,
jurus serangannya sangat aneh tetapi lihay sekali.
Koan Ing benar-benar merasa terperanjat, pedang
panjangnya dengan cepat berputar satu lingkaran ke depan,
dengan menggunakan jurus ‘Thian Hong Cu-hok’ atau pelangi
langit menutup jalan pedangnya berkelebat menyerang
pergelangan tangan dari sepasang tangan Bun Ting-seng.
Mereka berdua sama-sama tidak tahu jelas keanehan dan
kesaktian ilmu silat pihak lawannya, jurus-jurus serangan yang
baru saja digunakan separuh jalan terpaksa harus ditarik
kembali.
Koan Ing hanya merasakan keanehan dari ilmu silat yang
dimiliki Bun Ting-seng ini benar-benar membuat hatinya jera,
karena pertempuran inilah tenaga dalamnya pun di dalam
beberapa saat ini mengalami kerugian yang sangat besar.
Baru saja hatinya merasa ragu bercampur heran, tibatiba....
suara ringkikan kuda yang amat ramai berkumandang
keluar dari dalam ruangan tersebut.
Bluuuk....!
Empat ekor kuda jempolan berwarna merah darah dengan
menarik sebuah kereta yang amat besar dan megah
menerjang keluar.... orang yang ada di atas kereta itu bukan
lain adalah si pemuda berbaju hitam itu.
Ketika kereta kuda itu menerjang keluar dari pintu Bun
Ting-seng sudah tidak kuat menahan diri lagi, dia muntahkan
darah segar dengan sangat derasnya, sedang tubuhnya

dengan kecepatan yang luar biasa menubruk ke arah kereta
berkuda itu.
Koan Ing yang melihat munculnya sebuah kereta berkuda
secara tiba-tiba di sana sesaat dibuat tertegun, tetapi sebentar
kemudian dia sudah tahu apa yang telah terjadi, Bun Tingseng
pasti sudah terluka parah, sedangkan kereta berkuda itu
bukankah “Kereta Berdarah” yang pernah menggetarkan dunia
persilatan?
Sembilan belas tahun yang lalu sewaktu empat manusia
aneh mengadakan pertemuan di atas gunung Hoa-san, tujuan
mereka yang terutama juga dikarenakan Kereta berdarah ini.
Menurut berita yang tersiar di dalam Bu-lim katanya pada
masa yang lalu pernah berdiri sebuah partai yang diberi nama
Hiat-ho-pay atau partai banjir darah, kepandaian silat dari
orang-orang Hiat-ho-pay ini sangat tinggi sekali sukar dijajaki
oleh orang lain bahkan ciangbunjiennya memiliki sebuah
kereta berkuda yang bisa digunakan di daratan maupun di
dalam air dan diberi nama Kereta berdarah, dimana kereta itu
berada di sana pasti akan terjadi banjir darah laksana
mengalirnya air di sungai.
Akhirnya para jago di dalam Bu-lim bekerja sama untuk
bersama-sama menumpas partai Hiat-ho-pay ini membuat
kelanjutan dari kereta berdarah ini merupakan suatu teka-teki
buat semua orang.
Menurut berita yang tersiar katanya di dalam kereta
berdarah itu termuat juga ilmu silat yang dimiliki ciangbunjin
partai Hiat-ho-pay tempo hari, karenanya Kereta Berdarah ini
jadi incaran setiap jago di dalam Bu-lim bahkan diperebutkan
baik oleh golongan Pek-to maupun dari kalangan Hek-to.
Berita tentang Kereta berdarah ini semakin tersiar luas, tapi
karena tidak ditemukan buktinya maka keinginan para
pencaripun semakin lama semakin menipis, tetapi pada dua
puluh tahun yang lalu itulah mendadak Bu-lim Ku cu atau si

manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong munculkan diri dengan
mengendarai kereta berdarah itu.
Kepandaian silat yang dimiliki Jien Wong ini sebetulnya
biasa saja, tetapi ketika dia muncul kembali, kepandaian silat
yang dimilikinya sangat tinggi sekali, berturut-turut dia
membinasakan ratusan orang jago nomor wahid di dalam Bulim.
Dimana kereta berdarahnya tiba di sana pasti banjir
darah.
Dengan kejadian itu para jago di dalam Bu-lim lainnya
segera berkumpul untuk mengerubuti pemilik kereta berdarah
itu.
Pertempuran di atas gunung Hoa-san, empat manusia aneh
bersatu padu mengerubuti si manusia tunggal dari Bu-lim itu
dan akhirnya berhasil juga membinasakan dirinya, tetapi
dikarenakan memperebutkan kereta berdarah ini masingmasing
pihak lalu terjadi duel yang seru.
Kepandaian silat yang dimiliki manusia-manusia aneh ini
masing-masing mempunyai keistimewaan yang tersendiri,
sesudah bertempur siang malam sepuluh hari lamanya masih
tidak dapat juga menentukan siapa menang siapa kalah.
Pada saat itulah si manusia tunggal dari Bu-lim sadar
kembali dari pingsannya, dengan meminjam kesempatan
sewaktu mereka berempat pada rebutan dia meloncat naik ke
atas kereta dan melarikan diri dari situ.
Waktu itulah empat manusia aneh baru merasa terkejut,
walaupun mereka tahu dia pasti binasa tetapi dalam hati
mereka pun tak urung merasa murung juga.
Sembilan belas tahun kemudian persoalan kereta berdarah
itu sudah dilupakan orang saat ini, cuma ada nama-nama
‘Sian, Khei, Sin, Mo’ saja yang menggetarkan dunia persilatan,
siapa sangka kereta berdarah itu ternyata bisa muncul kembali
di tempat ini.

Pikiran ini dengan cepatnya satu persatu berkelebat di
dalam benaknya, ketika dia sadar kembali dari lamunannya
Bun Ting-seng sudah menunggang kereta melarikan diri, dia
menjadi sangat terkejut baru saja dia bersiap-siap untuk
melakukan pengejaran mendadak terlihatlah sesosok
bayangan manusia berkelebat masuk ke dalam, orang itu
bukan lain si kakek bongkok.
Waktu itu kereta berdarah sedang beranjak menerjang ke
depan sedang si kakek bongkokpun berlari mendatang dari
arah depan, bilamana dia tidak cepat-cepat menghindar tentu
segera akan terbinasa di bawah injakan kaki kuda itu.
Melihat hal ini Koan Ing menjadi sangat terperanjat, untuk
sesaat dia tidak bisa mengurusi kereta berdarah itu lagi,
tubuhnya dengan cepat berkelebat mendorong badan si kakek
bongkok itu ke samping.
Kereta berdarah dengan amat cepatnya menerjang terus ke
depan, cepat-cepat Koan Ing merendahkan badannya.
“Bluuuumm!” dengan menjebol dinding ruangan itu kereta
berdarah tersebut melarikan dirinya ke arah depan.
Koan Ing dengan cepat menyambar ke dua belah pedang
pendek yang disambitkan Bun Ting-seng ke arahnya tadi,
tubuhnya segera berkelebat pula ke depan dengan mengambil
jalan dinding yang sudah jebol tadi dia melakukan pengejaran.
Pada saat tubuhnya bergerak itulah terdengar suara
ringkikan kuda yang memanjang diikuti dengan suara
berputarnya roda-roda kereta menjauhi tempat itu.
Kereta berdarah sudah berlari menjauhi tempat itu, di
bawah sorotan sinar rembulan terlihatlah dia seorang diri
berdiri termangu-mangu di sana.
Setelah termangu-mangu beberapa waktu lamanya barulah
terlihat Koan Ing menyimpan kembali pedang panjangnya dan
memungut kedua bilah pedang pendek tersebut.

Mendadak.... tampaklah olehnya di bawah sorotan sinar
rembulan dari tubuh kedua bilah pedang pendek itu
memancarkan sinar hijau yang sangat tajam sekali, di
sekeliling tubuh pedang itu melingkarlah sebuah lingkaran
garis berwarna merah darah, tidak lain tidak bukan itulah
tanda kepercayaan daripada partai Hiat-ho-pay tempo hari.
Dari dalam sakunya dia segera mengambil keluar pedang
pendek yang ditemuinya semula, kini terlihatlah tiga bilah
pedang pendek dengan bentuk serta besar kecil yang sama
berjejer di tangannya.
Seketika itu juga Koan Ing menjadi paham, kiranya Koan
Thian Jen ayahnya sudah menemui tanda kepercayaan dari
Hiat-ho-pay ini sehingga membuat orang tua merasa tegang,
mungkin karena dia memasuki jalan di bawah tanah itulah
maka sudah menemui kematian di bawah serangan Bun Tingseng
itu.
Dengan berdiam diri dia termenung berpikir beberapa
waktu lamanya, tak terasa lagi air mata menetes keluar
dengan derasnya membasahi wajahnya, dalam hati dia
merasa sangat sedih sekali.
Tidak disangka olehnya baru saja dia keluar dari perguruan
belum sempat bertemu dengan ayahnya, ternyata dia orang
tua sudah dicelakai orang lain.
Tiong-siok dengan perlahan berjalan mendekati diri Koan
Ing, dari kelopak matanya air matapun menetes keluar
membasahi wajahnya.
“Ing Siauw ya,” ujarnya dengan perlahan, “Kau harus
mencari balas atas kematian Loo-ya.”
Mendengar perkataan dari Tiong-siok ini, Koan Ing
merasakan hatinya semakin sedih, dengan perlahan-lahan dia
memejamkan sepasang matanya.

Sesudah berdiam diri beberapa waktu lamanya dia baru
berkata, “Tiong-siok, aku pasti akan membalas atas kematian
Tia, sesudah kita mengubur jenazah ayah, aku akan segera
berangkat cari musuh besarku, tidak perduli dia lari ke ujung
langitpun, aku pasti akan mengejar dan mendapatkan si
pembunuh yang melarikan diri menunggang kereta berdarah
itu.”
Dengan perlahan-lahan dia memutar tubuhnya, mendadak
dia berdiri tertegun tampaklah olehnya di atas tanah
menggeletak sebilah pedang pendek beserta sarungnya,
dengan termangu-mangu dan hati penuh tanda tanya dia
berjalan mendekati kemudian memungutnya.
Ooo)*(ooO
Bab 2
KETIKA Koan Ing memungut pedang pendek itu terasalah
olehnya kalau pedang itu sangat berat, dengan meminjam
sorotan sinar rembulan dia memeriksa lebih teliti lagi,
tampaklah olehnya sarung pedang pendek itu terbuat dari
emas yang memancarkan sinar terang.
Dengan perlahan-lahan dia mencabut keluar pedang itu,
terlihatlah seluruh tubuh daripada pedang itu memancarkan
hawa dingin yang berwarna merah darah, jelas sekali pedang
itu merupakan sebilah pedang yang sangat berharga sekali.
Koan Ing sekali lagi terjerumus di dalam keadaan
termangu-mangu, bukankah ini yang di sebut sebagai “pedang
sakti darah mengalir”?
Tidak salah, pedang ini bukan lain adalah benda
kepercayaan dari ciangbunjin partai Hiat-ho-pay, ini hari tidak
disangka bisa terjatuh di tangannya.
Dengan perlahan-lahan dia memasukkan kembali pedang
itu ke dalam sarungnya kemudian menyimpannya di dalam

saku, sesudah termenung beberapa waktu lamanya dia angkat
kepalanya dan menghela napas panjang.
Dalam hati dia bersumpah pasti akan mengejar kereta
berdarah itu, dia harus membalaskan sakit hati ayahnya,
teringat akan ayahnya tak tertahan lagi air mata menetes
keluar dengan derasnya.
Sang surya memancarkan sinarnya jauh di tengah udara,
angin musim rontok bertiup dengan santarnya membuat awan
yang menipis pada melayang menjauh. Kota Kang Cho
merupakan pemandangan yang paling indah di daerah Kang
Lam.
Pemuda dengan potongan badan tegak, pakaian
berkabung, berpedang dan menunggang seekor kuda
jempolan dengan perlahan menjalankan kudanya memasuki
kota, dari sinar matanya jelas memperlihatkan dia sangat
lelah, pemuda itu bukan lain adalah Koan Ing yang sedang
melakukan pengejaran terhadap jejak kereta berdarah.
Dia sudah melakukan pengejaran selama sepuluh hari
lamanya, selama ini dia cuma tahu arah dimana kereta
berdarah itu melarikan diri, di sepanjang jalan yang dilaluinya,
tampaklah olehnya mayat-mayat para jago-jago Bu-lim
menggeletak di atas tanah, dia tahu itu pasti perbuatan dari si
kereta berdarah itu. Dengan cepat Koan Ing melarikan
kudanya ke dalam kota.
Baru saja dia berjalan melalui pintu kota tampaklah olehnya
seorang pemuda dengan dandanan pelayan berlari
mendatang.
“Kongcu kau mau cari penginapan?” tanyanya kepada diri
Koan Ing. “Penginapan Lay Hong kami mempunyai pelayanan
yang paling bagus.”
Koan Ing yang sudah melakukan perjalanan selama
beberapa hari lamanya kinipun merasa badannya sedikit lelah,
dia segera mengangguk kemudian mengikuti pelayan itu

berjalan masuk ke dalam, sesudah berbelok satu lorong
sampailah mereka di depan pintu rumah penginapan Lay Hong
tersebut.
Di depan rumah penginapan itu sudah terlihatlah berpuluhpuluh
orang dengan dandanan pakaian lebar berwarna putih,
melihat hal ini tak terasa lagi Koan Ing mengerutkan alisnya
rapat-rapat, dia merasa sangat heran sekali atas keadaan di
sana, buat apa orang-orang dengan dandanan yang sama itu
berkumpul di sana?
Ketika teringat kalau urusan itu tidak ada hubungannya
dengan dirinya diapun tidak mau ambil perduli lagi, setelah
turun dari kuda tunggangannya dia berjalan masuk ke dalam
rumah penginapan itu, Keadaan di dalam rumah penginapan
itu diatur sangat rapi sekali, begitu masuk dia sudah berada di
sebuah ruangan yang amat besar, di belakang ruangan besar
itu berderetlah dua buah bangunan rumah.
Koan Ing segera berjalan masuk ke dalam ruangan tengah,
terlihatlah di tengah ruangan kini sudah bertambah lagi
dengan seorang pemuda dengan berpakaian baju berwarna
hijau, alis pemuda itu hitam pekat wajahnya penuh senyuman,
jika dilihat dari dandanan serta sikapnya jelas dia merupakan
anak seorang hartawan.
Dengan seenaknya saja Koan Ing melirik sekejap ke
arahnya, dalam hati dia benar-benar merasa sangat heran,
pikirnya dalam hatinya.
Di depan sana banyak kelihatan orang yang sedang
melakukan jual beli, kenapa sesudah masuk ke dalam rumah
penginapan ini seorang pun tidak tampak?
Sedang dia memikirkan urusan ini, pemuda berbaju hijau
itu dengan langkah perlahan sudah berjalan mendekat,
ujarnya sambil tersenyum. “Tolong tanya apakah saudara mau
memberitahukan nama saudara?”
Koan Ing menjadi melengak.

“Siauwte bernama Koan Ing, entah saudara punya urusan
apa?”
pemuda tampan itu sekali lagi memperlihatkan senyuman
manisnya.
“Bukankah saudara putra dari Siang Kiang Thayhiap? Dan
baru saja datang dari rumah?”
Mendengar perkataan itu Koan Ing merasa sangat
terperanjat, pikirnya, “Entah dari mana asalnya orang ini, dia
tahu aku berasal dari daerah Siang Kiang tentu tahu juga
tentang diriku, kelihatannya dia mengandung sesuatu maksud
terhadap diriku.”
Dengan perlahan dia angkat kepalanya memperhatikan
sekejap ke arah pemuda tampan itu, tampaklah sepasang
matanya yang jeli menarik dengan kulit berwarna putih salju.
persis mirip seorang gadis, dia benar-benar tertegun oleh
keadaan itu. “Aku memang berasal dari daerah Siang Kiang.”
sahutnya.
Ketika pemuda tampan itu melihat sinar mata dari Koan Ing
dengan amat tajamnya memperhatikan dirinya terus menerus,
sepasang matanya segera berkedip agaknya dia berusaha mau
menghindar, alisnya segera dikerutkan dalam-dalam sambil
balas melototi diri Koan Ing ujarnya.
“Lalu peristiwa kereta berdarahpun tentu kau tahu bukan?”
“Kereta berdarah?” seru Koan Ing tertegun.
Dia sama sekali tidak menduga peristiwa munculnya kereta
berdarah sudah tersebar luas di dalam Bu-lim, di dalam hati
dia masih mengira orang yang mengetahui peristiwa Kereta
berdarah ini cuma beberapa orang saja, sungguh tidak terkira
orang inipun mencari dirinya karena soal ini.
Pemuda tampan itu sewaktu melihat Koan Ing tidak
menjawab, dalam anggapannya Koan Ing mau berpura-pura,
dengan perasaan tidak senang dia mendengus.

“Kereta berdarah sudah muncul kembali di dalam Bu-lim
bahkan sudah membinasakan tiga belas jago nomor wahid
dari Bu-lim,” ujarnya sembari tertawa dingin. “Bukan begitu
saja, bahkan setiap orang Bu-lim yang ditemuinya tentu
dibinasakan, munculnya kereta berdarah kini sudah diketahui
oleh para jago di dalam Bu-lim, bukankah kau sudah
menguntit kereta berdarah itu sejak dia munculkan dirinya
untuk pertama kali?”
Koan Ing yang mendengar pemuda ini berbicara tak hentihentinya
dia cuma mengangguk sambil tertawa.
Tetapi mendadak pemuda tampan itu berdiri melengak,
sama sekali tidak terduga olehnya Koan Ing bisa mengaku
begitu cepatnya.
“Lalu kereta berdarah itu sekarang berada dimana?”
tanyanya dengan cepat.
“Bilamana aku tahu sekarang tidak akan berdiri mematung
di tempat ini,” sahut Koan Ing sambil tertawa.
Pemuda tampan itu benar-benar terdesak oleh kata-kata
dari Koan Ing ini, air mukanya berubah sangat hebat,
bentaknya dengan amat gusar, “Kau tidak ingin bicara?”
Alis yang dikerutkan Koan Ing pun semakin kencang, dia
merasa jengkel sekali melihat silat orang itu begitu buruknya.
“Kalau tidak mau berbicara lalu bagaimana?” serunya
sambil tertawa gusar.
Air muka pemuda itu segera berubah sangat hebat, dengan
pandangan yang amat gusar dia pandangi diri Koan Ing.
“Hmmm, jangan menyesal kau!” ancamnya.
Begitu dia selesai berbicara tampaklah dari luar pintu
berjalan masuk seseorang sambil berkata, “Siauw Touw-cu,
buat apa marah-marah dengan orang ini, biarlah aku beri
sedikit hajaran kepada orang ini.”

Dengan perlahan-lahan Koan Ing balik badannya,
tampaklah di depan pintu rumah penginapan itu sudah
bertambah lagi dengan seorang lelaki berusia pertengahan
dengan memakai baju berwarna putih, wajahnya lebar
telinganya besar, sikapnya gagah sekali.
Diam-diam dalam hati dia merasa sangat terperanjat,
“Siauw Touw-cu? Entah pemuda ini berasal dari perkumpulan
apa? Kini dirinya betul-betul sudah tersangkut dalam satu
peristiwa dengan perkumpulannya. walaupun dia tidak takut
segala sesuatu, tetapi dendam sakit hati ayahnya belum
dibalas, dirinya mana boleh membuang waktu dengan
percuma?”
pemuda tampan itu sekali lagi mendengus, dia mundur satu
langkah ke belakang tanpa mengucapkan sesuatu, agaknya
dia sudah memberi ijin kepada orang itu untuk turun tangan.
Tampaklah orang berusia pertengahan itu melemparkan satu
senyuman ke arah Koan Ing.
“Koan Siauw-hiap” ujarnya. “Tahukah kamu orang yang
ada di hadapanmu sekarang adalah Siauw Touw-cu dari
perkumpulan Tiang-gong-pang? cepat kau minta maaf
kepadanya, kemungkinan sekali melihat kesopanan dirimu, dia
orang mau melepaskan dirimu satu kali ini.”
Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa sangat terperanjat,
“Tiang-gong-pang? Siauw Touw-cu dari Tiang-gong-pang?
Bukankah dia adalah putra dari si Tiang Gong Sin-cie atau si
jari sakti dari Tiang Gong, Sang Su-im dari “Sian, Khei, Sin
Mo”- empat manusia aneh? Dia sama sekali tidak menduga
kalau dirinya sudah bentrok dengan seorang manusia yang
paling sukar untuk dihadapi.
Ketika pemuda tampan itu mendengar si lelaki berusia
pertengahan itu meminta Koan Ing untuk meminta maaf
kepadanya, dia menjadi amat gusar.

“Hoo Lieh!” teriaknya keras. “Jika kamu orang tidak suka
bertempur dengan dia, biarlah aku sendiri saja yang turun
tangan.”
Koan Ing menjadi melengak, kiranya orang lelaki berusia
pertengahan ini bukan lain adalah TanJiang KuayJien atau si
tombak sakti Hoo Lieh, segera dia tertawa.
“Terima kasih atas kebaikan dari Ho Thayhiap, tetapi aku
tidak salah, aku tidak akan meminta maaf kepadanya.”
Ketika Hoo Lieh melihat sikap Koan Ing tetap tenangtenang
saja tanpa berubah sedikitpun juga dia menjadi
tertegun, pikirnya, “Pemuda ini sungguh mirip harimau yang
baru saja turun dari gunung, bagaimana dia tidak takut
dengan nama besar dari si jari sakti Sang Su-im?”
Di dalam hati sebetulnya pemuda tampan itu merasa tidak
senang karena si Hoo Lieh sudah laporkan namanya, dalam
anggapannya setelah Koan Ing mendengar namanya ini dia
tentu minta ampun kepada dirinya tetapi tidak disangka
olehnya dia sama sekali tidak menjadi jeri.
Dia menjadi amat gusar sekali.
“Bagus sekali!” teriaknya keras. “Nyalimu sungguh tidak
kecil, aku sama sekali tidak menduga kamu orang mempunyai
nyali yang demikian besarnya.”
Hoo Lieh tahu dengan jelas bagaimana sifat Siauw Touwcunya
ini, di dalam hatinya diam-diam dia mau memuji atas
semangat yang tinggi dari Koan Ing, karena takut bilamana
Siauw Touw-cunya turun tangan sendiri sehingga membuat
Koan Ing celaka dengan gugup serunya, “Siauw Touw-cu
tahan dulu, biar aku saja yang turun tangan memberi sedikit
pelajaran kepadanya.”
Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak ke depan,
telapak tangannya dengan melancarkan satu serangan
dahsyat menghajar pundak kanan Koan Ing.

Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat,
walaupun di dalam hatinya dia merasa sangat berterima kasih
sekali atas maksud baik dari Hoo Lieh to tapi di dalam
permainan kali ini dia sama sekali tidak mau mengalah barang
satu tindakpun, karena di dalam kedua buah urusan ini sama
sekali tidak mempunyai sangkut pautnya.
Tangan kanannya dengan cepat berputar satu lingkaran ke
depan, jari tengah maupun jari telunjuknya dikencangkan
setelah berputar setengah lingkaran di tengah udara dengan
kecepatan yang luar biasa dia menggencet pergelangan
tangan dari Hoo Lieh.
Dalam hati Hoo Lieh menjadi sangat terperanjat sekali
datangnya serangan ini, ketika dia melihat tangan kanan dari
Koan Ing menggencet pergelangan tangannya dia tahu jika
tidak cepat-cepat menarik serangannya maka dia akan
menemui bencana, tetapi terhadap cara menyerang yang
digunakan Koan Ing baru-baru ini dia sudah pernah
mendengarnya.
Tangan kanannya dengan cepat ditarik ke belakang, saat
itulah Koan Ing sudah mendengus dengan amat dinginnya,
tangan kanannya sedikit merendah dari serangan jari diubah
menjadi serangan mencengkeram, lima jarinya dengan sangat
dahsyat sekali mencengkeram pergelangan tangan Hoo Lieh.
Ketika Hoo Lieh melihat cengkeraman dari Koan Ing ini
dilakukan amat cepat dan tepat bahkan lima jarinya laksana
mega yang menutupi langit hatinya terasa berdesir, untuk
sesaat dia benar-benar dibuat bingung oleh keadaan, dengan
tergesa-gesa tubuhnya bergerak mundur ke belakang.
Baru saja Hoo Lieh mengundurkan dirinya terdengar si
pemuda tampan yang menonton jalannya pertempuran di
samping sudah memperdengarkan suara dengusannya yang
sangat dingin.

“Berhenti.” teriaknya. Sebetulnya di dalam hati Koan Ing
dia tidak ingin berbuat sesuatu terhadap diri Hoo Lieh, kini
mendengar si pemuda tampan itu berteriak untuk
menghentikan pertempuran itu cepat-cepat tubuhnya
meloncat ke samping, dengan pandangan yang amat dingin
dia melototi diri pemuda tampan itu.
“Tidak kusangka sama sekali setelah si pendekar pedang
aneh Thian-yu Lhei Kiam bersembunyi sepuluh tahun lamanya
ternyata berhasil memperoleh seorang murid semacam kau!”
seru pemuda tampan itu sambil mengerutkan keningnya.
Koan Ing cuma tertawa tawar saja, ketika dia mendengar si
pemuda tampan itu sudah salah menganggap dirinya sebagai
anak muridnya Kong Bun-yu, di dalam keadaan semacam ini
dia tidak mau membantah suatu senyuman manis segera
menghiasi bibirnya kembali.
Setelah Hoo Lieh mendengar perkataan dari pemuda
tampan itu, melihat juga sikap dari Koan Ing yang tidak
bermaksud membantah segera sudah menganggap dia benarbenar
anak murid dari Kong Bun-yu, dalam hati kecilnya diamdiam
dia merasa sangat terperanjat, si pendekar pedang aneh
bukanlah seorang yang mudah diganggu, kini mereka mencari
gara-gara dengan diri Koan Ing bilamana nanti Kong Bun-yu
ikut unjukkan diri, mereka harus berbuat bagaimana untuk
menghadapi dia orang?
Si pemuda tampan yang melihat Koan Ing cuma tertawa
tawar saja tanpa berbicara sudah menganggap dia tidak
pandang sebelah matapun terhadap dirinya, hawa amarah
yang membakar di dalam hatinya semakin berkobar.
Terdengar dia tertawa dingin tak henti-hentinya.
“Hmmm, kau kira kepandaian silat yang kau miliki sekarang
ini sudah sangat tinggi sekali? Hee.... hee.... jangan mimpi
dulu di siang hari bolong, kau kira sesudah menjadi anak
muridnya si pendekar pedang aneh Kong Bun-yu lalu tidak ada

orang yang berani mengganggu kamu orang? Ini hari aku
sudah ambil keputusan pasti akan menahan kamu di sini.
Koan Ing yang melihat kesalahpahaman pemuda itu
terhadap dirinya semakin lama semakin mendalam, dia
mengerutkan alisnya tetapi tetap membungkam di dalam
seribu bahasa.
Mendadak.... dengan kecepatan yang luar biasa pemuda
tampan itu menggerakkan badannya melayang ke depan diri
Koan Ing.
Koan Ing yang melihat kecepatan gerak dari pemuda
tampan ini jauh berada di luar dugaannya, dalam hati benarbenar
merasa sangat terkejut, tangan kirinya dengan tergesagesa
diangkat sedang tangan kanannya setelah berputar satu
lingkaran ke depan menyambut datangnya serangan dari
pemuda itu.
Tangan kanan si pemuda dengan cepat diulur ke depan,
diantara lima jarinya yang runcing dan sangat tajam itu, jari
tengah serta jari telunjuknya di kencangkan kemudian dengan
cepat menyambar mengancam jalan darah Cie Tie Hiat pada
diri Koan Ing.
Koan Ing yang melihat kecepatan gerak dari si pemuda luar
biasa ditambah ketepatan menotok jalan darahnya dalam hati
terasa bergidik. tidak malu dia sebagai putra dari si jari sakti
yang punya nama besar di dalam dunia persilatan.
Dalam hati dia tahu dirinya bukanlah tandingannya, lima
jari tangan kanannya segera dipentangkan lebar-lebar,
gayanya seperti sedang menyambut datangnya serangan,
seperti juga sedang menarik kembali serangannya, inilah yang
dinamakan Thiao Hong pian Huan atau pelangi langit berubahubah
daripada ilmu Mo Thian-yu Cap jie Si.
Jurus serangan ini boleh dikata merupakan suatu jurus
serangan sungguh-sungguh boleh juga merupakan sebuah
jurus serangan yang kosong, dapat ditarik dapat juga diserang

sesuka hatinya, terhadap penjagaan tubuh boleh dikata rapat
sekali sehingga air hujan pun sukar tembus.
Agaknya si pemuda tampan itupun pernah mendengar
kehebatan dari ilmu telapak Thian-yu Ciang Hoat ini, sekalipun
belum pernah bertemu secara langsung tetapi terhadap jurus
serangan yang digunakan Koan Ing dia tidak berani
menerimanya dengan gegabah.
Lima jarinya dengan perlahan ditarik kembali, tubuhnya
dengan cepat berkelebat ke samping tubuh Koan Ing
kemudian berjumpalitan di tengah udara.
Melihat gaya serangan dari pemuda itu, Koan Ing untuk
sesaat dibuat bingung juga, tubuhnya dengan cepat
berkelebat ke samping sepasang telapaknya dengan
menggunakan jurus Seng Gwat Ceng Hwee atau bintang bulan
berebut pamor melancarkan serangan dahsyat ke depan.
Baru saja Koan Ing melancarkan serangannya sampai di
tengah jalan mendadak pemuda tampan yang tubuhnya masih
ada di tengah udara itu membentak.
Mendadak tangannya dibalik melancarkan tujuh kali
totokan, dimana serangan itu lewat segera terdengarlah suara
gesekan yang amat membisingkan telinga.
Koan Ing menjadi sangat terkejut, walaupun dia pernah
mendengar nama besar dari si Tiang Gong Sin-cie atau si jari
sakti Sang Su-im, tetapi selamanya belum pernah mengetahui
kalau ilmunya Leng Gong Chiet Cie atau ilmu tujuh jari
menembus awan bisa begitu dahsyatnya, di dalam keadaan
yang amat terkejut terasalah angin serangan itu sudah
mendekati badannya.
Angin serangan itu sama sekali tidak memberikan sedikit
tempat kosongpun buat dirinya untuk menghindarkan diri,
terasa segulung demi segulung angin serangan menghajar
setiap jalan darahnya, tubuhnya tergetar dengan amat keras,
untuk menghindar tidak sempat lagi jalan darah 'Cie Ti', 'Sauw

Hu', serta 'Cian Cing', tiga jalan darah besar sudah tertotok,
tak tertahan lagi tubuhnya roboh ke atas tanah dengan
menimbulkan suara yang amat keras.
Setelah pemuda tampan itu berhasil menotok rubuh Koan
Ing, air mukanya kelihatan sudah berubah menjadi merah
darah, dengusnya dengan dingin.
“Hmm, ilmu sakti Thian-yu Khei Kang tidak disangka cuma
begitu saja.”
Sekalipun kini Koan Ing sudah dikuasai oleh pihak musuh
tetapi dalam hati merasa sangat gusar bercampur malu, dia
mengira dengan kepandaian silat yang dimilikinya sekarang ini
sudah lebih dari cukup untuk mengangkat nama di dalam
dunia persilatan, siapa sangka ini hari dia harus jatuh
kecundang ditangan seorang gadis yang sedang menyamar
sebagai seorang putra, jika begitu saja tidak sanggup lalu
kapan dia baru bisa membalas sakit hati ayahnya?
Dia memejamkan sepasang matanya erat-erat, sepatah
katapun tidak diucapkan.
“Sungguh keras sekali hatinya,” terdengar si pemuda
tampan itu mendengus lagi dengan amat dinginnya. “Cepat
gotong dia ke dalam!”
Koan Ing tetap memejamkan sepasang matanya tanpa
mengucapkan separah kata pun, terasalah dua orang segera
menggotong badannya masuk ke ruangan belakang.
Tetapi.... baru saja badannya diangkat mendadak dari
badannya terjatuh suatu benda.
“Criiiing....!” dengan cepat pemuda itu memungutnya.
“Pedang sakti Hiat Ho Sin pin!” teriak pemuda itu tertahan.
Tetapi sebentar kemudian dia sudah mendengus kembali
dengan dinginnya, sambil mengembalikan pedang dia ke

dalam tubuhnya, dia berkata, “Kiranya kau adalah ciangbunjin
dari Hiat-ho-pay, sungguh maaf, sungguh maaf.... ”
Diam-diam dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat,
kini pedang sakti Hiat Ho Sin pin sudah muncul, keadaan
dirinya akan semakin merepotkan.
Baru saja dia digotong sampai di ruangan belakang,
mendadak terdengar suara hiruk-pikuk bergema di luar
ruangan hatinya jadi merasa sangat heran.
Bagaimanapun juga dia masih mempunyai sifat kanakkanak,
diam-diam matanya dipentangkan kembali, terlihatlah
si pemuda tampan itu dengan sepasang matanya yang
melotot lebar-lebar sedang memandang dengan gusarnya ke
arah jendela luar.
Ketika Koan Ing memandang keluar kembali, terlihatlah
saat itu tubuh si pemuda tampan dengan kecepatan yang luar
biasa sudah berkelebat keluar ruangan.
Dari luar rumah penginapan itu muncullah seorang pemuda
berusia dua puluh lima enam tahunan, seluruh tubuhnya
memakai baju berwarna putih salju sedang pada ujung
bibirnya tersungginglah suatu senyuman yang sangat congkak
sekali.
Hoo Lieh pun dengan tergesa-gesa mengikuti diri pemuda
itu berjalan keluar dari ruangan dalam, diam-diam Koan Ing
mulai mengintip dari balik pintu belakang sedang dalam hati
diam-diam pikirnya, “Ehmm.... siapakah sebetulnya pemuda
berbaju putih itu?”
Ketika pemuda berbaju putih itu melihat munculnya Hoo
Lieh serta pemuda tampan di hadapannya segera tertawa
terbahak-bahak. “Dimana Siauw Touw-cu kalian?” tanyanya
keras-keras.

“Akulah, siapakah kamu orang?” teriak pemuda tampan itu
dengan amat gusar, sedang suara dengusan yang amat dingin
bergema terus dari hidungnya.
“Heee.... hee.... ” Terdengar si pemuda berbaju putih itu
tertawa ringan, sedang sepasang matanya dengan amat tajam
memperhatikan seluruh tubuh pemuda itu dari atas kepala
hingga ke ujung kakinya. “Aku dengar si jari sakti Sang Loo
pak punya seorang puteri yang sangat cantik sekali, ini hari
aku bertemu sendiri tidak terkira begitu tampan kiranya, aku
kira kamu orang tentunya Siauw-tan moa y bukan?”
Saking Kekhienya seluruh air muka Sang Siauw-tan sudah
berubah menjadi merah padam, untuk sesaat tak sepatah
katapun bisa diucapkan keluar....
“Saudara sebenarnya siapa?” tanya Hoo Lieh yang ada di
samping dengan cepat. “Kalau sudah tahu nama dari Siauw
Touw-cu kami kenapa tidak lekas-lekas menghindar?”
“Ha.... haaa.... haaa.... cayhe adalah Ciu Pak, tentunya
kalian sudah pernah mendengar namaku bukan?”
Dalam hati Hoo Lieh merasakan perasaannya berdesir, dia
sama sekali tidak menyangka kalau pemuda berbaju putih
yang ada di hadapan ini ternyata adalah bukan lain putra dari
Chiat Hay Mo Su atau si iblis sakti dari luar lautan Ciu Tong, si
Bo Cing Kongcu atau si sastrawan tak berbudi Ciu Pak.
Menurut berita yang tersiar di dalam Bu-lim katanya
kepandaian silat orang ini jauh berada di atas kepandaian silat
suhengnya si sastrawan berbaju sutera Bun Ting-seng, entah
karena persoalan apa ini hari dia bisa munculkan diri di
hadapan mereka?
“Hmmm. Kiranya anak anjing dari iblis luar lautan!” seru
Sang Siauw-tan sambil mendengus dingin, “Aku harus
menjajal-jajal juga kepandaian silat Khi Bun Mo Kang dari
kalian!”

Sambil berkata tubuhnya dengan cepat bergerak, tangan
kanannya dibabat ke depan menotok jalan darah Cie Bun Thoy
Hiat pada dada sebelah kanan dari Ciu Pak.
Ciu Pak segera tertawa terbahak-bahak.
“Siauw-tan moay-moay, Walaupun kita bertemu baru untuk
pertama kalinya tetapi sejak dahulu aku sudah ingin sekali
bertemu dengan kamu orang, ada perkataan lebih baik kita
bicarakan secara baik-baik saja buat apa turun tangan main
kepalan?”
Walaupun pada mulutnya dia berbicara demikian tetapi
gerakan tangannya sedikitpun tidak kendor, tubuhnya miring
ke samping dengan gaya yang amat manis berhasil
menghindarkan diri dari totokan jari Sang Siauw-tan ini.
Koan Ing yang mengintip dari belakang jendela, ketika
melihat gerakan dari Ciu Pak di dalam hati diam-diam ikut
merasa kuatir atas keselamatan dari Sang Siauw-tan, kelihatan
sekali orang yang bernama Ciu Pak ini jadi orang kurang jujur
dan berhati licik, sedangkan kepandaian silat yang dimilikipun
sangat tinggi sekali, dia merupakan seorang manusia yang
sangat berbahaya sekali.
Sang Siauw-tan ketika melihat serangannya mencapai pada
sasaran yang kosong mendengar pula perkataan dari Ciu Pak
begitu tidak memandang sebelah matapun kepada dirinya
dalam hati betul-betul merasa sangat jengkel, tubuhnya
dengan cepat mencelat ke atas kemudian melayang di tengah
udara.
pertemuan puncak para jago di gunung Hoa-san tempo
hari, walaupun Ciu Tong memiliki ilmu aneh Hu Si Kang atau
ilmu mayat membusuk tetapi terhadap ilmu jari Han Yang Cie
dia paling takut cukup satu kali totokan saja segera akan
memecahkan seluruh tenaga dalam yang dilatihnya.
Berpikir sampai di sini tubuhnya yang ada di tengah udara
segera membalik kearah

yang berlawanan, berturut-turut dia melancarkan tujuh kali
serangan totokan yang amat dahsyat, tampaklah tujuh gulung
angin pukulan yang amat santar dengan amat cepatnya
meluncur mengancam tujuh jalan darah penting pada tubuh
Ciu Pak.
Dalam hati Sang Siauw-tan sekarang ini sedang merasa
gemas atas kekotoran perkataan dari Ciu Pak ini, karenanya
baru saja mulai bergebrak dia sudah menggunakan ilmu jari
Tiang Gong Chiet Cie andalan ayahnya.
Tubuhnya dengan cepat melayang ke depan mendesak
terus ke arahnya, tetapi Ciu Pak cuma tertawa terbahakbahak,
sinar matanya yang amat tajam berkelebat beberapa
kali, mendadak tubuhnyapun ikut melayang ke tengah udara
mengejar dari belakang tubuh Sang Siauw-tan.
Melihat gerak-geriknya itu Sang Siauw-tan menjadi amat
gusar, diam-diam makinya, “Hmmm, omonganmu sedikitpun
tidak bersih, aku harus memberi sedikit pelajaran kepada
kamu orang.”
Suara angin serangan yang menembus udara meluncur ke
depan membuat orang yang melihat benar-benar merasa
sangat terperanjat.
pada tempo hari Ciu Tong pernah merasakan kerugian di
tangan Sang Su-im, sudah tentu Ciu Pak pun tahu bagaimana
lihaynya ilmu jari Han Yang Cie yang dimiliki Sang Siauw-tan
ini, ketika dilihatnya tujuh serangan bersama-sama
mengancam seluruh tubuhnya dia tertawa terbahak-bahak,
tubuhnya sedikit miring ke samping, dengan sengaja dia
membiarkan ke tujuh buah serangan itu menghajar separuh
badannya yang ada di sebelah kirinya.
Dengan amat dahsyatnya ke tujuh buah serangan itu
dengan tepat menghajar badannya, terdengar dia mendengus
dengan amat beratnya, air mukanya berubah sangat hebat....

mendadak tubuhnya dengan dahsyatnya menubruk ke arah
diri Sang Siauw-tan.
Sang Siauw-tan baru saja menggunakan seluruh tenaga
yang ada untuk melancarkan tujuh totokan itu, ketika
dilihatnya Ciu Pak sama sekali tidak menghindar dalam hati
merasa sangat girang sekali, kini secara tiba-tiba dia melihat
tubuh Ciu Pak bukannya rubuh bahkan menubruk ke arahnya,
dia menjadi sangat terperanjat.
Sewaktu menghadapi Koan Ing tadi dia hanya
menggunakan ilmu jari yang biasa saja tetapi sudah terasa
amat ngotot, apa lagi kini dia harus menggunakan ilmu jari
Han Yang Cie yang sudah terkenal di dalam Bu-lim, terasa
olehnya tenaga dalamnya berkurang.
Kini melihat Ciu Pak mendesak terus ke arah dirinya, di
dalam keadaan yang amat terdesak dia melancarkan satu
pukulan dahsyat ke arahnya.
Ciu Pak tertawa terbahak bahak, dalam sekejap saja dia
sudah berhasil menawan diri Sang Siauw-tan.
Hoo Lieh sama sekali tidak menduga keadaan di dalam
kalangan pertempuran bisa berubah sampai sedemikian rupa,
baru saja dia bermaksud untuk maju ke depan saat itulah
Sang Siauw-tan sudah berhasil dikuasai oleh pihak musuh.
Dengan cepat Ciu Pak merangkul tubuh Sang Siauw-tan ke
dalam pelukannya.
“Aku kira kalian tidak akan maju untuk merebut orang
bukan?” tegurnya sambil menoleh ke arah Hoo Lieh sekalian.
Tempo hari sesudah Ciu Tong mendapatkan kerugian dari
Sang Su-im di atas gunung Hoa-san dengan segera dia pulang
ke pulau Ciat Ie To untuk memikirkan cara pemecahan ilmu
tersebut akhirnya dia berhasil menciptakan sebuah ilmu aneh,
dia mengalirkan seluruh darahnya pada separuh badannya
sehingga membuat separuh badan yang sebelah menjadi kaku

laksana kayu lapuki sekalipun terkena serangan yang
bagaimana dahsyatpun saat itu tidak akan terasa lagi.
Setelah Ciu Pak mengumpulkan hawa murninya pada
separuh badannya sekalipun dia tidak sampai rubuh oleh tujuh
totokan sekaligus dari Sang Siauw-tan tadi tetapi dia
merasakan juga badannya menjadi kaku, untung saja tidak
sampai rubuh sehingga bisa menubruk kembali ke depan.
Setelah pertempuran di atas gunung Hoa-san tempo hari,
sekalipun akhirnya si manusia tunggal di dalam Bu-lim
melarikan diri dengan menunggang Kereta berdarah tetapi di
dalam hati mereka berempat masing-masing merasa tidak
puas lalu sudah memutuskan untuk mengadakan pertemuan
kembali dua puluh tahun kemudian.
Saat itulah Sang Siauw-tan sudah kehabisan tenaga, untuk
melawanpun tidak ada gunanya lagi.
Hoo Lieh tahu Ciu Pak yang disebut sebagai Bo Cing
Kongcu atau si kongcu tak berbudi sudah tentu sifatnya
sangat kejam sekali, cukup dilihat dari serangannya baru-baru
ini saja sudah jelas tertera kalau hatinya amat kejam sedang
serangannya pun sangat ganas. Segera dia tertawa dingin.
“Tentunya Ciu Kongcu masih ingat dengan pangcu
perkumpulan kami bukan?”
“Haa.... haa ha.... haa.... waktu dua puluh tahun sudah
hampir tiba, ayahku saat ini sedang melatih silatnya mencapai
pada waktu yang terpenting, sudah tentu pamanpun demikian
pula bukan?”
Hoo Lieh yang sedang omong kosong tetapi terbongkar
oleh diri Ciu Pak untuk sesaat lamanya tidak sanggup
mengucapkan sepatah katapun, sesudah termangu-mangu
beberapa saat lamanya barulah dia berkata kembali, “Entah
apa maksud tujuan kedatangan Ciu Kongcu kali ini?”

Ciu Pak tertawa, sesudah melihat sekejap ke arah Sang
Siauw-tan yang berada di dalam pelukannya dia berkata,
“Padahal jelasnya tidak ada urusan, sejak tadi aku sudah
bilang sama kalian. baiknya kita berunding saja, asalkan kalian
mau menyerahkan sang pemuda yang sedang melakukan
pengajaran terhadap Kereta berdarah itu, segera akan
menyudahi urusan ini.”
Hoo Lieh menjadi melengak, pikirnya, “Ooooh.... kiranya Si
Bo Cing Kongcu Ciu Pak inipun sedang mencari diri Koan Ing.”
“Bagaimana?” tanya Ciu Pak sembari tertawa dingin.
“Jangan coba menipu aku yaaah, aku tahu kalian sudah
berhasil menipu dia kemari, sudah tentu dia tidak akan lolos
dari tangan kalian, ayoh cepat serahkan padaku!”
Jilid 2
Sehabis berkata dia tertawa tambahnya, “Kaupun tahu
ayahmu mempunyai hubungan yang sangat baik dengan
ayahnya Siauw-tan Moay-moay, aku tidak akan berani
memperlakukan tidak senonoh terhadapnya.”
Ketika Hoo Lieh mendengar Ciu Pak mengungkit-ungkit
juga tentang Koan Ing, mendadak di dalam benaknya terlintas
satu ingatan, segera dia pikirkan satu siasat yang sempurna.
Ciu Pak melihat Hoo Lieh tidak mengucapkan sepatah
kaupun dia segera mengerutkan keningnya.
“Kenapa?”
Seketika itu juga Hoo Lieh terjaga kembali dari lamunannya
dengan amat terkejut, “Oooh.... oooh.... dia sudah diantar
pergi dari sini.
“Apa?” tanya Ciu Pak terperanjat, sedang sinar matanya
berkedip-kedip tak henti-hentinya.
Hoo Lieh tertawa paksa.

“Karena ingin mengetahui jejak dari kereta berdarah,
begitu berhasil menawan dirinya kami sudah membawa dia
pergi untuk disiksa, saat ini sudah tidak ada lagi di sini.”
Dengan pandangan ragu-ragu Ciu Pak memandang diri Hoo
Lieh beberapa saat lamanya, lama sekali baru terdengar dia
mendengus dengan dinginnya.
“Hmmm.... hmmm, kau jangan menganggap aku seorang
manusia yang mudah dipermainkan.... ”
Walaupun pada mulutnya dia berbicara begitu, tetapi di
dalam hatinya merasa ragu-ragu juga, dengan kekuatan dari
perkumpulan Tiang-gong-pang, untuk membawa seorang jago
yang memiliki ilmu silat biasa saja bukanlah suatu pekerjaan
yang sukar.
Bahkan untuk kirim dia pergi dari tempat inipun merupakan
suatu urusan yang mudah sekali dikerjakan, tetapi dia pun
merasa curiga bahwa Hoo Lieh sudah menganggap dia tidak
berani melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap diri Sang
Siauw-tan sehingga sengaja berkata tidak ada.
Sekali lagi Hoo Lieh tertawa paksa.
“Bilamana Ciu Kongcu percaya terhadap diriku, aku segera
akan kirim orang untuk pergi mengejar, mungkin setengah
jam kemudian sudah bisa sampai di sini kembali.
Dengan beberapa patah kata dari Hoo Lieh ini membuat
perasaan curiga yang semula meliputi hati Ciu Pak segera
tersapu bersih dari dalam hatinya, diapun tidak takut Hoo Lieh
bisa melakukan sesuatu perbuatan terhadap dirinya, dia
segera mendengus. “Hmmm, baiklah aku beri setengah jam
buat kau orang.”
Hoo Lieh segera mengangguk dan putar badannya berjalan
menuju ke ruangan dalam.
Ciu Pak tetap berdiri dengan amat dinginnya di tempat
semula, selama ini dia selalu bersiap sedia terhadap segala

macam permainan gila dari Hoo Lieh, dia tak ingin
membuntuti diri Hoo Lieh, dalam anggapannya asalkan Sang
Siauw-tan masih ada di tangannya Hoo Lieh tidak akan berani
melakukan sesuatu yang merugikan dirinya.
Koan Ing yang diam-diam mencuri lihat dari balik jendela,
ketika melihat Sang Siauw-tan tertawan, di dalam hati diamdiam
merasa amat terperanjat, akhirnya dia dengar pula
beberapa patah perkataan dari Hoo Lieh yang sangat
membingungkan, membuat dia semakin merasa bingung tujuh
keliling.
Dengan cepat Hoo Lieh berjalan mendekati samping badan
Koan Ing kemudian memberikan tanda dengan lirikan mata
kepada kedua orang pengawal yang ada disampingnya untuk
menggotong tubuh Koan Ing menuju ke salah satu kamar di
samping ruangan tersebut.
Tanpa banyak pikir panjang lagi Hoo Lieh membebaskan
jalan darah dari Koan Ing, kemudian ujarnya sambil
merangkap tangannya memberi hormat, “Koan Siauwhiap, ini
hari kau orang harus membantu perkumpulan kami.”
Koan Ing tidak paham apa arti dari perkataan dari Hoo Lieh
ini, dia segera mengerutkan alisnya kebingungan.
“Ho Thayhiap kau sedang membicarakan urusan apa, aku
Koan Ing sama sekali tidak paham,” ujarnya,
“Aku ingin sekali agar Koan Siauwhiap mau menyamar
sebentar sebagai suhumu.”
Sekali lagi Koan Ing dibuat melengak.
Dengan cepat Hoo Lieh membetulkan perkataannya,
“Maksudku menyamar sebagai suhumu Kong Bun-yu
Thayhiap.”
Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi paham apa
maksudnya yang sebenarnya, dia membantah, “Kau sudah

salah sangka, suhuku bukan Kong Bun-yu, suhuku adalah si
pendekar pedang menyendiri dari gunung Chin Leng,”
Sekarang ganti Hoo Lieh yang dibuat melengak, dia
mengira Koan Ing adalah anak muridnya Kong Bun-yu, siapa
sangka ternyata dugaannya sama sekali meleset.
Tetapi urusan ini sudah menjadi begini, dia pun tidak bisa
berbuat apa-apa lagi, terpaksa sambungnya, “Untuk menolong
Siauw Touw-cu harap Koan Siauwhiap mau memberi bantuan
kepada kami,”
Koan Ing yang baru saja kena ditawan oleh serangan Sang
Siauw-tan dalam hati masih merasa sangat tidak puas, kini dia
diminta untuk menyamar sebagai Kong Bun-yu hatinya
semakin kheki.
“Bukankah lebih bagus lagi kalau kau serahkan saja diriku
kepadanya?”
Hoo Lieh tertawa, dengan pengalamannya yang luas dan
pengetahuannya yang mendalam hanya di dalam sekali
pandang dia sudah dapat mengetahui kalau Koan Ing sedang
mengumbar sifat ke bocah-bocahannya.
Ujarnya kemudian sambil tertawa, “Koan Siauwhiap, jangan
dibilang Ciu Pak itu seorang manusia yang tidak bisa
dipercaya, dengan memandang perasaan jerinya terhadap
pangcu kami sesudah dia berhasil menawan diri Siauw Touwcu
tidak mungkin dia orang mau melepaskannya kembali, coba
Koan Siauwhiap bayangkan saja jika dia tidak mau
melepaskan dia orang akan apa jadinya? Sekarang urusan
sudah jadi begini, kecuali Koan Siauwhiap seorang tidak ada
lagi yang bisa memberi pertolongan untuk membebaskan diri
Siauw Touw-cu.”
Koan Ing yang mendengar perkataan dari Hoo Lieh ini tak
terasa hatinya bimbang juga, sebetulnya dia ingin pergi
menolong Sang Siauw-tan, tetapi baru saja dia kena tawan
oleh dirinya kini bilamana dirinya harus pergi menolong dia

orang harus ditaruh kemana wajah sendiri? Dia betul-betul
merasa tidak enak untuk berbuat itu,
Sejak semula Hoo Lieh sudah tahu perasaan hati Koan Ing
ini, tetapi dia tidak sampai mengutarakannya keluar,
“Urusan seperti ini kita manusia golongan pendekar dan
enghiong hoo han siapa bisa melakukannya, jikalau Koan
Siauwhiap tidak mau melakukannya dikarenakan tadi Siauw
Touw-cu sudah berbuat salah terhadap dirimu, aku Hoo Lieh
juga tidak akan memaksa. Koan Siauwhiap boleh
meninggalkan tempat ini sesukanya. Biarlah urusan yang ada
disini aku Hoo Lieh memikirkannya seorang diri, aku rasa
akhirnya urusan tentu akan mencapai penyelesaiannya dengan
sendirinya.”
Koan Ing yang hatinya dipanasi oleh beberapa patah kata
dari Hoo Lieh ini membuat sepasang alisnya dikerutkan rapatrapat,
ujarnya kemudian. “Tapi aku takut penyamaranku tidak
persis.”
Hoo Lieh yang mendengar Koan Ing sudah menyanggupi,
hatinya menjadi amat girang.
“Soal ini Koan Siauwhiap boleh berlega hati.” ujarnya
dengan cepat “Koan Thayhiap sudah lenyapkan diri dari Bu-lim
kurang lebih lima puluh tahun lamanya, dengan usia dari Ciu
Pak sekarang ini tidak mungkin dia pernah bertemu dengan
dia orang tua, apalagi akupun bisa membantu sedikit buat
kamu orang.
Koan Ing yang merasa dirinya sudah memberi
kesanggupan sudah tentu harus melakukannya dengan rela
hati, dia tahu Kongcu tak berbudi bukan manusia yang dapat
diganggu seenaknya, sedikit berbuat salah saja mungkin bisa
membuat urusan semakin menjadi kacau.
Dengan pandangan amat tajam Hoo Lieh memperhatikan
wajah Koan Ing, lalu ujarnya, “Yang perlu kau perhatikan,
asalkan suara serta gerak-gerikmu sangat luwes tanpa rasa

kikuk, urusan sudah tentu akan berhasil, sekarang biar aku
bantu ubahkan sedikit
wajahmu kemudian kita latihan satu kali, aku kira urusan
tidak akan ada bahayanya,”
Di dalam hati Koan Ing sudah membuat perhitungan yang
masak, dengan berdiam diri dia segera mengangguk,
Ciu Pak yang seorang diri berdiri menanti di tengah
ruangan kini sudah sedikit merasa tidak sabaran, matanya
dilirikkan ke kanan ke kiri melihat keadaan sedang wajahnya
kelihatan amat murung, terlihatlah dengan menggendong
badan Sang Siauw-tan dia berjalan menuju ke sebuah bangku,
Sesudah duduk di atas bangku dia meletakkan badan Sang
Siauw-tan ke atas tanah dan menotok jalan darah pulasnya,
setelah itu dengan amat tajam dia memperhatikan wajahnya,
dia merasa wajah dari Sang Siauw-tan sangat cantik sekali.
Semakin melihat dia merasa semakin tertarik, mendadak
dia melepaskan topi yang menutupi kepalanya, seketika itu
juga gulungan rambut yang amat panjang terurai ke bawah,
Dia menjadi tertegun, di dalam benaknya dia sama sekali
tidak menyangka kalau wajah Sang Siauw-tan semakin cantik
lagi tanpa memakai topi itu,
Walaupun orang lain menyebut dirinya sebagai Kongcu tak
berbudi tetapi sekarang merasa sayang juga untuk
melepaskan diri Sang Siauw-tan, dia tahu ayahnya Sang Su-im
bukanlah manusia yang bisa dipermainkan seenaknya, jika dia
harus melepaskan diri Sang Siauw-tan maka di dalam
menghadapi ayahnya Sang Su-im dia akan mengalami
kesulitan.
Berpikir sampai disitu tak terasa lagi pada ujung bibirnya
tersungginglah salah satu senyuman yang amat tawar.

Pada saat yang bersamaan mendadak terdengar olehnya
suara bentakan keras yang amat
gusar diikuti tubuh Hoo Lieh terlempar masuk ke tengah
ruangan, dia menjadi termangu-mangu, sedang tubuhnya
dengan amat cepat bangkit berdiri.
Baru saja badannya bergerak, terlihatlah seorang siucay
berusia pertengahan dengan menggembol sebilah pedang
berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang amat
perlahan.
Tubuh Hoo Lieh terus menerus mundur ke belakang,
tombaknya yang ada ditangan dengan cepat diputar ke depan
dadanya kemudian dengan sekuat tenaga menusuk ke arah
dada si siucay pertengahan itu.
Si siucay berusia pertengahan itu cuma tertawa menghina,
tangan kanannya diputar satu lingkaran di depan dada
kemudian dengan sangat mudahnya dia berhasil
menghindarkan diri dari tusukan Hoo Lieh lalu memukul
dengan amat tepatnya ujung tombak tersebut.
Terkena sampokan tangan siucay berusia pertengahan itu
tak tertahan lagi ujung tombak tersebut patah menjadi dua
bagian.
Ooo)*(ooO
Bab 3
Dengan amat terperanjat Hoo Lieh mundur dua langkah ke
belakang.
Dalam hati Ciu Pak merasa amat terperanjat, dengan
gerakkan yang begitu mudah si siucay berusia pertengahan itu
sudah berhasil menghancurkan ujung tombak yang sedang
melancarkan serangan ke arahnya, jika dilihat dari gerakan
tersebut jelas sekali kalau tenaga dalam orang ini tidak berada
di bawah tenaga dalam ayahnya.

Dia merasa agaknya gerakan tangan orang ini pernah
didengarnya, pikirannya dengan cepat berputar.
Mendadak hatinya terasa berdesir, jurus serangan yang
menggunakan putar setengah
lingkaran di depan dada cuma ada seorang yang
menggunakannya yaitu keluarga dari Thian-yu Khei Kiang
Kong Bun-yu.
Berpikir sampai di situ dengan cepat dia berteriak.
“Tahan....!”
Hoo Lieh mundur dua langkah ke belakang sepatah
katapun tidak diucapkan sedangkan si siucay berusia
pertengahan itu dengan pandangan sangat dingin
memperhatikan diri Ciu Pak kemudian dengan kerasnya
mendengus.
“Hmmm, kau memiliki ilmu Mayat membusuk, sudah tentu
anak murid dari Ciu Tong
siluman tua itu.”
Dalam hati Ciu Pak semakin bergidik pikirnya, “Sungguh
tajam pandangan mata orang ini, cuma di dalam satu kali
pandangan saja dia sudah tahu kalau aku memiliki ilmu mayat
membusuk.... ” Segera dia mengangguk, “Ciu Tong memang
ayahku, apakah saudara adalah paman Kong?” Si siucay
berusia pertengahan itu tertawa dingin.
“Kalau sudah tahu aku si orang tua, kenapa tidak cepat
menyingkir dari sini? hmmm, kau kira urusan kereta berdarah
adalah urusan yang dapat dicampuri oleh kalian dari angkatan
muda?”
Ciu Pak melengak, sebenarnya saat ini dia sudah ada di
atas angin, sudah tentu dia orang tidak ingin meninggalkan
tempat ini dengan begitu mudah, apalagi jurus serangan yang
baru saja digunakan Kong Bung Yu ini sama sekali tidak
memperlihatkan sesuatu keanehan atau keistimewaan.

Dengan memperlihatkan tertawa paksa dia berseru,
“Paman Kong.... ”
Kong Bun-yu segera melototkan matanya bulat-bulat,
potongnya setengah berteriak, “Cepat kau pulang beritahu
sama si siluman tua, katakan saja kereta berdarah sudah
muncul kembali, kitapun harus bergebrak coba-coba lihat
siapa yang lebih unggul, ayoh cepat menggelinding dari sini.”
Sehabis berkata tangan kanannya diayun sebilah pedang
pendek dengan kecepatan yang luar biasa meluncur ke depan,
tapi baru saja meluncur sampai di tengah jalan pedang itu
mendadak berputar dan berbelok ke samping untuk kemudian
meluncur dan menancap di atas dinding.
Ciu Pak merasa sangat terperanjat, ilmu pedang semacam
ini selamanya dia tidak pernah mendengarnya, segera dia
berjalan mendekati dinding, terlihatlah pedang pendek itu
sudah tertancap ke dalam dinding sampai ke gagangnya, dia
benar-benar merasa sangat terkejut, kelihatannya tenaga
dalam dari Kong Bun-yu ini jauh lebih tinggi satu singkat dari
tenaga dalam ayahnya.
Dia mencabut kembali pedang pendek itu, hatinya terasa
semakin bergidik, kiranya pada tubuh pedang pendek itu
tergoreslah sebuah garis berdarah yang amat panjang, tidak
salah lagi itulah tanda dari partai Hiat-ho-pay, dia tidak raguragu
lagi, segera putar badannya memberi hormat.
“Terima kasih paman Kong tidak turun tangan jahat
kepadaku.”
Sehabis berkata begitu tanpa menoleh lagi dia melarikan
diri terbirit-birit meninggalkan tempat itu.
Hoo Lieh yang melihat Ciu Pak meninggalkan tempat itu
dengan terbirit-birit, segera berlari ke samping tubuh Sang
Siauw-tan bantu membebaskan dirinya dan totokan.

Sang Siauw-tan yang jalan darahnya terbebas dengan
perlahan bangkit berdiri, dari kelopak matanya tak tertahan
titik-titik air mata menetes keluar membasahi pipinya, selama
ini dia tidak pernah menderita kekalahan seperti ini hari.
Koan Ing menghembuskan napas lega, dengan perlahan
dia menghapus penyamarannya, pertempurannya tadi dengan
diri Hoo Lieh sudah tentu hanya pura-pura saja, sedang
pedang yang dilempar tadi terlebih dahulu pada dinding
setelah dipasang besi semberani di tambah pula dia memiliki
pedang pendek peninggalan partai Hiat-ho-pay karenanya
dengan mudah sekali mereka berhasil mengusir Ciu Pak dari
sana,
Sewaktu Sang Siauw-tan melihat orang yang baru saja
menolong dirinya bukan lain adalah diri Koan Ing, dia sedikit
melengak, dalam hati dia merasa sangat tidak puas sesudah
memandang beberapa saat ke arahnya, mendadak dia orang
memperdengarkan suara dengusan yang amat dingin.
“Hmmm, jangan kau anggap pertolonganmu ini hari bisa
memaksa hatiku menaruh perasaan terima kasih kepadamu,
ini hari kau menolong aku, lain kali aku akan membalas budi
kebaikanmu ini.”
Selesai berkata dengan amat dingin dia mengibaskan
tangannya membawa Hoo Lieh sekalian meninggalkan tempat
itu.
Hoo Lieh tahu sifat dari Sang Siauw-tan ini, diapun tidak
punya akal lain terpaksa dengan pandangan minta maaf dia
memandang sekejap ke arah diri Koan Ing.
Koan Ing sendiri sama sekali tidak mengira setelah dia
menolong diri Sang Siauw-tan dia bisa bersikap begitu dingin
terhadap dirinya, saking gemasnya tak sepatah katapun bisa
diucapkan keluar, cuma matanya dengan pandangan melotot
memandang bayangan Sang Siauw-tan sekalian meninggalkan
tempat itu.

Dia yang melihat mereka pada meninggalkan tempat itu
tanpa menggubris dirinya lagi, dengan gusarnya mendepakkan
kakinya ke atas tanah, pikirnya, “Hmmm, bocah perempuan
itu sungguh tidak punya aturan, lebih baik untuk selamanya
jangan sampai bertemu muka kembali dengan dirinya.”
Cuaca semakin menggelap, malam hari pun datang
menjelang, malam itu dia beristirahat satu malam disana,
keesokan harinya baru berangkat kembali menuju ke arah
utara,
Koan Ing yang baru saja keluar dari pintu sebelah utara
mendadak dari hadapannya berpapasan dengan seorang
penunggang kuda yang bukan lain adalah si kongcu tak
berbudi Ciu Pak, batinya menjadi amat terperanjat, pikirnya,
“Aduh celaka, jangan sampai diketahui oleh dia orang.”
Setelah mereka berdua saling lewat di sampingnya, hati
Koan Ing baru merasa sedikit lega, tiba-tiba....
“Iiih.... ” terdengar si kongcu tak berbudi Ciu Pak berseru
tertahan kemudian menahan tali les kudanya, dan putar balik
kudanya melakukan pengejaran.
Koan Ing tahu tentu Ciu Pak sudah menaruh perasaan
curiga terhadap dirinya,
pikirannya dengan cepat berputar memikirkan suatu cara
untuk meloloskan diri dari pengejaran tersebut.
Ciu Pak dengan cepat sudah berada dihadapan diri Koan
Ing, dia memandang sekejap ke arahnya kemudian pada
ujung bibirnya tersungginglah suatu senyuman yang misterius,
tanyanya, “Hey siauwko, Sang Siauw-tan sekarang ada
dimana?”
Koan Ing yang melihat Ciu Pak sudah berada di
hadapannya, dia segera sadar untuk menghindarkan diri
sudah tidak sempat lagi,

Dia pura-pura melengak, “Siapa yang bernama Sang Siauwtan?”
Ciu Pak tertawa dingin sesudah memperhatikan kembali
seluruh tubuh Koan Ing beberapa saat lamanya, dia berkata
kembali dengan perlahan, “Penyamaranmu sungguh mirip
sekali, cuma suaramu.... Heee.... Heee.... ”
Koan Ing tahu Ciu Pak sudah mengenali dirinya, dengan
amat tenangnya dia tersenyum, mendadak sepasang kakinya
melancarkan tendangan menghajar perut kuda
tunggangannya, membuat sang kuda dengan cepat berlari ke
depan.
Ciu Pak yang melihat Koan Ing tertawa, dia mengira dia
mau mungkir kembali, teringat kembali selama hidupnya baru
untuk pertama kali dia mengalami penipuan yang demikian
memalukan, perasaannya gusar segera membakar hatinya.
Dia sama sekali tidak menyangka Koan Ing bisa
melancarkan tendangan menghajar perut kuda sehingga
tunggangannya kesakitan dan lari ke depan, di dalam keadaan
yang amat gusar tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas
sembari berteriak, “Mau lari kemana?”
Baru saja suaranya diucapkan keluar, tubuhnya laksana
seekor burung elang sudah melayang ke tengah udara
kemudian dengan dahsyatnya menubruk ke tubuh Koan Ing,
Koan Ing dengan cepat mencabut keluar pedangnya,
kemudian balas melancarkan satu tusukan dahsyat
mengancam punggungnya,
Dengan dingin dia mendengus, tubuhnya dengan cepat
menghindar ke samping, sedang tangannya tanpa menoleh
lagi mencengkeram ke arah pedang pendek tersebut
sebaliknya tangan kirinya dengan amat cepat menghajar iga di
badannya.

Koan Ing sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam
dari Ciu Pak begitu tinggi, tangan kanannya dengan cepat
mengendor kemudian berlari mengejar ke arah kuda tersebut,
Ciu Pak sendiri juga sama sekali tidak menyangka Koan Ing
bisa melepaskan pedangnya, melihat serangannya tidak
mencapai pada sasaran dia mendengus kembali, tangan
kanannya dengan cepat menyambar pedang pendek itu dan
dipandangnya lebih teliti, terlihatlah di atas tubuh pedang itu
tergoreslah sebuah jalur merah darah,
Saat ini perasaan gusarnya sudah mencapai pada
puncaknya, bukan saja dia sudah berhasil mengejutkan dirinya
sampai melarikan diri terbirit-birit bahkan kehilangan seorang
penting juga,
Ciu Pak dengan amat gusar mendengus, tubuhnya dengan
cepat meloncat naik ke atas punggung kudanya dan mengejar
ke arah Koan Ing,
Koan Ing tahu sifat si kongcu tak berbudi ini amat ganas
dan kejam sekali, asalkan dirinya terjatuh ke tangannya, maka
akibat yang akan diterima sukar untuk dibayangkan,
Dengan mengempit kencang perut kudanya dia melarikan
tunggangannya itu dengan amat cepatnya,
Demikianlah segera terjadilah suatu perlombaan kuda
saling kejar mengejar, kurang lebih satu jam kemudian jarak
diantara mereka masih tetap sejauh tiga kaki lebih.
Kini jalanan di hadapannya adalah suatu jalan bukit yang
amat terjal, Ciu Pak tidak sabaran lagi, sambil bersuit panjang
tubuhnya meloncat ke atas menubruk ke arah Koan Ing.
Koan Ing yang melarikan diri dengan menunggang kuda
mulai merasa tubuhnya amat lelah, kecepatan bergeraknya
pun semakin berkurang.
Di dalam dua tiga kali loncatan saja Ciu Pak sudah berhasil
menyandak belakang tubuhnya.

Koan Ing merasakan hatinya berdesir, dia tahu untuk
melarikan diri tidak mungkin lagi, tubuhnya dengan cepat
meloncat turun dari punggung kudanya.
Ciu Pak dengan cepat mengejar ke arahnya, telapak tangan
kanannya dengan dahsyat menghajar arah belakang Koan Ing.
Dengan cepat Koan Ing menghindar ke samping, pedang
panjangnya dicabut keluar dari sarungnya, setelah ujung
pedangnya membuat gerakan setengah lingkaran di tengah
udara, dengan hebat menebas pergelangan tangan Ciu Pak.
Ciu Pak bukanlah manusia yang goblok, dia bisa melihat
kehebatan dari serangan pihak lawan, dia tahu ilmu pedang ini
bukan lain adalah ilmu pedang Thian-yu Kiam Hoat yang
menggetarkan seluruh dunia persilatan.
Dia tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat meloncat ke
tengah udara, kemudian berturut-turut melancarkan
tendangan dahsyat disertai lima pukulan gencar,
Ilmu silat dari Ciat Ie To memang sangat aneh dan amat
sakti, setiap arah serangan yang dituju selalu jauh berada di
luar dugaan Koan Ing,
Walaupun Koan Ing bukannya manusia yang belum pernah
bertempur dengan ilmu silat yang demikian anehnya tetapi
untuk beberapa saat lamanya dia dipaksa repot juga untuk
menangkisi setiap serangan, dia mulai merasa tangan dan
kakinya mulai linu,
Kehebatan dari tenaga dalam Ciu Pak jelas sekali jauh lebih
tinggi dari tenaga dalamnya sendiri, semakin bertempur dia
merasa semakin terdesak dibawa angin,
Ciu Pak tahu musuhnya tidak bisa meraba kelemahan dari
ilmu silatnya, segera dia menggunakan kesempatan ini
semakin mendesak diri Koan Ing, membuat dia orang untuk
berganti napaspun tidak sempat.

Walaupun dia ragu Koan Ing mempunyai sangkut paut
dengan diri Koan Bun-yu, tetapi selama ini dia belum pernah
menderita kerugian yang demikian besarnya, jika ini hari dia
tidak berhasil melukai diri Koan Ing maka namanya di dalam
dunia kangouw akan terganggu
juga.
Koan Ing yang semakin lama semakin terdesak dalam hati
segera merasa amat mendongkol sekali, dia gemas kenapa
ilmu silatnya sendiri tidak hebat sehingga tidak dapat
memberikan perlawanan yang lebih seru lagi terhadap
lawannya.
Sebetulnya dia sudah terdesak di bawah angin, kini
pikirannya bercabang dua. terdengar Ciu Pak tertawa dingin,
mendadak pedang panjangnya berhasil dipukul mabur oleh
serangan musuh,
Koan Ing merasa hatinya berdesir, dengan cepat dia
mundur tiga langkah ke belakang,
Ciu Pak tetap berdiri di tempat dengan dinginnya, lama
sekali dia pandang wajah sang pemuda, kemudian ujarnya
dengan dingin, “Kau boleh buntungi satu tangan dan satu
kakimu sendiri, melihat di atas suhumu, aku beri kesempatan
hidup buat dirimu,”
Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, sepatah
katapun tidak diucapkan,
“Bagaimana? Tidak tega?” ejek si kongcu tak berbudi itu
tak henti-hentinya, “Kekalahanku kemarin hari dikarenakan
kau orang, kamu tahu sudah mempengaruhi aku seberapa
besar? jika kau tidak tega, mari biar aku yang mewakili kau
turun tangan!”
Sekali lagi Koan Ing mengerutkan alisnya, dia tahu
nyawanya sekarang berada di dalam cengkeramannya orang
lain, buat dirinya sudah tentu tidak ada perkataan lain lagi,

tetapi bilamana dia orang hendak memberikan siksaan
kepadanya dia sudah ambil keputusan untuk mengadu jiwa,
Ciu Pak tertawa-tawa, ujarnya, “Orang lain memanggil aku
sebagai si kongcu tak berbudi, hal ini dikarenakan aku paling
suka melihat mimik yang amat jelek dari orang yang sekarat.”
Sambil berkata dia mulai mendesak ke arah diri Koan Ing.
Tetapi.... baru saja Ciu Pak maju dua langkah ke depan dari
tempat kejauhan secara mendadak berkumandang datang
suara suitan panjang yang satu tinggi yang lain rendah....
Begitu mendengar suara suitan tersebut, air muka si
kongcu tak berbudi segera berubah sangat hebat, dia
memandang sekejap ke arah diri Koan Ing, agaknya dia
bermaksud membereskan dirinya terlebih dahulu tetapi
merasa tidak berani juga untuk tinggal lebih lama lagi disana.
Dalam hati Koan Ing sendiri saat ini juga merasa sangat
heran jika didengar dari kedua buah suara suitan itu jelas
sekali kepandaian silat mereka amat tinggi tetapi dia sama
sekali belum pernah dengar orang berkata ada orang aneh
yang menggunakan suara suitan mempertanyakan
kedudukannya.
Sinar mata Ciu Pak segera berkelebat beberapa kali,
tubuhnya dengan cepat berputar kemudian melarikan diri
dengan mengambil jalan semula.
Koan Ing benar-benar merasa amat heran, dia tidak tahu
jago darimana yang sudah munculkan diri sehingga membuat
manusia semacam Ciu Pak pun ketakutan seperti itu, dalam
hati benar-benar merasa tidak paham,
Di dalam sekejap saja suara suitan itu sudah berhenti, Koan
Ing tidak mau ambil perduli lagi, segera dia melanjutkan
perjalanan menuju ke depan.
Kurang lebih seperminum teh kemudian tampaklah olehnya
seorang kakek tua yang rambutnya sudah beruban dengan
langkah sempoyongan berjalan mendekati dirinya.

Koan Ing segera menghentikan langkahnya, dia
mengerutkan alisnya rapat-rapati pikirnya, “Eeeh.... kenapa
dengan orang tua ini? Agaknya dia menderita luka dalam yang
amat parah.... ”
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak tampaklah
orang tua itu terhuyung-huyung kemudian rubuh ke atas
tanah.
Koan Ing menjadi sangat terperanjat dengan cepat dia
maju dua langkah ke depan membimbing bangun, “Lootiang,
kau.... ”
Belum selesai dia berbicara, baru saja tangannya
menempel pada pundak si orang tua, mendadak nampaklah
tubuhnya secara tiba-tiba berdiri tegak, lima jari tangan
kanannya laksana cakar macan dengan kecepatan bagaikan
kilat mencengkeram tangan kanan Koan
Kecepatan gerak dari orang tua itu sama sekali tidak
memberi kesempatan bagi Koan Ing untuk membalas,
terdengar dia mendengus dengan amat berat separuh badan
bagian kanannya sudah menjadi kaku sedikitpun tak bisa
bergerak,
Saking sakitnya keringat sebesar kacang kedelai sudah
mengucur keluar membasahi bajunya, kepandaian silat yang
dimiliki si orang tua itu ternyata jauh berada di atas dirinya
bahkan dirinyapun sama sekali tidak menyangka dia orang
bisa turun tangan membokong dirinya.
Saking tak tahannya terdengar Koan Ing berteriak, “Hey....
tidak kusangka di dalam dunia sekarang ini masih ada
manusia yang tak tahu malunya.”
Orang tua itu tertawa serak, segera dia menyeret badan
Koan Ing mendekati dirinya.

“Kau tidak kenal dengan aku si orang tua? Aku bernama
Gui Cun-pak, seharusnya kau tidak boleh memaki aku orang
tua.... tahu?”
Koan Ing menjadi tertegun, kiranya orang yang ada di
hadapannya sekarang ini adalah Thiat-lang atau srigala baja
Gui Bun Cun Pak.
Suhunya si pendekar pedang menyendiri pernah
memberitahukan kepadanya bahwa di dalam dunia kangouw
ada sepasang suami istri yang amat lihay dan sering muncul di
dalam Bu-lim mereka bernama Thiat-lang atau srigala baja Gui
Cun-pak serta Cien-hu atau Si rase perak Cau Tok-soat,
karena kedua manusia ini mempunyai sifat yang sangat aneh,
karenanya suhunya sama sekali tiiak kenal kepada mereka ini.
Sungguh tidak disangka olehnya Gui Cun-pak adalah manusia
semacam ini.
Gui Cun-pak angkat kepalanya memandang sekejap ke
arah empat penjuru kemudian kepada Koan Ing ujarnya, “Aku
dengar katanya kau orang adalah ahli waris dari Thian-yu Khoi
Kiam, apa benar?”
“Bukan!” Seru Koan Ing dengan amat tawar sedang
sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat.
Gui Cun-pak menjadi melengak kemudian tertawa dingin
tak henti-hentinya.
“Hey nenek tua!” teriaknya ke arah kejauhan, “Setan cilik
ini bilang bukan.”
Baru saja perkataan dari Gui Cun-pak ini ucapkan dari
dalam sebuah rimba segera berkelebat keluar sesosok
bayangan manusia, “Mana mungkin bukan?” Serunya kurang
puas,
Suara orang itu sangat aneh sekali laksana pekikan burung
malam membuat Koan Ing yang mendengar merasakan

seluruh badannya sangat tidak enak, dia tidak tahu siapakah
orang ini, apakah mungkin si rase perak Cau Tok-soat?
Sedang dia berpikir terdengar Gui Cun-pak sudah berteriak
kembali, “Hey nenek tua, cepat kemari sambut ini!”
Begitu dia menutup mulutnya, tubuh Koan Ing yang ada
ditangannya dengan cepat dilemparkan ke arah Cau Tok-soat.
Koan Ing yang dilemparkan Gui Cun-pak ke tengah udara
segera merasa jalan darahnya lancar kembali, belum sempat
dia melakukan gerakan tubuhnya sudah diterima oleh si rase
perak Cau Tok-soat sedang jalan darah ‘Leng Thay Hiat‘nya
sudah terancam oleh telapaknya. Sedikit saja dia
mengerahkan tenaga dalam maka jiwanya segera akan
melayang.
Koan Ing menjadi sangat terperanjat. tubuhnya dengan
cepat berbalik ke samping sedang tangan kanannya dengan
membentuk setengah lingkaran melancarkan serangan
dahsyat menghajar tubuh Cau Tok-soat.
Baru saja serangan ini dikerahkan keluar terdengar Cau
Tok-soat sudah tertawa dingin, tubuhnya berkelebat ke
samping lima jari tangan kanannya dari telapak berubah
menjadi mencengkeram, gerakan tubuhnya yang sangat cepat
bagaikan kilat ini membuat Koan Ing belum sempat berganti
jurus tangannya sudah berhasil dicengkeram oleh pihak
musuh.
Cau Tok-soat yang berhasil mencengkeram diri Koan Ing
segera berkata kepada suaminya Gui Cun-pak.
“Memang bukan, mungkin dia anak murid dari Cu Yu.”
Sehabis berkata dia melepaskan kembali diri Koan Ing.
Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa sangat
terperanjat, dia sama sekali tidak mengira kalau pandangan
mereka berdua begitu tajamnya, cuma satu jurus saja dia

melancarkan serangan segera sudah diketahui oleh mereka
kalau dirinya bukanlah anak murid dan si Thian-yu Khei Kiam
Tapi, entah mereka berdua punya ganjalan sakit hati apa
dengan si Kong Bun-yu itu?
Sambil berpikir pandangannya dengan amat tajam
memperhatikan kedua orang itu, tampaklah si nenek yang ada
di hadapannya mempunyai badan yang sangat kurus dan
repot sekali, rambutnya sudah pada beruban, tetapi sepasang
matanya amat tajam bagaikan sebilah pisau.
Gui Cun-pak memandang sekejap ke arah diri Koan Ing
kemudian ujarnya, “Hey si nenek reyot, lebih baik kita bunuh
saja dirinya.”
Dengan perlahan Cau Tok-soat mengangguk, tangannya
dengan perlahan diangkat siap dihajarkan ke atas batok
kepala Koan Ing.
Pada saat itulah mendadak terdengar suara dengusan yang
amat berat berkumandang dari tempat kejauhan.
Dia menjadi sangat terperanjat, tubuhnya dengan cepat
mundur ke belakang.
Walaupun suara dengusan itu tidak keras, tetapi amat jelas
sekali didengar, bahkan seperti berkumandang keluar dari
samping badannya saja.
Koan Ing sendiripun merasa amat terperanjat, ketika dia
menoleh ke belakang terlihatlah di samping jalan tidak jauh
dari tempat itu muncullah seorang kakek tua berjubah hijau
berdiri berjajar dengan seorang nona yang amat cantik sekali.
Ketika Koan Ing melihat ke arah gadis itu mendadak dia
berdiri tertegun, terasa olehnya wajah nona itu seperti pernah
di kenalnya.
Setelah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya
akhirnya teringat juga olehnya kalau gadis itu bukan lain

adalah Sang Siauw-tan yang kemarin menyamar sebagai
seorang lelaki.
Sang Siauw-tan yang kini sudah berganti memakai baju
perempuan kelihatan sangat cantik sekali membuat dia saking
terpesonanya berdiri melongo, Sang Siauw-tan segera
mendengus dan menoleh ke arah lain pura-pura tidak melihat.
Koan Ing segera sadar kembali dari lamunannya, pikirnya di
dalam hati,
Jago berkepandaian tinggi semacam dia boleh dikata
sangat sedikit jumlahnya, kakek berjubah hijau ini tentu si jari
sakti Sang Su-im adanya,
Gui Cun-pak maupun Cau Tok-soat sama sekali tidak
menyangka secara tiba-tiba bisa muncul seorang yang
berkepandaian demikian tingginya, bahkan kemunculannya
tidak terasa oleh mereka.
Sinar mata dari Gui Cun-pak dengan berkelebat, tanyanya
dengan suara berat. “Siapa kau orang?”
“Tiang Gong Sin-cie, kau juga tidak kenal?” balas tanya si
kakek tua berbaju hijau itu dingin.
Seketika itu juga Gui Cun-pak maupun Cau Tok-soat
merasakan hatinya berdesir, walaupun di dalam hati mereka
berdua sejak dulu sudah punya maksud untuk mencoba-coba
ilmu silat dari empat manusia aneh tetapi nama besar dari
Tiang Gong Sin-cie sudah cukup membuat hatinya keder,
sehingga walaupun Sang Su-im kini sudah muncul dihadapan
mereka, Gui Cun-pak berdua tidak berani memperlihatkan
gerakan apapun.
Gui Cun-pak yang mendengar nama besar dari Tiang Gong
Sin-cie segera merasakan hatinya berdebar-debar, sesudah
berusaha menenangkan hatinya dia berteriak kepada isterinya,
“Hey nenek reyot, cepat bersiap sedia!”

Si rase perak Cau Tok-soatpun kelihatannya merasa
terkejut juga, mendengar suara teriakan dari Gui Cun-pak dia
menjadi sadar kembali, tubuhnya dengan cepat berkelebat
berdiri di belakang badan Gui Cun-pak sedang tangan
kanannya ditempelkan ke atas punggungnya.
Nama besar mereka berdua berada di bawah nama-nama
Sian, Khei Sin, Mo empat manusia aneh, untuk menandingi
kebesaran nama keempat orang itu mereka dengan amat
rajinnya berlatih ilmu silat dan menciptakan suatu ilmu aneh
dari tenaga gabungan untuk mengalahkan musuh-musuhnya.
Tiang Gong Sin-cie, Sang Su-im ketika melihat mereka
berdua walaupun sudah mendengar nama besarnya bukannya
lari pergi bahkan memperlihatkan gaya hendak melawan,
membuat hatinya menjadi gusar. Dengan dinginnya dia
mendengus.
“Hmm.... hmm.... nama besar dari Thiat-lang Cien-hu aku
orang sudah pernah mendengar, jika ini hari aku orang tidak
kasi sedikit hajaran buat kalian, tentu kamu sekali tidak akan
tahu tingginya langit dan tebalnya bumi.”
Ooo)*(ooO
Bab 4
BEGITU selesai dia berbicara, tubuhnya dengan cepat
berkelebat menubruk ke arah Cau Tok-soat.
Sejak Thiat-lang Cien-hu menciptakan ilmu ini, kali ini baru
untuk pertama kalinya digunakan, sedang musuh yang
dihadapipun merupakan Sang Su-im yang memiliki kepandaian
silat yang paling tinggi pada saat ini, dalam hati mereka
berdua tak terasa merasa tegang juga.
Begitu dilihatnya tubuh Tiang Gong Sin-cie berkelebat,
saking tegangnya tanpa pikir panjang lagi Gui Cun-pak sudah
mengirim satu pukulan dahsyat ke arah Sang Su-im.

Sang Su-im yang disebut sebagai Tiang Gong Sin-cie atau
si jari sakti juga tentu kehebatan ilmu meringankan tubuh
merupakan salah satu ilmu andalannya, sudah tentu pula
sekali pukulan yang dilancarkan Gui Cun-pak tadi tidak
mencapai pada sasarannya.
Gui Cun-pak Yang melihat serangannya mencapai sasaran
kosong untuk menghindar sudah tidak sempat lagi, jari tangan
Sang Su-im sudah berhasil menyandak punggung si rase perak
Cau Tok-soat, segera Sang Su-im yang berhasil
mencengkeram punggung diri Cau Tok-soat segera
melemparkan badannya ke arah luar.
Ketika tangan kanannya diayunkan hatinya merasa sangat
heran sekali, semula dia menganggap mereka berdua sedang
menggunakan ilmu silat meminjam tenaga memukul lawan,
walaupun ilmu tersebut mengutamakan tenaga dalam tetapi di
dalam pandangan mereka sebagai jago-jago berilmu tinggi
bukanlah suatu ilmu yang hebat.
Tetapi begitu dia melemparkan tubuh si rase perak Cau
Tok-soat ke depan segera tertampaklah olehnya badan
mereka berdua sama sekali tidak berpisah dan bersama-sama
melayang ke depan.
Dia tersenyum, dia tahu ilmu tersebut tidak lebih gubahan
dari ilmu tenaga dalam meminjam tenega menyerang musuh
yang sudah diketahui olehnya.
Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang terlempar ke tengah
udara dengan cepat mereka berjumpalitan di tengah udara
kemudian melayang turun kembali ke atas permukaan tanah
dengan amat ringannya.
Gui Cun-pak menjongkokkan badannya ke bawah, diapun
saking gusarnya seluruh wajah sudah berubah menjadi merah
padam, dengan sepasang mata yang melotot keluar, dia
memandang tajam diri Sang Su-im.

Begitu tubuh si rase perak mencapai permukaan tanah dia
segera meloncat naik ke atas punggung Gui Cun-pak, pada
mulanya mengeluarkan suara suitan kegusaran. Rambutnya
yang sudah memutih pada berkibar tertiup angin agaknya dia
benar-benar merasa amat gusar ketika melihat mereka sudah
terdesak di bawah angin.
Sang Su-im yang berhasil melemparkan tubuh mereka
berdua ke tengah udara tapi melihat keadaan mereka sama
sekali tidak gentarpun, dia tidak berani berlaku gegabah lagi.
Dia belum pernah bertempur secara langsung melawan
mereka berdua, bahkan sekali pandang saja dia sudah dapat
melihat kalau ilmu silat yang digunakan oleh Thiat-lang Cienhu
ini sama sekali bukanlah ilmu silat biasa yang pernah
ditemuinya.
Diapun tahu berhasilnya tadi semuanya dikarenakan sikap
gegabah dari kedua orang itu, sehingga memberikan
kesempatan dirinya untuk merebut kemenangan.
Walaupun dalam hati dia sudah mulai waspada tetapi pada
air mukanya masih tetap tersungging suatu senyuman yang
amat tawar kini ada orang di dalam kalangan, bilamana
sampai orang-orang diluaran mengetahui kalau dia Tiang
Gong Sin-cie masih harus bersikap hati-hati terhadap dua
orang boanpwee harus ditaruh kemana wajahnya?
Dengan amat tajam Gui Cun-pak memperhatikan diri Sang
Su-im, air mukanya sudah berubah menjadi merah padam,
Mendadak tubuhnya bagaikan seekor katak meloncat ke
depan, sepasangnya tangannya melancarkan satu pukulan
yang amat dahsyat menghajar tubuh Sang Su-im, pukulan
yang dilancarkan keluar terasa amat aneh sekali, Sang Su-im
tertawa terbahak-bahak, pikirnya, “Hmm, dugaanku sedikitpun
tidak salah, ilmu silat mereka berdua tidak lebih hanya
gubahan dari ilmu meminjam tenaga yang sering terdapat di
dalam Bu-lim,

Dia tidak ingin memberi perlawanan kepada mereka
dengan menggunakan ilmu jari saktinya, dia merasa jikalau
untuk melawan manusia semacam inipun dia harus
mengeluarkan ilmu jari saktinya bukankah nama baiknya di
dalam dunia kangouw akan terganggu?
Dengan kepandaian silat yang dimiliki Sang Su-im sekarang
ini boleh dikata setiap jurus serangan dari setiap partai mau
pun perkumpulan dia mengetahuinya dengan amat jelas,
dengan enaknya dia melancarkan tiga pukulan sekaligus
dengan menggunakan jurus Sin Toh Pat Ciang atau ilmu
delapan pukulan unta sakti dari Thian-san-pay.
Thiat-lang Cien-hu yang berdempet menjadi satu juga satu
orang saja dengan Gui Cun-pak yang melancarkan serangan di
dalam sekejap saja merekapun sudah melancarkan tiga puluh
jurus banyaknya.
Sang Su-im yang melawan mereka berdua dengan
menggunakan jurus-jurus serangan yang acak-acakan sudah
cukup membuat dia berada di atas angin, sudah tentu dia
semakin tidak memandang sebelah mata pun kepada mereka
lagi.
Tadi dalam hatinya tak urung merasa sedikit terkejut juga,
tak disangka olehnya kedua orang manusia ini masih
mempunyai sedikit ilmu simpanan yang begitu hebat bahkan
jurus-jurus serangan yang digunakan untuk menyerang
dirinyapun bisa memaksa dirinya harus berpikir dulu sebelum
melancarkan serangan.
Di dalam pertempuran yang amat sengit itu tak hentihentinya
Sang Su-im berpikir terus, dia tahu jikalau dia harus
bertempur sebanyak lima puluh jurus banyaknya masih belum
sanggup memukul rubuh mereka berdua maka namanya di
dalam Bu-lim akan merosot.
Pada saat Sang Su-im sedang merasa amat murung itulah
mendadak Thiat-lang Cien-hu bersama-sama bersuit panjang

Cien-hu meloncat turun dari punggung Thiat-lang lantas
mereka berdua dengan empat telapak tangan bersama-sama
melancarkan serangan menghantam Sang Su-im.
Sang Su-im Yang pikirannya sedang bercabang, kini melihat
serangan musuh begitu gencar, hatinya merasa amat
terperanjat saat inilah empat buah angin pukulan sudah
berada di hadapannya membuat dia benar-benar terkejut.
Dengan cepat dia membentak keras, sepasang telapaknya
bersama-sama melancarkan pukulan dahsyat ke depan.
“Braaaak....!” di tengah suara benturan yang amat keras
sehingga menggetarkan seluruh permukaan bumi, angin
pukulan mereka berdua sudah berhasil dipukul balik oleh
angin pukulannya.
Tanpa menanti mereka berdua berganti serangan kembali
dengan perasaan amat gusar dia menjentikkan jari tengah
serta jari telunjuk tangan kanannya,
“Sreet! Sreet....!” dua gulung angin serangan memecahkan
kesunyian dengan amat cepatnya menghajar tubuh mereka
berdua.
Untuk menghindar tidak sempat lagi, tanpa mengeluarkan
sedikit suarapun Thiat-lang serta Cien-hu rubuh ke atas tanah
terhajar oleh sentilan tersebut.
Sang Su-im segera mendengus, dia mundur satu langkah
ke belakang kemudian melirik
sekejap ke arah Koan Ing, pikirnya, “Jika aku betul-betul
menggunakan ilmuku yang sebenarnya mereka tidak akan
tahan lebih lama.”
Tangannya dengan cepat bergerak kembali membebaskan
jalan darah mereka yang tertotok, ujarnya dengan amat
dingin, “Ini hari aku lepaskan kalian pergi, lain kali jika sampai
bentrok lagi dengan aku si orang tua, hmmm, kalian harus
tahu tidak semudah ini aku mau lepaskan kalian.”

Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang sudah mengeluarkan
ilmu andalan mereka Thian Ku Yu Gong, atau burung elang
meloncat di langit tetapi berhasil ditotok rubuh juga oleh Sang
Su-im hanya di dalam satu kali kebutan saja, membuat hati
mereka berdua rada merasa sedih.
Pada waktu yang lalu dalam hati mereka sudah menaruh
minat untuk menjajal ilmu silat dari empat manusia aneh
kemudian merebut nama besar di dalam Bu-lim, siapa sangka
baru bertemu dengan saleh satu dari empat manusia aneh
mereka sudah berhasil dipukul rubuh, saat itulah mereka baru
tahu kalau kepandaian silat yang dimiliki mereka masih
terpaut amat jauh dari kepandaian empat manusia aneh.
Kini mendengar Sang Su-im mau melepaskan mereka dari
kematian membuat hati mereka merasa amat girang, tanpa
mengucapkan sepatah katapun mereka berdua saling pandang
sekejap kemudian tanpa menoleh lagi sudah melarikan diri
terbirit-birit, di dalam sekejap saja sudah lenyap tanpa bekas.
Koan Ing yang melihat pertempuran antara mereka bertiga
di dalam hari diam-diam merasa amat terperanjat. dengan
keanehan dari ilmu silat mereka bertiga boleh dikata baru
pertama kali ditemuinya selama hidupnya.
Setelah Thiat-lang Cien-hu meninggalkan tempat itu,
dengan perlahan Sang Siauw-tan melirik sekejap ke arah Koan
Ing kemudian ujarnya kepada diri ayahnya Sang Su-im.
“Tia, kemarin hari orang ini sudah menolong aku satu kali,
kali ini lepaskanlah dia pergi.”
Sang Su-im menyapu sekejap ke arah diri Koan Ing.
“Urusan ini kau ingin diselesaikan secara bagaimana
terserahlah kau lakukan sendiri,” ujarnya sambil tertawa
tawar.
Sang Siauw-tan dengan amat congkaknya segera menoleh
ke arah Koan Ing, ujarnya sambil mencibirkan bibirnya.

“Hey, kaupun boleh pergi, sejak saat ini kita sama-sama
tidak berhutang budi, lain kali kau harus sedikit berhati-hati.”
Mendengar perkataan itu, dalam hati Koan Ing merasa
sangat tidak senang tetapi diapun tidak bisa berbuat apa-apa
terhadap mereka berdua, karena kepandaian silat yang
dimilikinya sampai sekarang ini belum sanggup untuk
mengalahkan dia.
Terpaksa dengan hati mendongkol dia tidak memberikan
reaksi, apalagi mengingat nyawanyapun baru saja ditolong
oleh Sang Su-im sewaktu Thiat-lang hendak mencabut
nyawanya tadi.
Ketika Sang Siauw-tan melihat Koan Ing saking gusarnya
sudah berdiri termangu-mangu disana tanpa bisa
mengucapkan sepatah katapun, dengan amat bangga dia
lemparkan satu senyuman manis.
“Tia, mari kita pergi,” ajaknya kemudian kepada ayahnya.
Sehabis berkata dengan tangan menggandeng Sang Su-im
mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.
Kini tinggal Koan Ing seorang diri yang berdiri termangumangu
disana dengan hati yang
mangkel dan mendongkol, dia memandang bayangan
tubuh Sang Su-im ayah beranak yang
meninggalkan tempat itu, pikirnya.
“Hmm, sekalipun kau orang sudah menolong nyawaku
tetapi tidak seharusnya bersikap begitu kasar terhadap aku.”
Berpikir sampai disitu, tak tertahan lagi dia mendepakkan
kakinya ke atas tanah.
Sebenarnya diapun ingin turun gunung, tapi ketika
dilihatnya Sang Su-im ayah beranak pun mengambil jalan itu,
dia segera membatalkan niatnya, sebaliknya malah menuntun
kudanya menuju ke tengah gunung.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian mendadak di
jalanan gunung di hadapannya muncul seorang kakek tua
yang kurus kecil sedang memandang dirinya dengan
pandangan yang sangat
dingin.
Koan Ing menjadi amat terperanjat, bukankah orang itu
srigala baja Gui Cun-pak adanya? Tidak disangka sama sekali
olehnya kalau dia orang ternyata tidak pergi, kelihatannya dia
sengaja datang mencari dirinya.
Ketika dia menoleh ke belakang tampaklah di tengah
jalanan sudah bertambah lagi dengan seseorang yang bukan
lain adalah si rase perak Cau Tok-soat.
“Hey orang muda,” Terdengar Gui Cun-pak berkata sambil
tertawa dingin tak henti-hentinya, “Kau tak akan lolos lagi dari
tempat ini, sejak tadi aku sudah menduga kalau Sang Su-im
pasti akan pergi meninggalkan kau seorang, kami masih ada
beberapa patah kata hendak ditanyakan kepadamu.”
Ketika Koan Ing melihat jalan mundurnya sudah terhadang,
hatinya terasa amat berat, sepatah katapun tidak dapat
diucapkan. Cau Tok-soat yang ada di belakangpun ikut
membuka bicara, “Sebetulnya kami mengira kepandaian silat
kami sudah seimbang dengan kepandaian empat manusia
aneh itu tapi sekarang kami baru tahu kalau kepandaian kami
agaknya hampir-hampir jauh tertinggal.
“Asalkan kau mau membawa kami mencari jejak kereta
berdarah itu, kami segera akan lepaskan kau pergi,” sambung
Gui Cun-pak lagi sambil tertawa dingin.
Koan Ing tetap membungkam di dalam seribu bahasa,
dalam ingatannya dia terus menerus memikirkan urusan yang
lain. Terdengar Cau Tok-soat tertawa dingin lagi.
“Dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini tidak
ada kesempatan lagi buat kau memilih-milih.” ujarnya, “Kau

bisa menguntit dari daerah Siang Kiang sampai disini sudah
tentu mempunyai keterangan yang lebih luas lagi untuk
membawa kami menemukan kereta berdarah tersebut.
Kini Koan Ing terjebak kembali ke dalam hal yang sangat
membahayakan, pikirannya segera berputar, batinnya, Jika
aku berhasil melatih ilmuku sehingga berada seimbang dengan
kepandaian empat manusia aneh maka tak akan ada lagi
manusia yang berani mencari setori dengan aku.... ”
Kini dia tidak dipandang sebelah mata pun oleh Sang
Siauw-tan, semuanya dikarenakan ilmu silat yang dimilikinya
tidak cukup, kalau tidak mana mungkin Sang Siauw-tan berani
memandang begitu rendah kepada dirinya? Hmm.... pada satu
hari dia harus memperlihatkan kepandaian silat yang
sesungguhnya di hadapan Sang Siauw-tan.
Gui Cun-pak yang melihat Koan Ing sedang termangumangu
tanpa mengucapkan sepatah katapun, segera dengan
dingin dia mendengus.
“Kau jangan pikirkan permainan busuk terhadap diriku?”
bentaknya dengan keras.
Koan Ing yang dibentak oleh Gui Cun-pak segera tersadar
kembali dari lamunannya, dia menyapu sekejap ke arah dua
orang itu, tiba-tiba dalam hatinya timbul suatu perasaan yang
amat aneh, pikirnya lagi, Jikalau ini hari aku tidak sanggup
untuk melawan mereka berdua, buat apa pergi belajar ilmu
silat yang lebih hebat lagi.
Pikiran yang sangat aneh ini, berkelebat di dalam
benaknya, di dalam sekejap saja dia tidak memikirkan kembali
mati hidupnya. tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas,
tangan kanannya dibabat dengan dahsyatnya menyambit
pedang pendek itu ke arah musuh kemudian tubuhnya sendiri
berlari dengan cepat ke arah atas musuh.
Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat sama-sama tidak
menyangka kalau Koan Ing berani melarikan diri, untuk

beberapa saat lamanya mereka berdua berdiri tertegun,
pikirnya, “Hmm.... bocah ini sudah tidak ingin nyawanya
sendiri? Kenapa dia orang tidak pikir-pikir dulu apa bisa lolos
dari tangan kami berdua?”
Sebentar kemudian mereka berdua sudah sadar kembali
dari lamunannya, dengan cepat tubuhnya meloncat ke atas
tetapi bersamaan dengan itu pedang pendek yang di sambit
oleh Koan Ing tadi dengan tepat menyambar di hadapan
mereka.
Dengan cepat Gui Cun-pak menerima pedang tersebut, di
dalam sekilas pandang saja dia sudah melihat kalau pada
tubuh pedang pendek itu tergoreslah sebuah goresan merah
darah, bukankah pedang ini merupakan tanda dari partai Hiatho-
pay? Tak tertahan lagi dia menjerit tertahan.
Tubuh Cau Tok-soat dengan amat cepatnya meluncur ke
depan, saat ini di dalam pikiran mereka semua sudah
menganggap kalau Koan Ing pasti tahu jejak dari kereta
berdarah itu karenanya mereka tidak akan melepaskan
kembali mangsanya dengan begitu saja.
Kini tubuh Koan Ing sudah berada kurang lebih sepuluh
kaki dari mereka berdua, tetapi mereka berdua yang sudah
mengambil keputusan untuk menawan dia tubuhnya
berkelebat semakin kencang lagi, satu dari kiri yang lain dari
kanan dengan amat cepatnya mengejar diri Koan Ing.
Koan Ing begitu melayangkan badannya ketika melihat
kedua orang musuhnya masih ada kurang lebih sepuluh kaki
jauhnya dari dalam hatinya telah timbul suatu harapan, sinar
matanya dengan cepat menyapu sekejap ke arah sekelilingnya
kemudian dengan amat cepatnya berlari masuk ke dalam
sebuah buian yang amat lebat sekali,
Tetapi jalanan di sekitar gunung ini, Si Thiat-lang Cien-hu
jauh lebih paham daripada Koan Ing.

Ketika mereka berdua melihat tubuh Koan Ing dengan amat
cepatnya berkelebat masuk ke dalam hutan yang amat lebat
itu, dalam hati diam-diam merasa amat gusar, mereka heran
apakah pemuda itu tidak pernah memikirkan kalau dia tidak
akan lolos dari tangan mereka berdua?
Baru saja tubuhnya mencapai pinggiran hutan itu mereka
berdua sudah berhasil mengejar diri Koan Ing tidak lebih lima
kaki di belakang tubuhnya.
Koan Ing sama sekali tidak pernah menyangka kalau
gerakan tubuh mereka berdua bisa begitu cepatnya, dia
benar-benar merasa amat terperanjat.
Matanya segera memandang ke depan, sesudah memutar
dua kali di sekeliling hutan itu tubuhnya dengan cepat
meluncur naik ke atas sebuah pohon besar.
Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat yang berhasil mengejar
hingga sangat dekat dengan Koan Ing mendadak kehilangan
jejak Koan Ing membuat mereka berdiri tertegun, tapi dengan
cepatnya sudah sadar kembali, mereka merasa Koan Ing tentu
sudah bersembunyi di suatu tempat.
Dengan dingin mereka segera mendengus, Koan Ing tentu
sudah bersembunyi di atas pohon.... tapi sekalipun begitu apa
dia kira bisa lolos dari kejarannya?
Koan Ing yang berhasil bersembunyi di atas Pohon, diapun
tahu jelas kalau dia orang tidak akan begitu mudah bisa lolos
dari pengawasan mereka berdua.
Walaupun dalam hati dia tahu sekalipun dirinya terjatuh ke
tangan si Thiat-lang Cien-hu demi kereta berdarah berdua
tidak akan berbuat sesuatu terhadap dirinya, tetapi hatinya tak
urung merasa murung juga.
Matanya dengan melotot lebar-lebar memperhatikan
keadaan di sekeliling tempat itu, dia mau cari adakah tempat
yang bisa di gunakan untuk meloloskan diri.

Tetapi dia tidak berani banyak bergerak, kini Gui Cun-pak
serta Cau Tok-soat sudah berada tidak jauh dari pohon
dimana dia bersembunyi, sedikit dia berisik saja segera akan
diketahui oleh mereka.
Terdengar dengan amat dinginnya Cau Tok-soat
membentak, “Hey, Koan Ing, kau jangan mengira bisa
melarikan diri seenaknya, bila aku berhasil menemukan
dirimu, pertama-tama akan aku putuskan dulu sepasang
kakimu.”
Koan Ing menjadi amat terkejut, dia tahu jika Cau Tok-soat
sudah mengatakan begitu maka dia bisa melakukannya.
Sinar matanya segera menyapu sekejap ke arah sekeliling
tempat itu, terlihatlah tidak jauh dari tempat dianya berada di
atasnya sebuah pohon terdapatlah sebuah gua yang amat
lebar,
Pikirannya segera bergerak, dengan perlahan dia turun dari
pohon tersebut kemudian dengan cepatnya berkelebat
menyusup ke dalam gua di tengah pohon tersebut.
Gerakannya kali ini tidak akan kedengaran oleh Thiat-lang
Cien-hu mereka berdua, tetap, dia sama sekali tidak
menyangka kalau dalamnya gua itu mencapai puluhan kaki.
Ketika kakinya menginjak dalam gua itu dia segera
merasakan kakinya menginjak suatu tempat yang kosong.
Dia menjadi amat terperanjat, terasalah keringat dingin
mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dia bukannya
takut terjatuh kedalam, cuma dia takut suara yang ditimbulkan
akan diketahui oleh Thian Lang Cien-hu yang ada di depan,
jikalau mereka ikut masuk ke dalam gua bukankah dirinya
tidak akan lolos kembali dari tangan mereka?
Tubuh Koan Ing dengan cepat jatuh di atas permukaan
tanah, baru saja dia mau bangkit berdiri, sekali lagi hatinya
merasa sangat kaget, terlihatlah di samping tempat itu

terdapatlah sebuah jalan di bawah tanah itu, pikirnya, “Jika
aku tertangkap kembali oleh mereka berdua, mereka pasti
akan menyiksa diriku habis-habisan, daripada menunggu di
sini, baiknya aku bersembunyi di dalam jalan di bawah tanah
itu saja.... jika mereka menyusul turun juga mengambil
kesempatan mereka tidak bersiap sedia akan melancarkan
satu serangan bokongan mengobrak-abrik mereka, sedikit2nya
bisa juga menerima kembali pokoknya.”
Berpikir sampai di sini, Koan Ing segera menyembunyikan
dirinya, terdengarlah suara tindakan kaki semakin lama
semakin mendekat dan akhirnya berhenti di luar pintu gua itu
tetapi mereka berdua sama sekali tidak masuk ke dalam,
mereka berjaga-jaga di sana.
Sedang Koan Ing merasa keheranan mendengar Gui Cunpak
yang ada di luar sudah berseru dengan suaranya yang
amat berat, “Koan Ing, kau keluarlah, kami tidak akan melukai
dirimu,”
Mendengar perkataan itu Koan Ing mengerutkan alisnya
rapat-rapat, pikirnya di dalam hati, “Perkataan orang semacam
itu tidak bisa dipercaya, mereka takut aku membokong,
mereka lalu sengaja mengucapkan kata-kata tersebut agar
aku terpancing keluar.”
Lama sekali dia termangu mangu tapi tidak terdengar juga
suara dari luaran kali ini sebaliknya malah membuat hatinya
merasa sangat cemas, kenapa Gui Cun-pak serta Cau Tok-soat
tidak ikut turun kemari?
Pikirannya berputar? Memikirkan berbagai urusan, jikalau
Thiat-lang serta Cien-hu sudah melakukan persiapan dengan
kepandaian yang dimiliki mereka sekarang ini tidak mungkin
bisa terbokong oleh dirinya tapi kenapa mereka berjaga2 saja
di tempat luaran?”

Mereka tidak punya alasan yang kuat untuk mengharuskan
dirinya keluar dari tempat ini,
Lama sekali barulah Koan Ing mendengar suara berbisikbisik
dari mereka berdua cuma dia tidak mendengar dengan
jelas apa soalnya,
Lewat beberapa saat lagi terdengar suara yang amat ringan
bergema di dalam ruangan bawah tanah itu, dia tahu salah
satu di antara dua orang itu sudah turun ke bawah, kini
hatinya malah sebaliknya terasa amat tegang, sepasang
matanya dengan amat tajam memperhatikan mulut pintu gua
tersebut,
Terlihatlah sesosok bayangan manusia meloncat turun ke
bawah, dengan cepat Koan Ing mencabut pedangnya, di
dalam sekejap saja dia sudah melancarkan tiga kali serangan,
“Orang yang baru saja turun itu agaknya sama sekali tidak
menyangka Koan Ing bisa berbuat demikian,” dengan
gusarnya dia mendengus dan balas melancarkan tiga
serangan dahsyat.
Keadaan di dalam ruangan gua itu amat sempit dan kecil
sekali lagi pula Koan Ing melancarkan serangan dengan
menggunakan ilmu Thian-yu Kiam Hoat yang merupakan ilmu
yang dahsyat untuk beberapa saat lamanya orang itu tak
dapat mengapa-apakan diri Koan Ing.
Dari suara dengusan orang itu, Koan Ing bisa dapat tahu
kalau orang itu bukan lain daripada si srigala baja Gui Cunpak.
Sepuluh jurus dengan cepatnya berlalu, tiba tiba....
Plaaak.... pedang panjang di tangannya berhasil dipukul lepas
dari tangannya.
Koan Ing tahu dia tidak boleh bertempur lebih lama lagi,
tubuhnya segera merendah menerobos masuk ke dalam

ruangan goa yang lebih dalam lagi, dia bermaksud sesudah
menempatkan suatu jarak yang cukup jauh, kemudian
mencari suatu tempat yang persembunyiannya lebih baik
untuk sekali lagi turun tangan membokong diri Gui Cun-pak.
Gui Cun-pak yang ada di dalam goa, walaupun kepandaian
silatnya jauh lebih tinggi dari kepandaian silat dari Koan Ing
tetapi gerakan tubuhnya tidak seberapa jauh lebih cepat dari
gerakan Koan Ing, karenanya mereka berdua satu di depan
yang lain di belakang dengan amat cepatnya sudah berlari
sejauh sepuluh kaki lebih.
Koan Ing yang berlari di depan, ketika secara tiba-tiba tidak
mendengar lagi suara tindakan kaki dari Gui Cun-pak yang
sedang melakukan pengejaran ke arahnya, tak terasa lagi
sudah berdiri termangu.
Dia menanti beberapa waktu lamanya di sana tetapi tak
terdengar juga suara dari Gui Cun-pak yang sedang mengejar,
hatinya merasa sangat heran sekali, pikirnya, “Hmm.... buat
apa aku menunggu dirinya, baiknya aku maju terus ke depan,
coba lihat disana apa ada jalan keluar tidak.... ”
Berpikir sampai disini dia segera berjalan maju ke depan.
Kurang lebih sepuluh kaki di hadapannya telah muncul
sebuah ruangan batu yang amat
besar.
Dalam hati Koan Ing sangat heran sekali, dia segera
bangkit berdiri, dengan meminjam sinar terang yang
memancar masuk ke dalam gua dia berjalan terus ke depan.
Tampaklah luas ruangan batu itu ada kurang lebih puluhan
kaki, pada ujung ruangan itu duduklah sesosok mayat
manusia yang sudah mengering, di tempat lain terdapat juga
beberapa tengkorak manusia. Dalam hati dia merasa sangat
heran, pikirnya, “Heeeh.... sungguh heran, di tempat sini
ternyata ada sebuah ruangan yang demikian besar, tidak

kusangka sama sekali ada juga orang yang mau mendiami
tempat yang lebih mirip dengan tempat ini.”
Sesudah berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya
dengan perlahan dia berjalan mendekati mayat tersebut.
Tapi baru saja dia orang angkat kakinya maju ke depan,
mendadak mayat yang sudah mengering itu meloncat ke atas
kemudian bagaikan kilat cepat meluncur ke arahnya.
Dia menjadi sangat terperanjat, di dalam anggapannya dia
sudah mengira orang itu
adalah sesosok mayat, sama sekali tidak terduga kalau
ternyata dia adalah seorang manusia hidup.
Melihat datangnya serangan dari orang itu tangan
kanannya dengan cepat melancarkan
serangan dengan menggunakan jurus Thian Hong Coa Lok
atau pelangi langit menutup jalan
dari ilmu telapak Thian-yu Ciang Hoat.
Tapi baru saja dia melancarkan serangan itu sampai di
tengah jalan, tangan kanannya sudah berhasil dicengkeram
oleh orang itu, terasalah olehnya pergelangan tangannya amat
panas seperti dibakar, sakitnya luar biasa.
Dengan menyeret tubuh Koan Ing tubuh orang itu berputar
setengah lingkaran di tengah udara kemudian melayang
kembali ke tempat semula, teriaknya dengan amat gusar, “Kau
muridnya Cu Yu?”
Koan Ing menjadi tertegun, dia sama sekali tidak menduga
dengan serangannya tadi dia sudah mengetahui asal usul
perguruannya sendiri.
Ketika dia angkat kepalanya memandang terlihatlah
sepasang mata orang itu sudah dicongkel keluar, kini
sepasang matanya berlobang tak berisi sedang sepasang

kakinya pun sudah terbabat putus keadaannya sangat
mengerikan sekali.
Hatinya menjadi sangat terperanjat, sepasang kaki orang
itu sudah putus sedang matanya pun buta tetapi kepandaian
silatnya sangat tinggi sekali, kelihatannya tidak berada di
bawah silat empat manusia aneh, siapakah sebenarnya orang
ini? Kenapa sebelumnya dia belum pernah mendengar adanya
manusia semacam ini?
Koan Ing yang di dalam sekali gebrakan saja sudah berhasil
ditawan pihak musuh, bahkan diketahui juga asal
perguruannya dia benar-benar merasa amat terperanjat.
“Apakah orang ini mempunyai dendam sakit hati dengan
suhunya pada masa yang lalu?”
Melihat wajahnya yang amat aneh itu dalam hati tak terasa
lagi timbul perasaan bergidik yang membuat bulu romanya
pada berdiri.
Ketika orang aneh itu melihat dia orang tidak mengucapkan
sepatah katapun tangan kanannya segera diayun
melemparkan tubuhnya ke pojokan ruangan.
“Manusia tidak punya semangat.” serunya sambil tertawa
dingin.
Ooo)*(ooO
Bab 5
Koan Ing yang dilemparkan orang aneh itu ke ujung
ruangan sama sekali tidak punya tenaga untuk melawan.
“Braaak!” punggungnya dengan sangat keras menghajar
dinding ruangan tersebut.
Ketika mendengar orang aneh itu mengejek dirinya tidak
punya semangat hatinya amat gusar, sambil merangkak
bangun teriaknya nyaring, “Suhuku memang si pendekar
pedang menyendiri dari gunung Chiu Leng!”

Agaknya orang aneh itu sudah menduga kalau dia bisa
berkata demikian, pada wajahnya sama sekali tidak kelihatan
perubahan yang aneh, dia duduk termangu-mangu beberapa
saat lamanya agaknya sedang mengingat kembali suatu
urusan. Lama sekali baru terdengar dia berseru dengan suara
berat, “Kau kemarilah.... ”
Koan Ing yang sudah dibuat keder oleh ilmu silat orang
aneh itu menjadi rada ragu-ragu, tetapi ketika teringat
kembali kalau si orang aneh itu sudah memaki dirinya sebagai
manusia tidak becus hatinya terasa panas juga, segera dia
berjalan ke arah orang aneh itu dan berhenti kurang lebih tiga
langkah di hadapannya, dia takut manusia aneh itu turun
kembali menyerang ke arahnya, karena itu dengan amat
waspada di a memperhatikan terus gerak-geriknya.
Terdengar si orang aneh itu dengan amat dingin
mendengus.
“Kesini maju lebih dekat lagi!” serunya keras.
Dalam hati Koan Ing merasa mendongkol juga, pikirnya,
“Hmmm kenapa aku harus takut untuk maju lebih dekat lagi?
Apa kau kira aku takut dengan kau orang?”
Berpikir sampai disini dia segera maju kembali ke depan.
Tetapi baru saja kaki kirinya maju lagi satu langkah
mendadak tubuh orang aneh itu bergerak tangan kanannya
berputar satu lingkaran di depan dada kemudian melancarkan
satu pukulan dahsyat ke arahnya.
Koan Ing menjadi amat terperanjat untuk menghindar tidak
sempat lagi, tubuhnya miring ke samping, dengan tepatnya
menerima hajaran dari orang aneh tersebut.
“Braaak....!”
Sekali lagi punggungnya tertumbuk pada dinding ruangan
membuat seluruh tubuhnya terasa pegal linu.

Dengan cepat dia meloncat bangun dari atas tanah tak
terasa hatinya bergidik juga.
Jelas sekali ilmu pukulan Yang baru saja digunakan itu
bukan lain adalah Sim Hoat tingkat atas dari ilmu sakti Thianyu
Khei Kang tetapi kemantapan dari pukulan serta kecepatan
dan geraknya jauh di atas suhunya sendiri, dia menjadi
bingung sendiri.
Pikirnya, “Aku belum pernah mendengar di dalam
perguruan ada orang semacam ini, tapi jelas dia
menggunakan ilmu Thian-yu Khei Kang?”
Terdengar orang itu berdiam diri sebentar kemudian
ujarnya dengan serius.
“Cepat jatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada
supekmu Thian-yu Khei Kiam, Kong Bun-yu.”
Koan Ing menjadi melengak, dia pernah mendengar cerita
dari suhunya katanya supek Kong Bun-yu adalah seorang
lelaki tampan yang dandanannya amat perlente, mana
mungkin dia orang bisa berubah seperti begini?
Menurut suhunya supeknya Kong Bun-yu pernah bergaul
rapat dengan seorang perempuan, tetapi dia orang tua tidak
menjelaskan lebih luas lagi.
Tak disangka Kong Bun-yu yang ditemuinya sekarang
ternyata berwajah begitu aneh dan mengerikan sekali,
walaupun begitu mana dia tahu supeknya ini termasuk di
dalam salah satu empat manusia aneh, dia sendiri harus
menaruh rasa hormat kepadanya. Setelah termangu-mangu
beberapa waktu dia lantas jatuhkan diri berlutut, “Koan Im
menghunjuk hormat kepada supek.”
“Hmm.... bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?”
“Tecu didesak oleh Thiat-lang Cien-hu.”

Ketika Kong Bun-yu mendengar disebutnya nama Thiatlang
Cien-hu tampak suatu hawa amarah terlintas pada
wajahnya, dia mendengus dingin tapi tidak mengucapkan
sepatah katapun.
Koan Ing segera menceritakan kisahnya bagaimana dia
terdesak masuk ke dalam ruangan di bawah tanah ini,
Agaknya Kong Bun-yu sama sekali tidak punya minat untuk
mendengarkan kisahnya, segera dia bertanya, “Keadaan
suhumu apakah baik-baik saja?”
Mendengar Kong Bun-yu mengungkit kembali suhunya, dia
segera palingkan wajahnya memandang tajam wajah suheng
suhunya.
“Keadaan tubuh suhu beberapa waktu ini kurang
memuaskan, sesudah lama dia orang tua tidak dapat turun
dari pembaringan.”
“Lama.... tempo hari suhu sudah terkena satu pukulanku,
kini sudah tentu tidak akan tahan lagi.
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing merasakan
hatinya tergetar amat keras mendadak
dia bangkit berdiri.
Dia yang sejak kecil dididik dan di besarkan oleh Cu Yu
sudah menganggap gurunya seperti ayahnya sendiri, kini
mendengar perkataan dari Kong Bun-yu sudah tentu hatinya
merasa amat terkejut bercampur gusar.
Walaupun sepasang mata dari Kong Bun-yu sudah buta tapi
segala gerak-gerik dari Koan Ing tidak dapat luput dari
pengawasannya, mendadak tangan kanannya menyambar ke
depan mengirim satu pukulan, Kraak....!
Tulang tengkorak yang ada dipolkan ruangan sudah
terpukul hancur oleh angin pukulannya.

“Heee.... heee.... ” serunya dengan suara berat. “Walaupun
peristiwa tempo hari dikarenakan kesalahanku, tetapi aku
adalah supekmu kau berani berlaku kurangajar di
hadapanku?”
Koan Ing yang melihat air muka Kong Bun-yu amat murung
dan sedih, dia menjadi termangu-mangu, ini adalah urusan
dari kaum angkatan tua mana boleh dia orang ikut
mencampurinya? Terpikir akan hal ini tak tertahan lagi titiktitik
air mata menetes keluar membasahi pipinya.
Kong Bun-yu pun duduk termenung tak berbicara, lama
sekali baru terdengar dia berkata lagi, “Pada saat seperti ini
kau bisa tiba di sini sungguh bagus sekali.... ”
Koan Ing segera menghapus bekas air matanya dengan
menggunakan tangannya, kini dia sedang memikirkan
bagaimana keadaan dari suhunya Cu Yu sekarang sehingga
perkataan dari Kong Bun-yu sama sekali tidak terdengar
olehnya.
Agaknya Kong Bun-yu tahu apa yang sedang dipikirkannya
oleh Koan Ing, dengan dinginnya dia mendengus.
“Hmm.... seorang lelaki sejati tak akan merasa kesusahan
untuk memikirkan suatu urusan.”
Koan Ing segera mengerutkan alisnya, dia tidak ingin
dipandang remeh Kong Bun-yu, dengan nada melawan
teriaknya, “Peristiwa yang sudah lampau sudah tentu aku
tidak mau ikut campur, tetapi akibat yang diderita suhuku
sekarang adalah diakibatkan oleh kau orang, kalau begitu aku
bukanlah sutitmu, kau pun bukanlah supekku!”
Pada wajah Kong Bun-yu segera terlintas hawa amarahnya,
sambil tertawa keras teriaknya, “Bagus, punya semangat....
punya semangat.... ”
Seusai berkata, air mukanya berubah menjadi amat serius,
ujarnya kembali, “Tapi kau jangan melupakan satu hal,

perguruan Thian-yu masih ada aku sebagai ciangbunjinnya,
sedang suhupun belum di keluarkan dari perguruan, jikalau
kau tidak ingin memanggil aku sebagai supek aku tidak akan
memaksa tetapi kau orang harus mengerjakan satu urusan
dulu.”
Dengan pandangan tajam Koan Ing memperhatikan diri
Kong Bun-yu, tidak tahu apa arti dari perkataan ini, Tetapi
urusan ini menyangkut soal perguruan sedang Kong Bunyupun
merupakan seorang ciangbunjin perkataan yang
diucapkan tidak mungkin bisa bernada guyon.
Sepasang telapak tangan Kong Bun-yu segera direntangkan
dan lantas telapak tangannya mencengkeram sebuah batok
kepala dari tengkorak itu pada saat itu tenaganya disalurkan
segera terdengarlah suara yang amat keras kedua buah batok
kepala tengkorak manusia itu sudah tercengkeram hancur
sehingga berubah menjadi bubur.
“Heee.... heee.... kecuali kau bisa memisahkan hancuran
tulang-tulang batok kepala yang baru aku lakukan sekarang
ini.” ujarnya tawar.
Koan Ing menjadi tertegun, di tempat kegelapan semacam
ini harus memisahkan tumpukan bubuk batok kepala ini?
Ketika Koan Bun-yu mendengar lama sekali Koan Ing tidak
mengucapkan sepatah katapun, dia segera mendengus,
ujarnya dingin, “Kedua orang ini sudah menerjang masuk ke
tempatku sehingga aku binasakan diri mereka pada tiga tahun
yang lalu, cuma urusan yang demikian kecilnya saja kau tidak
bisa lakukan masih berkata mau berbuat pekerjaan yang lain?
hmmm”
Koan Ing yang dipanasi oleh perkataan Kong Bun-yu ini
sepasang alisnya- segera dikerutkan rapat-rapat.
“Kenapa tidak bisa?” teriaknya keras.

Selesai berkata dia berjalan maju ke depan dan
memandang ke arah sana, terlihatlah batok kepala tengkorak
tersebut sudah dicengkeram menjadi bubuk halus oleh tenaga
pencetan sepasang telapak Kong Bun-yu sehingga menjadi
setumpuk bubuk berwarna abu-abu, hal ini membuat hatinya
tertegun.
Kong Bun-yu tidak ambil perduli Koan Ing lagi, dengan
amat tenangnya dia duduk tak berbicara.
Koan Ing benar-benar dibuat tertegun oleh keadaan yang
dihadapinya, dia bingung harus berbuat bagaimana baiknya,
keadaan di dalam gua itu sebenarnya sudah amat gelap apa
lagi cuaca pada saat itu sudah menjelang malam membuat
keadaan di dalam gua saking gelapnya sukar untuk melihat
lima jarinya sendiri.
Kong Bun-yu tidak berbicara lagi dari atas tembok dia
memetik sebuah jamur dimasukkan ke dalam mulut terus
dikunyah.
Melihat keadaan yang begitu mengerikan dengan mata
terbelalak mulut melongo Koan Ing memandang diri Kong
Bun-yu agaknya Kong Bun-yu sudah terbiasa hidup di tempat
itu dengan menggantungkan daripada jamur, tetapi dengan
kehebatan dari ilmu silatnya, bagaimana mungkin dia bisa
terjatuh hingga ke dalam keadaan semacam ini?
Koan Ing seorang diri termenung memikirkan banyak
pertanyaan, tetapi Kong Bun Yo tidak menggubris dirinya lagi.
Ia sendiri memejamkan matanya berlatih pernapasan,
terlihatlah sepasang tangannya dengan mendatar, dada
diangkat ke atas kemudian membentuk setengah lingkaran di
tengah udara.
Dimana tangan Kong Bun-yu berkelebat pada udara segera
terdengar suara deburan yang
amat berat.

Dalam hati Koan Ing menjadi sangat terperanjat, ilmu silat
dari Thian-yu-pay selamanya berbeda jauh dengan ilmu silat
partai lain, di dalam melatih tenaga dalam bukannya
mengutamakan ketenangan sebaliknya mengutamakan gerak,
kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki Kong Bun-yu
sekarang ini menurut penglihatannya mungkin masih jauh
lebih tinggi dari kepandaian si Tiang Gong Sin-cie Sang Su-im.
Sinar terang semakin redup sepasang matanya kini tidak
dapat melihat apa-apa lagi walaupun begitu dia masih bisa
dengar kalau Kong Bun-yu sedang berlatih Thian-yu Chiet Co
Sin yang merupakan ilmu tenaga dalam tingkat atas.
Dia yang seharian penuh tidak makan sesuap nasipun kini
merasakan perutnya amat lapar sedang badannya sangat
lelah, untuk mengambil jamur yang ada di atas tembok dia
merasa tidak tega atau lebih tepat lagi tidak punya minat
sama sekali.
Koan Ing yang duduk termangu-mangu tidak lama
kemudian sudah tertidur dengan amat pulasnya.
Ketika dia sadar kembali dari pulasnya hari sudah pagi,
terlihatlah Kong Bun-yu masih tetap berlatih tenaga dalamnya
selama ini Kong Bun-yu tetap tidak mengucapkan sepatah
katapun, dia terus menerus berlatih tenaga dalamnya.
Ketika Koan Ing melihat Kong Bun-yu begitu menghina
dirinya dalam hati merasa sangat tidak senang, pikirnya,
“Hmm.... aku harus bisa memisahkan abu tengkorak itu
menjadi dua bagian.”
Berpikir sampai disini dia segera duduk di samping abu
tulang itu dan menghapus abu yang ada di atas batu di kedua
belah sampingnya, setelah itu dari tanah mengambil sekerat
tulang dan mulai menutul membagi menjadi dua bagian.
Baru beberapa lama dia sudah merasakan pandangannya
menjadi kabur, sepasang matanya terasa amat pedas sukar

untuk dipentangkan kembali, terpaksa dia beristirahat
sebentar.
Saat itulah perutnya terasa amat lapar sekali hingga sukar
untuk ditahan, hatinya menjadi sangat bingung.
Jilid 3
SAKING lapar yang tidak tertahan lagi, tanpa berpikir
panjang terpaksa tangannya mencomot jamur yang melekat
pada dinding ruangan tersebut kemudian dijejalkan ke dalam
mulut.
Jamur yang semula diduga tentu sukar untuk dikunyah kini
dalam keadaan nyata tidaklah terlalu sukar untuk menelannya
ke dalam mulut tetapi kalau dia harus berdiam begini terus
menerus sampai kapan dia baru berhasil memisahkan tulangtulang
yang sudah hancur ini?
Sehabis berlatih ilmu pernapasan dengan perlahan Kong
Bun-yu mencabut keluar sebuah pedang panjang dari
belakang tubuhnya, Koan Ing dapat melihat begitu pedang
tersebut dicabut keluar dari sarungnya segera terasalah
segulung angin yang amat dingin sekali menyerang badannya.
Seluruh tubuh pedang itu memancarkan sinar kebiru-biruan
yang menyilaukan mata, di tengah-tengah antara sinar
tersebut terlihatlah sebuah lukisan emas yang amat aneh
sekali, sekali pandang saja ia sudah dapat tahu kalau pedang
ini pastilah bukan barang sembarangan.
Kong Bun-yu setelah mencabut keluar pedangnya lalu
dengan tangan kiri perlahan-lahan mengelusnya, dia
menghela napas dengan perlahan.
“Heeey.... sudah lama aku tidak menggunakan pedang.”

Agaknya dia benar-benar sangat terharu akan hal itu,
dengan termangu-mangu dia memegang erat-erat pedang
tersebut.
Mendadak tangan kirinya dibabat ke depan, sekerat tulang
manusia segera terlempar ke atas, bersamaan waktunya pula
tangan kanannya digetarkan dengan disertai suara dengungan
yang amat nyaring pedang panjang di tangannya itu segera
membentuk sebuah lingkaran yang amat besar di depan
dadanya.
Di tengah berkelebatnya sinar pedang, tulang manusia
tersebut sudah terbabat putus menjadi dua bagian dan tepat
terjatuh di hadapan Koan Ing.
Dengan cepat Koan Ing menundukkan kepalanya, melihat
tulang manusia tersebut ternyata sudah dibabat putus menjadi
dua bagian dengan bekas bacokan yang amat rata sekali,
hatinya benar-benar merasa amat ragu dengan tak terasa lagi
dia mengambil kedua belah tulang itu. Segera terasalah
sampai beratnya pun sama.
Diam-diam dia merasa amat terperanjat, walaupun
sepasang mata dan kaki dari Kong Bun-yu sudah hilang tetapi
kesempurnaan dari tenaga dalamnya serta keanehan dari ilmu
pedangnya benar-benar amat tinggi sehingga susah dicarikan
tandingannya pada saat ini. Terdengar Kong Bun-yu
mendengus dengan amat dinginnya, kepada Koan Ing
ujarnya, “Ilmu silat dari semua partai yang ada di dalam Bulim
sekarang ini tidak ada sebuahpun yang merupakan ilmu
yang betul-betul lurus, setiap melancarkan serangan mereka
tentu langsung menyerang musuhnya, di antara kedua hal ini
kebanyakan mereka tidak mau melancarkan serangan secara
terang-terangan, sedang jurus serangannyapun jauh dari jalan
yang sebenarnya, pada masa yang lalu sucouwmu Kiem Kiam
Sioe Su, sudah menggunakan seluruh

hidupnya untuk menyelami ilmu silat dari seluruh Bu-lim,
akhirnya dia berhasil juga ciptakan ilmu sakti Thian-yu Khei
Kang ini, tentu kau bisa bayangkan bukan bagaimana
tingginya ilmunya tersebut?”
Koan Ing yang mendengar perkataan dari Kong Bun-yu ini
semakin lama terasa semakin tertarik dengan ilmu silat
demikian aneh dan lihaynya, bilamana dirinya mau berlatih
dengan sungguh-sungguh bukankah pada kemudian hari dia
tidak usah takut dengan si kongcu tak berbudi lagi?
Kong Bun-yu yang melihat Koan Ing sama sekali tidak
memberikan reaksi apa pun segera dia mendengus.
“Haruslah kau ketahui, sebelum kamu orang berhasil
memisahkan abu tulang ini maka selama itu pula aku menjadi
supekmu.”
Saat itulah Koan Ing baru sadar dari lamunan, kiranya
secara tiba-tiba dia mulai merasakan kalau supeknya Kong
Bun-yu bermaksud hendak menurunkan ilmu sakti Thian-yu
Khei Kang tersebut kepadanya.
Dengan perlahan dia angkat kepalanya terlihatlah air muka
Kong Bun-yu sudah berubah menjadi sangat angker sekali,
dibalik keangkeran itu terlihat juga warna keabu-abuan yang
mulai meliputi seluruh tubuhnya.
Dengan perlahan dia tundukan kepalanya di dalam sekejap
mata itu pula agaknya dia berhasil mengetahui kesedihan di
dalam hati orang tua itu, tak terasa lagi dia mengerutkan
alisnya rapat-rapat tapi tetap tak mengucapkan sepatah
katapun.
Kong Bun-yu tidak banyak bicara, tetapi sewaktu dia mulai
merasakan kalau Koan Ing sudah amat lelah, pada saat itulah
secara enaknya saja dia menjelaskan dua buah jurus aneh
kepadanya.

Koan Ing tidak ingin mempelajari ilmu tersebut, tetapi
dalam hati diapun merasa ingin tahu, teringat akan Kong Bunyu
pun merupakan supeknya sendiri, bilamana dia belajar silat
darinya bukanlah tidak mengapa?
Berpikir sampai disitu diapun mulai ikut belajar terhadap
ilmu yang diturunkan Kong Bun-yu kepadanya, dia mulai
merasakan keterangan dari Kong Bun-yu yang diberikan
kepadanya amat jelas sekali bahkan dia merasa bahwa setiap
jurus serangan yang disampaikan sangat beralasan sekali dan
sama sekali berbeda dengan jurus-jurus silat lainnya.
Di bawah bimbingan dari Kong Bun-yu inilah dia berhasil
memahami beberapa banyak keanehan serta kelihayan dari
ilmu itu.
Waktu berlalu dengan amat cepatnya di dalam sekejap saja
beberapa bulan sudah berlalu dengan amat cepatnya, abu
tulang yang dipisahkan kini baru mencapai seperempatnya
saja, tetapi pandangan matanya sudah mendapatkan
kemajuan yang amat pesat, semakin membagi semakin cepat
dan dalam hatinyapun mulai merasakan kebosanan yang
benar-benar memuakkan.
Walaupun selama ini Kong Bun-yu sama sekali belum
pernah mengungkit kembali peristiwa yang sudah terjadi
tempo hari tetapi dari semua gerak-geriknya Koan Ing bisa
mengambil sedikit kesimpulan.
Tetapi kesemuanya itu dia pun merasa heran walaupun
sepasang mata dan kaki dari Kong Bun-yu sudah kehilangan
kegunaannya tetapi ilmu silatnya masih amat tinggi sekali, tapi
kenapa dia tidak mau keluar dari tempat itu?
Demikianlah setiap hari Koan Ing berlatih terus, pagi hari
dia harus berlatih ilmu lweekang Thian-yu Chiet Co Si
kemudian mulai bekerja lagi untuk memisahkan abu-abu
tulang manusia tersebut.

Pada suatu hari.... Kong Bun-yu yang duduk di sampingnya
mendadak membuka mulut bertanya kepadanya. “Kau sudah
berhasil memisahkan beberapa bagian?”
Koan Ing menjadi melengak, selama ini Kong Bun-yu tidak
pernah menanyakan urusan mi tetapi entah kenapa ini hari dia
membuka mulut bertanya?”
“Hampir seperempatnya,” jawabnya kemudian dengan
perlahan.
“Hmmm sudah satu bulan lamanya, kau masih ingin
melepaskan diri dari Thian-yu-pay?”
Ketika Koan Ing melihat air muka Kong Bun-yu sedikit tidak
beres dia segera bangkit berdiri.
“Suhuku bersikap sangat baik sekali terhadap diriku, kau
sudah membunuh suhuku, bagaimana aku mau memanggilmu
sebagai supek?”
Air muka Kong Bun-yu segera berubah amat hebat, dengan
gusar bentaknya, “Lalu bagaimana dengan ilmu siiat yang
sudah kau pelajari dari diriku selama satu bulan ini?”
Koan Ing menjadi keheran-heranan. belajar “ilmu silat dari
dirinya selama satu bulan ini? Selain disuruh memisahkan abuabu
tulang manusia itu apa lagi yang dikerjakan sendiri?
Dalam hatipun dia mulai merasa jengkel, dengan cepat dia
meloncat maju ke depan.
“Aku sekarang ada disini, dengan kepandaian silatmu setiap
saat kau masih bisa mencabut kembali kepandaian yang aku
miliki sekarang ini.”
“Baiklah,” teriak Kong Bun-yu semakin gusar setelah
dilihatnya sikap Koan Ing masih tetap ketus. Jika kau orang
memang sudah mengambil keputusan begitu aku segera
memenuhi keinginanmu itu.”

Selesai berkata tangan kanannya digunakan mencabut
keluar pedang panjangnya, mendadak tangan kirinya kirim
satu pukulan membuat abu tulang yang ada di atas tanah
terpukul mabur sedang pedang ditangan kanannya dengan
membentuk sinar kemerah-merahan dengan amat cepatnya
berkelebat di tengah udara.
Di mana ujung pedangnya menyambar benda yang ada
disitu segera terbabat menjadi dua bagian, keadaannya sama
sekali tidak kacau, jelas kelihatan kecepatan gerak pedangnya
memang benar-benar amat lihay.
Melihat hal itu Koan Ing menjadi berdesir rasanya, dengan
ketinggian ilmu silat dari Kong Bun-yu sampai hancuran
tulangpun bisa dipisahkan kembali menjadi bagian2 yang amat
kecil hal ini sudah perlihatkan kalau kelihayan ilmu silatnya
bukanlah tandingan dan dirinya sendiri.
“Sekarang kau boleh pergi dari sini!” tiba-tiba terdengar
Kong Bun-yu membentak kembali. Koan Ing menjadi
melengak, tetapi dia sama sekali tidak pergi dari sana.
“Hmmm.... kenapa kau tidak pergi?” teriak Kong Bun-yu
dingin.
“Abu tengkorak itu bukan aku yang memisahkan,
bagaimana aku harus pergi dari sini?”
Agaknya Kong Bun-yu segera dibuat melengak oleh katakata
dari Koan Ing ini, dia angkat kepalanya kemudian
termenung berpikir beberapa saat lamanya.
Koan Ing yang melihat Kong Bun-yu dibuat termangumangu
oleh sikapnya, dia pun sedikit tertegun dibuatnya. apa
yang sedang dipikirkan Kong Bun-yu sekarang ini? Tapi dia
tidak banyak tanya, walaupun hatinya heran tapi mulutnya
tetap bungkam dalam serbu bahasa.

Lama sekali baru kelihatan Kong Bun-yu tundukkan
kepalanya kembali, ujarnya kepada diri Koan Ing.
“Peristiwa yang terjadi tempo hari memang benar adalah
kesalahanku, tetapi urusan itu tidak bisa ditarik kembali lagi.
Heey.... tidak disangka dengan kebesaran namaku pada
tempo hari kini harus menerima nasib yang demikian
buruknya.... sebelum aku meninggal maukah kau menerima
satu permintaanku?”
Seluruh air muka Kong Bun-yu diliputi oleh kesedihan
membuat Koan Ing yang melihat hal itu dibuat termangumangu,
sebelum meninggal? Apakah Kong Bun-yu sudah
mendekati kematiannya?
Dengan nama besarnya bagaimana dia orang bisa berubah
menjadi demikian tak bersemangat? Teringat budi Kong Bunyu
terhadap dirinya selama satu bulan ini di mana dengan tak
henti-hentinya dia orang memberikan petunjuk ilmu silat
kepadanya membuat hatinya pun terasa ikut bersedih.
Kong Bun-yu yang melihat Koan Ing tidak memberikan
jawab segera, ujarnya kembali, “Selama hidupku ini, aku
orang mempunyai sifat keras kepala, selamanya apa yang
sudah aku kerjakan tidak akan menyesal kembali, beberapa
patah perkataanmu tadi secara
mendadak sudah membuat aku menjadi sadar kembali,
sekalipun aku sebagai seorang ciangbunjin tetapi dalam
hidupku ini aku cuma mengurusi dendam sakit hati pribadiku
sendiri saja, sama sekali tidak pernah mengurusi tugasku
sebagai seorang ketua partai.”
Koan Ing yang mendengar perkataan ini hatinya jauh
semakin lunak, teringat kalau Kong Bun-yu bukan saja
merupakan supeknya, bahkan diapun merupakan seorang
pendekar kenamaan, berpikir sampai disitu tak terasa lagi dia
sudah menyahut, “Supek ada permintaan apa, silahkan
memberi petunjuk.”

“Tidak perduli urusan yang bagaimana beratnya, kau tidak
akan menyesali kembali?” tanyanya dengan wajah penuh
diliputi kegirangan.
Koan Ing menjadi ragu-ragu sejenak, dia tidak tahu
sebenarnya supeknya ini hendak memerintahkan dirinya untuk
berbuat apa, tapi akhirnya da menyanggupinya juga. “Aku
akan melakukannya dengan sepenuh tenaga.”
“Hmm. kalau begitu kau kemarilah.”
Koan Ing menjadi melengak, tapi dia pun dengan cepat
berjalan mendekati diri Kong Bun-yu. “Berlutut.”
Koan Ing menurut saja dan dengan cepat jatuhkan diri
berlutut, Kong Bun-yu lalu meletakkan tangannya ke atas
kepalanya, dia berkata, “Sejak saat ini juga kau adalah
Ciangbunjien angkatan ketiga dari Thian-yu-pay.”
Koan Ing benar-benar dibuat tertegun oleh kenyataan ini,
semula dia mengira Kong Bun-yu mau menyuruh dia berbuat
sesuatu urusan tetapi tidak disangka ternyata dia hendak
meminta dirinya menduduki jabatan sebagai Ciangbunjien dari
partai Thian-yu-pay.
Dari belakang badannya Kong Bun-yu mengeluarkan
sebuah pedang panjang lalu menyerahkannya kepada Koan
Ing, ujarnya kembali, “Pedang ini bernama Kiem-hong-kiam
yang selama ini tidak pernah berpisah dari tangan sucow serta
diriku, kau baik-baiklah melindunginya, selama ini orang yang
menjabat sebagai ciangbunjin dari partai Thian-yu selamanya
merupakan pendekar jagoan dari Bu-lim, kau harus
mengingat-ingat akan hal ini.”
“Tetapi.... tetapi kepandaian silatku sangat rendah aku
tidak berhak untuk menduduki sebagai ciangbunjin suatu
partai, hal ini tidak mungkin terjadi!” bantah Koan Ing sambil
menerima pedang tersebut.

Kong Bun-yu menjadi amat gusar, bentaknya, “Ilmu silat
tidak lebih hasil latihan dari seseorang, kenapa kau orang
begitu tidak becus?”
Koan Ing yang mendengar Kong Bun-yu memaki dirinya
dengan amat kasar dia menjadi termangu-mangu, dia tahu
maksud Kong Bun-yu adalah baiki ilmu silat adalah hasil
latihan dari seseorang, benar, sedikitpun tidak salah, dengan
usia Kong Bun-yu yang masih muda tempo hari dia sudah
berhasil merebut kedudukan sebagai salah satu dari empat
manusia aneh, hal inipun berkat ketekunan latihannya itu.
Berpikir sampai disini, dia segera menerima pedang tersebut.
“Sejak ini hari tecu Koan Ing akan melaksanakan tugas
sebaik-baiknya sehingga tidak sampai menyia-nyiakan harapan
dari supek.
Kong Bun-yu tersenyum puas.
“Dengan kepandaian yang dimiliki suhumu sehingga dia
orang berhasil mendidik kau sampai seperti ini, jelas sekali
kalau bakatmu amat bagus sekali, sebelum aku meninggal kau
harus tetap tinggal di dalam gua ini, aku akan menurunkan
seluruh ilmu silatku kepadamu.”
Koan Ing termenung tidak berbicara, teringat akan
tugasnya pada kemudian hari, teringat pula kalau supeknya
Kong Bun-yu tidak akan lama lagi hidup di dunia ini, tak terasa
lagi hatinya menjadi amat sedih.
Terdengar Kong Bun-yu tertawa keras ujarnya, “Aku sudah
terkena bokongan orang lain dan tidak lama kemudian akan
meninggal dunia, dalam hal ini kau tidak perlu mengetahui
lebih jelas lagi apa sebabnya, tempo hari sucouwmu karena
hendak mendirikan partai Thian-yu ini saking lelahnya dia
orang sudah menemui ajalnya sehingga nama dari partai kita
tidak bisa muncul di dalam Bu-lim, sampai waktumu walaupun
di dalam Bu-lim aku orang berhasil mendapatkan julukan
sebagai Thian-yu Khie Kiam tetapi selama ini pula aku cuma

berhasil mengimbangi kepandaian silat dari manusia aneh
lainnya, sekarang harapan ku yang terakhir terletak di
tanganmu, kau harus bisa mengembangkan nama Thian-yupay
di dalam Bu-lim.”
Dia berhenti sebentar untuk menghela napas panjang, lalu
sambungnya lagi, “Latihanku selama puluhan tahun ini
sebenarnya sudah memperoleh sedikit kemajuan, cuma
sayang pertemuan puncak para jago yang diadakan untuk
kedua kalinya di atas gunung Hoa-san bulan Tong Ciu nanti,
aku tidak dapat hadir, dalam hal ini kau harus sudah hadir,
sebelum aku meninggalkan kau harus tetap tinggal gua ini
untuk mempelajari seluruh ilmu silat yang aku pahami selama
hidupku ini.”
Koan Ing hanya berdiam diri saja, dia tidak ingin
memberikan komentar apa-apa kepada dirinya.
Demikianlah sejak hari itu mereka berdua mulai saling
memperdalam ilmunya sendiri-sendiri, Koan Ing pun di bawah
bimbingan dari Kong Bun-yu sudah mendapatkan kemajuan
kang amat pesat sekali.
Tubuh Kong Bun-yu semakin hari semakin lemah, sering
sekali tanpa ada sebab dia sudah tertawa terbahak-bahak,
lagaknya mirip sekali dengan orang gila, walaupun dalam hati
Koan Ing merasa tidak betah tapi dia tidak bisa berbuat apaapa,
terpaksa dengan rajinnya dia melatih ilmu silatnya
sendiri.
Hari itu ilmu silatnya sudah memperoleh kemajuan yang dia
sendiri selamanya belum pernah menduga.
Terdengar Kong Bun-yu berkata kepadanya, “Hey.... Koan
Ing, tentu selama beberapa hari ini kau bisa melihat
keadaanku yang seperti orang setengah gila bukan? Kini
seluruh ilmu silat yang aku miliki sudah aku turunkan
kepadamu, kau boleh meninggalkan tempat ini.”

Koan Ing menjadi melengak, walaupun pada tempo hari
Kong Bun-yu berbuat sesuatu yang tidak senonoh kepada
suhunya tetapi sikapnya terhadap dirinya amat baik sekali,
teringat kembali kalau dia orang mau meninggal, hatinya
merasa amat sedih sekali. Kong Bun-yu tertawa kembali,
ujarnya.
“Buat apa kau orang memperlihatkan lagak seorang gadis?
Dengan kepandaian silat yang kau miliki sekarang ini,
walaupun tidak jelek tetapi jika dibandingkan dengan ilmu silat
yang dimiliki Sang Su-im masih tertinggal amat jauh, kelicikan
dan kejahatan yang ada di Bu-limpun kau orang tidak tahu.
Setelah kau keluar dari sini janganlah sekali-kali menyiarkan
berita kematianku, untuk menjaga kewibawaan dari seorang
ketua partai besar kau jangan terlalu merendahkan derajatmu,
kalau tidak kau orang akan mendapatkan kerugian yang amat
besar sekali.”
Dengan perlahan Koan Ing jatuhkan diri berlutut di
hadapannya. hatinya benar-benar terasa amat susah.
“Supek,” ujarnya sedih. “Sekarang aku tidak ingin pergi
lagi, aku ingin tinggal lebih lama lagi disini.”
Kong Bun-yu menjadi melengak, tapi sebentar kemudian
dia sudah tertawa terbahak-bahak, “Kau tidak mau pergi pun
sekarang harus pergi juga.”
Tiba-tiba suara tertawanya yang amat keras berhenti di
tengah jalan, kemudian tidak terdengar suaranya kembali.
Koan Ing menjadi melengak., tapi sebentar saja dia sudah
tahu kalau Kong Bun-yu telah membunuh diri dengan jalan
menghancurkan isi perutnya sendiri.
Tak terasa lagi dia meneteskan air matanya, dengan cepat
dia jatuhkan diri berlutut dan memberikan penghormatannya
yang terakhir.

Teringat akan pengalamannya selama dua bulan ini, tak
terasa lagi dia menghela napas panjang.
Koan Ing berdiri termangu-mangu beberapa saat lamanya,
akhirnya dia teringat kembali keterangan yang diberikan Kong
Bun-yu kepadanya, dengan perlahan dia mendorong sebuah
pintu batu di samping kanan kemudian menaiki sebuah tangga
batu yang amat panjang.
Dengan langkah perlahan dia melanjutkan perjalanannya
keluar dari dalam ruangan tersebut.
Saat itu musim gugur sudah tiba, terasa angin bertiup
dengan kencangnya, sedaun pada rontok memenuhi seluruh
tanah.
Koan Ing yang teringat akan persoalan Kereta Berdadah tak
terasa lagi sudah menghela napas panjang. entah itu kereta
berdarah sekarang berada dimana? Bagaimana dengan sakit
suhunya?
Baru saja dia termenung, mendadak terdengar sebuah
suara yang dingin berkumandang keluar dari samping
tubuhnya.
“Hey bangsat cilik, lama sekali kau pergi kesana.”
Dengan cepat Koan Ing putar badannya, dia menjadi amat
terperanjat, kiranya di belakang tubuhnya sekarang ini sudah
berdiri seorang yang bukan lain adalah si Thiat-lang, Gui Cunpak
adanya.
Dia sama sekali tidak menduga kalau Gui Cun-pak bisa
menanti dirinya dengan begitu sabar, teringat akan keadaan
dari supeknya Kong Bun-yu mendadak di dalam benaknya
terbayang suatu ingatan.
“Apakah buntungnya sepasang kaki Supek ada sangkut
paut dengan mereka berdua?”

Gui Cun-pak dengan pandangan tajam memperhatikan diri
Koan Ing, ketika dilihatnya lama sekali dia tidak memberikan
jawabannya ia segera mendengus, tubuhnya dengan cepat
berkelebat lima jari tangan kanannya dipentangkan kemudian
dengan kecepatan yang luar biasa mencengkeram tubuh Koan
Ing,
Koan Ing yang sudah mendapatkan latihan selama
beberapa bulan di dalam gua sudah tentu ilmu silatnya
memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali, kaki kanannya
dengan cepat bergerak, setelah membentuk setengah
lingkaran busur di atas tanah tubuhnya dengan amat cepatnya
menyingkir ke samping menghindarkan diri dari cengkeraman
maut Gui Cun-pak tersebut.
Koan Ing Yang berhasil menghindarkan diri cengkeraman
Gui Cun-pak, tanpa menoleh lagi tangan kanannya dibalik lima
jarinya dengan amat cepat dan tepat tanpa banyak menemui
kesukaran mencengkeram jalan darah Cie Ti Hiat pada tangan
kanan musuhnya.
Gui Cun-pak benar-benar merasa amat terperanjat, tidak
disangka sama sekali olehnya selama dua bulan tidak bertemu
Koan Ing dia orang sudah memperoleh kemajuan yang begitu
pesat di dalam ilmu silatnya hal ini benar-benar membuat
hatinya bergidik.
Dia mana tahu kalau selama bulan pertama Koan Ing sudah
dilatih ketajaman mata serta kekuatan jarinya, kini
serangannya benar-benar amat membahayakan sekali.
Sedangkan langkah yang digunakan bukan lain adalah ilmu
langkah Thian-yu-poh atau ilmu langkah manunggal yang
diandalkan Kong Bun-yu selama berkelana di dalam Bu-lim,
Setiap langkah yang dilaluinya semuanya mengandung
rahasia yang amat dalam sekali, bahkan sampai empat
manusia aneh pun pada masa yang lalu tidak bisa

memecahkan ilmu tersebut apalagi Gui Cun-pak sebagai
seorang manusia biasa?
Di dalam keadaan terkejut Gui Cun-pak benar-benar dibuat
bingung, terpaksa dia mundur dua langkah ke belakang,
pikirnya, “Sungguh sialan, nenek reyotpun tidak ada disini ini
hari aku betul-betul didesak di bawah angin oleh setan cilik
ini,”
Ooo)*(ooO
Bab 6
BERPIKIR sampai disitu tanpa banyak pikir lagi Gui Cun-pak
melancarkan dua serangan kembali,
Koan Ing yang melihat serangannya mencapai pada
sasaran dia tidak sungkan-sungkan lagi, semula dia memang
masih menaruh rasa jeri terhadap diri Gui Cun-pak, tetapi saat
ini rasa jeri itu sudah tersapu bersih dari benaknya.
Kaki kirinya dengan cepat menutul permukaan tanah
menghindarkan diri dari kedua buah serangan Gui Cun-pak ini,
tangan kanannya ditarik ke atas lantas balas mengurung
musuhnya.
Gui Cun-pak yang melihat dua buah serangannya kembali
mencapai pada sasaran kosong hatinya semakin bergidik, dia
benar-benar dibuat terkejut dan ketakutan oleh keanehan dan
kelihayan dari ilmu silat Koan Ing ini.
Dengan cepat serangan Koan Ing sudah menyapu ke depan
wajahnya, baru saja dia orang mau menghindar mendadak
kaki kanan Koan Ing diangkat melancarkan tendangan
menghajar tumitnya, serangannya ini mengandung hawa
pukulan yang amat hebat, asalkan terkena serangan tersebut
tanggung tumitnya akan hancur dibuatnya.
Gui Cun-pak menjadi gugup, jurus serangan yang
dilancarkan Koan Ing semakin lama semakin aneh dan
semakin lihay lagi, membuat dia untuk beberapa saat lamanya

dibuat kebingungan sehingga gerakan tubuhnyapun semakin
kacau.
Walaupun Koan Ing masih belum paham benar terhadap
jurus serangannya, tetapi tak
urung pipi kanannya terkena sambaran jari-jari Koan Ing
juga sehingga terasa panas, pedas,
linu dan sukar ditahan.
Dia menjadi amat terkejut bercampur gusar, dengan amat
kerasnya dia bersuit panjang tangannya diayun berturut-turut
melancarkan sepuluh serangan lebih.
Kali ini dia melancarkan serangan dengan menyalurkan
seluruh tenaga dalam yang dimilikinya, tanpa banyak rewelrewel
lagi ilmu telapak Na Im Ciang yang paling diandalkan
dikeluarkan.
Sebenarnya dia pun merupakan seorang jago yang
mempunyai nama terkenal di dalam Bu-lim, begitu ilmu
andalannya dikeluarkan jurus-jurus serangannyapun semakin
gencar dan membingungkan sekali.
Semakin bertempur Koan Ing merasa hatinya semakin
mantap, dia segera mengeluarkan seluruh ilmu silat yang
berhasil dipelajarinya dari dalam gua untuk melawan Gui Cunpak.
Walaupun kepandaian silatnya sudah amat tinggi tetapi
tenaga dalamnya jauh di bawah Gui Cun-pak, apalagi banyak
jurus serangan lihay yang belum dapat digunakan olehnya
dengan sempurna, dengan demikian untuk mencapai
kemenanganpun dia masih belum sanggup,
Sekalipun dengan demikian Gui Cun-pak pun untuk
sementara waktu tidak dapat mengapa-apakan dirinya.
Di dalam sekejap mata saja mereka berdua sudah bergerak
kurang lebih lima puluh jurus banyaknya, hati Gui Cun-pak

semakin lama semakin terperanjat, pada dua bulan yang lalu
Koan Ing tidak dapat lolos dari tangannya, cuma di dalam lima
jurus saja tetapi kehebatan dari ilmu silatnya sekarang ini
benar-benar berada diluar dugaannya, bahkan terhadap jurusjurus
serangan yang digunakan Koan Ing diapun harus
menaruh tiap bagian perasaan jerinya.
Jikalau hal ini dibiarkan berlarut terus, kemungkinan sekali
beberapa hari kemudian kepandaian silat dari Koan Ing akan
jauh lebih tinggi lagi, ini semakin membahayakan
kedudukannya.
Sambil bertempur Gui Cun-pak berpikir keras, dia benarbenar
merasa terperanjat atas kelihayan musuhnya.
Pada saat mereka berdua sedang bertempur dengan amat
serunya itulah mendadak dari dalam hutan muncul seseorang,
kedatangan orang tersebut seketika itu juga membuat
suasana di tengah kalangan menjadi berubah, masing-masing
dengan cepat meloncat mundur ke belakang.
Dengan cepat Koan Ing menoleh ke arah orang tersebut,
tetapi sebentar kemudian dia sudah dibuat tertegun, orang itu
berjubah hijau dengan wajah berwarna kuning pucat, dia
orang bukan lain adalah suhunya si pendekar pedang
menyendiri Cu Yu adanya.
Hatinya benar-benar terasa amat terkejut bercampur
girang, tak tertahan lagi teriaknya, “Suhu.”
Tubuhnya dengan cepat berkelebat menuju ke arah orang
itu.
Gui Cun-pak yang mendengar Koan Ing memanggil orang
itu sebagai suhunya dalam hati semakin merasa terkejut lagi,
dengan diam-diam dia putar badannya meninggalkan tempat
itu.
Koan Ing dengan cepat berlari ke depan suhunya,
kedatangan dari suhunya yang mendadak ini seketika itu juga

mengingatkan Koan Ing atas perkataan dari Kong Bun-yu,
saat ini hatinya benar-benar sangat gembira sekali sehingga
tanpa terasa air mata sudah menetes keluar membasahi
pipinya.
Wajah Cu Yu yang kuning pucat tampak sedikit bergerak,
tangannya dengan perlahan-lahan mengelusi kepala Koan Ing
ujarnya, “Anak bodoh, kau kenapa menangis.”
“Suhu,” seru Koan Ing sambil melelehkan air matanya.
“Kau orang tua datang dari mana?”
“Kau jangan menanyakan urusan itu dulu tadi aku melihat
kepandaian silatmu amat tinggi sekali, sebenarnya sudah
terjadi urusan apa?”
“Aku sudah bertemu dengan supek.... ”
“Supekmu?” potong Cu Yu dengan terperanjat. “Sekarang
dia berada dimana?”
Koan Ing ragu-ragu sebentar, akhirnya jawabnya juga.
“Supek sudah meninggal, dia berada di dalam gua itu.”
Sambil berkata dia menuding ke arah gua batu itu, tampak
tubuh Cu Yu sedikit tergetar, mendadak dia termangu mangu
kemudian dengan cepatnya berkelebat menuju kesana.
Koan Ing yang melihat sikap suhunya amat aneh, dia
menjadi sangat terperanjat dia sama sekali tidak menyangka
kalau suhunya bisa begitu terharu sesudah mendengar berita
atas kematian Kong Bun-yu.
“Suhu.... ” teriaknya, tubuhnyapun dengan cepat ikut
mengejar dari belakang.
Ketika dia berhasil memasuki ruangan batu itu tampaklah
suhunya sedang berlutut termangu-mangu di depan jenazah
Kong Bun-yu, air matanya menetes keluar membasahi seluruh
wajahnya, sedang tangannya dengan perlahan mengelus-elus
sepasang mata dari Kong Bun-yu.

Koan Ing menjadi tertegun.
“Suhu,” panggilnya kembali dengan perlahan.
Cu Yu seperti baru saja tersadar dari lamunannya,
mendadak dia berseru dengan suara yang gemetar sedang air
mata menetes keluar semakin deras, “Sedih dan senang
laksana impian, cinta buta sepuluh tahun mendatangkan
kepedihan.... ”
Koan Ing yang sama sekali tidak tahu urusan yang sudah
terjadi di antara suhunya dengan Kong Bun-yu, saat ini
menjadi tertegun, dia bingung harus berbuat bagaimana untuk
menghibur suhunya kemudian. “Suhu.... ”
Cu Yu termangu-mangu sebentar, akhirnya dia menghela
napas panjang dan duduk bersila di samping jenazah Kong
Bun-yu. ujar dengan perlahan, “Ing jie, coba kau ceritakan
pengalamanmu sewaktu bertemu dengan supekmu.”
Koan Ing sewaktu melihat air mukanya amat sedih sekali
tidak berani membangkang perintahnya, dengan perlahan dia
mulai menceritakan kisahnya bagaimana bertemu dengan
Cien-hu Thiat-lang, lalu bagaimana dia melarikan diri dan
bertemu dengan Kong Bun-yu.
Dia bercerita terus, tidak lama kemudian sudah hampir
sebagian besar telah diceritakan tetapi selama ini Cu Yu tidak
mengucapkan sepatah katapun.
Koan Ing segera merasakan sesuatu yang tidak beres,
mendadak dia menubruk maju ke depan dan memeriksa
pernapasan dari suhunya.
Entah sejak dari kapan suhunya Cu Yu sudah
menghembuskan napasnya yang penghabisan, dia menjadi
amat terkejut sekali.
“Suuuuhu.... ” teriaknya, saking tergoncang hatinya tak
tertahan lagi dia jatuhkan tak sadarkan diri.

Lama sekali dia baru sadar kembali dari pingsannya, dia
menangis kembali dengan sedihnya.
Dia orang sama sekali tidak menyangka kalau suhunya
tanpa mengucapkan sepatah kata pun sudah menghembuskan
napasnya yang penghabisan, dengan termenung dia berpikir
keras akhirnya dengan menggigit kencang bibirnya, dia
jatuhkan diri berlutut di depan suhunya untuk memberi
hormat kemudian dengan cepat meninggalkan gua itu.
Sekeluarnya dari gua, dia pun dengan cepat menutup
kembali pintu gua tersebut, akhirnya setelah semuanya selesai
dia baru berlalu dari sana.
Sungai Tiang Kang mengalirkan airnya dengan deras
menuju ke arah sebelah Timur.
Sebuah perahu dengan lajunya berlayar ke depan, tampak
Koan Ing dengan perlahan keluar dari ruangan kapal tapi
sebentar kemudian dia sudah dibuat tertegun, kiranya di
ujung perahu tersebut sudah berdiri seorang pemuda berbaju
hijau dengan angkernya, Sekali pandang saja Koan Ing sudah
mengenal kembali kalau orang itu bukan lain adalah Sang
Siauw-tan, selama tiga hari tiga malam ini dia tak pernah
bertemu dengan seorangpun di atas perahu itu, bagaimana
sekarang dia orang bisa muncul disini?
Menurut kabar kereta berdarah itu sudah menuju ke arah
Barat dan kini lenyap tanpa bekas, tapi dia sama sekali tidak
menyangka di atas perahu yang sedang berlayar dengan
lajunya ini, dia orang bisa bertemu kembali dengan Sang
Siauw-tan.
Koan Ing yang di buat termangu, dengan cepat balik badan
mau berjalan masuk kembali ke dalam bilik, tetapi saat itu
pula Sang Siauw-tan sudah putar badannya. Dia yang melihat
Koan Ing pun ada di sana kelihatan sekali dibuat melengak
juga.
“Hey, kau kemarilah!” terdengar dia berteriak.

Koan Ing yang mendengar dia orang dipanggil dengan
begitu kasarnya, dalam hati benar-benar merasa mendongkol
pikirnya.
“Kesana. yaah kesana, apakah kau kira aku takut
kepadamu?”
Berpikir sampai disitu dengan mengerutkan alisnya dia
berjalan menuju ke ujung perahu.
Sang Siauw-tan memperhatikan sebentar keadaan dari
Koan Ing kemudian sambil tertawa tawar ujarnya, “Kau mau
kemana?”
Koan Ing yang melihat senyuman dingin yang sepertinya
dia crang sama sekali tidak dipandang sebelah matapun
kepada dirinya membuat hatinya terasa amat gusar sekali
sebenarnya dia ingin sekali memaki dengan beberapa patah
kata kepadanya, tetapi entah karena apa mendadak dia toleh
kepalanya ke arah sungai tanpa mengucapkan sepatah
katapun,
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing sudah dibuat
mendongkol oleh dirinya, dia segera tertawa geli,
“Hey Koan Kongcu, aku sedang bertanya kepadamu!”
serunya.
Koan Ing semakin mendongkol lagi, jelas sekali Sang
Siauw-tan sedang menggoda dirinya pikirnya dalam hati,
“Hmm, apa anehnya kau mempunyai seorang ayah yang
lihay? Kalau benar-benar becus gunakanlah ilmu silatmu.”
Dia mengerutkan alisnya kembali, sahutnya ketus, “Aku
sedang mengejar jejak kereta berdarah.”
“Cuma mengandalkan kepandaian silat mu ini?” tanyanya
tawar.
Koan Ing semakin dibuat jengkel lagi setelah mendengar
perkataan dari Sang Siauw-tan ini, pikirnya, “Kau orang jangan

sombong dulu, pada suatu hari aku bisa perlihatkan
kelihayanku di depan matamu.”
Saking khe-kinya dia bungkam di dalam seribu bahasa.
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing dibuat gusar
sehingga bungkam hatinya semakin gembira tapi dia ingin
menggoda dirinya lebih jauh.
“Hey Koan Ing, kau sudah pernah mendengar ilmu Thay So
Ing dari Tibet?” tanyanya sambil tertawa.
Saking gemasnya Koan Ing merasa mulutnya seperti
disumbat, sepatah katapun tidak dapat diucapkan keluar,
terpaksa dia tetap menutup mulutnya rapat-rapat. Sinar mata
dari Sang Siauw-tan berputar ujarnya kembali.
“Perkataanku ini adalah benar-benar, kau jangan takut aku
sudah membohongi dirimu.”
Koan Ing tidak mau menggubris lagi, pandangan matanya
dengan sayu memandang ke arah kejauhan sedang pikirannya
berputar memikirkan urusannya.
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing dibuat gusar tanpa
berani membalas dalam hati benar-benar merasa geli,
pikirannya pun berputar terus memikirkan cara yang lain
untuk menggoda diri Koan Ing.
Tampak dengan perlahan Koan Ing putar badannya, diapun
cepat-cepat ikut putar badan, kurang lebih satu kaki dari
mereka berdiri tiba-tiba tampaklah seorang lelaki berusia
pertengahan yang memiliki tubuh amat tinggi besar dengan
wajah yang amat hitam sekali. Ketika orang itu melihat
mereka berdua putar badan segera dibuat melengak.
Seketika itu juga Sang Siauw-tan sadar kembali, dengan
ilmu meringankan tubuh yang demikian tinggi dari orang itu,
dia tentu sedang mencuri dengar pembicaraan diantara dirinya
berdua, hatinya menjadi amat gusar.

