Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar]

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 26 Desember 2011

Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar]

Orang yang ada dibelakang itu memutar biji matanya,
kemudian mendengus dingin. “Hmmm….! Coba tanya
kepadanya, anaknya Hoa Thian-hong berada dimana….?”

592
Sementara dua orang itu bertanya jawab sendiri, Hoa Inliong
diam-diam menganalisa pula keadaan disekitar tempat
itu, kemudian pikirnya di dalam hati, “Sorot mata kedua orang
ini aneh sekali, tampangnya juga jelek tak senang dilihatnya,
tabiatnya juga jelek dan garang. Mungkin merekakah yang
dimaksudkan Nyo-siok sebagai suku-suku asing? Kalau dilihat
dari sikap mereka yang begitu ngotot menyelidiki jejakku,
sudah pasti orang-orang itu datang kemari dengan tujuan
jelek”
Sementara dia masih termenung, laki-laki berdandan
pelajar itu sudah raaju kedepan seraya berkata, “Pek-heng,
boleh aku tahu saudara berasal dari perguruan mana? Apa
hubungannya dengan Yu Siau-lam? Bila engkau bersedia
mengakui secara berterus terang, akupun bisa saja berunding
dengan susiokku untuk segera melepaskan orang, sebaliknya
kalau tidak…. hee…. hee…. Apa yang diucapkan susiokku
barusan tentu sudah saudara Pek dengar bukan?”
Dalam hati kecilnya Hoa In-liong mendengus dingin, ia
segera berpikir dihati, “Hmmmm….! Gertak sambal juga mau
digunakan terhadap diriku, huuh…. Percuma! Bila aku Hoa loji
begitu tak becusnya, tak nanti tugas berat ini akan kuterima!”
Sementara ia dihati berpikir demikian, sorot matanya sekali
lagi menyapu sekejap ke arah dua orang laki-laki berjubah
kuning itu, kemudian menegur, “Siapakah nama saudara?”
“Tak usah saling menyebut nama, jawab saja pertanyaan
yang kuajukan, lebih cepat akan lebih baik”
“Hoa In-liong tersenyum. “Aku lihat gerak-gerik maupun
nada bicara saudara amat halus dan sopan santun, lagi-pula
mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan suku asing.
Bila dugaanku tak keliru, tentunya saudara adalah seorang
tokoh silat yang berpengalaman luas dan berilmu tinggi.

593
Sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan saudara. Bila
sekarang saudara menampik untuk memberitahukan nama
anda, ooh…. betapa menyesalnya aku!”
Berserilah air muka laki-laki pelajar itu sehabis mendengar
kata-kata pujian tersebut, tanpa disadari ia berkata, “Terima
kasih banyak atas pujianmu, aku adalah Siau Khi-gi….”
Menggunakan kesempatan baik itu, Hoa In-liong bertanya
lebih jauh, “Dan susiokmu?”
Karena bangga Siau Khi-gi telah lupa akan segala-galanya,
spontan ia menjawab, “Susiokku bernama Hong-Seng, dia
berasal dari Seng….”
Tiba-tiba sadarlah laki-laki pelajar itu bahwa ia sudah
tertipu oleh siasat Hoa In-liong.
kontan hawa amarahnya berkobar sampai dalam benak,
dengan suara keras teriaknya, “Bajingan cilik….”
“Saudara Siau keliru besar, aku bernama Pek-khi!” tukas
Hoa In-liong dengan senyum dikulum.
Siau Khi-gi betul-betul naik darah, setengah kalap ia
menjerit sekeras-kerasnya, “Anak murid siapa? Ayoh jawab!”
Air muka Hoa In-liong berubah semakin keren, dengan
angkuh ujarnya kembali, “Lagakmu soknya bukan kepalang,
dianggapnya dengan mengandalkan ilmu silat Seng sut-pay
aliran Mo-kao lantas bisa malang melintang tanpa tandingan?”
Hoa In liong memang cerdiknya luar biasa, sekalipun ia
hanya mendengar kata” Seng” belaka, tapi oleh karena
sewaktu masih dirumah ia sudah sering mendengar kisah

594
tentang penggalian harta karun di bukit Kiu-ci-san dimana
kaucu….
Jilid 16
DARI Seng-sut-pay yang bernama Tang Kwik-siu telah
sesumbar sebelum kabur kembali ke negeri asalnya bahwa
dalam sepuluh atau seratus tahun mendatang, pihak Sengsut-
pay akan mengirim jago lihaynya untuk minta kembali
kitab pusaka perguruannya dan mengetahui pula kalau murid
pertama dari Tang Kwik-siu bernama Hong-Liong, maka begitu
mendengar Siau Khi-gi mengatakan bahwa susioknya bernama
Hong Seng, teringat juga akan perkataan dari tosu setengah
baya tadi yang menyinggung soal “ilmu siluman” dan “hiolo
darah”. Pahamlah pemuda itu siapa gerangan musuh yang
sedang dihadapi.
Siau Khi-gi sendiri rada terperanjat sehabis mendengar
perkataan itu. Untuk sesaat ia termangu, tapi hanya sebentar,
tiba-tiba sorot mata aneh memancar dari matanya lalu tertawa
seram. “Hee…. hee…. hee…. Sekarang aku sudah paham, kau
tidak she Pek tapi she Hoa, kau dilahirkan oleh Pek Kun-gi!”
Tampaknya Hong Seng adalah seorang manusia kasar yang
tidak mengerti menggunakan otak. Ketika didengarnya Siau
Khi-gi menyebut ‘kau she Hoa’, tanpa banyak berbicara lagi
dia lantas membentak, “Khi-gi, tangkap orang itu! Tangkap
orang itu!”
Hoa In-liong sendiripun diam-diam merasa terperanjat,
pikirnya, “Ia dapat menebak aku she-Pek dari ibuku,
kecerdikan serta daya kemampuannya untuk berpikir betulbetul
bukan sembarangan orang dapat menandangi. Bila ingin

595
menangkan pertarungan ini, agaknya aku harus bersikap lebih
berhati-hati”
Sekalipun dalam hati merasa terperanjat, paras mukanya
sama sekali tidak berubah. Pemuda itu merasa tak bisa
memungkiri lagi setelah pihak lawan berhasil menebak jitu
asal usulnya. Kalau tidak, maka tindakannya ini sama artinya
seperti tak berani mengakui nenek moyang sendiri.
Sementara itu, Siau Khi-gi telah maju ke depan setelah
mendengus dingin katanya, “Bagaimana? Mau menyerah kalah
ataukah harus bertarung lebih dahulu sebelum takluk?”
Hoa In-liong mengerutkan dahinya, lalu tertawa, “Aku tak
pernah takut terhadap ilmu silat aliran Mo-kauw. Sebentar lagi
aku pasti akan minta petunjuk dari saudara Siau. Tapi sebelum
itu, lebih baik kita bereskan dahulu sebuah persoalan. Bila kau
tidak bisa mengambil keputusan, biarlah aku bercakap-cakap
secara langsung dengan gurumu”
Sekalipun perkataan itu diutarakan dengan blak blakan dan
wajah yang cerah, namun dalam pendengaran Siau Khi-gi
ibaratnya sebilah pisau yang menusuk ulu hatinya. Saking
sakit hatinya ia sampai menggertak gigi dengan muka hijau
membesi.
Hong Seng yang ada disampingnya segera menukas,
“Tooyaa tidak ingin membicarakan soal apapun jua, Khi-gi
Sikat saja bajingan cilik itu!”
Sejak tadi Siau Khi-gi memang berharap bisa mendapat
perintah tersebut, tanpa banyak bicara lagi ia membentak
keras, lalu melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Hoa
In-liong.

596
Serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan amat gusar,
bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan itu. Diantara
deruan angin yang mengerikan, bagaikan terbentuknya selapis
tembok hawa, secara langsung menerjang kedada pemuda
itu.
Hoa In-liong tak tahu serangan itu suatu serangan
sungguhan atau tidak. Ia tak berani dengan gerakan keras
lawan keras. Dengan suatu langkah yang cekatan dia
mengigos kesamping lawannya. Setelah lolos dari sambaran
angin pukulan yang maha dahsyat itu, segera bentaknya
keras-keras, “Tunggu sebentar! Aku hendak mengucapkan
sesuatu kepada kalian….”
Orang Mo-kauw paling tidak menurut aturan dunia
persilatan. Dikala anak muda itu sedang mengigos kesamping,
terlihatlah seorang imam jubah kuning lainnya menyelinap ke
muka. Lengan kanannya segera menyambar ke depan
mencengkeram punggung Hoa In-liong, bentaknya dengan
seram, “Mau bicara nanti saja bila sudah tertawan, too-ya tak
akan menyiksa dirimu”
Serangan yang dilancarkan dari belakang adalah suatu
sergapan yang memalukan. Hoa In-liong paling benci
menghadapi manusia-manusia macam begini.
Serta merta telapak tangan kirinya diayun ke bawah
membacoh pergelangan tangan kirinya. “Bangsat, tak tahu
malu!” dia memaki.
Serangan tersebut dilancarkan dengan gerakan “Menyerang
sampai mati gerakan pertama”. Babatan sisi telapak
tangannya itu tak kalah tajamnya dengan pedang atau pisau
belati. Andaikata terbacok telak, niscaya pergelangan
tangannya akan cacad.

597
Terkesiap orang baju kuning itu karena kaget, cepat-cepat
sikutnya ditekuk ke bawah tubuhnya dengan gerakan cepat
mundur tiga langkah kebelakang.
Menggunakan kesempatan itu Hoa In-liong melompat
mundur kebelakang dan langsung menyusup kehadapan Hong
Seng, dengan wajah penuh kegusaran dan tampang yang
buas ia membentak, “Sebetulnya kau pakai aturan tidak?”
Hong Seng mundur selangkah dengan hati keder,
keberaniannya agak goyah oleh keangkeran musuhnya.
“Kenapa tooya tidak pakai aturan?” dia menyahut.
“Kalau pakai aturan itu lebih bagus lagi, lepaskan dulu
tawananmu!” kata Hoa In-liong lebih jauh dengan mata
bersinar tajam.
Hong Seng mulai pulih kembali kesadarannya setelah
mendengar ucapan itu, dia semakin tertegun. “Kenapa tooya
musti melepaskan tawanan?”
“Hmm ! Engkau benar-banar manusia yang tak tahu
malu!” bentak Hoa In-liong sambil melangkah setindak
kedepan, “Sekalipun Yu Siau-lam adalah sahabat karibku, ia
sama sekali tak tahu kemana aku pergi. Sedang kau telah
menyekapnya tanpa alasan yang kuat, bahkan menanyakan
pula jejakku. Cara semacam ini sudah terhitung suatu
tindakan yang tak tahu aturan. Sekarang aku kan sudah
berdiri dihadapanmu? Bagaimanapun juga tujuanmu
menyekap Yu Siau-lam sudah tercapai, mengapa tidak kau
lepaskan juga dirinya? Atau memang kau anggap aku tak bisa
melakukan apa-apa terhadap dirimu?”.
Pada waktu itu kemarahan telah menyelimuti seluruh benak
Hoa In-liong. Perkataannya kian lama kian bertambah kasar,
tampangnya juga makin lama semakin keren. Didesak secara

598
begini oleh anak muda itu, kontan Hong Seng merasakan bulu
kuduknya pada bangun berdiri. Ia bergidik dan tanpa sadar
mundur selangkah lagi ke belakang.
Walaupun demikian, bukan bukan berarti persoalan dapat
diselesaikan dengan begitu saja.
Hoa In-liong benar-benar memandang rendah musuhnya
yang bernama Hong Seng ini, karena lawannya itu berhasil
digertak sampai ketakutan setangah mati, walau cuma hanya
dengan kata-kata belaka.
Dalam kesal dan jengkelnya, anak muda itu segera
memutar badannya dan siap berlalu dari situ.
Tapi…. baru saja badannya berputar, tiba-tiba terasa ada
desiran angin dingin menyergap belakang tubuhnya, menyusul
kemudian lima jari tangan yang tajam bagaikan kaitan
mengancam iganya.
Ternyata reaksi dari Hoa In-liong cukup cepat, tiba-tiba ia
tarik lambungnya ke belakang, telapak tangan kanannya
diangkat ke atas. Dengan jari tengah dan telunjuknya ia totok
pergelangan tangan musuh yang sedang menyambar tiba itu.
Diantara desingan angin jari yang menderu-deru, terdengar
serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati
berkumandang memecahkan kesunyian. Seorang imam
berbaju kuning terhuyung mundur kebelakang dengan sebuah
lengannya terkulai kebawah.
Ternyata dalam serangannya tersebut, totokan jari tangan
dari Hoa In-liong itu berhasil mematahkan pergelangan tangan
kanan lawannya.

599
Baru pertama tali ini Hoa In-liong melukai orang, tak kuasa
jantungnya berdebar keras.
Sementara itu Siau Khi-gi menjadi ketakutan setengah
mati. Diam diam ia bersyukur. Bersyukur karena bukan dia
yang melakukan serangan tersebut. Kalau tidak maka yang
terluka sekarang bukan imam baju kuning itu melainkan
dirinya.
Mula-mula Hong Seng agak tertegun karena terperanjat,
tapi sesaat kemudian dengan wajah menyeringai seram dan
sorot mita bertambah buas, ia membentak nyaring, “Khi-gi,
siapkan hiolo darah!”
Menyaksikan kebuasan sorot mata Hong Seng, apalagi
setelah mendengar ia meneriakkan kata-kata “siapkan hiolo
darah,” Hoa In-liong merasakan hatinya berdetak keras,
segera pikirnya, “Konon anak murid Mo-kauw dari Seng Sutpai
banyak yang memiliki ilmu sesat yang rata-rata amat lihay
dan luar biasa, seperti misalnya Hong Seng. Rupanya ia
menitik beratkan kepadanya pada “hiolo darah” tersebut. Aku
tak boleh berbuat gegabah sehingga kena dipecundangi
olehnya”
Walaupun dihati kecilnya ia merasa murung bercampur
ngeri namun kewaspadaan sama sekali tidak berkurang.
Diawasinya Siau Khi-gi yang ada disampingnya dengan
pandangan tajam.
Sekulum senyuman dingin yang seram dan keji tiba-tiba
menghiasi wajah Siau Khi-gi. Kemudian ia putar badan dan
pelan-pelan berjalan ke arah pintu ruangan yang tertutup
rapat. Sikap maupun air mukanya berubah jadi amat serius.
Sementara itu, Hong Seng sendiri jaga berdiri dengan
wajah serius. Sepasang matanya tertutup rapat, bibirnya

600
bergetar kemak kemik seperti orang lagi membaca doa. Entah
mentera apa yang sedang dibaca oleh imam tersebut?
Tindak tanduknya persis seperti upacara suatu aliran
kepercayaan yang serba misterius. Suasana penuh diliputi
keangkeran, keajaiban, kemisteriusan, kengerian dan serba
baru. Berada dalam keadaan begini, Hoa In-liong merasa
detak jantungnya tiba-tiba berdebar lebih keras, sampaisampai
bernafas keras-keras pun tak berani.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Hoa In-liong,
dengan cepat ia berpikir, “Eeh…. Tidak benar!. Bukankah
kamar tengah adalah kamar yang dipakai oleh mereka untuk
menyekap saudara Siau-lam? Jangan-jangan…. Ya Janganjangan….””
Dengan cepat ia menengadah, waktu itu Siau Khi-gi sudah
melangkah di atas serambi.
Saking kagetnya peluh dingin telah membasahi sekujur
badan Hoa In-liong, kakinya lantas dijejakkan ke permukaan
tanah sambil menerjang ke depan dengan cepat.
“Tunggu sebentar!” bentaknya lantang.
Menyusul suara bentakan itu, dia lancarkan sebuah pukulan
dahsyat ke arah tubuh Siau Khi-gi, sedang serangan yang lain
ditujukan ke arah pintu kamar.
Gerakan tubuhnya itu terlampau cepat, dalam keadaan
demikian tak sempat bagi Siau Khi-gi untuk menghindarkan
diri, ia terjatuh keluar dengan sempoyongan.
Tapi begitu pintu kamar terpentang lebar, suatu kejadian
aneh pun segera berlangsung di depan mata.

601
Kecuali sebuah pembaringan bambu dalam ruangan
tersebut, di lantai ada sebuah bantalan untuk bersemedi. Di
depan bantalan semedi tadi berdirilah sebuah hiolo setinggi
tiga depa dengan lebar beberapa depa dan berwarna merah
bercahaya terang. Kecuali itu tidak nampak benda apapun
juga.
Hoa In-liong sangat mengkuatirkan keselamatan Yu Siaulam,
menyaksikan kesemuanya itu dia lantas berteriak keras,
“Dimana orangnya? Orangnya…. kemana parginya dia?”
Sementara itu Hong Seng telah menyerbu masuk ke dalam
ruangan, tapi ketika hiolo itu dillongok sekejap, tiba-tiba ia
menjerit setengah kalap. “Oooh barang pusakaku…. kemana
larinya Po hoat ku…. oooh…. Poo-hoat ku….”
Rupanya dalam hiolo berwarna merah bercahaya itulah
terkumpul beratus-ratus macam makhluk beracun yang paling
jahat didunia.
Makhluk beracun serta hiolo darah ini merupakan bahan
pokok terpenting bagi orang Mo-kauw untuk melakukan ilmu
Hiat-teng-toh-hun-tay-hoat (ilmu hiolo darah pembetot
sukma) yang maha dahsyat itu.
Selain kepandaian tersebut, terdapat juga sejenis
kepandaian yang disebut Hua-hiat-to (Pekikan pelumer jadi
darah). Untuk melatih kepandaian tersebut, seseorang juga
tak boleh melupakan kedua jenis barang tersebut.
Sekarang hio!o pusakanya masih berada ditempat, tapi
makhluk-makhluk beracunnya justru sudah kempas-kempis
melingkar dalam hiolo itu dalam keadaan sekarat. Kematian
pun caranya tidak terlalu jauh lagi. Tidaklah heran kalau Hong
Seng jadi khekinya bukan kepalang, sampai-sampai
perkataanpun terbata-bata.

602
Sementara semua orang diliputi rasa gugup dan keget,
bayangan merah berkelebat lewat disebelah samping,
menyusul kemudian Giok-kou-nio-cu Wan Hong-giok
munculkan diri ditempai itu.
Begitu Hong-giok munculkan diri, Siau Khi-gi pertama-tama
yang menghampiri seraya menyapa, “Adik Hong, sejak pagi
tadi kau telah pergi kemana?”
Wan Hong-giok mengangkat kepalanya tidak menjawab,
menggubris pun tidak. Dia langsung menuju kepintu kamar
dan berdiri bertolak pinggang disana, tiba-tiba serunya dengan
suara lirih, “Hong-susiok, kenapa bersedih hati? Apakah
lantaran makhluk-makhluk beracunmu itu?”
Waktu itu Hong Seng sedang mendongkol dari kesalnya
bukan kepalang, apalagi tidak ada tempat penyaluran,
matanya kontan melotot besar. “Hmm…. Gembira bukan
karena bencana yang menimpa aku?” Teriaknya, “Lain hari
kau tak usah takut kepadaku lagi”
Wan Hong-giok mencibirkan bibirnya. “Huuuh…. konon kau
sangat ahli dalam hal makhluk beracun. Kenapa tidak kau
periksa dulu dengan lebih seksama sebelum mengamuk
macam orang edan ?”.
Mula-mula Hong Seng agak tertegun, menyusul kemudian
merangkak kesisi hiolo tersebut. Dimana dia bersuara aneh
sesaat lamanya, selang kemudian sambil berjingkrak karena
kegirangan teriaknya: ‘”Hong-giok, kau memang hebat,
kau….!”
“Tiada sesuatu yang perlu dihebatkan,” tukas Wan Honggiok
ketus, “Aku cuma menuruti caramu belaka. Siapa tahu
darah manusia yang kuberikan kepada mereka rupanya terlalu

603
banyak sehingga jimat-jimatmu tak tahan lagi. Bukan
keuntungan yang didapat justru satu nyawa telah dibuang
dengan percuma”
Tak terkirakan rasa kaget dan cemas Hoa In-liong setelah
mendengar perkataan itu, serunya dengan gelisah, “Apa kamu
bilang?”
Wan Hong-giok melirik sekejap kearah pemuda itu, lalu
sahutnya dengan angkuh, “Tidak apa-apa. Orang-orang dari
perkumpulan kami sudah terbiasa menggunakan darah sendiri
untuk memberi makan kepada makhluk-makhluk beracun.
Belum pernah nona saksikan ada orang yang begitu tak becus
setelah kehilangan darah. Sobatmu she-Yu itu memang orang
tak berguna, baru setengah jam saja ia sudah mampus
dengan darah mengering”
“Kau bilang dia sudah mati?” Hoa In-liong merasa kaget
bercampur gusar.
“Yaa, sudah mampus!”
Merah membara sepasang mata Hoa In-liong. “Dimana….
Dimana mayatnya? Aku menginginkan mayatnya !”
teriaknya keras-keras.
“Mayatnya berada lima ratus langkah disebelah timur kuil
ini” jawab Wan Hong-giok dengan dingin, “Aku rasa saat ini
sudah habis dimakan anjing liar”
Seketika itu juga Hoa In-liong merasakan darah didalam
tubuhnya bergolak keras, mukanya hijau membesi. Ketika
mendengar berita duka ini, hampir saja ia kehilangan
ketenangannya seperti dihari-hari biasa. Sekujur badannya
gemetar keras, giginya saling bergemerutuk keras, teriaknya

604
dengan penuh kebencian, “Kau…. Kau…. Hitung-hitung aku
sudah mengenali watakmu yang sebenarnya”
Pemuda itu buru-buru ingin menemukan kembali jenasah
dari sahabatnya, ia tak rela membiarkan jenasah temannya
terlantar ditengah hutan sebagai umpan anjing, maka sambil
menahan rasa sedih dan gusarnya, begitu selesai berkata ia
segera lari meluncur kearah timur.
Wan Hong-giok segera mendengus dingin, ia mengejar dari
belakangnya seraya membentak. “Masih ingin kabur. ? Lihat
senjata rahasia”.
Serentetan cahaya kilat mengikuti ayunan telapak
tangannya segera menyergap punggung Hoa In-liong….
oooOOOooo
HOA IN-LIONG merasa amat perih batinnya. Apa yang
terpikir olehnya pada saat ini adalah secepatnya menemukan
diri Yu Siau-lam. Bagaimanakah keadaan sobatnya itu itu
apakah masih hidup atau sudah mati, ia tidak berniat untuk
memikirkannya lebih jauh.
Sama sekali tak terduga olehnya, Wan Hong-giok yang
pernah menaruh hati kepadanya tiba-tiba seperti berubah jadi
orang lain. Bukan dia yang mendesak gadis itu lebih jauh,
ternyata malahan gadis itulah yang mengejarnya sambil
menyerang senjata rahasia. Seakan-akan nona itu amat
mendendam kepadanya sehingga hatinya baru puas bisa
dapat membinasakan dirinya.
Mendengar bentakan tersebut, dengan hati yang mangkel
pemuda itu lantas berpikir, “Bagus sekali! Tempo hari saja
cintamu padaku begitu berkobar-kobar, sekarang hatimu

605
sudah jadi busuk, bukan saja sobatku kau celakai, sampai
kepadaku pribadi juga tak mau lepas tangan”
Sebelum ingatan tersebut habis melintas dalam benaknya,
desingan angin tajam telah menyergap punggungnya.
Dalam keadaan demikian, serta merta Hoa In-liong
menjatuhkan diri kebelakang. Begitu senjata rahasia itu
menyambar lewat, lengan kanannya segera menyambar
kemuka, ujung kakinya menjejak permukaan tanah dan
secepat kilat menyambar senjata rahasia yang menyambar
lewat diatas punggungnya tadi.
Anak muda itu sungguh merasa amat gusar, dia ingin
menangkap senjata rahasia itu untuk disambit kembali kearah
nona itu.
Tapi apa yang kemudian terjadi? Ternyata senjata rahasia
yang berhasil ditangkapnya itu adalah segumpal kertas kecil.
Meudapatkan gumpalan kertas tersebut, Hoa In-liong
semakin tertegun sehingga untuk sesaat lamanya tak mampu
berbuat apa-apa.
Pada waktu itutah, tiba-tiba Hong Seng membentak dengan
suara yang amat nyaring, “Kenapa cuma berdiri termangu
saja? Ayoh dikejar!”
Waktu itu Hoa In-liong akan membuka kertas tersebut
untuk diperiksa apa isinya, tapi ketika mendengar bentakan
itu, hatinya jadi amat tercek kat, segera pikirnya, “Hong Seng
sudah merasakan hal ini, aku…. aku harus cepat-cepat kabur
dari sini “

606
Cepat-cepat gumpalan kertas itu disusupkan ke dalam
saku, kemudian ia melompat kedepan dan naik keatas atap
rumah.
Baru saja badannya lenyap disudut tembok, tiba-tiba
terdengar suara deruan ujung baju tersampok angin
menyambar lewat diatas kepalanya dan kabur menuju
ketimur.
Hoa In-liong termenung dan berdiam diri sesaat lamanya
disana, kemudian ia putar badannya kembali dan balik menuju
kearah ruangan semula.
Satelah melalui suatu pemikiran yang cukup panjang, Hoa
In-liong dapat mengambil kesimpulan bahwa sikap Wan Honggiok
bukanlah sikap yang sungguh-sungguh, melainkan suatu
kesengajaan agar pihak lawan tak curiga. Tujuannya tentu
saja agar dia cepat-cepat tinggalkan kuil Cing-siu-koan
tersebut.
Menurut analisanya, sikap gadis itu pasti mengandung arti
yang mendalam sekali. Mungkin juga Hong Seng sekalian
masih memiliki kepandaian lainnya yang sakti dan belum
dikeluarkan, maka iapun menggunakan alasan bahwasanya Yu
Siau-lam sudah mampus dan mayatnya terlantar ditimur kota
untuk mengelabuinya.
Kendatipun anak muda itu mulai mengerti bahwa Yu Siaulam
belum mati, tapi sebelum bertemu dengan orangnya ia
belum juga berlega hati. Apalagi menurut anggapannya
kendati Hong Seng sekalian memiliki ilmu silat yang lebih
sakti, sembilan puluh persen juga mengandalkan keampuhan
“hiolo darah” nya. Maka setelah dipikir pulang pergi akhirnya
dia memutuskan untuk menggunakan kesempatan yang
sangat baik ini untuk memusnahkan” hiolo darah” itu. Asal
benda yang mereka andalkan musnah, berarti pertarungan

607
andaikata sampai berlangsung, kedua belah pihak terpaksa
harus bertarung dengan andalkan kepandaian sejati.
Cepat nian gerakan tubuhnya, tak lama kemudian ia sudah
tiba didepan pintu halaman tersebut.
Pintu kamar sebelah tengah masih terpentang lebar, hiolo
darah masih ada dalam kamar, tapi seorang imam jubah
kuning dengan mata yang jelalatan berdiri ditengah serambi
panjang dengan sikap siap siaga penuh.
Kembali Hoa In-liong memutar otaknya. Ia merasa bahwa
kekuatan imam jubah kuning itu minim sekali. Asal diserang
musuh pasti dapat ditaklukkan, berarti inilah kesempatan yang
terbaik baginya untuk musnahkan” hiolo darah” itu. Sebab
kalau sampai Hong Seng sekalian balik lagi kesana, dia harus
mengeluarkan tenaga yang lebih besar lagi untuk
mengalahkannya.
Sementara pemuda itu sedang mempersiapkan diri untuk
membekuk imam jubah kuning itu dengan suatu serangan
yang tak tarduga, tiba-tiba ia menyaksikan berkelebat
lewatnya sesosok bayangan manusia.
Dengan terkejut ia berpaling, sinar matanya tanggung
ditujukan kearah mana berasalnya bayangan tadi.
Ternyata orang itu adalah imam setengah baya yang
pernah mencegahnya masuk keruang belakang tadi
Waktu itu dengan wajah yang amat gelisah si imam
tersebut berpaling kearahnya sambil menggape tiada
hentinya.
“Aneh, ada urusan apa totiang ini mencari aku”?, pikir Hoa
In-Liong kemudian dengan dahi berkerut.

608
Walau berpikir begitu, ia maju pula menghampirinya, lalu
bertanya lirih setibanya didepan imam tersebut, “Ada urusan
apa tootiang mencari aku?”.
“Ikutilah pinto?” jawab imam itu sambil ulapkan tangannya.
Lalu dengan wajah tegang dan serius, ia putar badan dan
berlalu dari situ.
Pelbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Hoa Inliong.
Tapi diapun tidak banyak bertanya, terpaksa diikuti
dibelakangnya dengan mulut membungkam
Setelah melewati serambi samping, mereka berbelok ke
halaman sebelah kiri. Di bawah dinding pekarangan dekat
halaman samping terdapat dua buah hiolo tempat
pembakaran abu yang besar.
Dengan mata yang tajam, imam itu celingukan kesana
kemari. Dengan cepat imam tersebut menggape kearah Hoa
In-liong dan menerobos masuk kedalam hiolo pembakaran
tadi.
Tak terkirakan rasa heran Hoa In-liong menyaksikan tindaktanduk
imam itu, tapi dia ikut masuk juga.
Ternyata didalam hiolo pembakaran itu terdapat sebuah
pintu rahasia yang menghubungkah tempat ruangan dengan
ruang bawah tanah. Ketika itu imam setengah baya sedang
membungkukkan badan dan menyingkap sebuah batu persegi
yang amat besar.
Dibawah batu datar itu merupakan sebuah liang goa yang
gelap. Imam setengah baya itu melompat turun lebih dulu,

609
disana ia menyulut api dan memasang otor yang ada diatas
dinding.
Hoa In-liong ikut melompat turun, setelah menutup kembali
batu datar itu pada tempatnya semula, imam setengah baya
itu baru putar badan dan menuruni anak tangga batu.
Diujung trap-trapan tersebut merapikan sebuah lorong
sempit. Bau apek tersiar kemana-mana menimbulkan bau tak
sedap yang menusuk penciuman.
Melihat kesemuanya itu, Hoa In-liong mengerutkan
dahinya, diam-diam ia berpikir, “Mau diajak kemana aku….?
Heran, kenapa dalam kuil Cing-siu-koan disediakan lorong
bawah tanah yang begini rahasia letaknya?”
Sementara dia masih termenung, tibalah mereka didepan
sebuah pintu baja yang tebal dan berat. Imam setengah baya
itu menekan tombol dia tas dinding tersebut kemudian baru
berkata, “Hoa kongcu, sobatmu menderita luka yang amat
parah. Hawa murninya mendapat cedera hebat, ditambah pula
racun yang menyerap ditubuhnya sudah menyusup terlampau
dalam”.
Belum habis perkataan tersebut diutarakan ke luar, Hoa Inliong
sudah merasakan hatinya bergetar, baru-buru serunya
dengan nada amat gelisah, “Dimana orangnya?”
“Kraaaaak!”
Pintu baja itu terpentang lebar dan dan imam setengah
baya itupun menyahut, “Dia berada disini, ikutilah diri pinto,
kongcu!”
Detik itu, Hoa In-liong betul-betul merasa terkejut
bercampur girang. Girang karena Yu Siau-lam yang dicari-cari

610
berhasil ditemukan jejaknya. Terkejut karena Yu Siau-lam
menderita keracunan hebat dan hawa murninya menderita
cedera hebat.
“Tapi, bagaimanapun jua, ia merasa perjalanannya tidak
sia-sia belaka, sebab toh mendatangkan hasil seperti yang
diharapkan.
Dengan jantung berdebar keras, ia mengikuti dibelakang
imam setengah baya itu masuk ke ruang dalam.
Ruangan itu adalah sebuah ruangan batu yang lebar dan
luas. Dalam ruangan terdapat sebuah meja, beberapa buah
kursi, sebuah hiolo, sebuah kasur semedi dan dua pintu lain
yang berhubungan dengan ruangan lainnya.
Setelah masuk kedalam ruangan, imam setengah baya itu
belok menuju kepintu sebelah kanan.
Hoa In-liong betul-betul merasa amat gelisah dia memburu
maju lebib dulu masuk keruangan sebelah kanan. Disitu
ditemuinya sebuah pembaringan. Di atas pembaringan
berbaringlah seorang laki-laki berbaju perlente dan bermuka
warna hitam pekat. Orang itu tak lain adalah Yu Siau-lam!
Berdebarlah jantung Hoa In-liong menyaksikan
kesemuanya itu. Dengan langkah terburu-buru dia berebut
maju ke depan, lalu membungkukkan badan dan memeriksa
keadaan lukanya. Untuk sesaat ia sampai melupakan
kehadiran dari imam setengah baya itu.
Suasana diliputi keheningan, selang sesaat kemudian imam
setengah baya itu baru maju ke muka sambil menghela napas
panjang. “Aaaai…. Nona baju merah itulah yang menghantar
sobatmu kesini. Waktu dibawa kemari, keadaannya sudah
begini rupa!”

611
“Wan Hong-giok kah yang menghantar kemari? Apa yang
dia katakan?” seru Hoa In-liong seraya menengadah.
“Pinto tidak menanyakan nama nona itu, tapi tahu kalau dia
berasal dari satu rombongan dengan suku-suku asing
tersebut. Pada mulanya, lantaran pinto lihat sikapnya dingin
dan ketus, tindak tanduknya buas dan kejam, kuanggap dia
juga orang jahat. Aaaai…. Sungguh tak nyana …. sungguh tak
nyana ….”
Rupanya imam ini merasa menyesal sekali dengan
perasaannya waktu itu, hingga saking terharunya ia tak
mampu melanjutkan kembali kata-katanya.
Tapi Hoa In-liong tidak berniat untuk mendengarkan
pembicaraan tentang seal itu, cepat tukasnya dengan nada
berat, “Tentang soal itu tak usah kau bicarakan. Tolong
tootiang beritahukan saja kepadaku, apa yang telah dia
pesankan?”
“Waktu itu, sikap nona tersebut sangat gugup dan tidak
tenang. Ia pesan kepada pinto agar di luar pengetahuan sukusuku
asing tersebut berusaha untuk menghubungi kongcu,
kecuali itu tiada pesan apa-apa lagi. Kenapa? Apakah kongcu
juga tak mampu untuk membebaskan racun yang mengeram
ditubuh sobatmu ini?”
Orang beribadah memang selalu berhati welas, meski Yu
Siau-lam bukan sanak keluarganya, akan tatapi perhatian
serta rasa gelisahnya atas keselamatan pemuda itu sangat
mempengaruhi hatinya. Terbukti dari wajah serta sikapnya
yang amat gelisah.
Hoa In-liong tidak langsung menjawab, kembali ia
membungkukkan badannya untuk memeriksa lagi keadaan

612
luka yang diderita Yu Siau-lam. Kelopak mata pemuda itu juga
disingkap dan diperiksa, lalu membuka bibirnya dan
memeriksa lidahnya. Setelah selesai melakukan pemeriksaan
baju bagian dadapun dibuka.
Tampaklah sekujur badannya telah berubah jadi hitam
pekat. Hanya diseputar dadanya terlihat bercak-bercak warnawarni
yang amat menyolok pandangan, namun warna hitam
itu sudah mulai menembusi kulit berwarna-warni itu.
Ibu pertama dari Hoa In-liong yakni Chin Wan-hong adalah
anak murid dari Kiu-tok-sian-ci yang berada di lembah Huhiang-
kok dalam wilayah Biau. Perempuan itu sangat
menguasahi tentang pelbagai ramuan dan obat-obatan,
terutama dalam ilmu memunahkan racun. Boleh dibilang
kepandaian tersebut merupakan kepandaian yang tak
terkalahkan didunia dewasa ini.
Semenjak kecil Hoa In-liong mengikuti terus ibunya ini.
Tentu saja terhadap ilmu racun dan ilmu pertabiban amat
menguasai.
Kendati demikian sepanjang hidupnya belum pernah ia
jumpai penyakit bercak-bercak warna warni macam begini.
Tak heran kalau ia jadi terbelalak kaget setelah menyaksikan
kesemuanya itu.
Imam setengah baya itu semakin gelisah lagi, teriaknya
tertahan, “Aduuuh mak, digigit oleh makhluk beracun apa ini?
Kenapa kulitnya berubah jadi begini tak sedap dilihat?”
Hoa In-liong sendiri, walaupun dihati kecilnya merasa kaget
bercampur terkesiap, namun ia masih sanggup menguasahi
diri. Sesudah berpikir sejenak diapun bertanya, “Dapatkah
tootiang sediakan segentong cuka asli?”

613
“Cuka asli? Kongcu minta cuka buat apa?” tanya imam
setengah baya itu tertegun.
Tentu saja untuk memunahkan racun yang mengeram
ditubuh sahabatku. Sekarang tak sempat bagiku untuk
memberi penjelasan lebih jauh. Bila ada cuka tolong siapkan
satu gentong, harus cepat-cepat!”
“Wah …. kalau cepat rada susah” Imam setengah baya itu
mengerutkan dahinya, “Sebab pinto harus mengirim orang
untuk membelinya lebih dahulu” Setelah berhenti sebentar,
katanya kembali, “Konon cuka itu dibuat dari arak. Dalam kuil
kami terdapat arak air untuk menjamu tamu, apakah arak itu
bisa dipakai sebagai penggantinya ?”
Hoa In-liong mengangguk. “Boleh juga kalau memang tak
ada cuka asli, tapi harus ada gula dan harus digarang dengan
api”
“Kalau gula ada persediaan dalam kuil, sekarang juga pinto
akan mempersiapkannya”
Selesai berkata, diapun putar badan dan berjalan keluar
dari ruangan tersebut.
“Eeeh tootiang!” seru Hoa In-liong kembali, “Jangan lupa
menyiapkan kayu bakar serta setengah gentong air bersih,
sebab air itu perlu
untuk membersihkan badan”
Imam setengah baya itu mengiakan dan buru-buru berlalu
dari ruangan bawah tanah.
Selang sesaat kemudian, arak, gula, kayu bakar dan air
sudah diangkut kedalam ruang bawah tanah. Hoa In-liong

614
lantas menggali tanah untuk dipakai sebagai tungku darurat
dan disanalah gentong air disiapkan. Setelah arak dari gula
dilarutkan menjadi satu, kayu bakarpun disuluti api.
Setelah semua pekerjaan dibereskan, dari sakunya Hoa Inliong
mengeluarkan dua buah botol yang putih seperti susu
kambing. Dari salah satu botol itu dia mengambil sebiji pil
Cing-hiat-wan yang berwarna kuning emas, dan pil pah-toksan
yang berwarna putih dari botol yang lainnya.
Separuh bungkus dari obat puyer pah-tok-san itu ia
larutkan pula kedalam gentong arak, sedang separuh yang
lain diminumkan kepada Yu Siau-lam bersama-sama dengan
obat cing-hiat-wan dan air putih. Selesai minum obat, baru
menelanjangi pemuda itu dan merendamkan tubuhnya
kedalam gentong berisi larutan arak bercampur obat.
Perlu diterangkan disini, ibu tua dari Hoa In-liong yakni
Chin hujin atau lebih dikenal dengan namanya Chin Wan-hong
merupakan seorang perempuan yang barhati sekokoh baja.
Ketika Hoa Thian-hong terkena racun jahat Tan-hwee-tok-lian
(teratai racun empedu api), dengan semangat yang berkobar
dan tidak mengenal putus asa ia berusaha melakukan
percobaan demi percobaan untuk menciptakan obat penawar
racun yang dapat melenyapkan kadar racun jahat tersebut
dari tubuh suaminya. Pil cing-hiat-wan (obat pembersih darah)
seria pah-tok-san (bubuk pencabut racun) merupakan dua
diantara sekian jenis obat penawar racun yang berbasil
diciptakannya pada waktu itu.
Baik cing-hiat-wan maupun pah-toh-san bernama amat
sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, tapi justru dibalik
kesederhanaan nama itu terseliplah suatu daya kemampuan
untuk menawarkan racun yang maha dahsyat. Tak selang
setengah perminuman teh kemudian, seluruh hawa hitam

615
yang menyelimuti sekujur badan Yu Siau-lam telah berhasil
dibikin luntur dan mulai menghilang.
Walau begitu Yu Siau-lam masih berada dalam keadaan tak
sadar.
Lewat beberapa waktu kemudian, kulit muka-baru mulai
tampak berkerut dan mengalami kejang-kejang. Dari sikap
serta mimik wajahnya itu dapat diketahui bahwa ia sedang
mengalami suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya.
Rada gemetar si tosu setengah baya itu menyaksikan
penderitaan orang, mula pertama ia masih dapat menahan
diri, tapi lama kelamaan akhirnya tak tahan juga, iapun
menegur, “Hoa kongcu, sobatmu itu tidak apa-apa bukan
keadaannya?”
Waktu itu, Hoa In-liong sedang menyalurkan bawa
murninya untuk menguruti seputar jalan darah Pek-hwi hiat di
ubun-ubun Yu Siau-lam dengan telapak tangan kanannya,
sementara tangan yang lain menahan tubuh anak muda itu.
Maka ia cuma gelengkan kepalanya belaka ketika mendengar
pertanyaan tersebut.
Kembali si tosu setengah baya itu mengerutkan dahinya.
“Aku lihat sobatmu sedang mengalami penderitaan yang
cukup hebat” Serunya lagi dengan kuatir, “Jangan-jangan
kadar racun ditubuhnya lagi kambuh?”
Melihat kekuatiran orang, Hoa In-liong tersenyum. “Bukan
kumat. Penderitaan tersebut dialaminya lantaran racun mulai
membuyar dan larut ke luar dari badannya. Tootiang tak usah
kuatir, cing-hiat-wan serta pah-toh-san bikinan ibuku sangat
manjur dan punya daya kemampuan amat mujarab. Racun
apa saja dapat dipunahkan secara mudah. Memang! Sobatku

616
terluka oleh banyak jenis makhluk beracun, tapi keadaannya
sudah tidak membahayakan lagi jiwanya”
“Apa kau bilang? Jadi jadi ia dilukai oleh banyak jenis
makhluk beracun?” seru tosu setengah taya itu agak kaget.
“Yaa! ini dapat kita ketahui dari kulit dadanya yang
berwarna-warni dengan bercak-bercak panca warna. Warna
warni itu dihasilkan oleh gigitan khas dari ular beracun, kala
jengking beracun, laba-laba beracun, kelabang beracun dan
lain jenis makhluk beracun. Tapi racun-racun itu sudah
ditawarkan semua, keadaannya sudah tidak berbahaya lagi”
Tanpa sadar tosu setengah baya itu melirik lagi kearah Yu
Siau-lam, tapi apa yang terlihat olehnya?
Kali ini, bukan saja sekujur badannya mengejang keras
bahkan mulai gemetar keras. Keadaan semacam ini tentu saja
tak bisa diartikan sebagai keadaan yang “tidak berbahaya”
lagi, maka dia pun jadi setengah percaya setengah tidak.
“Aku lihat penderitaan yang dialami sobatmu itu kian lama
kian bertambah hebat!” katanya kemudian dengan lirih.
“Penderitaan memang tak bisa dihindari. Lantaran sari
racun sudah menyerang ke dalam hati, sobatku kehilangan
daya kesadarannya. Jika pertolongan diberikan satu jam lebih
terlambat niscaya jiwanya tak ketolongan lagi. Sekarang
sobatku sudah mendapat pengobatan dari luar maupun dalam.
Daya kerja obatpun mulai reaksi, hawa racun menyebar ke
empat penjuru. Kesadarannya sedikit demi sedikit akan pulih
kembali seperti sedia kala. Lihatlah tootiang! Bukankah kulit
badan sobatku mulai berubah jadi normal kembali?”
Betul juga! Hawa hitam yang semula menyelimuti tubuh Yu
Siau-lam sekarang sudah mulai luntur bahkan selang sesaat

617
kemudian, keadaannya sudah pulih kembali seperti sedia kala.
Menyaksikan kesemuanya itu legalah hati si tosu setengah
baya itu.
Percayanya dia memang sudah percaya, tapi anehnya ia
malah semakin berkerut kening, bibirnya bergetar seperti
hendak mengucapkan sesuatu tapi akhirnya maksud itu
dibatalkan jua.
Melihat itu Hoa In-liong tertawa geli “Apakah tootiang
masih kuatir?” tanyanya kemudian.
Cepat-cepat tosu setengah baya itu menggeleng. “Oooh….
tidak! Pinto tidak kuatir. Maksud pinto ….”
Ia seperti agak sangsi, tapi akhirnya ujung bajunya
digulung juga, sambil memperlihatkan lengan kirinya
dihadapan Hoa In-liong dia berkata lebih jauh, “Lihatlah Hoa
kongcu, bekas gigitan yang tertera diatas lengan pinto ini.
Gigitan itu adalah bekas gigitan dari seekor kelabang raksasa
yang berwarna bercak-bercak hitam diatas merah, dua puluh
tujuh orang murid pinto yang berdiam dalam kuil ini menjadi
korban gigitan yang sama semua”
Hoa In-liong memeriksa bekas gigitan itu dengan seksama,
terlihatlah pada seputar pergelangan tangan muncul dua bintik
warna merah sebesar ka cang kedelai yang berdempetan, kulit
tubuh yang diseputarnya mencekung kedalam, bentuknya
memang bentuk gigitan kelabang. Murkalah sianak muda itu,
serunya dengan gusar, “Kenapa? Semua orang penghuni kuil
sudah di gigit oleh kelabang beracun:….?”
“Yaa begitulah….”sahut tosu setengah baya itu dengan
muka sedih bercampur marah.

618
Setelah berhenti sejenak, ia turunkan kembali lengan
bajunya, lalu berkata lebih jauh, “Tiga hari berselang, sukusuku
asing itu dengan membawa sobatmu datang kemari dan
memaksa untuk menginap dikuil kami. Sebetulnya pinto segan
menerima mereka lantaran menyaksikan tingkah pola mereka
yang bengis dan buas. Aaai…….. siapa tahu orang-orang itu
memang buas dan liar. Bukan saja mereka memaksa diri
untuk menginap dan minta makan disini, bahkan semua murid
yang ada dikuil ini telah mereka kumpulkan. Kemudian dari
dalam hiolo merah darah itu mereka tangkap seekor kelabang
raksasa dan digigitkan pada lengan masing-masing orang.
Setelah itu merekapun menitahkan kepada pinto sekalian agar
merahasiakan betul-betul jejak mereka semua. Katanya jika
kami tak menurut perintahnya, merekapun tak akan memberi
obat pemunah kepada kami semua. Bila racun keji dari
kelabang itu sudah bercampur dengan darah dan waktu
mencapai tujuh kali tujuh empat puluh sambilan hari, maka
kambuhnya sari racun dalam tubuh kami akan mengakibatkan
kematian bagi kami semua”
Diam-diam Hoaln-liong menggertak gigi menahan rasa
mendongkolnya, dia berpikir dihati, “Hati Hong Seng betulbetul
sangat busukdan beracun. Padahal mereka toh tahu
bahwa tosu-tosu penghuni kuil Cing-siu-koan bukan orangorang
persilatan, tapi mereka gunakan juga cara dan tindakan
yang begitu buas dan kejam untuk menindas serta memaksa
mereka . Hmmm….! Aku Hoa In bersumpah akan
musnahkan hiolo darah milikmu itu!”
Rasa benci dan mendongkolnya itu untuk sementara hanya
disimpan dalam hati. Selain itu diapun dapat memahami arti
serta maksud pembicaraan dari tosu setengah baya itu, jelas
imam tersebut sedang memohon obat penawar racun bagi
anggota-anggota kuilnya, maka diapun mengangguk tanda
setuju.

619
“Enmm ! Orang-orang itu memang kelewat kejam
dan bias” sahutnya, “Tapi kau tak usah kuatir, racun kelabang
akan segera punah begitu menelan sebutir pil cing hiat-wan
milikku. Obat tersebut cukup banyak persediaannya dalam
sakuku, totiang boleh menggunakannya untuk menolong
murid-murid totiang!”
Lega juga perasaan sitosu setengah baya itu sehabis
mendengar kesanggupan orang. “Sebetulnya pinto memang
ada maksud untuk meminta obat. Sekarang setelah koagcu
menyanggupi, pinto pun dengan tebalkan muka menerima
kebaikan kongcu tersebut!”
Selesai berkata, dia lantas menjura dalam-dalam kearah
Hoa In-liong
Buru-buru Hoa In-liong goyangkan tangannya terulang kali,
“Jangan begitu…. Jangan begitu…. Rasa terimasih totiang
terlampau berlebihan. Apalagi jika totiang tidak tepat pada
waktunya menemukan diriku, selembar jiwa sobatku ini terus
lebih banyak berbahaya daripada selamat.”
Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar Yu Siau-lam
menghembuskan nafas panjang seraya mengeluh, “Oooh….
Sesak amat nafasku!”
Dalam pada itu keadaan Yu Siau-lam sudah membaik, hawa
hitan yang semula menyelimuti sekujur badannya, kini sudah
luntur dan putih kembali seperti sedia kala.
Hoa In-liong cepat berpaling dengan perasaan kaget, lalu
serunya dengan gelisah, “Bersabarlah sedikit saudara Siaulam,
kau keracunan hebat. Jika semua bibit racun itu tidak
sekalian dibersihkan, banyaklah kesulitan yang akan kau
hadapi dikemudian hari”

620
Yu Siau-lam membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar,
kemudian sambil menggigit bibir menahan sakit sahutnya agak
terbata-bata, “Oooh…. Ruu rupanya saudara In-liong,
konon kau kau ditangkap oleh Kiu-im kaucu. Aku…. Aku….”
“Kejadian yang sesungguhnya akan kuceritakan nanti saja”
tukas Hoa In-liong dengan cepat, “Yang paling penting
sekarang adalah membersihkan sisa racun dari dalam
tubuhmu. Jika saudara Siau-lam masih sanggup untuk
menyalurkan tenaga dalam, cepatlah atur pernafasan dan
bantu untuk mendesak keluar sisa hawa racun yang masih
mengeram dalam tubuhmu, siaute akan membantu dari
depan”
Tidak menunggu sampai Yu Siau-lam memberikan jawaban,
hawa murni lantas disalurkan keluar. Dalam waktu singkat
segulung aliran hawa murni yang panas sekali menyusup
kedalam tubuh Yu Siau-lam melalui jalan darah Pek-hwi-hiat
diatas ubun-ubun.
Yu Siau-lam menggerakkan bibirnya seperti hendak
mengucapkan sesuatu, tapi ketika dilihatnya Hoa In-liong
telah menyalurkan hawa murninya dengan serius, maka
sesudah agak sangsi sejenak, akhirnya diapun membungkam,
mata dipejamkan dan hawa murnipun dikerahkan untuk bantu
mengusir racun dalam tubuhnya.
Si-tosu setengah baya sendiri mengamati kedua orang
pemuda dihadapannya dengan wajah penuh rasa kagum.
Sebentar ia menengok Hoa In-liong yang sedang menyalurkan
tenaga dalamnya, sebentar lagi ia berpaling kearah Yu Siaulam
yang sedang bersemedi, entah ia sedang merasa
berterima kasih lantaran pemberian obat mujarab dari Hoa Inliong
ataukah dia kagum karena dengan usianya yang begitu
masih muda, ternyata memiliki tenaga dalam yang amat
sempurna.

621
Selang sesaat kemudian, kekuatan maupun paras muka Yu
Siau-lam telah jauh membaik. Warna wajahpun kian lama kian
bertambah semu merah, sedang air arak dalam gentong yang
dipakai untuk mererdam diri, saat itu warnanya sudah berubah
jadi bitam pekat. Dari sini dapat diketahui betapa lihaynya
racun yang mengeram ditubuh Yu Siau-lam.
Tak lama kemudian, semua sisa racun yang ma sih berada
dalam tubuh Yu Siau-lam telah luntur tak berbekas. Mereka
berdua serentak menghentikan semedinya. Yu Siau-lam
sendiripun melancar keluar dari dalam arak.
”Saudara Siau-lam!” ujar Hoa In-liong kemudian sambil
tertawa nyaring, “Kita adalah sesama saudara, aku rasa
omong kosong sama sekali tak ada gunanya. Tapi kalau toh
ingin omong kosong, maka aku harus berterima kasih lebih
dulu kepadamu, sebab lantaran aku kau telah lakukan
perjalanan jauh hingga mengakibatkan keracunan hebat”
Yu Siau-lam memang ada maksud menyampaikan rasa
terima kasihnya, tertegunlah sianak muda itu sehabis
mendengar ucapan tersebut, tapi menyusul kemudian ia
terbahak-bahak, “Haa…. haa…. ha…. Bagus…. Bagus! Bagus!
Jadi kalau bagitu, perasaanmu memang jauh lebih tajam lalu
dibandingkan dengan perasaanku!”
Hoa In-liong tersenyum. “Kalau toh saudara Siau-lam
menyetujui, maka harap engkau keringkan badan dan
mengenakan pakaian lebih dahulu!”
Yu Siau-lam tundukkan kepalanya, kontan merah padam
selembar wajahnya, cepat-cepa ia bersihkan badan dengan air
bersih, lalu mengeringkan badan dan mengenakan pakaian.

622
Walaupun dalam ruangan bawah tanah cuma ada tiga
orang pria belaka, toh bertelanjang bulat adalah suatu
pemandangan yang kurang sopan. Karenanya meski ia sudah
kenakan pakaian, warna merah diwajahnya belum juga luntur.
Untuk menghilangkan rasa malunya, Yu Siau-lam berpaling
kearah toiu setengah baya itu sambil berkata, “Tootiang ini
adalah….”
Cepat tosu setengah baya itu memberi hormat, “Pinto Bujian,
koancu dari kuil ini.” sahutnya.
“Hoa In-liong yang berada disampingnya cepat
menyambung, “Tempat ini adalah ruang bawah tanah dari kuil
Cing-siu-koan. Tahukah saudara Siau-lam? Di kala nyawamu
berada diujung tanduk lantaran racun jahat yang mengeram
dalam tubuhmu mulai kambuh, Bu jian tootiang lah yang
sudah menyelamatkan dirimu?”
Mendengar ucapan tersebut, buru-buru Yu Siau lam
menjura kearah Bu-jian tootiang.v”Oooh…. rupanya tootiang
adalah Cing-siu koancu!” katanya, “aku yang muda Yu Siaulam
mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan serta
pertolongan yang telah koancu berikan”
“Keliru…. Keliru…. Yu kongcu harus mengetahui dulu duduk
persoalan yang sebenarnya” Tukas Bu jian tootiang seraya
goyangkan tangannya berulang
kali, “Pinto hanya melaksanakan permintaan dari nona Wan
Hong-giok untuk menyembunyikan kongcu disini, kemudian
secara kebetulan kujumpai pula Hoa kongcu. Bila berbicara
soal budi dan kebaikan. Oh…. Pinto tidak berani menerima
penghargaan tersebut!”

623
Hoa In-liong tertawa, ia menyambung dari samping,
“Tootiang, engkau terlalu merendahkan diri. Sekalipun hanya
menyembunyikan saudara Siau-lam, tapi bila perbuatanmu
tidak kau lakukan dengan berhati-hati, bisa jadi akan
mendatangkan bencana yang mengakibatkan kematianmu.
Bayangkan saja, bttapa besarnya pahala yang telah kau
berikan kepadanya? Cuma, aku rasa soal budi dan kebaikan
cuma hiasan bibir yang hanya dibicarakan saja. Marilah, kita
bercakap-cakap di luar saja”
Bu-jian tootiang tidak dapat berbicara lagi, sedang Yu Siaulam
dengan pelbagai pertanyaan yang memusingkan
kepalanya menurut saja atas perkataan sobatnya. Merekapun
menuju ke ruang depan.
Setelah mereka bertiga tiba diluar, Yu Siau-lam dengan
tidak sabaran lagi segera menanyakan kisah tertangkapnya
Hoa In-liong oleh Kiu-im- kaucu serta bagaimana caranya
hingga dia tahu kalau dirinya sudah kena ditangkap oleh Hong
Seng beserta komplotannya?
Hoa In-liong pun menerangkan satu demi satu hingga
akhirnya ia berhasil menyelamatkan jiwanya,
Selesai bercerita, pemuda itu menambahkan, “Saudara
Siau-lam, apakah racun yang bersarang ditubuhmu adalah
akibat dari gigitan makhluk beracun yang dipelihara dalam
hiolo darahku?”
Yu Siau-lam segera mengangguk. “Yaa benar!” Sahutnya
dengan murung bercampur marah, “Dalam hiolo darah itu,
mereka pelihara berpuluh-puluh jenis makhluk beracun yang
rata-rata merupakan makhluk paling berbahaya didunia ini.
Setiap satu jam sekali mereka gunakan makhluk beracun yang
berbeda untuk menyiksa aku dan melukai dadaku. Mereka

624
paksa aku untuk memberi tahukan jejak yang berhubungan
dengan kau. Sebetulnya idee jahat ini diusulkan oleh si nona
baju merah. Sungguh tak kusangka rupanya ia adalah seorang
nona yang punya maksud tertentu, akhirnya dia juga yang
telah selamatkan selembar jiwaku”
Tiba-tiba Hoa In-liong bangkit berdiri. “Harap kalian berdua
duduk sejenak disini akan kumusnahkan lebih dulu hiolo darah
yang jahat itu!” serunya.
Mula-mula Yu Siau-lam agak tertegun menyusul kemudian
cegahnya sambil goyangkan tangannya berulang kali. “Eeeh
eeh nanti dulu!, nanti dulu! Jangan terburu napsu! Setelah
gagal menyandaki dirimu, aku pikir Hong Seng pasti sudah
balik ke ruangannya. Dari pembicaraan yang berhasil siau-te
sadap selama ini, dapat kuketahui bahwa mereka miliki
serangkaian ilmu Hiat-teng-toh-han-tay-hoat (ilmu hiolo darah
pembetot sukma) yang luar biasa lihaynya. Sebelum
mengambil sesuatu tindakan lebih baik kita rundingkan dulu
semasak-masaknya”
“Aku rasa tak perlu dirunding lagi!” tolak Hoa In-liong
dengan wajah yang membara, “Dari sebutan ilmu Hiat-tengtoh-
hun-tay-hoat mereka itu, dapat kuketahui bahwa
kepandaian itu lebih mengandalkan keampuhan dari makhlukmakhluk
beracun yang dipelihara dalam hiolo berdarah
daripada mengandalkan kekuatan sendiri. Bila hiolo darah itu
berhasil kupunahkan, niscaya merekapun tak mampu
mencelakai orang lain lagi “
“Eeeh…. Nanti dulu!” kembali Yu Siau-lam mencegah,
“Bukankah tadi kau katakan bahwa nona baju merah itu telah
memberi segumpal kertas untukmu? Kenapa tidak kau baca
dulu isi suratnya sebelum mengambil keputusan lebih jauh?”

625
Setelah diingatkan kembali, Hoa In-liong baru teringat
kalau surat yang dilemparkan Wan Hong-giok kepadanya
belum diperiksa. Cepat kertas itu dirogoh keluar dari sakunya
dan diperiksa isi surat tersebut.
Maka terbacalah surat itu berbunyi demikian, “Ditujukan
buat Hoa Kongcu In-liong yang terhom at, Sejak berpisah di
kota Lok-yang, nasib tak mujur telah menimpa diriku. Tak
kusadari diriku telah berjumpa dengan orang-orang dari Mokauw.
Waktu itu lantaran aku dengar dalam pembicaraan
mereka bermaksud tidak baik terhadap kongcu, naaka
sepanjang jalan kuikuti jejak mereka. Aku ingin tahu apa yang
hendak mereka lakukan.
Ai, memang nasib lagi buruk, ternyata karena tindak
tandukku yang amat gegabah ini telah diketahui oleh kawanan
bajingan itu, akhirnya aku kena ditangkap dan diperkosa oleh
Siau Khi-gi.
Tubuhku telah tak suci lagi, aku sudah ternoda ditangan
orang. Selama hidupku kini tak punya muka lagi untuk
bertemu dengan kongcu “
Membaca sampai disini, Hoa In-liong tak dapat menahan
rasa terkejutnya lagi, ia berseru tertahan, “Apa? Ia dinodai
orang?”
Haruslah diketahui, walaupun Hoa In-liong itu romantis dan
suka bermain perempuan, tapi dia adalah seorang lelaki yang
menitik beratkan pada kesetiaan.
Lantaran menyelidiki rencana busuk Hong Seng sekalian
yang hendak mencelakai jiwanya, Wan Hong-giok telah
diperkosa orang. Bagaimanapun juga peristiwa itu baru terjadi
karena persoalannya, maka tak aneh kalau ia menjerit
tertahan saking kaget dan terkesiapnya.

626
Yu Siau-lam sendiri juga kaget ketika mendengar seruan
kaget itu. Sambil melompat bangun segera teriaknya. “Siapa
yang ternoda?”
Sesudah ditegur orang, Hoa In-liong baru menyadari
kesilafannya, cepat surat itu diangsurkan kepada Yu Siau-lam.
“Nona baju merah itulah yang kumaksudkan” Sahutnya
kemudian, “Ia sudah dinodai deh Siau Khi-gi, laki-laki
berdandan sastrawan itu!”
“Apakah kau tahu dari isi surat itu?”tanya Yu Siau-lam
tercengang, “Mari kita membacanya bersama-sama!”
Surat itu tidak diterimanya, tapi ia maju kemuka dan berdiri
bersanding disamping Hoa In-liong.
Bu-jian tosu ikut maju pula, merekapun membaca bersama
isi surat selanjutnya, “ Setelah ternoda, sebenarnya aku
ingin menghabisi nyawa sendiri. Tapi mengingat rencana
busuk mereka menyangkut keselamatan umat persilatan yang
ada didunia ini dan lagi membayangkan pula kelangsungan
hidup dari keluarga ayahmu, maka dengan menahan derita
dan siksaan kulanjutkan hidupku yang terhina ini.
Kuikuti terus kemanapun mereka pergi. Aku ingin
menyelidiki rencana busuk mereka lebih jauh serta berharap
dapat bertemu sekali lagi dengan diri kongcu.
Tapi yaa, aku tak tahu dimanakah kongcu berada pada
saat ini. Maka dalam keadaan terpaksa, aku hanya bisa
menganjurkan kepada Hong
Seng si iblis itu agar menggunakan siksaan paling keji
untuk menyiksa sahabatmu “

627
Membaca sampai disini, Yu Siau lam lantas menjadi paham
aku duduk persoalan yang sebenarnya, ia lantas berpikir,
“Ternyata ia memang bermaksud tertentu dengan
perbuatannya, aku tak boleh menyalahkan dia kalau begitu”
Maka diapun melanjutkan membaca isi surat itu, “
Tetapi, aku yang rendah telah memberi obat pemunah untuk
sahabatmu itu, musti tidak lengkap obat pemunahnya, namun
aku rasa cukup untuk mempertahankan jiwanya.
Setelah membaca surat ini, harap kongcu segera mencari
Bu-jian kongcu, dia dapat menghantar dirimu untuk bertemu
dengan sahabatmu”
Dibawahnya tak ada tanda tangan melainkan terdapat lagi
sebaris tulisan yang lembut, kecil dan rapat, tulisan itu
berbunyi demikian, “Surat ini kubuat dengan tergesa-gesa.
Banyak lagi persoalan yang tak dapat kubicarakan disini. Tiga
hari kemudian pada kentongan ketiga tengah malam akan
kunantikan kedatangan kongcu dipuncak bukit Yan-san. Selain
akan kuserahkan sisa obat penawar yang tak sempat
kuberikan, akan kuterangkan juga segala sesuatu yang
kuketahui. Semoga kongcu bisa datang tepat pada waktunya,
jangan lupa! Jangan lupa.’”
Surat itu ditulis secara tergesa-gesa, terutama sekali katakata
terakhir yang berupa tulisan “jangan lupa” itu, bisa
diketahui betapa gelisahnya Wan Hong-giok waktu itu.
Selesai membaca isi surat tersebut, pertama-tama Bu-jian
tootiang yang menghela napas lebih dulu, katanya, “Begitu
dalam perasaan cinta nona Wan, begitu pedih perasaan
hatinya, mungkin sukar ditemukan keduanya didunia ini”

628
Betapa tidak? Setelah ternoda ia rela mengikuti musuhnya,
setelah tahu bakal celaka ia mengikuti terus kemana
musuhnya pergi.
Bahkan walaupun dia tahu bahwa Yu Siau-lam adalah
sahabatnya Hoa In-liong, ia rela dirinya dimaki kejam dan
telengas asal jejak Hoa In-liong dapat diketahuinya. Dan ia
melakukan kesemuanya itu hanya berharap bisa bertemu
dengan Hoa In-liong dan menyampaikan semua rahasia yang
diketahuinya kepada kekasih hatinya itu.
Dari sini dapat diketahui betapa dalamnya rasa cinta Wan
Hong-giok terhadap sianak muda itu, terbukti dari isi suratnya
yang begitu memilukan hati.
Untuk sesaat lamanya Hoa In-liong hanya berdiri termangumangu
seperti orang bodoh hatinya betul-betul terharu dan
sedih.
Yu Siau-lam sendiri gelengkan kepalanya berulang kali,
katanya dengan hati yang sedih, “Nona Wan terlalu polos
pikirannya. Coba pandangannya tidak secupat itu, tentu lain
pula keadaannya”
Ditepuknya bahu Hoa In-liong dengan lembut, kemudian
menambahkan, “Saudara In-liong aku lihat nona Wan ada
maksud untuk menghabisi nyawa sendiri. Tiga hari kemudian
siau-te akan temani dirimu pergi ke bukit Yan-san. Akan
kunasehati dengan sungguh-sungguh ia ternoda bukan karena
kesilafan sendiri melainkan karena dipaksa orang lain. Rasanya
ia tak usah malu terhadap nenek moyangnya, menyesali diri
sendiri itu tak ada gunanya”
“Ternoda menahan derita, ternoda menahan derita ”
Gumam Hoa In-liong dengan wajah aneh.

629
Tiba-tiba ia putar badan dan lari menuju ke pintu luar.
Cepat Yu Siau-lam ikut bangkit dan menyusul dari
belakangnya. “Saudara In-liong, mau kemana kau?” teriaknya
keras.
“Akan kujagal Siau Khi-gi bangsat terkutuk itu” Sahut Hoa
In-liong sambil lari terus ke muka, “Akan kubalaskan dendam
sakit hati dari nona Wan!”
“Jangan ngaco belo!”‘ bentak Yu Siau-lam dengan gelisah,
“Kalau toh seorang perempuan sudah ternoda, sudah
semestinya kalau ia tidak menikah lagi dengan pria lain,
karena tidak kau tanyakan dulu pendapat dari nona Wan?
Mana boleh kau lakukan tindakan yang ngawur hanya
menuruti nafsu sendiri?”
Teguran itu ibaratnya guyuran air dingin sebaskom yang
menimpa kepalanya, untuk sesaat
Hoa In-liong jadi tertegun dibuatnya, langkah kakinya ikut
menjadi lambat.
Yu Siau-lam melompat kemuka dan menghadang
dihadapannya, katanya lebih jauh dengan lembutt, “Saudara
In-liong, aku lebih tua beberapa tahun dari padamu, maukah
engkau menuruti perkataan ku?”
Hoa In-liong bukannya seseorang yang tak tahu diri, Ia
sendiripun merasa bahwa tindakan seperti itu tidak pantas
dilakukan oleh seorang jago seperti dia, maka diapun tertawa
menyesal. “Aaaai…. Siau-te memang sedikit terburu nafsu dan
terlalu menuruti emosi” Ujarnya kemudian sambil menghela
napas panjang, “Menyesal tindakanku tadi telah mencemaskan
saudara Siau-lam….

630
Yaa, jika engkau ada nasehat, katakaalah keluar, siau-te
akan mendengarkan dengan seksama!”
“Tak usah kau bicarakan tentang kata-kata sopan” tukas Yu
Siau-lam dengan tenang. Digenggamnya tangan pemuda itu
erat-erat, “Aku hanya berharap agar kau suka berpikir lebih
cermat lagi. Tahukah kau kenapa nona Wan menahan segala
penderitaan dan penghinaannya setelah mengalami
perkosaan?”
Hoa In-liong termenung sebentar sebelum menjawab,
“Terus terang kukatakan, nona Wan merasa tertarik dan jatuh
hati kepadaku. Dalam pandangannya yang pertama, ia
bersedia menanggung semua derita dan penghinaa, tak lain
karena soal cinta. Ia menguatirkan keselamatan siaute, takut
siaute tak tahu keadaan yang sebenarnya dan kena digarap
orang-orang Mo-kauw”
Yu Siau-lam mengangguk beberapa kali. “Nah, itulah dia.
Jika pihak Mo-kauw tidak memiliki suatu tindakan yang sangat
lihay. Tidak merencanakan suatu rencana busuk yang besar
dan berbahaya, apa gunanya nona Wan bersikap seserius itu?
Buat apa bersikeras ingin berjumpa muka denganmu dan ingin
menyampaikan sendiri semua persoalannya kepadamu? Lebihlebih
lagi sikapnya yang menggunakan setiap kesempatan
yang ada untuk berkomunikasi denganmu, contohnya ia
menyampaikan gumpalan surat tersebut ke padamu?”
Pelan-pelan Hoa In-liong mengangguk. “Lalu bagaimana
menurut pendapatmu?” tanyanya kemudian.
“Siau-te sih tidak mempunyai pendapat lain. Aku cuma
merasa bahwa persoalan ini tak boleh dihadapi secara
gegabah. Apalagi didalam suratnya nona Wan telah
peringatkan bahwa persoalan ini menyangkut keselamatan
umat persilatan, dan keselamatan hidup dari ayahmu

631
sekeluarga, “Aku pikir jika Hong Seng dan komplotannya tidak
memiliki suatu kekuatan yang bisa diandalkan, belum tentu
nona Wan bersedia mempercayai ucapan mereka dengan
begitu saja, bila sekarang kau ambil tindakan secara gegabah.
Kalau sampai menemui marabahaya, betapa menyesalnya kau
dan lagi bukankah tindakanmu itu akan menyia-nyiakan jerih
payah serta pengorbanan nona Wan selama ini?”
Keadaan Hoa In-liong pada saat ini benar-benar sudah
menjadi tenang, sebagai seorang pemuda yang berotak
cerdas, setelah mengalami pemikiran yang lebih mendalam,
dapat disadari olehnya dimana letak kelihayan dari persoalan
itu, masalah semacam ini memang benar-benar tak boleh
ditanggapi secara gegabah,
“Aaai…. Agaknya kita baru bisa menyusun rencana lagi
sehabis berjumpa dengan nona Wan” keluhnya kemudian
sambil menghela napas panjang.
“Itu sih tidak perlu” seru Yu Siau-lam lagi, “Atau paling
sedikit, rencana busuk pihak Mo-kauw sedikit banyak sudah
kita ketahui lebih duhulu “
“Tentang soal ini, siau-te sendiripun sudah memikirkannya.
Apalagi ketika diadakan penggalian harta karun dibukit Kiu-cisan,
justru Mo-kauw kaucu Tang Kwik-siu menderita
kekalahan total ditangan ayahku. Waktu itu dia pernah
sesumbar demikian: Barang pusaka milik Seng sut-pay untuk
sementara waktu dititipkan kepada ayahku. Sepuluh tahun
atau seratus tahun kemudian bila dari Seng-sut-pay muncul
orang yang berbakat, barang pusaka itu pasti akan diminta
kembali. Dan kini urusan telah menyangkut keluargaku, ini
berarti mereka pasti sudah merasa bahwa saatnya membalas
dendam telah tiba. Tang-kwik kaucu pasti menganggap
kekuatannya sudah mampu untuk melawan ayahku, maka
kedatangannya ketimur kali ini bukan saja untuk menuntut

632
kembali barang pusakanya, tentu diapun akan membalas pula
sakit atas kekalahan yang pernah dideritanya dahulu”
Yu Siau-lam mangut-mangut. “Yaa…. Yaa…. Aku
rasa tentu begitu. Karenanya kau lebih-lebih tak boleh
menempuh bahaya.”
Hoa In-liong tersenyum, selanya, “Aku tak takut menempuh
bahaya, cuma aku merasa tak ada keperluannya untuk
menempuh bahaya”
“Kalau kau sudah paham, itu lebih baik lagi” Yu Siau-lam
ikut tertawa pula, “Mari kita bercokol beberapa waktu lagi
disini. Jika Hong Seng tidak berhasil temukan jejakmu, dia
pasti akan pergi tinggalkan tempat ini”
Bu-jian tootiang yang selama ini hanya membungkam terus
disamping, tiba-tiba menyela, “Pinto rasa cara ini memang
paling tepat. Biar pinto yang ke atas untuk melihat keadaan,
sekalian akan ku bawakan pula sedikit makanan untuk kongcu
berdua”
“Terima masih atas perhatian koancu!” seru Yu Siau-lam
sambil berpaling dan tertawa.
Cepat Bu-jian tootiang goyangkan tangannya kali. “Aaah….
Tidak terhitung seberapa…. Tidak terhitung seberapa….
kalian tak usah sungkan-sungkan!”
Walaupun diluaran dia berkata begini, ternyata kakinya
sama sekali tidak beranjak dari tempat semula.
Menyaksikan kesemuanya itu Hoa In-liong lantas mengerti
maksud orang, cepat ia meroboh ke dalam sakunya dan
mengangsurkan sebuah botol porselen ke tangannya seraya
berkata, “Isi botol porselen ini adalah pil cing-hiat wan. Siapa

633
saja yang keracunan tentu akan sembuh kembali bila menelan
satu butir saja. Bawalah pergi botol ini tootiang!”
Setelah menerima botol porselen itu, Bu-jian tootiang
segera memberi hormat. “Terima kasih atas pemberian Hoa
kongcu “
“Waaah….waaah…. tadi kan sudah bilang, tak usah pakai
segala macam adat dan sanjungan yang kosong” Tukas Hoa
In-liong sambil tersenyum, “Silahkan tootiang berlalu,
minumkan mereka dengan air putih”
Bu-jian tootiang ikut tertawa terbahak-bahak. “Haa…. ha….
ha…. Hoa kong cu memang pandai sekali bergurau “
Ia ingin mengucapkan terima kasih lagi, tapi ketika teringat
sesuatu kata-kata selanjutnya lantas ditelan kembali ke dalam
perutnya. Selesai memberi hormat diapun berlalu dari situ.
Yu Siau-lam dan Hoa In-liong saling berpandangan sekejap.
Menanti bayangan punggung dari Bu jian tootiang sudah
lenyap dari pandangan, mereka baru putar badan dan masuk
kembali ke dalam.
Siapa tahu ketika mereka berdua hampir masuk ke pintu
utama, tiba-tiba didengarnya Bu-jian tootiang sedang
menjerit-jerit seperti orang kalap, “Kebakaran….! Kebakaran….
!”
Jeritan itu bernada kaget, ngeri dan memilukan hati. Tanpa
tanpa terasa Yu Siau-lam dan Hoa In-liong berdiri
berpandangan dengan hati terkesiap
Salang sesaat kemudian, terdengar Bu-jian tootiang
berteriak teriak lagi, “Kalian…. Kalian…. Betul-betul amat
kejam!”

