Cerita Silat Pilihan : Bu Kek Kang Sinkang 1

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 07 Desember 2011

Cerita Silat Pilihan : Bu Kek Kang Sinkang

Udara siang hari cerah.

Langit biru bersih dari awan berpadu warna daun kuning kecoklatan yang berhamburan disekitar kuil siaulimsi. Pemandangan indah awal musim gugur, sejuknya angin lembut yang menghempas, biasanya mengandung kekuatan aneh, yang bisa menghanyutkan perasaan seseorang hingga lupa dari masalah.

Sayangnya, Pek Bin Siansu Hongtiang siaulimsi generasi kini, sedang berkonsentrasi terhadap urusan lain. Urusan yang dapat menimbulkan keangkeran ketua siaulimsi beserta 108 anggota LoHanTin yang melangkah perlahan dibelakangnya. Tidak seorangpun menghiraukan pemandangan indah disekelilingnya. Mereka seperti menanggung beban berat.

Ditilik dari usia mereka yang diatas 50 tahun, tentu berbekal kekuatan batin paling tidak hasil latihan puluhan tahun, namun mereka tetap tidak berhasil menghilangkan rasa kuatir, malu, geram yang jelas tertera di wajah mereka.

Jumlah mereka tidak sedikit, namun mereka berjalan tanpa menimbulkan suara, bergerak kearah belakang kuil dan berhenti didepan pondok mungil tapi terawat.

Pondok itu terbuat dari bambu, dengan sebuah pintu ditengah yang tertutup rapat. Sangat menyolok bedanya dengan bangunan siaulimsi yang lain yang dibuat dari batu yang kokoh.

Walau terawat, bagaimanapun juga pondok itu kelihatan sudah tua sekali, terlihat lapuknya batang bambu disana sini. Siapapun penghuninya, tentu usianya sudah tidak muda.

Sekitar sepuluh kaki dari pondok itu, Pek Bin Siansu menghentikan langkahnya.
“Siautit mohon maaf yang telah menganggu supek dari ketenanganya” lirih Pek Bin Siansu perlahan.

Hanya satu kali Pek Bin Siansu berseru.
Nampaknya tidak berminat untuk mengulangi ucapannya. Ia hanya diam mematung. Tidak seorangpun bergerak maupun bersuara. Hanya gerak jubah dan suara pakaian yang tertiup angin mengisi kekosongan yang mencekam. Waktu seakan berhenti, toh tetap tidak dapat mencegah turunnya matahari ke arah barat.

Sudah lima kentungan berbunyi, sore hari telah tiba. Pemandangan ratusan orang berdiri bagaikan patung tidak juga berubah. Seekor burung gagak hitam hinggap di pundak Pek Bin Siansu. Bertengger dengan tenang sambil menguak suaranya yang khas.

Apakah bayangan kematian mulai menghantui siaulimsi? Timbul perasaan yang sukar dijelaskan di hati kecil Pek Bin Siansu. Apakah ia mengambil keputusan yang tepat?


Burung gagak terbang terlonjak kaget ketika pintu pondok berderit terbuka dan sesosok tubuh berkelabat cepat didepan Pek Bin Siansu. Tubuh kurus dibungkus baju biru lusuh duduk bersila diatas sehelai ikat pinggang yang panjang menegak lurus kebawah menusuk batu keras di pelantaran siaulimsi. Tubuh kakek tua itu yang hanya ditopang kain yang mengeras, mengambang dan bergoyang mengikuti geraknya angin gunung. Sungguh mengagumkan kesempurnaan tenaga dalam kakek tua itu.

“Selamat atas keberhasilan supek yang telah melatih Siau Thian sinkang ketingkat yang sempurna” kata Pek Bin Siansu sambil menjura.

Goan Kim Taysu, supek Pek Bin Siansu, menghela nafas,
“Aaai... masih jauh dari berhasil, puluhan tahun kucoba, baru menyelesaikan tingkat tiga, setelah mencapai tingkat delapan baru ilmu ini sempurna. Sayang aku kurang berbakat”.

Pek Bin Siansu mengangkat kepalanya dengan kaget. Goan Kim Taysu terkenal sebagai manusia yang paling berbakat di siaulimsi selama seratus tahun terakhir. Sepengetahuannya, sepanjang sejarah, dia lah satu satunya yang dapat menguasai 72 macam ilmu kepandaian siaulimsi sekaligus.

“Maaf supek, bukankah suhu dapat menyempurnakan Siau Thian Sinkang hanya dalam sepuluh tahun?”.

Goan Kim Taysu tersenyum,” Suhumu memang memerlukan sepuluh tahun untuk melatih Siau Thian sinkang, hanya bukan ilmu itu yang sedang aku latih.”

Setelah terdiam sejenak ia melanjutkan, “ ilmu yang sedang kulatih bernama Bu Kek Kang sinkang, ilmu ke-73 yang diciptakan Tatmo cowsu”.

Pek Bin Siansu terkesima, dari kecil ia tinggal di siaulimsi, dia yakin betul pendiri sialimsi menciptakan 72 macam kepandaian. Dari mana datangnya Bu Kek Kang sinkang, ilmu ke tujuhpuluh tiga?

Seperti memaklumi kebingungan sutitnya, Goan Kim Taysu menjelaskan “Kecuali Tatmo Cowsu belum pernah ada yang berhasil menguasi ilmu ini. Tidak heran kau walau sebagai ketua pun tidak pernah mendengarnya. Nampaknya ilmu ini akan ikut terkubur bersamaku”.

Goan Kim Taysu nampak murung, kecewa, seperti dirudung persoalan pelik, tapi dengan cepat ia menarik napas panjang dan senyumnya pulih kembali.

Sungguh tinggi kekuatan batin kakek tua ini, satu tarik nafas telah mengusir kegalauan hatinya.

“Kau mencariku tentu sebagai langkah akhir untuk menghadapi situasi sulit”.

Dengan perasaan berat, Pek Bin Siansu mengiakan.

Goan Kim Taysu telah menutup diri selama tiga puluh tahun dan ia telah merusak ketenangan supeknya. Ia harus menganggunya karena dia tidak melihat jalan lain.


Tiga bulan yang lalu terjadi suatu peristiwa yang luar biasa di kuil siaulimsi. Mereka kedatangan tamu.
Enam orang tamu yang mempunyai status cukup istimewa. Mereka merupakan ketua perkumpulan besar dari Bu tong pay, Kho tong pay, Hoa san pay, Thian san pay, Kun lun pay, dan kaypang saat ini.

Walau hubungan mereka cukup baik dan suka berkunjung satu sama lain, belum pernah enam ketua perkumpulan berkunjung bersamaan sekaligus. Kecuali...yaaa, kecuali terjadi satu urusan yang janggal yang memaksa mereka berkumpul.

Pek Bin Siansu mengajak mereka duduk menikmati minum teh di pendopo 'selaksa daun bambu' sambil menikmati pemandangan lembah gunung Siong San yang terkenal akan keindahannya.

“Braaakkkk....!” meja kayu setebal empat jari patah dipukul Ouw Hek Tong, ketua Kho Tong Pay yang memang berangasan. Cangkir kemala antik tanpa dapat dicegah lagi, berhamburan pecah, air teh menciprat kemana mana.

Sambil menghel nafas Pek Bin Siansu berkata, “Kutahu kedatangan kalian jelas bukan untuk menikmati pemandangan Siong san, hanya tidak kusangka, perabotan yang tidak bersalah menjadi sasaran”.

“Hayo, kembalikan!” tuntut Ouw Hek Tong sambil melotot.

Ouw Hek Tong berperawakan sedang tapi kekar. Berangasan, tapi mempunyai keberanian yang luar biasa. Pernah seorang diri dia melawan enam puluh penjahat yang telah membunuh muridnya. Komplotan penjahat yang rata rata berkepandaian tinggi itu toh tidak ada satupun yang hidup, walau dirinya pun mengalami luka luka berat. Selama bisa maju, kenapa mesti mundur...prinsip sederhana ini membuat Ouw Hek Tong terkenal akan nekadnya berkelahi.

Sekarang ia telah berdiri siap melabrak ketua Siaulimsi yang ia tahu memilki kepandaian yang luar biasa.

“Boleh pinceng tahu, apa yang mesti dikembalikan?” tanya Pek Bin Siansu dengan sabar.

Tanpa banyak bicara, Ouw Hek Tong menggerakan tanganya melancarkan serangan dengan telapak tangan terbuka. Angin menderu mengandung kekuatan merusak kearah Pek Bin Siansu yang tubuhnya melayang mengikuti derunya angin. Bagai sehelai daun, kaki Pek Bin Siansu menyentuh tanah sekitar enam kaki dari mereka.

“Jika Ouw-heng ingin berkelahi tanpa tanya jawab, sungguh membuat orang penasaran” ujar Pek Bin Siansu sambil menatap Ow Hek Tong dengan tajam.

“Tahan!” seru Thian Ki Hwesio, ketua Bu Tong Pay sambil berdiri diantara mereka.

“Tampaknya kalian telah sepakat untuk melabrak Siaulimsi, jika kalian menganggap kami telah berhutang, kalianpun berhutang penjelasan” Kata Peik Bin Siansu perlahan.

Thian Ki Totiang mengambil sebuah kotak dari saku bajunya, kemudian melontarkannya ke arah Pek Bin Siansu. Kotak itu melayang dengan perlahan seperti ada tangan yang sedang menyuguh. Pek Bin Siansu mengerut alisnya, agak terkejut juga ia akan kehebatan tenaga dalam Thian Ki Totiang. Ia meraup kotak tersebut, “Blaaang...!” tubuhnya tergetar keras dimana tubuh Thian Ki Totiang mundur selangkah ketika terjadi bentrokan tenaga dalam.

“Omitohud, jika kalian memaksa main kekerasan, bukankah ini akan menyangkut keselamatan ribuan murid tujuh perguruan” ujar Pek Bin Siansu dengan sedih.

Berenam mereka saling melirik. Muka mereka berubah hebat. Sukar dibayangkan jika terjadi bentrokan antar mereka yang jelas akan menggoncangkan dunia persilatan. Murid murid mereka yang banyak merantau tentu tidak tinggal diam, entah bencana apa yang bakal terjadi.

“Kupinta, Siansu memperhatikan dengan cermat, symbol yang tertera di dalam kotak itu” pinta Thian Ki Toting setelah berpikir sejenak.

Pek Bin Siansu melirik kotak tersebut dan membukanya dengan perlahan. Isinya ternyata hanya beberapa helai daun siong yang kering. Enam helai daun itu memiliki simbol sama yang tertera jelas. Bukan diatas daun, simbol itu tergores kedalam seperti dipahat tanpa merusak dasar sisi bawah permukaan daun. Berubah hebat muka Pek Bin Siansu.

“Bukankah goresan semacam itu hanya bisa ditimbulkan oleh tenaga jari Kim Kong Ci?” desak Thian Ki Totiang.

Memang hanya tenaga jari Kim Kong Ci yang mampu melakukan hal ini.

“Betul, memang mirip dengan tenaga jari Kim Kong Ci” jawab Pek Bin Siansu
“Hanya mirip atau memang tenaga jari Kim Kong Ci?” desak Thian Ki Totiang.

“Sukar untuk dikatakan” kata Pek Bin Siansu setelah termenung sejenak.

Tiba tiba jari telunjuknya melentik kearah tembok batu bangunan berjarak sekitar sepuluh kaki dari tempat berdirinya.
“Blaaar....!” dinding batu itu bolong sebesar jari sedalam tiga inci.

Desah kagum terdengar dari mereka yang menyaksikan. Muka mereka berubah tenggelam. Sungguh hebat demonstrasi tenaga jari Kim Kong Ci, ketua Siaulimsi ini.

Sambil tersenyum Pek Bin Siansu berkata: “Dapat kujamin, goresan daun ini walau mirip dengan tenaga jari Kim Kong Ci, jelas bukan dibuat oleh orang Siaulimsi”.

“Berdasarkan apa Siansu berani menjamin?” tanya Thian Ki Totiang.

Pek Bin Siansu berpikir sejenak, kemudian katanya, “Selain Goan Kim Supek, boleh dibilang diriku yang berhasil melatih tenaga jari Kim Kong Ci ketingkat yang paling tinggi. Walau sudah cukup sempurna, akupun tidak sanggup menggores dengan cara seperti ini”.

“Siansu tidak sanggup?” jerit Ong Pek Than ketua kaypang.

Setelah termenung sejenak, Pek Bin Siansu menerangkan,
“Tenaga yang tidak merusak jauh lebih sulit dibanding tenaga yang bersifat menghancur. Simbol yang tertera di daun ini, jelas dicukil dengan hawa tenaga jari. Goresannya mempunyai kedalaman yang sama, licin dan rata. Dasar daunpun pun tidak robek. Hanya orang yang mempunyai tenaga dalam telah menyatu dengan kehendak hati yang mampu melakukan hal ini”.

Thian Ki Totiang terdiam. Dari bentrokan barusan, ia dapat mengukur tenaga dalam Pek Bin Siansu walau lebih tinggi paling hanya setengah atau satu tingkat darinya. Memang tinggi kepandaian Pek Bin Siansu, tapi belum mencapai tingkatan 'menyatu dengan kehendak hati'.

Ia yakin Pek Bin Siansu berkata dengan jujur.
“Kalian sudah banyak bertanya, akupun sudah banyak menjawab. Sebetulnya apa gerangan yang telah terjadi?” tanya Pek Bin Siansu dengan serius.

Ternyata, kitab kitab pusaka enam partai besar yang disimpan diruang rahasia, siang malam dijaga ketat telah hilang begitu saja. Si pencuri tidak menganggu benda benda pusaka lainnya, hanya semua kitab silat lenyap tanpa ketahuan rimbanya. Sehelai daun siong kering ditinggalkan di rak buku yang kosong di tiap ruang kitab keenam partai.

“apakah...?” Pek Bin Siansu kemudian terdiam membatalkan pertanyaanya.

Thian Ki Totiang ketua Butongpay menangkap masuknya.
“Apakah mungkin dilakukan oleh orang dalam?”

“Dalam pengusutan kami, hal ini yang pertama kali kami pikirkan kemungkinannya. Sulit dipercaya orang lain dapat memasuki ruang kitab tanpa sepengetahuan kami. Setelah penyelidikan yang teliti berbulan bulan, kami berkesimpulan satu hal yang mustahil pencurian dilakukan oleh orang dalam”.

“Jadi dapat dipastikan oleh orang luar” tegas Pek Bin Siansu.

Thian Ki Totiang berpikir sejenak sebelum menjawab, “Mustahil pencurian dilakukan oleh orang lain. Karena kami benar benar tidak dapat menerka, selain Siaulimsi, siapa di dunia persilatan jaman ini yang mempunyai tenaga jari sedahsyat ini!”.

Pek Bin Siansu menatap Thian Ki Totiang dengan tenang. Dengan perlahan Thian Ki Totiang menerangkan bahwa ruang kitab di Bu tong pay dijaga ketat oleh sam go beng yang pernah mengalahkan Kiu tok sin mo, raja iblis yang mengobrak abrik dunia persilatan tiga puluh tahun yang lalu.

Perasaan Pek Bin Siansu tenggelam, sutenya Ang lee Siansu pernah bertarung melawan murid Kiu tok sin mo dan kalah. Bisa dibayangkan betapa sempurnanya kepandaian sam go beng yang berhasil menaklukan Kiu tok sin mo dalam lima ratus jurus.

“Sebaiknya kita bicara di ruang dalam” ajak Pek Bin Siansu yang kemudian membimbing mereka masuk ke ruang pertemuan.

Setelah duduk dan minuman teh disediakn, Thian Ki Totiang melanjutkan ceritanya,
“Ruang kitab dipusat perkumpulan kaypang dijaga oleh kay ong”.

Tanpa terasa dahi Pek Bin Siansu berkerenyit. Sembilan tangan raja pengemis adalah rajanya pencuri. Berkepandaian tinggi walau tidak sehebat sam go beng, keahlian kay ong dalam mencuri tiada bandingannya. Di propinsi Kang Lam, kemarau yang berkepanjangan menyebabkan berulang kali panen gagal. Rakyat kelaparan, kay ong berhasil mencuci habis sembilan gudang persedian beras yang dijaga ketat oleh pasukan pemerintah.

Rajanya pencuri yang bertanggung jawab atas ruang kitab ternyata kebobolan. Sungguh berita ini sukar dipercaya.

Ang lee Siansu, wakil ketua siaulimsi, tiba tiba muncul diruang pertemuan.
“Mo Tiang sute, penjaga ruang kitab, mendesak untuk menghadap ciangbujin suheng” katanya singkat.

Berubah hebat muka para ketua yang hadir, Pek Bin Siansu menutup matanya sambil menarik nafas,

“Bawa dia masuk”.
“sute nampaknya ingin berjumpa dengan suheng secara pribadi” kata Ang lee Siansu agak ragu melihat begitu ramainya yang hadir.

“Apakah ditangan Mo Tiang sute memegang secarik daun?” duga Pek Bin Siansu dengan jantung berdebar.

Ang lee siansu agak heran dengan tebakan jitu suhengnya, iapun mengangguk,
“Diangan sute memang memegang sehelai daun, nampaknya hendak diserahkan langsung ke suheng”.

“Bawa dia segera kemari!” gumam Pek Bin Siansu.

Tidak lama kemudian, Mo tiang Siansu muncul kemudian bersimpuh dengan air mata yang bercucuran.

“Suheng...”
“Kukira kutahu apa yang telah terjadi, kesalahan bukan terletak padamu”. Potong Pek Bin Siansu sambil mengambil helaian daun dari sutenya. Potongan daun siong kering dengan simbol persis sama dengan helaian daun di dalam kotak yang telah dikembalikan olehnya kepada Thian Ki Totiang.
“Suheng, hanya ini yang bisa kulakukan” jerit Mo Tian siansu yang tubuhnya melenting dengan kepala mengarah tembok.

Perhatian Pek Bin Siansu yang terpusat pada helain daun tersebut membuatnya lengah dengan perbuatan nekad sutenya. Tidak ada satu orangpun yang hadir yang menduga atau sempat mencegah perbuatan bunuh diri Mo Tian Siansu.

Goan Kim Taysu yang tidak melihat kehadiran keponakan muridnya, memejamkan mata. “Apakah Mo Tian sutit telah tewas?” tanyanya perlahan.

Pek Bin Siansu mengeluarkan sehelai daun dari sakunya dan menyerahkan kepada Goan Kim supek.

Dengan pandangan bertanya, Goan Kim menerima daun tersebut. Ia tidak dapat melihat keistimewaan daun siong kering yang memang banyak tumbuh disekitar siaulimsi.

“Perbuatan sute dicegah oleh daun ini”.

Ketika semua yang hadir di ruang pertemuan termangu tanpa dapat melakukan sesuatu, sesuatu melayang dari luar dengan cepat meliuk menghantam ubun ubun Mo Tiang Siansu. Anehnya, tubuh Mo Tiang siansu seperti tertahan tangan yang tak tampak, perlahan menahan laju tubuhnya.sekitar tiga hun dari tembok, tubuhnya berhenti beberapa detik, kemudian jatuh tegak lurus ke lantai. Dengan ringan Pek Bin Siansu melayang menangkap tubuh sutenya. Setelah diperiksa, dengan lega dia mendapatkan sutenya lepas dari bencana. Wajah lega Pek Bin Siansu tiba tiba berubah hebat.
“Aneh... tiga puluh enam pembuluh darah sutenya telah tertotok. Siapa yang melakukannya? Apakah sehelai daun segar yang menempel dikepala sutenya dapat digunakan untuk menotok orang?”

Terjadi perubahan hebat di muka Goan Kim Taysu, “Ilmu menitip daun” jeritnya pelan.

Pek Bin Siansu termangu. Dia pernah mendengar, seseorang dinilai berkepandaian sempurna bila sudah mencapai tingkatan 'memetik daun'. Setahu Pek Bin Siansu, hanya beberapa orang yang mencapai tingkatan ini. Sam Go beng dari Bu tong pay, mendiang suhu, dan Goan Kim supek. Bahkan kepandaian Kay Ong atau Kui thian sin mo masih satu tingkat lebih rendah.

Walau tidak mengerti tingkatan 'menitip daun' dari jeritan kaget supeknya, Pek Bin Siansu berkesimpulan ilmu itu bertataran lebih tinggi dibanding tingkatan 'memetik daun'.

“Lanjutkan ceritamu” seru Goan Kim Taysu setelah termenung sejenak.

Ternayata Jalan darah tidur atau Sui hiat Mo tiang siansu juga tertotok. Suara dengkur tidur sutenya justru melegakan Pek Bin Siansu, ia yakin sutenya tidak terluka.

Thian Ki Totiang beserta ketua perkumpulan lainnya berusaha membantu Pek Bin Siansu yang berkutet mencoba membuka totokan sutenya. Ternyata tidak satu pun yang berhasil mengenal apalagi mampu membebaskan pengaruh totokan itu.

“Hentikan usaha sia sia kalian. Biar kan ia tidur. Dua belas jam kemudian, dia akan bebas dengan sendirinya”. Suara lirih tapi jelas terdengar berbisik ditelinga mereka.

Sulit menentukan sumber suara itu. Suara itu jelas bukan berasal dari luar atau dari dalam ruangan. Sepertinya suara tersebut dibisikkan orang dari sisi tubuh mereka. Bahkan sulit diduga, apakah suara lelaki atau perempuan, tua atau muda. Siapa sih yang bisa membedakan suara bisikan?

“Sebaiknya kalian pulang saja. Tiada gunanya kalian berkumpul. Selain Kitab Siaulimsi, kitab lainnya telah kembali ke tempat asalnya”. Bisikan misterius kembali berkumandang ditelinga mereka.

“Bila kitab kami dikembalikan” seru Pek Bin Siansu dengan kuatir.

“Paling lama seratus hari lagi”.Kali ini suara misterius itu terdengar seperti jauh dari bawah bukit siong san. Sungguh sukar dibayangkan, seseorang mampu berbisik dari jarak sejauh itu dan tetap terdengar jelas.

“Dapatkah ucapannya dipercaya?” tanya Thian Ki totiang dengan getir.

Tujuh tokoh utama persilatan masa kini, ternyata seperti bayi yang tak berdaya di depan orang ini. Sungguh sukar dipercaya. Peristiwa ini sungguh memukul kepercayaan diri mereka.

“Ucapannya dapat dipercaya” seseorang melesat masuk ke ruang pertemuan.

Go sam beng menjura ke hadirin sekalian, kemudian berkata kepada ketuanya. “Kitab kitab Bu tong pay telah kembali ke tempatnya masing masing”.

“Tiada penjagaankah ruang kitab bu tong pay, sehingga orang dapat bebas keluar masuk seperti rumah makan umum?” Tegur Thian Ki totiang dengan muka masam.

Go sam beng menunduk malu, “Siautee berjaga di depan pintu sedangkan puluhan anggota tay kek ngo hen tin bersiaga ditempat tersembunyi. Kami berkeyakinan, seekor lalatpun tidak dapat keluar atau masuk ruang kitab tanpa seijin kami”.

“Bagaimana orang itu yang jelas lebih besar dari seekor lalat bisa mengembalikan kitab tanpa sepengetahuan kalian” tanya Thian Ki totiang dengan penasaran.

Dengan perasaan tertekan, Go sam beng menjawab, “ sebab kami semua tertidur”.

Sungguh kejadian yang luar biasa, Go sam beng yang berkepandaian paling tinggi di Bu tong pay beserta puluhan pasukan pilihan tay kek ngo hen tin tertotok tidur tanpa sepengetahuan mereka. Dia yang tersadar duluan, merasa angin dingin bertiup dari belakangnya. Ketika ia menoleh, pintu ruang kitab terbuka lebar. Secepat kilat ia melayang masuk dan tertegun ketika menyaksikan puluhan kitab yang hilang telah tersusun rapi seperti semula.

“Apakah kitab kitab itu benar benar asli” tanya Thian Ki totiang.
“pinto sudah mengecek satu persatu, semuanya asli”.

Thian Ki totiang tahu betul akan hobi sutenya yang gila baca. Jika dia bilang asli, maka tidak perlu diragukan lagi.

“Kuyakin orang yang berkepandaian luar biasa itu tidak akan mau berbohong. Letak Bu tong pay dekat dengan siaulimsi maka mendapat berita lebih awal. Memang tiada gunanya kita berkumpul. Jika kalian pulang tentu akan mendapat kabar yang sama”.

“Walau kitab yang hilang sudah kembali, kenyataannya kita sudah dipecundangi. Perasaan ini yang sulit dihilangkan” kata Thian Ki totiang dengan sedih.

Ia tidak malu menyatakan kekalahannya. Toh semua mengalami nasib yang sama termasuk siaulimsi yang terkenal gudangnya orang pandai.

Thian Ki totiang bersama Go sam beng berpamit pulang.
“Totiang, tidak maukah kau mengurus persoalan ini lagi?” seru ketua kaypang.
“Bukannya tidak mau, hanya sukar diurus” jawab Thian Ki totiang sambil melangkah keluar.
“Masakkan kita biarkan berlalu begitu saja?” teriak Ouw Hek Tong penasaran.
“Ku akui kepandaian Bu tong pay masih terlampau rendah, masih banyak yang harus kami benahi” ujarnya dengan pahit.

Dengan perasaan tertekan, mereka mengakui kebenaran pernyataan itu. Tujuh perkumpulan terkemuka di masa ini mengalami kekalahan tragis ditangan seseorang tanpa melakukan pertarungan. Satu persatu mereka meninggalkan ruangan, tinggal Pek Bin Siansu yang termenung sambil memegang ke dua helai daun itu. Satu helai daun segar, dan satu helai daun kering.

**********************


Setelah terdiam sejenak, Goan Kim berkata “Coba kau gunakan Kim Kong Ci menghajar tembok itu”.

Jarak tembok dari Pek Bin Siansu berdiri sekitar lima belas kaki. Dengan mengerahkan tenaga sembilan bagian, ia melentikkan jari telunjuknya. Terdengar suara keras disertai sebuah lobang sebesar jari sedalam tiga inci.

Goan Kim tersenyum, “Nampaknya cukup banyak kau mendapat kemajuan”.
“Berkat restu supek” jawab Pek Bin Siansu merendah.

“Coba kau serang pohon diluar tembok sana” sambil menunjuk pohon yang dimaksudkan.

Pek Bin Siansu menatap pohon yang lebih dari tiga puluh kaki dari dia berdiri.
“Terlampau jauh, supek. Teecu belum mampu”.

Terdengar suara lirih mendesir ketika Goan Kim Taysu menggerakkan jarinya, pohon tersebut seperti ditabrak gajah, bergoyang dengan kencang.

Suara berdecak kagum dari barisan lo han tin mengagumi kehebatan tetua mereka.

“Di mata kalian kepandaian ini sudah hebat, padahal bukan terhebat”.

Ratusan mata menatap Goan Kim Taysu dengan heran.
“Kebanyakan daya serang bersifat lurus atau menyebar hingga mencapai sasaran yang terlihat atau bagian yang tidak kuat terlindungi ”. ujar Goan Kim Taysu perlahan.

“Dapatkah kau melubangi tembok bagian luar yang tidak terlihat yang dilndungi dengan enam kaki tebal tembok itu sendiri?”

“Tidak dapat”.
Goan Kim mengangguk, “Daya serangmu harus meliuk, berubah dari daya lurus dan harus mempunyai sisa tenaga yang cukup untuk menghancurkan”.

Setelah berpikir sejenak, Goan Kim melanjutkan,”Orang yang telah menyelamatkan sutemu, jelas memetik daun ini dari pekarangan luar, kemudian melemparnya melampaui puluhan kaki dengan ruangan yang berbelok belok dan mempunyai cukup sisa tenaga untuk menahan daya luncur dan menotok jalan darah sutemu”.

Ucapan Goan Kim agak sulit dipercaya Pek Bin Siansu. Dia tahu betul jarak pekarangan luar hingga ruang pertemuan mencapai lebih dari seratus kaki dengan kelak kelok yang rumit. Tapi teringat olehnya, dari getah yang menetes keluar, daun siong itu memang seperti baru saja dipetik, bahkan masih mengeluarkan getaran aneh yang menyebabkan tangannya kesemutan ketika memegangnya.

“Siapapun dia, apapun maksudnya, kita wajib berterima kasih atas upayanya yang telah menyelamatan Mo tiang sutit”.

Suara Goan Kim Taysu menyadarkan Pek Bin Siansu dari renungannya.
“Sutit berharap dapat menyampaikan terima kasih malam ini kepadanya”.
“Hari keseratus jatuh pada hari ini?” tanya Goan Kim memastikan.

Pek Bin Siansu mengangguk.
“Coba kau perlihatkan padaku lembaran kedua” pinta Goan Kim setelah berpikir sejenak.

Pek Bin Siansu mengeluarkan kotak berisi lembaran daun yang mempunyai simbol dipermukaannya. Tiga bulan lebih ia mencoba menafsirkan arti simbol itu....Mirip huruf sansekerta tapi ia tidak mengenalnya.

Goan Kim Hwesio menatap daun itu lama sekali. Terdengar tarikan nafasnya yang panjang.
“Sungguh sempurna kepandaian orang ini” gumamnya perlahan.
“maksud susiok?”

Goan Kim Taysu menggerakkan tangannya, seperti sulap sehelai daun segar dari pohon siong berjarak puluhan kaki, terpetik dan melayang ketangannya.
Dengan perlahan, Goan Kim Taysu mengukir jari tangannya diatas daun segar tersebut mengikuti bentuk simbol itu. Dengan hasil, persis sama.

Rasa kagum muncul dihati Pek Bin Siansu atas kemampuan supeknya. Berbareng dihati kecil timbul rasa kuatir. Apa supeknya yang melakukan pencurian besar besaran ini? Sungguh sukar dipercaya!

Goan Kim Taysu tersenyum seperti dapat membaca renungan hati sutitnya.
“Jangan kuatir, bukan aku yang melakukan pencurian itu”
Merah muka Pek Bin Siansu mendengar ucapan supeknya.
“Aku hanya mampu menulis simbol ini diatas daun yang masih segar” tutur Goan Kim Taysu menjelaskan.

“Daun kering mudah tersepih hancur, aku masih belum mempunyai kemampuan untuk menulis diatas daun kering tanpa menganggu keutuhan daun”.

Hati Goan Kim Taysu berdesir, daun segar yang baru ditulisnya, jika mengering sedikit banyak akan ikut mengubah bentuk dan ukuran simbol tulisannya. Dari simbol yang licin dan rata, jelas si pencuri ini menulis diatas daun yang memang sudah kering!

Goan Kim Taysu merenung, .ia seperti mengenal ilmu yang digunakan orang ini, tapi tidak dapat mengingatnya.

Pek Bin Siansu memberanikan diri untuk bertanya, “Simbol itu, entah apa artinya?”

Baru Goan Kim Taysu teringat, ia sibuk memperhatikan hal yang lain, simbol tulisan itu malah belum ia perhatikan dengan benar.

Muka Goan Kim Taysu berubah serius, tangannya sedikit gemetar, lama ia termangu.

Tergetar hati Pek Bin Siansu melihat keadaan susioknya, “Mohon maaf atas kebodohan sutit yang tidak mengenal...”

“Tulisan ini menggunakan huruf Ardhmagadhi, tulisan kuno yang menjadi dasar bahasa sansekerta. Tidak heran kau tidak mengenalnya” potong Goan Kim Taysu.

“Budhidharma” baca Goan Kim Taysu cukup keras.
“Omitohud, Tat Mo Cowsu” seru Pek Bin Siansu

Tat Mo Cowsu dilahirkan dengan nama Budhidharma. Berasal dari India, beliau merantau ke Cina untuk menyebarkan ajaran Budha. Akhirnya menetap di bukit siong san dan mendirikan kuil siaulimsi, Tat Mo Cowsu berhasil menjadikan siaulimsi menjadi pusat ajaran Budha untuk seluruh daratan Cina.

Goan Kim Hwesio tidak dapat menebak apa maksud pencuri itu menulis nama cikal bakal siaulimsi dengan bahasa kuno. Setahunya, tinggal dirinya seorang yang menguasai bahasa Ardhmagadhi. Itu pun dikarenakan Bu Keng Kang sinkang ditulis dengan bahasa....

“Tingkat terakhir!” Jerit Goan Kim Taysu tanpa terasa.

Pek Bin Siansu menatap susioknya dengan pandangan tidak mengerti.
“Orang itu menulis dengan Bu Kek Kang sinkang tingkat ke delapan” kata Goan Kim Hwesio dengan seruan tidak percaya.

Hanya dirinya yang menguasai Bu Kek kang sinkang itupun baru sampai tingkat tiga. Goan Kim Taysu menggeleng kepala “tidak mungkin” gumamnya.

Tiba tiba terdengar suara kalem berkumandang dari dalam pondok kecil.
“Memang tidak mungkin dari tingkat ke delapan, harus dilakukan dari tingkat sebelas”.

“Tingkat sebelas?” seru Goan Kim Taysu tidak mengerti.

Bu Keng Kang sinkang terbagi atas delapan tingkat, darimana muncul tingkat sebelas?

Jelas jelas pondoknya tiada penghuni lain, siapa yang bisa masuk ke dalam tanpa sepengetahuannya?

“Tio sam, tentu banyak yang kau ingin tanyakan, sebaiknya kau masuk kemari” seru suara dari dalam pondok.

Yang tahu dirinya bernama Tio Sam, sepuluh tahun ini, setahu Goan Kim Hwesio tinggal dua orang. Satu dirinya, yang satu lagi sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Toh orang ini mampu menyebut nama aslinya. Nama sebelum ia menjadi pendeta.
Pek Bin Siansu tidak berani melanggar perintah supeknya. Secara isyarat, ia memerintahkan pasukan Lo Han Tin untuk mengepung pondok kecil tersebut.

Hatinya rada lega ketika ia memastikan tiada suara pertarungan terdengar dari dalam pondok.

Dari uraian susioknya, Pek Bin Siansu berkesimpulan kepandaian si pencuri kitab berkali kali lipat lebih tinggi dari Goan Kim Taysu, tidak heran mampu menggerayangi ruang kitab tujuh perkumpulan besar semudah keluar masuk rumah makan.

“Ciangbun-suheng”.
Panggilan ini menyadarkan Pek Bin Siansu dari renungannya.
Berdiri di depannya, Mo Tian Sute dengan wajah serius.

“Apa kauingin melapor bahwa kitab kitab yang dicuri sudah dikembalikan?” tanya Pek Bin Siansu.
“Ya, kitab kitab itu lengkap sudah kembali ketempatnya semula, Keasliannya pun tidak diragukan., hanya...?”

Melihat keraguan sutenya, Pek Bin Siansu segera bertanya “apa ada urusan yang janggal?”
Mo thian Siansu menyodorkan sebuah kitab ke suhengnya, “Selain kitab kita, kutemukan juga kitab ini”.

Jantung Pek Bin Siansu berdebar kencang ketika membaca sampul kitab itu.
“Tat Mo ih kin keng” desisnya kaget.

Menurut catatan, kitab ini hilang tidak ketahuan rimbanya, sejak angkatan Hui memegang jabatan ketua siaulimsi, seratus tahun yang lalu. Segala macam usaha dicoba untuk menemukan kembali kitab yang tak ternilai ini. Hasilnya, nihil.

Lama sudah proses pencarian kitab dihentikan. Tiba tiba, tanpa mengeluarkan keringat, kitab itu berada ditangannya. Hati Pek Bin Siansu girangnya bukan main, berbareng bingung dengan perilaku aneh si pencuri kitab itu. Betul Ruang kitabnya kecurian, tapi bukannya kurang, malah bertambah!

Pek Bin Siansu tidak dapat menerka maksud atau tujuan si pencuri itu. Bahkan sulit baginya mengambil sikap, haruskah ia marah atau malah berterima kasih?

Apapun juga ia berharap segala sesuatu akan jelas dengan sendirinya. Ia yakin, orang yang sedang bercakap dengan susioknya di dalam pondok itu adalah si Pencuri misterius itu.

Tidak terlalu lama ia menunggu, terdengar suara Goan Kim Taysu menyuruhnya masuk ke dalam.

Pek Bin Siansu mendapati susioknya duduk bersila di atas dipan dengan wajah serius. Entah kemana orang itu, yang bagaikan naga sakti tidak terlihat ekornya. Hati Pek Bin Siansu agak penasaran mengetahui siaulimsi yang terkenal banyak orang pandainya dianggap tempat umum oleh si pencuri misterius yang bisa keluar masuk seenak udel tanpa diketahui jejaknya.

Pek Bin Siansu memberi hormat kepada susioknya yang mempersilahkan duduk.
“Tentu banyak yang ingin kau tanyakan mengenai Pencuri kitab itu, sayang tidak banyak yang boleh kujelaskan padamu” kata Goan Kim Taysu perlahan.

Pek Bin Siansu tertegun. Siapa yang dapat melarang susioknya berbicara?
Goan Kim Taysu tersenyum, ia memahami pikiran sutitnya,
“Dia bukan orang luar, walau bukan dari siaulimpay, dia termasuk angkatan tuaku”

Agak heran Pek Bin Siansu, susioknya hampir berusia seratus tahun, jika si Pencuri sakti itu angkatan tua susioknya, tentu usianya tua sekali.

“Walau dari angkatan tua sekalipun, tidak dapat dibenarkan tindakannya yang main curi itu” kata Pek Bin Siansu dengan penasaran.
“Tindakkannya memang gegabah, tapi tidak juga dapat dipersalahkan”
“Maksud susiok?”

Goan Kim Taysu menarik napas hendak menerangkan, tapi tidak jadi.
“Memandang wajahku, maukah kau melupakan kejadian ini? Toh kitab yang dicuri sudah dikembalikan bahkan disertai Tat mo Ih Kin Keng”
“Darimana susiok..?” Pek Bin Siansu tidak jadi meneruskan pertanyaannya.
Tentu saja si Pencuri yang memberitahu susioknya.

“Sebentar lagi, dunia persilatan akan digegerkan dengan kedatangan orang dari partai Lam Hay Bun. Sebaiknya, jika tidak ada keperluan mendesak, anggota siaulimsi tidak usah berkelana.”

Kening Pek Bin Siansu berkerut. Lam Hay Bun adalah sebuah perguruan silat dari pantai selatan yang terkenal sekali atas kesaktiannya. Tidak banyak yang diketahui Pek Bin Siansu mengenai perguruan misterius ini. Cuma ia tahu, mereka jarang sekali berkelana ke daerah tionggoan.

“Kalau mereka datang untuk mengacau, bukankah kewajiban kita untuk maju membela?”
“Kalau mereka berbuat busuk, tentu wajib kita mencegah. Tapi mereka berniat untuk merebut gelar nomor wahid dengan mengalahkan orang orang persilatan. Apa kau mau ribut memperebutkan gelar kosong?” bantah Goan Kim Taysu.

Pek Bin Siansu terdiam.

“Sungguh hebat rencana mereka” gumam Goan Kim Taysu dengan perlahan. Wajahnya makin kelihatan tua, sesuatu nampaknya mengganjal hatinya.

“Apa rencana mereka, susiok” tanya Pek Bin Siansu tak tahan.

Goan Kim Taysu merenung sejenak, kemudian berkata:
“Ratusan tahun sejarah telah membuktikan. Walau banyak yang telah mencoba, baik itu dari wakil pemerintah, peorangan atau satu perguruan, tapi tidak pernah ada satupun yang benar benar berhasil menguasai rimba persilatan”.

Pek Bian Siansu mengangguk membenarkan. Dia tahu perguruan Mo-Kauw, Ceng Liong Hwee, istana kelabang emas dari luar tembok besar dan yang lain, pernah mencoba...mereka gagal!

“Mereka tidak berhasil disebabkan usaha mereka menggunakan cara yang licik, curang dan memaksa, hingga mengundang kemarahan orang banyak. Karena tidak tahan, anggota persilatan bergabung menjadi satu, menentang kezaliman mereka” kata Pek Bin Siansu tanpa terasa.

“Jangan kau lupa, sejarah juga membuktikan setiap zaman kezaliman, selalu muncul seorang enghiong yang berkepandaian tinggi menentang mereka”.

Kembali Pek Bin Siansu mengangguk. Kisah suka duka para enghiong itu, sudah menjadi dongeng yang beredar di kalangan liok lim.

“Rencana Lam Hay Bun kali ini berbeda. Mereka bertekad menguasai rimba persilatan dengan cara yang jujur, menggunakan kemurnian ilmu silat sehingga tidak beralasan orang rimba persilatan untuk menentang mereka”.

Sudah menjadi pengetahuan umum, seseorang jika kalah dalam pi-bu, kalah atau tewas dalam pertandingan yang jujur, hal ini merupakan suatu hal yang jamak.

Tidak ada alasan bagi yang kalah untuk mengeroyok yang menang. Jika yang kalah mengeroyok yang menang, maka ia akan dianggap seorang pengecut. Seorang yang berlaku perbuatan curang yang dapat merugikan nama baiknya.

Pihak yang kalah harus berusaha dengan kemurnian silat untuk mencapai kemenangan. Dengan cara ini, baru dia diakui kehebatannya.

“Dengan cara seperti ini, paling banter mereka hanya keluar sebagai pemenang, bagaimana mereka dapat dianggap menguasai rimba persilatan?”
“Sebab mereka menawarkan yang kalah untuk mempelajari silat Lam Hay Bun”

Pek Bin Siansu memandang susioknya dengan kaget. Cara ini memang cara yang luar biasa!

Siapa yang tidak tertarik untuk mempelajari ilmu silat yang mengalahkan mereka? Untuk mempelajari ilmu tersebut, mereka harus bergabung dengan pihak Lam Hay Bun. Otomatis harus mengikuti tata cara satu perguruan.

Tanpa paksaan atau penggunaan racun, secara suka rela dan bersih, mereka dapat menundukkan orang orang di rimba persilatan tanpa dapat ditentang oleh perguruan besar di tionggoan.

“Kuyakin, masih banyak pendekar sejati, yang belum tentu tertarik bergabung dengan pihak Lam Hay Bun” kata Pek Bin Siansu setelah berpikir sejenak.
“Betul perkataanmu. Tapi jumlah pendekar sejati semacam ini sangat sedikit. Pendirian merekapun terkenal teguh. Pihak Lam Hay Bun tentu saja menyadari, mereka tidak mungkin dapat merangkul pendekar sejati sejenis ini. Kuyakin, pihak Lam Hay Bun tentu akan membunuh mereka dalam pertandingan yang adil”

Pek Bin Siansu mau tidak mau harus mengakui kebenaran ucapan susioknya,
“Walau mereka berkepandaian hebat, belum tentu mereka berhasil mengalahkan semua orang rimba persilatan” seru Pek Bin Siansu agak penasaran.
“Berhasil atau tidak, yang jelas banjir darah akan terjadi. Dan sulit sekali untuk dicegah” kata Goan Kim Taysu dengan sedih.

“Sungguh rencana yang hebat!” gumam Pek Bin siansu perlahan.
“Apa susiok sudah mempunyai cara untuk menghadapi mereka?” tanya Pek Bin Siansu.

Setelah termenung sejenak, Goan Kim Taysun berkata:
“Kuminta kau mengutus Mo Tian sutit pergi ke kota Lok Yang, bilang pada Khu Pek Sim, aku berkenan untuk mengangkat cucunya, Khu Han Beng, menjadi ahli warisku”

Goan Kim Taysu, mengulap tangannya, mengakhiri pembicaraan.


Pek Bin Siansu meninggalkan susioknya sambil merenung. Kecuali persoalan Lam Hay Bun yang luar biasa, hal yang lain yang dibicarakan Gon Kim Taysu kepadanya, boleh dibilang tidak ada satupun yang istimewa.

Hal hal yang ingin ia ketahui terutama mengenai si pencuri kitab itu, justru tidak dibicarakan, dan iapun tidak berani mendesak susioknya.

Diam diam ia ikut bersyukur bagi Khu Pek Sim, murid preman sialimsi yang bukan dari kalangan pendeta. Bagaimanapun juga Goan Kim Taysu akan mempunyai ahli waris hingga Bu Kek Kang sinkang tidak ikut terkubur bersamanya.

Yang ia heran, susioknya yang tidak pernah keluar pondok puluhan tahun lamanya, darimana mengetahui nama cucu Khu Pek Sim? Dirinya malah tidak tahu.

Khu Pek Sim memiliki Lok Yang Piaukiok, perusahan pengawal barang di kota Lok Yang. Terakhir Khu Pek Sim berkunjung ke siaulimsi terjadi sekitar lima belas tahun yang lalu, setelah selesai mengantar barang ke kotaraja. Walau jarang bertemu, hubungan mereka tidak jelek.

Pek Bin Siansu sempat mengetahui Khu Pek Sim hanya mempunyai seorang putri remaja. Tentu sekarang ia sudah menjadi seorang ibu, ibunya Khu Han Beng.

Setelah berpikir sejenak, Pek Bin Siansu merasa kejanggalan. Sebagai murid swasta siaulimsi, sudah tentu Khu Pek Sim mengirim undangan kepada ketua siaulimsi, ketika putrinya menikah. Tapi seingatnya, ia tidak pernah menerima undangan tersebut.

****************************


Lok Yang piaukok terletak di pinggir kota Lok Yang dan menempati daerah yang cukup luas dikelilingi sebuah tembok yang cukup tebal. Rumah bergenting merah bederet deret puluhan banyaknya.

Sebagai Congpiautau, Khu pek sim temasuk seorang pemimpin yang sangat memperhatikan kesejahteraan anak buahnya. Selain memberi pesangon yang cukup, dia juga memberikan sarana tempat tinggal bagi pegawainya.

Disebuah kamar dirumah yang paling besar, seorang anak berumur sekitar empat belas tahun sedang menggoreskan penanya diatas sehelai kertas. Tampaknya ia tidak berniat untuk berhenti, dilihat dari tumpukan kertas yang cukup tebal diatas mejanya, tentu sudah lama ia menulis.

Sinar matahari pagi menyoroti sebagian wajah bocah itu. Wajah yang tampan dihiasi alis yang tebal, dan hidung yang mancung, jelas mencerminkan kekerasan dan keteguhan hati.

Matanya agak istimewa, bukan karena mencorong sinar tajam, seperti biasanya ahli silat...Mata itu agak istimewa karena mengikuti tarian pena lebih dari sepenanakan nasi.... tanpa berkedip.

Hanya seorang kutu buku yang bisa mempunyai otot mata yang demikian kuatnya. Hanya kebiasaan membaca berjam jam setiap harinya, yang dapat melatih otot mata yang kuat sekaligus melatih kebiasaan memusatkan perhatian.

Membaca adalah suatu kebiasaan yang baik. Suatu kebiasaan yang membuat kamar Khu Han Beng yang luas menjadi sempit penuh dengan rak berisi buku.

Pintu kamarnya dibuka oleh Lo Tong yang tanpa basa basi langsung berkata:
“Beng sau-ya, kau dipanggil oleh yaya-mu”

Lo Tong ditugaskan yaya-nya untuk melayani keperluannya. Sebetulnya, dia yang meminta dan memilih Lo Tong untuk melayaninya. Lucunya, walau sudah berusia enam puluh tahun lebih, dan lebih dari tujuh tahun bekerja sebagai kacung bukunya, Lo Tong buta huruf.

Entah apa sebabnya, Han Beng tidak pernah mengajar cara membaca atau menulis kepada Lo Tong, kakek tua itupun juga nampaknya tidak tertarik untuk belajar membaca.

Tugas sehari harinya, hanya menyiapkan tinta, membersihkan alat tulis, dan menyusun kertas kertas hasil tulis sau-ya kecilnya. Tugas yang sangat ringan, cocok dengan kondisinya yang memiliki tulang tua, yang mudah mengilu bila melakukan kerja berat

Setahu Lo Tong, siau sau-ya, tuan kecil satu ini memang sedikit aneh. Umumnya anak kecil gemar bermain, Khu Han Beng lebih gemar mengurung dirinya didalam kamar, membaca buku buku tebal dan menulis puluhan lembar tiap harinya. Kecuali dirinya, bocah ini melarang orang lain memasuki kamarnya. Bahkan Khu Pek Sim pun, hampir tidak pernah datang ke kamar ini. Ia selalu menyuruh Lo Tong meminta Han Beng untuk menghadapnya.

Khu Han Beng meletakkan penanya, sambil berkata: “Kau masukkan kertas kertas ini kedalam tasku, siapkan kuda, kita pergi mengunjungi Gu-Suko”
Han Beng menarik laci mejanya, mengambil beberapa tahil perak.
“Kupergi menemui yaya. Tunggu aku di pintu gerbang”.

Lo Tong menghela napasnya, dia tidak begitu menyukai mengunjungi tempat Gu-Suko, pemilik toko buku terbesar di kota Lok Yang. Baginya bau arak wangi, jauh lebih sedap dibanding bau buku tua yang memiliki ciri yang khas. Ciri yang membuatnya sesak napas.

Khu Han Beng sangat akrab dengan Gu-Suko. Boleh dibilang hubungan mereka sudah seperti adik-kakak angkat. Hampir seminggu sekali Han Beng menyempatkan diri untuk mengunjungi Gu-Suko.

Aneh juga, baru terpikir oleh Lo Tong, selama tujuh tahun ini, seingatnya belum pernah, Gu-Suko mengunjungi Lok Yang Piaukok, walau satu kali.

************************

Khu Pek Sim sedang duduk termenung diruang meja kerjanya. Tangannya memegang sebuah kotak terbuat dari batu kemala, yang mempunyai bentuk kubus. Setiap sisi kotak itu, terdapat 9 kotak bujursangkar kecil yang dihiasi enam macam warna.

Setiap kotak dipenuhi oleh sebuah warna, ada yang merah, ada yang biru, kuning, hijau, hitam, dan putih...sayangnya tidak mengikuti citra seni, hingga berkesan tidak beraturan dan tidak karuan.

Kerutan di kening Khu Pek Sim makin bertambah, ketika tanpa sengaja tangannya dapat memutar setiap sisi kotak tersebut. Pegas di dalam kotak kemala tersebut, dibuat sedemikian rupa hingga setiap sisi kota itu dapat digerakkan secara tegak lurus atau mendatar.

Sudah menjadi kebiasaan banyak orang, jika sedang asyik berpikir, tangan tidak jauh dari memegang jenggot. Walau usia sudah mendekati enam puluh tahun, Khu Pek Sim masih nampak gagah.

Dia memelihara jenggot yang pendek yang terawat rapi, mungkin untuk menutupi codet luka pedang yang tergaris dari bibir sebelah kiri turun mencapai dagu.

Setiap kali jari tangannya menyentuh bekas luka diujung bibir, tubuh Khu Pek Sim masih bergidik.Tidak sedikit manusia yang menemui ajal di dunia persilatan waktu berselang, karena tidak berhasil menghindari jurus pedang Bwe Hoa kiamsut, dirinya pun tidak.

Jurus yang selalu mengarah ke bagian yang mematikan sedang mengancam ke arah mulutnya ketika pedang itu terpukul dari atas, meninggalkan codet luka yang cukup dalam. Untung dia berhasil ditolong oleh....

“Yaya!” panggilan Khu Han Beng menyentakkan Khu Pek Sim dari pikirannya.
Khu Pek Sim mengangkat wajahnya kemudian tersenyum haru. Relung hatinya selalu terenyuh setiap kali melihat cucu ini. Anak satu satunya dari mendiang putrinya yang juga satu satunya.

“Kau semakin besar, wajahmu makin mirip ibumu” kata Khu Pek Sim sambil meletakkan kotak kemala itu, dan kemudian memegang bahu cucunya.

Tak tahan, Khu Han Beng melirik sekejap pada kotak kemala itu.
“Kotak apa itu, yaya?” tanyanya.
“Barang pelanggan yang harus kuhantarkan. Warnanya cukup menarik bukan” kata Khu Pek Sim sambil tersenyum.

Khu Han Beng termenung sejenak sebelum berkata:
“Entah ada urusan apa, yaya memanggilku?”
“Siang ini, aku akan pergi mengawal barang ini. Perjalanan kali ini cukup jauh, mungkin akan menyita sekitar dua bulan. Kuminta kau mengatur dan mengurus sesuatunya dipiaukiok ini”.
“Baik akan kulakukan. Hanya kuperlu menemui Gu-suko sebentar. Siang hari, kuyakin sudah kembali”.

Khu Pek Sim cukup tahu hubungan akrab cucunya dengan Gu Cin Long, pemilik toko buku, walau belum pernah berjumpa dengan orangnya.
“Apa kau perlu uang? Kutahu buku yang hendak kau beli tentu tidak sedikit”
Khu Han Beng menggeleng, ujarnya perlahan:
“Aku memang memerlukan sesuatu, cuma bukan uang”

Agak berubah muka Khu Pek Sim, ia seperti tahu apa yang dikehendaki bocah ini. Dia memang jarang di rumah, tugasnya menuntut kehidupan yang lebih banyak dihabiskan di jalan.

Tapi setiap kali ada kesempatan, dia berusaha memanjakan cucu luarnya ini. Hanya maunya bocah ini sangat sedikit.

Begitu memasuki usia membaca, hobinya mengurung diri di kamar, tenggelam oleh buku bukunya. Kadang kadang suka juga ia bermain dibukit belakang, sendirian.

Tapi belakangan ini, setiap ada kesempatan, cucunya selalu menanyakan soal yang itu itu juga. Soal yang Khu Pek Sim enggan membicarakannya.

Bergetar bibi Khu Han Beng ketika bertanya:
“Bukankah yaya pernah bilang, jika aku sudah besar, yaya akan menceritakan mengenai ayah-ibu?”

Khu Pek Sim menghela napas:
“Kau memang sudah sebesar dan setinggi yayamu, hanya kau tetap belum dewasa”
“Bukankah seorang dianggap dewasa, jika sudah berani bertanggung jawab?”
“Yaa, kira kira begitu.”

Khu Han Beng dengan cepat mendesak kakeknya:
“Untuk yang kedua kali, aku memimpin Liok Yang Piaukok selama kepergian yaya, bukankah hal ini bisa dianggap aku bertanggung jawab dan mampu melakukannya?”

Khu Pek Sim terdiam, katanya dengan perlahan:
“Kenapa kau selalu ingin tahu urusan ini?”

Melihat kali ini yaya-nya tidak berang, dengan cepat Khu Han Beng menjawab:
“Ku tahu she-ku mestinya mengikuti she ayahku, yang jelas bukan she Khu seperti she yaya. Aku juga tahu riwayat hidup orang tuaku tentu mempunyai liku liku sehingga yaya enggan menceritakannya padaku. Tapi bukankah seorang anak mempunyai hak untuk mengetahui perihal orang tuanya?”

Khu Pek Sim menarik napas dalam dalam.
“Aiiih....Inilah akibatnya kalau seorang anak gemar baca buku. Ucapan dan usianya benar benar tidak sebanding” gumamnya perlahan.

Dia tahu, cepat atau lambat, dia harus memberitahu persoalan ini kepada Khu Han Beng. Tapi apa sekarang? Dia agak ragu.

“Urusan ini akan jauh lebih mudah, jika kau sudah menguasai ilmu silat” ujarnya sedih.

Khu Han Beng membuka mulutnya, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi.

Khu Pek Sim termenung. Cucunya tidak suka berlatih silat, setiap kali dia mendesak, Khu Han Beng hanya tersenyum sambil menggeleng. Dia tidak tega untuk memaksa cucu kesayangannya ini.

Bagaimanapun juga, sudah cukup bocah ini dilahirkan dari suasana yang tidak menyenangkan.

Tapi pernah terjadi suatu kejadian lucu. Ketika bocah ini berusia 9 tahun, Khu Han Beng pernah mengomentari jurus kebanggaannya, jurus toya penghancur iblis, jurus yang ia peroleh langsung dari siaulimpay...salah gerakannya!

Pek Bin Siansu sendiripun kagum atas kesempurnaan permainan toyanya. Masakkan bocah yang tidak suka silat, berani berkata, gerakkan toyanya kurang tepat. Tersungging senyum dibibir Khu Pek Sim setiap mengingat kejadian ini.

Melihat senyuman yaya-nya, terlintas rasa girang di muka Khu Han Beng.
“Baik! Begitu kembali dari perjalananku ini, akan kuceritakan perihal orangtuamu. Dengan satu syarat, kau harus mulai belajar silat. Walau sudah agak telat, tapi belum terlambat”.

Mendengar dia harus menunggu dua bulan lagi, Khu Han Beng agak kecewa, tapi dia yakin dia sanggup menunggu. Hanya soal harus belajar silat agak mengganggunya.

“Baik! Aku akan mulai belajar silat dari Tan toako” katanya setelah berpikir sejenak.

***********************


Dengan jadwal usahanya yang padat, sudah tentu Khu Pek Sim tidak sempat menurunkan kepandaiannya kepada anak buahnya.

Tan Leng Ko, Tan kausu, merupakan guru silat yang melatih para piasu di Lok Yang Piaukok. Kepandaian Tan leng ko khusus dibidang golok. Konon katanya ia menguasai enam jurus dari 13 jurus Ouw Yang Ci To yang sudah lenyap dari dunia persilatan. Enam jurus tersebut sudah cukup untuk mengangkat namanya, sebagai ahli golok di dua propinsi.

Tan Leng Ko selalu menganggap setiap orang mempunyai nasib masing masing. Kebanyakkan orang mempunyai garis hidup yang sial, dia tidak.

Sekitar tujuh tahun yang lalu, dia pernah hampir mati dikeroyok oleh enam manusia buas dari gurun. Khu Pek Simlah yang menolong dirinya lolos dari lubang jarum. Toya Khu Pek Sim menghajar mampus mereka dalam seratus jurus. Merasa hutang budi, dia ikut Khu Pek Sim dan mulai bekerja di Lok Yang Piaukok.

Baru tiga hari menetap, karena suatu keperluan, dia pergi ke kota Lok Yang. Kembali dirinya mengalami nasib yang mujur.

Secara tidak sengaja, dia memperoleh enam jurus Ouw Yang Ci To!

Dia ingat betul, waktu itu perutnya sangat mules, maklum, pagi hari dan santapan pedas, merupakan kombinasi yang kurang baik terhadap kondisi perut. Dia kebetulan baru selesai makan di rumah makan Se Chuan Koan yang terkenal menyajikan makanan yang pedas pedas.

Untuk kembali ke rumah makan sudah tidak sempat. Sekenanya, diambilnya gumpalan kertas dari dalam tempat sampah, yang terletak tidak jauh dari tempat berdirinya. Dan bagaikan dikejar setan, dia berlomba lari menuju sebuah gang yang gelap dan sempit

Sambil berjongkok di pojok memenuhi tugas panggilan alam, iseng Tan Leng Ko melirik gumpalan kertas yang diperlukannya untuk memoles bagian tertentu. Kertas itu jelas lecak diremas orang, untung masih kelihatan bersih dan baru. Dari tulisan yang mencong sana sini, Tan Leng Ko sadar bahwa tulisan ini dibuat oleh anak kecil yang sedang belajar menulis.

Tulisan anak anak biasanya memang mempunyai ciri khas yang berbeda dengan tulisan orang dewasa. Tanpa terasa Tan Leng Ko membaca tulisan tersebut. Setelah membaca beberapa baris, muka Tan Leng Ko berubah hebat.

Tulisan cakar ayam itu ternyata mencatat jurus Ouw Yang Ci To yang ia dengar sangat terkenal seratus tahun yang lalu. Salinan ilmu golok yang hebat ini, ternyata dibuang orang begitu saja ke keranjang sampah!

Selesai melakukan hajat, bergegas Tan Leng Ko kembali ke keranjang sampah tersebut. Ia tidak peduli, orang yang kebetulan lewat keheranan melihat kelakuannya yang seperti orang gila menumpahkan isi sampah dan mengorek sana sini.

Tan Leng Ko tidak sayang baju dan tangannya berlempotan sampah. Yang ia sayangkan, banyak gumpalan kertas itu yang sudah ternoda lumpur dan kotoran hingga rusak tidak tertolong.

Dari puluhan gumpalan kertas yang berhasil ia selamatkan, dengan susah payah, Tan Leng Ko berhasil juga melatih jurus golok yang tidak lengkap itu.

***************


Matahari yang condong ke barat menerpa debu debu yang masih menempel ditubuh Khu Han Beng. Jelas bocah ini baru kembali dari kota Lok Yang. Dia tidak sempat berganti baju. Ia menepati janjinya untuk menemui Tan toako sore hari di ruang melatih silat.

Tanpa banyak cakap, Tan Leng Ko begitu muncul, langsung menyodorkan golok yang terbuat dari kayu kepada Khu Han Beng. Seperti piasu yang lainnya, Tan Leng Ko tidak begitu akrab dengan bocah yang suka menyendiri ini.

Tapi bagaimanapun, bocah ini cucu kesayangan Khu Pek Sim, orang yang paling dihormatinya. Tan Leng Ko memutuskan untuk memberikan ilmu yang menjadi andalannya kepada Khu Han Beng.

“Banyak orang persilatan menganggap bahwa pedang adalah rajanya senjata. Yang kulatih adalah ilmu golok. Bagiku, golok adalah kaisarnya senjata” ujar Tan Leng Ko menerangkan.

“Ukuran sebilah golok biasanya lebih pendek dari sebatang pedang, hingga lebih memudahkan untuk menguasai gerakkannya. Inti jurus golokku adalah cepat. Kau harus dapat menguasai lawan digebrakkan awal. Misalnya, jika lawanmu menggunakan tangan kanan dan menyerang dengan pedang, kalau tidak melakukan gerakkan menusuk tentu menebas. Jurus pertama Ouw Yang Ci To, mengharuskan kau untuk melompat dan memutar badanmu ke arah bahu kiri lawan, mengayun golok dengan tangan kanan, kemudian melepasnya melayang di udara. Tangan kiri mencekeram, menyambut golok tersebut dan kemudian menabas ke arah leher lawan”.

Dengan sabar dan perlahan, Tan Leng Ko menerangkan jurus goloknya yang sulit untuk dilakukan. Untuk Jurus pertama Ouw Yang Ci To, Tan Leng Ko memerlukan waktu sekitar delapan bulan untuk dapat melakukannya. Ia berharap Khu Han Beng dapat menguasainya dalam waktu satu tahun.

Tan Leng Ko mengulang sampai tiga kali, kemudian menyuruh Khu Han Beng untuk meniru gerakkannya.

Khu Han Beng menggerakkan golok kayunya, memutar tubuhnya dan melakukan persis seperti apa yang diperbuat oleh Tan toakonya.

Mata Tan Leng Ko terbelalak, mulut terbuka menganga, dia tidak mempercayai apa yang barusan dilihatnya. Masakkan bocah yang dia tidak pernah lihat berlatih silat, dapat melakukan jurus yang dia tahu sulit sekali untuk dilakukan!
“Coba kau ulangi lagi!” perintahnya

Sampai tiga kali, Khu Han Beng mengulang, walau masih kelihatan kaku tapi jelas dia mampu melakukannya dengan baik.

“Coba kau tiru gerakkan ini!”
Berturut turut Tan Leng Ko menggerakkan tubuh dan goloknya melakukan jurus kedua hingga jurus keenam dari Ouw Yang Ci To, yang kemudian dapat ditiru oleh Khu Han Beng dengan persis, hanya berbeda keluwesannya.

Tanpa terasa, Tan Leng Ko menelan air ludahnya,
“Coba yang ini!” jeritnya tak terasa.

Tubuhnya bergerak, inilah gerakkan ke tujuh dari Ouw Yang Ci To!
Hasil gubahannya bertahun tahun. Jurus Ouw Yang Ci To, memerlukan kecepatan, mirip dengan deburan ombak.

Jurus kedua akan mempunyai daya serang yang lebih hebat dari jurus pertama. Jurus ke tiga lebih dahsyat dari jurus kedua, begitu seterusnya.

Setelah berpikir keras sekian lama, walau agak dipaksakan, akhirnya Tan Leng Ko berhasil menciptakan jurus ketujuh.

Baru setengah jurus ketujuh Khu Han Beng lakukan, tiba tiba ia berhenti. Alisnya yang tebal berkerenyit.

“Kenapa berhenti?” tanya Tan Leng Ko.
Agak ragu Khu Han Beng menjawab:
Jurus satu hingga enam enak dilakukan, satu jurus berkait dengan jurus berikutnya. Hanya jurus yang ini...?”

Bagi seorang ahli silat, walau jurus ketujuh ini cukup dahsyat tapi jelas mempunyai lobang kelemahan yang banyak disana sini.

Dengan tegang, Tan Leng Ko menjawab:
“Kenapa dengan jurus ini?”
“Seperti berdiri sendiri....terpisah!” ujar Khu Han Beng dengan perlahan.

Tan Lengko menarik napas dalam dalam, jantungnya agak berdebar keras.
Tujuh tahun sudah dia bekerja di Liok Yang piaukok, dia tahu dengan pasti Khu Han Beng bukan seorang ahli silat.

Golok kayu ditangan Khu Han Beng mendadak digerakkan secara aneh “Mungkin, kalau begini....?”

Tubuh Khu Han Beng bergerak dengan lambat. Setiap gerakkan nampak Khu Han Beng berhenti sejenak seperti sedang mengingat gerakkan selanjutnya.

Tapi jelas gerakkan Khu Han Beng jauh berbeda dengan gerakkan Tan Leng Ko. Lapat lapat Tan Leng Ko merasa, gerakkan ini sangat serasi dengan jurus keenam dari Ouw Yang Ci To. Apa ini jurus ketujuh yang asli?

Tanpa terasa Tan Leng Ko mengikuti gerakkan Khu Han Beng. Setelah sekian lama mengulang, baru ia melakukan gerakkan itu dengan cepat.

“Braaakk....!” puluhan tombak yang berderet di rak senjata dekat Tan Leng Ko putus berserakkan terkena sabetan goloknya.

Seorang piasu berlari masuk dengan napas terengah engah.
“Khu siau-sauya, Tan Toako! Ada orang diluar mengamuk melukai orang!”
“Siapa?” tanya Tan Leng Ko.
“Mereka mengaku dari Bwe Hoa Pang, mereka mencari Khu Congpiautau. Mereka tidak percaya, Khu Congpiautau sedang dinas keluar, malah kemudian mereka mulai melukai para piausu”.

Tan Leng Ko bergegas keluar diikuti oleh Khu Han Beng dan piasu yang melapor. Betul Khu Han Beng yang memimpin Liok Yang Piaukok jika Khu Pek Sim berhalangan, tapi lebih banyak bersifat administratif. Jelas untuk menghadapi urusan semacam ini, Tan Leng Ko jauh lebih tepat dan handal.

Mendidih darah Tan Leng Ko begitu melihat lebih dari enam orang anak buahnya menggeletak berlimpangan darah, jelas dilukai oleh mereka bertiga.

Seorang gadis muda belia, didampingi seorang pemuda bersenjata pedang yang bernoda darah yang masih menetes, dan seorang kakek beralis putih.

“Apapun urusan kalian datang kesini, melukai banyak orang, bukankah menyalahi aturan kangouw?” bentaknya dengan geram.
“Jika pertanyaan kami tidak kau jawab dengan tepat, kaupun akan kami lukai” kata gadis muda itu sambil tertawa.
“Siapa kalian? Apa yang kalian maui?”
“Seharusnya kau tahu, kami dari Bwe Hoa Pang”.

Tiga tamu ini, masing masing menyematkan bunga bwe di dada atas sebelah kiri. Bunga bwe terbuat dari besi, berwarna hitam.
Tan Leng Ko pernah mendengar ketenaran Bwe Hoa Kiamsut, yang dikuasai seorang jago pedang berwajah dingin, Ma Koan Tek.

Tapi baru pertama kali ia mendengar Bwe Hoa Pang. Apa dua hal ini berhubungan?

Menurut penuturan Khu Pek Sim, kepandaian Ma Koan Tek tinggi sekali. Ia hampir tewas dibawah serangan Bwe Hoa Kiamsut, jika tidak ditolong oleh seorang pemuda, yang kemudian melukai Ma Koan Tek dalam dua puluh jurus.

Semenjak kejadian itu, Bwe Hoa Kiam Ma Koan Tek tidak pernah kedengaran lagi beritanya. Ketika Tan Leng Ko bertanya siapakah pemuda yang mampu mengalahkan Ma Koan Tek itu, Khu Pek Sim menolak untuk menjawab.

“Kedatangan kami memang mencari Khu Pek Sim” perkataan gadis itu menyentakkan Tan Leng Ko dari lamunannya.

Tanpa banyak bicara, Tan Leng Ko langsung mencabut goloknya.
Dengan agak heran, gadis itu bertanya:
“Bukan menjawab, kau malah mau mengajak berkelahi?”
“Jika kujawab Khu Congpiautau sedang pergi dinas keluar, kalian toh tetap tidak percaya, daripada buang tenaga ribut mulut, toh dengan melukai anggota kami, urusan ini hanya bisa diselesaikan dengan ujung senjata. Kenapa tidak kita mulai sekarang?” tantang Tan Leng Ko.

Gadis muda itu manggut manggut setuju.
“Memang urusan ini jika makin cepat selesai, main baik” tangannya membuat gerakkan perlahan, pemuda yang kelihatan angkuh itu, meloncat maju.
“Semestinya menghadapi cecurut kelas tiga, bukan aku yang maju” keluhnya dengan sombong.

Tanpa banyak cing cong, Tan Leng Ko menggerakkan goloknya mengeluarkan jurus andalannya.

Terkesirap darah pemuda itu menghadapi sabetan golok yang hebat itu. Dengan cepat iapun menggerakkan pedangnya. Sinar pedang dan golok berkelebatan diiringi suara yang menggiriskan.

“Traaangg...!” terdengar suara benturan golok dengan pedang. Pemuda itu melejit menjauhi Tan Leng Ko.
“Tak kusangka, dikalangan piausu terhadap seorang jago golok yang hebat” gumamnya perlahan.
“Coba kau tahan jurus ini!” Bentak Tan Leng Ko, tubuhnya melambung melakukan jurus serangan kedua.

Hawa dingin yang keluar dari golok, menyambar kearah pemuda itu. Tubuhnya terada ditindih oleh sesuatu yang berat dan tak tampak. Pemuda itu menggeliat menggerakan jurus bwe hoa kiam sut yang menjadi andalannya. Terlambat! Pemuda itu mendengus, bahu kanannya tersabet golok, darah mengalir cukup deras.

“Tahan!” seru kakek beralis putih sambil melesat menarik pemuda itu dari gelanggang pertarungan. Tanganya dengan cepat menotok memberhentikan aliran darah.

Selesai menolong, kakek itu menoleh ke arah Tan Leng Ko sambil berkata dengan dingin:
“Jurus serangan golokmu, apakah jurus golok Ouw Yang Ci To yang sudah lama punah?”
“Kau pernah melihat jurus itu” jawab Tan Leng Ko balik bertanya.

Kakek alis putih itu termenung,
“Tidak banyak jurus golok yang mampu menekan Bwe Hoa Kiamsut. Jurus golok yang dapat melakukan itu, pernah kulihat semua” ia berhenti sejenak.
“Jurus yang baru saja kau gunakan, sama sekali tidak kukenal! Hanya....?”.
“Hanya apa...?”
“Kukira, hanya jurus golok Ouw Yang Ci To yang mampu melukai pemuda ini”.
“Mampukah kau menyambut jurus itu” tanya Tan Leng Ko.
Diam diam hatinya kagum dengan pengetahuan kakek ini.
“Belum tentu, tapi aku ingin mencobanya” kata kakek beralis putih dengan dingin.

Tangan Tan Leng Ko memegang golok dengan kencang. Dari sikap si kakek alis putih yang dia tidak kenal ini, dia tahu, dia akan menghadapi musuh tangguh.

Kakek alis putih itu berdiri miring menghadap Tan Leng Ko dengan kaki kiri ditekuk kedepan. Mereka saling mengukur mencoba menerka gerakkan lawan.

Tan Leng Ko mulai menyerang, kakek alis putih menggerakkan lengan bajunya menepas pergi hawa golok yang mengiris tajam. Tubuh Tan Leng Ko lenyap terbungkus gulungan selimut golok, tanpa terasa ia telah mengeluarkan enam jurus Ouw Yang Ci To.

Tegopoh gopoh kakek alis putih itu menyambut gelombang serangan dahsyat itu, tapi dengan memaksakan diri dia mampu lolos dari maut.

Tanpa terasa, mereka sudah bertukar posisi. Tan Leng Ko menatap tajam lawannya yang paling tangguh yang ia pernah jumpai.
Dengan pandangan dingin, kakek alis putih berkata:
“Tampaknya jurus serangamu memang dari Ouw Yang Ci To, sayang...”
“Apanya yang sayang?” tanya Tan Leng Ko dengan muka berubah.
“Yang kuketahui, 13 jurus Ouw Yang Ci To harus dimainkan sekaligus. Jelas seranganmu baru enam jurus, dan kau sudah berhenti. Kau menghentikan seranganmu karena jurus yang kau miliki tidak lengkap!”

Berdesir hati Tan LengKo, kakek sakti ini mengetahui kelemahannya.
“Jika kau menguasai satu jurus lagi, tentu aku tidak tahan. Sayang, ilmu yang langka ini harus kembali punah” gumam kakek itu perlahan.
“Kenapa harus punah?” tanya Tan Leng Ko kurang mengerti.
“Jika kau tidak mampu mengalahkanku, maka kau harus mati!” jengek kakek itu.

Selesai berkata, kakek itu menyerang, menggunakan tapak tangan. Tanpa pikir panjang, terpaksa Tan Leng Ko menggerakkan goloknya dengan enteng. Tidak seperti gerakkan sebelumnya, kali ini gerakannya kaku, dan lambat. Kelihatan betul ia belum begitu mahir.

Dengan nekat, ia mengeluarkan gerakkan yang baru saja dilatihnya dengan Khu Han Beng....jurus ketujuh dari Ouw Yang Ci To!
“hiyaatttt...!” kakek alis putih itu membentak. Tangannya menyambut serangan golok itu
“Bruaaakkk...!” Tan Leng Ko mendengus, darah keluar dari mulutnya. Perutnya terserempet ujung lengan baju kakek itu. Ia jatuh dengan goloknya terhujam ditanah, menopang tubuhnya yang gemetaran.

Senuyman yang menghiasi bibir mungil gadis cantik itu membeku. Dengan cepat ia menghampiri kakek alis putih yang menggeletak diam ditanah. Dada sebelah kanannya terluka sedalam tujuh inci. Darah yang membasahi baju kakek itu berhenti mengalir... dia sudah tewas!

“Benar benar tak kusangka, seseorang dari kalangan piasu, mampu membunuh Kiu Tok Sin Mo” serunya perlahan.

Kaget sekali Tan Leng Ko mendengar ucapan gadis itu, dia telah membunuh raja iblis yang terkenal puluhan tahun yang lalu itu!

“Siapa yang akan maju menghadapiku?” tantang gadis itu dengan lantang.

Hati Tan Leng Ko tenggelam, dia sudah luka parah. Para piasu yang berkepandaian tinggi, ikut pergi bersama Khu Congpiautau.

“Aku yang akan menghadapi dirimu” gumam Tan Leng Ko tidak jelas. Mulutnya penuh dengan darah...darah getir dan lengket.

“Jika kau masih sanggup berdiri, aku akan pergi dari sini!” ujar gadis itu dengan sinis.

Tan Leng Ko menggeliat badannya berusaha untuk berdiri, tapi tubuhnya malah rubuh. Khu Han Beng bergegas memegang tubuh Tan Leng Ko.

“Bagaimana keadaanmu, Tan toako?” tanyanya kuatir.
“Jangan kuatir, aku tak bakal mati. Kau tahu, kenapa aku tak bakal mati?” tanya Tan Leng Ko sambil memuntahkan darah segar.

Khu Han Beng menatapnya haru.
“Sebab nasibku mujur!” selesai berkata Tan Leng Ko terkulai pingsan ditangan Khu Han Beng.

Melihat rubuhnya Tan Kausu, para piasu lain tidak dapat menahan amarahnya. Terdengar desingan pedang dicabut, ayunan golok, dan ancaman tombak menyerang gadis muda itu. Dengan ringan, gadis itu menggerakkan kaki tangannya, tanpa menghadapi kesulitan yang berarti.

Puluhan piasu berterbangan seperti serangga menabrak api. Hanya dalam waktu sebentar, lebih banyak yang berbaring dibanding yang berdiri.

Dengan keras Khu Han Beng membentak para piasu itu, agar mengundurkan diri. Ia menoleh ke gadis itu,

“Sebaiknya kalian lekas pergi dari sini” ucapnya dengan dingin.
“Bocah kecil, siapa kau? kata gadis itu sambil tertawa.

Khu Han Beng membaringkan tubuh Tan Leng Ko, kemudian menghampiri gadis itu dengan memegang golok kayunya.
“Apa kau akan menghadapi diriku dengan senjata mainan itu?” tanya gadis itu tak dapat menahan gelinya.

Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian katanya:
“Apa yang harus kulakukan, agar kau lekas pergi” katanya hambar.
“Kau harus mampu mengutungi tanganku dengan golok kayu itu” gurau gadis itu.
“Baik!”

Golok kayu itu membuat gerakkan mendorong, perlahan. Tidak ada yang luar biasa dari gerakkan Khu Han Beng. Golok kayu itu hanya menunding ke arah tubuh gadis itu.

“Iiiihhh....!” tubuh gadis itu bergeser mundur lima langkah dengan cepat.
Begitu kakinya menempel tanah, dia merasa dua belas jalan darah pentingnya masih terancam hawa tak nampak yang keluar dari ujung golok kayu itu.

Cepat ia mencabut pedangnya. Tapi sudah terlambat. Semacam hawa hangat, halus tapi kuat menyusup ke lengan kanannya yang memegang pedang. Otot lengan kanannya mengejang keras, tanpa dapat ia kuasai, pedangnya membuat gerakkan memutar, mengayun kuat kearah....siku kirinya!
“Croottt!!!....” darah berhamburan dengan dibarengi sebuah tangan yang jatuh ke tanah.

Muka gadis itu berubah pucat, dengan rasa takut yang hebat dia melirik Khu Han Beng dengan pandangan tak percaya!

Wajah Khu Han Beng dingin membatu. Tidak ada satupun dari tubuhnya yang bergerak. Tiupan angin malam yang kencang bahkan tidak dapat menggerakkan rambutnya. Lapat lapat, tubuhnya seperti memancar hawa yang menggiris. Keadaan Khu Han Beng sungguh menyeramkan.

Dengan menggigit bibir menahan isak tangis, gadis itu memungut kuntungan tangannya, kemudia tanpa berbicara, ia melesat dan menghilang di kegelapan malam.

Pemuda yang terluka yang datang bersama gadis itu, memandang bingung tidak mengerti. Apalagi para piasu yang tidak pernah melihat Khu Han Beng berlatih silat. Sebenarnya apa gerangan yang terjadi?

“Ilmu iblis apa yang kau gunakan?” bentak pemuda itu menutupi rasa gentarnya.
“Bukankah kau saksikan sendiri perbuatan gadis itu? Menyentuh dirinyapun tidak? Apa sangkut pautnya dengan aku?” Khu Han Beng balik bertanya.

Pemuda itu yakin, gadis itu tak akan suka rela menguntungi lengannya sendiri, tapi ia juga melihat, selain menuding golok kayu, Khu Han Beng tidak melakukan yang lain.

Apa ilmu sihir? Pemuda itu bergidik. Dengan menggunakan tangan kirinya, ia memanggul rekannya yang tewas, dan mengikuti jejak gadis itu menghilang dikegelapan malam.

Khu Han Beng menghela napas, kemudian mengisyaratkan para piasu yang masih bisa berdiri untuk menggotong masuk tubuh Tan Leng Ko yang terluka dan merawat para piasu yang terluka.

Malam mulai menyelimuti tanah yang bernoda darah. Konon katanya, dibawah sinar rembulan, darah akan nampak berwarna jingga. Warna ini jauh lebih menarik...jauh lebih indah dari warna aslinya. Tidak heran, banyak kisah pembunuhan terjadi di bulan purnama.

***************************


Dua minggu telah lewat dengan cepatnya. Luka Tan Leng Ko sudah sembuh. Tubuhnya yang penuh otot gempal, ditambah dengan usianya yang mendekati tiga puluh tahun, sangat membantu kecepatan sembuhnya.

Umumnya manusia dikala bayi atau menjelang tua, sering sakit sakitan. Dikala umur seseorang mencapai bilangan sepuluh dikali dua hingga empat, jarang sekali sakit, maklum daya tahan tubuh sedang bekerja paling aktif.

Luka Tan Leng Ko cepat sembuh berkat obat luka dari tabib Liok Yang Piaukiok yang manjur. Juga dibantu dengan jinsom yang diminumnya setiap hari.

Tapi Tan Leng Ko berpendapat, obat yang membuat lukanya lekas sembuh, adalah bubur ayam Hong naynay yang paling digemarinya.

Masakan yang cocok dengan perut, tentu membuat hati seseorang menjadi riang. Konon katanya, kondisi hati seseorang sangat menentukan kesehatannya.

Hong naynay, berbadan gemuk, dan berusia diatas lima puluh tahun. Ia memimpin satu daerah kekuasaan, dapur umum Lok Yang Piaukok. Begitu ia masuk dapur, yang merasa pintar masak, dengan sendirinya akan menyingkir keluar, kehilangan kepercayaan diri.

Kepandaian Hong naynay mengolah masakan, membuat banyak piausu tunduk padanya...berbareng takut.

Soalnya, Hong naynay galaknya bukan main. Sedikit berbuat salah padanya, dijamin sendok kayu besar akan melayang. Sedikit sekali, penghuni Lok Yang Piaukok, yang belum pernah benjol kepalanya.

Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam. Kembali ia merasa nasibnya mujur. Selama ia sakit, ternyata pihak Bwe Hoa Pang tidak melakukan penyerangan, bahkan tidak terdengar kabarnya. Mereka telah melepaskan kesempatan yang baik.

Sambil menggeliatkan badan, Tan Leng Ko merasa, ia sudah siap melakukan tugas. Yang pertama ia lakukan, beranjak dari tempat tidur, dan membuka jendela kamarnya.

Angin malam meniup, membuat segar wajahnya. Tanpa terasa ia melamun.

Cukup sering Khu Han Beng menjenguk dirinya, sayang selama ini Tan Leng Ko belum mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang banyak berkecamuk dibenaknya.

Hubungan mereka menjadi akrab, walau Khu Han Beng juga seperti menghindari dirinya. Ia selalu datang ketika kamarnya ramai dikunjungi orang. Dan tidak pernah muncul ketika ia sedang sendirian.

Dari piasu yang menjaga pintu kamarnya, Tan Leng Ko mendapat tahu peristiwa yang terjadi setelah ia jatuh pingsan. Dengan menunding sebilah golok kayu, Khu Han Beng telah mengusir pengacau Bwe Hoa Pang. Jelas itu bukan sejenis ilmu silat. Mana ada ilmu silat yang tanpa bergerak dapat menjatuhkan lawan?

Ketika mereka berlatih, walau cepat menangkap, jelas gerakkan Khu Han Beng sangat kaku. Kekakuan yang tidak dibuat buat. Kekakuan yang timbul karena tidak pernah berlatih gerakkan silat. Jika bukan silat, apa ilmu sihir?

Pusing kepala Tan Leng Ko memikirkan hal ini.
Akhirnya ia memutuskan, paling baik bertanya langsung pada yang bersangkutan. Diraih goloknya, kemudian ia melangkah keluar.

************************


Kamar Khu Han Beng terletak dibagian belakang rumah yang paling besar. Tujuh tahun ia telah bekerja disini, boleh dibilang baru pertama kali, ia berdiri didepan kamar Khu Han Beng.

Ketukan pintunya dijawab oleh Lo Tong yang berdiri dengan badan bergoyang, jelas dalam keadaan mabuk.

Walau dalam keadaan mabuk, Lo Tong tidak lupa dengan tugasnya. Tubuhnya berdiri menutupi pintu yang terbuka, dengan tangannya sibuk menyapu.
“Kenapa banyak daun kering di dalam kamar?” tanya Tan Leng Ko heran.

Setiap rumah pasti mempunyai dedaunan sampah. Tapi biasanya diperkarangan, bukan di dalam kamar.

”Akupun tidak tahu, setiap hari, bertahun tahun lamanya, selalu kutemukan tumpukan daun dikamar Beng Siauya. Entah masuk dari mana” Gerutu Lo Tong.

“Dimana siauya?”
“Beng-siauya, pergi mencari kunang kunang”.

Sedari kecil Khu Han Beng mempunyai kegemaran mencari kunang kunang dimalam hari. Memang dibelakang perumahan Liok Yang Piaukok terdapat sebuah bukit kecil yang masih banyak ditumbuhi bunga bunga, walau dimusim gugur ini.

“Aku akan menyusul Beng sauya” kata Tan Leng Ko sambil melangkah pergi.
Lo Tong menggumam tidak jelas, lalu menutup pintu.

Baru empat lima langkah, sekelebat bayangan memenuhi benak Tan Leng Ko. Cepat ia memutar balik ke kamar.

Lo Tong membuka pintu dengan pandangan bertanya. Tan Leng Ko mencoba melirik dalam kamar dari pintu yang terbuka. Tapi Lo Tong menjepit badannya dengan pintu hingga sukar melihat keadaan didalam kamar.
Sambil tertawa, Tan Leng Ko berkata:
“Badanku belum terlalu sehat, tiba tiba aku ingin berisitirahat sejenak, kau ijinkan aku tidak, untuk masuk kedalam”.
“Kau kan tahu, Beng sauya tidak menyukai orang untuk memasuki kamarnya” jawab Lo Tong menolak.

Dengan berbisik, Tan Leng Ko, kemudian berkata:
“Ketika sedang sakit, kuperoleh seguci arak wangi Tiok Yap Jing dari Hong naynay, tapi dilarang olehnya untuk kuminum, kecuali sudah sembuh benar. Guci arak itu hanya dapat kupandang, tak berani kulanggar pesan Hong naynay. Sungguh runyam keadaanku”.

Mendengar arak Tiok Yap Jing yang terkenal mahal dan harum, mata Lo Tong berbinar.
“Konon katanya orang yang sakit, tidak lekas baik kalau minum arak. Supaya Tan Kausu cepat sembuh, dan tidak susah, bagaimana kalau arak itu diberikan saja padaku”.

Tan Leng Ko menepuk pundak Lo Tong, sambil berkata:
“Sungguh engkau seorang sahabat sejati, yang mau menolong teman dalam kesusahan. Lekas kau ambil arak itu dari kamarku”.

Dengan sempoyongan, bergegas Lo Tong berlari meninggalkan Tan Leng Ko sendirian, dengan pintu kamar Khu Han Beng yang terbuka.

Sekilas tadi, ketika Lo Tong membuka pintu pertama kali, ia seperti mengenal tulisan tangan yang terdapat di rak buku. Tan Leng Ko melangkah masuk ke kamar.

Buku buku yang terdapat di kamar ini, sungguh banyak sekali. Bahkan terdapat buku buku yang ditulis huruf keriting yang dia tidak kenal. Disalah satu rak tersebut, terdapat kumpulan buku buku hasil tulisan Khu Han Beng.

Buku buku ini tidak berjudul, hanya bulan dan tahun pembuatan tercatat dipunggung buku. Gaya tulisan tanganyapun macam macam, dari tulisan cakar ayam sampai tulisan tangan yang indah.

Tan Leng Ko menarik satu buku yang menarik perhatiannya tadi. Setelah ia hitung, tulisan cakar ayam ini ditulis oleh Khu Han Beng ketika ia berusia tujuh tahun.

Muka Tan Leng Ko berubah hebat ketika ia membaca buku itu. Tulisan cakar ayam itu menguraikan jurus tangan kosong yang begitu hebat! Tidak disebut nama jurus tersebut, tapi untuk menghindari serangan jurus pertama tangan kosong ini, dirinyapun tidak sanggup. Sukar dipercaya tulisan ini ditulis oleh bocah kecil bahkan ditulis pada saat ia berumur tujuh tahun!

Tan Leng Ko menaruh kembali buku itu ketempat semula, kemudian menarik satu buku yang bertulisan indah yang dibuat beberapa bulan yang lalu.
“Hui Liong Cap Sa Cik!” pekiknya tertahan.

Hui Liong Cap Sa Cik merupakan ilmu pedang andalan Kun Lun Pay yang jelas tidak diajarkan sembarang orang. Bahkan hanya Kun Lun Ciangbujin yang boleh mempelajari ilmu pedang rahasia ini.

Darimana bocah ini memperoleh catatan yang rahasia ini? Bahkan buku berisi ilmu yang luar biasa ini, ternyata hanya ditaruh begitu saja disebuah rak buku, seperti menaruh buku syair yang tidak terlalu bernilai!

Pening kepala Tang Leng Ko memikirkan hal ini. Cepat dikembalikan buku tersebut. Dengan perlahan ditutupnya kamar Khu Han Beng.

Sambil melangkah Tan Leng Ko merenung.
Apa yang harus ia lakukan? Mencari Khu Han Beng, kemudian bertanya mengenai catatan ilmu silat itu? Tentu ia bakal ditanya, darimana dia tahu, kecuali dia, secara lancang telah menyelonong masuk ke dalam kamar, tanpa ijin!

Sedikit banyak,hatinya menjadi malu atas perbuatan usilnya mencuri rahasia orang. Tapi ia benar benar tidak tahan, selimut misteri yang membungkus bocah ini sungguh memancing rasa ingin tahu!

Akhirnya Tan Leng Ko memutuskan untuk kembali kekamarnya.
Dahinya berkerut, ketika ia melihat Lo Tong terkapar ditempat tidurnya, dalam keadaan mabuk. Guci arak Tiok Yap Jing pecah dilantai, sisa arak tumpah kemana mana. Orang yang sedang mabuk memang sukar menghargai arak mahal.

Tiba tiba ia ingin minum arak. Arak memang dapat mengusir kepusingan pikiran, sekaligus dapat pula mengundang kepusingan kepala.

Untung ia masih mempunyai persedian arak. Diambilnya seguci, kemudian melangkah keluar. Tubuhnya meloncat keatas genting rumah, menghadap kamar Khu Han Beng.

Dengan perlahan Tan Leng Ko meminum arak sendirian. Tanpa terasa, pikirannya melayang, ia membandingkan tulisan tangan di gumpalan kertas Ouw Yang Ci To yang diketemukannya dengan tulisan di dalam kamar Khu Han Beng.

Tulisan cakar ayam itu sangat dikenalnya. Tulisan cakar ayam itu terlalu mirip dengan tulisan gumpalan kertas yang diketemuinya dikeranjang sampah, tujuh tahun yang lalu!

Dia yakin, ilmu Ouw Yang Ci To yang dipelajarinya berasal dari tulisan tangan Khu Han Beng!

Bocah itu tentu telah menyalin dari kitab aslinya. Bertahun tahun bocah ini mengurung diri di dalam kamar, rupanya mempunyai kesibukkan.

Menyalin kitab pusaka yang langka, bahkan ada kitab yang dianggap sudah punah.

Entah berapa banyak kitab yang sudah disalinnya. Dilihat dari deretan catatan di rak bukunya, tentu jumlahnya tidak sedikit!

Tan Leng Ko dapat memastikan, walau hanya melihat dua buah buku. Ia mengerti, yang disalin oleh Khu Han Beng bukan jenis kitab syair atau kitab agama, melainkan salinan dari kitab kitab ilmu silat yang luar biasa hebatnya.

Yang Tan Leng Ko tidak paham, kenapa kitab yang tak ternilai harganya itu ditaruh begitu saja di rak buku, seperti kitab umum yang biasa? Apa karena Khu Han Beng masih terlampau muda, kurang pengalaman, untuk mengerti nilai kitab kitab pusaka tersebut?

Tan Leng Ko menenggak sisa araknya yang tinggal sedikit. Satu soal lagi yang mengganggu pikirannya. Ditilik dari gaya tulisan cakar ayam dan tahun catatan, tentu Khu Han Beng mulai menyalin kitab kitab sakti itu sedari kecil, bahkan digunakan sebagai latihan belajar menulis!

Tidak mungkin seorang anak kecil mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan kitab kitab sakti tersebut, apalagi sebanyak itu. Seseorang mesti memberi dan menyuruhnya menyalin. Tentu saja seorang anak kecil yang tidak tahu apa apa, akan melakukannya tanpa banyak pertanyaan.

Yang Tan Leng Ko tak habis berpikir, kenapa urusan yang penting ini dipercayakan kepada seorang bocah?

Tan Leng Ko menghela napas, tanpa terasa ia mengangkat guci arak yang sudah kosong itu. Tiba tiba guci arak itu terlepas dari tangannya, hatinya bergidik ketika ia menyadari sesuatu.

Sudah menjadi pengetahuan umum, kitab pusaka ilmu silat sering menjadi barang rebutan di rimba persilatan. Satu kitab saja, dapat membuat kehebohan yang menimbulkan ribuan orang tewas, dalam usaha memperebutkan.

Bayangkan jika mereka mengetahui, puluhan kitab sakti yang langka, ternyata terdapat di dalam kamar seorang bocah di perumahan Lok Yang Piaukok.
Akibatnya sukar untuk dibayangkan!

Sambil memandang guci araknya yang hancur dipelataran, Tan Leng Ko memutuskan untuk menyelidiki perkara ini sampai tuntas. Ia tidak akan mengijinkan jika terjadi sesuatu bencana di Lok Yang Piaukok ini.

Pertanyaannya sekarang, dari siapa bocah itu mendapat kitab kitab pusaka yang asli?
Suara langkah kaki, menyadarkan Tan Leng Ko dari lamunannya. Dilihatnya, Khu Han Beng sedang berjalan menghampiri kamarnya.

Tangan kanannya memegang kantong kain yang memancarkan cahaya kelap kelip bergantian.

Sekitar tiga langkah dari kamar, Khu Han Beng menghentikan langkahnya. Badannya memutar perlahan. Matanya langsung menatap kearah Tan Leng Ko yang duduk diatas wuwungan rumah dalam kegelapan.

Jantung Tan Leng Ko berdetak lebih cepat.
“Apa bocah ini mengetahui kehadiranku?” pikirnya.

Kebetulan ia mengenakan pakaian berwarna gelap. Jarak dari tempat ia duduk mencapai puluhan kaki ke kamar Khu Han Beng. Awan gelappun menutupi sinar bulan. Tapi bocah ini seperti mengetahui kehadirannya.

“Apa Tan toako yang berada disana?” tanya Khu Han Beng perlahan.

Setelah menghela napas, Tan Leng Ko meloncat turun persis di depan Khu Han Beng.
“Apa kau mepunyai mata malam?” tanya Tan Leng Ko dengan cepat.

Khu Han Beng tersenyum.
“Kulihat guci yang pecah itu, mengeluarkan bau harum arak Tiok Yap Jing. Kutahu hanya beberapa orang saja yang mampu meminum arak mahal itu. Lagipula dari kelebatan kilat tadi, kulihat seperti ada orang yang sedang duduk di atas genteng.”
“Darimana kau tahu itu aku? “
Yang dapat meloncat setinggi itu, tentu Tan toako adanya”.

Tan Leng Ko ikut tersenyum:
“Pengetahuanmu mengenai arak, ternyata tidak sedikit”

Sambil tertawa, Khu Han Beng berkata:
“Sayang kesempatanku untuk minum, sangat sedikit”
“Jika kau tidak melapor pada yaya-mu, tentu kuundang kau minum barang secawan” bisik Tan Leng Ko.

Sambil menengok kekanan kekiri, Khu Han Beng ikut berbisik:
“Kalau cuma secawan, aku tidak mau minum”
Tanpa dapat dicegah, Tan Leng Ko tertawa keras:
“Benar! Kalau hanya secawan, akupun tidak mau minum”

Diam diam Khu Han Beng merasa geli, melihat kelakuan Tan toakonya yang setengah mabok.
“Kau habis dari mana?” tanya Tan Leng Ko setelah tertawa.

Khu Han Beng mengangkat tangan kanannya,
“Hari ini banyak sekali kudapat. Bukankah mereka sangat indah?”

Dari celah kantung kain, Tan Leng Ko dapat melihat puluhan kunang kunang yang berterbangan.

“Bukan niatku melarang kau untuk bermain, aku kuatir pihak Bwe Hoa Pang tidak tinggal diam. jika kau berniat keluar, sebaiknya membawa beberapa piasu untuk melindungimu”

Khu Han Beng mengiakan, kemudian menguap:
“Aku mengantuk sekali Tan toako, aku sebaiknya tidur dulu”

Melihat sikap bocah itu, Tan Leng Ko merasa saat ini bukan yang tepat. Ia mengurungkan niatnya bertanya.
“Kau tidurlah yang nyenyak. Aku akan meronda sebentar”
“Selamat malam, Tan toako” setelah berkata Khu Han Beng berjalan ke kamarnya,

“Tunggu sebentar!”

Khu Han Beng menoleh dan menatap Tan Leng Ko dengan mata penuh pertanyaan.

“Banyak helaian daun menempel dipunggungmu” kata Tan Leng Ko sambil membersihkan.

Khu Han Beng mengucapkan terima kasih kemudian menutup kamarnya.

Tan Leng Ko menatap helaian daun ditangannya yang mirip dengan helaian daun yang tadi baru saja disapu. Diam diam ia merasa geli.

Sumber kekesalan Lo Tong secara tidak sengaja ia telah temukan. Bocah ini tentu menyusup kesana kesini diantara pepohonan, mengejar kunang kunang.

Kentongan terdengar berbunyi sebanyak sembilan kali. Tan Leng Ko segera bergerak melakukan tugasnya, mengelilingi perumahan Lok Yang Piaukok memeriksa penjagaan dan keamanan.

*********************

Posisi matahari sudah agak tinggi ketika Tan Leng Ko bangun dari tidurnya. Tanpa berganti baju, ia berjalan menuju pelataran depan.

Dilihatnya, Khu Han Beng duduk diatas kuda sambil memasukkan bekal makanan dari Hong naynay ke dalam tasnya.

Semua orang di Lok Yang Piaukok cukup mengetahui besarnya kasih sayang Hong naynay kepada Khu Han Beng.

Setiap kali berjumpa dengan Beng-sauyanya, Hong naynay selalu mengerjakan suatu perbuatan, suatu perbuatan yang sia sia... Hong naynay mencoba tersenyum ramah.

Setiap wajah perempuan, konon katanya mempunyai dua sudut pandang. Yang satu, mebuatnya terlihat cantik jelita, dan yang satu lagi membuatnya tidak sedap untuk dipandang.

Raut muka Hong naynaypun memiliki dua sudut pandang. Yang satu membuatnya kelihatan galak. Dan yang satu lagi, membuatnya kelihatan... galaknya bukan main!

Seperti seorang ahli pedang, Hong naynay mempunyai kebiasaan menyelipkan sendok kayu panjang di tali pinggang bagian depan tubuhnya. Gagang sendok kayu itu menyerong ke kanan, siap untuk ditarik ketika dibutuhkan. Kuku jarinyapun digunting pendek pendek. Hong naynay tidak akan membiarkan sesuatu menghalangi gerakkannya. Gerakkan ketika ia mencabut senjata pusakanya.

ketika Tan Leng Ko mendekati mereka, debu dari kuda Khu Han Beng yang berlari, menerpa wajahnya.
“Pergi kemana, Beng-sauya?”

Tanpa menjawab, dengan sigap, Hong naynay mencabut sendok kayunya yang kemudian melayang mengetok kepala Tan Leng Ko dengan keras.
“Auuww!....Apa kesalahanku kali ini?” jerit Tan Leng Ko memprotes.
“Arak yang kubeli mahal mahal, kenapa kau berikan kepada Lo Tong?”
“Tookkkk!...” kepala Tan Leng Ko benjol untuk kedua kalinya.
“Bukankah arak itu sudah kau berikan padaku? Terserah aku, hendak kuapakan” protes Tan Leng Ko sambil mengelus kepalanya.

Ayunan senjata pusaka Hong naynay terhenti diudara. Sambil melotot ia berkata:
“Semestinya tidak kau berikan kepada Lo Tong”

Hubungan Hong naynay dengan Lo tong tidak akur, seperti kucing dan anjing. Keduanya keras kepala. Jika sudah bertengkar, tidak ada satupun yang mau mengalah. Jika mereka sudah bertengkar, yang lain tidak pernah mencoba melerai, malah lari bersembunyi.

Tan Leng Ko yakin, setiap persoalan selalu ada jawabannya. Kecuali, pertengkaran Hong naynay dengan Lo Tong, yang pemecahannya tidak mungkin ada.

Dengan cepat Tan Leng Ko berkata:
“Kulihat tadi, Lo Tong menyelinap ke dapur, ia mendengar tidak hanya seguci Tiok Yap Jing yang kau beli”

Rona merah menyebar muka Hong naynay, giginya begemeretuk kencang. Dengan gopoh, ia bergegas ke dapur.

Tan Leng Ko menarik napas lega. Untung ia dapat membebaskan diri dari Hong naynay dengan cepat. Ia harus secepatnya menyusul Khu Han Beng.

*****************

Hari sudah siang ketika Tan Leng Ko tiba di persimpangan jalan ditengah kota Lok Yang. Ia tidak berhasil menyusul Khu Han Beng. Ia yakin Khu Han Beng mengunjungi Gu-sukonya. Tapi ia tidak tahu letak toko buku terbesar di kota Lok Yang.

Ia telah bertanya kesana kesini, jawabannya semua sama....tidak tahu! Ia tidak dapat menyalahkan mereka. Dirinya sendiri telah tinggal tujuh tahun dikota ini, iapun tidak tahu.

Rupanya orang yang gemar membaca, tidak sebanyak orang yang gemar minum arak.

Dengan rasa apa boleh buat, Tan Leng Ko berjalan menuju Se Chuan Koan, rumah makan kegemarannya, untuk makan siang.

Kota Lok Yang memang cukup ramai, tapi kali ini nampak lebih ramai dari biasanya. Banyak pendatang berdandanan orang kang-ouw lalu lalang disepanjang jalan. Ada yang berpakaian rapih, banyak juga yang kusam. Ada yang bertangan kosong, banyak pula yang membawa pedang atau golok. Ada juga yang sendiri, tapi tidak sedikit yang berkelompok.

Rata rata air muka mereka bersifat serius. Dari sorot mata mereka yang tajam dan keningnya yang menonjol, Tan Leng Ko tahu, mereka berkepandaian tinggi.

Kening Tan Leng Ko berkerut, ia menduga suatu urusan besar telah memancing minat para jago persilatan untuk datang ke kota Lok Yang. Dengan menundukkan kepala, Tan Leng Ko berjalan perlahan, ia tidak ingin menarik perhatian mereka. Hatinya bersyukur, ia masih menggunakan pakaian tadi malam yang berbeda dengan seragam piausu yang biasa ia kenakan.

Tan Leng Ko memasuki Se Chuan Koan yang lebih ramai dari biasanya. Untung ia masih kebagian meja, diloteng atas, menghadap jalanan luar.

Pelayan yang sudah hafal dengan selera Tan Leng Ko, meletakkan seguci arak Tiok yap Jing, kemudian langsung berteriak ke dapur, memesan makanan.

Derap lari kuda menarik perhatian Tan Leng Ko. Matanya melayang kepada seekor kuda yang dilarikan cukup kencang, dan hampir menabrak orang yang berpakaian perlente.
Orang itu dengan sigap meloncat kesamping, pedangnya dengan cepat sudah berada ditangannya. dengan bergusar ia membentak:
“Kurang ajar!...Apa matamu buta?”

Arak yang baru diminum Tan Leng Ko tersendak keluar. Yang mengendarai kuda itu ternyata Khu Han Beng!

Orang yang marah itu tidak jadi menyerang, ketika melihat yang hampir menabraknya ternyata hanya seorang bocah. Sambil mendengus, orang itu memasukkan pedangnya. Kemudian, diambilnya tas Khu Han Beng yang terlempar jatuh didekatnya.

Urat syaraf Tan Leng Ko menegang kencang. Ia tahu betul apa isi tas itu. Sudah cukup sering, ia menyaksikan Khu Han Beng membawa tumpukan kertas hasil salinan setiap mengunjungi Gu-sukonya. Hanya saat itu, ia tidak terlalu peduli, kecuali sekarang.

Dari cepatnya orang itu meloloskan pedang, orang berbaju kuning emas ini, tentu seorang ahli pedang. Untuk mencapai tingkatan ahli, orang yang berlatih pedang harus berpandangan tajam.

Di depan banyaknya jago persilatan, jika orang itu mengetahui isi tas itu....? tak berani Tan Leng Ko membayangkan.

Ketegangan Tan Leng Ko mulai mengendur ketika orang itu menyerahkan kembali tas itu kepada Khu Han Beng sambil menasehatinya untuk berhati hati.

Tan Leng Ko menghembuskan napas ketika ia menyaksikan orang itu berjalan pergi.

Dengan rasa lega, Tan Leng Ko mengulurkan tangan, meraih guci arak. Mendadak air mukanya berubah secara aneh. Cahaya cemerlang seperti keluar dari mata Tan Leng Ko.

Tiba tiba ia paham! Kenapa kitab kitab sakti itu diberikan kepada seorang anak kecil, karena... karena memang cara ini termasuk yang aman!

Kapan sih, seorang jago silat, memperhatikan anak kecil? Apalagi tertarik kepada isi tas milik seorang bocah yang dianggapnya kalau bukan isi gula gula tentu mainan.

Tulisan tangan seorang bocah juga tidak akan mengundang rasa ingin tahu seorang jago silat. Kecuali, ia tanpa sengaja membaca tulisan itu.

Dia saja yang tinggal bersama Khu Han Beng bertahun tahun, tidak pernah acuh dengan tumpukkan kertas ditangannya.

Hanya orang tua kandung yang tertarik, terhadap tulisan seorang anak, apalagi tulisan seorang anak kecil yang sedang belajar menulis.

Khu Han Beng besar bersama kakeknya yang sering bepergian. Tentu saja Khu Pek Sim merasa bersalah, dan mencoba mengabulkan permintaan cucunya, setiap kali ada kesempatan.

Seperti larangan masuk ke kamar yang tentu dimintanya setelah bocah ini pandai menulis. Jelas Khu Pek Sim tidak keberatan, toh kelakuan aneh bukan suatu perbuatan buruk.

Kecuali Lo Tong yang buta huruf, tiada orang di Lok Yang Piaukok yang memperhatikan tulisan Khu Han Beng. Siapa yang bakal tertarik dengan karya tulis seorang anak kecil? Kakeknya saja tidak. Apalagi orang lain?!


Hasil karya tulis ini kemudian dibukukan tanpa diberi judul dan ditaruh begitu saja di rak buku. Ditaruh seperti jenis buku lainnya. Tidak ada yang aneh atau luar biasa dengan perbuatan ini.

Justru sesuatu yang jamak, tidak janggal dan bersifat terlalu umum, bukankah tidak akan mengundang perhatian orang lain?

Bertahun tahun orang di Lok Yang Piaukok terbiasa dengan prilaku Khu Han Beng. Sifat Khu Han Beng yang menyendiri sudah dianggap hal yang jamak.. Tidak satupun yang curiga. Dirinya juga tidak.

Bukankah salinan kitab sakti itu dengan sendirinya tersimpan dengan aman?

Tan Leng Ko mengangkat guci araknya dan meminum seteguk. Mau tidak mau timbul juga rasa kagum dihati Tan Leng Ko terhadap si Pemberi Kitab yang tentu telah memikirkan urusan itu.

Kelemahan dari cara ini adalah jika salinan kitab sakti di kamar Khu Han Beng diketemukan secara tidak sengaja oleh orang lain. Tapi misalnya, salinan kitab sakti itu disembunyikan di dalam sebuah gua rahasia atau di dasar jurang sekalipun, toh tetap ada kemungkinan diketemukan orang secara kebetulan.

Dan kemungkinan itupun juga kecil. Untuk menemui urusan ini secara kebetulan, orang itu harus bernasib mujur... seperti dirinya.

Renungannya terganggu ketika kursi didepannya ditarik. Seorang pemuda bermuka cemong duduk didepannya.
“kau tidak dapat mengusirku, kursi ini satu satunya yang kosong” katanya dengan cengar cengir.

Memang rumah makan itu penuh sekali. Meja yang paling sedikit orangnya, terletak cukup jauh dari meja Tan Leng Ko. Meja itu diisi oleh seorang pemuda berpakaian hijau dengan seorang gadis duduk disebelahnya.

Keduanya menyoreng pedang dipunggung mereka. Pemuda itu berwajah tampan, gadis itupun cantik sekali. Muka mereka tidak menakutkan sama sekali.

Tapi entah kenapa, orang menghindar untuk duduk bersama mereka. Mungkin sikap mereka yang telampau tenang dan pancaran hawa pedang yang seperti keluar dari sarungnya.

Tan Leng Ko memandang mereka hanya sekejab, ia juga tidak acuh dengan pemuda didepannya. Perhatiannya kembali terpusat kepada Khu Han Beng yang tubuhnya menghilang di tikungan sebuah jalan kecil.
“Hey! Apakah aku setan yang tidak kelihatan?” tanya pemuda yang duduk didepannya.

Tan Leng Ko menatap mata yang melotot itu. Mata yang indah, yang tidak sebanding dengan dandanannya yang mengenakan pakaian kusam berlapis lapis. Mukanya juga penuh debu. Debu yang seperti sengaja ditempel kemukanya, mungkin agar tidak terlalu nampak kecantikkannya.

Usianya jelas masih muda sekali, sebaya Khu Han Beng, tapi lagaknya seperti yang punya tempat.

Dalam hati ia tertawa geli. Kenapa seorang gadis cantik gemar sekali menyamar menjadi seorang pemuda jembel? Yang cemong hanya mukanya. Pakaiannya walaupun kusam, tapi terlalu bersih. Bahkan tersiar bau harum dari tubuhnya.

Yaa, bagaimanapun juga, tidak ada seorang gadis yang mau dibilang badannya berbau busuk.
“Orang ini nampaknya cukup sehat, sayang telinganya tuli” gumam gadis itu sambil seenaknya meraih guci arak Tan Leng Ko dan meminumnya tanpa permisi.

Tan Leng Ko segan ribut mulut, ia harus menyusul Khu Han Beng. Ia segera berdiri.
“Hey! Kau tidak boleh pergi!” perintah gadis itu.
“Kenapa aku tidak boleh pergi” tanya Tan Leng Ko tak tahan. Sebetulnya malas ia meladeni gadis edan ini.
“Jika kau pergi, aku akan berteriak, kau mencoba memperkosaku” ancam gadis itu.
“Bukankah kau seorang pemuda?” tanya Tan Leng Ko yang mulai kesal dengan kelakuan gadis itu.
“Semua juga tahu, aku seorang gadis yang menyamar. Jika mereka tidak percaya, kubuka bajuku untuk membuktikan” jawab gadis itu sambil mengikik.

Tan Leng Ko tak percaya gadis itu berani melakukannya, ia berjalan pergi.
Gadis itu kemudian berdiri, memulai membuka baju luarnya.

Orang yang sedang makan menatap mereka dengan heran. Dilihat dari gerakkannya, nampaknya gadis itu tidak berniat berhenti. Bajunya yang berlapis lapis, dibukanya satu persatu.

Sambil menghela napas, Tan Leng Ko kembali duduk dimejanya. Ia tahu ia telah berhadapan dengan gadis jenis Hong naynay. Berani berkata, berani berbuat.

Sambil mengikik, gadis itu berkata:
“Sudah kuperhitungkan, kau akan kembali. Silahkan minum, sudah kusiapkan arak untukmu”

Tangannya mendorong guci arak yang tadi direbutnya dari Tan Leng Ko.
Tanpa bicara, Tan Leng Ko langsung meminum arak itu hingga habis.

Gadis itu bertepuk tangan:
“Sungguh seorang laki laki sejati. Kukagum dengan lelaki yang mempunyai takaran arak sepertimu”
“Apakah kau sedang mengajakku untuk kawin?” tanya Tan Leng Ko dengan hambar.

Entah apa maksud gadis yang tidak dikenalnya ini, dengan pebuatan dan ucapan yang mengejutkan. Tan Leng Ko tidak mepunyai pilihan lain, kecuali melakukan hal yang sama.

Rona merah memenuhi wajah gadis itu, tapi dalam sebentar marahnya hilang.
“Bukan tak mungkin bagiku untuk menikahimu, tapi kau harus mempunyai kemampuan untuk melindungiku”

Tan Leng Ko terdiam. Gadis belia yang pantas menjadi anaknya, berbicara soal menikah segala. Bakal repot jika ia terus meladeninya..

“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?” tanyanya perlahan.
Dengan wajah serius, gadis itu berkata:
“Kulihat kau sangat memperhatikan Pek Kian Si, apa dia musuhmu?”
“Pek Kian Si?” tanya Tan Leng Ko agak heran, ia merasa tidak kenal.

Walau bekerja di Lok Yang Piaukok, Tan Leng Ko jarang sekali bepergian. Tugasnya melatih silat para piasu. Tentu saja tidak perlu pergi jauh jauh.

“Pek Kian Si, pedang kilat dari Kang Lam, yang barusan hampir ditabrak....?”
Gadis itu menghentikan perkataannya, dia paham sekarang.
“Rupanya yang kau perhatikan adalah bocah yang naik kuda itu. Apa dia anakmu?”

Tan Leng Ko terkejut juga. Rupanya ketegangannya tadi menarik perhatian orang.
“Jika kau tak lekas katakan apa maumu, sebaiknya aku pergi saja.” kata Tan Leng Ko mulai kesal.

Ia benar benar tidak mengerti apa maunya gadis ini dengan dirinya. Tapi dia juga tidak ingin mengundang keributan yang tidak perlu.

“Baik kukatakan!” kata gadis itu sambil mengambil sebuah kantung dari kain dari jubah luar yang ditanggalkannya tadi. Kantung kain dibuka dan ditunjukkan isinya pada Tan Leng Ko yang tentu saja tidak paham.

Isi kantung itu ternyata benang sulaman bewarna warni.
“Apa kau ingin aku untuk menjahit” tanyanya dengan muka kelam. Gurauan gadis ini sudah keterlaluan.

Gadis itu mengikik ketawa,
“Tentu saja tidak. Walaupun kumau, belum tentu kau bisa. Yang kuingin...”
Gadis itu menoleh kepada kedua pemuda pemudi yang duduk disana.

Dengan agak heran, Tan Leng Ko ikut melirik. Sekarang dia baru mengerti. Pedang si Pemuda dihiasi ronce berwarna hijau, sedangkan pedang si pemudi dihiasi oleh ronce warna merah.

Benang sulaman di dalam kantung kain itu ternyata ronce pedang yang umumnya menempel disarung pedang. Tentu saja hanya pedang kenamaan yang biasanya mempunyai ciri khas ini.

“Sekali lihat langsung paham. Kutahu kau orang pintar” kata gadis itu sambil tertawa girang.
“Kau ingin aku untuk mengambil ronce pedang Pek Kian Si”

Dengan menghela napas, gadis itu berkata:
“Baru saja kau pintar, kenapa jadi bodoh kembali?”

Gadis itu kembali membuka kantong kainnya.
“Kau lihat yang berwarna kuning emas”

Hati Tan Leng Ko tenggelam. Warna itu memang cocok sekali dengan baju perlente yang dikenakan oleh Pek Kian Si. Dia tahu,kepandaian Pek Kian Si termasuk golongan kelas satu, entah bagaimana cara mencuri gadis ini.

“Kau mau yang hijau atau yang merah?” tanyanya.
“Aku tertarik dengan yang hijau” jawab gadis itu sambil menggigit tangannya.
“Kenapa tidak kau ambil sendiri, malah minta bantuanku?”
“Karena aku hanya mampu menghadapi satu orang saja. Kau tahu siapa mereka?”
“Siapa mereka?”
“Mereka kakak beradik, bermarga Kwee, dari Siong Yang. Sang kakak bernama Kwee Tiong sedangkan adik perempuannya bernama Kwee Li”

Hati Tan Leng Ko tenggelam.
Keluarga Kwee dari Siong Yang merupakan keluarga ahli pedang yang sudah terkenal ratusan tahun lamanya. Selain Kehebatan ilmu pedangnya, mereka juga terkenal akan kegagahan dan keringanan tangan untuk menolong orang susah.

Tentu saja ia tidak ingin mencari gara gara.
“Kutahu kau berkepandaian tinggi. Dua lawan dua, bukankah pertarungan yang adil” jawab gadis itu sambil tertawa.
“Darimana kau tahu, aku mampu menghadapi mereka?”

Sambil memicingkan mata, gadis itu menjawab:
“Kujarang salah menilai orang, apalagi kutahu sesungguhnya kau berhati baik. Tentu tidak tega melihat seorang gadis belia yang dirundung kesusahan”

Jelas jelas gadis ini hendak merampas, bahkan tidak segan mencuri, masakkan ia bisa susah segala. Keberaniannya untuk mencari perkara dengan keluarga Kwee menunjukkan, gadis setan ini mempunyai asal usul yang tidak sembarangan.

Tan Leng Ko berpikir sejenak.
“Hanya yang hijau kau maui, tidak ada lagi yang lain?”
“yaa, hanya itu yang kumaui”
“Setelah kau peroleh, apakah kau akan mencari perkara yang lain?”
Sambil tertawa gadis itu menjawab:
“Apa kau kira aku gemar mencari perkara? Yang kusukai hanya mengumpulkan ronce pedang”.
“Kau akan membiarkanku pergi, dan tidak akan mengganggu atau mencari diriku lagi?”

Tan Leng Ko tidak punya pilihan lain, ia harus bertanya bertele tele, soalnya jenis gadis yang berani, biasanya juga memegang teguh ucapannya.

“Yang kumaui adalah itu, bukan dirimu. Semoga kau tidak patah hati” kata gadis itu sambil menangis sedih.

Watak gadis ini sungguh luar biasa, dapat berubah dalam sekejab. Walau suasana dalam rumah makan sangat ribut, toh orang mulai kembali memperhatikan mereka.

Cepat Tan Leng Ko berkata:
“Apalagi yang kau ratapi, bukankah sebentar lagi kau akan memperoleh apa yang kau maui?”

Sambil tetawa girang, gadis itu meloncat sambil memegang tangan Tan Leng Ko.
“Kau benar benar pahlawan pujaanku, ayoh kita labrak mereka”
“Jika kau ingin berhasil, sebaiknya kau tunggu disini saja” bujuk Tan Leng Ko

Dia tahu, jika gadis itu yang maju, urusan malah menjadi runyam.
Gadis itu mengangkat jempolnya,
“Kau benar benar hebat! Sendirian melawan mereka berdua. Hanya ciciku dan..” ia menghentikan ucapannya seperti telah kelepasan bicara.

Tan Leng Ko menghela napas, dia tidak ingin kenal dengan cici atau keluarga gadis ini....Ia hanya ingin selekasnya dapat pergi.

Disemat goloknya dipinggang, kemudian berjalan menghampiri kakak beradik keluarga Kwee yang baru saja selesai bersantap.

Dilihat dari kemantapan mereka, Tan Leng Ko paham, bukan urusan yang mudah untuk mengalahkan mereka.

Tan Leng Ko mengangkat tangannya memberi hormat pada mereka.

Pandangan pemuda itu menatap dirinya dengan pertanyaan.
“Kuhargai keluarga Kwee yang terkenal kegagahannya. Entah apakah kalian sudi menolong orang yang tidak dikenal yang sedang kesusahan?”

Pemuda itu tersenyum. Tanpa berkata, tangannya bergerak melepaskan ikatan ronce pedangnya yang berwarna hijau.

Tan Leng Ko menyengir. Rupanya percakapan mereka ditengah bisingnya rumah makan, dapat didengar oleh pemuda hebat ini.

Kwee Li, gadis dari keluarga Kwee itu tersenyum padanya sambil berkata:
“Gadis nakal itu benar. Kau memang orang baik”

Secepatnya Tan Leng Ko mengucapkan terima kasih, kemudian kembali ke mejanya yang kini penuh dengan makanan yang tadi dipesannya.

Makanan yang sedang asyik disantap oleh gadis setan itu.

Gadis itu girangnya bukan main ketika menerima ronce idamannya. Seperti sebuah benda pusaka, secara perlahan ia menaruh ronce hijau itu ke dalam kantung kainnya.

Seperti baru dilepas dari kurungan penjara, Tan Leng Ko bergegas meninggalkan gadis itu.
“Tunggu Sebentar!”

Tan Leng Ko menghela napas sambil memutar badannya.
“Kau ada perlu apa lagi?” tanyanya sabar.
“Kau yang memesan makanan ini, semestinya kau pula yang membayar” kata gadis itu sambil mengunyah makanan itu.

Tanpa menghitung lagi, Tan Leng Ko mengambil uang sekenanya dan memberikan kepada pelayan.

Cepat ia kabur dari situ.
Begitu berada diluar, Tan leng Ko bergegas menghampiri tempat dimana Khu Han Beng menambatkan kuda. Ia terlambat! ia sudah tidak melihat kuda Khu Han Beng maupun orangnya.

Kesal juga ia dengan ulah gadis setan itu, usahanya menjadi berantakan.

Dengan apa boleh buat, Tan Leng Ko berhenti didepan jalan yang dimasuki Khu Han Beng tadi. Ia tertegun!... Ia sangat mengenal tempat ini.

Gang ini masih saja gelap dan sempit, hanya keranjang sampahnya yang kelihatan lebih tua, sebagian sisinya sudah hancur dimakan usia. Tapi bau busuknya tetap tidak berubah.

Sekarang dia sudah tahu, Khu Han Beng adalah orang yang membuang gumpalan kertas Ouw Yang Ci To ke keranjang sampah, walau ia tidak mengerti kenapa dibuang.

Yang sekarang benar benar diluar dugaannya, Khu Han Beng bakal balik kemari lagi!

Ketika ia menemukan gumpalan kertas tersebut, ia telah mencarinya dengan seksama. Tidak sejengkal tanahpun yang terlewati. Tapi tidak ada lagi yang lain, kecuali apa yang diketemukannya.

Ia selalu berkeyakinan, jika seseorang membuang sesuatu yang mengandung sifat rahasia atau penting, tentu dilakukannya di tempat jauh jauh. Tempat yang tidak berhubungan dengan dirinya.

Misalnya, kau telah melakukan pembunuhan, tentu senjata membunuh yang dapat dijadikan bukti, tidak akan kau buang didalam perkarangan rumahmu. Kau akan berusaha membuang senjata itu, ditempat yang di luar dugaan orang lain. Semakin jauh semakin baik.

Waktu itu, ia merasa orang yang membuang gumpalan kertas Ouw Yang Ci To, tidak akan kembali ke gang ini, sehingga tidak beralasan baginya untuk datang ke tempat yang berbau busuk ini. Dengan keyakinan itu, boleh dibilang dirinya tidak pernah kembali lagi ke gang ini.

Dengan perlahan, Tan Leng Ko memasuki gang yang sempit itu. Di deretan sebelah kanan, rumah kedua yang berpintu biru, terdapat tulisan:
“Toko Buku Lok Yang. Menjual Buku Baru dan Buku Bekas”.

Tan Leng Ko menyengir. Tulisan yang cukup besar itu, baru pertama kali dilihatnya. Ketika dulu ia memasuki gang ini, pikirannya berpusat pada kondisi perutnya. Sedangkan ketika ia keluar dari gang ini...boleh dibilang, ia sudah tidak dapat berpikir lagi.

Toko Buku terbesar di kota Lok Yang ternyata tidak besar. Kentara sekali minat baca masyarakat Lok Yang yang rendah. Untuk banyak orang, ada dua cara yang cepat menimbulkan pusing kepala. Pertama adalah membaca buku dan yang satunya lagi meminum arak. Mereka beranggapan cara yang kedua adalah cara yang terbaik.

Kesan Tan Leng Ko tidak jelek, ketika ia berada di dalam toko itu. Toko buku itu bersegi empat dengan sebuah pintu yang menutup lorong yang menuju ke belakang.

Rak rak buku yang tinggi memenuhi dinding mengikuti bentuk segi empat itu. Sebuah papan kayu menempel di rak buku dan terulang dijarak tertentu. Papan kayu ini menerangkan tema dari buku yang tersedia pada rak itu. Ada sejarah, ilmu perang, syair, agama dan seterusnya.

Toko ini sepi sekali, selain dirinya, hanya seorang pelayan tua yang sedang membersihkan buku dengan kebutan debu. Ia menoleh memandang Tan Leng Ko sekejab, kemudian kembali menekuni pekerjaannya.

Sambil menggendong tangan dibelakang punggungnya, Tan Leng Ko berjalan mengitari ruangan itu. Ia tidak melihat tulisan tangan Khu Han Beng diantara buku buku ini.

Seperti umumnya calon pembeli, Tan Leng Ko mengambil beberapa buku secara acak dan membacanya sekilas. Seperti yang diduganya, buku buku ini hanya buku umum biasa, jenis buku yang bisa membuat pusing kepala bagi yang tidak suka membaca. Ia tidak melihat sesuatu yang luar biasa.

Sambil meletakkan buku tersebut ketempatnya, Tan Leng Ko berpikir cara yang terbaik untuk bertemu dengan Gu-suko. Bagaimanapun juga, ia harus berusaha untuk bertemu dengan Gu-suko, pemilik toko buku ini.

Bertahun tahun Khu Han Beng menerima atau membeli banyak buku dari toko buku ini. Begitu pula sebaliknya, Khu Han Beng sering membawa tumpukkan kertas ketika mengunjungi Gu-sukonya.

Sulit bagi Tan Leng Ko untuk tidak mencurigai Gu-suko sebagai si Pemberi kitab kepada Khu Han Beng.

Mengenai bagaimana cara si Pemberi kitab itu meperoleh kitab kitab sakti itu, ia tidak ingin tahu. Hal itu bukan urusannya.

Yang ingin ia ketahui, kenapa kitab kitab itu diberikan kepada Khu Han Beng? Apa maksudnya menyuruh Khu Han Beng menyalinnya?

Pintu toko buku tiba tiba terbuka. Tan Leng Ko menoleh, kemudian menghela napas. Gadis setan yang merepotkannya tadi, muncul dengan cengar cengir. Ia berjalan sambil bertolak pinggang dan berlagak seperti tidak melihat kehadiran Tan Leng Ko.

Melihat kelakuannya, Tan Leng Ko tahu masalah sebentar lagi akan muncul. Ia tidak ingin menggebrak rumput mengusir ular. Agar penyelidikkannya tidak terganggu, ia harus mengajak gadis setan ini pergi dari sini, dan kembali lagi ke toko ini, sendirian, disaat yang tepat.

Dengan cepat dihampiri gadis setan itu. Ia menyadari, jika ia tanya kenapa mencarinya, tentu gadis setan itu akan menjawab dia sedang mencari buku, dan tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Ia harus menghadapi gadis setan ini dengan kecerdikkan.

“Apa kau baik?” tanya Tan Leng Ko dengan perlahan.

Gadis setan itu berlagak seperti baru melihatnya
“Aku sudah berjanji, tidak akan mencarimu. Kenapa kau cari diriku? Apa ingin menggangguku?” tanya gadis setan itu sambil cekikikan.

“Kau tadi telah menyuguhkan arak padaku, sebetulnya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat untuk minum, tapi...?” tanpa menyelesaikan perkataannya Tan Leng Ko berjalan keluar.

Gadis setan itu mengejarnya dari belakang.
”Tapi apa?”
“Kutakut kau akan menyesal nantinya. Sebaiknya tidak usahlah” dengan cepat Tan Leng Ko berjalan keluar dari gang sempit itu.

Gadis setan itu, menghadang jalannya.
Sambil mendengus ia berkata:
“Kutahu kau sedang memancingku. Namun tetap kuikut pergi denganmu, agar kau tahu saja, tidak ada tempat yang tidak berani kudatangi. Asal kau ingat! aku tidak menjilat ucapanku. Kali ini, kau yang mencariku”.

Diam diam Tan Leng Ko tertawa geli. Walau gadis ini mengerti bakal ada satu urusan yang tak beres, toh tidak dapat menahan jiwa mudanya yang ingin tahu.
“Baik! Kau ikut aku”.

Diikuti gadis setan itu, Tan Leng Ko berjalan melewati deretan toko sepanjang dua blok, kemudian membelok kekanan memasuki rumah makan Ban Tiok Koan.

Seorang berbaju kuning emas baru saja selesai bersantap ketika ia melirik kearah mereka. Mukanya berubah ketika melihat siapa yang berdiri dibelakang Tan Leng Ko.

“Kau...?!” ucap Pek Kian Si dengan geram.

Gadis setan itu menyengir ketika melihat Pek Kian Si melotot padanya.
Dengan cepat Pek Kian Si mengejar gadis setan itu yang sudah kabur duluan.

Terkejut juga Tan Leng Ko melihat ginkang gadis setan itu. Walau gadis itu menyusahkan dirinya, bagaimanapun juga ia masih belia. Ada juga rasa kuatir dihatinya, jika gadis setan itu dicelakai oleh Pek Kian Si. Tapi berdasarkan kegesitan gadis setan itu, ia yakin, Pek Kian Si tidak akan mampu mengejar gadis setan itu.

Dengan napas lega, Tan Leng Ko bergegas meninggalkan tempat itu. Tadi ia tidak membawa kuda, agar lebih mudah melacak Khu Han Beng. Sampai ditempat sepi, Tan Leng Ko mengerahkan ginkangnya menuju pulang.

Setibanya di pinggir kota, ia berhenti sejenak, perutnya terasa lapar bukan main. Hatinya menggerutu mengingat jatah makan siangnya direbut oleh gadis setan itu. Setelah mengatur napas, kembali ia menggerakkan kakinya.

Ketika enak enaknya berlari, sebuah senjata rahasia atau amgi menyambar kearahnya. Dengan cepat ia menghindar.
“Siapa disitu?” bentaknya sambil bersiaga.

Amgi itu disambitkan dari rimbunan pohon yang terletak disebelah kiri jalan.
Tiga orang keluar dari belukar. Seorang tinggi besar, seorang pendek kekar, dan seorang berbadan kurus kering dengan kuku jari yang panjang.

“Ginkang orang ini lumayan juga” ujar yang tinggi besar.
“Tentu ia akan memperebutkan mustika itu” kata yang pendek kekar.
“Lekas kita bereskan dia! Mati satu, saingan kita berkurang satu” kata yang kurus kering yang langsung menyerang Tan Leng Ko.

Dari warna kuku jari yang mengarah matanya, Tan Leng Ko maklum tentu mengandung racun yang mematikan, cepat ia menghindar.

“Kita tidak saling kenal, kalian main serang diriku begitu saja. Aku kan tidak memperkosa bini kalian” kata Tan Leng Ko dengan kesal. Tiada angin hujan, orang ini langsung memberi serangan mematikan padanya, bahkan mengeroyoknya!

Serangan mereka selain cepat dan berbahaya, juga kerja sama mereka terjalin sangat erat. Hakekatnya ia kerepotan menghindar. Serangan yang bertubi tubi, dan silih berganti dari ketiga orang ini, tidak memberi kesempatan dirinya untuk mencabut golok.

Setelah dua puluh jurus, Tan Leng Ko terdesak dibawah angin, bau amis yang keluar dari kuku jari itu, membuat dadanya sesak ingin muntah, kepalanya mulai pusing, pertahanannya mulai kacau.

Disuatu kesempatan, si tinggi besar mengayunkan pedangnya mengarah ke ubun ubun Tan Leng Ko.

Jika begini terus, tidak sampai lima jurus lagi, ia akan keok pikir Tan Leng Ko.

Dengan menggeretak gigi, dengan nekat ia menyongsong pedang itu dengan tangan kiri sambil tangan kanannya mencabut golok. Ia lebih rela mengorbankan tangannya dari pada mati konyol disini.

“Traaang!” sebuah pedang bergagang hijau menangkis serangan si tinggi besar.
Tan Leng Ko melirik kepada orang yang memegang pedang itu yang kemudian terlibat perkelahian seru dengan si tinggi besar.

Ia mengenal pedang itu, pedang yang sarungnya sudah tidak terdapat ronce lagi. Kwee Tiong beserta Kwee Li telah datang menolongnya disaat yang genting. Desiran pedang Kwee Tiong yang kuat dan cepat menusuk si tinggi besar yang segera meloncat menghindar. Si kurus kering kerepotan terhadap serangan Kwee Li yang jauh lebih lincah dari kakaknya. Kerja sama ketiga orang itu menjadi hancur berantakan diganti dengan pertandingan satu lawan satu.

Tanpa banyak bicara, Tan Leng Ko yang sudah gusar segera menyerang si pendek kekar. Angin golok dingin menggidik mengurung si pendek kekar yang dengan gugup mencoba menangkis.

“Uagghhh...!” si pendek kekar menjerit ngeri melihat isi perutnya terburai keluar. Ia terkulai jatuh, menggeliat kesakitan dengan erangan yang melemah, kemudian diam tak bergerak.

Melihat kawannya tewas, si kurus kering bersiut nyaring. Tubuhnya melesat diikuti si tinggi besar, mereka menghilang dibalik rimbunan pepohonan.

Dengan gegetun, Kwee Li berkata:
“Tega benar mereka, kawan sendiri tewas, ditinggal begitu saja”

Kwee Tiong menghela napas,
“perkawanan mereka berdasarkan rugi laba. Kawan yang tewas tentu tidak menguntungkan, buat apa berteman lagi”

Tan Leng Ko menghampiri mereka,
“Kutahu ucapan terimakasih saja tidak akan cukup” katanya sambil menghela napas.

Kwee Tiong tersenyum,
“Ucapanmu membuatku malu. Kuyakin tindakkanku barusan hanya berlebihan. Tidak kusangka permainan golok saudara begitu hebatnya”.

Tan Leng Ko tertawa,
“Kau puji kehebatan permainan golokku, nyatanya yang telah menyelamatkan sebuah tanganku, adalah pedangmu dan bukan golokku”

Kwee Tiong ikut tertawa,
“Mereka bertiga mempunyai kepandaian yang seimbang dan kerja sama yang hebat. Serangan mereka memaksamu menghindar tanpa ada kesempatan untuk membalas. Begitu satu lawan satu, sudah lima jurus kukeluarkan hanya dapat mendesak si tinggi besar, sedangkan saudara hanya cukup mengeluarkan satu jurus”.

Sambil menunjuk kepada mayat si pendek kekar, ia melanjutkan:
“Permainan golokmu memang patut dipuji.”

Tan Leng Ko tersenyum, ia sangat menyukai pemuda ini. Seorang pemuda perkasa, dari keluarga hebat, berkepandaian tinggi dan tidak sombong.

“Siapakah mereka, toako?” tanya Kwee Li

Kwee Tiong menarik napas dalam dalam sebelum menjawab,
“Puluhan tahun mereka dikenal sebagai Tiga Srigala dari gunung hong san. Adat mereka buas, gemar membunuh. Tak kusangka mereka bisa berdatangan juga ke kota Lok Yang”

Kwee Li melirik sebentar kepada Tan Leng Ko dengan pandangan kagum,
“Merek mereka yang sudah tahunan gara gara saudara ini, terpaksa harus diganti” katanya dengan tersenyum
“Merek mereka?” tanya Tan Leng Ko heran.
“Sekarang mereka lebih tepat dikenal sebagai Dua Srigala dari gunung hong san”

Giliran Tan Leng Ko tersenyum,
“Kuusahakan agar gelar mereka cepat berubah lagi, jika bertemu”

Kwee Tiong ikut tersenyum,
“Kau telah mengetahui nama kami dari gadis nakal itu, rasanya kurang adil jika kami tidak mengetahui nama saudara”

Buru buru Tan Leng Ko menyebut namanya. Hanya nama yang ia sebut. Saat ini, Ia tidak ingin memancing perhatian orang lain terhadap Lok Yang Piaukok.

“Kenapa mereka menyerangmu, Tan toako?” tanya Kwee Li ingin tahu.

Kwee Tiong pura pura tak menggubris, cara panggil adiknya yang terdengar 'langsung akrab'.

“Akupun tidak tahu. mereka menuduhku memperebutkan mustika segala, kemudian langsung menyerang tanpa memberi kesempatan aku untuk berbicara”

Kwee Tiong menghela napas,
“Nampaknya kabar angin itu sudah beredar di kalangan kang ouw. Tidak heran kota ini kedatangan bermacam macam orang”.

Dengan heran Tan Leng Ko bertanya,
“Kabar apa? Apa hubungannya dengan kota ini?”
“Apa Tan-heng belum pernah mendengar berita ini?” tanya Kwee Tiong berbalik heran. Mereka yang tinggal jauh di gunung Hong San saja tahu, masakkan pemuda yang nampaknya tinggal dikota ini malah tidak tahu.

Tan Leng Ko menyengir,
“Badanku kurang sehat, dua minggu terakhir ini. Kujarang keluar rumah. Berita itu tentu baru saja beredar”.
“Memang belum lama ini kami mendengar bahwa mustika kemala pelangi telah muncul di kota Lok Yang” kata Kwee Li menerangkan.

Mau tidak mau Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam. Ia tidak tertarik dengan mustika segala, urusannya sudah banyak.

Ia harus menjaga urusan Khu Han Beng tidak sampai mengundang perhatian orang kang ouw. Tak mungkin ia dapat menghadapi mereka sendirian.

“Apa keistimewaan mustika itu hingga diperebutkan orang” tanyanya berlagak tertarik, meniru reaksi umumnya orang, jika mendengar sebuah mustika.

“konon katanya, mustika itu menunjuk ke suatu tempat yang terdapat koleksi kitab kitab ilmu silat yang luar biasa” kata Kwee Tiong perlahan.

Kagetnya bukan main Tan Leng Ko mendengar hal ini. Dengan sekuat tenaga, dikerahkan tenaga batinnya agar airmukanya tidak berubah..!.

Apa kamar Khu Han Beng berhubungan dengan mustika kemala pelangi? Rasanya tidak masuk akal...

“Apakah kedatangan kalian karena urusan ini?”
“yaa...kedatangan kami memang karena urusan ini” jawab Kwee Li.
“Kami tidak ingin mustika itu jatuh ketangan yang salah” ujar Kwee Tiong dengan cepat.

Ia tidak ingin dianggap orang yang silau terhadap sebuah mustika.

“Sebenarnya bagaimana bentuk dari mustika itu?” tanya Tan Leng Ko kali ini ia benar benar tertarik.

Baru Kwee Tiong mau menjawab, adiknya berkata dengan nada tidak sabar.
“Toako, kita ditunggu orang. Tidak baik kalau terlambat. Sampai berjumpa saudara Tan” kata Kwee Li kemudian melangkah pergi.

Kwee Tiong tidak punya pilihan lain kecuali menyusul adiknya.
“Saudara Tan, kami harus segera pergi” kata Kwee Tiong.
“Sialhkan saudara Kwee, terima kasih atas pertolonganmu” ucapnya segera.

Mereka mengembangkan ginkang, melesat pergi, meninggalkan Tan Leng Ko yang menjadi termenung sendirian.

Entah bagaimana bentuk mustika kemala pelangi. Yang pasti, jika manusia sejenis tiga srigala dari gunung hong san dan keluarga Kwee sampai tertarik, tentu mustika itu mengandung nilai luar biasa sekali...

Setelah mengubur si pendek kekar, Tan Leng Ko menggerakkan kakinya meninggal tempat itu.

Kepalanya masih terasa pening, mungkin sedikit hawa beracun dari kuku beracun sikurus kering, sempat terisap olehnya. Ditambah dengan kerja berat gali kubur, dan perutnya yang lapar, ia harus lekas beristirahat dan bersamadi. Walau tidak sampai membahayakan dirinya, bagaimanapun juga, makin cepat ia mengusir hawa racun tersebut, makin baik.

Sekitar sepuluh kaki dari pintu gerbang Lok Yang Piaukok, sebuah bayangan berkelebat mencegat Tan Leng Ko yang kembali terkejut.

Ia terkejut bukan saja disebabkan melihat si gadis setan yang berdiri didepannya sambil bertolak pinggang. Ia terkejut melihat ginkang gadis setan itu yang jauh lebih hebat dari dugaannya semula.

“Kau ingin mencelakaiku?” bentak gadis setan itu marah marah.

Sebelum Tan Leng Ko sempat menjawab, gadis setan itu mulai menyerangnya. Jurus serangannya sangat aneh. Empat jarinya dirapatkan meniru sebilah pedang, gerakkan lengannya selalu lurus, tidak ada gerakkan membengkok. Tapi hebatnya luar biasa.

Semacam hawa pedang yang mencicit merobek hancur lengan baju Tan Leng Ko berkeping keping. Tan Leng Ko kagetnya luar biasa. Kepeningan kepalanya, mengganggu kecepatan geraknya.

Hampir ia mencabut goloknya, tapi ia tidak tega. Sayangnya ia tidak mempunyai kepandaian hebat lain kecuali Ouw Yang Ci To.

“Apa kau ingin membunuhku” tanyanya cepat
“Siapa suruh kau hendak mencelakaiku”
“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, jika kau ikut, kau akan menyesal”

Gadis setan itu terdiam. Mau tidak mau ia harus mengakui, Tan Leng Ko telah memberi peringatan padanya.
“Tadi kau selalu bersamaku...Darimana kau tahu Pek Kian Si, berada disitu?...hayoh jawab!”

Sambil menyengir Tan Leng Ko menjawab:
“Kejadian tabrakan tadi dekat dengan waktu makan siang, Pek Kian Si tidak memilih Se Chuan Koan yang lebih dekat, berarti ia tidak suka makanan pedas. Kau sendiri yang bilang dia dari Kang Lam yang kutahu suka makanan manis. Ban Tiok Koan adalah jenis rumah makan seperti itu...”

Diam diam timbul juga rasa kagum di hati gadis setan itu.
“Kenapa kau tidak menghalangi kejaran Pek Kian Si?” tanyanya galak.
“Jika kau mampu mengambil ronce pedangnya, kuyakin kau mempunyai cara untuk menghadapinya. Lagi pula....”
“Lagi pula apa...?” desak gadis setan itu.
“Aku tidak mengenal kau ini siapa”
.
Mata gadis setan itu mulai mengembang air mata.
“Huuuhuuu...kau yang kuanggap baik, ternyata berniat mencelakakanku. Tidak ada yang sayang padaku. Tidak ada yang mau pedulikan aku”

Gadis setan ini mulai menangis. Bukan hanya menangis, melainkan menangis sambil menjerit keras. Tentu saja mengundang perhatian orang Lok Yang Piaukok.

Tan Leng Ko menghela napas. Ia benar benar tidak dapat menerka watak gadis setan ini yan cepat sekali berubah. Sebentar marah, sebentar jahil, kemudian tahu tahu menangis. Kepalanya yang pusing semakin pening.

Khu Han Beng keluar menghampiri mereka. Bahkan Hong naynay pun ikut keluar dari dapur.

“Apa yang sedang kau perbuat?” tanya Hong naynay sambil melotot.
Tangannya memeluk gadis setan itu, yang menangis makin keras, air matanya membasahi baju Hong naynay.

Tak ada yang bisa diperbuat Tan Leng Ko kecuali menyengir.
Mata Hong naynay masih melotot kepadanya.
“Memang laki tidak genah ini, bukan orang baik baik. Ayoh, kau masuk kedalam. Kau coba masakkan Hong naynay. Kau akan melupakan kesedihanmu” Hong naynay mengajak gadis setan itu kedapur.

Tan Leng Ko menyengir dalam hati, yang belum makan adalah dia... dia tidak diajak. Gadis setan ini baru saja makan. Malah Sekarang diajak makan lagi. Apa sengaja mau dibikin gemuk?

Sebenarnya ia tidak setuju dengan ajakan Hong naynay mengundang gadis setan itu masuk. Perbuatan ini, seperti mengundang harimau, yang lebih banyak bahayanya daripada manfaat. Tapi ia juga tidak ingin melanggar Hong naynay. Yang harus ia lakukan adalah mengawasi gadis setan itu dengan ketat. Ia tidak tahu bagaimana gadis setan ini dapat menemukan dirinya dekat Lok Yang Piaukok. Dugaannya bukan suatu kebetulan. Ia harus mencari tahu, apa maksud gadis setan ini menyusup ke Lok Yang Piaukok.

“Siapa dia?” tanya Khu Han Beng dengan heran.
“Aku tidak tahu” jawab Tan Leng Ko.

Yang ia tahu, nama gadis itu tentu bukan gadis setan.

************************

Derak suara roda berputar, disela sela ringkik kuda, mengisi kesunyian hutan. Kali ini rombongan Khu Pek Sim terdiri dari duapuluh orang piasu yang berkepandaian paling tinggi di Lok Yang Piaukok untuk mengawal sebuah kereta barang.

Untuk sebuah kereta, biasanya sepuluh orang sudah lebih dari cukup. Hanya barang kawalan yang berharga sekali yang mendapat perlakuan istimewa.
Dua laksa tahil yang seluruhnya dari emas tentu saja mendapat perlakuan istimewa. Bukan saja dalam pengawalan, kuda kuda yang menarik kereta inipun termasuk kuda pilihan.

Kereta itu ditarik oleh delapan kuda yang kuat dan kekar. Jelas bukan jenis kuda sembarangan ditilik dari warna putih seperti kaos kaki yang melingkari bagian bawah kakinya.

Khu Pek Sim yang mengendarai kuda yang paling depan, mengerenyitkan alisnya. Ia tidak menyukai suara derak ini yang terlalu mengundang perhatian. Sumbu roda telah beberapa kali diberikan minyak dari lemak binatang, namun tidak menolong banyak.

Bagi orang kang ouw yang berpengalaman, dari suara derak yang nyaring itu, juga dari jumlah kuda yang banyak, mereka dapat menarik kesimpulan kereta barang ini membawa sesuatu yang berat dan hanya emas yang dapat menimbulkan beban seberat itu.

Udara yang dingin tidak dapat menghilangkan rasa gundah dihati Khu Pek Sim. Yang membuatnya agak lega, sore ini mereka akan tiba di kota Po-ting, tempat tujuan mereka. Khu Pek Sim bersyukur perjalanannya kali ini nampak aman dari gangguan.

“Brruaaakkk...!” sebatang pohon sepelukan tangan manusia, rubuh melintang dijalan. Kuda dibagian depan yang menarik kereta mengangkat kaki, sambil meringkik kaget, hampir mereka saling bertubrukan, untung sais kereta itu seorang yang sudah berpengalaman. Dengan suara perlahan dibujuk kudanya agar tenang.

Khu Pek Sim memberi isyarat tangan. Para piasu yang sudah terlatih mengangkat tameng mereka dan berdiri mengitari kereta barang.

Tangannya meraih tombak, dan duduk diatas kuda dengan tenang. Jalan yang mereka sedang lalui walau bukan hutan, tapi dikiri kanan banyak pepohonan yang rindang. Rubuhnya pohon itu jelas disengaja, namun tidak terdengar gerakkan atau suara lain kecuali ributnya burung liar yang kaget beterbangan.

Setelah menunggu sekian lama, hanya deru bendera pelambang Lok Yang Piaukok yang mengisi keheningan, Khu Pek Sim akhirnya tidak sabar.
“Jika kalian tidak mau bertemu, sebaiknya kami pergi saja” serunya dengan lantang.

Ia tidak terlalu sering kekota Po-ting, namun ia cukup tahu, walau jalan ini tidak terlampau aman, perampok yang menguasai daerah ini, belum pernah menganggu barang kawalan Lok Yang Piaukok.

“Jika berani menghalang, tentu tidak takut urusan, kenapa tidak lekas diselesaikan?” teriaknya sekali lagi.

Dari balik rumpunan pohon bambu, seseorang keluar berjalan kearah mereka dengan perlahan. Ia mengenakan baju putih, berwajah tampan walau sudah tidak muda lagi, sebuah senyuman ramah tersungging dibibirnya.

Khu Pek Sim tertegun. Ia menduga puluhan perampok yang menghadang jalannya, bukan hanya satu orang.

Orang berbaju putih itu mengangkat tangannya memberi hormat,
“Kumohon maaf atas keterlambatanku. Maklum ini pengalaman pertama bagiku untuk merampas barang milik orang lain. Caraku masih canggung” ujarnya perlahan.

Diam diam Khu Pek Sim agak kuatir, ada satu hal yang merisaukan hatinya,
“Inipun pengalaman pertama bagiku, menemui perampok yang ramah dan tamah” katanya sambil memberi hormat.

Orang itu tersenyum,
“Ditinjau dari beratnya muatan, dan besarnya kereta, tentu kau membawa paling sedikit satu laksa tahil emas”.
“Pandai sekali anda berhitung” seru Khu Pek Sim dengan dingin.
“Selain mengetahui cara berhitung, akupun mengetahui laksaan tahil emas dapat digunakan untuk apa saja” kata orang itu dengan tetap ramah.
“Jika kau hendak merampas uang emas ini, langsung saja menggunakan kepandaian, tidak perlu bertele tele yang tidak berguna” tantang Khu Pek Sim Sambil meloncat turun dari kudanya.

Orang itu menghela napas,
“Jika kita bertarung, belum tentu aku menang. Walau menang sekalipun, jika kau hancurkan roda kereta itu, akupun tidak dapat membawa emas itu pergi jauh”

khu Pek Sim tertegun. Jika roda keretanya telah hancur, memang emas sebanyak dan seberat ini tidak mungkin dapat dibawa kabur oleh satu orang. Ia yang sudah berpengalaman bertahun tahun, malah tidak berpikir kearah itu.

Orang ini berpikiran tajam, jelas bukan orang sembarangan yang mudah dihadapi, ia harus berhati hati.

“Sebetulnya, apa kehendakmu?” tanya Khu Pek Sim dengan keras.
“Bukankah sudah jelas kukatakan, aku ingin merampas, ingin merampok barang kawalanmu” katanya dengan halus.
“Bolak balik kau berbicara, rupanya tujuanmu tetap tertuju pada emas ini” dengus Khu Pek Sim yang mengakui muatan barang kawalannya. Ia tahu tiada gunanya berbohong.

Sambil tertawa, orang itu mengeluarkan sesuatu dari bajunya,
“Benda ini tidak beracun, dan kuberikan kepadamu jika kau berikan barang yang kuminta”

Dengan heran Khu Pek Sim menatap secarik kertas yang dipegang oleh orang itu. Ia tidak mengerti apa maksudnya.

Tiba tiba orang itu melesat cepat sekali kearah salah satu piasu yang berdiri di depan dan dengan cepat telah kembali ke posisinya semula. Piasu itu tidak nampak terluka. Ia berdiri bengong dengan tangan kiri memegang kertas itu.

Jantung Khu Pek Sim berdetak keras melihat kecepatan gerak orang itu. Dengan tetap waspada, ia menoleh kepada anak buahnya.
“Cu Goan, apakah kau terluka?” tanyanya dengan cemas.

Piasu yang bernama Cu Goan itu menggeleng, kemudian matanya melirik kertas yang dipegangnya. Tahu tahu mukanya berubah dengan hebat.

Melihat perubahan raut muka anak buahnya, Khu Pek Sim cepat bertanya,
“Apa kau keracunan?”
''Aku tidak keracunan...hanya ini....sebaiknya Khu Conpiautau melihat sendiri” katanya sambil menghampiri Khu Pek Sim.

Khu Pek Sim menerima kertas tersebut, mukanya ikut berubah ketika membacanya. Kertas itu ternyata sebuah gin-bio atau surat uang yang dikeluarkan dari bank ternama di kotaraja. Keaslian surat uang ini tidak perlu diragukan lagi, bahkan dapat diuangkan kapan saja dan oleh siapa saja. Sekarang ia paham kenapa anak buahnya terkejut. Siapa yang tidak kaget melihat surat uang itu, yang ternyata bernilai enam laksa tahil emas!

Hati Khu Pek Sim tenggelam, kekuatirannya ternyata menjadi kenyataan. Tidak mungkin orang ini menghendaki barang kawalannya yang tidak bernilai sebanyak surat uang ini. Jika orang ini tidak sayang kehilangan enam laksa tahil emas, hanya satu barang yang diingini oleh orang ini. Barang yang dibawanya, dan hanya diketahui oleh tiga orang .

Dengan muka serius orang itu berkata,
“Kau tidak harus menjawabnya sekarang, kuberi waktu satu hari penuh padamu untuk memertimbangkan. Surat uang itu boleh kau simpan, untuk menunjukkan ketulusan hatiku.”.

“Apa kau tidak kuatir kubawa kabur uangmu?” tanya Khu Pek Sim tak tahan.

Orang itu menggerakkan kakinya menendang batang pohon yang rubuh menghalangi jalan itu.
“Blaaangg!” batang pohon itu bagaikan kapas terbang melayang menabrak pohon yang berdiri. Kerasnya daya dorong menyebabkan pohon itu tidak tahan dan ikut tumbang, akar menonjol keluar, terobek dari tanah.

Suara ranting, dahan dan rimbunan daun saling bertabrakan menimbulkan suara yang menakutkan.

“Aku tidak kuatir” kata orang itu sambil tersenyum.

Tangannya merangkap memberi hormat, kemudian tubuhnya melesat menghilang di balik rumpunan pohon bambu.

Para piasu terpaku akan kedahsyatan tendangan orang itu, mereka tidak memperhatikan keadaan Khu Pek Sim yang berdiri termenung.
Lok Yang Piaukok mempunyai penghuni baru, atau lebih tepatnya seorang tamu yang bernama Giok Hui Yan. Entah bagaimana caranya, gadis yang beradat aneh ini dapat dijinakkan oleh Hong naynay.

Rupanya seorang gadis pemberani hanya takut kepada perempuan lain... yang lebih galak daripadanya.

Menurut cerita Hong naynay, gadis ini ternyata kabur dari rumah setelah dimarahi oleh ayahnya. Ia luntang lantung mengembara, hingga bertemu dengan Tan Leng Ko di Se Chuan Koan. Ketika ditanya asal usulnya, Giok Hui Yan menjawab bahwa dia tidak suka membohongi Hong naynay yang begitu baik padanya, tapi ia juga mempunyai alasan yang kuat sehingga belum dapat menceritakan asal usulnya.

Hong naynay enggan mendesak, begitu pula yang lainnya. Kebiasaan ingin tahu urusan orang lain bukanlah kebiasaan yang ada di Lok Yang Piaukok.

Entah disengaja atau tidak, Giok Hui Yan hanya alim di depan Hong naynay, sedangkan dengan yang lain, kelakuannya tidak berubah.

Seperti biasa, sore hari para piasu berlatih silat di lapangan. Tan Leng Ko berhalangan hadir. Ia masih bersamadi dikamarnya membersihkan sisa hawa racun ditubuhnya.

Giok Hui Yan menghampiri mereka dengan cirinya yang khas....bertolak pinggang sambil cengar cengir. Tubuhnya meloncat keatas rak senjata, dan berdiri diatas sebuah ujung tombak yang tajam.

Melihat ginkang gadis itu yang tinggi, para piasu tanpa terasa menghentikan latihannya dan bersorak kagum.

Mendengar teriakan bernada memuji itu, gadis itu tersenyum bangga. Giok Hui Yan telah melepaskan ikat kepalanya, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Cantik sekali gadis ini ketika tersenyum walau masih mengenakan pakaian pria.

Tak lama kemudian, kakinya berlari diatas deretan ujung tombak, makin lama makin cepat, para piasu yang hanya mampu melihat bayangan gadis ini bertepuk tangan, sebagian malah ada yang bersuit.

Tubuh Giok Hui Yan meletik, dan membuat salto tiga kali di udara, dan berdiri di depan para piasu yang belum berhenti bertepuk tangan. Gadis ini mengangkat tangannya menenangkan pengagumnya, sambil berkata:
“Mau tidak kalian kuajarkan jurus tangan kosong?”

Tentu saja para piasu menjawab ingin.
“Telah kuhitung jumlah kalian. Sepuluh orang berdiri disebelah kiri, dan sepuluh orang sisanya disebelah kananku berdiri saling menghadap”.

Seperti seorang jendral, Giok Hui Yan berjalan mondar mandir di tengah barisannya. Tangan dan mulutnya sibuk membetulkan. Setelah puas, ia berdiri ditempatnya semula dan meminta perhatian mereka.

Tangan kanan dan kakinya bergerak secara aneh. Ia mengulang hingga tiga kali kemudian meminta barisan kanan menirunya dengan cepat dan tenaga penuh.

Barisan kanan melakukan yang dipintanya, terdengar suara beruntun keplak keplok, saling menyusul. Para piasu dibarisan kiri banyak yang terpelanting, pipi kanan mereka tertampar nyaring.

Gadis itu bertepuk tangan sambil tertawa girang,
“Kalian sungguh pintar. Diberitahu sekali, langsung pandai. Hayoh dilatih sebanyak duapuluh kali”

Dengan bingung, salah satu piasu dibarisan kiri bertanya
“Sebetulnya jurus apa ini?”

Dengan nada tidak senang, Giok Hui Yan menjawab,
“Untuk menjadi seorang jago silat, kalian harus berani tahan sakit. Baru sedikit tertampar, kalian sudah mengeluh. Kalau kalian enggan berlatih, yaa sudahlah”

Gadis itu kemudian melangkah pergi.
Dengan gugup, piasu itu berkata,
“Jangan pergi dulu, kami tahan uji dan biasa hidup diujung golok. Kami akan berlatih sungguh sungguh”

Giok Hui Yan mengurung niatnya untuk pergi,
“Siapa yang tidak tahan sakit, boleh lekas pergi dari sini. Yang pergi, tidak akan dianggap seorang pengecut!” ujarnya memberi penekanan dikata 'pengecut'.

Tidak ada seorangpun yang pergi. Tentu saja jika ada yang pergi, malah akan dianggap pengecut oleh piasu lainnya.

Sambil mengikik gadis itu berkata,
“Kalian memang calon calon pendekar besar. Jika kalian latih jurus ini dengan sungguh sungguh, kujamin dalam satu dua tahun kalian akan mempunyai nama di rimba persilatan”

Mendengar janji yang muluk muluk, sebagian piasu ada yang sampai membusungkan dada dengan semangat. Mereka lupa, ada jenis perempuan yang ucapannya tidak boleh dipercaya begitu saja.

“Ayoh, barisan kanan mulai berlatih, barisan kiri boleh mencoba menghindar”

Kembali terdengar suara keplak keplok nyaring, silih berganti. Jurus ini memang rada aneh. Para piasu dibarisan kiri mencoba menghindar, toh pipi kanan mereka tetap saja tertampar.

Setelah puas melihat pipi kanan barisan kiri membengkak, Giok Hui Yan menyuruh mereka bergantian. Barisan kiri menyerang dan barisan kanan mencoba menghindar.

Ruangan berlatih silat, kembali diriuhkan dengan suara pipi tertampar. Sambil sibuk mondar mandir, Giok Hui Yan berteriak memberi semangat:
“Jurus kalian sudah benar, hanya masih loyo. Kalian harus mengerahkan semua tenaga ke telapak tangan”.

Suara tamparan semakin nyaring, bahkan ada sebagian piasu dibarisan kanan yang terpelanting dengan gigi copot.

Setelah berlatih dua puluh kali, Gadis itu menyuruh mereka berhenti dan berdiri tegak dibarisan masing masing. Senyum manis menghias wajah cantik itu ketika melihat warna merah biru menghiasi pipi kanan para piasu.

“Kulihat ada yang mencoba menghindar tapi tidak berhasil, bukankah jurus ini hebat luar biasa?”
Dengan ujung bibir berdarah, dan pipi memar, para piasu menjawab. Yang terdengar hanya suara gumaman yang tidak jelas.

“Sekarang barisan kiri dan barisan kanan berbareng melatih jurus kedua” ujar gadis itu sambil melakukan langkah dan gerakkan tangan kiri yang aneh.

Suara tamparan yang terdengar kali ini, selain bersusulan juga bersamaan. Para piasu di barisan kiri dan barisan kanan saling menampar pipi kiri masing masing.

“Kalian ulang sebanyak dua puluh kali, aku akan kembali melihat hasil latihan kalian” kata gadis ini sambil menyengir kemudian melangkah pergi.

Tan Leng Ko yang baru saja bersamadi, berjalan keruangan latihan silat. Dahinya berkerut ketika melihat Giok Hui Yan dikejauhan, apalagi ketika mendengar suara aneh dan nyaring.

Dengan cepat ia memasuki ruang latihan silat, Tan Leng Ko menghela napas ketika melihat murid muridnya terpelanting dengan muka bundar. Tujuh tahun ia telah mengajar mereka, tidak ada yang mukanya hingga bengap biru, babak belur begitu.

********************************


Warna biru tinta yang masih basah, kelihatan indah sekali. Khu Han Beng berada di kamarnya, sedang sibuk menyalin. Menyalin tulisan keriting yang dia tidak ketahui namanya, tapi sudah dihapalnya semenjak ia berusia tujuh tahun.

Suara ribut ribut Lo Tong terdengar dari luar pintu kamarnya, yang kemudian dibuka oleh Giok Hui Yan. Sambil cengar cengir, matanya memicing menatap Khu Han Beng seperti mahluk aneh yang belum pernah dilihatnya.

Khu Han Beng, yang pernah diceritakan oleh Tan Leng Ko mengenai kelakuan gadis itu di Se Chuan Koan, menghela napas:
“Apa yang kau kehendaki?” tanyanya perlahan.
“Aku sedang mencari cacing”.
“Kenapa tidak mencari diluar sana, malah mencari dikamar ini?” tanya Khu Han Beng heran.
“Aku sedang mencari kau, bukankah kau seekor cacing buku” katanya sambil mengikik.

Dengan kesal Khu Han Beng berkata,
“Jika kau hendak menggoda, sebaiknya kau keluar saja dari kamar ini, aku hendak tidur”.
Smabil bertolak pinggang, Giok Hui Yan berkata:
“Apa yang hendak kau perbuat, jika aku enggan keluar?”

Khu Han Beng memandang Giok Hui Yan sejenak. Untuk mengatasi kenakalan gadis ini, dia tidak punya pilihan lain kecuali racun melawan racun.

Khu Han Beng mendekati Giok Hui Yan, dan dengan cepat melepaskan bajunya hingga telanjang dada.
“Biasanya aku tidur tanpa busana, jika kau tidak mau keluar...”

Belum selesai ia berbicara, Giok Hui Yan menjerit, kemudian kabur dari situ.
Bagaimana berani dan anehnya adatnya, bagaimanapun juga ia seorang gadis perawan, yang jengah melihat seorang bocah sebaya dirinya dengan dada telanjang.

Sambil tertawa Lo Tong menghampiri Beng-sauyanya, kemudian berkata:
“Sekarang kutahu cara terbaik untuk mencegah gadis nakal itu”.
“Apa yang akan kau lakukan?”

Sambil menyengir Lo Tong menjawab:
“Jika gadis setan itu muncul, kubuka saja celanaku, tanggung urusan jadi beres"

Khu Han Beng tersenyum,
“Aku hendak bermain di belakang bukit sana, tolong kau bereskan kamarku” ujarnya sambil merapihkan baju, kemudian ia melangkah keluar. Begitu berada diluar pintu gerbang, ia memusatkan perhatiannya. Setelah yakin tidak ada orang disekitarnya. Tiba tiba tubuhnya melesat kebelakang bukit. Cepatnya bukan main.

Tak lama dari kepergian Khu Han Beng, pintu gerbang Lok Yang Piaukok kembali dilalui orang. Bukan hanya seorang, melainkan dua belas orang yang di atas dada sebelah kiri disemati oleh bunga. Bunga bwe berwarna hitam, terbuat dari besi.

“Blaaangg...!” Pintu gerbang Lok Yang Piaukok yang terbuka, yang tidak menghalang jalan masuk mereka, toh tetap dihajar hancur oleh mereka.

Rombongan Bwe Hoa Pang kali ini nampaknya dipimpin oleh seorang tosu yang memegang pedang ditangan kirinya. Tapi yang menghancurkan pintu bukan dia, melainkan pemuda sombong yang pernah datang kemari beberapa minggu yang lalu.

Mendengar suara hancurnya pintu yang keras, yang pertama muncul menghadap mereka bukan lain Giok Hui Yan, disusul oleh Tan Leng Ko yang bergegas keluar.

Sambil bertepuk tangan Giok Hui Yan tertawa,
“Benar benar menarik. Rupanya serombongan badut berseragam datang kemari”.
“Rombongan badut?” tanya tosu itu tak tahan.
“Bukankah pertunjukan panggung, selalu diawali dengan suara 'bang' yang mengejutkan. Tentu kalian ingin menari disini” kata Giok Hui Yan sambil cengar cengir.

Tosu tua tidak menggubris ucapan gadis itu,
“Apakah bocah ini?” tanyanya kepada pemuda sombong itu.

Pemuda sombong itu menggeleng,
“Usia mereka sebaya, tapi bocah itu jelas bukan perempuan”

Giok Hui Yan mendengus,
“Seorang kakek tua mencari seorang bocah lelaki, tentu untuk urusan yang tidak beres”.

Selesai berkata tubuhnya melesat cepat kesalah satu dari rombongan mereka, tangannya bergerak aneh, terdengar suara pipi ditampar bolak balik tanpa orang itu mampu menghindar. Tubuhnya terkulai lemas, ketika hidungnya dihajar remuk.

Para piausu yang ikut keluar bersama Tan Leng Ko bersorak, mereka mengenal gerakkan gadis itu. Tidak rugi pipi mereka bengkak, ternyata jurus itu memang benar hebat.

Tosu tua itu terkejut kaget melihat kegesitan Giok Hui Yan. Ia maklum gadis ini tentu bukan orang sembarangan.
“Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Lok Yang Piaukok?”

Sambil Tolak pinggang, Giok Hui Yan mendekati tosu itu. Ia tidak menggubris pertanyaan itu.
“Ku tahu maksud kedatangan kalian. Kau tahu apa sebabnya tak akan kubiarkan kalian mengacau disini”
“Apa sebabnya?”
“Sebab itu sudah menjadi tugasku. Apa kalian ingin berebut tugas denganku?” tanya Giok Hui Yan sambil mengikik.

Giliran Tosu itu tidak menggubris Giok Hui Yan. Ia menatap Tan Leng Ko dengan tajam.
“Kedatanganku ingin bertemu dengan Khu Pek Sim dan cucunya”

Tan Leng Ko yang terdiam sedari tadi, tidak menjawab. Sekarang ia tahu perkiraannya tidak tepat. Asal usul Giok Hui Yan ternyata tidak berhubungan dengan Bwe Hoa Pang. Tapi ia tetap membiarkan Giok Hui Yan yang maju. Ia ingin tahu tindak tanduk Giok Hui Yan apakah akan membantu Lok Yang Piaukok atau tidak.

Giok Hui Yan yang tidak dianggap oleh tosu itu, marah betul. Ia menggerakkan tangannya secara lurus. Terdengar suara mencicit seperti hawa pedang menerjang ke tosu itu.

Cepat tosu itu mengelak, kekagetannya bertambah. Ia telah mendengar seorang bocah aneh yang entah dengan cara apa telah menguntungi tangan Ceng Siau Lam murid ketua mereka. Sekarang muncul bocah aneh yang lain. Seorang bocah perempuan.

Tosu itu tidak sempat berpikir lagi, serangan berikut dari Giok Hui Yan memaksanya mencabut pedang. Sebilah pedang yang melekat noda merah kehitaman. Noda darah yang telah mengering.

Pedang itu membuat gerakkan melingkar memunahkan serangan Giok hui Yan. Gerakkan susulan pedang itu yang sedang menusuk perut Giok Hui Yan, entah kenapa mendadak ditarik. Diganti dengan tangan kiri yang menghajar pundak kiri gadis itu dengan telak.

Tubuh Giok Hui Yan mencelat dibarengi darah kental yang keluar dari mulutnya. Dengan terkejut, Tan Leng Ko lekas meloncat menanggapi tubuh Giok Hui Yan.

Tosu itu tidak melanjutkan serangannya, ia malah termenung. Gerakkan tangan gadis itu seperti dikenalnya. Justru karena itu, ia tidak melanjutkan tusukannya. Hanya satu perguruan yang mempunyai ciri gerakkan tangan yang lurus tidak membengkok....tiba tiba mukanya berubah hebat.
“Kau ....?”

Giok Hui Yan mendengus, memotong ucapannya.
“jika kau mundur dari sini, urusan ini tidak akan kuperpanjang”

Tosu itu menarik napas. Bocah perempuan ini telah memiliki hawa pedang tanpa menggunakan pedang, tentu berhubungan erat dengan ketua perguruan itu. Dan ia telah melukainya!

Pertikaian dengan perguruan itu bukan urusan main main dan akan berakibat hebat. Ia tidak berani mengambil keputusan, ia harus melapor kepada ketuanya.

Tanpa berbicara, cepat ia mengajak rombongannya pergi dari Lok Yang Piaukok.

**************************************


Suasana malam sepi sekali.
Angin dingin dari utara meniup kencang, membuat penghuni Lok Yang Piaukok malas keluar dari kamar. Kecuali penjaga malam, boleh dibilang hampir semua orang meringkuk di dalam kemul selimutnya.

Begitu pula Giok Hui Yan, luka gempur di bahu, memaksanya berbaring di tempat tidur kamar tamu. Hong naynay yang ingin menemaninya ditolak secara halus. Ia biasa tidur sendirian dan ia tidak ingin menyusahkan Hong naynay.

Tan Leng Ko baru saja selesai melakukan pekerjaan rutinnya, melakukan perondaan. Ia tidak ingin terlena dari tugasnya. Walau kecil sekali kemungkinan orang Bwe Hoa Pang akan muncul lagi, ditilik dari sikap tosu itu yang sudah menang tetapi malah mengundurkan diri. Asal usul Giok Hui Yan, rupanya cukup menggertak mereka pergi.

Tiba tiba timbul keinginannya untuk meminum arak. Ia menghilang sebentar, tahu tahu sudah kembali dengan tangan memegang sebuah guci arak. Sekali lompat, dia sudah berada di wuwungan rumah.

Tan Leng Ko meminum araknya dengan perlahan. Hawa hangat menyebar tubuhnya, membantu melawan dinginnya malam.

Waktu bergerak lambat sekali. Tapi Tan Leng Ko tidak keberatan menunggu. Kalau perhitungannya tidak salah, asal dia sabar menunggu mungkin dia akan mendapat jawabannya. Sesungguhnya, apa yang sedang ia tunggu?

Dari letak wuwungan rumah yang tinggi, seperti kemarin, Tan Leng Ko melihat Khu Han Beng yang baru saja pulang. Dari sore bocah ini pergi, baru sekarang pulang. Apa saja yang dilakukan anak ini?

Dahi Tan Leng Ko berkerut ketika melihat kembali belakang tubuh Khu Han Beng banyak menempel daun segar. Baru teringat oleh Tan Leng Ko ketika kemarin ia membersihkan daun dari punggung bocah ini. Letak daun daun tersebut tepat diatas urat nadi penting. Apakah hal ini sesuatu yang kebetulan atau disengaja?

Tapi dia tidak menegur Khu Han Beng, dibiarkannya bocah ini memasuki kamarnya.

Dia cukup menyadari, urusan ganjil yang menyangkut Khu Han Beng tidak dapat ditunda lagi. Ia harus menanyakan urusan ini sejelas jelasnya.

Setelah memikirkannya secara seksama, Tan Leng Ko berkesimpulan, cara terbaik agar Khu Han Beng bersikap terbuka padanya, ia juga harus bersikap jujur dengan Khu Han Beng.

Ia ingin Khu Han Beng mengetahui dengan pasti, bahwa ia berniat tidak buruk padanya.

Hanya saatnya bertanya bukan sekarang. Ia tidak mempunyai pilihan. Urusan yang tidak bisa ditunda ini, sekali lagi harus ia tunda!


Malam semakin larut. Awan hitam yang menggulung dengan cepat berubah menjadi hujan deras yang seakan akan tumpah dari langit. Suara guntur merobek keheningan malam, diselingi kilatan petir yang menyambar, menerangi seluruh Lok Yang Piukok walau hanya sesaat yang singkat.

Dibawah kilatan petir yang sekejab itu, sesosok bayangan menyelinap masuk kedalam ruang kerja Khu Pek Sim. Tubuhnya bergerak dari satu lemari ke lemari lainnya. Entah apa yang dilakukannya, tangannya sibuk kesana sini seperti mencari sesuatu yang hilang. Tak lama kemudian, ia meraih sebuah buku, membacanya sebentar. Kemudian menaruhnya kembali..

Orang yang sedang sibuk mencari itu menabrak lemari, ketika dikagetkan oleh seruan Tan Leng Ko,
“Apapun barangmu yang hilang, kujamin tidak akan hilang disini”

Giok Hui Yan menyeringai kepada Tan Leng Ko sambil meringis memegang pundak kirinya.

Tan Leng Ko melirik pundak gadis itu sebentar, kemudian katanya,
“Ketika kau dilukai oleh tosu itu, aku terkejut. Yang membuatku heran, dengan ginkangmu yang tinggi, seharusnya kau dapat menghindari serangan itu”.

Dengan muka serius Giok Hui Yan berkata,
“Maka kau curiga, luka dibahuku hanya pura pura”

Tan Leng Ko yang belum pernah melihat gadis ini bersikap serius, semakin berhati hati,
“Cedera dibahumu jelas bukan pura pura. Kau memang terluka cukup berat. Hanya lukamu memang kau sengaja”
“Terluka bukan suatu hal yang menyenangkan, mengapa aku berbuat begitu?”
“Karena kau ingin gerak gerikmu bebas dari kecurigaan kami. Kau terluka dalam usaha membela kami. Tentu saja kami akan berterima kasih dan menganggapmu seorang kawan. Seorang kawan yang tidak patut dicurigai”.

Giok Hui Yan menghela napas,
“Semenjak kita bertemu di Se Chuan Koan, rupanya kau selalu curiga padaku”
“Pada saat itu, aku hanya menganggap dirimu seorang bocah nakal yang gemar cari gara gara. Aku baru mencurigaimu ketika kau muncul di pintu gerbang Lok Yang Piaukok”
“Kenapa?” tanya Giok Hui Yan heran
“Sebab kau tidak tahu namaku, dan dimana tempat aku tinggal”
“Dengan kemunculanku, dengan sendirinya aku sudah mengetahui siapa kau dan dimana kau tinggal”
“Jika kau bercapai lelah mencari tahu urusan itu, dengan sendirinya maksud tujuanmu tentu tidak sederhana”.
“Maka terluka atau tidak, kau tetap curiga padaku”
“ya!” jawab Tan Leng Ko dengan tegas.

Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam, kemudian duduk di kursi meja kerja Khu Pek Sim.
“Apa sebabnya kau datang kemari?” tanya Tan Leng Ko tetap menjaga kewaspadaannya.

Giok Hui Yan menatapnya dengan tajam,
“Tahukah kau sebabnya kota Lok Yang dibanjiri kaum persilatan?”

Tan Leng Ko menarik napasnya,
“Bukankah disebabkan urusan mustika kemala pelangi”
“Benar! Tahukah kau, mustika itu kabarnya berada ditangan siapa?”

Mulut Tan Leng Ko bergerak, hampir ia menyebut nama, tapi ditahannya.

“Sebenarnya bagaimana bentuk dari mustika itu?” kata Tan Leng Ko balik bertanya.
“Mustika itu berbentuk sebuah kotak kubus yang dibuat dari batu kemala dimana disetiap sisi terdapat enam macam warna”.

Dengan perlahan Giok Hui Yan melanjutkan,
“Mustika itu kabarnya berada ditangan Khu Pek Sim”
“Darimana kau tahu urusan ini?” tanya Tan Leng Ko tak tahan
“Anggap saja aku mengetahui urusan ini secara kebetulan”
“Masakan hanya sebuah kabar burung kau percaya begitu saja” jengek Tan Leng Ko

Dengan perlahan Giok Hui Yan menjawab,
“Baru saja kuperiksa buku jurnal kerja kalian. Selama ini, setiap pengawalan barang tertulis dengan rapi, hanya perjalanan Khu Pek Sim kali ini tidak tercatat sama sekali”
“Mungkin karena terburu buru, Khu Congpiautau lupa mencatat”
“Memang mungkin. Tapi mungkin juga kali ini ia menghantar sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang dia tidak ingin orang lain tahu kemana dia pergi”.

Diam diam Tan Leng Ko terkejut. Giok Hui Yan tidak mungkin tahu, tapi ia jelas betul bahwa Khu Pek Sim sendiri yang menentukan setiap perjalanan harus dicatat, sangat ganjil jika ia melanggar ketentuannya sendiri.

“Jadi kau kemari karena kuatir mustika itu bakal keduluan dicuri oleh orang lain” jengek Tan Leng Ko.

Giok Hui Yan seperti tidak mendengar sindiran ini.
“Yang kukuatir, sebentar lagi berita ini bakal menyebar. Aku tidak yakin, kalian mampu menahan puluhan atau ratusan orang kang ouw yang meluruk kesini”
“Kau ingin aku percaya bahwa tujuanmu kemari disebabkan kau benar benar menaruh perhatian terhadap keselamatan kami” dengus Tan Leng Ko

Giok Hui Yan menghela napas,
“Tujuanku kemari sebetulnya ingin menawarkan suatu kerja sama dengan kalian”
“Kerja sama?”
“Kubantu kalian menghadapi orang orang kang ouw itu, dengan imbalan kalian juga harus membantu kami”
“Kau ingin kami membantumu mencuri mustika kemala pelangi dari tangan Khu Congpiautau” kata Tan Leng Ko sinis.

Giok Hui Yan tiba tiba tertawa,
“Walau mustika itu bernilai luar biasa, tapi masih belum cukup memikat minatku”
“Jadi kau kemari bukan disebabkan urusan mustika kemala pelangi?” kaget juga Tan Leng Ko mendengar hal ini.

Giok Hui Yan menggeleng perlahan.

Dengan penuh selidik, Tan Leng Ko memandang Giok Hui Yan,
“Sebetulnya apa alasanmu datang kemari?”
“Alasanku kemari, karena aku mencurigai kalian!” kata Giok Hui Yan perlahan.

Tan Leng Ko tidak dapat menahan ketawanya,
“Kau yang telah menyusup ke Lok Yang Piaukok, malah curiga terhadap kami”

Dengan pandangan lekat, Goik Hui Yan menatap Tan Leng Ko,
“Aku mencurigai kalian mempunyai hubungan dengan toko buku di Lok Yang itu”

Muka Tan Leng Ko berubah, ia benar benar tidak menyangka urusan ini menyangkut toko buku Gu-suko.

Melihat perubahan air muka Tan Leng Ko, Giok Hui Yan mendesah,
“Ditilik dari reaksimu, rupanya kau memang mempunyai setitik hubungan”

Dengan tertawa Tan Leng Ko menjawab,
“Aku merasa geli mendengar ucapanmu. Aku pergi ketoko buku, kau malah curiga, sehingga memerlukan menyusup kesini. Bagaimana jadinya jika aku pergi kepasar?”.

Seperti tidak mendengar ejekan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan menjawab
“Sebab kau bukan jenis yang suka membaca. Kuheran mengapa tiba tiba kau datang kesana”.
“Yang kuheran, aku harus percaya maksudmu kemari bukan karena mustika kemala pelangi itu melainkan karena aku pergi ke sebuah toko buku”.

Giok Hui Yan termenung. Ia seperti menimbangkan perlu tidak menceritakan suatu urusan kepada Tan Leng Ko. Setelah diam sejenak, akhirnya ia memutuskan.
“Sekitar enam bulan yang lalu, perguruan kami kedatangan tamu yang tidak diundang, yang telah mencuri sebuah kitab pusaka”.
“Sesungguhnya, siapakah kau sebenarnya? tanya Tan Leng Ko dengan perlahan.
“Aku putri bungsu ketua sekarang, dari perguruan Mi Tiong Bun!”

Wajah Tan Leng Ko berubah pucat. Mi Tiong Bun merupakan perguruan yang paling misterius yang ada di rimba persilatan. Perguruan ini dianggap paling misterius karena yang diketahui mengenai mereka, hanya kehebatan mereka dibidang ilmu pedang, dan ketegasan mereka terhadap lawan.

Ngo Tok Kauw, sebuah perkumpulan sesat ahli racun, pernah meracun mati anak murid Mi Tiong Bun. Tidak lama kemudian, Rimba persilatan digegerkan dengan tewasnya tiga ratus tujuh puluh tiga anggota Ngo Tok Kauw dipusat perkumpulan mereka. Tidak ada satupun yang hidup, tidak juga binatang peliharaan mereka seperti: ular, kelabang, ayam, anjing dan sebagainya. Semua yang hidup kedapatan mati tertusuk atau tertabas pedang.

Sekarang Tan Leng Ko mengerti, kenapa orang Bwe Hoa Pang yang telah menang bertempur, malah mengundurkan diri. Tentu tosu ahli pedang itu telah mengenal asal usul Giok Hui Yan!

“Apakah kau mencurigai kami telah mencuri kitab pusaka Mi Tiong Bun?” selidik Tang Leng Ko

Giok Hui Yan tersenyum.
“Tentu saja tidak. Walau kau ingin, belum tentu kau mampu”

Agak tersinggung Tan Leng Ko mendengar ucapan ini.
“Menurutmu, kepandaianku masih terlalu rendah untuk mencuri kitab pusaka kalian”

Giok Hui Yan seperti memaklumi perasaan Tan Leng Ko. Cepat ia berkata,
“Beberapa bulan yang lalu, tujuh perguruan besar di Tionggoan mengalami nasib yang sama. Ruang kitab Siaulimpay yang dijaga oleh Mo Tian Siansu, Ruang kitab Bu Tong Pay yang dijaga Go Sam Beng, Ruang kitab Kaypang yang dijaga oleh Kay Ong, juga Ruang kitab Kun Lun Pay dan yang lain, telah kebobolan pencuri yang telah menggondol beberapa kitab pusaka mereka. Apakah kau mempunyai kemampuan melakukan hal ini?”

Berubah muka Tan Leng Ko tanpa ia sadari. Bukan pertanyaan Giok Hui Yan yang membuatnya terkejut, melainkan bayangan salinan kitab Kun Lun Pay, Hui Liong Cap Sa Cik dibenaknya. Salinan kitab yang dilihatnya dikamar Khu Han Beng.

“Kenapa tidak pernah kudengar berita ini?” tanya Tan Leng Ko sambil menenangkan hatinya.
“Sebab untuk menutupi rasa malu, urusan ini harus dirahasiakan. Tapi kami selain berhasil mengetahui hal ini, juga mengetahui bahwa pencurian ini dilakukan oleh satu orang yang sama”.

Mau tidak mau Tan Leng Ko berpikir, mungkin sekali Mi Tiong Bun mempunyai mata mata di tujuh partai besar. Tapi ini bukan urusannya.
“Apa buktinya?” tanyanya kemudian.
“Sehelai daun kering yang ditinggalkan, seperti juga yang ditinggalkan di ruang kitab Mi Tiong Bun”.

Dahi Tan Leng Ko berkerut, kembali terbayang dedaunan yang menempel diurat nadi penting di tubuh Khu Han Beng.

Giok Hui Yan meraih alat tulis didepannya. Tangannya dengan lincah menulis suatu simbol.
“Setiap helai daun mempunyai guratan simbol semacam ini” katanya sambil menunjukkan.

Tan Leng Ko menghenyakkan tubuhnya, duduk dikursi yang berhadapan dengan Giok Hui Yan. Ia harus duduk. Ia tidak ingin Giok Hui Yan melihat kakinya yang sekarang terhalang meja kerja, gemetaran dengan kencang.

Ia tidak mengenal arti simbol itu. Tapi ia pernah melihat tulisan keriting semacam itu. Lagi lagi dikamar Khu Han Beng.

Faktor kebetulan yang berhubungan dengan urusan Khu Han Beng terlampau banyak. Sukar bagi Tan Leng Ko untuk menganggap bocah itu tidak terlibat, walau tidak secara langsung.

“Semua yang kau ceritakan ini, apa hubungannya dengan toko buku di Lok Yang?”

“Konon katanya, jika kau hendak menyembunyikan segenggam beras, tempat yang terbaik adalah dilumbung padi. Jika kau telah mencuri kitab yang banyak, bukankah sebuah toko buku merupakan tempat yang baik untuk menyembunyikannya”

“Ucapanmu walau tidak salah, tapi juga tidak benar. Jika aku mencuri kitab kitab sakti, tentu aku akan menyembunyikan diri disebuah gunung yang sepi atau didalam jurang untuk melatihnya” bantah Tan Leng Ko.

Giok Hui Yan mengangguk.
“Ucapanmu benar. Tapi satu hal yang kau lupa. Orang itu mencuri dengan menggunakan kepandaian sejati, tanpa seorangpun pernah memergokinya. Seseorang yang mempunyai kemampuan seperti itu, apakah masih memerlukan untuk belajar ilmu orang yang dipecundanginya?”

Tan Leng Ko terdiam. Ia harus mengakui alasan itu memang masuk akal.
“Menurutmu, apa alasan dia mencuri?”
“Tidak ada yang tahu. Untuk menerkanyapun tidak dapat” kata Giok Hui Yan sambil tertawa getir.

Kepala Tan Leng Ko terasa berat, urusan mustika kemala pelangi saja sudah memusingkan, ditambah lagi dengan urusan ini yang bukan main main.

“Mi Tiong Bun dan tujuh perguruan besar keluar sarang mencari kitab pusakanya, berita ini akan menggegerkan rimba persilatan” gumamnya lirih.

Giok Hui Yan tersenyum pahit,
“Kau salah! Kitab tujuh perguruan besar yang dicuri telah dikembalikan. Bahkan dikembalikan dengan kitab mereka yang pernah hilang seratus tahun yang lalu.
“Maksudmu, kitab mereka awalnya berkurang tapi pada akhirnya malah bertambah?” tanya Tan Leng Ko dengan bingung.
“Ya. Bahkan kitab yang dikembalikan merupakan pusaka mereka yang berharga sekali. Siaulimpay mendapat kembali Tat Mo Ih Kin Keng, Bu Tong Pay menerima Sam Hong Ciang Cin Keng, Kay Pang menemukan Jurus Pukulan Naganya yang telah hilang, begitu pula yang lain. Mereka telah menerima tambahan kitab perguruan yang pernah hilang seratus tahun yang lalu. Saking girangnya, mereka memutuskan untuk tidak mengusut perkara ini lebih lanjut”.

Tan Leng Ko menatap Giok Hui Yan dengan tajam.
“Kecuali kitab Mi Tiong Bun yang belum dikembalikan”
“Betul! Makanya kami terus berusaha untuk menemukannya kembali”

Sambil menggeleng kepala Tan Leng Ko bergumam,
“Apa maksud pencuri itu mengembalikan kitab, dan kenapa kitab kalian belum dikembalikannya?”

Giok Hui Yan menghela napasnya,
“Seperti yang kukatakan tadi. Untuk menerkanyapun tidak dapat”

Tan Leng Ko menatap wajah Giok Hui Yan yang pucat. Bibir dan tubuhnya menggigil. Menggigil bukan karena dingin melainkan karena demam yang ditimbulkan oleh lukanya.

Tan Leng Ko tidak tega. Dengan lembut dia berkata,
“Keterangan yang kau berikan sudah terlampau banyak. Sulit bagiku untuk mencerna semuanya. Kau memerlukan istirahat, sebaiknya kau kembali kekamarmu, percakapan kita, bisa dilanjutkan besok”.

Giok Hui Yan seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi. Dengan perlahan, dia berjalan menuju kamarnya.

Tan Leng Ko yang baru saja minum arak, tiba tiba ingin sekali meminum arak lagi.
Ruang makan ditempat penginapan Khu Pek Sim, kendati tidak terlalu besar, namun mempunyai satu kelebihan, dibanding tempat makan lain. Ruang makan ini selalu buka. Ada pengunjung atau tidak, tempat ini tidak pernah tutup.

Lucunya, pada saat jam makan, tempat ini justru jarang sekali dikunjungi orang. Tempat ini memang bukan terkenal atas makanannya yang lezat. Tempat ini dikenal karena araknya, segala jenis arak mudah didapat ditempat ini. Dengan sendirinya, tempat ini cukup ramai, terutama setelah lewat larut malam.

Entah mungkin karena hujan, malam ini ruang makan ini hanya diisi oleh enam orang. Seorang pelayan berusia muda yang sedang duduk mengantuk. Seorang kakek tua berjenggot, dan bersenjata tombak. Dan empat orang yang duduk bersama mengelilingi sebuah meja.

Khu Pek Sim meletakkan tombaknya dikursi samping. Matanya melirik keempat orang itu sekejab. Dalam sekali pandang saja, cukup baginya untuk menarik kesimpulan, empat laki laki itu kalau bukan pencoleng, tentu perampok.

Jenis orang yang berkunjung kesini, kebanyakkan memang lelaki. jenis lelaki yang gemar mencari gara gara. Jarang sekali orang baik baik keluyuran dimalam hari.

Kendati gemar mencari gara gara, hampir tidak pernah, mereka mencari perkara ditempat ini. Mereka segan berurusan dengan Chin Toa Li, pemilik tempat ini.

Khu Pek Sim kenal Chin Toa Li, seorang saudagar kaya yang berpengaruh. Dia mempunyai banyak jenis usaha, yang menyebar dibanyak kota. Otomatis, usahanya memerlukan jasa pengangkutan barang.

Saudagar Chin Toa Li adalah salah satu langganan utama Lok Yang Piaukok.

Walau Chin Toa Li pemilik tempat penginapan ini, dia tidak tinggal disini. Dia tinggal di gedung besar disebelah kediaman kepala daerah Po Ting. Sore ini, rombongan Khu Pek Sim baru saja menghantar dua laksa tahil emas ke gedung kediaman Chin Toa Li. Gedung mewah yang memiliki duapuluh tiga kamar. Kamar yang banyak kosong, namun Khu Pek Sim tidak ditawarkan untuk menginap disana. Khu Pek Sim jarang ke kota Po Ting, hubungannya dengan Chin Toa Li sebatas profesi, tidak lebih.

Setelah selesai dengan urusannya, Khu Pek Sim meminta Cu Goan untuk memimpin para piasu segera kembali ke Lok Yang saat itu juga. Perintah yang dianggap janggal oleh Cu Goan. Biasanya setelah menghantar barang, mereka akan beristirahat paling tidak satu hari sebelum kembali pulang. Apa perintah ini berhubungan dengan orang baju putih itu?

“Aku tidak ingin meninggalkan Khu Congpiatau sendirian” kata Cu Goan kuatir.
Terharu hati Khu Pek Sim atas kesetiaan Cu Goan. Setelah diam sejenak dengan tegas dia berkata,
“Kuingin kau melaksanakan perintahku tanpa membantah. Walau kau belum lama bekerja di Lok Yang piaukok, kuyakin atas kemampuanmu memimpin mereka pulang”.

Cu Goan menatap Khu Pek Sim sesaat, ia tidak berani membantah atau bertanya. Ia segera mengajak para piasu berangkat meninggalkan Khu Pek Sim sendirian di kota Po Ting.

Suara tawa yang kasar, menyentakkan Khu Pek Sim dari lamunannya. Entah sejak kapan, meja empat orang itu telah ketambahan dua orang yang duduk bergabung.

Entah apa yang mereka bicarakan, sebentar saja terdengar suara umpatan, diselingi suara gelak tawa terdengar disana sini. Seorang diantara mereka yang brewokan, tertawa paling keras.

Khu Pek Sim tidak menghiraukan mereka, ia hanya menuang arak ke pocinya dan meminumnya perlahan. Pikirannya kembali menerawang.

Orang berbaju putih itu berkata akan merampas barang antarannya. Berarti barang itu harus didapati olehnya dengan segala cara.

Tanpa kuatir, orang itu meninggal surat uang kepadanya. Tentu dikarenakan dia mempunyai persiapan yang cukup, sehingga dirinya tidak dapat lolos dari jaringnya.

Ditinjau dari kedahsyatan tendangan orang itu, Khu Pek Sim maklum, dirinya bukan tandingan orang berbaju putih itu. Jika terjadi pertarungan, paling paling hanya akan banyak memakan korban yang sia sia. Itulah sebabnya, dia menyuruh anak buahnya pulang, agar perhatian orang itu hanya terpusat padanya seorang.

Seorang berbaju putih melangkah masuk dan memilih duduk didepan Khu Pek Sim. Tanpa berbicara, Khu Pek Sim menuangkan arak ke poci dan menyodorkan kepadanya. Orang itu langsung meminum habis dalam satu kali tenggak.
“Kau tidak takut kuracun?” tanya Khu Pek Sim tak tahan.
“Kutahu kau seorang gagah dan bertanggung jawab. Lagipula anak murid siaulimpay tidak ada yang mengenal istilah racun segala” katanya sambil tersenyum.

Setelah termenung sebentar, Khu Pek Sim berkata,
“Tak kusangka, kau akan muncul disini”
“Kebetulan, aku memang tinggal di penginapan ini” kata orang berbaju putih sambil tersenyum.

Khu Pek Sim menatap wajah tampan yang tidak muda itu.
“Siapa kau sebenarnya?”
“Aku she Buyung, bernama Hong” katanya perlahan.

Khu Pek Sim pernah mendengar nama ini, nama yang dikenal dibagian utara. Wataknya terkenal rada aneh.

Ia biasa mengikuti maunya sendiri, tidak lurus juga tidak sesat. Kepandaiannya sangat tinggi. Konon katanya, ia masih mempunyai tali hubungan keluarga dengan keluarga Buyung dari Ko-Soh.

“Apakah kau ingin jawabanku sekarang?” tanya Khu Pek Sim
“Tidak. Kau masih mempunyai waktu hingga besok siang. Namun kutahu, apa jawabanmu” kata Buyung Hong sambil menghela napas.
“Apa jawabanku?”
“Kau tidak akan menyerahkan barang itu”
“Enam laksa tahil emas adalah jumlah uang terbanyak yang pernah kulihat seumur hidup. Jika aku tidak berniat menyerahkan benda itu, kenapa kuterima surat uangmu?”
“Sebab kau ingin menyelesaikan tugasmu!” kata Buyung Hong perlahan.
“Dengan menerima surat uang itu tanpa rewel, bukan saja dengan aman, kau dapat menghantar barang kawalanmu ke tempat Chin Toa Li, kau juga menghindari pertarungan yang dapat memakan korban anak buahmu”.

Walau sudah menduga, gerak geriknya tidak lolos dari pengintaian orang ini. Mendengar penuturan ini, mau tidak mau, Khu Pek Sim terkejut juga.
“Jika kau sudah tahu, tugasku menghantar barang telah selesai. Kalau begitu, kau kemari tentu ingin meminta surat uangmu”.

Buyung Hong tersenyum,
“Tugas pertamamu sudah selesai. Sedangkan tugasmu menghantar barang itu belum kau lakukan. Barang itu masih berada padamu”.
“Darimana kau tahu?” tanya Khu Pek Sim dengan berat.
“Sebab telah kuperiksa barang hantaranmu ke Chin Toa Li, dan juga anak buahmu yang telah meninggalkan kota ini”.

Timbul rasa kuatir di hati Khu Pek Sim.
Buyung Hong seperti dapat meraba isi hatinya,
“Setelah mereka kuperiksa, mereka kubiarkan pergi”

Khu Pek Sim menarik napas lega, diam diam dia berterima kasih kepada orang ini. Setelah berpikir sejenak ia berkata,
“Tadinya kuheran dengan caramu yang tidak main kekerasan, malah tidak sayang menyerahkan surat uang bernilai enam laksa tahil emas, untuk ditukar dengan benda itu. Sekarang kupaham sebabnya”
“Apa yang kau pahami?”

Dengan pandangan selidik, Khu Pek Sim berkata,
“Kau tidak sayang kehilangan enam laksa tahil emas, karena yang hendak kau tukar dengan uang itu sebenarnya adalah diriku “.

Buyung Hong tertawa, tanyanya kemudian,
“Enam laksa tahil emas, bukan suatu jumlah yang sedikit. Seratus perempuan cantikpun tidak bernilai setinggi itu. Untuk apa kutukar dengan dirimu?”
“Sebab kau tahu, puluhan tahun aku berusaha pengawalan barang, sedikit banyak tentu mencari uang. Ada kemungkinan enam laksa tahil emas dapat memancing keserakahanku. Jika kuterima, banyak yang bisa kau peroleh”
“Apa yang kuperoleh?” tanya Buyung Hong tak tahan.
“Selain barang itu dapat kau peroleh, dengan sendirinya, kau juga menutup mulutku yang tidak mungkin menceritakan soal dirimu ke orang lain, sehingga berita mustika kemala pelangi berada ditanganmu, akan aman”
“Kenapa berita itu tidak bakal tersiar?”
“karena hal ini menyangkut juga nama baikku. Jika kuceritakan mengenai dirimu, otomatis urusan kuterima uang darimu, juga akan kau siarkan. Makanya kau serahkan surat itu kepada Cu Goan, tidak langsung padaku. Kau menghendaki saksi mata sehingga aku tidak dapat menyangkal”.
“Bukankah anak buahmu tetap dapat membocorkan hal ini?”
“Kau tahu, aku akan membagi mereka dan mereka sangat setia padaku. Aku dapat mengontrol mereka, sedangkan kau tidak”
“Jika mereka setia padamu, bukankah kau dapat menyangkal menerima uang dariku” bantah Buyung Hong
“Kau dapat mengancam mereka. Karena urusannya memang demikian, mereka dapat menjadi saksimu”

Buyung Hong menghela napas, kemudian katanya,
“Konon katanya cara terbaik untuk menutup mulut orang adalah membunuhnya mati”
“Benar. Makanya aku sempat bingung dengan tindak tandukmu. Bukankah lebih mudah, membunuh mati kami semua yang bukan tandinganmu, dan kemudian merebut barang itu”
“Ya, memang dapat kulakukan hal itu”
“Tapi tidak kau lakukan, karena kau seorang yang cerdik” kata Khu Pek Sim dengan cepat.
“Aku seorang yang cerdik?”
“Kau ragu dengan keaslian barang itu. Mustika kemala pelangi yang menjadi idaman orang persilatan, sukar dipercaya bisa jatuh ketangan seorang piasu. Walau kau merasa urusan ini rada janggal, kau tetap ingin menyelidikinya. Jika belum apa apa, asal main bunuh dan ternyata barang itu palsu, bukankah kau terjebak oleh siasat orang”

Diam diam Buyung Hong terkejut. Ternyata kakek ini dapat menggunakan otak. Ia tahu percuma berdusta terhadap seorang rase tua.
“Ya. Memang ada keraguanku” katanya mengakui
“Misalnya benda itu ternyata palsu, dengan menerima uangmu, mau tidak mau aku akan membantumu”
“Kenapa aku perlu bantuanmu?”
“Karena tugasku adalah mengantar barang. Mustika kemala pelangi tentu kuterima dari orang lain. Tanpa bantuanku, kau tidak bakal mengetahui siapa sebenarnya orang ini. Kau mengerti, aku bukan jenis yang bisa ditekan dengan kekerasan”
“Makanya aku berusaha memikat hatimu dengan membiarkan anak buahmu pergi tanpa cedera?”
“Benar. Aku memang berterima kasih padamu” kata Khu Pek Sim perlahan.

Buyung Hong tidak mengingkari, ia hanya menuang arak dan meminumnya.
“Buat apa aku mengetahui asal usul orang ini?”
“Sebab kau curiga dengan maksudnya. Jika mustika kemala pelangi yang menjadi incaran orang telah diperolehnya, kenapa harus diserahkan kepada seorang piasu untuk diantar?”
“Ya. Aku memang curiga kepadanya” Buyung Hong mengakui.
“Akupun juga mencurigainya” kata Khu Pek Sim perlahan.

Kali ini Buyung Hong benar benar terkejut.
“Kau curiga kepadanya?”

Khu Pek Sim meminum araknya seteguk, setelah berpikir sejenak ia berkata,
“Semestinya kau tidak tahu mustika kemala pelangi berada padaku. Yang mengetahui, sebenarnya hanya tiga orang”
“Dapat kuterka dua, yaitu, orang itu dan dirimu. Siapa orang ketiga?”
“Cucuku, seorang bocah yang baru berusia empat belas tahun”

Dahi Buyung Hong berkerut,
“Apa mungkin cucumu yang membocorkan tanpa sengaja?”
“Dia jarang sekali bergaul dengan orang. Apalagi dia hanya pernah melihat sekali, kuyakin dia tidak akan tahu nama barang yang dilihatnya”

Buyung Hong tidak mencurigai Khu Pek Sim yang membocorkan rahasia ini. Sebagai piasu kawakan, tentu dia tahu cara menjaga sebuah rahasia.

Buyung Hong menenggak araknya dengan cepat. Setelah berpikir sejenak, ia berkata,
“Jika pemberi mustika itu adalah orang yang membocorkan rahasia ini, tentu ada alasannya”

Khu Pek Sim ikut merenung, setelah sekian lama, mendadak mukanya berubah.
“Ya. Hanya satu alasan” kata Khu Pek Sim dengan getir.

Suasana ruang makan itu tanpa terasa menjadi hening. Diam diam timbul rasa seram dihati Buyung Hong. Setelah dipikir bolak balik, memang hanya satu alasan yang masuk akal.

Jika rahasia itu dibocorkan dengan secara sengaja, berarti dibalik kesemuanya itu, terselip suatu rencana yang menakutkan!
.
Dengan umpan mustika kemala pelangi, orang itu ingin mengadu domba orang orang rimba persilatan, sekaligus menghancurkan Lok Yang Piaukok yang menjadi sasaran!

“Sebetulnya, siapakah orang itu?” tanya Buyung Hong tak tahan.

Khu Pek Sim tertawa, kemudian diminumnya arak dengan perlahan tanpa menjawab.

“Sebetulnya, apa kehendakmu?” tanya Buyung Hong yang memahami sikap Khu Pek Sim.
“Entah barang itu asli atau tidak, kau harus membiarkan aku melaksanakan tugasku menghantar barang itu kepada tujuannya”
“Buatku, aku tidak melihat manfaatnya” kata Buyung Hong setelah merenung sejenak.
“Selesai dengan tugasku. Apapun yang kau perbuat, sudah bukan urusanku lagi” kata Khu Pek Sim sambil menatap Buyung Hong dengan tajam.

Buyung Hong akhirnya paham maksud Khu Pek Sim,
“Kau ingin mengajakku bersama sama ketempat itu?”
“Benar!” jawab Khu Pek Sim dengan tegas.

Buyung Hong tertawa perlahan, kemudian katanya,
“Baru kupaham kenapa kau suruh anak buahmu kembali. Tentu karena aku jauh lebih berguna dibanding mereka, untuk mengawal barang itu”
“Benar!” kata Khu Pek Sim mengakui.
“Setelah tiba ditujuan, begitu kau serahkan, aku merampas barang itu atau tidak, sudah tidak ada sangkut pautnya denganmu lagi”

Khu Pek Sim tidak membantah, juga tidak membenarkan, ia hanya meminum araknya tanpa menjawab.

“Kenapa aku harus susah payah, bukankah aku dapat merebut barang itu sekarang juga?” tanya Buyung Hong sambil menatap Khu Pek Sim dengan tajam.

Sambil membalas tatapan Buyung Hong, Khu Pek Sim dengan tegas menjawab,
“jika kau main paksa merebut, kita bertarung! Setelah aku tewas, kau boleh geledah tubuhku”

Buyung menghela napas,
“Kau akan membela barang itu sampai mati, sehingga tanganku bernoda darah dan terjebak oleh siasat orang itu?”
“Benar!”

Buyung Hong merenung sejenak, lalu katanya,
“Sebagai imbalan jasaku mengawal barang, kau juga akan tutup mulut, mengenai benda itu akan berada ditanganku”
“Akupun akan menceritakan apa yang kuketahui mengenai orang itu, asal kau sanggupi tiga syaratku”

Buyung Hong berpikir dengan sejenak, kemudian berkata,
“Apa syarat syaratmu?”
“Kau harus menceritakan bagaimana kau bisa mengetahui barang ini berada padaku”

Buyung Hong tidak nampak keberatan.
“Syaratku kedua, kuingin kau angkat cucuku sebagai muridmu”

Buyung menjadi ragu, dia agak keberatan. Setelah termenung sejenak, ia berkata,
“Aku akan mengajar cucumu satu macam kepandaian, tidak perlu angkat guru murid”

Khu Pek Sim menghela napas, paling tidak ia telah berusaha untuk cucunya.
“Apa syaratmu yang terakhir?” tanya Buyung Hong.
“Kumaui, surat uang itu” kata Khu Pek Sim perlahan.

Heran Buyung Hong dibuatnya, ia benar benar tidak menyangka!
“Kau maui surat uang itu?” tanyanya menegaskan.
“Jika kulakukan semua itu untukmu, kenapa tidak sekalian kuambil surat uang itu” katanya sambil tersenyum kecut.

Buyung Hong menatap Khu Pek Sim dengan tajam,
“Kutahu seorang gagah seperti dirimu, sulit dipercaya kemaruk harta benda. Sesungguhnya apa alasanmu menghendaki surat uang itu?”

Sambil tertawa getir Khu Pek Sim menjawab,
“Nasibku berada diujung tombak, setiap saat dapat kumati. Aku ingin kau berikan surat uang ini kepada cucuku”

Tangan Khu Pek Sim meraih surat uang itu dari bajunya, kemudian memberikannya kepada Buyung Hong.

Buyung Hong dapat merasakan betapa besar kasih sayang Khu Pek Sim terhadap cucunya. Jika orang itu dengan sengaja telah membocorkan rahasia ini, tentu bukan hanya dirinya seorang yang tahu.

Untuk melakukan tugasnya, Khu Pek Sim harus menghadapi kerebutan orang Kang-ouw. Ia merasa kesempatan hidupnya kecil sekali.
“Demi seorang cucu, apapun dapat diperbuat oleh kakeknya” kata Buyung Hong dengan terharu. Setelah menghela napas lalu ia berkata,
“Baik kukerjakan apa yang kau pinta. Kau boleh menyebutkan orang itu”
“Apakah kau tidak merasa tempat ini banyak orang?”

Buyung tertawa sambil menjawab,
“Sebetulnya tidak masalah. Mereka toh sudah mendengarkan percakapan kita sedari tadi. Tapi memang sebaiknya, kita pergi dari sini”

Berubah wajah keenam lelaki itu, tapi mereka merasa lega mendengar ucapan Buyung Hong yang bernada tidak keberatan.

Lalu Buyung Hong memanggil pelayan yang sedang duduk mengantuk itu.
“Apakah kau menulis buku tamu atas namamu?”

Khu Pek Sim agak heran dengan pertanyaan ini,
“Tentu saja tidak”
“Sebagai anak murid siaulimpay, apakah kau akan membela orang jahat?”

Khu Pek Sim makin heran,
“Tentu saja tidak”

Sementara itu, pelayan yang dipanggil, telah berdiri disisi Buyung Hong.
Buyung Hong menoleh padanya sambil memandangnya dengan dingin, pelayan itu tentu saja ketakutan.
“Sudah berapa lama kau tinggal dikota Po-Ting?”
“Su...sudah tiga tahun” jawab pelayan itu dengan gugup. Mata Buyung Hong mencorong tajam seperti mata harimau. Tak terasa, celananya mulai basah.
“Apakah kau sudah bekeluarga?”
“hamba...hamba sebatang kara, tinggal sendirian dirumah sewaan” jawabnya sambil menunduk.

Buyung Hong mendengus dengan dingin, tangannya meraih kesakunya.
“Ini untukmu” katanya menyodorkan seribu tahil perak.

Pelayan yang sedang menebak nebak apa kesalahannya, hingga dipelototi semacam itu, semakin bingung. Ia tidak berani menerimanya.
“Uang ini sebagai bekalmu untuk pindah kota.Sebaiknya kau lekas pergi. Makin jauh makin baik”.

Girang kejatuhan rejeki nomplok berbareng takut memenuhi hati pelayan itu. Sambil mengambil uang itu, ia memberanikan diri bertanya,
“Kena...kenapa aku harus pindah kota?”
“Jika kau tidak pindah, kau akan mati!” jengek Buyung Hong dengan suara berat.

Tanpa banyak tanya lagi, pelayang itu langsung kabur dari situ.
Khu Pek Sim yang tidak mengerti tindak tanduk Buyung Hong, tanpa terasa bertanya:
“Sebenarnya, apa tujuanmu?”

Sambil tersenyum Buyung Hong meraih segenggam sumpit di meja, lalu berkata,
“Masakkan kau tidak paham maksudku”

Tiba tiba tanpa menoleh, tangan Buyung Hong mengayun kebelakang.
“Sreeet...sreet!” bayangan coklat karena kecepatannya terlihat kabur, melayang kearah enam orang yang duduk dibelakangnya.

Suara jeritan ngeri berturut turut terdengar lirih. Darah dan cairan putih yang kental meleleh turun dari bagian kepala lima orang yang tertancap sumpit, mereka tewas seketika!

Berubah muka Khu Pek Sim melihat kejadian itu.
“Kujamin, mereka bukan orang baik baik!” kata Buyung Hong.

Sesudah berbicara, tubuhnya beserta kursi yang didudukinya tahu tahu melayang keatas, membuat salto diudara kemudian mendarat didepan pintu keluar, menghalangi orang keenam yang hendak melarikan diri.

Buyung Hong menatap darah yang menetes dilantai. Darah yang mengalir dari telapak tangan kanan orang itu yang tertembus sumpit Rupanya dia mencoba menangkap, hanya sumpit yang terbang itu terlampau cepat baginya.

Orang yang brewokan itu berkata sambil menahan sakit,
“Kukenal siapa dirimu”
“Jika kau kenal diriku. Tentunya kau tahu, melarikan diri tidak terlalu berguna” kata Buyung sambil menghela napas.
“Sebetulnya kau tidak perlu membunuhi kami” kata orang itu ketakutan.
“Oh,ya?! Apa sebabnya?” tanya Buyung Hong tak acuh.
“Bukankah tanganmu menjadi belepotan darah, sehingga kau terjebak siasat orang itu”

Jelas sekali, mereka telah menguping percakapan Buyung Hong dengan Khu Pek Sim.

Sambil tertawa, Buyung Hong berkata,
“Jika Khu Pek Sim tewas ditanganku, tentu pihak Siaulimpay tidak akan diam. Aku tidak ingin bentrok mereka, apalagi lantaran dijebak orang. Lain halnya dengan membunuh kalian, aku malah dianggap telah melakukan kewajiban seorang pendekar”

Orang itu terdiam, dia enggan ribut mulut. Dia mengenal betul watak Buyung Hong yang biasanya tidak pernah perduli dengan kepentingan orang lain, kecuali kepentingan dirinya. Sekarang malah mengaku aku menjadi seorang pendekar segala.

“Kau tidak beralasan membunuhku, karena yang kalian bicarakan, sudah bukan menjadi suatu rahasia lagi” katanya dengan parau.

Agak terkejut Buyung Hong dan Khu Pek Sim mendengarnya,
“Apa sebabnya?” tanya Buyung Hong tak terasa.
“Sebab kabar burung sudah beredar, bahwa mustika kemala pelangi berada di kota Lok Yang. Jika orang itu sengaja membocorkan rahasia ini, tentu tidak lama lagi dia akan menyiarkan bahwa mustika itu berada pada Khu Congpiautau” kata orang itu. Peluh keringat dingin membasahi wajahnya.

“Kenapa tidak langsung saja ia siarkan, mustika itu berada ditanganku? Kenapa beritanya harus bertahap begitu?” tanya Khu Pek Sim dengan heran, sambil menghampiri mereka.

“Kuduga, orang itu ingin mengumpulkan lebih dahulu, orang orang rimba persilatan dari segala penjuru di kota Lok Yang, setelah terkumpul banyak, baru ia siarkan berita itu agar serentak ratusan orang menyerbu ke Lok Yang Piaukok” kata orang brewokan itu setelah berpikir sejenak.

Lama ketiga orang ini diam tidak berkata. Tidak ada satupun yang berbicara, masing masing sibuk dengan pemikirannya.

Memang jika langsung disiarkan bahwa mustika kemala pelangi berada di tangan Khu Pek Sim, mereka akan menyerbu satu persatu, tentu hasilnya tidak terlalu memuaskan. Lain halnya jika berita itu disiarkan secara bertahap, serbuan ratusan atau ribuan orang, dijamin dapat menghancurkan Lok Yang Piaukok!

Tertera jelas rasa ngeri dan takut yang amat tebal diwajah mereka bertiga. Mereka bukan takut kepada orangnya. Yang mereka takutkan, adalah ketelitian dan kecermatan orang itu mengatur rencana yang matang!

Jika peristiwa ini terjadi, benar benar akan menjadi suatu peristiwa yang mengerikan!

Buyung Hong menghela napas, lalu katanya
“Walau berita itu sudah bukan suatu rahasia lagi, tapi kau telah melupakan sesuatu”

Orang brewokan itu memandang Buyung Hong dengan pandangan bertanya,
“Kau lupa, saat ini tidak ada yang tahu, Khu Congpiautau berada dikota Po-Ting”

Tiba tiba paras muka orang brewokan itu menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali. Baru teringat olehnya, darimana Buyung Hong mengetahui jejak Khu Pek Sim?

“Darimana kau...?!....praaakk” Tanpa sempat menyelesaikan pertanyaannya, kepala orang brewokan itu hancur, terhajar pegangan lengan kursi yang dilempar Buyung Hong.

Khu Pek Sim meloncat menghindari muncratan darah yang menyebar kesana sini.

“Kenapa kau bunuh dia?” tanya Khu Pek Sim sambil mengerutkan kening.

Buyung Hong berdiri dari kursinya, sebelum menjawab,
“Sebab Aku kenal dengan mereka. Kutahu merekalah yang membunuh hartawan Kang Siok Ih sekeluarga dan memperkosa anak dan istrinya”.

Khu Pek Sim terperanjat! Dia memang pernah mendengar peristiwa yang menghebohkan itu. Hartawan Kang Siok Ih yang terkenal, selain kedermawaannya menolong orang susah, ia juga memiliki tujuh orang putri yang cantik jelita. Tak nyana, suatu hari mereka kedapatan tewas secara mengerikan dengan anak istri dalam keadaan telanjang bulat

“Apakah kau akan membela gerombolan jai hoa cat?” tanya Buyung Hong lagi dengan getir.

Khu Pek Sim terdiam. Ia tidak ingin memperpanjang urusan ini. Urusan yang berkecamuk dibenaknya sudah banyak.

Cukup lama Buyung Hong menatap Khu Pek Sim,
“Kutahu apa yang sedang kau pikirkan” katanya dengan perlahan.

Khu Pek Sim tidak menjawab, ia berjalan meraih tombaknya sambil berpikir. Ia benar benar menguatirkan keselamatan Lok Yang Piaukok. Ia sedang bimbang, haruskah ia kembali kesana? Atau meneruskan tugasnya yang sudah setengah jalan?

“Kau tidak perlu terlalu kuatir atas keselamatan Lok Yang Piaukok” kata Buyung Hong melanjutkan.
“Kenapa aku tidak perlu kuatir?” tanya Khu Pek Sim tak tahan.
“Sebab aku telah berjumpa seseorang yang sedang menuju kesana. Kujamin, dia akan membantu melindungi keselamatan Lok Yang Piaukok”
“Siapa dia?”
“Mo Tian Siansu” kata Buyung sepatah demi sepatah.
“Kau kenal Mo Tian Suheng?”

Guru Khu Pek Sim adalah sutenya guru Mo Tian Siansu, otomatis dia memanggil suheng kepada Mo Tian Siansu walau berusia lebih tua beberapa tahun.

Buyung Hong mengangguk,
“Bukan hanya kenal bahkan hubungan kami pernah akrab. Darinya kutahu, dia sedang menuju ke Lok Yang Piaukok untuk meminta ijin padamu”
“Ijin apa?” tanya Khu Pek Sim heran bercampur girang mendengar kabar ini.
“Goan Kim Taysu berkenan untuk mengangkat cucumu sebagai ahli warisnya”

Khu Pek Sim tak dapat menahan gelak ketawanya, gembiranya bukan main,
“Ha...ha...ha, pantas kau tak mau mengangkat cucuku sebagai muridmu”

Buyung Hong tersenyum sambil mengangguk.

Sambil menghela napas lega, Khu Pek Sim berkata,
“Ini kabar paling bagus yang kudengar seharian”

Tiba tiba wajah Buyung berubah serius.
“Kupikir, sebaiknya kita lekas pergi dari sini!”

Khu Pek Sim berpikir sejenak, setelah sekian lama, akhirnya mengangguk setuju.
“Memang, sebaiknya kita pergi!”

Segera mereka meninggalkan ruang makan itu. Ruang makan yang kendati tidak terlalu besar, namun selalu buka dan tidak pernah tutup.

Ruang makan yang malam ini, diisi oleh enam orang. Enam orang dengan kepala yang tidak utuh, tewas dengan cara yang mengerikan!.
Warna kuning emas dari sinar matahari pagi, menerangi sebagian wajah Giok Hui Yan yang cantik.
Tan Leng Ko yang melirik kepadanya sekejab, ia menganggap wajah itu masih terlihat pucat, malah makin pucat dibanding semalam.
Menurut pendapat Tan Leng Ko, seharusnya gadis ini, berbaring istirahat dikamarnya. Seharusnya gadis ini tidak keluar rumah, sampai lukanya sembuh. Seharusnya gadis ini tidak bersikeras ikut dengannya ke toko buku Gu-suko.
Sayang... gadis secantik ini, cacat semenjak dilahirkan. Kepala gadis ini terlampau keras, mendekati sifat kepala batu. Nampaknya, sedari kecil gadis ini tidak mengenal kata 'seharusnya'.
Berdua, mereka berkuda berdampingan menuju kota Lok Yang. Sejauh mata memandang, jalanan nampak sepi, Tan Leng Ko menjalankan kudanya dengan perlahan.
Goncangan kuda beberapa kali membuat tubuh Giok Hui Yan terhuyung. Sambil mengerutkan alis, Tan Leng Ko menegur dengan kesal,
“Kulihat lukamu semakin parah, kenapa kau memaksa diri untuk ikut?” .
“Yang semestinya kau tanya, tidak kau ucapkan. Yang tidak perlu diucapkan, malah kau tanya” jawab Giok Hui sambil menyengir.
Tan Leng Ko menghela napas, lalu berkata memberi nasehat,
“Tidak baik seorang gadis belia mempunyai adat sekeras ini, kalau sudah besar susah dapat jodoh”
Sambil menahan sakit, Giok Hui Yan berkata,
“Kutahu watak kebanyakkan lelaki yang lebih mementingkan paras cantik dan badan yang aduhai. Mengenai sifat calon istri, entah diurutan keberapa, sedikitnya ditaruh di nomor paling buntut”
Sambil mengikik diselingi menyeringai sakit, Giok Hui Yan melanjutkan,
“Apalagi seorang gadis cantik biasanya, secara kodrat mempunyai adat keras. Apa kau ingin aku melawan hukum alam?”
Mau tidak mau Tan Leng Ko mengakui, memang tidak banyak perempuan yang boleh dianggap cantik, lebih sedikit lagi perempuan cantik yang tidak beradat keras.
Tiba tiba kening Giok Hui Yan berkerut, ia seperti menyadari satu hal.
“Aku menjadi kuatir” katanya perlahan.
“Apa yang kau kuatirkan?”
“Kukuatir ketika aku setua dirimu, gemar memberi nasehat gratis. Apakah ceriwis hal yang tidak berguna, termasuk kodrat alam menjelang usia lanjut?” tanya Giok Hui Yan sambil cekikikan.
Tan Leng Ko menyengir. Ia mulai menyesal telah mengajak bicara gadis setan ini. Digerakkan tali kendali kudanya, dengan cepat ia melaju meninggalkan Giok Hui Yan.
Sambil tertawa Giok Hui Yan berteriak,
“Sebetulnya kau tidak perlu marah. Semakin kau marah, bukankah aku semakin gembira”
Tidak mau meladeni gadis setan itu, Tan Leng Ko melarikan kudanya dengan kencang, kemudian menghilang ditikungan depan.
Tan Leng Ko sebenarnya tidak marah, ia terlalu tua untuk ribut dengan seorang gadis belia. Ia hanya ingin sendirian agar dapat berpikir dengan tenang.
Ditahan lari kudanya, kembali kudanya berjalan perlahan, tidak terburu buru. Kerja sama yang ditawarkan oleh Giok Hui Yan, juga tidak buru buru ia jawab.
Tan Leng Ko cukup mengerti, Mi Tiong Bun yang disegani oleh orang orang Kang Ouw, memang dapat diandalkan untuk membantu melindungi Lok Yang Piaukok.
Yang membuatnya bimbang, jika ia menyetujui, tentu sukar baginya untuk melindungi rahasia keterlibatan Khu Han Beng.
Tapi ia tidak berkeberatan untuk bersama sama mendatangi toko buku itu. Ia berkeputusan, untuk sementara ini, bertindak sesuai dengan keadaan tanpa suatu ikatan.
Ia menarik napas dalam dalam, tak terasa ia menengok kebelakang. Jalanan pinggir kota masih terlihat sepi, Giok Hui Yan tidak muncul juga dari tikungan. Tan Leng Ko mulai kuatir, seharusnya gadis itu sudah menyusulnya.
Setelah ditunggu sekian lama, yang ditunggunya tidak juga datang, dengan gregetan dia memutar balik dan menggebrak kudanya.
Kecemasan muncul dihati Tan Leng Ko ketika melihat kuda itu berdiri di pinggir jalan dipeluk oleh Giok Hui Yan, yang badannya menelungkup diatas kuda... tidak bergerak!
Bergegas Tan Leng Ko turun dari kudanya, ia tahu luka gadis ini semakin parah,
Ia mulai mengomeli dirinya, tidak seharusnya ia membawa gadis sakit ini ke kota Lok Yang. Tidak seharusnya ia membiarkan gadis sakit ini keluar rumah sebelum lukanya sembuh. Ternyata dirinya juga tidak mengerti kata 'seharusnya'.
Rambut yang panjang tergerai, dan menutupi wajah, tiba tiba bergerak keatas. Giok Hui Yan bangun dengan meleletkan lidah dan membuat muka setan.
“Telah kuperhitungkan kau akan kembali, kutahu kau kuatir dengan keadaanku, ternyata kau memang baik kepadaku” katanya cekikikan.
Merah muka Tan Leng Ko menahan kemarahan, kembali dirinya terjebak oleh gurauan gadis setan ini.
“Kau sebaiknya pulang saja!” katanya dengan ketus.
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan memincingkan mata, kemudian katanya,
“Tahukah kau, semakin kau marah, wajahmu terlihat lebih gagah dan tampan”
Agak gelagapan Tan Leng Ko mendengar perkataan yang diluar dugaannya ini.
Gadis belia ini kalau sudah bicara, memang tidak ada remnya.
“Sayang...!” lanjut Giok Hui Yan sambil menghela napas.
“Sayang apa?” tanpa terasa Tan Leng Ko terpancing.
“Sayang kau sudah tua sekali. Jika kau lebih muda tiga puluh tahun, tentu aku menyukai dirimu” kata Giok Hui Yan kembali cekikikan dengan muka jengah.
Tan Leng Ko ikut jengah sambil menggerutu dalam hati. Dirinya hampir tiga puluh tahun disuruh lebih muda tiga puluh tahun, bukankah ia bakal dianggap seorang bayi?!
“Jika kau tidak lekas diam, kau akan kukawinkan dengan Khu Han Beng” ancam Tan Leng Ko kewalahan.
Sambil mencibir, Giok Hui Yan berkata,
“Aku mah tidak suka cacing buku. Kalau kau suka, boleh juga kujadi mak comblangmu. Jika kau menurut, tentu kau kujodohkan dengan Hong naynay”
“Kau bisa diam tidak?!” bentak Tan Leng Ko kesal. Makin dibiarkan, ucapan gadis ini semakin tidak genah.
Giok Hui Yan menyengir, tangannya mengambil sesuatu barang kecil yang dibungkus dan menyerahkannya kepada Tan Leng Ko.
“Ini untukmu” katanya serius.
Melihat sikap serius gadis ini, Tan Leng Ko menerima dan membukanya
“Apa ini?” tanyanya bingung ketika melihat gula gula yang ada ditangannya.
“Kutahu dalil semakin tua seseorang, semakin mudah merajuk. Bukankah gula gula, merupakan obat yang paling manjur untuk menghibur anak kecil” kata Giok Hui Yan yang tak dapat menahan lagi ketawanya.
Runyam Tan Leng Ko dibuatnya, matanya melotot sangkin gemasnya. Ia tidak tahu mesti berbuat gimana. jika kabur dari sini, ia bisa dianggap benar benar ngambek. Ingin sekali, ia membalas menggoda lagi, tapi hatinya tidak tega melihat keringat dingin yang mengucur di wajah Giok Hui Yan.
Tanpa berbicara, ia meloncat ke kudanya, kemudian menarik tali kendali kuda Giok Hui Yan, dengan perlahan menuju balik ke Lok Yang Piaukok.
“Hei, kau salah arah. Sebenarnya kau hendak kemana?” tanya Giok Hui Yan cemas.
Tan Leng Ko tidak mengacuhkan, ia malah menderap kudanya lebih kencang.
Dengan gugup Giok Hui Yan berkata,
“Baik. Aku tidak akan bergurau lagi denganmu. Lekas kau putar balik. Kita harus menuju ke Lok Yang sekarang juga”
Tan Leng Ko menghentikan lari kudanya,
“Kenapa harus sekarang juga?”
Giok Hui Yan menyadari, jawabannya harus memuaskan Tan Leng Ko, kalau tidak ia akan memaksanya pulang.
“Sebab waktuku sudah tidak banyak lagi... sebab aku benar benar kabur dari rumah. Orang orangku di Lok Yang, tentu dengan diam diam telah melapor kepada ayahku, walau telah kuperintahkan untuk merahasiakan jejakku”
Sambil tertawa senang, Tan Leng Ko berkata,
“Ayahmu tentu tidak tinggal diam, dia akan mengirim orang untuk menjemputmu pulang”
Giok Hui Yan mengangguk sedih.
“Sebaiknya kau memang pulang, mengapa sih kau keluyuran keluar?” tanya Tan Leng Ko tertarik.
“Sebab aku benar benar ingin mendapat kembali kitab pusaka yang hilang itu!”
Tan Leng Ko tertawa sebentar, kemudian katanya,
“Kurasa itu bukan alasanmu yang sebenarnya. Tanggung jawab mencari kitab itu, toh bukan berada di atas pundakmu, melainkan sudah menjadi tugas ayahmu”
Giok Hui Yan berpikir sejenak, setelah menghela napas ia berkata,
“Banyak orang menganggapku pintar, akupun merasa diriku tidak bodoh, namun setelah sekian lamanya, aku tetap tidak berhasil menerka maksud dari pencuri kitab itu”
“Makanya kau ingin sekali berjumpa dengannya?”
“Betul!”
Setelah termenung sekian lama, Tan Leng Ko bertanya,
“Kenapa kalian yakin, toko buku itu terlibat pencurian kitab?”
“Sampai sekarangpun kami tidak terlalu yakin. Berbulan bulan lamanya, kami mencari jejak pencuri kitab itu yang seperti naga sakti tanpa kelihatan ekornya. Sedikitpun kami tidak memperoleh titik terang”
Giok Hui Yan menarik napasnya dalam dalam, kemudian katanya,
“Sebetulnya kami sudah putus asa, sampai suatu hari aku melihat beras didalam lumbung. Seperti mendapat ide gila, secara sembarangan aku mengusulkan untuk mencarinya di toko buku. Karena sudah kehabisan akal, ayahku menyuruh anak buah kami untuk memerhatikan toko toko buku di kota kota besar.”
“Nasib mereka juga mujur” kata Tan Leng Ko dalam hati. Ia tahu, walau kedengaran tugas ini merepotkan, ia yakin, jumlah toko buku di tionggoan tidak terlalu banyak. Lain halnya jika yang dicuri adalah seguci arak. Jumlah warung arak di tionggoan, ia tidak yakin dapat dihitung.
“Dan toko buku di Lok Yang termasuk yang mencurigakan?” tanyanya kemudian.
“Setiap toko buku tentu kami selidiki dengan diam diam. Kami mulai curiga dengan toko buku di Lok Yang, sebab setiap kali kami mengirim orang, tentu ia tergeletak dipinggir kota dalam keadaan tidur pulas, dengan tiga puluh enam urat nadinya tertotok tanpa mengetahui sebabnya”
Dengan heran Tan Leng Ko bertanya,
“Hanya karena alasan itu, kalian curiga?”
Giok Hui Yan tertawa secara aneh,
“Karena kau tidak mengetahui bahwa yang terakhir kami kirim adalah Ou Leng Poo, yang berpangkat tongcu. Kepandaiannya boleh dibilang termasuk kelas satu di rimba persilatan. Untuk mengalahkannya sungguh tidak mudah!”
Agak terkejut juga Tan Leng Ko mendengar hal ini, cepat ia berkata,
“Jadi ia mengalami nasib yang sama, tertotok dan tertidur pulas?”
Dengan tersenyum getir, Giok Hui Yan menjawab,
“Bahkan ia tidak dapat melihat siapa yang melakukannya”
Tan Leng Ko tidak kenal Ou Leng Poo, tapi ia yakin, seorang tongcu dari perguruan Mi Tiong Bun tidak usah diragukan lagi kehebatannya. Nyatanya, ia juga tidak berdaya!
Setelah terdiam beberapa saat, ia berkata,
“Kalian curiga, orang yang berkepandaian tinggi di toko buku itu, bukan mustahil si pencuri kitab itu?”
“Benar!”
“Tapi kan juga bisa jadi seorang cianpwee yang mengasingkan diri di toko buku itu”
Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam, lalu berkata,
“Memang bisa juga begitu. Seperti yang kukatakan tadi, sebenarnya kami tidak terlalu yakin. Kamipun enggan mencari perkara, jika ia tidak terlibat. Apalagi menurut penyelidikkan kami setelah menanyai para tetangga, Gu Cin Liong, pemilik toko buku itu sudah bertahun tahun, tidak pernah keluar kota”
“ Jika ia adalah cianpwee itu, sukar untuk menundingnya telah mencuri di perguruan kalian yang jauh letaknya dari kota Lok Yang” kata Tan Leng Ko perlahan.
“Benar, tapi ini satu satunya titik terang yang kami punyai, kami juga tidak dapat melepaskannya begitu saja”
“Makanya kalian belum menyerbu tempat itu secara terang terangan”
“Benar!”
Tan Leng Ko terpekur beberapa saat, sambil memandang tajam Giok Hui Yan, ia bertanya,
“Kenapa kau mencurigai aku?”
Giok Hui Yan membalas tatapan mata Tan Leng Ko,
“Kan sudah kukatakan, kau bukan jenis yang gemar membaca. Menurut hasil pengamatan kami, hampir semua yang datang ketempat itu, bertampang macam si cacing buku Khu Han Beng. Ketika kau muncul, otomatis kami menjadi heran”
Dengan sorot mata menyelidik, Giok Hui Yan bertanya sepatah demi sepatah,
“Sebetulnya apa tujuanmu ke toko buku itu?”
Tan Leng Ko menghela napas,
“Tujuanku datang kesana, memang untuk menyelidiki toko buku itu” kata Tan Leng Ko mengakui.
Giok Hui Yan memang sudah menduganya, cepat ia bertanya,
“Apa yang kau curigai?”
“Kau sudah tahu, Khu Han Beng gemar sekali membaca. Kupernah memasuki kamarnya dan tanpa sengaja telah menemukan buku buku yang kuheran darimana dia memperolehnya”
Mata Giok Hui Yan seperti bersinar terang,
“Apakah bocah itu mempunyai buku yang semestinya dia tidak miliki?”
“Benar!”
“Apakah jenis buku yang langka?”
“Benar!”
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali,
“Sebetulnya jenis buku apa yang dimilikinya?” tanyanya sepatah demi sepatah.
Tan Leng Ko nampak ragu ragu untuk menjawab.
Melihat keraguan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan cepat mendesak,
“Banyak yang telah kuceritakan, karena kupercaya kepadamu. Kuharap kau juga percaya kepadaku”
Tan Leng Ko diam saja tidak menjawab.
“Kuminta kau berterus terang kepadaku, apakah kitab pusaka Mi Tiong Bun berada di kamar Khu Han Beng?” desak Giok Hui Yan sekali lagi.
Akhirnya Tan Leng Ko menjawab,
“Tentu saja tidak, masakkan seorang bocah kau curigai mempunyai kitab pusaka segala”
Dengan penuh selidik, Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali. Akhirnya, ia menarik napas lega walau terdengar agak kecewa, lalu tanyanya,
“Sebetulnya buku apa yang kau lihat?”
“Buku porno” kata Tan Leng Ko perlahan.
Merah padam muka Giok Hui Yan, ia melengos.
Tan Leng Ko cukup mengetahui, konon katanya walau kejahatan yang paling tua adalah pembunuhan, tapi kejahatan yang paling sering dilakukan orang adalah pelacuran!
Dari jaman dulu perempuan sudah pandai melacur. Memang nafsu birahi lelaki sukar dihindari, dengan sendirinya pelacuran mempunyai peminat yang sangat banyak jumlahnya.
Sesuatu yang digemari oleh banyak orang, dijaman apapun otomatis berkembang menjadi sesuatu yang didagangkan, baik sesuai hukum atau tidak.
Tidak hanya dalam bentuk orang, pelampiasan nafsu birahi diterjemahkan pula dalam lukisan dan susunan kata. Buku buku porno termasuk salah satu yang dijual belikan, walau tidak terang terangan.
Giok Hui Yan terdiam sesaat, kemudian katanya dengan ragu,
“Apa...apa benar buku itu yang kau lihat”
Tan Leng Ko menghela napas,
“Boleh kutunjukkan buku buku itu kepadamu, jika kau tetap curiga padaku”
Tentu saja Giok Hui Yan menolak.
Diam diam Tan Leng Ko geli dalam hati. Ia memang telah menyiapkan jawaban pertanyaan ini. Alasan ia menghentikan percakapan di ruang kerja Khu Pek Sim semalam, adalah agar mendapat waktu yang cukup untuk memikirkan jawaban jawaban yang masuk akal. Tentu saja ia enggan menceritakan alasan sesungguhnya.
Tan Leng Ko tidak mempunyai pilihan lain kecuali berbohong. Dia harus mencegah Giok Hui Yan untuk sembarangan masuk ke kamar Khu Han Beng.
Bukan saja Giok Hui Yan harus menerima alasan ini. Sebagai seorang gadis perawan, tentu ia kesulitan untuk memeriksa kebenaran ucapannya. Tidak ada gadis perawan yang berani memeriksa sesuatu yang bersifat porno.
Giok Hui Yan mendengus,
“Huh! Kutahu bocah itu tidak genah. Ketika kumasuk kamarnya, dia membuka baju dihadapanku. Nampaknya saja bocah itu seperti pelajar alim, tak tahunya berbakat menjadi jai hoa cat”
Tanpa sengaja, Tan Leng Ko telah menanam bibit kesan buruk di hati Giok Hui Yan terhadap Khu Han Beng.
Cepat Tan Leng Ko mengalihkan perhatian Giok Hui Yan,
“Kuyakin tidak sedikit orang pintar di Mi Tiong Bun. Yang masih aku tidak paham, kenapa kaumemerlukan bantuanku?”
“Sebab Khu Han Beng satu satunya yang dekat dengan Gu Cin Liong, tadinya aku hendak meminta bantuannya bukan bantuanmu”
“Kenapa tidak kau minta padanya?”
“Huh! Bocah itu sukar didekati. Doyan buka baju, aku malas berhubungan dengan dia”
Rupanya perbuatan Khu Han Beng membuka baju, membekas dalam dihati Giok Hui Yan.
“Apakah kau mencurigai Khu Han Beng?” tanya Tan Leng Ko dengan tak acuh.
“Tadinya... Setelah kami tahu, dia telah berkunjung ke toko buku itu sudah tahunan lamanya, bahkan sejak dari kecil. Kami tidak beralasan mencurigainya lagi, sebab hilangnya kitab kami baru terjadi dalam hitungan bulan”
“Makanya kau tahu nama, dan tempat tinggalku, karena kalian telah menyelidiki Khu Han Beng dengan seksama”
“Benar. Pertemuan kita di Se Chuan Koan memang kejadian yang kusengaja. Yang membuatku terkejut ketika kau mengunjungi toko buku itu”
“Karena itu, kau memutuskan untuk menyelundup masuk ke Lok Yang Piaukok”
“Tepat!”
“Kenapa baru sekarang kau lakukan?”
“Sebab aku memang belum lama tiba di Lok Yang”
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, ia tahu walau tidak diucapkan, Giok Hui Yan memintanya untuk mengorek keterangan dari Khu Han Beng. Ia juga mempercayai ucapan Giok Hui Yan.
Yang ia kurang percaya, adalah kemampuan dirinya untuk menyelidiki toko buku itu. Kalau pihak Mi Tiong Bun saja kewalahan, kesempatan dirinya berhasil tentu tidak besar.
Tapi bukan berarti dia takut, Tan Leng Ko cukup mengenal dirinya yang jika sudah memutuskan sesuatu, biasanya akan dikerjakan hingga tuntas. Apakah dia akan terluka atau tewas dalam mengerjakannya, biasanya tidak ia terlalu pikirkan.
Yang mesti diucapkan, telah dikatakan. Karena tidak ada lagi yang mesti dibicarakan, Tan Leng Ko segera membalikkan kudanya, diikuti oleh Giok Hui Yan, mereka menuju ke toko buku Gu Cin Liong, toko buku terbesar di kota Lok Yang.
Warna kuning emas dari sinar matahari pagi, menerangi sebagian wajah Giok Hui Yan yang cantik.
Tan Leng Ko yang melirik kepadanya sekejab, ia menganggap wajah itu masih terlihat pucat, malah makin pucat dibanding semalam.
Menurut pendapat Tan Leng Ko, seharusnya gadis ini, berbaring istirahat dikamarnya. Seharusnya gadis ini tidak keluar rumah, sampai lukanya sembuh. Seharusnya gadis ini tidak bersikeras ikut dengannya ke toko buku Gu-suko.
Sayang... gadis secantik ini, cacat semenjak dilahirkan. Kepala gadis ini terlampau keras, mendekati sifat kepala batu. Nampaknya, sedari kecil gadis ini tidak mengenal kata 'seharusnya'.
Berdua, mereka berkuda berdampingan menuju kota Lok Yang. Sejauh mata memandang, jalanan nampak sepi, Tan Leng Ko menjalankan kudanya dengan perlahan.
Goncangan kuda beberapa kali membuat tubuh Giok Hui Yan terhuyung. Sambil mengerutkan alis, Tan Leng Ko menegur dengan kesal,
“Kulihat lukamu semakin parah, kenapa kau memaksa diri untuk ikut?” .
“Yang semestinya kau tanya, tidak kau ucapkan. Yang tidak perlu diucapkan, malah kau tanya” jawab Giok Hui sambil menyengir.
Tan Leng Ko menghela napas, lalu berkata memberi nasehat,
“Tidak baik seorang gadis belia mempunyai adat sekeras ini, kalau sudah besar susah dapat jodoh”
Sambil menahan sakit, Giok Hui Yan berkata,
“Kutahu watak kebanyakkan lelaki yang lebih mementingkan paras cantik dan badan yang aduhai. Mengenai sifat calon istri, entah diurutan keberapa, sedikitnya ditaruh di nomor paling buntut”
Sambil mengikik diselingi menyeringai sakit, Giok Hui Yan melanjutkan,
“Apalagi seorang gadis cantik biasanya, secara kodrat mempunyai adat keras. Apa kau ingin aku melawan hukum alam?”
Mau tidak mau Tan Leng Ko mengakui, memang tidak banyak perempuan yang boleh dianggap cantik, lebih sedikit lagi perempuan cantik yang tidak beradat keras.
Tiba tiba kening Giok Hui Yan berkerut, ia seperti menyadari satu hal.
“Aku menjadi kuatir” katanya perlahan.
“Apa yang kau kuatirkan?”
“Kukuatir ketika aku setua dirimu, gemar memberi nasehat gratis. Apakah ceriwis hal yang tidak berguna, termasuk kodrat alam menjelang usia lanjut?” tanya Giok Hui Yan sambil cekikikan.
Tan Leng Ko menyengir. Ia mulai menyesal telah mengajak bicara gadis setan ini. Digerakkan tali kendali kudanya, dengan cepat ia melaju meninggalkan Giok Hui Yan.
Sambil tertawa Giok Hui Yan berteriak,
“Sebetulnya kau tidak perlu marah. Semakin kau marah, bukankah aku semakin gembira”
Tidak mau meladeni gadis setan itu, Tan Leng Ko melarikan kudanya dengan kencang, kemudian menghilang ditikungan depan.
Tan Leng Ko sebenarnya tidak marah, ia terlalu tua untuk ribut dengan seorang gadis belia. Ia hanya ingin sendirian agar dapat berpikir dengan tenang.
Ditahan lari kudanya, kembali kudanya berjalan perlahan, tidak terburu buru. Kerja sama yang ditawarkan oleh Giok Hui Yan, juga tidak buru buru ia jawab.
Tan Leng Ko cukup mengerti, Mi Tiong Bun yang disegani oleh orang orang Kang Ouw, memang dapat diandalkan untuk membantu melindungi Lok Yang Piaukok.
Yang membuatnya bimbang, jika ia menyetujui, tentu sukar baginya untuk melindungi rahasia keterlibatan Khu Han Beng.
Tapi ia tidak berkeberatan untuk bersama sama mendatangi toko buku itu. Ia berkeputusan, untuk sementara ini, bertindak sesuai dengan keadaan tanpa suatu ikatan.
Ia menarik napas dalam dalam, tak terasa ia menengok kebelakang. Jalanan pinggir kota masih terlihat sepi, Giok Hui Yan tidak muncul juga dari tikungan. Tan Leng Ko mulai kuatir, seharusnya gadis itu sudah menyusulnya.
Setelah ditunggu sekian lama, yang ditunggunya tidak juga datang, dengan gregetan dia memutar balik dan menggebrak kudanya.
Kecemasan muncul dihati Tan Leng Ko ketika melihat kuda itu berdiri di pinggir jalan dipeluk oleh Giok Hui Yan, yang badannya menelungkup diatas kuda... tidak bergerak!
Bergegas Tan Leng Ko turun dari kudanya, ia tahu luka gadis ini semakin parah,
Ia mulai mengomeli dirinya, tidak seharusnya ia membawa gadis sakit ini ke kota Lok Yang. Tidak seharusnya ia membiarkan gadis sakit ini keluar rumah sebelum lukanya sembuh. Ternyata dirinya juga tidak mengerti kata 'seharusnya'.
Rambut yang panjang tergerai, dan menutupi wajah, tiba tiba bergerak keatas. Giok Hui Yan bangun dengan meleletkan lidah dan membuat muka setan.
“Telah kuperhitungkan kau akan kembali, kutahu kau kuatir dengan keadaanku, ternyata kau memang baik kepadaku” katanya cekikikan.
Merah muka Tan Leng Ko menahan kemarahan, kembali dirinya terjebak oleh gurauan gadis setan ini.
“Kau sebaiknya pulang saja!” katanya dengan ketus.
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko dengan memincingkan mata, kemudian katanya,
“Tahukah kau, semakin kau marah, wajahmu terlihat lebih gagah dan tampan”
Agak gelagapan Tan Leng Ko mendengar perkataan yang diluar dugaannya ini.
Gadis belia ini kalau sudah bicara, memang tidak ada remnya.
“Sayang...!” lanjut Giok Hui Yan sambil menghela napas.
“Sayang apa?” tanpa terasa Tan Leng Ko terpancing.
“Sayang kau sudah tua sekali. Jika kau lebih muda tiga puluh tahun, tentu aku menyukai dirimu” kata Giok Hui Yan kembali cekikikan dengan muka jengah.
Tan Leng Ko ikut jengah sambil menggerutu dalam hati. Dirinya hampir tiga puluh tahun disuruh lebih muda tiga puluh tahun, bukankah ia bakal dianggap seorang bayi?!
“Jika kau tidak lekas diam, kau akan kukawinkan dengan Khu Han Beng” ancam Tan Leng Ko kewalahan.
Sambil mencibir, Giok Hui Yan berkata,
“Aku mah tidak suka cacing buku. Kalau kau suka, boleh juga kujadi mak comblangmu. Jika kau menurut, tentu kau kujodohkan dengan Hong naynay”
“Kau bisa diam tidak?!” bentak Tan Leng Ko kesal. Makin dibiarkan, ucapan gadis ini semakin tidak genah.
Giok Hui Yan menyengir, tangannya mengambil sesuatu barang kecil yang dibungkus dan menyerahkannya kepada Tan Leng Ko.
“Ini untukmu” katanya serius.
Melihat sikap serius gadis ini, Tan Leng Ko menerima dan membukanya
“Apa ini?” tanyanya bingung ketika melihat gula gula yang ada ditangannya.
“Kutahu dalil semakin tua seseorang, semakin mudah merajuk. Bukankah gula gula, merupakan obat yang paling manjur untuk menghibur anak kecil” kata Giok Hui Yan yang tak dapat menahan lagi ketawanya.
Runyam Tan Leng Ko dibuatnya, matanya melotot sangkin gemasnya. Ia tidak tahu mesti berbuat gimana. jika kabur dari sini, ia bisa dianggap benar benar ngambek. Ingin sekali, ia membalas menggoda lagi, tapi hatinya tidak tega melihat keringat dingin yang mengucur di wajah Giok Hui Yan.
Tanpa berbicara, ia meloncat ke kudanya, kemudian menarik tali kendali kuda Giok Hui Yan, dengan perlahan menuju balik ke Lok Yang Piaukok.
“Hei, kau salah arah. Sebenarnya kau hendak kemana?” tanya Giok Hui Yan cemas.
Tan Leng Ko tidak mengacuhkan, ia malah menderap kudanya lebih kencang.
Dengan gugup Giok Hui Yan berkata,
“Baik. Aku tidak akan bergurau lagi denganmu. Lekas kau putar balik. Kita harus menuju ke Lok Yang sekarang juga”
Tan Leng Ko menghentikan lari kudanya,
“Kenapa harus sekarang juga?”
Giok Hui Yan menyadari, jawabannya harus memuaskan Tan Leng Ko, kalau tidak ia akan memaksanya pulang.
“Sebab waktuku sudah tidak banyak lagi... sebab aku benar benar kabur dari rumah. Orang orangku di Lok Yang, tentu dengan diam diam telah melapor kepada ayahku, walau telah kuperintahkan untuk merahasiakan jejakku”
Sambil tertawa senang, Tan Leng Ko berkata,
“Ayahmu tentu tidak tinggal diam, dia akan mengirim orang untuk menjemputmu pulang”
Giok Hui Yan mengangguk sedih.
“Sebaiknya kau memang pulang, mengapa sih kau keluyuran keluar?” tanya Tan Leng Ko tertarik.
“Sebab aku benar benar ingin mendapat kembali kitab pusaka yang hilang itu!”
Tan Leng Ko tertawa sebentar, kemudian katanya,
“Kurasa itu bukan alasanmu yang sebenarnya. Tanggung jawab mencari kitab itu, toh bukan berada di atas pundakmu, melainkan sudah menjadi tugas ayahmu”
Giok Hui Yan berpikir sejenak, setelah menghela napas ia berkata,
“Banyak orang menganggapku pintar, akupun merasa diriku tidak bodoh, namun setelah sekian lamanya, aku tetap tidak berhasil menerka maksud dari pencuri kitab itu”
“Makanya kau ingin sekali berjumpa dengannya?”
“Betul!”
Setelah termenung sekian lama, Tan Leng Ko bertanya,
“Kenapa kalian yakin, toko buku itu terlibat pencurian kitab?”
“Sampai sekarangpun kami tidak terlalu yakin. Berbulan bulan lamanya, kami mencari jejak pencuri kitab itu yang seperti naga sakti tanpa kelihatan ekornya. Sedikitpun kami tidak memperoleh titik terang”
Giok Hui Yan menarik napasnya dalam dalam, kemudian katanya,
“Sebetulnya kami sudah putus asa, sampai suatu hari aku melihat beras didalam lumbung. Seperti mendapat ide gila, secara sembarangan aku mengusulkan untuk mencarinya di toko buku. Karena sudah kehabisan akal, ayahku menyuruh anak buah kami untuk memerhatikan toko toko buku di kota kota besar.”
“Nasib mereka juga mujur” kata Tan Leng Ko dalam hati. Ia tahu, walau kedengaran tugas ini merepotkan, ia yakin, jumlah toko buku di tionggoan tidak terlalu banyak. Lain halnya jika yang dicuri adalah seguci arak. Jumlah warung arak di tionggoan, ia tidak yakin dapat dihitung.
“Dan toko buku di Lok Yang termasuk yang mencurigakan?” tanyanya kemudian.
“Setiap toko buku tentu kami selidiki dengan diam diam. Kami mulai curiga dengan toko buku di Lok Yang, sebab setiap kali kami mengirim orang, tentu ia tergeletak dipinggir kota dalam keadaan tidur pulas, dengan tiga puluh enam urat nadinya tertotok tanpa mengetahui sebabnya”
Dengan heran Tan Leng Ko bertanya,
“Hanya karena alasan itu, kalian curiga?”
Giok Hui Yan tertawa secara aneh,
“Karena kau tidak mengetahui bahwa yang terakhir kami kirim adalah Ou Leng Poo, yang berpangkat tongcu. Kepandaiannya boleh dibilang termasuk kelas satu di rimba persilatan. Untuk mengalahkannya sungguh tidak mudah!”
Agak terkejut juga Tan Leng Ko mendengar hal ini, cepat ia berkata,
“Jadi ia mengalami nasib yang sama, tertotok dan tertidur pulas?”
Dengan tersenyum getir, Giok Hui Yan menjawab,
“Bahkan ia tidak dapat melihat siapa yang melakukannya”
Tan Leng Ko tidak kenal Ou Leng Poo, tapi ia yakin, seorang tongcu dari perguruan Mi Tiong Bun tidak usah diragukan lagi kehebatannya. Nyatanya, ia juga tidak berdaya!
Setelah terdiam beberapa saat, ia berkata,
“Kalian curiga, orang yang berkepandaian tinggi di toko buku itu, bukan mustahil si pencuri kitab itu?”
“Benar!”
“Tapi kan juga bisa jadi seorang cianpwee yang mengasingkan diri di toko buku itu”
Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam, lalu berkata,
“Memang bisa juga begitu. Seperti yang kukatakan tadi, sebenarnya kami tidak terlalu yakin. Kamipun enggan mencari perkara, jika ia tidak terlibat. Apalagi menurut penyelidikkan kami setelah menanyai para tetangga, Gu Cin Liong, pemilik toko buku itu sudah bertahun tahun, tidak pernah keluar kota”
“ Jika ia adalah cianpwee itu, sukar untuk menundingnya telah mencuri di perguruan kalian yang jauh letaknya dari kota Lok Yang” kata Tan Leng Ko perlahan.
“Benar, tapi ini satu satunya titik terang yang kami punyai, kami juga tidak dapat melepaskannya begitu saja”
“Makanya kalian belum menyerbu tempat itu secara terang terangan”
“Benar!”
Tan Leng Ko terpekur beberapa saat, sambil memandang tajam Giok Hui Yan, ia bertanya,
“Kenapa kau mencurigai aku?”
Giok Hui Yan membalas tatapan mata Tan Leng Ko,
“Kan sudah kukatakan, kau bukan jenis yang gemar membaca. Menurut hasil pengamatan kami, hampir semua yang datang ketempat itu, bertampang macam si cacing buku Khu Han Beng. Ketika kau muncul, otomatis kami menjadi heran”
Dengan sorot mata menyelidik, Giok Hui Yan bertanya sepatah demi sepatah,
“Sebetulnya apa tujuanmu ke toko buku itu?”
Tan Leng Ko menghela napas,
“Tujuanku datang kesana, memang untuk menyelidiki toko buku itu” kata Tan Leng Ko mengakui.
Giok Hui Yan memang sudah menduganya, cepat ia bertanya,
“Apa yang kau curigai?”
“Kau sudah tahu, Khu Han Beng gemar sekali membaca. Kupernah memasuki kamarnya dan tanpa sengaja telah menemukan buku buku yang kuheran darimana dia memperolehnya”
Mata Giok Hui Yan seperti bersinar terang,
“Apakah bocah itu mempunyai buku yang semestinya dia tidak miliki?”
“Benar!”
“Apakah jenis buku yang langka?”
“Benar!”
Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali,
“Sebetulnya jenis buku apa yang dimilikinya?” tanyanya sepatah demi sepatah.
Tan Leng Ko nampak ragu ragu untuk menjawab.
Melihat keraguan Tan Leng Ko, Giok Hui Yan cepat mendesak,
“Banyak yang telah kuceritakan, karena kupercaya kepadamu. Kuharap kau juga percaya kepadaku”
Tan Leng Ko diam saja tidak menjawab.
“Kuminta kau berterus terang kepadaku, apakah kitab pusaka Mi Tiong Bun berada di kamar Khu Han Beng?” desak Giok Hui Yan sekali lagi.
Akhirnya Tan Leng Ko menjawab,
“Tentu saja tidak, masakkan seorang bocah kau curigai mempunyai kitab pusaka segala”
Dengan penuh selidik, Giok Hui Yan menatap Tan Leng Ko lama sekali. Akhirnya, ia menarik napas lega walau terdengar agak kecewa, lalu tanyanya,
“Sebetulnya buku apa yang kau lihat?”
“Buku porno” kata Tan Leng Ko perlahan.
Merah padam muka Giok Hui Yan, ia melengos.
Tan Leng Ko cukup mengetahui, konon katanya walau kejahatan yang paling tua adalah pembunuhan, tapi kejahatan yang paling sering dilakukan orang adalah pelacuran!
Dari jaman dulu perempuan sudah pandai melacur. Memang nafsu birahi lelaki sukar dihindari, dengan sendirinya pelacuran mempunyai peminat yang sangat banyak jumlahnya.
Sesuatu yang digemari oleh banyak orang, dijaman apapun otomatis berkembang menjadi sesuatu yang didagangkan, baik sesuai hukum atau tidak.
Tidak hanya dalam bentuk orang, pelampiasan nafsu birahi diterjemahkan pula dalam lukisan dan susunan kata. Buku buku porno termasuk salah satu yang dijual belikan, walau tidak terang terangan.
Giok Hui Yan terdiam sesaat, kemudian katanya dengan ragu,
“Apa...apa benar buku itu yang kau lihat”
Tan Leng Ko menghela napas,
“Boleh kutunjukkan buku buku itu kepadamu, jika kau tetap curiga padaku”
Tentu saja Giok Hui Yan menolak.
Diam diam Tan Leng Ko geli dalam hati. Ia memang telah menyiapkan jawaban pertanyaan ini. Alasan ia menghentikan percakapan di ruang kerja Khu Pek Sim semalam, adalah agar mendapat waktu yang cukup untuk memikirkan jawaban jawaban yang masuk akal. Tentu saja ia enggan menceritakan alasan sesungguhnya.
Tan Leng Ko tidak mempunyai pilihan lain kecuali berbohong. Dia harus mencegah Giok Hui Yan untuk sembarangan masuk ke kamar Khu Han Beng.
Bukan saja Giok Hui Yan harus menerima alasan ini. Sebagai seorang gadis perawan, tentu ia kesulitan untuk memeriksa kebenaran ucapannya. Tidak ada gadis perawan yang berani memeriksa sesuatu yang bersifat porno.
Giok Hui Yan mendengus,
“Huh! Kutahu bocah itu tidak genah. Ketika kumasuk kamarnya, dia membuka baju dihadapanku. Nampaknya saja bocah itu seperti pelajar alim, tak tahunya berbakat menjadi jai hoa cat”
Tanpa sengaja, Tan Leng Ko telah menanam bibit kesan buruk di hati Giok Hui Yan terhadap Khu Han Beng.
Cepat Tan Leng Ko mengalihkan perhatian Giok Hui Yan,
“Kuyakin tidak sedikit orang pintar di Mi Tiong Bun. Yang masih aku tidak paham, kenapa kaumemerlukan bantuanku?”
“Sebab Khu Han Beng satu satunya yang dekat dengan Gu Cin Liong, tadinya aku hendak meminta bantuannya bukan bantuanmu”
“Kenapa tidak kau minta padanya?”
“Huh! Bocah itu sukar didekati. Doyan buka baju, aku malas berhubungan dengan dia”
Rupanya perbuatan Khu Han Beng membuka baju, membekas dalam dihati Giok Hui Yan.
“Apakah kau mencurigai Khu Han Beng?” tanya Tan Leng Ko dengan tak acuh.
“Tadinya... Setelah kami tahu, dia telah berkunjung ke toko buku itu sudah tahunan lamanya, bahkan sejak dari kecil. Kami tidak beralasan mencurigainya lagi, sebab hilangnya kitab kami baru terjadi dalam hitungan bulan”
“Makanya kau tahu nama, dan tempat tinggalku, karena kalian telah menyelidiki Khu Han Beng dengan seksama”
“Benar. Pertemuan kita di Se Chuan Koan memang kejadian yang kusengaja. Yang membuatku terkejut ketika kau mengunjungi toko buku itu”
“Karena itu, kau memutuskan untuk menyelundup masuk ke Lok Yang Piaukok”
“Tepat!”
“Kenapa baru sekarang kau lakukan?”
“Sebab aku memang belum lama tiba di Lok Yang”
Tan Leng Ko menarik napas dalam dalam, ia tahu walau tidak diucapkan, Giok Hui Yan memintanya untuk mengorek keterangan dari Khu Han Beng. Ia juga mempercayai ucapan Giok Hui Yan.
Yang ia kurang percaya, adalah kemampuan dirinya untuk menyelidiki toko buku itu. Kalau pihak Mi Tiong Bun saja kewalahan, kesempatan dirinya berhasil tentu tidak besar.
Tapi bukan berarti dia takut, Tan Leng Ko cukup mengenal dirinya yang jika sudah memutuskan sesuatu, biasanya akan dikerjakan hingga tuntas. Apakah dia akan terluka atau tewas dalam mengerjakannya, biasanya tidak ia terlalu pikirkan.
Yang mesti diucapkan, telah dikatakan. Karena tidak ada lagi yang mesti dibicarakan, Tan Leng Ko segera membalikkan kudanya, diikuti oleh Giok Hui Yan, mereka menuju ke toko buku Gu Cin Liong, toko buku terbesar di kota Lok Yang.
Tan Leng Ko dan Giok Hui Yan menambatkan kudanya didepan toko kain dua blok dari gang sempit itu.

Tanpa bertanyapun, Giok Hui Yan cukup memaklumi alasan perbuatan Tan Leng Ko yang tidak ingin kuda mereka dikenali. Terutama oleh Khu Han Beng yang setiap saat bisa muncul di toko buku Gu-suko.

Walau kurang mengerti sebabnya, Giok Hui Yan dapat melihat bahwa Tan Leng Ko mempunyai rasa segan terhadap bocah itu. Ia tidak ingin banyak bertanya soal ini, toh tiap orang berhak mempunyai urusan pribadi masing masing. Apalagi, mereka juga menghargai haknya dan tidak usil dengan urusan pribadinya.

Mereka melangkah perlahan menyusuri pinggiran toko toko, jalanan didepan rumah makan Se Chuan Koan semakin penuh dengan orang persilatan yang berkeliaran.

Melihat keramaian ini, tanpa terasa dahi Tan Leng Ko berkerenyit
“Ada apa?” tanya Giok Hui Yan dengan heran.

Tan Leng Ko menghela napas, kemudian katanya,
“Kebanyakkan orang persilatan mempunyai watak ingin menang sendiri. Dua orang saja sudah cukup untuk memulai suatu pertarungan, apalagi dalam jumlah sebanyak ini”

Sembari tertawa kecil, Giok Hui Yan menjawab,
“Yaa, urusan lain mungkin mereka kurang paham, jika disuruh mencari gara gara, tanggung mereka ahli!”

Dengan menatap tajam, Tan Leng Ko berkata perlahan,
“Kuharap kau dapat menahan diri dan tidak menimbulkan keributan”

Baru Giok Hui Yan mau menjawab, tiba tiba terdengar,
“Bruaakkk!!!” sesosok tubuh menjebol pagar tingkat atas rumah makan Se Chuan Koan, melayang turun dengan kepala lebih dahulu.

Bagaikan hujan, titik titik kental berwarna merah bertebaran kemana mana. Usus bewarna putih, panjang melingkar terkuar dari perut orang tersebut yang robek menganga.

Suara tengkorak kepala pecah menghantam jalanan yang keras, menimbulkan kepanikkan banyak orang yang segera kabur menghindar jauh. Sebuah kereta kuda yang sedang berjalanpun mau tidak mau ikut berhenti.

Satu orang berbaju hitam yang berambut ikal panjang tidak ikut menyingkir. Dia berdiri tegak disebelah mayat orang itu, dengan rambut ikalnya yang menjadi lurus dibasahi cipratan darah.

Matanya memancar kilat kemarahan, memandang kelantai atas rumah makan Se Chuan Koan yang tiba tiba menjadi sunyi. Jalanan yang tadi ramai sekarang menjadi lengang. Orang ramai berdesakkan dipinggir jalan ingin menonton kejadian kejadian yang bakal menyusul.

“Kau yang turun atau aku yang naik keatas?” geramnya perlahan.

Terdengar suara lantang tertawa mengejek dari lantai atas,
“Apa kau tidak berani naik kesini?”

Lidah sibaju hitam bergerak menjilati darah yang menetes,
“Aku tidak ingin membunuh orang satu lebih banyak” ujarnya dingin.

Kelihatan sekali, ia berusaha menahan diri. Sorot matanya berubah dari kemarahan, sejenak menjadi sedih, kemudian perlahan tapi pasti berganti dengan rona kebuasan yang timbul diwajahnya yang keriputan.

Dari lantai atas, seseorang berbahu lebar memegang kampak yang berlamuran darah melenting turun. Wajahnya buruk rupa, lucunya ketika ia menyeringai, nampak deretan giginya yang putih dan bagus sekali.
“Apakah kau mempunyai kemampuan untuk membunuhku?”

Sibaju hitam tidak menjawab, ia menatap dingin orang itu, seperti seekor buaya mengincar mangsanya.

“Tahukah kau, siapa dia?” tanya siburuk rupa sekali lagi sambil menunjuk kepada mayat itu.

“Aku tidak perlu tahu siapa dia, aku juga tidak perlu tahu siapa kau. Yang kuketahui hanya satu hal” akhirnya sibaju hitam menjawab dengan lambat.
“Apa yang kau ketahui?”
“Aku sudah tidak mau mengganggu orang, tapi juga tidak ingin diganggu orang”
“Salahmu sendiri, kenapa kau tidak menghindar!”
“Aku memang dapat menghindar”
“Kenapa tidak kau lakukan?”
“Karena aku belum makan siang”

Siburuk rupa menjadi bingung, ia tidak mengerti. Dengan heran ia bertanya,
“Aku tidak paham, apa hubungannya kau sudah makan atau tidak?”
“Begitu kau paham, mungkin sudah terlambat” gumam sibaju hitam sembari menyodokkan tangan kiri kedepan.

Siburuk rupa tidak menghindar, dengan tertawa dingin ia mengayunkan kampaknya dengan cepat menyongsong serangan itu. Ketika kampaknya mencapai sekitar satu inci dari dari pergelangan tangan, jari tangan kiri sibaju hitam tiba tiba bergerak menepis kampak yang kemudian mencelat jauh entah kemana.

Gerakkan sibaju hitam tidak terlihat aneh atau cepat. Hanya perhitungan gerakkannya yang sungguh tepat! Siburuk rupa menjadi melongo terkesima.
Waktu yang sekejap itu, dimanfaatkan oleh sibaju hitam dengan sodokkan tangan kanannya ke dada sebelah kiri.

Rasa sakit yang luarbiasa menyerang siburuk rupa, tubuhnya menjadi dingin dan lumpuh. Sebelum tubuhnya terkulai jatuh, ia sempat melirik genggaman tangan kanan sibaju hitam. Sedetik menjelang ajalnya, ia telah paham, walau ia lebih suka tidak mengerti!

Konon katanya sebelum kedatangan kematian, orang akan teringat banyak hal. Yang ia ingat hanya kemuakkan dan rasa ingin muntah, sebelum kegelapan yang abadi, dingin, dan dalam mulai menyelimuti benaknya...untuk selamanya!

Giok Hui Yan membuang pandangannya, timbul kemarahan diwajahnya yang pucat. Begitu pula Tan Leng Ko, yang hatinya menjadi tenggelam meyaksikan sibaju hitam memakan jantung segar yang masih berdenyut dengan penuh kenikmatan. Suara gigitan dan kelahapannya sungguh menggidikkan hati.

Dengan cepat Giok Hui Yan memegang lengan Tan Leng Ko yang telah bergerak maju. Giok Hui Yan menggeleng perlahan, matanya tetap menatap kedepan, melihat seorang pemuda berwajah tampan, keluar dari kereta kuda yang tadi terhenti dijalan.

Pemuda itu melangkah maju dengan mengulum senyum ramah, matanya menatap Giok Hui Yan beberapa kejap. Nampaknya ia terpesona oleh kecantikkan Giok Hui Yan walau langkahnya tidak berhenti mendekati sibaju hitam yang sedang makan siang.

Pemuda itu memakai baju bewarna biru dan memiliki rambut panjang yang dikepang seperti seekor ular, rambut panjang yang membelit dua kali melingkari lehernya.

Potongan bajunya mengikuti potongan mutakhir seorang bangsawan, tangan kanannya menggoyangkan sebuah kipas yang juga bewarna biru. Nampak serasi sekali dengan penampilannya.

Sibaju hitam tidak menghiraukan kehadiran pemuda itu. Dengan rakus ia menelan sisa makanannya yang terakhir seakan kuatir, pemuda itu akan meminta sebagian.

“Dengan bekal kepandaianmu, semestinya kau memang dapat menghindar” kata pemuda itu dengan halus.

Dengan tawar sibaju hitam menjawab,
“Kau juga dapat menghindar menjadi santapanku, semestinya kau tidak usah mengangguku”

Dengan tertawa dingin, pemuda itu berkata,
“Aku sudah tidak mau mengganggu orang, tapi juga tidak ingin diganggu orang”

Agak melengak sibaju hitam mendengar ucapannya tadi, diulang secara persis.
Dia memandang sekejab kepada kereta yang berhenti ditengah jalan, kemudian katanya,
“Yaa, nampaknya, secara tidak sengaja aku telah menganggu perjalananmu”
“Thi Bin Eng, si pendekar muka besi juga tidak sengaja menganggumu, toh kau tidak memberi ampun kepadanya” kata pemuda itu sembari kipasnya menunding mayat siburuk rupa.

Sibaju hitam termenung sejenak, kemudian katanya dengan dingin,
“Siapa kau?”
“Bok Siang Gak, seorang yang baru berkelana di rimba persilatan”
“Apakah kau ingin mencampuri urusan ini?”

Pemuda yang bernama Bok Siang Gak tertawa halus,
“Thi Bin Eng merobek perut orang itu bukan karena ia dikenal sebagai Giok Bin Cat atau pemerkosa bermuka giok”
“Sebab apa ia membunuhnya?” tanya sibaju hitam tak acuh.
“Sebab Giok Bin Cat hanya memperkosa atau menyukai sesama jenis”
“Apakah Thi Bin Eng telah diperkosa olehnya?” timbul juga rasa ingin tahu sibaju hitam.
“Tidak. Giok Bin Cat telah jatuh cinta kepada Thi Bin Eng”
“Karena tersinggung Thi Bin Eng membunuhnya?”
“Juga tidak. Mereka saling mencinta. Giok Bin Cat mendesak Thi Bin Eng untuk meninggalkan istrinya. Karena hanya dijanjikan berulang kali, Giok Bin Cat mengancam akan menyiarkan hubungan mereka”
“Maka Thi Bin Eng membunuhnya ditempat umum, agar terlihat ia melakukan kewajibannya sebagai seorang pendekar”
“Benar. Giok Bin Cat yang dijanjikan muluk muluk, tentu saja tewas dengan mudah, dari serangan maut Thi Bin Eng yang diluar dugaannya”
“Kematiannya sungguh penasaran sekali” gumam sibaju hitam perlahan.

Bok Siang Gak mengangguk,
“Walau dia jahat, cintanya terhadap Thi Bin Eng tulus sekali. Cinta kasih antara sibagus dan siburuk, biasanya memang berakhir dengan tragedi”
“Kau banyak sekali tahu urusan mereka, apakah kau salah satu kekasih mereka?” tanya sibaju hitam dengan dingin.

Suara tertawa Giok Hui Yan terdengar cukup keras, Bok Siang Gak melirik kepadanya dengan muka merah.

“Walau Thi Bin Eng memang pantas mati, tapi bukan karena alasan ini kau membunuhnya”
“Karena alasan apa aku membunuhnya?”
“Karena kau memang belum makan siang. Kau pernah berjanji tidak akan memakan jantung manusia lagi kecuali orang yang telah mengganggumu”

Wajah sibaju hitam berubah hebat. Setelah termenung sejenak, ia berkata
“Apa yang hendak kau lakukan sekarang”
“Aku ingin melakukan apa yang kau telah lakukan”
“Apakah kau hendak memakan jantungku?”
“Aku bukan Hek I Houw” kata pemuda itu dengan hambar

Terkejut juga Tan Leng Ko mendengar nama ini. Hek I Houw, atau harimau berbaju hitam adalah seorang iblis yang pernah menggemparkan rimba persilatan generasi lampau.

Hobinya yang gemar memakan jantung manusia sempat menimbulkan kemarahan tujuh perguruan besar. Entah kenapa, sudah puluhan tahun ia menghilang tidak terdengar kabarnya, tak nyana iblis ini bisa muncul disini!

“Tak kusangka seorang pemuda yang baru berusia belasan tahun dapat mengenalku” gumam Hek I Houw perlahan.
“Itu mah tidak sulit, tidak banyak orang yang memiliki selera makan sepertimu” ujar pemuda itu halus.

Mendadak senyum yang menghias bibirnya menghilang, dengan kaku pemuda itu berkata,
“Membunuhmu, itu yang sukar!”

Sinar kebuasan kembali terpancar dari mata Hek I Houw,
“Apakah kau mempunyai kemampuan untuk membunuhku?” geramnya

Sebagai jawaban, kipas ditangan pemuda itu diayunkan mengarah mata Hek I Houw yang dengan cepat mengelak. Sebentar saja mereka terlibat disebuah pertarungan yang seru.

Puluhan jurus telah berlalu, yang terlihat hanya kelebatan bayangan mereka disertai debu jalanan yang beterbangan diterpa oleh deru angin pukulan.

“Blaaarrr!!!” sodokkan tangan kanan Hek I Houw bertemu dengan kipas pemuda itu yang kemudian membuat pemuda itu terhuyung mundur lima langkah dengan wajah pucat.

Bentrokkan tenaga sakti barusan, juga membuat tubuh Hek I Houw tergetar, tanpa terasa ia mundur selangkah. Terkejut hatinya melihat kemampuan pemuda itu yang dapat menandinginya.

Betul ia lebih menang tenaga, tetapi sedikit sekali bedanya. Jelas pemuda itu mempunyai asal usul yang tidak sembarangan, tapi ia tidak perduli. Sambil membentak keras, ia meloncat dan menghantam kepala pemuda itu.

Dengan menggigit bibir, pemuda itu menyongsong pukulan dengan kepalan tangan berbareng kipasnya.
“Duarrr!!!” kembali ledakkan angin pukulan berbunyi nyaring. Debu bercampur tanah seperti ditup angin taufan mencelat kesana sini mengaburkan pemandangan.

Dengan tegang Tan Leng Ko memperhatikan pertarungan itu. Ia tidak kenal pemuda itu, tapi sedikit banyak ia bersimpati kepadanya.

Setelah debu mereda, nampak pemuda itu berdiri dengan limbung disebelah liang cukup besar hasil bentrokkan tenaga sakti mereka. Wajahnya pucat pasi, ujung bibirnya menetes darah segar, jelas ia terluka dalam yang cukup parah.

Darah bercampur debu tanah yang menempel dimuka, membuat Hek I Houw terlihat lebih menyeramkan. Ia menatap tajam pemuda itu seperti harimau memandang mangsanya.

Tiba tiba paras muka Hek I Houw menunjukkan suatu perubahan yang aneh sekali...Sinar matanya yang buas seperti meredup kemudian berganti memancarkan sinar ketakutan dan rasa ngeri yang amat tebal..

Suara gerengan harimau yang sedang terluka keluar dari mulutnya. Tanpa diduga tubuh hek I Houw mencelat tinggi ke atas kemudian menghilang dibalik atap rumah makan Se Chuan Koan.

Pemuda itu termangu. Ia tidak mengerti kenapa lawannya yang sudah menang malah merat kabur?

Setelah menghela napas, ia membungkuk badan menyingkirkan sehelai daun segar yang menutupi sebagian dari batang kipasnya yang tadi terjatuh diatas gundukkan tanah dekat liang itu.

Perlahan pemuda itu berjalan menuju kereta kudanya yang tak lama kemudian bergerak menuju kedepan diiringi kerumunan orang orang yang membubarkan diri.

Giok Hui Yan yang terdiam sedari tadi, nampak termenung. Sinar terang seperti memancar dari matanya.
“Apa yang kau lamunkan?” tanya Tan Leng Ko tak tahan.

Giok Hui Yan menarik napas dalam dalam,
“Tidakkah kau rasakan, kejadian tadi rada janggal?”
“Yaa, memang aneh seorang manusia memakan jantung manusia lain mentah mentah”

Giok Hui Yan menggeleng perlahan,
“Kejadian itu memang mengerikan, tapi bukan sesuatu yang aneh”
“Maksudmu?”
“Pohon terdekat berjarak puluhan kaki dari sini, darimana datangnya helaian daun yang menutupi kipas itu?”

Berdesir hati Tan Leng Ko mendengar ucapan ini,
“Gadis ini tahu!” jeritnya dalam hati.

Giliran Tan Leng Ko menarik napas menenangkan hatinya yang berdebar,
“Daun itu hanya salah satu sampah di jalan, buat apa kau pusingkan” katanya datar.
“Tidak mungkin! Jika hanya sampah tentu telah tertimbun gundukkan tanah dari liang hasil bentrokkan pukulan dahsyat itu. Lagipula letak daun itu berada diatas kipas yang terjatuh”
“Sebenarnya, apa maksud perkataanmu?” tanya Tan Leng Ko perlahan.

Giok Hui Yan termenung sebentar, kemudian katanya
“Daun tersebut pasti berada disitu setelah pukulan dilepaskan, bukankah hal ini sebuah kejadian yang aneh?!”
“Mungkin terbang tertiup angin”
“Memang mungkin, tapi daun itu masih terlihat segar, jelas baru dipetik orang”

Mau tidak mau, Tan Leng Ko mengakui daun itu memang seperti baru dipetik. Matanya yang tajam dapat melihat tetesan getah dari ujung tangkai daun tersebut.

Giok Hui Yan menatap tajam Tan Leng Ko,
“Daun itu tentu telah disambit oleh seseorang” katanya sepatah demi sepatah.
“Aku tidak melihatnya” kata Tan Leng Ko

Giok Hui Yan tertawa secara aneh, air mukanya berubah serius,
“Kutahu sebagai ahli golok, kau pasti memiliki mata yang tajam. Ingin kutanya padamu. Jika seseorang dapat menggertak pergi seorang iblis seperti Hek I Houw hanya dengan sehelai daun, dapatkah kau terka kehebatan ilmu silatnya?”

Tan Leng Ko terdiam. Ia paham maksud Giok Hui Yan yang secara tidak langsung mengatakan pemetik daun itu mungkin sekali berhubungan erat dengan sipencuri Kitab Mo Tiong Bun. Apalagi tempat ini memang dekat sekali dengan toko buku Gu-Suko.

Sebetulnya jalan pemikirannya tidak berbeda dengan gadis ini, hanya ia lebih suka tidak mengatakannya.

Setelah berpikir sejenak, ia menarik ujung baju Giok Hui Yan,
“Ayoh kita lekas kesana!” katanya sambil menggeretakkan gigi.

Giok Hui Yan membiarkan dirinya diseret pergi. Setiba didepan gang yang berbau sampah itu, perlahan ia menarik ujung bajunya melepaskan diri.

Jengah juga Tan Leng Ko ketika menyadari, tanpa sengaja ia telah menarik ujung baju gadis ini. Buru buru ia berkata,
“Mungkin pemetik daun itu sedang mengejar Hek I Houw, ini merupakan kesempatan baik untuk kita menyelidiki toko buku itu”

Giok Hui Yan mengangguk,
“Sebaiknya aku tunggu disini saja, agar dapat memperingatkan kau jika Khu Han Beng munculkan diri”

“Dasar setan!” gerutu Tan Leng Ko dalam hati.
“Tadi bersikeras untuk ikut, begitu sampai malah tidak ingin ikut masuk”

Tapi ia hanya berani mengomel dalam hati. Ia cukup paham dalil yang mengatakan, jika kau dapat memahami perubahan tabiat seseorang, yang jelas orang itu bukan seorang perempuan. Jika kau mampu menyelami watak seorang perempuan, dapat dipastikan kau bukan seorang lelaki.

Tan Leng Ko tidak ingin menarik panjang urusan ini. Apapun juga ucapan Giok Hui Yan toh masuk akal.
“Sebaiknya kau tirukan bunyi burung gagak tiga kali” usulnya perlahan.

Secara samar sekali lagi Giok Hui Yan mengangguk. Entah apa yang sedang dipikir olehnya, raut mukanya serius sekali.

“Hey! Kau dengar tidak ucapanku” kata Tan Leng Ko agak keras.

Tersentak Giok Hui Yan dari lamunannya,
“yaa...yaa...yaaa, gagak tiga kali...” agak gelagapan ia menjawab.

Geli bercampur heran, Tan Leng Ko melihat kegugupan gadis itu. Jarang sekali gadis ini menunjukkan sikap demikian. Apapun yang dipikir oleh Giok Hui Yan, sukar bagi Tan Leng Ko untuk percaya, gadis ini mempunyai maksud yang genah, walau ia tetap percaya bahwa Giok Hui Yan tidak berniat jahat padanya.

“Kuingin meminjam kantong kainmu” pinta Tan Leng Ko
“Buat apa?” tanya Giok Hui Yan heran.
“kau mau berikan tidak?”

Dari lapisan dalam baju luarnya, dengan berat hati Giok Hui Yan memberikan kantong kain berisi kumpulan ronce ronce pedang.
“Sebaiknya kau jaga baik baik mustikaku” pintanya dengan sangat.
“Orang harus melangkahi mayatku, sebelum kubiarkan merebut mustikamu” jawab Tan Leng Ko asal lalu, kemudian melangkah pergi memasuki toko buku Gu-Suko.

Terharu sekali Giok Hui Yan mendengar perkataan ini. Dia tidak menyangka begitu besar perhatian Tan Leng Ko kepadanya.

Toko ini tetap saja sepi, jumlah pengunjung dengan jumlah buku buku benar benar tidak sebanding. Dia tidak sendirian, selain dirinya, masih ada seorang lain yang sedang membersihkan buku dengan kebutan debu. Ia menoleh memandang Tan Leng Ko cukup lama, kemudian menghentikan pekerjaannya.

Jelas orang itu bukan pelayan tua yang dulu. Usianya sebaya dengan dirinya, atau mungkin lebih tua beberapa tahun. Wajahnya tampan, walau sudah nampak kerutan disekitar matanya.

Pakaiannya sederhana ditambah kulitnya yang bersih, nampak sekali orang ini mempunyai kebiasaan mandi setiap hari. Tan Leng Ko yakin, dalam satu minggu orang ini lebih sering mandi dibanding Lo Tong dalam sebulan.

Kesan suka timbul disanubari Tan Leng Ko terhadap orang ini. Juga ia seperti melihat sesuatu yang tidak asing walau mereka baru berjumpa untuk pertama kali.

Sayang, ia juga merasa orang ini seperti dirundung kesusahan. Mungkin kesan murung timbul dari sorot matanya yang seperti acuh lagi hambar. Apakah orang ini Gu Cin Liong, Gu-Suko pemilik toko buku ini? Tan Leng Ko menduga dalam hati.

“Beli dua, dapat satu buku gratis” kata orang itu lambat.

Merinding bulu kuduk Tan Leng Ko mendengar ucapan ini. Cara orang ini berbicara sangat datar, tanpa irama, tidak mencerminkan suatu perasaan.... Ia seperti sedang berbicara dalam hati!

“Kuingin melihat lihat dulu” ujar Tan Leng Ko dengan dingin, otomatis kesan sukanya menjadi berkurang banyak.

Dengan perlahan ia meletakkan kantong kain yang dibawanya diatas jejeran kitab, kemudian sekenanya dia mengambil sebuah buku. Matanya melirik ke pintu belakang yang setengah terbuka. Tidak banyak yang dapat dilihatnya, hanya sebagian halaman belakang diantara tiang tiang penyanggah.

Mendadak terdengar tiga kali suara yang semestinya seperti bunyi burung gagak. Belum pernah Tan Leng Ko mendengar suara gagak semacam ini. Mana ada burung gagak bersuara merdu seperti itu!

Orang itu menoleh kepada Tan Leng Ko, walau tidak mengatakan apa apa, sinar matanya seperti mengandung senyuman.

Tan Leng Ko menyengir. Terasa olehnya, orang ini serasa menyindir, seakan akan tahu maksud kedatangannya bukanlah untuk membeli buku.

Secara sembarang, Tan Leng Ko meraih tiga buku dan meletakkan setahil perak diatas meja kasir.
“Kuingin melihat suara apa itu” kata Tan Leng Ko dengan jengah, cepat ia berlari keluar.

Giok Hui Yan menarik tangannya dan bergegas mengajak masuk ke sebuah toko yang menjual berbagai bentuk porselin.

Dari jendela toko yang terbuka, tak lama kemudian Tan Leng Ko mengintip Khu Han Beng memasuki gang sempit itu.

“Kau membeli buku apa?” tanya Giok Hui Yan yang tertarik melihat buku buku ditangan Tan Leng Ko.

“Akupun tidak tahu” kata Tan Leng Ko seraya melirik ketangannya.
“Omitohud!” kata Giok Hui Yan sambil meleletkan lidah.

Geli juga Tan Leng Ko ketika ia melihat kitab yang dibelinya ternyata merupakan kitab ajaran Budha.
“Omitohud!” serunya perlahan seraya memasukkan buku itu ke bagian dalam baju di saku sebelah dada kiri.

Giok Hui Yan tertawa perlahan, kemudian katanya,
“Kutahu kau tidak punya banyak bakat, kujamin kau berbakat sekali menjadi seorang pendeta”
“Dan kau berbakat menjadi seorang nikouw” omel Tan Leng Ko.

Sambil menyeringai, Giok Hui Yan memicingkan matanya,
“Yaa, bentuk kepalamu jika digundulkan hingga plontos, tentu serasi sekali dengan warna pakaianmu”
“Gundul dengkulmu!” balas Tan leng Ko dengan gemas.

Selesai berkata, ia pun tidak dapat menahan tawanya suara cekikian Giok Hui Yan, orang orang didalam toko sampai menengok heran ke mereka berdua yang tidak peduli dengan pandangan orang lain.

“Apa yang kau ketemukan disana?” tanya Giok Hui yan setelah puas tertawa.
“Aku tidak sempat melihat banyak”

Lalu Tan Leng Ko menceritakan apa yang dialaminya. Giok Hui Yan menghela napas selesai mendengar penuturan ini.
“Dugaanmu tidak salah, orang yang kurang semangat hidup itu memang Gu Cin Long, pemilik toko buku itu” ujarnya perlahan.
“Ia tidak terlalu mirip seorang locianpwee sakti” gumam Tan Leng Ko.
“Kami pernah mengujinya, ia memang orang biasa yang tidak mempunyai kepandaian silat”

Tan Leng Ko percaya dengan ucapan ini. Seseorang yang berkepandaian tinggi biasanya mempunyai semacam ciri, jika keningnya tidak menonjol, tentu matanya mencorong mengkilat.

Sorot mata Gui Cin Liong jelas hanya sorot mata orang biasa yang tidak pandai bersilat, seperti sorot mata Khu Han Beng.

Setitik ingatan berkelebat di benak Tan Leng Ko, membuatnya tertegun. Bentuk mata Gu Cin Liong banyak mirip dengan bentuk mata Khu Han Beng, pantas ia mempunyai perasaan seperti pernah mengenal Gu Cin Liong sebelumnya.

Apakah hubungan akrab mereka sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan fisik Khu Han Beng?

Tan Leng Ko belum pernah menikah, tapi banyak temannya yang sudah, bahkan sampai ada yang telah menjalani pernikahan hingga puluhan tahun lamanya.

Konon katanya hubungan akrab maupun hubungan cinta kasih dapat merubah fisik seseorang. Wajah suami istri yang saling mencinta lama lama bisa menyerupai satu dengan yang lainnya.

Bukankah Tiada kekuatan yang lebih dahsyat daripada cinta kasih!

Giok Hui Yan cepat menarik kepalanya dari jendela, Khu Han Beng yang baru saja keluar dari gang sempit itu seperti melirik kearahnya.
“Ada apa?” tanya Tan Leng Ko cepat.
“Bocah mesum itu, baru saja keluar dari sana” jawab Giok Hui Yan sambil mencibir.

Mendengar julukan Giok Hui Yan terhadap Khu Han Beng, Tan Leng Ko hanya dapat menarik napas.
“Mana kantong kainku?” tanya Giok Hui Yan.
“Sengaja kutinggalkan disana”
“Supaya kau mempunyai alasan untuk kembali kesana?”

Tan Leng Ko mengangguk.

Setelah termenung sejenak, Giok Hui Yan berkata perlahan,
“Toko buku itu hanya sebuah toko, setahu kami tidak ada yang aneh ditempat itu”
“Dan tempat yang harus kuselidiki?”
“Dari gang buntu itu Kau harus meloncat tembok, memasuki pekarangan belakang toko buku”
“Kenapa kau tidak bilang sedari tadi?” tanyanya kesal.

Kali ini Tan Leng Ko benar benar tidak dapat menebak maksud tujuan Giok Hui Yan sesungguhnya. Sesaat ia bersikeras untuk menyelidiki tempat itu bersamanya, disaat lain, gadis ini seperti mencegahnya.

Giok Hui Yan seperti hendak mengatakan sesuatu tapi akhirnya memilih tutup mulut. Melihat gadis itu tidak mau menerangkan alasannya, Tan Leng Ko melangkah keluar.

“Kau hendak kemana?” tanya Giok Hui Yan yang mengejarnya keluar.
“Kudatang kesini bukan untuk membeli buku” jawab Tan Leng Ko datar.
“Sekarang, kau tidak boleh mengunjungi perkarangan itu!”
“Kenapa tidak?”

Semenjak melihat kemunculan daun itu, timbul keraguan dihati Giok Hui Yan. Ia yakin si pencuri kitab benar benar berada disini.
“Kukuatir sesuatu buruk terjadi atas dirimu. Kepandaian orang itu tingginya bukan main, kau bukan tandingannya” setengah berbisik Giok Hui Yan mengutarakan isi hatinya.

“Kau sudah tahu aku bukan tandingannya, toh kau ceritakan juga mengenai perkarangan belakang itu. Bukankah kau mengetahui, aku pasti akan kesana” dengus Tan Leng Ko pelan.

“Aku tidak ingin membohongimu, tapi aku juga tidak ingin kau celaka” pedih hati Giok Hui Yan melihat sikap Tan Leng Ko yang seperti curiga padanya.

Tak tega Tan Leng Ko melihat mata yang indah berkaca kaca oleh air mata, lekas ia menghibur,
“Paling paling aku hanya tertotok, tertidur di pinggir jalan bukan masalah bagiku”
“Kau tidak tahu, selain tertotok tidur, sebagian orang kami seperti tongcu Ou Leng Poo dimusnahkan kepandaiannya” akhirnya Giok Hui Yan berterus terang.
“Dan sebagian yang lain?”
“Sebagian yang lain tewas dengan cara yang mengerikan” jawab Giok Hui Yan dengan sedih.

Tan Leng Ko berpikir sejenak, ia masih percaya Giok Hui Yan tidak berbohong. Tapi sekarang ia juga sadar, tidak semua keterangan telah diberikan oleh gadis ini.
“Kenapa kalian tidak segera membalas dendam?”
“Sebab kami kurang yakin sipencuri kitab itu yang telah melakukan pembunuhan”
“Orang itu telah mencuri, dan kalian tidak yakin ia melakukan pembunuhan”

Dengan tertawa getir, Giok Hui Yan menjawab,
“Menurut ayahku, ditinjau dari cara pencuri kitab menggores daun, sukar untuk mencegahnya jika ia berkeinginan melakukan pembantaian di Mi Tiong Bun.
Orang yang kami kirim ke toko buku itu, kecuali Ou Leng Poo, kebanyakkan juga dari tingkat rendahan, makanya kami menjadi kurang yakin pencuri itu melakukan pembunuhan. Apalagi...?!”

Giok Hui yan nampak ragu untuk meneruskan.

“Jika kau ingin bantuanku, kuminta kau tidak lagi menahan keterangan” desak Tan Leng Ko.

Setelah menarik napas panjang, Giok Hui Yan berkata,
“Orang kami diketemukan tewas dengan luka tipis dibagian dada yang menembus hingga membolongi bagian punggung sebesar mangkuk besar”
“Luka dari hawa pedang?”
“Benar!”
“Apa pencuri kitab itu, tidak menggunakan pedang?”

Giok Hui Yan menggeleng,
“Kami tidak tahu, yang kami tahu luka semacam itu hanya dapat disebabkan oleh Hay Thian Sin Kiamsut”
“Hay Thian Sin Kiamsut?”
“Jurus pedang andalan Mi Tiong Bun dari kitab Hay Thian Sin Kiamboh” ujar Giok Hui Yang sepatah demi sepatah.
“Kitab yang hilang dicuri?”
“Benar!”
“Apa tidak mungkin pencuri itu telah mempelajari dan menggunakan jurus tersebut”
“Ayahku bilang, tenaga sakti pencuri kitab itu sudah mencapai taraf tiada tara, jika ia yang menggunakan jurus tersebut, tentu korbannya hancur berkeping keping. Tidak mungkin hanya meninggalkan bolongan sebesar mangkuk”

Tan Leng Ko terdiam. Sebagai ketua Mi Tiong Bun, ayah Giok Hui Yan sudah pasti seorang ahli pedang. Penilaiannya mengenai urusan pedang, tentu tidak bakal salah.

Rupanya masalah yang dihadapi pihak Mi Tiong Bun, tidak hanya sekedar kehilangan kitab saja. Ada kemungkinan terjadi suatu penghianatan didalam perguruan misterius itu.

Sekarang Tan Leng Ko mulai mengerti, kenapa Giok Hui Yan seperti enggan menceritakan semuanya sekaligus. Selain, si pencuri kitab, siapa lagi yang mampu melakukan jurus Hay Thian Sin Kiamsut, kecuali orang Mi Tiong Bun sendiri?

Giok Hui Yan tentu segan menceritakan borok sendiri kepada orang lain.

Tan Leng Ko menarik napas panjang, ia tidak ingin terlibat urusan dalam sebuah perguruan. Perlahan ia menggerakkan kakinya mengarah ke gang sempit itu.
“Kujanji untuk menjaga kantong kainmu, bagaimanapun juga aku harus mengambilnya kembali” ujar Tang Leng Ko tanpa menghentikan langkahnya.

Giok Hui Yan cukup paham, niat lelaki sejenis Tan Leng Ko tidak dapat dihentikan hanya dengan kata kata. Tan Leng Ko pasti akan mengunjungi perkarangan belakang itu.
“Kau harus hati hati!”
“Jangan kuatir, nasibku selalu mujur” terdengar jawaban Tan Leng Ko sebelum menghilang dibalik tikungan.

Lama Giok Hui Yan termangu dipinggiran jalan. Rasa perih kembali muncul dari bahu kirinya, ia tahu luka dalamnya semakin parah. Tapi luka hatinya lebih parah lagi.

Memang rencananya, ia ingin memanfaatkan orang orang Lok Yang Piaukok untuk kepentingannya. Yang dia tidak perhitungkan, ternyata mereka memang sangat baik padanya. Giok Hui Yan menggigit bibirnya, ia tidak berani membayangkan jika sesuatu menimpa Tan Leng Ko, dirinya tentu....

Mendadak, bahunya ditepuk orang dari belakang, dengan cepat Giok Hui Yan menoleh. Pek Kian Si yang berbaju kuning emas sedang menyeringai dihadapannya.
“Semestinya,kau yang harus berhati hati” katanya dengan seram.

Giok Hui Yan menjerit kaget, cepat ia melompat menuju gang sempit itu.

Sementara itu, begitu menutup pintu masuk toko buku itu, didapati olehnya Gu Cin Liong seperti sedang berdiri menunggu kedatangannya. Sebelum Tan Leng Ko sempat berkata, Gu Cin Liong menyodorkan tangan kanannya yang memegang kantong kain Giok Hui Yan.

Seraya mengucapkan terima kasih, Tan Leng Ko menerima kantong kain tersebut,. Mendadak, kaki kanannya kesandung kaki kirinya, tubuhnya menjadi limbung dan pundaknya menubruk tubuh Gu Cin Liong, yang tanpa dapat dicegah lagi terjengkang jatuh.
“Bluuuk.....Bluuuk!” suara tubuh Gu Cin Liong menimpa lantai terdengar jelas sekali.

Cepat Tan Leng Ko menarik bangun Gu Cin Liong seraya minta maaf kepadanya. Tan Leng Ko yang baru saja menguji Gu Cin Liong tidak begitu heran, ketika mengetahui ternyata pemilik toko buku ini benar benar tidak mengerti ilmu silat. Bagaimanapun juga, Ia harus mengujinya sendiri untuk mengetahui benar tidaknya ucapan Giok Hui Yan.

Yang ia heran, dirinya tidak ikut terjatuh, kenapa bunyi suara orang jatuh bisa terdengar dua kali? Bahkan suara yang terakhir seperti datang dari luar toko.

Hatinya tiba tiba seperti mendapat firasat yang tidak enak. Seakan dituntun oleh suatu kekuatan yang ia tidak dapat jelaskan, Tan Leng Ko bergegas keluar dari toko buku itu.

Tan Leng Ko menjerit tertahan, ditengah jalan gang sempit itu, tergeletak diam tidak bergerak tubuh Giok Hui Yan yang terkapar.

Secepat kilat, Tan Leng Ko memburu kesana, nampak olehnya napas Giok Hui Yan kembang kempis lambat sekali, darah segar bergolak dari mulutnya. Wajahnya yang pucat, sudah mulai membiru. Giok Hui Yan bukan saja luka parah, bahkan sudah sekarat mendekati ajal.

Dengan tubuh gemetar Tan Leng Ko mengangkat tubuh Giok Hui Yan dari lumpur becek berbau sampah. Segera ia mengerahkan tenaga saktinya ke tubuh Giok Hui Yan.

Hati Tan Leng Ko tenggelam begitu menyadari, aliran tenaga saktinya seperti tenggelam sirna ke dalam lautan yang tanpa terbatas, tiada sambutan dari tenaga sakti Giok Hui Yan.

Cepat Tan Leng Ko memusatkan pikiran, dengan menggeretak gigi, ia mengalirkan terus tenaga saktinya walau cara ini bukan saja merugikan dirinya bahkan dapat membahayakan jiwanya.

Ia tidak perduli. Tan Leng Ko tidak berani mencari tempat, takut terlambat menolong Giok Hui Yan yang keadaannya genting sekali. Lebih dari sepernanakan nasi ia berdiri mematung menggendong tubuh Giok Hui Yan menyalurkan hawa sakti.

Usahanya sedikit berhasil, Giok Hui Yan membuka kelopak matanya.
“Siapa yang tega melukaimu” tanya Tan Leng Ko dengan mata berkaca kaca.
“Peeek.....Kian...Siiiiiii” lirih Giok Hui Yan nyaris tidak terdengar.

Selesai berkata, tubuh Giok Hui Yan terkulai kaku dipelukkan Tan Leng Ko yang menemukan nadi gadis itu telah berhenti berdenyut!

Di gang buntu yang sempit, gelap dan berbau sampah, terdengar suara gerengan yang keras bagaikan seekor harimau yang terluka.
Tan Leng Ko meletakkan kepalanya yang miring diatas dada Giok Hui Yan. Ia mengisak dengan perlahan, air matanya bercucuran dengan deras. Ia memang baru kenal dengan gadis ini. Tapi Tan Leng Ko tidak dapat mengingkari, dari cara tutur kata gadis ini yang nakal, mau tidak mau telah menimbulkan suatu ciri khas di lubuk hatinya.

Bukankah kata kata tidak hanya dapat menggugah perasaan melainkan juga mempunyai pengaruh kuat terhadap tingkah laku seseorang?

Mendadak telinga Tan Leng Ko menangkap suara detak jantung yang lambat dan terdengar lemah sekali. Bergetar tubuh Tan Leng Ko menahan perasaannya yang terguncang. Giok Hui Yan belum mati!

Cepat Tan Leng Ko memeriksa nadi Giok Hui Yan lebih seksama. Ternyata urat nadi dipergelangan tangan Giok Hui Yan telah tergeser dari tempatnya, hingga Tan Leng Ko tidak merasakan denyutnya.

Walau belum tewas, Tan Leng Ko maklum keadaan Giok Hui Yan kritis sekali. Ia harus memberi pertolongan secepat mungkin sebelum terlambat! Hanya bagaimana caranya?

Luka gempuran tenaga sakti biasanya dapat disembuhkan oleh obat mustika. Obat mustika semacam ini selain dia tidak punya, tabib di Lok Yang Piaukok juga tidak memiliki. Ia cukup paham, umumnya, obat seperti itu memang sukar diperoleh!

“Apa harus membawanya ke gunung bunga putih?” gumamnya dalam hati.

Gunung bunga putih, atau Pek Hoa San merupakan tempat tinggal sepasang tabib suami istri yang beradat aneh. Mereka dengan senang hati menyembuhkan penyakit penduduk sekitarnya, tapi enggan menolong orang persilatan.

Mereka beranggapan, orang yang berkecimpungan di rimba persilatan sudah sepantasnya mampus. Mereka seperti tidak ingat, bahwa merekapun orang persilatan, bahkan berkepandaian tinggi.

Jarang sekali yang mencari gara gara dengan mereka, jika tidak terlalu terpaksa.

Tan Leng Ko tidak takut perkara, hanya kuatir dengan kondisi Giok Hui Yan yang buruk, mungkin waktunya sudah tidak keburu.

Walau Pek Hoa San tidak terlampau jauh dari Lok Yang, pergi kesana dengan kereta, tetap akan memakan dua hari. Dua hari yang ia tidak miliki!

Semacam pikiran aneh berkelebat dibenaknya. Setelah menimbangnya sejenak, ia bergumam,
“Apapun juga aku harus mencobanya”

Bergegas Tan Leng Ko sambil menggendong Giok Hui Yan meloncat ke atas tembok di ujung gang buntu kemudian meniti dan melayang masuk perkarangan belakang toko buku Gu-suko.

Ia sudah tidak menghiraukan apakah jebakan maut sedang menunggunya atau seorang sakti yang dapat memusnahkan kepandaiannya. Ia harus dapat berjumpa dengan orang sakti itu yang mungkin mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka Giok Hui Yan dengan tenaga dalamnya.

Yang menyambut kedatangan mereka hanya keheningan dan angin utara yang bertiup perlahan. Tan Leng Ko berdiri termangu ditengah perkarangan yang cukup luas. Perkarangan yang dipenuhi rumput botak yang sudah layu kecoklatan, ciri dari pergantian musim.

Diujung sebelah kiri, dekat sebuah pohon yang masih rindang, terdapat sebuah naungan jalan yang menuju kebelakang sana. Disalah satu deretan tiang naungan jalan, terikat seekor ular sebesar lengan manusia.

Ular itu tidak terlalu panjang, dan juga tidak terlampau pendek. Bersisik putih, kontras sekali dengan bola matanya yang merah. Melihat kedatangan Tan Leng Ko, ular itu mendongakkan kepalanya memandang curiga.

Terdengar suara desis diiringi uap putih yang keluar dari mulut ular itu. Setengah badannya berdiri tegak, lidahnya keluar masuk dari rongga mulut yang berwarna hitam.

Tan Leng Ko belum pernah melihat ular sejenis ini. Setahunya, ujung ekor ular meruncing, ujung ekor ular ini justru pipih melebar. Cabang lidahnya juga tidak umum, yang satu berwarna hitam, dan yang satu lagi berwarna putih. Benar benar seekor ular yang aneh, tapi bukan hal ini yang membuat Tan Leng Ko termangu.

Yang menarik perhatiannya, justru pohon yang masih rindang itu! Ia tidak kenal nama pohon itu, tapi ia cukup mengenal daun yang berbentuk lebar itu. Daun yang ujung tangkainya akan meneteskan getah jika dipetik.

Tan Leng Ko yakin, jenis daun ini yang telah menutupi kipas pemuda yang bernama Bok Siang Gak.

“Kutahu maksud kedatanganmu” Suara lirih tapi jelas terdengar berbisik ditelinga Tan Leng Ko.

Tubuh Tan Leng Ko tergetar, ia tidak dapat menentukan sumber suara itu. Bahkan sulit baginya untuk menerka, apakah suara lelaki atau perempuan?
“Kumohon locianpwee berkenan menyembuhkan dia” pinta Tan Leng Ko dengan sangat.

Lama sekali tidak terdengar jawaban, Tan Leng Ko memeluk erat tubuh Giok Hui Yan kemudian memutarkan badan melihat sekelilingnya.

Suasana sepi sekali, kecuali mereka, tidak ada orang lain. Entah ada dimana locianpwee itu.

“Pihak Mi Tiong Bun gemar mengacau disini, kenapa harus kutolong dia?”
“Sebab....sebab locianpwee telah mencuri kitab Hay Thian Sin Kiamboh mereka, sudah sepantasnya jika locianpwee menyembuhkannya” kata Tan Leng Ko dengan gelisah.
“Apa ada buktinya?”

Walau hanya lirih, Tan Leng Ko seperti menangkap nada keheranan di suara bisikkan itu.

“Ada! Sehelai daun kering yang ditinggalkan di ruang kitab Mi Tiong Bun” jawab Tan Leng Ko.

Kembali suasana hening beberapa saat, kemudian terdengar bisikkan itu berkata,
“Bukan aku yang mencurinya”
“Apa buktinya?” tanya Tan Leng Ko memberanikan diri.
“Kami tidak mengetahui letak perguruan Mi Tiong Bun yang misterius itu. Walau kami berniat, bukan berarti kami telah mencuri Hay Thian Sin Kiamboh”

“Kami?” Tan Leng Ko terpelangak dalam hati. Tiga kali locianpwee ini mengucapkan kata 'kami', apa mereka tediri dari lebih satu orang?

“Apa di helaian daun itu mempunyai guratan simbol?” bisik locianpwee itu.
“Benar helaian daun tersebut tergores tulisan keriting. Tulisan keriting yang banyak terdapat di kamar Khu Han Beng!”
“Hmm....Kutahu kau telah memasukki kamarnya”
“Kenapa kau mengajarinya untuk mencuri?” tanya Tan Leng Ko dengan lantang.
“Pernahkah Khu Han Beng mencuri?”

Tan Leng Ko terdiam. Memang tidak mungkin Khu Han Beng yang melakukan pencurian kitab.
“Tapi salinan kitab Hui Liong Cap Sa Cik, jelas berasal dari Kun Lun Pay!”
“Benar! Tapi bukankah gadis dipelukkanmu telah bercerita bahwa kitab kitab yang dicuri telah dikembalikan”

Kecut juga hati Tan Leng Ko mendengar gerak gerik juga percakapannya dibawah pengawasan seorang sakti tanpa setahu dirinya.
“Aku tidak paham, kenapa setelah kau curi kemudian kau kembalikan?” tanya Tan Leng Ko tak tahan.

Lama tidak terdengar bisikkan perlahan.
“Putri ketua Mi Tiong Bun jika tidak lekas ditolong, sukar untuk diselamatkan jiwanya”

Tan Leng Ko paham, orang ini mencoba mengalihkan perhatiannya, jelas locianpwee ini enggan menjawab. Bagaimanapun juga keselamatan Giok Hui Yan jauh lebih penting dari pertanyaannya.
“Dapatkah ia diselamatkan?” tanya Tan Leng Ko dengan penuh harapan.
“Jalan darah Khi Hay, Thian Tie, Hwee Tie, telah tersumbat darah beku. Begitu pula sembilan nadi penting ditubuhnya. Hanya aliran tenaga sakti yang mengalir tidak putus di dua belas jalan darah yang dapat menyelamatkan gadis itu. Di dunia saat ini, hanya dua orang yang mampu melakukan hal itu”

Baru sekarang Tan Leng Ko mengerti, kenapa tubuh Giok Hui Yan terkulai kaku. Jalan darah Khi Hay jika tertotok atau tersumbat, memang dapat membuat kaku tubuh. Begitu pula jalan darah Hwee Tie yang terletak disikut lengan, nadi yang beku menghalangi peredaran darah, pantas ia tidak berhasil mendengar denyut nadi pergelangan tangan Giok Hui Yan.

Yang Tan Leng Ko tidak mengerti adalah cara pengobatannya. Letak dua belas jalan darah ada yang di lengan, dada, punggung dan sebagainya. Bukankah tenaga sakti yang mengalir tidak putus harus dapat meliuk, berubah dari daya lurus untuk mencapai punggung?

Dengan hati berdebar debar Tan Leng Ko berkata,
“Dua orang itu, tentu yang pertama adalah Goan Kim Taysu, dan yang satu lagi tentu adalah locianpwee sendiri”
“Goan Kim Taysu masih belum mempunyai kemampuan itu”

Kaget juga Tan Leng Ko mendengar hal ini, Goan Kim Taysu telah diakui sebagai jeniusnya didunia persilatan. Kepandaiannya sudah mencapai taraf yang sempurna sekali. Nampaknya kepandaian locianpwee ini jauh lebih tinggi dari Goan Kim Taysu!

Hal yang ia percaya, bukankah Giok Hui Yan telah bercerita ruang kitab Siaulimsi juga kebobolan? Yang ia sukar percaya, ada orang kedua yang melebihi kepandaian Goan Kim Taysu. Apakah ketua dari perguruan Lam Hay Bun?

“Kumohon locianpwee segera menyembuhkan Giok Hui Yan sebelum terlambat”
“Hilangnya kitab Mi Tiong Bun tiada sangkut paut denganku. Sekali lagi kutanya padamu, kenapa harus kusembuhkan dia?”

Tan Leng Ko termenung sejenak, kemudian katanya,
“Kutahu loncianpwee akan menolong dia, hanya mungkin.... mungkin locianpwee ada persyaratan yang harus kupenuhi?”
“Iiihhh...Darimana kau tahu?”

Bisikkan dengan nada terkejut itu membuat tubuh Tan Leng Ko terhuyung. Telinganya seperti mendengar dentuman keras, dadanya seperti dihantam martil dengan keras. Cepat ia menarik napas menenangkan jantungnya yang berdebar keras. Hatinya lega ketika melihat bisikkan yang disertai tenaga sakti itu, tidak mempengaruhi Giok Hui Yan.

Dengan muka masih pucat, Tan Leng Ko menjawab,
“Sebab disekitar ular aneh itu tidak terdapat kotoran, jelas ular itu belum lama dipindahkan. Apalagi sedikit sekali yang berani datang kesini, maka kutahu ular itu sengaja dipertontonkan untukku walau belum dapat kuterka untuk apa”

Setelah menelan ludah, Tan Leng Ko melanjutkan,
“Locianpwee sudah tahu maksud dan kedatanganku, jika tidak mau menolong, tentu tidak akan bersusah payah memindahkannya”

Suasana kembali hening, hanya angin menderu makin kencang. Cukup lama Tan Leng Ko menunggu, akhirnya dia tidak tahan,
“Jika tidak melanggar aturan, apapun yang locianpwee minta tentu akan kulakukan!”
“Jika kupinta kau melompat ke wajan panas, atau menerjang ribuan golok, apakah akan kau lakukan?”
“Tidak! Aku bukan orang bodoh!”

Tan Leng Ko seperti mendengar suara orang tertawa,
“Kau orang pintar, kusuka dengan orang pintar!”
“Apa yang locianpwee ingin kulakukan?”
“Tahukah kau, kenapa kubiarkan kau mengetahui isi kamar Khu Han Beng?”

Giliran Tan Leng Ko yang terdiam, tidak menjawab.
“Kuingin kau menjaga ruang pustaka itu”
“Hanya itu?” tanya Tan Leng Ko dengan heran.
“Tanpa locianpwee pintapun, aku tentu akan menjaga kitab kitab di kamar itu”
“Tentu saja tidak hanya itu, tapi kondisi gadis itu sudah kritis sekali. Kau julurkan tangannya, biar dia digigit sekali oleh Hek Pek Coa”

Tan Leng Ko tertegun. Walau ia baru tahu Hek Pek Coa adalah nama jenis ular itu, ia yakin betul ular itu sangat berbisa. Masakkan racun Hek Pek coa dapat menyembuhkan luka dalam?

Setelah termenung sekian lama, dengan meggigit bibir ia mendekati ular berbisa itu.

Desis Hek Pek Coa semakin keras melihat Tan Leng Ko menghampirinya. Ular itu membuka mulutnya, nampak dari lubang pernapasannya keluar kabut tipis berbau amis. Dengan hati berdebar debar, Tan Leng Ko melambaikan lengan Giok Hui Yan didepan mulut Hek Pek Coa. Secepat kilat, ular itu mematuk sekali meninggalkan dua lubang kecil yang menitik darah, dipergelangan tangan Giok Hui Yan.
“Bagus! Kusuka dengan tindakkanmu yang tegas. Nah sekarang, kau julurkan tanganmu sendiri, dan biarkan ia juga mematukmu sekali”

Kali ini Tan Leng Ko benar benar terperanjat! Ia tidak tahu banyak soal racun, tapi pikirnya, mungkin saja racun Hek Pek Coa dapat melancarkan darah Giok Hui Yan yang beku.

Sedangkan ia tidak sakit, kenapa ia harus juga dipatuk?

Ia membaringkan tubuh Giok Hui yan diatas rumput, kemudian menghampiri Hek Pek Coa yang memandangnya dengan garang. Tanpa berpikir panjang dengan nekat ia menyodorkan tangan kanannya.

Taring Hek Pek Coa yang menembus kulit tangan Tan Leng Ko, dirasakannya seperti tisikan jarum. Ia tidak merasa sakit, hanya rasa linu dan kemeng. Tiba tiba rasa dingin yang luar biasa bercampur rasa panas yang juga luar biasa merambat naik. Tan Leng Ko merasa kepanasan juga menggigil kedinginan.

“Apakah kau tidak curiga, telah kucelakai kalian?” suara bisikkan itu seperti bernada kagum melihat keteguhan dan kecepatan Tan Leng Ko bertindak.

Sambil tertawa perlahan, Tan Leng Ko menjawab,
“Jika locianpwee berniat mencelakai kami, dengan kepandaian yang tinggi, locianpwee dapat melakukannya dengan mudah. Tentu tidak akan mau repot repot begini. Kuyakin locianpwee mempunyai maksud yang dalam. Jika locianpwee mau menjelaskan tentu akan kudengar dengan senang hati”

“Haruskah kujelaskan perbuatanku kepadamu?”
“Ti....tidak harus. Hanya kuyakin, locianpwee akan menyembuhkan dia” gumam Tan Leng Ko perlahan.

Pandangan matanya mulai kabur, dunia sekelilingannya seperti berputar dengan kencang. Tan Leng Ko mencoba mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang bergoyang tapi malah rubuh tidak sadar diri disebelah tubuh Giok Hui Yan.

Suasana perkarangan rumput itu seperti diliputi hawa kematian yang tebal. Angin utara yang tadinya bertiup kencang berhenti mendadak. Desis Hek Pek Coa juga tidak terdengar, ular itu seperti termangu memandang dua korban gigitannya.

Tidak ada yang bergerak, kecuali sebuah bayangan yang berkelebat menyambar tubuh mereka berdua, kemudian menghilang bagaikan bayangan setan yang bergerak cepatnya bukan main.

********************************

Kelopak mata itu terbuka dengan perlahan. Nampak taburan bintang gemerlapan memenuhi angkasa. Suara burung hantu disahuti oleh binatang malam lainnya, menyadarkan Khu Pek Sim dari tidurnya.

Mereka menginap dipinggir sebuah hutan di sebuah lereng gunung yang Khu Pek Sim tidak tahu namanya. Matanya yang masih mengantuk melirik sebentar kepada kedua ekor kuda mereka yang sedang memakan rumput dengan tenang.

Setelah menggeliat badan, ia menghampiri Buyung Hong yang sedang menyusun ranting kayu sehingga nyala api unggun jauh lebih terang.

“Kuheran dengan kelakuanmu” kata Khu Pek Sim sambil meneguk guci arak yang disodorkan Buyung Hong.

Beberapa guci arak mereka peroleh dan mereka boyong dari kereta kuda Lok Yang Piaukok sebelum mereka bakar menjadi abu.

“Kau heran padaku?”
“Kau toh tahu mustika kemala pelangi berada padaku. Kenapa tidak kau rebut saja ketika aku sedang tidur?”

Dengan tertawa Buyung Hong menjawab,
“Aku memang sedang sibuk memarahi diriku. Kenapa tidak main rebut?”

Khu Pek Sim menghela napas,
“Ternyata, kau memang bukan seorang yang rendah”

Buyung Hong ikut menghela napas, katanya perlahan:
“Sebetulnya ingin sekali aku menjadi seorang siaujin... sayang aku tidak dapat”

Khu Pek Sim termenung sebentar, kemudian mengangguk,
“Yaa, kau memang tidak dapat. Melakukan perbuatan rendah mestinya suatu hal yang mudah. Sedikit yang tahu untuk sebagian orang, hal itu sukarnya bukan main”
“Dia tidak dapat, aku bisa!” tiba tiba terdengar suara dingin dari balik bayangan pohon.

Buyung Hong dengan sigap meloncat menjauhi api unggun, kemudian katanya sambil tertawa dingin,
“Kau dapat berada disini tanpa sepengetahuanku, nampaknya kepandaianmu tidak rendah. Kenapa tidak lekas munculkan diri?”

Khu Pek Sim tidak terkejut ketika seorang berkedok muka berjalan perlahan menghampiri mereka. Ia juga tidak kaget mendengar nada suara orang itu yang naik turun. Ia maklum seorang bertenaga dalam tinggi memang dapat mengubah ubah suaranya.

Ia hanya heran dengan kedok orang itu. Kepala orang itu dibungkus seluruhnya oleh bajunya sendiri. Badannya yang telanjang setengah dada kelihatan masih kekar walau kulitnya sudah keriputan, jelas usianya tidak sedikit.

Lengan bajunya diikat kencang dibelakang kepala, hanya dua lubang kain disekitar mata yang agak kendur.

Mata orang itu menatap Khu pek Sim dengan tajam, kemudian serunya,
“Kau berikan mustika kemala pelangi padaku. Kubiarkan kalian hidup”

Sebelum Khu Pek Sim menjawab, Buyung Hong dengan serius berkata,
“Apakah kau bertekad bertarung menentukan mati hidup hanya disebabkan sebuah mustika?”
“Benar!' jawab orang itu tegas.

Buyung nampak ragu, lama sekali ia termenung. Akhirnya setelah menghela napas ia berkata,
“Baik kuiringi kemauanmu”

Tanpa banyak bicara, orang berkedok itu menyodok keempat jari tangannya yang menegak lurus ke tubuh Buyung Hong. Gerakkannya selain cepat juga disertai dengan tenaga penuh.

Khu Pek Sim yang yang berdiri tidak jauh dari Buyung Hong terpaksa ikut menghindar ketika deru angin pukulan yang dingin terasa mengiris wajahnya.

Cara Buyung Hong menghindar selain cepat juga indah luar biasa. Kaki kirinya diangkat, dan tubuhnya yang bertumpu dikaki kanan bergeser dengan licin kebelakang.

Dalam waktu yang singkat, mereka sudah terlibat dalam pertarungan seru yang sudah meliputi puluhan jurus.

Kecepatan tubuh mereka berkelebat membuat kepala Khu Pek Sim mulai berkunang, matanya sudah tidak dapat memandang mereka dengan jelas. Bayangan tubuh mereka seperti bergumul menjadi satu. Cara bertarung jarak dekat semacam ini sangat berbahaya, salah perhitungan satu kali dapat berakibat fatal.

Khu Pek Sim tidak mendengar benturan benturan tenaga dalam, rupanya cara mereka bertempur lebih dititik beratkan kepada tipu muslihat gerakkan ilmu silat.

Entah sudah berapa lama mereka bertempur, jelas tidak sebentar. Ranting kayu di api unggun sudah habis terbakar, yang tersisa hanya redupnya bara api. Sinar terang di ufuk timur mulai menerangi jalannya pertempuran.

Khu Pek Sim menggenggam erat tombaknya. Dilihat dari kemampuan orang berkedok itu mengimbangi kepandaian Buyung Hong yang tinggi untuk sekian lama, Khu Pek Sim yakin, orang itu termasuk orang yang ternama dirimba persilatan. Tentu orang itu tidak ingin dikenal maka memerlukan membungkus wajahnya.

“Bluuuk....!” terdengar suara pukulan yang telak mengena dibarengi tubuh mereka yang berpisah.

Buyung Hong terhuyung mundur sambil meringis kesakitan. Tangannya bergerak cepat menutuk untuk menghentikan kucuran darah yang keluar cukup deras dari lambung kanannya yang terluka.

Khu Pek Sim segera meloncat menghampiri mereka. Diterangi nuansa pagi, ia dapat melihat jelas sebuah telapak tangan bersemu hitam kemerahan yang tertera di dada kiri orang berkedok itu yang menggeletak tidak berkutik. Hanya melihat sekilas, Khu Pek Sim paham, jelas urat besar disekitar jantung orang itu tergetar putus oleh sodokkan tangan Buyung Hong yang dahsyat.

Khu Pek Sim melirik sebentar ke Buyung Hong, kemudian menghampiri mayat itu hendak membuka kedoknya.

“Jangan sentuh dia!' teriak Buyung Hong dengan parau. Teriakkannya membuat tubuhnya tergetar, lukanya kembali terbuka, darah segar membasahi bajunya.

Khu Pek Sim menahan gerakkan tangannya.
“Apa tubuhnya beracun?”

Buyung Hong menggeleng perlahan. Tanpa menghiraukan lukanya, ia bergerak perlahan menghampiri mayat itu. Wajahnya nampak pucat, rupanya lukanya tidak ringan.

Dengan heran Khu Pek Sim bertanya,
“Apa kau tidak ingin tahu, siapa dia sebenarnya?”

Buyung Hong menatap sayu mayat orang berkedok itu, katanya dengan perlahan,
“ lubang mata dikedoknya seperti digunting rapih, hanya tenaga jari Kim Kong Ci dan Im Yang Kiam Ci yang mampu melakukan serajin itu. Dia adalah seorang sahabatku”
“Sahabatmu?” kejut juga Khu Pek Sim mendengar hal ini.

Buyung Hong termangu sebentar, katanya kemudian dengan sedih,
“Sudah puluhan tahun kami berteman, tak kusangka hanya karena urusan mestika kemala pelangi, ia tega melupakan persahabatan”
“Makanya kau juga tega untuk membunuhnya?”

Buyung Hong tertawa getir,
“Semua serangannya mengandung maut, aku tidak diberi pilihan lain olehnya”

Khu Pek Sim menghela napas, ia dapat merasakan kepedihan perasaan Buyung Hong.
“Lukamu nampaknya tidak ringan” ujarnya perlahan.

Buyung Hong seperti tidak mengacuhkan keadaan dirinya, malah ia memandang Khu Pek Sim dengan tajam.
“Dengan kondisiku saat ini, nampaknya aku bukan tandinganmu”
“Yaa, sekarang aku memang dapat mengalahkanmu” kata Khu Pek Sim juga memandang Buyung Hong dengan tajam.

Dengan dingin Buyung Hong berkata,
“Untuk melepaskan diri dariku, sekarang merupakan kesempatan yang paling baik bagimu”

“Aku bahkan dapat membunuhmu” ujar Khu Pek Sim tidak kalah dinginnya.

Buyung Hong memaksa dirinya mengerahkan tenaga dalam yang sudah menyusut banyak. Ia tidak marah atas sikap Khu Pek Sim. Sahabat kentalnya yang dia kenal puluhan tahun saja tega menghianatinya, apalagi Khu Pek Sim yang baru saja dikenalnya.

Hati Buyung Hong tenggelam ketika ia menyadari lukanya ternyata lebih parah dari yang dibayangkannya. Selain darahnya sudah keluar cukup banyak, ternyata serempetan jari Im Yang Kiam Ci yang setajam pedang, juga telah menggetarkan isi perutnya.

Buyung Hong maklum tanpa diserangpun, tak lama lagi ia akan rubuh dengan sendirinya. Mumpung masih bertenaga dengan mengemposkan semangat ia menyerang Khu Pek Sim yang menyongsong tubuhnya dengan ujung tombak.

Muka Buyung Hong mendadak berubah aneh, ketika ujung tombak Khu Pek Sim mengenai tubuhnya. Ia terkejut bukan saja lukanya menyebabkan gerakkannya menjadi lambat sehingga tidak dapat menghindari serangan Khu Pek Sim. Yang membuatnya heran, ia tidak merasa sakit.

Ternyata Khu Pek Sim telah memutar balik tombaknya. Tubuh Buyung Hong terkulai pingsan tertotok oleh ujung tombak dari tangkainya yang tumpul.

********************************

Kelopak mata itu terbuka dengan perlahan. Nampak taburan bintang gemerlapan memenuhi angkasa. Suara burung hantu disahuti oleh binatang malam lainnya, menyadarkan Buyung Hong dari pingsannya.

Setelah menggeliat badan, ia baru menyadari luka dilambung kanannya telah terbalut rapi walau ditandai oleh bercak darah yang telah mengering. Dengan perlahan Buyung Hong bersila kemudian mengatur pernapasannya untuk menyembuhkan luka dalamnya.

Malam semakin larut.
Buyung Hong membuka matanya kemudian menarik napas dalam dalam. Tubuhnya terasa lebih segar setelah bersamadi. Hanya pertunya terasa lapar bukan main. Entah sudah berapa lama ia pingsan, ditilik dari gelapnya malam, sedikitnya sudah lebih dari setengah hari. Perlahan ia berjalan menghampiri api unggun.

Khu Pek Sim sedang menyusun ranting sehingga nyala api unggun jauh lebih besar untuk membakar ayam hutan yang sedang dipanggangnya.

Buyung Hong duduk disebelahnya sambil menerima sobekkan ayam panggang yang berbau semerbak mengundang rasa lapar.

“Kuheran dengan kelakuanmu” kata Buyung Hong disela sela gigitan santapannya.
“Kau heran padaku?”
“Kau toh tahu dengan membunuhku, bukankah urusanmu jauh lebih sederhana?”

Dengan tertawa Khu Pek Sim menjawab,
“Aku memang sedang sibuk memarahi diriku. Kenapa tidak main bunuh?”

Buyung Hong menghela napas,
“Ternyata, kau juga bukan seorang yang rendah”

Khu Pek Sim ikut menghela napas, katanya perlahan:
“Kutahu ketika kau menyerangku, hatimu sedang kecewa setelah dihianati oleh sahabat sendiri, sukar bagimu untuk percaya kepada siapapun”
“Kenapa kau totok diriku?”
“Lukamu sudah mengeluarkan darah cukup banyak, aku tidak melihat jalan lain”
“Dan kau kuatir, aku akan curiga dengan maksud baikmu?”

Khu Pek Sim tidak mengiakan, ia malah mengalihkan pembicaraan,
“Merebut mustika dengan sahabat sendiri, memang suatu perbuatan yang rendah”

Buyung termangu memandang gundukkan tanah yang nampaknya baru digali.
Dengan lambat, ia menghampiri kuburan sahabatnya dan berdiri termenung lama sekali.

“Apakah ia masih kau anggap sebagai sahabatmu?” tanya Khu Pek Sim perlahan.

Dengan tegas Buyung Hong menjawab,
“Yaa, ia tetap sahabatku”
“Walau ia telah menghianati dirimu?”
“Yaa, ia hanya bersalah satu kali kepadaku. Aku harus dapat memaafkannya”

Khu Pek Sim terdiam sejenak, kemudian katanya,
“Apakah aku juga termasuk sahabatmu?”

Buyung Hong tertawa, katanya,
“Kau bukan saja seorang sahabatku, malah sahabatku yang paling baik”

Dengan cepat Khu Pek Sim bertanya,
“Maukah kau menerangkan padaku, darimana kau tahu mustika kemala pelangi berada ditanganku?”

Buyung Hong mengerinyitkan alisnya,
“Kukuatir tempat ini sudah tidak aman lagi”
“Kau kuatir bukan satu hal kebetulan sahabatmu datang kemari?”
“Benar!”

Setelah berpikir sebentar, Khu Pek Sim berkata:
“Kukira temanmu yang pandai Im Yang Kiam Ci memang secara tidak sengaja menemukan jejak kita”
“Kenapa?”
“Sebab ia malu dikenal olehmu, tapi juga tidak tahan untuk tidak merebut mustika kemala pelangi yang mempunyai daya tarik luar biasa”
“Maka ia membungkus kepalanya dan juga mengubah suaranya?”

Khu Pek Sim mengangguk,
“Jika ia mempunyai persiapan yang cukup, tentu tidak perlu repot membuka dan menggunakan bajunya sendiri sebagai penutup kepala”

Buyung Hong mengakui ucapan Khu Pek Sim mengandung kebenaran. Setelah menghela napas, ia berkata:
“Seharusnya dapat kupikirkan hal itu”
“Dari keraguanmu tadi untuk meladeninya bertempur, kuyakin engkau telah mengetahui siapa sebenarnya dia. Banyak hal telah kau pikirkan sehingga pikiranmu menjadi kusut. Aku tidak heran kau terluka dan kau tidak usah heran kenapa tidak berpikir hal itu”

Buyung Hong berjalan perlahan dan kembali duduk didepan api unggun menghadap Khu pek Sim.
“Aku memang lebih banyak menghindar dari menyerang. Kuladeni dia bertempur sekian lama agar ia paham bahwa ia tidak dapat mengalahkanku dan mundur dengan sendirinya”
“Ternyata perbuatanmu membuatnya penasaran dan tersinggung. Ia malah menyerangmu semakin nekat dan tidak memberimu pilihan kecuali membunuhmu”

Kerlingan sedih keluar dari mata Buyung Hong, ia tidak menjawab. Tangannya meraih guci arak dan meminumnya seteguk.

Lama mereka terdiam, terbenam oleh pikirannya masing masing. Akhirnya Khu Pek Sim memecahkan kesunyian,
“Disini dekat air, dan banyak ayam hutan, kukira sebaiknya kita tinggal disini saja hingga lukamu sembuh”
“Bagaimana dengan urusanmu?”
“Kau telah pingsan lebih dari lima hari. Apa salahnya kutunda urusanku beberapa hari lagi”
“Lima hari katamu?!” tanya Buyung Hong terkejut.
“Bukankah perutmu lapar sekali?”

Buyung Hong tidak menjawab, ia menyobek paha ayam dari panggangan api unggun dan memakannya dengan lahap.

Selesai makan dan mencuci tangan disebuah sungai kecil, mereka kembali duduk didepan api unggun sambil menikmati minuman arak.

Khu Pek Sim berkata perlahan memecah keheningan,
“Lima hari kujaga dirimu. Aku tidak takut kedatangan musuh, yang kutakut adalah kesunyian. Sepi sekali tempat ini”

Buyung Hong tertawa mendengar pancingan Khu Pek Sim.
“Kau ingin aku mengisi kesunyian dengan bercerita darimana kutahu mustika kemala pelangi berada ditanganmu”
“Benar!”

Buyung Hong membalikkan ranting api unggun yang belum terbakar. Kemudian tanyanya,
“Tahuka


Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Pilihan : Bu Kek Kang Sinkang 1 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Pilihan : Bu Kek Kang Sinkang 1 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-pilihan-bu-kek-kang.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Pilihan : Bu Kek Kang Sinkang 1 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Pilihan : Bu Kek Kang Sinkang 1 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Pilihan : Bu Kek Kang Sinkang 1 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-pilihan-bu-kek-kang.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar