Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar]

Diposting oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 26 Desember 2011

Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar]

“Betul” sambung Coa Wi-wi, “Kalau pada kalimat pertama
mereka terangkan bahwa bencana dan hawa iblis sudah
timbul dari empat penjuru dan seluruh dunia persilatan mulai
tercekam, maka pada kalimat yang kedua mereka terangkan
bahwa pelajaran selanjutnya banyak rintangan dan kesulitan
dimana saja mara bahaya bisa datang mengancam. Sedang
kalimat berikutnya, mereka menganjurkan kepadamu agar
pulang dulu kerumah dan melaporkan keadaan situasi dunia
kepada empek. Aku rasa dalam kalimat ini mereka bukan
bermaksud memberi peringatan saja, bahkan menganjurkan

912
kepadamu agar dalam menghadapi masalah besar, setiap
tindakan mesti dilakukan dengan hati hati cermat dan
waspada. Jangan sekali-kali bertindak dengan sembrono
ataupun menempuh marah bahaya”
“Apakah engkau berpendapat begitu?” tanya Hoa In-liong
sambil tersenyum. Sinar terang mencorong keluar dari
sepasang matanya.
“Tentu saja. Kalau tidak, buat apa orang-orang Cian-li-kau
menghantar surat itu kepadamu?”
“Haa…. haa…. haa…. Bukankah tadi kau bilang bahwa
mereka suruh aku waspada terhadap dirimu?”goda Hoa Inliong
sambil tergelak.
“Aaah…. Bagaimana sih kamu ini! “omel Coa Wi-wi sambil
berkerut kening, “Aku kan lagi berbicara serius, tapi kau selalu
berusaha untuk mengorek borokku. Memangnya aku musti
ngaku salah dan minta maaf dulu kepadamu?”
Melihat gadis itu cemberut Hoa In-liong jadi senang,
apalagi dalam keadaan demikian nona itu tampak lebih cantik
dan menawan hati, tak tahan lagi dirangkulnya gadis itu dan
serunya sambil tertawa, “Perduli amat! Setibanya di mulut
jembatan, perahu akan lurus dengan sendirinya, kenapa kita
musti risau dulu sejak sekarang?”
Coa Wi-wi meronta dengan sepenuh tenaga. Setelah lepas
dari rangkulannya dia lantas mencibirkan bibirnya yang kecil.
“Coba lihat tampangmu itu “omelnya, “Tidak serius, tidak
genah dan sok mata keranjang. Kalau berani main gila lagi,
awas! Lihat saja nanti, kuhajar dirimu atau tidak”
Dalam hati kecilnya Hoa In-liong merasa geli, tapi diluaran
jawabnya berulang kali, “Baik! Baik! Aku tidak main gila lagi,

913
aku tak akan mata keranjang, Nah, sekarang bicaralah yang
serius!”
Dengan muka yang lebih lembut. Coa Wi-wi pun bertanya,
“Mereka menganjurkan kepadamu agar pulang dan
melaporkan situasi ini kepada empek, apakah kau mau
pulang?”
“Tidak! Aku tidak akan pulang!”
Mendengar jawaban dari si anak muda ini singkat tapi jelas,
Coa Wi-wi malahan tertegun dibuatnya.
“Kenapa? “tanyanya kemudian.
“Ayah paling mementingkan soal tugas. Kalau aku musti
pulang kerumah dan melaporkan semua kejadian ini, ibaratnya
baru melihat angin lantas menduga bakal hujan. Waaah….
Bukan pujian yang didapat, bisa jadi aku bakal dicaci maki
habis-habisan”
“Kalau hendak dimaki biar saja dimaki. Kan lebih baik dicaci
maki ayah sendiri daripada menempuh bahaya deagan
percuma”
“Jadi kau berharap aku dicaci maki oleh ayahku? tiba tiba
Hoa In-liong balik bertanya sambil tersenyum
“Aaaah…. kamu ini, kalau bicara yang betul sedikit. Siapa
yang mengharapkan kau di caci maki?’ omel Coa Wi-wi
dengan kening berkerut “Aku bisa berkata demikian karena
mengingat bahwa perkumpulan Cian-li-kau adalah suatu
organisasi yang memiliki anggota yang sangat banyak. Mereka
bisa menyampaikan peringatan kepadamu dan menganjutkan
kepadamu agar pulang dulu dan melaporkan kejadian ini
kepada ayahmu. Tentu saja semua masalah telah mereka

914
bahas. Semua situasi telah mereka teliti sebelum akhirnya
memutuskan demikian. Aku yakin anjuran tersebut bukan
mereka ajukan tanpa disertai oleh alasan yaig kuat!”
“Apa yang mereka bahas?. Apa yang mereka analisa?” kata
Hoa In-liong sambil tertawa, “Apakah lantaran usiaku masih
muda? Lantaran ilmu silatku masih terbatas dan tak becus
untuk memikul tanggung jawab yang sangat berat ini?”
Coa Wi-wi lantas menuding ujung hidungnya sambil
mengomel, “Aaaah! Kamu ini! Sudah benar diberi tahu, kamu
hanya tahunya pingin cari menangnya sendiri!”
Meuggunakan kesempatan itu Hoa In-liong segera
menangkap jari-jari tangannya yang lembut dan halus, lalu
katanya dengan wajah bersungguh-sungguh, “Bicara
sesungguhnya adik Wi, aku bukan ingin cari menangnya
sendiri, tapi hal ini menyangkut soal semangat. Seseorang tak
boleh tidak memiliki semangat, bukan demikian?”
“Semangat?” Coa Wi-wi sedikit tertegun ketika dilihatnya
pemuda itu bicara serius, “Jadi engkau hendak memikul
tanggung jawab yang maha berat ini, menyapu hawa siluman
dan menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia
persilatan?”
Hoa In-liong tersenyum. “Kalau dikatakan aku hendak
memikul tanggung jawab yang maha berat ini, maka ucapan
tersebut terlampau latah, terlampau sombong dan tak tahu
diri. Jelek jelek begini aku masih tahu bekas kemampuan yang
kumiliki. Maksudku, sekalipun cahaya iblis sudah bermunculan
dimana-mana, toh keadaan yang sebenarnya masih belum kita
ketahui dengan jelas. Maka kita musti selidiki lebih dulu
keadaan situasi yang sebenarnya sebelum mengambil sesuatu
tindakan sebagai pence-gahnya”

915
“Kalau toh demikian, apa salahnya jika kita laporkan dulu
keadaan tersebut kepada empek? “tanya Coa Wi-wi sambil
berkerut kening.
“Itulah yang dinamakan semangat, mengerti kamu?” sahut
Hoa In-liong, “Ketika ayah mulai berkelana tempo dulu,
usianya jauh lebih muda dibandingkan aku. Ilmu silat yang
dimiliki juga lebih rendah dari aku. Tapi bagaimana hasilnya,
dia orang tua toh masih mampu untuk menanggulangi semua
kesulitan. Semua kejadian besar serta semua hadangan yang
merintangi kariernya, akhirnya dia juga berhasil dengan
sukses. Justru keadaan semacam inilah merupakan
kesempatan yang paling baik bagi diriku untuk melatih diri.
Ibaratnya pisau yang tumpul, sekaranglah waktunya untuk
diasah agar menjadi tajam. Bila aku serahkan kembali tugas
ini kepada ayahku, lalu sampai kapan aku baru dapat
membasmi hawa sesat dari muka bumi? Sampai kapan aku
baru bisa menciptakan ketenangan dan keadilan didalam
persilatan?”
Ketika pemuda itu berbicara sampai disitu, Coa Wi-wi telah
menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu.
Melihat itu, dengan cepat Hoa In-liong menukas, “Adik Wi
tak usah berbicara lagi. Pokoknya jelek-jelek begini, Jiko masih
terhitung seorang laki-laki sejati, seorang pria jantan yang tak
jeri menghadapi segala rintangan dan mara bahaya. Seoranglaki-
laki yang masih mempunyai ambisi untuk menciptakan
suatu keberhasilan dalam karier. Andaikata aku penakut,
seorang pengecut dan tak berani menghadapi kenyataan,
jangankan orang lain, mungkin engkau pun tak akan
memandang sebelah mata kepadaku”.
Coa Wi-wi berpikir sebentar, akhirnya dengan sedih ia
berkata, “Baiklah! terserah padamu. Pokoknya aku tak akan
meninggalkan dirimu lagi!”

916
Belum habis ia berkata, Hoa In-liong sudah memeluk
pinggangnya dan berseru dengan penuh kegembiraan,
“Bagus…. Horee…. Asal kau membantu aku, sekalipun ada
kejadian yang lebih mengerikan Aku juga tak akan takut!”
Kali ini pelukan itu dilakukan dengan muka berhadapan
dengan muka, dada dan perut masing-masing saling
menempel satu sama lainnya. Coa Wi-wi bukan saja tidak
meronta, dia malah balas memeluk anak muda itu, kemudian
sambil mengangkat dagu Hoa In-liong keatas katanya lembut,
“Tapi kau musti menurut perkataanku! Aku tak akan
mengijinkan engkau berbuat gegabah, tidak acuh terhadap
segala urusan. Misalnya saja sebelum racun ular sakti yang
mengeram dalam tubuhmu punah, kau dilarang bertarung
dengan siapapun. Kemudian…. kemudian…. ucapan dari
perkumpulan Cian-li-kau juga harus dituruti. Siapa tahu kalau
diantara sobat karibmu atau teman perempuanmu ada yang
hendak mencelakai dirimu. Daripada terlanjur kena dicelakai,
kan lebih baik sedia payung sebelum hujan, bukan begitu?”
Waktu mengucapkan kata-kata tersebut, gadis itu berbicara
dengan serius. Hoa In-liong hanya merasakan biji matanya
yang jeli berkedip penuh tantangan. Makin dilihat makin
menawan hati, akhirnya ia tak dapat mengendalikan
perasaannya lagi, diciumnya pipi kanannya dengan mesra.
“Tentu saja, sekalipun tidak kau katakan, aku juga bisa
bertindak lebih hati-hati” katanya.
Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya yang kecil dan memukul
bahu anak muda itu dengan gemas. “Aaaah…. benci!” serunya
manja, “Hayo turunkan aku, kita musti segera mencari Toako”
“Jangan keburu napsu, biar kucium lagi pipimu yang lain!”

917
Habis berkata betul juga, dia lantas mencium pula pipi kiri
Coa Wi-wi dengan mesra.
Tentu saja Coa Wi-wi dibikin tersipu-sipu, ia memukuli bahu
pemuda itu dengan manja, dan serunya berulang kali,
“Benci….! Benci….! Benci….!”
Hoa In-liong terbahak bahak, sambil turunkan Coa Wi-wi
dari pelukannya ia berkata, “Adik Wi, tahukah engkau bahwa
kau itu cantik?”
Coa Wi-wi mengerling sekejap kearah dengan gemas, lalu
sahutnya manja, “Masih ngoceh terus? Kau ini paling tengik,
tahunya cuma menggoda orang saja”
“Siapa yang menggoda kau? Aku berbicara yang
sesungguhnya. Kau memang benar-benar cantik, jauh lebih
cantik dibandingkan dengan Kiu-im Kaucu”
“Berani bicara lagi? Sekali lagi berbicara, aku akan benarbenar
menghajar dirimu!” ancam si nona sambil ayun tangan
kanannya.
Jilid 24
DITENGAH keheningan malam hanya cahaya bintang yang
menerangi seluruh jagad, pemandangan yang tertera disitu
benar-benar merupakan suatu pemandangan yang sangat
indah.
Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong bergirang dihati.
Walaupun demikian ia tak mau kehilangan martabatnya
sebagai seorang laki-laki sopan. Ia tahu mana yang boleh
dilakukan dan mana yang tak boleh dilakukan.

918
Atau dengan perkataan lain, pada saat itu dia tidak
mempunyai pikiran lain. Tindakannya memeluk dan mencium
mesra gadis itu dilakukan karena spontan dan tindakan
spontan tersebut tak jauh bedanya dengan kasih sayang
seorang kakak yang lebih tua terhadap adik perempuannya
yang cantik dan menawan hati.
Sebab itulah sesudah mendengar perkataan ilu dengan
wajah berseri sahutnya, “Baik…. Baiklah, aku tidak akan
berkata lagi…. aku tidak akan berkata lagi! Bicara
sesungguhnya, kita memang seharusnya mulai memikirkan
kemana perginya Toako”
Caranya mengalihkan pokok pembicaraan benar benar
amat sempurna, bukan saja lembut dan wajar, malahan sama
sekali tidak meninggalkan bekas apa-apa.
Coa Wi wi malah dibikin tertegun. “Memikirkannya….” ia
bergumam.
“Yaa, kita harus mulai memikirkan” lanjut Hoa In-liong,
“Coba lihatlah bekas bekas telapak kaki ditanah semuanya
menunjukkan bahwa ketiga orang nona dari Cian-li-kau sudah
pernah menampakkan diri disini dan mengetahui juga kalau
Toako sudah berlalu agak lama dari sini. Tapi mereka tak tahu
bagaimana keselamatannya dan kemana ia telah pergi, sebab
itulah kita harus memikirkannya secara baik-baik”.
“Masa dengan kemunculan orang-orang Cian-li-kau disini
sudah cukup membuktikan kalau Toako betul-betul
meninggalkan tempat ini?” Coa Wi-wi bertanya lagi dengan
perasaan tak habis mengerti.
“Yaa, kaucu dari Cian-li-kau mempunyai hubungan yang
sangat akrab dengan ayahku. Kalau toh anak buahnya bisa

919
mengejar Wan Ek-hong disekitar tempat ini, hal tersebut
membuktikan kalau mereka sudah agak lama tiba disini.
Seandainya mereka telah bertemu dengan Toako atau Kiu-im
kaucu, masa tadi tidak mereka singgung-singgung?”
“Aku kan hanya menduga saja kalau Wan Ek-hong telah
dikejar-kejar oleh ketiga orang nona dari Cian-li-kau, masa kau
gunakannya sebagai suatu dasar untuk analisa?”
Hoa In-liong tersenyum, “Aku tahu, akupun hanya
menduga saja. Cuma dugaanku ada dasar-dasarnya yang
kuat”
“Oya….? Lantas dasar apakah yang kau pakai” mencorong
sinar tajam dari sepasang mata Coa Wi-wi.
“Tujuan dari perkumpulan Cian-li-kau!”.
“Apakah tujuan mereka? “desak gadis itu lebih lanjut.
“Kalau dibicarakan kembali sebetulnya amat panjang, tapi
kalau kau ingin tahu, maka biarlah aku bercerita mulai depan
saja”
“Yaa, kau musti bicara sejujurnya, sebab lain kali aku toh
musti membantu kau, maka aku harus mengetahui sedikit
banyak tentang latar belakang perkumpulan Cian-li-kau”
Setelah pembicaraan dibuka, mau tak mau Hoa In-liong
harus berbicara sejujurnya. Setelah berpikir sebentar, maka
diputuskan untuk mengatakan hal-hal yang penting saja.
Secara ringkas diapun menceritakan semua pembicaraan
yang pernah berlangsung antara Pui-Che-giok dengan muridmuridnya,
serta pembicaraan Pui Che-giok dengan Giok-teng
hujin.

920
Di balik kisah tersebut, sudah tentu dia harus menerangkan
juga semua hubungan yang diketahui olehnya. Diapun
menyinggung juga tentang diri Giok-teng hujin yang sudah
menjadi seorang Tookoh dengan julukan Tiang-heng.
Coa Wi-wi mendengar penuturan tersebut dengan
seksama, selesai itu dia menghembuskan napas panjang,
katanya dengan gegetun, “Sungguh tak kusangka….benarbenar
tak kusangka…. kiranya kaucu ini diam-diam mencintai
juga diri empek, maka dibentuknya perkumpulan Cian-li-kau
untuk mendukungnya. Aaaia…. cinta yang murni dan sedalam
ini benar-benar jarang ditemui didunia ini”
Hoa In-liong lebih tersentuh, dia menghela napas panjang.
“Yang jarang ditemui ini justru Tiang-heng cianpwe itu”
katanya, “Terhadap ayahku bukan saja ia menaruh rasa cinta
yang mendalam, bahkan ia sangat memahami watak serta
tindak tanduk ayahku. Ia rela dirinya yang tersiksa, rela
dirinya menderita. Tapi ia tak rela membiarkan ayahku
merasakan pahit getirnya. Lain kali…. Aku pasti akan berusaha
dengan segala kemampuan untuk memapak orang tua itu
pulang Im Tiong-san”.
“Yaa benar” sambung Coa Wi-wi pula dengan bersemangat,
“Kalau dibilang bercinta dapat mempunyai rasul, maka Tiangheng
cianpwe lah yang paling cocok dengan kedudukan
tersebut. Jiko! lain kali kita harus mencarinya bersama-sama,
mau bukan?”
Setelah pembicaraan berlangsung sampai disitu perasaan
kedua orang itupun mengalami banyak perubahan, sampaisampai
tujuan mereka yang semulapun terlupakan.

921
Padahal, membicarakan cita-cita dan tujuan perkumpulan
Cian-li-kau dalam keadaan semacam ini hanyalah suatu
perbuatan yang tak ada gunanya.
Tiba-tiba ditengah keheningan yang mencekam kegelapan
malam, dari sisi hutan itu berkumandang suara helaan napas
yang rendah dan lirih.
Demikian rendah dan lirihnya helaan napas tersebut hingga
boleh dibilang sukar diketahui. Namun dalam pendengaran
Hoa In-liong serta Coa Wi-wi yang merupakan jago tangguh
dalam dunia persilatan, suara tersebut dapat didengar dengan
amat jelasnya.
Tak heran kalau mereka berdua jadi tertegun sesudah
mendengar suara helaan napas itu mereka berusaha pasang
telinga untuk mencari sumber suara itu, namun tiada suara
apa-apa lagi yang kedengaran.
Lama kelamaan Hoa In-liong tak dapat mengendalikan
perasaannya lagi, dia lantas berseru dengan lantang, “Jago
silat dari manakah yang telah berkunjung kemari? Kenapa
tidak munculkan diri untuk bertemu?”
Tiada jawaban yang terdengar Hoa In-liong mengulangi
kata katanya sekali lagi, nanum tiada jawaban juga.
“Mari kita geledah sekitar tempat ini!” bisik Coa Wi-wi
kemudian.
“Tak usah digeledah!” tiba-tiba dari balik hutan
berkumandang suara jawaban yang cukup nyaring, “Nak,
sebetulnya aku tak ingin mengganggu
kalian, orang yang sedang kalian cari sekarang berada
di….”

922
“Eeeh…. Bukankah engkau adalah Ku locianpwe?” sebelum
ucapan itu selesai, Hoa In-liong telah bersorak kegirangan,
“Boanpwe ingin sekali bertemu dengan kau!”
“Aaaai…. Engkau si bocah cilik” kata orang itu sambil hela
napas. “Sebetulnya pinto tak ingin membuat kalian tahu akan
kehadiranku. Sungguh tak nyana daya ingatanmu bagus
sekali. Yaah…. setelah tebakanmu jitu, akupun tak akau
mengelabuhi engkau lagi. Pinto memang Tiang-heng
adanya….!”
Begitu mengetahui kalau orang itu adalah Tiang-heng atau
Giok-teng hujin, cepat-cepai Coa Wi-wi berseru, “Bagus sekali!
Baru saja kami membicarakan tentang dirimu! Apakah kau
orang tua mengijinkan kami untuk menyambangi dirimu?”
“Tak usah!” tampik Tiang heng Tookoh “Ketahuilah nak,
pinto adalah seorang pendeta yang telah melepaskan diri dari
urusan. Apa gunanya kita berjumpa? Lebih baik selesaikan
urusan kalian lebih dulu….!”
“Aku sudah berpikir sampai ke situ” ujar Coa Wi-wi manja,
“Dan aku percaya urusan yang sesungguhnya telah kau
selesaikan untuk kami, maka aku tetap berharap untuk
berjumpa denganmu!”
Sewaktu mengucapkan kata-kata itu, bukan saja nada
suaranya sangat menawan hati, rasa kagum dan hormatnya
tercermin amat jelas.
Ini membuat Tiang-heng Tookoh memuji tiada hentinya.
“Oooh…. Anak cerdik…. Anak pintar, siapa namamu?”

923
“Aku bernama Coa Wi-wi, ibu memanggil aku Wi-ji, kau
juga boleh panggil anak Wi kepadaku!” buru-buru gadis itu
menyahut.
“Pinto akau mengingatnya selalu lain waktu kita boleh
berjumpa lagi!”
“Tidak! Tidak! Aku sangat ingin bertemu denganmu.
Sekarang aku ingin sekali bertemu denganmu” teriak Coa Wiwi
dengan gelisah, “Cianpwe, kenapa kau tidak ijinkan diriku
untuk menyambangimu?”
“Aaaai…. Pinto kan sudah berkata bahwa aku tak lebih
cuma seorang Pendeta. Tak ada gunanya kita saling bertemu
muka. Apalagi pujianmu tadi juga keliru besar, pinto menjadi
pendeta lantaran harus menahan rasa benci. Mana cocok
menjadi Cing-seng Rasul cinta seperti yang kau maksudkan?”
Dalam waktu singkat Coa Wi-wi yang menguasai semua
pembicaraan, sepatah demi sepatah ia mendesak dan
memohon terus kepada Tiang-heng Tookoh agar diijinkan
untuk bertemu muka dengannya.
Hoa In-liong yang tidak sempat ikut menimbrung, terpaksa
hanya bisa pusatkan perhatiannya untuk menangkap sumber
dari suara tersebut.
Apa mau dikata rupanya Tiang-heng Tookoh tidak berharap
untuk berjumpa muka dengan mereka. Sumber suara itu
terkandang muncul dari arah timur, sebentar beralih kebarat,
seakan-akan orang yang berbicara itu berpindah-pindah
tempat.
Maka setelah didengarnya sesaat ia berhasil juga
menemukan asal suara yang sebenarnya. Pemuda itupun
berubah rencana, dia menukas dari samping, “Engkau pantas

924
untuk mendapat julukan itu locianpwe. Terus terang katakan
bahwa apa yang engkau bicarakan dengan Pui Che-giok
cianpwe malam itu telah kudengar semua. Apa yang terjadi
ketika itu juga kusaksikan semua. Kalau toh di dunia ini ada
Bun-seng (Rasul Sastra), ada Bu-seng (Rasul Silat) maka
engkau orang tua adalah Ciang-seng (Rasul Cinta).
Sesungguhnya aku tidak mengetahui banyak akan dirimu, tapi
malam itu aku telah menangis karena terharu”
Tiang-heng Tookoh menghela napas sedih. “Aaaai….!
Tampaknya engkau juga seorang pemuda yang romantis,
engkau bernama Hoa Yang nak?”
“Yaa benar, boanpwe Hoa Yang alias In-liong. Semua
angkatan tua menyebutku sabagai Liong-ji” sahut Hoa In-liong
dengan hormat. “Berbicara sesungguhnya boanpwe pantas
memanggil I-ih (bibi) kepadamu. Locianpwe. Bolehkah
kusebut kau dengan panggilan itu? Dan kau tentu bersedia
memanggil Liong-ji kepadaku bukan?”
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut suaranya penuh
bernada kasih sayang. Selain rasa kagum dan hormat yang
bersungguh-sungguh, membuat siapapun yang mendengar
dapat ikut merasakan bahwa ucapan tersebut benar-benar
diucapkan dengan hati yang tulus.
Rupanya Tiang-heng Tookoh dibuat terharu oleh perkataan
itu, ia menghela napas panjang, “Pinto bukan seorang yang
manja. Apabila delapan atau sepuluh tahun berselang kau
sebut aku dengan panggilan I-ih atau Kokoh, belum tentu
pinto akan merasa puas! Tapi sekarang, pinto hanya seorang
pendeta, sebutan sebutan bagi orang awam itu sudah
terlampau asing bagi diriku”
Mendengar sampai disitu, mendadak satu ingatan melintas
dalam benak Coa Wi-wi, pikirnya, “Yaaa benar! Kenapa tidak

925
kumanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk
menemukan tempat persembunyiannya? Bila kuberhasil
temukan tempat persembunyiannya, sekalipun dia tak ingin
berjumpa dengan akupun tak bisa. Hmmm…. suatu ide yang
sangat bagus, aku harus segera melaksanakannya”
Begitu ingatan tersebut melintas dalam benaknya, ia segera
melaksanakannya tanpa memberitahukan hal itu kepada Hoa
In-liong lagi. Diam-diam ia menyelinap ke dalam hutan dan
lenyap di-balik kegelapan.
Hoa In-liong sendiripun segera mengimbangi tindakan dara
itu, katanya kemudian, “Bibi Ku, apa asingnya dalam soal
panggilan? Sekalipun dia seorang Pendeta toh ia masih
mempunyai sanak keluarga? Bibi Ku, sudikah kau panggil aku
dengan sebutan Liong-ji? Tahukah kau, semenjak bertemu
dengan kau malam itu, andaikata tiada kejadian diluar dugaan
yang menghalangiku, semenjak dulu Liong-ji sudah pergi
mencarimu”
Panggilan itu adalah suatu panggilan yang tulus tentu saja
Tiang-heng Tookoh dapat menangkapnya, karena itu sesudah
termenung sebentar ia menghela napas sedih. “Nak, sejak
dulu sampai sekarang banyak bercinta hanya meninggalkan
kebencian, perasaanmu terlalu sensitif….”
“Kelirukah aku? Bibi Ku, apakah Liong-ji tak pantas
menaruh perasaan hormat dan sayang kepadamu?”
“Pinto tak bisa mengatakan kalau pandanganmu keliru.
Tapi akupun tidak setuju dengan caramu berpikir. Ingatkah
engkau dengan dua bait syair kono yang berbunyi demikian?
Bila Thian punya perasaan Thian akan ikut tua, Bila rembulan
tiada rasa benci rembulan akan selalu purnama? Nak,
perasaanmu terlalu kaya dan sensitif, lain waktu banyak
penderitaan yang bakal kau rasakan….”

926
“Liong-ji tidak percaya” bantah Hoa In-liong, “Burung
belibis selalu sepasang. Burung manyar terbang
berombongan. Burung dan binatangpun masih mempunyai
perasaan apalagi manusia? Bila manusia tak berperasaan
bukankah sama halnya dengan makhluk berdarah dingin?”
“Aaaai…. Pengalaman hidupmu belum banyak, jalan
pikiranmu terlampau polos. Ketahuilah perubahan yang
dialami manusia hidup itu tak terhitung banyaknya. Banyak
kesulitan yang tak bisa diatasi dengan kekuatan manusia,
bahkan kadangkala sampai waktunya kasih sayang Thian juga
tak dapat mengatasi kebencian yang tertanam ditaati. Waktu
itulah engkau baru akan tahu bahwa manusia dan binatang
tak dapat dibanding-bandingkan!”
“Apakah Bibi Ku maksudkan ayahku? “tanya Hoa In-liong.
“Ibumu juga sama saja, ketika ia jatuh cinta kepada
ayahmu, mereka juga mengalami pelbagai siksaan dan
penderitaan, bahkan sampai nyawa sendiripun tidak….”
Sebelum kata-kata itu diucapkan sampai selesai Hoa-Inliong
telah menyela dari samping, “Bibi Ku keliru. Kedua orang
tua Liong-ji saling cinta mencintai, saling hormat
menghormati. Sekalipun dimasa lalu harus mengalami banyak
penderitaan, itu juga berharga!”
Begitulah mereka berdua segera terlibat dalam
pembicaraan yang serius untuk memperdebatkan perlukah
seseorang berperasaan. Mereka tak ada yang tahu bahwa Coa
Wi-wi sudah hilang.
Hoa In-liong cerdik dan pandai berbicara, lagi pula
reaksinya juga cekatan, makin berbicara ia semakin berhasil
membawa Tiang-heng Tookoh untuk masuk jebakan. Dalam

927
gugupnya untuk sesaat rahib perempuan itu tak mampu
berkata-kata.
Ketika ditunggunya Tiang heng Tookoh belum juga
bersuara, buru buru Hoa In-liong berkata lagi, “Bibi Ku,
engkau tak usah bersedih hati. Bicara sesungguhnya
engkaupun tidak salah. Yang salah adalah orang orang
keluarga Hoa kami. Tidak seharusnya kami mengesampingkan
bibi Ku sehingga membuat engkau harus memendam cinta
menahan benci dan menjadi seorang rahib. Dulu Liong-ji tidak
mengetahui akan hal ini, tapi sekarang setelah mengetahuinya
Liong-ji tak dapat berpeluk tangan belaka. Bibi Ku, bolehkah
Liong-ji bertemu muka denganmu?”
Tiang-heng Tookoh menghela napas panjang. “Aaaai….kau
sibocah cilik pandai benar bersilat lidah, apakah engkau
hendak menaklukan hati pinto?”
“Oooh…. tidak…. tidak demikian” buru-buru Hoa In-liong
menyahut, “Bibi Ku, ibuku (Chin Wan-hong yang
dimaksudkan) juga mengatakan bahwa
keluarga Hoa kami sangat berhutang budi kepadamu. Kalau
tidak percaya, kau boleh tanyakan soal ini kepada nenek. Bila
Liong-ji mengucapkan sepatah kata bohong saja, kau boleh
rangket pantatku dengan sepuluh kali gebukan….!”
Mendengar perkataan itu, Tiang-heng Tookoh tertawa geli.
“Aaah…. kamu si bocah cilik…. Aaaai…. pinto merasa tak
mampu menangkan pembicaraanmu. Aku tak mau tertipu oleh
siasat busukmu lagi….”
Setelah berhenti sebentar dia alihkan pokok pembicaraan
ke soal lain, ujarnya lagi dengan wajah bersungguh-sungguh,
“Dengarkanlah Liong-ji, kakakmu sudah ditotok jalan darahnya
oleh seorang manusia berkerundung. Sekarang oleh orangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
928
orang dari Cian-li-kau mudah dikirimi ke Kim-leng. Cara
manusia berkerundung itu melancarkan totokannya istimewa
sekali. Pinto tak sanggup membebaskan totokan itu, maka ada
baiknya cepat-cepatlah pergi kesana”
Begitu mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa amat
terkejut, lagi pula dari nada ucapan tersebut ia tahu bahwa
Tiang-heng Tookoh ada niat meninggalkan tempat itu.
Dalam begini salahnya, tanpa terasa lagi dia menukas,
“Tunggu sebentar bibi Ku, Liong-ji ingin bertemu denganmu!”
“Tidak bisa menunggu lagi, sebab kalau aku menunggu
lebih lama lagi maka telinga pinto jadi tidak berhasil lagi.
Liong-ji harus penurut, segera berangkat ke Kim-leng dan
bilamana perlu hantarlah kakakmu ke perkampungan Liokson-
soat-ceng. Kau punya jodoh dengan diriku, lain waktu kita
pasti ada kesempatan untuk bertemu lagi, Nah, pinto
berangkat lebih dulu….!”
Begitu kata-kata itu berakhir, terdengarlah suara ujung
baju tersampok angin memecahkan kesunyian.
Hoa In-liong merasa amat gelisah, segera teriaknya dengan
suara lengking, “Bibi Ku! Bibi Ku! Kau jangan pergi dulu,
bagaimana keadaan yang sebenarnya? Kenapa tidak kau
terangkan dulu kepada Liong-ji hingga lebih jelas?”
Disaat yang kritis, akhirnya ia teringat kembali tentang
kakaknya, bahkan dia hendak menggunakan urusan Hoa Si
untuk menahan Tiang-heng Tookoh beberapa saat lagi.
Itulah hubungan persaudaraan yang amat erat juga
merupakan kecerdikan dari Hoa In-liong. Sayang Tiang-heng
Tookoh tidak menjawab lagi, tampaknya ia sudah berlalu dari
situ.

929
Dalam waktu yang amat singkat tadi, ia telah
menggunakan segala daya upayanya untuk berjumpa muka
dengan Tiang-heng Tookoh. Bahkan ada niat untuk
menaklukkan hati rahib tersebut hingga apa yang diharapkan
dapat tercapai. Siapa tahu Tiang-heng Tookoh dapat
menyelami perasaannya, bahkan begitu mengatakan akan
pergi, saking cemasnya ia sampai mendepak-depakkan
kakinya ketanah. Meski tiada sesuatu apapun yang bisa
dilakukan lagi.
Sementara ia sedang cemas sambil mendepakkan kakinya
ketanah, tiba-tiba terdengar Coa Wi-wi tertawa cekikikan.
“Hiiiihh…. hiiihh…. hiiih…. Bibi Ku, sudah lama anak Wi
menantikan dirimu. Benarkah kau orang tua tidak sudi
bertemu dengan kami….?”
Sementara Hoa In-liong tertegun, Tiang-heng Tookoh telah
menjerit kaget lalu menghela napas panjang. “Aaai….anak
pintar. Otakmu memang luar biasa, bagaimana caramu
menemukan tempat persembunyianku?”
“Kepandaian cianpwe dalam merubah irama memancarkan
suara memang luar biasa sekali” ucap Coa Wi-wi dengan
nakalnya, “Darimana anak Wi bisa menemukan tempat
persembunyianmu? Dewa lah yang mengatakan itu kepadaku.
Bibi Ku, Jiko lagi gelisah, mari kita turun bersama-sama!”
Setelah mendengar percakapan tersebut, Hoa In-liong baru
sadar akan apa yang sebenarnya telah terjadi. Dengan cepat
dia menerjang ke arah hutan sebelah kiri, kemudian soraknya
dengan penuh kegembiraan, “Bibi Ku! Bibi Ku! Rupanya
engkau masih belum meninggalkan tempat ini….!”
Tiang-heng Tookoh memang belum pergi. Waktu itu dia
masih bertengger diatas sebuah dahan pohon diatas sebuah

930
pohon yang tak jauh letaknya dalam hutan itu. Sementara Coa
Wi-wi yang berdiri ditengah hembusan angin berada tak jauh
di belakang punggungnnya.
Jadi dua orang itu berada diatas sebuah dahan yang sana.
Hanya Tiang-heng Tookoh sama sekali tidak merasakan akan
kehadiran si nona tersebut. Dari sini dapat diketahui bahwa
ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Coa Wi-wi sudah
mencapai pada puncak kesempurnaan.
Setelah Hoa In-liong tiba dibawah pohon Tiang-heng
Tookoh pun sebentar memandang ke arah Coa Wi-wi sebentar
memandang pula kearah Hoa In-liong akhirnya dengan
perasaan boleh buat katanya, “Baik! Mari kita turun bersama.
Setelah bertemu dengan dua orang bocah cerdik seperti
kalian, terpaksa pinto harus mengaku kalau…. Yaa, apa boleh
buat?”
Berbicara simpai disitu, pelan pelan dia bangkit berdiri lalu
melompat turun keatas tanah.
Coa Wi-wi ikut melompat pula kebawah, katanya dengan
wajah berseri, “Anak Wi membohongi dirimu. Bibi Ku, ilmu
kepandaianmu memang betul-betul sangat lihay. Barusan
andaikata engkau tidak menjatuhkan selembar daun pohon
karena kurang sengaja sehingga menimbulkan suara yang
mendesis, mungkin aku masih belum berhasil menemukan
tempat persembunyianmu….”
Mendengar perkataan itu, tanpa terasa Tiang-heng Tookoh
tersenyum, “Kau tak usah mengada-ada lagi, bagaimanapun
juga toh persembunyian pinto sudah kalian temukan. Apa
yang ingin dibicarakan lebih baik katakan saja secara terus
terang!”

931
Sementara itu Hoa In-liong sudah menyongsong kedepan,
mendengar perkataan itu cepat sembungnya, “Apa yang
diucapkan bibi Ku memang benar. Silahkan duduk, mari kita
bercakap-cakap disini saja”
Tiang-heng Tookoh memandang sekejap sekeliling tempat
itu lalu mengangguk, maka diapun mencari sebuah batu
gunung didekat sana dan duduk.
Hoa In-liong serta Coa Wi-wi saling berpandangan sekejap
lalu tertawa, mereka ikut mencari batu dan duduk
dihadapannya.
Waktu itu malam sudah semakin kelam, rembulan sudah
menyinari jagad. Sinar yang kelabu memancar masuk lewat
celah-celah daun pohon yang rimbun, serta membiaskan
beratus-ratus titik perak yang membiaskan sinar redup.
Seorang Tookoh yang cantik dan bertubuh indah duduk
bersila diatas sebuah batu cadas. Dihadapannya duduk pula
sepasang muda mudi yang tampan dan cantik jelita. Itulah
suatu pemandangan yang sangat indah, sangat menawan dan
mempersonakan hati.
Mereka bertiga duduk saling bertatapan tanpa
mengucapkan sepatah katapun. Selang sesaat kemudian
Tiang-heng Tookoh baru buka suara memecahkan keheningan
yang mencekam sekeliling tempat itu. “Anak bodoh buat apa
kalian memaksa terus? Apakah cuma ingin menyaksikan
keadaan pinto ini?”
Hoa In-liong tidak menjawab, dia hanya menatap
perempuan itu tak berkedip.
Sedangkan Coa-Wi-wi segera mengangguk seraya memuji,
“Hmmm…. Cantik nian bibi Ku….”

932
Tiang-heng Tookoh tersenyum. “Pinto adalah seorang
pendeta, dalam pandangan, orang yang beribadat cantik atau
jelek sama sekali tiada artinya”
“Aaaai….! Cantik atau jelek dapat saja dibandingkan!”
bantah Coa-Wi-wi lagi dengan alis berkeryit, “Sesungguhnya,
kau memang benar-benar cantik jelita. Andaikata tidak
mengenakan jubah pendeta, Wi-ji percaya kecantikanmu tentu
luar biasa. Bibi Ku, kenapa kau memilih jadi seorang pendeta?
Kenapa kau suka mangenakan jubah kependetaan yang
longgar dan serba kedodoran?”
Gadis itu adalah seorang yang belum dapat menyelami
perasaan orang. Caranya berbicarapun seenaknya sendiri dan
tanpa dipikirkan dulu. Ia tak menyangka kalau pertanyaan
yang diajukan itu justru sudah menyentuh bagian yang paling
menyedihkan bagi Tiang-heng Tookoh.
Sekejap kemudian, rahib perempuan itu merasakan hatinya
jadi kecut, wajahpun ikut jadi murung dan sedih.
Untunglah bagaimanapun juga dia adalah seorang
perempuan yang berpengalaman dan pandai menyusaikan diri
dengan keadaan. Hanya sebentar ia merasa sedih kemudian
pulih kembali seperti sedia kala.
Ia menengadah lalu tersenyum. “Mungkin pinto akan
membuat engkau merasa sangat kecewa!” demikian katanya.
“Apakah bibi Ku tidak bersedia untuk mengucapkannnya
keluar?” ia bertanya keheranan.
Tiang heng Tookoh segera tersenyum. “Pinto justru
menjadi pendeta karena ingin menjadi pendeta. Akupun

933
mengenakan jubah pendeta ini karena senang memakainya.
Nah, puas bukan dengan jawaban ini?”
Mendengar jawaban tersebut, Coa Wi-wi tertegun dan
berdiri terbelalak dengan mulut melongo. Jawaban tersebut
benar-benar berada diluar dugaannya.
Sayang jawaban yang ibaratnya menghindar yang berat
memilih yang enteng ini tidak dapat memuaskan Hoa In-liong
yang cukup mengenal latar belakang penghidupan perempuan
itu.
Dengan dahi berkerut Hoa In-liong yang cukup segera
menukas, “Aaaah…. tidak benar!….”
Tiang-heng Tookoh berpaling lalu tertawa. “Kalau toh
engkau sudah tahu tidak benar, buat apa mesti banyak
bertanya lagi?”katanya.
Mula-mula Hoa In-liong tertegun menyusul kemudian
berkata, “Tapi…. Aku tahu bahwa perasaan kau orang tua
benar-benar amat tersiksa!”
Mendengar jawaban tersebut, diam-diam Tiang-heng
Tookoh merasa terperanjat segera pikirnya, “Dua orang ini
sungguh amat cerdik. Mereka semua adalah manusia-manusia
yang kaya akan perasaan. Aku harus memangguhkan
perasaan sendiri. Akupun harus mempergunakan akal sehatku.
Jangan lantaran godaan perasaan yang mereka lontarkan
membuat aku bertepuk lutut. Kalau sampai begitu habislah
sudah karierku”
Setelah timbul kewaspadaan dalam hatinya, ia semakin
hambar lagi dalam jawaban: ‘Bukankah pinto banyak berbicara
dan banyak tertawa? Malahan Wi-ji memuji pinto masih amat
cantik! Ketahuilah, pinto adalah seorang yang telah berusia

934
empat puluh tahunan lebih, jauh lebih tua daripada ibumu.
Bila aku sangat menderita, bila batinku tersiksa, mana
mungkin Wi-ji masih memuji kecantikanku?”
“Yaa, tentu saja kau masih cantik karena kau sudah melatih
ilmu Cha-li cinkeng yang bisa bikin orang awet muda. Apa
artinya seseorang yang baru berusia empat puluh, tahunan?
Pada dasarnya engkau memang seorang perempuan yang
cantik jelita! Bibi Ku, buat apa kau mengatakan kesemuanya
itu? Tahukah kau bahwa engkau sendiri pun bersalah?”
Tiang-heng Tookoh tertawa. “Liong-ji, tak usah
mengucapkan kata-kata yang sok mengagetkan orang. Kau
juga tak perlu berlagak sok pintar” tegurnya.
“Liong-ji sama sekali tidak sok pintar, apa yang Liong-ji
katakan semuanya mempunyai dasar fakta yang bna
dipertanggung jawabku!” teriak Hoa In-liong agak emosi.
Dalam hati Tiang-heng Tookoh merasa terkejut, sementara
diluar ia pura-pura tercengang. “Ooooh…. Kalau begitu
sungguh aneh sekali” katanya” katanya, “Benarkah batin pinto
tersiksa? Fakta apakah yang kau miliki?”
“Bibi Ku, apakah kau mengira bahwa apa yang kuketahui
tidak banyak?” ujar Hoa In-liong sambil berkerut dahi.
“Ketahuilah gwa-kong pernah menceritakan kisah tentang
kejadianmu dimasa lampau kepadaku. Malam itu, semua
perkataan dan semua tindak tanduk yang kau lakukan dalam
kuil ditengah hutan juga Liong-ji saksikan dengan mata kepala
sendiri!”
Begitu perkataan tersebut diucapkan keluar, paras muka
Tiang-heng Tookoh berubah hebat. “Apa yang telah diucapkan
gwa-kong mu?” serunya dengan gelisah.

935
Perlu diketahui Pek-Siau-Thian engkong luar dari Hoa Inliong
dulunya adalah seorang psmimpin dunia persilatan yang
disegani banyak orang. Bukan saja ia memiliki nama besar dan
kedudukan, wataknya agak aneh. Jalan pikirannya agak
sempit dan ia paling suka membelai orang sendiri. Ia termasuk
seorang manusia yang mempunyai pandangan istimewa
terhadap cinta dan benci.
Tiang-heng Tookoh tidak takut semua perkataan maupun
gerak-geriknya dalam To koan diketahui Hoa In-liong. Tapi ia
sangat kuatir kalau Pek Siau-thian menambahi bumbu dalam
pembicaraannya, sehingga apa yarg dikatakan kepada Hoa Inliong
sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan.
Padahal Pek Siau-thian yang sekarang berbeda jauh
dengan Pek Siau-thian yang dulu. Jago tua ini kini sudah
menjadi seorang pendeta besar yang budiman dan baik hati,
hanya perempuan itu tidak mengetahuinya.
Tidak aneh kalau paras mukanya berubah dan hatinya jadi
gelilah setelah mendengar ucapan itu.
Hoa In-liong tidak terlalu memperhatikan perubahan
wajahnya, dia lantas menyahut. “Kejadian dikota Cho-ci, kata
gwa-kong waktu itu kau sedang menderita siksaan Im-hwelian-
hun (Api dingin melelehkan sukma). Ketika ayahku
mengetahui kejadian ini beliau segera menyusul kesana untuk
menolongmu. Konon ayah di pancing kesana oleh Kiu-im-kau
memang bertujuan untuk memaksa ayahku menyerahkan
pedang bajanya agar ditukar dengan jiwamu. Ayah tidak
menolak syarat tersebut, tapi kau malah selalu memikirkan
bagi kepentingan ayah, kau malah berpesan kepada ayah agar
jangan mau tunduk kepada orang lain, jangan mau
ditundukkan oleh ancaman musuh….”

936
Menyinggung kembali kejadian mata lalu, Tiang-heng
Tookoh merasa seakan-akan bayangan tubuh dari Hoa Thianhong
yang berdiri dengan badan gemetar, mata merah
membara dan sikap mendekati seperti orang gila itu melintas
kembali dalam benaknya. Ia merasa hatinya sakit sekali, ia tak
ingin mendengarkan lebih lanjut.
“Apakah gwakongmu hanya membicarakan tentang soal
ini?” segera tukasnya.
“Tentu saja masih ada yang lain, Gwvakong berkata pula
bahwa engkau orang tua bukan perempuan sembarangan.
Cinta kasihnya terhadap ayah benar-benar lebih dalam dari
samudra, budi yang dilimpahkan lebih tinggi dari langit. Ia
mengatakan juga bahwa bahwa siksaan Im-hwe-lian-hun
merupakan siksaan yang tidak berperi kemanusiaan, membuat
siapapun yang menyaksikan akan jadi marah dan sukar
mengendalikan emosinya. Tapi kau orang tua lebih rela disiksa
oleh siksaan yang bukan kepalang kejinya itu daripada
menyaksikan ayahku harus tunduk dibawah tekanan orang
lain. Bibi Ku, Liong-ji ingin bertanya kepadamu, dulu kau
adalah sahabat paling karib dari ayahku tapi sekarang kau
menjadi pendeta karena menahaan rasa kebencian lantaran
putus asa dan sedih hati. Apakah tindakanmu ini bukan sama
artinya bahwa kau merasa
tak suka dengan tindakan keluarga Hoa kami yang telah
melupakan kau, sebaliknya kaupun tak ingin menyalahi
keluarga Hoa kami….”
Mendengar perkataan itu, Tiang-heng Tookoh merasakan
pipinya jadi panas, tapi hatinya juga lega. Setelah berpikir
sebentar, maka pikirnya kembali, “Untunglah, apa yang
dikisahkan Pek loji adalah kejadian yang sesungguhnya. Tapi
Liong-ji, bocah ini terlalu cerdik dan cermat. Iapun pandai

937
bersilat lidah. Kalau pembicaraan dilangsungkan terus, niscaya
akhirnya aku yang tak tahan dan kewalahan dibuatnya”
Berpikir demukian, buru-buru katanya sambil tersenyum,
“Anggap saja apa yang kau duga memang tak salah. Tapi
urusan kan sudah lewat, hutang lama pun sudah basi. Apalagi
kedua belah pihak tiada yang menderita rugi, bukankah hal ini
bagus sekali?”
“Maka dari itu aku mengatakan bahwa engkau pun
bersalah! “sambung Hoa In-liong dengan sinar mata
mencorong tajam.
“Salah juga boleh, tidak salah juga tak mengapa yang pasti
urusan sudah lewat dan menjadi basi, tak perlu kita singgungsinggung
lagi” potong Tiang-heng Tookoh.
Berbicara sampai disitu, satu ingatan melintas kembali
dalam benaknya, buru-buru ujarnya lebil jauh. “Oya….! Pinto
teringat sekarang, bukankah tadi kau menahan diriku lantaran
ingin menanyakan soal kakakmu dengan lebih jelas?”
“Yaa benar. Persoalan tentang diri kau orang tua, aku musti
bertanya sampai jelas. Lebih-lebih lagi persoalan tentang diri
kau orang tua, aku musti bertanya sampai jelas pula” jawab
Hoa In-liong tanpa ragu-ragu lagi.
Tiang-heng Tookoh segera membenahi bajunya yang kusut
seraya menjawab dengan lirih, “Kalau begitu, bertanyalah
cepat urusan tentang kakakmu!”
Ucapan ini mengandung dua arti rangkap, selain arti yang
sebenarnya, iapun maksudkan bila pemuda tersebut tidak
menanyakan soal tentang Hoa Si maka dia akan segera pergi.

938
Tindakan tersebut memang lihay dan sangat jitu, Hoa lnliong
benar-benar dibuat serba susah.
Kalau bertanya? Selesai memberikan keterangannya Tiangheng
Tookoh tentu akan pergi, sepeninggal rahib perempuan
itu, kemana dia harus pergi untuk menemukan jejaknya
kembali.
Sebaliknya kalau tidak bertanya? Saudara kandung sendiri
sedang berada dalam keadaan bahaya, bukankah itu sama
artinya dengan tidak mengindahkan keselamatan saudara
sendiri? Apalagi ia sendiri memang selalu menguatirkan
persoalan tersebut.
Ketahuinya, sebab musabab mengapa ia begitu berhasrat
dan berusaha dengan sepenuh tenaga untuk memancing
Tiang-heng Tookoh masuk perangkapnya, ini dikarenakan ia
bermaksud untuk menaklukan perasaan si rahib perempuan
tersebut. Ia selalu merasa bahwa membencinya Tiang-heng
Tookoh terhadap kegagalan bercinta adalah merupakan suatu
peristiwa yang patut disesalkan.
Dalam hal ini, walaupun dikatakan lantaran perasaan serta
emosinya yang membara serta persesuaian didalam watak,
tapi pada hakekatnya hal itu merupakan hasil dari didikan
serta peraturan rumah tangga keluarga Hoa yang turun
temurun.
Keluarga Hoa mereka mengutamakan prinsip yang tak
boleh melupakan kebaikan orang. Tapi justru pada diri
ayahnya telah terjadi peristiwa yang masih merupakan suatu
ganjalan sampai kini. Hoa In-liong sebagai putranya sudah
tentu berusaha sedapat mungkin untuk melenyapkan ganjalan
itu, tidak aneh pula kalau dia jadi banyak urusan dan berusaha
mencapai apa yang diharapkan.

939
Akan tetapi, nyatanya apa yang diharapkan sukar tercapai,
apa yang musti dia lakukan?”
Hoa In-liong memang cerdik dan mempunyai banyak akal
muslihat, tapi tak urung ia dibikin tertegun juga.
Sementara dia masih termangu, tiba-tiba ia merasa sikut
Coa Wi-wi menyentuh pinggangnya, kemudian terdengar dara
itu berseru, “Yaaa betul! Kau memang seharusnya
menanyakan soal tentang diri Toako….”
Ketika mendengar perkataan itu, sekali lagi Hoa In-liong
tertegun. Tapi lantaran Coa Wi-wi menyikut pinggangnya lebih
dulu, dengan perasaannya yang tajam ia lantas tahu bahwa
Coa Wi-wi telah mempunyai rencana tertentu.
Sayang ia tak tahu rencana apakah yang telah dipersiapkan
dari itu dan lagi diapun tak dapat menanyakan secara
langsung. Maka setelah mengeriing sekejap kearahnya, dia
pura-pura berkata dengan suara tak senang hati, “Bertanyalah
sendiri! Aku…. aku mau….”
Sambil pejamkan mata, sepasang tangannya bertopang
dagu lalu pelan pelan membaringkan diri di tanah.
“Aaah…. kamu ini!” omel Coa Wi-wi sambil menuding ujung
hidung pemuda itu.
Setelah mendengus dingin, diapun membatalkan niatnya
untuk berbicara lebih jauh.
Tiang-heng Tookoh yang menjumpai keadaan itu segera
tersenyum. “Anak Wi, engkau saja yang bertanya” ujarnya,
“Dia lagi ngambek! Tak usah digubris lagi”

940
Sekali lagi Coa Wi-wi mendengus dingin, kemudian ia baru
berpaling seraya berkata, “Baiklah! Tolong tanya Bibi Ku,
sebetulnya jalan darah yang manakah dari Hoa Si Toako yang
tertotok? Masa engkaupun tak mampu untuk
membebaskannya?’
“Jalan darah Ki-tong-hiat!”
“Ki-tong-hiat? “Coa Wi-wi melongo dengan perasaan heran,
“Itu kan jalan darah tertawa!?”
“Yaaa, justru disinilah letak keanehan tersebut” kata Tiangheng
Tookoh lebih jauh, “Ketika jalan darah tertawa itu
tertotok, bukan saja tidak tertawa, sang korban malahan jatuh
tak sadarkan diri. Pinto sudah periksa sekujur badan Hoa Si
dan tidak menjumpai luka ditempat lain. Diapun tidak tampak
seperti keracunan”
“Oooooh….! Masa sampai terjadi begitu? “teriak Coa Wi-wi
dengan nada tercengang, sepasang matanya sampai
terbelalak lebar.
“Yaa. memang demikianlah kenyataannya. Yang aneh
justru terletak pada caranya menotok jalan darah. Pada
umumnya cara orang menotok jalan darah itu sama semua.
Tapi kenyataan yang pinto jumpai ternyata jauh berbeda dari
keadaan pada umumnya. Bila Hoa Si tak dapat sadar sendiri
dari pingsangnya, maka didunia pada saat ini hanya ayahmu
seorang yang dapat membebaskan pengaruh totokan
tersebut”
Meskipun tercengang dan merasa keheranan, jelas tujuan
Coa Wi-wi bukan disitu. Maka ketika mendengar sampai
disana, diapun terhenti sebentar sebelum akhirnya bertanya
lagi “Macam apakah manusia berkerudung itu? Apakah bibi Ku
pernah menjumpainya?”

941
“Dia adalah seorang laki-laki berperawakan sedang,
berdada bidang dan berotot kekar. Paras mukanya tidak
kelihatan, tapi tampaknya dia masih muda”
“Mungkin orang itu adalah anak buah Kui-im-kau” Coa Wiwi
mengajukan dugaannya.
“Mereka sealiran, bukan anak buah. Ketika pinto
menjumpai keadaan Hoa Si ketika itu, si orang berkerudung
tersebut justru sedang ribut-ribut dengan Kiu-im kaucu”
Berbicara sampai di sini, paras muka Tiang-heng Tookoh
berubah jadi murung. Setelah merenung sebentar ia baru
berkata lebih jauh, “Kiu-im kaucu yang sekarang bernama
Bwee Su-yok. Orangnya cantik dan berasal dari angkatan
muda. Ketika itu Hoa Si berada didalam dukungannya, si
orang berkerudung mengatakan bahwa Hoa Si ditangkap
olehnya, sepantasnya kalau diserahkan kepadanya untuk
dibawa pergi. Tapi Bwee Su-yok segera menjawab: ‘Apabila
kau tidak menyergap dikala orang tak siap, tak nanti engkau
adalah tandingan dari anak keturunan keluarga Hoa.
Dihadapanku, aku tak akan mengijinkan kau melukai orang
dengan cara serendah itu’. Kebetulan tempo dulu pinto
mempunyai hubungan dengan perkumpulan tersebut. Hitunghitung
aku masih merupakan seorang cianpwe dihadapan
Bwee Su-yok. Maka ketika pinto munculkan diri, Bwee Su-yok
menyebut cianpwe kepadaku. Sikapnya terhadap pinto juga
sangat menaruh hormat. Si manusia berkerudung yang tak
tahu duduknya perkasa salah menganggap diriku sebagai
pembantu dari Bwee Su-yok, sambil mendengus buru-buru ia
mengundurkan diri dari sana”
Ketika berbicara sampai disini, tiba-tiba ia menghela napas
lalu menghentikan ceritanya,

942
Apa arti dari helaan napas itu? Jangankan Coa Wi-wi, Hoa
In-liong sendiripun merasa tercengang dan tidak habis
mengerti. Sampai-sampai dia harus bangun dan membuka
matanya.
Tujuan Coa-Wi-wi tidak disana, iapun segan untuk bertanya
lebih lanjut, maka ujarnya kembali, “Kapan peristiwa itu
terjadi? Dan dimanakah
peristiwa itu berlangsung….?”
Tiang-heng Tookoh berpikir, lalu menjawab, “Mungkin
tengah hari kemarin kejadiannya disuatu tempat kurang lebih
lima puluh li disebelah timur dari sini”
“Jadi kalau bagitu bibi Ku datang dari Kim-leng? “tanya Coa
Wi-wi kemudian.
Tiang-heng Tookoh mengangguk, sementara dia mau
berkata lebih jauh, Coa Wi-wi telah menyambung kembali
kata-katanya, “Tahukah bibi Ku kemana perginya Kui-im kaucu
serta manusia berkerudung itu?”
Sebelum mendapat jawaban, tiba-tiba saja nona itu
melanjutkan kembali dengan pertanyaannya, kesemuanya itu
segera menggerakkan hati Hoa In-liong. Ia seperti memahami
akan sesuatu. “Oooh…. Rupanya begitu” pikirnya.
Baru saja ingatan tersebut melintas didalam benaknya,
terdengar Tiang-heng Tookoh telah berkata lagi, “Manusia
berkerudung itu menuju kearah timur laut. Bwee Su-yok
sendiri sesudah berpisah dengan pinto juga berangkat kearah
timur laut. Dimanakah ia sekarang, pinto kurang begitu tahu”
“Bibi Ku datang dari kota Kim-leng, apakah kau telah
bertemu dengan seorang hwesio tua yang tinggi dan kurus?”

943
Mendapat pertanyaan itu Tiang-heng Tookoh tampak
tertegun. “Seorang hwesio tua? Pinto tidak menjumpainya” ia
menyahut.
“Oooo, Wi-ji tidak menerangkan secara jelas, tak aneh
kalau bibi Ku jadi heran” kata Coa Wi wi lebih jauh, “Hwesio
tua itu adalah kongkong ku. Jika bibi Ku tidak menjumpainya,
tentu dia kalau bukan pergi ke selatan sudah pasti telah ke
lautan timur!”
Tiang-heng Tookoh tertawa geli. “Aaah…. kamu si bocah
cilik, kenapa kalau bicara mencla-mencle begitu? kalau ke
selatan ya katakan saja ke selatan, kalau ke lautan timur
katakan saja kelautan timur, mana ada orang yang berbicara
macam kamu itu? Tampaknya dalam hati kecilmu ada urusan,
bukan begitu?”
“Yaa, memang! Dihati Wi ji memang ada persoalan. Itulah
disebabkan racun ular sakti yang mengeram ditubuh Jiko.
Kongkong ku pernah berkata, katanya di dalam beberapa hari
ini jika ia tidak berada di Kim-leng, berarti sudah barangkat ke
laut timur. Bila tidak berada di laut timur berarti sudah pergi
keselatan. Maka….”
Hoa In-liong yang mendengar pembicaraan tersebut makin
lama dibawa makin jauh dari pokok pembicaraan, dihati
kecilnya lantas menyumpah, “Silahkan…. omongan setan kok
tiada habisnya. Sampai kapan pembicaraan itu akan
berlangsung?”
Sebaliknya Tiang-heng Tookoh jadi terperanjat tanpa sadar
ia berpaling kearah Hoa In-liong dan mengawasi wajahnya
dengan seksama.

944
“Racun ular sakti? “serunya tercengang, “Apakah racun ular
sakti itu? Kenapa diatas wajahnya tidak tampak gejala apa
apa?”
“Racun tersebut merupakan sejenis siksaan racun dari Mokau_
yang bernama Sin-hui-si-sim (Ular Sakti Menggigit Hati).
Jiko kena dikecundangi oleh orang orang Mo-kau secara licik.
Racun tersebut sudah meresap didalam tubuhnya. Hanya
kongkong ku seorang yang bisa membantu dirinya untuk
memunahkan racun tersebut”
“Ooooh…. jadi sudah berlangsung peristiwa seperti itu?”
Tiang-heng Tookoh mengerutkan keningnya.
“Yaa benar!” Coa Wi-wi mengeluh sedih, “Karenanya bila
kali ini bibi Ku hendak pergi ke lautan timur atau selatan,
maka bila bertemu dengan kongkongku tolong sampaikanlah
pesan dari Wi-ji, katakan kalau Wi-ji nantikan kedatangannya
di kota Kim-leng, mau bukan?”
Tiang-heng-Tookoh menengok sekejap ke arah Hoa Inliong,
kemudian dengan nada minta maaf katanya, “Pesan
tersebut mungkin…. mungkin tak dapat pinto sampaikan….
sebab….sebab….”
Begitu ucapan tersebut diucapkan keluar, Coa Wi-wi tak
dapat mengendalikan emosinya lagi. Siapa tahu dalam
gembiranya ia berbuat kurang hati-hati, suara tertawanya
menyelinap keluar dari bibirnya.
Menanti ia buru-buru tutup mulutnya dan sekali lagi
berlagak sedih. Tiang heng Tookoh sudah keburu berpaling
dan menyaksikan kesemuanya itu dengan amat jelasnya.
Jelek jelek Tiang-heng Tookoh terhitung juga sebagai
seorang prrempuan yang cerdik dan berpengalaman. Tindak

945
tanduk Coa Wi-wi yang diam-diam tertawa geli dan sikapnya
yang takut diketahui olehnya itu segera mengundang
kecurigaan hatinya. Dari curiga diapun jadi memahami akan
duduk persoalan yang sebenarnya.
Kontan saja ia melotot besar, dengan lagak seperti marah
tapi bukan marah bentaknya keras-keras, “Bagus sekali setan
cilik, rupanya kau sedang menjebak aku dengan siasat yang
licik. Hmm, pinto peringatkan kepadamu, jika kau berani
mengintil ke barat, lihat saja kutabok tidak pantatmu!”.
Mula-mula Coa Wi-wi rada sedikit kikuk, tapi setelah Tiang
beng Tookoh berkata begitu, ia malahan mengerutkan dahinya
seraya mencibirkan bibirnya yang mungil. “Kalau mau pukul
aku pukullah. Kan aku tidak bertanya, kau sendiri yang
memberitahukan kepadakui” katanya.
Hoa In-liong sendiri, setelah menyaksikan keadaan tersebut
tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, ia bangkit dan ikut
tertawa terbahak-bahak.
Tiang-heng Tookoh tertegun, lalu berpikir, “Yaa, benar juga
perkataannya. Sejak awal sampai akhir si budak cilik ini toh
tidak menanyakan kepadaku akan kemana? Aaai…. Sungguh
tak nyana karena kurang berhati-hati, bukan saja arah
Kepergianku ketahuan, bahkan kata-kata ku malah dibuat
untuk menyerang diriku kembali”
Siapa tahu, belum habis ingatan tersebut melintas dalam
benaknya, tiba-tiba terdengar Coa Wi-wi berteriak lagi, “Hayo
tertawa…. hayo tertawa terus. Bibi Ku marah kepadaku, kau
malah gembira, senang yaa melihat aku dimarahi?”
Sambil terbahak-bahak karena geli dan tersengkal
napasnya karena kehabisan napas Hoa In-liong menyahut!
“Baik aku tidak tertawa lagi….Ooooh…. Ooooh…. lepaskan

946
dulu tanganmu. Aku tidak akan tertawa lagi Hii…. hii…. hi….
haa…. haa…. haa….”
Ketika Tiang-heng Tookoh berpaling, tampaklah Coa Wi-wi
sedang mencibirkan bibirnya dengan wajah cemberut, tangan
kanannya mencekal pergelangan tangan Hoa In-liong.
Sementara targan kirinya menggelitik pinggang pemuda
tersebut.
Kena dicekal kedua buah tangannya, apalagi pinggangnya
digelitik terus menerus, pemuda itu jadi kegelian. Ia
melenggak-lenggok seperti lagi tari perut. Suara tertawanya
yang tersendat-sendat pun makin terputus-putus.
Bagaimanapun juga sudah tentu suara tertawanya tak dapat
berhenti.
Menyaksikan sdrgan itu, paras muka Tiang-heng Tookoh
berubah jadi lembut kembali. Dia malah ikut tertawa.
“Sudah….Sudah cukup, kalian tak usah bersandiwara lagi”
teriaknya, “Cukup banyak permainan kalian yang kusaksikan.
Lebih baik pinto sampai disini dulu, kalau ada persoalan
utarakan saja secara berterus terang….!”
Mendengar kata-kata itu, Coa Wi-wi benar-benar
menghentikan perbuatannya, dengan mata yang jeli ia
berpaling kemudian serunya, “Sungguh? Perkataan yang telah
diucapkan tak boleh dipungkiri lagi lho!”
Tiang-heng Tookoh tersenyum. “Orang yang beribadah tak
pernah bicara bohong. Kecuali kau menanyakan tempat
pemondokanku, persoalan apapun pasti akan kujawab, setuju
bukan….?”.
oooOOOOooo

947
COA WI-WI mengerdipkan matanya, tiba-tiba ia berpaling
ke arah Hoa In-liong, “Sudah, sekarang giliranmu untuk
bertanya!” katanya.
Hoa In-liong tersenyum, satelah mengucapkan terima
kasih. Sorot matanya dialihkan kembali ke wajah rahib
tersebut, ujarnya dengan nada minta maaf, “Bibi Ku,
maafkanlah daku. tidak seharusnya kami bersikap demikian
kepadamu….”
“Tak usah kau bicirakan tentang permintaan maaf” tukas
Tiang-heng Tookoh seraya ulapkan tangan, “Kesemuanya ini
adalah hasil keteledoran pinto sendiri. Coba kalau pinto tidak
gegabah dari bersikap lebih cermat, tak mungkin aku sampai
terjerumus dalam perangkap kalian”
“Terima kasih atas kebesaran jiwa bibi Ku. Padahal
sekalipun bibi Ku meninggalkan alamat, belum tentu kami
akan sering mengganggu ketenanganmu”
“Nah! Lagi-lagi soal ita, memangnya kau anggap pinto tak
bisa membaca suara hatimu?” tegur Tiang-heng Tookoh
serius.
Merah dadu wajah Hoa In-liong karena jengah.
Terdengar Tiang-heng Tookoh melanjutkan kembali katakatanya,
“Liong-ji, kau musti tahu segala kesukaran yang ada
didunia ini hanya suara iblis dihati manusia yang paling sukar
diatasi. Sudah hanyak tahun pinto berjuang dengan susah
payah dan mengalami banyak penderitaan sebelum berhasil
memandang rawan urusan keduniawian dan berhasil
menenangkan hatiku. Kau adalah seorang laki-laki yang kaya
akan perasaan. Bila kau masih simpatik atas segala
penderitaan yang telah kualami selama ini, seandainya kau
bersedia mengurangi kemurungan dan kesukaran yang bakal

948
dijumpai kedua orang tuamu, sepantasnya kalau niatmu ini
kau batalkan, padamkan saja cita-citamu itu”
Perkatan ini diucapkan cukup jelas dan cukup tegas.
Sayangnya Hoa In-liong bukan seorang manusia yang akan
mundur setelah menjumpai kesulitan. Ia merasa
tanggungjawabnya walau berat namun keputusannya tak
boleh dibaikan dengan begitu saja.
Setelah merenungkan sebentar, dia mengangguk. “Apa
yang bibi Ku katakan memang sangat beralasan. Kalau toh
demikian Liong-ji juga tidak akan berbelok-belok lagi dalam
pembicaraan. Aku akan berkata pula dengan terus terang”.
“Memang seharusnya demikian!” jawab Tiang-heng Tookoh
meski hatinya terasa menegang.
Dengan wajah serius Hoa In-liong menatap perempuan itu
beberapa waktu lamanya, kemudian berat, “Bibi Ku, tahukah
kau bahwa pandanganmu, itu sebenarnya keliru besar….?”
Tiang-heng Tookoh tertegun. “Berkorban diri sendiri demi
menyempurnakan kedua orang tuamu, kelirukah pandangan
pinto tersebut?”
“Paling sedikit demikianlah pandangan Liong-ji” sahut anak
muda itu, “Tolong tanya bibi Ku, apa yang diartikan oleh Siang
Tiong-san dari An-leng setiap kali kudanya minum air disungai
Wi-sui, dia lantas melemparkan tiga biji mata uang kedalam
sungai”.
“Siang Tiong-san adalah seorang manusia yang jujur dan
bijiksana. Ia merasa air yang diminum kudanya harus dibayar.
Karena ia tak ingin merugikan orang lain dengan perbuatan
kudanya yang minum air disungai Wi-sui….!”

949
“Aku rasa sepanjang pesisir sungai Wi-sui jarang ditemui
penduduk ynag berdiam disitu. Apakah bibi Ku merasa cukup
dengan penjelasan bahwa ia melemparkan uang kedalam
sungai hanya, disebabkan karena dia itu orang jujur dan tak
ingin merugikan orang lain?”
Tiang-heng Tookoh tertegun. “Apakah engkau masih
mempunyai penjelasan lain kecuali itu?” dia balik bertanya.
“Yaa, Liong-ji masih ada sedikit tambahan. Liong-ji rasa
perbuatan Siang Tiong-san melemparkan mata uang kedalam
sungai setiap kali kudanya selesai minun hanya
dimaksusudkan untuk mencari ketentraman bagi hatinya
sendiri. Kalau tidak begitu maka dia boleh dianggap sebagai
manusia yang mencari nama dengan menipu dunia, tak pantas
dinamakan seorang manusia yang jujur dan bijaksana”
Tiang-heng Tookoh berpikir sebentar, ia merasa benar juga
perkataan itu. maka diapun manggut-manggut.
Hoa In-liong tersenyum, kembali ujarnya, “Bibi Ku, liong-ji
ingin bertanya lagi kepadamu apa lagi yang dimaksudkan
dengan Membuka pintu mempersilahkan maling masuk?”
Begitu mendengar pertanyaan, tersebut kontan saja Tiangheng
Tookoh mengenyitkan alis matanya. “Ada apa?”
tegurnya, “Jadi kau anggap penderitaan tak lebih adalah
lantaran mencari penyakit bagi diri sendiri?”
Cepat-cepat Hoa In-liong menggeleng, “Bibi Ku telah salah
menafsirkan maksudku. Lam-Si pernah berkata begini, “Bila
buka pintu mempersilahkan maling masuk, itu berarti buang
rejeki mencari kesialan. Kemudian Go-Ki pernah berkata pula,
“Bila para penjahat mulai bersaing, kejahatan akan
merajarela. Saudara sendiri dirampok, peraturan diinjak-injak.

950
Karenanya bila buka pintu mempersilahkan maling masuk,
keadilan dan kebenaran akan tumbang. Liong-ji tidak begitu
mengetahui tentang keadaan kau orang tua. Tapi aku percaya
kau orang tua adalah seorang yang sangat mementingkan
kesetiaan kawan….!”
Sengaja ia berhenti sebentar, kemudian baru melanjutkan,
“Walaupun begitu, Liong ji tetap merasa bahwa caramu
berpikir terlampau picik. Selain itu liong-ji juga rada sangsi,
benarkah yang dimaksudkan sebagai ‘memandang remeh soal
keduniawian, hati akan jadi tenteram’ itu benar-benar bisa
dipercaya?”
Beberapa patah kata yang terakhir ini boleh dibilang sedikit
menyudutkan posisi rahib perempuan itu. Tiang-heng Tookoh
jadi terdesak hebat, maka sambil melototkan matanya ia balik
bertanya: Jadi maksudmu, pinto sedang membohongi
engkau?”
“Oooh…. Sudah tentu liong-ji tak berani sekurang ajar itu.
Maksud Liong-ji. sekalipun kau orang tua sudah hidup
menyepi, belum tentu perasaanmu setenang air. Paling tidak
kau hanya berusaha dengan sekuat tenaga untuk
mengendalikan diri, agar perasaan serta emosinya tidak
sampai meluap dan tak terbendungkan lagi”
“Tapi…. Aku rasa itu toh tidak keliru!” seru Tiang-heng
Tookoh setelah tertegun.
“Kelirunya memang tidak, cuma terlampau berlebihan,
Ketahuilah bahwa manusia hidup didunia ini mempunyai
kewajiban. Kewajiban tersebut bukan hanya buat diri sendiri,
tapi juga demi orang lain. Bukan hanya untuk sekelompok
manusia kecil tapi untuk sekawanan manusia dalam jumlah
yang lebih banyak. Apa gunanya hidup mengasingkan diri?

951
Sekalipun persoalan pribadi juga belum tentu dapat
diselesaikan”
Setelah berhenti sebentar, pemuda itu berkata lebih lanjut,
“Mari kita ambil contoh dalam persoalanmu dengan ayah.
Menurut anggapan bibi Ku, asal hidup mengasingkan diri
dalam biara maka ketenangan yang didambakan pasti akan
didapat. Kepusingan hidup pasti bisa teratasi. Yaaa. memang
datlam soal tata cara kau memang berhasil. Dalam soal citacita
kaupun terpenuhi sebab dengan demikian kau tidak
mengalutkan perasaan ayahku lagi. Tapi bagaimanalah
dengan dirimu sendiri? Bibi Ku merasakan siksaan batin.
Merasakan penderiraan. Merasaka….”
“Pinto tidak merasa menderita” tukas Tiang-heng Tookoh
dengan lantang sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan
kata-katanya, “Pinto tak merasa tersiksa batinnya. Pinto malah
merasa pandangan hidup serta jalan pikiranku makin terbuka”
“Liong-ji bukan bermaksud mengajak bibi Ku untuk
berdebat. Liong-ji hanya ingin bertanya, apakah kau orang tua
masih kangen dan memikirkan ayahku?”.
“Pinto kan sudah berkata, jangan singgung-singgung lagi
kenangan masa lampau. Aku telah melupakan kesemuanya
itu!”
Hoa In-liong berar-benar tidak membantah atau mendebat
lagi ucapan tersebut. Ia tersenyum, “Bibi Ku, tahukah engkau
bahwa ayahku masih seringkali kangen dan memikirkan
dirimu?” katanya kemudian secara tiba tiba.
Sementara Tiang heng Tookoh masih tertegun, Hoa Inliong
telah berkata lebih jauh, “Bibi Ku, Liong-ji berani
berbicara sesungguhnya, ayahku pasti selalu memikirkan
dirimu baik siang ataupun malam. Bukan ayahku saja, bahkan

952
nenekku, ibuku (Chin Wan-hong) maupun mamaku mereka
juga selalu memikirkan engkau. Aku percaya apa latar
belakang dari kejadian tersebut kau orang tua pasti lebih
memahami dari pada aku”
Tiang-heng Tookoh tidak menjawab, tapi ia mendengus
dingin.
Ketika Hoa In-liong tidak mendapat jawaban darinya, ia
tampak berpikir sebentar, tiba-tiba ujarnya lagi, “Bibi Ku,
pernahkah engkau memikirkan tentang ayahku?”
“Memikirkan apa?” Tiang-heng Tookoh bertanya dengan
wajah tertegun dan tidak habis mengerti.
“Tentu saja keadaan dari ayahku! Dirumah ia masih ada
ibu. Dibawah ada istri dan anak. Bibi Ku yang jadi pendeta
tentu saja dapat membuang jauh-jauh semua pikiran dan
urusan keduniawiaan tapi bagaimanakah dengan ayahku?
Tentu saja ayah tak dapat meninggalkan ibunya, istri dan
anaknya untuk menyusul jejakmu, mencukur rambut dan
hidup menyepi sebagai seorang pendeta?”
“Aaaai….! Memangnya teori tersebut tidak kupahami? buat
apa mesti kau singgung lagi?” pikir Tiang-heng Tookoh
dengan perasaan masgul,
Tampaknya Hoa In-liong memang tidak terlalu
mengharapkan jawabannya, ia berkata lebih lanjut, “Wahai
bibi Ku! Liong-ji hendak membahas semua persoalan yang ada
didepan mata. Sekarang juga dihadapanmu aku hendak
mengeritik tentang dirimu!”
“Katakan saja! Pinto akan memperhatikannya” kata Tiangheng
Tookoh dengan dingin.

953
“Pepatah kuno mengatakan: Siapa yang telah berusaha
dengan segenap kemampuan, dialah yang setia….”
“Apa?” teriak Tiang-heng Tookoh dengan gusar. Matanya
melotot besar, “kau menuduh aku tak setia kepada ayahmku?”
“Ooooh…. Tentu saja bukan demikian! Liong-ji hanya
membicaiakan persoalan, bukan mempersoalkan manusianya.
Dulu ada seorang bocah kecil jalan-jalan dengan ayahnya.
Setengah jalan mereka jumpai sebuah batu gunung yang
besar sekali menghalangi perjalanan mereka maka berkatalah
sang ayah: ‘Nak, singkiikan batu dari tengah jalan!’ Bocah itu
menurut dan segera berusaha untuk menyingkirkan batu
besar tersebut dari tengah jalan. Sayang lantaran tenaganya
terlampau kecil, meskipun sudah didorong kesara ditarik
kembali, sampai sekujur badan basah oleh karena capainya
batu itu belum juga bergeser dari tempatnya semula”.
“Eeeeh…. Cerita apa yang lagi kau dongengkan? tukas Coa
Wi-wi setengah berteriak karena habis sabarnya, “Aku pikir
ayah dalam ceritamu itu adalah seorang ayah telur busuk,
maka engkau juga seorang telur busuk kecil”
Kata-kata itu mempunyai arti rangkap maksud. Dalam
keadaan seperti ini, bukannya membicarakan urusan penting,
sebaliknya malahan mendongeng apa gunanya?”
“Wi-ji, jangan menukas, biarkan saja ia bercerita!” sela
Tiang-heng Tookoh cepat.
Hoa In-liong tersenyum, “Waktu itu si bocah sudah ngosngosan
napasnya seperti kerbau” kembali ia lanjutkan
dongengnya, “Maka dalam lelahnya diapun merengek kepada
sang ayah sambil berkata: ‘Oh ayah, ananda tak mampu
menggeserkan batu itu!’, maka sang ayahpun menjawab:
‘Sudahkah kau gunakan segenap kekuatan yang kau miliki?’.

954
‘Sudah ayah!’ sahut si bocah dengan wajah merengek ingin
menangis, ‘sekujur badan ananda jadi lemas, sedikitpun tak
bertenaga lagi!’. Adik Wi, tahukah kau bagaimana jawaban
dari sang ayah dari si bocah itu?”
“Apa lagi yang musti dia katakan? Sudah tentu membantu
anaknya untuk menggeserkan batu tersebut!” sahut Coa-Wi-wi
dengan alis mata yang berkenyit kencang.
“Yaaa, benar, seharusnya ia memang musti membantu
sang anak. Cuma itu adalah persoalan si ayah dan bukan
urusan si bocah!”
“Lantas….lantas apa jawaban dari si ayah?” tanya Coa Wiwi
setelah tertegun sejenak.
“Ia bilang begini: ‘Wahai anakku sayang! Dengarkanlah,
kau sama sekali belum menggunakan segenap kekuatan yang
kau miliki. Atau paling sedikit kau toh masih dapat memohon
bantuanku. Masa buka mulut untuk mengajukan pertolongan
saja kau tak mampu untuk melakukannya?’ Akhirnya ayah dan
anakpun bergotong-royong, dengan mudahnya batu gunung
itu berhasil mereka singkirkan dari tengah jalan”
Berbicara sampai disitu, iapun berpaling ke arah Tiangheng
Tookoh sambil berkata, “Bibi Ku, dulu engkau orang tua
selalu melindungi dan membantu ayahku. Mengapa selama
dua puluh tahun belakangan belum pernah kau kunjungi
perkumpulan Liok-soat-san-ceng kami? Apakah cuma
berkunjung saja kau tak mampu untuk melakukannya?”
Tiang-heng Tookoh merasakan hatinya bergetar keras,
diam-diam pikir hatinya, “Yaa, benar juga perkataan ini!
Thian-hong sedang menghadapi kesulitan, kenapa tidak pergi
mencarinya? Apakah tindakanku ini merupakan suatu

955
kesetiaan terhadap cinta, kesetiaan terhadap kasih sayang.
Kesetiaan terhadap Thian-hong?”
Meskipun ia berpikir demikian, lain pula dengan apa yang
diucapkan. Katanya dengan dingin, “Mengapa pula ayahmu
tidak tadang mencari aku? Kenapa akulah yang harus
mencarinya?”
“Oleh karena itulah ibu berkata kepadaku, bahwa kami
keluarga Hoa telah berbuat salah kepadamu!”
“Sekuat tenaga Tiang-heng Tookoh berusaha untuk
mengendalikan pergolakan perasaan dalam hatinya. Kembali
ia berkata dengan suara yang amat dingin, “Dari tadi kasak
kusuk melulu, sebenarnya apa yang kau bicarakan….? Aku
tidak mengerti!”
“Liong-ji cuma ingin bibi Ku menanggalkan pakaian
pendetamu. Pulihkan wajahmu yang sebenarnya dan berdiam
dirumah keluarga Hoa kami!”
“Aaaah…. itu impian kosong. Itu hanya omong kosong
belaka!’ teriak Tiang-heng Tookoh cepat-cepat, “Jika aku
sampai berbuat demikian, bukankah sia-sia belaka
pertapaanku selama delapan tahun ini? Bukankah hasil yang
kuperoleh selama ini akan hancur berantakan dan lenyap
dengan begitu saja?”
“Tenteramkan perasaan bibi Ku? Dengan mata kepala
sendiri Liong-ji pernah mendengar kau berkata begitu. ‘Akar
cinta pinto sukar diputuskan, hingga tanpa sadar selalu
muncul dalam benakku sebercak harapan untuk berjumpa
sekali lagi dengannya!’. Kalau toh demikian, kenapa tidak
secara terang-terangan saja kita berbicara dan buka kartu,
lalu kita hidup bersama dengan penuh kegembiraan dan
kebahagiaan”

956
“Walaupun pinto pernah mengatakan demikian, namun
pinto juga pernah berkata begini: ‘Usiaku telah lanjut,
daripada bertemu lebih baik tak usah bertemu lagi!’. Apakah
kau tidak mendengar kata kataku itu?”
“Tentu saja Liong-ji juga mendengar kata kata tersebut.
Cuma Liong-ji masih sempat mendengar bibi Ku berkata
begini: ‘Che-giok, dirikanlah Cha-li-kau mu dan bantulah
dirinya!’ Kemudian kau juga pernah berkata: ‘Yang penting
dalam bercinta adalah mencintai, jangan mengharapkan akan
berhasil atau tidak’. Lantas bagaimanakah penjelasannya
dengan kata-kata tersebut?”
Tiang-heng Tookoh benar-benar merasa kehilangan muka,
sinar matanya kontan mencorong tajam, bentaknya dengan
tajam, “Liong-ji, sebetulnya kau pakai aturan atau tidak?”
“Bibi Ku, apakah kau berharap rasa hormat Liong-ji
kepadamu hanya tergantung dibibir belaka. Kau tak akan
perduli perasaan tersebut sesungguhnya atau pura-pura
belaka?” kata Hoa In-liong dengan wajah yang amat serius.
Mula-mula Tiang-heng Tookoh agak tertegun. Kemudian
dengan suara yang lebih lembut dia mengeluh, “Aaaaai…. Kau
si bocah cilik…. memang kau anggap urusan didunia ini
segampang apa yang kau duga? Kuakui memang pandai
berbicara dan bersilat lidah tapi jangan toh belum tentu kan
bisa menaklukan perasaan pinto. Sekalipun aku berhasil kau
taklukan, bagaimana kedua orang tuamu dan nenekmu?
Bagaimana dengan jalan pikiran mereka? Ketahuilah “berbuat
salah kepada pinto” adalah
satu urusan. Melakukan sesungguhnya adalah urusan lain.
Kau masih terlalu muda, jalan pikiranmu terlalu polos, hanya
mengandalkan kehangatan perasaan belaka….”

957
Yaa, setelah bertemu dengan manusia macam Hoa In-liong
mau tak mau Tiang-heng Tookoh harus bermain akal. Maka
nada suaranya jauh di perlunak, ia berusaha membicarakan
tentang soal cengli dengannya.
Siapa tahu begitu Hoa-In-liong mendengar perkataan
tersebut, ia lantas menukas kembali, “Bibi Ku tak usah
memikirkan tentang soal lain lagi. Soal ayah ibuku bahkan
tentang nenekku serahkan saja kepada Liong-ji. Liong-ji yang
akan bertanggung jawab tentang soal ini”
“Aaaah…. tanggung jawab apa yang bisa kau pikul?”, ejek
Tiang-heng Tookoh. “Paling-paling kalau tidak berhasil, kau
lantas menggunakan kekerasan!”
“Jika kekerasan tidak berhasil, aku akan berbicara soal
cengli. Aku yakin semua urusan didunia ini tak dapat
mengalahkan soal cengli” tegas anak muda itu.
Jilid 25
PERKATAAN tersebut segera mengundang rasa geli dari
Tiang-heng Tookoh, “Cengli apa yang hendak kau bicarakan?”
katanya, “Apakah engkau hendak mengatakan pinto telah
melakukan bagaimana terhadap keluarga Hoa kalian?”
“Yaa, benar!” Hoa In-liong membenarkan, “Bila Cengli perlu
dibicarakan, soal tersebut mau tak mau harus dibicarakan
pula. Cuma….soal itu lebih baik dibicarakan sampai pada
waktunya saja! Bagaimanapun juga Liong-ji lah yang akan
bertanggung jawab. Asal bibi Ku setuju untuk menanggalkan
jubah pendeta dan berkumpulan dengan kami, Liong-ji jamin
ayah sendirilah yang akan menyambut kedatangan bibi di
perkampungan kami”.

958
Namun Tiang-heng Tookoh gelengkan kepalanya berulang
kali. Dia hanya tertawa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Hoa In-liong jadi tertegun.
“Kenapa?” teriaknya, “Apakah engkau tak percaya dengan
Liong-ji?”
“Dalam soal ini bukan percaya atau tidak yang
dipersoalkan. Sebaliknya adalah pinto yang tak dapat
menyanggupi permintaanmu itu. Pinto tak mungkin memenuhi
harapanmu itu”.
Hoa In-liong semakin tertegun, semakin termangu. Setelah
melongo beberapa waktu lamanya ia baru berkata lagi, “Bibi
Ku, kau tidak pakai aturan. Sekarang kau sedang melarikan
diri dari tanggung jawab. Kau sedang berusaha menghindari
kenyataan. Kau berusaha mencuri hidup diantara perasaan
yang saling bertentangan dengan perasaan egoismu sendiri,
tahukah engkau akan hal ini?”
Tiang-heng Tookoh tersenyum. “Percuma Liong-ji. Kau tak
usah menggunakan kata-kata semacam itu untuk membakar
perasaanku keputusan pinto sudah kuambil sejak delapan
tahun berselang. Membakar hatiku hanya pekerjaan yang siasia
belaka, lebih baik berhematlah dengan tenagamu!”
Hoa-In-liong benar benar kehabisan akal, alisnya mulai
berkerut karena kesal.
“Bibi Ku, tampaknya kau memang seorang perempuan
yang berhati sekeras baja” omelnya.

959
Tiang-heng Tookoh masih juga tersenyum seperti sedia
kala. “Kau keliru anak liong. Hati pinto sebenarnya lebih
empuk daripada tahu. Sebab hati yang terbuat dari besi makin
digarang makin lembek. Sebaliknya hati yang seempuk tahu
makin digarang, akan semakin mengeras, tahukah engkau
akan hal ini?”
Hoa In-liong bukan seorang manusia yang bodoh setelah
menyaksikan keadaan tersebut, diam-diam diapun berpikir,
“Aaaai…. Jika ditinjau dari sikapnya yang amat santai dan
acuh tak acuh, tampaknya usahaku kali ini hanya akan sia-sia
belaka. Aku…. aku…. Yaa benar! Aku harus memanasi lagi
hatinya. Coba dilihat dulu bagaimana reaksinya sebelum
mengambil keputusan lebih jauh!”
Setelah mengambil keputusan, diapun menatap tajam
perempuan itu, kemudian ujarnya dengan suara dalam, “Jadi
kalau begitu, bibi Ku sudah mengambil keputusan untuk
melakukan pembalasan dendam?”
“Membalas dendam?” Tiang-heng Tookoh tertegun dan
berdiri melongo, “Aku mau membalas dendam….? Membalas
dendam kepada siapa nak?”
“Tentu saja kepada ayahku!” sahut Hoa In-liong dengan
dahi berkerut. Ia sudah mempunyai rencana yang matang,
maka ucapan itupun dikatakan dengan wajah bersungguhsungguh,
“Bukankan kau hendak membalas dendam pula
terhadap anak cucu dari keluarga Hoa kami?”.
Tiba-tiba perubahan wajah Tiang-heng Tookoh yang
menegang berubah jadi lembut kembali, ia tersenyum. “Jadi
engkau berpendapat demikian?” ia bertanya.
“Yaa, dan aku rasa itulah kenyataannya!” jawab Hoa Inliong
dengan nada marah, “Kami keluarga Hoa telah bersalah

960
kepadamu, membiarkan kau hidup bergelandangan seorang
diri diluar, bukankah hal ini….”
“Bukankah hal ini sama halnya dengan menjerumuskan
ayahmu sebagai seorang manusia yang tak setia kawan,
membuat anak keturunan keluarga Hoa harus menanggung
sesal sepanjang hidup. Bukankah Demikian?” tukas Tiangheng
Tookoh, “Liong-ji kau telah memandang duduknya
persoalan terlampau serius. Apalagi pinto sendiripun tak
pernah berpikir sampai kesitu, bahkan selamanya tak nanti
akan berpikir demikian”
Tiba-tiba Hoa In-liong jadi emosi, serunya, “Yaa, kau tak
akan berpikir demikian, tapi aku berpikir demikian! Ayahku
mungkin tidak berpikir begitu, namun bagaimana dengan
orang orang lainnya? Mereka pasti akan berpendapat betul!.
Kami orang-orang dari keluarga Hoa biar kepala harus
dipenggal, darah berceceran menggenangi tanah, semuanya
tak sudi melakukan perbuatan yang merugikan orang lain.
Nama yang berhasil kami raih selama inipun diperoleh secara
jujur dan terbuka. Tapi hari ini ternyata masih ada satu
kejadian yang tidak menyenangkan menyangkut diri ayahku.
Bukankah hal ini sama halnya dengan mempersulit kedudukan
keluarga Hoa kami? Bukankah kejadian ini akan lebih
menyiksa diri kami daripada kami semua dibantai?. Bibi Ku,
melimpahkan bencana sampai anak cucunya, apakah kau tidak
merasa bahwa caramu membalas dendam sedikit kelewat
kejam dan berlebihan?”
Beberapa patah kata yang terdapat memang merupakan
suatu kenyataan. Tiang-heng Tookoh cukup memahami akan
keadaan tersebut, tapi berbicara soal pembalasan dendam,
itulah suatu tuduhan yang bikin orang jadi penasaran.
Tapi, Hoa In-liong memang bertujuan untuk membakar hati
Tiang-heng Tookoh. Tentu saja ia baru mamiliki kata-kata

961
yang dapat membangkitkan amarah lahir tersebut dan
buktinya rahib perempuan itu memang tak tahu menghadapi
sekarang kata-kata yang kesal didengar itu.
Paras mukanya berubah hebat, dengan nada yang kesal ia
membentak keras-keras, “Tutup mulutmu! Membalas
dendam…. membalas dendam…. Kalau aku mau membalas
dendam, lantas kenapa? Apakah kalian….”
“Kami kenapa?” tukas Hoa In-liong dengan wajah
mengejek, “Kami bukannya sengaja bermaksud melupakan
engkau. Hmm! Kalau sejak dulu kami tahu bahwa pikiranmu
demikian picik, dadamu demikian sempit. Bukan saja aku tidak
akan banyak ribut dan cerewet hingga mengesalkan hati
orang mungkin ayahku sendiri juga tak sampai turun gunung!”
Ketika si anak muda itu mengucapkan kata-katanya dengan
nada yang sinis, Tiang-heng Tookoh dibuat terbelalak karena
kaget. Selang sesaat kemudian, si Rahib perempuan itu baru
berkata lagi dengan suara dingin, “Kalau ayahmu turun
gunung lantas kenapa? Siapa yang tidak tahu bahwa ayahmu
adalah seorang enghiong, seorang pendekar, seorang laki-laki
yang lebih mementingkan karier….”
Ketika secara diam-diam Hoa In-liong mengamati
perubahan wajahnya, ia lantas berpikir, “Bagus…. sudah
hampir kena. Begitu kusinggung bahwa ayahku sudah turun
gunung, ternyata paras mukanya berubah juga”.
Meski berpikir demikian dihati, sikap diluaran tetap kaku
dan sinis, malahan dengan suara yang berubah sekali lagi dia
menukas, “Bibi Ku, jadi kau tidak pandang sebelah mata
kepadaku?”

962
Ucapan tersebut ibaratnya hembusan angin dari lubang
gua, mendadak sekali munculnya seketika itu juga membuat
Tiang-heng Tookoh tertegun.
“Apa maksudmu?” serunya kemudian.
“Kau mengatakan ayahku seorang enghiong, seorang
pendekar, seorang laki laki yang mementingkan karier,
bukankah hal ini sama artinya dengan tidak pandang sebelah
mata kepadaku?” seru Hoa In-liong dengan mata melotot
besar.
“Eeeh…. Kalau bicara sedikitlah lebih jelas. Siapa yang tidak
pandang sebelah mata kepadamu?”
Hoa in-liong mendengus dingin. “Hmmm….! Masih berpura
pura? Terus terang kukatakan kepadamu, ayanku turun
gunung kali ini adalah sedang menjalankan tugas untuk
mencari dirimu. Sebaliknya tanggung jawab dalam
menegakkan keadilan dan kebenaran serta menumpas hawa
iblis dari muka bumi oleh nenek telah diserahkan kepadaku.
Dengan perkataanmu barusan, bukankah sama artinya bahwa
kau memandang enteng usiaku yang masih terlalu muda,
kepandaian silatku yang terbatas dan tak pantas memikul
tanggung jawab tersebut?”
Jelas perkataannya itu adalah kata-kata bohong sekalipun
ada beberapa hal yang merupakan kenyataan, namun jauh
sekali bila dibandingkan dengan kenyataan yang
sesungguhnya.
Meski demikian, ketika ia utarakan kata-kata itu dengan
nada marah, menunjukkan sikap tak mau kalah dari seorang
muda. Bukan saja orang yang mendengar seakan akan dibikin

963
percaya. Tiang-heng Tookoh yang semula masih ragu-ragu
pun jadi percaya dibuatnya.
Betul juga, ketika Tiaig-heng Tookoh mendengar perkataan
itu hatinya kontan bergetar keras, paras mukanya ikut
berubah hebat. “Sungguh…. sungguh ini?” ia bertanya dengan
nada gemetar.
Hoa In-liong mencibirkan bibirnya. “Sungguh atau tidak,
aku dapat mengambil . Kenyataan membuktikannya
dihadapanmu, buat apa kau musti banyak bertanya?”
Ia pura pura seperti salah mengartikan maksud lawan,
pura-pura seperti seorang laki-laki yang merasa tersinggung
karena kemampuannya diragukan orang.
Semakin ia bersikap begitu, Tiang-heng Tookoh semakin
percaya bahwa kata kata anak muda itu adalah kenyataan.
Maka baru saja Hoa In-liong menyelesaikan kata-katanya,
dengan wajah gugup dan tegang ia berseru kembali, “Liong-ji,
aku sedang menanyakan tentang….”
Tak bisa diragukan lagi, kata kata selanjutnya tentulah
“ayahmu atau orang tuamu bagaimana…. bagaimana….”
Namun, justru dengan pertanyaan ini, terlihatlah dengan
jelas betapa bertentangannya jalan pikiran si rahib perempuan
itu, dan terbongkar pula bagaimanakah perasaan hati yang
sebenarnya.
Oleh sebab itu ia stop perkataannya sampai di tengah jalan,
untuk sesaat dia jadi gelagapan dan tak tahu harus maju atau
mundur, tertegun dan berdiri melongo.

964
Perlu diketahui, Tiang-heng Tookoh sampai nekad
mencukur rambut jadi pendeta dan menggunakan “Tiangheng”
sebagai gelarnya, bahkan dewasa ini diapun tak mau
menyanggupi permohonan dari Hoa In-liong, hal ini bukan
dikarenakan rasa cintanya sudah menipis, rasa bancinya makin
menebal. Juga bukan lantaran wataknya sudah berubah dan ia
jadi orang yang tak tahu adat. Sebaliknya kesemuanya itu
justru karena perasaan hatinya yang saling bertentangan.
Atau tegasnya, hal ini dikarenakan rasa rendah dirinya yang
menebal menyebabkan perasaannya jadi sensitif, gampang
tersinggung dan akhirnya terciptalah sikap jaga gengsi yang
berlebihan.
Seandainya ia dapat menghilangkan sikap jaga gengsinya,
hilanglah rasa rendah dirinya, maka semua kemurungan dan
kebencian secara otomatis akan ikut lenyap pula dengan
sendirinya
Teringat ketika peristiwa pencarian harta dibukit Kiu-ci-san
tempo hari, Chin Wan-hong hujin pernah mendapat perintah
dari Bu lo-tay-kun untuk berangkat ke bukit Kiu-ci-san dan
membicarakan tentang hubungan antara Hoa Thian-hong
dengan diri Tiang-heng Tookoh ketika itu.
Dengan watak Chin Wan-hong hujin yang luwes dan halus,
ia telah memberi banyak penjelasan tentang budi, cinta, setia
kawan dan cengli terhadap diri Tiang-heng Tookoh ketika itu.
Bahkan diapun telah menyampaikan pesan dari Bu lo-tay kun
yang mengundang dirinya untuk berdiam di perkampungan
Liok-soat-san-ceng.
Ketika itu Giok-teng hujin (Tiang-heng Tookoh) pernah
berkata demikian, “Kakak benar-benar tak punya keberanian
untuk melangkahkan kakiku memasuki gerbang keluarga
Hoa!”

965
Diapun berkata pula demikian, “Bukannya aku tak mau.
Pada hakekatnya aku merasa malu, merasa rendah diri untuk
berbuat demikian!”
Waktu itu, berada dihadapan Chin Wan-hong yang lembut
dan luwes, boleh dibilang semua perkataan yang diutarakan
keluar. Muncul secara jujurnya dan benar-benar keluar dari
sanubari yang murni. Namun tak bisa dihindari pula rasa malu
dan rendah dirinya makin terbuka pula dalam kata-kata itu.
Sebab itulah ketika pencarian harta karun di bukit Kiu cisan
telah berakhir, bukan saja ia tidak menerima tawaran dari
Chin Wan-hong hujin untuk berdiam sementara waktu di
pasanggrahan keluarga Hoa yang ada dipulau Si-soat-to
dilautan Tang-hay. Bahkan sebaliknya ia malah
bergelandangan kesana kemari dan berusaha sedapat
mungkin menghindari pertemuannya dengan setiap orang
yang berhubungan dengan keluarga Hoa.
Ia berbuat demikian pada mulanya bermaksud demi
kebaikan Hoa Thian-hong, juga ingin memutuskan rasa
kangen Hoa Thian-hoeng terhadap dirinya. Siapa tahu sama
kini dia berbuat demikian rasa kangen dan cintanya kepada
Hoa Thian-hong yang bertambah dalam.
Memang hatinya pernah tergerak untuk berdiam di
pasanggrahan keluarga Hoa di pulau Si-soat to namun ia
selalu tak mempunyai keberanian untuk melangkah ke bukit
Im Tiong-san.
Yaa, cinta yang terlampau ditekan lama kelamaan memang
bisa menimbulkan akibat sampingan. Akhirnya ia mulai
berpikir bahwa jelek-jelek Hoa Thian-hong seharusnya turun
gunung untuk menengok dirinya. Tidak seharusnya kalau ia

966
berdiam diri belaka seakan-akan telah melupakan sama sekali
terhadap seorang perempuan yang bernama Giok-teng hujin.
Akibatnya rasa kesal yang menumpuk menimbulkan
kebencian. Dengan menahan rasa benci dan dendam diapun
memutuskan untuk cukur rambut jadi pendeta dengan gelar
“Tiang-heng” (benci yang berkepanjangan).
Tapi sekarang, Hoa Thian-hong datang mencarinya, bahkan
datang dengan membawa tugas. Jelas yang dimaksudkan
dengan “membawa tugas” adalah tugas yang diberikan Bun Lo
tay-kun kepadanya, dengan demikian membuktikan pula
bahwa orang-orang keluarga Hoa pada hakekatnya tak pernah
melupakan dirinya. Hal ini bukankah sama artinya dengan dia
sendirilah yang sebetulnya sudah salah sangka?
Untuk sesaat lamanya, Tiang-heng Tookoh betul betul
merasakan pikirannya kalut dan murung. Belum pernah
pikirannya sekalut ini.
Berbeda dengan Hoa In-liong, diam diam ia gembira karena
siasatnya sudah mendatmgkan hasil, katanya kembali, “Bibi
Ku, kau sedang menanyakan soal ayahku? Terus terang saja
sebenarnya aku tak ingin mengatakannya kepadamu.
Daripada kau kira aku sedang membohongi dirimu, tapi
sekarang toh aku sudah terlanjur mengatakannya keluar,
maka aku pun tak ingin mengelabuhi dirimu lagi. Yaa benar
bibi Ku, ayahku sedang mencarimu. Liong-ji ingin bertanya
sekarang seandainya kau telah bertemu dengan ayah, apakah
bibi Ku masih tetap akan keras kepala seperti ini?”
Ia memang bermaksud untuk membakar hati rahib itu,
maka tak segan-segannya untuk bicara bohong, berbicara
menurut perasaannya. Tujuan kali ini pasti akan berhasil,
siapa tahu cara lain pun tak mempan, apalagi hanya
mengandalkan sepatah dua patah kata saja?

967
Tiang-heng Tookoh termenung dan berpikir sebentar,
kemudian pelan-pelan bangkit berdiri, ujarnya dengan lembut,
“Baiklah kalau begitu tolong sampaikan kepada ayahmu.
Katakanlah Ku Ing-ing yang dulu sudah mati banyak tahun.
Yang masih hidup didunia sekarang ini tak lebih hanyalah
Tiang-heng Tookoh. Kenangan lama bagaikan asap di udara,
harap dia tak usah mencari diriku lagi”
Perkataan itu diurapkan dengan sikap yang serius, nada
yang kalem dan sama sekali tak nampak emosi.
Sikap seperti ini tentu saja mencengangkan Hoa In-liong. Ia
tertegun dan ikut bangkit berdiri. “Kenapa?” serunya, “kau….
kau….”
Tiang-heng Tookoh tertawa ewa, sambil ulapkan tangannya
ia menjawab, “Selamat tinggal anak liong. Kau sangat cerdik,
semoga kau baik-baik menjaga diri dan jangan lupa dengan
pesan pinto!”
Kemudian kepada Coa Wi-wi diapun berseru, “Selamat
tinggal!”
Kemudian sambil mengebaskan ujung jubahnya, ia putar
badan dan berlalu dari situ.
Hoa In-liong jadi termangu. “Bibi Ku!” teriaknya, “Kau….”
Namuh Tiang-heng Tookoh tidak berpaling lagi, dalam
sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari
pandangan.
Hoa In-liong siap menerjang, tapi Coa Wi-wi segera
menarik tangannya seraya berbisik, “Percuma, tak mungkin
dapat kau susul lagi. Jiko! Biarkan dia pergi….”

968
Hoa In-liong termenung sebentar akhirnya ia menghela
nafas panjang, “Aaaai…. Akulah yang terlalu bernafsu. Akulah
yang tak dapat mengendalikan emosiku. Aaaai! Siapa tahu
kalau ia akan pergi sambil memutuskan hubungan. Begitu
mengatakan mau pergi segera juga ia pergi!”
“Siapa bilang kalau dia pergi sambil memutuskan
hubungan? Justru lantaran dia jadi bingung, gelagapan dan
tak tahu apa yang musti dilakukan, maka dia putuskan untuk
pergi saja dari sini. Tak usah kuatir Jiko! Pada hakekatnya ia
sudah kau buat tergerak perasaan hatinya. Aku dapat
melihatnya. Bila kalian berjumpa lagi dikemudian hari, aku
yakin kau pasti berhasil”
“Aaaai!…. Kalau musti menunggu sampai bertemu lagi
dikemudian hari, siapa bilang kalau aku akan berhasil dengan
gampang?”
“Aaaah…. Kenapa kau jadi tolol begitu?” omel Coa Wi-wi
dengan dahi berkerut, “Kemarikan telingamu, akan kuberi
tahu duduk persoalan yang sesungguhnya!”
Melihat perempuan itu sok rahasia, terpaksa Hoa In-liong
tundukkan kepalanya dan menempelkan telinganya disisi bibir
gadis itu.
Coa Wi-wi meninggikan tumitnya dan membisikkan sesuatu
disisi telinga pemuda itu. Entah apa yang telah ia bisikkan.
Tapi yang jelas, setelah mendengar bisikan tersebut, Hoa
In-liong mengangguk berulang kali. “Yaa…. apa boleh buat,
terpaksa memang harus begitu, semoga saja apa yang kau
duga memang tepat!”

969
“Pasti!” sahut Coa Wi-wi dengan wajah bersungguhsungguh,
“Bila kau tidak percaya, bagaimana kalau kita
bertaruh saja?”
Hoa In-liong tertawa geli. “Bertaruh apaan? Anggap sajalah
aku percaya kepadamu, mari kita berangkat!”
Maka kedua orang itupun tinggalkan hutan menuju ketepi
sungai sambil bergandengan tangan.
Ketika fajar baru menyingsing, kedua orang itu sudah tiba
di dermaga penyeberangan Wu-kang. Selesai bersantap pagi,
mereka mencari perahu dan berangkat menuju kota Kim-leng.
Inipun merupakan usul dari Coa Wi-wi. Ia bilang dengan
menempuh perjalanan memakai perahu maka mereka akan
berhindar dari pengawasan orang serta mengurangi
datangnya banyak kesulitan yang tak perlu.
Selesai itu diapun beralasan lantaran racun keji yang
mengeram ditubuh Hoa In-liong belum lenyap, maka
menggunakan kesempatan menumpang perahu ia dapat
bersemedi untuk memaksa keluarnya racun dari badan.
Padahal, setelah mereka berdua naik perahu, Coa Wi-wi
malahan bertanya kesana bertanya kemari tiada hentinya.
Pokoknya ia bagaikan seekor burung kecil yang manja,
meskipun agak bawel dan bertanya terus, cukup
menggembirakan hati orang.
Hoa In-liong bukanlah seorang pemuda yang pemurung.
Apa yang mereka rencanakan semulapun segera
dikesampingkan untuk sementara waktu. Di hadapan sigadis
yang manja itu dia bersikap penurut. Semua pertanyaan yang
diajukan kepadanya segera dijawab sampai memuaskan

970
hatinya. Sementara persoalan yang menyangkut keselamatan
Hoa Si pun untuk sementara waktu dikesampingkan.
Perahu yang berjalan mengikuti arus ternyata bergerak
lebih cepat dari psrjalanan di darat. Ketika senja menjelang
tiba, perahu sudah tiba di dermaga Hee-kwan.
Kedua orang itupun naik kedataran dan masuk kota.
Menurut rencana Hoa In-liong, dia segera akan kembali ke
persoalan yang nyata. Tapi setelah merenung sebentar,
akhirnya diapun berkata begini, “Adik Wi, lebih baik kau
pulang dulu, aku hendak menengok keadaan dirumah
pelacuran Gi-sim-wan”
“Tidak!” belum saja kata-katanya selesai, Coa Wi-wi sudah
menukas dengan cepat, “Aku tak mau pulang, lebih baik kita
pergi bersama sama saja!”
“Tapi…. Tapi…. Masa kau mau ikut pergi ke tempat
semacam itu? Kan tidak pantas?” sahut Hoa In-liong sambil
menunjukkan sikap keberatan.
“Aaaah…. Siapa yang bilang kalau aku tak pantas
berkunjung kesana?” teriak Coa Wi-wi cemberut, “Pokoknya
aku tak mau tahu. Toh kau telah berjanji, kemanapun kau
pergi aku akan mengikuti terus. Kau jangan salah janji!”
Hoa In-liong mengerutkan dahinya, pusing, tapi setelah
berpikir sebentar katanya kembali, “Adik Wi sayang, mesti
menurut. Banyak urusan yang musti kita kerjakan saat ini.
Bagaimana pun juga semua pekerjaan tersebut harus kita
lakakan secara terpencar. Pulanglah dulu ke rumah, coba
tengok apakah kakakmu masih dirumah. Bila ada maka
suruhlah dia tunggu sebentar, aku akan segera menyusul ke
sana”

971
“Percuma, tak usah ditengok!” Coa Wi-wi gelengkan
kepalanya kembali, “Aku cukup memahami wataknya itu. Apa
yang katakan Wa Ek-hong pasti tak bakal salah lagi dia, pasti
sudah pergi menemani Yu toako”
“Tapi kakakmu adalah seorang laki-laki yang pegang janji.
Ketika kami berpisah, ia telah berjanji akan menunggu aku di
kota Kim-leng. Padahal keadaan yang sebenarnya mengenai
keluarga Yu hanya diketahui oleh kakakmu seorang. Aku tidak
kenal siapa-siapa disini, rasanya tidak gampang bagiku untuk
menemukan jejaknya….”
“Kau tidak kenal siapa-siapa aku toh kenal” kembali Coa
Wi-wi menukas dengan cepat, “Aku bisa membawa kau pergi
mencarinya. Kalau tidak apa salahnya kalau kita langsung
berkunjung ke telaga Hian-bu-ou?”
“Bila kakakmu kita temukan, mati tak perlu berkunjung ke
Hian-bu-ou. Ketahuilah adik Wi menolong orang bagaikan
menolong kebakaran, kita harus bekerja cepat”
“Walau begitu, toh tak ada gunanya musti bergelisah atau
bercemas-cemas? urusan musti kita selesaikan satu demi satu.
Hayolah, kita cari dulu alamat dari markas Cian-li-kau. Setelah
keadaan Toako dapat kita ketahui maka kita baru pergi
mencari kakakku dan menyelidiki kejadian yang sebenarnya
mengenai keluarga Yu. Asal dia ditemukan, bukankah
kepergian Yu toako juga bakal kita ketahui?”
“Baiki” kata Hoa In-liong dengan kening berkerut, “Kalau
toh engkau sudah tahu bahwa tujuanku adalah mencari
markas Cian-li kau, itu berarti aku bukan pergi untuk mencari
gara-gara apa lagi yang kau kuatirkan?. Ketahuilah, rumah
pelacuran Gi-sim-wan adalah tempat yang rendah dan bejat.
Sebagai seorang anak dara tidak pantas bagimu untuk
mengunjunginya…. Mengerti?”

972
“Hmmm! Darimana kau bisa tahu kalau tak akan terjadi
pertarungan?” seru Coa Wi-wi tak mau kalah. Seandainya
sampai terjadi bentrokan kekerasan, lantas bagaimana? Kau
bilang anak dara tak boleh berkunjung ke situ, bila ku saru
sebagai orang pria kan urusan jadi beres? Aku tidak percaya
kalau didunia ini terdapat pula tempat-tempat yang tak boleh
kukunjungi”
Hoa In-liong benar-benar mati kutunya, ia tak mampu
memberikan alasan lagi kepada si nona yang cerdik.
Yaa, memang rada pusing setelah bertemu dengan seorang
nona setengah matang setengah ke kanak-kanakan macam
Coa Wi-wi. Bukan saja ia tak dapat menerangkan Gi sim-Wan
itu tempat yang bagaimana, diapun tak dapat menarik muka
sambil memaksanya pulang dulu ke rumah. Apalagi apa yang
diucapkan Coa Wi-wi bukannya sama sekali tak beralasan.
Sekalipun ia cerdik, sekalipun ia banyak akal musliat, tapi
sekarang anak muda itu benar-benar keok benar-benar mati
kutunya dan tak sanggup berkata-kata lagi.
Maka diapun meneruskan perjalanannya dengan
membungkam, sedang Coa Wi-wi mengikutinya pula di
belakang dengan mulut membungkam juga. Begitulah….
dalam suasana bening dan tutup mulut, kedua orang itu
masuk ke dalam kota.
Tak lama setelah mereka masuk kota, dari depan sana tibatiba
muncul seorang pengemis kecil yang menghampirinya.
Begitu sampai dihadapan Hoa In-liong sambil tertawa
pengemis kecil itu berseru, “Kongcu, apakah kau she-Pek?”.
“Ada urusan apa….?” tanya Hoa In-liong dengan wajah
tertegun, ia heran.

973
Pengemis kecil itu segera tertawa cekikikan. “Hiih…. hiii….
Bila engkau benar-benar she Pek, tolong hadiahkan setahil
perak untukku!”
Ketika Coa Wi-wi mengetahui bahwa orang itu cuma
seorang pengemis yang minta persen, kontan saja matanya
melotot besar, rupanya dia hendak mengumbar hawa
amarahnya.
Berbeda dengan Hoa la-liong, setelah berpikir sebentar ia
merasa urusan ini sedikit mencurigakan. Maka diambilnya
setail perak dan diberikan kepada pengemis itu.
“Nih, hadiah untukmu, kalau ada perkataan cepat
disampaikan!” serunya.
Setelah menerima uang itu dan ditengoknya sebentar,
pengemis cilik itu kembali tertawa cekikikan. “Hii…. hii….
hiih…. Kalau begitu perempuan-perempuan itu tidak salah
bicara. Kongcu-ya tentulah orang she Pek yang dimaksudkan.
Nih Untukmu….”
Tangannya yang dekil segera merogoh ke dalam sakunya
dan nenyusupkan segumpal kertas ketangan Hoa In-liong
setelah itu diapun putar badan dan berlalu dari sana dengan
wajah terseri-seri.
Mula mula Hoa In-liong agak tertegun, kemudian kertas itu
dibentangkan dan isinya dibaca.
Coa Wi-wi ikut menyusul kedepan dan membaca pula isi
surat tersebut….
Terbcalah surat itu berbunyi demikian, “Anak Si tidak apa
apa, baik-baiklah jaga diri”

974
Dibawah kertas itu terdapat sebuah tanda pengenal,
sebuah lingkaran bukit yang mempunyai sebuah ekor.
Tentu saja Coa Wi-wi jadi tercengang menyaksikan tanda
gambar itu. Sambil menuding tanda tersebut serunya,
“Gambar apa itu? Masa mirip kecebong?”
“Huusss! Itu bukan gambar kecebong!” seru Hoa In-liong,
“Itu lukisan sebuah kipas bundar, senjata andalan dari Cuyaya”
Mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi memperhatikan sekali
lagi, betul juga, lukisan itu memang mirip sebuah kipas, maka
diapun tertawa. “Bisa menggunakan sebuah kipas sebagai
senjata andalan, ilmu silat yang dimiliki Cu-yaya itu pasti tinggi
sekali!”
“Cu-yaya bergelar Siau-yau-sian (dewa yang suka
kelayapan). Dia adalah supek dari enthio ku. Tentu saja ilmu
silat yang dimilikinya sangat lihay” sahut Hoa In-liong dengan
suara ewa.
Ketika didengarnya suara pembicaraan si anak muda itu
dingin dan ewa, Coa Wi-wi melongo. “Eeeeh…. kenapa kamu?”
serunya, “Masih marah yaa sama aku?”
“Siapa yang marah kepadamu?” sahut Hoa In-liong
tertegun. Ia tampak agak tercengang.
“Aku memaksa kau, bersikeras ingin ikut dirimu pergi ke Gisim-
wan, marah bukan kepadaku?”
Hoa In-liong berseru tertahan kemudian tertawa geli. “Nah,
itulah dia kalau jadi orang banyak curiga. Aku kan tahu bahwa
kau bermaksud baik. Memangnya aku ini orang yang bodoh
dan suka marah-marah kepada orang yang baik kepadaku?”

975
“Kalau bukan lagi marah, kenapa kau berdiri melongo
seperti orang kehilangan semangat?. Sampai-sampai suara
jawabanmu kedengaran begitu tawar dan ogah-ogahan?”
Sekarang Hoa In-liong baru sadar, “Oooh…. Rupanya
begitu, aku lagi memikirkan urusan lain. Aku tahu bahwa Cuyaya
itu orangnya suka bercanda. Tapi tulisan yang ia
tinggalkan kali ini begitu singkat dan terburu-buru, sebenarnya
apa yang telah terjadi. Kejadian apakah yang sudah membuat
dia orang tua harus tinggalkan kebiasaannya dan terburuburu?”.
Mendengar perkataan itu, sekali lagi Coa Wi-wi menengok
keatas kertas surat. Betul juga, tulisan itu miring kesana
kemari dan ditulis amat terburu-buru. Tapi ia segera tertawa.
“Aaaah…. engkau ini juga keterlaluan, bukankah kau sendiri
pernah berkata, bila perahu sampai diujung jembatan dia akan
lurus dengan sendirinya? Kalau tak bisa kau pecahkan yaa tak
usah dipikirkan terus menerus!”
Hoa In-liong berpikir sebentar, ia merasa perkataan itu ada
benarnya juga, maka diapun mengangguk. “Yaa, perkataan
dari adik Wi memang benar. Aku lihat Gi-sim-wan juga tak
usah dikunjungi lagi. Hayo bawa jalan, kita lewati saja ganggang
yang sempil dan jarang dilewati orang”.
Ketika itu magrib sudah menjelang tiba. Disaat-saat seperti
ini jalan raya penuh dengan manusia yang berlalu-lalang.
Sebaliknya jalan yang sempit dan gang-gang yang sepi, jarang
dilalui orang. Dengan demikian mereka bisa berjalan lebih
cepat lagi.
Sejak kecil Coa Wi-wi dibesarkan di kota Kim-leng, sudah
tentu dia hapal sekali dengan jalan-jalan di kota tersebut.

976
Maka ketika ia disuruh membawa jalan, dengan langkah lebar
gadis itu berjalan memasuki sebuah lorong yang sepi.
Setelah berjalan kesana kemari sekian lama, mereka
mampir dulu di rumah penginapan “Ban-liong?” untuk
membayar rekening serta mengambil buntalan milik Hoa Inliong.
Setelah itu baru menuju ke jalan raya sebelah timur ke
gedung keluarga Coa.
Congkoan dari gedung Coa bernama Kok Hong-sen. Dia
adalah seorang kakek kekar yang berusia lima puluh tahunan.
Setibanya di rumah, Coa Wi-wi memanggil Kok Hong-seng
untuk menghadap. Dari si kakek inilah mereka baru tahu kalau
Yu Siau-lam memang benar-benar sudah menuju kebarat.
Meski Coa Cong-gi tidak ikut dalam perjalanan tersebut, akan
tetapi sudah dua hari dia juga tak diketahui kemana perginya.
Begitu Coa Wi-wi mendapat tahu kalau kakaknya masih
dikota Kim-leng, ia segera memerintahkan kepada Kong Hongseng
untuk mengutus orang mencarinya. Kemudian
memerintahkan pula pelayan untuk menyiapkan hidangan dan
mempersilahkan Hoa In-liong bersihkan badan serta berganti
pakaian.
Pelayan yang bekerja di keluarga Coa banyak sekali
jumlahnya. Gedung itupun sangat luas. Selesai bersantap
malam, mereka berduapun duduk di ruang tengah sambil
bercakap-cakap dan menunggu kembalinya Coa Cong-gi.
Mereka ingin tahu apa yang telah terjadi dikeluarga Yu agar
bisa disusun rencana kerja selanjutnya.
Berbicara menurut keadaan Hoa In-liong dewasa ini,
sebenarnya ia tidak berminat untuk banyak bicara atau duduk
tersantai-santai. Pertama oleh karena Coa Wi-wi yang manja
menambah gairahnya. Kedua setelah berada di kota Kim-leng

977
ia merasa tak enak untuk tidak mencari tahu keadaan
keluarga Yu. Maka daripada kesal menunggu orang, ia
memutuskan untuk bercakap-cakap sambil mengusir
kekesalan dalam hatinya.
Lain halnya dengan Coa Wi-wi, dalam hati kecilnya saat itu
cuma ada Hoa In-liong seorang. Soal budi dendam dalam
dunia persilatan, pergolakan dan pertumpahan darah diantara
umat Bu-lim, baginya merupakan persoalan nomer dua. Maka
bicara punya bicara akhirnya merekapun membicarakan
tentang racun ular sakti yang mengeram di tubuh anak muda
itu. Menyusul kemudian membicarakan pula tentang Goancing
Taysu beserta asal-usul keluarga Coa.
Asal usul keluarga Coa memang cukup tersohor dan punya
nama besar. Tiga ratus tahun berselang siapapun yang
menyinggung tentang kebajikan serta kelihayan ilmu silat Buseng
(Rasul Ilmu Silat) Im Ceng, mereka pasti akan tunjukkan
sikap menghormati dan acungkan ibu jarinya.
Cuma, Hoa In-liong bukan seorang laki-laki yang suka
menyanjun orang lain. Sekalipun dia pernah mendapat
warisan ilmu Bu kek-teng-eng- im-hoat dari Goan-cing Taysu,
itu pun hanya menimbulkan rasa terima kasih dalam hatinya
saja.
Sebaliknya begitu dia tahu kalau ayah Coa Wi-wi, Coa
Coan-hua telah lenyap sejak lima belas tahun berselang, ia
jadi terkejut bercampur terharu, bahkan luapan emosinya
dihati hampir saja sukar dikembalikan lagi.
Hal ini disebabkan karena pertama ia mempunyai
hubungan persahabatan yang akrab dengan keluarga Coa
terutama Coa Cong-gi dan Coa Wi wi. Kedua dari mulut Wan
Hong-giok diapun pernah mendengar bahwa pihak Mo-kau
dari Seog-sut-hay sedang “menguasai sejumlah Bu-lim cianTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
978
pwe yang berilmu tinggi untuk dijadikan penyerang terdepan
mereka. “Andaikata Coa Coan-hua tidak beruntung benarbenar
terjatuh ke tangan orang Mo-kau, maka andaikata dua
bersaudara Coa diancam dengan ayah mereka sebagai
sandera, bukankah kedua orang ini benar benar akan tersiksa
lahir batinnya hingga akhirnya mungkin akan mati karena
kesal?”
Haruslah diketahui, Hoa In-liong yang sudah dididik sebagai
seorang manusia terpelajar, pada hakekatnya mempunyai rasa
setia kawan yang amat tebal. Apalagi setelah dia menghadapi
tekanan demi tekanan yang diakibatkan oleh pelbagai
peristiwa besar serta merta terciptalah suatu ambisi, atau
katakanlah suatu cita-cita untuk mengikuti jejak ayahnya yang
membasmi hawa siluman dari muka bumi dan menegakkan
keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan.
Maka ketika secara tiba-tiba ia mengetahui bahwa ayah
Coa Wi-wi yang berilmu telah lenyap semenjak lima belas
tahun berselang, rasa terperanjat dan golakan emosi yang
timbul dalam hatinya bukan dikarenakan kepentingan pribadi
saja, melainkan juga demi keamanan umat persilatan pada
umumnya.
Ia merasa kejadian itu sangat gawat dan serius bagaimana
jua persoalan diselidiki hingga meujadi jelas.
Oleh karena itulah, dalam pembicaraan yang berlangsung
lama, dalam hati kecilnya diam-diam ia mengambil tiga
keputusan,
Pertama. Teka-teki yang menyelubungi mati hidup Coa
Goan-hua harus disingkap secepatnya. Seandainya ia betulbetul
sudah terjatuh ke tangan orang orang Mo-kau maka dia
harus berusaha dengan segala kemampuan untuk
menyelamatkannya. Ini untuk menghindari penyiksaan

979
seterusnya serta penunggangan pihak Mo-kau kaucu yang
memanfatkan kemampuannya untuk memusuhi umat
persilatan di daratan Tionggoan.
Kedua. Menurut apa yang diucapkan Coa Cong-gi tempo
hari, tampaknya baik perkumpulan Hiang-beng-kau
mempunyai rencana yang matang untuk menghadapi para Bu
lim cianpwe. Oleh sebab itu dia harus berusaha untuk
mengadakan suatu pertemuan dengan Pui Che-giok, ketua
Cian-li-kau untuk mengawasi gerak-gerik dari kedua partai
serta menyelidiki tempat tinggal para Bu lim cianpwe baik dari
golongan lurus maupun dari golongan sesat agar bisa
memberitahukan kepada mereka untuk lebih waspada, jangan
sampai kena dicelakai atau kena dibujuk oleh mereka hingga
kekuatannya dipergunakan mereka.
Ketiga. Ia merasa bahwa kekuasaan kaum sesat dewasa ini
telah menyelimuti seluruh dunia, bahkan masing-masing telah
berkuasa disuatu wilayah yang cukup luas. Dia harus berusaha
mencari akal untuk menghadapi mereka serta membasmi
mereka semua hingga keakar-akarnya.
Walaupun ketiga buah keputusan tersebut hanya
merupakan garis besarnya belaka, namun boleh di bilang
sudah meliputi semua bagian yang penting. Atau tegasnya
keputusannya yang ketiga bukanlah terhitung suatu
keputusan, melainkan suatu keharusan yang musti dilakukan
demi lancarnya keputusan-keputusan yang lain.
Tapi, keadaan situasi dewasa ini berbeda jauh dengan
keadaan dalam dunia persilatan tempo dulu dimana dunia
ketiga musuh dikuasai oleh tiga kekuatan maha besar.
Sewaku Hoa Tiang-hong malang-melintang dalam dunia
persilatan, kekuasaan serta kekuatan tiga maha besar sudah
cukup jelas. Sebaliknya situasi dewasa ini masih belum tetap.

980
Walaupun hawa iblis telah menyelimuti seluruh dunia, namun
posisi mereka belumlah jelas.
Maka untuk menanggulangi bahaya tersebut, si anak muda
itu selain harus mengadakan penyelidikan, diapun musti
berusaha membasminya. Maka bila ia tidak berusaha dengan
cara lain, niscaya semua usahanya akan mengalami kegagalan
total.
Yaaa, pada hakekatnya Hoa In-liong terhitung seorang laki
laki yang berotak cerdik dan cekatan. Sebab bukan urusan
yang gampang bagi seseorang untuk berpikir sampai disitu.
Demikianlah, kendatipun dalam hati kecilnya ia telah
mengambil keputusan, hal mana tidak ia utarakan keluar,
lebih-lebih lagi tak pernah ia rundingkan dengan Coa Wi-wi.
Selang beberapa saat kemudian, para pegawai gedung
keluarga Coa yang diutus untuk mencari Coa Cong-gi secara
beruntun telah kembali semua. Namun orang yang dicari
belum juga munculkan diri.
Lama kelamaan habis juga kesabaran Coa Wi-wi, dia lantas
bertanya kepada Hoa In-liong. “Bagaimana ini? Kita bicarakan
besok pagi saja? Ataukah sekarang juga kita berkunjung ke
pasanggrahan pertabiban untuk melakukan penyelidikan….?”
Hoa In-liong termenung sebeatar, lalu menjawab, “Mari kita
selidiki tempat itu!”
“Baik….”Coa Wi-wi mengangguk, “Berdandan sebagai pria
lebih leluasa. Aku akan ganti pakaian laki dulu, tunggu aku di
ruang depan….!”
Tengah malam itu, dengan pakaian ringkas berangkatlah
kedua orang itu menuju telaga Hian-bu-ou.

981
Memandang dari kejauhan, tampak peaaangrahan
pertabiban sudah musnah menjadi abu. Ketika semakin dekat
makin jelaslah sudah pemandangan yang tertera didepan
mata.
Sebuah gedung perubahan yang megah dan kokoh, kini
tinggal puing-puing yang berserakan, mengenaskan sekali
tampaknya.
Gedung itu merupakan tempat bermain Coa Wi-wi dimasa
lalu. Hoa In-liong juga dua kali pernah berkunjung ke situ,
malahan pernah menginap semalam. Kini berhadapan dengan
puing yang berserakan, terutama bau angus yang terbawa
hembusan angin, tak terasa lagi mereka menggertak gigi
sambil menahan rasa benci yang tak terkirakan.
Selang sesaat kemudian, Coa Wi wi mendengus dingin.
“Benar-benar perbuatan terkutuk dari manusia yang berhati
bisa. Jiko! Empek Yu adalah seorang Tabib sosial, bukan saja
banyak orang yang telah ditolong jiwanya. Dihari-hari
biasapun tak pernah membuat perselisihan dengan siapapun.
Tapi sekarang, bukan saja rumahnya dibakar sampai habis,
dia orang tuapun ikut diculik. Perbuatan semacan ini apakah
masih bisa diampuni? Apakah manusia yang melakukan itu
sudah tidak berperi kemanusiaan lagi?”
Rasa benci yang berkecamuk dalam benak Hoa In-liong tak
kalah dengan cara bencinya. Mendengar perkataan itu dia ikut
mendengus. “Hmmm….! Bila mereka masih merapunyai peri
kemanusiaan, tak nanti perbuatan gila yang terkutuk ini
dilakukan. Kini banyak bicarapun tak ada gunanya, lebih baik
kira selidiki dulu puing-puing tersebut. Siapa tahu kalau
ditempat itu kita bisa mendapatkan sedikit titik terang?”

982
Berbicara sampai disini, dia lantas bergerak lebih dulu
kedepan.
Coa Wi-wi juga tidak banyak berbicara, cepat ia menyusul
pula dari belakang.
Begitulah, semua puing mereka bongkar, semua abu
mereka singkap. Dari paling depan sampai serambi samping.
Ruang belakang mereka periksa dengan teliti, siapa tahu
walaupun sudah diperiksa sampai di halaman paling belakang
pun mereka tak berhasil menemukan apa-apa.
Kenyataan tersebut membuktikan bahwa urusannya luar
biasa. Diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut
“Otak yang memimpi pembakaran ini pastilah seorang
manusia yang luar biasa” demikian ia berpikir, “Masa begini
besar gedung yang mereka bakar ternyata tak berhasil
ditemukan sesuatu nada apapun yang mencurigakan hati”
Berpikir demikian matanya lantas celingukan ke sana
kemari untuk memperhatikan keadaan.
Mendadak dari bawah gunung-gunungan diujung timur
sana terlihat seberkas cahaya lampu. Cahaya itu tampaknya
muncul secara tiba-tiba dan lagi berasal dari sudut yang tak
gampang ditemukan orang.
Begitu melihat cahaya tersebut, Hoa In-liong merasa
terkejut bercampur gembira cepat-cepat ia menarik tangan
Coa Wi-wi berbisik dengan lirih, “Adik Wi, ikutlah aku. Tapi
harus berhati-hati!”
Meskipun Coa Wi-wi adalah seorang gadis yang tak takut
langit atau bumi, setelah mendengar perkataan itu, ia tak
berani gegabah. Cepat pedang pendeknya disembunyikan ke

983
belakang punggung, lalu dengan hati-hati sekali ia mengikuti
di belakang Hoa In-liong mendekati gunung-gunungan
tersebut. Itulah sebuah gunung-gunungan yang terbentuk dari
kumpulan batu cadas sekelilingnya terdiri dari air kolam,
disebelah timur dan barat masing-masing terdapat sebuah
jembatan batu yang menghubungkan tempat itu dengan
daratan.
Luas kolam tidaklah sama, yang paling sempitpun mencapai
satu tombak lebih lima enam kaki hingga terbentuklah suatu
permukaan telaga yang sempit tapi memanjang.
Disudut utara permukaan telaga terdapat lima-enam buah
gundukan tanah baru. Rupanya sebuah kuburan yang dipakai
untuk mengubur orang-orang yang tewas belum lama
berselang.
Di sebelah selatan merupakan sebidang tanah berumput
yang memanjang. Lewat kesana adalah sebuah kebun bunga.
Diujung kebun adalah sebuah serambi panjang yang
berhubungan dengan gedung ruang belakang, dimana bisa
berhubungan langsung dengan gedung utama.
Dua orang muda mudi itu berkeliling dulu diseputar itu, lalu
setelah yakin kalau disana tak ada orang, mereka baru
menyeberangi permukaan air dari arah timur menuju keatas
gunung-gunungan tersebut.
Gunung-gunungan itu tingginya beberapa tombak, luasnya
mencapai lima tombak lebih. Oleh karena permukaannya tidak
datar dan penuh ditumbuhi pepohonan bambu, cemara dan
semak belukar, maka setibanya diatas bukit itu, cahaya tadi
malah sama sekali tidak terlihat lagi.
Untunglah Hoa In-liong memiliki mata yang tajam dan lagi
sumber cahaya itupun sudah diingat ingat didalam hati. Maka

984
setelah berdiri sebentar diatas tebing, dengan suatu gerakan
yang enteng tubuhnya berkelebat ke samping barat dari
gunung-gunung itu.
Ternyata di sudut barat gunung-gunungan itu tumbuhlah
sebaris bambu. Dibagian utara dari dinding barat merupakan
sebuah jendela yang luasnya tiga depa. Jendela tersebut
terbuat dari kayu dan waktu itu tertutup rapat. Cahaya api
menembus dari balik jendela itu, ini menunjukkan bahwa sinar
yang tampak dari kejauhan tadi berasal dari celah-celah
jendela itu. Tapi lantaran dihadapannya tumbuh pohon bambu
yang rimbun, tak aneh kalau tempat itu sukar ditemukan.
Orang bilang, “Bila ada jendela tentu ada rumah, bila ada
rumah tentu ada pintu”
Menemukan segala sesuatunya itu, Hoa In-liong jadi
kegirangan setengah mati. Cepat ia menggape ke arah Coa
Wi-wi, kemudian sambil menunjuk kearah jendela bisiknya,
“Coba lihat adik Wi. Dari dalam sana muncul cahaya lampu.
Itu berarti disitu terdapat ruangan batu. Berjaga-jagalalah
disini, aku akan mencari pintu masuknya”
Coa Wi-wi sudah mengetahui kalau disana ada jendela.
Maka setelah mendengar bisikan itu dia lantas mengangguk.
“Tidak, jangan kau pergi dari sini. Lebih baik aku saja yang
mencari pintu masuknya, sedang kau bekerja disini. Bila aku
sudah memberi tanda nanti, kau baru membongkar tempat
persembunyiannya”
Habis berkata dia lantas putar badan dan siap menelusuri
tanah perbukitan tersebut.
“Eeeeh…. tunggu sebentar!” buru buru Hoa-In liong
mencegah, “Menurut perglihatanku, orang ini belum tentu

985
berasal dari sekomplotan dengan para pengacau. Kalau tidak,
kenapa ia berani bercokol terus ditempai ini?”.
“Aaaai….! Belum tentu” bantah sinona, “Siapa tahu kalau
mereka memang bernyali dan tak takut mati….”
Belum habis ucapan tersebut, tiba-tiba terdengar suara
teguran yang sangat merdu berkumandang datang
memecahkan kesunyian, “Terima kasih atas pujianmu. Aku
berada disini, kalian tak perlu menemukan pintu masuknya
lagi”
Teguran tersebut munculnya sangat mendadak ini
membuat Hoa In-liong jadi terperanjat. Dengan cepat dia
berpaling, maka tampaklah sesosok bayangan putih berdiri
diatas lapangan berumput di sebelah sana.
Meskipun udara gelap dan cahaya bintang amat redup,
namun dengan ketajaman mata yang dimiliki Hoa In-liong, ia
dapat melihat kesemuanya itu dengan amat jelasnya.
Tampaklah orang itu mengenakan baju warna putih,
ditangannya memegang sebuah tongkat berkepala sembilan.
Wajahnya cantik bak bidadari dari kahyangan, tapi sikapnya
dingin, kaku dan menggidikkan hati.
Dia bukan lain adalah Bwee Su-yok, ketua baru dari Kiu-im
kau.
oooOOOOooo
TIDAK tampak bagaimana caranya Coa Wi-wi menghimpun
tenaga, tahu-tahu badannya segesit turun lewat sudah
melintasi kolam dan melayang turun kurang lebih satu tombak
dihadapan Bwee Su-yok.