634
Ucapan tersebut diulangi sampai beberapa kali. Dari sini
dapatlah diketahui bahwa dalam kuil Cing-siu-koan telah
terjadi perubahan besar yang sama sekali diluar dugaan.
Hoa In-liong merasakan jantungnya berdebar keras, cepat
serunya dengan hati cemas, “Ayoh jalan! Kita lihat apa yang
telah terjadi”
Tidak menanti jawaban dari rekannya lagi, ia putar badan
dan lari keluar, kemudian berkelebat menuju ke pintu masuk
ruang bawah tanah.
Yu Siau-lam ikut memburu dari belakapg, selang sejenak
kemudian mereka sudah berada diluar ruang rahasia tersebut.
Apa yang terlihat?
Ternyata kuil Cing-siu koan telah berubah menjadi puing
puing yang berserakan.
Hanya dalam beberapa jam yang amat singkat, kuil Cingsiu-
koan yang begitu mewah tinggal puing-puing yang
berserakan dimana-mana. Amukan jago merah masih tampak
disana sini.
Ruang tengah yang megah juga masih berada di tengah
kobaran api. Jilatan api yang menyala disana-sini mendidihkan
pula darah dalam tubuh Yu Siau-lam serta Hoa In-liong.
Mereka rasakan kemarahan yang memuncak sampai ke ubunubun.
Sesosok bayangan manusia berlarian tiada hentinya
diantara jilatan api sambil menjerit-jerit seperti orang kalap.
Bayangan itu bukan lain tubuh dari Cing-siu koancu.

635
Jilid 17
MENYAKSIKAN kemusnahan yang melanda kuil Cing-siukoan,
Bu-jian totiang sebagai koancu dari kuil tersebut merasa
kehilangan ketenangannya sebagai seorang yang beribadah.
Tingkah polahnya saat itu lebih mirip perbuatan dari orang
gila.
Sambil menggertak gigi menahan geramnya, Hoa In-liong
berdiri tertegun beberapa saat lamanya disana. Tiba-tiba ia
ulapkan tangannya seraya berseru, “Ayoh jalan! Kita suruh Bujian
totiang tenang lebih dulu sebelum berunding lebih jauh”
Mereka berdua berjalan diantara atap dan bata yang
hangus, melewati tiang-tiang kayu yang masih membara
dilantai. Disana sini terlihatlah mayat-mayat yang telah hangus
menjadi arang.
Ada diantara mayat itu yang berada dalam posisi memeluk
tiang, melompat jendela, ada yang terkapar ditanah, ada yang
bergaya ingin kabur, ada pula yang tertindih dibawah
reruntuhan hingga cuma kelihatan kepalanya atau sepasang
kakinya belaka.
Tak dapat disangsikan lagi bahwa seluruh penghuni kuil
Cing-siu-koan telah dibantai secara keji. Pemandangan
semacam ini bukan saja menggetarkan perasaan, bahkan
membuat orang merasa tak tega.
Mendekati ruangan tengah, Hoa In-liong segera berteriak
keras-keras, “Tootiang….! Tootiang….! Kau jangan lari kesana
kemari seperti orang hilang ingatan. Yang penting adalah
tenangkan hatimu untuk menghadapi masalah yang jauh lebih
penting….”

636
Ketika mendengar seruannya itu, bukannya berhenti, Bujian
tootiang justru menerkam datang seperti harimau
kelaparan. “Bajingan keparat!” teriaknya setengah menjerit,
“Apa kesalahan toyamu sehingga kau bertindak begitu
kejam?”
Telapak tangannya segera dilontarkan ke muka segulung
angin pukulan hawa panas yang amat dahsyat segera
menyergap datang.
Hoa In-liong miringkan badannya kesamping. Begitu angin
serangan berhasil dihindari, lengan kanannya segera bergerak
maju ke depan, kali ini ia mengancam pergelangan tangan
imam tersebut.
“Tenangkan hatimu!” sekali lagi dia membentak,
“Kesedihan yang kelewat batas tak mungkin bisa mengatasi
persoalan….”
Siapa tahu, sebelum ia menyelesaikan kata-katanya,
terasalah Bu-jian tootiang menggetarkan lengannya keraskeras
sehingga tergetar lepas dari cengkeramannya, menyusul
kemudian telapak tangan kanannya melancarkan bacokan
kembali ke depan membabat bahunya.
“Kembalikan nyawa muridku!” Jeritnya lengking.
Dahsyat sekali angin serangan yang ia lancarkan ini bahkan
kecepatannya bagaikan sambaran kilat.
Menghadapi ancaman seperti ini Hoa In-liong jadi kaget.
Cepat ia menutul permukaan tanah dan mengigos delapan
depa kesamping.

637
Kebetulan Yu Siau-lam yang berada dibelakang menyusul
kedepan. Begitu serangan dari Bu-jian tootiang mengena
disasaran yang kosong, tiba-tiba ia alihkan terkamannya
kearah pemuda itu, bahkan melepaskan sebuah bacokan
dengan penuh tenaga.
“Bajingan, mau kabur kemana kau?” bentaknya, ”Rasakan
dulu sebuah pukulan dari toyamu!”
Pukulan demi pukulan dilancarkan secara berantai. Dari
caranya melancarkan serangan dapat diketahui bahwa ia
sudah nekad dan ingin beradu jiwa. Dari sini dapat dibuktikan
pula bahwa kesadaran otaknya sudah mulai luntur, ia tak
dapat membedakan lagi mana kawan dan mana lawan.
Sementara itu Hoa In-liong berdiri tegap delapan depa
diluar gelanggang pertarungan. Ia awasi jalannya pertarungan
dengan seksama.
Tampaklah seluruh rambut dan janggut Bu-jian tootiang
berdiri kaku seperti landak. Matanya melotot besar dan
berwarna merah membara. Waktu itu tosu tersebut sedang
mengawasi gerakan tubuh Yu Siau-lan lekat-lekat. Jeritan
demi jeritan berkumandang tiada hentinya sementara telapak
tangannya diobat-abitkan kesana kemari.
Anehnya, semua serangan yang ia lancarkan beraturan
sekali dan menurut aturan yang ada. Sedikitpun tidak mirip
orang yang kehilangan kesadaran.
Mula-mula ia merasa agak curiga, tapi setelah diperhatikan
lebih jauh, akhirnya ia berhasil temukan keadaan yang
sebenarnya.
Ternyata Bu-jian tootiang juga merupakan seorang jago
yang berilmu tinggi, bahkan kungfunya terhitung luar biasa.

638
Bila ditinjau sepintas lalu maka dapat diketahui bahwa tenaga
dalamnya diatas kemampuan Yu Siau-lam, kemampuannya
sudah terhitung kelas satu.
Mengapa selama ini Bu-jian tootiang menyimpan ilmu
silatnya rapat- rapat? Hoa In-liong tidak punya waktu untuk
berpikir lebih jauh. Apa yang dipikirkannya sekarang adalah
bagaimana caranya untuk mengenangkan pikiran si koancu
yang makin sinting ini.
Karenanya sesudah termenung sejenak, iapun berseru
dengan lantang, “Perhatikan baik-baik saudara Siau-lam,
tenaga dalam yang dimiliki Bu-jian tootiang sangat tinggi. Tapi
ia sudah dibuat sinting karena kobaran hawa amarahnya
mencapai otak. Nah, sekarang harap tenangkan pikiranmu,
siau-te akan menyergap dari belakang, mari kita bekuk dulu
tootiang ini sebelum berbicara lebih jauh”
Sebenarnya dengan tenaga gabungan Yu Siau-lam dan Hoa
In-liong, bukan suatu perbuatan yang sulit bagi mereka untuk
menaklukkan Bu-jian tootiang. Sulitnya justru mereka harus
menyerang tanpa melukai korbannya apalagi Bu-jian tootiang
sudah mendekati sinting. Ia hanya tahu beradu jiwa dan tak
mengenal berkelit. Bila salah turun tangan hingga
mengakibatkan hal-hal yang tak diinginkan, bukankah hal ini
akan merupakan suatu penyesalan sepanjang jaman?
Waktu itu, Yu Siau-lam sedang berada dalam kurungan
angin serangan yang menggulung-gulung bagaikan amukan
hujan badai. Sementara ia makin keteter dan merasakan
betapa beratnya daya tekanan yang dilancarkan Bu-jian
tootiang, maka begitu mendengar seruan dari Hoa In-liong,
anak muda itupun lantas sadar akan apa yang telah terjadi.

639
Dengan cepat taktik pertarungannya dirubah. Sekarang ia
mulai bertempur dengan sikap yang berhati-hati. Setiap
menghadapi serangan dipatahkan dengan serangan.
Menghadapi sergapan dibalas dengan sergapan. Seluruh
perhatiannya dipusatkan pada gerakan ilmu silat dari Bu-jian
tootiang sedapat mungkin ia hindari pertarungan keras lawan
keras dan sistim yang dianut adalah pertarungan ala gerilya.
Betul juga keadaan Bu-jian tootiang ibaratnya orang gila.
Sekalipun Hoa In-liong berbicara keras namun ia sama sekali
tidak mendengarnya. Imam tersebut masih juga menyerang
Yu Siau-lam dengan garangnya diiringi teriakan-teriakan kalap.
Setajam sembilu sorot mata Hoa In-liong, diam-diam ia
menyusup kebelakang imam itu. Kemudian begitu kesempatan
baik telah tiba, jari tangannya lantas disentil kemuka.
Seketika itu juga tiga buah jalan darah penting dibelakang
punggung Bu-jian tootiang kena di totok, tanpa mengeluh
toosu itu terkapar ditanah dan tak mampu berkutik lagi.
Yu Siau-lam yang ada dihadapannya segara maju
menyambut badannya, kemudian sambil menghembuskan
nafas panjang keluhnya, “Aaai…. Sungguh tak kusangka
kalau totiang ini juga seorang jago lihay dari dunia persilatan.
Seandainya ia tidak sinting dan kesadarannya tersumbat, jelas
siaute bukan tandingannya”
“Bukan waktunya bagi kita untuk membicarakan masalah
tersebut pada saat ini. Ayoh kita geledah sekitar reruntuhan
kuil ini. Coba lihat apakah masih ada yang hidup diantara para
korban yang tergeletak disini….!”
Yu Siau-lam menengadah dan memandang sekejap
sekeliling tempat itu, kemudian sahutnya, “Aku rasa tak usah
diperiksa lagi. Percuma, sekalipun diperiksa juga tak ada

640
gunanya. Buat apa kita buang tenaga dengan percuma? Coba
lihatlah reruntuhan disini, paling sedikit api sudah berkobar
selama satu jam lebih. Bila ada yang belum mampus,
seharusnya suara rintihan mereka sudah kedengaran
semenjak tadi”
Hoa In-liong berpikir sejenak, ia merasa perkataan itu ada
benarnya juga. Tapi ketika sinar matanya memandang mayatmayat
yang tergeletak bagaikan arang dan mencium bau
sangit yang menusuk penciuman, dendam juga perasaannya,
dengan gemas ia berseru, “Orang yang melepaskan api untuk
membakar kuil ini betul-betul jahat dan buas!. Jika sampai
kutemukan lagi dikemudian hari, Hoa loji pasti akan
menjatuhkan hukuman yang paling keji kepadanya”
“Lebih baik dilalap juga dengan api, biar dia rasakan
bagaimana rasanya kalau badan terbakar oleh api. Tapi
siapakah yang melepaskan api dan membakar kuil ini?” tanya
Yu Siau-lam ragu-ragu.
“Huuuh…. Siapa lagi? Tentu saja perbuatan dari Hong
Seng” Teriak Hoa In-liong dengan gemas, “Karena gagal
menyusul diriku, dia jadi kalap dan dalam kalapnya timbullah
niat jahatnya untuk membantai seluruh anggota imam yang
tinggal dikuil Cing-siu-koan ini, kemudian melepaskan api
membakar kuil ini untuk melampiaskan rasa gemasnya.
Hmm…. Manusia berhati serigala macam begini betul-betul
manusia yang tak berperi kemanusiaan buat apa manusia
macam begitu dibiarkan hidup didunia?”
Yu Siaulam manggut-manggut berulang kali “Yaa, masih
mendingan kalau mereka adalah suku asing! Yang paling
menggemaskan justru Siau Khi-gi yang membuat kaum
penjahat asing melakukan kekejaman serta kejahatan.
Manusia macam begini bukan saja telah melupakan nenek
moyang sendiri, bahkan dia telah bertekuk lutut kepada suku

641
asing. Dalam benaknya penah berisi akal-akal jahat untuk
mencelakai bangsanya sendiri. Bila dugaanku tak keliru, pasti
dialah yang mengeluarkan ide tentang pembakaran terhadap
kuil ini”
“Yaa, kemungkinan besar ucapanmu benar” Hoa In-liong
mengangguk, “Karena itu lain waktu kita musti lakukan
penyelidikan yang seksama, jika terbukti memang dia yang
ajukan usul tersebut, bangsat itu harus kita tangkap lalu kita
cincang dengan keji”
“Yaa, manusia macam begitu memang pantas dicincang
jadi berkeping-keping” Yu Siau-lam membenarkan.
Ia memandang sekejap keadaan Bu-jian tootiang,
kemudian sambil menengadah ujarnya lagi, “Bagaimana
dengan koancu ini? Bagaimana kalau kita bebaskan dulu jalan
darahnya?”.
Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, lalu
berkata pula, “Tempat ini letaknya sangat dekat dengan kota.
Aku rasa kebakaran yang barusan terjadi tentu sudah
diketahui pula oleh penguasa setempat. Daripada mencari
kesulitan yang tak berguna, lebih baik kita tinggalkan dulu
tempat ini”
“Benar!” Yu Siau-lam mengangguk, “Kita memang harus
pergi dulu dari sini!”
Setelah mengambil keputusan, ia lantas membopong Bujian
koancu dan berjalan lebih dulu menuju ke tenggara.
Setelah berjalan beberapa saat lamanya, Hoa In-liong
berkata lagi, “Jalanan ini adalah jalan yang siau-te tempuh
sewaktu datang kemari. Apakah kita akan kembal ke kota Kimleng?”

642
“Yaa, kita sedang bergerak menuju ke kota Kim-leng,
bagaimana pendapat saudara In-liong?”
“Saudara Siau-lam apa tahu dimana letaknya bukit Yansan?”
“Bukit Yan-san terletak disebelah barat kota Kim-leng,
sebelah selatan kota Cian-siok. Dari kota Cian-siok paling
banter juga cuma seratus li lebih sedikit. Arah yang kita ambil
sekarang justru sejalan dengan tujuan kita. Kenapa? Apakah
saudara In-liong hendak langsung menuju bukit Yan-san untuk
memenuhi janji pertemuanmu dengan nona Wan?”
“Aaah…. mengadakan pertemuan sih, masih pagi. Yang
siau-te pikirkan adalah soal janji nona Wan dengan kita untuk
bertemu tiga hari kemudian di bukit Yan-san. Kalau toh ia bisa
berkata begini berarti dia sudah tahu kalau Hong Seng
sekalian hendak menuju sekitar bukit Yan-san. Apa salahnya
kalau kita langsung menuju bukit Yan-san, sekalian
menyelidiki gerak-geriknya?”
Sehabis mendengar perkataan itu, Yu Siau-lam segera
memahami akan kebsnaran ucapan tadi, kontan pujinya,
“Waaah…. kecerdasanmu memang satu tingkat lebih hebat
dari pada orang lain. Didepan sana ada persimpangan jalan.
Ayoh kita segera menuju ke bukit Yan-san”
Begitulah, meskipun pembicaraan dilangsungkan terus
namun langkah kaki mereka tak pernah berhenti. Setelah
berlarian satu jam lebih, sampailah mereka didepan sebuah
hutan yang lebat.
Hoa In-liong memandang sekejap Yu Siau-lam yang berada
disampingnya. Melihat peluh sudah membasahi sekujur
badannya, dia pun berkata, “Saudara Siau-lam, mari kita

643
beristirahat sebentar dihutan sebelah depan sana, sekalian
kita tanyai keadaan Bu-jian tootiang”
“Begitupun boleh juga” Yu Siau-lam menjawab sambil
tertawa, “Badan Bu-jian tootiang besar dan berat, aku
memang sedikit merasa lelah!”
Maka kedua orang itupun saling berpandangan sambil
terbahak-bahak, perjalanan dilakukan lebih cepat lagi menuju
kearah hutan lebat didepan sana.
Hutan itu letaknya disuatu tikungan jalan raya, ketika
mereka berdua berhasil mencapai tepi hutian tersebut tibatiba
dari depan sana muncul segerombol manusia.
Lantaran kedua belah pihak sama-sama sedang melakukan
perjalanan cepat, maka ketika berjumpa muka secara
mendadak, kedua belah pihak sama-sama kaget dan tertegun.
Setelah rombongan semakin dekat, barulah terlihat bahwa
rombongan yang datang dari sebelah depan sana berjumlah
belasan orang lebih. Diantara mereka tampak pula Coa Conggi
serta Li-Poh-seng. Selain itu ada pula Liat Ceng-poh dan Be
Si-kiat diiringi delapan sembilan orang laki-laki berpakaian
ketat. Mereka semua bersenjata lengkap. Jelas datang untuk
memberi bantuan. Tapi karena perjalanan terlalu lambat maka
sampai waktu itu baru tiba ditempat tujuan.
Setelah masing-masing pihak mengetahui siapakah
lawannya, meledaklah teriakan-teriakan gembira yang gegap
gempita.
Coa Cong-gi pertama-tama yang lari ke depan lebih dulu.
Sambil mencekal tangan Hoa In-liong erat-erat serunya
kegirangan, “Saudara Hoa, sungguh amat payah kucari diri….”

644
Tiba-tiba ia berpaling ke arah Yu Siau-lam dan
melanjutkan, “Sudah kuduga, asal saudara Hoa tiba tepat
pada waktunya, saudara Siau-lam pasti akan selamat tanpa
kekurangan sesuatu apapun. Haa…. haa…. haa…. Ternyata
tebakanku memang tidak keliru. Aku lihat paras muka Siaulam
heng merah bercahaya, tentu banyak bukan keuntungan
yang berhasil kau dapatkan?”
Matanya celingukan kesana kemari, sikapnya hangat sekali.
Kalau bisa ia mempunyai dua lembar mulut sehingga semua
perasaan gembiranya dapat di utarakan keluar sekaligus.
Yu Siau-lam dan Hoa In-liong sendiripun merasa amat
gembira sekali, sebelum pemuda she-Hoa itu sempat buka
suara, sambil tertawa nyengir Yu Siau-lam telah berkata lebih
duluan, “Tahukah engkau, hasil apakah yang berhasil
kudapatkan?”
Coa Cong-gi mengernyitkan alis matanya yang tebal,
kemudian sambil menuding kearah Bu-jian tootiang sahutnya,
“Bukankah dia adalah hasil yang diperoleh? Waaah….
Emangnya kau anggap aku ini bodoh dan ceroboh, sehingga
seorang toosu segede itupun tidak kelihatan?”
Ternyata dia menganggap Bu-jian tootiang sebagai
tawanan yang berhasil ditangkap dalam pertarungan yang
barusan berlangsung.
Sebetulnya Yu Siau-lam hanya bermaksud iseng saja dan
sengaja menggoda dirinya, tapi setelah menyaksikan
keseriusan orang, selain merasa tak tega, diapun merasa geli
sekali sehiagga tak kuasa lagi dia tertawa terbahak-bakak.
“haa…. haa…. haa…. Betul…. Betul, Mari kita bercakap-cakap
disana saja”

645
Dicengkeramnya lengan pemuda itu, lalu diajak menuju
kedalam hutan lebat situ.
Hoa In-liong sendiri sambit memegang perut sendiri
menahan geli, diapun manggut-manggut ke arah Liat Cengpoh
dan Be Si-kiat untuk mengucapkan terima kasih.
Kemudian sambil berjalan bersanding dengan Li Poh-seng
katanya, “Demi siau-te, saudara Poh-seng harus melakukan
perjalanan jauh. Atas kesediaan saudara bersusah payah, tak
lupa siau-te ucapkan banyak banyak terima kasih”
Li Poh-seng tertawa rawan. “Aaaah…. Terhadap sesama
saudara, apa gunanya berbicara sungkan-sungkan? Keadaan
ini tak ada bedanya dengan tindakanmu sewaktu semalam
suntuk berangkat ke Hong-yang”
“Tidak bisa dikatakan sama jelas berbeda jauh” Tukas Hoa
In-liong sambil gelengkan kepalanya, “Saudara Siau-lam
mendapat kesusahan lantaran persoalan siau-te. Maka sudah
menjadi kewajiban siau-te untuk memberi bantuan
secepatnya”
Mendengar perkataan itu, Li Poh-seng tertawa terbahakbahak.
“Haa…. haa…. ha…. Apa bedanya antara kewajibanmu
memberi bantuan dengan kerelaan kami membantu dirimu?
Bagaimanapun juga toh kita sama sama bermaksud
membantu yang sedang susah dan menolong yang sedang
terluka? Jika diantara sahabatpun tak boleh melakukan sedikit
jasa seperti ini, lantas apa gunanya kita mengikat diri menjadi
sahabat?”
Hoa In-liong tak ingin mendebat lebih lanjut, diipun segera
mengangguk berulang kali, katanya sambil tertawa, “Apa yang
saudara Poh-seng katakan memang cengli, siaute mengakui
tak mampu mengalahkan muridmu”

646
Sementara pembicaraan masih berlangsung, rombongan
mereka sudah tiba dalam hutan lebat itu.
Seorang laki-laki setengah baya yang berwajah bersih maju
kedepan dan memberi hormat kepada Yu Siau-lam, katanya,
“Tentu kongcu Sudah mendapat banyak penderitaan yang
mengejutkan hati bukan? Siau-te tak punya kepandaian hebat,
ilmu silat juga biasa-biasa saja. Sungguh menyesal hatiku
karena tak mampu menjalankan tugas untuk melindungi
keselamatan kongcu dengan sebaik-baiknya”
Cepat Yu Siau-lam goyangkan tangannya berulang kail
seraya menukas dengan lantang, “Harap saudara Lo jangan
berkata demikian. Meskipun aku sendiri terkejut oleh kejadian
itu, pada hakekatnya jiwaku tidak terancam bahaya maut.
Justru aku merasa berterima kasih sekali karena saudara
sekalian begitu baik hati melakukan perjalanan jauh untuk
mencari bala bantuan. Perbuatan kalian sudah cukup
menunjukkan kesetia-kawanan kamu semua kepadaku. Jika
saudara Lo berkata lebih jauh, bagaimana mungkin aku bisa
mengatasi semua hal ini? Mari…. mari…. Kuperkenalkan kalian
semua dengan saudaraku ini”
Setelah membaringkan tubuh Bu-jian tootiang ditanah, dia
lantas perkenalkan mereka semua ke pada dia Hoa In-liong.
Ternyata laki-laki berpakaian ringkas yang membawa
senjata lengkap itu adalah orang-orang yang pernah
mendapat bantuan dari Yu Siau-lam dimasa lalunya.
Ada yang pernah mendapat bantuan berupa uang karena
soal ekonomi yang macet, ada yang mendapat pengobatan
sewaktu menderita luka. Ada pula yang pernah tinggal
dirumahnya selama banyak waktu tanpa bekerja apa-apa.

647
Laki-laki setengah baya yang berwajah bersih itu bukan lain
adalah saudara tertua dari Liat Ceng poh dan Be Si-kiat. Dia
she-Lo bernama Pek-sian. Dia juga yang menjadi komandan
dalam operasi pertolongan terhadap diri Yu Siau-lam di kota
Hong-yang.
Hoa In-liong menjura berulang kali sebagai balasan rasa
hormatnya, kemudian sambil berpaling kearah Coa Cong-gi
katanya, “Saudara Cong-gi, aku dengar engkau bertugas
menjaga di kota Kim-leng. Tapi sewaktu aku lepas dari bahaya
dan mencari dirimu kemana-mana, ternyata jejakmu tidak
berhasil kutemukan, sebetulnya kau telah pergi kemana?”
oooOOOOooo
“WAAAH…. Waaah…. Apa lagi yang musti
kukatakan? sahut Coa Cong-gi dengan cepat. “Kalau kau
mencari aku, memangnya aku tidak sedang mencari dirimu?
Setelah berlatih kungfu selama tiga hari, aku lantas berada
disana lagi”
“Lho….! Bagaimana sih? Jadi kau tahu dimana aku telah
disekap musuh?” tanya Hoa In-liong tercengang.
Dari nada ucapannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa ia
sedikit kurang percaya terhadap pengakuan rekannya. Sebab
ia tahu Coa Cong-gi adalah seorang pemuda yang
berangasan. Lagi pula ia saogat menitik beratkan dalam soal
kesetiaan kawan tanpa mengindahkan resiko terhadap diri
sendiri.
Berdasarkan wataknya itu, maka seandainya ia sudah tahu
dimana ia disekap musuh, maka seharusnya kalau pemuda itu
langsung turun tangan memberi pertolongan.

648
Ternyata keadaan berbicara lain, ia bersikap lebih cerdas
dan berotak dingin. Setelah menyadari bahwa kekuatannya
seorang diri terlalu minim dan tak mungkin bisa menolong
rekannya, ternyata ia malah berlalu untuk melatih diri selama
tiga hari.
Baik Yu Siau-lam maupun Li Poh-seng juga tak berani
mempercayai pengakuannya itu. Sinar mata mereka berdua
sama-sama ditujukan ke atas wajahnya dengan pandangan
tercengang.
Coa Cong-gi masih belum menyadari akan sikap aneh
rekan-rekannya, ia masih juga berkata lebih jauh, “Tentu saja!
Kalau kalau tidak begitu, darimana aku bisa segera kirim kabar
untuk mencari kembali saudara Poh-seng sekalian untuk
berkumpul kembali?”
“Oooh…. Jadi kalau begitu, sewaktu kau utus orang untuk
mengirim kabar, waktu itu kau sendiripun belum tahu jiwa
Hoa-heng sudah terlepas dari mara bahaya?” kata Li Poh-seng
seperti baru menyadari.
“Andaikata aku tidak berjumpa dengan saudara Ceng-poh
dan Si-kiat, siapa tahu kalau dia sudah terlepas dari mara
bahaya?”
Hoa In-liong yang berada disampingnya segera
menyambung. “Itulah kalau takdir berbicara lain. Apa gunanya
kita bicarakan lebih jauh? Yang paling penting adalah
dimanakah saudara Ek-hong dan Siong-peng pada saat ini?”
“Kalau toh saudara Cong-gi sudah utus orang untuk
mengirim kabar, aku pikir mungkin mereka sudah kembali
semua di kota Kim-leng” Jawab Li Poh-seng.

649
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh,
“Mari kita duduk sambil berbicara. Kita bicarakan saja kisah
tentang keadaan saudara Siau-lam sejak lolos dari bahaya!”
“Betul!” sambung Coa Cong-gi pula, “Apa yang sebenarnya
terjadi dengan toocu itu? Kalian harus berbicara sejelasjelasnya”
Maka mereka semuapun duduk bergerombol di atas tanah
sambil mendengarkan kisah cerita.
Tentang pengalaman Hoa In-liong sewaktu meloloskan diri
dari bahaya, boleh dibilang kejadiannya sederhana tanpa
sesuatu yang aneh. Setelah disinggungpun berlalu dengan
begitu saja.
Lain halnya dengan kisah lolosnya Yu Siau-lam dari
ancaman bahaya. Oleh karena peristiwa itu menyangkut
tentang diperkosanya Wan Hong-giok oleh Siau Khi-gi,
disiksanya Yu Siau-lam secara keji, dibakar dan dibantainya
anggota kuil Cing-siu-koan serta bangkitnya kembali
perguruan Seng-sut-pay dari puing-puing kehancurannya.
Maka bukan saja kisah ini sangat menarik hati, bahkan
membangkitkan bawa amarah dalam benak masing-masing
orang.
Diantara sekian banyak orang yang hadir disana, Coa Conggi
paling tak tahan mendengar kisah kekejamaan dan
kebuasan orang yang tak kenal peri kemanusiaan. Apalagi
setelah mengetahui bahwa sintingnya Bu-jian tootiang adalah
lantaran dibantainya semua anggota kuil Cing-siu-koan oleh
gembong-gembong iblis, kemarahan yang berkobar dalam
benaknya tak terbendung lagi.
Tiba-tiba ia memukul tanah keras-keras, kemudian
berteriak dengan penuh kegusaran, “Gembong iblis sialan! Aku

650
Coa Cong-gi bersumpah tak akan hidup sebagai manusia bila
tak mampu mencingcang tubuh kalian hingga hancur
berkeping-keping!”
Karena teriaknya yang menggeledek ini, penuturan kisah
cinta itupun terputus untuk sementara waktu. Li Poh-seng
yang duduk disampingnya segera berkata dengan serius, “Kau
jangan marah-marah dulu. Bila kita tinjau dari situasi yang
terbentang didepan mata sekarang, jelas hawa iblis sudah
menyelimuti seluruh jagad. Kita tak mungkin bisa menganggur
terus. Asal dilain hari kita jagal beberapa orang diantara
mereka, bukankah sakit hati itu bisa segera dilampiaskan?”
Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, suaranya tenang dan
datar, sama sekali tidak dipengaruhi emosi. Dari sini dapat
diketahui bahwa pemuda itu berpandngan jauh dan lebih
pandai menguasai diri daripada rekan-rekannya.
Mula pertama Coa Cong-gi sudah busungkan dada sambil
mengucapkan kata-kata yang bernada panas, tapi setelah
mendengar perkataan itu, biji matanya lantas berputar lalu
manggut-manggut. “Ehmm…. Betul juga perkataanmu, hawa
iblis memang sudah menyelimuti seluruh jagat, kemarin
malam, aku telah menyaksikan sendiri orangorang
dari Hian-beng-kau berkasak-kusuk dengan Kiu-im
kaucu”
Menyinggung soal Kiu-im kaucu, tanpa sadar Hoa In-liong
merasa semangatnya berkobar kembali, cepat selanya,
“Dimanakah kau berhasil mendengarkan kasak-kusuk
mereka….? Cepat beritahu kepadaku!”
Dengan wajah berseri-seri karena bangga Coa Cong-gi
tertawa ringan, lalu sahutnya, “Tempatnya? Tak lain dalam
ruang sebelah depan dimana kau disekap tempo hari,

651
waaah….! Banyak sekali yang berhasil kujumpai malam itu….
.!”
“Eeeh…. Sebenarnya apa saja yang berhasil kau jumpai?”
tanya Hoa In-liong dengan dahi berkerut, “Mengapa tidak kau
terangkan sejelas-jelasnya?”
“Tentu saja akan kuterangkan. Coba jawablah dulu sebuah
pertanyaanku, apakah kenal dengan seorang cianpwe yang
bernama Ko Thay?”
“Apalah kau maksudkan seorang laki-laki berperawakan
tinggi kekar, berwajah tampan dam berwibawa sekali?”
“Benar! Benar!” Coa Cong-gi mengangguk berulang kali.
“Memang dialah yang kumaksudkan. Usianya antara tiga puluh
lima enam tahunan….”
“Tentu saja aku kenal. Dia adalah ahli waris dari Ciu-itbong,
Ciu-locianpwe. ilmu silatnya berasal dari bimbingan
nenekku dan ayahku, aku sebut dia sebagai paman. Kenapa?
Apa kau, telah berjumpa muka dengan dirinya?”
Paras muka Coa Cong-gi makin berseri setelah mendengar
pertanyaan itu, jawabnya, “Bukan saja telah berjumpa,
bahkan kusaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana dia
lancarkan sebuah pukulan yang enteng untuk mengirim Kiu-im
kaucu kabur pulang kesarangnya. Ha….ha….ha….
Kegagahannya waktu itu sungguh mengagumkan”
Hoa In-liong berdiri tertegun dengan mata terbelalak lebar,
diam-diam pikirnya, “Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kiuim
kaucu sudah mampus? Sejak kapan tenaga dalam yang
dimiliki Paman Ko mengalami kemajuan yang demikian
pesatnya?”

652
Karena curiga dan tidak habis mengerti, ia lantas berseru,
“Eeeh…. Kalau bicara sedikitlah lebih jelas. Lebih baik kau
terangkan dari awal sampai akhir. Daripada aku dibikin
kebingungan oleh ceritamu itu!”
“Apanya yang membuat kau kebingungan? Yaa begitu saja,
sekali jotos dia lantas pulang ke rumah neneknya!”
Seraya berkata Coa Cong-gi lantas mengayunkan telapak
tangan kirinya membuat gerakan seperti mau melancarkan
satu jotosan. Li Poh-seng yang ada dihadapannya nyaris
termakan bogem mentahnya itu.
Cepat-cepat Li Poh-seng mundur dan mengigos dari
ancaman tersebut, kemudian sambil mencengkeram
pergelangan tangan kirinya dia berkata lebih dulu, “Eeeh….
Kalau sedang bicara jangan main tangan, hati-hati kalau
sampai kena orang! Ayoh terangkan dulu, apakah Kiu-im
kaucu sudah mampus?”
Dengan tersipu-sipu Coa Cong-gi menarik kembali
serangannya. “Dia belum mampus, cuma pulang kerumahnya
dengan terbirit-birit” Jawabnya.
“Ooooo…. Tahu aku sekarang!” sambung Yu Siau jam yang
berada disampingnya sambil tertawa, “Pukulan yang
dilancarkan Ko tayhiap tentunya sudah membuat Kiu-im kaucu
terluka berat bukan, sehingga ia terpaksa harus pulang
kesarangnya untuk merawat luka dalamnya yang teramat
parah itu?”
“Tebakanmu cuma betul separuh” Cepat Coa Cong-gi
memberi penjelasan dengan wajah serius, “Kabur pulang
kesarangnya memang betul cuma ia sama sekali tidak terluka”

653
Semakin diterangkan semakin membikin orang jadi bingung
dan tidak habis mengerti. Untuk sesaat semua orang jadi
tertegun dan tidak habis mengerti.
Kalau toh Kiu-im kaucu tidak terluka, sebagai seorang
tokoh persilatan yang berambisi besar mengapa ia rela
meninggalkan musuhnya untuk ke bur kembali kesarangnya?
Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya. “Aaaah….
Ceritamu itu cuma bikin orang makin mendengarkan semakin
tak habis mengerti.
Lebih baik kau ceritakan sejak awal saja! Misalnya saja apa
yang dibicarakan Kiu-im-kaucu dengan orang-orang dari Hianbeng
kau? Secara bagaimana paman Ko-ku itu dapat
berjumpa muka dengan Kiu-im-kaucu? Apa sebabnya Kiu-im
kaucu kabur pulang ke sarangnya setelah terpukul oleh paman
Ko ku itu? Dan waktu itu engkau
berada disana sehingga menyaksikan kesemuanya itu?
Kalau mau bicara harus terangkan satu persatu sehingga yang
mendengarkan tak sampai bingung dibuatnya”
Mula-mula Coa-cong-gi tertegun, tapi lantaran sorot mata
setiap orang sama-sama tertuju kearahnya dengan mata
melotot. Lagipula sorot mata mereka semua terselip perasaan
bingung dan tak habis mengerti maka dengan perasaan apa
boleh buat dia manggut-manggut. “Baiklah!” katanya
kemudian, “Akan kuterangkan sejak awal sampai akhir dengan
sejelas-jelasnya!”
Matanya segera dipejamkan untuk mengumpulkan kembali
semua kenangan dan pikirannya, lalu berkata, “Kemarin dulu
malam, ketika aku baru pulang dari puncak bukit Ciong-san
selesai berlatih silat, waktu itu sudah menjelang tengah
malam. Karena sudah tiga hari tidak kujumpai dirimu, maka

654
aku ingin menengok bagaimanakah keadaan waktu itu. Maka
akupun tidak masuk kota tapi menelusuri kaki bukit kearah
barat dan menuju ke tempat dimana kau disekap”
Berbicara sampai disini, sinar matanya lantas dialihkan
kewajah Hoa In-liong, kemudian lanjutnya, “Tahukah kau, tiga
hari berselang aku telah berkunjung pula kedalam gedung itu.
Waktu itu kau sedang digantung orang diatas dahan pohon
dengan kepala dibawah”
Tentu saja Hoa In-liong tidak akan tahu kalau rekannya
pernah berkunjung kesitu, tapi diapun tidak membantah atau
membenarkan, sambil tersenyum ujarnya, “Lanjutkan ceritamu
lebih jauh! Hal yang bertele-tele tak perlu disinggung!”
Coa Cong-gi mengangguk, setelah tarik nafas panjang
sambungnya lebih jauh, “Aku lari menuju ke halaman yang
berada di paling belakang, namun di atas pohon tidak
kujumpai dirimu lagi. Dalam gedung juga tak nampak sinar
lampu. Waktu itu kukira kau sudah mendapat musibah diluar
dugaan. Dalam cemasnya ingin kutangkap seseorang untuk
mendapat tahu keadaanmu yang sebenarnya. Tapi oleh
karena aku pernah merasakan betapa lihaynya ilmu silat yang
mereka miliki, maka akupun tahu bahwa ilmu silat yang
mereka miliki rata-rata luar biasa sekali. Untuk menghindari
segala kemungkinan yang tak diinginkan, gerak-gerikku
sengaja bertindak sangat hati-hati dan tidak gegabah.
Selangkah demi selangkah aku menyusup ke arah halaman
depan….”
Mendengar sampai disini, diam-diam Yu Siau-lam berpikir
dalam hati, “Heran, jadi kaupun tahu bagaimana harus
berhati-hati dan tidak gegabah? Tumben amat nih!”

655
Meskipun geli dalam hati, diluaran ia berkata pula, “Ayoh
cepatan sedikit kalau bicara, yang tidak penting lebih baik
jangan disinggung-singgung”
Coa Cong-gi melotot sekejap kearahnya, kemudian baru
menyambung kembali kata-katanya, “Ruangan didepan sana
terang benderang bermandikan cahaya. Ketika kuintip dari
balik jendela, terlihatlah bayangan manusia berkumpul dalam
ruangan itu, jumlahnya mencapai dua puluh orang lebih.
Waktu itu akupun berpikir: Mungkinkah
mereka sedang mengadili adik In-liong? Begitu ingatan
tersebut melintas dalam benakku, mendidihlah darah yang
mengalir didalam badan. Aku lupa akan pantangan dan segera
menjejakkan kaki
siap menyerbu ke dalam ruang tengah”
“Aduuh mak….! Bukankah jejakmu akan segera ketahuan
mereka….?” teriak Be Si-kiat sambil berseru tertahan.
“Huuh…. Aku saja tidak gelisah waktu itu. Kenapa kau
malahan yang gelisah? Jika jejakku ketahuan, dari mana
kejadian selanjutnya dapat kuketahui?”
Setelah berhenti sebentar, diapun menyambung lebih jauh,
“Ada kalanya watakku memang berangasan, tapi untunglah
ketika itu pikiranku masih dingin. Tiba-tiba saja satu ingatan
melintas dalam bsaakku kembali aku berpikir: Aaah, tidak
benar! Andaikata mereka betul-betul sedang mengadili adik
In-liong, bila kuserbu dengan begitu saja, mana mungkin adik
In-liong bisa kuselamatkan? Oleh karena itu dengan bersusah
payah kutekan pergolakan perasaan dalam hatiku. Diam-diam
aku menyelinap kesana dan memanjat sebatang pohon besar
dari situ aku dapat mengintai keadaan dalam ruangan dengan
amat jelas sekali”.

656
Li Poh-seng segera menganggukkan kepalanya berulang
kali, katanya sambil tertawa, “Benar juga kata pepatah kuno:
Sekalipun kasar pasti ada kelembutan. Bila setiap saat kau
bisa cekatan dan bertindak waspada, kami semua pun dapat
berlega hati”
Mendengar ucapan itu contoh Coa Cong-gi mendelik besar.
“Sialan, kenapa kau menukas terus pembicaraanku?”
Teriaknya, “Kamu tahu, ceritaku sudah mencapai pada bagianbagian
yang terpenting?”
Li Poh-seng mengernyitkan alis matanya, dia lantas
membungkam dan tidak berbicara lagi.
Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya, Coa
Cong-gi melanjutkan kembali kisahnya, “Ternyata dalam
ruangan itu tersedia dua buah meja perjamuan. Diantara tamu
yang hadir aku lihat ada seorang kakek bermuka merah
berambut putih duduk dikursi utama pada meja tamu,
sedangkan Kiu-im-kaucu mengeringinya dimeja lain. Sedang
sisanya dipenuhi oleh para jago dari Kiu-im kau dan Hian-beng
kau. Dari sikap serta hubungan mereka kelihatan sekali kalau
hubungan kedua belah pihak sangat akrab. Hanya yang aneh
tidak kujumpai bayangan tubuh dari adik In-liong”
“Oooh…. Kalau begitu, kakek bermuka merah berambut
putih itu adalah kaucu dari Hian-beng kau?” tanya Hoa-Inliong.
“Bukan, dia cuma Thamcu dari markas besar perkumpulan
Hian-beng-kau. Aku hanya tahu dia she-Toan bok, sedang
namanya kurang jelas”
“Lantas yang kau maksudkan kasak-kusuk adalah kejadian
setelah perjamuan itu berakhir?”

657
“Tidak, kasak-kusuk berlangsung dalam perjamuan itu
juga” Hoa In-liong tertawa geli.
“Kalau pembicaraan berlangsung dalam perjamuan itu juga,
maka bukan kasak-kusuk lagi namanya!”
“Aaaai…. Istilah kasak-kusuk adalah aku sendiri yang
memberinya. Waktu itu bersembunyi di atas sebuah pohon
besar kurang lebih dua kaki dari ruangan karena terhalang
oleh sebuah jendela,
lagipula pembicaraan mereka berlangsung keras dan lirih
tak menentu. Maka aku jadi kurang begitu jelas menangkap isi
pembicaraan mereka. Jadi dalam pandanganku, pembicaraan
mereka bukankah berubah fungsinya menjadi pembicaraan
kasak-kusuk?”
Begitu ucapan itu selesai di utarakan ke luar, kontan semua
orang terbahak-bahak dengan kerasnya karena geli.
Coa Cong-gi mengerutkan dahinya melihat ia ditertawakan
orang, segera bentaknya dengan suara dalam, “Eeeeh…. Apa
yang kalian tertawakan? Apa yang salah dengan
pembicaraanku barusan? Memangnya pembicaraan mereka
untuk merundingkan bagaimana caranya mencuri ayam
menggaet kantong dan melakukan pembunuhan serta
kejahatan tidak pantas dikatakan sebagai kasak-kusuk yang
berniat jahat?”
Sebenarnya semua orang ingin tertawa semakin keras, tapi
lantaran mendengar kata-kata soal pembantaian dan
kejahatan, sadarlah semua orang bahwa urusan yang mereka
hadapi adalah serius. Mungkin juga pemuda itu memang
berbasil menemukan suatu rahasia yang maha besar, maka

658
sekalipun merasa geli tak seorangpun berani tertawa lebih
jauh.
Ketika Hoa In-liong merelakan dirinya dibelenggu dan
digantung secara terbalik oleh Bwee Su-yok, tujuannya yang
terutama adalah ingin menyelidiki latar belakang
persekongkolan antara perkumpulan Kiu-im kau dengan
perkumpulan Hian-beng kau. Selain itu diapun ingin mencari
tabu bagaimana cara mereka hendak menghadapi keluarga
Hoa beserta latar belakang pembunuhan terhadap Suma
Tiang-cing suami isteri.
Sekarang, pembunuhan berdarah atas keluarga Suma
sudah jelas dan tak perlu diselidiki lagi, tapi latar belakang
persekongkolan antara dua perkumpulan sesat ini masih
belum diketahuinya hingga kini.
Maka begitu mendengar pembicaraan dari Coa Cong-gi
tersebut, hatinya jadi terkesiap, buru-buru serunya, “Sudah….
Sudahlah…. Tak usah mencari kebenarran diatas huruf tulisan.
Lanjutkan ceritamu apa saja yang berhasil kau dengar?”
“Benar-benar sialan” gerutu Coa-cong-gi sambil
mengerutkan dahinya, “Ketika pembicaraan berlangsung
hingga mencapai pada bagian yang terpenting, tiba-tiba
mereka merendahkan nada suaranya, sehingga aku tak dapat
mendengarkan dengan jelas”
“Kalau begitu, terangkan saja apa yang sempat kau
dengar!”
“Jika digabungkan menjadi satu, maka persoalan tersebut
mencakup dalam lima hal. Pertama mereka sedang berdaya
upaya untuk menghadapi ayahmu. Kedua mereka
menyinggung pula soal Giok teng hujin. Ketiga….”

659
“Apa yang hendak mereka lakukan terhadap diri Giok-teng
hujin?” tukas Hoa In-liong lagi dengan hati tercekat.
“Toan-bok thamcu yang mengusulkan persoalan ini. Dia
berharap agar Kiu-im kaucu bisa berusaha sedapat mungkin
untuk menemukan Giok-teng Hujin. Mengenai tujuannya….
Sayang aku tak sempat mendengarnya dengan jelas”
Diam diam Hoa In-liong menghela napas panjang. “Aaaai….
Kalau begitu, baiklah! Harap lanjutkan ceritamu lebih jauh….”
katanya kemudian.
“Ketika perkumpulan Hian-beng kau akan di buka secara
resmi pada bulan enam tanggal enam mereka bilang
mengharapkan bantuan serta dukungan dari Kiu-im kau”
“Benar-benar sangut aneh” seru Hoa In-liong dengan dahi
berkerut “Kalau toh kedua perkumpulan itu telah bersekongkol
satu sama lainnya, didirikannya perkumpulan Hian-beng kau
secara resmi, pasti sudah disetujui pula oleh pihak Kiu-im kau.
Apalagi yang perlu dirundingkan secara khusus? Aku rasa
dibalik kesemuanya itu pasti terselip rencana busuk lainnya!”
“Benar ada rencana busuk atau tidak, aku sendiri juga tak
tahu, apa yang kudengar hanya itu-itu saja”
Hoa In-liong termenung, dia berpikir sejenak, lalu bertanya
lagi, “Tahukah kau dimana letaknya markas besar dari
perkumpulan Hian-beng kau?”
Coa Cong-gi berpikir sebentar sebelum menjawab, “Aku
rasa agaknya dibukit See-mong-san-shia!”
“Bukit See-mong-san-shia? Kok rasanya belum pernah
kudengar nama perbukitan itu?”

660
Li Poh-seng yang berada disampingnya lantas menyela,
“Kalau bukit See-mong-san-shia tidak ada, mungkin yang
dimaksudkan adalah tanah perbukitan Gi-mong-san-ci”
Coa Cong-gi mengerdipkan matanya, tiba-tiba ia berteriak,
“Yaa…. Yaa…. Betul! Tanah perbukitan Gi-mong, tempatnya
dataran Ui-gou-peng ditanah perbukitan Gi-mong”
Kembali Li Poh-seng tersenyum. “Aku rasa saudara Cong-gi
kembali salah dengar. Aku pernah berkunjung ke Thay-an,
Lay-wa,
Sim-thay, Mong-in dan sekitarnya. Kemudian dari Thay-an
berbelok ke tenggara melalui bukit Lay-san sampai perbukitan
Mong-san. Disekitar
kota Sin-thay memang terdapat sebuah dataran yang
bernama Hong-goa-peng”
“Kau pernah berkunjung ke bukit Gi-san?”
“Belum pernah!” Li Poh-seng gelengkan kepalanya berulang
kali.
“Nah, itulah dia. Kalau kau sendiripun belum pernah
berkurjung ke situ, dari mana kau bisa tahu kalau sama yang
kusebutkan keliru? Kalau toh di bukit Gi Mong-san ada dataran
Hong Gou-peng, kenapa tak mungkin kalau dibukit Gi-san ada
pula dataran Ui Gou-peng?”
Yu Siau-lam segera tertawa tergelak-gelak. “Ha…. haa….
haa…. Sudah! Sudahlah! Jangan ribut lagi. Baik daratan Hong
Gou-peng maupun daratan Ui Gou-peng, yang berbeda cuma
satu huruf. Asal kita sudah tiba di tanah perbukitan Gi Mongan,
rasanya tak sulit untuk menemukan letak tempat itu. Adik
Cong-gi, sekarang boleh kau sebutkan soal keempat”

661
Coa Cong-gi rada termangu-mangu lalu menjawab, “Aku
bakal mati menggantikan siapa?”
Yu Siau lam kontan tertawa tergelak. “Haa…. haa…. haa….
Kembali keliru besar. Coba katakan dalam soal keempat, siapa
yang bakal mati menggantikan dirimu?”
Merah padam selembar wajah Coa Coag-gi, dengan wajah
tersipu-sipu katanya, “Waah! Rupanya aku memang kembali
salah dengar!”
Hoa In-liong tanpa terasa tersenyum sendiri sambil ulapkan
tangannya memberi tanda ia berkata, “Tidak menjadi soal,
harap kau lanjutkan penuturan itu, mungkin dari kisah
selanjutnya kita dapat menarik suatu kesimpulan!”
“Berbicara yang sesungguhnya, maka dalam masalah yang
keempat ini, sasaran yang mereda tuju sebetulnya adalah kau.
Maka gerak gerikmu dikemudian hari harus lebih waspada dan
berhati-hati. Jangan sampai kena ditunggangi musuh!”
“Apa maksudmu?” seru Hoa In-liong dengan perasaan
terperanjat.
“Ketika membicarakan tentang dirimu, mereka berbicara
paling banyak dan paling lama. Pokoknya mereka berusaha
sekuat tenaga untuk menangkap dirimu hidup-hidup!”
“Apakah Bwee Su-yok yang mengusulkan ide tersebut?”
tanya Hoa In-liong tanpa sadar.
“Bukan! Malam itu sikap gadis she Bwee itu sangat hambar
dan dingin. Sepanjang perundingan berlangsung, ia cuma
membungkan terus dalam seribu bahasa”

662
“Lalu ide siapakah itu? Masa pendapat dari Kiu-im kaucu
pribadi….” Seru Hoa In-liong tercengang.
Coa Cong-gi menggelengkan kepalanya lagi. “Menurut
pengakuan Toan-bok thamcu, katanya ide ini adalah ide dari
kaucunya dan ia minta Kiu-im kaucu bersedia
menyumbangkan tenaganya dalam kerja sama itu”
Hoa In-liong semakin tercengang setelah mendengar katakata
itu, serunya, “Apa alasan mereka untuk berbuat demikian
aku kan seorang diri Bu beng siau cut (prajurit tak bernama).
Mengapa Hian beng kaucu begitu memandang tinggi akan
diriku?”
“Yaa, dewasa ini kau memang masih merupakan seorang
Bu beng-siau-cut yang tak bernama. Tapi akhirnya kita toh
harus mengerjakan suatu perjuangan untuk menghasilkan
suatu karya yang gemilang. Sekalipun Kiu-im kaucu dan Hianbeng
kaucu akan terbitkan keonaran dan kekacauan dalam
dunia persilatan, namun kita semuapun sudah bersiap sedia
menerima pimpinanmu untuk memberi pelajaran yang
setimpal kepada mereka. Waktu itu tentunya kau bukan
seorang Bu-beng-siau-cut yang tidak terkenal lagi”
“Benar!” Sambung Yu Siau-lam pula, “Generasi kita ini
harus mempunyai juga seorang pemimpin yang pantas dan
kaulah orang yang paling pantas untuk jabatan ini”
Li Poh-seng ikut berkata juga, “Jika markas besar dari
perkumpulan Hian-beng kau betul-betul berada diperbukitan
Gi-mong-san, maka keadaan dari generasi kita sekarang tak
akan berbeda jauh dengan keadaan generasi yang lampau.
Pada generasi yang lalu, Tong-thian-kau, Sin ki-pang dan
Hong-im-hwe merupakan tiga kekuatan yang menguasahi
jagad. Sementara pihak kaum pendekar dipimpin oleh
ayahmu. Sekarang setelah tiba pada generasi kita, maka

663
musuh yang kita hadapi adalah kaum Mo-kauw dari Seng-sutpay
di barat, Kiu-im-kau diselatan dan Hian-beng-kau ditanah
perbukitan Gi-mong-san. Itu berarti ada tiga kekuatan juga
yang menguasahi jagad. Maka aku rasa dari generasi muda
sekarang, engkaulah yang paling cocok untuk mengisi jabatan
pemimpin itu”
Ucapan yang saling susul menyusul dari ketiga orang itu
sungguh membuat terharu hati Hoa In-liong. Tapi diapun
bukan seorang manusia yang takabur dan tinggi hati. Apa
yang dia pikirkan sekarang boleh dibilang jauh dari anganangan
untuk menjadi seorang pemimpin, maka dengan
tersipu-sipu ia berkata, “Aaah, saudara bertiga terlampau
menyanjung diriku. Aku merasa bahwa diriku hanya seorang
manusia tak berguna. Tugas seberat ini tak berani kupikul
dengan begitu saja. Apalagi perloalan ini bukanlah persoalan
yang kupikirkan. Kalau toh Hian-beng kaucu begitu
memandang tinggi diriku, tentu saja hal ini sama sekali tak
ada hubungannya dengan kepandaian silatku, kemampuanku
serta kecerdasanku. Alasan dibalik kesemuanya ini masih
merupakan suatu tanda tanya besar bagiku. Lebih baik
saudara bertiga jangan membicarakan tentang yang lain lebih
dahulu, tapi bantulah diriku untuk memikirkan persoalan ini”
“Sudahlah, tak usah kau pikirkan lagi” kata Coa Cong-gi,
“Pokoknya persoalan ini ada sangkut pautnya dengan ayah
ibumu”
“Darimana kau bisa tahu?”
“Ayahmu adalah lambang kebenaran dari umat persilatan
dari golongan lurus! Sedang ibumu adalah nyonya dari Thiancu-
kiam! Padahal tujuan mereka merajai dunia persilatan
adalah untuk membuat buat keonaran dan kejahatan.
Gembirakah dan legakah perasaan mereka selama ayah ibumu
mengganggu usaha mereka itu?”

664
“Betul juga perkataan ini” diam-diam Hoa In-Liong berpikir,
“Tampaknya tujuan mereka menangkap diriku adalah hendak
dijadikan sandera untuk menggertak ayah ibuku”
Karena berpendapat demikian, maka diapun tidak
mendebat lebih jauh, kembali katanya, “Memangnya mereka
anggap ayah ibuku gampang digertak orang sehingga mandah
menyerah begitu saja? Jika mereka berpendapat demikian,
maka sia-sialah jalan pikiran tersebut. Yaa…. Sudahlah.
Urusan ini tak usah dibicarakan lagi, cepat katakan soal yang
kelima”
Sembari putar otaknya untuk berpikir, Coa Cong-gi
bergumam seorang diri, “Kelima…. Kelima….”
Tiba-tiba ia menengadah seraya berseru. “Sudah tidak ada
lagi”
Jawaban ini membuat Hoa In-liong tertegun. Untuk sesaat
dia tak mampn mengucapkan sesuatu.
L i Poh-seng yang berada disampingnya segera menyela,
“Bukankah kau katakan bahwa kalau digabungkan semua
maka jumlahnya meliputi dalam lima hal?”
“Yaa, tapi yang lain cuma tetek bengek yang tak ada
artinya, tentu saja tak bisa hitung an”
“Apa yang kau artikan tetek bengek?” sela Yu Siau-lam
pula, “Kenapa tidak kau katakan juga agar bisa kita bahas dan
analisa bersama-sama….?”
“Aku rasa tiada berharga bagi kita untuk membahas dan
menganalisanya kembali” Tukas Cong-gi cepat.

665
Hoa In-liong tersenyum. “Bukankah kau katakan bahwa
mereka merundingkan persoalan yang menyangkut tentang
keamanan dunia persilatan serta rencana melakukan
pembunuhan? Aneh, mengapa sampai sekarang belum
kudengar sesuatu hal yang menyangkut tentang kenyataan
tersebut? Apa sebabnya bisa demikian?”
Coa Cong gi mengerutkan dahinya. “Tapi memang begitu
kenyataannya! Apa yang berhasil kudengar telah kuucapkan
semua, yang belum kusinggung juga melulu nama dari
beberapa orang, tak ada alasan lain yang dapat kukatakan
lagi….”
“Nama-nama siapa yang mereka singgung?”
“Waaah banyak sekali ! Siapa itu Sim Cia? Siapa itu Jin
Hian! Cu-im tauto! Thiaa-ek lo-to! Ciu Thian-hau dari Hongsan!
Pokoknya banyak sekali nama-nama orang yang mereka
sebutkan. Lagipula sewaktu menyebutnya tidak bersamaan
tapi berputus-putus. Untuk sesaat aku rada susah untuk
mengingatnya semua secara bersama. Sekalipun masih ingat,
namun tak berani kupastikan apakah namanya itu benar atau
tidak. Coba bayangkan sendiri, mana mungkin hal ini bisa
kugabungkan menjadi satu soal serta menerangkannya secara
jelas?”
Dalam anggapannya hal ini sama sekali tak berguna, ia
anggap persoalan itu hanya urusan tetek bengek yang sama
sekali tak ada artinya. Siapa tahu justru nama-nama yang
disebutnya itu bagi pendengaran Hoa In-liong merupakan
geledek yang menyambar ditengah siang hari bolong, seketika
itu juga hatinya jadi tercekat.
“Waah…. Waah…. Itu namanya suatu komplotan yang
berencana, nama-nama yang mereka singgung itu sudah pasti
bukan bertujuan untuk dihubungi untuk diajak berkomplot tapi

666
menyusun rencana untuk membinasakannya. Seperti juga
ketika mereka mencelakai jiwa Suma siok-ya dan isterinya.
Kalau tidak ada gunanya mereka singgung-singgung kembali
para tokoh persilatan yang sudah banyak yang mengasingkan
diri dan tak ketahuan jejaknya lagi itu?”
Namun mesti ia berpikir demikian dalam hatinya, perasaan
kaget dan terkejutnya sama sekali tidak diperlihatkan diatas
wajah. Ia merasa lebih baik tak usah menyinggung lagi
persoalan itu karena tiada bukti nyata yang didapatkan,
dikuatirkan pengungkapan persoalan itu justru malah
mengacaukan pikiran orang banyak.
Maka sambil tersenyum lirih Hoa In-liong berkata, “Jadi
kalau begitu, hanya sedemikian banyak saja persoalan kasak
kusuk yang kau maksudkan itu?”
“Akukan menyinggungnya secara garis besar. Padahal
dalam kenyataannya mereka sambil makan sambil berbicara,
perjamuan itu berakhir setelah lewat tengah malam”
“Bagaimana kemudian setelah perjamuan selesai?’”
“Yaa bubaran tentunya!” jawab Coa Cong-gi polos.
Hoa In-liong tersenyum. “Aku tahu, mereka pasti bubaran,
maksudku apakah setelah bubaran orang-orang dari Hianbeng
kau juga pada angkat kaki?”
“Lho…. Aneh benar! Dari mana kau bisa tahu….?” seru Coa
Cong-gi tertegun.
Kembali Hoa In-liong tertawa, “Apanya yang susah untuk
menduga sampai disitu? Mungkin tak lama setelah kejadian itu
paman Ko-ku itupun muncul disana. Seandainya orang-orang
dari Hian-beng kau masih hadir disana, suatu pertarungan

667
yang amat serupun akan segera berlangsung dan berada
dalam keadaan seperti ini tak mungkin Kiu-im kaucu sampai
angkat kaki kabur pulang kesarangnya….”
Coa Cong-gi bertepuk tangan sambil bersorak memuji.
“Betul…. Betul…. memang begitulah keadaannya. Nah,
dengarkan kisahku selanjutnya “
Timbul kembali kegembiraannya untuk berbicara. Sebelum
Hoa In-liong buka suara, ia telah berkata lebih dulu, “Selesai
perjamuan, orang-orang dari Hian-beng kau pada pamit dan
berlalu dari sana. Kiu-im kaucu sendiri rupanya sedang
dirunding banyak persoalan yang memusingkan kepalanya.
Setelah membuyarkan anak buahnya, seorang diri ia berjalan
mondar-mandir dalam halaman itu sambil bergendong tangan.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah aku
berputar satu lingkaran disekitar gedung untuk mencari
jejakmu. Menanti aku balik lagi ke halaman depan, ternyata
dihadapan Kiu-im kaucu telah tertambah dengan seseorang
dan orang itu tak lain adalah paman Ko mu itu. Cctt…. ctttt….
Paman Ko mu itu memang luar biasa, badannya tinggi tegap,
wajahnya keren, berwibawa dan berilmu tinggi juga. Waah!
hebat sekali!”
Diam-diam Hoa In-liong tertawa geli, pikirnya, “Begitu saja
sudah kagum, apalagi kalau sampai berjumpa dengan
ayahku….”
“Apa sebabnya paman Ko ku itu ditengah malam buta pergi
mencari Kiu-im kaucu?”
“Dia mencari kau1″ Sahut Coa Cong-gi dengan dahi
berkerut.
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh,
“Kewibawaan Kiu-im kaucu memang luar biasa sekali. Ketika

668
aku tiba kembali ditempat semula, kusaksikan raut wajahnya
dingin kaku seperti es dan sedang membentak dengan suara
ketus, “Siapa kau? Tengah malam buta begini kenapa datang
berkunjung ke rumah orang?” ternyata paman Ko mu itu juga
amat gagah, dia lantas menjawab dengan lantang:” Aku Ko
Thay, khusus datang kemari untuk minta keringanan
tanganmu. Haa…. haa…. haa…. Jawaban ini memang tepat
sekali. Mungkin sepanjang hidup aku Coa Cong-gi tak dapat
menirukannya dengan persis”
Hoa In-liong kuatir kalau ia membawa pokok pembicaraan
itu kesoal lain, maka cepat-cepat, timbrungnya, “Bagaimana
selanjutnya? Bagaimana jawaban dari Kiu-im kaucu….?”
“Mula-mula Kiu-im kaucu tampak agak tertegun. Menyusul
kemudian setelah mendengus dingin ia menjawab, “Hmm,
manusia yang tak punya namapun berani mintakan ampun
bagi orang lain! Betul-betul tak tahu diri!”. Paman Ko itu pun
tidak tersinggung. Dia langsung menjawab lagi, “Aku memang
seorang manusia yang tak punya nama. Tapi nama besar dari
Hoa Thian-hong tentu tak asing bukan bagi pendengaran
Kaucu? Nah, aku datang kemari untuk meminta kembali
kongcunya”. Setelah perkataannya itu diutarakan keluar,
bukan saja Kiu-im kaucu dibuat tertegun seketika itu juga,
sekalipun aku juga ikut tertegun”
“Tak aneh kalau dia tertegun” kata Hoa In-liong kemudian,
“Waktu itu aku sudah pergi. Tentu ia tak tahu bagaimana
musti menghadapi
persoalan ini. Tapi entah bagaimana jawabannya
kemudian?”
“Ia tertegun untuk sesaat lamanya, kemudian katanya,
“Suruh Hoa Thian-hong datang sendiri!” Tapi tindakan paman
Ko lebih cerdik, dia tidak menanggapi ucapan tersebut.

669
Sebaliknya mengangkat lengan kirinya dan langsung
menyodok kemuka. Ketika itu aku dibuat terheran heran oleh
tindakan itu. Sedangkan Kiu-im-kaucu tiba-tiba berteriak
dengan rasa terperanjat, “Kun-siu-ci-tau! Apa hubunganmu
dengan Hoa Thian-hong?”. Jawab paman Ko mu itu:” Yaa
benar, tempo dulu pukulan ini memang bernama Kun-siu-citau,
tapi sekarang bernama Hu-im-sin-ciang. Entah pukulan
tersebut apakah pantas mewakili Hoa Thian-hong?” Baru saja
perkataannya selesai diutarakan tiba-tiba terdengar suara
gemuruh yang amat nyaring berkumandang memecahkan
kesunyian. Ternyata sebatang pohon besar yang tingginya
lima kaki disebelah kiri telah terhajar patah jadi dua bagian,
dengan menimbulkan suara keras pohon itu tumbang
ketengah halaman”
Ia berhenti sebentar untuk tukar napas, kemudian lanjutrya
lebih jauh, “Ternyata sikap Kiu-im-kaucu cukup gagah, segera
ujarnya dengan suara dingin, “Perduli ilmu pukulan itu ilmu
pukulan sakti apa. Yang pasti ilmu silatmu berasal dari Hoa
Thian-hong. Itu berarti kau memang berkewajiban untuk
datang minta kembali putranya. Tapi akupun ada sepatah dua
patah kata hendak dikatakan kepadamu. Cuma takutnya kau
tidak mau percaya.” Paman Ko-pun menyahut, “Kau adalah
ketua dari suatu perkumpulan besar, tentu saja apa yang kau
katakan akan kupercayai sepenuhnya. “Kiu-im-kaucu kembali
berkata, “Senja berselang, Hoa In-liong telah pergi tanpa
pamit, percayakah kau?” Bila di katakan pergi tanpa pamit,
siapa yang mau percaya? Waktu itu aku langsung mengumpat
didalam hati, “Sialan, ngomong juga seenaknya sendiri!” Siapa
tahu setelah tertegun sejenak, paman Ko segera memberi
hormat seraya berseru, “Maaf, mengganggu!” diapun putar
badan dan berlalu dari sana”
Yu Siau-lam lantas menyela dari samping. “Apakah lantaran
Ko tayhiap berhasil mematahkan sebatang pohon dengan
pukulannya, maka Kiu im kaucu kabur pulang kesarangnya?”

670
“Tentu saja tidak sesederhana itu” jawab Coa Cong-gi, “Aku
sangat kagum menyaksikan kegagahan serta kewibawaan Ko
tayhiap. Tampaknya Kiu-im kaucu dibuat jengkel oleh polah
musuhnya. Ketika Ko tayhiap hendak berlalu dari sana, ia
lantas mendengus dingin sambil menegur, “Hmm, mau datang
lantas datang, mau pergi lantas pergi. Sikapmu itu betul-betul
tak pandang sebelah matapun terhadap diriku”. Mendengar
teguran tadi, Ko tayhiap menghentikan langkahnya seraya
menjawab, “Apakah kaucu tidak senang hati dan ingin
memberi beberapa jurus petunjuk ilmu silat kepadaku?”. Kiuim
kaucu berkata kasar, “Yaa benar, sebelum pergi dari sini,
sambutlah sebuah
pukulanku lebih dahulu”. Ko tayhiap dengan gagah
menerima tantangan itu, “Aku sudah siap menunggu
pelajaran!”. Maka kedua orang itu saling bertarung”
“Bagaimana akhirnya?” sela Yu Siau-lam dengan gelisah.
“Aku sih tak tahu bagaimana hasilnya. Hanya kulihat angin
pukulan kedua orang itu saling beradu keras, menyusul
kemudian Ko tayhiap mundur setengah langkah, sebaliknya
Kiu-im kaucu sempoyongan setengah harian sebelum ia berdiri
tegak. Menanti kuda-kudanya dapat dikokohkan kembali Ko
tayhiap sudah berlalu dari sana sambil berkata. “Selamat
tinggal!”
“Jadi kalau begitu, Kiu-im kaucu belum menderita kalah?”
tanya Yu Siau-lam kemudian.
“Aku sendiripun tidak tahu, tapi sepeninggalnya Ko tayhiap,
tiba-tiba Kiu-im-kaucu bergumam seorang diri:” Aaaai….
Sudah tua! Sudah tua! Aku memang sudah terlalu tua!”

671
Kemudian ia berjalan mondar mandir lagi dalam gedung
sambil bergendongan tangan”
“Kalau cuma begitu saja, toh beilum pasti kalau Kiu-im
kaucu telah pulang kesarangnya?” desak Yu Siau-lam.
“Ucapan memang betul, tapi kisahnya masih ada.
Dengarkan dulu penuturanku selanjutnya.”
Setelah berhenti sebentar, ia baru melanjutkan kisah
ceritanya, “Demikianlah, sambil berjalan maju mundur Kiu-im
kaucu putar otaknya memikirkan masalah yang ia hadapi.
Selang sesaat kemudian tiba-tiba ia masuk keruang tengah
dan mengumpulkan segenap tongcu dan anak buahnya.
Dihadapan anak buahnya itulah dia umumkan pengunduran
dirinya dan menyerahkan kedudukan kaucu itu kepada Yu
beng tiamcu Bwee Su-yok dan hari itu juga ia bertolak menuju
keselatan. Mengenai kejadian yang lebih terperinci, akun rasa
tak perlu diterangkan lagi”
Ketika Yu Siau-lam mendengar bahwa ia telah mengakhiri
kisah cerita itu, segera ujarnya lagi, “Woow…. Kalau cuma
begitu saja, tak dapat dikatakan kalau dengan sebuah pukulan
berhasil mengusirnya pulang kekandang, Cuma….”
“Cuma kenapa lagi?” seru Coa Cong-gi sambil
mengernyitkan alis matanya yang tebal.
Yu Siau-lam menengadah dan menjawab, “Aku rasa
kejadian semacam ini belum pantas untuk dikatakan sebagai
bangkitnya hawa iblis yang menyelimuti jagad. Pada umumnya
tenaga dalam yang dimiliki si iblis tua lebih sempurna dan
hatinya lebih buas dan keji. Jika si iblis kecil yang melanjutkan
kedudukannya, maka baik dalam hal tenaga dalan maupun
dalam hal kekejaman, dia tentu kalah satu tingkat jika
dibandingkan dengan siiblis tua. Maka menurut pendapatku,

672
keadaan semacam ini mestinya merupakan suatu warta
gembira bagi kita semua”
“Warta gembira?” Coa Cong-gi melotot besar. “Memangnya
kau anggap Bwee Su-yok adalah seorang gadis perawan yang
lemah lembut dan berhati penuh welas kasih? Tanyakan
sendiri kepada saudara Hoa, betapa dingin dan kakunya
perempuan itu? Betapa buas dan kejamnya dia? Berbicara soal
ilmu silat, mungkin Hoa lote sendiripun belum tentu
merupakan tandingannya!”
Sekarang Yu Siau-lam baru terperanjat. Tanpa sadar
matanya terbelalak lebar dengan mulut melongo. Untuk sesaat
ia tak mampu nengucapkan sepatah katapun.
Hoa In-liong pribadi, ketika didengarnya bahwa Bwee Suyok
telah menerima jabatan kaucu dari Kiu-im-kau, pelbagai
perasaan bercampur aduk dalam hatinya. Perasaan itu yaa
getir, yaa manis yaa kecut, yaa pedas. Pokoknya begitu
bercampur aduknya perasaan hatinya, sampai-sampai dia
sendiripun tak dapat membedakan perasaan tersebut.
Saking kesalnya, ia ambil keputusan untuk tidak
memikirkannya lebih jauh. Maka dicarinya alasan untuk
mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain. “Saudara Conggi!”
katanya kemudian, “Urusan ini tak usah kita bicarakan
lagi, apakah kau masih punya rangsum kering dan air?”
Coa Cong-gi merupakan seorang laki-laki yang polos dan
jujur. Setiap kali ia merasa ada perkataan yang tak betul,
pemuda itu siap untuk mendebatnya. Meski demikian,
wataknya cukup baik. Dia memang cepat naik darah, tapi
cepat pula marahnya jadi buyar, apalagi ditimbrung urusan
lain, maka persoalan yang pertamapun akan terlupakan sama
sekali dengan cepatnya.

673
Terutama sekali terhadap Hoa In-liong, boleh dibilang
perhatiannya sungguh sungguh. Begitu mendengar kalau
pemuda itu membutuhkan rangsum kering dan air, diapun
lantas berteriak, “Heei…. Siapa yang mempunyai air dan
rangsum kering? Ayoh bagi dua bagian kemari!”
Be Si-kiat yang mendengar seruan tersebut, segera
menghantar dua bagian air dan rangsum ke depan.
Setelah menerima air dan rangsum kering, Hoa In-liong
membagi satu bagian untuk Yu Siau-lam dan mereka
berduapun bersantap dengan mulut membungkam, sebab
kedua belah pihak sama-sama mempunyai perasaan yang
amat berat.
Untuk sesaat suasana jadi hening dan amat sepi. Angin
yang berhembus lewat menggoyangkan daun pohon hingga
menerbitkan bunyi gemerisik yang nyaring. Suara tersebut
seakan-akan bunyi anak panah yang menembusi awan. Begitu
tajam dan keras membuat hati orang berdebar dan merasa
duduk tak tenang.
Beberapa saat sudah lewat, akhirnya Coa-Cong gi yang
pertama tama tak tahan oleh keheningan di tempat itu. Ia
lantas bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir kesanakemari.
Selang sejenak kemudian, tiba-tiba matanya tertumbuk
dengan tubuh Bujian tootiang yang tergeletak ditanah, ia
segera berhenti ambil teriaknya, “Eeeh…. Jalan darah dari
tootiang ini apakah boleh dibekaskan sekarang?”
Selama ini, perhatian semua orang tertuju untuk
mendengarkan cerita dari Coa Cong-gi tentang persoalan Kiuim
kau. Sementara Bu-jian tootiang yang tergeletak di tanah,
terlupakan untuk sementara waktu. Maka begitu Coa Cong-gi

674
berteriak, Hoa In-liong lah yang pertama-tama menjadi sadar.
“Oh-iya…. Biar aku yang membebaskan sendiri. Biar aku saja
yang mengerjakan sendiri!” serunya cepat.
Rangsum dan airnya dibuang ke tanah, kemudian bangkit
dan menghampirinya.
Yu-Siau-lam pun menjadi teringat kembali akan imam itu,
sambil menengadah tegurnya, “Apakah perlu Siau-te bantu?”
“Harap kau bersiap siaga saja dengan waspada jika
kesadaran otaknya belum pulih kembali seperti sedia kala,
tolong totoklah jalan darah tidur Hek tian hiatnya!”
Yu Siau lam mengangguk, maka Hoa In-liong pun
menyalurkan tenaga dalamnya ke jari tangan. Kemudian
dalam sekali sentilan jari saja ia telah berhasil membebaskan
jalan darahnya yang tertotok.
Jilid 18
BEGITU jalan darah Bu-jian tootiang tertotok bebas,
sepasang biji matanya segera berputar memandang sekeliling
tempat itu, kemudian sambil melompat bangun, tanyanya
dengan wajah tercengang, “Aku…. Aku…. berada dimana?”
“Tenangkan dulu hatimu tootiang!” cepat Yu Siau-lam
berseru, “Tempat ini adalah empat puluh li dari kota Hongyang
yang disebut orang sebagai Ang-sim-poh!”
Kembali Bu-jian tootiang celingukan kesana kemari seperti
orang kebingungan. ”Aku…. Aku….”

675
Tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, segera teriaknya,
“Aaah…. Aku sudah teringat semua kini, Ooh…. Thian!
Kuilku….kuilku….”
“Yaa…. Kuil Cing-siu-koan telah musnah!” lanjut Hoa Inliong
dengan sikap yang tenang, “Tootiang, jelek-jelek engkau
adalah seorang imam
yang beribadat, semestinya jalan pikiranmu jauh lebih
terbuka dari pada orang lain”
Bu-jian tootiang segera meloncat bangun dari atas tanah,
lalu serunya agak tergagap, “Tetapi…. Tetapi…. Dua puluh
tujuh lembar nyawa manusia! Mereka semua adalah anak
murid pinto!”
Menyinggung tentang kedua puluh tujuh lembar nyawa
manusia itu, tak dapat dibendung lagi titik-titik air mata jatuh
berlinang membasahi pipinya.
Semua orang sudah tahu kalau kuil Cing siu-koan telah
terbakar habis tinggal puing-puing yang berserakan. Tapi
menyaksikan kesedihan yang mencekam perasaan Bu-jian
tootiang ketika itu, semua orang ikut merasa bersedih hati
hingga nyaris air mata ikut meleleh keluar membasahi pipinya.
Coa Cong-gi merupakan seorang laki-laki yang berhati
sekeras baja dan bernyali besar, tapi ia paling pantang
menyaksikan orang lain mengucurkan air mata, maka segera
serunya, “Jangan menangis! Jangan menangis lagi! Siapa
hutang uang dia harus bayar dengan uang, siapa hutang
nyawa harus dibayar pula dengan nyawa. Meskipun mereka
sudah sudah bikin mati anak muridmu, lain kali kau bisa comot
keluar jantungnya. Mereka sudah bakar kuilmu, maka lain kali
kau bongkar juga sarang mereka. Kekerasan harus dibalas

676
dengan kekerasan, kekejaman harus dibayar pula dengan
kekejaman. Sebagai seorang laki-laki sejati, sebagai kesatria
yang gagah perkasa, kau harus dapat mengendalikan
perasaan. Kau anggap hanya menangis belaka, maka urusan
dapat diakhiri dengan gampang?”
Hoa In-liong yang berada disampingnya segera
menambahkan pula dari samping, “Betul juga perkataan itu.
Bagaimanapun juga, toh kuil yang tootiang huni telah musnah.
Yang paling penting sekarang adalah menjaga kesehatan
badan, selanjutnya adalah memanfaatkan keadaan yang ada.
Kesedihan yang mencekam menjadi suatu kekuatan untuk
membalaskan dendam bagi kematian anak muridmu.
Sebaliknya jika kesedihan yang kau alami sekarang
mengakibatkan badanmu semakin rusak, coba bayangkan
sendiri, siapa yang akan membalaskan dendam bagi kematian
anak muridmu? Kalau sakit hati ini sampai tidak terbalas,
bukankah mereka akan mati dengan mata tak meram?”
“Mati dengan mata tak meram…. Mati dengan mata tak
meram….” kembali Bu-jian tootiang bergumam seorang diri.
Dari cara imam setengah baya itu mengulangi kembali
kata-kata tersebut, Yu Siau-lam tahu bahwa perasaan dan
pikirannya sudah mulai bergerak, maka setelah berpikir
sebentar, dia berkata pula, “Tootiang, aku pernah berhutang
budi kepadamu. Maka bila engkau berhasrat untuk membalas
kan dendam bagi kematian anak muridmu, sekalipun harus
terjun ke lautan api, aku pasti akan membantu dirimu pula.
Entah bagaimanakah menurut pendapatmu?”
Meskipun butiran air mata yang mengembang dalam
kelopak mata Bu-jian tootiang belum mengerti akan tetapi
dibalik matanya yang berkaca-kaca itu telah memancar keluar
serentetan cahaya tajam yang menggidikkan hati. Ini

677
menunjukkan bahwa keputusan telah diambil dalam hatinya
dan makin lama keputusan tersebut semakin bulat.
Saat itulah Hoa In-liong menambahkan kembali katakatanya
dari samping, “Pertimbangkanlah secara seksama.
Tapi menurut pendapatku, anak murid dalam perguruan sama
halnya dengan anak kandung sendiri. Kematian mereka terlalu
menyedihkan, apalagi dibunuh secara keji tanpa sebab
musabab. Kematian mereka adalah kematian yang penasaran,
bagaimanapun jua dendam ini harus dituntut balas. Bila
engkau telah memutuskan untuk membalas dendam, maka
semua sahabatku dengan rela hati akan membantu usahamu
itu”
Begitu kata-kata tersebut berkumandang keluar, sinar mata
yang memancar keluar dari mata Bu-jian tootiang makin
bercahaya. Ia tampak termenung sejenak. Kemudian dengan
ujung bajunya menyeka air mata dalam kelopak mata,
matanya tertunduk rendah. Sambil pejamkan mata ia menjura
dalam-dalam. Ia menjura tanpa diketahui siapa yang dituju,
tapi setelah berdiri tegak ujarnya kepada Hoa In-liong,
“Terima kasih atas nasehatmu itu, pinto menerima semua
kritik yang membangun ini”
Setelah menyapu sekejap wajah para jago yang hadir
disana, ia berkata lebih jauh, “Saudara-saudara sekalian,
walaupun aku sudah menjadi pendeta semenjak kecil tapi
akupun merupakan seorang manusia yang berdiri dari darah
dan daging. Aku mempunyai perasaan juga. Maka atas budi
kebaikan yang telah kuterima hari ini, pinto tak berani
menjanjikan sesuatu. Tapi yang pasti aku akan berusaha
untuk maju ke depan. Andaikata lain waktu masih berjodoh,
kita pasti akan bersua kembali….”
Selesai berkata, ia lantas beranjak dan menuju keluar hutan
untuk berlalu dari sana.

678
Hoa In-liong bertindak cepat, tangannya segera berputar
kedepan mencekal ujung bajunya. “Tootiang, engkau akan
kemana?” Tegurnya gelisah.
Karena ditarik ujung bajunya, terpaksa Bu-jian tootiang
membatalkan niatnya. “Seng-sut-pay telah membakar habis
kuil pinto, maka pinto juga akan menghancurkan lumatkan
Hay-sim-san sarang mereka”
“Tapi…. Tapi…. Kau cuma sendirian, mana mungkin niatmu
bisa terwujud? “seru Hoa In-liong agak ragu-ragu.
“Hoa kongcu, apakah engkau anggap pinto benar-benar
seorang imam tua yang tak berguna?” tiba-tiba Bu-jian
tootiang balik bertanya, suaranya sangat hambar.
“Aku tahu, tootiang adalah seorang tokoh persilatan yang
selama ini menyembunyikan diri dalam too-koan!”
Bu-jian tootiang tertawa ewa. “Kongcu keliru besar. Guru
pinto yang sebenarnya tak lain adalah Tong Thian-kaucu
dimasa lalu, dia adalah seorang gembong iblis yang betulbetul
pantas disebut iblis”
Setelah ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang
yang berada dalam gelanggang jadi terbelalak lebar. Tak
seorangpun sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Terdengar Bu-jian tootiang berkata lagi, “Saudara-saudara
sekalian tak usah kuatir. Anak murid dari Thian Ek-cu untuk
selanjutnya tak ada yang menjadi iblis sesat lagi”
Hoa In-liong merasa serba salah. Iapun tak sanggup
mengatakan apa-apa lagi. Maka apa yang bisa ia lakukan

679
hanya menarik tangan Bu-jian tootiang erat-erat tanpa dilepas
kembali.
Bu-jian tootiang kembali berkata, “Tempo dulu pinto
pernah berjumpa muka dengan ayahmu. Watak kongcu persis
seperti watak ayahmu, bunyak manfaat yang telah pinto tarik
dan pelajaran ini.”
Yang dia maksudkan adalah kebaikan serta kegagahan
keluarga Hoa. Apa mau dikata Hoa In-liong adalah seorang
pemuda yang keras kepala, segera teriaknya, “Aku tak ambil
peduli! Sekalipun kau berbicara sampai lidahmu membusuk
juga percuma. Pokoknya aku tak nanti akan membiarkan
engkau menempuh bahaya seorang diri.”
“Kalan memang begitu, pinto terpaksa harus menyalahi
dirimu!”
Seraya berkata demikian, Bu-jian tootiang segera putar
telapak tangannya dan menghantam kepada Hoa In-liong.
Serangan tersebut tak dapat diketahui arah asalnya, tapi
kecepatannya luar biasa sekali.
Padahal Hoa In-liong sama sekali tidak bersiap sedia
terhadap datangnya ancaman tersebut, tampaknya serangan
itu segera akan bersarang telak di atas tubuhnya.
Berada dalam keadaan seperti ini, untuk memberi
pertolongan jelas sudah tak mungkin lagi. Semua orang jadi
terperanjat, bahkan ada pula diantara mereka yang menjerit
kaget.
Disaat yang amat kritis itulah, semua orang hanya merasa
pandangan matanya jadi kabur dan sesosok bayangan
manusia tahu tahu sudah terlempar ketengah udara.

680
Menyusul kemudian, terdengar suara Hoa In-liong yang
sedang minta maaf berkumandang, “Maaf….! Maaf….! Aku….
Aku…. Sebenarnya tidak sengaja!”
Ketika semua orang memandang kearah gelanggang
dengan lebih cermat, maka terlihatlah orang yang terlempar
dari gelanggang itu ternyata adalah Bu-jian tootiang.
Sementara itu Bu-jian tootiang tergeletak diatas tanah
sambil meringis menahan sakit. “Pinto….Pinto….Aaai!”
Ditengah helaan nafasnya, ia gelengkan kepalanya
berulang kali. Agaknya bandingan itu cukup keras sehingga
mengakibatkan tubuhnya terasa amat sakit.
Dengan wajah penuh rasa menyesal dan permintaan maaf
Hoa In-liong membimbingnya bangun berdiri, katanya,
“Tootiang, harap engkau suka memberi maaf atas
kecerobohan serta kekasaranku!”
Bu-jian tootiang tertawa getir. “Hal ini tak dapat
menyalahkan diri kongcu. Kalau ingin nenyalahkan maka harus
salahkan diri pinto sendiri yang tak tahu diri serta menilai
dirimu terlampau rendah”
“Tidak! Tootiang terlalu baik hati dan ramah, lagipula
engkaunpun tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.
Andaikata tootiang menggunakan tenaga yang lebih besar lagi
maka yang roboh sudah pasti adalah diriku sendiri. Aku tahu,
tujuan dari tootiang dengan serangan itu adalah bermaksud
untuk memaksa aku lepas tangan. Akulah yang salah karena
tak dapat menguasahi diri sehingga sungguh-sungguh
membanting tootiang sampai terjungkal”

681
Setelah pembicaraan itu berlangsung, semua orang baru
menyadari akan duduk persoalan yang sebenarnya, semua
orang lantas mengerumun maju ke depan.
Ternyata Bu-jian tootiang ingin terburu buru lepaskan diri
dari cekalan orang, maka ia gunakan telapak tangannya untuk
pura-pura melancarkan serargan. Dalam anggapannya gertak
sambal itu pasti akan berhasil dengan cemerlang. Dalam
keadaan tak terduga dan tergesa-gesa Hoa In-liong pasti akan
melepaskan cekalannya untuk mengundurkan diri kebelakang.
Asal cekalannya terlepas, maka dengan suatu gerakan yang
sama sekali tak terduga ia dapat kabur dari situ.
Siapa tahu Hoa In-liong memang berniat sungguh-sungguh
untuk mencegah imam itu menempuh bahaya seorang diri.
Sewaktu menyaksikan datangnya serangan secara tiba-tiba,
tentu saja cekalannya tidak dilepaskan dengan begitu saja.
Lantaran dia sendiripun tidak bermaksud mundur ke
belakang, maka bukannya mundur justru pemuda itu maju ke
muka, kaki kirinya maju selangkah. Sementara telapak
tangannya dari mencekal menjadi mencengkeram dan
ditangkapnya lengan kiri Bu jian tootiang erat-erat.
Ketika badannya dilengkungkan seperti busur dan lengan
kanannya digetarkan ke depan, ternyata tubuh Bu-jian
tootiang terangkat lewat punggungnya dan melayang ke
depan.
Ternyata di saat yang terakhir ia baru tahu jika Bu-jian
tootiang sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh, tak
ampun lagi terpelantinglah si toosu setengah baya itu dengan
kepala menghadap ke atas.
oooOOOooo

682
SEMENTARA itu Bu-jian tootiang telah berkata dengan dahi
berkerut kencang, “Tak usah dibicarakan lagi tentang soal itu,
harap kongcu bersedia lepas tangan!”
Dari nada ucapannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa
keputusannya untuk berlalu dari situ sudah bulat dan tak
dapat diganggu gugat lagi.
Tapi Hoa-In-liong tetap menggelengkan kepalanya.
“Padamkanlah amarahmu untuk sementara waktu” Hiburnya.
“Dendam sakit hati ini memang harus dituntut balas. Tapi
adapun sebab musabab hingga terjadinya dendam berdarah
ini adalah gara-gara soal diriku. Sewajarnya kalau aku tak
boleh mengesampingkan diri dalam urusan pembalasan
dendam ini. Kita harus rundingkan siasat dengan sebaikbaiknya
agar hasil yang tercapai pun memadai”
“Benar!” kata Yu Siau-lam juga, “Sebab musabab sampai
terjadinya dendam berdarah ini adalah karena soal diriku.
Andaikata aku tidak tertawan, saudara In-liong tak mungkin
akan menyusul ke kota Hong-yang dan orang-orang dari Mokauw
juga tak nanti akan menghancurkan tookoan mu serta
membinasakan anak muridmu. Sebab itu aku juga tak dapat
mengesampingkan diri dalam urusan ini. Tootiang, kenapa kau
tidak tenangkan dulu hatimu dan marilah kita rundingkan
bersama-sama urusan ini untuk menyusun rencana bersama?”
Meskipun dari pembicaraan tersebut ia tahu akan maksud
baik rekan-rekannya dan diapun tahu bahwa mereka tetap
menguatirkan keselamatan dirinya jika seorang diri menempuh
bahaya, maka semua tanggung jawab persoalan itu
dibebankan di atas bahu sendiri. Namun rasa haru dan terima
kasihnya itu tak dapat membatalkan niat serta jalan pemikiran
sendiri karenanya setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia

683
bertanya, “Apakah kalian berdua tabu bahwa pinto
mempunyai sebuah gelar lain yang disebut Cing-liang?”
Baik Yu Siau lam maupun Hoa In-liong sama-sama
tertegun, sebelumnya mereka sempat mengucapkan sesuatu,
Coa Cong-gi sudah tak dapat menahan rasa sabarnya, ia
segera menukas, “Aaah…. Kamu ini kok cerewet amat! Perduli
amat Cing lian-si teratai hijau atau Pek-lian-si teratai putih,
apa sangkut pautnya soal itu dengan masalah pokok? Saudara
Hoa berbuat demikian adalah dikarenakan maksud baik,
terserah engkau bersedia untuk mendengarkan atau tidak….?”
Bu jian tootiang tertawa getir. “Memangnya pinto adalah
seorang manusia yang tak tahu baik buruknya orang lain?”
“Kalau sudah tahu kau urusannya beres, buat apa kau
masih ribut dan cerewet terus? “tegur Coa Cong-gi lebih jauh
dengan alis matanya berkenyit.
“Pinto rasa, kalian semua pasti pernah mendengar tentang
peristiwa berdarah dilembah Cu-bi-ok bukan?” Kata Bu-jian
tootiang dengan tenang. “Dalam pertarungan yang
berlangsung di lembah Cu-bu-kok dahulu, guruku pernah
menitahkan seorang bocah imam berbaju merah yang
bernama Cing-lian untuk membacok kotak emas milik Siang
Tang lay, Siang locianpwe….”
Diam-diam Coa Cong-gi mendesis dihati kecilnya. “Oooh….
Jadi engkau adalah si bocah imam berbaju merah itu? Toh hal
ini bukan suatu kejadian yang perlu dibanggakan? Kenapa
musti kau ungkap kembali?” tegurnya.
“Pinto tidak bermaksud pamer atau membanggakan diri.
Maksud pinto sejak kecil guruku telah menganjurkan kepada
pinto agar berambisi besar untuk mencapai apa yang dicitacitakan.
Tapi sejak kembali dari operasi penggalian harta

684
karun dibukit Kiu-ci-san, ambisinya banyak yang telah padam.
Beliau berpesan kepada pinto agar mengganti nama menjadi
Bu-jian dan mengasingkan diri ditempat sunyi serta tidak
mencampuri urusan dunia persilatan lagi….”
Hoa In-liong agaknya dapat menangkap maksud
sebenarnya dari perkataan lawan, ia segera menukas,
“Aaaah…. Sekarang aku sudah paham dengan maksud hatimu.
Jadi tootiang bermaksud hendak menghubungi kembali bekas
rekan-rekan seperguruanmu dimasa lampau untuk membantu
usahamu guna membalaskan dendam bagi kematian anak
muridmu ini?”
Dengan wajah yang amat sedih Bu jian tootiang manggutmanggut
lirih. “Yaaa. Terpaksa aku harus berbuat demikian.
Sekalipun tindakanku ini berarti suatu pelanggaran terhadap
perintah guruku, tapi keadaan situasilah yang memaksa aku
berbuat demikian. Karena itu pinto juga tidak akan
memikirkan bagaimanakah akibatnya nanti”
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orangpun
sama-sama dibuat tertegun.
Sementara semua orang masih termangu, terdengar Bujian
tootiang melanjutkan kembali kata-katanya setelah
menghela napas panjang, “Keadaan situasi yang terpapar di
depan mata kita sekarang dengan jelas telah membuktikan
bahwa orang-orang dari Mo-kauw adalah iblis-iblis keji yang
sama sekali tidak berperi kemanusiaan. Cukup ditinjau dari
sikap mereka yang begitu kejam buas dan ganas untuk
membakar sebuah tookoan serta merenggut dua puluh tujuh
lembar nyawa hanya dikarenakan untuk melampiaskan rasa
marah dan mendongkol mereka dapatlah kita ketahui bahwa
kebusukan hati mereka luar biasa besarnya. Bahkan bila
dibandingkan dengan tingkat kekejaman yang pernah
diperbuat orang-orang Sin Ki-pang, Hong Im-hwe dan Tong

685
Thian-kau, entah berapa kali lipat lebih dahsyat. Jika manusiamanusia
berhati binatang semacam merekapun dibiarkan
hidup terus didunia ini, mana mungkin umat persilatan didunia
ini bisa peroleh ketenangan? Sampai kapankah dunia
persilatan jadi aman dan sentausa? Apakah kita hendak
membiarkan hawa jahat hawa iblis menguasahi seluruh
jagad?”
Coa Cong-gi yang berjiwa panas, segera menanggapi
ucapan tersebut dengan teriakan bersemangat, “Betul! Masuk
diakal, sungguh tak kusangka meski rada cerewet tapi jalan
pikiranmu lumayan juga. Cuma…. Cuma…. Membangkang
perintah gurumu, apakah tootiang dapat mempertanggung
jawabkan perbuatanmu ini kepada gurumu?”
Pemuda ini memang berwatak polos, jujur dan cepat
berbicara. Baik buruk semuanya diungkapkan perasaannya
waktu itu. Maka ketika didengarnya perkataan dari Bu-jian
tootiang cengli dan cocok sekali dengan seleranya, bukan saja
ia lantas memuji-muji, bahkan sedikit menguatirkan
keselamatan imam tersebut.
Bu-jian tootiang tertawa sedih. “Membangkang perintah
guru memang merupakan suatu tindak penghianatan yang
merupakan perbuatan tidak berbakti. Tapi…. apakah pinto
harus berdiam diri saja menyaksikan anak muridku dibantai
orang secara keji tanpa usahakan suatu pembalasan dendam?
Apakah hatiku bisa tenteram membiarkan mereka mati
penasaran? Memang, apa yang dikatakan Hoa kongcu tepat
sekali, pinto harus mengubah kesedihan yang yang mencekam
dalam hatiku menjadi suatu kekuatan. Pinto pun sadar,
kekuatan yang kumiliki sendiri amat minim dan terbatas, maka
aku harus mengundang rekan-rekan seperguruanku dimasa
lampau, untuk bersama-sama melakukan perang terhadap
mereka”

686
Li Poh-seng yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba
berkata pula setelah menghela nafas panjang, “Aaaai….
Sungguh tak kusangka kalau tootiang bisa berpikir sampai ke
situ. Padahal membasmi kaum jahat dan sesat dari muka bumi
adalah kewajiban dari kita semua. Apa salahnya kalau kitapun
membantu usahamu untuk membasmi hawa jahat dari muka
bumi? Tootiang, engkau sendiripun sudah cukup tak tenang
hatinya karena soal ini, buat apa kau undang pula rekan-rekan
seperguruanmu untuk terjun pula ke dalam air keruh?
Tidakkah perbuatan ini malah mengganggu ketenangan hidup
mereka?”
“Sekarang, jalan pemikiran pinto sudah jauh lebih terbuka.
Selama hawa siluman belum dilenyapkan, mana mungkin kita
semua dapat hidup beribadah dengan hati yang tenang?”
“Tapi tootiang, orang persilatan paling menjunjung tinggi
perintah dari seorang guru” Sambung Yu Siau-lam cepat,
“Apakah tootiang tidak merasa berdosa, bila kau langgar
perintah dari gurumu?”
Bu-jian tootiang tertawa getir. “Ya….sudah tentu hal itu tak
bisa dihindari lagi” Sahutnya, “Tapi aku yakin, guruku tak akan
sampai menegur ataupun menyalahkan tindakanku ini”
“Kenapa bisa begitu?” tanya Coa Cong-gi dengan alis mata
berkenyit rapat.
“Ketika guruku mengumumkan akan mengundurkan diri
dari keramaian dunia serta melarang anak muridnya
mencampuri urusan dunia persilatan lagi, dalam dasar hatinya
sudah muncul benih-benih penyesalan. Disamping itu,
perkumpulan Tong Thian-kau tak dapat dibantah lagi memang
pernah melakukanbanyak kejahatan dan kekejaman dimasa
lampau. Maka pinto mengambil keputusan untuk mengundang
kehadiran rekan-rekan seperguruan untuk bersama-sama

687
melawan serta membendung kekuatan jahat dari pihak luar.
Tindakanku ini pertama untuk membalaskan dendam bagi
kematian anak muridku. Kedua untuk menebuskan dosa-dosa
yang pernah dilakukan pihak Tong Thian-kau dimasa lalu.
Maka pinto pikir, jika guruku dapat mengetahui maksud hatiku
ini, tak mungkin beliau akan menegur ataupun menyalahkan
tindakan pinto yang telah melanggar perintah-perintahnya ini”
Selama pembicaraan berlangsung, Hoa In-liong
mencengkal terus lengan Bu jian tootiang tanpa bermaksud
untuk melepaskannya kembali. Tapi sesudah imam setengah
baya itu mengutarakan isi hatinya, cekalan tersebut segera
dilepaskan.
“Baiklah! Kau tak usah berkata lagi. Tak kusangka kalau
maksud hati tootiang secermat dan sebagus ini. Kalau begitu
akulah yang menguatirkan keselamatanmu terlalu berlebihan.
Silahkan tootiang! Semoga dilain waktu gurumu dapat
memahami keadaan tersebut. Bila mana perlu akupun
bersedia menjadi saksi bagi tootiang untuk menghindari diri
tootiang menjadi penasaran”
Persetujuan yang diberikan secara tiba-tiba oleh anak muda
ini atas kepergian Bu-jian tootiang tentu saja amat
mencengangkan semua orang. Untuk sesaat semua yang hadir
jadi tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapin.
Bu-jian lootiang sendiripun tertegun, tapi hanya sebentar,
cepat ia menjura memberi hormat. “Terima kasih atas janji
yang telah Hoa kongcu berikan. Pinto mohon diri lebih dahulu”
Selesai berkata, ia putar badan dan buru-buru berlalu dari
sana dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.
Ketika tubuhnya sudah mencapai tiga kaki jauhnya,
mendadak Hoa In-liong berteriak kembali, “Tootiang!”

688
Bu-jian tootiang segera menghentikan langkah kakinya dan
putar badan menghadap ke arah pemuda tersebut.
Dengan senyuman dikulum Hoa In-liong berkata lebih jauh,
“Kita adalah sepaham dan setujuan, harap tootiang tinggalkan
alamat buat kami. Dikemudian hari aku pasti akan berkunjung
ke sana untuk menyambangi dirimu”
“Kepergian pinto kali ini tanpa arah tujuan tertentu, lebih
baik kita berjumpa saja dalam dunia persilatan!”
Hoa In-liong termenung dan berpikir setentar kemudian
ujarnya lagi, “Begini saja! Bila tootiang menghadapi kesulitan
dikemudian hari, kirim saja utusan ke perkampungan Lioksoat-
san-ceng. Kami orang-orang dari keluarga Hoa bersedia
menjadi tulang punggung kalian”
“Terima kasih atas perhatian dari kongcu. Pinto akan
mengingat terus pesan ini” sahut Bu jian tootiang lantang.
Diapun memberi hormat dari kejauhan, kemudian baru
berlalu dari situ. Sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah
lenyap dari pandangan mata.
Kepergian Bu-jian tootiang segera mengundang helaan
napas sedih dari rekan-rekan persilatan lainnya. Lama sekali
Hoa In-liong baru berkata lagi, “Aku rasa kitapun harus segera
berangkat!”
“Ya, kita harus berangkat! Sekarang juga kita harus
berangkat!” sambung Coa Cong-gi setengah berteriak.
Sambil ulapkan tangannya berjalan lebih dahulu keluar dari
hutan lebat itu.

689
Para jago lainnya saling menyusul dari belakang dengan
membungkam dalam seribu basa mereka menelusuri jalan
raya.
Ketika itu waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari.
Matahari bersinar terang dengan teriknya ditengah angkasa.
Panas sang surya yang menyengat badan menimbulkan rasa
panik, gelisah dan murung dihati setiap orang. Ini
menyebabkan perasaan mereka makin kalut.
Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba Yu Siaulam
berkata memecahkan kesunyian, “Saudara In-liong, tibatiba
aku merasa jantungku berdebar keras, seakan-akan
mendapat firasat bahwa sesuatu bencana besar telah berada
didepan mata. Tahukah kau apa maksud dari firasat hatiku ini?
Apakah kau dapat menerangkan?”
“Entahlah apa yang bakal terjadi” Sahut Hoa In-liong
seraya berpaling, “Sebab akupun mempunyai perasaan yang
sama. mungkin dalam lubuk hati kita masiag-masing sedang
menguatirkan keselamatan dari Bu-jian tootiang, maka
perasaan semacam itupun otomatis muncul dengan
sendirinya! “
“Benar!” Seru Coa Cong-gi pula setengah berteriak, “Toosu
itu bukan saja dingin dan tawar. Berbicarapun tak bisa blakblakan
dan lancar. Tak disangka manusia semacam itu
sanggup mengutarakan serangkaian perkataan yang masuk
diakal. Jika menuruti adatku bagaimanapun juga tak nanti
akan kubiarkan dia pergi dari sini. Bukan saja tidak membawa
senjata rahasia, harus berkeliaran juga kesana-kemari tanpa
tujuan tertentu. Kalau sampai ketemu lagi dengan rombongan
anak iblis itu, niscaya lebih banyak kegetiran yang diterima
daripada kegembiraan”

690
Li Poh-seng tidak sependapat dengan perkataan itu, ia
cepat membantah dari samping, “Aaaah…. Aku rasa belum
tentu demikian. Menurut penglihatanku Bu-jian tootiang tidak
termasuk seorang manusia sembarangan. Dia memiliki
kekuatan, memiliki keberanian dan merupakan seorang yang
berotak cerdas. Sekalipun sampai menderita kerugian, tak
akan besar kerugian yang dideritanya. Aku rasa kita tak usah
terlalu menguatirkan keselamatan jiwanya”
“Aaaah. Kamu ini kalau bicara tak ada ujung pangkalnya,
bikin orang jadi bingung saja” Omel Coa Cong-gi sambil
mengernyitkan alis matanya yang tebal. “Perlu kuatir atau
tidak ada urusan yang tersendiri. Pada hakekatnya kita semua
sedang kuatir, kalau tidak, tak mungkin hatiku terasa gundah
sekali!”
Li Poh-seng tersenyum. ”Akupun demikian, hatiku amat
kalut dan tidak tenteram, begini saja! Mari kita bicarakan
langkah-langkah yang akan kita ambil dalam perjalanan
menuju bukit Yan-san. Mungkin dengan cara begini, perasaan
gelisah dan tidak tenteram itu dapat kita buang jauh-jauh dari
dalam benak kita”
“Betul!” Yu Siau-lam menanggapi lebih dulu sambil
manggut-manggut, “Perjalanan kita menuju ke bukit Yan-san
memang perlu dirundingkan lebih dahulu. Sebab langkahlangkah
penting perlu suatu perencanaan yang matang!”
Ia berpaling kearah Hoa In-liong, menyusul kemudian
tanyanya, “Saudara In-liong, engkau bermaksud kunjungi
bukit Yan-san secara terang-terangan ataukah secara
tersembunyi?”
“Tak bisa dikatakan suatu kunjungan secara terangterangan
atau secara tersembunyi. Sebab tujuan kita adalah
memenuhi undangan dari nona Wan untuk mengadakan

691
pertemuan. Tentu saja sasaran kita adalah berjumpa dengan
nona Wan”
“Hal ini mana bisa jadi?” kata Yu Siau-lam dengan dahi
berkerut, “Nona Wan selalu ada bersama-sama Hong Seng
sekalian. Andaikata kita sampai bertemu dengan Hong Seng
lantas bagaimana? Sebelum hal-hal yang tak diinginkan
terjadi, lebih baik kita mempersiapkannya lebih dahulu dengan
masak-masak!”
Hoa In-liong tersenyum. “Kalau sampai berjumpa, itu lebih
baik lagi. Justru kita dapat langsung menegur mereka tentang
dibakarnya tookoan Cing-siu-koan secara biadab!”
“Aaaai…. Soal dibakarnya Cing-siu-koan, kenapa musti
banyak ditanyakan lagi” Tukas Yu Siau-lam dengan dahi
berkerut.
“Lantas menurut pendapatmu?”
“Menurut pendapatku. bila kunjungan kita ini bersifat
terang-terangan maka kita langsung temui Hong Seng dan
sekaligus membasmi mereka dari muka bumi serta selamatkan
nona Wan dari cengkeraman mereka. Aku rasa siasat sekali
tepuk tiga lalat ini paling bagus sekali bagi kita dalam keadaan
seperti ini”
“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Cara semacam ini tak
mungkin bisa dilaksanakan” kata Hoa In-liong kemudian
sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Kenapa tidak mungkin?”
“Sekalipun kita berhasil melenyapkan Hong Seng sekalian
dari muka bumi, tapi justru tindakan tersebut merupakan
suatu tindakan memukul rumput mengejutkan ular. Karena

692
pembunuhan itu, orang-orang Mo-kauw pasti akan
mempertingkat kewaspadaan mereka terhadap kita. Malahan
mungkin mereka jadi semakin kalap dan menciptakan
pembunuhan-pembunuhan keji yang lebih banyak lagi”
Bergetar hati Yu Siau-lam setelah mendengar akibatnya,
tapi ia bertanya juga dengan nada tercengang, “Lantas
apakah engkau mempunyai pendapat lain?”
“Malam kemarin dulu, paman Ngo ku pernah kisikan
kepadaku bahwa disekitar kota Kim-leng telah dijumpai
sekelompok manusia dari suku-suku asing….”
“Apakah kelompok manusia suku-suku asing yang dilihat
oleh paman Ngo mu juga berasal dari satu aliran dengan Hong
Seng?” tanya Yu Siau-lam dengan hati tercekat.
“Tak usah kita persoalkan apakah mereka berasal dari satu
rombongan atau tidak kenyataan telah berpapar dihadapan
kita dan bukti menunjukkan bahwa Hong Seng sekalian masih
mencari jejakku dimana-mana dengan ketat. Namun mereka
tak berani secara terang-terangan, hal ini berarti pula bahwa
kaucu dari Mo-kauw masih menaruh rasa segan dan takut
terhadap ayahku. Karena mereka masih mempunyai perasaan
segan dan takut maka dapatlah kita ketahui bahwa
kedatangan Hong Seng sekalian ke daratan Tionggoan adalah
bermaksud menyelidik dan menjajaki kemampuan kita. Jelas
yang mereka utus bukan hanya kelompok dari Hong Seng
belaka. Jika kita langsung membabat Hoag Seng sekalian
tanpa melakukan penyelidikan lebih dulu terhadap keadaan
sebenarnya, bukankah tindakan tersebut sama artinya dengan
memukul rumput mengejutkan ular?”
Yu siau lam tidak langsung menjawab, ia berpikir sebentar,
kemudian baru menjawab, “Baiklah! Kalau begitu kita
putuskan untuk berkunjung secara sembunyi-sembunyi”

693
“Bagaimana yang dimaksudkan berkunjung secara
sembunyi-sembunyi?” tanya In-liong.
“Kita datang lebih pagian ke bukit Yan-san dan menunggu
disana sebelum mereka datang!”
“Kenapa musti datang lebih pagian?”
“Aku rasa si sastrawan she Siau itu adalah seorang manusia
licik yang banyak tipu muslihatnya. Sejak terjadinya kebakaran
besar di kuil Cing siu-koan dan terbunuhnya dua puluh tujuh
orang imam, aku selalu merasa kuatir. Aku takut gerak-gerik
dari nona Wan telah membangkitkan rasa curiga dalam hati
kecilnya. Pokoknya lebih baik kau datang ke bukit Yan-san
selangkah lebih dulu, sedangkan kami akan bersiap siaga
disekitar sana. Apabila Siau Khi-gi sudah menaruh curiga
terhadap nona Wan, dia pasti sudah mengatur segala
persiapan untuk menghadapi dirimu. Selain mengamati terus
keadaanmu untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak
diinginkan, dia pasti sudah mengatur pula bala bantuan
bilamana keadaan benar-benar memerlukan”
“Baik! Kita tetapkan demikian saja” Seru Coa Cong-gi
serentak, “Andaikata bangsat muda she-Siau itu berani
menyiapkan segala rencana dan siasat busuk, kita ganyang
saja sampai habis!”
“Tidak, hal ini tak bisa dilakukan!” tukas Hoa In-liong tibatiba
dengan tegas.
Mendengar jawaban tersebut, Coa Cong-gi tertegun.
“Kenapa?” Tanyanya, “Seandainya cara ini meleset, engkau
juga tak akan menyetujuinya?”

694
“Seandainya kita hendak mengganyang mereka, apa
bedanya kalau kita langsung pergi mencari Hong Seng?”
“Lalu…. kau bersiap sedia hendak berbuat apa?” Coa Conggi
agak tergagap oleh jawaban itu.
”Lebih baik biarkanlah aku pergi seorang diri!”
Begitu mendengar bahwa dia akan memenuhi undangan
seorang diri, Coa Cong-gi segera berteriak, “Waaah. Tidak
boleh, tidak boleh. Tidak boleh. Kalau kau hendak pergi
sendirian, andaikata sampai….”
Hoa In-liong tersenyum, seraya tukasnya, “Aku harap
engkau bersedia mendengarkan penjelasanku lebih dahulu!
Tujuan kepergianku memenuhi undangan adalah menjumpai
nona Wan serta ingin kuketahui sebetulnya nona Wan ingin
menyampaikan rahasia apa kepadaku. Pertemuan semacam ini
tak mungkin bisa mengakibatkan terjadinya bentrokan
kekerasan. Malahan kalau terlalu banyak orang yang pergi
jejak kita gampang ketahuan. Daripada konangan musuh, kau
lebih baik kupenuhi sendiri undangan dari nona Wan secara
diam-diam?”
“Tidak! Tidak bisa! Sekali aku bilang tidak bisa tetap tidak
bisa!”seru Coa Cong-gi tetap ngotot, “Seandainya hal itu
adalah suatu jebakan, seandainya sampai terjadi bentrokan
kekerasan, apa yang hendak kau lakukan waktu itu?”
“Seandainya sampai terjadi bentrokan, jika aku hanya
seorang diri maka untuk meloloskan diri jauh lebuh gampang
daripada orang banyak. Mengenai suatu perangkap, aku rasa
nona Wan bukan sekomplotan dengan mereka. Jadi hal ini tak
mungkin bisa terjadi. Harap saudara Cong-gi bersedia
melegakan hatimu….”

695
Coa Cong-gi kontan mendelik besar.
“Apanya yang kulegakan? Perempuan adalah racun dunia.
Apalagi hati kaum wanita paling sukar diukur dalamnya. Siapa
tahu kalau ia bakal menghianati dirimu?”
Hoa In-liong tetap menggelengkan kepalanya berulangkali.
Sebetulnya ia ingin memberi penjelasan lagi.
Tapi Li Poh-seng sudah menyela dari samping, “Urusan itu
lebih baik lain kali dibicarakan lagi! Didepan sana adalah kota
keresidenan Teng-wan. Mari kita mencari penginapan lebih
dulu. Sehabis beristirahat, perundingan baru dilangsungkan
kembali!”
Mendengar perkataan itu, semua orang lantas menengadah
dan memandang ke depan. Betul juga, kurang lebih delapansembilan
li lagi terpaparlah sebuah tembok kota yang tinggi
besar.
Rupanya sambil berjalan sambil berbicara, tanpa terasa
mereka sudah melakukan perjalanan sejauh empat-lima puluh
li.
Tiba-tiba sesosok bayangan tubuh yang cukup dikenal
melintas dihadapan mata mereka semua. Ini membuat semua
orang sama-sama dibuat tercengang dan melongo.
Orang itu adalah seorang laki-laki kekar berbaju hijau, ia
berbaring diatas punggung kuda yang sedang berlari kencang
menuju kearah rombongan itu berada.
Selang sesaat kemudian, orang itu sudah semakin dekat,
tiba-tiba terdengar Yu Siau-lam berteriak kaget, “Yu Bok kah
disitu?”

696
Baru saja seruan itu berkumandang, Coa Gong-gi sudah
menyusup kedepan menyongsong kedatangan kuda itu,
bentaknya, “Cepat berhenti! Yu Bok, kenapa kau….”
Kuda itu lari sangat cepat. Hanya sekejap mata sudah
berada didepan mata. Dalam keadaan begini Coa Cong-gi tak
sempat membentak lagi, lengannya segera diayun kemuka
mencengkaram tali les kuda tersebut.
Diiringi suara ringkikan panjang, kuda itu berdiri dengan
kaki depannya terangkat keatas. Sentakan ini menyebabkan
Yu Bok yang berada diatas pelana terlempar ketanah.
Untung Li Poh-seng cukup cekatan, tepat pada waktunya ia
menerkam kedepan dan menyambut tubuh Yu Bok yang
terlempar itu.
Semua orang segera merubung kedepan, tampaklah Yu
Boh berada dalan keadaan payah. Sepasang matanya
terpejam rapat-rapat, giginya saling beradu gemerutukan,
pucat pias wajahnya. Peluh membasahi sekujur badannya.
Jelas ia melakukan perjalanan dengan membawa luka.
Keadaannya ketika itu sangat kritis atau dengan perkataan
lain keselamatan jiwanya lebih banyak buruknya daripada
baiknya.
Yu Bok adalah pelayan dari keluarga Kanglam Ji-gi (Tabib
sosial dari Kanglam). Kenyataannya sekarang, dengan
membawa luka yang parah dan tidak mendapat perawatan
yang baik pelayan itu membedal kudanya kencang-kencang
melalui jalan raya. Tanpa dijelaskan semua orang sudah dapat
membaca garis besar peristiwa yang telah terjadi.
Diantara sekian banyak orang. Yu Siau-lam paling kaget
bercampur panik, dicekalnya lengan Yu Boh sambil diguncangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
697
guncangkan berulang kali. “Yu Boh! Yu Boh! Sadarlah
sebentar, sadarlah sebentar! Apa yang telah terjadi?”
Mendapat guncangan tersebut, dengan merasa kesakitan
yang luar biasa Yu Boh membuka kembali matanya.
Melihat pelayannya sudah sadar, Yu Siau-lam segera
menegur lagi dengan cemas, “Apa yang telah terjadi? Yu Boh,
kau masih kenali aku. Yu Boh! Jawablah pertanyaanku!”
Dengan lemas Yu Boh mengangguk, bisiknya terbata-bata,
“Kong…. Kongcu….cepat….”
Tapi sebelum maksud hatinya diutarakan keluar, pelayan
itu kembali terkulai dengan mata terpejam, jatuh tak sadarkan
diri.
Yu Siau-lam semakin gelisah, dia hendak menggoncanggoncangkan
kembali Yu Boh yang pingsan, tapi Hoa In-liong
bertindak cepat. Ia pegang lengan pemuda itu dan berkata,
“Saudara Siau-lam, tenangkan dulu hatimu! Luka dalam yang
diderita palayanmu ini teramat parah. Sedikit goncangan yang
keras akan menyebabkan jiwanya melayang”
Kemudian sambil berpaling ke arah Li Poh-seng katanya
lagi, “Cepat baringkan Yu Boh ke atas tanah. Akan siaute
periksa keadaan luka yang dideritanya”
Li poh seng tidak membantah, dia lantas membaringkan Yu
Boh ke atas tanah. Hoa In-liong pun bungkukkan badan
memeriksa denyutan nadinya, sementara tangan yang laiu
dengan cepat membuka pakaian dada dari pelayan tersebut.
Setelah pakaian terbuka, belasan pasang matapun dengan
sinar mata berkilat memandang ke arah dada Yu Boh.

698
Apa yang terlibat? Sebuah bekas telapak tangan yang
berwarna merah darah tertera nyata didada sebelah kiri Yu
Boh.
Bekas telapak tangan itu menonjol tiga bagian dari
permukaan dada, merah darah dan sembab mengerikan. Jelas
pukulan itu dilancarkan seseorang dengan menggunakan
punggung telapak tangan yang kuat.
Diam-diam Hoa In-liong terkejut setelah menyaksikan
bekas luka itu. Ia lantas berpikir, “Melukai orang dengan
punggung telapak tangan, ini menunjukkan bahwa serangan
dilancarkan dengan suatu ayunan yang kencang. Aaaai….
Luka Yu Boh tepat di dada kiri, jantungnya sudah tergetar
putus. Dari sini dapat ku ketahui betapa dahsyat dan kuatnya
serangan tarsebut. Mungkinkah bencana besar sudah
menjelang tiba? Bagaimanapun juga aku harus berusaha
dengan segala kemampuan untuk mencegah peristiwa ini
terjadi….”
Ternyata pemuda ini sudah mengetahui dari pemeriksaan
denyut nadinya bahwa jantung Yu Boh sudah pecah.
Kendatipun ada obat dewapun nyawa pelayan tersebut tak
bisa ditolong lagi.
Sekalipun demikian, hal ini tidak diungkapkan diatas
wajahnya. Sembari diam-diam menyalurkan hawa murninya
untuk membantu pernapasan Yu Boh yang sudah sekarat
diapun perhatikan bekas telapak tangan itu dengan seksama.
Ia berharap dari bekas telapak tangan yang berwarna merah
membara itu dapat menemukan titik terang, sehingga dalam
usahanya melacak jejak pembunuh itupun tidak mengalami
banyak kesulitan.

699
Selang sesaat kemudian, Coa Cong-gi yang pertama-tama
tak sabar, ia lantas menegur dengan suara lirih, “Saudara Hoa,
keadaan Yu Boh tidak menguatirkan bukan?”
Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali sambil
berpaling ke arah arah Yu Siau-lam ia berkata, “Saudara Siau
lam, selembar nyawa Yu boh mungkin tak dapat diselamatkan
lagi!”
Dalam beberapa waktu ini, perasaan Yu Siau lam paling
tegang. Ia sudah mendapat firasat bahwa dalam keluarganya
telah tertimpa musibah besar, maka sedapat mungkin ia
kendalikan perasaannya yang bergolak dengan berdiri
membungkan diri.
Ia berbuat demikian karena Hoa In-liong sendiripun
bersikap tenang. Dalam sangkaannya, bila anak muda itupun
tenang, pastilah keadaan pelayannya tidak berbahaya.
Siapa tahu Hoa In-liong menyusulkan kata-kata tersebut,
mendadak sontak ia jadi tertegun.
Hanya sebentar ia mematung, selanjutnya dengan suara
memohon teriaknya berulang kali, “Saudara Hoa, aku mohon
tolonglah jiwanya! Saudara Hoa, tolonglah jiwanya sedapat
mungkin!”
Pelan-pelan Hoa In-liong menggeleng. “Bila tak ada Leng-ci
mustika, jiwanya tak mungkin bisa diselamatkan lagi!”
Yu Siau-lam jadi kelabakan bercampur gugup. “Kaaa….
kalau memang begitu, berusahalah sadarkan dirinya sejenak.
Aku ingin bertanya kepadanya!”
“Baiklah!” Ucap Hoa In-liong, “Siau-te akan berusaha
sekuat tenaga untuk menyadarkannya, cuma….”

700
Ia berhenti sejenak, wajahnya berubah amat serius.
“Saudara Siau-lam” Katanya selanjutnya, “Bila dirumahmu
telah terjadi bencana, aku harap engkau dapat menguasai
diri!”
Perasaan Yu Siau-lam waktu itu sangat kalut. Apa yang
diharapkan sekarang adalah menyadarkan Yu Bok dari
pingsannya, maka setelah mendengar perkataan itu, diapun
menggangguk. “Siau-te mengerti!”
Hoa In-liong masih kuatir meski rekannya telah
mengangguk, ia memberi tanda kepada Li Poh Seng dan Coa
Cong-gi untuk berjaga-jaga didamping Yu Siau-lam. Sesudah
itu baru mengulurkan hawa murninya kedalam tubuh Yu Boh.
Terdesak oleh hawa murni yang mengalir kedalam
tubuhnya dengan deras, Yu Boh menghembuskan nafas
panjang dan sadar kembali diri pingsannya….
Begitu Yu Boh sadar, cepat Yu Siau-lam berjongkok
disampingnya sambil bertanya dengan lembut, “Yu Boh….Yu
Boh….! Bagaimanakah rasamu sekarang? Apakah masih dapat
bertahan?”
Dengan lemah Yu Boh menggerakkan biji matanya
mengawasi Yu Siau-lam, lama…. Lama sekali, ia baru berbisik,
“Koo…. Koongcu…. cee…. ceepat….puu….pulang….”
Yu Siau-lam makin tercekat. “Apa yang telah terjadi?
Bagaimana dengan Lo-ya dan Hujin? Tidak apa-apa toh?”
Dengan nada yang semakin lemah Yu Boh berbisik kembali.
“Kee…. kemarin malam…. telah datang see…. serombongan
manusia yaa…. yang tak jelas asal usulnya…. mee….

701
mereka….meee….melepaskan api. da…. dan….membakar
ruu….rumah kita….”
Tibi tiba nafasnya memburu, kata-katanya terputus
setengah jalan, sebelum ucapan itu serapat dilanjutkan
kembali. Tubuhnya telah mengejang keras, kakinya tiba-tiba
menjejak ketanah dan….
Yu Siau-lam makin gelisah, sekuat tenaga ia menggoncanggoncangkan
bahunya sambil berteriak, “Bagaimana dangan
loya? Bagaimana dengan loya dan hujin?”
Waktu itu Yu Boh sulih hampir putus nyawa tapi terkena
goncangan yang begitu keras, tiba-tiba seperti mendapat
tambahan tenaga yang entah datang dari mana, matanya
membelalak kembali.
Kulit mukanya mengejang sangat keras, bibirnya gemetar,
suaranya yang sempat meletup keluar kedengaran sangat rilih,
“Loo….looya…. dii…. dii”
Ucapan itu tak dilanjutkan untuk selamanya. Sebagai
seorang manusia yang sudah, sekarat, ibaratnya lentera yang
kehabisan minyak. Meski cahaya lampu itu mencorong terang
tapi hanya sebentar saja sebelum padam untuk selamanya.
Demikian pula dengan Yu Boh. Karena, guncangan yang
diterimanya, ia seolah-olah mendapat kekuatan. Tapi itupun
hanya berlangsung sedetik. Sebelum kata-kata itu sempat
diselesaikan, malaikat elmaut telah menjemput nyawanya. Ia
mengejang makin keras, kali ini kakinya betul-betul menjejak
tanah, kepalanya terkulai dan Yu Boh menghembuskan nafas
yang penghabiskan.
Bagaimana dengan Yu Siang-tek suami istri? Apa yang
telah terjadi? Yu Boh tidak berhasil menyelesakan tugasnya

702
untuk menyampaikan berita itu kepada majikan mudanya
rahasia tersebut dibawanya sampai keliang kubur.
Tak terkirakan rasa sedih Yu Siau-lam menghadapi kejadian
itu. Tak kuasa lagi ia memeluk jenazah Yu Boh sambil
mengucurkan air matanya dengan deras, “Yu Boh….Ooh Yu
Boh…. Bangunlah kau. Kau tak boleh pergi! Kau tak boleh
pergi!”
Hoa In-liong kuatir rekannya terlampau sedih hingga
mengakibatkan kesehatan badannya terganggu, cepat ia
bopong jenazah Yu Boh seraya berkata, “Saudara Siau-lam,
simpanlah kesedihanmu itu. Sampai sekarang keadaan dari
Pek-bu dan Pek-bo masih belum jelas. Hal paling penting yang
harus kita lakukan sekarang adalah kembali ke kota Kim-leng
secepatnya. Kita periksa sendiri apa gerangan yang telah
terjadi disitu!”
Li Poh-seng dan Coa Cong-gi yang sedang memayang Siaulam,
segera menanggapi pula, “Betul! Saudara Siau-lam tak
boleh bersedih hati sehingga mengacaukan pikiranmu.
Ketahuilah pikiran yang kalut tidak akan memberi manfaat
apa-apa terhadap persoalan yang sedang kita hadapi.
Perkataan dari saudara In-liong memang benar. Tindakan
paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah
kembali dulu ke kota Kim-leng. Kemudian dari situ kita baru
menyusun rencana kembali”.
Air mata bercucuran bagaikan bendungan yang ambrol, Yu
Siau-lam membungkam dalam seribu bahasa, namun
kesedihan yang menghiasi wajahnya teramat jelas.
Be Si-kiat maju menghampiri, katanya tiba-tiba, “Hoa
kongcu, serahkan jenazah Yu Boh kepadaku, biar aku saja
yang bopong!”

703
Hoa In-liong berpikir sebentar, akhirnya dia serahkan
jenazah itu kepada Be Si-kiat sambil berkata, “Begitupun boleh
juga! Nah, lebih baik kalian berangkat lebih duluan. Belikan
sebuah peti mati yang baik dikota Teng-wan, kemudian
kebumikan jenazahnya dengan baik-baik. Kamu sekalian tak
perlu menunggu lebih lama lagi”
“Baiklah!”sahut Be Si-kiat, setelah menyambut jenazah itu
diapun putar badan siap berlalu.
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Yu Siau-lam membentak
dengan suara dalam, “Aku hendak melihat dulu bekas luka di
dadanya!”
“Tidak usah!” tolak Hoa In-liong cepat, “Bekas luka itu
sudah kuamati dengan jelas dan masih teringat dalam
benakku. Biarkanlah mereka yang telah mati cepat masuk
tanah. Mereka harus berangkat lebih duluan dari kita”
Dalam beberapa saat belakangan ini, apa yang dipikirkan
Yu Siau-lam hanyalah soal keselamatan ayah ibunya. Dia
selalu menganggap orang tuanya telah mendapat bencana,
maka maksudnya dia hendak mencari jejak pembunuh keji itu
dari bekas luka di dada Yu Boh.
Siapa tahu Hoa In-liong lebih cerdik dan cekatan, ia sudah
memperhatikan lebih dulu sampai ke situ.
Setelah tertegun sejenak, Yu Siau-lam bertanya lagi sambil
palingkan wajahnya, “Adakah sesuatu yang istimewa dengan
bekas luka itu?”
“Bekas luka itu terkena oleh pukulan pungung telapak
tangan. Disekitar bekas ibu jari tampak dua bulatan merah
yang menonjol besar”

704
“Aku juga perhatikan sampai kesitu” Sambung Poh-seng,
“Tonjolan merah itu sama besarnya antara yang satu dengan
yang lain. Entah terluka oleh benda apa?”
“Aku telah berpikir cermat sampai kesitu” Ujar Hoa In-liong
lebih lanjut, “Tonjolan yang agak kecil berada didepan,
sedangkan tonjolan yang besar berada dekat dengan bekas
luka disekitar ibu jari”
“Bekas luka itu jadi lebih banyak sebuah? Maksudmu
pukulan itu dilancarkan oleh enam buah jari tangan?” Yu Siaulam
bertanya keheranan, air mata yang membasahi wajahnya
cepat diseka.
Hoa In-liong mengangguk. “Aku rasa begitulah. Cuma tidak
kuketahui itu bekas pukulan telapak tangan kanan atau bekas
pukulan telapak tangan kiri”
“Perduli amat bekas pukulan telapak tangan kanan atau
kiri, yang paling penting sekarang adalah kembali dulu ke kota
Kim-leng” Tukas Coa Cong-gi tiba-tiba dengan lantang.
Hoa In-liong menengadah ke depan, ketika dilihatnya Be Sikiat
sekalian sudah pergi jauh, dia pun mengangguk. “Betul
juga perkataan itu. Sampai sekarang keadaan dari empek dan
pek-bo masih belum jelas. Apa gunanya kita bicarakan dulu
soal bekas luka itu, ayoh kita segera berangkat!”
“Kau tak usah ikut!” tiba-tiba Yu Siau-lam menyela.
“Apa kau bilang? Aku tak usah ikut?” Hoa In-liong
tercengang sampai berdiri tertegun.
“Ehmmm, yaa!” Jawab Yu Siau-lam dengan tenang. “Kau
harus pergi ke bukit Yan san untuk memenuhi janji. Bila harus

705
ke kota Kim-leng dulu kemudian baru menuju bukit Yan-san,
aku kuatir kalau waktunya tidak sempat lagi”
Dalam detik-detik yang terakhir ini, hampir seluruh pikiran
dan perhatian Hoa In-liong dilimpahkan atas peristiwa yang
sedang berlangsung di depan mata, hampir saja ia lupakan
sama sekali bila di bukit Yan-san dia masih punya janji.
Maka begitu diingatkan kembali oleh Yu Siau-lam, kontan
saja pemuda itu merasa serba salah karena tak tahu apa yang
harus dilakukan. Matanya jadi terbelalak, mulutnya melongo
dan untuk sementara waktu dia cuma berdiri termangu-mangu
seperti orang bodoh.
Melihat anak muda itu tertegun, cepat Yu Siau-lam berkata
kembali dengan lembut, “Dengarkan dulu perkataanku. Meski
dirumahku telah terjadi peristiwa besar, toh musibah itu sudah
terlanjur terjadi. Sekalipun kita menyusul ke sana juga tak
mungkin bisa mencegah berlangsungnya peristiwa tersebut,
paling banter kita hanya bisa berusaha melacaki jejak
pembunuh keji itu. Lain halnya dengan keadaaan nona Wan.
Setiap hari ia berada diseputar orang jahat, posisinya
berbahaya dan lagi dia pun ada rahasia besar yang heudak
disampaikan kepadamu. Jika kau sampai datang terlambat,
siapa tahu kalau jiwanya keburu melayang? pergilah
memenuhi janji, kami akan nantikan kedatanganmu di kota
Kim-leng!”
Sewaktu mengucapkan kata- kata tersebut, sikapnya
sangat tenang dan kalem. Sedikitpun tidak memenunjukan
luapan emosi atau golakan perasaan hatinya.
Padahal sebagaimana diketahui, sampai detik itu ia masih
belum tahu musibah apakah yang telah menimpa keluarganya.
Diapun tak tahu bagaimanakah nasib ayah ibunya ketika itu.
Maka bila berbicara dari sikap tenangnya sewaktu

706
mengucapkan kata-kata tersebut, dapat diketahui bahwa rasa
perhatiannya terhadap Hoa In-liong sudah mencapai tingkatan
yang amat akrab.
Coa Cong-gi segera menanggapi pula ucapan tersebut.
“Betul perkataan dari saudara Siau-lam memang masuk diakal.
Lebih baik kita memisahkan diri untuk melaksanakan tugas
masing-masing. Saudara Poh-seng boleh temani saudara Siaulam
pulang ke Kim-leng. Sedang aku biarlah temani saudara
Hoa menuju bukit Yan-san.
“Waah…. Tidak bisa, tidak bisa. Kalian tak usah ikut aku.
Lebih baik semuanya pulang ke Kim-leng lebih dulu!” Tukas
Hoa In-liong dengan cemas….
Kontan Coa Cong-gi mendelik besar. Tapi sebelum pemuda
itu sempat menyembur kata-katanya, Hoa In-liong telah
malanjutkan kembali kata-katanya, “Saudara Cong-gi, keadaan
dikota Kim-leng dewasa ini masih belum jelas. Jumlah
kekuatan kitapun sangat minim, tidak sepantasnya kalau
engkau mengurangi kembali kekuatan yang sudah minim itu
untuk menemani aku kebukit Yan-san. Coba kalau keedaan
tidak mendesak, mungkin akupun akan berangkat ke kota
Kim-leng untuk membantu saudara Siau-lam lebih dulu!”
Setelah alasan tersebut diutarakan keluar, Coa Cong-gi
tidak mampu berkata-kata lagi. Meski bibirnya bergetar
hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepotong
perkataanpun yang sempat diutarakan keluar.
Sesungguhnya perkataan itu memang tepat sekali. Kedua
belah pihak sama-sama adalah sahabat karib, mana boleh ia
pilih kasih dengan condong kesatu pihak? Kata-kata tersebut
boleh dibilang tepat mengena disasarannya dalam hati Conggi.

707
Li Poh-seng berbicara pula, “Apa yang dikatakan saudara
In-liong masuk diakal. Keadaan kota Kim-leng masih kabur
dan belum jelas. Keadaan tersebut butuh tenaga yang lebih
banyak untuk menyelidikinya. Adik Cong-gi ayoh kita segera
berangkat!”
Coa Cong-gi masih rada sangsi, tapi akhirnya diapun
mengangguk. “Baiklah! Akan kunantikan kedatanganmu di
kota Kim-leng. Jika di bukit Yan san tak ada kejadian lain,
cepat cepatlah menyusul kami!”
“Siau-te akan mengingatnya baik-baik!” jawab Hoa In-liong
sambil mengangguk berulang kali.
Maka mereka berempatpun saling memberi hormat,
kemudian buru-buru melanjutkan perjalanannya masingmasing.
Memandang hingga bayangan punggung Yu Siau lam
sekalian lenyap dari pandangan, Hoa In-liong merasa sangat
terharu.
“Yu Siau lam adalah pemuda yang tenang dan pandai
membawa diri” Ia berpikir, “Li poh-seng lembut tapi tangguh,
sedang Coa Cong-gi, walaupun seringkali mengambil tindakan
tanpa berpikir panjang, toh dia adalah seorang laki-laki yang
berjiwa besar dan mengutamakan kesetiaan kawan. Aku bisa
berkenalan dengan sobat sobat sepeti ini, boleh di bilang
perjalananku ke kanglam kali ini bukan suatu perjalanan yang
sia-sia belaka. Tapi, siapakah yang melepaskan api membakar
Pesanggrahan tabib? Siapa pula yang melukai Yu Boh? Yu
locianpwe termashur sebagai dermawan yang paling besar
dari kota Kim-leng, siapakah yang bagitu tega mencari garagara
terhadapnya? Jangan-jangan…. Jangan-jangan peristiwa
ini terjadi karena mereka memang sengaja hendak
menyulitkan kedudukan aku si Hoa loji?”

708
Dia bukan seorang pemuda yang pemurung, lebih-lebih
tidak berambisi besar atau mengidap penyakit ragu-ragu serta
sukar mengambil keputusan. walaupun ia sudah merasa
bahwa kejadian itu tak mungkin terjadi tanpa sebab-sebab
tertentu, bahkan mungkin ada sangkut pautnya dengan dia,
namun itu hanya terbatas pada perasaan belaka, untuk
selanjutnya perasaan semacam itu tidak dipikirkan lebih
mendalam.
Karena itu, setelah termenung sejenak lagi, kembali dia
bergumam seorang diri, “Aaaah…. Perduli amat! Biarlah
urusan satu demi satu datang menimpa, pokoknya asal Yulocianpwe
suami isteri sampai cedera atau mendapat celaka,
aku Hoa loji bersumpah akan mengobrak-abrik bajinganbajingan
itu sampai musnah dari muka bumi!”
Ditengah gumaman tersebut, pemuda itu putar badan dan
berangkat menuju bukit Yan-san dengan mengitari kota Tengwan.
Setelah keluar dari pintu kota selatan, pemuda itu
mengambil arah jalan menuju kota Kim-leng, kemudian
berbelok pula menuju ke tenggara.
Dikota Teng wan itulah Hoa In-liong menginap semalam
untuk melepaskan lelahnya, untuk kemudian keesokan harinya
sebelum fajar menyingsing ia sudah melanjutkan kembali
perjalanannya.
Bukit Yan-san itu ada dua tempat. Yang satu terletak
propinsi Ou-pak keresidenan Siang-yang, dekat bukit Longtiong.
Oleh karena bukit Long-tiong-san adalah tempat tinggal
dari Cu-kat Khong Beng pada jaman Sam-kok, maka meski

709
kecil bukitnya, besar sekali namanya dalam pendengaran
orang.
Sedang bukit Yan-san yang dituju Hoa In-liong kali ini
letaknya di propinsi An-hui diseputar pegunungan Pak-shiasan.
Tempat itu berada di selatan Cuan-siok, sebelah barat
kota Wu-kang-tin. Meski bukitnya kecil tapi keadaan
medannya berbahaya dan curam. Batu karang yang tajam dan
licin berserakan dimana-mana. Demikian sulitnya bukit itu
didaki, sehingga membuat orang yang berkunjung kesitu
terpaksa harus balik ke bawah setibanya dipunggung bukit.
Hoa In-liong bergerak ke arah selatan. Sepanjang jalan ia
tak lupa menyelidiki jejak dari Hong Seng sekalian, maka
karena itu perjalanan dilakukan tidak terlalu cepat. Ketika
tengah hari ketiga menjelang tiba, ia baru sampai di kota Citin
di utara bukit Yan-san.
Waktu itu dengan perasaan tercengang bercampur heran ia
berpikir tiada hentinya, “Aneh…. betul-betul sangat aneh,
Hong Seng sekalian adalah manusia-manusia suku asing yang
berwajah jelek. Dengan dandanan yang aneh, apa lagi
membawa seorang gadis rupawan, semestinya
rombongan mereka sangat menarik perhatian orang
banyak. Kenapa sepanjang perjalananku kemari, tak
seorangpun yang mengatakan pernah berjumpa dengan
mereka….? Masa mereka bisa terbang di langit atau berjalan
di bawah tanah….? Heran!…. benar-benar mengherankan!”
Makin dipikir pemuda itu semakin curiga, tanpa terasa
tibalah pemuda itu diujung jalan dimana terdapat sebuah
warung teh yang memakai merek Cwan-seng-lo. Satu ingatan
tiba-tiba melintas dalam benaknya. Pemuda itu segera
percepat langkahnya masuk ke warung teh itu

710
Cwan-seng-lo merupakan sebuah rumah makan yang cukup
termashur dikota Ci-tin usahanya sangat maju, langganannya
banyak. Meskipun saat bersantap sudah lewat, ternyata tamu
yang bersantapan disitu masih amat banyak.
Dengan dandanan Hoa In-liong yang berpakaian ketat,
menyoren pedang tik dipinggang, mengenakan mantel
dipunggung serta berperawakan tinggi besar, kemunculannya
dirumah makan itu segera menarik perhatian orang banyak.
Dengan senyum dikulum ia memilih sebuah tempat dekat
meja. Seorang pelayan muncul dengan badan terbungkukbungkuk.
“Kongcu maafkanlah pelayanan kami yang lamban”
Katanya minta maaf, “Maklum, jumlah pelayan di tempat kami
terlalu sedikit untuk melayani tamu yang begitu banyak”.
Hoa In-liong tersenyum, “Tak perlu sungkan-sungkan,
sediakan saja sayur dan arak. Sediakan pula sepeci air teh,
nanti aku hendak menanyai pula dirimu tentang beberapa
persoalan”.
Pelayan itu mengiakan berulang kali, dengan badan
terbungkuk-bungkuk ia pun berlalu dari situ.
Sebentar saja suara berbisik-bisik bergema dari sana sini,
“Woouw…. Sauya dari manakah itu? Tampan amat!”
“Ehmm…. Gagah pula potongannya dia pasti keturunan
hartawan yang kaya raya!”
“Coba lihat wibawanya yang besar, wajahnya yang tampan
dan tubuhnya yang kekar, mungkin dia adalah seorang
pendekar muda!”
Maklum, Ci-tin hanya sebuah kota kecil. Belum pernah
tempat itu dikunjungi seorang pemuda tampan yang gagah

711
perkasa macam Hoa In-liong. Tak heran kalau mereka lantas
berbisik-bisik memuji kegagahan pemuda itu.
Selang sesaat kemudian, pelayan muncul menghidangkan
sayur dan arak, lalu menghidangkan pula sepoci air teh.
Setelah memenuhi cawan Hoa In-liong dengan air teh,
pelayan itu berkata, “Kongcu tentu lelah dijalan selahkan
minum!”
Hoa-In liong mengambil cawan dan menghirup setegukan.
Ketika dilihatnya pelayan itu tidak bermaksud mengundurkan
diri dari situ, tahulah dia bahwa pelayan itu sedang
menantikan pertanyaannya.
“Tolong tanya berapa banyak rumah penginapan yang
berada dalam kota ini?”
Sambil tersenyum yang dipaksakan, jawab pelayan itu,
“Harap kongcu maklum, kota ini hanya berpenduduk enamtujuh
ratus orang. Lagi pula merupakan dusun yang miskin,
jarang dilewati orang luar
daerah. Tentu saja tak ada penginapan disini. Cuma. Hee….
hee…. Bila kongcu ingin menginap, hamba dapat usahakan
tempat beristirahat bagi dirimu”
“Ramah amat pelayan ini” batin Hoa In-liong berpikir
demikian, ia bertanya lebih jauh, “Tak usah repot-repot, aku
ingin mencari kabar pula tentang beberapa orang”
“Siapa yang hendak kongcu cari?” tanya pelayan itu setelah
tertegun sejenak.
“Seorang gadis, seorang sastrawan muda serta dua orang
laki-laki setengah baya berjubah kuning”

712
“Orang asing?” Tanya pelayan itu lagi sambil mengerdipkan
matanya yang sipit.
Hoa In-liong mengangguk. “Ehmm! Dua orang laki-laki
setengah baya yang berjubah kuning itu datang dari Seng-suthay,
bukan bangsa Han. Sebaliknya gadis dan sastrawan itu
orang Tionggoan”
Dergan kening berkerut pelayan itu berpikir sebentar,
kemudian ia gelengkan kepalanya. “Tidak ada, tidak ada
manusia macam itu disini! Setiap orang yang datang luar
daerah kecuali punya sanak keluarga disini, kebanyakan
mereka menginap di rumah kami. Sekalipun tidak menginap
disini, hamba percaya mereka tak akan lolos dari
pengamatanku”
Tiba-tiba ia tertawa cekikikan, lanjutnya lebih jauh, “Terus
terang kukatakan kongcu, bahwa hamba sebenarnya bernama
Go Beci. Tapi ia lantaran semua urusan kuketahui maka orang
menyebut diri hamba sebagai “Bu-put-ci (tak ada yang tak
tahu). Hee…. hee…. hee…. hal ini lantaran….”
Tanpa terasa Hoa In- liong tersenyum, cepat tukasnya,
“Cukup…. cukup…. Tolong tanya saja disekitar sini apakah ada
kuil atau sebangsa too koan?”
“Oooh…. tidak ada, tidak ada” Pelayan itu gelengkan
kepalanya berulang kali, “Disekitar dua puluh li dari dusun ini
hanya ada sebuah kuil dewa tanah di sebelah barat kota!”
Menyaksikan sikapnya yang serius dan bersungguhsungguh
itu, Hoa In-liong kembali merasa geli, ia tertawa
tergelak. “Bagaimana dengan bukit Yan-san? Apakah di situ
juga tidak ada kuil atau too koan?” tanyanya kemudian selesai
tertawa.