“Hmm.... ” dengusnya dingin. “Kau orang dengan
sembunyi-sembunyi sedang berbuat apa di sana?”
Lelaki bertubuh tinggi besar itu segera memperdengarkan
suara tertawanya yang amat menyeramkan.
“Baru saja aku mendengar pembicaraan kalian berdua
tentang ilmu Thay So Ing, cayhe pingin sekali menanyakan
sesuatu hal kepada kalian berdua.”
Sang Siauw-tan sama sekali tidak menyangka nyali orang
itu ternyata begitu besar, apa yang sudah dicuri dengar
ternyata langsung ditanyakan kepada mereka, tak terasa lagi
alisnya dikerutkan rapat-rapat, ujarnya dengan dingin, “Kau
siapa? Kenapa sedikitpun tidak tahu sopan santun?”
Hee.... hee.... kalian berdua baru saja membicarakan soal
ilmu Thay So Ing, apakah mungkin kalian mau berangkat ke
daerah Tibet. Hahaa?”
Sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap ke arah
mereka kemudian tambahnya.
“Walaupun kereta berdarah menyimpan suatu rahasia yang
amat besar sekali, tetapi dia pun menyimpan suatu nafsu
membunuh yang amat besar pula, aku nasehatkan kepada
kalian lebih baik jangan mencari gara-gara buat kalian
sendiri.”
SeIesai berkata dia putar badannya siap meninggalkan
tempat itu.
Sejak kecil Sang Siauw-tan sudah memperoleh kemanjaan
dari ayahnya, mana dia orang mau menerima nasehat yang
begitu pedasnya?
Hatinya benar-benar amat gusar, teriaknya keras, “Tunggu
dulu!”
Dengan perlahan lelaki itu menoleh kemudian mendengus
dengan amat dinginnya.

“Aku memandang pada usia kalian berdua, tidak mau
terima yaah sudahlah buat apa banyak cari urusan?”
Sang Siauw San tertawa dingin, saat ini dia benar-benar
sudah dibuat jengkel, tanpa banyak berbicara lagi tubuhnya
segera bergerak maju, sedang tangan kanannya dengan amat
cepatnya menyambar ke atas pipi lelaki berusia pertengahan
itu.
Lelaki berusia pertengahan itu segera tertawa dingin, kaki
kanannya berkelebat, dengan amat tepat sekali dia berhasil
menghindarkan diri dari serangan dari Sang Siauw-tan ini
bersamaan waktunya pula tangan kanannya diangkat.
Di dalam sekejap saja telapak tangan kanannya mendadak
mengembang besar lalu dengan dahsyatnya dihajarkan ke
atas pundak sebelah kiri dari Sang Siauw-tan.
Sang Siauw-tan sama sekali tidak menyangka serangannya
bisa mencapai pada sasaran yang kosong, tetapi diapun sudah
mempersiapkan serangan susulan, melihat lelaki berusia
pertengahan itu ternyata sudah menggunakan ilmu Thay So
Ing dari Tibet hatinya semakin bergidik.
Kiranya ilmu sakti Thay So log ini merupakan ilmu silat
yang amat ganas dan dahsyat sekali, orang-orang di daerah
Tionggoan jarang sekali menemuinya, siapa orang ini tidak
usah diterangkan sudah amat jelas sekali.
Di dalam keadaan terperanjat tubuhnya dengan cepat
meloncat mundur ke belakang.
Agaknya lelaki berusia pertengahan itu sudah mengambil
keputusan untuk menangkap
dirinya, tubuhnya dengan cepat mendesak terus ke arah
diri Sang Siauw-tan.
Melihat kelakuan lelaki kasar itu Sang Siauw-tan menjadi
terkejut bercampur gusar, dia yang merupakan putri dari si
jari sakti Sang Siauw-tan salah satu dari empat manusia aneh

sampai saat itu mana pernah mendapatkan desakan semacam
itu? Apalagi siapakah pihak lawannya dia orang sama sekaii
tidak tahu.
Dia membentak dengan nyaring, tubuhnya sedikit
merendah, jari tengah serta jari telunjuk dari tangan kanannya
berturut-turut disentil dengan memecah udara bagaikan kilat
cepatnya menghajar tubuh si lelaki berusia pertengahan itu.
Dalam hati lelaki berusia pertengahan itu pun merasa
sangat terperanjat, ketika dia melihat baru saja melancarkan
serangan Sang Siauw-tan sudah menggunakan ilmu tunggal
dari sinari sakti Sang Su-im membuat perasaan ingin
mengundurkan diri meliputi di dalam hatinya.
Ketika masing-masing tenaga pukulan sudah bentrok
menjadi satu, tubuh merekapun pada mengundurkan diri ke
belakang.
Tampaklah lelaki berusia pertengahan itu berturut-turut
mengundurkan diri tiga empat langkah ke belakang kemudian
melepaskan topi yang dikenakan di atas kepalanya ujarnya
kepada Sang Siauw-tan sambil merangkap tangannya di
depan dada.
“Siauw ceng Husangko sudah salah menyerang Kongcu
sebagai anak murid Sang Loocianpwe, harap kau orang suka
memaafkan dosaku ini.”
Baik Sang Siauw-tan sendiri maupun Koan Ing yang berdiri
di sampingnya pada dibuat melengak semuanya, kiranya
orang yang ada di hadapan mereka sekarang ini bukan lain
adalah jagoan nomor wahid dari daerah Tibet, anak murid Hu
Ing Thaysu, tetapi karena urusan apa dia sampai munculkan
dirinya disini?
Diam-diam Sang Siauw-tan menghembuskan napas dingin,
dalam hati sebetulnya dia merasa sangat tidak gembira tetapi
setelah diketahuinya kalau orang yang ada di hadapannya ini
bukan lain adalah Husangko yang sudah mempunyai nama

amat terkenal di dalam Bu-lim bahkan berlaku begitu hormat
kepada dirinya membuat perasaan jengkelnya pun sudah
tersapu separuh dari dalam hatinya. Dengan dingin dia
mendengus.
Jurus ilmu sakti Thay So Ing yang amat bagus sekali,
Hmm.... kini kereta berdarah sudah memasuki daerah Tibet,
tidak kusangka sama sekali jagoan dari Tibet ternyata masih
punya kegembiraan untuk berpesiar ke daerah Tionggoan.”
Husangko tidak mengambil perduli, dia tersenyum.
“Entah dapatkah kongcu menghantarkan siauw-ceng untuk
bertemu muka dengan Sang cianpwee? Siauw-ceng ada
urusan penting yang hendak dilaporkan kepadanya.”
Ketika Sang Siauw-tan mendengar perkataan dari
Husangko ini sangat serius sekali bahkan jauh2 dari Tibet
datang kemari khusus mencari ayahnya, dia tahu sudah tentu
ada urusan penting yang hendak dibicarakan, dia
mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Tiang Gong Sin-cie adalah ayahku, kau ada perkataan apa,
silahkan laporkan saja kepadaku.” serunya dingin.
Air muka Husangko segera memperlihatkan serba salah, dia
tertawa paksa ujarnya, “Kiranya kau adalah Sang kongcu,
tetapi urusan ini siauw-Ceng sudah mendapat perintah dari
suhu untuk menghadap sendiri kepada Sang cianpwee,”
“Ada urusan apa, asalkan aku menyanggupinya sama saja
seperti ayahku yang menyanggupinya, kau berlega hatilah,”
seru Sang Siauw-tan kembali dengan hati kurang puas.
Husangko tidak bisa berbuat apa-apa lagi, terpaksa dia
termenung berpikir beberapa saat lamanya,
“Tetapi urusan ini mempunyai sangkut paut yang amat
besar sekali,” ujarnya kemudian, “Bukan saja ada sangkut
pautnya dengan kereta berdarah itu, bahkan mempunyai

sangkut paut yang amat besar sekali dengan tiga manusia
genah, empat manusia aneh dari Bu-lim, aku kira.... ”
Sang Siauw-tan yang mendengar dia berbicara demikian
dia orang benar-benar dibuat tertegun, dia sama sekali tidak
menyangka urusan ternyata menyangkut hal yang demikian
besarnya, urusan tentang ayahnya dia masih mengetahui
sedikit-dikit, tetapi urusan yang menyangkut juga diri tiga
manusia genah,.... dia mana bisa tahu?
Tetapi kini Koan Ing ada di hadapannya, dia mana mau
memperlihatkan kelemahannya? Alisnya segera dikerutkan
rapat-rapat ujarnya, “Baiklah, aku yang tanggung semuanya.”
Dengan keadaan serba salah Husangko melirik sekejap ke
arah Koan Ing.
“Saudara ini.... ”
Koan Ing yang melihat mereka berdua hendak
membicarakan sesuatu urusan yang penting, segera dia orang
merasakan tidak enak untuk tetap tinggal disana terus, bara
saja hendak mengundurkan diri dari sana mendadak terdengar
Sang Siauw-tan sudah berbicara, “Dia orang tidak mengapa,
bahkan dalam sakunya menggembol pula pedang pusaka Hiatho
Sin-pie jadi kedudukannya pun sebagai seorang
ciangbunjin, urusan penting yang menyangkut keadaan Bu-lim
memang seharusnya diapun mengetahui sedikit.
Mendengar perkataan ini dengan pandangan penuh rasa
terkejut Husangko melirik sekejap ke arah Koan Ing.
Koan Ing walaupun di dalam hatinya merasa sangat tidak
senang karena Sang Siauw-tan sudah mengungkit-ungkit soal
pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie tetapi terpaksa diapun
berpura-pura tidak mengetahui akan hal ini.
Husangko berbatuk-batuk sebentar, sesudah melirik
kembali ke arah diri Koan Ing ujarnya sambil menundukkan
kepalanya.

“Selain persoalan munculnya kereta berdarah ke dalam
daerah Tibet, di dalam daerah Tibet sendiri sudah terjadi
banyak peristiwa, walaupun suhuku belum pernah bertemu
muka dengan suhumu tetapi dia sudah lama ingin bertemu
dengan dia orang tua.” Mendadak dia menutup mulutnya
kembali, lama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.
Sejak dahulu Sang Siauw-tan sudah mendengar kalau Hu
Ing Thaysu merupakan seorang pendeta berilmu tinggi dari
daerah Tibet, kehebatan dan kepandaian silatnya itu jauh
melebihi empat manusia aneh dari daerah Tionggoan, ini hari
seorang jago yang ilmunya jauh lebih tinggi ternyata sudah
datang minta bantuan kepada ayahnya hal ini sudah tentu
membuat hatinya terasa amat girang sekali, dia kepingin
Husangko mau cepat-cepat mengatakannya keluar.
“Sebenarnya sudah terjadi urusan apa?” desaknya terus.
Husangko menarik napas panjang, mendadak tangan
kanannya di tepuk ke depan menghajar dada Sang Siauw-tan.
Sang Siauw-tan sendiri sama sekali tidak menduga
Husangko bisa turun tangan secara mendadak, dia menjerit
kaget tubuhnya siap-siap menghindarkan diri ke sebelah
kanan,
Tetapi Husangko sebagai anak murid yang tertua dari Hu
Ing Thaysu pula sebagai seorang jagoan berkepandaian tinggi
dari daerah Tibet, sudah tentu tenaga dalamnya jauh lebih
tinggi dari diri Sang Siauw-tan, apalagi kini dia melancarkan
serangan secara tiba-tiba, serangannya tersebut dengan tepat
menghajar pundak kanannya.
Koan Ing yang melihat secara tiba-tiba Husangko
melancarkan serangan menghajar pundak kanan Sang Siauwtan,
hatinya terasa amat terperanjat, dia membentak keras
sedang telapak tangan kanannya dengan keras menghajar
punggung Husangko itu.

Tetapi gerakan dari Husangko amat cepat sekali, jauh
berbeda diluar dugaannya, baru saja dia melancarkan
serangan Sang Siauw-tan sudah berhasil dihantam luka.
Agaknya Husangko sudah menduga sejak tadi kalau Koan
Ing bisa melancarkan serangan ini, begitu serangannya
dengan cepat berhasil menghajar rubuh Sang Siauw-tan,
tubuhnya dengan cepat berjongkok ke bawah, tangannya
dibalik dan lima bilah pisau terbang dengan amat cepatnya
meluncur ke arah tubuh Koan Ing.
Koan Ing dengan keras membentak, kaki kanannya
membentuk setengah busur di tengah udara dan dengan amat
tepatnya dia berhasil menghindarkan diri dari kelima belah
pisau terbang tersebut, sedang tangan kanannya tidak mau
ambil diam dengan membantu gerakan busur dia
menghantam batok kepala dan Husangko.
Husangko sama sekali tidak menduga Koan Ing bisa
berganti jurus dengan begitu cepatnya, tenaga dalamnyapun
begitu tinggi, Dengan sekuat tenaga tubuhnya menghindar ke
samping meskipun demikian tak urung jubah yang dipakainya
berhasil di cengkeram oleh Koan Ing sehingga meninggalkan
lima buah sobekan yang amat besar.
Tubuhnya bagai kitiran berputar terus di tengah udara
kemudian melayang turun ke atas tanah, bersamaan pula dia
memperdengarkan suara suitan yang amat nyaring sekali.
Sebuah sampan kecil dengan cepatnya meluncur mendekat.
Husangko sedikitpun tidak mau berhenti lagi, tubuhnya
dengan cepat bergerak melayang ke arah sampan kecil itu.
Koan Ing yang melihat serangannya mencapai sasaran
kosong dia dibuat melengak pada saat itulah tubuh Husangko
sudah melayang menuju ke arah perahu sampan tersebut.
Sang Siauw-tan yang berhasil kena hajar dengan
terhuyung-huyung dia mundur dua langkah ke belakang, kini
melihat Husangko mau meninggalkan tempat itu, dengan

dinginnya dia mendengus tanpa mengucapkan sepatah
katapun tubuhnya meloncat ke tengah udara kemudian
dengan amat cepatnya mengejar ke arah diri Husangko.
Koan Ing melihat wajah Sang Siauw-tan amat pucat sekali
segera tahu kalau luka yang dideritanya tidak ringan, di dalam
keadaan terluka parah dia orang mana boleh mengejar diri
Husangko?
Tubuhnya dengan cepat meloncat ke tengah udara,
bagaikan burung bangau sakti tubuhnya
melayang membentuk gerakan busur kemudian dengan
cepatnya melayang turun ke arah perahu sampan tersebut.
Tampaklah olehnya Tubuh Sang Siauw-tan yang ke tengah
udara baru saja mencapai di separuh jalan mendadak dia
mendengus berat, tubuhnya dengan amat beratnya pula jatuh
ke atas tanah.
Sejak tadi Koan Ing sudah mengadakan persiapan,
tubuhnya dengan Cepat menekuk sedang tangan kirinya
menyambar ke depan menahan pinggang diri Sang Siauw-tan,
ketika matanya memandang pula ke depan, saat itu perahu
yang mereka tumpangi sudah berlayar kembali sedang
bayangan dari Husangko yang ada di atas perahu sampan itu
pun sudah mulai bergerak menjauhi dirinya.
Hatinya terasa berdesir, kini dia menggendong seseorang
sedangkan kepandaian silat dari Hosangkopun amat tinggi
sekali jikalau dirinya tidak berhasil menaiki sampan itu tentu
tubuhnya akan terjatuh ke dalam air, jika cuma dia seseorang
hal ini tidak mengapa tetapi saat ini Sang Siauw-tan sudah
jatuh tak sadarkan diri, apalagi luka yang dideritanya tidak
ringan jikalau sampai terjatuh ke dalam air bukankah ke adaan
akan bertambah celaka?
Suatu ingatan segera berkelebat di dalam hatinya, dia
harus menggunakan paksaan untuk menaiki sampan tersebut.

Tubuh Koan Ing dengan cepat menubruk lebih mendekat,
terdengar Husangko tertawa dingin tangan kanannya dengan
menggunakan tenaga penuh melancarkan satu serangan
dahsyat menghajar tubuh Sang Siauw-tan.
Melihat hal ini Koan Ing menjadi amat gusar sekali,
bukannya menyerang kepada dia, orang sebaliknya
melancarkan serangan ke arah Sang Siauw-tan, hal ini jelas
sekali memperlihatkan kalau orang itu amat licik dan kejam
sekali.
Dengan dinginnya dia mendengus, tangan kanannya
dibalik, pedang Kiem-hong-kiam sudah dicabut keluar dari
sarungnya, dengan membentuk gerakan busur pedangnya
dengan amat cepatnya membabat pergelangan tangan
Husangko.
Husangko Yang melihat munculnya pedang Kiem-hongkiam
hatinya merasa berdesir juga. bukankah pedang itu
merupakan pedang milik si Thian-yu Khei Kiam Kong Bun-yu,
salah satu dari empat manusia aneh?
Serangan pedang itu amat cepat dan tepat sekali, kecuali
dia menarik kembali serangannya, tidak ada jalan lain lagi
untuk menghindarkan diri dari serangan itu.
Pikiran Husangko dengan cepat berputar tidak perduli
bagaimanapun tugas yang di terimanya untuk datang ke
daerah Tionggoan sudah terlaksana dengan sempurna,
asalkan dia berhasil mendesak Koan Ing terjauh ke dalam air
maka tugasnya berarti sudah selesai pula.
Pergelangan tangan kanannya segera ditekuk ke bawah
berganti jurus, dari serangan telapak diubah menjadi
cengkeraman. Lima jarinya dengan menggunakan jurus ‘Kiem
Kong Na Koei’ atau tangan besi menangkap setan
mencengkeram dada Koan Ing.
Keadaan dari Koan Ing saat ini benar-benar sangat
berbahaya sekali, pedang panjang di tangan kanannya dengan

cepat dibalik membentuk gerakan busur kembali mendesak
minggir cengkeraman dari Husangko ini, bersamaan pula kaki
kanannya menginjak tepian sampan, gagang pedangnya
dengan membentuk gerakan busur di tengah udara
dihantamkan ke atas iga Husangko.
Husangko menjadi amat terperanjat, dia sama sekali tidak
menduga gerakan dari Koan Ing ternyata bisa begitu cepatnya
kepandaian silatnya memang sudah tidak bisa menandingi diri
Koan Ing, apalagi kini tubuh Koan Ing sudah ada di atas
perahunya, di dalam keadaan terperanjat dia menghindar satu
langkah ke samping.
Sekali lagi Koan Ing membentak keras dengan cepat dia
melancarkan serangan kembali dengan menggunakan ‘Lian
Hoan Sam Ci’ atau tiga serangan berantai dari ilmu sakti
Thian-yu Khei dan baru saja Husangko mengangkat kakinya,
tangan kanan Koan Ing dan arah bawah menuju ke atas
dengan cepatnya sudah menyerang jalan darah Ci Bun di
bawah ketiak kanan dari Husangko,
Serangan “Lian Huan Sam Ci” ini amat dahsyat sekali,
bukan saja gerakannya laksana berputarnya angin topan
bahwa letak arah serangannya tertutup dengan gerakan
busur, sudah tentu Husangko tidak akan menyangka akan hal
ini,
Kini serangan dari Koan Ing dengan cepatnya sudah
mendekati tubuh Husangko, cepat-cepat dia menghindarkan
diri dari ancaman jalan darah “Ci Bun” ini, tapi baru saja
tubuhnya miring ke samping, mendadak serangan dari Koan
Ing dengan amat dahsyatnya sudah menghajar di atas iga
Husangko sehingga seketika itu juga tulang iganya terhajar
patah, tak kuasa lagi tubuhnya terjatuh ke dalam sungai itu,
Koan Ing segera mengerutkan alisnya, tubuhnya dengan
perlahan berputar ke belakang, Hweesio lainnya yang ada di
ujung perahu itu dengan cepat melarikan diri dengan
terjunkan diri ke dalam sungai,

Saat itulah dia baru menghembuskan napas lega, melihat
perahu yang ditumpanginya sudah berlayar jauh dengan
perlahan dia meletakkan tubuh Sang Siauw-tan ke atas
sampan tersebut.
Sang Siauw-tan yang jatuh tak sadarkan diri karena terluka
parah kini sudah sadar kembali dari pingsannya, dia
menengok ke sekelilingnya di dalam sekali pandang saja dia
sudah tahu apa yang telah terjadi, dengan sekuat tenaga dia
berusaha untuk bangkit berdiri.
Koan Ing melihat Sang Siauw-tan dengan ngotot berusaha
bangkit berdiri sehingga wajahnya pun sudah berubah
memerah segera menggerakkan bibirnya hendak mengatakan
sesuatu, tetapi baru saja kata-katanya mendekati mulut, entah
karena apa mendadak dia menelan kembali perkataan yang
hendak dikeluarkan itu.
Sang Siauw-tan tidak mengucapkan sepatah katapun,
matanya dengan sayu memandang ke tempat kejauhan, dia
sama sekali tidak mengira dirinya bisa mendapatkan malu
dihadapan Koan Ing, bahkan dirinya terima bokongan orang
lain tanpa bisa melancarkan serangan balasan, hal ini sungguh
merupakan suatu peristiwa yang sangat memalukan sekali.
Semakin berpikir hatinya merasa semakin sedih, dia terasa
semakin murung, dia kepingin sekali menangis tersedu-sedu
dengan amat kerasnya untuk melampiaskan kemangkelan
hatinya, tetapi sekarang Koan Ing masih ada disini, dia merasa
malu untuk meneteskan air matanya.
Dia tak tahu kenapa di dalam perpisahan yang hanya dua
bulan ini kepandaian silatnya bisa memperoleh kemajuan yang
demikian pesatnya, bahkan sekali lagi Koan Ing menolong
nyawanya, dalam hati dia merasa hatinya sangat benci
terhadap diri Koan Ing, memang sangat mengherankan dia
harus membenci dirinya? Bukankah dirinya dengan Koan Ing

sama sekali tidak ada dendam sakit hati apapun? Dan lagi
kenapa Koan Ing mau turun tangan menolong dirinya?
Dengan perlahan Koan Ing menoleh ke arah Sang Siauwtan.
tampaklah wajahnya saat ini semakin memerah sehingga
seperti kepiting rebus.
Entah kenapa mendadak hatinya terasa amat cemas sekali,
dia tidak berani memandang diri Sang Siauw-tan kembali,
kepalanya dengan perlahan dialihkan ke arah sungai, apa
yang sedang dipikirkan di dalam hati kecilnya? Sang Siauwtan?
Entahlah.
Mendadak dia merasakan bahwa dirinya sedikit tertarik oleh
sinar kecantikan dari Sang Siauw-tan, segera makinya kepada
diri sendiri, “Kenapa aku ini? Dendam ayahku belum terbalas
bagaimana aku sudah menaruh perasaan cinta kepada gadis
lain?”
Alisnya dikerutkan rapat-rapat, dia tertawa ringan
kemudian angkat kepalanya ke atas.
Saat itu Sang Siauw-tan sedang merogoh ke dalam sakunya
mengambil keluar sebuah botol obat dan mengambilnya
sebutir untuk kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
Air sungai mengalir dengan tenangnya, angin bertiup sepoisepoi
membuat udara terasa amat nyaman.
Di atas sebuah perahu besar yang berlayar dengan lajunya
mengikuti arus sungai duduklah dengan tenangnya dua orang,
yang satu tua yang lain muda.
Perahu layar itu dengan perlahannya mulai mendekati, dari
tempat kejauhan Koan Ing sudah bisa melihat kalau pemuda
itu bukan lain adalah putra dari si iblis sakti dari luar lautan, si
kongcu tak berbudi Ciu Pak adanya.
Melihat hal itu dia menjadi bergidik, bagaimana si kongcu
tak berbudi itu bisa munculkan diri di tempat ini? Di samping
tubuhnya duduklah seorang kakek tua berambut putih dengan

sinar matanya seperti elang tajam sekali, pada tangan
kanannya mencekal sebuah tongkat berwarna hitam pekat
kelihatannya amat angker, apakah orang itu adalah si iblis
sakti dari luar lautan Ciu Tong adanya.
Agaknya saat itu Ciu Tong pun sudah melihat dirinya
bersama-sama dengan Sang Siauw-tan, sepasang matanya
yang amat tajam dengan melotot memandang dirinya berdua.
Perahu semakin lama semakin mendekat, terdengar Ciu
Pak dengan perasaan amat girang berteriak.
“Yah.... Siauw-tan Moay-moay ada disana.... ”
Sang Siauw-tan pun saat itu sudah melihat mereka berdua,
ketika didengarnya Ciu Pak memanggil orang itu dengan
sebutan ayah, hatinya terasa semakin terperanjat, dengan
cepat dia angkat kepalanya memandang sekejap ke arah
orang tua itu.
Orang itu memang bukan lain adalah iblis sakti dari luar
lautan, Ciu Tong adanya, sungguh tidak terkira pada saat
seperti ini dia sudah munculkan dirinya di daerah Tionggoan
apa yang dicari olehnya?
“Siauw-tan Moay-moay, ayoh kemari, cepat naik ke atas
perahu!” terdengar dengan suara keras Ciu Pak sudah
berteriak-teriak dari ujung perahu.
Di tengah suara teriakan itu perahu besar tersebut sudah
berhenti tepat di samping
perahu sampan itu, Ciu Tong dengan pandangan dingin
menyapu sekejap ke arah dua orang itu kemudian ujarnya
kepada diri Sang Siauw-tan. “Kaukah putri dari Sang Loo-te?”
Sang Siauw-tan tahu Ciu Tong sebagai seorang iblis sakti
merupakan seorang manusia yang tidak mudah diganggu, apa
lagi kini ayahnya tidak berada disini, adalah sebaiknya dia
jangan sampai membuat dia orang marah, mendengar
pertanyaan tersebut terpaksa sahutnya sambil tertawa.

“Ciu Pepek, kau baik saja bukan.... ”
Suatu senyuman segera melintasi wajahnya, dia tertawa
perlahan.
“Sungguh tidak kusangka Sang Loo-te bisa mempunyai
seorang putri semacam kau, mari kalian naik kesini semua.”
“Ayah,” tiba-tiba timbrung Ciu Pak yang ada di sampingnya.
“Orang yang ada di samping Siauw-tan Moay-moay itu adalah
Koan Ing.”
“Ooooh.... ”
Dengan pandangan amat tawar Ciu Tong memperhatikan
sekejap ke arah diri Koan Ing, kemudian ujarnya, “Sudah lama
Kong Loo-te tidak kelihatan, tidak kusangka sama sekali dia
sudah menerima seorang murid yang begitu bagus semacam
kau, heee.... tidak kusangka ini hari aku bisa bertemu dengan
angkatan-angkatan muda dari kawan-kawan ku dahulu,
apakah suhumu baik-baik saja selama ini?”
“Supek baik-baik saja, terima kasih atas perhatian dari
cianpwee,” jawab Koan Ing tertawa.
Segera Ciu Tong mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Oooooh.... kiranya kau anak murid dari Cu Yu!” serunya
kemudian semakin tawar.
Saat itu tangga sudah diturunkan, terdengar secara tibatiba
Ciu Pak bertanya kepada ayahnya, “Ayah, apakah bocah
cilik itu juga diperbolehkan naik?”
Sang Siauw-tan sejak dulu memangnya sudah membenci
diri Ciu Pak, kini dia segera tertawa tawar.
“Ciu Pepek.... ” ujarnya sambil tertawa. “Aku tidak akan
naik, ayahkupun sedang menanti diriku ditepian sebelah
sana.”

“Oooh itu lebih bagus lagi!” seru Ciu Tong tawar. “Cepat
kau naiklah ke atas perahu, aku memangnya sedang cari
ayahmu, sudah sepuluh tahun lamanya aku tidak bertemu,
mari kita bersama-sama pergi mencari dia orang.”
Dalam hati Sang Siauw-tan semakin bingung lagi
dibuatnya, di dalam hatinya dia benar-benar tidak ingin naik
ke atas perahunya baru saja dia hendak membantah kembali,
mendadak terdengar Ciu Pak sudah membuka mulut,
“Siauw-tan Moay-moay, apakah kau tidak mau naik
keperahu kami?” ujarnya tawar, “Luka yang kau derita belum
sembah benar-benar sedang Sang Pepekpun ada ditepi sana,
aku kira tentunya kalian tidak akan takut terhadap kami
bukan?”
“Hmmm, kenapa aku harus takut kepadamu?”
Dia tersenyum.
“Ciu pepek kau hendak kemana?”
Sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak pernah bertemu
dengan kawan lama, sekarang sengaja berjalan-jalan keluar
untuk mencari mereka.
Sang Siauw-tan segera tertawa, dia tahu Ciu Tong tentu
hendak berangkat menuju ke daerah Tibet, tetapi dia tidak
ingin memecahkan rahasia ini, ujarnya sambil menoleh ke
arah Koan Ing.
“Mari kitapun ikut naik kesana.... ”
Sehabis berkata dia mulai menaiki tangga itu.
Koan Ing ragu-ragu sebentar, tetapi ketika teringat akan
luka dari Sang Siauw-tan yang masih belum sembuh dan
mengetahui juga Ciu Tong ayah beranak jadi orang sangat
berbahaya sekali terpaksa diapun ikut naik ke atas perahu
tersebut.

Ciu Pak yang selama ini melihat sikap Sang Siauw-tan
dengan Koan Ing amat mesra sekali, dalam hatinya terasa
amat cemburu, dia melirik sekejap ke arah ayahnya, tetapi Ciu
Tong sama sekali tidak memberikan komentar.
Ooo)*(ooO
Bab 7
CIU PAK segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, ketika
dilihatnya Sang Siauw-tan naik ke atas tangga perahu dia
segera mengulurkan tangannya sambil tertawa. “Siauw-tan
Moay-moay, mari aku bantu kau naik ke atas.... ”
“Hmm, tidak perlu!” seru Sang Siauw-tan sambil
menghindarkan diri ke samping.
Sejak tadi Ciu Pak sudah menduga kalau Sang Siauw-tan
tidak akan membiarkan dirinya dibantu dia orang naik ke atas
perahu tetapi tujuannya yang sebenarnya tidak ada pada situ,
mendadak tangan kanannya dibalik dengan kerasnya dia
melancarkan satu serangan bokongan menghajar pundak
Koan Ing bentaknya nyaring, “Ayoh turun....!”
Koan Ing tidak bersiap sedia dia sama sekali, tidak
menyangka kalau Ciu Pak bisa melancarkan serangan
bokongan pada saat seperti ini, tetapi saat ini tenaga
dalamnya sudah mencapai amat tinggi sekali, dia bukanlah
Koan Ing tempo hari. Koan Ing sekarang
jauh lebih hebat berpuluh-puluh kali lipat.
Pikirannya dengan cepat berputar, tubuhnya miring ke
samping menerima hajaran dari tangan Ciu Pak ini, dia
mendengus berat tapi tangannya tidak berdiam diri,
mendadak tangan kanannya diayun mencengkeram tangan
kanan dari Ciu Pak.
Dengan cepat tenaganya dikerahkan.
Braak....!

Dengan amat tepat sekali dia berhasil menarik tubuh Ciu
Pak tercebur ke dalam sungai, sedang tubuhnya dengan
meminjam kesempatan itu meloncat naik ke atas perahu.
Begitu tubuh Koan Ing mencapai permukaan perahu,
dengan pandangan amat dingin dia melirik sekejap ke atas
tubuh Ciu Tong.
Air muka Ciu Tong sedikit berubah, tetapi dia tidak
memperlihatkan gerakan apa-apa, cuma dengan pandangan
amat tawar dia melirik sekejap ke arah diri Koan Ing.
Koan Ing yang melirik gerak-gerik dari Ciu Tong segera dia
tahu kalau dia orang sudah terlalu pandang tinggi
kedudukannya sehingga tidak mau bergerak dengan dirinya.
Saat itulah dirinya baru menghembuskan napas lega, walau
pun pundak kirinya yang terkena hajaran terasa sedikit sakit
tetapi untung saja serangannya tersebut tidak berat sehingga
tidak sampai membuat dia terluka.
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing berhasil menarik
tubuh si kongcu tak berbudi masuk ke dalam sungai tak terasa
lagi sudah memberikan sebuah senyuman manis kepadanya.
Terhadap jatuhnya Ciu Pak ke dalam sungai Ciu Tong sama
sekali tidak melirik barang sekejappun, pandangannya yang
amat dingin dengan perlahan-lahan di alihkan ke atas wajah
Koan Ing, dia sama sekali tak menyangka kalau kepandaian
silat yang dimiliki Koan Ing jauh di atas Ciu Pak sendiri.
Selama ini terus menerus menganggap Ciu Pak sebagai
jagoan berkepandaian tinggi dari murid angkatan kedua, kini
dia sudah dikalahkan oleh Koan Ing membuat dia orang
dengan pandangan terpesona memandang tajam diri Koan
Ing. “Kau apa benar-benar anak murid dari Cu Yu?” tanyanya
perlahan. “Aku tidak punya kegunaan untuk menipu dirimu.”

Saat itu dengan perlahan Ciu Pak sudah memanjat naik ke
atas perahu, tiba-tiba Ciu Tong melirik sekejap ke arahnya
sambil perintahnya.
“Ehmm.... coba kau sekali lagi minta beberapa petunjuk
dari diri Koan Ing.”
Dengan pandangan amat gusar Ciu Pak melirik sekejap ke
arah Koan Ing tadi benar-benar sudah membuat dia
kehilangan muka, dia sama sekali tidak menyangka kalau
kepandaian ilmu silat Koan Ing sudah memperoleh kemajuan
yang demikian tingginya.
Dia merasa gemas dan benci karena Koan Ing sudah
membikin dia malu di depan muka Sang Siauw-tan, kini
mendengar ayahnya menyuruh dia orang menjajal kembali
ilmu silat dari Koan Ing, tubuhnya dengan cepat berkelebat
berturut-turut dia melancarkan tiga serangan gencar ke arah
Koan Ing,
Koan Ing pun tahu keanehan dan kelihaian ilmu silat Ciu
Pak- bilamana dia harus kehilangan kesempatan lagi
kemungkinan sekali dia orang akan menerima rugi yang amat
besar.
Berpikir sampai disitu, tubuhnya dengan cepat berkelebat
ke samping untuk kemudian bergeser pula tiga langkah ke
belakang bahkan hal ini hampir-hampir tidak mungkin bisa
terjadi, karena Koan Ing tidak akan mau memperlihatkan
kelemahannya di depan mata Sang Siauw-tan.
Tetapi saat ini tidak ada kesempatan buat dia orang untuk
berpikir panjang, begitu Koan Ing mengundurkan dirinya ke
belakang dia segera mendesak kembali ke depan, ejeknya,
“Hey Koan Ing, sekarang kau orang mau melarikan diri
kemana?”
Tiba-tiba kaki kanan Koan Ing membentuk gerakan busur,
dengan cepatnya dia melemparkan tendangan kilat
mengancam tumitnya,

Ciu Pak mendengus dengan amat dingin, dia percaya
dengan ilmu mayat membusuk dari lautan Timur yang
dimilikinya sekarang ini dia ingin menghancurkan Koan Ing di
dalam serangannya ini, terhadap serangan tendangan yang
dilancarkan Koan Ing barusan ini dia sama sekali tidak ambil
perduli, mendadak tangan kanannya dibalik mengancam jalan
darah Sin Cuang hiat pada leher Koan Ing,
Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat, ketika dia
orang melihat ternyata Ciu Pak berani menerima
tendangannya dengan keras lawan keras membuat dia
mendengus dengan dinginnya, ujung kaki kanannya dengan
cepat menghajar tumit kaki Ciu Pak.
Ujung kakinya yang tepat menghajar tumit Ciu Pak segera
merasakan kakinya itu keras bagaikan baja agaknya
persendiannya sudah terbuyarkan oleh serangannya itu.
Hatinya menjadi amat terperanjat, tubuhnya dengan cepat
menghindar ke samping tetapi pada saat yang bersamaan pula
lima jari dari Ciu Pak sudah menyambar di belakang lehernya,
terasa segulung angin yang amat dingin menyambar datang
membuat dia orang saking terkejutnya keringat dingin
mengucur keluar dengan amat derasnya.
Terdengar Ciu Pak mendengus dengan beratnya. air
mukanya berubah menjadi pucat pasi sedang tubuhnya berdiri
tak bergerak, jelas sekali dia sudah mendapatkan serangan
yang tepat menghajar badannya.
Melihat kejadian itu Ciu Tong segera mendengus dingin, dia
tahu pemuda yang ada di hadapannya ini jelas sudah
memperoleh seluruh pelajaran ilmu silat aliran Thian-yu,
kehebatan dari tenaga dalamnya jauh melebihi diri Ciu Pak.
Pikirannya dengan cepat berputar, dia tahu manusia
semacam Koan Ing ini tidak bisa ditinggal lebih lama lagi,
bilamana dia orang adalah anak murid dari Kong Bun-yu
dirinya bagaimanapun juga masih merasa sedikit jeri, tetapi

dia mengaku sebagai muridnya Cu Yu, dia orang tidak usah
merasa ragu-ragu lagi,
“Hey orang muda,” terdengar Ciu Tong berkata dengan
suara yang amat dingin, “kepandaian silatmu tidak jelek.”
Walaupun Koan Ing berhasil memperoleh kemenangan
tetapi kini Ciu Tong ada di sampingnya dalam hati diapun
merasa sedikit jeri, mendengar perkataan tersebut segera dia
mengerti apa maksud dari Ciu Tong itu.
“Aaah mana, mana.... cuma api kunang-kunang tidak bisa
dikatakan bagus.... ” Ciu Tong tersenyum.
“Orang muda kau jangan terlalu pandang rendah dirimu,
saat ini dari angkatan kedua, orang yang bisa memiliki
kepandaian silat setinggi kau boleh dikata cuma kau seorang
saja.”
Ciu Pak yang mendengar ayahnya sudah membuka mulut
terpaksa dengan terpincang-pincang dia mengundurkan diri ke
samping, tendangan dari Koan Ing tadi benar-benar di luar
dugaannya, dia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu
mayat membusuknya bisa terpecahkan oleh serangannya
tersebut.
Koan Ing melirik sekejap ke arah Ciu Pak, dia tertawa
tawar, saat ini dia tidak tahu Ciu Tong begitu memuji dirinya
entah mempunyai maksud baik atau maksud jahat terhadap
dirinya, bagaimanapun juga dia merasa bangga juga.
Sekali lagi dia tertawa. “Cianpwee, kau terlalu memuji.”
Ciu Pak pun tertawa dengan perlahan, dia menoleh ke
tengah sungai ujarnya perlahan.
“Di dalam Bu-lim semua orang tahu kalau beberapa
turunan Toocu dari pulau Ciat Ie To di lautan Timur paling
gemar menggunakan obat-obatan, tapi tak seorang pun yang
tahu apa tujuan dari pihak Ciat Ie To kami untuk
menggunakan obat-obatan tersebut....

Sambil berkata sinar matanya dengan perlahan menyapu
sekejap diri Koan Ing, ujarnya
kemudian, “Mungkin ini hari kau orang mau mencobacobanya.”
Koan Ing yang disapu oleh pandangan mata Ciu Pak segera
merasakan hatinya bergidik, tetapi suatu pergolakan yang
amat keras mempertahankan dirinya, dia menarik napas
panjang-panjang dengan sikap seperti orang tidak paham
tanyanya, “Boanpwee tidak tahu apa maksud dari perkataan
Cianpwee, harap kau orang suka menjelaskan.”
Ciu Tong tertawa dingin, sepasang tangannya ditepuk
beberapa kali, dan dalam ruangan perahu itu segera meloncat
keluar dua orang pemuda berbaju hitam yang wajahnya amat
pucat pasi dan menakutkan sekali, agaknya mereka berdua
belum pernah terkena sinar matahari.
Sang Siauw-tan yang melihat munculnya kedua orang itu
dalam hati diam-diam merasa amat terkejut, kini perahu
berlayar terus dengan lajunya sedang jarak dengan tepi
pantaipun amat jauh, kelihatan sekali Ciu Tong sama sekali
tidak bermaksud untuk menemui ayahnya, mereka berdua
entah sedang memainkan peranan siasat licik apa?
Kedua orang berbaju hitam itu begitu meloncat keluar dari
dalam ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun segera
menggunakan pedangnya masing-masing melancarkan
serangan ke arah Koan Ing.
Melihat hal itu Koan Ing menjadi amat terkejut bercampur
gusar, dia sama sekali tidak menyangka Ciu Tong hendak
membinasakan dirinya di tempat ini.
Tangan kanannya dengan cepat dibalik.
“Crrriinng....!” pedang Kiem-hong-kiam sudah dicabut
keluar dari sarungnya.

Begitu pedang tersebut muncul di hadapan mereka, kedua
orang itu segera berpisah menjadi dua bagian, yang satu dari
kiri yang lain dari kanan bersama-sama membabat pinggang
Koan Ing.
Koan Ing dengan cepat menggetarkan pedangnya
kemudian dengan keras lawan keras menahan datangnya
serangan kedua orang itu.
Pada saat dia sedikit berayal itulah kedua orang itu dengan
kecepatan bagaikan kilat sudah melancarkan enam serangan
sekaligus.
Melihat hal itu Koan Ing menjadi sangat gusar, walaupun
mereka berdua melancarkan serangan dengan amat cepat
tetapi sama sekali tidak mengadakan pertahanan buat mereka
sendiri, dia segera mengerti kedua orang itu tentu sengaja
dikirim Ciu Tong untuk mengadu jiwa dengan dirinya.
Dengan gusarnya dia bersuit nyaring, pedang panjangnya
digetarkan, di tengah-tengah suara dengungan yang amat
keras, pedang Kiem-hong-kiamnya segera berubah bentuk
menjadi gerakan setengah busur, dengan amat cepatnya dia
berhasil memunahkan keenam serangan gencar itu.
Begitu Koan Ing mengeluarkan pedangnya Ciu Tong
sekalian segera merasa amat terperanjat bukankah pedang
Kiem-hong-kiam yang ada di tangan Koan Ing sekarang ini
merupakan tanda kepercayaan dan ciangbunjin Thian-yu-pay,
ketika melihat lagi pada gerakan pedang, segera mereka
mengetahui gerakan tersebut bukan lain merupakan ilmu Sim
Hoat dari Thian-yu Jie su-kiam, hati mereka semakin
terperanjat lagi.
Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat, tubuh kedua
orang yang ada di tengah udara kini terbuka suatu lubang
kelemahan, agaknya mereka sama sekali tidak takut kalau
Koan Ing melancarkan serangan menusuk ke arah mereka.

Pertengkaran antara Cu Yu serta suhengnya Thian-yu Khei
Kiam Kong Bun-yu mereka sudah pernah mendengar,
bagaimana sekarang Kong Bun-yu mau menyerahkan pedang
Kiem-hong-kiamnya kepada dia?
Terpikir akan hal ini diam-diam Ciu Tong merasa menyesal
sekali, selama hidupnya Kong Bun-yu jadi orang amat
congkak, jikalau kini muridnya diganggu mana dia orang mau
berdiam diri? pulau Ciat Ie To-nya mungkin akan diobrak-abrik
olehnya. Tetapi urusan kini sudah berjalan, menyesalpun tak
ada gunanya lagi.
Kedua orang pemuda berbaju hitam itu ketika melihat
keenam buah serangan mereka berhasil dipukul balik berturutturut
melancarkan kembali delapan serangan gencar, agaknya
mereka sama sekali tidak punya maksud untuk mengundurkan
diri.
Dengan dinginnya Koan Ing mendengus, tangan kanannya
diayun pedang panjangnya dengan menggunakan jurus Thian
Hong Ih Wie atau pelangi merah menutupi ekor melancarkan
serangan mengancam tangan ke dua orang itu, segera
terlihatlah sinar emas yang menyilaukan mata memenuhi
seluruh angkasa disertai desiran angin serangan yang amat
tajam.
Tetapi kedua orang itu seperti tidak melihat datangnya
serangan gencar itu, kedua bilah pedang mereka yang satu
mengancam alis Koan Ing sedang yang lain menusuk ke arah
lambungnya.
Dalam hati Koan Ing segera merasakan hatinya amat
mendongkol sekali, dia sama sekali tidak menyangka kalau
orang itu bisa begitu tololnya, dia ingin menggunakan
lengannya untuk ditukar dengan nyawanya sendiri, segera
pikirnya di dalam hati, “Hmmm, aku mau lihat kalian bisa
menyerang aku tidak?”

Jurus-jurus serangan yang digunakan kedua belah pihak
amat aneh dan cepat sekali,
sebenarnya Koan Ing bermaksud menggunakan jurus ini
untuk mendesak mereka berdua sehingga menarik kembali
serangannya, tetapi dia tidak menyangka akan hal ini dalam
keadaan bingung dia segera meloncat naik ke atas.
Sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat urusan sudah
menjadi begitu rupa, orang tidak mau ambil perduli lagi,
pedangnya dengan cepat berkelebat kedua buah lengan orang
itu sudah terkena babatan sehingga putus menjadi dua
bagian, darah segar mengucur keluar dengan derasnya tetapi
mereka berdua sama sekali tidak merasakan akan hal ini.
Koan Ing tidak berani pikirkan bayangan yang kedua,
tangan kirinya segera dibabatkan ke depan sedang tubuhnya
menjatuhkan diri ke arah belakang, dimana tangannya
berkelebat segera membentuk sebuah gerakan busur di
tengah udara.
Dimana tangan kanannya berkelebat dengan amat
cepatnya dia berhasil menangkis seluruh serangan yang
dilancarkan ke dua orang itu ke arahnya.
Jurus serangan yang digunakan Koan Ing ini bukan lain
adalah jurus serangan yang diciptakan Kong Bun-yu sewaktu
ada di ruangan bawah tanah, ilmu pedang ‘Thian-yu Jie sukiam’
sebenarnya memang sudah lihay dan aneh sekali
dimana serangan bisa digunakan dengan pedang bisa pula
digunakan dengan telapak tangan, kini ditambah lagi
serangannya dilancarkan dengan sepenuh tenaga sudah tentu
kehebatannya luar biasa sekali.
Tempo hari Kong Bun-yu dengan membuang waktu selama
sepuluh tahun lamanya
bermaksud hendak menggabungkan seluruh ilmu silat yang
diketahuinya di dalam Bu-lim untuk menciptakan sebuah ilmu
baru demi persiapan untuk menghadapi pertemuan puncak di

atas gunung Hoa-san di kemudian hari, akhirnya dia berhasil
juga menciptakan ilmu tersebut, tapi akhirnya ilmu-ilmu
semua itu diturunkan semua kepada diri Koan Ing.
Koan Ing yang berhasil menghindarkan diri dari serangan
tersebut segera merasakan keringat dingin mengucur keluar
dengan amat derasnya....
Ciu Tong yang melihat Koan Ing berhasil menghindarkan
diri dari serangan tersebut dalam hati merasa bergidik juga,
dia mengetahui jelas kalau Koan Ing sudah memperoleh ilmu
silat dari Kong Bun-yu muridnya saja sudah begitu lihay sudah
tentu tenaga dalam dari Kong Bun-yu selama sepuluh tahun
ini sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat sekali,
kelihatannya pada pertemuan puncak di kemudian hari di atas
gunung Hoa-san dia harus memperhatikan tiga bagian
terhadap Kong Bun-yu ini, kalau tidak, mungkin sebutan jago
nomor wahid bisa direbut olehnya.
Jilid 4
Baru saja dia berpikir sampai disitu mendadak terdengar
suara yang amat dingin
bergema mendatang, “Ciu heng, kau sungguh gembira
sekali ini hari jauh dari lautan timur berpesiar ke daerah
Tionggoan.”
Ciu Tong agak tertegun dibuatnya, ketika dia angkat
kepalanya tampaklah sesosok bayangan hijau dengan amat
cepatnya berkelebat menuju ke ujung perahunya, orang itu
bukan lain adalah pangcu dari Tiang-gong-pang, si jari sakti
Sang Su-im adanya.
Dia orang yang angkat nama bersama-sama dengan Sang
Su-im masing-masing orang selama sepuluh tahun ini pada
berlatih dengan amat giatnya, bagaimana kemajuan dari

kepandaian silat, yang diperoleh masing-masing pihak mereka
sama sekali tidak tahu, sedang dia sendiripun tidak ingin kalau
Sang Su-im mengetahui jerih payahnya selama beberapa
tahun ini.
Dia segera tertawa, tangannya digape mengundurkan
kedua orang berbaju hitam itu lantas ujarnya.
“Tidak kusangka sama sekali Sang Loo-te bisa datang ke
sini secara begitu mendadaknya, putrimu tadi bilang kau
sedang menunggu mereka di tepian sungai.”
Sang Siauw-tan yang melihat munculnya Sang Su-im di
sana dalam hati merasa amat girang, dengan cepat dia
menubruk maju ke depan sambil panggilnya, “Tia.... ”
Sang Su-im tertawa, dengan perlahan dia miringkan
kepalanya memperhatikan gerak-gerik dari kedua orang
berbaju hitam itu dimana saat itu mereka berdua sedang
memungut putungan lengan mereka kemudian berlari masuk
ke dalam ruangan perahu, diam-diam hatinya merasa teramat
heran, pikirnya. “Ehmm.... bagaimana mereka berdua bisa
bersikap begitu?”
Walaupun pikirannya diperas terus tetapi pada air mukanya
sedikitpun tidak memperlihatkan perubahan apapun, sinar
matanya dengan perlahan dialihkan kembali ke arah si iblis tua
itu,
Ciu Tong yang melihat sinar matanya melirik sekejap ke
arah kedua orang itu hatinya merasa amat kaget, dia benarbenar
tidak menginginkan kalau Sang Su-im berhasil
menemukan sesuatu dari mereka itu, dia tidak ingin sampai
maksud jahat yang sudah disusun selama mi diketahui oleh
pihak lawannya. Segera dia tertawa serak.
“Aaaah tidak mengapa.... tidak mengapa,” ujarnya dengan
cepat. “Mereka berdua baru saja dikutungi lengannya.”

Sang Su-im cuma tertawa tawar saja di dalam hati dia
sudah mempunyai rencana yang tersendiri karenanya dia tidak
ingin memperpanjang persoalan itu kembali,
Sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas wajah
putrinya Sang Siauw-tan, mendadak air mukanya berubah
hebat tanyanya kepada Siauw-tan dengan suara berat.
“Siauw-tan, kau sudah dipukul oleh siapa?”
Sembari berkata matanya melirik sekejap ke arah Ciu Tong.
“Tia, aku sudah dipukul oleh Husangko itu muridnya Hu Ing
Thaysu dari Tibet.”
Mendengar jawaban tersebut Sang Su-im segera
mendengus dengan amat kerasnya, dia tahu walaupun Hu Ing
Thaysu dikatakan sebagai jago nomor wahid dari daerah Tibet
tetapi orang-orang Bu-lim jelas mengetahui kalau kepandaian
silatnya masih belum bisa menandingi kepandaian silat dari
empat manusia aneh, buat apa muridnya sekarang datang ke
daerah Tionggoan untuk mencari gara-gara?
Koan Ing sendiri sama sekali tidak menduga kalau Sang Suim
bisa muncul disana secara mendadak, dia benar-benar
merasa sangat keheranan.
Pada saat Sang Su Iu munculkan dirinya itulah kedua
perahu layar milik perkumpulan Tiang-gong-pang sudah
berlayar mendatang dengan menggencet perahu yang di
tumpangi Ciu Pak, satu dari sebelah kanan yang lain dari
sebelah kiri.
Ciu Tong yang mendengar Sang Siauw-tan terluka di
tangan Husangko itu jagoan dari Tibet, hatinya diam-diam
merasa keheranan mereka semua adalah jago-jago Bu-lim
yang sudah lama berkelana di dalam dunia persilatan, sudah
tentu merekapun tidak percaya kalau urusan bisa terjadi
dengan begitu mudahnya.

Sang Su-im sendiripun tahu peristiwa ini tidak mungkin
terjadi dengan begitu mudahnya, tetapi dia mana mau
membiarkan putrinya mendapatkan kerugian? Sekalipun Hu
Ing Thaysu sendiri yang datang diapun tidak akan
membiarkan putrinya mendapatkan gangguan dari mereka.
Segera dia tertawa dingin, kepada orang yang ada pada
perahu sebelah kanan serunya, “Sampaikan perintah kepada
kedua belas orang Hu Hoat untuk ikut lohu memasuki daerah
Tibet.”
Angin bertiup kencang membuat arus sungai sedikit
berombak, tetapi perkataan yang disampaikan olehnya secara
perlahan ini dapat didengar dengan amat jelas di atas perahu
tersebut., tampak orang ttu segera melepaskan burung
merpati ke udara.
Ciu Tong yang melihat gerak-gerik mereka ini diam-diam
merasa kaget, kelihatannya keorganisasian perkumpulan
Tiang-gong-pang jauh lebih maju lagi daripada tempo hari,
kekuatan tersebut dia tidak boleh memandangnya terlalu
rendah,
Sang Su-im sesudah memberi perintah dia segera putar
badannya menoleh ke arah Ciu
Tong.
“Terima kasih atas bantuan dari Ciu heng kepada siauw
lie,” ujarnya keren. “Di kemudian hari, tentu aku balas budi ini,
kali ini aku tidak bisa menemani lebih lama lagi.”
“Sang Loo-te, jangan keburu pergi!”
Dengan cepat Ciu Tong mencegah sewaktu dia mendengar
Sang Su-im hendak pergi.
“Kita empat manusia aneh selamanya selalu bekerja sama,
jika Hu Ing Thaysu sudah berbuat salah maka satu bagianku
tidak bisa berkurang lagi. Apalagi kereta berdarah kini sudah
memasuki Tibet, persoalan dahulu yang belum diselesaikan

kini bisa kita selesaikan sekalian disana, mari kita berangkat
ber sama-sama.”
Keberangkatan Sang Su-im kali ini ke daerah Tibet di
samping persoalan-persoalan lain, peristiwa kereta berdarah
termasuk juga salah satu tujuannya, kini mendengar Ciu Tong
mau berangkat bersama-sama dengan segera dia
menyanggupi karena dia merasa sudah mendapatkan satu
orang bantuan kembali.
“Kalau begitu bagus sekali,” ujarnya kemudian sambil
tertawa. Ciu Tong pun tertawa.
“Kenapa kalian tidak menumpang perahu ku saja?
Bagaimana kalau kita berlayar
mengikuti arus sungai sampai ke daerah Pa Siok kemudian
baru menggunakan jalan darat melanjutkan perjalanan
menuju ke daerah Tibet?”
Ketika Sang Su-im mendengar Ciu Tong minta dia orang
ikut di dalam perahunya, walaupun dia tahu dengan jelas Ciu
Tong bukanlah seorang manusia baik-baik, tetapi kini dia
orang sudah membuka mulut, sudah tentu dia sendiri tidak
akan mau memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain.
“Baiklah kalau begitu kita putuskan demikian saja,” ujarnya
sambil tertawa. “Biar aku perintahkan kedua belas orang Hu
Hoat untuk memasuki daerah Tibet terlebih dulu, kemudian
kita baru menyusul mereka dari belakang.
Ciu Tong tersenyum, dia melirik sekejap ke arah diri Koan
Ing lalu ujarnya sambil tertawa.
“Ooooh.... aku sudah melupakan seseorang di dalam
perahu ini masih ada lagi seorang ciangbunjin dari Thian-yupay
yang merangkap pula sebagai Ciangbunjin dari Pay.
“Ooooh begitu?” seru Sang Su-im tertahan, dengan
pandangan penuh keheranan dia melirik sekejap ke arah Koan
Ing.

Dia tahu Koan Ing memiliki pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie,
tetapi dalam persoalan ini dia tidak terlalu tertarik karena
kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing sekarang ini, pedang
pusaka Hiat-ho Sin-pie itu pasti ditemukan secara tidak
sengaja.
Sebaliknya jabatan ciangbunjin dari Thian-yu-pay, hal ini
benar-benar membuat ia merasa heran, bagaimana mungkin
Kong Bun-yu bisa memberikan jabatannya itu kepada diri
Koan Ing?
Sang Siauw-tan yang melihat mereka sedang
membicarakan diri Koan Ing, dengan diam-diam segera
bisiknya kepada Sang Su-im.
“Tia, tadi dia orang sudah menolong lagi satu kali
kepadaku.”
Ketika Sang Su-im mendengar Koan Ing adalah ahli waris
dari Kong Bun-yu, dalam hatinya sudah menaruh tiga bagian
perasaan simpatiknya, kini mendengar pula kalau dia sudah
menolong Sang Siauw-tan satu kali, tak terasa lagi dia sudah
melemparkan satu senyuman manis ke arahnya.
Dia tahu hubungan Koan Ing dengan putrinya Sang Siauwtan
tentu amat baik sehingga dia mau berturut-turut
menolong dua kali kepada dirinya, benar-benar dia menaruh
rasa senang kepada ketampanan wajahnya.
Cuma ada satu hal yang membuat dia merasa kecewa,
kepandaian silat yang dimilikinya
terlalu rendah sekali.
Ciu Tong yang melihat Sang Su-im melemparkan satu
senyuman manis kepada diri Koan Ing segera mengetahui
kalau dia orang sudah menaruh rasa simpatik kepada dirinya,
mendadak dalam pikirannya berkelebat satu ingatan.

“Sang Loo-te.... ” ujarnya kemudian. “Aku punya satu
urusan yang hendak dirundingkan dengan dirimu, entah Sang
Loo-te mengijinkan atau tidak?”
“Ciu heng, bilamana ada urusan yang hendak dikatakan,
silahkan berbicara,” ujarnya sambil tertawa senang.
Dia benar-benar merasa amat girang sekali karena Ciu
Tong mau membuka pembicaraan dengan memohon kepada
dirinya, selama ini empat manusia aneh tak ada yang mau
tunduk kepada siapa pun, siapa tahu Ciu Tong sudah
membuka mulut untuk memohon kepada dirinya, sudah tentu
hal ini membual hatinya merasa kegirangan.
Ciu Tong pun tertawa.
“Aku ingin menjodohkan putraku dengan putrimu.”
Sang Su-im menjadi melengak, dia sama sekali tidak
menyangka dia orang bisa mengajukan permintaan di dalam
hal ini semua dia masih mengira Ciu Tong tentu mempunyai
urusan yang meminta bantuan dari dirinya. Tetapi dia sudah
membuka mulut, apa yang harus diperbuat sekarang?
Ciu Pak sendiripun sama sekali tak menduga kalau ayahnya
bisa membuka mulut meminangkan buat dirinya, mendengar
perkataan tersebut dia menjadi sangat girang, sambil
tersenyum senang dia melirik sekejap ke arah diri Sang Siauwtan.
Sebaliknya Sang Siauw-tan sendiri mimpi pun tidak pernah
menyangka kalau Ciu Tong berani membuka mulut melamar
dirinya pada saat ini, dia yang sudah merasa tidak puas
terhadap sifat Ciu Pak dengan cepat melengos ke samping.
Sang Su-im melirik sekejap ke arah putrinya, dia tahu Sang
Siauw-tan sangat benci terhadap pemuda itu, terpaksa dia
tertawa tawar.

“Perkataan dari Ciu heng walaupun siauwte menerimanya,
tetapi untuk mengambil keputusan, siauwte kira masih belum
saatnya.”
Sinar mata Ciu Tong dengan berkelebat, hatinya benarbenar
merasa sangat tidak senang.
“Sang Loo-te. kau merasa putraku dalam hal apa tidak
sesuai?”
Sang Su-im tertawa, dia termenung sebentar kemudian
baru jawabnya, “Ciu heng, kau jangan salah paham, sewaktu
ibunya mendekati ajalnya dia sudah berjanji untuk kawin
dengan seorang pemuda murid dari manusia yang berilmu
paling tinggi di dalam pertemuan para jago yang kedua di atas
gunung Hoa-san.”
Ooo)*(ooO
Bab 8
CIU TONG segera tertawa terbahak-bahak.
“Jikalau orang ini tidak bermurid?” tanyanya keras.
Sang Su-im segera tertawa, dia tahu saat ini orang yang
bisa kawin dengan putrinya cuma beberapa orang saja,
sedang Ciu Tong ini tidak perduli jadi orang lurus atau jahat,
pokoknya merupakan seorang jagoan pula.
“Haa.... haa.... pada saat itu sudah tentu putramu yang aku
pilih.”
Mendengar perkataan tersebut Ciu Tong semakin senang.
“Cepat ucapkan banyak terima kasih kepada Sang Pepek,”
ujarnya kemudian kepada Ciu Pak.
Tanpa menunggu lama lagi Ciu Pak dengan cepat maju
memberi hormat kepada diri Sang Su-im,
“Terima kasih atas kemurahan Sang Pepek.”

“Nanti dulu, kau jangan begitu terburu-buru!” seru Sang
Su-im sambil tertawa tawar. “Sang Siauw-tan belum tentu
berhasil kau kawini.”
“Haaa.... haaa Sang Loo-te, di dalam Bu-lim saat ini cuma
ada kita empat keluarga besar saja, kau dan aku sudah
menduduki dua keluarga. Cak Loo-te tidak bermurid kini
tinggal Kong Loo-te seorang saja, aku lihat diapun tidak
bermurid.”
“Tetapi maksudku aku mau mencarikan suami baginya dari
antara para pemenang pada pertemuan puncak para jago
yang kedua di gunung Hoa-san pada kemudian hari.”
Ciu Tong segera tertawa terbahak-bahak, dia melirik
sekejap ke arah Koan Ing kemudian
ujarnya, “Kelihatannya kesempatan buat kita dua keluarga
untuk mengikat hubungan amat besar sekali,”
Sang Siauw-tan yang mendengar mereka ngoceh terus
tentang dirinya, dalam hati merasa amat tidak senang,
kepalanya segera dipalingkan ke tengah sungai,
Koan Ing yang melihat perahu tersebut sama sekali tidak
menepi tak terasa lagi sudah kerutkan alisnya rapat-rapat, dia
merasa tidak betah untuk tinggal bersama dengan mereka
tetapi untuk membuka mulut memohon diapun tidak mau,
hatinya benar-benar merasa serba susah sekali.
Ciu Tong yang melihat perubahan sikap dari Koan Ing
segera merasakan hatinya sedikit bergerak, asalkan Koan Ing
tidak ada disini bukankah urusan besar akan segera bisa
diselesaikan?
“Apakah kau orang mau naik ke daratan?” tanyanya kepada
Koan Ing sambil tertawa. Belum sempat Koan Ing memberikan
jawabannya Sang Su-im sudah tertawa.
“Koan Hian-tit,” ujarnya perlahan, “kau tinggal di atas
perahu saja, aku dengar ayahmu

juga terbinasa di bawah serangan kereta berdarah itu,
bilamana kau mau memasuki daerah Tibet bagaimana kalau
kau berangkat bersama dengan kita sekalian.”
Koan Ing sewaktu mendengar Sang Su-im mengungkit
kembali persoalan ayahnya dalam hati dia amat sedih, untuk
mengucapkan kata-kata dia tidak sanggup lagi. Sang Su-im
tertawa kembali, katanya, “Supekmu apakah selama ini baikbaik
saja?”
Teringat akan pesan terakhir dari Kong Bun-yu, Koan Ing
segera menganggukkan kepalanya.
“Sudah ada beberapa tahun lamanya aku tidak bertemu
dengan Kong Bun-yu entah bagaimana keadaannya sekarang
ini?” ujarnya lagi kepada diri Ciu Tong, tetapi jika dilihat dari
pedang kesayangannya yang sudah diberikan kepadanya, hal
ini membuktikan kalau dia orang mempunyai suatu kelebihan
yang istimewa, kalau tidak Kong Bun-yu tidak akan
sembarangan menghadiahkan barang kesayangannya kepada
orang lain.
Ciu Tong yang mendengar dari nada ucapan Sang Su-im
agaknya dia orang merasa amat sayang dengan diri Koan Ing,
segera tertawa
“Kepandaian silat dari Koan Ing inipun boleh dikata
merupakan jagoan nomor wahid dari murid angkatan kedua.”
Walaupun pada mulutnya dia berbicara demikian, padahal
di dalam hati dia sudah mengambil keputusan yang lain, dia
sedang berpikir harus menggunakan cara apa untuk
menghadapi diri Koan Ing, dia ingin melihat dulu keanehan
dan kelihayan dari ilmu silatnya Koan Ing, agar pada
pertemuan puncak para jago yang kedua di atas gunung Hoasan
di kemudian hari dia orang jangan sampai menemui
kekalahan di tangan Kong Bun-yu,

Pada saat itulah mendadak dari arah depan meluncur
datang sebuah perahu layar yang bergerak mendatang
dengan amat cepatnya.
Sang Su-im yang melihat datangnya perahu layar tersebut
diam-diam mengerutkan alisnya, dia segera mendengus
dingin.
“Ciu heng,” ujarnya tawar. “ternyata ini hari ada orang
yang sengaja datang mencari setori dengan aku.”
Sepasang mata dari Ciu Tongpun segera melotot keluar,
dari ujung perahu dia mengambil keluar seutas tali, kemudian
dengan menggunakan tangan kanannya dia menyambitkan tali
tersebut mengarah tiang layar dari perahu yang meluncur
datang itu,
Dengan amat gusarnya dia bersuit panjang, pada saat
tangan kanannya digetarkan, terdengarlah suara ambrukan
yang amat keras, tiang layar dari perahu itu sudah berhasil
dipukul patah menjadi dua bagian,
Dengan gerakan dari Ciu Tong ini seketika itu juga
membuat Sang Su-im merasa sangat terkejut., dia sama sekali
tidak menyangka kalau tenaga dalam dari Ciu Tong ternyata
sudah berhasil mendapatkan kemajuan yang amat pesat
sekali, hanya di dalam waktu beberapa tahun saja, agaknya
dia orang tidak dapat dipandang terlalu rendah,
Ilmu jari Han Yang Ci Kang dari dirinya sekalipun bisa
menghancurkan ilmu mayat membusuk yang dimiliki olehnya,
tetapi jikalau serangannya mencapai kegagalan maka
dirinyalah yang akan ditawan olehnya.
Begitu tiang layar itu terputus menjadi dua bagian maka
tubuh perahupun menjadi miring ke samping.
Dari ujung perahu itu segera meloncatlah keluar sesosok
bayangan manusia yang dengan amat cepatnya meluncur ke
arah ujung perahu mereka.

Koan Ing dapat melihat orang itu mempunyai bentuk badan
yang tinggi besar dengan wajah yang berwarna merah padam
sedang memandang mereka berlima dengan pandangan amat
gusar.
Ciu Tong maupun Sang Su-im pada melengos ke arah
sungai, mereka berdiri dengan amat tenangnya seperti tidak
pernah terjadi sesuatu urusan apapun, bahkan melirik sekejap
ke arah orang itupun tidak.
Sinar mata orang itu dengan amat tajamnya menyapu
sekejap ke arah mereka semua, kemudian dengan nada suara
yang amat berat tanyanya, “Siapa orang yang begitu berani
merusak perahuku?”
Perahumu? Siapa kau orang?” seru Sang Siauw-tan dengan
amat dinginnya.
Orang itu segera mengerutkan alisnya, baru saja mau
membuka mulut untuk memberikan jawaban mendadak Ciu
Pak yang ada di samping sudah meloncat keluar. “Siauw-tan
Moay-moay” ujarnya dengan cepat. “Biar aku saja yang
menghadapi dirinya.”
Sambil berkata tangan kanannya diputar satu lingkaran di
depan dada kemudian dengan cepatnya dihajarkan ke atas
tubuh lelaki berusia pertengahan yang berwajah merah itu.
Dengan amat gusarnya lelaki berusia pertengahan itu
mendengus, sepasang tangannya balas berputar melancarkan
serangan dahsyat menutup datangnya serangan dan Ciu Pak
itu.
Koan Ing yang melihat jurus serangan dari lelaki berusia
pertengahan itu mendadak merasa hatinya berdebar, jurus itu
bukan lain adalah jurus serangan Jiet Gwat Siang Huan
atau matahari rembulan saling berputar dari ilmu sakti
Thian-yu Sinkang, bagaimana disinipun bisa muncul seorang
ahli waris dari Thian-yu-pay?

Begitu Ciu Pak melancarkan serangan tadi, mendadak sikut
kanannya ditekuk melancarkan bokongan ke arah
lambungnya, orang itu menjadi amat terkejut dia sama sekali
tidak menyangka sikut Ciu Pak secara tiba-tiba bisa
melancarkan serangan ke arahnya.
Sepasang matanya segera berkelebat tangannya dibalik
balas mengirim satu pukulan ke depan.
“Braaak!” masing-masing dengan keras lawan keras
menerima satu pukulan dari pihak lawan.
Koan Ing yang melihat serangan dari orang itu semuanya
menggunakan jurus-jurus serangan dari Thian-yu-pay, hatinya
semakin kaget, mendadak bentaknya dengan nada berat.
“Tahan.... ”
Mereka berdua sudah saling menerima satu pukulan dari
lawannya, dalam hati bermaksud untuk bertanding lebih
lanjut, kini mendengar suara bentakan dari Koan Ing yang
begitu dingin tanpa terasa dengan penuh keheranan masingmasing
sudah mengundurkan diri satu langkah ke belakang
dengan pandangan keheranan mereka ber dua sama-sama
memperhatikan Koan Ing.
Ciu Tong serta Sang Su-im yang semula berpura-pura tidak
melihat setelah mendengar suara bentakan dari Koan Ing ini
tidak terasa lagi sudah mengambil perhatian juga.
Dengan sinar mata yang amat tajam Koan Ing
memperhatikan orang itu beberapa saat lamanya kemudian
baru tanyanya dengan suara yang amat dingin, “Kau murid
siapa?”
Lelaki berusia pertengahan yang dipandang Koan Ing
seperti demikian, dia segera
mendengus dingin, mulutnya tetap membungkam dalam
seribu bahasa.

Koan Ing yang merasa dirinya sebagai ciangbunjin dari
partai Thian-yu, seharusnya mengambil perhatian penuh di
dalam urusan ini, dengan perlahan dia mencabut keluar
pedang Kiem-hong-kiamnya.
“Kau kenal dengan pedang ini?” tanyanya tawar.
“Aku bukan murid dari Thian-yu-pay, buat apa kau orang
mengurusi diriku?”
Koan Ing segera mengerutkan alisnya, dia tidak paham dari
mana orang ini bisa mendapatkan pelajaran ilmu silat aliran
Thian-yu-pay, ini hari juga dia harus memecahkan teka teki
yang membingungkan ini.
Pedangnya segera dimasukkan kembali ke dalam
sarungnya. “Hmm, aku harus menjajal ilmu silatmu.”
Sembari berkata tubuhnya meloncat ke atas, sepasang
tangannya dengan berkelebat simpang siur ke kanan dan ke
kiri dia melancarkan serangan ke arah musuhnya, inilah jurus
Jiet Gwat Siang Huan” dari ilmu sakti “Thian-yu Sinkang”.
Sekalipun jurus yang digunakan sama, tetapi sewaktu
digunakan di tangannya jauh berbeda sekali, terasa segulung
angin pukulan yang amat keras menghajar ke arah dada
orang itu,
Sinar mata lelaki berusia pertengahan itu berkelebat tak
henti-hentinya, tangan kanannya dengan cepat membabat ke
depan menghalangi serangan dari Koan Ing tersebut,
Koan Ing segera mendengus, bukankah jurus yang baru
saja digunakan oleh orang itu adalah jurus Thian Hong Cu Lok
dari partainya? Bilamana orang ini hendak menggunakan ilmu
silat dari aliran Thian-yu-pay untuk merobohkan dirinya,
bukankah hal ini merupakan suatu urusan yang sangat
menggelikan sekali?
Sekalipun dia harus memejamkan mata, arah yang akan
diserang oleh orang itu diapun tahu.

Tangan kanan Koan Ing dengan cepat digetarkan ke depan,
tahu di dalam satu kali kelebatan saja dia sudah berhasil
mencengkeram urat nadi dari tangan kanan lelaki berusia
pertengahan itu.
Lima jarinya dengan cepat diperkencang, bersamaan pula
tangannya ditarik ke belakang, tubuh lelaki berusia
pertengahan itu sudah berhasil ditarik ke tengah udara.
Ketika orang itu berhasil dilemparkan Koan Ing ke tengah
udara, keringat dingin sudah mulai mengucur keluar
membasahi seluruh tubuhnya, dia benar-benar dibuat pecah
nyalinya oleh gerakan itu.
“Hmmm, kau murid siapa?” tanya Koan Ing kembali dengan
amat tawar.
Sang Su-im yang selama ini menonton jalannya
pertempuran dari samping diam-diam merasa amat heran
sekali, bagaimana cuma di dalam dua bulan saja kepandaian
silat dari Koan Ing sudah memperoleh kemajuan yang
demikian pesatnya? Dengan cara apa dia orang bisa melatih
tenaga dalamnya sehingga memperoleh kemajuan yang amat
pesat tapi hanya di dalam waktu yang amat singkat ini?
Ciu Tong yang berdiri di samping segera tertawa dingin.
“Koan Ing.... ” serunya dengan nada kurang senang, “Di
hadapanku kau orang begitu berani mencari keonaran?”
Koan Ing sewaktu mendengar Ciu Tong hendak mencegah
perbuatannya ini diapun segera tertawa dingin,
“Urusan ini merupakan urusan dari Thian-yu-pay kami
pribadi, setelah urusan ini selesai nanti aku bisa minta maaf
dari locianpwee.”
Ciu Tong terpaksa cuma bisa mendengus. dia tidak bisa
berbuat apa-apa lagi.

Sang Su-im yang melihat Ciu Tong tidak senang segera
melirik sekejap ke arahnya,
ujarnya sambil tertawa.
“Ciu heng, kepandaian silat dari bocah ini hanya di dalam
dua bulan saja ternyata sudah mencapai kemajuan yang
demikian pesatnya, entah bagaimana dengan tenaga
dalamnya?”
Ciu Tong yang mendengar dari nada ucapan Sang Su-im
agaknya dia orang sangat kagum terhadap diri Koan Ing,
dalam hati merasa semakin mendongkol lagi, pikirnya dalam
hati.
“Hmm, Koan Ing bangsat cilik ini merupakan penghalangku,
aku harus cari suatu kesempatan untuk menghadapi dirinya,”
Sebetulnya dia tidak terlalu memikirkan urusan Koan Ing ini
di dalam hatinya, dia menganggap dengan kedudukannya
sebagai salah satu dari empat manusia aneh tidaklah
seharusnya merasa bingung untuk mengurusi persoalan Koan
Ing, tetapi jika dilihat dari kemajuan ilmu silat yang
diperolehnya, agaknya urusan ini harus ditangani oleh dia
sendiri baru bisa beres.
Lelaki berusia pertengahan yang urat nadinya berhasil di
cengkeram oleh Koan Ing walaupun keringat sebesar kedelai
sudah mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya tetapi
dia tetap menutup mulutnya tidak mengucapkan sepatah
katapun.
Pikiran Koan Ing dengan cepat berputar, dengan perlahanlahan
dia melepaskan kembali cengkeramannya.
“Kau orang sudah memperoleh pelajaran ilmu silat ini dari
mana?” tanyanya tawar. Lelaki berusia pertengahan itu melirik
sekejap ke arah Koan Ing, dalam hati dia sama sekali tidak
menyangka kalau kepandaian silat dari pemuda ini bisa begitu
hebatnya, mulutnya tetap bungkam.

“Hmm, jika kau tidak mau bicara, janganlah salahkan aku
berlaku kurang sopan terhadapmu,” ancam Koan Ing
kemudian.
Si lelaki kasar berusia pertengahan yang baru saja berhasil
ditawan oleh Koan Ing segera mengetahui kalau kepandaian
silatnya ada yang di atas dirinya, dia tidak bisa berbuat apaapa,
lagi terpaksa jawabnya, “Aku mendapat pelajaran ini dari
Kauwcu kami.”
Siapa Kauwcu kalian?” Tanya Koan Ing kemudian sambil
mengerutkan dahinya, “Apakah Cian Thian Kauw pun kau
tidak tahu?”
Koan Ing menjadi melengak. “apakah itu perkumpulan
Sian-thian-kauw? Kenapa selama ini dia belum pernah
mendengar?
Ciu Tong serta Sang Su-impun diam merasa amat heran
sekali, sekalipun dirinya sebagai seorang pangcu dari suatu
perkumpulan besar serta Toocu dari pulau Ciet Ie Too tetapi
terhadap adanya perkumpulan Sian-thian-kauw ini sama sekali
tidak pernah mendengar.
Koan Ing termenung sebentar, tanyanya kembali,
“Siapakah nama Kauwcu kalian?”
“Hmmm.... kau kira nama dari Kauwcu kami boleh disiarkan
kepada orang lain dengan seenaknya?”
Koan Ing segera mengerutkan alisnya, baru saja dia
hendak mendesak lebih lanjut mendadak terdengar suara
teriakan dari Sang Siauw-tan.
“Aaaah.... ada perahu lagi.”
Koan Ing dengan cepat menoleh, tampak sebuah perahu
layar yang amat besar dengan perlahannya berhenti di tengah
sungai di hadapan mereka.

Sang Su-im yang melihat munculnya sebuah perahu, dalam
hati merasa amat keheranan, dia tidak kenal asal usul dari
perahu itu, apa tujuan mereka yang sebenarnya?
Dia segera mendengus dingin, kepada Ciu To ujarnya,
“Agaknya di dalam urusan ini kita harus ikut campur.”
“Haaa.... haaa.... ”
Terdengar lelaki berusia pertengahan itu sudah tertawa
kegirangan.
“Kauwcu kami sudah datang.”
Sambil berkata dia tertawa keras sekali, agaknya dia orang
sudah menganggap Kauwcunya bagaikan malaikat saja.
Dengan perlahan Koan Ing mengalihkan pandangan
matanya ke arah perahu tersebut, terlihatlah perahu itu
berhenti di tengah sungai sedikitpun tidak bergerak.
Dia benar-benar sudah merasa tidak sabaran lagi, tubuhnya
mendadak meloncat ke atas kemudian membentuk gerakan
busur di tengah udara dan dengan amat ringannya melayang
turun pada ujung dari perahu tersebut.
Jarak yang ada sejauh lima kaki ternyata bisa ditempuh
dengan gaya yang amat menarik sekali.
Baru saja Koan Ing melayang turun ke atas perahu tersebut
segera terdengarlah suara dari Sang Su-im yang amat
perlahan.
“Kita lebih baik lihat-lihat dulu.”
Dia tahu mereka berdua sebagai seorang angkatan tua di
dalam Bu-lim tidak ingin merendahkan kedudukannya dengan
menampilkan diri pada saat itu, bila tidak perlu benar mereka
berdua tidak akan mau melompat kesana.
Tapi Koan Ing tidak mau ambil perduli semuanya itu,
dengan tenangnya dia berdiri di ujung perahu itu,

Lama sekali dia berdiri disana tetapi dari balik perahu itu
tak terdengar sedikit suarapun, akhirnya dia orang tidak bisa
menahan sabar lagi, teriaknya, “Koan Ing ingin menghadap
kepada Kauwcu dari Sian-thian-kauw kalian.”
Walaupun dia sudah berteriak beberapa kali, dari dalam
perahu tersebut tidak terdengar sedikit suarapun, hatinya
menjadi mendongkol juga, pikirnya.
“Siapakah sebenarnya Kauwcu dari Sian-thian-kauw itu,
kenapa begitu misterius jejaknya.”
“Hmm, dia tidak mau keluar, apakah dirinya tidak bisa
masuk sendiri ke dalam?” Berpikir akan hal itu dengan cepat
dia berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut,
Koan Ing yang berjalan masuk ke dalam ruangan perahu
itu segera melihat di dalam ruangan tersebut sama sekali tidak
tampak sesosok manusiapun tetapi barang yang di dalam
sana amat mewah dan rapi sekali.
Di tengah-tengah ruangan itu berdirilah sebuah meja
sembahyangan, di atas meja tergantung juga sebuah pedang
yang memancarkan sinar yang berkilauan.
Dia menjadi melengak, kakinya dengan perlahan mulai
bergeser memasuki ruangan sebelah dalam.
Tapi.... baru saja Koan Ing membuka horden pada pintu
ruangan dalam mendadak terasalah segulung hawa pukulan
yang amat dingin sekali menerjang tubuhnya.
Dia menjadi terperanjat di dalam ke adaan terdesak dia
mundur satu langkah ke belakang.
Tapi begitu tubuhnya mundur ke belakang segera terasalah
empat bilah pedang dari empat penjuru bersama-sama
melancarkan serangan ke arahnya.

Dengan cepat tubuhnya merendah, kakinya berturut-turut
melancarkan tiga langkah dengan menggunakan ilmu langkah
Ku Hien Poh Hoat.
Walaupun dia berusaha untuk menghindarkan diri dari
empat buah serangan tersebut tak urung jubah pajangnya
tergores juga oleh sambaran pedang sehingga sebagian besar
terkoyak.
Tubuhnya dengan cepat menyingkir ke samping, dalam hati
dia benar-benar merasa bergidik.
Dia bukan merasa terperanjat karena kelihayan dari
kepandaian silat orang itu melainkan dikarenakan jurus
pedang yang bayu saja digunakan bukan lain adalah
perubahan daii ilmu Lian Huan San Cie dari ilmu pedang
Thian-yu Si Cap Pwee Si yang amat terkenal itu.
Ilmu Lian Huan Sim ci ini merupakan ilmu silat ciptaan
Kong Bun-yu sendiri untuk melindungi badan, bilamana
bukannya dia sudah sangat hapal terhadap ilmu silat tadi
mungkin di bawah serangan gabungan empat bilah pedang
tadi dia sudah menemui ajalnya, tapi bagaimana mereka bisa
mengetahui juga ilmu silat ciptaan dari Kong Bun-yu ini?
Di dalam keadaan terperanjat sinar matanya dengan cepat
berputar memandang ke empat penjuru, tampaklah empat
orang pelayan perempuan dengan masing-masing mencekal
sebilah pedang sedang berdiri tak bergerak pada empat buah
sudut yang berlainan, saat ini merekapun sedang memandang
dirinya sambil melotot.
Di belakang mereka berempat berdirilah seorang
perempuan berbaju putih yang sedang membelakangi dirinya,
Dengan perlahan perempuan itu putar badannya,
tampaklah pada wajahnya tertutup oleh selembar kain sutera
yang amat tipis walaupun begitu tidak menutupi kecantikan
yang amat mempesonakan, hal ini membuat dia benar-benar
terpesona dibuatnya.