986
Ketika ada dibukit Ciong-san tempo hari, gadis ini pernah
bertemu dengan Bwee Su-yok, meskipun tak pernah
melangsungkan pembicaraan atau pun tegur sapa. Tapi
setelah kejadian seringkali ia mendengar tentang diri gadis itu
baik dalam pembicaraannya dengan Hoa In-liong maupun
dengan kakaknya.
Meski demikian, dengan wataknya yang polos dan lincah,
dara itu tak pernah menaruh kesan jelek terhadap Bwee Suyok,
malah sebaliknya ia merasa simpatik dan kasihan.
Begitulah, sambil tertawa diapun menyapa, “Eeeh cici,
apakah kau adalah enci Bwee?. Oooh…. Sungguh cantik nian
wajahmu!”
Ketika Bwee Su-yok menyaksikan cara gadis itu melayang
turun ke atas tanah, diam-diam hatinya bergidik. Apalagi
ketika gadis itu menerjang ke arahnya, disangkanya ia sedang
diserang, maka segenap kekuatan yang dimilikinya segera
dihimpun untuk siap siaga menghadapi segeia kemungkinan
yang tak diinginkan.
Siapa tahu bukan serangan yang datang sebaliknya Coa Wiwi
malah mengajukan pertanyaan dengan senyum dikulum.
Memandang wajahnya yang cantik serta senyum yang polos.
Untuk sesaat Bwee Su-yok merasa agak sungkan untuk
menghadapinya dengan sikap yang dingin.
Maka setelah tertegun sejenak, dengan sikap yang lebih
lembut dia menyahut, “Akulah Bwee Su-yok!”
Meskipun sikapnya telah lembut, tapi mukanya yang dingin
masih jelas kentara.

987
Ini semua menyebabkan Coa Wi-wi kurang senang hati,
pikirnya, “Waduh…. agaknya sok amat, memangnya apa yang
diandalkan? Hmmm! Sombongnya…. bukan kepalang!”.
Hoa In-liong kuatir rekannya jadi jengkel dan melancarkan
serangan ketika menghadapi sikap dingin dan sombong dari
musuhnya, dengan cepat dia melayang turun disamping Coa
Wi-wi, lalu menjura. “Nona Bwee, atas keberhasilanmu
menduduki jabatan sebagai seorang ketua, aku harus
mengucapkan selamat kepadamu!”
Dengan sombong Bwee Su-yok mendengus, bukan
membalas hormat dia malahan berkata, “Seharusnya untuk
bersedih hatipun kau tak sempat!”
Hoa In-liong mengerti apa yang dimaksudkan, tapi ia pura
pura tertegun seperti tak mengerti. “Apa maksud nona Bwee
berkata demikian?” tanyanya.
Bwee Su-yok menggerakkan bibirnya seperti akan
mengatakan sesuatu, tapi tiba tiba ia batalkan niatnya itu dan
mendengus dingin. Kemudian melengos ke arah lain.
Dari mimik wajahnya orang akan tahu bahwa ia sedang iri
atau cemburu karena menyaksikan Hoa In-liong berdiri
berjajar dengan Coa Wi-wi. Apalagi yang laki ganteng
rupawan sedang yang perempuan cantik jelita bak bidadari.
Dalam pikiran yang kalut ia jadi tak dapat membedakan
apakah harus cemburu ataukah marah.
“Apa maksud nona Bwee dengan kata-katanya itu? Apakah
aku boleh mengetahuinya?” desak Hoa In-liong.

988
Bwee Su-yok berusaha mengendalikan perasaannya.
“Apakah anak keturunan dari keluarga Hoa adalah manusiamanusia
yang tak tahu adat sopan santun?” dia menegur.
Perlu diterangkan, saat itu dia adalah seorang ketua dari
suatu perkumpulan besar. Kedudukan itu luar biasa sekali, tapi
Hoa In-liong ternyata menyebut dirinya sebagai “nona Bwee”.
Hal ini benar-benar dirasakan olehnya sebagai suatu tindakan
yang kurang sopan.
Tapi, pada hakekatnya Hoa In-liong memang sengaja
berbuat demikian. Teguran dari Bwee Su-yok pun sudah ada
dalam dugaannya semula, maka setelah mendengar perkataan
itu dia menjawab dengan nyaring, “Semua anak keturunan
keluarga Hoa adalah orang orang yang tahu akan sopan
santun, kecuali aku….”
“Kenapa dengan kau?” desak Bwee Su-yok.
Coa Wi-wi mengerutkan dahinya, dia tarik ujung baju Hoa
In-liong sambil berbisik. “Jiko, lagak kaucu ini terlalu sekali,
lebih….”
Tapi sebelum menyelesaikan kata-katanya Hoa In-liong
telah memberi tanda kepadanya agar mengikuti perubahan
dengan tenang.
Sebenarnya gadis itu merasa tak senang karena Hoa Inliong
bukannya menanyakan peristiwa pembakaran
pesanggrahan pertabiban setelah berjumpa dengan Bwee Suyok,
sebaliknya buang waktu untuk persoalan yang tidak
berarti, maka ia memperingatkan dirinya.
Tapi setelah Hoa In-liong memberi tanda, sebagai gadis
yang cerdik dia lantas tahu kalau anak muda itu mempunyai
tujuan tersebut. Oleh sebab itulah ia benar-benar tutup mulut.

989
Setelah menghalangi Coa Wi-wi berbicara, Hoa ln-liong
baru berkata lagi, “Aku? Oooh…. Aku adalah seorang manusia
yang tak usah dilukiskan suka mencari muka. Tengiknya
banyak lagi kebusukan yang tak usah dilukiskan satu demi
satu”
Ternyata ia telah mengulangi kata-kata makian dari Bwee
Su-yok sewaktu ada di bukit Ciong-san. Tentu saja hal ini
membuat Bwee Su-yok jadi
Tertegun. Dia tak tahu musti girang atau marah. “Sungguh
tak nyana keluarga Hoa mempunyai seorang keturunan
semacam kau. Hmmm! Sudah sepantasnya kalau
kekuasaannya berakhir sampai disini saja” serunya.
Hoa In-liong tertawa berderai derai, pikirnya, “Sebelum
mati, Yu Boh mengatakan ada segerombolan manusia yang
tak diketahui asal usulnya telah membakar pesanggrahan
pertabiban. Padahal jika perbuatan ini dilakukan oleh orang
Kiu-im-kau, sekilas pandangan saja siapa pun tahu. Perduli
bagaimanapun jua jelas Bwee Su-yok tahu siapa yang telah
melakukan kesemuanya ini…. Hmmm! dan lagi, si budak
ingusan itu sengaja berdian disini, hal itu pasti ada sebabnya.
Sekarang dia sudah merupakan seorang kaucu dari Kiu-im-kau
jelas dia tak akan datang hanya seorang diri. Tapi dimanakah
anak buahnya?”
Pelbagai ingatan dengan cepatnya melintas dalam benak.
Secara ringkas ia analisa semua situasi yang ada didepan
mata, kemudian terasalah olehnya bahwa titik terang pada diri
Bwee Su-yok tak boleh dilepaskan dengan begitu saja. Tapi
jelas kalau persoalan tersebut ditanyakan secara langsung,
Bwee Su-yok tak akan menjawab sejujurnya. Sebab itu harus
dicarikan sebuah akal untuk menjebaknya.

990
Begitulah, selesai tertawa iapun berkata, “Nona Bwe,
tidakkah kau rasakan bahwa sebutan nona jauh lebih mesra
kedengarannya daripada membahasai dirimu dengan sebutan
kaucu….”
“Tutup mulutmu!” bentak Bwee Su-yok dengan mata
mendelik.
Hoa In-liong benar-benar tutup mulut, malah di tatapnya
wajah Bwee Su-yok sambil tertawa cengar-cengirr, terutama
lirikan matanya, seakan akan mengandung maksud tertentu.
Ditatap seperti ini, Bwee Su-yok merasa pipinya berubah
jadi semu merah. Jantungnya berdebar keras, cepat-cepat dia
melengos ke arah lain.
Tapi secara tiba-tiba ia merasa tindakan tersebut terlampau
menunjukkan kelemahan pribadi, maka dengan sorot mata
setajam sembilu dia balas menatap pemuda itu, malah sambil
mengetukkan tongkatnya ke tanah ia membentak keras, “Hoa
In-liong, kau ingin mampus?”
“Mampus? Aaaah…. Itu kan kejadian biasa” ejek sang
pemuda ewa.
Coa Wi-wi berkerut kening, diapun ikut berpikir, “Kurang
ajar. Apa yang kau bicarakan dengannya omongan yang tak
berguna. Kalau begini caranya, mana bisa kau temukan kabar
tentang pembakaran ini?”
Berpikir demikian, cepat cepat dia menyela. “Siapa mampus
siapa hidup lebih baik ditentukan secara kekerasan saja, buat
apa banyak bicara? Tapi sebelum itu, kau harus memberi
pertanggung jawaban lebih dulu tentang peristiwa yang
menimpa keluarga yu”.

991
Bwee Su-yok tertawa dingin. “Heeh…. heeh…. heeh…. Jadi
kau anggap aku yang melakukan kesemuanya ini?”
“Sekalipun bukan kau yang melakukan, Kiu-im-kau….”
“Adik Wi, jangan sembarangan omong” tukas Hoa In-liong
tiba-tiba. “Kiu-im-kau toh sebuah perkumpulan nomor satu
didunia, masa mereka sudi melakukan perbuatan membunuh
dan membakar macam tindak tanduk kaum pencoleng dan
bandit?”
“Hmmm! mencari muka, kurang ajar, tengik. Benar-benar
menggemaskan….!” teriak Bwee Su-yok dengan gemas.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu, maka kala-kata selanjutnya
segera terhenti ditengah jalan.
Coa Wi-wi tak mau mengalah dengan begitu saja dia
berseru pula dengan lantang, “Kalau aku omong kosong,
memangnya hanya kata-kata yang merupakan kata-kata
sesungguhnya?”
Menyaksikan situasi sudah mulai panas Hoa In-liong
berpikir dalam hatinya, “Adik Wi telah membakar suasana
dengan kata-katanya yang kaku, ini berarti tak mungkin begitu
untuk menyingkat duduknya perkara dengan cara memancing
kata katanya”
Berpikir demikian dia lantas tersenyum. “Aku rasa nona
Bwee pasti mengetahui dengan jelas duduknya peristiwa” ia
berkata lembut. “Dan akupun sangat berharap bisa
mengetahui jejak dari empek Yu suami istri. Maka bila kau
bersedia memberi keterangan aku merasa berterima kasih
sekali”

992
Selesai berkata kembali ia menjura dan memberi hormat
nona cantik tersebut.
Bwee Su-yok sama sekali tidak tergerak hatinya oleh tindak
tanduk anak muda itu, katanya, “Kenapa kau musti berterima
kasih kepadaku?
“Yaaa…. tolonglah beri penjelasan…. Membantu pasti mau
kan?” Hoa In-liong menjura berulang kali.
Ditinjau dari tampang serta tindak tanduknya seakan-akan
ia sedang mengajak teman untuk merundingkan sesuatu saja
dan rasanya Ho Jiya dari keluarga Im Tiong-san saja yang
mampu melakukan hal tersebut.
Bwee Su-yok betul-betul dibuat kheki dan gemas, mau
tertawa sungkan mau menangis tak bisa, maka sesudah
merenung sebentar gerutunya.
Cca Wi-wi tak dapat mengendalikan rasa gelinya lagi ia
tertawa cekikikan. Apalagi setelah menyaksikan Hoa In-liong
yang kocak, rasa gelinya makin tak tertahan.
Tiba-tiba Bwee Su-yok bertanya, “Jadi…. kau sangat ingin
mengetahui siapa yang membakar pasanggrahan dari
Kanglam Ji-gi (Tabib Sosial dari Kanglam)?”
Hoa In-liong merasa terkejut bercampur curiga. Bila Bwee
Su-yok bersedia memberitahu kepadanya dimanakah Kanglam
Ji-gi terkurung, kejadian ini benar-benar merupakan suatu
peristiwa yang tak masuk diakal.
Meskipun curiga, ia menjawab juga, “Bila nona bersedia
memberi petunjuk, tentu saja aku merasa amat berterima
kasih”

993
“Hmmm….! Tak ada gunanya ucapan terima kasih, aku
minta suatu pembayaran yang setimpal” kata Bwee Su-yok
dengan nada ketus.
“Pembayaran apa?”
“Pembayaran itu tinggi nilainya, aku kuatir kau tak sanggup
untuk membayarnya”
“Aku tak akan segan-segan membayar permintaan apapun
yang kau harapkan”
Sedingin salju paras muka Bwee Su-yok, katanya kemudian
dengan suara tajam, “Aku menghendaki nyawamu,
sanggupkah engkau untuk membayarnya?”
“Kentut busuk!” Coa Wi-wi tak dapat mengendalikan
perasaannya lagi, ia membentak nyaring, “Kau sedang
mengigau. Kau tak usah omong yang
tak genah….”
Bwee Su-yok sama sekali tidak memperdulikan dirinya. Ia
malah menatap wajah Hoa In-liong dengan pandangan dingin.
“Adik Wi, kenapa kau musti marah?” kata Hoa In-liong
dengan suara hambar. “Sekalipun permintaannya kelewat
tinggi kita kan bisa menawar sesuai dengan uang pokok yang
kita miliki. Jika permintaannya belum cocok kita toh bisa
merundingkannya secara pelan-pelan”
“Tidak ada kesempatan untuk berunding” tukas Bwee Suyok
lagi dengan ketus, “Kalau mau begitu, kalau tidak mau ya
sudah!”
“Waaaah…. Kalau tidak jadi radaan susah….”

994
Hoa In-liong pura-pura mengernyitkan alis matanya,
“Lantas selembar nyawaku ini musti kupersembahkan dengan
kedua belah tangan sendiri, ataukah nona yang akan
mengambilnya sendiri?”
“Pinginnya kusuruh kau persembahkan sendiri. Tapi kalau
dilihat dari sifatmu yang takut mampus, agaknya hal ini tak
mungkin terjadi….”
Hoa In-liong tertawa ewa, ia sama sekali tidak gusar
meskipun sudah diejek musuhnya.
Berbeda dengan Coa Wi-wi dia jadi naik pitam. “Kalau
engkau tak takut mampus, kenapa tidak kau serahkan dulu
nyawamu itu kepadaku?” teriaknya.
Bwee Su-yok sama sekali tidak menggubris teriakan orang,
kembali ujarnya dengan lantang, “Tentunya engkau sudah
tahu bukan dimana letaknya kantor cabang perkumpulan kami
di kota Kim-leng?”
“Oooh…. tentu saja tahu” Hoa In-liong tertawa, “Entah
bagaimana dengan pohon kui yang telah kugunakan untuk
menggantung diri selama tiga hari itu? Masih seperti sedia
kala atau telah berubah?”
Bwee Su-yok adalah seorang gadis yang cerdik. Tentu saja
dia tahu kalau pemuda itu sedang menyindir kebodohan Kiuim
kaucu dimana sampai sampai pohon sebesar itupun
berhasil dirobohkan oleh Ko Thay dengan pukulannya.
Ia merasa sangat mendongkol, sebenarnya dia pun hendak
menyindir Hoa In-liong dimana pemuda itu pernah digantung
selama tiga hari, tapi ketika dirasakan kemudian bahwa

995
kejadian itu kurang begitu menguntungkan nama baiknya,
diapun membatalkan niatnya itu.
Setelah tertegun sejenak, dia lantas berkata, “Aku adalah
seorang yang terhormat, tak sudi aku berdebat dengan
gelandangan macam kau….”
“Huuhh…. tak tahu malu” tukas Coa Wi-wi. “Kiu-im-kau
sendiri juga sebuah perkumpulan kaum sesat, apanya yang
luar biasa?”
Mencorong sinar marah dari sepasang mata Bwee Su-yok,
tapi ia masih juga tidak memperdulikan ocehan gadis tersebut,
katanya lantang, “Besok sore kunantikan kedatanganmu
diruang tengah. Jika kau ingin mengetahui berita tentang
Kanglam Ji-gi, datanglah seorang diri….”
Meski binal, Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang
berotak cermat, sedikit kesempatan yang ada, tak disia-siakan
dengan begitu saja. Mendengar kata-kata itu cepat ia berseru,
“Aku ingin tahu lebih dulu, bila aku datang memenuhi janji,
apakah nona Bwe juga segera memberi tahukan jejak empek
Yu suami istri kepadaku….”
“Bila kau ingin tahu, datang saja tepat pada waktunya”
jawab Bwee Su-yok ketus, “Soal bicara atau tidak, tergantung
apakah besok hatiku sedang gembira atau tidak”
Hoa In-liong tidak marah oleh kata-kata itu, dia malah
berpikir, “Jika didengar dari ucapan dayang tersebut
tampaknya ia tidak berniat jujur dengan janjinya. Aku musti
berhati-hati….”.
Maka sambil tertawa katanya, “Nona Bwee, aku rasa cara
semacam ini tidaklah adil!”.

996
”Kalau merasa kurang adil janganlah datang. Tapi kalau
sudah mau datang maka sekalipun harus mampus juga musti
rela. Aku sama sekali tidak I bermaksud memaksa dirimu”
Jawaban ini benar-benar membuat Hoa In-liong kehabisan
akal dia jadi ngenes sendiri. “Waaah…. Waaah…. Cara
semacam ini namanya memaksa orang pandai amat caramu
berbicara!”
“Hmmm…. Asal kita tangkap budak busuk itu, masa dia tak
mau bicara?” tiba-tiba Coa Wi-wi berteriak marah.
Apa yang dikatakan kemudian dibuktikan. Dengan cepat,
dengan telapak tangan kanannya ia melepaskan sebuah
pukulan tipuan kemudian dengan kedua jari tengahnya dan
telunjuknya ia melepaskan satu totokan maut yang dibarengi
dengan gerakan tubuh yang menerkam ke muka.
Bwee Su-yok tak berani gegabah sekalipun yang terlihat
olehnya hanya suatu ancaman yang menyerupai suatu ilmu
pukulan tapi bukan ilmu pukulan, ilmu totokan jari bukan ilmu
totokan jari.
Meski bergerak tanpa arah satu. Walaupun kelihatan
seperti tak berkekuatan, tapi nyatanya serangan itu sudah
mengancam hampir seluruh tubuhnya terutama bagian dada
dan lambung. Jalan darah seperti Ing-cuang-hiat, Ki-bun-hiat
Sin-hong-hiat, dan Hu-ciat-hiat sudah terkurung semua dalam
ancaman.
Ini semua membuat dara tersebut tercengang. “Jurus
serangan apa ini?” demikian ia berpikir.
Sudah tentu ancaman yang datang tak dapat dibiarkan
dengan begitu saja. Dengan jurus Kui-im-cuang-cuang

997
(Cahaya Iblis Bergoncang- goncang) tongkat kepala setannya
melancar sebuah serangan balasan dengan sepenuh tenaga.
Sekejap mata, seluruh angkasa telah diliputi cahaya hitam
yarg menyilaukan mata. Desingan tajam mendesis di udara
dan memekakkan telinga. Kesembilan buah kepala setan di
ujung tongkat seakan-akan berubah jadi sembilan buah setan
hidup. Sambil unjukkan tarirg dan cakarnya siap menerkam
mangsa yang ada didepannya.
Bagaimanapun jua, Coa Wi-wi masih muda. Apalagi
seorang gadis, terhadap ancaman yang tiba ia masih tak
terlalu dipikirkan dalam hati. Tapi bayangan setan diujung
tongkat membuat dara itu menjerit lengking karena ngerinya,
cepat cepat dia kabur dan mundur ke belakang.
Dengan tindakan tersebut, sama artinya kalau ia kena
didesak oleh serangan orang. Coa Wi-wi kontan merasa
kehilangan muka, pipinya yang putih berubah jadi semu
merah.
“Bagus sekali” teriaknya dengan nada malu bercampur
marah. “Permainan tongkatmu memang cukup hebat dan
anggap saja jurus Pian-tong-put-ki (Berusaha Tanda Pindah)
ku tadi berhasil kau terima. Nah! Sekarang coba rasakan
sebuah seranganku lagi, akan kulihat apakah kau mampu
untuk menyambut jurus Ciu-liu-lak-si (Bergelombang dan
berpusing memenuhi enam kekosongan) ku ini”.
Bwee Su-yok tahu, serangan yang bakal dilancarkan pasti
suatu serangan geledek yang mempunyai daya kekuatan luar
biasa. Ia tak sempat mengejek lagi, tongkat saktinya cepat
diputar sedemikian rupa untnk melindungi keselamatan
jiwanya.
“Adik Wi, tahan!” tiba-tiba Hoa In-liong berseru.

998
Sebenarnya Coa Wi-wi sudah melancarkan serangannya
dengan telapak tangan kanan, dimana jari tengahnya sudah
dikeraskan bagaikan sebuah tombak.
Tapi setelah mendengar seruan tersebut, ia tarik kembali
posisinya lalu berpaling dengan keheranan:
Jilid 26
“ADA apa jiko?”
Hoa In-liong tersenyum, ia tidak menjawab pertanyaan
tersebut, sebaliknya sambil memberi hormat kepada Bwe Suyok
katanya, “Sampai waktunya aku pasti akan datang
memenuhi janji, silahkan Bwe kaucu berlalu lebih dulu”
Secara tiba-tiba ia merubah panggilannya dari “nona” jadi
“kaucu, perubahan tersebut segera disambut Bwee Su-yok
dengan perasaan yang bergetar keras, ia merasa seolah-olah
kehilangan sesuatu hingga semangatnya secara terbang
tinggalkan raga.
Untunglah perasaan semacam itu hanya berlangsung
sebentar, pikiran yang bercabang dengan cepat dapat
disatukan kembali.
“Baik, akan kutunggu kedatanganmu!” katanya kemudian.
Dia lantas putar badan dan berpaling kearah Coa Wi-wi.
“Engkau adalah adiknya Coa Con-gi? Siapakah namamu?”
tegurnya.

999
Sudah dua kali mereka saling berjumpa, tapi ke dua kalinya
Coa Wi-wi berdandan sebagai pria dengan nama samaran
Cwan Wi, meski potongannya waktu itu perempuan bukan
perempuan, laki bukan laki, ketika bertemu kembali untuk ke
tiga kalinya, ia segera mengenalinya kembali dalam
pandangan pertama.
Kendati begitu, ia tidak mengetahui nama Coa Wi-wi yang
sebenarnya, dia hanya tahu namanya menggunakan huruf
“Wi”, sebab begitulah Hoa In-liong memanggil dirinya.
Coa Wi-wi tidak senang dengan sikapnya yang sombong,
maka sahutnya pula dengan suara yang ketus, “Aku bernama
Coa Wi-wi, ingat baik-baik namaku itu!”
Bwe Su-yok tidak banyak bicara lagi dia pun lantas berlalu
dari situ, tampaklah ujung gunanya yang berwarna putih salju
berkibar terhembus angin, sekilas pandangan seakan-akan
lambat padahal cepatnya bukan kepalang, sekejap mata
kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik puingpuing
bangunan.
Sepeninggalnya gadis itu, Coi Wi-wi baru mengomel, “Jiko,
kenapa kau bicarakan orang itu pergi dari sini”
Hoi In liong tertawa, apalagi gadis itu tampak lebih cantik
dan mempesona hati dalam sikap cemberutnya ini, ia semakin
terlena oleh kecantikan si nona yang jarang dijumpainya itu.
Sambil membelai rambutnya yang hitam putus, berkatalah
anak muda itu dengan lembut, “Bwe Su-yok bukan anak
kemarin sore, dia mempunyai perhitungan yang matang dalam
setiap tindak tanduknya, memang kau anggap dia berani
kerkunjung kemari….”

1000
“Aaah….omong kosong, kecuali dia, kita kan tak melihat
sesosok bayangan manusiapun?” bantah si nona.
Siapa tahu baru saja dia menyelesaikan kata-katanya,
mendadak terdengar suara pekikan yang amat nyaring
menggema diudara, menyusul kemudian suara pekikan lain
berkumandang saling bersahutan, suara itu ada yang nyaring
ada pula yang rendah dan berat, tapi yang pasti semua
pekikan tersebut disertai pencaran tenaga dalam yang
sempurna, jelas suara-suara itu berusal dari sekawanan jago
silat yang amat tangguh.
“Bagaimana….?” goda Hoa In-liong tertawa.
Merah padam wajah Coa-Wi-wi karena jengah.
“Tidak aneh….” sahutnya tak mau kalah, “aku rasa Kiu imkaucu
juga hanya begitu-begitu saja, sekalipun semua anak
buahnya di bawa serta aku juga tidak takut, paling-paling
kuhajar mereka semua sampai kocar kacir….”
“Jangan takebur! Ketahuilah, semua jago yang tergabung
dalam perkumpulan Kiu-im-kauw memiliki kepandaian silat
yang amat tangguh, Bwee Su-yok sendiri merupakan seorang
musuh yang kosen, apabila mereka sampai maju bersama,
bagi kita soal mundur memang bukan persoalan, tapi kalau
ingin cari keuntungan dari pertarungan itu….waah, sulit! Sulit!
Benar-benar amat sulit, makanya…. adik Wi tak boleh
memandang enteng pihak mereka”
Padahal alasan yang dikemukannya itu hanya merupakan
alasan nomor dua, yang terpenting baginya adalah lantaran
penyakit sayangnya terhadap gadis she Bwe itu.
Ia tahu sebagai seorang kaucu dari suatu perkumpulan
besar, apalagi dengan wataknya yang congkat dan tinggi hati,

1001
seandainya Bwee Su-yok sampai cedera atau dikalahkan oleh
Coa Wi-wi, sembilan puluh persen dalam jengkelnya gadis itu
pasti akan bunuh diri.
Bila gadis itu sampai nekad mengambil keputusan pendek,
berarti juga berita tentang Kanglam ji-gi akan hilang dengan
begitu saja.
Karena itu ia merasa lebih baik kalau peristiwa yang tak
diinginkan itu jauh sebelumnya dicegah lebih dulu.
Sudah tentu rahasia hatinya ini tak sampai di katakan
kepada Coa Wi-wi, sebab bagaimanapun juga hati perempuan
memang paling sukar diduga dalamnya.
Meski begitu, Coa Wi-wi bukan orang bodoh, dengan
perasaan halusnya sebagai seorang gadis, secara lapat-lapat
ia merasakan sesuatu, biji matanya lantas berputar.
“Jiko!” katanya kemudian, “sejak tadi kau main mata dan
saling mengerling dengan Bwee Su-yok….
“Huuuuss….! Ngaco belo, siapa yang bilang aku main
mata?” bentak Hoa In-liong sambil tertawa.
“Lantas kalau kau menatap dia dan dia menatapmu, jika
bukan main mata lalu apa namanya?” kata Coa Wi-wi dengan
nada bersungguh-sungguh.
Hoa In-liong tertawa geli,
“Masa begitu saja disebut main mata? Kamu ini sianak
kecil, tidak tahu urusan juga berani ngomong sembarangan”
“Anak kecil? Huuhh….memangnya kau sendiri yang sudah
dewasa?” Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya.

1002
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dia lantas alihkan
pembicaraan kesoal lain, katanya, “Adik Wi, ilmu pukulan apa
yang barusan kau gunakan? Jurus Ciu-liu luk si yang kau pakai
tadi mirip dengan Ci yu jit ciat (Tujuh Kupasan dari Cu-yu)
bagian kedua, boleh kan beri tahu kepadaku?”
“Kenapa tidak boleh? Jujur kedua yang baru kupakai adalah
Su siu hua heng ciang (Ilmu pukulan empat gajah berubah
bentuk) gerakan kedua dan ketujuh, ilmu pukulan tersebut
merupakan inti sari dari himpunan seluruh jurus pukulan
terbagus dari dunia persilatan yang dihimpun Im cousu kami,
puluhan tahun beliau harus bersusah payah memeras keringat
sebelum berhasil menciptakan ilmu pukulan tersebut,
disamping tenaga sim hoat Bu kek teng heng. Jiko! Kalau
pingin belajar, nanti kuajarkan ilmu kepandaian tersebut
kepadamu”
“Itu kan ilmu rahasia dari keluargamu, mana boleh
diwariskan kepada orang lain?” ujar Hoa In-liong dengan
wajah serius.
Coa Wi-wi gelengkan kepalanya berulang kali.
“Tidak apa-apa! Toh Kongkong ku telah wariskan ilmu Bu
kek teng heng sim hoat kepada jiko, itu berarti beliau ada
hasrat untuk waris kan kepandaian silatnya kepada jiko, maka
seandainya kuwariskan pula ilmu Su siu hua heng ciang
kepadamu, tidak berarti kuwariskan kepandaian keluargaku
secara pribadi. Apalagi Cousu pernah berpe san, bila bertemu
dengan seseorang yang cocok dengan karakter kita, atau
seseorang yang telah memiliki kepandaian tinggi, boleh saja
orang itu diterima menjadi murid perguruan kami, ataupun
mendapat warisan ilmu silat aliran kami tanpa harus menjadi
anggota perguruan kami”

1003
Tertarik juga Hoa In-liong oleh perkataan tersebut tapi ia
tak sudi menerima pelajar silat dari Coa Wi-wi, maka setelah
merenung sebentar berkatalah dia
“Urusan tersebut lebih baik bicarakan nanti saja, sekarang
yang penting adalah memeriksa dulu ruang batu dimana
cahaya terang itu berasal….”
Selesai berkata ia lantas melayang ke udara, menyeberargi
permukaan air dan balik keatas bukit dimana jendela kayu itu
ditemukan.
Coa Wi-wi Segera menyusul dari belakang.
“Aku rasa sudah tak ada waktu lagi sekarang, kata pemuda
itu kemudian sambil berpaling.
Tiba-tiba ditemuinya Coa Wi-wi berjalan dengan kepala
tertunduk, mukanya aras-arasan dan tidak bersemangat, jelas
gadis itu lagi ngambek dan tak senang hati.
Menyaksikan sikapnya itu, pemuda kita jadi tercengang,
diapun menegur dengan lembut, “Kenapa kau? Lagi ngambek
lantaran perkataan ku barusan? Jangan sok serius aah….”
“Jii….! jiko….” bisik Coa Wi-wi sambil menarik wajah,
suaranya agak tersendat.
“Kenapa adik Wi?” jawab Hoa In-liong lembut, “jika kurang
puas terhadap jikomu, katakanlah terus terang!”
“Bukan, bukannya tidak puas!” Kata Coa Wi-wi sambil
gelengkan kepalanya berulang kali.
“Aneh benar….!” pikir Hoa In-liong dalam hati, tapi diluaran
cepat ia bertanya, “Lantas karena apa?”

1004
Coa Wi-wi berpikir sebentar, kemudinn sahutnya, “Jiko,
tahukah kau tentang kisah kehidupan Im cousu-ku dimasa
yang lalu?”
Secara tiba-tiba gadis itu membawa pokok pembicaraan ke
soal yang tiada sangkut pautnya dengan kejadian didepan
mata, Hoa In-liong jadi tertegun dibuatnya.
“Aku kurang begitu tahu” sahutnya.
Coa Wi-wi tarik napas panjang, lalu katanya, “Ketika Im
cousu terjun ke dunia persilatan untuk pertama kalinya dulu,
ilmu silat yang dimilikinya amat rendah, bahkan ilmu silat
kelas tiga pun tidak dikuasahi olehnya, beliau dapat mempela
jari tenaga dalam pun karena secara kebetulan berhasil
mempela-jarinya dari sari kepandaian Lo ho sim hoat, jurus
pukulan yang dimilikinya boleh dibilang adalah ajaran dari Coa
bo semua, kendatipun demikian toh kejadian ini tak sampai
mempengaruhi kebesaran namanya sebagai Bu seng (Rasul
Silat)….”
Kiranya ketika Bu-seng terjun kedalam dunia persilatan
untuk pertama kalinya dulu, dia hanya bisa serangkaian ilmu
pukulan Kay-sim ciang(pukulan pembuka hati) belaka, ilmu
pukulan tersebut begitu umumnya sehingga seorang jagoan
kelas satupun tak mampu ia kalahkan.
Kemudian, oleh tay hujinnya (Istri Pertama) Ko Cing ia
diberi pelajaran pelbagai ilmu pukulan yang sangat lihay, tak
sampai setahun kemudian, Bu seng benar-benar sudah
menjadi seorang manusia yang amat tangguh….
Ketika dara tersebut menyinggung kembali kejadian,
dengan cepat Hoa In-liong dapat memahami maksud katinya,
timbullah rasa kasihan dalam hati kecilnya setelah

1005
menyaksikan kesengsaraannya si nona hanya dikarenakan
dirinya menolak untuk menerima ajaran ilmu silat dirinya.
Memang raut wajahnya yang cantik jelita, untuk sesaat
anak muda itu lupa untuk buka suara.
Sementara itu Coi Wi wi telah berkata kembali, “Aku rasa
untuk berhasil mencapai sukses dalam masalah yang besar,
orang tak perlu merisaukan hal-hal yang kecil, jiko! Kau….”
Ucapannya kembali terputus ditengah jalan, sedang biji
matanya yang jeli menatap wajah anak muda itu tanpa
berkedip.
Walaupun perkataan itu amat sederhana dan umum, tapi
terutama kata-kata yang menyatakan bahwa untuk mencapai
sukses dasar masalah besar yang orang tak perlu merisaukan
hal-hal yang kecil, ibaratnya suatu gelombang dahsyat dengan
cepatnya menerjang masuk ke lubuk hati anak muda itu.
“Yaa, benar juga perkataan itu”, teriaknya dalam hati,
“untuk berhasil dalam suatu masalah, aku tak perlu
merisaukan hal-hal yang kecil, bila kabut iblis telah
bermunculan dari mana-mana, suatu badai pembunuhan
sudah mengancam seluruh dunia persilatan, inilah saatnya
bagiku untuk memperkuat diri, jika hal-hal yang kecilpun ikut
kurisaukan, bukankah masalah besar akan terbengkalai
dengan begitu saja….?”
Harus diketahui, meskipun pemuda ini suka bermain cinta
ditempat luar, diam-diam ia menaburkan benih cinta dan
gerak geriknya mirip seorang laki-laki hidung bangor, pada
hakekatnya setiap waktu setiap saat ia selalu memikirkan
bagaimana caranya untuk meneruskan cita-cita ayahnya,
membasmi hawa jahat serta menegakkan keadilan serta
kebenaran dalam muka bumi.

1006
Dan kini hawa iblis sudah muncul dari mana-mana, dalam
pandangannya inilah kesempatan yang terbaik baginya untuk
mewujudkan cita-citanya itu meski sebagai anak muda ia
gemar urusan, tapi sifat gagah sifat jantan dan bijaksana dari
keluarga Hoa tetap mengalir dalam tubuhnya, membangun
dunia yang aman damai adalah cita-cita luhur yang
sebenarnya dari pemuda tersebut.
Begitulah, meskipun dalam hati kecilnya timbul suatu
gelombang yang amat besar, tapi ia berusaha untuk
mengendalikan pergolakan itu.
Dalam pada itu, disangkanya ia menolak penawarannya,
lama sekali anak muda itu tak berkata-kata, disangkanya ia
menolak penawarannya, tak tertahan lagi air mata jatuh
bercucuran membasahi pipinya.
“Saa….salahkah perkataanku?” bisiknya lirih.
“Adik Wi, hubungan kita bagaikan terhadap saudara
sekeluarga, memangnya aku musti mengucapkan terima kasih
dulu kepadamu?” ujar Hoa In-liong sambil merangkul
pinggangnya yang ramping.
Setelah mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi baru tertawa
gembira.
“Oooh….jiko….!” serunya.
Meskipun wajahnya berseri, butiran air mata masih
mengembang dalam kelopak matanya, ibaratnya sekuntum
bunga yang basah oleh air hujan, kecantikan dari itu sukar
dilukiskan dengan kata-kata.

1007
Semakin dilihat Hoa In-liong merasa makin tertarik,
akhirnya ia tak dapat mengendalikan perasaannya lagi,
dipeluknya dara itu erat-erat, diciumnya butiran air mata yang
membasahi pipinya lalu dikecupnya bibir yang mungil itu
dengan penuh kemesraan.
Sekujur badan Coa Wi-wi tergetar keras, ia mendesis lirih
lalu jatuhkan diri kedalam rangkulan Hoa In-liong dan
bersandar didadanya yang dingin.
Sekalipun ia belum tahu akan hubungan antara laki dan
perempuan, toh usianya tahun ini sudah mencapai tujuh
belasan, ibaratnya sekuntum bunga yang mekar, ia telah siap
dihisap madunya oleh kumbang-kumbang yang beterbangan
di sekelilingnya.
Maka, dikala bibirnya dikecup dengan mesra, untuk sesaat
anak dara itu merasakan suatu perasaan aneh yang belum
pernah dirasakan sebelumnya, bagaikan kena aliran listrik
bertegangan tinggi ia merintih lirih lalu mendekap anak muda
itu lebih kencang.
Harus diterangkan disini, walaupun sebelumnya antara
mereka berdua telah berlangsung suatu perselisihan, namun
keadaan waktu itu jauh berbeda dengan perselisihanperselisihan
yang pada umumnya terjadi, sebab itu Coa Wi-wi
sama sekali tidak merasakan sesuatu ganjalan.
Sebelum itu, sekalipun dihati kecil sang dara hanya
terhadap Hoa In-liong seorang, gambaran tersebut masih
terlalu samar baginya, tapi sekarang gambaran itu sudah
semakin nyata, secara otomatis pula perasaan cinta antara
muda mudi ikut berkembang dihatinya.

1008
Lama…. lama sekali, dua orang itu akhirnya sadar dari
impian indah, Hoa In-liong angkat mukanya lebih dulu dan
berbisik lembut, “Adik Wi!”
Coa Wi-wi masih membenamkan kepalanya dalam pelukan
pemuda itu, mukanya merah dadu karena jengah, ia hanya
mendesis lirih kemudian membungkam terus dalam seribu
bahasa.
Menyaksikan kesemuanya itu, Hoa In-liong lantas berpikir,
“Adik Wi baru mekar dan masih malu-malu, aku tak boleh
membuat dia lebih jengah lagi….”
Berpendapat demikian, iapun berbisik disisi telinga Coa Wiwi
dengan suara lirih, “Tunggulah sebentar disini adik Wi,
lihatlah bagaimana caraku menangkap pencoleng!”
Setelah melepaskan rangkulannya atas gadis itu dia berseru
nyaring, “Sobat, sabar amat engkau, setelah bersembunyi
sekian lama, sekarang tiba waktunya bagimu untuk
menampakkan diri!”
Sembari berseru, telapak telapak tangannya segera diayun
ke muka melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang
menghancurkan jendela kayu itu.
Hancuran kayu berhamburan kemana mana, dibawah
sorotan cahaya lampu tiba-tiba muncul sekilas rentetan tajam,
menyusul kemudian tampaklah sebilah pedang langsung
membacok kearah pergelangan tangan kanannya….
Kiranya orang yang bersembunyi baik untuk melancarkan
mengetahui akan kelihayan Hoa In-liong maka dia lantas
menutup semua pernapasannya sambil menunggu ada
kesempatan baik untuk melancarkan sergapan.

1009
Siapa tahu tunggu punya tunggu Hoa In-liong tidak masuk
juga kedalam ruangan, pernapasan yang ditutup jadi sesak
rasanya, hingga akhirnya tak bisa ditahan lagi ia bernapas
berat.
Hoa In-liong bukan seorang jago sembarangan, dengan
ketajaman pendengarannya serta hembusan napas berat itu
dapat terdengar olehnya dengan nyata.
Kini, menghadapi serangan maut dari musuhnya ia lantas
mendengus dingin, tangan kanannya dengan menggunakan
ilmu Menyerang sampai ma ti bagian pertama secepat kilat
melepaskan sebuah totokan maut ke arah urat nadi pada
pergelangan musuh.
Orang itu menjerit kesakitan termakan oleh totokan
tersebut pedangnya terlepas dari cekalan dan terjatuh ke
tanah.
Hoa In-liong tidak ragu-ragu lagi, begitu senjata musuh
berhasil dirontokkan, ia lantas bergerak ke muka dan
menerobos masuk melalui jendela itu.
Coa Wi-wi agak tertegun sebentar, kemudian dengan
perasaan malu bercampur mendongkol dia ikut menerobos
masuk ke dalam ruangan.
Padahal, berbicara dari kesempurnaan tenaga dalam yang
dimilikinya, seharusnya ia sudah mengetahui akan kehadiran
seseorang disana semenjak tadi, tapi lantaran pertama
pengalamannya kurang banyak, kedua segenap perhatian dan
perasaannya tertuju pada Hoa In-liong seorang, otomatis
urusan lain terkesampingkan olehnya dan sama sekali tidak
peroleh perhatian apa-apa.

1010
Tapi sekarang setelah mengetahui bahwa ada orang
mengacau kemesraan mereka, dari rasa malunya gadis itu jadi
marah, hawa napsu membunuh yang belum pernah terlintas
dalam benaknya segera menyelimuti seluruh wajahnya yang
cantik.
Ruang batu itu luasnya cuma dua kaki, dalam ruanganpun
hanya terdapat sebuah pembaringan, sebuah meja, tiga
empat buah kursi, sebuah lampu lentera diatas meja dan tiada
benda lainnya lagi.
Orang yang barusan melancarkan serangan adalah seorang
laki-laki kekar berbaju ungu, cukup dalam sekilas pandangan
saja Hoa In-liong segera mengenali kembali orang itu sebagai
salah seorang diantara delapan lelaki kekar yang muncul
bersama Ciu-Hoa di ruang peti mati keluarga Suma Tiangcing.
Lengan kanan laki-laki itu terkulai lemas kebawah,
mukanya diliputi rasa takut, ngeri yang luar biasa, matanya
celingukan kesana kemari, tampaknya ia bermaksud kabur
dari situ.
Diam-diam Hoa In-liong mendengus dingin, namun diluaran
sambil tersenyum sapanya, “Sahabat, agaknya kita pernah
berjumpa muka bukan? Siapa namamu?”
Laki-laki berbaju ungu itu agak tertegun, kemudian tanpa
mengucapkan sepatah kata pun ia putar badan dan kabur
lewat pintu ruangan.
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dengan suatu
gerakan yang cepat ia menghadang dihadapannya, lalu
mengejek lagi, “Sobat, masa sebelum mengucapkan sepatah
katapun kau sudah ingin kabur dari sini? Oooh…. atau

1011
mungkin kau merasa bahwa Hoa loji ti dak pantas bersahabat
denganmu?”
“Enyah kau bangsat dari sini!” teriak laki-laki berbaju ungu
itu kaget bercampur marah.
Telapak tangan kanannya dengan membawa desiran angin
tajam melepaskan sebuah pukulan kencang kedada Hoa Inliong.
Coa Wi-wi mendengus dingin, jari tangannya setengah
tombak disodok kemuka, dengan kepandaian silatnya yang
sangat lihay tentu saja laki-laki berbaju ungu itu tak sanggup
menghindarkan diri….
Diiringi dengusan tertahan, jalan darah Ping hong hiat di
tubuhnya terkena totokan, tak ampun badannya segera roboh
terjungkal.
Melihat itu Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.
“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. sobat, itulah yang
dinamakan arak kehormatan kau tolak arak hukuman kau raih,
siapa suruh mencari penyakit buat diri sendiri?”
Laki-laki berbaju ungu itu menggertak gigi sambil melotot
gusar, ia membungkam dalam seribu bahasa.
“Jiko, aku rasa sebelum digunakan siksaan dia tak akan
buka suara….” seru Coa Wi-wi lagi
Hoa In-liong cukup memahami perasaan si gadis tersebut,
ia tahu Coa Wi-wi lagi tak senang hati berhubung kemesraan
mereka diketahui orang tapi diapun tak ingin sampai gadis itu
ternoda oleh kejadian itu sehingga kelembutan dan
kemuliaannya sebagai seorang dara tersinggung.

1012
Maka sambil tersenyum ujarnya, “Adik Wi, bagaimana kalau
urusan ini kuselesaikan, hati kecilnya mengatakan segan toh ia
mundur juga selangkah.
Setelah gadis itu mundur, Hoa In-liong baru berpaling lagi
dengan muka lebih serius.
“Sobat, engkau berasal dari marga mana?”
“Tan” sahut laki-laki itu ketus, agaknya ia tahu bahwa tiada
harapan lagi untuk melarikan diri maka pertanyaan yang
diajukan kepadanya harus dijawab.
“Lantas siapakah namamu?” tanya pemuda itu lagi dengan
raut wajah yang jauh lebih lembut.
“Beng-tat!”
“Tan Beng-tat, ehmm…. sebuah nama yang bagus, lalu apa
kedudukan saudara Tan didalam perkumpulan Hian-bengkauw?”
“Maaf, hal ini tak dapat dijawab”
Hoa In-liong tidak menjadi gusar oleh jawaban tersebut,
dia malah tersenyum.
“Jadi kalau begitu, orang-orang dari perkumpulan kalianlah
yang sudah membakar pesanggrahan pertabiban ini?”
Tan Beng-tat termenung sebentar, kemudian baru
menjawab dengan nada dingin.
“Yaa, benar!”

1013
Mendengar pengakuan tersebut, Coa Wi-wi tak dapat
mengendalikan amarahnya lagi, ia berteriak keras, “Dendam
sakit hati apakah yang telah terjalin antara empek Yu dengan
kamu semua? Mengapa kalian berbuat sekeji ini terhadap
mere ka semua? Sebenarnya kalian masih memiliki sifat
kemanusiaan atau tidak?”
Dengan sinar mata yang jelalatan Tan Beng-tat melotot
kearah gadis itu, bibirnya sudah bergetar seperti mau
melontarkan caci makinya, tapi ketika ditemuinya Coa Wi-wi
tampak cantik jelita bak bidadari dari kahyangan kendatipun
berada dalam keadaan gusar, kontan saja ia terbungkam dan
tak mampu melanjutkan kata-kata makiannya, Hoa In-liong
sendiri sebetulnya juga marah sekali setelah mendengar
ucapan tadi, namun dia masih sanggup mengendalikan
perasaannya,
“Lantas empek Yu kami itu kini berada dimana?” tanyanya
lebih jauh, “apakah saudara Tao bersedia memberi tahukan
kepada kami?”
“Aku tidak tahu!” sahut Tan Beng-tat dengan suara yang
dingin, kaku dan tak sedap didengar.
Hoa In-liong tersenyum,
“Saudara Tan, rupanya kau sudah menganggap aku Hoa
Yang terlampau pelit sehingga tiada sayur mayur dari
hidangan lezat untuk menjamu dirimu, maka engkaupun
segan memberi petunjuk kepadaku?”
Tan Beng tai terkesiap, dia bukan orang goblok tentu saja
maksud yang sebenarnya dari ucapan tersebut diketahui juga
olehnya, segera pikirnya di hati, “Bajingan, keparat ini jelas
adalah seorang Siau bin hau (harimau bermuka tertawa),

1014
entah siksaan kejam apakah yang hendak ia limpahkan
terhadapku?”
Ia jadi nekad, segera teriaknya dengan suara melengking,
“Bocah keparat dari keluarga Hoa, kau mempunyai permainan
busuk apa saja? hayo keluarkan semua dan silahkan
dihadiahkan kepada toaya mu, jika toaya mu sampai berkerut
kening, anggap saja bahwa aku bukan seorang laki-laki sejati”
Coa Wi-wi semakin gusar lagi sehabis mendengar kata-kata
musuhnya yang tak senonoh, ia segera membentak keras,
“Bangsat, rupanya sebelum diberi siksaan mulutmu tetap
kotor, bagus, tidak ada susahnya kalau kau memang ingin
mencicipi bagaimana rasanya kelihaiyanku”
Berbicara sampai disitu, tangannya yang putih mulus lantas
di ayun kebawah siap melancarkan serangan.
“Eeeh….tunggu sebentar adik Wi!” buru-buru Hoa In-liong
mengghalangi perbuatannya.
Kemudian dengan wajah serius dia berseru, “Hayo jawab,
siapa-siapa saja yang terlibat dalam peristiwa pembakaran
terhadap pesanggrahan pertabiban ini!”
“Kau ingin tahu?” ejek Tan Beng-tat dengan wajab licik.
“Sambil menyeringai seram berkatalah Tan Beng-tat,
“Mereka adalah Jin Hian, Thian Ik cu, Kiu-im-kauwcu selain
tentu saja yayamu sendiri puas bukan?”
Hoa In-liong betul-betul amat gusar menghadapi perlakuan
seperti ini,pikirannya, “Bajingan ini terlalu keras kepala dan
sombong agaknya jika tidak diberi sedikit pelajaran yang
setimpal, dia tak mau mengakuinya secara berterus terang….”

1015
Berpikir demikian diapun tertawa tergelak.
“Haaahhh…. haaahhh…. haaah….puas. puas, aku merasa
puas sekali….!”
Secara beruntun tangan kanannya melancarkan beberapa
totokan keatas jalan darah ditubuh Tan Beng-tat.
Termakan oleh beberapa totokan tersebut, seketika itu juga
Tan Beng-tat merasakan sekujur badannya linu dan gatal,
seakan-akan ada semut yang beribu-ribu banyaknya berjalan
didalam tubuhnya.
Mula-mula ia masih bertahan sambil menggigit bibir, tapi
akhirnya ia merasa sekujur badannya seperti digigit oleh
berjuta-juta ekor semut, sakitnya masih bisa ditahan tapi rasa
gatalnya, benar-benar sudah merasuk sampai ke dalam,
bukan hatinya saja yang gatal bahkan semua isi perutnya ikut
menjadi gatal.
Sedemikian menderitanya rasa gatal itu, kalau bisa dia ingin
mengorek keluar semua isi perutnya agar rasa gatal itu
berkurang, bayangkan sendiri sampai ke tingkat yang
bagaimanakah penderitaan tersebut?
Padahal ketika itu jalan darahnya tertotok, jangankan
merangkak bangun, untuk bergerakpun tak mampu, bisa
dimengerti kalau laki-laki itu akhirnya tak tahan juga.
“Anak jadah she Hoa…. anak anjing budukan, laki
perempuan bangka…. kalau punya kepandaian ayoh bunuh
aku kalau berani….!” makinya kalang kabut.
Apa yang diharapkan pada keadaan seperti ini hanyalah
satu yakni kematian, untuk mewujudkan keinginannya itu

1016
maka terlontarlah segala macam kata-kata makian yang paling
kotorpun.
Hoa In-liong tidak menjadi marah karena itu, malah
ejeknya, “Ayoh makilah, maki terus sampai tua, haahh….
haahh…. haahh…. semakin banyak kata-kata kotormu,
semakin lama pula penderitaan yang akan kau rasakan”
Melihat makiannya tidak mendatangkan hasil, Tan Beng-tat
segera berganti taktik, ia mulai merengek-rengek, “Hoa Yang,
berbuatlah sedikit kejadian, bunuhlah aku dengan sekali
bacokan, kalian keluarga Hoa….”
Berbicara sampai disini, kembali ia tak dapat
mengendalikan rasa sakitnya hingga merintih ngeri.
“Diam-diam Hoa liong mengerutkan dahinya dan berpikir,
“Entah siapakah Hian-beng Kaucu ini? Betapa ketatnya
peraturan perkumpulan mereka, sampai-sampai dalam
keadaan demikianpun Tan Beng-tat tak berani membocorkan
rahasia perkumpulannya….”
Coa Wi-wi Juga merasa tak tega melihat keadaan tersebut,
terutama setelah jalan darah Ping-hong-hiat ditubuh Tan
Beng-tat tertotok, sekalipun badannya tak mampu bergerak,
tapi seluruh kulit wajahnya mengejang keras dan rintihannya
semakin mengenaskan.
Sebagai seseorang yang berhati mulia, akhirnya toh gadis
itu merasa tak tega, katanya kemudian, “Jiko, aku pikir….”
Tapi dengan cepat ia membungkam kembali”.
Hoa In-liong berpaling sekejap kearahnya, ketika dilihatnya
bibir gadis itu bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu
tapi niat itu kemudian dibatalkan, bahkan Wajahnya

1017
menunjukkan rasa tak tega, dia lantas tahu bahwa gadis itu
sedang memintakan ampun bagi Tan Beng-tat.
Namun un cukup merasakan betapa pentingnya masalah
tersebut, bagaimanapun jua tak mungkin korban tadi
dilepaskan dengan demikian saja.
Akhirnya setelah mempertimbangkan beberapa saat, dia
menghela napas, secara beruntun ditepuknya beberapa
buahjalan darah ditubuh orang itu hingga siksaan “digigit
berjuta-juta ekor semut” pun ikut lenyap dengan sendirinya.
“Tan Beng at!” bentaknya kemudian, “empek Yu ku itu
masih hidup atau sudah mati?”
Teringat berapa tersiksanya digigit semut, setelah sangsi
sejenak Ta Beng at menyahut juga, “Masih hidup!”
“eandainya aku bertanya dimanakah empek Yu berada, ku
yakin kau tak berani mengatakannya, bahkan belum tentu
mengetahuinya, maka aku hanya ingin bertanya kepadamu,
ada utusan apa kau seorang diri datang kemari….?”
Tan Beng at kelihatan seperti tertegun.
“Darimana kau bisa tahu kalau aku datang kemari seorang
diri?” ia balik bertanya.
Hoa In ng tidak langsung menjawah diam-diam ia
membatin, “Orang ini keras diluar lunak didalam, jelas
kedatangannya kemari mempunyai tugas tertentu, akan
kulihat apa yang dia lakukan disini?”
Sambil menengadah ia pun tertawa terbahak-bahak.

1018
“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh…. baiklah akupun tak
akan menanyakan kepada kau datang kemari, tapi dimanakah
Ciu kongcu mereka berada tentunya kau tahu bukan?”
Tan Beng-tat tidak menduga kalau secara tiba-tiba
musuhnya bersikap selembut itu, ia benar-benar merasa kaget
bercampur curiga selang sejenak kemudian dia baru
menyahut, “Pokoknya ada dikota Kim-leng, Hoa jiya kan orang
yang hebat dan punya kemampuan luar biasa kenapa tidak
berusaha mencari sendiri?”
“Beritahu kepadaku akan kuperkenankan kau berlalu dari
sini! ujar Hoa In-liong lagi dengan wajah serius.
Janji tersebut benar-benar ada diluar dugaan Tan Beng-tat,
dia melongo.
“Bagaimana caranya aku bisa mempercayai dirimu?”
serunya kemudian dengan nada sangsi.
“Dengan dasar nama baik keluarga Hoa kami, memangnya
aku akan membohongi dirimu?” seru pemuda itu lagi dengan
wajah makin serius.
Yaa, memang! Pada hakekatnya keluarga Hoa semenjak
dari kakek Hoa In-liong yang bernama Hoa goan siu sudah
merupakan tonggak atau tulang punggung bagi kaum
pendekar dari golongan putih, setiap perkataan yang mereka
ucapkan mau pun setiap tindakan yang mereka lakukan secara
otomatis merupakan tindakan resmi dari seluruh umat
persilatan golongan putih yang didunia ini, hingga serta-merta
pihak lawan pun hampir semuanya mempercayai apa yang
dikatakan orang-orang keluarga Hoa.

1019
Tan Beng-tat agak sangsi sebentar, kemudian tanyanya,
“Bila kukatakan tapi engkau tidak percaya, apa pula yang
musti kulakukan?”
“Asal kau bersedia mengatakannya, benar atau tidaknya
aku Hoa loji dapat menentukan sendiri, tak perlu kau musti
repot-repot meresahkannya bagiku!”
Berkilat sepasang mata Tan Beng-tat sehabis mendengar
perkataan itu, ia bertanya lagi, “Jadi aku diperbolehkan pergi
dari sini tanpa kekurangan sesuatu bendapun diri semua yang
kubawa?”
“Goblok, “pikir Hoa Tn liong dengan gelinya, “dengan
perkataanmu itu, bukankah sama halnya dengan kau
beritahukan rahasiamu kepadaku?”
Ia menengok kearah Coa Wi-wi, kebetulan gadis itu lagi
memandang kearahnya, merekapun saling berpandangan
sambil tertawa.
“Jiko!” bisik Coa Wi-wi kemudian dengan ilmu
menyampaikan suaranya, “perlukah kita geledah dulu isi
sakunya?”
“Tidak usah!” jawab Hoa In-liong dengan ilmu
menyampaikan suara juga, “aku mempunyai perhitungan
sendiri”
Dsngan wajah serius ia menyahut, “Boleh saja
permintaanmu itu, Nah, katakanlah!”
Tan Beng-tat termenung sebentar, lalu menjawab, “Mereka
berada di istana Tiau thin-kiong, percaya atau tidak terserah
padamu”

1020
“Omong kosong, kau sedang membohong “Coa Wi-wi
segera membentak nyaring, “istana Tiau thian kioag adalah
tempat umum yang dapat dikunjungi setiap orang, masa
mereka bersembunyi disana?”
Tan Beng-tat kuatir Hoa In-liong turun tangan menyiksa
dirinya lagi, cepat-cepat ia berseru, “Kami masuk dengan
memanjat dinding pekarangan, istana itu luas sekali,
disanapun merupakan tempat yang bisa dipakai untuk
bersembunyi, lagipula jarang ada orang yang masuk sampai
tengah istana, sudah tentu jejak kami sulit diketahui orang”
“Setelah berhenti sebentar, ia berkata lagi, “Semua jago
tangguh dari perkumpulan kami telah tiba semua disini, aku
rasa tiada keharusan bagiku untuk mengelabuhi kalian semua”
Tapi setelah perkataan itu meluncur keluar, ia merasa
sangat menyesal, untuk dibatalkan kembali jelas tak mungkin,
maka diapun membungkam dalam seribu basa.
Hoa In-liong termenung sejenak, lalu berpikir, “Kalau dilihat
dari gerak-geriknya, apa yang di katakan memang dapat
dipercaya, coba kuselidiki lebih lanjut rahasia perkumpulannya”
Berpikir lebih lanjut, diapun bertanya kembali, “Siapa saja
yang telah datang? Apakah ke delapan orang Ciu Hoa juga
sudah berkumpul semua disini? bagaimana dengan kaucu
kalian?”
Waktu itu Tan Beng-tat sedang gelagapan lantaran salah
berbicara, mendengar perkataan itu ia jadi paik pitam.
“Wahai orang she Hoa!” demikian teguran “engkau toh
cuma menanyakan dimana kongcu kami bersembunyi, dan
aku telah menjawab sejujurnya, Hoa In-liong tertawa

1021
terbahak-bahak tangannya bergerak cepat menepuk bebas
jalan darah peng hong hiat yang tertotok itu.
“Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi!” katanya
Mimpipun Tan Beng-tat tak pernah percanya kalau dirinya
bakal dilepaskan dengan begitu saja tanpa musti melalui
prosedur yang menyulitkan, tidak banyak berbicara lagi dia
segera melompat bangun dan berdiri tertegun.
“Apa lagi?” tegur Coa Wi-wi dengan suara ketus, “sudah tak
pingin pergi? Bagus sekali, kalau begitu tinggal saja disini!”
Tan Beng-tat amat terkejut, dia kuatir Hoa In-liong berubah
pikiran, karenanya tanpa berani mengucapkan sepatah
katapun ia kabur ke pintu ruangan, kemudian setelah menatap
sekejap kearah musuhnya dengan penuh kebencian, buruburu
dia angkat kaki dan kabur dari situ.
Begitu Tan Beng-tat meninggalkan ruangan tersebut, Coa
Wi-wi lantas berbisik lirih, “Jiko, ayoh kejar!”
“Tak mungkin lolos dari kejaran kita, tunggu saja sebentar
lagi” kata Hoa-In liong sedikitpun tidak gugup.
Dengan sorot mata yang tajam ia mengawasi sekejap
sekeliling tempat itu, setelah mengamatinya beberapa waktu,
akhirnya pemuda itu berkesimpulan bahwa keempat kaki
pembaringan yang terbuat dari bambu itulah merupakan
bagian yang paling mencurigakan diantara sekian benda
dalam ruangan tersebut.
Semenjak kecilnya pemuda ini memang bandel dan nakal,
soal mencari barang yang disembunyikan sesuatu benda boleh
dikata merupakan keahliannya yang terutama, maka bila

1022
seseorang hendak menyembunyikan sesuatu dihadapannya,
tak mungkin benda tersebut dapat lolos dari ketajaman
sepasang matanya.
Begitulah, setelah menaruh curiga pada suatu bagian
tempat itu, pemuda itu pun maju menghampiri pembaringan,
berjongkok ditepinya dan mulai melakukan percarian dengan
seksama, ia berusaha menemukan sesuatu yang aneh dari
tempat itu. Betul juga, ternyata diantara kaki pembaringan
yang terbuat dari bambu, ada satu ruas diantaranya yang
dapat dibuka, oleh karena pandangan yang dilakukan secara
sempurna, hal ini tak gampang ditemukan orang.
Tapi apa yang ditemukan? Ketika ruas bambu itu dibuka,
ternyata isinya kosong, tiada sesuatu benda apapun di situ.
Kendatipun demikian, Hoa In-liong tidak menyerah dengan
begitu saji, dengan jari tengah dan telunjuknya ia coba
mengorek tabung bambu vang kosong tadi.
Melihat tingkah laku Hoa In-liong yang tiada bosanbosannya
mengorek tabung bambu yang kosong, habislah
kesabaran Coa Wi-wi, “ia maju kesisinya lalu menegur, “Ayoh
berangkat! Aaaai…. kamu ini memang keterlaluan, andaikata
benar-benar ada barangnya sudah pasti barang itu telah
dibawa lari, masa harus menunggu sampai aku datang untuk
mengam bilnya?”
Hoa In lioag tertawa lirih, merasa ucapan dari gadis itu ada
benarnya juga, ia siap bangkit berdiri.
Tapi….secara tiba-tiba satu ingatau melintas dalam
benaknya, ia merasa dalam tabung bambu itu seakan-akan
telah menyentuh suatu benda yang licin, jelas benda tersebut
bukan merupakan lembaran bambu.

1023
Dalam keadaan begini, ia segan untuk membuang tenaga
lagi, sekali bacok tabung bambu itu dihajarnya sampai hancur.
Betul juga dugaannya, begitu tabung bambu terhajar
pecah, dari hancuran bambu muncullah sebuah benda
panjang yang memancarkan cahaya hijau muda, menyilaukan
sekali cahaya tersebut.
Cepat dipungutnya benda tersebut, ternyata adalah sebuah
penggaris kemala, diatas penggaris terukir enam huruf besar
yang berbunyi: Istana Kiu ci kiong, tempat penyimpanan kitab.
Selain keenam huruf besar itu, diatas penggaris terukir pula
penuh huruf kecil yang lembut dan sebesar lalat, selain itu
terukir juga lukisan manusia dilam posisi yang bsraneka
ragam.
Dalam sekilas pandangan saja, pemuda itu segera
mengetahuinya sebagai benda peninggalan Kiu-ci Sinkun,
hanya entah apa sebabnya ternyata bisa disimpan secara
rahasia disitu.
“Apakah itu? Sebuah Giok pek-ci (Penggaris Kemala
Hijau)?” tanya Coa Wi-wi sambil menghampiri dari belakang.
Hoa In-liong tak sempat meneliti lebih jauh, seraya
angsurkan benda itu kepadanya ia menyahut, “Bukan batu
kemala, sebab kalau kemala hijau, sudah pasti tak akan tahan
oleh pukulan tanganku!”
Selesai berkata, ia melanjutkan kembili penggeledahannya
dengan menghancurkan tabung-tabung bambu lainnya namun
tiada sesuatu apapun yang ditemukan.
Dengan patahnya keempat buah Laki pembaringan
tersebut, maka dikala anak muda itu melepaskan

1024
pegangannya, ambruklah pembaringan itu ketanah sementara,
ia sendiri lantas bangun.
“Istana Kiu ci kioag itu terletak dimana?” Coa Wi-wi
bertanya lagi.
Sambil putar badan jawab Hoa In-Iiong, “Istana Kiu cikiong
di dirikan oleh seorang jago silat yang bernama Kiu-ci
Sinkun, letaknya ada dibakit Kiu ci-san karesidenan Sam kangsiam
propinsi Kwang-see!”
Setelah berhenti ssjenak. ia berkata lagi, “Sepanjang
hidupnya Kiu-ci Sinkun mempunyai banyak pengalaman yang
menarik, lain hari akan kuceritakan kesemuanya itu
kepadamu, juga tentang kisah penggalian harta Karun dibukit
Kiu ci-san yang berlangsung sampai tiga kali, penuh dihiasi
oleh kejadian-kejadian yang ramai dan tegang, cuma seluruh
harta karun yang tersimpan dalam istana Kiu ci-kiong akhirnya
habis terkuras dalam penggalian yang diadakan untuk ketiga
kalinya….”
Tiba-tiba ditemuinya Coa Wi-wi sedang mengawasi
penggaris kemala hijau itu dengan penuh semangat, ia lantas
bertanya dengan tercengang.
“Ada apanya sih penggaris kemala hijau itu? Kok serius
amat caramu memperhatikan?”
“Jiko, cepat libat, lukisan orang-orangan yang ada
dipenggaris tersebut agaknya merupakan pelajaran ilmu
pukulan dan Sim-hoat tenaga dalam yang amat dahsyat
“teriak Coa Wi-wi dengan nada sangat gembira.
“Aaaah….! Masa iya?” seru Hoa In-liong pula dengan nada
tercengang.

1025
“Benar jiko, cuma ilmu pukulan dan Sim-hoat tenaga dalam
itu ditulis tak berurutan, kacau kalau tak karuan hingga sukar
diikuti dengan sebaik-baiknya”
Seraya berkata, dengan hati berkerut gadis itu
menyerahkan kembali penggaris kemala hijau itu kepada Hoa
In-liong.
Hoa In-liong menerima benda itu dan menyahut, “Bila
dugaanku tak salah, ilmu pukulan dan sim-hoat tenaga dalam
itu tentulah peninggalan dari Kiu-ci Sinkun, atau mungkin juga
penggaris kemala hijau ini adalah batas bukunya”
Setelah menyimpannya kedalam saku, ia berkata lagi,
“Sekarang tak ada waktu lagi bagi kita untuk menduga lebih
jauh, lebih baik kita percepat lakukan pengejaran….”
Ia merasa sudah terlalu banyak waktu yang terbuang,
karenanya pemuda itu tak berani berayal lebih jauh, setelah
keluar dari ruang batu, mereka memanjat sebuah pohon besar
diatas bukit gunung-gunungan tersebut, dari situ mereka
arahkan pandangannya jauh kedepan.
Tiba-tiba Coa Wi-wi menunjuk kearah timur sambil berseru,
“Disebelah sana ada sesosok bayangan hitam sedang
bergerak, mungkin dia adalah Tan Beng-tat!”
Hoa In-liong tahu bahwa ketajaman mata sidara manis ini
jauh melebihi kemampuannya, kalau toh ia berkata demikian,
maka boleh dibilang perkataannya itu tak bakal salah.
Mereka berdua tak berani berayal lagi, dengan cepat
dilakukan pengejaran ketat kedepan.
Terhadap benda penemuan yang diperolehnya tanpa
sengaja itu baik Hoa In-liong mampu Coa Wi-wi sama-sama

1026
tidak menaruh perhatian, padahal mereka tak menyangka
kalau benda itu justru merupakan modal yang paling
diandalkan Hoa In-liong dalam usahanya melenyapkan hawa
iblis dari muka bumi di kemudian hari.
Yaa, kalau takdir telah menentukan demikian, siapa lagi
yang dapat membantah?
Apa yang diucipkan Hoa In-liong tadipun hanya merupakan
suatu dugaan belaka, tapi apa yang diduganya itu memang
sembilan puluh persen persis seperti kenyataannya,
Dahulu, penggarisan kedalam hijiu itu memang digunakan
Kiu-ci Sinkun sebagai batas bukunya, apa yang diperolehnya
setiap hari boleh dibilang dicatat semua diatas penggaris tadi.
Kiu-ci Sinkun dapat berbuat demikian, boleh dibilang masih
membawa suatu tujuan tertentu, oleh sebab dia adalah
seorang yang latah, ia berharap setiap benda yang pernah
digunakannya dimasa lalu akan dipandang sebagai benda
pusaka oleh mereka yang menemukannya kembali dikemudian
hari, maka semua kepandaian yang diperolehnya pada waktu
itu hampir boleh dibilang tercatat semua di sana.
Penggaris kemala hijau sebagai batas bukunya itu ia
selipkan di salah satu kitab-kitab pusaka yang dimilikinya, dan
secara kebetulan terselip di dalam kitab pusaka Hoa to cin
keng yang didapatkan Yu Siang tek.
Pada hakekatnya kitab pusaka yang ditemukan dalam
penggalian harta pusaka di bukit Kiu ci san itu tak terhitung
banyaknya, dalam keadaan demikian, sudah tentu siapapun
tidak menaruh perhatian atas sebuah batas buku.
Menanti Yu Siang-tek menemukan keistimewaan tersebut,
operasi pencarian harta karun telah berakhir, semua orang

1027
sudah saling berpisah untuk menuju ke rumahnya masingmasing.
Sayang tenaga dalamnya amat cetek, lagipula catatan ilmu
pukulan dan sim hoat tenaga dalam yang tertera diatas
penggaris kemala hijiu itu kalut dan tidak beraturan, banyak
keistimewaan dan keampuhan dari sari kepandaian itu tak
berhasil ia pahami.
Timbul kemudian satu ingatan untuk mengirim benda itu
keluarga Hoa dibukit Im-tiong-san, tapi diapun merasa kuatir
benda yang tak seberapa nilainya itu akan menimbulkan gelak
tertawa orang.
Akhirnya setelah mempertimbangkannya berulang kali, ia
putuskan untuk menyimpan saja benda tersebut sambil
menunggu kesempatan baik dikemudian hari.
Kebetulan kali ini Hoa In-liong berkunjung ke selatan,
sebenarnya benda itu hendak diserahkan kepada anak muda
tersebut, tapi kemudian Hoa In-liong berlalu dengan tergesa
gesa, hingga benda mustika tersebutpun untuk sementara
waktu ditangguhkan penyerahan-nya.
Siapa tahu selelah mengalami pelbagai rintangan dan
persoalan, akhirnya toh penggaris kemala hijiu tersebut
terjauh kembali ke tangan Hoa In-liong, boleh dibilang
memang begitulah takdir berbicara.
“Begitulah, dengan kecepatan bagaikan sambaran petir,
kedua orang itu melakukan pengejaran kemuka, sekejap
kemudian mereka berhasil menyusuli laki laki itu.
Benar juga, dari kejauhan tampak Tan Beng-tat
melanjutkan perjalanannya sambil bersembunyi, ia selalu
memilih tempat yang gelap dan tersembunyi untuk

1028
menyembunyikan jejaknya, bahkan sering kali menoleh ke
belakang rupanya ia kuatir kalau perjalanannya dibuntuti
orang.
Sampai detik itu, mau tak mau Hoa In-liong harus memuji
ketajaman mata Coa Wi-wi, berganti orang lain, mungkin sulit
untuk menemukan jejak laki-laki itu.
Tiba-tiba Coa Wi-wi menempelkan bibirnya ke sisi telinga
anak mudi itu, lalu berbisik, “Bajingan ini sedang berbohong,
kalau benar istana Tiau thian-kiong semestinya dia lewat pintu
kota sebelah barat, karena letak istana tersebut adalah Hu see
sak shia, padahal dia perginya ke arah bukit Ciong san pingit,
sekali kubacok bangsat itu sampai modar.
Hoa In-liong tertawa.
“Kau tak usah begitu marah, pokoknya asal kita tak sampai
tertipu, itu kan cukup” hiburnya.
00000O00000
28
TIBA-TIBA ia menarik ujung baju Coa-Wi-wi sambil berseru,
“Eeeh….tunggu sebentar!”
Ternyata mereka berdua telah menyusul sampai jarak
sepuluh kaki dibelakang sasaran, Hoa In-liong takut
pembuntutan yang terlampau dekat bakal diketahui Tan Bengtat,
maka dia usulkan untuk berhenti lebih dulu.
“Jiko” kata Coa Wi-wi kemudian, “lebih leluasa buat kita
untuk mengawasinya dari atas pohon bagaimana menurut
pendapatmu?”

1029
Hoa In-liong mengawasi lebih dulu sekeliling tempat itu,
ketika dilihatnya sekeliling tempat itu adalah sebuah hutan
yang luas, ia menyadari bahwa pengejaran yang dilakukan
dari atas tanah gampang kehilangan sasaran, maka setelah
mempertimbangkannya sejenak akhirnya pemuda itupun
mengangguk.
Coa Wi-wi tidak banyik berbicara lagi, ia menarik tangan
Hoa In-liong dan diajak naik keatas dahan pohon.
Hoa In-liong membiarkan dirinya ditarik, tanpa
mengeluarkan sedikit tenagapun, tubuhnya sudah melambung
ke udara dan hinggap diatas dahan pohon.
Ketika ia berpaling ke arah Coa-Wi-wi, terlihat gadis itu
tetap wajar dan sama sekali tidak kelihayan payah, kenyataan
tersebut membuat pemuda kita jadi kagum.
“Adik Wi!” pujinya, “sim hoat tenaga dalam dari
perguruanmu benar-benar hebat sekali”
Yaa, betapapun juga, tenaga dalam yang dimiliki Coa Wi-wi
memang patut dikagumi.
“Ehmm….!” sahut sang dara, “kecuali sim-hoat tenaga
dalam yang hebat, masih ada lagi sebab sebab lainnya”
“Oya? Kalau begitu kau pernah makan obat mustika atau
bahan obat yang mujarab?”
“Yaa, aku pernah minum cairan sari buah yang tak ternilai
harganya….” sahut Coa Wi-wi serius.
Hoa In-liong tertawa.

1030
“Ooh…. kalau begitu, tentunya Leng ci beruSaha seribu
tahun?” ujarnya kembali.
Coa Wi-wi tertawa cekikikan.
“Bukan Leng ci, melainkan buah Tho dsri perjamuan Seeong-
bo di nirwana….”
Tentu saja Hoa In-liong tahu kalau gadis tersebut sedang
bergurau. Ini membuat timbulnya sifat binal dalam hati kecil
anak muda itu.
“Waaah…. kalau begitu adik Wi adalah Dewi cantik dari
Nirwana?” godanya, “aku si manusia sederhana dari bumi,
sungguh merasa amat beruntung dapat berkenalan dengan
dirimu”
Mendengar godaan tersebut Coa Wi-wi tertawa berseri-seri.
“Kau tidak percaya yaa dengan perkataanku? Baik, sampai
dirumah nanti akan kuberikan juga cairan itu untukmu,
tanggung sesudah minum cai-tay tersebut tenaga dalammu
akan bertambah sepuluh kali lipat dari keadaan sekarang ini”
“Waaah…. kalau bisa mengalami kejadian semacam itu,
sembilan keturunanku pasti akan selalu memperoleh rejeki”
Hoa In-liong mendesis setengah percaya setengah tidak.
Melihat pemuda itu masih tidak percaya, Coa Wi-wi
mengalihkan kembali pembicaraannya ke soal pokok.
“Jiko, kalau toh engkau sudah tahu bahwa pihak Hianbeng-
kauw lah yang telah menculik empek Yu, aku rasa
janjimu dengan Bwee Su-yok besok malam tak usah dipenuhi
lagi” katanya.

1031
Hoa In-liong tersenyum.
“Aku rasa kurang baik kalau kita terbuat demikian!”
Meskipun perkataan itu diucapkan dengan suara lembut,
tapi nadanya tegas dan mantap.
Tidak berhasil membujuki pemuda itu untuk membatalkan
pertemuannya dengan Kiu-im-kauwcu, Coa Wi-wi berpikir
sebentar lalu bertanya lagi, “Jiko, seandainya Kiu-im-kauwcu
bersedia meninggalkan yang sesat untuk kembali kejalan yang
benar, gembirakah jiko menghadapi keadaan tersebut?”
“Sudah tentu sangat gembira, cuma…. haaahhh….
haaahhh…. haaahhh…. aku rasa hal ini takmungkin terjadi”
“Aku mempunyai suatu akal yang bagus sekali, bukan saja
dapat membuat Kiu-im-kauwcu meninggalkan jalan yang sesat
kembali kejalan yang benar, bahkan dia malahan akan
membantu pihak kita. Apakah jiko ingin mengetahuinya?”
Hoa In-liong tidak tahu permainan apa lagi yang sedang
dipersiapkan anak gadis itu, tapi ketika dilihatnya dara
tersebut bicara dengan wajah bersungguh-sungguh, ia toh
tertawa juga.
“Kalau engkau memang ada akal bagus, hayolah katakan
kepadaku, coba kulihat sampai dimanakah kebagusan akalmu
itu!”
“Sejak dulu sampai sekarang, perbuatan paling sulit didunia
ini adalah menasehati orang untuk berbuat kebajikan,
tentunya kau juga pernah mendengar bukan orang berkata
begini: Mencuci muka membersihkan hati adalah perbuatan
yang sulit diatas sulit….”

1032
“Yaa, aku sudah tahu, merubah orang sesat menjadi orang
budiman adalah perbuatannya yang paling sukar didunia ini”
tukas Hoa In ling. “oleh sebab amat sukar, maka kalau engkau
punya cara yang bagus, hayolah cepat katakan kepadaku”
Coa Wi-wi tidak langsung menjawab pertanyaan itu,
sebaliknya dengan nada serius ia berceramah kembali,
“Sekalipun dapat menyuruh orang jahat melepaskan golok
pembunuhnya dan bertobat, orang yang memberikan
nasehatnya itu entah harus menelan berapa banyak
penderitaan dan pahit getir, dulu orang pernah bilang begini:
Nasehat Malaikat, membuat batu yang keraspun
menganggukkan kepala.
Dari sini dapat diterangkan betapa penderitaannya dan
betapa banyaknya, pengorbanan yang harus dikeluarkan
Hoah-su itu sebelum berhasil membuat batu yang bandel
menganggukkan kepalanya belaka”
Mendengarkan ceramah tentang betapa sukarnya orang
menasehati seseorang yang berbuat kejahatan menjadi orang
baik, Hoa In-liong tertawa lebar.
“Sudah, sudahlah, sebetulnya engkau mempunyai pusaka
apa lagi? Ayo tunjukkan semua kepadaku, memangnya aku
bakal berbuat pahala dengan dirimu?”
Coa Wi-wi tertawa cekikikan.
“Caraku ini bukan saja merupakau cara paling jitu diseluruh
dunia, bila berhasil, bukan saja akan mendapat pahala besar,
bukan su atu rejeKi nomplok yang tak terkirakan besarnya”
Begitu mendengar ucapan yang terakhir itu, Hoa In-liong
segera menebak isi fikiran dari dara tersebut, sambil menarik
muka ia lantai tepuk lengannya sambil pura-pura marah.

1033
“Omong sembarangan, lihat saja kuberi pelajaran yang
setimpal tidak kepadamu”
“Tapi aku bicara yang sesungguhnya! Bwe Su-yok cantik
jelita bak bidadari dari kahyangan, jika kau berhasil
mempersunting dirinya, bukankah tindakan ini sama halnya
dengan sekali tepuk dapat dua lalat?”
“Haahh…. haahh…. haah…. , agaknya kau sedang
mengigau disiang bari boloag “kami Hoa In-liong sambil
tertawa.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, ia merasa
perkataan dari Coa Wi-wi ada benarnya juga.
Haruslah diterangkan disini, pada dasarnya Hoa In-liong
memang gemar bergaul dengan para gadis, ia binal, bertindak
menurut suara harinya dan tak pernah menurut peraturan.
Baginya asal perasaan mengatakan benar maka itu berarti,
dengan waktu semacam ini tentu saja ia tak berani berbuat
yang sembarangan susila, menipu perasaan orang lain.
Meski begitu, pada dasarnya bukannya ia tidak berminat
terhadap Bwe Su-yok.
Tapi dengan dasar waktunya yang romatis, ia lebih suka
bermain perempuan kesana kemari dari pada menitik beratkan
perhatiannya khusus untuk mencari istri.
Rasa cintanya terhadap Bwee Su-yok adalah suatu letupan
cinta yang murni, dalam benaknya ia hanya terbatas ingin
mengajak gadis itu pesiar bersama saja soal mengawininya
boleh dibilang belum pernah ia pikirkan.

1034
Bercanda, bergurau ataupun pesiar bersama bukan suatu
perbuatan yang melanggar hukum tapi kalau meningkat
selangkah lebih kedepan, itu sudah menjurus perbuatan cabul.
Mendekati ia teringat kembali akan peringatan dari
gwakongnya Pek Siau thian sendiri”
Berpikir tentang hal ini, anak muda tersebut jadi panik
bercampur ngeri, ia mulai bertanya pada diri sendiri,
“Tindakan ku ini apakah merupakan suatu perbuatan yang
telah menipu perasaan sendiri?”
Semakin dipikir ia semakin ngeri, sehingga akhirnya kening
yang berkerutpun kian berkerut.
Melihat anak muda itu membungkam terus, Coa-Wi-wi jadi
tak senang hati, sapanya dengan lirih, “Jiko!”
Hoa In-liong pura-pura tertawa dan gelengkan kepalanya
berulang kali.
“Aku tidak apa-apa!” jawabnya berbohong.
Sorot matanya dialihkan kembali ke depan, tiba-tiba ia
saksikan bukit yang tinggi dengan hutan yang lebat
terbentang didepan mata, ternyata mereka sudah sampai di
bukit Ciong san.
Ditengah kegelapan, bukit terbebat tampak mengerikan
sekali.
Tan Beng-tat masih berlarian di depan, peluh sudah
membasahi seluruh punggungnya, tapi ia masih berlarian
terus. Pepohonan yang terbentang di kiri kanannya seakanakan
sedang mentertawakan ketololan dan kepengecutan
hatinya.

1035
Setelah masuk bukit Ci kim-san, selang sesaat kemudian ia
menelusuri sebuah lorong sempit menuju ke dalam sebuah
lembah gunung.
Lembah itu sedemikian sempitnya sehingga hanya bisa
dilalui dua orang secara bersama, dinding terjal menjulang
tinggi diangkasa, sekeliling mulut lembah tumbuh semak
belukar yang lebat hingga sekilas pandangan berbentuk
sebuah tanah lapang yang lebar.
Baru saji Tan Beng-tat mendekati mulut lembah, seketika
itu juga muncul beberapa buah serot cahaya lampu yang
menerangi tubuhnya, menyusul kemudian seorang
menghardik, “Berhenti! sebutkan kata-kata sandi!”
Menyaksikan pemandangan tersebut, Hoa In-liong lantas
berbisik dengan suara lirih.
“Adik Wi, dapatkah kau lewati tanah lapang didepan situ
dan sekaligus menguasahi seluruh penjaga yang bercokol di
situ?”
Diam-diam Coa-Wi-wi memperhitungkan dulu jarak antara
tanah lapang itu dengan tempat persembunyiannya, kemudian
setelah yakin kalau jaraknya hanya lima kaki, ia termenung
sebentar.
“Mungkin saja dapat kulukukan!” jawabnya kemudian.
Sementara itu Tan Beng-tat telah menyebutkan kata-kata
sandinya, dari mulut lembah muncullah seorang laki-laki
berbaju ungu, selesai memeriksa tanda lencana, membuktikan
kebenaran indentitas-nya, ia baru diperkerankan masuk
kedalam lembah.

1036
“Waaah…. rupa-rupanya pemeriksaan yang dilakukan disini
amat ketat “bisik Hoa In-liong lagi sambil tertawa, “coba
dengarlah dengan cermat adik Wi, bukankah hanya ada lima
orang yang menjaiga mulut lembah tersebut….?”
Coa Wi-wi pasang telinga dan mendengarkannya dengan
seksama, kemudian sahutnya, “Yaa, aku rasa cuma lima
orang, kecuali ada diantara mereka yang memiliki tenaga
dalam lebih tinggi dariku, kehadiran mereka tak mungkin
dapat mengelahui sepasang telingaku”
Oleh karena semakin tinggi tenaga dalam yang dimiliki
seseorang jalan pernapasan makin panjang dan dengusan
napasnya makin lilih, maka bagi seseorang yang memiliki
tenaga dalam sempurna, dari pernapasan musuhnya sudah
bisa menduga tinggi rendahnya kemampuan yang dimiliki
lawan, hal ini boleh dibilang merupakan suatu keuntungan
yang istimewa.
“Setelah berhasil kau taklukkan kelima orang ltu “kata Hoa
In-liong selanjutnya, “orang she-Hoa itu….”
Belum habis perkataan itu diucapkan, pandangan matanya
terasa jadi kabur, terasa ada hembusan bau harum melintas
didepan matanya, dan tahu tahu Coa Wi-wi sudah lenyap dari
pandangan mata.
Menyusul lenyapnya bayangan gadis itu, beberapa
dengusan tertahan menggema dari arah mulut lembah,
tahulah pemuda itu bahwa musuh berhasil ditaklukkan.
“Wwoouw….sungguh cepat gerakan tubuhnya!” ia
mendesis dalam hati.
Dengan suatu gerakan yang tak kalah cepatnya dia ikut
menerobos masuk kearah mulut lembah.

1037
Dalam waktu yang amat singkat, segenap laki-laki berbaju
ungu yang ada disekitar mulut lembah sudah roboh terkapar
dalam keadaan tak sadar, a≫da yang masih tersangkut diatas
dahan pohon, ada juga yang terkapar ditanah, sementara Coa
Wi-wi sendiri berdiri di bawah sebuah pohon kurang lebih tiga
kaki jauhnya sambil menggape ke arahnya
Dengan gerakan cepat, ia menyusul ke situ, tampaknya Tan
Beng-tat juga ikut terkapar ditanah
“Sstt…. Coba kau geladahi isi sakunya” bisik Coa Wi-wi
serius, “aku agak kurang leluasa untuk melaksanakannya
sendiri”
Hoa In-liong mengangguk, ia geledah seluruh isi saku
orang she-Tan itu dengan teliti kecuali menemukan sebuah
botol porselen yang tingginya dua inci didalam sepatunya,
pemuda itu menemukan juga selembar lencana tembaga serta
beberapa keping uang perak.
Ia serahkan botol porselen itu kepada Coa Wi-wi, seraya
ujarnya, “Mungkin botol porselen inilah yang dimaksudkan,
coba lihatlah apakah benar milik empek Yu?”
“Coa Wi-Wi menyambut botol porselen itu dan diperiksanya
sekejap, kemudian diapun mengangguk “Yaa. benar, pada
dasar botol terdapat tanda milik empek Yu” sahutnya botol
itupun di masukan ke dalam saku.
Tiba-tiba ia liat Hoa In-liong sedang berusaha membuka
mulut Tan Beng-tat yang terkatup dan kedua jari tangannya
mengorek sela-sela gigi orang itu seperti lagi mencari sesuatu,
perbuatan tersebut menimbulkan rasa heran dalam hatinya.
“Eeeh…. apa yang sedang kau cari?”

1038
“Konon sementara organisasi tersembunyi telah
menyiapkan obat-obatan beracun atau kipsul berisi bisa keji
diantara sela-sela gigi psra anggotnya, menurut berita
tersebut jika mereka sampai tertawan musuh maka kapsul
berisi racun itu akan digigitnya dengan segera untuk
membereskan nyawa sendiri, mereka seringkali berbuat
demikian demi untuk menghindari rahasia perkumpulannya
diketahui orang serta menghindari siksaan perkumpulan yang
keji. Aku pikir Hian beng-kau sebagai suatu perkumpulan
rahasia tentu menyiapkan pula permainan semacam ini bagi
para anggotanya”
Rupanya Coa Wi-wi merasa tertarik sekali dengan cerita
tersebut, ia berseru tertahan.
“Ooooh….jadi rupanya begitu, lain kali bila aku berhasil
menawan seorang musuh, pasti akan kugeledah dulu sela-sela
giginya, daripada mereka takut disiksa dan mengambil
keputusan untuk bunuh diri”
Hoa-In liong tertawa renyah, pikirnya, “Sekarang saja,
kalau bicara sok gede, padahal kalau siksaan benar-benar
sudah dilakukan, untuk menutupi mata sendiripun tak sempat”
Ternyata penggeledahan tersebut tidak menghasilkan apaapa,
dengan kecewa pemuda itu bangkit berdiri.
“Rupanya pihak Hian beng-kau hanya dapat mengendalikan
anggota-anggota perkumpulan belaka” ia berkata.
Setelah celingukan sebentar kesana kamari, kembali
ujarnya, “Para penjaga yang berhasil dirobohkan harus
disembunyikan baik-baik, kalau tidak usaha penyusupan kami
ke dalam lembah akan segera diketahui oleh mereka”

1039
Tidak menunggu jawaban dari Coa-Wi-wi lagi, dengan
suatu gerakan cepat ia menyeret beberapa orang laki-laki
berbaju ungu itu ke dalam semak dan menyembunyikannya di
sana.
Sejak awal sampai akhir Coa Wi-wi tak pernah berpisah
sejengkalpun dengan anak muda itu, sebagai gadis remaja
yang baru mekar, ia tidak begitu memahami tentang
hubungan antara muda dan mudi, dalam perasaannya bila
Hoa In-liong tidak berada disisinya, ia seakan akan merasa
seperti kehilangan sesuatu.
Karena itu, ketika dilihatnya pemuda itu menyembunyikan
tawanan-tawanannya, sambil mengedipkan matanya diapun
bertanya.
“Bila kita berbuat demikian, apakah usaha penyusupan kita
ini tidak mudah ditemukan?” Hoa In-liong gelengkan
kepalanya berulang kali
“Oooh….tidak semudah apa yang kau duga” jawabnya.
Ketika dilihatnya Coa Wi-wi masih kebingungan, ia
menjelaskan lebih jauh, “Pihak Han beng-kau pasti
mempunyai petugas peronda yang akan memeriksa semua
pos penjagaan setiap jangka waktu tersebut, untuk sementara
Waktu perbuatan kita ini memang bisa mendatangkan hasil,
tapi lama kelamaan toh bakal ketahuan juga, yaa, dalam
keadaan demikian kita hanya bisa main ulur waktu saja, bisa
diulur sekian lama kita tunda sekian lama, paling-paling juga
peristiwa ini diakhiri dengan suatu pertarungan massal yang
sengit”
Coa-Wi-wi masih menguatirkan racun ular keji yang masih
mengeram dalam tubuhnya, cepat ia berseru, “Seandainya

1040
terjadi pertarungan massal, kau tak boleh turun tangan
sendiri, semua urusan serahkan saja kepadaku, mengerti?”
Hoa In-liong tersenyum.
“Tahu sih sudah tahu, tapi kalau aku tak perlu turun tangan
sendiri, itu bukan pertarungan massal lagi namanya”
Ketika dilihatnya gadis itu kembali akan berdebat, cepatcepat
ia menyambung kembali, “Kita sudah membuang waktu
terlalu lama disini, ayoh cepat berangkat….!”
Hutan dalam lembah itu lebat sekali, ditambah udara gelap
tak berbintang ataupun rembulan, ini menyebabkan suasana
betul-betul tercekam dalam kegelapan yang luar biasa.
Hoa In-liong mengerti bahwa sepanjang perjalanan mereka
memasuki lembah tersebut, tentu akan melewati banyak pos
pos penjagaan yang ketat, karena itu dengan suatu tindakan
yang amat berhati-hati, kedua orang itu melanjutkan
penyusupannya kedalam lembah.
Selain daripada itu, anak muda tersebut juga tahu bahwa
usaha penyusupan mereka segera akan ketahuan musuh,
karenanya dia hendak manfaatkan kesempatan yang ada
untuk mencari tujuannya dengan sebaik-baiknya, sebab begitu
jejak mereka diketahui, otomatis suatu pertarungan tak akan
bisa dihindari lagi.
Jilid 27
SELANG sesaat kemudian, kedua orang itu sudah
mendekati suatu tempat yang memancarkan cahaya api,
secara latap-latap mereka pun mendengar suara pembicaraan
manusia.

1041
Tanda-tanda tersebut menunjukan bahwa mereka sudah
makin dekat dengan tempat berkumputannya kawanan
musuh, serta-merta gerak-gerik mereka dilakukan jauh lebih
berhati-hati lagi.
Maju ke depan tiga kaki kemudian, terbentanglah sebuah
tanah lapang yang luas.
Tanah lapang tersebut luasnya dua tiga puluh kaki, kecuali
batu cadas yang berserakan dimana-mana, hampir boleh
dibilang tak nampak sedikit rerumputanpun tumbuh di situ.
Ditengah tanah lapang membara, seonggokan api unggul
yang amat besar, cahaya api yang memancarkan keempat
penjuru menerangi sekeliling tempat itu dengan terangnya.
Disimping kiri kanan api unggul, duduklah bersila dua
rombongan manusia berbaju ringkas.
Disebelah kiri duduk kurang lebih lima-enam belas orang,
mereka semua berdandan sebagai seorang imam dengan
rambut digulung menjadi satu memakai jubah berwarna
kuning telur dan berkerah bundar dengan bagian dada terbuka
lebar, kaosnya putih setinggi lutut, sepatunya setinggi terbuat
dari kulit.
Rombongan tersebut tak usah diragukan lagi merupakan
jago-jago tangguh Mo-kauw yang berasal dari Seng sut hay.
Rombongan ini dipimpin oleh seorang imam bertampang
jelek, berikat pinggang berwarna emas dengan alis mata dan
jenggot berwarna merah darah. Sejak kecil Hoa In-liong sudah
sering kali mendengar kisah pengalaman ayahnya dimasa lalu,
cerita tersebut sesudah didengarnya, entah berapa puluh kali

1042
kecuali masalah yang menyangkut soal hubungan muda mudi,
tentang pengalaman lainnya boleh di bilang sudah demikian
pahamnya sehingga hapal diluar kepala.
Maka, ketika pandangan pertamanya terbentur dengan
wajah orang itu, kontan saja hatinya bergetar keras, seketika
itu juga ia menduga orang tersebut sebagai murid pertama
dari Tang kwi Siu, yaitu cikal bakal pendiri Mo-kauw. Atau
dengan perkataan lain kakek jelek tersebut bukan lain adalah
jago tangguh nomor dua dari Mo-kauw yang bernama Hong
Liong.
Duduk disamping kanan adalah serombongan manusia
berbaju ketat, mereka dipimpin oleh seo sang kakek berjubah
hitam yang mempunyai jenggot panjang dan sepasang mata
yang sipit.
Dibelakang tubuhnya duduk melingkar empat orang
pendekar berbaju ringkas warna hijau polos, bermantel
pendek dan menyoren sebilah pe dang antik dipinggangnya.
Keempat orang itu tak lain adalah anak murid Hian-beng
Kaucu yang kesemuanya bernama Ciu Hoa. Hoa In-Hong
pernah bertemu dengan tiga orang diantaranya.
Sedang lainnya berbaju ungu semua, jumlah mereka
mencapai delapan sembilan belas orang, namun Hoa In-liong
tak sempat memperhatikan mereka satu per satu.
Semua perhatian dan pendengarannya waktu itu tertuju
untuk menyadap pembicaraan antara Hong Liong dengan si
kakek berjubah hitam.
Tapi, walaupun ia sudah berusaha mendengarkannya
dengan seksama, kecuali beberapa patah kata seperti “kaucu
kalian” tidak bisa” dan kata-kata sederhana lainnya, oleh

1043
karena terganggu oleh suara gemerisikan peletakan kayu
bakar yang di makan api, hampir tak separah kalimat pun
yang bisa ditangkap dengan jelas.
Hal ini tentu saja amat menggelisahkan hatinya, diam-diam
pikirnya dihati, “Penjagaan dalam lembah sangat ketat sekali,
ini berarti perundingan yang sedang mereka selenggarakan
adalah untuk merundingkan sesuatu yang Penting, aku harus
mendekati tempat psrtemuan itu lebih kedepan”
Dengan mata yang jelalatan dia memeriksa keadaan
disekitar tempat itu, tapi apa yang di jumpainya adalah
sebuah tanah lapang yang luasnya mencapai tujuh delapan
balas kaki tanpa ada sedikit tumbuhan pun yang bersemi
disana
Dengan putus asa ia berpaling ke arah Coa-Wi wi, tiba-tiba
dilihatnya gadis itu sedang berkerut kening, sikapnya
menunjukkan bahwa ia sedang mengikuti pembicaraan
tersebut dengan seksama, cepat tegurnya dengan ilmu
menyampaikan suara, “Adik wi, apa saja yang sedang mereka
bicarakan?”
Coa Wi-wi mengernyitkan alis mainnya, ia tidak menjawab
pertanyaan itu, sebaliknya malah berseru, “Jiko, coba libat
rombongan manusia yang berbaju kuning itu, oh….betapa
jeleknya tampang wajah mereka!”
Hoa In-liong ikut berpaling kembali kearah lapangan,
dibawah cahaya api unggun tampaklah orang-orang dari Seng
sut pay itu makin lama kelihatan bertambah mengerikan,
terutama wajah Hong Liong, sedemikian seramnya sampaisampai
siapapun yang memandangnya merasakan bulu
kuduknya pada bangun berdiri.

1044
Hanya sekejap ia memandang ke arah mereka, kemudian
tanyanya lagi, “Coba perbatikan dengan seksama,
perhatikanlah apa yang sedang mereka rundingkan?”
Coa Wi-wi segera pusatkan seluruh perhatiannya untuk
mendengarkan pembicaraan tersebut dengan seksama, selang
sesaat kemudian ia baru menyahut dengan lirih, “Agaknya
mereka sedang mempersoalkan siapakah yang pantas menjadi
pemimpin mereka”
“Berbicaralah dengan lebih jelas lagi!” seru Hoa In-liong
penuh kegelisahan.
Coa Wi-wi memperhatikan kembali pembicaan itu,
kemudian berkata, “Si jelek berjenggot merah itu berkata
begini….
“Orang itu bernama Hong Liong” Hoa In-liong
menerangkan, “dia adalah tokoh nomor satu diantara murid
muridnya Tang Kwik-siu lainnya!”
“Ooooh….!” Coa Wi-wi berseru tertahan, diapun
melanjutkan kembali kata katanya.
“Hong Liong berkata, “Berbicara menurut tingkat
kedudukan maupun usia di masa lalu, kaucu kalian
sepantasnya menghormati guru kami sebagai Beng Cu!”
Tapi kakek baju hitam itu segera menjawab, “Untuk belajar
ilmu tiada tingkatan siapa dulu siapa belakangan, siapa yang
berhasil mencapainya terlebih dulu, dialah yang kita hormati,
walaupun kaucu kalian adalah seorang jagoan berbakat,
memiliki ilmu silat yang tinggi, tapi kaucu kamilah yang lebih
lihay saat ini, maka sepantasnya kalau kedudukan Beng cu
tersebut diberikan untuk kaucu kami”

1045
Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tertawa dingin tiada
hentinya, agaknya ia merasa amat gusar sekali oleh ucapan
lawannya….
“Tentang ilmu silat siapa yang lebih unggul apakah Hong
Liong memberikan pendebatannya?” tukas Hoa lu-liong.
Coa Wi-wi gelengkan kepalanya berulang kali.
“Sama sekali tidak!” jawabnya.
Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan kembali katakatanya,
“Tampaknya ilmu silat yang dimiliki Hian-beng Kaucu
memang benar-benar jauh dialas kemampuan Tang kwi Siu!”
Hoa In-liong termenung tidak menjawab, ia merasa terkejut
bercampur sangsi.
Yaa, pada hakekatnya dia cukup memaklumi betapa
lihaynya ilmu silat yang dimiliki Mo-kauw kaucu Tang Kwik-siu
sehingga Kiu-im-kauwcu yang lihay pun hanya mampu
bertanding seimbang dengannya atau lebih unggul pun hanya
unggul sedikit bahkan dikolong langit dewasa ini kecuali Hoa
Thian-hong dan keluarga Coa boleh dibilang tiada seorangpun
yang mampu menandinginya.
Dan kini tahu-tahu muncul pula seorang Hian-beng Kaucu
yang memiliki ilmu silat jauh di atas kepandaian Mo-kauw
kaucu, terbayang kembali peringatan dari pihak Ci li-kau yang
mengatakan bahwa api iblis sudah membakar seluruh daratan
tak bisa disalahkan kalau hatinya jadi murung campur keras.
Setelah dipikir sebentar namun tidak berhasil juga
mengetahui siapa gerangae Hian-beng Kaucu tersebut, diapun
bertanya, “Adik Wi, apakah mereka pernah menyebut nama

1046
asli dari Hian-beng Kaucu sepanjang pembicaraan yang
berlangsung?”
“Coa Wi-wi pasang telinga mendengakannya dengan
seksama, lalu menggeleng, “Tidak! Kakek berjubah hitam itu
memyebut Hian-beng Kaucu sebagai “Kaucu kami atau kaucu
perkumpulan kami sedangkan Hong liong menyebutnya
dengan sebutan kaucu kalian atau kadang-kadang hanya
membasai dengan sebutan dia tampaknya pembicaraan
mereka berdua mengalami cocokan”
Tiba-tiba ia berkata lagi, “Kedua orang itu membicarakan
pula tentang diri Kiu-im-kauwcu, kalau diderangar dari nada
suaranya tampaknya mereka merasa sangat tidak puas
semestinya dalam pertemuau yang diselenggarakan malam ini
pihak Kiu-im kau juga ikut hadir tapi kenyataannya Bwe Suyok
tidak mengirim utusannya untuk menghadiri pertemuan
itu….”
“Apakah mereka membicarakan juga bagaimana caranya
menghapi Bwe Su-yok….?” tanya Hoa liong lebih jauh dengan
nada cemas.
Melihat kegelisahan orang, Coa Wi-wi sengaja menjawab,
“Yaa mereka sedang berunding bagaimana cara nya
mecincang tubuh budak she-Bwe tersebut dan membuang ke
kali untuk makanan ikan sakit hati yaa kau!”
Hoa In-liong tertawa geli, tentu saja ia tahu kalau gadis itu
sedang menggoda dirinya, karena itu diapun tidak berani
banyak bertanya lagi….
“Coba lihat tampangmu itu, hanya begitu saja sudah
ketakutan setengah mati” omel Coa Wi-wi dengan bibir
dicibirkan, “mereka hanya menyinggung soal itu sebentar saja,
kemudian pembicaraan beralih lagi ke persoalan lain”

1047
Tiba-tiba ia memasang telinga dan mendengarkannya
dengan seksama, setelah itu berkata, “Sekarang mereka
membicarakan tentang diri empek Yu!”
“Apa saja yang mereka bicarakan?”
“Agaknya Hian-beng Kaucu memaksa empek Yu untuk
buatkan semacam obat obatan mula-mula empek Yu menolak,
tapi sekarang entah apa sebenarnya telah menyanggupi
permintaan mereka.
“Yaaah….! Tak mungkin, hal ini tak mungkin terjadi!” seru
Hoa In-liong tidak percaya, “aku cukup mengenali watak
empek Yu, dia lebih suka di siksa dan menderita daripada
bertekuk lutut dihadapan musuhnya!”
“Toh bukan aku yang mengatakannya begitu, memangnya
aku sedang membohongi engkau?”
Hoa In-liong tersenyum.
“Masih ada yang lain?” tanyanya.
“Kakek berjubah hitam itu berkata bahwa semua bahan
yang dibutuhkan telah siap, sekarang tinggal mencari Su bok
thian go (kelabang langit bermata empat) serta Sam ciok pek
cu (laba-laba hijiu berkaki tiga), ia berharap pihak Seng sut
pay mau memberikan bahan tersebut kepadanya, sekarang
Hong Liong sedang termenung memikirkan persoalan
tersebut….”
Sementara itu, Hoa In-liong sembari mendengarkan
penjelasan dari si dara yang merdu dan sedap di dengar itu,
sepasang matanya dengan tajam mengawasi pula gerak-gerik
kakek berjubah hitam dan Hong Liong.

1048
Tiba-tiba dilihatnya ada seorang laki-laki berbaju ungu
menghampiri kakek berjubah hitam itu dengan langkah
tergesa-gesa, melihat hal tersebut pemuda kita mengeluh,
“Aduuh celaka, ketahuan sudah jejak kami!”
Benar juga ketika laki laki berbaju ungu itu selesai
membisikkan sesuatu kesisi telinga kakek berbaju hitam itu,
kontan saja dengan sorot mata setajam sembilu kakek
berjubah hitam itu mengawasi sekeliling tempat itu dengan
seksama.
Kemudian sambil tertawa tergelak ia bangkit berdiri.
“Sobat dari manakah yang sudah berkunjung kemari?”
tegurnya, “mengapa tidak tampil kedepan agar aku Beng Wician
dapat melayani dengan sebaik-baiknya?”
Gelak tertawa maupun ucapan yang dipancarkan kakek itu
langsung menggema di seluruh lembah, membuat dahan dan
ranting pohon bergon cang keras, ini membuktikan bahwa
tenaga dalam yang dimilikinya sudah mencapai tingkatan yang
amat sempurna.
Berbareng dengan dipancarkannya ucapan tadi keempat
orang Ciu Hoa serta sekalian laki-laki berbaju ungu serentak
bangkit berdiri, kemudian, memeriksa empat penjuru dengan
katapan tajam
Dalam keadaan begini, Hoa In-liong tahu bahwa tempat
persembunyiannya bakal ketahuan musuh, diapun berbisik
lirih, “Adik Wi, bila sampai terjadi pertarungan, aku harap kau
suka turun tangan dengan keji, tak usah sungkan-sungkan
lagi”

1049
“Harus memhunuh orang?” tanya Coa Wi-wi agak gemetar,
setelah tertegun sejanak.
Hoa In-liong tidak menjawab, hanya dihati kecilnya ia
lantas berpikir, “Adik Wi ramah dan baik hati, aku tidak boleh
memaksa dirinya untuk turun tangan keji!”
Pembicaraan tersebut dilangsungkan tanpa menggunakan
ilmu menyampaikan suara, otomatis Beng Wi-cian serta Hong
Liong yang sedang mencari tempat persembunyian mereka
dapat menangkap pula gerakan irama tadi.
Dengan sorot mata setajam sembilu, pandangan mereka
segera dialihkan kearah mana mereka berada.
Hoa In-liong tertawa nyaring, pelan-pelan ia munculkan diri
dari dalam hutan, lalu berkata, “Setelah Beng cianpwe
mempersilahkan kami keluar, sebagai angkatan yang lebih
muda, kami tak berani membangkang perintah orang yang
lebih tua, terimalah salam hormat kami ini dengan hati yang
tenang!”
Seraya berkata, ia benar-benar menjura dan memberi
hormat kepada kakek berjubah hitam itu.
Dasar binal, sekalipun berada dihadapan musuh tangguh,
sianak muda itu tak dapat meninggalkan kebiasaannya, untuk
bersikap santai dan senyum cengar cengir menghiasi bibirnya.
Beberapa orang Ciu Hoa itu berubah wajah, rata-rata
mereka unjukkan sikap marah.
Ciu Hoa yang pernah munculkan diri disamping layon Suma
Tiang-cing itu maju kedepan dengan wajah menyeringai
seram ia berkata, “Eeeeh….bocah keparat….”

1050
“Tunggu sebentar toa kongcu!” tiba tiba Beng Wi-cian
menghalangi orang itu.
Ciu Hoa lotoa berhenti maju, lalu berpaling.
“Apa yang hendak kau lakukan Beng-lo?” tegurnya.
Beng Wi-cian tetap kalem, jawabnya, “Kaucu telah
berpesan, semua urusan yang menyangkut operasi kita di kota
Kim leng diserahkan tanggung jawabnya kepadaku, maka aku
pula yang berkewajiban menentukan setiap langkah kita”
Mendengar perkataan itu, Ciu Hoa lotoa tertegun.
“Soal ini….”
“Harap toa kongcu bersedia memberi sedikit muka
kepadaku!” tukas Beng Wi-cian cepat.
Paras muka Ciu Hoa lotoa agak berubah, ia unjukkan sikap
keragu-raguan, tapi toh akhirnya mundur juga meski dengan
sikap uring-uringan.
Sementara itu Hoa In-litong sudah berada kurang lebih dua
kaki dari onggokan api unggun, sedangkan Coa Wi-wi dengan
manjanya mengikuti terus disisinya.
“Ji kongcu!” ucap bang Wi cian kemudian sambil menjura,
baik-baikkah ayahmu? Kaucu kami titip salam untuk dirinya!”
Hoa In-liong tidak langsung menjawab, sebaliknya ia
berpikir dalam hati kecilnya, Sejak tampil ke muka, aku belum
pernah melaporkan namaku, ciu Hoa juga tidak mengatakan
apa-apa tapi kenyataannya hanya sekilas pandangan saja
Beng Wi-cian sudah dapat menebaknya secara jitu, dari sini
dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa pihak Hian beng-kau

1051
telah menyelididiki semua keadaan keluarga Hoa dengan
sejelas-jelasaya, a-tau dengan perkataan lain, sudah semenjak
dulu mereka menaruh perhatian khusus terhadap keluarga
Hoa.
Sementara ia masih melamun Beng Wi-cian telah
menyinggung diri Hoa Thian-hong, maka dengan wajah serius
buru-buru ia balas memberi hor mat.
“Ayahku berada dalam keadaan sehat Wal’afiat tanpa
kekurangan sesuatu apapun, terimakasih untuk perhatian itu!”
“Cuma saja belakang ini beliau kurang nyenyak tidurnya
kurang nikmat daharnya lantaran harus memikirkan beberapa
persoalan yang bikin pusing kepalanya!”
Ucapan itu penuh mengandung nada sindiran, sebagai
seorang jago yang berpengalaman tentu saja Beng Wi-cian
dapat merasakannya diapun segera tertawa.
“Haaahh…. haaahh…. haaahh….ji-kongcu pandai sekali
bergurau, ayahmu adalah seorang pendekar gagah perkasa
yang tak akan berubah wajahnya kendatipun Thay-san
ambruk dihadapannya, masala jadi pusing kepala hanya
dikarenakan persoalan yang tak ada artinya?”
Kemudian ia berpaling kearah Coa Wi-wi dan ujarnya
kembali, “Kecantikan wajah nona ini bak bidadari dari
kahyangan, lohu merasa beruntung sekali dapat
menjumpainya, bolehkan kutanyakan siapa namamu nona
manis?”
Beberapa patah perkataan itu diucapkan dari hati
sanubarinya yang jujur.

1052
Hal ini dikarenakan kecantikan Coa Wi-wi ibaratnya
sekuntum bunga mawar yang baru mekar, siapapun yang
memandangnya segera timbul rasa suka dan menyayanginya
tidak terkecuali juga diri Beng Wi-cian meskipun ia sudah
Lanjut usianya.
Berseri wajah Coa Wi-wi maadengar pujian itu, ia merasa
senang hati dengan kata kata tersebut.
“Aku bernama Coa Wi-wi!” sahutnya. Kemudiaa setelah
tertawa manis, terusnya, “Aku lihat engkau adalah seorang
yang baik hati, buat apa mesti pergaulan dengan kawan
manusia jahat itu?”
Dengan wataknya yang polos dan manja timbul kesan
baiknya terhadap Beng Wi-cian, karena kata-kata pujiannya
tadi terutama kata-katanya yang terakhir, boleh dibilang
diucapkan dengan nada manja sekali, tentu saja kata-kata
tersebut membuat Beng Wi-cian harus meringis menahan
perasaannya
Sementara pembicaran itu berlangsung, para jago dari
pihak Mo-kauw tetap duduk sila ditempat selalu tanpa
mengucapkan sepatah katapun, rupanya mereka berperinsip:
Sambil berpeluk tangan melihat harimau berkelahi.
Ditengah kebeningan yang mencekam seluruhnya jagad,
tiba-tiba Hong Liong berkata dengan wajah menyenangi
seram, “Bocah cilik dari keluarga Hoa mungkin engkaulah si
anak jadah yang dipelihara Hoa Thian-hong dengan Pek Kung
gie?”
Hoa In-liong berwajah tampak dan menarik dipandang
kebagusan rupanya kebanyakanya diwaris dari type wajah
ibunya karena itu bagi mereka yang pernah berjumpa dengan

1053
Hoa Thian-hong serta Pek Kun gie, tidak sulit untuk menebak
indentitasnya.
Tak terkirakan rasa gusar Hoa In-liong mendengar ayah
ibunya dicemooh orang dengan ucapan yang menghina dan
tak sedap di dengar, tapi ia tidak membalas kemarahan
tersebut dengan makian langsung, sebaliknya sambil
celingukan kesana kemari seperti lagi mencari sesuatu serunya
keheranan, “Aneh…. benar-benar sangat aneh, barusan
kudengar dengan amat jelasnya gonggongan seekor anjing
budukan yang aneh, kenapa disekitar tempat ini tidak
kutemukan seekor anjingpun?”
Coa Wi-wi tertawa cekikikan.
“Hiiihh…. hiiihh…. hiiihh…. kalau anjing itu memakai kulit
manusia, sudah tentu jiko tak akan menemukannya!”
Tak terkirakan rasa gusar Hong Liong ketika dirinya dimaki
sebagai seekor anjing budukan yang gila, sambil menyeringai
seram teriaknya penuh kegusaran, “Bajingan, kau pingin
mampus!”
Dengan sepuluh jari tangannya direntangkan lebar-lebar,
dari jari yang menekuk bagaikan kaitan, membawa deruan
angin pukulan sekencang geledek ia lancarkan sebuah pukulan
dahsyat ke arah dada Hoaln-liong dari tempat kejauhan.
Coa Wi-wi mendengus dingin, sambil melangkah setindak
ke depan, telapak tangannya digetarkan untuk menyambut
datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.
Orang lain menyaksikan kejadian itu diam-diam merasa
sayang, sebab sedemikian dahsyatnya pukulan tersebut tak
mungkin bisa disambut oleh seorang gadis semuda itu,

1054
bukankah ini sama dengan menghantar nyawa si nona itu
dengan sia-sia?
Yaa, didalam gusarnya Hong-liong telah menggunakan
tenaga sebesar sembilan bagian dalam serangannya itu, tak
seorang pun percaya kalau Coa Wi-wi sanggup menerima
ancaman tersebut.
Malahan ada diantara mereka yang diam-diam memakai
kepengecutan Hoa In-liong yang telah mengobarkan nyawa
seorang gadis demi keselamatan diri sendiri, bukankah
perbuatan tersebut sama dengan mencoreng nama baik
keluarga Hoa?
Hong Liong sendiri meski merasa agak sayang, tapi luapan
marah yang berkecamuk dalam benaknya betul-betul tak
terbendung lagi, pukulan daysyat tersebut tetap dilontarkan ke
depan.
“Blaaang….! dua gulung tenaga pukulan yang sama
dahsyatnya saling bertemu satu sama lainnya menimbulkan
suatu ledakan yang memekikkan telinga.
Apa yang terjadi kemudian? Oleh hasil tenaga benturan
tersebut, tubuh Coa Wi-wi hanya bergetar sedikit saja, tapi
kemudian badannya tetap tegap sekokoh batu karang.
Sebaliknya Hong Liong yang menyerang dengan tenaga
besar, malahan kena dipaksa mundur selangkah kebelakang,
itupun dengan susah payah dia musti menjaga keseimbangan
badannya agar tidak terdorong mundur lebih ke belakang.
Dengan kejadiannya bentrokan ini, kontan saja kawanan
jago dari Hian-beng-kauw mau pun Mo-kauw jadi terkejut dan
berdiri terbelalak.

1055
Perlu diterangkan disini, tenaga dalam yang di miliki Hong
Liong sedemikian tingginya sehingga Pek Siau-thian, San ki
pangcu tempo dulupun belum tentu dapat mengunggulinya,
tapi kenyataannya sekarang, jago tangguh tersebut harus
menelan kekalahan ditangan Coa Wi-wi, sudah tahu kenyataan
tersebut sangat menggemparkan hati semua orang.
Beng Wi-cian ikut merasa terkesiap, ia lantas berpikir,
“Kalau dilihat usianya, paling-paling budak ini baru berumur
enam tujuh belas tahunan, heran, kenapa tenaga dalamnya
bisa mencapai ke tingkatan yang demikian sempurnanya?
Kalau dia saja sudah selihay ini apalagi gurunya dibelakang
layar, ooouw, entah sampai dimana ketangguhannya?
Celaka…. kalau dilihat sikap mesra dayang ini terhadap bocah
dari keluarga Hoa itu, cepat atau lambat mereka pasti akan
berpasangan, kalau orang tua mereka ikut bersatu dalam satu
wadah, bukankah Hian-beng-kauw cuma kebagian kekalahan
yang berulang-ulang?”
Sementara itu Hong Liong sudah berhasil mengendalikan
perasaannya, meski rasa ngerinya masih menyelimuti dada,
dengan nada keras ia lantas membentak nyaring, “Wahai
budak cilik, siapakah gurumu?”
“Huuhh…. kau tidak pantas untuk mengetahuinya!” jawab
Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya.
Hong Liong semakin naik darah, hanya saja meski dia
adalah seorang yang berangasan namun bukanlah manusia
yang tidak mempunyai perhitungan, dia mengerti, seandainya
terjadi pertarungan, niscaya dialah kebagian yang kalah.
“Masa didunia ini benar-benar masih ada sim-hoat tenaga
dalam yang jauh lebih tangguh dari pada keluarga Hoa dari
im-tiong-san?” demikian pikirnya, “andaikata….”

1056
Berpikir sampai disini, tak terasa lagi dia berpaling ke arah
Beng Wi-cian.
Kebetulan Beng Wi-cian sedang memandang pula ke
arahnya, kedua orang itu segera tersenyum, walaupun tidak
berkata kata namun dari senyuman tersebut dapat diketahui
bahwa perasaan maupun jalan pikiran mereka tidaklah jauh
berbeda.
Sekarang kedua orang itu mempunyai tujuaa yang sama,
mereka hendak menggunakan kesempatan pada malam ini
untuk menangkap kedua orang itu walau dengan cara apapun
jua, atau paling tidak Hoa In-liong harus ditangkap hiduphidup
agar dikemudian hari memberi kesempatan baginya
untuk mundur teratur.
Ditengah keheningan yang mencekam seluruh anggota,
tiba-tiba Hoa In-liong bukan memecahkan kesunyian, “Beng
cianpwe, tolong tanya apa jabatanmu dalam perkumpulan
Hian-beng-kauw?”
“Apa salahnya hal ini kukatakan kepada si bocah keparat
tersebut….?” pikir Beng Wi-cin.
Ia lantas terbawa terbahak-bahak.
“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….sekalipun lohu tidak
becus, rupanya mendapat perhatian khusus dari kaucu kami,
sekarang menjabat sebagai Thamcu dari ruang Thian-ki
kedudukan yang sangat tentu akan membuat kau jadi
kecewa”
“Ooouw…. aku rasa kedudukan tersebut tentulah hanya
dibawah seseorang tapi diatas selaksa orang, bukan
demikian?”

1057
“Oooh….bukan, bukan, kawanan jago yang bergabung
dalam perkumpulan kami tak terhitung banyaknya, banyak
diantara mereka yang mempunyai jabatan jauh diatas diriku”
Hoa In-liong tertawa.
“Oooh…. masa iya? Sekalipun demikian, dari kekuasaan
yang kau miliki saat ini di mana murid tertua dari sang kaucu
pun harus tunduk dibawah perintahmu, dapat diketahui
sampai dimanakah kekuasaan yang kau miliki….”
Diam diam Beng Wi-cian menyumpah dihati, “Sialan, bocah
ini benar-benar licik sekali, belum juga aku buka suara, ia
sudah mulai memancing diriku!”
Sambil mengelus jenggotnya diapun menyahut, “Keliru
besar jika Hoa kongcu berkata demikian, kalau toh pada saat
ini lohu dapat memberi perintah kepada murid-muridnya
kaucu, hal ini disebabkan karena perintah langsung dari
kaucu.
Oleh karena tugas yang musti kuselesaikan, mau tak mau
yaa harus begitulah”
Ketika Hoa In-liong mengucapkan kata-katanya untuk
pertama kali tadi, paras muka ke empat Ciu Hoa itu berubah
hebat, tetapi setelah Beng Wi-cian memberikan
penjelasannya, mereka baru menjadi tenang kembali.
Hoa In-liong yang berpandangan tajam dapat mengikuti
semua kejadian itu dengan seksama, diam-diam semua
kejadian tersebut dicatat didalam hati, ia merasa kalau toh
kedua belah pibak sama-sama mempunyai penyakit hati
berarti keretakan diantara mereka dapat ia manfaatkan
dengan sebaik-baiknya.

1058
Setelah berpikir sebentar, Hoa In-liong berkata lagi,
“Ooooh….jadi tingkat kedudukan dalam perkumpulan kalian
ditentukan oleh pembagian sektor, lantas dibawah sektorsektor
tersebut apakah terdapat juga kedudukan seperti
Tongcu, Tuo cu dan sebangsanya?”
“Tidak ada, perkumpulan kami berbeda dengan
perkumpulan perkumpulan lain, karena itu tiada pula jabatanjabatan
sejenis itu dalam perkumpulan Hian-beng-kauw!”
“Apakah terdapat pula bagian penerimaan anggota baru
seperti yang terdapat di perkumpulan Kiu-im-kauw?” tanya
Hoa In-liong lagi.
Ciu Hoa lo san yang bermuka kuda tiba-tiba menimbrung
dari samping, “Barang siapa berani memusuhi perkumpulan
kami, kecuali kcmatian tiada jalan lainnya, karena itu tak perlu
ada bagian semacam itu!”
Dengan gusar Beng Wi-cian melotot sekejap ke arahnya,
kemudian sambil tertawa katanya, “Perkataan dari sam kong
perkumpulan kami hanya kata-kata gurauan belaka, harap
Hoa kongcu jangan menganggap serius”
Kemudian setelah termenung sebentar, katanya lebih
lanjut, “Walaupun perkumpulan kami tidak memiliki bidang
pencarian anggota baru, tapi seandainya Hoa kongcu ada niat
masuk perkumpulan kami, lohu bersedia menjadi perantara
bagimu. Mengingat kau adalah keturunan dari sahabat
lamanya dan lagi memandang kemampuan Hoa kongcu
disegala bidang…. haaahh…. haaahhh…. haaahhh….siapa tahu
kalau kaucu kami akan memberi jabatan di bawah satu Orang
di atas selaksa orang bagi diri kongcu?”
Hoa In-liong memang menantikan ucapannya itu, buruburu
katanya kembali, “Sebenarnya tokoh persilatan dari

1059
manakah kaucu kalian itu? Harap Beng thamcu bersedia
memberitahukan kepadaku, agar aku Hoa Yang pun tak
sampai bersikap kurang sopan”
Beng Wi-cian agak tertegun setelah mendengar perkataan
itu, segera jawabnya, “Asal kocgcu telah bertemu dengannya,
kau akan segera mengetahui siapakah kaucu kami itu, maaf,
sebelum mendapat perintah, lohu tak berani lancang untuk
memberitahukannya kepadamu”
Pandai amat si tua bangka ini menjaga rahasia, pikir Hoa
In-liong dalam hati, “agaknya untuk menyelidiki siapa
gerangan Hian-beng Kaucu itu, aku harus mengambil tindakan
yang secepat-cepatnya, sebab malam yaag panjang akan
menimbulkan impian yang banyak!”
Setelah mengambil keputusan, dengan wajah yang
membesi diapun berkata kembali, “Jikalau memang demikian,
Hoa yang tak berani menyusahkan diri Beng Thamcu lagi,
harap Beng Thamcu memberikan penyelesaian seadil adilnya
atas terjidinya peristiwa di pesanggrahan pertabiban”
Begitu mengatakan, dia lantas berubah wajah, sampaisampai
Beng Wi-cian pun ikut merasa diluar dugaan, segera
pikirnya, “Keteguhan dan kegagahan bocah ini mirip Hoa
Thian-hong, kebinalan dan kelicikannya mirip Pek Kun-gie, dia
adalah seorang manusia yang paling susah dihadapi, heeh….
heehh…. heehh…. kalau membiarkan dia tumbuh jadi dewasa,
sudah pasti akan menjadi Hoa Thian-hong kedua, manusia
semacam ini tak boleh dibiarkan hidup di-dunia ini….”
Berpikir sampai disitu, timballah nafsu membunuh dalam
hatinya, ia memutuskan bila malam ini gagal menawan Hoa
In-liong dalam keadaan hidup, maka pemuda itu harus
dibunuh sampai mati.

1060
Hanya saja, lantaran orang lain termasuk seorang manusia
yang licik dan banyak akal muslihatnya, maka sekalipun dihati
kecilnya sudah mengambil keputusan, hal tersebut tidak
sampai diperlihatkan diatas wajahnya.
Dalam pada itu Hong Liong sudah ulapkan tangannya,
serentak belasan orang anggota Seng sut pay yang berada
dibelakangnya bangkit berdiri dan menyebar keempat penjuru
untuk menghadang jalan mundur Hoa In-liong serta Coa Wiwi.
“Bocah cilik dari keluarga Hoa!” teriaknya dengan lantang,
“engkau ibaratnya pausat lumpur yang menyeberangi sungai.
Menyelamatkan diri sendiri saja sulit, lebih baik janganlah
mencampu ri urusan orang lain!”
Hoa In-liong sadar bahwa keadaan sudah gawat, melihat
ada kesempatan baik segera bisiknya, “Adik Wi, serbu!”
Sambil meloloskan pedang mustikanya, dia ayun tangannya
ke depan dan menerjang musuh-musuhnya.
Kebetulan dihadapannya berdiri dua orang imam berjubah
kuning, seorang bersenjata ruyung Thian ong-pian, sedang
yang lain bersenjata sepasang palu tembaga Siang oh tong
tui, kedua duanya merupakan senjata berat, terutama pula
tembaga itu besarnya bagaikan cawan arak, bila seseorang
tidak memiliki tenaga sebesar ribuan kati jangan harap ia
dapat mainkan kedua buah senjata tersebut dengan leluasa.
Dalam pada itu kendatipun mereka saksikan betapa
dahsyatnya serangan yang dilancarkan Hoa In-liong ternyata
kedua orang itu tidak bermaksud untuk menghindari atau
berkelit.

1061
Imam berjubah kuning yang mainkan ruyung Thian ong
pian itu segera putar senjatanya dan menghajar iga kanan
Hoa In-liong.
Sebaliknya orang yang bersenjata sepasang palu tembaga
satu dari kiri yang lain dari kanan segera menangkis pedang
dan menyerang lawan dengan jurus Siang hong kuan lo
(Sepasang angin menembusi telinga.)
Hoa In-liong menjengek sinis, badannya mengegos ke
samping begitu terhindar dari babatan ruyung Thian ong pian
yang mengancam iga kanan nya pedang itu diputar ke muka
mencukil sepasang palu tembaga dan balas membabat
sepasang pergelangan tangannya.
Gerakan tersebut boleh dibilang merupakan tindakan
mengangkat yang berat bagaikan melakukan yang ringan,
dibalik serangan terselip pula gerakan untuk menyelamatkan
diri, bukan saja membuat orang yang bersenjatakan sepasang
palu itu harus berkelit ke samping, bahkan membuat posisi
mereka berbahaya sekali.
Hoa In-liong sedikitpun tidak menghentikan gerakan
tubuhnya, dalam sekejap mata ia menyerempet lewat disisi
mereka lalu menerjang keluar dari kepungan.
Tiba-tiba dari atas kepalanya terasa ada sambaran angin
tajam, begitu tajamnya daya tekanan tersebut membuat anak
itu tak sanggup mengangkat kepalanya.
Hoa In-liong jadi kaget, dalam gugupnya ia gunakan jurus
Pau goan sio it (menghimpun tenaga menjadi satu) untuk
melindungi sekujur badannya dari ancaman musuh, kemudian
dengan gerakan Hok-tok han thong (bangau putih
menyeberangi kolam dingin) badannya melayang dua kaki
jauhnya dari tempat semula.

1062
Orang yang barusan melancarkan serangan tak lain adalah
Hong Liong, semula ia bermaksud melancarkan sergapan
secara tiba-tiba dan berusaha menangkap Hoa In-liong dalam
keadaan hidup-hidup….
Siapa tahu kedua jurus gerakan yang digunakan anak muda
itu kesemuanya merupakan jurus melindungi badan serta
menghindari serangan musuh yang amat tangguh dari
rangkaian Hoa si ci-ong kiam cap lak sin cau (enam belas
jurus sakti pedang bebat keluarga Hoa), bukan saja gerakan
nya amat lihay, bahkan tenaga dalam yang terpancar keluar
ibaratnya dinding baja yang tak tembus, mau tak mau
gagallah ancaman yang telah dipersiapkan dengan seksama
itu.
Tapi Hong Liong bukan manusia sembarangan, ia tak mau
sudahi ancamannya dengan begitu saja begitu ancamannya
gagal, serentak badannya menerjang lebih jauh, seranganserangan
mematikan pun dilontarkan secara bertubi-tubi.
Kontan saja Hoa In-liong merasakan datangnya daya
tekanan seberat bukit karang, dalam keadaan demikian, ia tak
berani berayal lagi pedang mustikanya diputar secara
sedemikian rupa hingga menimbulkan desingan tajam yang
memekikkan telinga.
“Sreeet….! seeeet….! seeeet…. secara beruntung ia
keluarkan jurus-jurus tangguh dari Hoa si ciong kiam cap lak
sin cau untuk menghalau ancaman yang datang dari pihak
lawan, jurus-jurus itu adalah Kiu thian ci lay (sembilan langit
penuh seruling), Su ku-ciong mong (keheningan menyeli muti
empat penjuru) serta Im yang ji-khek (im-yang dua kubut)….
Seketika itu juga Hoa Liong berbalik kena didesak sehingga
harus mundur berulang kali ke belakang.

1063
Kenyataan ini sangat menggusarkan Hong Liong
kemarahannya meluap-luap, pikirnya, “Kalau cuma anak
jadahnya Hoa Thian-hong dengan Pek Kun gie pun tak
mampuku kukalahkan, betapa malu aku?”
Ia jadi kalap serangannya makin gencar, kali ini ia
menyerang dengan menggunakan ilmu ngo kui im hong jiau
(cakar angin dingin lima setan), tampaklah lima gulung waha
hitam yang membawa bau amis memancar keluar dari ujung
jari tangannya, dengan membawa desingan angin tajam, ia
melepaskan ancamannya secara bertubi-tubi.
Berbicara sesungguhnya, tenaga dalan yang dimilikinya
jauh lebih unggul daripada Hoa In-liong, dengan
dilancarkannya serangan secara gencar, kendatipun ilmu Hoa
si ciong kiam cap lak sin ciau tiada tandingannya dikolong
langit, namun dengan tenaga dalam yang belum sempurna,
sulitlah bagi Hoa In-liong untuk membendung serangan
musuh, secara beruntun ia kena di desak sampai mundur
berulang kali.
Walaupun keadaan sudah berubah, akan tetapi bila Hong
Liong ingin merobohkan Hoa In-liong dalam delapan sepuluh
jurus belaka, hal ini masih merupakan suatu hal yang tak
mungkin bisa terjadi.
Ketika Hoa In-liong berteriak “Serbu!” tadi , CoaWi-wi
segera menjajakkan kakinya ke tanah, bagaikan seekor
burung walet tubuhnya melambung di udara dan menerjang
musuhnya dengn kecepatan yang luar biasa.
Dua orang imam berjubah kuning yang kebetulan berada
dihadapannya, cepat menggerakkan ke empat buah telapak
tangan mereka melepaskah sebuah pukulan dahsyat ke tubuh
Coa Wi-wi.

1064
Sudah tentu gadis tersebut tak pandang sebelah matapun
terhadap mereka, merasakan tibanya ancaman, telapak
tangannya segera di getarkan kemuka melepaskan pukulan
yang tak kalah dahsyatnya.
“Blaaang….! Dalam waktu singkat, dua orang imam baju
kuning itu merasa datangnya tenaga tekanan yang maha
dahsyat menindih dada mereka, sedemikian beratnya tekanan
tersebut membuat kuda-kuda mereka jadi rapuh dan
tergempur.
Darah panas bergolak dalam dadanya, kepala terasa
pusing, mata berkunang-kunang, dada terasa mual dan
badannya harus mundur lima enam langkah sebelum bisa
berdiri tegak, dari tanda-tanda tersebut jelaslah sudah bahwa
isi perut mereka sudah terluka.
Masih untung Coa Wi-wi tidak menyerang secara keji, kalau
tidak, niscaya dua lembar nyawa mereka sudah terlepas dari
raga masing-masing….
Meminjam daya pantulan dari tenaga serangan mereka,
Coa Wi-wi melambung kembali ke udara tangannya
mendayung dan menepuk berulang kali di udara, dengan
entengnya ia sudah melayang sejauh tujuh kaki dari tempat
semula.
Seandainya ia ingin berlalu dari situ, hal mana dapat
dilakukan dengan sangat mudahnya, dan siapapun jangan
harap bisa menghalang-halangi kepergiannya.
Akan tetapi, sewaktu ia berpaling dan dilihatnya Hoa Inliong
sedang dihadang oleh Hong Liong dengan seranganserangannya
yang gencar, gadis iiu membatalkan niatnya

1065
untuk pergi, ia putar badan dan menerjang kembali ke dalam
gelanggang.
Hal inipun merupakan perhitungan dari Hong Liong, dia
tahu asal Hoa In-liong dapat dihalangi kepergiannya, niscaya
Coa Wi-wi tak akan pergi dengan begitu saja, karenanya dia
hanya pusatkan segenap perhatiannya untuk menghadapi Hoa
In-liong seorang.
Beng Wi-cian telah mengadakan persiapan semenjak tadi,
cepat ia menuju ke muka menyongsong datangnya gadis
tersebut.
Tenaga dalamnya tidak berada dibawah kekuatan Hong
Liong, dengan sendirinya seraDgan yang ia lancarkan juga
teramat tangguh, seketika itu juga jalan pergi Coa Wi-wi
terhadang
Secara berturut turut gadis itu mengganti gerakannya
untuk melepaskan diri dari penghadangan lawan, namun
semua usahanya gagal, lama kelamaan mendongkol juga hati
dara itu.
Dengan dahi berkerut, ia berseru penuh kemarahan,
“Hmmm….! Tadinya kukira kau adalah seorang manusia baikbaik,
tak tahunya kau juga sama saja. Baik, akupun tak akan
berlaku sungkan-sungkan terhadap dirimu lagi”
Beng Wi-cian tertawa.
“Maafkanlah daku nona, yaa, apa mau dikata, tugaslah
yang mewajibkan lohu untuk bertindak begitu “katanya.
Sembari berkata, dengan sepenuh tenaga dia lancarkan
serangan dengan menggunakan ilmu Sing eng pat ciang
(Delapan Pukulan Elang Sakti) yang di tekuninya selama ini.

1066
Demikian dahsyatnya serangan yang kemudian dilancarkan,
ibaratnya seekor burung elang yang menyambar-nyambar dari
udara.
Coa Wi-wi mendengus dingin, telapak tangan kanannya
melancarkan serangan tipuan, lalu kedua jari telunjuk dan jari
tengahnya ditegangkan bagaikan tombak, dalam ayunannya
kesana kemari, belasan buah jalan darah penting disebelah
kanan tubah lawan terkurung dibawah ancamannya.
Itulah jurus Pian tong put ki (berubah tanpa bergerak),
gerakan pertama dari ilmu Su siu huan heng ciang (pukulan
empat gajah berubah bantuk) yang diciptakan Bu seng
(malaikat ilmu silat) Im-Ceng.
Terkesiap hati Beng Wi-cian menghadapi ancaman yang
maha dahsyat itu, ia sadar bahwa kemampuannya tak
sanggup untuk menghadapi serangan sedahsyat itu.
Buru-buru ia keluarkan jurus Sim eng ti leng (elang sakti
rentangkan sayap) untuk menyelamatkan diri.
Sepasang telapak tangan direntangkan ke samping, lalu
bagaikan menepuk seperti juga membabat, sambil putar
badan ia lancarkan serangan, dengan memaksakan diri
disambutnya juga datangnya ancaman tersebut.
Kendatipun demikian, toh bahu kanannya kena diserempet
juga oleh sapuan jari tangan Coa Wi-wi
Rasa sakit yang merasuk ke tulang sumsum timbul dari
bahu kanannya, membuat separuh badannnya jadi kaku
bagaikan lumpur, dalam gelisahnya cepat dia berteriak, “Kiu
coan liong si (lidah naga berputar sembilan kali)!”

1067
Coa Wi-wi sama sekali tidak manfaatkan kesempatan itu
untuk melanjutkan serangannya secepat gasingan badannya
berputar kemudian meneruskan kembali terjangannya ke arah
gelanggang dimana Hoa In-liong sedang terlibat dalam suatu
pertarungan amat seru melawan Hoa Liong.
Sementara itu perintah dari Beng Wi-ciang untuk
membentuk barisan telah dilaksanakan segera, anggota Hianbeng-
kauw serentak meloloskan senjatanya masing-masing,
dibawah cahanya api obor terasalah hawa pedang menyengat
badan.
Menunggu perintahnya diturunkan, kilatan cahaya pelangi
membumbung tinggi di angkasa, selapis kabut pedang yang
menggidikan hati tiba-tiba saja menggulung ke arah Coa Wiwi.
Menghadapi ancaman yang tak terkirakan hebatnya itu,
Coa Wi-wi merasa amat terperanjat, ia hentikan gerakan
tubuhnya dan melepaskan pukulan dahsyat ke depan.
Betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dimilikinya,
meskipun serangan itu tidak dilancarkan dengan sepenuh
tenaga, namun ke dahsyatannya tak seorangpun yang mampu
menghadapinya.
Akan tetapi, barisan Kiu coan liong si kiam tin itupun segera
unjukkan keampuhannya, begitu badan si nona bergerak
untuk meloloskan diri dari kurungan, beberapa pulung
desingan angin tajam segera menyergap kearah beberapa
buah jalan darah penting di punggungnya.
Menghadapi ancaman tersebut, gadis itu harus melindungi
keselamatan jiwanya lebih dulu, mau tak mau terpaksa ia
harus berhenti dan melayani ancaman musuh.

1068
Kedua belah pihak sama-sama melakukan pertarungan
dengan gerakan cepat, sekejap mata kemudian tujuh delapan
jurus sudah lewat.
Coa-Wi-wi selalu memperhatikan keadaan Hoa In-liong, ia
tahu pemuda itu masih terpengaruh oleh racun ular sakti,
penggunaan tenaga yang berlebihan tidak menguntungkan
bagi posisinya, apalagi melangsungkan pertarungan dalam
waktu lama.
Dalam gelisahnya, dia lantas membentak nyaring, “Eeeh….!
Jika kalian menghalangi diriku lagi, jangan salahkan kalau aku
akan mulai melancarkan serangan-serangan mematikan, hayo
cepat mundur semua!”
Bukannya mundur kebelakarg, setelah mendengar teiiakan
tadi, kawaran jago itu malahan memperketat serangan
mereka, lapisan kabut pedang berlapis-lapis, ibaratnya
selembar baja yang sangat kuat, muncul secara bersamaan
waktunya dari tempat penjuru.
Coa Wi-wi semakin naik pitam, terutama setelah dilihatnya
tak seorang manusiapun yang menggubris peringatannya,
apalagi teringat oleh Hoa In-liong yang terancam bahaya,
gadis itu segera menggigit bibir dan mengerahkan tenaganya
semakin besar.
Secara beruntun dia keluarkan jurus serangan Hui yau siu
cin (kunci beraneka liku meliku) serta Jit gwat siang tui
(matahari rembulan saling berdorongan), seketika itu juga
terdengarlah dua ka li dengusan tertahan berkumandang
memecahkan kesunyian, dua orang laki-laki berbaju ungu
yang berada dihadapannya masing-masing terkena sebuah
pukulan, sambil muntah darah segar, tubuh mereka mencelat
sejauh beberapa kali dari tempat mereka semula dan tewas
seketika itu juga. Kedua jurus serangan tersebut kesemuanya

1069
menggunakan jurus serangan yang tercantum dalam ilmu Su
siu hus heng ciang, bayangkan saja betapa dahsyatnya
ancaman itu. Kendalipun kawan laki-laki berbaju ungu itu
bukan manusia sembarangan meskipun tenaga dalam mereka
rata-rata sangat lihay dan walaupun barisan Kiu coan liong-si
kim tin tak terkirakan hebatnya, tapi mana mereka sanggup
menghadapi ancaman yang maha tangguh itu….
Dengan tewasnya dua orang laki-laki tersebut, untuk sesaat
kekosongan dalam barisan belum bisa terisi, suasanapun jadi
kacau, ditambah lagi, sisa jago lainnya dibuat tertegun
lantaran kaget dan ngeri, maka keampuhan barisan itu
terhenti untuk sejenak.
Coa Wi-wi sendiri juga kaget dan ngeri, karena baru
pertama kali ini dia membunuh orang, hanya saja karena
semua perhatiannya terjatuh pada Hoa In-liong seorang, maka
sesudah termangu sesaat, cepat ia lanjutkan kembali
gerakannya untuk menyusup lebih ke depan.
Sementara pertarungan berlangsung, kawanan jago dari
Seng-sut-pay hanya mengurung Hoa In-liong dan Hong Liong
di tengah gelanggang, mereka hanya mengikuti jalannya
pertarungan dengan mata melotot, tak seorangpun diantara
mereka yang turut campur dalam pertempuran tersebut.
Walau agak terperanjat ketika Coa Wi-wi menerjang masuk
ke dalam arena, ternyata hanya tiga orang yang majukan diri
untuk menyongsong kedatangan lawan.
Ketiga orang itu masing masing mempunyai kemampuan
yang berbeda, orang yang di tengah menggunakan ilmu
totokan sian ki ci lek, yang di sebelah kanan mainkan ilmu
Thian mo ciang, sebaliknya orang yang disebelah kiri mainkan
ilmu Hoa kut sin kun (pukulan sakti peremuk tulang).

1070
Walaupun berbeda dalam kepandaian, akan tetapi
gabungan dari ketiga orang itu justru meliputi ilmu pukulan,
ilmu telapak tangan serta ilmu totokan jari.
Mengalirlah pelbagai jurus serangan yang dilancarkan
bagaikan amukan angin puyuh, perubahan demi perubahan
mengalir keluar tiada hentinya.
Mereka bertiga mengira asal serangan gabungan
dilarcarkan secara bersamaan, niscaya musuh dapat
ditaklukan, atau sedikitnya walaupun Coa Wi-wi berilmu tinggi
untuk menahannya selama tujuh delapan puluh jurus tentunya
bukan menjadi persoalan.
Siapa tahu, setelah menghadapi rintangan demi rintangan,
hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Coa
W wi, ketika menyaksikan dirinya diserang kembali, dengan
amat gusarnya ia membentak, “Keparat, rupanya kalian sudah
bosan hidup!”
Dengan penuh tenaga ia lancarkan serangan dengan jurus
Pian-tong put ki segera disusul dengan jurus Hui-yan-siu ciu.
Orang yang berada di tengah itu baru saja akan
menyodokkan jari tangannya ke muka, ketika secara tiba-tiba
pandangan matanya jadi kabur, tahu-tahu sebuah telapak
tangan yang putih mulus sudah menghantam badan….
Ia menjerit lengking kesakitan, isi perutnya hancur lumur
seketika itu juga, begitu mencelat ke udara, tewaslah orang
itu dalam keadaan mengerikan, darah kental berwarna hitam
meleleh dari ke tujuh lubang indranya.
Orang yang sebelah kiri berusaha untuk meloloskan diri dari
ancaman maut, tapi Coa Wi-wi yang sudah mata gelap
mengejarnya lebih kedepan, sebuah sodokan kilat tetap

1071
menghajar jalan darah Tiong-bu-hiat nya, tak ampun orang itu
roboh terjengkang.
Masih berutung Coa Wi-wi jadi tak tega setelah
menyaksikan kematian orang pertama dalam keadaan
mengerikan, coba serangan totokan itu dirubah menjadi
serangan telapak tangan niscaya jiwanya ikut kabur ke alam
baka.
Berhasil dengan serangan-serangannya, gadis itu semakin
tidak ragu-ragu lagi dengan kemampuannya, dengan suatu
gerakan cepat badannya bergerak ke depan dan langsung
menghantam punggung Hong Liong
Merasa punggungnya diserang orang, Hong Liong
terperanjat, cepat-cepat ia berkelit ke samping kiri.
Gerakan yang dilakukan Coa Wi-wi ini dilakukan dengan
kecepatan bagaikan sambaran kilat, menanti para anggota
Mo-kauw membentak marah dan siap menghalanginya, semua
kejadian telah berlangsung.
Sesaat kemudian pertarungan terhenti untuk sejenak,
tampaklah Hoa In-liong berdiri dengan napas tersengkalsengkal,
sekujur badannya gemetar keras dan basah oleh
keringat, untuk berdiripun terpaksa ia harus menggunakan
pedangnya sebagai tonggak penyanggah.
Buru-buru Coa Wi-wi menghampiri dan membimbingnya,
dengan penuh kecemasan ia berseru, “Jiko, kau…. kau….baik
baik bukan?”
“Aku…. aku masih bisa….” Kata-kata dari Hoa In-liong ini
kedengaran agak gemetar, meski senyuman menghiasi
bibirnya namun peluh dingin telah membasahi sekujur
tubuhnya.

1072
Coa Wi-wi makin gelisah, air mata jatuh berlinang
membasahi seluruh pipinya.
“Jiko, kau….”
“Adik Wi, aku hendak menyalurkan tenaga dalamku untuk
mendesak racun….” tukas pemuda itu kembali.
Tiba-tiba ia membungkam, sementara hawa sakti Bu kek
teng heng-toa hoat segera disalurkan untuk menguasahi
bekerjanya sari racun dalam tubuhnya.
Berada dalam keadaan demikian, ternyata anak muda itu
memutuskan untuk mengerahkan tenaga dalamnya guna
mendesak sari racun dari tubuhnya, dari sini dapat diketahui
betapa seriusnya keadaan pada waktu itu, meski Coa Wi-wi
lihay dalam ilmu silat, ia dibikin gelagapan juga menghadapi
keadaan tersebut.
Sebagaimana diketahui, dalam pertarungannya barusan,
Hoa In-liong telah bertarung dengan mengandalkan
keampuhan ilmu pedang Hoa si ciong kiam cap lak sin ciau.
Memang dalam soal pertahanan dan ketahuan ilmu pedang
itu boleh diandalkan, sayangnya justru kejadian tersebut
sangat besar menyerap kekuatan seseorang.
Dalam keadaan demikian, otomatis sari racun ular sakti
yang berasil didesak Hoa In-liong ke dalam jalan darah Gi lam
dan Gi-pinya jadi kambuh kembali dan menyerang isi
perutnya.
Jikalau racun yang sudah terlanjur menyebar kembali ke
dalam isi perutnya itu dibiarkan saja menghadapi tekanan dari
luar maupun dalam, seseorang pasti tak akan tahan.

1073
Untunglah Hoa In-liong memiliki semangat bertempur yang
tinggi, sekalipun harus mengalami penderitaan yang luar
biasa, ia masih sanggup bertahan sampai saat terakhir.
Yaa, pada hakekatnya pertarungan yang singkat itu, bagi
dari Hoa In-liong ibaratnya suatu pertarungan jarak panjang
yang berlangsung selama tiga hari tiga malam tanpa berheti.
Dengan manik matanya yang indah Coa Wi-wi melirik
sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat seluruh jago Hian-bengkauw
telah mengepung mereka rapat-rapat, barisan Kiu coan
liong si kiam tin yang maha tangguhpun sudah dipersiapkan
sebanyak tiga lapis.
Beng Wi-cian dengan sebilah pedang mustika yang
terhunus di tangan bukan saja langsung terjun sendiri ke
gelanggang untuk memimpin gerakan barisan tersebut, malah
keempat orang Ciu Hoa pun ikut menggabungkan diri dalam
barisan itu.
Pada lapisan yang terdepan berjejerlah kawanan jago dari
Seng sut pay, mereka membentuk lapisan kepungan yang
sangat tangguh, rupanya pihak lawan telah berkeputusan
untuk menahan mereka berdua walau dengan cara apapun
jua.
Dalam sekejap mata situasi dalam arena mengalami
perubahan yang dratis.
Mengetahui posisinya lebih unggul, Beng-Wi-cian tertawa
terbahak bahak, katanya, “Nona Coa, lohu anjurkan kepadamu
untuk lebih baik menyerah saja, percayalah, perkumpulan
kami nanti akan melayani dirimu sebagai seorang tamu
agung!”

1074
“Huuuhh….jangan bermimpi disiang hari bolong!” teriak
Coa Wi-wi sambil berusaha untuk mengendalikan perasaannya
yang kalut.
Bene wi cian tertawa mengejek.
“Heeehhh…. heeehhh…. heeehh….tentu saja aku tahu
bahwa nona Coa tak akan takut menghadapi keadaan saat ini,
tapi…. apakah engkau tidak memikirkan buat keselamatan Hoa
kongcu?”
Ucapan tersebut dengan tepatnya mengena dihati Coa Wiwi
justru persoalan inilah yang dia kuatirkan.
Cepat ia berpaling sekejap, dilihatnya Hoa In-liong masih
berdiri tegak sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk
mengusir racun dari dalam tubuhnya, melihat itu dia lantas
berpikir, “Apa dayaku sekarang? Entah sampai kapan semedi
jiko baru selesai? Untuk melindungi keselamatanku sendiri
jelas tak ada persoalan, tapi untuk melindungi pula diri jiko….
Saking kalut dan murungnya gadis itu, sehingga untuk
sesaat lamanya lupa untuk menjawab pertanyaan lawan.
Sementara itu, Hong Liong yang berada diluar gelanggang
telah berseru sambil menyeringai seram, “Beng heng, buat
apa kau musti banyak cing-cong lagi dengan budak tersebut?
Mau atau tidak, suruh saja dia tentukan dalam sepatah kata!”
Beng Wi-cian tertawa seram.
“Sudah kau dengar nona manis?” serunya kemudian.
“Kalau sudah mendengar lantas kenapa?” Coa Wi-wi
mengejek dengan wajah sinis.

1075
“Mau atau tidak mau, harap nona putuskan dengan sepatah
kata!”
“Kalau aku mau lantas kenapa, kalau mau lalu bagaimana?”
kata gadis itu lagi.
Dia memarg bertujuan mengulur waktu sebisa mungkin,
maka di usahannya untuk berbicara apa saja yang mungkin
dapat dibicarakan.
Beng Wi-cian bukan manusia sembarangan, sudah tentu
taktik semacam itu tak dapat mengelabuhi dirinya.
Terdengarlah ia tertawa tergelak, kemudian berkata,
“Haaahh…. haashh…. haaahh…. jika nona bermaksud untuk
mengulur waktu, maka jangan salahkan kalau lohu tidak akan
berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu!”
Coa Wi-wi jadi murung, kesal dan panik, ia benar-benar
kehabisan akal, gadis itu tak tahu apa yang harus
dilakukannya untuk mengatasi keadaan tersebut.
Ditengah suasana yang amat kritis itulah, mendadak dari
tempat kejauhan berkumandang suara nyanyian yang nyaring
dan lantang:
“Tanggul pohon liu, selokan pohon bambu.
Bayangan surya menyinari rerumputan nan kuning.
Dengan langkah perlahan kudekati dermaga nelayan.
Kulihat burung bangau dan burung manyar saling
bercanda.

1076
Bapak petani paman nelayan, banting tulang untuk
menyambung hidup.
Mereka tak sadar hidup dalam lukisan.
Memandang semua pemandangan yang tertera didepan
mata.
Walau tak ada arakpun orang akan mabok di buatnya….”
Suara nyanyian itu nyaring, lantang, penuh tenaga dan
memekikkan telinga, siapapun yang mendengar, siapapun
tahu bahwa nyanyian tersebut berasal dari seorang tokoh silat
yang berilmu tinggi.
Berbareng dengan selesainya nyanyian tersebut, tiba-tiba
terdengar, seseorang berseru dengan suara nya yang lantang,
“Cu loji besar amat seleramu untuk berannyi! Hmm bila Liongji
sampai menemui seauatu yang tak besar, akau kulihat
sebesar wajahmu yang tua itu akan kau taruh dimana?”
Kemudian terdengarlah Cu loji tertawa terbahak-bahak.
“Haaahh…. haaahhh…. haaahhh…. ayoh keluar, ayoh! Aku
tahu kalau engkau sedang menguatirkan keselamatan cucu
luar, alasannya saja untuk melindurgi mukaku, hahhh….
haaahhh….
Dengan menggemanya suara pembicaraan dari kedua
orang itu, sekalipun orangnya belum muncul kebanyakan
orang hadir dalam gelanggang telah mengetahui bahwa
mereka adalah Pek Siau thian, Sin-ki pangcu yang lalu serta si
dewa yang suka kelayaban Cu Thong.
Perlahan-lahan dari balik hutan munculan, dua orang
manusia.

1077
Seorang diantaranya bertubuh tegap bagaikan batu karang,
beralis mata putih dan berjenggot putih, ia mengenakan jubah
berwarna ungu, siapa lagi kalau bukan Pek Siau thian….
Disampingnya mengikuti seorang kakek cebol berbadan
gemuk, kepalanya botak dengan pipi yang montok, mukanya
merah berminyak seperti muka bayi, ditanganya membawa
sebuah kipas model kecubong, kecuali si dewa yang suka
kelayapan Cu Thong memang tiada orang kedua yang
berbentuk seperti ini.
Tiba-tiba terdengar Hoa In-liong berteriak penuh
kegembiraan, “Gwakong! Cu yaya! Kalian sudah datang
semua?”
Mula-mula Coa Wi-wi agak tertegun, tiba-tiba ia putar
badan dan jatuhkan diri kedalam pelukan Hoa In-liong.
“Jiko, baik-baiklah kau?” saking terharunya air mata tanpa
terasa jatuh berlinang.
Walaupun ia memiliki ilmu silat yang amat tangguh, tapi
sebagai gadis ia tetap memiliki perasaan sebagai seorang
dara, apalagi setelah dicekam rasa kuatir selama ini sertamerta
rasa kangen dan manjanya segera dilampiaskan kepada
pemuda pujaannya begitu keadaan jadi aman kembali.
“Adik Wi, aku telah membuat kau risau!” bisik Iloa-ln-Iiong
dengan penuh rasa sayang.
Sesudah berhenti sebentar, ujarnya kembali, “Racun ular
sakti berhasil kusudutkan untuk sementara waktu, tapi jika
dipakai untuk bertarung lagi, racun itu akan segera kambuh
kembali….”

1078
Mendengar pengakuan itu, air muka Coa Wi-wi kontan
berubah jadi pucat pias kembali.
“Lalu apa yang musti kita lakukan?” tanyanya cemas.
Hoa In-liong tertawa.
“Yaaa, biarlah kesemuanya berkembang menurut
keadaan!”
Sebetulnya Beng Wi-cian bermaksud untuk manfaatkan
kesempatan sebelum Pek Siau thian dan Cu Thong munculkan
diri untuk menaklukan Hoa In-liong, dalam perkiraannya
semula, dengan pengepungan yang berlapis-lapis, kendatipun
Pek Siau thian dan Cu Tong memiliki tenaga dalam yang maha
dahsyat pun tak mungkin mereka sanggup menerobosi
kepungan tersebut dalam waktu singkat.
Padahal saat itu Hoi In liong sudah lemah dan tidak
memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan lagi, dalam
keadaan demikian tidaklah sulit baginya untuk membekuk si
anak muda itu.
Siapa tahu dalam waktu yang amat singkat, Hoa In-liong
telah berhasil mendesak racunnya, kehilangan kesempatan
yang sangat baik itu, ia merasa benar-benar amat menyesal.
000000O000000
29
BOCAH keparat ini licik sekali” demikian Beng Wi-cian
berpikir, “andaikata ia benar-benar tak mampu untuk
melakukan pertarungan lagi, masa rahasianya diutarakan
dengan begitu saja? Aku musti bersikap hati-hati daripada
dipecundangi oleh seorang bocah muda!”

1079
Sementara ia masih termenung, tiba-tiba Hong-Liong
membentak dengan suara nyaring, “Pek loji!”
“Mau apa kau panggil panggil nama loya mu?” sela Cu
Thong sambil menyengir.
“Kunyuk, siapa yang ajak kau orang she Cu berbicara?”
teriak Hong Liong marah marah, setajam sembilu sorot
matanya.
Dalam penggalian harta karun dibukit Kiu ci san, meski Cu
Thong datang agak terlambat sehingga tak sempat berjumpa
muka dengan Hong liong, akan tetapi semua sanak keluarga
maupun sahabat baik keluarga Hoa telah mereka selidiki satu
per satu dengan jelasnya, dengan tampang serta bentuk
badan Cu Thong yang istimewa, sudah tentu ia dapat
mengenalinya dengan segar.
Pek Siau thian sama sekali tidak menggubris panggilan itu,
dengan suara nyaring dia malah berkata, “Liong-ji, gwakong
toh pernah berkata kepadamu, ilmu silat yang kau miliki
sekarang masih belum cukup bagimu untuk malang melintang
dalam dunia persilatan, sekarang telah merasakan sedikit
pelajaran, tentunya kau sudah percaya bukan?”
Walaupun ucapan tersebut diutarkan dengan tegas dan
tajam, akan tetapi nada manja sayangnya masih amat
kentara.
Hoa In-liong tertawa.
“Apa yang gwakong ucapkan, selamanya didalam hati,
kapan aku tidak percaya kata-kata gwakong?”

1080
Setelah berhenti sebentar, ia berkata lagi, “Cuma orang
kuno pernah bilang: Siapa yang telah merasakan pahit
getirnya kehidupan, dialah seorang manusia yang
berpengalaman, Liong-ji rasa penderitaan yang aku alami
selama ini merupakan suatu penderitaan yang amat berharga”
Berbicara pulang pergi, ia tetap memegang prinsip
bahwasanya perbuatannya selama ini tak salah, sikap serta
pandangannya sama sekali tidak mengalami perubahan.
Pek Siau thian mendengus marah, pikirnya, “Kurangajar,
teringat kemampuan aku orang she Pek tempo dulu,
perkumpulan Sin ki pang yang begitu besarpun dapat kuatur
dengan baik dan penuh kedisiplinan, heeehh…. hehehh….
sungguh tak nyana menjelang tuaku sudah muncul seorang
cucu luar yang tak bisa di didik, benar-benar kejadian yang
ada diluar dugaan!”
Sebenarnya dia ingin menegur anak muda itu dengan
beberapa patah kata, tapi hatinya merasa tak tega, akhirnya
kepada Coa Wi-wi dia berkata dengan lembut, “Nona Coa,
berkat bantuanmu, cucuku itu tak sampai berbuat malu disini,
untuk budi kebaikan mu itu terlebih dulu lohu ucapkan banyak
banyak terima kasih”
Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa In-liong merasa
geli, pikirnya di hati, “Tampak-tampaknya gwakong memang
sengaja ada maksud menyusahkan diriku….”
Didorongnya Coa-Wi-wi, kemudian bisiknya lirih, “Gwakong
lagi ajak kau berbicara itu lho….masa diam saja?”
Cu Thong ikut terbahak-bahak.
“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….Mempunyai tulang
dewa, mempunyai wajah menawan, di tambah lagi memiliki

1081
tenaga dalam yang cukup sempurna, benar-benar jarang
ditemui dikolong langit dan tiada keduanya di atas bumi”
“Gwakong! Cu Yaya! Panggil saja aku Wi-ji!” tiba-tiba Coa
Wi-wi berteriak, “kita semua ‘kan berasal dari satu keluarga,
kenapa musti sungkan-sungkan?”
Mendadak ia merasa amat jengah sehingga kepalanya
ditundukkan rendah-rendah.
Dalam gugupnya dia mengikuti sebutan yang di pakai Hoa
In-liong, tapi setelah itu ia baru terbayang kembali ada
sesuatu yang tak beres, kontan saja pipinya berubah jadi
merah lantaran malu.
Sejak bersembunyi didalam hutan, baik Pek Siau-thian
maupun Cu-Thong sama-sama telah mengawasi gerak gerik
Coa Wi-wi yang begitu mesra terhadap Hoa In-liong, maka
ketika dilihatnya gadis itu tundukan kepala dengan wajah
semu merah hingga menambah kecantikannya, tak kuasa lagi
mereka berpikir kembali, “Perempuan ini memperlihatkan rasa
cintanya tanpa tedeng aling-aling, berada dihadapan banyak
orangpun sikapnya begitu mesra, ini membutikan bahwa rasa
cintanya terhadap Liong-ji tak bisa diragukan kembali….
berbicara tentang kecantikan, ia tak kalah dari Kun-gie
heeehhh…. heeeeh…. heeehhh…. memangnya semua gadis
cantik didunia ini hanya dimiliki oleh keluarga Hoa semua?”
Jilid 28
SEMENTARA berpikir sampai kesitu, terdengar Cu thong
berkata sambil tertawa, “Liong ji, kau benar-benar punya
rejeki bagus! Ada seorang gadis secantik itu yang memanggil
Pek loji sebagai gwakong, aku yakin saking girangnya Pek loji
sampai tak tahu apa yang musti di lakukan”

1082
Kata-kata tersebut dilakukan secara terang-terangan tanpa
tedeng aling-aling, tentu saja hal ini membuat Coa Wi-wi jadi
amat jengah hingga tak sanggup mengangkat kepalanya.
Beberapa orang itu bercakap-cakap sendiri tanpa
mengindahkan kalau disana hadir pula orang-orang Hianbeng-
kauw dan Mo-kauw, hal ini tentu saja membuat Hong
Liong dan Beng Wi-cian jadi tak enak hati.
Beng Wi-cian tertawa kering.
“Yang barusan datang apakah Sin ki pangcu serta Siau yau
sian Cu tayhiap….
“Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh….sebutan yang paling
cocok untuk saat ini adalah Pek tayhiap ejek Hong Liong
sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Jelas ucapan tersebut berada ejekan, dimana Pek Siau
thian telah berpihak golongan kaum pendekar.
“Hmm….tenyata memang memperoleh banyak kemajuan!”
Pek Siau-thian balas mengejek dengan mata melotot.
Sikap gagah semacam itu tentu saja tak mungkin bisa ditiru
Hong Liong, hanya sepatah kata yang sederhana saja
kesombongan Hong tertekan, malah ia tak mampu
menambahi sepatah katapun ucapan sindiran.
Hoa In-liong yang paling gembira menghadapi keadaan
seperti itu, pikirnya.
“Gwakong memang tak malu menjadi seorang totoh dunia
persilatan, cukup dengan sikapnya yang gagah dan penuh

1083
kewibawaan itu rasanya masih jauh aku ketinggalan dari
padanya….”
Perlu diterangkan, dalam tubuh anak muda itu mengalirkan
darah Pek Siau thian, sebab itu diapun memiliki semangat
seperti yang di miliki gwakongnya, coba berganti dengan
toako-nya Hoa Si, dia pasti akan menghadapi orang dengan
cara yang lembut.
Orang bilang anak menuruni watak orang tuanya, meskipun
ia bukan keturunan langsung dari Pek Siau thian, tapi oleh
karena Pek Siau-thian teramat memanjakan dirinya, karena
itulah watak Hoa In-liong lebih banyak menuruni gwakongnya
itu.
Dalam pada itu Pek Siau thian telah melirik sekejap ke arah
Beng Wi-cian kemudian ujarnya, “Tempo dulu, lohu pernah
mendengar bahwa diluar perbatasan terdapat seorang Thian
ki siusu yang mengaadalkan Sin eng pit ciang nya menjagoi
dunia persilatan….”
“Haahh…. haaahh…. haaahh…. orang liar dari perbatasan,
kurang sedap untuk di singgung-singgung” Beng Wi-cian
menyela sambil tertawa tergelak.
Setelah mengelus jenggotnya, ia berkata kembali, “Lohu
harus menyebut diri Pek pangcu sebagai pangcu, ataukah
sebagai tayhiap?”
“Licik benar orang yang bernama Beng Wi-cian ini” pikir
Pek Siau thian dalam hatinya, “ia jauh lebih licik bila
dibandingkan Hong Liong…. aku musti berhati-hati!”
Dengan nada dingin sahutnya, “Lohu she Pek bernama Siau
thian terserah kau mau sebut apa kepadaku….”

1084
“Kalau begitu akan kusebut sebagai Pek pangcu saja” kata
Beng Wi-cian kemudian sambil tertawa.
Dalam ucapannya itu, secara lapat-lapat ia menyindir
kedudukan Pek Siau thian yang telah berubah saat itu.
Pek Siau thian mendengus dingin.
“Beng thamcu, sampai sekarang engkau masih mengurung
cucuku dan nona Coa ini, apakah kau masih ingin
melangsungkan pertarungan lagi?”
Beng Wi-cian lantas bsrpikir, “Situasi yang terbentang
didepan mata saat ini sangat tidak menguntungkan bagi kami,
bila ingin peroleh keuntungan dari keadaan seperti ini, tak
ubahnya seperti orang bodoh lagi mengigau!”
Tanpa berunding lagi dengan Hong Liong, dia lantas
ulapkan tangannya sambil berseru, “Segenap anak murid
Hian-beng-kauw mundur dari posisi sekarang!”
Bagaikan gulungan air bah, kawanan laki-laki berbaju ungu
itu menyingkir semua ke belakang.
“Para jago dari Mo-kauw yang mengepung dari luar, mau
tak mau harus menyingkir juga untuk memberi jalan kepada
mereka.
Ciu Hoa lotoa menunjukkan sikap tak senang hati, bibirnya
bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya
niat itu dibatalkan, mengikuti yang lain diapun mundur ke
belakang.
Hong Liong yang marah-marah menghadapi kejadian itu,
dengan ilmu menyampaikan suara dia berseru, “Wahai oraag

1085
she Beng, memangnya kau hendak bentrok sendiri dengan
kami?”
“Aku rasa Hong heng jauh lebih memahami keadaan situasi
yang terbentang didepan mata saat ini” jawab Beng Wi-cian
pula dengan ilmu menyampaikan suara, “mau bertempur atau
tidak, siau te menunggu perintah diri Hong heng”
Walapun amat gusar, Hong-liong bukannya seorang
manusia yang tidak mempunyai akal, ia tahu pada hakekatnya
memang tiada harapan untuk menang bagi pihaknya,
sekalipun ucapan Beng-Wi enak di dengar, seandainya benarbenar
terjadi pertarungan, masih untung kalau kakinya tidak
di gaet sendiri.
Karena itu sambil mendengus marah ia berseru lagi dengan
ilmu menyampaikan suara
“Baiklah orang she Beng, akan kulihat bagaimana caramu
untuk mempertanggung jawabkan kejadian hari ini kepada
kaucu kalian?”
Beng Wi-cian hanya tersenyum sambil mengelus
jenggotnya, ia tidak berbicara apa-apa lagi.
Hong Liong benar-benar amat gusar, setengah berpekik
teriaknya.
“Segenap anak murid auri perkumpulan kami, mundur
semua kemari!”
Dalam waktu singkat, suasana dalam gelanggang kembali
mengalami perubahan, agaknya mereka bermaksud
menyudahi pertarungan tersebut dengan begitu saja.

1086
Coa Wi-wi yang menjumpai hal itu tak bisa mengekang
hawa napsunya, ia berseru, “Gwa….Pek yaya, jangan biarkan
mereka berhasil kabur dari sini, walau hanya seorangpun,
persoalan yang menyangkut diri empek Yu belum
diselesaikan!”
Kali ini dia merubah panggilannya atas diri Pek Siau thian
menjadi “Pek yaya” tentu saja Pek Siau thian tahu bahwa
muka gadis itu tipis dan gampang merasa malu, perubahan itu
sama sekali tidak menjadikan hatinya kaget.
Justru Cu Thong lah yang sangat memperhatikan penyakitpenyakit
kecil semacam itu, kontan saja ia tertawa cengarcengir.
“Waaah….waaah….Pek loji bakal merasa kehilangan lagi,
tahukah kau anak Wi?”
“Budak ingusan she Coa” mendadak Hong Liong berteriak
sambii menyeringai seram, benarkah bacotmu itu? Suatu
ketika pasti akan kusuruh kau merasa kelihayan loya mu!”
Sebaliknya Beng Wi-cian tersenyum.
“Nona Coa telah salah paham, pada saat ini Yu Sin-gi (Yu
tabib sakit) merupakan tamu terhormat dari perkumpulan
kami, diampuni bersedia mengamalkan kepandaian
pertabibannya melalui kekuasaan perkumpulan kami untuk
menyelamatkan sesama umat manusia”
Mula-mula Coa Wi-wi menyibirkan bibirnya, lalu dengan
manja ia berseru, “Cu yaya, memalukan sekali kau sebagai
seorang cianpwe, jika yang tuapun tidak menindahkan
ketuaannya, lain kali akupun tak akan memanggil dirimu
sebagai yaya”

1087
Kemudian dengan bibir yeng semakin dicibirkan ia berkata
kepada Hong Liong dengan nada menghina, “Setan tua she
Hong, engkau mempunyai ilmu silat macam apa lagi yang
dikatakan lihay? Kenapa tidak kau gunakan sekarang juga?
Cisss…. omong membual selangit, sungguh tak tahu malu”
Akhirnya kepada Beng Wi-cian katanya pula setelah tertawa
dingin tiada hentinya, “Manusia yang manis dimulut busuk
dihati adalah manusia paling jahat. Tamu agung apaan?
Terang-terangan dia sudah kalian culik dengan kekerasan….
Hmm! Menyelamatkan umat persilatan?”
“Kenapa tidak kau terangkan saja secara blak-blakan untuk
mencelakai seluruh umat persilatan didunia ini! Memangnya
keluarga Hoa dari im-tiong-san tak dapat menandingi
perkumpulan sesat aliran kiri macam kalian itu?”
Meskipun selembar bibirnya yang kecil harus menghadapi
tiga arah yang berbeda, paras mukanya ikut berubah tiga kali,
tapi sikapnya yang lincah, polos dan menarik sama sekali tidak
menjadi hilang. Jangankan Cu Thong yang malahan tertawa
terbahak-bahak, sampai Hong Liong serta Beng Wi-cian juga
tidak merasa kalau dirinya sedang dimaki.
Hoa In-liong yang berada disampingnya segera menowel
ujung bajunya sambil berbisik, “Jangan kau sela dalam
pembicaraan yang sedang berlangsung, biarlah gwakong ku
yang menyelesaikan persoalan ini”
Coa Wi-wi berpaling dan menjawab, “Justru aku kuatir
kalau gwakong tak tahu duduknya persoalan hingga kena
mereka tipu”
Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong tertawa geli.

1088
“Memangnya gwakong ku itu manusia macam apa?
Gampang saja dipecundangi manusia-manusia macam begitu?
Kau tak usah kuatir!”
Setelah dikatai begitu, Coa Wi-wi baru tidak berbicara lagi.
Keadaan mesra yang diperlihatkan dua orang muda-mudi
ini segera menimbulkan pelbagai reaksi bagi yang
memandangnya, ada yang memuji mereka sebagai pasangan
yang paling ideal ada yang merasa bahwa kecuali Hoa In-liong
memang tiada orang lain yang pantas mendampingi gadis
secantik Coa Wi-wi, ada pula yang merasa dengki iri….
Terutama Ciu Hoa losam, rasa dengki yang membakar
hatinya benar-bsnar sukar dikembalikan, dengan langkah lebar
ia menghampiri Beng Wi-cian kemudian sesudah memberi
hormat katanya, “Siautit minta diperintahkan untuk
membunuh Hoa In-liong, bajingan di muka itu!”
“Harap sam kongcu mundur dulu!” tukas Beng Wi-cian
sambil mengulapkan tangannya.
“Beng thamcu….” Ciu Hoa losam masih penasaran.
Tiba-tiba paras muka Beng Wi-cian berubah jadi keren,
ujarnya kembali dengan tegas, “Jika sam kongcu sendiripun
berusaha melanggar pertarungan, bagaimana pula dengan
anak murid perkumpulan lainnya?”
Ciu Hoa lotoa yang selama ini sudah penasaran tiba-tiba
berteriak dengan lantang, “Losam, Beng thamcu sudah punya
rencana pembunuhan yang hebat, kau begitu tak tahu diri,
memangnya ingin mampus?”
Dengan ketakutan buru-buru Ciu Hoa losam mengundurkan
diri ke belakang.

1089
Beng Wi-cian mengerutkan dahinya, kemudian berkata,
“Perkataan toa kongcu berlebihan, lohu tak berani
menerimanya!”
Ciu Hoa lotoa hanya tertawa dingin tiada hentinya tanpa
berkata-kata lagi.
Sedangkan Beng-Wi cian menyumpah didalam hati,
“Hmmm…. memang dianggapnya setelah menjadi murid
kaucu, lantas boleh malang melintang semaunya sendiri? Bila
kalian dibandingkan dengan bocah she Hoa itu…. huuuh,
masih jauh ketinggalan, maju kemukapun paling-paliag hanya
menghantar kematiannya sendiri”
Sejak Beng Wi-cian memerintahkan mundurnya anggota
Hian-beng-kauw sampai Ciu Hoa losam mengundurkan diri
dari gelanggang, waktu hanya berlangsung dalam beberapa
saat saja.
Ketika itu Pek Siau thian sudah tidak sabaran lagi terdengar
ia membentak keras, “Mau bertempur atau damai, sudah
kalian putuskan belum?”
“Pek pangcu dan Cu tayhiap tentu sudah agak lama bukan
datang kemari” kata Beng Wi-cian, “tentunya kalian juga
mengetahui sendiri kalau perkumpulan kami hanya bermaksud
mengundang Hoa kongcu serta nona Coa menjadi tamu-tamu
agung kami, kalau toh kalian tak mau menerima undangan ini,
tentu saja lohu juga tidak akan memaksa lebih jauh”
Habis berkata kembali ia tertawa terbahak-bahak.
Menjumpai keadaan seperti ini, Hoa In-liong lantas berpikir
dalam hatinya, “Kulit muka orang she Beng ini benar benar
sangat tebal, kejadian yang barusan berlangsung bukannya

1090
tidak diketahui semua orang, tapi ia bisa membolak balikkan
duduknya persoalan tanpa berubah muka, ini baru namanya si
muka badak!”
Sudah sering ia berkumpul dengan gwakongnya, diapun
cukup mengetahui keadaan, pemuda itu tahu Pek Siau thian
berbuat demikian tentu mengandung maksud-maksud
tertentu, maka itupun tidak ikut menimbrung.
Tentu saja Coa Wi-wi tak dapat menahan diri, ia kontan
saja menyindir dengan suara sinis.
“Memutar balikkan duduknya persoalan, kulit mukanya
betul-betul lebih tebal daripada tembok kota!”
Cu Thong ikut tertawa,
“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. betul, entah siapa yang
telah melepaskan gas busuknya, sampai-sampai nasi yang
telah kumakan kemarin malam rasanya ikut ingin tumpah”
Hong liong membungkam dalam seribu bahasa, sebaliknya
Beng Wi-cian pura-pura tidak mendengar, semuanya sedang
menunggu bagaimanakah jawaban dari Pek Siau thian.
“Jikalau toh demikian, lohu sekalian hendak mohon diri
lebih dulu” ujar Pek Siau thian kemudian.
Yaa, tabiat dari jago tua ini benar-benar sudah mengalami
perubahan besar, coba kalau menuruti adatnya dimasa lalu,
sepatah dua patah kata sindiran tentu akan dilontarkan keluar.
Kepada Hoa In-liong dia lantas berseru, “Liong-ji, hayo kita
pergi!”

1091
Hoa In-liong berpikir sebentar, kemudian sambil
menggandeng tangan Coa Wi-wi, dengan wajah yang sama
sekali tidak berubah, pelan pelan ia berjalan menuju kearah
mana Pek Siau thian dan Cu Thong berada.
Terbayang kembali kejadian yang baru dialaminya belum
lama berselang.
Coa Wi-wi merasa terlalu keenakan jika membiarkan orangorang
itu berlalu dengan begitu saja, ketika lewat dihadapan
Beng Wi-cian serta Hong Liong, ia melotot sekejap kearah
mereka dengan gemasnya.
Semua jago dari Hian-beng-kauw maupun Mo-kauw hanya
mengawasi gerak gerik mereka dengan mulut membungkam,
tak seorangpun yang menunjukkan reaksi apa-apa.
Menanti keempat orang itu sudah bergabung menjadi satu,
Hong Liong baru berkata dengan wajah menyeramkan, “Pek
loji, marilah kira membaca buku sambil menunggang keledai,
lihat saja nanti, pokoknya hutang baru hutang lama, suatu
hari pasti akan kita selesaikan sampai beres”
“Lohu akan menunggunya setiap Waktu!” jawab Pek Siau
thian tegas.
Setelah mengulapkan tangannya, ia berjalan lebih dulu
keluar dari lembah tersebut, sementara tiga orang yang lain
menyusul dari belakangnya.
Diam-diam Hoa n iong merasa terkejut bahkan si dewa
yang suka kelayaban Cu Thong yang selamanya, suka tertawa
haha hihi pun saat ini menyimpan kembali semuanya, dari sini
dapat diketahui betapa seriusnya keadaan pada waktu itu.

1092
Selang sesaat kemudian mereka sudah keluar dari lembah,
Coa Wi-wi baru bertanya, “Pek yaya, Cu yaya, kenapa kalian
bisa datang tepat pada waktunya….?”
Pek Siau thian masih tetap berwajah serius, ia tidak
menjawab pertanyaan itu.
Sebaliknya Cu Thong telah tunjukan kembali wajahnya
yang penuh senyuman cengar cengir,ahutnya sambil tertawa,
“Siapa yang bilang kebetulan? Sejak semula aku serta Pek
heng telah bersembunyi didalam lembah itu, andaikata kalian
tidak menyusup masuk secara gegabah, sekarang kami masih
meneruskan penyadapan terhadap apa yang mereka
bicarakan, coba bayangkan sendiri, apakah perbuatan kalian
itu tidak pantas dihukum?”
“Pantas dihukum?” Coa Wiwi mencibirkan bibirnya, “Cu
yaya lah yang pantas dihukum, masa kami sudah terancam
bahayapun kalian masih belum turun tangan juga”
Cu Thong tertawa.
“Yaa, benar memang pantas dihukum, cuma yang harus
dihukum bukan aku melainkan Pek loji, Pek loji menginginkan
Liong-ji menerima penderitaan yang lebih banyak lagi, maka
dia hanya bersembunyi terus tidak mau keluar”
“Tidak, aku tetap akan menghukum Cu yaya” seru Coa Wiwi
dengan nada ngotot.
Cu Thong segera gelengkan kepalanya pura-pura tidak
habis mengerti.
“Aaaai…. agaknya jadi orang memang lebih baik bersikap
serius dan bersungguh-sungguh, sebab orang yang sering
tertawa seringkali dianggap orang mudah dipermainkan”

1093
Mendengar perkataan itu, Coa Wi-wi tertawa cekikikan.
“Siapa suruh tampang Cu yaya mirip Mi lek hud? Rasain
sekarang…. Hiiihh…. hiiihh…. hiiihh….”
Selama ini Hoa In-liong hanya tersenyum belaka, ia
menyaksikan percekcokan itu tanpa menimbrung barang
sepatah katapun.
Pada hakekatnya keempat orang itu semuanya merupakan
jago-jago yang berilmu tinggi, sekalipun tidak mengerahkan
tenaga dalamnya, tapi hanya sekejap mata mereka sudah
tinggalkan lembah itu sejauh puluhan li lebih, tiba-tiba Pek
Siau thian menghentikan gerakan tubuhnya.
“Kita berhenti saja di sini!” katanya.
Hoa In-liong melirik sekejap sekeliling tempat itu, ia
saksikan dimana mereka berada saat ini kembali merupakan
sebuah lembah yang sunyi, sekeliling tempat itu merupakan
batu-batu cadas yang berserakan serta semak belukar yang
liar tiada pohon besar dan tak bisa dipakai untuk
menyembunyikan diri, jelas Pek Siau thian hendak
membicarakan tentang sesuatu urusan yang penting,
karenanya dia memilih tempat semacam itu sebagai tempat
pembicaraan.
Pek Siau thian duduk terlebih dahulu di atas sebuah batu
cadas, menyusul kemudian Cu Thong dengan wajah penuh
senyuman ikut pula duduk pula diatas sebuah batu, Hoa Inliong
serta Coa Wi-wi segera ikut mengambil tempat pula
disekitar sana.
“Gwakong apakah engkau ada urusan yang hendak
dibicarakan dengan kami….?” tanya Hoa In-liong kemudian.

1094
Pek Siau thian tidak langsung menjawab pertanyaannya itu,
sebaliknya sambil berpaling ke arah Coa Wi-wi ujarnya.
“Nona Coa….”
Tapi sebelum Coa Wi-wi sempat menyahut sambil tertawa
ia telah merubah sebutannya, “Maaf kalau lohu hendak
menyebut dirimu sebagai anak Wi!”
“Memang seharusnya demikian!” Coa Wi-wi dengan
manjanya.
“Anak Wi, meskipun aku tidak tahu siapakah gurumu, tapi
aku yakin dia pastilah seorang manusia luar biasa yang
memiliki ilmu silat yang sangat tinggi!”
“Cousu dari adik Wi bukan lain adalah Bu seng (rasul silat)
Im locianpwe…. soal Hoa In-liong.
“Biar aku saja yang berbicara” Coa Wi-wi segera
menimbrung dari samping, “kongcu ku sudah menjadi
pendeta, beliau bergelar Goan-cing, sedang ayahku bernama
Goan hau, ibu she Kwan bernama Bun sian, masa Pek yaya
tidak tahu, mungkin ibuku sudah berada di Im tiong san”
Pek Siau thian tersenyum.
“Beberapa hari belakangan ini Pek yaya benar-benar repot
sekali, aku tidak berkesempatan mengunjungi perkumpulan
Liok Soat san ceng”
Setelah terhenti sebentar, ujarnya kembali, “Sebenarnya
aku ingin bertanya kepadamu tentang cara berpandangan
orang tuamu terhadap badai iblis yang menyelimuti dunia
persilatan dewasa ini, akan tetapi tak pernah kamu

1095
mengetahuinya, ini membuktikan bahwa kalian tak ingin
mencampuri urusan dunia persilatan. Tapi sekarang tidak
perlu kutanyakan lagi, bukan saja sudah berlanjut usia,
lagipula dapat kusaksikan kesaktian Rasul silat merajai kolong
langit, kejadian ini benar-benar merupakan suatu
keberuntungan buat kami semua”
Betapa terharunya Coa Wi-wi ketika mendengar bahwa Pek
Siau-thian begitu menaruh hormat terhadap keluarganya, ia
bertanya kembali, “Kenapa tak usah ditanyakan lagi?”
“Oleh sebab gwakongku mendengar bahwa ibumu telah
berkunjung ke rumahku, itu berarti bahwa kalian telah
mengambil keputusan untuk melibatkan diri dalam persoalan
ini” sela Hoa In-liong.
“Yaa, aku tahu kau cerdik, makanya aku tidak tahu lantas
kau musti menimbrung dari samping?” seru Coa Wi-wi manja.
Menyaksikan tingkah laku kedua orarg muda mudi itu, Pek
Siau-thian dan Cu Thong saling berpandangan sekejap lalu
tersenyum.
“Selama hampir sebulan terakhir ini, aku sudah melakukan
perjalanan hampir mencapai selaksa li lebih….” ujar Pek Siau
thian kembali.
“Mengapa gwakong sesibuk itu?” tanya Hoa In-liong tak
tahu.
“Mengapa? Pek Siau-thian mengerutkan dahinya, hmmm!
Mengapa lagi kalau bukan lantaran kau binatang cilik, bukan
saja aku musti bersusah payah, bahkan harus tebalkan muka
untuk menggunakan kembali Hong lui leng guna
memberitahukan rekan-rekan lamaku disegenap tempat agar
mereka awasi gerak gerik Hian-beng-kauw secara diam-diam!”

1096
Setelah menghela napas, ia berkata lebih jauh, “Meraba
kembali lencana Hong lui leng yang telah berdebu itu, aku
benar-benar merasa sangat terharu, sungguh tak nyana
menjelang usia tuaku aku Pek Siau tbian harus melakukan
suatu tindakan yang bertolak belakang dengan ucapanku
sendiri”
Tempo dulu, sewaktu perkumpulan Sin ki-pang masih jayajayanya,
Hong lui leng merupakan panji kekuasaan paling
tinggi daiam perkumpulan tersebut, kecuali dipegang oleh Pek
siau thian dan Pek kun gie, daiam dunia ini tidak terdapat
panji yang ketiga.
Sebagai seorang tokoh persilatan yang berambisi besar,
ketika membubarkan perkumpulan Sin ki pang nya tempo
dulu, sebenarnya ia hendak punahkan ilmu silat dari beberapa
orang anak buahnya yang paling diandalkan, tapi kemudian
setelah dibujuk oleh istrinya Kho-hong bwe, putri sulungnya
dan Pek Soh gie, menantunya Bong pay, mengingat pula
bahwa orang-orang tersebut sudah banyak tahun mengikuti
dirinya dengan setia, maka niat itu kemudian diurungkan.
Sungguh tak nyana, justru disaat seperti inilah ternyata
tenaga mereka kembali harus digunakan.
Sekalipun kawanan jago itu sudah melepaskan ikatannya
dengan Sin ki pang, bukan berarti mereka sudah melepaskan
diri secara lahir batin, karena buktinya begitu perintah Hong
lui leng diterima, serentak mereka penuhi perintah tersebut
serta melaksanakannya.
Yaa, kenyataan tersebut memang kedengarannya aneh,
perkumpulan telah dibubarkan tapi perintah masih diturunkan,
jadinya peristiwa tersebut saling bertolak belakang.

1097
Tidak aneh Pek Siau thian sebagai bekas ketuanya merasa
amat bersedih hati, tapi apa boleh buat lagi? Demi
keselamatan Hoa In-liong mau tak mau ia harus
melakukannya juga.
Sebagai pemuda yang cerdas, tentu saja Hoa In-liong
memahami kesulitan yang sedang dihadapi gwakongnya, tak
terkirakan rasa haru yang menyelimuti hatinya, air mata tanpa
terasa jatuh bercucuran membasahi pipinya.
“Gwakong, mengapa kau musti melanggar sumpahmu
sendiri hanya lantaran aku seorang?”
Pek Siau thian menyahut dengan tegas, “yang paling
penting adalah membalaskan dendam bagi kematian Suma
siok ya mu dan menanggulangi bencana besar yang sedang
mengancam dunia persilatan dewasa ini, Liong ji! Kau tak
usah banyak bicara lagi, pokoknya aku berbuat demikian
disertai dengan maksud yang dalam!”
Hoa In-liong hanya dapat mengiakan dengan air mata yang
masih bercucuran.
Memandang kegelapan yang mencekam seluruh japad,
kembali Pek Siau thian berkata, “Pertama-tama gwakong
menaruh curiga atas asal usul dari Hian-beng-kauw, aku
pernah mencurigai perkumpulan tersebut didalangi oleh Si
Seng tek, keturunan dari Ngo liong hau, sebab jarang sekali
ada orang lihay yang bermukim di perbatasan”
“Tidak mungkin!” Cepat Coa Wi-wi membantah “hitunghitung
Im cousu kami masih terhitung cucu menantu luar dari
Ngo liong hou, padahal dia orang tua adalah seorang tokoh
silat yang saleh, tak mungkin keturunannya mendirikan
perkumpulan sesat seperti itu”

1098
Tiba-tiba Cu Thong tertawa.
“Wiji, apakah belakangan ini keluarga Coa kalian masih
berhubungan dengan keluarga Si?”
Coa Wi-wi menggeleng.
“Sejak kongcu kami empat generasi yang lalu melarang
anak keturunannya melakukan perjalanan dalam dunia
persilatan, kami telah putus hubungan….”
“Nah, itulah dia!” seru Cu Thong dengan cepat, “seorang
suami saja sulit untuk mencegah istrinya nyeleweng, apalagi
membiarkan anak yang tidak berbakti melakukan kontak
dengan kaum iblis dari muka bumi? Siapa tahu pada generasi
yang ada sekarang mereka sudah menjadi seorang gembong
iblis yang jahat?”
Ketika Pek Siau-thian melihat Coa Wi-wi sudah siap
membantah perkataan itu, buru-buru ia menyela, “Akan Wi,
Pek yaya hanya menduga saja, toh tidak menuduh secara
benar-benar!”
Kemudian sambil mengelus jenggotnya yang putih, ia
berkata lebih lanjut, “Sekalipun demikian, bukan berarti kami
menuduh sewenang-wenang tanpa dasar yang kuat, misalnya
saja dengan Beng Wi-cian yang barusan temui, dia kan
pengurus rumah tangganya keluarga Si!”
“Sungguh?” Coa Wi-wi menjerit kaget, Pek Siau-thian
tersenyum.
“Masa Pek yaya membohongi dirimu?” balik tanyanya.
Merah jengah selembar pipi Coa Wi-wi saking malunya,
untuk sesaat ia tak mampu berkata apa-apa sementara

1099
perasaannya benar benar menderita, benar-benar bersedih
hati.
Menyaksikan kejadian itu, buru-buru Hoa In-liong ikut
menimbrung, “Adik Wi buat apa musti bersedih hati? Keluarga
Si adalah keluarga Si, Yan len si keh adalah Yan len si keh,
apalagi tuduhan tersebut kan belum di sertai bukti yang
nyata”
“Yaa benar” ujar Pek Siau thian pula, “setelah Pek yaya
adakan penyelidikan lebih jauh, kembali kutemukan sejumlah
orang lagi”
Coa Wi-wi menaruh perhatian terhadap urusan ini
ketimbang orang lain, dengan cemas dia lantas bertanya,
“Siapakah mereka?”
Pek Siau thian kembali tersenyum.
“Kalau aku sudah tahu siapakah mereka, urusan kau jauh
lebih beres….!”
“Dimana Pek yaya bisa menemukan kalau musti ada orang
lain?” desak Coa Wi-wi lagi keheranan.
“Tak usah gelisah, aku toh musti akan mengatakannya
kepadamu” kata Pek Siau thian tertawa.
Setelah mengumpulkan kembali bahan pikirannya, ia
berkata lebih jauh, “Pada waktu itu, aku menduga orang yaag
jadi kaucu dari Hian-beng-kauw adalah Si Seng tek, aku
mengira ambisinya untuk merajai dunia persilatan tak
terbendung, maka ia lantas melanggar perintah dan anjuran
nenek moyangnya untuk merajai dunia, cuma aku hanya
menduganya saja tanpa berani melantarkan tuduhan secara

1100
langsung, sebab orang ini tinggal jauh diluar psrbatasan aku
kurang begitu memaham tentang karakter orang ini….”
“Hey Pek loji” tukas Cu Thong, jika kau memang tidak
memahami tentang orang ini apa gunanya kau bicarakan
begitu banyak kata-kata yang tak ada gunanya?”
“Jangan menukas dulu saudara Cu, tentang hal ini aku
yakin masih mengetahui sedikit”
Ucapan tersebut memang kata-kata yang sejujurnya, perlu
diketahui sewaktu tiga kekuatan besar masih merajai dunia
dahulu, dialah yang paling menonjol dan perkumpulannya juga
yang paling banyak menyerap tokoh-tokoh sakti dari dunia.
Kontan saja Cu Thong tertawa menyengir.
“Memuji diri sendiri, menyombongkan diri, huuuh, segan
aku mendengarnya….”
Pek Siau-thian tidak menggubris ejekan rekannya, kembali
ia berkata lebih jauh, “Baiklah, aku kupersingkat
keteranganku! Kemudian aku mencurigai kalau Hian-beng
Kaucu itu mempunyai dendam kesumat dengan Hoa Thiangong,
seandainya Si Seng ek yang memusuhi keluarga Hoa,
tak mungkin dia namakan semua mu ridnya sebagai Ciu Hoa
(mendendam keluarga Hoa) Maka dalam suatu kesempatan
yang tak sengaja, akhirnya kuketahui bahwa Si Seng tek telah
ditawan orang, malahan akupun berhasil mengetahui jika
Hian-beng Kaucu itu kenal dengan Kun-ji (maksudnya Pek Kun
gie), ini dapat kulihat dari pembicaraan pembicaraannya….”
Keterangan tersebut diberikan demikian ringkas dan
singkatnya, sehingga tentang darimanakah berita seperti
ditangkapnya Si Seng tek serta darimana ia tahu kalau HianTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
1101
beng Kaucu kenal dengan Pek Kun-gie tak pernah
diutarkannya.
“Gwakong, terangkan lebih jelas lagi!” pinta Hoa In-liong
dengan nada gelisah.
“Tidak ada yang harus dibicarakan lagi.“ Pek Siau thian
gelengkan kepalanya beberapa kali.
Lalu sambil berpaling kearah Cu Thong, tambahnya,
“Sekarang giliranmu untuk bicara!”
Betapa herannya Hoa In-liong menyaksikan tindak-tanduk
gwakongnya, jelas kakeknya tidak berniat melanjutkan katakatanya
itu, ini membuat anak muda itu harus berpikir dengan
wajah tercengang.
“Heran, kenapa gwakong musti mengelabuhi diriku? Urusan
apakah yang sengaja ia selimurkan itu? Kendatipun ibu kenal
dengan Hian-beng Kaucu, toh urusannya lumrah dan bukan
kejadian besar…. Yaa. pastilah dibalik kesemuanya ini terdapat
rahasia besar, tampaknya aku harus menyelidiki sendiri….”
Dalam pada itu Cu Thong telah berkata dengan hambar,
“Apa yang harus dibicarakan lagi? Untung kau berhasil
mendapatkan berita yang baik, ketimbang aku yang cuma
gigit jari tidak dapat apa-apa? Mau menyesalpun tak sempat!”
Pek Siau thian tertawa.
“Jika kau segan bicara, biar aku yang bantu kau untuk
mengatakannya….”
Kemudian sambil berpaling kearah dua orang itu, terusnya,
“Cu yaya mu telah berangkat kebukit Hong san untuk
memenuhi Ciu pek ya kalian!”

1102
“Tak usah membicarakan dirinya lagi!” tiba-tiba Cu Thong
berteriak marah.
“Cu yaya!” Hoa In-liong segera bertanya dengan
keheranan, “mengapa kau merasa begitu tak puas terhadap
Ciu pek ya?”
Cu Thong termenung sebentar, lalu menjawab.
“Gwakong-mu toh sudah mengungkapnya, baiklah, akupun
tak akan mengelabuhi darimu lagi”
Tiba-tiba dengan wajah merah ia meneruskan, “Ciu pek yamu
itu sekarang…. heeehh…. heeeh…. heeehh…. sekarang
sudah bertambah saleh!” Meskipun Hoa In-liong mengerti
bahwa Cu Thong sedang mengatakan kebaikannya, tapi ia
tertawa juga, walau senyuman paksa.
“Kalau memang begitu kan baik sekali!” katanya
“Hmm….! Memang baik sekali” Cu Thong marah-marah
dengan mata mendelik, “mula-mula kukira jelek-jelek Ciu
Thian hau terhitung sahabat karibnya dari siok-ya mu, yang
lain tak usah dibicarakan, cukup memandang dari hubungan
mereka selama puluhan tahun belakang ini yang seringkali
minum arak dan main catur bersama, sedikit banyak mereka
kan masih mempunyai hubungan batin? Hehh…. heehhh….
heeeh….engkau tahu tahu, apa katanya setelah mendengar
berita kematian dari suma siok yamu? Dia bilang begini: Hidup
seratus tahun lagi manusia toh tetap bakal mati, apa artinya
mati sekarang mati besok? Begitu selesai berkata, akupun
dipaksa pergi…. coba lihat masa begitukah cara Ciu Thian hau
terhadap sahabat karibnya?”

1103
“Tapi…. tapi…. Ciu pekya bukan manusia macam itu!” seru
Hoa In-liong dengan hati berkerut.
Cu Thong mendengus.
“Kalau Ciu Thiap hau bukan manusia semacam itu
memangnya aku Cu Thong adalah penipu yang suka
menfitnah orang?”
“Cu yaya, mungkin kau salah paham, mungkin kau salah
mengartikan maksud Ciu pekya, aku tahu Ciu pekya adalah
seorang manusia bermuka dingin tapi berjiwa panas, bila
dugaan Liong-ji tidak keliru, mungkin kaki depan Cu yaya baru
tinggalkan bukit Hong san, kaki belakang Ciu pek ya telah
menyusul pula dibelakangmu”
Tiba-tiba Pek Siau thian tertawa tergelak.
“Haaahhh…. haaahhh…. haaahhh….bagaimana?” serunya,
“aku toh tidak bersekongkel dengan Liong-ji, tapi nyatanya
pendapat kita sama. Aku rasa, lebih baik berkunjunglah ke
Bukit Hong san sekali lagi, coba tengok apa yang lagi
dikerjakan saudara Ciu!”
Cu Thong termenung beberapa saat lamanya, akhirnya
diapun menghembuskan napas panjang.
“Aaaai….mungkin juga memang akulah yang terlalu
berangasan” keluhnya, “tapi, bagaimanapun juga Ciu loji pasti
akan kucaci maki habis-habisan bila bertemu lagi nanti, apa
yang diandalkan Ciu-Thian hau itu sehingga dia pingin
mengangkangi sendiri urusan ini? Memang dianggapnya
hubungan aku orang she Cu dengan Suma Tiang-cing kalah
akrabnya dengan dia?”

1104
Sekalipun ucapannya masih bernada jengkel, tapi ia sudah
percaya, ia percaya memang begitulah kenyataannya.
Padahal, Cu Thong bukanlah seorang anak kemarin sore
yang masih bodoh, iapun sudah menduga sampai kesitu,
hanya rasa mangkelnya terhadap Ciu Thian hau masih
mangkel dalam hatinya ia merasa kurang puas sebelum
dilampiaskan keluar.
Coa Wi-wi tidak kenal dengan Ciu Thian hau, maka dalam
persoalan ini dia hanya membungkam tanpa ikut memberi
komentar.
Setelah suasana reda kembali, Hoa In-liong baru bertanya,
“Cu yaya, bagaimana dengan toako ku?”
“Sudah kuserahkan kepada ayahmu!” jawab Cu Thong
hambar.
Hoa In-liong memandang ayahnya bagaikan malaikat, ia
percaya kepandaian ampuh macam apapun pasti dapat
dipecahkan Hoa Thian-hong, maka setelah mengetahui bahwa
Hoa Si telah di serahkan kepada ayahnya, diapun jadi lega dan
tidak banyak bertanya lagi.
“Gwakong!” ujarnya kemudian alihkan pembicaraan kesoal
lain, “mengapa kau lepaskan Hong Liong serta Beng Wi-cian
dengan begitu saja? Apa salahnya kalau kita sekalian ganyang
sampai habis?”
Pek Siau thian tertawa geli.
“Bocah dungu, jangan terlalu pandang remeh musuhmusuhmu!”
tegurnya, “kau anggap mereka itu mudah
dilawan? Ketahuilah nak, tenaga lwekang yang dimiliki Hong
Liong cuma selisih sedikit dibandingkan dengan gwakong,

1105
andaikata benar-benar terjadi pertarungan, sukar untuk
diramalkan siapa bakal menang dan siapa bakal kalah”
Coa Wi-wi yang membungkam selama ini, tiba tiba ikut
menimbrung, “Aku rasa bajingan tua she Hong itu tidak
seberapa hebat. Aku tidak percaya kalau dia sanggup
menerima pukalan Su siu hua heng elang dari keluargaku!”
Mendengar komentar tersebut, Pek Siau thian tertawa.
“Anak Wi, tenaga dalammu lihay, ilmu silatmu jiga tangguh,
tentu saja keadaanmu lain dibandingkan dengan kami”
Tiba tiba Coa Wi-wi ingat, bukankah Pek Siau thian bilang
tenaga dalamnya hanya selisih sedikit dibandingkan Hong
Liong? Dengan ucapannya itu bukankah secara tidak langsung
ia pandang remeh juga kemampuan Pek Siau thian?
Gadis itu jadi tersipu-sipu, bisiknya cepat, “Aaaah…. tenaga
dalamku rendah sekali!”
“Tak usah merendahkan diri anak Wi, siapapun tahu bahwa
tenaga dalammu sangat tinggi, kenapa musti malu?” kata Pek
Siau thian.
Ia cukup mengetahui pantangan-pantangan yang berlaku
dalam dunia persilatan, karenanya kakek inipun tidak mencari
tahu lebih jauh tentang asal usul ilmu silat keluarga Coa.
Sesudah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Alasan yang
paling utama dari tindakan kita ini adalah lantaran tibanya
Tang Kwik-siu di wilayah Kanglam!”
Ucapan yang sederhana tapi menimbulkan rasa kaget yang
luar biasa bagi Hoa In-liong, pemuda itu sampai melongo
untuk berapa saat lamanya.

1106
Perlu diterangkan disini, dalam peristiwa pencarian harta
karun dibukit Kiu ci san, dikala Seng sut pay kabur terbirit-birit
setelah mengalami kekalahan total. Tang Kwik-siu pernah
sesumbar sesaat meninggalkan tempat itu, katanya sepuluh
tahun atau seratus tahun mendatang, bila Seng sut pay telah
muncul seorang manusia yang berbakat, dia pasti akan
menjelajahi kembali daratan Tionggoan untuk merebut
kembali barang-barang Seng sut pay yang tertinggal. Artinya,
mereka berhasrat untuk merebut kekuasaan tertinggi umat
persilatan dari tangan keluarga Hoa.
Jelek-jelek Tang kwik Siau terhitung juga seorang tokoh
persilatan yang luar biasa, orang bilang siapa yang tahu
keadaan, dialah manusia pintar.
Terhadap kemampuan Hoa Thian-hong, jagoan tersebut
cukup memahaminya, karena itu dapat ditarik kesimpulan,
andaikata tiada keyakinan yang teguh tak nanti benggolan
Mo-kauw itu akan jauh-jauh berkunjung kemari hanya untuk
menghantar nyawa sendiri.
Dengan perkataan lain, kemunculannya kembali di daratan
Tionggoan berarti suatu tantangan buat keluarga Hoa, suatu
pertarungan yang maha serupun secara lapat-lapat sudah
makin mendekat.
Sesudah berhasil mengendalikan rasa kagetnya yang amat
sangat, dengan tenang Hoa In-liong berkata, “Apakah ayah
Liong-ji sudah mengetahui tentang berita ini? Apakah Hianbeng
Kaucu juga sudah datang ke Kanglam?”
“Ayahmu cerdik dan berpengalaman, kurasa hal ini sudah
berada dalam dugaannya, cuma bila gwakong nilai gelagatnya
sekarang, tampaknya ayahmu segan untuk turun tangan

1107
sendiri, justru karena itulah diutusnya seorang kurcaci seperti
kau untuk menanggulangi kesemuanya ini”
“Liong ji justru bersyukur karena diserahi tugas ini” seru
Hoa In-liong cepat, “kalau Tang Kwik-siu sudah datang lantas
kemana? Kalau Kiu im-kaucu mau ikut-ikut kenapa? Apalagi
Hian-beng Kaucu yang main sembunyi macam kura-kura
busuk itu? Hmm, jangan dianggap Liong-ji bakal jeri.
Kendatipun Liong ji masih kalah jauh dibandingkan ayah, tak
mungkin akan kubuat nama baik keluarga Hoa jadi ternoda”
Meskipun dalam hati memuji, diluaran Pek Siau thian purapura
menjadi gusar.
“Aaaaah….Hong Liong saja tak sanggup dilawan, apalagi
membicarakan diri Tang Kwik-siu…. Huuh, ngibul! Omong
besar! Tidak malu kau ditertawakan orang?”
Coa Wi-wi tidak tahu bagaimanakah jalan pikiran Pek Siau
thian yang sebenarnya, ia mengira kakek itu benar-benar
sedang gusar ketika dilihatnya Hoa In-liong kena dimaki,
sebenarnya nona itu ingin mengucapkan beberapa patah kata
agar suasana jadi reda, siapa tahu bibirnya saja yang dapat
menganga sedang tak sepotong katapun yang sempat
meluncur keluar….
Hoa In-liong sendiri, sebaliknya malah kelihatan tenangtenang
saja seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.
“Yang muda sudah sepantasnya meniru yang tua”, Liong-ji
tak mau terlalu merendahkan diri sendiri sahutnya.
“Kalau memang begitu, lakukanlah seorang diri, gwakong
tak mau urusi dirimu lagi”

1108
Sambil berkata, bekas ketua Sin ki pang itu lantas bangkit
berdiri dan berseru kembali, “Cuheng, mari kita pergi!”
Hoa In-liong tertegun, tindakan kakeknya benar-benar
diluar dugaannya, ia ikut berdiri.
“Gwakong, kau marah?” tanyanya.
Pek Siau thian tersenyum.
“Terhadap cucu sendiri masa gwakong tega marah?”
Agak lega juga perasaan Hoa In-liong setelah mengetahui
gwakongnya memang tidak marah.
“Tapi kenapa gwakong ingin pergi?” tanyanya agak
tercengang, “masih banyak urusan yang hendak Liong-ji
laporkan kepadamu!”
“Yaa benar” timbrung Coa Wi-wi pula sambil ikut berdiri,
“Pek yaya, hari sudah malam apa salahnya kalau kau orang
tua beristirahat dulu di rumahku!”
“Lain kali saja! Sekarang aku dan saudara Cu masih harus
menyelesaikan beberapa urusan penting, oya…. Liong ji,
gwakong ada dua urusan penting yang hendak kesampaikan
kepadamu”
Hoa In-liong segera pasang telinga dan siap
mendengarkannya dengan wajah serius.
Terdengar Pek Siau thian berkata, “Meskipun Mo-kauw dan
Kiu-im-kauw mempunyai wilayah kekuasaan yang luar, kedua
kelompok tersebut masih belum merupakan ancaman yang
serius. Menurut pandangan Gwakong, justru Hian-beng-kauw
lah yang merupakan sumber segala penyakit, siapa gerangan

1109
Hian-beng Kaucu itu musti kau selidiki sampai tahu, mengerti?
Itulah hal pertama yang harus kau ingat!”
Sementara itu Cu Thong sudah ikut bangkit, tiba-tiba ia
menimbrung dari samping.
“Pek loji, kalau kau masih juga ngobrol seenak udelnya
sendiri, lebih baik aku berangkat selangkah lebih dulu”
Kemudian sambil menggoyangkan kipasnya, kepada Coa
Wi-wi ujarnya kembali, “Anak Wi, sekarang aku lagi repot dan
tak sempat mampir dirumahmu lain kali saja, bila minum arak
kegiranganmu aku pasti akan hadir!”
Diiringi gelak tertawa yang nyaring dewa yang suka
kelanyaban itu putar badannya dan berlalu dari situ.
Memang dashyat ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya,
sekejap kemudian tubuhnya sudah lenyap dibalik tikungan
bukit sebelah depan sana.
Meskipun merah jengah selebar pipi Coa Wi-wi, sempat
juga gadis itu berseru, “Cu yaya, kau hendak kemana?”
Tiada jawab dari Cu Thong.
“Anak Wi tak perlu meuggubris dia lagi” Pek Siau thian
yang ada disisinya menjawab sambil tertawa.
Setelah berhenti sebentar dia baru berkata lagi, “Kau harus
melindungi baik-baik si nona baju ungu yang dan Si Nio, sebab
aku curiga kalau mereka punya hubungan yang erat dengan Si
Seng tek, inilah urusan kedua yang harus kau ingat baik-baik!”
“Siapakah si nona baju ungu itu Pek yaya?” tanya Coa Wiwi
mendadak.

1110
“Tanyakan sendiri kepada Liong-ji, dia mengetahui lebih
jelas daripada Pek yaya mu!”
Tiba tiba Hoa In-liong berkata, “Liong ji telah mengingat
semuanya, apakah gwakong masih ada petunjuk lainnya?”
“Tidak ada lagi, aku hanya berharap agar kau tahu diri,
jangan sampai menodai nama baik keluarga”
Kepada Coa Wi-wi tambahnya, “Anak Wi, kita semua
berasal dari satu keluarga, akupun tidak akan banyak bicara
lagi”
“Kalau Pek yaya sudah mengatakan tidak banyak bicara,
baiklah, kitapun tidak akan banyak bicara”
Pek Siau thian terbahak-bahak, sekali berkelebat,
tampaklah bayangan warna ungu melintas didepan mata,
kemudian lenyaplah si kakek sakti itu dari hadapan mereka.
Ketika Hoa In-liong menjumpai gadis itu masih termangu
sepeninggal Pek Siau-thian, dihampirinya nona itu dan
ditepuknya bahunya seraya menegur, “Adik Wi-wi kitapun
harus pulang!”
Coa Wi-wi mengiakan, tiba-tiba ia menjerit, “Bagus! Bagus
sekali! Belum pernah kau katakan kepadaku kalau pernah
perkenalan dengan seorang nona baju ungu, ayoh ngaku!
kalian kenalan dimana? Bagaimana kisah perkenalannya?”
Tentu saja Hoa In-liong mengetahui apa yang sedang
dikatakan Coa Wi-wi, geli juga rasanya.

1111
“Kau sendiripun tak pernah bertanya, masa urusan sekali
inipun mesti kukatakan secermatnya kepadamu, tapi kalau toh
ingin tahu, tentu saja akan kukatakan kepadamu”
“Hayo bicara!” seru Coa Wi-wi sambil melebarkan matanya
Hoa In-liong tertawa.
“Tempat ini bukan tempat aman, mari kita jalan sambil
bercerita!”
Ditariknya lengan Coa Wi-wi yang halus lalu dengan ilmu
meringankan tubuh yang sempurna mereka kembali ke dalam
kota.
Hoa In-liong paling memahami perasaan seorang anak
dara, sudah tentu diapun memahami kecurigaan gadis
tersebut, lantaran hubungannnya dengan si nona baju ungu
hanya hubungan yang lazim dan tidak disertai kontak cinta,
maka sebelum diminta untuk kedua kalinya ia telah
membeberkan semua kisah perkenalannya secara terus
terang.
Dengan demikian, kecurigaan Coa Wi-wi pun secara
otomatis ikut terhapus dari dalam benaknya.
Padahal Coa Wi adalah gadis yang polos dan manja, ia
belum mengerti apa artinya cemburu, gadis itu hanya merasa
bila tidak turut mengetahui gadis-gadis mana yang dikenal
Hoa In-liong, hal ini akan merupakan suatu bisul yang besar
dalam hatinya.
Demikianlah, dengan kecepatan kedua orang itu sekejap
kemudian mereka sudah berada kembali di kota, kebetulan
suara kentongan keempat berkumandang dari arah loteng

1112
Ciau lo, karena pintu kota belum dibuka mereka masuk
dengen melompati dinding kota.
Setibanya dirumah sendiri, Coa Wi-wi juga tidak mengetuk
pintu depan, tapi langsung masuk dengan melompati pagar
pekarangan, dilihatnya lampu masih menerangi ruang tengah,
rupanya Kok Hong seng masih menunggu.
Coa Wi-wi mempersilahkan Hoa In-liong menunggu di
ruang tengah, ia sendiri masuk seorang diri ke halaman
belakang.
Selang sesaat kemudian, gadis itu muncul kembali dengan
wajah cemberut dan diliputi hawa amarah, tiga kali Hoa Inliong
menegurnya tanpa peroleh jawaban, sebaliknya dara itu
malahan ribut memerintahkan dayangnya Huan ji untuk
memanggil Kok Hong seng agar menghadap.
Dari sikapnya itu, Hoa In-liong lantas menduga telah terjadi
sesuatu yarg tak beres di rumah itu, tapi ia tak tahu apa yang
terjadi, karena itu duduklah pemuda itu dengan tenang dan
senyuman dikulum.
Tak sampai seperminum teh kemudian, Kok Hong seng
muncul diruang tengah, menyusul kemudian Huan ji masuk
kembali, rupanya sekembalinya ke kamar ia belum sempat
tukar pakaian ketika Huan-ji datang memanggilnya.
Dengan rasa kaget, tak habis mengerti dan ingin tahu,
pengurus rumah tangga she Kok itu masuk kembali ke ruang
tengah.
“Siocia….” sapanya.

1113
Sebelum ia menyelasaikan kata-katanya, Coa Wi-wi telah
menukas, “Empek Kok, kemana larinya pil Yau ti wan
tersebut?”
“Apa? Yau ti wan?” Kok Hong seng mengulangi dengan
nada terperanjat.
“Memangnya didunia ini masih ada keluarga kedua yang
memiliki pil Yau ti wan?” Coa Wi-wi mengernyitkan alis
matanya.
Kok Hong-seng terbelalak lebar.
“Tapi….bukankah Yau ti wan disimpan oleh hujin dan
siocia? Masa bisa hilang?”
“Aaaaa….sungguh menjengkelkan!” keluh Coa Wi-wi sambil
mendepak depakkan kakinya ketanah.
Dari tanya jawab tersebut, Hoa In-liong mengetahui juga
apa yang telah terjadi, dia lantas menyela sambil tertawa,
“Adik wi! kok congkoan! Ada urusan marilah kita rundingkan
sambil duduk, sekalipun Yau ti wan sudah hilang, ya sudahlah
apa gunanya musti ribut-ribut dengan perasaan gelisah?”
“Huuuh….! Enak benar omonganmu” Coa Wi-wi mengeling
sekejap kearahnya sambil mengomel, tahukah kau Yau ti wan
dibuat dari dewa jinsom berusia seribu tahun, Ho sio wu serta
sebatang Hu leng yang berumur tiga ribu tahun ditambah lagi
dengan puluhan jenis bahan obat mustika lainnya waktu
dibuatpun cuma jadi sepuluh butir, turun temun sampai tiga
ratus tahun kemudian kini tinggal dua biji….”
“Kalau begitu adik Wi sudah makan sebutir? tukas Hoa Inliong.

1114
“Yaa benar” Coa Wi-wi mengiakan, sewaktu kecil badanku
lemah dan nyaris mati karena sakit, karena itu aku beruntun
mendapat sebutir yang mengakibatkan tenaga dalamku
sekarang amat lihay, tentunya tahu bukan betapa besarnya
kasiat Yau ti-wan tersebut”
“Sekalipun tak ternilai harganya, kalau sudah hilang apa
boleh buat?”
Digelisahkan juga percuma, kata Hoa In-liong sambil
tertawa.
Coa Wi-wi makin mendongkol lagi setelah menyaksikan
sikap acuh tak acuh dari si anak muda itu, teriaknya, “Aku
sebenarnya aku mengingkari pesan cousu ku dengan
menghadiahkan dua biji yang tersisa untukmu, tapi
sekarang…. Aaaai, memang kau lagi sial!”
Dengan air mata berlinang, ia berpaling kearah Kok Hongseng,
lalu rengeknya, “Hayo katakan, siapa yang telah
mengambil obat itu?”
“Soal ini….”Kok Hong-seng menunduk dengan perasaan
minta maaf.
Coa Wi-wi marah sekali melibat sikap congko-annya itu, dia
berteriak dengan nada lengking, “Jangan ini itu melulu, empek
Kok! Bukan saja kau pandai dan cekatan, ilmu silatmu juga
terhitung nomor satu, masa dirumah sampai terja di
pencurianpun kau tidak tahu, aku lihat keluarga persilatan dari
kota Kim-leng sudah waktunya untuk gulung tikar”
Dihari-hari biasa, gadis ini selalu menghormati Kok Hong
seng sebaegai seorang cianpwe, tak pernah ia bersikap kasar
ataupun mengucapkan kata-kata pedas.

1115
Tak sekarang, dalam gusarnya ia jadi lupa diri dalam
perkataan pun tidak pilih bulu.
Tapi kemudian, setelah ucapan itu terlanjur meluncur
keluar, anak dara itu baru merasa agak keterlaluan, dengan
nada mohon maaf ia berkata kembali, “Empek Kok,
maafkanlah daku, aku masih muda dan tak pandai berbicara,
mungkin ucapan tadi telah menyinggung perasaanmu”
Sudah tentu Kok Hong seng tak dapat marah atau
tersinggung oleh teguran tersebut, dengan nada menyesal dia
ikut berkata, “Apa yang siocia katakan memang benar, aku
Kok Hong-seng betul betul seorang manusia yang tak
berguna”
Hoa In-liong bukan orang bodoh, tentu saja diapun tahu
kecemasan Coa Wi-wi sebagai besar adalah lantaran dia,
betapa terharu dan berterima kasihnya pemuda kita.
“Adik Wi, maksud baikmu biar jiko terima dalam hati saja”
katanya dengan lembut, “aku rasa kesuksesan dalam ilmu silat
harus dilatih dengan tekun dan penuh semangat, apa gunanya
musti andalkan kemustajaban suatu obat-obatan?”
“Ucapan yang bagus! Perkataan yang tepat!” tiba tiba dari
pintu ruangan berkumandang suara teguran seseorang yang
sudah tua tapi nyaring sekali, “untuk mencapai suatu
kesuksesan, orang harus merasakan apa yang tak dapat
dirasakan orang, melakukan apa yang tak dapat dilakukan
orang, dengan begitulah kekuatan yang digunakan pada
saatnya betul betul merupakan kekuatan sempurna yang tak
perlu mengandalkan bantuan orang….”
Tak ada yang tidak merasa kaget diantara tiga orang
jagoan lihay itu, pada hakekatnya mereka merupakan jagojago
berilmu tinggi yang sudah mencapai tingkatan,

1116
mendengar suara terbangnya bunga dan rontokannya daun
dari jarak sepuluh langkah, tapi nyatanya, seseorang berhasil
menyelinap masuk ke dalam ruangan tanpa diketahui akan
kehadirannya, ini menunjukkan betapa sempurnanya tenaga
lwe-kang yang dimiliki orang itu.
Serentak mereka berpaling, mengalihkan pandangan
matanya kearah di mana berasalnya suara itu.
Seorang Pendeta kurus kering, berjubah Pendeta warna
abu-abu dengan muka yang penuh berkeriput berdiri dengan
agungnya dibawah sinar lampu ,orang itu tak lain adalah Goan
cing taysu.
00000O00000
30
Coa Wi-wi pertama-tama yang berteriak kegirangan lebih
dulu, dia lari ke depan menyongsong kedatangan padri itu dan
jatuhkan diri kedalam rangkulannya.
“Kongkong!” serunya manja, “tahukah engkau, pil Yau ti
wan milik kita telah dicuri orang?”
Dengan lembut dan penuh kasih sayang Goan cing taysu
membelai rambutnya yang hitam mulus itu, kemudian
menjawab, “Kongkonglah pencurinya, tentu saja mengetahui
akan kejadian itu!”
Serentak Coa Wi-wi angkat kepalanya dan menjerit
lengking, “Rongkong, kau….”
Tiba-tiba ia tutup mulut kembali.

1117
Hoa In-liong yang pernah mendapat pelajaran Bu kek teng
hen sim-hoat dari Goan-cing taysu belum pernah bertemu
muka langsung dengan si pemberi pelajaran ini, tapi sebagai
orang yang cerdik dan tahu diri, tentu saja ia tahu Goan-cing
tayau yang berada dihadapannya itulah yang memberi budi
kepadanya.
Cepat-cepat ia membenahi bajunya lalu memberi hormat
dengan penuh hikmat.
“Boanpwe Hoa In-liong menjumpai cianpwe, terima kasih
pula atas budi cianpwe yang telah mewariskan kepandaiannya
kepada aku yang muda”
Goan-cing taysu menerima penghormatannya itu, kemudian
dikala ujung bajunya dikebutkan kedepan, Hoa In-liong segera
merasakan timbulnya suatu kekuatan besar yang menekan
tubuhnya, dia mana mau tak mau terpaksa ia harus bangkit
berdiri.
Merasakan itu, pemuda kita lantas berpikir, “Waaah….lihay
juga tenaga dalam yang dimiliki cianpwe ini, jelas sudah
mencapai titik kesempurnaan, itu berarti kemampuannya tidak
berada dibawah ayahku!”
Sementara dia masih termenung, Goan-cing tay Su telah
berkata, “Nah, lolap sudah menerima hormat itu. Nah,
bangunlah sekarang!”
Setelah berhenti sejenak, ia berkata lagi, “Tahukah kau
mengapa lolap menerima penghormatanmu itu?”
Hoa In-liong termenung sebentar, lalu jawabnya dengan
serius, “Boanpwe tahu, cianpwe ada maksud untuk
menjadikan diriku….”

1118
Sebelum ucapan tersebut diselesaikan, Coa Wi-wi sudah
ribut lebih dahulu, “Kongkong, tenaga lwekangmu toh sudah
mencapai tingkatan yang tak terhingga, masa kau orang tua
hendak menambah tenaga dalammu lagi dengan obat Yau li
wan tersebut?”
Karena ditimbrung, terpaksa Hoa In-liong membungkam.
Dengan penuh kasih sayang Goan-cing taysu membelai
rambut Wi-wi yang mulus, kemudian tertawa.
“Kongkong sudah mendekati sembilan puluh tahun,
sebentar lagi juga akan masuk kubur, buat apa kutambah
tenaga dalamku?”
Ia lantas berpaling kearah Kok Hong seng dan tegurnya,
“Hong-seng, masih ingat dengan lolap?”
Sebetulnya sejak kemunculan pendeta itu Kok Hong-seng
berdiri dengan wajah kaget dan sangsi Setelah disapa ia baru
mengucurkan air matanya sambil jatuhkan diri berlutut ke
tanah.
Kiranya ketika Goan-cing taysu belum menjadi pendeta,
Kong-seng lah yang melayani diri Goan seng taysu.
Ketika itu bukan saja Kok Hoan-seng belum menjadi
congkoan, usianya masih sangat muda. Setelah lama tak
berjumpa, paras muka Goan cing taysupun banyak mengalami
perubahan, tak aneh kalau ia tak dapat mengenalinya kembali
meski mukanya dirasakan pernah dikenal.
Goan-cing taysu ulapkan tanganya memancarkan segulung
hawa pukulan yang lembut mengangkat Kok Hong-seng dari
tanah, lalu ujarnya, “Sekarang lolap sudah bukan majikan

1119
tuamu lagi, penghormatan semacam itu tak perlu kau lakukan
lagi”
Kok Hoan-seng tertegun.
“Majikan tua….” buru-buru serunya.
Goan cing taysu gelengkan kepalanya sambil menghela
napas.
“Aaaai….! Jika kalian semua hanya menangis dan
merengek-rengek macam begitu saja setelah bertemu dengan
lolap, lain kali lolap tak nanti akan melangkah masuk ke Kin
leng se keh lagi walau selangkahpun”
Buru-buru Kok Hong seng menyusut air mata dan
tundukkan kepalanya.
Sementara itu Coa Wi-wi yang terada dalam gendongan
Goan cing taysu telah berpaling dan memalu-malui
congkoannya sambil menggoda, “Kok pepek tak malu,
jenggotnya saja sudah begitu panjangnya, tapi tingkah
polanya masih seperti anak kecil, nangis lagi, idiih…. tak tahu
malu!”
“Huusss…. anak Wi tak boleh senbarangan omong!” tegur
Goan-cing taysu.
Kemudian kepada Kok Hong seng ujarnya lagi, “Hong-seng,
pergilah beristirahat! Disini tidak memerlukan engkau lagi, aku
aku masih ada urusan lain hendak dibicarakan dengan Hoa
kongcu serta anak Wi”
“Cianpwe” Hoa In-liong segera menyela,” lain kali panggilan
boanpwe dengan sebutan anak, karena sebutan itu jauh lebih

1120
mesra kedengarannya, kenapa kau malah menyebutnya
dengan sebutan lain?”
Goan cing taysu tersenyum.
“Baik! Lolap akan memanggil anak Liong kepadamu!”
“Kongkong!” tiba-tiba Coa Wi-wi menyela, “cianpwe dari
jiko pada memanggil anak Wi kepadaku, cianpwe dari anak Wi
sudah semestinya memanggil jiko dengan sebutan anak
Liong!”
Sementara itu Kok Hong seng telah berkata, “Hamba tidak
lelah, lebih baik aku berada disini saja, tanggung tak akan
mengganggu majikan tua, Hong kongcu maupun siocia”
Goau cing taysu menghela napas.
“Aaaai…. aku mengetahui maksud baikmu itu, baiklah, lolap
juga tak akan terlalu memaksa dirimu”
Setelah masuk ke dalam ruangan, pendeta itu turunkan
Coa Wi-wi dari bopongannya, beberapa orang impun
mengambil tempat duduk sementara Kok Hong seng berdiri
menanti disampingnya, semua orang suruh ia duduk tapi
congkoan itu tak mau, akhirnya mereka pun biarkan congkoan
tersebut berbuat sekehendak hatinya.
“Huan-ji, hidangkan air teh!” Coa Wi-wi kembali berteriak.
Huan-ji mengiakan dan mengundurkan diri.
Goan cing taysu tersenyum.
“Anak Wi” katanya, “kongkong juga bukan tamu, kenapa
musti dihidangkan air teh?”

1121
Justru kata-kata itulah yang ditunggu Coa Wi-wi, serentak
ia menyambung dengan cepat, “Kalau kongkong bukan tamu
berarti tuan rumah, kalau jadi tuan rumah masa tidak tinggal
di rumah sendiri, kau orang tua tak usah pergi lagi….!”
Merasa tak mampu menandingi ketajaman lidah si nona,
Goan cing taysu hanya bisa tertawa.
“Anak Wi, kau pandainya cuma ngaco belo saja, apakah
tidak merasa kuatir lagi dengan racun ular sakti yang
mengeram dalam tubuh jiko mu?”
“Yaa, apa boleh buat lagi?” Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya,
“kongkong sudah membawa kabur Yau ti wan, padahal tanpa
Yau ti wan, racun ular sakti dalam tubuhnya tak bisa
dipunahkan, yaa nasib namanya!”
Goan cing taysu tertawa lebar mendengar perkataan itu,
ujarnya kemudian dengan wajah bersungguh-sungguh, “Justru
kongkong kuatir engkau yang tak tahu keadaan, akan
menggunakan Yau ti-wan secara sembarangan, maka kuambil
dulu obat itu untuk disembunyikan”
Kepada Hoa In-liong ujarnya pula, “Liong-ji, apakah engkau
merasa dendam atau kesal atas tindakan yang lolap lakukan
sekarang?”
“Liong-ji ji merasa tindakan yang diambil cian…. kongkong
tepat sekali” jawab Hoa In-liong dengan serius, “obat mustika
itu bukan milik anak Liong, kenapa anak Liong musti dendam
atau kesal? Bukankah cara semacam itu hanya mencerminkan
karakter seorang yang rendah dan tak tahu malu?”
Dia telah menyebut Goan cing taysu sebagai kongkong,
betapa gembiranya Coa Wi-wi karena itu.

1122
“Aku yang kesal, aku yang dendam, yaa, aku mempunyai
rasa kesal dan dendam” ributnya.
Goan cing taysu tidak menggubris ribut-ribut dari cucu
perempuannya, ia berpaling kearah Hoa In-liong, ketika
dilihatnya pancaran mata pemuda itu demikian lembut dan
tenangnya, sedikitpun tidak terpengaruh emosi, dalam hati ia
memuji tiada hentinya.
“Ehmmm…. meskipun bocah ini agak romantis dan binal,
dia memang berwatak seorang laki-laki sejati, tak malu jadi
ketururan keluarga Hoa….!”
Setelah termenung sebentar, kembali ia berkata sambil
tersenyum, “Yau ti wan memang merupakan obat manjur
untuk melenyapkan racun ular sakti, tapi lolap tak akan
menyerahkannya kepadamu, apakah engkau merasa
tindakanku ini terlalu mementingkan diri sendiri?”
Hoa In-liong agak tertegun, lalu menjawab dengan
tercengang, “Kongkong adalah seorang yang berjiwa besar,
jauh dari pikiran keduniawian, jelas bukan orang yang
mementingkan diri sendiri, namun Liong-ji memang merasa
tidak habis mengerti”
Pemuda itu jujur berjiwa terbuka dan tak pernah menaruh
minat terhadap Yau ti wan, sebab itu ia tak takut dicurigai,
apa yang ingin diucapkan segera diutarakan secara blakblakan.
Goan cing taysu tersenyum.
“Lolap berbuat demikian karena tak ingin mengingkari
pesan leluhur, atas penjelasan ini tentu nya kau merasa puas
bukan?”

1123
“Kongkong!” tiba-tiba Coa Wi-wi berteriak.
Jilid 29
KAU suruh ibu terjun kembali ke dalam dunia persilatan,
apakah perbuatan itu tidak melanggar pesan leluhur? Apalagi
dalam pesannya cousu hanya mengatakan bahwa pil itu tak
boleh digunakan jikalau tidak berada dalam keadaan antara
mati dan hidup, beliau kan tidak menyinggung soal lainnya.
Kini jiko terkena racun ular sakti yang amat keji, keadaannya
boleh dibilang sudah mencapai keadaan yang amat kritis!”
Kok Hong seng selama ini hanya membungkam saja, kini
tunjunkan pula perasaan sangsinya.
Hoa In-liong sendiri agak tertegun, tapi sesaat kemudian ia
telah memahami keadaan yang sebenarnya.
“Liong-ji percaya hatiku tulus dan jujur, aku berani
bersumpah dihadapan langit dan bumi, buat apa kongkong
menolaknya terus? Ataukah meski Yau it wan dapat punahkan
racun ular sakti, namun akan mendatangkan juga kerugian?”
katanya.
Diam-diam Goan-cing taysu memuji akan kecerdasanya
serta kecepatannya dalam bereaksi. Ia tersenyum.
“Bagaimanakah keadan yang sebenarnya, aku belum dapat
mengatakanya secara pasti, hal ini harus kuketahui lebih
dahulu dari keadaan dikala racun tersebut mulai kambuh”
Hoa In-liong tahu bahwa hal tersebut tentu benar, maka
jawabnya, “Ketika kambuh, isi perutku terasa sakit sekali,

1124
seakan-akan digigit oleh ular beracun yang tak terhitung
jumlahnya!”
Mendenar jawaban tersebut, Goan cing taysu menujukkan
perasaan kecewanya.
“Hanya begitu saja?” ia bertanya.
“Kongkong tampaknya kau merasa penderitaan yang
dialaminya itu kurang payah yaa?” seru Coa Wi-wi dengan
dahi berkerut.
Hoa In-liong yang menangkap kekecewaan orang lantas
berpikir, “Tampaknya aku tak bisa berbohong lagi, semuanya
harus kukatakan secara sejujurnya!”
Setelah merenung sebentar katanya kemudian seakan-akan
tak pernah menderita, “Aku hanya merasa hawa murni dalam
nadi-nadiku berjalan tak lancar, seperti ada seperti juga tak
ada, tersendat-sendat seperti mau putus, hawa darah bahkan
mengalir secara terbalik, justru ilmu Bu kek teng heng sim
hoat paling serasi untuk keadaan semacam ini, maka itu ketika
Liong-ji menekan racun tersebut dengan menggunakan
kepadaian itu, sama sekali tidak merasakan gangguan apaapa”
“Jiko, mengapa tidak kau katakan keadaan seperti itu
kepadaku?” jerit Coa Wi-wi.
Hoa In-liong tersenyum.
“Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak apa-apa?
Urusan sepele semacam itu tak ada perlunya untuk dikatakan
kepadamu”

1125
Sekalipun ucapan tersebut diutarakan dengan nada yang
enteng, Coa Wi-wi bukan orang bodoh, sudah tentu ia
mengetahui betapa seriusnya keadaan, tanpa terasa air mata
jatuh bercucuran membasahi pipinya, kepada Goan cing taysu
pintanya, “Gwakong, sudah tentu kau punya cara baik untuk
mengatasi keadaan semacam itu bukan?”
Betapapun sempurnanya tenaga dalam yang di miliki Goan
cing taysu, betapapun teguhnya imam pendeta tersebut, tak
urung rasa girangnya tercermin juga diatas wajahnya.
“Anak bodoh, wahai anak bodoh” ia berbisik, “tahukah kau,
lantaran bencana jikomu mendapat rejeki, untuk gembirapun
tak sempat masa kau malah bersedih hati?”
Coa Wi-wi merasa setengah percaya setengah tidak.
“Tiada bencanapun sudah merupakan suatu keruntungan
yang luar biasa, darimana datangnya rejeki? Kongkong
bukanya lagi membohongi orang kan….?”
Ketika dilihatnya paras muka Hoa In-liong tetap tenang
tanpa perubahan, kembali Goan cing taysu menghela napas.
“Bocah ini betul-betul seorang manusia yang berbakat,
bagaimanapun jua harus kucarikan sebuah akal yang bagus
untuk mengubah waktu romantisnya yang berlebihan, agar ia
menjadi seorang pemuda yang benar-benar sempurna”
Harus diketahui Goan cing taysu adalah seroang laki-laki
yang jujur dan memegang teguh tradisi, ia merupakan
seorang manusia yang tak berani melanggar batas-batas
sosial, karena itu melihat Hoa In-liong yang gemar bermain
perempuan, nomor satu ia merasa paling tak betah.

1126
Kendatipun ia pintar ia berpengalaman dan punya banyak
akal, pikiran punya pikir toh tak berhasil menemukan cara
yang tetap, maka sewaktu dilihatnya Coa Wi-wi lagi uringuringan
karena pertanyaannya tidak dijawab, tertawa pendeta
ini.
“Anak bodoh, buat apa kongkong membohongi
dirimu?”katanya.
“Tapi bagaimana mungkin lantaran bencana mendapat
rejeki, Kongkong, cepat terangkan kepada ku!”
Berbicara sampai disitu, ia berpaling dan melotot sekejap
kearah Hoa In-liong dengan gemas, seakan-akan ia tunjukkan
ketidak senangnya lantaran pemuda tersebut telah
mengelabuhi dirinya dalam soal yang maha penting itu.
Pelan-pelan Goan cing-taysu berkata, “Hal ini justru
menyangkut tentang ilmu Bu khek teng beng sim hoat dari
keluarga kita, kepandaian tersebut mempunyai aliran yang
bertolak belakang dengan kepandaian pada umumnya,
lagipula cara berlatihnya juga kebalikan….”
Sebetulnya pendeta itu hendak memberi keterangan yang
terperinci, namun Coa Wi-wi tidak sabaran, ia segera menukas
dengan aleman, “Sudahlah, sudahlah, kongkong tak perlu
berkuliah panjang lebar lagi, jiko telah mengatakah
kesemuanya itu kepadaku”
Goan cing taysu benar-benar pusing dibuatnya, dengan
perasaan apa boleh buat dia hanya bisa mengeluh, “Yaaa,
ibumu terlalu memanjakan engkau sehingga terciptalah tabiat
yang jelek!”
Sesudah tarik napas, ia berkata kembali, “Singkatnya saja,
Bu kek teng heng sim hoat terbagi dalam tiga tingkatan,

1127
tingkat pertama adalah Ni khi heng kang yakni mengalirkan
hawa murni berkebalikan dengan aliran darah, bila hawa
murni sudah dapat dikuasai sehingga berjalan balik dengan
arah aliran darah, orang baru dapat meningkat kepelajaran
kedua yang disebut Huay hi-an pau tin (menyimpan hitam
memeluk asli) tingkat ketiga merupakan pelajaran tersulit
tingkat ini disebut Ji khek bun lun (dua kutuh bersatu padu)
dalam tingkatan ini aliran yang searah dari aliran yang
berlawanan arah harus mengalir dalam perpaduan yang sama
dalam keadaan demikianlah Bu khek teng heng baru dikatakan
telah mencapai pada puncaknya”
“Tanpa anak Wi musti katakan, semua orang juga tahu,
kau orang tua tentu berhasil mencapai tingkatan yang tak
terhingga ini pada tingkat pelajaran yang kedua bukan?” ujar
Coa Wi-wi.
Goan cing taysu tersenyum.
“Lautan pelajaran tak bertepian, ilmu silat tiada ujung
batasnya, siapakah yang sanggup mencapai tingkatan
tertinggi yang tak terhingga? Yang dinamakan Tay khek, tiada
yang tidak paling tinggi, tiada yang tidak paling rendah, anak
Wi! Mengertikah engkau?”
“Anak Wi tidak mengerti” Coa Wi-wi gelengkan kepalanya
berulang kaii, “anak Wi cuma ingin bertanya kepada dua orang
tua, sampai ketingkatan berapakah kau orang tua melatih
ilmumu? Buat apa kau katakan ujar-ujar yang maknanya
susah dimengerti itu?”
“Kongkong sendiri belum pernah berhasil menembusi
tingkatan Ji-khek hun lun untuk mencapai tingkatan Bu khek
teng neng, tapi jikomu….dalam waktu yang amat singkat akan
berhasil mencapai tingkatan tersebut….”

1128
“Aaah….! Mana mungkin?” kontan Hoa In-liong
membantah, “kongkong yang memiliki tenaga dalam hasil
latihan selama tujuh-delapan puluh tahun saja belum bisa
mecapai tingkatan itu, apa lagi Liong-ji yang tak becus ini?”
“Waktu Say-yang kehilangan kudanya, apa dia tahu bakal
mendapat rejeki?”
“Kunci terutama dalam hal ini justru terletak pada racun
ular keki yang kau idap itu”
“Waaah…. kalau memang begitu gampang sekali!” seru Coa
Wi-wi dengan wajah barseri, “lain kali akan kucari racun ular
sakti dan akan kubiarkan badanku terkena, dengan demikian
bukankah aku juga dapat melihat diri hingga mencapai
tingkatan Ji khek hun lun”
Goan-cing taysu tertawa lebar lalu gelengkan kepalanya
berulang kali.
“Aaaah….! Masa segampang itu? Kalau sungguh demikian,
kongkong juga pingin melatih diri hingga mencapai ke
tingkatan yang amat tinggi! Kenapa tidak mencari racun ular
sakti kemudian melatih diri….?”
Sesudah berhenti sebentar, dengan wajah serius katanya
lebih jauh, “Liong-ji, walaupun begitu soal berhasil atau tidak
masih sukar untuk dibicarakan, dan lagi untuk menembusi
rintangan tersebut harus mengalami siksaan serta penderitaan
yang tak terhingga, bagaimana pendapatmu….?”
Hoa In-liong sendiri meskipun merasa gembira bercampur
terharu setelah mengetahui bahwa lantaran bencana
mengakibatkan datangnya rejeki baginya, namun paras
mukanya tetap tenang seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu

1129
apapun, apalagi setelah mendengar perkataannya yang
terakhir, kendatipun gembira juga karena tenaga dalamnya
bisa mencapai tingkatan yang tak terhingga, diapun takut
sebab menurut Goan cing taysu akan mengalami siksaan serta
penderitaan yang tak terkirakan.
Setelah berpikir sejenak, dengan penuh rasa hormat ia
menyahut, “Liong-ji siap mendengarkan keputusan dari
kongkong!”
“Bagus! Soal ini tak perlu ditunda lagi, sekarang juga kita
berangkat ke bukit Mo san!”
Seraya berkata dia lantas bangkit berdiri dan bersiap sedia
untuk berangkat.
Waktu itu sudah kentongan kelima, fajar baru menyingsing
diufuk timur, baru saja si dayang Huan-ji memadamkan lampu
lentera ketika Goan cing taysu siap berangkat.
Kok Hong seng menggerakkan bibirnya seperti mau
menghalangi kepergian majikan tuanya, tapi ia tak berani
berkata apa-apa, niatnya segera dibatalkan.
Coa Wi-wi paling tidak ambil gubris segala tata cara,
dicekalnya ujung baju Goan cing taysu dan rengeknya dengan
wajah memelas, “Oooh…. kongkong yang baik, kenapa tidak
kau latih jiko dirumahku ini saja?”
“Tidak bisa!” jawab Goan cing taysu sambil gelengkan
kepalanya, “tempat ini merupakan kota besar yang ramai
dengan segala macam manusia, kebanyakan iblis dan kaum
gembong perkumpulan sesat terhimpun disini, tempat seperti
itu bukan tempat yang cocok untuk berlatih silat”
“Kalau begitu anak Wi boleh ikut bukan?” desak si nona.

1130
“Siapa saja boleh ikut pergi, cuma kau seorang yang tak
boleh!” tukas Goan cing-taysu.
“Kenapa?” Coa Wi-wi kontan saja melototkan matanya
lebar-lebar.
Goan cing-taysu menggerakkan bibirnya seperti hendak
mengatakan sesuatu, tapi ia tidak memberi penjelasan apaapa.
Yang terutama ditakuti paderi ini adalah membiarkan gadis
itu menyaksikan penderitaan serta siksaan yang dialami Hoa
In-liong sewaktu berlatih ilmu, ia kuatir gadis itu tega dan
mengakibatkan kerugian bagi Hoa In-liong.
Hoa In-liong yang ikut bangkit bersamaan dengan
berdirinya Goan-cing taysu tadi, saat itu mendadak berseru,
“Kongkong….”
Goan cing taysu berpaling kearahnya, alis matanya yang
putih tampak berkerut, kemudian sahutnya, “Kulihat kau ada
sesuatu yang hendak diutarakanu, Nah, katakan terus terang!”
Hoa In-liong tertawa jengah,
“Malam nanti Liong-ji masih mempunyai janji dengan Bwee
Su-yok Kiu-im-kauwcu yang berkuasa saat ini, perempuan itu
sedianya akan diadakan di kantor cabangnya untuk kota Kimleng….”
“Yang paling penting buatmu sekarang adalah menambah
kesempurnaan tenaga dalammu” tukas Goan cing-taysu, “lebih
baik janji itu dibatalkan saja!”

1131
Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu berkata lagi, “Liong-ji
pikir, hidup sebagai manusia yang paling penting adalah
pegang janji….”
Coa Wi-wi juga ingin berkumpul lebih lama lagi dengan
pemuda itu, meskipun ia tak setuju kalau Hoa In-liong penuhi
janji tersebut, toh saat ini katanya juga, “Kongkong, waktu tak
akan terbuang dengan begitu saja, sekalipun tertunda satu
dua hari toh ilmu tersebut dapat dilatih juga?”
Goan ciog taysu menyapu sekejap wajah kedua orang itu,
kemudian dengan senyum penuh berarti jawabnya, “Baiklah,
aku saja yang mengalah! Nah, anak Liong tengah malam nanti
kunantikan kedatangan mu di pagoda Yu hoa tay, lolap pergi
dulu!”
Begitu ucapan terakhir diutarakan, semua orang merasa
pandangan matanya jadi kabur dan tahu-tahu Goan cing taysu
sudah lenyap dari hadapan mereka.
Waktu datang tidak menimbulkan suara, waktu pergi tidak
meninggalkan jejak, ilmu meringankan tubuh semacam ini
sungguh merupakan suatu kepandaian yang mengerikan.
Setelah tidak tidur semalaman, Coa Wi-wi yang kuatir
kesehatan Hoa In-liong terganggu apa lagi senja nanti masih
ada janji dengan Bwe Su-yok, segera memerintahkan Kok
Hong seng untuk mundur, dan ia hantar sendiri anak muda itu
kehalaman belakang untuk beristirahat.
Ruangan yang disediakan bagi Hoa In-liong adalah kamar
tidur yang pernah dipakai ayah Coa Wi-wi yakni Coa Goan-hau
sebelum hilang.
Gedung yang tersendiri itu terdiri dari kamar baca, kamar
tidur serta sebuah ruang tamu kecil ysng bersih dan nyaman.

1132
Meskipun sudah lama tak terpakai namun karena sering
dibersihkan maka suasana tetap nyaman dan bersih.
Kata Coa Wi-wi. Ibunya Kwan Bun-sian memerintahkan
agar tempat itu diatur sesuai dengan aslinya, agar Coa Goan
hau bila pulang akan merasa kaget bercampur girang.
Dari sini dapat diketahui betapa tebalnya perasaan kasih
sayang antara suami isteri berdua.
Setelah masuk kedalam ruangan, Hoa In-liong saksikan
ruangan tersebut diatur dengan begitu indahnya, disana sini
penuh berisi benda antik yang indah dan tak ternilai harganya.
Sepintas lalu ruangan itu indah bagaikan rumah seorang raja
muda, tapi mirip pula ruangan yang dihuni seorang seniman.
Setelah menghantar pemuda itu masuk ke ruang tidur, Coa
Wi-wi siap tinggalkan tempat itu.
Tapi sebelum gadis itu melangkah pergi, tiba-tiba Hoa Inliong
merangkul pinggangnya dan mengecup bibirnya,
“Jangan begitu” seru Coa Wi-wi gelisah, “kalau sampai
ketahuan para dayang….”
Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, bibirnya yang
mungil telah dikecup mesra bibir anak muda itu, dengan
begitu kata selanjutnya otomatis tak sempat diutarakan
keluar.
Meskipun malu tapi rangkulannya Hoa In-liong yang panas
melumerkan itu segera meluluhkan hatinya, badan jadi lemas,
bukan saja ia balas memeluk tubuh Hoa In-liong yang keras
bahkan membalas pukul ciuman itu dengan lebih mesra.

1133
Entah berapan lama sudah lewat, suasana yang penuh
kesyaduhan itu tiba-tiba dicaukan oleh teriakan Huan-ji,
“Nona, Hoa kongcu, apakah sarapan perlu dibawa masuk?”
Dengan perasaan kaget Coa Wi-wi meronta dari pelukan
Hoa In-liong, tampak Huan-ji berdiri diluar ruang depan,
sekalipun selisih jaraknya agak jauh, namun dalam keadaan
demikian disangkanya bayangan itu berada dekat dengan
meraka.
Setelah rasa kagetnya berhasil ditengahkan, gadis itu baru
marah-marah, “Aku kan sudah bilang, sarapan tidak usah
disiapkan, sebelumnya kau ini lupa atau sengaja memang
hendak mengacau?”
“Nona…. sahut Hoan-ji.
“Enyah dari sini!” teriak Coa Wi-wi lagi dengan gusar, “jiko
ku perlu beristirahat dengan tenang!”
Yaa, siapa yang tidak mendongkol bila sedang asyik
berciuman, tiba-tiba kesyaduhan tersebut diganggu orang?
Siapa yang tidak marah kalau suasana mesra jadi bubar garagara
kemunculan seseorang yang tak dikehendaki?
Tak salah lagi kalau nona itu jadi naik pitam dan marahmarah
saking malu dan jengkelnya.
Huan-ji yang terbentur batunya jadi melongo, ia
mencibirkan bibirnya tinggi-tinggi dari luar ruangan, lalu
dengan wajah tak senang hati berlalu dari sana.
Sepeninggal dayang itu, Hoa In-liong kembali merangkul
pinggangnya yang ramping.
“Adik Wi….” bisiknya mesra.

1134
Merah dadu sepasang pipi Coa Wi-wi karena malu, ia
meronta dan melepaskan diri dari rangkulan orang, lalu
serunya aleman, “Aaaah…. kamu ini….”
Sesudah termenung sebentar, katanya lagi, “Cepatlah pergi
beristirahat! Siapa tahu senja nanti masih harus
melangsungkan suatu pertarungan sengit? Sampai kini racun
ularmu belum lenyap, tak boleh sembarangan kau turun
tangan, baik-baik sajalah menghimpun tenaga. Tengah hari
nanti aku datang lagi untuk mengajak kau bersantap siang”
Habis berkata, ditatapnya sekejap pemuda itu dengan
pandangan mesra, kemudian dengan perasaan berat hati
meninggalkan ruang itu.
Memandang bayang punggungnya yang lenyap dibalik
ruang, Hoa In-liong tersenyum ia tutup pintu dan masuk
kedalam ruang.
Pemuda itu tidak pergi tidur tapi mengampiri kursi besar
didekat pembaringan dan duduk bersamadi disitu.
Yaa, walaupun pemuda ini romantis dan suka main
perempuan, pada hakekatnya dia adalah seorang yang tahu
kewajiban. Sekalipun hanya tersedia kesempatan beberapa
jam yang amat singkat waktu yang luang itu tak pernah dia
abaikan untuk melatih diri.
Mula-mula diulangnya tenaga sim hoat aliran Hoa setelah
itu dia baru melatih ilmu Bu khek teng heng sim hoat
sebanyak dua kali.
“Menurut Goan cing taysu aku dapat melatih ilmu sim hoat
ini mencapai ketingkatan yang paling tinggi dengan perantara
racun ular tersebut, sebenarnya bagaimanakah caranya itu?”

1135
Pikir punya pikir tiada jawaban juga yang ditemuinya, tiba
tiba timbullah kebinalannya, dia lantas membatin, “Kalau ilmu
sim hoat keluarga Hoa kulihat bersamaan waktunya dengan
ilmu Bu khek teng heng sim hoat, lantas apa jadinya?”
Dasar masih berjiwa muda, apa yang dipikir segera
dilaksanakan tanpa memikirkan apa akibatnya bila hal tersebut
dilakukan.
Perlu diketahui disini, bila satu hati bercabang dua, sering
kali akan mengakibatkan orang yang berlatih diri itu
mengalami penyesatan dalam aliran. Dan penyesatan tersebut
akhirnya akan menga kibatkan keadaan yang dinamakan jalan
api menuju neraka.
Dasar memang masih kebocah-bocahan, pemuda itu
membayangkan yang aneh-aneh, dianggapnya untuk
menggabungkan dua kekuatan yang berbeda itu sama
gampangnya dengan mencampurkan lumpur dengar air.
Akibat dari perbuatannya itu, jika berhasil memang
lumayan, tapi kalau gagal? Akhirnya akan mengalami jalan api
menuju neraka, masih mendingan kalau separoh badannya
jadi lumpah, jika hawa murni yang tersesat sampai
menembusi nadi-nadi lain? Siksaan tersebut bukan bisa
diterima oleh manusia biasa, karena lebih baik mati daripada
mengalami siksaan semacam itu.
Andaikata keadaan baik dan keadaan jelek berbanding lima
puluh dengan lima puluh, orang masih berani menyerempet
bahaya. Tapi perbandingan untuk keadaan tersebut adalah
sembilan puluh sembilan berbanding satu, kecuali dia memang
bernasib sangat baik, sulit rasanya untuk lolos dalam keadaan
hidup.

1136
Sebab itulah, selihay-lihaynya seorang jago silat, seaneh
anehnya watak orang itu, tak pernah diantara mereka berani
berbuat sewenang-wenang dengan mempertaruhkan
nyawanya sebagai barang mainan.
Masih mendingan kalau ilmu yang dilatih ilmu kampungan,
sebagaimana diketahui, baik Sim hot, dari keluarga Hoa
maupun Bu-khek teng heng sim hoat kedua duanya
merupakan ilmu tenaga dalam tingkat tinggi yang berbeda
aliran, selihay apapun kepandaian seseorang, tak mungkin
mereka akan temukan persamaan diantara kedua jenis sim
hoat tersebut yang memungkinkan kedua ilmu tersebut dilebur
menjadi satu.
Meskipun Hoa Inliong sebagai keturunan orang lihay
mengetahui juga akan bahaya yang membayangi
perbuatannya itu, namun karena sifatnya memang gemar
menyerempet bahaya, kedua diapun belum tahu sampai
sedalam manakah bahaya yang bakal dialaminya, maka
didesak oleh perasaan ingin tahunya yang besar, tanpa
berpikir panjang lagi apa yang dipikirkan segera dilakukan
dengan begitu saja.
Pada mulanya, oleh karena dia sudah begitu hapal dengan
Sim hoat keluarganya, setiap kali ia berusaha bersamadi,
serta-merta sim hoat tersebutlah yang digunakan.
Tapi kemudian, anak muda itu bertindak lebih berhati-hati
setiap kali ada kesempatan, Bu khek teng heng sim hoat ikut
disalurkan juga bersamaan waktunya.
Dalam waktu singkat dua gulung aliran hawa sakti yang
saling bertentangan mulai saling gontok-gontokan dalam urat
nadinya, semakin besar niat pemuda itu untuk mengendalikan
goncangan tersebut, semakin kalut kedua gulung hawa murni

1137
itu menggulung tubuhnya, ia segera sadar bahwa gelagat
tidak menguntungkan.
Tapi sayang, pada waktu itu kedua gulung hawa murni
tersebut sudah lepas dari kontrolnya lagi, ibaratnya air bah
yang menjebolkan bendungan, dengan dahsyatnya menyapu
apa saja yang dapat dilanda.
Yang paling seram lagi, justru dalam keadaan begitu racun
ular sakti yang mengeram dalam tubuhnya kambuh secara
bersamaan, isi perutnya seketika itu juga terasa amat sakit
bagaikan digigit berjuta juta ekor binatang, ditambah pula
hawa murni yang bergolak dibadannya menusuk-nusuk isi
perut bagaikan tusukan gunting, penderitaan semacam itu
mungkin tak akan tahan dirasakan oleh siapapun.
Seperminum teh kemudian, seluruh wajah anak muda itu
telah berubah jadi merah padam, peluh yang membasahi
dadannya sebesar kacang.
Sebentar saja badannya sudah basah kuyup bagaikan baru
keluar dari bak mandi.
Dalam keadaan seperti ini, anak muda itu hanya bisa
pasrah pada nasib, ia benar-benar tak mampu mengendalikan
hawa murninya lagi.
“Habis riwayatku!” pekiknya dihati.
Tiba-tiba kepalanya seperti kena dihantam dengan benda
berat….” biang!” pigsanlah pemuda itu.
Entah berapa lama sudah lewat ketika ia membuka kembali
matanya, pemuda itu merasa seakan-akan baru sadar dari
impian, apalagi terbayang kejadian yang baru dialaminya, ia
cuma bisa teriak syukur, syukur berulang kaki.

1138
Ia merasa sekujur badannya jadi segera dan enak, butiran
keringat mendatangkan kehangatan yang terasa nikmat,
apalagi setelah hawa murni yang mengalir dalam nadinya
diperiksa, pemuda itu merasa bingung dan tak bisa mengerti
ia tak tahu rejekikah? Atau bencanakah?
Ternyata ia merasa hawa murni yang mengalir dalam
nadinya itu dibalik kebalikan terdapat kelurusan dan dibalik
aliran yang lurus terkandung keterbalikan, seperti lurus seperti
juga berbalik, seperti juga bukan lurus bukan juga terbalik,
sampai-sampai dia sendiripun tak tahu apa gerangan yang
sebenarnya terjadi….
Tapi ada satu hal yang pasti, yakni hawa murni itu mengalir
sendiri secara otomatis tanpa rintangan, diapun tidak
menemukan tanda-tanda yang menunjukan bahwa bencana
sudah diambang pintu.
Kali ini ia tak berani terlalu gegabah lagi, pemuda itu
bermaksud meneruskan kembali latihannya setelah mendapat
petunjuk dari Goan cing taysu….
Sebetulnya itu semua merupakan gejala yang menunjukkan
bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah mendapat
kemajuan yang amat pesat, sayang pemuda itu kalau sudah
tidak serius, betul-betul terlampau tidak serius, tapi kalau
sudah sungguh-sungguh, sungguh sungguh kelewat batas,
begitulah kalau dia memang dasarnya mempunyai bakat yang
baik dan rejeki yang baik pula….
Sementara dia masih termenung sambil melamun
mendadak dari arah pintu terdengar serentetan suara yang
amat lirih, dengan lantang ia lantas membentak, “Siapa
disitu?”

1139
Pintu dibuka orang, dan sesosok bayangan merah yang
menyiarkan bau harum melintas masuk kedalam ruangan.
“Jiko, jahat amat sih kamu ini bikin jantung orang hampir
rontok saja….” tegur suara merdu menggema di udara.
Hoa in-liong segera tersenyum.
“Aaaah. Siapa suruh kau seperti setan pengacau?”
Waktu itu Coa Wi-wi sudah berganti dengan satu stel gaun
berwarna merah menyala, ia tampak jauh lebih cantik, jauh
lebih menawan dan jauh lebih mempesona hati, ibaratnya
sinar emas sang surya yang baru terbit dipagi hari.
“Hei, kenapa kamu jiko? Sudah tidak kenal lagi dengan
aku?” seru nona itu sambil tertawa manja.
Dengan tatapan mata seperti elang yang mengincar kelinci,
anak muda itu mengamati gadis tersebut dari atas hingga
kebawah, kemudian baru gelengkan kepalanya sambil
menghela napas.
“Yaa, aku memang sudah tidak kenal lagi!”
Sesudah berhenti sebentar, ujarnya lagi, “Setiap kali adik
Wi bertukar dengan satu stel pakaian, hampir saja aku tak
dapat mengenali dirimu lagi”
“Aaaah…. kamu ini, masa cuma kenali pakaian tidak kenal
orangnya!” omel Coa Wi-wi manja.
Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.
“Bukan, bukan begitu, aku hanya merasa setiap kali adik Wi
tukar dengan satu stel pakaian, engkau selalu tampil dengan

1140
corak dan gaya yang berlainan, apa mau dikata setiap corak
dan gaya mu itu menampilkan pula kecantikan yang membuat
seluruh wanita didunia ini seolah-olah kehilangan keayuan
mereka semua, padahal selama hidup aku tak percaya kalau
dunia ini terdapat perempuan yang demikian cantiknya, maka
jangan heran kalau aku lantas curiga, benarkah perempuan
yang kujumpai itu adalah adik Wi ku yang manis!”
Dasar play-boy yang pintar putar lidah, entah sungguh
entah tidak rayuan tersebut, tapi yang pasti kata-kata semanis
madu itu cukup membuat hati sekeras bajapun menjadi leleh.
Tentu saja Coa Wi-wi merasa senang dengan pujian anak
muda itu, walau begitu toh ia mengomel lagi, “Hmmm….! Aku
tak percaya, kata-katamu itu, sudah pasti adalah kata-kata
rayuan gombal!”
Kemudian matanya celingukan kesana kemari dengan
tajamnya, setelah sambil berseru tertahan ia berkata lagi,
“Oooh…. rupanya kau belum tidur, kalau kulihat dari keadaan
disini, pembaringan tersebut jelas belum terpakai…. Ehm, jadi
kau baru berlatih ilmu silat? Waah kagum, kagum aku sangat
kagum dengan ketekunanmu”
“Oooh…. aku sih tak akan memiliki ketekunan seperti itu”
Hoa In-liong tertawa, “lagi memuji atau lagi menyindir!”
“Aaah…. terserah apa yang kau pikir!”
Setelah berhenti sebentar, kemudian katanya lebih jauh,
“Hayo bangun dan makan siang! Atau kau masih ingin berlatih
terus ilmu silatmu?”
“Aku memang bermaksud demikian, maka jika adik Wi
belum lapar, bagaimana kalau kau turunkan dulu rahasia Su
siu hua heng ciang kepadaku? Mau bukan?”

1141
Kalau anak muda itu berpikir demikian, tidak begitu dengan
jalan pikiran Coa Wi-wi, dia tak mau pemuda itu lupa makan
lupa tidur hanya gara-gara ingin berlatih ilmu silat. Maka
bibirnya segera dicibirkan.
“Kau boleh saja kalau ingin mati kelaparan, kalau aku sih
ogah untuk temani kau mati karena kelaparan, hayo makan
dulu!”
Tapi sewaktu dilihatnya pemuda itu masih duduk, ia lantas
maju dan menyeretnya sampai bangun.
“Kenapa belum bangun juga?”teriaknya.
Hoa In-liong benar-benar dibikin apa boleh buat, terpaksa
ia bangkit sambil gelengkan kepalanya.
“Baik! Baik! Jangan mengomel, mari kita bersantap!”
Makan siang itu diselenggarakan dalam ruang kecil di
halaman yang tersendiri itu, dayang cilik Huan-ji melayani
mereka berdua, meski cuma dua orang yang bersantap namun
sayur dan hidangan yang tersedia begitu melimpah ruah
sehingga sepuluh oranpun belum tentu dapat menghabiskan
semua hidangan tersebut.
Dalam bersantap sekali lagi Hoa In-liong menanyakan
rahasia ilmu pukulan Su siu hua heng ciang. Coa Wi-wi tak
tega untuk menolak permintaan orang, maka ilmu sakti itu
pun diturunkan pemuda tersebut.
Ilmu pukul Si sau hua heng ciang itu terdiri dari delapan
gerakan yang mengandung makna Su si pat kwa, dibalik
gerakan mengandung pula gerakan yang saling bertautan satu

1142
sama lainnya, dengan perubahan yang tak terhingga
banyaknya.
Hoa In-liong dapat merasakan bahwa ilmu Ci yu jit ciat
meskipun sakti dan keji hebatnya bukan kepalang, namun tak
mampu melebihi kehebatan dari ilmu pukul Su siu hu heng
ciang tersebut, yaa, pada hakekatnya ilmu sakti warisan dari
Bu seng (malaikat silat) Im Ceng memang bukan sembarang
ilmu.
Rahasia ilmu pukul Su siu huan heng ciang amat singkat
dan sederhana, paling banter juga terdiri dari ratusan huruf
namun makna yang lebih dalam dari tulisan-tulisan itu sudah
tentu tidak sesederhana kata-kata tersebut, bahkan tidak
berada di bawah catatan ringkas Kiam keng bu kiu yang
pernah diperoleh Hoa Thian-hong dimasa lalu.
Sambil bersantap Hoa In-liong sembari putar otaknya
mendalami inti sari ilmu pukul itu, mendadak satu ingatan
melintas dalam benaknya, sumpit yang sebenarnya sedang
menjepit seekor ikan leihi seketika terhenti ditengah udara,
lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa.
Huan-ji yang ada disampingnya dan menyaksikan adegan
itu jadi merasa geli, cepat dia menutupi bibirnya dengan sapu
tangan lalu tertawa cekikikan.
Coa Wi-wi sendiri meski waktu itu juga merasa geli, tapi
saat-saat terpenting bagi anak muda itu sebelum ilmu silatnya
mendapat kemajuan yang pesat maka matanya lantas melotot
ke arah Huan-ji sambil melarang dayangnya lebih lanjut.
“Adik Wi, sambutlah sebuah pukulanku ini!” tiba-tiba Hoa
In-liong membentak nyaring.

1143
Cepat ia letakkan sumpitnya ke meja, kemudian telapak
tangan kanannya dijulurkan kedepan seperti menekuk, jari
tangannya di tegakkan sekaku baja, kemudian diserangnya
Coa Wi-wi dengan jurus Pian tong put ki (berubah tidak
tetap).
Coa Wi-wi merasa terperanjat menghadapi serangan
tersebut, tapi dengan cepat ia melancarkan pula sebuah
serangan balasan dengan jurus Pian tong put ki yang sama,
teriaknya, “Jiko, aku tak percaya kalau engkau lebih cerdik
daripada aku dalam menggunakan jurus serangan tersebut!”
Ucapan itu ada benarnya juga, sekalipun serangan yang
dilancarkan Hoa In-liong serangan mengandung perubahan
yang maha hebat, akan tetapi mana mungkin ia dapat
menandingi Coa Wi-wi yang sudah melatih ilmunya selama
sepuluh tahun lebih?
Akan tetapi, apa yang kemudian terjadi ternyata sama
sekali diluar dugaan, begitu sepasang telapak tangan saling
beradu, Coa Wi-wi lah yang berada di pihak yang rugi,
pergelangan tangannya tahu-tahu memekuk kebawah,
badannya terjungkal ke belakang dan hampir saja ia jatuh
terjengkang kebelakang berikut kursi yang didudukinya.
Kiranya Coa Wi-wi sudah mengetahui sampai dimanakah
taraf tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong, maka dalam
menyambut serangan anak muda tadi, ia telah menggunakan
pula tenaga yang seimbang.
Siapa tahu tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong
mendapat kemajuan yang amat pesat, maka begitu telapak
tangan mereka bersentuhan, meski ia menyadari bahwa
keadaan tidak menguntungkan, toh dalam keadaan begitu tak
sempat lagi baginya untuk menambahi tenaga dalamnya.

1144
Dengan wajah cemberut gadis itu merangkak bangun dari
atas lantai, lalu serunya manja, “Bagus! Bagus! Rupanya kau
menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya…. kau jahat,
kau jahat!”
Nanun Hoa In-liong tidak menjawab, sebab setelah
melancarkan serangannya tadi kembali pemuda itu terjerumus
dalam pemikiran yang serius, tampak sepasang alis matanya
berkenyit, matanya mendelong memandang ke arah depan
dan mulutnya terkatup rapat, ternyata ia tak mendengar apa
yang barusan diteriakkan gadis itu.
Saking gemasnya meskipun Coa Wi-wi ingin menggigit anak
muda itu, namua ia tak berani lantaran menuruti napsu sendiri
menyebabkan ilmu silat nya terbengkalai, maka dengan kesal
gadis itu duduk membungkam.
Tiba-tiba didengarnya suara tertawa cekikikan menusuk
telinga dari arah samping, dasar lagi mangkel dan rasa
mendongkol tak terlampiaskan maka bertemu dengan sasaran
kontan saja matanya melotot besar.
“Hayo tertawa…. hayo terus sampai tua! teriaknya dengan
marah “apa yang kau gelikan? Enyah ayoh cepat enyah jauhjauh
dari hadapanku!”
Huan-ji meski kedudukannya cuman seorang dayang tapi
sejak kecil sampai dewasa ia hidup bersama nonanya ini,
maka boleh dibilang waktu majikannya cukup dia kuasahi.
Meski melihat nonanya marah ia tidak jadi gemetar karena
takut.
“Yaa, nona!” sahutnya malah.

1145
Tapi baru saja ia sampai di depan pintu ruangan, Coa Wi-wi
sudah berterak kembali, “Hayo kembali apa yang kau
gelisahkan? Takut kutelan tubuhmu bulat-bulat hei?”
Sambil tertawa Huan-ji berjalan kembali kedalam ruangan.
Tapi Coa Wi-wi sekali lagi ulapkan tangannya sambil
berseru, “Enyah! Enyah dari sini! Melihat tampangmu saja aku
sudah bosan”
Huan ji tertawa cekikikan, sekarang baru betul-betul lari
keluar ruangan itu.
Selang sesaat kemudian Hoa In-liong baru
menghembuskan napas panjang bisiknya kemudian,
Oooh….rupanya begitu!”
Coa Wi-wi yang paling senang dengan kejadian itu, cepat
serunya dari samping, “Jiko, berapa banyak sudah yang
berhasil kau pahami?”
Barusan ketika pemuda itu masih terjerumus dalam
lamunannya, ia merasa sempat mengawasi tampang sianak
muda itu sepuas-puasnya bukan saja Hoa In-liong tanpan dan
romatis, kecerdikannya juga hebat, terutama sikap serta
tingkah lakunya yaug menyenangkan hati, sejak tadi-tadi
semua rasa kesal dan murungnya sudah tersapu lenyap entah
kemana….
Tiba-tiba ia merasa tidak semestinya menyelesaikan urusan
itu dengan begitu saja, sebab bagaima napun juga kalau
dibekukan sampai disitu, hal ini menyangkut soal gengsinya
sebagai seorang gadis remaja.
Maka sebelum Hoa In-liong menjawab pertanyaannya itu,
dia sudah membentak lebih jauh, “Sambutlah serangan ini!”

1146
Telapak tangannya yang mulus langsung diayun kemuka
melepaskan sebuah pukulan dengan jurus Pian tong put ki.
Hoa In-liong tertawa nyaring, dengan jurus Pian tong put ki
yang sama ia songsong datangnya ancaman tersebut.
“Serangan bagus!” serunya.
Ketika dua buah telapak tangan saling bertemu, kali ini Coa
Wi-wi sudah membuat persiapan, tentu saja tubuhnya sama
sekali tidak bergeming dari posisinya semula.
Selain itu, rupanya nona tersebut ingin pula membalas
kesalahan yang dia alaminya barusan, sebab itu diapun ingin
memberi sedikit pelajaran untuk Hoa In-liong, dalam
serangannya kemudian tenaga dalam yang dipakai mencapai
delapan bagian lebih.
Apa yang terjadi? Sekalipun nona itu sudah menggunakan
tenaga dalam yang sangat besar, akan tetapi dikala sepasang
telapak tangan itu saling bertemu, tiba-tiba dari balik telapak
tangan Hoa In-liong memancar keluar segulung tenaga
pukulan yang sifatnya aneh sekali, bukan saja pukulannya
tidak berhasil menembusi pertahanan lawan, malahan tenaga
serangannya itu seperti ditarik oleh suatu kekuatan lain hingga
mengalir kearah gang sama, ini membuat hati nona itu jadi
kaget bercampur curiga,
“Hei jiko apakah sudah telan pil Yau ti-wan tersebut?”
tegurnya kemudian dengan keheranan,” kalau tidak kenapa
tenaga dalammu bisa peroleh kemajuan seperti ini? Dan lagi
aku merasa hawa murni yang terpancar keluar dari tubuhmu
itu sangat aneh”
“Aaaah, siapa bilang kalau aku makan pil ti wan?”

1147
Tapi setelah dipikir sebentar, pemuda itupun lantas
menuturkan pengalamannya ketika ia mencoba-coba untuk
menggabungkan tenaga sim-hoat keluarga Hoa-nya dengan
Bu kek teng heng sim hoat.
Selesai mendengar penuturan tersebut, Coa Wi-wi jadi
mencak mencak saking gembiranya. Hoa In-liong ikut tertawa.
“Adik Wi!” katanya, “bencanakah? Atau rejekikah? Hingga
kini masih merupakan suatu tanda tanya besar, kalau dibilang
terkena racun ular sakti ibaratnya Say-ang yang kehilangan
kudanya, siapa tahu kalau aku bakal mendapat rejeki.
Sebaliknya kalau dibilang Say-an mendapat kuda, siapa tahu
kalau kejadian itu justru akan membawa bencana”
“Aaaah….! Janganlah mengucapkan kata-kata yang
mendatangkan perasaan tak enak semacam itu?” keluh Coa
Wi-wi.
Demikianlah, percakapan itu mereka langsungkan hingga
tengah hari lewat, dan akhirnya merekapun menyinggung soal
janjinya dengan Bwe Su-yok.
Pada mulanya Hoa In-liong bersikeras ingin memenuhi janji
seorang diri, sebab dia yakin dengan kemajuan pesat yang
diperolehnya dalam tenaga dalam, niscaya Bwe Su-yok bukan
tandingan nya lagi, maka sekalipun dia harus memenuhi
sendiri janji itu, rasanya juga tiada bahaya yang mengancam.
Tapi Coa Wi-wi bersikeras memaksa ikut, alasannya
walaupun tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong sudah
mengalami kemajuan yang pesat, tapi racun ular sakti itu toh
belum punah, bagaimana kalau racun ular itu kambuh lagi
dikala pertarungan sedang berlangsung?

1148
Apalagi semua orang juga tahu, Kiu-im-kauw merupakan
sarangnya jago-jago tangguh, terutama sebagai ketua
perkumpulan sesat yang tak mengikuti peraturan dunia
persilatan, andaikata mereka sampai main kerubut, sekalipun
tenaga dalam Hoa In-liong lebih tinggipun percuma saja.
Setelah berdebat setengah harian, akhirnya diputuskan Hoa
In-liong memenuhi sendiri janji itu, sementara Coa Wi-wi
mengikutinya secara diam-diam.
“Yaa, pada hakekatnya santapan siang itu baru berakhir
setelah makan waktu yang berlarut-larut.
Selesai bersantap, mereka memperdebatkan kembali
keampuan ilmu pukulan Su siu hua heng ciang, tidak berbicara
soal kemajuan Hoa In-liong yang amat pesat, keanehan
tenaga dalam dari anak muda itulah yang justru membuat Coa
Wi-wi jadi kaget bercampur keheranan.
Ketika ditanyakan bagaimana caranya mengerahkan tenaga
aneh itu, bahkan Hoa In-liong sendiripun tidak mengerti, ia
cuma merasa tanaga tersebut terlontar keluar secara spontan.
Tatkala sore sudah menjelang tiba dan sang surya sudah
tenggelam dikaki langit sebelah barat, berangkatlah dua orang
itu menuju keluar rumah….
Karena Coa Wi-wi harus melakukan pengiutitan secara
diam-diam, ia merasa warna merah yang terlalu menyolok,
maka sebulam berangkat ia tukar dengan satu stel pakaian
berwarna putih.
Hoa In-ling sendiri berdandan seperti seorang kongcu yang
perlente, pedang tersoren dipinggang, kipas digenggam dalam
tangan, kipas yang dibawa dari rumah sebetulnya sudah

1149
hilang, maka kipas yang dipakai sekarang adalah kipas hadiah
Coa Wi-wi.
Dengan kecepatan langkah anak muda itu, jarak antara
rumah keluarga Coa sampai dikaki bukit Ciong-san sebelah
barat bisa ditempuh dalam waktu singkat.
Masih jauh ia berada di depan bangunan rumah yang
mewah itu, ketika pintu gerbang tiba-tiba di buka orang dan
Seng Sin sam yang kecil pendek memimpin serombongan
anggota Kiu-im-kauw menyambut kedatangannya diluar
bangunan rumah.
Menyaksikan keadaan seperti itu, Hoa In-liong malahan
memperlambat langkah kakinya, sambil menggoyanggoyangkan
kipasnya dia menuju kepintu gerbang.
Begitu santai lagaknya, seakan-akan kedatangannya kesitu
bukan untuk memenuhi suatu perjanjian yang menyangkut
mati hidupnya, melainnya khusus datang untuk menghadiri
suatu pesta ulang tahun teman akrabnya.
Menanti ia sudah berjalan mendekat, dengan tak sabaran
Seng Sin-sam merangkap tangannya memberi hormat,
kemudian berkata, “Hoa kongcu benar-benar seorang pegang
janji, kaucu kami mempersilahkan kongcu masuk ke dalami”
Hoa In-liong segera melipat kipasnya dan disimpan
kedalam saku tegurnya kemudian, “Eeeh, dimana kaucumu?
Kenapa tidak menyambut sendiri kedatanganku….?”
Seng Sin sam tertawa seram.
“Hahaha…. apakah Hoa kongcu dapat mewakili ayahmu?”
dia balik bertanya.

1150
Maksud dari perkataannya itu sudah amat jelas, yakin Hoa
In-liong masih belum cukup bergerak untuk mendapat
penyambutan dari Bwe Su-yok.
“Bukan demikian maksudku….” kata Hoa In-liong sambil
membentangkan kembali kipasnya dan digoyang-goyangkan
beberapa kali.
“Lalu Hoa kongcu ada petunjuk apa?” tukas Seng Sin sam
tak sabar lagi.
Diam-diam Hoa In-liong mentertawakan ketidak sabaran
orang namun diluaran ia tetap bersikap serius, jawabnya,
“Bagaimanapun juga aku orang she Hoa masih terhitung
sahabat karib kaucu kalian, memandang pada hubungan
persahabatan ini sudah sepantasnya kalau ia memang
mengadakan penyambutan sendiri atas kedatanganku atau
mungkin karena kedudukannya sekarang sudah terhormat,
maka ia pandang remeh sahabatnya dimasa lalu?”
Pemuda itu memang sengaja menjual kecap dengan tujuan
memecahkan perhatian semua jago yang hadir disekeliling
bangunan itu, dengan demikian aku cukup memberi
kesempatan bagi Coa Wi-wi untuk menyusup ke dalam
bangunan rumah itu.
Seng sin sam kontan saja tertawa dingin sesudah
mendengar kata-kata itu.
“Heeehh…. heeehh…. heeeh….jadi, bila kaucu tidak
menyambut sendiri kedatangan Hoa kong cu maka engkau tak
sudi masuk ke dalam perkara pungan?”
“Oooh….tentu saja tidak tentu saja tidak! Hoa In-liong
gelengkan kepalanya berulang kali, sekarang kaucu kalian
sudah merupakan seorang pemimpin dari suatu perkumpulan

1151
besar, sudah mestinya kalau ia pegang gengsi dengan
berlangkah jual mahal!”
Sambil menggoyangkan kipasnya, pelan-pelan ia lanjutkan
kembali langkahnya menuju kedalam ruangan.
Teng Sin sam betul-betul dibikin serba salah oleh tingkah
laku pemuda itu, cepat-cepat ia memburu ke muka seraya
berseru, “Biar aku membawakan jalan untukmu!”
Meskipun rasa bencinya kepada Hoa In-liong sudah
merasuk ketulang sumsum, namun ketika di lihatnya anak
muda itu berdandan perlente dengan pedang tersoren
dipinggang dan kipas digenggam dalam tangan, diam-diam ia
memuji juga akan kekerenan anak muda itu.
“Emmm….! Dia memang tak malu menjadi putranya Thian
cu-kiam!”
Setibanya didepan ruang mewah yang megah dengan
lapisan emas meliputi tiang-tiang penyangga dalam ruangan
itu, tampaklah Bwe-Su-yok yang cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan dengan memegang tongkat kebesaran berkepala
setan menyambut kedatangan diluar pintu, dibelakang nona
itu mengikuti pula Tiamcu ruang siksa Le Kiu it, tongcu bagian
tata tertib Kek Thian tok serta Tongcu bagian proganda Huan-
Tong.
Agak tertegun juga Hoa In-liong sewaktu dilihatnya Bwe
Su-yok bersedia menyambut kedatangannya dipintu ruangan,
sebab menurut dugaannya semula kemungkinan besar Bwe
Su-yok akan berlagak angkuh dengan maksud menghina serta
mencemooh dirinya habis-habisan.

1152
Setelah berpikir sebentar, dia lantas maju kedepan sambil
memberi hormat, katanya, “Apabila kedatangan Hoa Yang
agak terlambat harap Bwe kaucu bersedia memaafkan!”
Bwe Su-yok balas memberi hormat, kemudian katanya pula
dengan tertawa, “Bila Bwee Su-yok tidak menyambut
kedatanganmu dari jauh, harap Hoa kongcu bersedia
memaklumi!”
Agak heran juga perasaan Hoa In-liong waktu itu, sebab
meski nada pembicaraan nona itu dingin dan hambar, namun
tidak mengandung hawa napsu membunuh, sikap seperti ini
boleh dibilang jauh berbeda dengan sikapnya kemarin malam.
Setelah masuk kedalam ruangan, masing-masing pun
mengambil tempat duduk.
Hoa In-liong menyaksikan dalam ruangan itu tersedia
sebuah meja perjamuan, tak usah disebutkan lagi tentu saja
hidangannya terdiri dari hidangan yang lezat-lezat, mangkuk,
baki yang dipakai pun terdiri dari bahan-bahan perak yang
berukiran indah.
Waktu itu disamping meja perjamuan berdiri tiga orang
dayang, mereka tak lain adalah dayang-dayang kepercayaan
Bwe Su-yok yang terdiri dari Siau bi, Siau kian dan Siau peng.
Walaupun senja sudah menjelang tiba, namun delapan
buah lentera keraton yang indah telah memancarkan pula
cahayanya.
Bwe Su-yok yang duduk dimeja perjamuan tidak menawari
tamunya minum arak, juga tiada perselisihan atau perang
mulut yang ramai, yang berlangsung hanya cawan yang saling
beradu serta suara sumpit yang membentur mangkok, tiada
suara pembicaraan, semua orang bersantap tanpa berbicara.

1153
Tentu saja kejadian ini diluar dugaan Hoa In-liong, segera
pikirnya, “Baik, akan kulihat kau si dayang busuk hendak
bermain setan apa dengan diriku!”
Berpikir demikian, dia lantas menahan diri sambil mengikuti
perkembangan yang barlangsung didepan mata.
Pemuda itu memiliki badan yang kebal terhadap segala
macam racun, dengan tak usah kualir keracunan, dia makan
minum dengan bebasnya.
Selesai bersantap, tiba-tiba Bwu Su-yok berkata, “Hoa
kungcu, apakah kau ingin tahu keadaan dari Kanglam Ji-gi?”
“Aaah, sudah tahu pura-pura bertanya!” pikir Hoa In-liong,
Namun segera jawabnya juga, “Yaa, dengan segala
kerendahan hati aku mohon agar Bwe kaucu bersedia
memberi petunjuk dimanakah empek Yu itu kini berada?”
“Heeehh…. heeehh…. heeeh…. kau anggap aku mau
menjawab?” ejek Bwe Su-yok sambil tertawa dingin.
“Nah, sudah mulai!” batin Hoa In-liong, dia lantas
tersenyum.
“Aku memang datang tanpa membawa harapan yang
terlalu besar!” sahutnya cepat.
Bwe Su-yok tertegun.
“Lantas karena urusan apa kau datang kemari?”
Hoa In-liong tak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya
malah balik bertanya, “Aku ingin mengajukan satu pertanyaan
kepada Bwe kaucu, kendatipun Hian-beng-kauw sudah

1154
berkomplot dengan Kiu-im-kauw, masa perbuatan dari orangorang
Hian-beng-kauw bisa kaucu ketahui semua? Dan aku
tahu bahwa orang-orang Hian-beng-kauw memandang
penting soal empek Yu ku itu, betulkah kaucu benar-benar
mengetahui jejak dia orang tua?”
Bwee Su-yok cuma tertawa dingin tanpa menjawab.
Hoa In-liong segera berkata lebih jauh, “Menurut
dugaanku, belum tentu kaucu mengetahui hal itu”
“Sementara waktu jangan kita persoalkan apakah aku tahu
atau tidak” kata Bwee Su-yok pelan, “kalau toh engkau
menganggap aku belum tentu tahu, buat apa pula kau dataag
memenuhi janji?”
“Tiada karena soal lain, kecuali demi kepercayaan” jawab
anak muda itu sambil tersenyum.
“Ooou…. benarkah kau pandang begitu penting soal
kepercayaan?” ejek Bwe Su-yok lagi dengan nada menyindir.
“Ketat amat dayang ini menjaga rahasianya” pikir Hoa Inliong
kemudian, “rupanya ia pandai menduga suara hati
orang, aku tak boleh pandang enteng dirinya….”
Begitu rencana sudah tersusun, ia baru menjawab,
“Tentunya Bwe kaucu tahu bukan, sejak dulu sampai
sekarang, tanpa kepercayaan manusia itu tak bisa hidup?”
Bwe Su-yok segera tertawa ringan.
“Ooou….mungkin Hoa kongcu ingin mengandalkan ilmu
silatmu yang maha tinggi?”

1155
Dengan kerlingan mata yang jeli, ia melirik sekejap Le Kiu-it
berempat, kemudian berkata lebih lanjut, “Menurut
pandangan Hoa Kongcu, bagaimana perdapatmu mengenai
tenaga dalam yang dimiliki kelima orang anak buahku itu?”
“Tak seorang pun yang bukan jago tangguh!”
Raut wajah Bwe Su-yok ysng sebetulnya sedingin es, tibatiba
berubah jadi hangat, sekulum senyuman cerah menghiasi
bibirnya ibarat angin musim semi yang mencairkan salju,
seluruh keketusan dan sikap dinginnya tersapu lenyap.
Tapi justru karena itu wajahnya tampak semakin cantik dan
menarik, ini membuat Hoa In-liong jadi melongo saking
terpesonanya. Namun kewaspadaannya juga semakin
meningkat.
“Hoa kongcu!” kembali Bwe Su-yok berkata, andaikata aku
dan ke empat orang anggota perkumpulanku turun tangan
bersama-sama, mampukah Kongcu lolos dari cengkeraman
kami?”
Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa terkesiap,
tapi diluar wajahnya ia tepat tenang, seolah-olah hal itu sudah
menjadi bahan dugaannya.
“Kaucu, pandai amat kau berbicara!” katanya sambil
tertawa.
Yaa, pada hakekatnya orang yang hadir daiam perjamuan
saat itu merupakan inti kekuatan vang sebetulnya dari
perkumpulan Kiu-im-kauw, meski sedikit jumlahnya, tapi kalau
mereka sampai menyerang bersama, kendatipun Hoa In-liong
merasa ilmu silatnya sudah memperolah kemajuan yang
pesat, jagan harap bisa lolos dari situ dengan selamat. Bwe
Su-yok kembali tertawa ringan.

1156
“Apakah Hoa kongcu menduga kalau aku cuma bergurau
belaka?” ia balik bertanya.
Sikapnya yang berkebalikan dengan sikap-sikap dingin
diwaktu-waktu biasanya ini kembali membuat Hoa In-liong jadi
kaget bercampur curiga, sekalipun dia pintar toh tidak berhasil
juga untuk menebak obat apakah yang dijual dalam cupucupunya
itu?
Dengan sorot mata tajam ia berpaling kearah Kek Thian tok
berempat dan diamatinya ratu wajah mereka, tapi orangorang
itu tetap bersikap dingin dan hambar ini membuat anak
muda itu kembali gagal untuk menemukan suatu pertanda
yang sensitip.
Maka setelah termenung sebentar, dia tertawa hambar.
“Kaucu, Hoa yang adalah seorang anak bodoh, maaf kalau
aku tak mampu menebak isi hatimu yang sebenarnya”
Mimik wajah Bwe-yok yang semula cerah tiba-tiba berubah
lagi jadi dingin dan kaku, Hoa In-liong mengira dia mau
melancarkan serangan dengan perasaan tegang segenap
tenaga dalamnya segera dihimpun untuk menjaga segala
sesuatu yang tidak diinginkan.
Benarkah Kiu-im kaucu yang muda itu hendak melancarkan
serangannya? Ternyata tidak, dengan biji matanya yang jeli
Bwe Su-yok mengerling sekejap ke arah Le Kiu it, kerlingan itu
mengandung arti yang sukar ditebak, bisa bermaksud baik
bisa pula berniat jelek.
Begitu dikerling, Le Kiu-it segera bangkit berdiri, lalu sambil
memberi hormat kepada kaucu-nya ia berkata, “Hamba masih
ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, harap

1157
kaucu sudi memaafkan diri hamba yang terpaksa minta diri
ditengah perjamuan”
“Silahkan Le tiamcu!” sahut Bwe Su-yok hambar.
Le Kiu it lantas menjura pula ke arah Hoa In-liong.
“Aku orang she Le tak bisa menemani lebih lama, harap
Hoa kongcu sudi memberi maaf!” katanya.
Hoa In-liong cepat bangkit seraya balas memberi hormat.
“Untuk menghimpun prajurit memanggil panglima, Le
Tiamcu tentu butuh banyak tenaga dan pikiran, silahkan?”
Dia mengira kepergian Le Kiu-it tentu untuk menghimpun
kekuatan Kiu-im-kauw guna mencegah niatnya untuk
melarikan diri, maka sengaja ia sindir niat jagoan tersebut.
Le Kiu it tidak memberi komentar apa-apa, dia cuma
tertawa lalu mengundurkan diri dari ruangan itu.
“Ai, entah adik Wi bersembunyi dimana?” pikir Hoa In-liong
kemudian.
Selang sesaat kemudian, Huan Tong yang merupakan
Tongcu bagian propaganda mohon diri pula untuk
mengundurkan diri, disusul kemudian Kek Thian tok si tongcu
bagian tata tertib dan Seng Sin sam tongcu bagian penerima
tamu ikut mundur dari situ.
Sekejap kemudian kecuali tiga orang dayang kecil, dalam
ruang perjamuan itu tinggal Hoa In-liong dan Bwee Su-yok
dua orang.

1158
Kejadian semacam ini benar-benar diluar dugaan Hoa Inliong,
sekalipun dia pintar dan berotak encer, toh dalam
keadaan seperti ini ia tak mampu untuk menebak rencana
apakah yang sedang disusun Bwee Su-yok.
Setelah suasana menjadi hening sekian waktu, akhirnya
Bwe Su-yok buka suara lebih dulu, ujarnya dengan suara yang
merdu tapi bernada dingin dan kaku, “Hoa kongcu, hingga kini
bagaimanakah perasaanmu?”
Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia berpikir lebih
dulu, “Watak perempuan ini sangat aneh, ia bisa marah
sebentar lalu girang sebentar, aku musti menghadapinya
dengan hati-hati”
Berpendapat demikian, sambil tertawa ia lantas goyangkan
kipasnya seraya menjawab, “Aku rasa keadaan pada saat ini
sangat baik, penuh rasa persahabatan!”
Kemudian sambil melipat kipasnya, ia menambahkan,
“Kalau bisa bercakap-cakap dalam suasana begini, tentu saja
lebih baik lagi, bagaimana menurut pandangan nona Bwe?”
Dari sebutan kaucu tiba tiba ia dirubah panggilannya jadi
nona, begitu selesai berkata, cepat cepat diawasinya raut
wajah Bwe Su-yok yang cantik jelita itu, dia ingin tahu
bagaimanakah reaksinya….
Ternyata Bwe Su-yok tidak menjadi jengah ataupun marah,
bahkan seolah-olah tak pernah mendengar perkataan itu.
Lama sekali ia merenung, sebelum akhirnya berkata lagi,
“Sewaktu masih berada diluar perkampungan tadi, kau pernah
berkata bahwa aku adalah sahabatmu, apakah engkau tak
akan bermusuhan lagi dengan pihak Kiu-im-kauw?”

1159
“Ooh….jadi tadi dia sembunyi disekitar situ!” kembali Hoa
In-liong membatin.
Setelah termenung sebentar, ujarnya dengan wa jah
bersungguh-sungguh, “Aku mempunyai beberapa patah kata
kurang sedap yang ingin diutarakan, apakah nona Bwe….”
“Hei, kalau ucapanmu kurang sedap didengar, lebih baik
jangan disinggung-singgung, daripada nonaku jadi marah!”
tiba tiba Siau bi yang berdiri di belakang majikannya menyela.
Bwe Su-yok segera berpaling dan melotot sekejap ke
arahnya, lalu sambil menatap kembali wajah In liong katanya,
“Nah, kalau ingin mengucapkan sesuatu cepat katakan!”
Hoa In-liong tertawa.
“Jika Kiu-im-kauwcu bisa bertobat dan meninggalkan jalan
sesat untuk kembali ke jalan yang benar….”
“Dalam bagian manakah perkumpulan kami ini sesat?”
tukas Bwe Su-yok sambil tertawa dingin, “dan mengapa kami
musti kembali ke jalan yang benar?”
“Jadi menurut pandanganmu, sudah sewajarnya kalau
seluruh dunia persilatan menjadi wilayah kekuasaan tunggal
dari keluarga Hoa kalian?”
000000O000000
31
“NONA BWE, apa maksudmu dengan perkataan semacam
itu?” tegur si anak muda dengan dahi berkerut.
Bwe Su-yok tertawa dingin.

1160
“Golongan pendekar dan kaum lurus menyanjung keluarga
Hoa sebagai pimpinannya, dan sekarang kau anjurkan dirimu
untuk meninggalkan kaum sesat kembali ke jalan yang benar,
apa lagi yang musti kujelaskan dengan perkataanku itu?”
Hoa In-liong tertawa.
“Kalau nona berbicara demikian maka kelirulah
anggapanmu, orang-orang golongan pendekar saling
berhubungan dengan dasar persaudaraan, kita tak pernah
membedakan tingkat kedudukan, dan siapapun tidak lebih
atas dari yang lain, darimana bisa muncul tingkat kedudukan
sebagai seorang pemimpin? Apa lagi ayahku sama sekali tak
berambisi untuk menguasahi dunia persilatan”
“Kalau begitu bagus sekali, perkumpulan kami akan segera
tinggalkan jalan sesat untuk kembali ke jalan yang benar,
bagaimana kalau golongan lurus mengangkat perkumpulan
kami sebagai pemimpinnya?”
Setelah nona itu mengajukan usul seperti ini, tentu saja
Hoa In-liong tak bisa mungkir lagi, maka dia tersenyum dan
menjawab dengan serius.
“Jika nona Bwe benar-benar bertujuan membahagiakan
umat manusia dari segala bentak kelaliman dan penindasan,
ada salahnya kalau kami semua menuruti kehendak nona?”
Bwe Su-yok tertawa dingin.
“Heehhh…. heehh…. heehhh….enak benar perkataanmu
itu, apakah kau dapat mewakili ayah serta seluruh pendekar
dan golongan putih untuk mengambil keputusan?”
Hoa In-liong tertawa.

1161
“Nona Bwe, meskipun aku Hoa Yang adalah keturunan
keluarga Hoa, meski ilmu silatnya maupun nama besarku tidak
seujung jari orang o-rang lain, apalagi dalam soal watak,
boleh dibilang jelek dan tak pantas disinggung-singgung”
Bwe Su-yok mendengus.
Hoa In-liong pura-pura tidak mendengar ujarnya lebih jauh,
“Tapi aku yakin bukan saja perkataanku tadi pasti akan
disetujui ayahku, bahkan paman-paman dan cianpwe-cianpwe
lainnya juga akan menyetujui pula secara seratus persen”
“Dengan dasar apakah kau yakin jika mereka pasti akan
setuju?” ejek Bwe Su-yok dengan nada menyindir.
“Orang akan mengutamakan dukungannya demi
kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, itulah dasar
yang kuanut!”
Jangan dilihat sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut
sikapnya sangat hambar, tapi nadinya begitu serius dan
wajahnya begitu keren, membuat orang musti
memperhitungkan pula kata-Katanya itu.
Bwe Su-yok seperti kena dihantam dengan tongkat besar,
mukanya yang semula dingin tiba-tiba berubah jadi hambar.
Sebagaimana diketahui, gadis itu hidup dalam lingkungan
perkumpulan sesat, sekalipun amat disayang Kiu-im-kauwcu,
tapi semua pendidikan yang diberikan kepadanya kalau bukan
berupa siasat-siasat busuk yang licik, tentulah cara-cara untuk
mencelakai orang, sikap jujur seperti yang diperlihatkan Hoa
In-liong barusan, pada hakehatnya seperti kentut anjing yang
paling busuk bagi pandangan orang-orang Kiu-im-kauw, sebab
perbuatan seperti itu mereka nilai sama artinya dengan

1162
mencari kematian bagi diri sendiri, sudah pasti ajaran seperti
itu tak pernah diwariskan kepada anak didiknya.
Untunglah watak yang asli dari gadis itu adalah watak yang
baik, dan watak yang baik itu belum tertutup sama sekali oleh
pendidikan yang salah, itulah sebabnya kenapa ia jadi bingung
dan untuk sesaat lamanya seperti kehilangan pegangan.
Ia merasa walaupun Hoa In-liong memiliki sifat
menggampangkan pendapat orang dan tidak serius, tapi
jiwanya besar dan mulia kebijaksanaan dan kegagahannya
sebagai seorang pendekar sedikit pun tidak luntur.
Sesaat memang tak bisa menangkap lurus, sekalipun dia itu
seorang ketua dari suatu perkumpulan besar toh muncul juga
perasaan rendah hatinya, tapi kemudian setelah watak angkuh
dan ingin menang gaya muncul kembali gadis itu kembali jadi
jengkel.
“Huuuh…. kalau orang she Hoa lantas apanya yang luar
biasa?” pikirnya.
Cepat dia menenangkan hatinya dan katanya.
“Banyak membicarakan soal ini tak akan ada gunanya lebih
baik tak usah disinggung lagi.
Diam-diam Hoa In-liong mengerutkan dahinya.
“Waaah….payah, kalau dilihat cara dayang itu bersikap dan
berbicara tampaknya ia sudah terlalu dalam dicekoki ajaran
yang salah, sulit, sulit rasa nya untuk menyadarkan kembali
dirinya”
Terbayang betapa akhirnya dia musti menyelesaikan
sengketa tersebut diujung senjata dengan gadis secantik itu,

1163
Hoa In-liong menghela napas panjang, ia merasa kejadian itu
adalah suatu kejadian yang akan membuat hatinya menyesal
sepanjang masa.
“Hei, kenapa kau menghela napas panjang pendek? Merasa
takut?” tegur Bwe Su-yok tiba-tiba.
Hoa In-liong tertawa nyaring.
“Haaahh…. haaahh…. haaahh…. anak keturunan keluarga
Hoa tak pernah kenal rasa kaget atau jeri!”
Setelah berhenti sebentar, dengan nada bersungguhsungguh
ia berkata lebih jauh, “Perduli bagaimanapun sikap
nona Bwe dikemudian hari, bagaimana kalau untuk sementara
waktu jangan kita singgung-singgung dulu masalah tersebut”
Aku pikir suasana semacam sekarang ini pantas diisi
dengan acara minum arak dan membicarakan soal-soal yang
enteng!”
Mendengar perkataan itu, Bwe Su-yok termenung beberapa
saat lamanya, tiba-tiba dia angkat cawan peraknya dan
meneguk setegukan isi cawannya, kemudian dengan perasaan
berat cawan itu di letakkan kembali ke atas meja.
Melihat itu Hoa In-liong lantas berpikir, “Meskipun ia tidak
berkata-kata tapi dari tindakan yang diambil jelas sudah
menetujuinya.
Maka diapun angkat cawan serta meneguk habis pula
isinya.
“Sian kian!” ujar Bwe Su-yok kemudian, “penuhi cawan Hoa
kongcu!”

1164
“Siau kian mengiakan, dia ambil poci dan memenuhi
cawannya, menggunakan kesempatan itu ia berbisik
disamping telinga pemuda kita sambil tertawa, “Tempo hari
kau pingin minum secawan air putih saja tak keturutan, kali ini
kau merasa gembira bukan? Bukan ada arak wangi dan
hidangan lezat, bahkan nona sendiri yang menemani dirimu”
Jilid 30
SEKALIPUN suaranya amat lirih, tapi dengan tenaga dalam
Bwee Su-yok yang begitu sempurna, tentu saja bisikan
tersebut tak dapat mengelabuhi dirinya.
“Tidak tahu aturan!” segera makinya dengan muka kaku,
“pingin digebuk?”
Sambil menjulurkan lidahnya cepat-cepat Siau kian
membungkam.
Hoa In-liong tertawa, katanya pula, “Dayangmu cerdik dan
menyenangkan, bicara secara blak-blakan semacam itu justru
mencerminkan keakraban hubungan diantara kita,
menganggap semua orang sebagai anggota keluarga sendiri
adalah kejadian yang sangat baik, kenapa musti kau marahi?”
“Benarkah ucapanmu itu muncul dari hati yang jujur?” tibatiba
Bwee Su-yok mendesis dingin.
Anak muda itu segera berpikir, “Waah, jangan-jangan
ucapanku itu kembali sudah menimbulkan kegusaran hatinya?”
Dengan senyuman yang tidak berubah, ia menyahut,
“Memangnya kau anggap aku cuma berpura-pura?”

1165
Bwe Su-yok segera mengawasi raut wajahnya dengan
serius, ia temui pemuda itu tetap tenang dan sama sekali tak
nampak kepura-puraannya, ini membuat dara tersebut
menghela napas.
“Ai, sayang aku merupakan ahli waris suhu” demikian
pikirnya, “itu berarti sepanjang hidup aku tak bisa melumerkan
sikap permusuhanku dengan keluarga Hoa, aa…. aku…. yaa
sudahlah!”
Begitu sudah mengambil keputusan, diapun tertawa dan
berkata, “Kalau toh engkau sudah berkata demikian, jikalau
dayang-dayang itu sampai kurangajar, jangan kau salahkan
diriku yang kurang ketat mendidik mereka….”
Ternyata kali ini dara tersebut menyebut dirinya dengan
sebutan aku dalam tingkat kedudukan yang sederajat dengan
Hoa In-liong dan tidak memakai kata aku dalam tingkatannya
sebagai seorang kaucu, tentang hal ini Hoa In-liong dapat
mamahaminya.
Tadi kembali pemuda itu dibuat terkesima oleh senyum
manis Bwe Su-yok yang memikat hati, kecuali menatap gadis
itu dengan pandangan tertegun dia tak tahu apa yang musti
dilakukan.
Apalagi dihari-hari biasa, Bwee Su-yok memang tersohor
karena dingin dan ketusnya, maka senyuman tersebut
ibaratnya gunung salju yang tiba-tiba meleleh, membuat
udara jadi hangat dan bunga pun bersemi kembali, sungguh
bertolak belakang jika dibandingkan dengan senyuman
dinginnya yang mencekat hati.
Sebetulnya Bwee Su-yok memang seorang gadis yang
cantik jelita, kecuali Coa Wi-wi, rasanya didunia ini sukar
untuk menjumpai gadis secantik dia, ditambah lagi dihari-hari

1166
biasa gadis itu jarang tertawa dan selalu bersikap dingin dan
ketus, maka senyuman cerah yang menghiasi wajah nya
sekarang boleh dibilang suatu kejadian yang langka.
Tak heran kalau sepasang mata Hoa In-liong melotot
dengan terbelalalak, seakan akan dia kuatir kalau rejeki itu
akan segera lenyap sebelum dinikmatinya, ini membuat cawan
arak yang sudah hampir menempel di bibirpun tiba-tiba
terhenti ditengah jalan.
Bwe Su-yok sama sekali tak bergerak, seolah-olah memang
memberi kesempatan bagi anak muda itu untuk
mengamatinya sampai puas, kemudian ujarnya dengan
lembut, “Seandainya dalam kaadaan demikian kulancarkan
sebuah serangan maut, aku rasa kau pasti akan mampus dan
menjidi setan yang kebingungan!”
Hoa In-liong meneguk habis isi cawannya, lalu tertawa.
“Tahukah kau, bahwa dihari-hari biasa bagaimana
pandanganku mengenai kematian? Itulah merupakan ciri khas
dari tabiat aku Hoa Yang”
“Eeeh…. bicara baik-baik, kenapa menyinggung lagi soalsoal
yang tak menyenangkan hati?” tegur Bwee Su-yok
dengan alis berkenyit.
Mendengar itu, Hoa In-liong lantas berpikir, “Beberapa hari
yang lalu engkau masih berniat mengambil nyawaku, tapi
sekarang malah berkata demikian, sungguh bikin orang
merasa tidak habis mengerti”
Maka sambil tersenyum, ia cuma membungkam dalam
seribu bahasa.

1167
Menyaksikan anak muda itu hanya membungkam, Bwe Suyok
berpikir sebentar lalu ujarnya lagi, “Aaai…. kalian bangsa
laki laki sejati, kaum orang-orang gagah, yang diutamakan
adalah jiwa yang tinggi dan semangat berkorban yang
menyala-nyala, mati dalam pertempuran tentunya merupa kan
harapanmu bukan?”
Hoa In-liong tersenyum, “Tidak, gagahnya sih memang
gagah kalau gugur dalam pertempuran, namun itu bukan apa
yang kuharapkan”
“Kalau begitu, tentunya kau berharap bisa mati dengan
tenang diatas pembaringan?” Bwe Su-yok kembali tertawa.
“Ah, tidak! Itu mah terlalu biasa dan umum!” kata anak
muda itu sambil menggeleng.
“Ini bukan, itu juga bukan, aku jadi ogah untuk menebak
lebih lanjut!” seru Bwe Su-yok sambil cemberut.
Hoa In-liong tertawa tergelak.
Padahal Bwe Su-yok sudah tahu kalau pemuda itu
bermaksud bahwa mati ditangannya adalah kematian yang
paling diharapkan, cuma ia pura-pura berlagak pilon, seakanakan
tidak mengerti soal itu.
Demikianlah perjamuan dilanjutkan diiringi gelak tertawa
serta pembicaraan pembicaraan yang santai, dipandang dari
luar ruangan yang laki-laki adalah pemuda yang tampan yang
perempuan adalah gadis cantik, pada hakekatnya mereka
lebih mirip sepasang kekasih daripada musuh besar yang siapa
melangsungkan duel maut.
Kejadian seperti ini lebih-lebih mencengangkan ketiga
orang dayang dari Bwe Su-yok, pikir mereka hampir

1168
berbareng, “Dihari-hari bisa nona selalu bersikap dingin dan
kaku terhadap siapapun juga, ia sebetulnya Hoa In-liong
adalah seorang sahabatkah? Yaa, benar! Tampaknya dia
adalah sahabat karib nona!”
Minum arak wangi didamping gadis secantik bidadari Hoa
In-liong, yaa mabok yaa terpersona hampir saja ia melupakan
Coa Wi-wi yang datang bersama dengannya tapi entah
bersembunyi dimana
“Oya, adik Wi?” demikian pikirnya kemudian, “ia sembunyi
dimana sekarang? Wah, kalau adegan semacam ini sampai
terlihat olehnya, udah pasti dia akan tak senang hati!”
Tanpa terasa ia berpaling dan memandang keluar ruangan,
tampak malam hari sudah menjelang tiba, kegelapan
menyelimuti seluruh angkasa, hanya lentera keraton yang
mentereng menyinari ruang tersebut, dalam suasana begini,
mungkin sulit bagi mereka untuk menemukan tempat
persembunyian Coa Wi-wi yang bersembunyi diluar justru
dapat menyaksikan semua adegan tersebut dengan terang.
Melibat pemuda itu celingukan kesana kemari, Bwee Su-yok
meletakkan kembali cawannya kemeja lalu tegurnya,
“Persoalan apa yang membuat engkau gelisah dan gugup tak
karuan?”
“Oh, ada seorang cianpwe berjanji dengan aku untuk
bersua tengah malam nanti, tempatnya di kota Kim leng, tapi
sekarang masih terlalu pagi, lebih baik kita minum arak dulu!”
kata Hoa In-liong berbohong.
“Oooh….”Bwe Su-yok tidak mendesak lebih jauh…. aku
dengar ibumu adalah seorang perempuan yang tercantik
dalam dunia persilatan….”

1169
Tiba-tiba ucapannya berhenti ditengah jalan.
Dengan wajah tertegun Hoa In-liong menengok kearahnya,
ia melihat gadis itu sangat sedikit minum arak, sejak
perjamuan diselenggarakan sampai kinipun dia baru minum
dua-tiga cawan sekalipun tenaga dalamnya sempurna tapi
mukanya toh bersemu merah juga, tapi hal ini justru
menambah kecantikannya.
Diam-diam Hoa In-liong menggela napas panjang, pikirnya,
“Sekarang hubungan kami begini intim tapi sebentar lagi
mungkin akan bentrok dan bertarung, ai! Apakah hal ini
tidak….”
Karena kesal, sekali teguk dia menghabiskan isi cawannya.
Buru-buru Siau kian penuh lagi isi cawannya itu, Hoa Inliong
mengangkat cawan kemudian berkata, “Ibu sering
berkata, bagi seorang perempuan yang penting adalah budi
yang luhur, soal kecantikan tak lebih cuma urusan sampingan
tak boleh hal ini terlalu dipersoalkan!”
Bwee Su-yok tertawa ringan.
“Watak ibumu yang begitu tulus dalam cinta, begitu tulus
dalam memegang kebenaran sendiri, sudah lama kukagumi!”
Padahal sekalipun tabiat Pek Hujin lembut dan halus pada
saat ini, sebelum berkenalan dengan Hoa Thian-hong, dia juga
terkenal karena bengis, binal dan sukar diatur, sejak mencintai
Hoa Thian-hong lah yang watak itu pelan-pelan berangsur
membaik.
Dalam hal ini Hoa In-liong kurang begitu mengetahui, tapi
Bwee Su-yok mengetahuinya dengan jelas, meski demikian,

1170
dalam keadaan seperti ini tentu saja dia tak akan membantah
perkataan dari Hoa In-liong itu.
Maka setelah berhenti sebentar, kembali ujarnya,
“Berbicara soal keluhuran budi, adik dari keluarga Coa yang
mendampingi dirimu selama ini kan beratus kali lebih baik
daripada aku, berbicara soal kecantikan pun dia menang
daripada aku!”
Lantaran Siau bi dan Siau kian sudah ikut menimbrung, dan
tinggal Siau ping seorang yang membungkam, ia merasa tak
bisa tutup mulut terus, tiba-tiba selanya, “Nona adalah gadis
yang paling cantik didunia ini, dayang dari keluarga manakah
yang bisa menandinginya?”
Pada dasarnya Hoa In-liong memang suka dengan
beberapa orang dayang yang lincah dan pintar itu maka
dilihatnya Bwe Su-yok bermaksud mengumbar bawa
amarahnya, dengan cepa t ia menimbrung, “Eeeh….bukankah
kau sendiri yang bilang bahwa kita semua adalah orang
sendiri? Jangan ditegur….”
“Aaai….!” Bwe Su-yok menghela napas, sejak kecil aku
sudah hidup menyendiri tiada kawan bercakp, tiada rekan
berbicara, hanya beberapa orang dayang itulah yang selalu
menemani aku, hingga akhirnya terdidiklah keadaan yang tak
tahu aturan seperti sekarang inin aku harap janganlah kau
tertawakan keadaanku ini”
Dari perkataan tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa
detik itu dia hanya mengganggap Hoa In-liong sebagai
sahabat karibnya, sebab kalau tidak, pun wataknya yang
angkuh tak mungkin ia bersedia mengucapkan kata-kata
seperti itu.
Melihat itu Hoa In lioag lantas berpikir.

1171
“Dia menemani aku dengan perasaan hati yang tulus,
sebaliknya aku masih berjaga-jaga tiga bagian, ai, kalau
dipikirkan kembali, sikapku ini sungguh memalukan….”
Sebenarnya ia hendak menghibur dengan beberapa patah
kata, tapi Bwee Su-yok sudah keburu berkata, “Kau tak usah
menghibur diriku, sebab sekalipun kau hibur belum tentu
kuturuti, dan akupun belum tentu akan menerimanya dengan
senang hati!”
Habis berkata ia menghela napas panjang, mukanya
tampak amat sedih.
Hoa In-liong tahu, dihibur pun tak ada gunanya maka
setelah berpikir sebentar sambil angkat cawan dia berkata
sambil tertawa, “Bunga sakura yang tumbuh di lembah justru
menyiarkan bau yang harum semerbak, siapa orang yang tak
suka dan menyenanginya?”
Beberapa patah kata itu memasuk hingga kesanubari Bwee
Su-yok, membuat gadis itu kegirangan, sambil tersenyum
segera pujinya, “Engkau memang pandia sekali berbicara!”
Hoa In-liong tertawa.
“Tidak kau maki lagi diriku ini sebagai orang yang pintar
mencari muka, memuakkan dan menjemukan?”
Sementara pembicaraan masih berlangsung, tengah malam
pun sudah lewat.
Hoa-In-lioig yang teringat kembali janjinya dengan Goan
cing-taysu, tanpa merasa melongok ke luar ruangan,
sebenarnya dia ingin mohon diri, tapi merasa juga bahwa

1172
keadaan seperti ini sukar di jumpai lagi dalam kesempatan
lain, maka ia jadi sangsi.
Melihat itu, Bwee Su-yok tertunduk dengan wajah sedih.
“Aaaai….Sebentar kau akan pergi, bila kita bersua lagi
dikemudian hari, suatu pertarungan sudah pasti tak akan
dihindari lagi!”
Pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang
romantis, dia ikut merasa sedih juga setelah mendengar
perkataan itu, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan
sesuatu, namun tak separah katapun yang sanggup
diutarakan keluar.
Bwe Su-yok berkata lebih jauh, “Waktu itu kau tak usah
berbelas kasihan kepadaku dan akupun tak akan melepaskan
setiap ke sempatan yang ada untuk membinasakan dirimu,
sampai waktunya aku harap kau jangan menyalahkan diriku
yang tidak berbelas kasihan lagi”
“Nona!” Siau peng segera menyesal, berbicara baik-baik
kenapa kau singgung lagi soal bunuh membunuh yang tak
sedap didengar?”
“Yaa….” pikir Hoa In-liong, kalau aku disuruh bersikap
kejam kepadanya jelas hal ini tak mampu kulakukan”
Dia bangkit berdiri lalu menjura, katanya, “Aku….”
Ia merasa tak ada perkataan lain yang bisa diutarakan,
maka sesudah berhenti sebentar lanjutnya.
“Semoga dalam perjumpaan kita dikemudian hari akan
sama seperti malam ini….”

1173
“Kau jangan bermimpi disiang hari bolong!” tukas Bwe Suyok
dengan wajah berubah.
Ujung bajunya segera dikebaskan dan bangkit berdiri lalu
tan pa berbicara sepatah katapun sambil membawa tongkat
kepala setanya, ia putar badan dan menuju ke ruang
belakang.
Dalam detik yang amat singkat itulah, Hoa In-liong sempat
menyaksikan matanya yang jeli itu berkaca-kaca, dia tahu
wataknya yang angkuh menyebabkan gadis itu enggan
membiarkan orang lain mengetahuhi kepedihan hatinya, maka
ia mengambil keputusan untuk berlalu dari situ.
Padahal, meskipun dia yakin kalau memahami perasaan
gadis itu, namun perasaan seorang perempuan lebih dalam
dari dasar samudra, toh ia tak berhasil juga untuk mengikuti
perubahan hati dari Bwe Su-yok, apalagi sebentar bersikap
bersahabat, sebentar lagi bersikap permusuhan, ini membuat
pikirannya jadi pusing tujuh keliling.
“Nona!” tiba-tiba Siau bi berteriak, lalu mengejar dari
belakangnya.
Dengan mendongkol Siau peng juga meletakan poci
araknya keras-keras keatas meja, lalu mendengus.
“Hmm….! Percuma kami layani dirimu selama hampir
setengah harian lebih, akhirnya kau juga bikin nona kami jadi
marah-marah”
Selesai menggerutu, dia ikut berlalu dari ruangan itu.
Sementara Hoa In-liong tertawa getir, Siau kian yang ada
dibelakangnya telah berkata, “Hoa Kongcu, asal kau tetap
tinggal di ruangan ini sampai bertemu lagi dengan nona kami,

1174
berarti pula tidak sampai perjumpaan dilain waktu, dengan
demikian toh kalian juga tak usah saling bermusuhan lagi….?”
“Nona cilik ini lucu amat” pikir Hoa In-liong “meski polos
dan lucu, tapi ia memang berniat baik!”
Maka sambii memutar badan ujarnya, “Aku masih ada
urusan penting yang musti diselesaikan dahulu, aku tak bisa
sepanjang masa tetap bercokol terus disini!”
“Tapi kau toh bisa kembali lagi ke sini seusainya
menyelesaikan urusan-urusanmu itu?” seru Siau kian sambil
mencibirkan bibirnya.
Hoa In-liong tertawa geli, dibelainya rambut dayang itu
dengan halus, kemudian dengan langkah lebar berlalu dari
ruangan itu.
Siau kian tertegun, dia seperti mau memburu anak muda
itu, tapi niat tersebut kemudian dibatalkan kembali dan diapun
berjalan menuju ke ruang belakang menyusul rekan-rekan
lainnya.
Sementara itu Hoa In-liong telah berjalan ke luar dari ruang
tengah, sepanjang jalan meski dia bertemu kawan jago dari
Kiu-im-kauw anehnya ternyata mereka tidak menghalangi
jalan perginya ini menyebabkan hatinya tercengang.
“Aaaah….! Masa kau bisa lolos dengan selamat dari
perkampungan ini tanpa hadangan?” demikian pikirnya.
Dengan kewaspadaan yang tinggi, ia ambil kipasnya dan
berjalan keluar halaman dengan langkah lebar, demikian
santainya pemuda itu berlalu lalang seolah-olah sedang
berjalan dirumah sendiri saja.

1175
Ketika hampir tiba dipintu gerbang, tampaklah Huan Tong
kurus jangkung dan Le Kiu it yang botak dengan memimpin
belasan jago Kiu-im-kauw sedang berjalan-jalan di sebelah
samping pintu, tanpa terasa ia lantas mengguman.
“Hmm…. kalau dilihat dari sikap mereka, tampaknya
pertarungan tak bisa kuhindari lagi pada malam ini….”
Sekalipun ia tak takut menghadapi pertarungan tersebut
tapi cukup membuat hatinya risau terutama sampaii sekarang
Coa Wi-wi belum kelihatan juga batang hidungnya, ini
membuat anak muda itu makin tercengang.
Dalam waktu singkat dia sudah tiba kurang lebih tiga kaki
dihadapan Le Kiu it sekalian.
Terdengar Le Kiu it berkata, “Hoa Yang, seandainya kaucu
kami tidak menurunkan perintah untuk melepaskan dirimu
pergi karena kuatir ditertawakan orang karena menganiaya
musuh dirumah sendiri. Heeehhh…. heeehh….
heeehhh….malam ini juga pun tiamcu pasti akan bikin kamu
bisa datang tak bisa pergi dengan selamat!”
Hoa In-liong tidak lantas emosi, dia berpikir.
“Meskipun Bwee Su-yok beralasan, tapi sudah pasti ia
berniat untuk melindungi aku dari ancaman anak buahnya.
Padahal orang Kiu-im-kauw terkenal kritis pikirannya dan
cerdik, masa mereka tak bisa menduga sampai ke situ?
Kendatipun aku tidak mengharapkan hal ini, tapi maksud
baiknya itu perlu kusimpan dihati!”
Entah haruskah merasa terkejut atau gembira untuk sesaat
dia malah berdiri tertegun.

1176
Terdengar Huan Tong berseru kembali dengan nada
mengejek, “Bocah keparat, setelah dikasi peluang untuk
hidup, kenapa tidak cepat-cepat enyah dari hadapan kami?”
Meskipun Hoa In-liong tahu bahwa mereka berniat jahat,
tapi lantaran ada perintah dari Bwe Su-yok maka diusahakan
untuk memanasi dulu hatinya agar kalau sampai terjadi
pertarungan nanti tanggung jawabnya bisa dilimpahkan
kepundak pemuda itu.
Hoa In-liong bukan orang bodoh, sudah barang tentu ia
memahami pula isi hati musuhnya, maka dengan rasa
mangkel bercampur marah ejeknya dengan sinis, “Kalau mau
berkelai hayo cepat turun tangan buat apa musti banyak
cincong?”
Kipasnya dimasukan ke dalam saku, kemudian dengan
langkah lebar maju kemuka.
Le Kiu it juga mendongkol ketika melihat sikap angkuh dan
sinis darilawannya sambil mendengus dingin telapak tangan
kanannya segera diayun ke muka siapa melancarkan
serangan, tapi niat itu segera ditahan kembali.
“Bajingan cilik dari keluarga Hoa!” demikian teriaknya,
boleh saja kalau ingin berkelahi, tapi kaulah yang musti
memikul tanggung jawabnya….!”
“Aaaah…. cerewet betul kamu ini!” bentak Hoa In-liong.
Telapak tangannya tanpa sungkan-sungkan langsung
dihantamkan ke arah dada Huan Tong
Sebagai pemuda yang cerdik, dari lirikan mata Huan Tong
yang lciik segera diketahui bahwa musuhnya berniat
melancarkan sergapan, maka dia memutuskan untuk turun
tangan lebih dahulu.

1177
Huan Tong dibikin kaget bercampur marah oleh sikap anak
muda itu, sambil menyeringai teriaknya, “Bajingan keparat,
bagus sekali perbuatanmu!”
Menggunakan jurus Tui san tiam hay (mendorong bukit
menguruk samudra) disambutnya serangan itu dengan keras
lawan keras.
Jelas dia bermaksud mengadalkan tenaga dalamnya yang
mencapai enam puluh tahun hasil latihan itu untuk menghajar
musuhnya sampai babak belur, sebab menurut perkiraannya,
Hoa In-liong pasti akan sanggup menerima serangan sehebat
itu.
Maka ketika dilihatnya Hoi In liong sama sekali tidak
menghindar ataupun berkelit, malahan disongsongnya telapak
tangannya dengan keras lawan keras, tak terkiraan rasa
senang dalam hatinya.
Siapa tahu dikala sepasang telapak tangan saling beradu, ia
segera merasakan tenaga pukulan musuh menekan lalu
menghimpit, setelah itu segera kearah lain secara
mengherannkan hampir saja tubuhnya ikut terhisap ke
samping.
Untunglah tenaga dalamnya cukup sempurna hawa
murninya segera ditekan kebawah untuk memperkokoh
pertahanannya, dengan susah payah berhasil juga dia untuk
melepaskan diri dari pengaruh hisapan itu.
“Bajingan kau cukup hebat!” teriak tak terasa.
“Aaah…. kamu ini sok heran!”

1178
Menggunakan kesempatan itu sebuah pukulan dengan
jurus Kua siu-ci tau (perlawanan akhir dari bintang buas yang
terjebak) dilancarkan kedepan serangan itu tajam bagaikan
bacokan kampak yang membelah bukit, ibaratnya pula
gulungan ombak yang menghantam batu karang ditepi pantai,
memaksa Huan Tong mau tak mau musti mundur beberapa
langkah untuk mempertahankan diri.
Dalam keadaan begini, kecuali dia hanya bisa mematahkan
serangan demi serangan yang tertuju ke arahnya, boleh
dibilang sejurus serangan balasan pun tak mampu
dilancarkan,
Le Kiu it yang turut menyaksikan jalannya pertarungan dari
sisi kalangan segera berpikir, “Sepintas lalu tampaknya usia
bocah itu baru tujuh delapan belas tahunan, tapi tenaga
dalamnya sudah sesempurna ini, kalau tidak kugunakan
kesempatan pada malam ini untuk menyingkirnya, dilain
waktu sudah pasti dia akan merusak bibit bencana yang besar
untuk kita semua!”
Terbayang kembali sikap mesra Bwee Su-yok berhadap Hoa
In-liong, hawa napsu membunuhnya semakin berkobar, dia
merasa berkewajiban untuk membunuh anak muda itu hingga
memutuskan niat Bwee Su-yok yang lebih jauh, hingga
dengan demikian Kiu-im-kauw jangan sampai hancur ditangan
anak muda tersebut.
Baru saja dia siap sedia untuk turun tangan, tiba-tiba Hoa
In-liong sudah berteriak, “Le tiamcu, jika kau punya
kegembiraan untuk ikut serta, apa salahnya kalau segera
menerjunkan diri ke dalam arena?”
Sekalipun Le Kiu it itu licik dan banyak tipu muslihatnya,
tapi setelah rahasia hatinya disinggung anak muda itu, tak
urung sangsi juga jago tua itu dibuatnya.

1179
Sungguh hebat pertarungan yang sedang berlangsung
ditengah gelanggang, angin pukulan menderu-deru, membuat
kawanan jogo Kiu-im-kauw yang berada disekeliling tempat itu
sama-sama membubarkan diri.
Huan Tong sendiri didesak pula hingga mundur delapan
sembilan langkah, sekarang ia sudah terdesak keluar dari
pintu gerbang.
Pantangan paling besar bagi jago-jago yang sedang
bertarung adalah pikiran yang bercabang, begitu Hoa In-liong
buka suara, Huan Tong segera menunggangi kesempatan itu
sebaik-baiknya.
Ilmu langkah Loan ngo heng mi tiong tua hoat yang
dimilikinya memang tersohor karena hebatnya, beruntun ia
maju tiga langkah, tahu tahu tubuhnya sudah lolos dari
jangkauan angin pukulan Hoa In-liong, kemudian setelah
mendengus, dia balas menerkam ke muka dan secara
beruntun melancarkan delapan buah pukulan berantai.
Sekolah batu karang Hoa In-liong tegap ditempat semula,
tangan kirinya menyerang, tangan kanan nya menangkis,
tanpa mundur barang satu langkah pun dia melepaskan
sebuah pukulan dengan jurus Pian tong put ki (berubah tidak
menetap).
Jurus itu tangguhnya bukan kepalang, dalam kagetnya
cepat Huan Tong menghindar dengan menggunakan ilmu
langkah Loan ngo heng mi tiong tun hoat, nyaris tubuhnya
termakan serangan.
Hoa In-liong sama sekali tidak mengejar lebih jauh, sambil
terbahak-bahak katanya, “Aaah….rupanya tongcu bagian

1180
propaganda dari Kiu-im-kauw cuma begitu begitu saja, maaf,
Hoa loji tak bisa menemani lebih jauh!”
Sekali berkelebat tahu-tahu ia sudah berada ratusan kaki
dari tempat kedudukan semula.
Sejak pertarungan berlangsung, dua orang itu selalu
menggeserkan badan hingga akhirnya mereka berdua samasama
berada diluar parkampungan maka tindakan Hoa ln-liong
yang mengundurkan diri setelah berhasil meraih kedudukan
diatas angin ini sama sekali diluar dugaan siapapun, bahkan
Lei Ku it sendiripun tak sempat untuk menghalangi
kepergiannya.
Kegusaran Huan Tong sungguh sukar dikedalikan, sambil
mengejar dari belakang teriaknya setengah meraung,
“Bajingan cilik dari keluarga Hoa kalau punya nyali hayo
jangan lari!”
“Huan tongcu!” tiba-tiba serentetan suara teguran yang
merdu bagaikan suara keleningan berkumandang
memecahkan kesunyian.
Huan Tong terkesiap dan cepat menahan tubuhnya, ketika
berpaling maka dilihatnya Bwee Su-yok dengan wajah marah
dan memegang tongkat berkepala setengahnya berdiri tegap
di depan pintu gerbang.
Dari sikap yang begitu angker, Huan Tong segera merasa
bahwa keadaan kurang begitu menguntungkan, cepat dia
memberi hormat seraya menyabut, “Hamba disini!”
Diatas raut wajahnya yang cantik bak bidadari tiba-tiba
dilapisan sikap yang lebih dingin dari es, kata perempuan she-
Bwe itu, “Huan tongcu, meskipun kaucu sudah melimpahkan
kekuasaannya kepadaku, aku mengerti bahwa usiaku masih

1181
muda dan pengetahuanku masih cetak, ditambah lagi tenaga
dalamku lemah, jauh bila di bandingkan dengan kalian
semua….”
Tiba-tika ia sengaja berhenti berbicara, dengan sorot mata
setajam sambil ditatapnya wajah Huan Tong tanpa berkedip,
Peluh dingin mengucur keluar membasahi sekujur tubuhnya
cepat-cepat Huan Tong membungkukkan badannya memberi
hormat.
“Hamba tahu dosa, harap kaucu melimpahkan hukuman
yang setimpal kepadaku!”
Le Ku it yang melihat keadaan tersebut segera berpikir
juga, “Kalau aku menasehatinya secara terus terang, bukan
amarahnya yang bisa kupadamkan malah justru ibaratnya
minyak bertemu api, kemarahannya pasti makin menjadi ah,
mengapa tidak begini saja….”
Sebuah akal yang terasa tetap melintas dalam benaknya,
cepat ia memberi hormat kepada Bwee Su-yok seraya berkata,
“Kaucu baru saja menempati kursi pemimpin dengan hamba
dan Huan Tongcu telah berani melanggar perintah, yaa, kalau
tidak dijatuhi hukuman yang setimpal memang kewibawaan
tak dapat di tegakkan.”
Begitu ucapan tersebut diutarakan paras muka Bwe Su-yok
malahan berubah lebih lembut katanya lagi, “Aku tahu bahwa
Le Tiamcu dan Hoan tongcu berbuat demikian demi
kepentingan perkumpulan kami….”
Ditatapnya sekejap wajah kedua orang tajam-tajam, ketika
melihat mereka berdua tertunduk ketakutan, ia merenung
sebentar kemudian berkata lagi, “Tapi kalian tak usah kuatir,

1182
aku bukan seorang manusia yang melupakan budi, kalian tak
usah membayangkan yang tidak-tidak atas diriku!”
“Perkataan kaucu terlalu berlebihan!” cepat-cepat Le Kiu it
dan Huan Tong berseru ketakutan.
“Baiklah, dosa atas pelanggaran perintah ini sementara
waktu kukesampingkan lebih dahulu, kalian boleh menebusnya
dengan membuat pahala dikemudian hari”
Selesai berkata, sambil mengebaskan ujung bajunya dia
masuk kembali kedalam perkampungan.
Le Kiu-it dan Huan Tong cuma bisa saling berpandangan
sambil tersenyum getir akhirnya mereka ke dalam
perkampungan.
Dalam pada itu, Hoa In-liong telah bergeran menuju ke
selatan sepeninggalnya dari perkampungan itu, sementara ia
masih berlari dengan cepatnya, tiba-tiba terdengar suara
teguran dari Coa Wi-wi berkumandang dari sisi telinganya,
“Jiko!”
Baru saja Hoa In-liong terhenti, hembusan angin harum
sudah lewat disisinya dan tahu-tahu Coa Wi-wi sudah muncul
disana.
“Waktu sudah tidak pagi” bisik gadis itu cepat,
kemungkinan besar janji kita dengan kongkong bakal
terlambat, mari sambil berjalan kita sambil berbicara!”
“Benar juga perkataan adik Wi!”
Dengan kecepatan seperti terbang mereka lanjutkan
kembali perjalanannya menuju ke selatan.

1183
Meskipun ia belum lama berada di kota Kim-leng, tapi
pemuda itu mengetahui dimanakah letak Yu hoa tay.
Dengan ketat Coa Wi-wi mengikutinya dari samping, sambil
berlarian disisinya, ia berkata lagi, “Jiko, oleh karena kulihat
kau lagi bergurau dengan gembiranya bersama Bwee Su-yok,
maka tidak kukisiki dirimu dengan ilmu menyampaikan suara
dimanakah aku berada?”
Dari suara tersebut, Hoa In-liong tidak menangkap
kedengkian atau rasa cemburu dibalik nada pembicaraannya,
gadis itu berbicara dengan tulus dan lembut, tanpa terasa
anak muda itu berpikir, “Begitu tulus dan halus hati adik Wi,
bagaimanapun jua, sekalipun harus mati seratus kali, aku tak
boleh juga melukai hatinya….”
Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya, “Kau
bersembunyi dimana?”
“Dalam semak belukar kurang lebih lima kaki jauhnya diluar
ruangan!” jawab Coa Wi-wi.
Kemudian setelah tertawa, ujarnya lagi, “Meskipun Bwe Suyok
mengatakan kecantikan wajahnya kalah dari aku. Hmm….
padahal dalam hati kecilnya tentunya menganggap dia
sendirilah gadis paling cantik di dunia ini!”
Ketika didengar dibalik perkataan itu terkandung juga nada
membandingkan Hoa In-liong segera tertawa.
“Kenapa kau musti perdulikan dia?”
Coa Wi-wi membungkam sejenak, lalu katanya lagi, “Jiko,
bila kalian berjumpa lagi dikemudian hari, apakah kau benarbenar
juga akan memandang nya sebagai musuh besarmu?”

1184
Hoa In-liong justru sedang serius karena persoalan itu,
maka ia pura-pura tertawa setelah mendengar perkatan itu.
“Aku sendiri juga tak tahu bagaimana baiknya!”
“Aku rasa, dalam hal ini kau musti cepat-cepat ambil
keputusan mumpung belum kasip!”
Hoa In-liong rasa segan membicarakan persoalan itu lebih
lanjut, cepat dia alihkan pembicaraan tersebut ke soal lain,
katanya, “Aku mempunyai rencanaku sendiri, tak usah kau
cemaskan. Coba lihat! Didepan sana adalah bukit Ki po san,
hayo cepat kita mendaki keatas bukit tersebut!”
Betapa sempurnanya ilmu meringankah tubuh yang dimiliki
dua orang itu, sekalipun belum digunakan sebatas maksimal,
toh kecepatannya sudah ibarat hembusan angin.
Malam sudah semakin gelap, pintu kota sudah terlanjur
tutup, hanya disepanjang sungai Chin-hway saja yang tampak
masih sibuk dengan para pelancong, perahu dan sampan hilir
mudik di sungai, suara nyanyian, bau arak menambah
semarak nya suasana yang hening.
Malam itu bulan purnama, baru saja tiba di Yu hoa thay.
tampaklah Goan cing taysu duduk bersila diatas puncak.
Menyaksikan betapa agung dan wibawanya padri itu, tanpa
terasa Hoa In-liong jatuhkan diri berlutut diatas tanah.
“Kedatangan boanpwe terlambat setindak, harap kongkong
sudi memaafkan….” katanya.
Coa Wi-wi juga memburu ke depan sambil berkata,
“Kongkong!”

1185
Gadis itu langsung menubruk kedalam pelukannya.
Tenaga dalam yang dimiliki Goan cing taysu sudah
mencapai tingkatan yang amat sempurna, tentu saja diapun
tahu akan kehadiran dua orang tersebut, sambil membuka
matanya ia berkata dengan lembut, “Liong-ji, tak usah banyak
adat!”
Tiba-tiba ia tampak seperti tertegun, kembali serunya
dengan suara dalam, “Hei Liong-ji, kau sudah makan apa?
Mengapa wajahmu begitu cerah dan segar, jauh berbeda
seperti keadaan pagi tadi?”
Diam-diam Hoa In-liong memuji akan ketajaman mata
padri itu, maka dia pun lantas menurunkan semua
pengalaman yang telah dialaminya siang tadi.
Sehabis mendengar penuturan tersebut, Goan cing taysu
segera memegang nadinya, pejam mata dan melakukan
pemeriksaan dengan seksama.
Coa Wi-wi menunggu beberapa saat, tapi ketika dilihatnya
Goan-cing taysu belum juga bersuara ia lantas mendorong
bahu kongkongnya seraya berseru dengan manja, “Kongkong,
bagaimana keadaannya?”
Setajam sembilu sorot mata Goan ceng taysu setelah
menghela napas, sahutnya, “Keadaan itu sedikit banyak rada
mirip dengan tingkat paling atas dari ilmu Bu khek teng heng
sim hoat, sebab aliran lurus bila bersatu dengan aliran yarg
terbaik, munculah suatu penggabungan tenaga murni yang
maha dahsyat!”
“Horee…. kalau memang bisa begitukan bagus sekali!”
sorak Coa Wi-wi kegirangan.

1186
Tapi Goan cing taysu kembali gelengkan kepalanya
“Namun, lolap yakin bahwa gejala yang dialami Liong-ji
bukan gejala dari tingkat paling atas ilmu Bu khek teng heng
sim hoat aaai….!”
Bencanakah atau rejekikah, lolap tidak berani memastikan
agaknya aku harus menjumpai ayahmu lebih dulu untuk
membincangkan keadaan ini lebih jauh”
Sungguh kecewa Coa Wi-wi setelah mendengar perkataan
itu.
Hoa In-liong juga tercengang, ia berseru, “Kongkong, jadi
kau telah menjumpai ayahku?”
Goan cing taysu manggut-manggut, setelah termenung
sebentar, tiba-tiba ujarnya kepada Coa-Wi-wi, “Anak Wi,
berjaga-jagalah disini sambil melindungi kami, aku hendak
memeriksa lagi keadaan tubuh Liong ji!”
Coa Wi-wi tahu, Goan cing taysu hendak memeriksa
kesehatan Hoa In-liong dengan hawa murni nya, itulah suatu
perbuatan yang sangat berbahaya, sekali bertindak kurang
hati-hati niscaya dua orang itu akan mengalami keadaan jalan
api menuju neraka.
Cepat cepat dia mengiakan, lalu menyingkir dua kaki ke
samping dan berjaga-jaga disana.
Goan cing taysu berpaling pula kearah Hoa In-liong,
kemudian berkata, “Anak Liong, duduklah bersila menghadap
kesana, lalu kerahkan hawa murnimu untuk mengelilingi
badan!”

1187
Hoa In-liong menyahut lalu duduk bersila dengan
membelakangi padri tua itu.
Coa Wi-wi sendiri, meskipun diberi tugas untuk mengawasi
keadaan disekeliling tempat itu namun serirgkali ia
menyempatkan diri untuk menengok kemari.
Dia lihat Goan cing taysu duduk dibelakang pemuda itu
sambil menempelkan telapak tangannya diatas jalan darah Pek
hwe hiat dan Mia bun hiat dua buah jalan darah penting
ditubuh manusia.
Selang sesaat kemudian, tiba-tiba mimik wajah Hoa Inliong
berubah penuh kerutan, seperti lagi menahan rasa sakit
yang luar biasa, peluh bercucuran bagaikan hujan deras.
Hampir saja jantung Coa Wi-wi meloncat keluar dari rongga
tubuhnya, dia tahu bagi orang yang normal maka dikala
menyalurkan hawa murninya, mimik wajah orang itu akan
kelihatan tenang dan mantap, itu berarti gejala yang
ditunjukkan pemuda itu berarti pula sebagai tanda tanda jalan
api menuju neraka.
Mendadak Goan cing taysu berbisik, “Anak Liong, jangan
kau lawan dengan tenaga murnimu!”
Lewat beberapa saat kemudian, tiba-tiba Goan cing taysu
menarik kembali telapak tangannya, peluh yang membasahi
tubuh Hoa In-liong juga ikut mereda, lalu sepertanak nasi lagi
dia menghembuskan napas panjang sambil membuka mata.
“Bagaimana rasamu sekarang, anak Liong?” tegur Goan
cing taysu dengan suara dalam”

1188
Sebetulnya Hoa In-liong hendak bangkit berdiri, tapi
setelah mendengar pertanyaan itu, ia tetap duduk bersila di
tanah.
“Anak Liong tak mampu mengendalikan diri” sahutnya
tenang.
“Hei, maukah kau jangan menakut-nakuti orang?” pinta
Coa Wi-wi dengan wajah memelas,” tapi tak sampai jalan api
menuju neraka bukan….”
Hoa In-liong berpaling kearahnya sambil mengangkat bahu,
dia cuma tertawa getir, tidak menjawab.
Goan cing taysu juga merenung sebentar, tiba-tiba ia
mengeluaskan sebuah botol porselen dari sakunya, kemudian
botol itu diangsurkan ke hadapan anak muda itu.
Setelah Hoa In-liong menerima botol tadi, Goan cing taysu
baru berkata lebih jauh, “Telan sebutir, kemudian duduk
bersemedi sambil mengatur pernapasan….!”
Hoa In-liong tidak langsung menuruti perintah orang,
matanya sempat menangkap tiga huruf kecil diatas botol yang
tingginya empat inci itu, tulisan itu berbunyi:
“SIAU YAU TI”
Tentu saja dia tahu kalau isi botol adalah pil Yau ti wan
yang tak ternilai harganya itu.
“Kongkong, masa obat ini bisa memunahkan racun ular
sakti yang mengeram dalam tubuhku?” tegurnya.
“Obat itu dibuat dengan campuran Kim jian liong tan kau
(rumput ulat emas empedu naga) sejenis obat-obatan yang

1189
merupakan penawar dari pelbagai macam racun jahat. Aku
pikir racun ular sakti pasti dapat ditawarkan pula!”
Hoa In-liong kembali berpikir, “Yau ti wan merupakan
benda mustika dari keluarga Coa, Cong gi heng saja tak
mendapat bagian, masa aku yang tidak termasuk anggota
keluarga Coa malah mendapat bagian? Apalagi bukan cuma
aku yang terkena racun ular sakti….
Karena berpikir demikian, diapun berkata, “Ketika Liong-ji
terkena racun ular sakti, aku pernah sesumbar dengan
mengatakan bahwa racun itu akau kupunahkan dengan
kekuatan sendiri tanpa bantuan obat-obatan, apalagi dengan
mengandalkan racun sin bui si sim {ular sakti menggigit hati)
tersebut banyak sudah jago lihay daratan kita yang
dikendalikan pihak Mo-kauw, aku merasa berkewajiban untuk
mencarikan suatu cara yang tepat untuk menawarkan
pengaruh racun itu”
“Jiko, mengapa kau musti terbuat bodoh?” teriak Coa Wi-wi
dengan gelisahnya, “obat mustika sudah didepan mata, masa
kau hendak menampiknya dengan begitu saja? Apalagi
sekalipun banyak orang, terkena racun itu, obatnya kan cuma
dua butir doang?”
“Aku tahu obatnya cuma dua, tapi asal dilumerkan dengan
air, sekalipun kemujarabannya akan jauh berkurang, toh racun
tersebut dapat kita tawarkan!”
“Kalau begitu, simpanlah sebutir untuk dirimu sendiri” pinta
Coa Wi-wi lagi.
Dengan cepat Hoa In-liong menggeleng.
“Tak usah, aku kuatir sebutir tak cukup!”

1190
“Tapi kau sendiri juga terkena racun jahat” teriak gadis itu
makin gelisah, “bila orang-orang itu masih mempunyai sedikit
liang sim, mereka pasti akan riku untuk menerimanya, sebab
bila mereka terima pemberian tersebut, menunjukkan pula
kalau mereka tak punya liang sim, hmm! Manusia semacam
ini, lebih baik kan mampus sekalian”
“Dalam cemasnya, gadis itu berbicara asal buka suara, dia
lupa kalau perkataannya terlalu kasar dan tak pantas.
“Anak Wi, kau tak usah banyak bicara lagi” tiba-tiba Goan
cing taysu menukas.
Setelah termenung sebentar, dia berkata lebih jauh, “Bukan
lantaran obat itu adalah obat dewa maka kita beri nama Yau ti
wan (pil nirwana) adalah karena obat itu dibuat oleh cousu
dalam sebuah gua kuno dilembah bukit Siau yau ti, maka pil
itu dinamakan pula Yau ti wan, dikala obat itu selesai dibuat,
cousu pernah berkata begini….”
Dengan sorot mata yang tajam diamatinya sekejap kedua
orang muda mudi itu.
Meskipun Hoa In-liong berdua rada heran karena secara
tiba-tiba padri itu menceritakan soal yang sama sekali tak ada
sangkut pautnya, tapi mereka tahu bahwa dibalik perkataan
itu tentu mengandung maksud-maksud tertentu, maka dengan
tenang mereka mendengarkan perkataan kakek itu lebih jauh.
Goan cing taysu menghela napas panjang, lanjutnya
setelah berhenti sebentar, “Dia orang tua berkata demikian,
obat mustika dibuat untuk menolong masyarakat, dia berharap
pada suatu ketika Yau ti wan bisa dipakai untuk
menyelamatkan beratus-ratus orang. Aaai…. sungguh
memalukan kalau dibicarakan kembali, dalam tiga ratus tahun
terakhir ini, diantara delapan butir Yau ti wan yang telah

1191
terpakai, ada lima butir diantaranya dipakai demi kepentingan
keluarga persilatan Kim-leng pribadi, sedang tiga butir lainnya
dibsrikau kepada orang lain yang sedikit banyak masih ada
hubungannya juga dengan keluarga persilatan Kim leng”
Mendengar sampai disitu, baik Hoa In-liong maupun Coa
Wi-wi dapat menebak maksud hati kongkongnya, bukankah
dengan ucapannya itu berarti pula bahwa Goan cing taysu
telah menyetujui dengan jalan pikiran Hoa In-liong….?
Apa yang selalu menjadi beban pikiran Coa Wi-wi selama
ini adalah keselamatan Hoa In-liong, ia sangat tak setuju
dengan keputusan kongkongnya, tapi lantaran Goan cing
taysu berbuat demiki an demi kepentingan orang banyak,
maka dia tak berani terlalu banyak mendebat.
Hoa In-liong segera bangkit sambil menyerahkan kembali
botol itu ke tangan Goan cing taysu tapi dengan cepat paderi
itu gelengkan kepalanya berulang kali.
“Lebih baik kau saja yang menyimpan botol itu, siapa tahu
kalau dikemudian hari sangat dibutuhkan untuk menolong jiwa
orang? Yaa, watak lolap memang dasarnya malas, aku merasa
agak segan untuk banyak bergerak lagi….”
Hoa In-liong tidak banyak berbicara lagi, dia masukkan
botol itu kedalam saku, tiba-tiba tangannya menyentuh
kemala hijau batas buku yang ditemukan di rumah Tabib
sosial, hatinya segera bergerak, sambil diangsurkan
kehadapan sang paderi itu, ujarnya, “Kongkong, diatas batas
buku ini tercantum aneka ragam jurus ilmu pukulan yang
kalut, apakah kongkong dapat memberi penjelasan?”
Coa Wi-wi ikut berseru tertahan, dia mengambil keluar juga
botol porselen yang berasal dari saku Tan Beng-tat, sambil

1192
diberikan kepada paderi tua itu katanya, “Kongkong, silahkan
kau periksa juga isi botol ini!”
Goan-cing taysu sekalian menerima botol itu, mula-mula dia
periksa dulu batas buku yang diatasnya terukir Kiu ci kiong
cong-keng keng-cay” (catatan kitab silat yang terdapat dalam
istana Kiu-ci-kiong) sekalipun huruf-hurufnya sangat lembut
sebesar kepala lalat, namun dengaa dasar tenaga dalam yang
dimilikinya, semua tulisan itu dapat dibaca dengan amat jelas.
Selesai membaca tulisan itu, dengan wajah agak berubah,
berkatalah paderi tua itu, “Yaa, Kiu-ci Sinkun memang tak
malu disebut manusia paling berbakat dalam dunia persilatan,
tak nyana dengan kecerdasan otaknya ia berhasil menciptakan
serangkaian ilmu silat yang maha dahsyat semacam
ini….sungguh hebat….sungguh hebat.
Batas buku kemala hijau itu diangsurkan kembali ketangan
Hoa In-liong, kemudian ujarnya lebih jauh, “Sekalipun catatan
ilmu silat itu semrawut dan kacau balau tak karuan, aku
percaya dengan kecerdasanmu tak sulit untuk menyusun
kembali semua kepandaian itu. Memang, ilmu silat yang ada
disitu jauh berbeda dengan aliran ilmu silat keluargamu, tapi
percayalah, sumber dari segala ilmu silai adalah satu, sampai
dimanapun luasnya kepandaian silat yang ada didunia ini
dasarnya selalu sama, tak sulit bagimu untuk mendalami serta
memecahkannya”
Hoa In-liong mengiakan berulang kali lalu masukkan benda
tersebut kedalam sakunya.
Dalam pada itu, Goan cing taysu telah mencabut penutup
botolnya serta membau isi botol tersebut, mendadak paras
mukanya berubah hebat, cepat-cepat botol itu ditutup
kembali.

1193
“Sungguh lihay, sungguh lihay!” gumamnya.
“Kongkong, adakah sesuatu yang tak beres?” tanya Coa
Wi-wi kemudian dengan gelisah.
Goan cing taysu menarik napas panjang-panjang, paras
mukanya pulih kembali seperti sedia kala sambil menggeleng
katanya, “Masih untung aku tak apa apa, aai….! Entah cairan
apa yang tersimpan dalam botol itu, hanya membau sebentar
saja kepalaku langsung pusing tujuh keliling. Darimana kalian
dapatkan benda itu?”
“Waaah….masa kongkong sendiri juga hampir tak tahan?”
teriak Coa Wi-wi terperanjat, “untung aku tidak lancang
tangan membuka tutup botol itu lebih dulu, coba kalau
tidak….bisa jatuh pingsan seketika itu juga”
“Benda itu milik empek Yu!” Hoa In-liong menerangkan.
“Aaah….! Masa Yu Siang tek si bocah itu juga menjimpan
benda sejahat ini?” seru Goan cing taysu keheranan, “coba
kau terangkan lebih jelas lagi!”
“Biar aku yang bercerita” sela Coa Wi-wi cepat cepat.
Maka diapun lantas mengisahkan kembali pengalamannya
ketika menemukan benda itu serta sekalian mengisahkan juga
pertarungan yang berkobar pada malam itu, akhirnya dia
menambahkan, “Jika dugaan anak Wi tidak salah, isi botol itu
pastilah obat campuran dari Su bok thian go (kehilangan langit
empat mata) serta Sam ciok pek cu (laba-laba hijau berkaki
tiga) bukankah begitu?”
Dengan tenaga Goan cing taysu mendengarkan kisah itu
hingga selesai, lalu sambil menyerahkan botol tadi ketangan
Hoa In-liong, ia berkata pula, “Lolap kurang begitu mengerti

1194
tentang ilmu obat-obatan, ibumu sebagai ahli waris dari Kiu
tok sian ci tentu jauh lebih mengerti daripada aku, lebih baik
bawalah botol ini dan serahkan kepada ibumu, biar dia yang
membuatkan analisa untukmu.
Yang disebutkan sebagai “ibumu” bukan Pek Kun-gie, ibu
kandung Hoa In-liong, melainkan ibu pertamanya yakni Chin
Wan hong.
“Aaaai…. entah sampai kapan aku baru pulang….”pikir Hoa
In-liong diam-diam.
Berpikir sampai disitu, dia terima juga botol itu sembari
berkata, “Boanpwe tidak jadi pergi kebukit Mao san untuk
berlatih tenaga dalam lagi”
Goan cing taysu menghela napas panjang.
“Aaai….sebetulnya lolap hendak menggunakan manfaat
dari racun ular itu untuk melatih tenaga dalammu hingga
mencapai tingkatan yang paling tinggi dalam waktu tiga
sampai lima tahun….”
Hoa In-liong segera berpikir, “Semula kukira yang
dimaksudkan cianpwe ini sebagai waktu singkat adalah tiga
sampai lima bulan, tak tahunya begitu lama, siapa yang sabar
menunggu sekian lama? Tapi kalau dipikir kembali dengan
jangka waktu enam puluh tahun yang biasanya dibutuhkan
orang untuk mencapai tingkatan paling tinggi, tiga lima tahun
memang terhitung cukup singkat”
Tiba-tiba ia merasa Goan cing taysu tutup mulut ditengah
jalan, ketika ia menengok ke depan, tampak paderi itu sedang
berkerut kening, rupanya ada sesuatu persoalan yang sedang
ia pikirkan.

1195
Coa Wi-wi sangat tercengang serunya tertahan,
“Kongkong….”
Cepat Hoa In-liong menarik tangan gadis itu sambil
berbisik, “Jangan ribut dulu, tentu kongkong sedang
memikirkan suatu persoalan yang penting, dan persoalan itu
butuh penyelesaian secepatnya”
Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya dan tidak berbicara lagi.
Setelah hening sejenak, tiba-tiba Goan cing taysu membuka
sepasang matanya, setajam cahaya bintang di tengah
kegelapan matanya itu, dari sini dapat diketahui bahwa tenaga
dalam yang dimilikinya telah mencapai puncak kesempurnaan
yang luar biasa, ini membuat sepasang muda mudi itu amat
terperanjat.
“Liong-ji” terdengar Goan-cing taysu berkata lagi dengan
serius, “lolap mempunyai suatu akal bagus yang kemungkinan
besar sangat bemnanfaat bagi usahamu memusnahkan
pengaruh racun ular sakti, selain itu mungkin juga akan
menambah kesempurnaan tenaga dalammu, cuma saja cara
ini sangat berbahaya serta membawa resiko yang besar salahsalah
akan mengakibatkan kematian yang mengerikan, entah
bagaimana pendapatmu?”
Dari keseriusan dan sikap berat yang ditunjukkan Goan cing
taysu, Hoa In-liong tahu bahwa persoalan itu luar biasa sekali,
tapi bukankah Goan cing taysu sendiripun tidak begitu yakin
dengan caranya? Sebagai pemuda yang gagah perkasa, Hoa
In-liong bukan type manusia yang serakah akan sesuatu yaag
kecil dengan mengorbankan ma salah besar, sebetulnya
tawaran tersebut hendak ditolak.
Tapi secara tiba-tiba hatinya agak bergerak, segera
pikirnya, “Aah, tidak benar! Cianpwe ini bukan manusia

1196
sembarangan, kalau toh tujuannya adalah untuk
menyempurnakan kepandaian seorang boanpwe tak mungkin
dia akan mencarikan suatu cara yang semena-mena atau
dengan perkataan dibalik rencananya itu tentu mengandung
suatu keyakinan besar cuma saja ia tidak mengutarakan sebab
kuatir akan mengacau pikiran orang belaka”
Dalam waktu singkat, pelbagai pikiran sudah berkecamuk
dalam benaknya, tiba-tiba dia angkat kepala dan menyahut
dengan serius, “Boanpwe sudah mengambil keputusan….”
“Anak Liong, harapan untuk mencapai kesuksesan teramat
kecil, aku harap pikirkan kembali persoalan ini semasakmasaknya”
tukas Goan cing taysu lagi.
Tiba-tiba Coa Wi-wi menjatuhkan diri kedalam pelukan Hoa
In-liong, lalu bisiknya pula dengan lembut, “Jiko, kalau toh
kongkong sudah berkata demikian, lebih baik urungkan niatmu
untuk menempuh mara bahaya sebesar ini”
“Adik Wi” Hoa In-liong membelai rambutnya yang halus
dengan penuh kasih sayang, “masa kau tidak percaya dengan
keputusan ini?”
Coa Wi-wi mengangguk.
“Nah, kalau percaya itu lebih baik” kata Hoa In-liong sambil
tersenyum, kemudian kepada Goan cing taysu tambahnya,
“Kongkong, tolong bantulah anak Liong untuk
menyempurnakan diriku”
Dalam hati Goan cing taysu menghela napas, pikirnya,
“Bocah ini memang betul-betul cerdas, ternyata isi hatiku
berhasil ia tebak beberapa bagian”

1197
Maka sambil manggut manggut katanya, “Sekalipun
tindakan ini sangat bahaya, tapi lolap yakin delapan puluh
persen pekerjaan akan berhasil, kau tak usah kuatir sebab
pikiran dan perasaan yang tawar justru merupakan saat yang
paling baik untuk melakukan tindakan ini”
Hoa In-liong tertawa.
“Kongkong tak perlu cemas, anak Liong percaya masih
sanggup menghadapi segala keadaan dengan perasaan yang
tenang”
Goan cing taysu manggut-manggut, ia periksa sekejap
keadaan disekitar sana, lalu berkata.
“Tempat ini terbuka sama sekali tidak terlindung dari
pandangan orang, tidak cocok untuk melakukan rencana kita,
mari kita cari sebuah gua saja”
Sebetulnya Coa Wi-wi hendak menghalangi niatnya itu, tapi
ia berpikir lebih jauh, “Yaa, bagaimanapun juga bila ia ketimpa
musibah, aku juga tak pingin hidup, daripada percuma
menasehati dirinya, akan lebih baik aku membungkam dalam
seribu bahasa saja”
Karena berpendapat demikian, perasaannya jadi lebih lega
dan santai, tanpa disadari bibit cinta yang tertanam dihati
kecilnya ikut pula bertambah tebal.
Mendengar perkataan itu, dia lantas berkata, “Dulu Wi-ji
sering kemari mencari batu-batu indah, aku sudah hapal
dengan keadaan disekitar sini. Tak jauh dari tempat ini
terdapat sebuah gua batu yang dalamnya lima enam kaki,
tempatnya kering dan bersih, bisa kita pakai sebagai tempat
berteduh?”

1198
Goan cing taysu manggut-manggut.
“Sekalipun radaan kecil sedikit, tapi tak apalah, hayo kita
kesitu!” Seraya berkata ia lantas bangkit berdiri, “Biar anak Wi
membawa jalan!” seru gadis itu sambil turun dari puncak itu
lebih dulu.
Gua yang dimaksudkan letaknya dilereng bukit
bersebelahan dengan sebuah tebing yang curam, di muka gua
merupakan sebuah tanah datar yang luasnya sepuluh kaki
persegi, hutan bambu amat subur, meski gua itu tidak terlalu
dalam, tapi cakup lebar dan datar.
Keadaan semacam ini semestinya amat cocok sekali
dengan selera ketiga orang itu.
Setelah masuk ke dalam gua, Goan cing taysu
memerintahkan Coa Wi-wi berjaga-jaga didepan gua, lalu
menitahkan Hoa In-liong duduk bersila, sementara dia sendiri
duduk dibelakang Hoa In-liong.
Coa Wi-wi berdiri diluar gua, sekalipun demikian, sepasang
matanya yang jeli menatap kedua orang itu tak berkedip.
Gua itu cukup gelap, namun tidak sampai menghalangi
daya penglihatannya.
Waktu itu Goan cing taysu bersila sambil menyalurkan
hawa murninya, tiba-tiba secepat sambaran kilat dia lancarkan
totokan untuk menotok jalan darah Kek gi, kan gi serta Pit gi
sementara telapak tangannya ditempelkan diatas jalan darah
Thian cu hiat.
Beberapa jalan darah itu termasuk urat-urat penting yang
menghubungkan syaraf kaki, pusat dan pantat semuanya
termasuk jalan darah yang teramat penting ditubuh manusia.

1199
Coa Wi-wi bukannya tak tabu kalau Goan cing taysu sedang
berusaha membantu Hoa In-liong untuk memunahkan
pengaruh racun jahat, tapi terbayang kembali pen deritaan
yang telah ia saksikan ketika masih ada di Yu-hoa-tay, bergidik
juga hatinya sampai-sampai badan ikut gemetar keras.
“Hu-yan Kiong manusia bedebah!” umpatnya dalam hati,
kau memang manusia terkutuk yang patut diberi hajaran.
Tunggu saja tanggal mainnya suatu ketika nonamu pasti akan
suruh kau merasakan betapa menderitanya bila disiksa mati
tak bisa hiduppun susah”
Sementara dia masih melamun Goan cing taysu sudah
menarik kembali telapak tangannya sambil mundur setengah
langkah, gadis itu tahu kongkongnya kembali akan
mengeluarkan ilmu simpanan
Baru saja dia akan menengok lebih lanjut tiba-tiba dari luar
gua berkumandang suara ujung baju tersampok angin, kalau
didengar dari suara tersebut jelas ada seorang jago lihay yang
sedang menuju ke arah gua dengan mengerahkan ilmu
meringankan tubuhnya.
Cepat-cepat dia berpaling, diantara cahaya rembulan
tampak sesosok bayangan manusia sedang berkelebat
mendekat dengan kecepatan luar biasa, da am waktu singkat
jarak orang itu tinggal lima kaki saja dari depan gua,
“Berhenti!” bentaknya dengan suara lantang. Tapi begitu
suara bentakan meluncur keluar dari mulutnya, gadis itu
merasa menyesal sekali ia menyesal karena terlalu memburu
napas, belum melihat jelas arah tujuan bayangan abu-abu itu,
dia sudah membentak lebih dahulu, padahal orang itu cuma
numpang lewat belaka. Dengan perbuatan, nya ini bukankah
sama artinya dengan ia memberitahukan letak
persembunyiannya kepada orang lain

1200
Betul juga, begitu mendengar suara bentakan itu, serentak
orang tadi berhenti lalu berkelebat menuju kedepan gua,
dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan sembilu dia
awasi balik gua yang gelap tajam-tajam.
Setelah bayangan abu-abu itu berhenti di depan gua, Coa
Wi-wi baru dapat kenali orang itu sebagai seorang To koh
berusia setengah baya yang memakai jubah kependetaan
warna abu-abu, membawa sebuah hud tim dan berparas
muka bersih. Gadis itu tahu, gua sekecil ini tak akan
mengelabuhi jagoan selihay orang itu, apalagi setelah ia
bersuara.
Dalam keadaan demikian, buru-buru ia melirik sekejap ke
arah Hoa In-liong, tampak Goan cing taysu masih duduk
bersila ditanah, telapak tangan kanannya menempel di atas
jalan darah Leng tay hiat diatas punggungnya.
Gadis itu tidak membuang wakta lagi, sekali loncat ia sudah
menerobos keluar dari dalam gua.
Sejak mendengar suara bentakan yang nyaring dan merdu,
To koh berbaju abu-abu itu sudah tahu kalau orang itu adalah
seorang nona, tapi rupanya dia tak menduga kalau kecantikan
wajahnya begitu merawan. Dibawah cahaya rembulan,
tampak Coa Wi-wi ibaratnya dewi Siang go yang baru turun
dari kahyangan.
Ia berseru tertahan, lalu setelah berpikir sebentar, bisiknya
didalam hati.
“Aaah…. jangan-jangan dia?!”
Maka sambil menuding dengan senjata Hud timnya, dia
bertanya, “Apakab engkau she Coa?”

1201
Sebetulnya Coa Wi-wi hendak minta maaf lalu berusaha
menggiring To koh itu agar meninggalkan tempat tersebut,
tapi sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba To
koh berbaju abu-abu itu sudah menyebut namanya lebih
dahulu, ini membuat nona tersebut jadi kaget.
“Sian-koh, dari mana kau bisa tahu?” serunya keheranan.
Mengetahui bahwasanya apa yang diduga tak salah, To koh
berbaju abu-abu itu kembali berpikir, “Aaah….! Budak ini
memang benar-benar memiliki kecantikan wajah yang luar
biasa, setelah ternoda Giok-ji memang tak punya harapan lagi,
apalagi dengan kehadiran dirinya, sudah terang hal itu tak
mungkin terjadi….!”
Berpikir demikian, dia lantas tertawa seraya berkata, “Hoa
Yang si bocah kunyuk itu kenapa tidak ikut datang?”
Dari nada suara Coa Wi-wi sudah tahu kalau orang
bermaksud jelek, timbul rasa was-was dalam hati kecilnya.
“Dia tak ada disini!”jawabnya cepat-cepat.
Padahal sejak kecil gadis itu tak pernah berbohong, maka
setelah ucapan tersebut diutarakan keluar, warna semu merah
karena jengah dengan cepat menjalar diatas pipinya yang
putih.
Tokoh berbaju abu-abu itu bukan orang bodoh, dalam
sekilas pandangan saja dia sudah mengerti apa gerangan
yang sedang terjadi. Dengan suara dingin kembali ia menegur,
“Apakah Hoa In-liong sedang berlatih ilmu?”
Coa Wi-wi merasa terkesiap.

1202
“Sungguh lihay To koh itu!” demikian batinya.
Lama sekali setelah berdiri tertegun, nona itu menegur lagi,
“Siapa kau?”
To koh berbaju abu-abu itu menengadah dan tertawa
terbahak-bahak dia tidak menjawab mendadak dengan senjata
Hud timnya dia sapu batok kepala gadis itu. Berbareng dengan
sapuan tadi beratus-ratus bulu kudanya yang lembut
membuyar hebat dan serentak mengancam jalan darah
penting diseluruh tubuh Coa Wi-wi.
Kiranya To koh berbaju abu-abu itu merasa bahwa wajah
Coa Wi-wi makin dilihat tampak semakin cantik ini membuat
napsu membunuh yang berkorban dalam dadanya sukar
dikendalikan lagi malah makin ditekan napsunya makin
berkorban akhirnya dia tak tahan dan seranganpun
dilancarkan.
Coa Wi-wi tidak menyangka kalau dirinya bakal diserang,
kejut dan marah gadis tersebut menghadapi keadaan
tersebut.
“ Hei, apa-apaan kau?” tegurnya dengan marah
Langkahnya mundur dengan sempoyongan ibarat angin
yang berhembus lewat, begitu mundur tubuhnya maju kembali
kemuka sambil melancarkan sebuah pukulan, dia kuatir Tokoh
berjubah abu-abu itu mendapatkan peluang yang ada untuk
menerobos masuk ke dalam gua.
Meski agak terkejut dalam hatinya, To koh berjubah abuabu
itu tak sampai memperlihatkan perasaannya itu diluaran,
dia tertawa dingin, tiba-tiba senjata Hud-timnya diputar dan….
“Sreeet!” tahu-tahu bulu kuda yang lembut itu sudah
menggulung pergelangan tangan lawan, menyusul kemudian

1203
ujung baju sebelah kirinya dikebaskan kedepan, dengan
membawa hawa pukulan yang cukup kuat menyergap dada
Coa Wi-wi.
“Hebat juga To koh ini!” pikir Gadis Coa dalam hatinya,
“baik waktu menyerang maupun dikala berganti jurus,
semuanya dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, tak
malu kalau disebut seorang tokoh nomor satu dalam dunia
persilatan, mungkinkah dia adalah anggota Hian-beng-kauw?”
Dihati dia berpikir, telapak tangan kirinya sama sekali tidak
menganggur, dengan suatu pukulan yang kuat ia dobrak
ancaman musuh, sementara jari tangan kanannya
diperkencang hingga seperti tombak untuk menyodok jalan
darah Ciang tay hiat di tubuh sang To koh.
Mendongkol To koh berbaju abu-abu itu karena dirinya
diserang secara bertubi-tubi tanpa diberi kesempatan untuk
bertukar napas.
“Budak sialan!” sumpahnya dihati, “kau tak usah sok, hatihati
dengan pembalasanku!”
Tentu saja dia tak tahu kalau Hoa In-liong ketika itu sedang
bersemedi dan mencapai keadaan yang paling berbahaya,
lantaran kuatir mengganggu konsentrasi kekasihnya, maka ia
bertindak nekad.
Dengan suatu lompatan cepat To koh berbaju abu-abu itu
mundur dua kaki ke belakang.
0000000O0000000
32

1204
LEGA HATI Coa Wi-wi setelah musuhnya mundur, seperti
bayangan dia menyusul kemuka dan secara beruntun
melancarkan tujuh buah serangan berantai.
“Budak ingusan, kau berani kurangajar kepadaku?” teriak
To koh berbaju abu-abu itu naik darah.
Badannya mengegos kesamping menghindarkan diri dari
serangan itu, kemudian senjata Hud tim-nya direntangkan
untuk menghalau gerak maju lawan, sementara gagang hud
tim dipakai untuk menyodok jalan darah Ciang bun hiat.
Mereka bertempur dengan gerakan yang sama-sama
cepatnya, dalam waktu singkat dua puluh gebrakan sudah
lewat.
To koh berjubah abu-abu itu memang tangguh, semua
jurus serangan yang dipakai merupakan jurus-jurus aneh yang
sakti, diapun berusaha menghindari bentrokan-bentrokan
secara kekerasan. Setiap ada kesempatan, yang diancam
adalah jalan darah jalan darah kematian yang ditubuh lawan
dimana cukup tertonjok satu kali sajar kalau tidak mampus
sang korban hikal terluka parah.
Coa Wi-wi kuatir pertarungan yang berlangsung akan
mengganggu komentrasi Hoa In Hong, maka selama
pertarungan berlangsung, ia selalu membungkam dalam
seribu bahasa. Karenanya kecuali angin pukulan yang
menderu-deru, hampir boleh dibilang tak ada suara lain.
Tapi dengan demikian, maka makin bertarung mereka
semakin jauh meninggalkan mulut gua, waktu itu jaraknya
sudah mencapai sepuluh kaki lebih….
Lama-kelamaan Coa Wi-wi mulai hilang sabarnya, dia
berpikir lagi, Tenaga dalam yang dimiliki To koh ini luar biasa

1205
hebatnya kalau pertarungan harus dilangsungkan terus
dengan cara begini, entah sampai kapan habisnya, apalagi
sudah terlalu jauh ketinggalan gua, tindakan ini kurang
menguntungkan”
Berpikir demikian, sepasang telapak tangannya segera
melancarkan serangan bersama, tangan kiri menyerang
dengan jurus Jit gwat siang-tui (matahari dan rembulan saling
mendorong), sementara tangan kapannya menyerang dengan
jurus Tuo yau siu jit (Kotak Angin Berhembus-hembus),
Terkesiap To koh berbaju abu-abu menghadapi ancaman
sedahsyat itu, pikirnya dengan jantung berdebar, “Hebat
benar perempuan ini, belum pernah ku jumpai ilmu pukulan
seaneh ini dalam dunia persilatan!”
Sepintas lalu, dua buah serangan itu tampaknya memang
sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, padahal cukup
dengan berputar sambil menekan kedepan, maka dibalik
hembusan angin pukulan yang amat tajam, terselip gerakan
pat kay dan Tay khek yang sukar dipecahkan.
Karena tak berani menyambutnya dengan kekerasan, ia
melejit kesamping lalu menyusup beberapa kaki disamping
Coa Wi-wi.
Tercengang juga gadis Wi-wi karena serangan nya meleset,
dia berpikir pula, “Cepat dan jitu sekali gerakan tubuh To koh
itu, aku rasa dua tingkat lebih hebat dari ilmu Gi heng huan wi
(bergesar tubuh berganti tempat) malah tidak berada dibawah
kepandaian Loan ngo heng sian tun hoat dari Kiu-im-kauw”
Sementara itu To koh berbaju abu-abu tadi sudah berseru
kembali dengan suara dingin, “Ilmu pukulan bagus! Tenaga
dalam sempurna! Cuma sayang pinto ingin minta petunjukmu
lebih jauh”

1206
Jilid 31
BERBICARA sampai disitu, tangan kirinya menyilang ke
samping, cahaya hijau lantas bergemerlapan, tahu-tahu
ditangan kanannya telah bertambah dengan sebilah senjata
kaitan berwarna hijau kemala.
Selama malang melintang diseluruh kolong langit, belum
pernah To koh itu didesak orang hingga mundur berulang kali,
tak heran kalau hawa napsu membunuhnya saat ini sudah
membara dan ia telah bersiap-siap untuk beradu jiwa.
Coa Wi-wi belum pernah melihat senjata kaitan kemala
milik Wan Hong giok, tapi dia tahu kalau Wan Hong giok
mempunyai julukan sebagai Giok kau Nio cu (perempuan
cantik kaitan kemala).
Tanpa terasa dia berpikir lagi, “Sangat jarang jago dalam
persilatan yang menggunakan senjata kaitan kemala, janganjangan
dia mempunyai hubungan yang erat dengan enci
Wan….?”
Berpikir sampai disitu, dia lantas bertanya dengan merdu,
“Apakah cianpwe mempunyai hubungan dengan enci Wan
Hong giok….”
“Tak usah banyak bicara!” tukas To koh berbaju abu-abu.
Tiba tiba ia menyerang dengan jurus Thian kong im in
(Cahaya Langit Bayangan Awan). Cahaya hijau yang
menyilaukan mata segera menyebar keseluruh langit, senjata
kaitan kemalanya dengan membawa deruan angin serangan
yang tajam sepera mengurung sekujur tubuh lawan.

1207
Berbareng itu juga, senjata hud tim ditangan kirinya tidak
mengganggu, dengan tajam ia serang pinggang musuh.
Serangan yang dilancarkan satu dengan senjata kaitan
yang lain dengan senjata hud tim ini memang benar-benar
amat hebat, tenaga yang bersifat keras serta tenaga im
bersifat lunak digunakan hampir bersamaan waktunya, dan
akibatnya sungguh jauh diluar dugaan.
Coa Wi-wi semakin naik darah, pikirnya, “Kutanya engkau
secara baik-baik, bukannya dijawab malahan sama sekali tak
kau gubris, sudah pasti aku tak ada hubungannya dengan enci
Wan!”
Sepasang alis matanya kontan berkenyit, dia bermaksud
untuk memaksa Tokoh berbaju abu-abu itu mengundurkan diri
dari sana, atau bilamana keadaan memaksa, terpaksa dia
akan dibunuh.
Mendadak Tokoh berbaju abu-abu itu menarik kembali
serangannya sambil mundur, cahaya hijau yang semula
menyelimuti seluruh angkasapun seketika ikut leyap tak
berbekas.
Sementara Coa Wi-wi masih tertegun cahaya hijau kembali
berkilauan memancar diudara tiba-tiba tokoh berbaju abu-abu
itu menyambitkan senjata kaitan kemalanya kedepan, diiringi
cahaya kilat senjata itu meluncur ke arah mulut gua.
“Toan bok See ling, berhenti kamu!” hardiknya
Tanpa mengindahkan musuh tangguh masih berada
didepan mata, Coa Wi-wi segera berpaling, tampak seorang
kakek bermuka merah berjenggot putih secara diam-diam
sedang mendekati mulut gua.

1208
Ketika senjata kaitan kemala itu menyergap punggung
kakek itu, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa kakek
bermuka merah tadi berkelit ke samping.
“Traaaaang….!” senjata kaitan kemala itu menumbuk diatas
dinding batu disisi mulut gua hingga menimbulkan percikan
bunga api, lalu dengan menerbitkan suara keras jatuh
ketanah.
Kejut dan marah Coa Wi-wi menyaksikan kejadian tersebut,
sekalipun tenaga dalam yang dimilikinya cukup lihay, tapi
pertama karena pengalamannya masih cetek dan lagi tak
menyangka kalau ada orang bakal menyusup datang, kedua
dia berdiri dengan membelakangi mulut gua, ditambah pula
kakek itu memiliki tenaga dalam yang demikian sempurnanya
hingga dapat mengelabuhi ketajaman mata dan
pendengarannya. Maka dalam keadaan gugup, ia tak sempat
untuk memikirkan kenapa secara tiba tiba To koh berbaju abuabu
membantu pihaknya.
Dengan kecepatan yang luar biasa tubuhnya menerjang ke
muka, lalu dengan menghimpun tenaga sebesar dua belas
bagian, sebuah pukulan dahsyat dilepaskan.
Waktu itu, kakek bermuka merah sedang berusaha
mempercepat gerakannya untuk masuk ke gua, betapa
terperanjatnya ketika secara tiba-tiba muncul segulung tenaga
tak berwujud yang menekan dadanya dengan amat dahsyat,
ia tercekat.
“Budak ingusan, ternyata tenaga dalamnya benar-benar
amat sempurna!” demikian pikirnya dihati.
Tergopoh-gopoh dia berkelit ke samping lalu murdur
delapan depa kebelakang.

1209
Sebagai jago kawakan, kakek itu memang menang
pengalaman, begitu mundur, tangannya bekerja cepat.
Cahaya hijau yang gemerlapan kembali memancar diudara,
tahu- tahu dia sudah meloloskan sepasang senjata pit penotok
jalan darah yang terbuat dari sumpit bambu dan panjangnya
dua depa, sambil putar badan dia lindungi sekujur tubuhnya
dari ancaman serangan.
Tapi tindakannya itu cuma suatu perbuatan yang
berlebihan, karena tak usah dilindungi pun tak bakal ada
orang yang manfaatkan kesempatan tersebut untuk
melukainya.
Bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Coa Wi-wi
menghadang didepan gua.
“Toan bok See liang!” ejek Tokoh bertnju abu-abu itu
sambil tertawa dingin, “dengan cara begitulah nama besarmu
selama ini kau dapatkan?”
Sekalipun licik dan banyak pengalaman, toh panas juga pipi
Toan bok See liang setelah mendengar sindiran itu, untung
mukanya memang merah tadi kejengahan tersebut tak sampai
terlalu kentara, tapi dia toh tersenyum juga.
“Pada hakekatnya memang tak punya nama besar, kenapa
musti takut kehilangan nama?” dia menjawab.
Lalu setelah berhenti sebentar, tegurnya kembali dengan
suara dalam, “Kau ingin bermusuhan dengan perkumpulan
kami?”

1210
Sambil mengebaskan senjata Hud timnya, pelan-pelan To
koh berjubah abu-abu itu maju mendekat, sahutnya dengan
hambar, “Hmmm….! Kau tak usah menggunakan nama Hianbeng-
kauw untuk menakut-nakuti orang, sekalipun aku berani
mencari gara-gara dengan Thamcu macam kau, lantas apa
yang hendak kau lakukan?”
Toan bok See liang tertawa seram.
“Heeehh…. heeehh…. heeehhh….begitupun boleh saja,
cuma aku kuatir ilmu silatmu masih tertinggal jauh”
“Cianpwe, senjata kaitan kemalamu!” tiba tiba Coa Wi-wi
berteriak keras.
Seraya berseru gadis itu menyambar senjata kaitan kemala
yang tergeletak ditanah itu lalu di sambit kearah To koh
tersebut.
Coa Wi-wi yang cerdik, dengan cepat ia sudah menduga
bahwa To koh berjubah abu-abu itu delapan sampai sembilan
puluh persen adalah gurunya Wan Hong giok, sekalipun dia
tak tahu kenapa To koh itu melancarkan serangan keji
kearahnya, tapi dia tetap menganggapnya sebagai sahabat,
maka senjata kaitan itu dikembalikan kepadanya.
Setelah itu dengan tergesa gesa dia melirik sekejap ke balik
gua yang gelap, tampak baik Hoa In-liong maupun Goan cing
taysu sama sama masih bersemedi dengan wajah yang
tenang, itu berarti keributan yang berlangsung diluar gua tak
sampai mengalutkan konsentrasi mereka.
Setelah perasaannya jadi lega, diapun lantas menuding
Toan bok See liang serta membentaknya nyaring, “Kamu
bandot tua, mau apa bertindak sembunyi-sembunyi datang
kemari? Hayo mengaku!”

1211
Selama puluhan tahun hidup mengembara dalam dunia
persilatan, belum pernah Toan bok See liang digertak orang
sekeras itu, kontan saja ia naik darah.
“Budak sialan, perempuan busuk!” makinya dihati, “berani
benar engkau memaki diriku. Hmmm! Tunggu saja
pembalasanku….”
Sementara dia masih melamun, tiba-tiba dari arah samping
kedengaran ada suara orang menyingkirkan rumput kering,
dia lantas berpaling dan tampaklah dua orang laki laki berbaju
ungu sedang muncul dari balik hutan bambu dan
menghampirinya.
Satu ingatan berkelebat dalam benaknya, Toan bok See
liang merasa mendapat akal bagus, cepat digapenya dua
orang laki-laki itu.
Dua orang laki-laki berbaju ungu itu sebetulnya datang
bersama Toan bok See liang, tapi ketika kakek bermuka
merah itu hendak menyusup kedalam gua secara diam-diam,
maka untuk menghindari ren cana tersebut mengalami
kegagalan total, diperintahnya dua orang itu menunggu
didalam jembatan bambu.
Tapi kini, lantaran jejak Toan bok See liang sudah
ketahuan, serta-merta mereka ikut munculkan diri pula.
Ketika melihat Toan bok See liang memberi tanda, salah
seorang diantara dua laki-laki itu segera mengambil keluar
sebuah bom udara dari sakunya kemudian bom udara tadi
dibanting ke atas batu.
Dengan senjata kaitan yang terhunus, To koh berbaju abu
abu itu mencaci maki, “Tua bangka Toan bok, kau memang

1212
manusia yang tak tahu malu, karena tak bisa menangkan
orang, lantas kau minta bantuan?”
Mau dicegah sudah tak sempat lagi dan….
“Ceeeeessss….!” segumpal cahaya merah memancar ke
angkasa, disusul kemudian….”Blang!” suatu ledakan dahsyat
menggelegar di angkasa.
Cahaya bintang berwarna keemas-emasan seketika
menyebar ke empat penjuru dan membentuk huruf Hian beng,
pelan-pelan huruf tadi melayang makin menjauh sebelum
akhirnya lenyap tak berbekas.
Dalam waktu singkat, dari ujung langit sebelah depan situ
bermuncul cahaya emas yang jumlahnya mencapai enam
sampai tujuh buah.
Menyaksikan kesemuanya itu To koh berjubah abu-abu itu
merasa terperanjat, segera pikirnya, “Aaaah….! Tak kunyana
kalau kawan jago dari Hian-beng-kauw telah berkumpul
semua dikota Kim-leng, mungkinkah ada sesuatu masalah
besar yang hendak mereka lakukan?”
Tiba-tiba Coa Wi-wi berseru, “Cianpwe, benarkah dia
adalah Thiamcu dari markas besar perkumpulan Hian-bengkauw?”
To koh berbaju abu-abu itu berpaling, ketika menyaksikan
sepasang biji matanya yang jeli sedang memandang ke
arahnya dengan wajah penuh kepanikan, dia lantas berpikir,
“Aaai…. dengan wajah secantik ini dan tenaga dalam
sesempurna itu! sekalipun anak Giok belum ketimpa musibah,
dia belum tentu bisa menandinginya….yaa, dalam segalagalanya
dia memang jauh lebih hebat daripada anak Giok!”

1213
Sekalipun To koh tersebut mempunyai watak yang
tangguh, keras dan tabah, toh rasa putus asa sempat pula
menerabas dalam hatinya.
Sementara itu Toan bok See liang telah berseru kembali
sambil tertawa seram, “Budak ingusan, aku akan menyuruh
engkau rasakan betapa lihaynya ilmu silat Toan bok loya mu!”
Coa Wi-wi mengernyitkan sepasang alis matanya, lalu
berpikir, “Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan
kongkong untuk menyembuhkan luka racun yang diderita jiko?
Padahal aku sendiri juga tak tahu apa gerangan maksud
tujuan To koh tersebut, lebih baik aku turun tangan saja lebih
dulu, dari pada menanti sampai gembong gembong Hianbeng-
kauw telah berkumpul semua, waktu itu menyesal-pun
tak ada gunanya”
Karena berpendapat demikian, rasa belas kasihannya
segera ditarik kembali, sambil melompat ke muka bentaknya
nyaring, “Sambutlah seranganku ini!”
Sebuah pukulan dahsyat segera dilontarkan kedepan.
“Bagus sekali seranganmu itu!” seru Toan bok See liang
dengan dahi berkerut.
Sepasang lengannya bergerak cepat, dengan Tiam hiat pit
(pena penotok jalan darah) yang berada ditangan kanan dia
totok pergelangan tangan lawan Tiam hiat pil yang ada
ditangan kiri dengan membentuk tujuh delapan buah
bayangan, secara beruntun mengancam jalan darah penting
diiga sebelah kiri musuh.
Bukan saja serangannya ganas dan dahsyat, cukup
dirasakan dari desingan angin tajam yang di hasilkan dari

1214
serangan tersebut, sudah dapat diketahui bahwa tenaga
dalam yang dimilikinya betul-betul amat sempurna.
Dalam waktu singkat, dua orang itu sudah terlibat dalam
suatu pertarungan yang amat seru.
“Toan bok See liang!” tiba-tiba To koh berbaju abu-abu itu
mengejek lagi dengan suara sinis, “mukamu memang cukup
tebal, sebagai seorang cianpwe masa untuk bertarung
melawan seorang nona cilik yang bertangan telanjang saja
musti menggunakan sepasang sen jata Tiam hiat pit? Dimana
kau taruh mukamu?”
To koh itu memang bertujuan untuk menghanyutkan
konsentrasi Toan- bok See liang, buktinya ucapan tersebut
semuanya dilancarkan dengan tenaga dalam yang sempurna,
hingga semua kata-kata itu dapat terdengar olehnya dengan
amat jelas.
Toan bok See liang bukan orang bodoh, tentu saja dia
mengetahui tujuan musuhnya, kendati begitu toh saking
gemasnya ia sampai menggertak gigi menahan emosi.
“Rabib busuk!” sumpahnya dihati “silahkan kau berkaokkaok
terus mengucapkan kata-kata yang tak genah, suatu
hari….
Pada mulanya dengan mengandalkan kehebatan Tiam hiat
pit nya, ia masih bisa menyerang dan bertahan dengan
sempurna, tapi setelah hawa amarah mulai membakar
perasaannya, permainan silatnya sedikit banyak ikut
terpengaruh.
Padahal pantangan yang paling penting bagi jago persilatan
yang sedang bertarung adalah konsentrasi yang sempurna,
salah sedikit saja dalam setiap tindakannya akan berakibat

1215
besar bagi pertahanannya, apalagi menghadapi Coa Wi-wi
yang mempunyai tenaga dalam jauh lebih sempurna daripada
dirinya.
Coa Wi-wi segera tertawa dingin, badannya berputar ke
samping, telapak tangannya segera berputar setengah
lingkaran busur serangan itu seperti juga melambung seperti
juga suatu tipuan belaka, tapi tahu-tahu sudah berada tiga
depa disamping Toan bok See liang dan langsung membacok
pinggang lawan.
Berdiri semua bulu kuduk di tubuh Toan bok See liang,
peluh dingin hampir membasahi seluruh tubuhnya, masih
untung dia adalah seorang jago kawakan yang berpengalaman
dalam berutus-ratus kali pertarungan, sekalipun terancam
mara bahaya ia tak sampai gugup. Pada detik terakhir
sebelum jiwanya terancam, ia berhasil meloloskan diri dari
ancaman.
Sekalipun demikian, bahu kirinya toh sempat termakan
sebuah pukulan….
“Daak….!”dengan sempoyongan ia mundur tujuh langkah,
cahaya hitam berkilauan dan tahu-tahu Tiam hiat pit yang
berada ditangan kirinya sudah mencelat sejauh tiga kaki dari
tempat semula, mungkin tulang bahunya terhantam sampai
remuk.
Kagum juga Coa Wi-wi atas kelihayan tenaga dalam lawan
setelah musuhnya berbasil meloloskan diri dari serangan Ji
yung bu wi (dua kegunaan tanpa tempat), jurus kelima dari
ilmu Su siu hua heng-ciang.
Dia tak tega untuk melancarkan serangan lebih jauh, maka
sambil menarik kembali serangannya, gadis itu berkata, “Lebih
baik cepat cepatlah pulang….”

1216
“Budak cilik dari keluarga Coa!” tiba-tiba To koh berbaju
abu-abu itu menyela daii samping, “untuk melenyapkan
kejahatan, harus dibasmi seakar-akarnya, apa lagi yang musti
disungkankan?”
Mendengar teriakan itu, Coa Wi-wi berpaling.
“Cianpwe, selama manusia masih ada kemauan untuk
bertobat, kita tak boleh membunuhnya secara keji!” sahut
gadis itu cepat.
“Baik, kalau engkau hendak berbelas kasihan biar aku yang
melakukan untukmu!”
Berbareng dengan selesainya perkataan itu, senjata hud
timnya di sapu kemuka, menyusul kemudian badannya ikut
maju dua kaki dan dia langsung menyergap dada Toan bok
See liang.
“Perempuan hina!” teriak Toan bok See liang saking
gusarnya sampai tertawa seram, “kau manusia yang tak tahu
malu, beraninya hanya menyerang orang yang sedang
terluka!”
Sekalipun luka hanya terjadi pada sebuah lengan belaka
namun karena tulang bahunya yang remuk, ini menyebabkan
rasa sakit yang bukan kepalang dikala ia menghimpun tenaga
dalamnya.
Dalam keadaan demikian, satu-satunya tindakan yarg bisa
dilakukan hanyalah mengandalkan sebatang senjata Tiam hiat
pit-nya untuk menyelamatkan diri.
Sambil melontarkan serangkaian serangan yang amat
dahsyat, To koh berbaju abu-abu itu kembali mengejek,

1217
“Perbuatan pinto sekarang tak lebih cuma belajar mengikuti
cara yang biasa kalian pakai, tentu saja kalau dibandingkan
dengan perkumpulan kalian, aku masih ketinggalan jauh
sekali”
Sementara itu Coa Wi-wi sudah mundur kemulut gua, disitu
dia ikut berpikir, “To koh ini amat membenci akan segala
kejahatan, sayang aku tak tahu siapa julukan
kependetaannya? Benarkah dia adalah gurunya enci Wan….?”
Dalam waktu singkat Toan bok See liang sudah terjerumus
dalam keadaan yang sangat berbahaya, setiap saat
kemungkinan besar jiwanya bakal terancam.
Dua orang laki laki berbaju ungu yang ada di tepi
gelanggang segera saling berpandangan sekejap, tiba-tiba
mereka loloskan pedang lalu menerkam ke belakang
punggung To koh berbaju abu-abu itu.
Berkenyit sepasang alis mata Coa Wi-wi melihat perbuatan
itu, ia siap sedia turun tangan.
Tapi sesuatu tindakan dilakukan, To koh berbaju abu-abu
yang berada ditengah arena pertarungan telah membentak
keras, “Bangsat, kalian pingin mampus!”
Tangan kirinya segera diayun ke muka, dua rentetan
cahaya hitam secepat kilat menyambar ke depan….
Dua jeritan ngeri yang menyayatkan hati menggelegar
memecahkan kesunyian, dua orang laki-laki berbaju ungu itu
membuang pedang mereka lalu roboh terkapar ditanah,
sesaat kemudian jiwa mereka telah melayang meninggalkan
raganya.

1218
Coa Wi-wi mengamati kedua korban itu, rupanya sebatang
jarum emas berwarna kebiru-biruan yang jelas amat beracun
telah menanjap diantara sepasang alis mata mereka.
Alis yang telah berkenyit kini makin meratap, Coa Wi-wi
merasa bahwa orang orang Hian-beng-kauw meski pantas
dibunuh, tapi cara To-koh berbaju abu-abu itu melaksanakan
pembunuhan itu cukup teramat keji….
Toan bok Se liang yang cilik tak sudi membuang setiap
kesempatan yang tersedia dengan begitu saja, dikala To koh
berbaju abu-abu itu mengayunkan tangannya untuk
mejepaskan jarum emas tadi, cepat-cepat ia merubah taktik
pertahanannya menjadi taktik serangan, dengan suatu
sodokan maut ia tusuk jalan darah Keng bun hiat ditubuh
lawan.
Berada dibawah ancaman seperti ini, sekalipun sapuan dari
To koh itu mungkin akan berhasil mengejar lengan kiri Toan
bok See liang, namun dia sendiri harus membayar serangan
itu dengan sebuah tusukan pena. Dalam posisi diatas angin
seperti ini, sudah tentu dia tak mau membayar mahal setiap
serangannya, serta-merta tubuhnya mengegos ke samping
melepaskan diri dari ancaman, namun dengan tindakan itu
maka sapuan Hud tim-nya juga mengerai sasaran yang
kosong.
To koh berbaju abu-abu itu marah sekali, dia putar senjata
kaitan kemala hijaunya seraya berseru, “Sayang…. benarbenar
amat sayang! Thamcu markas besar perkumpulan Hianbeng-
kauw yang gagah perkasa harus tewas di bukit Ki po san
tanpa suara dan tanpa diketahui siapapun jua”
Toan bok See liang memang sedang gelisah sekali
menghadapi situasi yang semakin kritis itu, dia berpikir dihati,
“Sungguh aneh, sudah sekian lama bom udara itu diledakkan,

1219
kenapa belum nampak juga seorang manusiapun yang datang
kemari?”
Dia memang tak malu menjadi Thamcu markas besar
perkumpuhn Hian-beng-kauw, sekalipun menghadapi mara
bahaya, pikirannya sama sekali tak panik, tidak pula terlintas
niat untuk melarikan diri, dengan sikap yang amat tenang ia
malah berseru, “Hmmm….! Jangan takabur dulu, tak akan
segampang apa yang kau bayangkan….”
“To koh berjubah abu abu itu mendengus dingin lalu
menerkam kemuka, kaitan kemala hijau dan senjata Hud tim
dilancarkan secara berbareng dengan amat dahsyatnya.
Toan bok See liang menyadari kesulitan yang di hadapi, dia
pun mengerti lambat laun tenaganya akan makin melemah
dan soal menang kalah hanya tinggal soal waktu belaka.
Kendatipun demikian ia tak mau menyerah dengan begitu
saja, kalau bisa mengulur waktu sedetik dia akan manfaatkan
waktu sedetik itu untuk menunggu datangnya bala bantuan.
Tiam hiat pit dimainkan sedemikian rupa sehingga
pertahanannya boleh dibilang benar-benar amat tangguh.
Dengan demikian, meskipun To koh berbaju abu-abu itu
berhasil merebut kedudukan diatas angin, toh tak mungkin
baginya untuk merebut kemenangan dalam dua tiga gebrakan
belaka.
Coa Wi-wi mengikuti sejenak jalannya pertarungan itu, ia
tahu dalam seratus gebrakan kemudian, To koh berbaju abuabu
itu akan berhasil membinasakan Toan bok See liang, ia
jadi teringat kembali dengan Goan cing taysu dan Hoa In-liong
yang berada dalam gua, dengan langkah lebar dia lantas
menerobos masuk ke dalam gua itu.

1220
Dalam gua cuma dua kaki, dan lagi tiada liku-liku atau
tikungan barang satupun, maka sekalipun tak usah masuk
kedalam, orang sudah dapat melihat keadaan gua itu dengan
amat jelasnya.
Diam-diam ia menghampiri kedua orang itu dan diamatinya
paras muka mereka dengan seksama, tampak Hoa In-liong
duduk bersila dengan wajah yang sangat tenang, sama sekali
tidak ditemukan hal-hal yang mencurigakan, ini membuat
hatinya merasa sangat girang.
Waktu itu telapak tanean kanan Goan cing taysu masih
menempel diatas jalan darah Leng tay hiat ditubuh Hoa Inliong,
Coa Wi-wi mengernyitkan alis matanya lalu berpikir,
“Sebentar lagi, orang-orang dari Hian-beng-kauw akan
berdatangan kemari, dengan andalkan sepasang telapak
tangan jelas aku tak akan mampu menandingi empat tangan,
sedang gua ini amat dangkal suara apapun yang terjadi disini
pasti akan terdengar sampai di luar, padahal bila sedang
bertempur tak mungkin aku bisa mengurusi mereka, wah,
bagaimana baiknya….”
Dipikir pulang pergi ia merasa selalu bingung, bahkan
makin lama semakin gelisah
Tiba- tiba Goan-cing taysu membuka sepasang matanya,
ditengah kegelapan sorot matanya itu ibarat kilat yang
membalah angkasa, nona itu amat gembira, bibirnya sudah
bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi sebelum
sepatah katapun sempat diutarakan, Goan cing taysu telah
mengirim suaranya dengan ilmu menyampaikan suara, “Hong
ji sedang bersemedi” bisiknya selembut lalat, dalam keadaan
demikian tak boleh ia terganggu oleh suara berisik, lebih baik
kita bercakap-cakap dengan ilmu menyampaikan suara saja”
Setelah berhenti sebentar ia bertanya lebih jauh.

1221
“Siapa yang sedang bertarung diluar sana?”
“Ooh….yang sedang bertarung adalah seorang To koh yang
tak kuketahui siapa mamanya dengan Toan bok See ling,
Thamcu dari markas besar perkumpulan Hian-beng-kauw”
jawab Coa Wi-wi dengan ilmu menyampaikan suara, menurut
dugaan Wi-ji, To koh tersebut pastilah….”
Tiba-tiba ia merasa bahwa Goan cing taysu tidak
mengetahui siapakah Wan Hong giok itu, maka sesudah
berhenti sebentar dia menambahkan, “Wan Hong giok
adalah….”
Kembali ia merasa situasi amat mendesak dan tak mungkin
membuang banyak waktu hanya untuk membicarakan
persoalan yang ada gunanya, maka ia cuma menerangkan
secara ringkas saja.
Waktu itu telapak tangan Goan cing taysu masih menempel
diatas punggung Hoa In-liong, maka tanyanya, “Bagaimana
keadaannya, baik kan?”
Goan-cing taysu mengangguk, dengan ilmu menyampaikan
suara yang sempurna dia menyahut, “Kedahsyatan racun ular
sakti yang mengeram dalam tubuhnya betul betul diluar
dugaan, mungkin sampai fajar menyingsing nanti baru akan
berhasil didesak ke dalam jalan darah aneh diluar syaraf”
Diam diam Coa Wi-wi menghitung didalam hati, sekarang
waktu baru kentoagan ketiga, itu berarti masih ada dua jam
sebelum fajar menyingsing, kenyataan itu membuat hatinya
amat gelisah.

1222
“Jalan darah aneh diluar syaraf?” tanyanya keheranan”
dimana letak jalan darah aneh itu? Kongkong, kenapa tak bisa
didesak keluar?”
“Jalan darah itu letaknya ada di Kiu san hiat” sahut Goan
cing taysu,” alasan yang sesungguhnya sulit untuk
diterangkan dengan sepatah dua patah kata belaka, pokoknya
pertahaakan saja mulut gua itu baik-baik, bilamana keadaan
amat mendesak aku dapat menutup ketujuh lubang indera
Liong-ji agar tidak sampai mengalami gangguan dari luar”
Baru saja Coa Wi-wi ingin mengajukan pertanyaan lagi,
tiba-tiba dari luar gua berkumandang suara teguran yang
berat, “Toan bok Tou thamcu, kenapa malam ini kau
terkecoh? Perlu minta bantu dari kami dua bersaudara tidak?”
Tertegun Coa Wi-wi sudah mendengar perkataan itu, diamdiam
pikirnya dihati, “Aneh, siapa lagi yang datang?
Tampaknya mereka bukan anggota Hian-beng-kauw, tapi
kalau di dengar dari pembicaraan tersebut jelas mereka bukan
sahabat kami”
Sementara dia masih melamun, Toan bok See liang sudah
menyahut dengan nada dingin, “Tua bangka Leng hou tak
usah mengejek terus, sudah disepakati oleh semua pihak
bahwa tiga perkumpulan besar membentuk perserikatan yang
saling bantu membantu, apakah kau hendak mencari penyakit
buat dirimu sendiri….”
Ketika mengucapkan kata-kata tersebut jelas kedengaran
napasnya tersengkal-sengkal dan perkataannya terbata-bata,
ini menunjukkan kalau keadaannya sangat bahaya.
Suara berat dan kasar yang kedengaran tadi kembali
bersuara, kali ini diiringi gelak tertawa ya yang menyeramkan.

1223
“Haaaahhh…. haaahh…. haaahhh…. bagaimana
pendapatanmu loji?”
“Aku rasa apa yang dikatakan tua bangka Toan bok
memang ada tiga bagian yang masuk diakal” jawab suara lain
yang serak-serak basah.
“Perserikatan tiga perkumpulan?” pikir Coa Wi-wi dengan
perasaan tercekat, bukankah itu berarti perserikatan antara
perkumpulan Hian-beng-kauw, Kiu-im-kauw serta Mo-kauw?
Padahal cita-cita jiko adalah membasmi hawa sesat dari muka
bumi, itu berarti dikemudian hari ia bakal menemui kesulitan
yang jauh lebih. Tapi kalau ditinjau dari keadaannya sekarang,
rupanya persekutuan itu tak bisa berlangsung sebagaimana
yang diharapkan….”
Karena tertarik, gadis itu pasang telinga dan
memperhatikan pembicaraan tersebut lebih jauh.
Ketika itu suara pertempuran masih kedengaran jelas, itu
berarti pertempuran belum mereda.
Tiba-tiba kedengaran To koh berbaju abu-abu itu berseru
sambil tertawa dingin.
“Leng hou Ki, Leng hou Yu, kalian Seng sut pay sudah
menganiaya murid kesayanganku, hayo beri keadilan dulu
kepadaku!”
“Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh….” sang lotoa Leng hou
Ki tertawa seram, “sudah dengar belum loji? Ada orang
menagih hutang kepada kita”
Sang loji Leng hou Yu ikut tertawa seram.

1224
“Dengan bekal ilmu yang cetek berani mengembara dalam
dunia persilatan, hmm! sekalipun mampus juga tak perlu
menyalahkan orang lain, anggap saja nasibnya yang lagi
sebal. Heeehhh…. heeehhh…. heeehhh….cuma, kalau ingin
menuntut keadilan juga boleh, kenapa tidak kemari saja?”
“Bagus sekali!” teriak To koh berjubah abu-abu itu sambil
tertawa seram, “rasain pukulanku ini….”
Tiba-tiba permainan kaitan kemala serta hud timnya
diperkencang, rupanya To koh itu berniat untuk
membinasakan Toan bok See liang lebih dahulu, kemudian
baru membereskan dua bersaudara Leng hou.
Menyaksikan kejadian itu, Leng hou Ki tertawa terbahakbahak.
“Haahh…. haahh…. haaahhh….loji, kalau kita tidak turun
tangan lagi, niscaya Toan bok toa thamcu akan berpulang ke
alam baka”
Berbareng dengan selesainya ucapan itu, terdengar ujung
baju tersampok angin, menyusul kemudian desingan angin
pukulan yang amat dahsyat menggelegar di angkasa.
Terkesiap Coa Wi-wi setelah mengetahui bahwa dua
bersaudara Leng hou akan turun tangan bersama, sebab dari
suara pembicaraan Leng hou Ki tadi, ia dapat meraba bahwa
tenaga dalam yang dimiliki orang itu teramat sempurna,
dengan seorang lawan seorang saja To koh berjubah abu-abu
itu belum tentu menang, apalagi jika kedua orang itu turun
tangan bersama….
“Wahai manusia she Leng hou” kedengaran Tokoh
berjubah abu-abu itu membentak marah,” sebetulnya kalian
masih punya muka tidak”

1225
Leng hou Yu tertawa terbahak bahak.
“Haahhh…. haahhh…. haahhh….siapa yang tidak tahu kalau
kami dua bersaudara selalu turun tangan bersama, baik untuk
menghadapi seorang musuh ataukah harus menghadapi
berlaksa-laksa orang prajurit”
Kegusaran yang berkoban didalam dada To koh berjubah
abu-abu itu sungguh luar biasa, tapi ia tak berkutik, maka
teriaknya dengan suara lantang.
“Budak dari keluarga Coa, kau sudah mampu mungkin?”
Buru-buru Coa Wi-wi melirik sekejap ke dalam gua, ia liat
Goan cing taysu susah memejamkan matanya lagi, maka
diapun menerobos keluar dari dalam gua.
Waktu itu si To koh berjubah abu-abu berada dalam posisi
yang berbahaya sekali dibawah kerubutan dua orang kakek
jangkung yang mengenakan juba warnah kuning dengan ikat
pinggang perak berukirkan naga, sedangkan Toan bok See
liang sudah mundur ke tepi hutan sambil mengatur napasnya
yang tersengkal-sengkal.
“Manusia-manusia yang tak tabu malu!” bentak nona itu
dengan marah.
Bagaikan burung walet yang terbang keluar dari sarangnya,
berbareng dengan dilancarkannya sebuah pukulan, ia
menerjang tubuh Long hou Ki.
Bagi jago lihay yang sedang bertarung, panca indera
mereka biasanya diletakan di empat arah delapan penjuru,
sejak semula dua bersaudara Leng hou sudah mengetahui

1226
kalau ada seorang nona yang cantiknya bagaikan bidadari
sedang menerobos ke luar dari gua.
Sekalipun kecantikan nona itu membuat mereka kagum,
namun ilmu meringankan tubuhnya lebih lebih membuat
hatinya tercekat, buru-buru Leng hou Ki melepaskan juga
sebuah pukulan untuk menangkis tibanya ancaman itu.
“Blaaarg….”ketika dua buah telapak tangan saling bertemu,
suatu ledakan keras menggelegar di udara.
Tubuh Coa Wi-wi hanya tersendat sedikit, sebaliknya Leng
hou Ki terdesak mundur selangkah, ini menyebabkan rasa
terkejutnya makin menjadi.
Ditatapnya anak gadis itu tajam-tajam, lalu secara tiba-tiba
dia membentak, “Lo-ji!”
Secara beruntun Leng hou Yu melepaskan dua buah
pukulan yang mendesak mundur To koh berjubah abu-abu itu,
lalu sambil berpaling dia bertanya, “Ada apa?”
Tokoh berjubah abu-abu itu adalah seorang perempuan
berwatak angkuh, sikap masa bodoh yang diperlihatkan
musuhnya diartikan sebagai suatu penghinaan baginya, tentu
saja ia tak dapat menawan diri, dalam hati ia menyumpah,
“Setan tua, sialan kamu! Rupanya kau pingin mampus”
Tiba tiba senjata kaitan kemalanya mengeluarkan jurus Jian
bong it mo (sisa warna mekar terhapus musnah), suatu jurus
ampuh dari ilmu Pek shia kou hoat (ilmu kaitan awan hijau).
Cahaya hijau gemerlapan menyilaukan mata, tahu-tahu dia
sudah mengancam depan dada Leng hou Yu.

1227
Bersamaan waktunya, senjata Hud tim yang berada
ditangan kanannya diputar ke bawah lalu menyodok jalan
darah Ki bun hiat sebelah kiri dari musuhnya itu.
Dua jurus serangan sama-sama merupakan jurus ancaman
yang tangguh dan mengerikan, kendatipun tenaga dalam yang
dimiliki Leng hou Yu lebih tinggi daripada musuhnya, tapi
dalam keadaan pandang enteng lawannya, ia toh dibikin
kalang kabut juga.
Masih untung dia memiliki tenaga dalam hasil latihan
selama enam puluh tahun lebih, dalam keadaan kritis ia sama
sekali tidak panik, sambil menarik napas panjang tubuhnya
melompat mundur ke belakang.
“Breeet….!” luka sih memang tidak, tak urung serangan itu
berhasil menyambar dadanya serta merobek sebagian dari
bajunya.
Berhasil dengan serangannya itu, To koh berjubah abu-abu
itu menarik kembili senjata kaitan nya seraya mengejek,
“Setan tua, sekarang kau sudah tahu lihaynya diriku bukan?”
Dua orang bersaudara Leng hou adalah manusia-manusia
buas yang sudah tersohor namanya, penghinaan semacam ini
belum pernah dialami sepanjang hidupnya, bayangkan saja,
mana mungkin mereka dapat menelan hinaan tersebut dengan
begitu saja?

ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar], cersil terbaru, Cerita Dewasa Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar], cerita mandarin,Cerita Dewasa terbaru Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar],Cerita Dewasa Terbaru Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar], Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar]
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar] dan anda bisa menemukan artikel Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-komik-eksklusif-rahasia.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar] sumbernya.

Unknown ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Online Komik Eksklusif : Rahasia Hiolo Kumala 4 [Lanjutan 3 Maha Besar] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-komik-eksklusif-rahasia.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Posting Komentar