713
“Bukit Yan-san?” Mula mula pelayan itu tertegun, untuk
selanjutnya dia manggut-manggut, “Kalau di bukit Yan-san
memang terdapat sebuah too-koan dan too-koan itu berada
dekat dengan puncak bukit tersebut, besar sekali
bangunannya!”
Diam-diam Hoa In-liong merasa gembira setelah
mendengar perkataan itu, pikirnya, “Yaa betul, mereka pasti
menuju ke sana dengan mengitari tempat ini. Kalau begitu
mereka pasti bercokol di dalam too-koan tersebut untuk
beristirahat….”
Tapi sebelum ingatan itu selesai berkelebat dalam
benaknya, terdengar pelayan itu sudah melanjutkan kembali
kata katanya, “Cuma too-koan itu sudah roboh banyak tahun.
Banyak diantara bangunan tadi sudah menjadi puing-puing
yang berserakan. Konon dahulunya tempat itu adalah sebuah
markas dari perkumpulan Thong Thian-kau. Kongcu tahu?
Thong Thian-kau adalah sebuah perkumpulan yang amat jahat
dan ganas. Disana sini mereka melakukan banyak kejahatan
dan kebiadaban. Kemudian dari dunia persilatan telah muncul
seorang pendekar besar yang bernama Thian-cu-kiam Hoa
thayhiap….”
Setelah tujuannya tercapai, Hoa In-liong tidak berminat
untuk mendengarkan cerita dari pelayan itu lagi, cepat dia
ulapkan tangannya sambil menukas, “Cukup….
Cukup….sekarang kau boleh berlalu. Atas jerih payahmu ini,
akan kuperhitungkan nanti saja!”
Padahal ketika itu sang pelayan sedang berceritera dengan
penuh semangat. Selaan dari Hoa In-liong tersebut ibaratnya
sebaskom air dingin yang diguyurkan diatas kepalanya.
Seketika itu juga ia berdiri bodoh dengan wajah termangu,
untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan.

714
“Sudah cukupkah?” Tiba-tiba serentetan suara merdu
menyambung dari samping, “Nah kalau sudah cukup,
sekarang tiba giliran untuk melayani kami”.
Suara itu lembut, merdu dan enak didengar bagaikan bunyi
genta. Dengan perasaan terkejut Hoa In-liong berpaling
kesamping.
Disudut kiri dekat dinding ruangan, duduklah seorang
pemuda sastrawan berbaju putih, disampingnya duduk pula
seorang kacung yang berusia empat lima belas tahunan.
Waktu itu dengan senyuman di kulum mereka sedang
memandang ke arahnya.
Sastrawan itu tampan sekali, usianya antara enam tujuh
belas tahunan, alis matanya bagaikan semut beriring, matanya
jeli bagaikan bintang kejora. Hidungnya mancung, bibirnya
merah seperti delima merekah. Giginya yang putih rata.
Pipinya yang halus putih dengan sepasang lesung pipinya
menambah kebagusan paras mukanya.
Kulit tubuh sastrawan itu putih bersih. Sifat kekanak
kanaknya masih tertera jelas dibawanya. Diantara sifat
kekanak kanaknya terselip pula sifat binal, nakal dan
cerdiknya. Ini membuat siapapun yang memandang segera
timbul rasa senang dan simpantiknya. Siapapun ingin
berkenalan rasanya setelah berjumpa dengan orang ini.
Tapi, perasaan Hoa In-liong ketika itu jauh berbeda.
Pertama lantaran kedatangan pemuda itu sangat mendadak,
suaranya menggetarkan telinga. Kedua meski berada dalam
perhatian tetamu yang begitu banyak, ternyata pemuda itu
dapat bersikap tenang dan bebas, sedikitpun tak nampak rikuh
atau panik. Hal ini membuktikan bahwa dia bukan manusia
sembarangan….

715
Padahal waktu itu suasana amat kalut. Banyak kejadian
berlangsung berturutan dan yang paling penting tempat itu
adalah sebuah dusun miskin yang terpencil sebagai seorang
pemuda yang cermat dan tidak gegabah tentu saja ia jadi
kaget dan waspada setelah berjumpa dengan manusia seperti
itu.
Dalam waktu singkat ia merasa suasana diloteng rumah
makan itu seakan akan berubah jadi beku. Begitu sunyi sepi
sehingga jarum yang terjatuh ke tanahpun dapat kedengaran
dengan jelas.
Diamatinya pemuda sastrawan itu dengan cermat, tiba-tiba
Hoa In-liong merasakan hatinya tergerak ia merasa orang itu
makin dilihat semakin dikenal rasanya. “Aneh, kenapa raut
wajah orang ini amat kukenal jumpai disuatu tempat.
Tapi….siapakah dia? Aku pernah menjumpainya dimana?”
oooOOOooo
PENEMUANNYA ini seketika itu juga membuat sepasang alis
matanya berkenyit. Dengan sinar mata setajam sembilu
diamatinya orang itu dengan tajam, sementara otaknya
berputar untuk menduga-duga siapa gerangan pemuda
tersebut.
Bayangan manusia melintas didepan matanya. Sambil
menggoyangkan pantatnya pelayan itu menghampiri pemuda
sastrawan tersebut, lalu sambil tertawa yang dipaksakan
sahutnya, “Maaf kalau terlambat…. Maaf kalau terlambat….
Apa yang sauya inginkan? Harap diucapkan.”
Pemuda itu mengerling sekejap sambil moncongkan
bibirnya. “Huuh!…. Pandai amat kau memilihkan sebutan! Kau
sebut dia kongcu dan sebut aku sauya. Memangnya lantaran

716
dia menyoren pedang dan pandai bersilat, sedang aku cuma
seorang sastrawan yang lemah tak punya kepandaian apaapa,
maka kau berani permainkan orang?”
Pelayan itu dibuat serba salah, menangis tak bisa
tertawapun sungkan. Terpaksa sambil bungkukkan badan
minta maaf katanya lagi sambil tertawa, “Kongcu suka
bergurau…. Kongcu suka bergurau…. Harap engkau yang
terhormat….”
Sebelum pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, kembali
pemuda itu tertawa merdu, kepada kacung bukunya ia
berkata, “Anak Leng! Tahun-tahun belakangan ini memang
suasananya sedikit ganas. Coba lihatlah begitu cepat ia
mengikuti gelagat?”
Kacung buku itu menutupi bibirnya dengan ujung baju, lalu
sambil menahan tertawanya ia berkata, “Sio…. sauya,
perkataanmu memang benar. Sebutan kongcu itu memang
kedengaran lebih segar!”
Hoa In-liong yang mengikuti semua pembicaraan tersebut
dari samping, diam-diam tertawa geli, pikirnya, “Entah siausauya
darimanakah ini? Tampaknya dia lebih binal dan nakal
daripada aku Hoa loji. Haa…. haa…. haa…. Akan kulihat
permainan busuk apa lagi yang bisa dia lakukan untuk
menggoda pelayan tersebut?”
Perlu diketahui, pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang
pemuda yang binal, nakal dan suka menggoda orang. Ketika
dilihatnya pemuda tampan yang berapa dihadapannya
memiliki tabiat serta sifat yang persis seperti tabiat sendiri,
betapa gembira dan senangnya dia.

717
Seketika itu juga, sifat binal dan ingin menggodanya
menguasahi kembali seluruh benaknya. Otomatis perasaan
waswasnya tersapu lenyap dari dalam benaknya.
Jilid 19
SEMENTARA pemuda itu telah berkata kembali, “Kalau
diingat kembali, maka perkataan ibuku memang tak salah.
Beliau berkata orang yang bekerja sebagai kusir, sebagai
tukang perahu, sebagai pelayan, sebagai kuli dan sebagai
Hamba negara paling pandai putar kemudi mengikuti
hembusan angin manusia-manusia begini paling licik dan
busuk. Ternyata bukti memang begitulah, betul tidak anak
Leng?”
“Yaa betul,” Kacung buku itu mengangguk sambil tertawa,
“Pelayan ini memang licik sekali. Mungkin dia memang
termasuk type manusia pelayan seperti yang dimaksudkan
hujin!”
Begitulah, kedua orang itu saling berbicara saling
menanggapi. Mereka Berbicara dan tertawa, membuat air
muka pelayan itu berubah jadi merah membara, mau
menangis tak bisa mau tertawa tak dapat, mau gusar pun tak
berani. Keadaannya benar-benar mengenaskan.
Akhirnya karena apa boleh buat, terpaksa dengan wajah
yang memelaskan dia memohon, “Oooh….kongcu ya! Seorang
laki laki budiman tak akan mengingat ingat kesalahan seorang
siau-jin. Hamba….”
“Memangnya kau anggap aku selalu mengingat dirimu?”
pemuda tampan itu balik bertanya dengan senyum dikulum.

718
Pelayan tersebut semakin membungkukkan badannya.
“Yaa…. Yaa…. Hamba memang terlalu gegabah, bekerja
teledor sehingga terlalu lambat melayani kongcu. Harap
engkau suka memaafkan kesalahan hamba dan tidak
menyusahkan diri hamba lagi…. Apa yang kongcu pesan
segera akan hamba kerjakan dengan baik….”
Pelayan itu memang berlidah tajam serta pandai menjilat
pantat. Setiap perkataannya begitu menarik hati membuat hati
pemuda itu jadi lembek kembali. Akhirnya diapun
mengangguk. “Baiklah! Siapkan sayur dan arak yang paling
lezat!”
Bagaimana mendapat pengampunan, cepat-cepat pelayan
itu mengiakan lalu mengambil langkah seribu.
Baru beberapa langkah pelayan itu kabur, ketika pemuda
tampan itu berseru kembali, “Eee…. Pelayan! Tunggu
sebentar!”
Dengan hati bergetar keras pelayan itu berhenti, meski ada
engkau tapi ia balik juga kehadapan tamunya.
“Engkau tahu sayur apa yang hendak kupesan?” Tanya
pemuda tampan itu sambil tersenyum.
Pelayan itu sudah setengah dibikin mabok setelah dikocok
habis habisan oleh tamunya, maka ia pun tertegun setelah
mendengar pertanyaan tersebut.
“Sayur apa yang hendak kongcu pesan?” akhirnya setelah
sangsi sebentar ia balik bertanya.
Pemuda tampan itu langsung menuding kearah meja Hoa
In-liong seraya menyahut, “Buatkan persis seperti apa yang
dia makan, tak boleh terlalu banyak juga jangan terlalu

719
kurang. Bila terlalu banyak atau terlalu sedikit, engkaulah yang
musti tanggung jawab!”
Terkejut bercampur heran Hoa In-liong ketika mendengar
ucapan itu, ia segera berpikir, “Nah…. Si pencari gara-gara
sudah datang. Rupanya dia berbicara kesana kemari
tujuannya adalah untuk mencari gara-gara dengan aku….”
Tentu saja pemuda kita bukan seorang laki-laki yang takut
urusan, malahan justru karena adanya urusan, ia tampak
semakin segar dan bersemangat.
Sambil tertawa terbahak-bahak ia bangkit berdiri, lalu
memberi hormat dari kejauhan. “Kita bisa bertemu muka, itu
tandanya kalau kita ada jodoh” Demikian ujarnya. “Tak
kunyana kalau heng-tay memiliki selera yang persis seperti
seleraku, sampai sekarang sayur dan arak yang kupesan
belum disentuh. Jika tidak keberatan bagaimana kalau anda
berpindah kemari untuk saling pererat hubungan?”
Walaupun di mulut ia berkata demikian, dalam hati kecilnya
iapun menyusun perhitungan, pikirnya, “Sampai dimanapun
kebinalan dan kelicikanmu aku tidak percaya kalau Hoa loji tak
mampu mengalahkan dirimu. Hmm! Paling sedikit aku Hoa loji
harus berusaha untuk menyelidiki usulmu hingga jelas dan
terang!”
Rupanya kedatangan pemuda tampan itu memang
bertujuan kepadanya, tampak ia mengerlingkan matanya
kemudian menjawab, “Lama aku dengar orang berkata bahwa
engkau supel dan gagah. Setelah perjumpaan hari ini
terbuktilah sudah bahwa kabar yang tersiar diluaran memang
bukan berita kosong belaka”

720
Ia lantas bangkit berdiri, kepada kacung bukunya dia
menambahkan lebih jauh, “Leng-ji, mari kita pindah dan
mengganggunya sejenak!”
Dengan langkah yang tegap dia berjalan lebih dulu pindah
kemeja Hoa In-liong.
Sementara itu Hoa In-liong sendiripun sudah menyusun
perhitungan yang masak. Ia telah memutuskan untuk
menghadapi setiap perubahan dengan kepala dingin. Akan
disaksikan permainan busuk apakah yang hendak dilakukan
mereka terhadapnya.
Karena itu sambil berpesan kepada pelayan untuk
menambah sayur dan arak, ia mempersilahkan tamunya
mengambil tempat duduk.
Kali ini pelayan tersebut bertindak lebih cerdik, begitu
mendapat pesanan, secepat terbang ia berlalu.
Selang sesaat kemudian apa yang dipesan telah
dihidangkan.
Kacung buku yang bernama “Leng-ji” itu segera
mengangkat poci arak dan memenuhi cawan mereka berdua.
Sebenarnya Hoa In-liong masih ingin mengucapkan katakata
sopan santun. Siapa tahu sambit meletakkan poci
araknya kemeja, terdengar “Leng ji” Berkata dengan serius,
“Eeeh…. Sio…. sauya kami tidak pandai minum arak, kau
harus memaklumi keadaannya”
“Leng-ji!” bentak pemuda tampan itu tiba-tiba dengan
wajah serius, “Kembali kau sudah melupakan peraturanku,
tahukah kau? Dia adalah ji-kongcu….!”

721
Leng-ji menjulurkan lidahnya sambil menunjukkan muka
setan, kemudian ia baru memanggil, “Ji-kongcu!”
Setelah itu dengan mulut membungkam dia duduk kembali
ditempat duduknya.
Hoa In-liong yang selama ini mengawasi terus mimik wajah
orang dengan teliti, segera menemukan bahwa sikap dari
pemuda tampan itu bukan sikap yang sengaja dilakukan. Ini
membuat hatinya semakin keheranan, pikirnya, “Apa artinya
kesemuanya ini sebentar berpura-pura sebentar sungguhan,
sebenarnya apa maksud hatinya?”
Walaupun dihati berpikir demikian, hal tersebut tak sampai
diutarakan keluar. Dia mengangkat cawan arak lalu
tersenyum. “Kalau memang begitu, aku tak berani terlalu
memaksa” katanya. “Akan kukeringkan secawan arak ini
sebagai penghormatanku padamu. Selanjutnya bila heng-tay
tak keberatan, minum secawan arakpun bolehlah”
Habis berbicara, sekali teguk dia habiskan dulu isi cawan
sendiri.
Pemuda tampan itu berdiri hanya mengangkat cawannya
dan menempelkan saja dibibirnya sebagai pertanda rasa
hormatnya, kemudian sambil tertawa ia berkata, “Ji kongcu,
engkau memang sangat supel dan ramah, cuma aku
menganggap dirimu sedikit keterlaluan”
Begitu buka suara, kata-katanya hanya melukai orang,
mimpipun Hoa In-liong tidak menduga sampai kesitu. Untuk
sesaat dia tak bisa menanggapi kecuali duduk tertegun.
Melihat pemuda itu tertegun, tiba-tiba dengan suara yang
lembut pemuda tampan itu berkata lagi, “Betapa tidak
bagaimanapun juga kita baru berkenalan untuk pertama

722
kalinya. Padahal kaupun tahu kalau kedatanganku
mengandung maksud tertentu, tahukah engkau aku sehabat
atau musuh? Aku yakin kau belum bisa mengetahuinya
dengan jelas? Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja
engkau tidak menanyakan maksud kedatanganku, juga tidak
menanyakan siapa namaku. Begitu angkat cawan lantas
meneguk habis isinya, padahal arak itu disuguhkan oleh Lengji.
Seandainya aku adalah musuhmu dan Leng-ji telah
mencampuri arak itu dengan racun, bukankah sekarang kau
sudah keracunan hebat? Kau memang supel dan menarik, tapi
tidak seharusnya bertindak begitu ceroboh dan gegabah!”
Kalau dipikir dengan sungguh-sungguh, maka apa yang
dikatakan pemuda itu memang masuk diakal, lagipula bernada
tajam, sedikitpun tidak memberi muka kepada lawannya….
Diam-diam Hoa In-liong mendengus, pikirnya, “Sialan! Toh
engkau tahu kalau kita baru saja berkenalan, memangnya kau
anggap ucapan semacam itu tidak keterlaluan? Jika aku Hoa
loji takut dipecundangi olehmu, tak nanti kuundang dirimu
datang kemari dan duduk semeja dengan diriku”
Pikir tinggal pikir, mulut tak dapat membungkam terus
menerus, maka diputuskan siasat tersebut akan dibalas
dengan siasat, tersenyumlah pemuda kita. “Nasehat saudara
memang tepat dan benar, bolehkah aku tahu siapa namamu?”
Tampaknya pemuda tampan itu puas dengan sikap
lawannya yang sangat penurut, dengan wajah berseri dia
tertawa. Tapi begitu dia tertawa. Hoa In-liong maka
terperangah hingga untuk sesaat melongo-longo seperti orang
bodoh.
Ternyata tertawanya itu begitu polos, begitu genit dan
menawan hati, jelas merupakan senyuman seorang gadis
cantik.

723
Sementara anak muda itu masih melamun, pemuda tampan
tersebut telah memperkenalkan namanya, “Aku berasal dari
marga Cwan, Cwan dari kata Cwan-poh (pengundang), Cwanyang
(propaganda), Cwan-si (bersumpah), Cwan-cau
(mengudang). She tersebut adalah she dari ibuku karena aku
mengikuti marga ibu dan namaku adalah Wi. Lengkapnya
Cwan Wi. Sudah jelas?”
Bagaimanapun jua dasar anak muda yang sudah berteletele,
untuk menerangkan nama sendiripun diperlukan waktu
hampir setengah harian lamanya. Seakan akan dia takut kalau
pemuda itu tak sempat mendengar namanya dengan jelas.
Diam diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya tapi untuk
sopan santun diapun mengangguk. “Aku yang muda bernama
Hoa yang, nama kecil In”.
“Yaa aku sudah tahu, kau punya nama kecil yang di sebut
In-liong. Tak usah diterangkan lagi” Tukas Cwan Wi tiba-tiba
sebelum anak muda itu sempat menyelesaikan kata katanya.
Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi. “Kenapa
tidak kau tanyakan kepadaku, mengapa aku datang kemari
mencarimu?”
Menyaksikan keanehan rekannya, Hoa In-liong tertawa geli,
“Aku memang sedang siap-siap bertanya!” Katanya kemudian.
“Aku mendapat perintah dari toako. Toako yang mengutus
aku datang kemari!” jawab Cwan Wi dengan nyaring.
“Toako?” ulang Hoa In-liong dengan wajah tertegun karena
heran dan tidak habis mengerti.

724
Cwan Wi manggut manggut. “Ya, toako yang suruh aku
kemari. Toako suruh aku menyampaikan pesan kepadamu.
Katanya kau jangan pergi ke bukit Yan-san untuk penuhi janji
itu”
Hoa In-liong semakin terkejut, rasa tertegunnya makin
menjadi-jadi, setelah melongo sesaat dia baru bertanya,
“Siapakah toakomu? Kenapa aku tak boleh memenuhi janji di
bukit Yan-san….?”
“Toako siapa lagi?” Cwan Wi mengerdipkan matanya,
“Tentu saja toakomu sendiri! Tentang alasannya kenapa kau
tak boleh pergi memenuhi janji, Waah…. Aku sendiripun tak
tahu”
Hoa In-liong mengerutkan dahinya rapat-rapat, makin lama
ia semakin melongo. “Toako ku?” kembali gumamnya dengan
keheranan, “Kau maksudkan toakoku Hoa Si?”
“Huuuh…. Tolol amat kamu ini! Semua orang mengatakan
kau cerdik, kau pintar. Tapi nyatanya kau adalah orang paling
goblok yang pernah kujumpa. Kalau bukan toakomu Hoa Si,
memangnya kau punya berapa banyak toako lagi?”
Tanpa sadar Hoa In-liong menghembuskan nafas panjang.
“Ooooh…. Rupanya kakakku yang minta engkau datang
kemari. Jadi kalau begitu kita bukan orang luar”
“Sekalipun bukan orang luar, aku juga bukan orang dari
keluargamu” cepat Cwan Wi menambahkan dengan serius.
Hoa In-liong tertawa tergelak karena geli. “Kau memang
binal, nakal dan suka menggoda orang” pikirnya dalam hati,
“Kalau toh toako yang

725
minta kedatanganmu kesini, kenapa tidak kau sampaikan
maksud kedatangannya sejak tadi tadi? Lagakmu yang purapura
bersikap serius, sok rahasia rupanya cuma bertujuan
untuk bikin tegangnya urat syaraf saja. Aaai…. Dasar bocah
yang sering dimanja, dalam keadaan seperti inipun masih bisa
bisanya bergurau!”
Meskipun mengeluh dalam hati, tidak berarti ada perasaan
tak senang di hati kecilnya. Setelah termenung sebentar, dia
angkat poci arak dan memenuhi cawan sendiri, lalu
menambahkan pula cawan Cwan Wi dengan setetes arak.
Setelah itu sambil mengangkat cawannya, ia berkata sambil
tersenyum ramah, “Pepatah kuno bilang: Empat samudra
adalah saudara sendiri. Asal pandangan hidup kita sama citacita
kita sama dan tujuan kita sama, walaupun bukan keluarga
sendiri juga tidak menjadi soal. Kau sebut kakakku sebagai
“toako,” padahal akupun lebih tua beberapa tahun daripada
dirimu, maaf bila kuberanikan diri untuk memanggilmu
sebagai saudara Cwan. Marilah saudara Cwan, siau-heng
hormati secawan arak untukmu sebagai rasa terima kasihku
atas perjalanan yang kau tempuh demi dirimu”
Cwan Wi memang polos dan lincah, sambil kerutkan kening
dia berseru, “Barusan toh kau sudah menghormati secawan
arak kepadaku?”
Hoa In-liong tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Itulah yang
dikatakan adat yang banyak bikin orang tidak aneh, kuteguk
dulu isi cawan ini!”
Begitu selesai berkata, dia lantas teguk habis isi cawan
sendiri.
Cwan Wi kehabisan kata-kata untuk berbicara terpaksa
sambil kerutkan kening dia ikut mencicipi setegukan arak.

726
“Baiklah!” kata Hoa In-liong kemudian, “Anggaplah kita
telah bersahabat setelah meneguk secawan arak tadi. Saudara
Cwan, tolong tanya kau telah berjumpa dengan kakakku
dimana?”
Cwan Wi sedang mengurut tenggorokannya untuk menelan
arak dalam mulutnya ke dalam perut. Mendengar pertanyaan
tersebut diapun menyahut, “Di kota Im-ciu!”
“Aneh betul!” Seru Hoa In-liong kemudian dengan
tercengang, “Im-ciu letaknya di sebelah barat propinsi An-gui.
Dari mana kakakku bisa tahu kalau aku mempunyai janji di
bukit Yan-san?”
“Kami bertamu saudara Yu Siau-lam di kota Ciu-sin.
Saudara Siau-lam lah yang memberitahukan soal janji Yan-san
itu kepada toako!”
Hoa In-liong termenung beberapa saat lamanya tiba-tiba
satu ingatan melintas dalam benaknya-cepat dia bertanya lagi,
“Sudah berapa hari engkau melakukan perjalanan bersamasama
kakakku….?
“Dua hari!”
“Dua hari?” Hoa In-liong makin tercekat, “Dalam dua hari
kalian bila menempuh perjalanan dari kota Im-ciu sampai kota
Cin-sian?”
“Toako bilang ada urusan penting hendak mencari dirimu,
tentu saja dalam dua hari jarak tersebut dapat kami lampaui”
“Hanya kakakku seorang?” kembali Hoa In-liong bertanya
setelah tertegun sejenak.

727
“Sebetulnya toako datang bersama empek Hoa”
Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata-katanya,
dengan hati sangat terkejut In-liong telah menukas, “Apa?
Ayahku juga ikut datang?”
“Masih ada lagi seorang lo-koan-keh. Cuma saat ini mereka
sudah pulang ke Im Tiong-san”
Timbul kecurigaan dihati Hoa In-liong setelah penjelasan
tersebut, cepat tanyanya lagi, “Kenapa ayahku pulang ke
rumah lagi setelah sampai ditengah jalan? Sebenarnya
peristiwa basar apakah yang telah terjadi selama ini….?”
“Ayahmu pulang kembali ke Im Tiong-san lantaran
ditengah jalan telah bertemu dengan kami ibu dan….ibu dan
anak. Empek Hoa lama sekali bercakap cakap dengan ibuku.
Kemudian beliau bersama ibumu pulang kembali ke Im Tiongsan
sedang apa yang sebenarnya telah terjadi, aku tak sempat
mengetahuinya”
Hoa In-liong berpikir kembali, ia merasa kehadiran ayahnya
dalam dunia persilatan menunjukkan semakin seriusnya
peristiwa dalam dunia persilatan. Sebab bila dunia persilatan
tidak mengalami suatu perubahan besar tak nanti ayahnya
akan munculkan diri dengan begitu saja.
Meski demikian, anak muda itu tak ingin banyak berbicara,
maka setelah termenung sejenak ia bertanya pula, “Lalu
sekarang kemana perginya kakakku?”
“Toako pergi ke kota Kim-leng! Sebelum berpisah toako
secara khusus menitip pesan kepadaku agar disampaikan
kepadamu. Katanya sekarang juga itu harus berangkat ke kota
Kim-leng untuk berkumpul dengannya, sebab ada urusan
penting yang hendak dibicarakan”

728
Setelah pembicaraan berlangsung sampai disitu garis besar
keadaan yang sebenarnya pun dapat di pahami Hoa In-liong.
Ia tahu, jika toakonya begitu terburu-buru ingin berjumpa
dengannya, itu berarti bahwa ada urusan penting yang telah
terjadi.
Tapi dia pun tak dapat ingkar janji, sehingga membiarkan
Wan Hong giok menanti dengan percuma.
Maka setelah mempertimbangkan enteng beratnya
persoalan, akhirnya dia berkata, “Baiklah! Kalau begitu besok
pagi-pagi kita berangkat!”
Hoa In-liong mengambil keputusan demikian lantaran
keadaanlah yang memaksa dia harus berbuat begini.
Betapapun juga dia sangat ingin berjumpa dengan Hoa Si
secepat mungkin dan mencari tahu peristiwa apa yang telah
terjadi, hingga sampai ayahnya ikut terbawa-bawa masuk
kembali ke dalam dunia persilatan.
Namun Cwan Wi tak bisa memahami perasaannya waktu
itu, tampak ia rada tertegun, kemudian berseru nyaring,
“Kenapa? Jadi kau masih ingat memenuhi janjimu di bukit
Yan-san?”
“Selisih satu malam rasanya juga tak terlalu lambat. Asal
perjalanan kita tempuh lebih cepat lagi, waktu yang silang
rasanya masih dapat disusul kembali”
“Selisih waktu semalam?” Teriak Cwan Wi dengan marah,
“Engkau tahu meski hanya selisih waktu semalam, peristiwa
besar apalagi yang bakal terjadi?”

729
“Yaaa….Tapi apa boleh buat?” Kata Hoa In-liong dengan
nada minta maaf, “Sebagai seorang laki-laki sejati, kita tak
boleh ingkar janji. Sekalipun ada urusan lain…. Ya….
Bagaimana lagi? Janji tetap janji. Walaupun ada urusan yang
lebih penting, janji tetap tak dapat diingkari dengan begitu
saja”.
Tampaknya Cwan Wi semakin naik darah, setelah
merenung sebentar katanya lagi dengan ketus, “Aku tahu
orang she Wan itu adalah seorang cantik. Aku tahu gadis she
Wan itu mencintai dirimu dan kau keberatan untuk
meninggalkan dirinya. Hmmm! Orang lain mengatakan kau
bajul buntung, kau romantis dan suka main perempuan, dulu
aku masih belum percaya, tapi sekarang…. sekarang aku….”
Sebelum pemuda tampan itu sempat menyelesaikan kata
katanya Hoa In-liong sambil tertawa getir telah menukas,
“Saudara Cwan….”
Cwan Wi mendelik besar. Dengan penuh kemarahan ia
menyemprot, “Siapa yang sudi menjidi saudaramu? Panggilan
dari saudara sendiri yang disampaikan dengan mengirim
seorang utusan ternyata kalah pentingnya dengan janji
seorang perempuan lewat usang. Hmmm! Terhadap manusia
macam begini….aku jadi segan untuk banyak berbicara lagi!”
Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah, tertawa tak
bisa menangispun sungkan. ia gelengkan kepalanya berulang
kali sambil mengeluh lirih, “Saudara Cwan, kau bikin orang
penasaran…. kau bikin orang jadi penasaran”
“Aku membuat kau menjadi penasaran?” Teriak Cwan Wi
makin gusar, “Baik! Aku mohon diri lebih dulu. Aku tak akan
mengganggu engkau lebih jauh….”
Dia lantas bangkit berdiri dan siap pergi.

730
“Saudara Cwan….! Saudara Cwan….! Jangan pergi dulu.
Jangan pergi dulu!” cegah Hoa In-liong sedang gelisah,
“Dengarkan dulu penjelasanku”
“Bukankah aku telah membuat engkau penasaran? “kata
Cwan Wi dengan mendongkol, “Kalau toh akan membuat kau
jadi penasaran, kenapa tidak kau perbolehkan aku pergi saja
dari sini?”
Hoa In-liong menghela napas panjang, ia termenung
sebentar untuk berpikir, kemudian baru ujarnya lagi dengan
suara yang perlahan dan lembut, “Antara aku dengan Wan
Hong-giok hanya punya jodoh bertemu muka satu kali saja.
Sekalipun ada benih-benih cinta yang tumbuh dihati kita
masing-masing, itupun masih terbatas pada cinta permulaan,
tak nanti sudah mencapai taraf yang kau ibaratnya tak bisa
berpisah lagi. Yaaa…. Kenangan masa lampau ada baiknya tak
usah kita bicarakan lagi. Siau-heng akan perlihatkan surat dari
nona Wan kepadamu. Selesai membaca surat tersebut,
engkau akan segera memahami alasan lain yang membuat
siau-heng bersikap demikian. Kau pasti akan mengerti bahwa
siau-heng tidak gampang terpikat oleh seorang perempuan”
Sambil berkata ia merogoh sakunya dan mengeluarkan
secarik kertas butut yang segera diserahkan kepada Cwan Wi.
“Aaaah….Ogah aku membaca surat cintamu” tampik Cwan
Wi sambil palingkan kepalanya, “Kalau ingin menerangkan,
lebih baik terangkan saja dengan mulut!”
Sambil membungkukkan badannya setengah memohon Hoa
In-liong membentangkan surat kumal tersebut dihadapan
mukanya, lalu berkata kembali, “Aku tak dapat menerangkan
dengan mulut, sebab dibalik surat ini masih terdapat suatu
rahasia yang sangat besar. Rahasia ini tak boleh sampai

731
ketahuan orang lain, maka alangkah baiknya kalau saudara
Cwan membaca langsung dari kertas ini!”
Cwan Wi dapat menangkap keseriusan orang sewaktu
mengucapkan kata-kata tersebut, tanpa sadar ia berpaling
memandang kearah Hoa In-liong.
Dengan wajah setengah memohon Hoa In-liong segera
mendesak kembali rekannya agar membaca surat itu sendiri.
Rupanya Cwan Wi tak tega, akhirnya ia menundu kan
kepalanya juga untuk membaca surat itu.
Selesai membaca surat tadi, ia baru menengadah sambil
katanya dengan suara yang lebih ramah, “Jadi kalau begitu,
gadis-gadis she Wan itulah
yang terlalu romantis sehingga diam-diam ia mencintaimu
tanpa kau sendiri menyadari akan hal ini….”
“Tak bisa kau katakan demikian” sahut Hoa In-liong dengan
wajah tersipu-sipu.
Cwan Wi berpaling dengan alis mata berkenyit. “Lalu….
Bagaimana yang betul?” dia balik bertanya.
Sikap Hoa In-liong makin rikuh, dengan muka merah
jengah katanya tergagap, “Aku…. aku sendiripun tak dapat
menerangkan dengan jelas”
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba lanjutnya kembali
dengan wajah serius, “Pokoknya peristiwa ini mungkin
menyangkut suatu masalah yang amat besar dan yang pasti
ke adaan nona Wan sesudah terjatuh ke tangan kaum iblis
sesat pasti mengenaskan sekali. Sebagai umat persilatan yang
menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, apabila setelah

732
mengetahui jelas keadaan yang sebenarnya, masa kita harus
berpeluk tangan belaka membiarkan orang lain tersiksa?
Saudara Cwan, tentunya tidak demikian bukan?”
Mungkin apa yang diucapkan Hoa In-liong memang benar
dan masuk diakal. Untuk sesaat lamanya Cwan Wi tak mampu
berkata maupun berbicara. Dengan mulut membungkam dia
angsurkan kembali kertas itu kepada rekannya.
Sambil menerima surat itu dan disusupkan kembali ke
dalam sakunya, kembali Hoa In-liong meminta, “Saudara
Cwan, apakah engkau dapat memahami keadaanku?
Bagaimana kalau kita berangkat besok pagi saja?”
“Tentang soal ini…. tentang soal ini….” Demikian sangsinya
Cwan Wi sampai dia tak mampu melanjutkan kembali katakatanya.
“Bagaimana kalau demikian saja?” sambung Hoa In-liong
lagi, “Saudara Cwan berangkat duluan dan Siau-heng akan
segera berangkat selewatnya tengah malam nanti? Aku
percaya kita bisa berjumpa muka lagi setibanya di dermaga
penyeberang Boh-ko. Dengan demikian bukankah kita tak
usah membuang waktu lagi dengan percuma?”
Tiba-tiba Cwan Wi menghela nafas panjang. “Aaaai….
Engkau telah salah mengartikan maksudku. Sebenarnya
akulah yang sengaja telah membohongi dirimu dalam
keteranganku tadi”
“Bagaimana maksudmu?” tanya Hoa In-liong dengan wajah
setengah tertegun.
“Latar belakang janji dibukit Yan-san telah ku ketahui
semua dengan amat jelasnya. Saudara Siau-lam lah yang
menceritakan kesemuanya itu kepadaku. Barusan aku sengaja

733
menuduh engkau terpikat oleh perempuan, maksudku adalah
untuk memanasi hatimu dengan tuduhan tadi dan tujuanku
berbuat demikian tak lain adalah berharap agar engkau tidak
pergi memenuhi janji tersebut”
Mendengar keterangan tersebut, Hoa In-liong merasa
marah bercampur mendongkol, dengan kesal teriaknya,
“Kau….kau…. Aaaai….! Apa gunanya engkau berbuat
kesemuanya itu atas diriku?”
Bagaimanapun juga, si anak muda ini segan menegur Cwan
Wi, maka sambil menghela nafas panjang dia hanya
gelengkan kepalanya berulang kali sebagai tanda rasa
kesalnya.
Cwan Wi sendiripun agak kikuk, tiba-tiba panggilnya
dengan suara tergagap, “Ji…. Ji-ko….”
Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian
ia bersorak gembira, “Betul! Kau musti panggil jiko kepadaku,
ayoh panggillah sekali lagi….!”
Sebagai seorang laki laki yang berjiwa besar dan berhati
jujur, tak pernah suatu kesalahan atau suatu kejengkelan
disimpan terus dalam hati, maka dari itu setelah mendengar
panggilan “jiko” dari Cwan Wi yang diucapkan dengan nada
takut-takut, semua kemurungan dan kekesalan yang semula
menyelimuti benaknya seketika tersapu lenyap dari dalam
benaknya.
Entah apa sebabnya tiba-tiba paras muka Cwan Wi berubah
jadi merah padam seperti kepiting rebus. Bukan saja ia tidak
melanjutkan panggilan tersebut, malah sebaliknya
menundukkan kepalanya rendah-rendah.

734
Hoa In-liong segera tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Coba
lihat tampangmu, apanya yang perlu kau malui? Bukankah kau
sebut toako kepada kakakku? Maka semestinya kau memang
harus sebut Jiko kepadaku! Terus terang kuberitahukan
kepadamu, aku Jiko paling romantis dan paling hangat dalam
pergaulan. Asal aku sebut Jiko kepadaku, selama hidup aku
tak bakalan menderita kerugian”
Ketika selesai mendengar upacara tersebut paras muka
Cwan Wi berubah semakin marah lagi dan kepalanya juga
tertunduk semakin rendah, hingga sekarang jelas terlihat
betapa merahnya semua tengkuk dan telinga gadis itu.
Rupanya Hoa In-liong agak terlena menyaksikan keadaan
dari rekannya, dengan perasaan apadaya dia gelengkan
kepalanya berulang kali. “Yaa…. Bagaimanapun juga masih
seorang bocah” gumamnya dengan kening berkerut, “Takut
mula, tak berani angkat kepala…. Yaa…. Bagaimana lagi?
Pokoknya lain kali kau musti sebut Jiko terus kepadaku….”
Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya kembali,
“Mungkin engkau hendak mengucapkan sesuatu kepadaku,
bukankah begitu….? Cepat katakan!”
Cwan Wi manggut-manggut tanda membenarkan setelah
merenung sejenak hingga warna merah yang menghiasi
wajahnya lenyap semua, dia baru menengadah seraya
berkata, “Jiko, tentunya kau tak akan memenuhi janjimu
dibukit Yan-san bukan….?”
Hoa In-liong mengernyitkan alis matanya, diam diam ia
berpikir didalam hati, “Barusan saja pembicaraan berlangsung
baik sekali, kenapa begitu cepat pikirannya berubah?”
Meski dalam hati berpikir demikian, diluaran dia pun
bertanya dengan nada keheranan, “Kenapa?”

735
“Tidak karena apa-apa. Anggaplah sebagai suatu
permohonan dariku, tentunya engkau bersedia mengabulkan
permintaanku itu bukan?”
Hoa In-liong tertegun. “Saudaraku dengarkan dulu
perkataanku” katanya kemudian, “Cinta adalah ciita, setia
kawan adalah setia kawan. Aku menyanggupi dirimu adalah
karena cinta. Sedang kupenuhi janjiku dibukit Yan-san adalah
setia kawan. Sebagai manusia yang hidup diantara
masyarakat, kita harus dapat membedakan antara cinta dan
setia kawan dengan jelas. Sekarang aku ingin bertanya
kepadamu, apakah engkau masih hendak memohon kepadaku
agar membatalkan janjiku dibukit Yan-san?”
Sekali lagi Cwan Wi tersudut hingga tak mampu
memberikan jawaban yang tepat, ia semakin gelisah. “Bukan
demikian…. Hal ini adalah maksud hati dari Toako. Toako
berkata begini….”
“Siau…. sauya!” Tiba-tiba Leng-ji berteriak lengking.
Cwan Wi segera menyadari kembali kesilapannya sehingga
hampir saja bicara telanjur, cepat-cepat ia menutup mulutnya
kembali membatalkan niatnya untuk berbicara lebih jauh.
Betapa heran dan tercengangnya Hoa In-liong melihat
sikap rekannya. Sebentar ia memandang kearah Leng-ji,
sebentar lagi memandang kearah Cwan Wi, kemudian
bertanya, “Sebetulnya apa yang telah terjadi, apa yang
sebenarnya telah dikatakan oleh Toako?”
“Toako…. Toako….” Cwan Wi semakin tergagap sampai tak
mampu melanjutkan kata katanya.

736
Leng-ji yang berada disamping dengan cepat menyambung
kata-kata tersebut, “Toa kongcu bilang, jikalau Ji-koancu tetap
bersikeras dengan pendiriannya, tak dapat diajak berbicara
yang benar, maka kami diperintahkan sagera kembali kekota
Kim-leng dan jang….”
“Leng-ji….!” bentak Cwan Wi dengan suara yang nyaring.
Leng ji berpaling serta melemparkan sebuah kerlingan yang
penuh mengandung arti, lalu melanjutkan kembali kata
katanya, “Apa yang Leng-ji ucapkan adalah kata-kata yang
sejujurnya! Sauya, lebih baik kita kembali dulu ke kota Kimleng!”
Hoa In-liong tidak sempat memperhatikan kerlingan mata
dari kacung buku itu. Ketika didengar Leng-ji membantu dia
menganjurkan Cwan Wi agar pulang dulu ke kota Kim-leng,
cepat-cepat dia menambahkan pula, “Betul! Lebih baik kita
ikuti saja rencana semula. Kalian berangkat lebih duluan dan
aku akan menyusul dari belakang”
Leng-ji lah pertama-tama yaog bangkit berdiri lebih dahulu,
katanya kembali, “Sauya, mari kita berangkat! Banyak bicara
juga tak ada gunanya, buat apa kita musti bercokol terus
tanpa hasil disini?”
Cwan Wi merenung sebentar, sepertinya ia merasa bahwa
perkataan Leng-ji memang masuk di akal, akhirnya diapun ikut
bangkit berdiri. “Baiklah, mari kita berangkat lebih duluan!” ka
tanya.
Ia berpaling ke arah Hoa In-liong. Sambil menatap
wajahnya kembali ia berkata dengan nyaring, “Jiko, aku akan
berangkat lebih duluan. Aku harap engkau suka berhati-hati
dalam perjalananmu memenuhi janji di bukit Yan-san”

737
Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, sikap jengah
dan rikuhnya sudah tersapu lenyap tak membekas,
sebagaimana semula sikapnya kembali supel, gagah dan
menawan.
Hoa In-liong jadi rada lega setelah mengetahui tak ada
orang menghalangi niatnya lagi. Ia bangkit berdiri derigan
wajah berseri, katanya sewaktu menghantar kepergian orang,
“Saudara Cwan memang tak malu disebut seorang manusia
yang tahu diri. Siau heng merasa sangat beruntung dapat
berkenalan dengan dirimu! Bicara terus terangnya saja,
andaikata perjumpaan kita tidak berada dalam suasana yang
kurang menguntungkan, siau heng benar-benar merasa sedikit
berat hati untuk berpisah dengan dirimu”
Paras muka Cwan Wi secara aneh terhias kembali oleh
warna semu merah. Cuma waktu itu dia sudah memutar
tubuhnya sambil beranjak pergi. Dengan demikian Hoa Inliong
tak sempat menyaksikan perubahan wajahnya itu.
Terdengar ia berkata dengan suara yang merdu dan nada
yang nyaring, “Kita bukan putra-putri masyarakat biasa. Aku
rasa kata-kata sungkan juga tak perlu diutarakan lagi. Terus
terangnya saja kukatakan, aku selalu mengkuatirkan kelicikan,
kebuasan serta kebuasan orang-orang Mo-kauw. Sedang Jiko
adalah seorang kuncu, seorang lelaki sejati yang jujur dan
polos. Kuatirnya jika kau bertindak sedikit gegabah, yaa….
akibatnya kau akan menyesal sepanjang jaman!”
Hoa In-liong tertawa tergelak. “Haa…. haa…. Selama hidup
siau-heng belum pernah menjumpai kejadian yang membuat
hatiku menyesal harap saudara Cwan bersedia melegakan
hatimu”
“Tapi lebih berhati-hati toh ada baiknya juga?”

738
“Terima kasih banyak atas perhatian saudara Cwan. Siauheng
akan mengingat pesanmu itu” Sahut Hoa In-liong sambil
mengangguk berulang kali.
Begitulah, mereka berdua sambil berjalan sambil berbicara,
siapapun tidak menyinggung kata-kata “selamat tinggal” atau
“tak usah dihantar lebih jauh”. Meski hanya berpisah untuk
sementara waktu, namun perasaan berat hati yang terpancar
diwajah kedua belah pihak terlihat amat tebal, cuma rasa
berat hatinya itu tidak sampai diutarakan keluar lewat katakata.
Sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar pintu gerbang
rumah makan Cwan-seng-lo, Leng-ji rada tidak sabaran lagi,
tiba-tiba selanya, “Ji-kongcu, harap kau kembali! Daripada
menghantar terus menerus, kenapa tidak melakukan
perjalanan bersama-sama saja?”
Dengan wajah tertegun Hoa In-liong menghentikan
langkahnya, kemudian tertawa terbahak-bahak. “Haa. Haa….
haa…. Baik…. Baik…. Tidak akan menghantar lagi…. Tidak
akan menghantar lagi. Baik-baik dijalan saudara Cwan, jaga
diri baik-baik!”
Dengan agak tersipu Cwan Wi melambaikan tangannya
sambil berbisik, “Selamat tinggal!”
Kemudian dengan langkah lebar ia berlalu dari kota Ci-tin
tersebut.
Sepeninggal Cwan Wi berdua, Hoa In-liong menengadah
memandang cuaca. Ia lihat sang surya sudah tenggelam
dibalik bukit, senjapun telah menjelang tiba, maka ia naik
kembali keloteng dan buru buru bersantap untuk mengisi

739
perut. Selesai membereskan rekening pemuda inipun
berangkat meninggalkan kota Ci-tin.
Disuatu tempat yang sepi dihukit utara gunung Yan-san,
anak muda itu duduk bersemedi untuk menyusun kembali
kekuatannya. Tatkala hari sudah gelap, ia baru melakukan
perjalanan cepat mendaki bukit Yan-san….
Bekas markas Tong thian-kau tempo dulu letaknya
berdekatan dengan puncak bukit. Hoa In-liong membutuhkan
waktu selama satu setengah jam untuk mencapai tempat
tersebut.
Markas itu boleh disebut luas dan lebar. Tapi lantaran
sudah banyak tahun tidak dihuni manusia, sebagian besar
bangunan itu sudah roboh dan berubah jadi puing-puing yang
berserakan. Apalagi bila malam menjelang tiba, tikus berlarian
ke sana kemari mencari makanan. Suasana yang sepi, dan
gelap itu mendatangkan perasaan yang seram bagi siapapun
yang melihatnya, bahkan bulu romapun tanpa terasa ikut
berdiri tegak.
Semula Hoa In-liong menduga Hong Seng sekalian pasti
bercokol dibekas markas itu untuk melepaskan lelahnya. Siapa
tahu meski puing-puing bekas gedung itu sudah diperiksa
beberapa kali dengan hati-hati, tak sesuatu apapun berhasil
ditemukan. Bahkan bekas pernah disinggahi orang pun tidak
nampak.
Oleh sebab itu, ia mulai sangsi dan ragu-ragu….
Waktu itu, ia berdiri ditengah sebuah ruangan kuil yang
atapnya telah ambruk. Sambil memandang puncak bukit yang
gelap nun jauh diujung sana, diam-diam anak muda itu
berpikir, “Masa mereka tidak datang kemari? Atau mungkin
akulah yang salah datang….? Kalau tidak, tentulah Wan HongTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
740
giok bertindak sangat cermat dan rahasia, karena itu dia
sudah mengatur segala sesuatunya hinga tempat ini sunyi
senyap….?”
Pelbagai kecurigaan dan rasa sangsi berkecamuk dalam
benaknya, ia kuatir kalau salah tempat.
Sebentar dia berharap Hong Seng sekalian tidak
mengetahui kejadian ini, sehingga Wan Hong giok dengan
leluasa dapat meloloskan diri dari pengawasan mereka dan
seorang diri datang memenuhi janjinya dengan dia.
Bahkan dia pun menaruh curiga bahwa Wan Hong-giok
sudah tertimpa nasib malang hingga tak dapat memenuhi
janjinya lagi.
Puncak bukit yang gelap di ujung depan sana seakan akan
berubah jadi sebuah pintu besi dari sebuah kurungan yang
siap menanti kedatangannya untuk masuk jebakan.
Berpikir sejenak kemudian, tiba-tiba ia bergumam seorang
diri, “Aaaai….perduli amat! Kalau itu rejeki sudah pasti bukan
bencana, kalau itu bencana dihindar, juga tak mungkin
bisa….”
Gumamnya terpotong setengah jalan, secepat sambaran
petir ia meluncur maju ke depan.
Bagaimanapun juga Hoa In-liong adalah seorang keturunan
pendekar besar. Seorang laki laki yang tidak mengenal arti
takut. Seorang pemuda yang tidak mengenal jiwa pengecut.
Akhirnya dengan suatu kecepatan yang luar biasa ia meluncur
ke arah puncak bukit.

741
Meski demikian, pemuda itu tidak bertindak gegabah. Ia
sama sekali tidak mengurangi rasa was-wasnya meski
benaknya dipenuhi oleh keraguan dan kecurigaan.
Waktu itu tengah malam baru saja lewat, ia manfaatkan
sisa waktu yang masih tersedia untuk melakukan pemeriksaan
yang seksama dengan menelusuri sekitar tanah perbukitan
tersebut.
Makin lama puncak bukit itu semakin dekat, akkhirnya
sampailah pemuda itu di puncak tersebut,
Tempat itu adalah sebuah tanah berumput yang datar,
rumputnya amat jarang sehingga susah bagi seseorang untuk
menyembunyikan diri dibalik semak belukar tersebut. Meski
begitu bayangan tubuh dari Hong Seng sekalian masih belum
juga kelihatan, apalagi bayangan tubuh dari Wan Hong-giok.
Kembali pemuda itu menelusuri tanah lapang itu dengan
penuh kesabaran sambil melakukan pemeriksaan pikirnya,
“Tiada kesempatan untuk melepaskan diri ataukah ia sudah
ketahuan jejaknya sehingga ditahan mereka? Kalau tidak
begitu kenapa belum tampak juga bayangan tubuhnya
disekitar sini?”
Pikir punya dikir, tiba-tiba satu ingatan yang sangat
menakutkan melintas dalam benaknya, tak kuasa lagi dia
menjerit kaget, “Aduuh celaka!”
Dengan suatu gerakan tuhan yang cekatan ia memutar
tubuhnya ke belakang dan siap melayang pergi dari situ.
Sayang seribu kali sayang, meskipun Hoa In-liong cekatan
dan pintar, tindaknya ini dilakukan selangkah lebih terlambat.

742
Terdengarlah suara tertawa seram yang mengerikan
berkumandang silih berganti dari sekeliling tempat itu. Suara
tersebut keras dan memekakkan telinga ini membuat Hoa Inliong
berpaling ke empat penjuru dengan hati yang bergetar
keras.
Delapan-sembilan sosok bayangan manusia pelan-pelan
munculkan diri dari tepi tanah lapang berumput itu.
Kebetulan pula waktu itu tengah malam baru menjelang,
lagipula tanggal sembilan belas, rembulan yang purnama baru
saja muncul dari arah timur dan menerangi seluruh jagad, ia
terjebak….
Diantara delapan-sembilan orang itu, tiga orang
diantaranya adalah orang tionggoan. Siau Khi-gi adalah salah
satu diantara ketiga orang itu.
Sisanya adalah laki-laki yang berdandan pendeta bukan
pendeta, imam bukan imam dengan jubah lebar warna
kuning. Mereka semua adalah orang-orang Mo-kauw. Hong
Seng berada disudut paling barat.
Siang tadi Hoa In-liong pernah berkata, “Selama hidup tak
pernah merasakan menyesal”. Meski sekarang dia rada kaget
dengan kejadian yang dihadapinya, tidak berarti dia menyesal.
Diapun tidak menunjukkan rasa gugup atau kelabakan.
Setelah mengamati keadaan yang sebenarnya, diam-diam
ia mempertimbangkan situasi dan mengambil keputusan. Ia
tahu saat itu Hoa Seng sudah bukan menjadi pemimpin dari
rombongan itu. Pemimpin rombongan yang sekarang adalah
kakek jangkung, kurus dan bermuka menyeramkan itu, sebab
ikat pinggang yang dikenakan kakek itu paling istimewa.
Bentuknya berbeda sekali jika dibandingkan ikat pinggang

743
orang lain. Ia memakai sebuah ikat pinggang perak yang
berukiran seekor naga perkasa.
Bukan panik atau bingung, pemuda itu merasakan suatu
ketenangan yang luar biasa, pikirnya dalam hati, “Ya,
sekarang aku tahu, semula mereka terdiri dari tiga
rombongan. Tapi untuk menghadapi diriku, disaat terakhir
telah bergabung jadi satu dengan kakek berwajah seram ini
memang pucuk pimpinan. Kalau begitu ilmu silat yang dimiliki
kakek itu pasti jauh lebih lihay jika di bandingkan Hong Seng
sekalian. Kali ini aku tak boleh bertindak gegabah sehingga
kena dipecundangi mereka!”
Berpikir sampai disitu, rombongan musuh sudah makin
dekat menghampiri dirinya. Mereka membentuk posisi
mengurung dan ia sebagai sasaran pengepungan tersebut.
Hong Seng tertawa seram, tampak sambil menyeringai dia
mengejsk sinis, “Hee…. hee…. hee…. Hoa kongcu konon aku
dengar engkau adalah seorang pemuda yang romantis,
dimana saja menaburkan bibit cinta. Setelah kubuktikan
sendiri, ternyata memang kuakui bahwa kabar tersebut bukan
kabar kosong belaka”
Laki-laki berjubah kuning yang pernah dikutungi
pergelangan tangannya berseru pula dengan penuh
kebencian, “Hmm….! Sayang datangnya gampang perginya
susah. Sekalipun mempunyai birahi cinta setinggi bukit juga
tak ada gunanya, buat apa musti diributkan lagi?”
Siau Khi-gi memutar biji matanya yang licik dan ikut
menimbrung dari samping, “Itulah yang disebut orang
mampus dibawah bunga Botan, jadi setanpun setan romantis.
Sepanjang hidup bermain cinta terus, jadi setanpun watak itu
tak akan berubah”

744
Ejekan demi ejekan yang dilontarkan tiga orang musuhnya
itu sama sekali tak digubris Hoa In-liong. Ia malah berpaling
kearah kakek bermuka seram itu dan memberi hormat
kepadanya. “Boleh aku tahu siapakah nama saudara?”
sapanya.
“Aku adalah Hu-yan Kiong!”
Hoa In-liong manggut-manggut. “Tolong tanya, Wan Honggiok
sekarang berada dimana?”
Seperti juga tampang wajahnya yang sinis, jawaban Hu-yan
Kiong tak sedap didengar, “Untuk sementara waktu, jiwanya
tak sampai kabur ke akhirat!”
Diam-diam tercekat juga hati Hoa In-liong sehabis
mendengar jawaban tersebut, segera pikirnya, “Orang ini
betul-betul seorang musuh yang hebat dan lihay. Yaa,
tampaknya pertempuran sengit tak dapat kuhindari lagi”
Dalam hatu berpikir demikian, diluar katanya “Dapatkah
aku berjumpa, muka dengan dirinya? Hu-yan Kiong tidak
menjawab, ia cuma bertepuk tangan tiga kali. Tiba-tiba dari
balik tanah lapang muncul dua orang manusia. Kedua orang
itu menggotong sebuah tandu. Diatas tandu berbaringlah
seseorang yang tubuhnya ditutupi secarik kain hitam segingga
kelihatanlah rambutnya yang awut-awutan. Ketika diamati
lebih seksama, ternyata orang itu adalah Wang-giok.
“Letakkan keatas tanah dan singkirkan kain hitam yang
menutupi badannya” Perintah Hu-yan Kiong tengah
membentak.
Dua orang itu segera membaringkan tandu itu ke tanah dan
menyingkap kain hitam yang menutupi diatasnya.

745
Begitu kain hitam tersingkap. Hoa In-liong amat terkejut
sehingga hampir saja menjerit kaget
Ternyata Wan Hong-giok berbaring diatas tandu dengar
mata terpejam rapat, muka pucat pias. Tubuhnya hanya
mengerakan kutang merah dan cawat kecil menutupi bagian
kewanitaannya.
Tubuh yang dulunya begitu putih, begitu montok sekarang
tinggal kulit pembungkus tulang. Bahkan diatas dada dan
pahanya ditempeli makhluk-makhluk beracun seperti ular,
kalajengking, kelabang, laba-laba dan aneka macam makhluk
lain yang bentuknya aneh dan tak diketahui apa namanya.
Yang pasti semuanya berbentuk aneh, berbentuk seram dan
bikin bulu roma pada bangun berdiri.
Hal ini benar-benar suatu kejadian yang mengerikan, suatu
siksaan kejam yang tak mengenal peri kemanusiaan.
Merah berapi-api sepasang mata Hoa In-liong menyaksikan
kejadian itu. Darah panas serasa mendidih dalam tubuhnya.
Begitu gusarnya pemuda itu sehingga dia menengadah dan
tertawa seram. Suaranya bergetar sampai ke ujung langit, tapi
suara itu lebih mirip kalau dikatakan sebagai suara tangisan
yang memilukan hati.
Hu-yan Kiong segera mendengus dingin. “Hmmmm!
Engkau tak usah jual lagak lagi dihadapanku, mau apa tertawa
terus macam orang edan?”
“Sungguh keji hati kalian semua! Sungguh buas dan busuk
hati kamu semua! Siksaan semacam ini suatu ketika pasti
akan kalian alami sendiri” teriak Hoa In-liong dengan nada
yang memilukan hati. “Wan Hong-giok sudah kenyang disiksa
dan dihina, masih belum cukupkah penderitaan yang harus dia
alami? Kenapa kalian tidak mengenal peri kemanusiaan?

746
Kenapa kalian hukum dirinya dengan cara yang begitu
kejam?”
Hu-yan Kiong mengejek dingin. “Hmmm…. Perempuan ini
pura-pura takluk kepada kami, tapi nyatanya ia jadi matamata.
Ia menyelidiki rahasia perkumpulan kami jangan kau
anggap “Pek-seng-siau-goan” (seratus malaikat menyembah
yang mulia) adalah siksaan kejam. Perkumpulan kami, masih
mempunyai siksaan lain yang jauh lebih keji dari itu. Lebih
baik engkau sedikit tahu diri dan segera menyerahkan diri.
Ikutilah lohu berkunjung ke Seng-sut-hay…. Ketahuilah jika
engkau tak tahu diri, maka siksaan kejam yang kau saksikan
itu akan segera menimpa dirimu”
Setajam sembilu Hoa In-liong menatap wajah lawannya,
kembali ia menjerit, “Ayohlah, lakukan padaku! Kau anggap
aku orang she Hoa takut? Sudah lama aku orang she Hoa
mendengar tentang ilmu Hiat-teng-toh-hoat mu itu, ayohlah!
Lakukan kepadaku”
Hu-yan Kiong tertawa angkuh. “Yaa memang hiat-teng-tohhun
adalah ilmu maha sakti dari perkumpulan kami. Tapi
dengan kepandaian yang kau miliki, rasanya kepandaian
tersebut tak perlu kulakukan atas dirimu”
Sementara itu Hoa In-liong telah sadar. Setelah ia terjatuh
ke dalam perangkap lawan, untuk suatu penyelesaian secara
damai jelas tak mungkin. Dalam keadaan demikian, satusatunya
jalan yang dapat ditempuhnya adalah mengandalkan
ilmu silat masing masing untuk menentukan siapa lebih
tangguh.
Sebagaimana lazimnya, dengan cepat pemuda itu
mengambil keputusan, katanya dengan suara berat, “Bila aku
orang she Hoa suruh kalian menarik kembali makhluk-makhluk
beracun dan lepaskan Wan Hong-giok, keadaan tersebut

747
ibaratnya aku sedang berbicara dengan kerbau, sama sekali
tak ada gunanya. lebih baik turun tangan saja cepat-cepat!”
Tak dapat diragukan lagi Hu-yan Kiong adalah seorang
manusia yang angkuh dan tinggi hati. Mendengar jawaban
tersebut, dia lantas berpaling dan ulapkan tangannya kepada
Hoag Seng seraya berseru, “Tangkap dia!”
Hong Seng mengiakan, ia lantas melepaskan ikat
pinggangnya dan maju kedepan dengan langkah lebar,
katanya, “Tempo hari kau berhasil kabur lantaran Wan Honggiok
telah membantu dirimu. Tapi kali ini kau tidak akan
memperoleh kesempatan macam seperti itu lagi. Berhatihatilah,
daripada lengan dan tulang kakimu jadi luka”
Dalam pada itu Hoa In-liong sendiri telah mengambil
keputusan untuk menyelesaikan persoalan itu dengan suatu
pertempuran kilat. Ia sendiripun segan banyak bicara. Pedang
yang tersoren dipinggang segera dicabut keluar. Kemudian
sambil melangkah maju, pedangnya berputar kesamping kiri
dan menusuk ke depan.
Serangan tersebut mantap dan berat. Jurus yang
digunakan adalah salah satu dari Hoa-si ciong-kiam-cap-laksin-
cau (enam belas jurus sakti pedang berat keluarga Hoa).
Desingan angin serangannya tajam, kuat dan menggetarkan
sukma.
Hong Seng tak berani berayal, seketika itu juga dia
membalas membentak. Ikat pinggangnya digetlarkan sekeras
tongkat, kemudian membacok ke muka melepaskan
serangkaian serangan balasan.
Hong Seng adalah saudara kandung dari Hong Liong, murid
tertua dari Tang Kwik-siu itu cikal bakal dari Mo-kauw. Meski

748
demikian, ilmu silatnya juga hasil didikan langsung dari Tang
Kwik-siu pribadi.
Sejak pertarungannya dikuil Cing-siu-koan tempo hari itu,
dimana nyaris dia dikalahkan oleh Hoa In-liong, sampai
sekarang rasa dendam dan gusarnya masih belum lenyap.
Maka ketika mendapat perintah untuk melenyapkan Hoa
In-liong dalam pertarungan saat ini, selain melaksanakan
tugasnya, diapun hendak membentak musuhnya untuk dibikin
perhitungan. Tak heran kalau begitu terjun kedalam
gelanggang dia lantas melakukan serangan dengan jurus
serangan terampuh dan terdahsyat.
Pertarungan antara jago-jago tangguh biasanya
berlangsung dengan kecepatan luar biasa. Dalam waktu
singkat kedua belah pihak telah saling bergebrak sebanyak
belasan jurus.
Sekalipun baru belasan gebrakan, tapi menang kalah
dengan cepat dapat terlihat dengan jelas.
Haruslah diketahui, ilmu Hoa-si-ciong-kiam-cap lak-sin-cau
tersebut merupakan seatu hasil ciptaan ilmu pedang tinggi
dari Hoa Thian-hong setelah ia berhasil melebur isi dari kiam
keng suatu kitab pedang yang luar biasa saktinya dengan
rumus kiam-keng-bu-kui.
Hoa In-liong berniat melangsungkan pertarungan cepat,
maka begitu turun tangan ia gunakan ilmu pedang yang paling
sakti dan paling ampuh untuk meneter musuhnya.
Hong Seng sendiri, walaupun dia adalah murid Tang Kwiksiu.
Walaupun ia berjuang dengan segala kemampuan yang
dimilikinya, tapi waktu itu tampaklah jelas betapa terdesaknya
dia di bawah serangan musuh. Dia kelihatan keteter hebat dan

749
repot untuk menangkisi setiap serangan yang ditujukan
kearahnya….
Hu-yan Kiong berdiri di tepi gelanggang sambil mengikuti
jalannya pertarungan itu, ketika disaksikan bagaimana
lihaynya Hoa In-liong melancarkan serangannya dengan
tenaga dalam yang sempurna, hingga membuat mata serasa
berkunang-kunang, hatinya jadi tercekat dan bergidik keras….
Lain halnya dengan jalan pikiran Hoa In-liong ketika itu.
Sembari melepaskan serangkaian serangan yang gennesr, dia
mulai berpikir dalam hati, “Mereka berjumlah banyak, jika aku
harus melayani belasan jurus untuk setiap orangnya, sampai
kapan pertempuran ini baru selesai?”
Berpikir demikian, serangan pedangnya tiba-tiba
dikendorkan, sengaja ia tunjukkan titik kelemahannya dan
membiarkan musuh manfaatkan kesempatan tersebut.
Waktu itu Hong Seng sedang terdesak hebat dan cuma bisa
bergerak kekiri dan kanan untuk menghindarkan diri.
Menyaksikan kejadian tersebut ia jadi terkejut bercampur
gembira, segera bentaknya, “Kena!”
Ikat pinggangnya diputar kencang lalu menyapu ke depan,
langsung membacok dada Hoa In-liong.
Hu-yan Kiong yang menjumpai keadaan tersebut jadi
tercekat hatinya, ia menjerit kaget, lalu secepat sambaran
petir menerjang masuk kedalam arena.
Maksudnya dia mau menyelamatkan jiwa Hong Seng. Apa
mau dibilang perubahan itu terjadinya sangat mendadak,
apalagi gerakan pedang dari Hoa In-liong melintas dengan
kecepatan luar biasa, jelas usahanya itu tak sempat lagi.

750
Terdengar Hong Seng menjerit ngeri, darah segar
berhamburan memenuhi seluruh udara. Tahu-tahu batok
kepalanya sudah berpisah dari tengkuknya dan menggelinding
jauh sekali dari arena. Diiringi semburan darah segar tewaslah
iblis tersebut.
Sebetulnya Hoa In-liong tidak berniat membunuh orang, ia
kuatir perbuatannya akan merupakan “memukul rumput
mengejutkan ular” dan membangkitkan sifat buas dari orangorang
Mo-kauw akan mengakibatkan terciptanya badai
pembunuhan yang jauh lebih keji.
Tapi setelah kenyataan berada didepan mata, ia tak dapat
mengendalikan perasaannya lagi. Akhirnya ia bunuh juga
tokoh sakit dari perkumpulan Mo-kauw itu,
Baru pertama kali ini dia membunuh orang sejak dilahirkan
didunia. Jeritan lengking yang menyayatkan hati itu seketika
membuat dia jadi tertegun dan berdiri melongo. Pada
hakekatnya siksaan keji yang dialami Wan Hong-giok lah yang
membangkitkan rasa dendamnya itu. Coba sekujur badan
gadis itu tidak dirambati oleh pelbagai jenis makhluk
bercampur hingga membuat keadaannya betul-betul
mengerikan, mungkin ia tak sampai metigambil tindakan
tersebut.
Waktu itu kebetulan Hu-yan Kiong yang sedang berusaha
menyelamatkan jiwa rekannya menerkam datang.
Menyaksikan kejadian itu darah panas, kembali bergolak
dalam benak anak muda kita. Pedangnya segera diayun ke
atas menyongsong datangnya serudukan tersebut.
Semenjak dilarikan didunia, belum pernah Hoa In-liong
menjadi gusar dan kalap seperti apa yang dialaminya
sekarang. Waktu itu dia hanya merasa hawa amarah bergolak

751
dalam benaknya. Darah dalam tubuhnya serasa mendidih,
sambil putar pedangnya ia membentak lagi, “Mampus kau
manusia terkutuk!”
Bacokan tersebut menggunakan jurus Lek-pit-hoa-san
(membacok gugur bukit Hoa-san). Walau hanya satu jurus
serangan biasa, tapi hawa pedang yang terpancar keluar
ibaratnya cahaya kilat yang menyambar-nyambar, begitu
cepat, begitu berat bikin hati orang mengkirik.
Hu-yan Kiong cukup mengetahui bahwa tenaga dalam yang
dimiliki musuhnya amat lihay, apalagi setelah menyaksikan
bacokan pedangnya yang begitu bertenaga, ia semakin sadar
bahwa kepandaian yang dimiliki anak muda itu tak boleh
dianggap enteng.
Dalam gugupnya, ikat pinggang berwarna perak itu
dilontarkan kemuka untuk menghalau datangnya ancaman
tersebut.
“Criiing….!”
Ditengah dentingan nyaring yang memekakkan telinga,
pedang dan ikat pinggang itu saling membentur satu sama
lainnya hingga menimbulkan percikan bunga api. Kedua orang
itu sama-sama bergetar keras dan masing-masing mundur
satu langkah lebar ke belakang.
Dalam gusar dan mendongkolnya, kecerdikan otak Hoa Inliong
tidak menjadi berkurang. Ia sudah berpikir, kematian
Hong Seng berarti membuat ikatan dendam diantara mereka
semakin dalam atau mungkin keadaannya sudah mencapai
ibaratnya api dan air yang tak mungkin bisa akur
Maka setelah berpikir sebentar, ia merasa keadaan tersebut
harus diatasi dengan siasat “membasmi bajingan, bekuk

752
pemimpinnya lebih dulu.” Bukannya mundur ke belakang, dia
malah menerjang maju lebih ke depan, sekali lagi ia lancarkan
sebuah bacokan maut.
“Mampus kau! Mampus kau! Mampus kau!”
“Criing! Criiing! Criiing!”
Secara beruntun benturan demi benturan nyaring
berkumandang memekakkan telinga. Suatu benturan itu
bergabung dengan suara bentakan demi bentakan macam
orang kalap itu mencabik-cabik keheningan malam yang
mencekam bukit itu. Suaranya betul-betul mengerikan hati,
membuat perasaan orang bergetar keras.
Serangkaian serangan berantai yang mendesak secara
beruntun ini seketika itu juga mendesak Hu-yan Kiong sampai
mundur berulang kali dengan bulu kuduk pada bangun berdiri.
Berbicara soal tenaga dalam, mungkin Hoa In-liong masih
bukan tandingannya. Tapi bacokan demi bacokan pedangnya
yang dilancarkan secara beruntun membuat dia kehilangan
posisi yang baik. Ini menyebabkan ia kehilangan sama sekali
daya kemampuannya untuk melancarkan serangan balasan.
Tiba-tiba kakinya tergaet oleh sepotong batu gunung yang
mengakibatkan tubuhnya terjengkang dan robob terlentang
diatas tanah.
Hoa In-liong maju kemuka seraya melepaskan sebuah
bacokan lagi. Ini membuat hatinya jadi ketakutan setengah
mati, cepat-cepat ia menggelinding kesamping untuk
menghindarkan diri.
“Tahan!” bentaknya keras-keras.

753
Bentakan tersebut diutarakan dengan suara yang nyaring
bagaikan guntur membelah bumi disiang hari bolong. Seketika
itu juga Hoa In-liong dibikin tertegun dan menarik kembali
pedang antiknya.
Keadaan Hu-yan Kiong betul-betul mengenaskan sekali.
Mukanya menyeringai seram, matanya melotot sebesar gundu
dengan sinar buas yang bikin orang berkidik, kembali
bentaknya, “Lohu toh tidak bermaksud membunuh engkau
kenapa kau begitu nekad untuk bikin susah diriku?
Memangnya kau sudah bosan hidup di dunia ini?”.
Hoa In-liong sudah bermandi peluh, tapi sahutnya juga
dengan nada berat, “Mati atau bidup manusia berada ditangan
Thian, kenapa aku musti takut mati? Tarik kembali semua
makhluk-makhluk beracunmu, lepaskan Wan Hong-giok,
akupun akan biarkan kau pergi dari sini. Tapi kalau kau
menampik, terpaksa aku orang she Hoa harus pertaruhkan
selembar nyawaku untuk mencabut jiwa anjingmu”
Hu-yan Kiong menyeringai makin seram bentaknya,
“Engkau sendiri yang mencari penyakit, jangan salahkan lohu
bertindak keji, lihat serangan!”
Telapak tangan kanannya segera di ayun ke muka, seakanakan
ada senjata rahasia sedang ditimpuk ke arahnya.
Hoa In-liong terkesiap, diamatinya serangan musuh dengan
seksama, namun tak sesuatu apapun yang tampak.
Mula-mula dia agak tertegun, menyusul kemudian sambil
tertawa tergelak dia berkata, “Haa…. haa…. haa….
Tampangnya saja sudah tua, tak tahunya berhati kekanak
kanakan, main tipu juga seperti bocah”

754
Tapi sebelum kata-kata itu sempat di utarakan sampai
selesai, ia sudah menguap beberapa kali.
Ketika dilihatnya pemuda itu menguap beberapa kali, Huyan
Kiong menyeringai makin seram, pelan-pelan dia menuju
ke depan sambil katanya kembali, “Bocah muda, kau
terlampau binal dan sukar diatur. Lohu segan untuk bertarung
melawan dirimu, ayoh ikuti lohu dengan tenang!”
Hoa In-liong kembali menguap beberapa kali, tiba-tiba ia
merasa dadanyaamat sakit, menyusul kemudian kepalanya
pusing tujuh keliling, hampir saja roboh terjengkang.
Keyataan ini membuat anak muda tersebut merasa amat
terperanjat, dengan gusar teriaknya, “Kau…. kau…. Permainan
gila apa yang telah kau lakukan terhadap diriku?”
Hu-yan kiong tertawa dingin. “Itulah siksaan Sin-hui-sim
(ular sakti menggigit) perkumpulan kami. Jika engkau tak mau
ikuti lohu dengan rela, maka kau akan merasakan suatu
penderitaan yang luar biasa hebatnya”
Hoa In-liong betul-betul naik darah. Pedangnya langsung
diayunkan kemuka melancarkan sebuah bacokan maut.
Siapa tahu sebelum serangan tersebut mencapai pada
sasarannya, ia merasakan datangnya teramat sakit sehingga
badannya jadi sempoyongan. Akhirnya ia tak kuasa menahan
diri lagi dan roboh tak sadarkan diri diatas tanah.
Hu-yan Kiong tertawa seram, ia maju ke muka, lengan
kanannya digetarkan ke depan mencengkeram pada anak
muda itu.
Tampaknya anak muda tersebut segera akan terjatuh ke
tangan musuh….

755
Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring yang penuh
dengan kegusaran berkumandang datang dari tengah udara,
“Tahan!”
Bersamaan dengan menggelegarnya bentakan itu, seorang
sastrawan muda berbaju putih melayang turun di atas puncak
itu dengan kecepatan luar biasa, ia langsung menerjang diri
Hu-yan Kiong.
Sastrawan muda berbaju putih itu bukan lain adalah Cwan
Wi yang telah berpisah di rumah makan dalam kota Kim-leng
siang tadi.
Bukankah Cwan Wi telah berpamitan akan pulang ke kota
Kim-leng? Mengapa dia bisa muncul kembali dipuncak bukit
Yan-san?
Duri sini dapatlah kita ketahui bahwa kepergiannya tadi
hanya sebagai alasan belaka. Nyatanya secara diam-diam ia
telah menguntil terus dibelakang pemuda kita.
Kemunculannya benar-benar dilakukan dengan kecepatan
yang luar biasa. Kecepatan tersebut jarang dijumpai dalam
dunia persilatan dewasa ini. Ketika Hu-yan Kiong menyadari
akan datangnya sergapan tersebut, tahu-tahu segulung angin
pukulan yang maha dahsyat telah tiba dibelakang
punggungnya.
oooOOOooo
HU-YAN KIONG betul-betul terperanjat oleh datangnya
ancaman tersebut. Tak sempat berpaling lagi, cepat-cepat ia
menutul permukaan tanah dan kabur ke muka untuk
menghindarkan diri dari serangan tersebut, kemudian
bentaknya, “Siapa disitu?”

756
Cwan Wi tidak menggubris teguran tadi, diapun tidak
menyusul musuhnya, tapi segera menubruk diri Hoa In-liong
sambil panggilnya dengan nada kuatir, “Ji-ko”
Mendengar panggilan itu, diam-diam Hu-yan Kiong merasa
terperanjat, cepat pikirnya, “Masa ilmu silat dari putra putri
keluarga Hoa rata rata sudah mencapai taraf yang demikian
tingginya?”
Berpikir sampai disitu, dia lantas putar badan sambil
menyeringai seram. “Hee…. he…. hee…. Lohu masih mengira
jago lihay dari manakah yang telah berkunjung kemari.
Huuuh….! Tak tahunya engkau juga kurcaci dari keluarga Hoa.
Bagus sekali! Apakah engkau juga hendak ikut lohu pulang?”
Baru saja kata-kata tersebut selesai diutarakan tiba-tiba
suara seorang bocah berkumandang kembali dari belakang
setelah mendengus dingin. “Hmmmm….! Makhluk tua, angin
gunung berhembus kencang sekali, kau tidak takut lidahmu
kena tersambar sampai putus?”
Sekali lagi Hu-yan Kiong merasa hatinya terperanjat, untuk
kesekian kalinya dia menghindar sejauh delapan depa dari
tempat semula, kemudian baru putar badan sambil
memandang kearah mana berasalnya suara itu dengan
pandangan seram.
Namun apa yang kemudian terlihat, seketika membuat
paras mukanya berubah jadi merah padam seperti babi
panggang. Ia betul-betul ketenggor batunya sampai-sampai
mau menangis sungkan mau tertawapun susah.
Kiranya kecepatan langkah Leng-ji masih kalah jauh dari
Cwan Wi, maka ia sampai ditempat tujuan selangkah lebih
terlambat. Sekalipun suaranya nyaring, tapi mukanya masih

757
kekanak-kanakan, apalagi waktu itu dia berdiri beberapa kaki
jauhnya dari kalangan dengan mata melotot besar, hal ini
semakin menunjukkan betapa masih kecilnya dia.
Perlu diterangkan disini, Leng-ji adalah seorang bocah yang
masih ingusan, sedang Hu-yan Kiong merupakan seorang jago
tua yang sudah kawakan. Tapi kenyataannya ia sudah dibuat
gugup dan buru buru menghindarkan diri dengan gelagapan,
tentu saja hal ini sangat menurunkan gengsi sebagai seorang
pemimpin.
Tak heran kalau wajahnya kontan berubah jadi merah
padam, sikapnya juga ikut tersipu-sipu.
Sementara itu Cwan Wi telah berteriak lagi dengan cemas,
“Leng-ji, cepat tanya kepadanya, dimana obat pemunah
tersebut!”
Dengan dahi berkerut Leng-ji segera berpaling ke arah Huyan
Kiong, dan bentaknya kembali, “Sudah mendengar belum?
Ayoh keluarkan obat pemunahnya dan serahkan kepadaku!”
Perkataan kacung buku itu sungguh takabur dan besar
nadanya. Sebagai seorang jago tua yang mempunyai
kedudukan terhormat tentu saja Hu-yan Kiong tersinggung
oleh ucapan tersebut.
Ia tertawa dingin tiada hentinya. “Mau obat pemunah?
Obat itu berada dalam sakuku, apa salahnya jika engkoh cilik
mengambilnya sendiri?”
“Huuh….! Memangnya kau anggap aku takut untuk
mengambilnya sendiri?” jengek Leng-ji ketus.
Jilid 20

758
SAMBIL berseru, bagaikan anak panah yang terlepas dari
busurnya ia menerjang maju ke muka, telapak tangan
kanannya langsung mencengkeram dada Hu-yan Kiong.
“Bangsat yang tak tahu diri, rupanya kau ingin mampus!”
bentak Hu-yan Kiong sangat gusar.
Telapak tangan kanannya segera diputar, kemudian
membacok urat nadi diatas pergelangan tangan Leng-ji
dengan serangan dahsyat.
Ternyata gerakan tubuh Leng-ji cukup lincah, ketika
serangan tersebut hampir mengena di atas pergelangan
tangannya, dengan cekatan dia berputar ke belakang
punggung Hu-yan Kiong, kemudian teriaknya dengan nada
lengking, “Bagus…. Bagus sekali! Engkau berani membokongi
aku….? Kurang ajar!”
Gerak serangannya segera dirubah, kali ini ia menonjok iga
kiri musuhnya.
Jelas dalam serangannya kali ini, Leng- ji sudah berniat
melukai musuhnya di bawah serangan tersebut. Begitu
serangan dilancarkan, terasalah desingan tajam sebagai ujung
tombak menerjang ke luar dan langsung menusuk jalan darah
Ki bun hiat di tubuh Hu-yan Kiong. Cepat dan tajam serangan
itu, tampaknya segera akan bersarang di tubuh lawan.
Para anak buah Hu yan Kiong yang menyaksikan kejadian
itu sama sama berteriak kaget, mereka masing-masing pada
menyerbu ke muka siap memberikan pertolongan.
Padahal orang-orang itu bersikap terlalu berlebihan. Sikap
tegang merekapun sebetulnya tak berarti apa-apa. Sebab bila

759
Hu-yan Kiong tidak memiliki serangkaian ilmu silat yang maha
dahsyat, apakah Mo-kauw kaucu tega melimpahkan tugas
berat ini di atas pundaknya? Apakah ia legakan
hati membiarkan dia yang memimpin “rombongan
penyelidik” itu menuju daratan Tionggoan?
Sementara kawanan jago itu siap menubruk kedepan untuk
memberikan pertolongannya, serangan yang dilancarkan
Leng-ji sudah bersarang telak pada sasarannya.
Akan tetapi, meskipun pukulan itu bersarang telak, Hu-yan
Kiong sedikitpun tidik menderita cedera barang sedikitpun jua.
Sebaliknya Leng-ji yang menjerit kesakitan, menyusul
kemudian secara beruntun dia mundur tujuh delapan langkah
dengan sempoyongan. Akhirnya bocah itu tak sanggup berdiri
tegak, ia jatuh terduduk diatas tanah tak mampu bergerak
lagi.
Ternyata Hu-yan Kiong pernah mendapat warisan ilmu silat
yang sangat lihay dari seorang tokoh silat maha sakti dan ilmu
tersebut khusus digunakan untuk melindungi keselamatan jiwa
dari ancaman musuh yang datang secara tiba-tiba.
Ilmu melindungi badan itu disebut Gi hiat ki-khi-ceng-han
(menggeser kedudukan jalan darah, menghimpun kekuatan
menggetarkan ancaman). Bukan saja dalam waktu singkat ia
dapat menggeser kedudukan jalan darahnya yang terancam,
secara otomatis hawa murninya dapat dihimpun pula untuk
menggetarkan serangan musuh.
Atau dengan perkataan lain semakin besar tenaga serangan
yang dilancarkan musuh, semakin besar pula tenaga pantulan
yang dihasilkan oleh serangan tersebut. Sebaliknya makin
lambat pukulan yang menyerang makin enteng pula tenaga
pantulan yang dihasilkan.

760
Untunglah Leng-ji yang masih kecil memiliki tenaga pukulan
yang tidak terlampau berat. Kalau tidak, penderitaan yang
diperoleh dari serangan tersebut mungkin bukan hanya
tergetar mundur belaka.
Sementara itu Cwan Wi sedang berusaha dengan sepenuh
tenaga untuk menguruti jalan darah di tubuh Hoa In-liong,
saking gelisahnya peluh sebesar kacang kedelai telah
membasahi sekujur tubuhnya.
Ketika secara tiba-tiba mendengar jeritan ngeri dari Leng-ji,
ia tampak terkejut dan cepat cepat berpaling.
Tampaknya waktu itu Hu-yan Kiong sedang memandang
kearahnya sambil tertawa dingin. Tangannya diulapkan
memberi Komando seraya serunya dengan nyaring, “Tawan
sekalian orang itu dan kita gusur mereka semua dari sini!”.
Perkataan itu sombong lagi pula dingin, seakan akan Cwan
Wi sekalian sudah mencari burung dalam sangkar, kura-kura
dalam tempurung. Seolah-olah mereka tidak memiliki
kekuatan lagi untuk melawan dan bakal menjadi tawanan
mereka.
Leng-ji adalah kacung Cwan Wi yang bergaul akrab
semenjak kecil. Hubungan mereka boleh dibilang lebih akrab
dari saudara kandung sendiri. Tak terkirakan gusar Cwan Wi
ketika dilihatnya kacung bukunya terluka ditangan orang.
Tapi lantaran Hoa In-liong masih tak sadarkan diri lagi pula
bantuan yang diberikan sedang mencapai puncak yang paling
penting, untuk sesaat dia tak dapat berbuat apa-apa.
Dan sekarang, setelah ia dengar kata-kata Hu-yan Kiong
yang begitu tak sedap didengar, amarah yang ditahanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
761
tahannya selama ini tak terkendali. Pada saat yang bersamaan
dikala ia bangkit secara di luar dugaan Hoa In-liong telah
sadar pula dari pingsannya, hanya Cwan Wi sama sekali tidak
merasakan hal itu.
Cwan Wi telah berpikir keras dalam benaknya. Ia merasa
daripada mencurahkan segenap perhatian dan tenaganya
untuk menolong Hoa In-liong, lebih baik menguasai Hu-yan
Kiong lebih dulu kemudian baru menyelesaikan soal-soal lain.
Pertama dengan perbuatannya ini dia dapat membebaskan
Leng-ji dari ancaman bahaya maut. Kedua diapun dapat
memaksa Hu-yan Kiong untuk menyerahkan obat penawar
racun kepadanya.
Ia merasa mempunyai kepercayaan penuh untuk
menaklukkan Hu-yan Kiong. Jika pemimpinnya gampang
ditaklukkan, otomatis anak buahnya tidak terlampau
merisaukan hatinya lagi, dia yakin sekali diserang mereka pasti
akan kocar-kacir.
Demikianlah, dengan suatu gerakan yang lebih cepat dari
sambaran angin puyuh ia menerkam ke muka dengan
hebatnya. Kemarahan dan rasa dendam telah menyelimuti
benaknya. Ini membuat wajahnya yang tampan segera dilapisi
hawa pembunuh yang betul-betul mengerikan.
Waktu itu, anak buah Hu-yan Kiong sedang bergerak maju
ke depan menghampiri Leng-ji yang masih tertuduk di tanah.
Tiba-tiba….salah seorang diantara rombongan kaum iblis
itu…. Laki-laki berjubah kuning yang memelihara jenggot
pendek telah menjumpai kehadiran Cwan Wi telah
menggetarkan hatinya. Tak kuasa lagi dia menjerit kaget dan
segera menghentikan langkah kakinya.

762
Jeritan kagetnya itu segera menggetarkan hati rekan-rekan
lainnya, juga mengejutkan Hu-yan Kiong pribadi.
Dengan gerakan tubuh yang enteng Cwan Wi melayang
turun di samping Leng-ji, lalu dengan gerakan yang tenang
dan kalem dia membantu Leng ji untuk menyambung kembali
tulang persendian tangan kanannya yang terlepas. Setelah itu
baru berpaling ke arah Hu-yan Kiong.
“Kau munafik!. Kau manusia rendah yang tak tahu malu.
Bukan cari kemenangan dengan mengandalkan ilmu silat,
khusus melukai orang dengan siasat busuk. Hmmm! Jika tahu
diri, cepat persembahkan obat penawar kepadaku, mungkin
aku bisa mengampuni jiwa kalian dan membiarkan engkau
pergi bersama anak buahmu, tapi kalau menampik….
Hmmm….!”
Setelah mendengus dingin ia hentikan kata-katanya.
Sekalipun tidak diberi penjelasan lebih jauh, namun siapapun
tahu apa yang dimaksudkan. Apalagi setelah menyaksikan
sepasang sinar matanya yang lebih tajam dari sembilu itu
menatap wajah musuhnya tanpa berkedip.
Orang lain tidak butuh penjelasan, cukup memandang
tatapan matanya yang menggidikkan hati segera akan
memahami makna yang sebenarnya dari musuhnya itu.
Pada hakekatnya kawanan jago dari Mo-kauw itu sudah
dibuat keder oleh kelihayan serta ketenangan sikap Cwan Wi.
Setelah menyaksikan sikapnya yang menggidikkan hati itu,
mereka hanya bisa saling berpandangan dengan perasaan
tercekat
Bagaimanapun juga, jelek-jelek Hu-yan Kiong adalah
seorang pemimpin rombongan. Sekalipun ia rada keder oleh

763
kegagahan musuhnya, perasaan keder itu tidak sampai
diperlihatkan dihadapan anak buahnya.
Setelah merenung sebentar, akhirnya ia tertawa seram
sambil menegur kembali, “Dalam urusan nomor berapa
engkau dalam keluarga Hoa? Siapa namamu….?”
Cwan Wi menjengek dingin, dengan suara sekeras geledek
ia membentaknya nyaring, “Kau tak usah banyak omong! Mau
bertempur atau berdamai, ayoh cepat mengambil keputusan!”
Keadaan semacam ini membuat Hu-Yan Kiong ibaratnya
duduk dipunggung harimau, mau turun sungkan tidak turun
takut, tapi untuk menjaga gengsi ia lantas mendengus.
“Huh….! Jika bertarung lantas bagaimana?”
Cwan Wi kontan maju selangkah kedepan, ia maju lima
depa lebih dekat dengan lawannya, lalu membentak dengan
suara dalam, “Rupanya sebelum sampai disungai Huang-ho
engkau tak akan matikan perasaanmu. Jika tidak kuberi sedikit
pelajaran yang setimpal, engkau tak akan memparsembahkan
obat penawarnya dengan suka rela Hmm…. Baiklah!”
Ia berhenti sebentar untuk mendengus dingin, kemudian
bentaknya kembali, “Cabut senjatamu! Akan kubikin engkau
takluk dengan hati yang rela dan puas!”
Ucapan tersebut diutarakan secara langsung dan tanpa
tedeng aling aling sedikitpun tiada tanda untuk memberi muka
kepada musuhnya untuk membela diri.
Dari mendongkol bercampur malu Hu yan Ki-ong jadi naik
pitam, tiba-tiba ia tertawa seram. “Haa…. haa…. haa…. Baik….
Baik! Akan lohu saksikan sampai dimanakah kelihayan ilmu
silat keluarga Hoa kalian!”

764
“Weesss!”
Sabuk naga perak putihnya dengan membawa tenaga
serangan yang maha dahsyat segera menyambar ke muka
dengan jurus It-cu-keng-thian (sebuah tongkat menyungging
langit).
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba suara bentakan dari Hoa Inliong
berkumandang kembali ke udara.
Baik Hu-yan Kiong maupun Cwan Wi sama-sama tertegun
dan alihkan pandangan matanya kearah mana berasalnya
suara itu.
Hoa In-liong dengan pedang terhunus sedang berjalan
menghampiri mereka dengan langkah tegap.
Cwan Wi rada tertegun sebentar, kemudian sambil
menubruk maju ke depan teriaknya penuh kegembiraan,
“Jiko…. Oooh Jiko….! Kau…. Kau…. tidak apa-apa bukan?”
Hoa In-liong mengulurkan tangan kirinya untuk menyambut
tubrukan Cwan Wi, pelan-pelan ia mengangguk. “Aku tidak
apa-apa. Terima kasih banyak atas kedatanganmu yang begitu
tepat pada saatnya. Kalau tidak, waah…. Mungkin aku yang
bodoh sudah menjadi tawanan orang”
Walaupun mulutnya berbicara terus, tidak berarti kakinya
berhenti berjalan, terpaksa Cwan Wi harus mengikuti
dibelakangnya untuk maju bersama.
Sambil berjalan kembali ujarnya, “Tak usah bicarakan
tentang soal ini, kalau toh engkau tidak mengapa, lebih baik
kita segera berlalu dari sini!”

765
“Tidak! kita tak dapat tinggalkan sempat ini dengan begitu
saja. Bukankah kau dengar sendiri kakek itu mengatakan
bahwa dia sangat ingin merasakan sampai dimanakah
kelihayan ilmu silat keluarga Hoa? Apakah kita musti
membiarkan dia merasa kecewa? Tidak bukan? Nah!
Keinginan orang musti kita penuhi sebagaimana mestinya”
Mendengar perkataan itu Cwan Wi tertegun. “Tapi apakah
Jiko sudah dapat turun tangan?” tanyanya.
Hoa In-liong tersenyum. “Sekalipun orang lain telah
menggunakan siasat busuk dan akal keji untuk
mengecundangi diri kita. Sebagai anggota keluarga Hoa, kita
harus tunjukkan contoh yang baik kepada mereka, bukankah
demikian saudara Cwan?”
Anak muda ini tidak langsung menanggapi pertanyaan
orang, sebaliknya membicarakan soal lain. Dari sini dapat
diketahui bahwa racun yang bersarang dalam tubuhnya belum
terpunahkan dari tubuhnya.
Atau dengan perkataan lain, seandainya ia dapat turun
tangan, itupun dilakukan dalam keadaan terpaksa.
Walaupun demikian, oleh karena alasan yang diajukan
pemuda itu masuk di akal sekalipun Cwan Wi merasa sangat
gelisah, dia juga tak mampu mengatakan apa-apa.
Hu-yan Kiong sendiri rada terperanjat ketika dilihatnya Hoa
In-liong secara tiba tiba menghampiri dirinya dengan langkah
yang tegap dan gagah. Dia malah mengira siksaaan “ular kecil
menggigit hati” nya sudah tidak mempan lagi terhadap anak
muda itu.
Akan tetapi setelah ia mendengar tanya jawab dari kedua
orang lawannya, perasaan kuatirnya segera tersapu lenyap

766
dari hatinya. Ia jadi sangat lega. “Bagus sekali! Bagus sekali!”
katanya kemudian “Bila engkau dapat mengandalkan ilmu silat
yang kau katakan sangat lihay itu untuk mengalahkan aku
walau cuma satu jurus saja, lohu segera akan angkat kaki dari
sini!”
Hoa In-liong tertawa ewa. “Mengundurkan diri dari sini
sudah pasti akan kau lakukan, tapi kau musti berjanji bahwa
Wan Hong-giok akan kau lepaskan dan makhluk-makhluk
racun yang berpesta pora diatas tubuhnya kau tarik kembali”
Sebelum Hu-yan Kiong memberikan jawabannya, Cwan Wi
telah menukas dengan suara yang amat gelisah:…. “Tidak
boleh begitu saja, diapun harus meninggalkan obat penawar
untukmu!”
Hoa In-liong tersenyum, ia berpaling dan ditatapnya wajah
rekannya lekat-lekat. “Adik Wi kau tak usah terlampau kuatir!
Jangan bingung, siksaan yang dikatakannya sebagai ular sakti
menggigit hati itu tak nanti bisa merenggut jiwaku. Jika aku
tak berkemampuan untuk memunahkan kepandaiannya itu,
lain kali dia pasti akan mengandalkan kepandaian tadi untuk
malang melintang dalam dunia persilatan dan berbuat
kejahatan dimana-mana. Hmmmm! Waktu itu dunia persilatan
pasti akan dibikin kuatir olehnya. Kalau sampai begitu, akan
ditaruh dimanakah wajah kita-kita ini….?”
Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya,
ketika Hu-yan Kiong terbahak-bahak. “Haa…. haa…. haa….
Aku lihat rasa ingin menangmu benar-benar besar sekali. Tapi
jalan pikiranmu yang terlampau kanak-kanakan bikin orang
merasa kasihan. Hmmm….! Jika ular saktipun dapat kau
punahkan, tak nanti lohu akan menggunakan senjata ampuh
tersebut khusus untuk menghadapi dirimu”

767
“Dapat atau tidak kupunahkan pengaruh racun tersebut
adalah urusan pribadiku sendiri, lebih baik engkau tak usah
menguatirkan bagi keselamatan jiwaku”
Cwan Wi sendiri ketika itu merasa setengah percaya
setengah tidak, ia ikut menimbrung, “Jiko, benarkah engkau
punya keyakinan untuk memunahkan pengaruh racun itu?
Menurut Toako, sin-hui atau ular sakti adalah sejenis racun
yang mirip dengan Ku-tok racun ganas yang bisa menyusup
sendiri kedalam tubuh manusia melalui ilmu macam hypnotis,
bahkan aku dengan bibi sendiripun tak mampu untuk
memunahkan pengaruh racun yang amat jahat itu!”
Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut sehabis
mendengar ucapan itu, sampai-sampai paras mukanya juga
ikut berubah.
Ternyata ia merasa yakin kalau Toanio-nya yakni Chin
Wan-hong mampu untuk mengobati pengaruh racun ganas
dari jenis apapun jua. Maka dari itu dalam pikirannya, racun
yang diidapnya sekarang tak perlu terlampau dikuatirkan, toh
akhirnya ia bisa minta pertolongan Toanio-nya untuk
punahkan pengaruh racun itu.
Tapi sekarang, setelah Cwan Wi menyatakan bahwa ibunya
pun tidak memiliki kemampuan untuk memunahkan racun
tersebut, dia baru mulai kuatir bercampur gelisah. Selain
cemas diapun mulai memahami apa sebabnya Toako
mengutus orang untuk mencegah dirinya pergi ke bukit Yansan
untuk memenuhi janji.
Tapi….perkataan sudah terlanjur diutarakan keluar, apakah
dia harus menyesali ucapan tersebut?
Tidak! Tentu saja tidak! Dia adalah pemuda yang angkuh
dan keras kepala. Dia ingin menjadi contoh yang bisa ditiru

768
oleh segenap umat persilatan didunia. Diapun tak ingin tunduk
di bawah perintah orang. Karena itu setelah berpikir sebentar,
akhirnya dia memutuskan untuk pasrahkan mati hidupnya
pada nasib.
Sekalipun akhirnya racun Sin-hui yang diidapnya tak
berhasil di punahkan, dia juga tak menjilat kembali kata-kata
yang telah diutarakan keluar itu sehingga nantinya dibuat
bahan godaan oleh musuhnya.
Disamping itu,setelah anak muda itupun merasa bahwa
tugasnya yang terpenting pada saat ini adalah mengusir
orang-orang Mo-kauw dari daratan Tionggoan. Soal menolong
diri sendiri, lebih baik dipikirkan nanti saja.
Demikianlah, mengambil keputusan, ia pun tertawa ewa.
“Adik Wi tak perlu kuatir” katanya kemudian, “Sejak kecil aku
sudah kebal terhadap segala jenis racun. Aku rasa kalau cuma
ular kecil saja masih belum cukup untuk merenggut nyawaku.
Sekarang berdirilah disamping gelanggang dan lindungilah aku
dari situ. Sebab aku hendak memberi suatu pelajaran
bagaimana caranya menjadi seorang manusia yang berbudaya
halus kepada suku-suku asing yang masih biadab ini. Biar
mereka tahu bahwa ilmu silat daratan Tionggoan bukan ilmu
silat sembarangan!”
Setelah berhenti sebentar, pelan-pelan sinar matanya
dialihkan kewajah kawanan jago Mo-kauw itu dan ujarnya
kembali dengan wajah amat serius. “Sekarang, engkau boleh
segera melancarkan serangan!”
Waktu itu paras muka Hoa In-liong telah mengalami
perubahan, ini dapat terlihat oleh Cwan Wi dengan jelasnya.
Sebagai orang manusia cerdas, seketika itu juga ia
mengerti bahwa racun yang mengeram ditubuh Hoa In-liong

769
benar-benar sudah terlalu dalam. Jika ia harus bertempur
dengan memaksakan dirinya, maka keselamatan jiwanya akan
terancam bahaya maut.
Rupanya rasa simpatiknya terhadap Hoa In-liong sudah
menjurus pada suatu perasaan simpatik yang khusus. Begitu
kuatirnya ia atas keselamatan Hoa In-liong jelas tercermin di
wajahnya.
“Tidak! Tidak boleh!” Demikianlah ia berteriak dengan
suara yang amat gelisah, “Jiko, engkau saja yang melindungi
aku dari sisi gelanggang. Biar aku saja yang hajar bandot tua
yang tak tahu diri itu”
Hu-yan Kiong yang selama ini hanya membungkam, tibatiba
tertawa dingin dengan nada yang sinis. “Hee…. hee….
he…. Sauya, menurut pendapatku, lebih baik engkau jangan
mencampuri urusan yang bukan merupakan urusan
pribadimu.”
Cwan Wi bukannya mundur sebaliknya malah maju ke
muka dan menghadang dihadapan Hoa In-liong, dengan mata
melotot besar teriaknya lantang, “Kau berani bertempur
melawan aku? Hmm….! Jika tidak berani, cepat tinggalkan
obat penawar racun, tarik kembali semua makhluk makhluk
jelekmu yang beracun dan enyah dari sini, menggelinding
pulang ke Seng-sut-hay”
“Haa…. haa…. haa…. Bocah muda, rupanya sebelum dikasi
pelajaran yang setimpal, kau pandainya cuma ngebacot
melulu dengan kata-kata yang tak sedap di dengar. Hmm….
Tahukah engkau apa maksud kedatanganku kemari? Apa yang
kau andalkan sehingga begitu berani mengusir….”
“Tutup bacot anjingmu!” Tukas Cwan Wi dengan wajah
membenci, “Ayoh cepat turun tangan! Bukankah engkau

770
hendak menangkap kami semua? Kenapa tidak juga turun
tangan?”
“Kenapa lohu musti bertempur melawan dirimu?” Hu-yan
Kiong balik bertanya dengan dahi berkerut.
“Kurang ajar! Orang ini betul betul membingungkan” Teriak
Cwan Wi makin marah, “Bukankah barusan kau telah bersiap
sedia untuk turun tangan….?”
Dengan wajah serius Hu-yan Kiong manggut-manggut.
“Yaa, betul! Barusan aku memang ada maksud untuk sekalian
membekuk dirimu, sebab waktu itu aku menyangka bahwa
engkau juga berasal dari keluarga Hoa. Tapi sekarang, setelah
kuketahui bahwa kau sibocah cilik bukan keturunan dari
keluarga Hoa, maka niatku yang pertama tadi terpaksa
kubatalkan. Lohu tidak ingin menanam bibit permusuhan lagi
dengan pihak lain. Oleh sebab itulah kuanjurkan kepadamu
agar jangan mencampuri urusan yang bukan menjadi
urusanmu”.
Tanpa berpikir panjang Cwan Wi langsung berteriak, “Siapa
bilang kalau aku bukan….”
Tiba-tiba perkataannya berhenti sampai ditengah jalan,
paras mukapun tanpa sadar berubah jadi semu merah.
Terdengar Hu-yan Kiong tertawa terbahak-bahak. “Haa….
haa…. haaa…. Engkau tak usah berdebat lagi. Keturunan dari
Hoa Thian-hong sudah dikenal oleh setiap umat persilatan di
dunia ini. Padahal engkau sebut istri Hoa Thian-hong sebagai
bibi, ini sudah jelas membuktikan kalau engkau bukan
anaknya. Ketahuilah wahai anak muda, kedatangan lohu kali
ini kedaratan Tionggoan adalah untuk menjumpai keluarga
Hoa. Urusan ini tak ada sangkut pautnya dengan dirimu.
Sekalipun selama pembicaraan tadi kau kurang senonoh

771
kepadaku, tapi aku tak ingin mencari urusan dengan dirimu.
Karenanya lebih baik kau tak usah mencampuri urusan kami
lagi, mengerti….?”
Orang ini betul-betul seorang manusia yang licik sekali,
sudah jelas ia takut terhadap kelihayan Cwan Wi. Sudah jelas
dia ingin mencari keuntungan dari keadaan Hoa In-liong yang
lemah. Karena ia tidak berharap Cwan Wi ikut serta dalam
pertarungan itu, maka dengan kelihayannya bersilat lidah, ia
beralih seakan-akan sedang melaksanakan perintah atasan
saja dan sikapnya tak berani membantah perintah atasan,
maksudnya agar musuh yang disegani itu tidak turut campur
dalam pertikaian mereka.
Bagaimanapun juga, Cwan Wi masih terlampau muda untuk
dibandingkan dengan Hu-yan Kiong yang tua bangkotan, tentu
saja ia tak sampai menduga akan kelicikan orang. Untuk
sesaat ia jadi gelagapan dan tak mampu menanggapi ucapan
lawan.
Ho In-liong merupakan seorang pemuda yang keras kepala,
meski dia adalah seorang Kuncu, seorang laki-laki sejati. Sejak
pertama kali tadi ia memang sudah berencana untuk
mengadakan duel satu lawan satu dengan Hu-yan Kiong untuk
menguji kepandaian masing-masing.
Karena itu, setelah dilihatnya Cwan Wi terpojok oleh katakata
lawan sehingga tak mampu menjawab, cepat ia menarik
tangannya sambil berkata lembut, “Adik Wi, beristirahatlah
dulu disitu! Jika akhirnya aku tak sanggup menandingi
kelihayan musuh, kau boleh turun tangan menggantikan
kedudukanku. Waktu itu baik engkau berdalih ingin menolong
aku atau ingin balaskan dendam bagiku, dengan sangat
mudahnya semua itu bisa kau pakai sebagai alasan. lagipula,
bagaimanapun juga nama baik ayahku tak dapat hancur
ditanganku. Mengertikah engkau dengan kata-kataku ini?”.

772
Setelah menyinggung tentang nama baik Hoa Thian-hong,
Cwan Wi benar-benar tak berani mencegah lagi.
Dengan perasaan berat hati ia menengadah dan
mengawasi wajah pemuda itu lekat-lekat, kemudian
mengangguk lirih. “Aku mengerti” sahutnya, “Jiko, kau harus
hati-hati lho!”
Tersenyum Hoa In-liong melihat kekuatiran orang,
ditepuknya bahu anak muda itu pelan kemudian menengadah
kedepan memandang Hu-yan Kiong seraya berkata, “Aku
orang she-Hoa tidak biasa berbuat pura-pura. Terus terang
kuakui bahwa hingga sekarang Sin-hui atau racun ular kecil
yang mengeram ditubuhku belum punah, tentu saja tenaga
dalamku setingkat lebih rendah dari biasanya. Tapi jika
engkau ingin mencari kemenangan dengan memanfaatkan
keadaanku ini, maka perhitunganmu itu meleset sama sekali.
Tidak segampang itu kau akan peroleh kemenanganmu. Malah
kuanjurkan kepadamu, lebih baik bertindaklah lebih berhati
hati agar nyawamu tidak ikut kabur”
“Huuuh! Lagakmu soknya bukan kepalang” ejek Hu-yan
Kiong dengan sombongnya, “Jangan nasehati aku untuk
berhati hati, karena engkau sendirilah yang harus berhati hati
menghadapi diriku. Tapi Hee…. hee…. hee…. Engkaupun tak
perlu kuatir, sebab aku pasti akan mengampuni jiwamu”
“Kau tak usah mengampuni jiwaku. Aku hanya berharap
bila engkau menderita kekalahan nanti, simpanlah kembali
semua makhluk jelekmu itu dari tubuh sang dara dan lepaskan
Wan Hong-giok dari tahananmu!”
Hu yan Kiong segera mencibirkan bibirnya dan tertawa licik
dengan sinisnya. “Memangnya kau sendiri tidak menginginkan
obat penawar untuk racun yang mengeram dalam tubuhmu?”

773
“Aku orang she Hoa yakin masih sanggup untuk melebur
sari racun yang bersarang ditubuhku hingga lenyap sama
sekali. Kau tak usah menguatirkan keselamatan jiwaku”
Sembari berkata, dia masukkan kembali pedang antiknya
kedalam sarungnya….
“Eeeeh. Kenapa kau? Kenapa tidak menggunakan pedang?”
tegur Hu-yan Kiong dengan dahi berkerut.
“Aku rasa ilmu pedang dari aku orang she Hoa tentunya
sudah kau saksikan bukan? Padahal diantara kita tidak terikat
dendam sakit hati atau permusuhan apapun jua. Aku tidak
punya rencana untuk membinasakan dirimu!”
“Waaah….Tidak boleh begitu! Tidak boleh begitu!” Tiba-tiba
Leng-ji berteriak lengking, “Orang itu mempunyai ilmu silat
istimewa, tenaga pukulan tak sanggup melukai dirinya….”
Kalau Leng-ji cemas, maka Cwan Wi lebih-lebih gelisah lagi,
dia ikut berteriak, “Jiko, bila engkau tak mau menggunakan
pedang, biarlah aku saja yang maju menggantikan dirimu”
Sambil berteriak ia maju ke depan dan siap menerjang diri
Hu-yan Kiong yang berada dihadapannya.
Dengan cepat Hoa In-liong menggerakkan lengan kirinya
untuk menarik lengan pemuda itu, katanya sambil tersenyum,
“Adik Wi, dengarkan dulu perkataanku. Pedang itu tajam dan
tidak bermata. Setiap kali digunakan tentu akan
mengakibatkan bercucurannya darah kental. Padahal tujuan
kita kali ini adalah untuk menolong orang, kita harus belajar
berbuat kebajikan. Selain daripada itu, akupun telah
menggunakan pedang untuk membunuh salah seorang
diantara mereka, maka aku pikir semestinya merekapun harus

774
diberi kesempatan untuk merasakan pula kelihayanku dalam
bidang ilmu lainnya”
“Aaah….Kamu ini sok pintar, sok berlagak bijaksana. Kalau
kau tidak bunuh bandot tua itu, dialah yang akan
membinasakan dirimu”, teriak Leng-ji dengan cemas.
“Tidak mungkin!” ujar Hoa In-liong sambil menggelengkan
kepalanya berulang kali, “Tujuannya adalah menangkap aku
hidup hidup, agar dia bisa membawa aku pulang ke Seng-suthay
dan ditukar dengan pahala besar baginya”
Hu-yan Kiong terbahak-bahak dengan kerasnya. “Haa….
haa…. haa…. Bagus sekali! Anggaplah engkau memang cerdik
dan pandai menebak jalan pikiran orang. Nah, untuk
kecerdasanmu itu, akupun akan memberi keringanankeringanan
untukmu pribadi. Mari kita beri batas pertarungan
sampai seratus gebrakan belaka. Jikalau dalam seratus
gebrakan engkau dapat mempertahankan diri tidak kalah juga
tidak menang, maka anggap saja aku yang kalah dan segala
sesuatunya terserah pada keputusanmu”
Orang ini menyangka bahwa ilmu silat yang di milikinya
sudah mencapai puncak kesempurnaan. Apalagi tenaga
pukulan macam ilmu telapak tangan maupun ilmu jari sama
sekali tidak berguna terhadapnya. Ditambah pula Hoa In-liong
sudah terkena racun jahat dari ular kecil, sudah pasti tenaga
dalamnya akan mengalami penurunan secara drastis, delapan
puluh persen kemenangan berada dipihaknya.
Oleh karena ia yakin kalau kemenangan pasti berada
dipihaknya, maka sambil berbicara sabuk naga peraknya
diikatkan kembali diatas pinggangnya.
Sesudah pihak musuhpun mengikat kembali senjata ikat
pinggangnya, Cwan Wi agak sedikit berlega hati, namun ia toh

775
berkata kembali memperingatkan iblis tua itu, “Kuperingatkan
kepadamu, jangan bertempur dengan gunakan akal busuk.
Sebab jika kau pakai siasat licik, maka akupun tak akan
memperdulikan apakah kalian bertarung dengan janji atau
tidak, aku bisa main kerubut untuk membinasakan dirimu!”
Hu-yan Kiong tertawa sombong, dia segera menjura. “Hoa
loji, sekarang engkau boleh melancarkan serangan terlebih
dahulu.!”
“Hati-hatilah!” kata Hoa In-liong,
Dia maju kedepan dan sebuah pukulan dahsyat segera
dilontarkan kedepan.
Dalam serangan tersebut terseliplah inti sari dari suatu
kepandaian yang luar biasa. Tenaga serangan tidak terpancar
keluar sekaligus, sedang arah serangan meliputi batok kepala,
wajah serta dada Hu-yan Kiong. Itu berarti serangan tersebut
bisa berupa serangan sungguhan, bisa pula berupa serangan
tipuan.
Dalam keadaan demikian, bilamana Hu-yan Kiong tidak
dapat menghadapi secara tetap, dia terluka parah seketika itu
juga.
Menyaksikan gerak serangan musuhnya, dimana-dimana
Hu-yan Kiong merasa terperanjat, cepat pikirnya, “Huuuh….!
Tak kunyana kalau bocah keparat ini memiliki ilmu silat yang
benar-benar luar biasa lihainya. Aku tak boleh menghadapinya
secara gegabah”
Ia tidak berani berayal lagi, kepalannya segera dirangkap
menjadi satu sambil berebut maju ke depan. Dengan sistim
pertarungan keras lawan keras dia sambut datangnya
ancaman tersebut.

776
“Bagus….!” bentak Hoa In-liong keras-keras.
Lengan kirinya lantas diangkat mengimbangi gerakan
tubuhnya yang berputar kencang. Dengan jurus oh-hau-po-yo
(hariman lapar menerkam kambing) suatu gerakan membacok
yang tajam dia babat bahu dan punggung lawan….
Sebelum mendapat tugas untuk berkunjung ke daratan
Tionggoan, Hu-yan Kiong telah diberi kesempatan oleh Tangkwik
Siu, itu cikal bakal Mo-kauw untuk menyelidiki pelbagai
kepandaian silat yang diandalkan Hoa Thian-hong tempo dulu.
Maka begitu melihat datangnya serangan tersebut, ia lantas
mengerti bahwa serangan ini diciptakan berdasarkan gerak
jurus “Kun siu ci tau” (perlawanan binatang yang terkurung)
yang amat tersohor itu, maka dia mengambil keputusan untuk
tidak melayaninya secara keras lawan keras.
Pengalamannya menghadapi serangan musuh sudah amat
matang dan pengalamannya cukup kawakan. Setelah ia dapat
menebak aliran gerak jurus yang dipergunakan musuhnya,
tentu saja ia telah mempersiapkan pula jurus pemecahannya.
Tampak sepasang kakinya menjejak permukaan tanah,
kemudian badannya menjauhkan diri ke sisi kiri. Berbareng
dengan gerakan itu tiba-tiba terdengar suara jari-jari tangan
serta persendian tulang yang bergemerutukan nyaring.
Hoa In-liong tertegun. Cepat iblis tua melompat ke udara,
telapak tangan kanannya direntangkan seperti cakar kuku
garuda. Diiringi bentakan nyaring yang menggelegar dia
hantam dada Hoa-In liong.
Itulah ilmu pukulan Siu-gong-kun, sebuah ilmu pukulan
udara kosong yang maha dahsyat.

777
Siu-gong-kun atau ilmu pukulan udara kosong merupakan
sejenis ilmu silat yang jarang dijumpai dalam dunia persilatan.
Tapi dalam kitab pusaka Thian-hua Cha-ki, hal tersebut
tercatat dengan jelasnya.
Sebagaimana diketahui, kitab catatan Thian-hua cha-ki
yang sangat luar biasa itu dulu diserahkan kepada
Tiangsunpoh untuk disimpan secara baik-baik. Sedang
Tiangsunpoh mempunyai hubungan persahabatan yang begitu
akrab dengan Pek Siau-thian. Oleh sebab itu dia seringkali
berkunjung ke perkampungan Liok soat-san-ceng.
Hoa In-liong amat disayang oleh gwa-konya, diapun
disayang oleh Tiangsunpoh. Karena itu anak muda tersebut
pernah juga menyaksikan kitab pusaka Thian-hua Cha-ki.
Tidaklah aneh kalau dia segera mengenali ilmu pukulan
yang dipergunakan Hu-yan Kiong sekarang adalah ilmu
pukulan udara kosong. Bayangkan sendiri, mungkinkah Huyan
Kiong dapat melukai pemuda tersebut dengan gampang
setelah lawannya juga memahami gerak pukulan yang dia
pergunakan?
Sekalipun demikian, Hoa In-liong hanya tahu bahwa ilmu
tersebut adalah ilmu gerakan Siu-gong-kun. Soal dimanakah
letak inti kekuatan dan inti kelihayan dari ilmu pukulan
tersebut, ia kurang begitu tahu.
Untuk menghadapi ancaman semacam itu, jari tangannya
segera ditegangkan sekeras tembak, kemudian disodok keatas
udara dimana telapak tangan musuh sedang mengancam tiba.
Hu-yan Kiong tertawa terbahak-bahak. Dari pukulan
kepalan ia cepat merubah serangannya menjadi pukulan

778
telapak tangan. Begitu desingan angin serangan musuh
terhindar, ia balas menyodok pusar dari Hoa In-liong.
Hoa In-liong sendiripun diam-diam merasa terkejut,
kecepatan musuhnya dalam berganti jurus, pikirnya,
“Tampaknya orang ini hapal sekali dengan gerakan jurus
serangan dari keluarga Hoa. Bukan saja ia dapat menghindari
setiap serangan tipuan dengan serangan tipuan. Melepaskan
serangan balasan tepat pada waktunya. Bahkan kecepatan
gerak serangannya melebihi sambaran petir, ini berarti mereka
memang sudah memikirkan gerakan pemecahan terhadap
ilmu silat kami. Aku tak boleh menggunakan aturan pada
umumnya untuk melayani dia, apalagi hanya menyerang
dengan jurus-jurus serangan dari ilmu Ci-yu-jit-ciat serta Huin-
ciang-hoat”
Rupanya serangan totokon jari tangan yang dipergunakan
barusan tak lain adalah perubahan dari lmu sakti Ci-yu-jit-ciat.
Untuk melancarkan serangan dengan ilmu Ci-yu-jit-ciat
tersebut, orang bisa menyerang baik dengan ilmu telapak
tangan maupun dengan ilmu totokan jari. Yang sama adalah
semua serangan tertuju untuk mendobrak pertahanan lawan.
Sulit bagi orang yang tidak mengetahui gerak pukulan
tersebut untuk memecahkannya.
Oleh sebab itu, dikala Hoa In-liong saksikan pukulan musuh
tiba-tiba dirubah menjadi ilmu telapak tangan dan pusarnya
yang terancam oleh serangan tersebut, tahulah dia bahwa Huyan
Kiong telah berhasil menyelidiki inti kekuatan dari
kepandaiannya dan telah mempersiapkan pula ilmu
pemecahannya.
Tak sempat ia berpikir terlampaulama dalam keadaan
seperti ini, sebuah tendangan kilat segera dilancarkan
kedepan. Menyusul kemudian telapak tangannya dibalik

779
segera membabat keluar, menyapu jalan darah Oh-keng-hiat
disisi telinga Hu-yan Kiong.
Baik pukulan telapak tangan maupun tendangan kilat
tersebut, semuanya dilancarkan dikala ia memutar badannya
sambil menghindari serangan musuh. Sekalipun demikian,
tenaga serangannya sangat kuat sehingga menimbulkan
desingan angin tajam yang memekakkan telinga.
Hu-yan Kiong tidak menyangka sampai kesitu. Setelah
serangan tajam musuhnya tiba didepan mata, ia baru
terperanjat. Cepat tubuhnya melambung ke udara sambil
mundur tiga langkah ke belakang.
Bagaimanapun juga Hu-yan Kiong bukan termasuk manusia
sembarangan, jelek-jelek dia juga merupakan seorang jago
kawanan yang berpengalaman luas. Begitu mundur ia segera
mendesak maju lagi ke depan.
Tiba-tiba ia membentak keras, lengan kanannya berbunyi
gemerutukan nyaring. Rupanya ia telah mengeluarkan ilmu
pukulan Lei sim toh sin siang (pukulan pemisah hati pem betot
sukma) yang paling diandalkan perkumpulan Mo-kauw.
Sungguh dahsyat dan cepat ancaman tersebut. Dalam
waktu singkat tahu-tahu kepalan musuh sudah muncul
didepan anak muda itu.
Padahal pada waktu Hoa In-liong sedang mempersiapkan
sebuah serangan kilat untuk meneter lawannya. Ketika
bayangan telapak tangan tiba-tiba muncul di depan mata dan
langsung mengancam kepalanya, tidak ragu-ragu lagi lengan
kirinya di kebutkan ke muka. Sekali lagi dia gunakan ilmu
pukulan Hu in ciang hoat untuk menyongsong datangnya
ancaman tersebut….

780
“Ploook!”
Suatu benturan nyaring segera terjadi dengan dahsyatnya
ketika sepasang telapak tangan saling beradu. Kedua belah
pihak sama-sama bergetar keras oleh tenaga pantulan yang
dihasilkan dari benturan itu.
Secepat kilat mereka memutar badannya untuk membuang
sisa tenaga yang masih mendesak tubuh mereka, kemudian
secepat kilat mereka saling menyodok saling menyerang lagi
dengan serunya.
Baik Hoa ln-liong maupun Hu-yan Kiong sama-sama
merupakan jago silat kelas satu dalam dunia persilatan. Dalam
benturan yang barusan terjadi, mereka lantas tahu bahwa
kekuatan yang dimiliki lawannya seimbang dengan kekuatan
yang mereka miliki. Merekapun paham, tak mungkin mereka
bisa cari kemenangan dengan mengandalkan tenaga dalam
yang sempurna, sebab siapapun tak bisa mengalahkan
lawannya.
Ini berarti menang kalahnya pertarungan harus dicari
dengan mengandalkan sempurnanya jurus serangan serta
luasnya pengalaman mereka dalam menghadapi pertempuran.
Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling
menyerang, saling menerjang dengan serunya. Dibalik
serangan gencar terselip suatu pertahanan yang tangguh,
sebentar saja tiga buah gebrakan sudah lewat tanpa terasa.
Serangkaian pertarungan sengit itu ibaratnya hembusan
angin puyuh dan hujan badai, begitu gencar. Begitu ganasnya
membuat para penonton yang mengikuti jalannya pertarungan
dari tepi gelanggang harus menahan nafas dan menekan rasa
tegangnya.

781
Ilmu silat yang dipelajari Hoa In-liong sebetulnya sangat
luas dan terdiri dari inti-inti kepandaian yang tak terkirakan
dahsyatnya. Setiap pukulan, setiap totokan yang dia lancarkan
semuanya tertuju pada bagian-bagian mematikan di tubuh
musuhnya.
Sayang racun Sin-hui (ular kecil sakti) yang mengeram
dalam tubuhnya belum punah. Kehadiran racun itu otomatis
mempengaruhi juga daya konsentrasinya. Setiap kali dia kuatir
kalau racun dalam tubuhnya tiba-tiba kambuh dan
mempengaruhi badannya. Sebab itu sepanjang pertarungan
berlangsung, ia tak berani menggunakan tenaga terlampau
besar.
Dia selalu kuatir, jika seandainya serangan yang
dilancarkan dengan sepenuh tenaga tidak mencapai pada
sasarannya, kesempatan tersebut segera akan dimanfaatkan
lawan untuk balas mendesaknya. Karena itu setiap kali ada
kesempatan baik untuk merebut kemenangan, kesempatan itu
selalu dibuang dengan begitu saja. Tentu saja kejadian ini
membuat Cwan Wi yang mengikuti jalannya pertarungan dari
tepi gelanggang jadi cemas bercampur gegetun.
Tak bisa dibantah lagi kalau Hu-yan Kiong adalah seorang
tokoh sakti perkumpulan Mo-kauw yang sangat diandalkan
perkumpulannya. Ilmu silat yang dia pelajari terdiri dari aneka
ragam yang tak terhitung jumlahnya, bahkan boleh dibilang
kepandaiannya tidak berada dibawah kepandaian Tang-kwik
Siau dimasa jayanya.
Tetapi, lantaran Hoa In-liong selalu bersikap waspada dan
hati-hati. Selalu melayani musuhnya dengan jurus serangan
yang tangguh dan serangan yang dipakaipun memiliki
perubahan yang tak terduga, maka dia jadi ragu-ragu untuk
melepaskan serangan yang mematikan. Dia kuatir masuk
perangkap dan terjebak oleh akal licik lawannya.

782
Demikianlah, sekejap mata kemudian lima enam puluh
tujuh jurus kembali sudah lewat. Tampaknya walaupun batas
seratus jurus sudah dilampaui menang kalah belum tentu
dapat ditetapkan dengan pasti.
Sementara itu Leng-ji sudah beranjak dan duduk disamping
Cwan Wi. Ketika dilihatnya pertarungan berlangsung makin
lama serrakin hebat, akhirnya ia jadi habis sabarnya, diamdian
bisiknya dengan suara yang lirih, “Siau….Sauya, sudah
kau hitung jumlah jurusnya?”
“Ssst….! Jangan berisik” omel Cwan Wi dengan suara kesal.
“Tidak bisa….! Tidak bisa begitu….” teriak Leng-ji lagi
dengan cemas. “Sekarang sudah mencapai sembilan puluh
tiga jurus. Jika Ji kongcu tidak melancarkan lagi serangan
serangan yang mematikan bagaimana mungkin pertarungan
ini bisa diakhiri secara menguntungkan….?”
Waktu itu seluruh perhatian dan konsentrasi Cwan Wi
tertuju pada jalannya pertarungan. Mendengar pertanyaan itu
dengan rada mendongkol ia lantas berseru, “Lalu bagaimana
caranya, untuk mengakhiri pertarungan secara
menguntungkan?”
“Makhluk sialan itu tidak mempan dibabat atau ditotok. Bila
Ji kongcu tidak menggunakan pedang, itu berarti pertarungan
yang lebih lamapun hanya suatu pertarungan yang
menghamburkan tenaga dengan percuma. Aku lihat lebih baik
engkau turun tangan sendiri saja!”
Tampaknya Cwan-Wi jengkel sekali dengan kecerewetan
kacungnya, sambil berpaling dengan muka marah, ia berseru,
“Kamu ini cerewetnya bukan main. Hati-hati kamu kalau

783
sampai ocehanmu membuyarkan konsentrasi dari Ji kongcu.
Lihat saja nanti, akan kuhajar mulutmu atau tidak”
Kontan Leng-ji mencibirkan bibirnya. “Hemmmm….
Memangnya Leng-ji cuma asal ngomong? Semua perkataanku
kan kata-kata yang sejujurnya!”
Selama pembicaraan itu berlangsung, setiap patah kata
mereka diutarakan dengan suara yang nyaring. Tentu saja
Hoa In-liong serta Hu-yan Kiong yang berada ditengah
gelanggang dapat mendengar semua pembicaraan tersebut
dengan amat jelas.
Diam-diam Hoa In-liong mulai menyesal, dia berpikir,
“Yaa…. kalau begitu memang akulah yang salah perhitungan.
Jika sejak pertama kali tadi kugunakan pedang, tak nanti
pertarungan ini kulangsungkan dengan begitu ngotot dan
bersusah payah”
Lain halnya Hu-yan Kiong, dia jadi sangat gembira sesudah
mendengar perkataan itu, gerutunya di hati, “Aku memang
betul-betul tolol! Yaa, betul juga perkataan kacung sialan itu.
Apa yang musti ku kuatirkan? Baik tenaga pukulan maupun
tenaga totokan kan sama sekali tidak mempan terhadap
diriku. Kenapa tidak kugunakan kelebihanku ini untuk
memusatkan semua perhatian dan kekuatanku untuk
melancarkan serangan? Haa…. haa…. haa…. untunglah kedua
orang bocah cilik itu memperingatkan diriku. Kalau tidak,
mungkin dalam seratus gebrakan mendatangpun pertarungan
ini tak bisa dimenangkan olehku. Kalau sampai demikian
adanya, akan ditaruh dimanakah wajahku ini?”
Berpikir sampai disitu, seketika itu juga semangat
tempurnya berkobar kembali. Dia segera membuka
serangannya dengan serangkaian pukulan bertubi-tubi yang
amat tangguh.

784
Dalam waktu singkat, permainan serangannya juga ikut
berubah. Dari ilmu pukulan Thian-mo-ciang, Hu-kut-sin-kun
sampai Tay-jiu-eng dari kalangan Buddha, Sian ki-ci-lek, Tongpit-
mo-ciang dan Ngo kui-im-hong-jiau semuanya dikeluarkan
secara berantai.
Bayangkan saja bagaimana dahsyatnya serangan maut
yang rata-rata menggunakan jurus aneh yang belum pernah
dijumpai dikolong langit ini? Dalam waktu singkat dari atas
kepala sampai lambung, dada dan kaki Hoa In-liong berada
dibawah kurungan angin pukulannya.
Dengan adanya perubahan tersebut, keadaan Hoa In-liong
lah yang semakin parah, ia terdesak hebat.
Sejak mendengar seruan dari Leng-ji yang membuat
hatinya menyesal, konsentrasinya sudah tak dapat pulih
kembali seperti sedia kala. Apalagi setelah diserang secara
gencar oleh Hu-yan Kiong, seketika itu juga dia kehilangan
posisinya yang menguntungkan. Selangkah demi selangkah ia
mundur terus kebelakang. Dalam keadaan begini ia sudah
tidak memiliki kemampuan lagi untuk melancarkan serangan
balasan.
Dalam waktu singkat, sekujur badan Hoa In-liong mandi
keringat. Nafasnya yang tersengkal-sengkal secara lapat-lapat
dapat kedengaran jelas. Dia masih memiliki ilmu meringankan
tubuh yang bisa diandalkan sehingga setiap saat dia bisa
berkelebat kekiri atau berkelit ke kanan. Setiap terancam
bahaya, ancaman itu dapat dipunahkan dengan begitu saja.
Kini serangan lawan sudah mencapai jurusan yang ke
sembilan puluh sembilan. Satu jurus lagi berarti batas seratus
jurus sudah akan terpenuhi, asal Hoa In-liong dapat

785
mempertahankan diri terhadap serangan musuhnya yang
terakhir ini, maka berarti pula kemenangan berada dipihaknya.
Serta merta suasana berubah jadi amat tegang. Setiap
orang yang berada ditepi gelanggang melototkan sepasang
matanya bulat-bulat, terutama sekali siau Leng-ji.
Kacung buku ini tak kuasa mengendalikan emosinya. Tanpa
sadar ia bersorak gembira, “Tinuggal satu jurus! Tinggal satu
jurus! Ji kongcu, kau musti lebih berhati-hati lagi!”
Tiba-tiba Hoa In-liong berpekik nyaring. Tubuhnya secepat
kilat melambung ke udara, menyusul kemudian ia
berjumpalitan beberapa kali diangkasa. Setelah itu dengan
kaki di atas, kepala dibawah dia membuat gerakan setengah
busur dengan jurus Ciong-eng-tian-ci (burung elang
membentangkan sayap), langsung dengan membawa
desingan angin tajam menyambar batok kepala Hu-yan Kiong.
Kiranya sejak kehilangan posisi yang menguntungkan,
keadaan Hoa In-liong sudah keteter hebat sehingga terdesak
dibawah angin. Menghadapi ancaman yang datangnya
bertubi-tubi itu, saking lelahnya dia sudah mandi keringat.
Betapa murung dan kesalnya anak muda itu menghadapi
keadaan yang sangat tidak menguntungkan tersebut,
sementara tekanan musuh dirasakan makin lama semakin
kuat. Tiba-tiba ia mendengar teriakan gembira dari Leng-ji
yang mengatakan tinggal satu jurus lagi. Rasa gelisah yang
kemudian muncul seakan-akan merubah kekuatan dalam
tubuhnya menjadi satu kali lipat lebih dahsyat dari keadaan
semula.
Harus diterangkan disini, ketika itu Hoa In-liong sedang
mencapai pada usia yaug muda dan kuat-kuatnya tenaga
manusia. Ditambah lagi wataknya yang tinggi hati dan tak sudi

786
menyerah pada kekuatan lawan. Dalam keadaan semacam ini
ia tak sudi mencari kemenangan dengan membonceng
kesempatan baik yang tersedia baginya. Namun diapun tak
ingin dikalahkan lawannya sehingga mempengaruhi nama baik
keluarga Hoa, di samping ambisinya untuk menegakkan nama
besar untuk dirinya sendiri.
Karena itu begitu mendengar suara teriakan dari Leng-ji,
seketika itu juga sifat angkuh dan tinggi hatinya terangsang
kembali. Ia tidak memperdulikan lagi apakah racun Sin-hui
yang bersarang dalam tubuhnya telah kambuh atau tidak,
segenap tenaga murni yang dimilikinya langsung dikerahkan
keluar. Setelah melambung ke udara dan terlepas dari
lingkaran pengaruh angin serangan Hu-yan Kiong, dia
melayang kesamping untuk melepaskan diri dari cengkeraman
lawan.
Begitulah, setelah dia berhasil melayang di udara, tubuhnya
segera berjumpalitan beberapa kali dan menerjang kembali ke
bawah. Lengan kirinya langsung diayun kedepan melepaskan
segulung angin pukulan yang sangat kuat. Sementara jari
tengah tangan kanannya dengan jurus “menyerang sampai
mati” menyodok jalan darah Hoa kay hiat di tubuh Hu-yan
Kiong.
Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini berlangsung
dalam sekejap mata.
Dalam pada itu, Hu-yan-Kiong baru saja menyerang jalan
darah Cian-keng-hiat dibahu Hoa In-liong dengan jurus Sin
liong tam jiau (naga sakti unjukkan cakar).
Ketika itu jalan pemikirannya amat sederdana.
Dianggapnya meskipun Hoa In-liong berhasil menghindarkan
diri dari serangannya, tapi dalam mundurnya yang dilakukan
secara gugup. Asal dia mengejar lagi dengan gerakan jurus

787
yang tak berubah, pastilah pihak musuh akan dibuat
kelabakan setengah mati.
Asal musuh telah dibikin kelabakan, maka dia tak akan
memperdulikan apakah serangannya sudah melewati jurus
yang keseratus atau tidak. Dengan suatu ancaman maut akan
disusulnya pemuda itu dan bila perlu menghajarnya lebih dulu
sampai terluka parah.
Siapa tahu apa yang kemudian terjadi sama sekali berada
diluar dugaannya. Menanti ia temukan bahwa bayangan tubuh
dari Hoa In-liong secara tiba-tiba sudah lenyap tak berbekas.
Angin pukulan yang maha dahsyat serta totokan jari tangan
yang tajam tiba-tiba sudah menyelinap di atas badannya.
Kejadian ini sangat mengejutkan dari Hu-yan Kiong, juga
mengejutkan diri Cwan Wi.
Rupanya Cwan Wi kuatir Hu-yan Kiong betul-betul kebal
terhadap serangan pukulan dan serangan jari lawan yang
mengakibatkan Hoa In-liong mengalami nasib seperti apa
yang dialami Leng-ji yakni terhantam balik oleh tenaga sinkang
pelindung tubuhnya, maka ditengah jeritan kagetnya
cepat ia memburu kedalam gelanggang untuk menghadapi
segala kemungkinan yang tak diinginkan.
Padahal Hu-yan Kiong sendiripun dibuat gugup dan
kelabakan setengah mati oleh datangnya ancaman yang
muncul secara diluar dugaan. Dalam keadaan begini, dia
kehilangan daya kemampuannya untuk menguasai diri,
sehingga jeritan kagetnya hampir berkumandang bersamaan
waktunya dengan jeritan Cwan Wi.
Disaat Cwan Wi melayang keudara dan menerjang masuk
kedalam gelanggang, serangan dahsyat dari Hoa In-liong
sudah bersarang telak diatas bahu Hu-yan Kiong, sedang

788
totokan jari tangan kanannya menyodok telak dada iblis tua
itu.
Hu-yan Kiong segera mendengus tertahan. Sepasang
tangannya memegang dada dengan muka berkerut keras.
Dengan sempoyongan dia mundur ke belakang sambil
menahan rasa sakit.
“Kau…. Kau….” teriaknya dengan suara terperanjat.
Akhir dari pertarungan ini betul-betul berada diluar dugaan
siapapun jua, sampai Cwan Wi sendiripun kebingungang tak
berketentuan. Untuk sesaat dia cuma berdiri melongo-longo.
Pucat pias paras muka Hoi In-liong, tapi ia berdiri tegak
bagaikan malaikat, dengan suara yang amat serius katanya,
“Aku telah menangkan pertarungan ini, sekarang engkaupun
harus mewujudkan janjimu. Setelah melepaskan nona Wan,
harap segera angkat kaki dari sini!”
Hu-yan Kiong muntah-muntah darah segar. Bibirnya
bergetar seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi setelah
merenung sejenak maksud itu dibatalkan.
Ia memutar badannya menghadap anak buah Ia irinya
ditepi gelanggang, dan ujarnya, “Tarik kembali semua alat
persembahan, tinggalkan korban disitu dan kita segera pergi
dari sini”
Kemudian sambil menghadap kembali kearah Hoa In-liong,
ia berkata lebih jauh, “Hoa loji, aku lihat engkau adalah
seorang enghiong yang gagah perkasa. Aku tak tega
membiarkan engkau mati tersiksa. Maka secara terus terang
kuakan beri tahu kepadamu racun sakti San-hui-si-sim (ular
sakti menggigit hati) dari perkumpulan kami tak dapat
dipunahkan oleh siapapun jua. Maka kuanjurkan kepadamu

789
bila engkau mulai merasa tak tahan, cepat-cepatlah datang ke
perkumpulan kami untuk minta obat penawarnya!”
Hoa-In-liong tersenyum. “Mati hidup manusia ditentukan
oleh Yang Kuasa. Lebih baik engkau tak usah menguatirkan
keselamatanku, Nah! Silahkan pergi dari tempat ini!”
Sementara itu, anak murid kau telah melaksanakan
perintah pemimpinnya untuk menarik kembali semua makhluk
beracun yang berada diatas tubuh Wan Hong-giok.
Hu-yan Kiong segera tertawa dingin, diapun tidak banyak
berbicara lagi. Dibawah bimbingan seorang laki-laki berjubah
kuning, mereka berlalu dari bukit Yan-san.
Angin gunung berhembus sepoi-sepoi, suasana diatas
puncak Yan-san kembali diliputi keheningan.
Suasana di sekitar bukit itu tidak menjadi cerah karena
kepergian orang-orang dari Mo-kauw itu. Wan Hong-giok
masih berbaring diatas tandunya dengan badan setengah
telanjang. Sementara paras muka Hoa In-liong makin lama
berubah semakin pucat kelabu, hampir-hampir tak tampak
warna merah darah.
Cwan Wi dan Leng-ji juga masih berdiri tertegun ditempat
semula. Tampaknya kedua orang itu masih tidak percaya
dengan kenyataan yang berlangsung didepan mata mereka.
Akhirnya…. Akhirnya Hoa In-liong berdiri dengan tubuh
gemetar keras, tiba-tiba ia berteriak. “Adik Wi….”
Mendengar panggilan itu Cwan Wi berpaling dengan hati
terperanjat. Cepat-cepat dia memburu maju ke depan,
serunya dengan nada yang cemas bercampur kaget, “Jiko….
Jiko! Kau…. kenapa kau?”

790
Gemetar yang mengguncangkan tubuh Hoa In-liong makin
lama semakin keras. Nada suaranya juga ikut berubah, ia
hanya bisa berbicara dengan suara tersendat-sendat, “Aku….
Aku…. Meskipun menang sebenarnya akulah yang kalah….”
Sebelum kata-kata itu sempat diakhiri, sekujur badannya
telah goncang semakin keras, akhirnya ia tak kuasa menahan
diri lagi….
Cepat Cwan Wi memburu maju ke depan dan memayang
tubuhnya. “Keee…. kenapa kau? Kenapa kau…. ? Jiko! Jiko….
Kenapa kau….?” Teriaknya dengan cemas. “Apakah kau
terluka oleh pukulan bandot tua itu?”
Hoa In-liong menggeleng. “Tidak, aku tidak dilukainya,
hanya…. hanya…. Racun…. racun ular sakti itu….”
“Apa….?” Jerit Cwan Wi dengan jantung yang berdebar
keras, “Kau maksudkan racun ular sakti itu mulai kambuh?”
Hoa In-liong menganguk. Dia seperti hendak mengucapkan
sesuatu karena bibirnya bergerak-gerak. Namun anak muda
itu sudah tidak bertenaga lagi untuk mengutarakan isi hatinya.
Waktu itu Hoa In-liong sedang merasakan suatu
penderitaan yang luar biasa hebatnya. Keringat sebesar
kacang kedelai membasahi seluruh jidatnya. Sinar matanya
yang jeli kini sudah pudar. Gemetar yang mengguncangkan
tubuhnya semakin bertambah keras. Keadaan semacam itu
mirip sekali dengan seseorang yang mendekati sekaratnya.
Cwan Wi menyadari gawatnya keadaan anak muda itu, tapi
ia tak dapat berbuat apa-apa. Dia seperti orang yang
kebingungan, kehilangan akal sehat. Anak muda itu hanya

791
bisa berdiri dengan kelabakan bagaikan anak ayam kehilangan
induknya.
Leng-ji yang berada disampingnya cepat berseru. “Siau
sauya, cepat baringkan Ji kongcu ke tanah! Jika Ji kongcu
dibiarkan berdiri terus, kesehatannya pasti akan semakin
terganggu. Coba lihat! Racun ular jahat itu mulai kambuh.
Pastilah hal ini terjadi karena ji-kongcu menggunakan tenaga
yang berlebihan sewaktu bertempur tadi”
Cepat cepat Cwan Wi membaringkan Hoa In-liong ke tanah.
Ia membiarkan tubuh anak muda itu bertindih diatas pahanya.
Kemudian telapak tangan kanannya ditempelkan diatas pusar
dan hawa murnipun disalurkan masuk kedalam tubuhnya.
“Jiko!” Ia berkata dengan lembut, “Berbaring saja
ditumpuan badanku. Biar kucoba untuk menyalurkan hawa
murni. Siapa tahu kalau hawa murniku itu berhasil mendesak
keluar racun ular jahat yang mengeram dalam tubuhmu”
Lembut dan halus sekali ucapan tersebut, seakan-akan
kata-katanya itu memang betul betul muncul dari sanubarinya.
Setetes air mata terasa jatuh berlinang membasahi pipinya
dan membasahi wajah Hoa In-liong.
Merasakan itu Hoa In-liong tertawa getir. “Aaaai…. Adik Wi,
aku merasa amat cocok sekali dengan dirimu. Aku pun merasa
gembira sekali dapat berkumpul dengan dirimu. Sebagai
seorang pria kau jangan berhati lemah. Kau musti tabah dan
berjiwa keras, jangan gampang mengucurkan air mata. Lapi
pala, andaikata aku sampai tertimpa sesuatu musibah, engkau
juga yang harus membalaskan dendam bagi diriku, kenapa….?
kenapa….?”

792
Mendadak alis matanya berkerut, nafasnya juga ikut
memburu, sehingga kata kata yang belum selesai itu tak
sempat dilanjutkan sampai habis….
Ketika Hoa In-liong mengatakan bahwa dia menyukai
dirinya, serta merta paras muka Cwan Wi berubah jadi semu
merah.
Siapa tahu kata-kata itu tak berakhir, karena ia segera
menyaksikan Hoa In-liong mengerutkan dahinya dengan nafas
memburu. Wajahnya kelihatan sekali betapa menderitanya
dia.
Betapa terkejutnya Cwan Wi menyaksikan kejadian itu, dia
segera berteriak keras, “Jiko….! Jiko!”
Dengan lemah Hoa In-liong mengulapkan tangannya. “Adik
Wi, Aku…. Aku tak tahan lagi. Tolong…. Tolong tariklah
kembali tenagamu….”
Cwan Wi menurut, ia tarik kembali telapak tangan
kanannya, kemudian dengan penuh rasa kuatir tanyanya
kembali, “Jiko, bagaimana rasanya badanmu sekarang?”
Dengan nafas tersengkal-seng Hoa In-liong menengadah.
“Saat ini isi perutku terasa sakitnya bukan kepalang. Tentulah
apa yang dinamakan ular sakti menggigit hati sedang
mewujudkan kenyataannya!”
“Engkau terlalu keras kepala, tak mau mendengarkan
perkataanku” omel Cwan Wi sambil berkerut kening, “Coba
kalau kau turuti perkataanku memaksa bandot tua itu
menyerahkan obat penawarnya, tentu kau tidak akan
merasakan penderitaan seperti ini”

793
Ketika berbicara sampai disitu, matanya kembali jadi merah
dan air matapun jatuh bercucuran.
Sekali lagi Hoa In-liong ulapkan tangannya. “Jangan
menangis! Jangan menangis! Adik Wi, aku tidak percaya kalau
apa yang dikatakan sebagai siksaan “ular sakti menggigit hati”
itu mampu merenggut nyawaku. Aku hanya percaya bahwa
yang lurus pasti dapat menangkan yang sesat. Aku akan
berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki untuk
memusnahkan pergaruh racun itu dari dalam tubuhku!”
“Jiko! Apakah tidak kau dengar perkataan dari tua bangka
itu?” keluh Cwan-Wi dengan sedih. “Dia bilang racun ular sakti
menggigit hati tak dapat dipunahkan oleh siapapun. Racun itu
adalah racun ganas hasil ciptaannya. Jika ia sudah berkata
demikian, sudah pasti ucapannya bukan gertak sambal
belaka!”
“Setiap benda yang berasal dari alam semesta, sadah pasti
ada lawan tandingannya” kata Hoa In-liong dengan suara
hambar. “Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku pernah
mendapat warisan ilmu sakti dari seorang tokoh silat. Ilmu
semedi tersebut berbeda jauh dengan ilmu semedi yang sering
sekali kita lihat. Siapa tahu kalau kepandaian tersebut akan
bermanfaat sekali bagiku”.
Leng-ji memang belum mengenal arti kesal atau murung,
tapi ia lebih gelisah dari siapapun jua. Ketika mendengar
perkataan itu, segera teriaknya dengan cepat, “Kalau memang
begitu, ayoh cepatlah dicoba….”
Dengan perasaan apa daya Hoa In-liong menggelengkan
kepalanya. Pelan-pelan dia alihkan sinar matanya keatas tubuh
Wan Hong-giok yang setengah telanjang itu. “Adik Wi!”
katanya lagi, “Apakah nona Wan masih belum juga sadar dari
pingsannya?”

794
Cwan Wi ikut berpaling kearah Wan Hong-giok, kemudian
sambil berkerut kening omelnya, “Kamu ini memang
keterlaluan. Masa dalam keadaan seperti inipun engkau masih
mempunyai kegembiraan untuk mengurusi orang lain!”
Hoa In-liong tertawa getir. “Adik Wi” katanya kemudian,
“Apakah engkau sudah lupa akan maksud tujuanku datang
kemari? Keadaan nona Wan sangat mengenaskan dan patut
dikasihani, lihatlah tubuhnya….”
Belum sampai pemuda itu menyelesaikan kata-katanya,
Cwan Wi telah menyela dari samping, “Yaa, aku tahu, dia
mempunyai rahasia besar yang hendak disampaikan
kepadamu!”
Sampai disitu, dia lantas berpaling kepada Leng-ji, sambil
katanya, “Engkau saja yang pergi kesitu, coba tengok
bagaimana keadaan nona Wan!”
Tampaknya Leng-ji juga tak puas dengan sikap Hoa Inliong
yang suka mencampuri urusan orang lain. Tapi lantaran
Cwan Wi yang memerintahkan tentu saja ia tak berani
membantah. Maka setelah ragu-ragu sejenak akhirnya
selangkah demi selangkah ia maju kedepan.
Melihat Leng-ji maju dengan langkah yang sangat lambat,
dalam hati Hoa In-liong menghela napas panjang, pikirnya,
“Yaa…. Bagaimanapun juga, adik Wi memang masih terlalu
muda. Perasaan hatinya hanya tahu tertuju pada seseorang
belaka. Aaaaii….! Dia begitu memperhatikan diriku. Aku yang
menjadi Jiko-nya benar-benar tak kuasa menanggung beban
untuk membuka pikirannya serta memberi pelajaran
bagaimana caranya melimpahkan kasih sayang kepada
segenap umat manusia”

795
Jika Hoa In-liong berpikir demikian, maka berbeda dengan
kemurungan yang mencekam perasaan Cwan Wi ketika itu.
Tatkala dilihatnya seluruh perhatian dan seluruh rasa kuatir
Hoa In-liong hanya tertuju pada diri Wan Hong-giok seorang,
tanpa terasa lagi dengan kening berkerut dia mengomel, “Jiko,
bagaimana sih kamu ini? Leng-ji toh sudah menghampirinya.
Bagaimana keadaan Wan Hong-giok pun sebentar lagi bakal
ketahuan, buat apa kau demikian menguatirkan keselamatan
jiwanya? Oya, bukankah tadi kau berkata bahwa kau memiliki
sejenis ilmu semedi yang bisa digunakan untuk memunahkan
racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhmu? Kenapa kau
tidak….?”
“Tak usah terlalu buru-buru….” Tukas anak muda itu.
Cwan Wi jadi kurang senang hati, dia pun kembali menyela,
“Kau tidak cemas maka akulah yang sangat cemas! Kenapa
tidak bercermin dulu untuk memeriksa tampang wajahmu?
Tahukah engkau betapa mengerikannya raut wajahmu pada
saat ini?”
Perkataan itu bukan suatu olok-olokan tapi memang
begitulah kenyataan. Raut wajah Hoa ln-liong ketika itu
memang benar-benar menakutkan sekali. Diantara warna
kelabu yang menghiasi wajahnya tampak warna hitam
melapisi mukanya di sana-sini. Otot-ototnya pada menonjol
keluar. Ditambah pula kulitnya pada berkerut menahan
penderitaan. Dari sini dapat diketahui bahwa siksaan yang
dirasakan dalam perutnya bukannya berkurang sebaliknya
justru makin bertambah.
Sampai di manakah penderitaan yang dialami dalam
tubuhnya, tentu saja Hoa In-liong jauh lebih jelas dari
siapapun. Maka dari itu ia sama sekali tidak gusar oleh makian

796
Cwan wi, bahkan rasa terima kasihnya malahan semakin
berlipat ganda
Iapun tertawa getir, lalu katanya dengan lembut, “Adik Wi,
bukan berarti aku tak tahu sayang pada kesehatanku sendiri.
Tapi justru lantaran ilmu semedi tersebut berbeda sekali
dengan ilmu semedi pada umumnya. Lagipula akupun baru
belajar belum lama, maka sampai sekarang aku belum berani
melakukannya secara sembarangan….”
Pertama karena rasa ingin tahu dan kedua karena gelisah.
Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya Cwan Wi
telah menukas kembali, “Kalau memang begitu, lantas apa
yang musti dilakukan?”
“Pikiran dan perasaan hatiku musti tenang lebih dulu,
tenaga dalam arti leluasa tanpa ikatan. Padahal keadaan nona
Wan hingga sekarang masih belum kuketahui. Hal ini masih
merupakan beban dalam pikiranku. Bayangkan sendiri, jika
pikiran dan perasaan belum mencapai ketenangan total,
betapa berbahayanya bila semedi itu kulakukan secara
dipaksakan. Bahaya yang mengancam jiwaku pasti akan
berlipat ganda lebih besar lagi”
Sesudah mendengar penjelasan tersebut, Cwan Wi jadi
tertegun. Ia merasa heran juga curiga, namun tidak berkata
apa-apa.
Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar Leng-ji menjerit kaget,
menyusul kemudian ia berteriak-teriak keras, “Kurangajar,
mampus sialan! Nona…. Oooh bukan….bukan….bukan…. Ji
kongcu, cepatlah kemari!”
Hoa In-liong merasa amat terkejut, ia segera meronta dan
bangun terduduk. Oleh karena mendengar jeritan kaget yang

797
muncul secara tiba-tiba itu, perasaan hatinya bergolak keras.
Karena pergolakan itu isi perutnya jadi teramat sakit….
Tak tahan lagi ia mendengus tertahan, kemudian tak bisa
dicegah lagi anak muda itu roboh terjengkang ke atas tanah.
Cepat Cwan Wi menguruti dadanya dengan tangan kanan.
Kembali omelnya dengan wajah murung, “Coba lihat
tampangmu itu! Sekalipun nona Wan mengalami kejadian
diluar dugaan, gelisahpun apa gunanya?”
Sambil merasa sakit yang luar biasa, Hoa In-liong berbisik
dengan napas tersengal, “Adik Wi…. To…. Tolong pergilah
kesitu…. Coba tengoklah keadaannya”
Dengan dahi berkerut Cwan Wi menghela nafas panjang, ia
segera berteriak, “Leng-ji, sebenarnya apa yang telah terjadi?
Kenapa kau berlagak sok bingung macam monyet kena
terasi?”
Paras muka Leng-ji diliputi kegusaran dan rasa
mendongkol, ia menjawab dengan suara lantang, “Bajinganbajingan
Mo-kauw adalah manusia yang berhati busuk. Coba
lihatlah, meskipun mereka mengatakan akan lepaskan nona
ini, nyatanya sebelum pergi mereka telah menancapkan
sebatang jarum beracun di atas dada nona Wan. Kemudian
bermain gila pula disekitar pusar dan perut bawah nona ini”.
Jilid 21
CWAN WI bukan seorang manusia yang berhati sekeras
baja. Ketika mendengar keterangan itu, paras mukanya ikut
berubah hebat. “Lantas bagaimana keadaannya? Apakah dia
masih hidup?” tanyanya dengan cemas.

798
“Aku kuatir…. aku kuatir kalau jiwanya tidak ketolongan
lagi!” sahut Leng-ji terbata-bata.
Cwan Wi terkesiap. “Cepat bawa dia kemari! Cepat….!”
Baru saja ia berseru sampai disitu, tiba-tiba ia merasa berat
badan yang menindih diatas kakinya terasa sangat berat
sekali.
Ketika diperiksa lagi, ternyata Hoa In-liong berbaring diatas
pahanya dengan mata terpejam rapat. Rupanya anak muda itu
kembali jatuh tak sadarkan diri.
Kejadian seperti inilah yang paling dikuatirkan dan ditakuti
Cwan Wi. Mula-mula dia tertegun, menyusul kemudian sambil
mendekati tubuh In-liong teriaknya dengan suara gemetar.
“Jiko….!”
Menyusul suara teriakan itu, air matanya tidak terbendung
lagi. Akhirnya Cwan Wi menangis tersedu-sedu….
Masih mendingan kalau tidak menangis, begitu tangisannya
meledak maka segala rahasianya pun ikut terbongkar.
Ternyata ia bukan bernama Cwan Wi, nama yang
sebenarnya adalah Coa Wi-wi.
Dia adalah seorang gadis remaja, Coa Wi-wi! Adik kandung
dari Coa Cong-gi.
Sebagai perempuan, sifat gampang menangis memang
merupakan sifat yang lumrah. Ia menangis karena yang
dikasihi tak mau mendengarkan nasehatnya, tak mau menjaga
kesehatan sendiri sehingga akibat jatuh tak sadarkan diri.

799
Untuk sesaat rasa sedih, kesal dan murung yang
berkecamuk dalam benaknya sepuluh kali lihat lebih dahsyat
dari keadaan dihari-hari biasa. Rasa sedih yang tak
terbendung itu akhirnya meledak sebagai suatu isak tangis
yang memilukan hati.
Leng-ji cepat-cepat memburu datang sambil membopong
tubuh Wan Hong-giok. “Siocia….! Nona…. bagaimana keadaan
Ji ko….?”
oooOOOooo
LENG-JI aslinya bukan bernama Leng-ji, tapi bernama Ki-ji.
Dia adalah dayang kepercayaan dari Wi-wi.
Ketika tiba didepan majikannya dan menyaksikan keadaan
anak muda itu, dengan perasaan terkejut cepat ia baringkan
Wan Hong-giok keatas tanah, kemudian teriaknya, “Aduuh
mak….tidak benar keadaannya…. keadaan ini tidak benar….”
Sambil berlutut dia menggoncang-goncangkan bahu Coa
Wi-wi sambil serunya kembali, “Nona, keadaan macam begini
tak boleh berlarut-larut. Kau jangan urusi tangisanmu belaka.
Coba periksalah dulu keadaan Jikongcu kemudian baru
dirundingkan kembali. Memangnya setelah kau peluk
tubuhnya sambil menangis, maka penyakitnya bakal sembuh
dengan sendirinya? Jangan menangis terus!”
Coa Wi-wi tidak sampai keblinger, meskipun ia sedang
menangis dengan sedihnya, kesadaran otaknya masih utuh.
Maka setelah mendengar perkataan itu, diapun menengadah.
Pada saat itulah terdengar desingan angin tajam
berkumandang dari arah belakang, menyusul kemudian
sesosok bayangan manusia melayang turun dibelakang
punggungnya.

800
Coa Wi-wi kaget, cepat ia menyambar tubuh Hoa In-liong
dan meloncat maju kedepan untuk menghindari segala
kemungkinan yang tidak diinginkan….
“Adik Wi, tak usak kaget! Aku yang datang” kata orang itu
cemas, “Bagaimana keadaan Jite?”
Begitu mendengar suara panggilan tersebut, Coa Wi-wi
segera mengetahui siapakah yang datang, cepat dia menjejak
permukaan tanah dan menyusul kembali ketempat semula,
sahutnya, “Toako! Jiko….”
Tiba-tiba ia merasa amat bersedih hati sehingga dadanya
terasa jadi sesak, isak tangisnya semakin menjadi.
Orang yang baru muncul mengenakan jubah biru dengan
sebuah pedang tergantung dipinggangnya. Dia bukan lain
adalah Toako dari Hoa In-liong, Hoa Si adanya.
Hoa Si adalah seorang pemuda berwajah gagah dan
bersikap serius. Ketika itu dia berdiri dihadapan Coa Wi-wi
sambil mengawasi keadaan adiknya.
Ketika menyaksikan keadaan adiknya yang tidak sadarkan
diri, hatinya betul-betul merasa amat terperanjat. Meski
demikian sikapnya sama sekali tidak nampak gugup atau
gelisah, lagaknya tetap tenang dan gagah perkasa. Keadaan
semacam ini persis seperti kegagahan Hoa Thian-hong dimasa
lalu.
Dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi wajah Hoa
In-liong dengan seksama, kemudian baru menengadah
mengawasi Coa Wi-wi yang masih menangis tersedu.
“Adik Wi, janganlah menangis!” katanya kemudian dengan
lembut. “Sekalipun Jite kena dipecundangi orang, tapi

801
menurut pengamatanku, keadaan tersebut tak mungkin akan
memburuk dalam waktu singkat. Mari serahkan dia kepadaku,
kita cari dulu suatu tempat yang bisa digunakan untuk
beristirahat, kemudian baru dirundingkan lebih jauh”
Sembari berkata, sepasang tangannya bergerak cepat
untuk membopong adiknya.
Sebelum Coa Wi-wi sempat mengucapkan sesuatu, Hoa Inliong
telah dibopongnya dan bergerak menuruni bukit
tersebut.
Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun oleh kejadian tersebut.
Tapi sejenak kemudian, sambil menahan isak tangisnya dan
membesut air mata yang membasahi pipinya dia mengikuti
dibelakang pemuda itu tanpa berbicara.
Ki-ji yang menjumpai hal itu, cepat-cepat membopong Wan
Hong-giok dan menyusul pula di paling belakang.
Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya sampailah mereka
di bekas markas Tong Thian-kau di punggung bukit. Hoa Si
memeriksa sebentar keadaan bangunan itu, kemudian
menghampiri sudut ruangan bekas ruang tengah dan duduk
bersila disitu.
Gerak gerik Hoa Si selalu serius, mantap dan gagah. Raut
wajahnya juga serius dan keren. Ini membuat orang lain jadi
keder dan tak berani membangkang setiap perkataannya.
Karena kewibawaan yang terpancar keluar dari sikap anak
muda itu mengederkan hati siapapun jua.
Sebenarnya Coa Wi-wi mempunyai banyak keluhan serta
kesedihan yang hendak disampaikan kepada pemuda itu. Akan
tetapi lantaran Hoa Si hanya membungkam terus, terpaksa

802
diapun harus mengendalikan perasaannya dan ikut duduk
membungkam disitu.
Pada ujung ruangan tersebut penuh berserakan bekas atap
dan batu bata yang kotor dan tak sedap dilihat. Hoa Si segera
mengebaskan tangannya untuk menyapu sebagian puingpuing
itu hingga tersingkir kesamping. Setelah itu dia
menggape ke arah Ki-ji sambil perintahnya kembali, “Ki-ji,
kemarilah! Tolong baringkan nona Wan di atas lantai….!”
Setelah itu, dia baru barpaling kearah Coa Wi-wi sambil
berkata kembali, “Adik Wi, tolonglah tengok sejenak keadaan
nona Wan, apakah dia masih tertolong atau tidak?”
Mendengar perkataan itu, cepat cepat Ki-ji membaringkan
tubuh Wan Hong-giok ke lantai, kemudian mengundurkan diri
ke samping.
Melihat Coa Wi-wi tidak segera beranjak, dengan alis
berkerut ia berkata penuh rasa kuatir, “Bagaimana keadaan
Jite sedikit rada kacau. Sekarang aku sedang melakukan
pemeriksaan untuk mengetahui bagaimana keadaan yang
sebenarnya. Nona Wan adalah seorang gadis, aku merasa
kurang leluasa untuk memeriksa sendiri keadaannya maka aku
minta tolong kepada adik Wi untuk mewakili diriku!”
Setelah Hoa-Si berkata demikian, tentu saja Coa Wi-wi tak
dapat membantah lagi. Dengan perasaan apa boleh buat dia
mengangguk, kemudian bangkit dan menghampiri Wan Honggiok
untuk memeriksa keadaan luka dibadannya.
Selang sesaat kemudian, dengan wajah sedih dia
menengadah, katanya dengan lirih, “Toako, sekujur badan
Nona Wan sudah berubah jadi merah gosong. Jalan darah
Tiong-kek-hiatnya terluka oleh totokan jari yang menggunakan
tenaga dingin, sedang jalan darah Ki-ciat-hiatnya tertusuk

803
sebatang jarum beracun. Aku lihat harapannya untuk hidup
tipis sekali, mungkin jiwanya sudah tidak tertolong lagi”
Hoa Si mengerdipkan matanya beberapa kali lalu
merenung. “Aku lihat nona Wan tak sampai menemui ajalnya,
dia pasti bisa disembuhkan kembali…. Cuma adik Wi! Apakah
engkau bersedia untuk mengorbankan sedikit tenaga dalammu
untuk mengobati luka dalam yang dideritanya itu?”
“Tapi….denyutan nadinya sudah amat lirih, detak
jantungpun sudah sering kali berhenti. Lagipula sekujur
badannya sudah merah membengkak, jelas darahnya sudah
ternoda racun jahat yang menyusup keseluruh nadi
pentingnya. Berada dalam seperti ini, apa gunanya kita obati
luka dalamnya dengan tenaga dalam?”
Dari nada perkataan tersebut dan dari sikap Coa Wi-wi
sewaktu mengucapkan kata-katanya, dapat diketahui bahwa ia
sedikit merasa keberatan untuk melaksanakan tugas tersebut.
“Soal keracunan bukanlah merupakan soal yang serius”,
ujar Hoa Si dengan gelisah, “Dalam sakuku tersedia obatobatan
mustika untuk memunah kau pengaruh racun itu.
Justru yang kukuatirkan adalah jalan daerah Tiong kek-hiatnya
yang terluka parah itu. Sekalipun selembar jiwanya dapat
diselamatkan, tapi serangkaian ilmu silat yang dimilikinya
mungkin akan musnah dengan begitu saja”
Coa Wi-wi merenung sejenak, lalu katanya, “Tapi yang
paling penting jiwanya tertolong lebih dulu. Sekalipun ilmu
silatnya harus punah juga tak menjadi soal, lain kali kan masih
ada kesempatan untuk mempelajarinya kembali”
Dengan cepat Hoa Si menggeleng. “Jika jalan darah Tiongkek-
hiatnya sudah terluka, itu berarti urat-urat sam-im-meh
nya sudah kehilangan daya kemampuan untuk menggunakan

804
tenaga lagi. Hawa murni yang terhimpun dalam Tam-thian tak
mampu bergerak ke bawah lagi. Sekalipun mengulang kembali
pelajaran silatnya juga percuma”
Tiba-tiba ia menghela napas panjang, tambahnya,
“Keadaan yang kita hadapi sekarang tidak memberi
kesempatan kepada kita untuk berpikir lebih jauh. Yang
penting kini adalah menyelamatkan jiwa manusia. Adik Wi!
Cepatlah bertindak!”
Tangan kanannya segera diayun ke depan, sebutir obat
pun meluncur ke arahnya.
Dengan cekatan Coa Wi-wi menyambut obat itu serunya
dengan gelisah, “Tidak bisa begitu saja! Toako. Jika kau suruh
aku memunahkan racun yang mengeram ditubuhnya, kau
harus memberitahukan juga bagaimana caranya. Aku sama
sekali tidak paham bagaimana caranya memunahkan racun”
Hoa-Si mengangguk dan bibirnya pun mulai berkemakkemik
menurunkan pelajaran Khi-bun-im-yang (memisahkan
hawa panas dan dingin) tersebut kepada Coa Wi-wi dengan
ilmu menyampaikan suara.
Coa Wi-wi tidak berani berayal lagi cepat dia jejalkan pil
tersebut ke dalam mulut Wan Hong-giok, kemudian duduk
bersila disampingnya. Sepasang tangan direntangkan, tangan
kanan menempel jalan darah Tiong-kek-hiat, tangan kiri
menempel diatas dada. Dengan tekunnya dia salurkan hawa
murni untuk mengobati luka dalam tubuh Wan Hong-giok.
Bila diikuti satu demi satu maka semua kejadian itu serasa
sudah berlangsung sangat lama, padahal dalam kenyataannya
waktu baru berlalu beberapa menit. Sampai waktu itulah Hoa
Si baru mendapat kesempatan untuk menundukkan kepalanya

805
mengawasi wajah adiknya serta memeriksa keadaan luka yang
diderita.
Dari semua sikap maupun gerak-gerik yang dilakukan Hoa
Si selama ini, dapat kita rasakan betapa agungnya sistim
pertolongan mereka yang mengutamakan orang lain lebih dulu
sebelum menolong diri sendiri. Dan semangat semacan ini
merupakan didikan langsung dari Bun Tay-kun serta Hoa
Thian-hong suami istri kepada putra putrinya.
Dalam pandangan keluarga Hoa, mungkin tindakan mereka
ini merupakan suatu kejadian yang wajar. Tapi bagi
pandangan orang lain justru mendatangkan perasaan lain.
Sikap semacam itu justru mendatangkan perasaan terharu dan
kagum.
Pada waktu itu diluar puing-puing gedung yang berserakan,
kebetulan ada sesosok bayangan manusia sedang mengintip
gerak-gerik dari beberapa orang anak muda itu.
Tapi oleh karena mereka bersembunyi dengan sangat
parahnya, dan lagi seluruh perhatian Hoa Si maupun Coa Wiwi
hanya tercurahkan untuk mengobati luka orang, mereka
tidak menyadari sampai kesitu.
Mereka yang mengintip gerak-gerik berapa orang muda
mudi itu adalah seorang gadis muda yang membawa tongkat
baja serta seorang laki-laki bermata tajam yang mengenakan
kain kerudung hitam diatas wajahnya.
Laki-laki itu mempunyai perawakan badan yang tinggi
besar dan tegap. Tapi karena wajahnya tertutup oleh kain
kerudung hitam, maka tidak diketahui berapa besar usia yang
sebenarnya.

806
Tapi sang gadis mengenakan baju berwarna putih,
mukanya dingin dan hambar. Diujung toya besi yang
dipegangnya terukir sembilan buah kepala setan perempuan.
Itulah lambang dari Kiu-im kau dan gadis itu tak lain adalah
Bwee Su-yok, kaucu baru dari perkumpulan Kiu-im kau.
Bwee Su-yok bersembunyi dibalik puing-puing gedung yang
berserakan. Itu berarti kedatangannya adalah menguntit
dibelakang Hoa Si secara diam-diam.
Tapi yang aneh, sinar matanya ketika itu kelihatan agak
ragu-ragu, seakan-akan ada sesuatu masalah yang besar dan
berat belum dapat diputuskan olehnya.
Pada hakekatnya yang diartikan sebagai masalah besar
pada saat itu, adalah rasa haru dan kagumnya terhadap sikap
Hoa Si yang lebih mengutamakan keselamatan orang lain
daripada keselamatan sendiri. Hati kecilnya betul-betul
tersentuh oleh kejadian itu, maka untuk sesaat ia kehilangan
pegangan.
Haruslah diketahui, kebaikan dan kejahatan merupakan
watak alam yang dimiliki setiap manusia.
Meskipun semenjak kecil Bwee Su-yok dibesarkan dalam
lingkungan pendidikan yang angkuh, dingin dan tidak
berperasaan. Meskipun ia mempunyai watak yang aneh,
dingin dan kaku, namun sifat alamnya sebagai manusia bukan
berarti sama sekali lenyap tak berbekas atau dengan
perkataan lain sifat baiknya tetap bertahan pula dalam hatinya
disamping sifat jahat dan buruknya.
Dalam suasana seperti itulah, tiba-tiba ia dengar laki-laki
berkerudung yang berada dibelakangnya sedang berbisik,
“Lapor kaucu, waktunya telah tiba!”

807
Bwee Su-yok tidak menjawab juga tidak bereaksi, seakanakan
ia tidak mendengar perkataan itu. Sinar matanya
kosong…. Hampa…. seolah-olah sedang melacaki sesuatu
yang tiada….
Melihat kaucunya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, lakilaki
berkerubung itu mengulangi kembali kata-katanya. Tapi
bagaimana sikap Bwee Su-yok? Ia tampak seperti tak sabaran,
dengan pandangan yang menggidikkan hati di tatapnya lakilaki
itu dengan sinar mata dingin, kemudian ia bangkit dan
tinggalkan tempat tersebut.
Tindakan tersebut sama sekali diluar dugaan laki-laki
berkerudung itu, cepat ia menyusul dibelakangnya sambil
berbisik kembali, “Kesempatan baik segera akan berlalu.
Harap kaucu berpikir tiga kali sebelum bertindak!”
Bwee Su-yok menghentikan langkahnya, ia berpaling dan
menghardik ketus, “Cerewet! Kau suruh kaucu-mu memikirkan
soal apa sampai tiga kali? Hmmm…. Kedudukanmu hanya
sebagai tamu pembantu, berani betul kau ucapkan kata kata
yang membatasi kebebasan gerakan kaucu….?”
Mula-mula laki-laki berkerudung itu agak tertegun,
kemudian cepat cepat ia memberi hormat dan tidak berani
banyak bicara lagi.
Bwee Su-yok semakin tidak sabar lagi, ia menekan toya
bajanya ketanah dan segera melayang pergi dari situ.
Terlihatlah ujung bajunya yang berwarna putih berkibar
terhembus angin, dengan gerakan cepat ia bergerak menuruni
bukit itu.
Tindakan dari Kiu-im kaucu ini semakin membuat laki-laki
berkerudung itu heran bercampur termangu. Sepasang

808
matanya jelas memancarkan rasa kaget dan tercengangnya,
tapi diapun tak berani mengucapkan sepatah katapun.
Pada saat itulah terdengar ujung baju tersampok angin
menyambar datang, Hoa Si dengan suara yang nyaring
menegur, “Nona, harap tunggu sebentar!”
Ternyata karena terdorong oleh emosi, Bwee Su-yok telah
membentak terlalu keras sehingga suaranya yang berisik itu
menyadarkan Hoa Si bahwasanya disitu hadir orang lain.
Bwee Su-yok berhenti, lalu putar badan dengan angkuhnya.
“Ada urusan apa engkau memanggil aku?” tegurnya pula.
Ketika menyusul ke arah mana berasalnya suara tadi, Hoa
Si hanya sempat menyaksikan berkelebatnva sesosok
bayangan putih dibawah sorotan sinar rembulan. Ia tidak
melihat kehadiran laki-laki berkerudung itu. Maka setelah
yakin kalau lawannya seorang nona, diapun menegur.
Siapa tahu sikap Bwee Su-yok amat sombong dan tinggi
hati. Keangkuhan semacam itu seketika juga membuat dia jadi
tertegun dan tak mampu berkata-kata.
Meskipun tercengang, tapi sebagai seorang laki laki yang
gagah, ia tidak masukkan persoalan itu dihati. Maka setibanya
diatas permukaan tanah dia lantas menjura dan memberi
hormat kepada Bwee Su-yok. “Nona, boleh aku tahu siapa
namamu?” sapanya. “Tengah malam buta begini, angin bukit
sangat dingin, bolehkah aku tahu karena urusan apa kau
berkunjung kemari?”
Bwee Su-yok mendengus dingin. “Hmmm….! Lebih baik
urusi saja Jite mu! Sedang soal-soal yang lain lebih baik
dikesampingkan dulu untuk sementara waktu”

809
Jawaban tersebut tidak menunjukkan apakah dia bersikap
sahabat atau musuh dengannya, ini membuat Hoa Si semakin
tertegun. “Keadaan adikku tidak terlampau serius. Justru
kedatangan nona ditengah malam buta begini sangat
mencurigakan hatiku….”
Tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya,
kembali Bwee Su-yok telah menukas secara tiba tiba, “Kalau
begitu bagus sekali. Tengah hari besok engkau boleh
mengajak adikmu untuk datang ke kota Ci-tin dan berjumpa
dengan aku disitu….!”
Habis berkata dia lantas putar badan dan siap melanjutkan
perjalanannya menuruni bukit.
Hoa Si semakin curiga, diam diam pikirnya dalam hati.
“Kemungkinan perempuan ini mempunyai ikatan dendam
dengan adik Jite, aku harus selidiki sampai jelas!”
Berpikir demikian, diapun melambung ke udara dan
menghadang jalan perginya. “Tunggu sebentar nona!” serunya
sambil menjura. “Tengah hari besok, adikku belum tentu
dapat datang memenuhi janji. Karena itu harap nona bersedia
meninggalkan nama, sehingga apabila ia tak dapat memenuhi
janji, akupun dapat menyampaikan hal ini kepadanya”
Sikap Hoa Si yang intelek gagah dan ucapannya yang
bernada memohon membuat Bwee Su-yok merasa rikuh untuk
berlalu dengan begitu saja sebelum menjawab. Ia merasa
pertanyaan lawannya bagaimanapun juga harus diberi
jawaban yang memuaskan hati.
Tapi sebelum ia menjawab pertanyaan itu, laki-laki
berkerudung hitam yang selama ini berada disamping telah
menyelinap keluar, jengeknya sambil tertawa seram, “Hee….
hee…. hee…. Betul-betul mengecewakan sekali kau sebagai

810
putra sulung dari keluarga Hoa. Ternyata pengetahuanmu
begitu picik dan terbatas. Memangnya belum pernah kau
saksikan tongkat kekuasaan dari Kiu-Im kau yang mempunyai
ciri khusus itu?”
Sikap Bwee Su-yok semakin dingin dan kaku bahkan kali ini
dengan tatapan matanya yang dingin menyeramkan dia
melotot sekejap kearah laki-laki berkerudung itu.
Namun laki-laki berkerudung itu berlagak bodoh, ia
berlagak seakan akan tidak melihat tatapan mata orang,
bahkan berpaling ke sampingpun tidak.
Hoa Si baru terperanjat setelah mendengar perkataan itu.
Tanpa sadar ia berpaling dan mengamati tongkat baja
ditangan Bwee Su-yok tersebut.
Tongkat itu adalah sebuah tongkat baja yang ber warna
hitam gelap. Pada ujung senjata terukir sembilan buah batok
kepala setan perempuan yang menunjukkan gigi taringnya
dengan rambut awut-awutan. Ukiran itu hidup dan
mendatangkan perasaan ngeri bagi siapapun yang melihat.
Meskipun Hoa Si belum pernah menyaksikan tongkat baja
tersebut, tapi dari angkatan yang lebih tua, seringkali ia
mendengar kisah cerita tentang tongkat itu.
Maka begitu menjumpai bentuk toya yang di maksudkan, ia
jadi setengah percaya setengah tidak. Sinar matapun kembali
dialihkan ke wajah Bwee Su-yok.
Saat ini Bwee Su-yok telah menjadi seorang kaucu dari
suatu perkumpulan besar, tentu saja ia tak dapat
membungkam diri terus menerus.

811
Gadis itu mengangguk tanda membenarkan, ujarnya
dengan suara yang dingin, “Yaa benar, aku adalah Kiu-im
kaucu!”
Mendengar pengakuan tersebut, kembali Hoa Si berpikir
dalam hati kecilnya, “Kalau toh dia adalah Kiu-im kaucu,
setelah datang kemari kenapa harus berlalu lagi sambil
menetapkan saat pertemuan besok siang? Hal ini rasanya jauh
berbeda dengan tindakan-tindakan yang diambil Kiu-im kaucu
seperti apa yang sering kudengar!”
Berpikir demikian, sekali lagi dia memberi hormat, ujarnya
dengan suara nyaring, “Oooh…. kiranya kaucu telah
berkunjung kemari. Pengetahuanku memang terlalu picik,
harap engkau jangan terlalu mentertawakan kepicikanku ini”
Hoa Si memang jauh berbeda bila dibandingkan dengan
adiknya. Sekalipun ada bagian-bagian persoalan yang belum
dipahami olehnya, namun ia tak sudi menghilangkan tata
kesopanan.
Dengan ketus Bwee Su-yok ulapkan tangannya. “Engkau
tak usah menunjukkan sikap tengik yang menjemukan. Jawab
saja pertanyaanku, besok siang kalian bakal datang memenuhi
janji atau tidak?”
Hoa Si tersenyum. “Aku Hoa Si tak berani membuat janji
kosong. Apa yang sudah kusanggupi pasti akan kutepati.
Besok siang apabila adikku tak dapat menghadiri pertemuan
itu, aku pasti akan tiba tepat pada saatnya, harap kaucu
berlega hati”
“Bagus sekali, kalau begitu aku akan menantikan
kehadiranmu besok tengah hari di tenggara kota Ci-tin”

812
Selesai berkata, dia lantas mengebaskan ujung bajunya dan
melayang turun dari bukit itu.
Dengan cepat manusia berkerudung itu menyusul di
belakangnya, tapi beberapa langkah kemudian tiba-tiba ia
berpaling sambil bertanya, “Hoa lotoa, apakah engkau tidak
menanyakan pula siapa namaku serta dari mana asal usulku?”
“Berbicara dari tindak tanduk saudara, sudah pasti engkau
bukan anak buah dari perkumpulan Kiu-im kau. Memang aku
menaruh curiga pada asal-usulmu. Tapi lantaran engkau
menutupi wajahmu dengan kain kerudung hitam, jelas
tindakan semacam ini menunjukkan betapa tidak terbukanya
hatimu. Akupun jadi segan untuk banyak bertanya”
Mendengar jawaban itu, darah yang mengalir dalam tubuh
laki-laki berkerudung itu serasa mendidih. Ia ada maksud
untuk turun tangan melancarkan serangan, tapi entah apa
sebabnya, kemarahan yang telah memuncak itu dikendalikan
kembali sebisanya.
Setelah mendengus khekhi, ia melotot sekejap ke arah Hoa
Si dan menjejakkan kakinya ke tanah untuk menyusul Bwee
Su-yok yang sementara itu sudah lenyap dari pandangan
mata.
Hoa Si memang seorang lelaki jantan yang berjiwa terbuka
dan gagah perkasa. Meskipun tindak-tanduk Bwee Su-yok jauh
berbeda dengan apa yang didengar ditempat luaran. Meski ia
tahu manusia berkerudung itu adalah seorang manusia yang
licik dan busuk hatinya, asal usulnya sangat mencurigakan.
Namun ia tak sudi membuang banyak pikiran dan tenaga
untuk merenungi persoalan tersebut.
Setelah bayangan tubuh kedua orang itu lenyap dari
pandangan, diapun segera putar badan dan berjalan kembali

813
kedalam ruangan gedung diantara puing-puing yang
berserakan.
Waktu itu fajar baru saja menyingsing, sang surya mulai
menampakkan cahayanya diufuk sebelah timur. Sebaliknya
rembulan yang tenggelam disebelah barat sudah makin pudar
cahayanya, ikut lenyap pula kecemerlangannya dikala hari
masih gelap.
Hoa Si yang berada dalam perjalanan kembali mempunyai
perasaan yang kusut seperti cahaya rembulan itu, makin lama
semakin kalut, makin lama semakin kusut….
Hal ini bisa dimaklumi, bagaimana pun juga Hoa In-liong
adalah saudara kandungnya.
Setelah terganggu oleh peristiwa barusan, ia benar-benar
tak tahu bagaimanakah keadaan lukanya ketika itu. Diapun tak
tahu apakah kejadian ini bakal mempengaruhi keselamatan
jiwanya serta mengakibatkan terjadinya peristiwa diluar
dugaan….
Dengan pelbagai pikiran yang menekan perasaannya,
pemuda itu mempercepat langkahnya menuju ke ruang
gedung dan akhirnya sampai juga dia ditempat tujuan.
Diluar dugaan kenyataan yang berlangsung di depan
matanya saat itu ternyata jauh diluar perhitungan rasa
tegangnya selama inipun sebetulnya tak berguna.
Sebab bukan saja Hoa In-liong telah menyadarkan diri,
bahkan Wan Hong-giok yang sudah tipis harapannya untuk
hidup pun sekarang sudah jauh lebih baik keadaannya.
Segagahnya Hoa Si, dia baru menginjak dewasa belum
lama. Kegembiraan yang datangnya dari luar dugaan itu

814
seketika melenyapkan ketenangan dan kekalemannya diharihari
biasa.
Dengan suatu lompatan lebar dia menerjang maju
kedepan, lalu teriaknya dengan wajah berseri, “Jite, apakah
engkau telah sembuh?”
Tiba-tiba ia saksikan Hoa In-liong masih tetap berbaring,
sedangkan Coa Wi-wi berlutut disampingnya. Ini membuat dia
jadi tertegun, cepat tubuhnya berhenti melompat dan untuk
sesaat berdiri termangu-mangu….
Kiranya Hoa In-liong sadar belum lama, hawa murninya
juga belum seberapa putih seperti biasa. Walaupun begitu,
ketika mendengar suara dari Hoa Si, dia lantas meronta
bangun, serunya pula dengan nada gembira, “Toako,
kau….kau…. juga telah datang?”
Coa Wi-wi sangat menguatirkan keadaannya. Dia segera
membimbing bangun anak muda itu sambil menyela, “Toako
sudah datang semenjak tadi. Lebih baik engkau berbaring
saja. Racun ular sakti yang mengeram dalam tubuhmu belum
punah sama sekali….”
“Aaaah…. tidak apa-apa”. Hoa In-liong tetap ngotot, “Aku
ingin bercakap-cakap dengan Toako”
Sementara itu Hoa Si juga melihat betapa pucatnya raut
wajah adiknya ini, dia ikut berjongkok disampingnya sambal
menghibur, “Jite, kau jangan terlalu keras kepala. Racun ular
sakti bukan sembarangan racun biasa. Konon ibupun tidak
mempunyai keyakinan untuk memunahkannya. Sekarang
beristirahatlah dulu, beritahu kepadaku, bagaimana rasanya
sewaktu racun itu kambuh?”

815
Hoa In-liong tidak berani membantah perintah Toakonya,
terpaksa dibawah bimbingan Coa Wi-wi dia berbaring kembali
ketanah.
Setelah mengatur nafas sebentar, pemuda itu baru berkata,
“Berita yang tersiar diluaran tak boleh kita percayai dengan
begitu saja, Toako….”
Tiba-tiba Hoa-Si bangkit berdiri. Mukanya berubah menjadi
keren, tukasnya dengan nada bersungguh-sungguh, “Ngaco
belo!. Ayah sendiri yang memberitahukan hal ini kepadaku,
memangnya aku harus tidak mempercayainya?”
Hoa In-liong ikut terperanjat, tapi dengan cepat ia
tenangkan hatinya sambil menyahut, “Jika ayah yang
mengatakan hal itu, tentu saja kita harus mempercayainya.
Toako, sebenarnya peristiwa besar apakah yang telah terjadi
sehingga ayah pun ikut terbawa sampai ke selatan? Apakah
kau mengetahui tentang rahasia ini?”
Ketika dilihatnya pemuda itu jadi sangat penurut. Hoa-Si
merasa sedikit tidak tega maka sahutnya, “Yaaa, hal ini
disebabkan….”
Mendadak satu ingatan melintasi dalam benaknya, ia
teringat bahwa Hoa In-liong adalah seorang bocah yang ingin
menang, seringkali bersikap pura-pura untuk membohongi
orang. Rasa waspadanya segera timbul dan ucapan yang baru
dimulaipun segera ditelan kembali, dia awasi wajah pemuda
itu tajam-tajam.
Hoa In-liong sangat ingin mengetahui sebab musabab
kehadiran ayahnya di wilayah Kang-lam, melihat kakaknya
berhenti berbicara, dia jadi sangat gelisah, tanpa sadar
serunya, “Toako, mengapa tidak kau lanjutkan kembali katakatamu?”

816
Ditatapnya wajah In-liong dengan tajam, kemudian setelah
menghela napas panjang Hoa Si baru menjawab, “Engkau
selalu gemar menempuh jalan bahaya untuk mencari
keuntungan. Sampai sekarang watak semacam itu belum juga
berubah. Aku…. Aku…. yang menjadi Toako mu merasa
kewalahan untuk memusuhi engkau. Daripada tertipu mentahmentah,
lebih baik kuputuskan untuk membungkam dalam
seribu basa saja”
Menyaksikan siasat liciknya ketahuan kakaknya, Hoa Inliong
jadi tersipu-sipu. “Toa…. Toako” katanya malu. “Aku
betul-betul amat cemas, katakanlah kepadaku….”
“Kau merengek seribu kali juga percuma” tukas Hoa Si
tegas, “Ketahuilah setelah engkau menjadi begini rupa, aku
yang menjadi Toako-mu juga ikut susah. Bila engkau tak mau
menuruti perkataanku lagi, bagaimanakah pertanggungan
jawabku terhadap ayah dan ibu nanti? Satu-satunya persoalan
yang paling penting saat ini adalah menyehatkan dulu
badanmu, soal lain untuk sementara waktu kita kesampingkan
lebih dulu”
Dia adalah seorang pamuda yang tegas, setelah
mengatakan satu selamanya tak pernah berubah jadi dua.
Tentu saja Hoa In-liong mengetahui jelas akan wataknya ini.
Maka setelah siasatnya menghasilkan senjata makan tuan,
dan diapun menyadari bahwa memohon secara halus tak akan
mendatangkan hasil apa-apa. Sambil bernapas menekan
perasannya anak muda itu berkata lagi, “Yaaa…. Padahal tiada
sesuatu yang terlalu luar biasa. Ketika racun ular sakti itu
mulai kambuh aku merasa dalam isi perutku seakan-akan
terdapat semut yang sedang berjalan kesana kemari. Rasanya
kaku dan gatal sekali hingga sukar ditahan, tapi sekarang aku
sudah dapat mengendalikan siksaan itu”

817
Coa Wi-wi segera menyambung dengan cemas, “Tidak,
tidak mungkin begitu, ketika racun yang mengeram dalam
tubuhmu kambuh, engkau segera jatuh tak sadarkan diri.
Darimana engkau bisa merasa kalau rasanya gatal sekali?
Engkau terlalu sekali, memangnya dianggap kami semua
adalah orang goblok yang dapat ditipu mentah-mentah….?”
Menyaksikan kegelisaan orang, kembali Hoa In-liong
berkata, “Yaaa, apa yang diucapkan adik Wi memang benar.
Rasa gatal dan kaku memang apa yang kurasakan sekarang.
Pada mulanya ketika racun itu mulai kambuh, isi perutku
terasa sakitnya bukan kepalang. Seakan-akan ada ular yang
banyak sekali jumlahnya menggigiti seluruh isi perutku dan
gigitan itu sepertinya tak dilepaskan terus. Cuma aku tidak
membohongi dirimu, rasa gatal dan kaku itu sampai sekarang
masih terasa. Coba lihatlah, bukankah aku masih dapat
merasakannya dengan hati yang tenang?”
Setelah mendengar penjelasan itu, Hoa Si dengan perasaan
yang tercekat segera bergumam, “Gejala yang kau ucapkan
persis seperti apa yang diterangkan ayah kepadaku. Aaai….
Akulah yang salah. Coba kalau aku tidak datang terlambat,
mungkin….mungkin….”
Bergumam sampai disitu, saking gelisahnya dia berjalan
mondar mandir kesana-kemari, ia kelihatan resah sekali.
Tiba-tiba terdengar Coa Wi-wi menangis tersedu-sedu.
“Huuh…. huu…. Akulah yang salah” keluhnya, “Akulah yang
salah. Coba aku tidak mendengarkan kata-kata Ki-ji dan
menghalangi Jiko pergi memenuhi undangan, tentu tak akan
terjadi peristiwa ini”
Hoa In-liong belum tahu kalau Coa Wi-wi sebetulnya bukan
seorang “cowok” melainkan adalah seorang “cewek. Maka

818
ketika mendengar dia menangis, pemuda itupun berkerut
kening. “Aduuh….! Adik Wi, kenapa kau menangis lagi?”
keluhnya sambil menghela nafas, “Kau tidak salah, sebab kau
telah berusaha dengan segala ke raampuan untuk
menghalangi niatku. Akulah yang keliru karena aku tak mau
menuruti peringatanmu. Karena aku yang ngotot datang
kesitu untuk memenuhi janji, maka jika mau mencari siapa
kambing hitamnya, maka akulah yang salah. Aku yang keliru.
Siapa suruh aku terlalu gagah dan tolol. Siapa suruh aku
bodoh sampai terjebak ke dalam perangkat mereka….
Sudahlah adik Wi, ayoh jangan menangis lagi”
Begitulah, selama ribut-ribut dan perselisian itu
berlangsung dengan serunya, Wan Hong-giok yang bersandar
disudut tembok hanya mengikutinya dengan membungkam.
Sekalipun demikian, diapun tahu bahwa Hoa In-liong bisa
terkena racun Sin-hui-si-sim (ular sakti menggigit hati) adalah
lantaran disergap secara cilik oleh orang orang Mo-kauw, atau
dengan perkataan lain lantaran gara-gara janjinya itulah
mengakibatkan si anak muda itu terluka parah.
Makin dikenang ia semakin sedih, sehingga akhirnya air
matapun tak terbendung, sambil menangis terisak keluhnya,
“Akulah…. Akulah yang menjadi gara-gara…. akulah yang
menjadi gara-gara. Tidak seharusnya kuajak Hoa kongcu
untuk berjumpa dibukit Yan-san…. Sekarang…. oooh, ia
terluka karena aku…. huu….huu….”
Ketika Hoa In-liong mendengar bahwa Wan Hong-giok bisa
berbicara lagi, legalah hatinya. “Nona Wan kah itu?” serunya
cepat, “Bagaimana dengan lukamu? Tidak apa-apa toh?”
Sebelum roboh tadi, pemuda itu sempat, menyaksikan
bagaimana mengenaskannya keadaan Wan Hong-giok,

819
terutama binatang- binatang beracun yang begitu banyaknya
bermangkal disekujur tubuh si gadis yang telanjang.
Dan sekarang, dia harus berbaring. Ia tak dapat
menyaksikan keadaan nona tersebut. Yang bisa didengar
hanya suaranya yang tersendat-sendat dengan nada yang lirih
dan lemah. Sebagai orang persilatan ia tahu gejala semacam
itu menunjukkan bahwa hawa murninya sudah mengalami
kerusakan hebat atau dengan perkataan lain, luka dalam yang
dideritanya cukup parah.
Betapa sedihnya Wan-Hong-giok mendengar pertanyaan
Hoa In-liong yang begitu hangat dan sangat memperhatikan
keadaannya itu. Apalagi bila teringat akan musibah yang telah
menimpa dirinya, bagaikan disayat-sayat hatinya.
Makin dipikir ia merasa makin sedih, makin menangis suara
tangisnya makin keras, akhirnya sambil memukul-mukul dada
sendiri keluhnya dengan suara yang mengibakan hati, “Aku….
Aku…. hanya seorang cacad. Akulah yang mencelakai dirimu.
Oooh…. baik-baiklah kau jaga diri”
Tiba-tiba dengan menghimpun sisa kekuatan yang
dimilikinya ia menumbukkan kepalanya di atas dinding tembok
disisinya.
Hoa In-liong bukan orang bodoh, tatkala mendengar
keluhan sang dara yang terakhir tadi, ia segera tahu bahwa
Wan Hong-giok mempunyai maksud untuk bunuh diri.
Sementara hatinya amat terperanjat, Ki-ji yang berada
disampingnya sudah menjerit kaget, “Jangan nekad!”
Menyusul kemudian Hoa Si mendepak-depakkan kakinya
ditanah seraya menghela nafas panjang berulang kali.

820
“Aaai….! Tolol!. Semuanya tolol! Semut saja ingin hidup
seribu tahun. Apalagi kamu semua ada manusia memangnya
kalian anggap nyawa manusia itu boleh dianggap mainan?
Aaai…. Cuma urusan sepele saja sudah berani bermain
diujung tanduk. Goblok! Semuanya goblok! Ki-ji….cepat
bangunkan nona Wan”
Yaa, pada hakekatnya peristiwa itu sama sekali diluar
dugaan, bukan saja mengejutkan semua orang, sampaisampai
pemuda yang jarang bicara dan selalu serius inipun
ikut-ikutan memaki.
Baru pertama kali ini Hoa In-liong merasakan ketegangan
yang luar biasa. Ia baru bisa menghembuskan nafas lega
setelah Toakonya menegur serta memerintahkan Ki-ji untuk
membangunkan Wan Hong-giok. Sebab dari perkataan itu dia
yakin bahwa si nona selamat dari cengkeraman elmaut.
Diapun berusaha meronta bangun dan duduk.
Sekarang perhatian semua orang ditujukan kesatu arah
yang sama. Tampaklah Wan Hong-giok sedang berjalan
mendekati mereka dibawah bimbingan Ki-ji. Mukanya tampak
layu, rambutnya terurai awut awutan. Sepasang bahunya
bergoncang keras menahan isak tangis. Bagaikan air bah, air
matanya meleleh keluar membasahi semua wajahnya.
Setibanya dibadapan semua orang, kontan Coa Wi-wi
mengomel dengan kening berkerut, “Enci Wan, bagaimana sih
kamu ini? Kenapa
tidak kau buka jalan pikiranmu? Kenapa kau nekad untuk
melakukan perbuatan tolol seperti itu? Jika kau pandang
begitu rendah soal kehidupanmu, bukankah berarti sudah kau
sia-siakan bantuan tenagaku selama ini bagimu? Apalagi
Toako sudah….”

821
Tentu saja bila ucapan itu dilanjutkan, maka akan
terdengarlah kata-kata sebangsa “sia-sialah pemberian obat
penawar racun dan obat mustika untukmu” dan sebagainya….
dan sebagainya….
Untunglah Hoa Si bertindak cekatan, sebelum kata-kata
semacam itu sempat memberondong keluar ibaratnya
tembakan senjata otomatis, si anak muda itu sudah ulapkan
tangannya sambil menukas, “Jangan terlalu menyalahkan dia.
Maklumlah, kadang kala pikiran orang memang bisa menjadi
cupat lalu mata gelap. Untung Ki-ji cukup cekatan sehingga
tak sampai terjadi tragedi yang tidak diharapkan. Tapi aku
percaya kejadian semacan ini tak akan terulang untuk kedua
kalinya”
Diapun berpaling kearah Wan Hong-giok dan
menambahkan, “Duduk dan istirahatlah dulu nona Wan.
Sebentar aku hendak bercakap-cakap denganmu”
Air mata jatuh berlinang dengan derasnya membasahi
wajah Wan Hong giok. Dengan masih membungkam dia
manggut-manggut lalu duduk kembali ke lantai.
Sementara itu Hoa In-liong menatap diri Wan Hong-giok
dengan sepasang mata yang terbelalak lebar. Mukanya kaget,
tercengang dan sangsi seakan-akan Wan Hong-giok sudah
berubah jadi orang lain yang tidak dikenalinya lagi.
Yaa, pada hakekatnya Wan Hong-giok memang telah
berubah. Ia telah berubah menjadi manusia lain yang belum
dijumpai sebelumnya.
Kalau dulu Wan Hong giok memiliki badan yang montok,
padat berisi dengin muka yang cantik bak bidadari. Dengan
gerak-gerik yang lincah, hangat seperti api, yang mana

822
seakan-akan siapapun yang mendekatinya akan menjadi leleh
karena kepanasan, maka keadaannya sekarang justru
merupakan kebalikan dari kesemuanya itu.
Kobaran api kehangatannya yang menyala sekarang telah
padam, tubuhnya yang montok, padat berisi kini tinggal kulit
pembungkus tulang. Ibaratnya sekuntum bunga mawar yang
baru mekar, tiba-tiba terendam didalam gudang salju, seketika
itu juga jadi layu dan kaku.
Padahal, sebagaimana kita ketahui Hoa In-liong adalah
seorang pemuda yang romantis dan gampang terpikat oleh
kecantikan perempuan. Tentu saja ia menjadi beriba hati,
menjadi kasihan setelah menyaksikan keadaan Hong-giok
sekarang ini. Sekalipun rasa kasihan itu bukan lantaran
kecewa tapi betul-betul timbul dari hati kecilnya.
Ditatapnya gadis itu dengan wajah termangu, tiba-tiba
hatinya jadi kecut. Pemuda ini betul-betul tak dapat
mengendalikan emosinya lagi. “Nona Wan, bagaimanakah
perasaanmu sekarang?” tanyanya dengan penuh perhatian,
“Apakah lukamu telah sembuh kembali?”
Kalau “Hong keng” dianggap sebagai “Be Liang” maka
begitulah keadaannya. Semakin kuatir dan penuh perhatian
nada pertanyaan si anak muda itu, semakin pedih perasaan
Wan Hong-giok dibuatnya, Dia mengira rasa cinta Hoa In-liong
terhadapnya sudah amat mendalam sekali, hingga peristiwa
tersebut membuat gadis ini bertambah kecewa, bertaubat,
menyesal dan tentu saja kesedihan yang tak terkendalikah.
Terhadap perhatian orang, sering kali perhatian yang
bersifat persahabatan disalah taksirkan sebagai perhatian
yang bersifat cinta. Ini terbukti dari kejadian yang dialami Wan
Hong-giok dengan Hoa In-liong.

823
Perlu diterangkan disini, meski kurang baik nama Wan
Hong-giok dalam dunia persilatan, tapi sewaktu dia bertemu
dengan Hoa In-liong di kota Lok-yang tempo hari, gadis itu
masih berstatus sebagai gadis perawan.
Sejak berpisah di Lok-yang, Wan Hong-giok selalu
terkenang akan pemuda itu atau dengan perkataan lain ia
telah jatuh cinta. Sayang nasibnya kurang mujur, selaput
daranya harus direnggut di tangan iblis dari Mo-kauw yang
mengakibatkan kesuciannya ternoda.
Setelah terjadi peristiwa tersebut, beberapa kali ia sudah
berniat untuk menghabisi nyawa sendiri. Tapi ketika ia tahu
bahwa orang-orang Mo-kauw mempunyai rencana busuk yang
mempengaruhi keselamatan umat persilatan pada umumnya
dan keselamatan keluarga Hoa In-liong pada khususnya, gadis
ini pun jadi nekad. Ia berusaha tetap mempertahankan
hidupnya untuk menolong sang kekasih dari ancaman maut,
maka dibuatnya perjanjian dibukit Yan-san.
Yaaa, demikianlah kalau orang salah tafsir. Siapa tahu Hoa
In-liong yang sudah dihalangi niatnya oleh banyak orang,
akhirnya terkena juga perangkap orang-orang Mo-kauw yang
mengakibatkan ia keracunan Sin-hui atau racun ular sakti.
Kesemuanya itu sudah membuat hatinya cukup kecewa,
apalagi mendapat perhatian lagi dari Hoa In-liong. Akibatnya
perasaan “simpatik” disalah tafsirkan sebagai perasaan “cinta”
Sebetulnya dua persoalan tersebut merupakan persoalan
yang berbeda. Tapi kalau kita suruh Wan Hong-giok yang
sudah terlanjur jatuh cinta menyadari akan perbedaan itu,
boleh dibilang ibaratnya orang ingin terbang ke langit, bukan
sukar saja malah sama sekali tak mungkin.

824
Kalau tidak sulit, tak nanti gadis itu sampai mengeluh akan
dirinya yang cacad dan bermaksud menghabisi nyawa sendiri.
Waktu itu ia duduk dengan badan gemetar, air matanya
seperti hujan gerimis, mengucur keluar tiada habisnya. Bibir
gemetar seperti mau bicara, tapi sepotong kata pun tak
mampu diutarakan.
Akhirnya setelah menghela napas sedih, ia menutupi wajah
sendiri dengan kedua belah tangan, kemudian menangis
tersedu-sedu.
Hoa In-liong yang romantis memang suka main
perempuan, sayang ia tak tahu bagaimanakah perasaan Wan
Hong-giok saat ini. Ketika dilihatnya gadis itu menangis,
pemuda kita lantas mengira kalau si nona jadi sedih lantaran
lukanya yang parah atau mungkin terkenang kembali akan
musibah yang menimpa dirinya. Timbullah keinginan hatinya
untuk menghibur si rona itu dengan beberapa patah kata.
“Jite, jangan kau ganggu diri nona Wan lagi” tiba tiba Hoa
Si menegur dengan kurang sabaran “Kau sendiri juga perlu
istirahat, ayoh baik-baik atur pernapasanmu, jangan sampai
racun ular itu kambuh semakin parah!”
“Jangan kuatir Toako, aku masih tahu diri” sahut Hoa Inliong
sambil manggut-manggut.
“Tahu diri apa!” gerutu Coa Wi-wi, “Kemarin alasannya
tidak tenang, sekarang toh enci Wan sudah tidak apa-apa,
kenapa tidak kau gunakan kesempatan ini untuk menjajal simhoat
istimewamu untuk mengusir racun jahat dari tubuhmu?
Mumpung Toako berada disini, ayoh cepat dicoba!”
Wan Hong-giok yang membungkam tiba-tiba ikut
mendongak, dengan wajah yang basah oleh air mata katanya

825
pula, “Hoa kongcu, aku yang rendah tak berani merisaukan
hatimu dan tak pantas membuat hatimu risau. Bila kongcu
tidak tenang hatinya lantaran aku atau kongcu menunda
waktu sedemikian untuk mengusir sisa racun lantaran aku,
aku yang rendah betul-betul merasa tak terkirakan besarnya
dosaku”
“Tidak…. tidak…. kau jangan berkata begitu” cepat Hoa Inliong
gelengkan kepalanya berulang kali, “Demi keselamatan
dunia persilatan, demi kepentingan keluarga Hoa kami, kau
telah menjadi korban ditangan musuh. Jangan toh baru
menunda waktu sedemikian, sekalipun Hoa In-liong harus
mengorbankan jiwa demi dirimupun aku juga rela!”
“Betul!” sambung Coa Wi-wi, “Apakah kau masih dapat
mempertahankan diri. Enci Wan? Kalau tidak ada halangan
apa-apa, harap terangkanlah rencana busuk apakah yang
telah dipersiapkan orang-orang Mo-kauw dari Seng sut pay
itu. Sebelum kau terangkan kesemuanya itu, mungkin Jiko tak
dapat menenangkan hatinya”
Pada hakekatnya, dengan ucapan tersebut gadis itu sudah
memberi penjelasan yang cukup alasan “simpatik” Hoa Inliong.
Yaa sayang Wan Hong-giok sudah terlalu terpengaruh
oleh kobaran cintanya, bukan saja tidak menjadi sadar, ia
malah terperosok lebih dalam.
“Hoa kongcu” katanya kemudian sesudah merenung
sebentar, “Yang penting racun dalam tubuhmu harus
disingkirkan dulu, tapi kalau kau ingin cepat tahu, yaa, baiklah
aku katakan secara ringkasnya saja”
Setelah berhenti sebentar, dia berpaling kearah Hoa Si dan
bertanya kembali, “Toa kongcu dalamkah ikatan dendam
ayahmu dengan kaucu dari Mo-kauw?”

826
Hoa Si mengangguk, “Yaa, aku rasa begitu, sebab sewaktu
mencari harta karun dibukit kiu-ci-san, Mo-kauw kaucu
memang dibikin keok oleh ayahku”
Pelan-pelan Wan Hong-giok alihkan pandangan matanya ke
wajah Hoa In-liong. “Bila ditinjau dari pembicaraan mereka,
tampaknya mereka juga punya dendam dengan ibumu?”
“Aku kurang begitu tahu” Hoa In-liong gelengkan
kepalanya, “Cuma gwakong (engkong luar) ku adalah ketua
Sin Ki-pang dimasa itu. Beliau ikut pula dalam peristiwa
penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san. Jadi bila dikatakan
ada dendam, maka besar kemungkinan kalau dendam itu
dibuat pada masa tersebut”
“Aaaai…. Berbicara soal rencana busuk mereka, pada
hakekatnya semua siasat mereka tertuju untuk memusuhi
ayah ibumu. Rupanya rasa benci Mo-kauw kaucu terhadap
ayah ibumu sudah merasuk sampai ketulang sumsum. Tapi
lantaran mereka sadar bahwa kepandaian yang mereka miliki
masih bukan tandingan kedua orang tuamu, maka diambilnya
keputusan untuk melaksanakan operasi pembalasan
dendamnya secara diam-diam. Selain menghimpun kekuatan
dan melatih anak buahnya untuk lebih tekun berlatih ilmu,
mereka juga memelihara pelbagai jenis binatang beracun
untuk mempersenjatai diri. Selain itu merekapun berusaha
menangkapi sandera-sandera yang akan mereka bunuh
sebanyak-banyaknya. Aku rasa kekuatan seperti ini cukup
mengerikan hati”
“Enci Wan, soal semacam itu tak perlu dibicarakan, tolong
bicara saja tentang rencana busuk mereka!”
Wan Hong-giok mengangguk lirih. “Secara garis besarnya,
rencana busuk mereka dapat dibagi menjadi rencana secara
terang-terangan dan rencana secara tersembunyi. Selain itu

827
dapat dibagi pula menjadi setengah terang dan setengah
sembunyi. Yang termasuk rencana secara tersembunyi, boleh
dibilang sudah dilaksanakan semenjak sepuluh tahun
berselang”
“Sepuluh tahun berselang….?” Hoa In-liong terkesiap, “Lalu
bagaimana dengan rencana mereka yang terang terangan?”
“Rencana mereka yang termasuk terang-terangan
berpengaruh besar atas keselamatan seluruh dunia persilatan
di daratan Tionggoan. Rencana tersebut baru dilaksanakan
setelah soal “pembalasan dendam” terlaksana. Mereka hendak
menguasai seluruh daratan Tionggoan dan melakukan
pembantaian serta pengejaran secara besar-besaran terhadap
musuh mereka”
“Hmmm….! Besar amat ambis mereka!” jengek Coa Wi-wi
sambil mendengus dingin, “Sayang mereka terlampau tak tahu
kekuatan sendiri!”
“Aaaai…. Tak bisa dikatakan begitu” Wan Hong-giok
menghela nafas sedih, “Konon mereka berhasil mengendalikan
sekelompok Bu-lim cianpwe yang berilmu tinggi untuk
dijadikan penyerang-penyerang depan mereka. Jika benarbenar
akan terjadi hari demikian. Payah…. payah…. hancurlah
seluruh dunia persilatan kita”
“Waaah…. Masa sampai terjadi begitu?” Hoa In-liong rada
berubah wajahnya, “Tahukah nona Wan, manusia-manusia
macam apa saja yang berhasil mereka kuasai?”
Wan-Hong-giok menggeleng. “Soal ini bersifat sangat
rahasia, jangan toh aku, Hong mereka sendiripun kurang
jelas”

828
“Aaah…. Omongan kosong! Gurauan mungkin….!” gumam
Coa Wi-wi sambil gelengkan kepalanya berulang kali, rupanya
ia tidak percaya.
Wan Hong-giok berpaling ke arah Coa Wi-wi. Bibirnya
bergetar seperti hendak menerangkan sesuatu, tapi niat
tersebut kemudian dibatalkan dengan begitu saja.
“Nona Wan, tolong terangkan lebih lanjut, apa yang
dimaksudkan dengan rencana setengah terang setengah gelap
mereka? “sela Hoa Si dengan perasaan ingin tahu.
Wan Hong-giok berpaling. “Rencana yang sedang mereka
laksanakan saat ini adalah rencana setengah terang setengah
sembunyi. Diantaranya yang termasuk setengah terang adalah
manusia-manusia macam Hong Seng sekalian yang
membentuk grup-grup secara terpisah dengan kelompok yang
terdiri dari tiga sampai lima orang anggota Mo-kauw
didampingi seorang sampah masyarakat dari bangsa Han.
Mereka semua menyusup kedaratan Tionggoan dengan
maksud pertama, menyelidiki sampai dimanakah kekuatan
yang sesungguhnya dari umat persilatan di daratan Tionggoan
ini. Kedua. Merekapun berusaha mencari kesempatan untuk
menawan kalian bersaudara, agar dikemudian hari mereka
dapat menggunakan kalian sebagai sandera, apabila terbukti
bahwa kepandaian mereka masih tak mampu menandingi
orang tua kalian. Aku dengan grup-grup semacam itu
mencapai jumlah sebaryak tiga sampai empat puluh grup”
Hoa Si cuma mangut-manggut saja ketika mendengar
keterangan tersebut, dia membungkam dan tidak memberi
komentar.
Tiba-tiba Wan Hong-giok menghela napas setelah berbicara
sampai disitu. Sesudah berhenti sebentar, ia baru berkata
lebih jauh, “Kalau dibicarakan sesungguhnya, maka yang

829
paling menakutkan justru adalah rencana setengah gelap
mereka. Secara diam-diam mereka telah berhasil menangkapi
banyak jago persilatan yang tak mau tunduk kepada mereka.
Dengan jiwa mereka memaksa anak murid atau putra putri
tawanan mereka untuk melakukan pembalasan dendam
terhadap anggota keluarga Hoa kalian. Dan ketahui dengan
pasti ada sebagian kekuatan yang berhasil mereka himpun
dengan cara seperti ini, sekarang kelompok kekuatan tersebut
sudah mulai melaksanakan operasinya. Aaai…. Coba
bayangkan sendiri, keadaan kita berada di tempat terang
sedang musuh ada di tempat gelap, apakah teror semacam ini
tidak kita kuatirkan?”
“Oooh….jadi Si-Nio dan majikanmu juga kena dipaksa oleh
pihak Mo-kauw untuk membalas dendam kepadaku” pikir Hoa
In-liong dengan cepat, “Jadi kalau begitu, keputusanku untuk
membantu mereka berdua merupakan suatu tindakan yang
bersifat demi kepentingan umum maupun demi keuntungan
pribadi,”
Dihati ia berpikir demikian, diluaran segera jawabnya,
“Ehmmm…. ditinjau dari rencana Mo-kauw kaucu yang begitu
sempurna dan tersusun rapi, dapat kita ketahui betapa licik,
buas dan busuknya manusia tersebut. Aku Hoa Yang pasti
akan mencari kesempatan untuk berkelahi dengannya. Nona
Wan apalagi yang sempat kau dengar?”
Betapa cemas dan gelisahnya Wan Hong-giok ketika
dilihatnya pemuda itu sama tak acuh terhadap ancaman yang
datang. Meski begitu si nona juga rikuh untuk memperlihatkan
kegelisahannya, maka sesudah merenung sebentar sahutnya
dengan sedih. “Kentongan pertama kemarin dulu malam
seorang laki-laki berkerudung datang menjumpai Hong Seng.
Orang itu mengakui dirinya sebagai anak buah Hian-beng kau.
Setelah ia pergi, Hong Seng lantas menurunkan perintah
untuk membekuk diriku dan menyiksanya dengan penyiksaan

830
paling keji. Bila kubayangkan kembali semua kejadian
tersebut, pastilah sudah bahwa antara dua perkumpulan itu
tentu sudah bersekongkol”
“Macam apakah laki-laki itu?” tanya Hoa In-liong sambil
megerdipkan matanya, “Dan siapa pula namanya? Apakah
nona pernah menyaksikan pula orang-orang Kiu-Im kau
berhubungan dengan mereka?”
“Orang itu berperawakan sedang, langkah tubuhnya tegap
dan gagap, tampaknya ia belum terlampau tua. Aku tak tahu
siapa namanya. Mengenai orang-orang Kiu-im kau, sampai
detik terakhir aku tak pernah menjumpainya….”
Tiba-tiba Hoa Si menjura dan memberi hormat. “Terima
kasih banyak nona atas keteranganmu” serunya kemudian,
“Aku harus buru-buru turun gunung hingga tak bisa menemani
engkau lebih lama lagi. Jika kau membutuhkan bantuan kami,
silahkan dirundingkan dengan adikku, aku pasti akan berusaha
dengan sepenuh tenaga”
Lalu ia berpaling kepada Hoa In-liong dan berpesan lebih
jauh, “Jite, temanilah rona Wan bercakap-cakap. Cuma ilmu
silat yang dimiliki nona Wan sudah punah, badannya jadi
sangat lemah dan tak kuat berbicara terlalu lama. Kau sendiri
juga tak boleh terlalu keras kepala, bila betul-betul kau miliki
simhoat tenaga dalam yang istimewa, cepatlah coba di
praktekkan”
Sejak dipengaruhi racun ular sakti, ketajaman mata Hoa Inliong
sangat berkurang. Dia tak tahu kalau ilmu silat yang
dimiliki Wan Hong-giok telah punah. Maka ketika mendengar
hahwa ilmu silat yang dimiliki Wan Hong-giok sudah musnah,
ia jadi kaget dan setengah percaya setengah tidak. Cepat ia
berpaling dan diamatinya wajah si nona dengan seksama.

831
Lantaran begitu, ia jadi tidak mendengar apa yang
selanjutnya diucapkan Hoa Si.
Coa Wi-wi yang secara tiba-tiba melihat Hoa Si berlalu
dengan terburu-buru justru dia yang jadi curiga, maka
sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, dengan
gelisah ia lantas berseru, “Toako, ada urusan apa yang
membuat kau terburu-buru?. Kenapa kau tergesa- gesa turun
gunung?”
Hoa Si memeriksa dulu keadaan cuaca, kemudian sambil
alihkan pandangan matanya ia menjawab, “Gi-heng sudah
mengadakan janji dengan Kiu-im kaucu di kota Ci-tin. Padahal
sekarang sudah mendekati tengah hari. Bila tidak segera
berangkat, aku kuatir kalau sampai mengingkari janji. Adik Wi,
setelah aku pergi nanti, tolong aturlah perlindungan atas Jite
dan nona Wan”
Begitu mendengar disinggungnya soal “Kiu-im Kaucu” Hoa
In-liong merasakan sekujur tubuhnya bergetar keras ia
berpaling dengan wajah tercengang. “Apa?” demikian
teriaknya dengan gelisah, “Toako ada janji dengan Kiu-im
kaucu? Ia menunggu dikota Ci-tin?”
“Yaa benar” Hoa Si mengangguk tanda membenarkan,
“Sebelum fajar tadi, Kiu-im kaucu dan seorang manusia
berkerudung telah munculkan diri disini, Ia berpesan agar aku
ajak kau bertemu muka di kota Ci-tin”
“Ka…. kalau begitu, aku harus ikut” seru Hoa In-liong
sambil meronta dan berusaha bangun.
“Tidak, kau tak boleh pergi “cepat Coa Wi-wi
membimbingnya sambil berseru dengan cemas, “Sebelum
racun ular yang bersarang ditubuhmu berhasil dipunahkan,
apa gunanya engkau pergi?”

832
“Kau tak tahu, perempuan itu terlalu sombong, dingin dan
kukoay” teriak Hoa In-liong cemas, “Padahal Toako terlalu
jujur dan polos….”
“Jite, aku toh baru saja menyuruh engkau jangan terlalu
mencari menangnya sendiri, apa kau sudah lupa? “tukas Hoa
Si dengan wajah yang amat serius.
“Tentang soal ini…. “ Hoa In-liong tergagap dan berusaha
memberi penjelasan.
Tapi sebelum kata-kata tersebut berkelanjutan, Hoa Si
telah menukasnya kembali seraya berkata, “Tak perlu kau
katakan lagi, sekalipun Kiu-im kaucu itu dingin, sombong dan
kukoay, aku yakin masih sanggup untuk menghadapinya. Bila
kau masih belum melupakan nasehat keluarga, lebih baik
beristirahatlah disini dergan hati yang tenang, tunggu sampai
aku kembali”
“Nasehat keluarga “dua patah kata itu sangat berbobot.
Seketika itu juga Hoa In-liong berdiri terbelalak dan untuk
sesaat lamanya tak mampu berkata-kata lagi.
Dalam pada itu, selesai mengucapkan kata-katanya, Hoa Si
pun berseru kepada Wan Hong-giok, “Baik-baiklah jaga dirimu
nona!”
Lalu kepada Coa Wi-wi dia berkata pula, “Merepotkan nona
untuk melindungi mereka!”
Kemudian dengan langkah lebar dia tinggalkan kuil bobrok
tersebut dan turun gunung dengan cepatnya.
Sepeninggal Hoa Si, Hoa In-liong masih tetap duduk tak
berkutik bagaikan sebuah patung arca. Untuk memecahkan

833
kesunyian yang mencekam, Coa Wi-wi segera memerintahkan
Ki-ji untuk mengambil rangsum kering dan dibagikan kepada
beberapa orang itu.
Selesai bersantap, untuk mencari bahan pembicaraan,
maka berkatalah Coa Wi-wi, “Enci Wan, kesemuanya ini
adalah gara-gara ketidak becusan siau-moay sehingga
mengakibatkan kau kehilangan ilmu silatmu, tentunya kau tak
menyalahkan aku bukan?”
Hoa In-liong yang mendengar ucapan tersebut jadi
tertegun, dia lantas berpaling dan memandang kearahnya
dengan termangu.
Tapi dara itu pura-pura tidak tahu, dengan matanya yang
jeli dia menatap wajah Wan Hong-giok menyahut, “Bila hianmoay
berkata demikian, itu sama artinya dengan sengaja
menyindir aku. Berkat bantuan kalian majikan pembantu dua
oranglah nyawaku berhasil diselamatkan. Untuk itupun aku
belum mengucapkan terima kasihku. Budi kebaikan tersebut
sudah terukir dalam-dalam dilubuk hatiku dan sepanjang masa
tak akan lupakan kembali. Bila diam-diam aku menyalahkan
diri hian-moay lantaran ilmu silat musnah, bukankah aku ini
lebih rendah dari seekor binatang!”
Maksud Coa Wi-wi bukan begitu, tapi ia pura-pura berseri,
katanya lagi sambil tertawa, “Kalau memang begitu, siaumoay
pun berlega
hati. Enci Wan, badanmu sangat lemah….”
Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya,
mendadak Hoa In-liong menuding kearahnya sambil berseru,
“Aaah…. Sekarang aku sudah ingat, bukankah kau adalah….”

834
Suara “Aaah!” itu diucapkan sangat keras, baik Coa Wi-wi
maupun Wan Hong-giok sampai tertegun dibuatnya.
Coa Wi-wi angkat kepalanya, tapi ketika dilihatnya Hoa Inliong
sedang menuding kearahnya, ia lantas berseru dengan
suara dalam, “Kau…. Kau apa? Aku mengira selamanya kau
tak dapat buka suara lagi!”
Hoa In-liong sama sekali tidak menggubris atas sikap
marah-marah dari gadis itu, serunya lebih jauh, “Rupanya kau
adalah adik perempuan dari saudara Cong-gi. Haa…. haa….
haa…. Mirip betul penyamaranmu!”
Sambil berkata ia lantas menyambar ikat kepala yang
dikenakan oleh Coa Wi-wi.
Begitu ikat kepalanya terlepas, rambut yang hitam dan
panjangpun terurai kebawah.
Mula-mula Coa Wi-wi rada tertegun, tapi kemudian
mukanya berubah jadi merah padam. Ia jadi malu bercampur
gelisah, tangannya mencakar sana sini, sedang badannya
segera dijatuhkan kedalam pelukan Hoa In-liong. “Kau….
Kau….”serunya manja.
Hoa In-liong terbahak-bahak, sepasang tangannya segera
direntangkan untuk menangkap sepasang lengannya.
Pemuda ini adalah seorang yang berpikiran moderen dan
tidak terlampau terikat olah peraturan. Penemuan tersebut
sangat menggirangkan hatinya. Seluruh awan mendung yang
menyelimuti benaknya juga tersapu tanpa bekas. Ia sudah
bersiap-siap untuk menggoda Coa Wi-wi habis-habisan agar
suasana jadi riang.

835
Siapa tahu selama racun ular sakti masih mengeram dalam
tubuhnya, tenaga yang ia miliki jauh dibawah garis normal.
Ketika Coa Wi-wi menubruk ke dalam tubuhnya, ia tak kuat
menahan berat badan gadis itu, diiringi teriakan kesakitan
robohnya pemuda itu ke atas tanah.
Teriakan tersebut sangat mengejutkan Coa Wi-wi. Cepat ia
meronta dan bangkit berdiri.
Dalam gugupnya ia tak mengira kalau sewaktu jatuh
badannya dalam posisi miring. Maka begitu dia meronta dan
berusaha bangun, bukan saja gadis itu gagal untuk bangkit
berdiri, malahan tubuh Hoa In-liong tertindih dibawah
tubuhnya.
“Adik Wi!” Wan Hong giok segera berseru dengan cemas,
“Racun ular sakti yang mengeram di tubuh Hoa kongcu belum
punah. Kau tak boleh sembarangan bergerak, hati-hati kalau
sampai melukai dirinya”
Masih mendingan kalau ia tidak berteriak. Mendengar
teriakan tersebut, Coa Wi-wi semakin malu dibuatnya. Kalau
bisa sekali depak dia ingin mendepak perempuan itu hingga
terlempar dari hadapannya.
Ki-ji cepat bertindak dengan membangunkan Hoa In-liong
dari atas tanah, sementara Coa Wi-wi sendiripun cepat-cepat
menekan permukaan tanah dengan tangannya dan melompat
bangun.
“Kau…. kau…. kau telah menganiaya diriku” serunya sambil
membenahi rambutnya yang kusut.
Tiba tiba ia putar badan, lalu menutup mukanya dengan
kedua belah tangan dan menangis tersedu.

836
“Aku…. aku…. masa…. masa…. aku….” Hoa In-liong
gelagapan setengah mati.
“Apa lagi yang hendak kau katakan? Kalau bukan kau
aniaya diriku, lalu apa namanya?” dengan gemas Coa Wi-wi
mendepak-depakkan kakinya keatas tanah.
“Aku…. aku…. betul-betul tidak kuat menahan badanmu….
hian….hian…. moay”
Tiba-tiba Coa Wi-wi berhenti menangis dan putar badannya
menghadap kearah pemuda itu. “Baik! Sekarang katakanlah,
kau harus memberi suatu keadilan….”
Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba matanya
terbelalak lebar, mulutnya yang melongo tak sanggup
mengucapkan sepatah katapun.
Rupanya setelah mengalami perontaan tadi, Hoa In-liong
kehabisan tenaga. Waktu itu ia berada dalam keadaan yang
mengenaskan.
Sepasang alis matanya bekernyit, bibirnya gemetar, otototot
hijau pada jidatnya pada menongol keluar, kulit wajahnya
mengejang. Jelas racun ular sakti yang mengeram dalam
tubuhnya telah kambuh dan sekarang ia sedang merasakan
suatu siksaan yang luar biasa.
Wan Hong-giok mesti tak dapat menyaksikan perubahan
wajahnya, tapi menyaksikan sikap Coa Wi-wi yang tertegun
lantaran kaget, hatinya kontan saja jadi kecut.
Jilid 22

837
SEDIKIT banyak usia Wan Hong-giok jauh lebih besar
dibandingkan Coa Wi-wi. Apalagi dia adalah seorang
perempuan yang sudah berpengalaman dalam pelbagai
peristiwa besar. Maka walaupun dihati ia gugup dan terkejut,
perasaan tersebut masih dapat ia kendalikan secara baik.
Pelan-pelan ia bangkit berdiri, lalu maju ke muka.
Dihampirinya Coa Wi-wi dan dibelainya bahu dara itu. “Adik Wi
tak boleh terlalu sedih” hiburnya dengan muka serius,
“Caramu begini bukan saja tak ada manfaatnya bagi keadaan
Hoa kongcu, justru amat merugikan kesehatan badanmu
sendiri. Ayoh bangun, mari kita rundingkan, siapa tahu kalau
kita bisa temukan cara yang baik untuk mengatasi keadaan
tersebut”
“Tapi…. Tapi dia tak mau turuti perkataan kita!” keluh Coa
Wi-wi sambil angkat kepalanya, air mata masih berlinang
membasahi seluruh wajahnya.
Wan Hong-giok mengangguk lirih. “Maksud adik Wi, Hoa
kongcu enggan mengerahkan tenaganya untuk mengusir sari
racun dari tubuhnya?”
Coa Wi-wi sesenggukan menahan isak tangisnya yang kian
menjadi. “Ia sendiri yang bilang, katanya racun tersebut
mungkin bisa didesak keluar dengan menggunakan suatu jenis
sim-hoat tenaga dalam yang istimewa, tapi…. tapi….”
Belum selasai perkataan itu, tiba-tiba Hoa In-liong berbisik
dengan suara yang sangat lemah, “Bi….biarlah aku….akan….
mencobanya….”
Mendengar ucapan itu, dua orang dara tersebut sama-sama
jadi tertegun dan melongo.

838
Selang sesaat kemudian, Coa Wi-wi telah tersenyum
kembali, dia lantas menggerutu, “Aaah…. kamu ini, setan
binal!”
Seraya menggerutu dia lantas ulapkan tangannya, memberi
tanda kepada Ki-ji untuk mengundurkan diri sedang dia sendiri
segera melompat bangun dengan enteng. Lalu setelah
membisikkan sesuatu disisi telinga Wan Hong-giok, diapun
mundur dan menyingkir kesamping.
Jelas ia telah memikul tanggung jawab sebagai pelindung
dari Hoa In-liong selama pemuda itu melakukan semedinya.
Walaupun demikian, sepasang matanya yang jeli menatap
wajah Hoa In-liong lekat lekat, rupanya ia sedang mengawasi
perubahan wajah sang pemuda dan berusaha memberikan
penilaiannya.
Waktu Coa Wi-wi dan Wan Hong-giok berdiri beriring Coa
Wi-wi di depan dan Wan Hong-giok di belakang. Dengan
begitu Wan Hong-giok tak dapat menyaksikan perubahan
wajah dari nona tersebut, tapi ia dapat mendengar detak
jantungnya yang amat keras.
Selang sesaat kemudian, detak jantung Coa Wi-wi makin
lama kedengaran makin nyaring. Nafasnya juga makin lama
semakin memburu hingga akhirnya mendekati tersengkal.
Keadaan tersebut jelas menunjukkan bahwa keadaannya
luar biasa. Wang Hong-giok terkesiap, cepat-cepat ia beranjak
dan berusaha menengok keadaan dari Hoa In-liong.
Seluruh ilmu silat yang dimiliki gadis itu baru saja punah,
ketajaman matanya secara otomatis juga jauh berkurang.
Mula-mula dia mengira keadaan Hoa In-liong bertambah kritis.
Tapi setelah diamatinya dengan seksama, ternyata ia tidak

839
menemukan suatu gejala yang kurang beres pada air muka
anak muda itu, maka sinar matanya lantas dialirkan ke atas
wajah Coa Wi-wi.
Paras muka Coa Wi-wi juga tidak menunjukkan perubahan
apa-apa, cuma bibirnya gemetar seperti mau mengucapkan
sesuatu. Dadanya bergelombang matanya memancarkan
cahaya tajam, ia sedang mergawasi Hoa In-liong tanpa
berkedip.
oooOOOOooo
DITINJAU dari semua gejala tersebut, maka dapat kita tarik
kesimpulan bahwa bergelombangnya dada nona itu serta
memberatnya dengusan napas adalah dikarenakan tekanan
jiwa yang teramat sangat.
Setelah melihat jelas keadaan dari dua orang tersebut, Wan
Hong-giok mengerutkan dahinya lalu diam-diam
menghembuskan napas panjang. “Aaaai…. Dasar bocah, apa
gunanya bersikap tegang seperti itu….?” demikian ia berpikir.
Belum habis ingatan tersebut melintas, satu ingatan tibatiba
berkelebat dalam benaknya. Kenangannya ketika
berjumpa dengan Hoa In-liong di kota Lok yang kembali
terbayang kembali dalam benaknya.
Itulah suatu tanah berbukit diluar kota Lok-yang, ketika itu
fajar baru menyingsing. Si-nio-pun baru saja kabur terbiritbirit.
Di atas bukit hanya tinggal dia dan Hoa In-liong dua
orang.
Memandang kegagahan dan ketampanan wajah Hoa Inliong,
ia merasa begitu terpikat, begitu terpesona, sehingga
jantungnya berdebar keras, sehingga napasnya memburu dan
hampir saja tak mampu bernapas lagi.

840
Sejsk itulah batinnya seakan-akan sudah terbelenggu disisi
Hoa In-liong. Setiap waktu, setiap saat ia selalu mengenang
diri Hoa In-liong.
Terbayang kembali kenangan masa lalu, tiba-tiba saja Wan
Hong-giok merasa bahwa keadaannya ketika itu ternyata tidak
jauh berada dengan keadaan Coa Wi-wi sekarang ini.
Terbayang sampai disana, tanpa sadar iapun berpaling kearah
Coa Wi-wi
Kali ini ia telah merasakan, merasa bahwa Coa Wi-wi sudah
bukan seorang bocah lagi.
Dalam pandangan Wan Hong-giok, seolah-olah secara tibatiba
Coa Wi-wi telah tumbuh jadi dewasa. Tumbuh jadi
seorang gadis cantik rupawan
yang memiliki daya pikat yang hebat. Yang bisa
meruntuhkan hati setiap laki-laki manapun….
Suatu keanehan segera dirasakan kembali, tiba-tiba Wan
Hong-giok merasa bahwa kehadiran gadis yang cantik jelita itu
seolah-olah merupakan suatu daya kekuatan yang menekan
diatas tubuhnya. Kekuatan itu mencapai ribuan kati beratnya.
Ini membuat Wan Hong-giok merasakan kakinya jadi lemas,
badannya jadi sempoyongan dan hampir saja tak sanggup
berdiri tegap….,
Yaa…. maklumlah, ia sampai ternoda, sampai menderita,
bahkan ilmu silatnya sampai musnah kesemuanya itu lantaran
apa?
Atau tenaganya saja, ia sampai merasa rendah diri, sampai
tak pantas untuk mendampingi Hoa In-liong. Dari sini dapat
kita ketahui betapa mendalamnya perasaan cinta gadis itu

841
terhadap sang pemuda sehingga boleh dibilang sudah
mencapai puncaknya.
Dan secara tiba-tiba menyaksikan bagaimanakah sikap Coa
Wi-wi terhadap Hoa In-liong, betapa cintanya gadis itu
terhadap pujaan hatinya. Tentu saja pukulan tersebut
dirasakan semakin berat lagi, terutama dalam keadaan seperti
ini.
Setelah termangu-mangu beberapa waktu lamanya, ia
merasa sepasang kakinya bertambah lemas, badannya jadi
semboyongan. Hampir saja ia jatuh terjerembab.
Siau-ki buru-buru menghampiri dan membimbing tubuhnya,
kemudian bisiknya dengan lirih, “Nona Wan, kenapa kau?
Apakah masih bisa bertahan? Apakah badanmu merasa
kurang enak?’
“Hey, jangan berisik!” tiba-tiba Coa Wi-wi menegur sambil
ulapkan tangannya.
Meskipun mulutnya berbicara dengan nada tajam, sinar
matanya sama sekali tidak beralih dari tempat semula.
Kenyatan tersebut semakin melemaskan tubuh Wan Honggiok.
Paras mukanya semakin pucat, kelompok matanya jadi
berat. Dengan lemas tak bertenaga sedikitpun ia bersadar
ditubuh Ki-ji dan menghela napas berulang kali.
Yaa, berbicara sesungguhnya semua gerak gerik, semua
tingkah laku Coa Wi-wi dengan jelas menunjukan bahwa
dalam hatinya, dalam pikirannya hanya ada Hoa In-liong
seorang.

842
Sikap semacam itu adalah suatu sikap penaruh perhatian
yang mendalam, suatu sikap kuatir yang amat sangat.
Wan Hong-giok adalah seorang perempuan yang
berpengalaman, sudah tentu keadaan semacam itu cukup
dipahami olehnya. Hanya saja Coa Wi-wi lebih muda dari
padanya. Lebih cantik darinya dan lagi diapun berhutang budi
atas pertolongan yaug telah menyelamatkan jiwanya. Bukan
saja ia tak boleh menjadi musuh cintanya, iapun tak boleh
berebut cinta dengannya….
Yaaa, padi hakekatnya keadaan dara ini terlalu
mengenaskan. Ia betul-betul berada dalam keadaan terjepit,
bayangkan saja, bagaimana caranya kesulitan ini harus
diatasi?
Ki-ji tidak paham akan perasaan si nona. Dianggapnya
nona itu kurang sehat badan, maka sambil membimbingnya
duduk kesamping dia bertanya, “Wan siocia, bagian manakah
badanmu yang kurang sahat? Biar Ki-ji memijatkan, mau
kan?”
“Aku…. aku….”pelan-pelan Wan Hong-giok membuka
kembali matanya.
Tapi pandangan matanya kemudian dialihkan kearah Coa
Wi-wi dan memandang bayangan punggungnya dengan
terpesona.
Ki-ji tidak memahami perasaan orang, dengan dahi yang
berkerut dia berseru, “Nona-Wan! Yang paling penting adalah
urusi dulu badanmu!. Serahkan saja soal Ji-kongcu kepada
nonaku, kau tak usah mengurusinya. Nona seorang rasanya
masih cukup uituk mengatasi segala kesulitan!”

843
Wan Hong-giok tidak menjawab. Pada hakekatnya ia tidak
mendengar apa yang dikatakan dayang itu, dihati kecilnya ia
sedang berpikir, “Aaaia…. Aku hanya sekuntum bunga yang
mulai layu dan rontok. Dapatkah aku dibandingkan dengan
sekuntum bunga yang masih segar….? Aku…. aku…. harus….”
Sekilas keteguhan hati yang tebal melintas di atas
wajahnya, mendadak ia bangkit berdiri.
“Eeeeeh…. Kau…. Kau mau apa?” Ki-ji segera menegur
dengan kaget.
Sambil berusaha mengendalikan perasaannya yang kalut,
Wan Hong giok tertawa getir. “Nona Ki- ji, banyak terima kasih
atas usahamu yang beberapa kali menyelamatkan jiwaku.
Meski saat ini Wan-Hong-giok tak sanggup membalas budi
kebaikan itu, namun budi tersebut akan selalu terukir dalam
hati sanubariku”
Tentu saja Ki-ji membuat pusiug tujuh keliling dan tak
habis mengerti oleh ucapan-ucapan semacan itu. Dia malah
melongo dan berdiri tercengang dibuatnya.
“Aneh betul kau nona Wan. Tiada hujan tiada angin kenapa
kau singgung urusan tersebut? Toh urusan semacam itu pada
dasarnya tiada harganya untuk disinggung! “demikian ia
berseru.
“Yaaa, apa boleh buat, terpaksa aku harus tinggalkan
tempat ini” bisik Wan Hong-giok dengan mata yang menjadi
merah, “Setelah aku pergi nanti, tolong sampaikan salamku
kepadanya, katakan saja bahwa aku….”
“Enci Wan! Cepat lihat, dia….” teriak kegirangan dari Coh
Wi-wi mendadak memotong perkataannya yang belum
diucapkan hingga selesai itu….

844
Tapi ketika Goa Wi-wi tidak menemukan teman
berbicaranya ada disisinya, kontan saja nona itu menghentikan
kata-katanya.
Wan Hong-giok tertegun, tanpa sadar ia berpaling ke arah
mana berasalnya suara itu.
Dikala empat mata saling beradu, badan Coa Wi-wi yang
separuh berputarpun terhenti ditengah jalan. Dengan wajah
tercengang dan tidak habis mengerti ia berpaling serta
menatap tajam-tajam wajahnya.
“Siocia, dia mau pergi katanya!” Ki-ji berteriak dengan
suara penuh kegelisahan.
“Kenapa? Kenapa kau hendak pergi?” dengan langkah
terburu-buru, Coa wi-wi lari menghampirinya, “Enci Wan,
kenapa kau? Hendak kenapa kau?”
“Aaaai…. Selama manusia masih diberi kesempatan untuk
melanjutkan hidupnya, aku tak dapat mengatakan kemana
kuakan pergi. Aku hanya
tahu sampai dimana aku pergi, sampai disitu pula
kehidupanku” jawab Wan Hong-giok diiringi helaan napas
sedih.
“Aaaai…. Tidak boleh, kau tidak boleh pergi!’ teriak Coa Wiwi
sambil berkerut kening, “Apalagi badanmu begitu….”
Tiba-tiba ia meresa dibalik perkataan gadis itu terselip
suatu nada kesedihan yang luar biasa. Ini menyebabkan ia
jadi bingung dan tidak habis mengerti, maka sampai ditengah
jalan kata-katanya terhenti, ditatapnya dara itu dengan wajah
termangu.

845
Noda air mata masih membasahi pipi Wan Hong-giok, hal
ini semakin mencengangkan Coa wi-wi, ia sampai berdiri
melongo. “Enci Wan, kau menangis? “tanyanya agak
tercengang.
Mendengar itu, cepat Wan Hong-giok menyeka air
matanya. “Aku…. Aku…. Merasa sangat berhutang budi
kepada adik Wi, aku merasa tak mampu untuk membalas budi
itu….”
“Oooh…. Maka Enci Wan lantas mau pergi?” tukas Coa Wiwi
setelah berseru perlahan.
Setelah berhenti sebentar, ditatapnya gadis itu dengan
tajam, kemudian ia mengomel, “Enci Wan ini juga keterlaluan,
pertolongan macam begitu itu terhitung budi macam apa?
Buat apa mesti bikin hatimu jadi risau dan ingin pergi secara
diam-diam?”
Wan Hong-giok tertawa getir dihati. Mesti ada persoalan
tersebut sulit rasanya untuk diutarakan keluar, terpaksa
sahutnya dengan cepat, “Perkataan adik Wi-wi terlampau
serius. Aku tidak ingin kabur tanpa pamit, aku cuma tak ingin
mengganggu konsentrasimu….”
“Aku tak ambil perduli, pokoknya kau tak boleh pergi dari
sini!” sekali lagi Coa Wi-wi menukas dengan bibir yang
dicibirkan, boleh dibilang ia agak enggan untuk mendengarkan
perdebatan itu.
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut seratus persen
gayanya masih merupakan gaya seorang gadis remaja.
Wan Hong-giok merasa dalam hatinya muncul sebuah bisul
besar, ia enggan untuk mengumbar hawa amarahnya maka

846
sambil tertawa gaeir, dia berusaha untuk menahan emosi
hatinya. “Dengarkan dulu perkataanku adik Wi” kata-nya
kemudian, “Kini aku hanya seorang perempuan cacad. Aku
hanya akan menjadi beban selama Mengikuti kalian. Akupun
mengerti bahwa tugas kalian berat, banyak urusan penting
yang harus dikerjakan. Terutama tugas kalian untuk menyapu
hawa iblis dari muka bumi dan menegakkan keadilan serta
kebenaran dalam dunia persilatan. Aku tak mau menjadi
beban kalian, akupun tak ingin menjadi perintang dari cita-cita
kalian sebab baik dalam urusan pribadi maupun demi
kepentingan umum, kehadiranku hanya menambah beban
kalian!”
Sebenarnya perkataan tersebut bertolak belakang dengan
apa yang menjadi beban pikirannya, tapi pada hakekatnya
kata-kata itu mengandung kebenaran yang tak bisa dibantah
oleh siapapun.
Sayang jalan pikiran Coa Wi-wi berbeda. Ia tidak
menggubris perkataan itu, sebaliknya sambil angkat kepala
dan mengernyitkan dahi ujarnya kembali, “Apa itu beban, apa
itu perempuan cacad? Kalau berkata bahwa cita-cita kita
adalah menyapu hawa siluman. Kalau dibilang tugas kita
berat, sekali pun engkau betul-betul cacad juga sepantasnya
ikut memikirkan keselamatan dunia persilatan. Lebih-lebih lagi
kami, sudah sepatutnya kalau melindungi keselamatanmu.
Tahukah engkau tanggung jawab bukanlah tugas. Sudahlah,
pokoknya apapun yang kau katakan, aku tetap tidak
porkenankan engkau pergi”
Kalau perkataannya tadi masuk diakal, maka perkataan ini
lebih masuk diakal. Dalam kata-katanya itu meski ada nada
jengkel, namun dibalik kejengkelan ada nada hangat. Untuk
sesaat Wan Hong-giok malah dibikin tertegun setelah
mendengar perkataan itu.

847
Pelbagai ingatan segera berkecamuk dalam benaknya,
sesudah merenung sebentar, ujarnya kembali, “Adik Wi, aku
tidak bertindak karena turuti emosi, ketahuilah bencana besar
telah menyelimuti dunia persilatan. Setiap waktu setiap saat
kemungkinan besar kita dapat bertemu dengan kaum iblis dan
siluman setan. Bila aku ikut hadir pada waktu itu, sudah pasti
perhatian kalian aku bercabang. Bila sampai dimanfaatkan
kesempatan itu oleh musuh, bukankah lebih berabe?”
“Sudah….sudah ah…. Kau tak usah banyak berbicara lagi”,
potong Coa Wi-wi rada mangkel, “Apa nya yang perlu
dikuatirkan? Pokoknya aku tak akan biarkan aku pergi, bicara
seratus kalipun juga sia-sia belaka”
“Adik….” sambil tertawa getir Wan Hong-giok gelengkan
kepalanya berulang kali.
Tampaknya Coa Wi-wi mulai tak sabar, dengan kening
berkerut dan nada mangkel dia menukas, “Cerewet amat kau
enci Wan, kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri?
Pikirkan dulu keadaan orang sebelum memikirkan dirimu
pribadi! Jika kau pergi dengan begitu saja bukankah sama
artinya dengan tidak setiap kawan terhadap Jiko? Bagaimana
pula tanggung jawabku terhadap Jiko nanti? Terus terang
kukatakan kepadamu, aku sudah mempunyai susunan rencana
yang matang. Asal Jiko telah pulih kembali kesehatannya, kita
akan berkunjung ke bukit Im Tiong-san lebih dulu. Konon
tempo haripun Lo-tay-kun dari keluarga Hoa pernah
kehilangan ilmu silatnya, tapi kemudian ilmu silatnya berhasil
dipulihkan kembali. Dengan pengalaman serta kemampuan
yang dimiliki dia orang tua, aku percaya beliau pasti akan
banyak membantu untuk dirimu. Makanya kalau ingin pergi,
kau harus tunggu sampai berjumpa dulu dejgan dia orang tua”
Perkataan itu ada benarnya juga. Dalam peristiwa tersebut
banyak orang yang memuji akan ketangguhan Hoa lo-hujin,

848
terutama kemampuannya untuk memulihkan kembali
kepandaiannya yang telah punah. Hampir setiap umat
persilatan memujinya. Semua orang menganggap kejadian itu
merupakan peristiwa paling aneh dalam sejarah ilmu silat.
Sebelum terjun kedalam dunia persilatan, Wan Hong-giok
sudah pernah mendengar tentang kisah cerita itu. Maka ketika
persoalan tersebut disinggung kembali oleh Coa Wi-wi, hatinya
jadi rada bergerak, timbullah sebercak harapan dalam hatinya.
Tapi ketika sinar matanya terbentur kembali dengan raut
wajah Coa Wi-wi yang cantik jelita, ia jadi terbungkam dalam
seribu basa, bahkan hatipun ikut tergetar keras.
Menyaksikan nona itu tertegun, tiba-tiba Coa Wi-wi tertawa
cerah, dicekalnya lengan Hong-giok dan dibisiknya dengan
lembut. “Sungguh, enci Wan! Kita dapat memohon kepada Lo
taykun dari keluarga Hoa untuk memulihkan kembali ilmu
silatmu yang hilang. Kalau tidak Jiko tentu akan selalu murung
dan kaupun selalu kesal oleh kejadian ini. Oh Enci ku yang
baik! Turutilah perkataanku, jangan pergi dari sini….mau
kan?”
Ketika, dimohon dengan suara lembut, Wan-Hong giok jadi
kelabakan, akhirnya dia menghela napas. “Aaai…. Adik Wi, kau
tidak akan mengerti!” katanya.
“Aku mengerti!” Coa Wi-wi angkat mukanya, “Aku tahu enci
Wan, kau sangat baik terhadap Jiko”
“Aaaai…. Apa yang kau mengertikan?” batin Wan Hong giok
setengah mengeluh, “Disisi pembaringan, apakah kau ijinkan
kehadiran perempuan lain? Sekalipun Wan Hong-giok amat
mencintai dirinya, aku toh bukan tandinganmu”

849
Mendadak ia merasa bahwa perkataan itu diucapkan
dengan nada bersungguh-sungguh, maka dia pun jadi
tertegun.
Maka sesudah merenung sejenak, kembali pikirnya, “Yaaa.
Benar bocah ini masih setengah mengerti setengah tidak.
Sekalipun dia cintai Hoa kongcu, namun tidak mengerti untuk
cemburu kepadaku, Aku…. Aku….aai…. hati itu merah. Aku
lebih-lebih tak boleh merintangi hubungan mereka”
Berpikir sampai disitu, niatnya untuk meninggalkan, tempat
itu semakin mantap, kembali dia angkat muka dan tertawa.
“Adik Wi”, demikian katanya, “Jika semua orang didunia ini
dapat mempunyai perasaan yang suci dan tak ternoda seperti
kau, alangkah ramainya dunia kita ini”
“Kau…. apa kau bilang?” Coa Wi-wi tertegun dan tidak
habis mengerti arti dari perkataan itu.
Sambil tersenyum Wan Hong-giok menepuk bahunya.
“Maksudku”, katanya, “Jika semua orang didunia ini berpikiran
polos dan jujur seperti kau niscaya banyak perselisihan dan
pertikaian yang tak berguna dapat dihindari!”
“Aaaai…. masih jauh!” Coa Wi-wi tertunduk dengan
kemalu-maluan, “Enci Wan, bila kau tidak terlalu jemu dengan
kebinalanku, harap jangan pergi tinggalkan kami. Sungguh
bila ilmu silatmu dapat pulih kembali, langsung kita
menggrebeg bareng bajingan-bajingan itu di Seng-sut-hay.
Kita ganyang semua orang Mo-kau sampai ludas, biar mereka
merasa kapok dan tahu diri”
Lincah, manja, polos dan hangat, begitulah nada ucapan
nona tersebut, bikin hati orang yang lebih keras dari bajapun
akan menjadi lumer dibuatnya.

850
Menghadapi keadaan seperti ini, disamping rasa gembira,
Wan Hong giok merasakan pula kegetiran dan kepedihan.
“Adik Wan tahukah kau bahwa engkau cantik?” tiba-tiba ia
bertanya setelah berpikir sebentar.
Coa Wi-wi terbelalak dengan wajah tercengang, “Eeeeeh….
Apa yang telah terjadi? Enci Wan, masa bicara pulang pergi
pokok pembicaraan ditimpakan pada diriku lagi. Bukankah
makin berbicara kau menarik pokok pembicaraan semakin
jauh?”
Agaknya Wan Hong-giok mempunyai rencana yang cukup
matang dengan pembicaraannya, pelan pelan katanya
kembali, “Adik Wi, aku hendak mengucapkan sepatah dua
patah gurauan kepadamu. Dulu lantaran aku sedang bersedih
hati, wajah dan gerak gerikmu tidak terlalu kuperhatikan. Tapi
setelah kuperhatikan sekarang, aku benar-benar sedikit
merasa terkejut. Sungguh, kecantikan dari seorang gadis
cantik adalah paling memikat hati, aku sebagai seorang
perempuan-pun ikut terpikat rasanya oleh kecantikanmu”
Coa Wi-wi menggerakkan bibirnya seperti hendak
mengatakan sesuatu, tapi sejenak kemudian tiba-tiba ia
tertawa cekikikan. “Jadi kau iri hati?” godanya dengan nakal.
“Yaa, aku iri hati” Wan Hong-giok mengakuinya, “kau
memiliki mata yang jeli bagaikan bintang timur, mempunyai
bibir yang mungil bagaikan delima merekah. Apalagi kulit
badanmu yang putih bersih, potongan badan yang ramping
tapi padat berisi, terutama tindak tanduknya yang lincah,
hatimu yang polos dan manja serta kelakuanmu yang halus
berbudi. Coba bayangkan, siapa yang tidak merasa iri?”
“Nah, kalau memang demikian, tidak seharusnya kau
merusak makhluk alam!” jawab Coa Wi-wi sambil mengerling
manja.

851
Menyaksikan “kerlingan yarg memikat itu, tanpa terasa
Wan Hong-giok ikut tertawa. “Coba lihat tampangmu, ternyata
berani mengomeli orang!”
“Sesungguhnya, apa yang kau ucapkan barusan justru
merupakan kelebihan yang kau miliki” kata Coa Wi-wi dengan
wajah serius, “Cuma, dewasa ini kau rada kurusan sedikit. Bila
tubuhmu sudah sehat kembali dan pulih seperti sedia kala,
tentu kau akan lebih cantik, jauh lebih cantik dari pada aku….”
“Aaah…. cukup, tak usah kita bicarakan soal semacam itu
lagi” tukas Wan Hong-giok sambil tersenyum, “Mari kita
bicarakan tentang soal-soal yang lain saja”
“Kalau begitu kau sudah setuju bukan kalau tidak akan
pergi?” Coa Wi-wi menatapnya dengan pandangan
mengharap.
Wan Hong-giok tetap menggelengkan kepalanya. “Aku
harus pergi, bagaimanapun juga aku harus pergi dari sini”
sahutnya tegas.
“Waaah….setengah harian sudah kita buang tenaga untuk
berbicara, tapi akhirnya kau toh ngotot ingin pergi juga. Buat
apa kita berbicara lebih lanjut?” dengan agak mendongkol Coa
Wi-wi mencibirkan bibirnya yang mungil.
Dengan cepat dia memutar badannya dan tidak menggubris
gadis itu lagi….
Cepat Wan Hong-giok menangkap bahunya dan memutar
badannya dengan paksa, pintanya, “Adik Wi dengarkan dulu
perkataanku….”

852
“Ogah…. ogah…. aku tak mau dengarkan perkataanmu….”
teriak Coa Wi-wi sambil menutup telinga dengan kedua belah
tangannya.
Wan-Hong-giok tidak menggubris teriakan itu malah sambil
tersenyum ia bertanya, “Aku ingin bertanya kepadamu,
apakah kau amat menyukai dirinya?”
Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun, menyusul kemudian
tanyanya agak tercengang, “Siapa yang kau maksudkan?”
“Hoa kongcu!”
Mula-mulaCoa Wi-wi agak tertegun, menyusul kemudian
sahutnya tergagap, “Aku…. Aku….”
Warna merah dengan cepat menjalar diatas wajahnya.
Tanpa sadar ia tertunduk dengan wajah malu. Untuk sesaat
gadis itu merasa gelagapan dan tak sanggup meneruskan
kata-katanya.
Dipegangnya dagu nona itu dengan tangan kanan, lalu
diangkatnya wajah Coa Wi-wi hingga bertatapan muka
dengannya, kemudian berkatalah Wan Hong-giok, “Tak usah
malu-malu adik Wi. Laki-laki mencintai kaum wanita kaum
wanita mencintai laki-laki kejadian tersebut sudah lumrah. Kau
menyukainya?”
Semakin jengah Coa Wi-wi dibuatnya dengan muka merah
ia meronta dari cekalan tangannya kemudian tundukkan
kepalanya rendah-rendah. “Aku…. Aku…. Bukankah kau juga
menyukainya?” tiba-tiba ia balik bertanya.
Wan Hong-giok tersenyum. “Yaa, aku memang
menyukainya, karena itu aku harus membicarakan persoalan
ini denganmu”

853
“Apa lagi yang musti kita bicarakan?” dengan perasaan
heran, tidak habis mengerti Coa Wi-wi menengadah.
“Engkau menyukainya, aku juga menyukainya, apakah
tidak cemburu kepadaku?”
“Cemburu kepadamu?” Coa Wi-wi mengerdipkan matanya
dengan keheranan “Kenapa aku musti cemburu kepadamu?”
“Itulah persoalan yang hendak kubicarakan denganmu.
Selain daripada itu….”
“Aaaah…. Masalah apalagi yang perlu kita bicarakan!” sela
Coa Wi-wi dengan hati berkerut, “Aku tahu bahwa kau
berkenalan lebih dulu dengan Jiko. Kalian adalah teman,
apalagi kau baik sekali kepada Jiko, selalu berusaha untuk
membantunya. Setelah kuketahui kesemuanya itu, hatiku
semakin berterima kasih kepadamu”
“Bukankah kau berterima kasih kepadaku lantaran itu maka
kau melarang aku pergi dari sini?” desak Wan Hong-giok
sambil menggut-manggut.
Coa Wi-wi mengangguk tanda membenarkan. “Yaa, kalau
toh aku menyukai Jiko maka semua sahabat Jiko adalah
sahabatku juga. Semua musuh Jiko adalah musuhku juga. Kau
baik sekali kepada Jiko lantaran Jiko hingga musti mengalami
musibah seberat ini. Tentu saja aku tak boleh membiarkan kau
pergi. Sebab kalau tidak demikian, berarti aku tidak menyukai
Jiko. Sebaliknya, bila aku harus cemburu kepada orang yang
memperhatikan Jiko, bukankah hal ini membuat aku jadi
terlalu egois, terlalu mementing diri sendiri? Manusia macam
begitu berhargakah untuk dicintai Jiko?”

854
Kata-kata itu terlalu polos, tarlalu bersifat kekanak-kanakan
tapi sedap didengar.
Bila Hoa In-liong berprinsip bahwa cinta itu harus dimiliki
untuk semua orang, maka cocoklah kalau pandangan itu
ditrapkan dengan jalan pemikiran Coa Wi-wi. Entahlah
bagaimana reaksi Hoa In-liong seandainya ia mendengar katakatanya
itu.
Hal ini berbeda pula dengan reaksi dari Wan Hong-giok.
Ketika mendengar perkataan itu, dia gelengkan kepalanya
berulang kali sambil menghela napas panjang. “Aaaai…. Adik
Wi, kau terlalu polos, terlalu berpandangan kekanak-kanakan.
Cinta antara muda dan mudi tak bisa ditinjau dari keadaan
pada umumnya!”
“Tapi…. Aku rasa semua orang juga berpandangan
demikian! Bukankah bersahabat adalah salah satu kewajiban
utama sebagai manusia?”
Tertawa geli Wan Hong-giok mendengar ucapan itu.
“Dasar bocah….!” serunya, “Mana ada hubungan antara laki
dan perempuan yang dilakukan seperti kau? Aaah…. kamu ini
setengah mengerti setengah tidak. Bila kau campur baurkan
antara hubungan laki perempuan dengan hubungan
persahabatan, siapapun yang mendengar perkataanmu tentu
akan ikut tergelak sampai gigipun menjadi copot”
“Kenapa?” Coa Wi-wi tertegun dengan wajah tidak
mengerti, “Masa dibalik hubungan tersebut masih ada hal-hal
yang istimewa?”
“Banyak sekali kalau menyinggung soal hal-hal yang
istimewa, misalnya saja, bila kurebut Jiko mu, Apakah kau

855
tidak membenci kepadaku? Masa kau tidak cemburu
kepadaku?”
“Tentang soal ini….” Coa Wi-wi tertegun dan mengerdipkan
matanya berulang kali.
Wan Hong-giok tersenyum, lanjutnya, “Tentunya kau akan
cemburu bukan? Tentunya? kau akan membenci aku kan? Jika
engkau tidak merasakan gejala tersebut berarti kau tidak
menyukai Jiko mu dengan sungguh hati. Nah, disinilah letak
persahabatan, sudah mengerti bukan?”
Coa Wi-wi bukan seorang gadis yang bodoh. Setelah
dijelaskan Wan Hong-giok secara terperinci, apalagi ditanyai
dengan cermat, tentu saja ia jadi paham.
Bukan saja ia paham. Bahkan selapis lebih dalam
kepahamannya itu. Sorot matanya dengan tajam dialihkan
keatas wajah Wan Hong giok. Setelah ditatapnya beberapa
kejap, sekulum senyuman segera terlintas dan menghiasi
bibirnya. “Ooooh…. Sekarang aku baru mengerti” teriaknya
setengah menjerit, “Rupanya kau…. kau sedang cemburu
kepadaku!”
Jeritannya yang lengking itu seketika mengejutkan hati Ki-ji
yang berada disisinya. Dengan agak gelagapan karena terkejut
ia pun berseru lirih, “Ssst…. Siocia, bagaimana sih kamu ini?
Kok jerit-jerit seperti anak kecil, bagaimana coba kalau sampai
mengejutkan Ji kongcu?”
Teguran tersebut membuat Coa Wi-wi terkesiap dengan
cepat dia berpaling dan memandang kearah Hoa In-liong.
Wan Hong giok ikut terkejut, tanpa terasa dia ikut berpaling
kearah si anak muda itu. Tapi ketika dilihatnya Hoa In-liong

856
tidak apa-apa, hatinya jadi lega dan tatapan matanya segera
ditarik kembali.
Sementara itu Coa Wi-wi telah menjulurkan lidahnya
memperlihatkan muka setan, lalu berbisik, “Sialan, aku sampai
kaget setengah mati. “Eeh…. Enci Wan! Ayoh ngaku terus
terang, bukankah kau lagi cemburu kepadaku?”
Wajah Wan Hong giok yang semula pucat pias seketika itu
jua berubah jadi semu merah. “Yaa, memang kuakui, semula
aku memang rada cemburu kepadamu!” jawabnya kemudian
setengah berbisik.
Dasar Coa Wi-wi yang polos dan masih kekanak-kanakan,
kontan saja ia tertawa cekikikan. “Hiiik…. hiik…. hiikk…. Enci
Wan ini lucu amat, kalau cemburu yaa cemburu, masa cuma
sedikit? Masa semula cemburu sekarang tidak?”
Wan Hong-giok betul-betul menjadi tobat menghadapi
kebinalan si nona cantik itu, akhirnya dengan gemas
ditudingnya ujung hidung dara itu sambil tertawa geli.
“Aaaah…. Kamu ini….ada-ada saja….”
Coa Wi-wi- semakin cekikikan. “Kenapa aku? Aku toh tak
pernah cemburu kepadamu, kaulah yang dalam hati ada
setannya.”
Sesudah berhenti sebentar, tiba-tiba dengan wajah serius
ujarnya lebih lanjut, “Aku ingin bertanya kepadamu, enci Wan!
Sekarang kau harus bicara yang sesungguhnya, tentunya kau
tak akan pergi lagi bukan?”
Sambil berkata dia angkat muka dan menantikan jawaban
dari Wan Hong-giok dengan penuh pengharapan.

857
“Tidak! Aku harus pergi” Wan Hong-giok berseru kemudian
sambil gelengkan kepalanya berulang kali.
Coa Wi-wi jadi tak senang hati. Sepasang alis matanya
berkenyit, matanya melotot besar, tampaknya dia hendak
mengumbar hawa amarahnya.
Melihat gelagat kurang baik, buru-buru Wan Hong-giok
berseru, “Dengarkan dulu perkataanku adik Wi. Aku bersikeras
ingin pergi dari sini bukan lantaran cemburu kepadamu, tapi
dikarenakan oleh alasan-alasan lain”
Coa Wi-wi mendengus dingin. “Hmmmm! Kamu ini
selamanya sudah diajak bicara kalau memang ada alasan lain
cepatlah katakan, aku segan untuk banyak cingcong lagi
dengan dirimu”
Wan Hong-giok sama sekali tidak tersinggung oleh
perkataan itu, dia malahan tersenyum. “Baik, aku akan
berbicara. Tolong tanya sudah berapa lama adik Wi
berkenalan dengan Hoa kongcu?”
“Eeeh…. Sebetulnya akal setan apalagi yang sedang
berputar dalam benakmu itu? “tegur Coa Wi-wi dengan wajah
tercengang, “Kenapa yang kau tanyakan selalu persoalan
persoilan yang tak penting?”
Wan Hong-giok tersenyum. “Harap jangan kau tanyakan
dulu persoalan itu. Sekarang beritahukan saja kepadaku,
sudah berapa lama engkau berkenalan dengan Jiko mu itu….”
Sebetulnya Coa Wi-wi tak mau menjawab tapi ketika
dilihatnya pertanyaan itu diajukan dengan wajah serius, ia jadi
tak tega untuk mendiamkan terus.

858
Akhirnya setelah merenung sebentar, dia menjawab
singkat, “Sejak kemarin!”
“Sejak kemarin….?”
Wan Hong-giok keheranan, bahkan hampir tak
mempercayainya, “Masa kalian baru sehari lamanya
berkenalan?”
“Kalau kenalnya sih sudah lama, cuma sejak kemarin baru
mengadakan pembicaraan secara resmi”
“Oooh…. Jadi kalau begitu, kalian boleh dibilang jatuh cinta
pada pandangan yang pertama”.
“Siapa bilang begitu?” Coa Wi-wi mengerutkan dahinya
dengan sengit, “Ketika berjumpa untuk pertama kalinya tempo
hari, aku malah ingin sekali memberi hajaran kepadanya”
“Aaaah…. Masa iya?” tanya Wan Hong-giok agak tertegun.
“‘Buat apa kau kubohongi?” Coa Wi-wi berkerut kening,
“Waktu itu engkohku memuji-muji dia. Kongkong-ku juga
memuji-muji dia, seakan-akan dia itu manusia super yang
tiada taranya di bumi dan tiada keduanya dikolong langit.
Huuh….! Aku jadi gemas rasanya, maka pingin kuberi
pelajaran yang setimpal kepadanya agar dia tahu rasa!”
“Oooh…. Jadi begitu ceritanya” pelan-pelan Wan Hong-giok
mengangguk, “Jadi rasa simpatikmu kepada Jiko dan rasa
senangmu kepadanya baru tumbuh dengan pelan-pelan
setelah berlangsungnya pembicaraan kemarin?”
“Aku sendiri juga kurang jelas” jawab Coa Wi-wi sambil
putar otak tiada hentinya, “Ketika kutemui dirinya kemarin,

859
sebenarnya ingin sekali kuhajar adat kepadanya, cuma
kemudian…. kemudian….”
“Kemudian kau terpikat oleh kegagahannya dan
membatalkan niatmu itu?” sambung Wan Hong-giok sambil
tertawa.
“Aaah…. bukan begitu!” seperti baru sadar dari kenangan,
Coa Wi-wi mengerdipkan matanya beberapa kali.
Lalu setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ia tertawa dan
berkata, “Sekarang aku teringat sudah, semuanya itu adalah
lantaran kau, selain tentu saja terpengaruh oleh Toako”
“Lantaran aku? ” Wan Hong-giok tertegun, ia merasa
tercengang dan tidak habis mengerti.
Coa Wi-wi mengangguk tanda membenarkan. “Yaa! Empat
hari berselang, aku berjumpa dengan Hoa Si Toako. Waktu itu
Toako mendapat tugas menuju kota Kim-leng, maka akupun
menemani Toako berangkat ketimur. Tujuanku hanya satu
yakin ingin mengajar Jiko. Sepanjang jalan lantaran tak ada
urusan maka aku banyak menanyakan urusan tentang diri
Jiko. Toako yang jujur dan baik bati selalu menjawab setiap
pertanyaan yang kuajukan. Ia membicarakan kelebihankelebihan
dari Jiko tapi menyinggung juga kekurangankekurangannya.
Maka jika kupikirkan kembali, kesanku atas
diri Jiko mungkin didapatkan semenjak itu dan untungnya
kesan tersebut adalah kesan yang semakin baik”
Setelah berhenti sebentar, diapun berkata lebih jauh, “Dua
bari berselang, kami telah berjumpa dengan rombongan
kakakku di kota Si-sian. Dari mereka kamipun tahu kalau
engkau ada janji dengan Jiko. Kebetulan Toako mendapat
perintah dari empek Hoa untuk memperingatkan Jiko agar
lebih waspada dan kalau bisa jangan bentrok dulu dengan

860
orang-orang Mo-kau. Sedang dikota Kim-leng pun kebetulan
terjadi peristiwa yang membutuhkan bantuan orang. Toako
jadi kelabakan dan gelisah sekali, sebab seorang diri tak
mungkin baginya untuk mengatasi dan kejadian ditempat yang
berbeda. Maka ketika kulihat ada kesempatan segera kuajukan
diri untuk memikul tugas tersebut dan memburu kebukit Siansan,
maksudku hendak menghalangi Jiko untuk datang
memenuhi janji….”
Menyinggung soal janji dibukit Sian-san, Wan Hong-giok
merasa murung bercampur kesal. Ia menghela napas sedih.
“Kesemuanya ini…. Akulah yang bersalah” keluhnya, “Hanya
satu hal yang kuherankan, secara bagaimana rahasia tersebut
dapat diketahui musuh? Aku tak dapat menebak teka-teki ini”
“Urusan toh sudah lewat buat apa kau pikirkan lagi” hibur
Coa Wi-wi cepat.
Wan Hong-giok mengangguk, “Yaa…. Perkataan adik Wan
memang ada benarnya. Ayo, ketika kau memburu kebukit
Sian-san, ingatan untuk menghajar Hoa kongcu tentu masih
terbayang terus dalam benakmu bukan?”
“Siapa bilang tidak! Ketika kujumpai dirinya disebuah
warung teh dikota Ci-tin, dengan segala tipu daya aku
berusaha untuk menjengkelkan hatinya. Siapa tahu ia cukup
supel dan gagah perkasa. Setiap hari menghadapi dampratandampratanku
yang tajam, ia selalu melayaninya dengan ramah
tamah. Pembicaraan yang kurang enak dihati segera
dibelokkan dengan manisnya….”
“Karena itu maka kau berubah rencana? “desak Wan Honggiok
sedikit kurang sabar.
“Aku sendiri juga tak tahu kenapa bisa berubah pikiran.
Pokoknya setelah kutak berhasil mencari gara-gara akhirnya

861
maksud hatipun kuutarakan secara terus terang, malah
sengaja kutuduh dirinya terpikat oleh kecantikan perempuan,
tak sudi menuruti nasehat saudara. Diapun tahu dia memang
keras kepala, bicara baik-baik atau bicara kasar, ia tetap
kukuh dengan pendiriannya. Aku dibikin kehabisan akal
terpaksa akupun memohonnya dengan kata-kata yang lembut
dan halus. Aaaai…. Kalau dibicarakan betul-betul
menjengkelkan hati, tahukah kau apa yang dia katakan waktu
itu?”
“Dia bilang bagaimana?”
“Dia bilang begini, ‘Saudaraku, dengarkan dulu kata-kataku,
cinta adalah cinta, setia kawan adalah setia kawan,
kukabulkan permintaanmu karena cinta, kupenuhi janjiku
dibukit Sian-san karena setia kawan. Sebagai manusia yang
hidup didunia, kita harus dapat membedakan apakah itu cinta
dan apakah itu setia kawan. Sekarang aka ingin bertanya
kepadamu, apakah kau masih memaksa aku untuk
membatalkan janjiku dibukit Sian-san? Padahal waktu itu aku
sudah menyebutnya sebagai Jiko.’ Sungguh tak kusangka
kalau orang ini tidak doyan kekerasan juga tak doyan cara
lembut, malahan akulah yang betul-betul ketanggor batunya”
Tersenyum Wan Hong-giok mendengar perkataan itu.
“Sepintas lalu orang itu tampaknya setengah sungguhsungguh
setengah berpura pura. Padahal dia adalah seorang
laki-laki sejati yang mengutamakan kebajikan serta kesetia
kawanan, kadangkala bahkan rada keras kepala….”
“Yaaa…. Kemudian akupun berpikir sampai ke situ” ujar
Coa Wi-wi sambil mengangguk, “Justru lantaran aku berpikir
sampai ke situ, maka….maka….”

862
Tiba-tiba ia jadi gelagapan dan tak mampu melanjutkan
kembali kata katanya, pipi yang semu merah pun bertambah
memerah, ia tertunduk dengan wajah jengah.
“Maka dari itu kau jadi menyukainya dan menaruh
perhatian kepadanya, bukankah demikian?” sambung Wan
Hong giok sambil tersenyum.
Coa Wi wi menundukkan kepalanya semakin rendah, ia
makin tersipu sipu di buatnya. “Aku….Aku….aku merasa
bahwa dia adalah seorang laki laki yang pegang janji. Manusia
semacam ini biasanya tak pernah menyia-nyiakan perhatian
orang”
Wan Hong-giok yang sudah memperhatikan mimik
wajahnya semenjak tadi, segera berpikir didalam hati, “Benih
cinta dalam hati bocah ini baru saja tumbuh. Sungguh tak
nyana begitu cepat ia sudah ada niat untuk menyerahkan
dirinya untuk diperistri….”
Berpikir sampai disitu, diapun membelai rambutnya yang
mulus dengan tangan kanannya, kemudian berkata, “Adik Wi,
tak usah malu. Aku juga perempuan. Hanya perempuanlah
yang dapat menyelami perasaan kaum perempuan. Yaa, Hoakongcu
memang gagah dan tampan. Bukan begitu saja dia
pun punya nyali, punya daya pikat, memandang tinggi soal
hubungan dengan seseorang dan manusia macam begini
biasanya tak bermain licik, bertanggung jawab dan memang
seorang pemuda yang dapat dipercaya”
Setelah berhenti sebentar, diapun melanjutkan kembali
kata katanya, “Adik Wi, sekarang aku paham, rupanya cinta
kasihmu kepada Hoa-kongcu tumbuh dari rasa penasaran dan
mendongkol yang meluap-luap. Itu berarti datangnya cinta
telah mengalami pelbagai liku liku percobaan. Bukan saja
halus, lembut bahkan jauh lebih berkesan. Jauh bedanya kalau

863
dibandingkan dengan aku yang jatuh cinta pandangan
pertama. Yaa…. dari sini dapatlah kita analisa bahwa cintamu
jauh lebih mendalam bila dibandingkan dengan cintaku.
Cintamu lebih berakar lebih berbobot dan lebih berarti”
Merah jengah Coa Wi-wi dibuatnya, tapi ia angkat juga
mukanya dan memandang ke arah gadis itu dengan muka
tertegun.
“Enci Wan lagi menggoda aku? Apa itu dalam cetek? pula
berbobot atau tidak. sebenarnya apa yang ingin kau
bicarakan. Kenapa kau katakan secara ringkasnya saja? Putar
sana putar kemari hanya bikin aku jadi pusing saja”
Wan Hong-giok tertawa ringan. “Nah…. Naah….
Keadaanmu semacam itulah yang dinamakan orang jatuh cinta
sampai lupa diri! Kau begitu polos, begitu sederhana, yang
dipikirkan hanyalah berusaha berdiri segaris dengan Hoa
kongcu. Sebentar ingin tidak menyalahi aku, sebentar ingin
menahan diriku. Apakah kau tidak tahu bahwa tetap
tinggalnya aku disini adalah suatu tindakan yang hanya
mendatangkan kerugian belaka bagi Hoa kongcu? Kalau toh
engkau cinta kepadanya, kenapa tidak berusaha mencari
suatu tempat yang nyaman dan berpikirlah sedikit demi Hoa
kongcu?”
“Mencari tempat yang nyaman….?”
Coa Wi-wi tertegun dengan dahi berkerut, “Masa….
Masakan aku salah?”.
“Pada hakekatnya engkau juga tidak terhitung salah, cuma
kau telah mengetrapkan pikiran sendiri menjadi pendapat
orang. Aku sudah mengalami sendiri betapa parah dan
menderitanya orang yang terluka. Aku dapat memegang teguh
pendapat yang mengatakan bahwa, “Jika badan tak utuh,

864
bulupun tak akan tumbuh. Kini dunia persilatan sedang
terancam oleh bahaya maut, padahal Hoa kongcu adalah
panglima membuka jalan. Pelbagai persoalan yang serius dan
menyulitkan perlu diatasi semuanya olehnya. Bila engkau
harus bertambah seorang semacam aku ini, bukankah sama
halnya dengan menambah kerepotan dirinya?”
Meskipun alasan itu tidak berbobot akan tetapi memiliki
alasan-alasan yang kuat untuk dipercayainya. Apalagi ketika
Wan Hong-giok mengucapkan kata-kata tersebut, ia sama
sekali tidak mengutarakan kata-kata yang kurang sedap
didengar, seketika itu juga Coa Wi-wi dibuat amat terperanjat.
“Yaa, benar…. Kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu?”
kemudian ia membatin, “Dewasa ini situasi amat kritis, banyak
urusan harus diselesaikan. Padahal Jiko bukan seorang
manusia yang melupakan teman. Kendatipun ia secara
langsung menuju bukit Im Tiong-san, sedikit banyak kaum
bajingan yang membayanginya pasti akan coba melakukan
penghadangan. Bukankah itu berarti banyak kesulitan yang
harus dihadapi, tapi…. tapi…. walaupun begitu, ilmu silat enci
Wan toh sudah punah, kalau membiarkan ia melakukan
perjalanan sendiri pasti akan sangat berbahaya!”
Untuk sesaat lamanya ia jadi serba salah, dia tak tahu
bagaimana musti mengatasi kesulitan tersebut.
Wan Hong-giok menghela napas lirih, kembali ia berkata,
“Aaaai…. Sekalipun cara kita berpandangan berbeda, tapi
berbicara soal kasih sayang kita terhadap Hoa kongcu boleh
dibilang tak jauh berbeda. Adik Wi, bila kau mencintainya, kau
harus berpikir demi dirinya pula. Apakah masih tetap menahan
diriku untuk tetap tinggal ditempat ini….?”

865
Waktu itu Coa Wi-wi sedang dibuat serba salah, setelah
didesak terus menerus maka diapun bertanya, “Lantas
bagaimana dengan kau? Apa yang hendak kau lakukan?”
“Tak usah merisaukan diriku” Wan-Hong-giok tertawa
sedih, “Bila adik Wi sudah dapat memahami, itu lebih bagus
lagi”
“Tidak bisa, tidak bisa!” teriak Coa Wi-wi dengan gelisah,
“Sebetulnya apa rencanamu selanjutnya? Sedikit banyak harus
kau terangkan dulu kepadaku!”
Wan Hong-giok pejamkan matanya berpikir sebentar,
kemudian menyahut dengan lirih, “Aku ingin melakukan
perjalanan menuju keluar perbatasan. Disitu aku hendak
mencari guruku!”
“Siapakah gurumu?” Coa Wi-wi masih juga merasa kuatir,
“Apakah dia dapat membantu dirimu untuk memulihkan
kembali ilmu silatmu yang telah punah itu?”
Wan Hong-giok bertujuan menghindari yang berat dan
mencari yang enteng, menghadapi pertanyaan tersebut iapun
menyahut dengan hambar, “Asal alirannya sama aku pikir
masih ada harapannya!”
Tampaknya ia sudah bulatkan tekad untuk pergi dan situ,
maka diapun enggan untuk banyak berbicara lagi, pokok
pembicaraan segera dialihkan ke soal lain, tiba tiba ujarnya,
“Adik Wi, Hoa kongcu kuserahkan perawatannya kepadamu.
Bila lain hari masih berjodoh, kita pasti akan berkumpul
kembali!”
Berbicara sampai disitu hatinya jadi kecut dan amat sedih,
tak bisa dicegah lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya.

866
Coa Wi-wi juga tak dapat membendung rasa sedih, dia ikut
mengucurkan air matanya sambil sesenggukan.
“Kau…. kau…. apakah kau…. bersikeras ingin pergi juga
dari tempat ini ?” bisiknya.
Wan Hong- giok tertawa terpaksa, cepat ia menyeka air
mata yang membasahi pipinya. “Omongan anak kecil,”
katanya, “kalau tidak pergi mana bisa? Terus terang saja
kukatakan, seandainya bukan memikirkan kepentingan Hoa
kongcu, memangnya aku tega untuk berpisah kembali setelah
berkumpul? Tak usah terlalu kekanak-kanakan. Pergilah! Coba
tengok bagaimana keadaan Hoa-kongcu sekarang ini”
Sambil berkata pelan-pelan dia memutar badan Coa Wi-wi
dan mendorongnya maju ke muka.
Terdorongnya oleh tenaga si nona tak kuasa Coa Wi-wi
maju beberapa langkah, tapi ia memutar kembali badannya.
“Eaci Wan, katakan kepadaku siapakah gurumu itu?”
pintanya, “Bila ada kesempatan, aku tentu akan berangkat ke
perbatasan untuk mencari dirimu….”
“Tidak usah!. Suatu ketika datang mencari sendiri” tampik
Wan Hong-giok cepat.
Sampai disitu, dengan cepat dia mengerling sekejap ke
arah Hoa In-liong kemudian putar badan dan cepat-cepat
berlalu dari pintu gerbang kuil bobrok itu.
Coa Wi-wi memburu beberapa langkah seperti hendak
mengucapkan sesuatu, Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam
benaknya. Ia merasa tak ada gunanya banyak berbicara, maka
sambil keraskan hati ia hentikan langkah kakinya dan

867
membiarkan Wan Hong-giok keluar dari pintu gerbang
menuruni bukit dan lenyap dibawah cahaya matahari.
Pada ketika yang terakhir ini. bati kecilnya seakan-akan
kelihatan sesuatu, tapi seakan-akan kekurangan juga sesuatu,
padahal benaknya terasa kosong. Sekalipun ada perasaan,
diapun tak bisa merasakan perasaan apakah itu.
Sementara dia masih tertegun, tiba-tiba Ki-ji berbisik
memecahkan keheningan disekeliling tempat itu. “Wan siocia
sudah pergi jauh”
“Aaah….” sekarang Coa Wi-wi baru sadar kembali dari
lamunannya, ditatapnya wajah Ki-ji berulang kali, tiba tiba ia
berseru, “Cepat…. cepat…. kau susul dirinya.
“Kenapa musti disusul? “tanya Ki-ji seperti tertegun dengan
ucapan tersebut.
“Hantar dia sampai diperbatasan” tukas Coa Wi-wi sambil
ulapkan tangannya berulang kali. “Cepat…. cepat…. ayoh
cepat pergi?”
“Dihantar sampai perbatasan? “ulang Ki-ji terperanjat.
Kontan saja Coa Wi-wi melotot besar. “Masa hanya sepatah
katapun kurang jelas? Kalau tidak pergi lagi, bila Wan siocia
sampai terjadi sesuatu, engkaulah yang harus bertanggung
jawab.”
Ki-ji makin terperanjat lagi. “Lantas kau…. kau…. siapa
yang akan meladeni kau?”
“Aaah…. kamu ini cerewet amat, siapa yang suruh engkau
meladeni aku? Ayoh cepat berangkat!”

868
Setelah didesak berulangkali, terpaksa Ki-ji hanya bisa
mencibirkan bibirnya. “Pergi yaa pergi. Cuma ilmu silatku
cetek sekali. Bila sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,
aku tak mau tanggung jawab”
Ki-ji adalah dayang kepercayaan dari Coa Wi-wi. Sejak kecil
ia dibesarkan disisi Coa Wi-wi maka kalau dia disuruh
meninggalkan nonanya tentu saja sangat keberatan. Sebab
itulah meski dimulut ia menjawab, tubuhnya sama sekali tidak
beranjak.
Coa Wi-wi sendiripun sebetulnya tak tega membiarkan
dayangnya pergi jauh. Apa mau dikata di situ tiada orang lain
yang bisa disuruh dan lagi diapun amat menguatirkan
keselamatan Wan Hong-giok yang harus pergi jauh. Sebab
itulah keputusan tersebut dibikin pada saat yang terakhir dan
kini perkataan yang sudah disiapkan ibaratnya anak panah
diatas busur, mau tak mau harus dilepaskan juga.
Maka dengan wajah berubah serius dan pura-pura marah
dia berkata lebih jauh, “Betul-betul mengherankan, kau lagi
ngambek yaa? Terus terang kukatakan kepadamu,
bagaimanapun jua kau harus menghantar nona Wan sampai di
perbatasan, sepanjang jalan kau harus layani nona Wan
secara baik-baik tak boleh berayal. Meski dia tak mau
dihantar, kau juga mesti mengintilnya secara diam-diam
hantar sampai di tempat tujuan, mengerti?”
“Mengerti!” Ki-ji mencibirkan bibirnya makin tinggi.
Meskipun mulutnya menjawab, badan masin belum juga
berajak dari tempat semula.
Tidak tega rasanya Coa Wi-wi mengurusi dayangnya itu,
namun dalam keadaan apa boleh buat tertaksa dia harus
pura-pura melotot marah. “Kalau sudah mengerti keadaan

869
tidak cepat lari? Memangnya ingin digebuk….?” bentaknya
sambil berkata dia ayun tangannya pura-pura hendak
menghantam dayang tersebut.
Mula-mula Ki-ji agar tertegun, kemudian serunya “Yaaa….
aku pergi! Aku pergi!”
Dengan gemas dia mendepak-depakkan kakinya kebawah,
lalu putar badan dan tinggalkan tempat itu. Sekejap kemudian
tubuhnya sudah lenyap di bawah bukit sana.
Memandang bayangan punggungnya yang lenyap dari
pandangan, Coa Wi-wi menghela napas berulang kali,
gumamnya, “Semoga Ki-ji menuruti perkataan. Semoga enci
Wan tidak mengalammi kejadian apapun jua”
Sambil bergumam pelan-pelan ia putar badannya, lalu
dengan penuh rasa kuatir menghampiri diri Hoa In-liong.
Sementara itu keadaan dari Hoa In-liong sudah jauh
membaik. Kulit badannya ketika itu sudah bertambah bersih,
napasnya mulai panjang-panjang. Tampangnya yang keren,
serius menunjukkan bahwa ia sudah berada dalam keadaan
lupa akan segala-galanya dalam semedinya itu, atau dengan
perkataan lain, kendatipun racun ular sakti yang diidapnya
belum punah sama sekali, namun sim-hoat tenaga dalam yang
dikatakan “istimewa” itu telah memberikan kemanjuran yang
mengagumkan.
Pada dasarnya Coa Wi-wi memang seorang dara yang
lincah dan periang. Dia adalah seorang nona yang tak pernah
merasa risau. Tentu saja perasaannya jadi lega dan nyaman
setelah menyaksikan keadaan Hoa In-liong ketika itu. Sekulum
senyuman segera tersungging diujung bibirnya.

870
Diamatinya air muka Hoa In-liong beberapa kejap,
kemudian bibirnya bergetar entah apa yang dibisikkan. Setelah
itu sambil tersenyum ia berjongkok dan duduk dihadapan Hoa
In-liong.
Matahari telah tenggelam dilangit barat, akhirnya Hoa Inliong
mendusin dari semedinya, pelan-pelan ia
menghembuskan napas panjang, lalu membuka matanya dan
bangkit berdiri.
Melihat itu. buru-buru Coa Wi-wi ikut bangkit berdiri,
teriaknya dengan penuh kegirangan, “Sudah sembuhkah
engkau Jiko? Sungguh tak kusangka kalau engkau telah
bertemu dengan kongkong”
Ternyata ilmu semedi yang dilukiskan sebagai “istimewa”
itu bukan lain adalah ilmu Bu-kek-teng-heng-sim-hoat ajaran
Goan-cing taysu.
Sim-hoat tenaga dalam ini merupakan salah satu dari ilmu
silat keluarga Coa Wi-wi. Sebagai orang yang berbakat
lagipula pernah mendengarnya, hanya sekali pandangan saja
ia sudah memahaminya.
Tampaklah Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling
tempat itu, kemudian sahutnya, “Racun ular sakti itu
terlampau ganas. Meski sudah kucoba untuk mendesaknya
keluar, toh hanya bisa mendesak racun itu untuk mengumpul
di satu sudut belaka”
“Kau desak racun itu dimana? Tidak apa-apa bukan?” seru
Coa Wi-wi dengan hati bergetar keras.
Hoa In-liong alihkan sorot matanya dan mengawasi
wajahnya beberapa kejap, tiba-tiba ia tertawa. “Rupanya

871
adalah Wi…. Oh, seharusnya kupanggil dirimu dengan sebutan
apa? Adik Wi?”
“Aaah…. kamu ini jadi orang tidak serius” Coa Wi-wi
mengomel dengan dahi berkerut, “aku kan lagi bertanya,
racun ular itu kau kumpulkan dimana? berbahaya tidak?
Bukannya menjawab, malah melantur kemana-mana….”
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dicekalnya tangan
gadis itu kemudian ditariknya mendekat. “Racunnya sudah
kukumpulkan dijalan darah Gi-li dan Gi-bi-hiat, tidak
berbahaya lagi. Hayo beri tahu kepadaku sekarang, aku harus
memanggil apa kepadamu?”
Coa Wi-wi berusaha meronta, tapi tak berhasil melepaskan
diri dari cekalan pemuda itu, maka dengan muka semu merah
karena malu omelnya, “Cepat lepas tangan, kau mau
menganiaya aku lagi?”
Mendengar tuduhan tersebut. Hoa In-liong terkesiap,
cepat-cepat ia mengendorkan cekatannya. “Aku memang
keterlaluan, aku memang keterlaluan, kembali aku lupa diri….

Rada lega juga Coa Wi-wi melihat kepanikan orang. “Aku
bernama Wi-wi” katanya kemudian, “Toako menyebutnya
sebagai adik Wi….”
“Kalau begitu, akupun akan meninggikan kedudukanku
sendiri dengan menyebut dirimu sebagai adik Wi” kata Hoa Inliong
cepat, lega juga hatinya ketika didapatkan gadis itu tidak
marah.
Selesai berbicara, sekali lagi dia celingukan kesana-kemari,
seakan akan urusan yang sudah lewat, asal sudah
menyesalpun urusan jadi bsres.

872
Ketika gadis itu menyaksikan si anak muda tersebut
celingukan, ia lantas bertanya, “Engkau sedang mencari enci
Wan?”
“Yaa!” Hoa In-liong mengangguk, “Kenapa nona Wan tidak
kelihatan?. Oya, dimana Toako? Apa Toako belum kembali?”
“Enci Wan katanya hendak mencari gurunya, sedang Toako
juga sehat dan tenang, aku pikir tak mungkin bakal terjadi halhal
yang diluar dugaan”
Meskipun dimulut ia berkata demikian, namui hatinya mulai
kalut dan gugup juga setelah Hoa Si yang ditunggunya selama
ini belum kembali juga.
“Nona Wan sudah pergi!” Hoa In-liong berseru dengan
nada terkejut, “Kemana dia akan mencari gurunya? Dia….”
Dari nada ucapannya maupun sikapnya yang begitu
gelisah, dapat diketahui bahwa pemuda itu sangat
mencemaskan keselamatan gadis tersebut.
Untunglah Coa Wi-wi sudah menduga sampai kesitu, maka
dengan kalem dan sedikitpun tidak gugup ia menyahut,
“Katanya dia hendak pergi ke perbatasan untuk mencari
gurunya. Siapa nama gurunya ia tak mau menerangkan. Cuma
aku telah mengutus Ki-ji untuk menghantarnya sampai ke
tempat tujuan. Jangan dilihat Ki-ji masih kecil tapi otaknya
cukup cerdas. Aku rasa tak mungkin meraka sampai menemui
musibah”
Hoa In-liong agak tertegun sehabis mendengar perkataan
itu. Dengan tatapan mata yang tajam diawasinya wajah Coa
Wi-wi beberapa kejap, kemudian diapun tersenyum. “Kukira
kenapa Ki-ji kok hilang, tak tahunya dia lagi menghantar nona

873
Wan. Haa…. haa…. haa….Adik Wi pandai sekali mengatasi
pelbagai persoalan, akupun jadi lega rasanya”
Diam-diam Coa Wi-wi mengerutkan dahinya dan berpikir
dihati, “Tampaknya perkataan enci Wan ada benarnya juga, ia
tidak terlalu menaruh perhatian terhadap kepergian enci
Wan….”
Sementara dia masih melamun, Hoa In-liong telah maju
kedepan dan menggandeng lengan kanannya sambil berkata,
“Adik Wi, bagaimana kalau kita pun turun gunung?”
“Kau hendak menyusul Toako?” seru Coa Wi-wi dengan
wajah tercengang dan mata yang dikerdipkanr berulang kali.,
Hoa -In-liong mengangguk. “Yaa, Toako sudah pergi lama
sekali, namun sampai sekarang belum kembali juga. Kita
harus pergi menengoknya”
Maka ditariknya tangan Coa Wi-wi yang lembut dan
diajaknya berlalu dari ruang kuil bobrok tersebut.
Jalan tersanding disisinya, tiba-tiba Coa Wi-Wi berpaling
dan ujarnya dengan lembut, “Sebelumnya kau musti berjanji
dulu. Andaikata Toako menjumpai halangan apa-apa, maka
selama racun ular masih bersarang dalam tubuhmu, kau tak
boleh bertindak menuruti hawa napsu. Segala sesuatunya kau
musti diam, berjanji?”
“Aaah….selama kau ada disisiku, apalagi yang musti
kukuatirkan? “seru Hoa In-liong tersenyum.
Tiba-tiba Coa Wi-wi menghentikan langkah kakinya lalu
menarik pula lengan Hoa In-liong hingga berhenti, katanya
dengan serius, “Kau musti berjanji dulu, sampai waktunya kau

874
tak boleh sembarangan turun tangan. Segala sesu-atunya
serahkan saja padaku. Janji?”
Mula-mula Hoa In-liong agak tertegun, menyusul kemudian
ia tertawa terbahak-bahak. “Haa…. haa…. haa…. baik,
terserah padamu, terserah padamu…. Kiu-im Kaucu orangnya
sombong, dingin dan kejam, jika kita tak segera berangkat
dan seandainnya Toako benar-benar menghadapi musibah.
Bila Kiu-im Kaucu juga angkat langkah seribu, akan kulihat kau
bisa berbuat apa lagi?”
Terperanjat Coa Wi-wi mendengar ucapan tersebut, segera
teriaknya dengan gelisah, “Kalau begitu….ayoh kita segera
berangkat!”
Di tangkapnya lengan Hoa In-liong, kemudian mereka
berdua segera melompat kedepan dan melayang turun dari
bukit tersebut.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi wi betul-betul
sudah mencapai pada puncak kesempurnaan. Sepanjang
perjalanan ia bergerak secepat sambaran petir. Sekali loncat
tiga lima kaki sudah dilampaui, seakan-akan semua gerakan
tersebut dilakukan tanpa membuang tenaga barang sedikitpun
juga.
Hoa In-liong yang berjalan mengiringi di sisinya hanya
merasakan desingan angin tajam menderu-deru disisi
telinganya. Pemandangan disekitar tempat itu hampir boleh
dibilang tak sempat dilihat jelas. Akhirnya dia menarik kembali
segenap hawa murninya dan membiarkan tubuhnya bergerak
karena diseret gadis itu.
Nyatanya Coa Wi-wi tidak merasa kepayahan karena musti
menarik sebuah beban berat. Kecepatan geraknya bukan saja

875
tidak bertambah lambat, sebaliknya justru malah bertambah
cepat.
Tak ada pemuda yang tidak ingin tahu. Hoa In-liong pernah
menyaksikan kelincahan Coa Wi-Wi ketika berada di bukit
Ciong-san. Waktu itu nona tersebut melayang turun dari langit
bagaikan bidadari turun dari kahyangan, rasa herannya ketika
itu sudah amat besar.
Maka setelah menyaksikan kejadian tersebut, rasa ingin
tahunya makin lama makin bertambah besar.
oooOOOOooo
AKHIRNYA si anak muda itu tak dapat mengendalikan rasa
ingin tahunya itu, maka dia pun bertanya, “Eeeeh….adik Wi,
siapakah yang mengajarkan ilmu meringankan tubuhmu?
Apakah ibumu?”
“Ehmmmm….!” jawab Coa Wi-wi tak acuh.
Selang sesaat kemudian tiba-tiba ia berbaling sambil
bertanya pula, “Oya….dimanakah kau telah berjumpa dengan
kongkongku?”
“Kongkong mu?” Hoa In-liong tertegun dan bertanya
dengan wajah tercengang.
“Iya…. Ilmu Bu-kek-teng-heng-sim-hoat tersebut bukankah
ajaran dari kongkong ku?”
“Bu-kek-teng-heng-sim-hoat….?” Hoa In-liong makin
tercengang, “Oh…. maksud adik Wi, ilmu sim-hoat tenaga
dalam yang kugunakan untuk mendesak keluar racun dari
tubuhku tadi bernama Bu-kek-teng-heng-sim-hoat?”

876
“Aneh betul!” Coa Wi-wi merasa keheranan juga, “Sim-hoat
tunggal dari keluarga kami itu tak pernah diwariskan kepada
orang lain, juga tak pernah diwariskan kepada seseorang
secara rahasia. Kalau didengar dari ucapannya tadi tampaknya
kau belum pernah berjumpa dengan kongkong. Apa yang
sebenarnya telah terjadi? Masa didunia ini masih terdapat ilmu
sim-hoat lain yang serupa dengan kepandaian tersebut?”
“Aku tidak tahu, ilmu itu diwariskan seorang tokoh sakti
kepadaku, waktu itu….”
Coa Wi-wi ingin buru-buru membuka tabir rahasia tersebut,
ia tak sabar untuk mendengarkan obrolan orang, segera
tukasnya, “Coba kau baca isi pelajaran sim-hoat itu
kepadaku!”
Hoa In-liong merasa bahwa cara itu ada benarnya juga.
maka diapun lantas menghapalkan isi pelajaran tersebut diluar
kepala, “Badan ini bukan utuh, hati ini bukan utuh. Dunia
jagad sejak dulu, berbaur dan mengumpul
tiada hentinya….”
Pelajaran sim-hoat itu bukan lain adalah ajaran dari Goancing
Taysu. Coa Wi-wi tentu saja hapal sekali, maka hanya
mendengar beberapa patah kata saja ia sudah tersenyum
senyum seraya menukas, “Bergerak dan tengan mengikuti taykek,
aliran terbalik mendatangkan tenaga…. cukup…. cukup!
Itulah pelajaran sim-hoat tenaga dalam dari keluarga kami.
Berarti kongkong lah yang mengajakan pelajaran itu
kepadamu, tak usah kau baca lagi”
Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong juga merana sangat
gembira, ia jadi tertarik sekali, maka serunya kemudian,
“Bagus! Mari kita membicarakan soal ilmu silat dari aliran
keluargamu….”

877
“Jangan membicarakan soal semacam itu disaat seperti ini”
tukas Coa Wi-wi serius, “Kita harus cepat pergi, soal lain kita
bicarakan setelah bertemu dengan Toako nanti”
Ia benar-benar menambah tenaga dalamnya beberapa
bagian, sekejap mata kemudian ia sudah berada puluhan kali
jauhnya dari tempat semula….
Sebenarrya Hoa In-liong masih mempunyai banyak
persoalan yang ingin ditanyakan kepada gadis itu, seperti
misalnya siapa nama Goan-cing Taysu. Asal-usul ilmu silat dari
keluarga Coa, juga tentang ilmu silat Coa Cong-gi yang cetek
padahal Coa Wi- wi berilmu sangat tinggi. Apa yang
sebenarnya terjadi di balik kesemuanya itu?
Tapi oleh Coa Wi-wi berbicara serius, lagi pula yang
dikuatirkan adalah Toakonya juga, maka ia harus bersabar
untuk menyimpan kembali semua pertanyaan itu didalam hati.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh
keluarganya, dia pun bergerak menuruni bukit dengan
mengintil disisi Coa Wi-wi.
Setelah kedua orang itu sama-sama mengerahkan tenaga
dalam, kecepatan gerak merekapun berlipat ganda. Dalam
sekejap mata mereka sudah tiba di kaki bukit.
Selang sesaat kemudian mereka sudah berada dekat
dengan kota Ci-tin, tiba-tiba Hoa In-liong memperlambat
langkahnya lalu berkata, “Adik Wi lepaskan jubah panjangmu
itu!”
“Kenapa?” tanya Coa Wi-wi dengan wajah tertegun, cepat
ia menghentikan langkah kakinya.

878
Hoa In-liong juga ikut berhenti. “Kita tidak tahu Toako
mengadakan janji dimana. Itu perlu kita tanyakan setibanya
dikota nanti. Tapi kalau jubah itu tidak kau copot, pada hal
ikat kepalamu sudah tertinggal dipuncak bukit, modalmu yang
laki tidak laki perempuan tidak perempuan itu tentu akan
ditertawakan orang”
Kiranya sejak ikat kepala yaug dikenakan Coa Wi-wi
terlepas, menyusul kemudian terjadinya keributan, Hoa Inliong
mengerahkan tenaganya untuk mengusir racun, Wan
Hong-giok ribut mau pergi dan Hoa In-liong akhirnya selesai
dengan semedinya, Coa Wi-wi telah melupakan sama sekali
akan kejadian tersebut.
Jilid 23
MAKA setelah ditegur, gadis itupun berseru tertahan dan
buru buru melepaskan ikat pinggangnya. Tapi baru melepas
sampai tengah jalan, mendadak paras mukanya berubah jadi
merah, sambil mendorong pemuda itu kemuka teriaknya
marah. “Sana, menghadap kesitu, awas jangan mengintip
yaa!”
“Baiklah, aku akan berjalan pelan-pelan, tapi kau harus
cepatan sedikit….”‘
Selesai berkata, ia benar benar putar badan dan pelanpelan
maju kemuka.
Waktu itu senja telah lewat, malam yang gelap mencekam
seluruh jagad, dari kejauhan tampak cahaya lampu yang
lapat-lapat memancar dari arah kota Ci-tin, kadangkala
terdengar juga suara tertawa orang, suasana amat tenang dan
nyaman.

879
Sambil berjalan Hoa In-liong kembali berpikir sudah berapa
ratus langkah ia lanjutkan perjalanannya tapi Coa Wi-wi belum
menyusul juga. “Perempuan memang paling merepotkan”
pikirnya kemudian, “Untuk melepaskan sebuah jubah luarnya
makan waktu selama ini”
Sementara dia masih berpikir, mendadak Coa Wi-wi sedang
membentak keras, “Siapa itu? Hayo cepat berhenti!”.
Hoa In-Hong merasa terkesiap tak ssmpat berpikir panjang
lagi, buru-buru ia menjejakkan kakinya ke tanah dan
melayang kembali ke tempat semula.
Tampaklah sesosok bayangan abu-abu sedang kabur
menuju kearah timur, agaknya Coa Wi-wi termangu sesaat
sebelum akhirnya melakukan pengejaran yang ketat.
Gerakan tubuh orang itu amat cepat, meski permukaan
tanah tidak rata namun dalam beberapa kali lompatan saja
sudah hampir lenyap di balik pepohonan yang luas.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi-wi memang
amat sempurna, tapi lantaran ia agak terlambat sewaktu
melakukan pengejaran, maka tak berhasil disusulnya.
Hoi In-liong sangat gelisah, cepat-cepat sepasang kakinya
menggunting lalu menerobos masuk ke dalam hutan,
hardiknya, “Sahabat, ayoh hentikan langkahmu!”.
Pemuda itu berada lebih jauh lagi jaraknya dengan orang
itu apalagi bergerak jauh lebih lambat. Untuk menyusul orang
tersebut sudah, jelas lebih-lebih tak mungkin lagi.
Siapa sangka ketika bayangan abu-abu itu tiba ditepi hutan
yang lebat itu, mendadak ia berhenti dan malahan memutar

880
badannya seraya menegur, “Apakah yang datang adalah adik
In-liong?”
Didengar dari nada suaranya jslas orang itu sangat dikenal
olehnya dan tak bisa diragukan lagi orang itupun
menghentikan gerakan tubuhnya setelah mengenali suara
teguran dari Hoa In-liong.
Hoa In-liong juga agak tertegun sesudah mendengar
seruan tersebut, tanpa menghentikan gerakan tubuhnya dia
menyahut, “Yaa, aku adalah Hoa loji, siapakah saudara?”
“Aaaai….Payah sekali aku mencari dirimu” teriak bayangan
abu-abu itu dengan nada kegirangan.
Cepat dia melompat kedepan dan menyongsong
kedatangan anak muda itu.
Hoa In-liong yang bermata jeli segera dapat mengenali pula
siapa gerangan bayangan abu-abu itu, diapun tampak amat
kegirangan. “Oooh…. Kiranya Saudara Ek-hong, haa…. haa….
haa…. Ibaratnya air bah menggenangi kuil raja naga, orang
keluarga sendiripun tidak dikenali”
Seraya berkata ia buru-buru maju ke muka dan
menyongsong pula kedatangan orang itu.
“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Coa Wi-wi membentak dengan
suara yang dingin.
“Kenapa?”dengan wajah tercengang dan setengah tertegun
Hoa In-liong berpaling, “Masa kalian tidak saling mengenal?
Dia kan saudara Wan Ek-hong?
“Tentu saja kenal” sahut Coa Wi-wi tetap berdiri kurang
lebih satu kali dihadapan pemuda itu. “Aku hanya ingin

881
bertanya kepadamu, mengapa kau main sembunyi dengan
cara yang sangat mencurigakan, menegurpun tidak apalagi
bersuara?”
“Oooh…. Rupanya adik dari keluarga Coa?” seperti baru
tahu Wan Ek-hong segera menyapa, “Aku kira…. aku kira….
aiaai! Kalau begitu akulah yang telah salah melihat orang”
Coa Wi-wi mendengus dingin, tampaknya rasa dongkol dan
marahnya belum mereda. Bibirnya kembali gemetar seperti
hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah katapun
yang sampai meluncur keluar.
Hoa In-liong dapat merasa keadaan yang kurang harmonis,
buru-buru serunya sambil tertawa, “Adik Wi, malam sudah
kelam apalagi suasana diliputi gelap gulita, salah melihat
orang itu lumrah, aku rasa kaupun tak usah….”
“Kamu tak usah turut campur” belum habis pemuda itu
berbicara, Coa Wi-wi sudah menukas dengan mata melotot,
“Sedari dulu waktunya memang sudah begitu. Dia paling suka
mempermainkan aku. Hmmm! Ini hari aku tidak akan
menyudahi urusan sampai disitu saja. Bagaimanapun jua dia
musti memberi penjelasan yang seterang-terangnya
kepadaku”
Berbicara sampai disitu dia lantas berbaling dan ditanya
Wan Ek-hong dengan mata melotot. “Hayo jawab!” kembali
bentaknya, “Mengapa kau bersembunyi dibelakang batu tanpa
bersuara? Mau mempermainkan aku yaa?”
Wan Ek-hong dibuat jadi serba kikuk dan serba jengah.
Mukanya jadi merah seperti kepiting rebus, senyum yang
menghiasi bibirpun senyuman yang teramat getir.

882
“Hian-moay, janganlah menuduh aku dengan tuduhan yang
bukan-bukan” pintanya, “Jangan bikin aku jadi penasaran. Aku
betul-betul tidak tahu kalau engkau yang berada disitu!”
“Huuuh….! Setan baru percaya dengan obrolanmu” Coa Wiwi
mencibirkan bibirnya, “Kami sudah bercakap-cakap, sedang
kau bersembunyi dibelakang batu hanya tiga kaki jauhnya dari
tempat kami berbicara, masa suara kamipun tidak
kedengaran?. Apalagi diantara Kim-leng ngo-kongcu
engkaulah yang paling lihay dalam hal ilmu silat. Sekalipun
tidak dapat mengenali suara kami rasanya juga tak usah
kabur. Hmmm! Kau tak berlagak pilon, mau tipu orang mesti
lihat dulu siapa yang hendak kau tipu. Hendak membohongi
aku? Huuuh! jangan mimpi disiang hari bolongi”
Hoa In-liong yang menyaksikan percekcokan itu diam-diam
tertawa geli, pikirannya dalam hati, “Adik Wi betul-betul tidak
pakai aturan. Itu namanya orang yang tidak salah dituduh
berbuat salah. Berbicara sampai tiga hari tiga malampun tak
akan ada habisnya. Yaa, mungkin kedua orang itu memang
sudah tidak cocok sedari dulu, atau mungkin gurauan saudara
Ek-hong dimana dulu sedikit keterlaluan, maka akibatnya adik
Wi sampai sekarang masih merasa mendongkol”
Sementara dia masih terpikir, Wan Ek-hong telah tertawa
serak untuk menutupi perasaan jengahnya. “Aaaaai….! Kalau
dibicarakan sungguh bikin hati menjadi menyesal. Aku benarbenar
tidak tahu kalau engkau yang berada disana. Terus
terang saja kuakui, andaikata pada dari yang terakhir kukenali
suara teguran tersebut sebagai suara diri adik In-liong,
mungkin semenjak tadi aku sudah kabur ke dalam hutan dan
melenyapkan jejakku disana”
“Hee….hee…. hee…. Mungkinkah kau bisa lolos dari
cengkeraman?” ejek Coa Wi-wi sambil tertawa dingin,
mukanya tampak sinis sekali.

883
Agak tertegun Wan Ek-hong ketika menghadapi pertanyaan
tersebut. “Bisa kabur atau tidak, itu urusan lain. Pada
hakekatnya andaikata aku sudah tahu bahwa orang yang ada
disitu adalah engkau buat apa aku musti melarikan diri? Bukan
begitu adik In-liong?”
“Tidak boleh bertanya kepadanya” Coa Wi-wi sangat
marah, “Kau juga tak boleh menghindari yang sedang
berkecamuk didalam benakmu?”
Nada tegurannya kian lama kian bertambah keras dan
nyaring, seakan-akan gadis itu tak mau menyadari persoalan
tersebut sebelum urusan menjadi jelas keseluruhnya.
Lama-lama Hoa In-liong merasa tak tega, cepat selanya
dari samping, “Adik Wi, jangan keterlaluan! Kita semua toh
mempunyai hubungan persaudaraan yang erat. Masa saudara
Ek-hong bakal mempunyai ingatan jahat terhadap dirimu….”
“Aaaah….! Kamu ini tahu apa?” kembali Coa Wi-wi
menukas, “Tampangnya saja seperti orang yang tahu sopan
santun dan halus budinya. Padahal. Huuuuh! otaknya busuk,
pikirannya jahat dan semua akal busuknya hanya bertujuan
untuk perbuatan yang terkutuk….”
“Sudah….sudah….cukup, jangan seperti anak anak lagi”
Hoa In-liong segera menukas pula sambil tersenyum,
“Saudara Ek-hong adalah saudara angkat dari kakakmu Conggi.
Dia memandang engkau sebagai adik sendiri juga. Kalau
cuma bergurau atau menggoda dirimu itu lumrah dan tak bisa
dihindari. Buat api kau musti pikirkan di dalam hati, apalagi
menggunakan kata-kata yang kurang didengar untuk mencari
maki dirinya, itu kurang baik”

884
Berbicara sampai disitu diapun lantas berpaling ke arah
Wan Ek-hong seraya bertanya, “Saudara Ek-hong, karena
urusan apa engkau datang kemari? Apakah kau sedang
mencari diri siau-te?”
Tentu saja tujuannya mengalihkan pokok pembicaraan
adalah untuk menghilangkan suasana kaku yang mencekam
suasana disitu.
Siapa tahu sebelum Wan Ek-hong sempat menjawab
pertanyaan tersebut, Coa Wi-wi sudah menerjang kemuka
sambil berteriak lagi, “Tunggu sebentar, biar dia menjawab
dulu pertanyaanku. Sebenarnya apa maksud dan tujuannya
engkau bersembunyi dibelakang batu disana?”
Hoa In-liong tertegun. “Apa sebenarnya yang telah terjadi?”
demikian
pikirnya, “Kenapa kali ini adik Wi demikian keras kepala?
Meskipun saudara Ek-hong berbuat salah, sepantasnya kalau
ia memberi sedikit muka kepadanya, agar dia tak sampai
benar-benar kehilangan muka. Mungkinkah…. Mungkinkah
kepribadian dan akhlak saudara Ek-hong memang benar-benar
ada penyakitnya? Tapi….”
Berpikir sampai disitu, tanpa sadar sinar matanya ikut
dialihkan pula keatas wajah Wan Ek-hong.
Diperhatikan orang dengan cara begini, Wan Ek-hong
semakin kikuk dan serba salah. Ia tertawa getir, lalu ujarnya
dengan perasaan apa boleh buat, “Baiklah! Kalau toh hianmoay
memaksa aku untuk mengakuinya, akupun tak akan
melindungi nama baikku lagi untuk mengaku terus terang.
Yaa, pada hakekatnya aku sedang dikejar kejar oleh beberapa
orang perempuan hingga kehilangan jalan. Dengan susah
payah aku baru saja berhasil lolos dari kejaran mereka. Aku

885
merasa lelah dan kehabisan tenaga, ibaratnya burung yang
ketakutan oleh bidikan. Baru saja aku bersemedi mengatur
tenaga dibelakang batu itu. Ketika kalian da-tang maka
akupun tak berani berbisik. Aku kuatir kalian adalah orangorang
yang mengejar diriku itu. Hian-moay, aku sudah
mengakui kelemahanku yang amat memalukan ini, ibaratnya
kulit mukaku sudah kau sayat, puaskah kau?”
Begitu pengakuan diberikan, Hoa In-liong jadi tertegun
bercampur kaget, ia segera bertanya dengan nada terkejut,
“Beberapa orang perempuan? Apakah mereka adalah anak
buah dari Kiu-im kau?”
“Huuuh….! Siapa yang tahu kalau cerita itu sungguhan atau
bohong” Coa Wi-wi kembali mengejek. “Aku tidak percaya
kalau dengan andalkan beberapa orang perempuan, dia bisa
dibikin kalang kabut ketakutan selengah mati!”
“Tapi apa yang kuceritakan adalah kenyataan” seru Wan
Ek-hong agak penasaran, “Jika kau tidak percaya, silahkan ke
belakang batu sana dan periksa sendiri. Disitu ada sebuah kain
putih, bila bukan lantaran desingan dari baju, mungkin aku
belum sadar dari samadiku!”
“Tak usah dilihatpun aku juga tahu” kata Coa Wi-wi dengan
alis mata berkenyit, “Kain itu adalah baju luarku. Hanya
sebuah jubah luar sana sudah bikin kau ketakutan sampai
kabur terbirit-birit. Hmmm! siapa yang akan percaya dengan
obrolanmu?”
“Aku adalah ibaratnya burung yang baru kena dibidik”
keluh Wan Ek-hong dengan muka yang mengenaskan,
“Apalagi aku dibikin samar ditengah kegelapan….”
“Huuuh….! hanya bertemu dengan seorang perempuan
saja sudah dibikin ketakutan setengah mati?” ejek Coa Wi-wi

886
sambil mencibirkan bibirnya. “Hmmm, sayang seribu kali
sayang, bila ingin suruh aku percaya lebih baik karanglah
alasan lain yang lebih tepat lagi”
Wan Ek-hong tertegun, dia alihkan pandangan matanya ke
sekeliling tempat tersebut, kemudian sesudah berpikir
sebentar ujarnya, ‘”Aaaai….! berkata begini tidak percaya,
berkata begitu tidak percaya, tampaknya aku harus mohon diri
saja dari tempat ini”.
Coa Wi-wi mendengus dingin. “Hmmm! Mau pergi kek, mau
tidak pergi kek, siapa yang sudi mengurusi dirimu?”
Hoa In-liong makin tercengang lagi sudah menyaksikan
kejadian itu, dahinya berkerut, “Sebenarnya apa yang terjidi?”
demikian pikirnya, “Dengan susah payah ia memaksa orang
untuk menjawab, seakan-akan sebelum urusan dibuat terang
ia tak mau menyudahi urusan dengan begitu saja. Tapi setelah
orang mau pergi, dia tidak menahannya, aneh benar kejadian
ini”
Sementara itu Wan Ek-hong telah menghela napas
panjang. “Aaaaai! Baiklah kalau toh demikian. Baiknya aku
mohon diri saja dari sini!”
“Eeeeh…. Jangan pergi…. Jangan pergi” dengan terkejut
Hoa In-liong berusaha menghalangi kepergiannya, “Adik Wi
masih terlampau muda, harap saudara Ek hong jangan….”
Tapi sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, Coa
Wi-wi kembali sudah menukas, “Kalau dia mau pergi, kenapa
kau musti menahan dirinya lebih lanjut….?”
Hoa In-liong tertegun, sambil berpaling teriaknya, “Adik
Wi….”

887
Sekilas rasa benci dan gemas melintas diatlas wajah Wan
Ek-hong, segera sambungnya, “Adik Liong tak usah banyak
berbicara lagi, aku sudah mengenali watak adik Wi. Sekalipun
kau paksa untuk menahan diriku juga percuma, paling-paling
hanya membuat dia semakin marah saja. Untuk sementara
waktu biar aku menyingkir saja lebih dulu”
Coa Wi-wi mendengus dingin, ia melengos ke arah lain dan
tidak menggubris lagi.
Hoa In-liong kuatir dia benar-benar akan pergi, segera
ujarnya pula, “Aiaai, perkataan apa itu, adik Wi tak ada alasan
untuk marah. Harap saudara Ek-hong juga tak usah
tersinggung. Hayo berangkat,kita bercakap-cakap dalam kota
saja”
Wan Ek-hong menggerakkan tubuhnya menyingkir ke
samping, cepat tampiknya sambil tersenyum, “Tak usah,
melihat kau berada dalam keadaan segar bugar, hatiku juga
ikut lega, urusan lain kita bicarakan lain waktu saja!”
Selesai berkata ia lantas memberi hormat, kemudian putar
badan dan berlalu dari situ.
Hoa In-liong betul-betul amat gelisah melihat kepergian
pemuda itu, sebab masih banyak urusan yang bendak dia
tanyakan. “Eeeh…. tunggu sebentar!”‘ teriaknya kemudian,
“Kau hendak pergi kemana?”.
Cepat kakinya menjejak tanah dan siap mengejar kemuka,
tapi sebelum ia sempat bergerak, tangannya sudah terlanjur
ditangkap Coa Wi-wi.
“Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi” terdengar Wan Ekhong
sambil lari sambil berteriak “Saudara Siau-lam sudah
berangkat ke barat, aku harus menyusulnya dengan segera”

888
“Saudara Siau-lam mau apa berangkat ke barat?” Hoa Inliong
semakin gelisah, sehingga ia mendepak-depakkan
kakinya berulang kali keatas tanah.
Makin lari Wan Ek-hong berlalu semakin cepat. Dari
kejauhan sempat terdengar suaranya mengalun tiba, “Konon
empek Yu ditangkap orang orang Mokau,
mati hidupnya belum ketahuan”
Meski orangnya sudah sangat juah, tapi suaranya lapatlapat
masih kedengaran, tapi sampai akhirnya suara itu tak
terdengar lagi.
Hoa In-liong tak berani menggunakan tenaga terlampau
besar, maka ketika ia gagal untuk melepaskan diri dari
cengkeraman Coa Wi-wi, kakinya didepak-depakkan keatas
tanah dengan gelisah. “Lepaskan tanganku adik Wi. Persoalan
ini bukan permainan anak-anak, kita musti menyusul saudara
Ek-hong dengan cepat!”
Tapi Coa Wi-wi tetap memegang tangannya erat-erat,
malahan sambil menatap wajah pemuda itu dia berseru, “Kau
amat percaya dengan perkataannya?”
Hoa In-liong menghela napas panjang. “Aaai…. Kau terlalu
nakal. Urusan ini menyangkut mati hidup empek Yu, masa
bisa kabar bo-hong belaka?”
“Lantas, kau tidak akan mengurusi urusan Toako lagi?
“Tiba-tiba Coa Wi-wi menegur.
Hoa In-liong tertegun, ia jadi serba salah, malahan untuk
menjawabpun bingung.

889
Tiba-tiba Coa Wi-wi bertanya lagi, “Tahukah kau, orang
she-Wan itu pergi kemana?”
Kembali Hoa In-liong tertegun. “Bukankah dia bilang mau
menyusul saudara Siau-lam?” pemuda itu balik bertanya.
“Berarti dia seharusnya ke barat bukan? Sayang dia
mengatakan mau ke barat padahal sekarang mungkin ada di
timur. Kalau tidak percaya, silahkan kau susul dirinya”
Tangannya direntangkan menunjukkan sikap terserah, lalu
pelan-pelan dia berangkat ke kota Ci-tin.
Hoa In-iong makin serba salah dibuatnya, jangan toh dia
niscaya tak tega meninggalkan urusan Hoa Si, sekalipun
sekarang disusul juga bayangan tubuh dari Wan Ek-hong
sudah lenyap tak berbekas. Apa lagi dibalik ucapan Coa Wi-wi
terkandung arti yang amat mendalam.
Sebagai seorang pemuda yang pandai membawa diri,
setelah berpikir sebentar dan mengetahui bahwa disusulpun
tak ada gunanya, dia memutuskan untuk menyelesaikan dulu
masalah yang menyangkut Toakonya Hoa Si.
Karena itulah dia percepat langkah kakinya dan menyusul
diri Coa Wi-wi….
Ketika dilihatnya pemuda itu menyusul datang Coa Wi-wi
segera tertawa cekikikan, seraya berpaling tegurnya, “Kenapa
tidak kau susul dirinya?”
“Lebih baik kita cari Toako lebih dulu!”
“Seharusnya memang begitu” Coa Wi-wi berkata dengan
wajah berseri, “Orang she-Wan itu adalah manusia paling
busuk, semua perkataannya tidak dapat dipercaya”

890
Mendengar perkataan tersebut, Hoa In-liong segera
mengerutkan alisnnya. “Adik Wi! Tampaknya engkau menaruh
prasangka jelek yang amat mendalam atas diri saudara Ekhong?”
“Prasangka jelek?” Ejek Coa Wi-wi, sambil berkerut kening,
“Hmmm…. Manusia macam begitu itu lain dimulut lain dihati.
Aku paling benci kepadanya. Andaikata saudaraku tidak
mempunyai hubungan baik dengannya, hee…. hee…. heee
sejak dulu dulu aku sudah memberi pelajaran yang setimpal
kepadanya”
“Lain dimulut lain dihati?” ulang Hoa In-liong dengan wajah
makin tercengang, “Aku lihat saudara Ek-hong itu….”
“Aaaah…. Engkau tak usah menyebut saudara Ek-hong
saudara Ek-hong melulu. kalau bisa aku malah menganjurkan
dirimu untuk putus hubungan dan tak usah berhubungan
dengan dirinya lagi” tukas Coa Wi-wi dengan nada jemu.
Hoa In-liong semakin berkerut kening, diapun berpikir,
“Benar-benar suatu kejadian aneh. Tampaknya rasa benci adik
Wi terhadap dirinya bukan terbatas cuma benci saja, bahkan
sudah meningkat menjadi suatu dendam kesumat, yang
seakan-akan sedang berhadapan dengan musuh bebuyutan
saja. Apa yang telah terjadi? Aku lihat saudara Ek-hong
tampan, gagah dan setia kawan. Dia tidak mirip seorang
manusia yang busuk atau memuakkan”
Walaupun ia sudah putar otak dan memikirkan persoalan
itu berulang kali, namun pikirannya tak pernah dia bawa ke
bagian yang jelek. Dia selalu beranggapan bahwa Coa Wi-wi
masih muda, berdarah panas, dan rasa sentimennya terhadap
Wan Ek-hong hanya lantaran pandangannya yang tidak cocok.

891
Karena itu meski dihati ia berpikir demikian, senyum manis
masih tersungging diujung bibirnya. “Adik Wi, engkau suruh
aku putus hubungan dengannya, tentu anjuran ini disebabkan
oleh alasan yang kuat bukan? Nah, tolong ajukanlah suatu
contoh yang membuktikan bahwa dia adalah seorang manusia
lain dimuka lain dihati. Jika ada dasar, buktimu itulah akan
kupertimbangkan haruskah hubunganku dengannya
diputuskan atau tidak”.
Coa Wi-wi segera mencibirkan bibirnya. “Aku sudah tahu
kalau kamu ini manusia yang susah diberitahu. Baiklah! Akan
kuberitahukan kepadamu. Orang itu luarannya saja yang
gagah dan tampan, seakan-akan dia itu manusia yang jujur.
Manusia yang gagah perkasa, terutama didepan kakakku
sekalian waduh…. Lagaknya macam orang yang sok mulia, sok
bijaksana dan sok setia kawan…. Padalah hanya, huuh…. ! Dia
adalah seorang busuk, manusia munafik, manusia rendah tak
tahu malu”
“Kau punya bukti?” tanya Hoa In-liong kemudian setelah
tertegun dan melongo.
Coa Wi-wi manggut-manggut, “Tentu saja! Bukan saja
kusaksikan dengan mata kepala sendiri, bahkan mengalaminya
juga sendiri. Oleh karena dia mempunyai hubungan yang
sangat baik dengan kakakku sekalian, dulu akupun
memanggilnya sebagai “Wan-suko”. Siapa tahu dia selalu saja
menggoda aku. Waktu itu meski aku rada jemu dan sebal,
itupun hanya terbatas pada rasa sebal belaka. Hingga pada
suatu ketika…. hingga…. hingga pada suatu ketika….”
Tiba-tiba ia jadi tergagap dan tak mampu menerusnya
kembali kata-katanya.
“Kenapa? Apakah dia kurangajar kepadamu?”

892
Coa Wi-wi mendengus dingin. “Hmmm! Dia berani? Kalau
dia berani kurang ajar kepadaku, sejak dulu dulu aku sudah
beri pelajaran yang paling pahit kepadanya”
Mendengar jawaban itu, Hoa In-liong merasa agak lega, dia
menghembuskan napas lega. “Bagus sekali, lanjutkan
ceritamu!”
“Aaaah…. tak usaH diceritakan lagi,!” Coa Wi-wi gelengkan
kepalanya beberapa kali, “Dibayangkan saja keki, apalagi
diceritakan!”
Hoa In-liong mengerdipkan matanya berulang kali, diamdiam
ia mulai berpikir, “Agaknya saudara Ek-hong adalah
seorang laki-laki yang gemar main perempuan dan mata
keranjang. Mungkin ada sesuatu perbuatan jeleknya yang
ketangkap basah oleh adik Wi. Karena malu maka adik Wi
segan untuk menceritakan kembali….”
Walaupun masih banyak persoalan yang mencurigakan
hatinya, namun persoalan persolan itu tak sampai diutarakan
keluar. Dia hanya melanjutkan perjalanannya dengan mulut
membungkam.
Melihat pemuda itu membungkam dalam seribu bahasa,
tiba-tiba Coa Wi-wi berkata lagi, “Apakah engkau masih belum
percaya? Baiklah akan kuceritakan kepadamu. Dia telah
mempermainkan dayang dari Ko Samko, Ko Siong-peng.
Dayang tersebut dia totok jalan darahnya, tapi ketika hendak
melucuti gaun dayang tersebut telah ketahuan aku. Sejak
itulah aku tak sudi menyebut Suko lagi kepadanya. Coba
bayangkan, manusia macam begitu apa patut disebut laki-laki
sejati? Tampangnya saja gagah, padahal diam-diam
melakukan perbuatan terkutuk yang sangat memalukan. Tidak
pantaskah kalau manusia seperti itu disebut manusia munafik?

893
Jika engkau tak mau putuskan hubungan dengannya, lain kali
kau musti akan merasakan pahit getir di tangannya”
Perkataan itu diucapkan dengan tegas dan sungguhsungguh.
Bahkan makin berbicara semakin panas hatinya.
Sekalipun orang lain yang mendengar, tidak percaya juga
akhirnya jadi percaya.
Tapi lain halnya dengan Hoa In-liong. Dia tak mempercayai
perkataan orang dengan begitu saja. Sekalipun dia lebih
percaya lagi beberapa bagian atas kisah tersebut, sekalipun ia
merasa terkejut dihati. Tapi lantaran kejadian itu tidak
disaksikan sendiri, maka diapun tak ingin memberi tanggapan
atau komentar apapun jua.
Sesudah termenung sebentar, akhirnya iapun berkata,
“Adik Wi, kita tak usah membicarakan tentang dia lagi. Hayo
kita percepat perjalanan kita”
Coa Wi-wi tertegun. “Kenapa kau masih tidak percaya juga?
Kau masih akan berhubungan lagi dengannya?”
Hoa In-liong tersenyum. “Asal aku lebih waspada kan
beres” sahutnya, “Pepatah bilang: Siapa yang tidak jujur
berarti dia sedang bunuh diri. Andaikata dia benar-benar
seorang manusia yang jahat dan busuk, lain kali akulah yang
pertama-tama tak akan lepaskan dia, tak usah kuatir”
Coa Wi-wi termenung sejenak, akhirnya diapun menghela
napas. “Baiklah! Terserah kepadamu. Kau mempunyai
pandangan sendiri sedang aku tak bisa memaksakan
pandanganku kedalam pandanganmu. Cuma kalau bertemu
lagi lain kali, kuharap engkau bersedia meningkatkan
kewaspadaanmu. Jangan sampai kau tertipu oleh akal
muslihatnya”

894
Hoa In-liong hanya bisa manggut-manggut belaka. Maka
kedua orang itupun melanjutkan perjalanan sambil
bergandengan tangan.
Selang sesaat kemudian mereka sudah tiba kembali d kota
Ci-tin, tepatnya di loteng Cwan-seng-lo.
Waktu itu Coa Wi-wi mengenakan pakaian wanita, maka
pelayan yang bernama Go Bei-ci sudah tidak mengenalnya
lagi. Berbeda dengan Hoa In-liong yang mengenakan pakaiah
sama, hanya mantelnya sekarang penuh debu. Maka hanya
sekilas pandangan saja pelayan itu sudah mengenalinya
kembali.
Dengan wajah penuh senyuman pelayan itu buru-buru
maju menyongsong kedatangannya. “Kongcu-ya sudah
kembali? “sapanya, “Kiong-hi, tidak sia-sia rasanya
perjalananmu kali ini. Haa…. haa…. haa…. silahkan…. silahkan
naik ke oteng”
Jelas ia telah salah menganggap Coa Wi-wi sebagai Wan
Hong-giok.
Hoa In-liong sendiripun tidak memberi penjelasan lebih
jauh. Sambil naiki tangga loteng dia berkata sambil
tersenyum, “Tak nyana engkau masih mengenali diriku.
Tolong tanya apakah selama dua hari belakangan ini ada
orang yang menyolok mata berkunjung kemari?”
“Orang-orang yang menyolok? Oooh….” Pelayan yang
menyusul dari belakang itu mendadak berseru tertahan, lalu
sambil merendahkan suaranya dia berbisik, “Ada beberapa
orang, bahkan sekarang masih berada di atas loteng!”

895
Mendengar kabar tersebut dengan kaget Hoa In-liong
menghentikan langkah kakinya, kemudian ikut berbisik, “Ada
berapa orang? Bagaimana dandanan mereka?”
Pelayan itu mengerling sekejap ke atas loteng, lalu sambil
pura-pura sok misterius sahutnya, “Tiga orang nona cantik,
potongan, badannya menggiurkan, parasnya juga menarik.
Belum pernah kota ini dikunjungi nona secantik itu, mereka
mirip…. mirip….”
Dia ada maksud menggunakan Coa Wi-wi sebagai
perumpamaan. Siapa tahu begitu sorot matanya terbentur
dengan wajah gadis tersebut, seketika itu juga ia merasakan
bahwa kecantikan Coa Wi-wi tiada tandingannya dikolong
langit.
Maka pelayan itu hanya bisa menjulurkan lidahnya
gelagapan dan tak mampu melanjutkan kembali kata-kata.
Ketika Coa Wi-wi mendengar bahwa di atas loteng hanya
beberapa orang bocah perempuan saja, ia lantas membentak
nyaring, kemudian melanjutkan langkahnya keatas loteng.
Hoa In-liong juga tertawa rawan, sambil ulapkan tangannya
dia berkata kemudian, “Sediakan saja beberapa sayur, selesai
bersantap kira masih harus melanjutkan perjalanan.
Siapkanlah buat kami”
Habis berkata pemula itu memutar badannya dan pelanpelan
naik ke atas loteng.
Loteng itu hampir penuh oleh tamu yang sedang bersantap.
Coa Wi-wi sedang berdiri didepan tangga sambil celingukan
kesana-kemari. Sementara tiga orang “bocah perempuan”
yang dimaksudkan pelayan duduk disudut barat dekat jendela.

896
Bila ditinjau dari dandanan mereka, memang wajahnya cakup
ayu dan menarik hati.
Disuatu sudut timur dekat jendela ia mencari tempat duduk
lalu menggandeng tangan Coa Wi-wi untuk duduk.
Menggunakan kesempatan tersebut matanya memandang
sekejap sekeliling tempat itu untuk memeriksa apakah
disekitar sana ada orang persilatan yang menyolok pandangan
mata atau tidak.
Ternyata tamu yang bersantap disana sebagai besar adalah
penduduk kota. Yang bisa disebut sebagai “rnenyolok”
memang tak lain hanya tiga orang “bocah perempuan itu”.
Nona nona tersebut tidak terlalu besar usianya. Yang paling
tuapun baru berusia delapan sembilan belas tahunan.
Diantaranya satu mengenakan baju warna hijau pupus, satu
mengenakan baju warna merah menyala dan terakhir
mengenakan baju warna kuning telur.
Mereka itu sama-sama memakai gaun panjang dengan
celana ketat. Ikat pinggangnya memakai warna yang sama.
Pada sanggulnya memakai pita kupu-kupu dengan warna yang
sama. Kecuali berdandan sebagai gadis remaja, tiada tandatanda
lain yang istimewa.
Selang sesaat kemudian, pelayan muncul menghidangkan
sayur dan arak, maka sekali lagi Hoa In-liong berseru,
“Eeeh…. pelayan, tolong tanya, tengah hari tadi apakah ada
seorang kongcu berbaju biru yang mampir dikedai ini?”
Pelayan itu termenung dan berpikir sebentar, kemudian
balik bertanya, “Apakah dia manyoren pedang dan usianya
agak sedikit tua dari kongcu….?”

897
Diam-diam Hoa ln-liong merasa gembira. Cepat dia
mengangguk berulang kali. “Yaaa, Betul. Betul. Apakah kau
tahu setelah berlalu dari warung ini dia telah pergi kemana?”
Pelayan itu segera menggeleng. “Kongcu itu bertampang
keren dan penuh wibawa, berbeda dengan engkau yang
ramah dan suka bergaul. Hee…. hee…. hee…. karenanya
hambapun tidak berani banyak bertanya”
“Lantas dia pergi ke arah mana? Apakah kau masih ingat?”
desak Hoa In-liong lebih jauh dengan wajah sedih.
Pelayan itu segera tertawa serak. “Maaf, seribu kali maaf,
hamba betul-betul tidak memperhatikannya!”
Hoa In-liong merasa hatinya makin tercekam kemurungan,
akhirnya ia ulapkan tangannya dengan sedih. “Terima kasih
atas pemberitahuanmu. Lanjutkanlah pekerjaanmu….” katanya
kemudian.
“Yaa…. yaa….” pelayan itu mengiakan berulang kali sambil
membungkukkan badannya, kemudian mengundurkan diri dari
situ.
Setelah gagal untuk mencari tahu kabar berita tentang
kakaknya, Hoa In-liong berpikir sebentar sambil menatap
wajah Coa Wi-wi katanya, “Mari kita bersantap dulu, kemudian
kita putar mengelilingi kota. Coba lihat adakah sesuatu tanda
yang mencurigakan?”
Selesai berkata dia lantas mengambil sumpit dan mangkuk
dan bersantap dengan lahapnya. Terhadap sepoci arak yang
disediakan, ia sama sekali tidak memandangnya.
Pada dasarnya Coa Wi-wi sendiripun tak pandai minum
arak, sambil bersantap dlapun berbisik, “Eeeeh…. Jiko, Aku

898
lihat apa yang dikatakan Wan Ek-hong ada beberapa bagian
yang bisa di-percayai”
Hoa In-liong tertegun, tapi ketika dilihatnya gadis itu
bersikap sok misterius, maka tanpa terasa diapun ikut
berbisik, “Kenapa begitu? Bukankah kau sendiri yang
mengatakan bahwa perkataannya tak dapat dipercaya?”
Diam-diam Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya ke arah barat,
kemudian bisiknya lebih jauh, “Coba kau lihat! Diam-diam saja
kalau melirik, agaknya ilmu silat yang dimiliki tiga orang gadis
itu sangai tangguh. Mungkin benar juga kalau dia berkata
bahwa ia sedang dikejar-kejar oleh beberapa orang gadis
hingga musti melarikan diri terbirit-birit”
Dengan suatu lirikan seperti tak sengaja Hoa In-liong
menperhatikan sekejap gadis-gadis disudut barat itu, lalu
sahutnya, “Meskipun ketiga orang gadis itu adalah orangorang
persilatan, tapi kalau dikatakan ilmu silat mereka lebih
tangguh daripada Wan Ek-hong, bahkan dapat memaksa Wan
Ek-hong sampai melarikan diri terbirit-birit, aku rasa hal itu
suatu hal yang tak masuk diakal. Ayolah bersantapl Paling
penting kita harus temukan Toako. Jangan sampai
menimbulkan kecurigaan orang hindari segala kerepotan dan
perselisihan-perselisihan yang tak penting!”
Coa Wi-wi mengerling sekejap kearahnya, kemudian
dengan wajah bersungguh-sungguh katanya, “Engkau bisa
mengatakan demikian lantaran kau tidak memperhatikannya
secara sungguh-sungguh. Coba periksa sekali lagi, lihat sinar
mata mereka, bukankah cahaya matanya berbeda jauh
dibandingkan dengan orang lain?”
Ketika didengarnya bahwa perkataan itu diucapkan dengan
wajah serius, tanpa sadar Hoa In-liong berpaling lagi kearah
barat.

899
Kali ini ia memperhatikan lebih seksama lagi. Betul juga, ia
temukan sesuatu yang sebelumnya tak ditemukan olehnya.
Ketiga orang gasis duduk dengan dua orang menghadap ke
barat, seorang menghadap ke timur. Dua orang yang duduk
menghadap kearahnya dapat dilihat betapa tajamnya sinar
mata mereka, terutama kerlingan-kerlingan matanya yang
tajam. Ini semua menunjukkan bahwa tenaga dalam yang
mereka miliki sudah mencapai pada puncak kesempurnaan.
Yang lebih aneh lagi, bukan saja ketiga orang gadis itu
masih muda-muda dan memiliki paras muka yang cantik jelita
bahkan raut wajah mereka sangat dikenal olehnya, seakanakan
pernah di jumpai disuatu tempat….
Sambil putar otak memikirkan soal itu ia berpikir lebih jauh,
“Aneh benar aku seperti pernah bertemu dengan mereka, tapi
dimana? Sejak turun gunung memang tak sedikit perempuan
yang pernah kujumpai, tapi belum pernah rasanya berjumpa
dengan beberapa orang ini. Jangan-jangan…. janganjangan….
Aaaah benar! mereka adalah anak muridnya Pui
Che-giok. Ya pasti! Mereka pasti anak muridnya Pui Che-giok.
Tak salah lagi!”
Akhirnya ia teringat anak Pui Che-giok, teringat akan
sekawanan perempuan geait yang pernah dijumpainya di
rumah pelacuran Gi-sim-wan di kota Kim-leng. Ia teringat juga
akan perkumpulan Cha-li-kau yang oleh Pui Che-giok katanya
segera akan diresmikan, maka dari itu sinar matanya segera
ditarik kembali dan diapun manggut-manggut ke arah Coa Wiwi.
“Sudah melihat jelas?” bisik Coa Wi-wi kemudian,
“Bukankah sinar mata mereka sedikit agak istimewa?”

900
Sambil tundukkan kepalanya bersantap, Hoa In-liong
segera menyahut dengan lirih, “Ehmmm. Mereka semua
adalah anak murid dari perkumpulan Cha-li-kau!”
“Perkumpulan Cha-li-kau?” diam-diam Coa Wi-wi merasa
amat terkejut. Bukankah suatu perkumpulan kaum sesat?
Darimana kau bisa tahu tentaag perkumpulan tersebut?”
“Aku sudah pernah berjumpa dengan kaucu mereka.
Meskipun nama dari perkumpulan itu kurang begitu sedap
didengar, pada hakekatnya mereka tidak merugikan bagi kita”
“Benarkah itu? “tanya Coa Wi-wi dengan dahi berkerut. Ia
tidak percaya dengan perkataan tersebut.
Hoa In-liong tersenyum. “Tentu saja benar, buat apa
kubohongi dirimu? Hayo cepat bersantap, jangan membuang
waktu dengan percuma”
Tiba-tiba Coa Wi-wi tertawa. “Yaa, sekarang aku baru
mengerti, tentu Wan Ek-hong mencari gara-gara dengan
mereka, akibatnya ia kena batunya dan musti melarikan diri
terbirit-birit!”
Pada mulanya dia yang menganggap Wan Ek-hong itu
orang yang tidak jujur, seorang laki-laki yang halus diluar tapi
busuk didalam. Menjadi agak kaget dan rada curiga ketika
mendengar nama “Cha-li kau” tersebut.
Tapi setelah mendapat tahu bahwa perkumpulan “Cha-likau”
hanya tak sedap dalam nama sebutan tapi nyatanya
merupakan suatu perkumpulan yang lurus dan kebetulan
cocok dengan jalan pikirannya, maka dengan hati yang lega
diapun mengucapkan beberapa patah kata itu.

901
Menyinggung kembali tentang diri Wan Ek-hong tiba-tiba
Hoa In-liong merasa hatinya agak tergerak, segera pikirnya,
“Yaaa, kenapa saudara Ek-hong mengganggu mereka? Siapa
tahu kalau merekalah yang mengganggu saudara Ek-hong?
Kedua belah pihak sama sama tidak mengenali asal-usul
masing-masing. Siapa yang mengganggu siapa rasanya semua
ada kemungkinannya. Jika merekalah yang mencari gara gara
dengan saudara Ek-hong, lalu terjadi perselisihan dan saudara
Ek-hong kabur lantaran tak sanggup menandingi kepandaian
mereka, ini toh kemungkinan bisa terjadi juga. Andaikata
demikianlah kejadiannya, bukankah berarti bahwa perkataan
dari saudara Ek-hong dapat dipercayai?”
Perlu diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang
selalu ingat akan persahabatan lama. Dalam benaknya ia
selalu tak berharap kalau Wan Ek-hong itu seorang manusia
cabul yang se-sat. Kalau tidak demikian. andaikata menuruti
wataknya yang amat membenci akan segala bentuk
kejahatan, mungkin anak muda itu sudah dilabraknya
semenjak semula.
Tapi, seandainya Wan Ek-hong itu seorang manusia yang
dapat dipercaya, bagaimana pula penjelasannya atas sikap
Coa Wi-wi yang bicara tegas-tegas?
Pelbagai persoalan yang saling bertentangan ini seketika itu
juga membuat anak muda itu kebingungan sendiri. Mana yang
benar mana yang salah untuk sesaat sulit baginya untuk
membedakan.
Tentu saja Coa Wi-wi tak dapat merasakan betapa kalutnya
pikiran si anak muda itu, dia malahan diam-diam merasa
gembira karena pendapatnya benar.
Karenanya sewaktu ia saksikan Hoa In-liong hanya
termangu-mangu belaka, sambil tersenyum segera ujarnya,

902
“Jiko, hayo cepat bersantap! Selesai bersantap kita harus
segera berangkat. Jangan sampai urusan penting jadi
tertunda!”
Tuguran itu seketika itu juga menyadarkan Hoa In-liong
dari lamunan. Ketika dirasakan bahwa ia sudah berbuat sifat,
cepat kepalanya ditundukkan untuk melanjutkan santapannya.
Selesai membayar rekening dan keluar dari rumah makan
Cwan-seng-lo, kedua orang itu berunding sebentar sebelum
melanjutkan perjalanannya menuju kearah timur.
Dalam perundingan tersebut mereka telah memutuskan
untuk melakukan pemeriksaan yang teliti dari timur kearah
barat lalu dari barat ke arah timur dengan melingkari selatan
menuju utara. Bila pencarian itu tidak mendapatkan hasil,
maka mereka akan melakukan pencarian lagi dengan
menelusuri sungai hingga ke kota Kim-leng untuk melihat
keadaan dari pesanggrahan pertabiban, setelah itu rencana
baru di susun kembali.
Sedang mengenai kejadian apakah yang dialami Hoa Si,
lantaran waktu amat mendesak maka terpaksa mereka harus
mencari kabar dengan sebisanya.
Waktu malam sudah menjelang tiba, rembulan belum
muncul diangkasa. Suasana amat gelap gulita, untunglah
kedua orang itu memiliki ketajaman mata yang melebihi orang
lain. Meski demikian pencarian yang sudah dilakukan hampir
makan waktu setengah jam lamanya itu sama sekali tidak
mendatangkan hasil apa-apa.
Makin lama kedua orang itu semakin mendekati tempat
yang dijanjikan Kiu-im Kaucu sebagai tempat pertemuannya
dengan Hoa Si.

903
Tempat itu adalah sebuah hutan yang tidak terlampau luas.
Ditengah hutan terdapat sebidang tanah lapangan yang
berumput. Di atas rumput tertera dengan jelasnya bekasbekas
telapak kaki yang masih baru, cuma anehnya disana tak
terlihat sesosok bayangan manusiapun.
Coa Wi-wi tak dapai menahan sabar, dia celingukan
sebentar kesana kemari, kemudian bisiknya, “Mereka telah
pergi?”
Hoa In-liong mengangguk. “Yaa, sudah pergi, agaknya
belum sampai terjadi bentrokan kekerasan….!”
“Darimana kau bisa tahu?”
Hoa In-liong menuding bekas-bekas telapak kaki diatas
tanah. “Coba kau lihat bekas-bekas telapak kaki itu, jumlah
seluruhnya hanya belasan saja. Bahkan bekas tongkat baja
kepala setan dari Kiu-im Kaucu pun tertera amat jelas. Bekasbekas
telapak kaki itu bersih, teratur dan sama sekali tidak
kalut. Ini menandakan bahwa disini belum sampai terjadi
suatu pertarungan”
“Lantas dimanakah Toako?” tanya Coa Wi-wi lebih jauh
dengan perasaan tidak mengerti, “Kenapa Toako tidak
langsung balik keatas puncak bukit?”
“Aku sendiripun tidak jelas dengan masalah tersebut” sahut
Hoa In-liong sambil celingukan kesana kemari, “Semestinya
Toako adalah seorang laki-laki yang tak pernah merubah katakatanya.
Diapun laki laki yang pegang janji. Anehnya ternyata
ia tidak balik lagi ke atas puncak bukit.”
Coa Wi-wi murung sekali, pikirannya ikut menjadi kusut.
“Jangan-jangan Kiu-im-kaucu turun tangan secara tiba-tiba

904
dengan menotok jalan darah dari Toako, kemudian menculik
Toako pergi dari sini?”
“Tidak mungkin!” Hoa In-liong gelengkan kepalanya
berulang kali, “Toako berbeda dengan aku. Kalau aku kadang
kala memang bisa berpikiran cabang hingga kena
dikecundangi orang, sedang Toako orangnya serius dan selalu
waspada….”
Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia tertawa tergelak.
“Haa…. haa…. haa…. Sahabat darimanakah yang telah
berkunjung kemari? Jika tidak keluar lagi dari tempat
persembunyianmu, jangan salahkan kalau aku Hoa loji
terpaksa harus mengundangnya dengan cara kekerasan!”.
Baru saja Coa Wi-wi merasa terperanjat, dari dalam hutan
disebelah kanan sana berkumandang serentetan suara yang
merdu dan nyaring bagaikan suara genta, “Ilmu silat yang
dimiliki ji-kongcu memang benar-benar luar biasa. Kami
mengira tempat persembunyian kami ini cukup rapat dan
rahasia. Tak tahunya masih tidak berhasil juga untuk melolos
diri dari pengawasanmu”
Ditengah pembicaraan tersebut, bayangan manusia
berkelebat berulang kali, secara beruntun munculah tiga orang
dari dalam hutan.
Ketiga orang gadis itu bukan lain adalah gadis-gadis yang
telah dijumpainya dirumah makan Cwan-seng-lo.
Maka begitu berjumpa muka, Coa Wi-wi berseru, “Oooh….
kiranya kalian!”
Dengan langkah yang lemah gemulai tiga orang gadis itu
maju kedepan. Setelah berada dihadapan kedua orang mudamuda
itu serentak mereka memberi hormat. “Apakah jiTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
905
kongcu mengetahui asal-usul kami?” Dara baju kuning
diantara tiga orang gadis itu mennyapa.
Sambil balas memberi hormat jawaban Hoa In-liong, “Jika
dugaanku tidak keliru, kalian bertiga semestinya adalah anak
murid dari perkumpulan Cha-li-kau”
“Keliru!” tiba-tiba dara baju kuning itu gelengkan
kepalanya, “Kami adalah murid perkumpulan Cian-li-kau!”
Jawaban tersebut membuat Hoa In-liong terbelalak dengan
mulut melongo, ia benar-benar dibuat tertegun.
Kembali dara berbaju kuning itu tertawa cekikikan,
kemudian katanya lebih jauh, “Namun dugaan ji-kongcu juga
tidak keliru se-bab perkumpulan Cian-li-kau bukan lain adalah
berkumpulan Cha-li-kau. Hanya namanya saja mengalami
perubahan beberapa saat berselang”
Selesai berbicara, bersama dua orang gadis lainnya mereka
tertawa cekikikan dengan santainya, sama sekali tidak tampak
rikuh.
Menyaksikan keadaan mereka, diam-diam Coa Wi-wi
mengerutkan dahinya dan berpikir, “Apakah anggota dari
perkumpulan Cian-li-kau adalah manusia-manusia yang tidak
pakai aturan dan bergaul bebas seperti itu?”
Lain halnya dengan Hoa In-liong yang sudah pernah
menyaiksikan keanehan mereka, sambil tersenyum ujarnya,
“Menurut apa yang kuketahui, nama dari perkumpulan kaliau
itu berasal mula dari kitab pusaka Cha-li-cin-keng, kenapa
nama yang sudah baik diganti lagi?”
“Bukankah kau pernah mengatakan bahwa perkumpulan
Cha-li-kau adalah suatu perkumpulan sesat yang memikat

906
orang dengan mengandalkan kecantikan perempuan? “ujar
dara berbaju kuning itu.
Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong segera tertawa
terbahak-bahak karena geli. “Haa…. haa…. haa…. Perkataan
itu kuucapkan ketika lagi jengkel. Sungguh tak nyana kalau
kaucu kalian menanggapinya dengan serius”
Dara berbaju kuning itu kembali tertawa cekikikan. “Hiih….
hiih…. hiih…. Sekali lagi kau keliru besar. Apa yang kau
katakan kendatipun merupakan salah satu dari alasan kami,
tapi yang paling penting hal ini adalah merupakan saran dari
sucou kami. Dia orang tua suka segala yang berbau
ketenangan. Tak mau lantaran nama “Cha-li” hingga
menyebabkan ketenangan dan kesuciannya terganggu. Selain
daripada itu kaucu kamipun bermaksud demikian, maka atas
dasar pelbagai alasan itulah maka nama perkumpulan kami
mengalami penggantian”
Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah, mau tertawa
tak bisa mau menangis juga sungkan. “Lantas bagaimana pula
dengan maksud hati kaucu kalian?” tanyanya kemudian.
“Maksud kaucu kami, lebih baik nama perkumpulan itu
dirubah dengan nama yang sekarang ini. Hal tersebut
mengingatkan beliau akan kisah cerita yang berjudul Cian-lilei-
hun (gadis ayu kehila-ngan sukma). Pernah baca ceritanya
tidak?”
Hoa ln Hong sebagai seorang pemuda romantis yang suka
berganti pacar, tentu saja pernah membaca cerita Cian-li-leihun
tersebut. Bahkan sudah pernah membacanya beberapa
kali, tentu saja ia tahu akan isi cerita tersebut.
Maka sambil tersenyum ia manggut berulang kali, bahkan
sengaja berseru tertahan sambil berkata, “Oooh….kiranya

907
begitu. Jadi perkumpulan kalian sudah dibuka secara resmi?
Lantas dimanakah markas besar dari perkumpulan kalian itu?
Bagaimana pula organisasi itu tersusun? Apa pula jabatan dari
nona bertiga? Apakah aku boleh tahu semuanya?”
“Tentang soal itu tak bisa kukatakan” tiba-tiba si nona baju
kuning itu berkata dengan serius, “Sebab urusan menyangkut
tentang rahasia perkumpulan. Bila kukatakan, niscaya kami
akan dijatuhi hukuman yang sangat berat. Karenanya
maafkanlah kami, terpaksa kami musti membungkam dalam
seribu bahasa”
Menyaksikan sikap serius dan bersungguh-sungguh yang
ditunjukkan nona itu, hingga tampaklah jelas raut wajah
kegadisan mereka yang sebenarnya, Coa Wi-wi tak bisa
menahan rasa gelinya lagi, dia tertawa cekikikan.
Mendengar suara tertawa itu, si nona baju kuning pun
berpaling, tiba-tiba ia menyapa, “Bukankah cici ini adalah adik
perempuan dari Coa Cong-gi, Coa kongcu….?”
Coa Wi-wi tertegun. “Yaa, benar! Aku bernama Coa Wi-wi,
adik da-ri Coa Cong-gi tapi darimana kalian bisa tahu?”
tegurnya.
Nona baju kuning itu segera tersenyum. “Terus terang
kukatakan kepadamu, setiap orang yang mempunyai
hubungan dengan Hoa kongcu tak pernah lepas dari
pengawasan kami. Semuanya dapat kami ketahui dengan
jelasnya”
Berbicara sampai disini diapun melemparkan sebuah
kerlingan maut ke arah Hoa In-liong.

908
Kerlingan tersebut betul betul memiliki daya pikat yang
mempesonakan hati siapapun jua, jangankan manusia yang
terdiri dari darah daging, manusia dari bajapun akan melumer.
Kurang senang Coa Wi-wi menyaksikan tindak-tanduk
lawannya, keningnya berkerut kencang, sementara dalam hati
kecilnya menggerutu terus, “Silahkan…. Silahkan…. entah
perempuan-perempuan ini perempuan genah atau perempuan
nakal?. Kalau dibilang perempuan baik-baik, kerlingan
matanya aduhai, kalau dihilang perempuan nakal, lagaknya
tampak alim”
Berbeda dengan Hoa In-liong, terhadap kerlingan tersebut
boleh dibilang ia tak ambil perduli, melirikpun tidak. “Perhatian
dan bantuan dari perkumpulan kalian sangat mengharukan
hatiku” demikian ujarnya, “Aku hanya dapat mengucapkan
terima kasih yang tak terkirakan besarnya. Cuma…. bolehkah
aku tahu, ada urusan apa hingga nona-nona sekalian
menyusul aku sampai disini?”
Mendapat pertanyaan itu, si nona baju kuning segera
merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan selembar
kertas, lalu sambil diangsurkan ke muka katanya, “Apa yang
hendak kukatakan sudah tercantum semua diatas kertas itu,
silahkan periksa sendiri”
Ketika Hoa In-liong menerima surat itu dan siap untuk
dibacanya, tiba-tiba nona baju kuning itu putar badan seraya
ulapkan tangannya. “Ngo-moay, kiu-moay, ayoh kita pergi!”
Kemudian bagaikan burung-burung walet yang terbang di
angkasa, mereka melayang ke udara dan meluncur ke dalam
hutan. Cepat, gesit dan lincah sekali gerakan tubuh ketiga
nona itu sudah lenyap dari pandangan.

909
Tindakan yang diambil ketiga orang gadis itu sungguh
diluar dugaan Hoa In-liong maupun Coa Wi-wi. Mereka tak
menyangka kalau gadis-gadis itu akan segera pergi begitu
mereka mengatakan akan pergi, bahkan sepatah kata pun tak
diucapkan. Untuk sesaat lamanya mereka berdua hanya bisa
berdiri melongo dengan muka tercengang.
Selang sesaat kemudian, Coa Wi-wi baru serentak bangun
dari lamunannya. Dengan nada tertegun dan keheranan ia
bergumam sambil gelengkan kepalanya berulang kali,
“Manusia aneh…. benar-benar manusia aneh….”
Ia berpaling, ketika dilihatnya Hoa In-liong masih berdiri
termangu, maka diapun berteriak, “Eeeh Jiko…. Orangnya
sudah pergi jauh, kenapa masih melamun terus? Coba kita
periksa dulu apa isi surat tersebut? Siapa tahu kalau kita akan
menemukan kabar berita tentang Toako!”
“Oya….benar…. benar…. Memang benar….kata-katamu itu”
seperti baru sadar, Hoa In-liong manggut-manggut,
“Kemarilah, hayo kita…. baca bersama isi surat ini.”
Coa Wi-wi melompat ke muka, mereka berdua segera
alihkan sinar matanya ke atas surat tersebut.
Dan terbacalah surat itu berbunyi demikian…., “Sinar iblis
memancar sampai di Kiu-ciu. Semak berduri banyak di depan
sana. Kembali dan lapor kepada Thian-cu kiam, waspada
terhadap orang di depan mata”
Itulah selembar kertas kecil yang mungil dan tulisan yang
indah. Hanya isi surat tersebut tanpa diberi pembukaan
maupun surat penutup. Hanya diujung paling bawah terlukis
sebuah lukisan perempuan cantik yang menunggal. Lukisan
tersebut hanya tunggal ibaratnya ayam emas yang berdiri di

910
satu kaki. Meski huruf tulisannya amat minim tapi lukisannya
hidup dan mempersona hati.
Begitu selesai membaca beberapa huruf tulisan itu, kontan
saja Coa Wi-wi menyumpah, “Sialan, setan kepala gede.
Berani betul menulis yang bukan-bukan, biar kurobek saja
kertas sialan ini!”
Seraya berkata dia lantas merampas kertas surat itu dan
siap dirobek-robek jadi berkeping.
“Eeeeh…. Tunggu sebentar!” Hoa In-liong bertindak cepat,
pergelangan tangan gadis itu segera dicekal.
“Kenapa?” teriak Coa Wi-wi penasaran, “Isi surat itu
bukankah bermaksud agar engkau selalu waspada terhadap
diriku? Apa kau mempercayai perkataan mereka?”.
Hoa Ia liong gelengkan kepala berulang kali. “Aaaah….
Engkau banyak curiga, Bukan demikian yang dimaksudkan isi
surat tersebut. Arti yang tercakup dalam surat itu amat luas
lagi pula belum tentu engkau yang mereka maksudkan. Toh
sampai sekarang aku masih belum mempercayainya?”
“Sungguh?” tanya Coa Wi-wi dengan wajah tertegun.
Hoa In-liong tersenyum, “Tentu saja sungguh, kalau tidak
percaya coba periksa lagi isi surat itu kemudian camkan
benar-benar”
Dia menundukkan kepalanya dan sekali lagi membaca isi
surat itu kemudian menganalisa maksud yang sebenarnya.
Selang sesaat kemudian, ia sudah angkat muka kembali,
kemudian ujarnya dengan wajah serius, “Jiko! Aku rasa
situasinya kok makin lama semakin serius, apakah kau juga
merasakannya?”

911
“Apakah yang dimaksudkan adalah situasi di dalam dunia
persilatan?” tanya Hoa In-liong.
Coa Wi-wi mengangguk dengan wajah sungguh-sungguh.
oooOOOooo
“YAAA, memang begitulah” sahutnya, “Kalau toh
perkumpulan Cian-li-kau bukan suatu perkumpulan kaum
sesat dan lagi agaknya kedatangan mereka memang khusus
untuk menghantar surat pemberitahuan ini, maka semestinya
mereka membawa suatu peringatan yang mempunyanyai
sangkut paut yang amat serius dengan kepentingan kita.
Kalau tidak, bukankah maksud dari isi surat itu jadi serba
kacau, tidak sesuai dengan kenyataan dan sedikttpun tak ada
harganya?”
“Hmmmm! Memang masuk diakal “sahut Hoa In-liong
kemudian sambil tersenyum, “Yaa…. terutama kata-kata yang
mengatakan: ‘Sinar iblis memancar sampai di Kiu-ciu, semak
berduri banyak di depan sana.’ Dua kalimat tersebut bukan
saja mengandung nada peringatan, bahkan situasi dalam
dunia persilatan dewasa inipun sudah mereka terang dengan
sejelas jelasnya”

ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar], cersil terbaru, Cerita Dewasa, cerita mandarinCersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar],Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar], Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar]
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar] dan anda bisa menemukan artikel Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-terbaru-rahasia-hiolo.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar] sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Online Terbaru : Rahasia Hiolo Kumala 3 [Lanjutan 3 Maha Besar] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-terbaru-rahasia-hiolo.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 2 komentar... read them below or add one }

Jelly Gamat Gold G mengatakan...

http://goo.gl/OlAE4r waw Kereen

Jelly Gamat Gold G mengatakan...

http://goo.gl/YkHoQr Ajip sangat ini

Poskan Komentar