Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko]

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 28 Desember 2011

Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko]

Tetapi dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada
padanya Siauw Liong Lie telah berlari pula, dia telah berusaha
untuk meninggalkan keempat lawannya itu. sebab walaupun
bagaimana Siauw Liong Lie berusaha untuk menyelamatkan
bayinya,
Karena tergoncang2, bayi yang semulanya tengah tertidur
nyenyak itu jadi tersentak bangun dan menangis. Suara
tangisannya itu telah mengema disekitar lembah tersebut.
Dikejauhan segera terdengar suara pekik yang nyaring, dan
sebuah titik hitam tampak mendekati kearahnya.
Siauw Liong Lie jadi girang, semangatnya jadi terbangun,
dia telah mengempos kekuatannya dan berusaha berlari
lebih cepat lagi.
Suara pekikan itu adalah suara pekikan Sin Tiauw. Jika
memang rajawali sakti itu berada di tempat tersebut, tentu si
bayi dapat diselamatkan
Sintiauw rupanya tadi tengah ber keliling2 disekitar Kun
Lun. Burung ini mengetahui bahwa besok dia bersama Siauw
Liong Lie akan meninggalkan tempat tersebut, dia bermaksud
megelilingnya untuk melihat terakhir kalinya.
Dan suara tangisan sibayi itulah yang telah didengarnya,
maka cepat2 Sintiauw telah terbang menghampiri dengan
tergesa. Waktu tiba didekat tempat Siauw Liong Lie berada,
Tiat To Hoat-ong yang melihat burung rajawali itu, telah
mempercepat dia mengeluarkan tabung gasnya.
Gerakan sipendeta telah dilihat oleh Siauw Liong Lie. dia
tlba2 berseru : „Terimalah Tiauwheng !"
Sambil berseru dia melontarkan bayinya. Rajawali sakti itu
seperti mengerti, dia mencengkeram hati2 pembalut tubuh
sibayi, dan kemudian dibawanya terbang tinggi sekali.

Dengan berhasilnya diselamatkan bayinya Siauw Liong Lie
jadi tenang, disamping itu dia pun bisa bergerak lebih leluasa
dan dapat mencurahkan seluruh perhatiannya untuk
menghadapi lawan2 itu.
Waktu tiba dihadapan Siauw Liong Lie, Tiat To Hoat ong
tengah gusar dan mendongkol karena dia melihat bayi Siauw
Liong Lie telah dapat diselamatkan oleh rajawali itu. Karena
mendongkolnya dia telah menyemprotkan gas dalam
tabungnya kearah Siauw Liong Lie.
Mengetahui hebatnya gas tabung itu, Siauw Liong Lie
cepat2 menahan pernapasannya, dia mengibas dengan lengan
bajunya lalu memutar tubuhnya dan berlari secepat
mungkin.
Tiat To Hoat-ong tambah gusar, dengan segera dia
mengejar pula disertai oleh teriak2annya.
Ketiga kawan sipendeta juga telah ikut mengejar terus.
Tidak hentinya Talengkie menghujani Siauw Liong Lie dengan
paku2 beracunnya, dan dua diantara sekian banyak paku
beracun itu telah menancap dipunggung sinyonya,
Semula Siauw Liong Lie memang tidak merasakan apa2
selain perasaan sakit, tetapi racun dari paku itu bekerja cepat
sekali, sehingga dalam sekejap mata seluruh punggungnya
telah ke semutan dan kaku.
Siauw Liong Lie jadi terkejut, tubuhnya terhuyung.
Disaat itu mereka telah kejar mengejar di tepi jurang, dan
keadaan disitu sangat berbahaya sekali.
Dengan mengeraskan hati Siauw Liong Lie mengempos
semangatnya, dia berlari terus. Sedangkan Sin Tiauw telah
terbang tinggi sekali dengan membawa sibayi.
Tiat To Hoat-ong dan kawan2nya semakin penasaran saja,
mereka mengejar terus. Semakin lama jarak mereka semakin
pendek saja. hanya terpisah tiga tombak lebih. Akhirnya Siauw

Liong Lie putus asa, Daripada aku mati ditangan mereka lebih
baik aku mati didasar jurang!" dan setelah berpikir begitu,
Siauw Liong Lie melirik kearah jurang yang dalam itu. yang
tidak terlihat dasarnya. Hatinya jadi menggidik, dia juga jadi
teringat kepada Yo Him, anaknya. Dengan sendirinya Siauw
Liong Lie jadi ragu2.
Namun akhirnya, karena dia telah melihat lawannya
semakin dekat dan tidak akan melepaskan dirinya, dia jadi
nekad, dengan tidak ber pikir apapun juga, dia melompat
kedalam jurang itu.
Tiat To Hoat ong terkejut, pendeta itu yang telah datang
menyusul dekat sekali, telah mengulurkan tangannya untuk
menjambret, namun gagal.
Tubuh Siauw Liong Lie meluncur terus dengan cepat
kebawah dan lenyap dalam kegelapan. Ditengah udara,
terdengar suara pekik Sintiauw.
Tiat To Hoat ong dan ketiga lawannya jadi menghela napas
penasaran.
Mereka memandang kearah Sintiauw.
„Kita harus menangkap anaknya itu. . --!" menggumam
Chiluon dengan suara perlahan.
Tiat To Hoat-ong dan kedua kawan lainnya telah
mengangguk mengiyakan.
Tetapi Sintiauw yang cerdik itu terbang tinggi ditengah
udara, sama sekali tidak mau terbang merendah. Bagaimana
menangkapnya?
Disamping mendongkol, Tiat To Hoat ong juga jadi
berputus asa.
Disaat itu Sintiauw telah melayang turun di seberang jurang
dan berdiri sejenak disana seperti tengah ragu2, Apakah ikut

turun kedasar jurang atau membawa pergi anaknya Siauw
Liong Lie yang berada dalam cengekeramannya.
Tetapi Sintiauw yang cerdik itu menyadarinya, jika dia
terbang turun kebawah jurang itu, sedangkan keempat orang
musuh Siauw Liong Lie masih berada di tepi jurang itu, maka
dengan mudah dia akan diserang dengan senjata rahasia,
Itulah berbahaya, karena jika dia kebetulan terserang dan
menderita kesakitan, sehingga cekatannya terhadap bayi
didalam cengkeramannya itu terlepas bukankah
membahayakan jiwa sibayi yang akan terbanting didasar
jurang?
Hal itulah yang telah membuat Sin Tiauw ragu2 sehingga
akhirnya dia telah terbang lagi, tinggi sekali ditengah angkasa
dengan sekali2 memperdengarkan suara pekikannya.
Tiat To Hoat ong dan ketiga kawannya yang masih
penasaran tetap menanti ditepi jurang Tetapi Sintiauw telah
terbang jauh dan tidak terlihat bayangannya lagi sambil
membawa bayinya Siauw Liong Lie.
Sipendeta Mongolia itu bersama kawannya jadi berputus
asa dan akhirnya telah meninggal kan tempat tersebut dengan
tangan kosong.
Keadaan disekitar tepi jurang didekat lereng gunung Kun
Lun San tersebut jadi sepi sekali, hanya sekali2 dikejauhan
terdengar suara raungan binatang buas.
LO HIM yang terluka parah akibat serangan yang
meremukkan beberapa tulang iga di dadanya telah berusaha
menyalurkan tenaga murninya.
Namun usahanya itu gagal dan perasaan sakit luar biasa
menyerangnya, sehingga Lo Him merintih beberapa kali.
Per-lahan2 dia telah merangkak karena dia sangat
menguatirkan sekali keselamatan Siauw Liong Lie.

Tetapi dalam keadaannya yang tengah terluka parah, mana
dapat dia menyusul Siauw Liong Lie dan keempat orang
lawannya ?
Dalam keadaan segerti itulah, dia melihat Tiat To Hoat-Ong
dan ketiga kawannya telah berjalan mendatangi.
Tentu saja Lo Him jadi terkejut, karena dia tidak melihat
Siauw Liong Lie diantara mereka. Dalam keadaan septrii itu,
diapun girang, karena dia bisa menduga Siauw Liong Lie tentu
ber hasil meloloskan diri dari keempat lawannya tersebut, dia
jadi lapang hatinya.
tetapi Tiat To Hoat-ong dan ketiga kawannya yang tengah
dalam keadaan murka dan mendongkol telah melihat Lo Him,
maka kemarahan mereka telah ditumpahkan kepada Lo Him.
dihampirinya Lo Him, lalu tanpa mengenal kasihan sedikitpun
juga dia telah mengayunkan tangan kanannya "plaak" kepala
Lo Him telah dihantamnya hancur. Sedangkan Talengkie,
Turkichi dan Chiluon telah ikut menghajar orang yang malang
itu, sehingga tubuh Lo Him hancur remuk dan napasnya sudah
siang2 putus...
Setelah puas menumpahkan kemarahan didiri Lo Him,
keempat orang Mongolia itu telah meninggalkan tempat
tersebut.
Mayat Lo Him dan Sin Kim, simacan tutul menggeletak
tanpa napas keadaan mereka mengenaskan sekali.
Udara dingin sekali dan keadaan sunyi sepi, hanya rumah
kayu yang kosong tidak ber-penghuni yang tetap utuh
ditempat tersebut.....
0000O0000
SETELAH TERBANG berputaran sekian lama Sintiauw
kembali ketepi jurang itu. Dia melibat keempat orang musuh
Siauw Liong Lie telah pergi tidak terlihat bayangannya lagi,

maka burung rajawali tersebut telah meluncur terbang
kedalam jurang itu.
Tetapi ketika Sintiauw tiba didasar jurang binatang sakti ini
tidak melibat tubuh Siauw Liong Lie, hanya tumpukan pakaian
dari Siauw Liong Lie yang dilihatnya. Tentu saja Sin Tianw jadi
bingung, dia telah terbang berputaran didasar jurang itu,
mengeluarkan suara pekikan yang keras bagaikan tengah memanggil2
Siauw Liong Lie.
Namun Siauw Liong Lie tetap tidak terlihat mata hidungnya,
telah lenyap bagaikan di telan bumi.
Tentu saja Sin Tiauw jadi bingung bukan main, pakaian
Siauw Liong Lie dilihatnya ada didekat tempat itu, tetapi
kemana perginya Siauw Liong Lie ?
Sin Tiauw meletakan bayi didalam cengkeramannya dengan
hati2, dia telah mencakari tanah, menggali sebuah liang,
untuk mengubur barang2 Siauw Liong Lie. Kemudian Sin
Tiauw terbang berputaran lagi sambil me mekik2, me
manggil2 Siauw Liong Lie Tetapi nyonya Yo Ko itu tetap telah
lenyap tidak terlihat mata hidungnya lagi.
Inilah yarg sangat mengherankan sekali kemana perginya
Siauw Liong Lie? Jika dia mati terbanting didasar jurang
tentunya terlihat tubuh atau mayatnya dan jika dia berhasil
menyelamatkan dirinya dari kematian terbanting didasar
jurang ini, tentu dia akan mendengar suara pekikan Sin Tiauw
dan keluar untuk menemuinya, Namun kini Siauw Liong Lie
tetap lenyap tidak terlihat mata hidungnya? Kemana nyonya
Yo itu?
Selesai mengubur seluruh barang2 Siauw-Liong Lie yang
beihasil ditemuinya ditempat itu, Sin Tiauw telah terbang
mencari seekor kambing hutan, yang dibawanya hidup2 untuk
di pergunakan oleh sibayi menyusui.
Begitulah untuk selanjutnya Sin Tiauw telah merawat
sibayi Yo Him. Didasar jurang itu. Selama itu pula Siauw Liong

Lie tidak pernah terlihat bayangannya, entah kemana
lenyapnya, nyonya Yo Ko itu...
Memang cukup berat rajawali itu merawat Yo Him, namun
dia telah berusaha untuk merawatnya sebaik mungkin. Untuk
membawa Yo Him, membawa terbang meninggalkan Kun Lun
San mencari Yo Ko, juga bukan suatu pekerjaan yang mudah,
karena tidak mungkin rajawali ini membawa sibayi terbang,
berkeliling mencari ayah nya, sedangkan Yo Ko tidak diketahui
berada dimana. Semula Sin Tiauw ingin mengajak Yo Him
terbang ke Siauw hong, tempat dimana Yo Ko dan Siauw
Liong Lie semula menetap, tetapi akhirnya Sin Tiauw
memutuskan untuk merawat dulu sibayi selama beberapa
tahun dilembah ini.
Waktu dengan cepat beredar, dari bulan ke bulan dan
akhirnya Yo Him telah berusia dua tahun lebih.
Sintiauw sering mengajak anak itu terbang keatas jurang,
dengan Yo Him duduk dipunggung rajawali tersebut. Dan
diatas jurang itu, Sintiauw mengajak Yo Him ber-main2
dengan gembira. Tidak jarang pula, Sintiauw sengaja
meninggalkan Yo Him didekat permukaan sebuah
perkampungan dikaki gunung, sehingga Yo Him bisa bermain2
dengan beberapa orang anak kampung lainnya, tidak
mengherankan jika Yo Him pun bisa ber cakap2 seperti anak2
yang lainnya. Jika sore hari, barulah Sintiauw menjemput Yo
Him kembali.
Akhirnya, karena terlampau seringnya Sin Tiauw
mengantarkan Yo Him kemulut perkampungan tersebut,
banyak anak2 kampung itupun yang telah menyenangi
sirajawali dan sering mengajaknya bermain bersama.
Betapa gembiranya anak2 kampung itu jika diajak terbang
oleh rajawali tersebut, dengan mereka duduk dipunggung
burung tersebut.

Semula orang tua anak2 kampung itu merasa kuatir kalau2
rajawali itu masih ganas dan liar, atau setidaknya anak2
mereka jatuh dari punggung Sintiauw, namun setelah hampir
satu tahun lebih tanpa terjadi urusan apa2, orang2 kampung
itupun jadi biasa dengan sendirinya.
Sedangkan Sintiauw memang sengaja mengajak Yo Him
Kepermukaan kampung itu, untuk bermain dengan anak2
diperkampungan tersebut, agar Yo Him belajar bicara dan
senang2 ikut bermain2 dengan anak2 dikampung itu. Walau
pun Sintiauw seekor binatang belaka, namun dia memiliki
pikiran yang bijaksana.
Setelah Yo Him berusia dua tahun lebih, dia mulai dididik
oleh Sintiauw melatih tenaga dalam dan ilmu pukulan.
Seperti diketahui, disaat Yo Ko dibuntungi tangannya oleh
Kwee Hu (Sia Tiauw Hiap Lu menceritakan perihal itu) maka
Sintiauw ini yang telah mendidik Yo Ko untuk mempergunakan
goloknya yang berat itu.
Dan kini dibawah bimbingan Sintiauw, Yo Him memang bisa
memperoleh didikan yang kuat, namun karena usianya yang
masih terlampau kecil itu, ilmu silat dan tenaga dalam itu tidak
berarti apa2, hanya bisa menyebabkan tubuh anak tersebut
sehat dan kuat saja.
Menjelang usia tiga tahun lebih, Yo Him bisa bermain
dengan lincah, dan dia mulai dapat mendaki tempat2 yang
agak tinggi.
Terlebih lagi Sintiauw dalam menurunkan ilmunya selalu
teratur, yaitu setiap tengah malam tentu dia akan
membangunkan Yo Him dari tidurnya dan memaksa anak itu
melatih diri.
Tetapi yang membuat Yo Him tidak mengerti, anak2
kampung lainnya memiliki ibu dan ayah, sedangkan dia tidak.

Begitu juga Sintiauw tidak menjelaskan siapa ayah dan
ibunya, karena memang rajawali itu walaupun sangat cerdik
dan pandai tetapi tidak bisa bicara. Hanya rajawali itu
seringkali menunjuk kearah gundukan tanah dimana pakaian
Siauw Liong Lie dikuburkan.
Anak kecil Yo Him belum mengerti urusan apa2, dia selalu
hanya mengangguk2kan kepala belaka jika memang Sintiauw
tengah menunjuk gundukan tanah pakaian Siauw Liong Lie.
Waktu beredar cepat sekali, dan pagi itu, sejak matahari
belum memperlihatkan diri, Sin Tiauw tampak berdiri diam
saja, tidak seperti biasanya dia terbang berputaran mencari
mangsanya.
Sikap burung itu lesu sekali, seperti ada yang menyusahkan
hatinya.
Sedangkan Yo Him telah menghampiri dan merangkul leher
burung itu.
„Tiauwya (ayah rajawali) apakah yang tengah kau
risaukan?" tanyanya.
Rajawali itu hanya menggeleng perlahan, dia
menggesekkan kepalanya per-lahan2 dilengan Yo Him dengan
penuh kasih sayang. Lalu dengan ujung sayapnya dia telah
menunjuk ke-punggungnya.
Yo Him mengerti, dia melompat naik ke punggung rajawali
itu. Usianya yang empat tahun lebih itu telah menyebabkan
anak ini bisa melompat dengan gesit sekali. Sintiauw telah ber
jalan kesudut dasar jurang, dengan cakarnya dia mengorek
tanah, dan dari dalam tanah itu dia mengeluarkan beberapa
barang, yang ternyata milik Siauw Liong Lie, yang telah
dikeluarkan oleh rajawali itu.
Tentu saja sibocah tidak mengerti, Yo Him hanya
mengawasi saja.

Disaat itu Sintiauw telah memberi isyarat dengan sayapnya,
agar barang2 itu dimasukkan Yo Him kedalam sakunya.
Yo Him mengerti dan menuruti keinginan Sintiauw. Dan
setelah Yo Him memasukkan beberapa macam barang bekas
milik Siauw Liong Lie, sibocah diperintahkan Sintiauw naik kepunggungnya.
Dia mengajak Yo Him terbang ke atas jurang,
menurunkan Yo Him dipintu kampung yang biasa dimana Yo
Him ber-main2 dengan beberapa orang anak kampung
lainnya, Setelah meng-gesek2kan kepalanya beberapa kali
dilengan Yo Him, burung rajawali itu terbang tinggi sekali
berputaran tidak hentinya. Yo Him yang berdiri dimuka
kampung itu jadi heran. Belum pernah dia melihat sikap
Sintiauw seperti itu.
Maka dari itu dengan sendirinya dia tidak mengerti
mengapa hari ini Sintiauw membawakan sikap seperti itu.
Lama juga Sintiauw berkeliling berputaran ditengah udara,
lalu dengan mengeluarkan suara pekik yang nyaring sekali,
rajawali itu telah menukik masuk kedalam jurang dan lenyap
tidak muncul kembali.
Yo Him jadi bingung ketika sore harinya rajawali itu tidak
menjemputnya.
Dan beberapa orang kawannya telah mengajak Yo Him
untuk menginap saja.
Begitu pula di-hari2 berikutnya Sintiauw tidak datang
menjemput, sehingga akhirnya Yo Him telah diambil sebagai
anak angkat oleh keluarga Ciang, dikampung tersebut.
Ternyata Sintiauw sesunguhnya ingin merawat Yo Him
sampai dewasa.
Namun disebabkan usianya yang telah lanjut, dia tidak bisa
melaksanakan tugasnya. Karena Sintiauw memiliki kepandaian
yang luar biasa, lain dari rajawali lainnya, terlebih lagi
memang diapun merupakan rajawali sakti, maka dia

mengetahui bahwa putus napas dan kematiannya sudah tiba.
karena usianya telah lanjut. Dengan demikian tidak
mengherankan jika seharian itu dia memperlihatkan sikap
yang lesu.
Setelah membawa Yo Him keatas jurang dan meninggalkan
di mulut perkampungan itu, Sintiauw menukik kembali kedasar
jurang dan menemui kematian disitu, melepaskan napasnya
yang terakhir.
Se-tidak2nya Sintiauw telah melakukan tugasnya yang
terakhir, sehingga dia telah bisa mengantarkan Yo Him
keperkampungan dikaki gunung Kun Lun itu agar sibocah
tidak terkurung didalam jurang itu.
Sedangkan Yo Him yang belum mengerti urusan apa2
hanya menganggap bahwa Sintiauw telah mengalami
kecelakaan sesuatu atau memang telah pergi
meninggalkannya.
Hari demi hari lewat cepat sekali, bulan demi bulan juga
telah lewat pesat Yo Him akhirnya telah berusia tujuh tahun
kini dia merupakan seorang anak yang tampan sekali.
mukanya yang kecil itu cakap dan halus. Tidak
mengherankan karena Yo Him memiliki kakek yaitu Yo Kong
seorang pria yang tampan, kemudian ayahnya Yo Ko, juga
berparas tampan, ibunya Siauw Liong Lie juga cantik, maka
tidak mengherankan jiwa Yo Him memiliki paras yang amat
tampan sekali.
Namun dalam usia tujuh tahun seperti itu Yo Him perlahan2
mulai mengerti urusan. Dia mulai dapat berpikir dan
sering datang ketepi jurang, berdiam disana sampai
menjelang sore.
Dia jadi sering memikirkan rajawali sakti, yang tidak pernah
muncul itu, dan diapun sering menangis sedih disana. Yo Him
telah melihatnya semua anak2 kampung itu memiliki ayah dan

ibu, tetapi dia? Mana ayahnya? Mana ibunya! Dan perasaan
sedih itu telah melanda hatnya.
Keluarga Ciang memang memanjakannya, menganggap Yo
Him sebagai anak kandungnya sendiri, karena keluarga Ciang
tidak memiliki anak, mereka hanya merupakan pasangan
suami-isteri yang telah lanjut usianya itu.
namun Yo Him tetap merasakan adanya sesuatu
kekurangan didirinya...
Beberapa orang anak kampung telah datang ketepi jurang
itu, mengajak Yo Him untuk bermain2.
Tetapi Yo Him selalu dilanda oleh kemuraman belaka.
Sampai akhirnya, suatu sore disaat Yo Him tengah duduk
dibawah sebatang pohon yang tumbuh dimulut kampung itu
dan menyaksikan anak2 kampung yang bermain petak, tiba2
dari jurusan utara lampaulah dua orang penunggang kuda
yang melarikan kuda tunggakannya dengan cepat sekali. Anak
kampung yang melihat datangnya dua orang asing, telah
berhenti bermain dan memandang heran kepada kedua orang
penunggang kuda itu yang telah melompat turun.
Kedua orang itu berpakaian sebagai tosu, imam, usia
mereka diantara tiga puluhan, wajah mereka ramah, salah
seorang imam itu telah mendekati Yo Him, mereka bertanya
ramah; „Adik, bisakah kau memberitahukan pinto jalan yang
menuju ke Kun Lun Pai ?"
„Ohhh, Kun Lun Sie ( kuil Kun Lun ) ?” tanya Yo Him.
„Benar, tahukah engkau kearah mana jalan yang harus
kami ambil ?"
„Terus saja menuju keselatan, dan dipuncak yang ketiga itu
terletak kuil keramat itu !" menjelaskan Yo Him.

Tosu itu tampak girang, bersama dengan tosu lainnya telah
melompat kekuda mereka dan membalapnya kejurusan yang
diberitahukan oleh Yo Him.
Tidak lama kemudian tampak beberapa orang penunggang
kuda lagi yang menanyakan jalan yang menuju ke Kun Lun
Sie, maka hal itu telah menarik perhatian anak2 kampung
tersebut, termasuk Yo Him.
Bahkan Tiang Hu, seorang anak kampung berusia sembilan
tahun yang terkenal sangat nakal telah menarik ujung tangan
Yo Him.
„Ada apa ramai2 ? Tentunya dikuil Kun Lun Sie tengah
diselenggarakan pesta !" katanya,
„Mungkin !" sahut Yo Him tidak tertarik.
Tetapi tidak lama kemudian telah datang beruntun
puluhan penunggang kuda lainnya yang juga menanyakan
jalan ke Kun Lun Sie yaitu kuil dimana pusatnya partai
persilatan Kun Lun Pai.
Tiang Hu jadi tambah tertarik dia telah mengajak Yo Him
untuk pergi kekuil itu.
„Kita melihat keramaian ....!" ajaknya. Tetapi Yo Him
menggeleng.
„Kita tidak boleh pergi jauh2 .....Ciang Pehu (paman Ciang)
melarang aku pergi jauh2, karena kuatir kena dicelakai orang
jahat ..!".
„Hu, hu, mengapa harus takut ? Bukankah kuil Kun Lun Sie
tidak jauh ? Kita bisa me-lihat keramaian, nanti kita segera
pulang, tentu Ciang Pehumu itu tidak mengetahui.....ayo !".
Dan sambil berkata begitu Tiang Hu menarik lengan baju
Yo Him.
Sebetulnya Yo Him tidak tertarik dengan ajakan kawannya
ini, namun karena sejak tadi dia melihat puluhan orang yang

semuanya menuju kearah Kun Lun Sie, juga dari pakaian
mereka yang ketat dan memperlihatkan mereka dari rimba
persilatan Yo Him jadi diliputi perasaan heran dan ingin
mengetahui juga sesungguhnya apa yang hendak mereka
lakukan. Terlebih lagi dia melihat, diantara rombongan itu
terdapat macam2 orang dari berbagai golongan, ada
imamnya, ada hweshionya, ada gadis, ada lelaki kasar dan
ada juga wanita tua--- semuanya memperlihatkan sikap
mereka yang berlainan dan aneh2.
Akhirnya Yo Him tertarik juga untuk melihatnya ketika
Tiang Hu mengajaknya berulang kali.
Dengan cepat kedua anak itu ber-lari2 menaiki Kun Lun
San.
Beberapa orang anak kampung lainnya telah mencegah Yo
Him, tetapi Tiang Hu telah mengawasi mendelik kearah
mereka, sehingga anak kampung itu tidak berani melarang Yo
Him lagi
Dengan berlari2 Yo Him dan Tiang Hu telah tiba dimuka
kuil Kun Lun Sie. Diluar kuil itu tampak banyak sekali kuda2
yang tertambat dan imam2 dari kuil itu berdiri dipintu gerbang
kuil tersebut, yang rupanya menjadi barisan penyambut tamu.
Disaat itu Yo Him dan Tiang Hu mendekati pintu kuil untuk
melihat keadaan didalam kuil yang tampaknya telah ramai
oleh tamu2.
Suara dari tamu2 dikuil itu terdengar ramai sekali,
disamping itu imam2 kecil juga sibuk sekali menyediakan
makanan tidak berjiwa untuk para tamu tersebut
Melihat suasana seperti itu, Yo Him dengan Tiang Hu
menduga pasti akan ada keramaian dikuil tersebut.
Kedua anak itu hanya berdiri dimuka kuil tersebut, karena
mereka sama sekali tidak diijinkan untuk ikut masuk.
„Kita masuk dari belakang—!" bisik Tiang Hu.

Tetapi lengan baju Tiang Hu telah dicekal Yo Him.
„Jangan...!" katanya dengan cepat mencegah. „Nanti kalau
diketahui totiang penjaga kuil, kita bisa dimarahi !"
„Mereka sedang sibuk, tentu tidak mengetahui perbuatan
kita", kata Tiang Hu.
Tetapi Yo Him telah menggeleng.
„Jangan......aku takut".
“Pengecut."
“Kalau diketahui oleh totiang penjaga kuil kita bisa
dihukum."
„Ayo, aku yakin tidak akan diketahui! Kita bukan hendak
mencuri, kita hanya ingin menyaksikan keramaian belaka."
„Tidak --- aku tidak mau, pergilah kau saja aku tidak mau
ikut!" Kata Yo Him sambil menggeleng, „Aku cukup
menyaksikan dari sini saja"
Muka Tiang Hu berobah dia membentak ; „Mengapa kau
pengecut demikian? Ayo cepat, kau ikut tidak?"
Yo Him diam saja.
„Kalau kau tidak mau menyaksikan keramaian, mengapa
tadi engkau bersedia ikut? Kalau memang tidak berani katakan
saja sejak tadi agar aku bisa mengajak yang lainnya!"
Yo Him jadi ragu2, tetapi akhirnya karena dia melihat Tiang
Hu seperti marah, dia takut kalau2 nanti Tiang Hu
memukulnya, akhirnya Yo Him mengangguk juga.
„Baiklah, tetapi jangan lama2...!" katanya dan dia telah
mengikuti Tiang Hu memutari kuil itu. untuk mengambil jalan
dipintu belakang kuil.

Memang seperti yang diduga oleh Tiang Hu imam2 kuil itu
tengah sibuk melayani tamu sehingga mereka tidak
memperhatikan kedua anak itu.
Saat itu Tiang Hu telah menarik tangan Yo Him, menyelinap
kedalam kuil melewati dapur dan terus menuju keruang Thia,
ruangan depan kuil itu Dipendopo tampak telah berkumpul
banyak sekali orang2 dari berbagai golongan, yang
pakaiannya juga ber-macam2.
Tiang Hu mengajak Yo Him mengambil tempat sudut
ruangan, dekat tirai, sehingga kehadiran mereka berdua tidak
diperhatikan orang2 yang tengah berkumpul disana.
„Kita jangan terlalu lama disini", kata Yo Him dengan suara
yang berbisik. „Nanti kalau diketahui totiang penjaga kuil, kita
bisa celaka . . . !"
Tiang Hu hanya mendengus saja, dia telah berdiam diri
tidak melayani bisikan Yo Him.
„Pergilah kau pulang jika kau takut", akhirnya Tiang Hu
telah berkata jengkel waktu Yo Him masih juga sering
menarik ujung bajunya mengajak keluar.
Yo Him jadi ragu2. Dia menyadari jika dia meninggalkan
Tiang Hu seorang diri didalam kuil ini, kalau terjadi suatu
kecelakaan apa2 tentu dia yang akan disesali.
Maka akhirnya Yo Him hanya berdiam diri dengan hati yang
tidak tenang.
Saat itu tampaklah para imam2 kuil tersebut mulai sibuk
menyediakan minuman untuk para tamunya, suara tamu yang
kian memenuhi ruangan tersebut semakin ramai saja.
Diantara suara orang ber-cakap2, suara tertawa, suara ber
seru2 karena tengah bercerita dengan asyik sekali, maka
keadaan benar2 sangat ramai sekali.

Ketika "itu diantara sibuknya para imam yang melayani,
tiba2 terdengar suara tambur di pukul ter talu2.
Dan keadaan disaat itu telah berobah menjadi sepi dan
hening sekali, karena memang di saat itu sudah tidak
terdengar lagi orang ber cakap2 dan tidak ada pula orang
yang berseru atau tertawa.
Semua mata telah ditujukan kearah pintu itu yang bisa
menembus keruang dalam. Semuanya duduk diam dikursinya
masing2 yang berjajar didalam ruangan itu. dan saat itu, dari
balik pintu ruangan dalam tampak telah melangkah keluar tiga
orang imam yang berusia lanjut, yang telah berusia diantara
enam atau tujuh puluh tahun.
Imam yang berjalan didepan yang memelihara jenggot
panjang dan telah memutih itu, tidak lain dari Ciangbunjin Kun
Lun Pai yang bergelar Ma Liang Cinjin. Sedangkan kedua tojin,
dikiri kanannya yang mengiringi Ma Liang Cinjin itu adalah
kedua adik seperguruannya, yang masing2 bergelar Uh Pie
Cinjin dan Tui Ho Cinjin.
JILID 10
Mereka bertiga merupakan tiga tokoh dari Kun Lun Pai dan
nama mereka menggetarkan rimba persilatan dengan ilmu
pedang Kun Lun Kiam Hoat yang telah sempurna.
Munculnya ketiga tokoh Kun Lun Pai tersebut disambut oleh
semua tamu dengan sorakan memuji akan kebesaran
pemimpin Kun Lun Pai tersebut.
Sedangkan Ma Liang Cinjin telah membungkukkan
tubuhnya membalas hormat semua orang itu.
Dengan per-lahan2 dan sikap yang angker dan agung,
tampak Ma Liang Cinjin bertiga telah menuju ketempat yang

disediakan untuk mereka, seperti sebuah mimbar berukuran
tidak begitu besar.
Semua tamu kemudian berdiam diri untuk memberikan
kesempatan kepada Ma Liang Cinjin memberikan kata2
sambutannya.
„Sahabat2 dari rimba persilatan !" berseru Ma Liang Cinjin
dengan suaranya yang halus dan sabar, dia berkata sambil
menyapu semua tamunya lalu dengan sorot mata yang
lembut, namun memancarkan sinarnya yang tajam sekali,
memperlihatkan bahwa lwekangnya telah sempurna. “Kami
dari pihak Kun Lun Pai menyatakan terima kasih se-besar2nya
kepada sahabat2 yang telah mencapai lelah bersedia
memenuhi undangan untuk ikut merayakan ulang tahun
berdirinya Kun Lun Pai ditahun yang keempat ratus ini...!
Sebagai pintu perguruan silat yang berusia tua, dan kebetulan
disaat jatuhnya hari ulang tahun yang keempat ratus ini,
justru tengah dipimpin oleh Pinto, maka alangkah baiknya jika
kita bertukar pikiran mengenai ilmu silat !"
Dan setelah berkata begitu tampak Ma Liang Cinjin telah
memberi hormat lagi.
„Dengan memberaniku diri kami bermaksud
memperlihatkan kebodohan didepan sahabat2 semoga tidak
ditertawakan !”
Dan setelah berkata begitu, tampak Ma Liang Cinjin
mengibaskan tangannya, maka dua murid Kun lun Pai telah
melompat kedepan mimbar membungkukkan tubuhnya,
memberi hormat kepada Ciangbunjin mereka.
„Kami Thio In dan Thio Bun ingin meminta petunjuk
Couwsu" kata mereka serentak.
Kedua imam murid Kun Lun Pai Ini adalah keturunan
tingkat kelima, dan itulah sebab nya dia memanggil Ma Liang
Cinjin dengan sebutan Couwsu (kakek guru), karena guru
mereka itu adalah Bung Hong Cinjin dari tingkat ketiga.

Ma Liang Cinjin telah tertawa kecil, ramah sekali sikapnya,
diapun telah berkata sabar „Nah, kini kalian perlihatkan
kebodohan diantara sahabat2...... !"
Dan sambil berkata begitu dia telah mengibaskan
tangannya, memberikan isyarat agar kedua murid Kun Lun
Pai itu mulai memperlihatkan kepandaian ilmu pedang
masing2.
Kedua murid Kun Lun Pay itu, Thio In dan Thio Bun, telah
merangkapkan tangannya untuk sekali lagi memberi hormat,
kemudian dengan saling berhadapan mereka telah berdiri
untuk memberi hormat kepada para tamu disusul dengan
kata2 mereka;
„Kami yang bodoh ingin memperlihatkan keburukan kami,
harap tidak ditertawakan oleh sahabat dan cianpwe...!"
Dan setelah berkata begitu. Thio In dan Thio Bun saling
serang memperlihatkan ilmu pedang mereka.
Luar biasa ilmu pedang yang mereka perlihatkan, karena
ilmu pedang itu ber-kelebat2 dengan cepat sekali, dengan
gerakan yang ringan dan juga gesit mengancam tempat2
berbahaya.
Itulah suatu pertunjukan permainan ilmu pedang yang luar
biasa indahnya, dan setiap serangan yang mereka lancarkan
itu menimbulkan angin yang dahsyat sekali.
Tetapi ilmu silat yang diperlihatkan olen kedua murid Kun
Lun Pay itu hanya indah dibagian luarnya saja karena mereka
bersilat dengan cepat dan gesit, tetapi isinya masih kurang
sempurna.
Bagi jago2 yang berkepandaian sedang2 saja memang ilmu
pedang itu menimbulkan perasaan kagum, tetapi bagi jago2
yang memiliki kepandaian sempurna, kepandaian kedua murid
Kun Lun Pai tersebut masih jauh dari sempurna karena banyak
bagian2nya yang lemah.

Sehingga telah membuat beberapa orang jago yang ikut
menyaksikan ilmu pedang itu telah saling berbisik „Hanya
sebegini saja ilmu pedang Kun Lun Pai".
Tetapi bagi Tiang Hu dan Yo Him yang menyaksikan ilmu
pedang itu, merupakan suatu kejadian yang luar biasa.
Mereka melihat pedang ber-kelebat2 dengan cepat dan
tampaklah suatu pemandangan yang mendebarkan hati,
karena gerakan pedang itu yang cepat sekali telah berkelebat2
membuat pandangan mata mereka jadi kabur berkunang2.
„Akhhh--- !" berseru Ciangbunjin Kun Lun Pai akhirnya,
suaranya nyaring. „Ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat kurang
diyakini dengan baik oleh kalian, banyak kesalahan2 yang
telah dilakukan oleh kalian...".
Kedua murid Kun Lun itu, Thio In dan Thio Bun, jadi
menghentikan gerakan pedang mereka.
Keduanya membungkuk memberi hormat kepada Couwsu
mereka.
„Kami minta petunjuk ...!” kata mereka dengan suara yang
perlahan.
„Banyak kesalahan yang kalian lakukan !" kata Couwsu itu
dengan sabar. „Kalian harus banyak melatih diri dan meminta
petunjuk kepada guru kalian !”
“Kami akan memperhatikan baik2 petunjuk Couwsu", kata
kedua murid Kun Lun Pai tersebut.
Dan mereka sudah ber-siap2 hendak mengundurkan diri.
Tetapi belum lagi mereka meninggalkan gelanggang
pertandingan itu, justru dari arah rombongan tamu undangan
dibarisan belakang, telah terdengar suara seorang berkata
dengan suara yang dingin:

„ilmu butut, murid butut !" kata suara itu dengan nada
yang mengejek. "Bukan main ! Bukan main ! Ilmu pedang
rombengan seperti itu dipertunjukkan, sehingga membuat
mata jadi sakit melihatnya".
Tentu saja kata2 seperti itu kurang ajar sekali, membuat
semua orang telah terkejut dan menoleh kearah datangnya
suara itu.
Ma Liang Cinjin dan yang lainnya juga telah mengawasi
kearah suara itu.
Dari arah belakang tampak telah melompat gesit sekali
sesosok tubuh ketengah gelanggang.
Gerakannya itu luar biasa cepatnya dan juga ringan sekali
tubuhnya, waktu kedua kakinya menyentuh lantai tidak
menimbulkan suara.
Semua orang mengawasi, dan mereka segera dapat
melihat jelas.
Orang itu bertubuh tinggi besar dan tegap sekali, dialah
seorang pendeta Mongolia yang wajahnya bengis dan juga
matanya bersinar tajam.
Wajahnya itu memperlihatkan keangkuhan yang sangat.
„Hudya" Tiat To Hoat ong hendak melihat berapa tinggi
kepandaian ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat! Bisakah
Ciangbunjin memperlihatkan sendiri ilmu pedang itu dan
memberi petunjuk kepada Hudya ?"
Kata2 itu memang seperti merendah tetapi didalam kata2
itu mengandung tantangan untuk Ma Liang Cinjin.
Tetapi Ma Liang Cinjin sabar sekali, dia mengawasi sejenak
kepada pendeta Mongol itu.
„Siapakah Taisu itu ?" akhirnya dia telah bertanya.
„Pendapat Pinto, Taisu tentunya datang tanpa membawa
kartu undangan . . . !"

Pendeta Mongoi itu yang memang tidak lain dari Tiat To
Hoat ong telah tertawa mengejek.
„Memang. Memang. Justru nama Kun Lun Kiam Hoat yang
menarik Hudya kemari ... ! Apakah itu suatu kelancangan ?"
balik tanya Tiat To Hoat-ong.
Ma Liang Cinjin telah tersenyum sabar. Segera dia
mengetahui bahwa sipendeta Mongoi ini jelas datang dengan
maksud untuk menimbulkan kerusuhan belaka.
"Baiklah! Taisu dari pintu perguruan mana?" tanya Ma
Liang Cinjin.
„Tidak perlu kau ketahui."
„Mengapa begitu?"
„Yang terpenting Hudya hanya datang untuk melihat
sampai berapa tinggi ilmu pedang Kun Lun Kiam Hoat."
„Hemmm. . . baiklah!” kata Ma Liang Cinjin sambil
menggerakkan tangannya, dia ingin memberikan isyarat
kepada sutenya agar siadik seperguruannya itu melayani Tiat
To Hoat-ong.
Namun kenyataannya Tiat To Hoat-ong yang melihat itu
segera juga telah berkata ; „Dan kedatangan Hudya bukan
untuk melayani yang lain. . . maka dari itu Hudya minta agar
Totiang sendiri yang melayani kami!!"
Dan setelah begitu, dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong
telah mulai menggerakkan tangannya dan kedua kakinya, dia
mulai berdiri dengan kuda2nya yang kuat, mulai bersiap untuk
menerima serangan.
Dengan sikapnya itu berarti gerakannya tersebut
merupakan tantangan untuk Ma Liang Cinjin.
Sebagai Ciangbunjin dari Kun Lun Pai yang memiliki nama
sangat terkenal, sesungguhnya Ma Liang Cinjin tidak bisa

sembarangan menerima tantangan orang, karena derajatnya
yang tinggi.
Tetapi karena Tiat To Hoat-ong telah menantangnya
demikian rupa sehingga jika dia tidak melayaninya niscaya
akan menjatuhkan nama Kun Lun Pai.
Maka dari itu cepat sekali Ma Liang Cinjin berdiri dari kursi
didepan mimbarnya, lalu katanya dengan suara yang sabar :
"Sungguh terpaksa sekali Pinto harus memperlihatkan
kebodohan Pinto !" katanya kemudian.
Dan setelah berkata begitu Ma Liang Cinjin melonpat
ketengah gelanggang.
Sesungguhnya kedua sute dari Ma Liang Cinjin hendak
mencegah Ciangbunjin mereka turun tangan sendiri, tetapi
sudah terlambat, Ma Liang Cinjin telah berhadapan dengan
Tiat To Hoat-ong.
"Hahaha !" tertawa Tiat To Hoat-ong dengan suara yang
nyaring sekali. „Bukankah Totiang mengadakan pertemuan ini
justru ingin memperkenalkan kepada orang2 rimba persilatan,
bahwa ilmu pedang Kun Lun Pai memiliki kepandaian yang
hebat sekali”
Disaat itu tampak Ma Liang Cinjin juga sudah tidak
mengambil sikap yang segan2 lagi, karena dia menyadari
bahwa tamu tidak diundang ini memang sengaja datang untuk
menimbulkan kerusuhan belaka.
Cepat sekali diapun telah merangkapkan sepasang
tangannya, dia telah melancarkan serangan pembukaan
sebagai tanda hormat.
Tetapi Tiat To Hoat ong berdiam diri saja dia tidak berkelit
atau menangkis.
Karena serangan yang dilancarkan oleh Ma Liang Cinjin
memang merupakan jurus pembukaan, dengan sendirinya hal

itu merupakan serangan yang tidak sungguh2 dan juga telah
menyebabkan serangan tersebut jatuh ditempat kosong.
Namun dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong tidak ingin
membuang waktu, dia juga telah mengibaskan lengan
jubahnya sebagai serangan pembukaan.
Keduanya melompat mundur dan mulailah piebu, adu
kepandaian itu dibuka.
Tangan kanan Ma Liang Cinjin meraba kepunggungnya,
mencekal gagang pedang.
Gerakannya itu sabar dan tenang sekali, dan ketika
pedangnya dicabut maka sinar yang berkilauan terlihat
menerangi sekitar tempat itu. Itulah pedang mustika.
Sedangkan Tiat To Hoat-ong tertawa dengan suaranya
yang tidak sedap didengar.
„Cabutlah senjata Taisu !" kata Ma Liang Cinjin yang sudah
tidak ingin banyak bicara.
Tiat To Hoat-ong menggelengkan kepalanya.
„Sesungguhnya Hudya biasa mempergunakan golok, tetapi
biarlah untuk menghadapi Kun Lun Kiamhoat yang hebat,
Hudya akan mempergunakan kedua tangan ini saja untuk
menyambutinya!"
Bukan main mendongkol dan murkanya murid2 dari Kun
Lun Pai, karena mereka merasa Ciangbunjin mereka
diremehkan dan dihina.
Tetapi justru Ma Liang Cinjin membawa sikap yang tenang
sekali, dia telah tersenyum.
„Memang terkadang senjata tajam kalah hebat dengan
kedua telapak tangan manusia !" katanya sabar. „Nah, ,Taisu,
terimalah serangan Pinto ...... inilah kebodohan yang
selayaknya ditertawakan.”

Dan membarengi dengan perkataannya itu tampak Ma
Liang Cinjin menggerakkan pedang nya, dia telah menikam
lurus2 kearah dada Tiat To Hoat-ong yang saat itu berdiri
dengan sepasang kaki agak tertekuk,
Tentu saja hal itu telah membuat semua orang jadi terkejut
karena cara menyerang Ma Liang Cinjin akan membahayakan
diri Ma Liang Cinjm sendiri, sebab dengan cara menyerang
seperti itu, berarti Ma Liang Cinjin membuka bagian lowong
didirinya.
Sedangkan Tiat To Hoat Ong yang melihat serangan tiba,
dia mandekkan tubuhnya dengan kaki tetap tertekuk dia telah
melancarkan serangan membalas dengan telapak tangannya
yang menyampok dari samping.
Angin sampokan tangan Tiat To Hoat-ong ternyata bukan
main kuatnya.
Angin serangan itu justru telah menyampok miring pedang
Ma Liang Cinjin.
Keruan saja Ma Liang Cinjin jadi terkejut sekali. dia Sampai
mengeluarkan seruan tertahan.
Hebat luar biasa tampak Tiat To Hoat ong bukan hanya
melancarkan serangan dengan sampokan saja, dia juga telah
meluncurkan tangan kirinya mengancam kearah kepala Ma
Liang Cinjin.
Tentu saja Ma Liang Cinjin tidak bisa tinggal diam. cepat
sekali dia telah menarik pulang pedangnya.
Dia juga menarik pulang pedangnya bukan untuk
mengelakan serangan Tiat To Hoat-ong, melainkan telah
membarengi untuk melancarkan serangan lagi.
Gerakan itu luar biasa hebatnya, karena ujung pedang itu
digetarkan sehingga mata pedang seperti juga telah
menyambar kebeberapa bagian ditubuh Tiat To Hoat ong
bagian yang semuanya berbahaya dan bisa mematikan.

Tetapi pendeta Mongol Tiat To Hoat-ong seperti tidak
memandang sebelah mata ilmu pedang Kun Lun, dia telah
mengeluarkan suara tertawa yang nyaring, mengempos
semangatnya di dadanya, dan dia telah berdiri tegak menantikan
serangan tiba, kemudian disambutnya ujung pedang itu
dengan dadanya.
Semua orang terkejut, bahkan ada yang telah
mengeluarkan seruan karena kaget.
Dan disaat itulah dalam keadaan yang cukup menegangkan
ketika mata pedang menyentuh kulit dada dari Tiat To Hoatong,
namun anehnya mata pedang tidak bisa menikam masuk
kulit tubuh itu melainkan telah melejit.
Membarengi disaat Ma Liang Cinjin tengah kaget, maka Tiat
To Hoat-ong telah melancarkan pukulan lurus dengan telapak
tangannya.
„Bukkk!" Ma Liang Cinjin tidak sempat mengelakkan diri
dan tubuhnya jadi terhuyung dengan pucat.
Sebagai seorang Ciangbunjin dari sebuah partai persilatan
ternama seperti Kun Lun Pai sampai terserang seperti itu,
sesungguhnya benar2 merupakan urusan yang luar biasa dan
mengherankan juga.
Tiat To Hoat ong telah tertawa ber-gelak2 keras sekali, dia
telah melancarkan beruntun tiga kali serangan lagi, pukulan
telapak tangannya menimbulkan angin serangan sekuat
runtuhnya gunung.
Tentu saja Ma Liang Cinjin tidak berani berlaku lambat,
dengan tidak berayal lagi dia telah memutar pedangnya itu
dengan cepat seperti juga titiran.
Diantara suara deru angin itu, tampak Ma Liang Cinjin juga
mengempos semangat dan tenaga dalamnya, sehingga angin
serangan pedang nya selain mengincar bagian2 yang
mematikan dari jalan darah ditubuh Tiat To Hoat ong. juga

mengandung kekuatan tenaga yang dahsyat, yang dapat
menindih serangan tenaga dari Tiat To Hoat-ong.
Kenyataan seperti ini telah mengejutkan Tiat To Hoat ong
juga, dia sampai mundur dua langkah dan berobah cara
bertempurnya.
Dengan gerakan yang cepat sekali, silih berganti kedua
tangannya itu telah melancarkan pukulan yang dahsyat dan
mematikan, semakin lama semakin kuat dan mengurung
tenaga serta pedang Ma Liang Cinjin.
Tentu saja Ma Liang Cinjin jadi terkejut dan mengucurkan
keringat dingin.
Dia merasakan tenaga Tiat To Hoat ong seperti juga
menghisap tenaganya, semakin lama tenaga Ma Liang Cinjin
semakin tersedot.
Ma Liang Cinjin mati2an telah berusaha untuk meloloskan
pedangnya itu dari libatan tenaga dalam sipendeta Mongol.
Berulang kali Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan suara
tertawa bergelak, dan berulang kali pula dia melancarkan
serangan yang semakin lama semakin hebat, yang memaksa
Ma Liang Cinjin akhirnya hanya dapat bertempur dengan main
kelit dan main mundur.
Murid2 Kun Lun Pai yang melihat keadaan Ciangbunjin
mereka, semuanya jadi berkuatir sekali.
Disaat itulah dengan cepat sekali Ma Liang Cinjin memutar
dan menghentak pedangnya dengan mempergunakan jurus
kesembilan belas dari Kun Lun Kiam Hoat, dengan
menggetarkan pedangnya tampak Ma Liang Cinjin telah
menjejakkan kakinya, untuk melompat kebelakang menjauhi
diri dari lawannya.
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak ingin memberikan
kesempatan kepadanya

Dia telah melancarkan serangan dalam bentuk pukulan
yang kuat sekali. Dan serangannya itu telah menghantam
pinggul Ma Liang Cinjin, sehingga tulang pinggul dari
Ciangbunjin Kun Lun Pai itu menjadi remuk dan tubuhnya
terhuyung tidak bisa berdiri tetap.
Uh Pie Cinjin dan Tui Ho Cinjin, kedua sute dari Ma Liang
Cinjin jadi terkejut sekali, muka mereka jadi berobah pucat
seketika.
Dan mereka telah melompat untuk melindungi kakak
seperguruan mereka.
Gerakan mereka itu sangat cepatnya, dan bertepatan disaat
Tiat To Hoat-ong melancarkan serangan berikutnya kepada
Ciangbunjin Kun Lun Pai tersebut.
Gerakan mereka itu telah menolong Ma Liang Cinjin dari
kematian, karena serangan Tiat To Hoat-ong telah berhasil
ditangkisnya.
„Bukk!” tubuh Uh Pie dan Tui Ho Cinjin berhasil digempur
Tiat To Hoat ong sampai terpental.
Tetapi kedua sute Ma Liang Cinjin dengan cepat telah
melompat dan melancarkan serangan lagi kepada Tiat To Hoat
ong. guna melindungi Ciangbunjin mereka.
Saat itu beberapa orang murid kepala Kun Lun Pai lainnya
telah menyerbu untuk mengepung Tiat To Hoat-ong, sambil
beberapa orang melindungi Ma Liang Cinjin, yang akan
dibawanya kedalam.
Namun Tiat To Hoat-ong rupanya bertindak tidak
tangguug2.
Dengan cepat sekali tangannya telah menjambret baju dari
kedua murid kepala Kun Lun yang berada terdekat dengannya
dan melemparkannya. Setelah itu dengan ujung jubahnya
yang panjang, tampak Tiat To Hoat ong telah mengibas,

sehingga dua orang murid Kun Lun lainnya telah terlempar
dan terbanting.
Dengan Caranya itu Tiat To Hoat Ong seperti mengamuk
ingin membuka kepungan lawannya Dan memang dia telah
menimbulkan perasaan jeri dihati murid2 Kun Lun tersebut.
Gerakan yang mereka lakukan itu memang merupakan
gerakan yang dahsyat, tetapi menghadapi Tiat To Hoat ong
yang memiliki kepandaian yang telah sempurna dan juga
tenaga yang kuat, mau tidak mau murid2 Kun Lun Pai yang
berjumlah banyak itu tidak berdaya.
Begitu juga Tui Ho Cinjin maupun Uh Pie Cinjin, kedua tojin
yang liehay itu tampaknya jadi tidak berdaya menghadapi
pendeta Mongol yang luar biasa ini.
Dalam sekejap mata saja pertempuran hebat telah terjadi
ditempat itu.
Sedangkan Tui Ho Cinjin telah berhasil di hajar dadanya,
sampai imam itu meringkuk dilantai dengan memuntahkan
darah segar.
Dalam melancarkan serangannya Tiat To Hoat-ong sama
sekali tidak mau berlaku lunak !.
Setiap pukulannya tentu mengandung tenaga menggempur
yang bisa mematikan.
Maka tidak mengherankan ketika dia telah melancarkan
serangan yang ber-tubi2 dan juga serangan itu datangnya
bagaikan angin badai, telah membuat murid2 Kun Lun Pai
tidak berani mendekatinya. Saat itu dengan nekad Uh Pie
Cinjin telah mengeluarkan teriakan yang nyaring, dia telah
memutar pedangnya menyerbu kearah Tiat To Hoat-ong.
Maksud imam ini adalah untuk mengadu jiwa dengan Tiat
To Hoat ong agar binasa bersama. Tetapi hasrat hatinya itu
tidak kesampaian.

Hal itu disebabkan Tiat To Hoat ong liehay sekali, dia sama
sekali tidak bermaksud untuk mengelakkan serangan
lawannya, dia menerima tikaman dari siimam tetapi ujung
pedang itu telah melejit tidak berhasil menembus kulitnya
yang licin dan kebal itu.
Mempergunakan kesempatan disaat Uh Pie Cinjin tengah
terkejut begitu, disaat itulah Tiat To Hoat ong telah
melancarkan pukulan dahsyat dengan telapak tangannya,
„Bukkkl" batok kepala iman itu telah berhasil dipukulnya
dengan jitu sekali.
Tanpa sempat menjerit lagi tubuh Uh Pie Cinjin
menggeletak dilantai.
Napasnya juga telah putus...!
Semua murid Kun Lun lainnya jadi panik, mereka telah
menyerbu dengan nekad dan gusar mengepung Tiat To Hoatong.
Saat itu Tiat To Hoat-ong telah mengeluarkan suara siulan
yang nyaring, maka dari arah belakang barisan tamu,
melompat beberapa sosok tubuh.
Ternyata yang melompat muncul tidak lain dari Chiluon,
Talengkie dan Turkichi.
Mereka telah ikut mengamuk.
Kepandaian ketiga orang Mongoi inipun hanya berada satu
tingkat, dibawah Tiat To Hoat-ong. maka tidaklah
mengherankan jika mereka dengan cepat telah berhasil
merubuhkan murid Kun Lun Pai, Gerakan yang mereka
lakukan juga selalu mendatangkan korban.
Murid2 Kun Lun Pai yang melihat kehebatan ketiga orang
itu jadi menggidik. Walaupun bagaimana mereka memang merasa
sangat jeri dan takut berurusan dengan ke empat orang
yang berkepandaian sempurna itu.

Mereka telah melihatnya bahwa kepandaian yang mereka
miliki tidak mungkin dapat menandingi kepandaian empat
orang Mongol itu.
Tetapi Tiat To Hoat-ong berempat terus juga mengamuk
menghantam kesana kemari.
Tampaknya keempat orang Mongoi itu memang sengaja
tidak ingin melepaskan seorangpun murid Kun Lun terlolos
dari kematian.
Disaat itu dengan kecepatan bagaikan kilat, Talengkie
berulang kali menggerakkan tangannya.
Paku2 beracunnya telah berhamburan membinasakan
belasan orang tamu.
Keruan saja tamu2 yang merupakan jago2 dari berbagai
pintu perguruan silat itu jadi panik dan kalut.
Dengan cepat beberapa orang diantara mereka telah
menerjang maju untuk membantu pihak tuan rumah.
Tetapi bantuan mereka itu rupanya sama sekali tidak
memberikan hasil.
Dengan mudah sekali Tiat To Hoat-ong telah melakukan
serangan yang selalu membinasakan lawannya.
Jago2 yang lainnya disamping jeri juga sangat gusar sekali
melihat sepak terjang Tiat To Hoat-ong berempat dengan
kawannya.
Ramai2 mereka telah melompat kegelanggang
pertempuran, mereka telah melancarkan serangan dengan
serentak untuk mengeroyok pendeta Mongol ini.
Tetapi Tiat To Hoat ong dan keempat kawannya itu
tangguh sekali, mereka telah membinasakan satu persatu
lawannya, sehingga didalam waktu yang sangat singkat sekali
puluhan jiwa telab melayang.

Dan sisanya telah cepat2 memutar tubuh melarikan diri
untuk meloloskan diri dari kematian. Tiat To Hoat-ong telah
tertawa ber-gelak2 puas.
Saat itu mayat2 melintang tidak keruan di lantai, keadaan
sangat mengerikan sekali. Di-ruangan tersebut yang masih
segar dan hidup hanyalah Tiat To Hoat-ong berempat, tidak
terlihat orang lainnya.
Tiang Hu dan Yo Him yang bersembunyi dibalik tirai, lagi
menggigil keras ketakutan.
„Tadi tadi telah kukatakan, agar kita jangan kemari !" bisik
Yo Him ketakutan. „Kau lihat, iblis2 itu menakutkan sekati !"
Tiang Hu tidak bisa menyahuti, dia hanya berdiam diri
belaka.
Ketakutan yang meliputi hati Tiang Hu bukan main
hebatnya, sampai anak ini tidak bisa mengeluarkan perkataan.
Dilihatnya betapa mayat2 itu melintang tidak keruan dan
mengerikan sekali. Saat itu keadaan sepi sekali. Tetapi mata
Tiat To Hoat-ong yang tajam telah melihat tirai yang bergoyang
itu.
Cepat2 dia telah menghampirinya, sekali hantam tirai itu
tersingkap dan dua sosok tubuh kecil menggelinding keluar.
Tentu Saja saking ketakutan Tiang Hu telah menangis dan
berlutut meminta ampun.
Sedangkan Yo Him hanya diam memandang dengan sinar
mata ketakutan, tetapi dia tidak berlutut seperti yang
dilakukan oleh Tiang Hu.
„Ihh !" berseru pendeta Mongol itu karena terkejut dan
heran melihat kedua anak itu,
Talengkie telah melompat maju, dia mencengkeram baju
Yo Him dan Tiang Hu.

Diangkatnya tubuh kedua anak itu, lalu dibantingnya
dengan keras keatas lantai sehingga menimbulkan suara
gedebukan yang keras.
Mata Yo Him dan Tiang Hu jadi ber-kunang2 dan kepala
mereka pusing, disamping itu mereka juga menderita
kesakitan yang sangat hebat.
Tiang Hu yang sangat ketakutan, telah menangis sambil
sesambatan meminta ampun.
Sedangkan Yo Him hanya merintih perlahan karena dia
menderita kesakitan yang sangat.
„Siapa kau ?" bentak Talengkie dengan suara yang bengis.
„Mengapa kalian berada disini?”
„Kami ... kami ingin menyaksikan keramaian” kata Tiang
Hu dengan suara yang parau antara isak tangisnya.
Tetapi berbeda dengan Tiang Hu, Yo Him telah memutar
otak sejak tadi dan kini dia telah memperoleh pikiran yang
dianggapnya baik.
Maka dari itu. dia telah berkata lantang „Kami datang untuk
mengambil sisa makanan karena ditempat ini tengah diadakan
keramaian, tidak kami sangka ...tidak kami sangka justru
adanya peristiwa seperti ini ...”
„Hmm .....kalian dua pengemis cilik rupanya?" bentak
Talengkie.
„Benar."
„Cepat menggelinding pergi?" bentak Talengkie dengan
suara yang bengis.
Tentu saja hal itu menggirangkan hati Yo Him dan Tiang
Hu mereka cepat2 melangkah untuk pergi meninggalkan
tempat yang menyeramkan itu,

„Tahan !, bentak Tiat To Hoat-ong, Tentu saja kedua anak
itu jadi ketakutan mereka menahan langkah kaki mereka tidak
berani bertindak terus.
Yo Him telah menoleh, tanyanya dengan ragu2: ,Ada. . ada
apa lagi, Taisu?" suaranya dibuat setenang mungkin. Mata
Tiat To Hoat ong bersinar tajam.
Berbeda dengan Talengkie, yang berhasil ditipu oleh Yo
Him, tetapi Tiat To Hoat-ong yang cerdik itu telah
memperhatikan kedua anak itu dalam2.
Dia telah melihatnya bahwa kedua anak ini tidak mungkin
dua orang pengemis kecil.
Maka timbullah kecurigaannya. Dia telah melihat pakaian
Yo Him dan Tiang Hu bersih dan juga tidak ada tambalannya,
maka tidak mungkin Yo Him dan Tiang Bu ini dua anak
pengemis. Tetapi, jika bukan pengemis, lalu mengapa kedua
anak tersebut bisa berada di tempat ini? Itulah sebabnya Tiat
To Hoat-ong bermaksud ingin menyelidikinya.
„Kalian bicara terus terang, sesungguhnya siapa kalian
berdua?" bentak Tiat To Hoat-ong dengan suara yang bengis
sekali.
„Kami. .kami memang pengemis kecil di kampung ini!"
menyahuti Yo Him dengan suara agak tergetar, karena dia
ketakutan melihat sinar mata Tiat To Hoat-ong yang tajam
dan menyeramkan itu.
„Hemm, jika engkau masih tidak ingin bicara terus terang,
biarlah kami akan membunuh kalian juga?" mengancam Tiat
To Hoat-ong sambil melangkah maju.
Semula Yo Him ingin berkeras dengan dustanya itu, bahwa
mereka adalah dua orang pengemis kecil, dia yakin jika
mereka tetap mengakui diri mereka sebagai pengemis kecil
tentu mereka akan dibebaskan.

Tetapi siapa sangka karena ketakutan bukan main melihat
ancaman Tiat To Hoat-ong, dengan tubuh yang menggigil
keras Tiang Hu telah berlutut sambil meng angguk2kan
kepalanya sampai keningnya itu telah menghantam lantai
berulang kali.
„Ampun Taisu..kawanku tadi memang telah berbohong.
kami memang bukan pengemis kami hanya dua orang anak
penduduk kampung dibawah kaki gunung ini...kami
....kami...kami,"
Tiat To Hoat-ong telah tertawa dingin. „Kami, kami, kenapa
?" bentaknya dengan suara yang semakin bengis saja.
„Kami hanya ingin menyaksikan keramaian ...!" kata Tiang
Hu sambil menangis.
Tiat To Hoat ong telah mendelik kepada Yo Him.
„Hemm, engkau kecil2 sudah pandai berbohong !"
bentaknya. „Baiklah, kami akan memberikan sedikit pelajaran
kepada kalian !".
Tentu saja Yo Him dan Tiang Hu jadi ketakutan sekali.
Tubuh mereka menggigil keras, namun belum lagi mereka
mengetahui apa2 telah berkelebat bayangan hitam, tahu2
punggung mereka sakit dan tubuh mereka menjadi ringan
seperti melayang.
Ternyata Tiat To Hoat ong telah mencengkeram punggung
kedua anak itu.
Kemudian dengan keras dia telah melempar nya keluar kuil.
Tidak mengherankan jika Yo Him dan Tiang Hu terbanting
keras diatas tanah, bahkan Tiang Hu telah menghantam batu
kerikil dengan kuningnya, membuat kening anak itu jadi
berlumuran darah...

Dengan merangkak, tanpa berani menoleh lagi Yo Him dan
Tiang Hu segera berlari menuruni gunung itu, mereka berlari
untuk pulang.
Tiat To Hoat ong tertawa gelak2 dengan suara yang keras
sekali.
Dan disaat itu Chiluon, Talengkie dan Turkichi telah
mengajak Tiat To Hoat ong untuk berlalu.
„Kita telah melaksanakan tugas kita dengan baik ! Hari ini
kita telah membinasakan lebih seratus jago2 silat Tionggoan !
Untuk selanjutnya pihak Kun Lun Pai tidak bisa mengangkat
nama mereka" berkata Tiat To Hoat ong dengan suara yang
angkuh.
„Benar " menyahuti Chiluon. „Dan berarti berkurangnya
tenaga jago didaratan Tionggoan ! Seperti perintah Khan yang
agung, kita harus berusaha sebanyak mungkin membinasakan
jago2 daratan Tionggoan, disamping untuk membuktikan
bahwa jago2 Mongolia tidak ada tandingan nya, juga untuk
mempersedikit jago2 yang membantu pemerintahan Song,
sehingga jika kelak Khan yang agung itu menerjang kedaratan
Tiong goan, tentu tidak akan menemui rintangan lagi !"
Dan keempat orang jago Mongol itu telah tertawa keras
sekali, tampaknya mereka puas bukan main. Suara tertawa
mereka keras sekali menggetarkan tempat itu, lalu dengan
mempergunakan ilmu meringankan tubuh mereka, jago2
Mongol itu telah meninggalkan tempat tersebut.
YO HIM dan Tiang Hu yang ber lari2 ketakutan, akhirnya
telah tiba dirumah masing2,
Ciang Pehunya yang mengambil Yo Him sebagai anak
angkatnya, jadi kaget sekali melihat Yo Him ketakutan seperti
itu.

„Ada apa?" tanya Ciang Pehu tersebut. Dengan hati masih
tergoncang hebat dan menahan perasaan sakit, Yo Him telah
menceritakan pengalamannya.
Sedangkan Tiang Hu juga telah mengejutkan ibu dan
ayahnya dengan keadaan seperti itu.
Sambil membersihkan darah yang mengucur deras dari
keningnya, kedua orang tua Tiang Hu menanyakan sebab2nya
putera mereka bisa babak belur begitu.
Sambil terus menangis, Tiang Hu telah menceritakan
pengalamannya.
Tentu saja kedua orang tuanya jadi terkejut bukan main.
Mereka memang merupakan penduduk lama dikampung ini,
maka dari itu mereka pun mengetahui jelas bahwa Kun Lun
Pai merupakan sebuah pintu perguruan silat yang luar biasa
hebatnya, dengan sendirinya pintu perguruan silat itupun
merupakan tempat pemujaan yang disegani oleh penduduk
kampung di sekitar gunung Kun Lun San tersebut.
Kini mereka mendengar pendeta2 dari kuil itu telah
dibinasakan orang asing, bahkan jumlah korban meliputi
ratusan jiwa, keruan saja telah membuat merekapun jadi
ketakutan dan berulang kali memuji akan kebesaran Thian
untuk meminta berkah dan perlindungan terhadap
keselamatan keluarga mereka.
Dan setelah dua hari, barulah orang2 kampung yang telah
digemparkan oleh peristiwa itu berani naik keatas gunung,
untuk mendatangi kuil Kun Lun Sie.
Dan mereka jadi berdiri dengan hati tergoncang keras
diliputi ketakutan, karena dari jauh mereka telah mencium bau
busuk dari mayat dan amisnya darah tersiar dari kuil itu.
Beberapa orang penduduk kampung yang memiliki nyali
agak besar telah memberanikan diri untuk melihat kedalam
kuil itu, mereka melihat mayat2 yang malang melintang.

Maka dari itu mereka jadi menghela napas, karena didalam
kuil tidak terlihat seorang imam pun juga.
Semuanya hanya mayat2 yang mengerikan sekali, dengan
tubuh yang rusak dan darah yang menggenang serta telah
membeku menyiarkan bau busuk dan amis.
Setelah melihat disekitar tempat itu tidak ada orang Mongol
yang di-sebut2 oleh Yo Him dan Tiang Hu, merekapun
mengumpulkan mayat sambil menggali tanah untuk mengubur
korban2 itu.
Peristiwa itu tentu saja merupakan peristiwa yang pertama
kali terjadi menimpa perguruan silat Kun Lun Pai.
Dan penduduk kampung itu, untuk satu tahun lebih tidak
berani naik keatas gunung, mereka takut diganggu oleh
setan2 penasaran.
Yo HIM setelah mengalami peristiwa seperti itu, kini jadi
sering melamun karena walaupun bagaimana dia telah
terpengaruh oleh peristiwa tersebut, yang tentunya
memberikan bayang-bayang yang tidak menggembirakan
hatinya.
Dia telah melihat betapa jiwa manusia di bunuh seperti
juga tidak ada harganya, bagaikan jiwa kecoa, dan juga
disamping itu walaupun dia masih berusia kecil dia cerdik
sekali, maka Yo Him berpikir jauh sekali yaitu dia
perbandingkan peristiwa tersebut dengan Ilmu silat.
Tentunya korban2 itu. yaitu peristiwa dari terjadinya
pertempuran tersebut, berawal pangkal dari ilmu silat.
Kalau mereka tidak mengerti ilmu silat jelas mereka tidak
akan memperoleh bencana seperti itu .
Dan Yo Him jadi tidak menyukai ilmu silat . . . dia berpikir
didalam hatinya yang masih polos dan suci itu bahwa dia
untuk selama2nya tidak ingin mempelajari ilmu silat.

Tetapi walaupun bagaimana kepandaian seperti ini telah
membuat Yo Him tergempur jiwa nya, suatu gempuran yang
tidak kecil.
Dia telah menyaksikan betapa manusia yang dibunuhbunuhi
seperti juga menjagal hewan dati darah telah
berhisabi>*a-i. Pembunuhan itu bukan terjadi didiri seorang
atau dua orang manusia, melainkan ratusan jiwa . . . maka se
tidak-nya telab merusak jiwa anak ini.
Ciang Pehunya yang melihat Yo Him akhir2 ini sering
melamun begitu, jadi menguatirkan sekali kesehatannya, dia
sering memberikan nasehat2nya.
Yo Him sering menyatakan kepada Ciang Pehunya, bahwa
dia ingin pergi kesebuah tempat yang jauh . . . jauh sekali . .
Betapa sedihnya Ciang Pehunya itu karena dia sangat
menyayangi Yo Him sama seperti putera kandung mereka
sendiri.
Lebih2 Ciang Pebo, isteri Ciang Pehunya Yo Him, telah
menangis selama dua hari dua malam mereka kuatir kalau2
anak angkat mereka itu akan benar2 membuktikan
perkataannya, yaitu pergi jauh meninggalkan mereka. . .
MALAM itu sepi dan sunyi sekali, dan hanya terdengar
suara binatang malam yang berdendang, sedangkan Yo Him
terlentang di pembaringannya tanpa bisa memejamkan
matanya.
Dia telah melihatnya, betapa manusia hidup didalam dunia
seperti juga tengah membawakan peranan diatas panggung
sandiwara, bisa hidup gembira, bisa menderita, dan bisa mati
disetiap saat.
Maka didalam usia yang sedemikian kecil, ternyata Yo Him
telah dirasuki oleh berbagai

pikiran yang tidak2, yang telah merusak jiwanya sendiri.
Entah mengapa Yo Him juga jadi membenci sekelilingnya,
membenci dirinya membenci juga ketidak mampuannya.
Waktu dia melihat imam2 dari Kun Lun Pai itu dibinasakan
oleh Tiat To Hoat-ong dan kawan2nya, sesungguhnya hatinya
penasaran dan marah sekali, dia ingin sekali untuk
membantui.
Namun justru dia tidak memiliki kepandaian apa2, diapun
masih kecil dan tidak memiliki tenaga, dan disamping itu
diapun dalam ketakutan yang sangat hebat, maka apa yang
bisa dilakukannya?
Diam2 Yo Him jadi mengutuki dirinya sendiri yang tidak
punya guna, yang hanya bisa menyaksikan betapa manusia
telah dijagal begitu rupa oleh jago2 Mongol.
Didalam jiwanya yang masih belum bisa menentukan
sesuatu apapun itu, dia telah merasakan bahwa dirinya harus
pergi merantau, dia tidak dapat hidup terus menerus disebuah
perkampungan kecil itu.
Berbagai ingatan segera muncul mengganggu hatinya, dia
teringat kepada Sintiauw, burung rajawali yang sangat sayang
kepadanya, yang telah merawatnya sejak bayi. sampai dia
berusia tujuh tabun, dan dia teringat juga kepada Ciang Pehu
dan Ciang Pebonya yang telah melimpahkan kasih sayangnya
untuk dia. maka dari itu kini jika dia pergi meninggalkan Ciang
Pehu dan Pebonya itu, dia pun tidak tega.
Tetapi Yo Him sudah tidak bisa menahan keinginan hatinya
untuk pergi merantau.
Dia telah membuka pintu kamarnya, dilihatnya pintu kamar
Pehu dan Pebonya tertutup rapat.
Cepat2 dan hati2 Yo Him membereskan beberapa potong
bajunya, lalu dibuntalnya menjadi satu.

Ber-indap2 dia telah keluar dari kamarnya, membuka pintu
luar, dia telah melangkah ketaman dari rumah tersebut. Tetapi
waktu Yo Him ingin membuka pintu taman itu, tahu2
dibelakangnya ada orang yang menegur halus: „Him jie (anak
Him) malam2 seperti ini kau hendak pergi kemana?"
Yo Him terkejut, dia menoleh pada Ciang Pehunya berdiri
dihadapannya dengan muka yang muram. Cepat2 Yo Him
menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan Ciang Pehunya itu
dengan hati yang sedih. Dia menceritakan keinginannya untuk
pergi merantau, karena dia ingin mencari pengalaman. Ciang
Pehunya jadi berduka sekali, mukanya jadi tambah muram.
Dengan sabar dia telah membangunkan Yo Him dari
berlututnya, di-usap2 rambut anak itu.
„Dengarlah Himjie, kami sangat sayang kepadamu," kata
Ciang Pehunya itu. „Kau masih terlalu kecil, belum ada yang
bisa kau lakukan... ! Jika memang kau ingin merantau guna
mencari pengalaman, kami tentu akan melepaskan dan
mengizinkannya asalkan kau telah dewasa, tetapi sekarang?
Usiamu masih terlampau kecil dan kami kuatirkan kau akan
mengalami bencana !."
Yo Him menggeleng lemah.
„Memang Himjie anak yang Put-hauw Put gie (tidak
berbakti dan tidak berbudi), sehingga melupakan kebaikan
Pehu dan Pebo.... tetapi Him jie tentu akan menengoki Pehu
dan Pebo."
„Apakah perlakuan kami kurang baik?" tanya Pehu itu
dengan suara yang sabar. „Apakah ada perlakuan kami yang
melukai perasaanmu sehingga kau ingin pergi meninggalkan
kami?"
Ditanya begitu, Yo Him cepat2 menggeleng sambil
mengucurkan air mata, dia telah memeluk Pehunya itu,

„Bukan ! Bukan Pehu, kalian baik sekali terlalu baik," kata
Yo Him kemudian. „Justru disebabkan sikap kalian yang
terlampau baik. membuat Himjie tidak dapat menerimanya,
Him jie malu menerima budi Pehu dan Pebo terus menerus ....
biarlah Himjie pergi merantau, jika kelak Himjie telah berhasil
menjadi manusia maka Himjie akan datang kemari untuk
mencari Pehu dan Pebo gura membalas budi kalian yang
besar....!"
Ciang Pehu itu menghela napas dalam2, kemudian berkata.
„Baiklah! rupanya ada sesuatu persoalan yang tidak ingin kau
katakan dan tetap kau sembunyikan !"
Ciang Pehu itu berkata demikian, karena dia melihat Yo
Him seperti menyembunyikan suatu rahasia.
Sedangkan dugaan Ciang Pehu itu memang tepat, karena
Yo Him tengah digeluti oleh semacam perasaan, dimana dia
sering diganggu oleh pertanyaan : „Siapa ayah ? Siapa ibu ?”
Dan pertanyaan seperti itu mengganggu sekali hatinya. Dia
sering berpikir : „Ayahku atau ibuku tidak pernah ku
lihat....apapun tidak kuketahui tentang mereka, Siapa ayahku
? Siapa ibuku ? Akhhh.. akulah sianak yatim piatu yang tidak
mengerti apa2 !”
Dan maksud Yo Him ingin merantau adalah untuk mencari
ayah dan ibunya !
Setelah barlutut lagi dihadapan Ciang Pehu nya itu,
akhirnya Yo Him telah membalikkan tubuhnya, dia berlari
dengan cepat untuk menyembunyikan air matanya yang telah
menitik turun.
Sedangkan Ciang Pehunya juga telah mengawasi kepergian
Yo Him dengan air mata ber-linang2.
Sengaja Ciang Pehu tidak membangunkan isterinya, dia
takut kalau2 isterinya itu bertambah sedih menyaksikan
keberangkatan Yo Him..

SETELAH melakukan perjalanan sampai menjelang fajar, Yo
Him sampai dikampung Pu-cung cung, sebuah kampung yang
masih berada didaerah kaki Gunung Kun Lun, terpisah kurang
lebih dua ratus lie dari perkampungannya Ciang Pehunya itu.
Tetapi Yo Him tidak bermaksud Untuk singgah dikampung itu,
dia telah meneruskan perjalanannya.
Dia bermaksud merantau kemana kedua kakinya
membawanya, karena dia memang tidak memiliki tujuan dan
tempat yang akan dituju.
Hanya yang menjadi pemikiran Yo Him, dia akan berusaha
untuk menyelidiki siapakah sebenarnya ayahnya, siapakah
sesungguhnya ibunya.
Pernah Yo Him menanyakannya kepada Ciang Pehunya
atau Ciang Pebonya, tetapi kedua orang itupun tidak
mengetahui apa2 mengenai asal usul Yo Him.
Mereka, kedua pasangan suami isteri she Ciang yang baik
hati itu hanya mengatakan bahwa Yo Him seringkali dibawa
terbang oleh Rajawali sakti, yang diturunkan dipintu kampung
sehingga Yo Him bisa bermain dengan anak2 kampung
lainnya, kemudian disore hari Sintiauw telah menjemputnya
lagi membawa Yo Him terbang masuk kedalam jurang yang
dalam sekali. Kini Sintiauw sudah tidak pernah dilihatnya
setelah yang terakhir kali rajawali itu terjun ke dalam jurang
dan tidak pernah muncul lagi.
Sehingga Yo Him sudah tidak bisa bertanya kepada
siapapun juga mengenai asal usulnya.
Siang itu Yo Him telah tiba dipintu sebuah kota yang tidak
diketahui namanya, Yo Him hanya melihat kota itu merupakan
sebuah kota kecil yang sedikit sekali penduduknya.
Disaat itu perut Yo Him telah berkeruyukan karena lapar,
dia memasuki kedai arak dan memesan nasi dengan dua
macam lauknya yang sederhana.

Anak ini telah memakannya dengan lahap, sampai dua
mangkok nasi dihabiskan. Setelah membayar harga barang
makanan itu, Yo Him melanjutkan perjalanannya lagi.
Tetapi sebagai seorang anak yang baru berusia tujuh
tahun, mana bisa dia merantau seorang diri ? Segala apapun
dia tidak tahu, bahkan ketika dia melihat keramaian dikota
tersebut, Yo Him sering berhenti untuk menyaksikannya.
Seperti penjual silat, pedagang barang2 mainan, dan macam2
lagi.
Dan disaat dia telah melangkah pula untuk melanjutkan
perjalanannya, tidak hentinya Yo Him menghela napas.
Dia merasakan dirinya hidup tidak wajar, sebagai seorang
anak yang berusia demikian kecil dia sudah tidak memiliki
ayah ibu, sudah tidak mengenal siapa ayahnya dan siapa
ibunya, maka diapun merasakan bahwa dirinya merupakan
seorang anak yatim piatu yang hidup dalam penderitaan.
Sedang pikiran Yo Him menerawang dibawa oleh
lamunannya, tiba2 dia mendengar suara teriakan2 nyaring,
disertai oleh suara tertawa yang nyaring.
Yo Him mengangkat kepalanya, dia melihat dari arah
depannya tampak seorang pengemis berusia belasan tahun
tengah berlari sambil ter tawa2, dikejar oleh tiga orang
pengemis lainnya lagi.
Mereka rupanya tengah main kejar2an sebab merekapun
ter tawa2 dengan riang.
Disaat pengemis yang dikejar oleh ketiga kawannya telah
berada dekat dengan Yo Him, dia berlari terus seperti ingin
menubruk Yo Him, cepat2 Yo Him menyingkir kesamping.
Tetapi gerakan Yo Him kurang cepat, sehingga bahunya
terbentur oleh tubrukan tubuh pengemis itu, sehingga tubuh
Yo Him maupun pengemis yang seorang itu bergulingan diatas
tanah.

Dengan menahan sakit Yo Him bangun berdiri untuk
menegur dan memarahi pengemis yang ceroboh itu,
Tetapi alangkah kagetnya Yo Him karena disaat dia belum
membuka mulut, justru pengemis yang seorang itu telah
berdiri tolak pinggang mengawasi Yo Him dengan mata
mendelik lebar2, mukanya galak sekali.
„Setan kecil, mengapa kau sengaja menghadang jalannya
tuan besarmu hah?" bentak pengemis itu dengan suara yang
nyaring.
Saat itu ketiga pengemis yang tadi mengejarnya telah tiba
ditempat itu, merekapun ter-tawa2 sambil mengurung Yo Him.
Tentu saja Yo Him jadi tertegun, lalu tanyanya tergagap :
„Menghadangmu? justru aku tengah berjalan baik2 telah
dilanggar olehmu sehingga aku terjatuh, bagaimana kau bisa
mengatakan bahwa aku yang telah menghadang jalanmu?
Lihatlah tanganku telah terluka!"
Sambil berkata begitu Yo Him telah mengulurkan
tangannya untuk memperlihatkan luka di tangannya, luka
terbeset. Pengemis itu mendengus galak.
„Hemmm engkau rupanya orang asing di-tempat ini dan
datang dikota ini ingin main jago2an?" bentaknya.
Muka Yo Him jadi berobah, dia jadi gugup melihat sikap
pengemis yang tidak keruan itu. „Aku sama sekali tidak usil
kepada kalian ....... minggirlah, aku mau melanjutkan
perjalanan ku !" kata Yo Him.
„Hemm, apakah begitu enak saja ingin pergi ?” bentak
pengemis itu dengan galak.
Yo Him mengerutkan sepasang alisnya.
“lalu apa yang diinginkan kalian ?" tanya nya. „Kalau
memang kalian menganggap aku bersalah, maafkanlah !"

„Hemm, begitu mudah untuk meminta maaf ? Kau harus
memberikan uang sepuluh tail kepada kami, sebagai ganti rugi
!"
„Benar !" teriak ketiga pengemis kecil lain nya dengan
suara yang nyaring, dengan muka sengaja dibuat agar terlihat
galak „Jika dia tidak mau ganti rugi , kita hajar saja biar babak
belur !"
Hati Yo Him jadi mendongkol, namun nyalinya ciut. Mana
bisa dia melawan pengemis yang lebih besar usianya dari dia ?
Terlebih lagi pengemis2 kecil itu berjumlah empat orang.
„Aku tidak memiliki uang sebanyak itu jika kalian mau, aku
bersedia membagi kalian satu tail...!" kata Yo Him kemudian.
Tetapi pengemis itu telah tertawa mengejek tahu2
tangannya telah menyambar buntalan pakaian Yo Him yang
kemudian dibawa lari dengan cepat sekali.
„Hei, hei, jangan mengambil barangku?" teriak Yo Him
gugup sekali, sambil berusaha mengejar.
Tetapi ketiga pengemis kecil lainnya telah meng halang2i
Yo Him, disaat Yo Him memaksa untuk menerobos lewat,
ketiga pengemis itu tahu2 telah mengayunkan tangan2
mereka memukuli Yo Him.
Bahkan salah seorang diantara ketiga pengemis itu telah
mendorong Yo Him, sampai anak she Yo ini telah rubuh diatas
tanah dan tubuh nya diduduki oleh dua orang pengemis yang
menghajarinya pulang pergi, sehingga muka Yo Him matang
biru dan babak belur.
Pengemis yang seorang lagi mempergunakan kakinya
menendangi muka Yo Him.
Setelah puas menyiksa Yo Him yang menjerit kesakitan,
ketiga pengemis kecil itu pun segera angkat kaki karena
mereka takut kalau suara jeritan Yo Him nanti mengundang
datangnya orang banyak.

Dengan merangkak Yo Him telah berdiri, Dia melihat
pengemis2 kecil itu sudah lenyap tidak terlihat bayangannya
lagi.
Keadaan dijalan yang seperti lorong itu sepi sekali. Yohim
merasakan seluruh tubuhnya pada sakit akibat pukulan dan
tendangan ketiga pengemis kecil itu. Disusutnya darah yang
mengucur dari mulut dan hidungnya dia berjalan dengan
tubuh yang lesu, dengan pakaian yang kotor dan pecah
sebagian, tindakan kakinya lemah dan lesu, sambil menahan
sakit yang diderita disekujur tubuhnya.
Ketika orang2 melihat keadaan Yo Him mereka hanya
menduga bahwa Yo Him adalah
seorang anak nakal yang baru berkelahi dengan anak2
sebayanya, sehingga mukanya jadi babak belur begitu.
Sedikitpun keadaan Yo Him tidak menarik perhatian orang2
disekitarnya.
Tentu saja Yo Him jadi bingung kini bajunya telah robek
dan kotor, sedangkan buntalan pakaian dan uangnya telah
dibawa lari oleh Pengemis2 kecil itu.
Maka seperti seorang pengemis kecil Yo Him telah
mengelilingi kota itu untuk mencari pengemis kecil yang telah
merampas buntalannya itu.
Tetapi sampai sore, disaat hari mulai gelap tetap saja Yo
Him tidak berhasil mencari pengemis2 itu. Bahkan celakanya,
perut Yo Him juga telah berkeruyukan lapar.
„Akhhh, inilah disebabkan kecerobohanku yang tidak berhati2,
sehingga uang dan bajuku telah dirampas oleh
pengemis2 kurang ajar itu" berpikir Yo Him didalam hatinya.
Dengan tubuh yang lesu, dan menahan lapar Yo Him telah
berjalan tanpa arah dan tujuan.

Akhirnya ketika dia tiba didekat pintu sebelah utara dari
kota tersebut, bahunya ditepuk seseorang. Tentu saja Yo Him
jadi terkejut.
Ketika dia menoleh, ternyata orang yang menepuknya itu
tidak lain dari seorang pengemis juga, usianya telah empat
puluh tahun, pakaiannya compang-camping dan kumis
maupun jenggotnya yang kasar itu tumbuh tidak teratur.
Melihat orang yang menepuknya seorang pengemis, hati Yo
Him sudah tidak senang, karena dia telah mengalami betapa
pergemis2 kecil yang tadi telah mengganggunya dan
merampas barang2nya.
Maka dari itu Yo Him telah menduga mungkin pengemis
inipun ingin mengganggunya juga.
„Anak, mengapa keadaanmu seperti ini ?” Sapa pengemis
itu dengan itu dengan suara ramah.
Sebetulnya Yo Him sudah tidak ingin melayani pengemis
itu, namun mendengar suara sipengemis yang ramah den
sabar, maka dia telah menyahuti juga. „Aku telah dihina oleh
pengemis2 sebangsamu !"
„Ihh ? !" pengemis itu mengeluarkan seruan karena
terkejut, rupanya jawaban yang diberikan Yo Him tidak pernah
diduga sebelumnya „Aku dipukuli dan juga barang2ku telah di
rampas mereka .... !" kata Yo Him lagi.
Dengan muka yang muram dan sepasang alis yang
dikerutkan, pengemis itu telah bertanya sabar ; „Apakah kau
mengetahui nama mereka ??”
„Mana tahu ? Sedang lihat saja baru tadi!" kata Yo Him
mendongkol
„Hemm, apakah ada peristiwa seperti ini?" menggumam
pengemis itu. „Apakah kau tidak berdusta?”

„Untuk apa aku membohongimu ? Apakah dengan
menceritakan pengalamanku itu kau bisa mengembalikan
barangku ? Hemm, itulah memang sudah nasibku yang buruk
!" mengeluh Yo Him sambil memutar tubuhnya, maksudnya
ingin berlalu.
“Tunggu dulu adik kecil .......!” kata pengemis itu mencegah
kepergian Yo Him.
„Ada apa lagi yang ingin kau ketahui ?" tanya Yo Him tidak
sabar.
„Aku masih ingin menanyakan kau perihal uang dan
pakaianmu yang telah dirampas itu .......”
“ Percuma . . . “
„Mengapa percuma! Katakanlah, bagaimana wajah
pengemis yang telah mengganggumu ?"
“Semuanya ada tiga orang !”
„Ihh !” kembali pengemis itu mengeluarkan suara seruan
heran. „Tiga orang ?”
„Ya," mengangguk Yo Him „Mereka baru pertama kali
kulihat dan dengan sengaja telah menubrukku, disaat itu
mereka menaduh aku justru yang telah menghadang jalan
mereka, sehingga salah seorang diantara mereka terjungkel
ditanah ! Tetapi sebenarnya bukan salahku, justru memang
mereka sengaja menubrukku...!" Pengemis itu tertawa.
„Baiklah, kini kau jelaskan wajah mereka mungkin aku bisa
bantu carikan barangmu yang telah lenyap itu."
„Ohhh, benarkah ?" tanya Yo Him girang. „Maka dari itu.
cepat kau ceritakan." kata pengemis itu lagi. „Mudahkan saja
barang itu belum dipergunakan mereka."
Mendengar itu, tentu saja Yo Him jadi girang dia
menceritakan peristiwa yang telah dialaminya dan juga
menceritakan wajah ketiga pengemis kecil itu.

Mendengar cerita Yo Him pengemis itu telah menghela
napas dalam2. semula dia menduga bahwa yang menggangu
Yo Him adalah pengemis dewasa, dan kini dia baru
mengetahui yang mengganggu Yo Him adalah pengemis2 kecil.
„Hemmm, aku tidak menyangka ada juga anak2 kami yang
nakal..." kata pengemis itu sambil menghela napas. „Mari ikut
aku, kita cari mereka!"
Yo Him ragu2, tetapi tangannya telah dicekal oleh
pengemis itu.
„Keadaanmu seperti ini, padahal kau bukan pengemis, Jika
baju dan uangmu itu tidak dicari sampai pulang kembali,
bagaimana engkau bisa bersalin pakaian dan membeli
makanan mengisi perut yang lapar?" kata pengemis itu,
Yo Him berpikir memang apa yang dikatakan pengemis itu
ada benarnya juga. Maka dia mengangguk.
„Baiklah...jika memang benar2 Lojinkee (kau siorang tua)
bisa mencarikan uang dan bajuku, tentu aku sangat berterima
kasih sekali." kata Yo Him.
„Itu urusan nanti yang terpenting kini kau harus mencari
baju dan uangmu ! Mari kita cari ketiga arak2 itu !" Dan
setelah itu sipengemis. mengajak Yo Him memasuki lorong
yang kotor dan sepi sekali.
Lorong2 itu jarang sekali dilalui orang dan dikedua pinggir
lorong itu tertutup juga oleh dinding2 tinggi dari tembok2
bangunan rumah. Disitupun tidak jarang terlihat menggeletak
pengemis2 yang tengah tertidur nyenyak.
Disaat memasuki lorong yang satu2nya tampak banyak
pengemis yang tengah duduk berkerumun.
„Akhh, Wie Tocu ( pemimpin Wie ) datang !" berseru
beberapa orang pengemis itu sambil berdiri dan
merangkapkan tangannya memberi hormat.

Melihat sikap mereka, pengemis2 itu tampaknya
menghormati sekali pengemis yang mengajak Yo Him, yang
disebutnya sebagai Wie Tocu.
Dengan muka yang muram, Wie Tocu telah berkata dengan
suara yang tawar : „Sesungguhnya memang memalukan
diantara kita terdapat anak2 nakal yang main rampas dan
main pukul! Mereka tiga orang pengemis berusia belasan
tabun telah mengganggu adik kecil ini! Apakah diantara kalian
ada yang mendengar siapa yang telah melakukannya?!"
Pengemis2 itu menggelengkan kepalanya, semuanya
mengatakan tidak tahu.
Dengan kesal Wie Tocu telah menuntun tangan Yo Him
memasuki lorong itu.
Kepada beberapa orang pengemis lainnya. Wie Tocu
menanyakan lagi perihal ketiga anak itu tetap saja tidak ada
yang mengetahui.
Dengan sendirinya Yo Him jadi putus asa dan dia berpikir
mungkin sipengemis yang dipanggil Wie Tocu ini sengaja ingin
mempermainkan dirinya atau memperdayakan dirinya agar
menjadi pengikutnya, yaitu jadi pengemis.
Setelah melalui beberapa lorong dan ber-tanya2 kepada
beberapa orang kelompok pengemis lainnya serta tetap tak
berhasil memperoleh petunjuk kepada ketiga anak pengemis
yang mengganggu Yo Him. Wie Tocu itu telah menawarkan Yo
Him kuwe kering.
„Untuk mencegah lapar...." katanya ramah. „Kau jangan
kuatir, walaupun bagaimana barangmu pasti kembali ..."
Tetapi sebegitu jauh kau ber-tanya2 kepada kawan2mu,
tidak seorangpun yang mengetahui ..." kata Yo Him bimbang.
Sipengemis tersenyum.

„Tetapi akhirnya akan diketahui juga....!" yakin sekali suara
pengemis itu. “kami memang tersebar diseluruh kota, maka
dari itu mau atau tidak kita harus mencarinya dengan
berkeliling! Percayalah nanti kita akan berhasil mencari
mereka! sekarang kau tenangkan hatimu, makanlah kue
kering itu ....!"
Yo Him memakan kue kering yang diberikan sipengemis,
tetapi dia kurang berselera, dia hanya memakan satu potong.
„Makan lebihan, nanti kau masuk angin!" membujuk
pengemis itu.
„Sesungguhnya, siapakah kau sebenarnya?" tanya Yo Him
akhirnya. ,.Tadi aku melihat semua pengemis menghormati
Lojinke.. .?!" Sipengemis tersenyum.
„Akupun pengemis biasa seperti mereka'' sahutnya seperti
ingin menyembunyikan sesuatu, Yo Him juga tidak mendesak
lebih jauh, dan mereka telah berkeliling lagi, dari lorong yang
satu kelorong yang lain,
Disaat mereka tengah berjalan menanyai pengemispengemis
yang mereka jumpai, justru di saat itu mereka
melihat dari arah belakang mereka ber-lari2 tiga sosok tubuh.
Ketika telah dekat, tampak tiga orang pengemis kecil yang ber
lari2 kearah mereka.
,,Itu mereka .... mereka yang telah mengambil barangku !"
kata Yo Him sambil menunjuk kearah ketiga pengemis kecil
itu.”
Sedangkan ketiga orang pengemis kecil itu telah tiba
dihadapan Yo Him dan Wie Tocu.
Mereka tiba2 sekali menjatuhkan diri berlutut dihadapan
Wie Tocu dan Yo Him.
„Kami memohon ampun, kami telah melakukan dosa ...... !"
berkata ketiga pengemis kecil itu.

Tentu saja perbuatan ketiga pengemis itu telah membuat
Yo Him jadi heran sekali, dia sampai mengawasi tertegun saja.
Wie Tocu tampak memandang ketiga pengemis kecil itu
dengan muka yang merah padam karena gusar.
„Kalian telah melanggar larangan, telah berani merampas
milik orang lain, lalu mengapa kalian melakukan dosa lainnya
dengan mengeroyok, dan memukuli engko kecil ini ?" bentak
Wie Tocu dengan suara yang bengis.
ketiga pengemis kecil itu berlutut sambil me-manggut2kan
kepalanya tidak hentinya, sampai kening mereka menghajar
tanah dan kening itu terluka serta mengeluarkan darah.
Merekapun menangis sedih sekali.
„Kami memang pantas menerima hukuman yang berat,
tetapi kami mohon kemurahan hati Wie Tocu untuk
mengampuni kami, mengampuni jiwa kami ..”
Dan setelah berkata begitu, ketiga pengemis kecil itu tetap
dalam keadaan berlutut, telah menggerakkan kedua tangan
mereka menghajari muka mereka dengan keras, menghantam
muka sendiri dangan tempilingan yang gencar sehingga
terdengar suara ketepak-ketepok tidak hentinya.
Keruan saja Yo Him tambah heran. Sedangkan Wie Tocu
hanya menyaksikan dengan berulang kali tertawa dingin.
Dan kemudian setelah dia melibat muka ke tiga pengemis
kecil itu babak belur, barulah Wie Tocu puas, dia mengibaskan
lengan bajunya.
„Pergilah kalian...!" katanya dengan suara yang dingin.
JILID 11

Ketiga pengemis kecil itu jadi girang bukan main, mereka
telah berlutut sambil menganggukkan kepalanya berulang kali.
„Terima kasih atas kemurahan hati Wie Tocu .. . !" kata
mereka dan segera ketiganya telah pergi meninggalkan
tempat itu. Sedangkan buntalan Yo Him tampak menggeletak
tanpa ada perobahan apa2.
Tentu saja Yo Him gembira sekali waktu melihat
barang2nya utuh, dan Wie Tocu telah mengambil buntalan itu
serta menyodorkan kepada Yo Him.
„Periksalah olehmu, apakah ada barang dan uangmu yang
hilang?" katanya.
Yo Him memeriksanya, ternyata tidak satu chi pun
uangnya terganggu.
„Tidak ada Lojinke.... dan Lojinke jangan marah, ini untuk
terima kasihku atas bantuan lojinke.....” sambil berkata begitu,
Yo Him telah mengangsurkan dua tail perak kepada
penolongnya.
Muka We Tocu jadi berubah, tampaknya dia jadi tidak
senang.
„Aku mencari2 ketiga anak itu bukan hanya sekedar
menolongi dirimu, tetapi juga menolongi nama baik Kaypang,
perkumpulan kami !" kata Wie Tocu dengan suara yang keras.
„Walaupun kami kaum pengemis, tetapi kami tidak kemaruk
uang !".
Yo Him saat itu jadi kaget melihat sipengemis mendongkol
begitu cepat2 dia meminta maaf dan menyimpan uangnya
kembali.
Wie Tocu telah menghela napas.
„Aku tahu kau memberikan uangmu itu bukan, sekali2
dengan maksud menghina" katanya. „Kau memang
memberikan setulusnya karena tidak mengetahui peraturan
Kaypang"

Yo Him heran sekali.
“Kaypang itu sesungguhnya perkumpulan apa, Lojinke”
tanya Yo Him.
„Itulah sebuah perkumpulan pengemis,yang sudah berusia
berabad abad. Kami memiliki, peraturan yang keras sekali,
yaitu tidak boleh mencuri, tidak,boleh memaksa, tidak boleh
melakukan kejahatan, tidak boleh menipu,tidak boleh bersikap
rendah.. "
Mendengar perkataan sipengemis yang biasa dipanggil
kawan2nya itu dengan sebutan Wie Tocu ini, hati Yo Him jadi
kagum.
Se tidak2nya Wie Tocu telah memperlihatkan bahwa
pengemis itu belum tentu rendah atau hina, karena
merekapun memiliki hati yang agung.
„Tetapi mengapa ketiga anak ini bisa datang
mengembalikan barang2ku?" tanya Yo Him dengan perasaan
heran.
„Seperti telah kukatakan, di dalam Kaypang kami terdapat
pantangan mencuri, merampas atau juga. menghina orang
yang lemah ....,maka di saat mereka mendengar dari
pengemis2 yang lainnya bahwa aku tengah mencarinya,
mereka jadi ketakutan dan mereka datang menemuiku untuk
mengembalikan barang2mu."
Yo Him jadi kagum sekali. „Mereka mendengar bahwa
Lojinke ..tengah., mencari mereka justru mereka ketakutan.
Tetapi mereka tidak menyembunyikan diri bahkan mereka
telah mencari Wie Tocu untuk mengakui kesalahan mereka.
Bukan main! Itulah lambang jiwa kesatria!”
Wie Tocu tersenyum mendengar perkataan Yo Him.
„Kau terlalu memuji !" katanya kemudian. „Memang sudah
menjadi peraturan rumah tangga kami karena itu semua yang
terjadi bukan suatu persoalan yang luar biasa.. !"

Setelah Yo Him mengetahui, Wie Tocu memiliki kekuasaan
dan kedudukan yang tinggi sekali dalam Kaypang, maka dari
itu tidak meng herankan, waktu ketiga pengemis kecil itu
mendengar bahwa Wie Tocu tengah mencari mereka, mereka
telah menggigil ketakutan setengah mati, karena mereka telah
melakukan perbuatan berdosa yang menjadi pantangan dari
perkumpulan mereka ... .
„Nah anak manis, kini pergilah kau melanjutkan
perjalananmu! Ake wakili ketiga anak nakal itu menyatakan
maaf !" kata Wie Tocu sambil menjura.
Tentu saja Yo Him jadi terkejut cepat2 dia menyingkir.
„Tidak berani aku menerima penghormatan begitu berat
dari Lojinke." katanya,
Dan Yo Him juga telah mengatakan terima kasih kepada
Wie Tocu,
Sedangkan Wie Tocu setelah tersenyum lagi dia memutar
tubuhnya meninggalkan Yo Him.
Yo Him mengawasi kepergian Wie Tocu, sampai bayangan
sipengemls lenyap,
Disaat itu. dari sudut sudut jalan yang gelap tahu2 telah
melompat tiga sosok tubuh kecil. Tentu saja Yo Him jadi
terkejut sekali. Terlebih lagi dia mengenali bahwa ketiga sosok
bayangan itu tidak lain dari ketiga pengemis itu.
„Apakah mereka ingin membalas sakit hati karena aku telah
membongkar rahasia mereka kepada Wie Tocu mereka itu?.”
berpikir Yo Him ngeri, karena dia takut justeru dirinya akan
dipukuli terus menerus lagi oleh ketiga pengemis itu yang
usianya memang jauh lebih besar dari dia.
Tetapi siapa sangka ketiga pengemis itu tahu2 telah
berlutut dihadapannya.

„Kongcu (tuan muda) harap mau memaafkan dosa kami,
harap kau mau mengampuni kami ..." sesambatan ketiga
pengemis kecil itu sambil menangis.
Tentu saja Yo Him jadi tertegun, dia memandang melengak
kepada ketiga pengemis kecil itu. Tidak sepatah perkataanpun
juga yang keluar dari mulutnya.
Ketiga pengemis kecil itu waktu melihat Yo Him berdiam
diri saja, jadi menangis lebih keras.
“Harap Kongcu mau mengampuni dan menolong kami l"
kata mereka dengan menangis lebin keras.
Tentu saja kelakuan ketiga pengemis kecil itu membuat Yo
Him tambah bingung.
„Menolong kalian ? Apakah kalian menghendaki aku
menderma satu dua tail perak kepada kalian?” tanya Yo Him
yang menduga bahwa pengemis2 kecil itu meminta derma
padanya.
“Ohhh, kami mana berani menerimanya ?" cepat sekali
ketiga, pengemis kecil itu telah berkata sambii menghapus air
mata, juga mereka masih dalam keadaan berlutut.
“kami hanya memohon agar kongcu memintakan
pengampunan untuk kami bertiga kepada Wie Tocu !”.
“ahh !”, Yo Him jadi mengeluarkah suara seruan tertahan,
„Bukankah Wie Tocu kalian itu sudah mengampuni, bukankah
tadi Wie Tocu ketika itu telah perintahkan kalian pergi ?”
“Benar tetapi menurut peraturan partai, besok kami akan
disidang dan dijatuhi hukuman !” menyahut ketiga pengemis
itu terisak.
Tentu saja Yo Him jadi heran.
“Tadi kelian telah menyiksa diri sendiri sampai muka kalian
babak belur dipukul oleh kalian sendiri, mana mungkin kalian
akan dijatuhi hukuman lagi ?” tanya Yo Him tidak mengerti.

Ketiga pengemis itu tetap berlutut sambil mengangguk2kan
kepalanya.
Tangisan ketiga pengemis itu juga bertambah keras dan
menyayatkan hati.
Tentu saja Yo Him tambah bingung dan gugup, tidak tahu
dia apa yang harus dilakukannya.
„Sesungguhnya...apa yang kalian kehendaki? Apa yang
kalian inginkan, dan apa yang harus kulakukan untuk kalian
bertiga ?" tanya Yo Him akhirnya.
„Kami hanya memohon kerelaan Kongcu untuk
mengampuni kami dan memohonkan pengampunan kami
kepada Wie Tocu..." kata ketiga pengemis itu.
„Apakah didalam perkumpulan Kaypang kalian memang
terdapat peraturan begitu ?".
„Kalau tidak, besok begitu kami disidang dan dijatuhi
hukuman, sedikitnya kami akan menerima hukuman yang
membuat kami bercacad seumur hidup !".
„Akhh ?" Yo Him berseru kaget. „Apakah ada peraturan
yang begitu kejam ?”
“Itu merupakan hukuman yang sangat ringan, dan kalau
kami terbukti berdosa besar, berarti kami akan menerima
hukuman mati !".
Mendengar perkataan ketiga pengemis kecil itu, Yo Him
jadi berdiri tertegun. Dia telah memandangi sejenak kepada
ketiga pengemis itu dengan wajah yang pucat, karena dia jadi
ngeri mendengar bahwa di Kaypang terdapat hikuman yang
begitu berat.
“Tolonglah kami, kongcu. tolonglah kami !", sesambatan
ketiga pengemis kecil itu.
Yohim jadi tambah binggung saja.

“Aku mana bisa menolongi kau? Wie Tocu tentu tidak akan
mengindahkan kata2ku...”.
„Tetapi justru yang menjadi korban kami adalah Kongcu,
maka asal kongcu, mau membuka satu dua patah kata
memohonkan pengampunan untuk kami, Wie Tocu tentu akan
meluluskan..."
„Dimana aku harus menemui Wie Tocu ? tanya Yo Him
ragu2.
„Mari ikut kami, kami yang akan menunjukan tempat
dimana Wie Tocu biasa berdiam," kata ketiga pengemis itu
serentak.
Dihati Yo Him tiba2 sekail muncul kecurigaan lagi terhadap
ketiga pengemis kecil ini.
Tadi ketiga pengemis ini yang telah mencelakai dan
merampas buntalannya.
Bukan sekarang mereka tengah mengatur rencana untuk
mencelakai dirinya lagi? Bukankah ketiga pengemis ini tengah
berusaha mengajak Yo Him ketempat yang sepi dan nanti
membunuhnya sambil merampas buntalannya? Dengan
demikian bukankah mereka tidak meninggalkan jejak.
Yo Him jadi ketakutan ketika berpikir begitu.Dia telah
menggeleng keras2.
„Tidak! Aku tidak mau ikut kalian" katanya kemudian
dengan suara nyaring. „Aku ada urusan penting, aku harus
pergi cepat”.
Ketiga pengemis kecil itu semula girang mendengar Yo Him
bersedia menolongi mereka.
tetapi waktu mendengar Yo Him merubah pikirannya,
wajah ketiga pengemis itu jadi pucat.
Serentak mereka telah menjatuhkan diri berlutut dihadapan
Yo Him.

„Kongcu, tolonglah jiwa kami sekali ini ...!" sesambatan
mereka sambil menangis keras.
Yo Him jadi ragu2 lagi.
Dilihat dari sikap mereka bertiga, ketiga pengemis kecil itu
bukan sedang bersandiwara, karena tampaknya ketiga
pengemis kecil itu memang tengah ketakutan.
Akhirnya setelah bimbang sejenak, Yo Him mengangguk.
„Baiklah !" Kalian tunjukan dimana aku bisa menemui Wie
Tocul" katanya.
Keruan Saja ketiga pengemis kecil itu jadi girang bukan
main.
Mereka berulang kali telah menyatakan terima kasih yang
tak terhingga.
Dengan hati yang diliputi oleh tanda tanya dan ke ragu2an,
Yo Him mengikuti ketiga pengemis kecil itu.
Ketiga pengemis kecil itu mengajak Yo Him melalui
beberapa lorong yang penuh oleh pengemis2 dari berbagai
usia dan tingkat umur.
Semua pengemis2 yang berpapasan hanya menghela
napas, bahkan ada yang menggumam.
„Salah mereka bertiga juga, yang telah berani melakukan
perbuatan hina seperti itu...!"
Tentu saja Yo Him mengetahui bahwa yang dimaksudkan
oleh orang itu adalah ketiga pengemis kecil tersebut.
Disaat itulah Yo Him baru menyadari bahwa ketiga
pengemis kecil itu memang benar2 tengah ketakutan oleh
ancaman hukuman berat dan benar2 membutuhkan
pertolongannya.
Maka Yo Him mempercepat langkahnya, agar lebih cepat
dapat menjumpai Wie Tocu.

Disaat itu ketiga pengemis kecil tersebut telah mengajak Yo
Him kesebuah tikungan jalan yang gelap.
Yo Him melihat dikejauhan tampak duduk Wie Tocu
disebuah undakan anak tangga dimuka bangunan rumah yang
sudah tua.
Cepat2 ketiga pengemis kecil itu telah menunjuk kearah
Wie Tocu sambil katanya perlahan; „Wie Tocu berada disana
kami menanti di sini".
Yo Him mengerti.
Dengan langkah lebar, Yo Him telah menghampiri Wie
Tocu, yang ternyata tengah duduk sambil setengah rebah,
memejamkan matanya rapat2.
„Wie Tocu" panggil Yo Him.
Wie Tocu seperti tidak mendengarnya.
„Wie Tocu ... aku datang ingin mengganggu mu sebentar".
Tetapi Wie Tocu seperti tidak mendengar perkataan Yo
Him, karena pengemis dengan kumis dan jenggot yang kaku
tidak beraturan itu, tetap memejamkan matanya.
„Wie Tocu. . . " panggil ! Yo Him dengan suara sengaja
diperkeras.
Per lahan2 Wie Tocu membuka sepasang matanya, dan
ketika melihat yang memanggilnya bukan seorang pengemis,
melainkan Yo Him, dia jadi terkejut, karena itu dia telah duduk
tegak dengan cepat dan wajahnya yang tadi angker telah
dihiasi senyuman.
„Akhh, kau belum pergi ?, kukira siapa, tidak tahunya kau
!” kata Wie Tocu “Ada urusan apa lagi”.
Yo Him ragu2 sejenak tetapi akhirnya dia telah berkatga
juga.

„Aku ingin meminta pertolongan sedikit dari Wie Tocu,
bolehkah aku bicara terus ?” tanya Yo Him.
„Katakanlah," kata Wie Tocu
„Sesungguhnya, kedatanganku ini untuk memintakan
pengampunan...” kata Yo Him,
„Meminta pengampunan?" „Ya," mengangguk Yo Him
“Pengampunan apa”
„Pengampunan dari hukuman”
“Kau bersalah apa ?”
„Bukan, untukku, tetapi untuk orang lain “
„Untuk orang lain?"
„Ya, untuk orang lain “
Sepasang alis Wie Tocu jadi mengkerut
„Adik kecil, aku merasa tertarik ketika pertama kali aku
melihatmu aku juga merasa kasihan ketika melihat kau
mengalami nasib buruk karena barangmu telah dirampas oleh
anak2 Kaypang. Tetapi jangaa kau berpikir yang tidak2 untuk
meminta segala macam persoalan yang bukan menjadi
urusanmu! Yang terpenting sekali kau tidak boleh usil
mencampuri urusan orang lain..."
Yo Him jadi berobah merah mukanya.
„Tetapi Wie Tocu aku benar2 membutuhkan sekali
pertolonganmu!" kata Yo Him kemudian
„Mengapa begitu?"
„Aku bermaksud menyelamatkan tiga orang anak buahmu
dari hukuman."
Mendengar perkataan Yo Him sampai disitu, muka Wie
Tocu telah berobah menjadi merah padam.

“Kau maksudkan ketiga pengemis kecil?" tanyanya dengan
suara dingin
Yo Him ragu2 sejenak melihat wajah Wie Tocu begitu rupa,
tetapi akhirnya dia jadi nekad dan telah menganggukkan
kepalanya.
„Benar!" menyahuti Yo Him.
„Plakk !" tahu2 Wie Tocu telah mengayunkan tangannya,
dia telah menghantam pilar batu, sehingga pilar itu sempal
dan sebagian menjadi bubuk. Tentu saja hal itu telah
membuat Yo Him jadi tertegun kaget, hatinya jadi ngiris
sekali.
„Kau keterlaluan sekali !" berkata Wie Tocu dengan suara
yang dingin. „Kau baru saja kutolong untuk mencari pulang
barang2mu. Kini barang2 dan uangmu telah kembali
ketanganmu, bukannya pergi membawa dirimu, engkau malah
mau usil mencampuri urusan rumah tangga dari perkumpulan
kami !".
Waktu berkata begitu, wajah Wie Tocu tampak dingin dan
juga suaranya tidak mengandung perasaan, ditekan dalam
sekali.
Yo Him jadi takut, tetapi teringat betapa ketiga pengemis
kecil itu mengalami ancaman hukuman yang katanya bisa
membuat mereka bercacad. dengan sendirinya mau tidak mau
membuat Yo Him bertekad harus menolonginya.
Setelah berpikir sejenak, tahu2 Yo Him menekuk kedua
kakinya.
Yo Him telah berlutut dihadapan Wie Tocu sambil katanya :
„Lojinke...jika memang kau mau mengampuni ketiga orang
anak buahmu itu aku bersedia untuk bekerja kepadamu satu
bulan lamanya ! Atau sebagai imbalannya kau sebutkan saja,
asal aku dapat melakukannya, pasti aku akan melakukannya
menuruti permintaanmu!"

Wie Tocu sama sekali tidak menduga bahwa Yo Him bisa
berlutut dihadapannya hanya sekedar ingin menolongi ketiga
orang pengemis kecil itu, Justeru yang ingin ditolong Yo Him
adalah pengemis2 kecil yang telah mengganggu-nya.
Untuk sejenak Wie Tocu jadi tertegun, saat itu sebetulnya
dia tengah mendongkol dan gusar tetapi dengan adanya
peristiwa yang tidak diduganya ini, dimana Yo Him berlutut
dihadapannya dengan hati tulus itu untuk menolong ketiga
orang pengemis kecil yang menjadi anak buahnya, kemarahan
dan kemendongkolan Wie Tocu seketika meiosot delapan
bagian...
Dengan mengibaskan lengan bajunya. Wie Tocu telah
membentak : „Berdirilah kau !".
Aneh sekali. Yo Him yang tengah berlutut merasakan
betapa ada serangkum kekuatan tenaga yang hebat sekali
mendorong bahunya, dan tanpa bisa ditahannya lagi tubuhnya
jadi berdiri, menuruti perintah dari Wie Tocu.
Wie Tocu mengawasi Yo Him sejenak, sampai akhirnya dia
berpikir :
„Biarlah aku menguji sampai berapa besar jiwa kesatria
yang dimilikinya..." dan setelah berpikir begitu, tampak Wie
Tocu memperlihatkan muka yang bengis dan telah berkata ;
„Apakah engkau benar2 memang ingin menolong ketiga
pengemis kecil yang pernah mengganggumu itu”
Yo Him mengangguk dengan pasti, tanpa ragu2 sedikitpun
juga.
„Benar l" sahutnya.
„Hemm, tahukah engkau bahwa didalam perkumpulan kami
terdapat peraturan yang keras, yang akan menghukum anak
buahnya yang melakukan pelanggaran. Maka dari itu hukuman
akan dijatuhkan oleh sidang yang akan kami adakan besok,
tidak bisa dibantah oleh siapapun juga! Jika memang

siterhukum meminta keringanan, maka dia harus mencarikan
wakilnya, yaitu orang lain yang bersedia berkorban untuk
mereka!"
Dan setelah berkata begitu, tampak Wie Tocu telah
menggerakan tangannya, dia telah mengibas lagi,
„Pergilah kau!" katanya. „Aku sudah mengatakan bahwa
kau tidak mungkin bisa mewakili mereka.
Yo Hijn jadi berdiri ragu2
„Sesungguhnya hukuman apakah yang akan diterima
mereka bertiga?" tanya Yo Him kemudian.
Mereka akan dipatahkan kedua kaki dan ke dua
tangannya!" kata Wie Tocu „Akkhhh!"
Memang hukuman yang disebut oleh Wie-Tocu telah
mengejutkan sekali Yo Him,
Tubuh anak itu juga telah tergetar menggigil menahan
perasaan terkejutnya, Tetapi Wie Tocu telah tertawa dingin.
„Jika memang engkau ingin mewakili ketiga pengemis kecil
itu, berarti kau harus mewakili mereka, dipatahkan kaki dan
tanganmu . . bahkan disebabkan mereka tiga orang, maka kau
harus menjalankan hukuman itu sebanyak tiga kali!"
„Sebuah cara menghukum yang kejam sekali !"
menggumam Yo Him dengan suara yang serak.
„Hemmm... bukan kejam, tetapi peraturan kami dijalankan
dengan keras. Kalau kami sendiri tidak menjunjung tinggi
peraturan kami, lalu siapa yang akan mentaatinya?"
Mendengar begitu, tentu saja Yo Him jadi berdiri
mematung sesaat lamanya.
Mana mungkin dia mewakili ketiga pengemis kecil itu,
untuk dipatahkan kedua kaki dan kedua tangannya?

Bahkan Untuk mewakili ketiga pengemis kecil itu, berarti
dia harus menjalani hukuman seperti itu sebanyak tiga kali !
Bukanlah itu merupakan Urusan yahg terlampau gila???
Melihat muka Yo Him telah berobah pucat dan berdiri
dengan tubuh yang kaku,seperti itu Wie Tocu mengeluarkan
suara tertawa dingin, kemudian Wie Tocu merebahkan
tubuhnya lagi dia telah memejamkan matanya seperti tidak
mengacuhkan lagi kepada Yo Him.
Yo Him berdiri diam ditempatnya agak lama, sampai
akhirnya dia memanggil „Wie Tocu..."
Tetapi Wie Tocu tidak menyahut, dia tetap memejamkan
matanya
„Wie Tocu... !" Yo Him telah memanggil lagi.
Wie Tocu membuka matanya tanyanya dengan suara yang
dingin.
„Apa lagi?"
„Aku ingin bertanya kepada lojinke, seumpama kata aku
mewakili mereka menjalankan hukuman, apakah ketiga
pengemis kecil itu akan bebas dari hukuman yang harus
mereka terima?"
„Oh jelas....!"
Yo Him menggigit bibirnya keras2, kemudian dengan
nekad dia berkata. “Baiklah! Baiklah..Biarlah aku yang
mewakili mereka menerima hukuman itu!"
Muka Wie Tocu jadi berobah, sepasang alis nya ber-gerak2.
„Kau ber-sungguh2?" tanyanya dengan suara tidak lancar,
„Mengapa aku harus berdusta?" tanya Yo Him lagi:
„Seorang lelaki tentu tidak akan bohong".

„Bagusi Apakah kau tidak takut kalau harus menjalankan
tiga kali hukuman seperti itu'" tanya Wie Tocu lagi.
„Mengapa harus takut! Hukuman berat dan kejam itu
diciptakan oleh manusia, untuk menghukum manusia juga,
maka walaupun manusia bersalah itu telah bertobat dan
memohon pengampunan, hukuman itu harus tetap mereka
jalankan. Dan ketiga pengemis kecil itu berjumlah tiga orang,
sedangkan aku hanya satu orang. Biarlah, dari pada mereka
bertiga harus celaka semuanya, bukankah lebih baik aku
seorang saja yang berkorban?"
„Tetapi walaupun engkau mewakili mereka engkau tetap
harus menerima tiga kali hukuman itul" kata Wie Tocu
menegasi. „Bukankah engkau mewakili tiga pengemis kecil
itu?"
„Ohh. memang begitu !" menyahut Yo Him cepat „Memang
aku telah bersiap sedia untuk menerima tiga kali hukuman
kejam itu. Bukankah menerima satu kali atau sepuluh kali
akan sama saja ? maka daripada ketiga pengemis kecil itu
mesti bercacad bertiga lebih baik hanya aku saja yang
bercacad, sama bukan ?”
Bukan main kagumnya hati Wie Tocu, dia sampai
mengawasi Yo Him dengan mata yang terpentang lebar2 dan
meng-geleng2kan kepalanya.
“bukan main” katanya beberapa kali dengan suara yang
perlahan “Engkau hebat sekali adik kecil, hebat sekali !”
Yo Him mengawasi Wie Tocu, dia heran melihat sikap Wie
Tocu seperti itu.
“Kau jangan memandang sinis kepadaku seperti itu !” kata
Yo Him mendongkol.
“Walau pun hukuman itu bukan hukuman yang ringan,
tetapi kukira masih dapat kutahan !”
Wie Tocu telah memperlihatkan ibu jarinya

“Hebat !” serunya nyaring. “Engkau hebat adik kecil !”.
Dan Wie Tocu telah tertawa gelak2 dengan suara
tertawanya yang keras sekali.
Yo Him tidak mengerti sikap Tocu itu, dia telah mengawasi
saja.
„Untuk menolongi ketiga anak kecil yang telah merampas
barang2mu, bahkan yang telah memukulimu juga, kini engkau
membelai mereka, bersedia untuk berkorban sedemikian rupa
mewakili hukuman untuk mereka, benar2 merupakan urusan
yang jarang sekali kusaksikan dalam usia sudah setua ini ...."
dan Wie Tocu telah tertawa lagi ber-gelak2 dengan keras.
Tentu Saja Yo Him belum mengerti maksud perkataan dari
Wie Tocu, tetapi dia telah melihat bahwa muka Wie Tocu
sudah tidak sedingin tadi, bahkan telah tertawa keras dan
begitu lapang.
„Baiklah !" kata Wie Tocu kemudian. „Aku membebaskan
ketiga pengemis kecil itu ....Mereka kubebaskan dari hukuman
yang seharusnya mereka terima...... dan begitu pula kau
kubebaskan juga dari hukuman itu"
Setelah berkata begitu, dengan cepat Wie Tocu
menghampiri Yo Him, sambil katanya “Mari kita mengikat tali
persahabatan... !”
Inilah suatu peristiwa yang benar2 luar biasa dan jarang
terjadi, karena sebagai orang penting di Kaypang. luar biasa
sekali dia mengajak seorang anak kecil Yo Him untuk
mengikat tali persahabatan.
Yo Him jadi memandang tertegun sejenak, tetapi kemudian
ikut tertawa.
„Lojinke engkau luar biasa juga!" kata nya „Engkau telah
mau memenuhi permintaanku untuk membebaskan ketiga
orang pengemis kecil itu dari hukuman yang seharusnya
mereka terima, sudah merupakan urusan yang

menggembirakan sekali. Bagaimana aku berani begitu kurang
ajar untuk menjadi sahabat Lojinke?" Mendengar perkataan
Yo Him, kembali Wie Tocu telah tertawa ber-gelak.
„Hahaha. dalam mengikat tali persahabatan, tidak
tergantung dari usia, tidak melihat dari tingkat dan kedudukan
! dalam mengikat tali persahabatan sejati adalah dua potong
hati yang cocok dan merasa saling menghormati! Bukankah
sebagai sahabat, kita harus tolong menolong dan menaruh
hormat dan segan ? Aku telah melihatnya, walaupun usiamu
masih demikian muda, namun engkau memiliki hati yang
benar2 gagah dan kesatria." Cepat2 Yo Him menjura.
„Lojinke terlalu memuji berat sekali" katanya.,
Tetapi Wie Tocu telah tertawa lagi. dia me narik tangan Yo
Him.
„Mari, mari! Aku akan mentraktir kau makan dan minum!"
katanya.
Yo Him ingin menolak, tetapi cekalan tangan Wie Tocu
sangat kuat, tubuhnya juga telah ditarik. Maka dari itu Yo Him
akhirnya terpaksa hanya ikut saja, kalena jika dia bertahan
tentu dirinya akan terseret dan jatuh.
Saat itu Wie Tocu telah mengajak Yo Him kesebuah rumah
arak, dia telah memilih sebuah meja dan duduk disitu sambil
memukul meja. „Mana pelayan?" teriaknya.
Dua orang pelayan segera, mendatangi dengan sikap yang
menghormat sekali.
„Wie Tocu ingin dahar dan minum apa?" Pelayan itu
dengan sikap yang sangat hormat sekali, sehingga membuat
Yo Him kembali merasa kagum kepada Wie Tocu. Karena
Walaupun dia seorang pengemis, namun kenyataannya dia
sangat dihormati sekali oleh pelayan rumah arak itu.
„Lima kati arak dan empal kati daging bakar!" kata Wie
Tocu nyaring.

Setelah pelayan pergi, Wie Tocu menunjuk kursi
dihadapannya.
„Kau duduk disitu, adik kecil." katanya, kemudian, karena
dia melihat Yo Him masih saja berdiri ditempatnya tidak
bergerak.
Yo Him ragu2 sejenak tetapi karena dia takut Wie Tocu
tersinggung dan marah, akhirnya dia telah duduk juga.
„Akhhhh...” berkata Wie Tocu itu lagi "Dan kau selanjutnya
tidak perlu merasa segan kepada sahabatmu! Karena usiaku
lebih tua banyak dari kau untuk selanjutnya akulah si kakak,
maka kau panggil aku dengan sebutan Toako, sedangkan kau
siadik, yaitu si Hiante !”
Yo Him yang tengah tertegun mendengar dan melihat sikap
Wie Tocu hanya diam mematung saja.
„Nah, Yo Hiante, kau dengar bukan perkataanku?" tanya
Wie Tocu itu sambil mengawasi Yo Him dengan disertai
tertawanya yang lebar,
Yo Him mengangguk.
„Terima kasih Lojinte ... " kata Yo Him dengan gugup.
„Mengapa masih memanggil dengan sebutan Lojinke? Aku
begini2 juga belum terlalu tua sekali untuk menjadi kakakmu!"
berkata Wie Tocu sambil tertawa. „Sebagai orang berjiwa ke
satria, apa susahnya sih mengucapkan Kata 2 Toako?"
„Baiklah Wie Toako !" mengangguk Yo Him akhirnya.
Mendengar dia dipanggil Toako, Wie Tocu telah tertawa
ber-gelak2 keras sekali, tampaknya dia girang bukan main.
„Terima kasih Hiante ! Terima kasih Yo Hiante! Ternyata
kau tidak memandang rendah aku sipengemis butut ini".

Mana berani adikmu memandang rendah Toako?" cepat2
Yo Him telah mengimbangi. Segera juga keduanya jadi asyik
ber cakap2.
Waktu pelayan mengantarkan arak dan daging bakar. Wie
Tocu telah memaksakan Yo Him meneguk satu cawan arak.
Semula Yo Him menolak, tetapi akhirnya karena didesak
terus, terpaksa dia menuruti juga perintah kakaknya itu.
Begitulah mereka telah ber cakap2 banyak sekali. Tetapi
yang pasti adalah si kakak angkat itu yang telah banyak
berbicara
Dengan mendengarkan ceritanya Wie Tocu, maka Yo Him
jadi mengetahui sedikit gambaran mengenai penghidupan
jago2 didalam rimba persilatan.
Dan disaat itu Yo Him teringat peristiwa yang telah terjadi
di kuil Kun Lun San.
Segera juga Yo Him menceritakan pengalamarnya itu
kepada Wie Toakonya itu.
„Akkhhh " berseru Wi Tocu. „Apakah ada peristiwa hebat
seperti itu? Sebelumnya tidak pernah aku mendengarnya !"
Tampaknya Wie Tocu benar2 kaget, muka nya juga telah
berobah pucat.
„Dan Yo Hiante tahukah kau nama keempat orang Mongol
yang telah mencelakai imam2 dari Kun Lun Pay itu."
Yo Him menggelengkan kepalanya.
"Sayang adikmu tidak mengetahui apa2 katanya
kemudian.
„Aneh sekali, Siapakah pendeta itu?" menggumam Wie
Tocu.
Tetapi akhirnya Wie Tocu menghela napas panjang.

„Sudahlah, urusan imam2 Kun Lun Pai itu nanti akan
kuselidiki. Nanti akan kuperintahkan beberapa orang Kaypang
untuk pergi kekuil Kun Lun Sie untuk menyelidiki urusan itu.
Dan setelah berkata begitu Wie Tocu telah merogoh
sakunya, dia telah mengeluarkan sebuah Kimpay yaitu sebuah
lencana emas.
Sambil memperlihatkan Kimpay itu, Wie-Tocu telah berkata
;
„Yo Hiante, kau lihatlah..." katanya „Walaupun aku dari
perkumpulan pengemis tetapi pay kami terbuat dari emas.
Nah. Kau peganglah Kimpay ini, kelak tentu banyak
kegunaannya untukmu. Aku menghadiahkan kenang2an
untukmu karena Toako mu di-saat sekarang ini tidak memiliki
barang lainnya Untuk dihadiahkan kepadamu !".
„Toako ?" Yo Him ragu2, karena dia melihat Kimpay itu
terbuat dari emas dan ukurannya juga agak besar.
„Terimalah, jangan kau menolak, karena jika kau menolak,
berarti menghina Toakomu !" kata sipengemis.
Dengan sikap masih ragu2 Yo Him telah menyambuti Kim
Pay itu. Dia memasukkan kedalam sakunya.
“Yo hiante kau dengarlah. Diseluruh daratan Tionggoan
tersebar anggota Kaypang" kata Wie Tocu. „Setiap propinsi,
setiap kecamatan setiap kampung dan setiap kota, pasti
terdapat anggota Kaypang. Kakakmu bukan bicara besar,
tetapi memang sesungguhnya Kaypang memiliki anggota yang
sangat banyak jumlahnya. Walaupun belum bisa disebut
sebagai perkumpulan nomor satu, tetapi tidak mudah orang
menghina Kaypang. Jika kelak suatu saat kau menemui
kesulitan, kesulitan apa saja, kau temuilah seorang anggota
Kaypang setempat dan perlihatkan Kimpay itu sambil
menyebutkan dan menceritakan kesulitanmu. maka dengan
segera kesulitanmu itu akan teratasi, walaupun dalam bentuk
apa saja kesulitan itu...!"

„Begitu hebatkah pengaruh Kimpay yang Toako hadiahkan
kepadaku?" tanya Yo Him.
Wie Tocu telah mengangguk meyakinkan, sambil katanya.
„Sekarang begini saja kau mungkin belum percaya perkataan
Toakomu, kau perlu bukti. Sekarang pergilah kau keluar, kau
pilih pengemis mana saja yang kau kira belum pernah
bertemu dengan kau, setelah kau panggil ,segera kau
perlihatkan Kimpay ini apa yang akan segera dilakukan oleh
pengemis itu pasti akan membuktikan perkataan Toakomu
yang terkebur ini...".
Yo Him jadi ragu2, tetapi karena diapun ingin mengetahui
kasiat dari Kimpay itu, akhirnya mau juga dia menuruti
perkataan kakak angkatnya itu. Namun baru saja dia berdiri,
Yo Him telah merangkapkan sepasang tangannya, dia telah
memberi hormat kepada Wie tocu.
„Jika adikmu menuruti perkataanmu, Toako, berarti adikmu
ini tidak tahu diri, tidak mempercayai perkataanmu" kata Yo
Him kemudian. „Bukankah sebagai seorang kakak, engkau
tidak akan mendustai adikmu ?" dan setelah berkata begitu Yo
Him duduk kembali di kursinya.
Wie Tocu berterima kasih atas sikap Yo Him.
Mereka telah ber-cakap2 banyak sekali, akhirnya mereka
berpisahan, karena Yo Him ber maksud melanjutkan
perjalanannya.
Semula Wie Tocu menahan Yo Him, agar bermalam dikota
tersebut, tetapi Yo Him telah menolaknya sambil menyatakan
terima kasihnya. Menurut Yo Him, dia telah terlalu banyak
merepotkan sang kakak. „Mungkin kau takut diminta tidur
diemperan toko dan ditepi jalan, bukan?" tanya Wie Tocu
sambil tertawa: „Jangan takut aku pasti akan memintakan
kamar kelas satu dirumah penginapan kelas satu !"
„Aku percaya Toako, tetapi tidak mau merepotkan Toako
lebih jauh.!" menyahuti Yo Him sambil tertawa.

Dan ber pisahlah mereka, Saat itu mendekati fajar, dimana
matahari hampir muncul memperlihatkan dirinya.
Yo Him telah melanjutkan perjalanannya meninggalkan
kota itu.
Ketika berjalan belasan lie, Yo Him telah tiba disebuah
kampung yang tidak begitu besar, dia telah menginap dirumah
seorang penduduk,
Setelah puas tidur, akhirnya Yo Him melanjutkan perjalanan
lagi.
Waktu itu sudah mendekati awal musim dingin, disaat
mana semua pohon telah gundul karena pohon itu telah
melepaskan bunga dan daunnya gugur semua... salju juga
mulai turun tipis2.
Walaupun udara belum terlalu dingin, namun nyatanya
orang jarang melakukan perjalanan dalam udara seburuk itu.
Yo Him telah membeli sebuah jubah tebal, dengan itu dia
melindungi tubuhnya dari serangan hawa dingin. Dan Yo Him
terus juga melanjutkan perjalanan.
Anak ini sama sekali tidak memiliki tujuan, dia hanya
berjalan kemana kakinya membawanya...
Waktu Yo Him tiba di kota Phui-sie-kwaan anak ini tertarik
melihat kota yang padat penduduknya dan ramai sekali,
walaupun musim dingin mulai tiba.
Waktu Yo Him memasuki pintu kota, tiba tiba dia
mendengar suara ramai. Dilihatnya banyak orang berdiri
berkerumun seperti juga tengah menyaksikan sesuatu.
Yo Him jadi tertarik, dia segera mendekati dan menyelinap
diantara orang ramai itu.
Segera juga dia mengetahui bahwa yang dikerumuni orang
itu tidak lain dari dua orang yang tengah bertempur hebat.

Kedua orang itu masing2 berusia empat puluh tahun lebih,
mereka berkelahi seru sekali dengan mempergunakan kedua
tangan mereka.
Muka mereka telah babak belur, karena keduanya telah
saling terpukul.
Yang hebat justeru adalah mereka tidak mau berhenti dari
pertempuran itu, walaupun hidung dan mulut mereka telah
mengucurkan darah,
Sedangkan belasan orang yang berkerumun itu telah
mengeluarkan suara sorakan yang ramai sekali, mereka
seperti menyaksikan dua ayam jago yang tengah diadu.
Yo Him jadi mengerutkan sepasang alisnya, dia melihat
kedua orang itu seperti manusia2 tolol yang mau diadu begitu
saja.
Saat itu salah seorang diantara keduanya telah
mengulurkan tangannya, lalu mencekik leher lawannya
dengan keras.
Tetapi lawannya itu tidak mau mengalah, dia telah
mempergunakan sikut tangan kanannya menyodok perut
lawannya.
Hebat sekali sikutannya itu. sehingga menimbulkan suara
yang nyaring.
Tubuh lawan yang disikut juga terdorong kebelakang, jatuh
terjengkang hingga cekikannya tidak bisa dipertahankan.
Sedangkan orang yang telah berhasil dengan sikutannya
itu, telah memutar tubuhnya sambil menubruk dan
menghantami muka lawannya.
Hebat sekali pukulannya itu, sehingga darah mengucur
deras dari hidung dan mulut lawannya.

Tetapi orang itu juga meronta2 dengan kedua kaki dan
tangannya, sampai akhirnya dia berhasil meloloskan diri dan
terbalik menghantam kelawannya.
Begitulah keduanya telah berkelahi terus tanpa
memperdulikan darah yang telah mengucur deras.
Orang2 yang berkerumun menyaksikan perkelahian itu,
telah ber-sorak2 riuh sekali, mereka justru menganjurkan agar
kedua orang itu terbangkit semangatnya untuk bertempur
terus.
Salju dikaki kedua orang yang tengah berkelahi itu telah
banyak yang merah oleh siraman darah, tetapi kedua orang
itu seperti tidak memperdulikannya, mereka terus juga saling
baku hantam tidak hentinya.
Tetapi, disaat orang2 yang menyaksikan perkelahian itu
tengah ber-sorak2 bergemuruh berisik sekali, tahu2 telah
melompat seorang hweshio, yang tubuhnya kurus tinggi
dengan kepala yang gundul dan jubah pendeta yang berwarna
kuning. Gerakannya begitu cepat dan gesit sekali, karena
begitu kedua kakinya hinggap, begitu kedua tangannya
bekerja.
Tahu2 pendeta itu telah mencengkeram punggung kedua
orang itu,
„Pergilah !" bentak hweshio itu. Seketika itu juga tubuh
kedua orang yang tengah bertempur itu terpelanting
bergulingan.
Mereka berdua juga mengeluarkan suara jeritan kaget.
Sedangkan orang2 yang menyaksikan perkelahian itu telah
berhenti bersorak, keadaan jadi sepi sekali.
Yo Him juga heran melihat kedatangan hweshio itu, yang
tanpa bicara dan tanpa mengucapkan sepatah kata, telah
melontarkan kedua orang yang tengah berkelahi itu.

Sedangkan kedua lelaki yang tadi bertempur telah bangun
berdiri.
Muka mereka merah padam diliputi kegusaran yang bukan
main. Dengan darah berlepotan dimuka, mereka telah
memandang bengis kepada si hweshio.
„Siapa kau kerbau gundul ?" bentak salah seorang diantara
mereka.
„Apa maksudmu begitu usil mencampuri urusan kami ?".
Hweshio kurus itu tersenyum sabar, dia telah
merangkapkan sepasang tangannya
„Siancai ! Siancai ! Justru Lolap heran melihat kalian
berkelahi begitu rupa. Apakah yang kalian perebutkan ?" tanya
sihweshio
“Buka urusanmu ! Tetapi kau telah melemparkan aku,
engkau harus mempertanggung jawabkannya!” teriak yang
seorang, yang memakai baju bulu warna abu2 dengan suara
yang bengis.
„benar ! engkau juga telah melontarkan aku maka
engkaupun harus kuhajar !” teriak yang memakai baju biru.
Lalu seperti telah berjanji, kedua orang itu serentak
melompat menerjang kearah si hweshio dia telah melancarkan
serangan pukulan yang kuat sekali.
Tetapi hweshio Itu sama sekali tidak takut sikapnya juga
tenang sekali.
Hweshio itu hanya mengawasi saja, serangan tangan kedua
orang itu yang tengah meluncur kearah muka dadanya, ketika
serangan hampir tiba, si hweshio tahu2 menggeser kakinya,
dan luar biasa sekali, tahu2 dia telah lenyap dari hadapan
kedua orang yang menyerangnya.
Tahu2 tangan si hweshio telah menepuk punggung kedua
orang itu cukup keras tepukannya, karena menimbulkan suara

“Buuukkkkk! Buukkkkk!" yang nyaring walaupun si hweshio
menepuknya perlahan sekali.
Disaat itu kedua orang tersebut tengah kehilangan
keseimbangan tubuhnya, karena sasaran mereka lenyap tiba2
dan tubuh mereka tengah menyelonong kedepan. Maka ketika
punggung mereka kena ditepuk begitu rupa, dengan sendiri
nya tidak ampun lagi mereka terjerembab dan mencium tanah
bersalju.
Merekapun telah mengeluarkan suara jeritan, karena dari
hidung mereka telah mengucur darah yang cukup banyak.
Dengan gusar kedua orang itu telah melompat berdiri lagi.
Bagaikan harimau yang terluka, keduanya telah melompat
menerjang kearah si hweshio.
Berulang kali mereka menyerang, berulang juga mereka
terjungkal rubuh kembali, seperti dipermainkan oleh si
hweshio dengan mudah.
Setelah beberapa kali mengalami kejadian .seperti itu.
akhirnya kedua orang tersebut tidak meneruskan serangan
mereka lagi, keduanya hanya berdiri mengawasi si hweshio
dengan tatapan mata takjub.
„Sudah cukup ?" mengejek sihweshio sambil tersenyum
sabar.
„Siapa kau sesungguhnya ?" bentak kedua lelaki itu hampir
berbareng.
„Lolap bergelar In Lap Siansu ...." menjelaskan hweshio itu.
„Kebetulan sekali disaat Lolap lewat ditempai ini, Lolap
menyaksikan jie wie sicu tengah saling baku hantam seperti
tidak memikirkan keselamatan diri lagi. Sesungguhnya urusan
apakah yang telah menyebabkan jie wie sicu (tuan2 berdua)
saling serang seperti itu ?".
Muka kedua laki2 itu tiba2 berobah merah.

Ternyata kedua lelaki itu adalah dua orang penduduk kota
Phui-sie-kwan. Mereka berdua sebetulnya merupakan sahabat
yang cukup akrab.
Tetapi tadi malam mereka telah mengunjungi rumah bunga
hidup, yaitu tempat pelacuran , secara kebetulan mereka jatuh
hati terhadap pelacur yang sama, maka setelah terjadi
keributan, mereka akhirnya berkelahi.
Akhirnya oleh pihak keamanan tempat pelacuran itu
mereka dipisahkan. Namun hari ini, disaat bertemu dipintu
kota, mereka telah saling sindir dan akhirnya berkelahi lagi ...
Mendengar pengakuan seperti itu, sihweshio telah meng
geleng2kan kepalanya.
„Apakah bisa dipersamakan nilai persahabatan dengan nilai
seorang pelacur?. Mengapa hanya disebabkan seorang wanita
pelacur, kalian rela untuk merusak persahabatan ?" tegur si
hweshio kemudian.
Muka kedua lelaki itu jadi berobah semakin merah. Karena
mereka mengetahui bahwa hweshio ini bukanlah hweshio
sembarangan dan memiliki kepandaian yang tinggi sekali,
maka mereka jadi menghormati.
Keduanya telah merangkapkan tangan dan memberi
hormat.
„Kami memang berpikiran cupat, Taisu...kami mengaku
bersalah !" kata mereka serentak, Kemudian keduanya saling
memberi hormat, saling meminta maaf.
Si Hweshio tampak senang melihat kedua orang itu berhasil
didamaikan.
Setelah mengucapkan kebesaran sang Budha beberapa
kali, si hweshio yang mengaku bergelar In Lap Siansu itu telah
memutar tubuhnya dan berlalu.

Yo Him tadi telah menyaksikan, betapa hweshio itu hebat
sekali kepandaiannya, juga hweshio itu sangat sabar dan
manis budi.
Karena memang tidak mempunyai tujuan yang tetap,
akhirnya Yo Him telah mengikuti hwesio itu secara diam2.
Dilihatnya In Lap Siansu memasuki sebuah rumah makan,
maka Yo Him pun memasuki rumah makan itu. Didalam hati
Yo Him merasa kagum atas kehebatan ilmu silat hweshio dan
kebijaksanaannya dalam menyelesaikan urusannya dua lelaki
itu.
Dilihatnya in Lap Siansu telah duduk di sebuah meja,
tengah menikmati tehnya.
Dia duduk membelekangi pintu, sehingga kedatangan Yo
Him tidak dilihatnya.
Cepat2 Yo Him telah memilih meja yang berjauhan dengan
sihweshio itu. sehirgga dia bisa mengawasi gerak gerik
hweshio yarg luar biasa itu.
Semula In Lap Siansu meneguk tehnya dengan berdiam diri
saja, tetapi akhirnya dia menggumam perlahan ;
„Akhh, akhh, persahabatan!" perlahan sekali suaranya, dia
juga telah meneguk tehnya lagi.
Tentu saja Yo Him jadi heran sekali melihat perlakuan
hweshio itu, yang membuat Yo Him semakin memperhatikan
In Lap Siansu,
Saat itu sihwesbio telah menggumam „Persahabatan
memang sangat berharga jika memang ingin bersahabat,
mengapa harus sembunyi2 seperti seekor tikus?. Bukankah
mengikat tali persahabatan sangat berharga sekali !”
Yo Him mendengar jelas sekali perkataan sihweshio, tetapi
dia tidak mengetahui entah perkataan In Lap Siansu itu
ditujukan untuk siapa.

Tatapi sebagai seorang anak yang sangat cerdik sekali, Yo
Him dapat meraba sedikit banyak kata2 itu merupakan
sindiran untuk dirinya,
Rupanya In Lap Siansu telah mengetahui bahwa dirinya
diikuti olehnya!
Teringat akan itu muka Yo Him jadi berobah merah
sendirinya dan diapun jadi merasa malu!
Tetapi sebagai seorang anak yang berjiwa besar. walaupun
usianya masih kecil sekali, Yo Him telah bangkit dari duduknya
dia telah menghampiri meja In Lap Siansu.
Setelah berada dihadapan, Yo Him telah merangkapkan
tangannya, dia telah memberi hormat sambil katanya: „Taisu,
kepandaianmu sangat hebat sekali, benar2 aku kagum
melihatnya!"
In Lap Siansu mengawasi Yo Him yang berdiri
dihadapannya,
„Duduklah!" katanya kemudian ramah sambil menunjuk
kursi kosong dihadapannya,
Yo Him segera duduk tanpa merasa segan lagi, karena dia
melihatnya bahwa si hweshio memiliki jiwa yang sangat
bebas.
„Siapa namamu nak ?" tanya hweshio itu. „Dan kulihat kau
tadi merasa tidak senang menyaksikan perkelahian diantara
kedua lelaki itu dipintu kota, bukan ?”
„Aku she Yo dan bernama Him" menjelaskan Yo Him. „Dan
apa yang dikatakan oleh Taisu memang benar, alangkah
memuakkan kedua orang itu berkelahi tanpa mengenal malu
saling baku hantam ditontoni oleh orang banyak Terlebih
memalukan sekali adalah urusan yang menyebabkan mereka
berkelahi ...".

Mendengar perkataan Yo Him, In Lap Siansu tersenyum
lebar sambil meng-angguk2kan kepalanya dan berulang kali
memuji akan kebesaran sang Buddha.
"Bemar !" kata In Lap Siansu akhirnya.
„justru Lolap turun tangan memisahkan mereka adalah
disebabkan memandang mukamu, anak ..".
„Ihh !” Yo Him berseru kaget.
„Mengapa begitu ?” tanyanya tidak mengerti.
„Justru Lolap memisahkan mereka disebabkan melihat kau
sebagai seorang anak dibawah umur saja telah merasa muak
melihat kelakuan kedua lelaki itu! Hanya anehnya justru Lolap
melihat orang2 lain yang menyebut dirinya telah dewasa itu
justru sama sekali tidak memperlihatkan perasaan seperti kau,
mereka bahkan girang sekali, mereka telah ber-sorak2 dan
menganjurkan kedua lelaki itu terus berkelahi, seperti juga
dua ekor ayam yang tengah diadu ...!”
Yo Him mengangguk.
„Itulah yang telah membuat aku jadi heran mengapa kedua
orang itu mau diadu dan dipertandingkan hanya dengan suara
sorak sorai belaka?" kata Yo Him. Sihweshio telah tersenyum
sabar lagi.
„Ya, begitulah sifat manusia?. yang selalu ingin
dibangkitkan emosinya" katanya. Dan setelah berkata begitu,
In Lap Siansu mengawasi Yo Him sejenak lamanya, tatapan
matanya memancarkan sinar yang sangat tajam.
„Sifatmu sangat hebat sekali nak" kata In Lap Siansu
akhirnya. „Umurmu tidak lebih dari delapan tahun, tetapi dari
sinar matamu, kau memiliki sifat2 yang jauh lebih luas dari
manusia2 yang menamakan dirinya telah dewasa"
„Taisu terlalu memuji" kata Yo Him sambil menggeleng.
„Mana bisa aku memiliki peruntungan yang begitu baik ?".

Sambil berkata begitu, Yo Him juga telah mengambil cawan
tehnya dan meneguknya beberapa kali.
In Lap Siansu telah tertawa dengan sikapnya yang sabar.
"Lolap tidak pernah mencela dan tidak pernah memuji, apa
adanya yang akan Lolap katakan dengan sesungguhnya.
Mengapa harus mencela ? Mengapa harus memuji ? Akhh,
memang kenyataan yang ada engkau merupakan seorang
anak yarg agak luar biasa. Tentu saja, sebagai seorang
manusia, Lolap bisa saja salah mata, tapi kenyataan yang ada
membuat Lolap kagum atas Kecerdasan dan juga pandangan
luas darimu"
„Dari mana Taisu bisa mengetahui bahwa aku memiliki
kecerdasan dan pandangan luas?" tanya Yo Him sambil
tersenyum, karena dia menganggap bahwa hweshio itu
memang hendak memujinya belaka.
„Hemmmm, dari sinar matamu telah memperlihatkan
bahwa engkau seorang anak agak luar biasa! Seperti tadi
waktu kau menyaksikan kedua lelaki itu saling kerkelahi satu
dengan yang lainnya, ternyata engkau telah mengawasinya
dengan sikap tidak senang. Lolap melihat sepasang alismu
mengkerut dalam, disamping itu juga kau tidak terpengaruh
seperti anak anak umumnya yang senang menyaksikan
keramaian dan juga senang sekali menyaksikan orang
berkelahi. Maka dari itu dengan adanya peristiwa seperti itulah
Lolap telah turun tangan untuk memisahkan kedua orang
lelaki yang tengah ber kelahi itu."
Yo Him menunduk, dia jadi malu sendiri karena hweshio itu
terlalu memuji dirinya.
„Sesungguhnya ingin pergi kemanakah Taisu?" tanya Yo
Him kemudian.
„Langit merupakan genting rumah Lolap, bumi merupakan
rumah Lolap, maka dimana Lolap berada, disitulah Lolap akan

menetap. Lolap hanyalah seorang pendeta pengembara yang
tidak tentu tempat tinggalnya." menyahuti pendeta itu.
“Ohhh ....!" dan Yo Him meng-angguk2 sedangkan didalam
hatinya dia telah berkata. „Sesungguhnya nasib kita hampir
serupa."
Disaat itu diantara beberapa orang tamu yang memasuki
ruang rumah makan tersebut, tampak seorang pengemis tua
berusia diantara tujuh puluh tahun, tengah memandang
kesekeliling ruangan dengan sinar matanya yang sangat
tajam. Pakaiannnya compang-camping dan dipunggungnya
menggemblok lima helai karung.
Ketika melihat si hweshio, mukanya telah berobah jadi
bengis. Wajahnya yang semula memang sudah tidak enak
dilihat itu jadi semakin tidak sedap dipandang.
Maka dari itu, dengan cepat Yo Him menundukkan
kepalanya, dia takut. kalau2 sipengemis tersinggung jika
dipandangi terus olehnya.
Tetapi siapa sangka, justru pengemis itu telah menghampiri
mejanya, malah ketika telah berada dekat dengan meja Yo
Him dan In Lap Siansu, pengemis itu telah mengeluarkan
suara tertawa dingin yang menyeramkan.
„Keledai gundul! Rupanya kau bersembunyi disini !"
katanya dengan suara yang menyeramkan sekali.
In Lap Siansu memperlihatkan sikap yang tenang sekali,
sama sekali dia tidak gugup atau takut melihat wajah
sipengemis yang menyeramkan itu.
„Siapakah sicu atau saudara?" tanyanya kemudian dengan
suara yang sabar. „Menurut Lolap, belum pernah kita
berkenalan?"
„Hemm, kau telah menghajar babak belur dua orang murid
Kaypang, apakah kau bermimpi akan dapat meninggalkan kota
ini dengan mudah begitu saja ?" mengejek pengemis itu.

„Benar, Lolap memang tadi pagi telah mengajar adat
kepada kedua Siauwkay (pengemis kecil) yang ingin coba2
mencuri uang dari seorang nyonya ! Maka jika memang Sicu
tidak senang, katakanlah dengan cara bagaimana Lolap harus
menyatakan maaf.
Sabar sekali pendeta itu, walaupun dia di bentak2 begitu
oleh sipengemis tetapi dia masih bisa bersenyum dan ber
kata2 dengan suara yang sabar sekali, dengan menanyakan
juga dengan cara apa dia bisa mengajukan permintaan
maafnya kepada pengemis itu.
Tetapi si pengemis tua itu telah mendengus dengan mata
tetap terpancar bengis,
„Hemm ....tidak akan semudah itu meminta maaf atas
dosamu," kacanya dengan dingin „Engkau seenaknya
menghajar dua murid Kaypang setelah mereka babak belur
kau tinggalkan begitu saja! Kini disaat tempat
persembunyianmu diketahui olehku, justeru kau pura2 alim
dengan menanyakan cara bagaimana untuk meminta maaf.
Sungguh kau keledai gundul yang tidak tahu malu !”'
dan setelah berkata begitu dengan cepat sekali dengan
gerakan yang sukar diikuti pandangan mata dia telah
mengulurkan tangannya mencekal batang leher sipendeta.
Sambil mengulurkan tanggannya, dia juga berkata lantang
“mari kita keluar !”.
Dengan maksud mencengkeram baju si Pendeta tentu saja
si pengemis bermaksud untuk menarik dan menyeret si
hweshio keluar dari ruangan rumah makan itu. Dia merupakan
salah seorang anggota Kaypang yang membawa karung lima
lembar, berarti dia menduduki tingkat kelima, dan tingkat
kelima dalam urutan kaypang sudah merupakan tokoh
diperkumpulan tersebut. Hanya lima tingkat dibawah Pangcu
atau Ketua Kaypang itu.

Tidak mengherankan jika pengemis ini juga memiliki
kepandaian yang tinggi sekali. Tetapi sihweshio juga tak mau
berdiam diri saja untuk dibuat malu oleh pengemis itu. Maka
dia telah mengelakkan dengan memiringkan sedikit kepalanya,
dia sama sekali tidak bangun dari duduknya.
Tentu saja hal itu membuat Yo Him terikejut sekali, karena
tidak keruan juntrungannya sipengemis main serang begitu
macam.
Melihat cengkeramannya gagal, dengan penasaran sekali
sipengemis telah mergibaskan tangannya, maksudnya akan
menghantam muka si hweshio.
tetapi dengan tenang sekali sihweshio telah mendorong
dengan tangan kanannya, sambil katanya : „Mari kita bicara
diluar saja”
Dan setelah berkata begitu, disaat tubuh si pengemis
terhuyung oleh dorongan tangannya, maka In Lap Siansu
telah bangkit dari duduknya, dia melangkah keluar dari
ruangan rumah makan itu.
Yo Him mengetahui maksud dari sihweshio yaitu sipendeta
ingin bertanding diluar saja, mengelakkan kerusakan dirumah
makan itu.
Tentu saja Yo Him jadi kagum sekali atas sikap hweshio itu,
dia telah berdiam diri dan telah bersikap sabar hanyalah
untuk menghindarkan pertandingan yang tidak karuan, yang
bisa merusak ruangan rumah makan tersebut.
Sedangkan sipengemis tua telah mengikuti melangkah
keluar dengan langkah lebar dan muka yang menyeramkan
sekali.
Yo Him juga telah cepat bangun berdiri dia ingin melihat
apa sesungguhnya yang ingin dilakukan oieh sipengemis.
Ketika si hweshio telah melangkah keluar, disaat, itu
rupanya si pengemis sudah tidak dapat menahan sabar lagi,

dengan cepat dia telah menggerakkan tangan kanannya, dia
ingin mencengkeram bahu si hweshio.
Tetapi In Lap Siansu memang memiliki Kepandaian yang
cukup tinggi, merasakan sambaran angin serangan dari arah
belakangnya, dia telah melangkah maju sambil
membungkukkan tubuhnya maka serangan itu telah mengenai
tempat kosong.
Disaat pengemis tua itu lewat menyambar tempat kosong
kesempatan itu telah dibarengi oleh si hweshio dengan
mengibaskan lengan jubahnya kebelakang, sehingga serangan
itu yang mengandung tenaga dalam sangat kuat telah
mendorong tubuh sipengemis dengan kuat sekali, sehingga
tubuh pengemis itu terhuyung karena dia sama sekali tidak
menduga bahwa dirinya akan diserang begitu rupa.
Tetapi pengemis tua tersebut juga memiliki kepandaian
cukup tinggi, tadi dia sampai terserang terhuyung begitu
karena dia tidak menyangka si hweshio akan mengambil sikap
seperti itu dan juga memang dia tidak ber waspada, sehingga
dia telah terdorong.
Tetapi sekarang ketika si hweshio telah melancarkan
serangan berikutnya lagi yang mengandung tenaga serangan
yang kuat sekali, maka sipengemis berhasil menangkis atau
mengelakkannya dengan gerakan yang cepat sekali.
Begitulah dalam waktu yang sangat singkat sekali, kedua
orang ini telah saling serang menyerang dan telah melewati
belasan jurus.
Ternyata kepandaian si hweshio ataupun kepandaian
sipengemis memang berimbang.
Bahkan sipengemis yang tengah gusar itu, telah
melancarkan serangan lebih sering dan lebih gencar
dibandingkan dengan si hweshio yang lebih banyak mengelak
dan melompat mundur menjauhkan diri.

Tentu saja sikap sihwesio membuat sipengemis tambah
penasaran sekali.
Dia telah berusaha memperhebat serangan2nya, setiap
serangannya tentu mengandung kekuatan tenaga yang bisa
mematikan. Sihweshio semakin lama jadi semakin kewalahan
melihat bahwa lawannya menyerang dia dengan nekad seperti
itu,
Maka dari itu cepat2 sihweshio telah memutar kedua
tangannya dengan cepat sekali, dia telah melindungi dirinya
dengan kedua tangannya itu dengan rapat sekali.
Sehingga sipengemis tambah mendongkol saja.
„Sreeet!" tahu2 ditangannya telah tercekal sebatang
pedang pendek yang menyerupai badik.
Dengan mempergunakan senjatanya sipengemis
melancarkan serangan dengan gencar.
Dengan adanya serangan senjata tajam seperti itu, maka
sihweshio juga tidak bisa main tangkis saja dengan tangan
kosong, bisa2 tangannya kelak terluka oleh serangan senjata
lawan.
Segera diapun telah merobah cara bersilatnya, dia main
pukul dengan mempergunakan kedua telapak tangannya,
gerakannya itu bukan main cepat dan dahsyatnya, tenaga
pukulannya juga gencar, sehingga membendung sipengemis
untuk melancarkan serangan lebih jauh.
Dari itu sipengemis juga menjadi kalap lagi, karena dia
tidak bisa memperoleh hasil apa2 walaupun dia sudah
mempergunakan senjata tajamnya.
Dengan mengeluarkan suara seruan yang sangat keras
sekali, tahu2 kedua tangan sipengemis telah bergerak, tangan
kanannya yang mencekal pisau pendeknya itu menyambar
dengan cara menyimpang dari samping, sedangkan tangan

kirinya telah menghantam dengan telapak tangannya seperti
juga dia ingin menghantam batok kepala si hweshio, yang
ingin dipukulnya hancur.
Serangan itu telah memaksa si hweshio melompat mundur
untuk mengelakkan diri.
Tetapi sipengemis tampaknya memang sengaja
melancarkan serangan tersebut untuk memancing. karena itu
tidak mengherankan jika serangan yang dilancarkannya itu
mengincar bagian yang berbahaya, tetapi cepat ditarik pulang
dan kemudian dia melancarkan serangan yang sesungguhnya
mengincar bagian yang mematikan, yaitu tepat dijurusan ulu
hati, dimana mata pedang pendeknya itu telah menyambar
secepat kilat.
Tetapi In Lap Siansu juga memiliki kegesitan. Dia memang
terkejut waktu melihat mata pedang pendek itu telah
mengincar ulu hatinya, tetapi dia tidak menjadi gugup, de
ngan cepat sekali dia menggeser tubuhrya dan
menghantamkan telapak kanannya.
Namun serangan telapak tangan kanan si-hweshio telah
disambut dengan tangkisan telapak tangan kiri sipengemis,
sedangkan, pedang pendek itu telah meluncur terus dengan
cepat, sehingga kulit dada sihweshio berhasil dilukai darahnya
mengucur, sehingga tubuh In Lap Siansu terhuyung dan akan
rubuh.
Pengemis itu juga tidak lolos dari akibat serangan telapak
tangan si hweshio, karena dengan cepat sekali tenaga dalam
yang kuat dari pendeta itu menggempur bagian dalam
tubuhnya, membuat pengemis itu telah terhuyung mundur.
JILID 12

Cepat luar biasa pengemis yang nekad itu telah melompat,
dia mempergunakan kesempatan disaat si pendeta tengah
terhuyung itu untuk menghajar kepalanya.
Tentu saja Yo Him jadi kaget sekali, dia melihat In Lap
Siansu seperti sudah tidak bisa berdiri tetap dan dengan
sendirinya sulit bagi dia untuk dapat menangkis serangan
sipengemis.
Sipengemis girang melihat serangan yang dilancarkannya
kali ini akan berhasil mengenai sasarannya, dan dia telah
berseru keras sekali sambil mengempos semangatnya
menambah tenaga serangan.
Mati2an In Lap Siansu mengangkat tangannya menangkis.
Suara benturan keras terdengar, tetapi tubuh In Lap Siansu
terhuyung kemudian terguling diatas tanah.
Sedangkan sipengemis hanya terhuyung sedikit, dia sudah
bersiap untuk melancarkan serangan lagi.
„Tahan !" tiba2 Yo Him yang melihat keadaan sihweshio
sudah tidak bisa menahan diri.
Sipengemis jadi merandek, dia menoleh dengan penasaran.
Waktu melihat yang menahannya adalah seorang anak kecil
yang tadi bersama sihweshio, dia jadi tambah gusar.
„Setan cilik" bentaknya. „Engkau juga ingin turut campur ?"
sambil membentak begitu dia telah melangkah menghampiri
Yo Him.
„Apakah kau tidak malu menganiaya orang yang sudah
tidak berdaya seperti Taisu itu ?" bentak Yo Him mendongkol
sekali.
Pengemis tua itu tertawa dingin.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun juga, dia telah
melangkah mendekati Yo Him, diayunkan tangannya, dan
„plaakk !" muka Yo Him telah. ditempilingnya dengan keras,

sehingga anak itu berputar seperti gangsing, pipinya bengkak
dan dia rubuh bergulingan ditanah.
Bukan main gusarnya Yo Him, tetapi diapun jadi takut
melihat pengemis tua itu demikian ganas.
Namun memikirkan keselamatan In Lap Siansu yang baik
hati itu, Yo Him jadi melupakan sakitnya dan telah cepat2
merangkak berdiri.
„Walaupun kau membunuh mati diriku, tetap aku tidak
ijinkan kau membunuh Taisu itu!" teriak Yo Him.
Sipengemis tertegun, tetapi kemudian dia tertawa.
„Hebat ! Hebat !" katanya. „Jadi kau ingin mati juga
membela pendeta busuk itu ? Hemm, bagus ! Aku akan
menuruti keinginanmu, sebelum menghajar mampus pendeta
itu, lebih dulu aku akan mengirimkan kau ke Giam-lo-ong !".
Dan setelah berkata begitu kembali tangan dan kakinya
bergerak, maka terdengar suara gedebak-gedebuk dimana
tubuh Yo Him dihajar pulang pergi sehingga tubuh sianak she
Yo ini seperti sebuah bola yang meng-gelinding2 diatas tanah.
Semula Yo Him tidak mengeluarkan jeritan, dia berusaha
menahan perasaan sakit itu.
Tetapi waktu melihat darah yang mulai mengucur dan
membasahi salju, tentu saja sianak she Yo ini mulai
ketakutan. Namun Yo Him menggeretekkan giginya, dia telah
berusaha menahan serangan sipengemis tua itu." Waktu
kepalan tangan sipengemis menghantam lagi, maka disaat
itulah Yo Him tidak bisa menahan perasaan sakitnya, dia
merasakan mata nya jadi brr-kunang2 gelap dan matanya
juga gelap disamping itupun kepalanya pusing, tanpa ampun
lagi tubuhnya bergulingan ditanah dengan disertai jeritannya
yang menyayatkan hati.
Tubuh In Lap Siansu jadi gemetaran keras menahan
kemarahan yang sangat.

Dia telah melompat berdiri sambil berseru; „Binatang,
mengapa kau menyiksa anak kecil ? Sungguh tidak tahu malu
!".
Sipengemis tua itu telah tertawa ber-gelak2 dengan suara
yang keras sekali, dia telah berkata kemudian ;
„Hem...engkaupun telah menghina murid Kaypang yang masih
kecil-kecil....bakankah sama saja ?".
Muka In Lap Siansu jadi berobah merah padam.
„Baik, mari kita adu jiwa ! Anak itu tidak salah apa-apa,
urusan ini tidak ada sangkut paut dengannya, kau tidak bisa
mengganggunya, karena semua perbuatanku adalah tanggung
jawabku !".'
„Kaypang bukan perkumpulan yang mudah diperhina !
Kami tidak pernah menghina orang lain, tetapi kamipun tidak
mau dihina...!".
Dan setelah berkata begitu dengan cepat dan angkuh sekali
dia menghampiri sihweshio, dengan diiringi oleh suara
bentakannya yang sangat keras, dia telah melancarkan
serangan dengan ganasnya.
Tenaga serangan yang dilancarkannya hebat sekali,
sehingga angin serangan itu men-deru2.
Sesungguhnya In Lap Siansu merasakan tubuhnya semakin
lemah saja, disamping itu juga dia merasakan luka didalam
tubuhnya cukup parah.
Maka dari itu dengan cepat sekali dia telah mengempos
semangatnya, mati-matian dia menyambuti serangan
sipengemis tua itu.
Tetapi dia tidak sanggup membendung kekuatan tenaga
menyerang dari pengemis tua itu.
Tubuh sipendeta telah terpental keras sekali, dan ambruk
diatas tanah.

Hebat kesudahan dari pukulan sipengemis karena
sihweshio hanya merintih ditanah tidak bisa segera bangkit
kembali seperti semula.
Walaupun In Lap Siansu beberapa kali telah berusaha
untuk bangkit namun dia gagal, karena matanya gelap dan
berkunang-kunang, tenaganya seperti telah lenyap...
Dalam keadaan seperti inilah dengan cepat sekali
sipengemis tua telah melompat maju, untuk melancarkan
serangan terakhir kepada sihweshio.
Yo Him yang baru saja merangkak bangun dengan kepala
yang masih pusing, jadi kaget melihat serangan sipengemis
terhadap In Lap Siansu.
Dia berseru kaget sambil memutar otak untuk menolongi
jiwa pendeta itu.
„jangan mencelakai Taisu itu !" membentak Yo Him dengan
suara yang keras sekali.
Tetapi sipengemis tidak mengacuhkan,
„Jika kau bisa menolongi pendeta ini, tolongilah !"
mengejek sipengemis sambil tangannya tetap meluncur turun
akan menghantam dada si pendeta itu yang tengah dalam
keadaan rebah.
Tentu saja Yo Him jadi putus asa, karena walaupun hatinya
ingin sekali menolongi pendeta itu, tetapi apa daya dia
memang tidak memiliki
kesanggupan apa apa.
Maka akhirnya dalam putus asanya itu, dia telah berseru
sekenanya ;
“Jika kau membinasakan Taisu itu, jiwamu tidak akan
kuampuni !" dan seruannya itu keras sekali mengandung
kemarahan dan penasaran yang bukan main.

Sipengemis itu menjadi kaget sendirinya, dia merandek dan
menahan tangannya yang tengah meluncur itu.
Setelah merandek sejenak dan tertegun segera dia tersadar
dari herannya dan menjadi gusar sekali.
“ha ha ha” dia tertawa tergelak dengan suara
menyeramkan sekali. Setan kecil seperti dirimu berani
menggertak Souw Cie Kay seperti diriku begitu rupa.
“hmm, aku tidak mau tahu siapa engkau, tetapi jika kau
mencelakai Taisu itu, jiwamu tidak akan lolos dari kematian !"
kata Yo Him yang jadi nekad. Karena sudah tidak ada jalan
lain, dia sengaja bicara besar seperti itu untuk memancing
kemarahan sipengemis untuk mengulur waktu saja, dengan
harapan In Lap Siansu dapat berdiri dan tenaganya pulih
kembali.
Tetapi sipengemis yang tengah marah itu rupanya sudah
tidak bisa menahan diri, dia telah mengeluarkan suara
bentakan bengis, tubuhnya telah melompat dan dengan cepat
sekali dia mengulurkan tangannya mencengkeram bahu Yo
Him mengangkat tubuh anak itu ketengah udara.
Yo Him meringis kesakitan, dia merasakan tulang bahunya
seperti juga akan copot dan terlepas, menimbulkan perasaan
sakit yang luar biasa.
Dengan keras pengemis tua Souw Cie Kay menggoncanggoncangkan
tubuh Yo Him dengan penasaran sekali.
„Manusia kerdil seperti engkau ini ingin membinasakan
diriku, heh ? Ingin membunuh aku ?" bentaknya dengan
bengis dan penasaran sekali.
Yo Him tidak bisa menyahuti, karena dia merasakan tulang
bahunya sakit luar biasa.
Dengan penuh kemarahan Souw Cie Kay telah mengangkat
Yo Him keatas, maksudnya ingin membantingnya, sekali
banting tentu binasalah anak kecil itu.

“Habislah jiwaku !” mengeluh Yo Him di dalam hatinya
dengan penasaran.
Si pendeta In Lap Siansu juga telah melihat peristiwa
tersebut, tetapi dia tengah terluka berat maka tidak dapat
melakukan apa-apa untuk menolongi Yo Him.
Sihweshio hanya mengeluh saja.
Saat itu tangan pengemis tua Souw Cie Kay telah
mengangkat Yo Him tinggi sekali dan baru saja dia ingin
membantingnya, tiba-tiba dari saku Yo Him jatuh semacam
benda.
Benda itu menimbulkan suara nyaring dan berkilauan
kuning.
Waktu melihat benda itu mata Souw Cie Kay jadi
terpentang lebar lebar dia telah mengawasi tertegun kearah
benda itu dengan sepasang tangannya yang mengangkat
tubuh Yo Him itu tetap ditengah udara.
Setelah berselang sejenak, dia menurunkan tubuh Yo Him
sambil disertai bentakannya. „Setan kecil, dimana kau mencuri
Kimpay itu ?"
Suara bentakan itu mengguntur dan bengis sekali,
sedangkan tangan yang satunya itu telah diulurkan untuk
mengambil Kimpay yang terjatuh ditanah.
„Jika kau menyentuh Kimpay itu, jiwamu sulit untuk
dilindungi lagi !" bentak Yo Him dengan suara yang nyaring.
Souw Cie Kay kaget, dia menarik pulang tangannya yang
tadi diulurkannya itu.
Untuk sejenak dia telah berdiri ragu-ragu.
Namun akhirnya dia telah bertanya. „Kau telah mencuri
Kimpay itu, bukan ?".

„Hemmm, apakah aku memiliki potongan sebagai pencuri
?" bentak Yo Him berani sekali, dan melihat Kimpay itu hatinya
jadi girang bukan main. Tadi dia lupa kepada Kimpay tersebut,
coba kalau tidak, siang-siang urusan In Lap Siansu sudah
dapat diselesaikan.
„Jadi....jadi kau ingin maksudkan bahwa Kim pay itu
milikmu ?" tanya sipengemis dengan suara yang tergagap dan
tidak lancar, tetapi sinar matanya itu yang masih tetap bengis
memperlihatkan bahwa dia tidak mempercayai perkataan Yo
Him. Namun untuk menuduh bahwa Yo Him yang mencuri
Kimpay itu juga merupakan urusan yang tidak mungkin,
karena pemilik Kim pay tersebut seorang tokoh hebat didalam
Kay pang, tidak mungkin Kimpaynya itu dapat dicuri seorang
anak sebesar Yo Him.
„Kimpay itu milik kakak angkatku...aku telah
dihadiahkannya....!" kata Yo Him dengan suara yang lantang
sekali.
„Hemm..." Souw Cie Kay telah mendengus dengan suara
yang dingin. Dia tidak percaya pemilik Kimpay yang sangat
terkenal sebagai tokoh didalam Kaypang mau mengangkat
adik kepada anak sebesar Yo Him. „Siapa nama kakak
angkatmu itu ?".
Sebetulnya Souw Cie Kay telah mengetahui nama orang
yang menjadi pemilik.Kimpay itu, namun sengaja dia
memancing begitu karena jika memang Yo Him dapat
menyebutkannya, berarti memang benar sianak ini tidak
berdusta, tetapi kalau Yo Him tidak bisa menyebutkan nama
tokoh Kaypang itu, tentu Yo Him telah berbohong.
Yo Him telah tertawa dingin, dia membungkukkan
tubuhnya mengambil Kimpay itu.
Diangkatnya Kimpay itu tinggi2, kemudian bentaknya
dengan suara yang lantang. „Apakah engkau masih tidak mau
berlutut melihat Kim pay ini ?"

Muka pengemis itu jadi pucat, tetapi dia masih ragu-ragu
karena tidak mengetahui siapa anak kecil ini.
Sedangkan orang-orang yang menyaksikan di tepi jalan
akan peristiwa tersebut juga jadi heran. Mereka umumnya
mengetahui siapa Souw Cie Kay, yaitu raja pengemis dikota
ini.
Tetapi kali ini berhadapan dengan seorang anak kecil
sebesar Yo Him, tampaknya raja pengemis yang terkenal
bertangan besi dan juga gagah itu jadi begitu ragu-ragu.
Sedangkan In Lap Siansu juga jadi heran sekali melihat
pengemis itu dan sikap Yo Him, sehingga dia hanya
mengawasi saja.
„Sebutkan dulu siapa nama kakak angkatmu itu.kata Souw
Cie Kay dengan suara ragu2.
„Hemm, tidak kusangka bahwa perkataan Wie Tocu tidak
tepat ! Wie Tocu mengatakan, siapa saja anggota Kaypang
jika melihat Kimpay ini tentu akan menghormatinya ! Hemm,
sungguh benda tidak punya guna !" menggerutu Yo Him dan
dia telah mengangkat Kimpay itu untuk di bantingnya.
Mendengar disebutnya nama „Wie Tocu", lemaslah kedua
lutut Souw Cie Kay, pucat pula mukanya dan menggigili
tubuhnya, gemetaran keras. Dia telah menjatuhkan diri
berlutut dihadapan Yo Him sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya dengan keras, sehingga keningnya itu telah
menghantam tanah dengan keras.
„Tecu (murid) memang sungguh kurang ajar tidak cepatcepat
menyambut kedatangan Kim pay !" berseru Souw Cie
Kay bsrulang kali, dia juga membahasakan dirinya dengan
sebutan murid. „Sungguh dosa yang sangat besar ! Sungguh
dosa yang tidak terampuni lagi....!".

Dia mengatakan dosa yang sangat besar dan dosa tidak
terampuni lagi, dimaksudkan olehnya ialah dirinya tidak bisa
memperoleh pengampunan lagi.
Bahkan tadi dia tidak mau cepat-cepat menyambut Kimpay,
sehingga Kimpay itu hampir saja dibanting Yo Him. Jika
memang tadi Kimpay itu sampai dibanting Yo Him, walaupun
dia memiliki sepuluh jiwa, tentu dia harus mati sepuluh kali !
Maka kini bukan main ketakutannya, karena jika sampai
perbuatannya itu diceritakan Yo Him kepada Wie Tocu, bukan
saja kedudukannya sebagai ketua cabang dari perkumpulan
Kaypang akan terlepas dari tangannya, dimana dia akan
dipecat, juga dirinya akan disidang dan menerima hukuman
yang berat, jika tidak kematian tentu sedikitnya hukuman
yang bisa membuat dia bercacad.
Dan sambil berlutut begitu, Souw Cie Kay juga telah
menangis ketakutan sekali.
Tentu saja semua orang yang menyaksikan jadi heran
bukan main.
Lebih-lebih In Lap Siansu.
Semuanya jadi memandang bengong saja.
„Hemm, tadi kulihat engkau bersikap begitu garang, dan
menyamakan jiwa manusia seperti jiwa kacoa !" kata Yo Him
kemudian. „Apakah kau anggap bahwa dirimu sudah berkuasa
penuh didalam dunia ini ?”.
Murid memang sugguh picik dan tidak memiliki pendidikan,
mohon kongcu mengampuni !. memang murid sangat
berdosa, dosa yang tidak terampun lagi !” dan sambil berkata
begitu. Tahu-tahu dia telah mengayunkan tangannya
menempilingi mukanya sendiri, sehingga terdengar suara
ketepak ketepok berulang kali.
Song Cie Kay menghantam mukanya sendiri bukan sekedar
memukul tetapi dia menempiling dengan mengerahkan

seluruh tenaganya, maka dari itu tidak mengherankan setiap
kali telapak tangannya itu hinggap dimukanya, maka seketika
itu juga giginya copot, sepuluh kali dia memukul, maka
sepuluh gigi yang telah copot dan jatuh diatas salju.
Dengan mengambil gigi-giginya yang telah copot itu dia
mengacungkan dengan mempergunakan kedua tangannya
kepada Yo Him, sikapnya ketakutan dan menghormat sekali.
„Murid menerima salah dan sangat berdosa, dengan
menghadiahkan gigi ini mungkin Kongcu bersedia
mengampuni jiwaku !" kata sipengemis.
Dengan perkataannya itu dia sesungguhnya ingin meminta
Yo Him agar tidak menceritakan urusan itu kepada Wie Tocu.
Sedangkan Yo Him telah memasukkan Kimpay kedalam
sakunya, dia telah mengibaskan tangannya, katanya juga;
„Kini jika kau bisa memberikan obat yang mujarab dan
menyembuhkan luka In Lap Siansu, maka jiwamu
kuampuni...!".
„Terima kasih kongcu ! Terima kasih kongcu !" kata
pengemis itu sambil memanggut-manggutkan kepalanya
berulang kali tidak hentinya.”
Kemudian dia menepuk tangannya, dari sudut-sudut jalan
tampak muncul beberapa orang pengemis.
Mereka segera dibisiki oleh Souw Cie Kay, maka seketika itu
juga pengemis-pengemis itu berlarian.
Didalam waktu yang sangat singkat, mereka telah
membawa bungkusan obat dan peralatan untuk menggodok
obat itu.
Souw Cie Kay yang telah memasak sendiri obat itu,
kemudian dia telah memberikan kepada In Lap Siansu dengan
sikap menghormat sekali.

In Lap Siansu yang sejak tadi diliputi perasaan heran dan
bingung telah berdiam diri saja.
Dia menerima obat itu dan meminumnya.
Memang pendeta itu meresakan napasnya agak lapang dan
sesak didadanya mulai lega.
Dia menghela napas,
„Terima kasih...!" katanya kepada Souw Cie Kay. dengan
sikap yang canggung.
“Tidak berani aku yang rendah menerima ucapan terima
kasih dari Taisu, sungguh, aku sirendah ini harus menerima
hukuman dari Taisu ! Dalam dua hari Taisu akan sembuh,
maka disaat itu aku sirendah melaksanakan hukuman potong
tangan atau potong kaki”
Mendengar perkataan Souw Cie Kay, muka in Lap Siansu
jadi berubah.
„Mengapa harus begitu ?” tanyanya heran.
„Aku sirendah tidak memiliki mata melanggar Taisu, telah
melakukan Kesalahan besar, maka dari itu aku hanya
menantikan hukuman Taisu!"
„Jika memang engkau telah menyadari bahwa apa yang
telah kau lakukan itu salah dan bertobat untuk apa engkau
menjalani hukuman pula ?” tanya sipendeta.
„Oh terima kasih Taisu !" kata sipengemis tua Souw Cie Kay
dengan girang. „Taisu telah memberikan kelonggaran
kepadaku sirendah".
Kemudian dia melambaikan tangannya memanggil seorang
pengemis kecil, dia mengambil golok yang diacungkan
kepadanya.
In Lap Siansu hanya mengawasi, karena dia sama sekali
tidak mengerti apa yang ingin dilakukan oleh pengemis itu.

Tetapi, dengan tidak terduga, sipengemis telah
mengacungkan goloknya, menggerakkan membacok lututnya
sendiri.
Tentu saja In Lap Siansu jadi kaget setengah mati, dia
ingin mengulurkan tangannya untuk menolongi lutut
sipengemis tua itu..
Tetapi karena dia memang dalam keadaan terluka dan.
belum sembuh, gerakannya jadi lambat dan apa yang ingin
dilakukannya itu tidak kesampaian.
Tanpa mengeluarkan jeritan bahkan dengan mulut masih
tersenyum dan berulang kali mengucapkan terima kasih, lutut
kiri dari sipengemis tua itu telah tertabas putus oleh goloknya
sendiri, darah juga segera mengucur.
Tanpa memperlihatkan perasaan sakit, sipengemis telah
melambaikan tangannya, seorang pengemis kecil telah
membawakan kain pembalut.
Luka dilututnya itu telah dibalutnya.
Kemudian dengan cepat dia telah berlutut lagi, menyatakan
terima kasih kepada In Lap Taisu.
Lalu dengan dipayang oleh beberapa orang pengemis, dia
menghadapi Yo Him, katanya. “Kongcu, aku telah berterima
kasih kongcu mau mengampuni jiwaku si Souw rendah ini,
tetapi untuk ini, walaupun kongcu memerintahkan aku harus
terjun dilautan api, tidak nantinya aku menolak, karena budi
kongcu tidak mungkin terbalas dengan jiwaku saja...!".
Melihat demikian patuhnya orang-orang Kay pang, yang
demikian ketakutan jika melakukan suatu kesalahan, bukan
main perasaan kagum di hati Yo Him.
Dia hanya merasa menyesal mengapa Souw Cie Kay harus
membuntungi kakinya sendiri.

Yo Him sama sekali tidak mengetahuinya, bahwa
sesungguhnya memang sudah menjadi peraturan didalam
Kaypang, setiap anggota yang melakukan suatu perbuatan
salah, tentu harus menerima hukuman yang berat.
Dan jika memang orang itu diampuni, tentu orang tersebut
tidak akan tenang, maka dengan melakukan perbuatan seperti
yang dilakukan Souw Cie Kay, barulah hatinya menjadi
tenang. Itupun dia masih berterima kasih bahwa jiwanya telah
diampuni oleh Yo Him...!
Setelah itu dengan dipayang oleh pengemis-pengemis
lainnya, Souw Cie Kay berlalu meninggalkan tempat itu.
In Lap Siansu menghela napas berulang kali, dia jadi
menyesal bukan main atas terjadinya urusan seperti ini.
Berulang kali dia telah menggeleng-geleng kan kepalanya
sambil mengucapkan kebesaran sang Buddha.
Saat itu Yo Him telah menghampiri In Lap Siansu.
„Bagaimana Taisu, apakah lukamu tidak membahayakan ?”
tanya Yo Him dengan suara yang ramah,
Sihweshio berusaha tersenyum.
„Untung saja ada kau, adik kecil !" katanya dengan suara
yang bersyukur, „kalau tidak tentu aku telah binasa !".
„Tetapi semua itu terjadi hanya disebab kan oleh suatu
kesalahan pengertian belaka !" kata Yo Him. „Dan celakanya
justru aku tidak ingat sejak siang-siang bahwa aku memiliki
hadiah kimpay dari Wie Tocu.coba kalau memang semula aku
mengeluarkannya, tidak sampai Taisu harus menderita luka
seperti ini....!".
“Sudahlah !" kata In Lap Siansu. „Tetapi siapakah Wie
Tocu yang kau katakan itu ?".

Yo Him menggeleng.
„Akupun tidak tahu !" katanya. „Kami hanya bertemu
secara kebetulan dan Wie Tocu mengajak aku untuk angkat
saudara, sehingga untuk selanjutnya aku memanggil Wie Tocu
dengan sebutan Wie Toako, sedangkan dia memanggil aku Yo
Hiante ! Hemm, sebagai kenang-kenangan, di hadiahkannya
kepadaku sebuah kimpay ini...!".
Kemudian Yo Him menceritakan pengalamannya itu,
dimana dia telah bertemu dengan Wie Tocu.
Bukan main kagumnya In Lap Siansu. „Siancai ! Siancai !
Rupanya bukan hanya Lolap yang melihat bahwa kau adil kecil
adalah seorang yang luar biasa !" kata sipendeta. Lihatlah,
sampai Wie Tocu bersedia mengangkat kau sebagai adiknya
dan menghadiahkan lencana kebesarannya itu, yang
menunjukkan kekuasaan yang sangat besar di kalangan
pengemis !"
Yo Him cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah.
Sedangkan In Lap Siansu telah berdiam diri termenung
seperti ada yang dipikirkan. Sedangkan orang-orang yang tadi
ramai menyaksikan perkelahian telah bubar.
„Apa yang tengah Taisu pikirkan tanya Yo Him kemudian
waktu melihat sikap pendeta itu.
„Tidak ada apa-apa yang kupikirkan... hanya saja,
sangatlah memalukan jika aku menyampai kan isi hatiku !"
kata sihweshio.
„Mengapa begitu ?" tanya Yo Him jadi heran sekali.
„Karena justru disaat ini aku tengah memikirkan untuk,
mengajakmu mengangkat saudara..." kata sihweshio
kemudian.
„Hah ?" tanya sianak she Yo terkejutTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
„Nah, tadi Lolap telah mengatakan, betapa memalukan
sekali urusan tersebut, jika sampai adik kecil menolaknya.!"
kata In Lap Siansu.
Yo Him kemudian tertawa.
„Justru aku yang Kaget mendengar orang sehebat Taisu
bersedia angkat saudara denganku !" Kata Yo Him. „Apa
kebisaanku ?".
“Wie Tocu merasa bersyukur memiliki adik seperti kau,
maka terlebih aku !” kata In Lap siansu.
Sedangkan saat itu Yo Him telah mengangguk.
“Baiklah Taisu, mari kita angkat saudara kepada langit dan
bumi “ kata Yo Him.
Dan setelah berkata begitu Yo Him telah berlutut sambil
menyoja, dan begitu pula In Lap Siansu telah berlutut juga.
Dengan disaksikan oleh langit dan bumi mereka telah angkat
saudara.
Masing2 mengeluarkan sumpahnya.
„Karena usiaku lebih muda dari Wie Tocu maka kau bisa
memanggil aku sebagai Jieko (kakak kedua) saja !" kata
sipendeta dengan sabar.
“Dan kau Hiante. engkau menjadi Samte adik ketiga.. !"
Yo Him girang sekali, dan dia juga telah berkata, “urusan
yang menggembirakan ini harus cepat2 diberitahukan kepada
Toako !"
„Benar !".
“Hanya saja, belum tentu kita bisa bertemu pula !''.
„Mengapa begitu ?".
„Karena justru aku ingin berkelana dulu, merantau seorang
diri".

„Ahhhh, Samte, kita berkelana berdua saja!" saran
sipendeta.
“Jika memang Jiko tidak memiliki urusan apa2, apa
salahnya ? Bukankah lebih menggembirakan ?” menyahuti Yo
Him.
Maka dengan gembira mereka telah memasuki rumah
makan itu lagi.
Mereka makan dan minum sepuasnya, seperti juga tengah
merayakan hari pengangkatan saudara itu.
Rupanya, yang satu kecil dan yang seorang nya tua
bangka, namun diantara mereka terdapat kecocokan yang
serasi sekali.
Mereka berdua telah ber-cakap2 dengan asyik sekali
sampai lupa waktu.
Disaat hari telah larut malam, barulah mereka memesan
sebuah kamar dan tidur sepembaringan !
Keesokan paginya barulah mereka melanjutkan perjalanan
lagi.
DENGAN adanya In Lap Siansu sebagai kawan
seperjalanannya, maka Yo Him dapat melakukan perjalanan
dengan gembira, karena ada kawan yang bisa diajak bercakap2.
Selama dua bulan mereka telah menjelajahi puluhan
kampung dan belasan kota.
Selama itu pula In Lap Siansu telah melihatnya bahwa Yo
Him sama sekali tidak mengerti ilmu silat.
Tentu saja pendeta ini jadi heran.
Begitulah pada suatu hari, disaat mereka berada dikamar
penginapan yang terletak dikota kecil Fang-cia-kwan, disaat

mana In Lap Siansu akan mulai menceritakan keadaan
didalam rimba persilatan seperti hari2 yang lalu, pendeta itu
sengaja telah bertanya kepada Yo Him ;
„Samte, menurut penglihatan Jiekomu, tampaknya kau
sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari ilmu
silat...Benarkah itu ?".
Yo Him mengangguk.
„Untuk mendengar pengalaman2 Jieko .mengenai rimba
persilatan, aku tertarik sekali...tetapi untuk mempelajari ilmu
silat, itulah urusan lain...aku sama sekali tidak tertarik".
„Kenapa ?' tanya In Lap. Siansu tertarik. Yo Him
menceritakan pengalamannya yang pernah menyaksikan
tanpa sengaja, dimana pendeta2 dari Kun Lun Pai yang telah
dibinasakan oleh empat orang Mongolia. Ratusan orang gagah
dan imam2 dari Kun Lun Sie itu semuanya mengerti ilmu silat,
tetapi mereka telah terbunuh dengan cara yang begitu
mengenaskan sekali.
In Lap Siansu juga terkejut mendengar peristiwa hebat
yang telah menimpa imam-imam Kun Lun Pai.
Se-tidak2nya urusan itu baru didengarnya, dan dia heran
sekali pendeta2 Kun Lun Pay yang lihay2 itu, bahkan.Ma Liang
Cinjin. yang berada diatas kepandaiannya, bisa dibinasakan
oleh pendeta, Mongolia bersama ketiga kawannya itu.
„Siapakah orang2 Mongolia yang hebat2 itu ?" tanya In Lap
Siansu dengan heran sekali.
„Entahlah, aku pun tidak mengetahuinya ! Hanya sejak saat
itulah aku jadi berpikir bahwa seseorang yang mempelajari
ilmu silat, tentu akan menghadapi bahaya yang tidak kecil
disetiap saat"
„Tetapi salah, Samte pandanganmu itu i Justru disebabkan
ilmu silat mereka kurang sempurna, maka imam2 Kun Lun Pai
dan orang2 gagah itu telah dibinasakan olen orang2 Mongol

itu ! Coba mereka memiliki kepandaian yang sempurna,
bukankah mereka akan berhasil membinasakan keempat
orang Mongol jahanam itu...!” Yo Him menggeleng perlahan.
„Tetapi aku sama sekali tidak tertarik untuk mempelajari ilmu
silat..." katanya.
„Jika memang demikian, akupun tidak ingin memaksanya"
kata sipendeta.
Dan mulailah In Lap Siansu menceritakan perihal keadaan
Kangouw.
Ber-macam2 cerita yang dikisahkannya, dan memang Yo
Him juga tertarik benar akan cerita ceritanya itu.
Terlebih lagi jika In Lap Siansu tengah menceritakan sepak
terjang orang2 gagah didalam rimba persilatan, yang
umumnya membela pihak yang lemah dan memberantas
sikuat jahat.
„Memang jika didalam kalangan Kang-ouw terdapat banyak
orang2 gagah, tentu kejahatan semakin sedikit !" kata Yo Him
setelah mendengar cerita sipendeta.
In Lap Siansu tertawa.
„Samte, itulah sebabnya Jiekomu ini memaksa engkau
untuk mempelajari ilmu silat ! Sekali lagi Jiekomu rewel
menganjurkan kau mempelajari ilmu silat, agar kelak kau bisa
menjadi salah seorang hohan dan enghiong untuk
memberantas sijahat ! Dengan demikian, bukankah engkau
akan membantu berlaksa manusia yang ber sengsara ?".
Yo Him tersenyum sambil menggeleng.
„Sudah kukatakan Jieko, bahwa aku tidak tertarik untuk
mempelajari ilmu silat “Tetapi aku pernah mempelajari ilmu
olah raga untuk menyehatkan tubuh.....!".
„Ilmu menyehatkan tubuh ? Apakah itu ?" tanya In Lap
Siansu tertarik.

Dan Yo Him telah turun dari pembaringan, dia meng
gerak2kan tangan dan kakinya.
Gerakannya perlahan, dan lembut sekali, tetapi gerakan2
tangan dan kaki Yo Him yang seperti anak2 yang tengah main
petak itu justru telah membuat mata In Lap Siansu jadi
terpentang lebar2.
Dia memandangi Yo Him dengan mulut yang terpentang
lebar dan muka pucat disamping juga matanya tetap ter buka
besar2.
Yo Him telah menyelesaikan latihannya, dan ketika melihat
keadaan kakak angkatnya yang kedua itu dia jadi kaget bukan
main.
“jieko, kenapa kau ?” tanya Yo Him kemudian sambil
menepuk bahu kakak angkatnya itu.
„Kau . kau...?” suara In Lap Siansu tidak lancar.
Tentu saja Yo Him tambah heran.
“Jieko !" panggilnya lebih keras.
In Lap Siansu menghela napas, dia menyebut kebesaran
sang Buddha berulang kali.
Kemudian dengan sikap yang luar biasa, In Lap Siansu
telah berkata.
“Samte, bicaralah terus terang, siapakah engkau
sesungguhnya ?" tanya In Lap Siansu.
Yo Him jadi tertegun, tapi kemudian tertawa.
“Akhh, Jieko kau ini benar2 aneh !" kata Yo Him kemudian.
“bukan aneh, bukan aneh” kata In Lap siansu dengan suara
ber-sungguh2
“telah berbulan bulan engkau berhasil menyembunyikan
kepandaian kelas satu dari mataku !”

“Kepandaian Kelas satu ?” tanya Yo Him dengan nada
kaget dan heran.
„Apa maksudmu Jieko?” sipendeta menghela napas.
“Pantas saja kau tidak mau mempelajari ilmu silat lain yang
tidak ada artinya, ternyata engkau telah memiliki ilmu mujijat
yang luar biasa sekali ! sungguh hebat !, sungguh hebat !,
kepandaian yang kumiliki tidak ada seperseratusnya! Dengan
hanya memutar jari telunjukmu saja, engkau bisa
membinasakan aku !. Pantas saja Wie Tocu begitu bersyukur
memiliki adik angkat seperti kau ! Tetapi aku., aku mana
pantas menjadi kakak angkatmu !".
Dan kembali hweshio itu telah berulang kali me-nyebut2
kebesaran sang Budha.
Yo Him jadi bingung sekali melihat sikap sihweshio,
akhirnya dia telah bertanya dengan memperlihatkan sikap
yang ber-sungguh2."
„Jieko, mari kita bicara yang sesungguhnya, jangan kau
membuat adikmu menjadi bingung tidak keruan !" kata Yo
Him. „Sesungguhnya apa maksudmu itu ?".
„Kau ternyata memiliki kepandaian yang hebat sekali, Yo
Samte ! Kau telah menipu kakakmu ini, kau tidak mau
memberitahukan kepadaku bahwa kau memiliki ilmu yang luar
biasa, sehingga aku selamanya menganggap kau tidak
memiliki kepandaian apa2".
„Aku memang sesungguhnya tidak memiliki kepandaian
apa2...dan juga belum pernah mempelajari ilmu silat !" kata
Yo Him ber-sungguh.2.
„Akhh, engkau masih berkata begitu, adikku ?" tanya In
Lap Siansu dengan suara agak keras. „Tadi jurus2 dari ilmu
pedang nomor satu tiada taranya dijagad ini, yaitu Giok Lie
Kiamhoat dan ilmu pukulan dari Kiu Im Cin Keng telah kau

mainkan dengan baik ? Bukankah ilmu itu merupakan ilmu2
silat nomor satu yang tiada taranya dikolong langit ini ?”
Yo Him jadi tertegun.
“Apa maksudmu Jieko ?” tanyanya.
“Kau masih pura2 tidak mengerti > atau engkau
menganggap Jiekomu terlalu tolol sehingga kau bisa
perbodohi terus menerus ?”
„Tetapi aku sungguh2 tidak mengerti ilmu silat apa-apa !".
In Lap Siansu tersenyum, katanya sabar “Kau memang luar
biasa Samte ! Baiklah ! Kalau memang kau keberatan untuk
menceritakan asal usul dirimu, mungkin ada sesuatu yang sulit
kau jelaskan, Jiekomu juga tidak akan mendesak terus. Tetapi
yang terpenting, kau mengakui bukan bahwa kau memiliki
ilmu tanpa tandingan dibawah langit ini ?”
" Ilmu apa ?"
“ Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie Kiam Hoat !”
„Akh ? “
Benar-benar Yo Him binggung sekali Akhir nya setelah
berpikir sejenak, karena diapun cerdas maka dia bisa
menduga-duga mengapa kakak angkatnya itu bersikap
demikian.
„Apakah ilmu yang tadi kuperlihatkan ? Ya itu ilmu olah
raga untuk menyehatkan tubuh !” tanya Yo Him akhirnya.
„Sungguh luar biasa ! Ilmu sehebat itu yang tiada duanya
dikolong langit ini kau sebut sebagai ilmu menyehatkan tubuh
!".
„Sungguh Jieko, aku mempelajari ilmu itu justru dari seekor
rajawali !".

„Hah ?" muka In Lap Siansu jadi berobah pucat, kemudian
dengan suara perlahan dia telah menggumam. „Benar, Benar,
dugaanku!..benar dia....!".
Yo Him jadi heran dan penasaran.
„Jieko,. kau jangan bersikap begitu, karena selain
membingungkan juga diliputi teka-teki ! Tidak bisakah kau
bicara terus terang ?".
Sipendeta telah mengawasi Yo Him dengan sorot mata
dalam-dalam, kemudian dengan tiba-tiba sekali dia "menepuk
lututnya keras-keras.
„Engkau she Yo, bukan ?” tanyanya cepat.
„Benar, kau sudah mengetahuinya sejak beberapa bulan"
yang lalu, Jieko !" menyahuti Yo Him.
Dan dengan tidak terduga In Lap Siansu telah bangkit
berdiri, dia telah merangkapkan sepasang tangannya, dia
telah membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
„Samte, terimalah hormat dari Jiekomu, dan apakah Sin
Tiauw Taihiap baik-baik saja ?” tanya In Lap Siansu dengan
suara menghormat sekali.
„Sin Tiauw Taihiap ? Siapa dia ?" tanya Yo Him akhirnya
bertambah bingung, dia juga jadi sibuk untuk menghindar dari
penghormatan pendeta itu.
„Yo Samte, kau jangan begitu !" kata In Lap Siansu.
„Jangan kau memungkiri terus bahwa kau adalah puteranya
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Liehiap Siauw Liong Lie !”.
„Akhh !” mata Yo Him terpentang lebar2.
Sihweshio melihat Yo Him dalam keadaan tertegun dan
heran seperti itu, dan kembali In Lap Siansu tambah heran
juga.

„Apakah benar-benar engkau tidak mengenal siapa Sin
Tiauw Taihiap dan Siauw Liong Lie Liehiap, sepasang
pendekar besar di jaman ini ?” tanyanya bersungguh-sungguh.
Yo Him menggeleng.
„Mendengarnya saja baru kali ini...!” menyahuti Yo Him.
„Engkau she Yo, juga memiliki kepandaian. Kiu Im Cin Keng
dan Giok Lie Kiam Hoat, ilmu2 yang dimiliki Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko dan Liehiap Siauw Liong Lie....maka heranlah jika
engkau mengatakan antara dirimu tidak ada hubungannya
dengan mereka...?"' Penasaran sekali suara sihweshio, dia
berkatapun sambil mengawasi tajam sekali kepada Yo Him.
Yo Him jadi mengerutkan sepasang alisnya dalam-dalam,
dia heran bukan main mendengar In Lap Siansu, si Jieko itu,
berkeras bahwa dia ada hubungan dengan Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
Sedangkan kedua orang itu memang tidak di kenalnya,
mendengar namanya saja baru kali ini.
Tetapi sebagai seorang anak yang cerdas, mengingat
bahwa dia sejak bayi dirawat oleh seekor burung rajawali,
yang juga tampaknya cerdik serta sakti sekali, maka mungkin
juga antara Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dengan rajawali sakti (Sin
Tiauw) yang merawatnya itu ada hubungannya. Atau boleh
jadi juga dirinya memiliki hubungan yang erat dengan Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie. bukankah diapun
she Yo ?
Karena berpikir begitu, maka Yo Him jadi tertarik sekali
menghadapi persoalan seperti ini.
Segera juga dia menanyakan kepada In Lap Siansu,
siapakah sesungguhnya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu ? Dan
siapa pula Siauw Liong lie.
In Lap Siansu setelah berdiam sejenak, segera
menceritakan sepak terjang Yo Ko, pendekar nomor satu

dijaman ini. Bagaimana Yo Ko telah membela yang lemah dari
tindasan sikuat jahat, bagaimana Yo Ko juga telah membantu
pemerintahan Song untuk mengusir pasukan perang tentara
Mongolia dengan membinasakan Kaisar Mangu.
Mendengar semua itu, Yo Him. jadi merasa kagum kepada
pendekar besar itu.
Walaupun dia belum pernah melihat bagaimana rupa dari
pendekar Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu, namun dia
membayangkannya dari bayang2 yang digambarkan oleh In
Lap Siansu, seorang pendekar gagah yang bermuka tampan
memiliki tangan tunggal, yaitu tangan kirinya, dengan seekor
burung rajawali saktinya....Dan juga mengenai kegagahan
Siauw Liong Lie dengan Giok Lie Kiam Hoatnya membuat Yo
Him benar2 menaruh hormat akan sifat kesatrianya pendekar
wanita itu.
„Seperti kau lihat, mereka itu memiliki kepandaian yang
sempurna sekali, maka mereka dapat melakukan pekerjaan
besar. Tetapi jika mereka memiliki pendirian seperti kau yang
tidak ingin mempelajari ilmu silat, bagaimana mereka bisa
melakukan pekerjaan besar seperti itu ?" kata In Lap Siansu
mengakhiri ceritanya.
Yo Him jadi duduk terpekur ditempatnya, dia tengah
membayangkan kegagahan Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
Betapa kagumnya dia mendengar juga perihal kegagahan
Oey Yok Su, Kwee Ceng dan Oey Yong. Begitu pula dia kagum
mendengar kehebatan kepandaian Loo Boan Tong.
Banyak orang2 gagah dimasa itu yang diceritakan oleh In
Lap Siansu, termasuk juga See Tok, Pak Kay, yaitu Ang Cit
Kong, dan yang lainnya lagi.
“dan jika melihat she yang kau pergunakan, yaitu she Yo
juga, dan ilmu yang kau perlihatkan tadi adalah ilmu simpanan
dari kedua pendekar besar itu, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko

dan Siauw Liong Lie, maka aku yakin kau memiliki hubungan
yang erat dengan mereka... !”
Yo Him hanya berdiam diri saja, sedangkan pikirannya
tengah bekerja dengan keras.
Akhirnya Yo Him menceritakan kepada In Lap Siansu, justru
dia berkelana seperti sekarang ini adalah untuk menyelidiki
asal usulnya. Karena itu dia tidak mengetahui siapa dirinya
yang sesungguhnya. Siapa ayahnya dan siapa ibunya ! sejak
kecil dia hanya dirawat oleh Sin Tiauw itu yang akhirnya telah
lenyap didekat jurang tidak pernah muncul kembali.
Mendengar cerita Yo Him, sepasang alis In Lap siansu
mengerut.
Setelah mengucapkan beberapa kali kebesaran sang
Budha, akhirnya In Lap Siansu berkata.
Akhir2 ini memang Jiekomu sering mendengar bahwa
diselatan telah muncul beberapa orang jago yang hebat2,
menurut keterangan sementara orang yang telah kembali dari
sana, menyatakan orang2 yang memiliki jiwa kesatria itu tidak
lain dari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, Oey Yong, Kwee Ceng, It
Teng Taisu. Hanya saja yang membuat Lolap kurang
mempercayai keterangan itu, justru tidak di-sebut2nya Siauw
Liong Lie".
„Dimana ada Yo Ko, tentu ada isterinya, yaitu Siauw Liong
Lie. Maka dari itu, aneh sekali jika hanya ada Yo Ko. Sampai
Lolap juga ingin menduga apakah orang itu ingin menjual
nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, untuk malang melintang
didunia persilatan ?".
„Apakah Jieko telah pergi keselatan untuk menyelidikinya ?"
tanya Yo Him tertarik.
„Semula memang Lolap bermaksud pergi ke sana, tetapi
setelah Lolap berpikir-pikir secara masak2, percuma saja.
Karena kepandaian yang dimiliki Lolap sangat rendah sekali.

Jika memang benar orang2 gagah itu Yo Ko adanya bersama
Kwee Ceng, Oey Yong dan It Teng Taisu ataupun Ciu Pek
Thong, tentu Jiekomu tidak akan mengalami suatu ancaman
bahaya apa2, tetapi jika mereka hanya menjual nama Sin
Tiauw Taihiap untuk kepentingan diri pribadi mereka sendiri,
dan mereka merupakan penjahat2 murahan, bukankah lolap
akan menghadapi bahaya yang tidak kecil ?, jelas lolap tidak
akan dapat mempertahankan diri membiarkan orang merusak
nama baik Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan lainnya, tetapi untuk
melawan mereka juga tidak akan sanggup, sebab menurut
cerita orang2 yang pernah melihat mereka bertempur,
kepandaian orang itu luar biasa sekali, dan sulit untuk
diukur.... !”
Yo Him menghela napas panjang.
“bagaimana kalau kita pergi keselatan untuk melihat benar
atau tidaknya berita itu ?” tanya Yo Him kemudian mamajukan
sarannya.
Sihweshio bimbang sejenak, tetapi kemudian dia telah
mengangguk.
„Jika memang Samte bermaksud begitu maka Jiekomu
hanya menurut saja” kata sihweshio. Hanya, Samte belum
menjelaskan, sesungguhnya ada hubungan apakah antara
Samte dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie
?".
“Apa yang telah adikmu jelaskan, semuanya itu tidak
dusta...!” kata Yo Him „Nanti jika memang orang2 gagah yang
berada di selatan itu benar2 terdapat Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
kita boleh menanyakannya, mungkin pendekar besar itu jauh
lebih tahu mengenai keadaan diriku, yang kebetulan she Yo
juga dan dirawat oleh seekor burung rajawali ! Hanya yang
hampir tidak masuk dalam pikiran, justru aku dibesarkan di
Utara, sedangkan saat sekarang mereka berkumpul diselatan,
itulah tempat yang sangat berlainan satu dengan yang lainnya
!".

In Lap Siansu juga telah menghela napas.
„Didalam dunia memang sering terjadi urusan yang aneh
dan hampir tidak bisa dibayangkan atau tidak bisa masuk
dalam akal sehat ! Kita lihat saja nanti, mudah2an asal usul
dirimu, Samte, akan dapat diketahui dengan jelas !".
Yo Him akhirnya teringat kepada beberapa macam barang
yang disimpannya, dimana barang-barang itu adalah
pemberian rajawali sebelum hari terakhir kematiannya itu.
Semula Yo Him bermaksud untuk memperlihatkan benda2
itu, namun akhirnya dia membatalkan. Walaupun In Lap
Siansu telah mengangkat saudara dengannya, tetapi jika
urusan keturunannya belum jelas, mengapa dia harus
memperlihatkan barang2 itu ? Dia bermaksud baru
memperlihatkannya nanti kepada Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
yang kebetulan sekali juga she Yo pula.
Begitulah, mereka telah memutuskan untuk berangkat
menuju kearah selatan...
KALANGAN jago2 rimba persilatan. umum nya memang
sering merantau untuk mencari pengalaman dan juga pesiar
di-tempat2 yang indah.
Begitu juga dengan In Lap Siansu. Pendeta ini adalah
seorang pendeta perantauan yang gemar sekali berkelana
dari kota yang satu kekota yang lainnya.
Kini dia melakukan perjalanan bersama Yo Him, maka itu
hatinya jadi gembira sekali disaat mereka telah tiba didaerah
selatan tersebut.
Tujuan mereka adalah Kanglam, dimana tempat tersebut
terkenal akan keindahannya, terkenal akan kecantikan
gadis2nya, terkenal juga sebagai tempat yang seringkali
dikunjungi pujangga dan penyair.

Bahkan Kanglam pernah menjadi tempat dan daerah
kekuasaan Kanglam Citkoay, guru2nya Kwee Ceng, dimana
ketujuh Manusia Aneh itu adalah keturunan dari daerah
tersebut,
Disamping Kanglam Cit-koay! Kanglam memang merupakan
tempat yang banyak sekali di datangi pendekar2 silat kelas
utama, yang akhirnya memilih tempat tersebut sebagai
kampung halaman mereka.
Pemandangan yang ada disekitar daerah Kang lam indah
sekali, walaupun musim dingin mulai tiba. Salju yang turun
ringan dan tipis2 itu ternyata menimbulkan pemandangan
yang sejuk dengan warnanya yang putih cemerlang.
Betapa sucinya salju2 itu, yang putih bagaikan putihnya
kapas dan lembut selembut sutera...
Yo Him tidak hentinya memuji akan keindahan daerah
selatan tersebut, terlebih lagi ketika mereka tiba dimuka
kampung Liang-kuang cung, sebuah daerah pinggiran dikota
Kanglam tersebut.
Pohon2 yang mulai gundul itu tidak menyebabkan rusaknya
keindahan didaerah Kanglam.
Gadis-gadisnya yang terkenal dengan kulitnya yang halus
lembut dengan sikap dan gerak gerik mereka yang menawan,
telah terkenal sekali.
In Lap Siansu telah mengatakan kepada Yo Him „Jika saja
kita berhasil menemui jago jago itu, dan mereka memang Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko dan pendekar-pendekar lainnya, maka
Lolap telah puas, ,mati dapat dengan mata yang meram. Sulit
sekali untuk menjumpai mereka...bertemu saja sulit sekali".
Yo Him girang bukan main, sebagai seorang anak berusia
delapan tahun, tetap saja Yo Him masih sering memiliki sifat
kekanak-kanakan, karena walaupun bagaimana dia masih
gemar bermain dan bersenang-senang.

Maka disaat In Lap Siansu mengajaknya untuk bermainmain
perahu, Yo Him segera menyetujuinya.
Dengan menyewa sebuah perahu, mereka telah berlayar
perlahan-lahan di sungai-sungai yang banyak terdapat di
sekitar daerah Kanglam Harus diketahui, jika didarat orang
mempergunakan kuda sebagai binatang pengangkut maka
justru perahu merupakan alat pengangkutan penting sebagai
kendaraan air...maka dari itu, tidak mengherankan setiap
sungai selalu penuh oleh perahu yang hilir mudik.
Sambil meneguk teh mereka yang hangat, In Lap Siansu
dan Yo Him menikmati keindahan disekitar sungai dimana
perahu mereka berlayar.
Sedangkan dipinggir tepi sungai itu, tampak pohon2
Yangliu yang mulai gundul dan sebagian tertutup oleh lapisan
salju.
Saat itu Yo Him tiba-tiba menunjuk kearah depannya.
„Jieko...kau lihat !".
In Lap Siansu telah menoleh dan dia melihat dua buah
perahu tengah saling kejar.
Mereka masih terpisah dalam jarak yang cukup jauh, tetapi
In Lap Siansu telah cepat-cepat mengayuh perahunya ketepi,
karena dia kuatir kalau-kalau nanti perahunya ditabrak oleh
kedua perahu yang tengah saling kejar itu.
Kedua perahu itu memang tengah saling kejar dengan
cepat, dan ketika kedua perahu itu meluncur semakin dekat,
In Lap Siansu dan Yo Him mulai mendengar suara bentakanbentakan
yang keras dan bengis sekali.
„Siangkoan Linlie !, Hentikan perahumu ! Jika tidak kalian
jangan menganggap aku keterlaluan !" teriak seorang lelaki
bercambang berewok kasar diperahu yang lainnya yang
mengejar.

Tetapi perahui yang didepan tetap saja meluncur dengan
cepat sekali tanpa memperdulikan ancaman dan teriakan
orang bermuka kasar itu.
Rupanya orang yang berewok kasar itu sudah habis sabar,
dari dalam perahunya dia telah mengeluarkan sebuah jangkar
besi yang tampaknya beratnya seribu kati lebih. Tetapi
jangkar besi itu telah diangkatnya dengan mudah dan ringan
sekali, tampaknya lelaki berewok itu sama sekali tidak
mengeluarkan tenaga untuk mengangkat jangkar besi
tersebut.
Hal itu telah membuktikan bahwa tenaga yang dimiliki
orang berewok itu sangat besar dan luar biasa sekali,
menyebabkan In Lap Siansu jadi kagurn bukan main.
“Hebat orang itu, jangkar besi seribu kati lebih dapat
diangkatnya dengan begitu mudah dan ringan !” bisik ln Lap
Siansu kepada Yo Him.
Yo Him hanya mengangguk sambil mengawasi terus.
„Tampaknya akan terjadi perkelahian ! Rupanya mereka
saling kejar mengejar bukan tengah bermain perahu, tetapi
untuk saling bertempur!" kata Yo Him kemudian.
„Benar !" mengangguk In Lap; „Tampaknya orang yang
berada diperahu didepan itu tidak mau melayaninya, atau
memang kepandaiannya masih berada dibawah kepandaian
orang berewok itu. Maka dia bermaksud melarikan diri,
menjauhkan perahunya dari perahu siberewok itu".
Yo Him mengangguk.
„Tetapi tidak lama lagi tentu akan dapat dikejar !" bisik In
Lap lagi.
Yo Him melihat perahu yang kedua itu telah meluncur
semakin mendekati perahu yang pertama itu. Rupanya orang
yang menggerakkan penggayuh perahu kedua itu sangat kuat

sekali, setiap kayu penggayuh itu digerakkan, perahu seperti
terbang meluncur dipermukaan air.
Sedangkan orang yang berada diperahu pertama itu, yang
tengah dikejar, tampaknya telah menjadi gugup sekali, dia
sampai memperdengar kan seruan tertahan.
Saai itu jarak perahu Yo Him dengan perahu yang tengah
dikejar oleh lelaki berewok itu sudah makin dekat jaraknya,
dan Yo Him mau pun In Lap Siansu sudah dapat melihat jelas
wajah orang yang mendiami perahu pertama itu.
Ternyata didalam perahu itu terdapat tiga orang. Seorang
lelaki berusia setengah baya, kurang lebih berusia lima puluh
tahun, tengah menggerakkan penggayuh perahunya dengan
tergesa dan cepat2 sekali, mukanya pucat, jenggotnya yang
pendek sebagian telah putih. Dua orang lainnya yang berada
diperahu itu dua orang wanita. Seorang wanita yang berusia
empat puluh tahun lebih dan gadis kecil berusia sebelas dua
belas tahun,
Sigadis kecil itulah yang berdiri di buritan perahu sambil
sebentar2 menoleh kebelakang sambil berseru “Musuh telah
datang dekat...musuh telah dekat...!”
Tentu saja teriakan sigadis cilik itu telah membuat silelaki
setengah baya itu jadi semakin gugup.
„Walaupun bagaimana kita harus dapat meloloskan diri dari
kejaran mereka!” kata wanita berusia empat puluhan itu, yang
rupanya menjadi ibu sigadis kecil itu, mukanya juga pucat,
tubuhnya tampak sering menggigil, matanya liar ketakutan
bukan main.
Sigadis kecil itu telah berteriak lagi. „Mereka telah
mempergunakan jangkar besi, yang siap untuk ditimpukkan
kearah perahu kita...cepat ayah cepat ayah, kita harus
berusaha menjauhi, kalau jangkar besi itu menimpah perahu
kita,

celakalah kita...!".
Sambil ber-teriak2 begitu, sigadis cilik itu tampaknya
gugup sekali.
Sedangkan lelaki berusia lima puluhan, yang memelihara
jenggot pendek yang sebagian telah putih itu, semakin cepat
dan kuat menggayuh perahunya.
Dan ibu sigadis cilik itu juga telah membantui menggayuh.
Tampaknya mereka bertiga memang tengah ketakutan
sekali, keringat tampak menitik dari kening silelaki dan wanita
tua itu, sedangkan si gadis cilik masih terus ber-teriak2
memberitahukan keadaan dan perkembangan musuh..!
Yo Him yang melihat ketiga orang itu dalam ketakutan, dan
juga melihat silelaki berewok yang mengejar dibelakang itu
memegang jangkar besi,
mengancam akan menimpuk, dia jadi merasa kasihan dan
iba kepada ketiga buronan itu.
In Lap juga telah mengerutkan sepasang alis nya.
“lni urusan dunia Kang-ouw, kita tidak boleh
mencampuri...!" Bisik In Lap Siansu kepada Yo Him. disaat dia
melihat Yo Him menoleh kepadanya, seperti ingin membuka
mulut menganjurkan agar In Lap Siansu menolongi ketiga
orang itu.
„Tetapi mereka terancam, Jieko, jika saja jangkar besi itu
menimpah perahu mereka, niscaya mereka akan terbalik dan
terluka.....!".
,,Akhh, kau belum mengerti peraturan dunia Kang-ouw,
Samte, didalam rimba persilatan selalu terdapat urusan yang
berbelit. Semula, pihak yang kita duga jahat, bisa menjadi
pihak yang benar dan baik, sedangkan pihak yang semula kita
duga baik, malah kenyataannya lain seperti ular beracun!"

„Tetapi ketiga orang itu, sigadis kecil dengan kedua orang
ibu dan ayahnya, tentunya bukan orang jahat ! Kau harus
menolongi mereka, Jieko !".
In Lap Siansu tidak menyahuti, dia hanya mengawasi
dalam2 dan tajam sekali kepada kedua perahu yang tengah
saling kejar itu dan telah berada dekat sekali dengan perahu
mereka.
„Siangkoan Lin Lie !” terdengar lelaki berewok itu telah
berteriak lagi dengan suara yang bengis sekali. „Jika memang
kau tetap tidak mau menghentikan perahu kalian, lihatlah,
kami akan segera melempar...!".
Sambil berteriak begitu, si berewok telah meng-gerak2kan
jangkarnya.
„Celaka !" mengeluh lelaki tua yang sedang mengayuh
perahunya. „Kita akan kelebuh !".
„Ya, inilah hebat !" berseru wanita disampingnya. Muka
mereka pucat.
Sedangkan sigadis cilik yang berdiri diburitan telah berseru
lantang. „Ayah, ibu Lihat mereka sudah ber-siap2 untuk
melontarkan jangkar besi itu !".
Suaranya tetap keras, tetapi didalam nadanya tergetar,
menunjukkan bahwa gadis kecil ini dalam keadaan panik dan
ketakutan.
Lelaki dan wanita yang menjadi ibu sigadis. kecil itu telah
mengayuh semakin cepat saja.
Tetapi walaupun bagaimana perahunya itu tidak berhasil
menjauhi perahu pengejarnya.
Bahkan ketika perahu sigadis cilik itu berjajar dengan
perahu Yo Him dan In Lap Siansu justru disaat itu pula lelaki
berewok itu telah melontarkan jangkarnya kearah perahu
sigadis cilik.

Suara menderu dari beratnya jangkar itu melayang
ditengah udara menyeramkan sekali.
Sigadis cilik mengeluarkan suara seruan tertahan,
sedangkan lelaki tua dan wanita setengah baya itu putus asa
dengan muka mereka yang pucat.
„Celaka !" berseru In Lap Siansu. „Kita pun akan bercelaka
! Jika jangkar itu menghantam perahu mereka, berarti akan
menimbulkan gelombang hebat dan akan menyebabkan
perahu kitapun akan terbalik atau ikut terhajar remuk oleh
jangkar itu !".
Yo Him jadi kaget, dia memasang mata tajam2, dilihatnya
jangkar telah menyambar datang dan hanya terpisah
beberapa tombak lagi saja.
Hati Yo Him jadi tercekat, namun disaat itu juga In Lap
Siansu telah mengempos seluruh tenaganya dikedua
pundaknya, dia telah melompat berdiri diujung perahunya,
diapun mengangkat kedua tangannya, kemudian ber-siap2
dengan kuda2 kedua kakinya untuk menyambuti jangkar yang
berat itu.
„Wutt...!" jangkar besi itu telah berhasil diterima oleh In
Lap Siansu dengan mempergunakan kedua tangannya.
Tubuh In Lap Siansu tergetar keras, dan kakinya agak
gemetar.
Ujung perahu juga agak tertekan dan masuk kedalam
permukaan air.
Inilah celaka !
Jika sampai terlambat untuk mengimbangi keseimbangan
yang ada, niscaya perahu In Lap Siansu akan terbalik!
Untung saja lelaki tua yang tadinya sudah berputus asa,
yang tadi mengayuh perahunya gadis cilik itu, ketika melihat
ada seorang hweshio yang telah menolonginya menyambuti

jangkar besi itu dan melihat ujung perahu dimana kedua kaki
sihweshio berpijak itu agak melesak kedalam air dan ujung
yang satunya terangkat, tanpa mengucapkan sepatah
perkataan dia telah melompat keujung yang satunya dan
berdiri disitu dengan mengerahkan kekuatan kaki seribu kati.
Dengan cara demikian, perahu In Lap Siansu bisa
diselamatkan.
Dengan cepat In Lap Siansu mengerahkan tenaganya, dia
memusatkan dikedua lengannya lalu disertai oleh suara
seruan, ini kukembalikan kepadamu!”, Jangkar itu telah
didorongnya keras sekali, kembali meluncur, ketuannya !
Dengan mudah lelaki berewok itu telah menyambuti
jangkar itu
Dangan muka yang merah padam dia telah mengawasi In
Lap Siansu.
„Keledai gundul !" bentak siberewok dengan suara yang
bengis. siapa kau ? Mengapa kau demikian usil mencampuri
urusan kami ? Apakah, kau tidak mengenal peraturan
Kangouw sehingga berani mencampuri urusan ?”
Ditegur begitu, In Lap Siantu telah merangkapkan kedua
tangannya, dia telah menjura sambil berkata. „Maafkan, bukan
maksud Lolap ingin membantui orang yang tidak Lolap kenal,
tetapi justru jangkar itu telah mengancam keselamatan perahu
dan Lolap sendiri. Maka terpaksa Lolap harus menyambuti !
Siapakah siecu, mengapa harus mempergunakan kekerasan
kepada ketiga orang itu ?”.
Muka siberewok telah berobah tidak sedap dilihat, dia telah
yakin bahwa hweshio yang tengah dihadapinya ini adalah
seorang beribadat yang memiliki kepandaian yang tinggi dan
tidak boleh dibuat main2.
Maka sebelum dia ber-kata2, siberewok telah mengibaskan
tangannya, dari arah belakang perahunya muncul enam lelaki

yang umumnya memiliki muka bengis dan tubuh yang tinggi
dan tegap. Mereka masing2 mencekal sebatang golok.
Disaat itu In Lap Siansu jadi terkejut.
Dia melihat setiap dada dari keenam lelaki itu terdapat
sebuah sulaman naga yang berukuran kecil, maka dia telah
berseru ; „Akhh, kira nya kalian dari Pek Liong Kauw !”
„Tepat !" mengangguk siberewok. „Rupanya Taisu
mengetahui juga Pek Liong Kauw (perkumpulan naga putih)
kami ?.
“memang telah lama lolap mendengar nama besar Pek
Liong Kauw, dan telah lama pula Lolap merasa kagum akan
sepak terjang Pek Liong Kauw yang merupakan gerakan
enghiong dan hohan (orang2 gagah) ..! Tetapi sekarang,
mengapa justru kini Lolap bisa menyaksikan peristiwa yang
tidak begitu enak dilihat ?”
Siberewok itu ternyata cerdik dan telinganya tipis, dia
mengetahui bahwa dirinya tengah disindir oleh sipendeta,
tetapi karena hweshio itu bicara mempergunakan aturan yang
dengan sendirinya siberewok juga tidak bisa main labrak.
“Baiklah, Taisu mungkin belum mengetahui urusan yang
sesungguhnya !, Ayah dan anak itu, berikut wanita siluman
itu, telah mencuri kitab pusaka kami !"
„Akh ?” terkejut In Lap Siansu. Jika memang dalam urusan
curi mencuri, itu adalah urusan kedua belah pihak.
Pihak yang pertama adalah pihak yang mencuri, dia harus
mempertanggung jawabkan perbuatannya, sedangkan pihak
kedua adalah pihak yang dicuri, jika memang dia memiliki
kepandaian yang tinggi, tentu dia akan melakukan
pengejaran, tetapi jika kurang tinggi kepandaiannya tentu
akan meminta bantuan sahabat 2 dari rimba persilatan.

Maka dari itu didalam rimba persilatan juga telah terdapat
peraturan yang tidak tertulis, bahwa urusan dendam, urusan
pencurian, ataupun urusan membalas sakit hati, tidak boleh di
campuri oleh pihak luar.
Tetapi tidak jarang pula, didalam urusan2 seperti itu.
terselip urusan penasaran !
Namun kini, sipendeta mendengar bahwa si gadis cilik
bertiga dengan ayah dan ibunya itu telah mencuri kitab
pusaka dari pihak Pek Liong Kauw, sudah tentu In Lap Siansu
tidak bisa untuk mencampurinya, karena walaupun bagaimana
tidak bisa dia membawa adat untuk mencampuri terus, setidak2nya
dia yang akan bentrok dengan pihak Pek Liong
Kauw. sedangkan sipencuri dengan mudah akan angkat kaki.
„Bohong !" teriak sigadis cilik dengan suara yang lantang
waktu dilihatnya sipendeta yang menjadi tuan penolong
mereka itu: ragu2. ..Kami tidak mencuri apa2...hanya mereka
yang telah menuduh secara sembrono dan tidak2 !”.
Benar2 membingungkan jika urusan seperti itu ingin
dicampurinya, maka In Lap Siansu yang memang mengerti
peraturan Kang-ouw, telah cepat2 merangkapkan tangannya.
„Silahkan kalian urus sendiri...Lolap tidak bisa
mencampurinya..."
Dan setelah berkata begitu, dia mengayuh perahunya,
maksudnya untuk melanjutkan perjalanan nya. Sedangkan Yo
Him jadi kaget.
„Jieko...mengapa kau hanya menolong setengah2 ?”
tanyanya.
In Lap Siansu telah meng-geleng2kan kepalanya.
„Kita jangan mencampuri ! Itulah terbaik!" katanya
kemudian.
„Mengapa ?' tanya Yo Him penasaran. : „Karena urusan
didalam kalangan Kang-ouw sangat banyak sangkut kaitnya,

tidak mudah kita berpihak kepada salah satu pihak, karena
belum tentu pilihan kita itu benar !".
„Hemm, tetapi bagaimana nasib ketiga orang itu ?
Sedangkan siberewok yang tampaknya jahat itu bertujuh !".
„Biarlah mereka selesaikan urusan curi mencuri itu !
Bukankah Samte telah mendengarnya, dari pihak gadis cilik itu
telah membantah, sedangkan dari. pihak Pek Liong Kauw
telah menuduh mereka, sehingga kita tidak mengetahui, pasti
harus berdiri di pihak mana, Jika kita mesti bantui sigadis kecil
itu, berarti kita membela pihak pencuri, tetapi jika kita berdiri
dipihak Pek Liong Kauw, tahu2 tuduhan mereka kosong,
bukankah kita kesalahan tangan ?”
Yo Him jadi bingung, apalagi dia melihat gadis cilik itu
bersama dengan ayah ibunya tengah memandang kearah
mereka dengan sorot mata meminta untuk ditolong.
Karena dalam keadaan terdesak seperti itu Yo Him tidak
bisa berpikir lama2, dia jadi ne kad, akhirnya dengan cepat
disaat perahu In Lap Siansu akan menjauh, dan ujung perahu
saling berdekatan satu dengan yang lainnya, Yo Him telah
melompat keperahu gadis cilik itu.
,,Yo Samte ! Apa yang ingin kau lakukan ? teriak In Lap
Siansu kaget.
Tetapi Yo Him sudah tidak melayani lagi Jiekonya itu, dia
telah berdiri diujung perahu sambil bertolak pinggang
menghadapi perahunya siberewok.
„Kalian bertujuh, sedangkan mereka hanya bertiga
disamping itu juga mereka adalah seorang gadis yang masih
kecil, selain itu juga yang seorangnya telah berusia lanjut dan
seorang lagi wanita lemah, Apa yang kalian inginkan tegur Yo
Him dengan suara yang lantang.

Semula waktu melihat Yo Him menegurnya dengan suara
seperti itu, siberewok jadi tertegun. Tetapi sesaat kemudian
dia telah tertawa ber gelak2.
„Katakan kepada mereka, yang terpenting mereka
mengembalikan kitab pusaka kami, maka jiwa kacoa mereka
itu akan kami ampuni !"
„Kami tidak pernah mencuri barang kalian!" teriak gadis
cilik itu dengan gusar
„Hemm, bukan kalian ? Lalu siapa ?” tanya siberewok
dengan gusar sekali.
„Jika kalian terus juga menuduh kami. lalu apa yang ingin
kami katakan ?" tanya silelaki tua itu.
Walaupun bagaimana memang dia menyadari diri mereka
bertiga sulit sekali untuk meloloskan diri dari kepungan dan
kejaran orang2 Pek Liong Kauw tersebut.
Sedangkan In Lap Siansu sudah tidak memperdulikan
urusan mereka.
Disamping itu Yo Him masih terlampau kecil dan tentunya
belum memiliki kepandaian apa2.
Maka dari itu lenyaplah harapan mereka dan juga mereka
jadi berputus asa.
JILID 13
SAAT itu Yo Him telah berkata dengan suara yang tenang
sekali.
„Baiklah. Bisakah kalian membuktikan bahwa mereka
bertiga telah mencuri pusaka kalian itu ?” tanyanya dengan
yang dingin.

Muka siberewok jadi berobah tidak senang, mereka yang
juga telah mengeluarkan suara bentakan gusar.
„Hemm. kau setan kecil, apa maksudmu ikut mencampuri
urusan kami “Apalah kau ingin ikut mampus juga! “
Ditegur begitu, Yo Him bukannya takut malah telah tertawa
dingin.
„Untuk mati memang mudah, untuk hidup juga belum
tentu. Tetapi bagi seorang manusia harus dapat membedakan,
mana perbuatan buruk dan mana perbuatan baik ?".
Muka si berewok jadi berobah semakin tidak sedap dilihat.
„Jadi kau ingin mengatakan bahwa dirimu bisa
membedakan mana yang baik dan mana perbuatan yang
buruk, bukan ?" tanyanya mengejek.
„Sama sekali aku tidak berani mengucapkan perkataan
seperti itu !" kata Yo Him dengan suara tidak kalah dinginnya,
karena diapun tengah mendongkol bukan main. „Tetapi yang
jelas kini kalian telah mempergunakan jumlah banyak untuk
menindas jumlah yang sedikit !"
„Siancai! Siancai !!" berkata In Lap Siansu, yang
mengucapkan kebesaran sang Buddha beberapa kali. Rupanya
si Jieko ini merasa disindir, dia juga mengakui kebenaran atas
perkataan Samtenya itu. Maka dari itu dia telah merobah
pikirannya.
„Apa yang dikatakan oleh Samteku itu memang benar .'"
kata pendeta itu kemudian. „Apakah kalian tidak bisa
mengerti, bahwa ketiga orang itu adalah pihak yang lemah ?
Mana mungkin mereka melakukan pencurian, sedangkan
mereka bertiga hanya merupakan manusia lemah Lolap bukan
hendak berpihak kemana seperti apa yang tadi telah
dikatakan oleh Samteku itu, bahwa kita harus pandai
membedakan, yang mana perbuatan baik dan yang mana
perbuatan buruk !".

„Bukk !" tahu2 tangan siberewok telah menghantam ujung
perahunya sendiri, sampai mengeluarkan suara benturan yang
keras sekali.
„Kurang ajar !" bentaknya dengan suara yang berteriak
keras. „Rupanya kalian juga memang sengaja ingin
mempermainkan Toaya kalian heh ?".
„Mana berani ? Mana berani ?" berkata In Lap Siansu
dengan cepat.
Disaat itulah dengan cepat sekali siberewok telah
memberikan isyarat kepada keenam orang kawannya.
Dengan masing2 ditangan tercekal sebatang golok, wajah
keenam orang bertubuh tinggi besar itu sangat mengerikan
sekali.
Mereka telah melompat kearah In Lap Siansu sebanyak tiga
orang, sedangkan kekapalnya sikakek bersama anak gadisnya
yang masih kecil itu, sebanyak tiga orang lagi.
Siberewok masih berdiri diujung perahunya dengan sikap
yang angkuh sekali. berulang kali dia telah memperdengarkan
suara tertawa dingin mengejeknya.
„Serang !" perintah siberewok. „Perlihatkan kepada mereka,
siapa sesungguhnya Pek Liong Kauw !".
Keenam orang yang menyeramkan sekali itu telah
mematuhi perintah itu.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat
menyeramkan, mereka telah menubruk melancarkan serangan
dengan hebat sekali, menabas dengan golok masing2.
Sedangkan In Lap Siansu yang melihat ketiga orang
pengeroyoknya itu melancarkan serangan dengan golok
masing2, jadi mendongkol bukan main.

Dengan mengucapkan beberapa kali kebesaran Sang
Buddha, tampak In Lap Siansu telah menggerakkan sepasang
tangannya.
Dengan gerakan yang manis sekali, pendeta itu telah
berhasil merebut ketiga batang golok dari ketiga lawannya itu.
Dengan segera In Lap Siansu telah membuang ketiga
batang golok itu kesungai.
Sedangkan ketiga orang pengeroyoknya disaimping kaget,
juga jadi gusar dan penasaran sekali.
Dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengandung
hawa pembunuhan, tampak mereka menubruk.
Tetapi ln Lap Siansu telah menggerakkan sepasang tangan
dan sepasang kakinya.
Maka tanpa ampun lagi ketiga orang itu terpukul dan
tertendang, dan mereka telah tercebur kedalam sungai.
Hebat sekali cara In Lap Siansu melancarkan serangannya
itu, sehingga semuanya itu ber-langsung tidak lebih dari
beberapa detik saja.
Didalam pihak sigadis kecil bersama dengan ayah ibunya
dan Yo Him, mengalami ancaman bahaya dari ketiga orangnya
si berewok.
Sedangkan Yo Him tidak mengerti ilmu silat, ayah sigadis
cilik tampaknya sangat lelah sekali, karena hampir seharian
penuh dia telah mengayuh perahunya keras2 dan kuat2,
sedangkan istrinya hanya merupakan wanita tua yang lemah
dan putrinya yang masih kecil itu, hanya memiliki kepandaian
tidak seberapa.
Maka dengan mudah ketiga orang itu mengayunkan
goloknya untuk menabas kepala lelaki tua dan ketiga orang
lainnya.

In Lap Siansu yang menyaksikan itu, jadi mengeluarkan
seruan gusar.
Dengan menjejakkan kakinya, tubuhnya segera melambung
tinggi ketengah udara.
Disaat tubuhnya tengah melayang itulah, diatelah
mengibaskan kedua lengan jubahnya yang besar yang
memancarkan kekuatan tenaga dalam yang dahsyat.
Maka tanpa ampun lagi ketiga orang bertubuh tinggi besar
itu seperti dihajar oleh suatu yang hebat sekali, yang tidak
dapat dilihat oleh mata.
Dengan mengeluarkan suara jeritan yang mengenaskan
sekali, tampak ketiga orang itu telah tercebur kedalam sungai,
dan juga air sungai telah menjadi merah, karena dari mulut
mereka masing2 telah memuntahkan darah segar. Rupanya
kibasan lengan jubah dari sipeadeta yang begitu kuat, telah
menggempur hebat sekali bagian dalam tubuhnya, sehingga
mereka terluka di dalam.
Walaupun tidak sampai mati jika memang mereka tertolong
tentunya mereka bertiga akan menjadi cacad seumur hidup.
Rupanya dalam keadaan kaget dan gusar, In Lap Siansu
jadi lupa, dia telah menurunkan tangan yang keras sehingga
ketiga orang itu menderita hebat sekali.
Yo Him yang menyaksikan itu jadi bergidik sendirinya,
karena dia melihat air sungai telah tercampur dengan darah
yang merah . . .
Sedangkan dihati Kecilnya Yo Him juga ber pikir, jika In Lap
Siansu tidak merubuhkan mereka, kemungkinan juga ketiga
orang itu tanpa mengenal kasihan akan nKmhmatakan mereka
berempat, yaitu Yo Him, sigadis kecil itu, kedua orang yang
menjadi ayah ibu sigadis kecil itu.
maka dari itu Yo Him jadi berdiam diri.

Muka siberewok jadi berobah pucat. tubuhnya tergetar
karena dia diliputi kemarahan yang sangat hebat, jenggot dan
kumis kasarnya itu seperti berdiri semuanya, kaku seperti
kawat duri.
Dengan mengeluarkan suara ledakan yang mengguntur,
tampak tubuhnya telah melompat ke arah perahunya sigadis
kecil. Dan sambil melompat begitu, tangannya juga telah
mencabut keluar sepasang Siangpiannya, yaitu sepasang
cambuknya.
Gerakan dari siberewok memperlihatkan bahwa dia sangat
hebat ilmu meringankan tubuhnya, dan juga tentunya memiliki
kepandaian yang tidak bisa diremehkan.
Belum lagi sepasang kakinya itu menginjak lantai perahu
sepasang tangannya itu telah digerakkan, dia telah
mencambuk kearah In Lap Siansu kiri dan kanan, dari atas
kepala dan perut.
Tentu saja In Lap Siansu tidak berani memandang rendah
lawannya.
Disamping itu juga dia melihat angin cambukan itu kuat
sekali, mata cambuk yang lemas itu tajam bukan main, karena
diujungnya disertai oleh tenaga dalamnya dahsyat sekali.
Kalau memang sipendeta itu berkelit dengan cara
melompat niscaya Yo Him yang berada didekatnya yang akan
menjadi korban cambukkan itu.
Maka sengaja Lo Lap Siansu tidak mau berkelit dari
cambukan tersebut, dia hanya menantikan ketika hampir tiba
pada sasarannya, sipendeta telah mengunakan kedua
tangannya, dia telah mencekal ujung kedua cambuk itu.
disertai oleh pengerahan tenaga dalam yang dahsyat sekali,
dan juga membentak nyaring. „Pergilah !"
Sambil membentak begitu, tampak In Lap Siansu telah
menghentak kuat ujung cambuk itu, Maka seperti juga disaluri

oleh tenaga dalam yang kuat sekali, ujng yang satunya lagi
dari cambuk itu. yang dicekal oleh siberewok itu telah
terangkat, dan tubuh siberewok jadi terpental ketengah udara.
Tetapi siberewok memang hebat sekali. Maka dari itu
walaupun tubuhnya dilemparkan oleh lawannya dengan
mempergunakan tenaga dalam yang dahsyat sekali, dia tidak
menjadi gugup, bahkan dia telah berjumpalitan ditengah
udara dan telah mengeluarkan suara siulan. Sedikitpun juga
dia tidak menjadi gugup.
Di saat itulah dengan serentak ia telah menggerakkan
kedua cambuknya itu, dia telah melancarkan serangan lagi
dengan cepat sekali.
„Tarrr, Tarrr," dua kali suara cambukan itu terdengar
memenuhi sekitar tempat itu.
Dari suara cambukan itu dapat diduga bahwa kekuatan
mencambuk yang dilancarkannya Itu memang sangat hebat
sekali.
Maka tidak mengherankan jika In Lap Siansu tidak berani
menyambuti dengan cekalan tangannya lagi.
Dengan cepat sekali In Lap Siansu telah menyambar
pinggang Yo Him, dia telah membawa sianak she Yo yang
menjadi Samte nya itu, untuk melompat kesamping.
Ujung kedua cambuk itu telah menghantam tepi perahu
tersebut.
„Tarrrrkkkk I" terdengar suara yang keras sekali, dan tepi
perahu itu telah sempal.
Maka bisa dibayangkan betapa dahsyat tenaga sambaran
ujung perahu itu.
Disaat itu tubuh siberewok tengah meluncur turun, dia
melihat bahwa serangannya telah gagal mengenai sasarannya
dengan tepat. Maka dia telah menghentak tangannya. ujung

kedua cambuk itu bagaikan memiliki mata telah menyambar
lagi kepada In Lap Siansu.
Hebat sekali cara menyambar dari ujung ke dua cambuk
itu, karena ujung kedua cambuk itu telah menyambar dari
kedua jurusan.
Tenaga cambuk itu juga bukan main kuatnya, disamping itu
kedua ujung cambuk itu juga telah mengincar bagian tubuh
yang mematikan dibadan In Lap Siansu.
Diam2 ln Lap Siansu jadi terkejut juga, karena kini dia telah
melihatnya bahwa ilmu cambuk dari siberewok memang bukan
ilmu cambuk biasa.
Siangpian yang berada ditangan siberewok ber gerak2
terus menerus saling susul.
Didalam waktu yang sangat singkat sekali, belasan jurus
telah lewat.
Kemudian tampak serangan cambuk dari siberewok telah
menyambar lagi dengan kecepatan yang bukan main
dahsyatnya.
Sambil mengeluarkan suara teriakan mengguntur, tampak
In Lap Siansu telah mengibaskan tangan kanannya.
„Bukkkk !" tampak dada dari siberewok itu telah terhajar
jitu sekali oleh telapak tangan In Lap Siansu.
Tetapi In Lap Siansu juga sama sekali tidak lolos dari
serangan cambuk itu.
Karena bahu kirinya telah terhajar jitu oleh ujung cambuk,
sehingga baju sipendeta telah robek, berikut kulit bahunya
yang mengucurkan darah dengan deras.

Disaat itu Yo Him juga tidak tinggal diam dia meronta
melepaskan diri dari pelukan sipendeta, dia telah menyingkir
kesamping silelaki tua yang menjadi ayah sigadis cilik itu.
Hal ini dilakukan oleh Yo Him karena dia sengaja tidak mau
menjadi beban dari In Lap Siansu, agar pendeta Itu dapat
melayani siberewok dengan leluasa.
Dan siberewok yang terserang dadanya, telah
memuntahkan darah segar, tubuhnya telah tercebur kesungai.
Tetapi rupanya dia sangat kuat sekali, kerena dengan cepat
luar biasa dia telah dapat melompat pula naik keatas
perahunya sigadis kecil itu.
Dia bukan hanya melompat saja sambil menggerakkan
kedua cambuknya itu dengan cepat sekali diapun telah
melancarkan serangan yang ber-tubi2.
In Lap Siansu terpaksa melayaninya dengan kegesitan dan
kekuatan tenaga dalam yang ada padanya, karena terlambat
sedikit saja, niscaya tubuhnya akan robek oleh samberan
ujung cambuk.
Yo Him yang menyaksikan kehebatan kepandaian
siberewok yang demikian tinggi, jadi berdiri tertegun dan
tegang bukan main karena dia berkuatir sekali akan
keselamatan diri In Lap Siansu. Tetapi dia hanya bisa
menyaksikan sajabetapa serangan2 yang saling susul diantara
In Lap Siansu dan siberewok itu sekali, angin serangan itu me
nyambar2 silih berganti tiada hentinya.
Dalam Waktu yang sangat singkat sekali, sebentar saja
telah puluhan jurus yang lewat.
Tampaknya semakin lama siberewok jadi tambah
penasaran, dia melancarkan serangan makin hebat saja.
Sedangkan In Lap Siansu jadi harus ber sungguh2 melayani
serangan lawannya itu jika memang dia tidak ingin celaka
ditangan lawannya itu.

Saat itu perahu sigadis cilik ini telah ber goyang2 karena
bergeraknya In Lap Siansu dan siberewok yang semakin lama
jadi semakin cepat dan juga tubuh kedua orang yang tengah
bertempur itu hanya menyerupai bayangan belaka yang tidak
bisa dilihat lagi dengan jelas bentuk dan rupanya...
Itulah karena sempurnanya ilmu meringankan tubuh yang
mereka miliki.
Tetapi laki2 tua dan wanita setengah baya yang menjadi
orang tua Sigadis cilik itu. tampak makin lama jadi bertambah
gelisah saja, walaupun mereka melihat bahwa In Lap Siansu
memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tetapi wajah mereka
tetap pucat dan tubuhnya sering mengigil, tampaknya mereka
tengah ketakutan.
Yo Him heran melihat sikap mereka. Diapun melihat kedua
orang tua gadis cilik itu memandang kearah tempat yang jauh,
diujung sungai sebelah seberangnya.
Kenapa, lojinkee?" tanya Yo Him akhirnya, karena dia tidak
bisa menahan perasaan ingin tahunya.
Musuh akan segera datang dalam jumlah yang banyak !"
menjelaskan lelaki tua itu.
„Mereka umumnya merupakan jago2 yang jauh lebih hebat
dari siberewok ini . . . !"
Yo Him kaget sekali.
„Benarkah itu ?" tanyanya dengan suara yang gugup juga.
„Akhh, mereka pasti tidak akan melepas kan jiwa tuaku!"
kata lelaki tua tersebut.
„Sesungguhnya apa yang terjadi ?" tanya Yo Him,
„Mengapa mereka memusuhi lojinkee sekeluarga?"

„Hemm, mereka manusia2 jahat yang mengakui diri
mereka sebagai pendekar gagah budiman... sesungguhnya
hati mereka jahat dan berbisa sekali !"
“Apakah mereka sering membunuh orang?" tanya Yo Him
yang masih kurang begitu memahami urusan didalam rimba
persilatan.
„Bukan." menyahuti orang tua itu. „Kalau hanya membunuh
saja. itu urusan biasa! Tetapi justeru mereka itu telah
bersekutu dan bekerja sama dengan pihak Mongolia untuk
menjual negara,"
„Akhhh!" betapa terkejutnya Yo Him. dia sampai
memandang kearah orang tua itu dengan mata yang
terpentang lebar2
„Benar!" mengangguk orang tua itu. „Dan mereka itu
manusia-manusia yang tak tahu malu!”
Karena rahasia mereka, itu kuketahui, maka mereka
bermaksud membinasakan diriku agar mereka bisa menutup
rahasia. !"
Setelah berkata begitu, orang tua itu menghela napas
berulang kali.
Tampaknya dia berduka bukan main, dan wajahnya juga
murung sekali.
In Lap Siansu yang tengah bertempur hebat dengan
siberewok semakin lama jadi semakin seru saja melancarkan
serangan2nya karena keduanya telah mengeluarkan seluruh
ilmu simpanan mereka.
Angin serangan kedua orang yang tengah bertempur ini
luar biasa kuatnya, menyebabkan perahu itu bergoyanggoyang,
juga memaksa keempat orang yang menyaksikan,
yaitu Yo Him, sigadis kecil dan kedua orang tuanya itu
terpaksa mundur kebelakang beberapa langkah.

Rupanya apa yang dikuatirkan oleh orang tua itu benar
adanya.
Karena tidak lama kemudian dari kejauhan tampak sebuah
kapal berukuran cukup besar telah mendatangi dengan cepat
sekali, air sungai seperti dibelah dan juga telah membuat
perahu dimana Yo Him dan yang lainnya berada itu ber
goyang2 semakin keras.
„Ihhh!" berseru orang tua Sigadis kecil itu dengan muka
yang bertambah pucat.
Diatas tiang dari kapal tersebut, tampak berkibar sebuah
bendera merah, yang tersulam seekor naga berwarna
putih...itulah kapalnya Pek Liong Kauw, yang tengah
mendatangi ke tempat siorang tua yang menjadi ayah dari
sigadis kecil itu berada...
Melihat ini Yo Him jadi tambah berkuatir dia juga menyesal
mengapa dia tidak memiliki kepandaian sehingga dia tidak bisa
membantu In Lap Siansu Untuk menghadapi musuh.
Sedangkan siberewok telah melihat kedatangan kapal yang
cukup besar itu, wajahnya jadi ber-seri2 terang dan juga
tampaknya dia terbangun semangatnya, karena dengan cepat
dia telah merobah cara bertempurnya, di mana dia
menggerakan sepasang cambuknya semakin cepat saja.
Berbeda dengan siberewok. maka In Lap Siansu jadi
terkejut melihat lawannya memperoleh bala bantuan
sebanyak itu.
Karena terkejut tentu saja perhatiannya terpecah dan dia
jadi terdesak.
Saat itu kapal yang berukuran besar itu telah semakin
dekat. Diatas ujung kapal itu berdiri puluhan orang dengan
sikap dan pakaian yang gagah mentereng.
Dimuka sekali tampak seorang lelaki tua kurus dengan
jenggotnya yang panjang dan matanya yang sipit seperti mata

tikus, telah menyaksikan jalannya pertempuran antara
siberewok dan In Lap siansu.
„ T A H A N ! “ tiba2 orang tua kurus diujung perahu itu
telah membentak dengan suaranya yang sangat keras sekali.
Siberewok telah menghentikan serangan cambuknya, dia
telah melompat mundur. Begitu pula In Lap siansu telah
berhenti melancarkan serangan dia telah memandang kearah
kapal besar itu.
„Hemm, kukira siapa, tidak tahunya In Lap Siansu yang ikut
mengacaukan urusan !” berkata lelaki tua berjenggot itu
dengan suara yang dingin. „Mari ! Mari ! silahkan ! Kami
mengundang kalian pindah kekapal kami !"
Orang tua yang bertubuh kurus dan bermata Sipit itu me
nyebut2 mengundang kekapal, sesungguhnya dia ingin
mengartikan bahwa orang itu akan ditawan olehnya. Jika In
Lap Siansu dan yang lainnya membandel, barulah dia akan
turun tangan untuk membekuknya dengan kekerasan.
In Lap Siansu menyadari bahaya yang tengah mengancam
dirinya, disamping itu In Lap Siansu juga telah
memperhitungkan dirinya tidak mungkin melawan rombongan
Pek Liong Kauw itu hanya berseorang diri. Maka akhirnya dia
mengambil keputusan untuk mengalah saja dulu, nanti dia
baru akan memikirkan untuk mencari jalan meloloskan diri.
Dia menoleh dan mengedipkan mata kepada kedua orang
tuanya sigadis cilik, yang juga mengerti maksudnya.
Siberewok telah beberapa kali memperdengarkan suara
tertawa mengejek.

Tetapi In Lap Siansu tidak melayani sikap orang itu, dia
hanya merangkapkan sepasang tangannya menjura kepada
lelaki tua kurus berjenggot itu ;
„Bukankah Lolap tengah berhadapan dengan Song Lu
Wuan ?” tanyanya. “Pendekar besar untuk jaman ini ???"
Kakek tua berjenggot panjang itu tertawa mengejek
dengan muka yang berobah merah.
Dia memang Song Lu Wuan, tetapi sengaja In Lap Siansu
menambahkannya dengan perkataan "Pendekar besar untuk
jaman ini" sehingga merupakan ejekan untuk silelaki she Song
itu, yang telah datang dengan rombongannya yang berjumlah
besar, walaupun hanya uutuk menangkap beberapa orang
saja.
„Tepat ! Sama sekali tidak salah !" kata Song Lu Wuan.
„Dan silahkan....!"
Segera diturunkan tangga tambang, dan In Lap Siansu
telah naik terlebih dahulu, kemudian Yo Him, lalu sigadis kecil
itu, menyusul kedua orang tuanya dan baru siberewok.
Waktu berada diatas kapal itu, In Lap Siansu baru melihat
bahwa diatas kapal itu berkumpul lebih dari seratus orang.
Sehingga lenyaplah harapannya untuk dapat meloloskan diri
dari tangan orang she Song tersebut.
Terlebih lagi In Lap Siansu melihat diantara seratus orang
lebih orang2 itu, terdapat yang berpakaian sebagai guru silat,
dengan sendirinya mereka jelas memiliki kepandaian yang
tinggi sekali.
Sedangkan Song Lu Wuan telah mengundang In Lap Siansu
dan yarg lainnya memasuki sebuah kamar dikapal itu, dan
masing2 mengambil tempat duduk.
Orang she Song tersebut telah mengisyaratkan dengan
tangannya, maka beberapa orang pelayan telah datang

menyediakan arak dan barang makanan. Hanya dalam sekejap
mata saja diatas meja itu telah penuh oleh barang hidang?an.
“Mari silahkan makan ..... tidak ada apa-apa yang dapat
kami suguhkan. tetapi sekedarpelenyap haus den lapar !"
kata orang she Song itu.
In Lap siansu tidak segan-segan lagi, dia memang telah
bertempur dalam waktu yang cukup lama dan telah
mempergunakan tenaga yang sangat besar, maka dia telah
mulai makan dan minum dengan lahap sekali.
Yo Him juga telah melahap makanannya. Hanya sigadis
kecil dan kedua orang tuanya yang berdiam diri saja.
„Siangkoan Lin Lie. mengapa kalian tidak makan ? Dan kau
Siang koan Hujin, mengapa tidak dahar ? dan nona siangkoan,
bukankah kau sudah lapar ?’ akhh sayang jika makanan ini
dibiarkan dingin !” berkata orang she Song itu sambil tertawa.
Tetapi lelaki tua Siangkoan Lin Lie beserta isterinya
maupun puterinya yang masih kecil itu telah berdiam dir saja.
Mereka tidak menyahut sepatah perkataanpun juga.
Song Lu Wuan juga tidak melayani mereka lagi, hanya
sambil mengunyah, dia tertawa dan berkata kepada In Lap
Siansu.
„Sudah lama aku orang she Song mendengar kegagahan In
Lap Taisu, dan sungguh beruntung bahwa hari ini aku Orang
she Song bisa bertemu dengan Taisu... !" katanya.
„Akupun begitu, telah lama aku kagum mendengar nama
besar dari Song Taihiap hanya tidak ada kesempatan untuk
kita saling bertemu, Maka dihari ini kita bisa saling bertemu,
bukankah itu merupakan suatu kejadian yang sangat
menggembirakan sekali ?"
Dan setelah berkata begitu, In Lap Siansu telah mengunyah
terus makanannya.

Yo Him heran juga. Biasanya In Lap Siansu tidak makan
barang berjiwa, dia hanya makan sayur2an belaka. Tetapi kali
ini In Lap Siansu telah memakan makanan berjiwa, bahkan
dengan lahap sekali, hal ini sangat membingungkan Yo Him.
„Rupanya Jieko memang tidak pantangan !" berpikir Yo Him
kemudian.
Saat ini Seng Lu Wu n telah melirik kearah Yo Him, dia
memperhatikan sejenak, kemudian katanya sambil disertai
tertawanya, “Sungguh hebat engko kecil ini, siapakah dia,
Taisu ? tampaknya dia memiliki bakat dan tulang yang baik
sekali.
“Dia adikku ! Samte, Inilah Song Lu Wuan Taihiap yang
sangat terkenal sekali didaerah Selatan” memperkenalkan In
Lap siansu.
Tentu saja orang she Song itu jadi kaget bukan main
mendengar bahwa Yo Him yang baru berusia belum sampai
sepuluh tahun itu adalah adik ketiga dari In Lap Siansu.
„Apakah diapun memiliki ilmu silat?" berpikir orang she
Song itu didalam hatinya. Tetapi tidak mungkin, Tidak
mungkin !, walaupun dia belajar ilmu silat semenjak didalam
kandungan ibunya, tidak nantinya dia bisa memiliki
kepandaian yang berarti apa2 !"
„Siapakah namanya?' tanya orang she Song itu sesaat
kemudian setelah meneguk Araknya.
„Samteku she Yo dan bernama Him.. .!" menjelaskan In
Lap Siansu.
„Ihhh !" tiba2 muka Song Lu Wuan berubah hebat,
sumpitnya yang tengah dibawa kemulutnya jadi tergantung
ditengah udara. „Siauw Kiesu (pendekar muda) ini she Yo ?
Masih ada hubungan apakah dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
?"

Waktu menyebut perkataan "sintiauw taihiap Yo Ko", suara
Song Lu Wuan tergetar.
„Dialah anaknya ... !" menyahuti In Lap Siansu
sembarangan.
„Hah ?" kaget bukan main orang she Song dan beberapa
orang jago lainnya yang berada ditempat itu.
Dan bukan hanya mereka belaka yang terkejut, karena Yo
Him sendiri juga kaget sekali.
Tetapi sebagai seorang anak yang Cerdas, maka Yo Him
segera mengerti apa maksud dari In Lap Siansu yang
sebenarnya.
„Be----benarkah Siauw Kiesu puteranya Yo Taihiap ?" tanya
Song Lu Wuan dengan suara tergagap.
„Benar !” mengangguk Yo Him. „Sin Tiauw Tai Hiap Yo Ko
adalah ayahku, dan Siauw Liong Lie Liehiap adalah ibuku !"
Seketika itu juga paniklah orang2 Pek Liong Kauw tersebut.
Bahkan Song Lu Wuan telah meletakkan sumpitnya diatas
meja.
Dia memandang tajam kepada Yo Him, yang
diperhatikannya dengan baik baik dan seksama.
„Memang mirip, mirip sekali dergan wajah Yo Taihiap.
Tetapi . . , kami belum pernah mendengar Sin Tiauw Taihiap
memiliki anak . . !”
menggumam Song Lu Wuan dengan suara yang tidak
begitu jelas.
Dia telah memperhatikan baik2 paras Yo Him, dan telah
melihat bahwa wajah anak ini mirip sekali dengan muka Yo
Ko.

Maka hatinya jadi tergoncang keras, tetapi diapun masih
ragu2.
Melihat Song Lu Wuan ragu2 begitu, Yo-Him segera
mengetahui bahwa Sin Tiauw Taihiap Yo Ko sangat dihormati
sekali oleh orang orang Pek Liong Kauw ini.
Hanya saja disebabkan usia Yo Him memang masih
terlampau kecil, dan yang memperkenalkan bahwa dia adalah
puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko itu adalah In Lap Siansu,
dengan sendirinya mereka jadi ragu2.
Sebagai anak yang cerdik, segera juga Yo-Him teringat
akan sesuatu. Dan dia bermaksud akan mempermainkan
orang2 Pek Liong Kauw tersebut, karena Yo Him menganggap
dia sudah kepalang tanggung diperkenalkan oleh In Lap-
Siansu sebagai puteranya Sin Tiauw Taihiap.
„Pernahkah para locianpwee melihat dan menyaksikan
sebagian ilmu dari ayah dan ibuku !" tanya Yo Him akhirnya
sambil terus mengunyah nasinya, sikapnya tenang sekali,
walaupun otak nya tengah bekerja keras sekali.
„Ya, ya, kami seringkali melihat Yo Taihiap bertempur,
maka sebagian dari kepandaiannya itu bisa kami kenali !"
menyahuti Song Lu Wuan, yang segera bisa menduga bahwa
Yo Him ingin mempertunjukkan kepandaiannya.
„Baiklah! Menurut Song Locianpwe, kepandaian ayahku itu
dibagian mana yang paling menonjol ?" tanyanya lagi.
„Yo Taihiap semua mempelajari ilmunya dari Kiu Im Cin
Keng ciptaan Tat Mo Cauwsu dan juga Giok Lie Kiam Hoat
bersama ibumu, yaitu Siauw Liong Lie Liehiap, merupakan
pasangan pendekar dijaman ini yang tiada taranya !”
„Tepat !" berseru Yo Him. „Dan kini Boanpwe (dari
tingkatan muda). ingin memperlihatkan kebodohan, harap

jangan ditertawai ?" Dan setelah berkata begitu Yo Him
berdiri.
Sedangkan Song Li Wuan yang mengerti maksud anak ini,
segera memberikan isyarat kepada orang2nya, untuk
menggeser meja tetapi.
Didalam Waktu yang singkat sekali, telah terbentang
sebuah lapangan yang cukup luas.
Yo Him melangkah kegelanggang. setelah menjura
memberi hormat kesekelilingnya, maka dia mulai menjalankan
ilmu silat yang diturunkan Sin Tiauw kepadanya, yang
menurut In Lap Siansu adalah Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie
Kiam Hoat.
Diwaktu anak ini bersilat, semua orang2 gagah yang
berada ditempat itu jadi mengawasi dengan mata yang
terpentang lebar-lebar dan hati yang tergoncang.
Karena yang tengah dimainkan oleh Yo Him memang
jurus2 dari Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie Kiam Hoat, kedua
macam ilmu silat yang luar biasa, yang dimiliki oleh Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
Keruan saja Song Lu Wuan jadi ciut nyalinya, dan disaat Yo
Him telah selesai membawakan jurus-jurus kedua macam ilmu
silat itu, yang semula dianggap olehnya sebagai latihan olah
raga penyehat tubuh belaka, Song Lu Wuan telah
membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada Yo Him.
„Kiranya memang orang sendiri !" berseru Song Lu Wuan
sambil tertawa.
Yo Him cepat2 membalas hormat orang she Song tersebut.
Didalam hatinya dia geli sendiri nya, dan dia merasa kagum
atas kecerdikan In Lap Siansu yang telah bisa berpikir begitu
cepat.

Coba kalau tidak, jika mereka tetap dianggap sebagai pihak
musuh, niscaya mereka akan diperlakukan dengan sikap yang
tidak enak dan tidak manis.
„Sesungguhnya aku sudah lama ingin mengikuti ayah
berkelana, tetapi selama itu belum diijinkan, baru tahun ini
ayah mengijinkan aku untuk ikut berkelana . . . dan harap
loocianpwe menerima hormat boanpwe.!”
“Sebenarnya masih ada hubungan apakah antara Yo Kiesu
dengan Siangkoan Lin Lie, ?' tanya Song Lu Wuan sambil
melirik kepada Siang koan Lin Lie, yang saat itu tengah
mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang takjub.
„Dialah pamanku !" menyahuti Yo Him. „Paman ?" tanya
Song Lu Wuan ragu2 matanya juga bersinar aneh.
Seketika itu juga Yo Him menyadari bahwa dia telah
melakukan suatu kecerobohan, karena sebagai seorang yang
sangat terkenal semua urutan keluarga Yo Ko diketahui oleh
orang2 gagah di rimba persilatan, Terlebih lagi suatu
kemungkinan bahwa Song Lu Wuan memang bersahabat
dengan Yo Ko.
„Paman jauh, . . . !" kata Yo Him memperbaiki
kesalahannya „Dari pihak ibuku . . . !"
„Oh begitu ?" kata Song Lu Wuan yang telah lenyap
kecurigaannya.
Saat itu Yo Him telah berkata ; „Paman Siangkoan,
sesungguhnya ada Urusan apakah antara kalian dengan pihak
Pek Liong Kauw ?"
„Sesungguhnya urusan kecil, kami kehilangan kitab pusaka
kami, kebetulan Siangkoan Kie su berada ditempai kami, maka
dari itu kami menduga bahwa dialah yang telah mencurinya !
Untuk tuduhan yang tidak beralasan itu, kami mengucapkan
maaf se besar2nya !" dan setelah berkata begitu, Song Lu

Wuan menghampiri Siangkoan Lin Lie, dia menjura untuk
meminta maaf.
Tentu saja Siangkoan Lin Lie jadi girang bukan main,
karena persengketaannya dengan pihak Pek Liong Kauw telah
dapat diselesaikan oleh Yo Him.
Hanya saja yang membuatnya agak heran, mengapa Yo
Him mengakui dia pernah paman.
Dan mereka semua telah kembali makan pula.
Kali ini Song Lu Wuan telah memperlakukan mereka
dengan sikap yang manis.
Malah In Lap Siansu telah ber cakap2 akrab sekali dengan
Song Lu Wuan dan beberapa orang gagah yang berada
dikapal tersebut.!
Banyak persoalan rimba persilatan yang telah mereka
bicarakan termasuk akan ancaman dari pasukan tentara
perang Mongolia.
„Memang banyak orang gagah yang menuduh kami bekerja
sama dan takluk kepada bangsa Mongolia..... tetapi
sesungguhnya kami sebaliknya tengah bekerja keras untuk
membongkar tipu licik bangga Mongolia itu !" menjelaskan
Song Lu Wuan akhirnya. „Kami mendengar bahwa bangsa
Mongolia telah mulai mempersiapkan pasukannya untuk
menerjang masuk kedaratan Tionggoan lagi, bahkan Kublay
Khan, Kaisar Mongolia sekarang, adik Kaisar Mangu yang
binasa ditangan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah perintahkan
beberapa orang kepercayaannya dan jago2nya untuk
menyelusup kedaratan Tionggoan, guna mencelakai jago2
didaratan Tionggoan. Peristiwa itu terjadi delapan tahun yang
lalu, perbuatan busuk mereka mulai diketahui. Kami
sayangnya agak terlambat mendengar berita itu. Karena baru
empat tahun yang lalu kami mendengar kejadian seperti itu.
Maka Kauwcu (ketua) kami telah perintahkan beberapa
orang2 kami Untuk pergi ke Mongolia guna melakukan

penyelidikan. Jika memang apa yang kami dergar itu benar
dan juga ada bukti buktinya kami akan mengerahkan orang2
pandai kami Untuk pergi ke Mongolia untuk membinasakan
Kublai Khan. Dengan terbunuhnya Kaisar itu, tentu ancaman
dapat dilenyapkan !, Tetapi siapa sangka, pengiriman orang2
gagah kami ke Mongolia itu telah bocor entah bagaimana
caranya, banyak Orang gagah didaratan Tionggoan yang telah
mendergar hal itu, sehingga mereka menduga bahwa kami ini
telah berkhianat dan bekerja sama dengan pihak Mongol.
mereka jadi mencurigai kami, termasuk Siangkoan Lin Taihiap
ini.... !”
Siangkoan Lin Lie cepat2 menjura dan meminta maaf.
Begitu juga Song Lu Wuan telah membalas hormat orang she
Siangkoan tersebut.
In Lap siansu baru mengerti mengapa telah terjadi
persengketaan antara Siangkoan Lin Lie dengan pihak Pek
Liong Kauw. Hweshio tua tersebut jadi meng-angguk2an
kepalanya.
„Dan dipusat, kami telah mengatur persiapan untuk
melakukan pekerjaan besar, untuk membela tanah air!" Song
Lu Wuan telah melanjutkan ceritanya lagi. „Tidak kami sargka
justeru Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah berkunjung datang
bersama beberapa orang pendekar besar lain nya, termasuk
Kwee Ceng Taihiap, It Teng Taisu, Ciu Pek Thong, Lo Boan
Tong dan Oey-Yong Lihiap...! Hanya yang kami sayangkan,
justru kami tidak memiliki rejeki besar, dimana Yo Hujien,
yaitu Liehiap siauw Liong Lie tidak ikut hadir.. !"
Mendengar orang she Song itu bercerita sampai disini, hati
Yo Him jadi tergoncang.
Begitu juga dengan In Lap Siansu, hatinya jadi kaget bukan
main.
Dengan berlayarnya kapal Pek Liong Kauw ini. mereka
tengah menuju kemarkas besar dari kumpulan Itu.

Dan jika memang mereka tiba dimarkas besar dari
perkumpulan itu, bukankah berarti rahasia mereka akan
terbongkar? Bukankah disana tengah berkumpul Yo Ko dan
jago besar lain-nya?
Yo Him jadi gugup sendirinya, hampir, saja sumpit
ditangannya terlepas.
Song Lu Wuan yang matanya awas. telah dapat melihat
kegugupan yang dialami Yo Him.
„Kenapa kau Siauw Kiesu? Tanyanya dengan berkuatir
sekali, karena dia menduga Yo Him mabok akibat menumpang
kapal air ini.
Yo Him cepat2 menggelengkan kepalanya sebagai anak
yang cerdas segera juga dia bisa memberikan jawabannya.
„Tidak apa2, tidak apa2. aku hanya girang mendengar ayah
telah berada disana, tentu tidak lama lagi kami ayah dan anak
bisa bertemu !”
Song Lu Wuan telah meng-angguk2, dia berhasil didustai,
karena dia berpikir memang wajar jika siorang anak
merindukan ayahnya mengharapkan pertemuan dengan
ayahnya.
In Lap Siansu juga memuji akan kecerdikan Yo Him yang
cepat sekali bisa memilih jawaban yang tepat.
Tetapi untuk selanjutnya Yo Him tidak bisa menangkap
keseluruhannya dari cerita Song-Lu Wuan, karena hatinya
tengah gelisah dan pikirannya tengah kalut.
Dia tengah memikirkan jika nanti dia bertemu dengan Sin
Tiauw Taihiap dlmarkas Pek-Liong Kauw, dan rahasianya yang
mengakui dirinya adalah puteranya Sin Tiauw Taihiap itu
terbuka, bukanlah disamping dia akan membuat Sin Tiauw
Taihiap menjadi marah ?
itulah sebabnya mengapa Yo Him jadi sangat gugup.
Pikirannya jadi bekerja terus, walaupun mulutnya terus makan

dar minum, Meskipun dia cerdik namun tidak urung anak ini
tidak bisa mencarikan jalan yang baik untuk menghadapi
persoalan ini.
Yo Him menyadari bahwa kali ini dia tengah
mempermainkan pendekar besar dalam rimba persilatan, jika
rahasianya terbongkar, bukan kah dirinya bisa celaka?
Sedangkan In Lap siansu hanya gugup sejenak, karena
tidak lama kemudian dia telah tenang kembali. Didalam dirinya
hweshio tua itu telah berpikir bahwa Yo Ko maupun Kwee
Ceng, Oey Yong, It Teng Taisu dan Ciu Pek Thong adalah
pendekar2 besar berhati mulia, tidak mungkin akan
mencelakai Yo Him hanya karena mengakui dirinya sebagai
anaknya Yo Ko. Maka dari itu In Lap siansu dapat makan
minum terus dengan tenang.
Dan ketika Song Lu Wuan telah menutup pesta nakan
minum itu mempersilahkan tamu2nya untuk beristirahat dan
tidur, maka In Lap siansu tidur dengan nyenyak sekali, suara
mendengkurnya benar2 membuat Yo Him jadi mendongkol
sekali karena Yo Him yang sekamar dengan In Lap Siansu
yang menjadi jiekonya itu tengah bergelisah tidak bisa tidur,
sedangkan sipendeta telah tidur dengan nyenyak sekali seperti
tidak berpikir apa2 terhadap urusan yang akan mereka hadapi.
KAPAL orang Pek LiOng Kauw tersebut berlayar terus
menuju kearah selatan-barat-daya. Setelah berlayar dua hari,
telah tiba dimuara dan lepas lautan. Rupanya pelayaran seperi
itu memang merupakan pekerjaan biasa bagi orang2 Pek
Liong Kauw, Kapal itu berlayar cepat melawan ombak.
Selama dalam perjalanan Song Lu Wuan selalu
memperlakukan kelima Orang tamunya dengan ramah.
Rupanya, dengan mengakunya Yo Him sebagai puteranya Yo
Ko, orang2 Pek Liong Kauw jadi menghormati mereka.

Tetapi Yo Him selalu diliputi oleh tanda tanya.
Sesungguhnya siapakah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw
Liong Lie ? Tampaknya kedua pendekar besar itu memiliki
nama yang sangat luar biasa terkenalnya dan disegani oleh o
rang orang rimba persilatan.
Disamping itu Yo Him juga jadi Selalu memikirkan, siapakah
sesungguhnya kedua orang tuanya ?
Dia she Yo begitu pula Yo Ko, tetapi apakah mungkin dia
putera dari seorang pendekar seperti itu? Karena berpikir
begitu, Yo Him jadi menghela napas tidak hentinya, karena dia
yakin bahwa dirinya tidak memiliki rejeki begitu besar untuk
menjadi putera seorang Pendekar besar dijaman itu.
Sedangkan dia sejak kecil telah yatim dan tidak ada orang
yang merawatnya, selain Sin Tiauw yang baik hati itu.
setengah bulan kemudian mereka telah sampai ditempat
tujuan yaitu sebuah pulau yang besar sekali,
Anak buah Pek Liong Kauw mengeluarkan sorak-sorai
gemuruh sekali waktu pulau itu mulai tampak.
Yo Him bersama yang lainnya telah Ketuar dia melihat
pulau itu sangat besar dan luas sekali sehingga ujungnya tidak
terlihat.
Waktu kapal merapat, tampak beberapa orang lelaki
bertubuh gagah dan tegap telah menyambut kedatangan Song
Lu Wuan. Setelah adat istiadat dilakukan dengan saling
memberi hormat, rombongan tersebut telah memasuki pulau
untuk pergi kemarkas Pek Liong Kauw, guna menemui Kauwcu
Pek Liong Kauw.
Yo Him, In Lap Siansu dan Siangkoan Lin Lie, isterinya dan
anak gadisnya, telah ditempatkan disebuah ruangan. Dan
tidak lama kemudian mereka telah diajak kesebuah bangunan
gedung yang sangat besar serta megah sekali.

Yo Him yang melihat gedung itu jadi tercengang, karena
dia melihat bahwa bangunan tersebut disamping megah dan
besar juga sangat mewah sekali, melebihi istana2 Kaisar.
Didepan gedung yang mirip istana itu tampak berdiri
berbaris ratusan orang, yang menyambut kedatangan tamu2
tersebut dengan anggukan dan rangkapkan tangan memberi
hormat.
Ternyata yang disebut sebagai Kauwcu dari Pek Liong
Kauw merupakan seorang lelaki berusia lima puluh tahun,
berwajah tampan walaupun usianya telah lanjut, disamping
itu tubuhnya juga tegap.
Dialah Wie Kiam Kauwcu dari Pek Liong Kauw. yang
bergelar Hui Thian Sin Kiam (Pedang Sakti), yang namanya
menggetarkan rimba persilatan.
Namun Kauwcu Wie Kiam ternyata membawakan sikap
yang ramah sekali, dia telah menyambut tamu2nya itu dengan
perjamuan yang besar.
„Loohu mendengar bahwa diantara tamu2 kita terdapat
puteranya Yo Taihiap” kata Wie Kiam berselang sejenak
setelah tamu2nya mengambil tempat duduk masing2.
„Dapatkah Lohu berkenalan dengan Siauw Kiesu itu?"
Yo Him yang sejak tadi memasuki gedung ini dengan hati
yang berdebar kini merdengar perkataan Wie Kiam membuat
jantungnya tambah tergoncang.
Cepat2 Yo Him bangkit berdiri, dia memberi hormat dan
memperkenalkan diri.
Lama Wie Kiam mengawasi Yo Him dengan sorot mata
yang tajam, tentu saja membuat Yo Him tambah tergoncang
hatinya, sehingga ia tak berani memandang Kauwcu dari Pek
Liong Kauw tersebut, hanya menundukkan kepalanya saja.

In Lap Siansu juga telah berdebar hatinya, pendeta ini
adalah seorang Kangouw yang telah berpengalaman, tetapi
tetap saja hatinya berdebar, karena dia takut rahasia Yo Him
terbongkar.
Tetapi untuk menutupi kegelisahannya, sengaja ln Lap
Siansu telah meneguk araknya berulang kali.
Setelah mengawasi Yo Him sejenak lamanya, Wie Kiam
tertawa.
„Bagus! Betapa miripnya wajahmu dengan ayahmu, Siauw
Kiesu !" kata Wie Kauwcu dengan suaranya yang keras
„Ayahmu mungkin sore ini baru kembali, karena Yo Taihiap
sekarang tengah mengejar seseorang !"
Yo Him menghela napas sambil membungkuk memberi
hormat, untuk menutupi perobahan wajahnya yang merah
karena dia merasa agak tenang mendengar Yo Ko tidak
berada dimarkas Pek Liong Kauw tersebut.
Begitu juga halnya dengan In Lap Siansu, diam2 didalam
hatinya pendeta tersebut memuji kebesaran sang Buddha.
„Tetapi, Taihiap2 lainnya, seperti Kwee Ceng Tayhiap, Oey
Yong Liehiap, It Teng Tai-su dan Ciu Pek Thong Loo Boan
Tong Locianpwe, Semuanya ada disini ! Tunggulah sebentar,
Lohu akan perintahkan orang untuk memanggilnya !”
Mendengar perkataan Kauwcu Pek Liong Kauw tersebut
yang terakhir, Yo Him merasakan kepalanya seperti disiram air
dingin panas, hangat.
Sedangkan Kauwcu Pek Liong Kauw itu telah mengibaskan
tangannya, mengisyaratkan kepada orangnya untuk
mengundang jago2 tua itu.
Yo Him telah kembali ketempat duduknya dengan hati yang
ber debar2.

Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari
beberapa orang, dan semua mata, termasuk Yo Him dan In
Lap Siansu telah mengawasi kearah pintu yang bisa
menembus keruang dalam itu.
Mereka mengawasi dengan perasaan tegang dan agak
gelisah sekali, sedangkan Kauwcu Pek Liong Kauw itu telah
tertawa saja dengan sikapnya yang angker.
Tidak lama kemudian dari balik tirai muncul orangnya Wie
Kauwcu, diikuti beberapa orang gagah. Ternyata beberapa
Orang yang muncul itu tidak lain dari Kwee Ceng, Oey Yong,
Ciu Pek Thong, It Teng Taisu dan dua orang pengawal Pek
Liong Kauw.
Setelah mereka memberi hormat kepada kauwcu Pek Liong
Kauw, masing2 mengambil tempat disamping kauwcu itu.
„Nah para locianpwee, seperti yang telah boanpwe katakan,
bahwa hari ini kebetulan sekali kita telah menerima kunjungan
seorang tamu luar biasa, yaitu puteranya Yo Taihiap .." kata
kauwcu dari Pek Liong Kauw itu dengan suara yang nyaring.
Muka orang2 gagah itu jadi berobah. mereka telah
mengikuti jari telunjuk kauwcu she-Wie itu menunjuk kearah
Yo Him dan memperhatikan anak itu baik2.
Namun tidak ada seorangpun diantara Oey Yong dan yang
lainnya yang membuka mulut, semua diam saja sambil
mengawasi sehingga membuat Yo Him jadi tidak enak hati,
segera Yo Him bangkit berdiri, dia telah menghampiri ke
empat orang gagah itu, kepada mereka dia telah
memperlihatkan hormatnya.
Apakah locianpwe semuanya dalam keadaan baik ?
tanyanya.
Tiba2 Ciu Pek Thong telah berkata sambil tertawa “anak
yang manis, anak yang manis”

Oey Yong bertiga dengan It Teng Taisu dan Kwee Ceng
hanya mengangguk2kan kepalanya !.
Tiba2 Ciu Pek Thong telah menoleh kepada Wie Kauwcu
“mana ayahnya apa belum pulang ?”
Wie Kauwcu menyahuti sambil menggelengkan kepalanya
“belum “
“Hemm, anak mana ibumu ?” tanya Oey Yong.
Ditanya soal ibunya, tentu saja Yo Him jadi kelabakan.
Orang2 gagah itu masih mau mempercayai bahwa Yo Him
adalah puteranya Yo Ko karena wajahnya memang mirip
dengan Yo Ko, apalagi Kwee Ceng dan Oey Yong yang pernah
merawat Yo Ko. Mereka hampir delapan tahun mencari2 siauw
Liong Lie yang lenyap tidak ada kabar beritanya itu.
Namun hasilnya nihil. Yo Ko selalu diliputi kedukaan yang
bukan main. teringat pula bahwa isterinya itu tengah hamil.
Maka sekarang, ada seorang anak berusia di antara tujuh
delapan tahun mengakui dirinya sebagai anak Yo Ko, tentu
saja orang2 gagah itu menduga mungkin Siauw Liong Lie telah
melahirkan seorang anak lelaki dan menceritakan kepada
sianak siapa ayahnya sehingga kini Yo Him mencari ayahnya
itu.
Itulah sebabnya mengapa Oey Yong telah menanyakan ibu
sianak ini.
Melihat Yo Him gugup, Oey Yong jadi heran.
„Apakah telah terjadi sesuatu didiri ibumu ?" tanyanya lagi.
Yo Him menggelengkan kepalanya. „Bukan...!" sahutnya
kemudian.
„Lalu dimana ibumu ?"
„Aku sendiri tidak mengetahuinya ...”
„Ihhh !" berseru kaget orang2 gagah itu.

„Maafkanlah Locianpwe, sesungguhnya aku telah berdusta,
Boanpwe bukan puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko !"
mengaku Yo Him berterus terang karena anak ini berpikir, jika
dia berdusta terus maka rahasianya akan terbongkar juga.
„Hmmmm. lalu siapa kau ?" tanya Oey Yong sambil
mengerutkan alisnya.
Sedangkan muka Wie Kauwcu telah berobah diliputi
kemendongkolan yang sangat. Song Lu Wuan juga kaget
bukan main. berulang kali dia memperdengarkan suara tidak
jelas.
Karena Song Lu Wuan yang telah mengajak anak ini
kemarkas mereka dan memberitahukan kepada kauwcunya
bahwa anak ini adalah putranya Yo Ko. Maka sekarang disaat
sianak itu mengakui terus terang. Bahwa dia bukan anaknya
Sin Tiauw Taihiap. bisa membayangkan perasaan kaget dari
orang she Song tersebut.
Yo Him telah memberi hormat kepada orang2 yang berada
disitu, dia memberi hormat dengan tiada hentinya.
,,Sesungguhnya aku memang pantas menerima hukuman
mati karena telah berani mengakui diriku sebagai puteranya
Yo Ko Tayhiap. Sebenarnya akupun tidak mengetahui siapa
ayahku dan siapa pula ibuku !"
Oey Yong dan iainnya jadi tambah heran, „Mengapa begitu
?” tanya Oey Yong. „Karena sejak kecil aku tidak pernah
melihat mereka, yaitu kedua orang tuaku!"
„Lalu siapa yang membesarkan engkau?" „Rajawali . . .
seekor rajawali!"
Mendengar itu muka Oey Yong jadi berseri-seri sejenak,
diapun telah berseru :
„Sintiauw . . . !" Kemudian Oey Yong menanyakan
bagaimana bentuk rajawali yang telah merawat Yo Him.

Dengan sejujurnya Yo Him menceritakan keadaan burung
rajawali itu,
„Benar dia ! Benar dia !" berseru Oey Yong sambil melirik
kesuaminya. „Tetapi ... dimana Sintiauw itu kini berada ?"
„Akupun tidak mengetahui, karena sejak dia terbang turun
kejurang itu. maka selamanya aku tidak pernah melihat lagi ...
" kata Yo Him, Dia telah menceritakan bagaimana dia ditinggal
oleh Sin Tiauw dipintu kampung dikaki gunung Kun Lun, dan
rajawali itu telah terbang berputar2 ditengah udara, kemudian
menukik kejurang yang biasa mereka tempati.
Kemudian Sintiauw itu tidak pernah muncul lagi.
“Apakah kau tidak memiliki sesuatu barang yang
ditinggalkan ibumu ?” tanya Oey Yong.
Yo Him menggeleng.
“Tidak! Sejak kecil akupun tidak pernah melihat ibuku,
hanya Sintiauw telah memberikan, ber macam2 barang2
kepadaku!"
Dan setelah berkata begitu, Yo Him membuka buntalannya,
dia telah mengeluarkan barang2 milik Siauw Liong Lie yang
telah diberikan oleh Sintiauw disaat burung rajawali itu akan
menghembuskan napasnya yang terakhir,
Melihat barang2 itu, muka Oey Yong dan ketiga orang
gagah lainnya, jadi. berobah. Mereka mengenali itulah
barang2 milik Siauw Liong Lie.
„Akhh, jika demikian, memang benar2 engkau puteranya
Yo Ko !" berseru Oey Yong sambil melompat dan telah
merangkul Yo Him. „Dimana ibumu nak? Dimana dia?"
Yo Him menggeleng saja dengan heran.
„Itulah barang milik ibumu, apakah mungkin dia, telah... "
dan berkata sampai disitu, Oey Yong tidak meneruskan
perkataannya.

„Doa telah kenapa. Yongjie?" tanya Kwee Ceng ingin tahu.
„Apakah dia telah dicelakai seseorang? Apakah Tiat To Hoat
ong yang mencelakainya? Bukankah barang2nya ini sudah
berada disini?"
Muka Kwee Ceng, It Teng Taisu dan Ciu Pek Thong jadi
berubah muram.
Merekapun berpikir begitu.
„Sayang Kojie tidak berada disini" menggumam Kwee Ceng
perlahan.
„Besok pagi dia akan tiba kembali" kata Wie Kauwcu yang
sejak tadi berdiam diri sajal
Oey Yong menuntun tangan Yo Him katanya dengan
lembut dan sabar. „Anak, engkau harus menunggu ayahmu
sampai kembali ditempat
ini. Nanti kita tanyakan, jika memang benar barang2 ini
adalah milik Siauw Liong Lie, yang tentunya masih menjadi
ibumu itu maka disaat itu kita akan berangkat ke Kun Lun San
untuk melihat apakah disana ada sesuatu yang bisa
dipergunakan untuk membuka rahasia dirimu ! Tetapi jika
memang engkau bukan puteranya Yo Ko, kau juga tidak perlu
takut, karena kalau kau benar2 anak yatim, kami pun tidak
keberatan merawatmu !"
Senang Yo Him mendengar itu.
Demikian juga dengan In Lap Siansu, sambil mengucapkan
kata2 yang memuji sang Buddha, dia telah meng angguk2an
kepalanya.
Karena gembiranya, In Lap Siansu telah mengucurkan air
mata.
Saat itu Yo Him telah menjura sambil mengucapkan terima
kasih kepada Oey Yong. setelah itu dia kembali kekursinya.

Pesta makan minum itu telah dilanjutkan terus, kemudian
Oey Yong berempat telah mengajak Wie kauwcu untuk
berunding.
Mereka membicarakan persoalan Yo Him dan
merundingkan bagaimana caranya menyelidiki tempat,
beradanya Siauw Liong Lie.
Hampir delapan tahun mereka berkelana di dalam rimba
persilatan untuk mencari Siauw Liong Lie, dengan meminta
bantuan orang2 rimba persilatan juga tetapi usaha mereka
nihil dan kosong.
Sejak diculiknya Siauw Liong Lie oleh Tiat To hoat-ong, baik
Siauw Liong Lie maupun pendeta itu telah lenyap tidak
meninggalkan bekas.
Dan hanya jago2 Mongol lainnya yang telah muncul
didaratan Tionggoan
Maka Yo Ko dan jago2 lainnya tidak pernah turun tangan
ringan kepada mereka. Jago2 Mongol itu selalu dibinasakan
atau dibikin bercacad berat untuk memperoleh keterangan
dari mereka.
Tetapi walaupun banyak orang2 Mongol yang telah mereka
tangkap dan menanyai perihal Tiat To Hoat ong, namun
mereka tidak pernah memperoleh keterangan yang mereka
inginkan.
Waktu setahun yang lalu mereka mendengar bahwa Tiat To
Hoat-ong ada yang lihat berkeliaran di Utara. Maka jago2 itu
telah berangkat keutara. namun tetap saja mereka tidak
berhasil mencari pendeta mongol yang kepandaiannya hebat
itu.
Akhirnya dengan putus asa mereka telah kembali keselatan
dan disaat itulah Oey Yong menganjurkan kepada Yo Ko agar
mereka meminta bantuan Pek Liong Kauw, untuk mencari
jejaknya pendeta mongol itu.

Saran yang diberikan oleh Oey Yong disetujui oleh Yo Ko,
maka mereka ramai2 telah pergi kemarkas besarnya Pek Liong
Kauw dan kepada Wie Kiam Kauwcu mereka menyampaikan
keinginan mereka yang hendak meminta bantuan Pek Liong
Kauw untuk mencari jejak Tiat To Hoat ong yang telah
menculik Siauw Liong Lie.
Pihak Pek Liong Kauw menyanggupi untuk membantu, dan
telah menggirimkan orang2nya ke pelbagai pelosok didaratan
Tionggoan untuk menyelidiki dimana bersembunyinya Tiat To
Hoat ong.
tetapi hampir setahun itu tetap saja mereka belum
memperoleh hasil apa2, sehingga selama itu pula Sin Tiauw
Taihiap dan jago2 lainnya berdiam dipulau Ang-hwa-to
tersebut, pulau bunga merah....
Dan kini tiba2 sekali muncul Yo Him, yang mengaku
sebagai puteranya Sin Tiauw Taihiap. Bukankah hal itu
merupakan urusan yang meng gembirakan sekali ?
Song Lu Wuan sendiri bersyukur sekali dia bisa bertemu
dengan putera Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, yang tentunya akan
membuktikan bahwa Pek Liong Kauw telah berhasil membantu
pendekar besar untuk jaman ini.
Apa lagi Song Lu Wuan juga telah melihat Yo Him
membawakan jurus2 dari Kiu Im Cin Keng dan Giok Lie Kiamhoat,
tentu saja dia tambah yakin dan girang...!"
Wie Kiam Kauwcu juga girang waktu Song Lu Wuan
menyampaikan bahwa dia telah berhasil menemukan
puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Karena dengan
berhasilnya pihak Pek Liong Kauw membantu Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko berarti kelak Pek Liong Kauw memiliki tulang
punggung yang kuat sekali, sebab pihak Pek Liong Kauw telah
melepas budi kepada Yo Ko dan pasti jika kemudian kelak
pihak Pek Liong Kauw mengalami suatu ancaman dari pihak
lain, Sin Tiauw Taihiap Yo Ko juga tidak akan tinggal diam.

Diwaktu Yo Him masih duduk termenung, dia tidak
mengerti sepenuhnya perkataan Oey Yong sedangkan barang2
peninggalan Siauw Liong lie yang diberikan oleh Sin Tiauw
rajawali sakti yang telah meninggal itu, disimpannya kembali
baik2.
Yo Him sama sekali tidak mengetahuinya bahwa
sesungguhnya ibunya, siauw Liong Lie telah lenyap dilembah
gunung Kun Lun san itu oleh desakan Tiat To Hoat Ong
berempat dengan Chilaon, Talengkie dan Turkichi.
Setelah Oey Yong beruntun dengan Kwee Ceng It Teng
Taisu, Ciu Pek Thong dan Wie kiam Kauwcu mengundurkan
diri maka pesta itupun telah dibubarkan.
Yo Him dan tamu2 lainnya ditempatkan disebuah ruangan
yang besar, sedangkan untuk kamar tidur mereka masing2
diberi sebuah kamar untuk setiap orangnya...
Sebelum meninggalkan ruangan tengah itu, Oey Yong telah
menarik tangan Yo Him, lalu katanya dengan suara yang
sabar. „Tidurlah yang nyenyak, jangan kau memikirkan yang
tidak2 Dalam waktu yang tidak lama lagi ayahmu tentu pulang
dan kalian bisa bertemu...!".
Yo Him yang sejak kecil belum pernah memperoleh kasih
sayang seorang ibu, kini mendengar nada suara Oey Yong
yang begitu lembut dan sabar, mengandung kasih sayang dan
penuh pengertian akan jiwa seorang anak, hatinya jadi
tergoncang dan terharu Tanpa disadarinya disaat dia
mengangguk, dua butir air mata telah menitik turun
membasahi pipinya.
Oey Yong tersenyum, dia mengusap rambut anak ini.
„Ayahmu tidak secengeng engkau !" katanya kemudian.
„Bahkan ayahmu merupakan seorang pendekar besar yang
gagah perkasa dan tabah, menghadapi penderitaan hidup...!".

Yo Him jadi merasa malu sendirinya, dia hanya mengiyakan
perkataan Oey Yong.
Di dalam kamarnya, Yo Him jadi terpekur saja, sama sekali
dia tidak bisa mententeramkan hatinya, dia tidak bisa tidur
dengan nyenyak.
Akhirnya dia keluar dari kamarnya dan mencari In Lap
Siansu untuk diajak ber-cakap2.
Ternyata In Lap Siansu tengah ber-cakap2 dengan Siang
koan Lin Lie, dengan nyonya Siang koan dan puterinya yang
baru belasan tahun, yang akhirnya diketahui oleh Yo Him
bahwa gadis yang biasa dipanggilnya dengan sebutan Encie
itu ternyata bernama Peng. Dengan Siang koan Peng, Yo Him
memang merasa senang dan menyukainya, kerena gadis itu
lincah dan periang. Bahkan Siangkoan Peng sering mengajak
Yo Him main2 dengan dia ditaman bunga, karena bosan juga
baginya mendengari terus pembicaraan diantara kedua orang
tuanya dengan In Lap Siansu yang tidak dimengerti olehnya.
Pulau Ang Hwa To merupakan sebuah pulau yang sangat
luas, dimana markas besar Pek Liong Kauw menancapkan kaki
dan kekuasaannya karena disana telah dibangun ratusan
gedung untuk perumahan seluruh anggota perkumpulan
tersebut. Belum lagi beberapa kota didaratan Tionggoan
terdapat berbagai cabang dari perkumpulan tersebut.
Pek Liong Kauw juga memiliki jago2 yang sangat hebat
kepandaiannya. Banyak yang memiliki ilmu dan kesaktian yang
hebat, sehingga nama Pek Liong Kauw terangkat sendirinya
berkat hasil kerja dari orang2nya yang liehay2 itu. Tetapi
sebagai tokoh2 persilatan, anggota2 dari perkumpulan
tersebut memiliki sifat2 yang aneh dan ber-macam2 tabiatnya.
Walaupun kepandaian Kauwcu perkumpulan tersebut, yaitu
Wie Kiam, tidak sehebat Sin Tiauw Taihiap, namun dia
memiliki ilmu pedang yang sangat luar biasa sekali, sehingga
mengentarkan orang2 kalangan rimba hijau, baik lawan

maupun kawan, karena kauwcu ini paling benci kejahatan.
Dan namanya yang sangat terkenal itu menggetarkan rimba
persilatan sehingga dia sangat dihormati.
Bahkan Wie Kiam Kauwcu telah diberikan gelaran „Hui
Thian Sin Kiam" yaitu Pedang Sakti Dari Langit.
In Lap Siansu juga sering menganjurkan Yo Him agar pergi
bermain bersama dengan Siangkoan Peng, puterinya
Siangkoan Lin Lie, karena In Lap Siansu mengetahui Yo Him
perlu hiburan juga agar dia tidak merasa kesepian.
Bukankah Siangkoan Peng lincah dan periang ? Setidak2nya
bisa mengurangi kesedihan dihati Yo Him atau
mengurangi juga ketegangan2 yang selama ini meliputi hati
dan jiwanya anak dari pendekar besar Yo Ko itu.
In Lap Siansu sendiri telah dipanggil oleh Kwee Ceng dan
Oey Yong, yang menanyakan banyak sekali perihal Yo Him.
In Lap Siansu menceritakan apa yang diketahuinya dan
diapun menyatakan bahwa Yo Him telah diangkat sebagai adik
oleh Wie Tocu dari Kaypang, serta memperoleh sebuah
Kimpay dari toakonya itu. Tentu saja pemberitahuan In Lap
Siansu itu telah mengejutkan, bahkan meng girangkan sekali
hati Kwee Ceng dan Oey Yong. Dia membayangkan,
betapapun juga Yo Him telah memiliki suatu keluar biasaan
lain jika di bandingkan dengan pemuda2 lainnya yang sebaya
dengan dia. Misalnya saja Bu Heng-te (dua orang saudara Bu),
diwaktu mudanya, mereka sama sekali tidak berarti apa2 dan
tidak mengalami sesuatu yang luar biasa didalam persilatan,
sampai akhirnya salah seorang dari Bu Hengte
Itu telah menikah dengan Kwee Hu, anak dari Kwee Ceng -
Oey Yong.
Tetapi Yo Him, justru dalam usia demikian muda. ternyata
telah berhasil untuk mengangkat tali persaudaraan dengan
seorang tokoh persilatan seperti Wie Tocu dari Kaypang Kwee
Ceng dan Oey Yong memang mengetahui dan sering

mendengar bahwa Wie Tocu adalah seorang tokoh persilatan
yang sangat hebat sekali kepandaiannya, dia merupakan
orang terkemuka dalam persilatan.
Wie Tocu sesungguhnya bernama Wie Liang, merupakan
wakil pangcu dari Kaypang. Maka dari itu agak luar biasa jika
Kimpay miliknya itu justru telah diberikan kepada Yo Him
karena Kimpay Wie Tocu merupakan lambang dari kekuasaan
yang luar biasa tingginya.
JILID 14
Setiap Kimpay itu dikeluarkan, maka seluruh anggota
pengemis yang berada didaratan Tionggoan harus tunduk
siapa saja yang memegang Kimpay dari Wie Tocu itu adalah
merupakan wakil langsung dari Wie Tocu. tiap pengemis dari
tingkat mana saja yang menghadapi Kimpay tersebut harus
menganggap bahwa wakil Wie Tocu itu sebagai Wie Tocu
mendiri.
Tidak mengherankan jika berita yang didengar oleh Kwee
Ceng dan Oey Yong sangat mengejutkan sekali hati mereka.
Setelah lewat satu hari, ternyata Yo Ko tidak muncul seperti
yang telah direncanakan, sehingga orang2, gagah itu
menantikan lagi beberapa hari lamanya dipulau Ang Hwa To
tersebut, dengan hati diliputi oleh berbagai dugaan. Karena
Sin Tiauw Taihiap memang telah berjanji bahwa dia akan
berkunjung kepulau Ang Hwa To ber-sama2 dengan beberapa
orang gagah lainnya. Dan jika kedatangannya itu tidak
terlaksana, tentu didirinya terdapat suatu persoalan atau
urusan yang agak luar biasa.
Yo Him juga tidak sabar ingin melihat, sesungguhnya
bagaimana rupa dan wajah dari Sin Tiauw Taihiap, pendekar
besar dijaman ini. Walaupun sering terlihat Yo Him tengah

bermain dan bergurau dengan Siangkoan Peng ditepi pantai
dipesisir pulau tersebut, namun pikiran Yo Him sering melayang2
membayangkan wajah dari Sin Tiauw Taihiap....
Siangkoan Peng memang seorang gadis kecil yang lincah,
diapun sering memperlihatkan senyum dan tawanya. Sikapnya
yang periang sekali, selalu cerah dan ramai oleh gelak tawa
memaksa Yo Him untuk melenyapkan pikiran kesal dan
jengkelnya.
Sebagai seorang gadis yang periang, tentu saja dia dapat
menghibur Yo Him, walaupun tidak keseluruhannya.
Yo Him memang merupakan seorang anak lelaki yang sejak
kecil mengalami banyak sekali tekanan2 pada jiwanya,
sehingga seringkali dia bersikap murung dan bersedih hati.
Tetapi Siangkoan Peng telah dapat menghiburnya, karena
dia telah mengetahui Yo Him memiliki sifat2 yang pendiam
dan menghadapi sesuatu persoalan selalu dengan bersungguh2
dia tekun sekali.
Suatu hari, disaat mereka tengah ber-main2 dipesisir pantai
disebelah selatan dari pulau itu, tampak sebuah perahu
berukuran kecil tengah meluncur cepat sekali mendekati
pantai, menghampiri pulau tersebut.
Tentu saja Yo Him yang melihat perahu itu lebih dulu,
hatinya jadi terguncang keras, karena dia menduga bahwa
yang datang itu tentunya Yo Ko, pendekar besar yang tengah
dinantikan semua orang, yang menurut orang2 gagah yang
berada dipulau tersebut, Sin Tiauw Taihiap itu adalah
ayahnya.
Dalam waktu yang sangat singkat sekali, perahu itu telah
merapat dipantai dan tampak dari dalam perahu melompat
turun seorang lelaki bertubuh tinggi tegap, hanya saja
jalannya agak pincang, karena kaki kanannya lebih pendek
dari kaki kirinya.

Yo Him jadi heran dan telah mengawasi orang itu.
sedangkan Siangkoan Peng yang juga tidak mengenal orang
itu, telah mengawasi juga dengan hati yang men-duga2.
Orang yang berjalan pincang itu tampaknya, telah melihat
Yo Him dan Siangkoan Peng, dia telah menghampiri sambil
mengangguk tersenyum, katanya dengan suara yang sabar.
„Anak2, apakah Wie Kiam Kauwcu berada ditempat...?".
Siangkoan Peng yang periang telah berkata dengan suara
yang cepat, menyahuti pertanyaan itu. „Ada ! Ada ! Siapakah
Lopeh (paman) ?”.
„Lohu (aku orang tua), she Phang dan bernama Kui In. Aku
bermaksud menemui Wie Kiam Kauwcu untuk
memberitahukan sesuatu kepadanya...!".
„Oh...jika demikian, silahkan Lopeh langsung pergi
kemarkas besar itu saja, tentu Lopeh akan menemui Wie Kiam
Kauwcu...!".
„Terima kasih anak2...!" kata Phang Kui In.
Dan dengan langkah kaki yang ter-pincang2 dia telah
menyusuri pantai itu.
Tetapi, yang membuat Yo Him dan Siangkoan Peng jadi
terkejut, justru jalannya Phang Kui In begitu cepat dan lincah
sekali. Memang tampaknya dia berjalan dengan kaki yang
terpincang2, namun kenyataannya tubuhnya dapat bergerak
dengan sangat cepat sekali, tubuhnya seperti juga me-layang2
dan kakinya bagaikan tidak menginjak pasir.
Yo Him jadi memujinya tanpa dikehendaki nya. „Itulah ilmu
meringankan tubuh yang sangat hebat sekali ! Sungguh
mengagumkan sekali ! Sungguh menakjubkan sekali !".
Mendengar perkataan Yo Him yang cukup nyaring, yang
merupakan pujian, rupanya Phang Kui In telah mendengarnya,
dia lalu menghentikan langkah kakinya dan menoleh

kebelakang, kemudian menghampiri Yo Him dan Siangkoan
Peng lagi.
„Anak, tampaknya engkau mengerti ilmu silat...!" katanya
sambil tersenyum.
Dan Siangkoan Peng jadi terkejut, karena tahu2 tangan
orang she Phang itu telah bergerak, dia telah mengulurkan
tangannya itu untuk mencengkeram pergelangan tangan
Siangkoan peng.
Cepat2 Siangkoan Peng berkelit dan dia dapat
menghindarkan diri dari cekalan tangan orang itu.
“Hahahahahaha .. .” tertawa orang she Phang itu
dengan suara yang nyaring sekali. Tampaknya engkau
mempunyai kepandaian yang lumayan, sungguh baik ! baik !
usia kalian masih muda tetapi kalian telah dapat memiliki ilmu
meringankan tubuh yang cukup tinggi.
Yo Him tidak senang melihat Phang Kui In memperlakukan
begitu kepada siangkoan Peng, Dia telah menegurnya dengan
suara yang tidak senang.
“ Mengapa harus turunkan tangan kasar begitu lopeh ?”
Ditegur Yo Him, orang she Phang itu jadi melengak, dia
sampai memandang dengan tatapan mata tertegun. Tapi
dengan cepat dia telah berkata lagi “ ha ha ha, aku tidak
bermaksud buruk, adik kecil ! sungguh ! aku hanya ingin
melihatnya, apakah kalian memiliki ilmu meringankan tubuh
dan kepandaian.!”
Dan setelah berkata begitu, dengan cepat sekali Phang Kui
In telah bergerak lagi, dia telah mengulurkan tangan
kanannya dengan cepat luar biasa kearah Yo Him.
Serangan yang dilancarkannya sangat cepat berbeda
dengan gerakan yang dilakukannya tadi terhadap Siangkoan
Peng.

Yo Him terkejut, tetapi kepandaian yang di miliki Yo Him
juga tidak lemah. Walaupun dia tidak mengerti ilmu silat
secara mendalam, namun dia memiliki kepandaian yang
merupakan ilmu yang dahsyat sekali, sehingga dia selalu
dapat bergerak dengan sangat ringan dan cepat sekali.
Setiap serangan2 yang dilancarkannya itu sangat hebat dan
gesit sekali, maka tidaklah terlalu mengherankan, disaat
tangan orang tersebut tengah menyambar datang, dan belum
lagi jari tangan dari Phang Kui In mengenai pergelangan
tangannya, justru Yo Him telah memutar tangannya, dan telah
berhasil meloloskan diri dari cekalan tangan Phang Kui In.
Gerakan yang dilakukan oleh Yo Him sangat lincah dan
manis sekali. Tetapi karena Yo Him jadi penasaran oleh sikap
Phang Kui In yang seperti ingin menguji kepandaiannya. dia
telah meneruskan dengan membalas menyerang.
Phang Kui In mengeluarkan suara seruan tertahan karena
terkejut, karena tadi waktu dia mengulurkan tangannya untuk
mencekal pergelangan tangan Yo Him, dia telah
melakukannya dengan cepat sekali, dan jika memang
serangan tersebut dilancarkan kepada jago2 dari tingkatan
yang keempat atau kelima, tentu jago2 itu tidak mungkin bisa
meloloskan diri,
Tetapi Yo Him kini ternyata berhasil mengelakan diri dari
cekalannya itu, dan juga berhasil untuk membarengi dengan
melancarkan serangan membalas. tentu saja hal itu
merupakan suatu kejadian yang sangat aneh sekali.
Cepat sekali Yo Him telah mengeluarkan suara bentakan
dan kembali dia telah melancarkan serangan dengan
mengerahkan tenaga dalamnya sehingga Phang Kui In mau
tidak mau harus bergerak cepat.
Walaupun tenaga serangan dari Yo Him belum
mengandung tenaga menyerang yang bisa mematikan, tetapi
serangan2 itu telah menimbulkan angin yang cukup dahsyat,

Phang Kui In lekas2 berkelit, karena terlambat sedikit saja,
tentu ia akan rubuh ditangan Yo Him.
Dalam waktu yang sangat singkat, tampak serangan2 Yo
Him telah menyambar datang dengan gencar sekali, dan silih
berganti Yo Him melancarkan serangan2 dengan lincah dan
gesit luar biasa.
Tetapi Phang Kui In telah mengeluarkan suara tertawa dan
pujian kagum berulang kali.
„Bagus ! Bagus ! Tampaknya engkau memiliki bakat untuk
mempelajari ilmu yang sangat hebat, anak yang baik !" dan
setelah berkata begitu, dengan cepat Phang Kui In telah
mengelakkan serangan jari telunjuk tangan Yo Him, dia telah
mengelakkannya sambil mengayunkan tangan kanannya yang
mengibas dengan keras.
Kibasan tangannya telah mengeluarkan suara mendesir dan
samberan angin yang kuat. Dengan mengeluarkan seruan
tertahan, tampak tubuh Yo Him telah terpelanting diatas pasir.
„Bukk !" bukan main kerasnya tubuh Yo Him yang
terbanting diatas pasir.
Untung saja serangan yang dilakukan oleh Phang Kui In
memang telah diperhitungkan, maka serangan itu tidak
membahayakan diri Yo Him. walaupun dia telah terbanting
dipasir tetapi bantingan itu tidak menimbulkan perasaan sakit
apa2.
Dengan muka yang berobah merah, tampak Yo Him telah
melompat berdiri.
Baru saja YoHim ingin menegur, Phang Kui In telah
berkata, “Dengan adanya kenyataan seperti ini, ternyata Pek
Liong Kauw memang bukannya memiliki nama kosong belaka !
Hebat sekali, Hebat sekali ! Anak seusia seperti engkau ini
ternyata memiliki kepandaian yang sangat hebat sekali, dan
benar2 menimbulkan perasaan kagum dihatiku. dan setelah

berkata begitu Phang Kui In telah ber-tepuk2 tangan beberapa
kali.
Tanpa menantikan jawaban Yo Him ataupun Siangkoan
Peng, dia telah membalikkan tubuhnya, dan telah ber-lari2
cepat sekali, gerakannya seperti terbang. Phang Kui In telah
meninggalkan Yo Him dan Siangkoan Peng, dimana gadis kecil
itu berdiri diam tertegun dengan membisu.
Tetapi waktu mereka telah tersadar dari terkejutnya itu,
dengan cepat Yo Him dan Siangkoan Peng telah melompat
berlari untuk mengikuti Phang Kui In, karena mereka jadi ingin
mengetahui apa yang akan dilakukan oleh Phang Kui In, dan
siapakah orang yang berkaki pincang itu.
Tetapi, rupanya suara teriakan, atau yang lebih tepat lagi
adalah pekik kaget dari Yo Him telah menyebabkan beberapa
orang2 Pek Liong Kauw mendengarnya, dan mereka telah
berdatangan dengan cepat.
Gerakan mereka memang gesit dan dalam waktu yang
singkat lima orang anak buah Pek Liong Kauw yang bertugas
untuk menjaga keamanan ditempat bagian tersebut, telah
menghadang dihadapan Phang Kui In.
„Berhenti !" bentak salah seorang diantara mereka dengan
suara yang cukup nyaring.
Phang Kui In telah menghentikan larinya, dia berdiri
mengawasi sejenak kepada kelima orang yang menghadang
dirinya dengan bibir yang tersenyum, dan kemudian dia telah
berkata dengan suara yang cukup nyaring dan ramah".
„Maafkan, maafkanlah, atas kelancanganku ini ......”
Sesungguhnya kedatanganku ini memang sangat ceroboh
sekali, tanpa meminta ijin telah menginjakan kaki dipulau ini
...... ! Semua ini disebabkan aku membawa suatu berita
sangat penting sekali untuk Wie Kauwcu ........"

“Siapakah Hengtai ?" tanya orang yang tadi menegur,
suaranya lebih ramah dari tadi, karena dia melihat sikap
Phang Kui In cukup ramah dan tidak memperlihatkan tanda2
behwa kedatangannya itu mengandung maksud buruk. „Untuk
keperluan apakah ingin menemui Wie Kauwcu kami........?"
Phang Kui In telah tertawa lagi, dia telah berkata dengan
suara yang lembut. „Sesungguhnya dalam keadaan demikian
sulit untuk kujelas kan persoalan itu, sebab urusan ini aku
harus sampaikan kepada Wie Kauwcu dengan empat
mata.........!"
Kelima orang yang menghadang Phang Kui In jadi berdiri
ragu. Lalu salah seorang yang tadi telah menegur Phang Kui
In, telah bertanya kepada temannya". „Sesungguhnya, apakah
dia bermaksud baik atau tidak ?” bisik orang itu kepada
temannya.
„Kita belum bisa menentukan.,” jawab kawannya dengan
suaranya yang perlahan. “atau kita Laporkan saja perihal
orang ini kepada Wie Kauwcu "
Kawannya mengangguk.
„Begitupun baik engkau saja yang pergi melaporkan !" Kata
kawannya.
Orang itu mengiyakan, kemudian dia telah menoleh lagi
kepada Phang Kui in, katanya dengan suara yang cukup
ramah. Jika memang demikian, tunggulah sebentar disini.
aku ingin memberitahukan kedatangan Hengtai kepada Kauw
cu.. !”.
Phang Kui In mengangguk mengiyakanm dia telah berkata
“Baik ! Baik ! hanya saja aku telah merepotkan kalian !”
Dan orang itu telah meninggalkan keempat orang
kawannya, dia telah ber-lari2 untuk melaporkan perihal
kedatangan Phang Kui In kepada kauwcunya.

Disaat itu Phang Kui In telah bertanya kepada keempat
orang anggota Pek Liong Kauw tersebut.
„Apakah selama ini kalian belum menerima kedatangan
tamu ? tanyanya dengan suara yang ramah”
Keempat orang itu telah menggelengkan kepala perlahan
seperti juga mereka segan untuk ber cakap2 dengan Phang
Kui In, karena mereka memang belum mengetahui siapakah
adanya orang yang di hadapan mereka ini, Apakah kawan
ataukah lawan ?”
Maka dari itu keempat orang anggota dari Pek Liong Kauw
tersebut bermaksud ingin ber diam diri saja dahulu.
Tidak lama kemudian dari arah markas besar Pek Liong
Kauw telah datang serombongan orang, yang jalan dimuka
adalah Wie Kiam Kauwcu diiringi oleh In Lap siansu dan
beberapa orang anggota Pek Liong Kauw.
Sedangkan orang yang tadi pergi melapor, telah menunjuk
kearah Phang Kui In, samar2 telah terdengar suaranya yang
cukup nyaring. „Orang itulah yang ingin bertemu dengan
Kauwcu !”
Wie Kiam sejak melihat Phang Kui In. Telah mengerutkan
alisnya, dia tidak mengenal orang she Phang itu.
„Siapakah dia ?" pikir Wie Kiam didalam hatinya, dia heran
bukan main. „Mengapa dia ingin menemuiku ?"
Dan setelah berpikir begitu, saat itu dia telah tiba
dihadapan Phang Kui In. Phang Kui In telah melihat Wie Kiam,
cepat2 dia merangkapkan kedua tangannya, dan telah
menjura memberi hormat, katanya. „Tentunya yang ada
dihadapan Siauwte (adik) adalah Wie Kiam Kauwcu yang
sangat terkenal sekali bukan?"
Wie Kiam mengangguk sambil cepat2 membalas
penghormatan tamunya itu, walaupun dia masih belum
mengetahui siapa adanya tamunya itu.

„Benar.......!'" dia telah membenarkan. „Dan siapakah
Hengtai ? Ada urusan apakah Hengtai mencariku ?"
„Siauwte she Phang dan bernama Kui In, dan
sesungguhnya memiliki suatu urusan yang cukup penting,
yang akan Siauwte sampaikah hanya empat mata dengan Wie
Kiam Kauwcu..... "
Wie Kiam tampak jadi heran dan bimbang. Dia bukan kuatir
nanti orang she Phang ini melakukan tipu daya untuk
mencelakai d'irinya, karena Wie kiam juga memiliki
kepandaian yang sangat tinggi dan tentu bisa mengatasinya
jika sampai Phang Kui In bermaksud tidak baik.
Tetapi yang mengherankan sekali, mengapa Phang Kui In
telah meminta agar mereka berbicara empat mata saja
dengan dia.
Tetapi sebagai seorang kauwcu yang memiliki
kebijaksanaan, maka dia telah berkata dengan suara yang
sabar „Apakah urusan yang akan disampaikan oleh Hengtai
merupakan urusan yang sangat penting ?"
Phang Kui In telah mengangguk sambil mengiyakan
„Urusan itu hanya bisa dibicarakan dengan anda dibawah
empat mata, Wie Kauwcu" kata Phang Kui In kemudian.
„Hemm, jika memang demikian, aku tidak keberatan !" kata
Wie Kiam Kauwcu. „Tetapi sekarang katakanlah dulu,
menyangkut persoalan apakah urusan yang ingin disampaikan
oleh Heng tai”
Phang Kui In tampak ragu2 tetapi kemudian dia telah
berkata dengan suara yang perlahan ‘Menyangkut masalah
keselamatan pulau Ang Hwa To...!".
„Menyangkut keselamatan pulau Ang Hwa To ?" tanya Wie
Kiam kauwcu dengan suara terkejut, karena walaupun
bagaimana perkataan yang dinyatakan oleh Phang Kui In
merupakan suatu pernyataan yang sangat lancang sekali.

„Hemm...memang agak luar biasa, apakah ada seseorang
yang bermaksud akan melanggar pulau Ang Hwa To kami ?
Melanggar Pek Liong Kauw ?" tanyanya kemudian dengan
suara yang dingin sekali.
„Bukan begitu, bukan begitu.,.!" kata Phang Kui In cepat;
.„Tetapi masalah ini menyangkut urusan yang sangat besar
sekali, dan termasuk ke selamatan Pek Liong Kauw...!'Akhh,
urusan demikian penting, tidak bisa aku menyampaikannya
dihadapan banyak orang ! Jika memang kauwcu bersedia
mendengar laporanku hanya dibawah empat mata, maka aku
akan menyampaikannya. tetapi jika kauwcu keberatan, biarlah
aku tidak akan mengatakannya...!".
Wie Kiam Kauwcu jadi agak ragu2, dia telah berdiam diri
sejenak, tetapi kemudian sambil menghela napas dia telah
berkata. „Baiklah ! Mari silahkan ikut denganku !".
Dan setelah berkata begitu. Wie Kiam menoleh kepada
seseorang yang disampingnya, dia bicara bisik2, kemudian
melangkah meninggalkan rombongannya agak jauh.
Sedangkan Phang Kui In setelah melihat kauwcu itu telah
melangkah akan meninggalkan rombongannya, dia telah
mengikutinya dari belakang.
Setelah berjalan puluhan tombak, Wie Kiam menoleh dan
bentaknya kepada Phang Kui In ; „Apakah sekarang dapat
engkau bicara dengan tenang disini ?".
Phang Kui In telah memandang kesekelilingnya, dia telah
melihat keadaan disekitar tempat itu memang sepi dan tidak
terlihat seorangpun juga.
Maka akhirnya Phang Kui In telah mengangguk dengan
cepat, dia telah berkata dengan suara yang sabar sekali
„Benar ! Memang tempat ini cocok untuk kita ber-cakap2 !".
„Sekarang katakanlah, apa yang ingin kau bicarakan ?"
tanya Wie Kiam Kauwcu kemudian.

„Urusan ini sesungguhnya Urusan yang sangat penting
sekali, jika disaat sekarang ini kauwcu belum mendengarnya,
karena urusan ini sangat dirahasiakan sekali, maka walaupun
Pek Liong Kauw memiliki banyak orang2nya yang tersebar
didaratan Tioaggoan, tetapi perihal peristiwa ini tentunya tidak
didengar oleh Kauwcu........... !"
„Urusan apakah itu ?” tanya Wie Kiam Kauwcu dengan
suara yang tidak sabar,
„Urusan ini merupakan urusan yang sangat penting sekali,
yaitu urusan dengan munculnya seorang tokoh dipersilatan
yang diperalat oleh pemerintah Mongolia ...... !" kata Phang
Kui In kemudian dengan suara yang sabar. „Tokoh persilatan
itu memiliki kepandaian yang sangat hebat sekali. Jika sampai
sekarang Kauwcu belum mengetahuinya, karena tokoh
persilatan itu bekerja secara diam2, dan juga mengatur
orang2 nya dengan segala kepandaiannya yang ada secara
sembunyi2, untuk memberantas orang2 gagah didalam rimba
persilatan......... ! Dan yang kuketahui, justru Pek Liong Kauw
merupakan salah satu nama yang terdaftar, dimana harus
dibasmi habis. Karena jika orang2 gagah berdiri dipihak
pemerintah, tentunya waktu orang2 Mongolia itu melakukan
penyerbuan, dengan sendirinya akan mempersulit mereka.
Karena itu mereka ingin membasmi dulu orang2 gagah
didaratan Tionggoan, baru kelak melakukan penyerangan dan
menyerbu masuk ketapal batas...!".
Kauwcu dari Pek Liong Kauw itu jadi terkejut juga
mendengar perkataan Phang Kui In. dia sampai memandang
tertegun. Sama sekali dia tidak menyangka bahwa urusan
menyangkut masalah pemerintahan.
Tetapi sebagai seorang kauwcu yang telah seringkali
mengalami banyak peristiwa dan urusan2 yang sangat penting
dan besar, maka dia cukup tenang untuk menghadapinya.
Dengan tersenyum sabar, kemudian Wie Kiam Kauwcu telah

bertanya. „Sesungguhnya, darimanakah mereka itu
mengetahui perihal Pek Liong Kauw ?".
Phang Kui In tertawa ber-gelak2 dengan nada yang tinggi,
katanya kemudian. „Lucu ! Lucu sekali !" katanya. "Mungkin
kauwcu memang meragukan perkataanku itu dan mengira
keteranganku itu hanyalah suatu keterangan yang palsu
belaka.
Wie Kiani Kauwcu telah menggelengkan kepalanya, dia
telah berkata. „Bukan, bukan begitu !" katanya cepat.
„Sesungguhnya didalam persoalan ini yang dipentingkan
adalah fakta dan kenyataan dari bukti2 yang harus kau
kemukakan, jika tidak terdapat bukti2, bagaimana aku bisa
mempercayai keteranganmu itu ?”.
Mendengar perkataan "Wie Kiam Kauwcu, sejenak Phang
Kui In berdiam diri, kemudian dia telah berkata. „Baiklah Jika
memang kauwct» hendak meminta bukti dariku, aku tidak
akan keberatan, aku akan mengeluarkannya ! Di samping itu,
jika kauwcu masih ingat! tentu kauwcu akan membenarkan
perkataanku. Semuanya harus dilakukan dengan jujur ! Pertama2,
kauwcu harus mengiyakan jika memang pertanyaanku
itu benar, dan menolak jika tidak benar ! Bagaimana, apakah
kauwcu bersedia untuk melakukan nya ?".
„Bersedia..!" mengangguk Wie Kiam Kauwcu. „Kau
tanyakanlah...!".
Mendengar perkataan Wie Kiam Kauwcu yang tampaknya
begitu yakin, Phang Kui In menjadi senang sekali, dia telah
berkata. „Nah, kini katakanlah yang jujur, Wie Kauwcu,
bukankah Sin Tiauw Taihiap berjanji akan datang berkunjung
ke Ang Hwa To ini ?".
Mendengar perkataan dari Phang Kui In yang terakhir ini,
tentu saja Wie Kiam Kauwcu jadi tertegun, kembali dia jadi
ragu2, karena walau pun bagaimana dia memang tidak dapat
mengatakan „Ya !" atau "Tidak". Per-tama2, jika dia

mengatakan Ya, berarti dia membongkar suatu urusan yang
sangat penting karena persoalan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
akan berkunjung ke Ang Hwa To merupakan urusan yang
dirahasiakan sekali. Dan jika dia membenarkan, bukankah hal
itu melancangkan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ? Tetapi jika dia
mengatakan tidak, tentu saja dia pun tidak bisa
melakukannya, karena memang Wie Kiam Kauwcu tidak
biasanya berdusta.
Kenyataan seperti ini telah membuat Wie Kiam Kauwcu jadi
berada dalam posisi yang serba sulit. Tetapi setelah berdiam
diri sejenak dia telah berkata dengan suara ragu2. „Dalam hal
ini, tidak bisa aku membicarakannya...karena memang
persoalan ini bukan merupakan masalah yang biasa......!
Sedangkan aku belum lagi mengenal benar siapa diri anda !
Maafkan, untuk ini aku tidak bisa menjawabnya.......!"
Mendengar perkataan Wie Kiam Kauwcu, tentu saja hal ini
telah membuat Phang Kui In tertawa ber-gelak2.
„Bukankah tadi Kauwcu telah berjanji, akan bicara dari hal
yang sejujurnya ?" tanyanya.
„Benar....... tetapi jika memang masalahnya menyangkut
perihal keselamatan Ang Hwa To." jawab Kauwcu dari Pek
Liong Kauw ini. „Jika memang dalam masalah lain, itu bukan
wewenang ku !"
Mendengar perkataan terakhir dari Wie Kiam Kauwcu, tentu
saja Phang Kui In jadi memperoleh sedikit kesulitan, dia telah
berkata lagi dengan suara ragu2. „Dalam persoalan ini,
walaupun menyangkut orang luar dari Pek Liong Kauw, tetapi
juga akhirnya memiliki sangkut paut dengan Pek Liong Kauw !
Maka dari itu, jika memang Kauwcu memberikan jawaban
yang meyakinkan dan jujur, aku akan menjelaskan seluruhnya
dengan benar dan jelas....... !"

„Tetapi masalah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, pendekar agung
itu, bukanlah merupakan suatu persoalan yang mudah untuk
dijadikan bahan percakapan yang tidak ada artinya...!".
Mendengar perkataan Wie Kiam Kauwcu, Phang Kui In
telah berkata lagi. „Kenyataannya memang Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko bermaksud akan datang berkunjung ke Ang Hwa To ini,
tetapi sekarang sampai detik ini. bukankah Sin Tiauw Taihiap
Yo Ko belum lagi terlihat batang hidungnya..?"
Mendengar perkataan Phang Kui In seketika itu juga
semangat Wie Kiam Kauwcu seperti terbang meninggalkan
raganya, mukanya telah berobah menjadi pucat, bahkan dia
telah berkata lagi dengan suara yang dingin. „Apakah didalam
persoalan ini, memang benar2 engkau datang untuk
menyampaikan persoalan yang memiliki sangkut paut dengan
diri Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ?".
„Tepat ! Sejak tadi aku telah mengatakan, bahwa urusan ini
malah menyangkut keselamatan pulau Ang Hwa To !"
menyahuti Phang Kui In.
“Tetapi... tetapi..!".
„Yang jelas kini, jika sampai Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tidak
menepati janjinya untuk berkunjung kepulau ini, lalu dalam
persoalan tersebut apakah tidak terdapat kejanggalan ? Tentu
saja ada ! Karena Sin Tiauw Taihiap sendiri tengah
menghadapi suatu kesulitan yang sukar dihadapi olehnya........
!"
Wie Kiam Kauwcu tampaknya jadi agak bingung, dia
menghela napas beberapa kali, kemudian tanyanya. „Jadi
dalam persoalan ini tampaknya engkau ber sungguh2 ingin
menyampaikan masalah yang jauh lebih penting dari urusan
Sin Tiauw Taihiap, dan juga engkau tidak terdesak oleh
tekanan2 untuk membuktikan akan keadaan dirimu dan
kebenaran dan keteranganmu itu, yang tentunya engkau tidak

akan meminjam nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Bukankah
begitu ?"
„Tentu saja..... tentu saja ..... !" mengangguk Phang Kui In.
„Memang dalam persoalan ini tentu saja akupun memiliki
suatu kepentingan yang saling berpegangan erat dengan
persoalan yang menyangkut dengan keadaan yang dihadapi
Pek Liong Kauw kelak ...... ."
Kauwcu dari Pek Liong Kauw telah mengerutkan sepasang
alisnya, dia telah bertanya dengan suara yang dingin dan
tatapan mata yang sangat tajam sekali. „Sesungguhnya,
darimanakah engkau memperoleh sumber2 seperti itu ?".
„Maksud kauwcu sumber keterangan2 yang telah
kuberikan, bukan ?" tanya Phang Kui In kemudian.
Wie Kiam Kauwcu telah mengangguk cepat, dia telah ber
tanya lagi dengan suara yang tetap dingin dan tatapan mata
yang tetap tajam.
„Nah dalam persoalan ini, jika engkau dapat membuktikan
dan meyakinkan diriku, tentu aku akan mempercayai penuh
akan keteranganmu itu...!".
Mendengar perktaaan Wie Kiam Kauwcu. Phang Kui In jadi
tertawa ber-gelak2 dengan suara yang nyaring sekali dan dia
telah berkata dengan suara yang lantang, „Jika dalam
persoalan ini kauwcu tetap tidak dapat mempercayai diri dan
keteranganku, hal itupun tidak menjadi persoalan, karena
akupun tidak akan terlalu memaksanya...! Nah, sesungguhnya
kauwcu bermaksud untuk mendengar keterangan dariku atau
tidak ?".
Wie Kiam Kauwcu telah tertawa dingin „Jika engkau belum
bisa membuktikan secara meyakinkan bahwa engkau berasal
dari mana dan memperoleh sumber keterangan seperti itu dari
siapa, maka aku belum ingin bicara denganmu cara
terbuka...!".

„Hemm, tampaknya memang kauwcu masih mencurigai
keadaan diriku !" kata Phang Kui In kemudian. „Tetapi dengan
melihat saja bahwa aku dapat mengetahui jelas bahwa Sin
Tiauw Taihiap telah berjanji akan datang berkunjung kepulau
Ang Hwa To, hal itu sudah merupakan suatu persoalan yang
cukup mengherankan kauwcu. bukan ? Dan itupun sudah
merupakan bukti bahwa aku mengetahui urusan itu dengan
jelas sekali...Dan juga, dalam keadaan seperti sekarang, jika
persoalan itu merupakan persoalan biasa saja, dari mana aku
bisa mengetahui bahwa Sin Tiauw Taihiap akan berkunjung ke
Ang Hwa To ?".
Mendengar pertanyaan Phang Kui In yang terakhir Wie
Kiam Kauwcu jadi bimbang sendiri nya.
Memang apa yang dikatakan oleh Phang Kui In
merupakan hal yang sebenarnya, karena dalam persoalan ini
tentu tidak akan ada orang yang mengetahui maksud
kunjungan Sin Tiauw Taihiap kepulau Ang Hwa To, karena
persoalan itu dirahasiakan benar, hanya beberapa orang saja
dari orang kepercayaannya yang mengetahui rencana
kunjungan Sin Tiauw Taihiap.
Dalam persoalan ini mungkin Sin Tiauw Taihiap tengah
menghadapi suatu persoalan yang rumit sekali, karena jika
memang tidak tentu dia akan tiba tepat dalam waktu yang
telah dijanjikannya ....... !
Dan kini sampai sekarang Sin Tiauw Taihiap tidak juga
muncul, sehingga Sin Tiauw Taihiap telah gagal dengan
janjinya yang telah lewat beberapa hari.
Maka Wie Kiam Kauwcu jadi semakin digeluti oleh perasaan
ragunya.
„Baiklah ! Memang benar Sin Tiauw Taihiap telah berjanji
ingin berkunjung kepulau Ang Hwa To ....... ! Nah,
sekarang engkau katakan, dari mana engkau mengetahui
persoalan itu ?"

„Aku mengetahuinya dari Sin Tiauw Taihiap sendiri !!" kata
Phang Kui In dengan suara yang nyaring.
„Hah ?” tentu saja Wie Kiam Kauwcu jadi terkejut, dan dia
memandang tidak percaya kepada Phang Kui In,
„Jika kauwcu masih tidak bisa mempercayai diriku, hal itu
juga sulit sekali dibilang..!" kata Phang Kui In kemudian.
„Memang dalam persoalan ini terdapat urusan yang penting,
keselamatan dari puluhan ribu anggota Pek Liong Kauw...!
Dengan sendirinya, jika dalam persoalan ini kauwcu bertindak
ceroboh, tentunya akan membuat anak buah dari Pek Liong
Kauw itu, secara keseluruhannya akan menerima bencana
yang tidak kecil...!".
Mendengar perkataan Phang Kui In yang terakhir, tentu
saja Wie Kiam Kauwcu jadi digeluti oleh kebimbangan yang
sangat, karena memang tepat apa yang dikatakan oleh Phang
Kui In, jika dalam persoalan ini dia berlaku ceroboh tentu
keselamatan dari seluruh anggota Pek Liong Kauw akan
terancam !
Karena itu Wie Kiam Kauwcu telah menghela napas.
„Aneh juga, engkau selalu bicara dengan suara yang sangat
dirahasiakan sekali, dengan kata2 yang terlalu ber-belit2,
sehingga sulit untuk aku mempercayai dengan penuh
keyakinan seluruh ke teranganmu itu ! Bagaimana aku bisa
mengajakmu bicara dengan hati terbuka ?". Phang Kui In
telah berkata dengan suara yang berubah menjadi lemah.
„Baiklah...memang dalam persoalan ini aku yang telah
bersalah, bicara terlalu ber-hati2 ! Sekarang begini saja, aku
pernah ditawan, dan justru aku dimasukkan kedalam kamar
tahanan, dimana didalam kamar tahanan itu terdapat Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko ..!"
„Hah..?" berseru Wie Kiam Kauwcu dengan suara yang
terkejut, karena dia merasa kaget mendengar Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko telah tertawan oleh seseorang. sedangkan

dalam persoalan tersebut Wie Kiam Kauwcu juga tidak bisa
mempercayai sepenuhnya, karena walaupun bagaimana sulit
dipercaya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah tertawan oleh
seseorang, sedangkan kepandaian yang dimiliki Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko sudah mencapai puncak kesempurnaannya,
sehingga sulit sekali dipercaya bahwa dia telah berhasil
dirubuhkan begitu saja.
Karenanya Wie Kiam Kauwcu jadi memandang dengan
tatapan mata yang tidak mempercayai, akhirnya dia telah
berkata dengan suara yang tawar. „Jika memang engkau
mengatakan bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap, hal itu
mungkin masih bisa kupercayai ........ tetapi jika engkau
mengatakan bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap dalam kamar
tahanan, dimana Sin Tiauw Taihiap Yo Ko telah tertawan, hal
itu merupakan suatu dusta yang menimbulkan tertawa geli
dihati...!”
“Tetapi hal ini benar2 telah terjadi !" berkata Phang Kui In
dengan wajah ber-sungguh2.
„Baiklah, teruskan ceritamu ...... !"
„Aku ditawan oleh salah seorang Mongolia yang
memelihara jenggot dan kumis lebat sekali, dia begitu hebat
kepandaiannya, hanya dalam beberapa jurus saja aku telah
berhasil dirubuhkan ! Aku telah ditawan dan dimasukan
kedalam kamar tahanan batu yang rapat sekali, kemudian dia
telah mengunci kembali pintu batu itu dengan
mempergunakan alat rahasia. Sedangkan dalam saat2 seperti
itu, aku telah mulai biasa dengan keadaan yang gelap pekat,
aku mulai dapat melihat seseorang disudut dinding tengah
duduk ber semedhi".
“Sin Tiauw Taihiap Yo Ko” menyahuti Phang Kui In. „Tetapi
waktu itu aku belum mengetahui bahwa orang itu adalah Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko...aku telah menghampirinya dan bertanya
dengan suara yang ragu2. “Siapakah engkau ? Apakah engkau
ditawan di sini juga ?" dan orang itu telah mengawasiku

dengan tatapan mata yang sangat tajam sekali, dia telah
berkata dengan suara yang dingin. “Tidak perlu tahu..! Engkau
di tawan di tempat ini, karena dalam parsoalan ini engkau
tidak gagah !" dan perkataan itu mengandung nada yang
sangat angkuh sekali, tentu saja telah membuat aku jadi
mendongkol sekali. Aku segera berkata. „Jika memang aku
tidak perlu tahu keadaanmu, tentu engkau juga tidak perlu
tahu keadaanku" Mendengar perkataanku itu. nampaknya
orang tersebut jadi gusar. Dia telah berkata. “Aku mengetahui
bahwa engkau ditawan, Engkau telah ditangkap dan
dimasukkan kedalam kamar tahanan ini! Dan seperti aku
katakan, bahwa engkau memang tidak memiliki kepandaian
yang tinggi, sehingga engkau telah berhasil ditangkap
demikian rupa....! Hemm. tetapi sebaliknya, aku justru bukan
ditawan, tetapi aku memang hendak berdiam disini tidak mau
pergi...!" Aku jadi heran mendengar perkataan orang itu,
sehingga aku mengawasinya dengan tatapan mata yang
sangat tajam sekali, aku telah bertanya. „Mengapa begitu ?"
dan orang itu telah menyahuti. „Jika aku sudah mengatakan
aku tidak mau pergi dari tempat ini, itupun sudah jauh lebih
baik dari segala persoalan yang ada. karena engkau telah
mengetahui, maka engkau tidak perlu banyak bertanya.
Nasibmu sangat beruntung, karena aku bersedia untuk
membantu kau melarikan diri jika memang engkau ingin
melarikan diri ! Maukah engkau ?" Saat itu aku ragu2, karena,
walaupun bagaimana memang dalam persoalan ini telah
membuat aku kuatir kalau2 orang ini justru orangnya dari
orang Mongolia yang telah menangkapku, yang sengaja
memancingku..! Aku telah mengawasinya dengan tajam dan
memperhatikan keadaan orang itu, segera aku telah
melihatnya, orang itu duduk bersila dengan tubuh yang tegap,
dengan muka yang tampan dan juga dengan tangan kanan kiri
yang di turunkan. Yang mengejutkan, justru tangan kanannya
yang buntung, dimana lengan jubahnya itu terjuntai lemas
tidak ada isinya...tentu saja hal ini telah membuat aku jadi
heran, dan teringatlah aku akan seseorang...sedangkan orang

itu telah berkata dengan suara yang dingin. „Engkau rupanya
teringat kepada seseorang, bukan ?" tanyanya.
„Ya, memang benar...!" jawabku kemudian sambil
mengangguk dan telah membenarkan pertanyaannya itu.
Sedangkan orang itu telah berkata lagi ; „Memang benar, aku
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Dan aku ingin membantumu jika
memang engkau ingin melarikan diri dari tempat ini...! tetapi
saat itu aku masih ragu2, dan hanya memandanginya saja.
Dan orang itu, yang mengaku sebagai Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
telah tertawa dingin. Dia telah berdiam diri saja. Aku jadi
serba salah, dan akupun telah duduk disudut. dinding lainnya
untuk mengasoh...”.
Wie Kiam Kauwcu telah mendengarkan dengah penuh
perhatian.
„Bagaimana wajahnya ?” tanyanya kemudian.
„Muda dan tampan sekali, seperti juga seorang pemuda
dua puluh lima tahun ...... !" menjelaskan Phang Kui In.
Mendengar itu tentu saja Wie Kiam Kauwcu jadi terkejut
lagi. kerena memang Sin Tiauw Taihiap walaupun telah
berusia hampir empat puluh tahunan lebih, tetapi masih
memiliki paras muka yang tampan dan seperti seorang
pemuda yang berusia dua puluhan tahun, karena dia memiliki
lwekang yang sangat sempurna sekali, sehingga membuat Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko jadi awet muda.
Saat itu tampak Phang Kui In telah melanjutkan
ceritanya.„Aku telah berdiam diri cukup lama, sampai akhirnya
aku tidak bisa menahan kesabaranku lagi. „Menurut cerita
orang, Taihiap Yo Ko selalu berada berdua dengan isterinya,
yaitu Liehiap Siauw Liong Lie, tetapi engkau hanya seorang
diri, bagaimana aku bisa mempercayainya bahwa engkau
adalah Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ?” Mendengar itu, Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko jadi tertegun, dia telah memandang dengan
sorot mata yang tajam kepadaku, namun sepatah perkataan

juga tidak diucapkannya. Tetapi berselang lama juga, dia telah
bertanya dengan suara yang dalam. „Engkau memiliki
kepandaian yang cukup tinggi, jika tadi kukatakan engkau
memiliki kepandaian yang tidak sempurna, karena engkau
harus menghadapi orang Mongolia itu, yang merupakan jago
dari Kublai Khan! Maka dari itu. jika menghadapi jago2 biasa,
engkau tentu dapat menghadapinya dengan baik sekal. Dan
jika sekarang engkau masih penasaran, dengan kepandaian
yang engkau miliki itu, cobalah engkau serang diriku !" dan
setelah berkata begitu, orang tersebut, yang mengaku sebagai
Sin Tiauw Taihiap, telah ber-siap2 duduk tegak menantikan
serangan dariku".
„Aku ragu2, tetapi kemudian disebabkan aku memang ingin
membuktikan bahwa orang ini benar atau bukan merupakan
jago nomor wahid masa kini, yaitu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
aku telah bangkit berdiri, aku menghampirinya dan
mengulurkan tanganku, dan disaat itulah aku telah
menggempurnya dengan mempergunakan telapak tangan
kananku, sambil membentak. „Jagalah serangan...!" dan cepat
bukan main, telapak tanganku itu telah meluncur dengan
cepat sekali, untuk menghantam keras sekali kearah dadanya"
„Tetapi Sin Tiauw Taihiap itu tenang2 saja duduk ditempatnya,
dia hanya mengawasi datang nya telapak tangan dari
seranganku itu, dia telah menatap dengan tatapan mata yang
tajam sekali. Dan disaat itulah terlihat ketika telapak tangan
ku yang tengah menyambar hanya terpisah beberapa dim,
dengan gerakan yang sangat cepat, dia telah menggerakkan
telapak tangan kanannya, dia telah mengibas dengan kuat
sekali, maka seketika itu juga meluncur angin kibasan yang
sangat kuat sekali, dan se-konyong2 tubuhku jadi terlempar
melayang ketengah udara, dan itupun sangat membingungkan
sekali bagiku, karena aku tidak melihat dia menggerakkan
tangan kirinya, dan juga aku tidak melihat dia mengibas
dengan jubah tangan kanannya yang kosong. Tetapi mengapa
tubuhku bisa terpental begitu ?",

„Cepat2 aku telah memusatkan tenagaku, dan telah
berusaha mengendalikan tubuhku, tetapi di-saat2 seperti
itulah, dengan cepat sekali tubuhku telah melayang meluncur
terbanting dilantai. Keras sekali bantingan itu, sehingga aku
merasakan kepalaku pusing, mata nanar dan gelap. Aku jadi
mengeluh dan merangkak bangun." Ketika itu, Yo Taihiap
telah berkata dengan suara yang dingin “ayo seranglah diriku
lagi !” perkataan itu merupakan ejekan, maka secepat kilat
aku telah menggerakan kakiku, wuttttt !” cepat bukan main
kaki kananku itu telah melayang menyambar kearah dadanya
dan dengan segera aku mengincar jalan darah Ma Tung
Hiatnya, yang akan kutendang agar segera terbinasa. Dalam
keadaan demikian, tampaknya Yo Taihiap yang tengah duduk
bersemedi seperi itu sulit sekali mengelakan diri dari
tendangan yang aku lakukan. Dan aku yakin tendangan
tersebut akan mengenai sasarannya. Tetapi diwaktu kakiku.
mengenai dadanya. Dan menendang dengan tepat sekali jalan
darah Ma Tung Hiatnya, disaat itu juga aku merasakan seperti
menendang lapisan baja dan aku merasakan kakiku seperti
terkilir, sakit luar biasa, sehingga dalam waktu sekejab mata
saja, telah menyebabkan aku meng aduh2 kesakitan sambil
memegangi kakiku, mukaku tentu saja meringis, dan Yo
Taihiap telah mengawasiku dengan sikapnya yang acuh tak
acuh, dia juga telah berkata dengan suara yang dingin. „Ayo
serang lah lagi...!" Dan aku merasakan bahwa perkataan nya
itu merupakan ejekan belaka, dengan memaksa diri aku telah
merangkak bangun untuk berdiri, tetapi tidak segera
melancarkan serangan, karena aku jadi berpikir keras, dengan
cara apa aku harus melancarkan serangan kepadanya...".
Wie Kiam Kauwcu yang mendengarkan cerita Phang Kui In
jadi mengawasi dengan tertarik sekali, dia mendengarkan
dengan ber-sungguh2.
Sedangkan anggota dari Pek Liong Kauw. yang terpisah
puluhan tombak, telah mengawasi saja kauwcu mereka
tengah ber-cakap2 dengan 'tamu' tidak diundang tersebut,

mereka tidak mendengar apa yang diucapkan oleh sang 'tamu'
itu, yang mulutnya telah berkemak-kemik tidak hentinya,
sedangkan Wie Kiam Kauwcu tampaknya telah berdiri diam
mengawasi saja dengan mata yang terpentang lebar2.
Disaat itu Yo Him dan Siangkoan Peng juga telah tiba
didekat rombongan anggota Pek Liong Kauw, tetapi mereka
berdiri diam tidak berani mengucapkan sepatah perkataanpun
juga tampaknya kedua anak ini diliputi tanda tanya yang
membinggungkan karena mereka telah menyaksikan
rombongan anggota dari Pek Liong Kauw telah berdiri diam
saja dengan jarak terpisah yang cukup jauh dengan Kauwcu
mereka, yang tengah mendengarkan cerita dari Phang Kui
In....
Tentu saja hal ini telah membuat Yo Him men-duga2,
bahwa dalam persoalan ini tentunya terdapat suatu pestiwa
yang sangat iuar biasa... maka Yo Him dan Siangkoan Peng
telah berdiam diri saja, untuk menyaksikan peristiwa
berikutnya.
“Sebetulnya siapakah dia adik Him ?" tanya Siangkoan Peng
sambil mengawasi bimbang kepada Phang Kui In yang tengah
ber kata2 terus kepada Kauwcu dari Pek Liong Kauw itu,
karena mulutnya tampak ber gerak2 terus, walaupun mereka
yang jaraknya terpisah begitu jauh tidak mendengarnya.
„Aku sendiri mana tahu ! hanya saja, dia sangat nakal dan
kasar, dia telah menjatuhkan diriku dengan mudah
membanting sehingga aku menderita kesakitan .. ..... , Tetapi
mengapa Wie Kiam Locianpwe menerimanya untuk bertemu
begitu rupa ? Mengapa tampaknya Wie Kiam Locianpwe
tengah mendengarkan tertegun keterangannya ? Apakah
memang dalam persoalan ini terdapat suatu peristiwa yang
hebat ? Dan...apakah kedatangan orang itu membawa
bencana...?".
Tetapi Yo Him dan Siangkoan Peng mana bisa mengetahui
urusan apa yang akan terjadi ? Sedangkan anggota2 Pek

Liong Kauw dari golongan tua yang berada ditempat itu saja
juga masih tidak mengetahui, sesungguhnya urusan apakah
yang tengah dibicarakan oleh kauwcu mereka terhadap 'tamu'
yang mengaku bernama Phang Kui In itu, yang katanya
membawa berita hebat, yang hanya bisa disampaikan kepada
Wie Kiam Kauwcu secara empat mata...?
Saat itu Phang Kui In telah melanjutkan pula ceritanya,
katanya. „Aku memang tengah ragu2 untuk melancarkan
serangan lagi kepadanya, karena aku kuatir, jika aku
melancarkan serangan lagi kepadanya, diriku sendiri yang
akan celaka dipersakiti olehnya...! Jika dilihat dalam dua
gebrakan itu saja, memang telah terbukti bahwa kepandaian
orang itu, yang mengaku sebagai Sin Tiauw Taihiap,
merupakan kepandaian yang sangat hebat sekali...dengan
sendirinya, hal ini telah membuat aku jadi berpikir dua kali
untuk melaksanakan serangan2 berikutnya!",
„Lalu apakah orang itupun, Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
berdiam diri saja ?” tanya Wie Kiam Kauwcu penuh perhatian.
„Ya, selama itu dia hanya berdiam diri saja, karena
memang dia sama sekali tidak pernah menggerakkan
tangannya, untuk menyambuti serangan2ku sebanyak dua kali
itu. Tetapi anehnya, yang sangat mengherankan sekali, justru
di-saat2 seperti itu. aku telah terpental setiap kali melancarkan
serangan kepadanya. Mungkin juga Sin Tiauw Taihiap telah
mempergunakan tenaga dalamnya yang kuat sekali untuk
melancarkan gempuran2 yang sangat kuat sekali, yang
membuat setiap tenaga seranganku itu terpukul mental
membalik dan menghantam diriku sendiri !”
Wie Kiam Kauwcu telah mengangguk beberapa kali,
kemudian katanya ; „Ya, memang Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
memiliki kepandaian yang sempurna sekali, dan latihan
lwekangnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, sulit
sekali untuk dilawan........tidak ada orang kedua seperti Sin
Tiauw Taihiap dalam saat sekarang ini.....!

Phang Kui ln telah mengangguk, dia telah berkata dengan
suara yang sangat dalam, mengandung kekaguman. „Benar!
Aku sendiri mulai mempercayai bahwa dia sesungguhnya Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko..........karena jika dibandingkan dengan
kehebatan dari kepandaian yang diperlihatkannya itu,
kepandaianku tidak ada artinya sama sekali, tidak bisa
dibandingkan dengan kepandaiannya yang sangat sempurna
itu..........!!"
Dan setelah berkata begitu, Phang Kui In menghela napas
beberapa kali, dia juga telah menggumam dengan suara yang
perlahan. "Dan akhirnya memang aku mengetahuinya serta
yakin bahwa orang itu benar2 Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko............ dan adanya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko diruang
kamar tahanan tersebut, bukan disebabkan dia ditawan,
hanya karena Sin Tiauw Taihiap Yo Ko sendiri yang tidak mau
pergi meninggalkan tempat itu, dia ingin duduk terus ditempat
itu, sehingga membuat pihak lawannya, orang2 Mongolia jadi
kewalahan. Beberapa kali jago2 Mongolia yang berkepandaian
tinggi berusaha mengusirnya, tetapi Yo Taihiap selalu berkeras
tidak mau pergi bahkan telah terjadi beberapa kali
pertempuran yang hebat sekali dan selalu dimenangkan oleh
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko. Maka dengan sendirinya orang2 dari
Kublai Khan itu sama sekali tidak dapat mengusirnya...!"
„Tetapi bagaimana kesudahannya dari seranganmu yang
kedua kalinya, yang telah gagal itu?" tanya Wie Kiam Kauwcu
dengan suara mengandung perasaan ingin tahu.
„Ya, disaat itu aku masih berdiri ragu2, tetapi kemudian aku
telah berkata, „Baiklah, jika memang engkau menghendaki
aku melancarkan serangan2 lagi, akupun tidak bisa
menolaknya !” Dan setelah berkata begitu, dengan cepat
sekali aku telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat
keras, dan aku telah mengumpulkan seluruh kekuatan tenaga
dalamku dikedua telapak tangan ku itu, lalu dengan gencar,
silih berganti aku melancarkan serangan ketubuh Sin Tiauw

Taihiap Yo Ko. Angin seranganku itu berkesiuran dengan
dahsyat sekali menggempur dada Sin Tiauw Taihiap".
Namun disaat itu. Yo Taihiap hanya mengeluarkan suara
dengusan yang perlahan saja, dia telah menganggukkan
kepalanya beberapa kali, dan masih sempat kudengar suara
menggumamnya yang sangat perlahan. Kepandaian yang baik,
merupakan aliran pulih dan tidak tesesat Bagus ! Bagus !".
„Dan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko sama sekali tidak
menggerakkan kedua tangannya, dia tidak melancarkan
tangkisan atas serangan yang di lakukan olehku, tetap duduk
bersemedhi dengan kedua tangannya yang diturunkan itu,
yaitu tangan kirinya yang masih utuh, dan tangan kanan nya
yang telah kosong tidak berisi itu, sehingga jubah itu terjuntai
lemas...".
„Tetapi yang luar biasa sekali justru tenaga seranganku
yang hebat itu seperti tidak di pandang sebelah mata, bahkan
belum lagi angin serangan itu berhasil mengenai sasarannya,
ternyata tenaga dalamku itu telah membalik menghantam
diriku dengan kekuatan diluar dugaanku, lebih hebat dari
tenaga seranganku yang semula. Aku sampai mengeluarkan
suara teriakan kaget, dan telah cepat2 melompat mundur,
kemudian mengerakkan tangan kananku untuk menangkis
lagi. Tetapi gerakanku telah terlambat, karena dalam saat2
seperti itu tampak tubuhku telah terlontarkan dan dengan
cepat sekali terbanting keras diatas lantai sehingga untuk
sejenak lamanya aku tidak bisa segera bangkit berdiri...,
pandangan mataku jadi gelap ber-kunang2, kepalaku pusing
bukan main “
Dalam keadaan demikian tampak Sin Tiauw Taihiap telah
mengeluarkan suara tertawa yang bening dan bersih sekali.
„Kulihat, engkau bukan termasuk manusia jahat ! Engkau
merupakan golongan yang lurus dan bersih. Tetapi
dalam persoalan ini, engkau masih kurang berpengalaman
dalam bertempur, karena engkau masih sering dikuasai oleh

emosi, sehingga tenaga murnimu itu sering terpecah menjadi
tiga bagian, yaitu mengikutinya tekanan darah tinggi, sering
mengikuti nafsu, sering kurang perhitungan. Ketiga faktor
itulah yang telah membuat kau selalu terbanting oleh
seranganmu sendiri ! Coba jika engkau melakukan
penyerangan dengan lebih tenang, melenyapkan nafsu untuk
merubuhkan aku, memusatkan pemikiran hanya untuk
melakukan penyerangan saja, dan juga melenyapkan tekanan
darah tinggimu yang bisa mendatangkan kemarahan dan
kemurkaan, maka engkau bisa melakukan penyerangan2
secara hebat dan bisa lebih baik melindungi dirimu dari
gempuran2 membalik dari tenaga seranganmu !" Mendengar
perkataan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, seketika aku tersadar,
pikiranku jadi jernih, dan itulah petuah yang sangat berharga,
sama berharganya dengan latihanku selama sepuluh tahun
dalam ilmu silat! Tanpa petuahnya itu, walaupun aku melatih
diri sepuluh tahun lagi, tidak nantinya aku menerima
kemajuan yang hebat dan belum tentu aku bisa memecahkan
teka-teki mengapa aku selalu terpental setiap kali
melancarkan serangan kepada nya. Dan karena itu, aku
sangat bersyukur dan berterima kasih, yakinlah aku disaat itu,
bahwa orang ini memang Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, cepat2 aku
telah merangkak bangun, aku telah menghampirinya dan telah
menekuk kedua lututku, bersujud dihadapannya. „Maafkanlah
aku, yang telah berlaku lancang melancarkan serangan2
kepada Locianpwee..." kataku kemudian. Tetapi Sin Tiauw
Taihiap telah berkata dengan suara yang bening sekali sabat
nadanya, sikapnya berbeda sekali dengan sikapnya beberapa
saat yang lalu, dia telah mengatakan Bangun ! bangun !
berdirilah jangan melakukan begitu ! aku tidak mau menerima
penghormatan yang berlebihan ! Semuanya harus wajar !
Sesuatu yang berlebihan tentu akan membawa kerusakan dan
malapetaka ! Tahukah engkau sikap menghormat yang
terlampau berlebihan, akan membawa celaka ?" Ditanya
begitu, aku hanya menggeleng saja, karena aku memang
tidak mengetahuinya, jika sikap pemberian hormat yang

berlebihan bisa men celakai orang yang dihormati itu, karena
disamping akan berkepala besar dan sombong, juga akan
melalaikan kemajuan dirinya sendiri. Maka dari itu aku telah
berdiam diri saja, karena aku menduga bahwa Yo Taihiap
tentunya memiliki petuah lainnya. melihat aku menggeleng Yo
Taihiap telah tertawa kecil, dia telah berkata dengar suara
yang sabar sekali, katanya. „Ya memang dalam persoalan ini
engkau tentunya belum mengetahui secara menyeluruh,
bahwa sikap menghormat yang diberikan secara berlebihan
bisa membawa celaka, yaitu kepada orang yang
bersangkutan, baik kepada yaag menghormati, maupun bagi
yang dihormati. Bagi orang yang menaruh hormat terhadap
seseorang, hormat itu memang baik. Terlebih lagi untuk
golongan yang lebih tua dan tinggi tingkatannya. Tetapi jika
saja pemberian hormat itu berlebihan, tentu saja akan
menyiksa bathin orang itu sendiri, maka selanjutnya, baik dia
melakukan pekerjaan benar atau salah, dia tidak akan berani
membantah. Dan hal itu berarti juga telah lenyapnya
keyakinan diri sendiri, telah lenyap ke percayaan diri sendiri...!
Bukankah hal itu membawa celaka ? Dengan lenyapnya
kepercayaan diri sendiri, berarti orang itu menghadapi
malapetaka yang sangat besar, karena dia tidak akan
menerima kemajuan yang diharapkan, dan seumur hidupnya
dia tidak akan memperoleh kemajuan apa2...! Sedangkan bagi
orang yang dihormati secara berlebihan, tentu akan
mengalami celaka juga ! Per-tama2, sebagai seorang manusia,
tentu saja semua orang gemar dihormati, Coba saja, jika ada
seorang pemuda yang berlaku kurang ajar terhadap orang
yang tingkatannya lebih tinggi, tentu orang dari golongan tua
itu akan marah, karena menganggap anak muda itu kurang
ajar ! Sedangkan juga saat itu memang merupakan batas
tingkat dari golongan, maka cukup jika dihormati secara wajar
saja...! Kalau sampai pemberian hormat dilakukan dengan ber
lebihan, tentu saja akan membuat orang itu jadi kebelinger
dan membuat dia jadi berkepala besar, sombong, angkuh,
lupa diri dan sering melakukan perbuatan2 diluar dari

kebiasaannya, dan memiliki keinginan (ambisi) yang
berlebihan, yang bisa mencelakai dia ! Bukankah sesuatu yang
berlebihan akan mendatangkan celaka ? Bukankah kita makan
sesuatu terlalu banyak akan membuat kitapun akan
muntah....? Itulah sebab nya, engkau jangan menghormati
diriku terlalu berlebihan, disamping bisa mencelakai dirimu,
juga bisa mencelakai diriku ! Itulah yaag tidak kuhendaki....!"
Setelah berkata begitu, Taihiap Yo Ko telah menatapku
dengan tajam, saat itu aku telah duduk diam dihadapannya,
duduk dengan sikap bersemadhi".
„Sudah kukatakan tadi bahwa mata Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko memiliki sinar yang sangat tajam sekali, membuat aku
tidak berani membalas menatapnya dan hanya menundukkan
kepala saja. Di saat itu Sin Tiauw Taihiap telah berkata lagi.
„Engkau ditawan karena kepandaianmu tidak mencukupi
untuk melawan lawanmu itu, tetapi dalam keadaan demikian,
aku bisa membantumu untuk meloloskan diri...! Maukah
engkau ?" Aku masih duduk diam, ragu2, tetapi kemudian
aku mengangguk. „Jika memang Taihiap bersedia untuk
menolongku, aku sangat berterima kasih sekali !" dan tampak
Sin Tiauw Taihiap telah meng angguk dan disaat itu dia telah
menggerakkan tangan kirinya, dia telah memukul dinding batu
itu. "Brukkk !" batu tersebut telah pecah berlobang besar.
„Nah, keluarlah...!" katanya kemudian dengan suara yang
sabar. Aku tentu saja girang, aku telah mengucapkan terima
kasih, dan telah membungkukkan tubuh berulang kali
bersujud kepadanya. „Entah dengan cara apa aku bisa
menyatakan terima kasihku ini, dan entah dengan bagaimana
aku bisa membalas budi kebaikan Locianpwe...!", tetapi Sin
Tiauw Taihiap telah tertawa, dia telah berkata. „Cukup jika
engkau sampaikan salamku kepada Wie Kiam Kauwcu dari Pek
Liong Kauw dipulau Ang Hwa To,
katakan kepadanya, bahwa aku meminta maaf karena tidak
bisa menepati janjiku untuk berkunjung kepadanya. dan juga
dalam persoalan ini akupun sangat menyesal sekali tidak bisa

menyampaikan suatu urusan yang sangat penting!!.
Mendengar itu, aku segera menyatakan, bersedia mewakilinya
untuk pergi menemui Wie Kiam Kauwcu dari Pek Liong Kauw
untuk menyampaikan pesannya mengenai urusan yang
dianggapnya luar biasa itu. Dan Sin Tiauw Taihiap setelah
ragu2 sejenak, kemudian menceritakan urusannya itu ........ !"
Dan bercerita sampai disitu, tampak Phang Kui In telah
berhenti sejenak, dia telah berkata dengan suara yang lebih
perlahan. „Ternyata urusan yang disampaikan oleh Sin Tiauw
Taihiap merupakan urusan yang sangat besar dan luar biasa
sekali........ !"
Wie Kiam Kauwcu jadi tergoncang hatinya, sekarang
sebagian besar dia mulai mempercayai orang she Phang ini.
„Urusan apakah itu ?" tanya Wie Kiam Kauwcu kemudian.
Phang Kui telah menghela napas, dan telah berkata lagi.
„Sesungguhnya, persoalan ini menyangkut keselamatan
negeri kita, yaitu daratan Tionggoan Karena telah
direncanakan oleh Kublai Khan, dalam beberapa tahun
mendatang untuk melancarkan penyerbuan kedaratan
Tionggoan lagi, terlebih lagi kini tentara pemerintah Song
telah lemah, dengan sedirinya ini membahayakan sekali.
Menurut Sin Tiauw Taihiap dia telah berhasil melakukan
penyelidikan bahwa kekuatan yang didusun Kublai Khan jauh
lebih kuat dari susunan tentara yang dibentuk oleh Mangu
beberapa tahun yang lalu, disaat Mangu sebelum meninggal
ditangan Sin Tiauw Taihiap ......maka dari itu, Sin Tiauw
Taihiap ingin menyampaikan berita penting itu kepada para
pendekar gagah seperti Taihiap Kwee Ceng dan lain2nya agar
ber-siap2, karena banyak jago2 dari Mongolia yang mulai
dikirim secara diam2 dan secara sembunyi2, untuk mengacau
kedaratan Tionggoan, untuk membinasakan semua jago2
persilatan dari daratan Tionggoan yang setia kepada
pemerintah Song. dan menurut Sin Tiauw Taihiap, jika para

pendekar didaratan Tionggoan yang cinta negara bergabung,
tentu maksud dari Kublai Khan itu dapat dibendung..!".
Wie Kauwcu terkejut bukan main.
Urusan ini bukan merupakan urusan yang bisa dibuat
main2 dan diremehkan.
Karena itu dia telah mengangguk berulang kali, dia telah
berkata dengan suara yang sangat perlahan dan ragu2.
Memang hebat sekali urusan ini. oleh karena itu kita harus ber
siap2!" dan sambil menggumam begitu, tampak Wie
Kauwcu telah mengangkat kepalanya, dia telah menatap
tajam sekali kepada Phang Kui In „Lalu ada pesan apa lagi
yang disampaikan oleh Yo Taihiap ?”
„Yo Taihiap hanya berpesan supaya aku meminta Kepada
Wie Kauwcu agar menyampaikan persoalan itu kepada semua
orang2 gagah didaratan Tionggoan. Menurut Yo Taihiap, Pek
Liong Kauw memiliki puluhan ribu anggota dan kekuatannya
sangat luas, banyak orang2nya didaratan Tionggoan, untuk
menyampaikan berita ini secara merata kepada orang2 gagah
dalam persilatan dataran Tionggoan memang bukan
merupakan urusan yang sulit...!".
„Baiklah, Aku sekarang mengerti !” mengangguk Wie Kiam
Kauwcu kemudian. „Hanya saja, masih ada satu yang
membuat aku jadi heran...!".
„Apakah itu kauwcu ?” tanya Phang Kui In sambil menatap
kauwcu itu.
„Mengapa Sin Tiauw Taihiap duduk berdiam diri saja
didalam ruang kamar tahanan itu, bukankah jika dia ingin
melarikan diri meninggalkan tempat itu, dengan mudah dia
dapat melakukannya, seperti halnya dia membantumu untuk
melarikan diri ?" tanya Wie Kiam Kauwcu kemudian.
Phang Kui In mengangguk cepat.

„Memang semula aku juga heran oleh sikap nya itu, tetapi
setelah Sin Tiauw Taihiap menjelaskannya, aku baru mengerti
! Sesungguhnya Sin Tiauw Taihiap tengah mencari seseorang,
yaitu Tiat To Hoat Ong, jago utama dari Mongolia, karena
hasil penyelidikannya membuktikan bahwa Tiat To Hoat-ong
yang telah mencelakai isterinya, yaitu Liehiap Siauw Liong Lie,
yang beberapa tahun yang lalu tengah hamil...! Sampai
sekarang Sin Tiauw Taihiap Yo Ko belum pernah bertemu
dengan isterinya itu, dan juga dia tidak mengetahui apakah
isterinya meninggal atau telah melahirkan ?. Jika memang
isterinya terbinasa ditangan Tiat To Hoat-ong, berarti isterinya
telah meninggal, bersama janin bayinya. Tetapi kalau isterinya
berhasil meloloskan diri dari kematian, berarti kini dia telah
melahirkan. dan Yo Taihiap masih ragu2 akan hal itu, Karena
dia masih berpikir keras, apakah dia akan bertemu dengan
anak isterinya itu ?”
Wie Kiam Kauwcu telah bertanya lagi. Lalu dengan duduk
berdiam diruang kamar tahanan itu, apa maksud dari Sin
Tiauw Taihiap ?”
“Menurut Yo Taihiap, dia ingin memaksa Tiat To Hoat-ong
keluar memperlihatkan diri, karena Yo Taihiap mengetahuinya
bahwa Tiat To Hoat ong berada ber-sama2 dengan orang2
Mongolia itu tetapi sebegitu jauh, Tiat To Hoat-ong belum
mau memperlihatkan diri ........"
“Tetapi yang mengherankan, mengapa justru Sin Tiauw
Taihiap mau menyiksa diri seperti itu ? Bukankah dia bisa saja
memaksa dengan kekerasan agar jago utama dari Mongolia
itu keluar memperlihatkan dirinya ?".
„Sudah dilakukan oleh Sin Tiauw Taihiap. Bahkan menurut
keterangan Sin Tiauw Taihiap, dia telah membunuh lebih dari
lima puluh jago2 Mongolia itu. tetapi sayangnya, Tiat To Hoatong
merupakan manusia pengecut, dia tetap
menyembunyikan diri terus...!".

„Kalau memang Sin Tiauw Taihiap melakukan sikap duduk
diam tidak mau meninggalkan tempat itu, bukankah pihak
Mongolia itu sendiri bisa meninggalkan tempat itu,
meninggalkan Sin Tiauw Taihiap seorang diri ?".
„Tidak bisa! Karena telah tercantum dalam rencana
rombongan dari jago2 Mongolia itu, bahwa kedatangan
mereka di tempat tersebut, yaitu didekat kaki gunung Kun Lun
San, merupakan tempat yang akan disinggahi oleh Kublai
Khan. Karena dalam tahun ini Kublai Khan akan datang
menyelusup masuk kedaratan Tionggoan, untuk meninjau dan
mengawasi situasi yang ada, dengan melihat situasi yang ada
dan juga dengan melihat keadaan tempat2 yang bisa
dipergunakan sebagai markas utamanya, kelak dia lebih
mudah mengatur penyerangan2 dari pasukannya yang akan
dipimpin menyerbu masuk....!",
„Akhhh !" Wie Kiam Kauwcu telah meugeluarkan seruan
tertahan. „Inilah urusan yang cukup besar dan tidak bisa
diremehkan..!".
„Benar ! Begitupun menurut pendapat. Sin Tiauw Taihiap,
urusan ini memang perlu sekali diselesaikan secepat mungkin,
untuk disampaikan kepada para pendekar didaratan
Tionggoan... Tetapi disebabkan Sin Tiauw Taihiap sendiri
tengah terlibat dalam persoalan mengejar musuh besarnya,
yaitu Tiat To Hoat-ong, sehingga dia memperoleh kesulitan
dan dia belum dapat untuk mengerahkan perhatiannya untuk
persoalan tersebut. Sin Tiauw Taihiap juga mengemukakan,
memang urusan pribadi bisa dikesampingkan, demi urusan
negara dan tanah air untuk keselamatan negara Song. Tetapi
karena mengingat Tiat To Hoat ong yang mengetahui
ditempat mana dia mencelakai Siauw Liong Lie, maka Sin
Tiauw Taihiap. ingin memaksanya agar dia memberitahukan
tempat itu, agar kelak Sin Tiauw Taihiap bisa mencari jejak
isterinya itu. Syukur kalau memang Siauw Liong Lie tidak
tercelaka ditangannya Tiat To Hoat-ong, sehingga dengan

mudah Sin Tiauw Taihiap akan mencari jejaknya, walaupun
telah berselang banyak tahun ..... dan itu justru yang
diharapkan oleh Sin Tiauw Taihiap, dia menghendaki agar
Siauw Liong Lie selamat melahirkan anak pertama
mereka.......... yang tentunya telah
berusia diantara sembilan tahun ......... !"
Mendengar perkataan Phang Kui In sampai di situ, Wie Kian
Kauwcu telah berkata. „Ya memang dalam persoalan ini Sin
Tiauw Taihiap tidak perlu berkuatir, karena kami telah berhasil
menemukan puteranya, yang kini berada ber-sama2 kami !
Sedangkan mengenai Liehiap Siauw Lie, masih belum
diketahui jejaknya. Tetapi yang pasti, Liehiap Siauw Liong Lie
tentunya belum terbinasa, karena jika telah terbunuh oleh Tiat
To Hoat-ong, tentu mayatnya akan di jumpai oleh Yo Him,
putera mereka itu.
Muka Phang Kui In jadi girang bukan main, dia sampai
mengeluarkan suara seruan girang.
„Jika saja persoalan ini didengar oleh Sin Tiauw Taihiap,
tentunya pendekar besar itu sangat girang sekali!" serunya
dengan suara yang nyaring, karena kegembiraan yang meluap
luap.
Wie Kiam Kauwcu telah mengangguk, dan kemudian dia
menoleh kepada rombongan anggota Pek Liong Kauw, dia
telah melihat Yo.Him dan Siangkoan Peng berada diantara
rombongan orang2 Pek Liong Kauw itu.
„Kau tunggu sebentar !" kata Wie Kiam Kauwcu kemudian
sambil membalikkan tubuhnya dia telah melangkah cepat
menghampiri Yo Him.
Dituntunnya tangan anak itu, sambil katanya ramah. „Mari
nak, aku ingin memperkenakkan kau kepada seseorang...!"

Yo Him tengah ter-heran2, tetapi disaat itu dia hanya
mengikuti saja dia membiarkan tangannya dicekal oleh Wie
Kiam Kauwcu.
Saat itu Wie Kiam Kauwcu telah sampai di hadapan Phang
Kui In.
„Saudara Phang, inilah puteranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko
!" memperkenalkan Wie Kiam Kauwcu. „Dan Him-jie, inilah
paman Phang Kui In, utusan ayahmu.!".
Muka Phang Kui In jadi berobah seketika dan dia
tampaknya jadi menyesal sekali.
„Oh, engko kecil, ternyata engkau putera dari tuan
penolongku ! Maafkanlah tindakanku yang kasar tadi...aku
tidak bermaksud buruk !”, kata Phang Kui In cepat sekali,
bahkan dia juga telah merangkapkan kedua tangannya, tanpa
segan2 dia telah memberi hormat dengan membungkukkan
tubuh kepada Yo Him.
Yo Him semula juga terkejut mendengar Phang Kui In
adalah utusan ayahnya, dia jadi tertegun. Dan anak ini jadi
tambah kaget waktu melihat Phang Kui In merangkapkan
kedua tandannya sambil menjura memberi hormat kepadanya.
Tentu saja dia jadi likat dan malu sendirinya. Cepat2 Yo Him
telah membalas pemberian hormat itu.
„Akupun meminta agar paman Phang memaafkan aku,
karena tadi aku telah lancang melancarkan serangan kepada
paman Phang, dan telah memiliki dugaan yang tidak2...!".
JILID 15
TIDAK apa2, itu semua hanya salah pengertian belaka
tadipun antara aku dengan Wie Kiam Kauwcu hampir saja
timbul salah pengertian...!".

„Mana...ayahku ?" tanya Yo Him akhirnya dengan suara
yang ragu2, hatinya saat itu tergoncang keras sekali.
„Dalam waktu yang tidak lama lagi, tentu ayahmu itu akan
segera tiba dipulau ini, kini tengah ada suatu persoalan yang
perlu diselesaikan, maka dalam beberapa saat ayahmu Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko belum pula dapat berkunjung ke pulau ini
!".
Yo Him meng-angguk2 beberapa kali, kemudian dia telah
bertanya dengan suara yang masih ragu2, karena hatinya
masih saja tergoncang keras. „Sesungguhnya...sesungguhnya
bagaimana sih rupa dan keadaan ayahku itu ?"
Wie Kiam Kauwcu dan juga Phang Kui In jadi terharu
sekali, mereka mengerti bahwa anak ini sejak dilahirkan
sampai dia memasuki usia seperti sekarang ini, belum pernah
melihat ayah kandungnya.
„Tidak lama lagi tentu engkau akan melihat ayahmu
itu......." kata Phang Kui In kemudian.
„Ya...... tentu Sin Tiauw Taihiap Yo Ko akan berkunjung
kemari dalam waktu2 yang tidak lama lagi........!" kata Wie
Kiam Kauwcu.
„Bagaimana jika Yo Siauwko (Engko kecil she Yo) ini
kubawa menjumpai Sin Tiauw Taihiap, agar Taihiap Yo Ko
menjadi tenang dan memiliki pegangan mengenai urusan isteri
dan anaknya ini ?" tiba2 Phang Kui In te!ah memberikan
sarannya. „Aku berjanji, akan menjaganya baik2 selama dalam
perjalanan ! Tentu Sin Tiauw Taihiap masih berada dikaki
gunung Kun Lun San, karena selama ini tentunya Tiat To
Hoatong hanya akan menyembunyikan diri disekitar kaki
gunung itu...!".
Wie Kiam Kauwcu tampak ragu2, dia telah berkata
perlahan. “Bagaimana jika urusan ini kita rundingkan dulu
dengan Kwee Taihiap Kwee Ceng, dengan jago2 golongan tua
lainnya, yang kebetulan menjadi tamu kami ?”.

„Kwee Taihiap berada disini juga ?" tanya Phang Kui In
terkejut bercampur girang.
„Bukan hanya Kwee Taihiap saja, tetapi juga Taihiap Ciu
Pek Thong, Liehiap Oey Yong, dan lain2nya berada disini.
Begitu pula dengan It Teng Taisu, telah berada dipulau
ini....maka jika engkau.bermaksud untuk bertemu dengan
mereka, mari ikut bersamaku ! Mengenai kepergianmu yang
hendak mengajak Yo Him, saudara Phang bisa kita rundingkan
nanti...!"
Phang Kui In menyetujui saran Wie Kiam Kauwcu, segera
mereka menuju kemarkas Pek Liong Kauw.
Disaat itu tampak jago2 golongan tua telah berkumpul
diruangan itu, mereka juga telah belajar saling kenal dengan
Phang Kui In.
Berulang kali Phang Kui In menyatakan kegembiraannya,
karena dia merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan
tokoh2 persilatan yang ternama itu.
Setelah Wie Kiam Kauwcu mengemukakan semua uraian
yang terjadi diluar dari pulau Ang Hwa To yang te!ah
mengejutkan semua orang2 gagah itu, maka Wie Kiam
Kauwcu juga telah mengemukakan usul dari Phang Kui In,
untuk mengajak Yo Him menemui Sin Tiauw Taihiap yang
sedang berada dikaki gunung Kun Lun San.
„Itupun merupakan jalan yang cukup baik...!" kata Kwee
Ceng dengan sabar setelah berpikir sejenak. „Kita bisa
menyebar orang untuk menyampaikan pesan Yo Ko kepada
semua para pendekar pencinta negeri...sedangkan Phang Kui
In bertugas uatuk mengajak Yo Him menemui Kojie (anak Yo,
karena Kwee Ceng memang biasa memanggil Yo Ko dengan
sebutan Kojie.). Nah, bagaimana pendapat It Teng
Cianpwe...?".
It Teng Taisu telah mengangguk.

„Ya, aku menyetujui saja...!” katanya kemudian.
Begitu juga dengan orang2 gagah lainnya. Hanya Oey Yong
yang menambahkan. “Apakah tidak lebih baik jika seandainya
Phang Kiesu (orang gagah she Phang) ini membawa Yo Him
ber-sama2 ditemani beberapa orang kawan kita ? “
„Jangan !" kata It Teng Taisu „Tentu akan mendatangkan
kecurigaan belaka .! Dengan melakukan perjalanan berdua
saja, mereka bisa menyamar ! Bukankah begitu, Phang Kiesu
? Dengan demikian kalian tentu bisa melakukan perjalanan
yang jauh lebih mudah ......... !"
Disaat itu tampak yang lainnya menyetujui, dan Phang Kui
In juga telah mengiyakan.
Menurut orang2 gagah itu, memang Phang Kui In seorang
yang mengetahui tempat dimana adanya Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko, maka dengan diajaknya Yo Him oleh Phang Kui In,
tentunya pertemuan ayah dan anak itu dapat berlangsung
tanpa adanya kesulitan2 lagi..........
Begitulah, Wie Kiam Kauwcu telah perintahkan kepada
orang2nya untuk mempersiapkan meja perjamuan untuk
menjamu Phang Kui In.
Sedangkan Phang Kui In sendiri merasa girang bukan main,
karena disamping dia berhasil bertemu dengan orang-orang
gagah golongan tua yang menjadi tokoh persilatan, juga
telah berhasil membawa Yo Him Untuk dipertemukan dengan
Sin Tiauw Taihiap, berarti dia akan dapat membalas budi dari
Pendekar Burung Rajawali Sakti yang merupakan tokoh nomor
wahid dunia persilatan ini.!
Maka telah direncanakan, besok pagi Phang Kui In dan Yo
Him berdua akan meninggalkan pulau Ang Hwa To.
Malam itu Siangkoan Peng. menangis tidak hentinya karena
dia merasa berat harus berpisah dengan Yo Him, sehingga dia
dijadikan bahan tertawaan dari para pendekar2 gagah perkasa

itu, yang menganggap sikap Siangkoan Peng sangat lucu
sekali.
Karena ditertawakan Siangkoan Peng telah cemberut dan
berlari kekamarnya, kemudian mengunci pintu kamarnya.
Sedangkan Siangkoan Lin Lie hanya tertawa saja melihat sikap
puterinya yang dianggap lucu.
Banyak yang diceritakan oleh Phang Kui In mengenai
perkembangan dalam rimba persilatan, terutama sekali
peristiwa2 yang terjadi diluar pulau Ang Hwa To, dimana
negara Song tengah terancam oleh serangan dan penyerbuan
dari tentara Mongolia.
Tentu saja peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang
sangat genting dan gawat sekali. Maka para pendekar itupun
tidak berani berlaku lambat atau ayal2an...merekapun
bermaksud besok mulai menyebar diri selama satu bulan,
untuk memberitahukan kepada para pendekar gagah
mengenai situasi yang panas dari ancaman pasukan tentara
Mongolia itu.
BEGITULAH Phang Kui In telah mengajak Yo Him berangkat
meninggalkan pulau Ang Hwa To dengan mempergunakan
perahu kecilnya, yang kemarin telah dipergunakannya untuk
datang ke pulau ini.
Keberangkatan Yo Him dan Phang Kui In diantar oleh
semua orang gagah, dan mereka mendoakan agar Yo Him
berhasil bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, juga
mengharapkan agar Sin Tiauw Taihiap Yo Ko belum pergi dari
kaki gunung Kun Lun San.
Ditengah laut, Yo Him banyak menanyakan perihal ayahnya
yang memang belum pernah dilihatnya.
Phang Kui In dengan senang hati menceritakan seluruh
pengalamannya waktu bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap.

Yo Him tertarik sekali mendengarkan cerita dari Phang Kui
In.
Dia kagum, bercampur perasaan bangga waktu mendengar
ayahnya itu memiliki kepandaian yang hebat sekali, karena
Phang Kui In yang tampaknya memiliki kepandaian demikian
tinggi, tidak berdaya sama sekali menghadapi ayahnya itu.
Tentu saja hal itu telah membuat hati Yo Him semakin
keras untuk cepat2 dapat bertemu dengan ayahnya.
Dalam keadaan demikian, tampak Yo Him telah
mengatakan. „Apakah ayahku itu belum pergi dari kaki
gunung Kun Lun San ? Bukankah sejak paman Phang
berangkat menuju pulau Ang Hwa To, dan perjalanan kita
kesana, memakan waktu hampir tiga bulan ?”
„Mudah2an saja, Sin Tiauw Taihiap belum berlalu dari
tempat itu ! Memang kita harus melakukan perjalanan yang
cepat, dan semoga saja diperjalanan kita tidak menemui
rintangan apa2"
Yo Him juga mengharapkan demikian.
Perahu telah meluncur dengan cepat sekali membelah
gelombang.
Waktu hari ketiga sejak mereka berlayar, terjadi badai dan
gelombang yang besar sekali, perahu itu seperti sehelai daun
yang diombang ambingkan kesana kemari.
Yo Him jadi ketakutan melihat keganasan alam yang ada,
dia sampai ber-seru2 berulang kali dengan ketakutan sekali.
Disaat itu, tampak Phang Kui In telah berusaha uatuk
mengendalikan perahunya, dan akhirnya dia berhasil juga
mengendalikan perahunya itu, walaupun ada sebagian dari
persediaan bahan makanan mereka yang telah terlempar
kelaut.

Yo Him sangat letih sekali, setelah badai lewat, dia tertidur
nyenyak sekali.
Waktu anak kecil ini tertidur nyenyak, Phang Kui In telah
duduk terpekur mengawasinya. Di lihatnya Yo Him tidur
nyenyak sekali, mukanya tampan dan juga tampaknya dia
memang menarik hati.
Dalam keadaan seperti ini, Phang Kui In menghela napas
berulang kali, hatinya merasa iba dan terharu atas nasib Yo
Him.
„Kasihan nasib anak ini, sejak dilahirkan dia belum pernah
bertemu dengan ibu dan ayah kandungnya...dan menurut
cerita In Lap Siansu dan Wie Kiam Kauwcu. Yo Him selalu
menderita dan bersengsara dalam usia yang demikian
kecil...!".
Perahu terus juga meluncur dengan cepat.
Setelah melakukan perjalanan hampir sepuluh hari,
akhirnya mereka telah tiba dipelabuhan kota Man-siang-kwan.
Yo Him mengajak Phang Kui In untuk singgah dikota
tersebut, karena selama sepuluh hari berada ditengah laut,
merupakan hal yang sangat membosankan sekali.
Phang Kui In sesungguhnya ingin melakukan perjalanan
yang cepat, tetapi karena dia tidak sampai hati menolak
permintaan Yo Him dia meluluskannya dengan segera.
Begitu turun kedarat dan setelah mengirim perahu mereka
kepada salah seorang nelayan di pelabuhan tersebut, Phang
Kui In dan Yo Him telah berkeliling kota.
Mereka telah berjalan mengelilingi kota yang sangat ramai
itu, Yo Him berulang kali memuji keindahan kota tersebut,
karena dia telah banyak menyaksikan keramaian.

Dipinggir jalan dekat pintu utara dari kota. tersebut,
tampak serombongan orang yang tengah menyaksikan penjual
silat.
Seorang gadis, berusia diantara dua puluh lima tahun,
tengah bersilat. Sedangkan seorang lelaki tua, yang
tampaknya adalah ayahnya, telah menabuh tambur dengan
keras, disertai oleh teriakan2 bersemangat.
Sigadis bersilat dengan sebatang pedang, sehingga sinar
pedang itu berkelebat2 dengan cepat menyilaukan mata.
Yo Him memuji permainan silat atau ilmu pedang sigadis.
Saat itu Phang Ku In mengajak Yo Him meninggalkan tempat
itu.
„Biasanya ditempat, keramaian seperti itu dimana ada
penjual silat yang tengah mempertunjukkan ilmu silatnya,
akan muncul peristiwa2 keributan, mari kita berangkat!.
Karena dia mempertunjukkan ilmu silatnya itu. Penjual ilmu
silat itu bisa mendatangkan perasaan tidak senang dari
buaya2 darat di-kota2 yang disinggahinya...!".
Yo Him hanya menuruti saja ajakan Phang Kui In, dan
mereka telah mengelilingi kota itu lagi beberapa saat lamanya,
sampai akhirnya mereka telah sampai dipintu kota sebelah
barat, dan mereka melihat keadaan ditempat itu sangat ramai
sekali.
Tetapi, Phang Kui Ia tiba2 menghentikan langkah kakinya,
mukanya jadi berobah merah padam karena gusar. Yo Him
juga telah berhenti melangkah, karena dia melihat seorang
gadis berusia dua belas tahun tengah menangis ter-isak2,
menjerit2 kesakitan, sebab dua orang pengemis berusia
diantara dua puluh tahun tengah memukuli gadis itu.
Tentu saja gadis kecil itu tidak berdaya sama sekali, dia
hanya bisa menangis sambil menjerit2 saja.

„Sungguh perbuatan biadab ! Entah anggota mana
pengemis2 tidak tahu diuntung itu ? Apakah mungkin didalam
Kaypang terdapat manusia2 seperti mereka ?" menggumam
Phang Kui In dengan gusar.
Lalu Phang Kui In telah menoleh kepada Yo Him, katanya
„Mari kita tolongi gadis itu!"
Tanpa menantikan sahutan Yo Him, Phang Kui In telah
melangkah menghampiri kedua pengemis yang tengah
memukuli gadis kecil itu.
„Takkk ! Takk !" tahu2 tangan Phang Kui In telah
menyampok kedua tangan dari pengemis itu, dan kedua
pengemis tersebut meraung ke sakitan, mereka telah
melompat akan mundur, tetapi keseimbangan tubuh mereka
telah lenyap, sehingga mereka ter-huyung2 dan terjungkal
rubuh kebelakang.
Sigadis kecil yang ditolongi itu telah berlari sambil
menangis, ketepi jalan. Banyak orang yang tadi menyaksikan
gadis itu dipukuli oleh kedua pengemis itu, yang tidak ada
seorangpun berani menolonginya, telah mengeluarkan suara
sorakan girang melihat kedua pengemis itu telah terpental
demikian rupa.
Disaat itu, tampak Phang Kui In telah berkata dengan
bengis.
„Pengemis2 tidak tahu diuntung. mengapa kau menyiksa
seorang gadis yang tidak berdaya itu !"
Mata kedua pengemis itu mencilak, mereka telah
merangkak berdiri dengan sikap yang galak dan telah
membalas menatap kepada Phang Kui In.
Bahkan salah seorang diantara mereka berdua telah ada
yang membentak
"siapa kau ? Tidak tahukah engkau bahwa kami dari
Kaypang ! tanyanya dengan suara yang angkuh sekali.”

engkau tidak perlu meminjam keangkeran Kaypang untuk
menggertakku !” kata Phang Kui In dengan suara yang
dingin. Tetapi yang terpenting justru perbuatan kalian yang
telah melakukan penyiksaan terhadap gadis kecil yang tidak
berdaya itu, baru kalian pertanggungkan ! Bahkan aku berpikir
Kaypang yang sangat terkenal, yang selalu berjuang untuk
keadilan mana mungkin memiliki anggota2 cabang yang bejat
seperti engkau ? jika Pangcu mengetahui perbuatan kalian ini,
bukankah kalian akan menerima hukuman ?”
Dan setelah berkata begitu Phang Kui In berulang kali
memdengus mengejek, dengan muka yang dingin dan bengis.
MUKA kedua pengemis itu jadi berubah hebat, mereka
tampaknya sangat marah sekali, dengan cepat salah seorang
telah membentak sambil melompat mengayunkan tangan
kanannya, dia telah melancarkan serangan yang cepat sekali.
Phang Kui In hanya mengawasi saja serangan yang
dilancarkan pengemis Itu waktu kepalan tangan pengemis
tersebut hampir tiba didadanya dengan kecepatan yang luar
biasa Phang Kui In mengulurkan tangan kanannya, dia telah
mencekal pergelanggan tangan sipengemis, kemudian kepalan
tangan kirinya menerobos masuk keketiak pengemis tersebut.
„Bukkkkkkk !” disaat itu juga ketiak pengemis itu telah
terserang hebat, sehingga dia merasakan tulang iga didekat.
ketiaknya seperti akan hancur, dia sampai mengeluarkan
suara teriakan kesakitan, dan tubuhnya telah terlempar keras,
karena Phang Kui In telah melepaskan cekalan dipergelangan
tangan sipengemis.
Pengemis yang seorangnya lagi jadi terkejut bukan main,
dia sampai mengeluarkan suara seruan tertahan dan dalam
keadaan kaget dan gusar, dia telah melompat melancarkan
serangan juga kepada Phang Kui ln.

Tetapi seperti juga dengan kawannya, pengemis yang
seorang inipun telah terpental keras oleh hantaman tangan
Phang Kui In, yang mengenai tepat sekali didada sipengemis !.
sehingga pengemis itu mengeluarkan suara erangan. Dan
tubuhnya telah ambruk diatas tanah sambil menggeliat2
mengeluarkan suara rintihan.
Yo Him melihat cara Phang Kui In memberikan hajaran
kepada kedua pengemis itu jadi kagum sekali.
Begitu juga dengan orang2 yang telah berkerumun itu, jadi
mengeluarkan suara sorakan yang riuh dan ramai sekali,
tampaknya mereka girang sekali melihat kedua pengemis itu
telah dihajar oleh Phang Kui In,
Kedua pengemis tersebut juga telah membalikan tubuhnya,
mereka telah melarikan diri dengan cepat sekali.
Phang Kui In tidak mengejarnya, dia telah membalikan
tubuhnya melangkah menghampiri gadis kecil itu.
„Anak, kenapa engkau dipukuli kedua pengemis itu!" tanya
Phang Kui In dengan sabar.
Gadis kecii itu masih menangis saja, kemudian dia telah
menyahuti dengan suara yang ter sendat2 „Ibu menyuruh aku
kepasar... dan aku membawa tiga tail perak, tetapi kedua
pengemis itu, seperti minggu kemarin, dia ingin mengambil
uangku itu. Tentu saja kali ini aku tidak memberikannya,
sehingga mereka memukuliku "
Mendengar keterangan gadis kecil itu, walaupun tidak jelas,
Phang Kui In mulai mengerti duduknya persoalan.
Tetapi yang mengherankan Phang Kui In, justeru kedua
pengemis itu mengaku sebagai anggota Kaypang. Biasanya,
anggota Kaypang tidak penah melakukan perbuatan rendah
seperti itu sehingga dia tidak dapat mengerti mengapa kedua
pengemis itu bisa melakukan perbuatan seperti itu.

Hal itu telah membuat Phanh Kui In jadi berpikir keras. Dia
mau menduga apalah mungkin bahwa kedua pengemis itu
hanya menjual nama Kaypang saja, untuk menggertak ?
Karena berpikir begitu, akhirnya Phang Kui In telah berkata
kepada sigadis : „Baiklah, jika memang uangmu tidak hilang
pergilah engkau kepasar. Nanti paman akan mengancam
mereka agar di-hari2 mendatang engkau tidak diganggu
lagi......!"
“Terima kasih paman...!" kata gadis kecil itu girang sambil
menyusut air matanya, dia telah berlalu.
Disaat itu salah seorang yang tadi menyaksikan dipinggiran
jalan, telah menghampiri Phang Kui In. Dialah siorang lelaki
tua berusia diantara empat puluh lima tahun. Katanya dengan
suara yang sabar, „Sesungguhnya, memang Kaypang kota
ini merupakan cabang Kaypang yang paling buruk, mungkin
paling jahat! Karena mereka umumnya melakukan banyak
sekali kejahatan2, pencurian2 dan perampasan, semuanya itu
tidak diambil tindakan tegas oleh ketua cabang dari Kaypang
setempat. Tentu saja penduduk kota ini jadi menaruh
perasaan tidak senang terhadap Kaypang.
Dan setelah berkata begitu, tampak orang tua itu memutar
tubuhnya akan berlalu, karena dia takut berdiam lama2
ditempat tersebut, takut kalau pembicaraannya itu didengar
oleh orang2 Kaypang.
Tiba2 Phang Kui In mengulurkan tangannya. dia mencekal
pergelangan tangan Orang tua itu untuk menahan
kepergiannya.
„Tunggu dulu saudara...,aku ingin menanyakan dimanakah
letak markas Kaypang!" tanyanya.
„Di..dipintu selatan, sebelah kiri dari lorong panjang dan
kemudian menikung kekanan rumah kelima....!” menjelaskan
orang tua itu, dia meronta melepaskan cekalan tangan Phang
Kui In,. dan dengan cepat dia telah berlalu

Kemudian Phang Kui In telah mengajak Yo Him untuk
meninggalkan tempat tersebut, tetapi belum lagi mereka
berjalan terlalu jauh, tiba2 telah terdengar suara seseorang
yang telah berkata dengan suara seperti orang bersajak?
“Siapakah orang yang berani membentur Kaypang, Tentu
kepalanya sudah, keras seperti baja?. Siapa yang tidak tahu
diri ? Tentu saja harus dibinasakan"
Suara itu nyaring sekali, dan tampak Phang Kui In telah
membalikkan tubuhnya.
Dihadapannya berdiri dua orang pengemis tua berusia
setengah baya.
Sedangkan Yo Him memandang tidak senang kepada
pengemis tua itu yang dipunggungnya membawa empat
karung, yang menunjukkan bahwa mereka merupakan
anggota tingkat keempat di Kaypang.
Disaat itu tampak Phang Kui In telah bertanya dengan
suara yang ramah: „Jika tidak salah mata, tentunya jiewie
Hengtai (saudara berdua) adalah anggota Kaypang?"
“Tepat! Tepat!" kata salah seorang pengemis itu sambil
mengangguk dan telah tertawa dingin „Memang kami anggota
Kaypang, dan kami sedang mencari seseorang yang telah
menghina dua orang anggota muda kami”
„Apakah dua oraag pengemis berusia dua puluhan?" tanya
Phang Kui In.
„Benar ! Mereka telah dihina orang, dan hinaan seperti itu
harus diberi hajaran pula ..!" menyahuti pengemis itu.
„Akulah yang memberikan ganjaran kepada kedua
pengemis itu...jika memang kalian penasaran, bisa saja kalian
berurusan denganku... !" kata Phang Kui In berani sekali.

„Kedua pengemis golongan muda anggota Kaypang itu
sangat jahat, mereka telah menyiksa seorang gadis kecil
berusia dua belas tahun, yang ingin dirampas uangnya! Itu
masih tidak menjadi soal tetapi kedua pengemis anggota
kalian itu bertangan ringan, mereka telah memukuli gadis kecil
itu....!"
Kedua pengemis itu telah tertawa dingin hampir berbareng.
Salah seorang telah berkata. „Jika memang ada anggota
Kaypang yang melakukan suatu kesalahan, masih ada kami
dari golongan tua yang bisa menghukum mereka, bukan orang
luar yang harus turun tangan menghukum mereka. . . !"
Phang Kui In telah tertawa dingin, dia jadi mendongkol
sekali mendengar perkataan pengemis itu.
Memang itu merupakan peraturan rimba persilatan, orang
luar tidak boleh mencampuri urusan rumah tangga dari
sebuah pintu perguruan tetapi tampaknya pihak Kaypang
kurang begitu teratur mengatur murid2nya, dan kurang segala
persiapan2 agar murid2nya itu tidak menyeleweng ... !
Hemmm, dalam persoalan ini, tampaknya kalian juga perlu
diberikan teguran, agar dilain saat dapat memperhatikan lebih
baik murid-muridnya anggota Kaypang!” Kedua pengemis tua
itu telah tertawa dingin mereka telah berkata dengan suara
yang tawar. "Benar ! Benar ! Jika kami berhasil dirubuhkan
olehmu, jatuh ditanganmu, tentu aku akan menuruti peritah
perintah dan petunjuk2mu, Locianpwe!"
Dan setelah berkata begitu, salah seorang diantara mereka,
yang tampaknya memiliki muka berpotongan empat persegi
dan kejam, telah menerjang, melancarkan serangan-serangan
dengan mempergunakan tangan kanannya, serangan itu
mengandung tenaga lweekang yang cukup dasyat. Tentu saja,
serangan yang dilakukan oleh pengemis ini, berbeda dengan
serangan sipengemis muda, sebab jika sipengemis muda itu
hanya merupakan anggota biasa yang belum berhasil memiliki
karung satu helaipun juga, maka mereka tidak mengerti

terlalu dalam ilmu silat Kaypang dan hanya merupakan
anggota persiapan, tapi berbeda dengan pengemis yang
menggemblok empat helai karung dipunggungnya ini,
pengemis ini telah memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan
memiliki lwekang cukup lumayan.
Serangannya itu mendatangkan angin serangan yang kuat
sekali, telah meluncur akan menggempur dada Phang Kui In.
Tetapi Phang Kui In tidak tinggal diam dia mengangkat
tangan kirinya menangkis, sehingga diwaktu kedua tangan itu
saling bentur, disaat itu juga terdengar suara "Bukkk" yang
sangat keras, tubuh mereka sama berdiri tegak, dan tampak
Phang Kui In telah menggerakan tangan kanannya, dia telah
melancarkan serangan lagi dengan hebat.
Dalam keadaan seperti itu tampak sipenggemis juga tidak
tinggal diam.
Dia telah melompat kekiri dan kekanan bergantian,
kemudian telah melancarkan serangan2 dengan
mempergunakan kedua tangannya.
Angin serangan ysng dilancarkan ini cukup hebat, sehingga
dalam keadaan demikian tampak dua kekuatan tenaga, dari
kedua orang yang sama2 memiliki kepandaian yang sudah
tinggi itu, telah menerjang datang.
„Bukkkkl" maka dua kekuatan lweekang yang tidak tampak
telah beradu diudara, terlihatlah tubuh Phang Kui In
tergoncang keras seperti juga ingin rubuh.
Tetapi dengan cepat Phang Kui In telah ber hasil
mengimbangi kedudukan kedua kakinya., kembali dia telah
melancarkan serangan lagi.
Serangan yang dilakukan oleh Phang Kui In disambuti oleh
pengemis itu dengan mudah dan pengemis tersebut juga telah
melancarkan serangan balasan.

Mereka berdua telah saling melancarkan serangan silih
berganti, dan angin serangan2 itu telah menyambar dengan
hebat.
Di detik2 seperti itu, tampak Phang Kui In memang
berimbang menghadapi sipengemis tua tersebut, tetapi yang
menjadi pemikirannya, justru jika pengemis yang seorang itu
lagi ikut mengeroyok dirinya, tentu dia akan kewalahan dan
kehabisan tenaga.
Maka Phang Kui In telah mengerahkan seluruh kekuatan
tenaga dalamnya, dia berusaha secepat mungkin untuk
merubuhkan pengemis yang menjadi lawannya, agar kelak dia
bisa menghadapi pengemis yang seorangnya lagi dengan
mudah.
Dalam keadaan demikian, tampak Phang Kui In
mengeluarkan Suara siulan yang sangat nyaring sekali,
berulang kali dia telah melancarkan gempuran2 yang sangat
dahsyat.
Memang cara menyerang yang dilakukan oleh Phang Kui In
merupakan serangan2 yang bisa mematikan, kalau saja
mengenai tepat sasarannya.
Tetapi disebabkan pengemis itu juga tampaknya memiliki
kepandaian cukup tinggi, dengan sendirinya setiap serangan
yang dilancarkan oleh Phang Kui In dapat dielakkannya
dengan mudah. bahkan serangan2 yang dilakukannya itu tak
kalah kuatnya dibandingkan dengan serangan2 yang
dilancarkan oleh Phang Kui In.
Begitulah, kedua orang tersebut telah ber tempur dengan
hebat dan juga keduanya masing2 telah mengeluarkan
kepandaian mereka, untuk saling menindih tenaga lweekang
dari lawan masing2.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian telah tinggi,
kawan sipengemis yang seorang, yang belum lagi turun
tangan dan hanya berdiri disamping saja, telah melihatnya

bahwa kepandaian Phang Kui In tidak bisa dipandang rendah.
Maka dia telah ber-siap2 jika memang kawannya nanti
terdesak atau terancam oleh serangan-serangan yang
dilakukan oleh Phang Kui In dia akan segera menerjang maju
untuk membantui.
Yo Him hanya berdiri tertegun ditempatnya dia
menguatirkan sekali akan keselamatan Phang Kui In. Jika
sampai kepandaian Phang Kui In dapat ditindih oleh lawannya,
atau kawan sipengemis yang seorang itu ikut maju
mengeroyok berdua, tentu akan membahayakan jiwa Phang
Kui In.
Walaupun Yo Him kurang begitu mengerti mengenai
keadaan didalam rimba persilatan, namun dia juga telah
banyak mendengar, bahwa umumnya orang2 persilatan
sangat kasar, dan tidak akan segan2 menurunkan tangan
keras untuk membuat lawannya jadi bercacad.
Tetapi Yo Him tidak berdaya untuk memberikan bantuan
apa2.
Tiba2 Yo Him teringat sesuatu, sehingga dia hanya
tersenyum dan berdiri diam saja. Dia teringat kepada
Kimpaynya Wie Tocu, tetapi dalam kegembiraannya. Yo Him
jadi ingin menyaksikan pertempuran itu lebih jauh. Jika
memang Phang Kui In nanti terdesak oleh lawannya dia baru
akan mengeluarkan Kimpay tersebut, untuk menundukkan
kedua pengemis itu.
Saat itu, sipengemis yang sedang bertempur dengan Phang
Kui In telah melancarkan serangan dengan mempergunakan
jurus "Anjing menggerakkan ekornya," dan dengan tangannya
itu ia telah mengibaskan dengan sangat kuat sekali, karena
dia telah mempergunakan lweekangnya yang disalurkan
dikedua telapak tangannya, untuk menggempur kearah dada
Phang Kui In.

Tetapi Phang Kui In tidak takut menghadapi gempuran
seperti itu, dengan cepat diapun telah menyalurkan kekuatan
tenaga dalamnya, dengan gerakan „Yangliu Piauw Piauw” atau
„Pohon Yang Liu Sepoi2", tampak kedua tangannya bergerak
lemas. Walaupun gerakannya perlahan dan seperti tengah
menari, namun tenaga dalam yang terkandung dikedua
telapak tangannya itu luar biasa sekali.
„Bukkkk !" dua kekuatan yang bukan main hebatnya, telah
saling bentur.
Bahkan benturan yang terjadi itu telah menggetarkan
sekitar tempat tersebut, dan juga menulikan pendengaran,
karena benturan itu terjadi justru merupakan saling benturnya
dari dua kekuatan yang saling menyerang dan menindih. Yo
Him sendiri merasakan betapa tanah yang dipijaknya itu
tergetar keras.
„Kalau demikian, tampaknya pengemis ini bukan jago
sembarangan !" berpikir Phang Kui In di dalam hatinya.
„Tampaknya dia memiliki kepandaian yang tinggi dan telah
cukup ternama Tetapi mengapa anggota Kaypang demikian
ceroboh ?. Hanya disebabkan dua orang anggota muda nya
belaka dia bisa melancarkan gempuran2 mengadu jiwa
denganku. Rupanya pengemis ini juga bukan pengemis baik2..
!”
Karena berpikir begitu, hati Phang Kui In jadi mantap, dia
telah memberikan perlawanan tanpa segan2 lagi, setiap
serangan yang dilancarkannya juga mengandung kekuatan
yang cukup keras. Angin serangan itu mendesir tidak
hentinya.
Si pengemis melihat perobahan cara menyerang dari
lawannya jadi terkejut.
Tetapi perasaan kagetnya itu tidak diperlihatkan
diwajahnya, bahkan pengemis ini telah mendengus
mengeluarkan suara dingin.

„Hemm. Engkau ingin mengadu kekuatan denganku
mempergunakan kekerasan ?" ejeknya.
Dan pengemis itupun telah mengeluarkan pukulan2 yang
dahsyat sekali. Rupanya pengemis ini merupakan seorang ahli
Gwakang (Tenaga luar) .
Harus diketahui, bahwa seorang ahli tenaga Gwakang
berbeda dengan seorang akhli lweekang. Jika Gwakang
dipelajari untuk melatih jasmani, memiliki kekuatan yang
hebat atas kesanggupan tubuh, karena Gwakang lebih mirip
dengan tenaga kasar. Seorang ahli tenaga Gwakang bisa
mengangkat seekor gajah dengan mudah, dengan
mengandalkan kekuatan tenaganya. Sedangkan seorang ahli
tenaga lweekang merupakan seorang yaog memiliki latihan
untuk tenaga dalam, dimana tenaga sakti yang berasal dari
Tantian telah dilatihkannya secara teratur, sehingga ahli
lweekang bisa menyalurkan kekuatan tenaga saktinya, dapat
dipergunakan untuk menggempur sesuatu tanpa terlihat.
Dan juga bagi seorang ahli lweekang, dia bisa mengangkat
seekor gajah namun dengan menggunakan cara yang halus,
yaitu dengan mempergunakan gerakan memancing. yaitu
dengan meminjam tenaga dan botot berat tubuh gajah itu
sendiri.
Jika seorang ahli lweekang telah mencapai kesempurnaan
dalam latihan lweekangnya, tentu dia bisa mengeluarkan
kekuatannya untuk melakukan segala apapun juga. Sebab jika
kesempurnaan telah mencapai puncaknya, tentu dia akan
dapat menyalurkan tenaganya itu untuk menindih lawannya
dengan tenaga yang tidak tampak, dan dengan
mempergunakan serangan yang halus, bisa merubuhkan
lawannya tanpa menggerakan tangannya sedikitpun juga.
Jika Phang Kui In memang mengkhususkan diri melatih
lweekang, maka lawannya sipengemis merupakan seorang ahli

tenaga Gwakang. Maka dari itu, setiap gerakan2 yang
dilakukan oleh mereka saling bertentangan. Yang seorang
melancarkan serangan2 kasar dengan mempergunakan
kekuatan yang sangat hebat, sedangkan yang seorang lainnya
lagi mempergunakan tenaga halus namun dahsyat sekali
untuk melawannya, sehingga kadang2 terdengar suara
benturan2 yang sangat keras.
karena Phang Kui In juga telah menyalurkan kekuatan
tenaga dalamnya itu, mempergunakan kekerasan melawan
serangan lawan yang keras,.Tetapi tidak jarang juga Phang
Kui In mempergunakan tenaga yang lunak, dia telah
menangkis dengan mudah, dengan meminjam tenaga
serangan lawannya, merubuhkan lawannya tersebut karena
seorang ahli tenaga lwekang dapat mempergunakan taktik
meminjam tenaga lawan, dengan hanya mempergunakan satu
tail merubuhkan seribu kati !.
Semakin lama mereka bertempur semakin keras saja,
karena sipengemis yang menjadi lawan Phang Kui In jadi
semakin penasaran.
Berulang kali sipengemis tersebut telah mengeluarkan
suara bentakan ! yang sangat bengis tubuhnya berjingkrak
karena gusar, lalu kembali dia telah menyerang ber-tubi2.
Tetapi selama itu Phang Kui In selalu berhasil
menghadapinya dengan baik.
Hanya yang dikuatirkan sekali oleh Phang Kui In jika
pengemis yang seorangnya lagi ikut melancarkan serangan
mengeroyok dirinya. Kekuatiran itu disebabkan sipengemis
yang menjadi lawannya Itu memiliki kepandaian yang hampir
berimbang dengannya, jika pengemis yang satunya lagi juga
bukan seorang yang lemah, dan jika dia maju melancarkan
serangan juga berarti Phang Kui In harus menghadapi dua
orang lawan yang memiliki tenaga yang cukup dahsyat.

Berulang kali Phang Kui In mengeluarkan suara bentakan
juga, dia telah berusaha untuk dapat merubuhkan lawannya
dalam waktu yang cepat dan singkat
Tetapi disebabkan kepandaian mereka hampir berimbang
dengan sendirinya mereka saling menyerang dengan kekuatan
yang hampir bersamaan kuatnya.
Dengan kelincahan yang menakjubkan ditambah lagi
dengan kekuatan gwakangnya tampak si pengemis berusaha
untuk dapat merubuhkan Phang Kui In juga.
Tetapi semakin lama, karena latihan lweekang Phang Kui In
lebih sempurna dari latihan Gwakang pengemis itu, maka
sipengemis telah mulai terdesak. Dia jadi sibuk mengelakkan
dari setiap serangan2 yang dilancarkan oleh Phang Kui In.
Kedua tangan Phang Kui In tampak ber-gerak2, walaupun
jarak pisah diantara mereka berdua cukup jauh, namun
tenaga serangan dalam bentuk angin terjangan yang keluar
dari tangan Phang Kui In telah mendesak pengemis itu.
Dengan terpisahnya mereka, dalam jarak yang cukup jauh,
hampir dua tombak telah membuat sipengemis yang rugi
sendirinya, karena dalam jarak yang jauh seperti itu jarak
jangkau tangannya tentu saja tidak sampai, dan berulang kali
dia telah berusaha untuk melancarkan serangan dan
gempuran, namun terjangan2 dari lweekang Phang Kui In
selalu memaksa dia harus menyingkir dan mengelakkan diri
berkelit dari terpahan angin serangan yang mengincar bagian2
yang berbahaya ditubuhnya.
Phang Kui In telah melihat lawannya mulai terdesak,
semangat bertenpurnya jadi terbangun.
Dia telah mengerahkan semangat dan tenaganya jauh lebih
kuat.
Namun tiba2 sipengemis yang seorangnya lagi, yang sejak
tadi hanya menyaksikan saja, tidak dapat menahan sabar dan
telah mengeluarkan suara teriakan : "Toako jangan takut !

Aku datang membantuimu ! !" dan disertai bentakannya itu,
tubuh sipengemis telah melompat dengan gerakan yang
sangat cepat sekali, dan waktu tubuhnya sedang melayang di
tengah udara, justru tenaga sipengemis telah bergerak saling
susul, dia telah melancarkan serangan serangan yang
beruntun.
Rupanya pengemis yang kedua ini, memiliki latihan tenaga
lwekang, karena walaupun tubuhnya belum lagi tiba
digelanggang pertempuran itu, tetapi angin serangannya telah
menyambar dengan dahsyat kearah Phang Kui In.
Dengan sendirinya Phang Kui In jadi terkejut dan telah
cepat-cepat menyingkir.
Gerakan tubuhnya itu membuat penjagaan diri Phang Kui
In jadi lowong, dia telah membuka lowongan yang tidak kecil
dibagian dadanya.
Sipengemis yang dipanggil dengan sebutan "Toako" kakak
tua telah melihat kesempatan itu.
Dengan cepat dia telah mengeluarkan suara bentakan yang
sangat keras sekali. Dia telah melancarkan gempuran yang
sangat hebat sekali, dengan mempergunakan kedua telapak
tangannya yang didorong kearah dada Phang Kui In.
Tentu saja Phang Kui In jadi tambah terkejut. karena angin
serangan si pengemis yang baru ikut melancarkan serangan
itu telah menyambar terus kearah perutnya, dan kini tenaga
serangan dari kedua telapak tangan sipengemis yang di
panggil “Toako” itu juga meluncur akan menggempur
dadanya.
Keruan saja dalam waktu hanya beberapa detik itu. Phang
Kui In harus mempergunakan pikirannya dengan cepat, dia
mencari jalan yang terbaik untuk menyingkirkan dirinya.

Sebagai seorang ahli lwekang yang telah ber pengalaman
dan memiliki latihan cukup sempurna Phang Kui In tidak
menjadi gugup karenanya.
Dengan cepat, tangan kanannya ditekuk, jari tangannya
saling jepit dengan jari tangan kirinya. Dan sikapnya seperti
orang yang sedang memberi hormat.
Tubuhnya agak membungkuk kedepan, dengan gerakan
tersebut Phang Kui In telah melindungi dadanya dengan
kekuatan tenaga lwekangnya dari serangan dan gempuran
pengemis yang dipanggil “Toako” itu. Sedangkan bagian
perutnya yang diserang hebat oleh si pengemis yang seorang
lagi telah dihadapinya dengan perut dikempiskan, lalu kaki
kanannya diangkat ditekuk agak lurus, mengancam akan
menggempur urat nadi di pergelangan tangan sipengemis,
urat nadi Ma hiong meh, yang merupakan urat nadi terpenting
bagi setiap manusia karena jika urat nadi itu tergempur oleh
lutut Phang Kui In, jika tidak binasa tentu pengemis tersebut
akan bercacad seumur hidupnya. Keruan saja sipengemis yang
kedua itu jadi terperanjat. Dia mengetahui bahwa ancaman
yang akan diterimanya itu sangat hebat sekali.
Maka tanpa membuang Waktu lagi dia telah menarik
kembali kedua tangannya, gerakan yang dilakukannya sangat
cepat bukan main, dan dia telah berhasil mengelakkan
benturan lutut dari Phang Kui In, sehingga selamatlah dia dari
bencana yang bisa menimpa dirinya.
Sedangkan serangan dari sipengemis yang dipanggil 'toako'
itu telah tiba, dan tertangkis oleh rangkapan tangan Phang Kui
In. sehingga tenaga membentur yang keras sekali seketika
terjadi.
„Bukkkl" tubuh sipengemis terhuyung mundur beberapa
langkah sedangkan tubuh Phang Kui In tergoncang keras,
namun disebabkan dia telah menancapkan kakinya dengan
kuat sekali ditanah, maka dia telah berhasil menerima
serangan itu dengan tubuh yang tidak bergeming selain ber

goyang2 belaka. Kedua telapak kakinya tidak tergeser
sedikitpnn juga.
Saat itu. tampak Phang Kui In telah merentangkan kedua
tangannya, dia telah membalas melancarkan serangan justru
disaat tubuh sipengemis “toako” itu sedang terhuyung. Angin
serangan yang dilancarkan Phang Kui In berkesiuran keras.
“Wuuttt !" dahsyat sekali.
Si Toako tertawa tawar, walaupun tadi dia telah terdorong
mundut seperti itu, namun dia memiliki kepandaian yang
tinggi dan latihan tenaga Gwakang yang cukup sempurna.
Dengan sendirinya dia berhasil untuk menangkisnya.
Begitulah kedua pengemis inipun telah melancarkan
serangan2nya yang serentak.
Karena mengetahui bahwa Phang Kui In merupakan
seorang ahli lweekang yang cukup tangguh maka kedua
pengemis itu tidak segan2 untuk melakukan pengeroyokan.
„Manusia2 rendah !" mengutuk Phang Kui In dengan
sengit, dia telah menggerakkan kedua tangannya untuk
melancarkan serangan2 balasan dan menangkis maupun
mengelakkan diri dari cecaran kedua pengemis itu.
Gerakan2 yang dilakukan oleh Phang Kui In sangat gesit,
namun karena dikeroyok kedua pengemis itu, dia jadi sibuk
sekali.
Yo Him yang melihat ini. Dimana dia melihat keringat telah
membasahi pakaian Phang Kui In dan mukanya juga telah
dipenuhi butir2 keringat, dengan sendirinya mendatangkan
perasaan kuatir bukan main dihati Yo Him.
„Berhenti ! Berhenti ! teriak Yo Him setelah berpikir
sejenak. „Aku hendak bicara !"
Phang Kui In heran, entah apa yang. hendak dilakukan oleh
Yo Him.

Tetapi sebagai putranya Sin Tiauw Taihiap Yo Ko tentu
saja Yo Him diperlakukan hormat sekali oleh Phang Kui In
yang menaruh rasa segan kepada anak ini.
Begitu mendengar teriakan Yo Him, segera Phang Kui In
melompat kebelakang beberapa tombak jauhnya, memisahkan
diri dari kedua pengemis itu,
Sedangkan kedua pengemis itu, Si Toako dan kawannya,
telah memandang dengan sorot mata bengis sekali kepada Yo
Him.
„Apa yang hendak kau katakan. bocah ingusan !" bentak
sipengemis toako itu.
„Sesungguhnya, telah lama kudengar," kata Yo Him dengan
suara yang sabar dan tenang sekali, sikapnya juga sengaja
diperlihatkan seperti seorang tokoh persilatan sedang bicara,
sehingga membuat kedua pengemis itu yang melihat lagak
anak kecil she Yo ini merasakan dada mereka seperti ingin
meledak karena merah sekali.
„Bahwa dalam perkumpulan Kaypang terdapat peraturan
yang sangat keras sekali, yaitu "dilarang melakukan pekerjaan
jahat, jahat itu terbagi luas dalam berbagai bidang, yaitu
termasuk pencurian, pemerasan dan perbuatan menyiksa yang
lemah tanpa salah, tentu saja yang penting, semua pekerjaan
jahat telah dilarang oleh perkumpulan Kaypang ! setahuku,
bahwa kalian dari Kaypang, mengapa kalian bertindak
sewenang-wenang "
Muka kedua pengemis itu jadi merah padam karena mereka
gusar sekali.
"Budak busuk !" bentak mereka hampir berbareng, „Apakah
engkau menyadari bahwa perkataanpun bisa mendatangkan
kematian untuk seseorang?".

“Apakah kalian maksudkan bahwa perkataanku itu bisa
menyebabkan aku mati ditangan kalian?" tanya Yo Him
dengan berani.
„Tidak salah!" menyahuti pengemis itu dengan suara yang
keras “Sedikitpun tidak salah memang kau, akan mati juga.
karena telah begitu lancang mengeluarkan perkataan yang
tidak keruan. !"
Dan si Toako setelah berkata begitu, telah melompat untuk
melancarkan serangan mematikan kepada Yo Him.
Tetapi Yo Him telah membentak dengan suara yang
nyaring : „Tahan dulu, aku masih ingin bicara !"
Si Toako telah menahan gerakan tubuhnya matanya
mendelik lebar2, bentaknya ,,Cepat katakan !”
“Apakah kalian benar2 anggota dari Kaypang?" tanya Yo
Him lagi,
„Ada urusan apa dengan kau, apakah kami ini termasuk
anggota Kaypang atau bukan, bukan menjadi urusanmu !"
bentak si Toako tambah beringas, karena dia marah sekali
ditegur oleh seorang bocah cilik seperti Yo Him.
“Ohh, tentu saja ada hubungannya denganku !" kata To
Him “Terlebih lagi memang kalian benar2 anggota Kaypang !"
Mata sipengemis toako itu telah mencilak-cilak, sedangkan
si pengemis yang seorangnya lagi telah mengeluarkan suara
geraman yang bengis, tampaknya diapun mulai tidak sabat
ingin melancarkan serangan yang bisa mematikan Yo Him.
"Benar ! Kami memang anggota Kaypang. Tentunya kau
mengetahui betapa hebatnya Kaypang, yang tersebar
diseluruh daratan Tionggoan, bukan ?"
"Hemmmm, aku mengetahui dan menghargai nama harum
Kaypang. Dan kalian termasuk anggota Kaypang Cabang
daerah bukan ?"

"Benar !" menyabut pengemis 'toako' itu. "Apakah engkau
memandang rendah Kaypang cabang daerah ?”
“Oh, tidak ! tidak ! Kaypang pusat atau Kaypang daerah
sama saja, bukankah Kaypang memiliki nama yang harum
disegani kawan dan lawan ?"
"Hemmmm, rupanya engkau mengetahui juga keangkeran
Kaypang walaupun usiamu masih bau pupur !" kata
sipengemis toako itu angkuh sekali.
„Tetapi aku justru memiliki satu pertanyaan, apakah
anggota Kaypang cabang daerah akan mematuhi setiap
perintah dari pusat ?" tanya Yo Him.
pengemis „toako'" itu tidak segera menyahuti, karena
tampaknya berpikir sejenak namun akhirnya dia telah berkata:
"'Ya, memang itu peraturan dalam rumah tangga Kaypang !
untuk apa kau menanyakan itu, heh? Apakah engkau orang
tua Kaypang ?”
Yo Him membawa sikap yang tenang dan sabar, dia telah
berkata lagi "Baiklah! Jika memang ada anggota Kaypang
dari pusat yang kedudukannya lebih tinggi darimu, apakah
engkau akan menghormatinya ?”
Ditegur demikian, kedua pengemis itu jadi tertegun untuk
sejenak, mereka telah memandang dengan mata menyelidik
kepada Yo Him sampai akhirnya salah seorang diantara
mereka si Toako telah bertanya ragu2 mengandung
kemarahan: "Siapa yang engkau maksudkan anggota Kaypang
itu?"
“tidak perlu kalian mengetahui dulu, Sekarang jawablah
pertanyaanku: „Apa kedudukanmu dalam keanggotaan
Kaypang Cabang daerah?"
Kedua pengemis itu jadi tambah ragu2, tetapi kemudian si
toako itu telah balik bertanya.

“apakah yang engkau maksudkan dengan anggota Kaypang
dari pusat adalah dirimu sendiri, setan kecil ?” setelah berkata
begitu, sipengemis tertawa tergelak.
Yo Him tidak melayani sikap pengemis ini dia telah berkata
lagi. "Jawab dulu pertanyaan ku, apa kedudukan kalian dalam
keanggotaan Kaypang cabang daerah ?”
„Kami merupakan pemimpin golongan muda dari anggota
Kaypang cabang daerah !” menyahut sipengemis kawannya si
toako itu. “setiap anggota muda harus berada dibawah
pengawasan kami “
“Hmm, hanya jadi bagian golongan anggota Kaypang yang
muda, jadi bukan keseluruhan dari keanggotaan Kaypang
cabang daerah kota ini bukan ?”
„Tetapi kami bisa melaporkan kepada wakil dan ketua kami
dicabang daerah ini. Kami memiliki suara." menyahuti si Toako
dengan sengit „Dan engkau telah berani bicara mengenai
perkumpulan kami maka jika kelak engkau ternyata tidak
memiliki sangkut paut apapun juga, kepalamu itu akan
kupisahkan dari batang lehermu... !"
Itulah ancaman yang cukup hebat, ancaman yang diliputi
kemarahan. Tetapi tampaknya Yo Him tidak takut, bahkan
telah tertawa tawar dan sikapnya tenang sekali.
„Baik ! Itupun boleh !" kata Yo Him. „Jika kelak aku tidak
memiliki hubungan apa2 dengan Kaypang kalian boleh
menghukumku dengan cara apa saja."
Dan setelah berkata begitu, Yo Him merogoh sakunya.
Kedua pengemis itu mengawasi dengan sorot mata yang
tajam, mereka men duga2 entab apa yang akan dikeluarkan
oleh Yo Him.
„Nah, kenalkah kalian dengan benda ini ?" tanya.Yo Him
sambil mengacungkan Kimpay Wie Tocu.

Mata kedua pergemis tersebut terpentang lebar2 dan muka
mereka berobah jadi pucat,
Tampaknya mereka kaget bukan main.
“Kenalkah kalian dengan benda ini ?” tanya Yo Him dengan
suara yang keras mengulangi pertanyaannya.
“Hmm !" si toako telah mendengus mengejek, dia sudah
bisa mengendalikan goncangan hatinya. “engkau mencuri dari
mana benda berharga milik dari salah seorang pemimpin
pusat kami itu ?”
Dia tidak mempercayai bahwa Yo Him bisa memiliki benda
berharga itu. yang mereka kenali sebagai lambang kebesaran
wakil Pangcu dari pusat, yaitu Wie Tocu. Tetapi disebabkan
yang memegang lambang kekuasaan tersebut hanya Yo Him,
seorang anak yang belum lagi berusia lebih dari sepuluh
tahun, tentu saja mereka jadi ragu2.
Itulah sebabnya kedua pengemis ini tidak segera berlutut
memberi hormat seperti umumnya setiap anggota pengemis
menghadapi lambang kekuasaan dari pemimpin mereka.
Yo Him juga mendongkol melihat kedua pengemis tua itu
tidak segera menghormati lambang kekuasaan pemimpin
mereka !.
„Mengapa kalian tidak cepat2 berlutut, eh?" bentak Yo Him
dengan suara yang meninggi, „Apakah kalian berpikir hal ini
kuberitahukan kepada Wie Tocu, jiwa kalian bisa di perhatikan
terus? Kekurang ajaran kalian ini bisa menyebabkan kalian
dihukum berat...!"
Kedua pengemis itu saling pandang, sedangkan si Toako
diam2 telah berpikir;
„Inilah berbahaya, jika anak ini benar memiliki hubungan
dengan Wie Tocu dan memberitahukan sikap kami berdua,
tentu pusat akan mengirimkan orangnya untuk menghukum
kami. Lebih baik jiwa anak ini kami habiskan saja...!"

Dan setelah berpikir begitu, sipengemis yang dipanggil
Toako itu telah melirik kepada kawannya.
Rupanya pengemis yang seorangnya lagi juga memiliki
pikiran yang sama dengan kawannya, diapun telah tersenyum
sinis mengandung arti waktu si Toako melirik kepadanya.
Keduanya lalu berlutut dihadapan Yo Him sambil katanya:
“Kami benar2 harus dihukum mati, tidak melihat tingginya
gunung Thay-san .... !" kata kedua pengemis itu hampir
berbareng.
“Maafkanlah atas kekurang ajaran kami ..!"
"Siapa nama kalian berdua ?" tanya Yo Him dengan suara
yang agak lunak.
Kedua pengemis itu jadi terkejut, mereka menyadari jika
mereka menyebutkan nama mereka, tentu dengan mudah Yo
Him memberitahukan kepada Wie Tocu perihal mereka.
Melihat kedua pengemis itu ragu2 Yo Him telah berkata lagi
: "Jika memang kalian mengakui perbuatan kalian ini salah
dan berjanji dihari hari mendatang kalian tidak akan
melupakan perbuatan yang buruk lagi membela pihak yang
salah, dan membiarkan anggota2 yang dipimpin kalian
melakukan kejahatan terhadap orang-orang yang lemah
tidak berdaya, aku bersedia untuk memberikan pengampunan
bagi kalian .... aku berjanji tidak akan memberitahukan
kepada Wie Toako ... “
Mendengar Yo Him menyebut Wie Liang Tocu dengan
sebutan Wie Toako, kakak Wie, tentu saja kedua pengemis
itu jadi tambah terkejut dan ragu2.
„Cepat katakan, siapa nama kau " tanya Yo Him lagi.
Si Toako rupanya saat itu telah mengambil suatu keputusan
nekad, dia telah melompat dengan tiba2, tangannya meluncur
akan menghajar kepala Yo Him, yang ingin dipukulnya pecah
berantakan.

Phang Kui In yang sejak tadi mengawasi saja dengan
heran, betapa Yo Him memiliki Kimpay, lambang lencana dari
emas yang merupakan lambang kekuasaan tertinggi dari salah
seorang pemimpin Kaypang, yang di sebut2 dengan panggilan
Wie Toako, tentu saja jadi terkejut. Dia telah berpikir keras,
apakah mungkin Wie Tocu itu Wie Liang Tocu adanya, karena
memandang Yo Him adalah putera dari Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko, maka telah memberikan lambang kekuasaannya itu
kepada Yo Him, agar kelak jika Yo Him sedang menghadapi
kesulitan maka dia bisa meminta bantuan pihak Kaypang ?
Tetapi diluar dugaan Yo Him, justru Kaypang cabang
daerah kota tersebut merupakan cabang yang murtad, dan
dibawah pimpinannya Ban Ban Cie Kay, seorang pengemis tua
yang berusia diantara delapan puluh tahun, yang memiliki
sifat2 yang buruk, anggota2 Kaypang cabang daerah tersebut
ini tidak memiliki tanggung jawab yang baik. Bahkan
memperoleh pimpinan yang buruk sekali dari pemimpinnya,
atau ketua cabang daerah, dengan sendirinya semua anggota
Kaypang cabang daerah ini dari golongan yang tertinggi,
sampai golongan yang termuda, telah melakukan banyak
kejahatan. Tentu saja seperti yang dialami oleh kedua
pengemis itu yang sedang berhadapan dengan Yo Him, waktu
mengetahui Yo Him memiliki hubungan dengan salah seorang
pemimpin tertinggi mereka dipusat mereka jadi berkuatir dan
ketakutan, maka merekapun jadi nekad, berusaha menutup
mulut Yo Him.
Itulah sebabnya, si Toako ini telah melompay dan
melancarsan gempuran yang sangat kuat sekali dengan
telapak tangannya memukul kearah kepala Yo Him karena dia
bermaksud sekali hantam akan pecahlah kepala anak kecil ini,
sehingga selanjutnya rahasia mereka tetap tertutup, asalkan
nanti dia juga membinasakan Phang Kui In.

Tetapi Phang Kui In mana mau membiarkan sipengemis itu
menghantam Yo Him disaat tangan itu meluncur dengan cepat
tampak Phang Kui In telah melompat juga.
Yo Him saat itu sangat terkejut, karena merasakan
samberan angin serangan yang kuat sekali kearah kepalanya.
Dia sampai mengeluarkan suara seruan kaget dan ingin
menyampok dengan Kimpay dltangannya.
Tetapi belum lagi serangan sipengemis itu tiba di sasaran,
tangannya telah disampok oleh kibasan tangan Phang Kui In,
yang menangkisnya dengan kuat sekali sehingga terdengar
suara "Bukkk !" yang keras sekali disusul tubuh pengemis itu
terhuyung mundur tiga langkah begitu juga tubuh Phang Kui
In telah terhuyung mundur dua langkah, tetapi saat itu Phang
Kui In telah berteriak dengan suara yang nyaring. „Jangan
menghina anak lecil ! Jika memang engkau memiliki
kepandaian dan keberanian, hadapilah aku."
Sedangkan pengemis yang dipanggil toako itu telah
mengeluarkan suara erangan, dengan cepat dia telah
melompat dan melancarkan serangan dengan sekuat
tenaganya.
Sedangkan pengemis yang seorangnya lagi, telah ikut
menyerang Phang Kui In diapun melancarkan gempuran yang
tidak tanggung2, maka angin serangannya itu telah mendesir
dengan dahsyat menyebabkan Phang Kui In ber goyang2
waktu menyambuti tenaga serangan kedua lawannya itu.
BEGITULAH mereka jadi bertempur kembali dengan
mengeluarkan seluruh kesanggupannya, dan setiap serangan2
yang dilancarkannya di sertai dengan pengerahan tenaga
lwekang dan gwakang yang kuat.
Disaat ketiga orang itu sedang terlibat didalam suatu
pertempuran yang hebat sekali dengan disaksikan oleh Yo
Him, tiba2 muncul seseorarg dari luar kampung, yang berjalan

dengan sepatu yang agak diseret, dengan pakaian sebagai
seorang pelajar, berusia diantara tiga puluh tiga tahun,
dengan pakaian yang agak kotor dan juga dengan kopiah
pelajarnya.
„Angin malam yang berhembus lembut,
Sang Dewi yang telah datang melambai,
Angin yang menyentuh hangat dihati,
Mengapa pula harus saling bertempur mati ?
Bukankah kebahagiaan yang ada telah mendatangkan
kegairahan ?
Mengapa pula harus mendatangkan keresahan ?
Dewi telah tersenyum, dan Dewi telah tertawa,
Semuanya cerah, Janganlah melewatkan kebahagiaan
itu...!".
Dan sambil bernyanyi seperti itu, tampak pelajar itu telah
melangkah dengan tindakan kaki yang diseret, semakin lama
semakin mendekat, tampaknya dia tenang sekali, wajahnya
juga tampan, karena itu dia sangat menarik hati. Ditangan
kanannya tampak tercekal sebuah kipas, yang digerakan perlahan2,
seperti juga sedang mengipas debu.
Dengan cepat dia telah sampai disisi Yo Him, dan berkata
perlahan. ,,Ihh...Dewi telah datang, Dewi telah tertawa cerah,
mengapa mereka bertempur ? Adakah yang mempersulit hati
mereka ? Apakah ada sesuatu yang mendukakan mereka ?
Ataukah ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan
baik dan damai ?" menggumam pelajar itu dengan suara yang
perlahan sekali, tampaknya dia heran, tetapi Yo Him mengerti

bahwa pelajar itu seperti juga sedang mengejek Phang Kui In
bertiga dengan pengemis itu.
Saat itu Yo Him telah menoleh, dia telah memandangi
pelajar tersebut.
„Siapakah engkau, koko ?" tanyanya kemudian dengan
suara yang ramah. „Tampaknya engkau mengerti ilmu silat
juga...!".
Pelajar itu tertawa.
„Adik kecil...!" katanya dengan suara yang cerah. „Matamu
tampaknya tajam sekali...! Memang aku mengerti sedikit2
ilmu olah raga untuk menyehatkan tubuh, tetapi bukan untuk
berkelahi ........... !"
Setelah berkata begitu, sipelajar telah memandang kearah
Yo Him sejenak, kemudian dia telah berkata lagi dengan suara
yang perlahan.
„Dan.... engkaupun tampaknya gemar sekali menyaksikan
orang berkelahi.. ?!"
„Bukan gemar menyaksikan orang berkelahi.....tetapi justru
paman Phang telah diganggu oleh kedua pengemis jahat itu
l" menjelaskan Yo Him.
„Ihhhh ...... !"berseru pelajar itu dengan suara tertahan,
tampaknya dia heran. “Jika mataku yang mulai lamur ini tidak
salah lihat, bukankah kedua pengemis itu merupakan
pengemis2 dari Kaypang !”
„Memang ! Tetapi mereka jahat sekali” menjelaskan Yo
Him. Dan Yo Him kemudian telah menceritakan
pengalamannya tadi, dimana seorang gadis kecil telah dipukuli
oleh dua orang pengemis kecil, kemudian kedua pengemis
kecil itu diajar adat oleh Phang Kui In, untuk menolongi gadis
kecil itu. Dan datanglah kedua pengemis yang memiliki
kepandaian yang tinggi ini untuk membela kedua pengemis

kecil itu, dan minta ganti rugi untuk menghajar Phang Kui In
pula.
Mendengar cerita Yo Him, muka pelajar itu jadi berobah
sejenak.
Tetapi kemudian pelajar tersebut telah tertawa lagi, dia
telah berkata. „Sungguh merupakan suatu kejadian yang
memalukan aku tidak menyangkanya bahwa didalam Kaypang
terdapat anggota2 yang demikian kotor dan jahat. Jika
memang benar apa yang kau ceritakan tentu nama Kaypang
akan ternoda dan nama harum dari perkumpulan pengemis,
yang sangat besar dan anggotanya tersebar diseluruh daratan
Tionggoan, akan menjadi bahan tertawaan dari orang2 gagah
kaum rimba persilatan...!”
Yo Him mengangguk.
„Tetapi tokoh2 dari pemimpin Kaypang memiliki jiwa yang
luhur dan budi pekerti yang baik ! Namun kedua pengemis ini
memang nampaknya marupakan manusia2 jahat yang sulit
sekali disadari dari kesalahan mereka...!".
„Hemm, manusia2 seperti itu tidak perlu dilayani.! tetapi
jika memang paman Phangmu bermaksud untuk memberikan
pengajaran kepada kedua pengemis jahat itu, paman
Phangmu itupun tidak bisa disalahkan !” dan setelah berkata
begitu sipelajar telah menghela napas beberapa kali.
,,Cu Kun Hong ! Cu Kun Hong !” menggumam pelajar itu
lagi beberapa kali. „Rupanya engkau kalah mulia bila
dibandingkan dengan paman Phang dan engko kecil ini !
Engkau selalu bermasa bodoh terhadap urusan, tidak demikian
dengan paman Phang dari engko kecil ini, yang selalu
membela pihak yang lemah dan bersedia untuk menghadapi
pertempuran yang sulit untuk menghadapi manusia2 jahat
seperti kedua pengemis tersebut."

Mendengar sampai disitu. tentu saja Phang Kui In yang
sedang bertempur jadi merandek sejenak, dia telah melirik.
Segera dia melihat pelajar itu, dan hatinya jadi ber-tanya2.
entah siapa adanya pelajar tersebut.
Sedangkan pelajar tersebut tidak lain dari Cu Kun Hong,
yang pernah kita kenal dibagian pertama dari cerita ini. Dan
dia memang pernah bertemu dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko,
dan pernah dilukai oleh Tiat To Hoat-ong, sehingga dirawat
sampai sembuh oleh Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.
Sejak saat itu, Cu Kun Hong telah berkelana didalam rimba
persilatan Karena perasaan kagumnya yang meluap2 terhadap
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko, dan merasa bahwa Sin Tiauw Taihiap
merupakan manusia yang patut dihormati sedalam2nya maka
Cu Kun Hong telah berjanji didalam hatinya, bahwa diapun
ingin melakukan banyak perbuatan amal kebaikan untuk
membela keadilan.
Jilid 16
SETIAP dia tiba disuatu tempat, jika menghadapi suatu
urusan yang tidak wajar dan tidak layak maka Cu Kun Hong
turun tangan untuk membelai pihak lemah yang tertindas.
per-lahan2 namanya mulai dikenal oleh orang2 rimba
persilatan.
Begitu juga kepandaiannya telah mengalami banyak
kemajuan, karena Cu kun Hong sangat rajin sekali melatih diri,
sehingga dibandingkan dengan kepandaiannya yang dulu
maka kepandaian Cu Kun Hong yang sekarang berbeda jauh
sekali.
Kipas ditangannya yang selalu di-bawa2 dan ipergunakan
sebagai senjata itu, merupakan senjata yang ampuh sekali.

Setiap dalam suat pertempuran Cu Kun Hong selalu
mempergunakan kipasnya sebagai senjata.
Karena Cu Kun Hong telah melatih diri dengan giat sekali,
dia melatih ilmu pukulan dan ilmu pedang yang dirobahnya
dengan mempergunakan kipasnya.
Maka dari itu, tidak terlalu mengherankan jika dalam waktu
delapan tahun, Cu Kun Hong telah memperoleh kemajuan
yang sangat pesat sekali.
Hari ini, secara kebetulan dia lewat ditempat tersebut, dan
menyaksikan pertempuran yang terjadi antara Phang Kui In
dengan kedua pengemis itu. Maka dia jadi tertarik Untuk
bergurau, sengaja dia telah menyanyi dengan lirik yang
menyindir, yaitu lagu "Dewi", dan dia telah menghampiri
tempat pertempuran itu.
Semula, ketika Cu Kun Hong mengenali bahwa kedua
pengemis itu adalah dua orang anggota Kaypang, yang bisa
dikenalinya dari tumpukan karung yang ada dipunggung
mereka, maka Cu Kun Hong ingin membantui pihak kedua
pengemis itu, untuk melabrak Phang Kui In. Namun setelah
mendengar keterangan Yo Him, Cu Kun Hong jadi berbalik
membenci kedua pengemis itu.
Dilihatnya Phang Kui In telah terdesak oleh serangan yang
ber-tubi2 dari kedua lawan nya, sedangkan kedua pengemis
itu, karena mengandalkan tenaga berdua, telah melancarkan
serangan2 yang gencar, menyebabkan Phang Kui In selalu
sibuk untuk mengelakkan diri dari gempuran2 yang bisa
mematikan.
Dalam saat2 seperti inilah, Cu Kun Hong telah menggumam
lagi: „Sungguh tidak pantas ! Dua orang melawan seorang!
Sungguh tidak pantas ! Sungguh tidak sedap dilihat
pengeroyokan yang tidak tahu malu ini.......!”

Dan setelah berkata begitu, dengan langkah kaki yang
tenang, tampak Cu Kun Hong telah melangkah menghampiri
gelanggang pertempuran.
Dia telah mengeluarkan sedikit tenaganya kipasnya
digerakkan untuk mengetuk tangan salah seorang dari kedua
lawan Phang Kui In.
„Tukkkk !" pergelangan tangan sipengemis yang biasa
dipanggil toako itu telah kena diketuknya dengan keras,
sehingga suara ketukan tersebut juga terdengar jelas.
Bahkan pengemis itupun telah mengeluarkan suara jeritan
tertahan. dia telah melompat mundur dengan gesit sekali,
matanya telah mendelik mengawasi Cu Kun Hong.
„Siapa kau ?” bentaknya dengan suara yang galak sekali,
“Mengapa usil mencampuri urusan kami !”
Sedangkan pengemis yang seorangnya lagi juga telah
melompat mundur, Dia berdiri disamping kawannya,
mengawasi Cu Kun Hong dengan sorot mata yang tajam.
Cu Kun Hong membawa sikap yang sabar dan tersenyum
mengejek, dia telah berkata dengan suara yang perlahan,
tetapi diiramakan : „Aku bukan usil !” katanya, “tetapi justru
tadi aku telah mendengar dari engko kecil itu, bahwa kalian
merupakan dua bandit kecil yang tidak tahu malu dan jahat
sekali ! Maka dari itu, aku bermaksud iseng2 untuk
memberikan didikan agar kelak kalian mengerti akan
tatakrama kesopanan dan tahu diri...!".
Tentu saja perkataan Cu Kun Hong membuat kedua
pengemis itu jadi gusar sekali, keduanya telah berjingkrak
dengan marah sekali.
„Jangan marah dulu" kata Cu Kun Hong dengan suara yang
mengejek. „Jika engkau marah, tentu engkau dengan mudah
akan di rubuhkan lawan ! Bukankah didalam persilatan
terdapat suatu pantangan, jika sedang bertanding

menghadapi lawan, pantangan yang terutama sekali adalah
tidak boleh mengumbar kemarahan hati. Jika kalian melanggar
pantangan itu, niscaya diri kalian sendiri yang akan menderita
kerugian ! Tentunya kalian juga telah mengetahui akan
pantangan itu. bukan ?".
Mendengar ejekan Cu Kun Hong yang terakhir, walaupun
kedua pengemis itu memang mengetahui akan pantangan itu,
namun mereka bukannya berusaha untuk mengendalikan diri,
malah mereka bertambah gusar.
„Katakan namamu, agar kau mampus jangan tidak
bernama !" bentak pengemis yang biasa dipanggil toako itu.
"Hemmm .. namaku ?" tanya Cu Kun Hong tenang. „Aku
selama tidak pernah mengganti she dan nama, aku she Cu
dan bernama Kun Hong. Dan jika memang kalian merasakan
diri kalian merupakan lelaki sejati sebutkan juga nama kalian,
karena akupun pantang sekali membinasakan manusia kecil
yang tidak memiliki nama.....!”
Muka kedua pengemis itu jadi merah padam, bahkan
dengan berang pengemis 'toako' itu telah berkata dengan
lantang: „Aku Kim Ji Kay (anak pengemis emas), dan ini
adikku Gan Ho Kay ......!" tetapi baru berkata sampai disitu,
Kim Jie Kay tampaknya jadi terkejut sendirinya, karena dia
telah terlanjur menyebutkan nama mereka.
Keduanya dengan serentak telah menoleh kepada Yo Him,
yang saat itu sedang mengawasi kearah mereka dengan bibir
tersungging senyuman.
„Bagus, Bagus !” kata Cu Kun Hong “Mari kita main2
sebentar! kulihat kalian masing2 membawa empat helai
karung ! itu bukan tingkat yang rendah ! Didalam Kaypang,
empat karung merupakan empat tingkat, tingkat dari pangkat
kalian, tentunya kalian memiliki kepandaian yang tidak rendah.
!”

Dan setelah berkata begitu dengan cepat Cu Kun Hong
telah mengibaskan kipasnya, dia bersiap2 untuk menerima
serangan kedua pengemis itu.
“saudara tunggu dulu !” kata Phang Kui In yang sejak tadi
berdiam diri saja. Cu Kun Hong menoleh.
“Engkau ingin mengatakan bahwa kita kebagian
seorangnya satu, bukan ?”. tanya Cu Kun Hong sambil
tertawa. “Tidak usah, tidak perlu !, menghadapi anjing2 kurap
seperti dia ini, mengapa kita harus sungkan2 ?, biar aku yang
menggebuknya saja, sama dengan ilmu tongkat mereka, ilmu
tongkat penggebuk anjing !”
mendengar perkataan Cu Kun Hong yang mengandung
ejekan dan sikapnya yang meremehkan mereka, tentu saja
telah membuat kedua pengemis itu jadi marah sekali. Dengan
mengeluarkan suara bentakan keras, mereka sudah tidak bisa
mempertahankan diri lagi, keduanya telah melompat dengan
gerakan yang gesit sekali. Dan telah melancarkan gempuran2
yang sangat kuat kearah Cu Kun Hong.
Tetapi Cu Kun Hong tetap berdiri tenang ditempatnya,
sama sekali dia tidak memperdulikan serangan2 yang
dilancarkan oleh kedua lawannya itu.
Kipas yang dicekal ditangan kanannya, telah digerakkan
dengan seenaknya, dia telah menggerakkannya dengan kuat
sekali, sehingga angin dari kipas itu berkesiuran.
Kibasan kipas itu bukan merupakan kibasan biasa saja,
kibasan kipas itu merupakan kibasan yang luar biasa kuatnya,
maka tenaga yang menggempur juga dahsyat bukan main.
Maka dalam keadaan demikian, kedua lawannya jadi terkejut,
karena mereka merasakan pergelangan tangan mereka nyeri
sekali, seperti tertusuk ribuan jarum.
Dengan mengeluarkan suara teriakan kaget, mereka telah
melompat mundur dengan gerakan tubuh yang cepat sekali.

Mereka telah menduga bahwa Cu Kun Hong mempergunakan
senjata rahasia.
Tetapi baru saja mereka ingin memaki, justru disaat itu
mereka melihat perasaan nyeri itu berasal dari angin serangan
kibasan kipas.
Dengan sendirinya mereka jadi tambah terkejut, sampai
mengeluarkan suara teriakan perlahan, dan kemudian dengan
serentak keduanya telah melompat melancarkan serangan2
pula dengan gerakan yang sangat cepat dan lebih kuat dari
serangan mereka pertama tadi.
Walaupun kedua pengemis ini telah letih melakukan
pertempuran yang cukup lama dengan Phang Kui In, tetapi,
nyatanya mereka masih memiliki kekuatan yang cukup hebat
untuk melancarkan serangan2 kepada Kun Hong.
Sedangkan Phang Kui In yang melihat Cu Kun Hong
menghadapi kedua lawannya itu, diam2 jadi kagum sekali dia
jadi memuji didalam hatinya.
Dia telah melihat betapa lwekang Cu Kun Hong telah
sempurna latihannya, dan angin serangan tersebut telah
menerjang dengan kuat sekali, kearah kedua pengemis yang
mengeroyoknya,
Setiap serangan yang dilancarkan oleh Cu Kun Hong selalu
memaksa kedua lawannya harus mengundurkan diri dari
tempat mereka masing2, kadang2 tenaga dalam itu meluncur
dalam kecepatan yang sulit diikuti oleh pandangan mata.
Dengan sendirinya hal ini telah membuat kedua pengemis
itu, Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay, sering mengeluarkan seruan
kaget, karena beberapa kali hampir saja mereka terkena
kibasan kipas Cu Kun Hong.
Harus dimengerti juga bahwa kipas yang dipergunakan oleh
Cu Kun Hong bukan merupakan kipas yang sembarangan,
bukan terbuat, dari kertas biasa.

Kipas itu memiliki kekuatan yang dahsyat, karena bisa
dipergunakan untuk menotok jalan darah lawan, dan terbuat
dari besi murni, sehingga tidak mudah dipotong oleh pedang
dan golok.
Tampaknya kedua pengemis itu jadi kewalahan juga
menghadapi Cu Kun Hong, walau pun mereka baru bertempur
beberapa jurus saja.
Cu Kun Hong telah, tertawa mengejek, lalu dia berkata
dengan suara yang dingin: „Jika kalian benar2 memiliki
kepandaian yang tinggi dan sempurna, mengapa tidak
dikeluarkan !, Mengapa hanya mempergunakan kepandaian
cakar bebek seperti ini ?"
Ditegur begitu, tentu saja telah membuat kedua pengemis
itu menjadi marah. Bahkan Kim Jie Kay telah berteriak dengan
kalap:
„Kami akan mengadu jiwa dengan manusia besar mulut
seperti engkau !" teriak pengemis itu, sambil melancarkan
serangan2 kalap.
Kedua pengemis itu telah nekad, karena bukan hanya Kim
Jie Kay saja yang melancarkan serangan ber-tubi2 juga Gan
Ho Kay telah menerjang maju, dia telah melancarkan
gempuran2 yang dahsyat.
Gerakan2 itu mendatangkan angin yang berkesiuran seperti
angin puyuh.
Cu Kun Hong telah mengeluarkan jurus2 yang bisa
mematikan lawannya, tetapi kedua pengemis ini tampaknya
seperti sudah tidak mau mengacuhkan lagi ancaman
serangan2 yang dilancarkan oleh Cu Kun Hong. Bahkan
mereka telah bertempur dengan mengeluarkan seluruh
tenaganya, karena itu serangan yang dilakukan oleh mereka
merupakan gerakan2 yang luar biasa kuatnya, jangankan
manusia, sedangkan batu maupun batang2 pohon yang
terkena serangan itu akan terhajar hancur Sehingga Cu Kun

Hong juga harus bersikap hati2, karena dia melihat kedua
lawannya itu telah melancarkan gempuran2 dengan
kenekadan yang benar2 mengerikan, seperti juga ingin
mengajak Cu Kun Hong untuk binasa bersama.
Sedangkan Phang Kui In dan Yo Him yang menyaksikan
dari pinggir, jadi menguatirkan keselamatan Cu Kun Hong.
Walaupun mereka tidak mengenal siapa adanya pelajar itu,
tetapi justru Cu Kun Hong telah bertempur dengan kedua
pengemis itu disebabkan membela Phang Kui In.
Maka dari itu, Phang Kui In juga telah bersiap sedia, jika
memang Cu Kun Hong menghadapi bencana, tentu dia akan
segera turun tangan untuk menolonginya.
Cepat bukan main, angin serangan dari ketiga orang yang
sedang bertempur itu meluncur dan men-desir2, disaat seperti
itulah telah terdengar bentakan keras : „Kalian sedang
bertempur dengan siapa, Kim Jie Kay ?”
Mendengar suara itu, tampaknya Kim Jie Kay dan Gan Ho
Kay jadi sangat girang, mereka juga telah mengeluarkan
seruan nyaring, di samping itu muka keduanya telah ber-seri2,
hampir serentak mereka telah menyahut !. “Sam Tocu, kami
sedang dihina pelajar gila ini !"
Mendengar dirinya disebut pelajar 'gila', Cu Kun Hong
menjadi marah, darahnya dirasakan naik sampai ke-ubun2
kepalanya, bahkan disaat itu terlihat dia telah menggerakkan
kipas yang tercekal di tangan kanannya, yang bisa dilipat
untuk melancarkan totokan2 kearah jalan darah yang
berbahaya ditubuh kedua pengemis itu.
Dalam keadaan demikian Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay tidak
berani menyambuti serangan itu. mereka telah melompat
mundur, dan telah menyingkir jauh2 memisahkan diri dari Cu
Kun Hong.
Tiba2 ditempat tersebut telah bertambah satu orang.
Seorang pengemis tua berusia diantara lima puluh lima tahun,

jenggotnya telah memutih semuanya, matanya memancar
tajam, tubuhnya kurus.
Dia telah mengawasi Cu Kun Hong dengan sorot mata yang
tajam, tampaknya tidak senang, tadi dia menyaksikan betapa
Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay telah diserang dan didesak begitu
hebat.
„Siapakah engkau wahai anak muda yang tampan ?” tanya
lelaki tua itu.
Disaat itu Cu Kun Hong telah melipat kipasnya, dengan
tenang dia telah menyahut.
„Tentu saja aku tidak berani berdusta dihadapan Sam Tocu
dari Kaypang, Aku she Cu dan bernama Kun Hong, dan
kebetulan sekali kedua anak buahmu itu kurang ajar
melakukan perbuatan yang tidak tahu diri, maka aku mewakili
Sam Tocu untuk memberikan hajaran kepadanya !"
Sam Tocu itu adalah wakil dari pemimpin Kaypang cabang
daerah tersebut, dia telah memiliki kepandaian yang tinggi,
adatnya juga berangasan sekali, walaupun hatinya tidak
begitu jahat.
Tetapi disebabkan seluruh anggota dari Kaypang cabang
daerah semuanya melakukan perbuatan yang tidak baik, maka
sam Tocu ini juga tidak bisa mengatakan apa2, dia tidak bisa
melarangnya.
Ketika itu sam Tocu telah berkata dengan suara yang
dingin,
“Rupanya engkau mengenali aku sebagai sam tocu dari
Kaypang cabang daerah ini” katanya dengan suara yang
angkuh.
“Hemm, mengapa engkau hendak memberi ajaran kepada
kedua anak buahku itu ?”.

“tentu saja ada sebabnya !”menyahuti Cu Kun Hong
dengan berani, tidak terlihat sedikitpun perasaan takut
diwajahnya, dia malah menghadapi Sam tocu dengan bibir
tersungging senyuman, kemudian Cu Kun Hong telah
menceritakan seluruh apa yang didengarnya tadi dari Yo Him.
Mendengar itu, muka Sam Tocu telah berobah merah,
tetapi dia tidak menegur Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay, malah
dia telah berkata dingin terhadap Cu Kun Hong: „Hemm, jika
memang benar2 mereka bersalah, itupun masih ada yang bisa
mengurusnya, dan mengajar adatnya, tidak perlu orang luar
yang mencampuri urusan rumah tangga Kaypang.....!"
ternyata nada dan suara perkataannya itu, merupakan
suatu pembelaan untuk kedua anak buahnya tersebut.
Cu Kun Hong jadi mendongkol karenanya, sebab dia
melihat Sam Tocu telah membela kedua anggotanya yang
bersalah, yang membuktikan bahwa Sam Tocu juga bukan
manusia baik2. Maka dengan suara yang lantang Cu Kun Hong
telah menyahuti dengan berani: „Benar ! Memang benar apa
yang di-katakan oleh Sam Tocu ! Jika saja yang mengatakan
itu adalah salah seorang dari pemimpin Kaypang dipusat,
tentu saja aku akan mempercayai sepenuhnya, bahwa
anggota2 Kay pang yang bersalah akan dihukum sepantasnya
! Tetapi, justru sekarang, yang mengatakan hal itu hanyalah
seorang anggota cabang belaka !”
Muka Sam Tocu jadi berobah merah padam karena marah
sekali, dia telah membentak dengan suara yang bengis.
“Dengan berkata begitu sama juga kau mengartikan bahwa
perkataanku tidak ada harganya bukan ?” Sahutnya dengan
suara tergetar.
Kemudian dengan cepat sekali, dia telah melangkah maju
mendekati Cu Kun Hong, tampaknya dia telah bersiap sedia
akan melancarkan serangan2.

Tetapi Cu Kun Hong sama sekali tidak takut dia telah
memandang dengan tatapan mata yang tajam.
„Bukankah jika seorang pemimpin yang baik, begitu
mendengar ada anggotanya yang melakukan suatu perbuatan
salah, maka akan melakukan penyelidikan benar atau tidak
akan hal itu dan akan memeriksa dengan bijaksana kedua
anak buahnya ! Bukan seperti sikapmu itu !”
Ketus sekali kata2 Kun Hong „Maka dari itu, mana bisa aku
menghargai
akan hati dan harga dirimu ?”.
Sam Tocu telah berjingkrak karena marahnya, diapun telah
mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, kemudian
secepat kilat dia telah melancarkan serangan2 yang dahsyat
kepada Cu Kun Hong.
Serangan yang dilakukan oleh pengemis wakil ketua dari
cabang Kaypang itu ticak bisa disamakan dengan kedua
pengemis bawahannya tadi, namun Cu Kun Hong tidak takut.
Dengan tetap berdiri tegak ditempatnya, tampak Cu Kun
Hong telah mengawasi tiba nya serangan yang dilancarkan
oleh pengemis tua ini. Waktu telapak tangan Sam Tocu hampir
tiba disasaran, dengan mengeluarkan suara tertawa
mengejek, Cu Kun Hong telah menggerakkan kipasnya, dia
telah mengibas dengan mempergunakan enam bagian tenaga
dalamnya dan bermaksud akan mempergunakan ujung
kipasnya untuk menotok pergelangan tangan Sam Tocu.
Tentu saja Sam Tocu menjadi terkejut, dia sampai
mengeluarkan suara seruan tertahan dan telah menarik
pulang tangannya, kemudian dia telah mengeluarkan tenaga
yang jauh lebih besar dan mengulangi pula serangannya
dengan hati penasaran sekali.

Cu Kun Hong tetap menghadapinya dengan tenang, dia
telah mengawasi datangnya serangan itu dengan tatapan
mata yang sangat tajam.
,,Kau keterlaluan sekali, Sam Tocu !! kata Cu Kun Hong
dengan suara mengejek. “Engkau memang bukan seorang
bijaksana dan tidak perlu dihormati !!"
Dan setelah mengejek begitu, dengan cepat sekali tampak
Cu Kun Hong telah menggerakkan kipasnya berulang kali, dan
kipasnya itu sebentar terbuka dan sebentar tertutup.
Itulah cara menyerang yang sangat hebat sekali, karena
serangan2 seperti tu memiliki dua macam cara untuk
merubuhkan lawannya. Cara yang pertama jika kipas terbuka,
akan merupakan lempengan yang biasa dipergunakan untuk
menghajar kepala lawan dan bagian2 lainnya yang berbahaya.
Tetapi jika memang kipas itu tertutup, maka ujung kipas dapat
dipergunakan seperti Poan Koan Pit untuk menutuk jalan
darah ditubuh lawan nya, dibagian yang sangat berbahaya
sekali.
Maka dari itu walaupun Sam Tocu melancarkan serangan2
yang sangat hebat, namun dia tidak berani terlalu mendesak.
Cepat sekali, angin serangan kipasnya itu telah men-deru2,
dan gerakan2 yang dilakukan oleh Cu Kun Hong sering
memaksa Sam Tocu harus menarik pulang serangannya
sendiri, karena kalau tidak, tentu dia akan ter-totok oleh ujung
kipas Cu Kun Hong.
Tetapi Cu Kun Hong tidak berlaku segan2 lagi, dia telah
melancarkan serangan2 yang gencar. Setiap kali melancarkan
gempuran2nya kipasnya itu telah ber-kelebat2 mengandung
kekuatan yang membawa maut. Sekali saja kipas Cu Kun
Hong bisa mengenai sasarannya dengan tepat, tentu Sam
Tocu akan menemui ajalnya.

Tentu saja Cu Kun Hong juga harus bersikap hati2, karena
diapun menyadari akan hebatnya tenaga serangan yang
dilancarkan oleh Sam Tocu.
Setiap serangan Sam Tocu mengandung kekuatan yang
sangat dahsyat, karena disertai oleh tenaga lwekang yang
cukup tinggi, disamping itu Sam Tocu juga memiliki ginkang
yang boleh diandalkan.
Maka terasalah angin serangan dari Cu Kun Hong dan Sam
Tocu saling berseliweran tidak hentinya, saling samber dan
saling menerjang
Namun selama itu tampaknya mereka memang berimbang,
dan kekuatan tenaga dalam yang mereka miliki itu merupakan
tenaga dalam sejati, aliran dari golongan bersih dan bukan
dari golongan sesat. Sehingga telah membuat keduanya
terlibat dalam suatu pertempuran yang sangat hebat sekali.
Beruntun beberapa kali, tampak Cu Kun Hong terdesak oleh
gempuran2 telapak tangan Sam Tocu, tetapi selama itu Cu
Kun Hong telah berhasil menyelamatkan diri, sehingga
membuat Sam Tocu semakin lama jadi semakin penasaran
sekali.
Beberapa kali dengan mengeluarkan suara bentakan2 yang
sangat bengis, Sam Tocu telah memperhebat serangan2nya
dengan menambah tenaga lwekangnya untuk memukul rubuh
lawannya.
Dalam melancarkan serangan2nya itu, tampak betapapun
juga, Sam Tocu memang bernafsu sekali untuk merubuhkan
Cu Kun Hong.
Cu Kun Hong memang agak terdesak juga, namun sengaja
untuk mrmbangkitkan kemarahan dari pengemis yang
menjadi ketua cabang Kaypang daerah ini, beberapa kali Cu
Kun Hong telah mengeluarkan kata2 ejekan.

Semakin lama memang Sam Tocu jadi semakin gusar saja,
dia telah berusaha untuk cepat2 menyelesaikan pertempuran
ini.
Tetapi Cu Kun Hong tetap dapat bertahan.
Phang Kui In yang melihat keadaan Cu Kun Hong,
disamping kagum atas kepandaian yang dimiliki Cu Kun Hong,
diapun jadi menguatirkan sekali keselamatan Cu Kun Hong.
Disaat itu Phang Kui In bermaksud akan melompat
ketengah gelanggang, untuk turun tangan memberikan
bantuan kepada Cu Kun Hong.
Namun tangan Phang Kui In telah dicekal oleh Yo Him.
“Tunggu dulu paman Phang,” kata Yo Him
“Coba kita lihat dulu !, tadi kedua pengemis itu tidak mau
mematuhi Kimpaynya Wi Tocu, entah bagaimana dengan
tokoh dari Kaypang cabang daerah ini !”.
“Baiklah !'' katanya kemudian.
“Engko Cu !" teriak Yo Him memanggil Kun Hong.
„Coba berhenti sejenak !".
Kun Hong mendengar suara teriakan Yo Him dengan jelas,
dia jadi heran, entah apa maunya anak sekecil Yo Him itu.
tetapi sebagai seorang yang selalu ingin mengetahui dan juga
memang dia tengah terdesak, sehingga Cu Kun Hong,
bermaksud untuk beristirahat. Dia telah melompat mundur
tiga tombak lebih dengan gesit sekali, waktu Sam Tocu
sedang melancarkan serangan kepadanya.
Sam Tocu jadi terkejut karena tahu2 sasarannya telah
lenyap dari depan matanya, dengan mengeluarkan suara
teriakan keras dia bermaksud mengejarnya untuk mengulangi
lagi serangannya.

Tetapi saat itu Yo Him telah berteriak „Tahan ! Aku ingin
bicara !!"
Dalam marahnya, Sam Tocu telah membentak dengan
suara yang sangat bengis: ,,Apa yang hendak engkau katakan,
monyet kecil ?"
Yo Him tidak marah mendengar dirinya dipanggil dengan
sebutan monyet kecil, dia telah memandang dengan berani,
tangannya telah mengacungkan Kimpay.
„Aku akan bicara atas nama Kimpay ini... ...!" katanya
kemudian dengan suara yang nyaring.
Mata Sam Tocu jadi terpentang lebar2 waktu melihat
Kimpay ditangan Yo Him, tampak jelas sekali dia terkejut
bukan main, mukanya juga telah berobah pucat.
„Kau .... dari mana engkau mencuri Kim pay itu ?"
tegurnya, dengan suara yang ragu2.
Yo Him telah berkata dengan suara yang dingin:
„Setelah engkau melihat Kimpay ini apakah engkau tidak
segera berlutut untuk menerima perintah ?”
Muka Sam Tocu jadi berubah juga, dia telah berkata
dengan suara yang ragu2.
“Memang sudah menjadi peraturan, bahwa setiap orang
yang membawa Kimpay harus diperlakukan sama dengan
pemilik Kimpay itu sendiri, karena Kimpay merupakan lambang
kekuasaan dari pemimpin kami, tetapi engkau, engkau dalam
usia demikian kecil apakah mungkin engkau bisa memperoleh
sebuah Kimpay dari salah seorang pemimpin kami ? terlebih
lagi Kimpay itu tampaknya milik Wie Liang Tocu dari pusat,
wakil pemimpin kami dipusat.
Yo Him telah tertawa dingin.
“apakah kau telah menerima pelajaran mengenai peraturan
Kaypang, jika Kimpay dipegang oleh seorang anak kecil maka

Kimpay itu tidak berlaku ?. Dan juga apakah memang didalam
Kaypang terdapat peraturan pemegang Kimpay itu harus
dipandang dalam usia ? Hemm. Kimpay merupakan lambang
kekuasaan tertinggi dari orang yang bersangkutan yang
menjadi pemimpin kalian yang harus kalian hormati adalah
Kimpay itu sendiri, bukan orang yang membawanya...!".
Mendengar perkataan Yo Him, kembali Sam Tocu diliputi
ke-ragu2an yang sangat, diapun telah berkata bimbang :
„Tetapi...tetapi...".
Namun Sam Tocu tidak meneruskan perkataannya,
sehingga membuat Yo Him jadi tambah mendongkol saja.
„Apanya yang tetapi, tetapi ? Apakah engkau ingin
mengatakan bahwa Kimpay ini merupakan Kimpay palsu ?".
„Tidak berani ! Tidak berani “ Justru aku mengenali jelas
sekali bahwa Kimpay itu adalah milik Wie Liang Tocu, wakil
Pangcu dipusat....!".
„Hemm, mengapa engkau tidak segera melakukan upacara
menerima Kimpay ?" tanya Yo Him dengan nada suara
menegur.
„Baiklah ! Aku harus menjelaskan kepadamu !
Sesungguhnya kami menghormati sekali pemimpin2 kami
dipusat, tetapi sangat disesalkan sekali justru pemimpin2 kami
itu kurang teliti ! Buktinya Kimpay yang demikian berharga
telah begitu mudah diberikan kepada seorang anak sebaya
engkau ! Bukankah jika terjadi sesuatu, akan membahayakan
sekali ? bukankah anak sebaya engkau bisa saja diperalat oleh
orang2 jahat dan dengan mempergunakan kekuasaan Kimpay
itu, anggota Kay pang akan dikendalikan oleh tangan jahat,
dipinjam untuk melakukan kejahatan ? Tidak ! Tidak ! Aku
tidak bisa menerima kenyataan seperti ini ........ !"
Memang apa yang dikatakan oleh Sam Tocu memang
masuk dalam akal sehat. Apa yang dibilangnya itu juga
beralasan kuat sekali.

Namun walaupun bagaimana Yo Him berusaha meyakinkan
bahwa Kimpay ini diberikan oleh Wie Liang Tocu sebagai
hadiah kepadanya.
„Ketahuilah, bahwa antara aku dengan Wie Toako memang
telah mengikat tali persaudaraan, kami telah angkat saudara,
dimana Wie Tocu telah menjadi Toakoku ! Sebagai adik
angkatnya, maka aku telah dihadiahkan sebuah Kimpay......
Inilah Kimpaynya itu .....!”
Semula Sam Tosu masih ragu2 mengenai diri Yo Him,
tetapi mendengar perkataan Yo Him yang terakhir itu, keragu2an
dihatinya jadi lenyap, bahkan dia telah tertawa bergelak2
dengan, suara yang nyaring sekali.
„Bagus ! Bagus !" katanya dengan suara yang keras sekali.
„Tampaknya engkau memang seorang anak yang pandai
berdusta ! Semula aku masih mau mempercayai bahwa
engkau memperoleh Kimpay itu dari tangan Wie Tocu, tetapi
sekarang mendengar kalian mengangkat saudara, aha, aha,
tentu saja hal itu tidak masuk dalam akal sehatku ! Bagaimana
mungkin anak sekecil engkau bisa mengangkat saudara
dengan Wie Tocu ? Hemmm, dalam keadaan seperti ini
tampaknya engkau juga ingin berdusta ! Banyak orang2
persilatan yang ingin menjadi sahabat Wie Tocu, tetapi jarang
yang pantas untuk menjadi sahabatnya ! Maka, mana bisa aku
mempercayai justru engkau sebagai adik angkatnya ?”.
Dan setelah berkata begitu, Sam Tocu telah membentak
dengan tubuh yang bergerak cepat kearah Yo Him.
„Berikan Kimpay itu kepadaku...!" dan dia telah
mengulurkan tangannya, untuk merebut Kimpay itu dari
tangan Yo Him.
Yo Him jadi terkejut sekali, karena Sam Tocu telah
bergerak sangat cepat sekali, dia telah mengulurkan
tangannya untuk merebut Kim pay itu, karena dia bermaksud

untuk mengembalikannya kelak kepada Wie Liang Tocu
dipusat.
Jika memang ternyata Wie Tocu kehilangan Kimpaynya dan
Sam Tocu bisa mengembalikannya, bukankah hal itu
menunjukkan dia telah melakukan pahala yang cukup besar
untuk Kaypang ? Bukankah dia akan naik tingkat ju ga?
Maka dari itu, Sam Tocu tidak segan2 dalam gerakannya,
dia mengulurkan tangan kanan nya untuk merebut Kimpay itu
dari tangan Yo Him, sedangkan tangan kirinya telah
diluncurkan untuk menyerang kearah dada Yo Him.
Gerakan itu dimaksudkan per-tama2 tangan kanannya ingin
merebut Kimpay, sedangkan tangan kirinya akan menghantam
binasa anak itu.
Yo Him mana berdaya untuk mengelakan diri dari serangan
Sam Tocu ? Phang Kui In yang melihat gerakan Sam Tocu jadi
terkejut bukan main, dia bermaksud mengulurkan tangannya
untuk menangkis serangan didada Yo Him, karena baginya
yang terpenting menyelamatkan jiwa Yo Him dulu, maka
walaupun Kimpay nanti kena direbut oleh Sam Tocu, hal itu
mudah diurus dibelakang harinya.
Sedang Cu Kun Hong yang melihat sikap Sam pocu, jadi
marah sekali.
,,Manusia hina yang tidak tahu malu !" memaki Cu Kun
Hong, dan pelajar ini bukan hanya membentak begitu saja,
karena dengan cepat sekali dia telah melompat dengan
gerakan yang sangat gesit dan tangan kanannya mencekal
kipas telah bergerak. Dia sama sekali bukan bermaksud
menangkis serangan Sam Tocu yang dilancarkan kepada Yo
Him, hanya mengancam akan menolok jalan darah Pai-konghiat
dipunggung Sam Tocu.
Tentu saja hal itu telah membuat Sam Tocu jadi terkejut
karena dia menyadari bahwa Pai-kong-hiat merupakan jalan
darah terpenting dan merupakan jalan darah utama.

=============== hal 33 hilang
================
mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, tampak
dia telah menggerakkan kedua tangannya dengan saling susul
dan serentak. Ge rakan yang dilakukannya sangat cepat
sekali, sehingga tampaknya sulit bagi Cu Kun Hong untuk
mengelakkan diri, karena waktu dia sedang mengulurkan
tangannya dan belum menarik serangan kipasnya, sehingga
ketiaknyalah yang menjadi inceran dari serangan Sam Tocu.
Kalau serangan Sam Tocu mengenai sasarannya, niscaya
akan menyebabkan tulang iga Cu Kun Hong akan remuk
berantakan, karena Sam Tocu telah menyalurkan tenaga
lwekangnya sebanyak delapan bagian dikedua tangannya itu,
sehngga angin serangan itu men-deru2 datang nya.....
Tetapi Cu Kun Hong tidak menjadi gugup karenanya,
walaupun dia telah diserang dengan gempuran2 yang begitu
kuat dan keras. Dengan mengeluarkan suara siulan yang
cukup nyaring tampak Cu Kun Hong telah menjejak kakinya,
tubuhnya telah melompat ketengah udara dengan gerakan
yang sangat cepat sekali ia melayang berjumpalitan beberapa
kali, sehingga berhasil menjauhi diri dari Sam Tocu.
Tetapi Sam Tocu sangat penasaran, dengan mengeluarkan
suara bentakan yang keras, dia telah melompat dan mendesak
Cu Kun Hong dengan serangan2 yang jauh lebih kuat lagi.
Dengan gerakan „Kim Hong Sam Tiauw" yakni ‘Cendrawasih
Emas Mengangguk Tiga Kali’ , kedua tangannya menyambar
saling susul tiga kali menimbulkan kesiuran angin yang keras,.
Setelah mana disusuli pula oleh Jie Liong Po Cu atau Sepasang
Naga memperebutkan mustika, kedua tangannya itu
menyambar2 dengan hebat, membuat Cu Kun Hong jadi
terkejut bukan main.

Dalam keadaan demikian Cu Kun Hong tidak berani
meremehkan serangan2 yang di lancarkan oleh pengemis
tersebut dengan mengeluarkan suara bentakan keras dan kuat
tampak Cu Kun Hong menggerakkan kipasnya “Serrrr .... "
kipas tersebut menyambar dengan jurus „Ong Lui Thian Te”
atau „Raja Petir Mendatangkan Hujan dari Langit". Gerakan2
hebat seperti itu menyebabkan serangan2 Sam Tocu
tertangkis dan gagal sama sekali. bahkan tangkisan itu karena
terlalu kuat, menimbulkan suara benturan yang menulikan
telinga.
Sam Tocu dalam kemarahan yang membakar hati, telah
mengulangi lagi serangan2nya. Rupanya pengemis ini telah
mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, sampai
otot2 dan urat dimukanya bertonjolan jelas.
Angin serangan, itu berkesiuran kuat dan memaksa Sam
Tocu harus bersikap jauh lebih ber-hati2 dibandingkan dengan
beberapa saat yang lalu, karena jika serangan2 yang kali ini
dilancarkannya itu tidak berhasil menemui sasaran yang tepat
ditubuh lawannya, tentu ia sendiri yang pasti akan terluka
didalam oleh tenaga dalamnya sendiri yang akan berbalik
menghantamnya.
Semakin lama Cu Kun Hong jadi semakin sibuk menghadapi
gempuran2 lawannya yang agak nekad ini dan beberapa kali
ia telah mengeluarkan suara seruan2 sangat keras dan juga
diselingi oleh seruan2 kaget karena dirinya berulang kali
hampir terkena serangan2 Sam Tocu.
Untung saja Sam Tocu dalam melancarkan serangan2nya
itu masih mempertimbangkan keselamatan dirinya, coba kalau
tidak Cu Kun Hong tentu telah dapat dirubuhkannya.
Atau setidak2nya mereka akan terluka bersama.
Cu Kun Hong menyadarinya bahwa tocu dari partai
pengemis ini memang memiliki kepandaian yang tinggi sekali
disamping memiliki dasar tenaga dalam yang terlatih kuat.

Sam Tocu telah menduduki tingkat yang tinggi dalam
perkumpulan Kaypang cabang daerah dan tampaknya iapun
takut menderita malu dihadapan kedua orang bawahannya
jika harus kalah ditangan Cu Kun Hong, dimana Kim Jie Kay
dan Gan Ho Kay tengah mengawasi jalannya pertempuran itu
dengan mata terpentang lebar2. Beruntun Sam Tocu telah
melancarkan serangan2 dengan jurus „Pek Lui Thian Mui" atau
„Petir Putih Dari Pintu Langit", dan seperti juga samberan
kilat, tangannya itu berkesiuran kuat menyambar kelawannya
dengan mengeluarkan suara berkesiutan tidak hentinya.
Serangan2 kedua jago yang tengah saling gempur dalam
pertarungan yang begitu menakjubkan, menimbulkan angin
yang menderu2 dan daun2 kering maupun debu telah
beterbangan karena terjangan dan terpahan angin serangan
diseputar gelanggang pertempuran itu.
Phang Kui In yang menyaksikan pertempuran diantara
kedua jagoan itu, diam2 jadi menghela napas panjang.
,,Beruntun2 aku telah melihat kepandaian yang sangat
tinggi dari beberapa orang persilatan dan kini tampaknya Sam
Tocu dari Kaypang pun bukan memiliki kepandaian yang
lemah. Begitu pula sipelajar she Cu itu tampaknya bukan
orang sembarangan. Namun siapa sebenarnya Cu Kun Hong
itu ? Mengapa selama ini aku tidak pernah mendengar nama
nya didalam rimba persilatan ?".
Waktu Phang Kui In sedang berpikir begitu, Cu Kun Hong
yang telah terdesak terus menerus oleh serangan2 yang
dilancarkan lawannya jadi gusar sekali. Ia telah mengeluarkan
suara bentakan marah yang keras. Waktu Sam Tocu
melancarkan serangan kepalan tangannya dengan jurus
"Kwan Im Lian-kiam" atau "Dewi Kwan Im duduk Diteratai
Emas" mengincer dada Cu Kun Hong, tahu2 kipas si pelajar
telah dilintangkan didepan dadanya. „Serr...!" kipas itu telah
terbuka lebar seperti perisai, untuk menyambuti serangan
yang di lancarkan Sam Tocu.

„Bukk... pranggg...!" terdengar kipas itu terpukul oleh
kepalan tangan Sam Tocu, tetapi karena kipas itu terbuat dari
besi murni dengan sendirinya kuat sekali daya tahannya.
Mempergunakan kesempatan ini tangan kiri Cu Kun Hong
telah bergerak dan dia telah melancarkan gempuran hebat
sekali menghantam lambung lawannya dengan jurus "Ma Lim
Cut Cu" atau "Kuda Hutan Mengeluarkan Mutiara" Gerakan
yang dilakukan pelajar ini cepat dan lincah disamping
mengandung tenaga lwekang yang kuat. Dan bersamaan
dengan itu kim Tocu juga tengah meluncurkan tangan
kanannya kearah dada Cu Kun Hong dengan tubuh yang
doyong kedepan, sulit sekali dia berkelit atau mengelakkan diri
dari gempuran sipelajar she Cu itu. Walaupun hatinya terkejut,
tetapi Sam Tocu masih bisa mengendalikan diri, cepat2 dia
telah memusatkan tenaga dalamnya melindungi bagian
lambungnya.
,,Bukk !” Serangan telapak tangan kiri Cu Kun Hong yang
tidak bisa dielakkannya lagi itu telah diterimanya dengan
mempergunakan kekuatan lwekang disekitar lambungnya dan
gempuran pelajar itu membuat tubuh Sam Tocu terhuyung
mundur dua langkah, namun tokoh Kaypang tersebut tidak
terluka karenanya.
Cu Kun Hong semula girang melihat serangannya itu tidak
dapat dihindarkan oleh lawannya, tetapi waktu telapak
tangannya mengenai sasaran dilambung sipengemis, tampak
Cu Kun Hong juga terkejut karena merasakan tangannya
seperti juga menggempur lempengan besi yang keras bukan
main sampai ia merasakan telapak tangannya sakit sekali.
Disaat itu dengan cepat sekali Cu Kun Hong merobah posisi
tubuhnya dan kipasnya dihentakkan dalam keadaan tertutup
melancarkan serangan lagi kearah pundak Sam Tocu dengan
maksud untuk menotok jalan darah sipengemis,
Gerakan yang dilakukan Cu Kun Hong mempergunakan
jurus "Jie Lay Kiu Mui" atau "Sang Buddha Dengan Sembilan

Pintu" memaksa sipengemis mundur beberapa langkah karena
jika dia bergerak terlambat tentu dirinya akan menjadi korban
totokan ujung kipas itu.
„Bagaimana apakah kita meneruskan pertempuran ini ?"
tanya Cu Kun Hong dengan suara mengejek dan menatap
tajam kepada sipengemis, mulutnya tersenyum sinis.
Sam Tocu baru saja berhasil mengendalikan goncangan
hatinya karena nyaris tadi dia terserang oleh pelajar yang
memiliki kepandaian tidak berada di sebelah bawah
kepandaiannya, Namun mendengar pertanyaan Cu Kun Hong
dia jadi marah sekali.
“Tentu saja diteruskan !" teriak Sam Tocu dengan suara
mengerang marah disusul dengan lompatan tubuhnya
menerjang maju. melancarkan gempuran2 lagi kepada Cu Kun
Hong.
Tangan Sam Tocu telah meluncur ketulang Pie-pie (tulang
selangka) dibahu Cu Kun Hong.
Cu Kun Hong tidak berani berdiam diri saja, ia mengibaskan
kipasnya dengan cepat dan bergerak lincah sekali. „Takkkk!"
kipasnya telah menyampok pergelangan tangan kanan Sam
Tocu. Tetapi Sam Tocu menggerakkan terus tangan kirinya
membuat Cu Kun Hong jadi terkejut. Mati2an Cu Kun Hong
menggeser kaki kirinya dengan tubuh yang didoyongkan
kearah kiri. Tetapi disaat itu telah terdengar suara 'breettt’
yang cukup nyaring, baju bagian bahu Cu Kun Hong telah
robek terkena cengkeraman jari2 tangan Sam Tocu.
Bukan main girangnya hati Sam Tocu yang cepat2
menyusuli lagi dengan serangan2 yang berangkai, setiap
serangannya membawa angin serangan yang mengandung
maut. Memang cara menyerangnya yang saling susul dan
berangkai itu sengaja dilakukannya, agar tidak memberikan
kesempatan kepada Cu Kun Hong memperkuat besi atau
kuda2 kakinya.

Dalam keadaan demikian Cu Kun Hong yang merasakan
pundaknya pedih dan nyeri sebab tadi terluka sedikit akibat
cakaran jari tangan Sam Tocu, telah membuat ia harus
menahan perasaan nyeri itu dan mengelakkan diri dari
serangan susulan yang dilancarkan Sam Tocu.
Setiap gerakan yang dilakukan Cu Kun Hong merupakan
gerakan pertahanan yang sangat kuat sekali. Tetapi
serangan2 Sam Tocu semakin lama bukannya semakin
berkurang tenaga menekannya, bahkan semakin kuat dan bisa
mematikan jika berhasil mengenai sasaran dari korban
serangan ini.
Cu Kun Hong lebih banyak berkelit dan menghindar saja
dari serangan2 yang dilakukan sipengemis, karena Cu Kun
Hong memang tengah mengawasi kelemahan2 dari lawannya,
untuk mencari kelemahan didiri Sam Tocu.
Tetapi selama itu Cu Kun Hong tidak berhasil melihat
kelemahan didiri pengemis yang sakti ini. Bahkan semakin
lama Sam Tocu telah melancarkan serangan2nya dengan
pengerahan lwekang yang lebih kuat lagi.
Dalam waktu yang sangat singkat sekali, tampak mereka
telah bertempur lebih dari seratus jurus.
Phang Kui In yang menyaksikan dari samping, jadi berdiri
diam mematung, karena dia merasa kagum atas kepandaian
yang dimiliki ke dua orang yang tengah bertempur itu.
Yo Him sendiri sambil menyaksikan jalannya pertempuran
itu, berulang kali telah melirik kearah Kimpay ditangannya. Dia
heran juga mengapa kali ini Kimpay dari Wie Liang Tocu tidak
memperlihatkan kekuasaannya ?
Disaat Cu Kun Hong dan Sam Tocu sedang bertempur,
tiba2 terdengar suara orang menggumam perlahan :
„Bertempur merupakan pekerjaan yang
menggembirakan...memang bertempur merupakan pekerjaan
yang sangat menyenangkan ! Dulu aku semasa muda juga

gemar sekali berkelahi, sampai kepalaku benjol2 dan pulang
kerumah dipukuli ibu...!".
Waktu Yo Him dan Phang Kui In menoleh, mereka melihat
munculnya seorang pengemis tua dengan tubuh yang
bungkuk, dengan muka yang telah peyot dan kumal sekali,
pakaiannya juga kotor sekali, dipunggungnya yang berpunuk
itu tampak tergemblok sebuah hiolo tempat arak.
Phang Kuiln dan Yo Him jadi terkejut.
Dengan munculnya pengemis tua itu, tentu saja berarti
bertambahnya seorang lawan.
Phang Kui In cepat2 ber-siap2 dan waspada, jika memang
pengemis itu bermaksud untuk menyerang Cu Kun Hong, dia
yang akan menghalanginya.
Tetapi pengemis itu, yang tampaknya lelah sekali
melakukan perjalanan, telah menghampiri sebatang pohon,
dia telah duduk dibawah pohon itu, untuk menyaksikan
pertempuran sambil meloloskan ikatan hiolonya, dan meneguk
isinya. Bau arak segera tersiar disekitar tempat itu.
Cu Kun Hong dan Sam Tocu yang tengah terlibat dalam
pertempuran yang seru sekali, sudah tidak sempat untuk
menoleh, karena mereka sedang mencurahkan perhatian
masing2 untuk berusaha merubuhkan lawannya.
Dalam keadaan seperti ini, tampak Sam Tocu yang paling
bernafsu sekali berusaha untuk dapat merubuhkan lawannya.
Sedangkan kedua pengemis yang membawa empat helai
karung, Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay, telah memperhatikan
pengemis lua itu.
Muka kedua pengemis ini jadi berobah he bat, tampaknya
mereka terkejut sekali.
„Kimciu Sin kay !" bisik mereka hampir berbareng.

Tetapi pengemis tua itu, yang mereka sebut sebagai Kimciu
Sinkay (pengemis sakti Arak Emas), telah ter- senyum2,
menyaksikan terus pertempuran itu, sambil meneguk perlahan2
arak didalam hiolonya.
„Aha, aha, salah salah . Itulah cara menyerang yang salah
!" teriak sipengemis tua itu. „Kalian bertempur seperti juga
dua orang anak berusia lima tahun, hanya bisa menggerak2kan
tangan belaka...!".
Disaat pengemis tua itu tengah ber-teriak2 begitu, tampak
Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay telah menghampirinya, kedua
pengemis itu telah berlutut dihadapan pengemis tua itu.
„Locianpwe, kami Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay memberi
hormat...!" kata mereka hampir berbareng.
Pengemis tua itu jadi menoleh dan memandang sinis
kepada kedua pengemis yang sedang berlutut itu.
Sedangkan hati Phang Kui In dari Yo Him waktu melihat
Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay berlutut memberi hormat kepada
pengemis tua itu hati mereka jadi tergoncang, karena
wakaupun bagaimana memang kenyataannya pengemis tua
itu kaum dari Kaypang.
Phang Kui In jadi ber-siap2 untuk menghadapi segala
kemungkinan.
Disaat itu, tampak pengemis tua itu telah bertanya dengan
suara yang tawar : „Kalian hanya mengganggu perhatianku
saja ! Lihatlah ! Aku jadi tidak bisa menikmati kesenanganku
untuk menyaksikan perkelahian kedua anak kecil itu...!" dan
setelah berkata begitu, tangan kanannya tampak digerakkan
perlahan sekali, tetapi tahu2 Kim Jie Kay dan Gan Ho tay telah
mengeluarkan suara jerit kesakitan, tubuh mereka telah
terpental keras melambung ketengah udara, dan terbanting
keras sekali. Phang Kui In dan Yo Him jadi berdiri tertegun,
Karena jika pengemis tua itu merupakan sahabat atau orang
dari Kaypang juga, mengapa memperlakukan Kim Jie Kay dan

Gan Ho Kay begitu macam ?. Tampaklah Kim Jie Kay dan Gan
Ho Kay telah merangkak untuk bangun berdiri.
Muka mereka tampak bengkak merah, karena rupanya
masing2 telah diberi hadiah satu tamparan yang keras.
Tetapi Kim Jie Kay dan Gan Ha Kay tidak berani
memperlihatkan perasaan marah atau mendongkol, mereka
hanya berdiri dengan kepala tertunduk dalam2, kedua tangan
diturunkan, tampaknya mereka ketakutan sekali.
Sedangkan Kimciu Sinkay telah menyaksikan jalannya
pertempuran lagi antara Sam Tocu dengan Cu Kun Hong,
sedangkan mulutnya tidak henti2nya mengoceh saja, dan
juga telah meneguk araknya.
Dalam keadaan demikian, tampaknya Sam Tocu tadi telah
mendengar suara jeritan dari Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay. Dia
telah melirik sejenak kepada pengemis tua Kimciu Sin kay,
waktu dia berhasil membuat Cu Kun Hong mundur dua tindak
kebelakang. Dan begitu mengenali pengemis tua itu, hatinya
terguncang mukanya menjadi pucat, dan telah melompat
mundurdengan cepat dan menghampiri pengemis tua itu.
Waktu sampai dihadapan pengemis tua itu dia telah
berlutut memberi hormat.
“Tecu (murid) benar2 tidak mengetahui kedatangan
locianpwe. Sehingga tidak mengadakan penyambutan !”
katanya dengan suara ketakutan sekali.
Cu Kun Hong yang Semula heran melihat sikap Sam Tocu,
kini jadi berdiri dengan hati tergoncang, karena dia melihat
Sam Tocu telah berlutut begitu, dan tampaknya pengemis tua
Kimciu sinkay merupakan pengemis yang sakti dan memiliki
tingkatan tinggi di dalam Kaypang. Buktinya saja, Sam Tocu
yang memiliki kepandaian yang tinggi, telah berlaku begitu
hormat dan ketakutan sekali.

Cepat2 Cu Kun Hong ber siap2 untuk menghadapi sesuatu,
sedangkan hatinya jadi berkuatir juga karena dia melihat
bahwa kepandaian Sam Tocu sudah begitu tinggi dan boleh
dibilang tadi dia telah terdesak. Terlebih lagi sekarang,
tampaknya pengemis tua itu dihormati sekali oleh Sam Tocu.
Tentunya Kimciu Sinkay itu memiliki kepandaian yang sangat
tinggi sekali.
Maka segera Cu Kun Hong telah memusatkan seluruh
kekuatan tenaga dakamnya dikedua telapak tangannya,
karena dia ber-siap2 kalau sampai Kimciu Sinkay melancarkan
serangan, dia bisa segera menghadapi.
Tetapi pengemis tua itu sama sekali tidak melakukan
gerakan apa2.
Kimciu Sinkay telah memandang sinis kepada Sam Tocu.
„Percuma engkau diangkat sebagai Tocu cabang daerah,
karena engkau tidak bisa melakukan tugasmu dengan baik...!"
kata Kimciu Sin kay.
Dia ber-kata2 dengan suara yang biasa saja, tidak
memperlihatkan tanda2 bahwa dia tengah marah. Namun
kenyataannya, Sam Tocu jadi ketakutan sekali.
„Bukan main! Bukan main !" berkata Kimciu Sinkay lagi.
„Engkau telah memiliki kepandaian, tetapi kepandaian itu
bukan untuk dipergunakan melakukan perbuatan yang tidak2
!”
Sam Tocu tampak jadi tambah ketakutan saja, dia sampai
berlutut sambil meng angguk2kan kepalanya.
„Tecu memang bersalah” katanya dengan suara yang
tersendat
„Tecu memang benar2 bersalah, dan patut menerima
hukuman !”

“jika engkau mengatakannya sekarang, semuanya telah
terlambat, karena engkau masih berani melawan kekuasaan
Kimpay. Hal itu sudah merupakan suatu ingkar yang luar
biasa, berarti engkau sudah tidak. memandang sebelah mata
terhadap pemimpin Kaypang dipusat, berarti juga engkau
sudah secara langsung menghina kekuasaan Kaypang !”
Sam Tocu jadi tambah ketakutan saja, dia telah gemetaran
keras dan berulang kali dia mengangguk-anggukkan
kepalanya sampai keningnya menghantam tanah, terdengar
suara “tuk tuk” karena kepalanya itu telah menghantam
tanah. Dalam keadaan demikian, tampak Sam Tocu benar2
seperti seorang persakitan yang menantikan hukuman. Tentu
saja keadaan Sam Tocu membuat Phang Kui In dan yang
lainnya jadi heran. Mereka segera mau menduga bahwa
pengemis tua itu pasti dari Kay pang pusat.
Saat itu tampak Sam Tocu telah berkata dengan suara yang
ragu2 „Sesungguhnya.... apakah kesalahanku .......!? Aku
telah berusaha untuk membela anak buah atau anggota
Kaypang cabang daerah, agar mereka memiliki pelindung,
jangan sampai dihina orang. .....namun kenapa aku yang telah
dipersalahkan ......!" Dengan berkata begitu, tampaknya
Sam Tocu ingin membela diri, karena diapun merasakan
bahwa tindakannya yang membela anggota Kaypang
merupakan pekerjaan yang tidak salah.
Tetapi Kimciu Sinkay telah tertawa dingin, dia telah berkata
dengan suara yang keras: „Hemmm, tampaknya memang
engkau merupakan seorang yang terlalu kepala batu ! Selama
dua tahun terakhir ini, dipusat telah menerima laporan bahwa
anggota Kaypang cabang daerah yang kalian pimpin
merupakan momok yang menakutkan bagi penduduk daerah
ini, karena kalian selalu melakukan kejahatan. Sebagai
pemimpin kau, dan ketua cabang daerah mengumbar anggota
Kaypang melakukan kejahatan2 belaka, tanpa mengambil
perduli...!".

Dan berkata sampai disitu, tampak Kimciu Sinkay telah
memperlihatkan muka yang serius dan angker, kata2nya juga
telah meninggi „Dan aku datang untuk menghukum kalian,
anggota2 yang telah melakukan kesalahan yang bisa
merugikan nama Kaypang... !".
Muka Sam Tocu jadi berobah pucat seketika itu juga, dia
masih dalam keadaan berlutut, kemudian katanya dengan
suara yang perlahan „Ampunilah...kami akan merobah
kelakuan kami..!".
Waktu itu Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay telah berlutut juga,
mereka juga telah memohon : „Kamipun berjanji akan
merobah kelakuan kami...! Ampunilah jiwa kami, Locianpwe!”
Tetapi Kimciu Sinkay telah tertawa dingin.
„Apakah begitu mudah mengampuni manusia2 berdosa”
katanya dengan suara yang dingin.
Muka Sam Tocu jadi berobah tambah pucat, begitu pula
tubuh Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay jadi menggigil karena
mereka ketakutan bukan main.
„Sekarang kalian ber-siap2lah untuk menerima hukuman !"
kata Kimciu Sin Kay dengan suara yang lebih dingin lagi.
Phang Kui In, Yo Him dan Cu Kun Hong jadi mengawasi
saja dengan heran. Mereka tidak mengetahui entah
kedudukan apa yang dimiliki pengemis tua Kimciu Sinkay
sehingga dia bisa menjatuhkan hukuman kepada anggota
Kaypang yang melakukan kesalahan. Mereka juga tidak
mengetahui entah hukuman apa yang akan dijatuhkan oleh
Kimciu Sinkay kepada ketiga anggota Kaypang itu.
Kimciu Sinkay telah berdiri dari duduknya, dia telah
mengikat hiolonya kembali di-punggungnya yang berpunuk,
lalu dengan berdiri diam2 dia mengawasi ketiga pengemis itu.
Sam Tocu bertiga jadi tambah ketakutan mereka seperti
tengah menghadapi malaikat el maut saja.

„Nah, sekarang tiba saatnya kalian akan menjalani
hukuman masing2...!" kata Kimciu Sinkay dengan suara yang
dingin dan dia merogoh sakunya, tahu2 di tangannya telah
tercekal tiga ekor ular.
Muka Sam Tocu bertiga berobah tambah pucat dan
ketakutan, keringat dingin juga telah mengucur deras sekali
dikening dan dimukanya.
“Locianpwe...?!" suara Sam Tocu bertiga tergetar keras.
Kimciu Sinkay telah melemparkan tiga ekor ular itu keatas
tanah.
Ular tersebut berukuran tidak besar, hanya berukuran satu
jengkal dengan besarnya sebesar ibu jari tangan. Waktu
dilemparkan keatas tanah ketiga ekor ular itu telah melingkar2
ditanah dengan gerakan yang lamban sekali.
Warnanya hijau ke-kuning2an.
“Jalankan hukuman kalian !" Bentak Kimciu Sinkay dengan
suara yang angker sekali. Sam Tocu tampak ragu2, begitu
juga dengan Kim Jie Kay dan Gan Ho Kay. Tetapi waktu
melihat sorot mata Kimciu Sinkay mereka jadi mengeluh,
karena tampaknya mereka bertiga menyadari jika mereka
ayal2an melaksanakan hukuman itu niscaya akan
menyebabkan mereka menerima hukuman yang jauh lebih
berat lagi dari Kimciu Sinkay. Maka akhirnya mereka telah
menghampiri ketiga ular itu, masing2 telah mengambil seekor,
Phang Kui In, Yo Him dan Cu Kun liong memandang heran
tanpa mengerti, akhirnya mereka hampir mengeluarkan suara
jeritan tertahan karena merasa ngeri. Sebab Sam Tocu bertiga
telah membawa ular ditangan masing2 kemuka mereka
sehingga ular itu telah mengulurkan lidahnya, dan pipi Sam
Tocu bertiga telah digigitnya.
Sam Tocu bertiga menjerit, tetapi ular itu tetap mereka
pegangi terus.

Dan berulang kali ular itu telah memagut kan pipi Sam
Tocu bertiga tidak hentinya, maka dalam waktu yang singkat
sekali, puluhan gigitan telah diterima Sam Tocu bertiga. Setiap
kali pipi mereka digigit, mereka mengeluarkan suara raungan
kesakitan.
Darahpun telah mengucur deras dari luka gigitan itu dan
setelah dua puluh kali gigitan ular itu Kimciu Sinkai telah
berkata perlahan “Cukup”. Sam Tocu dengan muka yang
berlumuran darah telah menghampiri Kimciu Sinkay,
menyerahkan ular ditangannya. Begitu pula dengan Kim Jie
Kay dan Gan Ho Kay telah mengembalikan ular itu kepada
Kimciu Sinkay dengan sikap yang menghormat sekali, mereka
pun telah menyatakan terima kasihnya.
Phang Kui In mengerutkan alisnya, karena dia mengetahui
bahwa ular itu adalah Kim Tok Coa (ular racun emas), yang
sangat berbisa sekali, racun ular itupun sangat hebat sekali,
walaupun tidak bisa mematikan namun setiap korbannya akan
menderita demam hebat. Dan kini sam tocu bertiga telah
digigiti mukanya sebanyak dua puluh kali, mereka pasti akan
menderita demam yang hebat, walaupun masing2 memiliki
tenaga lwekang yang cukup kuat.
Dan yang lebih mengerikan sekali justru muka mereka yang
akan bercacad, akan menjadi buruk sekali jika kelak luka2 itu
telah mengering. Phang Kui In sendiri sampai bergidik melihat
cara hukuman tersebut.
„Hebat cara Kaypang mengatur anak buah nya, tampaknya
Sam Tocu sama sekali tidak berani membantah hukuman yang
harus diterima oleh mereka" berpikir Cu Kun Hong. „Entah apa
pangkat Kimciu Sinkay dalam Kaypang?".
Saat itu Kimciu Sinkay telah tertawa perlahan, tampaknya
dia puas.
„Nah kini kalian pergilah, tetapi kalian, harus melaporkan
apa yang kalian terima ini kepada pemimpin kalian, agar

pemimpin kalian besok tepat jam dua belas tengah malam,
menemui aku...! Tempatnya dikuil Bong-sie-am, di luar pintu
sebelah barat...!".
„Baik, terima kasih atas kemurahan hati Locianpwe...i" kata
Sam Tocu bertiga hampir berbareng, lalu dengan kepala yang
tertunduk dalam2, mereka telah membalikkan tubuh dan
berlalu meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Kimciu Sinkay menghampiri Yo Him, tahu2 dia
menekuk sebelah kakinya.
“Tecu Kimciu Sinkay menghadap Kimpay”. Katanya dengan
suara yang nyaring.
Yo Him jadi terkejut. begitu juga Phang Kui In dan Cu Kun
Hong.
Cepat2 Yo Him mengangkat Kimpay di tangannya, karena
dia menyadari yang dihormati bukan dirinya melainkan Kimpay
itu.
“Ada perintah apakah untuk Tecu ?” tanya Kimciu Sinkay
lagi dengan suara yang sabar.
“Boanpwe hanya ingin meminta agar Locianpwe
menyelesaikan keadaan Kaypang didaerah ini, karena Kaypang
cabang daerah ini tampaknya tidak beres...!" kata Yo Him
yang telah membahasakan dirinya dengan sebutan boanpwe
golongan muda.
“Baik Tecu akan memperhatikan perintah ini. Tecu akan
mengadakan pembersihan didalam Kaypang...!".
“Baiklah. Boanpwe tidak memiliki persoalan lainnya lagi !”
kata Yo Him sambil, memasukan Kimpay kedalam sakunya.
“Tetapi bisakah Boanpwe mengetahui, kedudukan apakah
yang dijabat oleh Locianpwe...?".
„Bicara mengenai kedudukan, Tecu tidak memiliki
kedudukan apa2, karena Tecu hanya diperintahkan oleh

Pangcu sebagai penilik saja, memperhatikan cabang2 daerah
dari Kaypang. Jika memang ada anggota yang melanggar
tata-tertib peraturan dari Kaypang, harus mengambil tindakan
atau jika perlu melaporkan kepada Pangcu......!"
„Hemmm, jika demikian baiklah. Tentu persoalan Kaypang
didaerah ini bisa diselesaikan oleh Locianpwe ......!"
„Tecu menerima perintah itu, dan tolong sampaikan salam
Tecu kepada Wie Tocu .... !"
„Baik!" kata Yo Him. „Kami akan segera berlalu."
„Bisakah Tecu mengetahui siapakah adanya Siauw
Enghiong ?" tanya Kimciu Sinkay lagi.
„Aku she Yo dan bernama Him," menjelaskan Yo Him.
„Aku jadi teringat seseorang........!" kata Kimciu Sinkay.
„Masih pernah apakah dan ada hubungan apakah diantara
Siauw Enghiong dengan Sin Tiauw Taihiap Yo Ko?"
„Itulah ayah dari Yo Siauw enghiong ini !" menyelak Phang
Kui In menjelaskan.
Muka Cu Kun Hong jadi berobah, cepat2 dia menghampiri
Yo Him, dan telah membungkukkan tubuhnya memberi
hormat sambil katanya : „Tidak tahunya yang ada
dihadapanku ini adalah puteranya Yo Taihiap...! Sungguh
menggembirakan sekali ! Dulu aku pernah ditolong oleh Yo
Taihiap, dan budi Yo Taihiap tidak akan kulupakan ! Jika Yo
Siauw enghiong memiliki kesulitan apa2, tidak perlu segan2
memberikan perintah kepada Hakseng (murid, kata2
merendah dari seorang pelajar)".
Yo Him membalas hormat Cu Kun Hong.
„Tadipun kami belum mengucapkan terima kasih atas
bantuan Cu Siucai terhadap paman Phang dan diriku, jika
tidak ada Cu Siucai tentu kami telah dicelakai oleh Sam
Tocu...!".

Dan setelah berkata begitu, Yo Him telah memberi hormat
dengan bungkukkan tubuh yang dalam. „Terima kasih atas
bantuan itu...! Dan kami akan segera berlalu...!" lalu bersama2
dengan Phang Kui In, Yo Him membalikkan tubuhnya
meninggalkan Cu Kun Hong dan Kimciu Sinkay.
Sedangkan Cu Kun Hong dan Kimciu Sinkay berdiri tertegun
sejenak, tampaknya mereka takjub sekali karena mereka tidak
menduga sebelumnya bahwa Yo Him adalah putera dari
seorang pendekar sakti seperti Sin Tiauw Taihiap Yo Ko.
Semula memang Kimciu Sinkay masih ingin menanyakan
dari manakah Yo Him memperoleh Kimpay milik Wie Tocu.
Tetapi kini setelah mengetahui bahwa Yo Him adalah putera
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko maka dia mau menduga bahwa
mungkin Wie Tocu telah memberikan Kimpay miliknya itu
disebabkan dia merasa kagum dan hormat sekali kepada Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko.
Dan tidak pernah diduga oleh Kimciu Sinkay dan Cu Kun
Hong, bahwa sesungguhnya Wie Liang Tocu sama sekali tidak
mengetahui bahwa Yo Him adalah puteranya Sin Tiauw
Taihiap. Justru antara Wie Ling Tocu dan Yo Him telah terjalin
hubungan yang baik sekali, antara mereka berdua telah saling
mengangkat saudara.
Cu Kun Hong kemudian memberi hormat kepada Kimciu
Sinkay dan lalu meminta diri. Begitu pula Kimciu Sinkay telah
meninggalkan tempat itu, sebab dia memang perlu mengurusi
anggota2 cabang daerah tempat ini.
Tempat tersebut telah menjadi sunyi kembali....
PADA sore yang mendung tampaknya akan turun hujan. Yo
Him dan Phang Kui In telah tiba disebuah tempat yang rimbun
sekali oleh pohon2 dan rumput yang tumbuh tinggi sehingga
tampaknya tempat tersebut jarang sekali didatangi orang.

„Dimana kita akan bermalam, paman Phang ?" tanya Yo
Him.
„Kita melakukan perjalanan lagi beberapa saat, jika
memang tidak berhasil menemui rumah penduduk, biarlah kita
bermalam dialam terbuka saja.." kata Phang Kui In.
„Tetapi paman Phang.. !" kata Yo Him ragu-ragu.
„Kenapa ?" tanya Phang Kui In.
„Tampaknya tempat ini bukan tempat yang baik...lihatlah
semak belukar dan tampaknya agak mengerikan...!" kata Yo
Him lagi.
„Jangan kuatir, biar nanti aku yang mengaturnya !" kata
Phang Kui In. „Jika ada orang jahat bukankah akupun
sanggup menghadapinya...?".
„Bukan begitu Phang Susiok (paman Phang tetapi aku
merasakan adanya sesuatu yang membuat hati tidak
tenang...entah mengapa saja tadi begitu memasuki daerah ini
aku merasakan jantungku tergoncang terus menerus tidak
hentinya...
„Itu mungkin hanya perasaanmu saja.....!
kata Phang Kui In. „Percayalah, tidak mungkin terjadi
sesuatu apapun juga".
JILID 17
YO HIM menggeleng perlahan katanya kemudian dengan
suara yang perlahan : ,,Tetapi hatiku mengatakan pasti akan
terjadi sesuatu yang hebat...!” dan setelah berkata begitu Yo
Him menoleh kepada Phang Kui In, tanyanya lagi “Paman
Phang, masih jauhkah tempat dimana kita bisa bertemu
dengan ayahku ?"

“Mungkin masih membutuhkan waktu perjalanan satu bulan
lagi....!".
“Mari kita kembali saja keperahu..! kata Yo Him yang
mengajak agar Phang Kui In bersama dia kembali keperahu
mereka,
Tetapi Phang Km In menggaleng perlahan.
“Besok pagi saja...justru kini akupun merasakan ada
sesuatu yang agak aneh.. !" kata Phang Kui In.
Yo Him jadi memandang tegang kepada Phang Kui In,
kemudian dia telah berkata Lagi : “Baiklah, jika memang
paman belum bersedia kembali keperahu, akupun tidak bisa
memaksanya !...".
Tetapi baru saja Yo Him berkata sampai disitu tiba2
terdengar suara siulan yang panjang.
Suara siulan itu disusul dengan suara siulan lainnya, yang
saling susul. Didengar dari suara siulan itu, mungkin orang
yang sedang mendatangi itu berjumlah belasan orang.
Phang Kui In berobah mukanya, dia telah menarik tangan
Yo Him untuk menyelinap kebalik gerombolan pohon untuk
bersembunyi disitu.
Tidak lama kemudian setelah Phang Kui In dan Yo Him
memasang mata mereka melihat beberapa sosok tubuh
berkelebat disekitar tempat tersebut.
“Siapakah mereka ?" tanya Yo Him dengan suara berbisik
dipinggir telinga Phang Kui In.
„Aku belum dapat mengenalinya, karena tidak seorangpun
yang kukenal." menyahuti Phang Kui In dengan suara yang
berbisik juga
Saat itu rombongan orang yang saling mengeluarkan suara
siulan itu telah tiba didekat tempat dimana Yo Him dan Phang
Kui in menyembunyikan diri.

Mereka terdiri dari berbagai orang persilatan, karena
pakaian mereka juga bercampur ragam, ada yang berpakaian
sebagai Hweeshio, ada yang berpakaian sebagai Tojin, ada
pula yang berpakaian sebagai busu dan ada juga yang
berpakaian sebagai siucai. Tetapi yang mengherankan justru
mereka bergerak dengan lincah dan gesit sekali, membuktikan
bahwa kepandaian mereka sangat tinggi sekali.
Disaat itu. tampak Phang Kui In telah memperhatikan baik2
orang yang datang dalam bentuk rombongan, walaupun
mereka datang dari berbagai jurusan tetapi akhirnya telah
berkumpul ditempat tersebut dalam rombongan berjumlah
belasan orang.
Tiba2 salah seorang diantara mereka, seorang hweeshio
yang kepalanya gundul lanang mengkilap, telah berkata
,Apakah semua-nya telah datang ?".
„Belum ! Masih ada yang belum hadir!' menyahuti beberapa
orang.
,,Satu, dua, tiga...!" hweshio itu telah menghitung
orang yang hadir ditempat tersebut, dia menghitung sampai
jumlah ketujuh belas.
Jadi jumlah yang berkumpul ditempat itu semuanya
berjumlah tujuh belas orang.
„Masih kurang tiga orang siapakah mereka itu?" dan si
Hweshio telah memperhatikannya semua orang2 itu. sampai
akhirnya, dia berseru : “Akhh, kiranya Sam Hengte (tiga
bersaudara) dari keluarga Ang !",
„Benar !" menyahuti salah seorang diantara mereka.
„Memang Ang Sam Hengte itu merupakan manusia2
pemalas dan tidak bisa menepati janji ! Bukankah sebelumnya
telah ditegaskan bahwa pertemuan yang akan diadakan kali ini
sangat penting sekali, tidak boleh gagal, tetapi mereka selalu

meremehkan urusan dan tidak mau datang lebih dulu dari
kita...!
Benar kepandaian mereka sangat tinggi ilmu pedang
mereka merupakan ilmu pedang yang mengagumkan, tetapi
sehurusnya mereka tidak boleh berbuat sekehendak hati
seperti itu" sambil mengoceh begitu, sihweshio yang
tampaknya jengkel sekali atas keterlambatan ketiga orang
yang disebutnya tiga bersaudara Ang itu, dia telah
membanting2 kakinya beberapa kali.
Dari rombongan orang itupun terdengar beberapa orang
diantara mereka yang telah menggumam menggerutu tidak
senang.
Tetapi disaat itu terdengar suara siulan yang panjang
sekali, yang saling sahut dari tiga jurusan.
„Itu mereka datang !” beberapa orang telah berseru
perlahan.
,,Ya, itu Sam Hengte she Ang yang telah datang !"
membenarkan sihweshio.
Baru perkataannya sampai disitu ditempat tersebut telah
bertambah tiga orang lainnya yang semuanya bertubuh kurus
jangkung dan mukanya mirip satu dengan yang lainnya seperti
kembar tiga, baik cara berpakaiannya maupun cara berjalan
mereka, sikapnya semua sama.
Phang Kui In yang melihat kedatangan ketiga orang itu
yang diduganya adalah Ang sam hengte, jadi terkejut sekali
disebabkan dengan melihat cara tibanya ketiga orang itu
membuktikan bahwa ilmu meringankan tubuh ketiga orang itu
sangat hebat sekali. Tadi mereka bersiul dalam jarak yang
cukup jauh tetapi dalam waktu yang demikian singkat ternyata
mereka telah bisa tiba ditempat itu.
Ditangan salah seorang dari ketiga orang itu membawa
sesosok tubuh lainnya. Dan dengan kasar sosok tubuh itu

telah dilemparkan diatas tanah. Sehingga tubuh itu terbanting.
Namun sosok tubuh yang dilempar itu tidak bergerak dan
nampaknya dia tengah dalam keadaan tertotok.
Phang Kui In memperhatikan sosok tubuh itu, ternyata
seorang gadis berusia diantara belasan tahun.
Yo Him juga telah melihat gadis kecil itu hampir saja dia
mengeluarkan suara teriakan tertahan karena kaget bukan
main.
Dia mengenalnya gadis kecil yang menjadi tawanan Ang
Sam-hengte, itulah Siangkoan Peng, puterinya Siangkoan Lin
Lie. Untung saja Phang Kui In yang melihat sikap Yo Him telah
sempat mengulurkan tangannya membekap mulut Yo Him.
„Jangan bersuara..." berbisik Phang Kui In dengan suara
yang perlahan sekali. „Mereka orang2 berkepandaian tinggi
dan tentunya memiliki pendengaran yang sangat tajam sekali.
Sedikit saja kita bersuara, tentu mereka akan mengetahui
kehadiran kita ini...!".
Yo Him mengangguk, dan Phang Kui In telah melepaskan
bekapan tangannya dimulut Yo Him.
„Aku kenal gadis yang ditawan mereka...!" bisik Yo Him
perlahan juga. „Dialah Siangkoan Peng, puteri Siangkoan Lin
Lie Lopehpeh...!"
Phang Kui In juga mengangguk.
„Ya, sejak tadi aku sedang memperhatikan dan merasa
pernah melihatnya. Sekarang aku ingat pernah bertemu
dengannya dipulau Ang Hwa To, bukan ? Dimarkasnya Pek
Liong Kauw ?".
Yo Him mengangguk.

“Kita harus menolongnya kata Yo Him dengan gusar,
karena walaupun bagaimana dia mendongkol sekali melihat
Siangkoan leng diperlakukan begitu kasar.
,,Ya. ya, kita akan menolonginya, tetapi kita harus
menantikan dulu waktunya yang tepat...mereka berjumlah
banyak jika kita bertindak ceroboh tentu membahayakan kita
sendiri.
Yo Him bisa diberi pengertian dan dia mengangguk saja.
Maka merekapun telah memperhatikan apa yang akan
dilakukan oleh rombongan orang itu.
Saat itu sihweshio yang tampaknya menjadi pemimpin
rombongan tersebut, telah berkata “Bagus, ! Akhirnya kalian
telah datang juga Ang Sam hengte. Tetapi siapakah gadis kecil
yang kalian bawa2 ini ?”
Salah seorang dari Ang Sam-hengte telah berkata perlahan
„Dia kami tawan karena mengikuti kami terus menerus...!" dan
menoleh memandang kearah Siangkoan Peng, sambil katanya
suaranya dingin : “Dia juga menyebut2 perihal Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko. Tetapi setelah kami tawan, dia tidak mau
membuka mulut untuk bicara, walaupun kami telah
memaksanya.......!"
,,Hemmm, apakah gadis kecil ini mengetahui Perihalnya Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko ? Aneh sekali ! Hampir tidak masuk
dalam akal......!" menggumam si hweeshio.
Begitu juga beberapa orang dalam rombongan itu telah
terdengar berbisik2, banyak dugaan yang telah mereka
kemukakan.
„Memang kamipun heran, tetapi justru kami mendengarnya
sendiri, dia telah bertanya kepada pelayan rumah makan
dimana kebetulan kami berada ditempat itu juga. Apakah
pelayan itu pernah melihat Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ? Diapun
menanyakan, apakah Sin Tiauw Taihiap pernah lewat ditempat
tersebut...... ! Maka kami telah menangkapnya untuk

mengorek keterangan dari mulutnya, namun gadis cilik yang
merupakan setan kecil ini tidak mau bicara lagi, dia keras
kepala, walau Pun kami telah menyiksanya, dia tetap tidak
mau bicara. Maka Mie An Siansu, aku membawanya
kepadamu agar kau dan kawan2 lainnya memikirkan cara
yang baik untuk mengorek keterangan dari mulut setan kecil
ini !".
,,Bagus ! Bagus !" berseru si Hweshio Mie An Siansu.
„Inilah namanya rejeki. Kita memang tengah mencari jejaknya
sitangan buntung keparat itu, dan dari mulut sisetan kecil ini
mungkin kita bisa mengorek keterangan yang kita
butuhkan...!".
Dan setelah berkata begitu cepat Mie An Siansu
menghampiri sigadis yang menggeletak ditanah.
Gadis kecil itu memang Siangkoan Peng dia berani sekali,
waktu melihat sihweshio mendatangi, walaupun tubuhnya
tidak bisa bergerak namun dia telah mendelikkan matanya.
Si Hweshio menatap bengis.
„Setan kecil, lebih baik kau bicara secara baik2, sehingga
kami tidak perlu bersusah payah menyiksamu ! Jika engkau
berkepala batu tentu yang rugi dan menderita adalah dirimu
sendiri...!".
Tetapi Siangkoan Peng tetap menutup mulut. dia tidak
menyahuti pertanyaan sihweshio.
hanya matanya tetap menatap berani kepada Mie An
Siansu,
„Baiklah !" kata Mie An Siansu dengan suara yang dingin,
menyeramkan sekali. „Tampaknya engkau memang harus
memperoleh perlakuan yang kasar, !".
Dan selesai dengan perkataannya itu, tampak Mie An
Siansu berjongkok disamping sigadis kecil, kemudian

mengulurkan tangannya menjambak rambut Siangkoan Peng,
yang digentaknya dengan keras sekali.
Yo Him yang menyaksikan sikap dan perlakuan Mie An
Siansu terhadap Siangkoan Peng, hampir saja tidak bisa
mempertahankan diri, untuk melompat keluar menerjang ke
arah hweshio tersebut.
Untung saja Phang Kui In yang selalu berlaku cermat telah
melihat gerakan Yo Him, dan mencekal keras sekali tangan Yo
Him.
„Sabar...!" Bisiknya. „Kita tidak boleh bertindak ceroboh,
karena bukan saja kita akan gagal menolongi gadis kecil itu,
kitapun akan membahayakan Siangkoan Peng kalau kehadiran
kita ini diketahui mereka...!".
Yo Him mengangguk berdiam diri saja hanya matanya terus
mengawasi kearah Mie An Siansu dengan sorot mata yang
mengandung kemarahan yang hebat. Dia tidak menyangka
bahwa seorang pendeta yang seharusnya memiliki sifat2 welas
asih dan penyayang, ternyata merupakan manusia yang kejam
dan jahat.
Saat itu Siangkoan Peng sangat kesakitan dan kepalanya
pusing sekali, karena kepalanya telah di-gentak2 keras sekali,
jambakan tangan Mie An Siansu dirambutnya juga sangat kuat
sekali.
„Cepat bicara, engkau ada hubungan apa dengan Sin Tiauw
Taihiap Yo Ko, si buntung jelek itu ?! Dan dimana sekarang
tempat tinggalnya dari sitangan buntung itu ?"
Tetapi Siangkoan Peng tetap tidak mau membuka mulut,
malah tahu2 dia telah meludahi muka Mie An Siansu.
Si Hweeshio terkejut sekali, dia mengelakkanludah sigadis
kecil dengan memiringkan kepalanya, namun percikan air
ludah toh masih mengenai mukanya.

Bagaikan kalap, Mie An Siansu telah memperkeras
jambakan dirambut gadis kecil itu.
„Binatang kurang ajar yang mencari mampus !" bentaknya
dengan bengis. „Rupanya engkau benar2 mencari mati !" dan
dia telah mengayunkan tangan kanannya, terdengar suara
'plakk, piokk !' berulang kali.
Tetapi Siangkoan Peng sama sekali tidak mengeluarkan
suara jeritan atau mengeluh. Tabah sekali gadis kecil itu.
Justru Yo Him yang melihat perlakuan yang diberikan oleh
Mie An Siansu, merupakan perlakuan yang melukai hatinya.
Kalau lengannya tidak dipegang keras oleh Phang Kui In tentu
Yo Him akan menerjang keluar
Disaat itu. Mie An Siansu teiah berkata lagi : „Jika engkau
tidak mau bicara baik2 biarlah aku akan menyiksamu dengan
cara yang baik sekali...!" dan setelah berkata begitu, dengan
cepat sekali si hweshio menggerakkan tangannya, dia telah
menotok jalan darah Uh-thian-hiat didekat bahu sigadis kecil
itu.
Seketika Siangkoan Peng merasakan pundaknya lemas dan
sekujur tubuhnya seperti digigit ribuan semut.
Tanpa bisa ditahannya lagi, dia jadi merintih.
“Engkau mau bicara atau tidak ?" bentak Mie An Siansu
dengan suara yang bengis.
Tetapi Siangkoan Peng hanya merintih tanpa membuka
mulut sepatah katapun juga:
Tentu saja hal ini telah membuat Mie An siansu tambah
mendongkol dan penasaran. Namun baru saja dia ingin
menyiksa lebih lanjut, disaat itulah telah maju salah seorang
dari Ang Sam-hengte.
„Sudah, kita jangan layani dia dulu, biarkan dia dalam
keadaan tertotok. Nanti jika urusan yang akan kita bicarakan

telah rampung, baru kita menyiksanya lagi untuk mengorek
keterangan dari mulutnya ! Jika memang dia tidak mau bicara
juga nanti, mudah saja, -sreett,- lehernya kita potong...!".
Mie An Siansu tampaknya mau mengerti, dia telah
mengangguk, dan membebaskan totokannya. Tetapi totokan
dari Ang Sam-heng te masih tetap belum terbuka, walaupun
sudah tidak menderita kesakitan lagi tetapi Siangkoan Peng
belum bisa menggerakkan tubuhnya.
Saat itu romhongan orang tersebut yang kini telah genap
berjumlah dua puluh orang, telah berkumpul dalam bentuk
lingkaran, semuanya duduk bersemadhi. Sedangkan Mie An
Siansu telah duduk di-tengah2 lingkaran itu menghadapi
semua orang.
„Nah, kini kita telah berkumpul!" kata Mie An Siansu
membuka pertemuan itu. „Dan aku telah datang tepat pada
waktunya, dimana sahabat2 juga rupanya memang bersungguh2
dalam persoalan ini ! Sejak dua belas tahun yang
lalu aku telah dikeluarkan dari Siauw Lim Sie, maka sejak saat
itu aku telah bersumpah bahwa selama aku masih memiliki
kesanggupan dan kepandaian, aku akan menganggap seluruh
murid2 Siauw Lim Sie dari berbagai tingkatan sebagai musuh
besarku...!"
Mendengar perkataan Mie An Siansu, rombongan orang itu
berdiam diri saja, sunyi sekali keadaan disekitar tempat itu.
Sedangkan Phang Kui In jadi terkejut sekali. Yo Him tidak
mengetahui apa itu yang disebut Siauw Lim Sie, tetapi Phang
Kui In mengetahui jelas, karena Siauw Lim Sie merupakan
pintu perguruan silat yang tertua didaratan Tionggoan.
Sejak datangnya Tat-mo Cauwsu, pendiri kuil Siauw Lim Sie
itu, maka aliran silat siauw Lim Sie telah tersebar luas dan
boleh dianggap dalam persilatan didaratan Tionggoan Siauw
Lim Sie merupakan pintu perguruan nomur satu.

Murid2 Siauw Lim Sie dari berbagai kalangan juga dalam
jumlah yang luar biasa banyaknya, tersebar luas diseluruh
daratan Tionggoan.
Phang Kui In jadi memperhatikan terus perkataan Mie An
Siansu.
„Dan kini, setelah selama dua belas tahun aku melatih diri,
aku telah berhasil menciptakan semacam ilmu yang akan
kupergunakan untuk membinasakan setiap murid Siauw Lim
Sie ! Tetapi disamping itu, pangkal persoalan dikeluarkannya
aku dari pintu perguruan Siauw Lim Sie juga semuanya
berpangkal dari pengaduan yang diberikan oleh Yo Ko,
sibuntung celaka itu ........ !"
Kembali Phang Kui In jadi heran dan tertarik untuk
mengetahui terus persoalan tersebut, dia memperhatikan
baik2. Sedangkan hati Yo Him jadi tergoncang sebab
mendengar beberapa kali nama ayahnya disebut2.
„Waktu itu, meiang kuakui telah melakukan suatu
kesalahan, kesalahan yang seharusnya tidak begitu besar,
yaitu aku telah memperkosa seorang gadis kecil dikampung
yang terpisah seribu lie dari kuil Siauw Lim Sie .... .... dan
peristiwa itu diketahui oleh Yo Ko celaka itu, dia telah
menghajar aku habis2an, bahkan ingin membuat aku
bercacad. Tetapi akhirnya dia telah merobah jalan pikirannya
dan membawa aku menemui Ciangbunjin Siauw Lim Sie dan
Hongthio menjatuhkan hukuman kepadaku dibuang dari kaum
Siauw Lim Sie, Mengingat selama berada didalam Siauw Lim
Sie aku bekerja baik, belajar dengan tekun dan baik serta
cerdas, maka Hong thio merasa sayang jika harus
membinasakan atau meubuat aku bercacat ......! Tetapi hatiku
sakit sekali ! Walaupun bagaimana sakit
hati ini harus dibalas ! Dan kini sahabat2 telah memenuhi
undanganku untuk menghadapi Siauw Lim Sie, maka dengan

ini aku mengucapkan terima kasih se-besar2nya, dengan
bantuan saudara2 semua, tentu urusan ini akan dapat
diselesaikan...!":
„Jangan kuatir Taisu, aku Ban Siong Long akan membantu
sekuat tenagaku...!" teriak seseorang dari rombongan itu.
„Ya, akupun akan berdiri dipihak Taisu !" teriak yang
lainnya.
„Kita binasakan setiap murid Siauw Lim Sie !".
„Ya, kita mampusi mereka semua ".
„Dengan kerja sama seperti ini, tentu dunia persilatan akan
gempar, karena murid2 siauw Lim Sie akan bergelimpangan
mampus ditangan kita...Hahahaha !" teriak yang lainnya lagi.
„Kami Ang Sam-hengte bersedia membantu Taisu, asalkan
Taisu juga bersedia untuk membantu kami membekuk
sibuntung celaka Yo Ko !" kata Ang Sam-hengte hampir
berbareng.
Mereka memang merupakan anak kembar tiga. Mereka
memiliki wajah yang mirip satu dengan yang lainnya dan juga
memiliki kepandaian yang sangat tinggi. Yang tertua, ber
nama Ang Cie Sian, sedangkan yang kedua Ang Cie Bun, dan
yang terkecil bernama Ang Cie Liong; Mereka sulit sekali
dibedakan satu dengan yang lainnya, sebab baik pakaiannya
maupun wajah mereka mirip satu dengan yang lainnya. Tentu
saja sulit bagi orang yang belum mengenal benar akan diri
mereka, untuk membedakan yang mana Cie Sian, mana Cie
Bun dan mana Cie Liong...! Tetapi sesungguh nya ketiga jago
kembar itu memiliki ciri2 yang bisa memperkenalkan diri
mereka. Jika Cie Sian memiliki tahi lalat yang sangat besar di
telapak tangan kanannya, Cie Bun memiliki mata yang tidak
sempurna, yaitu juling, sedang kan Cie Liong memiliki kaki
yang jauh lebih pendek dari kedua saudaranya, bahkan jalan
nya juga agak pincang, karena kaki kirinya lebih panjang dari
kaki kanannya.

Jika ciri2 ketiga orang itu diperhatikan, maka dengan
mudah orang dapat membedakan mereka bertiga.
Disaat itu Ang Cie Sian telah berkata lagi : ,,Kami memiliki
dendam sedalam lautan dengan Yo Ko keparat itu...! Jika
memang Taisu bisa membantu kami menangkap dan
membinasakannya, maka budi itu tidak bisa kami lupakan dan
jika kelak kami diminta untuk terjun dalam minyak panas atau
api berkobar, semua itu tidak akan kami tolak...!".
„Benar !" kata Cie Bun dengan matanya yang ber-gerak2
juling. „Kami tentu akan ber terima kasih dan bersyukur jika
telah berhasil membalas dendam kami itu...!".
„Yo Ko keparat itu memang keterlaluan, sepuluh tahun
yang lalu kami telah dihinanya, kami bertiga telah dihajarnya
habis2an, walaupun kami tidak bersalah, hanya karena
mengambil sedikit uang milik seorang penduduk dikampung
Bian-bo-cung. Tetapi Yo Ko keparat yang sok pahlawan itu,
telah menghajat kami. Waktu itu kepandaian kami belum lagi
setinggi sekarang. Coba kalau sekarang, hemmm. hemmm,
kami tentu akan mematahkan batang lehernya...!".
Mendengar perkataan Ang Cie Liong yang terakhir itu,
hampir saja Phang Kui In tidak bisa menahan tertawanya.
Karena perkataan yang terkebur itu benar2 terlalu sombong.
Sin Tiauw Taihiap Yo Ko merupakan seorang pendekar sakti
nomor wahid dalam persulatan didaratan Tionggoan, mana
bisa ditandingkan dengan mereka ?
Mie An Siansu telah tersenyum, dia telah berkata perlahan:
„Baik! Baik! Tentu kami juga akan menbantu kalian
menghadapi Yo Ko keparat itu ! Dengan menyerang dia secara
mengeroyok dan mempergunakan tipu muslihat yang rapi,
walaupun Yo Ko sibuntung keparat itu memilili sayap, jangan
harap dia bisa meloloskan diri dari kematian ditangan kita.......
!"

Segera terdengar suara tepuk tangan dari rombongan
orang2 itu, tampaknya mereka tengah dilambungi khayalan
yang tidak2 dan terlalu muluk2.
Tetapi waktu Mie An Siansu ingin berkata lagi, disaat itu
mereka telah mendengar suara tiupan seruling, yang
mengalun lembut dari arah kejauhan Kemudian suara seruling
itu lenyap.
Mie An Siansu dan yang lainnya jadi saling pandang mereka
men duga2 entah siapa peniup seruling itu.
Tetapi tidak lama kemudian mereka juga telah mendengar
suara seorang wanita yang bersenandung dengan suara yang
mengandung kecintaan yang sangat dalam :
Cinta abadi itu
Adakah dalam dunia ?
Perasaan dan hati
Itukah cinta ?
Dia pergi untuk lenyap tidak kembali,
Pertemuan manis telah berakhir,
Kemana harus mencari mereka ?
Kemana harus berjumpa dengannya lagi ?
Bagai burung terbang kian kemari,
Tetapi hanya seorang diri.
Karena dia telah pergi .....
Wahai engko, wahai engko,
Dengarkah engkau akan suaraku ini ?
Angin coba membawa suaraku,

Teapi sang anginpun takut bermu denganmu.
Awan berkata,
Ingin membawa aku bertemu denganmu.
Tetapi sang awan kuatir untuk bertemu denganmu juga.
Bagaimana aku harus mencarimu ?
Burung yang berkicau.
Selalu menghiburku : „Jangan bimbang,
jangan menangis,
Engko akan juga datang....
Tetapi bila ?
Tetapi kapan ?
Sekarang, nanti ?
Juga tidak bertemu lagi.....
Suara senandung itu demikian menyedihkan, tampaknya
wanita yang membawakan lagunya itu seperti tengah
mengalami patah hati. Dan suara senandung itu semakin lama
semakin terdengar jelas dan dekat.
Tidak lama kemudian, dari balik sebatang pohon telah
muncul seorang gadis yang berusia diantara dua puluh empat
tahun, wajahnya manis, rambutnya dikuncir dua, dan ditangan
kanannya membawa sebatang seruling, sedang pinggangnya
tergantung sebatang pedang.
Mukanya yang cantik manis mungil itu memancarkan
kesedihan yang sangat.
Phang Kui In mengerutkan alisnya, dia men duga2 entah
siapa gadis yang tengah merana itu. Yo Him juga merasa iba
terhadap gadis itu. Karena dia mengerti bahwa si encie itu
sedang bersusah hati.

Siapa dia, paman Phang ?” tanya Yo Him dengan suara
berbisik.
aku sendiri tidak mengenalnya .... tetapi tampaknya dia
seorang pendekar wanita yang berkepandaian tinggi dari
golongar pulih...!"
Saat itu. sigadis telah melihat rombongan orang yang
tengah berkumpul bermusyawarah.
Mie An Siansu waktu melihat gadis itu, mukanya jadi
berobah seketika itu juga, dan dia mengeluarkan suara seruan
tertahan.
Gadis itu juga mengerutkan sepasang alis nya, tampaknya
dia kenal dengan Mie An Siansu.
„Mie An Taisu !” katanya dengan suara yang dingin „Apa
yang tengah engkau lakukan bersama orang2 ini ? Apakah
kalian sedang merencanakan suatu perbuatan jahat lagi ?".
Mie An Siansu tampaknya telah berhasil menguasai
goncangan hatinya. Dengan gesit dia telah melompat berdiri,
kemudian terdengar suara tertawanya yang ber-gelak2.
Orang2 yang lainnya, termasuk Ang Sam hengte telah
melompat berdiri juga, semua nya mengawasi gadis itu
dengan sorot mata yang tajam dan kurang ajar sekali.
,,Kwee Liehiap...engkau ada disini !” tanya Mie An Siansu
dengan sikap yang tengik sekali. „Kebetulan sekali !
Bagaimana keadaan Thio Kun Po, yang waktu itu melarikan
diri bersama engkau dan Kak-wan Siansu ?".
Muka sigadis itu tetap dingin, dia telah memandang tajam
kepada sipendeta.
„Mie An Siansu, aku tidak bicara main2. Apa yang sedang
kau lakukan ! Beberapa saat yang lalu, engkau telah dihukum
oleh Hong thio Siauw Lim Sie, dan disaat itu seharusnya
engkau menyadari kesalahanmu untuk tidak melakukan

kejahatan lagi, tetapi akhir2 ini justru seringkali kudengar
bahwa engkau mulai mengumbar lagi sifat2 burukmu,
menggangu anak isteri orang...... ! Dan ...... !" berkata sampai
disitu, tampak sigadis telah menatap kepada Siangkoan Peng.
„Gadis itu juga engkau tawan .....! Sungguh pendeta
celaka...... !" walaupun memaki begitu, suara sigadis
terdengar halus sekali.. ..
“Gadis yang belum lagi berusia lebih dari tiga belas tahun,
telah engkau ganggu .... !"
„Ohhh, Kwee Liehiap salah paham ! Itu bukan perbuatanku
! Justru gadis kecil itu mengikuti Ang Sam hengte, ketiga
sahabatku itu. karena jengkel dan sigadis itu juga diusir tidak
mau pergi, maka akhirnya ketiga sahabatku itu terpaksa
menotoknya agar gadis itu tidak mengganggu lebih jauh
lagi...... !"
Sigadis mengerutkan alisnya, tampaknya dia tidak
mempercayai keterangan si hweeshio..
„Dan kini apa yang sedang kalian rundingkan ? tanya
sigadis.
Mie An Siansu telah tetapkan hatinya yang tadi tergoncang,
dia telah berpikir, walaupun, bagaimana tingginya kepandaian
gadis itu, tetapi dia berada ber-sama2 dengan, kawan2nya
dalam jumlah yang banyak. Maka dia merasa tidak perlu takut,
dia. telah tertawa ber-gelak2 dengan suara yang sangat
nyaring dan bengis sekali.
„Kwee Siang !" katanya kemudian setelah puas tertawa.
,,Engkau jangan terlalu ber tingkah dan membawa sikap
sebagai seorang Locianpwe menegur kaum Boanpwe ! Apa
kedudukanmu ? Apa kepandaianmu ? Hemmnn mungkin jika
Hongthio Siiuw Lim Sie bertemu denganku, dia tidak akan
memperlihatkan sikap seperti itu ! Jika engkau masih tidak
mau cepat2 berlalu dan masih banyak cerewet biarlah

engkaupun akan kami tangkap dan tawan, karena memang
kamipun menghendaki suatu keterangan dari mu !".
Gadis itu, yang tidak lain dari Kwee Siang, puteri bungsu
dari Kwee Ceng dan Oey Yong, telah tertawa tawar, sikapnya
tenang sekali.
„Enak saja engkau bicara, waktu dulu engkau tidak
dibinasakan oleh engko Yo, itupun karena engko Yo merasa
kasihan dan mau mengampuni jiwa bangsatmu, tetapi
ternyata bangsat tetap saja bangsat...! Baiklah ! Apa yang
hendak kau tanyakan kepadaku ?".
“Justru kami ingin mengetahui tempat persembunyiannya
Yo Ko, sibuntung celaka itu !" kata Mie An Siansu dengan
suara yang bengis.
Muka Kwee Siang jadi berobah.
Harus diketahui, dia sangat menghargai dan menghormati
sekali Sin Tiauw Taihiap Yo Ko (baca : Sin Tiauw Hiap Lu),
maka kini dia mendengar Mie An Siansu menyebut Yo ko
dengan perkataan Yo Ko sibuntung celaka tentu saja Kwee
Siang jadi gusar sekali.
„Srengg...!" tahu2 Kwee Siang telah mencabut pedangnya.
“Lidahmu yang kurang ajar itu tampaknya memang harus
dipotong !" kata Kwee Siang dengan suara mengandung
kemarahan, Mukanya yang montok berobah merah, sedang
tangannya telah bergerak, pedangnya itu telah menyambar
kearah Mie An Siansu, dan “serrrr !”, mata pedang itu telah
menyambar kearah dada sihweshio.
„Siuttt...!" mata pedang mengenai sasaran yang salah,
karena Mie An Siansu cepat mengelak kesamping.
Disaat itu Kwee Siang yang tengah mendongkol mendengar
Yo Ko disebut sebagai 'sibuntung celaka', telah menyerang lagi
dengan gerakan yang cepat sekali, pedangnya telah

berkelebat menyambar dengan mengeluarkan suara
mengaung.
,,Sirrrrgg ! “ pedang itu menyambar sulit dilihat oleh mata
orang biasa, disusul dengan suara 'breett !’ ujung lengan
jubah pendeta itu telah kena dilubangi oleh mata pedang
sigadis she Kwee.
Mie An Siansu ter-huyung2 mundur dengan tubuh yang
agak bergetar dia mukanya pucat, karena dia kaget bukan
main telah diserang seperti itu, untung saja dia masih sempat
untuk berkelit sehingga hanya lengan jubahnya saja yang
berlobang. Coba jika dia terlambat berkelit, niscaya dadanya
yang akan berlobang.
Ang Samhengte dan jago2 lainnya yang melihat itu jadi
terkejut bercampur marah. Dengan cepat mereka telah
berpencar dan mengurung sigadis. Tetapi Kwee Siang tidak
takut sedikilpun, dia berdiri tegak dengan tenang sambil
mencekal pedangnya. Walaupun saat itu dia telah terkurung
oleh kedua puluh orang tersebut.
“Kalian majulah semua !, rupanya kalian memang bukan
manusia baik2” tantang Kwee siang dengan suara nyaring.
Mie an siansu yang lengan jubahnya telah berlobang oleh
mata pedang Kwee siang itu mendongkol bukan main, dia
telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras sekali,
lalu telah melancarkan serangan2 dengan cepat dan dahsyat.
Tetapi Kwee siang mana memandang sebelah mata
serangan itu, dia berkelit dengan indah mempergunakan jurus
Bidadari Menari dimana tubuhnya bergerak lemas gemulai
kekiri dan kekanan, maka lawannya tidak berhasil
melancarkan serangan kepadanya.
Waktu Kwee Siang ingin menggerakkan pedangnya untuk
melancarkan serangan, justru disaat itulah tampak pedang
salah seorang pengepungnja yang berpakaian sebagai

seorang tojin (pendeta agama To) telah meluncur dengan
cepat kearah punggungnya.
Kwee Siang jadi batal untuk melancarkan serangan kepada
Mie An Siansu, dia bergerak dengan jurus "Naga Perkasa
Muncul Dari Lautan", pedang Kwee Siang ber-gerak2
berbentuk setengah lingkaran kearah belakangnya bagaikan
seekor naga yang tengah menggeliat, menyambar kearah si
Tojin.
,,Trangg !" kedua pedang itu saling bentur dengan keras
dan kuat, disaat itulah dengan cepat sekali Kwee Siang telah
menurunkan pedangnya, melepaskan kaitan dari pedang
lawannya dengan gerakan yang sangat manis dan indah
dipandang, kemudian dia telah melancarkan tikaman susulan
kearah paha si Tojin dengan jurus "Hujan Bunga Dimusim
rontok", dan pedangnya ber-kelebat2 membingungkan lawan.
Tetapi Tojin itu rupanya seorang akhli kiam-khek, akhli
pedang ternama, dari itu dalam keadaan demikian dia berhasil
mengelakkan serangan Kwee Siang.
Gerakan yang dilakukan oleh Tojin itu sangat lincah sekali,
disusul juga dengan pedangnya yang menyambar kearah mata
Kwee Siang. Jika Kwee Siang meneruskan serangannya berarti
matanya juga akan menjadi korban serangan pedang si Tojin,
berarti juga akan menjad buta.
Terpaksa Kwee Siang menarik pulang pedangnya dan
dalam keadaan demikian Ang Cie Bun telah melancarkan
serangan kepada Kwee Siang dengan mempergunakan Poan
Koan Pitnya.
Ang Sam Hengte merupakan tiga orang bersaudara kembar
yang mempergunakan poan koan pit sebagai senjata andalan
mereka. Dan poan koan pit memang merupakan senjata
andalan mereka. Dan poan-koan pit memang merupakan alat
senjata vang bisa dipergunakan untuk menotok jalan darah.
Maka serangan2 dari Ang Cie Bun selalu mengincer jalan

darah ditubuh Kwee Siang, dimana poan koan pit tersebut
ber-gerak2 keatas, kebawah atau menyambar lurus ditengah.
mengincer jalan darah sigadis.
Begitu juga dengan Ang Cie Liong dan Ang Cie Sian, telah
ikut melancarhan serangan dengan poan-koan-pit mereka
saling susul. Ang Cie Liong telah menyerang dengan jurus
,,Bunga Rontok Sehelai", disusul lagi dengan totokan
mempergunakan jurus „Harimau Lepas Taring", poan-koanpitnya
me-nyambar2 keras menimbulkan angin berkesiuran.
Dan jurus2 yang dipergunakan oleh Ang Cie Liong bertiga
sesungguhnya merupakan Ilmu silat aliran Tionggoan Timur.
Kwee Siang tidak jeri bahkan sama sekali tidak merasa
takut menghadapi keroyokan seperti itu.
Dengan mengeluarkan suara teriakan yang sangat nyaring
Kwee Siang memutar pedangnya.
Kali ini Kwee Siang mempergunakan jurus „Biruang Kecil
Menerjang Menggigit", tampak pedangnya menyambar dalam
jarak pendek2 dan cepat sekali be-robah2 sasaran dan arah
serangan.
Gerakan yang dilakukan Kwee Siang dengan memutar
pedangnya keberbagai arah itu sangat mengejutkan
lawan2nya. Jangan kata serangan dari pihak musuh,
sedangkan jika saat itu Kwee Siang disiram dengan segayung
air, tidak setetes airpun yang akan dapat menerobos masuk.
Maka semua serangan lawan2nya selalu tertangkis dan tidak
bisa menerobos kepertahanan yang dilakukan Kwee Siang.
Dalam keadaan demikian, Mie An Siansu yang telah marah,
telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras sekali,
dia telah melancarkan gempuran2 yang sangat hebat
mempergunakan kedua telapak tangannya itu, karena dia
melatih semacam ilmu pukulan tangan kosong.
Pukulan yang dilancarkannya mempergunakan sekaligus
kedua telapak tangannya dengan jurus "Naga Berjumpalitan

Diawan". di mana kedua telapak tangan itu berkesiuran keras
dan kuat menyambar kearah Kwee Siang, karena pukulan itu
merupakan salah satu jurus dari Tek Kong Ciang (Pukulan
Udara Kosong). Maka tanpa perlu menyentuh bagian anggota
tabuh lawan serangan itu bisa mematikan.
Kwee Siang tengah memutar kuat2 pedangnya, ketika
tahu2 dia merasakan desakan kuat menerjang kedirinya,
membuat dia mengeluarkan seruan tertahan dan mundur
bebepa langkah kebelakang seperti juga rubuh terguling.
Untung saja Kwee Siang, memiliki lwekang cukup tinggi dan
kegesitan telah mencapai puncaknya, dia berhasil manguasai
dan mengendalikan tubuhnya tidak sampai rubuh terguling,
dalam sekejap mata dia telah berhasil berdiri tegak kembali.
Melihat kesempatan itu Ang Cie Liong telah mengeluarkan
suara bentakan yang sangat bengis, tampak dia telah
meloncat sambil menggerakkan poan-koan-pitnya yang akan
menotok jalan darah Pai-tie-hiat didekat dada sebelah kiri dari
sigadis. Serangan yang dia lakukannya itu sangat cepat sekali
membawa angin serangan yang tajam berseliweran dan di
saat itu juga dengan cepat Kwee siang memutar tubuhnya
dengan gesit. Dengan sangat manis, tahu2 dia telah berdiri
dipinggir dan membiarkan serangan poan-koan-pit itu lewat di
sisi dadanya.
Namun Kwee Siang bukan hanya membiarkan serangan
lawannya lewat dan berdiam diri saja, cepat sekali pedangnya
digerakkan melancarkan tikaman kearah dada Cie Liong
dimana mata pedang menusuk lurus.
Ang Cie Liong mengeluarkan suara teriakan tertahan
melompat mundur dengan muka pucat. Dia juga telah menarik
pulang poan koan-pitnya untuk menangkis pedang Kwee
Siang.
„Trangg...!" poan-koan-pit itu berhasil menangkis pedang
sigadis dengan keras sekali.

Dalam keadaan demikian Ang Cie Liong kembali terhuyung,
karena waktu melancarkan serangan menangkis, disaat itu
tenaganya tidak terkumpul semuanya, dan Kwee Siang telah
melancarkan serangan pedang menusuk dengan disertai
getaran tenaga lweekang Kiu Im Cin Keng, yang pernah
diperolehnya dari Kak Wan Siansu dari Siauw Lim Sie.
Disaat itu sebetulnya Kwee Siang telah berhasil
menciptakan semacam ilmu pedang yang hebat sekali
berdasarkan keterangan kitab Kiu Im Cin Keng yang dibacakan
oleh Kak Wan Siansu.
Jika Thio Kun Po telah mengubah ilmu pedang dan ilmu
silat ciptaannya dengan mengandalkan Kiu Yang Cinkeng dan
mendirikan partai persilatan sendiri yang bernama Bu Tong
Pay, dimana kemudian Thio Kun Po merubah namanya
menjadi Thio Sam Hong, maka juga Kwee siang telah berhasil
mendirikan sebuah pintu perguruan silat yang diberi nama
perguruan Go Bie Pay
Disaat itu nama perguruan Go Bie Pay belum lagi terkenal,
karena baru saja didirikan. Dan waktu mendengarkan Kak
Wan siansu membacakan Kiu Im Cinkeng dan Kiu Yang
Cinkeng, justru hanya Thio Kun Hong dan Kwee siang berdua
yang sempat mendengarnya. Dibelakang hari Bu Tong Pay
telah menjadi sebuah pintu perguruan yang besar dan jaya.
Selewatnya Thio sam Hong justru Bu Tong Pay lebih populer
dibandingkan dengan siauw Lim sie, bahkan pendekar2
didikan Bu Tong Pay lebih populer dibandingkan dengan Siauw
Lim Sie, bahkan pendekar2 didikan Bu Tong Pay umumnya
memiliki kepandaian yang tinggi dan budi pekerti yang baik
serta luhur.
Go Bie Pay walaupun kelak merupakan salah satu pintu
perguruan yang sama populernya dengan Bu Tong Pay dan
siuw Lim, tetapi masih berada dibawah satu tingkat dari ke
populeran nama kedua pintu perguruan itu.

Sekarang walaupun dikeroyok dua puluh orang lawannya
namun Kwee Siang tidak merasa takut, sebab dia memiliki
ilmu pedang dan lwekang yang telah sempurna. Memang ilmu
pedang yang diciptakannya untuk kaum wanita, karena itu
kelak Go Bie Pay lebih dikenal oleh umum sebagai pintu
perguruan wanita.
Karena pendiri Go Bi Pay adalah seorang wanita (Kwee
Siang), maka ilmu pedang itupun tidak mengandung
kekerasan tetapi mengandal kan kegesitan dan perobahan2
yang aneh yang bisa membingungkan lawan
Waktu melihat kedua puluh orang lawannya yang
mengeroyoknya dengan tidak mengenal malu, tampak Kwee
Siang telan mengeluarkan siulan yang panjang dan
menggerakkah pedangnya me-lingkar2 bagaikan seekor naga
dan tubuhnya melompat kesana kemari dengan gesit. Itulah
jurus „Bie Sian Kiam-hoatl (Bidadari cantik bermain pedang)
yang sangat tangguh dan membingungkan lawannya.
Gerakan2 dari ilmu pedang yang dipergunakan Kwee siang
memaksa lawan2nya tidak bisa terlalu mendesak dan tidak
berdaya untuk melancarkan serangan2 yang dekat, bahkan
jagoan2 itu terpaksa harus ber-hati2 sekali setiap kali Ingin
melancarkan serangan kepada Kwee Siang.
Mie An yang menyaksikan ini jadi marah sekali dan telah
mengeluarkan suara bentakan berulang kali, tubuhnya telah
menerjang dengan kedua tangannya yang berisi tenaga
lwekang yang kuat. Dia telah mengeluarkan ilmu simpanannya
yaitu ilmu silat Cap Pek Lo Han Kun atau ilmu pukulan delapan
belas arhad.
Dua belas tahun yang lalu, Mie An Siansu,merupakan murid
Siauw Lim Sie tingkat ketiga dan waktu dia dikeluarkan dari
kaum-nya, kepandaian Mie An Siansu memang teiah mencapai
taraf yang tinggi.
Hong-thio Siauw Lim Sie tidak menghukum mati kepada
Mie An Siansu waktu mengetahui Mie An Siansu memperkosa

seorang gadis, karena disebabkan Hongthio itu merasa sayang
atas kecerdasan yang dimiliki oleh Mie An Siansu.
Sekarang walaupun dia telah dikeluarkan oleh pihak Siauw
Lim Sie, tetapi selama dua belas tahun Mie An Siansu telah
melatih diri dengan giat sehingga ilmu pukulannya telah
semakin hebat dan lwekangnya telah memperoleh kemajuan
yang pesat sekali.
Terlebih lagi dia memang seorang yang cerdas bukan main,
selain dia melatih ilmu yang pernah diperolehnya dari
perguruan Siauw Lim pay, diapun telah, berhasil menciptakan
semacam ilmu silat „Pukulan Tangan Kosong" yang dari kedua
telapak tangannya itu bisa menyambar angin serangan yang
panas dan kuat sekali yang bisa membinasakan lawan2nya.
Tetapi Kwee Siang juga tidak lemah, dia bisa memberikan
perlawanan dengan sama dahsyatnya.
Melihat keroyokannya bersama kawan2nya yang berjumlah
cukup banyak dan berilmu tinggi belum berhasil juga
merubuhkan Kwee Siang, membuat Mie An Siansu tambah
penasaran. Berulang kali Mie An Siansu telah mengeluarkan
bentakan2 bengis melancarkan serangan2 yang mengincer
bagian2 mematikan ditubuh sigadis, dan begitu juga
kawan2nya mengepung rapat tidak memberikan kesempatan
pada Kwee Siang untuk bernapas. Lalu Mie An Siansu telah
menyedot napas dalam2, dan telah menggempur lagi dengan
mempergunakan delapan bagian tenaga dalamnya,
menimbulkan kesiuran angin yang kuat sekali. Dengan jurus
"Lonceng Bergoyang Sepuluh Kali" kedua tangannya
menyerang sekaligus bergantian kesepuluh bagian tempat
jalan darah mematikan ditubuh Kwee Siang.
Tetapi Kwee Siang gesit sekali, dia selalu berhasil
menyelamatkan diri. Disamping itu juga Kwee Siang selalu
ber-hati2 menghadapi serangan lawan2nya yang lainnya, dia
berusaha mengendalikan diri dan membatasi ruang geraknya,

menunggu kesempatan terbuka untuk menyerang bagian2
yang lemah ditubuh lawan2nya.
Selama melancarkan gempuran2nya, Mie An Siansu telah
ber-teriak2 menganjurkan kawan2nya agar melancarkan
serangan lebih berat dan keras, dia berusaha membangkitkan
semangat bertempur kawan2nya.
Tetapi Kwee Siang kinipun tidak berlaku segan2 lagi,
dengan gerakan yang sangat cepat sekali tampak Kwee Siang
telah menggetarkan pedangnya, yang ber-kelebat2
menyilaukan mata lawan2nya.
Setiap serangan yang dilancarkan oleh Kwee Siang kali ini
merupakan serangan dari ilmu pedang simpanannya, diapun
mempergunakan jurus2 yang pernah memperoleh petunjuk
dari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko disaat itu pedangnya berkelebat2
menimbulkan desiran angin yang sangat kuat sekali.
Dalam keadaan demikian, terlihat jelas betapa pedangnya
telah meluncur dalam gerakan yang sangat cepat sekali,
sehingga samberan angin serangan pedang itu telah menderu2
dengan dahsyat, telah menyerang setiap jalan darah
dari lawannya yang bisa mematikan.
Setelah lewat lima jurus, terdengar suara jeritan yang
menyayatkan hati, karena itulah suara jerit kematian.
Kwee Siang telah berhasil merubuhkan dua orang lawannya
yang menggeletak tidak bernapas lagi.
Tojin yang menjadi kawan Mie An Siansu jadi marah sekali,
dengan mengeluarkan suara bentakan bengis dan nafsu
membunuh, dia telah melompat dan menggerakkan pedang
ditangannya, yang dengan ganas telah menikam ketubuh
Kwee Siang. Disamping itu, si Tojin juga telah membarengi
dengan mengibas mempergunakan Hudtimnya, gerakan itu
telah membuat Kwee Siang harus mengelakkan serangan itu
dengan cepat sekali.

Dalam sekejap mata tampak Kwee Siang telah berkelit tiga
kali.
Dan dalam kesempatan itulah Kwee Siang baru memiliki
kesempatan untuk melancarkan serangan membalas.
Gerakan yang dilakukan Kwee Siang benar2 luar biasa, kaki
kanannya diulur kedepan, ditekuk sedikit, dan kemudian
dengan cepat sekali dia telah menikam dengan tubuh yang
didoyongkan kedepan.
,,Sringgg...!" pedang meluncur dengan cepat sekali secepat
kilat dan “Cepppp!” terdengar benda logam masuk menerobos
dan daging kemudian terdengar suara teriakan menyayatkan
dari Tojin itu, tubuhnya menggelepar dan terhuyung mundur,
dari dadanya mengucur darah merah yang segar, mata tojin
itu terbuka lebar2 dan dia mengeluh perlahan dengan mulur
terbuka, dari tenggorokannya terdengar suara berkerogokan
dan kemudian tubuhnya terjengkang kebelakang, napasnya
terhenti.
Mie An siansu dan kawan2nya jadi terkejut bukan main, dia
telah melihat betapapun Kwee siang memang tangguh dan
memiliki kepandaian yang hebat luar biasa, kepandaian yang
sulit sekali dilawan.
Tetapi Mie an siansu masih penasaran, dia
berpikir,walaupun Kwee siang memiliki kepandaian yang
sangat tinggi, tetapi jika dia diserang terus menerus, niscaya
gadis itu akan cepat letih sehingga dengan mudah dia akan
dapat dirubuhkan.
Maka dari itu Mie An Siansu telah melancarkan serangan2
dan gempuran2 yang tidak hentinya, setiap serangan telapak
tangannya itu meluncur dengan hebat, bahkan telah beberapa
jurus lagi tampak Mie an siansu telah mencabut golok yang
tergemblok di punggungnya.
Dengan goloknya itu dia telah melancarkan serangan yang
sangat hebat sekali, goloknya telah me nyambar2 dengan

hebatnya, sehingga Kwee siang telah berhasil dipaksa mundur
beruntun berulang kali.
Belum lagi kawan2 sihweshio yang telah melancarkan
serangan juga.
Makin lama makin terlihat tampak Kwee siang hanya dapat
membela diri saja dan tidak dapat melancarkan serangan2
balasan.
Yo Him dan Phang Kui In yang menyaksikan jalannya
pertempuran itu telah memandang dengan tegang, sedangkan
Yo Him telah berbisik perlahan disamping telinga Phang Kui
In, “apakah tidak lebih baik paman Phang muncul memberikan
bantuan kepada enci itu, Bukankah dengan bantuan paman
Phang berarti gadis itu akan memperoleh bantuan yang tidak
kecil dan meringankan bebannya yang bisa menyebabkan dia
bisa mengambil napas dua dan mengadakan perlawanan yang
lebih gigih kepada musuh2nya ?"
Phang Kui In berdiri ragu sejenak ditempat
persembunyiannya, tetapi kemudian dia telah mengangguk.
„Benar !" katanya perlahan. „Dan memang gadis itu
merupakan puteri dari tokoh persilatan Kwee Ceng dan Oey
Yong !!"
Mendengar perkataan itu, Yo Him jadi terkejut dan gugup:
„Kalau demikian, cepatlah paman Phang memberikan
pertolongan .... bukankah paman Kwee dan Oey Pehbo sangat
baik ? Waktu aku berada di Ang Hwa To, paman Kwee dan
Oey Pehbo telah memperlakukan aku sangat baik sekali...... !"
Phang Kui In memang sejak tadi bermaksud untuk
melompat keluar dari tempat persembunyiannya untuk
memberikan pertolongan kepada Kwee Siang. Tetapi yang
membuat dia ragu2 adalah jumlah musuh yang demikian
besar, maka Phang Kui In bermaksud untuk menantikan waktu
sejenak lagi sampai musuh2nya itu letih. Tetapi melihat Kwee
Siang mulai agak sibuk menerima serangan 2 gencar dari

lawan2nya, tentu saja telah membuat Phang Kui In harus
mengambil tindakan yang tegas. Dia telah melompat keluar
dari tempat persembunyiannya sambil membentak keras
„Manusia tidak tahu malu ! Manusia rendah yang tidak
punya perasaan ! Melancarkan serangan secara mengeroyok
seperti itu !”

ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko], cersil terbaru, Cerita Dewasa Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko], cerita mandarin Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko],Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko], Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko]
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko] dan anda bisa menemukan artikel Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-mandarin-antik-sin-tiauw-thian.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko] sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Mandarin Antik : Sin Tiauw Thian Lam 2 [Lanjutan Pendekar Yo Ko] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-mandarin-antik-sin-tiauw-thian.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

trica jus mengatakan...

bagus sekali saya suka

Poskan Komentar