Perempuan itu dengan amat tajamnya memperhatikan
Koan Ing, ujarnya kemudian sambil tertawa, “Ouw.... tidak
kusangka yang datang ternyata seorang pemuda yang begitu
tampan.... ”
Wajah Koan Ing segera berubah memerah, dia menarik
napas panjang sambil tertawa paksa tanyanya:
“Tolong tanya, kauwcu dari Sian-thian-kauw sekarang ada
dimana?”
“Kau mau mencari dia? Akulah orangnya!” seru perempuan
itu sambil tertawa.
Koan Ing menjadi melengak, dia sama sekali tidak
menyangka kauwcu dari Sian-thian-kauw ternyata adalah
seorang perempuan, untuk beberapa saat lamanya dia benarbenar
dibuat tertegun.
Sinar mata perempuan itu dengan perlahan berputar,
sesudah menyuruh keempat orang budaknya mengundurkan
diri, ujarnya lagi sambil tertawa, “Bukankah kau adalah anak
murid dari Kong Bun-yu? Aku bisa melihatnya dari gerakan
tubuhmu sewaktu memasuki perahu ini.”
“Tapi sayang aku bukan muridnya!” jawab Koan Ing ketus.
Air muka perempuan itu segera berubah amat hebat.
“Kong Bun-yu juga merupakan salah satu dari empat
manusia aneh, kau tidak berani mengakui sebagai muridnya,
apa kau takut kepadaku? Kau takut aku membinasakan
dirimu?” teriaknya dingin.
Koan Ing menjadi amat terperanjat air muka perempuan itu
ternyata sudah berubah menjadi amat menakutkan sekali,
agaknya dia hendak membinasakan dirinya di dalam satu kali
pukulan.
Dia sama sekali tidak menyangka sinar mata dari
perempuan itu bisa demikian menakutkan, dia tidak berhasil
mempertahankan golakan dalam hatinya sehingga tanpa

terasa lagi sudah mengundurkan diri dua langkah ke belakang,
tangannya dengan cepat dibalik mencabut keluar pedangnya.
Hanya di dalam sekejap itulah dia merasakan hatinya
bergidik, dia merasa amat takut sekali sehingga membuat
seluruh bulu kuduknya pada berdiri.
Ooo)*(ooO
Bab 9
KETIKA gadis itu melihat pedang yang berada di tangannya
mendadak sinar matanya berkelebat.
“Hmmm,” dengusnya dingin. “Kiranya kau adalah
ciangbunjin dari Thian-yu-pay, aku sungguh kurang hormat,
maaf.... maaf.... ”
Sambil berkata selangkah demi selangkah dia mendesak
diri Koan Ing.
Koan Ing yang memandang ke arah gadis berkerudung itu
untuk beberapa saat lamanya di buat termangu-mangu, dia
bukan saja merasa terperanjat kalau kauwcu dari Sian-thiankauw
ternyata adalah seorang perempuan bahkan kecantikan
wajah perempuan itu benar-benar membuat dirinya terpesona.
Ketika perempuan itu melihat Koan Ing memperhatikan
dirinya dengan mata membelalak, dengan dinginnya dia
mendengus, dengan perlahan tubuhnya mulai bergeser ke
arah diri Koan Ing.
Koan Ing segera sadar dari lamunannya, dalam hati dia
merasa hatinya berdesir, baru saja dia hendak bergerak siapa
tahu tubuh perempuan itu sudah mendesak semakin dekat
lagi, sepasang tangannya dengan cepat bergerak melancarkan
serangan gencar ke arahnya.
Koan Ing benar-benar dibuat terperanjat, karena serangan
yang baru saja digunakan oleh perempuan itu bukan lain

adalah Sim Hoat tingkat tertinggi dari aliran Thian-yu mereka,
gerakan yang dilancarkan olehnya ternyata begitu cepat tidak
berada di bawah sendiri.
Sinar matanya dengan cepat berkelebat, dia orang sudah
mengikuti diri Kong Bun-yu selama dua bulan lamanya di
dalam ruangan bawah tanah dan setiap hari berlatih dengan
amat rajin, boleh dikata terhadap semua serangan dari
partainya dia sudah memahami seperti memahami jari
tangannya sendiri, tanpa berpikir panjang lagi tubuhnya
dengan cepat berkelebat telapak tangannya memotong ke
samping dan dengan amat tepatnya berhasil menghajar
pergelangan tangan perempuan itu bahkan memisahkan pula
datangnya serangan dari dirinya.
Agaknya perempuan ini sejak semula sudah menduga akan
hal ini, terdengar dia mendengus dengan amat dinginnya,
sikutnya dengan amat cepat dibalik ke belakang menghajar.
Koan Ing menjadi sangat kaget dia hanya merasakan
segulung hawa yang amat dingin sekali merembes masuk ke
dalam tulang punggungnya.
Jika tadi dia menggunakan jurus-jurus silat dari ilmu lain
dia masih tidak mengapa, tetapi jurus yang digunakan
barusan ini merupakan ilmu ciptaan dari Kong Bun-yu,
bagaimana sang perempuan bisa mengetahuinya dengan
begitu jelas, semakin dipikir hatinya semakin berdebar, tak
terasa lagi bulu kuduknya pada berdiri.
Jagoan berkepandaian tinggi bertanding paling
mengutamakan pemusatan pikiran sedikit meleng saja
keadaan akan segera menjadi bahaya.
Koan Ing yang baru saja pikirannya bercabang segera
merasakan datangnya serangan musuh yang amat gencar
menerjang iganya, untuk menghindar sudah terlambat baru
saja tubuhnya miring ke samping, iganya telah berhasil
terhajar oleh ujung tangan perempuan itu,

Dia segera mendengus berat separuh badannya terasa
menjadi kaku membuat dia merasa
amat terperanjat bercampur heran dia orang sama sekali
tidak menyangka kalau jurus serangan yang terakhir dari
perempuan itu ternyata menggunakan ilmu silat dari aliran
pulau Ciat Ie To.
Pikiran kedua belum sempat berkelebat di dalam benaknya
Koan Ing cuma merasakan tubuh perempuan itu dengan amat
ringannya sudah menerjang kembali ke tubuhnya, dia cuma
merasakan iganya amat sakit kesadarannya seketika itu juga
lenyap.
Entah sudah lewat beberapa saat lamanya, dengan
perlahan dia sadar kembali dari pingsannya.
Dengan perlahan Koan Ing membuka matanya, dia melihat
dirinya masih menggeletak di atas tanah, di samping empat
orang budak berbaju hijau itu duduklah seorang perempuan
yang bukan lain adalah perempuan yang sangat misterius itu.
Hatinya merasakan bergidik, hanya dalam satu jurus saja
orang itu sudah berhasil menguasai dirinya, jika dilihat dari hal
inijelas sekali kalau kepandaian silatnya jauh di atas
kepandaian silat empat manusia aneh, tetapi kenapa dia orang
belum pernah mendengar namanya?
Pikiran Koan Ing terus menerus berputar, akhirnya pikirnya
dalam hati. Perempuan ini sebenarnya hendak berbuat apa
terhadap diriku?
“Hmm, kaukah yang bernama Koan Ing?” terdengar
perempuan bertanya dengan suara yang amat dingin.
Koan Ing menjadi melengak, pada saat pikirannya berputar
tangannya sudah meraba ke dalam sakunya, bukan saja
pedang pusaka yang tersoren pada pinggangnya sudah
diambil, bahkan pedang pusaka Hiat-ho Sin-pie yang
disembunyikan di dalam sakunyapun sudah diambil.

Saat ini pikirannya menjadi sedikit terang, tetapi dia merasa
heran, kemana perginya Ciu Tong serta Sang Su-im sekalian?
Kenapa mereka tidak ikut masuk ke mari?
Perempuan itu mengerutkan keningnya, agaknya dia sudah
tahu apa yang sedang dipikirkan di dalam hatinya.
“Hm, tentu kau orang sedang memikirkan kenapa Sang Suim
serta Ciu Tong tidak menyusul kemari? Bagaimana mereka
bisa mengejar perahuku ini? Kau sudah berbaring selama
sepuluh hari lamanya di sini, lebih baik kau tidak usah
memikirkan mereka lagi, Koan Ing menjadi melengak, dengan
perlahan dia bangkit berdiri, “Aku sudah rebah disini sepuluh
hari lamanya?” Pikirnya di dalam.
Dia benar-benar tidak bisa percaya kalau dia orang sudah
ada sepuluh hari tidak sadarkan diri, ilmu totokan macam
apakah yang sudah digunakan perempuan itu? Bagaimana dia
bisa berbaring selama sepuluh hari lamanya tanpa menderita
sedikit lukapun? Pada saat pikirannya berputar, mulutnya
sudah menjawab, “Benar, akulah Koan Ing.... ”
“Kau sebenarnya murid dari Kong Bun-yu atau murid dari
Cu Yu?” tanya perempuan itu kemudian sesudah berpikir keras
beberapa saat lamanya.
Koan Ing tidak paham kenapa dia mau menanyakan
suhunya, tetapi hatinya secara tiba-tiba merasa kalau
perempuan ini sama sekali tidak mengandung maksud jahat
terhadap dirinya, karenanya sahutnya, “Suhuku adalah si
pendekar menyendiri.... ”
“Ooooh.... ” dengan perlahan dia tundukkan kepalanya
berpikir kembali, lama sekali dia baru angkat kepalanya,
“Pernahkah suhumu mengungkit akan diriku Song Ing?”
Sekali lagi Koan Ing melengak, dia sama sekali tidak
menyangka kalau perempuan ini ternyata kenal dengan
suhunya, dengan perlahan dia gelengkan kepalanya.

Lalu kau mendapatkan pedang Kiem-hong-kiam ini dari
mana?” tanya perempuan itu kembali dengan wajah
sedikitpun tidak berubah.
Koan Ing tidak tahu Song Ing ini mempunyai hubungan apa
dengan suhunya, ketika dia mendengar dia orang mengangkat
persoalan pedang Kiem-hong-kiam mendadak pada
ingatannya teringat kembali kalau diapun mengerti benar akan
ilmu silat perguruannya membuat perasaan curiga mulai
meliputi dirinya.
Dia melirik sekejap ke arahnya kemudian baru menjawab,
“Supekku yang berikan barang
tersebut kepadaku.”
“Bagaimana dengan keadaan suhumu?” “Suhu maupun
supek sudah pada binasa.”
Dengan perlahan Song Ing angkat kepalanya, sekilas
senyuman berkelebat di atas wajahnya.
Lama sekali dia baru angkat kepalanya kembali, ujarnya.
“Dahulu ada seorang perempuan yang sangat cantik sekali,
pada saat yang bersaman ada dua orang suhengte sama-sama
mencintai dirinya suhengnya bukan saja memiliki wajah
tampan bahkan sangat pintar sekali, kepandaian silatnyapun
amat lihay, sedangkan sutenya berwajah biasa saja hanya
sifatnya amat luhur dan jadi orang sangat jujur.”
Dia berhenti sebentar, matanya memandang ke tempat
kejauhan agaknya sedang mengingat-ingat kembali peristiwa
yang sudah lalu.
Dalam hati Koan Ing merasa hatinya tergetar dengan amat
kerasnya, dia mengira perempuan ini kenal dengan suhu serta
supeknya, tetapi jika didengar dari perkataan Song Ing ini
agaknya dia sedang menceritakan kisahnya antara dia dengan
suhu serta supeknya pada masa yang lalu.

Dia sama sekali tidak mengira kalau perempuan yang
sama-sama dicintai suhu serta supeknya adalah Song Ing
yang ada di hadapannya sekarang ini.
Song Ing termenung berpikir keras beberapa saat lagi,
lama sekali dia baru menambahkan.
“Tetapi suhengnya itu jadi orang terlalu sombong dan jadi
orang amat kasar sekali, perempuan itu ternyata sudah jatuh
cinta terhadap sutenya, setelah suhengnya tahu akan hal ini
mendadak ada satu hari dia pergi mencari perempuan itu dan
memaki dia kenapa jatuh cinta pada sutenya?
Berbicara sampai disini dia berhenti sebentar untuk tukar
napas, “Gadis itu cuma tertawa dingin saja tanpa
mengucapkan sepatah katapun, suheng itupun tertawa dingin,
pada saat itulah dia sudah mengutarakan cintanya bahkan
mau memberi pelajaran seluruh kepandaian silat yang
dimilikinya dan mendadak dia berpesiar ke semua tempat
yang indah dan terkenal.”
Gadis itu cuma tertawa dingin saja, dia sama sekali tidak
memberikan komentar, tetapi mendadak sang suheng berkata
kalau sutenya dia sudah pukul sampai terluka dan dia tidak
akan kembali lagi karena umurnya bakal pendek.
Koan Ing yang mendengarkan kisah ini benar-benar merasa
hatinya tergetar amat keras, dia sama sekali tidak mengira
kalau supeknya bisa berbuat begitu curang terhadap suhunya,
tindakannya ternyata begitu telengas.
Dengan perlahan sinar mata Song Ing beralih ke atas wajah
Koan Ing sambungnya kembali.
Setelah perempuan itu mendengar perkataan tersebut, dia
mulai tertawa dan mereka berdua mulai melakukan perjalanan
berpesiar kesemua tempat yang terkenal.

Koan Ing menjadi melengak, dia memandang diri Song Ing
tajam-tajam, dia tidak percaya kalau Song Ing adalah manusia
macam ini,
Song Ing pun balas memperhatikan diri Koan Ing, dari
sepasang matanya memancar keluar sinar kegirangan yang
samar-samar, tetapi di dalam sekejap saja sudah lenyap
kembali, sambungnya terus, “Kepandaian silat yang dipelajari
akhirnya cukup sempurna juga, pada suatu tengah malam
dengan menggunakan obat bius dia membuat suheng itu
menjadi mabok, kemudian menggunakan pedangnya
mengorek keluar otot kakinya, pada mukanya dia beri tiga
buah goretan pedang, kemudian pada punggungnya kirim
delapan buah serangan dahsyat.
Mendengar sampai di sana Koan Ing cuma merasakan
hatinya bergidik, ternyata tindakan dari Song Ing demikian
kejamnya bukan saja dia sudah mencabut ke luar otot kakinya
bahkan sudah kirim delapan pukulan pula ke arah
punggungnya. Song Ing tersenyum tawar.”
“Kepandaian silat dari suheng itu ternyata amat tinggi,
sesudah sadar kembali dari maboknya, dengan perasaan
terperanjat dia melarikan diri dari sana dengan membawa luka
yang amat parah, gadis itupun tidak bisa berbuat apa-apa
terhadap dirinya.”
Saat itulah dia baru tahu sebab supeknya jadi demikian
menderitanya, walaupun tenaga dalam yang dimilikinya amat
sempurna tetapi punggungnya yang berturut-turut
mendapatkan delapan buah serangan membuat dia akhirnya
kehabisan darah pula dan menemui ajalnya.
Kong Bun-yu yang jadi orang amat congkak sudah tentu
setelah memperoleh luka dia tidak mau keluar kembali ke
dalam Bu-lim sehingga merusak nama baiknya, makanya
selama hidupnya sejak itu dia orang bersembunyi di dalam
gua.

Koan Ing menghembuskan napas dingin, sekarang dia
merasa suatu perasaan yang menghormat muncul di dalam
hatinya.
Bilang terus terang saja, kemunculanku kali ini di samping
mencari berita suhumu aku sudah mempersiapkan diri untuk
mencari Kong Bun-yu untuk menuntut batas.
Tetapi supek dia orang tua sudah memperoleh
hukumannya.” ujar Koan Ing dengan cepat, dia segera
menceritakan keadaan dari Kong Bun-yu yang sebenarnya.
“Heeey,” Song Ing tak tertahan lagi sudah menghela napas
panjang. “Selama beberapa tahun ini secara sembunyisembunyi
aku sering mencuri lihat Sang Su-im, serta Ciu Tong
sewaktu berlatih ilmu silatnya, kepandaian mereka masingmasing
mempunyai keistimewaan yang tersendiri di tambah
lagi dengan ilmu sakti Thian-yu Khei Kang serta ilmu-ilmu silat
lainnya yang pernah aku lihat aku sudah berhasil menciptakan
suatu ilmu yang amat dahsyat sekali. Heeey siapa sangka aku
sudah terlambat satu langkah.”
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas, kemudian
tambahnya, “Selama sepuluh hari ini aku sudah pikirkan
masak-masak, haruskah aku membinasakan dirimu, tetapi
selama ini pula aku selalu berharap agar kau bukanlah anak
murid dari Kong Bun-yu, pedangmu aku taruh di atas meja,
selain pedang itu, kitab silat merupakan hasil jerih payahku
selama beberapa tahun ini, walaupun aku belum berhasil
menyelami seluruhnya tetapi aku kira ilmu tersebut sudah
cukup untuk mengangkat namamu di dalam Bu-lim, Kini aku
sudah tahu kalau kau orang adalah muridnya, barang-barang
tersebut boleh kau terima semua, anggap saja barang itu
merupakan tanda mata pertemuan kita ini.”
Koan Ing menjadi melengak, tampak di atas meja di
samping sebilah pedang panjang serta pedang pendek
terdapatlah sebuah kitab yang dijilid amat rapihnya.

Di atas kitab tersebut tertulislah kata-kata Boe Shia Koei
Mie yang amat besar sekali, sedang pada sampingnya
tertulislah beberapa kata dengan huruf kecil:
“Ilmu silat dari seluruh Bu-lim tidak akan terlewat di dalam
kitab ini.”
Dari dalam hatinya segera timbul suatu ingatan yang
sangat aneh sekali, pikirnya, “Hmmm.... sombong benar.... ”
Baru saja dia hendak membuka mulut untuk menolak
terdengar Song Ing sudah berkata kembali, “Sekalipun aku
orang belum pernah kawin dengan suhumu tetapi hatiku
sudah aku serahkan padanya, juga boleh dikata merupakan
subomu. Kau tidak boleh untuk tak menerimanya.”
Koan Ing dengan pandangan tajam memperhatikan diri
Song Ing, dalam hati diam-diam dia orang merasa sangat
kaget, walaupun perkataan dari Song Ing barusan ini sangat
halus tetapi terasa ada satu tenaga yang amat kuat membuat
dirinya merasa tidak tahan,
Dia segera menerima pedang serta kitab itu lalu jatuhkan
diri memberi hormat kepada diri Song Ing.
Song Ing juga tidak menghindar, dia tetap duduk tidak
bergerak sedikitpun dari tempat duduknya itu.
“Aku tahu kau orang mau berangkat ke daerah Tibet
makanya aku hantar kau sampai ke daerah Lok Cho,” ujarnya
perlahan. “Di dalam urusan ini aku memang bisa memberi
bantuan kepadamu tetapi urusanmu sendiri harus kau
kerjakan sendiri, aku tidak mau ikut campur. Sekarang kau
boleh meninggalkan tempat ini.”
Koan Ing dibuat agak melengak, tapi dengan cepat dia
sudah sadar kembali.
Setelah memberi hormat kembali kepada diri Song Ing
dengan langkah perlahan dia berjalan keluar dari perahu
tersebut.

Cuaca amat gelap sekali, salju melayang turun dengan
derasnya terasa segulung angin dingin dengan kencangnya
dari arah barat membuat badan terasa menggigil.
Tampak sesosok bayangan manusia dengan menempuh
badai salju melanjutkan perjalanan menuju ke arah Barat,
orang itu memakai jubah berwarna abu-abu, pada
punggungnya tersoren pedang dan melanjutkan perjalanan
dengan tergesa-gesa, orang itu bukan lain adalah diri Koan
Ing yang sedang melakukan perjalanan ke daerah Tibet.
Suasana amat sunyi, di sekeliling tempat itu hanya tampak
salju nan putih menutupi seluruh permukaan tanah, tiba-tiba
sinar mata Koan Ing bisa melihat sebuah kuil yang berdiri
dengan angkernya di tempat kejauhan.
Dia berpikir sebentar, akhirnya dengan langkah cepat
tubuhnya berkelebat menuju ke arah sana.
Tubuhnya semakin lama semakin mendekati kuil itu,
mendadak matanya tertumbuk dengan sesuatu.... di depan
kuil itu menggeletaklah sesosok mayat yang sudah membeku.
Koan Ing menjadi melengak, dengan cepat tubuhnya maju
ke depan memeriksa, terasalah olehnya mayat itu mati belum
terlalu lama, jadi berarti juga pembunuhnya belum lama
meninggalkan tempat itu.
Lhama itu terbinasa dengan sepasang mata melotot keluar,
jelas dia orang sudah terkena binasa oleh pukulan berat dari
seorang jagoan yang mempunyai tenaga dalam yang amat
tinggi.
Pikiran Koan Ing berputar terus dengan amat cepatnya,
sebentar kemudian tubuhnya sudah bergerak dan melayang
masuk ke dalam kuil yang ada di depannya.
Begitu tubuhnya masuk ke tengah ruangan segera
tampaklah olehnya berpuluh sosok mayat menggeletak
simpang siur di atas tanah, asap dupa masih mengepul

dengan tebalnya di tengah meja sembahyang sedangkan
barang-barang sembahyangan sudah pada kocar-kacir ke atas
tanah jelas baru saja terjadi suatu pertempuran yang amat
sengit di tempat tersebut.
Sinar matanya dengan amat tajam menyapu sekejap ke
seluruh ruangan, tiba-tiba telinganya menangkap suara berisik
yang amat perlahan sekali dari belakang ruangan kuil itu,
tubuhnya dengan cepat melayang kesana.
Baru saja tubuhnya mencapai depan pintu ruangan segera
terdengarlah olehnya suara seseorang yang sangat di
kenalnya, “Hee.... hee sekarang kau bisa berbuat apa lagi?”
Mendadak Koan Ing bisa mengenalnya kembali, bukankah
itu suara dari si kongcu tak berbudi Ciu Pak adanya, hatinya
merasa amat terperanjat.
Sinar matanya yang amat tajam tidak berhenti sampai
disana. segera dia mengintip ke dalam ruangan.
Tampaklah Sang Siauw-tan sudah tertawan oleh diri Ciu
Pak dan saat ini sudah berada di dalam pelukannya yang
kencang.
Ia menjadi sangat terkejut, bentaknya dengan suara berat,
“Ciu Pak! coba kau lihat siapakah aku?”
Ciu Pak Yang sebenarnya sedang berdiri membelakangi diri
Koan Ing sesudah mendengar perkataan tersebut tubuhnya
dengan cepat berputar.
Tapi ketika dilihatnya Koan Ing sudah muncul di tempat itu
secara tiba-tiba hatinya terasa bergidik, kekalahannya tempo
hari membuat dia orang tanpa terasa sudah menaruh tiga
bagian rasa jeri terhadap dirinya.
Dia benar-benar merasa amat terkejut, tidak disangka
olehnya Koan Ing bisa muncul secara begitu mendadak
disana.

Perlahan-lahan hawa amarah mulai meliputi seluruh
hatinya, dia merasa gemas dan benci terhadap pemuda itu
karena setiap kali dia ada kesempatan buat melakukan niatnya
terhadap diri Sang Siauw-tan, dia orang tentu muncul secara
tiba-tiba sehingga mengacaukan perbuatan baiknya.
“Koan Ing” teriak Ciu Pak dengan amat gusar sambil
meletakkan tubuh Sang Siauw-tan ke atas tanah. “Aku sudah
lama mencari dirimu, kiranya kau ada disini,”
Selama ini Koan lag menaruh suatu perasaan yang amat
aneh sekali terhadap diri Sang Siauw-tan, kini dilihatnya Ciu
Pak hendak berbuat jahat terhadapnya, membuat keningnya
dikerutkan semakin mengencang, tubuhnya dengan cepat
meloncat ke tengah udara, sepasang tangannya dengan
mengambil gerakan setengah busur melancarkan serangan ke
depan.
Inilah yang dinamakan jurus ‘Thian Kay keh Tong’ atau
langit membuka tanah merekah dari ilmu sakti ‘Thian-yu Ji cap
si Khie Cau’ andalan Kong Bun-yu tempo hari.
Di tengah gulungan serta sambaran angin yang tak terasa
suatu tenaga tekanan yang amat berat menghajar tubuh Ciu
Pak.
Ciu Pak yang melihat tenaga dalam dari Koan Ing
mendapatkan kemajuan kembali hanya di dalam beberapa hari
saja hatinya terasa berdesir, dalam hati dia orang kepingin
menghindar tapi ketika teringat akan nama besarnya sebagai
si kongcu tak berbudi dia menjadi malu sendiri untuk
melompat mundur, pikirnya.
“Hmmm aku si kongcu tak berbudi tidak seharusnya takut
dengan seorang bangsat cilik.
Setelah mendengus dingin dia bersuit panjang, sepasang
telapaknya dengan mendatar didorong ke depan dengan
kecepatan yang luar biasa, inilah ilmu mayat membusuk ini
sinarnya merupakan ilmu silat yang mengutamakan tenaga

Im, tenaga dalam dan si kongcu tak berbudipun sudah boleh
dikata jagoan nomor wahid dari angkatan muda, sudah tentu
serangannya ini tidak enteng.
Sebaliknya Koan Ing walaupun mempunyai suhu yang ilmu
kepandaian tidak begitu tinggi letapi dia orang mempunyai
bakat yang amat bagus, ditambah pula dengan latihannya
selama tiga bulan di dalam gua batu serta jerih payahnya
sesudah berpisah dengan Song Ing,
membuat kehebatan dan ilmu silatnya berada seimbang
dengan kepandaian dari Ciu Pak.
Telapak mereka berdua dengan cepat terbentur menjadi
satu kemudian melengket tak terlepas kembali.
Koan Ing yang berhasil memperoleh seluruh ilmu silat yang
dimiliki Kong Bun-yu, begitu merasakan telapak tangannya
melengket dengan telapak tangan pihak musuh dengan amat
cepatnya dia sudah berganti jurus.
Di tengah gerak sepasang telapak mereka suatu hawa
pukulan yang amat kuat menerjang keluar, inilah yang
dinamakan jurus “Kioe Ku Ceng jiet” atau sembilan busur
menghancurkan matahari hasil ciptaan Kong Bun-yu sendiri.
Saat itulah Ciu Pak baru merasakan tenaga pukulan dari
Koan Ing sedikit mencurigakan segera terasalah olehnya
tenaga pukulan yang disalurkan ke depan sudah terpukul
kembali, membuat hatinya tergetar dengan amat kerasnya,
Di dalam keadaan terkejut, dia cepat-cepat menarik
tangannya, siapa tahu Koan Ing justru pada saat yang
bersamaan sudah mengerahkan serangannya yang terakhir.
Ciu Pak menjadi kaget, dia sama sekali tidak menyangka
kalau jurus serangan dari Koan Ing bisa demikian aneh dan
saktinya.

Untuk menghindarkan diri tidak sempat lagi, terpaksa
dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan
dari Koan Ing itu.
Koan Ing segera merasakan telapak tangannya yang
menghajar tubuh Ciu Pak seperti sedang menghajar kayu
lapuk saja, hatinya menjadi sangat kaget.
Dia memang pernah melihat Ciu Pak dengan menggunakan
ilmu mayat membusuknya mengalirkan seluruh jalan darahnya
pada separuh badannya, tetapi dia tidak mengira kalau
serangannya ini sama sekali tidak berguna terhadap dirinya.
Untuk beberapa saat lamanya dia menjadi bingung harus
menggunakan jurus serangan apa untuk memecahkan ilmunya
ini, tetap dia tidak ingin memberi kesempatan buat Ciu Pak
untuk menarik napas lagi.
Tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas kemudian
dengan menggunakan jurus sakti Si Ciet Kioe Hwee atau sinar
memancar ke sembilan penjuru dari ilmu Thian-yu Jie cap Si
Khei Cau, dia melancarkan kembali serangan gencar
menghajar tubuh musuhnya.
Pada saat itulah.... tiba-tiba suara sampokan ujung baju
terkena angin bergema memasuki ruangan kuil itu.
Dia tidak tahu siapa yang sudah datang tetapijika didengar
dari suara sempokan ujung bajunya jelas merupakan jagoan
berkepandaian tinggi setingkat dengan empat manusia aneh.
Dia tidak berani menyerang Ciu Pak lagi, tubuhnya berputar
di tengah udara kemudian melayang turun ke pojokan lain.
Ketika Ciu Pak melihat tubuh Koan Ing meloncat ke atas,
hatinya merasa amat terkejut dan ketakutan sekali, walaupun
dia berhasil mengalihkan jalan darahnya ke separuh badan
yang lain dan menerima satu pukulan dari Koan Ing tetapi
tenaga dalamnya sudah memperoleh kerugian yang amat
besar sekali.

Dia tahu jika dirinya harus bertempur kembali jangan dikata
seratus jurus, sekalipun sepuluh jurus juga tidak akan tahan,
kini melihat secara tiba-tiba Koan Ing mengundurkan
diri dengan cepat dia merangkak bangun, kemudian
memandang ke arah orang yang baru saja datang itu.
“Ayah,” teriaknya keras.
Memang sedikitpun tidak salah, orang itu memang adalah
si Ciu Tong itu manusia iblis nomor wahid dari pulau Ciat Ie To
serta si jari sakti Sang Su-im dua orang.
Sinar mata dari Ciu Tong dengan cepat menyapu sekejap
ke seluruh ruangan, hanya di dalam satu kali pandang inilah
dia sudah tahu apa yang telah terjadi disana. “Hmmm,
bangsat cilik, kita berjumpa kembali!” serunya sambil
mendengus dingin,
Mendadak telapak tangan kanannya menghantam ke depan
melancarkan satu serangan dahsyat mengarah tembok yang
ada di sebelah kiri.
Koan Ing menjadi melengak. dia tidak tahu Ciu Tong
sedang memainkan permainan apa? Saat itulah dia baru
merasakan segulung angin pukulan yang amat keras
memantul dari tembok itu kemudian menerjang tubuhnya
dengan amat dahsyat.
Dengan tenaga dalam yang amat tinggi dari Ciu Tong siapa
orang yang bisa menahan pukulannya itu? Terdengar suara
bentrokan yang amat keras, tubuhnya tak tertahan lagi sudah
terpental oleh angin pukulan tersebut menerjang ke atas
dinding tembok di dalam ruangan itu.
Koan Ing cuma merasakan punggungnya amat sakit, dia
tahu dirinya sudah terluka dalam, sekalipun begitu dengan
paksakan diri dia bangkit berdiri kemudian memandang ke
arah iblis tua itu dengan amat gusarnya.

Diam-diam dalam hati Ciu Tong pun merasa sangat
terperanjat. kekuatan dari pukulannya ini amat aneh dan
sangat dahsyat sekali, dia tahu Koan Ing tidak mungkin bisa
menerima datangnya serangan itu, dia pasti akan terbinasa.
Siapa tahu dengan keras lawan keras dia orang masih
berhasil menerima juga serangan dahsyatnya itu.
Walaupun kini Koan Ing terluka juga oleh angin
pukulannya, tetapi luka yang diderita tidaklah terlalu berat.
Dalam hati Sang Su-im merasa semakin heran lagi, dia tahu
Koan Ing sama sekali tidak berpengalaman, tapi dia orang
ternyata bisa tahu Keistimewaan dari pukulan Ciu Tong, ini
jelas sekali menunjukkan kalau kecerdasan otaknya luar biasa.
“Hmm, bangsat cilik.” teriak Ciu Tong dengan amat dingin.
“Kau bisa juga menerima serangan itu, baiklah, dengan
memandang di atas wajah Kong Loo-te aku lepaskan dirimu
kali ini.”
Sang Su-impun bukanlah seorang yang tolol, ketika mereka
masuk kes ana dan melihat Ciu Tong mengumbar hawa
amarahnya, apalagi Sang Siauw-tan pun masih menggeletak
di atas tanah, dia segera mengetahui sudah terjadi peristiwa
apa di sana, dia segera tertawa dingin.
“Ciu-Tong!” serunya gusar, “Putramu sungguh pintar
sekali!”
Ciu Tong tahu Sang Su-im tentu tidak mau menyudahi
urusan tersebut sampai di sana, diapun balas berseru dengan
tawar, “Entah apa maksud dari perkataan Sang loo-te ini?”
Sang Su-im yang melihat dia masih saja berpura-pura pilon,
hatinya menjadi amat gusar sekali.
“Putramu akan kau serahkan kepadaku ataukah Ciu heng
sendiri yang kasih hukuman?”

Ciu Tong tertawa tawar, dia tahu urusan ini hari tidak bisa
dibereskan dengan jalan damai, karena itu begitu dia sampai
disana tanpa ragu-ragu lagi Koan Ing sudah dihajar sampai
terluka, kini Koan Ing sudah tersingkir sudah tentu dia tidak
takut kepada siapa lagi.
“Haaa.... haaa.... aku lihat lebih baik Sang loo-te
menyudahi urusan ini saja?” ujarnya tertawa.
Sang Su-im benar-benar dibuat gusar oleh sikapnya ini.
“Heee.... heee.... ” teriaknya gemas, “Aku kira kepandaian
silat dari Ciu heng sudah memperoleh kemajuan yang amat
pesat sekali sehingga tidak memandang sebelah matapun
kepada siauw-te.”
Sambil berkata ujung bajunya dikebut menghajar tembok
yang ada di sebelah timur.
“Oooh.... kiranya Sang Loo-te mau menjajal kepandaian
silatku, hahaha.... boleh.... boleh.... ”
Tangan kanannya dengan cepat dikebut ke depan
menghajar tembok yang ada disebelah barat dengan
kecepatan kedua buah tenaga pukulan itu terbentur menjadi
satu sehingga menimbulkan suara ledakan yang amat keras
sekali.
Segulung hawa pukulan yang amat hebat segera terpental
ke atas membuat atap ruangan menjadi berlobang, pasir dan
debu pada rontok dan beterbangan memenuhi seluruh
angkasa.
Koan Ing yang melihat mereka berdua sedang saling
menyerang dengan dahsyatnya, dia orang segera menyingkir
ke samping,
Sekali pandang saja dia sudah bisa tahu kalau tenaga
dalam mereka berdua adalah seimbang.

Terdengar Sang Su-im tertawa terbahak-bahak serunya,
“Siauwte hendak menjajal juga ilmu mayat membusuk dari Ciu
heng!”
Sembari berkata tubuhnya melayang ke atas kemudian
tangan kanannya dibalik menotok tubuh Ciu Tong.
Ciu Tong segera melihat empat jari Sang Su-im
memancarkan sinar kehijau2an yang amat cemerlang, dia
segera tahu inilah ilmu jari Han Yang Ci Kang yang paling
diandalkan oleh si jari sakti Sang Su-im.
Walaupun saat ini dia tidak takut terhadap dirinya tetapi
ketika teringat akan kerugian dirinya yang diterima sewaktu
pertemuan puncak para jago tempo hari tak terasa lagi dia
menaruh juga tiga bagian rasa jeri terhadap ilmu Han Yang
Kang ini. Ciu Tong segera tertawa terbahak-bahak.
“Selama sembilan belas tahun ini kekuatan dari Han Yang
Ci-mu tentu mendapatkan kemajuan yang amat pesat sekali.
Sang Loo-te, siauw-heng mau menjajal saya.”
Seluruh aliran darahnya segera dialihkan ke separuh
badannya yang sebelah kiri lalu dengan menggunakan tubuh
sebelah kanannya dia menyambut diri Sang Su-im,
Sang Su-im segera membentak keras, jari tengah serta jari
telunjuknya dikencangkan kemudian berturut-turut
melancarkan tujuh totokan dahsyat.
Seketika itu juga suara desiran yang amat tajam
memecahkan kesunyian tujuh buah totokan dahsyat dengan
amat cepatnya menyambar tubuh Ciu Tong.
Menanti angin totokan itu mendekati tubuhnya, Ciu Tong
baru tertawa keras, badannya yang sebelah kanan bagaikan
sebatang pohon yang sudah layu menerima seluruh serangan
Han Yang Ci Kang dari Sang Su-im.

Walaupun serangan itu bisa menghancurkan batu atau baja
tetapi terhadap diri Ciu Tong sama sekali tidak berguna, Air
muka Sang Su-im segera berubah amat hebat.
Ciu Tong cepat-cepat menarik kembali tubuhnya yang
sebelah kanan- sinar matanya dengan pandangan ragu-ragu
memandang sekejap ke arah musuhnya.
Mendadak tubuhnya meloncat ke atas, sepasang telapak
tangannya bagaikan ikan belut, dengan amat cepatnya
menerjang bagian leher dari Sang Su-im.
Sang Su-impun membentak keras, tubuhnya meloncat ke
atas jari tengah serta telunjuk pada tangan kanannya dengan
berturut-turut melancarkan empat puluh sembilan totokan
gencar, seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan
suara desiran angin serangan yang amat tajam sekali.
Ciu Tong yang melihat Sang Su-im sudah mengadakan
persiapan, sinar matanya dengan cepat berkelebat, dengan
disertai suara bentakan yang amat keras sepasang tangannya
bergerak ke depan menyambar batang leher Sang Su-im.
Air muka Ciu Tong berubah hebat, sejak tadi dia sudah
merasakan tenaga serangan dari Sang Su-im jauh lebih
dahsyat dari tempo hari, walaupun hatinya merasa kaget
tetapi dia tidak ingin melepaskan kesempatan ini begitu saja.
Sang Su-im yang melihat serangan dari Ciu Tong ini penuh
disertai dengan tenaga yang amat kuat dia menjadi sangat
terperanjat, dia tahu jikalau lehernya sampai tercengkeram
oleh serangan tersebut bahaya maut segera akan
mengancam,
Dia sama sekali tidak mengira pada saat Ciu Pak bertempur
dengan Sang Siauw-tan dulu dia sudah memamerkan ilmu
barunya ini sehingga memberi kesempatan kepada Sang Suim
untuk membuat persiapan.

Tadi sengaja Sang Su-im memperlihatkan sikapnya yang
amat terkejut untuk memancing keteledoran dari Ciu Tong,
ketika dilihatnya Ciu Tong dibuat kegirangan dengan
permainannya itu dia orang segera melancarkan serangan
yang benar-benar.
Jari tangan kanannya dengan cepat digetarkan, berturutturut
dia melancarkan kembali tujuh buah totokan menghajar
kedua buah lengan tersebut.
Ciu Tong yang telah melancarkan serangannya dengan
menggunakan kedua buah lengannya dengan cepat
mengalirkan seluruh jalan darahnya pada belakang punggung.
Tetapi waktu sudah tidak mengijinkan lagi, terdengar suara
dengusan yang amat berat, tubuh mereka berdua berpisah
dan mundur sempoyongan ke belakang, sebentar kemudian
jatuh terduduk ke atas tanah.
Serangan jari sakti dari Sang Su-im membutuhkan tenaga
dalam yang sangat banyak sekali. ditambah dia telah kena
hajaran dari sepasang tangan dari Ciu Tong, walaupun
keadaannya jauh lebih baik tetapi wajahnya tak urung
berubah memucat juga.
Koan Ing yang menonton jalannya pertempuran, diam-diam
merasa hatinya sangat terkejut dia sama sekali tidak
menyangka tenaga dalam dari mereka berdua ternyata jauh
lebih tinggi dari apa yang diduga semula.
Ciu Pak yang melihat ayahnya terluka, alisnya segera
dikerutkan rapat-rapat, tubuhnya mulai bergerak menerjang
ke arah Sang Su-im.
Koan Ing segera mendengus dengan amat dinginnya,
pedang Kiem-hong-kiam segera dicabut keluar dari dalam
sarungnya.
Walaupun dengan Sang Su-im dia tidak mempunyai ikatan
keluarga maupun persahabatan, tetapi dia tidak akan

mengijinkan Ciu Pak turun tangan sewaktu orang lain dalam
keadaan terluka.
Ciu Pak yang melihat Koan Ing mencabut keluar
pedangnya, dalam hati merasa sedikit bergidik, walaupun dia
melihat Koan Ing berhasil dihajar oleh ayahnya, tetapi Koan
Ing sama sekali tidak mengalami cedera bahkan dengan
keanehan dan kesaktian dari ilmu silatnya dia merasa kalau
dirinya bukanlah tandingannya. Tiba-tiba Ciu Tong membuka
matanya kembali.
“Kau kemari!” serunya kepada diri Ciu Pak.
Bagaikan baru saja sadar dari impian dengan cepat Ciu Pak
berjalan menuju ke arah diri Ciu Tong.
Dari dalam saku ayahnya dia mengambil keluar dua butir pil
kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya.
Saat ini Sang Su-im tetap memejamkan matanya mengatur
pernapasan, terhadap peristiwa yang terjadi di tempat itu dia
tidak mau tahu.
Dengan pandangan tajam Koan Ing memperhatikan diri Ciu
Tong terus menerus diapun diam-diam mengatur pernapasan.
Beberapa saat kemudian mendadak sepasang alis Ciu Tong
mulai bergerak lalu mengulur keluar sepasang tangannya, dia
benar-benar dibuat terkejut dengan kejadian ini.
Agaknya Sang Su-impun merasakan keadaan sedikit tidak
beres, matanya dengan perlahan-lahan dibuka dan
memandang tajam ke arah pihak lawan. Terdengar Ciu Tong
tertawa dingin tak henti-hentinya.
“Heee.... heee.... hitung-hitung saja ini hari aku mengalami
kekalahan kembali, tetapi urusan ini aku tidak akan ambil diam
sekarang juga kau bisa merasakan sedikit pembalasanku.”
“Aku cuma gemas kenapa tidak turun tangan lebih berat
lagi sehingga kau bisa meloloskan diri kembali.”

Ciu Tong tak bisa menahan tertawanya lagi, semakin
tertawa suaranya semakin keras.
“Hey Sang Loo-te,” ujarnya dingin. “Tentu kau tahu bukan
kalau aku orang mempunyai dua orang murid? Yang satu
adalah Bun Ting-seng dan masih ada satu lagi bernama Bu
Sian. Bun Ting-seng sudah lenyap amat lama sedangkan Bu
Sian sebentar lagi akan segera tiba disini, hehehe.... heee,
Sang Loo-te tentu kau tahu maksudku bukan?”
Koan Ing yang mendengar perkataan itu hatinya menjadi
amat gusar sekali, teriaknya, “Hmmm.... tidak kusangka Ciu
Tong si iblis tua yang mempunyai kedudukan sebagai pemuka
partai ternyata bisa berbuat permainan yang begitu
rendahnya.”
“Koan Ing kau tidak usah kuatir,” sambung Sang Su-im
sambil tertawa tawar, “dengan kekuatan beberapa orang
kawanan tikus itu masih belum bisa mengapa-apakan diriku.”
Ciu Tong pun tertawa dingin tak henti-hentinya, cuma dia
tidak mengucapkan sepatah katapun.
Ciu Tong tetap duduk bersila dengan amat tenangnya,
tidak selang lama luka dalamnya sudah dapat disembuhkan.
Pada saat itulah tiba-tiba....
Suara langkah manusia yang amat berat sekali bergema
mendatang memenuhi seluruh ruangan, seketika itu juga
seluruh ruangan penuh diliputi nafsu membunuh yang amat
tebal.
Sang Su-im yang semula sudah memejamkan matanya
kembali saat ini melototkan matanya, dengan pandangan
amat tajam dia memperhatikan terus seluruh gerak-gerik dari
Ciu Tong.
Ciu Tong semakin tertawa semakin menyengir kejam, tetapi
mulutnya tetap membungkam di dalam seribu bahasa.

Koan Ing pun diam-diam merasa amat terperanjat,
pikirnya, “Waah.... jika yang datang adalah Bu Sian, urusan
tidak akan beres dengan mudah, apalagi luka dalamku belum
sembuh, jikalau Bu Sian bekerja sama dengan Ciu Pak
bukankah diriku akan bertambah konyol?”
Ooo)*(ooO
Bab 10
MENDADAK langkah manusia itu berhenti di tengah
ruangan, air muka Ciu Tong segera berubah agak hebat tapi
sebentar kemudian dia sudah tenang kembali dan
memejamkan mata tidak bergerak.
Suara langkah manusia Yang amat berat sekali lagi
bergema datang, semakin lama suara itu semakin mendekat
bahkan disertai dengan suara dengusan yang amat berat pula.
Ciu Pak segera merasa urusan sedikit tidak beres terburuburu
dia menyingkir ke samping Ciu Tong dan memandang
pintu ruangan dengan pandangan penuh perasaan terkejut.
Seorang Lhama berjubah kuning dengan potongan badan
tinggi besar selangkah demi selangkah memasuki ruangan itu.
Wajah dari Lhama berjubah kuning itu penuh ditumbuhi
dengan brewok yang tebal pada tangan kanannya mencekal
sebuah toya yang amar kasar dan berat dengan memancarkan
sinar mata yang amat buas dia menyapu sekejap ke seluruh
ruangan.
Koan Ing yang melihat orang itu ternyata adalah seorang
lhama, dalam hatipun merasa amat terperanjat pikirnya,
“Aduh celaka, orang itu sudah tentu sengaja datang untuk
membalaskan dendam bagi hweesio-hweesio yang terbunuh di
dalam kuil ini, untuk meloloskan diri dari sini sudah tentu akan
sangat sukar.
Terdengar Lhama berjubah kuning itu mendengus dengan
amat dinginnya lalu menyapu

kembali ke arah lima orang itu.
Terhadap datangnya Lhama berjubah kuning itu, Sang Suim
maupun Ciu Tong sama-sama berpura-pura tidak tahu,
mereka tetap duduk bersila di atas tanah tanpa mengucapkan
sepatah katapun.
Sekali lagi Lhama berjubah kuning itu mendengus dingin.
“Orang-orang itu siapa yang membunuh?” bentaknya
dengan suara amat berat.
Suara bentakan ini sangat datar dan berat sekali laksana
guntur yang membelah bumi membuat seluruh ruangan
berdengung dengan amat kerasnya.
Tetapi Sang Su-im serta Ciu Tong tetap duduk dengan
amat tenangnya, jangan dikata berbicara, sekalipun
menggerakkan kelopak matanyapun tidak.
Koan Ing yang mendengar suara bentakan yang amat keras
itu diam-diam merasa sangat terperanjat, pikirnya, “Haaa
siapa orang ini? Agaknya tenaga dalam yang dimiliki sangat
tinggi sekali.”
Ketika Lhama berjubah kuning itu tidak mendengar adanya
suara jawaban, dia segera mendengus dingin dan melirik
sekejap ke arah Sang Su-im serta Ciu Tong yang berduduk
bersila di atas tanah.
“Hmmm, aku kira siapa kiranya adalah kalian Sin Mo dua
manusia aneh,” ujarnya kemudian sambil maju dua langkah ke
depan. “Hmmm, Hmmm tidak kusangka ini hari aku orang bisa
bertemu dengan dua manusia aneh selamat bertemu....
selamat bertemu.” Siapa tahu baik Sang Su-im maupun Ciu
Tong tetap tidak menggubris dirinya.
Kali ini Lhama berjubab kuning itu benar-benar dibuat
mendongkol, sambil menyeret toyanya yang berat jalan ke
samping mereka berdua ujarnya, “Ini hari aku Gong Ing
Thaysu ingin minta beberapa petunjuk dari kalian berdua.”

Koan Ing yang mendengar nama tersebut dalam hati
menjadi bergidik pikirnya, “Gong Ing Thaysu adalah sute dari
Hu Im Thaysu itu jagoan dari Tibet, wah urusan ini hari tentu
tidak bisa dibereskan dengan damai.”
Jilid 5
KOAN ING yang melihat Sang Su-im maupun Ciu Tong
sama sekali tidak menggubris terhadap bentakan dari Gong
Ing Thaysu, dia segera sadar kembali, diam-diam pikirnya,
“Hmmm! kenapa aku demikian gobloknya? Bukankah saat ini
merupakan saat yang paling baik untuk menyembuhkan
lukaku sendiri lalu menonton keramaian yang bakal terjadi?”
Berpikir akan hal ini dia segera pejamkan mata untuk mulai
mengalirkan hawa murninya
menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.
Gong Ing Thaysu yang melihat Sang Su-im maupun Ciu
Tong tidak mengambil gubris suara bentakannya segera dia
tahu kalau mereka berdua sedang terluka dalam.
Mereka berdua merupakan jago-jago berkepandaian tinggi
yang amat ditakuti oleh setiap jago, walaupun saat ini mereka
terluka parah dan sedang menyalurkan tenaga murni untuk
menyembuhkan luka tersebut tetapi bilamana dirinya berani
menggunakan kesempatan itu untuk maju mengirim serangan
bokongan kemungkinan sekali bukannya mereka terkena
serangan sebaliknya menerima serangan gabungan dari
mereka berdua, saat itu apakah dirinya kuat menahan
serangan tersebut.
Dengan menyeret toyanya dia berputar beberapa kali
mengelilingi tempat dimana kedua orang itu duduk bersila,
tetapi sampai waktu itu dia masih tidak berani berlaku
gegabah.

Akhirnya Gong Ing Thaysu menghentikan gerakannya,
beberapa kali dia ingin turun tangan melancarkan serangan
bokongannya tetapi diapun tahu kalau serangannya ini
menyangkut soal mati hidupnya sendiri.
Karena itu setelah ragu-ragu beberapa saat lamanya dia
masih tetap tidak berani melanjutkan serangannya.
Sinar mata dari Gong Ing Thaysu berkelebat tidak hentihentinya,
mendadak pandangannya terhenti di atas tubuh Ciu
Pak.
Ciu Pak segera merasakan hatinya berdesir, dia tidak tahu
Gong Ing Thaysu ini adalah sute dari Hul Ing Thaysu itu
jagoan nomor wahid dari Tibet, tangan kanannya dengan
kencang mencekal toya milik ayahnya sedangkan
pandangannya dengan sangat dingin sekali memperhatikan
seluruh gerak-gerik dari Goan Ing Thaysu.
Sekali pandang saja Gong Ing Thaysu sudah tahu siapakah
Ciu Pak adanya, saat ini dia sedang berdiri membelakangi Ciu
Tong, bilamana secara tiba-tiba dia melancarkan serangan
untuk menguasainya tentu hal ini akan memancing serangan
balasan dari Ciu Tong Terakhir matanya beralih ke arah Koan
Ing.
“Siapa kau?” terdengar Gong Ing Thay su bertanya dengan
suara yang amat berat.
Koan Ing yang sendang memusatkan seluruh perhatian
untuk bersemedi segera merasakan hatinya tergetar amat
keras, dengan perlahan dia mementangkan matanya kembali.
Dia merasa heran kenapa Gong Ing Thaysu yang sewaktu
datang kelihatannya begitu buas dan bengisnya, tetapi
akhirnya sama sekali tidak berani berbuat sesuatu terhadap
Sang Su-im serta Ciu Tong?
Dia sendiri adalah murid dari Cu Yu dan sejak kecil ikut
dirinya sampai menginjak dewasa, sedangkan Cu Yu pun

merupakan sute dari Kong Bun-yu. dan Kong Bun-yu ini
pernah menurunkan ilmu silatnya kepada dirinya.
Makanya terhadap empat manusia aneh dia sama sekali
tidak merasa asing, tetapi dia tidak tahu bagaimana tingginya
kedudukan empat manusia aneh itu di dalam Bu-lim, siapapun
tidak ada yang berani mengganggu mereka, sudah tentu
diapun tidak paham kenapa Gong Ing Thaysu begitu jeri
terhadap diri mereka berdua?
Bilamana bukannya Sang Su-im serta Ciu Tong sudah
terluka parah, mungkin sejak tadi Gong Ing Thaysu sudah
melarikan dirinya terbirit-birit.
“Siapakah aku buat apa kau orang ikut campur?” serunya
sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat.
Gong Ing Thaysu yang memperoleh sikap dingin dari Sang
Su-im maupun Ciu Tong di dalam hatinya sudah merasa
sangat gusar sukar ditahan, tetapi dikarenakan takut terhadap
nama besar mereka berdua dia orang tidak berani mengapaapakan
kedua orang itu.
Kini mendengar Koan Ing pun memberi jawabannya
dengan ketus dan sangat dingin hatinya benar-benar merasa
amat gusar.
“Bagus.... bagus.... punya semangat” Teriaknya marah.
“Cuma sayang aku orang mau ikut campur, kau mau berbuat
apa?”
Koan Ing segera tertawa dingin, sekali lagi dia pejamkan
matanya tidak berbicara.
Dengan mementangkan matanya lebar-lebar Koan Ing
melirik sekejap ke arah Gong Ing Thaysu, terhadap sikap
Gong Ing Thaysu yang takut terhadap yang kuat dan berani
terhadap yang lemah di dalam hati dia merasa tidak puas.
Melihat sikapnya itu Gong Ing Thaysu benar-benar berbuat
mendongkol sekali, alisnya dikerutkan rapat-rapat mendadak

tangan kanannya diayun ke depan toyanya dengan diikuti
sambaran angin pukulan yang amat keras membabat ke atas
kepala Koan Ing.
Sejak semula Koan Ing sudah mengadakan persiapan,
tubuhnya dengan cepat mundur ke belakang tangannya
segera mencabut pedang Kiem-hong-kiamnya.
Di tengah berkelebatnya sinar emas yang berkilauan
pedang tersebut dengan gerakan lurus menangkis datangnya
serangan toya dari Gong Ing Thaysu itu.
“Criiing....!” dengan disertai suara benturan yang amat
nyaring toya tersebut segera terpukul mental kesamping.
Koan Ing yang berhasil memukul mental toya Gong Ing
Thaysu dengan menggunakan jurus ‘Lieh Boe Gong Thian’
atau kuda binal menjurus ke langit, dikarenakan
menggunakan tenaga terlalu besar membuat tubuhnya
dengan sempoyongan mundur dua langkah ke belakang lalu
muntahkan darah segar dari mulutnya,
“Aaaah.... Thian-yu Khei Kiam!” teriak Gong Ing Thaysu
dengan terperanjat.
Di bawah kolong langit saat ini cuma ada satu aliran diri
‘Thian-yu Khei Kiam’ Kong Bun-yu saja yang menggunakan
ilmu silat dengan gerakan busur, dia orang sama sekali tidak
menduga kalau munculnya si jari sakti Sang Su-im serta si iblis
sakti dari luar lautan, Ciu Tong disini ternyata Thian-yu Khei
Kiampun ikut muncul
“Kau orang adalah anak murid dari Thian-yu Khei Kiam,
Kong Thayhiap?” tanyanya dengan perasaan terperanjat.
“Bukan,” sahut Koan Ing dengan gusar, dia merasa
mendongkol melihat Gong Ing Thaysu yang ketakutan
mendengar nama besar dari seorang jago.
Gong Ing Thaysu agak melengak, dia sama sekali tidak
menyangka kalau Koan Ing bisa mengatakan demikian.

Bilamana Koan Ing benar-benar adalah anak murid dari
Kong Bun-yu dia orang tidak mungkin menyangkal, tetapijika
bukan.... bukan saja dia memiliki kepandaian silat yang amat
aneh dari aliran “Thian-yu-pay bahkan di tangannya
mencekal pedang “Kiem-hong-kiam” yang merupakan tanda
kepercayaan dari ciangbunjin Thian-yu-pay, tidaklah mungkin
barang itu bisa terjatuh ke tangan orang lain
Saat ini dia orang tidak mau pikir panjang lagi, teriaknya
dengan keras, “Kami orang-orang dari daerah Tibet selama ini
tidak ada dendam sakit hati apapun dengan kalian, kenapa
secara tiba-tiba kalian memasuki daerah Tibet dengan
membunuhi hweesio-hweesio kami?”
“Hmmm.... hmmm.... bukankah murid tertua dari Hud Ing
Thaysu dari partai kalian Husangko yang mengundang kita
untuk memasuki daerah Tibet?” seru Koan Ing dengan nada
yang amat dingin.... Gong Ing Thaysu jadi melengak.
Jikalau kalian bermaksud untuk menguntit jejak dari kereta
berdarah lebih baik berterus terang saja, buat apa meminjam
nama dari Husangko segala?”
Mendengar perkataan dari Gong Ing Thaysu ini Koan In
yang berganti jadi melengak, pikirnya, “Eeeei.... apa mungkin
ada orang yang memalsukan nama Husangko? Kalau tidak
bagaimana Gong Ing Thaysu menyangkal? Lalu siapa yang
sudah menyamar sebagai Husangko....?”
Bukan Koan Ing saja yang dibuat melengak, sampai Sang
Su-im serta Ciu Tong pun dibuat terkejut oleh perkataan dari
Gong Ing Thaysu ini sehingga pada mementangkan matanya
lebar-lebar.
Sebenarnya sejak semula Sang Su-im sudah menduga
kalau urusan ini tidak mungkin demikian mudahnya, tetapi dia
orang sama sekali tidak menyangka Gong Ing Thaysu bisa
demikian berterus terangnya menyangkal kalau Husangkolah
yang mengundang mereka untuk memasuki daerah Tibet.

Bilamana bukannya perkataan dari Gong Ing Thaysu ini
bohong tentu di dalam persoalan ini masih menyangkut suatu
rencana busuk yang lebih besar lagi, ternyata orang itu begitu
berani memancing empat manusia aneh untuk memasuki
daerah Tibet berarti pula kalau nyali orang itu tidak kecil
bahkan jikalau tidak mempunyai pegangan yang kuat dia
orang tidak mungkin berani melakukan hal ini.
Gong Ing Thaysu yang melihat Koan Ing sekalian dibuat
melengak, dia sendiri pun tertegun dibuatnya.
“Sampai hari ini juga Husangko sutit belum pernah
meninggalkan daerah Tibet barang selangkahpun, yang kalian
temui kemungkinan sekali bukanlah dirinya,” ujarnya dengan
cepat.
Ciu Tong segera mendengus dengan amat dinginnya,
ujarnya sambil bangkit berdiri, “Heee.... heeee.... ternyata di
kolong langit saat ini masih ada juga orang yang berani main
setan dengan aku orang.”
Sang Su-im pun mendengus dengan dingin lalu dengan
perlahan bangkit berdiri.
Walaupun dia tahu beberapa orang ini hendak memasuki
sebuah jebakan yang amat menakutkan sekali, tetapi saat ini
dia merasa sangat tidak puas terhadap diri Ciu Tong Masuknya
ke daerah bahaya merupakan satu urusan sedangkan dendam
sakit hatinya dengan Ciu Tong merupakan urusan yang lain.
Ciu Tong yang melihat sikap Sang Su-im yang demikian
dinginnya sinar matanya segera berkelebat tidak hentihentinya,
tubuhnya mendadak berkelebat maju mendesak ke
arah Gong Ing Thaysu.
Gong Ing Thaysu menjadi amat terperanjat, dia orang
sama sekali tidak menyangka Ciu Tong bisa mendesak dirinya
secara tiba-tiba.

Tangan kanannya dengan cepat diangkat telapak
tangannya seketika itu juga mengembang beberapa kali lipat
lebih besar lalu ditepukkan ke arah Ciu Tong.
Perbuatannya ini sebenarnya hanya merupakan gerakan
langsung yang muncul dari dasar
hatinya, ketika serangan tersebut baru saja mencapai di
tengah jalan mendadak hatinya
terasa berdesir.
Kepandaian silat dari Ciu Tong amat lihay sekali dan
bukanlah tandingan dari dirinya, tetapi ketika teringat kalau
Ciu Tong sudah terluka parah kemungkinan sekali dia masih
bisa bertahan dua tiga jurus banyaknya.
Apalagijika dilihat keadaan agaknya Ciu Tong serta Sang
Su-im rada tidak akur, Sang Su-im pasti tidak akan
membiarkan dirinya terluka di bawah serangan Ciu Tong.
Sekali lagi Gong Ing Thaysu siap melancarkan serangannya
kembali.
Tetapi jago berkepandaian tinggi bergebrak paling
mengutamakan kecepatan gerak, apalagi Ciu Tong pun
merupakan jago yang amat terkenal di dalam Bu-lim saat ini,
walaupun rasa ragu-ragu tersebut hanya berkelebat di dalam
benaknya dalam waktu yang amat singkat tetapi pada saat
yang bersamaan itulah lima jari dari Ciu Tong berhasil
mencekal pergelangan tangannya.
Begitu lima jari dari Ciu Tong berhasil menempel
pergelangan tangan Gong Ing Thaysu, sambil tertawa keras
dia segera mengundurkan dirinya ke belakang.
Gong Ing Thaysu cuma merasakan pergelangan tangannya
terasa sangat dingin berturut-turut dia mengundurkan diri dua
langkah ke belakang, ketika menundukkan kepalanya
memandang pergelangan tangannya terlihatlah di atas

tangannya itu sudah bertambah dengan bekas lima jari yang
berwarna hijau tua.
Seketika itu juga air mukanya berubah menjadi pucat pasi
bagaikan mayat.
Dia tahu bukan saja kepandaian silat dari Ciu Tong amat
tinggi sekali bahkan diapun pandai di dalam ilmu obat-obatan.
Ciu Tong yang cuma hanya menempelkan lima jarinya ke
atas pergelangan tangannya lalu memundurkan diri bahkan
bekas lima jari itu berwarna hijau, jelas sekali menunjukkan
kalau aku dia sudah terkena racun yang amat ganas sekali.
Sang Su-im dengan dingin mendengus, tanpa
mengucapkan sepatah katapun dengan langkah lebar dia
berjalan ke arah Sang Siauw-tan yang menggeletak di atas
tanah.
Ciu Tong yang melihat Sang Su-im berjalan ke arah Siauwtan
dari ujung bibirnya segera memperlihatkan senyuman
yang amat tawar dan dingin sekali.
Sang Su-im yang sedang berjalan keluar dari ruangan itu
segera menghentikan langkahnya sewaktu mendengar
perkataan tersebut, sambil menoleh dengan pandangan gusar
dia tertawa dingin.
“Perkataan dari Ciu heng bukankah sedikit keterlaluan?
pemberian hadiah buat Siauwte ini hari pada kemudian hari
aku orang pasti akan membalasnya.”
Dengan dinginnya Ciu Tong mengerutkan alisnya, dia tidak
mengucapkan kata-kata lagi.
Sebenarnya di dalam hati kecilnya dia ingin memaksa Sang
Su-im untuk mengaku kalah di hadapannya tetapi pada hal
sekalipun Gong Ing Thaysu sudah berhasil dikuasai tetapi
diapun belum berani mengapa-apakan diri Sang Su-im.

Sang Su-im yang berjalan ke arah samping tubuh Sang
Siauw-tan segera menggendong tubuhnya dan berjalan keluar
dari ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Tidak terasa lagi Ciu Tong mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Sang Loo-te,” ujarnya sambil tertawa. “Kehebatan musuh
yang kita hadapi sekali ini kaupun tentunya mengetahui
dengan jelas, bagaimana sifatku, kaupun tentu mengetahui
bukan, hari ini kau ingin mendesak orang lain, keterlaluan.”
Selesai berkata Sang Su-im melirik kembali ke arah Koan
Ing dengan pandangan penuh berterima kasih, lalu tanpa
menoleh lagi berlalu dari sana dengan tergesa-gesa.
Ciu Tong yang melihat Sang Su-im meninggalkan tempat
itu dia cuma tertawa tawar saja, sekalipun sejak hari itu dia
bakal memperoleh tambahan seorang musuh tangguh lagi
tetapi Koan Ing yang masih tertinggal disana menunjukkan
kalau dia masih berada di atas angin.
Bahkan dia merasa di dalam adu kecerdasan dia jauh lebih
pintar daripada diri Sang Su-im. hal ini terbukti dengan
kejadian ini hari.
Asalkan sejak ini hari dia orang lebih waspada lagi maka
semuanya tidak perlu ditakuti lagi. Sang Su-im adalah seorang
manusia yang paling suka menjaga namanya sendiri, urusan
ini hari dia pasti tidak akan mau menceritakan kepada orang
lain,
dengan sendirinya peristiwa ini haripun tidak bakal yang
tahu pula. Dia tertawa, ujarnya kepada Ciu Pak.
“Hey bocah kau sudah demikian besarnya, coba kau
katakan selama hidupku ini aku paling mementingkan apa?”
Ciu Pak yang mendengar perkataan tersebut segera
mengetahui apa yang sedang diartikan oleh ayahnya.

“Menurut apa yang aku tahu.... ” ujarnya cepat. “Selama
hidupnya ayah paling mementingkan perbedaan tingkat antara
angkatan tua dengan angkatan muda.”
Selesai berkata dengan sinar mata yang amat dingin dia
melirik sekejap ke arah Koan Ing.
Koan Ing tahu ini hari dirinya sukar untuk meloloskan diri
dari bencana, dia yang melihat Ciu Tong ayah beranak
sengaja memperlihatkan gaya serta tindak tanduk seperti itu
segera tertawa tawar, dengan perlahan matanya dipejamkan
kembali untuk menyalurkan tenaga dalamnya menyembuhkan
luka yang diderita.
Gong Ing Thaysu yang berdiri tertegun disana dia orang
sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh
Ciu Tong ayah beranak, tetapi di dalam hati dia merasa
bergidik terhadap kekejaman serta keganasan dari Ciu Tong
sehingga sepatah katapun dia tidak berani berbicara.
Ciu Tong pun di dalam hati diam-diam merasa terkejut atas
ketenangan dari Koan Ing ini, tetapi pada air mukanya dia
sengaja memperlihatkan sikapnya yang amat tenang, sekali
lagi dia tertawa terbahak-bahak, kepada Ciu Pak ujarnya
kembali, “Orang berkata untuk mengetahui putranya harus
mengetahui juga ayahnya, tetapi kau tidak malu disebut
sebagai putraku karena mengetahui dengan jelas apa yang
aku pikirkan di dalam hati, tetapi ini hari aku mau turun
tangan menghajar seorang anak muda, kau kira bagaimana?”
“Selamanya ayah berani berkata berani berbuat.... ” ujar
Ciu Pak sambil tertawa.
“Pada tempo hari bukankah Tia sudah pernah berbuat
demikian, buat apa sekarang merasa kebingungan?”
Kembali Ciu Tong melirik sekejap ke arah Koan Ing, melihat
dia orang sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apa
pun, dia segera tertawa tawar.

“Tetapi orang ini adalah murid keponakan dari Thian-yu
Khei Kiam” ujarnya mengejek. “Aku merasa tidak tega untuk
membinasakan dirinya, tetapi akupun tidak dapat melepaskan
dirinya begitu saja.”
Ciu Pak agaknya tidak tahu apa arti dari perkataan dari
ayah Ciu Tong ini, dengan perlahan ujarnya, “Siasat dari Tia
tidak ada keduanya di dalam kolong langit pada saat ini,
biarlah aku mendengarkan saja semua petunjuk dari Tia.”
Dengan dinginnya Ciu Tong segera tertawa keras,
mendadak tangan kanannya di angkat segera terlihatlah
sebutir pil dengan cepatnya meluncur keluar dari tangannya.
Koan Ing yang sedang pejamkan matu untuk mengerahkan
tenaga dalamnya tiba-tiba mendengar adanya segulung
desiran angin tajam menyerang ke arahnya, di dalam hati
merasa sangat berdesir, sepasang matanya dengan cepat
dipentangkan lebar-lebar, bersamaan pula waktunya dengan
menggunakan jurus ‘Lieh Bhe Gong Thian’ atau kuda binal
menjura ke langit dia menyambut datangnya serangan desiran
angin tajam itu,
Ciu Tong adalah manusia macam apa? Kalau
memandangnya dia orang sudah turun tangan sudah tentu,
tidak akan membiarkan Koan Ing menyampoknya dengan
amat mudah dia orang setelah melihat Koan Ing
menggunakan jurus serangannya ditambah jurus serangan
yang sering digunakan oleh Kong Bun-yu tempo hari membuat
dia orang sudah bisa menebak delapan, sembilan bagian jurus
apa yang bakal digunakan oleh Koan Ing ini.
Baru saja Koan Ing melancarkan serangan dengan
menggunakan jurus tersebut, mendadak sambaran angin
tajam itu miring ke samping membuat serangannya ini
mencapai pada sasaran kosong.
Dia agak melengak tetapi tidak berani berpikir lebih
panjang lagi, tangan kirinya dengan cepat diangkat

melancarkan serangan dengan menggunakan jurus “Ci Cie
Thian Yang” atau mengukur ujung langit.
Tangan kirinya dengan sangat tepat sekali berhasil
menyampok jatuh butiran pil yang disambit oleh Ciu Tong
tadi.
Ciu Tong jadi melengak, dia orang sama sekali tidak
menduga kalau jurus serangan “Ci Cie Thian Yang” ini bisa
demikian sempurnanya. Dia segera mendengus dingin.
“Hemm anak murid dari Kong Bun-yu ternyata tidak jelek
juga!” serunya.
Sembari berbicara jari tangan kanannya sekali lagi
menyambitkan sebutir pil mengarah diri Koan Ing.
Kali ini dia menggunakan tenaga dalam yang jauh lebih
besar, apalagi datangnya seranganpun amat cepat sekali
membuat Koan Ing sama sekali tidak mempunyai kesempatan
untuk berpikir, tangan kanannya dengan cepat membalik
menggunakan jurus ‘Noe Chi Sin Kiam’ atau pedang sakti
mengunjuk amarah menyentil datangnya pil itu,
Begitu serangan tersebut dihantam ke depan, segera
terlihatlah pil itu sedikit tergetar, lalu meloncat masuk ke
dalam mulutnya.
Koan Ing menjadi tertegun, dia sama sekali tidak
menyangka Ciu Tong bisa menggunakan tenaga dalam yang
demikian besarnya untuk menyambitkan sebutir pil saja, pada
dia sedikit berayal itulah pil tersebut sudah meluncur masuk
ke dalam mulutnya dan hancur terkena ludah masuk ke dalam
perutnya,
Di dalam sekejap saja Koan Ing hanya merasakan hawa
dingin menyusup ke seluruh tubuhnya, walaupun saat ini dia
memiliki tenaga dalam yang amat tinggi tetapi tidak tertahan
lagi diapun bersin beberapa kali,

Segulung hawa murni yang amat panas sekali mengalir
memenuhi seluruh tubuh membuat tubuhnya terasa amat
segar sekali.
Ciu Tong segera tertawa dingin, ujarnya kepada Koan Ing,
“Selama sembilan belas tahun ini, aku selalu berpikir ingin
sekali menjadi seorang jagoan nomor wahid yang tidak
terkalahkan di dalam Bu-lim. dengan seluruh tenaga yang aku
punyai aku orang telah pergi ke seluruh penjuru kolong langit
untuk mencari tujuh puluh dua macam bahan obat dan
membuat tiga butir pil yang dibuat menurut resepku, ketiga
butir pil itu setiap butirnya bisa menambah tenaga dalamku
seperti sepuluh tahun latihan sehingga dengan demikian aku
berhasil menjadi jagoan nomor wahid.”
Dia berhenti sebentar lalu tertawa dingin, sambungnya lagi,
“Salah seorang muridku telah mencuri sebutir pilku itu. tetapi
untung dia orang sama sekali tidak menyangka kalau di dalam
obat tersebut sudah aku beri Sin Ciah serta Thian Ci dua
macam obat racun, setelah seratus hari kemudian keempat
buah anggota badannya akan berubah menjadi hitam hangus,
mulutnya tidak bisa berbicara sedang tangannya tidak akan
bisa bergerak lagi.”
Koan Ing segera merasakan kepalanya segera digodam
dengan sebuah martil yang amat berat sekali, dia tidak dapat
mendengar perkataannya lebih lanjut dia cuma mendengar
suara tertawa dingin dari Ciu Tong lalu pandangannya menjadi
gelap.... gelap sekali.... dia jatuh tidak sadarkan diri.
Ciu Tong tertawa dingin lagi, ujarnya, “Hmmm.... hmmm....
kecuali kau sudah bertemu dengan seorang tabib yang jauh
lebih pandai dari diriku, tetapi menurut apa yang aku ketahui
di dalam kolong langit saat ini tidak akan ada manusia seperti
itu.”
Sesaat sebelum jatuh tidak sadarkan diri Koan Ing cuma
merasakan telinganya mendengung-dengung dengan amat
kerasnya. di dalam benaknya cuma berkelebat satu ingatan

saja, di dalam seratus hari kemudian dia bakal menjadi
seorang cacat.... dia tidak akan bisa membalas dendam atas
kematian ayahnya lagi.... soal kereta berdarahpun dia tidak
bisa menguntit lebih jauh....
Entah lewat beberapa saat lamanya dia baru sadar kembali
dari pingsannya, sewaktu matanya dipentangkan saat itu
cuaca sudah terang tanah, suasana di sekeliling tempat itu
sunyi senyap tidak tampak sesosok manusiapun kecuali
sesosok mayat yang menggeletak dengan keadaan yang amat
mengerikan di atas tanah.
Dia mengerutkan alisnya, lantas dengan perlahan bangkit
berdiri.
Di dalam sekali pandang saja dia sudah mengenal kembali
kalau mayat itu adalah mayat dari Gong Ing Thaysu, akibat
yang bakal diterima olehnya sejak tadi dia sudah menduga,
orang semacam Ciu Tong tidak akan turun tangan ringan,
terhadap dirinya saja yang ada nama Kong Bun-yu di
belakangnya dia masih berani turun tangan jahat apalagi
terhadap Gong Ing Thaysu?
Dengan termangu-mangu dia berdiri tertegun beberapa
saat lamanya disana, sebelum ilmu silatnya musnah dia harus
pergi mencari kereta berdarah itu
Teringat akan diri Ciu Tong di dalam hatinya dia merasa
sangat mangkel sekali, dengan cepat dia kerahkan tenaga
dalamnya menghajar sebuah patung manusia yang ada di
sampingnya.
“Braaaaaak.... dengan disertai suara ledakan yang amat
keras patung tersebut segera terpukul hancur menjadi
berkeping-keping.
Dia melihatnya sebentar lalu tertawa tawar.... kekuatan
tenaga dalamnya seperti latihan sepuluh tahun? Tidak lebih
cuma bisa bertahan seratus hari saja.... setelah itu.... setelah

itu.... dengan amat sedihnya dia menundukkan kepalanya,
dengan hati perih dia berpikir....
Di atas permukaan salju yang amat tebal sekali terlihatlah
seorang pemuda yang wajahnya amat murung sedang
melakukan perjalanannya ke depan.
Kuil yang ada di hadapannya sekarang itu bukan lain
adalah kuil Jien Ko Ci yang merupakan pusat pemerintahan
para Lhama di daerah Tibet.
Dengan perlahan Koan Ing berjalan maju ke depan, tidak
selang lama kemudian dia sudah tiba di kuil Han-poh-si yang
merupakan kuil terbesar di Jien Ko Ci, dia tahu peristiwa
masuknya kereta berdarah ke daerah Tibet tidak bakal salah
lagi.
Dia cuma tidak tahu bagaimana jejak selanjutnya dari
kereta berdarah itu.... dia harus mendapatkan “Kereta
berdarah” itu untuk membalas dendam sebelum kepandaian
silatnya musnah, sedangkan untuk mendapatkan kereta
berdarah itu cuma ada Hud Ing Thaysu seorang saja yang bisa
memberikan bantuan yang paling besar kepadanya.
Dengan tenangnya dia berjalan masuk ke dalam kuil Hanpoh-
si, terlihatlah kedua belah samping dari pintu kuil tersebut
berdirilah berpuluh-puluh patung arca malaikat yang tingginya
beberapa kaki, setiap arca tersebut terbuat dari emas yang
menyilaukan mata, keadaannya sangat angker sekali.
Di dalam ruangan kuil itu penuh dengan asap dupa yang
amat tebal, terlihatlah banyak sekali orang-orang Tibet yang
sedang bersembahyang disana.
Setelah berdiri beberapa saat lamanya di depan kuil,
akhirnya dengan langkah perlahan Koan Ing berjalan masuk
ke dalam.

Para Lhama yang melihat Koan Ing berjalan masuk ke
dalam kuil segera dengan menggunakan pandangan yang
amat terkejut bercampur heran memandang ke arahnya.
Koan Ing sama sekali tidak mau ambil gubris keadaan
mereka yang keheranan itu, baru saja berjalan sampai di
ruangan kuil segera terlihatlah seorang Lhama tua berjalan
maju
ke depan Koan Ing lalu merangkap tangannya memberi
hormat.
Ujarnya dengan menggunakan bahasa Han yang agak
lancar, “Tolong tanya sicu datang kemari ada urusan apa?”
Koan Ing melirik ke arah Lhama tersebut lalu mendengus
tawar.
“Cayhe bernama Koan Ing, ada urusan hendak bertemu
dengan Hud Ing Thaysu ciangbunjin dari kuil ini? Entah
apakah Thaysu ada di dalam kuil?”
“Ciangbun Thaysu ada di ruangan sebelah belakang,” ujar
Lhama itu sambil tertawa. “Biarlah siauw-ceng pergi melapor,
harap Koan sicu menanti sejenak di kamar samping.”
Segera terlihatlah seorang hweesio cilik berjalan
mendatang dan memimpin Koan Ing menuju ke kamar
samping, sedangkan Lhama itupun dengan langkah yang
tergesa-gesa berjalan masuk ke dalam ruangan kuil itu.
Dengan amat tenangnya Koan Ing mengikuti hweesio itu
berjalan masuk ke dalam ruangan samping.
Tidak selang lama tampaklah Lhama tadi sudah berjalan
datang kembali, kepada Koan Ing sambil merangkap
tangannya memberi hormat, ujarnya, “Ciangbun Thaysu
mempersilahkan Koan sicu untuk bertemu di dalam ruangan
tengah.”

Sewaktu dia berbicara sampai disitu genta besar yang ada
di kuil berbunyi tidak henti-hentinya membuat suara tersebut
bergema memenuhi seluruh kuil.
Koan Ing segera mengangguk dan berjalan keluar dari
kamar samping tersebut saat itu orang-orang yang sedang
bersembahyang di dalam kuil itu sudah mulai pada bubaran.
Diam-diam dia kerutkan alisnya rapat-rapat, dia tidak tahu
kenapa Hud Ing Thaysu harus berbuat demikian repotnya
hanya untuk bertemu dengan dia orang? Tetapi dia tidak mau
berpikir panjang lagi, dengan langkah perlahan berjalan
masuk ke dalam ruangan sebelah dalam.
Sesampainya di dalam ruangan tengah sepasang matanya
dengan perlahan menyapu sekejap ke tempat itu terlihatlah
tinggi ruangan tersebut ada sepuluh kaki dengan patung
Buddha yang terbuat dari emas setinggi sembilan kaki berdiri
dengan angkernya di tengah ruangan, asap dupa
membumbung memenuhi seluruh ruangan laksana selapis
kabut tebal yang melayang dekat dengan permukaan.
Koan Ing segera berdiri di tengah ruangan, waktu itu
ruangan tersebut kosong tidak tampak seorangpun sehingga
kelihatan jauh lebih megah, suara genta sudah berhenti para
umat yang sedang sembahyang pun telah pergi, sebuah kuil
Han-poh-si yang begitu besar berada di dalam keadaan sunyi
senyap tak terdengar sedikit suarapun.
Sekali lagi Koan Ing menyapu sekejap keadaan di sekeliling
tempat itu, terlihatlah beratus-ratus buah patung arca dengan
megahnya berdiri memenuhi sekeliling ruangan tersebut.
Mendadak.... suara genta yang amat gencar kembali
bergema memenuhi angkasa, di tengah ruangan yang amat
sunyi itu mendadak berkumandang datang suara nyanyian doa
yang amat ramai disusul suara langkah manusia yang amat
perlahan berjalan memasuki ruangan.

Diam-diam Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat lalu
putar badannya, tampaklah dua puluh empat Lhama berjubah
kuning dengan masing-masing membawa senjata ditangannya
dengan langkah perlahan berjalan masuk ke tengah ruangan.
Sinar matanya segera berkelebat memancarkan sinar tajam
dan menyapu sekejap ke arah Lhama-lhama tersebut.
Mendadak suara nyanyian berhenti disusul berkelebatnya
sesosok bayangan kuning masuk ke dalam ruangan.
Wajah Lhama itu putih bersih dan segar, usianya kurang
lebih baru tiga puluh tahunan, tetapi sikapnya amat gagah
sekali.
Diam-diam pikir Koan Ing di dalam hati, “Hud Ing Thaysu
adalah seorang pendeta kenamaan, sekalipun aku belum
pernah bertemu dengan dirinya tetapi kiranya tidak mungkin
baru berusia sedemikian mudanya.”
Begitu Lhama berjubah kuning itu masuk ke dalam
ruangan, sepasang matanya segera memandang ke arah Koan
Ing dengan tajamnya.
Diantara kedipan serta sapuan matanya itulah Koan Ing
bisa menduga kalau kepandaian silatnya berada di atas diri Ciu
Pak, itu putra kesayangan dari iblis sakti dari Lautan Timur,
diam-diam dalam hati merasa keheranan.... Siapa sebetulnya
orang itu? Bagaimana kepandaiannya bisa begitu tingginya?
Lhama berjubah kuning itu melirik sekejap ke arah Koan
Ing lalu ujarnya, “Pinceng Husangko, entah Koan sicu
mempunyai urusan apa hendak bertemu dengan suhuku?”
Dalam hati Koan Ing merasa melengak pikirnya, “Aaaah....
kiranya orang inilah yang bernama Husangko, kalau begitu
orang yang sudah mengaku sebagai Husangko sewaktu ada di
sungai Tiang Kang adalah palsu. Jika dilihat gerak-geriknya
jelas kepandaian silatnya berada di atas diri Ciu Pak, tetapi
kepandaian silat Hud Ing Thaysu sendiri tidak lebih sejajar

dengan kepandaian silat dari Ciu Tong. bagaimana dia bisa
mempunyai murid yang memiliki kepandaian silat demikian
tingginya?”
Tetapi mana dia tahu kalau Ciu Pak serta Sang Siauw-tan
sekalian sejak kecil belajar ilmu silat tetapi dikarenakan
ayahnya merupakan salah satu dan empat manusia aneh yang
amat terkenal membuat mereka tidak takut terhadap siapapun
sehingga sekalipun tidak belajar ilmu silat, juga tidak ada
orang yang berani mengganggu mereka.
Sebaliknya Husangko sejak kecil dibesarkan di dalam kuil
dan sejak kecil pula sudah diterima sebagai murid oleh
ciangbunjin sehingga mau tidak mau dia orang harus berlatih
setiap hari.
Koan Ing yang mendengar dia orang menyebut dirinya
sebagai Husangko segera sahutnya dengan tawar, “Aku mau
bertemu dengan Hud Ing Thaysu.... ”
Husangko sama sekali tidak menduga Koan Ing bisa
berbuat demikian tidak tahu adatnya, dia agak melengak.
Dia adalah murid tertua dari Hud Ing Thaysu sebagai
ciangbunjin dari kuil-kuil daerah Tibet, mana dia orang pernah
memperoleh hinaan seperti ini? Tetapi bagaimanapun juga dia
adalah seorang yang beribadat sehingga tidak mau
mengumbar nafsu berlebihan. Jikalau Koan sicu ada perkataan
silahkan bicara dengan aku saja,” ujarnya halus.
Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia mau
bertemu Hud Ing Thaysu dengan menggunakan
kedudukannya sebagai ciangbunjin dari Thian-yu-pay, tidak
seharusnya Hud Ing Thaysu cuma mengirim Husangko saja
untuk menemui dirinya, apalagi dia orang tidak mempunyai
waktu yang banyak.
“Kalau memangnya suhumu tidak ada, yah sudahlah, aku
Koan Ing mohon diri dulu,” sahutnya dengan amat tawar.

Sehabis berkata dia merangkap tangannya memberi hormat
dan siap meninggalkan tempat
itu.
Melihat sikap Koan Ing yang amat ketus dalam hati
Husangko merasa amat gusar sekali.
“Tunggu dulu!” bentaknya sembari mendengus dingin.
Waktu itu Koan Ing sudah berada di pintu sebelah depan
dari kuil itu, mendengar suara bentakan tersebut dengan
cepat dia putar badannya.
“Hmmm,” dengusnya sembari memandang beberapa saat
lamanya ke arah Husangko, “Aku Koan Ing dengan
menggunakan kedudukanku sebagai ciangbunjin dari Thianyu-
pay hendak bertemu dengan Hud Ing Thaysu, aku
bukannya hendak bertemu dengan Hud Ing Thaysu dengan
menggunakan kedudukanku sebagai seorang boanpwee.”
Sehabis berkata dengan pandangan yang amat dingin dia
memperhatikan diri Husangko,
Sejak kecil Husangko sudah ditentukan sebagai calon
pengganti ciangbunjin dari aliran Tibet sehingga sudah
terbiasa bersikap congkak, kini dia orang mana bisa tahan
menerima pandangan rendah dari diri Koan Ing? Dia segera
mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Untuk bsrterau dengan suhu tidak sukar” serunya dingin,
“Kau menyebut diri mu sebagai ciangbunjin dari aliran Thianyu-
pay, seharusnya sekarang ciangbunjin harus
memperlihatkan sedikit kelihayan sedikit kepadaku, asalkan
kau orang bisa menangkan diriku segera aku akan membawa
kau untuk bertemu dengan dia orang tua.”
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera tertawa
dingin.

“Bilamana kau memaksa aku orang untuk memperlihatkan
kelihayanku terlebih dulu baru
bisa bertemu dengan suhumu. Heeee.... heeee.... hal ini
bukanlah merupakan satu persoalan
yang sukar!” serunya mengejek.
Air muka Husangko segera berubah sangat hebat. Jelas
sekali usia dari Koan Ing ini jauh lebih kecil sepuluh tahun dari
dirinya tetapi perkataannya sama sekali tidak memandang
sebelah matapun terhadap dirinya, bagaimana dia orang bisa
tahan atas hinaan itu
Ooo)*(ooO
Bab 11
DIAPUN segera tertawa dingin, “Bilamana kau bisa keluar
dari pintu besar kuil Han-poh-si ini, suhuku sudah tentu bisa
keluar sendiri untuk bertemu dengan dirimu.”
Dengan dinginnya Koan Ing menoleh ke belakang lalu
tanpa mengucapkan sepatah katapun berjalan keluar dari
ruangan.
Tetapi baru saja dia berjalan keluar dari pintu ruangan itu
mendadak tampaklah olehnya kedua belah sampan dari pintu
tersebut sudah berdiri berpuluh-puluh orang Lhama berjubah
kuning dengan sikapnya yang amat angker sekali.
Tiba-tiba suara genta berbunyi kembali sebanyak tiga kali,
Lhama-lhama tersebut segera pada bergeser menutupi jalan
tengah.
Sinar mata Koan Ing segera berkelebat, di tengah suara
suitannya yang amat nyaring tubuhnya segera meloncat ke
tengah udara lalu melayang turun ke tengah jalan keluar.
Baru saja tubuhnya bergerak maju ke depan, di tengah
suara bentakan yang amat keras segera tampaklah dua sosok
bayangan kuning berkelebat menubruk ke arahnya, satu dari

kanan yang lain dari kiri dengan dahsyatnya melancarkan
serangan gencar mengancam seluruh tubuhnya.
Koan Ing segera mendengus dingin, tangan kanannya
didorong ke depan dengan menggunakan jurus ‘Han Lin Sin
Wei’ atau dingin membeku unjuk kekuatan balas melancarkan
serangan dahsyat menghajar kedua orang itu.
Ilmu sakti ‘Thian-yu Jie Cap Su Cau’ merupakan salah satu
ilmu aneh yang amat dahsyat di kolong langit saat ini,
serangan yang dilakukan dengan menggunakan tenaga dalam
yang dimiliki saat ini mana bisa ditahan oleh Lhama-lhama
tersebut?
Bagitu serangannya dilancarkan keluar, dari gerakan
telapak segera diubah menjadi gerakan mencengkram lantas
dengan dahsyatnya mencengkram tangan kanan Lhama
tersebut.
“Kraaaak!” dengan tepatnya serangan tersebut berhasil
menghajar iga dari Lhama tersebut.
Sang Lhama yang terkena serangan dahsyat dari Koan Ing
seketika itu juga ada dua kerat tulang iganya terpukul patah
dia segera mendengus berat tubuhnya dengan kerasnya
menubruk ke arah sebuah patung arca.
Koan Ing sama sekali tidak berkedip lagi, tangan kanannya
kembali menyambar mencengkram Lhama yang satunya lagi
lalu melemparkannya ke arah patung arca yang ada di
sekeliling ruangan
“Braaaak....!”
Seketika itu juga patung arca yang terbuat dan emas itu
tertumbuk rubuh berantakan di atas tanah.
Baru saja tubuhnya melayang turun ke atas permukaan
tampaklah kembali ada lima enam orang Lhama berjubah
kuning dengan disertai suara bentakan yang amat keras pada
menubruk ke arahnya.

Begitu ujung kaki kiri dari Koan Ing menginjak permukaan
tanah tubuhnya mendadak dengan merendah berputar satu
lingkaran, di tengah pentangan tangannya kembali ada dua
orang Lhama berjubah kuning terlempar jatuh dengan
kerasnya.
Patung arca yang memenuhi seluruh ruangan itu segera
pada rubuh berantakan ke atas tanah membuat debu serta
bekas-bekas salju pada berhamburan memenuhi angkasa.
Husangko yang saat ini sedang menjaga di pintu depan kuil
sewaktu melihat kejadian ini diam-diam dalam hati merasa
bergidik juga, bukan saja jurus-jurus serangan yang
digunakan Koan Ing ini amat aneh dan belum pernah ditemui
bahkan tenaga dalam yang dimiliki jauh melebihi tenaga
dalamnya sendiri.
Kedua puluh empat Lhama berjubah kuning yang terbagi
menjadi dua bagian dan berdiri di samping Husangko itu
segera pada maju ke depan menyerbu diri Koan Ing.
Koan Ing yang melancarkan serangan-serangannya dengan
menggunakan jurus-jurus aneh
berturut-turut melemparkan lima, enam orang ke tempat
kejauhan memaksa orang-orang itu pada ketakutan dan
mengundurkan dirinya ke belakang, mendadak dia bisa
melihat kalau kedua puluh empat Lhama berjubah kuning itu
dengan membawa senjata yang aneh-aneh mulai menerjang
ke arah dirinya.
Di tengah suara bentakan yang amat keras tampaklah
sepasang gelang berganda sudah menghajar ke arah pundak
kanannya.
Koan Ing segera mendengus dingin, tubuhnya merendah ke
bawah diantara berkelebatnya bayangan tangan dia sudah
mencabut keluar pedang Kiam Hong Kiam-nya.

Dia segera membentak keras, pedang Kiam Hong Kiamnya
dengan disertai suara dengungan yang amat keras segera
membentuk gerakan busur yang amat besar, dengan
menggunakan jurus ‘Thian Hong si Lan’ atau angin langit
meniup ombak melancarkan serangan dahsyat ke depan.
Pedang di tangannya mendadak membelok ke bawah,
sewaktu Lhama itu dibuat tertegun tangannya sudah terasa
menjadi kaku,sepasang gelang berganda yang ada di
tangannya sudah berhasil dipukul mental oleh pedang panjang
Koan Ing.
Pada saat yang bersamaan itulah terasa sebuah toya
dengan disertai desiran angin pukulan yang amat keras
menghajar punggungnya, bahkan masih ada empat, lima buah
senjata aneh dengan disertai desiran angin dahsyat pula
bersama-sama menyerang tubuhnya.
Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, musuh
demikian banyaknya apakah dengan
kekuatan seorang diri dia masih mampu menghadapi
mereka semua?
Pikirannya segera berputar, kaki kanannya mendadak
bergeser maju ke samping tubuh Lhama bersenjatakan toya
itu, pedang panjangnya dengan disertai suara sambaran yang
amat tajam ditarik kembali ke belakang, inilah jurus ‘Han Lin
Sin Wie’ yang amat dahsyat.
‘Ilmu sakti Thian-yu Jie Cap Su Cau’ bukan saja di dalam
ilmu telapak bahkan di dalam jurus-jurus pedangpun
mempunyai perubahan-perubahan aneh yang amat banyak
sekali, apalagi untuk menghadapi para jago dari daerah Tibet
yang jarang pergi ke daerah Tionggoan, sewaktu menghadapi
jurus-jurus aneh untuk pertama kalinya tidak urung dibuat
kalang kabut juga, dengan demikian seluruh peranan ada di
tangan Koan Ing seorang.

Begitu Koan Ing melancarkan serangan dengan
menggunakan jurus tersebut, Lhama itu segera terdesak dan
dengan gugupnya menarik kembali toyanya untuk melindungi
tubuh sendiri.
Sambaran angin tajam yang melanda ke belakang
badannya, tangan kiri Koan Ing cepat-cepat dibabat ke
belakang mencengkram Lhama tersebut, dia segera
membentak keras tubuhnya membalik ke belakang.
Empat lima Lhama lainnya segera pada ketakutan dan
cepat-cepat menarik kembali serangannya untuk
mengundurkan diri ke belakang.
Koan Ing segera kerahkan tenaganya melemparkan Lhama
tersebut ke tempat kejauhan, dengan meminjam tenaga
lemparan tersebut diapun melayangkan tubuhnya keluar kuil,
Baru saja tubuhnya mencapai tengah udara tiba-tiba
terdengarlah suara seruang yang amat dingin sekali, “Hmm....
hmmm mau keluar dari kuil Han-poh-si? Tidak mudah kawan!“
Sekali dengar saja Koan Ing segera mengetahui kalau suara
itu berasal dari diri Husangko, sinar matanya dengan cepat
berkelebat ke arahnya
Tampaklah tubuh Husangko sudah melayang menghalangi
perjalanannya, toya berlapiskan emas yang ada di tangan
kanannya segera dibabat ke depan menyambut datangnya
tubuh Koan
Koan Ing segera mendengus dingin, pedang panjangnya
berputar satu lingkaran di tengah suara dengungan ringan
yang memekakkan telinga dengan menggunakan jurus ‘Hay
Ciauw Thian Yang’ atau pojok laut ujung langit pedangnya
membentuk gerakan busur lalu menusuk ke pundak kanan
dari Husangko.
Husangko adalah murid tertua dari Hud Ing Thaysu itu
jagoan nomor wahid di daerah Tibet, sudah tentu kepandaian

silatnya tidak bisa dibandingkan dengan Lhama2 lainnya,
tubuhnya segera mencelat ke samping dengan melintangkan
toyanya ke depan menghalangi jalan pergi dari Koan Ing.
Toyanya segera dicukil dan dibabat menghajar lambung
dari Koan Ing, inilah jurus ‘Kiem Kong Ciang Mo’ atau malaikat
sakti penakluk hantu dari ‘Hu Mo Chiet’ atau ilmu toya
penakluk iblis yang paling diandalkan oleh jago-jago di daerah
Tibet.
IImu toya penakluk iblis ini menjadi tenar dikarenakan
mengandalkan tenaga dalam yang amat dahsyat, sebaliknya
walaupun ‘Thian-yu Jie Cap Su Kiam’ merupakan sebuah jurus
pedang yang amat aneh tetapi alirannyapun menganut
kekerasan.
Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, pedang
panjangnya ditekan ke bawah lalu menggencet serangan
musuh, inilah jurus ‘Ban Sin Peng To”’ atau selaksa malaikat
menenangkan ombak, dengan amat tepatnya toya Husangko
cuma merasakan toyanya menjadi amat berat laksana ditindihi
dengan gunung Thay san.
Dia jadi sangat terperanjat, di tengah suara bentakan yang
amat keras toyanya dicabut ke belakang lalu balik menghajar
tubuh Koan Ing.
Koan In tidak mau bertempur lebih lanjut, begitu Husangko
mencabut kembali toyanya diapun dengan meminjam ke
sempatan ini meloncat ke atas.
Husangko yang melihat serangannya tidak mencapai
sasaran bahkan Koan Ing pun mau meninggalkan tempat
tersebut, tubuhnya dengan cepat meloncat ke atas, ujung kaki
kanannya menutul atas kepala arca emas disana, lalu laksana
seekor bangau kuning yang menembus awan di tengah suara
bentakan gusar yang amat keras tubuhnya bagaikan kilat
cepatnya sekali lagi menghalangi perjalanan dari Koan Ing.

Koan Ing yang melihat Husangko menghalangi perjalanan
perginya lagi, alisnya segera dikerutkan rapat-rapat.
Bilamana tubuhnya sampai terjatuh ke atas permukaan
tentu tidak ada cara lagi untuk keluar dari kuil itu.
Pikirannya segera berputar, pedang panjangnya mendadak
berkelebat membabat pergelangan tangan dari Husangko.
Husangko dengan dinginnya mendengus, tangan kanannya
digetarkan toyanya dengan mendatar menghantam dada Koan
Ing, sedangkan jari tengah serta jari telunjuk tangan kirinya
menotok ke badan pedang Koan Ing.
Saat ini Koan Ing sudah punya perhitungan masak, dia
segera membentak gusar pedangnya miring kes amping....
“Tiiiing!” gagang pedangnya dengan amat tepat sekali
berhasil menyapu ujung toya dari Husangko.
Tangan kirinya dengan meminjam sewaktu toya di tangan
Husangko rada perlahan segera menangkap ujung toyanya,
tubuhnya dengan meminjam gerakan tersebut melayang ke
atas, ujung kaki kanannya dengan amat dahsyatnya
menghajar ke atas wajah Husangko,
Gerakan dari Koan Ing yang amat aneh dan dahsyat ini
sama sekali tidak memberikan waktu buat Husangko untuk
berpikir lebih panjang lagi, Husangko sama sekali tidak
menduga kalau Koan Ing bisa melancarkan jurus serangan
yang demikian anehnya, saking terperanjatnya dia menjadi
tertegun lalu cepat-cepat melepaskan tangannya.
Koan Ing yang berhasil merebut toya pihak lawan di dalam
hati punya maksud untuk menjajal kepandaian silatnya lebih
lanjut, tangan kirinya dengan cepat ditarik kembali.
Di tengah suara suitan yang amat nyaring. “Nguuuung!”

Dengan menggunakan tenaga dalamnya dia berhasil
menggetarkan toya tersebut sehingga berubah menjadi
gerakan busur yang amat besar.
Pedang panjang di tangan Koan Ing cepat-cepat ditarik
kembali, tangannya yang sebelah segera mencekal ekor
toyanya lalu ditarik dengan keras ke belakang, sebuah toya
yang terbuat dari baja murni seketika itu juga berubah
menjadi sebuah benda bulat.
Di tengah suara sultannya yang amat nyaring patung emas
tersebut sudah ditendang terbalik lalu toya di tangan kirinya
dengan kerasnya disambit ke depan dan menancap pada mata
dari patung yang tertendang terbalik itu.
Pameran kesaktian yang dilakukan Koan Ing ini seketika itu
juga membuat para lhama dari kuil Han-poh-si pada berdiri
melongo, matanya terbelalak lebar-lebar, tak seorangpun yang
mengucapkan kata-kata.... Mereka sama sekali tidak
menyangka kalau seorang pemuda yang baru berusia dua
puluh tahunan bisa memiliki kepandaian yang demikian
tingginya. Siapa yang percaya kalau dia memiliki tenaga dalam
yang amat tinggi sekali?
Tubuh Koan Ing dengan cepat melayang ke depan kuil,
baru saja tubuhnya hendak melayang turun ke atas
permukaan mendadak tampak berkelebatnya sesosok
bayangan kuning, kembali seorang Lhama menghadapi
perjalanannya.
Koan Ing tidak mau ambil perduli lagi, tubuhnya yang
masih ada di tengah udara segera berjumpalitan lalu dengan
kecepatan bagaikan kilat kaki kanannya melancarkan
tendangan dahsyat menghajar dada hweesio tersebut.
Tetapi baru saja tendangannya dilancar kan hweesio itu
sudah melayang kembali menghalangi tepat di depan
tubuhnya.

Koan Ing menjadi tertegun, dia sama sekali tidak
menyangka kalau di depan pintu kuil itu masih ada seorang
hweesio yang berkepandaian tingginya menghalangi
perjalanan
selanjutnya, matanya dengan cepat berputar terlihatlah
orang itu bukan lain adalah seorang hweesio tua yang kurus
kering.
Dengan cepat Koan Ing menarik kembali kaki kanannya
lantas dengan dahsyat sikut kanannya didorong mengancam
iga hweesio itu.
Dengan suara yang amat berat hweesio itu segera memuji
keagungan Buddha, begitu serangan Koan Ing mencapai pada
sasarannya dia segera merasakan dari iga hweesio tua itu
memancar keluar tenaga pantulan yang amat keras sekali
membuat tubuhnya tidak kuasa lagi tergetar mundur satu
langkah ke belakang.
Tampak hwesio itu dengan wajah tenang berdiri di
hadapannya, ujarnya dengan suara berat, “Loolap adalah Hud
Ing, Koan sicu ada urusan apa mencari aku orang?”
Koan Ing menjadi sangat terperanjat dia sama sekali tidak
menyangka kalau jagoan nomor wahid dari daerah Tibet
ternyata merupakan seorang hweesio tua yang sama sekali
tidak terpandang mata, tidak terasa lagi dia menjadi
termangu-mangu dibuatnya.
Dengan amat dinginnya sekali lagi Hud log Thaysu
memperhatikan seluruh tubuh Koan Ing.
“Hmm.... sungguh dahsyat kepandaian silat dari Siauw
sicu,” ujarnya dingin.
Koan Ing pun dengan pandangan tajam memperhatikan diri
Hud Ing Thaysu, tampaklah diantara berkelebatnya sinar mata
serentetan cahaya tajam memancar ke luar tak henti-hentinya,

jelas sekali kalau kepandaian silat Yang dimilikinya amat tinggi
sekali, agaknya tidak berada di bawah tenaga dalam Ciu Tong
“Koan sicu.... ” Terdengar Hud Ing Thaysu berkata kembali
dengan suara yang amat berat. “Sekalipun kau orang hendak
menemui aku dengan menggunakan sebagai seorang
ciangbunjin suatu parlai, tapi di dalam pandanganku, Koan
sicu tidak lebih cuma seorang dari angkatan muda saja.”
Selesai berkata sinar mata tajamnya memperhatikan dirinya
kembali, tambahnya, “Urusan ini hari apakah Koan sicu mau
menyerah dibelenggu untuk minta maap ataukah hendak
memaksa Loolap menjajal-jajal kepandaian silat Thian-yu Khie
Kangmu?”
Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa berdebar, ujarnya
kemudian dengan dingin pula, “Chayhe minta bertemu dengan
menggunakan peraturan dan adat sebaliknya anak muridku
pada goblok dan kasar, sekalipun aku cuma seorang dari
angkatan muda tetapi jelek2pun merupakan seorang
ciangbunjin dari satu partai, bukannya Thaysu menyalahkan
murid-muridmu kenapa sekarang malah suruh aku meminta
maaf kepadamu?”
Hud Ing Caysu dengan dinginnya mendengus, sinar
matanya dengan cepat menyapu sekejap ke sekeliling ruangan
itu, terlihatlah ada puluhan orang anak muridnya terluka parah
dan separuh lebih arca2 emasnya rubuh berantakan, tidak
terasa lagi hal ini membuat hawa amarahnya semakin
membara.
“Seorang ciangbunjin dari partai besar!” serunya dengan
amat dingin. “Sungguh besar omonganmu.... hmmm.... hmm
sekalipun Kong Bun-yu datang sendiri kesinipun tidak
seharusnya berbuat demikian gegabah”
Koan Ing tahu dia orang bukanlah tandingan dari Hud Ing
Thaysu, tetapi sikap dari Hun In Thaysu yang demikan tidak
memandang hormat terhadap seorang ciangbunjin dari

“Thian-yu-pay” membuat hatinya merasa sangat tidak
puas, dia segera tertawa dingin,
“Hmmm?.... heee.... heeee aku Koan Ing ingin sekali
menjajal kepandaian “Thay Su Ing” yang lihay dan sudah
menggetarkan seluruh Bu-lim dari Thay-su!” serunya.
Hud Ing Thaysu yang melihat sikap Koan Ing ternyata
begitu ketusnya, bahkan sedikitpun tidak mau mengalah di
hadapannya tidak urung dia mengerutkan alisnya juga, “Kau
bangsat cilik sungguh sombong!” teriaknya gusar.
Tidak menanti perkataan selanjutnya di ucapkan, dengan
cepat Koan Ing mencabut keluar pedangnya dari dalam
sarung, lalu dengan menggunakan jurus ‘Noe Ci Sin Kiam’ atau
dengan gusar kebaskan pedang menyerang tubuh Hud ing
Thaysu.
Hud Ing Thaysu segera mendengus dingin ujung jubahnya
dikebut ke depan sedang tubuhnya dengan miring mundur
satu langkah ke belakang.
Jurus ‘Noe Ci Sin Kiam’ ini merupakan jurus yang paling
aneh diantara ‘Thian Ya Jie Cap Su Cau’ baru saja Hud Ing
Thaysu mundur satu langkah ke belakang pedang Cing Hong
Kiam itu mendadak dengan disertai suara dengungan, yang
amat keras membelok ke samping lalu menusuk iga sebelah
kiri dari Hud Ing Thaysu.
Dengan memandang kedudukannya sebagai seorang
cianpwee sebenarnya Hud Ing Thaysu hendak mengalah tiga
jurus kepadanya, tetapi dia orang sama sekali tidak
menyangka kalau ilmu pedang dari Koan Ing demikian
anehnya, jikalau sekali lagi dia menghindarkan diri tentu
seketika itu juga dia akan dipaksa menemui kekalahan.
Dia tidak mengira kalau maksudnya semula untuk
mengalah tiga jurus kepadanya ternyata kini tidak berhasil
mengalah barang sejuruspun, hatinya makin gusar lagi.

“Ilmu pedang yang bagus” teriaknya dengan gusar.
Telapak tangan kanannya mendadak membabat ke depan
mengancam tubuh pedang yang ada di tangan Koan Ing.
Koan Ing tahu kalau tenaga dalam yang dimilikinya masih
bukan tandingan dari Hud Ing Thaysu, pedangnya dengan
cepat ditarik ke belakang berubah menjadi jurus ‘Ci Cie Thian
Yang’ atau mengukur ujung langit, kaki kanannya maju ke
samping sedangkan ujung pedangnya mengancam alis dari
Hud Ing Thaysu.
Hud Ing Thaysu segera mendengus, ketika dia orang
melihat jurus-jurus serangan dari Koan Ing amat aneh sekali
dalam hati segera punya niat untuk menjajal kepandaian
“Thian-yu Khei Kang” lebih lanjut, pikirnya, “Ehmmm.... sejak
dulu aku orang kepingin menjajal kepandaian silat dari empat
manusia aneh, kini murid keponakan dari Kong Bun-yu sudah
datang kemari aku harus coba menjajal bagaimanakah
kehebatan dari kepandaiannya”
Tangan kanannya dari gerakan telapak berubah menjadi
gerakan jari, tiga jarinya dengan berpencar menyerang tubuh
Koan Ing serta menjepit pedang yang menyerang ke arahnya.
Jurus yang digunakan oleh Koan Ing barusan ini adalah
salah satu dari ‘Thian-yu Jie Cap Su Khei Cau’ mana mungkin
pedangnya berhasil dijepit oleh Hud Ing Thaysu dengan begitu
mudahnya? pedangnya dengan cepat miring ke samping
berganti arah menyerang ke bagian tubuh yang lain.
Tampaklah sinar yang berkilauan memenuhi angkasa, dia
mendesak mundur kedua jari dari Hud Ing Thaysu lalu
pedangnya diteruskan menusuk pelipis kanan dari Hud Ing.
Baru saja Hud Ing Thaysu mau menghindar untuk
menyerang dari arah samping tetapi ketika dilihatnya
kedudukan kaki kanan dari Koan Ing amat rapat sekali dia
menjadi sangat kaget, karena dengan demikian jalan majunya

sudah terhambat mati. Pikirnya di dalam hati, “Kenapa sejak
tadi aku tidak melihat akan hal ini?”
Sekali lagi dia terdesak mundur satu langkah ke belakang.
Dalam hati Hud Ing Thaysu benar-benar amat gusar sekali,
dengan kepandaian siiat yang dimilikinya serta kedudukannya
sebagai angkatan tua, ternyata dia orang berhasil didesak
mundur oleh Koan Ing sebagai seorang dari angkatan muda di
hadapan orang banyak, bagaimana urusan ini tidak membuat
hatinya merasa amat malu?
Pada saat itulah Koan Ing yang melihat serangannya
mencapai hasil segera melancarkan lagi serangan yang lebih
gencar ke arahnya,
Hud Ing Thaysu dengan gusar mendengus, tangan
kanannya dipentangkan lebar-lebar, seketika itu juga berubah
menjadi merah darah, inilah ilmu telapak ‘Thay Su Ing’ yang
amat dahsyat dari daerah Tibet.
Pada saat telapak tangannya mulai membesar itulah
berturut-turut dia melancarkan tiga serangan sekaligus.
Koan Ing yang melihat telapak tangan Hud Ing Thaysu
mulai berubah warna dalam hati segera tahu kalau urusan
tidak beres, tetapi untuk menarik kembali pedangnya sudah
tidak sempat lagi dari telapak tangan Hud Ing Thaysu segera
terasalah segulung hawa sedotan yang amat kuat memaksa
dia tidak sanggup untuk menarik pedangnya kembali.
Pedangnya segera tergetar dengan amat kerasnya.
“Ngoooong.... ” tidak kuasa lagi pandangnya segera
terpental ke tengah udara.
Hud Ing Thaysu yang hanya di dalam tiga pukulan saja
berhasil memukul jatuh pedang Koan Ing tubuhnya segera
maju mendesak ke depan mendekati pihak lawannya^

Di dalam keadaan gugup Koan Ing cepat-cepat lintangkan
telapak tangannya untuk menangkis datangnya serangan
musuh, tapi keadaan sudah terlambat tangannya berhasil
dicengkram oleh Hud Ing Thaysu.
Terdengar dengan amat dinginnya Hud lug Thaysu tertawa
dingin.
“Kepandaian silat dari Koan sicu boleh dikata merupakan
jagoan nomor wahid diantara
angkatan muda, tetapi jikalau kau orang mau
mengandalkan sedikit kepandaian itu untuk mengacau di kuil
Han-poh-si kami.... hehehee.... bukankah kau orang terlalu
pandang tinggi dirimu sendiri?”
Dengan amat tawarnya Koan Ing melirik sekejap ke arah
diri Hud Ing Thaysu, tidak ada sepatah katapun diucapkan
keluar.
“Bukankah tujuan Koan sicu datang ke mari untuk mencari
jejak dari kereta berdarah itu?” tanya Hud Ing Thaysu lagi
sambil kerutkan alisnya rapat-rapat.
Koan Ing kini sudah berhasil kena tawan sudah tentu dia
orang tidak mau mengucapkan sepatah katapun. Sebenarnya
tujuannya datang ke kuil Han-poh-si ini tidak mengandung
maksud untuk berkelahi, tetapi sewaktu dilihatnya sikap
Husangko demikian Congkaknya serta tidak tampaknya Hud
Ing Thaysu maka hal ini memaksa dia mau tak mau harus
turun tangan juga.
Saat dalam hati dia orang semakin tidak memandang
sebelah matapun terhadap Hud Ing Thaysu.
Hud Ing Thaysu yang melihat Koan Ing tidak mengucapkan
sepatah katapun, dia segera mengetahui sifat Congkak dari
Koan Ing membuat dia orang bungkam, tetapi dia orang tidak
bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya.

Sebetulnya di dalam hati dia ingin mengetahui apa tujuan
dari Koan Ing datang kemari, tentang berita terbunuhnya
Kong Ing Thaysu dia sudah tahu, cuma saja dia orang tidak
tahu siapa yang sudah turun tangan terhadapnya.
Dia termenung berpikir sebentar, akhirnya sambil berjalan
menuju ke kuil sebelah dalam ujarnya kepada Husangko,
“Bawa dia ke dalam kamarku”
Husangko agak melengak, setelah termenung beberapa
saat lamanya dia turun tangan juga membebaskan jalan darah
dari Koan Ing.
“Kau ikutilah diriku,” ujarnya.
Dengan sifat yang tinggi hati dan sombong dari Koan Ing
mana dia orang mau melarikan diri dengan mengambil
kesempatan itu? Sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat,
setelah memungut kembali pedangnya dengan mengikuti diri
Husangko berjalan masuk ke dalam ruangan tengah.
Para Lhama yang ada di kedua belah samping dengan
pandangan amat gusar memperhatikan dirinya terus, tetapi
Koan Ing tidak mau ambil perduli, dia tetap lanjutkan
perjalanannya menuju ke depan.
Setelah berputar melalui sebuah pendopo sampailah
mereka di ruangan kuil sebelah belakang, tampak Hud Ing
Thaysu sudah duduk di atas kasurnya, melihat Koan Ing
berjalan masuk dia segera memberi tanda supaya dia duduk.
Dengan amat tawarnya Koan Ing memandang sekejap ke
arahnya lalu duduk di tempat yang sudah ditunjuk.
Hud Ing Thaysu termenung sebentar, lalu baru terdengar
dia berkata, “Berita masuknya kereta berdarah ke daerah
Tibet sudah tersebar luas di seluruh daerah Tionggoan, tetapi
sampai saat ini kecuali kau seorang belum tampak ada orang
lain yang munculkan dirinya, akupun tahu kalau jago-jago Bulim
yang muncul disini tidak sedikit jumlahnya, tetapi kereta

berdarah itu benar-benar tidak masuk ke daerah Tibet kami
ini.“
Koan Ing tertawa tawar, kini Hud Ing Thaysu bersikap
hormat kepadanya membuat dia orang tidak dapat berdiam
diri terus.
Dia tidak tahu perkataan dari Hud Ing Thaysu ini sungguh
atau palsu tetapi palsunya Husangko benar-benar merupakan
soal yang nyata, dia segera menarik napas panjang-panjang
ujarnya, “Perkataan dari Thaysu ini benar-benar atau tidak?”
“Tidak ada seorangpun yang pernah melihat kereta
berdarah memasuki daerah Tibet” sahut Hud Ing Thaysu
sambil tertawa.
Dalam hati Koan Ing merasa tidak percaya dengan
perkataannya itu, tetapi pada mulutnya tetap berkata:^
“Aku datang kemari cuma ada satu tujuan saja yaitu untuk
mengetahui jejak dari kereta berdarah dimana dia sudah
membinasakan ayahku”
“Tetapi ini hari Koan sicu sudah melukai anak murid kami,”
ujar Hud Ing Thaysu sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat,
“Tentang rusaknya patung-patung arca itu kami tidak akan
mengungkit lagi tetapi aku ada satu permintaan harap Koan
sicu mau segera meninggalkan daerah Tibet untuk menuju ke
daerah Mongol.”
Koan Ing menjadi melengak, dia tahu Hud Ing Thaysu
bertujuan untuk memancing pergi kaum jago Bu-lim yang
menguntit jejak dari Kereta Berdarah itu ke daerah lain,
karena mereka semua tahu kalau Koan Ing sangat terburuburu
untuk menguntit jejak dari kereta berdarah itu, dia orang
tidak mungkin mau tanpa sebabjauh2 ke daerah Mongol.
Sekalipun misalnya dia orang belum terkena racun diapun
tidak akan mau berbuat demikian apalagi sekarang dia bakal

kehilangan seluruh ilmu silatnya beberapa puluh hari lagi,
segera dia tertawa tawar. “Tidak mungkin!” sahutnya singkat.
Hud Ing Thaysu menjadi melengak, dia sama sekali tidak
menyangka Koan Ing bisa bersikap demikian ketusnya.
“Apakah Koan sicu benar-benar tidak mau memberi muka
kepadaku?” tanyanya dingin.
Koan Ing tahu apa yang dimaksud dengan perkataan Hud
Ing Thaysu itu, dia tertawa dingin.
“Thaysu adalah seorang yang beribadat,” ujarnya kaku.
“Kenapa kau orang masih mau juga melakukan pekerjaan
yang menghilangkan wajahmu sendiri?” Hud Ing Thaysu yang
dimaki dengan kata-kata itu hatinya menjadi teramat gusar.
“Ikat dirinya, tunggu sampai Kong Bun-yu datang baru
lepas dia!” teriaknya keras.
Koan Ing tertawa dingin tidak mengucapkan sepatah
katapun, Husangko dengan cepat berjalan mendekati
badannya lalu menotok jalan darahnya tetapi Koan Ing sama
sekali tidak memberikan perlawanannya segera mendengus
dingin, dia segera bangkit berdiri dan mengundurkan diri dari
sana.
Dengan mengempit tubuh Koan Ing, Husangko berjalan
menuju ke kuil sebelah belakang lalu mengikat kaki serta
tangannya dengan tali dan digantung di atas sebuah pohon.
“Koan sicu,” ujarnya sambil tertawa dingin. “Kau tunggulah
untuk sementara waktu di tempat ini, menunggu setelah Kong
Bun-yu datang kau baru akan kami lepaskan kembali.... ”
Selesai berkata sambil tertawa keras dia berlalu dari sana,
Koan Ing yang badannya tergantung di atas pohon dalam hati
sadar, jikalau tidak ada orang yang datang memberikan
pertolongannya kepada dirinya maka dia jangan harap bisa
lolos dari sana, Tidak terasa lagi di dalam hati diam-diam
pikirnya, “Tidak perduli bagaimanapun aku bakal mati juga,

bukankah diperlakukan secara demikianpun sama saja? hanya
saja dendam sakit hati ayahku belum terbalas, haaaaai.... hal
ini benar-benar membuat aku merasa menyesal.“
Ooo)*(ooO
Bab 12
BUNGA SALJU BERHAMBURAN memenuhi seluruh
permukaan.... seluruh tubuh dari Koan sudah dipenuhi dengan
hamburan salju, tetapi jalan darahnya saat ini sudah tertotok,
dia tidak dapat mengerahkan tenaga dalamnya untuk
mengusir rasa dingin tersebut membuat tubuhnya gemetar
dengan amat kerasnya.
Cuaca semakin lama semakin gelap, saking kedinginannya
hampir-hampir Koan Ing jatuh tidak sadarkan diri.
Mendadak tampaklah sesosok bayangan merah berkelebat,
sekali pandang saja Koan Ing sudah mengenal kembali kalau
orang itu bukan lain adalah Sang Siauw-tan adanya.
Dengan amat cepatnya tubuh Sang Siauw-tan mendekati
tubuh Koan Ing lalu dengan menggunakan sebilah pisau belati
memutuskan otot kerbau yang digunakan untuk mengikat
badan Koan Ing itu, setelah itu barulah dia orang
menggendong badannya berkelebat menuju ke dalam rimba.
Diam-diam dalam hati Koan Ing merasa keheranan,
bagaimana secara tiba-tiba Sang Siauw-tan bisa muncul di
tempat itu?
Sang Siauw-tan membawa tubuh Koan Ing ke dalam
sebuah hutan yang amat lebat sekali, setelah membantu dia
orang melepaskan ikatan otot kerbau dia baru mengurutkan
jalan darahnya.
Saat ini seluruh tubuh Koan Ing sudah membeku sehingga
hampir-hampir tidak bisa bergerak lagi, dengan termangumangu
Sang Siauw-tan memandang dirinya tiba-tiba dia

melelehkan air matanya lalu dengan menggunakan sepasang
tangannya mencekal tangan dari Koan Ing.
Koan Ing segera merasakan hatinya tergetar amat keras,
dengan terpesona diapun balas memperhatikan diri Sang
Siauw-tan.
Lama sekali.... baru terdengar Sang Siauw-tan menghela
napas kemudian membuatkan api unggun disana.
Beberapa saat kemudian Koan Ing baru bisa menggerakkan
badannya kembali, dengan termangu-mangu dia memandang
diri Sang Siauw-tan dengan terpesona.
“Koan Toako, kau masih merasa kedinginan?” tanya Sang
Siauw-tan sambil tertawa.
Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan tertawa sehingga
kelihatan pipinya yang berwarna merah dadu membuat dia
sekali lagi termangu-mangu,
Sikap yang demikian baik dari Sang Siauw-tan ini benarbenar
membuat dirinya sama sekali tidak menyangka.
Dengan amat ragu-ragu dia mengangguk.
Sang Siauw-tan tertawa lagi, sambil mengusap kering
bekas air mata ujarnya sambil tertawa, “Tia masih belum
kembali, terpaksa aku pergi menolong dirimu seorang diri, aku
sama sekali tidak mengira kau bisa kedinginan sehingga
sebegitu hebatnya.”
Dalam telinganya Koan Ing mendengar kalau Sang Siauwtan
sedang berbicara tetapi dia sama sekali tidak mengerti apa
yang sedang diucapkan olehnya, dia tidak tahu di dalam
benaknya saat ini sedang memikirkan apa?
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing memandang dirinya
terus menerus tak terasa lagi air mukanya menjadi merah
padam.

“Koan Toa-ko kau masih membenci diriku?” tanyanya
sambil menundukkan kepalanya,
Tidak terasa lagi Koan Ing mencekal sepasang tangan dari
Sang Siauw-tan dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang
tetapi sebentar saja dia sudah melepaskannya kembali
Sang Siauw-tan menjadi melengak, dia segera angkat
kepalanya memandang ke arahnya.
Dengan perlahan Koan Ing menundukkan kepalanya, dia
teringat kembali bagaimana perasaannya dahulu Sang Siauwtan,
di dalam hati kecilnya dia benar-benar merasa sangat
senang dengan perempuan ini, tetapi sekarang.... semuanya
sudah terlambat
Dia segera bangkit berdiri lalu dengan perlahan-lahan putar
badan dan berjalan menuju ke tengah hutan.
Sang Siauw-tan tidak mengetahui apa yang sedang
dipikirkan Koan Ing saat ini, diapun dengan cepat bangkit
berdiri.
“Koan Toa-ko kau kenapa....?” tanyanya heran.
“Buat apa kau mengikuti diriku?” seru Koan Ing sambil
menoleh lagi.
Sang Siauw-tan menjadi tertegun, dia sebenarnya adalah
seorang gadis yang tinggi hati tetapi karena teringat akan
pertolongan dari Koan Ing yang berulang kami maka tadi dia
berusaha untuk menekan sifat tinggi hatinya itu, tetapi dia
orang sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa
berbuat demikian kasar terhadap dirinya....
Tidak kuasa lagi dia menangis tersedu-sedu, sambil
menutupi mukanya dengan tangan dia putar badan lari dari
sana.
Dalam hati Koan Ing merasa hatinya amat perih, titik-titik
air mata menetes keluar membasahi wajahnya, bayangan

tubuh dari Sang Siauw-tan sekali lagi berkelebat di dalam
benaknya, bajunya yang berwarna merah serta sepasang
pipinya yang merah dadu menarik jelas sekali dia sengaja
berdandan buat dirinya melihat.
Sejak semula di dalam hati kecilnya dia sudah merasa
senang dengan sifat dari Sang Siauw-tan yang gagah dan
bersemangat, wajahnya yang cantik menawan serta sikap
cemberut
sewaktu marah membuat hatinya benar-benar tertarik,
tetapi ini hari dia harus berbuat demikian, dia terpaksa harus
berbuat begitu.
Setelah berdiri tertegun beberapa waktu lamanya akhirnya
dia mengulapkan tangannya dan mendepakkan kakinya ke
atas tanah, dia tidak punya jalan lain kecuali berbuat
demikian, dengan tanpa berpikir panjang lagi cepat-cepat dia
berlari ke depan.
Mendadak tampak cahaya terang membumbung ke
angkasa, dia menjadi melengak dan menghentikan
langkahnya.
Ketika menoleh ke belakang terlihatlah kuil Han-poh-si itu
sudah berada di tengah lautan api. Koan Ing tahu tentulah itu
hasil perbuatan dari Sang Siauw-tan yang sedang berada di
dalam keadaan amat gusar.
Di tengah membumbungnya api yang berkobar dengan
amat dahsyatnya itulah mendadak secara samar-samar
terdengar suara ringkikan kuda yang amat panjang
berkumandang ke dalam telinganya.
Begitu mendengar suara ringkikan kuda itu semangatnya
dari Koan Ing segera berkobar kembali, di dalam ingatannya
segera terbayang kembali sesuatu benda....
Tampak empat ekor kuda jempolan berwarna merah darah
dengan menarik sebuah kereta besar yang berwarna merah

darah pula menerjang keluar dari antara lautan api terus
menerjang ke arahnya Inilah kereta berdarah.... tidak di
sangka olehnya kereta berdarah yang dikejarnya sejauh ribuan
li ternyata bisa muncul di tempat dan pada saat seperti ini.
Koan Ing segera bersuit panjang, pedangnya dicabut keluar
dari sarungnya lalu bagaikan kilat cepatnya melayang dan
menubruk ke arah kereta berkuda itu.
Baru saja tubuh Koan Ing meloncat ke atas mendadak dari
dalam ruangan kereta itu menggulung keluar hawa pukulan
yang amat dahsyat sekali.
“Braaaak!”
Tidak kuasa lagi tubuh Koan Ing terpukul mental sejauh
tiga kaki lebih dan menubruk sebuah pohon besar.
Begitu punggungnya menempel permukaan pohon, sekali
lagi tubuhnya meloncat ke atas, disertai suara suitan gusar
tubuhnya dengan amat cepatnya mengejar ke arah kereta
berdarah itu.
Larinya kereta berdarah itu amat cepat sekali laksana
menyambarnya kilat di tengah udara, di dalam sekejap saja
sudah lenyap dibalik sebuah rimba di tengah gunung.
Koan Ing yang dengan susah payah baru berhasil
menemukan jejak dari kereta berdarah itu sudah tentu tidak
mau melepaskan dengan demikian mudahnya, dia bersuit
nyaring, dengan sekuat tenaga tubuhnya berkelebat ke depan
mengeja rjejak kereta berdarah tersebut.
Setelah mengejar sampai di tengah gunung dan berputarputar
dua kali disana mendadak baik suara ringkikan kuda
maupun suara berputarnya roda kereta berdarah itu sudah
lenyap tak berbekas lagi.
Koan Ing tidak mau melepaskan begitu saja, diapun ikut
mengejar ke arah depan.

Tampaklah kereta berdarah tersebut dengan kecepatan
yang luar biasa meluncur masuk ke dalam sebuah gua yang
luasnya ada satu kaki lebih.
Keadaan di dalam gua itu amat gelap dan sunyi sekali,
agaknya merupakan sebuah gua buntu tetapi seperti juga
sebuah gua yang dalamnya sukar diukur, di atas dinding gua
tergantunglah pilar-pilar salju yang amat besar dan banyak
sekali.
Koan Ing menjadi ragu-ragu untuk beberapa saat lamanya,
pikirnya di dalam hati, “Aku sudah melakukan pengejaran
sejauh ribuan li, tidak seharusnya menemui kegagalan dengan
begitu saja.... ”
Berpikir sampai disini, dengan melintangkan pedangnya di
depan dada dia berjalan masuk ke dalam gua tersebut.
Dia orang pernah mengikuti Kong Bun-yu berdiam di dalam
gua batu selama dua bulan lamanya sehingga matanya
berhasil dilatih untuk melihat di tempat kegelapan, karena itu
pandangannya amat tajam seluruh benda yang ada di dalam
gua itu bisa dilihatnya dengan amat jelas sekali.
Agaknya gua itu kosong melompong tidak ada sebuah
barangpun, walaupun dia sudah masuk sejauh puluhan kaki
tetapi apapun tidak kelihatan
Dalam hati diam-diam Koan Ing merasa keheranan, dia
tidak tahu seberapa dalamnya gua tersebut, harus
membutuhkan waktu berapa lama baru bisa mencapai ujung
gua tersebut?
Dia maju lagi beberapa saat lamanya, jalanan gua itu mulai
membelok bahkan di atas tanah penuh dengan bekas roda
dari kereta berdarah itu yang memanjang ke depan.
Koan Ing tidak mau ambil perduli dia meneruskan
perjalanannya ke depan, akhirnya sampailah di sebuah perut

gunung yang amat besar sekali dimana gua itu dipisahkan
oleh pilar-pilar batu besar yang berbentuk amat aneh sekali.
Dengan pandangan yang amat tajam Koan Ing
memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, tetapi
apapun tidak kelihatan membuat hatinya tidak kuasa lagi
merasa bergidik juga.
Dia menarik napas panjang-panjang, sambil mengerutkan
alisnya kembali dia melanjutkan perjalanannya menuju ke
depan.
Bekas roda kereta mulai membelok ke sebelah kiri,
tubuhnyapun dengan cepat pula berputar kesana....
mendadak....
Tepat pada belokan itu terlihatlah sesosok bayangan
manusia sedang duduk dengan amat tenangnya disana, dia
menjadi amat terperanjat, sambil membentak keras tangan
kanannya dengan menggunakan jurus ‘Noa Ci Sin Kiam’
menghantam tubuh orang itu.
Orang itu segera mendengus dingin, jarinya disentil ke
depan menghajar ujung pedang Kiam Hong Kiam yang
digunakan Koan Ing itu.
Seketika itu juga baik Koan Ing mau pun pedangnya
terpental jatuh ke belakang oleh tenaga sentilan tersebut.
Dengan cepat Koan Ing bersalto dan berjumpalitan di
tengah udara lalu dengan tenangnya melayang kembali ke
atas permukaan tanah.
Ketika dia memperhatikan orang itu, tampaklah seorang
yang kepalanya penuh ditumbuhi rambut serta jenggot yang
berwarna putih duduk bersila disana, sepasang matanya yang
amat tajam sekali sedang memperhatikan dirinya.
Dia orang merasakan hawa dingin menyusup masuk dari
dasar hatinya, kepandaian silat yang dimiliki orang ini benarbenar
amat dahsyat sekali bahkan jauh berada di atas

kepandaian silat dari supeknya ‘Thian-yuu Khei Kiam’ Kong
Bun-yu entah siapakah sebetulnya manusia aneh ini?
“Siapa kau?” tanyanya ragu-ragu.
“Haaaa.... haaaa.... Bu-lim Ku-cu atau si manusia tunggal
dari Bu-lim, Jien Wong.”
Koan Ing menjadi betul-betul terperanjat, dia berdiri
tertegun disana sepatah kata pun tidak bisa diucapkan keluar.
Pada pertemuan puncak di atas gunung Hoa-san sembilan
belas tahun yang lalu Jien Wong sudah dihantam kempaskempis
oleh empat manusia aneh lalu dengan meminjam
kesempatan sewaktu keempat manusia aneh itu tidak
waspada dengan menunggang kereta berdarah melarikan
dirinya, menurut keadaan waktu itu sekalipun dia orang
mempunyai kepandaian silat yang jauh lebih tinggipun belum
tentu bisa hidup lebih lanjut, tetapi kini dia sudah munculkan
dirinya kembali hal ini benar-benar merupakan satu berita
yang mengerikan sekali.
Si Bu-lim Kucu, Jien Wong sewaktu melihat Koan Ing dibuat
berdiri termangu-mangu, sekali lagi tertawa terbahak-bahak.
“Aku kira di dalam kolong langit saat ini tidak ada
seorangpun yang bisa mencabut nyawaku, jikalau saat
kematianku sudah tiba, aku bisa mati sendiri, orang lain
siapapun tidak akan bisa mengapa-apakan diriku
Koan Ing merasakan hatinya bergidik, keheranan dan
kedahsyatan dari kepandaian silat Jien Wong benar-benar
membuat hatinya merasa berdesir Jien Wong mengerutkan
alisnya rapat-rapatr ujarnya lagi, “Dari jurus serangan serta
usiamu aku kira kau orang tentunya anak murid dari Kong
Bun-yu bukan?”
Dengan perlahan Koan Ing berhasil menguasai ketenangan
hatinya lagi, bukannya

menjawab, sebaliknya dia malah balas bertanya,
“Dimanakah si Boe Cing Kongcu, Bun Ting-seng?”
Jien Wong jadi jengkel, dengan dinginnya dia mendengus.
Tangan kanannya dengan perlahan diangkat, lima jarinya
dipentangkan ke depan segera terasalah lima gulung hawa
pukulan menghajar ke tubuh Koan Ing.
Koan Ing menjadi terperanjat ilmu, ilmu khikang semacam
ini dia pernah dengar orang membicarakannya tetapi
selamanya belum pernah melihatnya sendiri, mungkin tidak
disangka Jien Wong sudah berhasil melatih ilmu Khi-kang
sehingga demikian dahsyatnya.
Pedang panjangnya diputar satu lingkaran, dengan
menggunakan jurus “Kioe Ku Cang jiet” atau sembilan busur
memanah sang surya menggetar pergi serangan dari Jien
Wong itu.
Jien Wong segera tertawa dingin, mana dia orang mau
membiarkan Koan Ing memberikan perlawanannya, lima
jarinya yang mencengkeram tangannya semangkin
mengencang.
“Heee.... heee.... semua orang bilang aku kalap, ganas
makanya menyebut aku sebagai Jien Wong, tetapi aku lihat
kau orang jauh lebih kalap, jauh lebih ganas dari diriku!”
serunya sambil tertawa dingin.
Koan Ing yang berhasil ditawan oleh pihak musuh hanya
dalam satu jurus saja membuat dia orang tidak bisa mengucap
sepatah katapun juga. Sekali lagi Jien Wong mendengus
dingin.
Jikalau membicarakan kehebatan dari ilmu silatmu boleh
dikata diantara anak murid empat manusia aneh kaulah nomor
satu, dengan usiamu yang masih muda boleh dikata ilmu
silatmu sudah mencapai pada puncak kesempurnaan tetapi

memamerkan kepandaian bukanlah suatu pekerjaan yang
baik.
Jilid 6
Mendengar perkataan dari Jien Wong ini, tidak terasa Koan
Ing mengerutkan alisnya
rapat-rapat.
“Hmmm.... ” dengus Jien Wong kembali dengan amat
dingin. “Sewaktu aku berumur tiga puluh tahun aku orang
sama sekali tidak bernama di dalam Bu-lim, tetapi setelah
berumur empat puluh tahun di dalam kolong langit tidak ada
seorang manusiapun yang bisa menandingi diriku.”
Dengan pandangan tajam Koan Ing memperhatikan wajah
Jien Wong terus menerus, padahal di dalam hati diam-diam
pikirnya, “Bagus.... bagus sekali, aku tidak menemui ajalnya di
tangan Ciu Tong, tidak mati di dalam kuil Han-poh-sie
sebaliknya terjatuh ke tangan Jien Wong.... haa.... haaa....
boleh dikata inilah yang dinamakan Jodoh.”
Tiba-tiba Jien Wong melepaskan tangan kanannya lalu
sambil mengerutkan keningnya rapat-rapat ujarnya, “Heeey
kau terkena racunnya siapa? Kenapa begitu berat?”
Mendengar perkataan itu Koan Ing menjadi amat
terperanjat, pikirnya, “Jien Wong ini manusia memang
seorang yang sangat aneh, ternyata cuma di dalam satu kali
pandangan saja dia sudah tahu kalau aku terkena racun yang
amat berat sekali, bakat manusia semacam ini sungguh jarang
terdapat di kolong langit.”
Jien Wong yang melihat Koan Ing tidak menjawab, seorang
diri dia tenggelam kembali ke dalam lamunan.

“Kau orang tidak usah memberitahu aku sendiri juga tahu,”
gumamnya seorang diri. “Pekerjaan ini tentu hasil perbuatan
dari Ciu Tong. kecuali dia orang tidak ada orang lain yang bisa
berbuat pekerjaan seperti ini.”
Sambil berkata pikirannya sudah terjerumus ke dalam
lamunan yang amat mendalam mulutnya komat-kamit
bergumam seorang diri agaknya dia sedang berpikir dan mau
mengambil keputusan tentang satu persoalan yang amat sulit.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba telapak tangannya
berkelebat dan membantu Koan Ing mengurutkan jalan
darahnya, tetapi mulutnya tetap membungkam sedang
pikirannya tetap terjerumus di dalam lamunan.
Koan Ing yang berdiri di samping juga berdiam diri, dengan
pandangan amat tenang dia memperhatikan diri Jien Wong.
Di dalam sekejap saja tiba-tiba dia sepertinya sudah
memahami akan suatu urusan Jien Wong ternyata bisa
memperoleh kepandaian silat yang demikian tingginya sudah
tentu diapun mempunyai hal-hal tertentu.
Sebentar saja dia sudah bisa memusatkan seluruh
perhatian dan pikirannya untuk memikirkan satu persoalan
tertentu, terhadap urusan lain bersiap seperti tidak melihat
dan tidak mendengar, dengan kepandaian silat yang demikian
tinggi dari dirinya hal ini merupakan satu-satunya titik
kelemahan yang paling besar dari dirinya. Tiba-tiba terdengar
Jien Wong tertawa terbahak-bahak lagi dengan amat
kerasnya.
“Haaaa.... haaaa.... haaaa.... racun dari Ciu Tong ini
kemungkinan sekali bisa menyulitkan orang lain tetapi tidak
akan menyulitkan diriku!” serunya girang, “Aku kira di dalam
kolong langit sekarang ini kecuali aku seorang sekalipun Ciu
Tong sendiripun tidak akan berhasil memunahkan racun itu.”
Sekali lagi Koan Ing melengak Jien Wong tentu telah
menganggap dia sebagai anak murid dari Kong Bun-yu, tetapi

pada tempo hari ‘Si Thian-yu Khei Kiam’ pun merupakan salah
seorang yang mengerubuti dirinya, kenapa ini hari dia mau
membantu dirinya untuk mengobati racun yang ada di dalam
tubuhnya?
“Tentang Suhumu aku dapat pergi mencari dirinya,” ujar
Jien Wong lagi. “Urusan diantara kau dengan aku tidak punya
sangkut pautnya dengan mereka.”
Dengan pandangan melongo Koan Ing memperhatikan diri
Jien Wong, sepatah katapun dia tidak berbicara. Hampirhampir
dia tidak mau percaya atas perkataan dari Jien Wong
ini, walaupun kepandaian silatnya amat tinggi, pikirannya
sekalipun dipusatkan sesuai dengan kehendaknya tetapi di
dalam Bu-lim saat ini cuma Ciu Tong seorang saja yang paling
pandai dan paling paham di dalam ilmu obat-obatan. tidak
mungkin seseorang cuma berpikir sebentar sudah dapat
mengetahui segala-galanya.
Jien Wong yang melihat air muka Koan Ing memperlihatkan
perasaan yang kurang percaya dia mendengus dingin.
“Di dalam tiga puluh hari aku bisa menyediakan obat
penawar buat dirimu,” ujarnya sambil tertawa tawar.
Koan Ing yang mendengar dia berkata demikian di dalam
hati segera merasa semakin heran lagi, mendadak tanyanya,
“Kenapa kau tidak memandang sebelah matapun terhadap
segala urusan.”
Begitu perkataan ini diucapkan keluar di dalam hati tidak
terasa lagi telah merasa sangat menyesal.
Jien Wong dibuat agak melengak, tetapi sebentar kemudian
dia telah tertawa terbahak-bahak.
“Ada urusan apa yang berharga untuk aku pandang dengan
mata?” serunya keras.

“Haaa.... haaa.... semuanya pasrah pada nasib urusan lain
asalkan kau kepingin pergi berbuat, ada apanya yang tidak
dapat dilakukan.... ”
Koan Ing cuma merasakan otaknya bagaikan ditinju dengan
martil besar.
“Pasrah pada nasib,” perkataannya ini mempunyai arti yang
amat banyak, selama beberapa hari ini dia terus menerus
menguatirkan mati hidupnya sendiri, selama ini pikirannya
tidak terbuka tetapi di dalam sekejap ini, dia merasa hatinya
jauh lebih ringan.
Si manusia tunggal dari Bu-lim, Jien Wong yang melihat
Koan Ing dibuat tertegun oleh omongannya ini dia segera
tertawa tergelak-gelak.
dia tidak mau percaya kalau hanya di dalam tiga puluh hari
saja Jien Wong dapat membuat obat pemunah untuk dirinya.
Tetapi ‘Pasrah pada nasib’ dia tidak perlu gelisah tentang soal
ini
Dengan perlahan dia putar tubuh dan berjalan keluar dari
gua tersebut.
Sesampainya diluar gua terlihatlah seluruh hutan rimba
yang ada di dekat kuil Han-poh-si sudah ikut terbakar oleh api
yang menjalar dari kuil tersebut seketika itu juga seluruh
permukaan tanah diliputi oleh lautan api yang amat dahsyat
sekali, salju nan putih yang berhamburan dari atas udara
sama sekali tidak dapat menahan berkobarnya api.
“Haaaa.... haaaa bocah cilik harus banyak belajar” Serunya
keras. Setelah berkata tubuhnya berkelebat lenyap dibalik gua.
Pikiran Koan Ing menjadi sadar kembali, cepat-cepat
teriaknya, “Hey tunggu dulu, dimana itu bajingan Bun Tingseng?”

“Sejak semula dia pergi, pada lain waktu tentu kau dapat
bertemu dengannya,” sahut si Manusia tunggal dari Bu-lim
dengan keras.”
Dengan cepat dia berlari turun gunung, mendadak sinar
matanya terbentur dengan sesosok bayangan manusia yang
berkelebat dengan cepatnya menuju ke arah dirinya.
Melihat bayangan tersebut dalam hati Koan Ing merasa
hatinya tergetar amat keras. orang itu memakai baju merah
yang bukan lain adalah Sang Siauw-tan adanya sedang orang
yang mengejar di belakangnya bukan lain adalah Husangko itu
hwesio Tibet. Dia sedikit tertegun, tetapi sebentar kemudian
sudah lari mengejar ke depan.
Terlihatlah Sang Siauw-tan yang berhasil mencapai depan
tubuhnya mendadak rubuh ke atas tanah, Koan Ing jadi amat
terperanjat dengan cepat dia maju dua langkah ke depan
membimbing tubuhnya.
Saat itu wajah Sang Siauw-tan pucat pasi bagaikan mayat,
agaknya dia sudah kehabisan tenaga.
Husangko semakin lama semakin mendekat, sewaktu
dilihatnya Koan Ing pun ada disana dia agak ragu-ragu
sebentar akhirnya sambil menerjang maju ke depan teriaknya
keras, “Heee.... heee.... ini hari kalian berdua jangan harap
bisa loloskan diri.”
Waktu ini dalam hati Koan Ing pun sedang marah besar,
melihat Husangko menerjang ke arahnya dengan amat
gusarnya dia segera membentak keras, pedang panjangnya
digetarkan dan berturut-turut melancarkan tiga serangan
gencar.
Di tengah berkelebatnya bayangan pedang yang
menyilaukan mata seketika itu juga Husangko dipaksa mundur
tiga langkah ke belakang, dia menjadi tertegun.

“Cepat menggelinding dari sini!” bentak Koan Ing lagi
dengan amat gusarnya, Jika kau tidak mau pergi jangan
salahkan aku segera akan membuat darahmu berceceran
mengotori permukaan tanah”
Dalam hati Husangko merasakan sedikit berdesir, dia
benar-benar terpukul oleh kegagahan dan kewibawaan dari
Koan Ing sehingga tidak terasa lagi sudah mundur dua
langkah ke belakang.
Beberapa saat kemudian hatinya baru mulai tenang
kembali, pikirnya di dalam hati, “Eeeh.... kenapa aku ini?
Kenapa aku begitu tidak berguna?”
Hatinya menjadi semakin jengkel dan semakin gemas,
serunya dengan dingin, “Koan Ing Kau jangan mengira kau
adalah keponakan murid dari Kong Bun-yu lalu boleh
bertindak sewenang-wenangnya, ini hari kalian berdua sudah
membakar kuil Han-poh-si kami.... hee.... hee.... untuk
selamanya jangan harap bisa keluar dari daerah Tibet barang
selangkahpun.”
“Kau mau pergi tidak?” bentak Koan Ing dengan dingin.
Husangko mana mau menunjukkan rasa jerinya terhadap
diri Koan Ing? Bukan saja saat ini Koan Ing harus melindungi
seseorang bahkan sebentar lagi suhunya bakal datang, Cuma
seorang Koan Ing saja bagaimana dia mau memandang
sebelah mata kepadanya? Dengan mematung dia berdiri tidak
bergerak barang sedikitpun,
“Hee.... heee.... aku memangnya kepingin menjajal
bagaimana tingginya tenaga dalam yang kau miliki,” ujarnya
sambil tertawa dingin.
Dengan pandangan yang amat dingin Koan Ing
memperhatikan diri Husangko, dia sudah memaksa Sang
Siauw-tan sehingga menjadi sedemikian rupa, tidak perduli
bagaimanapun ini hari dia tidak bisa melepaskan Husangko
dengan begitu saja.

Dia memandang sekejap ke arah Sang Siauw-tan yang
berada di dalam pangkuannya, lalu tanpa mengucapkan
sepatah kata pun sambil mengempit tubuhnya dia putar tubuh
berlalu dari sana Melihat dirinya tidak digubris Husangko
menjadi gusar.
“Mau lari kemana?” bentaknya dengan keras, dengan cepat
dia lari mengejar.
Baru saja berjalan dua langkah ke depan mendadak Koan
Ing membalikkan badannya melancarkan satu serangan
dahsyat dengan menggunakan jurus ‘Hiat Cong Ban Li’ atau
menguntit selaksa li, tampak berkelebatnya sinar pedang yang
menyilaukan mata sambil mengempit tubuh Siauw-tan dia
melancarkan serangan gencar ke arah Husangko.
Husangko menjadi amat terperanjat, walaupun Koan Ing
mengempit seseorang tetapi serangan padanya begitu ganas
dan dahsyat membuat hatinya sedikit bergidik.
Mana dia orang mengetahui kalau jurus serangan yang
baru saja dia gunakan merupakan salah satu jurus yang paling
dahsyat dari kedua puluh empat jurus hasil ciptaan Kong
Bun-yu sendiri, ditambah lagi Koan Ing melancarkan
serangan tersebut di dalam keadaan gusar, kedahsyatannya
sudah tentu amat hebat sekali sehingga membuat dirinya
sendiripun merasa ada diluar dugaan.
Dengan cepat Husangko menggoyangkan toyanya ke
samping memukul miring datangnya serangan dari Koan Ing,
sedang tubuhnya Cepat-cepat melayang mundur ke belakang.
Koan Ing segera membentak keras, kaki kanannya
melancarkan tendangan kilat menyambar toya yang ada di
tangan Husangko, gerakan pedangnya sama sekali tidak
berubah dengan dahsyatnya meneruskan serangannya
menusuk alis dari Husangko.

Melihat datangnya serangan yang begitu cepat dari Koan
Ing. Husangko tidak berani memikirkan urusan lainnya,
dengan cepat tubuhnya mundur ke belakang.
Baru saja Koan Ing mau mengejar lebih lanjut, mendadak
terdengar suara bentakan yang amat berat berkumandang
datang, “Hmm.... kau cari mati!”
Segulung angin pukulan yang amat kuat menghantam
belakang punggungnya, tanpa menoleh lagi Koan Ing segera
mengetahui orang itu tidak akan lain daripada suhu Husangko,
Hud Ing Thaysu itu manusia paling jagoan di daerah Tibet
pada saat ini....
Ooo)*(ooO
Bab 13
Koan Ing yang sedang enak-enaknya melancarkan
serangan mendesak Husangko mendadak dari belakangnya
terasa segulung angin pukulan laksana menggulungnya angin
topan melanda badannya, dia tidak berani melanjutkan
gerakannya untuk melukai diri Husangko, pedang panjang di
tangan kanannya dengan cepat dibalik ke belakang
“Bruuuuk....!” pedang panjangnya sudah terkena pukulan
Hud Ing Thaysu sehingga mengeluarkan suara dengungan
yang amat keras membuat tubuhnya seketika itu juga tergetar
mundur sejauh dua langkah ke belakang.
Tetapi Husangko yang baru saja lolos dari kematian saking
takutnya membuat seluruh wajahnya pucat pasi bagaikan
mayat.
Hud In Thaysu yang melihat serangannya cuma berhasil
menggetar mundur Koan Ing sejauh dua langkah saja di
dalam hati diam-diam merasa sangat terperanjat sekali, dia
orang sama sekali tidak menyangka di dalam keadaan gugup
Koan Ing masih bisa menerima serangannya tanpa
mengakibatkan pedangnya terlepas dari tangan.

Koan Ing yang melihat air muka Hud Ing Thaysu sudah
berubah amat keren dia pun diam-diam mulai mengatur
pernapasannya bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Dia tahu tenaga dalam yang dimilikinya masih terpaut amat
jauh sekali dari tenaga dalam yang dimiliki Hud Ing Thaysu
sedang saat inipun Hud Ing Thaysu sedang berada di dalam
keadaan gusar dia tidak dapat mati konyol di tempat ini, apa
lagi saat ini masih ada seorang Sang Siauw-tan yang berada di
dalam keadaan tidak sadar.
Dengan amat dinginnya Hud In Thaysu mendengus keras,
sinar matanya berkelebat tak henti-hentinya agaknya di dalam
hati dia sedang memikirkan apakah perlu dia melancarkan
pukulan yang mematikan untuk mencabut nyawa dari Koan
Ing serta Sang Siauw-tan? Bukan saja dikarenakan di
belakang layar mereka berdua masih ada tameng yang amat
atos bahkan dia orang sebagai jagoan nomor satu di daerah
Tibet saat ini boleh dikata merupakan angkatan tua dari
mereka berdua, bahkan merupakan seorang pendeta yang
beribadat dan sangat dihormati oleh banyak orang
Jikalau pada saat ini dia membinasakan diri Koan Ing bukan
saja akan mencemarkan nama baik serta kedudukannya
bahkan Sang Siauw-tan masih berada di dalam keadaan tidak
sadar, bilamana dia turun tangan pada saat ini bukankah
sama saja dengan turun tangan dikala orang lain dalam
keadaan bahaya?
Tetapi dendam terbakarnya kuil Han-poh-si membuat
hatinya amat gusar sekali, dia harus menuntut kerugian
terbakarnya kuil tersebut.
Dia segera mendengus dengan beratnya, “Hmmm Koan
Ing!” teriaknya dengan dingin. “Seharusnya kau orang tahu
kau harus menerima kematianmu sekalipun Sian, Khei, Sin
serta Mo ada disini semuapun di dalam ceng-li kau tidak bisa
berbicara banyak.“

Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia tidak
mengucapkan sepatah katapun, pikirannya terus menerus
berputar memikirkan cara bagaimana menghadapi musuhnya
yang amat tanggung ini
Hud Ing Thaysupun mengerutkan alisnya rapat-rapat
sepasang tangannya dengan perlahan diangkat siap
melancarkan serangan yang mematikan
Sinar mata Koan Ing dengan cepat berkelebat, dia tahu
begitu Hud Ing Thaysu turun tangan dia tentu akan
menggunakan jurus serangan yang mematikan, kepandaian
ilmu silat ‘Thay Su Ing’ dari daerah Tibet bukanlah kepandaian
yang biasa saja
Mendadak di dalam benaknya berkelebat satu ingatan, di
tengah suara suitan yang amat panjang tubuhnya meloncat ke
atas lalu menubruk dengan dahsyatnya ke arah Hud Ing
Thaysu,
Hud Ing Thaysu sama sekali tidak menyangka Koan Ing
berani turun tangan sambil mengempit tubuh dari Sang
Siauw-tan di dalam keadaan tidak sadarkan diri, walaupun
pemuda ini amat sombong sekali tetapi kepandaian silatnya
tidak bisa memadahi dirinya walaupun begitu tetapi
pemusatan pikiran sewaktu menghadapi musuh boleh dikata
termasuk jagoan Bu-lim nomor satu.
Dia segera mendengus, sepasang telapak tangannya satu
dari depan satu dari belakang berturut-turut melancarkan
serangan dahsyat menghajar tubuh Koan Ing,
Jurus serangan yang digunakan olehnya bukan lain adalah
jurus ‘Thian Hud Bun Kian’ atau Sang Buddha menampakkan
diri yang merupakan jurus paling dahsyat dari ilmu ‘Thay Su
Ing’.
Di dalam serangan yang dilancarkan oleh Hud Ing Thaysu
ini bukan saja chusus menyerang pihak lawannya bahkan

terasalah ada segulung tenaga sedotan yang amat kuat
menyedot seluruh tenaga dalamnya.
Tenaga dalam yang dimiliki Koan Ing saat ini boleh dikata
termasuk juga sebagai salah seorang jagoan nomor wahid
dalam Bu-lim, sudah tentu terhadap perubahan yang
dilakukan oleh Hud Ing Thaysu ini dia sama sekali memahami
benar-benar, tetapi jika dibicarakan dengan mengambil
keadaan pada saat ini dia sudah pasti tidak akan berani
menerima datangnya serangan itu dengan keras lawan keras,
Saat ini dia harus mengempit seseorang asalkan satu jurus
saja dia menerima serangan lawan maka Hud Ing Thaysu
segera akan mengejarnya, saat itu jalan mundur buat dirinya
akan tertutup semua, sekalipun mempunyai kepandaian yang
tinggi pada saat itu tidak akan lolos lagi dari bencana.
Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, pedang
ditangan kanannya segera digetarkan sehingga membentuk
gerakan setengah busur menyambut datangnya serangan.
Jurus serangan yang digunakan olehnya ini bukan lain
adalah jurus ‘Hwee Hong Chiet Ci’ atau pelangi terbang patah
tujuh bagian hasil ciptaan dari Kong Bun-yu sendiri, jurus
serangan ini sebetulnya mengharuskan seorang jagoan untuk
mengerahkan seluruh tenaga dalamnya yang amat tinggi
untuk disalurkan ke dalam pedang sehingga menjadi tujuh
bagian tenaga serangan yang bersama-sama menghajar
musuh.
Di dalam keadaan apa boleh buat Koan Ing terpaksa harus
melancarkan serangan dengan menggunakan gerakan ini.
Di tengah bentrokan pedang serta telapak tangan yang
amat ramai terdengarlah Hud Ing Thaysu tertawa dingin,
mendadak telapak tangan kanannya ditarik ke belakang.
Tetapi belum sempat telapak kirinya melancarkan serangan
kembali dia merasakan kalau tenaga serangan yang disalurkan
Koan Ing ke dalam pedangnya secara tiba-tiba lenyap tak

berbekas, tenaga sedotan tangan kanannyapun sudah
mencapai pada sasaran yang kosong, hal ini membuat hatinya
sedikit melengak.
Tiba-tiba dia merasakan adanya desiran angin yang amat
aneh menghajar ke tepi atas telapak tangannya, dengan cepat
dia menoleh ke samping terlihatlah pedang Koan Ing sudah
berada amat dekat sekali dengan tangannya.
Hud Ing Thaysu menjadi amat gusar sekali, dia membentak
keras telapak tangan kirinya dengan cepat melancarkan satu
pukulan dahsyat menghajar pedang dari Koan Ing.
Menurut pemikirannya begitu serangan ini dilancarkan
maka pedang dari Koan Ing pasti akan terlempar jatuh dari
tangannya, siapa tahu serangannya yang dihantam ke depan
dengan menggunakan telapak tangan kirinya sudah mencapai
pada sasaran yang kosong.
Hatinya terasa berdesir, segulungan hawa dingin yang
menusuk tulang muncul dari dasar lubuk hatinya, jurus yang
demikian anehnya ini dia orang sama sekali tidak pernah
menemuinya.
Koan Ing yang melancarkan serangannya dengan gencar
hanya di dalam sekejap saja seluruh perhatiannya sudah
dipusatkan pada jurus serangannya, pikirannya dikumpulkan
jadi satu membuat kedahsyatan dari jurus ‘Hwee Hong Chiet
Ci’ ini bertambah hebat.
Hui Ing Thaysu yang serangannya mencapai pada sasaran
yang kosong hatinya segera merasa kaget bukan main sekali,
tetapi bagaimanapun dia adalah seorang pentolan dari satu
aliran besar sepasang telapaknya dengan cepat berkelebat,
dengan menggunakan jurus “Thian Hoo Ling Ling” atau sungai
langit teramat dingin dari kedudukan menyerang berubah
menjadi gerakan bertahan,
Baru saja serangan pedang dan Koan Ing mencapai pada
tengah jalan, terlihatlah sepasang telapak dari Hud Ing Thaysu

berkelebat tak henti-hentinya menutup datangnya serangan
tersebut. Mengingat akan hal itu dengan cepat Koan Ing
memiringkan pedangnya ke samping mengancam kening dari
Hud Ing Thaysu.
Terhadap perubahan aneh Yang terjadi di dalam serangan
pedang Koan Ing ini Hud Ing Thaysu sama sekali dibuat
bingung, dengan namanya sebagai jagoan nomor wahid di
daerah Tibet ternyata dia tidak sanggup untuk menerima
gempuran dari serangan Koan Ing ini hal ini sungguh
memalukan dirinya,
Air mukanya segera berubah hebat, kaki kanannya berputar
dengan cepat dia menghindar ke samping dengan
menggunakan ilmu langkah “Thian Hud Poh” dari aliran Tibet.
Tetapi tidak urung jubah panjangnya tergores juga oleh
serangan pedang Koan Ing ini segera terobek satu goresan
panjang,
Hud Ing Thaysu menjadi terkejut bercampur gusar, dia
membentak keras, telapak kanannya didorong dengan
hebatnya ke depan dengan menggunakan jurus “Hauw Han
Cian Li” atau menyapu bersih selaksa li.
Koan Ing yang berhasil menggores sobek jubah dari Hud
Ing Thaysu pun dibuat termangu-mangu oleh hasilnya ini, dia
sama sekali tidak menyangka kedahsyatan dari jurus tersebut
di dalam keadaan tertegun itulah hawa murni yang semula
disalurkan malah balik kembali.
Sebetulnya Koan Ing menggunakan jurus ‘Hwee Hong Chiet
Ci’ ini sudah melampaui batas kemampuannya, tetapi
dikarenakan tadi dia menggunakan jurus tersebut dengan
pusatkan seluruh perhatiannya pada serangan itu maka untuk
sementara masih dapat dipaksa, tetapi setelah perhatiannya
kendor tenaga yang semula disalurkan pun kini malah balik
menyerang badannya sendiri membuat darah yang ada di

dalam rongga dadanya terasa bergolak dengan amat
kerasnya.
Serangan dari Hud Ing Thaysu melanda kembali dengan
dahsyatnya, dengan tergesa-gesa dia miringkan badannya ke
samping lalu menarik napas panjang-panjang balik membabat
ke arah pergelangan tangan dari Hud Ing Thaysu.
Hud Ing Thaysu adalah jagoan nomor wahid dari daerah
Tibet, ternyata ini hari dikalahkan di tangan Koan Ing seorang
bocah muda, di dalam keadaan gusar segera dia mengambil
keputusan untuk membasmi diri Koan Ing dari muka bumi.
Karenanya serangan yang dilancarkan keluarpun semakin
lama semakin dahsyat, lima jari tangan kanannya
dipentangkan lebar-lebar sehingga membesar beberapa kali
lipat dari keadaan semula lalu dengan dahsyatnya
mencengkeram pedang yang ada di tangan Koan Ing.
Koan Ing menjadi sangat terkejut, dia ingin menarik
pedangnya tetapi keadaan semakin celaka lagi. Kiranya dia
tadi meminjam gerakan serangan yang gencar itu untuk
menekan pergolakan di dalam dadanya, kini serangannya
ditarik kembali membuat kepalanya seketika itu juga menjadi
amat pening sekali dan mundur ke belakang dua langkah
dengan terhuyung2.
Pada saat yang bersamaan pula telapak kiri dari Hud Ing
Thaysu sudah melanda datang.
“Bruuuk....!” dengan dahsyatnya serangan itu menghajar di
atas punggung Koan Ing.
Seketika itu juga Koan Ing muntahkan darah segar dengan
derasnya, tubuhnya dengan terhuyung2 mundur beberapa
langkah ke belakang lalu dengan cepatnya menggendong
tubuh Sang Siauw-tan dan lari masuk ke tengah gunung.
Sebetulnya Hud Ing Thaysu mengira serangannya ini sudah
cukup untuk membinasakan diri Koan Ing hanya di dalam satu

kali pukulannya ini saja, tetapi dia sama sekali tidak
menyangka kalau Koan Ing masih mempunyai kekuatan untuk
melarikan diri dari situ.
Dengan termangu-mangu dia berdiam memandang disana,
untuk beberapa saat lamanya di dalam hati entah bagaimana
rasanya.
Kepalanya dengan perlahan ditundukkan memandang
bekas sobekan pada jubah hweesionya, di dalam hati tidak
terasa lagi dia merasa amat kecewa sekali
Jika dilihat dari Koan Ing yang menarik kembali pedangnya
sambil mundur ke belakang dengan terhuyung2 agaknya dia
telah menderita luka dalam yang amat parah, kini ditambahi
lagi dengan satu pukulan yang begitu hebat, bukankah hal ini
sama saja dengan menggunakan waktu orang susah turun
tangan mencelakainya?
Dia adalah seorang hweesio yang beribadat tinggi, ternyata
ini hari harus melakukan suatu pekerjaan yang demikian
rendah, demikian hinanya di dalam hati benar-benar merasa
sangat malu sekali.
Lama sekali Hud Ing Thaysu berdiam termangu-mangu
disana.
“Suhu.... Koan Ing sudah melarikan diri,” terdengar
Husangko yang ada disampingnya berteriak keras.
Hud Ing Thaysu menjadi melengak, dia angkat kepalanya
dengan perlahan terlihatlah kuil Han-poh-si yang dibanggakan
kini masih terbenam di dalam lautan api yang berkobar
dengan dahsyatnya. di bawah tiupan angin utara yang amat
keras di dalam sekejap saja sebuah kuil yang begitu megah
sudah hancur berantakan menjadi abu.
Air mukanya berubah sangat hebat, hatinya merasa amat
benci. amat gusar dan mendendam sekali.
Dia mendengus dingin, teriaknya, “Kejar dia sampai dapat!”

Selesai berkata tubuhnya berkelebat ke depan, dengan
memimpin diri Husangko dia melakukan pengejaran dengan
cepatnya.
Tubuh mereka berdua bagaikan dua ekor burung elang
yang melayang di atas permukaan salju hanya di dalam
sekejap saja sudah melewati dua buah puncak gunung,
terlihatlah dari tempat kejauhan Koan Ing sedang berlari
menuju ke sebuah selat sambil menggendong tubuh Sang
Siauw-tan.
Hud Ing Thaysu menjadi termangu-mangu.
“Hey kembali!” teriaknya kepada diri Husangko.
Husangko sendiripun tertegun dibuatnya, dia sama sekali
tidak menyangka kalau Koan Ing berani memasuki selat
tersebut
Koan Ing yang membopong tubuh Sang Siauw-tan berlari
masuk ke dalam selat tersebut segera merasakan batu-batu
cadas berserakan memenuhi seluruh permukaan tanah, dia
dengan sekuat tenaga berlari semakin cepat lagi mengelilingi
batu-batu cadas itu dan akhirnya berhasil keluar juga dari
antara batu-batu itu.
Pada saat ini di dalam benaknya dia cuma merasa heran
kenapa batu-batu cadas itu sukar benar untuk diketahui?
Ketika kepalanya didongakkan ke atas terlihatlah sebuah
tebing batu yang curam terukirlah beberapa tulisan,
“Selat Hwee Im Shia, tahun Jien Hien.”
Suto Tiang-sian menutup selat di tempat ini.
Koan Ing yang melihat ditulisnya nama ‘Suto Tiang-siang’ di
tempat ini hatinya seketika itu juga merasa bergidik, walaupun
saat ini dia sedang menderita luka dalam amat parah tetapi di
dalam keadaan terperanjat otaknyapun menjadi sedikit sadar
kembali.

Ketika membaca kembali, di samping tulisan besar itu dia
bisa melihat adanya beberapa huruf yang agak kecil-kecil:
“Hwee Im mudah masuk sukar keluar, para jago Bu-lim
terkubur di tempat ini.“
Koan Ing menjadi sangat terperanjat, ketika menoleh
kembali ke belakang dia merasakan tempat itu penuh dengan
kabut putih yang menutupi seluruh permukaan, bagaimana
dirinya bisa masuk sampai disitu dia sendiripun tidak tahu.
Ketika memandang kembali ke arah depan terlihatlah
puncak gunung yang menembus awan berdiri berjajar
dihadapan mata, saking tingginya sehingga sukar untuk
didaki.
Untuk beberapa saat lamanya dia dibuat berdiri termangumangu
disana Suto Tiang-sian merupakan seorang manusia
aneh yang paling ditakuti selama ratusan tahun ini, pada umur
dua puluh tahun kepandaiannya sudah amat tinggi sukar
diukur tetapi jadi orang amat tawar sekali terhadap dunia luar,
bahkan pandai di dalam ilmu perbintangan karenanya pada
waktu itu dia boleh dianggap sebagai orang yang memiliki
bakat paling aneh
Tetapi dikemudian hari karena istrinya Cing Hong Li
kedapatan mati ditangan “Hay Neh Sin Kiam” Tan Ciu Cu dia
menjadi mendendam terhadap orang-orang dari tujuh partai
besar, dengan menggunakan akal akhirnya dia berhasil
memancing ciangbunjin dari tujuh partai untuk memasuki
selat ini lalu menutup pintu selat dan bunuh diri.
Waktu itu berita tersebut benar-benar menggetarkan
seluruh Bu-lim, bukan saja dikarenakan kepandaian silat dari
Ciangbunjin tujuh partai besar semuanya berada di atas
kepandaian dari Suto Tiang-sian bahkan ciangbunjin dari Hoasan
Pay “Than Siauw Suseng” Pek Si Thian pandai sekali di
dalam ilmu bangunan, tetapi setelah terkurung di dalam selat
itu tidak seorangpun yang bisa hidup lebih lanjut.

Dikemudian hari banyak pula orang Bu-lim yang memasuki
selat itu, tapi setelah masuk tidak ada seorangpun yang
berhasil keluar dari selat itu, karenanya tempat itu lama
kelamaan berubah menjadi tempat yang keramat bagi orangorang
Bu-lim.
Siapa sangka Koan Ing ternyata bisa memasuki tempat
yang paling keramat ini. Setelah tertegun beberapa saat
lamanya akhirnya tidak tertahan lagi Koan Ing tertawa geli
sendiri, pikirnya, “Apakah mungkin aku diharuskan menemui
ajal di tempat ini?”
Dengan perlahan dia memandang ke arah Sang Siauw-tan,
mendadak terasalah dadanya amat mual dan sesak sekali,
tidak kuasa lagi sekali lagi dia muntahkan darah segar dari
mulutnya,
Dia berusaha untuk mempertahankan dirinya, perlahanlahan
dia jatuhkan diri duduk bersila di atas tanah dan
menyandarkan tubuh Sang Siauw-tan ke dalam pelukannya.
Dengan pandangan sayu Koan Ing memperhatikan wajah
dari Sang Siauw-tan yang pucat
pasi bagaikan mayat serta bajunya yang berwarna merah
darah, kelihatan sekali wajahnya
amat kasihan sekali.
Lama sekali dia memperhatikan diri Sang Siauw-tan.
akhirnya tidak tertahan lagi dia tundukkan kepalanya memberi
satu Ciuman mesra ke atas bibirnya yang kecil mungil itu.
Pada waktu Koan Ing mulai memasuki selat tadi Sang
Siauw-tan sudah sadar kembali dari pingsannya cuma saja dia
terus berpura-pura belum sadar, dia tidak menyangka kalau
Koan Ing berani mencuri cium bibirnya, saking malu dan
cemasnya tidak terasa lagi wajahnya berubah memerah tetapi
dia tidak berani buka matanya, karena saat ini dia masih

berpura-pura pingsan dia tidak mau menggerakkan badannya
barang sedikitpun juga.
Koan Ing yang melihat wajah Sang Siauw-tan secara tibatiba
berubah memerah dalam hati segera tahu kalau sejak
semula dia sudah sadar kembali dari pingsannya, dia tertawa,
tangannya semakin kencang merangkul tubuh Sang Siauwtan.
Semula Sang Siauw-tan mengira tentu Koan Ing akan
melepaskan badannya, siapa sangka nyali dari Koan Ing
ternyata jauh lebih besar daripada apa yang semula di duga,
dengan pentangkan matanya lebar-lebar cepat-cepat dia
melototi diri Koan Ing, Koan Ing pun tertawa tawar, dia balas
memperhatikan dirinya,
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing berbuat demikian
mendadak dalam hati merasa amat gusar sekali, dengan cepat
dia meronta dari badan Koan Ing dan meloncat bangun.
Tetapi sewaktu dilihatnya wajah Koan In amat pucat dan
murung sekali hatinya menjadi lembek.
“Kau kenapa?” tanyanya tertegun.
“Aku cuma sedikit terluka, tidak mengapa,” sahut Koan Ing
sambil memandang ke arah Sang Siauw-tan lalu dengan
perlahan bangkit berdiri.
Sang Siauw-tan menjadi tertegun, teringat kembali ketika
tadi dia membakar kuil Han-poh-si, dalam keadaan gusar lalu
bagaimana dia dikejar oleh Husangko, ditolong oleh Koan Ing
dan selanjutnya jatuh tidak sadarkan diri....
Dengan kehebatan dari tenaga dalam yang dimiliki Koan
Ing saat ini ternyata dia terluka juga, sudah tentu orang yang
melukai dirinya bukan lain adalah Hud Ing Thaysu adanya.
Tetapi bagaimana berhasil Hud Ing Thaysu mau
membiarkan mereka loloskan diri dari cengkeramannya....?

Koan Ing segera maju ke depan memegang sepasang
pundaknya, dia menghela napas panjang dengan amat
sedihnya.
“Haaaaai.... tidak disangka kita berdua harus menemui ajal
di tempat ini,” ujarnya murung.
Sang Siauw-tan jadi melengak, ketika dia dongakkan
kepalanya dan melihat tulisan yang terukir di atas dinding
tebing hatinya merasa sedikit bergidik, lama sekali dia berdiri
mematung tidak bergerak barang sedikitpun juga.
Dengan perlahan Koan Ing memegang tangannya lalu
ujarnya dengan perlahan, “Siauw-tan kau tahu aku betul-betul
suka padamu, perkataan ini baru sekarang, aku berani
memberitahukan kepadamu.... “
Sang Siauw-tan menjadi melengak, mendadak dia teringat
kembali sikapnya sewaktu baru saja dia berhasil menolong
dirinya keluar dari kuil Han-poh-si, sekarang.... sekarang dia
bersikap demikian, bukankah hal ini jelas sedang
mempermainkan dirinya?
“Dalam hati dia merasa amat gusar sekali, sepasang
tangannya dengan cepat direntangkan ke samping lalu
bentaknya dengan gusar. “Pergi! Jangan sentuh aku!”
Koan Ing agak melengak, dia cuma tertawa tawar dan
berpikir kini mereka semua sudah berada di tempat yang
berbahaya, buat apa dikarenakan sedikit urusan kecil harus
ribut?
Sewaktu Sang Siauw-tan menolong dirinya dulu dia merasa
karena usianya tidak lama di dunia ini maka dia tidak ingin
mendekati diri Sang Siauw-tan, tetapi kini.... mereka berdua
sama-sama memperoleh nasib yang sama, di dalam waktu
yang amat singkat ini dia harus bersikap sangat baik terhadap
dirinya

Sang Siauw-tan yang berhasil melepaskan diri dari tangan
Koan Ing dengan cepat putar badan dan lari masuk ke dalam
selat itu, dia sendiripun tidak tahu kenapa dia bisa begitu
marah terhadap dirinya.
Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan lari menuju ke
dalam lembah dalam hati merasa amat terkejut sekali, selat ini
sudah ditutup oleh Suto Tiang-sian sudah tentu disetiap sudut
dari selat ini sudah dipasangi alat rahasia yang dahsyat,
jikalau Sang Siauw-tan menerjang seenaknya bukankah
keadaannya akan sangat berbahaya sekali?
“Siauw-tan Jangan sembarangan lari!” teriaknya dengan
cemas.
Tetapi Sang Siauw-tan mana mau mendengar
omongannya? Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia lari
terus masuk ke dalam selat tersebut, sedang dalam hatinya
diam-diam berpikir.
“Aku sudah ada di dalam selat pencabut nyawa ini, cepat
atau lambat tetap saja akan mati kenapa aku harus takut
memasuki tempat ini?”
Siapa tahu baru saja berjalan beberapa puluh langkah ke
depan mendadak pan dengannya
menjadi kabur, dia menjadi terkejut dengan sendirinya
tubuhnyapun miring ke samping satu langkah.
Tetapi baru saja tubuhnya mundur ke belakang mendadak
kakinya terasa menginjak di tempat kosong, dia merasa
semakin terperanjat lagi tanpa terasa tangan kanannya
dengan cepat mencengkeram dinding gunung erat-erat.
Di dalam sekejap mata dari atas puncak tebing
terdengarlah suara yang amat gemuruh, beribu-ribu batu
cadas yang amat besar dengan gencarnya berguling turun ke
bawah.

Melihat hal itu Sang Siauw-tan jadi ketakutan sehingga
tangan dengan kakinya amat lemas, untuk beberapa saat
lamanya dia merasa kebingungan entah bagaimana baiknya
Koan Ing sama sekali tidak melihat adanya sinar yang
menyilaukan mata itu.
Dia cuma melihat Sang Siauw-tan mengundurkan diri ke
belakang beberapa langkah dan terjerumus ke dalam keadaan
yang sangat berbahaya sekali, dia segera membentak,
tubuhnya melayang ke depan menyambar tubuh Sang Siauwtan
lalu meluncur ke tempat kejauhan.
Sang Siauw-tan benar-benar amat terkejut sekali, dengan
sekuat tenaga tangan kanannya mencengkeram, sedikit
berayal itulah tampak batu-batu besar sudah semakin
mendekati tubuhnya,
Dengan gusar Koan Ing mendengus, pundak kanannya
diterjangkan ke depan memukul sebuah batu cadas ke
samping sedangkan tubuhnya tetap melanjutkan gerakannya
berkelebat diantara batu-batu besar yang melayang
memenuhi angkasa.
Ketika tubuhnya berhasil melayang turun ke bawah tanah
dalam keadaan selamat tak bertahan lagi dia muntahkan
darah segar.
Sang Siauw-tan jadi sangat terkejut, “Ing-ko.... kau
kenapa?” teriaknya cemas.
“Tidak mengapa,” sahut Koan Ing sambil tertawa dan
mencekal sepasang tangannya erat-erat. “Asalkan kau tidak
cedera, apa pun yang akan terjadi terhadap diriku, aku tidak
akan menggubris”
Untuk sesaat lamanya dalam hati Sang Siauw-tan benarbenar
merasa amat malu sekali, dia menjatuhkan diri ke dalam
rangkulan Koan Ing dan menangis tersedu-sedu. Dengan
perlahan Koan Ing mengelus pundaknya, dia tertawa.

“Siauw-tan,” ujarnya halus. “Kau jangan menangis,
seharusnya mulai sekarang kita harus gembira, sejak aku
bertemu dengan dirimu untuk pertama kalinya aku sudah
merasakan kegagahan dan kecantikan wajahmu, kau jadi
orang sangat menarik sekali bagiku.... Tetapi dendam sakit
hati ayahku masih belum terbalas sedang kaupun Siauw
pangcu dari perkumpulan Tiang-gong-pang.... kecongkakan
hatimu membuat aku merasa rendah diri, kepandaian silatku
tidak bisa memadahi kepandaian silat keluargamu Tetapi
sekarang aku merasa amat girang karena aku bisa
memberitahukan padamu kalau aku benar-benar cinta
padamu.”
Sang Siauw-tan dengan perlahan angkat kepalanya dan
menghapus keringat dari mukanya.
“Bagaimana kau bisa memikirkan urusan Yang demikian
banyaknya?” ujarnya sambil tertawa. “Asalkan kau bisa
bersikap baik terhadapku itu sudah terlalu cukup, aku tidak
bisa memikirkan yang lainnya.”
“Sungguh?” seru Koan Ing sambil membantu dia
menghapus air mata yang membasahi wajahnya itu.
“Asalkan orang lain bersikap baik terhadapmu kaupun bisa
bersikap baik terhadapnya?”
“Kau sedang membicarakan siapa?” tanya Sang Siauw-tan
tertawa, matanya dipentangkan
lebar-lebar.
Koan Ing agak melengak, dia sama sekali tidak menyangka
Sang Siauw-tan bisa memberikan sahutan yang begitu cepat,
dia cuma tertawa senang saja tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
Sang Siauw-tan pun ikut tertawa.
“Kini kita berdua sudah ada disini Ciu Pak?” ujarnya
perlahan.

Dengan pandangan terpesona Koan Ing memperhatikan
wajah dari Sang Siauw. Tan, lama sekali dia baru tertawa, dia
sendiripun tidak tahu kenapa secara tiba-tiba dia bisa teringat
kembali terhadap Ciu Pak.
“Siauw-tan,” ujarnya sambil tertawa. “Aku bisa bersikap
baik terhadapmu untuk selamanya.”
Dengan perlahan Sang Siauw-tan dongakkan kepalanya,
sewaktu melihat Koan Ing sedang memandang ke arahnya
dengan penuh mesra diapun tertawa.
“Aku juga akan bersikap baik kepadamu untuk selamalamanya,”
sahutnya sambil menudingkan kepalanya.
Lama sekali mereka saling berpegangan tangan, siapapun
tak ada yang berbicara, hati masing-masingpun bertemu
menjadi satu....
Lama sekali Sang Siauw-tan baru angkat kepalanya, dia
tertawa dan sedikit mendorong tubuh Koan Ing ke belakang.
Koan Ing menjadi sadar kembali dari lamunannya, dengan
perlahan dia bangkit berdiri dan berjalan menuju dimana tadi
Sang Siauw-tan melihat adanya sinar terang yang
menyilaukan mata itu.
Terlihatlah dari tempat kejauhan di samping dimana dia
berdiri memang sedikitpun tidak salah, serentetan sinar yang
amat menyilaukan mata memancar dengan tajamnya
menusuk matanya.
Diam-diam dalam hati dia merasa sangat terkejut, jikalau
seorang jagoan Bu-lim melihat adanya sinar tajam yang
berkelebat secara tiba-tiba maka dia pastilah akan mundur ke
belakang untuk siap-siap menghadapi lawan, saat itulah
mereka akan segera terjerumus ke dalam siasat dan jebakan
yang diatur oleh Su-to Tiang Sian.

Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing terjerumus ke
dalam lamunan dia segera tertawa. “Urusan yang telah lewat
kenapa dipikirkan kembali?” ujarnya perlahan.
Koan Ing segera menggenggam tangan Sang Siauw-tan, di
dalam hatinya mendadak berkelebat satu ingatan, pikirnya,
“Kalau memangnya Sang Siauw-tan bersikap baik
terhadapnya, dia tentu tidak akan membiarkan Sang Siauwtan
mati di tempat ini, ayahnya begitu sayang kepadanya
sedang aku sendiripun bukan saja menderita luka dalam yang
amat parah, bahkan terkena racun juga, selat dari Suto Tiangsian
ini tidak perduli bagaimana kuatnyapun harus diterjang
dan harus di carikan akal agar bisa lolos dari sini. Atau sedikitdikitnya
agar Sang Siauw-tan bisa keluar dari tempat ini dalam
keadaan selamat.... “
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing terjerumus ke
dalam lamunan yang mendalam dengan termangu-mangu dia
memandang ke arahnya, dia tahu tentu Koan Ing sedang
memikirkan bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari
kurungan ini.
Lama sekali Koan Ing termenung memikirkan urusan ini,
akhirnya kepada Sang Siauw-tan ujarnya, “Siauw-tan, ayoh
kita pergi dari sini!”
Sang Siauw-tan tertawa dengan mengikuti diri Koan Ing dia
berjalan maju ke depan. “Lukamu tidak mengapa bukan?”
tanyanya halus.
Koan Ing cuma tersenyum saja tidak berbicara. Pukulan
dari Hud Ing Thaysu tadi memang sangat dahsyat sekali,
jikalau berada di dalam keadaan biasa dia tentu sejak tadi
sudah jatuh tidak sadarkan diri, tetapi semangatnya ini hari
masih segar sekali, terhadap keadaan lukanya pun dia tidak
terlalu memikirkan di dalam hati.
Dengan memimpin diri Sang Siauw-tan, Koan Ing berjalan
menuju ke arah dimana berkelebatnya sinar terang tadi.

Baru saja mereka berdua berjalan sejauh puluhan kaki
mendadak Koan Ing dapat melihat sesosok bayangan manusia
berkelebat keluar.
Kurang lebih satu kaki dari tempat di mana dia berada
terlihatlah sebuah kerangka manusia yang sedang duduk
bersila di atas tanah, sebilah pedang panjang menggeletak
disampingnya sedangkan sarung pedangnya sudah hancur
berantakan.
Dia jadi termangu-mangu, kenapa dari tadi dia tidak
melihat adanya sebuah kerangka manusia disana?
Dengan kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya saat ini
sekalipun di tempat kegelapan diapun bisa melihat seluruh
benda dengan amat jelasnya, tetapi kenapa baru sekarang dia
baru menemukannya? Dengan cepat dia angkat kepalanya dan
siap-siap maju ke depan. Jangan maju ke depan!” mendadak
terdengar Sang Siauw-tan berteriak keras.
Dengan cepat Koan Ing menghentikan langkah kakinya,
lalu menoleh memandang ke arah Sang Siauw-tan dengan
pandangan melongo.
Lama sekali Sang Siauw-tan memandangi kerangka
manusia itu lalu ujarnya dengan perlahan, “Itulah yang
dinamakan Huan Ow Ih Heng atau menipu mata memindah
benda yang amat lihay.”
Koan Ing menjadi melengak, Menipu Mata memindah
benda? Nama ini selamanya belum pernah didengarnya dari
siapapun
Sejak kecil Sang Siauw-tan sudah memperoleh didikan
langsung dari ayahnya apa lagi ayahnyapun merupakan
seorang pangcu dari sebuah perkumpulan besar yang
namanya amat terkenal di dalam Bu-lim. sebagai si jari sakti,
sudah tentu pengetahuan maupun pengalamannya amat luas
sekali jika dibandingkan dengan diri Koan Ing.

“Aku duga bayangan tadi tentunya bayangan dari Suto
Tiang-sian itu,” ujar Sang Siauw-tan kepadanya. “Aku pernah
mendengar ayahku berkata, katanya ilmu yang paling lihay
dari Suto Tiang-sian adalah Sin Koang Ci Sia atau ilmu sinar
dan suara, sudah tentu dia sudah menggunakan pantulan
sinar untuk memancing musuhnya mendekat”
Mendengar perkataan itu Koan Ing segera memungut
sebuah batu dan disambitkan ke arah bayangan tersebut,
ternyata sedikitpun tidak salah tempat itu memang kosong
melompong tidak tampak sebuah bendapun,
“Di dalam gurun pasirpun ada pula kejadian seperti ini,”
ujar Sang Siauw-tan lebih lanjut, “aku kira di tempat inipun
sudah dipasangi alat rahasia.”
Sinar mata Koan Ing berkelebat tak henti-hentinya, di
dalam hati dia merasa sangat terkejut sekali terhadap seluruh
kejadian yang selamanya belum pernah dengar maupun
diketahuinya ini, tetapi dengan kejadian ini pengetahuan
maupun pengalamannyapun jadi bertambah,
Jika seorang yang sama sekali tidak berpengalaman harus
melalui tempat ini, sudah tentu dia segera akan terkena
jebak.”
Sang Siauw-tan tertawa.
“Kita sekarang sudah ada disini, bagai mana kalau pergi
menemui juga jenazah dari Suto Tiang-sian?” tanyanya.
Dengan perlahan Koan Ing mengangguk lalu melanjutkan
perjalanannya melalui samping
dari sinar terang tersebut.
Kurang lebih berjalan beberapa saat lamanya, akhirnya
sampailah mereka di sebuah batu cadas yang amat mengkilap
sekali, di bawah batu itu berdirilah sebuah batu nisan.

Koan Ing segera maju ke depan mendekati batu nisan itu,
terbaca olehnya beberapa tulisan yang terukir di batu nisan
itu.
“Ciangbunjin dari Bu-tong-pay, Si Hay Neh Sin Kiam Tan
Ciu Cu terkubur di tempat ini!”
Hatinya terasa sedikit berdesir, sudah ada satu orang
ciangbunjin dari tujuh partai Besar yang mati di tempat ini....
Entah dahulu Suto Tiang-sian sudah menggunakan cara
apa hingga berhasil membinasakan Tan Ciu Cu di tempat ini?
Sang Siauw-tan segera tertawa.
“Kalau di tempat ini ada orang yang mati sudah tentu
sekitar tempat ini aman,” ujarnya perlahan.
Koan Ing pun tertawa, di dalam hati diam-diam merasa
murung, jika ditinjau dari situasi macam ini kemungkinan
sekali di setiap tempat di dalam ‘Selat Hwee Im Shia’ ini sudah
dipasangi alat-alat jebakan yang amat lihay, sedikit tidak
berhati-hati saja seketika itu juga akan menerima bencana
yang mengerikan untuk meloloskan diri dari sini sudah tentu
bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang amat mudah
“Eeei, buat apa kau memikirkan cara-cara untuk meloloskan
diri dari sini saja?” seru Sang Siauw-tan sambil tertawa.
“Bukankah lebih baik kita hidup berduaan di tempat ini?”
Koan Ing tertawa paksa, ujarnya, “Batu yang amat
mengkilap dan amat bening ini tentunya merupakan benda
yang memantulkan sinar tadi, ayoh kita pergi lihat Suto Tian
Sian ini sebetulnya manusia macam apa, tidak kusangka dia
orang begitu ganas dan sombongnya.”
Sambil berkata dia menarik tangan Sang Siauw-tan untuk
melanjutkan perjalanannya kembali menuju ke depan.

Kurang lebih baru berjalan beberapa saat lamanya
mendadak di depan mata mereka muncul kembali sebuah
kuburan tanah yang amat besar.
Koan Ing menjadi tertegun, dia segera menduga benda
tersebut tentunya ‘Menipu mata memindah benda’ lagi, cepatcepat
dia menghentikan langkahnya.
Di samping kiri di tempat dia berdiri terlihatlah sebuah batu
nisan yang berdiri dengan angkernya, dalam hati Koan Ing
benar-benar merasa amat murung sekali, terlihatlah pada batu
nisan itu terukir beberapa kata, ‘Ciangbunjin dari Kun-lun-pay,
si telapak membeku’ Oei It Cun melanggar obat peledak dan
terkubur di tempat ini”
Diam-diam Koan Ing merasa hatinya amat terperanjat
sekali pikirnya, “Heei.... tak disangka ilmu menipu mata
memindah barang tersebut bisa begitu lihaynya, sudah ada
dua orang yang mati tertipu oleh ilmu tersebut.... “
Sang Siauw-tan yang dilihat Koan Ing bersikap demikian
seriusnya dia segera tertawa geli.
“Sekalipun sudah bertemu dengan benda-benda yang
berusia ratusan tahun lamanya mengapa kau harus keheranheranan?”
ujarnya sambil berkata mereka melanjutkan
kembali perjalanan ke depan, kurang lebih baru sampai
beberapa puluh kaki jauhnya mendadak dari empat penjuru
berkelebat keluar berpuluh-puluh bayangan yang mirip dirinya
serta Sang Siauw-tan, dia jadi benar-benar terperanjat sekali,
Sang Siauw-tan sendiripun merasa terkejut, dengan cepat
dia meloncat ke samping badan Koan Ing,
Dari empat penjuru segera terlihatlah banyak sekali Sang
Siauw-tan yang mendekati badan Koan Ing membuat hatinya
semakin terkejut,
Tetapi sebentar kemudian wajahnya sudah berubah
memerah, walaupun di sekeliling tempat itu dipenuhi dengan

bayangan dirinya maupun diri Koan Ing tetapi tidak lebih cuma
bayangan belaka.
Koan Ing segera memegang kencang tangan Sang Siauwtan,
ujarnya sambil tertawa, “Tidak kusangka Suto Tiang-sian
mempunyai kepandaian yang demikian lihaynya.”
Baru saja dia selesai berkata mendadak kembali dia
menemukan sesosok kerangka manusia yang menggeletak di
atas tanah, tak terasa lagi dia menjerit tertahan dan maju
mendekati.
Tetapi bayangan itupun cuma sebuah tipuan belaka”,
hatinya semakin berdesir lagi, dia tidak menyangka kalau
bayangan tipuan itu ternyata terlihat begitu banyak yang
tertampak di tempat itu.
“Aaaa.... disini!” mendadak teriak Sang Siauw-tan sambil
menoleh ke samping kanan.
Dengan cepat Koan Ing berjalan mendekat, tampaklah di
samping kerangka manusia itu menggeletaklah sebuah pedang
yang berkait melengkung, dalam hati dia segera paham kalau
orang itu bukan lain adalah Ciangbunjin dari Cin Jan Pay Si
“Sah Toojien” atau toosu goblok. Giok Han. adanya.
Pada masa yang silam Giok Han dengan mengandalkan
pedang berkait melengkung itu pernah menggetarkan dunia
kang-ouw. tidak disangka dia sudah menemui ajalnya tanpa
tempat kubur “
Sudah tentu keadaan pada masa itu amat dahsyat sekali,
lima orang bersama-sama menemui beratus-ratus bahkan
beribu-ribu bayangannya sendiri memenuhi seluruh ruangan,
bersamaan waktunya pula Suto Tiang-sian muncul di tempat
itu di tengah berpuluh-puluh bayangan yang bercampur aduk
siapa yang asli siapa yang palsu tidak diketahuijelas membuat
dia orang segera terluka ditangan Suto Tiang-sian dan
menemui ajalnya di situ.

Sebaliknya keempat orang lainnya segera mengejar ke
dalam selat membuat kesempatan untuk mengubur jenazah
dan Giok Han pun tidak sempat lagi,
Dua orang bersama-sama termenung berpikir keras,
sebentar kemudian mereka segera bersama-sama mengubur
jenazah dari Giok Han ini Mereka sungguh-sungguh merasa
kagum atas
kehebatan dan ketelitian cara berpikir dari Suto Tiang-sian.
Jikalau Suto Tiang-sian masih hidup di dalam dunia ini,
mereka berdua tidak lebih baru melewati dua rintangan saja
Saat ini Koan Ing benar-benar merasa murung untuk
mencari jalan keluar dari tempat kurungan ini sebaliknya Sang
Siauw-tan sama sekali tidak mau memikirkan urusan ini,
agaknya dia tidak terlalu kuatir kalau sampai terkurung di
tempat ini.
Sang Siauw-tan tertawa, kepada Koan Ing ujarnya, “Mari
kita maju lagi!”
Koan Ing mengangguk dengan perlahan mereka berdua
segera melanjutkan kembali perjalanannya ke depan.
Mendadak jenazah dari Suto Tiang-sian muncul kembali di
depan mata, dia duduk kurang lebih sepuluh kaki dari tempat
itu.
Mereka berdua bersama-sama menghentikan langkahnya,
jenazah tersebut entah sungguh-sungguh atau cuma palsu
untuk menipu mata saja? Mereka tidak ada yang tahu
Di sekeliling tempat itu tidak tampak batu ataupun batu
nisan yang berserakan, jelas sekali, tempat ini paling gampang
untuk dipasangi jebakan yang mematikan, jikalau mereka
berdua maju lagi ke depan rejeki atau bencana masih susah
untuk diduga

Koan Ing termenung berpikir sebentar akhirnya dia
memungut sebuah batu dan disentilkan ke depan.
Ooo)*(ooO
Bab 14
“SREEET....!” dengan amat tepatnya batu itu menghajar
kerangka manusia itu sehingga hancur berantakan dan
tersebar di empat penjuru.
Dua orang itu menjadi melengak, kiranya kerangka
manusia kali ini adalah sungguh-sungguh tetapi apa betul itu
adalah kerangka manusia diantara sisa empat orang lainnya
atau mungkin Suto Tiang-sian sendiri? Mereka tidak tahu
siapakah sebetulnya orang ini, ada kemungkinan juga
kerangka itu adalah kerangka dari Suto Tiang-sian sendiri.
Lama sekali baru terdengar Sang Siauw-tan sambil tertawa
berseru, “Mari kita pergi lihat-lihat kesana lagi!”
Sehabis berkata sambil menarik tangan Koan Ing dia
melanjutkan perjalanannya lagi menuju ke depan.
Baru saja berjalan kurang lebih tiga kaki dari depan
kerangka Suto Tiang-sian itulah mendadak terdengar suara
ledakan yang amat keras sekali, mendadak permukaan tanah
dimuka mereka berada terangkat lalu terlempar ke atas
dengan kerasnya.
Mereka berdua menjadi sangat terperanjat, tetapi
kecepatan daya lempar permukaan tanah itu amat cepat
sekali, belum sempat mereka berdua berpikir lebih panjang
lagi tubuhnya sudah terlempar ketengah udara.
“Kraaak.... ” Dinding gunung yang ada di samping mereka
berdua mendadak membuka sendiri kesamping, setelah tubuh
mereka berdua terlempar masuk ke dalam dinding tersebut
menutup kembali seperti sedia kala.

Koan Ing segera memeluk tubuh Sang Siauw-tan erat-erat,
tetapi punggungnya tidak urung menghantam dinding gua
juga sehingga mengeluarkan suara yang amat keras sekali.
Luka dalam yang diderita olehnya sebetulnya sudah amat
berat sekali kini terluka pula terjangan yang amat keras,
seketika itu juga Koan Ing merasakan kepalanya pening
dadanya mual, hampir-hampir dia jatuh tidak sadarkan diri.
Mendadak di dalam ingatannya berkelebat satu bayangan
pikirnya, “Tidak.... aku tidak boleh pingsan.... di tempat dan
saat apakah ini? Bagaimana aku boleh jatuh tidak sadarkan
diri?”
Koan Ing segera menarik napas panjang-panjang, darah
segar yang bergolak di dalam dadanya terasa menerjang naik
ke atas dengan kerasnya sehingga tidak kuasa lagi dia
muntahkan darah segar dengan derasnya, kesadarannyapun
mulai sedikit demi sedikit menghilang, tetapi dia berusaha
untuk mempertahankan diri terus, dia menenangkan
pikirannya dan mulai mengatur pernapasannya....
Lama sekali dia baru mendengar suara tangisan dari Sang
Siauw-tan yang amat sedih berkumandang masuk ke dalam
samping telinganya.
“Ing Koko.... kau kenapa?” serunya keras.
Koan Ing gelengkan kepalanya.
“Tidak mengapa,” sahutnya sambil tertawa paksa.
Tiba-tiba dia mendengar suara tangisan dari Sang Siauwtan
semakin menjadi, saat ini kesadarannya belum pulih
seluruhnya sehingga tidak dapat melihat perubahan wajah
pada diri Sang Siauw-tan.
Mendengar suara tangisan ini dia menjadi keheranan.
“Eeeei, Siauw-tan kau kenapa?” tanyanya.

“Kau.... kau bersikap sangat baik.... sangat baik
terhadapku, aku.... aku.... ” serunya sambil menghapus air
mata yang menetes keluar membasahi wajahnya itu,
“Aku dahulu bersikap tidak baik terhadapmu tetapi di
kemudian hari aku tentu akan bersikap jauh lebih baik
terhadap kau”
Dengan halusnya Koan Ing mengelus punggung Sang
Siauw-tan, dia menarik napas panjang-panjang lalu
memandang sekejap ke sekeliling tempat itu,
Terlihatlah di bawah sebuah perut gunung ternyata sudah
muncul sebuah gua rahasia
yang agaknya buntu,
Setelah itu sekali lagi dia menangis tersedu-sedu dengan
amat sedihnya.
Dalam hati Koan Ing benar-benar merasa terharu, dia tidak
menyangka sama sekali kalau Sang Siauw-tan bisa bersikap
demikian baik terhadapnya dan demikian memperhatikan diri,
dengan pandangan terpesona dia memperhatikan diri Sang
Siauw-tan. “Siauw-tan sisa hidupku semuanya adalah
milikmu,” ujar perlahan.
“Ooooh.... Ing koko!” seru Sang Siauw-tan menangis sambil
menubruk kedalam rangkulan Koan Ing. “Aku tahu kau
sungguh-sungguh bersikap baik terhadap diriku.
Suto Tiang-sian jadi orang ternyata amat cermat sekali, dia
tahu sisanya empat orang tentu akan marah-marah dan gusar
sekali pada waktu itu. bilamana bertemu dengan dirinya
mereka pasti akan mengejar terus ke depan, karena itulah dia
sudah menggunakan alat rahasia yang ada di dalam perut
gunung ini untuk menjebak mereka.”
Dengan cepat tangannya meraba batu-batu cadas yang ada
di belakang badannya, terasa batu itu ada selaksa kati
beratnya, membuat dirinya di dalam hati diam-diam merasa

geli sendiri. Suto Tiang-sian yang hendak mengurung empat
orang ciangbunjin dari empat partai besar di tempat ini sudah
tentu tidak akan membiarkan mereka meninggalkan tempat
tersebut dengan begitu mudah.
Bahkan di dalam gua rahasia ini pasti tidak mempunyai
jalan keluar.
“Tetapi di manakah empat orang itu?”
Pikiran ini dengan cepatnya berkelebat di dalam benaknya,
dengan cepat kepalanya menoleh menyapu sekejap ke
sekeliling tempat itu,
Walaupun keadaan di dalam perut gunung, itu amat gelap
sekali tetapi dengan ketajaman matanya pada saat ini dia
dapat melihat seluruh benda yang ada di dalam gua tersebut,
apakah dia menemukan sesuatu? Tidak Sedikit jejakpun tidak
tampak ada disana.”
Apakah mungkin ketiga orang ciangbunjin itu sama sekali
tidak menggerakkan alat rahasia yang telah dipasang? Atau
mungkin cuma dirinya berdua saja yang telah menggerakkan
alat rahasia ini? Dia pikir terus dengan kerasnya, sedang di
dalam hati diam-diam merasa bergidik.
Ketika menundukkan kepalanya memandang wajah Sang
Siauw-tan, dia melihat ia sama sekali tidak berpikir tentang
urusan ini, bahkan dengan seenaknya bersandar di dalam
pelukannya.
Melihat hal itu Koan Ing. segera tertawa pahit, pikirnya,
“Sungguh mirip seperti seorang bocah cilik saja, kini
keadaannya sudah amat berbahaya sekali tetapi dia sama
sekali tidak mengambil gubris”
Tak tertahan lagi tangannya dengan perlahan mulai
membelai rambut Sang Siauw-tan yang terurai dan awut2an
itu.

Agaknya Sang Siauw-tan merasa sedikit gatal, dia menoleh
dan kirim satu senyuman manis kepadanya sedangkan
kepalanya digesek-gesekkan ke atas tubuhnya.
Dengan tersenyum Koan Ing memperhatikan wajah dari
Sang Siauw-tan lama sekali lalu kirim satu ciuman mesra ke
atas bibirnya yang kecil, lama sekali dia memandang
terpesona ke atas wajah Sang Siauw-tan. Mendadak
pikirannya berkelebat, “Apa Mungkin mereka sudah
menemukan jalan keluar dari gua ini? Kalau tidak dimanakah
keempat orang ciangbunjin itu?”
Dia berpikir.... berpikir terus.... akhirnya tidak tertahan lagi
sudah tertawa sendiri, bukankah buktinya sampai sekarang
mereka belum pada keluar dari selat itu.
“Ing koko,” tiba-tiba terdengar suara dari Sang Siauw-tan
memecahkan kesunyian. “Kau sedang memikirkan apa?”
“Aku sedang berpikir, Suto Tiang-sian yang mengurung kita
disini, entah ada jalan keluarnya tidak di sekeliling sini?” sahut
Koan Ing sambil tertawa.
Biji mata dari Sang Siauw-tan yang amat jeli berputar
sebentar lalu tertawa manis,
“Tapi yang aku ingin ketahui apakah dia orang
meninggalkan barang makanan buat kita atau tidak,” ujarnya
tersenyum.
“Mari kita pergi mencari,” sahut Koan Ing tertawa sambil
mendorong tubuh Sang Siauw-tan bangun.
“Ing koko, apakah kau menganggap sesudah berhasil
mencari jalan keluar, jauh lebih baik daripada sekarang kita
cuma berduaan saja?”
Koan Ing menjadi melengak, dia termenung dan berpikir
keras, “Heeei.... Sang Siauw-tan adalah seorang gadis yang
begitu bagusnya, begitu cantik Tetapi usianya paling banyak

cuma beberapa hari saja.... sungguh sayang.... sungguh
sayang.... ”
“Siauw-tan,” ujarnya kemudian sambil tertawa pahit. “Aku
takut ayahmu merindukan dirimu.”
Sang Siauw-tan jadi melengak, tadi hampir-hampir dia lupa
kalau dia masih ada seorang ayah bahkan dia sudah berjanji
dengan ayahnya untuk bertemu lagi di kuil Han-poh-si.
Kini kuil Han-poh-si sudah dia bakar sewaktu dalam
keadaan gusar, ayahnya akan pergi kemana mencari dirinya?
Koan Ing yang melihat wajah Sang Siauw-tan menunjukkan
kesedihan hatinya, dia jadi menyesal, seharusnya dia tidak
boleh mengungkit kembali kata-kata yang menyedihkan
hatinya sehingga suasana jadi tidak enak, suasana jadi amat
murung dan diliputi oleh tekanan yang amat berat,
“Siauw-tan,” akhirnya dia berkata sambil tertawa. “Kau
jangan kuatir, coba kau bayangkan bagaimana terkejutnya dia
orang tua jikalau ayahmu lahu kita berhasil meloloskan diri
dari selat yang amat ditakuti ini”
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing berusaha
menghibur dirinya, dia sendiripun tidak mau membiarkan Koan
Ing merasa murung buat dirinya lagi, dia tertawa.
“Tetapi ayahku pasti tidak tahu kalau kuil Han-poh-si itu
aku yang bakar” ujarnya perlahan.
Selesai berkata dia segera bangkit berdiri....
Koan Ingpun dengan perlahan bangkit berdiri, tetapi baru
saja berdiri sampat separuh jalan, seluruh tubuhnya terasa
sangat sakit sekali sehingga tidak terasa lagi dia sudah
mengerutkan alisnya rapat-rapat.
Melihat hal itu Sang Siauw-tan menjadi kuatir.

“Eeeh.... kau kenapa sudah tidak bisa jalan?” tanyanya.
Koan Ing segera mencekal kencang-kencang tangan Sang
Siauw-tan.
“Tidak mengapa, kau berlegalah hati,” ujarnya sambil
tertawa.
Walaupun di dalam hati Sang Siauw-tan merasa amat kuatir
tetapi dia tidak ingin Koan
Ing merasa bersedih hati, terpaksa diapun tersenyum pahit
dan mencekal tangan Koan Ing erat-erat.
Dengan bersusah payah akhirnya mereka berdua berjalan
menuju ke perut gunung itu.
“Iiih.... Coba kau lihat begitu banyak jalan yang ada disini,
entah kita harus
berjalan ke arah mana?” ujar Koan Ing kemudian sambil
menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu.
Sedang dia berkata mendadak Sang Siauw-tan sudah
berteriak keras, “Aaah.... disana ada sinar terang, kita kesana
lihat-lihat.“
Koan Ing segera menoleh ke arah sebelah kiri, ternyata
sedikitpun tidak salah dari tempat mana terlihatlah adanya
sinar yang memancar keluar dengan amat tajamnya membuat
dalam hati dia merasa keheranan.
Dengan cepat dia membawa Sang Siauw-tan meauju ke
arah mana, dia ingin mengetahui apa yang telah terjadi di
tempat itu,
Beberapa saat kemudian tibalah mereka di tempat dimana
berasalnya sinar terang itu, terlihat sebuah batu bening yang
memancarkan sinar terang berdiri tegak di atas tanah, di atas
batu itu duduklah tiga sosok kerangka manusia,

Sinar terang itu memancar keluar dari antara kerangka2
manusia itulah Koan Ing menjadi tertegun, pikirnya, “Aaaah....
telah terjadi urusan apa?”
Cepat-cepat dia berjalan mendekat, terlihatlah diantara
ketiga sosok kerangka manusia itu ada seorang yang berada
di dalam keadaan bersila dan merangkap tangannya di depan
dada.
Jika dilihat dari keadaan jelas dia adalah Sang Hong Thaysu
itu Ciangbunjin dari Siauw-lim-pay tempo hari.
Disebelah kirinya menggeletaklah sebilah golok tunggal
yang amat berat, sudah tentu kerangka itu adalah kerangka
dari ‘Noe Hu Kioe Liong’ atau si penunduk naga Uh Sauw Hoa
itu ciangbunjin dari Siong Yang Pay.
Sedang kerangka yang ada disebelah kanan meluruskan
tangan kanannya sejajar dengan dada dengan telapak tangan
menghadap ke bawah, inilah tanda dari Thay Khek Bun tempo
hari, sudah tentu kerangka ini adalah kerangka dari
Ciangbunjin Thay Khek Pay, Thian Yang Hwee Sian atau si
pendendam seujung langit Tan Pek Cau adanya.
Diantara tujuh orang ciangbunjin dari tujuh partai besar
sudah ada enam orang yang menampakkan dirinya, kini cuma
tinggal dia seorang saja yang entah pergi kemana.
“Urusan sungguh rada aneh” ujar Koan Ing kemudian
sambil mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepada diri
Sang Siauw-tan. “Kenapa mereka tidak mencari jalan keluar
dengan jalan bersama-sama? Ketiga orang ini kepada ada di
tempat ini sedangkan itu Tan Tiauw Suseng telah pergi
kemana?”
Sang Siauw-tan pun termenung berpikir sebentar lalu
katanya, Mereka berdua saling bertukar pandang sekejap,
urusan ini ada sedikit membuat orang merasa keheranan,
mengapa mereka bertiga duduk bersila di atas batu yang
memancarkan sinar terang ini? Agaknya mereka mempunyai

maksud untuk menahan datangnya serangan sinar yang amat
terang itu
Masih ada lagi itu ciangbunjin dan Hoa-san Pay, Sisiucay
suka guyon, Pek Si Thian pergi kemana?”
“Urusan ini harus ditanyakan sendiri kepada Si Tan Siauw
Suseng baru bisa dibikin jelas.... ”
Koan Ing segera mengangguk, pikirnya, “Entah dimanakah
itu Tan Siauw Suseng berada? Ketiga orang inipun aku baru
menemukan dengan petunjuk dari sinar.... ”
Berpikir sampai disini mendadak di dalam hatinya
berkelebat satu ingatan, ketiga orang duduk ini agaknya
sedang menahan serangan dari sinar tajam itu. Apa mungkin
Pek Si Thian mengundurkan diri dengan memungkuri sinar?
Di tempat inipun ada sebuah batu bening yang dapat
memancarkan sinar tajam, tentunya tempo hari Suto Tiangsian
meminjam batu-batu bening ini, untuk mengawasi
seluruh gerak-gerik dari empat orang ini, makanya mereka
mau tidak mau terpaksa harus menggunakan cara ini untuk
menghadapi musuhnya.
Berpikir sampai disini kepada Sang Siauw-tan lantas
ujarnya, “Mari kira pergi mencari jejak dari Pek Si Thian”
Sambil tersenyum Sang Siauw-tan mengangguk, mereka
berdua dengan perlahan melanjutkan perjalanan kembali ke
depan.
Kurang lebih setelah berjalan beberapa saat lamanya
mendadak di depan batu cadas yang bening itu muncul
kembali sebuah batu cadas yang bening pula, hati Koan Ing
semakin mantap lagi dia tahu apa yang diduganya semula
tentu tidak akan salah lagi.
Dia memandang sejenak ke arah sudut sinar lalu dengan
mengikuti arah dari sinar tersebut dia melanjutkan
perjalanannya ke depan.

Jalan yang ditempuh semakin lama semakin meninggi dm
semakin lama semakin lembab, agaknya perjalanan tersebut
tidak ada ujung pangkalnya.
Pada saat ini Koan Ing sedang menderita luka dalam yang
amat parah, diapun merasa haus dan lapar, jikalau bukannya
ada Sang Siauw-tan disampingnya, mungkin sejak tadi dia
sudah tidak kuat mempertahankan dirinya lagi.
Sang Siauw-tan sendiri walaupun merasa amat lelah dan
lapar tetapi sama sekali tidak menderita luka dalam, melihat
keadaan dari Koan Ing yang sudah amat payah, tidak kuasa
lagi tanyanya, “Ing Koko.... kau sudah terlalu lelah kita harus
beristirahat sebentar”
“Mungkin sebentar lagi akan sampai,” ujar Koan Ing sambil
menarik napas panjang-panjang.
Jikalau kita sekarang berhenti, nanti kalau melanjutkan
kembali perjalanan tentu akan terasa amat payah dan tidak
kuat”
Sang Siauw-tan yang mendengar perkataan ini cuma
tertawa saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mereka berdua kembali melanjutkan perjalanannya ke
depan, kurang lebih setengah jam kemudian Koan Ing sudah
mulai merasakan hawa murninya makin berkurang, keringat
dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya
sedang dalam hati diapun mulai merasa tenang, jika di lihat
dari keadaan ini agaknya dia sudah tidak dapat bertahan lebih
lama....
Mendadak Sang Siauw-tan menghentikan langkahnya, Koan
Ing jadi melengak cepat-cepat dia angkat kepalanya
memandang ke depan terlihatlah jalan di hadapannya adalah
sebuah jalan buntu.
Dalam hati dia merasa hatinya tergetar amat keras,
tenaganya yang dikerahkan sepenuhnya tidak disangka sudah

memperoleh hasil yang nihil, saat ini harapannya musnah
sudah bahkan dia merasa tenaga untuk berjalan balik sudah
tidak ada lagi.
Koan Ing berkedip-kedip sebentar, tiba-tiba.... kembali dia
melihat adanya sesosok kerangka manusia yang menggeletak
pada ujung jalan buntu tersebut.
Dia menarik napas panjang-panjang, ketika melihat air
muka Sang Siauw-tan kelihatan sedikit sedih dia segera
tertawa paksa. “Mari kita lihat kesana,” ujarnya kemudian.
Sang Siauw Tai tertawa tawar dan mengangguk.
Mereka berdua kembali berjalan ke depan, terlihatlah di
samping kerangka manusia itu menggeletak sebuah kipas
yang terbuat dari emas murni, dan kerangka itu bukan lain
adalah kerangka dari Ciangbunjin Hoa-san Pay Pek Si Thian
adanya Sang Siauw-tan segera tertawa pahit.
“Tidak perduli bagaimanapun juga akhirnya kita
menemukan juga Pek Si Thian dia orang, dengan kecerdasan
serta akalnya yang melebihi orangpun akhirnya menggeletak
mati disini apa lagi kita, kelihatannya kitapun tidak punya
harapan lagi,” ujarnya sedih. Koan Ing pun terpaksa tertawa
pahit, Saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Perlahan-lahan dia duduk kembali ke atas tanah siap
memejamkan mata untuk mengatur pernapasan, mendadak
matanya dapat melihat adanya sesuatu di samping kerangka
manusia tersebut “
Dia orang yang pernah ikut Kong Bun-yu berlatih giat
selama tiga bulan lamanya di dalam gua, ketajaman matanya
saat ini boleh dikata jauh berada di atas tiga manusia genap
empat manusia aneh yang ada di daerah Tionggoan.
Hanya di dalam sekali pandang saja dia bisa melihai di atas
tanah itu terukirlah beberapa kalimat tulisan.

Dengan perlahan dia menyingkirkan kerangka manusia itu
ke samping lalu membaca isi tulisan tersebut, “Ciangbunjin
angkatan kedelapan belas dari Hoa-san Pay, Pek Si Thian
bersama-sama dengan Siauw lim, Thay khek serta Siong
Yang, tiga orang Ciangbunjin terkurung di tempat ini.
Kecerdikan dari Suto Tiang-sian memang amat lihay sekali,
dia menggunakan batu-batu bening yang memantulkan sinar
untuk menjebak kami semua di tempat ini,
Untuk menghadapi batu-batu beningnya itu cuma ada satu
jalan untuk menghindarkan yaitu jangan melihat dengan
pandangan mata sendiri, karena sinar tersebut amat
mempengaruhi mata kita.
Dengan bantuan dari Siauw lim, Thay-khek serta Siong
Yang tiga orang ciangbunjin akhirnya kami berhasil
menggerakkan alat rahasia dan membuka jalan keluar ini
Melihat adanya jalan keluar ini dalam hatiku merasa amat
senang sekali, sebelum aku keluar dari kurungan ini mendadak
di dalam ingatanku teringat kembali dengan tiga orang
ciangbunjin bertiga, jika aku meninggalkan mereka bertiga
bukankah aku orang akan malu dengan kawa^kawan Bu-lim
yang lainnya?
Sewaktu aku mau balik tiba-tiba di atas dinding ini aku
menemukan sebuah batu bening lagi, aku duga Suto Tiangsian
tentu menggunakan barang tersebut sebagai penggerak
alat rahasianya atau kalau tidak tentulah suatu jalan keluar.
Heee.... siapa sangka waktu itulah sifat licik dari Suto
Tiang-sian muncul kembali, aku kena bokong dan tidak dapat
bangun lagi....!
Mereka berdua yang membaca sampai di sini dalam hati
diam-diam merasa tertegun kemudian bersama-sama angkat
kepalanya ke atas.

Ternyata sedikitpun tidak salah di atas dinding tersebut
memang tampak adanya sebuah batu bening kembali diamdiam
dalam hati mereka berdua merasa amat terperanjat atas
ketelitian dari Suto Tiang-sian ini, tetapi merekapun merasa
kagum atas kelihayan dari
Pek Si Thian.
Tetapi yang dimaksud sebagai Pek Si Thian dengan pintu
keluar itu berada di mana? Apa mereka benar sudah ada dipintu
keluar?
Sang Siauw-tan segera menggerakkan tangannya
mendorong dinding disampingnya tetapi di tempat mana sama
sekali tidak terjadi gerakan apapun juga.
Lama sekali Koan Ing pun memperhatikan keadaan di
sekeliling tempat ini, dia merasa heran dengan ketajaman
pandangan matanya mengapa dia tidak menemukan juga
sesuatu yang mencurigakan hatinya?
Sekali lagi dia menyapu sekejap ke arah sekeliling tempat
itu tetap biasa saja sedikitpun tidak tampak adanya hal-hal
yang mencurigakan, diam-diam hatinya merasa semakin heran
lagi.
Apa mungkin perkataan dari Siauw Ta Suseng, Pek Si Thien
ini salah”
Tetapi Pek Si Thian adalah seorang ciangbunjin dari Hoasan
Pay apa lagi pandai sekali di dalam ilmu bangunan, dia
tidak mungkin bisa salah berkata,
Berpikir akan hal ini sekali lagi Koan Ing menyapu sekejap
ke arah sekeliling tempat itu Tetapi tetap tidak menemukan
sesuatu apapun
Sekeliling dinding itu tidak ada, di bawah tanah tidak
mungkin, apa mungkin di atas atap? Berpikir sampai disitu dia
segera mendongak ke atas atap dinding.

“Siauw-tan!” teriaknya kemudian dengan keras, “Coba kau
mendorong atap dinding itu”
Sang Siauw-tan segera bangkit dan dengan sepenuh
tenaga mendorong atap dinding itu ke atas.... mendadak....
dinding tersebut membuka sebuah celah membuat hatinya
merasa amat terperanjat bercampur girang.
“Aaaah.... benar. Kita bisa keluar.”
Saking girangnya hampir-hampir air matanya mengucur
keluar membasahi pipi Sang Siauw-tan, melihat hal itu Koan
Ing tertawa tawar, berbagai pikiran kembali berkelebat di
dalam benaknya.
“Siauw-tan Kau doronglah lagi, aku bantu kau membuka
celah dinding tersebut” ujarnya sambil tertawa.
Sambil tersenyum Sang Siauw-tan mengangguk, mereka
berdua dengan sepenuh tenaga segera mendorong dinding itu
ke atas.
“Braaak....!” dengan disertai suara yang amat keras
dinding batu itu membuka kesamping, serentetan sinar surya
yang menyilaukan mata segera memancar dengan amat
tajamnya.
Koan Ing sebetulnya sudah kehabisan te naga, kini harus
mendorong batu dinding itu pula dengan sekuat tenaga,
begitu sinar surya menyorot masuk ke dalam ruangan dia
segera merasakan pandangannya menjadi gelap, dadanya
terasa amat sakit seperti diiris2 tidak kuasa lagi dia jatuh tak
sadarkan diri di atas tanah
Entah lewat beberapa saat lamanya dia sendiripun tidak
tahu, dia cuma merasa Sang Siauw-tan sedang menangis dan
memanggil-manggil namanya dia sadar kembali.
Terlihatlah saat itu dirinya berada di dalam rangkulan Sang
Siauw-tan, dia segera menarik napas panjang lalu ujarnya
sambil tertawa, “Siauw-tan, aku tidak mengapa.”

Luka dalamnya yang amat parah kambuh kembali rasa sakit
yang amat sangat menyerang punggung serta dadanya,
hampir-hampir tidak tahan seluruh tubuhnya gemetar.
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing sadar kembali dari
pingsannya tetapi melihat air mukanya pucat pasi bagaikan
mayat dia malah menangis semakin menjadi2, “Ing koko....
Oooh Ing koko.... aku membuat kau menjadi begini!”
teriaknya berulangkali.
Koan Ing tertawa, dia angkat kepalanya melihat sinar sang
surya yang memancar masuk ke dalam gua itu. sinar sang
surya nan terang dengan lembutnya menyoroti rambut serta
butiran2 air mata yang membasahi wajah Sang Siauw-tan, dia
melihat keadaannya mirip sekali dengan Bidadari yang turun
dari kahyangan dimana banyak terlihat di dalam lukisan. Lama
sekali dia berdiri tertegun, mendadak teriaknya keras.
“Haaa.... kita sudah lolos dari kurungan Siauw-tan. Kita
sudah lolos dari kurungan.... ”
“Benar kita sudah lolos dari kurungan,” sahut Sang Siauwtan
dengan tertawa malu-malu. “Untuk selanjutnya kita bisa
hidup bersama-sama untuk selamanya.”
Mendengar perkataan itu Koan Ing hanya merasakan
hatinya tergetar dengan amat keras, gumamnya seorang diri,
“Kita sudah lolos dari kurungan....? Kita sudah lolos dari
kurungan....?”
Dengan perlahan dia bangun dan duduk di atas tanah,
berbagai pikiran bercampur aduk di dalam benaknya, untuk
selanjutnya dia harus berbuat bagaimana?....

Jilid 7
Di dalam hati kecilnya dia ingin membantu Sang Siauw-tan
untuk meloloskan diri dari kurungan bahaya, tetapi waktu itu
dia sama sekali tidak dapat membuktikan lamunannya
tersebut, tetapi kini mereka benar-benar telah lolos dari
kurungan bahaya, bagaimana selanjutnya? Dia tidak boleh
menghancurkan kebahagiaan Sang Siauw-tan selanjutnya.
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing bersikap demikian
di dalam hati dia menganggap dia orang tarlalu girang hati,
dia tertawa. “Apa kau sudah lupa?” tanyanya merdu.
Dengan perlahan Koan Ing menundukkan kepalanya
rendah-rendah berbagai urusan bercampur aduk dan saling
bertentangan di dalam hatinya. agaknya dia rada menyesal
karena mereka sudah berhasil meloloskan diri dari kurungan
tersebut, tetapi sebentar saja pikiran itu sudah tersapu oleh
satu ingatan baru
Dia tidak seharusnya bersikap demikian mementingkan
dirinya sendiri, dia tidak punya alasan untuk meminta Sang
Siauw-tan untuk ikut mati bersama-sama dirinya semakin tidak
ada alasan lagi meminta dia menemani seorang yang usianya
tinggal beberapa hari saja seperti dirinya
Sebetulnya dia mengira diri mereka berdua sudah tidak ada
harapan lagi untuk bisa meloloskan diri dari lembah tersebut
kini dia harus mengambil keputusan di dalam hatinya
walaupun di dalam hati dia sama sekali tidak ingin Sang
Siauw-tan meninggalkan sisi
tubuhnya tetapi hal itu tidak mungkin bisa terjadi
Sang Siauw-tan yang melihat lama sekali Koan Ing tidak
memberikan jawabannya tetapi cuma termangu-mangu, tidak
terasa di dalam hati rada cemas juga,
“Ing koko!” teriaknya dengan keras, “Kau kenapa? Kau
sedang memikirkan urusan apa?”

“Siauw-tan,” akhirnya tampak dari sepasang mata dari
Koan Ing memancar keluar sinar yang amat tajam dan dengan
amat halusnya memperhatikan diri Sang Siauw-tan. “Aku ingin
menyembuhkan lukaku dengan jalan menyalurkan tenaga
dalamku, kau tunggu dulu sebentar yaaa?”
Sambil tersenyum Sang Siauw-tan mengangguk.
“Kita sekarang sudah lolos dari kurungan, kau suka berbuat
apa lakukanlah sesuka hatimu,” ujarnya,
Koan Ing memandang terpesona ke arah Sang Siauw-tan
beberapa saat lamanya, kemudian
baru pejamkan sepasang matanya untuk mulai
menyalurkan hawa murninya untuk menyembuhkan
luka yang diderita.
Sang Siauw-tan segera berjaga di samping badan Koan Ing
dia yang melihat pandangan mata Koan Ing begitu
mempesonakan dan mengandung rasa cinta yang amat sangat
itu membuat hatinya seketika itu juga terasa amat hangat dan
nyaman sekali
Sejak kecil dia dibesarkan dengan mengikuti ayahnya terus
walaupun Sang Su-im memandangnya seperti mutiara di
dalam telapak tetapi dia yang menjabat sebagai pangcu dari
Tiang-gong-pang dan harus berlatih ilmu silatnya terus
menerus untuk persiapan pertemuan para jago yang ke dua di
atas gunung Hoa-san membuat perhatiannya terhadap
putrinya ini agak berkurang,
Sekalipun Sang Siauw-tan memiliki wajah yang cantik dan
banyak yang tunduk terhadap
dirinya tetapi di dalam hati yang benar-benar dia cintai
kecuali ayahnya seorang cumalah Koan
Ing saja

Sikap baik Koan Ing terhadap dirinya ini sama sekali bukan
dikarenakan dia adalah putri dari si jari sakti Sang Su-im
bahkan hal yang benar-benar mengena dan teringat terus oleh
Sang Siauw-tan adalah beberapa kali dia berhasil ditolong oleh
Koan Ing di saat-saat yang kritis.
Dengan pandangan mendelong dia memperhatikan diri
Koan Ing, dalam hati dia berpikir bilamana dia bisa kawin
dengan dirinya, lain kali setelah hidup bersama-sama
keadaannya tentu akan jauh lebih gembira lagi, dia tentu akan
mengajak dia untuk tinggal disebuah tempat yang sunyi....
disebuah gunung yang amat sunyi sehingga tidak ada yang
datang mengganggu.
Sudah tentu ayahnya tahu mereka bertempat tinggal
dimana, bahkaa sering pergi mengunjungi mereka.... dan lebih
bagus lagi kalau mereka dikaruniai seorang anak
Berpikir sampai disitu tidak kuasa lagi air mukanya berubah
memerah, dengan perlahan kepalanya ditoleh ke arah Koan
Ing yang sedang memusatkan pikirannya untuk
menyembuhkan luka dalamnya.
Setelah pikirannya tenang kembali sekali lagi dia berpikir,
dia tidak tahu Koan Ing bisa mengharapkan mereka dikaruniai
seorang anak lelaki atau seorang anak perempuan saja.... ,....
Dia berpikir.... berpikir terus.... seorang diri dia duduk
termangu-mangu disana membuat apapun dia sudah lupa....
seluruh pikiran serta kesadarannya sudah terjerumus ke dalam
lamunan yang indah itu.
Lewat beberapa saat kemudian terdengarlah Koan Ing
menghembuskan napas panjang dan bangkit berdiri.
Sekali lagi wajah Sang Siauw-tan berubah memerah,
serunya dengan amat girang, “Ing Koko, kau sekarang merasa
bagaimana?”

Dengan perlahan Koan Ing menoleh ke arah Sang Siauwtan
yang wajahnya penuh diliputi oleh kegembiraan itu, dia
jadi tertegun dan tidak terasa sudah menundukkan kepalanya
untuk berpikir: dia merasa dengan keadaan seperti ini
bilamana dia harus meninggalkan dirinya seorang diri maka
Sang Siauw-tan tentu merasa sangat lelah sekali.
Atau mungkin dia harus mengambil keputusan kembali
yang baru, dia harus berpisah dengan diri Sang Siauw-tan
secara perlahan-lahan, dengan berbuat begitu maka dia tentu
tidak akan merasa terlalu sedih oleh kejadian tersebut.
Karena terlalu lama dia berpikir membuat dirinya lupa
untuk memberikan jawabannya. Sang Siauw-tan seketika itu
juga dibuat termangu-mangu, dia heran kenapa Koan Ing
sewaktu masih ada di dalam selat dia begitu bernafsu untuk
meloloskan diri dari kurungan, kini setelah berhasil meloloskan
diri dari kurungan kenapa tidak tampak rasa girang hatinya?
Berpikir akan hal ini keningnya segera dikerutkan rapat-rapat.
Mendadak Koan Ing tersadar kembali dari lamunannya, dia
tertawa paksa.
“Aku sudah jauh lebih baikkan, terima kasih.... terima
kasih” serunya cepat.
Sekali lagi Sang Siauw-tan mengerutkan alisnya rapat-rapat
dia merasa heran agaknya Koan Ing sedikit tidak beres, dia
merasa agaknya Koan Ing sedang diliputi oleh pikiran yang
bertumpuk-tumpuk bahkan kelihatan sekali senyumannya
terlalu dipaksakan.
Koan Ing yang melihat Sang Siauw-tan dibuat tertegun oleh
sikapnya itu dia segera merasa kalau dia orang tentu telah
merasakan sesuatu yang tidak beres dari dirinya membuat
hatinya rada tidak tegah, tetapi ketika teringat kembali kalau
dia adalah seorang manusia yang hampir mendekati ajalnya
dia benar-benar tidak ingin agar orang lainpun merasakan
siksaan yang amat berat itu.

Sinar matanya segera berkelebat dengan amat tajam, dia
tersenyum.
“Siauw-tan,” ujarnya halus. “Mari kita keluar dari sini.
Sehabis berkata dia meloncat terlebih dulu ke atas, tetapi
sebentar saja dia telah merasakan dadanya terasa amat mual
kembali.
Dia mengerutkan alisnya rapat-rapat, dalam hati dia tahu
luka dalamnya yang ditekan ke bawah dengan paksa ini sedikit
tidak berhati-hati saja segera dapat kambuh kembali.
Dia segera menarik tangan Sang Siauw-tan dan
memandang keadaan di sekeliling tempat itu
Empat penjuru diliputi oleh kabut putih yang melayang
dekat dengan permukaan tanah, Koan Ing perlahan-lahan
angkat kepalanya memandang ke arah sinar Surya yang
memancarkan sinar keemas- emasan itu. ujarnya dengan
perlahan.
“Ayahmu tentu merasa amat cemas. bilamana dia tahu kau
telah masuk ke dalam selat,
ada kemungkinan dia orang tuapun ikut mengejar ke
dalam, kita harus cepat-cepat turun dari sini dan menuju
kepintu selat untuk melihat-lihat keadaan, kau rasa
bagaimana?”
Dengan bimbangnya Sang Siauw-tan mengangguk, secara
tiba-tiba dia merasa telah lolos dari kurungan tersebut sikap
mesra dari Koan Ing yang diperlihatkan waktu masih berada di
dalam selat sama sekali telah lenyap dari badannya apalagi hal
yang benar-benar membuat dia merasa tidak tahan adalah
Koan Ing yang terus menerus mengerutkan keningnya itu,
agaknya dia mempunyai urusan yang membingungkan
hatinya.
Di dalam hati diam-diam dia berpikir, “Agaknya dia punya
pikiran yang amat ruwet, tapi aku tidak akan bertanya

apapun, aku mau lihat kau bisa beritahu kepadaku dengan
sendirinya atau tidak.”
Dia lantas anggukkan kepalanya dan menarik diri Koan Ing.
Dengan sentuhan badan ini baik Koan Ing maupun Sang
Siauw-tan segera merasakan badan mereka seperti kena
distrum saja dan tergetar dengan amat kerasnya, di dalam
sekejap saja pikiran Koan Ing mulai bergolak.
“Aku tidak seharusnya membuat Sang Siauw-tan menerima
pukulan yang amat berat sehingga membuat hatinya sedih”
Pikirnya di dalam hati. “Apalagi sebelum bertemu muka
dengan ayahnya, aku tidak boleh melukai hatinya.”
Dia ragu-ragu sebentar, akhirnya satu senyuman kembali
menghiasi bibirnya.
“Tidak tahu Sang Pepek ada dimana? Dia orang tua
sewaktu tidak menemui dirimu, di dalam hati tentu merasa
amat cemas sekali.”
Dengan murungnya Sang Siauw-tan pun tersenyum,
mereka berdua dengan saling
berdampingan bersama-sama turun gunung.
Selama di dalam perjalanan ini, siapa pun tidak ada yang
berbicara.
Sang Siauw-tan tidak bercakap2 sedang Koan Ing
sendiripun agaknya sedang memikirkan sesuatu sehingga
diapun tetap membungkam.
Setelah lewat beberapa saat lamanya akhirnya Sang Siauwtan
tidak bisa menahan sabar lagi, kepada Koan Ing segera
tanyanya:
“Ing Koko Sebetulnya kau sedang memikirkan urusan
penting apa toch?.... ,.... kenapa kau tidak berbicara terus?”

Koan Ing seketika itu juga sadar kembali dari lamunannya,
dia segera menjerit kaget
dan termangu-mangu,
“Aaaah.... tidak mengapa.... tidak mengapa.... ” Serunya.
“Aku sedang berpikir Si Sastrawan berbaju sutera Bun Tingseng
entah sudah pergi kemana? Sewaktu aku menemukan
kereta berdarah itu dia tidak ada disana.... Heeei.... hal ini
betul-betul membuat aku merasa tidak tenang, untuk makan
tidak enak untuk tidurpun tidak nyenyak.”
Mendengar perkataan itu Sang Siauw-tan baru bisa
menghembuskan napas lega.
“Ooouw.... kiranya begitu Kalau begitu tentu akulah yang
sudah banyak menaruh curiga,” pikirnya di dalam hati.
Teringat akan hal ini dia merasa rada menyesal.
“Oooh.... aku masih mengira kau sudah marah kepadaku
dan terus menerus tidak mau bicara,” ujarnya tertawa.
“Mengenai Bun Ting-seng manusia itu pada suatu hari tentu
bisa kau dapatkan, tidak perduli sampai di ujung langitpun aku
sanggup untuk menemani dirimu terus menerus “
Seketika itu juga seluruh tubuh Koan Ing tergetar dengan
amat kerasnya, dengan perlahan mereka berjalan diantara
kabut yang amat tebal.
Terlihatlah dia tersenyum.
“Heei.... cuma sayang aku tidak tahu bisakah aku hidup
terus dengan selamat dan berhasil menemukan dirinya.”
Mendengar perkataan itu Sang Siauw-tan merasakan
hatinya seperti mau meloncat keluar, dia berhenti sebentar
untuk kemudian berjalan kembali ke depan.
“Ing Koko,” ujarnya sesudah termenung berpikir sebentar,
“Kenapa secara tiba-tiba kau ingin mati?”

Koan Ing cuma tertawa tawa saja dan menundukkan
kepalanya tidak mengucap kan sepatah katapun, dia akan
memaksa diri Sang Siauw-tan untuk dengan perIahan2
meninggalkan dirinya dengan sendirinya,
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing sama sekali tidak
berbicara segera ujarnya lagi.
“Bilamana kau sungguh-sungguh mati, aku bisa mewakili
kau untuk membalaskan dendammu itu kemudian cukur
rambut sebagai Nikouw “
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing benar-benar
merasa sangat terperanjat sekali, dia yang melihat Sang
Siauw-tan sehabis berbicara demikian lantas tundukkan
kepalanya tidak berbicara lagi bahkan kelihatan sekali
sikapnya yang bersungguh-sungguh, di dalam hati dia
merasakan segulung hawa yang berdesir meliputi seluruh
badannya. Lama sekali dia berdiri tertegun, kemudian baru
tersenyum pahit.
“Siauw-tan,” ujarnya halus. “Kenapa kau bicara seperti aku
benar-benar sudah mati? Kau mau jangan membicarakan soal
ini lagi?”
Ooo)*(ooO
Bab 15
SANG SIAUW-TAN tertawa, dia sendiripun merasa heran
kenapa dia orang bisa begitu bersungguh-sungguh, dengan
perlahan dia angkat kepalanya dan memandang terpesona ke
arah diri Koan Ing.
Empat pasang mata bertemu jadi satu, lama sekali mereka
baru tersenyum kemudian saling bergandeng tangan dan lari
turun dari gunung itu.
Dengan cepatnya mereka berkelebat menuruni gunung itu
dan tidak lama kemudian sudah tiba kembali di mulut selat
tersebut.

Keadaan di sekeliling Selat itu sunyi senyap tak sesosok
bayangan manusiapun, sinar mata dari Koan Ing segera
berkelebat memandang ke sekeliling tempat itu.
Dia sama sekali tidak percaya kalau dengan manusia
seperti Hud Ing Thaysu ternyata dia tidak meninggalkan
seorang penjaga pun di depan mulut lembah itu.
“Ing Koko.... ” terdengar Sang Siauw-tan berkata sambil
tertawa. “Aku rasa Si keledai
gundul itu kemungkinan sekali telah pergi ke kuil Siauw-limsi
di atas gunung Siong San.
Sebenarnya dia adalah hweesio keluaran Siauw-lim-pay,
kali ini kuilnya telah aku bakar
musnah sudah tentu untuk sementara waktu dia akan
kembali lagi ke kuilnya dahulu di Siauw
lim-si.
Dengan perlahan Koan Ing mengangguk,
“Mari kita pergi menanti kedatangan dari Sang Pepek,”
ujarnya tertawa,
Sang Siauw-tan yang melihat Koan Ing telah tidak diliputi
oleh pikiran-pikiran yang butek lagi dia segera tertawa manis,
pikirnya, “Aku harus membantu dirinya untuk mencarikan satu
akal hingga dia dapat menemukan kembali jejak dari si
sastrawan berbaju Sutera Bun Ting-seng itu.”
Diam-diam di dalam hati dia telah mengambil keputusan
untuk meminta bantuan ke ayahnya, jikalau ayahnya mau
membantu, dengan ketajaman ‘Pendengaran’ dari anggota
perkumpulan Tiang-gong-pang suaranya tidaklah terlalu sukar
baginya untuk memperoleh kabar tersebut,
Kembali mereka berdua melanjutkan perjalanannya menuju
ke arah luar....

Kurang lebih seperminum teh kemudian tiba-tiba terlihatlah
sesosok bayangan abu-abu dengan kecepatan luar biasa
berkelebat menuju ke arah mereka.
Ketika mereka bertiga saling bertemu tidak terasa
semuanya pada tertegun dibuatnya, kiranya orang itu bukan
lain adalah Hud Ing Thaysu adanya
Tadi setelah Hud Ing Thaysu meninggalkan tempat itu di
tengah perjalanan dia merasa hatinya tidak tenang, karenanya
dengan cepat dia balik lagi ke tempat semula.
Sama sekali tidak disangka olehnya Koan Ing serta Sang
Siauw-tan yang telah memasuki lembah itu ternyata dapat
meloloskan diri bahkan bertemu lagi dengan dirinya, hal ini
benar-benar tidak pernah dibayangkan di dalam benaknya
Selama ratusan tahun ini tidak ada seorangpun yang berani
memasuki ‘Selat Hwee Im Shia’ ini, jikalau seandainya ada
yang berani memasuki selat tersebut maka tidak mungkin
baginya dapat keluar lagi dalam keadaan selamat tetapi
bagaimana mereka berdua bisa dengan begitu mudahnya
berhasil meloloskan diri dari selat itu?
Koan Ing dan Sang Siauw-tan sendiripun sama-sama dibuat
tertegun, merekapun sama sekali tidak menyangka kalau
orang pertama yang ditemuinya setelah lolos dari selat Hwee
Im Shia itu adalah diri Hud ing Thaysu sendiri.
Setelah tertegun beberapa saat lamanya akhirnya Hud Ing
Thaysu dengan dinginnya mendengus. “Hmmm.... ternyata
Pinceng amat mujur benar dan dapat bertemu lagi dengan
wajah dari sicu berdua,” serunya dingin.
Koan Ing seperti biasanya segera menarik tubuh Sang
Siauw-tan ke belakang badannya, dengan menggunakan
badannya sendiri dia menghalangi depan tubuhnya lantas
dengan pandangan yang amat dingin memandang ke arah diri
Hud Ing Thaysu.

“Hey! Keledai gundul!”
Terdengar Sang Siauw-tan yang ada di belakang badan
Koan Ing membentak dengan keras, “Kau berani berbuat apa
terhadap diri kami? Tia sebentar lagi bakal datang, dia orang
tua tidak akan mengampuni dirimu.”
Hud Ing Thaysu segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Sang Su-im tidak lebih cuma manusia-manusia dari
golongan yang tidak becus, sekalipun dia datang akupun tidak
akan melepaskan dia dengan begitu mudah” ujarnya dengan
suara yang berat.
Koan Ing yang melihat munculnya Hud Ing Thaysu dengan
mendadak, dia tahu urusan bakal celaka. Saat ini luka dalam
yang dideritanya sama sekali belum sembuh benar-benar,
apalagi perutnya terasa amat lapar dan dahaga sekali, dia
sama sekali tidak mempunyai
kekuatan untuk bertempur dengan Hud Ing Thaysu, tetapi
saat ini Sang Siauw-tan ada di samping badannya. dia mau
tidak mau harus melindungi dirinya”
Dengan perlahan dia menoleh dan bisiknya kepada diri
Sang Siauw-tan dengan suara yang amat lirih, “Siauw-tan kau
pergilah terlebih dulu, biar aku yang menghadapi dirinya
seorang diri”
Sang Siauw-tan jadi melengak dia sama sekali tidak
menyangka kalau Koan Ing yang masih menderita luka dalam
masih dapat bersikap begitu baik terhadap dirinya, dia tahu
dengan keadaan luka dari Koan Ing saat ini jangan di kata
bertempur sekalipun menerima satu pukulannyapun tentu
tidak sanggup, Dengan cepat dia gelengkan kepalanya
berulang kali,
“Tidak.... aku tidak mau pergi!” serunya. “Kau tidak
seharusnya menyuruh aku berangkat terlebih dulu”

Baru saja dia berbicara sampai di situ mendadak
terdengarlah satu suara yang amat dingin sudah
menyambung, “Hmm.... hmm, aku mau lihat kau hendak
menggunakan cara apa untuk menghadapi putriku.”
Mendengar suara tersebut bukan saja Hud Ing Thaysu
seorang yang merasa terperanjat sampai Sang Siauw-tan serta
Koan Ing pun bersama-sama merasa sangat terkejut sekali.
Koan Ing berdiri tidak menjawab, dia merasa dirinya yang
cuma berumur puluhan hari lagi ini sekalipun harus mati demi
Sang Siauw-tan sebetulnya adalah berharga sekali, tetapi dia
diharuskan mengatakan secara bagaimana kepadanya?”
Hud Ing Thaysu yang melihat mereka berdua tidak ada
yang bergerak maupun bicara dia
segera tertawa dingin lagi,
“Dengan perbuatan dari kalian berdua seharusnya pinceng
hancur leburkan badan kalian, tetapi memandang di atas
wajah Suhu kalian, sekarang aku musnahkan dulu seluruh
ilmu silat kalian kemudian membawa kalian ke gunung Siong
San untuk menanti kedatangan Suhu kalian berdua”
Sang Siauw-tan segera dongakkan kepalanya dan berteriak
dengan kegirangan “Tia, kau baru datang.“
Sehabis berkata dia melepaskan genggaman tangan Koan
Ing dan berlari ke depan.
Hud Ing Thaysu jadi tertegun, dia sama sekali tidak
menyangka kalau Sang Su-im bisa munculkan dirinya disana,
dia tahu kepandaian silat yang dimiliki Sang Su-im amat tinggi
sekali, bilamana dia orang diharuskan bertempur dengan
dirinya baginya untuk memperoleh kemenangan boleh dikata
kemungkinan sekali tidaklah terlalu mudah
Sang Su-im segera menarik tangan Sang Siauw-tan dan
melirik sekejap ke arah diri Koan.

“Siauw-tan,” ujarnya sambil tertawa tawar. “Tia pergi
mengejar kereta berdarah itu sehingga datang terlambat satu
tindak kemari, apakah hweesio ini mengganggu dirimu?”
Koan Ing yang melihat Sang Su-im bisa muncul tepat pada
waktunya dia segera menghembuskan napas lega.
“Ing Koko, kau kemarilah!” seru Sang Siauw-tan secara
tiba-tiba setelah melirik sekejap ke arah diri Koan Ing.
Koan Ing dengan cepat maju ke depan dan bungkukkan diri
menjuru terhadap diri Sang So Im,
“Koan Ing datang mengunjuk hormat terhadap Sang
Pepek,” ujarnya dengan hormat.
“Kini aku sudah datang, kalian tidak usah takuti hweesio ini
lagi,” ujar Sang Su-im sambil tertawa-tawa. “Saat ini kereta
berdarah sudah berlalu dan jauh memasuki daerah pedalaman
Tibet dan akupun telah memerintahkan orang untuk pergi
mengejarnya, kau ikutilah aku sembari mengejar kaupun bisa
menyembuhkan lukamu.”
Baru saja Sang Su-im selesai berkata terdengar Hud Ing
Thaysu yang berdiri di samping sudah mendengus dengan
amat dinginnya.
“Sang Su-im!” bentaknya dengan suara berat.
“Perkataanmu terlalu sederhana sekali, Koan Ing menerjang
masuk ke dalam kuil ku dan merusak patung-patung arca
yang ada disana sedangkan putrimu telah membakar kuil Hanpoh-
si kami, kau kira kau orang dapat membawa pergi mereka
dengan begitu mudah?”
Sinar mata dari Sang Su-im segera berkelebat tak hentihentinya.
dia tahu tentu Sang Siauw-tan serta Koan Ing telah
membuat suatu kesalahan terhadap diri Hud Ing Thaysu,
tetapi dia sama sekali tidak menyangka kalau putrinya Sang
Siauw-tan telah membakar habis kuil Han-poh-si tersebut

Dia orang yang membuntuti jejak dari kereta berdarah
tetapi di tengah jalan tiba-tiba sudah kehilangan jejaknya
memaksa dia harus kembali ke tempat semula, waktu itulah
kebetulan dia lewat di tempat tersebut dan melihat Sang
Siauw-tan serta Koan Ing sedang berdiri tidak bergerak di sini
karena itulah terhadap peristiwa terbakarnya kuil Han-poh-si
dia sama sekali tidak mengetahui.
Mendengar perkataan tersebut dia segera tertawa tawar.
“Hey Hweesio gede bilamana urusan ni menyangkut orang
lain aku mungkin bisa lepas tangan, tetapi putriku aku larang
kau untuk mengganggu barang seujung rambutnyapun.”
Dengan gusarnya Hud Ing Thaysu mendengus berat.
“Kalau begitu aku mau menjajal2 kelihayan dari ilmu jari
saktimu yang sudah pernah menggetarkan seluruh dunia
kangouw itu!” serunya dengan berat.
Sejak semula Sang Su-im sudah tahu kalau suatu
pertempuran tidak bakal bisa lolos lagi, dia segera tersenyum.
“Heee.... heeee.... Hweesio gede nama besarmu sebagai
jagoan nomor wahid dari seluruh daerah Tibet bukanlah satu
nama yang kecil apalagi untuk mendapatkannyapun amat
sukar sekali, kenapa kau harus memaksa hendak
menghancurkannya pada hari ini?” ejeknya.
Mendengar perkataan itu Hud Ing Thay su semakin gusar
lagi, jika didengar dari nada suara Sang Su-im agaknya dia
sama sekali tidak menganggap dirinya di dalam hati, hal ini
membuat dia benar-benar merasa sangat gemas sekali
pikirnya, “Hmm Ilmu Thay Su Ing dari Tibet sekalipun belum
tentu bisa menangkan diri mu, tetapi dengan latihan tenaga
dalamku selama sepuluh tahun belum tentu aku bisa menemui
kekalahan Sungguh sombong sikapnya itu.... ”
Dia lantas tertawa dingin, sepasang tangannya didorong ke
depan sambil menyalurkan hawa murninya, seketika itu juga

sepasang telapak tangannya mengembang besar beberapa
kali lipat
Walaupun pada mulutnya Sang Su-im bicara dengan begitu
ringannya, tetapi diapun tidak berani memandang rendah diri
Hud Ing Thaysu, dengan cepat dia melepaskan tangan Sang
Su-im dan tertawa. “Kalian mundurlah ke belakang,” ujarnya.
Air muka Hud Ing Thaysu segera berubah amat keren
sekali, tubuhnya mendadak berkelebat ke depan berturut-turut
dia melancarkan delapan buah pukulan mengancam seluruh
tubuh dari Sang Su-im,
Melihat datangnya serangan itu Sang Su-im mengerutkan
alisnya kencang-kencang, diiringi satu senyuman yang
menghiasi bibirnya, jari tengah serta jari telunjuknya disentil
ke depan sehingga terdengarlah suara desiran angin yang
memecahkan kesunyian, dengan amat tajamnya meluncur ke
atas alis dari Hud Ing Thaysu.
Hud Ing Thaysu yang melihat serangannya baru saja
dilancarkan ternyata desiran angin sentilan itu berhasil
menerobos angin pukulannya membuat dalam hati dia merasa
sedikit berdesir, sejak lama dia sudah pernah mendengar
tentang kedahsyatan dari ilmu jari “Han Yang Ci Lek” dari
Sang Su-im yang sudah menjagoi seluruh Bu-lim itu, dia sama
sekali tidak menyangka kalau kedahsyatannya ternyata jauh
berada diluar dugaannya,
Dia tahu hanya cukup satu totokan saja maka seluruh
tenaga murni yang ada di dalam tubuhnya bakal buyar, jikalau
ini hari dia tidak berhati-hati, seperti juga apa yang dikatakan
oleh Sang Su-im tadi, nama besarnya yang dipupuk selama
berpuluh puluh tahun ini bakal musnah seperti mengalirnya air
sungai
Dengan cepat dia membentak keras, telapak kirinya dibabat
ke samping menghalau

datangnya sentilan dari Sang Su-im, telapak kanannya
membalik dengan menggunakan ilmu ‘Thian Ong Cap Pwee
Ing’ atau delapan belas pukulan raja langit, ilmu dahsyat dari
daerah Tibet satu demi satu dia meneter musuhnya.
Sang Su-im segera tertawa terbahak-bahak, tubuhnya
dengan cepat melompat ke depan dan melancarkan ilmu jari
‘Thian Kang Ci Hoat’ dari Cian san Pay untuk menandingi ilmu
‘Thian Ong Cap Pwee Ing’ dari Hud Ing Thaysu itu.
Di dalam hati diam-diam Hud Ing Thaysu merasa amat
gusar sekali, dia merasa amat gemas karena Sang Su-im
melawan dirinya dengan tidak menggunakan ilmu silatnya
sendiri sebaliknya menggunakan ilmu silat dari aliran lain, hal
ini jelas memperlihatkan kalau dia orang sama sekali tidak
memandang sebelah matapun kepada dirinya.
Dia tertawa dingin, sepasang telapak tangannya dipisahkan
ke kanan dan ke kiri, satu dari depan yang lain dari belakang
bersama-sama ditepuk ke arah depan.
Sang Su-im bukanlah manusia rendahan yang mudah kena
tipu, sekali pandang saja dia bisa tahu kalau jurus “Hay Sim
Kiong Ing” atau tengah laut sembilan telapak dari Hud Ing
Thaysu mengandung suatu tenaga pukulan yang amat
dahsyat dan sukar untuk diterima.
Tubuhnya dengan cepat berkelebat ke samping, tangannya
dibalik balas melancarkan tiga totokan dengan menggunakan
jurus “Ci Gwat Hwee Thian” atau menunjuk bulan mengaduk
langit dari Thian Lam Pay.
Baru saja Hud Ing Thaysu mau melancarkan serangan
kembali mendadak dia melihat Sang Su-im melancarkan
serangan dengan menggunakan jurus ini membuat hatinya
terasa sedikit bergidik.
Jurus dari Sang Su-im memang merupakan tandingan dari
jurus ‘Hay Sim Kioe Ing’ nya itu membuat dia sedikit merasa
bingung.

Dia benar-benar merasa bergidik melihat pengetahuan
yang begitu luas dari Sang Su-im terhadap segala macam ilmu
jari dari aliran manapun, dengan tergesa-gesa serangannya
diubah menjadi jurus ‘Gwat In Ing Hong’ atau bayangan bulan
membekas di puncak.
Di tengah suara tertawa tergelak dari Sang Su-im yang
amat keras dia berturut-turut berkelebat maju ke depan
mendesak musuhnya, sepuluh jari dari sepasang tangannya
berturut-turut disentilkan ke depan dengan menggunakan ilmu
jari tunggal dari Hay Neh Cap Pwee Kia yang amat terkenal
itu.
Hud Ing Thaysu jadi sangat terperanjat, sepasang
telapaknya berturut-turut di pukul ke depan menghalau
datangnya serangan tersebut, dia tidak berani maju
menyerang kembali terpaksa dari kedudukan menyerang
berubah menjadi kedudukan bertahan.
Di dalam sekejap saja seluruh kalangan sudah dipenuhi
dengan suara desiran angin pukulan yang amat tajam disertai
suara bentrokan berat dari telapak tangan masing-masing.
Koan Ing yang menonton jalannya pertempuran itu di
samping saat ini merasakan hatinya berdebar-debar dengan
amat kerasnya. Kecepatan perubahan jurus dari kedua orang
itu benar-benar bagaikan kilat sehingga membuat dia tidak
sanggup untuk memperhatikan lebih teliti. Mendadak
terdengar Sang Su-im tertawa panjang, tubuh kedua orang itu
segera berpisah.
Tampak Hud Ing Thaysu dengan wajah pucat pasi mundur
dua langkah kebela kang dengan terhuyung-huyung.
Sekali lagi Sang Su-im tertawa tergelak.
“Haaa.... haaaa.... tidak kusangka jagoan nomor wahid dari
Tibet tidak lebih cuma begitu saja, baru saja aku
menggunakan satu jurus ‘Han Liang Gong Ie’ atau naga dingin

menembus pakaian kau sudah menemui kekalahan.... haaa....
haaa sayang, sayang “
Lengan kanan dari Hud Ing Thaysu dengan lemasnya lurus
ke bawah, dia menarik napas panjang-panjang kemudian
tertawa dingin kepada Koan Ing serta Sang Siauw-tan dia
melirik sekejap lalu ujarnya kepada diri Sang Su-im.
“Nama besar dari Tiang Hong Sin-cie ternyata bukan nama
kosong belaka kekalahanku ini hari aku anggap saja sebagai
ketidak becusan dari ilmu silatku sendiri, tetapi urusan ini
untuk selamanya tidak bakal ada habisnya, tunggu saja di lain
waktu.”
Sang Su-im lantas tertawa terbahak-bahak.
“Menurut apa yang aku ketahui si hweesio tua dari Siauwlim-
si, Thian Siangpun telah berangkat menuju ke daerah
Tibet, lebih baik kau pergi saja mencari dirinya,” ujarnya.
Dengan pandangan terpesona Hud Ing Thaysu
memperhatikan diri Sang Su-im lama sekali, kemudian dia
baru putar badan, dan berlari menuju ke dalam hutan, Hanya
di dalam sekejap saja sudah lenyap dari pandangan.
Setelah dilihatnya bayangan dari Hud ing Thaysu lenyap
dari pandangan Sang Su-im baru tersenyum. sambil menarik
tangan Sang Siauw Im ujarnya kepada diri Koan Ing, “Kau
ikutilah diriku pergi ke arah Barat dan belajar sedikit
kepandaian dari aku orang, sehingga tahun besok pada
pertemuan para jago yang kedua di atas gunung Hoa-san
kaupun bisa sedikit memperlihatkan kepandaian silatmu,
dengan bakatmu yang ada untuk mendapatkan nama besar di
kemudian hari agaknya bukanlah satu pekerjaan yang sulit.“
Koaa Ing yang mendengar perkataan dari Sang Su-im ini
sudah tentu tahu apa arti dari perkataannya itu, terangterangan
dia bermaksud hendak menerima dirinya sebagai
menantu.

Hatinya jadi terasa sedikit berdesir, dia teringat kembali
kalau usianya cuma tinggal beberapa puluh hari lagi.
Ketika matanya menoleh ke arah Sang Siauw-tan,
tampaklah dengan wajah yang amat kegirangan, dia sedang
memperhatikan dirinya, terpaksa dia bungkukkan dirinya
memberi hormat,
“Terima kasih loocianpwee.”
Sang Su-im segera tertawa terbahak-bahak.
“Mari kita pergi,” ujarnya kepada Koan Ing.
Belum mereka berjalan beberapa langkah mendadak
terdengarlah satu suara yang amat dingin sekali sudah
berkumandang datang, “Sang Loo-te ada urusan apa yang
membuat kau orang merasa begitu gembira apakah kau orang
boleh membiarkan aku pun ikut merasa sedikit gembira?”
Tampaklah dari dalam hutan berjalan keluar dua orang
yang bukan lain adalah Ciu Tong ayah beranak dua orang
Sang Su-im yang melihat Ciu Tongpun tiba disana dia
tertawa dingin.
“Ciu heng kaupun datang kemari? “ujarnya ketus. “Apa kau
orang sudah menemukan kereta berdarah itu?”
“Tia!” tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan menarik ujung
baju dari ayahnya.” Tidak usah urus mereka, ayo kita pergi
dari sini saja.”
Waktu itulah Ciu Tong sudah memperhatikan diri Koan Ing
beberapa saat lamanya kemudian kepada Sang Su-im ujarnya.
“Sang Loo-te, pertemuan kita pada tempo hari benar-benar
keadaanku sangat terdesak sekali, kalau tidak akupun tidak
bakal melakukan perbuatan tersebut, tentunya Sang Loo-te
mau memaafkan bukan?”

Di dalam hati Sang Su-impun sudah punya perhitungan
sendiri, dia tidak memperdulikan omengan dari Sang Siauwtan,
kepada Ciu Tong dia tertawa tawar.
“Oooh itu cuma urusan kecil saja.” serunya dingin. “Kini
kereta berdarah sudah menuju ke arah Barat. saat ini adalah
waktu yang paling bagus buat kita untuk bekerja sama,
kenapa aku harus mengingat-ingat urusan kecil di dalam hati?
Urusan yang sudah berlalu tidak usah kita ungkat kembali.”
Sinar mata Ciu Tong segera bersinar, pikirnya di dalam hati,
“Oouw.... ouw.... kiranya Sang Su-im mau menggunakan
diriku untuk pergi mencari kereta berdarah.”
Dia segera tertawa dingin, pikirnya kembali, “Demikianpun
baik juga, kita bisa saling bantu membantu, aku mau lihat
siapakah akhirnya yang mendapatkan keuntungan.”
“Perkataan dari Sang Loo-te sedikitpun tidak salah,”
ujarnya kemudian. “Saat ini peristiwa bangkitnya kembali
manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong sudah tersiar di dalam
dunia kangouw, bilamana kita tidak cepat-cepat menawan
dirinya bagaimana nama besar kita empat manusia aneh bisa
dipertahankan lebih lanjut?”
Sang Su-im tersenyum dan anggukkan kepalanya, diapun
sudah tahu kalau Jien Wong itu si manusia tunggal dari Bu-lim
masih hidup di dalam dunia
Sebaliknya di dalam hati Sang Siauw-tan merasa sedikit
keheranan, bagaimana sikap serta tindak tanduk dari ayahnya
sama sekali berbeda dengan keadaan yang lampau? Jika
ditinjau dari kejadian dulu terang-terangan ayahnya sudah
bentrok satu sama lainnya dengan diri Ciu Tong, bagaimana
sekarang hubungannya bisa membaik kembali? Apa mungkin
dikarenakan peristiwa kereta berdarah?” Ciu Tong segera
tertawa.
“Urusan yang sudah lalu kini bisa dibikin beres, itulah
sungguh bagus sekali, mari Sang Loo-te, kau berangkat

bersama-sama dengan kami saja untuk pergi mengejar jejak
dari kereta berdarah itu.” ujarnya.
Sang Su-impun tertawa, baru saja mereka hendak
meninggalkan tempat itu tiba-tiba....
Tampak dua orang gadis kembar dengan bergandengan
tangan mendadak melompat keluar dari dalam hutan.
Koan Ing yang melihat kedua orang gadis itu, tak terasa
lagi dibuat sedikit tertegun, usia kedua orang gadis itu kurang
lebih baru delapan belas tahun, wajahnya seperti pinang
dibelah dua, baik wajah pakaian serta dandanannya satu sama
yang lain tidak ada bedanya cuma saja warna baju yang
dipakai tidak sama.
Yang satu memakai baju berwarna kuning sedang yang lain
memakai baju berwarna hijau, jikalau tidak begitu siapapun
jangan harap bisa membedakan kedua orang itu.
Sang Su-im sendiripun dibuat tertegun, dia merasa kedua
orang gadis itu tentu orang-orang
dari daerah Tibet bahkan kelihatannya mereka berdua
memiliki kepandaian silat yang amat tinggi sekali, agaknya
mereka merupakan anak murid dari seorang jagoan terkenal.
Sang Siauw-tan yang melihat munculnya kedua orang gadis
itu dengan cepat dia menoleh memandang ke arah Koan Ing,
ketika dilihatnya Koan Ing dengan mata terbelalak sedang
memandang mereka dengan terpesona hatinya merasa agak
panas.
“Ing Koko,” teriaknya dengan keras.
Koan Ing segera menoleh ke arahnya dan tertawa,
sebetulnya dia mau bilang: kedua orang gadis ini sungguh
mirip, tetapi sewaktu dilihatnya wajah Sang Siauw-tan sedikit
tidak beres, suatu ingatan mendadak berkelebat di dalam
benaknya.

Entah bagaimana mendadak dia berkata, “Siauw-tan Coba
kau lihat sungguh menarik sekali kedua orang gadis itu”
Mendengar perkataan tersebut Sang Siauw-tan jadi
melengak, dia segera melengos tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
Sang Su-im sendiri jadi tertegun, dia segera menoleh dan
memandang ke arah diri Koan
Ing.
Dia tahu putrinya Sang Siauw-tan sangat suka dengan diri
Koan Ing, tetapi kenapa bocah ini begitu tidak tahu adat
bahkan sembarangan memuji kedua gadis yang sama sekali
tidak dikenalnya?
Jika dilihat dari wajah kedua orang gadis itu jelas belum
ada sepersepuluhnya dari kecantikan wajah Sang Siauw-tan,
tapi entah apa maksud dari Koan Ing berkata demikian?
Kedua orang gadis itu setelah berada di depan para jago cuma
kirim satu senyuman saja lalu melanjutkan kembali perjalanan
ke arah depan.
“Berhenti!” tiba-tiba terdengar Sang Siauw-tan membentak
dengan keras sewaktu di lihatnya kedua orang gadis itu
hendak pergi.
Selesai berkata tubuhnya segera bergerak mengejar dari
belakang kedua orang gadis tersebut.
Saat itulah Koan Ing merasakan di dalam hatinya terasa
satu perasaan yang sangat tidak enak sekali, dia
memperhatikan bayangan punggung Sang Siauw-tan dengan
termangu mangu, dia tidak tahu sebetulnya dirinya harus
senang atau benci, pikirannya benar-benar amat kacau
sekali.... perkataan yang hendak diucapkan mendadak ditarik
kembali.
Sang Su-im yang melihat Sang Siauw-tan meninggalkan
dirinya dan pergi mengejar kedua orang gadis itu di dalam hati

dia merasa amat murung sekali, tetapi ketika dilihatnya
gerakan tubuh dari kedua orang gadis itu dia baru bisa
menghembuskan napas lega, sekali pandang saja dia sudah
tahu kalau ilmu meringankan tubuh yang digunakan oleh
kedua orang gadis itu bukan lain adalah ilmu ‘Liuw Sah Cian Li’
yang merupakan ilmu tunggal dari Thay Mo Sian Ciang.
Dia tahu diantara empat manusia aneh orang yang
mempunyai hati paling baik cumalah seorang Thay Mo Sian
Ciang, Cha Can Hong saja, bahkan diapun paling suka dengan
diri Sang Siauw-tan, karenanya dia berlega hati karena dia
sudah tahu Sang Siauw-tan tidak mungkin bisa menemui
bencana.
Tetapi diapun merasa sangat tidak puas dengan sikap serta
tindak tanduk yang di perlihatkan oleh Koan Ing itu, matanya
dengan perlahan ditoleh ke arah diri Koan Ing dan
memandangnya dengan amat tawar sekali,
Pada air muka Koan Ing sendiri sama sekali tidak
memperlihatkan perubahan apa pun, agaknya dia sama sekali
tidak merasakan kalau ada sesuatu yang tidak beres. Dalam
hati Sang Su-im segera berpikir.
Sungguh aneh sekali sikapnya itu, pada satu hari aku tentu
mau cari satu kesempatan untuk membicarakan urusan ini
dengan dirinya, aku mau lihat sebetulnya bagaimana sikapnya
terhadap diri Siauw-tan
Pada saat itulah terdengar Ciu Tong yang berdiri di
samping sudah tertawa ter bahak-bahak. Selesai berkata dia
melirik sekejap ke arah diri Koan Ing.
Dengan tawarnya Koan Ing balas melirik sekejap ke
arahnya, berita kematian dari Kong Bun-yu sampai saat ini
juga dia orang tidak mau menyiarkannya keluar.
Sang Su-im yang melihat Koan Ing sepertinya sama sekali
tidak mendengar perkataan dari Ciu Tong itu diam-diam di
dalam hati merasa keheranan, dia tidak tahu sebetulnya sudah

terjadi urusan apa dengan pemuda ini? Kenapa dia bisa jadi
begitu?
Menanti lagi beberapa saat lamanya, akhirnya Sang Su-im
tidak bisa menahan sabar lagi, ujarnya.
Jikalau Siauw-tan sudah bertemu dengan Paman Chanya,
ada kemungkinan tidak segera kembali, mari kita berangkat
dulu saja.”
“Bagus, hal itu memang cocok dengan maksud hatiku,”
sahut Ciu Tong tertawa.
“Haaa.... haha.... sungguh tidak disangka Thay Mo Sian
Ciang, Ca Loo-tepun sudah datang, kini diantara empat
manusia aneh cuma tinggal Thian-yu Khei Kiam Kong Bun-yu
seorang saja yang belum munculkan dirinya,” serunya keras.
Dalam hati Sang Su-im jadi curiga, Cocok dengan maksud
hatinya? Entah Ciu Tong mau memperhatikan permainan apa
lagi terhadap dirinya, sembari berjalan pikirannya terus
berputar untuk menghadapi sesuatu.
Dengan perlahan mereka berempat melanjutkan perjalanan
kembali menuju ke arah depan, sembari berjalan Koan Ing
berpikir juga tentang diri Sang Siauw-tan dia tidak tahu Sang
Siauw-tan pada saat ini sudah pergi kemana? Bilamana dia
bisa bertemu dengan “Thay Mo Sian Ciang” atau si dewa
telapak dari gurun pasir Cha Can Hong masih tidak mengapa,
bilamana tidak bertemu lalu bagaimana? Bilamana dia sedang
berada sendirian dan bertemu dengan musuh tangguh, hal ini
bukankah sangat berbahaya sekali?
Diam-diam Sang Su-im memperhatikan terus gerak-gerik
dari Koan Ing, ketika dilihatnya wajahnya sangat tidak tenang
sekali dia merasa keheranan, pikirnya, “Sebetulnya sudah
terjadi urusan apa?jika dilihat dari sikap Koan Ing pada saat ini
agaknya dia menaruh rasa cinta kepada diri Siauw-tan tetapi
kenapa tadi sengaja dia memperlihatkan sikap ademnya?
Sungguh membingungkan.... “

Sewaktu Koan Ing sedang terjerumus ke dalam lamunan
itulah mendadak terdengar suara ringkikan kuda yang amat
panjang dan nyaring sekali, bergema datang, dia jadi
terperanjat sekali.
“Kereta berdarah,” teriaknya tanpa terasa.
Di dalam sekejap saja keempat orang itu bersama sama
jadi merasa tegang sekali, hati terasa berdebar sedang mata
dipentangkan lebar-lebar.
Sebaliknya Sang Su-im jadi sedikit ragu-ragu, terangterangan
dia melihat Kereta berdarah itu menuju ke arah
Barat bagaimana kini bisa balik kembali kesini? Tetapi dia tahu
Koan Ing tidak mungkin bisa balik menipu dirinya.
Baik Sang Su-im maupun Ciu Tong masing-masing
mempunyai satu tujuan yang sama, masing-masing dengan
memandang diri Koan Ing serta Ciu Pak cepat-cepat
berkelebat menuju ke arah dimana berasalnya suara ringkikan
kuda tadi.
Sebaliknya di dalam hati Ciu Tong ayah beranak sejak
semula sudah punya perhitungan, dengan amat bangganya
mereka memperhatikan diri Koan Ing.
Ketika keempat orang itu tiba di sebuah bukit kecil,
terlihatlah sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda
jempolan berwarna merah darah dengan amat cepatnya
sedang berlari menuju ke arah Barat.
Mereka berempat tidak ragu-ragu lagi, dengan kekuatan
seluruh tenaga mereka melakukan pengejaran terus.
Cuaca semakin lama semakin gelap, hujan saljupun mulai
melayang turun dengan derasnya, akhirnya bayangan dari
kereta berdarah itu lenyap dari hadapan mereka.
Tampak Ciu Tong mengerutkan alisnya rapat-rapat. setelah
memperhatikan sekejap ke arah di sekeliling tempat itu
ujarnya kemudian,

Ooo)*(ooO
Bab 16
“SANG Loo-te, bagaimana kalau kita masuk ke dalam gua
itu untuk beristirahat sebentar.... ”
Sang Su-im yang melihat mereka tidak bisa meneruskan
kejarannya lagi terpaksa cuma mengangguk saja. sambil
mengempit badan Koan Ing mereka berlari masuk ke dalam
gua tersebut.
Tinggi gua itu ada beberapa kaki dengan keadaan yang
amat gelap sekali, tetapi mereka berdua yang merupakan
jagoan berkepandaian tinggi dari Bu-lim sudah tentu tidak
takut akan hal itu, sesampainya didalam gua mereka segera
meletakkan diri Koan Ing serta Ciu Pak ke atas tanah. Tetapi
sebentar kemudian....
“Aaah.... huh....!”
Suara teriakan kaget memenuhi angkasa, kiranya di atas
dinding gua itu mereka sudah menemukan selapis kulit
manusia yang masih baru dengan darah segar masih menetes
keluar
dengan derasnya.
Ciu Tong tidak mengucapkan sepatah katapun, dia segera
putar badannya melancarkan satu pukulan dahsyat menghajar
ke dalam gua.
“Brak....!” terdengar suara ledakan yang keras
memecahkan kesunyian.
“Eei.... tidak ada orang di dalam gua!” serunya kemudian
dengan tawar.
Sang Su-im tidak mengucapkan sepatah katapun, dengan
perlahan dia duduk di atas tanah.

Ciu Pak segera pergi mengumpulkan kayu-kayu bakar serta
ranting untuk membuat api unggun, sedangkan Koan Ing
setelah sedikit bersantap bersama-sama dengan Sang Su-im
duduk bersemedi,
Ciu Tong serta Cio Pak dengan termenung memandangi api
unggun yang sedang berkobar dengan jilatan api yang amat
besar itu.
Ciu Tong tidak berani mengambil kesimpulan apakah Sang
Su-im benar-benar sudah melupakan urusan yang telah lalu
ataukah hal ini cuma palsu saja.
Dia harus bersiap-siap untuk menghadapi segala
kemungkinan bilamana dia turun tangan secara membokong,
tetapi ketika dilihat Sang Su-im sama sekali tidak menggubris
akan hal ini dia jadi ragu-ragu sendiri.
Ketika melihat pula ke arah diri Koan Ing yang sedang
menyalurkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka
dalam yang dideritanya dia diam-diam merasa geli sendiri, dia
sudah menghitung nyawa Koan tinggal delapan puluh hari
saja, sekalipun kepandaian silatnya jauh lebih tinggipun
semuanya bakal tidak terpakai lagi,
Di dalam sekejap saja cuaca sudah terang tanah kembali,
tumpukan api unggun itupun kini sudah tinggal abunya saja,
sejak tadi Ciu Pak sudah tertidur, sebaliknya Ciu Tong belum
berani untuk memejamkan matanya,
Dengan perlahan Koan Ing membuka sepasang matanya,
dia berpikir sendiri dalam hatinya,
“Hee.... lukaku paling sedikit harus ada beberapa puluh hari
baru bisa sembuh benar, sedang jawaku saat ini tinggal
delapan puluh lima hari, bagaimana selanjutnya?
Sinar matanya dengan sangat tawar sekali menyapu
sekejap ke arah Ciu Tong ayah beranak lalu memandang pula
ke arah Sang Su-im.

Dia melihat cuma Sang Su-im saja yang tidak mau
mengetahui urusan lain, dengan amat tenangnya dia
bersemedi untuk mengembalikan tenaga murninya.
Sinar mata dari Ciu Tong dengan perlahan dialihkan ke atas
wajah Koan Ing lalu tersenyum kepadanya, kepada Sang Suim
tiba-tiba ujarnya, “Sang Loo-te Aku punya beberapa
perkataan yang hendak aku katakan dengan dirimu”
Walaupun diluarnya Sang Su-im kelihatan sedang mengatur
pernapasan padahal di dalam hati secara sangat berhati-hati
sekali dia terus menerus memperhatikan seluruh gerak-gerik
dari Ciu Tong. Bcgilu Ciu Tong membuka mulut mengajak dia
berbicara dengan perlahan dia mementangkan matanya
kembali.
“Sang Loo-te,” ujar Ciu Tong sambil tertawa. “Aku pernah
dengar katanya urusan perkawinan putrimu harus ditentukan
oleh pemenang di dalam pertemuan puncak para jago yang
akan datang di atas gunung Hoa-san, bukan begitu?”
Dengan tajamnya Sang Su-im memperhatikan diri Ciu Tong
kemudian dengan perlahan baru mengangguk untuk
mengakuinya.
Ciu Tong tertawa kembali.
“Tetapi menurut tindak tanduk dari Sang Loo-te yang bisa
Siauw-heng lihat agaknya kau bermaksud hendak
menjodohkan putrimu kepada diri Koan Ing.” Dia berhenti
sebentar untuk kirim satu senyuman mengejek lalu
sambungnya lagi, “Entah apa yang aku ucapkan ini benar atau
tidak?”
Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im segera
mengerutkan alisnya rapat-rapat pikirnya, “Aaaaah.... tidak
aneh bangsat tua ini tadi bilang sesuai dengan maksud
hatinya kiranya dia maksudkan persoalan ini. Hmm kalau
memang hendak berbuat demikian kau hendak berbuat apa
lagi?”

Berpikir sampai disini dia segera menjawab, “Buat apa Ciu
heng mengungkit persoalan ini pada saat seperti ini?”
Ciu Tong segera memperdengarkan suara tertawanya yang
amat menyeramkan.
“Aku sih tidak hendak berbuat apa-apa,” ujarnya setelah
melirik sekejap ke arah diri Koan Ing. Tetapi aku merasa Sang
loo-te tentu tidak akan menjodohkan putrimu dengan seorang
manusia yang umurnya tinggal beberapa puluh hari saja
bukan?”
Sang Su-im jadi melengak, dengan perlahan dia menoleh
ke arah Koan Ing dan memandang sekejap ke arahnya.
Terlihatlah Koan Ing bungkam diri tidak mengucapkan
sepatah katapun.
Tempo hari sekalipun aku sudah melepaskan dirinya.... ”
sambung Ciu Tong lebih Ianjut.
“Tetapi aku cuma melepaskan dia selama seratus hari saja,
aku berbuat begitu agar Kong
Bun Yu jangan bilang aku jadi orang keterlaluan.”
Sang Su-im yang mendengar perkataan ini dengan
pandangan terpesona dia memperhatikan diri Koan Ing,
gerak-gerik yang aneh serta tindak tanduk dari Koan Ing yang
lain dari pada yang lain itu sama sekali lagi berkelebat di
dalam benaknya, dia bingung bagaimana dia harus berbuat
pada saat ini.
Dia tahu racun dari Ciu Tong sama sekali tidak ada obat
untuk melenyapkannya,
Lama sekali Sang Su-im memperhatikan dirinya, mendadak
tangan kanannya berkelebat mencengkeram dirinya,.
Sebetulnya Koan Ing sedang menderita luka dalam yang
amat parah, ditambah lagi dia sama sekali tidak memberi

perlawanan hanya di dalam satu jurus saja dia berhasil
ditawan oleh diri Sang Su-im.
Sang Su-im yang berhasil menawan diri Koan Ing dengan
gerakan yang amat cepat sekali dia berkelebat menuju keluar.
Dengan pandangan yang amat dingin Ciu Tong
memperhatikan bayangan tubuh Sang Su yang mulai lenyap
dari pandangan, dengan perlahan dia menoleh ke arah
anaknya.
“Bilamana Sang Su-im tidak senang, kemungkinan sekali
Koan Ing tidak bakal hidup lebih lama lagi,” ujarnya.
Sehabis berkata dia tertawa dingin lagi, ujarnya kembali,
“Atau sedikitpun Sang Siauw-tan tidak bakal bisa dia peroleh
Tindakan kita selanjutnya kita harus mencari akal agar dia
mau tidak mau harus mengawinkan putrinya Sang Siauw-tan
kepada dirimu.”
Pada ujung bibirnya Ciu Pak segera memperlihatkan satu
senyuman yang amat dingin sekali, bayangan dari Sang
Siauw-tan kembali berkelebat di dalam benaknya, pikirnya.
“Hmmm, asalkan tidak ada Koan Ing lagi maka Sang Siauwtan
tentu dapat kuperoleh dengan mudah, Baru saja dia
berpikir sampai disitu mendadak terlihatlah tiga sosok
bayangan manusia dengan amat cepatnya berkelebat datang,
dengan cepat dia memperhatikan diri mereka bertiga.
Ternyata orang-orang itu bukan lain adalah diri Sang
Siauw-tan serta kedua orang gadis
yang mempunyai wajah seperti pinang dibelah dua itu.
Begitu mereka bertiga berkelebat mendatang, dengan amat
girangnya Ciu Pak segera bangkit berdiri,
“Siauw-tan Moay-moay,” serunya sambil tersenyum tengik.
“Kau sudah bertemu dengan paman Cha?”

Dengan dinginnya Sang Siauw-tan mendengus dia tidak
mengucapkan sepatah katapun, sebaliknya kedua orang gadis
itu segera saling memperlihatkan wajah yang mengejek.
Ciu Tong yang melihat keadaan dari Sang Siauw-tan itu
mendadak satu pikiran berkelebat di dalam benaknya,
“Siauw-tan.” ujarnya sambil tertawa, “Apakah paman Cha
mu sudah datang?”
Sang Siauw-tan yang melihat ayahnya serta Koan Ing tidak
kelihatan disana sebetulnya dia tidak ingin memperdulikan lagi
diri Ciu Tong ayah beranak, tetapi sekarang mau tidak mau
dia harus menjawab juga. “Empek Cio, dimana Tia serta Ing
Koko?” tanyanya. Sinar mata dari Ciu Tong segera berkelebat
dengan amat tajamnya.
Ayahmu serta Koan Ing ada urusan sedang pergi, mungkin
beberapa hari kemudian baru kembali”, ujarnya sambil
tertawa tawar, “dia bilang jikalau dia kembali lagi kesini maka
kau disuruh berangkat dulu bersama kami, dia bisa datang
mencari dirimu dengan sendirinya,”
Sang Siauw-tan jadi melengak, dia tahu Ciu Tong pasti
sedang menipu dirinya, pikirannya dengan cepat berputar,
“Baiklah,” ujarnya kemudian sambil mengangguk, “Kita
berangkat bersama saja,” Ciu Tong tersenyum.
Kedua orang ini apakah anak murid dari Cha Loo-te?” tanya
kemudian. “Dia adalah ayah kami,” sahut kedua orang gadis
itu berbareng,
Ciu Tong jadi melengak, sembilan belas tahun yang lalu
sewaktu diadakannya pertemuan puncak di gunung Hoa-san,
Cha Can Hong waktu itu belum kawin, tidak disangka
perpisahan yang tidak lama ini dia sudah memperoleh dua
orang putri yang sangat cantik

“Ooh.... kiranya kalian berdua adalah keponakan
perempuanku, bagaimana keadaan dari ayahmu?” ujarnya
tertawa.
“Ayahku sebentar lagi bakal datang ke mari,” ujar gadis
berbaju kuning itu setelah memandang sekejap ke arah diri
Sang Siauw-tan. “Bilamana bukannya Siauw-tan cici terus
mendesak kami untuk berangkat terlebih dulu mungkin kami
bisa datang kesini bersama-sama dengan ayah.”
“Oooo.... sebenarnya ayahmu ada urusan apa tokh
sehingga tidak datang bersama-sama dengan kalian?”
tanyanya kemudian sambil tertawa.
“Siauw-tan cici bilang kau adalah seorang jahat, aku tidak
mau beritahu kepadamu,” sambung gadis berbaju hijau itu
dengan cepat.
Untuk beberapa saat lamanya CiuTong dibuat serba salah,
jikalau orang lain yang berkata demikian mungkin sejak
semula dia sudah turun tangan terhadap dirinya.
Tetapi pihak lawan bukan saja merupakan seorang nona
yang sama sekali tidak tahu urusan bahkan merupakan putri
kesayangan dari Si dewa telapak dari gurun pasir, Cha Can
Hong, sudah tentu dia tidak berani berlaku gegabah.
Walaupun Cha Can Hong jadi orang baik hati tetapi dia
paling benci orang yang berbuat jahat, bilamana sampai
terjadi bentrokan dengan dirinya maka pulau Ciat Ie To nya
jangan harap bisa mendapat suasana ketenangan.
Diam-diam di dalam hati dia merasa sangat gusar sekali,
sinar matanya dengan perlahan dialihkan ke atas tubuh Sang
Siauw-tan.
Tampak Sang Siauw-tan dengan mata terbelalak lebar2
sedang memandang ke atas atap gua, agaknya dia sama
sekali tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh gadis
berbaju hijau itu.

Terdengar Ciu Tong kembali tertawa dingin.
“Heee.... heee.... di dalam kolong langit pada saat ini mana
ada orang baik atau orang jahat? Semuanya sama saja”
“Siapa yang bilang tidak ada orang jahat atau tidak ada
orang baik?” bantah gadis berbaju kuning itu dengan cepat.
“Seperti Tia kami dialah orang yang sangat baik”
Untuk sesaat Ciu Tong semakin tidak bisa berkutik lagi, di
dalam hati dia merasa sangat gemas sekali terhadap diri Sang
Siauw-tan. dia sama sekali tidak menyangka kalau seorang
gadis perempuan yang demikian cantiknya ternyata bisa
begitu licik dan jahatnya, bilamana dia bukannya putri
kesayangan dari Sang Su-im serta perempuan kesukaan
putranya mungkin sejak tadi dia tidak akan berlaku demikian
sungkannya. Pikirnya di dalam hati, “Hmm, tunggu saja
setelah kau berhasil dikawini oleh putraku, hee.... hee aku
mau kasih lihat kelihayanku.
Berpikir sampai disini dia tidak mau ambil perduli terhadap
diri Sang Siauw-tan lagi tanyanya kemudian, “Eeei siipa nama
kalian?” Gadis berbaju kuning itu segera tertawa.
“Aku adalah cicinya bernama Cing Cing dia adalah adikku
bernama Ing Ing.”
Sang Siauw-tan Yang melihat Ciee Tong sudah
mengalihkan bahan pembicaraannya dia baru berbicara
kembali.
“Empek Ciu. Ayahku ada urusan apa toh? Apa dia tidak
memberitahukan kepadamu?”
“Aku tidak tahu,” sahut Ciu Tong sambil gelengkan
kepalanya berulang kali, tetapi ada kemungkinan dikarenakan
soal kereta berdarah itu.
Sinar mata Sang Siauw-tan dengan cepat berputar, dia
mengangguk kemudian menoleh memandang ke arah Cing
Cing serta Ing Ing.

“Kalau begitu tidak tahu juga kapan dia baru bisa kembali
lagi kesini,” ujarnya sambil tertawa.
Ciu Tong yang mendengar Sang Siauw-tan berkata
demikian dia jadi semakin berhati-hati, dia tahu gadis ini tentu
sedang mempersiapkan satu permainan setan buat dirinya
karena itu secara diam-diam dia sudah bersiap sedia.
“Soal itu tidak tentu,” sahutnya sambil tertawa tawar.
“Kemungkinan sekali setiap saat dia bisa kembali lagi,”
“Oow.... kalau begitu bisa jadi,” ujar Cing Cing sambil
mengedip2-kan matanya, “kita tidak boleh terus menerus
menunggu lebih baik kita bertiga berangkat terlebih dulu,”
Sekali lagi Ciu Tong jadi melengak, dia sama sekali tidak
menyangka Sang Siauw-tan bisa melakukan perbuatan seperti
ini, dia tidak mengira dia berani bekerja sama dengan kedua
orang gadis cilik ini untuk mempermainkan dirinya kemudian
baru berangkat,
“Siauw-tan,” sambung dengan cepat, “Ayahmu suruh kau
tinggal disini, jikalau kau tidak tinggal disini bagaimana aku
memberi pertanggunganjawab terhadap ayahmu?”
“Empek Ciu,” timbrung Ing Ing yang ada di samping secara
tiba-tiba, “Jikalau kita diharuskan berangkat bersama-sama
dengan kalian maka di samping harus berhati-hati terhadap
sikap kalian ayah beranak bahkan harus jaga2 juga terhadap
siasat setanmu, waah.... kita kan tidak dapat leluasa untuk
bergerak, apalagi Siauw-tan cicipun punya burung merpati,
empek Ciu tidak usah merasa kuatir lagi.“
Sang Siauw-tan yang mendengar perkataan tersebut
segera tersenyum lalu menggandeng tangan kedua orang
gadis itu berlalu dari sana.
“Empek Ciu kami pergi dulu,” ujarnya kepada Ciu Tong.
Sehabis berkata mereka bertiga sambil tertawa segera
berlalu dari dalam gua itu.

Saking khekinya untuk beberapa saat, ia hanya pandang
Ciu Tong, tidak dapat mengucapkan
sepatah katapun juga, sinar matanya berkelebat tak
hentinya lama sekali baru perintahnya
kepada Ciu Pak, “Ayoh kita kejar!“
Sejak semula Ciu Pak memang mempunyai maksud ini,
mendengar perkataan dari ayahnya itu di dalam hati dia
merasa sangat girang sekali, tubuh mereka berdua dengan
amat cepatnya berkelebat keluar dari gua dan mengejar ke
arah dimana Sang Siauw-tan bertiga
tadi melenyapkan dirinya,
Kita balik pada Sang Su-im yang mengempit diri Koan Ing
berlari ke arah tempat luaran, setelah melakukan perjalanan
selama beberapa puluh lie jauhnya dia baru berhenti berlari,
Dengan perlahan dia meletakkan diri Koan Ing ke atas
tanah lantas memperhatikan dirinya dengan pandangan yang
sangat dingin sekali.
Koan Ing yang diletakkan Sang Su-im ke atas tanah diapun
jadi bingung harus berbuat bagaimana baiknya, terpaksa dia
duduk di atas tanah tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Lama sekali Sang Su-im memperhatikan pemuda ini, di
dalam hati dia benar-benar merasa sangat benci sekali
terhadap diri Ciu Pak, Sang Siauw-tan adalah satu-satunya
putri kesayangannya, dia tidak bakal membiarkan Sang Siauwtan
menderita siksaan selama hidupnya.
Terhadap diri Koan Ing dia merasa amat puas terhadap
segala-galanya, cuma saja dia tidak lebih adalah seorang
manusia yang mendekati kematiannya.
Lama sekali Sang Su-im termenung berpikir keras, akhirnya
dengan perlahan telapak tangannya ditempelkan ke atas
pundak diri Koan Ing,

Koan Ing jadi sangat terperanjat sekali, baru saja dia siapsiap
hendak mengerahkan tenaga dalamnya untuk melakukan
perlawanan mendadak dia merasakan satu aliran hawa yang
amat panas menerjang. masuk ke dalam badannya, dia jadi
termangu-mangu.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau Sang Su-im
mengerahkan tenaga dalamnya untuk bantu dia mengobati
luka dalamnya
Dia tidak tahu dikarenakan urusan apa Sang Su-im mau
membantu dirinya untuk menyembuhkan luka dalamnya, dia
cuma merasakan ada satu tenaga dalam yang maha dahsyat
menyedot dirinya sehingga membuat dirinya tidak dapat
bergerak.
Hawa panas dengan cepatnya berputar mengelilingi seluruh
tubuhnya sebanyak tiga
kali, dia merasa dimana terdapat luka dalamnya dengan
perlahan-lahan mulai jadi sembuh kembali.
Setelah selesai menyembuhkan luka dalamnya Sang Su-im
duduk termenung kembali ke atas tanah untuk beristirahat
sebentar. akhirnya dia pentangkan matanya kembali. “Kapan
Supekmu hendak datang ke daerah Tibet?” tanyanya
kemudian.
Lama sekali Koan Ing termenung berpikir keras, akhirnya
sambil mengerutkan alisnya rapat-rapat, sahutnya, “Supekku
sudah lama meninggal “
Sang Su-im yang mendengar berita ini seketika itu juga
dibuat tertegun, diantara empat manusia aneh usia Kong Bunyu
lah yang paling muda dan tenaga dalamnya yang paling
sempurna, menurut pandangannya ada kemungkinan diantara
mereka bertiga dialah satu-satunya orang yang bisa
memperoleh gelar jagoan pada pertempuran di puncak
gunung Hoa-san tahun depan, siapa sangka ternyata dia telah
menemui ajalnya.

Agaknya dia rada tidak percaya dengan berita ini, tetapi
ketika teringat kembali kalau Kong Bun-yu sudah
menyerahkan tanda kepercayaan ciangbunjinnya kepada Koan
Ing diapun rada percaya juga, karena menurut apa yang dia
ketahui pedang tersebut selamanya belum pernah lepas dari
badannya.
Tetapi selamanya dia sama sekali belum pernah berpikir
kalau Kong Bun-yu bisa mati
dengan begitu cepatnya, hal ini benar-benar berada diluar
dugaannya
Dalam hati Sang Su-im merasa sangat menyesal sekali,
lama sekali dia termenung tidak mengucapkan sepatah
katapun.
Akhirnya ketika teringat kembali kalau Koan Ing sudah
tidak bisa hidup lebih lama lagi dia segera bertanya lagi
kepada dirinya. “Apakah perkataan yang diucapkan oleh Ciu
Tong benar?”
Dengan sayunya Koan Ing mengangguk.
Sang Su-impun tahu kalau jawaban dari Koan Ing tentu
membenarkan, dia berkata lagi. “Apakah di dalam hati kecilmu
kau suka dengan Siauw-tan?”
Koan Ing seperti merasakan kepalanya seperti digodam
dengan martil besar, dia jadi bingung sekali untuk menjawab
secara bagaimana, setelah ragu-ragu sebentar akhirnya dia
mengangguk juga.
“Aku tahu Siauw-tan pun suka dengan dirimu,” ujar Sang
Su-im kemudian setelah termenung berpikir sebentar.
“Sebetulnya akupun ingin menjodohkan dirimu kepada diri
Siauw-tan dan sangat berharap kau bisa baik-baik
menghadapi dirinya, dia adalah seorang bocah yang amat baik
sekali cuma sayang sifatnya rada keras.”

Koan Ing termenung tidak mengucapkan sepatah katapun,
dia teringat kembali terhadap diri Sang Siauw-tan berlaku
amat baik sekali terhadap dirinya, tetapi usia dirinya cuma
tinggal delapan puluh lima hari saiya, dia tidak bisa
mencelakai dirinya
Sebetulnya Sang Su-im berbicara demikian bertujuan agar
Koan Ing mau menjauhi diri Sang Siauw-tan dengan
sendirinya, tetapi kini melihat dia tidak mengucapkan katakata
lagi,
terpaksa ujarnya lagi, “Sejak kecil Siauw-tan sudah
kehilangan ibunya, akupun tidak punya waktu yang banyak
untuk menjaga dan menemaninya, kini dia sudah besar dan
aku sebagai orang tuanya malah merasa tambah tidak leluasa
lagi, aku kira kalau dia dikawinkan cepat-cepat malah jauh
lebih baik lagi.”
Berbicara sampai disini dia berhenti sebentar, kemudian
sambungnya lagi: “Sifat, tindak tandukmu serta kepandaian
silatmu memang amat cocok sekali dengan diri Siauw-tan, aku
sangat mengharapkan kau bisa memperoleh obat penawar
dengan cepat dan menyembuhkan racunmu terlebih dulu
kemudian baru cari dia lagi, kalau tidak: dia tentu akan sangat
berduka sekali.”
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera tertawa
sedih.
“Sejak semula aku sudah mengambil keputusan untuk
meninggalkan diri Siauw-tan,” ujarnya kemudian.
Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im jadi melengak,
dalam hati dia merasa semakin kecewa lagi, dia sama sekali
tidak menyangka Koan Ing adalah seorang lelaki sejati, lama
sekali dia termenung akhirnya tak tertahan lagi satu helaan
napas panjang memecahkan kesunyian.
“Aku adalah ayahnya,” ujarnya perlahan. “Tentunya kau
bisa paham bagaimana perasaan seorang ayah menghadapi

urusan semacam ini, aku sangat kagum atas sifat serta tindak
tandukmu tetapi aku tidak bisa mengorbankan seluruh
kebahagiaan dari Siauw-tan.”
“Aku paham apa yang kau maksudkan,” sahut Koan Ing
sambil tersenyum sedih. “Akupun harus mengucapkan banyak
terima kasih karena kau sudah membantu diriku untuk
menyembuhkan luka dalam yang aku derita.”
Sang Su-im yang takut dalam hati Koan Ing merasa
semakin sedih lagi dengan cepat dia berkata kembali, “Aku
sanggup untuk mewariskan seluruh kepandaian silatku
kepadamu termasuk juga ilmu jari “Han Yang Ci Hoat” yang
paling kuandalkan itu.”
Lama sekali Koan Ing memperhatikan diri Sang Su-im,
akhirnya dia memperlihatkan satu senyuman paksa.
“Terima kasih atas kebaikan budi dari Empek Sang” ujarnya
kemudian sambil bangkit berdiri. “Budi tersebut aku tidak
berani menerimanya, bilamana kau menganggap hal ini
sebagai pengganti kerugian ku, sebetulnya hal ini tidak perlu
lagi, karena aku sama sekali tidak menderita kerugian
apapun.... ”
Sehabis berkata dia segera bungkukkan badannya menjura,
“Empek Sang, lain waktu bila ada jodoh kita bertemu
kembali.”
Selesai berkata dia putar badan, dengan langkah yang
lebar berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Dengan pandangan mata yang mendelong, Sang Su-im
memperhatikan bayangan dari Koan Ing yang mulai lenyap
dari pandangannya, dia menghela napas panjang sedang
pikirannya semakin bertambah kacau lagi,
Koan Ing dengan seorang diri melanjutkan perjalanannya
menuju ke arah sebelah Barat, dengan perlahan dia naik ke
atas sebuah bukit yang kecil....

Ooo)*(ooO
Bab 17
WAKTU ITU bunga-bunga salju beterbangan memenuhi
angkasa, dengan termangu-mangu dia berdiri seorang diri di
atas bukit kecil itu,
Dia merasa setiap bunga salju yang melayang memenuhi
angkasa sudah berubah jadi bayangan Sang Siauw-tan yang
amat banyak sekali.
Berpuluh-puluh bayangan dari Sang Siauw-tan dengan
perlahan melayang turun di hadapannya
lalu lenyap tak berbekas.
Dengan kuat-kuat dia menggosok matanya untuk
menghilangkan bayangan lamunan itu. dia sekarang tidak
berhak lagi untuk pergi memikirkan diri Sang Siauw-tan. kalau
dipikirkan lebih lanjut tidak lebih cuma mendatangkan
kemurungan serta kebingungan hatinya saja
Kesemuanya bisa jadi begini hal ini tidak lebih dikarenakan
Ciu Tong sudah memaksa dia untuk menelan obat racun
tersebut.... semuanya ini dikarenakan ilmu silatnya tidak bisa
melebihi diri Ciu Tong, bilamana kepandaiannya jauh melebihi
dirinya....
Mendadak satu bayangan berkelebat kembali di dalam
benaknya, diam-diam gumamnya seorang diri, “Apa sungguhsungguh
tidak bisa? Apakah aku Koan Ing tidak bisa berbuat
sesuatu pekerjaan yang orang lain merasa suatu pekerjaan
yang tidak mungkin terjadi? Pada tempo hari si manusia aneh
dari Bu-lim Jien Wong pun bisa bangkit berdiri kembali setelah
dipukul hingga terluka parah, hal itu adalah satu pekerjaan
yang tidak mungkin bisa terjadi, tetapi dia bisa melakukannya,
apa dirinya tidak sanggup....?”
Berpikir sampai disini, dengan amat sedihnya Koan Ing
menundukkan kepalanya, lantas menghela napas panjang,

dirinya yang sudah berlatih selama hidupnyapun belum bisa
menandingi Ciu Tong, apa lagi usianya kini tinggal delapan
puluh lima hari saja, selama delapan puluh lima hari ini
dapatkah dia melatih ilmu silatnya sendiri jauh lebih tinggi dari
kepandaian silat yang dimiliki oleh Ciu Tong? hal itu tidak
mungkin bisa terjadi atau boleh dikata cuma satu kata-kata
impian belaka....
Sinar matanya dengan perlahan berkelebat, kenapa dirinya
tidak mencoba-coba dulu? Dengan sisa hidupnya yang tinggal
tidak seberapa lama dia harus menciptakan satu peristiwa
yang luar biasa dan lain daripada yang lain....
Tetapi harus berbuat bagaimana?jikalau berdiam diri terus
menerus tidak mungkin bisa memperoleh satu kejadian yang
luar biasa.
Berpikir sampai disitu Koan Ing mendadak teringat kembali
akan sesuatu, mendadak dia teringat kembali.
Kitab pusaka Boo Shia Koei Mie yang pernah diperoleh dari
tangan Song Ing, selama ini dia belum pernah melihatnya
barang sekejappun. dengan perlahan dia mulai mengambilnya
keluar dari dalam sakunya.
Dia masih teringat sikap dari Song Ing sewaktu
menghadiahkan kitab pusaka tersebut kepadanya, tetapi
selama ini dia terlalu memandang enteng kitab tersebut
karena menurut anggapannya sekalipun kepandaian silat yang
dimiliki Song Ing amat tinggi tetapi dia belum termasuk luar
biasa.
Dengan per lahan-lahan Koan Ing mengambil kitab pusaka
Boe Shia Koei Mia tersebut lalu duduk bersila dan mulai
membuka halaman pertama.
Di atas kitab yang terbuat dari kain sutera itu terlihatlah
beberapa kata yang ditulis dengan amat indahnya, pada baris
pertama kira-kira bertuliskan.

ilmu silat tak ada ujung pangkalnya, walaupun aku sudah
mengadakan penyelidikan selama lima belas tahun lamanya di
daerah Tionggoan dan memperdalam ilmu silat dari sepuluh
partai besar tetapi apa yang aku peroleh tidaklah terlalu
banyak.
Apa yang aku peroleh tempo hari bersama-sama dengan
kepandaian yang aku dapatkan sebelumnya kini aku bukukan
jadi satu, barang siapa saja yang dapat mempelajarinya maka
segera akan menjadi seorang jagoan tanpa tandingan, harap
suka memelihara buku ini baik-baik,
Lama sekali Koan las termenung membaca tulisan tersebut,
dia sama sekali tidak mengira kalau kitab tersebut adalah hasil
penyelidikan dari Song Ing sendiri yang kemudian dibukukan.
Lama sekali dia termenung, akhirnya dia membuka kembali
halaman yang kedua, di sana tercatatlah berbagai ilmu silat
yang paling dahsyat dari Thian-yu-pay, di samping itu ternyata
masih termuat juga berpuluh-puluh jurus gerakan yang dia
belum pernah memperoleh sebelumnya, bahkan disampingnya
masih terdapat juga kritikan dari Song Ing sendiri.
Selanjutnya pada halaman berikutnya termuat berbagai
ilmu silat dari partai2 yang lain, ternyata Song log itu memang
benar amat dahsyat sekali tidak disangka seluruh ilmu silat di
dalam dunia kangouw dia memahaminya benar-benar, bahkan
terdapat pula perubahan serta pecahan2 menurut
pendapatnya sendiri,
Di dalam hati Koan Ing benar-benar merasa amat kagum
atas ketelitian dan ketajaman otaknya, dia cuma merasa heran
secara bagaimana Song Ing bisa mencuri begitu banyak ilmu
silat yang amat lihay dari jago-jago Bu-lim, bahkan dapat
memahaminya pula.
Satu halaman demi satu halaman dibacanya dengan teliti,
semakin melihat dia merasa semakin tertarik lagi dan dia
merasa apa yang dimuat di dalam kitab itu mengandung

maksud yang mendalam dan mempunyai perubahan yang
amat luas sekali, sehingga tanpa terasa lagi dia sudah
membacanya sampai halaman terakhir.
Setelah habis membaca kitab itu dia termenung berpikir
beberapa saat lamanya. dia merasa jurus serangan yang
termuat di dalam kitab pusaka ‘Boe Shia Koei Mia’ itu dahsyat
laksana menggulungnya ombak, di tengah samudra yang
saling susul menyusul dengan tak henti-hentinya berkelebat di
dalam benaknya.
Lama sekali Koan Ing termenung berpikir keras, dia merasa
perkataan Song Ing yang mengatakan ‘Ilmu silat tidak ada
ujung pangkalnya’ memang benar, dia merasa semakin belajar
semakin tertarik dan tidak ada jemu2nya.
Tidak tertahan lagi sekali lagi dia membaca seluruh isi yang
termuat di dalam kitab pusaka ‘Boe Shia Koei Mia’ itu, kali ini
dia benar-benar merasa hatinya amat girang benar, dia
merasa menyesal kenapa tidak sejak dahulu dia
mempelajarinya.
Ketika Koan In selesai membaca isi kitab pusaka itu untuk
kedua kalinya cuaca sudah mulai menggelap, dia jadi tertegun
dia sama sekali tidak menyangka dirinya sudah membaca kitab
itu selama satu harian penuh.
Dengan perlahan dia kebut jatuh bunga-bunga salju yang
mengotori bajunya, pada waktu itu dia sama sekali tidak
merasa lapar ataupun dahaga, di dalam benaknya cuma
dipenuhi dengan jurus-jurus serangan dari perbagai aliran
yang ada di dalam Bu-lim pada saat ini,
Pada waktu Koan Ing sedang berpikir keras itulah
mendadak dari tempat kejauhan berkelebat mendatang dua
sosok bayangan manusia dengan amat cepatnya, dia
mengerutkan alisnya rapat-rapat.

Di tengah tanah salju yang demikian sunyi dan sepinya
jagoan berkepandaian tinggi dari mana lagi yang sedang
melakukan perjalanan?
Jilid 8
DI TENGAH suasana magrib kabut melayang menutupi
pandangan, ketika Koan Ing dapat melihat, orang yang datang
adalah Ciu Tong ayah beranak, Ciu Tong pun saat itu sudah
dapat melihat dirinya.
Dia tahu bilamana mau melarikan diri dari sana bukanlah
satu pekerjaan yang gampang, jauh lebih baik kalau menanti
kedatangan mereka.
Ciu Tong yang melihat Koan Ing seorang diri berdiri di
tengah tanah salju dia pun rada dibuat tertegun, tetapi
sebentar kemudian sudah tertawa.
“Ooow.... kiranya kau orang adanya, tidak disangka kau
bisa disini seorang diri.” Sembari berkata tubuh kedua orang
itu mulai berkelebat mendekati diri Koan Ing.
Kiranya kedua orang itu sedang mengejar diri Sang Siauwtan
sudah bersembunyi di tempat mana, maka itu setelah
mencari seharian penuh tidak menemukan juga sebaliknya
secara diluar dugaan sudah berjumpa kembali dengan Koan
Ing. Koan Ing cuma tertawa tawar tanpa mengucapkan
sepatah katapun.
Ciu Tong yang melihat Koan Ing berdiri di tempat itu
dengan amat tenangnya di dalam hati diam-diam berkelebat
satu ingatan.
“Apa mungkin dia sengaja berada di sini untuk menunggu
kedatangan Sang Siauw-tan?” pikirnya.

Berpikir sampai disini tidak tertahan lantas tanyanya, “Hey
kau melihat diri Sang Siauw-tan tidak?”
Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, diam-diam di
dalam hati berpikir, “Dengan kepandaian silat yang aku miliki
saat ini masih bukan tandingan dari Ciu Tong jikalau aku cari
gara-gara dan ngotot menantang dia untuk bertempur
bukankah hal ini sama saja dengan mencari gebuk?”
Heeei.... , begini saja kalau Ciu Tong bangsat tua ini sudah
bersikap keterlaluan aku lebih baik jangan turun tangan,
Berpikir sampai disitu dengan perlahan dia lantas
gelengkan kepalanya,
Ciu Tong yang melihat air muka serta sikap dari Koan Ing
ini segera menduga di dalam hati kalau Sang Su-im tentunya
sudah mengucapkan sesuatu terhadap dirinya tetapi kenapa
dia masih berada di tempat ini seorang diri? Tetapi dia
percaya Sang Su-im tidak mungkin dapat menjodohkan Sang
Siauw-tan dengan diri Koan Ing.
Jika dilihat dari sikap Sang Siauw-tan sendiri, dia bisa
melihat kalau Sang Siauw-tan mencintai Koan Ing dengan
tulus ikhlas dan cintanya adalah cinta murni dia masih harus
berusaha untuk menghalangi diri Koan Ing mendekati Sang
Siauw-tan lagi,
Dia termenung berpikir sebentar, akhirnya satu suara
tertawa yang amat seram berkumandang memenuhi angkasa.
“Aku dengar sewaktu Jien Wong munculkan dirinya untuk
pertama kali, cuma kau seorang saja yang sudah bercakapcakap
dengan dirinya Hmm.... hmm.... selamanya dia jarang
melepaskan mangsanya di dalam keadaan bernyawa,
tetapijika dilihat dari kau orang yang dikecualikan aku rasa
tentunya diantara kalian ada sedikit hubungan persahabatan.
Hehe.... heee.... aku rasa membawa kau serta pergi mencari
Jien Wong adalah satu pekerjaan yang paling cocok.

“Aku sama sekali tidak mempunyai ikatan persahabatan
apa-apa dengan dirinya, aku rasa kau bajingan tua sudah
salah duga, tapi.... ”
“Ehmm.... kalau memangnya kau ingin aku pergi bersamasama
dengan kalian akupun
dengan senang hati akan menyanggupi.”
Ciu Tong jadi melengak, dia tahu sifat dari Koan Ing amat
kukoay sekali dan sukar diraba, dia sama sekali tidak
menyangka ini hari dia orang bisa berlaku begitu
sembarangan, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa
terbahak bahak.
“Haaa.... haaa.... tidak kusangka ini hari kau bisa bicara
dengan baik?”
Di tengah suara kerasnya itulah tiba-tiba, “Hmmm, masih
ada aku seorang yang akan berangkat bersama sama dengan
kalian.... ” satu suara yang dingin bergema datang.
Sekali lagi Ciu Tong jadi melengak, dengan cepat dia
menoleh memandang ke arah darimana berasalnya suara
tersebut.
Tampaklah Sang Su-im dengan wajah yang adem sedang
berdiri tidak jauh dari dirinya, sinar matanya yang amat tajam
pada saat ini terang memandang ke arahnya dengan penuh
perhatian.
Dalam hati Ciu Tong segera merasa keheranan, dia tidak
habis mengerti. Sang Su-im yang tadi orangnya sudah pergi
jauh, bagaimana secara tiba-tiba bisa muncul kembali disana,
tetapi dia tahu, jikalau ada dia disana maka perduli dia mau
mengurusi diri Koan Ing maupun menghadapi diri Sang Siauwtan
tentu bakal menemui kesulitan2,
“Haaa.... haaa.... kiranya Sang Loo-te sudah datang”
serunya sambil tertawa terbahak-bahak. “Aku ayah beranak

sudah cari kau kemana-mana tanpa memperoleh hasil, tidak
kusangka kau bisa munculkan dirinya sendiri di sini.”
Dengan dinginnya Sang Su-im memperdengarkan suara
dengusannya, dia sudah termenung berpikir lama sekali
akhirnya di dalam hati merasa sangat tidak senang, kini
melihat Ciu Tong agaknya bermaksud tidak baik terhadap diri
Koan Ing membuat hatinya semakin mendongkol lagi,
“Ciu heng, Kong Bun-yu sudah mati, jikalau bersikap
demikian kasarnya terhadap diri keponakan muridnya
bukankah tindakanmu ini sedikit keterlaluan?” serunya
terhadap diri Ciu Tong.
Ciu Tong jadi tertegun, selama ini di dalam hatinya dia
terus menerus sedang berpikir dengan cara bagaimana
hendak memberikan penjelasannya bilamana Kong Bun-yu
datang, saat ini dia mendengar Kong Bun-yu sudah mati,
seketika itu juga membuat hatinya merasa terkejut bercampur
girang.
Tetapi diluarnya dia pura-pura memperlihatkan rasa
sedihnya, dia menghela napas panjang dan tundukkan
kepalanya rendah-rendah, “Heeei.... Kong Loo-te masih muda
dan berkepandaian amat tinggi sekali, tidak disangka dia
diberkahi umur yang begitu pendek.”
Padahal di dalam hati saking girangnya dia kepingin
meloncat-loncat, justru dikarenakan Koan Ing bukan anak
murid dari Kong Bun-yu melainkan cuma keponakan muridnya
itulah dia baru menurunkan tindakan kejam kepadanya, kini
setelah mendengar berita atas kematian dari Kong Bun-yu
membuat dia diberi satu kesempatan lagi untuk lebih
memperhebat siksaannya terhadap Koan Ing.
Sikap serta tindak tanduk yang pura2 dari Ciu Tong ini
sudah tentu tidak dapat lolos dari pandangan mata Koan Ing
maupun Sang Su-im berdua,.... dalam hati mereka berdua
segera mendengus dengan amat dinginnya.

Tetapi bagaimana Sang Su-im secara tiba-tiba bisa
membuka rahasia ini dihadapan Ciu Tong? Bukankah Koan Ing
sudah pesan wanti2 kepadanya untuk jangan di bocorkan?
Sang Su-im yang bukan baru pertama kalinya terjunkan diri
ke dalam Bu-lim di dalam hati sudah tentu mempunyai
perhitungannya sendiri, dia tidak akan berlaku gegabah di
dalam melakukan tindakan tertentu.
Selesai berkata Ciu Tong lalu menoleh ke arah Sang Su-im
dan sambungnya lagi, “Sang Loo-te, mari kita pergi mencari
kereta berdarah itu.”
Sang Su-im tersenyum dan menganggukkan kepalanya,
sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke sekeliling
tempat itu tapi mendadak air mukanya sudah berubah amat
hebat....
Koan Ing pun mengerutkan alisnya rapat-rapat sinar
matanya berkelebat menyapu sekeliling tempat itu, dia merasa
kaget dan ngeri sewaktu melihat keadaan di sekeliling sana.
Kiranya entah sejak kapan di empat penjuru dari empat
orang itu sudah muncul berpuluh-puluh api setan
Air muka Ciu Tong berubah sangat hebat, kepada Sang Suim
serunya sambil tertawa, “Sang Loo-te, apa mungkin orang
yang sudah pada mati kini telah pada bangkit kembali dari
kuburan?”
“Bangkitnya kembali Yu Ming Hiat Noe aku sudah
memperoleh kabar sejak semula, tetapi
dia orang yang ada diratusan li dari tempat ini bagaimana
dengan begitu cepatnya bisa
sampai disini?”
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi sangat
terperanjat, ‘Yu Ming Hiat Noe’ atau Si Budak Berdarah yang
terjadi pada dua puluh tahun yang lalu, yang satu adalah

munculnya Kereta Berdarah di dalam di dunia persilatan
sedang yang lain adalah munculnya iblis dari daerah See Ih
‘Yu Ming Hiat Noe’ atau Si Budak Berdarah dari kegelapan
yang mulai menyebarkan pengaruhnya ke dalam daerah
Tionggoan.
Akhirnya kereta berdarahnya setelah dikerubuti oleh empat
manusia aneh berhasil dirubuhkan, walaupun kemudian Jien
Wong berhasil melarikan diri tetapi sejak itu beritanya lenyap
dan dalam. Sedangkan Si Budak Berdarah dari kegagalan itu
setelah terjadi pertempuran yang amat sengit di atas gunung
Thian San melawan tiga manusia aneh sekalipun di kemudian
hari tiga manusia genah pulang ke gunung di dalam keadaan
terluka tetapi sejak itu pula Si Budak Berdarah dari
kegelapanpun lenyap dari pendengaran Bu-lim.
Sungguh tak disangka sama sekali api setan Yu Seng Koei
Kwe -nya bisa munculkan diri kembali di tempat ini.
Ciu Tong serta Sang Su-im tahu pada dua puluh tahun
yang lalu kepandaian silat dari tiga manusia genah empat
manusia aneh adalah seimbang satu sama lainnya, tetapi
mereka
belum pernah bertempur dengan Si Budak Berdarah dari
kegelapan ini, kini secara tiba-tiba mendengar dia munculkan
dirinya kembali bahkan dengan menggunakan api setan “Liuw
Seng Koei Hweenya menantang mereka berdua untuk
bertempur, tidak urung membuat mereka berdua merasa
sedikit bergidik juga.
Bilamana bertemu dengan si manusia tunggal dari Bu-lin
Jien Wong ada kemungkinan mereka bisa mengadakan
perjanjian untuk bergebrak pada satu saat tertentu tetapi
terhadap Si Budak Berdarah dari kegelapan ini mereka cuma
pernah mendengar namanya saja tanpa mengetahui orangnya
yang sebetulnya.

Kedatangan Thian Siang Thaysu itu ciangbunjin dari Siauwlim-
pay kali inipun di samping soal kereta berdarah, yang
penting adalah persoalan munculnya kembali Si Budak
Berdarah dari kegelapan ini
Ciu Tong menyapu sekejap ke sekeliling tempat itu, lantas
dia tertawa dingin.
“Heee.... heee.... buat apa kau mempergunakan permainan
setan ini untuk menakuti-nakuti orang?” bentaknya dengan
keras. “Kalau kau orang benar-benar bernyali, ayoh cepat
keluar dan kita bergebrak dengan terang-terangan “
Tetapi api setan itu cuma naik turun saja di tengah udara,
di sekeliling tempat itu sama sekali tidak tampak sesosok
bayangan manusiapun, membuat suasana bukit tersebut
terasa amat seram dan mendirikan bulu roma. Sang Su-im
segera tertawa tawar.
Jikalau dia orang punya minat untuk munculkan diri dan
bertemu dengan kita, tidak perlu kau berteriakpun dia bisa
menampakkan diri!” serunya.
Ciu Tong mengerutkan alisnya, ”Apa?”
“Aku tidak percaya dengan kepandaian silat kita berdua
masih ada orang yang berani
mencabut kumis macan, Hmm hmm.... kecuali orang yang
sudah tidak kepingin hidup lagi”
teriaknya sambil tertawa, “Aku lihat Si Budak Berdarah dari
kegelapan itupun tidak
terlalu luar biasa.”
Sang Su-im cuma tertawa saja tanpa mengucapkan
sepatah katapun.
Diantara keempat manusia aneh, masing-masing
mempunyai kepandaian silat dahsyat yang mempunyai
keistimewaan sendiri-sendiri, ilmu pedang dari Kong Bun-yu

boleh di kata tanpa bandingan di seluruh kolong langit, ilmu
jari “Han Yang Ci” dari Sang Su-im merajai Bu-lim, ilmu mayat
membusuk dari Ciu Tong juga boleh di kata tak ada
bandingannya ditambah pula dengan sepasang telapak dari
Toa Mo Sian Ciang.
Dia percaya pada dua puluh tahun ini tidak bakal ada orang
yang berani mencari gara-gara dengan diri mereka berempat.
Berpikir sampai disini nyalinya jadi semakin besar, dia
segera memimpin tiga orang yang lain untuk melanjutkan
perjalanannya menuju ke arah depan.
Cio Tong pun bukanlah seorang manusia yang bernyali
kecil, walaupun pada permulaan dia rada merasa keder tetapi
rasa kedernya itu pada saat ini sudah lenyap tak berbekas.
Alisnya dikerutkan rapat-rapat, kemudian dia
memperdengarkan kembali suara tertawanya yang amat
keras.
“Haaa.... haaa.... Bagaimana bentuk badan dari Si Budak
Berdarah dari kegelapan itu kitapun cuma pernah mendengar
dari berita yang tersiar di dalam Bu-lim saja dan belum pernah
menemuinya sendiri, kalau ini hari dapat bertemu muka
dengan dirinya, hal ini boleh dikata sangat untung sekali.”
Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanannya ke
depan, kira-kira seperempat jam kemudian mendadak Sang
Su-im menghentikan langkah kakinya.
Sekali pandang saja Koan Ing dapat melihat di atas
permukaan salju di hadapannya menggeletaklah sesosok
mayat, di dalam hati diam-diam dia merasa sedikit terperanjat.
Sinar mata Sang Su-im segera menyapu sekejap ke
sekeliling tempat itu kemudian baru berjalan mendekati mayat
itu.

Kiranya mayat itu adalah mayat dari seorang hweesio,
dengan cepat dia membalikkan mayat itu menghadap ke atas
dengan menggunakan kakinya.
Tetapi sebentar saja suara teriakan kaget sudah bergema
memenuhi angkasa, kiranya bagian depan dari mayat hweesio
itu sudah ditabas lenyap, kini cuma tinggal badannya yang
bagian belakang menempel di atas permukaan salju,
Ciu Tong walaupun disebut sebagai Si iblis sakti dari Lautan
Timur dan menduduki kedudukan iblis diantara Malaikat,
manusia aneh, manusia sakti serta iblis tetapi dia sendiripun
tidak pernah melakukan tindakan yang demikian kejamnya.
“Hmmm Aku rasa Si Budak Berdarah dari kegelapan itu
bilamana bukannya sedang menanti kedatangan kita, tentunya
sedang menunggu kedatangan dari si hweesio tua dari Siauwlim-
pay itu!” seru Sang Su-im sambil mendengus.
“Bilamana dia orang melakukan perjalanan siang malam
dari gunung Siong San kemungkinan sekali sudah hampir tiba
disini.”
“Haa.... haaa.... kiranya anggota perkumpulan Tiang-gongpang
dari Sang Loo-te seluruhnya sudah tersebar ke dalam
daerah Tibet ini!” seru Ciu Tong sambil mengerutkan alisnya
rapat-rapat, “Entah secara bagaimana aku orang belum
pernah bertemu muka dengan mereka?”
Sang Su-im segera tertawa tawar, dia tahu Ciu Tong
merasa sangat tidak puas sekali terhadap dirinya tetapi dia
tidak mau mengambil gubris.
Kiranya bukan saja Sang Su-im selain mengawasi gerak
gerik dari kereta berdarah itu, diapun memerintahkan anak
buahnya untuk mengawasi setiap jagoan berkepandaian tinggi
yang ada di daerah Tibet sudah tentu termasuk Ciu Tong pula.

Dengan tawarnya dia segera menjawab, “Siauwte sudah
perintahkan mereka untuk jangan memperlihatkan jejaknya
sudah tentu tidak bakal ada yang tahu.”
Sinar mata dari Ciu Tong berkelebat tak hentisnya, dia lalu
memandang keadaan di sekeliling tempat itu.
“Aku tidak suka berkenalan dengan hweesio-hweesio dari
kalangan lurus yang sok bersifat jagoan dan pendekar itu!”
serunya dengan dingin, “Kelihatannya mereka sudah bakal
sampai di tempat ini, bagaimana kalau kita pergi bersembunyi
dulu?”
Agaknya Sang Su-impun tidak begitu senang bergaul
dengan hweesio-hweesio dari Siauw-lim-pay itu, dia segera
mengangguk dan bersama-sama dengan tiga orang lainnya
melanjutkan perjalanannya menuju ke depan.
Walaupun mereka sudah bergerak ke depan dengan
cepatnya tetapi tidak urung sebagian kecil dari api setan yang
mengelilingi tempat itu mengikuti juga terus diri mereka
dengan kencangnya.
Ciu Tong jadi mendongkol, dia segera tertawa dingin
“Haa.... ha.... aku masih mengira dia tidak bakal berani
mencari gara-gara dengan kita orang ternyata mereka
bermaksud untuk memperlihatkan sedikit permainan busuk
dengan kita”
“Buat apa mengurusi hal itu?” seru Sang Su-im tertawa
tawar, “Kita berjalan dengan kaki kita sendiri, jikalau dia
bermaksud untuk menemui kita sudah tentu dia bisa
munculkan diri dengan sendirinya. Hehe.... akupun merasa
benci juga dengan tindakannya yang sengaja memperlihatkan
kemisteriusan ini,”
Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanannya
menuju ke depan, sewaktu hari sudah gelap mereka telah tiba

di sebuah gua yang cukup besar, tanpa ragu lagi mereka
berjalan masuk ke dalam gua tersebut.
Sesampainya di dalam gua Ciu Tong segera menyapu
sekejap memperhatikan keadaan gua itu, tampaklah suasana
di tempat tersebut sunyi senyap tak tampak sesuatupun, cuma
saja api setan itu masih tetap mengelilingi mereka tak buyar.
Dengan dinginnya dia segera mendengus di dalam hati dia
merasa rasa tak tenang dia tak tahu Si Budak Berdarah dari
kegelapan sedang mempertunjukkan permainan apa.
Terlihatlah wajah Sang Su-im amat tenang sekali,
sedikitpun tidak tampak perubahan yang aneh, diam-diam di
dalam hati dia merasa menyesal sendiri.
Mereka berdua angkat nama bersama-sama, jikalau
ketenangannya tidak dapat menangkan diri Sang Su-im,
bukanlah hal itu merupakan satu peristiwa yang sangat
memalukan sekali?
Dia menarik napas panjang-panjang lalu sekali lagi
menyapu sekejap sekeliling gua itu, dia tertawa.
“Hmm, dengan kepandaian silat yang aku miliki saat ini ada
siapa yang berani bermain gila denganku?” pikirnya. “Buat apa
sikapku begitu waspada dan berhati-hati?”
Perlahan-lahan dia memejamkan matanya untuk mengatur
pernapasan.
Lewat beberapa saat kemudian mendadak....
“Si Budak Berdarah!” teriak Sang Su-im.
Ciu Tong merasakan hatinya bergidik, sepasang tangannya
dari kiri dan kanan bersama-sama melancarkan pukulan
menutup mulut gua tersebut.
Tetapi baru saja dia melancarkan serangannya itulah
mendadak dia merasakan suara desiran angin serangan yang
amat tajam sekali sudah menghajar badannya.

Seketika itu juga dia sadar sudah terkena serangan
bokongan. dengan cepat tubuhnya berputar untuk
menghadapi sesuatu.
Tetapi serangan jari dari Sang Su-im ini sudah dipersiapkan
sejak tadi, mana mungkin dia berhasil menghindarkan diri?
Walaupun dia sudah berputar badannya untuk menghindar
tetapi waktu sudah terlambat jalan darah Tiong Hu, Sauw
Yang serta Hay Sim tiga buah jalan darah pentingnya terasa
dingin, hawa murninya seketika itu juga buyar dari badannya.
Tampaklah Sang Su-im sambil tertawa dingin berdiri di
sana dan memandang ke arah Ciu Tong dengan pandangan
yang amat dingin sekali.
Koan Ing yang melihat kejadian itu dari samping, dalam
hati merasa terkejut pula, dia sama sekali tidak menyangka di
saat-saat seperti ini Sang Su-im dapat turun tangan
membokong diri Ciu Tong, bahkan cukup di dalam satu
gerakan saja sudah berhasil mengalahkan dirinya.
Ciu Tong yang kena tertotok di dalam hati merasa amat
terkejut bercampur gusar.
“Kau.... ” serunya,
Ciu Pak yang melihat ayahnya tertawan, dia jadi ketakutan
setengah mati, cepat dia mundurkan diri dan bersembunyi di
pojokan gua itu.
Terdengar Sang Su-im tertawa dingin, “Ini yang dinamakan
dengan menggunakan cara yang sama untuk membalas cara
yang kau gunakan tempo hari terhadap diriku,” serunya
tertawa.
Sang Su-im dengan perlahan segera menoleh ke arah Koan
Ing yang saat itu sedang bangkit berdiri.
“Sejak dahulu aku sudah menanti kesempatan yang baik
ini,” ujarnya sambil tertawa tawar. “Paling sedikit lima tahun

kemudian tenaga dalamnya baru bisa pulih kembali seperti
sediakala, sekarang kan boleh turun tangan sesukamu untuk
menghukum dirinya.
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing segera
memandang ke arah Ciu Tong dengan termangu-mangu, kini
Ciu Tong sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan....
Tenaga dalamnya sudah buyar dan inilah suatu
kesempatan buat dirinya untuk membalas dendam, tetapi dia
yang teringat kalau dirinya adalah seorang ciangbunjin dari
satu partai mana mau berbuat tindakan tersebut. Dia segera
angkat kepalanya dan tertawa.
“Bagus.... bagus sekali.... Sekarang kau boleh merasakan
bagaimana rasanya kalau dibokong orang lain, tetapi aku tidak
mau membinasakan dirimu pada saat ini, kalau aku berbuat
demikian tidak lebih cuma mendatangkan kerugian buat nama
besar dari Thian-yu-pay kami.
“Bagus.... bersemangat,” puji Sang Su-im yang mendengar
perkataannya itu. “Walaupun aku adalah seorang pangcu dari
satu perkumpulan besar tetapi saat ini aku merasa amat
kagum sekali atas sifatmu yang amat gagah ini.”
Sehabis berkata dia segera menoleh memandang ke arah
diri Ciu Tong.
“Sekarang kau boleh pergi, lima tahun kemudian kita
berjumpa kembali,” ujarnya dingin.
Tenaga dalam dari Ciu Tong sudah buyar saat ini,
badannya sama sekali tidak bertenaga, dalam hati dia merasa
sangat sedih bercampur gusar, walaupun pada saat ini dia
bermaksud hendak mengadu jiwa dengannya, tapi hal ini juga
tidak berguna.
Karenanya terpaksa sambil merangkul badan Ciu Tong
serunya dengan dingin, “Pada suatu hari bilamana tenaga

dalam ku sudah pulih kembali aku akan datang kembali untuk
membalas dendam.... ”
Sehabis berkata dia melirik kembali sekejap ke arah diri
Koan Ing.
Dia sama sekali tidak menyangka dia orang yang sering
membokong orang lain, Dia bisa mendapatkan bokongan juga
dari Sang Su-im, tetapi nasi sudah jadi bubur, dia cuma bisa
menghela napas panjang dan menyesali dirinya kurang
berhati-hati....
Sang Su-im memandang sampai bayangan punggung dari
Ciu Tong lenyap dari pandangan
kemudian baru menghela napas panjang, dia merasa
tindakannya kali ini rada sedikit kejam, tetapi ketika teringat
kembali akan keganasan serta kelicikan dan Ciu Teng dia
merasa tindakannya ini adalah sangat tepat sekali untuk
dirasakan oleh dia orang.
Koan Ing sendiri yang melihat keadaan Ciu Tong pada saat
ini, diapun tidak tahu haruskah merasa bergirang hati ataukah
menyesal.
Hari sudah hampir terang tanah, kita harus beristirahat
sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali,
tiba-tiba terdengar suara dari Sang Su-im memecahkan
kesunyian.
Belum sempat Koan Ing memberikan jawabannya
mendadak terdengar suatu suara tertawa yang amat dingin
sekali berkumandang dari kejauhan yang semakin lama
semakin mendekat seluruh angkasapun dengan cepat sudah
dipenuhi dengan suara tertawa yang melengking tinggi dan
mendirikan bulu roma itu.
Mendengar suara tertawa seram itu air muka Sang Su-im
seketika itu juga berobah sangat hebat.

“Si Budak Berdarah dari kegelapan sungguh-sungguh sudah
datang!” teriaknya dengan suara yang amat berat.
Koan Ing sendiripun merasa amat terperanjat, dengan
cepat dia melongok ke depan gua.
Tampaklah api-api setan berwarna merah darah itu
bergerak semakin ke atas diikuti sesosok bayangan merah
darah dengan kecepatan yang luar biasa menubruk datang.
Sang Su-im segera membentak rendah, tidak menanti
bayangan darah itu menerjang masuk ke dalam gua, dia babat
tangannya ke depan berturut-turut melancarkan tujuh totokan
dahsyat.
Seketika itu juga suara desiran angin serangan yang amat
tajam berkelebat memenuhi seluruh gua tersebut.
Segulung angin pukulan laksana menggulungnya ombak di
tengah samudra dengan dahsyatnya segera mengalir masuk
ke dalam gua....
“Braak!” dengan hebatnya menghajar di depan dinding gua
membuat seluruh gua dipenuhi
dengan suara dengungan yang memekikkan telinga.
Koan Ing jadi terperanjat, dengan cepat dia berkelebat
menyingkir ke samping.
Terdengarlah Sang Su-im bersuit nyaring, tangannya
kembali membabat ke depan menyentilkan tujuh gulung angin
serangan yang amat tajam, tampak bayangan jari berkelebat
menutupi gua membuat bayangan darah itu tak dapat maju ke
depan barang selangkahpun.
Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang
suara pujian kepada sang Buddha yang amat rendah tapi
berat sekali bayangan darah itu dengan cepatnya berkelebat
kembali ke arah luar.

Air muka Sang Su-im berubah jadi pucat pasi, selamanya
dia belum pernah didesak di bawah angin oleh serangan
musuhnya, tidak disangka hari ini ternyata untuk menerjang
keluar dari gua itu pun dia sudah menemui kegagalan.
Waktu ini cuaca sudah terang tanah, tanpa keluar dari gua
lagi Sang Su-im sudah tahu kalau Thian Siang Thaysu dari
Siauw-lim-pay sudah tiba di sana, dia mengkerutkan alisnya
rapat-rapat, agaknya saat ini dia ingin bertemu dengan diri
mereka.
Kepada Koan Ing cepat ujarnya. “Mari kita keluar saja.”
Koan Ing segera mengangguk dan berjaIan keluar dari gua
itu
Tampaklah di depan gua sudah berdiri menanti berpuluh
orang hweesio, di tengah-tengah para hweesio itu berdirilah
seorang hweesio tua Yang alisnya sudah memutih dengan
memakai pakaian kasa berwarna kuning, di belakangnya
berdirilah seseorang yang bukan lain adalah Hud Ing Thaysu
adanya.
Di belakang Hud Ing Thaysu berdirilah sebaris hwesio
bersenjatakan toya dan paling belakang berdirilah dua puluh
empat orang hwesio lagi,
Ketika Sang Su-im berjalan keluar dari gua itu segera
tampaklah hweesio tua berkasa kuning itu merangkap
tangannya memberi hormat, “Pinceng Thian Siang, bukankah
sicu adalah Sang pangcu?” ujarnya,
Sang Su-im tertawa tawar, sinar matanya menyapu sekejap
ke arah hweesio tersebut lantas balik tanyanya,
“Thaysu datang kemari entah ada urusan apa?”
“Pinceng datang ke daerah Tibet sebetulnya ada tiga
urusan,” sahut Thian Siang Thaysu sambil tertawa, “Pertama
adalah dikarenakan munculnya kembali Si Budak Berdarah dari

kegelapan Pak Li Heng, kedua, karena urusan kereta berdarah
dan ketiga dikarenakan urusan Sang Pangcu.”
Sembari berkata sinar matanya dengan sangat tajam
memperhatikan wajahnya.
Sang Su-im yang namanya ada di deretan empat manusia
aneh ditambah pula sebagai pangcu dari satu perkumpulan
besar sudah tentu mengetahui keadaan dari setiap kalangan,
dia yang melihat Thian Siang Thaysu bersikap demikian segera
tertawa tawar. “Apakah dikarenakan urusan terbakarnya kuil
Han-poh-si?”
Thian Siang Thaysu sama sekali tidak menyangka kalau
Sang Su-im bisa bersikap demikian tawarnya, dia orang yang
berkedudukan sebagai seorang ciangbunjin satu pantai besar
dan merupakan juga seorang pendeta beribadat tinggi nafsu
ingin menangnya di dalam hati sudah lenyap sejak semula,
walaupun begitu pada saat ini tak kuasa ujarnya juga, “Sang
Pangcu apakah tidak merasa kalau tindakan putrimu
membakar kuil Han-poh-si adalah satu tindakan keterlaluan.”
“Tentang urusan ini lebih baik Thaysu jangan banyak
bertanya saja!” potong Sang Su-im
dengan dingin.
“Hud Ing sute juga berasal dari Siauw-lim-pay kami, jikalau
Sang pangcu berbuat demikian bukankah sedikit keterlaluan?”
ujar Thian Siang Thaysu dengan perlahan, “Walaupun
perbuatan ini bukanlah perbuatan dari Sang Pangcu sendiri
tetapi asalkan Sang Pangcu mau meminta maaf terhadap Hud
Ing Sute, maka urusan ini akan kami bikin beres saja.”
Mendengar perkataan itu Sang Su-im segera mengerutkan
alisnya rapat-rapat.
“Hud Ing memukul luka diri Koan Ing lalu memaksa mereka
masuk ke dalam selat Im Shia apakah perbuatan ini tidak
keterlaluan? Aku rasa lebih baik kau hweesio gede tidak usah

ikut campur saja sehingga membuat semua orang merasa
tidak gembira.”
Dengan perlahan-lahan Thian Siang Thaysu memejamkan
matanya.
“Hal itu adalah permintaanku yang paling murah, bilamana
Sang Pangcu masih tidak mau menerimanya juga maka di
tengah peradilan para Bu-lim aku rasa Sang Pangcu tidak akan
dapat mengingkari dosa itu lagi.”
Koan Ing yang melihat Thian Siang Thaysu sebagai seorang
Ciangbunjin sebuah partay
besar ternyata omongannya sangat mendesak orang,
membuat di dalam hati dia merasa sangat tidak puas.
“Apa yang dimaksud pengadilan para Bu-lim?” serunya
keras-keras. “Aku sama sekali tidak pernah mendengar,”
“Koan Ing, di tempat seperti ini kau tidak berhak untuk ikut
campur berbicara.” ujar Thian Siang Thaysu dengan cepat.
“Tetapi dia mewakili aku berbicara,” sambung Sang Su-im
dengan cepat.
Dengan pandangan yang amat tajam Thian Siang Thaysu
segera memperhatikan diri Sang Su-im.
“Bilamana Sang pangcu masih tidak mau menerima
keputusan ini. aku rasa ini hari terpaksa pinceng harus minta
pelajaran ilmu Han Yang Ci dari sang pangcu yang sudah
menggetarkan seluruh dunia kangouw itu.
“Oooh kiranya Thaysu datang kemari sengaja mengurusi
peristiwa ini.” ujar Sang Su-im sambil tertawa tawar, “sampai
saat ini aku Sang Su-im belum pernah menjajal ilmu silat dari
kalangan lurus hee.... hee.... ini hari aku boleh buka mata
menambah pengalaman.”

“Omitohud,” puji Thian Siang Thaysu kepada sang Buddha,
ini hari terpaksa pinceng harus minta sedikit pelajaran dari
ilmu jari Sang pangcu.”
Sang Su-im menarik napas panjang-panjang, dia tertawa
tawar, tetapi di dalam hati diam-diam sudah mengambil
persiapan untuk menghadapi sesuatu.
Dari antara tiga manusia genah empat manusia aneh
selamanya belum pernah bentrok satu sama lainnya,
pertempuran yang bakal terjadi ini hari bukan saja merupakan
pertempuran diantara mereka berdua melainkan pertempuran
antara tiga manusia genah dengan empat manusia aneh.
Ooo)*(ooO
Bab 18
DENGAN perlahan Thian Siang Thay su memejamkan
matanya rapat-rapat, dia berdiri di tempat itu sama sekali
tidak bergerak sedangkan para hweesio lainnyapun segera
pada mengundurkan diri ke belakang.
Sinar mata dari Sang Su-im segera berkelebat tak hentihentinya,
di dalam hati diam-diam pikirnya, “Hmmm....
Hweesio gundul ini begitu berani menantang aku untuk
bergebrak, sungguh bernyali Aku tidak percaya dia
mempunyai jurus serangan yang dapat memperoleh
kemenangan dengan pasti.”
Di tengah suasana yang amat hening itulah mendadak
terdengar seorang hweesio tua maju ke depan dan berteriak
keras, “Sang Su-im adalah seorang iblis dari kalangan Hek-to
kenapa ciangbunjin harus turun tangan sendiri? Biarlah aku
Thian Liong mewakili ciangbunjin menerima serangannya
untuk kali ini!”
Sang Su-im yang melihat Thian Liong Thaysu penjaga dari
Tat Mo Tong hendak maju ke depan mewakili Ciangbunjin dia
segera mendengus dengan amat dingin

Thian Siang Thaysu yang melihat Thian Liong Thaysu
hendak maju mewakili dirinya, dia rada ragu-ragu sebentar
pikirnya, “Walaupun kepandaian silat dari Thian Liong Thaysu
tidak seberapa tinggi kalau dibandingkan dengan
kepandaianku tetapi sekalipun dia maju belum tentu bisa
menderita luka, bahkan mungkin kalau memperoleh
kemenangan malah bisa angkat namanya di dalam Bu-lim.... ”
Berpikir akan hal ini dengan perlahan dia mengangguk.
“Kalau begitu sute harus sedikit berhati hati!” serunya.
Setelah itu dia mengundurkan diri dua langkah ke
belakang.
Thian Liong Thaysu segera maju ke depan, kepada Sang
Su-im ujarnya dengan suara yang amat dingin sekali.
“Hmm, hmm, tidak kusangka yang disebut sebagai empat
manusia aneh tidak lebih cuma manusia-manusia goblok yang
pintarnya ngomong besar.
Di dalam hati diam-diam Sang Su-im merasa amat gemas
sekali dia gemas senjata Cap jie Sin Kiamnya tidak dibawa
serta, kalau tidak terhadap manusia semacam ini dia sama
sekali tidak akan memandang sebelah matapun.
Baru saja dia hendak berbicara, mendadak terdengar Koan
Ing yang ada disampingnya sudah berseru.
“Empek Sang, bagaimana kalau pertempuran kali ini siauwtit
yang menerimanya?”
Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar oleh Koan Ing
masing-masing pihak segera pada merasa kaget, Thian Liong
Thaysu adalah merupakan seorang hwesio berkepandaian
tinggi dari ruangan Tat Mo Tong di kuil Siauw-lim-si,
sebaliknya walaupun kepandaian dari Koan Ing amat tinggi,
dia tidak lebih cuma anak murid angkatan kedua, bagaimana
saat ini dia berani menantang dari angkatan tua?

Sang Su-im rada sedikit melengak dibuatnya, dengan
perlahan dia menoleh memandang
ke arah Koan Ing, dia tahu dia orang berbicara secara
sungguh-sungguh karena itu tak terasa lagi
dia sudah mengangguk.
“Baiklah,” serunya.
Tetapi sebentar kemudian dia sudah merasa menyesal
kembali karena telah bicara demikian, terpaksa sambungnya
lagi, “Tapi kau harus sedikit berhati-hati!”
Di dalam hati dia benar-benar merasa sangat berterima
kasih sekali terhadap tindakan dari Koan Ing yang melindungi
wajah serta kedudukannya itu, bagaimanapun juga dia tidak
akan membiarkan Koan Ing menderita luka di bawah serangan
Thian Liong Thaysu.
Thian Liong Thaysu yang melihat Sang Su-im membiarkan
Koan Ing maju menghadapi dirinya, dengan dinginnya dia
segera mendengus.
“Susiok!” tiba-tiba terdengar seorang hwee-sio berusia
pertengahan yang ada di belakang berseru kepada Thian
Liong Thaysu. “Bagaimana kalau pertempuran kali ini biar aku
yang menerima?”
Di dalam hati Thian Liong Thaysu merasa amat marah
karena Sang Su-im sudah menyuruh Koan Ing menghadapi
dirinya, dia segera tertawa dingin.
“Tidak perlu!” sahutnya. “Aku orang memang ingin sekali
menjajal kepandaian silat dari jagoan berkepandaian tinggi
yang baru saja menerjunkan diri ke dalam Bu-lim ini.“
Koan Ing tahu Thian lang Thaysu tentu akan marah sekali
atas kejadian ini, dia tersenyum lantas mencabut keluar
pedang Kim Hong Kiamnya, “Cayhe hendak menggunakan
pedang ini minta sedikit pelajaran dari Thaysu.”

Sepasang alis dari Thian Liong Thaysu segera dikerutkan
rapat-rapat, dia tidak ingin banyak bicara lagi tubuhnya segera
bergerak menubruk ke arah diri Koan Ing.
Melihat gerakan tersebut dalam hati Sang Su-im segera
paham kalau Thian Liong Thaysu hendak mengalahkan diri
Koan Ing di dalam waktu yang amat singkat karena itu baru
saja maju ke depan dia sudah mengeluarkan ilmu Thian Liong
Fat Su-nya.
Saat ini kepandaian silat yang dimiliki Koan Ing jauh lebih
lihay jika dibandingkan dengan kepandaiannya dahulu, melihat
Thian Liong Thaysu menubruk maju ke depan, tangan
kanannya segera digetarkan.... pedang panjangnya dengan
membentuk gerakan busur di tengah berkelebat sinar keemasemasan
mengancam jalan darah Thay Yang Hiat pada tubuh
Thian Liong Thaysu.
Thian Liong Thaysu segera mendengus dingin, tubuhnya
yang ada di tengah udara segera membalik, lima jari tangan
kanannya bagaikan kilat cepatnya mencengkeram pedang
Kiem-hong-kiam tersebut,
Koan Ing segera menggetarkan pedangnya sehingga balik
seperti keadaan semula dan menghindarkan diri dari
cengkeramannya mencapai pada sasaran yang kosong,
tubuhnya dengan cepat menubruk ke bawah, jurus
serangannya dilancarkan bagaikan mengalirnya air sungai,
tubuhnya sedikit merandek di tengah udara kemudian
meneruskan tubrukannya ke atas tubuh Koan Ing.
Dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat dia sama
sekali belum pernah melihat ilmu silat yang bisa berhenti di
tengah udara begitu lamanya.
Pikirannya segera berputar mendadak jurus serangannya
yang pernah dibacanya di dalam kitab pusaka Boe shia Koei
Mie kembali berkelebat dalam benaknya, pedang panjangnya
di tangan kanannya segera dilintangkan ke depan dengan

menggunakan jurus ‘Thian Hong Cu Lok’ atau pelangi langit
menghalangi jalan memunahkan datangnya serangan
tersebut.
Jurus serangannya ini sebenarnya adalah jurus ‘Thian Hong
Cu Lok dari ‘Thian-yu Ji Cap Su Cau’ tetapi mirip juga dengan
ilmu pedang Lam Hay Kiam Hoat yang sangat menggetarkan
dunia kangouw yaitu jurus ‘Thian Hong Teh Bun atau langit
tertutup tanah membelah.’
Tetapi di dalam jurus itu mengandung juga tenaga dari
ilmu pedang ‘Thian-yu Kiam Hoat’.
Thian Liong Thaysu bukanlah manusia sembarangan,
pengetahuannya amat luas, di dalam sekali pandang saja dia
telah mengetahui jurus pedang dari Koan Ing itu.
Dia mendengus dingin, lima jari dari tangan kanannya
segera mencengkeram tubuh pedang Kiem-hong-kiam itu,
agaknya dia bermaksud hendak merebutnya.
Sinar mata dari Koan Ing berkelebat tak henti-hentinya,
mendadak dia teringat kembali akan beberapa patah kata
yang pernah di bacanya di dalam kitab pusaka itu.
Tangan kanannya digetarkan pedang Kiem-hong-kiam balik
menyerang ke kanan, dengan tetap menggunakan jurus
“Thian Hong Coe Lok” dia menyerang kembali ke depan tetapi
secara diam-diam dia sudah menyalurkan tenaga dalam
tingkat atas dari aliran Bu-tong-pay.
Lima jari Thian Liong Thaysu yang mencengkeram di atas
tubuh pedang itu segera terlepas bahkan badannya tergetar
mundur beberapa langkah ke belakang membuat hatinya
benar-benar merasa sangat terperanjat.
Sang Su-im yang berada diluar kalangan ketika melihat hal
inipun merasa terkejut dia sama sekali tidak menduga kalau
pengetahuan jurus serangan dari Koan Ing jauh melebihi
dirinya.

Jurus serangan “Thian Hong Teh Bun” dari Lam Hay ini
walaupun dia pernah mendengar
tetapi selama ini belum pernah melihat barang sekalipun.
Ternyata hari ini dengan mata kepala sendiri dia dapat
melihat jurus tersebut sudah berada di dalam jurus serangan
pedang Koan Ing, bahkan tenaga dalam aliran Bu-tong-pay
yang tidak pernah diturunkan kepada orang lainpun kini
digunakan oleh Koan Ing, bukankah hal ini benar-benar
merupakan satu peristiwa yang aneh sekali.
Thian Liong Thaysu yang melihat serangannya tidak
mendapatkan hasil dia menjadi amat gusar sekali.
Belum sempat tubuhnya melancarkan serangan kembali,
pedang panjang dari Koan Ing sudah digetarkan kembali,
tubuhnya meloncat ke tengah udara lantas balik menubruk ke
tubuh Thian Liong Thaysu.
Dengan meminjam kesempatan ini sekali lagi Thian Liong
Thaysu meloncat ke atas udara tetapi sewaktu dilihatnya Koan
Ing membuntuti dirinya di dalam hati dia merasa amat gusar
sekali.
Di tengah suara dengusannya yang amat dingin telapak
tangan kanannya dengan disertai tenaga dalam yang amat
dahsyat menghantam ke arah depan.
Segulung angin pukulan yang amat dahsyat laksana
menggulungnya ombak di tengah samudra segera menghajar
badan Koan Ing.
Koan Ing jadi amat terperanjat, dia tahu dengan kehebatan
dari tenaga dalam Thian Liong Thaysu ini bilamana dia berani
menerima satu pukulannya saja, maka tubuhnya segera akan
kena hajar sehingga terluka parah.
Tubuhnya dengan cepat bergerak menyingkir ke
samping....

Thian Liong Thaysu yang terlalu memandang enteng
musuhnya sama sekali tidak menduga kalau tenaga dalam dari
Koan Ing amat lihay, jurus serangan yang digunakanpun jauh
berada diluar dugaannya.
Saat ini untuk melindungi mukanya sendiri terpaksa dia
harus mengeluarkan ilmu sakti
Thian Liong Sinkang untuk menghadapi diri Koan Ing.
Tubuh Koan Ing dengan cepat berkelebat menyingkir dari
serangan tersebut tetapi Thian Liong mana mau melepaskan
begitu saja, tubuhnya mendadak merendah ke bawah, lima
jari tangan kanannya dengan disertai tenaga dalam yang amat
dahsyat mencengkeram punggung Koan Ing.
Melihat datangnya serangan tersebut Koan Ing merasa
hatinya sedikit bergidik, berbagai jurus serangan yang termuat
di dalam kitab pusaka Boe Shia Koei Mie kembali berkelebat di
dalam benaknya, tubuhnya bagaikan sebuah busur mendadak
meletik ke atas, inilah yang dinamakan jurus Yu Yah Ih Cho
atau ikan meloncat dari selat dari aliran Thian-san-pay.
Thian-san-pay mengutamakan ilmu meringankan tubuh
menjagoi Bu-lim, selama beberapa tahun ini sekalipun tidak
mempunyai jago-jago yang menonjol tetapi di dalam Bu-lim
juga tidak ada yang berani memandang hina mereka.
Di tengah udara Thian Liong Thaysu kembali menarik hawa
murninya mengelilingi tubuhnya, cengkeramannya sekali lagi
menemui kegagalan membuat sepasang alisnya dikerutkan
rapat-rapat, ujung kakinya segera menutul permukaan tanah
sedangkan telapak tangannya dengan disertai angin pukulan
yang amat dahsyat menghantam tubuh Koan Ing.
Dengan cepat Koan Ing meloncat menghindar, tubuhnya
membalik balas menerjang ke arah Thiang Liong Thaysu,
pedang Kiem-hong-kiam di tangannya berkelebat dengan
amat tajamnya lantas membabat pergelangan tangan kanan
dari Thian Liong Thaysu.

Dalam hati Thian Liong Thaysu mendengus dingin.
“Bocah ini sungguh jumawa sekali. Hmmm berani beradu
tenaga dengan diriku,” pikirnya.
Telapak tangan kirinya dengan cepat di babat ke depan
sedang telapak tangan kanannya sedikit merendah, satu
gulung angin pukulan laksana topan yang menyambar
menerjang badan Koan Ing.
Koan Ing menarik napas panjang-panjang, tubuhnya sedikit
merandek di tengah udara di saat pedang Kiem-hong-kiam
digetarkan keras serentetan bunga-bunga pedang dengan
cepatnya menghantam leher dari Thian Liong Thaysu.
Thian Liong Thaysu jadi sangat terperanjat, dia sama sekali
belum pernah melihat jurus-jurus serangan macam ini, alisnya
dikerutkan rapat-rapat sedang satu ingatan mendadak
berkelebat di dalam benaknya.
Dia lantas bersuit nyaring tubuhnya berputar telapak
tangannya menyambar ke depan melancarkan lagi satu
pukulan.
Koan Ing sama sekali tidak menyangka Thian Liong Thaysu
berani melanjutkan kembali serangannya, bilamana dia tidak
cepat-cepat menarik pedangnya ke belakang maka nyawanya
akan diganti dengan sebuah lengan dari Thian Liong Thaysu.
Di saat yang amat kritis itu dia tidak banyak berpikir lagi, di
tengah suara sultannya yang amat nyaring tangan kanannya
menyentil ke depan sedang tubuhnya melayang mundur ke
belakang.
“Braaak!” dengan disertai suara bentrokan yang amat keras
Koan Ing segera merasakan tangan kanannya jadi kaku dan
amat linu, tubuhnya setelah mencapai permukaan tanah
dengan terhuyung-huyung mundur kembali dua langkah ke
belakang.

Air muka Thian Liong Thaysupun berubah jadi pucat pasi
bagaikan mayat, dia sama sekali tidak pernah menduga kalau
Koan Ing berani melancarkan serangan dengan menyambitkan
pedangnya, bahkan kecepatan dari serangan itu sama sekali
tidak pernah terduga sebelumnya.
Pada saat pedang Kiem-hong-kiam itu meluncur
mendatang, sekalipun dengan sekuat tenaga dia berusaha
untuk menghindarkan diri tetapi tidak urung pundak kirinya
tertembus juga oleh pedang Kiem-hong-kiam itu.
Darah segar segera berceceran mengotori seluruh
permukaan tanah dengan menahan sakit dia mencabut keluar
pedang tersebut dan dilemparkan ke atas tanah, kemudian
dengan menggunakan tangan kanannya menutupi luka pada
lengan kirinya dia melototi dirinya Koan Ing dengan amat
gusar.
Perubahan yang terjadi di tengah kalangan secara tiba-tiba
ini membuat semua orang jadi berdiri melongo, mereka semua
sama sekali tidak menyangka pertempuran tersebut bisa
berakhir dengan demikian.
Thian Siang Thaysu yang melihat kejadian ini dalam hati
diam-diam merasa sangat tidak tenang, dia tidak menyangka
kalau pertempuran ini diakhiri dengan seimbang, Thian Liong
Thaysu adalah hweesio berkepandaian tinggi yang menjaga
ruangan Tat Mo Tong, tidak disangka ini harus kecundang di
tangan Koan Ing,
Tetapi rasa terkejut dari Sang Su-im jauh lebih hebat lagi,
terang-terangan dia dapat melihat jurus terakhir yang
digunakan Koan Ing untuk menyambit pedang tadi adalah
jurus ‘Han Yan Cie’ yang paling diandalkan olehnya, tetapi
peristiwa ini boleh dikata tidak masuk di akal, bagaimana
mungkin Koan Ing bisa memahami ilmu jari ‘Han Yang Cie?’.
Bilamana dia tidak menggunakan ilmu jari Han Yang Cie tidak
mungkin Thian Liong Thaysu dapat menderita luka....

Sebetulnya dia ingin mewariskan ilmu jari ‘Han Yang Cie’
nya itu kepada Koan Ing tetapi dia telah menolaknya, tetapi
bagaimana saat ini dia bisa memiliki kepandaian tersebut?
Semakin dipikir pikirannya semakin kacau, walaupun ada
kemungkinan Koan Ing mendapatkan ilmu itu dari orang lain
bahkan dengan hubungannya yang amat rapat sekali dengan
dirinya saat ini bilamana bukannya dia orang cuma tinggal
hidup beberapa hari saja kemungkinan sekali dia hendak
menanyai sampai sejelas2nya.
“Kau sekarang merasa bagaimana?” terdengar Sang Su-im
membuka mulut bertanya.
Koan Ing menarik napas panjang-panjang, dia merasa
separuh tangan kanannya masih terasa amat linu dan kaku
tetapi dia tertawa.
“Terima kasih atas perhatian dari empek Sang, lukaku tidak
begitu berat,” sahutnya.
Sang Su-im segera mengangguk, walaupun dia berhasil
menghindarkan diri dari hajaran
langsung tetapi diapun menderita luka yang tidak ringan,
paling sedikit sesudah beristirahat tiga-lima hari dia baru bisa
sembuh benar-benar.
Dengan perlahan Thian Siang Thaysu berjalan maju ke
depan, lima jari tangan kanannya dengan kencangnya
mencengkeram pedang Kim Hong Kian itu. “Koan siauwsicu
kepandaianmu sungguh hebat” ujarnya dengan dingin.
Sehabis berkata telapak tangan kanangnya sedikit
bergerak, pedang Kiem-hong-kiam itu segera meloncat ke
depan kemudian meluncur ke arah diri Koan Ing.
Melihat hal itu Sang Su-im segera tertawa tawar.
“Buat apa kau hweesio gede menganiaya seorang dari
angkatan muda?” ejeknya.

Sehabis berkata tangannyapun segera menyentil ke depan,
segulung angin serangan dengan amat cepatnya berkelebat
menghajar pedang Kiem-hong-kiam tersebut.
“Tiing....!” pedang Kiem-hong-kiam itu sedikit merandek di
tengah udara kemudian dengan amat cepatnya jatuh di depan
kaki Koan Ing.
Thian Siang Thaysu yang melihat Sang Su-im
mendemonstrasikan kepandaiannya, diam-diam di dalam hati
merasa rada terkejut pikirnya,
“Nama besar dari Sang Su-im sebagai si jari sakti kiranya
bukan nama kosong belaka, agaknya dia orang adalah salah
satu musuh tangguh ku.”
Walaupun tiga manusia genah empat manusia aneh
bersama-sama berkelana di dalam Bu-lim, tetapi nama besar
dari si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong jauh melebihi
nama dari Si Budak Berdarah dari kegelapan tersebut apalagi
di dalam beberapa tahun ini dia sering sekali munculkan
dirinya di dunia persilatan, sudah tentu hal ini membuat nama
dari empat manusia anehpun jauh melebihi tiga manusia
genah, dengan sendirinya karena terkenalnya nama empat
manusia aneh ini membuat tiga manusia genah jadi kedesak
ke bawah.
Thian Siang Thaysu yang menghadapi situasi seperti ini, dia
orang mana bisa bersabar lagi, ditambah lagi dengan adanya
peristiwa kuil Han-poh-si yang dibakar Sang Siauw-tan
membuat dia orang mendapat kesempatan untuk menemui
Sang Su-im sebagai salah satu anggota empat manusia aneh
ini.
Terlihatlah Koan Ing sudah mencabut kembali pedangnya
kemudian kepada Sang Su-im ujarnya, “Terima kasih atas
bantuan dari empek Sang”,
Sang Su-im cuma tertawa saja, kepada Thian Siang Thaysu
segera ujarnya, “Hey hweesio gundul, Thaysu dari ruangan

Tat Mo Tong telah memperlihatkan kelihayannya, sekarang
aku rasa Thaysupun harus memperlihatkan sedikit kepadaku.”
Perkataannya amat dingin dan penuh mengandung nada
sindiran Membuat Thian Siang Thaysu yang mendengar jadi
termangu-mangu, tetapi sebentar kemudian dia sudah tertawa
tawar.
“Ilmu jari Han Yang Ci dari Sang sucu amat lihay dan sudah
menjagoi seluruh kolong langit ini hari Pinceng memang punya
niat untuk menjajal.”
Sehabis berkata mendadak jubah hweeesionya yang lebar
dengan perlahan lahan mulai mengembung jadi besar.
Melihat kejadian ini diam-diam Sang Su-im merasa sangat
terperanjat sekali, pikirnya, “Hmm kelihatannya hweesio tua
ini sudah berhasil melatih ilmu Khiekang Thay Si Bu Sian Thian
Ceng Khie dari kalangan Budhha, tidak aneh kalau dia berani
cari garaa dengan aku Hmm.... kiranya sesudah punya sedikit
pegangan lantas mau cari gara-gara.”
Berpikir sampai di sini di dalam hati dia mulai merasa kalau
Thian Siang Thaysu yang ada di hadapannya saat ini adalah
seorang musuh tangguh yang maha besar ini hari asalkan
sedikit tidak berhati-hati saja maka nama besarnya yang
dipupuk bertahun-tahun akan lenyap tak berbekas.
Berpikir akan hal ini Sang Su-im mana berani berlaku
gegabah lagi, dengan cepat dia pusatkan seluruh pikirannya
dan menyalurkan hawa murninya mengitari seluruh tubuh,
sinar matanya dengan sangat tajam memperhatikan diri Thian
Siang Thaysu.
Suasana di sekeliling tempat itu jadi sunyi senyap tak
kedengaran sedikit suarapun, siapapun tak berani berisik
bahkan sampai suara bernapas pun tidak berani terlalu keras.
Mendadak terdengar Thian Siang Thaysu membentak
keras, seluruh jenggotnya pada berdiri bersamaan dengan

berjongkoknya sang badan bawah sepasang tangannya
bersama-sama didorong ke depan.
Segulung angin pukulan yang menyesakkan pernapasan
dengan dahsyatnya segera menggulung tubuh Sang Su-im.
Sang Su-im cepat-cepat bersuit panjang, di tengah suara
suitannya itulah sang tubuh bagaikan secarik daun kering
dengan ringannya melayang di tengah udara, tangan
kanannya bagaikan kilat cepatnya berkelebat melancarkan
tujuh serangan sekaligus....
Sreet....! Srett....! tenaga Khie kang yang maha dahsyat
dari Thian Siang Thaysu itu segera terkena tembus oleh
serangannya ini dan langsung meluncur mengancam tujuh
buah jalan darah kematian di atas tubuh bagian atas dari
Thian Siang Thaysu.
Masing-masing pihak begitu mulai mengerahkan tenaga
dalamnya bersamaan pula tubuhnya segera berkelebat dengan
cepatnya, tubuh dimana Sang Su-im berada segera
terbungkus di dalam lapisan angin yang kencang sebaliknya
pohon besar yang ada di belakang tubuh Thian Siang Thaysu
pun sudah terkena hajar oleh tujuh serangan jari Sang Su-im
itu sehingga menimbulkan tujuh buah lubang yang amat
besar.
Melihat kedahsyatan itu, Koan Ing merasakan hatinya
berdebar-debar, sedang airmukanya berubah amat hebat dia
tidak menduga kalau tenaga dalam dari Thian Siang Thaysu
amat dahsyat, agaknya untuk merebut kemenangan diantara
mereka berdua bukanlah satu urusan yang mudah.
Kedua belah pihak yang saling bertempur dengan
menggunakan tenaga dalam, setelah saling serang sebanyak
satu jurus mereka segera pada pejamkan matanya untuk
mengatur pernapasan, sekalipun begitu perhatian mereka
tidak berani bercabang, mereka takut sedikit saja berayal

maka pihak musuh akan segera melancarkan serangannya
kembali.
Pertempuran yang maha sengit dan mendebarkan hati ini
seketika itu juga membuat
suasana di sekeliling tempat itu jadi hening, masing-masing
dengan hati bergidik menonton jalannya pertempuran itu
dengan mata terbelalak.
Sesudah beristirahat sebentar, mendadak masing-masing
pihak kembali bergerak saling serang menyerang dengan
gencarnya, jurus-jurus serangan yang digunakanpun semakin
lama semakin cepat sehingga akhirnya cuma kelihatan
bayangan yang menyilaukan mata memenuhi angkasa.
Si jari sakti Sang Su-im adalah seorang pangcu dari sebuah
perkumpulan besar di mana
pengaruhnya sudah melebar ke seluruh pelosok dunia
persilatan, terhadap ilmu silat dari setiap aliranpun boleh
dikata sangat hapal sekali, sebaliknya Thian Siang Thaysu
khusus mempelajari ilmu silat dari aliran Siauw-lim-pay
terhadap ke seratus delapan jurus Loo Han Ciang boleh dikata
sudah mendarah daging, cukup dengan mengandalkan ilmu
telapak ini saja dia sudah bisa menghadapi musuh yang
bagaimana lihaynyapun.
Koan Ing yang ada di samping ketika melihat mereka
berdua saling bertukar jurus, di dalam hati diam-diam merasa
terkejut bercampur girang, karena terhadap pengantar dari
jurus-jurus tersebut dia sudah pernah membaca di dalam kitab
pusaka Boe Shia Koei karya Song Ing, kini ditambah dengan
apa yang dilihat bukankah ilmu silatnya akan memperoleh
tambahan yang besar?
Semakin melihat Koan Ing merasa semakin gembira, setiap
jurus yang dilihatnya segera dibandingkan dengan apa yang
dibacanya di dalam kitab pusaka itu, makin lama dia semakin
paham sehingga saking girangnya dia jadi meloncat-loncat,

Di dalam sekejap saja dua ratus jurus sudah berlalu dengan
amat cepatnya, mendadak kedua orang itu saling kirim satu
pukulan ke depan lantas bersama-sama membentak keras dan
mundur ke belakang.
Mereka berdua kembali berpandang2an mendadak tubuh
mereka berkelebat maju lagi kemudian saling serang
menyerang kembali.
Kali ini Koan Ing dapat melihat kedua orang itu bertempur
jauh lebih dahsyat lagi jika dibandingkan dengan tadi, jurus
jurus serangannya digunakan kadangkala banyak yang belum
pernah dia temui sebelumnya, jelas sekali mereka berdua
sedang menggunakan jurus-jurus serangan simpanan yang
belum pernah digunakan.
Pertempuran kali ini benar-benar membuat seluruh
perhatian dari Koan Ing tersedot ke dalam kalangan, dia
merasa pikirannya rada pening dibuatnya.
Thian Liong Thaysu yang ada di samping selama ini terus
menerus memperhatikan seluruh gerak-gerik dari Koan Ing,
dia yang melihat Koan Ing memandangi jurus serangan
mereka berdua dengan begitu perhatian diam-diam
mendengus dingin.
Sekalipun begitu di dalam hati dia merasa terkejut juga, dia
heran kenapa dirinya yang sama sekali tidak melihat adanya
keanehan apapun sebaliknya Koan Ing di buat begitu tertarik,
jelas sekali bakat orang ini amat bagus dan mungkin di dalam
ratusan tahun jarang sekali ditemui satu.
Yang jelas kepandaian silat yang dimilikinya tidak berada di
bawah kepandaian sendiri.
Di dalam sekejap saja Sang Su-im dengan Thian Siang
Thaysu sudah bertempur sebanyak ribuan jurus lebih, tetapi
menang kalah masih belum kelihatan.

Mendadak terdengar Thian Siang Thaysu membentak
keras, tubuhnya kembali bergerak ke depan. di tengah
berkibarnya jubah lhasa yang tertiup angin sepasang matanya
melolot lebar-lebar ke depan sedangkan telapak tangannya
melancarkan tiga pukulan dahsyat.
Seketika itu juga seluruh angkasa dipenuhi dengan kabut
yang berwarna keperak-perakan menyapu seluruh tubuh Sang
Su-im.
Sang Su-im dengan keras mengaum, tubuhnya kembali
melayang ke tengah udara disaat badannya membalik berturut
turut dia melancarkan empat puluh sembilan totokan di dalam
waktu yang amat singkat selurah angkasa penuh diliputi hawa
murni yang dahsyat.
Begitu serangan totokan itu terbenam ke dalam hawa khie
kang yang menyelimuti seluruh angkasa, dengan cepat hawa
khie kang itu berhasil digulung musnah.
Sebaliknya keempat puluh sembilao desiran angin tajam
itupun berhasil tersapu lenyap pula dari angkasa.
Mereka berdua saling serang dengan menggunakan seluruh
tenaga yang dimilikinya tetapi begitu tenaga dalamnya buyar
mereka berduapun dengan kehabisan tenaga pada lepas
tangan.
Air muka Thian Siang Thaysu berubah jadi pucat pasi dan
duduk di atas tanah tidak bergerak sedangkan tubuh Sang Suim
begitu mencapai permukaan tanah dengan terhuyunghuyung
dia mundur dua langkah ke belakang, dengan cepat
Koan Ing segera maju membimbing.
Para hweesio Siauw-lim-pay yang melihat Thian Siang
Thaysu sudah kehabisan tenaga dan jatuh terduduk dengan
cepatnya mereka pun bergerak maju ke depan, kedua puluh
empat hweesio itu masing-masing dengan cepat mengambil

sikap mengurung mengelilingi diri Sang Su-im serta Koan Ing
berdua.
Koan Ing dengan tangan kirinya mencekal pedang, sinar
matanya menyapu sekejap ke arah dua puluh empat orang
hweesio itu, sebaliknya Sang Su-im sama sekali tidak ambil
gubris terhadap kejadian itu, sampai kelopak matanyapun
tidak bergerak, dia cuma berusaha untuk memulihkan
tenaganya.
Dengan pandangan yang amat dingin Thian Liong Thaysu
memandang sekejap ke arah dua orang itu, dia mendengus
tetapi tidak berani mengambil tindakan apapun.
Lewat beberapa saat kemudian Thian Siang Thaysu serta
Sang Su-im baru bersama-sama membuka matanya, dengan
perlahan Sang Su-im segera bangkit berdiri, sinar matanya
dengan amat dingin sekali menyapu sekejap ke arah dua
puluh empat orang hweesio tersebut. Thian Siang Thaysupun
bangkit berdiri,
“Kekuatan ilmu jari Han Yang Cie dari Sang pangcu benarbenar
buka nama kosong belaka,” ujarnya dengan dingin.
Sang Su-im segera angkat kepalanya tertawa terbahakbahak.
“Tenaga Khie-kang Sie Bu Sian Thian Ceng Khie dari kau
hweesiopun tidak jelek,” sahutnya keras.
“Urusan ini kita sudahi sampai disini saja,” ujar Thian Siang
Thaysu kemudian. “Tetapi terbakarnya kuil Han-poh-si lebih
baik Sang pangcu ambil satu keputusan yang adil, kalau
tidak.... Hmm kami partai Siauw-lim-pay tidak akan
melepaskan diri Sang pangcu dengan begitu saja, lebih baik
Sang pangcu berpikir tiga kali sebelum melakukannya.”
Sang Su-im yang mendengar omongan Thian Siang Thaysu
ini mengandung nada gertakan alisnya lalu dikerutkan rapatrapat.

“Kalau sudah Siauw-lim-pay, lalu kalian mau apa?” ejeknya.
“Kami dari Tiang-gong-pang bukannya tidak ada orang, cukup
aku seorang saja apabila pihak Siauw-lim-pay hendak
menahan diriku ku kira hal ini bukanlah satu urusan yang
sederhana.”
Thian Siang Thaysu segera mendengus dingin.
“Perkataan pinceng sampai disini saja, lain waktu masih
panjang. Pinceng tidak menghantar lebih jauh!” serunya.
Sang Su-im segera tertawa tawar, kepada Koan Ing ujarnya
kemudian, “Mari kita pergi saja, hutang ini hari biar aku tagih
besok saja”
Sehabis berkata dengan langkah lebar bersama-sama
dengan Koan Ing, dia berjalan meninggalkan tempat itu, para
hweesio dari kuil Siauw-lim-si yang melihat mereka berdua
meninggalkan tempat itupun tidak dapat berbuat apa-apa,
sekalipun misalnya Thian Siang Thaysu turunkan perintah
belum tentu mereka berani maju menghalangi perjalanan
mereka.
Sang Su-im seria Koan Ing berdua setelah meninggalkan
para hweesio Siauw-lim-si di tengah perjalanan terdengar dia
orang tertawa. “Kau lihat bagaimana dengan pertempuran
ini?” tanyanya.
“Boanpwee selamanya belum pernah menemuinya,” sahut
Koan Ing sambil menarik napas panjang-panjang.
“Perkataanmu memang benar,” ujar Sang Su-im lagi sambil
tertawa, “Teringat sewaktu pertemuan puncak para jago di
gunung Hoa-san tempo hari dimana aku serta supekmu
berempat bertempur melawan si manusia tunggal dari Bu-lim
Jien Wong, kiranya pertempuran ini hari sepuluh kali lipat jauh
lebih dahsyat lagi.
Dia berhenti sebentar untuk tukar napas lantas ujarnya
lagi, “Tetapi peristiwa ini sudah terjadi beberapa tahun yang

lalu, kepandaian silatku pada waktu itu sudah tentu jauh
berbeda dari sekarang, aku sama sekali tidak menyangka
hweesio tua itu sudah berhasil melatih ilmu khie kang yang
demikian dahsyatnya, tidak aneh kalau dia begitu sombong
dan berani menantang aku bertempur.”
Koan Ing yang selesai mendengar perkataan tersebut lalu
termenung berpikir sebentar kemudian baru ujarnya.
Kiranya Sang Pepek dengan mereka sebenarnya tidak akur,
tidak aneh kalau dikatakan masuknya kereta berdarah ke
dalam daerah Tibet sebetulnya hanyalah satu jebakan belaka,
jikalau demikian adanya, tentu tenaga murni dari empek Sang
pada saat itu sudah memperoleh kerugian yang amat besar
sekali.
Sinar mata Sang Su-im berkelebat, setelah diungkat oleh
Koan Ing akan urusan ini, di dalam hati dia baru merasa
terperanjat.
Thian Siang Thaysu dari Siauw-lim-pay sudah masuk ke
daerah Tibet, kepandaian silat dari Ciu Tong pun sudah
dimusnahkan olehnya, kini cuma si telapak malaikat dari gurun
pasir Cha Can Hong seorang yang tidak menemui sesuatu
peristiwa yang diluar dugaan, dengan tindakannya yang saling
bunuh membunuh seperti ini bilamana salah satu diantara
mereka bertemu dengan si manusia tunggal dari Bu-lim, Jien
Wong serta Si Budak Berdarah dari kegelapan, mereka harus
menghadapinya dengan cara bagaimana?
Sebelum memasuki daerah Tibet dia selalu mengira cukup
dia seorang diri saja sudah dapat menghadapi si manusia
tunggal dari Bu-lim, tetapi setelah pertempurannya kemarin
malam melawan Si Budak Berdarah dari kegelapan dia baru
teringat kalau kepandaian silat orang lainpun di dalam
beberapa tahun ini memperoleh kemajuan yang pesat. Entah
bagaimana di kemudian hari? Dia tidak berani berpikir terlalu
panjang.

Bagaimana nasib dari kedua belas orang Hu Hoat yang
dikirim olehnya untuk membuntuti kereta berdarah?
Dia berjalan.... berjalan terus sampai dirinya tidak dapat
berjalan lagi, baru ujarnya kepada Koan Ing,
“Cepat kita mencari sebuah tempat yang tenang untuk
beristirahat kau lindungilah diriku, aku harus mengembalikan
tenaga dalamku di dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,”
Koan Ing agak melengak tapi sebentar kemudian dia sudah
mengangguk.
Mereka berdua segera berkelebat menuju ke sebuah gua
yang ada di dekat tempat itu, setelah berjalan masuk ke
dalam gua tersebut Sang Su-im melihat dulu sekejap keadaan
di sekeliling tempat itu kemudian baru duduk bersila di atas
tanah.
Koan Ing tahu seorang jagoan tenaga dalam apabila
sedang memusatkan pikirannya dia tidak diperkenankan
memperoleh serangan dari luar, cukup seorang yang
berkepandaian biasa saja sudah cukup untuk mencabut
nyawanya.
Koan yang memperoleh pesanan untuk melindungi dirinya
tidak berani berlaku gegabah, dia segera berjalan ke pintu gua
dan duduk bersila disana tanpa bergerak,
Di dalam sekejap saja cuaca sudah mulai menggelap tetapi
saat ini Sang Su-im masih memusatkan pikiran untuk
mengembalikan hawa murninya, wajahnya tenang-tenang
tanpa terjadi sedikit perubahanpun. Agaknya dia sudah berada
di dalam keadaan lupa segala2nya,
Koan Ing menarik napas panjang-panjang, sepasang
matanya dengan amat tajam sekali memperhatikan keadaan di
sekeliling tempat itu.
Suasana terlihatlah amat tenang dan sunyi sekali, di dalam
hati diam-diam pikirnya, “Daripada membuang waktu yang

amat senggang ini, kenapa aku tidak memperdalam isi ilmu
silat yang tertera di dalam kitab pusaka Boe Shia Koei Mie
tersebut?”
Baru saja pikiran tersebut berkelebat di dalam benaknya
tiba-tiba tampaklah sesosok bayangan manusia dengan amat
cepatnya berkelebat mendatang. Orang itu ternyata bukan lain
adalah Ciu Tong adanya.
Melihat kedatangan Si iblis Sakti dari luar lautan itu, Koan
Ing jadi sangat terperanjat sekali, dengan cepat dia menarik
badannya ke belakang.
Bukankah kepandaian silat dari Ciu Tong sudah
dimusnahkan oleh Sang Su-im? Bagaimana sekarang dia bisa
berkelebat dengan begitu cepatnya? Bagaimana ilmu silatnya
dapat kembali lagi seperti keadaan semula?
Berpikir akan hal ini, Koan Ing segera mengintip kembali ke
depan, ternyata sedikitpun tidak salah, orang itu adalah Ciu
Tong si iblis sakti dari Lautan Timur.
Tampak rambutnya awut2an tidak karuan dan terus
memanjang ke bawah, pada tangannya mencekal sebuah
tongkat besi sedang tangan kirinya menggandeng tangan Ciu
Pak dan berkelebat dengan amat cepatnya di atas permukaan
salju, kelihatan sekali kalau dia orang masih berilmu silat.
Melihat keadaan itu Koan Ing benar-benar sangat terkejut
hampir-hampir dia tidak mau percaya atas pandangan
matanya sendiri, orang itu benar-benar Ciu Tong adanya, dia
tidak mungkin bisa salah melihat lagi, tetapi Ciu Tong tidak
memperhatikan dirinya, agaknya dia sama sekali tidak
menemukan kalau Koan Ing ada di situ.
Ciu Tong ayah beranak dengan cepatnya berlari menuju ke
arah gua dimana Sang Su-im sedang bersemedi.
Koan Ing bena2 merasa hatinya bergidik, dalam hatinya dia
segera mengharapkan kalau

Ciu Tong cuma lewat saja di depan gua tanpa berjalan
masuk ke arah sebelah dalam.
Ketika Ciu Tong ayah beranak tiba di depan gua itu,
mereka segera berhenti, terdengar Ciu Tong tertawa dingin.
“Aku dengar Sang Su-im setelah bertempur mati2an
melawan si hweesio tua itu dia sudah berlalu ke arah sebelah
barat, bagaimana setelah kita kejar semakin lama masih
belum kecandak juga? Kelihatannya dia masih ada di sekitar
tempat ini.
Mendengar perkataan itu Koan Ing semakin merasa
terkejut lagi, saat itulah dia baru tahu kalau Ciu Tong sengaja
datang mengejar mereka.
“Ayah.... ” terdengar Ciu Pak berkata dengan suara yang
amat perlahan. “Aku lihat malam ini kita tidak usah pergi
mengejar lagi, bagaimanapun juga di dalam beberapa hari ini
dia tidak bakal bisa mengembalikan seluruh tenaganya, sekali
kita kecandak. dia orang tidak bakal bisa lolos kembali,
sekarang lebih baik kita beristirahat dulu.” Ciu Tong
mendengus dengan dinginnya, dia segera berjalan menuju ke
pintu gua.
“Baiklah,” sahutnya kemudian. “Aku ti dak takut dia dapat
terbang ke langit.”
Sesampainya di depan mulut gua Ciu Tong segera
membalikkan tangannya melancarkan satu pukulan menghajar
gua tersebut.
Koan Ing jadi terkejut, dia tahu maksud Ciu Tong
melancarkan satu pukulan ke dalam gua itu adalah hendak
memeriksa di dalam gua ada orangnya atau tidak, tetapi dia
tidak boleh berpeluk tangan, jikalau pukulannya ini tidak
diterima maka serangan itu dengan tepat akan menghajar
badan Sang Su-im,

Sepasang telapak tangannya segera didorong ke depan
dengan keras lawan keras dia menerima datangnya serangan
tersebut.
“Braaak!” dengan disertai suara ledakan yang amat keras
tubuhnya mundur terhuyung-huyung ke belakang, dia
merasakan dadanya amat panas sekali.
Sebaliknya Ciu Tung yang serangannya diterima oleh pihak
lawan diapun segera tergetar mundur satu langkah ke
belakang.
“Siapa yang ada di dalam gua? Ayoh cepat keluar!”
bentaknya dengan dingin.
Koan Ing mengerutkan alisnya rapat-rapat, dia yang
melihat Sang Su-im belum sadar juga dari semedinya, sedang
diapun tidak dapat membangunkan dirinya membuat di dalam
hati dia merasa amat cemas sekali, tetapi dia tidak dapat
berbuat apa-apa.
Pikirannya terus menerus berputar mencari akal yang
bagus untuk mencegah peristiwa tersebut.
Tetapi Ciu Tong yang ada diluar agaknya sudah tidak
sabaran lagi, dia mendengus dingin tubuhnya dengan cepat
menubruk masuk ke dalam,
Koan Ing tidak dapat berpeluk tangan lagi, diapun
membentak keras, pedang Kiem-hong-kiamnya dicabut keluar
dari dalam sarung kemudian berturut-turut melancarkan tiga
serangan gencar menghalangi mulut gua, Ciu Tong yang
mendadak melihat dari dalam berkelebat keluar sinar keemasemasan
dia segera menjerit tertahan.
“Iiiih.... Koan Ing?”
Tongkat hitam ditangan kanannya segera diputar dengan
amat kencangnya di tengah udara sehingga memperlihatkan
tiga perubahan yang aneh.

“Criiing.... ” dengan amat tepatnya dia pukul mental
pedang Kiem-hong-kiam yang ada ditangan Koan Ing itu.
Tubuhnyapun dengan diikuti suara tertawa dinginnya yang
amat menyeramkan segera menerjang masuk ke dalam gua.
Koan Ing jadi sangat cemas, bilamana dia membiarkan Ciu
Tong masuk ke dalam gua maka akibat yang bakat diterima
oleh Sang Su-im dia tidak berani memikirkan lebih lanjut.
Tangan kanannya segera diayun ke depan, berturut-turut
dia melancarkan beberapa kali serangan menghajar iga kiri
dari Ciu Tong, jurus yang dipergunakan olehnya bukan lain
adalah jurus serangan yang berasal dari ilmu Thay Jin Na So
Hoat dari aliran Bu-tong-pay itu, jurus Hun So Na Koay atau
balik tangan menangkap aneh.
Pengetahuan dari Ciu Tong amat luas sekali, begitu Koan
Ing melancarkan serangan dengan menggunakan jurus
tersebut dia segera sudah mengenalnya kembali, dia tertawa
dingin, tubuhnya dengan tak henti-hentinya menerjang masuk
ke dalam gua tangan kirinya dibalik mencengkeram
pergelangan tangan dari Koan Ing.
Belum habis satu jurus digunakan, Koan Ing segera
berganti jurus lagi, telapak tangannya diubah jadi serangan
totokan, jari tengah serta telunjuknya disentil mengancam
jalan darah “Hay Bin Toa Hiat” pada pinggang Ciu Tong.
Serangannya ini bukan lain menggunakan jurus “Chiet Hay
Tan Pao atau tujuh lautan mencari harta ilmu Han Yang Ci
Hoat.
Ciu Tong jadi melengak, dia memang kenal dengan jurus
serangan “Huan Su Ma Koay” tetapi dia sama sekali tidak
menyangka kalau Koan Ing bisa begitu cepatnya berganti
jurus bahkan sudah menggunakan jurus Chiet Hay Tan Pao
dari Sang Su-im.

Saat ini dia mau tidak mau harus menghentikan langkah
kakinya dan tarik kembali tongkatnya untuk dibabat
mengancam pergelangan tangan dari Koan Ing.
Pada waktu ini seluruh perhatian dari Koan Ing cuma
ditujukan untuk menghalangi perjalanan selanjutnya dari Ciu
Tong, tangan kanannya disentil ke depan, di dalam sekejap
saja dia sudah berganti jurus serangan lagi, dengan
menggunakan jari menggantikan pedang dia menggunakan
jurus “Ci Cie Thian Yang” mendesak Ciu Tong lebih lanjut.
Dalam hati Ciu Tong merasa hatinya amat terkejut, jurusjurus
serangan ini sebetulnya dia sangat hapal sekali tetapi
kini Koan Ing mencampurkan berbagai jurus serangan menjadi
satu jurus serangan membuat dia menderita rugi, dia terdesak
mundur kembali satu langkah ke belakang.
“Jurus serangan yang bagus!” teriaknya memuji.
Baru saja dia selesai berteriak, tongkatnya segera diputar
sedemikian rupa menghajar kening dari Koan Ing.
Koan Ing sama sekali tidak menyangka kalau jurus
serangannya tadi bisa mendapatkan hasil, dia merasa terkejut
bercampur girang.
Dia segera membentak keras, tubuhnya merendah
menghindarkan diri dari serangan tongkat dari Ciu Tong ini
lantas berturut-turut melancarkan beberapa buah jurus
serangan yang amat aneh.
Ciu Tong menderita rugi karena dia hapal benar dengan
jurus-jurus serangan tersebut sehingga membuat dia orang
harus mengeluarkan jurus-jurus serangan tandingannya, siapa
tahu
baru saja menggunakan jurus itu separuh jalan Koan Ing
sudah mengganti lagi dengan jurus yang lain membuat Ciu
Tong benar-benar terdesak dan terkurung di dalam
serangannya,

Di dalam sekejap saja lima jurus telah berlalu dengan amat
cepatnya, Ciu Tong jadi sangat gusar sekali, pikirnya, “Hmm
aku sebagai seorang ketua suatu aliran yang besar kalau cuma
Koan Ing saja tidak dapat memperoleh kemenangan, buat apa
aku pergi mencari Sang Sn Im lagi?.... ”
Dengan gusarnya dia membentak keras, tongkat di tangan
kanannya berturut-turut melancarkan beberapa kali serangan
balasan sedangkan tangan kirinya melancarkan satu pukulan
sehingga terasalah segulung angin pukulan yang dahsyat
melanda ke tubuh Koan Ing.
Melihat datangnya serangan tersebut, Koan Ing jadi
termangu-mangu, dengan cepat dia balas melayangkan satu
pukulan pula untuk menghalangi datangnya serangan itu, tapi
tidak urung badannya terpukul juga ke samping.
Dengan meminjam kesempatan itulah bagaikan bayangan
setan yang lewat dengan cepat dia berkelebat menubruk ke
dalam gua tersebut,
Koan Ing jadi terkejut, dengan cepat dia memutar tubuh
untuk siap-siap melancarkan serangan kembali.
Ooo)*(ooO
Bab 19
TERLIHATLAH pada waktu itu Ciu Tong dengan tersenyum
licik sudah berdiri di belakang tubuh Sang Su-im sedangkan
telapak kirinya ditempelkan ke atas punggungnya.
Saat itu Sang Su-impun baru saja selesai dari semedinya,
tetapi keadaan sudah terlambat satu tindak.
Dia adalah seorang manusia yang luar biasa, tidak perlu
menoleh lagi dia sudah menoleh lagi dia sudah tahu apa yang
sudah terjadi di sana.

Ciu Tong yang melihat Sang Su-im sudah sadar kembali dia
segera tertawa terbahak-bahak, “Sang Loo-te selama berpisah
ini apakah kau orang baik-baik saja?” tanyanya mengejek.
Sang Su-im tidak mengucapkan sepatah katapun, di dalam
hati dia sedang merasa sangat heran bagaimana mungkin Ciu
Tong yang sudah terkena ilmu totokan “Han Yang Ci” nya
hanya di dalam satu hari saja tenaga dalamnya sudah pulih
kembali seperti sedia kala? Sekali lagi Ciu Tong tertawa
terbahak-bahak,
“Sang Loo-te.... kenapa kau tidak berbicara?” ejeknya lagi,
“Apa kau merasa heran? Bagaimana aku bisa pulihkan tenaga
dalamku dengan begitu cepat.”
Sehabis berkata dengan bangganya dia tertawa lagi.
“Aku sama sekali tidak menyangka kau bisa melancarkan
serangan bokongan terhadap diriku!” serunya dengan amat
gusar. “Lima tahun kau mengira aku bisa menunggu lima
tahun lagi baru datang mencari dirimu? Kalau begitu kau
sudah salah menerka, bagaimana aku bisa begitu bersabar
untuk menanti lima tahun lagi”
Sehabis berbicara Ciu Tong mendengus dan dengan amat
dingin sepasang alisnya dikerutkan rapat-rapat.
“Seratus hari!” serunya keras. “Tenaga dalamku
mendapatkan tambahan seperti latihan sepuluh tahun, tetapi
nyawanyapun cuma tinggal seratus hari lagi!”
Mendengar perkataan tersebut Koan Ing jadi terkejut
pikirnya, “Aaaaah, kiranya Ciu Tong sudah menelan obat
racun seperti yang aku telan, kalau begitu sudah tentu tenaga
dalamnya di dalam satu hari saja sudah pulih kembali seperti
sedia kala”
Ciu Tong setelah mengucapkan kata-kata itu dia berdiam
beberapa saat lamanya, entah pada waktu itu dia sedang

merasa menyesal atau bangga, sebentar kemudian dia sudah
berkata lagi.
Dengan perlahan dia menyapu sekejap ke arah Koan Ing,
lantas tambahnya, “Tentunya kau masih ingat sewaktu aku
memaksa kau menelan obat racun itu bukan?”
“Aku tahu kau pasti tidak akan menyangka kalau tenaga
dalamku bisa pulih dengan begitu cepat, asalkan aku bisa
menyandak dirimu maka kau pasti tidak akan bersiap sedia,
saat itulah dengan menggunakan kata-kata orang tidak
bersiap sedia aku lancarkan serangan segera menguasai
dirimu.”
Dia mendengus dengan amat dinginnya, lalu sambungnya
lagi,
“Tidak kusangka baru saja aku melakukan perjalanan
sampai di tengah jalan aku dengar kau sudah bertempur
mati2an melawan si hweesio tua itu, akhirnya masing-masing
pihak tidak ada yang memperoleh kebaikan, mendengar berita
tersebut aku segera menyusul kemari setelah membuang
setengah harian lamanya secara kebetulan saja aku bisa
bertemu dengan dirimu disini Hee.... heee.... tentunya kau
tidak pernah menduga akan memperoleh akibat seperti
demikian bukan? walaupun aku cuma bisa hidup seratus hari
saja tetapi kau orang tidak bakal bisa hidup melewati hari ini.”
Jilid 9
MENDENGAR suara yang begitu tidak enak dari Ciu Tong,
diam-diam Sang Su-im berpikir, “Hmm.... sekalipun kini aku
harus mati, aku tidak akan melepaskan dirinya dengan
keadaan segar bugar.... aku harus melukai dirinya dengan
menggunakan seluruh tenaga dalam yang aku miliki pada saat
ini.”

Dia sama sekali tidak menyangka kalau nama baik yang
dipupuknya selama puluhan tahun harus hancur di tangan Ciu
Tong pada hari ini.
Semakin berpikir hatinya merasa semakin seperti terbakar,
tidak kuasa lagi dengan gusarnya dia lantas berseru, “Hmm....
bilamana kau ingin turun tangan, cepatlah turun tangan
urusan yang terjadi di dunia ini tiada yang kekal aku takut
sedikit lebih lama urusan bisa terjadi perubahan.”
“Apa? waktu lebih lama urusan bisa terjadi perubahan?
haaa.... haaa.... aku belum pernah memikirkan sampai disitu,”
sahut Ciu Tong sembari tertawa terbahak-bahak.
“Eeeei.... aku mau tanya padamu. Kini Koan Ing ada
bersamamu tetapi entah putrimu ada dimana? Di dalam
seratus hari ini aku bermaksud hendak mengatur perkawinan
diantara dirinya dengan putra ku, hal ini jikalau tidak dilakukan
secepatnya hatiku tidak akan merasa lega.”
Mendengar suara ejekan tersebut Sang Su-im mengerutkan
alisnya rapat-rapat, dia merasa Ciu Tong lagi menghina dan
memperolok2 dirinya, daripada harus menanggung
penghinaan
tersebut jauh lebih baik mengadu jiwa saja dengan dirinya
Tetapi sewaktu teringat kembali kalau dirinya tidak kepingin
cepat mati, kenapa tidak tunggu2 lagi beberapa saat lamanya
sehingga ada satu kesempatan yang baik untuk meloloskan
diri? Atau sedikit2nya dia harus bisa memukul luka Ciu Tong
semanusia laknat tersebut.
“Hmmm Tentang urusan perkawinan Siauw-li, sekalipun
aku tidak ada, Cha Chan Hong bisa mewakili aku untuk
menguruskan,” serunya dengan tawar.
“Haaa.... haaa.... haaa.... perkataan tepat perkataan
bagus.... ” teriak Ciu Tong sambil tertawa terbahak-bahak.
“Kau jauh2 mendatangi daerah Tibet dan menyebarkan mataTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
matamu di seluruh daerah ini tetapi tidak pernah kusangka
bukan? Kalau ini kali tidak bakal bisa pulang lagi ke rumah?
Haaa.... haaaa.... haaaa!”
Mendadak dia menarik kembali suara tertawa kerasnya
disusul satu dengusan dingin bergema memenuhi angkasa.
“Hal ini berarti pula kalau setiap urusan tidak akan bisa
terlaksana sesuai dengan cara pemikiranmu yang gampang
itu,” tambahnya.
Sang Su-im lantas tertawa tawar.
“Sekalipun aku harus mati hal ini juga tiada mendatangkan
kegembiraan bagi dirimu sendiri,” katanya. “Bukankah
nyawamu juga tinggal seratus hari saja? Urusan yang terjadi
di dalam dunia inipun tidak akan berjalan selancar seperti apa
yang kaupikirkan dihati.”
Ciu Tong segera mengerutkan alisnya rapat-rapat, sewaktu
di dengarnya pada dalam keadaan seperti ini Sang Su-im
masih terus mengejek dan memperolok2 dirinya.
Dalam hati merasa sedikit gusar juga, dia segera
mendengus dengan dinginnya,
“Sebelum mati apakah kau mempunyai satu permintaan?”
tanyanya sambil mendongakkan kepalanya ke atas,
“Namaku berada diempat manusia aneh dan menjabat
sebagai pangcu dari perkumpulan Tiong Gong Pang, bilamana
harus menemui ajalnya di dalam gua hal ini tidaklah
seharusnya,” kata Sang Su-im sambil mengedip2kan matanya,
“Bilamana kau tidak menolak, aku ingin melihat sekejap langit
nan biru”
“Bagus sekali soal ini mudah untuk dilakukan,” ujar Ciu
Tong mengabulkan.
“Tetapi kau harus ingat telapak tanganku selalu akan
menempel di punggungmu, kau

harus hati-hati Heze.... heee.... asalkan kau berani
mengerahkan tenaga murnimu maka aku akan
segera turun tangan telengas!”
Sang Su-im segera merasakan hatinya berdebar, dia tahu
harapan untuk lolos tidak akan ada lagi.
“Soal itu terserah padamu mau mengancam secara
bagaimanapun aku tidak dapat melarang dirimu lagi,”
sahutnya tawar.
Sehabis berkata dengan perlahan-lahan, dia berjalan keluar
dari dalam gua tersebut. Ciu Tong yang menempelkan telapak
tangannya di belakang punggung Sang Su-impun tidak berani
berlaku gegabah, dengan kedahsyatan dari ilmu yang dimiliki
Sang Su-im, bilamana sedikit dia pecahkan pikirannya maka
ada kemungkinan dengan menggunakan kesempatan itu dia
akan menerjang keluar.
Dengan perlahan-lahan Koan Ing pun ikut mengundurkan
diri keluar dari gua itu dia yang melihat Sang Su-im kena
ditawan dalam hati merasa kecewa bercampur sedih, tetapi
sekalipun begitu tidak berani juga turun tangan memberikan
pertolongannya.
Koan Ing tahu asalkan sedikit dia tidak berhati hati maka
Sang Su-im akan menemui ajalnya di bawah serangan Ciu
Tong.
Sekeluarnya dari gua terdengarlah Ciu Tong tertawa girang.
“Haa.... haa.... sekarang kau boleh melihat langit yang
dicintai ini, haa.... ha.... ” ejeknya.
Dengan sedihnya Sang Su-im segera menghela napas
panjang,dia dongakan kepalanya memandang ke angkasa.
Teringat kembali seluruh pengalamannya pada masa lalu
dimana untuk pertama kalinya keluar dari perguruan dan
mendirikan perkumpulan Tiang-gong-pang, mengeroyok si
manusia tunggal dari Bu-lim, pertemuan puncak para jago di

gunung Hoa-san.... satu demi satu terbayang kembali di
depan matanya.
Nama besar yang dipupuk selama puluhan tahun ini
sebentar lagi bakal musnah tak kembali lagi.... kesemuanya ini
dikarenakan dirinya yang kurang hati-hati sehingga dengan
begitu mudahnya terjatuh ke tangan Ciu Tong, Heei.... masa
hidupnya hampir habis sampai disini saja entah inikah yang
dinamakan takdir atau nasib?
Dengan termangu-mangu lama sekali dia memandang ke
angkasa.... mendadak terdengar suara bentakan dari Ciu Tong
yang bernadakan rasa terkejut.
“Aaah.... Kereta Berdarah” Dia segera merasakan telapak
tangannya Ciu Tong yang menempel di punggung sedikit
tergetar, satu pikiran lantas berkelebat dihatinya. Tanpa
banyak cakap bagaikan kilat cepatnya dia berkelebat ke arah
depan.
Ciu Tong yang melihat munculnya Kereta Berdarah dalam
hati merasa amat terkejut sehingga telapak tangannya
tergetar kini melihat Sang Su-im menggunakan kesempatan
itu untuk meloloskan diri dalam hati jadi sangat terperanjat
telapak kirinya dengan terburu-buru ditekan ke depan
menghajar pundak kiri dari Sang Su-im,
Sang Su-im yang sedang berusaha untuk menghindarkan
diri dari ancaman Ciu Tong tiba-tiba merasakan pundak kirinya
jadi sakit dia mendengus sewaktu matanya melirik ke
belakang itulah dia melihat tongkat baja di tangan kanan Ciu
Tong sudah dihantamkan ke atas kepalanya.
Dengan gusarnya dia segera membentak keras, saat ini
merupakan saat-saat yang amat kritis bagi keselamatan
jiwanya, tangan kirinya segera membalik ke belakang
melancarkan serangan dahsyat, tiga gulung angin serangan
dengan tajamnya berderu menghajar iga Ciu Tong yang ada di
belakang.

Melihat dalangnya serangan tersebut Ciu Tong jadi merasa
bergidik, tergesa-gesa dia tarik napas panjang-panjang untuk
mengerahkan ilmu mayat membusuknya, separuh bagian
aliran darahnya seketika itu juga berhenti mengalir.
Bersamaan waktu itulah tiba-tiba dia merasakan satu
desiran angin tajam menyambar datang dari belakang
badannya, sebilah pedang Kiem-hong-kiam yang ada di
tangan Koan Ing sudah menyambar mendekati sang leher.
Sedikit dia berayal, itulah tiga buah serangan jari yang
amat dahsyat dari Sang Su-im berhasil menghajar badannya,
dia segera mendengus berat.
Tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah ke
belakang terkena dorongan angin
serangan itu, bersamaan pula kepalanya menunduk ke
bawah menghindarkan diri dari serangan pedang Koan Ing.
Tetapi pada saat itu ujung toya yang di babat ke depan
berhasil pula menghantam iga Sang Su 1m dengan kerasnya
Dengan kepandaian silat serta tenaga dalam yang dimiliki
Ciu Tong pada saat ini, Sang Su-im mana kuat menahan
babatan tongkat dari Si iblis sakti dari luar lautan,
Terdengar diapun mendengus berat, tubuhnya terpental
sejauh tiga kaki terkena sapuan yang dahsyat dari Ciu Tong
ini,
Diantara suara ringkikan kuda yang amat ramai dan
memekikkan telinga bagaikan bayangan setan saja kereta
berdarah itu menerjang datang,....
Koan Ing yang serangannya tidak mencapai pada hasil
dengan terburu-buru menarik kembali pedangnya sedang
tubuhnya bagaikan kilat cepatnya berkelebat ke samping
badan Sang Su-im, dengan cepat dia membimbing bangun
Sang Su-im yang saat ini sudah jatuh tidak sadarkan diri,

Ciu Tong yang melihat situ kesempatan yang paling baik
untuk membinasakan Sang Su-im di bawah serangannya
ternyata mengalami kegagalan, dalam hati merasa khe-ki
bercampur gusar, sambil bersuit nyaring dengan dahsyatnya
dia menubruk ke arah Koan Ing,
Koan Ing yang sedang menggendong tubuh Sang Su-im
sewaktu melihat wajah Ciu Tong menyengir amat menakutkan
dalam hati merasa sedikit bergidik, pedang panjangnya
berturut-turut melancarkan lima buat serangan dahsyat
menangkis datangnya hantaman toya dari Ciu Tong yang
dilancarkan dalam keadaan gusar itu, tetapi tidak urung
telapak tangannya terasa sakit juga.
Ciu Tong yang melihat serangannya tidak mendapatkan
hasil, dengan gusarnya dia lantas membentak keras, sekali
lagi dia melancarkan satu serangan laksana menggulungnya
ombak di samudra dan ambruknya gunung Thay-san.
Melihat datangnya serangan yang begitu dahsyat, Koan Ing
jadi sangat terperanjat bagaimanapun juga sambaran toya
dari Ciu Tong ini sukar baginya untuk menerima, saat ini
kereta berdarahpun lagi menerjang ke arahnya membuat
hatinya jadi benar-benar amat bingung.
Mendadak satu ingatan berkelebat di hati Koan Ing, tanpa
banyak berpikir lagi sembari menggendong tubuh Sang Su-im
dia segera meloncat naik ke arah kereta berdarah yang
sedang menerjang datang.
Ciu Tong jadi tertegun melihat kejadian ini, dia sama sekali
tidak menyangka kalau Koan Ing berani meloncat naik ke atas
kereta berdarah sembari menggendong tubuh Sang Su-im,
Di tengah suara ringkikan kuda serta ramainya putaran
roda kereta bagaikan segulung angin yang berlalu kereta
berdarah itu sudah berkelebat melalui permukaan yang
tertutup oleh salju.

Lama sekali Ciu Tong berdiri termangu mangu di tempat
semula, dia tidak tahu bagaimana keadaan dari Sang Su-im
pada saat ini, hatinya jadi merasa sedikit sedih.
Di dalam sekejap saja Kereta berdarah itu sudah lenyap
dari pandangan mata. Tidak disangka sama sekali olehnya
Kereta berdarah sebenarnya adalah demikian misterius dan
demikian menakutkan, tujuannya yang terutama mendatangi
daerah Tibet tidak lain adalah
dikarenakan kereta berdarah itu tetapi kini dengan mata
kepala sendiri dia melihat kereta berdarah itu berlalu bahkan
melihat pula Koan Ing sembari menggendong tubuh Sang Suim
meloncat naik ke dalam kereta.
Tetapi mendadak hatinya merasa amat ketakutan, dia sama
sekali tidak berani pergi mengejar. w
Koan Ing yang menggendong tubuh Sang Su-im masuk ke
dalam kereta berdarah segera merasakan adanya seseorang
yang lagi memandang dirinya dengan pandangan dingin
sekali.
Dia jadi sangat terkejut, sewaktu memperhatikan lebih
tajam lagi waktu itulah Koan Ing baru menemukan kalau dia
orang bukan lain adalah Si manusia tunggal dari Bu-lim.
Sinar mata si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong
dengan terpesonanya memandang diri Koan Ing, tak sepatah
katapun diucapkan olehnya.
Koan Ing sendiripun tidak tahu bagaimana pada waktu tadi
dia begitu berani untuk meloncat naik ke dalam kereta
berdarah, waktu itu dia cuma memikirkan bagi
keselamatannya sendiri dan kini.... setelah berada di dalam
ruangan kereta hatinya mulai merasa amat tegang.
Jien Wong tak mengucapkan sepatah katapun, dia cuma
memperhatikan dirinya dengan pandangan terpesona....

Di bawah tarikan empat ekor kuda berwarna merah, kereta
berdarah itu bagaikan kilat cepatnya berkelebat melalui
permukaan tanah yang sudah tertutup olah salju itu....
Saat itulah dengan perlahan Sang Su-im baru membuka
matanya kembali, tetapi sewaktu dilihatnya Jien Wong musuh
bebuyutannya muncul di hadapan mata, air mukanya segera
berubah sangat hebat.
“Aaah.... si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong!”
serunya tertahan.
Walaupun pada saat ini dia lagi menderita luka parah tetapi
saking terkejutnya tidak tertahan lagi tubuhnya sudah
meloncat bangun.
Sejak si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong menemui
ajalnya di bawah kereta karena kerubutan empat manusia
aneh pada masa yang lampau sehingga dia bangun dan
melarikan diri hingga.... saat ini belum pernah dia bertemu
muka dengan Jien Wong, tidak disangka kini selagi menderita
luka parah Jien Wong munculkan dirinya kembali di depan
mata, bagaimana hal ini tidak membuat hatinya jadi sangat
terkejut?
Si manusia tunggal dari Bu-lim Jien Wong masih tetap
duduk di tempat semula tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
Sambil menghembuskan napas panjang Sang Su-im
berbatuk batuk, darah segar segera memancur keluar dan
mulutnya.
Dia tidak berani banyak berpikir lagi, dengan perlahan
sepasang matanya dipejamkan
rapat-rapat untuk beristirahat sedang hawa murninyapun
tidak dikerahkan lagi untuk mengobati
luka yang diderita, karena dia tahu lukanya ini tidak bakal
bisa sembuh hanya di dalam satu dua hari saja.

Sedang diapun tidak percaya kalau dirinya bisa lolos dari
tangan si manusia tunggal Jien Wong ini.
Dengan cepatnya kereta berdarah meluncur masuk ke
dalam sebuah gua gunung yang tinggi besar, lewat
seperminum teh kemudian kereta itu berhenti dengan
perlahan-lahan.
Jien Wong masih tetap memandang ke dua orang itu tidak
bergerak, lama sekali baru terdengar dia berkata dengan
suara perlahan.
“Untuk menuruni kereta ini tentunya kalian berdua tidak
perlu aku yang bantu membimbing bukan?”
Mendengar perkataan tersebut Sang Su-im segera
membuka matanya kembali, alisnya
dikerutkan rapat-rapat, dia sama sekali tidak menyangka si
manusia tunggal Jien Wong hendak
melepaskan dirinya dengan begitu saja.
Koan Ing yang sejak semula sudah tidak pikirkan
keselamatannya sendiri, dengan terburu-buru lantas
membimbing diri Sang Su-im.
“Empek Sang mari kita turun dari kereta,” ajaknya.
Dengan perlahan Sang Su-im mengangguk, di bawah
bimbingan Koan Ing dia segera turun
dari kereta berdarah tersebut.
Tampaklah di tempat mana mereka berada merupakan
sebuah lambung gunung yang amat tinggi dan besar sekali, di
sekeliling dinding gua penuh dihiasi dengan tiang2 salju telah
membeku, kelihatannya gua ini merupakan satu gua salju
alam yang sudah berusia sangat lama.
Jien Wong pun ikut meloncat turun dari dalam kereta,
tetapi selama ini dia tidak memandang ke arah mereka,

bagaikan tiada orang saja, matanya memandang ke tempat
kejauhan.
Lewat sejenak kemudian Jien Wong baru menepuk kuda
yang menarik kereta berdarah itu, disertai suara ringkikan
yang ramai kereta berdarah itu mulai bergerak menuju ke
ruangan gua yang lebih dalam lagi.
Menanti setelah kereta tersebut lenyap dari pandangan,
sambil mungkuri kedua orang itu dia baru berkata dengan
suaranya yang adem, “Sang Su-im, perpisahan kita selama
sembilan belas tahun ini apakah selalu baik-baik saja?”
“Kedatanganku ke daerah Tibet kali ini justru hendak
mencari dirimu,” jawab Sang Su-im dengan berat alisnya
dikerutkan rapat-rapat.
Mendengar perkataan tersebut Jien Wong segera tertawa
terbahak-bahak dengan seramnya dengan perlahan-lahan dia
putar tubuhnya.
“Sejak pertempuran kita di gunung Hoa-san pada masa
yang lalu kini sudah ada sembilan belas tahun lamanya.
Hee.... hee kau masih berani mencari diriku?” serunya.
Dengan tawarnya Sang Su-im memandang sekejap ke arah
Jien Wong, tetapi tak sepatah
katapun diucapkan keluar.
Mendadak tampak Jien Wong angkat tangan kanannya dan
antara ujung lima jarinya segera terlihatlah lima gulung sinar
berwarna merah darah memancar keluar, diantara
berkelebatnya bayangan jari batu cadas di samping badannya
sudah kena cengkeram sebagian sehingga haacur lebur
bagaikan bubuk.
Diam-diam dalam hati Sang Su-im merasa sangat
terperanjat melihat kejadian ini, jika ditinjau dari peristiwa ini
jelas menunjukkan kalau tenaga dalam yang dimiliki Jien
Wong pada saat ini jauh melebihi mereka berempat selama

sembilan belas tahun ini kepandaian silatnya sudah
memperoleh kemajuan yang begitu pesat sehingga sangat
mengejutkan sekali. Dengan pandangan yang sangat dingin
Jien Wong memperhatikan diri Sang Su-im.
“Apakah kau masih ada sanak keluarga?” tanyanya dengan
perlahan.
Sang Su-im jadi melengak, dia sama sekali tidak
menyangka kalau Jien Wong sudah menanyakan soal ini.
Sewaktu hatinya jadi ragu-ragu itulah tampak sinar mata
yang sangat tajam dari Jien Wong sudah mendesak dirinya,
“Cuma ada seorang putri saja,” jawabnya tidak kuasa lagi.
Dengan perlahan Jien Wong mengangguk, lalu menghela
napas panjang, “Untung sekali kau masih ada seorang anak
perempuan, aku tetap seorang diri saja.... Heei.... ternyata
aku benar-benar si manusia tunggal dari Bu-lim!”
Diam-diam Sang Su-im merasa heran melihat sikap yang
aneh dan Jien Wong ini, bagaimana mungkin sifatnya selama
sembilan belas tahun ini bisa berubah amat besar? pada masa
yang lalu begitu dia munculkan diri tanpa banyak bercakap
lagi sudah menerjang ke arah empat manusia aneh, tetapi
kini.... dia mengajak dia banyak berbicara bahkan yang
dibicarakanpun merupakan persoalan yang sama sekali tidak
ber guna.
Dengan perlahan Jien Wong menoleh ke arah Koan Ing dan
memandangnya beberapa saat lamanya.
“Siapa kau?” Tanyanya kemudian. “Aku tidak kenal dengan
kau, bagaimana kau bisa menerjang masuk ke tempatku?”
Koan Ing jadi melengak, terang pada beberapa hari yang
lalu dia sudah pernah bertemu muka dengan Jien Wong
bahkan mengatakan juga hendak membuatkan obat pemunah
baginya, bagaimana sekarang dia bisa berpura-pura tidak
kenal dengan dirinya?

“Cayhe Koan Ing sengaja datang menghunjuk hormat buat
cianpwee,” katanya dengan perlahan.
Air muka Jien Wong segera berubah sangat hebat,
teriaknya tiba-tiba dengan seram, “Selamanya tiada
seorangpun yang bisa hidup lebih lama lagi setelah bertemu
dengan aku.”
Sehabis berkata tangan kanannya membalik ke samping,
Lima jarinya dengan disertai lima gulung angin serangan yang
dahsyat mencengkeram leher Koan Ing.
Dalam hati Koan Ing merasa sangat terperanjat kini tangan
kanannya lagi terluka, tangan kirinya sambil mencekal
pedangnya kencang2 segera melancarkan serangan ke depan.
Terlihatlah serentetan sinar keemas-emasan yang
menyilaukan mata dari pedang Kiem-hong-kiam tersebut
dengan dahsyatnya menggulung kelima buah serangan jari
dari Jien Wong.
Tahu-tahu Jien Wong memperkencang lima jarinya....
“Tiiiing....!” disertai suara yang meletik nyaring dengan
paksa dia berhasil merebut pedang Kiem-hong-kiam tersebut
dari tangan Koan Ing.
Dengan terkejutnya Koan Ing mundur dua langkah ke
belakang.
“Hmmm....! Kiranya anak murid dari Kong Bun-yu!”
terdengar Jien Wong mengejek dengan suara yang dingin.
Selesai berkata tangan kanannya segera mengencang,
agaknya dia bermaksud hendak mematahkan pedang Kiemhong-
kiam tersebut tetapi sekalipun dia sudah kerahkan
seluruh tenaga tidak berhasil juga menghancurkan pedang itu.
Saking gemasnya dia segera melemparkan kembali pedang
itu ke arah Koan Ing,

“Hmm Hmm.... pedangnya sih bagus, cuma sayang
kepandaian silatnya terlalu cetek!” serunya kembali.
Dia lantas termenung lagi beberapa saat lamanya, kira-kira
seperminum teh kemudian tampaklah dia tertawa.
“Aaaah.... benar aku punya satu cara untuk mengubah kau
menjadi seorang jagoan yang berkepandaian sangat tinggi di
Bu-lim, hal ini pasti bisa terjadi!” katanya.
Pikiran Koan Ing segera tergerak, sewaktu melihat
perubahan air muka dari Jien Wong yang amat bangga ini dia
teringat kembali sikapnya yang sama sewaktu mengatakan
hendak memunahkan racun dibadannya itu, mendadak saja
dia menaruh satu perasaan yang amat aneh tetapi perasaan
tersebut sukar baginya untuk mengucap kan keluar.
Terdengar Jien Wong kembali bergumam seorang diri, “Di
dalam kolong langit pada saat ini cuma aku seorang saja yang
bisa berbuat demikian.”
Sang Su-im yang melihat sikapnya yang sangat aneh dari
Jien Wong dalam hati diam-diam merasa bingung, mendadak
dia teringat akan sesuatu.
“Eeeei.... kenapa tadi kau menjalankan keretanya di atas
permukaan salju?” tanyanya.
Jien Wong agak melengah dengan cepat dia putar
kepalanya ke arah Sang Su-im.
“Sudah tentu sengaja pergi menjemput kalian,” jawabnya.
Sinar mata Sang Su-im berkedip-kedip sedang Koan Ing
jadi tertegun.
Sengaja pergi menjemput mereka? Hal ini mana mungkin
bisa terjadi? Apakah Jien Wong sebelumnya bisa menduga
kalau dirinya bakal hendak meloncat naik ke atas keretanya....

Sewaktu Jien Wong melihat Sang Su-im memandang ke
arahnya dengan keheran-heranan, alisnya segera dikerutkan
rapat-rapat, “Apakah kau merasa tidak percaya?” serunya.
Sang Su-im tersenyum lalu mengangguk.
“Lalu ada urusan apa kau sengaja menjemput kami?”
tanyanya lagi.
“Aku mau suruh kalian tahu kalau kepandaian silat yang
paling tinggi di dalam kolong langit pada saat ini adalah
diriku,” jawab Jien Wong setelah berpikir sebentar. “Dimana
kereta berdarahmu sekarang berada?” Tanya Sang Su-im
secara tiba-tiba.
Ooo)*(ooO
Bab 20
JIEN WONG melirik ke kanan sebentar, setelah itu bersuit
panjang.
Tidak selang berapa lama kereta berdarah itu dengan amat
cepatnya sudah menerjang datang, tubuhnya lantas meloncat
naik kereta. kereta berdarah kemudian diselingi suara tertawa
tergelaknya dengan amat menyeramkan dia melarikan Kereta
Berdarah tersebut ke tempat luar.
Dengan termangu-mangu Koan Ing memandang ke arah
dimana kereta berdarah itu pergi, dia merasa heran mengapa
Jien Wong pergi meninggalkan tempat itu Dengan perlahan
Sang Su-im meaoleh kaarah Koan Ing lalu ujarnya dengan
perlahan, “Manusia tungal dari Bu-lim, Jien Wong sudah jadi
gila”
Koan Injadi terkejut Jien Wong sudah jadi gila? peristiwa ini
sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, teringat akan
dua kali perkataan terhadap dirinya, dia

segera merasa kalau sikap serta tindak tanduk dari Jien
Wong benar-benar rada aneh dan berbeda dengan manusia
biasa.
Koan Ing yang mendengar perkataan dari Sang Su-im
kemudian dicocokkan pula dengan perkataan serta tindak
tanduk dari Jien Wong, maka segera terasalah olehnya kalau
perkataan ini sedikitpun tidak salah.
Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang harus diperbuat
terhadap beberapa perkataan yang diucapkan itu,” ujar Sang
Su-im lagi “Dia cuma merasa dirinya merupakan jagoan yang
paling lihay di kolong langit, hal inijelas menunjukkan kalau
urat syarafnya sudah terganggu, Heei, untung sekali dia masih
bisa kidup sampai saat ini, ya.... boleh dikata hal ini
merupakan satu kejadian yang amat aneh sekali.”
Sebetulnya Jien Wong sudah menyanggupi dirinya untuk
bantu dia bebaskan diri dan pengaruh racun, walaupun
tentang soal ini dia sama sekali tidak memikirkan dihati tetapi
di dalam hati dia selalu berdoa dan mengharapkan kalau Jien
Wong benar bisa berhasil membuatkan obat pemunah
baginya.
Tetapi kini setelah mendengar berita kalau Jien Wong
adalah seorang gila, tidak kua”a iagi dalam hati merasa sedikit
kecewa juga.
Tampak Sang Su-im termenung sebentar lalu berkata, “Aku
tahu dua tiga kali kau menolong nyawaku dan hal ini
dikarenakan soal Siauw-tan. aku tidak akan menanyakan
kepadamu kau ingin minta apa, sejak ini hari urusan antara
kau serta Siauw-tan boleh kalian putuskan sendiri.
Koan Ing jadi melengak, sebenarnya dia sendiripun tidak
mengerti kenapa dua tiga
ikali dia turun tangan menolong Sang Su-im, dia cuma
merasa pekerjaannya ini adalah satu keharusan, tetapi setelah
mendengar perkataan itu dia mulai merasa kalau alasan itu

adalah benar dan tidak dapat dibantah. Dengan perlahan Koan
Ing menundukkan kepalanya rendah-rendah.
“Aku tidak akan mencelakai diri Siauw-tan, harap Empek
Sang suka melegakan hati”
“Heeei.... urusan di dalam dunia selalu saja berubah dan
hal ini siapapun tidak dapat menduganya terlebih dulu. Urusan
di antara kalian akupun tidak ingin banyak ikut campur lagi,
sejak ini hari urusan diantara kalian berdua boleh dibereskan
oleh kalian sendiri,” ujar Sang Su-im sam bil menghela napas
panjang. Selesai berkata dengan perlahan dia putar tubuhnya
dan berlalu dari tempat itu.
Dengan pandangan yang melongo Koan Ing
memperhatikan diri Sang Su-im sehingga lenyap dari
pandangan, untuk sesaat lamanya dia merasakan perubahan
yang terjadi di dalam dunia ini benar-benar sangat besar
seakan di dalam satu hari seorang manusia bisa mengalami
keadaan yang berbahaya sampai dua tiga kali banyaknya.
Sejak memasuki Daerah Tibet Ciu Tong bentrok dengan
Sang Su-im, dipaksa dirinya menelan racun, ilmu silat dari Ciu
Tong dimusnahkan oleh Sang Su-im, Pertempuran antara
Sang Su-im dengan Thian Siang Thaysu. Ciu Tong menelan
racun untuk melukai Sang Su-im satu demi satu berkelebat
dihadapan matanya, masih ada lagi.... yaitu psrsoalan antara
dia serta Sang Siauw-tan dua orang.
Sembari berpikir dengan perlahan Koan Ing berjalan keluar
dari gua tersebut.
Waktu itu cuaca sudah amat gelap, kecuali pantulan sinar
dari salju yang putih apapun tidak kelihatan lagi.
Lama sekali dia termenung berpikir keras, sejenak
kemudian cuacapun mulai terang tanah,
Koan Ing agak ragu-ragu memandang sekelilingnya,
akhirnya dia melanjutkan perjalanannya ke samping kanan.

Tiba-tiba.... seorang penunggang kuda dengan amat
cepatnya berlari mendatang.
Orang itu berusia kurang lebih tiga puluh tahunan dengan
wajah yang putih bersih,
pada tubuhnya memakai satu mantel berwarna hitam dan
menunggang seekor kuda hitam pula. Makin lama orang itu
semakin mendekati diri Koan Ing, akhirnya setelah
memperhatikan
beberapa saat dia bertanya, “Tahukah Ciat Ie Toocu ada
dimana?”
Sinar mata Koan Ing berkelebat, sewaktu melihat sikap
yang sombong danjumawa dari orang itu dalam hati diamdiam
merasa sedikit mendongkol.
“Hmm, ada urusan apa dia hendak mencari Ciong Tong si
manusia laknat itu?” pikirnya dihati.
Dengan tawarnya dia segera menyapu sekejap ke arah
orang itu.
“Cayhe tidak tahu,” jawabnya kemudian.
Mendengarjawaban itu, orang berbaju hitam tersebut
segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Agaknya kau merasa tidak senang untuk menjawab
pertanyaatiku haa? Kurang ajar” teriaknya.
Dalam hati Koan Ing pun merasa rada gusar atas kelakuan
dari orang itu, dia tidak menyangka kalau di dalam dunia ini
masih ada orang yang demikian sombongnya seperti orang
itu.
“Memangnya aku merasa tidak senang untuk menjawab
pertanyaanmu, lalu kau mau apa?” Tantangnya kemudian
sambil memandang sekejap ke arah orang berbaju hitam itu
dengan tawar.

“Haa.... haa.... aku bisa menyuruh kau merasa senang,”
sahut orang tersebut sambil
meloncat turun dari kudanya.
Sehabis berkata tubuhnya segera berkelebat ke depan,
tangan kanannya dengan kecepatan yang luar biasa
mencengkeram pundak kiri dari Koan Ing.
Koan Ing segera mendengus dingin, dengan kepandaian
silat yang dimilikinya pada saat ini, kecuali terhadap orang
yang kepandaian silatnya jauh berada di atas tiga orang genah
empat manusia aneh, dia sama sekali tidak merasa takut, dia
merasa walaupun misalnya terluka maka lukanya itu tidak
akan parah.
Tubuhnya dengan amat gesit berkelebat menyingkir dari
datangnya serangan itu.
Gerakan tubuh orang berbaju hitam itu laksana
mengalirnya air dengan cepat meluncur ke depan, mendadak
tangannya membabat mencengkeram kembali ke arah Koan
Ing.
Koan Ing yang melihat datangnya serangan itu mendadak
pikirannya teringat akan sesuatu, dengan dinginnya dia lantas
mendengus. “Hmm, kiranya manusia-manusia dari pulau Ciat
It To,” pikirnya.
Tangan kirinya segera balas menghantam ke depan,
menutup datangnya cengkeraman dari orang berbaju hitam
itu.
Orang tersebut segera berkelebat kembali ke tempat
semula, dengan pandangan yang tidak percaya dia
memperhatikan diri Koan Ing.
Dia sama sekali tidak menyangka kalau ilmu silat yang
paling lihay dari pulau Ciat Io To bisa dipecahkan Koan Ing
hanya di dalam satu gerakan yang sangat mudah.

“Siapa kau?” tanyanya kemudian sembari memandang
tajam diri Koan Ing.
“Hmm.... bukankah kau adalah anak murid dari Ciu Tong,
Bu Sian adanya?” tanya Koan Ing sambil tertawa menghina.
Orang berbaju hitam itu segera merasa hatinya bergidik,
dia sama sekali tidak menyangka kalau Koan Ing bisa
memecahkan asal usulnya di dalam waktu yang amat singkat,
diapun tidak mengira kalau sejak munculnya dia orang di
daerah Tibet, bukannya bertemu dengan Ciu Tong sebaliknya
sudah bertemu dengan seorang pemuda aneh semacam Koan
Ing ini,
Tetapi hal ini terhadap diri Koan Ing boleh dikala
merupakan satu urusan yang amat mudah sekali untuk
dilakukan, dia tahu Bee Sian pun sudah memasuki daerah
Tibet bahkan mengetahui pula kalau dia angkat nama
bersamaa dengan si kongcu berbaju sutera Bun Ting-seng,
maka sewaktu dilihatnya tenaga dalam yang dimilikinya
lumayan juga maka dia segera bisa menduga akan orang itu.
Lama sekali Bu Sian berdiri termangu-mangu, beberapa
saat lamanya kemudian baru terdengar dia membentak.
“Siapa kau? Kalau sudah mengetahui nama besarku kenapa
sikapmu masih begitu congkaknya?”
Koan Ing segera mengerutkan alisnya rapat-rapat.
“Hmm Buat apa aku sungkan-sungkan terhadap dirimu?”
katanya dingin.
Dalam hati Bu Sian merasa amat gusar, dengan pandangan
yang tajam dia memperhatikan diri Koan Ing.
Dia tidak menyangka kalau orang yang ada di hadapannya
ini sudah banyak mengetahui akan dirinya, sebaliknya dia
sendiri sama sekali tidak mengetahui asal usul maupun
siapakah Koan Ing ini.

Di dalam hati dia punya maksud untuk turun tangan lagi,
tetapi sewaktu teringat akan asal-usul yang tak jelas dari
musuhnya dalam hati merasa sedikit ragu-ragu pula.
“Kau masih belum beritahu kepadaku siapakah kau
sebenarnya,” ujarnya sambil tertawa.
“Akulah Koan Ing” jawabnya tawar.
Bu Sian mengertikan alisnya rapat-rapat.
“Aah.... kiranya pemuda yang ada di hadapanku ini bukan
lain adalah Koan Ing yang namanya sudah lama terkenal di
dalam Bu-lim,” pikirnya.
Teringat akan serangannya yang digagalkan oleh Koan Ing
hanya di dalam satu jurus saja dalam hati kembali merasa
bergidik, dia tidak menyangka kalau Koan Ing memiliki
kepandaian silat yang demikian dahsyatnya.
Jejak dari suhuku apakah Koan Siauwhiap mengetahui?”
tanyanya kemudian sambil menarik napas panjang,
Koan Ing yang melihat sikap Bu Sian sudah berubah
seratus persen, dalam hati diam-diam merasa heran, tetapi dia
segera menduga kalau pada saat ini Boe Siao tidak ingin
bentrok dengan dirinya. karena itu dia tidak memikirkan lebih
panjang lagi, “Aku tidak tahu.... ”jawabnya setelah termenung
sebentar.
Anda sedang membaca artikel tentang CerSIL KHULUNG : Kereta Berdarah 1 dan anda bisa menemukan artikel CerSIL KHULUNG : Kereta Berdarah 1 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-khulung-kereta-berdarah-1.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel CerSIL KHULUNG : Kereta Berdarah 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link CerSIL KHULUNG : Kereta Berdarah 1 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post CerSIL KHULUNG : Kereta Berdarah 1 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/09/cersil-khulung-kereta-berdarah-1.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar