Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar]

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 26 Desember 2011

Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar]

1
Lanjutan TIGA MAHA BESAR
Karya : Khu Lung
diterjemahkan oleh Tjan Ing Djoe
Jilid 1
Di perkampungan Liok-soat san ceng yang letaknya dibukit
In-tiong-san dalam bilangan propinsi San-se, hiduplah seorang
pendekar besar yang namanya tersohor dimana-mana.
Pendekar besar itu she Hoa bernama Thian-hong, ilmu
silatnya tinggi dan tiada tandingannya di kolong langit, orang
persilatan menyebutnya dengan julukan Thian-cu-kiam,
pedang raja langit.
Dua puluh tahun berselang, kaum iblis dan manusia jahat
menguasai dunia persilatan waktu itu suasana dalam sungai
telaga tak aman, kejahatan merajalela, banyak pertikaian dan
perselisihan terjadi dimana-mana.
Seorang diri dengan kekuatan yang dimilikinya Hoa Thianhong
telah tampilkan diri untuk menegakkan keadilan serta
kebenaran.
Setelah berulangkali mengalami kejadian-kejadian besar
yang mempertaruhkan jiwanya, hawa sesat dan hawa iblis

2
dapat dilenyapkan dari muka bumi, dunia persilatan telah
memasuki babak kehidupan baru.
Selama dua puluh tahun terakhir, dunia persilatan aman
tenteram tak pernah terjadi peristiwa apapun, keamanan dan
kedamaian tersebut boleh dibilang berkat kebijaksanaan serta
kebesaran jiwa Hoa Thian hong.
Tahun ini Hoa Thian hong telah memasuki usia setengah
baya, ilmu silatnya mencapai tingkatan yang lebih tinggi dan
nama besarnya ibarat matahari ditengah awan, setiap umat
persilatan memandangnya sebagai tulang punggung sungai
telaga, malahan para pekerja dan rakyat kecilpun mengenal
siapakah Hoa Thian hong itu.
Tengah hari baru lewat, sebuah kereta kuda tiba-tiba
muncul dari balik pepohonan dan dilarikan secepat cepatnya
menuju tanah perbukitan In tiong san....
Di bawah terik sang surya yang menyengat badan, kusir itu
sudah bermandi keringat, tapi tak mengenal lelah, cambuknya
diayun berulang kali mengiringi hardikan-hardikan pendek,
kudanya dilarikan amat kencang.
Selang sesaat, kereta itu sudah menembusi sebuah lembah
yang dalam, dan perkampungan Liok-soat san ceng pun
muncul di depan mata.
Kusir itu tidak mengurangi kecepatan lari keretanya,
malahan ia mengayun cambuknya semakin gencar.
Derap kaki kuda, gelindingan roda kereta yang ramai
memekikkan telinga, sehingga mengejutkan penghuni
perkampungan itu, Tiong Liau pelayan tua perkampungan itu
cepat memburu keluar dari halaman.

3
Ketika melihat sebuah kereta kuda menerjang masuk ke
dalam perkampungan dengan kecepatan tinggi, cepat menjura
sambil menyapa:
"Tahan! Tolong tanya tamu dari mana yang telah
berkunjung.."
"Nona Suma dari kota Lam-yang!" sahut laki-laki kusir
kereta itu dengan lantang.
Tiong Liau, pelayan tua itu tampak tertegun, sementara ia
belum mengucapkan sesuatu, kereta kuda itu sudah
menerjang tiba dengan cepatnya, terpaksa dia menyingkir ke
samping.
Dengan disertai suara derap kuda dan gelindingan roda
yang ramai, kereta itu lewat di sisinya dan menerjang masuk
ke dalam perkampungan.
Sementara itu beberapa orang telah muncul di depan pintu
gerbang dipaling depan adalah seorang laki-laki berperawakan
tinggi tegap dengan memakai jubah berwarna hijau, dialah
tuan rumah perkampungan ini atau lebih dikenal sebagai
pedang raja langit Hoa Thian-hong.
Di samping laki-laki itu menyusul putra sulungnya yang
bernama Hoa Si, kemudian dipaling belakang adalah beberapa
orang pelayan.
Sekejap mata kemudian kereta itu sudah tiba di depan
pintu gerbang, ketika dilihatnya kusir kereta itu tak mampu
mengendalikan lari kudanya, seorang pelayan segera
melompat ke depan, sepasang telapak tangannya segera
direntangkan dan serentak kedua ekor kuda itu mengangkat
sepasang kaki depannya ke atas, Liong Liau si pelayan tua

4
yang telah memburu datang, segera menarik tali les kuda itu
dan keretapun tertahan secara paksa.
Setelah kereta berhenti, hordenpun tersingkap menyusul
dua orang gadis berpakaian kabung meloncat turun sambil
memayang seorang gadis berbaju putih blaco dengan
sepasang mata yang merah membengkak kebanyakan
menangis.
Mengetahui siapa yang datang, Hoa Thian-hong amat
terperanjat, cepat ia maju menyongsong sambil menegur:
"Si-moay, apa yang telah terjadi....?"
Gadis berbaju putih blaco itu bernama Suma-Jin, dia adalah
putri tunggal dari Suma Tiang-cing, seorang pendekar
persilatan yang amat tersohor namanya dalam sungai telaga.
Suma Tiang-cing adalah saudara angkat ayah Hoa Thianhong,
oleh sebab itu walaupun usia Suma Jin masih muda, ia
berada satu tingkatan dengan Hoa Thian-hong, dan
merekapun saling menyebut saudara dalam tingkat kedudukan
yang seimbang.
Bertemu dengan Hoa Thian-hong, gadis Suma Jin tak dapat
mengendalikan rasa sedihnya lagi, ia menangis tersedu-sedu,
sambil memberi hormat serunya dengan nada pilu:
"0oh....toako..."
Tiba-tiba gadis itu mundur dengan sempoyongan,
kemudian roboh tak sadarkan diri di atas tanah.
Dua orang gadis berkerudung yang ada di sisinya cepat
memburu maju dan memayang Suma Jin yang pingsan.

5
"lkuti aku" kata Hoa Thian-hong kemudian sambil ulapkan
tangannya dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Sewaktu berjalan melewati sebuah serambi, seorang
dayang cantik baju hijau muncul dan memberi hormat,
kemudian berkata:
"Lapor toaya, Lo Taykun ada perintah untuk mengundang
nona Suma masuk ke ruang dalam untuk minum teh!"
Dalam pada itu Suma Jin telah sadar kembali dari
pingsannya, Hoa Thian-hong lantas membawa mereka
mengitari sebuah serambi samping, menembusi sebuah jalan
setapak yang dikelilingi semak dan pepohonan siong yang
rindang, akhirnya masuk ke dalam sebuah bangunan megah.
Didalam bangunan megah inilah Bun Taykun ibu Hoa
Thian-hong berdiam, waktu itu kedua orang istrinya yakni Chin
si atau nama aslinya Chin Wan hong dan Pek-si atau nama
aslinya Pek-Kun-gi menyambut didepan pintu.
Berjumpa dengan kedua ensonya, kembali Suma Jin
merasakan suatu pukulan batin yang keras, ia menjerit:
"Oooh, enso...." untuk kesekian kalinya dara itu menangis
tersedu-sedu dengan sedihnya.
Dua orang nyonya itu jadi terperanjat, cepat mereka
membimbing Suma Jin masuk kedalam ruangan.
Bun Taykun yang sudah beruban rambutnya duduk bersila
di atas sebuah kursi terbuat dari kayu cendana, sebelum
nyonya tua itu buka suara Suma Jin telah menjatuhkan diri
berlutut seraya menangis tersedu-sedu, bagaikan bendungan
yang jebol air matarya jatuh bercucuran membasahi pipi dan
bajunya.

6
"Anak Jin, jangan menangis dulu !" ujar Bun Taykun
dengan wajah setenang-tenangnya "Coba terangkan,
mengapa kau datang kemari dengan mengenakan pakaian
berkabung? Jangan-jangan.."
"Oooh, bibi....!" jerit Suma Jin sambil menangis sedih,
"Ayah dan ibu.. mereka...."
Tiba-tiba gadis itu jatuh semaput lagi.
Toa-hujin (nyonya pertama) Chin Wan-hong segera maju
memayang bangun Suma Jin dan mendudukkan di kursi,
secepat kilat ia menotok tiga buah jalan darah penting
didepan dada gadis itu.
Selang sesaat kemudian, Suma Jin tarik napas panjang dan
sadar kembali dari pingsannya, seorang dayang cantik lari ke
kamar belakang dan mengambil sebutir obat penenang, Chinsi
lantas melolohkan obat tersebut ke mulut dara itu.
Dari sikap serta tindak tanduk yang ditunjukkan Suma Jin
secara lapat-lapat semua orang sudah mendapat firasat jelek,
mereka menduga bahwa keluarga Suma sudah tertimpa
tragedi yang memilukan hati, perasaan hati mereka mulai tak
tenang.
Setelah Suma Jin dapat sadar kembali, Bun taykun nyonya
tua itu barulah bertanya:
"Anak Jin, apa yang telah terjadi? Siapa yang tertimpa
kemalangan? Engkau harus berbicara dengan hati tenang,
hilangkan dulu rasa sedihmu, dan kisahkan apa yang telah
terjadi?"
Suma Jin masih terisak katanya tersendat-sendat:

7
"Ayah dan ibu... mee... mereka berdua...te... telah mati
dibunuh orang....!"
"Apa?!" seru Bun Taykun dengan terperanjat.
Suma Jin menggetarkan bibirnya seperti hendak
mengatakan sesuatu, tapi hanya isak tangis yang kedengaran,
sambil meninju dada sendiri kembali dara itu menangis
menggerung-gerung.
Kendatipun semua orang sudah mendapat firasat bahwa
keluarga Suma telah tertimpa bencana namun setelah berita
itu muncul sendiri dari mulut Suma Jin, tak urung semua
orang terkesiap juga dibuatnya, sekejap mata semua orang
berdiri dengan kepala tertunduk, ditengah keagungan yang
mencekam ruangan itu hanya isak tangis yang kedengaran.
Tiba-tiba Suma Jin meronta bangun, sambil jatuhkan diri
berlutut di hadapan Bun Taykun, keluhnya sambil menangis:
"Ayah dan ibu Jin-ji telah mati dibunuh orang, Jin-ji mohon
sudilah kiranya bibi mengingat hubungan keluarga kami, agar
mengambilkan keputusan bagi keponakan perempuanmu ini!"
Titik air mata jatuh berlinang diatas pipi Bun Taykun yang
keriput, ia menghela napas panjang dan sahutnya:
"Bagaimanapun juga, sakit hati harus dituntut balas, aku
akan mengaturkan tindak pembalasan ini bagimu, cuma...
engkau tak boleh terlalu bersedih hati, karena kepedihan
dapat merusak kesehatan tubuhmu!"
Suma Jin masih tetap menangis, katanya:

8
"Keponakan tak dapat menahan rasa pedih yang serasa
menyayat-nyayat hatiku..."
Air mata mulai mengembang dikelopak mata Hoa Thian
hong, ujarnya pula:
"Adikku, janganlah terlalu bersedih hati, kisahkan dulu apa
yang telah terjadi, setelah kami tahu duduknya persoalan,
akan kami susunkan rencana besar untuk melakukan
pembalasan dendam"
Terkenang kembali kematian yang mengenaskan dari ayah
dan ibunya, Suma Jin merasa hatinya sakit seperti ditusuk
pisau, sambil menahan isak tangisnya ia menyahut:
"lbu tidur dalam kamar belakang sedang ayah tidur di
kamar luar, kedua orang itu dibunuh orang secara bersamaan
dalam semalaman!"
Bun Taykun tidak langsung menanggapi, ia berpikir dalam
hati:
"Kasihan bocah ini, saking sedihnya karena ketimpa
bencana, sampai bicarapun tak karuan..."
Ia menghela nafas panjang, lalu bertanya:
"Kapan terjadinya peristiwa ini??"
"Empat hari berselang!" sahut Suma Jin sambil menyeka air
matanya yang meleleh keluar.
"Apakah di atas layon paman dan bibi terdapat bekas-bekas
luka yang kentara?" tanya Hoa Thian hong,
Sambil menggigit bibir menahan emosi sahut Suma Jin:

9
"Luka-luka itu semuanya berada di atas tenggorokan...
luka... luka itu bekas gigitan yang rata, seakan-akan seperti
digigit oleh sejenis makhluk yang buas"
Bun Taykun berkerut kening, lama sekali dia termenung
lalu baru berkata lagi:
"Kiu-mia-kiam-kek (jago pedang bernyawa sembilan)
merupakan seorang jago lihay yang berilmu tinggi, tak nanti
jenis makhluk buas macam apapun sanggup melukai
tenggorokannya, apalagi sampai merenggut selembar
jiwanya!"
Suma Jin dapat menangkap bahwa dibalik ucapan Bun
Taykun terdapat banyak hal yang patut dicurigai, ia menangis
semakin menjadi.
"Lelayon ayah dan ibu hingga kini belum dikubur..."
rintihnya.
Mendadak seperti teringat akan sesuatu, ia menengadah
dan melanjutkan lagi kata-katanya:
"Oooh iya...pembunuh keji itu meninggalkan sebuah tanda
lambang"
"Apakah tandanya itu?" Bua Taykun cepat bertanya.
Dengan air mata masih bercucuran Suma Jin menjawab:
"Sebuah hiolo kecil yang terbuat dari batu kumala hijau!"
Dia lantas merogoh ke dalam sakunya dan mengambil
keluar sebuah hiolo kecil kumala hijau yang tinggihya dua inci

10
dan lebarnya beberapa inci, indah dan menarik sekali bentuk
serta ukiran benda itu.
Paras muka Bun Taykun, Hoa Thian-hong beserta kedua
orang nyonya yakni Pek-si dan Chin-si segera menunjukkan
perubahan hebat, wajah maupun sikap mereka penuh diliputi
emosi.
Suasana dalam ruangan itu jadi sunyi tak kedengaran
sedikit suarapun, jarum yang jatuhpun mungkin kedengaran
amat jelas!
Bun Taykun berempat hanya bisa saling berpandangan,
delapan buah sorot mata sama-sama tertuju pada hiolo
kumala yang berada ditangan Suma Jin, rasa murung, heran,
bingung, gelisah dan tercengang bercampur aduk dalam
perasaan hati mereka, dapat melihat betapa kalut dan
kacaunya pikiran keempat orang itu.
Suasana serba misterius dan aneh dengan cepat
menyelimuti seluruh ruangan yang sepi itu, mereka yang
merasa tingkat kedudukannya rendah tak berani buka suara
ataupun mengajukan pertanyaan, ini menyebabkan setiap
orang merasa tak tenang, setiap orang merasa tegang dan
memandang serius masalah yang sedang dihadapinya.
Tiba-tiba Suma Jin menangis menjadi semakin menjadi,
katanya sambil menahan isak tangis:
"Apa sebabnya kalian membungkam? Apakah dalam dunia
persilatan dewasa ini, masih ada orang yang ditakuti dan
disegani oleh keluarga Hoa.?"
Makin dipikir gadis itu merasa makin sedih, isak tangis yang
memecahkan kesunyianpun kedengaran makin mengenaskan
hati.

11
Dengan lembut Bun Taykun berkata:
"Nak, engkau tak usah banyak memikirkan soal yang
bukan-bukan, ketahuilah bahwa apa yang telah kujanjikan
selamanya tak akan kuingkari kembali, tadi aku kan sudah
berjanji akan balaskan dendam sakit hati atas kematian ayah
ibumu..."
"0ooh.,.. bibi, beritahu kepadaku, siapakah pembunuh yang
telah membinasakan ayah ibu Jin-ji? Lambang siapakah hiolo
kumala kecil ini....? Bibi jawablah pertanyaanku ini!"
"Suatu tanda yang begini kecil belumlah cukup untuk
membuktikan bahwa pemilik benda inilah pembunuh orang
tuamu, kau harus tahu bahwa manusia dalam dunia persilatan
kebanyakan licik dan banyak tipu muslihatnya, mereka gemar
memutar balikkan duduknya persoalan, maka sebelum urusan
ini dibuktikan sampai jelas, lebih baik tak usah bersikeras
untuk menjatuhkan tuduhan atas diri seseorang!"
"Benar, engkau tak usah terlalu kuatir" Chin Wan-hong,
nyonya pertama menanggapi pula dengan wajah serius,
"setelah dia orang tua berjanji, maka walaupun harus
menghadapi kesulitan macam apapun, dendam sakit hati dari
paman Suma pasti akan dituntut balas!"
Pek Kun-gi, nyonya kedua tiba-tiba berpaling ke arah
suaminya, kemudian bertanya:
"Apakah engkau dapat membuktikan bahwa hiolo kumala
ini adalah barang asli?"
Hoa Thian-hong agak tertegun sesudah mendengar
pertanyaan itu kemudian katanya:

12
"Si-moay, bolehkah kau pinjamkan hiolo kumala itu
padaku?"
Buru-buru sama Jin serahkan hiolo kumala itu kepada
saudaranya, setelah menerima benda itu Hoa Thian-hong
menelitinya dengan seksama, kemudian meletakkan benda itu
di atas sebuah meja kecil.
Mendadak ia gigit jari tengah sendiri sampai robek, darah
segar yang meleleh keluar segera di tampung ke dalam hiolo
kumala tersebut.
Tinggi hiolo kumala itu tak lebih cuma beberapa inci,
dengan sendirinya takaranpun kecil sekali sebentar kemudian
darah segar telah memenuhi isi hiolo tersebut.
Dengan sorot mata setajam sembilu, Hoa Thian-hong
mengawasi hiolo kumala itu tanpa berkedip, rupanya ia
sedang memperhatikan sesuatu yang sangat menarik.
Diantara sekian banyak orang yang hadir dalam ruangan
itu, hanya Hoa Thian-hong seorang yang mengenal sifat dan
keistimewaan hiolo kumala itu, Bun taykun sendiripun tak tahu
maka ketika melihat ia penuhi hiolo tersebut dengan darah,
semua orang lantas menunjukkan wajah tercengang dengan
tatapan mata tak berkedip mereka awasi terus hiolo kumala
kecil itu.
Lama... lama sekali... hiolo kumala itu masih tetap
berwarna hijau tua, sama sekali tidak menunjukkan perubahan
apapun, namun paras muka Hoa Thian hong makin lama
semakin memucat akhirnya sekujur badannya ikut gemetar
keras.
Kiranya pada permukaan bagian luar dari hiolo kumala itu
munculah beberapa baris titik merah yang makin lama

13
semakin nyata, oleh karena Hoa Thian hong menghadapkan
bagian yang bertitik merah itu ke hadapannya sendiri, tentu
saja kecuali dia seorang, orang lain tidak berhasil menemukan
sesuatu apapun.
Setelah sekian lama dibiarkan, garis-garis merah yang
timbul diluar permukaan hiolo tersebut makin kelihatan jelas,
dan akhirnya terbawalah empat baris syair dengan masingmasing
baris terdiri dari lima buah huruf.
Tentu saja huruf-huruf merah itu kecil sekali, sebab
hiolonya sendiri cuma beberapa inci, dengan sendirinya tulisan
pada permukaannyapun jauh lebih lembut.
Kendatipun begitu, huruf-huruf yang kecil itu bukan suatu
hitungan bagi Hoa Thiia-hong untuk membacanya, dengan
tenaga dalam yang sempurna dia memiliki pula ketajaman
mata yang melebihi orang lain, mata terbacalah tulisan
tersebut berbunyi demikian:
"Bibit cinta adalah kebencian, pedang mustika menghibur
hati yang duka, setitik air mata kepedihan, kutitipkan pada
orang yang tak setia pada cinta."
Membaca isi bait syair tersebut, Hoa Thian hong tak dapat
mengedalikan kepedihan hatinya lagi, dua titik air mata jatuh
berlinang membasahi pipinya, ia bergumam:
"Setitik air mata kepedihan, kutitipkan pada orang yang tak
setia pada cinta..."
"Blaaanng!" mendadak ia menghantam meja kecil itu keraskeras
sehingga hiolo kumala itu mencelat ke udara, darah
segar yang berada dalam hiolo itupun berhamburan ke empat
penjuru dan menodai sekujur badan Hoa Thian-hong.

14
Semua orang terperanjat sementara Chin-Wan hong dan
Pek Kun-gi segera menghampiri suaminya dan menghibur
dengan kata-kata yang lirih.
Hoa Thian-hong ulapkan tangannya mencegah ke dua
orang istrinya buka suara, dia alihkan sorot matanya ke wajah
ibunya, sementara rasa gugup bercampur menyesal menghiasi
raut wajahnya.
Dengan sorot mata dalam Bu Taykun menatap wajah
putranya, kemudian seraya menggelengkan kepala ia berkata:
"Engkau tak usah gelisah ataupun terbawa oleh emosi,
akan kuatur sendiri semua persoalan ini hingga beres!"
Dengan sedih Hoa Thian-hong tundukkan kepala, lalu
menghela napas panjang.
Seorang dayang cantik baju hijau muncul dari ruang dalam
dengan membawa satu stel baju baru, kemudian melayani
majikannya untuk menggantikan baju yang ternoda oleh darah
itu dengan pakaian yang baru.
Sementara itu, suasana dalam ruangan tercekam kembali
dalam kesunyian, tak kedengaran sedikit suarapun disana, Bun
Taykun duduk sambil memejamkan mata, ditengah
keheningan semua orang-orang terbuai oleh jalan
pemikirannya masing-masing, siapapun tak berani buka suara
untuk mengacaukan suasana disaat itu.
Tiba-tiba Suma Jin meraba hatinya dingin separuh, suatu
perasaan hampa dan kecewa yang aneh dari dasar lubuk
hatinya dan menyelimuti seluruh perasaan hati dara itu.
Dahulu ia menganggap Hoa Thian-hong dan ibunya lebih
agung dan lebih hebat dari malaikat dalam anggapannya

15
kelihayan Hoa Thian-hong dan ibunya sudah mencapai puncak
yang tak terhingga sehingga siapapun tak akan berani
mengusik mereka.
Maka tatkala ayah dan ibunya dibunuh orang, tidak
menunggu sampai layon mereka dikebumikan, gadis itu
segera berangkat ke perkampungan Liok-soat san-ceng.
Dalam pikirannya, asal ia dapat berjumpa dengan Hoa
Thian-hong berdua niscaya sakit hati kematian orang tuanya
bakal terbalas.
Tapi sekarang ia mulai sangsi, ia mulai merasa bahwa
duduknya persoalan tidak segampang apa yang diduga semula
meskipun untuk sesaat ia belum dapat menebak sebab
musababnya tapi secara lapat-lapat dara itu sudah mempunyai
suatu perasaan, suatu firasat bahwa soal pembalasan dendam
akan mengalami banyak kesulitan, tidak semudah dan
selancar apa yang diduganya semula.
Tiba-tiba Bun Taykun membuka matanya kembali, setajam
sembilu sinar mata nyonya tua itu, ujarnya dengan lambat:
"Aaak Jin, tahukah engkau sampai dimana akrabnya
hubungan kekeluargaan antara keluarga Hoa kami dengan
keluarga Suma kalian??"
Suma Jin agak tertegun, lalu sahutnya agak gelagapan:
"Keponakan hanya tahu bahwa ayah dan empek Hoa
adalah saudara sehidup semati!"
"ltu berarti hubungan mereka sudah melampaui hubungan
antara sesama saudara kandung bukan?" sambung Bun
Taykun dengan suara dalam, sesudah berhenti sebentar,
ujarnya pula:

16
"Tiga puluh tahun berselang, golongan lurus dan golongan
sesat telah mengadakan suatu pertemuan besar di Pak-benghwe,
dalam pertarungan yang kemudian terjadi banyak jago
silat dan kaum pendekar dari golongan lurus yang menemui
ajalnya, termasuk pula empek Hoa mu, dia tewas dalam
pertempuran yang amat seru itu!"
Menyinggung kembali peristiwa lama, semua anggota
keluarga Hoi jadi bersedih hati, air mata jatuh bercucuran,
kaum wanitanya malahan menahan isak tangis.
Terdengar Bun Taykun berkata lebih jauh:
"Pada waktu itu, aku dengan menahan rasa sedih dan benci
menerjang keluar dari kurungan musuh, dan selanjutnya
selama sepuluh tahun belakangan bersama Hoa toakomu
berdiam dibukit Hu ou san, di sana kami hidup mengasingkan
diri, setiap hari kerjanya hanya melatih dari dengan tekun dan
rajin. Belasan tahun kemudian kami baru muncul kembali di
dunia persilatan, sekali lagi kami bertarung melawan golongan
sesat dan golongan hitam, Akhirnya setelah melampaui
pertarungan di lembah Cu bu kok, kaum lurus dan golongan
pendekar dapat menongol kembali dalam dunia persilatan...."
(Untuk mengetahui cerita tersebut, silahkan membaca cerita
silat yang berjudul: Bara Maharani, disadur oleh penyadur
yang sama).
"Keponakan sudah seringkali mendengar ayah
menceritakan tentang kegagahan dan kehebatan bibi serta
Hoa toako, sewaktu ayah masih hidup, beliau paling
mengagumi kalian berdua" ujar Suma Jin dengan pedih.
Bun Taykun tertawa ewa: "Kata kagum lebih baik tak usah
kau singgung lagi. Aku bercerita demikian adalah berharap
agar engkau mengerti bahwa keluarga Hoa bukanlah keluarga

17
yang melupakan mana budi mana dendam, dimana kebenaran
itu harus ditegakkan kami berani pertaruhkan jiwa dan raga
kami untuk membangunnya kembali, ketahuilah aku dan Hoa
toakomu bukan manusia-manusia sebangsa kurcaci yang takut
menghadapi kematian"
"Tentang soal ini, keponakan telah mengetahuinya" kembali
Suma Jin mengangguk.
"Kalau engkau sudah tahu itu lebih bagus lagi" ujar Bun
Taykun dengan serius "Sekarang aku ingin bertanya padamu,
engkau berharap kami yang balaskan dendam bagimu,
ataukah kau sendiri yang akan membalaskan dendam bagi
kematian orang tuamu? ambillah keputusan yang tegas!"
"Keponakan..." Gadis she Suma ini tak sanggup
melanjutnya lagi, air matanya bercucuran dengan derasnya.
Bun Taykun melanjutkan ucapannya: "Dengarkan dulu
ucapanku hingga selesai, Bila kau berharap agar kamilah yang
membalaskan dendam bagimu, maka dalam satu tahun
mendatangi aku akan bertanggung jawab untuk serahkan
batok kepala pembunuh itu kepadamu, sebaliknya bila kau
ingin membalas sendiri dendam sakit hati orang tuamu itu,
maka engkau harus mengikuti aku selama tiga tahun. Dalam
dua tahun yang pertama, akan kuwariskan semua silatku,
kemudian pada setahun yang terakhir engkau belajar pedang
dari Hoa toakomu, setelah tiga tahun melatih diri, aku
tanggung ilmu silat yang kau miliki pasti jauh di atas
kepandaian pembunuh itu, dan soal membalas dendam
hanyalah suatu, pekerjaan yang sangat mudah!"..
Mendengar ucapan tersebut, tanpa berpikir panjang lagi
Suma Jin menyahut:

18
"Dendam sakit hati orang tua lebih dalam samudra, hidup
sebagai putri manusia, siapa yang tak ingin membalas sendiri
sakit hati orang tua..? Keponakan rela mengikuti bibi selama
tiga tahun, keponakan ingin manfaatkan waktu yang ada
untuk memperdalam ilmu silat kemudian akan kubunuh musuh
besarku dengan tanganku sendiri"
"Bagus! bagus ! Anak baik, kau punya semangat" puji Bun
Taykun dengan senyum dikulum "mulai sekarang engkau
harus dapat mengendalikan emosi, simpanlah rasa sedihmu itu
dalam-dalam pusatkan semua perhatian dan pikiran untuk
berlatih ilmu, akulah yang akan mengatur segala sesuatunya
bagimu"
Suma Jin mengiakan berulang kali, dia lantas jatuhkan diri
berlutut dan mengucapkan rasa terima kasihnya karena akan
diberi didikan ilmu silat.
Terdengar Bun Taykun berkata lagi:
"Selama beberapa hari ini kau selalu dicekam oleh
kesedihan, apalagi harus menempuh pula perjalanan jauh
untuk datang kemari, sekarang pergilah untuk beristirahat,
jangan biarkan badanmu diserang oleh penyakit yang akan
melemahkan diri sendiri"
Lalu sambil berpaling pada cucu laki dan cucu
perempuannya, ia menambahkan:
"Kalian semua boleh segera mengundurkan diri, temani bibi
Jin untuk pergi beristirahat"
Mendengar perkataan itu, terpaksa Suma Jin harus mohon
diri untuk berlalu dari sana, sementara Hoa Thian hong
dengan memimpin adik-adiknya mengundurkan diri pula untuk
menemani Jin kokohnya.

19
Sepeninggalnya beberapa orang itu, dalam ruangan tinggal
Bun Taykun, Hoa-Thian-hong, kedua orang hujinnya serta
dayang cantik baju hijau itu.
Tampak Bun Taykun termenung beberapa saat lamanya,
tiba-tiba ia menghela napas panjang dan bergumam:
"Agaknya beban yang amat berat ini terpaksa harus
dilimpahkan di atas bahu loji!"
"Ibu...." Chin Wan hong berseru tertahan, tampaknya ia
terkejut oleh keputusan ibu mertuanya.
Bun Taykun menatap sekejap pada menantunya lalu
berkata lagi:
"Kecuali berbuat demikian, rasanya tiada jalan lain yang
lebih baik, yaa.... apa boleh buat ?"
Paras muka Chin Wan hong diliputi kemurungan, ia melirik
sekejap ke arah suaminya, waktu itu Hoa Thian hong
sendiripun tampak sangat murung, maka sorot matanya
dialihkan kembali ke arah ji hujin Pek Kun gi.
Waktu itu Pek Kun-gi sedang duduk menjublak di atas
kursinya, seperti disambar guntur disiang hari bolong, nyonya
cantik itu duduk termangu air matanya seperti layang-layang
putus benang meleleh membasahi pipinya yang halus.
"Panggil ji-kongcu untuk menghadapi" kembali Bun Taykun
berseru dengan suara dalam.
Dayang cantik baju hijau itu mengiakan. ia lantas
mengundurkan diri dari ruangan tersebut

20
"lbu!" kata Pek Kun-gi kemudian sambil menahan isak
tangisnya, "Anak Liong nakal dan tak bisa bekerja, kalau
biarkan dia berkelana seorang diri dalam dunia persilatan,
apa...apakah tidak terlalu berbahaya?"
Bun Taykun menghela napas panjang:
"Aaai...! Ketika Thian-hong mulai berkelana dalam dunia
persilatan tempo hari, ia baru berusia enam-tujuh belas
tahunan, sedang Liong-ji kendatipun nakal dan tak tahu
aturan, tapi dengan usianya sekarang sudah sepantasnya
untuk berkelana dalam dunia persilatan serta melakukan
beberapa buah perbuatan mulia untuk kepentingan umat
manusia"
"Apakah dalam persoalan ini tak dapat diwakilkan kepada
menantu saja untuk diselesaikan?" pinta Pek Kun gi.
"Aaai....! Bila engkau dapat menyelesaikan persoalan ini,
berarti aku pun bisa menyelesaikan pula masalah ini bukan
begitu?"
Air mata bercucuran makin deras dipipi Pek Kun gi, ia
berpaling ke arah suaminya dan menatapnya dengan penuh
permohonan.
Hoa Thian hong menggerakkan bibir ingin mengucapkan
sesuatu, tapi niat tersebut akhirnya dibatalkan dan kepalanya
tertunduk rendah-rendah, meskipun ia merasa berat hati
untuk melepaskan putranya pergi, tapi apa boleh buat?
Tiba-tiba dayang cantik baju hijau itu masuk kembali ke
dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa, katanya:

21
"Lapor Lo Taykun, ji kongcu tidak berada dalam
perkampungan budak telah mengutus orang untuk keluar
kampung mencari jejaknya"
"Apa nona-nona sekalian ada didalam perkampungan?"
tanya Bun Taykun setelah berpikir sebentar dengan dahi
berkerut:
"Semua nona berada dirumah!"
Bun Taykun kembali terpikir lalu katanya lagi: "Di lembah
bukit sebelah selatan tinggal sekeluarga pemburu mereka
mempunyai seorang anak perempuan yang bernama...."
"Ji- kongcu sudah tidak bermain lagi dengan nona itu"
cepat dayang cantik baju hijau itu menukas "Walau begitu
budak telah mengutus orang untuk mencarinya kesitu!"
"Apakah dia punya kenalan nona-nona cantik diluar bukit?"
tanya Wan-hong mendadak.
"Ada memang ada, cuma Ji- kongcu jarang pergi mencari
mereka, adalah nona nona itu yang sering datang
mengganggu Ji-kongcu!"
"Blaanng.,.!" tiba-tiba terdengar suara meja di pukul keraskeras,
menyusul Hoa Thian-hong berseru gemas:
"Binatan cilik, benar-benar bikin hatiku jadi keki!"
Semua orang dibikin terperanjat oleh tindakan tersebut,
Bun Taykun menatap putranya sekejap dengan pandangan
dingin, dibalik sinar matanya itu penuh mengandung nada
menegur:

22
Hoa Thian-hong merasa sangat tak enak hati, dengan
tundukkan kepalanya ia memohon maaf:
"Ananda telah hilaf, harap ibu jangan marah!"
Bun Taykun mendengus dingin, sorot matanya beralih
kembali ke wajah Chin Wan-hong, katanya kemudian:
"Aku punya rencana untuk mengutus Liong-ji segera
berangkat, ambillah kaus kutang pelindung badan itu."
Chin Wan-hong tampak tertegun, tapi ia segera beranjak
seraya menyahut:
"Menantu terima perintah!"
Diapun mengundurkan diri dari ruangan itu, sepeninggal
Chin-si, Pek Kun-gi juga berkata:
"Ibu, menantu ingin membenahkah sedikit bekal untuk
anak Liong, sebentar aku kembali lagi kesini"
"Cepatlah pergi dan cepat kembali kesini" sahut Bun
Taykun sambil ulapkan tangannya, "berkelana dalam dunia
persilatan berbeda dengan melakukan perjalanan untuk
melancong, sebilah pedang yang tajam sudah lebih dari
cukup!"
Pek Kun-gi mengiakan berulang kali, diapun berlalu dari
ruangan tersebut.
Sementara itu Hoa Thian-hong sudah termenung beberapa
saat lamanya, tiba-tiba ia berkata kepada ibunya:
"lbu, Liong-ji terlalu romantis dan suka pelesiran, ia nakal
dan lagi susah dididik...."

23
Mendadak ia temui paras muka ibunya agak tidak beres,
maka kata selanjutnya lantas ditelan kembali
Dengan dingin Bun Taykun berkata:
"Kejadian yang ada didunia ini ibaratnya orang yang
bermain catur, seringkali tanpa diminta seseorang akan
mengalami kejadian yang sama sekali diluar dugaan.
Bayangkan sendiri dengan tabiatmu yang polos dan
sederhana, toh setiap kali menghadapi kejadian yang hebat
maka urusan dapat kau selesaikan dengan sendirinya? itulah
sebabnya aku berani mengutus Liong-ji untuk menyelesaikan
persoalan ini, karena sampai dimanakah kemampuan Liong-ji,
kita kan tak dapat menerka sebelumnya??"
Hoa Thian-hoag menghela nafas panjang.
"Aaaaii.... ! Bagaimanapun juga, ananda selalu merasa
bahwa kecerdikan binatang itu ada batasnya, ketebalan
imannya masih kurang teguh dan dia bukan seorang yang
berbakat untuk diserahi tugas berat, aku kuatir kalau dia tak
akan mampu untuk memikul beban seberat ini"
"Aaaai! sekalipun tak mampu untuk memikulnya, dia harus
memikulnya juga!" sahut Bun Tay kun dengan suara dalam,
keresahan terlintas di atas wajahnya.
Hoa Thian hong tertegun, katanya lagi dengan tergagap:
"Ananda tetap merasa, lebih baik ananda sendiri yang
menyelesaikan persoalan ini...."
Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya dengan
wajah sedingin salju Bun Taykun, telah mendengus dingin,

24
dengan ketakutan buru-buru Hoa Thiau-hong membungkam
dan tundukkan kepalanya.
Melihat keadaaan puteranya, Bun Taykun kembali
menghela nafas panjang, kepada dayang cantik berbaju hijau
itu katanya :
"Ambilkan kotak kayu cendana itu!!"
"Baik..." jawab sang dayang dengan cepat.
ia lari masuk ke dalam ruangan, selang sesaat kemudian
muncul kembali dengan membawa sebuah kotak kayu
cendana warna merah dan diletakkan dihadapan Bun Taykun.
Menyusul kemudian toa-hujin Chin Wan-hong masuk ke
dalam ruangan dengan membawa kaos kutang pelindung
pedang, dan akhirnya Pek hujin masuk dengan membawa
sebilah pedang antik yang panjangnya empat depa.
Bun Taykun lantas berkata lagi kepada dayang baju hijau
itu:
"Perbanyak orang-orang yang melakukan pencarian,
sebelum matahari tenggelam di langit barat, Ji kongcu sudah
harus ditemukan!"
Dayang baju hijau itu mengiakan, buru-buru ia berjalan
keluar dari ruangan tersebut.
Keheningan kembali mencekam seluruh ruangan itu, empat
orang duduk membungkam di sana sambil menunggu Jikongcu
Hoa yang kembali.

25
Suasana dalam ruanganmu ibaratnya gendewa yang sudah
ditarik hingga menegang, begitu sesaknya hingga sukar
digunakan untuk bernapas.
Mendadak Hoa Thian-hong buka suara keras sekali
nadanya:
"Bagaimanapun juga, aku tetap beranggapan bahwa
binatang cilik itu kurang cerdik, susah untuk diserahi tugas
seberat ini"
Chin Wan hong berpaling dan memandang mertuanya, lalu
berkata dengan suara lirih:
"Apa salahnya kalau kita utus anak Si saja ? Ibu, Si ji
adalah putra sulung kita, usianya jauh lebih tua, sepantasnya
kalau dia kita kirim untuk mencari pengalaman.
"Kalian hanya tahu satu tak tahu dua, latar belakang yang
menyelimuti masalah ini sebetulnya sangat ruwet dan sukar
diraba dengan kata-kata, meskipun Si-ji lebih tua dan lebih
matang, tapi kurang cekatan menghadapi setiap perubahan,
jika kita suruh dia yang memikul tugas ini, maka keadaannya
akan jauh lebih berbahaya lagi"
Suara langkah manusia berkumandang dari luar kamar,
menyusul seseorang berseru dengan nyaring:
"Nek! Nek....! Engkau yang mencari aku? Liong-ji sudah
pulang..."
Seorang pemuda tampan dengan jubah warna hijau dan
menggoyangkan sebuah kipas muncul dalam ruangan itu,
senyum manis tersungging di ujung bibirnya.

26
Pemuda tampan ini tak lain adalah putra kedua dari Hoa
Thian hong yang bernama Hoa Yang dengan nama kecil Inliong,
seharian dipanggil Liong-ji atau anak Liong, tahun ini
berusia delapan sembilan belas tahunan, dibandingkan
toakonya Hoa Si, lebih mudah dua tahun.
Semuanya Hoa thian hong mempunyai tiga orang putra dan
dua orang putri, Putra sulung, putra bungsu dan dua orang
putrinya dilahirkan oleh Chin Wan-hong istri pertamanya,
sedangkan putranya kedua In-Liong dilahirkan oleh Pek kun gi
istrinya yang kedua.
Semasa masih muda, Pek Kun-gi adalah seorang dara yang
cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, bahkan terkenal
sebagai Bu-lim-tit-it-bi-jin atau, perempuan yang tercantik di
dunia persilatan.
Hoa-In-liong dilahirkan oleh ibunya yang cantik, tak heran
kalau wajahnya tampan dan memiliki daya pesona yang
gampang membuat orang jatuh hati kepadanya.
Bun Taykun tersohor karena memiliki peraturan rumah
tangga serta sistim pendidikan yang ketat dan keras sedang
Hoa Thian hong adalah lelaki yang jujur, bijaksana dan sangat
berbakti pada orang tuanya.
Putranya yang sulung Hoa Si merupakan seorang pemuda
pendiam yang lebih mirip dengan watak ayahnya, putranya
yang bungsu Hoa Wi baru berusia empat belas tahun,
meskipun merupakan kesayangan semua orang, namun tiap
gerak geriknya harus pula menurut aturan.
Sedangkan mengenai nona-nona lainnya, oleh karena
merupakan kaum hawa, maka dapat dibayangkan betapa

27
ketatnya mereka harus mengikuti peraturan dan pendidikan
kampung.
Hanya Hoa In liong seorang yang tak pernah dikekang,
semenjak kecil ia sudah suka pelesir dan bermain sebebasbebasnya,
ia tak mengenal apa artinya peraturan serta
larangan, setelah menginjak dewasa, sifatnya jadi amat
romantis, seringkali ia terbitkan keonaran di sana sini, main
perempuan ganti pacar sudah merupakan acara tetapnya
setiap hari.
Tentu saja wataknya ini sangat tidak serasi dengan cara
berpandangan serta sistim pendidikan yang diterapkan nenek
serta orang tuanya, baik Bun Taykun sendiri maupun Hoa
Thian-hong suami istri telah berusaha dengan segala daya
upaya untuk merubah sifat romantisnya ini namun usaha
tersebut selalu sia-sia belaka.
Hanya untungnya walaupun ia romantis dan suka berganti
pacar, pada hakekatnya tidak cabul dan melanggar tata
kesopanan, maka meskipun wataknya tak disukai orang
tuanya, dari pihak orang tuapun tak bisa berkutik terhadap
putranya ini.
Dengan begitu, lama kelamaan wataknya ini jadi suatu
kebiasaan, suatu kebiasaan yang merupakan "Trade mark"
dari Hoa In-liong.
Sementara itu dengan wajah berseri-seri Hoa In- liong
berjalan masuk ke dalam ruangan, tapi tiba-tiba ia merasa
gelagat tidak beres, ditemuinya bekas air mata masih menodai
wajah ibunya diam-diam ia terkejut.
Sambil jatuhkan diri berlutut, serunya kemudian: "Liong-ji
menghujuk hormat untuk nenek!"

28
"Bangun!" kata Bun Taykun hambar.
Hoa In-liong makin gugup, ia putar badan dan memberi
hormat kepada Hoa Thian-hong:
"Liong-ji memberi hormat untuk ayah!"
Hoa Thian-hong ulapkan tangannya tanpa menjawab.
Maka Hoa In-liong pun berpaling ke arah Chin si hujin
sembari memanggil:
"lbu !"
Air mata masih mengembang dalam kelopak mata Chin-si
hujin, ujarnya dengan lembut:
"Anak Liong, kau tentu lelah bukan ? Duduk dan
beristirahatlah sebentar.,."
Hoa In-liong mengiakan, dia melangkah maju dan berdiri
disamping ibunya, sementara sinar mata yang tajam menyapu
sekejap kaus kutang mustika, pedang mustika beserta hiolo
kumala yang masih berisi darah segar di atas meja kecil.
Selang sesaat kemudian, ia baru bertanya dengan lirih:
"Ibu, persoalan apakah yang telah membuat hatimu jadi
sedih, apakah ananda telah melakukan keonaran lagi??"
Ji-hujin Pek Kun-gi menggeleng, ucapnya tersendat:
"Kau jangan ribut dulu, nenek ada perkataan hendak
disampaikan kepadamu....!" Berbicara sampai di situ, tak
kuasa lagi dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajah
nya.

29
Terdengar Bun Taykun berkata dengan serius:
"Liong-ji, tahukah kau bahwa keluarga Suma siok-ya mu
dikota Lam-yang-hu telah tertimpa bencana besar??"
Hoa In-liong terkejut, capat ia menggeleng.
"Liong-ji tak tahu, waktu itu ananda sedang bersama-sama
seorang teman di puncak bukit sebelah belakang, ananda
dengar Tiong Liau..."
"Panggil Lo-koan-keh!" bentak Hoa Thian-hoig penuh
kegusaran.
"Baik!" capat Hoa In-1iong menyahut dengan lirih, "ananda
dengar lo-koan-keh memanggil ananda untuk pulang, maka
Liong-ji pun lantas pulang ke rumah, sepanjang perjalanan
tidak kutemui siapapun, karenanya tidak tahu pula apa yang
sebetulnya telah terjadi"
Berbicara sampai disitu, kebetulan dayang cantik baju hijau
itu sedang masuk ke ruangan, cepat Hoa In-liong alihkan sorot
matanya ke arah dayang itu dengan tatapan ingin tahu apa
gerangan yang terjadi ditempat tersebut.
Tentu saja dayang baju hijau itu tak berani menanggapi
pertanyaannya, cepat kepalanya ditundukkan.
"Kau berlutut lebih dulu!" tiba-tiba Hoa Thian hong
membentak dengan suara berat, "nenek hendak memberikan
sesuatu padamu!"
Paras muka Hoa In-liong berubah hebat, dengan agak takut
ia maju ke muka lantas jatuhkan diri berlutut di atas tanah.

30
Agaknya Bun Taykun sedang merasakan suatu kepedihan
yang tak terkatakan, lama sekali ia murung sebelum akhirnya
menghela napas dan berkata:
"Liong-ji, ingatlah baik-baik! Suma siok-ya serta siok-cu-bo
mu itu telah dibunuh orang dikala sedang tertidur nyenyak,
mulut lukanya berada di tenggorokan dengan bekas gigitan
yang nyata, agaknya mereka mati digigit oleh sejenis makhluk
binatang"
"Aaah.,. jadi ada peristiwa seperti ini?" seru Hoa In-liong
sambil berkerut kening, "bukankah Suma siok-ya adalah
seorang tokoh persilatan yang punya nama besar selama
puluhan tahun, dengan ilmu silat yang dimilikinya jarang sekali
ada orang yang bisa menandingi kehebatannya lagi"
Tidak menunggu pemuda itu menyelesaikan kata-katanya
Bun Taykun segera menukas dengan dingin:
"Ketahuiah di atas langit masih ada langit, di atas manusia
yang pintar masih ada manusia yang lebih pintar, kata-kata
tanpa tandingan merupakan suatu perkataan yang terlalu
berlebihan!"
Ji-hujin Pek Kun-gi cepat menambahkan:
"Liong-ji, didalam dunia yang amat lebar ini, manusia pintar
tokoh lihay banyaknya sukar dihitung dengan jari tangan, apa
yang kau lihat dalam dunia persilatan tak lebih hanya
merupakan sebagian kecil saja, dan sebagian kecil yang kau
lihat belumlah mencakup keseluruhannya, bila di kemudian
hari berkelana dalam dunia persilatan, kata-kata tersebut
haruslah kau ingat selalu di dalam hati!"
"Lioag-ji akan mengingatnya selalu!" sahut Hoa In-Uong
seraya mengangguk.

31
Setelah berhenti sebentar, dengan kening berkerut ujarnya
lagi:
"Menurut apa yang Liong-ji ketahui Suma siok ya bukanlah
seorang manusia sembarangan, paling sedikit ia memiliki ilmu
silat yang bisa digunakan untuk membela diri, makhluk
binatang apakah yang dapat mencelakai jiwanya? Benar-benar
satu kejadian yang aneh!"
"Yaa.... api mau dikata bila kenyataan mengatakan
demikian ? sekalipun tidak percaya, terpaksa kita harus
mempercayainya juga, apalagi apa yang kita ketahui justru
diceritakan sendiri oleh Jin kokoh mu!"
"Sekarang Jin kokoh berada dimana?" tanya si anak muda
itu kemudian dengan muka tercengang.
"Sekarang dia berada dalam kampung kita, oleh sebab
kesedihan yang mencekam hatinya sudah terlampau
mendalam, kuperintahkan dirinya untuk pergi beristirahat"
Hoa In-liong mengerutkan dahinya, dengan pandangan
yang tajam ia melirik sekejap ke arah Hiolo kumala hijau di
atas meja.
Sebelum pemuda itu buka suara, Bun Taykun telah berkata
lebih dahulu:
"Hiolo kumala itu adalah tanda yang ditinggalkan
pembunuh Suma-siok-yamu, bila ingin menyelidiki jejak dari
pembunuh tersebut maka benda itulah merupakan satusatunya
pertanda yang bisa kau selidiki".
Hoa Thian hong mengambil hiolo kumala itu dan diletakkan
di atas tangannya, kemudian berkata pula:

32
"Benda ini adalah sebuah hiolo kecil yang terbuat dari batu
kumala hijau, ingat saja bentuknya didalam hati, tak usah kau
bawa serta benda tersebut."
Mendengar perkataan itu kembali Hoa In-liong
mengerutkan dahinya, diam-diam berpikir dihati:
"Kalau toh aku Hoa Yang yang bakal diutus untuk
melakukan penyelidikan atas terjadinya peristiwa pembunuhan
ini, sepantasnya kalau hiolo kumala hijau itu diserahkan
kepadaku, atau paling sedikit aku diberi kesempatan untuk
memeriksanya dengan seksama...."
Sebagaimana telah kita ketahui, diatas permukaan hiolo
kumala hijau itu terukir empat bait syair Hoa Thian-hong tak
ingin putranya mengetahui isi syair tersebut, maka selesai
berbicara dia lantas ambil keluar secarik sapu tangan dan
membungkus hiolo kecil itu dengan hati-hati.
Hoa In-liong bukan seorang manusia bodoh, tentu saja ia
dapat menebak bahwa dibalik kejadian itu tentulah ada hal-hal
yang tidak beres, namun ia tidak memaksa lebih jauh, kemala
neneknya ia berkata:
"Nek ada urusan apakah nenek mengundang kedatangan
Liong-ji kemari? Apakah nenek suka menerangkan?"
Bun-Taykun menghela napas panjang, sahutnya:
"Keluarga Suma telah tertimpa bencana besar, menurut
pandanganmu, apa yang harus dilakukan oleh orang-orang
keluarga Hoa kita untuk mengatasi masalah ini?"
Tanpa berpikir panjang Hoa In-liong menjawab:

33
"Dendam terbunuhnya orang tua lebih dalam dari samudra,
apa bila Jin kokoh punya semangat, dia pasti berharap akan
membunuh pembunuh tersebut dengan tangannya sendiri
sehingga sakit hati ini bisa terlampiaskan...!"
"Jin kokoh-mu memang bermaksud begitu"
"Kalau toh memang begitu, sudah sepantasnya kalau nenek
menahannya untuk berdiam di sini serta mewariskan beberapa
macam ilmu silat kepadanya, agar ia mempunyai kekuatan
untuk membalas dendam dan membinasakan pembunuh
besarnya itu, hanya saja..."
Tiba-tiba pemuda itu membungkam.
"Hanya saja kenapa?" tanya Bun Taykun dengan nada ewa.
Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak lalu
menjawab:
"Sekalipun membinasakan pembunuh keji itu adalah tugas
dan kewajiban dari Jin kokoh, bagaimanapun juga sudah
sepantasnya kalau kita orang-orang keluarga Hoa
menyumbangkan pula segenap tenaga dan pikiran untuk
membantu bibi untuk melaksanakan pembalasan dendam ini,
dengan begitu kitapun tidak sampai menyia-nyiakan hubungan
antar kekeluargaan yang telah dipupuk selama ini"
Perlahan-lahan Bun Taykun mengangguk:
"Aku sendiripun mempunyai pendapat demikian" katanya,
"atau paling sedikit kita harus melakukan penyelidikan lebih
dulu siapakah pembunuh keji tersebut, dengan begitu bila Jin
kokoh-mu akan melakukan pembalasan dendam di kemudian
hari, diapun tak usah kelabakan untuk mencari tahu siapa
gerangan musuh besarnya"

34
Tiba-tiba Hoa Thian-hong menyela dengan ketus.
"Nenekmu dan aku telah mengambil keputusan engkaulah
yang akan kami utus untuk memikul tugas berat ini, kaulah
yang harus melakukan penyelidikan siapakah pembunuh yang
telah melakukan pembunuhan secara demikian kejinya ini"
Hoa In-liong mengerutkan kening, dalam hati ia berpikir:
"Peristiwa ini sungguh aneh dan mencengangkan hati....aku
tak tahu duduknya perkara, darimana bisa melakukan
penyelidikan..."
Rupanya Pek-si hujin atau Pek Kun-gi mengetahui kesulitan
putranya, cepat ia menimbung:
"Liong-ji, bila engkau menjumpai hal-hal yang menyulitkan,
katakan saja kepada nenek, siapa tahu kalau nenek akan
merombak kembali semua rencana besarnya"
Bisa dimaklumi betapa erat dan akrabnya hubungan antara
anak dan ibu, apalagi anak kandung yang keluar dari rahim
sendiri, tidak heran kalau Pek Kun-gi amat menyayangi putra
tunggalnya ini.
Hoa In-liong tidak langsung menjawab, dalam hati ia
berpikir:
"Berbicara menurut aturan, semestinya neneklah yang
harus turun tangan sendiri untuk melakukan penyelidikan,
apalagi dalam adanya nenek dan ayah, aku Hoa Yang masih
jauh ketinggalan dengan kehebatan toako, tapi... Apa
sebabnya bukan yang diutus untuk melakukan tugas ini,
melainkan pilihan terjatuh pada aku Hoa Yang? Sudah pasti
dibalik kesemuanya ini ada hal-hal yang lebih mendalam

35
artinya" terpikir sampai disitu, mendadak dia berkata dengan
lantang:
"lbu, tahun ini Liong-ji sudah meningkat dewasa, sudah
sepantasnya kalau Liong-ji mendapat tugas untuk
melaksanakan pekerjaan yang sungguh-sungguh karena
dengan begitu maka pengalaman dan pengetahuan Liong-ji
pasti akan peroleh banyak kemajuan".
Ji-hujin Pet-Kun-gi menggerakkan bibirnya seperti hendak
mengatakan sesuatu, namun niat itu akhirnya dibatalkan
perempuan tersebut tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, air
mata tampak mengambang dalam kelopak matanya dan
perlahan-lahan meleleh ke bawah.
Bun Taykun mendehem ringan, mendadak serunya dengan
suara lantang:
"Liong-ji, dengarkan baik-baik perkataanku"
"Katakanlah nenek, cucunda akan mendengarkannya
dengan seksama!"
Dengan wajah serius, Bun Taykun berkata:
"Dua puluh tahun berselang! dalam dunia persilatan
terdapat seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dia
she Ku bernama Ing-Ing, orang persilatan menyebutnya
sebagai Giok-teng hujin (nyonya hiolo kumala), benda hiolo
kecil yang terbuat dari batu kumala hijau itu tak lain adalah
tanda pengenal miliknya.
"Asal nama dan she-nya sudah diketahui, persoalan ini
tentunya lebih gampang untuk diselesaikan" seru Hoa In-liong
tanpa terasa dengan semangat berkobar.

36
"Hmmm! Kalau persoalannya semudah ini, tak nanti kami
utus dirimu untuk melakukan penyelidikan" kata Bun Taykun
dengan ketus, "justru menurut apa yang berhasil kami
ketahui, sudah lama Giok-teng hujin meninggalkan dunia yang
fana ini"
"Aaaa,.,.! Jadi ia sudah mati?" kata Hoa In liong
tercengang, "berita itu hanya berdasarkan cerita yang beredar
dalam dunia persilatan, ataukah ada orang yang menyaksikan
dengan mata kepala sendiri??"
"Ehmm...tak nyana kau cukup teliti dan seksama dalam
mengupas setiap persoalan yang sedang dihadapi, dengan
begitu kamipun dapat merasa berlega hati"
Tiba-tiba dia menepuk kotak kayu cendana yang berada di
atas meja kecil, kemudian lanjutnya terlebih jauh:
Giok-teng hujin pernah mengirim sepucuk surat kepada
kami dan sekarang surat tersebut masih tersimpan disini,
menurut isi surat tersebut, tentu saja kami menganggap
bahwa ia telah meninggalkan dunia yang fana ini dan telah
berpulang ke alam baka"
Hoa In-liong termenung dan berpikir beberapa saat
lamanya, kemudian menjawab:
"Jadi kalau begitu, pembunuh dari Suma siok-ya kalau
bukan ahli waris dari Giok-teng hujin, tentu ada orang telah
menggunakan tanda pengenalnya itu untuk mengelabuhi serta
membohongi mata dan pendengaran umat manusia di dunia
ini"
"Aaaai...! Tentang soal ini, sulit sekali untuk dikatakan"
ucap Bun Taykun sambil menghela napas.

37
Hoa Thian-hong yang berada disisinya, cepat
menyambung:
"Untuk membahas dan memecahkan setiap persoalan yang
berhubungan dengan dunia persilatan, janganlah kau
mengupasnya menurut keadaan pada umumnya, sebab
seringkali kenyataannya berbeda jauh dengan kejadian yang
kita anggap umum. Demikian pula dengan masalah Giok teng
hujin, kemungkinan juga bahwa sampai sekarang dia masih
hidup di dunia ini"
"Kenapa dengan Giok-teng hujin?" pikir Hoa In-liong dihati,
"sekalipun dia masih hidup di dunia ini, toh tak akan membuat
jeri kita anggota keluarga dari perkampungan Liok-soat-sanceng!"
Tampaknya Bun Taykun dapat menebak apa yang sedang
dipikirkan si anak muda itu cepat katanya dengan dingin:
"Ketahuilah, hubungan budi dan dendam antara Giok-teng
hujin dengan keluarga Hoa kita sukar untuk diketahui siapa
benar siapa tidak, dan keputusan yang tegas tak mungkin bisa
dijatuhkan Sebab alasan dari persoalan ini tak mungkin bisa
diterangkan dengan sepatah-dua-patah kata saja atau
tegasnya andaikata Giok-teng hujin masih hidup di dunia ini,
maka kendatipun kita memiliki ilmu silat yang maha tinggi,
juga tak mungkin untuk melangsungkan pertarungan dengan
dirinya"
Chin-si-hujin atau Wan-hong yang selama ini membungkam
terus, tiba-tiba menambahkan dengan air mata bercucuran:
"Dalam suatu masalah kita telah berbuat salah padanya,
kami merasa tak pernah punya muka untuk berjumpa muka
dengan dirinya!"

38
Ucapan ini sangat menggetarkan hati Hoa In-liong, serunya
agak terbata-bata: "Laan... lantas bagaimana baiknya?"
Dengan tegas Bun Taykun menjawab:
"Bagi kita orang-orang keluarga Hoa, lebih baik kepala
dipenggal darah berceceran daripada melakukan perbuatan
yang merugikan orang lain, aai.... cuma, kadangkala takdir
memang mempermainkan orang, ada kalanya sekalipun hati
ada keinginan namun tenaga tidak mengijinkan, dalam
keadaan begitu.... yaa apa boleh buat lagi"
Sementara perasaan Hoa-In-liong jauh lebih ringan
daripada semula, perlahan-lahan berkata:
"Kalau toh kita tak pernah melakukan perbuatan yang
merugikan siapapun, persoalan ini lebih gampang untuk
diselesaikan"
Bun Taykun tertawa getir, perlahan-lahan dia membuka
kotak kayu cendana itu dan mengambil keluar sepucuk surat
lama yang ditaksir sudah berusia dua puluh tahun, sebab
kertas surat itu sudah berubah warnanya menjadi kuning.
Seterang sang surya sorot mata Hoa In liong, cepat
serunya dengan nada lantang:
"Inikah surat yang ditulis sendiri oleh nyonya yang bernama
Giok-teng hujin itu?"
"Benar!" sahut Bun Taykun dengan serius "tapi engkau tak
boleh mencuri lihat isi surat ini, bila berani melanggar
pantangan tersebut, maka selamanya engkau bukanlah anak
cucu dari keluarga Hoa kami!"

39
Hebat sekali perubahan wajah Hoa In-liong buru-buru dia
menyahut pula dengan serius:
"Sepanjang masa cucunda tak berani melupakan
peringatan dari nenek ini...."
Bun Taykun mengangguk, dia serahkan surat tersebut
kepada dayang baju hijau yang ada disisinya lalu
memerintahkan:
"Bungkuslah sampul surat ini dengan selapis kain
berminyak kemudian jahit dibalik kaus kutang pelindung
badan itu!"
"Biar aku saja yang menjahitnya!" seru Pek-si hujin segera.
Buru-buru dayang baju, hijau itu serahkan surat tersebut
kepada nyonya majikannya setelah menyiapkan kain minyak,
jarum dan benang maka Pek Kun-gi turun tangan sendiri
untuk menjahit bungkusan berisi surat itu dilapisan paling
bawah dari kaus kutang pelindung badan itu.
Sejak awal sampai sekarang Hoa In-liong berlutut terus
dihadapan Bun Taykun, oleh karena neneknya tidak
menitahkan kepadanya untuk bangkit, maka pemuda itu
terpaksa harus berlutut terus tanpa bergerak.
Ji-hujin amat sedih melihat keadaan putranya, cepat dia
menjahit surat itu di lapisan bawah kaus kutang pelindung
badan, kemudian katanya:
"Surat itu penting sekali artinya, sekarang juga kenakanlah
kaus kutang pelindung badan ini!"

40
Hoa In-liong mengiakan dan bangkit berdiri, setelah
melepaskan baju bagian atasnya, ia kenakan kaus kutang
pelindung badan tersebut di tubuhnya.
"Hayo berlutut lagi" tiba-tiba Hoa Thian hong membentak.
"Ya ayah!" sahut Hoa In-liong dengan kepala tertunduk
sekali lagi ia berlutut di hadapan neneknya.
Dengan lembut Bun taykun berkata:
"Mengertikah kau apa yang diharapkan ayahmu dari
sikapnya ini? Kau harus mengerti bahwa kejadian yang telah
menimpa kita pada hari ini menyangkut soal kejayaan serta
kehancuran bagi keluarga Hoa kita, disamping itu
mempengaruhi juga soal mati hidup kita semua, dan tanggung
jawab yang amat berat ini telah kami bebankan di atas
pundakmu, jika engkau mengerjakan tugas ini semaunya
sendiri, maka hancurlah nama baik keluarga Hoa kita di
tanganmu!"
Tercekat perasaan Hoa-In-liong setelah mendengar
perkataan ini, jantungnya berdebar keras.
"Liong-ji tak berani bertindak secara gegabah!" segera
sahutnya dengan serius.
Bun Taykun menghela napas panjang.
"Aaai....! Kaus kutang pelindung badan ini adalah hadiah
dari kawan-kawan persilatan wilayah Kanglam ketika toakomu
genap berusia satu tahun, besar sekali manfaatnya bagimu.
pertama bisa dipakai untuk melindungi badan, dan kedua
dikala musim dingin kau tak akan kedinginan, di musim panas
kau tak akan kepanasan, janganlah kau anggap remeh
kehebatan mustika tersebut "

41
"Liong-ji mengerti, Bagaimana dengan suratnya?" kata
pemuda itu dengan kepala tertunduk.
Suara Bun Taykun makin nyaring, paras mukanya makin
serius, sahutnya:
"Tujuanmu mengarungi dunia persilatan kali ini adalah
mencari tahu siapakah pembunuh sebenarnya yang telah
mengakibatkan kematian Suma Siok-yamu berdua, Andaikata
pembunuhnya hanya ahli waris dari Giok-teng hujin atau ada
orang yang mencatut nama baiknya, maka persoalan ini pun
menjadi sederhana sekali"
"Seandainya Giok-teng hujin masih hidup di dunia ini dan
dialah yang merupakan otak dari pembunuhan ini, apa yang
harus Liong-ji lakukan??" tanya sang pemuda.
"Andaikata begitu kejadiannya maka dihadapan mukanya
kau serahkan kembali surat tersebut kepadanya."
"Kemudian...?"
Paras muka Bun Taykun jadi murung, setelah menghela
nafas panjang sambungnya:
"Kejadian selanjutnya sukar untuk diduga, terpaksa kita
harus nantikan saja, perubahan yang bakal terjadinya"
Dengan wajah murung Pek-si hujin berkata pula:
"Dalam dunia persilatan pasti akan terjadi peristiwa yang
jauh lebih besar dan hebat, engkau harus bertindak dengan
hati-hati dan setiap masalah dihadapi dengan serius, pusatkan
saja semua perhatianmu untuk menyelidiki persoalan ini, tak

42
usah mencampuri urusan orang yang sama sekali tak ada
sangkut pautnya dengan dirimu"
"Dan masih ada satu lagi yakni kebiasaanmu yang jelek itu"
sambung Hoa Thian-hong dengan dingin, "lebih baik rubahlah
kebiasaan tersebut sehingga tidak mendatangkan kesulitan
bagimu!"
"Ananda akan mengingatnya selalu!" jawab Hoa In-liong
dengan penuh rasa hormat.
Bun Taykun menghela napas panjang, ia mengerling
sekejap ke arah Pek Kun gi, lalu angkat tangan kirinya dan
memberi tanda.
Mendadak air mata bercucuran membasahi pipi Pek-si hujin
yang cantik, dengan tangan gemetar ia cabut keluar
pedangnya, kemudian berseru sambil menahan isak tangisnya:
"Liong-Ji... kee.. kemarilah......"
Hoa In-liong bangkit berdiri dan menghampiri ibunya, ia
bertanda dengan wajah keheranan:
"lbu, mengapa kau kuatir ? Liong-ji pasti akan menghadapi
setiap persoalan dengan otak dingin tak usahlah kau bersedih
hati!"
"Aaaai...! Kun-gi, serahkan saja pedang mustika itu
kepadaku!" tiba tiba Bun Taykun berkata sambil menghela
nafas.
Pek-si hujin tampak agak tertegun, kemudian sambil
menyeka air mata menyahut:
"Biar menantu lakukan sendiri!"

43
Semua tindak tanduk dan perkataan yang aneh ini
mencengangkan hati Hoa In-liong, dalam hati ia lantas
berpikir:
"Sungguh aneh kejadian ini, selama hidup aku tahu bahwa
ibu adalah seorang perempuan yang keras hati, sekalipun
dikala sedih dia mengucurkan pula air matanya, "tapi
kesedihannya pada hari ini luar biasa sekali, mungkinkah dia
sedih lantaran aku akan meninggalkan dirinya pergi jauh ?
Atau kah mungkin disebabkan oleh alasan lain??".
Sementara Hoa In-liong masih termenung, Pek si hujin
dengan pedang terhunus telah menghampirinya, kemudian
berkati sambil menahan sesenggukan:
"Anakku, rentangkan telapak tangan kirimu kemudian
angkatlah ke depan dada, apa yang hendak kau lakukan?"
meskipun keheranan bercampur curiga pemuda itu
merentangkan juga telapak tangan kirinya.
oooooOooooo
BAGIAN 2
"LIONG-JI, ibu hanya ingin mengukir sebuah huruf di atas
telapak tanganmu itu" sahut Pek-si hujin dengan pedih.
"Engkau masih ingat dengan gaya tulisannya?" terdengar
Bun Taykun bertanya.
"Menantu masih ingat!" Pek-si hujin mengangguk.
Hoa In-liong pun berkata dengan lembut: "lbu, ukirlah
tulisan tersebut ditanganku, hanya siksaan sekecil itu tak nanti
Liong-ji pikirkan dihati"

44
Dengan air mata meleleh dipipinya, Pek-si hujin angkat
pedangnya ke depan, ujung senjata itu tertuju pada telapak
tangan putranya, setelah menenangkan hatinya, tiba-tiba ia
menggigit bibir, pergelangan tangannya tergetar keras dan
cahaya kilatpun menyambar lewat.
Menyusul kemudian Ji-hujin membuang pedang itu ke
tanah, dan sambil mendekap muka sendiri ia menangis
tersedu-sedu.
Hoa In liong sendiri hanya merasakan telapak tangannya
jadi dingin, tatkala ia membentangkan kembali telapak
tangannya itu, maka terbacalah sebuah huruf "BENCI" yang
masih berdarah.
Dalam pada itu Toa hujin Chin Wan hong serta dayang baju
hijau itu sudah maju menghampirinya, luka yang menggores
di telapak tangan itu diberi selapis salep, kemudian di bungkus
dengan kain putih.
Tiba-tiba wajah Hoa In-liong berubah jadi pucat pasi,
bisiknya dengan hati tercekat:
"lbu, kau membenci Liong-ji?"
"Tidak..." jawab Pek Kun-gi sambil menggeleng.
Bun Taykun yang ada disisinya segera menukas pula dari
samping:
"Tak ada seorang ibu yang membenci putra kandungnya
sendiri, Liong-ji! jangan berpikir yang bukan-bukan"
Sementara itu Pek Kun-gi telah berkata lagi dengan air
mata bercucuran membasahi wajahnya:

45
"Makna yang sebenarnya dari tulisan itu akan kau pahami
dengan sendirinya, sekarang tak usahlah banyak bertanya!"
Hoa In-liong mengangguk.
"Asal ibu tidak membenci pada Liong-ji, tentu saja ukiran
huruf itu tak akan menjadi soal bagi ku!"
Tiba-tiba Bun Taykun menengadah, lalu menegur:
"Apakah Siau-wan-ji di situ?"
Selembar wajah kecil mungil yang cantik muncul dari luar
pintu. menyusul bocah itu menyahut dengan suara manja:
"Nenek, aku ingin masuk!"
Nona kecil itu adalah putri bungsu dari Hoa Thian hong,
dihari-hari biasa sangat disayang, oleh karena banyak
persoalan mengusik pikiran nenek tua ini, tentu saja diapun
tidak berhasrat untuk bermain dengan cucu perempuannya.
Sambil berkerut kening, ia lantai ulapkan tangannya sambil
menghardik:
"Nenek sedang ada urusan, bermain ke depan sana!"
Siau-wan-ji tampak agak tertegun menyaksikan paras
neneknya yang keren, setelah menyapu sekejap sekeliling
ruangan itu, pergilah nona cilik itu dari sana.
Tiba-tiba Bun Taykun membentak lagi:
"Liong-ji, dengarkan baik-baik!"

46
"Silahkan nenek memberi perintah!" sahut Hoa In-liong
sambil tundukkan kepala.
"Ada beberapa persoalan harus kau ingat dengan sebaikbaiknya.
Pertama, kecuali dikembalikan langsung kepada Giokteng
hujin, siapapun tak boleh melihat atau membaca isi surat
yang kuberikan kepadamu itu, bilamana keadaan terpaksa,
hancurkan dan musnahkan saja surat itu!"
"Cucunda tak akan melupakan pesan ini!"
"Kedua, siapapun yang bertanya kepadamu tentang ukiran
tulisan yang berada di telapak tangan kirimu itu, maka kau
harus menjawab bahwa tulisan tersebut sudah ada semenjak
dari kecil!" Sekali lagi Hoa In-liong mengangguk "Akan
cucunda ingat pula nasehat ini!"
Setelah berhenti sebentar, Bun Taykun berkata lagi:
"Jikalau ada orang menanyakan berapa usiamu, maka
engkau harus memberitahukan satu tahun lebih tua, katakan
bahwa engkau dilahirkan pada tahun Jin-seng bulan cia-gwee
tanggal sembilan belas, jadi tahun ini berusia delapan belas
tahun lebih, ingat!"
"Yaa ingat!" sahut Hoa In-liong dengan dahi berkerut,
"Liong-ji sudah mengingatnya baik-baik aku dilahirkan tahun
Jin-seng bulan cia-gwe tanggal sembilan belas dan berusia
delapan balas tahun lebih!"
Tiba-tiba Bun Taykun menghela nafas panjang. ""Aai.., Di
antara anak cucu keluarga Hoa hanya engkaulah gemar
berbohong dan engkau pula yang suka bicara tak jujur, maka
sekarang kami akan mengandalkan kemampuan berbohongmu
itu untuk bekerja!"

47
Merah padam wajah Hoa In-liong setelah mendengar
sindiran tersebut, dengan gelagapan sahutnya:
"Bila tugas ini telah Liong-ji selesaikan, maka selamanya
Liong-ji tak akan berbohong lagi!"
Bun Taykun mengangguk.
Jilid 02
"SETELAH kepergianmu mengarungi dunia persilatan, maka
segala sesuatunya tergantung pada kemampuanmu sendiri,
ketahuilah sekalipun engkau menghadapi mara bahaya, belum
tentu kami dapat menyelamatkan jiwamu"
"Liong-ji mengerti dan Liong-ji akan baik-baik menjaga diri"
Mendadak terdengar suara langkah kaki berkumandang
dari luar ruangan, menyusul suara Hoa Si menggema
memecahkan kesunyian:
"Lapor nenek, cucunda injin berjumpa"
"Ada urusan apa?" tanya Bun Taykun. Sambil tetap berdiri
di depan pintu, sahut Hoa Si:
"Mendengar dari ucapan Ngo-moay (adik kelima), katanya
Ji-te ada urusan akan pergi jauh, cucunda..."
"Urusan itu tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, kau
boleh segera mengundurkan diri" bentak Bun Taykun.
Hoa Si tampak agak tertegun, tapi dengan cepat sahutnya:
"Yaa nenek" ia putar badan dan segera mengundurkan diri.
Sepeninggal Hoa Si, Bun Taykun tundukkan kepalanya dan
berpikir lagi beberapa waktu, kemudian sambil menatap wajah
Hoa In-liong katanya:
"Sekarang coba pikirlah dengan teliti, apakah masih ada
hal-hal yang mencurigakan, bila sudah tak ada lagi, kau boleh
segera berangkat"
Tanpa berpikir panjang, sianak muda itu menjawab:

48
"Liong-ji masih ada satu hal yang merasa kurang begitu
paham"
"Dalam hal apa?"
"Apakah diantara suma siok-ya dengan Giok teng hujin
mempunyai perselisihan atau dendam sakit hati??"
Bun Taykun segera menggeleng.
"sama sekali tak ada perselisihan atau dendam sakit hati,
malahan pada hakekatnya suma siok-ya mu justru berhutang
budi kepada Giok-teng hujin."
"Liong-ji ingin sekali berjumpa dengan Jin kokoh, ingin
kutanya lagi dirinya dengan lebih seksama."
"Tak usah" tukas Bun Taykun dengan cepat. "apa yang dia
ketahui telah kau ketahui semuanya"
Mendengar jawaban tersebut Hoa In-liong lantas berpikir
dihati:
"Aku lihat dalam masalah ini banyak terdapat hal-hal yang
mencurigakan serta bagian-bagian yang tidak jelas, kalau toh
nenek tak mau memberi penjelasan, terpaksa aku harus
melakukan penyelidikan sendiri ditempat luaran." Berpikir
sampai disini, diapun lantas memberi hormat seraya berkata:
"Apabila nenek tiada petunjuk lain, Liong-ji ingin segera
mohon diri.."
"Cita cita seorang pria sejati berada di empat penjuru,
melakukan perjalanan dalam dunia persilatan bukanlah suatu
peristiwa yang besar, baik-baiklah menjaga diri"
Hoa In-liong mengiakan berulang kali, kemudian jatuhkan
diri berlutut dan menyembah tiga kali.
Bun Taykun mengangguk, ia berpaling kearah Hoa Thianhong
dan berkata: "Hantar dia sampai diluar lembah, tak usah
membuang banyak waktu lagi"
Buru-buru Hoa Thian-hong bangkit berdiri, sementara dua
orang ibunya juga sudah menghampiri pemuda itu.
Pek Kun-gi dengan air mata bercucuran mengikatkan
pedang putranya, sementara Chin Wan-hong menyerahkan
tiga buah botol porselen kepada pemuda itu yang mana
segera disimpan baik-baik dalam sakunya.

49
setelah itu ia baru pamitan kepada kedua orang ibunya
kemudian berlalu dari ruangan itu dengan mengikuti
dibelakang ayahnya.
Dibawah pelataran samping, pengurus perkampungan
Tiong Liau telah menyiapkan seekor kuda jempolan berwarna
merah membara, Hoa si, Hoa Wi serta saudara-saudara
lainnya berdiri menghantar disitu selain itu terdapat pula
seorang dayang yang montok dan berparas cantik.
Hoa Thian-hong tidak berhenti disana, ia langsung menuju
keluar perkampungan, melihat itu semua orangpun dengan
mulut membungkam ikut menuju keluar perkampungan.
Dayang montok yang berwajah cantik itu bernama Pek
Giok. dia adalah dayang kepercayaan dari Pek Kun-gi
menggunakan kesempatan yang ada diam-diam ia mendekati
Hoa In-liong, kemudian sambil mengangsurkan kipas indah,
bisiknya lirih:
"Dalam buntalan diatas kuda terdapat seuntai mutiara,
ditaksir harganya mencapai tiga ribu tali emas, sewaktu
bermalam dan bersantap harap siau koan-jin baik-baik
menjaga diri"
Hoa-In-liong melirik sekejap kearah ayahnya yang berjalan
di depan, lalu memberi tanda kepada Pek Giok untuk
memperkecil bisiknya.
selang sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar pintu
perkampungan, waktu itu pelbagai pikiran sedang berkecamuk
dalam benak Hoa Thian hong, ditambah pula menyaksikan
gaya Hoa In liong yang mirip anak hartawan itu, sikapnya
yang begitu acuh tak acuh membuat ia semakin murung.
Akhirnya sambil ulapkan tangannya, ia berseru:
"Hayo naik kuda dan berangkat, aku tidak akan
menghantar engkau lebih jauh lagi"
Dalam perkiraan Hoa-In liong, sebelum berangkat ayahnya
pasti akan melontarkan pelbagai nasehat dan peringatan yang
kurang sedap didengar, apa mau dikata ternyata dugaan itu
sama sekali meleset, bukan saja ayahnya tidak mengucapkan
sesuatu, malahan menyuruh dia cepat-cepat berangkat.

50
Tindakan ini membuat perasaan jauh lebih lega, cepat dia
berpamitan kepada ayahnya, kemudian melompat naik ke atas
kuda dan melarikannya cepat cepat...
Beberapa hari kemudian ketika senja baru tiba, Hoa Inliong,
tuan muda nomor dua dari perkampungan Liok-soatsan-
ceng telah muncul diluar pintu utara kota Lam-yang-hu.
Meskipun dandanan sianak muda itu amat sederhana,
namun keserhanaan itu tak dapat menutupi ketampanan
wajahnya. Pedang yang tersoren, kuda yang jempolan serta
kipas yang mahal harganya membuat dandanan pemuda itu
tak ubahnya seperti dandanan seorang putra pembesar atau
seorang putra usahawan kaya raya, wajahnya sedikit pun
tidak nampak letih walaupun baru saja menempuh perjalanan
yang sangatjauh.
Waktu itu malam sudah menjelang tiba, lampu lentera yang
terang benderang telah menghiasi setiap rumah dalam kota
itu sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan, pemuda itu
menikmati keindahan malam yang sejuk dengan senyuman
dikulum.
Ramai sekali manusia yang berlalu lalang dalam kota itu,
sebagaimana tuannya, kuda itupUn berjalan dengan gagah
perkasa, suara keleningan yang berbunyi tang-ting tang-ting
mendatangkan suatu kewibawaan yang membuat orang tak
berani beradu pandang dengan mereka.
selang sesaat kemudian, kuda merah yang tinggi besar itu
berhenti didepan pintu gerbang sebuah rumah penginapan
yang memakai merek "Ko-seng-kek" dengan dikerumuni oleh
pelayan, Hoa ln-liongpun dipersilahkan untuk masuk kedalam.
Ko-seng-kek merupakan rumah penginapan mewah yang
terbagus dan terindah di kota Lam-yang shia, setelah
mendapat kamar dan cuci muka, hidanganpun telah datang.
sebelum pelayan tersebut mengundurkan diri dari
kamarnya, tiba tiba Hoa In-liong menggape sembari berkata:
"Pelayan, jangan pergi dulu, aku hendak mengajukan satu
pertanyaan kepadamu"

51
Pelayan itu tertawa paksa, sambil menghampiri tanyanya:
"Kongcu-ya ingin bertanya apa??"
Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia teguk dulu isi
cawannya satu tegukan, kemudian baru sahutnya: "Aku ingin
mencari tahu tentang diri seseorang "
"0oooh....siapa yang hendak kongcu-ya cari??" senyum
yang menghiasi wajah pelayan itu semakin dibuat buat.
" orang itu bukan manusia sembarangan, dia punya nama
besar yang amat tersohor dikota ini, she-suma dan bernama
Tiang-cing...."
"Kongcu-ya " mendadak pelayan itu berseru dengan
tergagap. paras mukanya berubah hebat.
Hoa In-liong menunjukkan sikap yang keren kembali
bentaknya dengan keras: "Gampangnya saja, katakan rumah
kediaman dari suma wangwe?"
Pelayan itu agak tertegun, akhirnya ia berbisik dengan lirih:
"Dijalan besar sebelah timur, keluar dari pintu berbelok
kekanan, jalanan ketiga itulah letaknya didepan rumahnya."
" Cukup," tukas Hoa In-liong sambil ulapkan tangannya.
Kemudian ia serahkan sekeping perak kepada pelayan itu
sambil menambahkan: "ltu, ambillah persen buatmu"
Betapa gembiranya pelayan itu menerima persenan, sambil
mengucapkan banyak terima kasih dia mengundurkan diri dari
situ.
sambil bersantap dan minum arak Hoa In-liong diam-diam
memutar otak memikirkan persoalan itu, batinnya:
"Berita tentang terbunuhnya suma siok-ya sudah tersebar
luas diseluruh kolong langit, tentu kejadian itu merupakan
berita yang sangat menggemparkan kota Lam-yang-shia ini,
aaai... banyak manusia banyak ragam pula ceritanya, entah
siapa yang benar entah siapa yang salah, semua orang tak
tahu siapakah pembunuh yang sebenarnya, tampaknya untuk
menemukan siapa pembunuh yang sebenarnya bukanlah
suatu pekerjaan yang terlalu gampang..."
Kentongan ketiga baru saja lewat, suara kentongan baru
kedengaran berkumandang dari tengah jalan, Hoa-In-liong

52
segera menggembel pedangnya dipunggung, menutup pintu
kamarnya dan diam-diam menyelinap keluar dari penginapan
tersebut menuju kejalan raya sebelah timur.
selang sesaat kemudian, ia sudah menemukan gedung
tempat tinggal dari suma Thiang-cing, dengan gerakan yang
enteng pemuda itu melayang masuk kedalam halaman
rumahnya.
Gedung itu gelap gulita dan sunyi senyap tak kedengaran
sedikit suarapun, begitu heningnya sehingga mendatangkan
perasaan seram dan bergidik bagi siapapun yang mendekati
gedung tersebut.
Hoa-In-liong berputar menuju ke bangunan sebelah
belakang, setelah berputar satu lingkaran dan membuktikan
kalau isi gedung itu benar-benar kosong, dia baru berputar
kembali keruang depan dan membuka pintu.
Ruang dalam itu gelap gulita, bau minyak cati dan batu
kapur yang tajam tersiar keluar dari ruangan tersebut, baunya
tak enak dan sangat menusuk hidung.
Pemuda itu seakan-akan mencium bau kematian, bau
elmaut yang menyeramkan, membuat sekujur tubuhnya
bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, serentak ia
ambil keluar api dan memasang ober.
sinar terang memancar keempat penjuru, mengusir
kegelapan yang mencekam ruangan tersebut, pandangannya
yang pertama terbentur pada sebuah kain horden yang
terkulai jatuh kebawah lantai, dibalik horden tersebut
terbujurlah dua buah peti mati.
Didepan horden terletak sebuah meja sembahyangan disitu
terletak papan nama dari suma Tiang-cing suami istri,
disampingnya terletak sebuah lampu lentera, ketika lentera
tersebut diamati ternyata minyaknya sudah kering, disisi lain
terdapat tempat lilin, cuma lilinnya sudah habis dan tinggal
dua gumpalan ampas lilin yang membeku.
Hoa In-liong berulang kali mengerutkan keningnya, dengan
tatapan tajam ia menyapu kembali sekeliling tempat itu,
dilantai ia temukan setumpuk uang kertas emas dan perak

53
yang belum habis terbakar, maka dia lantas menyulut kertaskertas
itu dan membakarnya, cahaya api yang berkobar
digunakan sebagai sinar penerangan.
suma Tian-cing bergelar Kiu-mia-kiam-kek (jago pedang
berjiwa sembilan), semenjak masih muda sudah mempunyai
nama yang amat tersohor, dia adalah saudara angkat dari
kakek Hoa In-liong.
Diam-diam pemuda itu berpikir lagi:
"Bagaimanapunjuga toh aku sudah sampai disini, sudah
sepantasnya kalau kusumbang dan ku hormati lelayon
mereka"
Karena berpendapat begitu, maka diapun menjatuhkan diri
berlutut didepan peti mati itu dan menyembahnya beberapa
kali.
sianak muda itu ingin mengucapkan sepatah dua patah
kata doa, tapi oleh karena kertas uang itu sudah habis dan
apipun akan padam, cepat ia bangkit dan mengambil kertas
uang lagi untuk membakarnya.
"Blaaang...," tiba-tiba berkumandang suara benturan keras,
pintu ruangan terhembus angin hingga terpentang lebar,
angin dingin yang sangat menggidikan berhembus masuk ke
dalam ruangan mengobrak-abrik kertas uang yang akan
dibakar itu hingga tersebar ke empat penjuru, kobaran apipun
seketika menjadi padam.
Hoa-In-liong sangat terperanjat, timbul rasa bergidik dalam
hati kecilnya, disaat abu kertas uang beterbangan d iempat
penjuru dan jilatan api hampir padam, tiba-tiba ia menemukan
sesuatu, hampir saja ia menjerit kaget.
sesosok bayangan manusia muncul dari balik kain horden,
bayangan itu berwarna putih dan jelas seorang perempuan...
dia berdiri kaku disamping peti mati tersebut.
Cepat Hoa In-liong menekan perasaan ngerinya, sambil
berusaha untuk menenangkan diri dan menyeka keringat
dingin pada telapak tangannya menegur: "siapa yang berada
di belakang horden sana?"

54
suasana hening sesaat, kemudian dari balik kain horden
muncul suara jawaban, suara itu memilukan hati:
"Aku yang rendah adalah Yu-si, boleh aku tahu siapa nama
kongcu?"
"Aku bernama Hoa Yang, berasal dari perkampungan Lioksoat-
san-ceng..." sahut pemuda itu berkerut kening.
"oooh, kiranya ji-kongcu yang telah datang"
Cahaya api berkilat menerangi seluruh ruangan dari
belakang kain horden itu perlahan-lahan muncul seorang
nyonya berbaju kabung putih, mukanya murung dan penuh
diliputi kesedihan.
Perempuan itu masih muda dan sedang mencapai usia
mekar-mekarnya bunga, cantik jelita paras muka perempuan
itu, meski memakai baju berkabung yang serba putih, namun
tidak menutupi kecantikannya wajahnya yang menawan hati.
Waktu itu Hoa In-liong berdiri didepan meja
sembahyangan, ketika ia menatap kemuka, tampaklah Yu-si
berdiri dengan tangan kanan memegang lampu lentera,
tangan kiri membopong sesosok makhluk seperti bayi, satu
ingatan cepat melintas dalam benaknya:
"Nyonya yang mengaku she-Yu ini mengenakan pakaian
berkabung yang lengkap. itu menunjukkan kalau dia masih
sanak keluarga dari su ma siok-ya, lalu bayi siapa yang
dibopongnya itu, apa bayinya suma siok-ya dengan
perempuan ini?
sementara sianak muda itu masih termenung, Yu-si telah
meletakkan lampu lentera itu, diatas meja kemudian perlahanlahan
memutar badan.
Hoa In-liong segera mengalihkan sorot matanya kearah
"bayi" yang berada dalam pelukan nyoaya itu, tapi apa yang
dia lihat? Hampir saja pemuda itu meloncat saking kaget.
Makhluk kecil yang dibopong nyonya Yu itu bukan bayi apa
yang dia sangka, tapi makhluk ke cii itu tak lain adalah seekor
kucing, seekor kucing berwarna hitam pekat.
Bulu kucing itu hitam gelap dan bersinar mengkilat begitu
hitamnya sehingga boleh dibilang tak ada warna lainnya,

55
dibawah sorot cahaya lampu, tampaklah sepasang biji
matanya yang berwarna emas memandang kesana kemari
dengan jelalatan. sementara itu Nyonya Yu sudah memberi
hormat sambil menegur:
"Ji-kongcu, apakah kedatanganmu kemari adalah lantaran
mendapat tugas dari orang tuamu?"
Hoa In-liong menenang kang perasaan hatinya yang kalut,
kemudian balas menghormat.
"Betul, aku mendapat perintah dari ayahku untuk datang
memberi hormat kepada lelayonnya suma siok-ya"
"Apakah nona kami juga sudah tiba diperkampungan Lioksoat-
san-cung??"
Hoa In-liong mengangguk.
"suma kokoh sudah sampai disana, boleh aku tahu apa
hubungan nyonya dengan suma siok-ya ku itu?"
Nyonya Yu menatap sekejap kearah pemuda itu lalu sambil
menundukkan kepalanya ia menjawab: "Aku yang rendah
adalah bini peliharaan dari lo-wangwe"
"ooooh Rupanya dia adalah gundiknya suma siok-ya."
begitulah Hoi In-liong membatin,
"yaaa... memang tak bisa disalahkan kalau suma siok-ya
pelihara gundik, habis dia sangat menginginkan anak laki, tapi
istrinya melahirkan seorang putri dan kemudian tak punya
anak lagi, siapa tahu dari gundiknya ini ia bisa beranak lagi..."
setelah mengetahui kalau nyonya itu adalah istri muda
suma siok-yanya, kembali pemuda itu memberi hormat.
"Aaah... rupanya engkau adalah Ji-hujin (nyonya kedua),
maaf bilamana boanpwe kurang hormat kepadamu"
"Aku yang rendah tak berani menerima penghormatan
sebesar ini dari ji kongcu" Hoa-In-liong termenung dan
berpikir sebentar kemudian tanyanya lagi: "Apakah dalam
gedung ini hanya tinggal ji hujin seorang diri?"
Nyonya Yu menghela napas panjang, "Aaaai... sebelum
nona meninggalkan rumah, semua dayang dan pelayan telah
ia bubarkan, oleh karena aku yang rendah masih teringat oleh

56
budi kebaikan dari lo-wangwe maka kuputuskan untuk tetap
menjaga lelayonnya seorang diri"
Ji-hujin dapat mengingat kebaikan orang, sungguh hal ini
merupakan suatu sikap yang baik, boanpwe merasa kagum
sekali, kata pemuda itu makin menghormat.
Kembali Nyonya Yu menghela napas panjang, ia seperti
hendak mengucapkan kata-kata merendah tapi niat tersebut
akhirnya diurungkan, kepalanya ditundukkan rendah-rendah,
lama sekali baru katanya lagi:
"Ji-kongcu, maksud kedatanganmu kemari kecuali untuk
menghormati jenasah dari lo wangwe kami ini, apakah masih
ada urusan yang lain"
"Boanpwe mendapat tugas dari ayahku untuk
menyambangi jenasah suma siok-ya, selain itu juga hendak
mencari tahu siapakah pembunuh yang telah menghabisi
nyawa suma siok-ya kami itu"
"Jadi Hoa tayhiap tidak turun tangan sendiri untuk
mengatasi peristiwa ini?" tanya nyonya Yu dengan dahi
berkerut.
"Ayah telah serahkan tanggung jawab ini kepada boanpwe,
jadi boanpwelah yang akan mewakili dia orang tua untuk
mencari tahu siapa gerangan pembunuh sadis itu"
Suatu perobahan yang sangat aneh menghiasi paras muka
nyonya Yu sehabis ia mendengar perkataan tersebut, tapi
hanya sebentar saja sikap aneh itu sudah lenyap kembali tak
berbekas, sebagai gantinya ia tunjukkan kembali wajah yang
kesal dan murung.
Melihat itu Hoa In-liong berpikir dalam hati:
"la nampak murung sekali, pastilah dia anggap aku terlalu
muda dan kepandaianku terbatas, maka tugas berat ini tak
dapat kupikul "
sementara masih termenung, tiba tiba pemuda itu
merasakan sesuatu yang aneh, ia merasa kucing hitam yang
berada dalam pelukan nyonya Yusedaag mengawasi dirinya
tajam-tajam, sinar mata berwarna keemas-emasan itu melotot
kearahnya dengan penuh sikap permusuhan, hal ini lantas

57
menggerakkan hatinya. Ia tertawa nyaring, kemudian
menegur. "Rupanya nyonya suka dengan kucing?"
"Aaai... Rumah hancur manusia pada binasa, sekarang aku
hidup sebatang kara, Hek-ji inilah satu satunya sahabat
karibku"
"oooh... rupanya kucing hitam itupun punya nama benarbenar
menarik hati..." pikir pemuda itu
Terdengar nyonya Yu berkata lebih jauh:
"Lo-wangwe kami adalah seorang pendekar besar yang
kenamaan dalam dunia persilatan, meskipun ilmu silat yang
dimilikinya belum setanding dengan kehebatan ayahmu, akan
tetapi ia terhitung juga seorang tokoh silat kelas satu dalam
dunia persilatan, itu berarti pula bahwa orang yang bisa
membunuh wangwe kami pastilah bukan manusia
sembarangan. sekarang, Hoa tayhiap tak sudi turun tangan
sendiri melainkan hanya mengutus ji kongcu untuk menyelidiki
persoalan ini, apakah hal ini..."
tampaknya perempuan itu tak ingin banyak bicara, belum
selesai ucapan tersebut, tiba tiba dia menghela nafas dan
membungkam...
Mendengar ucapan tersebut, Hoa In-liong segera
tersenyum, katanya:
"Tentang soal ini nyonya tak perlu kuatir, kendatipun
boanpwe bodoh dan tak berkemampuan apa-apa, akan
kucoba untuk menggunakan segenap kemampuan yang
kumiliki untuk memecahkan misteri ini, dan aku percaya tugas
ini pasti dapat ku laksanakan dengan baik."
"Aaai..." nyonya Yu menghela nafas lagi " Kalau toh jikongcu
sudah mempunyai keyakinan setebal itu, aku yang
rendahpun tidak akan banyak bicara lagi"
"Semoga nyonya suka memberi petunjuk kepadaku"
"Hmmm Apa yang kuketahui terbatas sekali dan aku rasa
nona kamipun tentu sudah menceritakan segala sesuatunya
kepadamu" sahut nyonya Yu dingin.
Hoa In liong dapat memaklumi keketusan orang ia berpikir:

58
"Biasanya, kalau seseorang baru ketimpa bencana maka
wataknya jadi lebih kasar dan berangasan demikian pula
dengan nyonya Yu ini, maklum kalau ia begitu kasar dan
dingin sikapnya padaku...."
Karena berpikir begitu, maka diapun berkata.
"Menurut apa yang berhasil boanpwe dengan katanya
sebab kematian yang menimpa suma siok ya adalah bekas
gigitan yang berada pada tenggorokannya..."
"Nyonyapun mengalami nasib yang sama." nyonya Yu
menambahkan dengan cepat.
"Mumpung tutup peti mati belum dipaku, ingin sekali
boanpwe periksa keadaan luka yang berada pada teng
gorokan mereka"
"Silahkan" kata nyonya Yu hambar, "yang ada disebelah kiri
adalah jenasah dari nyonya"
seraya berkata dia ambil kembali lampu lentera itu dari
meja, kemudian menghampiri peti mati itu.
Hoa In Liong sendiripun tidak sungkan-sungkan ia
menghampiri peti mati yang ada disebelah kiri, sepasang
tangannya lantas mencengkeram tutup peti mati itu dan siap
membukanya .
Ketika itu nyonya Yu berada disebelah kanan Han in-liong,
tangan kirinya masih membopong Hek-ji kucing hitam itu,
sedang lentera ditangan kanannya dipegang tinggi-tinggi.
Mendadak sianak muda itu membatalkan niatnya untuk
membuka, sebab secara tiba-tiba ia mengendus sesuatu,
mengendus bau harum pupur yang tipis tapi cukup menarik
perhatiannya.
Pupur tersebut adalah sejenis pupur keraton yang mahal
harganya, tidak sembarangan orang bisa memakai pupur
seperti itu, dan lagi sekalipun punya uang banyak belum tentu
orang bisa mendapatkannya.
Hoa In-liong berasal dari keluarga kenamaan, sejak kecil ia
sudah romantis dan paling suka bermain dan bergaul dengan
kaum hawa yang suka memakai pupur wangi seperti itu, maka

59
dengan sendirinya diapun ahli sekali dalam soal jenis pupur
yang sering dipakai kaum hawa.
Ia tampak agak tertegun, ketika coba diperiksa asal mula
bau tersebut, segera ditemuinya bahwa bau itu berasal dari
tubuh nyonya Yu, ini membuat anak muda kita diam diam
tertawa geli, batinnya:
"Tak heran kalau nyonya Yu bisa menarik perhatian suma
siok-ya sehingga akhirnya dikawini menjadi istri mudanya,
memang perempuan ini memiliki kelebihan dari pada
perempuan biasa...."
sementara ia masih termenung, tiba-tiba nyonya Yu
berkata lagi: "Ji-kongcu, kenapa engkau ragu ragu...?"
Hoa-In liong tertawa tawa, hawa murninya lantas
disalurkan kedalam telapak tangan dan sekuat tenaga ia coba
mengangkat tutup peti mati itu. Mendadak... satu ingatan
kembali melintas dalam benaknya:
"Aaai... tidak benar gejala ini Kalau toh nyonya Yu benarbenar
berkabung oleh karena kematian suaminya, mengapa ia
masih memakai pupur wangi. Padahal suma siok ya sudah
mati belasan hari, sekalipun masih ada sisa baupupur dari
tubuhnya, tak mungkin kalau bau tersebut seharum dan
setajam ini... jelas pupur itu belum lama dipakai pada
tubuhnya."
Menyusul kemudian ia berpikir lebih lanjut:
" Eehmm... kalau kuteliti pula sikap serta gerak geriknya,
gejala ini makin tak beres, kalau toh perempuan ini benarbenar
bersedih hati karena kematian suaminya, maka dia tak
akan memusingkan masalah lain, jangankan memakai pupur,
sisir rambutpun belum tentu berminat. ...tapi sekarang, bukan
saja nyonya Yu mengenakan pupur wangi, diapun kesana
kemari membopong kucing hitam, macam apakah itu??"
Pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang
aneh, kalau toh pada mulanya ia belum curiga maka segala
sesuatunya tidak terpikir olehnya, tapi sekarang, setelah
timbul kecurigaan dalam hati kecilnya, serta merta banyak hal
yang tak beres ditemukan secara beruntun, dia merasa makin

60
diperhatikan semakin banyak persoalan yang berlawanan
dengan keadaan pada umumnya.
sementara itu nyonya Yu sudah berkata lagi sambil
menghela nafas:
"Keadaan lo-wangwe menjelang saat ajalnya mengerikan
sekali, lebih baik ji-kongcu tak usah melihatnya lagi"
"Benar Benar, perkataan nyonya memang sangat tepat"
sahut Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali.
Tiba-tiba dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain
katanya:
"sepantasnya kalau dalam ruangan sembahyangan ini diberi
serentetan lampu lentera yang bersusun-susun, kenapa tak
ada benda tersebut ditempat ini....?"
Mula-mula nyonya Yu agak tertegun, menyusul kemudian
sambil menghela napas sedih sahutnya:
"setelah terjadinya peristiwa ini, aku yang rendah dibikin
kalang kabut dan kebingungan sendiri, sampai segala
sesuatunya jadi kelupakan., aaai maklumlah kalau orang lagi
kesusahan"
"sekalipun kau lagi berpura-pura, sepantasnya kalau air
matamu ikut perkuat sandiwaramu itu." pikir Hoa In-liong
dihati, "masa bodoh sampai detik ini tak kulihat engkau
mengucurkan air mata.... kan aneh toh kalau seorang istri
walaupun cuma istri muda tidak melelehkan air mata karena
kematian suaminya..."
Tiba-tiba ia membentak keras:
" Nyonya, hati-hatilah kau, boanpwe akan membuka peti
mati ini" sekali disendat, tutup peti mati itu segera terangkat
olehnya,
setelah tutup peti mati itu terbuka, bau kapur segera
tersebar keempat penjuru diantara bau kapur yang tajam dan
menusuk penciuman itu secara lapat-lapat terselip bau harum
bunga yang tipis,
Perlu diketahui daya penciuman Hoa In-liong sangat tajam
dan melebihi daya penciuman siapa pun, begitu tercium bau
campur aduk yang aneh dan tak sedap itu, pikirannya lantas

61
terbuka dan menjadi terang, cepat dia berteriak dengan logat
yang aneh: "Aduuuuh mak....harum sungguh harum"
sengaja ia mengeryitkan hidungnya dan tarik napas
panjang beberapa kali.
Nyonya Yu tertegun menyaksikan peristiwa itu dia heran
mengapa hawa racun yang tersiar keluar dari balik peti mati
itu tidak berhasil merobohkan pemuda tersebut
Dalam kagetnya telapak tangan kanannya segera ditekan
kebawah, lalu menghantam batok kepala Hoa In-liong dengan
lampu lentera, sementara kaki kirinya melancarkan sebuah
tendangan kilat kearah pinggang sianak muda itu.
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dia putar telapak
tangan kanannya dan secara tiba-tiba mencengkeram lengan
nyonya Yu, kemudian menyeret perempuan itu dan ditekannya
kedalam peti mati tersebut.
sejak penutup peti mati itu dibaka, nyonya yu sudah
menutup semua pernapasannya,
tapi sekarang oleh karena lengannya yang dicengkeram
terasa amat sakit, dalam kaget dan cemasnya dia menjerit
tertahan, serta merta hawa racun itu terkesiap masuk ke
lubang hidungnya, kontan saja perempuan itu roboh tak
sadarkan diri
semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata baru
saja Hoa In liong menaklukkan nyonya yu, tiba-tiba terasa
segulung desingan angin tajam menyergap punggungnya dari
belakang.
Sungguh kaget dan tercekat hati Hoa-In-liong untung
dalam gugUp dan cemasnya ia tak sampai gelagapan secepat
kilat badannya msnyusup ke arah samping untuk menghindar.
"Breeet..." kendatipun pemuda itu sudah menghindar
dengan cepat, tak urung robek juga sebagian baju yang
dikenakannya.
sementara itu suasana dalam ruangan tengah jadi gelap
gulita, sukar melihat kelima jari tangan sendiri, sebelum Hoa
In liong sempat berdiri tegak. desingan angin tajam itu
kembali menyergap dari belakang.

62
Buru-buru sianak muda itu berkelit kesamping dengan
manis ia menghindarkan diri dari sergapan maut itu.
sebagai keturunan jago kenamaan, Hoa-In-liong memang
cukup mengagumkan, kendatipun harus bertarung ditengah
kegelapan yang sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri,
dia masih sanggup untuk melayani dengan sebaik-baiknya.
Detik itu juga, ia dapat mengetahui siapakah penyergapnya
itu, ternyata "Dia" tak lain adalah "Hek-ji" kucing hitam yang
berada dalam bopongan nyonya Yu tadi.
Rasa mangkel, jengkel dan geli bercampur aduk dalam hati
pemuda itu, tatKala untuk ketiga kalinya kerlipan sinar tajam
itu menyusup datang segera ia berkelit kesamping, lalu
melancarkan sebuah tendangan kilat ketubuh kucing itu.
Kalau lawannya hanya kucing biasa, tendangan itu niscaya
akan menghancur lumatkan tubuhnya tetapi kucing ini bukan
kucing sembarangan, kucing hitam ini keluaran wilayah se-ih
yang termasuk sejenis makhluk buas, karena sudah mendadak
pendidikan yang lama, maka tubrukan serta sergapannya
secepat kilat dan jarang meleset dari sasarannya.
Baru saja Hoa In liong melepaskan tendangan itu gagal
mencapai sasaran, malahan sekarang kucing hitam itu
menerjang paha kanannya.
si anak muda itu tertawa terbahak-bahak,
"Haaahhh....haaahhh...haahhh..... binatang cilik hari ini saya
akan menangkapmu hidup-hidup "
Timbul kembali sifat kekanak kanakannya dalam hati kecil
pemuda ini, tiba-tiba ia bertekuk lutut dan berjongkok
kebawah, sementara tangan kirinya meraba pakaiannya yang
robek tercakar tangan kanan yang menganggur secepat
sambaran petir mencengkeram leher kucing hitam itu.
Tiba-tiba... dari balik horden berkumandang suara suitan
tajam yang tinggi melengking.
suitan tajam itu sangat pendek tapi nyaring, begitu
mendengar suitan tersebut, Hek-ji segera mendekam di tanah,
lalu menyusup masuk kebalik horden.
"Bangsat mau kabur kemana?" bentak Hoa in liong.

63
Ia menerkam kedepan, ekor Hek-ji lantas di sambarnya
dengan cepat, apa mau dikata tiba-tiba Hek-ji putar badannya
sambil menggigit.
Sianak muda itu jadi amat terperanjat sambil menjerit
kaget ia tarik kembali tangannya kebelakang.
suara langkah kaki manusia bergema dari belakang
bangunan, sekejap kemudian suasana pulih kembali dalam
kesunyian.
secepat sambaran petir Hoa In-liong menerjang kedepan,
ia temukan dibalik horden terdapat sebuah pintu kecil, dibalik
pintu terdapat sebuah lorong yang panjang, ketika dia
mengejar sampai kedalam lorong itu, bayangan musuh sudah
lenyap tak berbekas, Hek-ji si kucing hitam-pun lenyap entah
kemana perginya.
Kejadian ini membuat Hoa in-liong jadi terperangah, ia
mencoba untuk memeriksa keadaan dl sekitar tempat itu
namun tidak berhasil menemukan sesuatu, tiba-tiba teringat
kembali akan perempuan " nyonya Yu" yang masih pingsan
ditepi peti mati.
Cepat-cepat pemuda itu kabur kembali keruang tengah,
setelah pasang lentera diperiksanya sekitar sana, namun apa
yang dilihat hanya peti mati belaka, sedangkan nyonya Yu
entah sedari kapan telah dibawa kabur oleh rekan-rekannya.
Tutup peti mati itu masih terbuka, bau kapur yang tajam
bercampur harum bunga kui yang tipis menciptakan suatu
campuran bau yang aneh memuakkan dan bikin orang pingin
muntah.
sambil menutup pernafasannya Hoa in-liong mendekati peti
mati itu dan melongok kedalam, jenasah suma Tiang-cing
telah di make-up sehingga tidak nampak sesuatu yang aneh
atau mencurigakan.
Ketika pemuda itu menyingkap bajunya, maka tampaklah
pada tenggorokannya terdapat
sebuah lubang sebesar cawan arak. disekitar lubang itu
tertera nyata bekas gigitan yang tajam dan rata, sudah pasti
bekas gigitan dari sebangsa makhluk binatang buas, karena

64
saluran pernafasannya telah tergigit putus, tentu saja
korbannya mati sesak nafas.
"sreeeett..." tiba tiba muncul lagi sesosok bayangan
manusia, bayangan itu keluar dari bawah kolong meja, dengan
kecepatan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya ia
melayang ke udara kemudian kabur menuju keluar pintu, Hoa
In-liong segera tertawa tergelak katanya:
"Haaahhh..,.haaahhhh....haaahhh.... nyali kalian memang
benar-bsnar besar sekali, Hmm Apakah tindakanmu itu tidak
kelewat pandang rendah jiwa mu?"
Tidak menunggu sampai menutup kembali peti mati itu, ia
lantas melompat keudara dan secepat kilat meluncur ke muka
melakukan pengejaran.
Dibawah cahaya bintang, tampaklah bayangan itu
mempunyai tubuh yang ramping menawan hati, ia
mengenakan baju ketat warna hitam gelap. sebilah pedang
pendek tersoren dipinggang, usianya masih amat muda, dari
gadis ini berparas cantik.
Hoa In-liong melompat dia mengejar dengan cepatnya,
dalam beberapa kali lompatan ia sudah mencapai disamping
dara tersebut, sambil menepuk bahunya pemuda itu menegur:
"Hey, kenapa tidak segera berhenti?^
Dengan langkah sempoyongan gadis itu maju beberapa
langkah lagi kedepan hampir saja ia jatuh terjengkang keatas
tanah, untungnya didepan sana adalah sebuah dinding
pekarangan, cepat ia memegang dinding tersebut sehingga
tubuhnya tak sampai jatuh tertelungkup.
Tiba-tiba ia mengambil keluar secarik sapu tangan dan
menutupi bibirnya yang kecil, kemudian berbatuk-batuk keras
sampai air matapun ikut jatuh berlinang.
Kiranya gadis itu bersembunyi di bawah meja
sembahyangan sambil menutup napas, karena letaknya
tertutup oleh kain, kolong meja sembahyangan memang
merupakan tempat persembunyian yang sukar ditemukan
orang.

65
Tetapi karena terlalu lama menahan panas, dan lagi hawa
racun yang tersebar keluar dari peti mati itu kian lama kian
menebal, akhirnya gadis itu tak sanggup mengendalikan diri
lagi, ia dipaksa untuk meninggalkan tempat
persembunyiannya guna menghirup udara segar.
Dalam pada itu Hoa In liong telah mengawasi gadis baju
hitam itu dengan pandangan tak ber kedip. diam diam ia
membatin:
Dara ini punya pinggang yang ramping, tubuh yang tinggi
semampai serta kulit yang putih halus....eehm, memang tak
salah lagi kalau disebut gadis cantik bak bidadari dari
kahyangan"
Meskipun dalam hati ia sedang berpikir, mulutnya tidak
membungkam, tegurnya sambil tertawa:
"Eeh.... eeh..., kenapa kok menangis? aku toh tidak sampai
melukai dirimu mau apa kau mengucurkan air mata?"
semu merah selembar wajah dara baju hitam itu,
mendadak ia cabut keluar pedang pendeknya lalu berseru
dengan suara dalam:
" Nona mu sama sekali tak ada hubungannya dengan
kematian dari anggota keluarga suma, keadaan kita ibaratnya
air sungai yang tidak melanggar air sumur, biarkanlah aku
pergi dari sini."
"Haaahhh... haaahhh... haaahhh kalau toh engkau tak ada
sangkut pautnya dengan peristiwa pembunuhan ini mau apa
kau bersembunyi di bawah kolong meja sembahyangan?"
Gadis berbaju hitam itu mendengus dingin, ia melejit dan
melayang kearah pintu gerbang.
sekali lagi Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak.
"Haaahh... haaah... haaaah... kau toh belum menjelaskan
duduknya persoalan, mau apa buru buru pergi dari sini??"
sekali melompat, ia sudah menghadang kembali jalan pergi
dari dara baju hitam itu.
Agaknya gadis berbaju hitam itu sudah menduga bahwa
musuhnya bakal berbuat demikian, pedang pendek yang
sudah diloloskan mendadak ditusuk kedepan, bersamaan itu

66
pula sepasang kakinya menjejak tanah dan melayang keudara,
kemudian meluncur melewati tembok pekarangan.
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. ditengah gelak
tertawa yang amat nyaring itu, ia melancarkan sebuah
cengkeraman dan menangkap ujung pedang pendek itu.
Kilatan cahaya tajam memancar keluar dari balik pedang
pendek itu, memang senjata itu merupakan sebilah pedang
mustika yang tajam sekali, namun dalam cekalan Hoa In-liong
seakan-akan pedang mustika itu bukan sebuah senjata yang
tajam melainkan cuma pedang kayu yang tumpul.
Padahal waktu itu gadis baju hitam tadi sedang melambung
diudara, karena merasa berat hati untuk membuang
senjatanya, terpaksa dia tarik nafas panjang dan melayang
kembali ketanah.
Karena gadis itu sudah melayang turun, maka Hoa in-liong
pun melepaskan cengkeramannya ia tertawa lalu berkata:
"Nona bolehkah aku tahu siapa nama nona?"
Kejut dan gelisah bercampur aduk dalam hati gadis baju
hitam itu, bukan menjawab ia malah berseru dengan marah:
"Berulang kali aku kan sudah menerangkan bahwa aku
sama sekali tak tersangkut dengan peristiwa pembunuhan
atas keluarga suma, buat apa engkau musti banyak
bertanya?"
Hoa In-liong tidak marah, meskipun nada gadis itu kasar
malahan dengan senyum dikulum ujarnya:
"Selama hidup aku paling suka berhubungan dengan anak
gadis, bila nona tidak memberi penjelasan seterangterangnya,
jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dengan
begitu saja"
Gadis berbaju hitam itu agak tertegun, lalu makinya:
"Huuh, katanya saja keturunan dari keluarga kenamaan tak
tahunya cuma manusia tengik yang suka menggoda kaum
lemah."
"Haaah haaah haah kalau kakakku. memang keturunan
tulen dari keluarga kenamaan, sedangkan adikku Hoa Wijuga

67
benar-benar seorang keturunan keluarga bernama besar,
sedangkan aku sendiri...haaah...haaahh...."
"Kenapa dengan kau?" seni gadis itu ketus. Dengan wajah
bersungguh sungguh Hoa in-liong berkata:
"Aku tak pernah memperdulikan ocehan orang lain,
watakku paling aneh dan aku paling suka berbuat sesuatu
menurut suara hatiku sendiri, nona manis....wahai nona
manis... setelah kau terjatuh ketangan Hoa jiya, maka itu
sama artinya bahwa kau bakal sial"
Perkataan itu membuat gadis baju hitam tersebut jadi
melengak. la lantas berpikir:
"orang she-Hoa ini memang kukoay dan anehnya luar
biasa, ia berilmu silat tinggi, jelas aku bukan tandingannya,
mau kabur juga tidak bisa... bagaimana aku sekarang ? Apa
yang harus kulakukan??"
otaknya berputar keras dan berusaha untuk menemukan
jalan untuk melarikan diri, Mendadak. satu perasaan aneh
muncul dalam hati kecilnya, merah padam selembar
wajahnya, dengan wajah kemalu-maluan ia tundukkan
kepalanya rendah-rendah.
sebagaimana diketahui, Hoa In-liong adalah seorang
pemuda yang sangat tampan, ketampanannya begitu
menawan hati membuat setiap nona yang bertemu dengannya
boleh dibilang lebih banyak terpikat daripada tidak.
Kebetulan dara berbaju hitam itu sudah mencapai usia
dewasa, dan lagi semenjak kecil jarang bergaul dengan kaum
lelaki lawan jenisnya, maka sewaktu ia merasa bahwa pihak
lawannya adalah seorang pemuda yang sangat tampan, serta
merta hatinya yang baru mekar jadi terpikat, kontan saja
jantungnya berdebar keras, suatu perasaan jengah yang aneh
muncul dari hati kecilnya.
Melihat keadaan sang dara itu, Hoa In-liong tertawa, dari
sakunya dia mengeluarkan kipas bergagang emasnya,
kemudian sambil menggoyang-goyangkan kipas itu tegurnya
lagi: "Nona, siapa namamu?"

68
Dara berbaju hitam itu menengadah dan memandang
sekejap kearah sang pemuda kemudian sahutnya dengan lirih.
"Kita toh tidak saling mengenal, buat apa musti saling
menyebutkan nama?"
"Haaahhh.... haaahhh ....haaahhh kalau memang nona
merasa keberatan untuk mengucapkan namamu, akupun tidak
akan memaksa lebih jauh"
Tiba tiba ia simpan kembali kipasnya, kemudian sambil
menunjukkan sikap mempersilahkan tamunya masuk. Ia
menambahkan
"Mari nona, kita berbicara dalam ruang tengah situ saja"
Gadis berbaju hitam itu agak tertegun, lalu menjawab:
"Dalam peti mati itu ada racun kejinya, sekalipun kongcu
tidak takut dengan racun tersebut, siau li tak kuat untuk
menahan diri,"
Kali ini nada perkataannya jauh lebih lunak lagi daripada
ucapannya pertama kali tadi.
"Darimana kau bisa tahu kalau dalam peti mati itu ada
racun kejinya...?" tiba-tiba pemuda itu balik bertanya.
"sudah berulang kali kukunjungi tempat ini, sewaktu
mereka mengatur jebakan tersebut, secara diam-diam dapat
kulihat semuanya"
"Mau apa nona datang kesini??"
sekilas lasa sedih dan kesal melintas di wajah dara baju
hitam itu, selang beberapa saat kemudian dia baru menjawab:
"siau-Ii msmpuayai kesulitan yang tak bisa di katakan
kepada orang lain, pokoknya aku sama sekali tak ada sangkut
pautnya dengan peristiwa pembunuhan di keluarga suma"
Hoa In-liong termenung dan berpikir sebentar kemudian
katanya pula:
"Baiklah, akan kututup peti mati itu agar hawa racun tak
sampai menyebar kemana-mana, ikutilah aku"
Pada hakekatnya pembunuhan atas diri suma Tiang-cing
tidak meninggalkan jejak barang sedikitpun juga, bisa
dibayangkan sudikah pemuda itu melepaskan dara baju hitam
itu dengan begitu saja setelah ia berhasil menemukannya ?

69
Begitu selesai berbicara, dia lantas masuk lebih dulu kedalam
ruang tengah.
Ruangan itu gelap gulita, Hoa In-liong memasang api dan
menutup kembali peti mati tersebut kemudian baru berseru
lantang:
"Nona, sekarang engkau boleh masuk ke dalam"
Waktu itu nona baju hitam itu berdiri diluar ruangan, ia jadi
tercengang bercampur keheranan ketika melihat pemuda itu
bisa masuk keluar dalam ruangan itu sambil tertawa dan
berbicara, sedikitpun tidak takut dengan hawa racun yang
menyebar keluar dari balik peti mati tersebut.
Baru saja dia akan menggeserkan kakinya untuk melangkah
masuk kedaiam ruangan itu, mendadak satu ingatan terlintas
dalam benaknya, ia terkesiap. tiba-tiba sambil putar badan
gadis itu kabur terbirit-birit dari situ Hoa ln-liang tertawa
tergelak. ejeknya:
"Nona manis... wahai nona manis... aku toh sudah bilang,
tak nanti kau bisa lolos dari tanganku, mengapa kau sengaja
ingin melarikan diri.?"
Sekali menjejak kakinya keatas tanah, nona baju hitam itu
sudah meloncat, keatas dinding pekarangan dengan enteng,
tapi baru saja dia akan melompat turun, tiba-tiba pinggangnya
jadi kencang dan tahu-tahu sudah dipeluk erat-erat oleh si
anak muda itu. sambil tertawa terbahak-bahat pemuda Hoa
mengejek katanya:
"Haaahh... haaahhh haaahhh.... jangan nona anggap aku
mau mencari untung dengan pelukan ini, siapa suruh nona tak
pegang janji tak mau menuruti perkataanku... sekarang,
janganlah menyalahkan diriku kalau terpaksa memakai cara
ini."
Merah padam selembar wajah dara baju hitam itu karena
jengah, tiba-tiba ia menarik muka dan berseru dengan dingin.
"Hoa kongcu, ilmu silat siau-li memang terlampau cetek
dan bukan tandinganmu akupun bukan manusia yang tak tahu
diri, harap kau segera lepas tangan."

70
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. la lantas melepaskan
pelukan itu dan merangkap tangannya didepan dada, katanya
dengan wajah bersungguh-sungguh:
"Harap nona jangan marah dan mengumbar kegusaran
padaku, anggaplah siau-seng bertindak terlampau kasar,
terimalah permohonan maaf ku ini janganlah memikirkan
kejadian yang baru lewat ke dalam hati"
Berbicara sampai disitu dia benar-benar menjura dihadapan
gadis itu, ini membuat dara baju hitam itu mau menangis tak
bisa mau tertawapun sungkan, setelah istirahat sebentar,
akhirnya ia baru berkata lagi dengan ketus.
"Tak usah banyak adat, bila kongcu tiada petunjuk lagi, aku
yang rendah ingin mohon diri"
"Sudah terang gadis ini mempunyai asal usul yang
mencurigakan" pikir Hoa-In-liong dihati, tapi lagaknya saja sok
serius dan bersungguh sungguh, sudah pasti dibalik
keseriusannya ini tersembunyi maksud maksud yang licik
Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata:
"Setelah Suma tayhiap mengalami musibah dan mati
terbunuh, aku mendapat perintah dari ayahku untuk mencari
tahu siapa gerangan pembunuh keji tersebut, sungguh
beruntung aku telah bertemu dengan nona yang merupakan
satu-satunya titik terang yang berhasil kutemukan,
bayangkan, sendiri nona, apakah aku bersedia untuk
melepaskan dirimu dengan begitu saja?"
Dara berbaiu hitam itu tertawa dingin.
"Heeehhh...heeehhh...heeehhh tahulah aku sekarang,
rupanya kongcu menaruh curiga bahwa aku yang rendah
termasuk komplotan dari pembunuh tersebut?" Hoa In-liong
tersenyum.
"Aku cuma mengharapkan petunjuk dari nona, siapa bilang
kutuduh nona berkomplot dengan para pembunuh? Aku tak
akan mencelakai orang secara diam-diam, apalagi menfitnah
orang baik-baik"
Pada mulanya pemuda itu mengatakan bahwa gadis baju
hitam itu adalah "titik terang" yang berhasil ia peroleh,

71
kemudian mengatakan pula bahwa dia adalah seorang baik
baik, pada hakekatnya bicara pulang balik tujuannya cuma
satu yakni dia hendak mengorek keterangan yang sebanyakbanyaknya
dari mulut gadis ini.
Tentu saja gadis berbaju hitampun mengetahui akan tujuan
lawan, sebab itulah dengan wajah yang dingin membesi ia
menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip, mukanya
menunjukkan rasa marah dan tak senang hati.
sekalipun gadis itu berdiri dengan dahi berkerut dan muka
cemberut, namun justru dibalik ke cemberutannya itu
terpancar suatu daya pikat yang mempesonakan hati. Hoa In-
Hong sama sekali tidak menggubris kelembutan , lawan,
malahan dengan senyum dikulum ia menatap wajah gadis itu
lekat-lekat, seakan-akan ia sedang manfaatkan kesempatan
yang ada untuk menikmati keindahan dara tersebut.
Nona berbaju hitam itu jadi melongo, ketika dilihatnya
pemuda itu tidak marah pun tidak menunjukkan tak senang
hati, sebaliknya hanya tersenyum sambil memandang
kearahnya, ia semakin dibikin apa boleh buat.
setelah berpikir sebentar, tiba-tiba dengan wajah serius dan
nada bersungguh sungguh dia berkata:
"Hoa kongcu sungguhkah engkau ingin menyelidiki serta
membekuk pembunuh darisuma tay-hiap?"
Cepat Hoa In- liong merangkap tangannya memberi
hormat, dan menyahut:
"Aku mendapat tugas dari ayahku untuk menyelidiki serta
membikin terang masalah pembunuhan berdarah ini, sebelum
tugas tersebut berhasil kuselesaikan, tak mungkin aku bisa
pulang kerumah untuk memberi pertanggungan jawab, oleh
sebab itu aku mohon kepada nona agar bersedia untuk
membantu usahaku ini"
Gadis berhaju hitam itu tertawa dingin, katanya kemudian.
"Baik siau-li akan membantu usahamu ini..."
selesai memberikan kesediaannya, dia lantas-putar badan
dan lari menuju keluar ruangan tersebut.

72
Menyaksikan tindak tanduk gadis itu, Hoa In liong
tercengang dan penuh diliputi kecurigaan tapi ia tahu bahwa
gadis baju hitam ini meski bukan sekomplotan dengan para
pembunuh, namun dia adalah seseorang yang sangat paham
dengan duduknya persoalan ini, tidak sangsi lagi dia menyusul
dibelakangnya dengan langkah lebar.
setelah keluar dari kota Lam-yang, mereka melakukan
perjalanan cepat selama setengah jam dan akhirnya sampai
disuatu tempat yang sepi dan penuh dengan semak belukar
yang lebat.
Diantara semak belukar yang tumbuh dengan liarnya itu,
tampak sebuah bangunan rumah gubuk bangunan itu berdiri
sendiri dikelilingi alas yang lebat.
Empat penjuru penuh semak belukar hamparan pepohonan
dan boleh dibilang tiada jalan tembus sebuahpun
pemandangannya amat seram danpenuh diliputi hawa misteri
yang tebal.
sambil menyingkirkan semak yang menghadang jalan
majunya, gadis baju hitam itu berjalan menuju kedepan pintu
gubuk tersebut lalu sambil mengetuk pintu katanya.
"si-nio, buka pintu" , Cahaya lentera memancar keluar dari
gubuk tersebut, menyusul seseorang bertanya dengan suara
yang parau: "Apakah nona diluar sana?"
"Tentu saja aku, kalau tidak siapa lagi?" sahut dara itu
dengan nada ketus.
suasana hening untuk sesaat, kemudian terdengar suara
parau itu berkumandang lagi:
"siapa rekan yang lain itu??"
"suruh kau buka pintu mengapa tidak cepat buka pintu ?
Buat apa engkau banyak bertanya ? " teriak gadis baju hitam
semakin marah.
semenjak tadi Hoa In-liong sudah mengetahui bahwa
sipembicara dalam rumah gubuk itu sudah berdiri dibelakang
pintu, nyatanya pintu kayu tersebut masih tertutup rapat,
kendatipun berulang kali dara itu sudah berteriak. ini berarti

73
bahwa orang itu memang tak berminat membukakan pintu
bagi mereka.
Tampaknya kemarahan nona baju hitam itu sudah
mencapai pada puncaknya, untuk kesekian kalinya ia
menghardik: "Kurang ajar, rupanya kau sudah bosan hidup?."
Dengan sepenuh tenaga telapak tangannya ditolak ke depan.
"Kraaaak...." ternyata pintu itu tidak terkunci, tatkala
didorong otomatis pintu itu membuka dengan sendirinya,
Redup sekali cahaya lentera yang menyinari rumah gubuk itu,
dibalik pintu adalah sebuah ruangan kecil, dalam ruangan itu
hanya terdapat sebuah meja kayu yang sudah bobrok serta
dua buah kursi barabu, peralatan lain tidak nampak.
Waktu itu tak seorangpun berada dalam ruangan, dengan
penuh kegusaran gadis baju hitam itu menerjang masuk
kedalam rumah, kemudian teriaknya dengan marah: "si-nio,
kau...."
"Nona tak usah mencari lagi, si Nio yang kau cari sudah
berada disini,." tukas Hoa In- liong.
seseorang mendengus dingin, kemudian menjawab:
"Benar, aku memang berada disini, tajam amat
pendengaran serta penglihatanmu"
Berbareng dengan selesainya perkataan itu, sesosok
bayangan manusia muncul dari balik pintu dan menghadang
arah pandangan Hoa In-liong ke ruang sebelah dalam.
Masih mendingan kalau sianak muda itu tidak memandang
tampang perempuan yang bernama si Nio itu, begitu sinar
matanya beradu tatap dengan orang tersebut, kontan sekujur
badannya gemetar keras, hawa bergidik yang dingin muncul
dari alas kaki mencapai keatas dada, ia bersin beberapa kali
sementara bulu kuduknya pada bangun berdiri
Pemuda itu kaget bukan lantaran dia pernah kenal dengan
perempuan yang bernama si Nio itu adalah oleh karena
tampang si Nio benar-benar mengerikan sekali, ibaratnya
setan alas yang tiba tiba muncul dihadapan matanya.
Usia si Nio belum mencapai empat puluh tahu saja,
rambutnya masih ber warna hitam pekat dan kulit tubuhnya

74
tampak putih bersih, sayang raut wajahnya penuh dengan
bekas-bekas luka yang mengerikan.
Berpuluh-puluh buah bekas bacokan yang melekuk ke
dalam dan berwarna merah karena kelihatan daging dalamnya
tersebar di sana sini, seakan-akan mukanya itu pernah
dicincang dengan senjata hingga hancur mumur, mengerikan
sekali bagi siapapun yang memandang.
Waktu itu si Nio berdiri di hadapan Hoa In liong dengan
sorot mata penuh tanda tanya, sementara mulutnya masih
tetap membungkam dalam seribu bahasa.
Dalam pada itu, dara baju hitam itu sudah keluar dari ruang
dalam, dia lantas membentak:
"si-Nio benarkah engkau sudah bosan hidup ? Mau apa kau
berdiri mematung di sana? Hayo cepat mengundurkan diri dan
hidangkan air teh untuk tamu kita ini"
si- Nio sama sekali tidak berpaling, setelah memandang lagi
wajah Hoa ln liong dengan termangu-mangu, ia baru beranjak
dan menuju ke ruang dapur di belakang sana.
ooooooooooooo
BAB 3
SETELAH berhasil menguasahi perasaannya, diam-diam
Hoa In liong memperhatikan cara si Nio berjalan, ia lihat
sepasang kaki perempuan itu menempel tanah dan sama
sekali tak berbeda dengan manusia biasa, diapun tidak
menunjukkan gerakan seakan-akan sedang mengerahkan ilmu
meringankan tubuh, walau begitu langkah kakinya sama sekali
tak bersuara, seolah-olah perempuan itu memang sama sekali
tak berbobot.
Hoa- In- liong memang pemberani dan berilmu tinggi, tapi
berada dalam keadaan seperti sekarang tak urung tercekat
juga hatinya, peluh dingin serasa membasahi seluruh
tubuhnya.

75
" Hoa- kongcu, silahkan duduk" terdengar nona baju hitam
itu berkata dengan dingin.
Cepat Hoa- In- liong mendusin kembali dari lamunannya, ia
tertawa menyengir dan menjawab.
"oooh, silahkan duduk, silahkan duduk, nonapun duduklah".
Dua orang muda mudi itu mengambil tempat duduknya
masing-masing, lalu gadis itu berkata lagi dengan serius.
"Hoa kongcu, pernahkah engkau tahu tentang Masalah sin
ki pang, Hong im-hwe dan Tong-thian kau tiga buah kekuatan
besar dalam dunia persilatan dimasa lalu?"
"Aaah... itu toh kejadian pada dua puluh tahun berselang"
sahut Hoa In liong sambil berkerut kening. "Aku dengar,
dahulu dalam dunia persilatan terdapat perkumpulan sin-ki
pang, Hong-im hwe dan Tong-thian kau, masing-masing pihak
berdiri di suatu daerah dan menguasahi suatu wilayah yang
besar,"
"sebagai keturunan keluarga persilatan tentunya kongcu
mengetahui sangat jelas bukan dengan peristiwa yang pernah
terjadi dimasa lampau?"
Hoa In- liong tersenyum.
"Perkumpulan Hong-in hwe serta Tong-thian kau sudah
lama musnah dari muka bumi, sedangkan perkumpulan sin-ki
pang juga telah membubarkan diri apa sebabnya secara tibatiba
nona menyinggung kembali peristiwa lama yang sudah
berlangsung pada dua puluh tahun berselang??"
"Apakah kongcu juga mengetahui tentang perkumpulan
Kiu-im-kau?" bukan menjawab gadis itu malahan bertanya
lagi.
"Aku memang pernah mendengar orang menyinggung soal
perkumpulan itu. cuma kemudian aku dengar perkumpulan itu
sudah bubar dan tercerai berai setelah berulang kali
mengalami kekalahan" Dara berbaju hitam itu mendengus
dingin.
"Hmm Baru-baru ini dalam dunia persilatan telah muncul
pula sebuah perkumpulan baru yang bernama Hian-beng-kau
pernah kongcu dengar tentang perkumpulan ini?"

76
"Perkumpulan Hian-beng-kau ? Belum pernah kudengar
tentang nama perkumpulan ini " sahut Hoa In- liong dengan
hati terperanjat
"Aku sendiripun baru-baru ini mendengar dari mulut orang
lain" kata gadis itu dengan hambar.
"Apakah nona bersedia menerangkan kepadaku..." pinta
sang dara seraya menjura.
"Suatu hari, tanpa sengaja aku telah menemukan satu
rombongan manusia yang sangat mencurigakan, oleh karena
terdorong rasa ingin tahu, diam-diam kuintil kelompok
manusia-manusia tersebut dari belakang."
Hoa In liong pusatkan semua perhatiannya untuk
mendengarkan penuturan dari gadis itu, tiba-tiba dari dalam
hati kecilnya muncul perasaan was-was, cepat la berpaling ke
belakang, entah sedari kapan si Nio yang berwajah penuh
codet itu telah berdiri di belakangnya dengan membawa
sebuah baki, di atas baki itu terletak dua buah cawan berisi air
teh. Ketika si nio melihat si anak muda itu berpaling, Ia lantas
meneruskan langkahnya dan meletakkan kedua cawan air teh
itu ke atas meja.
Diam-diam Hoa In-liong merasa amat gusar dia angkat
tangan kanannya hendak mencengkeramp ergelangan tangan
si nio, tapi ingatan lain lantas melintas dalam benaknya ia
berpikir:
"Bagaimanapun juga aku adalah tamu dan dia adalah tuan
rumah, jika aku bertindak lebih dahulu maka tindakanku ini
terasa kasar dan kurang sopan."
Karena berpikir begitu, diapun membatalkan niatnya dan
tetap tak berkutik ditempat semula.
Dengan tatapan dingin dara baju hitam itu melirik sekejap
ke arah si Nio, kemudian seraya ulapkan tangannya dia
berseru: "Mundurlah dari sini"
Wajah si Nio yang mengerikan itu berkerut kencang bahkan
agak gemetar, tiba-tiba ia berkata:
"Hoa kongcu, silahkan minum teh"

77
" Cerewet amat kamu ini, hayo cepat mundur dari sini"
bentak gadis itu dengan marah.
Hoa In- liong yang mengikuti perkembangan ditempat itu,
dalam hati kecilnya lantas membatin.
"Rumah gubuk ini benar-benar penuh diliputi hawa setan,
kalau tidak kutunjukkan sedikit kelihaian, rupanya susah untuk
memaksa mereka masuk ke dalam kekuasaanku...".
Berpikir sampai di situ, tiba-tiba ia menengadah dan
tertawa keras, lalu sambil angkat cawan katanya:
"Silahkan nona melanjutkan kisah penuturanmu akan
kudengarkan semuanya dengan penuh perhatian"
Ia tempelkan cawan itu di bibir dan menghirup teh panas
itu satu tegukan.
Kebetulan lampu lentera yang menerangi ruangan tersebut
berada disampingnya, ketika mengambil cawan, sengaja ujung
bajunya dikebaskan agak kencang, dikala api lampu lentera itu
bergoncang terhembus angin, pemuda itu segera manfaatkan
kesempatan yang ada untuk bermain gila.
sedikit jari kelingkingnya menyentil ke depan, sebutir pil
yang amat kecil telah dimasukan ke dalam cawan teh yang
lain, gerakan itu dilakukan dengan cepat dan tidak menyolok.
ternyata baik si-Nio maupun dara baju hitam itu sama-sama
tidak merasa.
semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata,
sementara itu dara baju hitam itu sudah mengalihkan kembali
sorot matanya ke arah cawan teh yang berada di hadapan
pemuda itu, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya:
"Diam-diam aku ku kuntit perjalanan rombongan itu, ketika
kulihat mereka memasuki gedung kediaman suma-tayhiap.
akupun menyusup masuk ke dalam ruangan. Di sana kulihat
mereka membuka tutup peti mati dan menyebarkan sejenis
bubuk putih ke dalam peti mati itu, kemudian menutup
kembali tutup peti mati itu, aku lihat dengan wajah berseri
mereka lantas menyembunyikan diri dan siap menangkap
mangsanya."

78
sementara dara itu bercerita, Hoa In- liong telah mencoba
air teh itu, dia ia telah membuktikan bahwa dalam air yang
bersih itu benar-benar telah dicampuri dengan obar bius.
sekalipun begitu, paras mukanya sama sekali tidak
berubah, dia mengangkat kembali cawan air teh itu dan
meneguk lagi satu tegukan, katanya sambil tersenyum:
"Apakah perempuan yang menyebut dirinya she Yu itu juga
merupakan anggota perkumpulan Hian-beng-kau?"
Dara baju hitam itu mengangguk. "Akupun tahu dari mulut
beberapa orang itu" katanya.
"Apakah nyonya Yu adalah ketuanya?" kembali si anak
muda itu tersenyum, dia angkat cawan dan meneguk kembali
air teh itu dengan nikmat.
"Hmm Mimpi...." sahut nona itu dengan dingin, " nyonya
she Yu itu tak lebih cuma seorang prajurit yang menurut
urutan menempati posisi paling buncit, rombongan itu
semuanya berjumlah belasan orang, sekalipun ketua
rombonganpun tidak lebih cuma seorang kepala regu yang
rendah sekali kedudukannya dalam perkumpulan Hian-bengkau"
Hoa ln- liong pura-pura terperanjat setelah mendengar
perkataan itu, serunya:
"Aaah.... pernahkah nona berjumpa dengan pemimpin
rombongan itu? Berapa usia orang itu? Dia seorang laki-laki
ataukah seorang perempuan?" kembali ia meneguk isi isi
cawan itu hingga habis.
"Sudah beberapa kali kulakukan penyelidikan, namun selalu
gagal untuk bertemu dengan pemimpin rombongan tapi
menurut apa yang berhasil kudengar, orang itu katanya sheciu
( dendam ) dan mereka memanggil ciu kongcu
kepadanya."
" Kalau toh orang itu disebut kongcu, aku pikir tentu
usianya tidak seberapa besar"
"Kalau kutinjau dari ciri mereka berbicara serta apa yang
mereka bicarakan, aku dapat menarik kesimpulan kalau Ciu
kongcu itu bukan saja pemimpin rombongan, bahkan dia pula
otak dari pembunuhan atas diri suma Tiang- cing. Kini orang

79
tersebut masih berada di kota Lan- yang, aku rasa sampai
sekarangpun belum pergi." Tiba tiba Hoa in-liong menengadah
dan tertawa terbahak bahak.
"Haaah haaaahh haaaahh sungguh menarik. sungguh
menarik Hoa loji bakal bertempur sengit melawan ciu kongcu"
"Huuh, apanya yang perlu kau banggakan?" ejek dara baju
hitam itu dengan sinis, "toh Ciu kongcu hanya seorang
anggota perkumpulan Hian beng-kau yang berkedudukan
rendah, mendingan kalau dia adalah ketuanya perkumpulan
itu"
Hoa In- liong tak menggubris ucapan dara itu dia masih
mengoceh terus dengan wajah berseri-seri:
"Haaah haaaahh haaaaahh Hoa loji bakal menghancur
lumatkan perkumpulan Hian-beng-kau itulah baru
mengagumkan namaku pasti akan tersohor dan dikenal oleh
setiap orang"
Dara baju hitam itu tertawa dingin, bibirnya bergetar
seperti mau mengucapkan sesuatu, namun niat itu kemudian
dibatalkan.
selama ini si-Nio selalu berdiri di belakang Hoa-In-liong, ia
tidak pergi tinggalkan tempat itu seperti apa yang
diperintahkan kepadanya, ketika dengar ocehan si anak muda
itu, tiba-tiba dia angkat sepasang telapak tangannya, dengan
sepuluh jari yang dipentangkan lebar-lebar perempuan itu siap
melakukan tubrukan.
Belum sempat serangan itu dilancarkan tiba tiba Hoa Inliong
berputar badan seraya berteriak.
"Si-Nio"
si- Nio terperanjat dan menarik diri kebelakang sementara
dara baju hitam itupun menunjukkan perubahan wajah yang
sangat hebat.
Hoa-In-liong tertawa tergelak. sambil mengangkat cawan
air tehnya ia berkata. "si-Nio, aku dahaga sekali, tolong
ambilkan secawan air teh lagi.."
si- Nio tertegun, dengan ragu-ragu dia menerima cawan
itu, kemudian mengundurkan diri dari sana:

80
"si-Nio" tiba-tiba Hoa-ln-liong memanggil lagi.
sekujur badan si-Nio gemetar keras, tapi ia berhenti juga
seraya berpaling. sambil tersenyum anak muda itu
menambahkan:
"Daun teh kalian memang terlalu bagus dan enak diminum,
tolong berilah yang agak kental sedikit"
Wajah si Nio yang jelek dan tak sedap dilihat itu agak
gemetar, tapi ia mengangguk juga dan buru-buru menuju
kedapur.
Kiranya si Nio- telah mencampurkan sejenis bahan obat
dalam air teh yang disuguhkan kepada tamunya itu, obat
tersebut sangat lihay, kendatipun seseorang memiliki ilmu silat
yang sangat lihay, setelah minum air teh itu niscaya akan
roboh tak sadarkan diri
siapa sangka, ketika air teh berobat itu masuk kedalam
perut Hoa In-liong, bukan saja sama sekali tidak menunjukkan
reaksi apa apa, bahkan seakan-akan bagaikan tenggelam
didasar samudra yang dalam, bukan begitu saja malahan
setelah habis secawan dia minta secawan lagi dan memuji
daun tehnya yang wangi dan minta diberi lebih banyak.
tidaklah heran kalau perempuan jelek itu jadi tercengang, dia
hampir saja tidak percaya dengan apa yang terpapar didepan
mata.
Dara berbaju hitampun diam-diam murung bercampur
gelisah pikirnya didalam hati:
"Hoa In-liong terlalu licik dan banyak tipu daya, setelah
obat pemabok gagal untuk merobohkan dia, tampaknya aku
harus pertaruhkan nyawa untuk bertarung melawannya"
sementara dia masih termenung, si nio sudah muncul
kembali sambil membawa secawan teh panas dengan sorot
mata memandang tanah, ia letakkan cawan itu dihadapan
tamunya dan membungkam dalam seribu bahasa.
Tampaknya Hoa In- liong memang haus sekali sehingga
sukar ditahan, cepat dia angkat cawannya dan menghirup satu
tegukan, kemudian sambil tertawa baru berkata:

81
"Jika kudengar dari nada pembicaraan nona, agaknya
perkumpulan Hian-bEng kau adalah suatu organisasi yang
sangat rahasia sekali, banyak jumlah anggotanya dan keji
dalam perbuatan serta tindak tanduknya, benarkah
perkumpulan ini adalah suatu perkumpulan sesat?"
"Aku rasa begitulah keadaannya" sahut dara itu ketus. Hoa
In- liong tertawa, kembali ia berkata:
" Kalau memang begitu, bukanlah dunia persilatan yang
sudah menjadi tenang selama dua puluh tahun, sekarang
mulai bergerak lagi memasuki masa kekalutan?"
seperti menyesali keadaan yang sedang dipikir, kembali
pemuda itu angkat cawan dan menghirup air teh.
Betapa kesal dan mendongkolnya gadis berbaju hitam itu,
apa lagi terhadap sikap sang tamu yang begitu santai seolaholah
acuh terhadap obat pemabuk yang dicampurkan dalam
air teh itu.
Karena murung, tanpa terasa gadis itu mengangkat pula
cawan air teh yang berada dihadapannya dan siap untuk
diteguk. katanya dengan dingin "siau-li tetap beranggapan
bahwa dunia persilatan sedang mengalami suatu masa
pancaroba, suatu masa perubahan dari keadaan yang tenang
menjadi keadaan yang kacau, kematian dari suma Tiang-cing
tidak lebih hanya suatu tanda permulaan dari kekalutan itu,
dan kematiannya boleh juga dikatakan sebagai korban demi
kepentingan orang lain"
" Kenapa?" Hoa-In-liong pura-pura tercengang bercampur
tidak mengerti.
Jilid 03
DARA baju hitam itu tertawa dingin.
"Heehhh....heeehhh....heeehhh... meskipun abahmu bernama
besar, menjagoi seluruh kolong langit, memimpin umat
persilatan dan ibaratnya sang surya ditengah awang-awang,

82
akan tetapi pada hakekatnya banyak musuh dan jago
persilatan yang memusuhinya, walaupun secara tersembunyi"
Tampaknya gadis itu tak ingin berbicara, tiba-tiba ia
merandek dan menghentikan kata-katanya, cawan yang sudah
diangkatpun lantas didekatkan kebibir siap-siap dihirup air
tehnya.
Hoa In-liong sengaja mengajak dara itu berbicara macammacam,
tujuannya hanya satu yakni memancingnya hingga
minum air teh dengan sendirinya, maka ketika dilihatnya
begitu siap menghirup air teh itu, tak tahan lagi ia tertawa geli
dan buru-buru berpaling kearah lain.
"Hey, apa yang kau tertawakan?" tegur dara baju hitam itu
dengan wajah tertegun. sambil mencibirkan bibir menahan
rasa gelinya, Hoa- In- liong menjawab:
"Air teh dalam cawan itu kurang bersih, lebih baik nona
jangan meneguknya daripada sakit perut jadinya"
Ucapan tersebut penuh mengandung nada ejekan, tapi
juga merupakan suatu peringatan, meski hanya sepatah kata
namun pada hakekatnya mempunyai arti ganda.
Tentu saja dara baju hitam itu tahu kalau si- Nio telah
mencampuri air teh dicawan tamunya dengan obat racun, tapi
ia tak menyangka kalau Hoa In- liong juga bermain gila
kepadanya, mendengar ucapan tersebut, dia lantas tertawa
dingin, kembali cawan itu ditempelkan pada bibirnya siap
diteguk,
Hoa- ln- liong benar-benar tak dapat menahan rasa gelinya
lagi, ia ingin tertawa sekeras-kerasnya .
Bagaimanapun juga, pemuda itu adalab keturunan dari
keluarga Hoa, sudah terbiasa baginya untuk menerima
pelajaran-pelajaran yang baik serta kewajiban untuk berbuat
mulia, dalam darah yang beredar dalam tubuhnya tetap
mengalir kejujuran serta kegagahan orang-orang keluarga
Hoa, meskipun wataknya agak binal, namun tabiatnya toh
tetap jujur, mulia dan bijaksana.
satu ingatan lantas melintas dalam benaknya, di detik yang
terakhir, ia berpikir dihati:

83
"Bagaimanapun juga dia toh seorang anak perempuan,
kalau ingin kuhajar dirinya kenapa tidak dihajar secara terangterangan?
Kalau ingin dibunuh kenapa tidak kubunuh dengan
terus terang Apa toh gunanya mempermainkan seorang anak
dara seperti dia?"
Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, pemuda
itu tidak ragu-ragu lagi, dia lantas melakukan penyambaran
kilat kedepan.
Dara baju hitam itu hanya merasa pandangan matanya
menjadi kabur dan tahu-tahu cawan yang berada ditangannya
sudah berpindah tangan, bukan saja cawan tersebut tidak
rusak atau pecah. isi cawan itupunsama sekali tidak tumpah
barang sedikitpun jua.."
Hoa In- liong tertawa tawa, sambil meletakkan cawan itu
keatas meja, ujarnya dengan wajah bersungguh-sungguh:
"Nona, engkau bukan tandinganku, lebih baik urusan yang
terjadipada hari ini kita selesaikan secara baik-baik saja. Harap
nona sebutkan siapa namamu, andaikata engkau benar-benar
tidak tersangkut dengan peristiwa berdarah yang menimpa
keluarga suma, sekarang juga aku akan mohon diri dari sini,
sebaliknya kalau engkau menolak maka terpaksa kita harus
selesaikan persoalan ini diatas senjata, akupun tak akan
berlaku sungkan-sungkan lagi kepadamu... mengenai cawan
teh ini, lebih baik isinya jangan kau minum"
Ucapan tersebut kontan membuat nona baju hitam itu jadi
tertegun, dia tahu air teh dalam cawan tersebut tentu ada halhal
yang tak beres walaupun hampir saja dia akan
dikecundangi, tapi gadis ini merasa kagum pula oleh
kecerdikan dan kehebatan Hoa- In- liong.
Berbicara dari kemampuan yang dimiliki pihak lawan, sudah
pasti mereka berdua tak mungkin bisa melakukan sesuatu
yang akan merugikan bagi lawannya.
Berpikir sampai disini, si dara baju hitam itu jadi pedih dan
sedih tapi teringat kembali akan kejujuran dan kegagahan
lawannya, diapun merasa kagum, lalu sesaat dia tak tahu apa

84
yang musti dilakukan, sambil berdiri termangu-mangu
ditatapnya pemuda itu tak berkedip.
Tiba-tiba si Nio berseru dengan gusar: "Huuh,
menggunakan permainan busuk untuk mencari kemenangan,
pendekar sejati macam apaan itu??"
Dengan langkah lebar dia menghampiri meja, mengambil
cawan teh itu dan sekali hirup dia teguk habis isinya.
Menyaksikan tingkah laku perempuan bercodet itu Hoa Inliong
langsung saja tertawa dingin.
"Heeeehh heeeehh heeeeh kalau toh engkau hendak
mencari penyakit bagi diri sendiri, jangan salahkan kalau aku
bermain curang kepadamu"
si Nio tertawa seram, suaranya lengking bagaikan lolongan
serigala ditengah malam, buas sekali kedengarannya.
sambil membanting cawan teh itu hingga hancur, dia
pantang kesepuluh jari tangannya, bagaikan garuda kalap
diterkamnya sianak muda itu dengan ganas.
Pada dasarnya perempuan itu memang berwajah seram,
apalagi sekarang setelah menyeringai menyeramkan,
tampangnya itu semakin menjijikkan dan bikin hati orang
bergetar keras.
segenap bawa murni yang dimilikinya telah dihimpun
menjadi satu, semua tulang persendian dalam tubuhnya
berbunyi gemerutukan nyaring, lengan yang semula putih
mulus sekarang telah berubah jadi hitam pekat bagaikan
arang, sepuluh jari tangannya yang panjang dan runcing
tampak lebih panjang beberapa cun.
Waktu itu tampangnya seram dan sikapnya mengerikan,
bila ada orang yang tak tahu duduknya perkara, niscaya akan
beranggapan bahwa ia sedang berhadapan dengan kuntilanak
kesiangan.
Hoa In-liong sendiripun agak marah oleh sikap kasar
lawannya, dia melejit dan melayang dua depa dari tempat
semula, kemudian dengan dingin ujarnya:
"Kalau kutinjau dari ilmu silatmu yang begitu keji dan tak
kenal ampun, jelaslah sudah bahwa engkau bukan manusia

85
baik-baik...Hmm Perempuan iblis seperti engkau, nomor satu
paling tak boleh diampuni"
Dengan menghimpun tenaga, dia melepaskan sebuah
serangan balasan dengan telapak tangan kanannya.
Terdengar desingan angin pukulan menderu-deru, hebat
sekali serangan dari sianak muda ini.
Gadis baju bitam yang berada disisi kalangan tidak
mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba ia cabut pedang
pendeknya, kemudian secepat sambaran petir lepaskan
sebuah tusukan ke muka.
Cepat sekali datangnya tusukan tersebut, bukan saja
membawa desingan angin tajam, kecepatannya sukar
dilukiskan dengan kata-kata, Hoa in-liong terdesak hebat,
terpaksa dia melompat mundur tiga depa kebelakang.
si Nio yang gagal dengan serangan pertamanya segera
tertawa keras seperti iblis, suara itu serak tapi melengking
sehingga lebih tak sedap didengar daripada lolongan srigala,
berada dalam rumah gubuk yang dikelilingi semak belukar
semacam itu, tertawa seramnya itu cukup menggetarkan hati
siapapun, membuat orang jadi bergidik dan bulu kuduknya
pada bangun berdiri.
Hoa In liong mengerutkan kening, tangan kanannya
meraba gagang pedang dan siap untuk mencabutnya, tapi
ingatan lain melintas dalam benaknya, ia merasa sebagai
seorang lelaki sejati tidaklah pantas melayani dua orang
perempuan dengan memakai senjata.
sementara pemuda itu masih sangsi, pedang pendek dari
nona baju hitam itu sudah melepaskan tusukan demi tusukan,
semuanya merupakan serangan-serangan yang mematikan.
suatu ketika tiba-tiba si Nio melengkungkan tubuhnya
seperti gendewa, kemudian diiringi suara bentakan nyaring,
dia melancarkan sebuah terkaman maut ke depan.
Hebat sekali kerja sama dari dua orang majikan danpelayan
ini, setiap jurus ancaman dilakukan dengan ketat dan rapat,
terutama sekali si- Nio, dengan tak gentar barang sedikitpun
dia menerkam, menerjang dan menghantam secara kalap.

86
Makin memuncak kemarahan yang berkobar dalam hati
Hoa In- liong, ia maju kedepan secepat kilat, tangan kanannya
mencengkeram pedang pendek sang dara, sementara telapak
tangan kirinya menghantam jidat perempuan bercodet she si.
serangan tersebut dilancarkan secepat petir, sekalipun
dilepaskan agak belakangan tapi tiba lebih duluan dari
ancaman lawan, tampaknya sebentar lagi akan bersarang
dijidat perempuan jelek itu.
setajam sembilu pancaran mata dari si Nio, ia melotot
besar, matanya merah berapi-api, tampangnya kelihatan lebih
mengerikan dari semula.
Kendatipun pukulan dari Hoa In- liong yang mengancam
jidatnya sudah tiba didepan mata, ternyata perempuan itu
tidak berusaha untuk mengigos atau menangkisnya, ia
miringkan kepalanya untuk melindungi bagian yang
mematikan kemudian sambil memutar pinggang ia malahan
menubruk kemuka, sepasang tangannya dipentangkan lebarlebar
dan siap merangkul pinggang anak muda itu.
Kejut dan gusar Hoa ln-liong menghadapi ancaman
tersebut, untungnya dalam gugup ia tak bingung cepat
badannya direndahkan kebawah, lalu melejit kesamping.
Dengan begitu maka si Nio jadi menubruk tempat kosong,
cepat perempuan itu mengerem gerak laju tubuhnya dan
berputar kencang, seperti bayangan menempel badan ia kejar
terus kemana pemuda itu pergi, sementara dipihak lain nona
baju hitam itupun melepaskan sebuah bacokan kilat
menyergap sianak muda itu.
Tiga jurus gebrakan ini berlangsung sepanas bara dan
secepat kilat, meskipun sengit dan selalu salah bisa
mengakibatkan jiwa, namun hanya sekejap mata telah lewat.
Tiba-tiba si Nio menjerit lengking, sepasang tangannya
mendekap lambung sendiri, walaupun langkahnya sudah
gontai dan tak menentu, namun perempuan itu masih juga
berusaha untuk menerkam Hoa In- liong.
Dengan gesit pemuda Hoa menyingkir kesamping, dengan
kaki kirinya dia menendang si Nio sampai terguling dan

87
terguling ditanah, sementara jari tangan kanannya sekaku
tombak menotok pergelangan tangan sidara baju hitam itu
Tak berani gadis itu menyambut totokan maut tersebut,
pedangnya diputar untuk melindungi badan, dengan mundur
satu langkah terhindarlah nona itu dari totokan tersebut.
Dalam pada itu si Nio masih merintih dan meraung
kesakitan, sepasang tangannya mendekap perut sendiri,
tubuhnya berguling guling kesana kemari menahan sakitnya
yang tak terkirakan.
sewaktu si Nio mencampuri air minum Hoa In-liong dengan
obat pemabuk. sianak muda itupun mencampuri cawan dara
baju hitam dengan obat juga, tapi kenyataannya sekarang
Hoa In-liong tetap segar tidak kekurangan sesuatu apapun.
Sebaliknya Si-Nio mendekap perutnya yang kesakitan
seperti disayat-sayat itu sambil mengerang penderitaan yang
diterimanya saat ini boleh dibilang hebat sekali.
Hoa- In- liong memang binal dan aneh wataknya tapi baru
pertama kali ini dia menghukum orang dengan cara seperti ini,
betapapun hatinya tidak tenteram setelah menyaksikan
penderitaan si- Nio yang mengerang kesakitan itu, ia
melayang kedepan dan melepaskan totokan, maksudnya
hendak menotok dulu jalan darah si-Nio kemudian baru
berbicara tentang soal lain.
siapa tahu si-Nio telah berteriak dengan lantang:
"Nona adu jiwa dengan keparat ini, bunuh saa bangsat ini
maka jiwa loya bisa kita selamatkan."
sambil menjerit-jerit seperti perempuan histeris si-Nio
bergulingan ditanah dan menerkam lagi sepasang kaki Hoa-
In- liong.
Bergetar keras sekujur badan Hoa- In- liong dengan penuh
kemarahan dia berteriak: "Mati hidup aku orang she Hoa, apa
sangkut pautnya dengan keselamatan loya mu?"
Kembali dia lancarkan sebuah tendangan kilat yang
membuat tubuh si Nio terpental sejauh beberapa kaki,
malahan berguling sampai menerjang dapur.

88
Dara baju hitam itu membentak nyaring ia maju sambil
menyerang, pedangnya berputar kencang lalu melepaskan
sebuah tusukan kelambung lawan.
Kemarahan HoaJn-liong tak terkendalikan lagi dengan
tangan kiri dia rampas pedang pendek itu, tangan kanan
melancarkan totokan.
"Hayo cepat terangkan siapa namamu?" bentaknya, "
engkau putri siapa? ada kesulitan apa dan mengapa hendak
mencabut nyawaku orang she Hoa."
sementara mulutnya masih menegur sepasang telapak
tangannya diputar sedemikian rupa mendesak nona itu habishabisan.
saking paniknya air mata telah bercucuran membasai pipi
nona baju hitam itu meski demikian pedang pendeknya
diputar kencang, tubuhnya selangkah demi selangkah mundur
terus ke belakang namun ia menggertak gigi dan
membungkam dalam seribu bahasa.
Mendadak... asap tebal mengepul keluar dari ruangan
rumah gubug itu menyusul jilatan api yang sangat besar
berkobar di seluruh penjuru ruangan.
Bila ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki Hoa In-liong, maka
untuk membereskan sinona berbaju hitam itu bukanlah suatu
pekerjaan yang sulit, tapi dasar dia memang romantis dan
suka menggoda kaum wanita, maka setiap mendapat
kesempatan untuk bertempur melawan nona cantik yang
masih muda belia, serta merta ia melayani pertarungan itu
dengan serangan yang terlemah. Tujuannya tak lain ialah
hanya merampas senjata nona itu dan menggodanya habishabisan,
tentu saja dalam keadaan serba panik dan gelisah ini
bukan perbuatan gampang baginya.
Dalam sekejap mata, kobaran api telah menelan setiap
benda yang berada dalam ruangan gubug
Tiba-tiba si Nio dengan rambut yang riap-riapan menjerit
lengking seperti lolongan serigala sepasang tangannya sambil
mengangkat tinggi-tinggi dua buah obor api menerjang keluar
dari dapur gerak-gerik seperti orang gila.

89
Kejut dan cemas Hao In-liong menghadapi kejadian seperti
ini, sekarang dia tak bisa bermain-main lagi sebab keadaan
makin serius secara beruntun jari tangannya melepaskan
beberapa totokan kilat yang menghajar jalan darah Ciangkeng-
hiat di bahu nona baju hitam itu, sementara tangan
kirinya membalik keatas merampas pedang pendeknya.
si- Nio meraung keras, obornya dikebut kemuka dengan
ganas, lalu menyapu wajah si anak muda itu.
Hoa- In- liong tak mau kalah, dengan pedang pendek hasil
rampasannya ia balas membacok tubuh lawan.
Dalampada itu nona baju hitam itu sudah tertotok jalan
darahnya oleh serangan jari Hoa In-liong, sepasang lengannya
jadi lumpuh dan terkulai lemah kebawah, meski begitu
sepasang kakinya masih bisa bergerak dengan leluasa,
mendadak ia menerkam kemuka dan menyongsong tibanya
bacokan pedang pendek itu dengan badannya.
Hoa- In- liong sangat terkejut, ia tak menyangka kalau
nona itu akan mengambil keputusan nekat dengan mengakhiri
hidupnya diujung pedang.
Padahal waktu itu asap tebal telah menyelimuti seluruh
rumah gubuk itu, kobaran api menjilat semua benda yang
ditemukan, sedangkan si- Nio seperti orang kalap menerjang
datang tiada hentinya.
Keadaan begini disamping Hoa In-liong harus menjaga
kaburnya si nona baju hitam, diapun harus pula melayani
serangan-serangan gencar dari nenek bermuka jelek. maka
tindak nekat dari nona tersebut amat mencekatkan hatinya.
Dalam gugup dan gelagapannya, ia memutar pinggangnya
ke samping, setelah lolos dari sambaran obor yang dilancarkan
si Nio, pedang pendek itu segera disingkirkan pula kesamping.
Kendatipun cukup cepat gerakan Hoa In-liong untuk
menyingkirkan pedang pendeknya, namun gerakan si nona
baju hitam untuk menyongsong datangnya tusukan
pedangpun tak kalah cepatnya.
Maka sekalipun tempat yang mematikan berhasil dihindari,
tak urung bahu sang nona tersambar juga oleh pedang tajam

90
itu hingga darah bercucuran dengan sangat derasnya, parah
juga luka yang dideritanya itu..
Kebakaran yang berkobar dalam rumah gubuk itu sudah
menyelimuti hampir ditiap bangunan di situ, dalam sekejap
mata jilatan api sudah membumbung tinggi keangkasa, suhu
udara jadi panas sekali hingga serasa menyengat badan.
Menghadapi kejadian seperti ini, Hoa in-liong dibikin
kehabisan akal pula, ia lantas berpikir:
"Waaah... kalau aku harus menghadapi dua orang yang
begini nekad, bisa-bisa jiwaku ikut kabur ke akhirat, baiknya
kugunakan sedikit akal saja untuk meringkus mereka"
Namun secara lapat-Iapat iapun mulai merasa bahwa dua
orang itu bukanlah anak buah dari perkumpulan Hian-bengkau,
dari gerak gerik mereka tampaknya kedua orang itu
justru berasal dari suatu keluarga yang ketimpa kemalangan
dan kehidupan mereka sangat menderita.
Karenanya ketika ia lihat api sudah berkobar d iempat
penjuru, dengan suatu gerakan cepat di sambarnya sinona
baju hitam itu lalu kabur keluar ruangan.
si Nio tertawa seram, sudah tentu ia tak sudi membiarkan
musuhnya kabur dari sana, obornya diputar semakin kencang
dan semua jalan pergi pemuda itu dihadangnya dengan
serangan mematikan.
Menghadapi kejadian seperti ini, Hoa In-liong marah sekali,
akhirnya ia membentak: "orang sinting, rupanya kau sudah
bosan hidup,"
Pedang pendeknya digetarkan kemuka, lalu menusuk
kedada lawan dengan jurus Leng-coa to-sim (ular ganas
menjulurkan lidahnya).
Waktu itu rasa sakit yang melilit perut si Nio sudah
mencapai pada puncaknya, perempuan itu tak sampai roboh
karena dia andalkan kekuatan dengan kalapnya untuk
mengamuk. dalam keadaan begitu darimana ia sanggup
menahan tusukan pedang yang dilancarkan dengan gerakan
cepat dan aneh itu?

91
Tapi.... sebelum tusukan itu dilanjutkrn, mendadak sinar
mata Hoa In-liong terbentur dengan wajahnya yang bercodet
dan penuh dengan luka itu, dibawah sinar obor tampaklah
wajahnya yang penuh " bunga" itu basah oleh keringat, kulit
mukanya berkerut kencang dan gemetar tiada hentinya, kulit
wajah yang pucat pias ditambah bekas luka yang bewarna
merah darah memberikan warna yang sangat kontras,
ditambah pula sinar api yang sudah jelek tampak lebih
mengerikan lagi.
"sungguh keji orang yang merusak wajah perempuan ini"
pemuda tersebut lantas berpikir "hatinya pasti busuk sekali,
kalau tidak tak akan tega ia lukai seorang perempuan hingga
tampangnya menjadi seseram ini..."
Ketika ingatan tersebut melintas dalam benaknya, dan
terbayang pula keganasan serta kekejian orang yang melukai
si Nio sampai mukanya bercodet pedang yang sudah
menempel diatas dada lawan tak tega dilanjutkan lebih jauh,
maka dia tarik kembali senjata tersebut, kemudian tangan
kirinya dikebutkan kemuka dan mendorong nona baju hitam
itu ke muka.
si Nio miringkan tubuhnya kesamping memberi jalan lewat
bagi nona baju hitam itu, kemudian teriaknya keras: "Nona,
kau mundurlah lebih dulu"
Tampaknya perempuan bercodet ini sudah bertekat untuk
membakar mati Hoa in-liong dalam rumah gubuk itu, obor
dikedua belah tangannya diputar dan diayun ke muka tiada
hentinya, semua jalan pergi si anak muda itu dihadang
olehnya.
Lolos dari cengkeraman lawan, nona baju hitam itu kabur
menuju kedepan pintu yang tertutup itu keras-keras.
"Blaaang ..." pintu besar itu ditendang sampai roboh,
dengan langkah lebar nona baju hitam itu sebera kabur keluar
dari rumah gubuk itu.
Kebetulan Hoa In- Hoa g berdiri menghadap ke pintu luar,
tiba-tiba ia temukan bahwa pintu luarpun sudah menjadi

92
lautan api, bahkan kobaran api yang menjilat-jilat diluar sana
jauh lebih besar daripada jilatan api dalam rumah gubuk itu.
Kobaran api sudah membakar semua benda begitu
besarnya kebakaran yang melanda tempat, itu membuat
udara terasa panas sekali, namun si-Nio seperti tidak
merasakan apa-apa, ia tertawa seram.
obornya dimainkan sedemikian rupa sehingga semua jalan
keluar bagi Hoa-In-liong untuk lolos dari ruangan itu tertutup.
Sekarang Hoa In-liong sudah merasa terkejut bercampur
gusar, ia tidak ragu- raga lagi, pedang pendeknya dibabat
kemuka menghajar obor ditangan si-Nio, sementara tubuhnya
mendadak berkelebat melejit diudara kemudian meluncur
keluar dari ruangan itu.
Karena cepat dan tepat serangan tersebut, dan lagi gerak
tubuh si anak muda itu sangat aneh, kali ini si-Nio tak berhasil
membendung jalan perginya lagi, dengan gampang Hoa-In-
Hong berhasil kabur keluar diri ancaman bahaya.
Luar rumah gubuk itu merupakan sebuah tanah bersemak
yang masih liar dan tak terawat, waktu itu sentua ladang
ilalang tersebut sudah berubah menjadi lautan api, boleh
dibilang semua jalan menjadi buntu.
Kaget sekali Hoa-in-liong menghadapi kejadian ini
sementara ia sedang berusaha keras untuk mencari jalan
keluar dari tempat jebakan itu, tiba-tiba...
"sreet" sebatang anak panah meluncur datang dari arah
depan dengan tenaga yang sangat besar.
Hoa-in-liong segera putar pedang pendeknya untuk
menghajar rontok anak panah yang menyambar tiba itu
Baru saja panah itu berhasil dihajar rontok mendadak
desingan angin tajam menyambar lagi dari belakang, serta
merta Hoa-in-liong memutar badannya kebelakang, ia lihat si
Nio dengan kesepuluh jari tangan yang dipentangkan lebar
lebar sedang menyerang punggungnya .
Hoa- ln- liong benar-benar naik darah, tangannya segera
menyapu kebelakang mengikuti gerak perputaran itu, dia
cengkeram tengkuk si- Nio dengan suatu puntiran keras.

93
Pada saat itulah, kembali sebatang anak panah menyambar
datang dengan kekuatan besar, Hoa-In-liong yang sudah
mendongkol cepat mengangkat tubuh si Nio yang
tercengkeram itu dan diayun kemuka untuk menangkis
datangnya ancaman itu...
"criiit" Tak ampun lagi panah tersebut menembusi tumit si
Nio hingga tembus, karena kesakitan perempuan bercodek itu,
segera menjerit lengking dengan suaranya yang mengerikan.
"sreeet,.,. sresst." hujan panah berhamburan dari arah
depan, berpuluh-puluh batang anak panah menyambar lewat
silih berganti membuat seluruh angkasa penuh dengan hujan
panah itu.
Dengan dahi berkerut Hoa In-liong yang terkapar ditanah
dan menghindarkan diri dari ancaman hujan panah itu.
ia mencoba untuk berputar kebangunan sebelah belakang,
dari situ ia saksikan ada tiga puluh orang lebih laki-laki kekar
yang bersembunyi didalam semak belukar dan melepaskan
anak panah ke arah bangunan rumah itu, sementara
bayangan tubuh dari nona baju hitam itu sudah lenyap tak
berbekas.
Saat itu, Hoa In liong tidak panik lagi, dia malahan merasa
hatinya jauh lebih tenang,
Kiranya kobaran api yang berada diempat penjuru meski
tampaknya sangat hebat tapi rumput ilalang adalah jenis
tetumbuhan yang tidak tahan terbakar, dalam waktu singkat
tumbuhan tersebut sudah terbakar punah, sementara sianak
muda itu dapat menggunakan tanah lapang diluar rumah
gubuk itu untuk menghindari serangan hujan panah ?
sekalipun tak sampai membahayakan jiwanya, tapi ditengah
kepungan api yang membara terasa juga hawa panas yang
menyengat badan hingga membuat keringat bercucuran dan
membasahi seluruh tubuhnya.
"Bruuukk...." tiba-tiba terdengar suara benturan keras,
kiranya rumah gubuk itu roboh ketanah
Dengan pedang ditangan kanannya untuk memukul rontok
hujan panah itu, tangan kiri mencengkeram tubuh Si Nio, Hoa

94
In-liong bergerak kesana kemari menghindarkan diri dari
ancaman anak panah.
Untunglah tak lama kemudian dari kejauhan terdengar
suara suitan nyaring, menyusul kemudian hujan panah itupun
berhenti.
Sementara itu kobaran api yang membakar rumput ilalang
belum padam, padahal Hoa In-liong tahu bahwa musuh
sedang mengundurkan diri, ia mau mengedar orang-orang itu,
apa mau dikata kobaran api telah menghalangi jalan perginya.
Terpaksa ia harus bersabar hati menunggu sampai kobaran
api itu mengecil, kemudian baru melakukan pengejaran sambil
menenteng tubuh si Nio. suitan nyaring tadi berasal dari
sebuah tanah perbukitan, maka sambil membawa si Nio,
sianak muda itu, menerjang kesana dengan langkah lebar.
Dibawah sinar fajar yang remang-remang suasana disekitar
tanah perbukitan itu masih diselimuti kabut yang tebal,
setibanya diatas tanah bukit Hoa In-liong coba memeriksa
disekitarnya dengan tatapan matanya.
Tiba-tiba ia menemukan sesuatu..... nun jauh di ujung bukit
situ, berdirilah seekor kuda berwarna merah darah diatas
pelana kuda itu duduk seorang manusia berbaju merah darah.
Kuda itu tinggi besar dan merupakan seekor kuda
jempolan, sedang manusia berbaju merah itu adalah seorang
nona cantik rupawan yang berperawakan tinggi semampai dan
menarik hati
Waktu itu fajar baru menyingsing dari ufuk sebelah timur,
bola merah yang mengabarkan sinar keemasan mulai
memancar keempat penjuru, dalam waktu singkat telah
menyelimuti seluruh angkasa menyorot dara itu.
Warna merah darah yang ketimpa sinar matahari itu
membalaskan suatu sinar yang indah, membuat suasana
disana terasa lebih hangat dan nyaman....
suara derap kuda memecahkan kesunyian yang mencekam
pagi hari itu, perlahan-lahan kuda merah itu maju
menghampiri mereka, tanpa terasa Hoa In-liong sambil

95
menenteng tubuh si Nio ikut maju pula menyambut
kedatangan si nona.
Akhirnya kedua belah pihak telah saling berhadapan,
merekapun sama-sama berhenti, ketika empat mata bertemu
menjadi satu, dua orang itu sama-sama tersenyum manis,
cerah sekali wajah mereka.
setelah hening sejenak, Hoa In-liong lantas menjura dan
sapanya sambil tertawa: "selamat pagi nona manis"
"selamat pagi" sahut nona baju merah itu sambil tersenyum
manis. "Boleh aku tahu siapa namamu??"
Nona baju merah itu mencibirkan bibirnya, kemudian
dengan tangan yang putih halus mencabut keluar sebilah
senjata kaitan yang berwarna hijau muda.
Hoa In-liong cukup mengenal kelihayan dari senjata aneh
itu, tapi sebagai pemuda yang belum lama terjun dalam dunia
persilatan dia tidak mengenal siapa gerangan nona itu.
Ketika dilihatnya anak muda itu masih melongo, maka nona
baju merah itupun memperkenalkan diri.
"Aku bernama Wan Hong- giok. siapa namamu..."
Dasar binal Hoa In-liong lantas berpikir dalam hatinya:
"Kau bernama Hong- giok. maka biar aku mengaku
bernama Pek Khi saja"
Maka sambil tertawa sahutnya: "Aku bernama Pek Khi"
Air muka Wan Hong- giok tampak agak bergerak. biji
matanya yang jeli kembali dialihkan ke wajah Hoa In-liong dan
menatapnya lekat-lekat.
Hoa In-liong berparas tampan, diapun seorang pemuda
yang romantis, sebaliknya Wan Hong- giok cantik jelita dan
agak genit, tak heran kalau setelah berjumpa muka, mereka
lirik-lirikan pandang memandang sambil tersenyum penuh arti.
si Nio yang berada dalam cengkeraman Hoa In-liong tak
bisa berkutik karena jalan darahnya tertotok. meski sakit
perutnya sudah mereda, namun panah yang menembusi
tumitnya mendatangkan rasa sakit yang bukan kepalang,
kendatipun ia tak dapat melihat diri kedua orang itu tapi ia
tahu kalaut muda-mudi itu sedang bermain mata sambil

96
tersenyum penuh arti. Hal ini kontan saja mengobarkan hawa
amarahnya, tiba-tiba ia buka suara dan berteriak sekeraskerasnya.
Teriaknya itu ibaratnya auman singa dari kalangan Buddha,
bukan saja suaranya seperti guntur yang membelah bumi
disiang hari bolong, bahkan memekikkan telinga, membuat
kuda merah yang ditumpangi nona itu meringkik sambil
mengangkat tinggi kaki depannya.
Tindakan kuda merah itu sangat tiba-tiba dan diluar
dugaan, hampir saja membuat Wan Hong- giok terlempar dari
atas pelana.
Hoa In-liong pun terperanjat ia lantas melemparkan tubuh
si Nio ke atas tanah.
Menggunakan kesempatan itu si Nio menggelinding
kesamping lalu duduk. teriaknya setengah menjerit:
"Pedang pendek itu milik nona kami, hayo cepat
kembalikan kepadaku" Hoa In-liong tersenyum katanya:
"sungguh tak kunyana, engkau masih mempunyai
semangat seorang ksatria sejati....Hmm siapa yang kemaruk
pada pedangmu itu? Nih, ambillah kembali."
Sambil berkata pedang pendek yang berada di tangan
kanannya itu segera- dilemparkan kemuka.
si Nio cepat menyambutnya, lalu menggunakan senjata itu
untuk merobek daging kaki yang terluka dan sambil
mencengkeram gagang panah itu ia cabut keluar panah
tersebut, kemudian tanpa dibalut lagi, ia segera melompat
bangun dari atas tanah.
Berkernyit sepasang alis mata Wan Hong- giok memandang
wajah si Nio yang penuh dengan codet bekas luka itu, cepatcepat
ia melengos ke-arah lain dan tak berang memandang
lebih lama.
"Tindakan tersebut dipandang sebagai suatu penghinaan
bagi si Nio, dengan gusar ia lantas membentak-bentak:
"Perempuan rendah, kau memang anjing betina tak tahu
malu.."

97
sambil mencaci maki, panah yang baru dicabut keluar dari
tumitnya itu segera diayun ke muka mengancam wajah Wan
Hong- giok.
Tak terkirakan gusarnya si nona baju merah itu
menghadapi serangan lawan yang begini kasar, kaitan
kemalanya lantas dikebas ke muka merontokkan anak panah
itu, menyusul kemudian dia cambuk kudanya siap menerjang
kedepan, tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya
dan maksud itupun lantas diurungkan, hanya tegurnya dengan
ketus. "Apa hubunganmu dengan nona berbaju hitam tadi ?"
sebelum perempuan bercodet itu menjawab Hoa in-liong
telah menyahut lebih dahulu: "ooooh nona itu adalah
majikannya si Nio..."
Ditatapnya perempuan bercodet itu dengan tatapan sinis
dan penuh penghinaan kemudian berkata lagi.
" Kalau kubunuh manusia macam dirimu maka perbuatanku
ini tak lebih hanya akan menodai senjata nonamu saja"
Kemudian sambil menuding kearah semak belukar
diseberang sana dengan senjata kaitannya, ia melanjutkan:
"Majikanmu bersembunyi di belakang semak belukar sana,
undanglah dia agar menjumpai aku"
si Nio alihkan sinar matanya dan memandang semak
belukar yang ditunjukkan itu, kemudian memandang pula
wajah Hoa In-liong tanpa berkata-kata, sedangkan wajahnya
yang jelek dan penuh bercodet itu terlintas perasaan murung
dan kesal yang sangat tebal.
Dari sikap murung itu, Hoa in-liong lantas dapat menebak
isi hati orang, diapun tertawa tawa seraya berkata:
"Aku tahu, engkau sangat menguatirkan keselamatan
majikanmu, Nah Pergilah kesana, hutang piutang diantara kita
berdua boleh diperhitungkan lagi dilain waktu" sambil berkata
dia ulapkan tangannya berulang kali.
si Nio agak termangu, tapi sejenak kemudian ia lantas
mendengus dingin.

98
"Hmm sekalipun engkau lepaskan aku pergi, tapi terus
terang kukatakan dulu kepadamu jika kita bertemu lagi dilain
waktu, aku masih tetap mengincar selembar jiwamu itu"
katanya. Hoa In-liong tertawa tawa, sahutnya:
"Boleh- boleh saja Tapi kaupun harus berhati hati, kalau
sampai terjatuh ke tanganku lagi dilain saat, akupun tak akan
mengampuni nyawamu"
si Nio mendengus dingin, ia melirik sekejap kearah Wan
Hong-giok kemudian meludah ke tanah dengan sikap
menghina, setelah itu barulah ia menuju ke arah semak beluar
yang dimaksud dengan menenteng pedang pendeknya itu.
Gusar sekali Wan- Hong- giok menghadapi kejadian
tersebut, hawa napsu membunuhnya seketika menyelimuti
seluruh wajah, tiba-tiba tangan kiri nya diayun ke depan,
sebercak sinar hitam secepat sambaran kilat segera meluncur
kedepan dan menyergap punggung si-Nio.
sambaran cahaya hitam itu meluncur ke muka dengan
kecepatan yang luar biasa dan sama sekali tidak menimbulkan
sedikit suarapun si-Nio tak menduga kalau ia bakal diserang,
tampaknya sesaat kemudian punggungnya akan terhajar oleh
senjata rahasia itu.
Hoa- In- liong tak tega melihat perempuan bercodet itu
terjungkal secara penasaran pada detik terakhir mendadak ia
memperingatkan: "Awas Hati-hati ada senjata rahasia."
si- Nio memang cukup cekatan, begitu menangkap kata
"senjata rahasia." serta merta dia menjatuhkan diri kesamping
dan berguling ketanah, kendatipun begitu sebatang jarum
emas yang berwarna biru karena mengandung racun sempat
juga menembusi sanggulnya.
Melihat serangannya gagal gara-gara dikacau Hoa-in-liong
agak mendongkol juga nona baju merah itu, dia lantas
berpaling dan omelnya dengan mata mendelik:
"Huuuh Kau ini munafik. bukan sobat juga bukan lawan
kalau macam begitu watakmu apa gunanya melakukan
perjalanan dalam dunia persilatan ?"

99
"Haaahhh... haaahhh... haaahh..." Hoa-in-liong terbahakbahak,
" menyergap orang dengan senjata rahasia, bukanlah s
uatu perbuatan yang patut dibanggakan, apalagi sebagai
seorang pendekar sejati...harap nona jangan salah sangka,
aku bertindak begini toh demi nama baik dan kedudukanmu di
dunia persilatan, masa maksud baikku kau artikan lain?"
"Hmm Memangnya aku tak dapat menebak maksud
busukmu?" ejek Wan hong-giok. "tentu saja kau selamatkan
jiwanya, karena kau telah tertarik oleh majikannya, bukankah
begitu?"
"Ehmm, memang diakui majikan si nio adalah seorang nona
yang suci bersih, menarik, agung dan bikin orang jadi
terpesona"
Waktu itu si- nio sudah berada dua-tiga kakijauhnya dari
tempat semula, tiba-tiba ia berjalan balik, sambil memungut
kembali anak panah yang tergeletak ditanah, ujarnya kepada
Hoa in-liong:
"Mengingat kau adalah seorang ksatria sejati, aku ingin
mengucapkan beberapa patah kata kepadamu, mau
mendengar atau tidak terserah padamu sendiri.."
"Traaak" anakpanah yang berada dalam genggamannya itu
mendadak ditekuk hingga patah jadi dua.
Hoa In-liong segera merangkap tangannya dan memberi
hormat, ujarnya dengan wajah serius:
"Dengan senang hati akan kudengar nasehatmu. itu"
sambil menghentakkan anakpanah yang dipatahkan itu
keatas tanah, ujarnya dengan dingin.
"Anggota perkumpulan Hian-beng-kau sudah tersebar luas
dimana-mana, kekuatan mereka besar sekali danjauh lebih
hebat daripada apa yang kau bayangkan, bila kau tahu
gelagat maka lebih baik cepat- cepatlah pulang kerumah,
nasehati orangtuamu agar segera mengasingkan diri dan
hindarilah bencana besar tersebut"
Hoa In-liong mengangguk beberapa kali tanda mengerti,
setelah itu ia bertanya lagi:

100
"Apakah engkau dan majikanmu juga terhitung anak buah
dari perkumpulan Hian-beng-kau?"
"Jago-jago silat yang dijaring perkumpulan Hian beng-kau
kebanyakan adalah jago jago kelas satu dalam dunia
persilatan sedang kami berdua hanya berkepandaian cetek.
sekalipun ingin menjadi anggota Hian-beng-kau, belum tentu
mereka bersedia menerimanya"
"Kalau toh kalian berdua bukan anggota dari perkumpulan
Hiang- beng-kau lantas perselisihan serta dendam sakit hati
apakah yang terdapat diantara kita berdua, sehingga begitu
bernapsu ingin mencabut selembar nyawaku?"
"Tentang soal ini, maafkanlah daku sebab tak bisa
kujelaskan bagaimanapun juga toh kungfu mu-jauh lebih
hebat daripada kami berdua, rasanya asal kau bisa bertindak
lebih hati-hati dan waspada selalu, niscaya jiwamu dapat
selamat"
"Andaikata aku kurang hati-hati?" tanya Hoa In-liong lagi.
"Maka anggaplah bahwa nasibmu memang jelek. dan kau
memang sudah ditakdirkan untuk mampus ditangan kami"
Mendengar jawaban itu Hoa In- liong tertawa serak.
katanya lagi:
"Baiklah, bagaimanapun juga aku harus mengucapkan
banyak terima kasih atas petunjukmu ini, jikalau aku memang
tak sampai mampus, tentu akan kuingat selalu budi kebaikan
ini"
si-Nio meadengus dingin, tiba-tiba ia menuding kearah Wan
Hong-giok dan berkata lagi:
"Perempuan itu berjulukan Giok-kou-Niocu (perempuan
cantik kaitan kemala ), dia adalah seorang perempuan jalang
yang sangat tersohor dalam dunia persilatan... sekalipun aku
ingin membinasakan dirimu, tapi aku tak menyaksikan kau
hancur ditangan perempuan rendah itu, bila percaya pada
perkataanku maka janganlah berhubungan dengannya lebih
baik lagi kalau sekali tusuk kau bereskan nyawanya"
Baru saja perempuan bercodet ini menyelesaikan katakatanya,
mendadak tampaklah sesosok bayangan hitam

101
berkelebat lewat menyusul kemudian tanpa mengucapkan
sepatah katapun Wan-hong-giok menerjang tiba, kaitan
kemalanya yang berwarna hijau dengan membiarkan
seretetan cahaya yang menyilaukan mata langsung
mengurung sekujur badan musuhnya.
Menghadapi datangnya serangan yang amat gencar itu, si-
Nio tertawa seram bentaknya:
"Perempuan anjing yang tak tahu malu sekalipun ilmu silat
lo-nio cuma biasa biasa saja, tapi untuk menghadapi manusia
macam dirimu, masih belum terpandang sebelah matapun
bagi aku."
seraya membentak, pedang pendeknya diayun kedepan
dan menyongsong tibanya serangan kaitan kemala itu dengan
jurus Ki-hweliau-thian (mengangkat obor membakar langit).
"Traaang... Traaaag " bentrokan demi bentrokan
berkumandang tiada hentinya, diantara deringan nyaring
danpercikan bunga api, kedua belah pihak sama-sama telah
melancarkan tiga buah serangan berantai.
setelah lewat tiga gebrakan kedua belah pihak mulai sadar
bahwa mereka telah bertemu dengan musuh tangguh, maka
merekapun lantas mengerahkan semua ilmu simpanan yang
dimilikinya untuk saling merebut posisinya yang lebih
menguntungkan.
selama dua orang perempuan itu bertarung sendiri, Hoaln-
liong hanya bergendong tangan sambil menonton dengan
senyuman dikulum, ia tidak mencegahpun tidak ikut campur.
Tiba-tiba terdengar si- Nio membentak keras, pedang
pendeknya dibabat kemuka untuk mengunci serangan kaitan
kemala musuh. menyusul kemudian ia maju sambil
melepaskan cengkeraman maut dengan tangan kirinya.
Desingan jari tangan memekikkan telinga, hebat dan ganas
serangan mendadak itu.
Wan- Hong- giok tidak menyangka kalau pihak musuh telah
melancarkan serangan dengan jurus sehebat itu, ketika
dilihatnya cakar setan yang hitam pekat, panjang dan runcing
itu tahu-tahu sudah mengancam diatas pinggangnya, ia jadi

102
terkejut, untuk sementara waktu posisinya jadi terdesak.
ketenangan hatinya jadi buyar dan ia kelab akan setengah
mati.
Menyaksikan kejadian tersebut, Hoa ln liong segera berseru
dengan suara lantang: "Hembusan angin menggoyangkan
pohon liu, bulan purnama ada diangkasa.."
Begitu mendengar kata "hembusan angin", serentak Wan
Hong- giok menggoyangkan pinggangnya, senjata kaitan
kemala yang mengayun ke atas persis bergerak dengan gaya
"Bulan purnama ada diangkasa", dengan begitu serangan
maut yang dilancarkan si Nio itupun dapat dihindari dengan
sangat gampang.
sudah tentu si Nio jadi marah sekali karena serangannya
gagal, ia membentak keras: "Bajingan cilik, kau punya rasa
malu tidak?"
"HHaaah....haaahh....haaahhh..,.sayangkan rasanya kalau
nona secantik ini harus mati dalam usia, muda?" sahut Hoa inliong
sambil tertawa terbahak-bahak.
Mendengar jawaban itu, Si Nio mulai mempertimbangkan
keadaan dihadapannya, ia berpikir:
"Jika bocah ini membantunya, sudah pasti aku tak akan
berhasil untuk singkirkan budak anjing itu dari muka bumi...."
Terbayang akan kelihayan musuhnya, semangat tempur
perempuan bercodet ini jadi kendor, dia pun lantas bermaksud
untuk mengundurkan diri
Berbeda dengan Wan Hong-giok, ia tampak merasa sangat
bangga, senjata kaitan kemalanya diayun berulang kali
melancarkan serangkaian serangan berantai, ini memaksa Si
nio harus mundur berulang kali kebelakang..
Dalam waktu singkat Wan Hong-giok sudah berada diatas
angin, dengan jurus Gwat-im-si-shia (bayangan bulan
bergeser kebarat), cu-lian-to-cian (Menggulung naik kerai
mutiara) dan IHoa-im-hud kiam (bayangan bunga menyapu
pedang) senjata kaitan kemalanya seperti gulungan ombak
disungai Tiang kang menggulung dan melanda keluar tiada
hentinya.

103
Serangan-serangan gencar itu kontan saja mengurung Si
Nio dalam kepungan, saat itu dia hanya mampu bertahan
tanpa berkekuatan untuk melancarkan balasan, lamakelamaan
perempuan bercodet itu jadi naik darah, ia
meraung, berteriak dan marah-marah besar.
Mendadak Wan Hong-giok membentak nyaring ia
mengayunkan tangan kirinya kedepan, sebatang jarum emas
beracun secepat kilat menyambar ke muka dan mengancam
tubuh perempuan bercodet itu.
si Nio berpekik nyaring, dia sampok rontok. jarum emas itu
dengan pedang pendeknya menyusul gerakan itu membabat
ke depan membacok pergelangan tangan kiri sang nona.
"Traaang...." Wan Hong-giok segera menangkis bacokan
pedang itu dengan kaitan kemalanya, kemudian tangan kirinya
kembali diayun ke depan.
si Nio kuatir disergap dengan jarum beracun lagi, buru-buru
dia bersih kesamping untuk menghindarkan diri, siapa tahu
kali ini wan Hong giok cuma menipu belaka, tiada jarum
beracun yang disambit keluar dengan gerakan itu.
Diam-diam si Nio jadi mendendam karena tertipu, baru saja
dia akan menyerang lagi dengan pedangnya, tiba-tiba kilatan
cahaya emas menyambar datang dari depan.
sekarang tak sempat lagi bagi si Nio untuk menangkis
serangan kilat itu, apa boleh buat terpaksa ia harus
menjatuhkan diri keatas tanah dan bergelinding kesamping.
Wan Hong-giok tertawa terkekeh, senjata kaitan kemalanya
tiba-tiba disapu keudara dan menciptakan lapisan cahaya hijau
yang tebal untuk mengurung sekujur badan lawan.
Paras muka Hoa In-liong berubah hebat, ia tak sangka
kalau Wan Hong-giok memiliki andalan lainnya kecuali ilmu
kaitan Ciang cang-kau hoat-yang lihay itu.
Ketika dilihatnya posisi si- Nio sangat berbahaya dan
jiwanya terancam, dengan cemas dia lantas berkata.
"Mengikat kaki sukma gentayangan, lima setan"
Dengan luka panah diatas tumitnya, gerak gerik si Nio
ketika itu kurang leluasa ketika menyaksikan bayangan kaitan

104
menyelimuti angkasa dan ia tak mampu untuk menangkis lagi,
perempuan bercodet itu lantas mengira bahwa jiwanya bakal
melayang. Maka sungguh girang hatinya ketika secara tiba
tiba ia mendengar seruan.
"Mengikat kaki sukma gentayangan" itu, serta merta
pedang pendeknya dibabat kemuka membacok sepasang kaki
Wan Hong giok sementara tangan kirinya seperti cakar setan
mencengkeram pinggang nona itu.
Bacokan maupun cengkeraman itu semuanya cuma
menggunakan jurus serangan yang amat sederhana, tapi lihay
setelah digunakan berbareng bukan saja dapat selamatkan diri
dari bahaya maut, dapat pula menyerang musuhnya, boleh
dibilang serangan itu tepat dan manis sekali untuk
mematahkan ancaman dari sang nona baju merah.
Wan Hong-giok naik darah, ia merasa yaa mendongkol yaa
gemas, segera teriaknya keras: "Kunyuk sialan sebenarnya
siapa yang kau bantu??"
"Haaah haaah haaah maaf nona, aku tidak bernama
kunyuk sialan, namaku adalah Pek-khi " cepat Hoa in-liong
membenarkan sambil tertawa. Wan Hoig-giok semakin marah,
teriaknya lagi:
"Dari pada kau bantu perempuan jelek itu, mengapa tidak
terjun sendiri kedalam gelanggang?"
"Nona manis, aku tak berpihak kepada siapa-siapa, tidak
membantu satu pihak. aku hanya bertindak untuk keadilan
belaka" kata Hoa in-liong seraya tertawa.
"Traang... Traaang..." bentrokan- bentrokan nyaring
kembali berkumandang memenuhi angkasa, dalam bentrokan
antara pedang dan senjata kaitan kali ini, tubuh kedua orang
itu sama-sama tergetar keras lalu mundur selangkah
kebelakang, dengan begitu pertarunganpun segera terhenti.
Wan Hong-giok lantas berpaling dan memandang sekejap
sianak muda itu, kemudian dia mengomel.
"Hey orang she-Pek. apakah engkau tidak merasa sedikit
kebingungan dengan kejadian ini??"

105
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. la tidak menjawab
malahan pikirnya dalam hati:
"Ehmm memang kuakui Wan Hong-giok berparas cantik
jelita, berperawakan padat dan langsing, dia tak malu disebut
perempuan cantik dengan daya tarik yang besar, tak aneh
kalau orang memberi julukan Giok-kou Niocu kepadanya...."
Berpikir sampai disini, tanpa terasa lagi dia mengerling
penuh arti kearah nona itu dan mengamati potongan
tubuhnya yang padat, ramping dan mempesonakan hati itu
tanpa berkedip.
Kebetulan segulung hembusan angin harum berhembus
lewat dan tercium oleh pemuda itu. seperti orang yang
mabok. Hoa In- liong kontan memuji
"Ehmmni....harum menyegarkan" Kembali ia mencium
udara disekitar tempat itu beberapa kali, kemudian
gumamnya:
"Baju dalam, baju luar... pupur... gincu bunga... eehmm
inilah bau bunga"
sedikitpun tak salah, dibalik baju dalam Wan- Hong- giok
memang terdapat sekuntum bunga, maka ketika nona itu
melihat tebakannya tepat, dia lantas tertawa cekikikan,
kemudian sambil mengerling genit katanya:
"Tajam benar penciumanmu, tak kusangka kau bisa
membedakan bau harum itu dengan tepat"
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. tangan kirinya
membenarkan letak pedang, tangan kanan membetulkan
bajunya lalu menjawab:
"Haaahhh haaahhh... haaahhh... kalau kau menanyakan
tentang lain, aku pasti menyerah Tapi kalau soal perempuan...
aku memang memiliki kepandaian khusus"
"oooh... kiranya seorang ahli perempuan yang
berpengalaman maaf, maaf."
Dalam hati si nio menyumpah setelah dilihatnya laki
perempuan itu kembali main mata sambil bercakap-cakap.
mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya. ia lantas
berpikir:

106
"Aduh celaka, kedua orang ini yang seorang adalah
perempuan jalang yang cabul, sedangkan yang iain adalah
seorang jago bermain perempuan jikalau mereka sampai
bekerja sama, bukankah selembar jiwaku bakal melayang?" ^
Berpikir sampai disini hatinya jadi amat terperanjat maka
tanpa memperdulikan rasa sakit pada tumitnya lagi, dia segera
melarikan diri terbirit-birit dari sana.
Menyaksikan perbuatan perempuan bercodet itu baik Hoa
In liong maupun wan Hong-giok saling berpandangan dan
tertawa tergelak. saat itu juga sikap permusuhan diantara
mereka berduapun tersapu lenyap hingga tak berbekas.
Dalam pada itu sinar sang surya telah memancar diempat
penjuru, suasana disana sepi hening dan tak nampak sesosok
bayangan manusia.
setelah memandang sekejap sekeliling tempat itu Hoa Inliong
lantas tertawa dan berkata:
"Kini tinggal kita berduaan"
"Kalau berduaan lantas mau apa?" sahut Wan-Hong-giok
dengan lirih, meski wajahnya telah berubah jadi merah
jengah.
"Mau apa? Tentu saja berbicara dari hati kehati" sahut
sianak muda itu cepat.
Wan Hong-giok tertawa manis, berhadapan dengan Hoa inliong
yang gagah dan romantis ini, entah apa sebabnya
jantung terasa berdebar keras suatu perasaan jengah yang
belum pernah muncul dari hatinya mendadak menyelimuti diri
nona itu.
Ia agak tertegun, tapi akhirnya dengan muka termangu dia
meloncat naik keatas punggung kudanya.
" Engkau akan pergi nona?" tegur Hoa In-liong dengan alis
mata berkenyit suaranya tajam.
Wan Hong-giok tertawa dan mengangguk namun ia tetap
membungkam tanpa menjawab. Hoa In-liong segera memutar
sepasang biji matanya sambil tertawa merdu katanya lagi:

107
"Nona, aku lihat kudamu ini adalah seekor kuda jempolan,
bila kau larikannya kencang-kencang niscaya aku tak akan
mampu menyusulmu lagi.."
Wan Hong-giok tertawa, dengan penuh kasih sayang ia
membelai bulu surai kuda merahnya itu-jalu menjawab:
"Kuda ini memang termasuk sejenis kuda jempolan dari
jenis yang istimewa, meski banyak kuda jempolan dalam dunia
persilatan, tapi tiada seekor pun diantaranya yang sanggup
menandingi kehebatan kuda merahku ini...." Hoa In-liong
tersenyum.
"Nona kau bernama Hong-giok. gemar memakai busana
merah, gemar pula menunggang kuda jempolan, suatu
perpaduan yang amat serasi, kecantikan kegagahan nona
pasti akan menjadi berita hangat dalam dunia persilatan..."
Perempuan mana yang tak suka dipuji? Wan Hong- giok
merasakan hatinya jadi manis dan gembira, meski tidak
berbicara apa-apa namun senyumnya cukup mempesonakan
hati.
serta merta tempat duduknya bergeser kedepan dan
menyisihkan separuh bagian pelananya menjadi kosong,
tampaknya ia memang sengaja memberikan tempat itu untuk
Hoa In- liong.
Dengan langkah lebar Hoa In- liong menghampiri si nona
cantik itu, lalu bertanya sambil tertawa:
"Nona, siapa nama kuda jempolanmu ini?"
"Dia bernama Hong-ji" sahut Wan Hong- giok sambil
memandang awan merah diangkasa, lirih sekali suaranya
BAB 4
SUATU senyum misterius tiba-tiba menghiasi wajah Hoa Inliong,
seperti orang baru mengerti ia berkata:
"oooh.Jadi nona memanggil kuda itu sebagai Hong-ji? Tapi
kalau menurut perasaan saya kuda jempolan berbulu merah
darah semacam ini lebih pantas kalau dinamakan Liong-ji"

108
Menyinggung soal "Liong-ji" tiba-tiba kuda merah itu
mendepak-depakkan kaki sebelah depannya ke atas tanah dan
meringkik panjang seperti kegirangan, hampir saja gerakan
tersebut mementalkan tubuh Wan Hong- giok jatuh dari atas
pelana kuda.
Wan Hong-giok berteriak kaget, dalam gugupnya cepat dia
goyangkan pinggul dan bersalto beberapa kali sehingga
kakinya berhasil mencapai permukaan tanah dengan selamat,
untung tidak sampai terbanting keras.
Terdengar seorang tertawa terbahak-bahak menyusul kuda
itu meringkik panjang, diantara derak kaki kuda dan suara
keleningan yang tajam sesosok bayangan merah bagaikan
gulungan puyuh telah meluncur kedepan.
Pada mulanya Wan Hong-giok agak tertegun menyusul
kemudian la jadi malu bercampur gusar, air mata sampai
bercucuran membasahi pipinya sambil mendepak-depak
kakinya keatas tanah teriaknya dengan lantang:
"Manusia she-Pek, kau seorang laki-laki tulen atau bukan?"
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, kuda merah itu lari
bagaikan terbang, dalam sekejap mata mereka sudah
mengitari tanah perbukitan itu satu kali dan berlari ketempat
semula.
"Nona manis, kau tak boleh menyalahkan aku" demikianlah
pemuda itu seru sambil tertawa " Kalau ingin menyalahkan
maka salahkanlah saja Hong-ji mu itu" Kembali dia
membelokan kudanya itu untuk berlarian menuju kearah
sebelah timur.
Air mata yang bercucuran membasahi wajah wan Honggiok
seperti hujan gerimis ia berteriak serak:
"Bocah keparat, walaupun ini hari aku harus mengorbankan
selembar jiwaku, tak nanti akan ku biarkan kau si keparat
busuk berhasil melarikan diri dari sini" Dia melompat kedepan,
kemudian menerkam si anak muda itu dengan garangnya.
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, gelaknya:

109
"Haaah....haaaah....haaaah nona manis, galak amat kamu
ini Kalau begini galak. siapa yang berani mempersunting
dirimu??"
Tangan kirinya dikebaskan kemuka, dan tahu-tahu ia sudah
cengkeram pergelangan tangan Wan- Hong- giok.
Merasakan tangannya dicengkeram, nona baju merah itu
menggertak giginya, kaitan kemalanya ditekan kebawah dan
langsung membacok batok kepala lawannya.
Apa mau dikata cengkeraman Hoa In- liong amat kencang,
mendadak terasalah segulung tenaga besar mengalir masuk
lewat lengan kirinya dan sekejap mata menyebar keseluruh
penjuru tubuhnya seketika itu juga Wan Hong-giok merasakan
sekujur badannya jadi lemas tak bertenaga, dan tahu tahu
senjata kaitan kemala yang berada ditangan kanannya sudah
kena dirampas pula oleh pemuda tersebut.
Dalam pada itu kuda jempolan berbulu merah itu masih
berlarian dengan cepatnya, Hoa In-liong duduk mantap diatas
pelananya sambil tertawa tergelak tiada hentinya, dengan
demikian tubuh Wan Hong-giok yang kena dicengkeram pun
ikut terseret oleh larinya kuda itu hingga terbawa jauh ke
depan.
Mendadak sianak muda itu menyentak tubuh nona baju
merah itu keudara, setelah diputar satu dua kali diangkasa
siap melemparkan tubuh nya kedepan.
sejak dilahirkan sampai saat itu, belum pernah Wan Honggiok
mendapat penghinaan dan perlakuan kasar seperti saat
ini, ia jadi malu, sedih bercampur marah, air mata yang
bercucuran semakin deras lagi.
Berada dalam keadaan seperti ini, hanya ada satu ingatan
saja dalam benaknya, yakni bunuh diri dan cepat-cepat
melepaskan diri dari cengkeraman musuh, lebih baik lagi kalau
bisa mampus dihadapan " keparat- busuk" yang mengaku she-
Pek ini.
sebelum tubuh sinona baju merah itu terlempar kedepan,
mendadak satu ingatan terlintas dalam benak pemuda itu, ia
segera membatalkan niatnya itu, mendadak lengannya

110
disentakkan ke bawah dan melemparkan tubuhnya ke atas
pelana tepat dibelakangnya.
Menghadapi kejadian seperti ini, Wang Hong-giok kelihatan
agak tertegun, tiba-tiba sambil menggertak gigi ia totok jalan
darah Leng-thay-niat di tubuh Hoa In-liong dengan jari
tangannya yang kaku bagaikan sebatang tombak.
Jalan darah Leng-thay-hiat letaknya berada di-atas
punggung, padahal waktu itu mereka menunggang satu kuda
dan duduk di atas satu pelana, bukan pekerjaan yang susah
bagi si nona itu untuk menotok jalan darah dipunggung orang.
Apa mau dikata seolah-olah Hoa In-liong mempunyai mata
dibelakang kepalanya, baru saja ia menotok jalan darah
tersebut, sikut kanannya sudah menyodok ke belakang dan
menumbuk di atas pinggang Wan Hong-giok.
Dan satu hal yang lebih hebat lagi, ternyata sodokan
tersebut dengan telah menghajar jalan darah tertawa siiu-yauhiat
dari nona itu,
sekujur badan Wan Hong-giok gemetar keras, kontan
badannya jadi lemas tak bertenaga, tak kuasa lagi ia tertawa
tergelak dengan kerasnya...
Hoa In-liong yang binal tidak berhenti sampai disitu saja,
dasar ia paling suka menggoda kaum wanita, begitu sang
nona tertawa tak hentinya, ia lantas menarik tubuhnya
kedepan dan mendudukkannya didepannya, kemudian
ditaboknya pantat sinona keras-keras.
Diperlakukan seperti ini, wan Hong-giok hanya bisa
menangis sambil tertawa, teriaknya dengan parau:
"Orang she-Pek. hati-hati saja kau, bila terjatuh
ketanganku, nonamu akan membeset kulit badanmu daa
membetot keluar otot-otot badanmu agar kau menderita lebih
hebat"
"Haaaah....haaaahh,...haaaahh..,." Hoa In-liong tertawa
tergelak, keras dan nyaring suaranya, "mau beset kulit
membetoti otot terserah padamu, dan urusan itu kan urusan
dikemudian hari, yang pasti pada saat ini kau adalah seorang

111
begal kuda. maka saya harus baik-baik menabok pantatmu
yang bulat ini"
Benar juga, pemuda itu lantas menghajar pantat Wan
Hong- giok tiada hentinya.
oleh sebab jalan darah siau-yan-hiatnya tertotok. wan-
Hong- giok tertawa terus tanpa bisa berhenti, ia jadi malu
bercampur marah, apalagi setelah mendengar tuduhan sang
pemuda yang mengatakan dia sebagai seorang "Begal kuda"
kemarahan langsung berkobar, teriaknya dengan nada marah.
"Bocah busuk. siapakah yang menjadi begal kuda? Hayo
cepat turunkan aku, nona hendak menuntut suatu keadilan
darimu"
sewaktu mengucapkan kata-kata itu, Wan- Hong giok
menggigit bibirnya kencang-kencang, seakan akan ia merasa
sangat penasaran dengan tuduhan tersebut. Hoa-in-liong jadi
terperanjat diapun lantas berpihir:
"Aneh benar liong-be milikku ini sangat pintar dan mengerti
percakapan manusia, sampai sekarangpun masih kutinggal
dalam rumah penginapan, kalau bukan dicuri olehnya, dari
mana bisa sampai disini?"
Haruslah diketahui, meskipun Hoa- In- liong itu binal dan
tak pakai aturan, namun kecerdikan otaknya setingkat lebih
hebat daripada orang lain, kalau bukan lantaran begitu tak
nanti Bun Thay kun akan membebankan tugas yang sangat
berat ini kepadanya.
Ketika bertemu dengan "Liong-ji" miliknya tadi, bukan saja
ia sudah mengenali kembali bahwa kuda merah itu adalah
kuda miliknya, bahkan diapun menaruh curiga bahwa Wan
Hong-giok adalah sekomplotan dengan musuh-musuhnya.
sebab kemunculan nona baju merah itu bertetapan
waktunya ketika ia terkurung dan pemanah-pemanah gelap
baru saja melarikan diri dari sana, ia lantas curiga kalau
jejaknya sudah ketahuan orang dan rumah penginapannya
telah diserbu musuh.
sebab itulah kemunculan Wan Hong-giok dengan
menunggang kuda Liong-jinya sebera dianggap sebagai

112
musuh, kalau tidak demikian, tentu saja nona itu tak akan
melepaskan si Nio dan majikannya dengan begitu saja.
Tapi sekarang, Wan Hong-giok menunjukkan sikap yang
seakan-akan merasa sangat penasaran, sikap semacam itu
dengan cepatnya menyapu kembali semua pendapatnya
semula, karena tak dapat memecahkan masalah tersebut
maka untuk sesaat dia malahan tertegun dibuatnya.
Terdengar wan Hong-giok berteriak kembali dengan suara
serak:
"Keparat busuk. kau bernyali tidak? Kalau bernyali hayo
cepat bebaskanjalan darah nonamu yang tertotok"
Hoa In-liong tidak segera menjawab kembali dia berpikir:
"Kalau toh Liong-ji bukan dicuri olehnya, tentu dia tahu apa
sebabnya Liong-ji bisa kabur keluar dari rumah penginapan,
atau mungkin juga ia berhasil mendapatkannya dari tangan
orang lain? Kenapa tidak kulepaskan saja nona ini agar bisa
dimintai keterangan yang lebih mendalam lagi??"
Berpikir sampai disitu, cepat dia menepuk jalan darah
ditubuh Wan Hong-glok dan membebaskan dirinya dari
pengaruh totokan tersebut.
Begitu terbebas jalan darahnya yang tertotok Wan Honggiok
segera meloncat bangun, kemudian sambil menuding
anak muda itu teriaknya:
"Hayo bicara, siapakah yang kau tuduh sebagai begal
kuda? Beri keterangan yang sejelas-jelasnya kepadaku"
Air matanya belum mengering, tapi matanya sudah melotot
besar, bibirnya mencibir, sikapnya yang lagi kheki dan
mendongkol itu mendatangkan suatu daya pesona yang lain
daripada yang lain, membuat nona itu kelihatan lebih
menawan dan lebih segar rasanya.
Hoa-in-liong gembira sekali sambil memicingkan matanya
dan memperhatikan nona itu tanpa berkedip sahutnya sambil
tertawa. "Masa engkau bukan begal kuda?"
Kontan Wan- Hong- giok menyeka air matanya dan
langsung berteriak marah.

113
"Bagus, Bagus sekali Kau berani menuduh orang baik-baik
sebagai begal kuda? Nona akan beradu jiwa denganmu."
Telapak tangannya disertai desingan angin pukulan yang
amat kencang langsung diayun kedepan dan menghajar dada
Hoa ln liong.
Si anak muda itu menyentak tali les kudanya dengan
cekatan, berhasil melepaskan diri dari ancaman tersebut,
sambil tertawa ia lantas berkata lagi:
" Wajahnya memang cantik, perawakan tubuhnya memang
menarik sayang nona secantik itu nyata nya seorang pencuri?
ooooh sayang, sayang Meski sauya mempunyai perasaan
kasihan terhadap kaum lemah, apa daya kalau nona yang
lemah adalah seorang begal? Kalau tidak diberi hukuman, apa
jadinya diakhir masa...?"
Wan- Hong- giok semakin naik pitam, bukan saja lantaran
serangannya mengenai sasaran kosong terutama setelah
mendengar tuduhan dari sang pemuda yang bersikeras
mengatakan dia sebagai "begal", serangannya makin bertubi
tubi, seperti hujan deras dia lepaskan berpuluh-puluh buah
pukulan berantai yang semuanya ditujukan pada jalan darah
penting disekujur badan pemuda itu.
"Bocah binal, sekalipun harus mempertaruhkan selembar
jiwaku hari ini nonamu akan merobek dan mengoyak mulut
busukmu yang berbau gombal itu.." sumpahnya dengan
gemas.
Meski dibibir Hoa- In- liong selalu berkata akan " memberi
hukuman yang setimpal", namun kenyataannya dia hanya
berkelit dan menghindar terus tanpa membalas.
Akhirnya timbul juga sifat binalnya, ia tidak lagi berusaha
untuk menanyakan dari mana nona itu dapatkan kuda "Liong
ji" nya malahan sambil berkelit godanya seraya tertawa:
"Hoore.... betul, ucapanmu memang tepat, sudah lama
bibirku ini tak pernah mencium bau gicu dan pupur, lebih baik
kau koyak-koyak saja sehingga tak sampai mengilar dan
kehausan sampai tak bisa ditahan lagi...."

114
Merah padam wajah Wan Hong-giok setelah mendengar
perkataan itu, ia membentak lalu menerjang kemuka bagaikan
burung walet, sambil menerkam ketubuh Hoa In-liong
makinya: "Jangan mengaco belo terus, Nih Coba rasain dulu
kelihayan darijari tanganku"
Lengan kirinya berputar setengah lingkaran, lengan kanan
tiba-tiba menerobos keluar dari balik lingkaran bayangan itu
dan menyodok kemuka langsung mengancam wajah sang
pemuda.
Hoa In-liong terbahak-bahak. la miring ke samping untuk
meloloskan diri dari ancaman tersebut, menyusul mana lengan
kirinya digaet kedepan dan merangkul tubuh Wan Hong-giok
sehingga terjatuh kedalam pelukannya.
"Haaahhh haaahhhh....haaahhh.... meski jari tanganmu
lentik dan menarik hati, aku rasa lebih sedap mencium bau
harumnya gincu" katanya dengan cepat, " biarlah kucicipi saja
harumnya gincu itu"
Pelukannya segera diperkencang, disusul dia tundukan
kepalanya dan mencium bibir Wan Hong giok.
sungguh terkejut tak terkirakan nona baju merah itu
menghadapi sergapan yang tak terduga itu, bibirnya terbuka
hendak menjerit, apa mau dikata sebelum jeritannya
berkumandang, bibir Hoa ln liong bagaikan harimau kelaparan
sudah menempel diatas bibirnya.
sebagaimana diketahui semenjak kecil Hoa In liong sudah
terbiasa hidup diantara kerumunan kaum nona, soal peluk
memeluk dan cium mencium siiih merupakan keahlian khusus
baginya, tak heran kalau semua gerak-geriknya disaat ini
begitu luwes dan terlatihnya hingga tak nampak kegugupan
maupun kepanikan.
Baru saja Wan Hong-giok tertegun, tiba-tiba ia merasakan
munculnya lidah lawan seperti seekor ular lintah menggelitiki
masuk kedalam bibirnya, kenyataan ini membuat darahnya
mengalir makin kencang dan jantungnya berdebar keras, dia
ingin menampik, apa daya lemas tak bertenaga, seakan-akan
dara itu kehabisan tenaga saja maka akhirnya diapun pasrah.

115
Meski Wan Hong-giok tersohor sebagai Giok-kou-Niocu,
hakekatnya dia masih seorang perempuan tulen, jangan dilihat
tingkah lakunya agak genit dan tak menurut adat namun soal
peluk memeluk apalagi dalam hal cium mencium boleh
dibilang belum pernah dilakukan olehnya.
Tidaklah heran kalau ia jadi gugup dan kelabakan setelah
menghadapi kejadian yang mengejutkan hatinya ini.
Bibir seorang dara dikatakan paling sensitip itu memang
benar sebab dari sanalah birahi seorang dara gampang
ditimbulkan apalagi bila tersentuh oleh bibir lawan jenisnya.
Masih mendingan bila Wan Hong-glok hanya bertemu
dengan laki-laki biasa apa lacur Hoa ln liong adalah seorang
ahli perempuan yang berpengalaman ujung lidahnya yang
menggelitik, gelitik bibir nona itu seketika mendatangkan
suatu perasaan yang aneh sekali bagi Hong-giok. serta merta
timbul pula suatu perasaan aneh yang belum pernah dijumpai
sebelumnya, maka tak kuasa lagi ia balas menjulurkan
lidahnya dan saling menggelitiki dengan lidah lawan lama
kelamaan timbullah suatu perasaan yang kian lama kian
bertambah nyaman.
Mendadak......dikala Wan Hong-giok sudah benar-benar
kesemsem dan dibuat lupa daratan oleh permainan "urlik"
tersebut, Hoa In-liong menarik kembali lidahnya sambil
mendorong nona itu ke-belakang, sesudah itu ujarnya sambil
tertawa:
"Ehmm,,.nona Wan, gincumu memang berbau harum, aku
betul-betul merasa amat beruntung bisa mendapat
kesempatan untuk menikmati keharuman lidah nona"
Mula-mula Wan Hong-giok agak tertegun, menyusul
kemudian ia merasa gemas bercampur kheki, langsung dia
ayun kepalannya untuk memukul. "Kau...kau..." serunya
gemas.
Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. dengan mudah dia
tangkap sepasang kepalan nona itu, kemudian katanya lagi:

116
"Nona tak usah marah, baik luar maupun dalam aku betulbetul
seorang keparat busuk yang tulen, sekarang semestinya
nona terangkan padaku dari mana kau dapatkan Hong-ji ini??"
Diperlakukan seperti ini oleh seorang pemuda asing, Wan
Hong-giok merasa yaa marah ya kheki juga, kalau bisa dia
ingin menjotos pemuda itu sehingga gepeng seperti kueh
apem, tapi sayang kungfunya tak mampu menangkan
lawannya, maka ia cuma bisa menahan hawa amarahnya
belaka.
" Keparat busuk" makinya marah-marah, "sekali keparat
busuk. selamanya kau memang keparat busuk. mau apa
kamu?" Hoa In-liong tersenyum.
"Nona mempunyai sepasang mata yang jeli, dan lagi
memperlakukan istimewa terhadap seorang keparat busuk
macam aku, sekalipun aku kasar dan tak becus, perlakuan apa
yang bisa kulakukan terhadap nona? Aku tidak meminta yang
berlebihan, hanya sudilah kiranya nona bersedia untuk
menerangkan kepadaku, darimana kau dapatkan Hong-ji ini,
maka pemberitahuan nona itu akan membuat aku melasa
amat berterima kasih"
Wan Hong-giok yang sudah mendongkol semenjak tadi,
tiba-tiba melejit kemudian menumbuk ke dada Hoa In-liong.
Jilid 04
ANAK muda itu tak menyangka kalau nona tersebut bakal
melakukan gerakan senekad ini cepat ia jatuhkan diri ke
belakang, menggunakan kesempatan itulah Wan- Hong- giok
lantas menyambar senjata kaitan kemala yang bergantung di
atas pelana, sambil melompat turun dari punggung kudanya ia
berteriak:
"Orang she-Pek, engkau terlalu menghina orang, jangan
dianggap nonamu bisa dipermainkan dengan seenaknya Hmm
Memangnya kau anggap karena ilmu silatku tak menangkan
kau, maka kau lantas dapat mempermainkan diriku, dengan

117
seenaknya? Sampai matipun aku tak akan melepaskan kau
dengan begitu saja"
Senjata kaitannya segera diayun sambil menubruk ke
depan, cahaya hijau bayangan merah secepat sambaran kilat
menerkam ke depan dan langsung menusuk lambung Hoa-In-
Liong.
Berbicara yang sesungguhnya, betapa tinggi nilai bibir dari
seorang nona, tapi sekarang bibir yang berharga itu telah
dicium Hoa In-liong sepuas-puasnya, kesemua itu boleh
dibilang muncul karena kerelaan hatinya, kendati begitu
kejadian tersebut cukup membuat sang nona jadi merah
jengah dan berdebar hatinya.
Tapi sekarang, setelah Hoa In-Liong puas menciumi
bibirnya, dia malahan menuntut terus kepadanya untuk
menerangkan asal-usul Hong-ji, hal ini sama artinya seakanakan
ia menuduh bahwa asal-usul Hong-ji sangat
mencurigakan dan ada kemungkinan adalah barang curian,
dalam malu dan marahnya tak heran kalau Wan Hong-giok
jadi nekat dan ingin beradu jiwa.
Hoa In-liong sendiri terlalu yakin akan ilmu silatnya sendiri
yang dianggapnya lebih hebat dari kungfu Wan Hong- giok.
ditambah pula wataknya yang binal, maka ketika Wan Honggiok
berhasil merampas senjata kaitannya dan melompat
turun dari pelana, ia tak terlalu memperhatikan, menanti nona
itu menerjang datang sambil menyerang secara kalap. ia baru
merasa amat terperanjat.
Garang dan nekat sekali serangan-serangan dari Wan
Hong-giok, bayangan senjata menyelimuti angkasa sampai
berlapis-lapis banyaknya, sementara Hoa In-Liong- masih
terkejut, tahu-tahu desingan angin tajam telah tiba di depan
mata.
Dalam keadaan begini, ia tak berani gegabah lagi, sekali
menjejak permukaan tanah, tubuhnya lantas metejit dan
bersalto beberapa kali di udara, kemudian melayang turun
beberapa kakijauh nya dari tempat semula.

118
Kendatipun cukup cepat ia menghindar, namun terlambat
juga gerakan itu "Breet" tahu-tahu baju bagian dadanya
tersambar hingga robek sebagian, untung tak sampai melukai
badannya.
Wan Hong- giok tidak puas dengan hasil serangannya itu,
ia melayang ke muka, kemudian membacok lagi batok kepala
Hoa in-liong dengan jurus Ciong-eng-po-toh (burung elang
menubruk kelinci).
Desingan angin tajam menderu- deru dan memekikkan
telinga, hebat dan ganas ancaman tersebut.
Waktu itu Hoa In-Liong baru saja berdiri tegak, tatkala
menyaksikan tibanya serangan dengan cahaya hijau yang
tajam dari atas udara, cepat-cepat dia menyingkir selangkah
ke samping untuk menghindarkan diri
sekarang anak muda itu pun sudah tahu kalau Wan Honggiok
benar-benar telah gusar, berbicara soal ilmu silat
kendatipun dia harus bertarung dengan tangan kosong belaka,
pemuda itu tak akan jeri menghadapi Wan Hong-giok yang
bersenjata kaitan, dasar mata keranjang dan suka perempuan
Hoa In-Liong tak ingin sungguh-sungguh bermusuhan dengan
nona itu.
Maka ketika serangan menggulung tiba lagi, ia tidak
menghindarkan diri malahan sambil membenarkan bajunya
menjura dari kejauhan.
"Nona, jangan marah dulu Dengarkanlah perkataanku."
pintanya setengah memohon.
"Tidak Aku tak sudi mendengarkan perkataan mu" terlak
Wan Hong-giok sambil marah-marah.
Kembali kaitan kemalanya dibabat kedepan seperti jaring
langit dengan jurus Giok-cong-seng-cui (tenda kemala
menyelimuti jagad). Cepat Hoa In-Liong berkelit kesamping,
kembali dia menjura sambil memohon:
"Nona, anggap aku yang telah berlaku kasar terhadap nona
cantik, terimalah permintaan maafku ini"
Padahal berbicara sesungguhnya, diapun tahu bahwa ilmu
silat dari Hoa In-liong berlipat kali lebih tinggi dari

119
kepandaiannya, jika ia ingin merobohkan musuhnya maka
perbuatan itu boleh di bilang sukar sekali.
Ditambah pula Hoa In-liong berparas tampan diam-diam ia
sudah terpesona oleh kegagahan lawannya, maka andaikata ia
disuruh membacok pemuda itu secara sungguh-sungguh,
belum tentu ia tega untuk melukainya.
Maka setelah dilihatnya Hoa In-liong beberapa kali menjura
sambil meminta maaf, hawa amarahnya sudah berkurang
beberapa bagian, ia tidak menyerang lagi, sebaliknya sambil
bertolak pinggang membentak:
"Hmm Kau anggap urusan ini dapat diselesaikan dengan
begini saja? Hayo cabut keluar pedang mustikamu, dan
tentukan siapa yang lebih tangguh nonamu"
Wan Hong-giok merasa agak jengkel juga setelah
beberapa kali serangannya tidak mencapai sasaran.
Yang benar, ia jadi nekad dan menyerang secara membabi
buta lantaran rasa mangkel dan penasarannya tak tersalur
keluar, selain itu diapun mendapat perlakuan kasar dari sang
pemuda, maka dalam malu dan jengkelnya ia jadi marah.
Hoa In-liong cukup berpengalaman dalam menghadapi
kaum nona, dan diapun cukup memahami watak-watak dari
kaum hawa, perkataan tersebut diapun segera tahu bahwa
kegusaran dalam hati Wan Hong-giok sudah berkurang
sebagian. Cepat-cepat dia menjura lagi sambil berkata:
"Ilmu silat milik nona sangat lihay, aku tahu bahwa
kepandaianku bukan tandingan nona, apa gunanya kita
bertarung lagi untuk menentukan siapa yang lebih unggul?"
"Hmm Kau anggap aku rela membiarkan diriku dianiaya
seenaknya olehmu...?" teriak Wan Hong-giok sambil
mendengus.
Dalam hati Hoa In-liong merasa geli, tapi di luaran ia
menjura lagi dengan wajah bersungguh-sungguh sambil
berkata:
"Manusia kan bukan rumput atau kayu yang tak
berperasaan, masakah aku bisa melupakan cinta kasih nona?
Paras nona cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, bisa

120
mencium nonapun sudah merupakan suatu keuntungan yang
tak terkirakan bagiku, masa pembuatan ini dianggap sebagai
suatu penganiayaan?"
Merah padam wajah Wan Hong-giok setelah mendengar
perkataan itu, serunya dengan manja.
"Hmm Enak benar kalau bicara, coba jawab kenapa kau
menuduh aku telah mencuri kudamu"
Hoa In-liong segera berpura-pura gugup, sahutnya:
"Harap nona jangan menganggap sungguhan ucapanku itu,
kau toh tahu bahwa aku suka bergurau? Jangan nona anggap
ucapanku tadi serius"
Menyaksikan sikapnya yang gugup dan serba tak menentu
itu, Wan Hong-giok segera berpikir pula dalam hati:
"Aaaai, orang ini benar-benar aneh dan binal, tentunya ia
sudah terbiasa dengan wataknya sedari kecil, bila aku mesti
bersungguh-sungguh terhadap dirinya, nihil juga akhirnya."
Berpikir demikian lenyaplah sudah semua amarahnya, tapi
untuk menjaga gengsi ia tak sudi menunjukkan perubahan
sikap secepat itu, sambil mencibirkan bibirnya kembali ia
mendengus.
"Hmm Kau anggap nonamu bisa dipermainkan seenaknya?
Hari ini kau harus memberikan keadilan kepadaku"
sikap Hoa In liong yang sebentar bersungguh sungguh
sebentar tidak ini sebenarnya terselip tujuan tertentu,
sungguh girang hatinya ketika ia lihat siasatnya termakan,
maka sambil maju ke depan ujarnya:
"Nona, simpan dulu kaitan kemalamu itu, bagaimana kalau
kita bicarakan persoalan ini secara perlahan-lahan?"
setibanya di hadapan Wan-Hong-giok. dia ambil oper
senjata kaitan itu dan menggantungkan di atas pelana, semua
gerak geriknya lembut tapi cekatan seperti orang yang
ketakutan, seperti juga orang yang bersungguh-sungguh, tapi
sikapnya itu justru mendatangkan suatu daya pikat yang
istimtawa dalam pandangan nona baju merah itu.
Benar juga, Wan-Hong-giok segera merasakan jantungnya
berdebar keras, ia merasa pemuda itu makin menarik dan

121
mempesonakan hatinya, sehingga tanpa terasa lagi dia
mengerling sekejap ke arah pemuda itu.
Indah sekali kerlingan mata nona tersebut, apalagi oleh
seorang dara cantik jelita yang berperawakan menawan hati,
melihat itu Hoa- In-Liong merasa kegirangan, serta merta
gerak geriknya lebih lembut dan lebih bersungguh-sungguh.
Menggunakan kesempatan itu dia maju menghampiri sang
nona dan merangkul pinggang yang lembut, kemudian
bisiknya lirih:
"Nona, mari kita duduk disana, kita berbicara lagi ditempat
yang rindang itu"
Wan Hong-giok yang pinggangnya dirangkul seketika
merasa adanya aliran listrik yang menembusi semua organ
tubuhnya, nona itu berdebar keras dan tak tahu musti gugup
atau bergirang hati.
Dengan wajah tersipu ia coba menggeliat, tentu saja
menggeliat secara pura-pura, lalu sambil mengerling genit
omelnya:
"Aaah, bagaimana sih kamu ini? Bersikaplah sok sopan, aku
toh bukan kekasihmu, kenapa kau rangkul aku sekencang ini?"
Dalam hati Hoa In-liong merasa geli, namun ia tidak
mengucapkan sepatah katapun, dengan masih merangkul
nona itu mereka berjalan menuju ketepi sebuah batu gunung.
Hawa khas dari seorang laki-laki membuat Wan Hong-giok
serasa mabuk. la merasa tubuhnya jadi hangat dan nyaman,
enggan rasanya untuk menampik rangkulan tersebut, ta sadar
dia mengikuti juga kepergian pemuda itu untuk duduk di tepi
batu cadas.
sekalipun sudah duduk Hoa In-lion masih juga merangkul
pinggangnya namun ia tidak melakukan tindakan selanjutnya,
kecuali memandang wajah nona itu sambil tersenyum.
Ditatap lekat-lekat oleh pemuda setampan itu merah juga
selembar wajah Wan Hong-giok serunya dengan suara
tersipu-sipu:
"Eeeh, kamu ini benar benar tak sopan, kenapa merangkul
melulu tanpa berbicara?"

122
"Nona terlampau cantik, aku jadi terkesima rasanya" sahut
sang pemuda sambil tertawa.
Tidak menunggu Wan Hong-giok melanjutkan kata-katanya
sudah menghela napas panja sambil berkata lagi:
"Nona, tahukah engkau bahwa aku sedang berada dalam
keadaan bahaya?"
"Apa sangkut pautnya urusanmu dengan aku? Kenapa
engkau menuduhku sebagai begal kuda?" tukas sang nona
dengan dahi berkerut.
Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali.
"Jangan nona anggap serius perkataanku itu" katanya, "aku
hanya bergurau saja denganmu"
"Hmm Dan kau ingin minta maaf kepadaku agar aku bisa
mengampuni dirimu??" Hoa In liong tertawa getir.
"Bergembiralah hatiku bila nona bersedia mengampuni aku,
tapi kalau nona tidak sudi memberi ampun, terpaksa aku
harus menantikan hukumannya" ia menjawab.
Wan Hong-giok betul-betul dibuat kehabisan akal
menghadapi pemuda itu, akhirnya setelah termenung sebentar
sahutnya:
"Baiklah Coba kau terangkan dulu kesulitan dan mara
bahaya apakah yang sedang kau hadapi?"
"Aku sedang melaksanakan suatu tugas yang sangat berat,
setiap saat aku harus berjaga-jaga terhadap sergapan musuh
yang ingin mencelakai jiwaku."
"Aku lihat usiamu sebaya dengan aku, tugas berat apa
yang sedang kau lakukan? Harus berjaga jaga pula terhadap
sergapan dari siapa??" Hoa ln-Liong menghela nafas panjang,
ia menjawab:
"Tiap orang mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda,
sejak kecil nasibku jelek, sekarang aku punya rumah tapi tak
bisa kembali, akupun tak tahu pula siapa musuh besarku,
setiap hari harus luntang lantung tanpa tujuan sambil berjagajaga
atas sergapan musuh yang akan mencelakai jiwaku
betapa menderitanya aku ini"

123
Pemuda itu tak tahu siapa gerangan Wan- Hong giok ini,
dan diapun kuatir kalau nona baju merah ini adalah satu
komplotan dengan musuhnya maka ia berusaha untuk
merahasiakan asal-usul dengan mengarang suatu cerita
bohong yang melukiskan betapa sengsara dan menderitanya
kehidupannya selama ini.
Wan Hong giok merasa simpatik dan ikut beriba hati oleh
nasib jelek pemuda itu, tanpa terasa ia berguman seorang diri
"Musuh dalam kegelapan dan kita ada ditempat terang,
untuk menjaga diri memang susah rasanya."
"Benar" sambung Hoa In liong, "coba bayangkanlah nona,
kemarin malahan kudaku ini masin berada dirumah
penginapan, tapi sekarang tiba-tiba nona memakainya untuk
datang kemari, setelah menyaksikan kesemuanya ini,
bagaimana aku tidak kuatir kalau rahasiaku sudah bocor dan
ketahuan musuh...."
"Jadi kalau begitu, kau telah menganggap aku sebagai
musuhmu?" seru Wan Hong-giok tertegun.
" Waktu berjumpa untuk pertama kalinya tadi aku memang
curiga" sahut pemuda itu berterus terang, "tapi sekarang aku
sudah mengerti"
Wan Hong-giok tak dapat memberi penjelasan maka ia
segera membantah dengan lantang. "Aku tak mungkin adalah
musuhmu, kuda ini kudapatkan karena hadiah dari orang lain"
"Aku mengerti" sahut Hoa In-Liong sambil mengangguk,
"dan aku curiga kalau orang yang menghadiahkan kuda ini
kepadamu itulah musuhku"
Wan Hong-giok tertegun, lama sekali ia baru berseru:
"Aaah, tak mungkin sebab orang itu adalah suhengku sendiri."
Hoa In-liong pun tersenyum.
"Kalau begitu kakak seperguruanmu itulah si begal kuda
yang kumaksudkan..."
Baru saja ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba terdengar
seseorang membentak dengan penuh kegusaran:
"Bocah keparat, jangan sembarangan menuduh, bicaralah
yang agak tahu sopan"

124
suara itu muncul dari belakang mereka, meski demikian
Hoa- ln-Liong tidak nampak gugup atau terkejut, ia malahan
berkata dengan tawa: "saudara, semestinya kau harus sudah
munculkan diri semenjak tadi"
Ketika orang itu munculkan dirinya dari tempat
persembunyian, dengan alis mata berkenyit Wan Hong-giok
sebera menegur ketus:
"ooooh rupanya kau sudah datang kemari sejak tadi,
kenapa tidak segera munculkan diri melainkan hanya
bersembunyi melulu?"
orang itu adalah seorang pemuda tampan yang berdandan
sebagai seorang pelajar, dibawah pinggangnya tersoren
sebilah pedang antik yang berwarna coklat, pada mulanya dia
muncul dengan wajah penuh kegusaran, tapi setelah ditegur
oleh Wan Hong-giok sambil tertawa cengar-cengir jawabnya
tergagap: "Aku.....aku Gi-heng...."
"Hmm sekalipun tidak kau katakan aku juga tahu" seru
Wan-Hong-giok sambil mendengus, "terus terang
kuberitahukan kepadamu lebih baik kau tak usah mengurusi
semua tindak tandukku karena kau tidak berhak untuk
mencampurinya"
seraya berkata nona itu sengaja menggeserkan badannya
sehingga duduk makin rapat disisi Hoa In-liong.
Perbuatannya itu kontan saja menggusarkan hati pemuda
sastrawan tersebut, api cemburu membakar hatinya, namun ia
tidak sampai mengumbar hawa amarahnya.
"sumoay " serunya setelah termenung sebentar "tahukah
kau, siapi gerangan bocah keparat itu ?"
"Hmm Perduli amat siapakah dia, mau apa kau turut
campur? Lebih baik janganlah merecoki aku terus."
Hoa In-liong sendiripun tetap duduk tenang tanpa bergerai
katanya pala dengan nada datar:
"Aku bernama Pek Khi, tolong tanya siapa namamu??"
Terhadap Wan Hong-giok. pemuda sastrawan itu memang
munduk-munduk ketakutan, tapi terhadap orang lain dia
bersikap angkuh dan tinggi hati, sepasang matanya langsung

125
melotot ketika mendengar ucapan itu, bentaknya: "Benarkah
engkau bernama Pek Khi??" Hoa In-long tersenyum:
"Kalau bukan bernama Pek-Khi, lantas menurut pendapat
saudara siapakah namaku?" ia balik bertanya.
Pemuda itu mendengus dingin, sambil berpaling kepada
Wan-Hong-giok serunya:
"sumoay, bocah keparat ini sengaja sedang membohong
imu, dia adalah teji dari keluarga Hoa di bukit Im-tiong-san,
bernama Hoa- Yang"
Agak tertegun Wan- Hong- giok mendengar perkataan itu,
sepasang matanya terbelalak semakin besar dan menatap
wajah Hoa- In-Liong tak berkedip. agaknya ia merasa kaget
bercampur curiga nampak pula mendongkol dan gusar,
pokoknya perasaan hatinya waktu itu bercampur aduk dan
sukar dilukiskan dengan kata-kata. Hoa- In-Liong tertawa,
katanya lagi:
"Aku tidak merasa pernah berkenalan dengan saudara, tapi
engkau dapat menyebutkan namaku secara jelas, ini berarti
bahwa engkau menaruh maksud tertentu padaku pula,
sekarang aku Hoa teji justru ingin minta petunjuk darimu"
Memang inilah yang diharapkan pemuda tersebut, maka ia
langsung mencabut keluar pedangnya dan berkata dengan
dingin.
"Hayo majulah sauya mu bernama siau Ciu, aku memang
ingin menjajal kepandaian silatmu"
Tiba-tiba Wan Hong-giok bangkit berdiri seraya
membentak: "Tunggu sebentar, aku hendak menanyai dirinya
lebih dulu"
sambil putar badannya menghadap kearah Hoa In-liong.
ujarnya lebih lanjut:
" Hayo jawab mengapa kau bohongi aku? mengapa tidak
menyebutkan nama aslimu? apakah Wan Hong-giok tidak
pantas untuk barkenalan dengan Hoa Yang...." Hoa In-liong
bersikap serius dan tersenyum sahutnya:
"Nona bernama Hong-giok. karena itu akupun menyebut
diriku sebagai Pek Khi. sebab hakekat-nya Pek Khi maupun

126
Hong-giok adalah benda-benda mustika yang berharga, orang
bilang bunga meski tidak indah namun ia akan lebih indah bila
berdaun hijau, dan Hong-giok akan bertambah mahal bila
diimbangi dengan Pek Khi, nona masakah kau belum
memahami perasaan hatiku? Jika nona menegur aku karena
soal itu, maka engkau salah menegur diriku ini"
Meski diluaran ia berbicara demikian, otaknya berputar
keras memikirkan masalah yang dihadapinya ia berpikir:
"Bocah keparat ini bernama siau ciu, dan membegal pula
kudaku dari rumah penginapan, kemungkinan besar dialah
yang disebut Ciu-kongcu oleh nona berbaju hitam itu.... aaah,
susah payah kucarijejak mereka tak tahunya bisa ditemu kan
secara kebetulan, apa salahnya kalau kugunakan sedikit akal
muslihat untuk menyelidiki siapa gerangan yang berada dibalik
layar dalam peristiwa ini?"
sementara Hoa In-liong masih berpikir sampai disitu, tibatiba
terdengar siau Ciu berkata sambil tertawa terbahakbahak:
"Haaahhh....haaahhh....Hoa teji, apa gunanya kau ngaco
belo sambil merayu dengan kata-kata yang manis? Apakah
kau hendak menipu perasaan cinta dari sumoayku?" Baru ia
selesai berbicara, wan Hong-giok telah membentak nyaring:
"Hey, siapa yang suruh kau campuri urusanku? sana, berdiri
agak kejauhan" sambil berkata ia lantas mendorong siau Ciu
agar mundur kebelakang. Menggunakan kesempatan itu, Hoa
in-liong lantas menyindir sambil tertawa tergelak:
"Haaahhh...:haaahhh....haaahhh anjing menggigit tikus,
Itulah akibatnya kalau suka mencampuri urusan orang lain,
akhirnya siu-heng sendiri yang terbentur pada batunya"
Tampaknya cinta kasih siau- Ciu terhadap Wan-Hong-giok
sudah mendalam sekali, sehingga meski dibentak-bentak dan
dicaci maki dihadapan orang, ia tidak merasa gusar
tapi begitu Hoa- In-Liong menyindir dengan kata-kata yang
pedas, Ia tak kuat untuk menguasai lagi.
secepat kilat tubuhnya berkelebat kedepan begitu terhindar
dari penghadangan telapak tangan Wan Hong-giok. serta

127
merta pedangnya dicabut keluar dan langsung menusuk ke
dada lawan.
"Keluarga Hoa tak ada manusia cerewet macam kau"
bentaknya, "sambutlah sebuah tusukan maut dari sauya mu"
Hoa- In-Liong tertawa nyaring, ia berkelit kesamping lalu
menjawab:
"Jika siau-heng ingin bertempur, aku dapat melayani dirimu
dengan senang hati, tapi jawab dulu mengapa kau curi kudaku
ini? Bagaimanapun kau toh musti memberi keadilan dulu
kepadaku"
"Telur busuk. siapa yang telah mencuri kudamu?" teriak
siau- Ciu dengan gusar.
Pedangnya langsung dibabat kedepan dengan jurus gioktay-
wi-yau (ikat pinggang kemala mengelilingi dibadari) hebat
sekali serangan tersebut dan penuh disertai tenaga dalam
yang hebat.
Hoa- In-Liong adalah keturunan seorang pendekar besar,
ilmu silat yang dimilikinya belajar langsung dari Hoa Thianhong,
padahal Hoa Thian hong adalah seorang pendekar
tanpa tandingan yang lihay dalam ilmu pedang, tentu saja
secara otomatis Hoa Loji lihay juga dalam ilmu pedang.
Maka dari itu ketika siau- Ciu menyerang untuk kedua
kalinya dengan babatan mendatar, ia lantas mengetahui
bahwa jurus serangan yang akan digunakan lawannya adalah
jurus Giok tay wi yau sebab itulah tanpa berpikir panjang lagi,
ia mengigos kesamping kiri
siapa tahu, baru saja badannya bergerak meninggalkan
posisi semula mendadak ia merasa gerak pedang musuh
sangat aneh dan mencurigakan, bukannya terlepas dari
ancaman tersebut, tubuhnya malahan menyongsong tibanya
ujung pedang siau ciu.
Kejadian ini sangat mengejutkan hatinya dalam, kagetnya
peluh dingin sempat membasahi tubuhnya, buru-buru ia putar
pinggang sambil metejit dengan gerakan ikan leihi meletik
secara beruntun ia berjumpalitan beberapa kali diangkasa dan

128
melayang turun satu kakijauhnya dari tempat semula, nyaris
tubuhnya termakan oleh babatan pedang lawannya itu.
Apa yang sebenarnya telah terjadi? Rupanya siau Ciu
bertangan kidal, ia menyerang dengan menggunakan tangan
kiri, dengan sendirinya ilmu pedang yang digunakan pun
merupakan ilmu pedang tangan kiri
sewaktu membacok atau menusuk kedepan, baik tangan
kiri maupun tangan kanan tak jauh berbeda, tapi untuk
membacok kesamping kiri atau kekanan maka jurus
pedangnya justru berlawanan dengan pedang biasa, Hoa Inliong
tidak menduga sampai ke situ, maka karena teledornya
hampir saja ia terjebak oleh tipu muslihatnya musuhnya.
setelah melayang turun ke atas tanah dan berhasil
menenangkan hatinya, Hoa In-liong baru merasa curiga,
pikirnya dalam hati:
"Aneh, benar-benar sangat aneh, ayah telah memberi
penjelasan yang amat seksama terhadap tiap ilmu pedang
yang berada dikolong langit, apa sebabnya ia tak pernah
membicarakan tentang ilmu pedang tangan kiri? Darimana
orang she siau ini mempelajarinya? "
sementara ia masih termenung, cahaya pedang tiba-tiba
menyambar lagi dengan dahsyatnya, ternyata siau Ciu telah
memburu datang sambil melancarkan bacokan kilat. "Hoa teji,
lihat serangan" demikianlah ia membentak.
"sungguh cepat dan lihay ilmu pedangnya " puji Hoa In-
Liong dalam hati, kali ini ia tak berani berayal lagi, cepat
tubuhnya metejit dan menyelinap kebelakang tubuh siau Ciu,
setelah itu sambil tertawa nyaring katanya:
"Haaahh haaahh haaaahh main golok main pedang hanya
akan mengakibatkan retaknya hubungan persaudaraan,
memandang diatas wajah nona Wan, asal siau-heng bersedia
untuk menerangkan mengapa kau curi kudaku itu, kita boleh
berjabatan tangan sambil berdamai"
"Keparat siapa yang kesudian berjabatan tangan sambil
berdamai dengan engkau?" teriak siau ciu marah.

129
Pedangnya dicutar mengikuti gerakan tubuhnya sekali lagi
dia menyerang dengan gencar.
"sekalipun kau tak berani mencabut pedangmu aku sama
juga bisa membinasakan dirimu, sampai waktunya jangan
kausalahkan kalau aku bertindak keji lagi" kembali dia berseru.
serangan demi serangan dilancarkan makin gencar dan
kuat, semuanya mendepak Hoa In-Liong habis-habisan,
tampaknya sebelum pemuda lawannya itu berhasil dibasmi, ia
tidak merasa puas.
Hoa In-liong sendiri sambil berkelit kesana ke mari, pikirnya
dalam hati:
" orang ini berulang kali tak mau mengakui bahwa dialah
yang mencuri kudaku, sebaliknya selalu berusaha untuk
membereskan nyawaku, tampaknya orang inilah ketua regu
dari perkumpulan Hian-beng-kau yang sedang melaksanakan
tugas perintah padahal sekarang aku butuh untuk menyediki
duduk perkara yang sebenarnya serta mencari tahu siapa
pembunuh sebenarnya, bila tidak ku demontrasikan
kelihayanku, niscaya usahaku ini akan sia-sia belaka"
Karena berpikir demikian, ia lantas mengambil keputusan
dalam hati, lengan kanannya diterobos keluar untuk mencabut
keluar pedangnya, kemudian sreet sreet sreet secara beruntun
dia lepaskan tiga buah serangan berantai untuk membendung
ancaman siau ciu.
"saudara " bentaknya ketus, "kalau engkau masih saja tidak
tahu dirijangan salahkan kalau aku Hoa-loji akan suruh kau
merasakan kelihayanku kemudian baru akan kulihat apa yang
bisa kau katakan lagi"
Gaya serangan itu demikian rapat dan penuhnya seakanakan
hendak menyelimuti seluruh jagad yang ada
dihadapannya, begitu dimainkan terasalah angin pedang
mendesis, suara guntur dan hembusan angin puyuh menyertai
setiap gerakan anak muda itu.
Ilmu pedang dari siau ciu aneh, sakti dan luar biasa, tapi
setelah berhadapan dengan jurus serangan yang begitu

130
bahsyat dari musuhnya, seketika terasalah suatu perbedaan
yang menyolok.
Tiga jurus kemudian, Hoa In-liong menghentikan gerak
tubuhnya lalu membentak nyaring: "Hayo bicara Kau
mendapat perintah dari siapa untuk membunuh suma siokya
ku?"
Tatkala serangan mendadak terbendung semua, dalam
sangkaan siu Ciu hal ini disebabkan ia kurang waspada. malu
dan gusar langsung berkecamuk dalam dadanya, dia putar
senjatanya dan melepaskan sebuah tusukan lagi keulu hati
lawannya dengan jurus hek hong-tou-sin (harimau hitam
mencuri hati).
"Apa itu perintah tidak perintah, yarg diketahui sauyamu
hanyalah bagaimana caranya uituk mencabut jiwamu"
bentaknya.
"Traang " Hoa ln-Liong menangkis dengan pedangnya
sehingga berbunyi nyaring, begitu ia punahkan datangnya
ancaman tersebut, segera ujarnya sambil mendengus:
"Hmm Tampaknya sebelum kuberi sedikit pelajaran
kepadamu, kau tak akan mengakuinya dengan terus terang"
Dalam bentrokan itu, Siau- Ciu merasakan pergelangan
tangannya bergetar keras dan hampir saja pedangnya tak
sanggup digenggam. Meski hatinya terkejut tapi api cemburu
yang berkobar dalam hatinya mengalahkan segala-galanya,
tanpa berpikir panjang hawa murninya kembali disalurkan
kedalam senjatanya.
"Tak ada gunanya bersilat lidah, kalau memang ampuh,
sambut dulu tiga buah seranganku ini." bentaknya.
Tapi sebelum ucapannya selesai diutarakan keluar Hoa- In-
Liong telah menyambung dengan suara dalam:
"Baik Dalam tiga gebrakan, aku akan memaksa kau untuk
melepaskan pedangmu itu"
Berbareng dengan selesainya ucapan tersebut, tubuh
berikut pedangnya menerjang kemuka dan sekejap kemudian
sudah terjerumus dalam lingkaran cahaya pedang Siau Ciu.

131
Dalam permainan silat orang memang tak bisa berpura
pura, maka berbareng dengan selesainya ucapan itu,
terjadilah tiga kali benturan pedang yang amat nyaring,
disusul kemudian serentetan cahaya putih meluncur
keangkasa kemudian meluncur kearah sebatang pohon besar
enam tujuh kaki dari arena pertarungan, ketika menancap
diatas dahan, gagang pedangnya masih bergetar keras tiada
hentinya.
selesai memukul rontok senjata musuh, Hoa In liong
masukkan kembali pedangnya kedalam sarung kemudian
sambil memandang siau Ciu yang mundur dengan ketakutan,
ujarnya tawa:
"Bagaimana? Apakah engkau masih ingin berkeras kepala
terus??"
siau Ciu terbelalak dengan mata lebar, dadanya turun naik
dengan tiada beraturan, dapat diketahui bahwa ia merasa
kaget bercampur gusar, sukar dilukiskan perasaan hatiaya
waktu itu.
Hoa In-liong mendengus dingin, kembali ujarnya:
"Terus terang kukatakan kepada diri siau-heng bahwa aku
Hoa-loji telah mendapat perintah dari ayahku untuk
menyelidiki peristiwa yang menimpa keluarga suma hingga
jadi terang, dan sampai sekarang engkaulah titik terang yang
berhasil kutemukan, mustahil aku Hoa teji bersedia untuk
melepaskan engkau dengan begitu saja, maka jika engkau
cerdik dan pandai melihat gelagat, lebih baik berbicaralah
terus terang, kalau tidak. ..Hmm Hm Kendatipun aku berhati
welas, akupun mempunyai kemampuan untuk melakukan
penyiksaan dengan ilmu Ngo-im-soh-hun (panca hawa dingin
pembetot sukma) serta Ban-gi-coan.sim (selaksa semut
menerobos Hati) yang akhirnya toh bisa memaksa kau untuk
menjawab sejujurnya.... bagaimana? Kau lebih mendengarkan
anjuranku ataukah tetap bersikeras?" siau Ciu memutar
sepasang biji matanya, kemudian menjengek dengan nada
dingin.

132
"Heeehh...heeehhh heeehh.... sudah lama kudengar
keluarga Hoa dari bukit Im-tiong-san berbudi luhur, berjiwa
besar dan berpibadi seorang ksatria, tapi setelah bertemu hari
ini, aku jadi ketawa dan benar-benar kectawa sekali...."
"Eeeh hati-hati kalau berbicara" tukas Hoa In liong
memperingatkan, "jangan sembarangan ngomong sehingga
tidak akan sampai tersambar petir, Kalau sampai terjadi
begitu, itu namanya mencari penyakit buat diri sendiri.." siau
Ciu mendengus dingin.
" Hoa jiya, apakah kau hendak mengandalkan ilmu silatmu
yang tinggi untuk memaksa orang agar menuruti nasehatmu
itu?" Mula-mula Hoa In-Liong agak tertegun, menyusul kemudian
ia tertawa terbahak-bahak.
"Haaaahhh haaaahh.....haaaahh.... benar-benar selembar
mulut yang tajam" serunya "tapi sayang siau-heng telah salah
menilai atas diriku. Ketahuilah bahwa Hoa teji berbeda dengan
orang lain, menghadapi urusan apapun aku lebih menitik
beratkan pada suksesnya tujuan yang harus dicapai daripada
segala persoalan yang tetek bengek. mau menilai aku jujur
boleh saja, mau menilai aku tak tahu diri juga silahkan, aku
tak akan ambil peduli apalagi memikirkan dihati, mengerti
saudara siau?"
TerCekat juga perasaan hati siau Ciu setelah mendengar
perkataan itu, tapi dia terhitung seorang pemuda yang berjiwa
panas juga, tentu saja tak sudi menyerah begitu saja, maka
setelah berhenti sebentar sahutnya ketus:
"Aku sudah mengerti, dan soal membegal kuda maupun
membunuh orang sauya sama sekali tidak tahu"
"Benar?" teriak Hoa In-Liong terperanjat, sinar tajam
memancar keluar dari matanya.
Tiba-tiba siau- Ciu menengadah lalu mendengus
"Hmm Akupun ingin memberitahukan kepada Hoa-heng,
meski aku orang she-siau tidak mempunyai asal usul yang
tersohor, tidak memiliki ilmu silat yang menggetarkan sukma,

133
tapi aku mempunyai sifat yang angkuh, apa yang kuucapkan
tak pernah diputar balikkan dari kenyataan."
"Haaaah haaaah haaaah......bagus, bagus sekali" Hoa In
liong terbahak-bahak, "lunak tidak diterima, keras tak ditakuti,
kau memang laki-laki sejati, Nah Berhati-hatilah.."
sebagai keturunan manusia, dalam darah yang mengalir
dalam tubuh Hoa In-liong terdapat kejujuran dan kepolosan
Hoa-thian Hong, namun terdapat pula kekejaman serta
kecerdikan Pek Kun-gi, seringkali perbuatan yang akan
dilakukan olehnya menyimpang dari keadaan yang berlaku
pada umumnya.
Pada saat itu lengan kanan nya sudah diangkat,juri
tangannya seperti tombak yang keras ditunjukkan kedepan
sementara tubuhnya selangkah demi selangkah maju
mendekati tubuh siau- Ciu.
Gaya serangan darijari tangannya yang kaku seperti
tombak itu aneh dan tidak umum, jari telunjuknya diluruskan
kedepan sementara jari tengahnya ditekuk keadaan ini aneh
sekali.
Pada hakekatnya inilah jurus pembukaan dari ilmu Ci yu-jitciat
(tujuh kupasan dari Ci-yu), ketika Hoa-Thian-hong baru
mempelajarinya belum lama tempo- hari, dengan kepandaian
tersebut ia bisa membuat Yan-san-it-koay dari perkumpulan
Hong-im-hwee yang amat tangguh itu pontang-panting tak
karuan (untuk mengetahui cerita ini silahkan membaca : Bara-
Maharani) .
Maka ketika dipraktekkan oleh Hoa- In-Liong sekarang,
segera terlihatlah betapa kacau dan banyak raganya tipu
muslihat dibalik serangan tersebut. Tampaknya siau- Ciu tak
akan lolos dari serangan maut tersebut. Tiba-tiba terdengar
Wan-Hong-giok berteriak dengan suara gemetar. "Pek-Khi,
Pek hey, tahan Tahan Jangan kau lancarkan serangan itu"
sesosok bayangan merah dengan kecepatan bagaikan
sambaran kilat telah menerjang maju kedepan
Hoa- In-Liong sebera menarik kembali serangannya, dan
sekali sambar ia telah merangkul bayangan merah itu kedalam

134
pelukannya. "Ada apa?" tegurnya, "perkataan apalagi yang
hendak kau ucapkan keluar?"
Wai- Hong- giok tidak menjawab pertanyaan itu sambil
meronta untuk melepaskan diri dari rangkulan orang, ia
berpaling dan serunya dengan gelisah.
"Siau suheng, katakanlah terus terang, apa gunanya kau
pikul dosa bagi kepentingan orang lain."
Penonton biasanya lebih jelas daripada pelakunya,
demikian pula halnya dengan Wan-Hong-giok oleh karena
pertama ia terdesak oleh hubunganya sesama perguruan,
ketika menyaksikan sikap Hoa In-liong yang aneh dan ilmu
silatnya yang tinggi itu, jika serangan tersebut dilancarkan
siau-Ciu benar-benar akan menderita siksaan besar. Kedua
mungkin juga nona ini mengetahui lebih jelas duduknya
persoalan, dan ia merasa tak ada gunanya "memikul dosa
demi kepentingan orang lain", ini berarti pula bahwa dibalik ke
semuanya itu masih terdapat hal-hal yang tidak beres.
Ketika mendengar ucapan itu, Hoa- ln-Liong segera jadi
curiga, dengan tatapan mata setajam sembilu dia mengawasi
siau- Ciu tanpa berkedip. ia sedang menantikan jawabannya.
Apa mau dikata siau- Ciu mempunyai rasa cemburu yang
sangat besar, kunci terpenting dalam masalah ini terletak pada
Wan- Hong- giok seorang. Andaikata nona itu tidak buru-buru
menubruk ke depan sehingga dirangkul Hoa-ln-Liong kedalam
pelukannya, mungkin perubahan yang terjadi agak lebih
sederhana.
Tapi sekarang, setelah Wan- Hong giok terjatuh dalam
pelukan mesra laki-laki lain, hawa cemburu yang terkobar
dihati siau- Ciu semakin menebal, dan sikapnya pun jauh
diluar dugaan pula.
siau- Ciu berparas tampan dan menarik. diapun
berpandangan picik, terlampau menuruti emosi. Meski asal
usul dari ilmu pedang tangan kirinya merupakan suatu tekateki,
namun yang pasti ilmu silatnya terhitung kelas satu
dalam dunia persilatan.

135
Dia adalah saudara seperguruan dengan wan Hong-giok
dan boleh dibilang sepasang sejoli yang amat cocok. sayang
wan Hong-giok tidak tertarik oleh suhengnya ini dan setiap kali
justru berusaha untuk menghindari kejaran dari kakak
seperguruannya ini.
Untuk kegiatannya itu, siau- Ciu merasa sangat penasaran,
apalagi sekarang setelah dilihatnya Hoa- ln-Liong berparas
tampan, asal usulnya populer dan ilmu silatnya lebih tinggi
ditambah pula sumoaynya tidak menolak waktu dirangkul,
sebagai seorang pemuda yang berpandangan picik, tentu saja
keadaan ini tak dapat diterima dengan begitu saja olehnya.
Meski demikian sebagai orang yang berpikiran panjang dan
mempunyai banyak tipu muslihat, tak sudi ia utarakan ketidak
senanganya itu dengan jelas, otaknya berputar kemudian
ujarnya dengan dingini "sumoay, ku suruh aku mengatakan
apa?"
"supek telah berusia lanjut, dihari-hari biasa beliau selalu
melarang suheng untuk jauh meninggalkannya, tapi kali ini
demi siau- moay kau telah melanggar perintah guru dan
mengejar ke daratan Tionggoan, aku tahu bahwa engkau tidak
mempunyai sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah yang
menimpa keluarga suma...."
"Jadi sumoay sudah tahu perasaan hatiku?" seru siau Ciu
dengan suara hambar.
"Tentu saja su-moay tahu" sahut Wan Hong-giok dengan
kening dikerutkan, "tapi....tapi...."
"Hmm Kalau sumoay sudah tahu itu lebih baik lagi, mari
kita pulang kerumah"
Wan Hong-giok tidak segera menjawab, dia melirik sekejap
kearah Hoa In-liong, ketika dilihat nya pemuda itu sedang
mengawasi siau Ciu tanpa berkedip. ia lantas mengira bahwa
pemuda itu sedang mengawasi gerak-gerik kakak
seperguruannya. Dengan hati yang amat gelisah segera
katanya:
"Tidak bisa Kita tak boleh pulang dengan begitu saja, Hoa
kongcu menaruh kesalahan paham terhadap suheng, ia

136
mengira kau mencuri kudanya dan membinasakan pula suma
siok-nya, maka sudah sepantas nya jika suheng memberi
penjelasan, kepadanya agar perselisihan dapat dihindari,
selain menghilangkan kesalahan paham tersebut kitapun tak
akan mengganggu usaha Hoa kongcu untuk menyelidiki
pembunuh yang sebenarnya."
Maksud nona itu dengan perkataannya ini antara lain
kesatu, ia memberi kisikan kepada Hoa ln liong bahwa apa
yang telah terjadi hanya suatu ke salah pahaman, kedua
diapun hendak menghilangkan bibit bencana bagi siau Ciu.
Bagi Hoa In-liong yang berpikiran lebih luas, tentu saja
maksud tersebut dapat diterima olehnya berbeda dengan siau
Ciu, ia sudah terpengaruh oleh nafsu cemburu, arti diri katakata
itu justru di maksudkan sebaliknya. Diam-diam ia
mendengus dingin, pikirnya:
"Bagus Rupanya kalian sudah seia sekata, sampai dalam
pembicaraanpun saling membelai. Hmmm sekalipun aku siau
Ciu tak berhasil mendapatkan kau, jangan harap kaupun bisa
mendapatkan bocah keparat she-Hoa itu, tunggu saja tanggal
mainnya"
Meski dalam hati kecilnya sudah timbul niat jahat, perasaan
tersebut tidak dicerminkan diatas wajahnya, malahan sambil
berlagak apa boleh buat ia-berkata: "Aaaah baiklah, mari kita
berjabatan tangan dan damai saja"
sambil merangkap tangannya, dia lalu menjura kearah Hoa
In-liong dari tempat kejauhan.
Hoa ln-Liong sendiripun dari pembicaraan tersebut dapat
menarik kesimpulan bahwa siau Ciu baru datang kedaratan
Tionggoan, itu berarti bahwa ia tak mungkin ada sangkut
pautnya dengan peristiwa berdarah yang menimpa keluarga
suma, ia pun lantas menduga bahwa dirinya memang sudah
menaruh rasa salah paham, siapa tahu kalau kuda Liong-ji nya
bisa terjatuh ketangannya lantaran sebab-sebab lain??
Kendatipun dia binal dan tak tingkah lakunya, tapi
kegagahan serta kebesaran jiwa keluarga Hoa menurun pula
dalam darahnya.

137
Karena berpendapat demikian, dan lagi siau Ciu sudah
memberi hormat dan bersedia berjabatan tangan untuk
damai, dengan langkah lebar dia lantas menyongsong pemuda
tersebut.
"Haah....haaaaah haaaahhh.,..,bagus bagus bagus Mari kita
berjabatan tangan untuk damai" katanya sambil tertawa
tergelak, "asal siau-heng bersedia untuk menuturkan hal
ikhwal waktu mendapatkan kuda ini, siaute segera akan
mengakhiri persoalan hampai disini saja, apalagi kalau aku
bisa menemukan jejak musuhku dari pembicaraan tersebut,
siaute akan lebih-Iebih merasa berterima kasih lagi."
seraya berkata ia lantas mengulur tangan kanannya dan
siap menggenggam tangan siau- Ciu.
sekilas senyum licik menghiasi ujung bibir siau ciu, katanya
pula dengan berlagak pilon:
"Benarkah engkau akan menyudahi persoalan ini sampai
disini saja, bila kuterangkan kisah yang sebenarnya?"
Diapun menjulurkan tangannya untuk menyambut telapak
tangan lawannya. Ketika dua tangan saling bertemu, Hoa Inliong
manggut-manggut berulang kali.
"Tentu saja, tentu saja siau-te sudah salah menuduh, harap
siau-heng bersedia memaafkan "
Belum habis ucapan tersebut diutarakan, tiba-tiba
terdengar wan Hong-giok menjerit lengking. "Hei...hati-hati..."
Menyusul teriakan tersebut, bayangan saling menggumul
dan salah seorang diantaranya melancarkan sebuah
tendangan yang mengakibatkan orang yang lain mencelat
jauh kebelakang.
"Sungguh keji perbuatanmu." teriakan keras- menggema
diangkasa.
Wan Hong-giok sangat terkejut, sambil menjerit buru-buru
dia lari maju ke depan.
"siau-ciu memang berhati busuk. rupanya pada jari tengah
tangan kanannya mengenakan sebuah cincin yang besar,
ruang tengah dari cincinnya itu kosong dan bersembunyi
jarum beracun.

138
Ketika saling berjabatan tangan tadi, diam-diam ia telah
memencet tombol rahasianya siap membidikkan jarum-jarum
mautnya.
Hoa In-liong sama sekali tak menduga sampai kesitu, maka
ketika tangan mereka saling berjabatan tangan mendadak
tangan kirinya diangkat menyodok iga kanan musuhnya
sementara jarum maut itu dibidikkan keluar.
sebenarnya menurut keadaan pada waktu itu, semestinya
tiada kesempatan bagi Hoa In-liong untuk meloloskan diri, apa
mau dikata perhitungan manusia tak menangkan perhitungan
langit, Wan Hong- giok segera menyadari kelicikan suheng nya
dan Hoa In-liong pun cekatan dan amat cerdik sekali.
Begitu mendengar jeritan, cepat ia memburu maju
kedepan, tubuhnya membungkuk dan telapak tangan
kanannya ditekan ke bawah, sementara kaki kanannya tibatiba
diangkat keatas dan menendang tubuh siau-ciu keraskeras.
Dldalam serangannya itu, ia lancarkan dalam keadaan
gusar dan bertenaga besar, Iagipula tepat menghajar iga
sebelah kirinya, seketika itu juga tubuh siau- ciu mencelat ke
tengah udara tulang iganya patah dua biji, isi perutnya
menderita luka parah dan tak bisa dicegah lagi sambil muntah
darah tubuhnya roboh terjengkang diatas tanah dan tak
mampu bangkit berdiri lagi.
Hoa ln-Liong masih penasaran, begitu berhasil menendang
musuhnya sampai mencelat dia segera melompat kedepan, dia
siap memburu maju lebih jauh...
Untunglah Wan Hong-giok segera memburu ke depan, dia
menangkap lengannya, ia berteriak dengan perasaan ngeri:
"Hoa kongcu, tunggu sebentar"
" orang ini terlalu keji dan licik sekali hatinya Hoa teji tak
dapat mengampuni jiwanya" teriak Hoa in-liong dengan
amarah yang meluap-luap.
"Tapi yang penting periksa dulu apakah engkau sudah
terkena jarum beracunnya?" kata Wan Hong-giok dengan
gelisah, " ketahuilah bahwa racun yang terdapat diujung

139
jarum itu sangat jahat dan tak ada obat penawarnya, bila
sampai bertemu dengan darah maka jiwamu akan terancam
mara bahaya." Hoa In-liong mendengus dingin.
"Hmmm Aku Hoa teji tidak mempan diracuni, apalagi jarum
beracun macam itu, tak mungkin bisa mengapa-apakan
diriku...."
Lengan kanannya segera digetarkan siap melepaskan diri
dari cengkeraman wan Hong-giok, apa mau dikata baru saja
lengan kanannya digerakkan, ia segera merasakan sikutnya
sudah kesemutan dan kaku, lengan itu tak kuat rasanya untuk
digerakkan kembali.
Waktu melancarkan sergapan tadi, Siau Ciu menyerang dari
jarak yang sangat dekat, kendatipun Hoa In-liong cukup
cekatan dan tubuhnya terlindung oleh kaus kutang pelindung
badan, namun jarum lembut seperti bulu kerbau yang
jumlahnya mencapai dua tiga puluh biting itu sukar di hindari
keseluruhannya, tanpa dirasakan olehnya bahwa ada empatlima
batang diantaranya sudah menancap dibagian sikutnya.
Wan Hong-giok cukup memahami kelihayan dari racun
jarum itu, ketika dilihatnya paras muka Hoa In-liong agak
berubah, ia jadi terperanjat dan buru-buru serunya.
"Bagaimana? Apakah lengan kananmu sudah tak dapat
digerakan lagi?"
Tiba-tiba Siau ciu tertawa seram, lalu ujarnya pula dengan
suara yang mengerikan:
"Sumoay, racun jarum perguruan kita amat lihay dan siapa
yang terkena tak mungkin bisa ditolong lagi, tunggu saja disitu
untuk mengurusi layon Hoa loji" Dengan sempoyongan dia
bangkit berdiri lalu kabur dari situ menuju kearah utara.
Ketika mendengar seruan tsrsebut, Wan Hong giok
berpaling, ia saksikan paras muka Siau ciu pucat pias seperti
mayat, noda darah membasahi dadanya, tak kuasa lagi ia
bangkit dan menyusul dari belakangnya. "Suheng....Siau
suheng... tunggulah aku" teriaknya keras- keras. Tapi baru lari
sejauh dua kaki. tiba-tiba ia berhenti dan berpaling, teriaknya
pula: "Hoa kongcu, lenganmu...."

140
Sebelum kata-katanya sempit diutarakan keluar air mata
bagaikan layang-layang putus benang nya sudah mengucur ia
menangis terisak.
Kasihan memang Wan Hong- giok. posisinya saat itu boleh
dibilang serba salah, disatu pihak Siau ciu adalah kakak
seperguruannya, dilain pihak Hoa In-liong adalah pemuda
idaman hatinya, dan sekarang kedua belah pihak sama-sama
terluka, ia jadi bingung dan apa yang harus dilakukan,
menolong kakak seperguruannya ataukah menolong pemuda
pujaan hatinya.
Hoa In-liong segera menghela napas panjang setelah
melihat nona itu menangis terisak. katanya sambil
mengulapkan tangan:
"Pergilah suhengmu menderita luka parah yang cukup
parah, pergi dan rawatlah dia."
"Dan kau...." bisik Wan Hong-giok sambil menahan isak
tangisnya. Hoa In-liong tertawa tawa.
"Aaah... racun jarum itu tak seberapa hebat, tak nanti bisa
mencelakai jiwaku" katanya.
Tapi Wan Hong-giok masih juga menangis tersedu.
"Jarum beracun itu terbuat dari sembilan buah racun lebah
ditambah tujuh jenis tumbuh-tumbuhan berbisa, bila terkena
darah maka tubuh manusia yang terkena akan segera
mencair"
"Haaahh...,haaahhh,....haaahh.... kalau bisa mencair
tubuhku telah mencair sedari tadi. Pergilah Kalau tidak
berangkat mulai sekarang, kau akan gagal untuk menyusul dia
lagi" Wan Hong-giok kembali tertegun, dia menatap wajah anak
muda itu tajam-tajam, ditemuinya senyum manis masih
menghiasi wajah, kecuali lengan kanannya agak lumpuh,
diatas paras mukanya tidak ditemukan gejala lain yang
mencurigakan.
Menyaksikan kesemuanya itu ia jadi setengah percaya
setengah tidak. akhirnya rasa kuatirnya terhadap siau Ciu
mengalahkan segala galanya, maka bisiknya dengan lirih:

141
"Kalau begitu, baik-baiklah menjaga diri" Hoa In-liong ulapkan
tangannya berulang kali.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, justru kaulah yang harus
bersikap mesra terhadap suhengmu"" katanya sambil tertawa.
Rasa murung dan sedih terpancar keluar dari balik tatapan
mata Wan Hong-giok, bibirnya bergetar seperti hendak
mengucapkan sesuatu, tapi akhirnya maksud itu dibatalkan,
mendadak ia putar badan dan berlalu dari tempat.
"Nona Wan" tiba-tiba Hoa In liong memanggil lagi.
Wan Hong-giok segera berhenti dan berpaling. "Ada apa?"
tanyanya lirih.
"suhengmu telah lupa membawa pergi pedang puskanya,
bawakan pedang itu untuknya .
Wan Hong-giok menghela nafas sedih, ia berjalan kebawah
pohon besar itu dan mencabut pedang mustika tersebut,
setelah memandang sekejap kea-rah Hoa ln- liong dengan
tatapan mesrah, dia baru melanjutkan pengejarannya menuju
kearah mana siau- ciu melenyapkan diri
saat itu tengah hari telah menjelang tiba, sang surya
memincarkan sinarnya dari tengah tengah awang-awang.
Memandang bayangan punggung Wan- Hong giok yang
lenyap ditempat kejauhan, Hoa- In- liong merasakan hatinya
sedih dan murung, tak kuasa lagi dia bersenandung:
"Yang laki cinta apa daya yang perempuan tak tertawa:
sedih dan murung hatiku menyaksikan kesemua nya ini....
Bila hati telah bersatu padu,
biar mati-mati dengan hati yang tenang"
Akhirnya ia menghela napas panjang, setelah gelengkan
kepalanya, memeriksa lengan kanannya, perlahan-lahan anak
muda itu naik kepunggung kuda Liong-ji dan kembali ke kota
Lok yang.
BAB 5

142
KETIKA tiba kembali di kota Loksyang, tengah hari sudah
menjelang tiba, saat itu adalah waktu orang bersantap siang,
banyak sekali orang yang berlalu lalang masuk keluar dari dari
rumah makan, suasana ramai sekali.
Ketika sang pelayan menyaksikan Hoa- In- liong telah
kembali, buru-buru maju menyongsongnya, sambil menerima
tali les kuda ia berkata.
"Kongcu, kapan kau meninggalkan rumah penginapan?
Ketika tidak melihat kongcuya bangun kami tak berani
mengganggunya, kemudian ketika menemukan kudanya
sudah tiada, kami membuka kamar tidur kongcu-ya, semua
orang merasa lebih tercengang lagi setelah dilihatnya tempat
tidur masih teratur rapi dan buntalan masih ada disana."
Hoa- In- liong sedang murung dan kesal, ia tidak berniat
untuk menjawab, setelah mendengus la turun dari kudanya
dan langsung masuk ke dalam rumah penginapan.
Pelayan itu menyerahkan kuda yang diterimanya itu kepada
orang lain, kemudian mengejar kedepan, katanya lagi:
"Dikota ini banyak terdapat gadis-gadis cantik jelita yang
menjual diri untuk mencari sesuap nasi, meski paras mereka
cantik jelita tapi selalu menganggap tingkatannya rendah,
kalau aku tahu bila kongcu-ya suka dengan hal ini, cukup kau
memberitahukan kepadaku, aku cu siau-cit pasti...."
Rupanya pelayan itu mengira kalau Hoa In-liong semalam
tidak pulang ke rumah penginapan karena sedang menghibur
diri dirumah pelacuran, maka ia hendak menggunakan
kesempatan tersebut untuk mencari keuntungan pribadi. Apa
mau di kata baru saja berbicara sampai ke situ, mendadak dia
temukan pakaian yang dikenakan tamunya tidak teratur dan
lagi bagian dada serta punggungnya telah robek -Ini
menyebabkan dia jadi tertegun.
segera tanyanya lagi dengan wajah keheranan:
"Eeeh....Kongcu-ya, kenapa keadaanmu sangat
mengenaskan ? Apa yang telah terjadi??"
Hoa In-liong jadi amat jemu dengan sikap pelayan ini,
dengan agak mendongkol bentaknya:

143
"Aaah, kamu cerewet amat" Kemudian setelah berhenti
sebentar, tanyanya pula: "Apakah kemarin malam ada orang
mencari aku?"
Mula-mula pelayan itu agak tertegun karena di bentak,
menyusul kemudian sambil membungkukkan badannya ia
menyahut: "oooh... tidak ada, tidak ada...."
"Kalau begitu, kau tak usah cerewet lagi, sana siapkan
santapan bagiku dan antar ke dalam kamar"
Pelayan itu tak berani banyak bicara lagi, dia mengiakan
berulang kali lalu mengundurkan diri dari sana.
Setelah membersihkan badan, seorang diri Hoa Tn- liong
bersantap dalam kamarnya, sambil bersantap tanpa terasa dia
membayangkan kembali pengalaman yang ditemuinya
semalam.
Pertama-tama ia membayangkan kembali diri nyonya Yu,
paras muka nyonya tersebut memang cantik dan ilmu silatnya
biasa-biasa saja, ia menyebut dirinya sebagai gundik Suma
Tian-cing, ditinjau dari pengetahuannya tentang gerak-gerik
tingkah laku serta kebiasaan SUma Jin, rasanya soal ini tak
perlu dicurigakan lagi.
Tapi secara diam-diam ia telah menyergap dirinya,
kemudian menyediakan pula obat racun yang disembunyikan
di dalam peti mati, dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa
nyonya itu memang sengaja telah disusupkan oleh
pembunuhnya untuk melaksanakan tugas tersebut.
Suma Tiang- cing bergelar Kiu-mia-kiam-khek (jago pedang
berjiwa sembilan), bukan saja ilmu silatnya lihay, pengetahuan
maupun pengalamannya luar biasa luasnya, tipu muslihatnya
macam apapun sulit untuk mengelabuhi ketajaman matanya,
tapi nyonya Yu sudah bertahun-tahun lamanya menyelinap
dalam keluarganya, namun ia tak berhasil mengetahui rahasia
tersebut, dari sini dapat diketahui pula bahwa semua rencana
itu disusun oleh sang pembunuh dengan sempurna sekali.
" Nyonya Yu ku memang menakutkan sekali, agaknya
sudah lama sekali Si pembunuh itu menentukan dan
memerintahkan untuk menyusup kedalam keluarga SumaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
144
siok-ya, kalau bukan seorang manusia yang berhati teguh dan
berwatak jahat, tak mungkin pembunuh itu dapat menyusun
rencana jangka panjangnya sesempurna ini"
Berpikir sampai disitu, tanpa terasa lagi keringat dingin
membasahi seluruh badan Hoa- In- liong, ia merasa
jantungnya berdebar keras, dan pemuda ini semakin sadar
bahwa rintangan-rintangan yang bakal ditemuinya akan
semakin banyak. bukan suatu pekerjaan yang gampang
baginya untuk menyelesaikan tugas tersebut.
Sekalipun tidak gampang untuk diselesaikan lantas
bagaimana? Suma Tiang- cing adalah saudara angkat dari
kakeknya Hoa-Goan-siu, hubungan mereka lebih akrab dari
pada saudara kandung sekali, sebagai keturunan dari keluarga
kenamaan sekalipun tak ada perintah dari ayah atau neneknya
Hoa-loji harus menyelesaikan juga tugas itu sebisa mungkin.
Dia angkat cawan dan menghabiskan isinya, kemudian
berpikir lebih jauh, kali ini ia terbayang kembali akan diri nona
baju hitam beserta pembantunya yang misterius.
Menurut pengakuan nona berbaju hitam, orang yang
membunuh Suma siok-ya nya adalah seorang pemuda dari
marga Ciu, orang itu hanya seorang kepala regu perkumpulan
Hian-beng-kau yang tak ada artinya, sedangkan nyonya Yu
dikatakan sebagai anak buah Ciu kongcu itu, setelah dipikir
beberapa saat anak muda ini pun merasa bahwa kejadian ini
janggal dan tak masuk di akal.
Pertama: orang she- Ciu itu disebut kongcu, itu berarti
bahwa usianya tidak terlampau besar, kalau dibilang jauh
beberapa tahun berselang Ciu kongcu telah mengutus nyonya
Yu untuk menyusup ke samping suma Tiang- cing, maka hal
ini rasanya tak mungkin terjadi.
Kedua: Ketika akan meninggalkan rumah, ayah dan
neneknya telah menyatakan rasa curiganya terhadap Giokteng
hujin yang ada kemungkinan merupakan otak dari
pembunuhan berdarah itu.
Berdasarkan beberapa alasan tersebut, diapun lantas
berpikir:

145
Jangan-jangan pemimpin perkumpulan Hian-beng-kau
adalah Giok-teng hujin dan nyonya Yu diutus Giok-teng hujin
untuk melaksanakan pembunuhan tersebut dan ciu kongcu
paling banter hanya bertugas untuk mengawasi pelaksanaan
dari pembunuhan itu, siapa tahu memang begitulah jalannya
peristiwa?
Ia dapat menduga sampai kesitu karena tiba-tiba pemuda
itu teringat kembali akan Hek-ji si kucing hitam yang
dipelihara nyonya Yu.
Menurut apa yang diketahui olehnya, suma siok-ya nya
suami istrinya terbunuh ketika tertidur nyenyak. pada
tenggorokan mereka terdapat bekas luka seperti digigit oleh
sejenis binatang.
Meskipun Hek-ji cuma seekor kucing hitam, tapi cakar dan
giginya runcing dan tajam, gerak geriknya secepat angin dan
pandai sekali bertempur, ditinjau dari majikannya yakni
nyonya Yu adalah mata-mata yang diutus sang pembunuh
untuk menyusup kedalam keluarga Suma, maka dapatlah
diduga bahwa Hek-ji itulah pelaksana pembunuhan,
sedangkan nyonya yu adalah pemilik dari binatang pelaksana
pembunuhan tersebut.
Sekarang diapun sudah tahu kalau Ciu kongcu masih dikota
Lok-yang, maka setelah berpikir beberapa waktu ia merasa
bahwa tindakan yang harus dilaksanakan sekarang adalah
mencari Ciu kongcu seru menyelidiki siapa gerangan "otak"
dari pembunuhan itu
Kendati begitu, ia tidak segera melaksanakannya, malahan
sambil bertopang dagu anak muda itu melamun lebih jauh.
Sebagai keturunan keluarga Hoa, Hoa- In- liong memang
gagah dan berjiwa ksatria, tapi sifatnya yang romantis
membuat pemuda ini tak boleh bertemu dengan perempuan
cantik.
Tiba-tiba ia teringat kembali akan sikap si nona baju hitam
yang bersembunyi dalam ruang sembahyangan, dari gerak
geriknya nona itu tampaknya sedang menyelidiki rahasia
perkumpulan Hian-beng-kau, dan ia merasa orang itu

146
mempunyai hubungan yang erat dengan dirinya, ia masih
ingat pula dengan perkataan dari Si Nio: Jika kita bunuh bocah
keparat ini, maka keselamatan loya akan tertolong."
Ditinjau dari sini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
keselamatan ayah dari nona baju hitam itu terancam bahaya,
dan nasibnya cukup memilukan hati.
Sebagai seorang pemuda yang cerdik, hanya menganalisa
sebentar saja dia lantas mengetahui bahwa nona baju hitam
itu bukannya tanpa alasan tertentu ketika memberi
keterangan kepadanya.
Nona baju hitam itu pernah berkata begini. "Menurut
perasaan siau-li, dunia persilatan sedang menuju perubahan
yang amat besar, kematiansu ma Tiang- cing tak lebih hanya
korban penasaran pertama yang harus ditanggung demi
kepentingan orang lain"
sekarang kalau dicocokkan kembali dengan pesan dari
ibunya, maka rasanya persoalan ini ada kemiripannya
meskipun berlawanan waktunya.
Diapun teringat kembali dengan perbuatan si- Nio yang
akan meracuni dirinya serta mencabutjiwanya, dari masalah
ini dapat ditarik kesimpulan bahwa nona baju hitam dan
pembantunya di tekan oleh seseorang untuk melakukan
pembunuhan tersebut, dan korbannya bukan dia seorang
melainkan setiap anggota keluarga Hoa.
Atau tegasnya ayah dari nona baju hitam ini di sekap
orang, bahkan kemungkinan besar jiwanya terancam, dan
mereka berdua dipaksa untuk memusuhi dan membunuh
anggota keluarga Hoa demi menyela matkanjiwa ayahnya itu.
Hoa In liong telah memandang keterangan yang diberikan
nona baju hitam itu sebagai suatu peringatan, maka serta
merta diapun merasakan betapa seriusnya yang sedang
dihadapi sebab jelas musuh dibalik tirai yang sedang
dihadapinya sekarang adalah musuh tangguh yang khusus
memusuhi keluarga Hoa.
Tercekat juga perasaan hatinya setelah menerapkan
kesimpulan terakhir itu, pada mulanya dia ada niat untuk

147
kembali ke perkampungan Liok soat san-ceng untuk
melaporkan kejadian ini kepada ayah dan neneknya, tapi
ingatan lain segera melintas dalam benaknya:
" Nenek dan ayah telah menyerahkan tugas ini kepadaku,
aku mana boleh pulang ke rumah sebelum berhasil
menemukan jejak dari pembunuhnya. selama ini aku Hoa
Yang dianggap seorang pemuda bergajul dalam pandangan
orang rumah, kenapa tidak kumanfaatkan kesempatan yang
sangat baik ini untuk membuktikan diri bahwa akupun bukan
manusia tak berguna, siapa tahu kalau usahaku berhasil dan
namaku ikut tersohor pula dalam pandangan orang lain?"
Memang demikianlah watak seorang pemuda yang masih
berjiwa panas, setelah mengambil ketetapan dihati. iapun
tersenyum dan meneguk habis isi cawannya.
selesai bersantap ia kenakan jubah sutera yang halus,
membawa pedang menggoyangkan kipas dan berjalan keluar
dari kamarnya dengan langkah yang santai.
Dikatakan ia akan keluyuran sebenarnya tak cocok sebab
pada saat ini ia berhasrat untuk keliling kota sambil berharap
dapat berjumpa dengan Kong-cu she-ciu itu, dan lebih-lebih
berharap dapat bertemu sekali lagi dengan nona berbaju
hitam itu.
Tapi Nona berbaju hitam itu tak ada tempat tinggal yang
tetap tidak diketahui pula nama-nya, sedang ciu kongcu belum
pernah ditemui, bagaimana tampangnya juga tak diketahui
olehnya. maka ingin berjumpa dengan mereka boleh
diibaratkan mencari jarum didasar samudra, bukan suatu
pekerjaan yang gampang.
sang surya telah condong kebarat malampun menjelang
tiba, cahaya lampu telah menerangi seluruh kota, tapi tiada
suatu hasilpun yang berhasil ditemukan.
Ketika dalam perjalanan kembali ke rumah penginapan,
kebetulan ia lewat dijalan raya sebelah timur sewaktu lewat di
depan pintu gerbang keluarga suma mendadak satu ingatan
terlintas dalam benaknya, ia lantas berpikir:

148
"sudah beberapa hari suma siok-ya terbunuh, namun
layonnya belum dikebumikan dan masih bersemayan dalam
ruang tengah, keadaan ini bukan saja dapat membuat tak
tenangnya arwah siok ya bahkan bisa pula digunakan pihak
lawan untuk menyiapkan jebakan dan memancing rekan-rekan
sealiran masuk perangkap. Apa salahnya kalau ku singkirkan
dahulu jenasahnya mereka kesuatu tempat tertentu, kemudian
baru kuundang kedatangan Jin kokoh untuk
menyelenggarakan upacara penguburan? Aaai, aku harus
mengambil keputusan cepat dan segera melaksanakannya"
seandainya Hoa se toakonya yang menghadapi kejadian
semacam ini, bagimanapun juga ia tak akan berani mengambil
keputusan secara sembarangan, tapi Hoa Yang alias In- liong
tak kenal artinya adat istiadat, apa yang terpikir hanya soal
cengli, dan apa yang telah melintas dalam benak nya segera
dilaksanakan tanpa berpikir panjang lagi.
Begitulah, setelah menengok kekiri kanan dan yakin kalau
disekitar sana tak ada orang, ia lantas menjejakkan kakinya ke
atas tanah dan melompati pagar pekarangan langsung
menerobos masuk ke ruang tengah.
la telah mempunyai rencana yang cukup masak malam itu
juga akan dibawanya jenasah dari suma Tiang- cing suami istri
ke rumah gubuk yang pernah dikunjunginya semalam.
Ia merasa tempat itu aman dan cukup tersembunyi, kendati
sudah terbakar tapi dengan semak belukar yang begitu tinggi
mengitari sekelilingnya, tempat itu tak mudah menarik
perhatian orang, dan jenasah sioksya nya ditempatkan disana
untuk sementara waktu, maka orang tak akan menyangkanya.
Siapa tahu ketika Hoa In-liong tiba dalam ruangan itu dan
menengok ke dalam, apa yang ditemuinya hampir saja
membuat pemuda itu menjerit keras matanya terbelalak
karena tercengang bercampur heran untuk sesaat ia berdiri
tertegun.
Meskipun kain horden masih menghiasi ruangan seperti
sedia kala, meja sembahyangan dengan lentera dan lilin masih

149
utuh, namun dua buah peti mati itu sendiri sudah lenyap tak
berbekas.
Padahal ia tahu jelas bahwa satu-satunya keturunan dari
suma siok-ya nya berada jauh diperkampungan Liok-soat-sancung
yang berada dibukit Im tiong-san, bila dikatakan ia telah
mengebumikan jenasah kedua orang itu, boleh dibilang hal ini
tak mungkin terjadi, tapi kenyataannya peti mati itu benarbenar
sudah lenyap tak berbekas. Selang sesaat kemudian,
Hoa in-liong mencibir kan bibirnya lalu mendengus dingin.
"Hmm Permainan busuk macam beginipun disuguhkan
kepada aku Hoa-loji, sungguh keterlaluan."
Maksud musuh sudah jelas sekali, jelas mereka memang
sengaja memindahkan peti mati itu agar dia jadi bingung dan
kelabakan untuk mencarinya kembali.
Hoa In liong menjengek sinis, walaupun dia tahu bahwa
musuh sedang memasang jaring untuk menjebaknya,
dilakukan juga pemeriksa yang seksama disekitar gedung
bangunan itu.
Tapi akhirnya anak muda itu merasa kecewa, orang-orang
yang memasukkan peti mati itu telah bekerja teliti, kecuali
barang yang kacau terdapat di sekitar meja sembahyang dan
kedua belah sisi bekas tempat peti mati itu. boleh dibilang
tiada tanda lain lagi yang berhasil ditemukan, hal ini semakin
mengejutkan- hati Hoa In- liong.
Haruslah diketahui ruang jenazah menempati ruangan
tengah yang panjang dan lebarnya mencapai seluas lima kaki,
karena sudah lama tak di kunjungi orang, debu yang
menempel diatas lantai tebal sekali, sebaliknya kedua peti
mati itu hanya menempati tempat yang tak begitu luas,
beratnya juga luar biasa, untuk memindahkan benda seperti
itu bukan saja sangat repot bahkan tidak gampang.
Tapi kenyataannya sekarang, bukan saja mereka dapat
memindahkan peti-peti mati itu, malahan tidak meninggalkan
bekas apa-apa, dari sini dapat lah diketahui bahwa orangorang
itu bukan saja amat cermat dan teliti, kekuatan mereka
serta kelihayan ilmu meringankan tubuh mereka sudah

150
mencapai tingkatan yang luar biasa. Tapi siapakah orang
itu???
Dengan hati tercekat bercampur kaget, Hoa In liong
berpikiri
"seandainya peti mati itu masih berada disini, memang
gampang untuk menjebak orang masuk perangkap. tapi apa
maksud mereka membawa pergi peti-peti mati itu..."
Ia bukan seorang pemuda yang gegabah, juga bukan
manusia pengecut yang bernyali kecil, dalam tubuhnya
mengalir sifat-sifat orang tuanya dan terdapat pula hasil
didikan dari Bun Tay-kun, meski romantis namun mempunyai
semangat yang besar, mempunyai keberanian yang luar biasa
dan berani menyerempet bahaya.
Lama sekali sianak muda itu termenung, dan berusaha
untuk memecahkan masalah yang dihadapi nya, ketika tanpa
hasil, dengan dahi berkerut dan bibir dicibirkan ia berjalan
menuju kepintu kecil dibalik horden dengan langkah lebar.
Mendadak dari arah belakang terdengar seseorang tertawa
dingin, menyusuljengekan dingin berkumandang memecahkan
kesunyian: "Hoa loji, kau akan kabur kemana lagi?"
Hoa In-liong tidak kaget juga tidak gugup, malahan
menjawabpun tidak. selangkah demi selangkah ia lanjutkan
perjalanannya menuju kemuka.
Tiba-tiba serentetan cahaya putih menyambar lewat,
dengan disertai hawa pedang yang hebat tanu-tahu sebilah
pedang panjang telah menusuk punggungnya.
Secepat kilat Hoa-In-liog memutar tabuhnya sambil
mengebaskan kipasnya kesamping ujarnya sambil tertawa:
"Haaahhh haaahhh haaaahhh. dengan kepandaian macam
beginipun berani bertingkah dihadapanku? Huuh, masih
ketinggalan jauh."
"Traaang...." dengan telak kipas itu menghajar ujung
pedang lawan, sementara tulang bambu di balik permukaan
kertas menyabet pedang tersebut kesamping, walaupun
pedang tadi bergeser dua depa kesamping, ternyata kipasnya
sendiri tetap utuh. Untung si penyergap itu segera

151
mengundurkan diri, kalau tidak pedangnya niscaya sudah
terlepas dari genggaman.
Jilid 05
SANG penyergap itu tampak agak tertegun, agaknya dia
merasa tidak puas, sejenak kemudian sambil membentak.
untuk kedua kalinya ia siap melancarkan serangan lagi.
"Mundur, jangan gegabah" mendadak terdengar seseorang
membentak dengan suara keras.
"sreeet..." Hoa In- liong merentangkan kembali kipasnya
dan digoyangkan beberapa kali, lalu ujarnya sambil tertawa
nyaring:
"sobat, aku lihat kelihayanmu juga tak seberapa gegabah
atau tidak toh sama juga hasilnya."
orang ini berkata lagi dengan suara keras: "Bersilat lidah
bukan perbuatan seorang laki-laki sejati, bila kau bisa lolos
dari sini malam ini, kaulah seorang jago yang hebat".
sekarang Hoa In- liong baru tersenyum, perlahan-lahan ia
memutar badannya seraya bertanya:
"Bila dugaan tidak keliru, tentunya engkau she Ciu bukan?"
orang itu berdiri di balik pintu kecil di belakang ruangan di
balik pintu kecil adalah sebuah lorong karena cahaya suram
maka raut wajah orang itu tak tertampak jelas, tapi jelas
kelihatan ia agak tertegun sebelum akhirnya tertawa seram.
"Haaahhh haaahh haaahhh keturunan keluarga Hoa ratarata
memang hebat sayang engkau sudah masuk perangkap.
jangan harap kau bisa hidup sampai fajar esok"
setelah berhenti sebentar, tiba-tiba bentaknya lagi: "Pasang
obor, biar ia bisa mampus dengan hati yang jelas"
suara mengiakan mendengung, cahaya api segera
memercik menembusi kegelapan, dalam sekejap mata
suasana dalam ruangan itu jadi terang benderang bagaikan
disiang hari.

152
Hoa- In- liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, ia
lihat delapan orang laki-laki berbaju ungu berdiri mengitari
sekeliling ruangan dalam dua kaki antara yang satu dengan
lainnya, mereka membawa obar di tangan kiri dan pedang
ditangan kanan, sinar matanya rata-rata tajam, tubuh kekar
dan kuat, usianya tiga puluh tahunan, jelas orang-orang itu
bukan manusia sembarangan, atau paling sedikit memiliki
dasar ilmu silat yang tangguh.
Ketika ia alihkan pandangannya kearah orang yang berdiri
dibalik pintu rahasia, maka terlihatlah bahwa orang itu berusia
dua puluh tahunan, bajunya pakaian ringkas berwarna hijau
pupus, mantelnya juga berwarna hijau, sebilah pedang kuno
tersoreng dipinggangnya, dandanan maupun potongan
badannya persis seperti seorang busu.
Ia bermuka bengis, beralis tebal, bermuka lonjong dengan
ujung bibir tersungging keatas, tampaknya menggemaskan
sekali dan seakan-akan sejak dilahirkan memang bertampang
kriminil, bila ia benar-benar she- Ciu (dendam) maka cocoklah
nama dengan potongan badannya.
Hoa-In-liong tak berani gegabah setelah menyaksikan
.keadaan itu, kipasnya lantas dilipat dan memberi hormat
katanya sambil tersenyum:
"Ciu kongcu, dari mana kau bisa tahu kalau aku bakal
datang kemari? Tidakkah merasa kuatir bila jebakan yang kau
atur bakal sia-sia belaka?"
" Datang atau tidak aku tak ambil peduli, tapi yang pasti
detik ini kau berada dalam ruangan ini." sahut Ciu kongcu
dengan ketus. Hoa In-liong menganggukkan kepalanya
berulang kali.
" Kongcu, aku tidak merasa pernah berkenalan dengan kau,
tapi apa sebabnya kongcu baru puas jika telah berhasil
membinasakan diriku, di manakah letak alasannya?
Bersediakah engkau memberi penjelasan?"
"Hmm... sudah tahu pura-pura bertanya" dengus ciu
kongcu dengan alis mata berkenyit.

153
"oooh...jadi kalau begitu kongcu benar-benar adalah
anggota perkumpulan Hian-beng-kau?"
Ciu kongcu tampak terkejut ia lantas berpikir dalam hati:
"Bocah keparat ini benar-benar memiliki kemampuan yang
hebat, sampai asal usulku diketahui olehnya"
Meski dalam hati berpikir demikian, dimulut sahutnya
dengan dingin:
"Tak lama kemudian, perkumpulan kami akan muncul
dalam dunia persilatan secara resmi, dan kemudian akan
menguasai seluruh jagad, rasanya tiada suatu kepentingan
bagi kami untuk mengelabuhi hal ini kepadamu...."
sekarang Hoa In- liong yang gantian merasa kaget, meski
diluaran ia tetap berlagak tenang..
"Jadi kalau begitu, aku harus menagih dendam berdarah
atas tewasnya majikan gedung ini kepada diri kongcu??"
"Benar."jawab Ciu kongcu dengan angkuh. " akulah otak
pembunuhan ini, jika ingin membalas dendam, silahkan
mencari aku"
"Bila aku hendak menuntut balas, tentu saja akan kuberi
bagian untuk dirimu, justru aku kuatir kalau kongcu bukanlah
otak dan pembunuhan ini"
" Kurang ajar" teriak Ciu kongcu dengan marah, sinar
matanya berkilat, "engkau berani memandang hina diriku??"
Hoa In- liong tersenyum.
"Kenyataannya toh demikian, apa gunanya kongcu berlagak
sebagai seorang pahlawan??"
Tampaknya ucapan tersebut benar-benar membuat Ciu
kongcu jadi mendongkol, teriaknya penasaran:
"Coba terangkan kenyataannya menurut pandanganmu"
"Bukankah kongcu hanya seorang anak buah dari
perkumpulan Hian-beng-kau. Nah bila kuingin cari otak
pembunuhnya yang sebenarnya, lebih pantas kalau kucari
ketuamu"
Jawaban ini diluar dugaan ciu kongcu ia jadi tertegun, tapi
sejenak kemudian ujarnya lagi dengan mendongkol:

154
"Kongcu-ya mu adalah murid pertama dari kaucu,
pembunuhan berdarah yang terjadi disini akulah yang
menyusun rencana serta pelaksanaannya kenapa kau cerewet
melulu dan bersikeras menuduh guruku yang melakukan
pembunuhan ini, sebenarnya apa maksudmu?"
Diam-diam Hoa In- liong merasa geli, pikirnya "Bukan saja
orang ini mempunyai napsu ingin menang yang amat besar,
bahkan merupakan juga seorang laki-laki yang tak berakal
panjang inilah kesempatan bagiku untuk mengorek
keterangan kenapa tidak kumanfaatkan sebaik-baiknya?
Berpikir sampai disini, dia lantas menjura dan memberi
hormat, kemudian tanyanya sambil tertawa:
"Bolehkah aku tahu siapa nama kongcu?"
"Ciu Hoa"
"Ciu Hoa?" pikir Hoa In-liong dengan hati terperanjat,
"bukankah Ciu Hoa artinya mendendam keluarga Hoa? Kalau
begitu mereka memang sengaja memusuhi keluarga Hoa
kami"
Cepat ia tertawa dan berkata lagi:
"selamat bertemu, selamat bertemu Bolehkah aku tahu
siapa gurumu....?"
"Guruku adalah...."
"Kongcu hati-hati kalau bicara" mendadak terdengar
seorang laki-laki berbaju ungu memberi peringatan.
Agaknya Ciu Hoa segera mengetahui akan keteledorannya,
cepat ia membungkam dan batal untuk berbicara, matanya
kontan mendelik besar dan melototi wajah lawannya tanpa
berkedip.
Hoa In-liong tertawa, katanya dengan santai:
"Kalau toh menyebut nama guru adalah suatu pantangan,
lebih baik tak usah kau katakan"
Ciu Hoa menggetarkan bibirnya seperti hendak
mengucapkan sesuatu, tapi niatnya itu kembali dibatalkan,
agaknya ia cukup memahami betapa seriusnya masalah yang
dihadapinya, maka nama gurunya tak berani diucapkan lagi.

155
Melihat keadaannya itu, tahulah Hoa in-liong bahwa dibakar
hatinyapun tak ada gunanya, maka dia alihkan kembali pokok
pembicaraannya kesoal lain.
" Kongcu, tolong tanya apakah engkau yang telah
memindahkan jenasah dari suma tayhiap dari tempat ini??"
sikap ciu Hoa kali ini hambar sekali, malahan ia tertawa
dingin. "Heeeeh....heeeeh heeeeh kalau benar kenapa? Kalau
tak benar lantas bagaimana??"
Jawaban ini mencengangkan hati Hoa In- liong sepasang
alis matanya kontan berkenyit, pikirnya:
"sungguh aneh, orang ini tak berakal panjang, kenapa
begini aneh jawabannya? Mungkinkah jenasah suma siok-ya
memang bukan dia yang memindahkan??"
sementara ia masih keheranan dan tidak habis mengerti,
Ciu Hoa telah melanjutkan kembali kata-katanya:
"Hampir saja kongcu- ya mu terjebak oleh pancinganmu,
mulai sekarang aku tak akan menjawab pertanyaanmu lagi,
kaupun tak usah putar biji mata sambil mencari akal busuk.
sekarang cabut keluar pedangmu, kongcu-ya mu segera akan
turun tangan."
"Sreeet...." la cabut keluar pedang antiknya, lalu bergerak
ke depan dan melancarkan tubrukan.
Hoa In-liong tetap berdiam diri, dari sikap musuhnya ia
tahu bahwa banyak bertanya pun tak ada gunanya.
sebagai seorang pemuda yang sombong dan tinggi hati, ia
bersedia merendahkan diri lantaran ingin mencari tahu duduk
persoalan yang sebenarnya, dan sekarang ciu Hoa telah
waspada dan tak mungkin bisa dimintai keterangan lagi, tentu
saja diapun tak sudi merendahkan diri terus menerus, sambil
tertawa tergelak segera ujarnya:
"Bila kau hendak menyelesaikan persoalan ini dengan suatu
pertempuran kilat, silahkan saja turun tangan, kau tak usah
menguatirkan untuk keselamatan jiwaku"
Sekilas pandangan, ciu Hoa tampaknya kasar dan
berangasan, tapi metelah bersiap siaga untuk melancarkan
serangan, ia dapat pusatkan perhatiannya dengan sempurna,

156
dapat diketahui bahwa gurunya tentu lihay dan ilmu silat yang
dimiliki si anak muda inipun bukan ilmu silat sembarangan.
Hoa In-liong tak berani gegabah, meski diluaran bicara
seenaknya, hawa murninya diam-diam disalurkan ke dalam
telapak tangan, dengan tenang ia menantikan tibanya
serangan.
Ciu Hoa sudah berada beberapa kaki saja di-hadapan si
anak muda itu, pedangnya telah digetarkan siap melakukan
pembacokan, kembali dia berseru: "Hati-hatilah, aku akan
melancarkan serangan"
Jurus serangan itu sekilas pandangan tampaknya
sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, tapi tempat yang
dibacok ternyata luar biasa dan di luar dugaan, sebagai
seorang ahli pedang sekilas pandangan saja Hoa in-liong telah
menyadari bahwa ia sudah bertemu dengan musuh tangguh.
Terkejut juga pemuda kita menghadapi kejadian seperti ini,
ia tak berani gegabah, kipasnya segera dikebaskan ke muka
untuk menangkis ancaman, katanya:
"Ciu kongcu, silahkan menyerang dengan sepenuh tenaga,
aku telah bersiap sedia menerima petunjukmu"
Dasar wataknya yang binal, kendatipun sedang berhadapan
dengan musuh tangguh, ternyata wataknya itu tidak berubah,
sambil maju ia totok pergelangan tangan ciu- Hoa, ketika
serangan nya mencapai tengah jalan, tiba-tiba ia merendah ke
bawah, sambil menempel pada ujung pedang orang itu
badannya berputar setengah lingkaran, mendadak kaki
kanannya dijulurkan ke muka sementara sikut kirinya langsung
menyodok iga kanan pemuda she-ciu tersebut.
Keadaan ini bagaikan seorang bocah yang sedang bermain,
tentu saja Ciu Hoa tidak menyangka sampai kesitu, bila tidak
begitu asal gerakan pedangnya sedikit dipercepat saja, niscaya
Hoa-In liong akan terpapas oleh pedangnya dan terluka parah.
Tapi Hoa- In- liong telah mempraktekkan caranya yang
binal itu, bahkan sapuan kaki kanan dan sodokan sikut kirinya
dilancarkan dengan menempelkan dibadan lawan dan
kecepatan luar biasa.

157
Dalam keadaan demikian, ciu- Hoa tak mampu untuk
berkelit lagi, dia terdesak hebat sehingga harus meraung
gusar dan berkelijit satu kaki ke-tengah udara.
Menyaksikan musuhnya berhasil didesak mundur, Hoa- Inliong
tertawa nyaring dan mengejek:
" Kongcu-ya, aku lihat ilmu silatmu tidak begitu tinggi"
Dari malu Ciu Hoa jadi naik pitam, ia membentak keras lalu
menerkam kedepan, pedang antiknya dikebaskan berulang
kali... sreeeet sreeet
secara beruntun ia lepaskan tiga buah serangan berantai,
yang mana seketika mengurung semua jalan darah penting di
dada Hoa In-Liong.
Menghadapi serangan macam begini, Loji dari keluarga Hoa
ini mengigos kesana berkelit kemari dengan seenaknya, tibatiba
merentangkan senjata kipasnya kemudian menotok
kebalik lapisan cahaya pedang yang berlapis-lapis itu, katanya
sambil tertawa:
"Lumayan juga ketiga buah seranganmu barusan, tapi bila
kau sanggup memaksa aku untuk lepas pedang itu baru
terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan"
"Hmm Bila tidak kau lepas pedangmu itu berarti kau ingin
mencari kematian buat diri sendiri jangan salahkan kalau
kongcu mu bertindak telengas" bentak Ciu Hoa sambil
mendengus dingin.
Tubuhnya bergerak kesamping, tiba-tiba permainan pedang
nya berubah, tampaklah beratus-ratus berkas cahaya yang
menyilaukan mata sebentar menyambar kekiri sebentar
kekanan, semuanya bergerak dengan gerakan yang aneh lihay
dan sukar diduga, pedang itu ibaratnya naga yang bermain
diangkasa, berliuk-liuk tak menentu.
Itu masih mendingan, yang lebih hebat lagi ternyata dibalik
gerakan pedang yang aneh dan sukar terduga itu terselip
suatu hawa kebengisan yang mengerikan hati, membuat
mereka yang menjumpainya jadi bingung dan ketakutan
dengan sendirinya.

158
Perlu diketahui, ilmu silat yang diandalkan oleh keluarga
Hoa dari Im-tiong-san adalah ilmu Pedang, terlepas ketika Hoa
Goan-Ciu yakni kakek Hoa in-liong masih hidup,
sepeninggalnya ia telah mewariskan enam belas jurus pedang
dan sebilah pedang baja untuk putranya, dan putranya yakni
Hoa Thian-hong mengandalkan sebilah pedang baja malang
melintang dalam dunia persilatan, suatu ketika ia berhasil
mendapatkan kitab kiam keng san berhasil pula mempelajari
inti sari pelajaran pedang kiam-keng-poh-khi, akhirnya
terciptalah serangkaian ilmu pedang yang sakti dan Iihaynya
luar biasa.
semenjak kecil Hoa in-liong sudah pintar, apalagi mendapat
pendidikan langsung dari ayahnya, bukan saja ilmu silat jenis
lain memiliki dasar yang kuat, terutama dalam ilmu pedang
kecuali kalah tenaga dari ayahnya boleh, dibilang kelihayannya
hampir seimbang.
Tapi sekarang setelah Ciu Hoa merubah gaya serangannya,
bukan saja ia tak berhasil menebak asal mula dari ilmu
pedang. tersebut, bahkan anak muda itu merasakan tubuhnya
seolah-olah terjerumus dalam samudra pedang yang tak
bertepian, sekarang ia baru kaget.
Tak heran kalau Ciu Hoa dengan usia yang masih muda
berani bersikap angkuh dan jumawa, ternyata ilmu silat yang
dimilikinya memang tak boleh dianggap enteng.
Lama kelamaan Hoa In-liong gelisah juga jadinya, tapi
karena masih muda dan berdarah panas, lagipula sudah
terlanjur ngomong besar, ia tak sudi mencabut pedangnya
untuk melakukan perlawanan.
Terpaksa dengan mengandalkan gerak tubuhnya ia berkelit
kesana kemari dengan seksama, bila menemukan kesempatan
ia lantas melepaskan serangan balasan dengan kipas
Pertarungan macam begini memang besar sekali resikonya,
sebab sedikit kurang hati-hati maka bisa mengakibatkan
melayangnya selembar jiwa.
Lima puluh jurus sudah lewat, keadaannya kian lama kian
bertambah gawat, sekarang Hoa- In- liong sudah terdesak

159
hebat sehingga tiap saat jiwanya kemungkinan besar
terancam.
Tampaklah cahaya pedang berkilauan, angin serangan
menderu-deru, bayangan senjata berlapis-lapis dan
mengurung sianak muda itu dalam kepungan, Hoa-in-liong
telah berusaha untuk menerjang ke kiri menyapu kekanan, toh
gagal untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut,
tampaknya selewat seratus gebrakan lagi dia akan terluka di
ujung pedang Ciu- Hoa.
Tiba-tiba terdengar suara sorak sorai menggema
memecahkan kesepian, seorang laki-laki berbaju ungu
bersorak keras.
"Kongcu perketat serangan, bacok sampai mampus bocah
keparat itu..,.."
"Hoa loji, buang pedangmu dan menyerah saja" teriak pula
laki-laki yang lain, "kalau kau tidak menyerah sekarang juga,
tak akan kau temui lagi kesempatan dilain waktu"
"Membuang pedang atau tidak toh sama saja" ejek pula
laki-laki yang lain, "sampai sekarangkan kongcu kita masih
belum melancarkan serangan-serangan mematikannya"
Ciu- Hoa sendiripun merasa bangga sekali setelah
dilihatnya Hoa- In- liong berhasil dipaksa sehingga tak
berkemampuan untuk melancarkan serangan balasan, ia
berkata sambil tertawa nyaring
"Hoa-loji, ingatlah baik-baik Antara kau dan aku memang
tak terikat hubungan dendam atau sakit hati, aku membunuh
engkau lantaran membenci kau she Hoa, dan lantaran kau
adalah putranya Hoa-Thian hong."
sambil berkata, pedang antiknya digetarkan semakin
kencang, dengan jurus Teng liong kiu ci (naga membumbung
bersalto sembilan kali) cahaya pedangnya membentuk
sembilan titik bianglala putih dan meluncur ke depan dengan
kecepatan luar biasa, sekejap kemudian sekujur badan Hoa-inliong
sudah terkurung rapat.
serangan ini benar-benar sangat lihay. bahwa pedang yang
membentuk berbintik-bintik cahaya bianglala putih yang

160
seperti air tapi rapat seakan akan tak berlubang, sekalipun
Hoa In liong membawa pedang belum tentu bisa
mengundurkan diri dengan selamat.
Tapi Hoa-in-liong pada saat ini sudah dibikin gusar juga
oleh keadaan yang dihadapinya, ditambah pula hatinya
terbakar oleh ejekan lawan, serangan yang dilancarkan pun
mendekati setengah kalap.
Terdengar ia membentak keras, telapak tangan kirinya tibatiba
dilontarkan ke muka dengan jurus Kun-siu-ci-tau,
sedangkan tangan kanannya berputar kencang, jari tengahnya
ditegangkan dan menotok dada Ciu Hoa deagm ilmu
menyerang sampai mati, suatu kepandaian pentilan diri ci-yuji-
ciat.
Kedua buah serangan itu tak lain adalah senjata andalan
ayahnya ketika masih berkelana dalam dunia persilatan
dimasa mudanya, dalam gugup dan gelisahnya ia telah
menyerang dengan tenaga serangan yang amat dahsyat,
kehebatannya sedikitpun tak kalah dengan kehebatan
ayahnya.
Dua buah serangan tersebut boleh dibilang merupakan
jurus pertarungan untuk beradu jiwa, bilamana Ciu Hoa tak
mau buyarkan serangannya, maka kendati Hoa In- liong bakal
terluka diujung pedangnya, akan tetapi dia sendiripun akan
terhajar oleh serangan lawan dan sedikit banyak dada nya
akan berlubang tertembus oleh ilmu jari lawan yang maha
dahsyat itu.
sudah tentu ia tak sudi terluka diujung telapak tangan
musuhnya, disaat terakhir tubuhnya segera miring kesamping
sana.
Pedangnya ditekan kebawah dan tubuhnya berkelebat
kesamping, dengan demikian diapun lolos dari pukulan musuh.
Hoa- In- liong sendiri, meski baru saja terlepas dari mara
bahaya, namun paras mukanya masih tetap tenang-tenang
saja seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, malahan
sambil terbahak-bahak katanya:

161
"Haaahhh haaaahhh haaahhh Ciu-Kongcu, apakah engkau
masih mempunyai ilmu simpanan yang lain? Kenapa tidak
sekalian kau keluarkan agar aku orang she-Hoa bisa
merasakannya?"
Walaupun diluaran ia berkata seenaknya, tapi kali ini
pedang mustikanya sudah diloloskan dari sarungnya.
Ciu-Hoa sendiri, sewaktu dilihatnya pihak lawan telah
mencabut keluar pedangnya, tak kuasa lagi dia menengadah
dan tertawa terbahak-bahak. suara tertawanya penuh
mengandung nada sindiran, dan memandang hina.
Tentu saja Hoa-in-liong dapat merasakan pula gelak
tertawa yang penuh dengan nada sindiran itu, akan tetapi ia
tidak memperhatikan, malahan berkata dengan lantang:
"Ciu kongcu, aku telah merasakan kelihayan ilmu
pedangmu, ketahuilah bahwa aku Hoa loji bukan seorang
manusia yang tekebur dan suka berlagak sok. aku cukup
mengetahui kemampuanku, aku sadar bila tidak kugunakan
pedang untuk melawan dirimu lagi, sulitlah bagiku untuk
menangkan engkau"
"Huuuh sekalipun kau gunakan pedang, apa yang bisa kau
lakukan terhadap diriku?" jengek ciu Hoa sinis.
Paras muka Hoa In-liong seketika berubah jadi membesi,
dengan serius ia berkata:
"Diantara kita tak terikat hubungan dendam ataupun sakit
hati, dan kata-kata itu muncul dari mulutmu, maka akupun
ingin memberi peringatan kepadamu, untuk menghadapi
musuh yang tangguh janganlah terlalu tekebur dan terlalu
yakin dengan kepandaian yang dimiliki sendiri..."
Mula-mula Ciu Hoa agak tertegun, menyusul kemudian
tertawa terbahak-bahak.
"Haaahhh....haaahhh... haahh....nasehat macam apakah
itu, Hoa loji lebih baik kau tak usah banyak bacot lagi"
"Aku tahu bahwa ilmu pedangmu ganas dan sadis, akan
tetapi kurang mantap dan tak teguh, bila ingin digunakan
untuk mencabut jiwaku maka tenaganya masih jauh

162
berkurang, bila bertempur lagi nanti, aku harap kau bisa
bertindak lebih berhati-hati lagi"
Pemuda ini, sudah terbiasa bersikap binal dan tidak
bersungguh-sungguh, seakan-akan perkataan nya sama sekali
tidak berbobot, akan tetapi setelah bersikap serius sekarang,
terlihatlah keagungan serta kewibawaannya yang amat besar.
Ciu Hoa tertegun dan seketika itu juga merasa
kejumawaannya tersapu lenyap hingga tak berbekas untuk
sesaat anak muda itu hanya bisa berdiri terbelalak tanpa
mengetahui bagaimana harus menjawab perkataan dari
musuhnya ini. Tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berbaju
ungu berseru lantang:
"Kongcu, buat apa kita musti bersilat lidah terus dengan
orang itu, mari kita atur barisan pedang saja, niscaya jiwanya
tak akan lolos dari cengkeraman kita"
sekarang kejumawaan ciu Hoa sudah padam, maka setelah
termenung sebentar dia pun mengangguk.
"Siapkan barisan" perintahnya sambil mengebaskan pedang
antiknya.
Berbareng dengan diturunkannya perintah tersebut,
bayangan manusia tampak berkelebat memenuhi angkasa,
delapan orang laki-laki berbaju ungu itu sama-sama
mengayunkan tangan kirinya dan menancapkan obor yang
mereka bawa itu kedinding ruangan, kemudian ujung
pedangnya disentakkan keatas dan disilangkan didepan dada,
kemudian selangkah demi selangkah maju kedepan dan
mengurung Hoa In-liong didalam kepungan-
Hoa In-liong tetap bersikap tenang, malahan sedikitpun
tidak bergerak, dengan pandangan yang tajam ia menyapu
sekejap barisan yang baru dibentuk oleh musuh-musuhnya.
Ia lihat delapan orang laki-laki berbaju ungu itu berdiri
diposisi yang beraneka ragam, sepintas lalu posisi yang
mereka duduki mirip dengan barisan pat-kwa, tapi bila ditinjau
dari kehadiran ciu Hoa ditengah barisan yang tampaknya
merupakan motor dari barisan tersebut, posisi barisannya jadi
lebih mirip dengan suatu barisan Klu-kiong-tinTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
163
Hoa In-liong tidak begitu memahami soal ilmu barisan,
maka dia hanya bisa mempertinggi kewaspadaannya belaka,
dan diam-diam pemuda itu mengambil keputusan untuk
menghadapinya dengan tenang.
Maka dengan dahi berkerut, bentaknya lantang: "ciu
kongcu, ketahuilah bahwa golok dan pedang tak bermata, jika
aku sampai melukai anak buahmu, jangan kau salahkan aku
bersikap kejam padamu..."
Ciu Hoa mendengus dingin, ia tidak menjawab lagi, sambil
menerjang kemuka pedangnya langsung melancarkan sebuah
tusukan kilat, hebat sekali serangannya itu.
Hoa In-liong segera menggerakkan pedangnya keatas
untuk menangkis, kemudian dengan mengincar datangnya
sambaran pedang lawan, tiba-tiba ia mencukil keatas.
Dalam waktu singkat serangan musuh seolah-olah lenyap
tak berbekas, diantara kilatan cahaya yang menyilaukan mata
tercipta berlapis-lapis hawa pedang yang datang dari empat
arah delapan penjuru.
Hoa In-liong terperanjat, buru-buru pedangnya ditegakkan
sementara tubuhnya berputar kencang dan maju selangkah
kedepan, lalu pedangnya ditarik kembali, ujung pedangnya
yang tajam disembunyikan dibalik ketiaknya, menyusul
kemudian dia lancarkan kembali sebuah tusukan kilat kearah
belakang.
Pemuda itu mengambil keputusan untuk melakukan
pertarungan yang tenang dan tidak berangasan lantaran
dalam anggapannya kendati barisan pedang macam apapun
yang sedang dihadapi maka motornya pastilah Ciu Hoa, asal
Ciu Hoa berhasil diringkus niscaya barisan pedang itu akan
buyar sendiri tanpa diserang.
oleh sebab itu tatapan matanya yang tajam selalu
mengincar posisi dari Ciu Hoa, seperti pula serangannya yang
terakhir, arah yang di tuju tak lain adalah tenggorokan Ciu
Hoa.
Pendapatnya ini sedikitpun tak salah tapi justru karena Ciu
Hoa merupakan motor penggerak dari barisan pedang itu,

164
maka maju mundurnya delapan bilah peda ngpun bergerak
dengan Ciu Hoa sebagai pusat penyergapan, satu sama
lainnya mereka dapat bergerak bersahut-sahutan, seakanakan
otaknya satu dan mereka merupakan satu tubuh yang
sama, dalam keadaan demikian tentu saja bukan pekerjaan
yang gampang bagi si anak muda itu untuk membekuk Ciu
Hoa.
Ketika serangan yang kedua kembali mengenai sasaran
yang kosong, sepasang mata Hoa In-liong berkilat tajam ia
saksikan betapa rapat dan ketatnya lapisan cahaya pedang
yang memancar datang dari empat penjuru, serangan tersebut
ibaratnya cahaya yang menggulung datang tiada habisnya,
baik maju maupun mundur semuanya di lakukan dengan
kecepatan ya luar biasa.
Lapisan pedang yang berlapis-lapis itu bukan saja sukar
untuk dipecahkan, bahkan tubuh Ciu Hoa pun terkurung
dengan sendirinya hingga lenyap tak membekas, dalam
keadaan apa boleh buat terpaksa anak muda itu lebih
mementingkan diri sendiri, sepasang kakinya menjejak
permukaan tanah kemudian mengegos ke samping.
Belum sempat badannya berdiri tegak, mendadak ia
merasakan tibanya beberapa gulung desingan angin dingin
yang menyergap jalan darah penting diatas punggungnya,
cepat ia menekuk pinggang sambil melepaskan pukulan,
gerakan yang di pakai adalah jurus Kun-siu-ci-tau (perlawanan
terakhir dari binatang yang terjebak), seketika itu juga
desingan angin dingin itu berhasil disingkirkan satu depa lebih
kesamping.
Setelah nyaris termakan sergapan maut, Hoa In-liong
mengigos kesamping dan mundur dengan hati teperanjat,
segera pikirnya dalam hati:
"Benar-benar tak kusangka sebuah barisan pedang
sedemikian kecilpun ternyata memiliki daya kekuatan yang
luar biasa besarnya, bila aku tak tega untuk turun tangan keji,
niscaya aku sendirilah yang bakal mendapat kerugian"

165
Belum habis dia berpikir, tiba-tiba ciu Hoa telah munculkan
dirinya kembali, buru-buru ia menggerakan pedangnya untuk
membacok musuhnya itu.
Baru saja dia melepaskan bacokan, mendadak cahaya
pedang berkilauan, dari sampingpun muncul pula sebuah
tusukan kilat yang tertuju ke atas tubuhnya, bila ia lanjutkan
niatnya untuk melukai Ciu Hoa, niscaya iga sendiripun akan
berlubang tertusuk pedang musuh, dalam keadaan begini
terpaksa ia tekan pergelangan tangannya kebawah, kemudian
menangkis dengan pedangnya.
Tak terkirakan sungguh dahsyat tenaga serangan musuh,
ketika sepasang pedang saling beradu.... "Traaang" diantara
dentingan nyaring, Hoa In-liong terdesak mundur selangkah
ke belakang, sedangkan tusukan pedang tadi telah lenyap tak
berbekas.
Ilmu silat yang dimiliki Hoa In-liong memang sudah
mencapai pada puncaknya, setelah bergebrak beberapa jurus,
ia telah mengetahui bahwa kedelapan orang laki-laki berbaju
ungu itu rata-rata memiliki dasar ilmu pedang yang sangat
kuat ilmu silat mereka lihay dan andaikata bertempur seorang
lawan seorangpun bukan sembarangan orang dapat
menandinginya, apalagi mereka bergabung menjadi satu dan
membentuk sebuah barisan pedang tak heran kalau
kelihayannya berlipat ganda.
sekarang ia tak berani bergerak secara sembarangan lagi,
pedang mustika ditangan konannya berusaha melakukan
pertahanan, sementara tangan kirinya dengan disertai tenaga
dalam yang sempurna kerapkali melancarkan pukulan-pukulan
gencar dengan jurus Kun-shi-ci-tau yang maha sakti itu,
dengan begini untuk sementara waktu keadaanpun bisa
diimbangi sekalipun dengan susah payah.
Dalam pertarungan tersebut, tiba-tiba delapan bilah pedang
bersatu padu, cahaya pedang seakan-akan tercipta menjadi
satu gumpalan cahaya besar yang menyilaukan mata, makin
lama pertempuran itu berlangsung, getaran yang terpancar
dari barisan pun bertambah cepat perputarannya,

166
kedahsyatan yang kemudian terpancar keluar sungguh di luar
dugaan Hoa- In- liong, meski begitu ia tidak bingung atau
kalut, pertahanannya masih tetap kokoh dan tangguh,
sementara matanya masih saja mengincar tubuh Ciu-Hoa,
bilamana ada kesempatan dia akan segera membekuk
musuhnya itu.
seperminum teh kemudian, peluh teh membasahi jidat Hoa-
In-lloag, ini menunjukkan betapa sengitnya pertarungan yang
sedang berlangsung. Tiba-tiba terdengar ciu Hoa berteriak
keras:
"Hoa loji, bila kau bersedia melepaskan pedang dan
menyerah kalah, kongcu mu bersedia pula untuk memberi
kematian yang utuh kepadamu" Hoa In liong mendengus
dingin, ia tidak memberi tanggapan atas ucapan lawan.
Terdengar Ciu Hoa berkata lagi:
" Ketahuilah wahai Hoa loji, barisan prdang ku ini bernama
kiu coan liong si( memutar lidah naga sembilan kali), kendati
bapakmu sendiri belum tentu bisa memecahkan, bila engkau
tak tahu diri sekali "lidah naga" telah menggulung maka
tubuhmu niscaya akan hancur berkeping-keping."
Belum habis ia berkata, mendadak sesosok bayangan
manusia menerjang kedepan, pedangnya ditegakkan keatas
dan langsung menusuk dada serta lambungnya.
Perlu diketahui, berhubung barisan pedang itu bergerak
sangat cepat sekalipun Hoa In-liong telah mengerahkan
ketajaman mata untuk mengamati, gagal juga baginya untuk
menembusi ketajaman sinar pedang yang berkilauan itu,
otomatis sukar juga baginya untuk menduga dimanakah letak
posisi Ciu Hoa dewasa ini, tapi begitu Ciu Hong buka suara,
Hoa In-liong segera mengetahui tempat kedudukannya dan
serta merta dia lantas mengejar kesitu.
Dalam keadaan yang tak terduga ini, Ciu Hoa tak sempat
untuk menghindarkan diri lagi, terpaksa dia harus
menggerakan pedangnya untuk menangkis datangnya
ancaman itu.

167
"Traang...." suatu bentrokan nyaring menggema
memecahkan kesunyian, Ciu Hoa segera merasakan lengan
kanannya jadi kesemutan dan kaku, pedang antiknya hampir
saja teriepas dari cekalan cepat ia mundur dua langkah ke
belakang.
Tentu saja Hoa In-liong tak sudi melepaskan musuhnya
dengan begitu saja, setelah berhenti sebentar, ia maju lagi ke
depan, pedangnya secepat kilat melancarkan pula serangan
mematikan-
Dilnar dugaan, ternyata Ciu Hoa dibuat kelabakan dan
kalang kabut dengan sendirinya, ia tak berani menyambut
serangan tersebut dengan kekerasan, malahan tergopohgopoh
tubuhnya lantas menyelinap ke samping.
Dengan susah payah Hoa In-liong berhasil melepaskan diri
dari kurungan barisan pedang musuh dan menemukan
sasarannya, tentu saja ia tak ingin membiarkan Ciu Hoa
menyelinap kembali ke dalam barisannya, melihat dia hendak
kabur, segera bentaknya: "Mau kabur kemana?"
Bagaikan bayangan menempel badan, secepat kilat dia
mengejar ke arah depan.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring berkumandang saling
susul menyusul, delapan bilah pedang diputar berbareng
menghadang jalan perginya.
Hoa In-liong marah sekali, terutama ketika jalan perginya
dihadang, ia meraung keras: "Bangsat Kalian sudah bosan
hidup semua rupanya"
Hawa murninya segera disalurkan ke dalam tangan,
pedangnya diputar dan dia lantas mainkan ilmu pedang Ciongkiam
(pedang berat)
sreet sreet sreet serangan dilancarkan tiada hentinya,
dalam sekejap mata ia sudah meneter ke delapan orang itu
habis habisan.
Perlu diketahui, ke enam belas jurus ilmu pedang yang
ditinggalkan Hoa Goan-siu ini tidak lihay dalam jurus
serangan, tidak lihay pula dalam kesempurnaan tenaga dalam,
melainkan terletak pada kegagahan serta kewibawaan sang

168
pembawa serangan tersebut, jika seseorang dapat mainkan
jurus pedang itu dengan gagah dan berwibawa maka serta
merta terciptalah suatu kekuatan lain daripada yang lain yang
jauh lebih mengerikan daripada hal-hal lainnya.
sejak Hoa Thian-hong berhasil mendapatkan kitab Kiamkeng
dan Kiam-keng-kui-boh, ia telah menyisipkan pula intisari
ilmu pedang di balik jurus-jurus pedang peninggalan orang
tuanya, ketika diwariskan kembali kepada putra-putrinya, ilmu
pedang itu sudah dirubah namanya menjadi Hoa-si- ciongkiam-
cap- lak-sin-cau (enam belas jurus sakti ilmu pedang
berat keluarga Hoa). itu pun sudah berbeda dengan keadaan
aslinya, kalau dahulu permainan pedang itu harus
menggunakan pedang baja yang berat, maka sekarang cukup
menggunakan pedang kayu atau pedang bambu tanpa
mengurangi kelihayannya.
setelah lama bertempur tanpa mendatangkan hasil, lama
kelamaan Hoa In-liong jadi sadar, apalagi setelah dilihatnya
Ciu Hoa hampir menyelinap ke dalam barisan pedangnya lagi,
dalam mendongkol dan marahnya dia lantas menyerang
dengan gencar, malahan Hoa-si- ciong-kiam- cap- lak-sin-cau
yang maha dahsyat pun dikeluarkan, sekalipun
kematangannya menggunakan jurus-jurus sakti itu belum
sempurna, tapi kedelapan orang laki laki berbaju ungu itu
sudah tak sanggup mempertahankan diri
Dalam sekejap mata, serangan dan pertahanan saling
bertautan, delapan orang laki-laki berbaju ungu itu didesak
sampai mundur berulang kali, tanpa bertindak lebih jauh
barisan pedang itu bobol dengan sendirinya, dari satu barisan
pedang yang tangguh sekarang telah berubah jadi suatu
perlawanan bersama atas serangan musuh yang gencar.
sementara itu Ciu Hoa telah menyingkir kesamping, ketika
dilihatnya barisan pedang yang diandalkan sudah tak
berwujud lagi, sedangkan kegagahan dan kehebatan Hoa-Inliong
sukar dibendung lagi, ia lantas berminat untuk ikut terjun
pula kedalam arena pertarungan serta berusaha untuk
memulihkan kembali keutuhan barisan pedangnya.

169
Tapi Hoa-In-liong memang terlampau dahsyat, ia
menyerang dan mengejar terus dengan ketatnya, dimana
serangannya tiba delapan orang laki laki berbaju ungu itu
harus mundur untuk menyingkir, dalam posisi seperti ini
sulitlah baginya untuk ikut terjun kedalam gelanggang.
Hal ini sangat meng gelisahnya hatinya, saking marah dan
mendongkolnya ia sampai mendepak- depakkan kakinya
berulang kali keatas tanah.
Dari sikap tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ciu Hoa
adalah seorang laki-laki yang berangasan, begitu melihat
posisi rekan-rekannya terdesak dibawah angin, sedangkan ia
tak sanggup untuk memberikan bantuannya, timbulah niat
jahat dalam hati kecilnya.
Mendadak ia membentak gusar, tangannya lantas diayun
kedepan melemparkan sebuah benda hitam keatas batok
kepala Hoa-In-liong.
sepanjang pertarungan berlangsung, Hoa In-li ong selalu
memasang telinga dan matanya tajam-tajam, begitu
menangkap tibanya sambaran benda hitam yang disertai
desingan angin tajam, ia segera mengetahui bahwa ia sedang
disergap oleh sejenis senjata rahasia.
secepat kilat telapak tangan kanannya diayun kedepan, .Ia
menyampok senjata rahasia itu dengan bacokan pedang,
sementara lengan kirinya dibabat kedepan menghajar mundur
seorang laki-laki hingga terdesak sejauh tiga depa.
"Blaaang...." sebercak cahaya api berwarna biru mendadak
memancar keempat penjuru dan mengejar tubuhnya.
Menghadapi ancaman tersebut, Hoa In-liong sangat
terperanjat, buru-buru ia menyusup ke samping dengan
menempel diatas permukaan tanah, maksudnya ia hendak
meloloskan diri dari gumpalan cahaya api itu.
Kendati reaksi yang diberikan cukup cepat, namun setitik
cahaya api sempat juga menetes diatas punggungnya, Hoa Inliong
segera merasakan punggungnya jadi panas, jilatan api
segera merembet sampai diatas dan membakar pakaian yang
dikenakan.

170
"Anak Liong Jatuhkan diri dan bergelinding" disaat paling
kritis mendadak seseorang berseru dengan suara yang serak
tapi keras.
Bersamaan dengan munculnya suara peringatan itu,
sesosok manusia menyambar masuk ke dalam ruangan,
seketika itu juga Ciu Hoa beserta delapan orang laki-laki
berbaju ungunya melepaskan senjatanya dan berdiri kaku
seperti patung arca, agaknya jalan darah mereka telah
tertotok semua.
Dalam pada itu Hoa In-liong telah bergelinding di atas
tanah dan memadamkan lobaran api yang menjilat-jilat baju
bagian punggungnya, tiba-tiba ia merasa kaki kanannya kaku
dan susah digerakkan ketika diperiksa ternyata bagian
lututnya telah tertancap sebatang jarum perak yang berwarna
biru, jarum itu sudah menembusi kulitnya hingga tinggal
ekornya saja masih tertinggal, dari warna biru yang berkilauan
dapat diketahui bahwa jarum itu mengandung racun yang
jahat sekali.
Ayahnya Hoa Thian-hong tidak mempan terhadap serangan
pelbagai jenis racun ini disebabkan karena ia pernah makan
racun teratai empedu api, dan dia sebagai keturunan dari
ayahnya mengalir pula darah murni yang mengandung serum
penolak racun tersebut, dengan keistimewaan yang dimilikinya
itu, tancapan sebatang jarum beracun tidak berpengaruh
banyak atas dirinya.
Meski demikian, Hoa In-liong naik pitam dan merasa
dendam sekali, sebab Ciu Hoa telah berbuat keji dan
melepaskan senjata rahasia sangat beracun itu tanpa memberi
peringatan apapun, ini menunjukkan bahwa hatinya busuk
sekali.
Demikianlah, setelah jarum beracun itu dicabut keluar, ia
lantas bangkit berdiri, kemudian sambil mendengus dingin
katanya:
"Manusia she-ciu, kau keji dan berhati busuk Hoa loji tak
dapat mengampuni selembar jiwamu"

171
Dengan mata merah membara dan muka meringis
menyeramkan, selangkah demi selangkah ia mendekati
musuhnya itu.
sekarang Hoa ln- liong sudah dipengaruhi oleh hawa napsu
membunuh yang amat tebal, melihat keadaan lawannya itu
Ciu Hoa jadi bergidik dan pecah nyalinya, apa daya jalan
darahnya tertotok mulut tak bisa berbicara badan tak mampu
bergerak, dalam keadaan sepsrti ini terpaksa dia hanya bisa
pasrah dan menunggu saat ajalnya.
Mendadak sesosok bayangan manusia kembali berkelebat
lewat, seorang kakek tua berjubah ungu tahu-tahu sudah
menghadang jalan perginya.
" Liong- ji" kata orang itu dengan lantang " apakah engkau
hendak membunuh seseorang yang telah kehilangan daya
perlawanannya?"
orang itu berperawakan tinggi besar dan kekar, rambut,
jenggot maupun alis matanya telah berwarna putih, usianya
enam puluh tahunan, meski demikian ia tampak masih segar
bugar dan tak nampak tua.
siapakah orang ini? Dia adalah Pek Siau-thian bekas ketua
perkumpulan sin-kipang yang tersohor di masa lampau, atau
kakek dari Hoa In-liong sendiri
Tak heran kalau dalam sekali gebrakan sembilan orang jago
tangguh tersebut dapat dirobohkan semua olehnya, sebab Pek
siau-thian memang berilmu sangat lihay.
setelah mengetahui kalau kakek tua itu tak lain adalah
Gwa-kong (kakek luar) nya, mula-mula Hoa In- liong agak
tertegun, menyusul kemudian dengan wajah berseru dia
jatuhkan diri berlutut, serunya dengan penuh kegembiraan:
"Liong-ji memberi salam buat Gwa-kong."
"Bangun, cepat bangun" seru Pek-siau-thian sambil ulapkan
tangannya, "gwa-kong ingin bertanya padamu, bagaimana
caranya kau selesaikan beberapa orang ini?" sambil bangkit
diri Hoa-In-liong menjawab:
"Mereka adalah anak buah perkumpulan Hian beng-kau,
berhati busuk dan berniat keji, Liong-ji pikir. . . "

172
Tatkala sinar matanya menyapu sekejap ke arah Ciu-Hoa
sekalian, ia baru tahu kalau jalan darah mereka sudah tertotok
semua, maka kata-kata selanjutnya tidak jadi dilanjutkan.
Pek-siau-thian memandang sekejap ke arah cucunya,
kemudian berkata lagi:
"Ketika ayahmu berkelana dalam dunia persilatan tempo
hari, ilmu silat yang dimilikinya tidak beberapa lihay, tapi
sampai-sampai Gwa-kong sendiripun tak berani memandang
enteng dirinya, tahukah kau apa sebabnya bisa begitu?"
Dihari-hari biasa, Pek-siau-thian amat sayang dan
memanjakan cucu luarnya ini. tapi sekarang agaknya ia
berniat untuk memberi pendidikan terhadap cucunya ini,
bukan saja keren wajahnya bahkan nada pembicaraanpun
tegas dan bersungguh-sungguh.
Hoa-In-liong yang menengadah dan menyaksikan keadaan
kakeknya ini, kontan merasa tercekat hatinya, ia sendiripun
merasa sedikit di luar dugaan.. Pek-siau-thian anggukkan
kepalanya, dan melanjutkan kembali kata-katanya:
"Ayahmu berjiwa besar, berwatak sabar tapi bersikap
tegas, masalah kecil tidak selalu dipikirkan dalam hati,
masalah besarpun bersikap luwes, sekalipun berhadapan
dengan musuh besar pembunuh ayahnya, diapun tidak
bersikap angkuh, sepanjang hidup tak pernah melukai mereka
yang sudah tak mampu bergerak, apalagi membunuh mereka
yang sudah kehilangan daya perlawanannya,sebab itu
kendatipun musuh bebuyutannya juga menaruh tiga bagian
rasa hormat kepadanya."
Ketika mendengar sampai disana, Hoa- ln- liong telah
mengetahui apa yang dimaksudkan Gwa-kong nya, cepat ia
memberi hormat seraya berkata: "Liong ji tak tahu kalau
beberapa orang ini sudah tertotok jalan darahnya."
Pek-siau-thian ulapkan tangannya mencegah anak muda itu
bicara lebih lanjut, tukasnya:
"Kau tak usah bicara lebih jauh, untuk hidup sebagai
seorang manusia engkau harus bertindak teliti, sebab dikala
perasaan hatimu mulai bergerak maka yang benar tetap akan

173
benar, dan yang salah tetap akan salah, benar atau tidaknya
harus kau bedakan disaat itu. bila kau tidak meninjau dulu
keadaannya tapi bertindak menurut emosi, coba bayangkan
saja seandainya gwa-kong tidak datang tepat pada waktunya,
bagaimanakah akibatnya sekarang..."
Hoa In-liong tak dapat berbicara lagi, dia hanya bisa
mengiakan berulang kali. Terdengar Pek siau-thian berkata
lebih lanjut:
"Gwa-kong sedari tadi sudah tiba disini, dan apa yang
terjadi dapat kusaksikan semua dengan jelas, akupun
menyaksikan bagaimanakah dengan menempuh bahaya kau
mencari kesempatan yang baik untuk mengorek keterangan
dari mulut lawan, sekalipun kegagahanmu lumayan juga
namun masih selisih jauh bila dibandingkan dengan ayahmu.
Aaaai Aku benar-benar merasa tidak habis mengerti mengapa
nenekmu begitu tega untuk melepaskan kau berkelana
seorang diri?"
Kendati maksud ucapannya adalah memberi pendidikan
dan pelajaran yang keras untuk cucu luarnya ini, tapi rasa
sayang dan manjanya terhadap cucu lakinya ini kentara sekali
diantara pancaran wajah maupun nada pembicaraannya.
sebagai bocah yang binal, begitu Hoi In-liong menangkap
kalau nada suara gwa-kongnya menjadi lunak kembali, ia
lantas menengadah, dengan alis mata berkenyit katanya:
"Gwa-kong masa kau tidak tahu? Liong-ji bisa berkelana
diluaran sekarang ini adalah atas perintah dari nenek."
"Tentang soal ini kita bicarakan nanti saja" tukas Pek siauthian
sambil ulapkan tangannya, "sekarang kau harus
putuskan dulu, dengan cara apa engkau hendak selesaikan
beberapa orang ini?"
"Lepaskan saja mereka semua" sahut Hoa In-liong
sekenanya. Pek siau-thian tersenyum.
"Bukankah engkau hendak menyelidiki latar belakang
tentang perkumpulan Hian-beng-kau?"
" Liong-ji telah mengerti, bahwa pengetahuan dari seorang
ketua regu sangatlah terbatas sekali"

174
"Bukankah dia adalah murid tertua dari ketua perkumpulan
Hian-beng-kau ?"
"Murid tertua juga sama saja. sampai kini Hian-beng kaucu
tetap menyembunyikan diri seperti kura-kura, ia cuma
mengutus anak buahnya melakukan keonaran dai
penganiayaan, masakan rahasia besar rencananya akan
dibeberkan dihadapan mereka? Malahan yakin bahwa ia sudah
memperingatkan anak buahnya untuk menjaga rahasia
dengan siksaan keji sebagai imbalannya bila mereka telah
membocorkan rahasia tersebut, maka aku pikir tak ada
gunanya kita paksa mereka untuk memberi keterangan, Liongji
akan berusaha untuk mencari keterangan sendiri dengan
usaha yang kumiliki"
Mendengar jawaban tersebut, Pek siau-thian tertawa
terbahak-bahak sanbil mengelus jenggotnya ia berkata.
"Haahh..haaaahhh..haaahhh.. sungguh tak kusangka
engkau berotak cermat dan mempunyai semangat yang
menyala-nyala, baiklah Gwa-kong akah membantu dirimu
untuk melepaskan orang-orang ini"
Dia lantas putar badannya, diantara sentilan jari tangannya,
sembilan orang jago yang tertotok jalan darahnya segera
bebas dari pengaruh totokan tersebut.
"Sebera tinggalkan kota Lok-yang" hardiknya dengan
lantang, "kalau berani mengulur waktu lagi, Hmm Bila terjatuh
ketangan lohu lagi, jangan harap kamu semua bisa
dibebaskan seperti hari ini, Hayo cepat pergi..."
Dari pembicaraan yang baru saja berlangsung ciu Hoa
sudah mengetahui akan asal usul kakek berjubah ungu itu.
tentu saja ia tak berani berdiam lebih lama lagi disana.
Begitu jalan darahnya bebas, mereka lantas memungut
kembali senjatanya, kemudian setelah melotot sekejap kearah
Hoa In- liong dengan penuh kebencian, mereka lari terbiritbirit
tinggalkan ruangan itu, dalam sekejap mata bayangan
tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.
Setelah beberapa orang itu berlalu Hoa In-liong baru
berpaling, ujarnya sambil tertawa cecikikan:

175
"Huhh..hiihh..hiihh..sekarang aku sudah paham"
"Apa yang kaupahami?" tanya Pek siau-thian tercengang.
"Tentu Gwa-kong yang sudah memindahkan jenasah dari
suma siok-ya dari tempat ini"
Pek siau-thian tersenyum, ia membelai rambut cucunya
dengan penuh kasih sayang, kemudian sahutnya:
"Bocah manis, kau memang cerdik, memang benar gwakong
yang sudah memindahkan jenasah dari suma-tayhiap
suami istri dari sini, sekarang jenasah mereka bersemayan di
kuil Pek-ma-si diluar kota sana, dan dirawat oleh Cu-hongtaysu."
"siapakah Cu-hong Taysu itu?" tanya Hoa-In-liong
keheranan-
"Tentunya kau kenal bukan siapakah Cu-in-taysu itu?"
"Kenal" sahut si anak muda itu sambil mengangguk. "dia
adalah sahabat karib ayahku"
" Cu-hong taysu adalah kakak seperguruan Cu-in taysu, dia
adalah sobat karib Gwakong"
Kiranya sejak pertempuran di bukit Cu-bu-kok dimana
perkumpulan sin- kapang mengalami kekalahan besar,
kemudian dalam penggalian harta dibukit Kiu-ci-san iapun
harus banyak mengandalkan bantuan Hoa-Thian-hong, setelah
itu putri sulungnya kawin dengan Bong-Pay, putri keduanya
kawin dengan Hoa-Thian-hong, dimana kedua orang
menantunya adalah jago-jago dari golongan lurus, ditambah
pula istrinya Kho-hong-bwe selalu menasehati suaminya agar
bertobat.
Dalam putus asa dan kecewanya Pek-siau-thian sering kali
belajar agama Budha dari istri nya sering pula berhubungan
dengan orang-orang luar maka pada mulanya ia setelah dapat
melepaskan cita-citanya untuk menjagoi kolong langit, tapi
akhirnya iapun sadar bahwa jalan pikirannya itu keliru besar.
Maka akhirnya bukan saja ia sering berhubungan dengan
Bun Tay-kun sekalian anak famili dari golongan lurus,
perangainya pun banyak berubah yang berbudi luhur, dengan
Cu-hong, cu-in taysu sekalian pun menjadi sahabat karib.

176
Kalau bukan lantaran perangainya sudah banyak berubah,
dengan perbuatan dari Ciu Hoa sekalian tadi, tak nanti ia akan
lepaskan mereka dalam keadaan hidup.
setelah mendengar asal usul Cu-hong taysu dari Gwa-kong
nya, Hoa In- liong merasakan hati nya jadi lega, diapun
berkata:
"oooh.,.. kira nya dia adalah suhengnya Tau-to yaya,
sepantarnya kalau Liong ji pergi menyambanginya "
"sedari kapan kau pandai menjalankan adat kesopanan?"
goda Pek siau-thian sambil tersenyum.
Merah padam selembar wajah anak muda itu karena
jengah, serunya manja.
" Gwa-kong, masa kau anggap Liong-ji selamanya tak
dapat tumbuh jadi dewasa?"
"Haaahhh....haaahhh....haaahhh.. ..bagus Bagus Kau
memang sudah dewasa, kau memang sudah dewasa
Cuma....Gwa-kong selalu berharap agar selamanya kau jangan
dewasa" setelah berhenti sebentar, dia alihkan pokok
pembicaraan kesoal lain, tanyanya lagi:
"Menurut pengamatanku, tampaknya kau datang dengan
membawa tugas, tugas apakah kau diperintahkan untuk
menyelidiki kasus pembunuhan berdarah atas diri suma
tayhiap?"
"Benar dari mana Gwa-kong bisa tahu?" tanya Hoa ln- liong
tercengang, agaknya ia tak menduga kalau kakeknya bisa
menduga sampai kesitu. Pek siau-thian tertawa.
"Tentu saja Gwa-kong mengetahui kejadian ini secara
kebetulan saja, dalam perjalanan melewati kota Lok-yang, aku
baru tiba disini menjelang senja, sebenarnya tujuanku adalah
mengunjungi sobat-sobat lama sambil kongkou, siapa tahu
suma siok-ya mu telah menjadi almarhum, ketika kutemukan
rumahnya terbengkalai, dalam peti mati tersiar bau obat
beracun, dan diantara debu yang melapisi permukaan lantai
kutemukan juga bekas-bekas pertarungan setelah itu
kutemukan juga bekas gigitan diantara tenggorokan suma-
Tayhiap suami istri, aku lantas sadar bahwa setelah mereka

177
mati, pihak musuh telah menggunakan jenasah mereka
sebagai jebakan untuk memancing orang-orang yang melayat
kemari masuk perangkap, untuk menghindari segala
kemungkinan yang tak diinginkan maka jenasah mereka aku
pindahkan dari sini."
Mendengar keterangan tersebut, tanpa terasa lagi Hoa-Inliong
lantas berpikir:
"Aaaai.....bagaimanapun juga pengetahuan serta
pengalaman Gwa-kong jauh lebih hebat daripadaku, sampai
sekarang aku baru mencurigai sampai kesitu sebaliknya cukup
dalam sekali tatapan saja dia orang tua sudah menebak
maksud busuk musuh dan segera melakukan segala tindakan
penanggulangan, dari sini menunjukkan bahwa aku masih
belum bisa untuk berbuat apa-apa"
sementara dia masih melamun, Pek siau thian-telah
bertanya lagi. "Liong-ji, sudah berapa lama kau tiba di kota
Lok-yang?"
"Kemarin baru sampai"
"Berhasil menemukan sesuatu tanda terang yang patut
dicurigai?"
"Sudah, dan titik terang itu adalah Ciu Hoa tadi"
"Kalau begitu... bukankah titik terang itu kembali sudah
terputus....?" kata Pek siau-thian dengan dahi berkerut.
"Aaaah, tak jadi soal, Liong-ji toh bisa mencarinya lagi"
sahut Hoa In-liong dengan santainya.
sepintas lalu ucapan itu memang kedengarannya biasa dan
tak ada sesuatu keistimewaannya, bahkan malahan lebih
mendekati jawaban yang se-enaknya, tapi bagi pendengaran
Pek siau-thian justru berbeda jauh, dia malahan merasakan
betapa gagah dan terbukanya pikiran cucunya ini, bahkan
dibalik kelembutan sebetulnya tersembunyi suatu kekuatan
yang dapat membuat orang jadi takluk dan kagum.. Tak
terasa lagi ia tersenyum, sambil mengelus jenggotnya dia
berpikir:
"Bocah ini betul-betul berhati sekeras baja, berjiwa besar,
berotak cerdik dan pandai menyelami perasaan orang, bila

178
dididik secara betul dan terpimpin, niscaya dikemudian hari
akan menjadi seorang pemimpin dunia persilatan yang patut
diandal kan"
ooooooooooo
KARENA berpendapat begitu, Pek-siau-thian merasa hatinya
jaun lebih lega katanya kemudian dengan lantang:
"Liong-ji hayo berangkat Ikut Gwa-kong ke- kuil Peks-masi"
"Waaah, tidak bisa" sahut Hoa-In-liong setelah sangsi
sebentar, "kuda dan bekalku masih ada di rumah penginapan"
Pek siau thian berpikir sejenak. kemudian sambil ulapkan
tangannya ia berkata lagi: "Baiklah, kalau begitu mari kita
berkumpul dirumah penginapan"
Hoa In liong tidak mengerti apa sebabnya Gwa kong
mendadak jadi gembira sekali, tapi berhubung ia sudah lama
berpisah dengan kakeknya dan lagi iapun sudah amat rindu
dengan engkongnya ini tanpa berpikir panjang lagi ia maju ke
muka dan sambil menggandeng tangan si kakek tua itu berlalu
dari ruangan.
sekembalinya dirumah penginapan, Hoa In- liong
memerintahkan pelayan untuk siapkan sayur dan arak. selesai
membersihkan badan kakek dan cucu berduapun bersantap
sambil bercerita.
Tampaknya Pek siau-thian memang mempunyai maksud
tertentu, ia berniat untuk melatih Hoa In liong sehingga lebih
perkasa dan lebih luas pengetahuannya. Mula-mula ia
menanyakan kisah Hoa In- liong ketika mendapat perintah
untuk meninggalkan rumah, kemudian menanyakan pula
semua kejadlan dan peristiwa yang dijumpainya selama
berada di kota Lok-yang.
Dengan tak Jemu-jemunya Hoa In- liong segera menjawab
semua pertanyaan kakeknya dengan jelas. Pek siau-thian
sendiripun lantas mendengarkan penuturan dari cucunya
sambil tersenyum. selesai bercerita, Hoa In- liong mendadak

179
membuka telapak tangan kirinya dan disodorkan ke-depan,
kemudian katanya:
" Gwa- kong, semua persoalan tidak Liong-ji pikirkan, tapi
ada satu hal yang tidak berkenan di hati Liong-ji, yakni ukiran
huruf "benci" yang dibuat ibu ditanganku, apakah Gwa-kong
tahu apa maksudnya mengukir huruf tersebut?" Pek siau-thian
melirik sekejap telapak tangan kirinya, kemudian ia balik
bertanya: "Apakah engkau merasa tidak senang hati, dengan
kejadian itu?"
"Bukannya Lion-ji tak senang hati cuma Liong-ji merasa
bahwa tindakan ini sebenar nya sama sekali tak berarti...."
"Nenekmu adalah seorang pendekar wanita uang berjiwa
besar dan berotak cerdas." tukas Pek siau-thian dengan cepat,
"jangankan orang lain, aku sendiripun amat mengaguminya,
aku percaya semua .perbuatan yang ia perintahkan pasti
mempunyai arti dan maksud yang mendalam, hanya engkau
belum berhasil menangkap artinya"
"Lalu apa maksudnya?" seru Hoa In-liong sambil menatap
Gwa-kong nya tajam-tajam, "ibu dan nenek semuanya bilang
bahwa mereka tidak membenci aku, tapi aku tak dapat
memecahkan maksud dan arti di balik kesemuanya ini,
kadangkala aku tak tahan dan memikirkan persoalan ini,
namun sekalipun aku sudah putar otak memeras keringat, toh
akhirnya masih tetap merupakan suatu persoalan simpul mati"
Pek-siau-thian tersenyum setelah mendengar perkataan itu
ujarnya:
"Bila ingin menjadi seorang yang besar dan terkenal,
pikiran dan jiwamu harus lapang, persoalan sepele dan
masalah kecil jangan selalu dipikirkan dihati, bukan saja
kejadian itu bisa menutupi kecerdasan otakmu bahkan amat
mengganggu kesehatan badan, bila tak berhasil dipecahkan
lebih baik tak usah dipikirkan-"
"Aaaai Gwa-kong, ucapanmu ini persis seperti perkataan
nenek" gerutu sang pemuda dengan wajah murung, "cobalah
bayangkan, Liong-ji harus memikul tugas yang sangat berat
ini, masakah aku tak boleh menyelidiki tiap persoalan yang

180
sedang kuhadapi? sebelum berangkat, ibu telah mengukir
huruf "benci" itu di atas telapak tangan Liong-ji apakah liong-ji
harus berdiam diri belaka." Pek-siau thian mengelus
jenggotnya dan tersenyum.
"Lalu bagaimana menurut jalan pikiranmu? Apakah tulisan
itu ada hubungan yang erat dengan peristiwa pembunuhan
berdarah ini?"
"Tentu saja" jawab pemuda itu cepat, " kalau tak ada
sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu, mengapa
sewaktu mengukir huruf tersebut nenek bersikap amat serius.
Gwa-kong, tahukah kau bahwa pada waktu itu ibu merasa tak
tega, tapi nenek yang memaksa terus untuk mengukir huruf
itu ditangan Liong-ji"
" Liong- ji, kau tak boleh bicara sembarangan" mendadak
Pek-siau-thian menukas dengan wajah serius, " nenekmu
adalah ksatria sejati diantara kaum perempuan, baik
kecerdasan otak maupun pengetahuannya jauh lebih hebat
dari siapapun, kalau ia memaksa untuk berbuat demikian, itu
berarti ia mempunyai maksud tertentu ketahuilah
menyalahkan angkatan yang lebih tua adalah...."
Kata selanjutnya tak lain adalah kata-kata nasehat yang
setumpuk bukit, dengan watak Hoa ln liong yang binal, ia
segan untuk mendengarkan " nasehat" tersebut, tapi iapun
mengerti betapa sayangnya pek siau thian terhadap dirinya,
maka ia berkata kemudian:
"Apa alasannya? Kalau tidak diterangkan bukankah itu
berarti bahwa Liong ji selalu harus memikirkan soal" " benci",
"Benci" pada langit "Benci" pada bumi dan mungkin harus
"benci" terhadap setiap manusia yang ada di kolong Langit?"
"Ngaco belo" bentak- Pek siau-thian dengan keras.
Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, tanpa
terasa kakek tua itu jadi tertegun dan berdiri termangumangu.
Hoa-In-liong sendiripun agak tertegun menyaksikan
keadaan gwa-kong nya itu, dengan tercengang ia lantas
berseru:

181
"Gwa-kong, kenapa kau? Apakah berhasil menemukan
alasannya?"
"Jangan berisik dulu" sela Pek-siau-thian sambil ulapkan
tangannya, "biar kupikirkan persoalan ini dengan seksama"
Hoa-In-liong mengerdipkan matanya, lalu berpikir:
"Benar, Gwa-kong dimasa lalu adalah seorang pemimpin
dunia persilatan yang tersohor dan mempunyai kedudukan
tinggi, ia pasti mengetahui banyak tentang Giok teng hujin,
apa salahnya kalau kugunakan kesempatan ini untuk mencari
tahu tentang dirinya?"
Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Pek
siau Thian telah menatap tajam cucunya sambil bertanya:
" Liong-ji, pernah kau dengar tentang seorang jago lihay
dimasa lampau yang bernama Kiu-im kaucu?"
Hoa In-liong ingin cepat-cepat menjawab, sambil
mengangguk segera sahutnya:
"Menurut apa yang Liong-ji dengar, Kiu-im kaucu adalah
seorang perempuan berilmu tinggi, orang itu licik, banyak akal
busuknya dan kejam..."
"Ehmm" Pek Siau thian mengangguk. "Suma Siok-cu-bo mu
dulunya adalah tiamcu dari istana neraka, dengan suma siokya
mu...."
"Apa?" tukas Hoa In- liong tercengang "bukankah
perkumpulan Kiu-im-kau adalah perkumpulan kaum sesat?"
Pek siau-thian mengangguk.
"Perkumpulan Kiu im-kau memang suatu perkumpulan
kaum sesat, Tiancu istana neraka itu pernah bertarung
melawan suma siok-ya mu, berhubung usia mereka sebaya
dan ilmu silatnya seimbang, sejak terjadinya pertarungan itu
mereka selalu memikirkan pihak lawannya. Kemudian saat
suma siok-ya mu sedang berpesiar, diatas bukit Lak-siau-san
mereka berjumpa untuk kedua kalinya, waktu itu mereka
berpesiar selama beberapa hari mengunjungi tempat
kenamaan, ketika hubungan mereka kian lama terasa kian
bertambah cocok. akhirnya Yu-beng tiamcu ini melepaskan diri
dari perkumpulan Kiu-im-kau dan menemani suma siok-ya mu

182
berkunjung kedaratan Tionggoan dimana, akhirnya atas
persetujuan dari nenekmu, merekapun menikah menjadi
suami istri"
"Aaah, kiranya siok cubo melepaskan diri secara diam-diam
dari perkumpulan Kiu-im-kau" pikir Hoa In- liong dalam hati,
"tak aneh kalau sepanjang tahun jarang keluar pintu gerbang,
bahkan berkunjung kerumahpun hampir tak pernah". Meski
dalam hati berpikir demikian, di luaran ia berkata:
"Jadi maksud gwa-kong, otak dari pembunuhan berdarah
atas diri suma siok-ya dan siok cubo ini tak lain adalah Kiu-im
kaucu?"
"Benar atau tidak kita harus melakukan penyelidikan lebih
jauh, tapi bagaimanapun juga kita tak boleh melepaskan titik
terang dengan begitu saja" Hoa-In-liong berpikir sebentar, lalu
menyambung:
"Aah aku rasa belum tentu begitu. Menurut kisikan dari
nenek. agaknya beliau menaruh curiga bahwa persoalan ini
ada hubungannya dengan Giok-teng Hujin, sebab tanda
pengenal yang ditinggalkan pembunuh itu tak lain adalah
sebuah hiolo kecil berwarna ungu kemala"
"Aku bisa menduga sampai kesitu justru karena secara tibatiba
teringat akan diri Giok Teng hujin ini"
"oooh... kiranya dugaan kalian ada kemiripannya antara
yang ^itu dengan yang lain" seru Hoa-In liong seperti baru
sadar, "Gwa-kong, cepatlah terangkan, bagaimana dengan
Giok-teng hujin itu?"
"Aku sendiripun mendengar cerita ini dari cu-in taysu.
Katanya di masa lalu ayahmu, entio-mu, dansuma siok ya mu
pernah menerima budi kebaikan dari Giok-teng- hujin,
kemudian sewaktu Giok-teng- hujin mendapat musibah,
ayahmu dan suma-siokya mu bersama-sama datang ke kota
Cho ciu untuk memberi pertolongan, menurut keterangan cu
in taysu, pada waktu itu Giok teng hujin sedang menjalankan
siksaan lm hwe lee hun (api dingin melelehkan sukma),
siksaan itu amat keji dan melanggar peri kemanusiaan, ketika
menyaksikan keadaan tersebut ayahmu amat sedih dan gusar

183
sehingga mendekati kalap. apa yang dipikirkan olehnya waktu
itu hanyalah membunuh manusia sebanyak-banyaknya."
(untuk jelasnya silahkan membaca: Bara Maharani oleh
penyadur yang sama).
Ketika mendengar kisah tersebut, Hoa In-liong segera
mengerutkan dahinya dan berpikir dihati.
"Siksaan api dingin melelehkan sukma memang merupakan
suatu siksaan yang keji dikolong langit, sekalipun aku yang
temui kejadian juga akan naik darah, apalagi ayah pernah
mendapat budi dari Giok-teng hujin, tentu saja kemarahannya
mendekati kekalapan setelah menjumpai kejadian itu, tapi apa
sangkut pautnya antara kejadian itu dengan kematian suma
siok-ya serta ukiran huruf " benci" diatas telapak tanganku
ini?"
Pek siau thian sudah sering bergaul dengan cucunya ini
semenjak masih bayi, sekilas memandang tampang cucunya,
ia lantas dapat menebak apa yang dipikirkannya, maka
ujarnya lagi:
"Liong-ji, apakah engkau menganggap ayahmu ingin
membunuh orang hanya disebabkan oleh dorongan emosi dan
kemarahan saja.?"
"Apakah dibalik kejadian ini masih terdapat sebab sebab
lain....?" Hoa In-liong balik bertanya setelah tertegun sejenak.
"Tentu saja, Ayahmu sudah kenyang mengalami
penderitaan, watak dan keteguhan imannya jauh berbeda
dengan manusia biasa, padahal dalam dunia persilatan banyak
terdapat kejadian-kejadian yang gampang membuat orang
naik darah bila setiap kali marah dia lantas ingin membunuh
orang, berapa banyak sudah manusia yang akan terbunuh
oleh ayahmu? Dan darimana mungkin ia bisa melakukan
pekerjaan besar?"
"Lalu sebenarnya mengapa ia sampai berbuat demikian?"
desak sianak muda itu cepat.
Pertanyaan ini diajukan dengan hati yang gelisah seakanakan
sudah tak sabar untuk menanti lebih lama lagi, melihat
keadaan cucunya ini Pek siau chian kembali berpikir:

184
"Bun Tay-kun amat ketat mendidik keturunannya sedang
persoalan, ini menyangkut soal muda mudi seng-ji (Hoa Thianhong)
dimasa mudanya, aku harus mengelabuhi beberapa
bagian yang tak perlu dihadapan Liong-ji, tapi bagaimana aku
harus mulai dengan jawabanku....?"
setelah termenung beberapa saat lamanya, Pek siau-thian
menghela napas panjang dan menjawab.
"Dahulunya Giok-teng hujin juga merupakan anakbuah dari
Kiu-im- kau, ketika itu ia sangat sayang terhadap ayahmu,
hubungan mereka lebih akrab dari kakak beradik, sejak
perkumpulan Kiu im-kau secara resmi munculkan diri lagi
dalam selat Cu-bu-kok, ia selalu memusuhi ayahmu dan
berusaha merampas pedang baja ayahmu."
sebagai seorang pemuda yang cerdas, tentu saja Hoa Inliong
dapat menangkap maksud lain dibalik ucapan tersebut,
ia lantas menyela..
"Tentang peristiwa perebutan pedang baja itu- Liong-ji
sudah pernah tahu, pedang itu direbutkan karena dalam
pedang tersebut disimpan sejilid kitab Kiam-keng yang lihay.
Jadi kalau begitu tujuan Kiu-im kaucu melakukan penyiksaan
Api dingin melelehkan sukma adalah untuk memaksa ayah
untuk menyerah?" Pek siau thian mengangguk tanda
membenarkan.
"Padahal pada waktu itu ayahmu sudah berhasil
mendapatkan kitab Kiam-keng, sebagai seorang pendekar
yang mengutamakan budi, dalam perkiraan Kiu-im kaucu jika
ia gunakan siksaan yang keji untuk menyiksa Giok-teng hujin,
maka bila ayahmu bertekuk lutut..."
"Aaaah, sekarang, aku sudah paham" tiba-tiba Hoa In-liong
berseru lantang, "tentunya ayahmu tak sudi menyerahkan
pedang baja itu, maka Giok-teng hujin mendendam persoalan
itu dalam hati kecilnya karena..."
siapa tahu Pek siau thian gelengkan kepalanya sambil
menukas:
" Keliru, keliru besar? Giok-teng hujin bukan perempuan
biasa, cinta kasihnya terhadap ayahmu boleh diibaratkan

185
tingginya langit dan tebalnya bumi, ia rela menderita siksaan
yang lebih hebat sepuluh kali lipat lagi daripada menyaksikan
ayah mu terhina dan tercela namanya"
Hoa In- liong jadi tertegun.
"Aaah... kalau memang begitu, kebanyakan "otak" dari
pembunuhan berdarah itu adalah Kiu-im kaucu"
Pek siau-thian mengerutkan dahinya.
" Liong-ji, untuk menyelidiki siapakah otak dari
pembunuhan berdarah ini, kau tak boleh memecahkannya
berdasarkan dugaan, dengarkan dahulu penjelasanku lebih
jauh"
sekali lagi Hoa In- liong tertegun- dengan wajah
tercengang bercamcur curiga dia amati kakeknya.
setelah menghela nafas panjang, Pek siau-thian berkata
lebih jauh:
"Menurut keterangan dari Cu-in Taysu, sebelum seseorang
menjalankan siksaan api dingin melelehkan sukma, maka
diulas dada sang korban akan ditaburi dulu dengan sejenis
racun yang dinamakan Miat- ciat- im- leng (bubuk phospor
pelenyap keturunan) , kemudian dengan menggunakan
Jilid 06
SEBUAH lentera Lian-hun-teng (lentera peleleh sukma)
yang khusus terbuat dari hawa racun katak paru. racun
phospor itu akan dihisap sedetik demi sedetik, setelah
menjalankan siksaan terbakar perlahan-lahan selama tujuh
hari tujuh malam sang korban akan mati karena hawa racun
menyerang jantungnya, Liong-ji coba bayangkan, sebelum
mati orang yang tersiksa akan mengalami penderitaan yang
amat hebat, betapa kejam dan ngerinya keadaan tersebut ?"
Hoa In- liong membungkam dalam seribu bahasa, hawa
gusar dan jengkel jelas tercermin diatas wajahnya.
Sekali lagi Pek Siau-thian menghela napas panjang, ujarnya
lebih jauh:

186
"Siksaan tersebut betul-betul amat keji dan tak
berperikemanusiaan, tentu saja ayahmu amat gusar setelah
menyaksikan kejadian itu, tapi berulangkali Glok-teng hujin
berpesan kepada ayahmu agar jangan mau tunduk pada
perintah orang, tak boleh mandah diperintah orang, kalau
tidak maka sekalipun ia bisa ditolong dalam keadaan hidup^
tapi dia akan bunuh diri, Liong-ji coba pikir lah betapa
bergolaknya perasaan ayahmu pada waktu itu.
Mendengar ucapan tersebut, mencorong sepasang mata
Hoa ln- liong sinar mata itu setajam sembilu dan mengerikan
sekali, melihat hal itu Pek Siau thian segera berseru: "Liong-ji.
dengarkan baik-baik, aku hendak membicarakan tentang soal
yang pokok"
Hoa- In- liong tersentak kaget ia segera menyahut:
" Katakanlah Gwa-kong, Liong-ji akan mendengarkan
dengan sungguh-sungguh...."
"Pada waktu itu ayahmu merasa hatinya remuk rendam,
dalam gusar bercampur emosi, ia berhasrat untuk membunuh
habis semua anak buah perkumpulan Kiu-im-kau, kemudian
akan beradu jiwa dengan Kiu-im-kaucu. Cu-in taysu yang
berhati welas jadi kasihan dan tak tega, ia tak ingin
menyaksikan anak buah perkumpulan Kiu im kau
bergelimpangan menjadi mayat maka cepat ia perintah
ayahmu untuk memusatkan pikiran dan tenangkan hati
padahal ayahmu sedang emosi dan diliputi kemarahan, dia
pun tak berani membangkang perintah angkatan yang lebih
tua, seperti harimau terluka ia lantas berteriak keras: "Taysu
berwelas kasih, boanpwe menanggung benci"
sampai disini ia berhenti sebentar, ditatapnya Hoa In- liong
lekat-lekat kemudian melanjutkan:
" Liong-ji tahukah engkau kata " benci" itu bagaimana
mungkin bisa diucapkan keluar?" Hoa In- liong memutar biji
matanya lalu menjawab:
"Tentu saja patut dibenci." Kiu-im kaucu mengancam
dengan menyandera orang, sedang ayah harus menolong
orang terlepas dari siksaan, namun ia tak dapat membalas

187
cinta kasih Giok teng hujin tak dapat pula menukar sandera
dengan kiam-keng sekalipun membunuh orang mengadu
jiwapun tak dapat menolong keadaan tersebut, sebaliknya
orangnya harus ditolong, dalam keadaan begini tentu saja ia
merasa benci sekali"
"Jadi kalau begitu, kau juga memiliki perasaan yang sama
seperti ayahmu tempo dulu?" selidik Pek siau-thian.
Dengan terus terang dan blak-blakan Hoa In- liong
menjawab:
"setelah menerima setitik budi kebaikan dari orang,
sepantasnya membayar budi itu dengan cara apapun, bila
liong-ji yang menghadapi peristiwa itu, mungkin rasa benci
Liong-ji berlipat kali akan lebih hebat daripada ayahku" Pek
siau-thian menghela napas panjang.
"Aaai....meski manusia mempunyai perasaan yang sama
dan perasaan yang sama disadari oleh alasan yang sama, tapi
toh belum tentu diterima oleh masyarakat luas sebagai
tindakan yang benar."
Tiba-tiba paras mukanya jadi serius, dengan keren
sambungnya lebih lanjut:
"Liong-ji, tentunya pada saat ini kau sudah memahami
bukan apa sebabnya ibumu mengukir huruf " benci" diatas
telapak tanganmu?" Hoa In- liong mengerutkan dahinya, lalu
bertanya keheranan: " Kenapa? Masa huruf " benci" itu timbul
lantaran ayah?"
Telapak tangan kirinya direntangkan lebar-lebar lalu
diamatinya huruf "benci" itu sekali demi sekali, tapi makin
dilihat ia merasa semakin bingung dan tidak mengerti, ia
benar-benar tak berbasil menemukan jawaban yang
menunjukkan bahwa huruf "benci" yang berwarna biru tua ini
mempunyai hubungan yang erat dengan perbuatan ayahnya
dimasa lampau.
Ketika Pek-siau-thian melihat anak muia itu masih juga
bingung dan tak habis mengerti, ia lantas menghela napas
panjang.

188
"Aaaa pada hakekatnya huruf " benci" yang dialami ayahmu
dimasa silam timbul lantaran cinta, Andaikata Giok-teng hujin
tidak menaruh rasa cinta, ia tak akan begitu sayang dan
membantu ayahmu, dan iapun tak akan bersedia menerima
siksaan, daripada menyaksikan ayahmu harus tunduk pada
perintah orang dan mendapat penghinaan, sebaliknya ayahmu
jika tidak menaruh rasa cinta pada Giok-teng- hujin, sekalipun
demi keadilan dan kebenaran, kegusaran dan kepedihan
hatinya tak akan mencapai pada puncaknya, diapun tak akan
mencari orang untuk mengadu jiwa, dan ketika didesak
sampai posisi apa boleh buat diapun tak akan mengucapkan
kata-kata " menanggung benci", dari sini dapat ditarik
kesimpulan bahwa cinta antara muda mudi, kadang kala
mudah mendatangkan kerepotan dan kesulitan bagi diri
sendiri"
Hoa In-liong mengedip2kan matanya, dengan sikap
setengah mengerti setengah tidak, ia mengerutkan dahinya.
"Liong-ji apakah kau belum juga mengerti?" tiba-tiba Pek
siau-thian bertanya lagi dengan wajah serius " nenekmu
memaksa ibumu untuk mengukir huruf " benci" diatas telapak
tanganmu, lantaran dia tahu bahwa kau terlampau romantis,
sejak kecil suka main perempuan dan bertukar pacar maka
dengan ukiran tersebut ia berharap agar engkau bisa mawas
diri dan menjaga diri baik-baik sehingga tidak ikut terjerumus
seperti apa yang pernah dialami ayahmu dimasa lalu, sebab
kalau sampai terjerumus dalam kesulitan, saat itu mau
menyesalpun sudah tak berguna"
Berhubung masalahnya menyangkut tentang kegemaran
jeleknya, Hoa ln- liong merasa pipinya jadi merah padam
karena jengah, serunya terbata-bata. "Tentang soal
ini....tentang soal ini..."
"Tak usah ini itu lagi" tukas Pek Siau thian sambil ulapkan
tangannya, " nenekmu berwatak keras dan sangat disiplin, ia
tak ingin menyaksikan engkau mengalami kejadian seperti
yang dialami ayahmu namun merasa tidak leluasa untuk
memberitahukan kejadian ayahmu dimasa lampau, oleh sebab

189
itu ia mengukir huruf " benci" diatas telapak tanganmu itu,
apa tujuannya sekalipun tak usah diterangkan sudahlah jelas.
Bila engkau tak dapat meresapi harapan dari orang tuamu
dengan merubah kebiasaan busukmu, maka sia-sialah engkau
hidup sebagai putra manusia, engkau akan dicap sebagai anak
yang tidak berbakti"
"Gwa-kong, apakah engkau orang tua juga mempunyai
pandangan yang sama seperti nenek?" tanya Hoa In liong
ketakutan-Pek siau thian tersenyum.
"Mengharapkan engkau jadi naga diantara manusia adalah
harapan kita semua, tentu saja Gwakong maupun nenekmu
mempunyai pendapat serta pandangan yang sama"
Hoa In liong membungkam dan tak bisa berbicara lagi,
dengan dahi berkerut dia tundukkan kepalanya rendahrendah.
Bagi Pek siau thianpun, sebenarnya persoalan ini memang
sangat mengena dihatinya. ketika ia kurang akur dengan
istrinya tempo dulu, sampai manakah rasa rindunya terhadap
Kho-Hong-bwe boleh dibilang hanya dia seorang yang tahu,
kemudian putri bungsunya Pek-Kun-gi mencintai Hoa-Thianhong.
sebelum berhasil menjadi istrinya yang kedua, banyak
penderitaan dan siksaan yang harus dialaminya, meski hanya
putrinya namun kejadian itu seakan-akan dia sendiri yang
mengalami, kemudian diapun pernah mendengar tentang
kasih cinta Hoa-Thian-hong dengan Giok-teng hujin-
Ia beranggapan bahwa semua peristiwa itu bisa terjadi
lantaran gara-gara soal " cinta", maka setelah sekarang ia
saksikan cucunya yang binal dan romantis ternyata membawa
huruf " benci" diatas telapak tangannya, otomatis diapun
dapat menebak maksud hati Bun-Taykun, tentu saja dia
sendiripun berharap agar cucunya jadi naga diantara manusia,
maka menumpang kesempatan ini dia lantas memperingatkan
pemuda itu agar merubah wataknya yang jelek sehingga
jangan sampai mengalami peristiwa pula yang menyangkut
soal " kebencian".

190
Bagaimana dengan Hoa In liong sendiri? Ia tundukkan
kepalanya sambil termenung, sementara dalam hati berpikir:
"Benar demikian? Benahkah begitu artinya.."
Tatkala dilihatnya sianak muda itu termenung seperti
menemui kesulitan, timbul kembali perasaan sayang dihati Pek
siau-thian, kembali ia berkata:
"Liong-ji, engkau tak usah bmyak berpikir lagi pokoknya
baik gwa-kong, maupun ibumu dan nenekmu semuanya
berharap agar engkau selamat dari bencana, selamat dari
penderitaan dan selalu aman sentausa, asal engkau tahu
bahwa "benci" tumbuh karena "cinta" dan bersikap waspada
serta mawas diri, itu sudah lebih dari cukup," Tiba-tiba Hoa
In- liong menengadah, lalu ujarnya dengan dahi berkerut:
" Gwa-kong, aku lihat belum tentu demikian maksudnya"
Pek siau-thian agak terkejut, ia lantas berpikir:
"Ada apa ini? Masakan ucapanku sepatah kata pun tak
dapat ditangkap olehnya?" Mesti kaget ia bertanya juga.
"Lalu bagaimana menurut pendapatmu?"
"Aku rasa huruf " benci" ini, kemungkinan besar ada
sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah ini" kata Hoa lnliong
sambil mempertajam ujung bibirnya.
Ia membuka kembali telapak tangannya, lalu
memperlihatkan huruf itu dihadapan Pek siau-thian, kemudian
ujarnya lebih jauh:
"Tentu saja dibalik kesemuanya itu baik ibu maupun nenek
juga bermaksud agar Liong-ji selalu mawas diri dan merubah
sedikit perangai yang jelek, tapi setelah Liong-ji pikir lebih
jauh liong-ji rasa persoalannya belum tentu sesederhana itu"
"oooh iya? Bagaimana tidak sederhana itu?" seru Pek siauthian
tercengang, sepasang mata yang tajam mencorong
keluar dari balik matanya itu.
"Menurut dugaanku kemungkinan besar anak buah
perkumpulan Kiu-im kau sebagian besar adalah kaum
perempuan?"
"Kalau perempuan lantas bagaimana?" Pek siau thian balik
bertanya dengan dahi berkerut.

191
" Cukup banyak kejadian yang telah berlangsung misalnya
saja kaburnya Yu-beng tiamcu secara diam-diam untuk
menikah dengan suma siok-ya, kemudian rasa cinta kasih
Giok-teng hujin terhadap ayah yang dibelainya mati-matian..."
"Kurang ajar, tidak tahu aturan masa urusan orang yang
lebih tuapun boleh kau bicarakan seenaknya?" tukas Pek siauthian
sambil membentak dengan wajah serius.
"Liong-ji bukan tidak menaruh hormat terhadap angkatan
yang lebih tua, Liong-ji hanya membahas menurut kejadian
yang sebenarnya." kata Hoa In- liong dengan alis mata
berkenyit.
Melihat gerak gerik kebocahannya masih melekat ditubuh
cucunya, Pek-siau-thian tak tega untuk menegur lebih jauh,
dalam keadaan apa boleh buat terpaksa dia ulapkan
tangannya sambil membentak:
"Kalau begitu bicarakan secara singkatnya saja. tak usah
diputar balikkan lebih jauh lagi...."
"Yaa gwa-kong" sahut Hoa- In- liong, "kalau toh anak buah
perkumpulan Kiu-im-kau lebih banyak perempuannya,
sedangkan Liong-ji bertanggung jawab untuk menyelidiki latar
belakang pembunuhan berdarah ini, pastilah nenek dan ibu
kuatir kalau aku sampai terjerumus pula dalam jaring cinta
sehingga membuat persoalan antara "cinta" dan "dendam" tak
bisa dipisah pisahan, sedang merekapun. tak dapat
menyelesaikan masalah ini sebagaimana mestinya, maka
nenek lantas mengukir sebuah huruf "benci" pada telapak
tangan Liong-ji dengan maksud agar Liong-ji melalu mawas
diri dan waspada" Ia tertawa sebentar lalu meneruskan.
"Padahal bicara yang sesungguhnya tindakan tersebut
sebetulnya terlalu berlebihan meskipun Liong-ji tak tega
melukai hati perempuan, toh tak sampai keblinger tanpa
membedakan mana yang benar dan mana yang salahpun tak
mampu"
Mendengar ucapan cucunya ini seketika Pek siau-thian
merasa murung, diapun merasa cukup girang, karena Hoa Inliong
disamping dia menerima peringatan dan nasehatnya,

192
malahan pengertiannya atas masalah yang pelik itu setingkat
lebih mendalam daripada pemecahan menurut jalan
pikirannya, ini menunjukan bahwa hatinya lebih halus
pikirannya lebih teliti dan sikapnya lebih waspada daripada diri
sendiri, dengan bekal itu tak nanti ia akan menderita kerugian
selama melakukan perjalanan dalam dunia persilatan.
sebaliknya dia murung karena dilihatnya Hoa In- liong tak
dapat melepaskan kegemarannya untuk bermain perempuan,
dari sini dapat diketahui bahwa soal cinta ia sudah terlampau
mendalam dan entah sampai kapan baru bisa bertobat.
sebab itu dengan wajah keren dan pura-pura, tak senang
hati bekas ketua dari perkumpulan sin-kipang ini berkata:
"Berapa besar toh usiamu sekarang? Berani benar
mengatakan bahwa soal cinta dan dendam bisa kau bedakan
dengan jelas? HmmBila kau anggap sepi maksud hati dari
kaum angkatan tua bukankah itu berarti bahwa engkau telah
menganggap perkataanku tadi sebagai angin berlalu belaka?"
"Liong-ji tak berani berpikiran demikian, Liong ji masih
cukup tahu diri" sahut Hoa In- liong cepat, " Gwa-kong, coba
analisalah, benarkah perkumpulan Hian-beng-kau yang
membuat keonaran sekarang benar-benar adalah jelmaan dari
perkumpulan Kiu-im kau dimasa lalu?"
Tak dapat diragukan lagi bahwa semua perhatian dan
tenaganya telah dicurahkan untuk memecahkan misteri
terbunuhnya suma Tiang- cing, tapi bagi pendengaran Pek
siau-thian, tak lebih sama artinya bahwa pemuda itu sengaja
mengalihkan pembicaraan kesoal lain sehingga telinganya tak
sampai " dikoreki" lebih lanjut.
Dengan perasaan apa boleh buat dia gelengkan kepalanya
berulang kali sambil menggerutu:
"Aaaaai..,. Kau bocah ini..."
"Gwa-kong tak usah kuatir" sela si anak muda itu dengan
cepat, "perkataan kau orang tua akan kuingat selalu dalam
hati, tapi dewasa ini masalah yang terpenting adalah
bagaimana menemukan sipembunuh itu, bila kau orang tua
tahu harap beritahukan kepada Liong-ji"

193
Jelas sekali ucapan tersebut, bahwa ia sudah tak sabar lagi
untuk mendengarkan persoalan lain yang tetek bengek.
Pak siau-thian amat memanjakan cucunya, ia ada maksud
memberi teguran tapi tak tega akhirnya sambil menghela
napas ia berpikir:
"Bukit dan sungai gampang dirubah, tapi watak manusia
sukar dirubah, bocah ini terlampau acuh tak acuh, agaknya
sebelum merasakan sedikit penderitaan ia tak akan kapok"
setelah mengetahui bahwa banyak bicara tak ada gunanya,
diapun pasrah, katanya kemudian-
"Aku sendiripun, kurang begitu jelas, antara Kiu-im Hianbeng
meski beda tulisannya namun mempunyai arti yang tak
jauh berbeda semestinya mempunyai hubungan yang erat"
"Liong-ji sendiripun berpendapat demikian" kata Hoa Inliong
pula sambil menyahut. "Gwa kong Apakah engkau tahu,
di manakah Kiu-im kau mendirikan markas besarnya dimasa
lalu?"
Pek siau-thian berpikir sebentar, lalu menjawab:
"Lima puluh tahun berselang, perkumpulan Kiu-im kau tak
dapat menancapkan diri dalam dunia persilatan dan terdesak
untuk mengasingkan diri, mereka baru muncul kembali dalam
dunia persilatan setelah terjadinya pertarungan sengit di selat
ou-bu-kok, anak buah mereka sangat banyak dan terutama
menguasahi ilmu berperang dalam perahu. Sejak pembagian
harta karun di- bukit Kiu-ci-san, ayahmu mendapat sanjungan
dan dukungan dari segenap umat persilatan yang kemudian
diangkat menjadi Bu-lim bengcu, sejak itu pula Kiu-im kau
jauh mengasingkan diri dari keramaian dan tak kedengaran
kabar beritanya lagi, jadi di manakah mereka mendirikan
markas besarnya, boleh dibilang tak seorangpun yang
mengatahuinya" Hoa In- liong mengerutkan dahinya.
"Pandai sekali mengemudikan perahu dan berperang diatas
air? Itu berarti mereka mengasingkan diri disebelah selatan"
katanya.
"Benar Benar" sahut Pek Siau-thian cepat, "Suma siok-ya
mu memang berjumpa dengan siok-cubo mu disebelah

194
selatan, aku pikir tentu mereka mengasingkan diri pula
disebelah selatan"
Hoa In- liong menganggukkan kepalanya berulang kali,
sesudah termenung sebentar tiba-tiba ia bertanya lagi:
"Gwa-kong, sepeninggal dari kota Lok-yang ini, engkau
bermaksud akan pergi ke mana?" Pek Siau-thian tertegun, lalu
menjawab:
"Aku tak pernah terikat oleh pikiranku, kemana akan pergi
disitu aku tuju, sebetulnya aku ada keinginan untuk
berkunjung ke bukit Im-tiong-san dan menjenguk kalian
semua. Ada apa? Apakah engkau suruh Gwa-kong menemani
engkau berkunjung kewilayah Kang- lam?"
Dengan cepat Hoa In- liong gelengkan kepalanya.
"Aku tak berani merepotkan gwa-kong" sahut nya, " lebih
baik engkau menyambangi ibu saja setelah berjumpa dengan
ibu tolong gwa-kong mewakili Liong-ji untuk menyampaikan
salam kepadanya, bukanlah bahwa Liong-ji tahu akan mawas
diri dan sekarang telah berkunjung ke wilayah selatan..."
"Berkunjung kesitupun boleh-boleh saja, cuma benarkah
engkau akan menuju keselatan?" tanya Pek siau-thian, alis
matanya yang memutih tampak berkenyit.
" Kalau toh suma siok-cubo adalah Yu-beng Tiancu dari
perkumpulan Kiu-im- kau yang kabur secara diam-diam maka
besar kemungkinan peristiwa berdarah ini ada sangkut
pautnya dengan Kiu-im kau cu, dan sama sekali tak ada
hubungannya dengan Giok-teng hujin-Lagipula antara kata
Kiu-im dan Hian-beng toh mempunyai maksud yang sama?
Liong-ji bertekal untuk mengunjungi Kang lam dan baik atau
buruk persoalan ini harus kuselidiki sampai jelas."
Tahun ini Pek siau-thian sudah berusia lanjut, kegagahan
dan ambisi besarnya sudah hampir boleh dibilang lenyap tak
membekas, ia jadi kuatir sekali setelah mengetahui bahwa
Hoa In- liong akan berkunjung kewilayah Kang lam, tapi
bagaimanapun juga dia adalah seorang bekas ketua
perkumpulan besar yang pernah menguasahi separuh jagad,

195
walaupun tidak lega hatinya namun diapun tidak mencegah
niat anak muda itu.
setelah berpikir sebentar diapun menjawab:
"Baiklah,sesampainya dibukit Im-tiong-san, aku akan suruh
anak see datang membantu dirimu" Mendengar perkataan itu,
Hoa- In- liong segera goyangkan tangannya berulang kali.
"Jangan...jangan...jangan sekali-kali gwa-kong suruh toako
meninggalkan rumah."
"Eeeh....... kamu ini kenapa tak tahu berat entengnya
urusan?" omel Pek-siau-thian serius, "menurut keteranganmu
sendiri, katanya dunia persilatan sudah berada diambang pintu
kekacauan, hawa pembunuhan mengincar dari segala penjuru
tempat dan kematian suma-siok-ya mu tak lebih cuma
permulaan dari kekacauan ini, padahal engkau toh tahu bahwa
tenaga kekuatanmu seorang sangat terbatas, dari mana kau
bisa memikul tugas seberat ini...."
"Gwa-kong, kau tak usah berbicara lagi" Hoa In- liong
cepat menukas, "bayangkanlah bagaimana keadaan gwa-kong
dimasa lalu? Bagaimana pula dengan ayah? sekarang Liong-ji
telah dewasa, sepantasnya kalau dia kuhadapi sendiri masalah
itu dengan segala kemampuan yang kumiliki."
"Ngaco belo" bentak Pek siau-tian- "masa kau tidak tahu
kalau gwa-kong mu mengalami kekalahan total yang sangat
mengenaskan? sekalipun ayahmu berjiwa keras dan gagah
perkasa, itupun karena ditunjang oleh nenekmu, sebaliknya
kau masih muda tapi sikapmu terlalu sok hebat dan jumawa."
sebelum engkongnya menyelesaikan kata-kata itu, Hoa Inliong
telah menukas kembali:
"Gwa-kong, mengapa kau bisa mengalami kekalahan total?
Liong-ji adalah seorang laki-laki sejati, bila ayah bisa
melakukan segala sesuatunya itu dengan baik, mengapa
Liong-ji tak dapat melakukannya?"
selama berada dirumah, baik terhadap nenek. maupun
terhadap ayahnya, Hoa In- liong tak berani membantah
barang sekejappun, hanya terhadap Pek siau-thian yang
memanjakannya semenjak kecil ia berani membantah tanpa

196
meninggalkan batas-batas kesopanan, sebaliknya Pek siauthian
yang amat menyayangi cucunya tak bisa berbuat lain
kecuali meringis.
Demikianlah, ketika Hoa In-liong menyelesaikan katakatanya,
Pek siau-thian benar-benar dibikin mati kutunya, dia
hanya bisa meringis sambil meneguk habis isi cawannya,
kemudian mengomel:
"Kurang ajar? Betul-betul kurang ajar, makin hari kau si
bocah nakal berkembang makin tak- karuan, baiklah Aku tak
akan mengurusi dirimu-lagi, sesampainya dirumah pasti akan
kuceritakan semua yang kulihat dan kudengar kepada
ayahmu" Meskipun geli dihati, diluaran anak muda itu berkata
pula:
"Akupun tak mau ambil perduli, pokoknya aku tidak akan
membiarkan gwa-kong untuk berbicara"
" Kalau begitu kuberitahukan kepada nenekmu-?" seru Pek
siau-thian sambil memukul-meja " Kalau- nenek lantas- kena
...."
Mendadak anak muda itu merasa bahwa perkataannya
kurang, sopan, seketika itu juga ia membungkam dan
memandang kakeknya dengan- wajah termangu- mangu.
Pek siau-thian sendiri, sewaktu dilihatnya bocah itu
tertegun, ia mengira cucunya dibuat ketakutan oleh karenanya
sang nenek. dia jadi tak tega, setelah menghela nafas
panjang, dengan nada yang lebih halus ia berkata lagi:
"Liong-ji, dengarkan perkataanku, kalau benar bahwa dunia
persilatan telah diselimuti oleh hawa pembunuhan yang tebal,
lagipula mereka khusus memusuhi keluarga Hoa kalian, lebih
baik persoalan ini laporkan saja kepada ayah dan nenekmu
sebab bila sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang
terkena celaka bukan hanya keluarga Hoa saja melainkan
segenap umat persilatan didunia ini, sekalipun engkau gagah
dan berjiwa ksatria, tidak seharusnya memandang enteng
masalah yang menyangkut keselamatan dan kepentingan
orang banyak ..."

197
Ketika Hoa In- liong mendengar bahwa nada suara gwakongnya
sudah jauh lebih lunak, buru-buru diapun berkata:
"Gwa-kong, dengarkan dulu penjelasanku, persoalan ini toh
baru merupakan berita sensasi yang Liong-ji dengar ditengah
jalan, bagaimanakah kejadian yang sesungguhnya sampai
sekarang masih merupakan tanda tanya besar, yaa kalau
kenyataannya begitu, seandainya kemudian terjadi jauh
menyimpang dari keadaan tersebut, padahal gwa-kong sudah
memberi tahukan kepada ayah dan nenek. bukan saja Liong-ji
akan ditegur bahkan dicaci maki, engkau orang tua pun akan
di anggap orang sebagai manusia yang kurang teliti, bukankah
dosa Liong-ji akan semakin menumpuk-numpuk?"
setelah mendengar penjelasan itu, sekarang Pek siau-thian
malahan yang dibuat termangu. Kendati ia tahu bahwa alasan
itu sengaja dibuat-buat oleh Hoa In- liong, tapi bila dipikirkan
kembali memang ada benarnya juga, sebab itu jago tua ini
jadi terbungkam dan tak sanggup membantah lagi. setelah
berhenti sebentar, Hoa ln- liong berkata lagi.
"Lagipula, sekalipun Liong-ji gegabah dan tak tahu
keadaan, rasanya tak sampai kalau Liong-ji menjadi seorang
manusia yang tak tahu diri, sampai waktunya bila benar-benar
terjadi peristiwa seperti itu, tentu saja dengan segala daya
upaya Liong-ji akan memohon bala bantuan, tak nanti Liong-ji
biarkan bibit itu berkembang jadi semakin besar sehingga
merugikan umat persilatan pada umumnya dan keluarga Hoa
pada khususnya, Gwa-kong yang baik, turutilah kehendak
Liong-ji- mu Dapatkah Liong-ji menanggulangi masalah ini
seorang diri, sudilah kiranya gwa kong memberi kesempatan
kepadaku agar Liong-ji dapat mencoba dan membuktikan
kemampuanku"
Hoa in liong memang pandai merayu, mula-mula ia
memberikan penjelasan menurut suara hatinya, menyusul
kemudian memohon dengan setengah merengek-rengek
seperti anak kecil, tentu saja Pek-siau-thian tak dapat berkutik
lagi, terpaksa dia berpikir:

198
"Walaupun bocah ini berambisi besar, tapi maklumlah kalau
anak muda bercita-cita tinggi kalau tidak demikian tentu dia
akan tenggelam dan tak bisa bangkit lagi. Baiklah Lebih baik
kuperingatkan saja dirinya kemudian biarkan ia pergi, siapa
tahu dengan andalkan kecerdikan serta kehebatannya, ia
malahan bisa mendapat nama dalam dunia persilatan?"
Berpikir sampai disini, akhirnya dengan pura-pura berlagak
kehabisan akal diapun menyahut:
"Baiklah untuk sementara waktu boleh saja kalau tak ingin
kulaparkan kepada nenek dan ayah mu, tapi engkaupun harus
menuruti beberapa patah kataku" Diam-diam Hoa In-liong
merasa amat girang, cepat sahutnya:
"Tentu saja gwa-kong yang baik, pesan gwa-kong pasti
akan Liong-ji perhatikan baik-baik"
serius air muka Pek siau-thian, katanya dengan nada
bersungguh-sungguh:
"Pertama, engkau harus menghilangkan kebiasaanmu yang
suka mengunggulkan diri dan meninggikan derajat sendiri
Ketahuilah dalam dunia persilatan banyak terdapat jago-jago
yang berilmu tinggi, dengan kepandaian yang kau miliki
sekarang sebetulnya belum terhitung seberapa bila
dibandingkan dengan mereka"
"Yaa gwa-kong Liong-ji pasti akan mengingat selalu
peringatan ini, lain kali Liong-ji tentu tak berani
mengunggulkan diri lagi" sahut Hoa- In-liong sambil
anggukkan kepalanya berulang kali. Pek siau-thian berkata
lebih jauh:
" Kedua, sebagai seorang manusia yang jujur, engkau
harus mengutamakan keberhasilan di kemudian hari, jangan
berlagak sok pintar, apalagi menggunakan akal dan tipu
muslihat busuk untuk mencari keuntungan disaat itu. Tentang
soal ini gwa-kong dan ayahmu adalah contoh yang paling jelas
engkau harus mengguruinya baik-baik"
"Yaa gwa-kong. "jawab Hoa In-liong dengan hormat,
"Liong-ji pasti akan mengutamakan kemantapan sebelum

199
melakukan perubahan lain dalam menghadapi setiap
persoalan"
Ketiga ibumu hanya melahirkan kau seorang, perduli dalam
keadaan bahaya macam apapun engkau harus mengingat
selalu akan ibumu, jangan bertindak terlalu gegabah sehingga
mendatangkan kepedihan dan kemurungan bagi ibumu"
"Liong-ji akan mengingatnya selalu."
"Bagus." seru Pek siau-thian, tiba-tiba ia bangkit berdiri,
"aku rasa banyak bicara tak ada gunanya asal ketiga hal itu
bisa kau perhatikan dan laksanakan dengan sebaik-baiknya,
aku rasa itu sudah lebih dari cukup, Terutama dalam hal yang
ke tiga, asal tiap perbuatanmu tak sampai melupakan orang
tua, berarti engkau berbakti kepada orang tuamu, dan
ketahuilah menteri yang jujur adalah anak yang berbakti, Nah,
aku akan segera berangkat engkau harus baik-baik menjaga
diri."
Hoa In- liong merasa terperanjat, sekarang ia baru
merasakan bahwa melakukan perbuatan tanpa melupakan
orang tua meski gampang diucapkan namun susah untuk
dilaksanakan, ketika dilihatnya Pek siau-thian sudah keluar
pintu, tanpa berpikir panjang lagi ia menyusul dari
belakangnya seraya bertanya: "Malam sudah larut, Gwa-kong
akan pergi ke mana?"
"Aku akan berkunjung kekuil Pek ma-si, setelah mengatur
layon dari Suma Tiang- cing suami istri aku akan langsung
menuju bukit Im-tiong-san- Engkau pun segera berangkatlah
Kalau toh sudah mengambil keputusan untuk berangkat
keselatan, lebih baik segera lanjutkan perjalanan, tak usah
membuang waktu lagi di kota Lok- yang ini."
Berulang kali Hoa In-liong mengiakan, dia mengantar Pek
siau thian sampai dipintu depan, kemudian setelah berpisah
baru kembali kekamarnya untuk beristirahat.
Keesokan harinya, selesai membereskan rekening
berangkatlah Hoa- In- liong menuju selatan dengan melalui
lam- yang dan menyeberangi wilayah Keng ou.

200
sepanjang perjalanan tidak terjadi suatu kejadian penting,
suatu senja akhirnya sampailah pemuda itu di Keng-bun.
Tiba-tiba ia mendengar suara derap kaki kuda yang sangat
ramai berkumandang dari belakang, sewaktu ia berpaling
tampaklah debu mengepul setinggi langit, delapan sembilan
ekor kuda dengan membawa penumpangnya berpakaian
ringkas semua bergerak dengan cepatnya mendekat ke
arahnya, dalam waktu singkat mereka sudah tiba dibela kang
tubuhnya.
Anak muda ini masih ingat dengan pesan ibunya, ia tak
ingin menimbulkan banyak urusan, maka tali les kudanya
ditarik dan menjalankan kuda nya ketepi jalan.
Ketika rombongan itu sudah lewat dan Hoa- In liong
berhasil menyaksikan warna pakaian yang di kenakan orangorang
itu, mendadak hatinya terperanjat, ia lantas berpikir:
"Sungguh aneh Beberapa orang ini semuanya berbaju
ungu, menyoreng pedang dari berusia sebaya, lagi pula
mengenakan mantel berwarna hijau pupus, jangan-jangan
mereka berasal satu rombongan dengan ciu Hoa?"
Berhubung debu beterbangan dengan tebalnya menyelimuti
angkasa, dia tidak berhasil melihat jelas tampang dari
beberapa orang itu.
sebagaimana telah diketahui, Ciu Hoa mengakui dirinya
sebagai otak dari pembunuhan berdarah atas keluarga suma,
lagipula diapun murid tertua- dari Hian-beng kaucu, setelah
timbul kecurigaannya, tentu saja anak muda itu tak sudi
melepaskan sasarannya dengan begitu saja.
Kudanya lantas dicemplak dan menguntit di dibelakang
beberapa kuda itu dari kejauhan, sebentar kemudian mereka
sudah memasuki pintu barat kota Keng-bunsetelah
masuk pintu kota, beberapa orang itu masih juga
menghentak kudanya dengan kencang, mereka tak ambil
perduli apakah jalan raya itu ramai dengan manusia yang
berlalu lalang atau tidak, sesaat kemudian tampaklah banyak
penduduk yang kabur pontang panting untuk menyelamatkan
diri dari tubrukanTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
201
Menyaksikan kesemuanya itu, timbul perasaan antipati
dihati Hoa In-liong diam-diam ia menyumpah dihati:
"Sialan benar orang-orang itu, mereka bukan anak buah
perkumpulan Hian-beng-kiau, dengan perbuatan mereka yang
semena-mena itu aku Hoa leji patut memberi pendidikan
kepadanya, kalau tidak begini, bukankah rakyat kecil akan
sengsara sepanjang tahun?"
sementara ia masih menyumpah, rombongan itu sudah tiba
didepan sebuah rumah yang megah dan mentereng, orang
yang bermantel hijau pupus tadi lantas melongok sekejap
kedalam ruang penginapan itu kemudian sambil melompat
turun dari atas pelana teriaknya lantang:
"Aaaah, dia benar-benar ada disini."
Dengan langkah lebar orang itu lantas berjalan masuk
kedalam ruang penginapan.
Melihat pemimpinnya sudah masuk orang-orang yang
lainpun segera turun dari kudanya dan menyusul dari
belakang.
Tatkala Hoa In- liong mengejar sampai didepan pintu, ia
temukan sebuah kereta kuda yang megah dan mewah diparkir
dibalik pekarangan rumah penginapan itu, kereta tersebut
berdinding kuning mas kecil mungil tapi mentereng, sudah
jelas merupakan kendaraan dari kaum wanita, pada waktu itu
orang pelayan sedang mengurusi kuda-kuda yang tertinggal di
depan pintu, sedangkan manusia bermantel hijau pupus
beserta rombongannya sudah tak kelihatan lagi.
sementara, sianak muda itu menjadi termangu- mangu,
seorang pelayan munculkan diri dan menyambut dan berkata:
"Kongcu-ya mau menginap dalam rumah penginapan kami
paling bersih, paling megah dan pelayanan paling memuaskan
dalam kota Keng-bun sukar untuk menemukan keduanya" Hoa
In-liong tidak segera menjawab, dalam hati-pikirnya:
"Ditinjau dari gerak gerik mereka tampaknya orang-orang
itu tidak bermaksud baik, agaknya mereka sedang mengincar
pemilik kereta- kuda ini, lain cerita- kalau aku tidak
menjumpainya, sekarang setelah masalah ini kutemui,

202
bagaimanapun juga tidak akan kubiarkan mereka untuk
bertingkah semaunya sendiri"
Karena berpendapat demikian, dia pun mengangguk dan
melompat turun dari atas punggung kudanya.
"Rawat kudaku ini baik-baik, besar ongkos nya dihitung
dalam rekening besok" serunya berlagak royal.
Dengan kebiasaannya dilayani banyak orang, pemuda ini
memang memiliki potongan sebagai keturunan orang besar
atau bangsawan, gagah dan mentereng, ini membuat para
pelayan mengira kalau mereka telah kedatangan seorang "
cukong" kelas kakap. cepat mereka sambut tali les kudanya,
kemudian sambil munduk-munduk mengantar pemuda itu
masuk ruang tengah, katanya lagi dengan nada dibuat-buat:
"Heeehh... heeehhh... Kongcu-ya suka tempat yang ramai
ataukah tempat yang agak sepi? Kalau suka tempat yang sepi,
di ruang belakang sana ada kamar-kamar yang bersih,
sebalikya kalau suka tempat yang ramai di ruang tengah
terdapat kamar kelas satu, kamar termasuk air teh dan arak
sudah tersedia komplit, kongcu-ya...."
Agak bosan Hoa In-liong mendengar ocehan propaganda
dari pelayan itu, cepat dia ulapkan tangan nya sambil
menukas:
"Beberapa orang laki-laki berbaju ringkas tadi tinggal
disebelah mana??" Pelayan itu agak tertegun, lalu menyahut:
"Mereka berada dihalaman tengah, tapi belum memutuskan
mau menginap atau tidak, kongcu-ya..."
"Sedang pemilik kereta Kuda yang parkir didepan pintu itu?
Dia tinggal dimana?" Pelayan itu seperti orang yang baru
sadar, dia lantas berseru:
"ooooh.,..Jadi kongcu-ya satujalan dengan nona itu, ia
tinggal dihalaman tengah, hamba segera akan hantar kongcuya..."
"Kalau begitu aku akan tinggal diruang tengah persis
disebelah kamar nona itu" Kembali pelayan itu tertegun,
pikirnya dihati:

203
"Aneh benar kongcu-ya ini, kalau toh berasal dari satu
rombongan, kenapa musti menginap dikamar sebelah??"
Tiba-tiba terdengar seseorang menegur dengan suara yang
merdu dan halus seperti suara keleningan:
"siapa disana? siapa yang ingin menginap dikamar
sebelahku??"
Kiranya ruang sebelah depan dari rumah penginapan itu
adalah rumah makan, kedua belah sisi ruangan merupakah
ruangan-ruangan mungil yang ditutup dengan tirai horden,
waktu itu kebetulan Hoa In-liong sedang lewat di depan salah
satu ruangan, dan suara teguran yang merdu itu muncul
dibalik ruangan tirai tersebut.
Hoa In-liong yang romantis dan suka main perempuan,
kontan dibuat terkesima oleh suara teguran yang merdu dan
mengandung daya tarik yang hebat itu, ia merasa sekujur
tulangnya jadi kaku dan linu tak kuasa lagi dia berhenti
seranya menyahut dengan girang.
"Aku yang berdiam dikamar sebelah, cayhe.. cayhe.."
sebetulnya dia akan menyebutkan namanya, mendadak
timbul rasa was-wasnya, maka ucapan pun jadi gelagapan dan
untuk sesaat tak sanggup dilanjutkan lebih jauh.
Menyaksikan sikapnya yang serba konyol itu sang pelayan
cepat melengos sambil menahan rasa gelinya, sedangkan
nona di dalam ruanganpun ikut tertawa cekikikan seraya
berkata:
"Cayhe? siapakah cayhe.... in-ji, coba kau tengok keluar,
siapakah cayhe itu?"
Tirai disingkap orang menyusul seorang dayang cantik
berusia empat lima belas tahunan munculkan diri, setelah
memandang wajah In-liong sekejap ia lantas menyahut
dengan nyaring:
"Lapor siocia, dia adalah seorang kongcu yang masih
muda"
"oooh, seorang kongcu yang masih muda?" suara merdu itu
berkumandang lagi sambil tertawa cekikikan, "kalau begitu

204
suruh dia tak usah memesan kamar lagi, ruangan depan yang
kita pakai toh kosong dan tak ada orangnya. In-ji undang dia
segera masuk kedalam."
Keadaan yang terpapar didepan matanya sekarang
membuat Hoa-In-liong jadi tercengang dengan alis berkerut ia
berpikir:
"Siaucia dari manakah itu? Kenapa sikap dan perbuatannya
begitu-jalang ?"
Belum habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya,
budak yang bernama- In-ji telah berkata- lagi sambil
tersenyum:
"Kongcu, silahkan masuk Nona kami ada undangan-...,."
Timbul perasaan ingin tahu di hati Hoa- In liong, diapun
tidak ambil perduli kecengangan yang tertera di wajah pelayan
itu, setelah membereskan pakaiannya ia masuk ke dalam
ruangan seraya berkata:
"setelah diundang oleh siocia mu, tentu saja cayhe harus
memenuhinya, nona in-ji silahkan"
setelah masuk kedalam ruangan Hoa- In liong merasa
matanya jelalatan dan terasa lebih terang bahkan untuk
sesaat ia berdiri tertegun dengan mata terbelalak dan mulut
melongo.
Cantik nian dara yang berada dalam ruangan itu nona itu
mempunyai sepasang mata yang jeli, hidung yang mancung
dan bibir yang kecil mungil dari atas sampai ke bawah tidak
nampak cacad bahkan menyiarkan daya pesona yang amat
tebal ketika itu dengan senyum manis dikulum sedang
memandang kearahnya tanpa berkedip. meski belum
mencicipinya Hoa- In- liong sudah merasa terpikat dan hampir
mabok rasanya.
Nona cantik itu memandang sekejap kearah pemuda itu,
lalu sambil tersenyum katanya: "silahkan duduk"
seperti baru sadar dari lamunannya, Hoa In-liong segera
tertawa paksa sambil menyahut:
"silahkan duduk silahkan duduk"

205
Ia menarik sebuah kursi dan segera duduk.
Nona cantik itu mengerling kembali dengan genit,
kemudian sambil menutupi bibirnya ia berbisik:
"Aku merasa amat beruntung dan berbangga hati bisa
mendapat perhatian dan kasih sayang dari kong-cu, terimalah
penghormatanku ini"
Seraya berkata dia lantas bangkit memberi hormat.
Hoa In-liong ikut bangkit seraya menjura membalas
hormat, sahutnya:
"Kecantikan nona bak bidadari dari khayangan cayhe bisa
mendapat kesempatan untuk berkenalan dan minum arak
bersama, hal ini merupakan suatu keberuntungan pula bagiku"
Perempuan cantik itu tidak merendahkan diri-lagi, ia lantas
berpaling kearah In-ji seraya menegur:
"Eeeh, In-ji Kenapa melongo saja ? Hayo penuhi cawan
kongcu dengan arak."
Mendadak In-ji seperti sadar akan kesilafannya-sambil
tertawa cekikikan, ia menyahut:
"Kongcu ini terlampau tampan, in-ji sampai- ke semsem
rasanya dibuat..."
Ia mengambil poci arak dari atas meja, memenuhi cawan
dihadapan kedua orang itu, lalu melirik sekejap lagi kearah
wajah Hoa- In- liong.
Terhadap tingkah laku maupun perbuatan in-ji yang genit,
nona cantik itu sama sekali tidak melarang, bahkan seakanakan
tidak pernah dilihatnya sambil angkat cawan araknya dan
melirik lagi ke-arah pemuda itu ia memperkenalkan diri:
"Aku-she cia bernama In, terimalah penghormatan secawan
arak dari aku yang rendah" Sekali teguk dia lantas
menghabiskan isi cawan tersebut.
Hoa-In-liong pun angkat cawan sendiri dan meneguknya
sampai habis, kemudian berkata pula:
"cayhe-she she Pek, Pek dari kata Hek pek (hitam putih)
dan bernama Khi"
Meskipun ia sudah kesemsem, namun kewaspadaannya
masih tetap ada dan nama yang dilaparkan pun nama palsu.

206
Agaknya Cia-In mengira kalau pemuda itu jadi gugup
lantaran baru pertama kali bertemu dengan gadis, ia tidak
memikirkannya dihati, sambil tertawa katanya pula:
"Bila didengar dari logat kongcu agaknya engkau bukan
penduduk wilayah sini, apakah engkau sedang mengembara
sebagai seorang pendekar...?"
Hoa ln- liong sangat terperanjat, terutama setelah
mendengar kata-kata yang terakhir, kesadaran yang sudah
mulai terbuai oleh kecantikan wajah nona itu serta merta
menjadi sadar kembali, cepat sahutnya:
"Cayhe berasal dari wilayah Cing- pak, kebetulan aku lewat
diwilayah Kang-ouw karena bermaksud untuk berpesiar
kewilayah Kang- lam, sungguh tak disangka telah berjumpa
dengan nona, inilah yang dinamakan apa mau dikata kalau
sudah berjodoh, tak kenalpun akhirnya harus bertemu"
sekalipun jawabannya sudah lebih waspada dan hati-hati,
toh sifat romantisnya tak ketinggalan sehingga tanpa disadari
terutarakan juga dibalik-kata-kata itu.
sekilas rasa kaget dan tercengang menghiasi wajah Cia-In
setelah mendengar ucapan itu, tapi- hanya sebentar saja sikap
itu telah lenyap kembali, katanya kemudian sambil tertawa
getir:
"Aku yang rendah numpang tinggal dikota Kim-leng, baru
saja kami pulang diri sembahyang di bukit Go-bi. Kongcu Bila
kau bermaksud untuk berpesiar ke selatan, kita bisa
melakukan perjalanan bersama-sama, bila tidak menampik
akupun bisa untuk menjadi petunjuk jalan bagi kongcu"
Sementara itu Hoa ln- liong sudah dapat menguasai diri,
kewaspadaannya makin dipertingkat, tak kuasa lagi iapun
berpikir:
" Entah nona ini perawan dari keluarga mana? Dan siapa
dia yang sebenarnya? Kalau toh naik ke bukit Go-bi untuk
sembahyangan kenapa tak ada laki-laki yang mengiringi? Ia
bilang numpang tinggal dikota Kim-leng, lalu di manakah asal
tempat tinggal yang sebenarnya?"

207
sebelum pelbagai persoalan itu dapat dipecahkan, In-jisi
dayang itu sudah memenuhi cawannya kembali dengan arak.
kemudian berkata sambil tertawa:
" Kongcu- ya, hayo minum arak Kalau toh kita sudah
berjodoh dan ditakdirkan bertemu apa salahnya kalau
melanjutkan perjalanan bersama-sama, siapa tahu jodoh ini
makin lama semakin dalam? Kalau sikapmu masih sangsi
terus, bukankah itu berarti memandang asing diri kami? Harihari
esok masih panjang..."
setelah mendengar perkataan itu, meski rasa curiga
mencekam perasaannya dan d iapun merasa bahwa tingkah
laku dia orang itu terlampau aneh, toh anak muda ini tak
berhasrat untuk memikirkan lebih jauh.
Dia lantas mengangkat cawan arak sendiri dan berkata
sambil tertawa nyaring:
"Benar Ucapanmu memang benar Kalau masih sangsi dan
bertindak tanduk kaku. itu namanya memandang asing. Nona
Cia, kuhormati engkau dengan secawan arak" sekali teguk. Ia
menghabiskan isi cawannya.
Pemuda ini memang berlapang dada, kebiasaan nya yang
romantispun serta merta diperlihatkan dengan nyata, maka
cawan demi cawan air kata-katapun mengalir masuk ke dalam
perutnya, pembicaraan berlangsung dari barat sampai ke
timur bahkan ia mulai main mata dengan cia In, saling
mengerling saling menggoda dengan bebasnya.
Yang lebih hebat lagi, akhirnya yang satu memanggil
"engkoh Khi" sedang yang lain menyebut "enci In", seakanakan
mereka merasa kecewa mengapa tidak berjumpa sejak
dulu kata, saking terbuainya kedua orang itu sampai lupa
waktu.
Entah sampai kapan senda gurau itu berlangsung, akhirnya
Cia In tak kuat menahan pengaruhnya alkohol, dengan
sempoyongan ia bangkit berdiri seraya berkata:
"Engkoh Khi, besok pagi pagi aku harus melanjutkan
perjalanan lagi, maafkanlah daku, aku tak dapat menemani
kau minum lagi"

208
sepasang lengannya diluruskan ke depan dan tubuhnya
roboh kemuka, persis jatuh dihadapan tubuh Hoa In-liong.
Cepat sianak muda bertindak dengan merangkul
pinggangnya erat-erat, serunya pula: "Benar Benar Waktu
dihari esok, masih banyak, kita memang harus pergi
beristirahat."
Begitulah sambil berpeluk pelukan dengan dipimpin dayang
In-ji mereka kembali kedalam kamar meski dengan langkah
sempoyongan-.
Waktu itu Cia In entah benar-benar sudah mabok atau
hanya berlagak belaka, sekalipun sudah berada dalam kamar,
ia masih memeluk tubuh Hoa In-liong kencang-kencang.
Hoa In-Iiong sendiri walaupun belum mabok. dasar suka
main perempuan tentu saja ia segan untuk melepaskan
rangkulannya dari tubuh sang nona yang lembut, halus harum
baunya itu.
In-ji si dayang itu lebih hebat lagi, ternyata ia segera
menutup pintu, memasang lentera dan dengan senyum
dikulum ia mengawasi atraksi yang hot dihadapannya itu
dengan mata melotot besar, seakan-akan ia sedang menikmati
suatu pertunjukan indah yang amat mempersonakan hatinya.
Selang sesaat kemudian, terdengar Cia In mengeluh lirih
kemudian telapak tangannya pelahan-lahan bergeser ke
bawah, mula-mula meraba lengan Hoa In-liong yang keras,
lalu dadanya yang bidang dan akhirnya turun kearah
pinggangnya,......
Mendadak... telapak tanganrya itu secepat kilat meraba
punggungnya, dengan jari tangan yang ditekuk seperti kaitan
ia totok jalan darah Leng tay-hiat ditubuh anak muda itu.
Hoa In-liong masih belum merasa akan tibanya ancaman
yang membahayakan jiwanya itu, bila totokan tersebut
bersarang telak, niscaya anak muda itu akan tewas atau
paling sedikit terluka parah. Untunglah disaat yang kritis, tibatiba
pintu kamar, ditendang orang sampai lebar

209
"Blaaaaang........!" menyusul munculnya seseorang berdiri
didepan pintu sambil bertolak pinggang.
"Bagus! Bagus!" teriak orang itu dengan marah "kiranya
engkau siperempuan anjing pandai berpura-pura suci, tak
tahunya engkaupun suka bermain main dengan laki-laki.
Hmm! Aku orang she-Ciu ingin bertanya kepadamu, bagian
yang manakah dari kongcu mu yang tak dapat memadahi
bocah keparat tersebut? "
Bentakan tersebut seketika mengejutkan dua orang mudamudi
yang sedang bermesraan itu sehingga tersadar kembali.
Hoa In-liong memutar badannya menghadang di depan Cia
In, kemudian bertanya dengan tercengang:
"Engkau she-Ciu?"
"Kongcumu bernama Ciu Hoa, jalan tidak berganti marga,
duduk tidak berganti nama, bila engkau tahu diri, cepat,
menyingkir kesamping situ, kongcumu bukan datang untuk
mencari gara-gara dengan engkau!" teriak orang itu marah
marah.
Hoa In liong semakin tertegun dan mengawasi orang itu
tanpa berkedip, tapi makin dilihat semakin tak percaya dengan
telinga sendiri. makin dipandang ia semakin merasa bahwa
orang yang berada dihadapannya sekarang bukan Ciu Hoa.
Tapi.,, mengapa ia mengaku dirinya sebagai Ciu Hoa? Kalau
toh dia benar Ciu Hoa, mengapa tampang wajahnya dapat
berubah? Untuk sesaat ia jadi tertegun dan tak tahu apa yang
mesti dilakukan, pelbagai kecurigaan berkecamuk dalam
benaknya.
Berbicara tentang dandanan, pakaian serta senjatanya,
orang yang mengaku bernama "Ciu Hoa" ini mempunyai
kemiripan dengan Ciu Hoa yang dijumpainya dikota Lok-yang,
bahkan usia merekapun sebaya, hanya raut Wajahnya
berbeda, watak dan tingkah lakunyapun tak sama, jelas
mereka bukan seorang manusia yang sama.
000000O000000
TANPA terasa Hoa In-liong lantas berpikir "Orang ini beralis
panjang bermata sipit, hidung lebar dan mulut besar,

210
tampangnya model kuda berwarna hijau menyeramkan, sinar
matanya cabul, kelopak matanya lebih banyak putih daripada
hitamnya, jelas dia adalah seorang manusia yang keji dan lagi
cabul, jelas dia bukan Ciu Hoa yang kujumpainya dikota Lokyang.
Tapi.... sekali pun nama bisa sama. masa dandanan,
senjata sampai anak buah yang mengiringi pun mempunyai
corak yang tak berbeda? Sungguh aneh..."
Sementara itu dengan langkah yang gemulai Cia In sudah
maju kedepan, ia berdiri dekat sekali dengan Hoa In-liong,
setelah membereskan rambut-nyu yang terurai kebawah,
sapanya sambil tertawa genit.
"Kongcu. kita tak pernah bertemu yaa?"
Cia In adalah seorang nona yang cnatik jelita bak bidadari
dari kahyangan, setiap tingkah laku dan gerak geriknya
gampang menimbulkan rangsangan bagi yang memandang,
maka kendati "Ciu Hoa" itu datang marah-marah, tetapi
setelah menyaksikan senyum manisnya yang menawan hati
padamlah hawa amarahnya itu, semua rasa mendongkol dan
khekinya mendadak seperti tersumbat didalam dada, sukar
untuk dilampiaskan keluar lagi....
Setelah tertegun sesaat, tiba-tiba ia berteriak lagi:
" Tidak pernah bertemu? Hmmnn Kongcu mu dari
keresidenan Han-sian telah mengejar sampai kekota Kengbun,
hari yang manakah aku tak pernah berjumpa
denganmu?"
"Aduuh mak, kalau begitu bukankah kita suiah pernah
berjumpa enam sampai tujuh kali?" seru Cia In sambil melirik
genit.
Kemudian sambil berpaling kearah In-ji,serunya pula;
"Eeeh.... In-ji, pernahkah engkau berjumpa dengan kongcu
ini?" In-ji. cekikikan,
"Setiap hari sebelum kentongan keempat kita sudah
berangkat, sebelum senja menjelang kita sudah beristirahat
kapan bertemu dengan kongcu ini
"Aaai......" Cia In menghela napas panjang, seperti lagi
menggerutu ia bergumam sendiri:

211
"Memang begitulah penyakit yang kuderita semenjak kecil,
aaai, penyakit itu membuat aku jadi sengsara, kalau tidak
demikian, kami tak akan berani menimbulkan kemarahan dari
Ciu kongcu"
Setelah terhenti sebentar, ia mengerling sekejap kearah
"Ciu Hoa" itu dengan genit, lalu melanjut kan kata-katanya;
"Ciu kongcu, kau tidak tahu, aku mempunyai penyakit aneh
yakni penyakit takut melihat setan terutama sekali bila
ditengah hari bolong tiba-tiba berjumpa dengan setan jelek
bermuka hijau bergigi taring.....Hiiiiih...!Niscaya selembar
jiwaku akan kabur kembali keakhirat. oleh karena itu..."
"Karena ita kalian berangkat setiap kentongan keempat,
dan beristirahat sebelum, tiap hari selalu berusaha untuk
menghindari kongcu-ya mu........?"
sela Ciu Hoa dengan kemarahan yang masih berkobar.
Sekalipun kemarahan masih membakar hatinya adapun
merupakan teguran namun terdengar jelas bahwa suaranya
lebih lembut dan halus, ini menunjukan bahwa gerak-gerik Ciu
In yang genit dan mempersonakan hari itu telah
mendatangkan hasil yang mujur,
Tampaklah Ciu In mengedipkan matanya yang lentik, lalu
mengirim sebuah kerlingan maut kearah lawannya, satelah itu
dengan sedih itu dengan sedih ia berkata:
"Kongcu-ya, engkau benar-benar msnuduh orang hingga
hatiku jadi penasaran. dengan keberanian apa apa aku berani
menghindari diri kongcu? Aku hanya terbiasa berangkat pagi
istirahat agak pagian saja, dan kebiasaanku ini sedikit diluar
dugaan kongcu, kalau toh selama ini kita tak pernah
berjumpa, hal ini bukanlah suatu kejadian yang disengaja...."
Setelah berhenti sebsntar, tiba-tiba sambil tertawa ujarnya
lagi:
"Kongcu-ya, aku mempunyai sepatah kata yang rasanya
tidak pantas untuk diucapkan keluar boleh ku utarakan
kepadamu?"
Ciu Hoa dapat menyusul nona itu sepanjang jalan, sudah
jelas ia telah tergiur oleh kecantikan Ciu In, sebelum kejadian

212
ini ini ia selalu mengira Cia In memandang dirinya terlampau
jelek maka sengaja menghindarkan diri pertemuan, maka rasa
penasaran, mendongkol dan gusarnya berkecamuk didalam
dada.
Tapi setelah Cia In menunjukkan sikap yang aleman, genit
dan merangsang dan lagi diapun sudah memberikan
"penjelasan", api gusar yang Semula membakar hatinya kini
sudah lenyap tak berbekas,
Maka setelah mendengar perkataan itu, ia lantas tertawa
terbahak-bahak, serunya dengan girang:
" Haaahh....haaahhhwhaaahhhl..,katakan saja terus terangucapan
tanpa tedeng aling-aling, sekalipun ada hal-hal yang
tak pantas, kongcumu tak akan menyalahkan engkau"
Hoa In liong yang menyaksikan kesemuanya itu merasa geli
juga didalam hati, ia lantas berpikir;
"Ciu Hoa memang sudah tergila-gila benar dengan nona
itu sampai makian dari Cia In pun tidak dirasakan olehnya,
malahan dia merasa sangat
bangga....haaahhh...haaahhh....haaaahhh......
muka hijau gigi taring, meski tidak persis sama sekali,
kemiripan tetap ada....haaahhh...haaahhh... dasar tolol!"
Cia In sendiripun sedang tertawa cekikikan, lalu ujarnya
kepada dayangnya In-ji:
"Jn-ji, pergilah keluar dan undang masuk beberapa orang
tuan itu, jangan suruh mereka berdiri terlampau lama, nanti
kita lagi yang disalahkan kurang hormat melayani tetamu"
"Baik nona" sahut In-ji. dia lantas berjalan ke luar dari
ruangan tersebut.
Ciu Hoa semakin gembira hatinya, mendadak ia tertawa
terbahak-bahak seraya berkata
"Engkau tak usah undang mereka ligi, orang-orang itu
adalah anak buah kongcumu, biar berdiri sebentar tak apaapa"
Mendengar perkataan itu In-ji lantas mutar badan dan
membantah dengan merdu:

213
"Sekalipun mereka adalah anak buah kongcu toh tidak
pantas kalau engkau suruh anak buahmu menderita
kedinginan diluaran sedangkan Kongcu ya mencari
kesenangan disini?"
Cia In pura-pura menunjukan wajah tak senang hati, lalu
menegur:
"Aaah, kamu ini benar-benar dayang tak tahu aturan,masa
engkau berani membangkang perintah dari kongcu-ya?"
"Ciu Hoa" semakin nyaman lagi hatinya sehabis mendengar
perkataan itu saking girangnya dia sampai terbahak-bahak.
"Haaaabhh....., .haaaaahhh.......haaaalili h...... apa
yang dia ucapkan memang ada benarnya juga baiklah! Aku
akan suruh mereka pergi dari sini saja"
Ia lantas berpaling kepintu luar dan berseru lantang.
"Eeeh....kalian boleh bubar, aku tidak membutuhkan kalian
lagi ditempat ini!"
"Baik!" sahutan nyaring berkumandang dari luar pintu,
diikuti suara langkah kaki yang ramai memecahkan kesunyian
dalam waktu singkat suasana lelah pulih kembali dalam
kesunyian.
Menggunakan kesempatan dikala "Ciu Hoa" berpaling, Cia
In saling berpandangan sekejap dengan In-ji sambil tertawa
gerak-gerik mereka misterius sekali.
Hoa In-liong yang dapat menyaksikan kejadian Itu, dalam
hati kembali menggerutu pikirnya;
"Apa yang sebenarnya telah terjadi? Diam-diam perempuan
ini hendak menotok jalan darahku caranya untuk turun tangan
lihay sekali, dan sekarang diapun tahu kalau diluar pintu ada
orangnya ini menunjukan kalau tenaga dalamnya luar biasa
kalau toh benar ia membenci tampang Ciu Hoa yang jelek, apa
salahnya untuk menggebah pergi secara terang-terangan?
Mengapa ia gunakau segala macam tipu muslihat untuk
berpura-pura berlagak misterius? Jangan-jangan
pandangankulah yang keliru, dia benar-benar adalah seorang
perempuan binal?"

214
Sementara itu Ciu Hoa telah selesai mengundurkan anak
buahnya, ia lantas berpaling, sinar cabul dan tengik memancar
keluar dari mata tikusnya, lalu sambil tertawa cekikikan
katanya:
"Nona manis, sekalipun engkau tidak bermaksud
menghindari aku, tapi perbuatanmu selama enam hari ini telah
menyiksa perasaanku, setelah kutemukan kembali jejakmu,
tak nanti akan kubiarkan engkau kabur dari cengkeramanku"
"Aaaaah.... Koagcu ini memang kebangetan" omel Cia In
sambil menggerutu tak tenang hati "aku toh tidak bermaksud
untuk kabur dari tempat ini..,.,?"
"Haaaahh....haaaahh.v,.,,haaaflh.,,.., benar.. perkataanmu
memang benar, lebih baik memang jangan kabur. Nah, kalau
ingin mengucapkan sesuatu cepatlah katakan, aku telah
bersiap sedia untuk mendengarkannya"
"Benar?Kau suka mendengarkan perkataanku" kata Cia In
pula sambil tertawa manis, "begitu baru menurut namanya!"
Ia mengerling kearah Ciu Hoa kemudian sambil memberi
hormat katanya:;
"Kongcu, silahkaa duduk"
Ciu Hoa tertawa terbahak-bahak tiada hentinya seakanakan
sukmanya telah digaet pergi, katanya pula:
" Duduk....duduk....engkaupun silahkan duduk!"
Dengan langkah lebar ia maju kedepan, menyeret sebuah
kursi dan langsung duduk.
Cia In sendiri sambil merangkul lengan Hoa In Liong
dengan mesra, selangkah demi selangkah maju ke depan.
Menghadapi keadaan begini, Hoa In-liong merasakan
hatinya serba kacau, ia tak tahu bagaimanakah perasaan
hatinya disaat itu, dalam hati ia berpikir.
"Sebenarnya permainan apakah yang sedang di rencanakan
Cia In ini? Memangnya ia suruh aku dan Ciu Hoa ribut karena
soal perempuan, sedang ia sendiri menonton dengan
gembira? Hmmm! Kau anggap Hoa loji adalah manusia macam
apa? Tak nanti akan membiarkan harapanmu itu terpenuhi"
Betul juga, paras muka Ciu Hoa seketika, berubah hebat.

215
Pada mulanya, mungkin ia sudah terbiasa berbuat semenamena,
mungkin juga menganggap kepandaian sendiri amat
tinggi, ia tak pandang sebelah matapun terhadap Hoa In-
Liong, maka sejak awal sampai akhir ia tak menaruh perhatian
terhadap pemuda itu,
Tapi sekarang setelah menyaksikan dua orang itu
bermesrahan dan saling berpelukan, karena merasa cemburu
dan panas hatinya, ia mulai memperhatikan pemuda itu
dengan seksama.
Sekarang baru diketahui olehnya bahwa Hoa In Liong
memang seorang penuda yang amat tampan-dan dikolong
langit jarang ditemui laki-laki ganteng semacam ini, kontan api
cemburunya berkobar, sinar bengis- memancar keluar dari
balik matanya, ditatapnya sianak muda itu tanpa berkedip,
kalau bisa dia ingin menerkam kemuka dan menggigit musuh
cintanya itu,
Cia In sama sekali tidak memperhatikan kebengisan dan
kemarahan orang itu, malahan seakan-akan tak pernah terjadi
apa-apa, dihadapan muka nya masih bermesrahan dengan
Hoa In-liong ia berkata sambil tertawa
"Ciu kongcu. aku ingin menanyakan satu hal kepadamu apa
benar engkau telah mengejar aku mulai dari keresiden-an
Ban-sian sampai di kota Keng-bun ini?"
"Aaaah....omong melulu, memangnya kau anggap kongcu
mu sedang membohongi kau?" sahut Ciu Hoa tidak sabaran, ia
tarik kembali tatapan matanya yang tajam itu.
Setelah hatinya dibakar oleh api cemburu dan rasa
penasaran, kehalusan serta serta keramah tamahannya sudah
lenyap tak berbekas, sebagai gantinya ia mulai menyeringai
seram, matanya bengis dan napsu membunuh terlintas
diantara alis matanya,
Cia In masih juga tidak ambil perduli, malahan senyum
manis masih dikulum.
"Kalau begitu, kongcu tertarik oleh kecantikan paras
mukaku bukan..?" ujarnya lagi.

216
Pertanyaan ini terlampau blak-blakan dan tanpa tedeng
aling-aling, dalam suasana begini seharusnya "Ciu Hoa"
sendiripun belum tentu bisa bersikap demikiam tapi nona itu
dengan tanpa ragu-ragu telah mengucapkannya keluar, hal ini
menyebabkan "Ciu Hua" jadi gelagapan dan berdiri tertegun
dengan mata terbelalak, untuk sesaat ia tak mampu
memberikan jawabannya lagi.
Cia In tertawa cekikikan, merdu amat suaranya ibaratnya
burung nuri yang berkicau dipagi hari, sambil gelengkan
kepalanya berulang kali ia berkata lagi:
"Menurut pendapatku, kongcu masih kurang bersungguhsungguh,
rasa tertarikmu hanya sambil lalu dan tak muncul
dari sanubari yang bersih, betul bukan?"
"Hey, sebenarnya apa yang lagi kau katakan? Mengapa
tidak kau terangkan saja secara blak-biak kan?" tukas Ciu Hoa
tidak sabar, dahinya berkerut kencang, "engkau adalah nona
paling cantik di dunia, meski kongcu mu sudah banyak
bertemu orang, belum pernah kutemui nona secantik engkau
bersungguh hati atau tidak buat apa kau tanyakan lagi?
Andaikata kongcu tidak menyukai dirimu, tak nanti kukejar
engkau dari Ban-sian sampai kekota Keng bun"
"Aaah, belum tentu begitu?" seru Cia In sambil mencibirkan
bibirnya, "kau tidak bersungguh hati hanya mulutmu saja
pandai bicara manis. Andai kata kau benar-benar menyukai
diriku, semestinya setiap kali sesudah mencari rumah
penginapan, sebelum naik pembaringan toh tersedia waktu
yang panjang dan berlebihan? Mengapa selama ini aku tak
pernah menjumpai kongcu?"
Mendengar pertanyaan itu, "Ciu Hoa" tergagap, biji mata
tikusnya jelalatan memandang kesana kemari, bibirnya
bergetar seperti mau membantah namun tak sepatah katapun
mampu diucapkan keluar, rasa heran, tercengang Cia In
mengerutkan kening, kemudian menghela napas panjang
"Aaaai... Kalian orang laki-laki..."
"Eeeh..i,.! tidak betul..,.." mendadak "Ciu-Hoa" menjerit
lengking, keras dan tajam suaranya.

217
Jeritannya yang melengking ini bukan saja keras bahkan
diluar dugaan, Cia In benar-benar di bikin terperanjat.
"Apanya yang tidak betul?" cepat ia bertanya.
"Ciu Hoa" mengeratkan dahinya rapat-rapat, matanya
dipicingkan dan ia bergumam tak hentinya:
"Heran, Tanpa kuketahui jelas apa -sebabnya tiba-tiba aku
merasa sangat mengantuk lalu terlelap tidur- betulkah aku
amat lelah sehingga perlu beristirahat?"
Lama sekali ia terbungkam, agaknya orang itu sudah
terjerumus dalam pemikiran yang mendalam dan bersungguhsungguh,
suasana jadi sepi, hening dan tak kedengaran sedikit
suarapun,.
Sekilas senyum aneh terlintas diatas wajah Cia In, hanya
sebentar saja senyum itu lenyap kembali. terdengar ia berkata
lagi:
"Tidak diketahui sebabnya tiba-tiba mengantuk lantas
tertidur? Aneh! Belum pernah kujumpai keadaan seaneh ini!
Kenapa tidak kau lanjutkan perkataanmu itu?"
"Ciu Hoa" segera menengadah, dengan tak kalah herannya
ia berkata pula:
"Memang aneh sekali kejadian ini! Tiap senja menjelang
tiba, setelah bersusah payah menemukan tempat tinggalmu,
dan setiap kali aku selesai membersihkan badan dan
berdandanan. tiba-tiba aku diserang rasa mengantuk yang
hebat kemudian terjatuh dipembaringan dan tertidur pulas
sampai keesokan harinya ini....."
"Aaah! Kau tak usah ini itu lagi" tukas Cia In marah-marah
sebelum orang itu sempai menyelesaikan kata-katanya, "dari
sini dapat dibuktikan sekarang. bahkan kongcu sesungguhnya
tidak berniat serius, engkau cuma iseng dan pakai bicara
manis!"
"Kau....kau... jangan kau tuduh aku demikian!" bantah "Ciu
Hoa" dengan gelisah.
"Kalau tidak begitu, lantas apa yang harus ku katakan?
Bukankah setiap hari katanya kau selalu mengejar aku?
Kenapa setiap kali kau berhasil susul diriku, bukan datang

218
berkunjung melainkan malahan tertidur pulas......?
Bukankah ini membuktikan bahwa kau tidak berniat serius?"
"Aku....aku..." Ciu Hoa semakin gelagapan.
"Engkau tak perlu aku aku malulu" kata Cia-In cepat, "biar
aku saja yang mewakili kongcu untuk memberi keterangan!
Aku sama sekali tak berhasrat untuk tidur, tapi oleh karena
setiap hari harus melakukan perjalanan jauh, maka badan ku
benar-benar merasa penat dan perlu istirahat, bukankah
begitu?"
"Tak mungkin badanku penat" bantah Ciu Hoa dengan
wajah bersungguh-sungguh, "dengan ilmu silat yang kongcu
miliki sekarang, sekalipun harus melakukan perjalanan,siang
malam selama tiga hari juga tak akan merasa penat atau
kehabisan tenaga.."
"Oooh...,! Kiranya kongcu adalah seorang jago persilatan,
tadinya aku mangira kongcu menggempol pedang hanya
sebagai hiasan belaka seperti juga halnya dengan engkoh
Pek Khi ini, biasa kan orang muda sekarang sok pamer"
Menyinggung soal Hoa In-liong! Ciu Hoa segera
menunjukkan sikap muak dan benci, dengan bengis ia melotot
sekejap kearah sianak muda itu,- kemudian tegurnya:
"Engkau bernama Pek Khi?"
"Benar, aku bernama Pek Khi!" Hoa In-liong mengangguk.
Ciu Hoa memutar biji mata tikusnya, kemudian sambil
mendelik ia membentak lagi:
"Apa pekerjaanmu?"
"Haaahhh....haahhh....haaahhh.„. Ciu kongcu. caramu
mengajukan pertanyaan kurang sopan dan tak tahu adat,
lantas kau sendiri apa pekerjaannya?"
Kontan Ciu-Hoa bangkit berdiri, teriaknya dengan marah:
"Bagus! Bagus sekali perbuatanmu! Engkau berani bersikap
kurang adat kepada kongcumu?"
Hoa In-liong tetap tertawa ia menyahut,
"Soal ini tergantung pada Ciu kongcu sendiri, jika kau
kurang adat maka akupun tak perlu bersikap sungkansungkan
terhadap dirimu!"

219
"Bagus! Bagus! Nyalimu memang terhitung besar...." teriak
Ciu Hoa sambil tertawa seram, ia benar-benar naik darah.
Hoa In-liong jaga tak mau mengalah, cepat ia menukas
sembari berseru:
"Engkau pernah membaca ajaran dari para Nabi dan
pujangga belum? Bukankah disana dikatakan, bila orang tahu
adat dan sopan santun, maka peluruh jagat dapat dikunjungi,
sebaliknya kalau orang tak tahu adat dan sopan santun maka
setengah jengkal tanahpun sukar didatangi, Cia kongcu kalau
toh engkau mengakui sebagai orang persilatan, rasanya ajaran
itu itu pasti sudah pernah diberikan oleh sesepuh perguruan
kepadamu bukan......? Aku merasa tak pernah melanggar adat
dan tata kesopanan, tentu saja aku berani menghadapi
keadaan macam apapun, apa sangkut paut nya antara nyali
besar dan kecil?"
Beberapa patah kata itu diutarakan dengan senyum
dikulum, sedikitpun tidak emosi atau marah, meski begitu
dibalik kehalusan tetselip ketajaman, nada ucapannya jelas
merupakan suatu nasehat juga suatu teguran yang keras"
Sebagai orang yang pintar tentu saja Ciu Hoa dapat
menerka arti kata dari ucapan tersebut sontak ia naik darah,
dengan muka menyeringai "Bocah keparat! Engkau berani
mencari gara-gara dengan kongcumu? Hmm! Agaknya
memang engkau sudah bosan hidup"
Hoa In-Liong berbuat demikian karena ia mempunyai
tujuan tertentu, bergiranglah hatinya setelah melihat orang itu
naik darah, sambil tertawa ujarnya lagi:
"Sekarang kita sedang berada dirumah penginapan, aku
tidak percaya kalau Ciu kongcu berani membunuh orang
dengan semena-mena, memangnya dianggap hukum negara
salah tidak berlaku lagi........"
Jilid 07

220
BELUM habis ia berkata, kemarahan ciu Hoa sudah tak
terkendalikan lagi sambil tertawa seram katanya,
“Heeehhh….heeeahh….heeehhh….engkau betul-betul punya
mata tak berbiji, akan kongcu-ya cungkil dulu sepasang biji
matamu sebelum membicarakan soal hukum negara….”
Secepat kilat lengan kanannya ditonjok ke muka, dengan
ibu jari dan jari tengah yang ditekuk seperti kaitan, ia ancam
sepasang mata Hoa In-liong.
Sekalipun lengan kanannya itu bergerak tidak lambat pun
tidak cepat, namun si anak muda itu mengerti bahwa
perubahan dibalik serangan jari tangannya itu banyak. rumit
dan tak terhingga, lagipula ganas dan keji, bagi jago persilatan
pada umumnya, sulit untuk menghindarkan diri dari ancaman
tersebut.
Namun bagi Hoa In-liong yang berilmu tinggi dan bernyali
besar, rupanya ia sudah mempunyai perhitungan sendiri yang
jauh lebih matang. Bukannya berkelit atau coba menangkis,
dia malahan pura-pura berlagak tidak melihatnya sama sekali,
menggubrispun tidak.
Lambat memang untuk diceritakan, namun cepatnya luar
biasa, kejadian itu berlangsung, dalam sekejap mata serangan
jari tangan dari Ciu-Hoa itu sudah berada di depan mata,
disaat yang kritis itulah mendadak Cia in menjulurkan
tangannya ke muka dan mendorong sikut Ciu Hoa sehingga
tergeser ke samping.
“Ciu kongcu,” omelnya dengan merdu, “apa-apaan kamu
ini? Engkoh Pek Khi toh tidak menyalahi apa-apa terhadap
dirimu….”

221
Dalam pada itu, In-ji si dayang telah masuk sambil
membawa air teh, ia berkata pula, “Ciu kongcu, engkau
datang kemari kan hendak mencari nona kami dan mencari
kesenangan? Apa gunanya marah-marah kepada orang lain?
silahkan duduk. biarlah In-ji suguhkan air teh untukmu.”
Lengan ciu Hoa yang terhenti ditengah udara, saat itu baru
ditarik kembali, dengan mata terbelalak dia awasi Cia In
sekejap. kemudian ujarnya dengan suara berat, “Kau…. siapa
kau? sebetulnya apa… apa pekerjaanmu?”
In-ji mengambil secawan air teh dan diletakkan
dihadapannya, seperti heran seperti pula tak disengaja, ia
berseru, “Ada apa? Masa kau tidak tahu….”
Untuk kesekian kalinya dengan hati mendongkol Ciu Hoa
duduk kembali ke atas kursinya, lalu mendengus.
“Hmm Dalam mata yang jeli tak akan kemasukan pasir,
sebenarnya apa kerja kalian? Hayo cepat jawab dengan terus
terang”
Sementara itu In-ji sudah meletakkan secawan air teh pula
dihadapan Hoa In-liong kemudian sahutnya sambil tertawa,
“Peduli amat kemasukan pasir atau tidak. kami tak paham
dengan kata-kata macam begituan, kami hanya tahu nona
kami bernama Cia In. dengan nama sebutan In ci-ji, dia
adalah Hong-koan-jin (pelacur paling top) yang tiada taranya
dikota Kim-leng…”
“Budak sialan pingin mampus?” tiba-tiba Cia In berteriak
dengan suara melengking, “memangnya lantaran engkau
adalah Cing-koan-jin maka kau merasa bangga untuk
menyiarkannya kepada umum.”

222
Perlu diterangkan disini, baik Hong-koan-jin maupun cingkoan-
jin adalah sebutan-sebutan khas bagi rumah pelacuran.
Yang dinamakan Hong-koan-ji adalah para pelacur yang
sudah tidak perawan lagi, sebaliknya Cing-koan-jin adalah
para pelacur yang masih perawan suci, tentu saja dengan
adanya tingkatan kedudukan maka hargapun bermacammacam,
lagi kaum lelaki yang suka bermain pelacur, istilah
seperti itu pasti akan diketahui dengan jelas.
Hoa In-liong masih muda dan lagi merupakan keturunan
orang kenamaan, sekalipun dia romantis dan gemar main
perempuan, lagipula tidak terikat oleh pelbagai peraturan,
namun anak muda ini masih bersih, dalam arti kata belum
pernah menginjakkan kakinya dirumah pelacuran untuk
berbuat mesum.
Oleh karena itu, setelah mendengar ucapan tersebut ia jadi
tercengang, heran dan merasa tidak habis mengerti, sepasang
matanya dibelalakkan lebar-lebar, sebentar memandang kesini
sebentar lagi memandang kesana, agaknya dia ingin mencari
jawabannya diantara perubahan wajah Cia In dan In-ji.
Lain halnya dengan ciu Hoa, ia gemar bermain perempuan
dasarnya memang berwatak cabul dan tengik, memetik bunga
adalah pekerjaannya yang boleh dibilang rutin, dan selamanya
tak pernah ambil perduli perempuan macam apakah lawan
mainnya itu, otomatis diapun mengetahui jelas tentang segala
macam istilah yang berlaku dikalangan rumah pelacuran.
Tak heran kalau matanya terbelalak besar sehabis
mendengar ucapan tersebut, ditatapnya wajah Cia In dengan
rasa heran, agaknya ia masih kurang percaya dengan
pengakuan itu.

223
Tampak In-ji meleletkan lidahnya serta menunjukkan mata
setan, lalu berkata, “Yaa.. benar, nona maafkan akulah yang
salah bicara, nona kami adalah Hong-ji (orang yang top) dari
kota Kim-leng, bukan Hong-koan-ji.”
“Masa diulangi lagi?” bentak Cia In.
“Hiiihh….. hiiiiihhhh…… hiiiihhh….. ampun nona yang baik,
aku bicara lagi Aku tak akan bicara lagi….” cepat In-ji
menambahkan sambil tertawa cekikikan.
Ia lantas berpaling, kepada Ciu Hoa ujarnya, “Kongcu-ya,
minumlah air tehmu, kenapa masih melongo- longo?”
Ciu Hoa tersentak bangun dari lamunannya, ia lantas
berseru dengan suara dingin, “Hmm Keanehan dari peristiwa
yang menimpa diriku tentu asalnya dari kalian berdua.
Ketahuilah, kongcu mu bukan manusia sembarangan, kalian
tak usah berlagak pilon dan ingin mengelabuhi diriku lagi.
Hayo bicara, sebenarnya permainan busuk apakah yang telah
kalian lakukan sehingga membuat kongcu mu tertidur pulas?”
Cia In mencibirkan bibirnya, sepasang alis matanya berkenyit.
“Ciu kongcu, kalau ingin bicara aku harap bicaralah sedikit
tahu diri, kau mengantuk dan ingin tidur toh karena badanmu
kurang sehat dan terlalu penat karena melakukan perjalanan
jauh, apa sangkut pautnya hal itu dengan kami? Dan
permainan busuk apa yang bisa kami lakukan? Barusan toh Inji
telah menerangkan adanya tamu semacam Ciu kongcu
justru merupakan apa yang kuharap- harapkan selama ini,
anehkan rasanya kalau aku sengaja membuat engkau teridap
tidur hingga tak bisa bangun lagi.”
Selain daripada itu, aku toh cuma seorang pelacur biasa,
darimana datangnya kepandaian sehebat itu untuk
mempermainkan engkau? Aku tahu Ciu kongcu adalah

224
seorang manusia yang pandai, tentunya kau mengerti bukan
bahwa ucapanku ini bukan sengaja kubuat- buat?”
Nada ucapannya itu penuh dengan kehalusan, kelembutan
dan kepedihan hati, persis seperti permohonan dari kaum
pelacur yang ingin minta belas kasihan dari orang lain.
Hoa In-liong yang berdiri disamping mengawasi perempuan
itu lekat-lekat, kemudian berpikir, “Tak kusangka kalau
perempuan ini ternyata adalah seorang pelacur, tak aneh
kalau ia pandai merayu dan mempunyai daya pikat yang luar
biasa, tapi…. tapi tidak betul Jelas kuketahui bahwa ia berilmu
silat, mengapa harus jadi pelacur? Ataukah mungkin dibalik
kesemuanya ini, tersembunyi tipu muslihat yang lain?”
Tampaknya manusia yang bernama “Ciu Hoa” itupun tidak
bodoh, sekarang ia sudah mempunyai suatu perasaan waswas
terhadap Cia In, terdengar ia berkata dengan dingin.
“Bila tak ingin orang tahu, kecuali diri sendiri tak pernah
berbuat.Tiap senja kongcu mu mencari rumah penginapan
kemudian terlelap tidur dengan begitu saja, jelas dibalik
kesemuanya ini bukan tanpa alasan, kemudian ditinjau dari
gaya serangan Thian-ong-to-tha (raja langit membawa pagoda
) yang kau gunakan untuk menangkis sikut kongcumu, jelas
menunjukkan bahwa engkau berilmu silat tinggi. HHm Merayu
dengan kata-kata manis hendak menutupi bayangan sendiri
..jangan mimpi Hayo jawab, sebenarnya apa kerja kalian
berdua?”
Mula-mula Cia In agak tertegun, namun kemudian ucapnya
dengan suara pedih, ” Kalau toh Ciu kongcu berkata demikian,
aku tak dapat berbuat apa-apa lagi, In-ji Wakili aku untuk
mengantar tamu,” seraya berkata, ia kebutkan ujung bajanya
dan siap masuk ke dalam ruang dalam.

225
“Menghantar tamu?” jengek ciu Hoa sambil tertawa seram,
“Heheeehh..,.heehh….tidak gampang untuk mengusir aku dari
sini.”
Cia In hentikan kembali langkahnya,, dengan dahi berkerut
dia lantas menegur, “Sebenarnya apa yang kau inginkan?
Maksudku semula, aku hendak merubah suasana yang serba
kaku menjadi labih halus dan lembut, maka tiada bahan
pembicaraan sengaja kuadakan bahan pembicaraan dan
sengaja menggoda dirimu, siapa tahu hasilnya malahan
kebalikan, kongcu malahan menuduh aku telah menggunakan
pelbagai macam tipu muslihat untuk mencelakai dirimu
sehingga tertidur pulas. Kongcu-ya, mengapa tidak kau
pikirkan, andaikata aku benar-benar bermaksud jelek
kepadamu, dan akupun mampunyai kepandaian yang hebat
untuk membuat engkau terlelap tidur, apa sebabnya sampai
sckarangpun aku tidak bertindak apa-apa terhadapmu dia
membiarkan engkau ribut serta mengumbar hawa amarahnya
terus menerus?”
Ucapan tersebut kedengarannya lunak namun hakekatnya
keras sekali dan alasannya juga sangat kuat, ini membuat Ciu
Hoa untuk sesaat jadi terbelalak dan tak mampu memberi
jawaban.
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba Cia In menghela napas
panjang, kemudian melanjutkan, “Pepatah kuno pernah
berkata: ‘Bila bertemu sahabat cocok dengan hati, minum
seribu cawan pun rasanya kurang, tapi bila menjumpai
ketidakcocokan hati maka setengah kecappun rasanya terlalu
banyak.’ Sebelum mengucapkan sesuatu aku toh sudah
terangkan dulu bahwa ucapanku rada kurang sesuai, sedang
kongcu-ya sendiripun sudah setuju untuk tidak marah, tapi
akhirnya engkau tetap marah dan memusuhi diriku. Kalau toh
memang begitu, sekalipun suasana ini dilanjutkan lebih jauh
juga akan sama dinginnya seperti es. daripada terjadi hal-hal

226
yang tak diinginkan lagi, kongcu-ya Lebih baik engkau berlalu
saja dari sini.”
Berbicara demikian, ia lantas menarik ujung baju Hoa Inliong
sambil menambahkan, “Engkoh Khi, mari kita duduk
didalam saja.”
Dari keadaan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa
nona itu sudah mengambil keputusan untuk mengusir
tamunya.
Tentu saja Ciu Hoa tak sudi diusir dengan begitu saja,
sambil memukul bangku teriaknya, “Berhenti!”
“Ada apa?” tanya Cia In sambil berhenti, “sebetulnya
kongcu-ya tahu aturan tidak? Engkau musti tahu bahwa
tempat ini bukan rumah pelacuran dikota Kim-leng, tempat ini
adalah rumah penginapan, terima tamu atau tidak aku bisa
mengambil keputusan sendiri.”
Ciu Hoa betul-betul naik darah setelah didesak oleh
perkataan yang tajam dan tak enak didengar itu, saking
gusarnya bukan saja sekujur badannya jadi gemetar, otot-otot
hijaunya pada keluar, sinar mata tikusnya memancarkan
cahaya bengis, agaknya ia siap melancarkan tubrukan ke arah
depan.
Siau In-ji menengok kekiri kekanan dengan bingung,
kemudian ia coba melerai sambil berkata, “Kongcu-ya, jangan
marah-marah dulu, nona, engkaupun duduklah dengan hati
sabar”
“Huuh mau apa duduk lagi?” kata Cia In dengan sinis,
“meskipun badan kita rendah, namun cengli tetap cengli dan
di manapun cengli itu tetap sama. Kalau ada tamu yang
menyenangkan boleh saja kita terima, kalau toh tamunya

227
tidak menyenangkan hati, buat apa kita musti memandang
rendah diri sendiri dan susah-susah menerima kemarahan
orang?”
In-ji itu memang kecil orangnya tapi besar akal
muslihatnya, sambil berkerut kening ia berkata lagi, “Ooh….
siocia, kita harus berdagang dengan hati yang ramah dan
suasana yang damai, Ciu kongcu telah mengejar jauh-jauh
dari Ban-sian sampai Keng-bun, ini menunjukkan bahwa ia
berniat keras terhadap diri siocia. Cukup kita tinjau dari
tindakannya itu, sekalipun harus menerima sedikit kemarahan
rasanya juga tak terhitung seberapa…….”
Kemudian ia berpaling ke arah Ciu Hoa dan katanya lagi,
“Kongcu-ya, jangan marah lagi siapa berlapang dada dia akan
mendapat rejeki besar, kau tak usah ribut dengan nona kami
lagi. Nah Minumlah secawan air teh dulu, marahmu pasti
lenyap”
Dia lantas mengambil cawan air teh dari atas meja dan
diangsurkan kehadapan ciu Hoa.
Tadi Ciu Hoa bisa marah karena berulang kali ia dibuat tak
mampu menjawab perkataan orang, namun tuduhan yang
dilontarkan tadi hakekatnya cuma tuduhan yang memang
tanpa dasar bukti yang kuat, maka setelah mendengar ucapan
in-ji, ia semakin tak beralasan lagi untuk mengumbar
amarahnya, selain- itu ia merasa berat hati untuk
meninggalkan si nona cantik yang berada di depan matanya
dengan begitu saja.
Dengan berdasarkan alasan itulah, meski dengan sikap
yang masih kaku, ia ambil cawan air teh itu, setelah diminum
satu tegukan, katanya lagi, “Hmm Aku lihat kalian berdua
memiliki ilmu silat yang tangguh, asal usul pun sangat
mencurigakan hati, sebenarnya ada rencana busuk apakah

228
yang hendak kalian lakukan? Menurut penglihatanku, lebih
baik mengaku saja terus terang, kalau tidak Hmm Hmm”
Tiada kelanjutan dibalik kata-katanya itu, dari sini dapat
diketahui bahwa ia hendak menggunakan kata-kata tadi untuk
melepaskan diri dari suasana yang serba runyam baginya itu.
Siau In-ji memang cerdik pandai sekali membawa diri
setelah mendengar perkataan itu ia lantas berkata lagi dengan
serius, “Kongcu-ya disinilah letak kesalahanmu, masa kami
berdua mempunyai rencana tertentu? sekali-pun ada rencana
tertentu paiing banter rencana itu menyangkut bagaimana
caranya untuk menggaet beberapa tahil perak lebih banyak
dari diri kongcu. Kongcu-ya Minum dulu air teh mu, kurangilah
ucapan yang tak perlu, budak akan coba membujuk pula nona
kami.”
“Benarkah kalau rencana kalian ingin mengincar beberapa
tahil perak belaka?” tanya Ciu Hoa.
“Kongcu-ya, kami toh sudah menerangkan kedudukan kami
yang sebenarnya kepadamu? sebagai pelacur apa lagi yang
ingin kami cari kecuali beberapa tahil perak? siapakah didunia
ini yang bersedia dipermainkan orang tanpa mendapat
imbalan.”
“Kalau memang begitu gampang sekali!” seru Ciu Hoa
ketus, “malam ini kongcu menginap di sini dan sepuluh tahil
perak ini boleh kau terima dulu.”
Dia lantas merogoh sakunya dan mengambil keluar
sekeping perak yang beratnya mencapai sepuluh kati
kemudian ‘plok’ dibanting ke atas permukaan meja.
“Waaah tii…. tidak bisa!” tiba-tiba cia In berteriak lagi
dengan gelisah.

229
“Kenapa tidak bisa?” sahut Ciu Hoa sambil mendelik
“apakah engkau sudah lupa akan apa profesimu yang
sebenarnya?”
“Sekalipun begitu, untuk berjual beli toh perlu ada siapa
yang datang lebih dahulu? Malam ini Pek kongcu telah
membayar diriku, maka lebih baik kau….”
“Telur busuk!” tukas Ciu Hoa sambil membentak, “bagiku
tidak berlaku siapa datang duluan, lohu..eeeh…..?”
Ia coba menggoncangkan kepalanya keras-keras, tapi
sudah terlambat, sebelum jeritan itu selesai di ucapkan, ia
sudah roboh terjengkang ke atas tanah dan jatuh tak
sadarkan diri
Ketika Ciu Hoa roboh terjungkal Cia In lantas menjerit
ketakutan, “Aduuh mak, apa yang telah terjadi?Janganjangan…
jangan-jangan orang ini mengidap penyakit ayan?”
Hoa In-liong bukan orang bodoh, apalagi ia mengikuti
kejadian itu dari samping, tentu saja ia tahu kalau Cia In
sedang berpura-pura main sandiwara dan iapun tahu kalau
penyakitnya terletak di dalam air teh yang disuguhkan itu.
Sebagai pemuda yang cerdik, cukup hebat pula reaksinya,
ia tidak menunjukkan wajah kaget, malahan seperti orang
yang gembira karena melihat lawannya roboh, dia tertawa
terbahak-bahak.
“Haaahhhh….. haaahhhh…… haaaaah…… hah jangan
gugup….. Jangan gugup, orang yang mengidap penyakit ayan
tak bakal mampus, sekalipun mampus itu juga kesalahan
sendiri, siapa suruh ia marah-marah dan mengumbar napsu

230
setelah tahu kalau mengidap penyakit aneh.” sengaja dia
mengambil cawan air tehnya dan menghirup satu tegukan.
“Aaah, enak benar kalau bicara!” seru Cia In pura-pura
serius, ” kalau ia benar-benar sakit dan tak dapat bangun lagi,
wah…. bisa jiwanya akan melayang”
“Mau melayang biar melayang Bila ia mampus lantaran
marah-marah, kalau sampai pengadilan mencari dirimu, biar
akulah yang akan menjadi saksi bagi enci In.”
Diam-diam Cia In merasa geli. tapi diluaran ujarnya, “Hoa
kongcu memang berbeda jauh bila di bandingkan orang lain,
biarlah kuucapkan banyak terima kasih dulu kepadamu.”
Betapa terkejutnya Hoa In-liong ketika secara tiba-tiba
mendengar ia mengubah sebutannya, sontak ia berteriak,
“Apa? Engkau tahu…?”
“Siapa yang tidak kenal dengan Hoa kongcu dari Im tiongsan?
Hiiiihhh hihihi….” Cia In tertawa cekikikan.
Hoa In-liong sejera bangkit berdiri, serunya agak gugup,
“Kau… kau…”
Cepat Cia In menyingkir kesamping untuk menghindarkan
diri lalu katanya, “Hoa kongcu jangan marah-marah, kalau
marah nanti akan ikut roboh juga…”
“Sebenarnya siapa engkau?” bentak Hoa ln-Iiong dengan
kaget, “obat apa yang telah kau campurkan ke dalam air teh
itu?”
“Tidak apa-apa, cuma sedikit obat pemabok Jit-jit-im-hunsan
(bubuk pemabok tujuh hari) obat itu tak akan mencabut
nyawa kongcu!”

231
Hoa In-liong marah sekali, sambil menggigit bibir katanya,
“Obat pemabok dari kalangan penyamun juga kalian gunakan?
Hmm Sebenarnya apa tujuanmu…..!”
Belum habis ia berkata, mendadak tubuhnya jadi
sempoyongan dan….
“Blaang!” diapun roboh terjengkang ke atas tanah.
Cia In benar-benar amat bangga, sambil tertawa cekikikan
katanya lagi, “Tadinya aku mengira keturunan dari keluarga
Hoa tidak takut dengan sebala macam obat pemabok, Huuh
Tak tahunya engkau juga tak tahan terhadap obat tersebut.
In-ji Cepat gusur si setan jelek itu kekolong ranjang, kemudian
suruh Hao Ie menyiapkan kereta, kita segera lanjutkan
perjalanan”
In-ji mengiakan, ia lantas menyeret tubuh Ciu Hoa dan
disembunyikan di bawah pembaringan, setelah itu tanyanya
dengan ragu, “Suci, benarkah dia adalah kongcu dari keluarga
Hoa?”
Sebutannya bukan nona lagi, sekarang ia sebut Cia In
sebagai “suci” atau kakak seperguruan.
Cia In sendiri tampak agak gelisah, dengan kurang sabaran
ia menjawab, “Ia sendiripun tidak membantah, apa gunanya
engkau turut menguatirkan dirinya? Cepatan suruh Hao lo-tia
siapkan kereta, kalau sampai anak buahnya si setan jelek
menyadari akan keadaan ini, kita bakal menghadapi bahaya
kerepotan lagi.”
Hakekatnya waktu itu Hoa In-liong tidak semaput, ia cuma
berlagak pingsan belaka, Dengan tubuhnya yang tidak
mempan terhadap racun, jangankan cuma obat pemabok.

232
sekalipun racun yang bisa memutuskan usus juga tak dapat
berkutik terhadap dirinya.
Sekarang sambil berpura-pura, tiap kali ia picingkan
sepasang matanya untuk mengawasi gerak gerik cialn berdua
secara diam-diam.
Sementara itu In-ji telah menyembunyikan tubuh Ciu Hoa
dibawah kolong ranjang, sambil bangkit berdiri ia bertanya
lagi, “Aku lihat orang she-ciu ini mempunyai asal usul yang
besar, apa salahnya kalau sekalian kita bawa pergi?”
“Apa gunanya membawa manusia keroco seperti orang itu?
Bila orang itu penting artinya buat kita, semenjak tadi suci
sudah turun tangan untuk membekuknya.”
“Makin banyak yang kita peroleh semakin menguntungkan,
bagaimanapun toh kereta kita masih muat untuk ranjang
angkut mereka berdua sekaligus!” seru In-ji
“Aaaah, kamu ini tahu apa?” bentak Cia In, “kita bisa
menangkap anak cucunya sekeluarga Hoa- boleh dibilang
sudah sangat beruntung, engkau tahu berapa besar jasa kita
dengan hasil yang kita peroleh ini? Cepat siapkan kereta,
jangan menunda waktu pemberangkatan lagi.”
Kali ini In-ji benar-benar membungkam dalam seribu
bahasa, ia lantas berlalu dari ruangan itu.
Sepeninggal In-ji, cia In bungkukkan badan untuk
membopong tubuh Hoa In-liong. kemudian sambil mencium
dipipinya ia bergumam,
“Pemuda tampan, jangan marah kepadaku Bila bukan
terpaksa, dengan tampangmu yang ganteng dan tubuhmu

233
yang kekar, aku tak akan tega- membiarkan engkau menderita
siksaan lahir dan batin”
Sambil bergumam ia membopong pemuda itu dan
dibaringkan diatas pembaringan, kemudian jari tangannya
bergerak dan mendadak ia totok jalan darah Ki-ciat di atas
dada pemuda itu.
Jalan darah Ki-ciat-hiat disebut pula Huan-hun hiat (jalan
darah pembalik sukma), hiat-to tersebut termasuk salah satu
diantara delapan buah jalan darah pingsan yang terdapat
ditubuh manusia.
Kejadian ini berlangsung amat mendadak dan sama sekali
di luar dugaan, sekalipun anak cucu keluarga Hoa belajar
kepandaian menggeser jalan darah, walaupun Hoa loji binal
dan cerdik, tapi la tak pernah menyangka kalau Cia in bakal
menotok jalan darah pingsannya walaupun sudah diberi obat
pemabok.
Sebab itulah, ketika totokan tersebut bersarang telak diatas
dada Hoa In-liong, si anak muda itu seketika jatuh pingsan
dan kali ini benar-benar tidak sadarkan diri
Selang sesaat kemudian in-ji telah muncul kembali dalam
ruangan, cia In sendiripun telah selesai membenahi
perbekalannya, dua orang perempuan itupun satu ke kiri yang
lain di kanan lantas memayang Hoa jiya yang mirip orang
mabok itu keluar dari rumah penginapan, naik ke atas kereta
dan melanjutkan perjalanan menuju kearah timur.
Beberapa hari sudah lewat tanpa terasa, suatu tengah hari
sampailah kereta kuda yang kecil mungil itu diluar pintu barat
kota Kim-leng.

234
Bila ditinjau dari kemunculannya di kota tersebut, dapat
ditarik kesimpulan bahwa ucapan cia in ada beberapa bagian
memang boleh dipercaya sebab ia benar-benar menuju kekota
Kim-leng seperti yang dikatakan.
Ketika itu kereta mereka sudah berada dua panahan dari
pintu kota sebelah barat, Hou lo-tia yang bertindak sebagai
kusir telah bermandikan keringat karena lelah, ia mencambuk
kudanya keras-keras dan melarikan keretanya lebih cepat lagi
untuk menerobos masuk ke dalam kota.
Mendadak dari balik semak belukar, ditepi telaga Mo-chiuouw
muncul lima ekor kuda jempolan, pada-kuda yang
pertama duduklah seorang pemuda perlente yang memakai
jubah sutera halus.
Terdengar kongcu itu menuding kearah depan sambil
berseru nyaring, “Hey… coba lihat siapa yang datang?”
Kemudian teriaknya lagi dengan lebih keras.
“Hou lo-tia, apakah nona Cia telah pulang?” Sebelum Hou
Lo-tia sempat menjawab, cia-In yang berada didalam kereta
telah berbisik lirih. “Jangan perdulikan mereka, cepat kita
kabur masuk ke dalam kota.”
Tentu saja Hoa lo-tia tidak berani membantah, ia
mencambuk kudanya semakin kencang lagi sehingga kereta
itu lari masuk ke dalam kota dengan lebih cepat pula.
Ketika kongcu muda itu melihat tegurannya tidak digubris
oleh Hou Lo-tia, ia lantas membedal pula kudanya untuk
mengejar, dengan wajah penuh kemarahan pemuda itu
menyusul kesamping kereta lalu membentak dengan suara
berat.

235
“Hoa lo-tia, sebenarnya apa maksudmu? Apakah aku Sa
beng Siang (Beng siang saku) Yu-Siau-lam tidak pantas untuk
berkenalan dengan dirimu…”
Kudanya dicamplak kemuka dan menghadang jalan pergi
kereta tersebut, karena ia berdiri ditengah jalan serta merta
Hou lo-tia tak dapat meneruskan pula perjalanaannya.
Padahal kereta itu sedang dilarikan dengan kencangnya,
karena mendadak jalan lebatnya terhadang, terpaksa ia harus
menarik tali les kudanya kencang-kencang.
Diiringi ringkikan panjang, kuda menghela kereta itu
mengangkat sepasang kakinya keangkasa, dan keratapun
seketika itu juga terhenti.
Selang sesaat kemudian beberapa ekor kuda yang ada
dibelakang telah menyusul datang pula mereka lantas berdiri
berjajar dibelakang Yu Siau-lam.
Karena jalan perginya sudah terhadang, mau tak mau Cia
In harus pura-pura melongok keluar dari jendela sambil
menegur dengan lagak tak habis mengerti.
“Hou lo-tia, ada urusan apa?” sesudah berheti sebentar ia
baru menambahkan, “oooh Rupanya Yu-ya yang telah
datang…”
Ya Siau-lam tampak sangat gembira setelah bertemu
dengan Nona Cia, ia segera melompat turun dari atas kuda
dan memburu kedepan, katanya, “Rupanya nona Cia benarbenar
telah pulang, nona Cia sejak engkau berangkat ke
barat. setiap hari aku sangat mengharap- harapkan
kedatanganmu, kami rasakan seakan-akan sedang
menghadapi musim kemarau yang panjang. Haahhh
haaaaahhh …haaaaahhh akhirnya kau kembali juga hari ini.”

236
Meski gelisah sekali perasaan hati Cia In waktu itu, ia tak
dapat menunjukkan sikapnya itu di luaran, terpaksa sahutnya
dengan kata-kata merendah, “Aduuh…aku tak berani
menerima kata-katamu itu, begini saja, Malam nanti aku akan
mengadakan perjamuan dalam kamarku, harap Yu-ya untuk
memberi muka dan menghadirinya.”
Yu Siau-lam tertawa terbahak-bahak.
“Haaahh…… haaaaahhh…. haaaahh untuk mengadakan
perjamuan guna menyambut kedatanganmu tidak pantas
kalau engkau yang selenggarakan, sebab kamilah yang wajib
mengadakan bagimu, biar kutemani nona Cia masuk ke dalam
kota.”
Seraya berkata ia lantas menarik pintu kereta dan
melangkah marak ke dalam ruangan kereta tersebut.
Cia In tak menduga kalau pemuda itu bakal bertindak
demikian, dengan gelisah ia lantas mendorongnya keluar
sambil berseru, “Ruangan kereta amat kotor, kita berjumpa
saja malam nanti.”
Ruangan kereta itu luasnya cuma delapan, setelah pintu
kereta terbuka maka semua benda yang berada dalam
keretapun terlihat jelas, Hoa In-liong berbaring diatas lantai
permadani tepat di hadapan cia In, tentu saja dapat terlihat
dari luar dengan jelas.
Pada mulanya Yu Siau-lam tampak agak tertegun,
menyusul kemudian ia tertawa terbahak-bahak
“Haaaaahhhh….haaaaahhhhh, haaaaahhh aku masih
merasa heran, kenapa Hou lo-tia tak sudi menghentikan

237
keretanya, ternyata nona Cia pulang dengan membawa
seorang laki-laki.”
Ia lantas mencengkeram pakaian Hoa In liong bagian
dadanya dan mengangkat keluar dari kereta.
Cia Ia semakin gelisah lagi, ia menubruk kedepan untuk
mengejar.
“Cepat lepaskan orang itu!” teriaknya cemas, “orang itu
adalah….”
Tapi sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Yu Siau-lam
telah melemparkan tubuh Hoa In-liong ke tangan rekannya.
“Saudara Ek hong, harap membawa bocah itu kerumahku,
siau-te akan menemani nona Cia masuk ke dalam kota!”
serunya.
Sudah tentu Cia In tak memperkenankan orang itu
membawa pergi Hoa In-liong, sepasang kakinya menjejak
permukaan tanah dan segera menubruk kedepan.
“Tidak boleh Tidak boleh Kalian tak boleh membawa pergi
orang itu…. hayo cepat kembalikan kepadaku!” teriaknya
cemas.
Agak terkejut Yu Siau-lam menyaksikan kegesitan nona
cantik itu, serta merta ia berkelebat ke muka dan menghadang
jalan pergi Cia In, bentaknya dengan suara dalam,
“Berhenti..Tak kusangka kalau nona Cia juga merupakan
seorang pendekar perempuan dari kalangan dunia persilatan,
kalau begitu mata ku telah kau lamuri selama ini.”
Cia In semakin gugup dan gelagapan, ia tak menyangka
kalau saking paniknya tanpa disadari ilmu meringankan

238
tubuhnya telah dipergunakan, setelah ditegur oleh Yu Siaulam
ia baru kaget dan termangu-mangu.
Setajam sembilu sepasang mata Yu Siau-lam, ditatapnya
perempuan itu tanpa berkedip. kemudian ujarnya lebih jauh,
“Nona Cia memiliki ilmu silat yang sangat lihay, akan tetapi
selama ini harus menyembunyikan diri dalam sarang pelacur,
aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti ada sebab-sebabnya
bukan? Yu Siau-lam memberanikan diri untuk minta
penjelasan dari nona, andai kata engkau mempunyai
kesulitan, kamipun bersedia membantu kau untuk
menyelesaikannya … “
Setelah termangu- mangu beberapa waktu, Cia In dapat
menenangkan kembali perasaannya yang panik ia berkata,
“Tuan Yu, buat apa kau musti mencampuri urusan orang lain?
Lebih baik serahkan kembali orang itu kepadaku.”
Yu Siau-lam tertawa dingin.
“Heehhh heeehhh….heeehhh ….kau anggap julukan ku
sebagai Say-beng-siang kudapatkan dengan gampang?
Berbicara dari soal hubungan, maka dengan persahabatan
antara nona dengan diriku, maka kesulitan yang nona hadapi
sama pula dengan persoalanku, bila aku mencampurinya maka
tak bisa dikatakan bahwa aku sedang mencampuri urusan
orang lain, aku kira lebih baik nona terangkan saja kepadaku
secara berterus terang…”
Cia in benar-benar amat gelisah bercampur panik, saking
bingung, dan gugupnya ia sampai tak mampu mengucapkan
sepatah katapun.
Selang sesaat kemudian setelah ia berhasil menguasai
pergolakan hatinya, nona itu baru berkata- lagi dengan
lembut, “Sudah lama aku dengar orang berkata tentang

239
kebesaran jiwa tuan Yu yang suka menolong orang, akupun
merasa berterima kasih dan berhutang budi atas perhatian
dan bantuan yang telah Tuan Yu berikan kepadaku selama ini
cuma…cuma terus terang kukatakan bahwa aku mempunyai
kesulitan yang tak dapat diutarakan kepada orang lain, harap
tuan Yu sudi memaklumi keadaanku dan memaafkan diriku
ini.”
Yu Siau-lam sama sekali tidak terpengaruh oleh bujuk
rayunya, yang lemah lembut itu, ia malahan mendengus.
“Hmm Kalau kau telah mengetahui bahwa aku suka
menolong orang, tentunya engkau tahu bukan bahwa aku
sangat membenci terhadap segala macam tindak kejahatan?
sekarang terbukti sudah bahwa engkau pandai bersilat, dan
lagi menyembunyikan diri dalam rumah pelacuran, bila tiada
kesulitan apa-apa, berarti engkau mempunyai rencana busuk.
Maka bila tidak kau terangkan sekarang juga, terpaksa aku
harus memaksa dirimu dengan memakai kekerasan”
Tercekat hati Cia In sesudah mendengar ucapan itu,
kembali ia berusaha memohon dengan lemah lembut, “Tuan
Yu, kenapa kau musti menyusahkan diriku? Keuntungan dan
manfaat apakah yang bakal, tuan Yu dapatkan dari
perbuatanmu itu?”
“Selamanya aku bertindak sesuatu tanpa memikirkan soal
untung ruginya, yang lebih kuutamakan adalah soal pantas
atau tidaknya urusan itu kucampuri…” tukas Yu Siau-lam.
“Memaksa orang untuk membicarakan soal yang
merupakan kesulitan bagi dirinya, apakah ini juga terhitung
perbuatan yang pantas?”

240
“Nona Cia Tak ada gunanya kau membela diri dengan
pelbagai alasan, aku lihat bicara sajalah secara terus terang,
daripada hubungan kita jadi retak dan tak enak”
Diam-diam Cia In memeriksa situasi yang dihadapinya, ia
lantas sadar bahwa persoalan ini tak dapat diselesaikan secara
damai lagi, maka sambil menarik muka ia berkata, “Tuan Yu,
jika engkau bersikeras untuk mencampuri urusan ini, itu
berarti hubungan kita sudah retak”
“Haaabhh….haaahhh….haaahhh….tadinya aku masih
menduga-duga kenapa kau pulang dengan membawa seorang
Laki-laki, tampaknya dugaanku memang tidak keliru, agaknya
engkau mempunyai rencana busuk dan tujuan tertentu!” seru
Yu Siau-lam sambil terbahak-bahak, setajam sembilu sorot
matanya.
Sementara itu paras muka Cia In telah berubah jadi hijau
membesi, dingin dan kaku bagaikan balok es.
“Tuan Yu!” hardiknya lantang, “cepat serahkan kembali
orang itu kepadaku, kalau tidak, heehh.. heeehhh….heeehhh…
jangan salahkan kalau aku akan bertindak keji dan tak kenal
ampun”
Yu Siau-lam terbahak-bahak semakin keras, ia tidak
menggubris ancaman itu, sebaliknya sambil berpaling
tanyanya.
“Saudara Ek-hong, apakah orang itu juga seorang jago
persilatan? Apakah jalan darahnya tertotok?”
“Paras muka orang ini rasanya sangat kukenal seakanakan
pernah kujumpai disuatu tempat” sahut laki-laki yang
bernama Ek-hong itu dengan nyaring, “jalan darahnya telah
kubebaskan, tapi ia masih juga tak sadarkan diri.”

241
Yu Siau-lam jadi tertegun.
“Kalau begitu dia pasti sudah dikerjai dengan cara-cara
yang lain, saudara Ek-hong Tolong bawa pulang dulu orang itu
kerumahku, mintalah kepada ayahku untuk memeriksa
kesehatan badannya.”
Sebelum laki-laki yang bernama “Ek-hong” itu bergerak, cia
In telah berteriak lagi dengan gelisah, “Hou lo tia In ji Hadang
orang itu jangan biarkan mereka pergi, jangan mereka kabur
dengan membawa serta orang itu.”
Baik In-ji maupun kakek si kusir kereta serentak bergerak
ke depan dan menghadang jalan pergi keempat penunggang
kuda lainnya, gerak tubuh mereka enteng, lincah dan cepat
bagaikan sambaran kilat, jelas orang-orang itu merupakan
jago kelas satu dalam dunia persilatan-
Tak terkirakan rasa kagetnya yang dialami Yu Siau-lam
setelah menjumpai keadaan tersebut, sambil putar badan
bentaknya, “Nona Cia, sebelum duduknya persoalan dibikin
jelas, aku tak ingin menyalahi dirimu, katakan saja siapa orang
itu? Mengapa kau bekuk dia kemari?”
Cia In yang sekarang tidak nampak genit lagi ia sudah
menarik kembali semua senyum dan kegenitan yang dibuatbuat,
wajahnya nampak dingin menyeramkan, bukan saja
kaku reperti patung ukiran bahkan penuh diliputi hawa napsu
membunuh, siapapun tak akan menyangka kalau perempuan
secantik ini sebenarnya adalah seorang pelacur.
Dengan tatapan mata tajam, dan muka bengis nona itu
berkata sepatah demi sepatah kata, “Tuan Yu, sekalipun aku
masih bukan tandinganmu, akan tetapi setelah engkau
bersikeras untuk mencampuri urusanku, terpaksa akupun tak

242
akan berpikir panjang lagi, sebelum kau serahkan kembali
orang itu kepadaku, tak nanti akan kusudahi persoalan ini.”
Sambil berkata ia lantas merogoh ke dalam sakunya dan
mencabut keluar sebilah pisau belati yang tajam dan
memancarkan cahaya berkilat yang menyilaukan mata.
Yu Siau-lam semakin terkejut menghadapi kejadian
tersebut, meski demikian ia berusaha untuk menyimpan rasa
kagetnya di hati, ujarnya kembali dengan tenang, “Nona Cia
sekalipun engkau coba menggunakan kekerasan, jangankan
dianggap bahwa gertakanmu itu akan membuat aku jadi
takut, aku orang she-Yu tak akan mengenal apa artinya takut
dan selamanya aku tak pernah meninggalkan sesuatu
pekerjaan ditengah jalan.”
Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Cia In telah
menukas lagi dengan ketus, “Engkau tak usah banyak bicara
lagi, bila aku tak dapat menandingi kelihayanmu, orang itu
segera kau bawa pergi.”
“Saudara Siau-lam!” tiba-tiba Ek-hong berteriak, “aku
sudah teringat sekarang, orang ini mirip Hoa tayhiap dari Intiong-
san.”
Mendengar perkataan itu, Yu Siau-lam sangat terperanjat.
“Apa? “jeritnya sambit putar badan, mukanya penuh
perasaan kaget yang tak terkirakan, “Kau maksudkan Hoa
tayhiap?”
“Bukan….. Bukan….. Hoa tayhiap pribadi, dia adalah
putranya Hoa tayhiap”
Wan Ek-hong membenarkan keterangannya.

243
Yu Siau-lam telah memutar badannya kembali, kini
mukanya makin keren, sinar matanya tajam dan sikapnya
amat bersungguh-sungguh.
“Ayoh katakan!” dia menghardik, “Benarkah orang ini
adalah Hoa kongcu, putra Hoa tayhiap?”
“Hmm, semenjak tadi toh aku sudah terangkan,” kata Cia
In ketus, “jika aku bukan tandinganmu, orang itu boleh kau
bawa pergi Buat apa banyak bicara lagi?”
Perbagai ingatan berkecamuk dalam benak Yu Siau-lam,
setelah mempertimbangkan untung ruginya, akhirnya pemuda
itu memutuskan untuk mengendalikan hawa amarah yang
semakin berkobar itu
“Budi kebaikan yang telah diperbuat Hoa tayhiap bagi umat
persilatan besar sekali, kami orang-orang dari keluarga Yu
merasa berhutang budi kepadanya, tentu saja tak nanti
kubiarkan anak cucu nya diganggu oleh orang walau hanya
seujung rambutpun, kau tak lebih hanya seorang perempuan,
sejahat-jahatnya juga ada batasnya, akupun tak ingin
bergebrak melawanmu, lebih baik berlalulah dari sini,” kata
pemuda itu.
“Pergi?” jengek Cia In sambil tertawa dingin, “tinggalkan
dulu orang itu disini!”
Pisau belatinya langsung diayun kemuka dan menyapu
pinggang si anak muda itu.
Serangan itu sepintas lalu kelihatannya lambat sekali, pada
hakekatnya begitu cepat hingga sukar dilukiskan dengan katakata,
terlihatlah cahaya kilat menyambar di udara, tahu-tahu
segulung hawa pedang yang tajamnya luar biasa telah
menyergap tubuh Yu Siau-lam.

244
Waktu itu Yu Siau-lam baru saja memutar badannya, ketika
merasakan munculnya hawa pedang yang menyerang badan,
tanpa berpaling cambuknya segera diputar ke belakang,
sementara kakinya melanjutkan perjalanan menuju ke depan.
“Saudara Ek-hong ayoh kita cepat pergi!” teriaknya lantang.
Gerakan tubuh dari si anak muda itu betul-betul cepatnya
luar biasa, lagi pula serangan cambuknya itu penuh berisikan
bawa serangan yang tajam dan kuat, hal ini bukan saja
menyebabkan serangan dari Cia In terbendung, bahkan ketika
gadis itu akan mengejar lebih jauh, Yu Siau-lam telah duduk
dialas pelana kudanya dan membedal binatang itu ke dalam
kota.
Empat orang rekannya tidak berayal lagi, masing-masing
membedal pula kudanya dan menyusul dari belakang.
Tinggi sekali kepandaian kelima orang itu dalam ilmu
penunggang kuda, dan lagi gerakan mereka pun terlampau
cepat, menanti In-ji dan kakek she-Hek menyadari keadaan itu
dan siap menghadang, yang tertinggal hanya debu yang
mengepul di angkasa, mau dihadangpun tidak ada gunanya.
Siau In-ji tampaknya tidak puas, dia lantas menjejakkan
kakinya ketanah dan siap memburu ke-depan, namun cia In
segera menghalanginya.
“Aaaai…. In-ji, tak usah kau kejar lagi,” katanya sambil
menghela nafas panjang, “sungguh tak kusangka seorang lakilaki
romantis yang suka main perempuan pun memiliki ilmu
silat yang tak terkirakan lihaynya, aaaai…. sekalipun berhasil
kita kejar, tapi apa yang dapat kita lakukan terhadap mereka?”

245
“Lantas, apakah kita harus berpeluk tangan belaka?” seru
In-ji tidak puas.
“Tidak berpeluk tangan lalu kita musti berbuat apa lagi?
Ayolah naik ke atas kereta Persoalan yang harus kita pikirkan
sekarang adalah bagaimana caranya menghadapi mereka jika
orang-orang itu mencari gara-gara lagi.”
Diiringi helaan napas panjang perempuan itu naik ke dalam
keretanya, Hek-Lotia pun mencambuk kudanya dan cepatcepat
melarikannya ke dalam kota Kim-leng.
000000000000
KOTA Kim-leng disebut juga Kang-ning, disinilah letak
bekas kerajaan dari enam pahala yang silam.
Kota Kim-leng yang sekarang adalah sebuah kota besar
yang ramai dan paling sibuk dalam perdagangan, bukan saja
penduduknya padat, banyak pula terdapat tempat rekreasi
dan tempat-tempat bersejarah yang banyak dikunjungi kaum
pelancong. Yaaa, kota Kim-leng memang merupakan kota
yang paling termashur di wilayah Kanglam.
Tepi sungai Chin-hway, samping kuil Hu-cu-bio penuh
dikunjungi kaum pelancong dipagi hari, penuh irama nyanyian
dan aneka warna lampu di malam hari, tempat-tempat yang
termashur itu boleh dibilang sibuk siang ataupun malam,
merupakan tempat paling ramai yang dikunjungi orang tiap
harinya.
Sebuah gedung besar yang megah dan mentereng berdiri
menghadap jalan besar dengan membelakangi sungai Chinhway,
letaknya hanya kira-kira satu panahan dari kuil Hu-cubio.

246
Gedung mentereng itu berdinding merah dengan atap
warna hijau, bangunan lotengnya tinggi dan kokoh, beberapa
sampan mungil bertengger ditepi sungai Chin-hway dibelakang
bangunan tersebut, lentera teng-liong yang besar dengan lilin
merah yang memancarkan sinar berkedip tergantung disisi
pintu yang lebar, menyinari tulisan “Gi-sim-wan” merupakan
rumah pelacuran paling termashur dalam kota Kim-leng,
bukan saja disana tersedia koki-koki kenamaan, tersedia
sampan mungil untuk berpesiar, tersedia juga gadis-gadis
cantik jelita yang akan siap melayani tetamu-tetamunya untuk
makan minum serta mencari kesegaran hidup.
Banyak sekali langganan rumah pelacuran Gi-sim-wan,
mereka bukan saja terdiri diri kaum pedagang besar,
pembesar-pembesar kenamaanpun kebanyakan mengenal
rumah bordil ini.
Kereta kuda yang ditumpangi Cia In telah berbelok-belok
sekian lama dalam kota Kim-leng akhirnya setelah tiba ditepi
sungai Chin-hway, kereta itu meluncur masuk ke dalam rumah
pelacuran Gi-sim-wan.
Gadis itu pernah mengaku sebagai pelacur dari kota Kimleng,
tampaknya pengakuan itu memang benar.
Tapi begitu kereta kuda itu masuk ke halaman Gi-sim-wan,
tiba-tiba seluruh isi rumah pelacuran itu jadi gaduh dan tidak
tenang, lama sekali suasana itu baru pulih kembali dalam
keheningan. Apa yang terjadi? Mengapa demikian?
Sayang pagar dinding rumah pelacuran itu terlampau
tinggi, apalagi bukan waktunya menerima tamu, tentu orang
lain tak ada yang tahu apa gerangan yang telah terjadi disana.

247
Kalau pihak Cia in kelihatan panik, maka keadaan Yu Siaulam
yang sedang kabur masuk ke dalam kota pun tak kalah
tegangnya.
Mereka merasa kurang leluasa untuk membedal kudanya
ditengah jalan raya yang ramai, maka kelima orang itu
sengaja mencari jalan-jalan lorong yang sempit untuk
memotong jalan.
Setelah melewati loteng, tambur, keluar dari pintu Hian-buhun,
kuda-kuda mereka dilarikan terus menuju ke sebuah
gedung besar yang megah dan kokoh diteti telaga.
Sebelum pindah di tempat tujuan, dari atas kudanya Yu
Siau-lam telah berteriak keras-keras, “Siapa yang giliran ronda
hari ini? Cepat undang Lo-tay-ya, katakan ada urusan penting”
Seorang Laki-laki kekar muncul dari balik pintu, sambil
bungkukkan badan memberi hormat sahutnya, “Lapor kongcu,
hari ini giliran hamba Yu Bi yang meronda.”
“Cepat! Cepat undang Lo tay-ya!” teriak Yu Siau-lam dari
kejauhan sambil ulapkan tangannya, “katakan kalau Hoa
kongcu dari Im-tiong-san datang berkunjung!”
Yu Bo tampak agak tertegun, tapi cepat dia mengiakan.
“Baik,” dengan langkah cepat dia putar badan dan lari
masuk ke dalam gedung megah itu.
Yu Siau-lam sekalian larikan kuda mereka menerobos
masuk ke dalam halaman dan berhenti tepat di depan ruang
tengah.
Setelah melakukan perjalanan cepat dalam suasana tegang,
peluh telah membasahi sekujur badan orang-orang itu, tapi

248
pikiran Yu Siau-lam waktu itu diliputi kegelisahan dan rasa
cemas, tentu saja tak sempat baginya untuk memperdulikan
keringat bau yang membasahi badannya itu.
“Saudara Ek-hong!” teriaknya setelah melompat turun dari
kuda, “apakah keadaan Hoa kong cu terjadi perubahan?”
Pemuda yang disebut “saudara Ek-hong” juga seorang
pemuda tampan yang bertubuh tegap dan kekar, sambil
membopong Hoa In-liong dia melangkah naik ke undakundakan
batu di depan ruangan, ketika mendengar
pertanyaan itu, dia berpaling.
“Hoa kongcu masih pingsan seperti sedia kala,” sahutnya,
“rupanya goncangan dijalan tadi sama sekali tidak
menyebabkan dia menjadi sadar kembali.”
“Eeeh…… jangan-jangan isi perutnya terluka parah,
makanya dia tak sadarkah diri sampai kini?” tiba-tiba seorang
pemuda kekar beralis tebal bermata besar yang ada dibela
kang menimbrung.
“Aaah, tak mungkin,” kata seorang pemuda jangkung
dengan mata yang jeli di sisi pemuda tadi, “coba kau lihat air
muka Hoa kongcu tetap segar dan napasnya teratur bukan
begini macam orang yang terluka parah isi perutnya.”
Pemuda bermuka persegi yang berjidat lebar disamping
mereka menyela pula dengan cepat, “Huuss, kalian jangan
ngawur seenaknya, itulah tanda-tandanya orang yang tertotok
jalan darahnya, saudara Ek-hong Cepat baringkan Hoa kongcu
di kursi, kita periksa lagi keadaannya dengan lebih teliti, siapa
tahu kalau kita temukan tanda-tanda lain yang bisa kita
jadikan petunjuk? “

249
Diiringi pelbagai suara yang mengemukakan pendapatnya,
pemuda-pemuda itu mengiringi “saudara Ek-hong” masuk ke
ruang tengah, Ek-hong membaringkan tubuh Hoa ln- liong
diatas sebuah meja besar, kemudian sambil menyeka peluh
yang membasahi jidatnya dia berkata, “Menurut pendapat
siau-te, kemungkinan besar Hoa kongcu telah dicekoki sejenis
obat yang hebat sekali daya kerjanya.”
“Aaaah…. masuk diakal!” teriak pemuda kekar yang ada
disampingnya sambil bertepuk tangan,
“hahaha….haaaahhh……haaaahhh… memang harus diakui,
diantara kita berlima, ilmu silat saudara Ek-hong lah yang
paling tinggi, andaikata cuma jalan darahnya yang tertotok
saudara Ek-hong tentu akan mengetahuinya, betul Aku yakin
delapan puluh persen Hoa kongcu sudah dicekoki obat racun
yang lihay”
“Cong-gi te jangan berkaok-kaok macam kunyuk
penasaran,” tegur Yu Siau-lam dengan dahi berkerut,
“bagaimanapun toh sebentar lagi ayahku bakal sampai disini.
asal ayahku tiba, semua persoalan akan beres dengan
sendirinya.”
Sementara itu seorang pelayan masuk ke dalam ruangan
dengan membawa sebuah baki, di atas baki terletak beberapa
cawan air teh panas.
“Letakkan air teh itu dimeja, dan cepat lapor kepada lotayya!”
seru Yu Siau-lam sambil ulapkan tangannya, “katakan
kalau Hoa kongcu dari perkampungan Liok-soat-san-ceng
berada dalam keadaan pingsan, kini berada diruang depan,
harap Lotay-ya cepat-cepat datang kemari, minta agak
cepatan sedikit.”
“Baik” pelayan itu mengiakan, setelah meletakan baki air
teh ke atas meja, dia lari keluar dari ruangan.

250
Sepeninggal pelayan itu, Yu Siau-lam memandang sekejapkearah
Hoa In-liong tiba-tiba ia menghela napas panjang.
“Aaai….. saudara-saudaraku dan sobat-sobatku menghargai
diriku sebagai Say-beng-siang (Beng siang sakti), tapi kalau
kutinjau dari keadaan yang kuhadapi sekarang, yaa…
sekalipun tak sampai mengganggu khalayak umum sebetulnya
julukanku itu terlalu berlebihan”
“Hey, saudara Siau-lam Kenapa tiba-tiba kau berkeluh
kesah?” tegur cong-gi si pemuda kekar beralis tebal itu sambil
berkenyit, “Kim-leng ngo kongcu (lima tuan muda dari kota
Kim-leng) adalah saudara angkat yang saling hormat
menghormati, cinta mencintai, siapa yang tak tahu kalau kita
adalah sahabat karib? orang bilang daripada punya satu
sahabat, lebih baik punya tiga teman, apa salahnya kalau kita
punya banyak sahabat? Kan banyak teman banyak pula
faedahnya.”
Perlu diterangkan disini, saudara Cong-gi itu bernama Coa
Cong-gi, saudara Ek-hong bernama Wan Ek-hong, pemuda
yang bertubuh jangkung tadi bernama Li Pa-se sedang yang
berwajah persegi itu bernama Ko siong-peng, ditambah Yu
Siau-lam seorang mereka disebut Kim-leng-ngo kongcu lima
tuan muda dari kota Kim-leng.
Kelima orang itu semuanya merupakan keturunan dari
keluarga persilatan, usia mereka hampir sebaya, jiwa dan
semangat mereka sama-sama gagahnya, berjiwa pendekar
dan suka menolong yang lemah menindas yang kuat.
Dihari-hari biasa mereka paling suka berpesiar ke tempat
yang indah dan minum arak menikmati hidup, apalagi ilmu
silat yang mereka miliki sangat lihay, bukan saja banyak
teman bahkan sering kali suka mencampiri urusan orang lain.

251
Sebab itulah hampir setiap penduduk kota itu mengenal
siapakah Kim-leng-ngo kongcu, sebagai pemuda-pemuda yang
gemar nama besar, tentu saja tindak tanduk mereka semakin
dipelihara.
Tapi sekarang, tiba-tiba saja Yu Siau-lam berkeluh kesah,
bukan saja Coa Cong-gi seorang yang dibuat keheranan,
rekan-rekan yang lainpun sama-sama memandang rekannya
dengan muka tertegun, mereka ingin tahu apa sebabnya
saudara tua mereka ini berkeluh-kesah. Yu Siau-lam
menjawab..
“Yaa. dalam hal ini tak aneh kalau saudara Cong-gi merasa
tercengang,” katanya, “malahan aku sendiripun merasa sedikit
bingung dan tak habis mengerti. Aai, bagaimanapun juga,
dihari-hari biasa aku memang terlalu suka bermain sehingga
menghadapi urusan serius seperti hari ini tiba-tiba saja
sikapku jadi gugup dan gelagapan, tidak pantaskan kalau aku
selalu menggantungkan kemampuan ayahku?”
“Oooh…. jadi maksud saudara Siau-lam, dimasa lalu kau
hanya tahu bermain dan menghambur-hamburkan waktu,
sehingga kepandaian dari empek Yu tak dapat kau warisi
dengan sempurna?” tanya Po-seng, si anak muda yang
jangkung itu dengan dahi berkerut. Yu Siau-lam mengangguk.
“Konon kepandaian ayahku dalam soal ilmu pertabiban dan
kepandaian mengenali racun, memunahkan racun, kecuali
masih kalah bila dibandingkan dengan kemampuan dari Kiutok-
sian-ci yang bercokol di wilayah Biau, boleh dibilang di
dunia saat ini tak ada yang bisa menandingi lagi tapi siaute….
yaa, siau-te paling banter cuma berhasil mempelajari
sedikit kulit luar dari kepandaian ayahku, tidak pantaskah
kalau hatiku jadi risau karena soal ini? Tidak seharuskah aku
berkeluh kesah?”

252
Coa Cong-gi yarg kekar dan berotot adalah pemuda kasar
yang selamanya tak mau berpikir dengan otaknya, mendengar
perkataan itu sontak dia menjawab, “Aaaah, kalau cuma soal
itu apa susahnya? saudara Siau-lam tak usah berkeluh kesah
lagi, aku lihat usiamu juga masih muda, kalau ingin belajar
dengan tekun, sekarang toh masih belum terlambat?”
Yu Siau-lam kembali tertawa getir.
“Tak salah memang ucapan itu, belum terlambat bila aku
ingin belajar mulai sekarang, tapi bagaimana dengan keadaan
Hoa kongcu ini? seandainya dia sampai terjadi sesuatu,
kendatipun dikemudian hari ilmu pertabibanku lihay, lalu apa
gunanya? Akhirnya toh siau-te harus menanggung rasa
menyesal sampai akhir hayat?”
Coa Cong-gi melotot besar-besar.
“Apa?” teriaknya dingin dan cemas bercampur kaget,
“maksudmu Hoa kongcu…”
“Engkau toh bisa melihat sendiri keadaan Hoa kongcu pada
saat ini?” tukas Yu Siau-lam sambil tertawa getir, “coba
lihatlah, keadaannya seperti terluka parah tapi tidak terluka,
seperti keracunan tapi bukan keracunan, kalau dibilang jalan
darahnya yang tertotok, kita tak tahu jalan darah yang
manakah yang telah tertotok, bila kita abaikan kesempatan
yang sangat baik ini untuk mengobati lukanya, kalau sampai
terjadi apa-apa atas dirinya, bukankah kita semua akan
menyesal sampat akhir hayat? sebaliknya bila aku sudah
berhasil menguasai ilmu pertabiban dari ayahku, sekalipun
mungkin sikapku masih kelabakan, toh perasaan hatiku jauh
lebih baikan daripada sekarang. Adik Cong-gi, ketahuilah pada
saat ini aku bukan lagi berkeluh-kesah, hakekatnya aku

253
sedang menyesal, menyesal kenapa tidak sedari dulu baik-baik
mempelajari ilmu pertabiban tersebut dari ayahku.”
Ketika perkataan itu berakhir, tanpa terasa semua orang
mengalihkan sinar matanya ke atas wajah Hoa In-liong,
tampaklah air mukanya masih tetap segar seperti sedia kala,
napasnya sangat teratur dan gejala macam begini memang
bukan gejala dari orang yang keracunan atau menderita luka
dalam yang parah, karenanya kelima orang pemuda dari Kimleng
itupun berdiri membungkam dengan dahi berkerut.
selang sesaat kemudian, tiba-tiba Coa Cong-gi berseru dengan
suara lantang, “Saudara Siau-lam, kalau dibicarakan lagi,
kesemuanya ini adalah salahmu, mengapa pada saat itu tidak
kau tanyakan duduknya persoalan kepada Cia In sampai
jelas?”
“Aaai memangnya Cia In bersedia untuk memberi
keterangan kepada kita? selain itu yaaa, waktu itu aku
sendiripun sedang gelisah bercampur panik, tak sampai
pikiranku untuk berpikir sampai kesitu.”
“Huuuh, dengan andalkan apa dia berani tak menjawab?”
Coa Cong-gi masih juga melotot dengan mata mendelik,
“Hmm….. sekarang juga aku akan ke sana untuk bertanya
kepadanya.”
Dengan langkah lebar dia beranjak dari tempatnya semula
dan melangkah ke pintu luar. Ko siong-peng cepat melangkah
ke depan menghadang jalan perginya.
“Kau tak usah cari tahu,” katanya “Hoa kongcu toh berhasil
kita rampas dari tangannya? Itu berarti pada saat ini kita
berhadapan sebagai musuh dengannya tak nanti perempuan
itu bersedia untuk memberi keterangan kepada kita-kita.”

254
“Hmm…… Masa dia berani membungkam?” dengus Co
Cong-gi dengan rasa penasaran.
Dia ingin melewati Ko siong-peng dan keluar dari ruangan
itu, tapi baru beberapa tindak ia berjalan, tiba-tiba terdengar
suara yang serak-serak tua berkumandang dari ruangan
belakang, “Anak Lan, bagaimana keadaan Hoa kongcu?”
Berbareng dengan berkumandangnya ucapan tadi, dari
balik pintu masuklah seorang kakek yang berjenggot panjang
berambut putih, dibelakangnya mengikuti seorang bocah lakilaki
yang membawa kotak berisi obat-obatan.
Kakek itu bernama Kanglam Ji-gi (Tabib sosial dari Kanglam)
Yu siang-tek. dia tak lain adalah ayah Siau-lam seorang
dermawan yang paling dikagumi dikota Kim-leng.
Coa Cong-gi segera membatalkan niatnya untuk keluar,
bersama Yu Siau-lam sekalian mereka sambut kedatangan
kakek itu.
“Orang ini mirip sekali dengan Hoa tayhiap.” kata Yu Siaulam
menerangkan “ananda rasa tentulah dia adalah putranya
Hoa tayhiap.”
Sementara itu si Tabib sakti dari Kanglam telah melihat
tubuh Hoa In-liong yang berbaring dimeja, dia ulapkan
tangannya dan menghampiri meja tersebut. “Apakah selama
ini dia pingsan terus?” tanyanya kemudian.
“Benar ayah, sampai sekarang dia tak sadarkan diri terus”
Kanglam Ji-gi menghampiri anak muda itu, dengan dahi
berkerut diamatinya roman mukanya lalu dia bergumam,
“Dilihat dari roman mukanya, dia mirip sekali dengan Hoa

255
tayhiap. tapi alis matanya, bibirnya dan hidungnya mirip Pek
hujin, aku rasa dia tentulah Ji kongcu dari keluarga Hoa.”
Kakek itu membungkukkan badannya memeriksa lidah dan
kelopak mata Hoa In-liong kemudian mencekal urat nadinya
dia memeriksa denyutan jantung anak muda itu.
Tiba-tiba paras muka kakek itu kian lama berubah kian
serius, kurang lebih setengah perminum teh kemudian
cengkeramannya pada nadi anak muda itu baru dilepaskan.
“Hoa kongcu telah dicekoki obat pemabok,” katanya
kemudian, jalan darah Ci-kan-hiat nya belum lama tersumbat”
Tiba-tiba ia berpaling, ditatapnya Yu Siau-lam tajam-tajam
kemudian bertanya, “Anak lam, dari mana engkau temukan
Hoa kongcu ini?”
” Waktu itu ananda sedang berpesiar diluar kota sebelah
barat, ketika tiba diluar pintu sui-see-bun, kami telah bertemu
dengan telah bertemu dengan…”
Cia In adalah seorang pelacur kenamaan, tentu saja anak
muda itu jengah untuk menerangkan hubungannya selama ini
dengan seorang pelacur, tak heran kalau dia jadi gelagapan di
hadapan ayahnya dan tak mampu melanjutkan keterangannya
“Anak lam, kalau bicara kenapa musti ragu-ragu?” tegur
tabib sosial itu dengan alis berkenyit, “kau telah berjumpa
dengan siapa? Ayoh lanjutkan keteranganmu itu.”
Yu Siau-lam tersipu-sipu, namun dia tahu tak mungkin
keterangan tersebut dirahasiakan terus, akhirnya sambil
tebalkan muka ia terangkan semua yang dialaminya diluar
pintu Sui-see-bun tadi.

256
Ketika selesai mendengarkan penuturan itu, Si tabib sosial
dari Kanglam sama sekali tiada maksud untuk menegur
putranya, dengan tenang diamatinya wajah Hoa In-liong
tajam-tajam, seakan-akan ada satu persoalan yang sedang
dipikirkannya persoalan apakah itu? Tak seorangpun tahu.
Bukan saja Kim-leng Ngo kongcu tak berani bergerak.
bahkan sibocah laki-laki yang membawa kotak obat pun tak
berani menghembuskan napasnya terlalu keras, mereka kuatir
suara-suara yang mereka timbulkan akan mengganggu
jalannya pikiran Kanglam Ji-gi, otomatis suasana dalam ruang
tengah itupun jadi sunyi sepi dan tak terdengar sedikit
suarapun, semua orang menanti dengan hati yang tegang dan
detakan jantung berdebar dengan kerasnya.
Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya si Tabib sosial
dari Kanglam itu berseru tertahan sambil manggut-manggut.
“Oooh kiranya begitu,” gumamnya, “aku mengerti ehm, aku
sekarang sudah mengerti suatu kepandaian yang sakti, hebat
dan di luar dugaan… sungguh mengagumkan.”
Berbicara sampat disitu dia lantas membungkukkan
badannya dan pelan-pelan mengangkat batok kepala Hoa Inliong
kemudian dengan hati-hati dirabanya jalan darah Gioktin
hiat di bagian belakang batok kepala itu.
Tiba-tiba wajahnya berseri, serta-merta digendongnya
tubuh Hoa In-liong dari atas meja.
“Aaai… Hoa kongcu memang rejeki besar dan bernasib
baik.” katanya “sekalipun dia sudah kalian bawa lari naik kuda,
kemudian dilempar kesana kemari, toh jarum perak
pembingung sukma yang menancap diatas jalan darah Gioktin-
hiatnya sama sekali tak bergeser, anak lam Kalian semua
ikutilah diriku.”

257
Dengan sikap yang amat berhati-hati ia berlalu dari
ruangan itu dan menuju ke belakang.
Kim leng ngo kongcu saling berpandangan dengan hati
terperanjat, dengan mulut membungkam mereka mengikuti
dibelakangnya dengan langkah lebar..
Setelah melewati beranda, si tabib sosial dari Kanglam
kembali berkata, “Aku lihat Hoa kongcu mempunyai kondisi
badan yang istimewa sekali, tampaknya obat pemabok sama
sekali tidak bereaksi apa-apa atas dirinya, aku pikir asal jarum
perak itu sudah dicabut niscaya keadaannya akan pulih
kembali seperti sedia kala, anak Lam Kau berangkatlah lebih
duluan dan beri kabar kepada ibumu, kemudian datanglah ke
kamar baca, aku ada persoalan yang hendak dibicarakan
dengan kalian”
Setelah mendengar perkataan itu, semua orang merasa
hatinya jadi lega, Yu Siau-lam pun mengiakan dan masuk ke
ruang paling belakang lebih dahulu.
Selang sesaat kemudian, si Tabib sosial dari Kanglam telah
membawa empat orang kongcu lain nya masuk ke ruang baca.
Ruangan baca itu sangat bersih dan semua perabotnya
diatur sangat rapi dan terawat, di sudut ruangan dekat jendela
membujur sebuah pembaringan, dia membaringkan Hoa Inliong
diatas pembaringan tersebut, setelah mengambil kotak
obatnya dari tangan bocah laki-laki itu, ia siapkan barangbarang
yang dibutuhkan, lalu mulai mencabut jarum perak itu.
Kendatipun sumber penyakitnya sudah ketahuan, ternyata
untuk mencabut jarum perak itu bukanlah suata pekerjaan
yang gampang.

258
Ketika obat-obatan yang diperlukan sudah siap, si Tabib
sosial dari Kanglam meletakkan telapak tangan kanannya
diatas jalan darah Leng-tay-hiat dari Hoa In-liong, sementara
tangan kirinya mencekal sebuah besi semberani, besi magnit
itu tertuju diatas jalan darah Giok tin-hiat dibelakang batok
kepala, kemudian ditekannya besi magnit itu pelan-pelan
ditempat yang tertuju.
Selang sesaat kemudian, besi magnit itu lambat-lambat
ditariknya ke atas, semua orang lantas melihat bahwa diatas
besi magnit tadi tertempel sebatang jarum perak kecil yang
lembut dan panjangnya setengah inci, setelah membuang
jarum tadi, diapun mengambil sebuah bungkusan berisi bubuk
obat warna kuning dan dibubuhkan disekitar lubang jarum
tadi.
Semula dari bekas lubang jarum itu meleleh darah kental,
tapi sesudah dibubuhi bubuk obat warna kuning tadi, darah
itupun menggumpal dan berhenti meleleh.
Operasi itu tampaknya sederhana dan tidak makan banyak
waktu, namun repotnya bukan kepalang, ketika tugas itu telah
selesai, keadaan si Tabib sosial dari Kanglam ibaratnya orang
yang baru saja melangsungkan suatu pertarungan sengit,
peluh sebesar kacang kedelai membasahi jidatnya, malahan
empat orang kongcu yang mengikuti jalannya operasi
pertolongan itupun ikut tegang dan berdiri dengan jantung
berdebar keras. selesai membubuhi obat di mulut luka, Tabib
sosial itu menghembuskan napas panjang.
“Huuh….. Untung, sungguh beruntung andaikata sedikit
saja miring ke samping, niscaya sepanjang hidup aku Yu
siang-tek akan menanggung penyesalan yang tak terkirakan,”
gumamnya.

259
“Pek-hu!” Coa Cong-gi yang kasar dan tak pernah pakai
otaknya itu tiba-tiba menyela, “aku lihat, mencabut jarum
perak dengan magnit bukanlah suatu pekerjaan yang
merepotkan.”
“Aaaai, dasar bocah, dasar bocah, pendapatnya selalu
memang lucu dan menggelikan.”
Tabib sosial dari Kanglam gelengkan kepalanya berulang
kali, dibereskannya alat-alat pengobatan nya dan diserahkan
kepada bocah laki-laki itu, kemudian dengan wajah
bersungguh-sungguh dia melanjutkan, “Ketahuilah nak, jalan
darah giok-tin-hiat merupakan salah satu jalan darah kematian
dari tiga puluh enam buah jalan darah yang berada di tubuh
manusia, jalan darah itu merupakan pintu gerbang dari Niwan,
kunci utama dari pusat, tok-meh dan jalan penembus
dari tiga belas urat penting lainnya, coba bayangkan betapa
pentingnya kedudukan jalan darah tersebut? Mana aku boleh
bertindak main-main? Aku merasa tenaga dalamku tak mampu
untuk menghisap keluar jarum perak itu dari dalam badan,
maka terpaksa harus kubantu dengan besi magnit, sekalipun
demikian bahaya dan resikonya tetap sangat besar.”
“Apa resikonya?” kembali Coa Cong-gi bertanya keheranan.
“Resikonya? Aaai.. Coba bayangkan saja daya tarik yang
terpancar dari besi magnit terletak di seluruh permulaan besi
itu. padahal untuk menghisap keluar jarum peraknya, maka
jarum itu harus keluar dari lubang luka yang sebenarnya,
bukan saja cara kerja kita harus tenang, mantap dan lurus,
bahkan sedikit saja menggetarkan jarum perak itu akan
segera mengakibatkan luka pada urat syarafnya, kau tahu apa
akibatnya jika urat syaraf seseorang terluka andaikata tidak
tewaspun akan lumpuh selama hidupnya, bayangkan sendiri
besar atau tidak resikonya?”

260
Sekarang semua orang baru mengerti mengapa si Tabib
sosial dari Kanglam harus bekerja dengan begitu tegap, kaku,
hati-hati dan bersungguh-sungguh, ternyata resikonya luar
biasa besarnya.
Lebih-lebih Coa Cong-gi, dia sampai terbelalak lebar-lebar
dengan mulut melongo, kadet dan ngerinya bukan kepalang.
“Aduuuh mak. jadi resikonya sebesar itu?” serunya sambil
menjulurkan lidah, “tak heran kalau empek sampai
bermandikan keringat”
Kanglam Ji gi tersenyum.
“Untunglah urusan sudah lewat, sekarang keadaan Hoa
kongcu sudah tidak merisaukan lagi seperti tadi!” serunya.
Setelah berhenti sejenak, ia memandang sekejap empat
orang pemuda yang berada di depannya, kemudian katanya
lebih jauh, “Keponakanku semua, duduklah Ada sesuatu
persoalan yang selama ini mengganjal dalam hatiku,
menggunakan kesempatan yang baik ini hendak kubicarakan
persoalan itu dengan kalian semua.”
Semua orang tak tahu apa yang hendak dibicarakan kakek
itu, dengan pelbagai pikiran berkecamuk dalam benak mereka,
masing-masingpun mengambil tempat duduk.
Suasana hening untuk sesaat, dari luar ruangan tiba-tiba
terdengar suara tongkat membentur lantai, mula-mula suara
itu kedengaran masih jauh tapi sesaat kemudian sudah berada
di depan ruangan.
Kanglam Ji-gi lantas berpaling kepada bocah laki-laki itu
seraya berkata, “Hujin telah datang, pergilah suruh orang

261
siapkan sayur dan arak, menanti Hoa kongcu telah sadar
nanti, siapkan meja perjamuan untuk menghormatinya.”
“Baik…” bocah laki-laki itu mengiakan dan mengundurkan
diri dari ruangan itu.
Yu Siau-lam dengan menemani ibunya masuk ke dalam
kamar baca, empat kongcu lainnya cepat berdiri dan
menyambut kedatangan pe-bo mereka.
Yu lo-hujin melirik sekejap ke arah Hoa In-liong yang masih
belum sadar itu setibanya dalam kamar lalu kepada suaminya
ia bertanya, “Lo-yacu, keadaan Hoa kongcu tidak
menguatirkan bukan?”
Nyonya tua ini rambutnya telah beruban semua, pada
dadanya tergantung sebuah tasbeh, sedang ditangan
kanannya memegang sebuah tongkat berukir naga, sekilas
pandangan orang akan merasa bahwa tongkat itu berat sekali,
ditambah pula sinar matanya sangat tajam, siapapun akan
tahu bahwa nenek tua ini memiliki ilmu silat yang tinggi.
“Keadaan Hoa kongcu sudah tidak menguatirkan lagi,”
sahut Kanglam Ji-gi cepat, “jarum perak itu telah kucabut
keluar, sepertanak kemudian dia pasti akan sadar kembali,
Hujin, silahkan duduk Menggunakan kesempatan yang sangat
baik ini aku hendak bercakap-cakap dengan anak Lam
sekalian.
“Apa yang hendak dibicarakan?” sambil bertanya Yu lohujin
mengambil tempat duduk “apakah menyangkut
perbuatan anak Lam yang suka bermain perempuan ditempat
luaran?”
“Persoalan main perempuan akan dibicarakan, urusan
lainpun akan sekalian dibahas”

262
Jilid 8
TABIB tua itu berpaling ke arah putranya, kemudian
ujarnya lebih lanjut dengan wajah serius, “Anak Lam selama
ini aku tak pernah memaksa kau berlatih silat, tak pernah
paksa kau belajar ilmu pertabiban. Sebaliknya membiarkan
engkau mencari teman, bahkan mabok-mabokan dan bermain
pelacur dirumah bordil, tahukah engkau aku tidak
menghalangi semua perbuatan itu?”
Merah padam selembar wajah Yu Siau-lam karena, jengah.
“Sebodoh-bodohnya ananda rasanya ananda masih dapat
meraba maksud ayah yang sebenarnya,” dia menjawab,
“Mungkin hal ini dikarenakan kita keluarga Yu adalah keluarga
persilatan, maka kita tak boleh lupa pada asalnya. Mencari
beberapa orang sahabat, membantu orang menyelesaikan
kesulitan, aku rasa perbuatan-perbuatan semacam ini hanya
ada manfaatnya dan tak akan mendatangkan kerugian, bukan
begitu ayah?”
Kanglam Ji-gi mengangguk. “Walaupun tidak terhitung
mendatangkan manfaat, juga tak sampai mendatangkan
kerugian. Justru “tidak melupakan asal” itulah yang paling
tepat, hanya keteranganmu saja yang kurang cocok.
Ketahuilah, dunia persilatan pada hakekatnya adalah sumber
dari segala bencana. Tempat semacam itu tidak pantas untuk
di kenang, sedangkan mengenai menolong kaum lemah
merupakan kewajiban dari setiap manusia di dunia ini.
Sekalipun kita tidak melakukannya, orang lain tentu akan
melaksanakannya. Jadi perbuatan semacam itu hakekatnya
tidak cocok dengan maksudku yang sebenarnya.”

263
“Oooh…. Ananda sekarang mengerti, seperti telah
memahami sesuatu, Yu-Siau-lam berseru. “Ayah sengaja
memberi kebebasan kepada ananda, tak lain tak bukan adalah
berharap agar kita jangan melupakan budi kebaikan dari Hoa
tayhiap, betulkan?”
Kata-katanya itu sebetulnya sangat tak masuk diakal,
bahkan boleh dibilang bertolak belakang. Bayangkan saja
memberi kebebasan kepada putranya dengan tujuan agar
jangan melupakan budi kebaikan dari seseorang, bukankah itu
merupakan sesuatu lelucon yang menggelikan?
Tapi apa yang terjadi? Ternyata dugaan Yu Siau-lam itu
tepat sekali…..
“Anak Lam, kau memang cerdik, memang itulah jalan
pikiran ayahmu!” puji Kanglam Ji-gi sambil manggut-manggut,
mukanya jelas bercermin rasa kagumnya.
Semua orang mengerutkan dahinya setelah mendengar
perkataan itu. Memang keterangan tersebut cukup membuat
orang jadi bingung dan tak habis mengerti.
“Loya-cu!” Yu Lo-hujin segera menyela, “Perkataanmu
barusan sungguh membuat aku si nenek tua jadi bingung dan
tak habis mengerti. Budi kebaikan yang pernah diberikan Hoa
tayhiap kepada kita tentu saja tak boleh kita lupakan. Cuma
sayang selama ini belum ada kesempatan untuk
membalasnya, maka terpaksa aku si nenek tua memelihara
lukisan dari Hoa tayhiap dan ibunya. Dan tiap pagi dan malam
berdoa bagi keselamatan serta kesejahteraan hidupnya. Dan
kenyataannya, kau memanjakan anak Lam, memberi
kebebasan kepada anak Lam, tak pernah menggembleng anak
Lam, mencapai kemajuan. Perbuatanmu itu sudah merupakan
kesalahan besar. Sekarang kau melimpahkan pula semua

264
kesalahan itu keatas badan Hoa tayhiap, apakah….. apakah itu
bukan namanya dosa besar… pikirlah!”
Terbahak-bahak Kinglam Ji-gi mendengar ucapan istrinya.
“Hujin…. Oooh….. Hujin….. Haaaaa…… haaaaa……. haaa……
kau anggap anak Lam adalah seorang bocah yang tak ingin
mendapat kemajuan bagi kemampuannya?” ia bertanya.
Yu Lo-hujin tertegun, ia memandang sekejap ke arah
putranya lalu berkata lagi, “Eeeh…. Sebenarnya apa yang
hendak kau katakan? Kenapa tidak kau katakan saja terus
terang? Kalau begini caramu berbicara dan berbelok-belok
dulu kesana kemari, aku bisa kebingungan akhirnya kau buat!”
“Baik! Baik! Aku akan berbicara secara blak-blakan…..” kata
tabib tua itu sambil mengangguk.
Dia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, setelah itu
membuka telapak tangannya dan menimang-nimang jarum
perak lembut yang berhasil dihisap keluar tadi, katanya lebih
lanjut, “Silihkan hujin periksa, jarum perak ini berhasil kuhisap
keluar dari dalam jalan darah ‘hiok-tin-hiat’ dibelakang batok
kepala Hoa kongcu, coba lihatlah dengan seksama!”
Yu Lo-hujin menerima jarum itu kemudian diperiksanya
sejenak, setelah itu baru ujarnya, “Aku lihat diujung jarum
perak ini masih tersisa sedikit bubuk obat pemabok, kenapa?
Apakah duduknya persoalan serius sekali?”
“Aaai…..? Tampaknya persoalan yang selama ini selalu
kukuatirkan, kini agaknya sudah hampir meletuk!”
“Apa?” teriak Yu Lo-hujin sangat terkejut, “Maksudmu
dunia persilatan bakal menjadi kekacauan?”
Dengan sedih Kanglam Ji-gi mengangguk.

265
“Kalau sudah lama kacau dunia akan menjadi tenang, kalau
sudah lama dunia tenang maka itu berarti akan terjadi
kekacauan. Sejak Hoa tayhiap berhasil lenyapkan hawa
siluman dari muka bumi, sejak terbasmi dan tersingkir dari
dunia kangouw, apakah kau kira siluman-siluman yang lolos
dari jaring tempo hari dan pentolan-pentolan liok-lim yang
sukar ditundukkan dulu bersedia takluk sepanjang masa?
Aaaai…..! Dunia akan selalu berputar, sejarah selalu akan
berubah. Hanya tak kusangka kalau bencana kali ini bakal
datang dengan begitu cepatnya.”
Yu Lo-hujin tertegun, lama sekali dia membungkam, tapi
akhirnya dia coba menghibur diri sendiri, “Oooh….. loya-cu
mungkin engkau merasa risau yang berlebih-lebihan!”
“Selama hidup aku selalu gembira dari pasrah tak pernah
kualami kerisauan yang berlebih-lebihan” kata Kanglam Gi-ji.
“Sejak diadakannya penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san,
berkat di kebaikan dari Hoa tayhiap, perguruan yang sudah
lenyap dan berhubung aku gemar ilmu pertabiban dan obatobatan,
secara khusus Hoa tayhiap menghadiahkan pula sejilid
kitab Hoa-tuo Cin-keng kepadaku. Kesemuanya itulah
membuat aku berhasil mendapat sedikit kemajuan seperti
yang kumiliki sekarang. Aaaai….. Justru karena aku terlalu
gembira dan pasrah, akupun sangat menaruh perhatian atas
tindak tanduk Hoa tayhiap. Maka dalam pengamatanku waktu
itu selalu kurasakan bahwa watak Hoa tayhiap terlalu jujur,
baik dan berbudi luhur, bencana yang tak dibasmi sampai ke
akar-akarnya, bila angin musim semi berhembus lewat, tentu
akan tumbuh kembali bibit baru. Karena peristiwa inilah
beberapa tahun belakangan ini tiap saat selalu kukuatirkan
keselamatan jiwanya.”
Rupanya Kanglam Ji-gi dahulunya adalah seorang tianglo
dalam perguruan Thian-tay-pay. Sejak penggalian harta karun

266
dibukit Kiu-ci-sau dan berhasil mendapat kembali kitab pusaka
perguruannya, diserahkan kembali kitab itu kepada ketuanya.
Lalu karena wataknya suka hidup sepi menyendiri, ia berpamit
dengan ciangbunjinnya dan menetap dikota kim-leng dengan
hidup sebagai seorang tabib. Akhirnya menjadi seorang tabib
kenamaan. Setiap penduduk kota Kim-leng rata-rata
mengetahui bahwa dia adalah seorang yang sangat baik.
Sungguh tak disangka sama sekali karena rasa berterima
kasihnya atas budi kebaikan yang pernah dilakukan Hoa
Thian-hong kepadanya, diam-diam diapun memperhatikan
setiap gerak-gerik dalam dunia persilatan, boleh dibilang
perbuatannya ini mengandung maksud yang amat mendalam.
Maka dari situ, setelah si Tabib Sosial dari Kanglam
menerangkan sampai disitu, hampir semua orang mengetahui
garis besar duduknya persoalan.
Coa Cong-gi memang orangnya kasar dan tak mau pakai
otaknya untuk berpikir, namun itu bukan berarti dia bodoh,
ketika Kanglam Ji-gi menyelesaikan kata-katanya, dia lantas
berseru tertahan. “Oooh……. aku mengerti sudah sekarang”
Serunya. “Jadi empek memberi kebebasan kepada kita untuk
makan minum dan berpesiar tanpa dikekang, tujuannya tak
lain adalah suruh kami memperhatikan gerak-gerik serta
situasi dalam dunia persilatan?”
“Tujuan kaum siluman, iblis dan pentolan bajingan adalah
membuat kekacauan. Kalau hanya memperhatikan saja sama
sekali tak ada gunanya,” kata Kanglam Ji-gi. “Untuk itu kalian
harus belajar sedikit-sedikit hingga akhirnya merupakan
kebiasaan dan tidak meninggalkan jejak. Dengan begitu baru
ada hasil yang kita peroleh. Misalnya saja dengan peristiwa
perempuan yang bernama Cia In itu, jikalau di hari-hari biasa
kalian tidak melakukan pergaulan hingga terbiasa,
mungkinkah kamu semua berhasil menolong Hoa kong-cu?”

267
Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh,
“Tapi aku percaya, kalian semua adalah anak baik-baik,
sekalipun tak pernah terkekang di hari-hari biasa, kalian cukup
mengetahui diri. Karenanya akupun dengan hati lega
membiarkan kalian pergi dengan bebas!”
Merah padam wajah keempat orang kongcu lainnya karena
jengah.
Wan Ek-hong cepat menyela, “Jika dugaan keponakan tak
meleset, rupanya empek masih mempunyai pesan lain
bukan?”
Kanglam Ji-gi manggut-manggut sambil tersenyum. “Ekhong,
kau memang sangat cerdik. Benar aku memang
mempunyai dua maksud dengan perbuatan demikian. Pertama
agar kalian banyak melakukan pergaulan sehingga cakup
memahami perubahan yang terjadi dalam dunia persilatan.
Kedua agar kalian banyak mempunyai teman, sehingga bila
terjadi suatu peristiwa, kamu semua dapat membantu Hoa
tayhiap melakukan suatu usaha besar. Tentu saja semua
perbuatanku ini tak lain adalah membalas budi kebaikan Hoa
tayhiap pada khususnya. Selain itu akupun menguatirkan
kepentingan umat persilatan pada umumnya. Tentunya kalian
tidak menyalahkan diriku bukan?”
“Haaaa…..! Inilah tugas baik yang diberikan pek-hu kepada
kita semua, siapa yang berani menyalahkan? Hmn….. Siapa
berani menyalahkan, akulah yang pertama-tama akan
putuskan semua hubungan dengannya!” teriak Coa Cong-gi
dengan suara lantang.
Wan Ek-hong, Li Po-seng dan Ko Sieng-peng juga ikut
berseru hampir berbareng, “Perkataan adik Cong-gi memang
benar. Inilah tugas baik yang pek-hu berikan kepada kami.
Tujuan pek-hu ibaratnya sang surya diangkasa. Tentu saja tak

268
ada yang menyalahkan, apalagi dapat membantu Hoa tayhiap
membasmi kaum iblis dan hawa sesat serta melakukan usaha
besar adalah cita-cita kami semua. Dengan berbuat demikian
kami tak akan sampai menyia-nyiakan kasih sayang pek-hu
selama ini kepada kami…..”
Belum habis ucapan tersebut, Kanglam Ji-gi sudah tertawa
terbahak-bahak dengan nyaringnya. “Haaaa….. haaaa…….
haaaa…… Bagus, bagus sekali! Kalau keponakan semua dapat
membedakan mana yang salah mana yang benar, hatiku pun
akan jadi tenteram rasanya.”
Yu Lo-hujin yang selama ini membungkam, tiba-tiba
mengayunkan jarum perak ditangannya itu dengan kening
berkerut. “Loya-cu!” tukasnya, “Apakah kemurunganmu itu
bersumber dari jarum perak ini?”
Kanglam Ji-gi berpaling dan mengangguk. “Benar, jarum
perak itulah penyebab kemurunganku selama ini. Bayangkan
saja hujin, perempuan she Cia itu pandai sekali
menyembunyikan jejaknya. Bukan saja dia rela menjadi
pelacur bahkan memiliki pula ilmu silat yang tinggi. Ditinjau
pula obat pemabok yang dipoleskan di ujung jarum perak ini,
serta caranya menusuk jalan darah, lalu meninjau pula
sasarannya adalah keturunan dari Hoa tayhiap, jika kita
gabungkan semua masalah itu menjadi satu, bukankah itu
memberi isyarat kepada kita bahwa dunia persilatan telah
menjadi perubahan besar?”
Yu Lo-hujin berpikir sebentar, sementara dia akan
mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Hoa In-liong yang ada diatas
pembaringan telah rnenggerakan tubuhnya.
Cepat-cepat Kanglam Ji-gi berseru, “Hujin, tunggulah
sebentar, lebih baik kita tanyakan duduk persoalan yang
sebenarnya kepada Hoa-kongcu.”

269
Dia bangkit lalu menghampiri sianak muda itu. Hoa In-liong
sudah duduk diatas pembaringan. Terdengar ia mengeluh,
“Aduuh….. Sesak amat napasku……!”
Kanglam Ji-gi lantas menggulur tangan kirinya dan
membimbing pemuda itu. “Hoa kongcu, berbiringlah sejenak
lagi……..” bisiknya.
Tiba-tiba Hoa In-liong membuka matanya lebar-lebar,
dengan nada tercengang ia berseru, “Aku…….. aku barada
dimana?”
“Kongcu berada di pasanggrahan tabib di kota Kim-leng,
tempat tinggal aku si orang tua.”
Hoa In-liong memandang sekejap sekeliling tempat itu,
akhirnya sorot matanya itu terhenti diwajah Kanglam Ji-gi.
“Lotiang, siapa kau? Siapa namamu? Boleh aku tahu?”
sapanya.
“Aku bernama Yu Siang-tek, orang-orang menyebut diriku
sebagai Kanglam Ji-gi, Tabib Sosial dari Kanglam!”
“Parahkah luka yang kuderita kali ini?” Hoa In-liong
bertanya lagi dengan wajah bingung.
“Tidak! Kong-cu hanya terkena suatu sistem pengendalian
yang lihay, terkena jarum perak yang dibubuhi obat
pemabok.”
“Jarum perak yang dibubuhi obat pemabok?” Hoa In-liong
mengerutkan dahinya rapat-rapat, “Lotiang, katakanlah yang
jelas, betulkah tempat ini adalah kota Kim-leng?”
“Benar!” Kanglam Ji-gi mengangguk tenang.

270
Seperti teringat akan sesuatu, tiba-tiba Hoa In-liong
berseru tertahan, rupanya suatu hal telah dipahaminya. “Aaah,
sekarang aku teringat sudah kejadiannya… eeeh, dimanakah
perempuan yang bernama Cia In itu?”
“Cia In adalah pelacur dari rumah pelacuran Gi-sim-wan”
hela Yu Siau-lam dari samping “tentu saja pada saat ini……”
Belum habis ucapan itu ketika tiba-tiba Hoa In-liong
meronta bangun dan meloncat turun dari pembaringannya,
“Perempuan itu bukan perempuan sembarangan serunya
dengan gelisah, Rumah pelacuran Gi-sim-wan terletak
dimana? Aku harus pergi mencarinya.”
“Hoa kongcu, harap tenang dulu hatimu!” cegah Kanglam
Ji-gi. “Aku tahu latar belakang dari peristiwa ini bukanlah
kejadian sederhana. Aku kuatir kalau pada saat ini perempuan
tersebut sudah tidak berada dirumah bordil Gi-sim-wan lagi.”
Hoa In-liong tertegun, sekali lagi dia menyapu sekejap
semua orang yang hadir dalam ruangan itu dan akhirnya sinar
matanya itu berhenti diatas wajah Kanglam Ji-gi. “Lotiang, kau
kenal aku?” Bisiknya hampir tak percaya, “Apakah lotiang yang
menolong aku sewaktu aku terkena jarum perak yang berobat
pemabuk itu?”
Kanglam Ji-gi tersenyum dan mengangguk, “Ketika
diadakannya operasi penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san
dua puluh tahun berselang, aku pernah bertemu dengan ayah
ibumu. Tentang urusan yang amat kecil ini tak perlu kongcu
pikirkan selalu, apa toh artinya bantuan sekecil itu? Oya,
bagaimana keadaan Hoa kongcu sekarang? Apakah badanmu
masih terasa kurang enak?”

271
Menyinggung sekali soal penggalian harta di bukit Kiu-cisan,
Hoa In-liong segera mengetahui bahwa Kanglam Ji-gi
adalah sahabat lama ayah ibunya. Cepat ia menjinjing bajunya
dan memberi hormat dengan penuh kesopanan. “Boanpwe
Hoa In-liong, menghunjuk hormat buat Yu locianpwe”
katanya.
“Tak berani, tak berani……” Cepat-cepat Kanglam Ji-gi
membalas hormat itu, “Bila Hoa kongcu merasa ada sesuatu
bagian badan yang kurang enak katakan saja terus terang!
Tapi kalau memang tak ada, aku ada beberapa persoalan
yang hendak ditanyakan kepadamu.”
“Aneh benar Yu locianpwe ini,” pikir Hoa In-liong diamdiam,
“kenapa sikap maupun cara ber-bicaranya begitu
merendahkan diri?”
Dalam hati berpikir demikian, diluaran dia menyahut, “Obat
pemabok atau sebangsanya sama sekali tidak mempan
terhadap diri boanpwe, sampai sekarang boanpwe merasa
tubuhku tetap sehat dan segar seperti biasa. Bila locianpwe
ingin menanyakan sesuatu, silahkan diutarakan keluar,
boanpwe pasti akan mendengarkan dengan seksama.”
“Kalau begitu bagus sekali, silahkan duduk dulu Hoakongcu!”
kata tabib tua itu sambil tertawa.
Menyusul kejadian, diapun memperkenalkan semua orang
yang hadir disana kepada Hoa In-liong, sedang anak muda itu
segera memberi hormat kepada Yu Lo-hujin dan menyapa
Kim-leng Nyo-kongcu sebelum akhirnya duduk kembali ke
tempat semula.
Kanglam Ji-gi alihkan sinar matanya memandang putranya
sekejap, kemudian katanya. “Anak Lam. Coba kau ceritakan

272
dulu kisah perjumpaanmu dengan Hoa kongcu, agar Hoakongcu
tidak terlampau curiga lagi.”
Waktu itu Hoa In-liong merasa amat curiga dengan
keadaan sekelilingnya, ketika rahasia hatinya itu dipecahkan
orang, dia agak kikuk jadinya. “Aaiia…. agak menyesal rahasia
hatiku ketahuan juga,” batinnya didalam hati.
Yu Siau-lam sama sekali tidak memperhatikan perubahan
wajah tamunya, ketika mendengar perintah dari ayahnya,
diapun menuturkan kembali kisah perjumpaannya dengan Cia
In sampai berhasil menyelamatkan anak muda itu dari tangan
perempuan tersebut.
Menanti ia menutur sampai pertolongan yang diberikan di
pesanggrahan tabib ini, Yu lo-hujin segera mengacungkan
jarum perak yang berada ditangannya itu sambil
menambahkan, “Tahukah Hoa kongcu kenapa selama ini jatuh
tak sadarkan diri terus menerus? Itulah disebabkan karena
jarum perak yang mengandung obat pemabuk ini menancap di
jalan darah giok-tin-hiat dari Hoa kongcu.”
“Jalan darah giok-tin-hiat?” ulang Hoa In-liong sambil
menjerit kaget, matanya sampai melotor besar.
“Semua kejadian yang sudah lewat biarkan lewat” cepat
Kanglam Ji gi menukas, “Tenangkan hatimu Hoa kongcu, coba
periksalah dulu apakah ada benda penting yang hilang?”
Mendengar ucapan itu Hoa In-liong merasa sangat
terperanjat. Kalau barang lain yang hilang, masih mendingan.
Andaikata surat pribadi dari Giok teng hujin yang dijahit dalam
kutang pelindung badannya yang lenyap, entah apa jadinya?
Padahal surat itu sudah di wanti-wanti agar jangan hilang.

273
Dengan jantung berdebar keras cepat ia meraba sakunya
dan kaos kutang pelindung badan itu.
Untunglah kaos kutang pelindung badannya masih utuh.
Tiga botol obat yang diberikan ibunya Chin toa-hujin juga
masih ada. Yang hilang cuma pedang mustika, baju yang
menjadi bekalnya serta kuda jempolan itu. Tapi benda-benda
itu tak terlampau penting baginya.
Maka ketika ditemuinya surat wasiat itu masih ada dan
kaos kutang pelindung badannya tak diusik, diam-diam ia
menghembuskan napas lega, “Tampaknya Cia In sama sekali
tidak menggeledah isi sakuku tentang pedang dan pakaian sih
hilang biarlah hilang, soalnya barang-barang itu tidak penting”
katanya kemudian.
“Waaah, kalau begitu urusan ini jadi rada-rada aneh” seru
Kanglam Ji-gi keheranan. “Semestinya perempuan she-Cia itu
tentu akan menggeledah isi sakumu. Hoa kongcu, masih
ingatkah bagaimana kejadiannya sewaktu itu kau tertangkap
tempo hari?”
Air muka Hoa In-liong agak semu merah. “’Aaaai…. bila
diceritakan kembali, sebetulnya kejadian itu adalah salah
boanpwee sendiri. Tidak seharusnya kalau aku bertindak
terlampau gegabah.”
Pemuda itupun menceritakan bagaimana kisah
perkenalannya dengan Cia In sampai bagaimana kemudian
jalan darahnya tertotok. Sebagai akhir kata ia menambahkan,
“Boanpwee terlalu percaya pada kondisi badanku sendiri.
Karena aku yakin obat pemabok tak akan berpengaruh apaapa
bagiku, apalagi cuma bubuk pembingung sukma yang
bikin orang mabok selama tujuh hari, maka aku pura-pura
mabok. Sungguh tak kusangka kalau diam-diam jalan darahku
juga ikut tertotok. Menanti aku sadar akan gelagat yang tidak

274
menguntungkan, kesadaranku berangsur telah hilang. Karena
itu boanpwee sama sekali tidak tahu kalau setelah aku
pingsan, dia menusuk pula jalan darah giok-tin-hiat ku dengan
jarum yang dibubuhi obat pemabok.”
Ketika Kim-leng ngo-kongcu mendengar bahwa Hoa Inliong
tidak mempan diracuni, mereka merasa sangsi dan
setengah percaya setengah tidak. Sebaliknya Kanglam Ji-gi
mendengar semua kisah cerita itu dengan tenang sambil putar
otaknya berpikir, menanti pemuda itu selesai bercerita, dia
masih juga dibikin tak habis mengerti kenapa Cia In tidak
menggeledah saku anak muda itu.
Untuk sesaat suasana dalam ruangan baca itu jadi hening.
Suasanapun ikut berubah jadi agak tegang dan serius, seakanakan
disekitarnya terdapat sebuah jepitan besi yang
mencengkeram perasaan masing-masing. Setiap orang
merasakan dadanya jadi sesak.
Akhirnya Coa Cong-gi yang tidak tahan, ketika ditunggunya
belum ada juga yang berbicara tiba-tiba ia berteriak lantang,
“Eeeh….. sudah, sudahlah, kalian tak usah berpikir lagi! Pekhu
bagaimana kalau kami pergi mengunjungi rumah pelacuran
Gi-sim-wan sekarang juga?”
“Benar!” Ko Siong-peng menanggapi dengan cepat “Perduli
Cia In telah kembali ke rumah pelacuran Gi-sim-wan atau
tidak, mengunjungi rumah bordil itu memang tak ada
salahnya. Yu pek-hu! Keponakan akan menyaru sebagai lakilaki
hidung belang malam nanti dan mengunjungi rumah bordil
itu untuk mencari keterangan”
‘Hmmmm…. apa yang dikatakan Siong-peng memang
masuk diakal” Yu Lo-hujin mendukung usul itu sambil
mengangguk “Cia In selama ini hidup dirumah pelacuran Gisim-
wan, kemungkinan besar Gi-sim-wan itulah merupakan

275
sarang yang sebenarnya dari komplotan mereka. Aku akan
pergi kesana mencari keterangan bukanlah suatu cara yang
melanggar tata kesopanan!”
“Jangan…. Jangan….. kalian tak boleh kesana!” tukas
Kanglam Ji-gi sambil goyangkan kepalanya berulang kali
“Kalau kalian kesitu, berarti tindakan ini merupakan memukul
rumput mengejutkan ular. Semua usulmu dimasa lampau
segera akan sia-sa belaka.”
“Aaaai…. Loya-cu, watakmu dari dulu sampai sekarang
belum juga berubah?” omel Yu Lo-hujin, “kalau sikapmu selalu
ragu-ragu untuk mengambil keputusan, bagaimana mungkin
bisa melakukan, tugasmu dengan sebaik baiknya? Biarlah
mereka pergi, aku si nenek tua akan menjadi tulang punggung
mereka.”
Tertawa gelak tabib sosial itu mendengar ucapan isterinya.
”Haaaa… Haaaah…. Haaaahhhh…. hujin kau sudah tua, kalau
ingin menjual nyawa, lebih baik jual nyawamu dikemudian hari
saja. Sebab kemungkinan besar jiwamu lebih bermanfaat
untuk dikorbankan dilain waktu. Sedang dalam persoalan hari
ini, yang akan dituju adalah rumah pelacuran Gi-sim-wan,
bukannya mencegah anak-anak pergi ke tempat itu, kenapa
hujin malah mau menjadi tulang punggung mereka? Kan lucu
jadinya.”
Mula-mula Yu Lo-hujin agak tertegun, menyusul kemudian
paras mukanya berubah hebat, tampaknya dia akan ributribut.
Hoa In-liong yang merasa gelagat kurang enak cepat
bangkit berdiri, katanya, “Hujin harap jangan marah,
bagaimana kalau dengarkan dulu sepatah dua patah kata
boanpwe?. Semula, maksud boanpwe membiarkan diriku
dibekuk adalah ingin menggunakan kesempatan itu untuk

276
menyelidiki asal usul Cia In yang sebenarnya dan sekarang
kalau toh sudah diketahui bahwa Cia In menang tinggal di
rumah pelacuran Gi sim-wan, boanpwe dapat menyelesaikan
sendiri persoalan itu sebaik-baiknya. Untuk budi kebaikan dan
budi pertolongan yang telah Yu-tooianpwe serta saudarasaudara
sekalian berikan kepadaku, biarlan boanpwe ucapkan
banyak-banyak terima kasih, soal pemberian bantuan,
boanpwe terima saja didalam hati.”
Selesai berkata dia lantas merangkap tangannya dan
menjura kepada semua orang yang hadir dalam ruangan.
Coa Cong-gi tak suka menerima penghormatan semacam
ini, cepat-cepat ia berteriak keras, “Hei….. Kau ini, kenapa jadi
orang begitu seenaknya dan tak tahu diri……”
Wan Ek-hong kuatir saudaranya ini melakukan kesalahan
dalam berbicara cepat-cepat dia menukas, “Hoa kongcu,
penolakanmu itu ini artinya memandang asing diri kami
semua. Kami tahu bahwa persoalan yang dihadapi ayahmu
aneka ragam banyaknya dan diliputi pelbagai macam
persoalan. Sedang kami beberapa orang tak hanya ingin
bekerja membonceng keberhasilan orang. Masing-masing
bekerja demi kepentingan pribadi. Jika kau berbuat demikian,
bukankah sama artinya bahwa semua persoalan hanya akan
kau kangkangi sendiri demi keuntungan pribadi?”
Ucapan itu tajamnya melebihi sebilah golok. Hoa In-liong
merasa hatinya terperanjat dan berdiri terbelalak. Untuk
sesaat lamanya dia tak mampu mengucapkan sepatah
katapun.
Wan Ek-hong segera merangkap tangannya memberi
hormat. Setelah tertawa terbahak-bahak katanya lagi,
“Haaaa…… Haaaa….. haaa……. Hoa kongcu, anggap saja katakataku
ini hanya kata-kata mainan belaka, jangan kau anggap

277
sebagai sungguhan. Maksud siau-te, setiap perbuatan yang
dilakukan pihak Liok-soat-sang-ceng adalah demi kebaikan
orang banyak. Sudah banyak manfaat yang diterima orang
persilatan dari perbuatan kalian. Sedang maksud kami
mengikuti jejakmu, pertama adalah ingin belajar cara kerja
ayahmu. Kedua ingin menggunakan segenap ke-mampuan
yang kami miliki untuk melakukan suatu pekerjaan yang
bermanfaat bagi kepentingan umum. Jikalau Hoa kongcu tidak
membiarkan kami ikut serta didalam persoalan ini terus terang
kami semua merasa tidak puas.”
Kali ini perkataannya jauh lebih lunak dan halus, tapi
nadanya masih tajam setajam sembilu, membuat orang yang
mendengar tak dapat menampik dengan begitu saja.
Untuk sesaat lamanya Hoa In-liong berdiri termangumangu.
Akhirnya dia merangkap tangannya memberi hormat.
“Kalau toh saudara Wan telah berkata demikian, siau-te tak
bisa bicara apa-apa lagi,” katanya. “Cuma bila saudara
sekalian memang benar-benar tak pandang asing pada diriku,
harap sebutan ‘Hoa kongcu’ jangan dipakai lagi. Siau-te
menduduki urutan nomor dua dalam keluarga, bernama Hoa
Yang alias Hoa In-liong. Harap dikemudian hari kalian panggil
saja aku Hoa Yang atau Hoa In-liong atau Hoa loji, terserah
pada kalian akan panggil apa saja. Bila ada diantara kalian ada
yang memanggil aku dengan sebutan kongcu lagi, jangan
salahkan jika siau-te akan segera angkat kaki tanpa pamit!”
Coa Cong-gi paling berangasan diantara saudaranya segera
dia bersorak kegirangan sambil bertepuk tangan.
“Haaaaa… puas..… puas.…. aku betul-betul puas! Hoa loji,
kita tetapkan begini saja, pokoknya siapa memanggil kongcu
lagi kepadamu, dia itu manusia macam begini…..”

278
Sambil berkata dia lantas tunjukkan gerakan tangan cucu
kura-kura, seketika itu juga semua orang tertawa terbahakbahak.
Ditengah gelak tertawa yang sangat ramai, Yu Lo-hujin
mengetokkan tongkatnya berulang kali keatas tanah, disertai
suara serak teriaknya keras-keras, “Sudah……. sudah……
jangan tertawa… Jangan tertawa lagi! Lebih baik kita
bicarakan persoalan yang sebenarnya”
Dimulut nyonya tua itu mengatakan ‘Jangan tertawa lagi’,
hakekatnya dialah yang tertawa paling keras diantara orangorang
lain. Yu Siau-lam kuatir nafas ibunya jadi sesak, sambil
berusaha me-nahan gelak tertawanya dia uruti panggung
ibunya berulang kali.
Saat itulah seorang pelayan datang melapor , “Lapor Lotayya,
arak dan sayur telah siap, tolong tanya perjamuan akan
diadakan dimana?”
“Ruang tamu sebelah dalam!” jawab si Tabib Sosial dari
Kanglam sambil menahan rasa gelinya.
Kembali ia bangkit berdiri, dengan sikap hormat lanjutnya,
“Engkoh cilik Ling, aku akan menurut kehendak hatimu
dengan menyebut kau sebagai engkoh cilik. Mari, silakkan!
Mari kita sambil bersantap sambit bercakap-cakap, baik atau
buruk kita harus merundingkan suatu cara yang paling baik
untuk mengatasi persoalan ini.”
“Memang seharusnya begitu….” ucap Hoa In-liong.
“Aaaai….. Aku lihat engkau baru benar-benar sudah pikun”
terdengar Yu Lo-hujin sedang omeli suaminya, “Sudah
beberapa hari Hoa lo-ji tak sadarkan diri, badannya tentu

279
penuh debu dan kotor. Sebelum dipersilahkan membersihkan
badan dan menyisir rambut, masa disuruh bersantap?”
Gelak tertawa kembali berkumandang memenuhi seluruh
ruangan. “Aaaah, iya, aku memang betul-betul sudah pikun”
gumam si Tabib Sosial itu, “Anak Lam, ajak Hoa…. Ajak
engkoh cilik Liong untuk membersihkan badan, sedang hiantit
sekalian silahkan menunggu sebentar. Hujin! Mari kita
menunggu di ruang tamu.”
Dengan begitu, suasanapun jauh lebih santai dan ringan,
suami istri yang sudah tua itu berlalu lebih dulu menyusul
kemudian masing-masing yang lainpun pergi membersihkan
badan.
Perawakan tubuh Yu Siau-lam kebetulan seimbang dengan
Hoa In-liong. Dari dalam kamarnya dia siapkan satu stel baju
baru dan diserahkan kepada anak muda itu untuk menukar
bajunya yang sudah kotor.
Hoa In-liong memang seorang yang supel dan gemar
berkawan, bahkan ia merasa cocok sekali dengan rekan-rekan
barunya. Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian,
ia rampak lebih segar dan tampan.
Secara beruntun pemuda-pemuda itu muncul kembali di
ruang tamu sebelah dalam, masing-masing bergaul dengan
santai tanpa adanya pembatasan-pembatasan yang membuat
suasana jadi kaku. Dengan demikian suasanapun jauh lebih
akrab dan penuh rasa persaudaraan.
Rupanya si Tabib Sosial dari Kanglam dan istrinya memang
pandai bergaul dengan kaum muda. Pesta perjamuan itu
berlangsung sampai kentongan pertama sebelum akhirnya
bubar dengan masing-masing merasa sangat puas.

280
Dalam perjamuan itu, Kanglam Ji-gi sempat pula bertanya
kepada Hoa In-liong mengapa ia jauh meninggalkan rumah?
Tanpa merahasiakan segala sesuatunya, Hoa In-liong
membeberkan semua tugasnya untuk menyelidiki pembunuh
Suma siok-ya serta semua pengalaman yang dijumpainya
sepanjang jalan.
Mendengar penuturan tersebut, selain merasa sedih dan
murung atas kematian Kiu-mia kiam-kek suami istri, semua
orangpun merasa amat gusar dan benci atas kekejaman serta
kemisteriusan si pembunuh keji itu. Tapi didalam pembicaraan
yang kemudian diadakan, semua orang akhirnya
berkesimpulan bahwa ‘bencana besar sudah menjelang tiba’.
Sejak itu dunia persilatan yang sudah aman selama dua puluh
tahun kembali akan dikacaukan oleh pelbagai peristiwa besar.
Berbicara soal bencana besar yang menjelang tiba,
Kanglam Ji-gi selalu menyinggung secara garis besarnya saja
tanpa memberikan keterangan yang lebih terperinci.
Setiap kali membicarakan persoalan yang dibahas, atau
manusia-manusia lihay yang disinggung, ia selalu mengawali
pembicaraan itu dengan perkataan ‘mungkin persoalan ini ada
sangkut pautnya’ atau ‘mungkin orang ini ada sangkut
pautnya’. Pokoknya semua keterangannya tidak membahas
sampai terperinci. Tiap kali Hoa In-liong mendesak lebih jauh,
tiba-tiba saja tabib itu mengalihkan pembicaraannya ke soal
lain.
Kendatipun demikian, tabib tua ini sangat setuju kalau Hoa
In-liong melakukan perjalanannya menuju wilayah Lamhuang,
sekalipun tanpa disertai alasan apapun.
Hoa In-liong sendiri, oleh karena merasa bahwa masalah
Cia In adalah masalah paling serius yang dihadapinya

281
sekarang, maka tentang persoalan lainpun ia tidak banyak
bertanya lagi.
Mengapa Cia In yang berilmu tinggi bersembunyi dalam
sarang pelacuran?. Semua orang merasa hal ini merupakan
suatu teka teki besar.
Lalu apa tujuan perempuan itu menculik Hoa In-liong?
Kembali suatu teka teki yang tak terjawab.
Mengapa pula ia tidak menggeledah saku Hoa In-liong
ketika pemuda itu berhasil diringkus? Kembali suatu teka teki.
Diberondong oleh serentetan teka teki yang
membingungkan hati, pemuda Hoa In-liong merasa pusing
tujuh keliling, tentu saja ia segan membahas masalah lain
sebelum pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sangat
penting itu belum memperoleh jawaban yang memuaskan
hati.
Oleh karena itulah, setelah dilakukan pembicaraan yang
lebih mendalam, akhirnya si Tabib Sosial dari Kanglam setuju
dengan pendapat Kim-leng ngo-kongcu yakni menyaru
sebagai laki-laki hidung bangor dan mencari berita ke rumah
pelacuran Gi-sim-wan.
Sekalipun setuju mereka meninjau rumah pelacuran itu,
tabib tua tadi hanya setuju kalau Hoa In-liong cuma ditemani
oleh Yu Siau-lam seorang sedangkan yang lain dilarang ikut
serta.
Tabib tua itu beranggapan bahwa Cia In telah kabur
bersama begundal-begundalnya, jadi meninjau rumah
pelacuran secara berombongan hanya merupakan tindakan
yang berlebihan.

282
Sedang mengenai apa sebabnya dia hanya setuju kalau
Hoa In-liong ditemani oleh Yu Siau-lam seorang? Menurut
kakek itu, karena persoalan ini mengangkut kepentingan
mereka berdua.
Memang kalau dipikir, alasan itu cukup berbobot.
Katanya, “Andaikata rumah pelacuran Git-sim-wan adalah
sarang bajingan, maka orang-orang di rumah bordil itu pasti
tahu tentang perbuatan Cia In menculik orang dan dapat
diduga perempuan yang bernama Cia In itu tentunya sudah
menyembunyikan diri, maka untuk melakukan penyelidikan
harus dipilih orang-orang yang tepat.
Setelah Hoa In-liong tertolong, sewajarnya kalau Yu Siaulam
sebagai orang kota Kim-leng yang mengenal jalan dan
seluk beluk rumah pelacuran menghantar pemuda itu untuk
mencari tahu jajak Cia In, sekalipun mungkin penyelidikan
mereka tidak mendatangkan hasil apa-apa, toh tak akan
sampai perbuatan itu diketahui pihak Gi-sim-wan sehingga
meningkatkan kewaspadaan mereka.
Perhitungan dari Tabib sosial ini memang cukup cermat
disertai persiapan langkah-langkah berikutnya. dia tak ingin
kalau sampai jejak yang Cuma ada satu-satunya itu putus di
tengah.
Tentu rekan-rekan dari Kim-leng ngo-kongcu yang lain tak
ada yang mengajukan keberatan, kecuali satu orang yakni Coa
Cong-gi yang berangasan itu.
Agaknya Coa Cong-gi merasa amat cocok sekali dengan
watak Hoa In-liong, ia tak mau berpisah dengan pemuda itu
malahan bersikeras membantu mengatakan bahwa diapun
berkepentingan dengan persoalan itu, sebab sewaktu
menolong Hoa In-liong diapun ada disana.

283
Sampai perjamuan bubar, dia masih ribut terus tiada
hentinya. Lama kelamaan Tabib Sosial dari Kanglam dibikin
kewalahan juga oleh tingkah polah anak muda itu. Terpaksa
dengan perasaan apa boleh buat ia menyetujui juga kehendak
pemuda itu untuk ikut.
Mendengar persetujuan itu, tak terkirakan rasa girang Coa
Cong-gi, sontak ia meloncat bangun sambil berteriak,
“Siapkan, kuda! Siapkan kuda!”
Melihat itu, Kanglam Ji-gi cuma bisa gelengkan kepalanya
sambil mengurut dada.

ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar], cersil terbaru, Cerita Dewasa Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar], cerita mandarin,Cerita Dewasa terbaru Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar],Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar]
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar] dan anda bisa menemukan artikel Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-mandarin-rahasia-hiolo.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar] sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Online Mandarin : Rahasia Hiolo Kumala 1 [Lanjutan 3 Maha Besar] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-mandarin-rahasia-hiolo.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar