Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 10

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Sabtu, 17 Desember 2011

Kisah Memanah Rajawali
(Sia Tiauw Enghiong)
Bagian II
Karya : Chin Yung
________________________________________

Dalam kedukaan dan kekhawatiran, Oey Yong cuma ingat menolongi gurunya, maka itu tahu ia kapannya Auwyang Kongcu masuk ke dalam gua, hingga ia seperti lupa yang di belakangnya ada seekor anjing yang galak.
“Berat sakitnya suhu, lekas kau pikirkan daya untuk menolongi,” ia berkata pada pemuda itu. Ia berpaling, mengawasi dengan air mata berlinang-linang.
Melihat roman orang yang sangat menyedihakan itu, Auwyang Kongcu merasa kasihan. Ia berjongkok untuk melihat Ang Cit Kong, kulit muka siapa pucat dan kedua matanya terbalik. Melihat keadaan orang itu, ia justru menjadi girang sekali. Ia berdampingan sama si noa, ia mendapat cium baru harum dari tubuh si nona itu, sedang mukanya kena kebentur rambut orang. Betapa menyenangkan itu?
Kembali pemuda ini tidak dapat mengendalikan diri. Kalau tadi ia cuma menyentuh lengan si nona, sekarang ia mengulur tangan kirinya untuk merangkul pinggang orang.
Oey Yong terkejut, ia menyikut dengan meninju, tempo si anak muda berkelit, ia berlompat bangun.
Auwyang Kongcu jeri kepada Ang Cit Kong, sekarang ia mendapatkan orang tengah rebah sebagai mayat, hatinya menjadi besar sekali. Kalau tadinya ia takut menggunai kekerasan terhadap Oey Yong, sekarang ia berani. Hendak ia memaksa. Maka ia berlompat ke mulut gua, untuk menghalang. Ia tertawa.
“Adik yang baik,” katanya manis, “Terhadap lain orang aku tak biasanya menggunai kekerasan, tetapi kau begini cantik manis, kau botoh sekali, tidak dapat aku menguati hati lagi. Marilah, adik, kau mengasihkan aku satu cium…”
Sembari mengucap demikian, pemuda itu mementang tangan kirinya, ia maju setindak demi setindak.
Hatinya Oey Yong bergoncang keras.
“Ancaman bencana atas diriku hari ini berlipat sepuluh kali daripada ancamana bahaya semasa aku berada di istana Chao Wang,” berpikir si nona ini. “Kalau tidak dapat membinasakan dia, aku mesti membunuh diri. Hanya, mana aku puas…?”
Hanya dengan satu kali menggeraki tangannya, Oey Yong sudah siap dengan tempuling dan jarumnya.
Auwyang Kongcu lantas tersenyum. Ia lantas meloloskan bajunya, untuk dipakai sebagai cambuk lemas. Kembali ia maju dua tindak.
Oey Yong berdiri diam, matanya mengawasi tajam. Ia menanti orang mengangkat kaki. Belum lagi kaki itu diturunkan ke tanah, tiba-tiba ia melompat ke kiri.
Menampak itu, Auwyang Kongcu meneruskan berlompat ke kiri juga, untuk merintangi si nona itu. Tapi justru itu Oey Yong mengayunkan tangannya. Lihay si anak muda, dia menggeraki sabuk bajunya, untuk menangkis serangan jarum itu. Tapi si nona pun lihay, ia memang menggunai siasat, maka tengah pemuda itu membeli diri, ia berlompat, melesat ke luar gua!
Auwyang Kongcu benar-benar lihay, walaupun dia repot, dia toh dapat berlaku gesit luar biasa. Dia berlompat untuk menyusul, maka itu tengah lari, Oey Yong mendengar desiran angin di belakangnya. Itulah desirannya pukulan ke arah punggung. Ia tidak takut, sebaliknya, ia menjadi girang. Bukankah ia memakai baju lapis berduri? Bukankah ia pun sudah nekat? Ia tidak takut mati, asal ia dapat melukai musuh. Maka itu, ia tidak mau menangkis, hanya ia memutar tubuhnya untuk membarengi menyerang!
Auwyang Kongcu tidak berniat membinasakan si nona, kalau ia menyerang, ia melainkan mengancam, ia hendak menggoda saja, maka ketika serangan itu datang, ia batal menyerang terus, ia menangkis serangan itu, lalu ia melompat lebih jauh, untuk mendahului tiba di mulut gua.
Oey Yong berkelehai seperti kalap. Ia menyerang tanpa mengingat pembelaan diri. Dengan begini, kegagahannya seperti tambah satu kali lipat.
Adalah maksudnya Auwyang Kongcu membuat si nona itu letih, tetapi sekarang ia mesti menghadapi serangan bertubi-tubi, terpaksa ia mesti melayani juga. Di dalam keadaan seperti itu, walaupun ia lebih kosen, ia toh kewalahan juga, kesatu ia memang tidak berniat mengambil nyawa si noa, kedua ia mesti berkelahi dengan sebelah tangan, sedang tangan yang lain lagi sakit.
Pertempuran telah berlangsung kira enampuluh jurus ketika mendadak Oey Yong menubruk, sambil menubruk, ia menimpuk dengan jarumnya.
Auwyang Kongcu repot menangkis jarum itu, untuk itu ia mesti mengebas dengan sabuk bajunya. Disamping itu, hebat tubrukkannya Oey Yong, yang menikam ke arah tangan kanannya yang sakit itu. Hendak ia menangkis pula dengan tangan kirinya tetapi sudah tidak keburu, ujung tempuling telah mengenai lukanya itu.
Tapi juga Oey Yong tidak dapat bergirang karena hasil tikamannya itu. Baru ia menikam atau ia merasakan tangannya kesemutan, terus senjatanya terlepas jatuh ke tanah. Sebab di luar sangkaannya, walaupun dia kena ditikam, Auwyang Kongcu mengubah tangkisannya menjadi totokan kepada lengan nona itu dan tepat totokannya itu.
Si nona kaget, ia berlari terus. Ia lari sembari membungkuk.
Auwyang Kongcu tidak hendak melepaskan bakal mangsanya ini. Ia berlompat dengan pesat, ia juga membungkuk, tangan kirinya dilonjorkan ke depan, untuk menotok kaki orang, yang lagi diangkat untuk berlari. Ia berhasil, dua kali ia dapat menotok jitu, mulanya di jalan darah koanciong-hiat di kaki kiri si nona, kemudian di jalan darah tiongtouw-hiat di kaki kanan. Maka tak tempo lagi, baru bertindak dua kali, nona itu sudah lantas terguling roboh!
Lagi sekali Auwyang Kongcu berlompat, bahkan dia mendahului, untuk membeber bajunya, hingga si nona terjatuh di atas hamparan baju itu. Pemuda itu pun menggoda, sembari tertawa ia berkata: “Ah, jangan sampai kau merasa nyeri!”
Oey Yong mendapat pelajaran langsung dari ayahnya, Auwyang Kongcu mewariskan kepandaian pamannya, yang menyayang ia sebagai anak sendiri, maka itu mereka sama-sama mempunyai kepandaian yang lihay. Oey Yok Su gagah, begitu juga dengan Auwyang Hong, bahkan mereka berdua ini berimbang. Dengan demikian, pemuda dan pemudi ini seharusnya sama kosennya juga. Tapi toh Oey Yong kalah! Kenapa? Pada itu ada terselip selisih usia mereka dan temponya latihan. Oey Yong baru berumur limabelas tahun, Auwyang Kongcu sudah lebih dari tigapuluh tahun, maka itu, perbedaan waktu belajar mereka ada kira-kira duapuluh tahun. Benar Oey Yong mendapat pelajaran juga dari Ang Cit Kong tetapi belum lama dan latihannya belum sempurna. Karenanya, walaupun si pemuda terluka tangannya, ia tetap lebih unggul.
Oey Yong kaget karena robohnya itu tetapi pikirannya tidak kacau. Begitu ia jatuh, begitu ia berbalik sambil menimpuk dengan jarumnya. Kemudian ia geraki tubuhnya untuk berlompat bangun. Tidak beruntung untuknya, kedua kakinya tidak mau menurut perintah, maka juga tidak dapat ia berlompat bangun untuk berlari. Ia baru bergerak sedikit atau ia terguling pula.
Ketika itu Auwyang Kongcu mengulur sebelah tangan dengan maksud mengasih bangun. Dalam murkanya, Oey Yong meninju dengan tangan kirinya. Tapi si anak muda dapat melihat serangan itu, dengan leluasa ia menyambuti dengan tangan kirinya, dengan totokan, maka matilah tangan kiri si nona, seperti tangan kanannya yang erus ditotok juga, hingga kaki tangannya tak dapat bergerak semua. Ia mirip orang yang dibelenggu kaki tangannya itu.
Bukan main panasnya hati nona ini, ia sangat menyesal yang barusan ia tidak membunuh diri saja, hingga sekarang ia jadi kena tertawan. Ia ada begitu murka dan mendongkol. Mendadak ia merasai matanya gelap dan kepalanya pusing, seketika itu juga ia rebah tak sadarkan dirinya.
“Jangan takut, jangan takut,” berkata Auwyang Kongcu sambil tertawa, suaranya halus. Ia bertindak seraya mengulur tangan, berniat memondong nona itu. Atau mendadak
“Kau mau hidup atau mati?!” demikian satu suara keras dan kejam, suara dingin yang disusul sama tertawa ejekan.
Pemuda itu terperanjat, dengan cepat ia menoleh. Untuk kagetnya, ia melihat Ang Cit Kong berdiri di mulut gua, tangannya memegang tongkat, matanya melirik tajam. Disaat itu pada otaknya berkelebat penuturannya pamannya dulu hari halnya Ong Tiong Yang berpura-pura mati untuk mengalahkan lawannya.
“Hai, kiranya si pengemis tua ini berpura-pura mampus!” pikirnya. “Ah, habislah aku hari ini!” Ia ketahui baik sekali kegagahannya Ang Cit Kong, ia putus asa. Tanpa berpikir lagi, ia menekuk kedua kakinya sambil berlutut ia berkata: “Aku cuma bermain-main saja sama adik Oey ini, tidak ada niatku untuk berbuat jahat terhadapnya….”
“Hm!” Pak Kay mengasih dengar suara bengis. “Bangsat bau, masih kau tidak hendak menotok bebas jalan darahnya? Apakah aku si orang tua harus turun tangan?”
Auwyang Kongcu jeri.
“Ya, ya,” ia menyahuti seraya terus menotok kaki tangannya si nonya.
“Lagi satu kali kau menginjak gua ini, jangan kau sesalkan aku!” Ang Cit Kong mengancam. “Lekas pergi!”
Sembari berkata begitu, jago tua itu bertindak ke samping.
Keponakan See Tok bagaikan menerima putusan pengampunan, cepat-cepat ia ngeloyor pergi.
Oey Yong tak tahu apa yang sudah terjadi, ketika ia sadar, ia sadar dengan perlahan-lahan. Ia membuka kedua matanya seraya merasa bagaikan tengah bermimpi.
Ang Cit kOng tidak dapat berdiri lama-lama, ia roboh sendirinya.
Melihat gurunya jatuh, Oey Yong kaget. Lupa ia pada tangan atau kakinya bekas ditotok, ia menekan tanah untuk berlompat bangun, guna menghampirkan gurunya, yang segera ia pegangi untuk dikasih bangun. Ia melihat mulut guru itu berlumuran darah, sebab ternyata tiga buah giginya sudah copot bekas kebentur tanah. Ia menjadi sangat berduka.
“Suhu!” ia memanggil.
Ang Cit Kong sadar, ia pegang ketiga buah giginya itu, terus ia tertawa.
“Gigiku, gigiku!” katanya. “Kau tidak mensia-siakan aku! Kau telah membuatnya aku si pengemis tua telah dapat mencicip segala macam barang hidangan paling lezat dan sedap di kolong langit ini! Sekarang aku si pengemis sudah sampai pada usiaku, kau telah mendahului meninggalkan aku…!”
Memang hebat sekali lukanya Pak Kay kali ini, cuma saking kuatnya tubuhnya, ia tidak mati lantas di bawah tangan jahat dari Auwyang Hong. Celaka untuk ia, ia tidak dapat obat untuk mengobati luka-lukanya itu, luka racun ular dan gempuran kuntauw Kodok yang dahsyat.
Cit Kong melihat kedukaan muridnya.
“Selama napasku masih ada, jahanam itu tidak nanti berani datang pula mengganggu padamu,” ia menghibur si nona.
Tapi Oey Yong memikir lain.
“Kita berada di dalam gua, memang jahanam itu tidak berani masuk ke mari,” demikian pikirnya. “Tetapi bagaimana dengan makan dan minum kita?”
Cit Kong pun sudah merasakan lapar. Ia melihat si nona tunduk saja.
“Bukankah kau sedang memikirkan daya mencari barang makanan?” ia menanya. Oey Yong tidak menjawab, ia melainkan mengangguk.
“Mari kau pepayang aku ke pesisir untuk menjemur di matahari,” menyuruh orang tua itu.
Oey Yong cerdik sekali, ia lantas dapat mengerti maksud orang.
“Bagus!” serunya kegirangan. Ia pun tertawa. “Kita menangkap ikan!”
Maka bukan lagi ia pepayang gurunya itu, ia hanya menggendong, cuma jalannya dengan perlahan-lahan.
Hari ini cuaca terang berderang, angin meniup halus. Begitu terjodoh sinar matahari, begitu Ang Cit Kong merasa segar, hingga semangatnya jadi terbangun. Ia pun melihat Auwyang Kongcu lagi berdiri di tempat jauh dari mereka, ketika pemuda itu mendapatkan mereka keluar dan mengawasi padanya, dia bertindak pergi lebih jauh sedikit. Rupanya ia jeri. Dari tempat jauh itu ia terus mengawasi.
Dua-dua Cit Kong dan Oey Yong berduka, hati mereka berpikir: “Jahanam itu sangat cerdas, lama-lama pasti dia dapat mengetahui keadaan kita yang tidak berdaya…” Karena itu, mereka pun membawa sikap tenang.
Auwyang Kongcu pun agaknya lega melihat ia tidak dihampirkan.
Oey Yong sudah lantas bekerja. Lebih dulu ia pernahkan Ang Cit Kong, supaya guru ini dapat duduk sambil menyender pada sebuah batu besar, kemudian ia mencari cabang pohon yang panjang untuk dijadikan joran panjang. Untuk talinya, ia mencari babakan pohon dan untuk panjangnya, ia menekuk sebatang jarumnya hingga ujungnya bengkok. Sebagai umpan, ia mencari udang di tepian. Maka tak lama kemudian, ia sudah mulai memancing.
Satu jam tempo dipakai untuk memancing itu, akhirnya si nona memperoleh tiga ekor ikan, yang mana cukuplah untuk mereka berdua menangsal perut. Ikan itu dipanggang seperti biasanya kaum pengemis memanggang ayam.
Setelah beristirahat sebentar, Cit Kong mengajari Pak-kauw-pang. Ia memberi petunjuk sambil ia duduk menyender terus cuma tangannya digerak-geraki. Tapi ini pun menolong banyak untuk si nona yang otaknya terang, hingga dia dapat mengerti lebih banyak. Demikian mendekati sore, Oey Yong telah dapat menjalankan ilmu tongkat itu dengan baik, hingga tinggal dia berlatih terus untuk memahirkan itu.
Sesudah hilang letihnya, Oey Yong membuka baju luarnya, terus ia nyebur ke laut untuk membersihkan tubuh. Ia berenang pergi datang hingga ia ingat suatu cerita dongeng jaman Tong katanya di dalam laut ada istana raja naga serta putrinya yang elok sekali.
“Mungkin engo Ceng telah pergi ke sana?” ia ngelamun.
Karena ini ia lantas menyelam. Tiba-tiba ia merasakan kakinya sakit, lekas-lekas ia menarik pulang. Ia mendapat kenyataan kakinya itu dijepit sesuatu. Ia tidak kaget, ia menduga kepada simpling atau kerang besar. Ia lantas membungkuk, untuk melihat. Baru sekarang ia terkejut juga. Kakinya dijempit simping yang besar sekali, yang beratnya mungkin duaratus kati. Sia-sia ia menarik akkinya, sia-sia ia mencoba memengkang membuka kedua batok simping itu. Bahkan kakinya dijepit semakin keras, sampai ia merasakan sakit sekali. Saking kerasnya ia berkutatan, dua kali ia kena menenggak air laut asin.
Tentu sekali nona ini menjadi sangat penasaran. Tidak ikhlas ia mati di tangannya binatang laut itu, walaupun sebenarnya ia bersedia mati-mati bersama gurunya andaikata tetap mereka tak berdaya untuk berlalu dari pulau kosong itu. Ia memikir akal. Ia mencoba memungut batu dengan apa ia ketoki batok simping itu. Ini pun tidak memberi hasil. Batoknya simping telalu keras dan batunya terlalu kecil.
Lagi sekali ia menenggak air. Baru sekarang ia ingat suatu akal. Maka ia lepaskan batunya, sebagai gantinya ia meraup pasir, yang mana ia kasih masuk di sela-sela mulut simping itu.
Nyata binatang laut itu takut sekali pasir, begitu dia merasakan pasir masuk ke dalam mulutnya, dia pentang mulutnya itu.
Begitu ia merasakan jepitan kendor, begitu lekas juga Oey Yong menarik keras kakinya. Kali ini bebaslah ia, maka terus saja ia berenang untuk muncul di muka air. Paling dulu, ia membuang napas, untuk melegakan diri.
Cit kong di darat berkhawatir melihat si nona menyelam demikian lama, ia menduga muridnya itu menghadapi bahaya. Ia menyesal yang ia sendiri tidak dapat bergerak hingga tak bisa ia menolongi. Ia melainkan bisa mengawasi ke laut dengan jantungnya berdenyutan.
Akhir-akhirnya muncul juga si nona, maka legalah hatinya guru ini, sampai ia bersorak.
Oey Yong tidak naik ke darat, sesudah mengulapkan tangan kepada gurunya itu, ia selulup pula. Ia telah mendapat satu pikiran. Ia pergi ke tempat tadi, tapi sekarang dengan sudah bersiap. Ia turun di dekat simping itu tanpa si simping dapat mencakop padanya. Nyata binatang itu nempel batoknya dengan batu karang, dia jadi tidak bisa berenang pergi. Si nona mencoba menggempur karang itu, setelah berhasil, ia memegang simping dari bawah, terus ia bawa naik ke atas. Ia menampah seraya kakinya menjejak dasar laut, terus ia berenang ke tempat yang dangkal. Di sini simping itu tak berdaya lagi. Hanya saking beratnya binatang laut itu, tidak kuat Oey Yong mengangkat buat dibawa ke gua, maka ia mengambil saja batu besar yang mana ia pakai mennghajar batoknya. Hanya dengan beberapa kali hajaran, remuklah batok simping itu.
Puas hatinya si nona, yang kakinya sakit bekas dijepit. Bahkan malam itu bersama gurunya ia bisa menangsal perut secara memuaskan karena adanya daging simping itu yang lezat sekali.
Besok paginya, begitu mendusin, Ang Cit Kong merasai sakit pada tubuhnya berkurang. Ia mencoba memainkan napasnya, ia merasakan lega. Tanpa merasa ia berseru bahna girangnya.
Oey Yong mendusin untuk segera bangun berduduk.
“Suhu, kenapa?” ia menanya, kaget.
“Setelah tidur semalaman, aku merasai lukaku mendingan,” sahut sang guru. “Sakitnya tidak sehebat kemarin.”
Oey Yong menjadi girang.
“Mungkin ini disebabkan guru makan daging simping!” katanya. Maka berlari-larilah ia keluar guanya, ke tepi laut, untuk memotong sisa daging simping itu. Saking kegirangan, ia sampai melupai Auwyang Kongcu. Ia baru memotong dua keping tatkala ia melihat bayangan orang mendekati perlahan-lahan ke arahnya. Ia kaget tetapi ia mengerti ancaman bahaya. Baru sekarang ia ingat keponakannya See Tok itu. Diam-diam ia memungut batok simping, lalu dengan sekonyong-konyong ia menimpuk ke belakang, tubuhnya sendiri terus berlompat setombak lebih hingga ia berada di pinggiran air.
Auwyang Kongcu dapat berkelit. Dia tidak gusar, sebaliknya ia tertawa.
Sekian lama pemuda ini tidak pergi jauh dari itu orang tua dan nona, terutama ia memperhatikan gerak-geriknya Ang Cit Kong, hingga timbullah kecurigaannya bahwa raja pengemis itu tidak berdaya, tak dapat berjalan karena lukanya yang hebat. Meski begitu, ia tidak mempunyai nyali yang cukup besar untuk menyerbu ke dalam gua. Maka ia terus memasang mata. Pagi itu ia melihat Oey Yong keluar sendirian, pergi ke pasir, ia mengikuti. Ia girang bukan main, ia anggap ia dkaruniai ektika yang baik sekali oleh Thian. Maka ia menghampirkan si nona sambil berindap-indap. Hanya sayang, bayangannya telah menggagalkan maksudnya.
“Adik yang baik, jangan pergi!” ia berkata dengan manis. “Aku hendak bicara denganmu!”
“Orang tidak menggubrismu, apa perlunya kau menggerembengi orang?” si nona menanya. “Apakah kau tidak tahu malu?”
Melihat orang tidak gusar, senang hatinya Auwyang Kongcu. Ia jadi semakin berani. Ia mendekati pula dua tindak. Lagi-lagi ia tertawa.
“Semuanya dasar kau!” katanya. “Siapa suruh kau ada begini cantik dan manis, hingga kau membikinnya hati orang terbetot keras?”
Oey Yong tertawa.
“Aku bilang tidak menggubrismu, tetp aku tidak mau memperdulikan!” kata ia. “Percuma saja kau mengambil-ambil hatiku, membaiki padaku!”
Pemuda itu maju ppula satu tindak.
“Ah, aku tidak percaya!” katanya, tertawa. “Hendak aku mencobanya!”
Tiba-tiba si nona memperlihatkan roman keren.
“Lagi satu tindak kau maju, akan aku minta suhu menghajar padamu!” ia mengancam.
“Sudahlah!” tertawa si anak muda, membelar. “Apakah si pengemis tua masih dapat berjalan? Apakah tidak baik jikalau aku menggendong dia?”
Oey Yong terkejut, hingga ia mundur dua tindak. Inilah yang ia khawatirkan. Ia takut kalau pemuda ceriwis ini mengetahui gurunya sudah tidak berdaya.
Auwyang Kongcu tertawa pula.
“Jikalau kau ingin terjun ke laut, nah terjunlah!” katanya. “Akan aku menunggui kau di darat! Marilah kita lihat, kau yang dapat berdiam lebih lama di dalam air atau aku yang di daratan.”
“Baiklah!” si nona berseru. “Kau menghina aku, untuk selamanya aku tidak sudi bergaul denganmu!”
Nona ini lantas menutar tubuhnya, untuk lari, atau baru tiga tindak, ia roboh terguling seraya menjerit “Aduh!” karena kakinya kena menginjak batu dan terpeleset.
Keponakan Auwyang Hong ini benar-benar licin. Ia khawatir si nona hanya menggunakan tipu untuk menyerangnya dengan jarumnya tatkala ia berlompat menubruk, maka juga sebelumnya maju ia membuka dulu baju luarnya, untuk dipakai sebagai senjata pelindung diri. Ia bertindak perlahan-lahan.
“Jangan datang mendekat!” membentak si nona. Ia bangun, untuk bertindak pula, atau baru satu tindak, ia roboh kembali. Bahkan kali ini ia terguling hingga separuh tubuhnya rebah di air, ia bagaikan pingsan. Tubuhnya itu tidak bergerak lagi.
“Budak, kau sangat licik tidak nanti aku kasih diriku diperdayakan!” kata Auwyang Kongcu dalam hatinya. Ia berdiri seraya mengawasi.
Ada seketika sehirupan the, masih si nona tidak berkutik, tubuhnya dari kepala sampai di dada masuk ke dalam air.
“Ah, dia benar-benar telah pingsan,” pikir si kongcu kemudian. “Jikalau aku tidak tolongi dia, mungkin dia mati kelelap, sayang begini cantik dan manis….”
Ia lantas bertindak maju, ia memegang kaki orang. Ia terperanjat ketika ia sudah menarik, sebab ia merasakan nona itu dingin sekali seperti membeku. Ia lekas-lekas membungkuk, untuk memeluk tubuh orang, niatnya untuk diangkat ke darat. Baru saja ia merangkul ketika kedua tangan si nona memeluk kedua kakinya seraya nona itu membentak, “Turunlah kau!”
Dalam keadaan seperti itu, Auwyang Kongcu tidak berdaya lagi, maka terceburlah ia ke laut bersama-sama si nona, yang berseru sambil membetot membuang dirinya ke laut.
Bukan kepalang kagetnya Auwyang Kongcu, hatinya terkesiap. Biarpun ia ada terlebih kosen daripada si nona, di dalam air, habislah dayanya. Ia menyesal yang walaupun ia sangat berhati-hati, masih ia kena diperdayakan si nona yang cerdik itu. Maka pikirnya: “Habislah aku kali ini…”
Oey Yong yang telah berhasil dengan tipu dayanya itu, dengan hati sangat bernafsu ia menarik orang ke tengah, ke tempat yang terlebih dalam. Percuma si anak muda mencoba berontak, ia kena teseret ke tengah. Ia telah dijambak pada kepalanya, kepala itu dibeleseki di dalam air.
Berulang-ulang pemuda itu menenggak air laut, mulanya masih terdengar suara gelogokan di tenggorokannya, habis itu ia mati daya, cuma tangan dan kakinya yang menjambret-jambret dan menendang-nendang, rupanya untuk menjambret atau menendang si nona tetapi ia tidak berhasil. Sebab Oey Yong tahu diri, dia sudah menjauhkan dirinya.
Selang sesaat, Auwyang Kongcu merasakan kakinya menginjak tanah. Ia sudah minum banyak air tetapi ia belum pingsan, ia masih ingat akan dirinya. Dasar ia lihay, pikirannya tidak menjadi kacau. Selama di tengah air, karena ia tidak bisa berenang ia tidak dapat berbuat apa-apa, akan tetapi selekasnya merasa menginjak dasar laut, mendadak ia membungkuk, untuk memegang dasar laut itu, sambil berbuat mana, ia menahan napas. Ia berhasil mengerahkan tenaga dalamnya. Ia lantas menduga-duga yang maa arah darat, tetapi di dalam air, ia tidak dapat mengenali timur atau barat, selatan atau utara. Ia mencoba berjalan juga, tangannya mencekal sebuah batu besar. Ia bertindak cepat ke arah dasar laut yang tinggi, yang menanjak.
Oey Yong melepaskan cekalannya sesudah orang kena dilelapkan dan kelabakan tidak karuan, ia muncul di muka air, akan tetapi menanti sekian lama ia tidak melihat orang timbul, ia menjadi heran. Lekas-lekas ia selulup pula.
Ia dapat menentang matanya di dalam iar, dari itu ia dapat melihat orang sedang bertindak ke arah darat. Ia terperanjat saking heran dan kagumnya. Tak ayal lagi ia berenang, menyusul. Ia menggerakkan tangan dan kakinya tanpa bersuara, setelah datang dekat, ia menikam dengan tempulingnya.
Kebetulan Auwyang Kongcu lagi mempercepat tindakannya, ia lolos dari tikaman itu. Sementara itu, ia sudah tiba di tempat yang dangkal, ia dapat berdiri dengan kepalanya di luar air. Ia melepaskan pegangannya, ia membuka kedua matanya, dan menghela napas, melegakan hatinya.
Oey Yong pun menghela napas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi terhadap anak muda itu, terpaksa ia selulup pergi.
Auwyang Kongcu merayap naik ke darat, ia merasakan kupingnya pengang dan matanya kaburm, tetapi ia masih ingat untuk lekas rebah tengkurap di tanah, untuk mengundal ke luar air dari dalam perutnya. Habis itu ia merasakan lemah sekali, seperti juga ia baru sembuh dari semacam penyakit yang berat. Terus ia beristirahat. Tentu sekali, hatinya menjadi mendongkol dan panas, hingga muncullah niatnya yang kejam.
“Biar aku mampusi dulu si pengemis bangkotan!” demikian keputusannya. “Hendak aku lihat, budak itu nanti menurut padaku atau tidak!”
Walaupun ia telah berkeputusan demikian, Auwyang Kongcu tidak segera turun tangan untuk mewujudkan itu. Ia masih sangat lelah maka ia beristirahat terus. Ia menjalankan napasnya, untuk meluruskan pernapasannya.
Sesudah berselang lama, baru ia berbangkit bangun, akan mencari sebatang pohon yang kuat, yang ia patahkan, untuk dipakai sebagai senjata, untuk menotok jalan darah. Tiba di dekat gua, ia bertindak dengan hati-hati. Biar bagaimana, ia masih jeri terhadap pengemis tua itu. Di mulut gua ia memasang kupingnya. Ia tidak dapat mendengar suara apa juga. Ia masih menanti beberapa saat, baru ia bertindak masuk. Tidak berani ia masuk langsung, ia mepet-mepet di pinggiran, majunya setindak demi setindak. Sekarang ia bisa melihat Pak Kay lagi duduk bersila menghadap matahari, orang tua itu lagi berlatih dengan ilmu dalamnya, dilihat dari air mukanya yang segar, ia seperti tidak tengah menderita luka parah.
“Baiklah aku mencoba dulu, untuk mengetahui dia dapat berjalan atau tidak,” berpikir si anak muda, yang sangat berhati-hati. Setelah diperdayakan Oey Yong, ia menjadi semakin cerdik.
“Paman Ang!” ia berseru. “Celaka! celaka…!”
Ang Cit Kong dapat mendengar teriakan itu, ia sudah lantas membuka matanya.
“Ada apa?” ia menanya.
“Adik Oey mengejar kelinci, dia terjatuh ke dalam jurang…!” ia menyahut, suaranya dibikin tak lancar. “Dia terluka parah, sampai ia tak dapat bangun!”
Nampaknya Ang Cit Kong kaget.
“Lekas tolongi dia!” dia berseru.
Mendengar perkataan orang itu, girangnya Auwyang Kongcu bukan kepalang. Ia mengerti, kalau bukannya pengemis tua itu tidak dapat berjalan, mestinya ia sendiri sudah berlompat bangun dan berlari pergi, guna menolong nona itu. Maka ia bertindak maju di mulut gua seraya sembari tertawa lebar ia berkata: “Dia telah menggunakan seribu satu akal untuk mencelakai aku, mana sudi aku menolongi dia? Pergi kau sendiri yang menolonginya?!”
Ang Cit Kong terperanjat. Kata-katanya si anak muda dan sikapnya itu menandakan bahwa orang tak jeri lagi kepadanya.
“Rupanya ia telah mendapat ketahui kepandaianku sudah musnah,” pikirnya. “Inilah tandanya telah habis lelakon hidupku…!”
Tapi Pak Kay tidak hendak menyerah dengan begitu saja, maka ia bersiap sedia untuk mati bersama. Diam-diam ia mencoba mengumpul tenaganya di tangan, untuk menghajar dengan sekali pukul. Kesudahannya ia kaget sekali. Begitu bertenaga, ia merasakan luka si punggungnya sakit, semua tulang-tulangnya seperti hendak buyar belarakan. Sementara itu ia melihat mendatangi sambil memperlihatkan muka menyeringai. Tanpa merasa ia menghela napas panjang, lantas ia meramkan kedua matanya untuk menantikan kebinasaannya….
Ketika itu Oey Yong di dalam air telah berpikir, menduga bahwa selanjutnya makin sukar melayani Auwyang Kongcu, yang mestinya jadi semakin licin. Ia selulup beberapa tombak jauhnya, baru ia muncul di muka air. Ketika ia melihat daratan, itulah bukan tempat dimana tadi ia telah bergulat sama Auwyang Kongcu. Di sini pepohonannya lebih lebat. Tiba-tiba saja ia dapat ingat pulaunya sendiri, maka ia berpikir: “Alangkah baiknya kalau aku dapat cari suatu tempat bersembunyi, untuk aku berdiam bersama suhu sambil merawati suhu, tentulah si bangsat tidak gampang-gampang dapat mencari kita…”
Habis berpikir, si nona mendarat. Ia tidak berani lantas jalan begitu saja, ia berjalan di sepanjang tepian. Ia khawatir nanti ketemu sama keponakannya Auwyang Hong itu.
“Coba dulu aku tidak terlalu gemar memain dan aku pelajari ilmu Kie-bun Ngo-heng, sekarang tentulah dapat aku melayani bangsat itu,” pikirnya pula. Ia seperti ngelamun. “Ah, sayang ayah telah menyerahkan peta Tho Hoa To kepadanya! Jahanam itu sangat cerdas, tentulah ia pun dapat memahamkan peta itu…
Berjalan seperti melamun, Oey Yong kurang memperhatikan jalanan yang dilalui. Tiba-tiba ia keserimpat oyot rotan dan terhuyung karenanya. Berbareng dengan itu di kepalanya terdengar bunyi apa-apa yang disusul sama meluruk jatuhnya butir-butir tanah keras seperti batu. Segera ia lompat nyamping, terus ia angkat kepalanya, memandang ke atas. Apa yang ia saksikan membuatnya kaget sekali, hingga jantungnya berdenyutan.
Di atas itu, yang merupakan lamping, ada sebuah batu besar. Batu itu seperti merongkong sebelah, nampaknya seperti bergoyangan, hingga sembarang waktu bisa jatuh ke bawah. Pelurukan batu barusan datangnya dari bawah batu besar itu. Di batu itu pun ada melibat banyak pohon rotan, satu di antaranya ialah yang meroyot ke bawah, yang barusan kena ia injak sehingga ia keserimpat. Hancur remuk tubuhnya, andaikata batu itu jatuh dan menimpa padanya….
Masih Oey Yong dongak mengawasi, sampai kagetnya lenyap. Ia heran atas keletakannya batu itu. Itulah pengaruh sang alam. Hanya dengan disentil sekali saja mungkin batu itu jatuh ambruk. Entah sudah berapa puluh tahun batu itu bercokol di tepi jurang itu.
Sampai di situ, batal Oey Yong maju terus. Ia sekarang berjalan kembali. Ingin ia melihat gurunya. Ia belum berjalan jauh ketika mendadak ia mendapat satu pikiran.
“Yang Maha Kuasa hendak membinasakan jahanam itu maka juga telah diciptakan ini batu luar biasa,” demikian pikirnya. “Kenapa aku jadi setolol ini?”
Girang luar biasa nona ini hingga ia berjingkrakan jungkir balik dua kali. Ia lantas lari kembali ke tempat batu tadi, ia memasang mata untuk memperhatikan keletakannya. Di samping itu ada banyak pohon yang besar dan tinggi. Kalau orang berlompat menyingkir, paling jauh juga orang dapat berlompat empat atau lima kaki. Kalau batu jatuh, burung sekalipun tak keburu terbang menyingkir….
Segera nona ini mengeluarkan pisau belatinya, yang panjang empat dim kira-kira. Itulah pisau peranti menyembelih ayam atau memotong daging. Ia cekal itu di tangan kanan, lantas ia bertindak turun ke lembah. Ia perdatakan tujuh atau delapan oyot rotan yang melibat batu besar itu, ia tidak mengganggunya, hanya ia memotong putus beberapa puluh oyot lainnya. Ia bekerja cepat, saban-saban ia menahan napas dan menghela. Ia pun berlaku hati-hati, supaya ia tidak usah membikin batu itu kena tertarik. Karena ia mesti mengutungi puluhan oyot, ia menjadi mandi keringat. Kemudian, setelah mengumpulkan semua oyot itu, agak tak kentara sudah diputuskan, baru ia bertindak pergi. Ia mencoba mengingati baik-baik tempat ini. Ia berjalan sambil bernyanyi dengan perlahan, suatu tanda ia merasa puas sekali.
Selagi mendekati gua, si nona tidak melihat Auwyang Kongcu. Ia berjalan terus. Sekonyong-konyong ia mendengar suara tertawa panjang dan nyaring yang keluar dari dalam gua. Ia kenali suaranya si anak muda, yang mana disusul sama kata-katanya yang nyaring: “Kau sombongkan kepandaianmu yang lihay, sekarang kau roboh di tangan kongcumu? Kau takluk tidak? Baiklah, karena aku berkasihan untuk usiamu yang sudah lanjut, aku menyerah untuk kau menyerang dulu tiga kali! Bagaimana?”
Takutnya Oey Yong bukan main. Ia insyaf bahaya yang mengancam gurunya itu. Ia tapinya cerdik luar biasa. Disaat berbahya seperti itu, ia mendapat akal.
“Ayah, ayah!” ia berteriak-teriak. “Kenapa kau datang ke mari? Eh, kau juga Auwyang Peehu? Kenapa kau pun datang?”
Nyaring suaranya si nona, suara itu terdengar sampai di dalam gua.
Auwyang Kongcu tengah mempermainkan Ang Cit Kong, yang ia hendak membinasakannya, dia menjadi kaget sekali mendengar suara si nona.
“Ah, kenapa pamanku bisa datang bersama-sama Oey Lao Shia?” pikirnya. Ia sangat bersangsi, hingga ia memikir pula: “Jangan ini pun main gilanya si budak cilik. Ia hendak menolongi pengemis bangkotan ini, dia menipu aku supaya aku keluar…. Tapi tak apa, baik aku melihat dulu, pengemis ini toh tak bakal lolos dari tanganku!”
Maka ia bertindak keluar dari gua.
Oey Yong berada di tepian, di pasir.
“Ayah! Ayah!” suaranya terdengar, tangannya di ulap-ulapkan.
Auwyang Kongcu memandang jauh, di sekitarnya juga. Ia tidak melihat siapa juga di antara mereka apa pula Oey Yok Su atau pamannya. Maka ia tertawa terbahak-bahak.
“Adikku, kau memancing aku supaya aku menemani kau?” katanya. “Kau lihat, bukankah aku sudah keluar?”
Si nona menoleh, ia tertawa, matanya pun memain.
“Siapa kesudian mendustai kau?” katanya manis. Dan ia lari di sepanjang pasir.
Auwyang Kongcu tertawa.
“Kali ini aku telah bersiaga,” katanya. “Jikalau kau memikir untuk menyeret pula aku ke laut, marilah kita mencoba-coba!”
Sembari berkata, pemuda ini lari untuk mengejar. Hebat ilmunya ringan tubuh, sebentar saja dia sudah datang dekati si nona.
“Celaka…” mengeluh Oey Yong. “Kalau aku tidak keburu sampai di batu itu, pasti dia bakal dapat menawan aku…” Maka ia lari terus sekuatnya.
Lagi beberapa puluh tombak, Auwyang Kongcu telah datang semakin dekat.
Oey Yong lari ke kiri, mendekati laut, tinggal lagi beberapa kaki.
Benar-benar Auwyang Kongcu telah menjadi cerdik, tidak mau ia mendekati.
“Baiklah, mari kita main perak umpat!” katanya tertawa. Ia maju pula, ia terus waspada.
Oey Yong menghentikan tindakannya, ia juga tertawa.
“Di depan sana ada seekor harimau galak,” katanya, “Jikalau kau tetap menyusul aku, kau nanti diterkam dan digegares olehnya!”
“Aku sendiri pun harimau!” tertawa si anak muda. Ia tidak percaya perkataan orang. “Aku pun hendak mencplok padamu!”
Oey Yong tertawa, tanpa menyahuti ia lari pula.
Demikian mereka main lari-larian atau kejar-kejaran hingga mereka datang dekat ke batu separuh tergantung itu. Di sini Oey Yong lari makin keras. Ia harus menang tempo.
“Mari!” ia menantang. Dan ia berlompat pesat ke arah depan batu.
Hanya sekelebatan, ia merasa melihat bayangan orang di pesisir. Tapi ia lagi menghadapi saat tegang itu, biar pun ia heran,ia tidak sempat mencari tahu. Ia lari terus sampai di tempat oyot rotan tadi. Dengan tiga kali lompatan, tibalah ia di lembah.
“Mana si harimau?” tanya Auwyang Kongcu mengejek. Ia pun menambah pesatnya larinya, sehingga ia juga tiba di depan lembah.
Sekonyong-konyong pemuda ini mendengar suara berkeresek di atasan kepalanya, suaranya itu disusul sama sambaran angin. Ia lantas menagangkat kepalanya, dongak untuk melihat. Bukan main kagetnya ia. Ia menampak sebuah batu besar justru jatuh ke arahnya. Tidak ada jalan lain. Ia berlompat ke samping. Ia lompat tanpa melihat lagi arahnya. Ia terkejut ketika ia merasakan tubuhnya membentur sebuah pohon, yang terus patah dan bagian patahannya melukai punggungnya. Lupa ia pada rasa sakit, ia cuma ingat menyingkir, menyingkir…. Ia mencoba berlompat pula….
Disaat seperti itu, Auwyang Kongcu sudah seperti pingsan, tetapi ia masih merasakan ada tangan yang kuat yang menyambar menjambak batang lehernya, terus ia ditarik. Meski begitu, jatuhnya batu cepat luar biasa, ia masih ketimpa juga, maka robohlah ia dibarengi jeritannya yang hebat sekali, debu dan batu pun muncrat! Debu itu mengepul bagaikan uap.

Oey Yong melihat jebakannya telah memberi hasil, ia girang berbareng kaget. Ia tidak menyangka bahwa jatuhnya batu demikian hebat. Ia menjatuhkan diri ke tanah, untuk duduk menumprah seraya meletaki kedua tangannya di atasan kepalanya. Ia baru mengangkat kepala dan membuka matanya ketika ia mendengar sirapnya suara nyaring dan berisik. Samar-samar ia menampak dua tubuh orang berdiri di sisi batu besar itu. Seperti orang lagi bermimpi, ia mengucak-ucak kedua matanya. Lalu ia mengawasi pula, dengan perhatian dipusatkan. Tidak salah, di situ ada dua orang lain, bahkan orang itu ialah Auwyang Hong dan Kwee Ceng! Si anak muda yang ia seperti tidak tak dapat melupakannya….
“Engko Ceng!” akhirnya ia berseru seraya ia berlompat bangun.
Kwee Ceng juga tidak menyangka di tempat itu dapat menemui kekasihnya itu, ia juga berlompat menubruk, untuk merangkul erat-erat si nona. Hingga keduanya lupa bahwa di samping mereka berada musuh besar mereka!

Auwyang Hong dan Kwee Ceng tenggelam terbawa perahu mereka yang masuk ke dasar laut terbawa oleh usar-usaran air. Memangnya perahu itu, yang tinggal sebelah, telah kemasukan banyak air. Segera juga mulult dan hidung mereka menyedot air asin, hingga keduanya menjadi kaget. Mereka menginsyafi bahaya. Karena itu mereka tidak berkutat terlebih jauh, sama-sama mereka melepaskan tangan mereka, untuk sebaliknya dipakai menekap hidung dan kuping. Mereka pun terbawa arus hingga jauh. Ketika Kwee Ceng timbul di muka air, untuk bernapas, ia melihat jagat gelap, perahu kecil entah pergi ke mana. Ia menjerit-jerit, tidak ada yang menyahuti, meskipun sebenarnya Oey Yong tengah mencari-cari padanya. Damparan gelombangan sangat berisik, angin juga tak kurang ributnya.
Selagi Kwee Ceng berteriak-teriak pula, ia merasa ada yang menarik kakinya yang kiri, atau dilain saat muncullah Auwyang Hong di sisinya. Dia ini tidak pandai berenang, maka itu, kecebur di laut, ia habis daya. Syukur dia dapat mencekal kakinya si anak muda, dia terus tidak mau melepaskannya, bahkan ia memegang juga kaki yang kanan. Sia-sia Kwee Ceng meronta-ronta.
Mereka berkutat pula, hingga mereka tenggelam kembali. Tak lama, keduanya mengambang lagi.
“Lepaskan tanganmu!” Kwee Ceng berseru. “Aku tidak akan tinggalkan kau!”
Auwyang Hong tidak mau melepaskannya, baru sesaat kemudian, ia melepaskan kaki yang sebelah. Rupanya ia ingat, dengan bergulat terus, mereka bakal mati bersama.
Kwee Ceng lantas berenang, sembari berenang ia mengangkat sedikit rusuk jago tua itu. Untung untuk mereka, tidak lama mereka membentur sepotong balok, maka si anak muda berpegang pada balok itu. Dengan begitu tak usah ia memakai banyak tenaga lagi.
“Lekas peluki balok ini!” ia berteriak. “Jangan lepas!”
Auwyang Hong menurut.
Bukan main girangnya pemuda ini.
Mereka terombang-ambing di laut sehingga sang fajar datang. Sekarang ternyata balok itu ada patahan tiang layar mereka. Hanya melihat kelilingan, mereka tak nampak perahu.
Auwyang Hong sangat berduka. Tongkatnya pun sudah lenyap, hingga ia menjadi sangat berkhawatir.
“Kalau ada ikan cucut di sini, mana bisa aku melawan seperti Ciu Pek Thong…?” pikirnya. “Ketika itu ada aku yang menolongi dia, tetapi sekarang, siapa yang menolongi aku…?”
Mereka lapar dan berdahaga. Syukur, untuk dahar mereka bisa mengunyah ikan mentah. Kalau ada ikan yang lewat disampingnya, Kwee Ceng menikam dengan piasu belatinya, dan Auwyang Hong menhajar dengan tangannya. Hebat rasanya untuk menggerogoti ikan mentah itu.
Sekarangb mereka tidak bergulat lagi. Maka itu hari, sampailah mereka di tepian pulau di mana Cit Kong, Oey Yong dan Auwyang Kongcu telah tiba. Mereka mendarat untuk beristirahat. Tiba-tiba mereka mendengar suara orang berbicara sambil tertawa-tawa. Keduanya heran, Auwyang Hong yang berlompat paling dulu untuk melihat orangnya. Tepat ia melihat batu lagi jatuh turun dan keponakannya lagi terancam, maka ia melesat akan menyambar keponakannya itu. Ia masih terlambat, sebab kesudahannya kedua kaki Auwyang Kongcu kena tertindih juga batu raksasa itu, anak muda itu menjerit untuk terus pingsan.
Untuk sejenak Auwyang Hong memandang keliligan, setelah merasa pasti tidak ada ancaman bahaya lainnya, ia menghampirkan keponakannya itu. Ia mendapat kenyataan sang keponakan cuma pingsan, maka hatinya menjadi sedikit lega. Ketika mencoba mendorong batu, ia tidak berhasil, tidak peduli tenaganya besar luar biasa.
“Paman…” memanggil keponakan itu perlahan, setelah ia sadar, sedang pamannya lagi membungkuk.
“Tahan sakit,” menyahut paman itu. Ia lalu memeluk, untuk menarik.
Auwyang Kongcu menjerit, kembali pingsan. Hebat tarikan itu sedang kaki tidak bergeming.
Paman itu menjublak.
“Mana suhu?” tanya Kwee Ceng, yang menarik tangan Oey Yong. Ia seperti tidak ingat itu paman dan keponakannya.
“Di sana,” sahut si nona, tangannya menunjuk.
Lega hatinya si anak muda. Selagi ia mau minta si nona mengajak dia pergi kepada gurunya, justru ia mendengar jeritannya Auwyang Kongcu itu. Dasar hatinya mulia, ia menjadi tidak tega.
“Mari aku bantu padamu!” ia berkata kepada Auwyang Hong.
Oey Yong menarik tangan pemuda itu.
“Mari kita lihat suhu!” ia mengajak. “Kita jangan pedulikan manusia jahat!”
Auwyang Hong tidak tahu bahwa batu besar itu jatuh karena ulahnya si nona, meski begitu ia gusar mendengar perkataan orang itu. Ia pun mengingat suatu apa akan mendengar Ang Cit Kong masih hidup serta berada di tempat itu. Ia membiarkan orang pergi, kepada keponakannya, ia berbisik. “Kau tahan sabar, aku nanti cari akal untuk menolongmu.” Ia berlompat naik ke atas pohon, mengawasi ke arah mana muda-mudi itu pergi. Panas hatinya menyaksikan orang jalan rapat asyik sekali.
“Jikalau aku tidak dapat menyiksa kamu berdua bangsat cilik hingga kau mati tidak hiudp juga tidak, percuma aku disebut See Tok!” katanya dalam hatinya dengan sengit sekali. Habis itu ia lomat turun dari pohon, untuk menguntit.
Kwee Ceng berdua bersama Oey Yong berjalan terus sampai di mulut gua. Mereka tidak tahu bahwa mereka ada yang membayangi.
“Suhu!” memanggil si anak muda memasuknya ia di dalam gua.
Cit Kong kelihatan lagi menyender di batu, matanya tertutup rapat, mukanya sangat pucat. Karena di ganggu Auwyang Kongcu, penyakitnya yang baru baikan kumat pula. Karena itu ia berdiam saja mendengar panggilan muridnya.
Dua-duanya Kwee Ceng dan Oey Yong menghampirkan, yang satunya membukai kancing bajunya, yang lainnya menguruti tangan dan kakinya.
Akhirnya Ang Cit Kong membuka matanya. Melihat Kwee Ceng, yang ia segera mengenalinya, ia girang. Ia tersenyum.
“Anak Ceng, kau pun datang!” katanya lemah.
Kwee Ceng hendak menyahuti gurunya itu tatkala ia terkejut mendengar suara nyaring dibelakangnya: “Pengemis tua, aku juga datang!”
Itulah suaranya Auwyang Hong, yang telah menguntit sampai di luar gua.
Kwee Ceng bangun untuk memutar tubuh dan berlompat maju, ia menghalang di pintu dengan sikapnya “Sin liong pa bwee” atau “Naga sakti menggoyang ekornya”. Oey Yong sendiri menyambar tongkat gurunya terus ia berlompat ke samping pemudanya.
Auwyang Hong tertawa
“Pengemis bangkotan, keluar!” katanya nyaring. “Jikalau kau tidak keluar, nanti aku yang masuk ke dalam!”
Kwee Ceng menoleh kepada Oey Yong dan mengedipi mata, maksudnya memberitahu, apa juga bakal terjadi, hendak ia membela gurunya.
Auwyang Hong tidak memperoleh jawaban, ia tertawa lalu ia mju. Atas itu tanpa bersangsi lagi, Kwee Ceng menyerang. Inilah See Tok telah duga, malah ia menerka juga orang akan menggunai Hang Liong Sip-pat Ciang, dari itu ia sudah bersiaga untuk itu. Ia berkelit dengan berlompat ke kanan. Tapi di sini ia dipapaki tongkat, kelihatannya tongkat menyontek ke atas, tidak tahunya menyapu ke bawah berulang-ulang, hingga ia tidak dapat menduga tepat arah serangan orang. Diam-diam hatinya terkesiap. Ia lantas melindungi dirinya, untuk mencegah serangan apa juga.
Tapi hebat tongkat itu, ialah tongkatnya Oey Yong. paling akhir ujung tongkat mencari jalan darah di pinggang.
Saking kaget, Auwyang Hong berlompat mundur, segera ia melirik. Ia tidak menyangka si nona menjadi begini lihay.
Oey Yong mendapat hati melihat musuh mundur.. Ia telah menggunai tipu-tipu dari Pa-kauw-pang, yang ia belum dapat menguasai dengan mahir. Sebaliknya See Tok belum pernah melihat ilmu silat itu.
“Hm!” berseru si Bisa dari Barat sambil ia berlompat maju, tangannya diulur untuk merampas tongkat si nona.
Oey Yong dapat berkelit, ketika ia dirangsak, masih ia bisa menyingkir dari pelbagai serangan.
Kwee Ceng girang berbareng heran menyaksikan ilmu silat kawannya itu. Ia tidak menonton lebih lama, ia lantas maju, untuk menyerang dari samping.
Auwyang Hong menjadi sangat gusar, ia berlompat mundur, lalu ia berdongko, menyusul itu kedua tangannya menyerang dengan berbareng hingga anginnya berdesir.
Hebat serangan itu, ialah serangan menurut Kuntauw Kodok. Debu pun sampai kena dibikin terbang.
Kwee Ceng melihat ancaman bahaya, dengan cepat ia menolak pundaknya Oey Yong - orang yang diserang itu - hingga si nona terhuyung, tetapi dengan begitu ia terhindar dari bahaya.
Auwyang Hong penasaran, ia maju dua tindak, kembali ia menolak dengan sepasang tangannya.
Memang hebat Kuntauw Kodok dari See Tok ini, sebagaimana ternyata, Ang Cit Kong yang begitu lihay cuma bisa bertarung seri dengannya.
Segera juga Kwee Ceng dan Oey Yong kena didesak mundur, sebab mereka main berkelit saja. Auwyang Hong dapat memasuki gua. Ketika ia menyerang gagal ke kiri, ia menghantam pinggiran gua hingga batu dan tanahnya gugur. Setelah itu ia menyerang dengan tangan kanannya ke arah Ang Cit Kong.
Pak Kay sedang menutup mata ketika ia mendengar desiran angin dari pukulan-pukulan yang dahsyat itu, lantas ia membuka matanya.
“Ilmu silat yang bagus sekali!” pujinya. “Tangan yang hebat!”
Mukanya Auwyang Hong menjadi merah, ia merasa diejek. Bukankah ia sedang melayani segala bocah? Maka tangannya itu tak dapat diteruskan.
“Guruku menolongi jiwamu, kau sekarang hendak mencelakai guruku? Oey Yong berteriak. “Sungguh kau tidak mempunyai muka?!”
Batal menyerang, Auwyang Hong menolak dengan perlahan tubuhnya si Pengemis dari Utara. Ia merasakan dada dan daging yang lembek, hingga dada itukentop. Biasanya, ditekan begitu, tubuh seorang ahli silat mesti membal untuk melawan, tapi ini sebaliknya, maka tahulah See Tok bahwa kepandaian orang telah lenyap. Ia lantas membungkuk, berniat mengangkat tubuhnya si pengemis.
“Kamu membantui aku menolongi keponakanku, nanti aku beri ampun jiwanya ini penegemis tua!” ia berkata bengis. Ia mengancam si pemuda dan pemudi.
“Thian yang menurunkan batu itu menindih dia, kau melihatnya dengan matamu sendiri!” berkata Oey Yong, menyahuti. “Siapa sanggup menolongi dia? Jikalau kau berbuat jahat, nanti Thian pun melemparkan batu besar itu untuk menindih padamu sampai mampus!”
Auwyang Hong angkat tubuhnya Ang Cit Kong tinggi-tinggi, ia mengancam hendak melemparkannya.
Kwee Ceng sangat mulia hatinya, ia tidak tahu bahwa orang lagi menggertak.
“Lekas turunkan guruku!” ia berseru. “Nanti kita bantui kau!”
Sebenarnya Auwyang Hong ingin lekas-lekas menolongi keponakannya itu, tetapi ia tidak sudi kentarakan itu, ia justru membawa aksi. Kemudian ia menurunkan tubuh Cit Kong dan meletakinya dengan baik.
“Untuk membantui kau menolongi dia tidaklah sukar!” berkata Oey Yong. Ia masih penasaran, ia menyebutnya Auwyang Kongcu dengan “dia”. Tetapi kita harus membuat dulu tiga perjanjian!”
“Eh, budak perempuan, kesulitan apa lagi kau hendak mengajukannya?!” See Tok mendongkol.
“Sesudah kami membantu kau menolongi keponakanmu itu, kita tinggal bersama-sama di pulau ini,” menjawab Oey Yong. “Selama itu kau tidak boleh mengganggu pula kami guu dan murid bertiga!”
Auwyang Hong terus mengangguk, karena ia sudah lantas ingat dia dan keponakannya tidak bisa berenang, untuk dapat pulang ke daratan, mereka mengandal bantuannya tiga orang itu.
“Baik!” ia memberikan janjinya. “Selama berada di pulau ini, aku pasti tidak akan turun tangan terhadap kamu, tetapi nanti di daratn, itulah sukar untuk atau membilangnya…”
“Sampai itu waktu, biarnya kau tidak turun tangan, kami yang bakal turun tangan terhadapmu!” kata Oey Yong menantang. “Sekarang yang kedua. Ayahku telah menjodohkan aku dengan dia, kau melihatnya sendiri, kau mendengarnya sendiri juga, maka itu kalau di belakang hari keponakanmu itu menggerembengi pula padaku, ia lah binatang yang tak mirip-miripnya sekalipun dengan anjing babi!”
“Hm!” terdengar suara tawar dari See Tok. “Baiklah, tetapi ini pun terbatas selama kita berada di pulau ini, seberlalunya kita dari sini, kita lihat saja nanti!”
Oey Yong tersenyum.
“Sekarang syarat yang ketiga!” ia berkata pula. “Kami akan membantu kau dengan sungguh-sungguh akan tetapi umpama kata Thian hendak mengantarkan jiwa keponakanmu itu pulang ke alam baka, itulah bukannya tenaga manusia yang dapat mencegahnya, maka itu kau tidak boleh menimbulkan lain urusan lagi!”
Kedua mata Auwyang Hong mendelik dan berputar.
“Jikalau keponakanku sampai mati, si pengemis tua jangan harap dapat hidup lebih lama!” katanya bengis. “Budak cilik, jangan kau ngaco belo lebih lama! lekas kau tolongi keponakanku itu!”
Habis berkata, jago dari Barat ini lantas lompat keluar dari gua, untuk berlari-lari keras ke arah lembah.
Kwee Ceng hendak lompat menyusul tetapi si nona tarik tangannya.
“Engko Ceng,” ia berkata, memesan, “Kalau sebentar See Tok membantu mendorong batu besar itu, kau gunai ketikamu untuk membokong dia untuk membikin habis jiwanya!”
“Cara membokong itu bukan cara terhormat,” berkata Kwee Ceng.
“Dia bikin celaka suhu, adalah itu caranya terhormat?” tanya si nona. Agaknya ia mendelu.
“Tetapi kita telah mengeluarkan kata-kata, harus kita pegang itu,” Kwee Ceng mengasih mengerti. “Sekarang kita tolongi dulu keponakannya itu, nanti di belakang hari kita mencari jalan untuk membuat pembalasan.”
Mendengar itu, si nona tertawa.
“Baiklah,” katanya. “Kau seorang nabi, suka aku mendengar katamu!”
Setelah memesan gurunya untuk menanti, kedua muda-mudi ini lari ke lembah. Di sana mereka mendengar Auwyang Kongcu merintih, suaranya sangat mengenaskan, menandakan ia menderita sangat.
“Lekas, lekas!” Auwyang Hong memanggil seraya membentak.
Kwee Ceng dan Oey Yong lantas mendekati batu, untuk memasang kuda-kuda. Auwyang Hong sendiri sudah bersiap terlebih dulu. Dengan satu tanda, dengan berbareng enam buah tangan memegang batu dan menolaknya. Auwyang Hong adalah yang berseru; “Angkat!”
Ditolak oleh enam tangan yang kuat, batu itu tergerak, tetapi cuma sebentar, sehabisnya tenaga orang, batu itu jatuh pula, pulang ke tempat asalnya.
“Aduh!” menjerit Auwyang Kongcu yang tak sempat menarik kedua kakinya. Ia ketimpa pula, lantas ia pingsan kembali.
Auwyang Hong kaget, ia berdongkol melihat keponakannya itu, napas siapa empas-empis selekasnya dia sadar pula, dia menahan sakit hingga ia menggigit keras bibirnya, sampai bibirnya mengeluarkan darah.
See Tok menjadi sangat bingung. Terang sudah tenaga mereka betiga tidak cukup kuat untuk mengangkat batu raksasa itu. Lama-lama keponakannya bisa mati karena sakitnya itu. Ia menjadi lebih bingung lagi ketika ia merasakan kakinya dingin, apabila ia mengangkat sebelah kakinya, nyata sepatunya sudah basah, tanah pasir yang ia injaknya itu kerendam air. Itulah air laut pasang, yang naik sampai ke lembah itu.
“He, budak cilik!” See Tok membentak Nona Oey. “Jikalau kau hendak menolongi jiwa gurumu, lekas kau tolongi keponakanku ini!”
Oey Yong lagi berpikir keras ketika ia ditegur itu. Batu begitu berat, di pulau ini tidak ada orang lain, yang dapat membantu. Bagaimana? Ia mendongkol atas teguran itu.
“Coba kalau guruku tidak terluka, pasti dia dapat membantu!” katanya. “Ilmu luar dari guruku lihay sekali, tenaganya besar luar biasa, dengan kita berempat bekerja sama, mestinya batu ini dapat digeser. Sekarang…”
Ia angkat kedua tangannya, ia menggoyang-goyangkannya, tandanya ia putus asa.
Auwyang Hong tidak senang mendengar itu tetapi itulah kenyataan, ia tidak bisa bilang suatu apa. Ia pikir, memang benar kalau Ang Cit Kong tidak terluka, pengemis itu pasti dapat membantu mereka. Maka maulah ia memikir itu adalah takdir, kebetulan keponakannya bercelaka, kebetulan Pak Kay terluka…
“Paman,” terdengar suaranya Auwyang Kongcu perlahan. “Kau hajar saja aku supaya aku lantas mati…”
“Aku….aku tidak dapat bertahan lagi….”
Auwyang Hong mengawasi, lantas ia mencabut pisau belatinya.
“Kau tahan sakit sedikit,” katanya seraya terus menggigit gigi. “Tanpa sepasang kakimu, kau masih dapat hidup…!”
Ia maju mendekati, hendak ia menguntungi kedua kaki orang.
“Paman, paman!” berteriak-teriak si keponakan. “Jangan, jangan! Lebih baik kau tolong aku dengan membunuh aku saja…!”
Marah paman itu.
“Percuma aku mendidik kau banyak tahun, kenapa kau tidak mempunyai semangat laki-laki?!” bentaknya.
Keponakan itu menutup mulutnya, dengan kedua tangannya ia mendekap dadanya. Dengan begitu ia mencoba menahan sakitnya.
Menyaksikan itu, hatinya Oey Yong lemas juga. Ia lantas berpikir pula, hingga ia ingat caranya ayahnya bekerja di Tho Hoa To waktu ayahnya itu mengangkat batu dan balok.
“Tunggu!” ia berkata kepada Auwyang Hong. “Kalau kau kutungi kedua kakinya, apakah itu bukan berari kau mengantarkan jiwanya? Aku ada mempunyai satu daya, entah berhasil atau tidak, mari kita coba dulu.”
“Lekas bilang, lekas bilang, apa itu?” See Tok lantas mendesak. “Nona yang baik, kali ini tentulah kau berhasil…”
“Hm,” pikir Oey Yong. “Kau sangat ingin menolongi keponakanmu, sekarang kau tidak mencaci dan membentak-bentak aku pula, bahkan memanggil aku nona yang baik.” Ia lantas tersenyum, terus ia berkata: “Baiklah! Sekarang kau mesti dengar titahku. Lekas kau keset pohon itu, kau membuatnya dadung yang panjang untuk menarik batu besar itu…”
“Siapakah yang menariknya?” Auwyang Hong memotong. Ia heran. Bukankah mendorong dan menarik sama saja sebab mereka tetap bertiga?
“Kita bekerja seperti dari atas perahu kita mengangkat jangkar,” Oey Yong bilang.
Auwyang Hong mengerti, tiba-tiba ia jadi mendapat harapan.
“Cocok, cocok!” katanya. “Kita menarik sambil berputaran!”
Kwee Ceng tidak tahu caranya Oey Yong akan bekerja, begitu mendengar si nona minta babakan pohon untuk diambil tali seratnya, ia lantas saja mengeluarkan pisaunya, terus ia bekerja memotong babakan pohon.
Auwyang Hong dan Oey Yong juga turut bekerja.
Tidak lama mereka sudah mendapatkan beberapa puluh lembar babakan yang panjang.
Auwyang Hong bekerja sambil mengawasi keponakannya, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata dengan putus asa: “Sudahlah, tak usah kita memotong lebih jauh….”
“Kenapa?” tanya Oey Yong heran. “Kenapa tidak jadi?”
See Tok menunjuk ke arah keponakannya.
Oey Yong dan Kwee Ceng mengawasi. Mereka melihat air pasang telah naik hingga tubuh Auwyang Kongcu sudah kerendam separuhnya. Maka jangan kata untuk membikin tambang, memotong babakan saja sudah tidak keburu….
Auwyang Kongcu sendiri berdiam, ia tidak bergerak, tidak bersuara.
“Jangan putus asa!” kata nona Oey kemudian. “Lekas potong terus!”
Auwyang Hong si iblis yang biasanya malang-melintang, mendengar suaranya si nona, sudah lantas bekerja pula. Ia bekerja dengan cepat sekali. Oey Yong sendiri lompat dari atas pohon, ia lari kepada Auwyang Kongcu. Ia angkat tubuh orang, ia mengganjalnya dengan satu batu besar. Secara begini, pemuda itu tidak kerendam mukanya, maka dapatlah ia bernapas terus.
“Adik yang baik, terima kasih banyak-banyak untuk pertolonganmu,” berkata Auwyang Kongcu dengan perlahan. “Aku tidak bakal hidup lebih lama pula, akan tetapi melihat kau begini sungguh-sungguh menolongi aku, kalau aku nanti mati, aku mati senang….”
“Jangan mengucap terima kasih padaku,” kata Oey Yong yang karena jujurnya merasa jengah sendirinya. “Kau terjebak karena akulah yang mengaturnya, kau tahu?”
“Hus, jangan omong keras-keras!” mencegah Auwyang Kongcu. “Kalau pamanku mendapat dengar, tidak nanti dia melepaskanmu! Sudah sedari siang-siang aku dapat mengetahui perbuatanmu ini, tetapi terbinasa di tanganmu, sedikit juga aku tidak menyesal….”
Oey Yong menghela napas, hatinya berpikir; “Meski orang ini menjemukan tetapi terhadapku dia tidak buruk…” Ia lantas kembali ke bawah pohon, untuk mulai bekerja. Ia melara, membuatnya sebuah dadung kasar. Ini rupanya belum cukup kuat, maka empat helai itu ia melaranya pula menjadi satu helai yang besar.
Auwyang Hong bersama Kwee Ceng tidak hentinya memotong babakan pohon, untuk diambil seratnya, dan si nona pun tak henti-hentinya melara. Semua bekerja cepat dan sungguh-sungguh. Mereka mesti berlomba sama sair pasang. Air baru saja naik, tak gampang-gampang lekas surut.
Belum Oey Yong dapat melara kira-kira setombak panjangnya, air sudah naik hingga dipinggirnya mulutnya Auwyang Kongcu, setelah ia dapat lagi beberapa kaki, air itu sampai di pinggiran bibir, ya, ke bibir, hingga dilain saat terlihat saja liang hidungnya si anak muda.
Menampak itu Auwyang Hong lompat turun dari atas pohon.
“Menyingkirlah kamu!” katanya pada Kwee Ceng dan Oey Yong. “Aku hendak bicara sama keponakanku. Kamu sudah berbuat apa yang kamu bisa, aku mengerti kebaikanmu ini.”
Kwee Ceng pun merasa bahwa harapan sudah lenyap, ia lompat turun, dengan jalan berendeng sama si nona, ia bertindak pergi jauhnya lebih dari sepuluh tombak.
“Mari kita pergi ke belakang batu besar itu, kita mencuri dengar perkataannya,” bisik Oey Yong si cerdik.
“Urusan toh tidak mengenai kita?” berkata si anak muda. “Laginya si tua bnagka yang lihay itu tentunya mengetahuinya….”
“Semampusnya keponakannya itu, mungkin dia akan mengganggu suhu,” kata Oey Yong. “Kalau kita ketahui niatnya, dapat kita bersiaga. Umpama kata si tua bangka beracun itu memergoki kita, kita bilang saja kita kembali untuk mengambil selamat berpisah dari keponakannya itu…”
Kwee Ceng mengangguk. Ia anggap alasan itu tepat. Bersama-sama mereka lantas jalan terus, untuk memutar dengan diam-diam, selekasnya mereka tak nampak lagi oleh Auwyang Hong, lekas-lekas mereka menghampirkan ke arah batu. Tentu sekali mereka tak sudi memperdengarkan tindakan kaki mereka.
Tepat mereka sampai, mereka dapat mendengar kata-katanya Auwyang Hong: “Kau pergilah dengan baik, aku mengerti maksud hatimu. Kau berkeinginan mesti nikahi putrinya Oey Lao Shia sebagai istrimu, pasti aku akan membikin keinginanmu itu terkabul.”
Kedua muda-mudi di belakang batu itu heran bukan main.
“Dia bakal segera mampus, cara bagaimana keinginan itu dapat dikabulkan?” mereka berpikir. “Apakah artinya kata-kata si tua bangka berbisa ini?”
Mereka memasang kuping terlebih jauh, setelah mana mereka jadi kaget dan gusar, punggung mereka dialirkan peluh dingin. Auwyang Hong itu berkata: “Akan aku bunuh putrinya Oey Lao Shia ini, nanti aku masuki tubuhnya dalam satu liang kubur bersamamu! Bukankah semua orang mesti mati? Kau dan dia tak dapat hidup bersama, tetapi mati dapat dikubur menjadi satu, kau tentu merasa puas juga…”
Mulutnya Auwyang Kongcu telah kerendam air, tidak dapat ia menjawab.
Oey Yong memencet tangannya Kwee Ceng, yang ia tarik, dengan perlahan ia bertindak. Maka bersama-sama mereka menyingkir dari situ.
Auwyang Hong tengah berduka sangat, ia tidak mendengar suara apa juga.
Tiba di tempat dimana mereka sudah berpisah cukup jauh, Kwee Ceng berkata dengan sengit. “Yong-jie, lebih baik kita hampirkan si bisa bangkotan itu untuk mengadu jiwa dengannya!”
“Bertempur sama dia, kita melawan dengan kecerdikan, tidak dengan tenaga,” menyahut si nona tenang.
“Bagaimana caranya itu?”
“Aku lagi memikirkannya.”
Mereka jalan terus, sampai di tikungan. Di situ si nona melihat gombolan pohon gelaga.
“Jikalau dia tidak jahat dan kejam, aku dapat jalan untuk menolongi keponakannya itu,” berkata Oey Yong.
Kwee Ceng heran.
“Bagaimana itu?” dia tanya.
Oey Yong menghampirkan gombolan gelaga itu, ia memotong sebatang, di antaranya lalu ia angkat itu, dimasuki ke dalam mulutnya, untuk menyedot dan bernapas.
“Bagus!” Kwee Ceng bertepuk tangan. “Oh, Yong-jie yang baik bagaimana kau dapat memikirkan ini? Bagaimana sekarang, kita menolongi atau jangan?”
Oey Yong memainkan bibirnya.
“Tentu aku tidak sudi menolongi dia!” sahutnya. “Si tua bangka berbisa itu hendak membunuh aku, biarlah dia coba membunuhnya! Aku tidak takut!”
Kwee Ceng heran, ia berdiam diri.
Si nona mengawasi, lalu ia tarik tangan orang.
“Engko Ceng,” katanya halus, “Mustahilkah kau menghendaki aku menolongi manusia jahat itu? Adakah kau berkhawatir untuk keselamatanku? Jikalau kita menolongi dia, belum tentu dua manusia jahat itu dapat berbauta baik kepada kita…”
“Memang kau benar,” berkata Kwee Ceng. “Memang aku memikirkan kau dan suhu. Aku pikir si tua bangka berbisa ada satu pemimpin partai, mestinya perkataannya dapat dipercaya juga…”
Oey Yong mengambil keputusan dengan cepat.
“Baik, marilah kita menolongi dia!” katanya. “Habis itu, kita lihat saja nanti. Kita boleh jalan setindak demi setindak.”
Keduanya lantas jalan balik, mereka putarkan batu raksasa itu.
Sekarang Auwyang Hong berdiri di dalam air, sebelah tangannya memegangi keponakannya. Ia melihat dua orang muda itu menghampirkan, matanya lantas bersinar, sikapnya mengancam.
“Aku menyuruh kamu pergi, buat apa kamu kembali?!” tanyanya bengis.
Oey Yong menghampirkan sepotong batu, di situ ia berduduk.
“Aku datang untuk melihat dia sudah mampus atau belum?” ia menyahut sembari tertawa geli.
“Habis kalau mati bagaimana, kalau hidup bagaimana?!” tanya See Tok, tetap bengis, panas hatinya.
Si nona menghela napas.
“Kalau ia sudah mati, sayang, tidak ada daya lagi…” sahutnya.
Auwyang Hong heran, hingga ia berjingkrak.
“Oh, nona yang baik,” serunya. “Dia…dia masih belum mati! Benarkah kau ada punyai daya? Lekas bicara!”
Oey Yong menyodorkan batang gelaganya.
“Kau masuki ini ke dalam mulutnya, dia tentu tidak mati,” sahutnya enteng.
Auwyang Hong girang, ia menyambuti, ia lompat pula kepada keponakannya. Dengan cepat ia masuki batang gelaga itu ke dalam mulut keponakannya itu, hingga batang itu merupakan semacam pipa.
Keadaannya Auwyang Kongcu sedang hebatnya, tetapi ia masih dapat mendengar pembicaraan di antara si nona dan pamannya itu, begitu pipa dimasuki ke dalam mulutnya, ia telan air yang terakhir di mulutnya itu, lalu ia dapat bernapas seperti biasa. Ia girang hingga sesaat ia melupakan kakinya yang sakit.
“Lekas!” berseru Auwyang Hong. “Lekas kita melanjuti membuat dadung itu!”
“Paman Auwyang,” berkata si nona, sebelum ia menyambut ajakan itu, bukankah kau memikir untuk membunuh aku untuk dikorbankan untuk keponakanmu itu?”
See Tok melengak. “Kenapa ia dengar pembicaraanku barusan?” pikirnya.
Oey Yong masih tertawa, ia berkata pula: “Kau hendak membunuh aku, kalau maksudmu kesampaian, habis itu Thian sangat membenci kejahatanmu itu, kepada kau diturunkan sesuatu malapetaka, siapakah nanti yang menolongi kamu?”
Auwyang Hong sangat membutuhkan bantuan orang, ia tidak mengambil peduli gangguan itu, dengan berlagak tuli dengkak, ia lari ke darat, ke bawah pohon untuk mulai lagi memotongi babakan pohon.
Si nona tidak mengganggu terlebih jauh, ia pun mengajak Kwee Ceng untuk bekerja pula. Mereka sama-sama melara setelah babakan didapat cukup banyak.
Masih kira-kira satu jam melara beberapa kali, ia menghampirkan dadung, baru mereka berhasil merampungkan sehelai dadung yang panjangnya tiga puluh tombak lebih. Sementara itu kepalanya Auwyang Kongcu sudah mulai kerendam air, hingga tampak tinggal pipa gelaga itu.
Auwyang Hong berkhawatir, beberapa kali ia menyam pirkan, untuk memeriksa nadi keponakannya itu. Untuk kelegaan hatinya, nadi itu tetap berjalan baik. Ia pun menjadi terlebih lega telah sesaat kemudian ternyata, air pasang sudah tiba saatnya untuk surut pula, maka dilain detik, kepalanya si anak muda mulai tertampak pula.
“Cukuplah sudah!” terdengar suaranya Oey Yong keras habis ia mengulur-ulur dadung buatannya itu. “Sekarang aku membutuhkan tiga batang kayu besar untuk dipakai sebagai alat putaran.”
Auwyang Hong bersangsi. Mereka tidak mempunyai kampak atau golok, bagaimana mereka bisa mendapatkan potongan-potongan kayu yang dibutuhkan itu?
“Bagaimana itu harus dibuatnya?” ia menanya.
“Kau tak usah ambil tahu caranya, kau cari kayunya saja!” membentak si nona.
See Tok berkhawatir juga nona itu benar-benar murka dan nantinya tidak sudi membantu terlebih jauh, lantas ia pergi menghampirkan pepohonan. Ia pilih yang batangnya tidak terlalu besar, ia berjongkok di situ, ia pegang pohon dengan kedua tangannya, lalu sambil mengerahkan tenaga dari Kuntauw Kodok, ia coba mendorong pohon itu. Nyata ia berhasil! Maka ia lantas bekerja terus, merobohkan semuanya tiga buah pohon.
Kwee Ceng dan Oey Yong mengulurkan lidahnya menyaksikan tenaga orang yang besar itu.
Auwyang Hong masih bekerja. Ia mencari sebuah batu besar dan lancip, ia menggunainya untuk membabat berulang-ulang, memutuskan semua cabang kecil dari ketiga batang pohon itu, setelah semuanya merupakan sebagai potongan balok, terus ia menyerahkan itu kepada si nona.
Oey Yong dan Kwee Ceng menyambuti.
“Begini,” kata si nona kepada kawannya. Ia pun lantas bekerja.
Kwee Ceng membantui tanpa banyak omong.
Oey Yong mengikat ketiga batang balok itu satu kepada lain, ia mengikat erat-erat, ia meninggalkan tiga ujung yang panjang. Kemudian selebihnya dadung ia bawa ke batu besar itu, untuk melibatnya dibagian tengahnya, lalu ujung itu diikat kepada balok-balok yang sudah dipasang dan terikat rapi itu.
Ketiga potong balok itu diikat di seputarnya sebuah pohon cemara tua yang besar sekali, yang tumbuh di sebelah kanan batu raksasa itu. Besarnya pohon mungkin tak terpeluk lima atau enam orang.
“Bukankah pohon cemara tua ini dapat melayani batu besar itu?” kemudian si nona tanya si Bisa dari Barat.
Auwyang Hong mengangguk. Sekarang ia mengerti sudah maksudnya nona itu.
Tapi Oey Yong masih kurang puas, ia menyuruh si tua bangka berbisa membuat lagi dadung yang terlebih kecil, untuk dipakai itu mengikat lebih jauh ketiga potongan balok itu, supaya kekuatannya bertambah.
“Nona yang baik, kau sungguh cerdik!” akhirnya See Tok memuji. “Inilah yang dibilang keluarga pintar luar biasa, - ada ayahnya, ada putrinya!”
“Tapi mana aku dapat menandingi keponakanmu itu?” berkata Oey Yong tertawa. “ah, marilah kita mulai menarik memutar!”
Auwyang Hong menurut, begitu juga dengan Kwee Ceng, maka setelah memegang masing-masing ujungnya ketiga balok itu, mereka lantas saja menolak dengan mengeluarkan tenaga mereka. Perlahan tetapi tentu, batu itu bergerak berkisar sedikit.
Sementara itu dengan lewatnya sang waktu - matahari sudah doyong ke darat - air pun telah surut habis, hingga sekarang Auwyang Kongcu terlihat duduk mendeprok di tanah yang merupakan lumpur berpasir. Ia mendelong mengawasi batu besar itu, yang bergeraknya sangat ayal, nampaknya ia bergelisah dan bergirang……
Batang pohon cemara tua dan besar itu bagaikan dilindas balok-balok itu, yang berputar di sekitarnya berputar tak hentinya. Dengan babakan runtuh, batang itu menjadi terlebih licin dan berputarnya balok-balok tak seberat semula.
Auwyang Hong tidak percaya Thian, malaikat atau iblis, tetapi sekarang diam-diam ia memuji supaya mereka diberikan tambahan tenaga, supaya batu raksasa itu dapat terangkat cukup tinggi hingga kedua kaki keponakannya tak tertindih lebih lama lagi. Asal batu itu dapat terangkat, Auwyang Kongcu bisa diangkat untuk disingkirkan.
Tengah mereka mendorong mendadak terdengar satu suara keras dan nyaring, hingga ketiganya kaget dan lompat minggir. Nyata dadung di tengah terputus, maka dengan sendirinya batu besar itu balik pada kedudukannya yang lama. Mereka sendiri, apabila mereka tidak berlompat pasti terkena balok-balok itu.
Auwyang Hong menjadi sangat lesu, air mukanya tak enak dilihat.
Oey Yong pun masgul bukan main. Inilah ia tak sangka.
“Marilah kita membikin lagi dadung yang terlebih kasar,” kata Kwee Ceng kemudian. Ia tidak melihat lain jalan. “Kita memakai dua rangkap.”
Auwyang Hong menggeleng kepala.
“Sulit,” katanya. “Kita bertiga tidak berdaya….”
“Kalau saja ada yang membantui….” Kwee Ceng berkata sambil ngelamun.
Mendengar itu, Oey Yong melengak, lalu mendadak ia berjingkrak seraya menepuk-nepuk tangan.
“Akur! Akur!” serunya. “Ada orang yang membantu….!”
Kwee Ceng heran, ia girang.
“Yong-jie,” katanya, “Benarkah ada orang yang membantui?”
“Ah, sayang engko Auwyang mesti menderita lagi satu hari…” berkata si nona. “Ia mesti menanti sampai besok diwaktu air pasang barulah ia lolos dari penderitaannya ini….”
Auwyang Hong heran begitu pun Kwee Ceng. Keduanya mengawasi nona itu. Mereka berpikir hingga di dalam hatinya mereka menanya: “Mustahilkah besok di waktu air pasang ada orang yang datang membantu?”
Oey Yong tidak memperdulikan mereka itu.
“Setelah bekerja keras seharian, aku lapar!” katanya, tertawa. “Mari kita mencari makanan dulu baru kita bicara pula.”
“Nona,” akhirnya Auwyang Hong menanya, ” Kau bilang besok bakal ada orang datang membantu, apakah artinya pembilanganmu itu?”
“Besok pada waktu begini, batu yang menindih tubuh saudara Auwyang bakal disingkirkan,” menyahut si nona. “Inilah ada rahasia alam, tak dapat aku membocorkannya….”
Melihat orang bicara secara demikian sungguh-sungguh, Auwyang Hong menjadi separuh percaya dan separuh tidak. Pula, ia tidak mempercayai, ia pun tidak mempunyai daya lain. Maka terpaksa ia berdiam saja menemani keponakannya itu.
Oey Yong bersama Kwee Ceng sudah lantas pergi memburu beberapa ekor kelinci, yang seekor mereka matangi, untuk dibagi kepada Auwyang Hong dan keponakannya itu.
Mereka sendiri berdahar bertiga bersama Ang Cit Kong di dalam gua. Sembari berdahar mereka dapat ketika pasang omong tentang segala kejadian sejak mereka berpisahan. Si pemuda girang sekali mendapat penjelasan bahwa Auwyang Kongcu roboh karena jebakan si nona.
Kemudian malam itu ketiganya tidur nyenyak. Mereka percaya Auwyang Hong tidak bakal datang mengganggu sebab See Tok mengharap-harapkan sangat bantuan mereka guna menolongi keponakannya itu. Mereka menyalakan api ungun di mulut gua untuk mencegah masuknya binatang liar.
Besoknya fajar, baru Kwee Ceng membuka matanya, ia dapat melihat satu bayangan orang berkelebat di muka gua. Ketika ia berlompat bangun, ia mendapatkan Auwyang Hong.
“Apakah nona Oey sudah bangun?” menanya Auwyang Hong perlahan.
Oey Yong mendusin, selagi Kwee Ceng berlompat bangun, kapan ia dengar suaranya musuh ia pejamkan pula matanya dan menperdengarkan gerosan napasnya untuk berpura-pura tidur nyenyak.
“Belum,” Kwee Ceng menyahut, perlahan. “Ada apa?”
“Kalau sebentar dia sudah bangun, minta dia datang untuk menolongi orang,” menyahuti See tOk.
“Baik,” menjawab Kwee Ceng.
Dari dalam, Cit Kong menyambar: “Aku telah kasih dia minum arak yang wangi bernama Mabok Seratus Hari di dalam tempo tiga bulan mungkin dia tak akan mendusin…!”
Auwyang Hong melengak justru mana Pak Kay tertawa terbahak-bahak, maka taulah bahwa ia tengah digoda. Ia mendongkol bukan main tetapi ia ngeloyor pergi.
Oey Yong melompat bangun, ia pun tertawa.
“Kalau bukan sekarang kita goda dia, kita hendak tunggu kapan lagi?” katanya.
Dengann ayal-ayalan nona itu menyisir rambutnya dan merapikan pakaiannya, habis mana ia membawa joran untuk pergi memancing ikan, untuk memburu kelinci, yang semuanya dimatangi untuk mereka sarapan pagi.
Selama itu Auwyang Hong telah datang tujuh atau delapan kali, ia bergelisah seperti semut di atas kuali panas.
“Yong-jie,” menanya Kwee Ceng, “Benarkah sebentar diwaktu air pasang bakal datang orang membantui kita?”
“Kau percayakah bakal datang pembantu?” si nona balik menanya, tertawa.
“Aku tidak percaya.” sahut si anak muda.
“Aku juga tidak percaya!” Dan si nona tertawa pula.
Kwee Ceng tercengang.
“Jadinya kau sengaja mempermainkan si tua bangka berbisa itu?”
“Bukan seluruhnya aku mendustai dia,” sahut si nona. “Diwaktu air pasang, aku ada mempunyai daya untuk menolongi keponakannya itu.”
Kwee Ceng tahu kekasihnya cerdik sekali, ia tidak menanya lebih jauh.
Oey Yong lantas ajak pemuda itu pergi ke pinggir laut untuk mencari pelbagai macam batok kerang.
Nona Oey tidak mempunyai kawan semenjak kecil, ia biasa main-main seorang diri, sekarang ia mendapat Kwee Ceng sebagai teman, ia gembira bukan main. Begitulah diajakinya pemuda itu berlomba mendapati banyak lokan dan ynag bagus-bagus juga. Dalam tempo yang pendek, mereka mendapatkan banyak, saking gembira, saban-saban terdengar suara tertawa mereka. Sesaat itu mereka seperti lupa bahwa mereka berada di pulau kosong di mana jiwa mereka terancam bahaya maut………
“Eh, engko Ceng, rambutmu kusut, mari aku tolong sisirkan,” kata si nona kemudian.
Kwee Ceng menurut, maka itu mereka duduk berduaan. Dari sakunya, Oey Yong mengeluarkan sisirnya yang terbuat dari batu giok bersalut emas. Ia membuka rambut orang dan menyisirnya dengan perlahan-lahan.
“Bagaimana dayanya untuk mengusir See Tok dan keponakannya itu?” ia bertanya sambil tangannya bekerja. “Kalau mereka itu sudah tidak ada, kita bertiga dapat berdiam dengan aman di sini. Tidakkah itu bagus?”
“Tapi aku memikirkan ibuku serta enam guruku,” menyahut Kwee Ceng.
“Ah, ya, masih ada ayahku juga…” menambah si nona. Ia berhenti sebentar, lalu ia berkata pula: “Entah bagaimana dengan enci Bok sekarang….. Suhu telah menyuruh aku menjadi Pangcu dari Kay Pang, karena itu aku pun jadi memikirkan itu kawanan pengemis………….”
Kwee Ceng tertawa.
“Maka itu aku pikir lebih baik kita pikirkan daya untuk berlalu dari sini….” katanya.
Oey Yong sudah selesai menyisiri, lalu ia mengondekan rambut pemuda itu.
“Yong-jie, kau menyisiri rambutku, kau mirip ibuku,” kata Kwee Ceng.
“Kalau begitu, panggilah aku ibu!” Oey Yong tertawa.
Si anak muda diam saja, lantas si nona mengitik dia.
“Kau memanggil atau tidak?” nona itu pun menanya.
Kwee Ceng kaget kegelian, ia berjingkrak bangun, maka kacaulah pula kondenya.
“Kau tidak mau memanggil, ya sudah saja!” berkata Oey Yong tertawa. “Memang siapa yang sangat menginginkan itu? Kau tahu, di belakang hari tentu bakal ada orang yang memanggil ibu kepadaku. Nah, kau duduklah!”
Kwee Ceng berduduk pula, untuk si nona mengondekan pula rambutnya.
“Engko Ceng,” si nona menanya pula, “Bagaimana tentang melahirkan anak. Tahukah kau?”
“Tahu.”
“Coba bilang.”
“Orang menikah menjadi suami istri, itu artinya mendapat anak.”
“Hal itu pun aku tahu. Hanya bagaimana sebenarnya?”
“Sampai sebegitu jauh, aku tidak tahu. Cobalah kau bilang.”
“Aku juga tidak tahu. Pernah aku tanya ayah, ayah bilang….”
Kwee Ceng hendak menanya jelas ketika mereka mendadak mendengar suara seperti cecer pecah di belakang mereka: “Urusan mendapat anak itu nanti juga kamu mendapat tahu sendiri! Sekarang air pasang mau naik pula!”
Keduanya terkejut. Mereka tidak menyangka Auwyang Hong - orang yang membuka suara nyaring itu - telah tahu-tahu berada di antara mereka. Muka Oey Yong pun menjadi merah. Kwee Ceng menyusul kawannya itu.
Auwyang Kongcu tertindih batu sehari semalam, ia payah bukan main.
“Nona Oey,!” berkata Auwyang Hong, suaranya keren. Ia pun menyusul mereka ini. “Kau yang bilang diwaktu air pasang bakal ada orang datang membantu kita. Urusan ini mengenai jiwa manusia, bukannya urusan main-main!”
“Ayahku pandai ilmu meramalkan, putrinya pasti mengerti juga ilmu itu tiga bagian,” menyahut si nona. “Apakah artinya baru ilmu meramalkan?”
Auwyang Hong memang ketahui baik kepandaiannya Oey Yok Su.
“Jadinya ayahmu yang bakal datang?” dia menegaskan. “Bagus!”
“Hm!” si nona mendengarkan suara tawar. “Untuk urusan remeh ini kenapa aku mesti sampai mengganggu ayahku? Laginya, jikalau ayah dapat melihatmu, mana dia sudi mengasih ampun? Apakah yang kau buat girang?”
Disenggapi begitu, Auwyang Hong bungkam.
“Engko Ceng,” berkata si nona, tanpa menggubris pula See Tok, “Coba kau tolong mencari bongkot pohon, semakin banyak semakin bagus. Pula pilihlah yang besar-besar.”
Si anak muda bersedia untuk bekerja, ia lantas pergi. Oey Yong lantas bekerja, melara dadung dan menyambung yang putus kemarin.
Auwyang Hong tidak dapat berdiri diam saja, ia tanya nona itu apa benar Oey Yok Su bakal datang. Sia-sia belaka ia menanya sampai beberapa kali, Oey Yong ganda ia dengan bernyanyi-nyanyi perlahan, tangannya terus bekerja. Karenanya ia terpaksa ngeloyor pergi, untuk membantui Kwee Ceng mencari balok. Ia dapat melihat Kwee Ceng merobohkan pohon dengan serangan Hang Liong Sip-pat Ciang, dengan dua kali hajaran saja dia dapat mematahkan batang sebesar mangkok.
“Hebat bocah ini,” memikir See Tok. “Dia pun hapal Kiu Im Cin-keng, kalau dia terus dikasih tinggal hidup, di belakang hari dia bakal menjadi bahaya untuk pihakku…” Maka berpikirlah ia, keponakannya ketolongan atau tidak, pemuda ini harus disingkirkan. Habis itu ia bekerja, ia membuatnya Kwee Ceng heran dan kagum. Ia berdiri di antara dua pohon, begitu ia menggeraki tangannya kedua pihak, dua-dua pohon itu roboh patah dengan berbareng.
“Paman Auwyang,” Kwee Ceng menanya, “Sampai kapan aku dapat mencapai ilmu seperti ynag dipunyakan kau ini?”
Wajah Auwyang Hong bermuram durja, di dalam hatinya, ia kata: “Tunggu sampai kau menitis pula…” Ia tidak memberikan jawaban pada pemuda itu.
Setelah memperoleh belasan potong balok, Kwee Ceng dan See Tok membawa itu semua kepada Oey Yongn. Matanya See Tok kemudian diarahkan ke tengah laut. Ia mau melihat ada perahu datang atau tidak. Ketika itu air mulai naik. Terang sekali ia sudah tidak sabaran sekali, maka juga ia mengajak si nona dan pemuda lekas bekerja.
Kali ini Oey Yong mengikat potongan-potongan balok itu kepada batu. Ia pakai balok-balok itu untuk meminjam tenaga mengambangnya. Setelah itu, dengan dadung yang terikat rapi pula pada pohon besar, mereka mulai lagi dengan usahanya mendorong mutar ujung-ujung balok yang diikat pada pohon itu.
Percobaan si nona ini memberi hasil yang menyenangkan, dengan dibantu tenaga mengambangnya balok-balok itu, batu besar itu dapat terangkat hanya dengan beberapa putaran.
Auwyang Hong menyuruh muda-mudi itu menahan kuat-kuat, ia sendiri lari ke batu. Air telah pasang dalam, maka untuk menolongi keponakannya, ia mesti menahan napas untuk selulup. Tidak sukar untuknya memondong Auwyang Kongcu, buat dibawa ke darat.
Kegirangannya Kwee Ceng tidak terhingga besarnya yang pertolongan mereka itu telah berhasil, tanpa merasa ia bersorak-sorai, kemudian ia tarik tangannya Oey Yong, untuk diseret berlari-lari ke gua mereka tanpa memperdulikan pula itu paman dan keponakannya.
“Adik Yong, pantas atau tidak aku bersorak?” tanya Kwee Ceng. “Hatimu lega atau tidak?”
“Aku hanya lagi memikirkan tiga soal yang aku merasakan kesulitannya,” menyahut si nona.
“Kau sangat cerdas, kau pasti mempunyai dayanya,” berkata pula Kwee Ceng. “Soal-soal apakah itu?”
Oey Yong menyebut-nyebut kesulitan tetapi ditanya begitu, ia bersenyum. Hanya, belum lagi ia memberikan jawabannya atau kedua alisnya telah dikerutkan.
“Soal yang pertama tidak apa,” berkata Ang Cit Kong yang semenjak tadi berdiam saja. “Yang kedua dan yang ketiga memang sulit sekali, sungguh itu dapat membuat orang tidak berdaya…….”
Kwee Ceng menjadi heran.
“Eh, mengapakah suhu mendapat tahu?” katanya. “Apakah itu?”
“Aku dapat menerka pikirannya Yong-jie,” menyahut sang guru. “Yang pertama-tama yaitu dengan cara bagaimana dia dapat mengobati lukaku. Di sini tak ada tabib, tak ada obat, aku si pengemis tua menyerah saja kepada takdir. Lihat saja, aku bakal mati atau bisa hidup terus… Yang kedua itu ialah bagaimana caranya untuk melawan Auwyang Hong si licin dan berbisa itu. Dia suka berbalik pikir, maka dia tak lah dapat dipercaya habis segala pembilangannya. Dia sangat lihay, kamu berdua tidak nanti bisa menempur padanya. Yang ketiga ialah soal bagaimana kita bisa dapat pulang ke daratan. Benar bukan, Yong-jie?”
Nona itu mengangguk.
“Benar!” sahutnya. “Inilah soal sangat penting untuk kita, soal bagaikan bencana di depan mata. Aku memikir jalan untuk dapat mengendalikan si tua bangka berbisa itu, walaupun tidak sempurna, asal dia dapat dibikin tidak berani memandang sebelah mata kepada kita.”
“Melihat keadaan, sekarang ini kita mesti melawan si bisa bangkotan itu dengan otak bukannya dengan tenaga,” berkata Ang Cit Kong. “Hanya dia sangat cerdik dan licin, inilah kesulitannya. Sukar dia dapat diperdayakan…”
Oey Yong berdiam, ia berpikir. Kwee Ceng pun tidak berdaya.
Ang Cit Kong berpikir keras sekali, ia merasakan dadanya sakit, karen aitu ia lalu batuk-batuk.
Nona Oey kaget, lekas-lekas ia pegangi guru itu, untuk dikasih rebah.
Disaat itu, mendadak gua menjadi gelap, ada bayangan hitam yang mengalinginya. Si nonalah yang paling dulu mengangkat kepalanya. Ia melihat Auwyang Hng berdiri tegar seraya memondong keponakannya. Dengan suara serak tetapi bengis, See Tok membentak: “Kamu semua keluar! Serahkan gua ini padaku untuk aku merawat keponakanku!”
Kwee Ceng gusar hingga ia berlompat bangun.
“Di sini ada guruku!” ia berseru.
Auwyang Hong mengasih dengar suara dingin: “Sekalipun Giok Hong Taytee yang tinggal disini, dia juga mesti keluar!”
Kwee Ceng bertambah gusar, tetapi Oey Yong lekas menarik tangan bajunya, kemudian si nona memondong tubuh gurunya, untuk dibawa keluar dari gua itu.
Selagi lewat di samping Auwyang Hong, Cit Kong menyeringai.
“Sungguh gagah, sungguh angker!” ia menyindir.
Matanya Auwyang Hong mencilak. Kalau ia menyerang, segera Ang Cit Kong akan terbinasa, entah kenapa ia merasakan suatu pengaruh aneh, maka lekas-lekas ia berpaling ke arah lain, untuk menyingkir dari mata tajam si pengemis. Walaupun begitu, mulutnya membilang: “Sebentar kamu membawakan barang makanan untuk kami berdua. Dan kau, dua makhluk cilik, jikalau kamu main gila dengan barang makanan itu, hati-hati jiwamu bertiga!”
Ketiganya berjalan terus, hati mereka panas. Kwee Ceng sangat mendongkol, ia mengutuk tak hentinya. Pak Kay dapat menutup mulut, demikian juga Oey Yong. Hanya nona ini bekerja otaknya.
“Kamu tunggu sebentar di sini, akan aku mencari tempat yang baru,” kata Kwee Ceng kemudian.
Oey Yong menurut, ia berhenti di bawah sebuah pohon yang teduh.
Di atas pohon itu ada dua ekor bajing tengah berlari-lari di cabang-cabang, lari turun naik, matanya mengawasi kepada ketiga orang itu. Berani mereka itu, mereka berani datang dekat kira-kira tiga kaki.
Oey Yong tertarik kepada kedua bajing itu.
Seekor bajing berani sekali, dia datang dekat dan mencium-cium nona itu. Kawannya lebih berani pula, dia turun dan merayap di ujung bajunya Ang Cit Kong!
Oey Yong menghela napas, ia berkata: “Terang sudah di sini tak pernah ada manusia. Lihat, binatang ini tidak takut orang.”
Mendengar suara orang, bajing itu lari naik ke atas.
Oey Yong mengawasi, maka ia dapat melihat banyak cabang-cabang pohon yang besar, yang terlibat-libat oyot otan. Daun pohon itu pun lebat sekali.
“Sudah engko Ceng, tak usah kau pergi mencari tempat lagi,” berkata nona ini. “Mari kita naik saja ke atas pohon ini.”
Kwee Ceng sudah ebrtindak ketika ia mendengar suara si nona. Ia mengangkat kepalanya, untuk melihat ke atas. Benar-benar ia mendapatkan sebuah tempat perlindungan.
Sampai disitu keduanya naik ke atas pohon itu. Mereka menekan cabang-cabang, mereka pun membuat palangan, hingga di situ terdapat ruangan seperti lauwteng, di mana orang bisa duduk atau rebah. Setelah selesai, mereka turun untuk mengangkat Ang Cit Kong naik ke atas. Mereka tak usah manjat lagi, cukup dengan mereka mendukung guru itu di kiri dan kanan, dengan berbareng mereka mengenjot tubuh untuk berlompat ke atas. Maka dilain saat, Pak Kay sudah dapat dipernahkan dengan baik.
“Untuk sementara kita berdiam di atas pohon ini bagaikan burung!” berkata si nona tertawa. “Biarlah mereka itu berdiam di dalam gua bagai binatang-binatang berkaki empat!”
“Bilang Yong-jie, kau hendak memberikan makanan atau tidak kepada mereka?” Kwee Ceng tanya.
“Sekarang ini kita belum mendapat jalan, kita pun tidak dapat melawan pada si tua bangka berbisa itu,” menyahut si nona, “Maka untuk sementara baik kita menurut saja…”
Kwee Ceng berdiam. Ia mendongkol berbareng masgul sekali.
Oey Yong mengajaki pemuda itu pergi ke belakang bukit, untuk berburu. Mereka berhasil merobohkan seekor kambing gunung, yang mereka terus sembelih, dijadikan dua potong. Mereka menyalakan api untuk membakarnya.
Setelah dibakar matang, Oey Yong lemparkan yang separuh ke tanah.
“Kau kencingin!” ia kata pada Kwee Ceng.
Si anak muda tertawa.
“Ah, dia tentu mendapat tahu nanti…”
“Jangan kau pedulikan! Kau kencinginlah!” berkata si nona.
Mukanya Kwee Ceng menjadi merah.
“Aku tidak bisa….” sahutnya.
“Kenapakah?”
“Sekarang aku belim ingin membuang air kecil…”
Mendengar itu si nona tertawa terpingkal-pingkal.
Tiba-tiba terdengar suaranya Ang Cit Kong di atas pohon.
“Kau lemparkan ke atas, nanti aku yang kerjakan!” kata si tua bangkotan yang jenaka itu.
Kwee Ceng tertawa, ia berlompat naik dengan daging kambing itu.
Pak Kay sudah lantas membuktikan perkataannya itu.
Sembari tertawa Kwee Ceng lompat turun pula, terus ia bertindak ke arah gua.
“Tunggu dulu!” Oey Yong mencegah. “Mari itu yang sepotong lagi!”
“Apa? Yang bersih?” tanya si anak muda. Ia menggaruk-garuk kepalanya saking heran.
“Benar!” menyahut si nona. “Kita berikan si tua bangka yang bersih…”
Walaupun ia ada sangat tidak mengerti, Kwee Ceng toh berbuat seperti katanya si nona yang ia sangat percayai itu. Ia menukar daging bersih dengan daging yang telah diberi air kencing itu.
Oey Yong memanggang pula daging yang kotor itu, kemudian ia pergi mencari bebuahan.
Juga Ang Cit Kong tidak mengerti perbuatannya si murid, ia menjadi heran berbareng masgul.
Oey Yong memanggang daging hingga menyiarkan baunya yang lezat, yang membangkitkan nafsu berdahar. Demikian Auwyang Hong di dalam guanya, hidungnya dapat mencium bau itu, lekas-lekas ia keluar, setibanya di mulut gua, tidak menanti Kwee Ceng - yang membawakan daging - dekat padanya, ia sudah memburu untuk menyambuti separuh dirampas.
Hebat nafsu dahar dari See Tok ini tetapi mendadak air mukanya berubah.
“Mana yang sebelah lagi?” mendadak ia bertanya.
Si anak muda tidak menjawab dengan mulutnya, ia cuma menunjuk ke belakang.
Tanpa membilang suatu apa, Auwyang Hong bertindak cepat ke bawah pohon di sana ia sambar daging kambing yang sebelahnya itu, sedang yang berada di tangannya ia lemparkan ke tanah. Tetap dengan tidak membilang suatu apa, kecuali ketawa dingin, ia memutar tubuhnya akan kembali ke guanya.
Kwee Ceng cepat-cepat berpaling ke arah lain, kalau tidak, pastilah akan terlihat wajahnya yang menahan tertawa. Ia anggap lucu sekali perbuatannya Auwyang Hong itu, yang telah terjebak Oey Yong. Baru setelah orang pergi jauh, ia lari kepada Oey Yong, wajahnya tersungging senyum.
“Yong-jie!” katanya tertawa, “Kenapa kau ketahui dia bakal menurkarnya?”
Si nona itu pun tertawa.
“Bukannya ilmu perang ada membilang,” menyahut si noa, “Bahwa yang kosong itu berisi, dan yang berisi ialah kosong? Si tua bangka berbisa itu pasti menduga kita menaruhkan racun di daging yang kita berikan padanya, dia tak sudi kena diakali, tetapi aku, aku justru menghendaki dia terpedaya!”
“Hebat!” memuji si anak muda, yang terus membeset daging itu, untuk dibawa naik ke ranggon pohonnya yang istimewa, untuk menyuguhkan kepada gurunya, kemudian bersama si nona ia pun turut dahar.
Auwyang Hong dan keponakannya dahar daging panggang itu dengan bernafsu. See Tok merasakan bau engas, ia menyangka daging itu memang demikian bau asalnya, ia menangsal terus.
Bertiga Oey Yong berhadar dengan hati mereka riang gembira.
“Yong-jie,” berkata Kwee Ceng kemudian. “Akalmu ini bagus tetapi berbahaya…”
“Mengapa?” tanya si nona.
“Umpama kata si tua bangka berbisa tidak menukar, bukankah kita bakal makan daging yang kotor dan bau itu?”
Oey Yong tertawa terpingkal-pingkal, hingga tubuhnya miring dan jatuh ke tanah, tetapi ia dapat jatuh berdiri, maka dilain detik ia sudah berada di atas pula.
“Benar, benar, memang berbahaya sekali!” katanya.
Ang Cit Kong bersenyum, tetapi ia menghela napas ketika ia berkata: “Anak-anak yang tolol, kalau benar dia tidak menukarnya, apakah kamu tidak dapat makan daging bau pesing itu?”
Kwee Ceng melengak, lalu ia tertawa hingga ia pun terguling-guling dari tempat duduknya, jatuh ke tanah seperti si nona tadi.
Setelah sang gelap petang datang, Auwyang Kongcu merintih karena rasa nyerinya, sedang Auwyang Hong pergi ke bawah pohon.
“Budak kecil, kau turun!” ia memanggil Oey Yong, suaranya bengis.
Si nona terkejut. Ia tidak menyangka orang datang demikian lekas.
“Mau apa?!” ia terpaksa menyahuti.
“Keponakanku menghendaki air the, pergi kau melayani dia!” menitah See Tok.
Kaget ketiga orang di atas pohon itu, berbareng dengan itu, panas hari mereka.
“Lekas!” terdengar pula suara Auwyang Hong. “Kau mau tunggu apa lagi?!”
“Mari kita mengadu jiwa dengannya!” berkata Kwee Ceng perlahan.
“Lebih baik kamu berdua kabur ke belakang gunung,” Ang Cit Kong bilang. “Jangan kau pedulikan aku lagi…”
Dua-dua jalan itu, mengadu jiwa dan merat, telah dipikirkan Oey Yong. Dua-dua jalan itu pasti akan mengakibatkan kebinasaannya Ang Cit Kkong. Inilah ia tidak menginginkannya. Maka akhirnya ia pikir baik mereka mengalah saja. demikian ia lompat turun.
“Baiklah, nanti aku lihat lukanya!” ia kata.
“Hm!” See Tok mengasih dengar suaranya yang dingin. “Eh, bocah she Kwee, kau juga turun!” ia menambahkan, membentak. “Apakah kau ingin enak-enak tidur nyenyak?! Bagus betul!”
Dengan menahan sabar sebisanya, Kwee Ceng berloncat turun.
“Malam ini kau mesti menyediakan untukku seratus potong balok yang besar,” menitah si Bisa dari Barat, “Kalau kurang sepotong saja, kakikmu sebelah akan kuhajar patah! Kalau kurang dua, dua-duanya kakimu patah semua!”
“Buat apa balok itu?!” Oey Yng tanya. “Laginya malam gelap buta rata seperti ini, cara bagaimana orang mencarinya dan mengerjakannya?!”
“Budak cilik, kau banyak bacot! Lekas kau rawati keponakanku! Ada apa hubungannya kau dengan urusan si bocah cilik ini? Pergi kau, kalau kau main gila, siksaan akan menjadi bagianmu!” Ia mengancam pada Kwee Ceng.
Oey Yong memberi tanda kepada si anak muda untuk bersabar, lantas ia bertindak pergi, diikuti si Bisa dari Barat.
Kwee Ceng mengawasi sampai orang tak terlihat lagi, ia lantas menjatuhkan diri, berduduk dengan memegangi kepalanya. Ia berpikir keras, gusarnya dan mendongkol dan berduka juga, hampir air matanya turun mengucur.
Tiba-tiba terdengar suaranya Ang Cit Kong: “Kakekku, ayahku, juga aku semasa kecilku, kita menderita sangat dari bangsa Kim, kita menjadi budak, maka itu apakah artinya kesengsaraan seperti ini?”
Kwee Ceng terkejut, ia mendusin.
“Kiranya dulu suhu pernah menjadi budak…” hatinya bekerja. “Siapa sangka kemudian suhu menjadi stau ahli silat kenamaan dan ketua dari Partai Pengemis! Kalau sekarang aku bersabar, boleh apakah?”
Karena ini, si anak muda mengambil ketetapannya. Dengan membawa obor kayu cemara, ia pergi ke gunung belakang. Ia bekerja dengan menggunai pukulan Hang Liong Sip-pat Ciang, merobohkan pohon-pohon sebesar mulut mangkok yamng besar. Ia berbesar hati, ia berlaku ulet. Ia percaya betul Oey Yong bakal dapat meloloskan diri, sebagaimana dulu si nona lolos dari istana Chao Wang.
Ilmu silat Hap Liong Sip-pat Ciang itu memerlukan tenaga besar dan keuletan, inilah berat untuk Kwee Ceng yang masih muda, yang tenaga dalamnya masih meminta latihan. Belum sejam lamanya, ia sudah berhasil merobohkan duapuluh satu pohon, ketika ia menghajar pohon yang keduapuluh dua, ia merasakan tangannya sakit, maka itu pohon tidak roboh, sebaliknya dadanya sakit pula. Ia terkejut, lekas-lekas ia duduk bersila, untuk memusatkan semangatnya, untuk meluruskan nafasnya.
Setelah satu jam lamanya ia beristirahat seperti itu, ia berbangkit untuk memulai dengan pekerjaannya. Pohon itu dapat juga dirobohkan. Tetapi, ketika ia hendak mulai lagi kali ini ia merasa lemas sekali. Ia mengerti bahwa ia tidak bisa memaksakan diri, atau ia bakal terluka di dalam. Hanya ia menjadi bingung. Di pulau kosong ini di mana ia bisa dapat golok atau kampak! Dengan tangan kosong, bagaimana ia dapat bekerja terus? Ia jadi berkhawatir seklai untuk kedua kakinya. Ia masih membutuhkan hampir delapanpuluh batang lagi.
“Keponakannya telah patah kedua kakinya,” kemudian ia berpikir lebih jauh, “Karena itu tentulah dia sangat membenci sekali padaku, kalau malam ini aku bisa menyediakan seratus batang, mungkin lain malam ia akan meminta seribu batang lagi. Kapan habisnya pekerjaan ini? Dia pun tidak dapat dilawan. Di sini pasti tidak bakal ada penolong untuk kita…”
Pemuda ini menghela napas, ia berputus asa.
“Taruh kata tempat ini bukan pulau kosong, siapa yang dapat menolongi kita?” ia ngelamun pula. “Suhu telah runtuh ilmu silatnya, nasibnya belum ketahuan bagaimana. Ada ayahnya Yong-jie tetapi ia pun sangat membenci padaku. Coan Cit Cit Cu dan keenam guruku dari Kanglam juga bukan tandingannya See Tok ini. Tinggallah kakak angkatku, Ciu Pek Thong, tetapi ia pun sudah terjun ke laut di mana dia membunuh diri…”
Mengingat Ciu Pek Thong, Kwee Ceng jadi bertambah benci dan murka kepada Auwyang Hong. Ia merasa berkasihan kepada kakak angkatnya itu, yang paham Kiu Im Cin-keng tetapi yang tidak hendak menggunainya. Kakak itu pun pandai ilmu silat memecah diri menjadi sebagai dua orang - dua pikirannya. Sayang kepandaian itu menjadi tidak ada gunanya.
“Ah, Kiu Im Cin-keng! Kepandaian dua tangan kiri dan kanan saling berkelahi sendiri….”
Berpikir sampai di situ, Kwee Ceng seperti melihat bintang terang di langit yang gelap.
“Memang sekarang aku tidak dapat melawan See Tok,” demikian ia mendapat pikiran baru, “Tetapi Kiu Im Cin-keng ada pelajaran istimewa seperti istimewanya cara berkelahi dengan dua tangan itu. Kenapa aku tidak hendak menyakinkan itu bersama Yong-jie, menyakinkan terus bersama-sama siang dan malam, sampai tiba saatnya mengadu jiwa dengan si tua bangka berbisa itu?”
Keras Kwee Ceng berpikir, ia tidak memperoleh kesudahan yang memuaskan.
“Ah, mengapa aku tidak mau menanyakan pikirannya suhu?” kemudian ia ingat lagi. “Suhu kehilangan kepandaiannya tetapi tidak ingatannya, ia dapat memberi petunjuk padaku…”
Tidak ayal lagi, Kwee Ceng pulang. Di atas pohon, ia utarakan apa yang ia pikir barusan terhadap gurunya.
Agaknya Ang Cit Kong setujui pikirannya muridnya ini.
“Sekarang coba kau membaca perlaha-lahan bunyinya Kiu Im Cin-keng,” berkata sang guru ini, “Nanti aku lihat ada daya apa yang dapat mempercepat pernyakinanmu…..”
Kwee Ceng menurut, ia mulai membaca.
Tempo si anak muda membaca bagian “Orang tahu dengan duduk berdiam dia akan memperoleh kemajuan, tetapi dia tahu untuk mencapai kemahiran dibutuhkan keinsyafan, ketenangan dan kecerdasan, tubuh dan pikiran harus bekerja berbareng. Kita harus bergerak seperti berdiam, walaupun kita dibentur, kita tetap tenang,” mendadak Cit Kong berlompat bangun seraya mulutnya berseru: “Oh…!”
“Kenapa, suhu?” tanya Kwee Ceng heran.
Pak Kay tidak menyahuti, ia hanya terus berpikir. Ia memahamkan artinya kata-kata dari Kiu Im Cin-keng itu.
“Coba kau mengulangi satu kali lagi,” katanya kemudian.
Kwee Ceng girang, ia percaya gurunya ini sudah memperoleh sesuatu ingzan, maka ia membaca lagi.
“Benar,” Cit Kong berkata sambil mengangguk-angguk. “Kau melanjuti terus….”
Kwee Ceng menurut, ia menghapal terus-terusan, di dekat akhirnya, ia membaca: “Mokansukojie pintek kim-coat-ouwsongsu kosannie…”
“Apa kau bilang?” tanya Cit Kong heran. Dia memotong.
“Aku pun tidak tahu artinya,” sahut Kwee Ceng. “Ciu Toako tidak menjelaskannya.”
“Nah, kau bacalah terus.”
Kwee Ceng membaca pula, “Kiatjie-hoatsu katlo…” demikian seterusnya, untuk itu ia mengeluarkan suara gigi dan lidah.
“Oh, kiranya kitab itu pun memuat mantera menangkap iblis…” berkata Cit Kong kemudian. Hampir ia meneruskan mengatakannya, “Kiranya si imam busuk gemar main gila untuk memperdayakan orang…” tetapi ia dapat membatalkan itu. Ia mengerti Kiu Im Cin-keng mestinya istimewa sekali.
“Anak Ceng,” katanya selang sesaat, “Kitab Kiu Im Cin-keng memuat ilmu yang lihay luar biasa, tak dapat itu dipahamkan hanya semalam dan seharian…”
Kwee Ceng menyesal, ia putus asa.
“Sekarang pergilah lekas kau membuatnya duapuluh batang pohon itu menjadi sebuah getek,” kata Cit Kong. “Daya yang paling utama untukmu ialah menyingkirkan diri. Aku akan berdiam bersama Yong-jie di sini, aku akan melihat selatan.”
“Tidak suhu!” berkata Kwee Ceng. “Mana dapat aku meninggalkan kau…”
“See Tok jeri terhadap Oey Lao Shia, tidak nanti dia mencelakai Yong.jie,” Cit Kong memberi penjelasan. “Aku sendiri, aku sudha tidak berguna lagi….”
Kwee Ceng menjadi panas hatinya dan mendongkol, saking penasaran ia melampiaskannya dengan menghajar batang pohon di depannya. Hebat serangannya itu, suaranya sampai terdengar jauh dan berkumandang.
“Eh, anak Ceng,” tanya Cit Kong heran. “Barusan kau memukul dengan tipu silat apa itu?”
“Kenapa, suhu?”
“Kau menghajar hebat tetapi batang pohon itu tak bergeming…”
Si anak muda menjadi merah mukanya. Ia mengaku karena kehabisan tenaga, ia tidak dapat memakai tenaga lagi.
“Bukan, bukannya begitu,” kata guru itu. “Pukulan itu ada sedikit aneh. Coba kau mengulanginya sekali lagi!”
Kwee Ceng tetap heran tetapi ia menurut. Ia menghajar pula. Hebat suara hajaran itu tetapi tetap pohon itu tidak gempur. Sekarang ia sadar sendirinya. Maka ia lantas berkata: “Sebenarnya inilah pukulan Kong-beng-kun yang terdiri dari tujuhpuluh dua jurus yang diajarkan oleh Ciu Toako.”
“Kong-beng-kun?” tanya Cit Kong. “Belum pernah aku dengar itu…”
“Kong-beng-kun” ialah pukulan Tangan Kosong. Arti sebenarnya yaitu “kosong terang”.
“Selama Ciu Toako dikurung di Tho Hoa To,” Kwee Ceng memberi keterangan, “Dia menganggur tiap hari. Lantas ia menciptakan ilmu pukulannya itu. Dia mengajarkan aku enambelas huruf yang menjadi rahasia tipu silatnya itu, ialah ‘Berhasil besar seperti pecah, kegunaannya tak buruk, terlalu penuh seperti meletus, kegunaannya tak habisnya.’ Baiklah kalau sekarang muridmu menjalankannya untuk suhu lihat?”
“Sekarang ini malam gelap, tidak dapat aku melihatnya,” menyahut sang guru. “Lagi pula inilah ilmu silat mahir, tidak usah dijalankan lagi. Kau menuturkan saja untuk aku mendengarnya.”
“Kwee Ceng lantas menutur, mulai dari jurus pertama “Mangkok kosong diisi nasi”, jurus kedua “Rumah kosong ditinggali orang”, demikian seterusnya. Ia pun menjelaskan maknanya setiap huruf.
Ciu Pek Thong berandalan dan jenaka, maka jenaka juga namanya semua jurusnya itu.
Ang Cit Kong cerdas sekali, setelah mendengar sampai di jurus kedelapanbelas ia memegat: “Sudah cukup tidak usah kau menuturkan terlebih jauh. Sekarang kita dapat menempur See Tok!”
“Dengan menggunai Kong-beng-kun ini?” tanya Kwee Ceng heran. “Aku khawatir aku belum berlatih mahir.”
“Aku ketahui ini tetapi kita mesti mencari kehidupan di antara kematian, kita harus mencoba menempur bahaya. Bukankah kau membawa pisau belati pengasihnya Khu Cie Kee?”
Kwee Ceng menghunus pisaunya itu, yang di dalam gelap masih berkelebat sinarnya.
“Sekarang kau pergi menebang pohon dengan memakai pisau ini dengan menggunakan ilmu silat Kong-beng-kun itu,” menitah Cit Kong.
Kwee Ceng bersangsi. Pisauny aitu panangnya cuma sekaki lebih dan bagian tajamnya pun tipis.
“Aku mengajarkan kau Hang Liong Sip-pat Ciang,” berkata gurunya. “Itulah ilmu silat pihak Luar, Gwa-kee. Kong-beng-kun sebaliknya ilmu silat pihak Dalam, Lay-kee. Maka kalau kau gunai kedua ilmu silat itu dengan dirangkap, piasu ini tajam sehingga dapat memotong emas dan kumala! Apakah artinya baru pohon? Ingat, asal diwaktu menggunai tenaga kau mengutamakan itu huruf rahasia ‘kosong’.”
Kwee Ceng lantas saja mengerti, maka lantas ia lompat turun. Ia mencari sebuah pohon yang besar. Untuk menghajar, ia menggunai tenaga dari Kong-beng-kun, tenaga yang ringan, seperti acuh tak acuh. Ia hanya mengurat bongkot pohon, menggurat ke sekitarnya, tetapi kesudahannya, pohon itu roboh. Bukan main girangnya ia. Ia mencoba terus, sebentar saja ia sudah dapat belasan pohon. Dengan begitu, tak usah sampai terang tanah, ia sudah berhasil menyediakan seratus pohon yang dimintai itu.
“Anak Ceng, mari naik!” tiba-tiba Cit Kong memanggil.
Murid itu melompat naik.
“Benar berhasil, suhu!” ia berseru. “Sedikit pun aku tak usah menggunai tenaga besar.”
“Dengan menggunai tenaga besar artinya tak berhasil, bukan?”
“Benar, suhu.”
“Untuk menebang pohon, tenagamu berlebihan,” berkata sang guru. “Untuk melawan See Tok, masih kurang. Maka itu kau mesti meyakinkan dulu Kiu Im Cin-keng, baru ada ketikanya untuk menangi dia. Mari kita memikirkan daya untuk melawannya…”
Bicara dari hal berpikir, atau mencari akal, Kwee Ceng tidak dapat ebrbuat apa-apa, maka itu, ia berdiam saja.
“Aku juga belum dapat memikir,” kata Cit Kong selang sekian lama. “Kita tunggu saja besok, biar Yong-jie yang memikirkannya. Anak Ceng, mendengar kau membaca Kiu Im Cin-keng aku ingat suatu apa, setelah aku memikirkannya, rasanya aku tidak memikir salah. Sekarang mari kau pegangi aku, hendak aku turun untuk bersilat…..”
Kwee Ceng terkejut.
“Jangan, suhu!” ia mencegah. “Lukamu masih belum sembuh! Mana bisa suhu berlatih?”
“Tetapi kitab toh menyebutnya, ‘…tubuh dan pikiran harus bergerak berbareng, bergerak tapi seperti diam, walaupun dibentur, kita tetap tegar’. Maka marilah kita turun.”
Kwee Ceng masih tetap tidak mengerti tetapi dia toh memondong gurunya itu.
Ang Cit Kng berdiri sambil memusatkan pikirannya, sesudah itu ia memasang kuda-kudanya. Ketika ia meninju, dengan samar-samar Kwee Ceng melihat tubuh gurunya terhuyung, ia segera maju untuk menolongi, tetapi begitu lekas juga, guru itu sudah berdiri tetap pula, hanya napasnya sedikit memburu.
“Tidak mengapa,” berkata sang guru itu.
Dilain saat, Cit Kong meninju dengan tangan kirinya. Kwee Ceng melihat kembali guru itu terhuyung, kali ini dia diam saja, ia mengawasi terus.
Cit Kong meninju pula, berulang-ulang dari perlahan hingga sedikit cepat. Nyatanya makin lama dia semakin tetap. Mulanya ia bernapas keras, kemudian napasnya lurus. Diwaktu memutar tubuh, kuda-kudanya pun tetap.
Bersilat terus, Ang Cit Kong bisa menjalankan habis Hang Liong Sip-pat Ciang, karena ia merasa masih kuat, ia meneruskan dengan Hok Houw Kun, ilmu silat Menaklukkan Harimau.
Begitu lekas gurunya sudah berhenti bersilat, karena girangnya Kwee Ceng berseru, “Kau telah sembuh, suhu!” Ia girang bukan kepalang.
“Pondong aku naik!” Ang Cit Kong meminta.
Kwee Ceng menurut, ia bawa gurunya berlompat ke atas.
“Bagus, suhu, bagus!” ia memuji.
“Bagus apa!” kata guru itu, menghela napas. “Apa yang aku jalankan barusan cuma bagus dipandang, gunanya tak ada…”
Kwee Ceng heran.
“Setelah terluka, aku cuma beristirahat saja,” menerangkan gurunya itu, “Tidak tahunya sebenarnya semakin berlatih dan banyak bergerak, semakin baik. Sekarang ini sudah terlambat, walaupun jiwaku ketolongan, kepandaianku tidak bakal pulih kembali.”
Kwee Ceng hendak bicara, tak tahu ia harus bicara apa, maka kemudian ia bilang saja. “Sekarang hendak aku memotong kayu pula.”
Murid ini belum berlompat turun ketika gurunya berkata: “Anak Ceng, sekarang aku dapat akal untu menggertak si tua bangka berbisa itu. Coba kau lihat, akalku bakal berjalan atau tidak?”
Guru ini terus menuturkan akalnya itu.
“Bagus, suhu!” Kwee Ceng berseru. “Ini tentu berhasil!”
Smapai di situ, murid ini pergi turun pula, untuk bekerja, untuk bersiap.
Besok paginya, Auwyang ong muncul untuk memeriksa jumlah pohon, ia mendapatkan cuma sembilanpuluh, masih kurang sepuluh lagi. Ia tertawa dingin, terus ia berteriak: “He, anak campur aduk, lekas kau mengelinding keluar! Mana yang sepuluh pohon lagi?!”
Perih rasa hati Oey Yong mendengar perkataan orang yang kotor itu. Semenjak sore ia mendampingi Auwyang Kongcu, untuk merawatnya dengan terpaksa. Kapan ia mendengar rintihan pemuda itu, hatinya menjadi lemah. Sebaliknya, mengingat kecewirisan orang, ia jemu. Ketika pagi itu Auwyang Hong keluar, diam-diam ia keluar juga, maka itu, ia dapat dengar suara yang kasar dari See Tok.
Atas pertanyaanya Auwyang Hong tidak ada jawaban. Di atas pohon sepi saja. Maka See Tok lantas mengawasi ke atas, kupingnya pun dipasang. Tiba-tiba ia mendengar suara desiran angin dari gunung belakang, suara angin dari orang yang tengah bertempur. Ia menjadi heran, lekas-lekas ia lari untuk melihat. begitu lekas ia menampaknya, ia menjadi kaget.
Di sana Ang Cit Kong lagi bertempur sama Kwee Ceng, hebat gerakan tangan dan kaki keduanya.
Oey Yong pun menyaksikan, ia juga heran bukan main. Ia hanya heran bercampur girang. Rupanya tenaga gurunya itu sudah pulih kembali, maka juga ia bisa bersilat dan dapat berlatih kembali dengan Kwee Ceng.
“Anak Ceng, hati-hatilah kau dengan jurus ini!” terdengar pemberian ingat dari Pak Kay ketika ia hendak menyerang. Ia terus saja menolak.
Kwee Ceng menggeraki tangannya, untuk menangkis, hanya belum lagi tangan mereka beradu, ia sudah mencelat mundur seperti yang tertolak denagn keras, bahkan tubuhnya itu membentur sebuah pohon di belakangnya.
“Bruk!” demikian satu suara keras. Pohon itu roboh dan tubuh si anak muda terpelanting.
Pohon itu tidak terlalu besar, kira-kira sebesar mulut mangkok, tetapi toh heran telah roboh terbentur tubuh Kwee Ceng.
Menyaksikan itu, Auwyang Hong berdiri tercengang, mulutnya menganga.
“Suhu!” Oey Yong berteriak. “Pukulan lihay dari Pek-kong-ciang!”
Ang Cit Kong tidak menjawab murid ini, hanya ia serukan Kwee Ceng: “Anak Ceng, luruskan napasmu, untuk menjaga kau tidak sampai terluka di dalam!”
“Teecu tahu, suhu!” menyahut Kwee Ceng, yang sementara itu sudah maju pula, untuk melanjuti pertempuran. Hanya beberapa jurus, kembali ia terhajar terpelanting mundur, bahkan kembali membentur pohon hingga pohon itu roboh seperti yang semula tadi.
Auwyang Hong terus berdiri diam. Ia mengawasi latihannya guru dan murid itu. Hebatnya saban-saban Kwee Ceng kena dihajar mental mundur, saban mental dia membentur pohon, pohonnya roboh seketika. Dari itu, cepat sekali, sepuluh pohon sudah rebah di tanah.
Oey Yong menghitung.
“Sepuluh pohon!” dia berseru.
Kwee Ceng bernapas sengal-sengal, agaknya ia letih sekali.
“Teecu tidak kuat berlatih lebih lama lagi…” katanya susah.
Ang Cit Kong tertawa, ia berkata: “Ilmu silat Kiu Im Cin-keng ini benar-benar luar biasa! Aku tengah terluka parah,tetapi pagi ini, sekali saja berlatih, aku berhasil!”
Auwyang Hong heran dan bercuriga, maka ia dekati pohon-pohon yang roboh itu, untuk memeriksa. Ia mendapatkan, bagian yang patah itu meninggalkan bekas yang licin seperti bekas dipotong atau digergaji.
“Benarkah kitab ini begini lihay?” ia berpikir. “Kelihatannya si pengemis bangkotan ini menjadi terlebih lihay daripada yang sudah-sudah…. Kalau mereka bergabung menjadi satu, mana sanggup aku melawan mereka? Tidak boleh ayal lagi, aku pun mesti lekas berlatih!”
Ia melirik kepada tiga orang itu, terus ia memutar tubuhnya untuk lari ke gua. Setibanya, ia keluarkan bungkusannya dalam mana terisi naskah kitab Kiu Im Cin-keng, yang ditulis Kwee Ceng, ia buka untuk dibaca, untuk memahaminya, untuk nanti melatih diri.
Cit Kong dan Kwee Ceng menanti sampai See Tok sudah lenyap dari pandangan mata mereka, lantas mereka tertawa terbahak-bahak.
Oey Yong menghampirkan mereka.
“Suhu, inilah hebat!” pujinya. “Luar biasa isi kitab itu!”
Cit Kong tengah tertawa tak sempat ia menyahuti muridnya itu.
“Kami sedang bersandiwara!” Kwee Ceng memberitahu.
Si nona heran, ia mengawasi.
Si pemuda tidak menanti lama untuk membeberkan rahasianya. Ialah mereka berlatih kosong, sedang semua pohon itu, lebih dulu sudah dipotong, ditinggalkan sedikit bagian tengahnya agar tidak roboh, maka dengan ditabrak Kwee Ceng, robohlah semua dengan segera. Kwee Ceng pun terpental bukan karena serangan, hanya berbareng diserang, ia mencelat mundur seperti terpelanting, sengaja ia membentur setiap pohon itu. Auwyang Hong tidak tahu rahasianya itu, tentu ia kena diakali.
Mendengar itu, kalau tadinya ia tertawa, Oey Yong menjadi berdiam, sepasang alisnya pun dikerutkan.
Ang Cit Kong tertawa, ia berkata: “Aku si tua bangka bisa menggeraki pula tangan dan kakiku, untuk berjalan, ini pun sudah membuatnya aku beruntung. Sekarang ini aku tidak memikirkan itulah ilmu silat yang tulen atau yang palsu! Yong-jie, adakah kau berkhawatir kemudian See Tok bakal mengetahui rahasia kita ini?”
Oey Yong mengangguk. Jitu terkaan gurunya itu.
“See Tok sangat bermata tajam dan cerdas, memang tak selayaknya dia dapat diakali. Tapi, segala apa sukar diduga-duga, maka sekarang ini tak usahlah kita berkhawatir. Aku sekarang ingat Kwee Ceng, di situ ada bahagian pelajaran ‘ menukar urat menguatkan tulang’ itulah luar biasa, aku pikir, selagi kita luang tempo, baik kita sama-sama menyakinkannya.”
Sabar bicaranya sang guru, tetapi Oey Yong menginsyafi artinya.
“Baik, suhu,” katanya. “Mari kita mulai!”
Cit Kong menitahkan Kwee Ceng membaca di luar kepala hingga dua kali bagian itu yang berfasal “Ie Kin Toan Kut Pian”, lalu ia memberikan penjelasan, terus ia suruh kedua muridnya berlatih, sesudah itu, ia pergi untuk memancing ikan, untuk kemudian menyalakan api dan mematangai ikannya. Ia melarang kedua muridnya membantunya, ia mewajibkan kedua muridnya berlatih terus.
Dengan lekas tujuh hari sudah berlalu, Oey Yong dan Kwee Ceng telah memperoleh kemajuan. Berbareng dengan mereka, Auwyang Hong pun berbuat keras dengan kitab Kiu Im Cin-keng yang palsu buatan Kwee Ceng itu.
Hari kedelapan, sambil tertawa Ang Cit Kong menanya Oey Yong, “Yong-jie, bagaimana rasanya daging kambing panggangan gurumu?”
Oey Yong tertawa sambil mainkan mulutnya, menggeleng-geleng kepala.
“Ya, aku juga memakannya tak turun…” Cit Kong berkata pula, tetapi sambil tertawa. Kemudian ia menambahkan: “Pelajaranmu babak pertama sudah selesai, sekarang kamu mesti beristirahat, jikalau tidak, pernapasanmu bisa tertutup dan akan merusak kesehatanmu. Sekarang begini: Yong-jie, pergi kau memasak, aku bersama Ceng-jie akan pergi membikin getek.”
“Membikin getek?” tanya Kwee Ceng dan Oey Yong berbareng.
“Memang!” menjawab sang guru.”Apakah kamu pikir kita dapat berdiam terus di pulau kosong ini sambil menemani si bisa bangkotan itu? Tidak!”
Dua-dua muda-mudi itu menjadi sangat girang.
“Bagus!” seru mereka.
Kedua pihak lantas berpisahan.
Kwee Ceng pergi ke tumpukan pohonnya yang seratus buah itu. Dadungnya pun sudah tersedia, bekas menolongi Auwyang Kongcu. Ia lantas bekerja mengikat batang-batang pohon itu. Ketika ia menarik dadung, tiba-tiba dadung itu terputus. Ia mengulangi lagi, lagi dadung putus. Ia menjadi heran. Ia merasa tidak menggunai tenaga terlalu besar. Mungkinkah dadungnya yang tak kuat? Saking heran, ia menjadi berdiam saja.
Sementara itu Oey Yong mendatangi sambil berlari-lari, tangannya membawa seekor kambing. Si noa pergi berburu, ia bertemu sama kambing itu. Ia menyediakan beberapa butir batu, untuk dipakai menimpuk batok kepala kambing itu. Ketika ia berlari untuk mengubar, rasanya baru beberapa tindak, tahu-tahu ia telah datang dekat sang kambing, maka batal menimpuk, ia berlompat menyambar. Hanya dengan sekali saja ia dapat mencekuknya. Inilah diluar dugaannya, maka ia girang berbareng heran dan segera lari pulang untuk memberitahukan pengalamannya itu.
Mendengar itu, Ang Cit Kong tertawa.
“Jikalau begitu adanya, terang sudah Kiu Im Cin-keng bukannya untuk main-main saja,” bilangnya. “Pula tidaklah penasaran itu beberapa orang kosen yang telah berkorban jiwa untuk kitab ini…”
“Suhu,” menanya Oey Yong girang, “Apakah sekarang kita bisa menghajar si tua bangka berbisa itu?”
“Masih jauh, anak,” menyahut Cit Kong menggoyang kepala. “Kau masih memerlukan tempo pernyakinan tiga sampai lima tahun lagi. Kau harus ketahui hebatnya Kuntauw Kodok dari si bangkotan itu. Kecuali It-yang-cie dari Ong Tiong Yang, tidak ada lain ilmu yang dapat memecahkannya…”
Si nona membikin moyong mulutnya.
“Kalau begitu percuma kita belajar lagi lima tahun, kita toh tak dapat mengalahkan dia!” katanya mendelu.
“Tentang itu tak dapat dikatakan pasti,” Cit Kong membilang. “ada kemungkinan yang isinya kitab ada jauh terlebih lihay daripada dugaanku.”
“Sudah, Yong-jie, jangan kau terburu nafsu,” Kwee Ceng campur bicara. “Tidak ada salahnya jikalau kita menyakinkan terus.”
Lagi tujuh hari telah lewat, sekarang kedua murid itu sudah selesai dengan babak yang kedua. Pula telah selesai pembuatan geteknya Kwee Ceng. Untuk mendapatkan layar, mereka membuat bahannya dari babakan pohon. Bahkan air minum serta lainnya makanan sudah disiapkan juga.
Selama itu Auwyang Hong mengawasi saja orang bekerja dan bersiap-siap itu. Ia tidak membilang suatu apa, malah mengawasinya pun secara acuh tak acuh, membiarkan orang repot bekerja.
Datanglah sang malam dengan segala persiapannya yang sudah sempurnya. Tinggal menanti besok pagi, Cit Kong bertiga bakal pergi berlayar. Selagi hendak tidur, Oey Yong tanya, apa besok perlu mereka pamitan dari Auwyang Hong.
“Bahkan kita harus membuat perjanjian akan bertemu lagi dengannya sepuluh tahun kemudian,” menjawab Kwee Ceng. “Kita telah diperhina begini rupa, mana bisa kita berdiam saja?”
“Benar!” si nona bertepuk tangan. “Aku mohon kepada Thian supaya dua jahanam itu dipayungi hingga dapat mereka kembali ke Tionggoan! Semoga si tua bangka berbisa diberi umur panjang lagi sepuluh tahun!”
Besok paginya, Ang Cit Kong yang mendusin paling dulu. Ia berkuping terang, lantas saja ia mendengar suara apa-apa di tepi laut. Ia bangun untuk berduduk, ia memasang kuping pula. Itulah suara air.
“Ceng-jie, dengar!” ia memanggil Kwee Ceng. “Suara apa itu di tepian?”
Kwee Ceng emndusin, segera ia melompat turun dari pohon, terus lari ke tempat yang tinggi, dari sana ia memandang ke laut, apa yang ia saksikan membuatnya mengutuk dan mencaci kalang kabutan, lalu ia berlari-lari ke arah tepian.
Oey Yong pun turut mendusin dan berlari-lari.
“Ada apa engko Ceng?” tanyanya sambil lari menyusul.
“Kedua jahanam itu telah pakai getek kita!” sahut Kwee Ceng sengit sekali.
Oey Yong kaget sekali.
Begitu lekas mereka tiba di tepian, Auwyang Hong sudah memondong keponakannya menaiki getek, yang terus saja ditolak, hingga sekejap kemudian getek itu sudah terpisah beberapa tombak dari daratan…
Saking murkanya Kwee Ceng hendak melompat ke air, untuk berenang mengejar.
Oey Yong tarik tubuh orang.
“Tak dapat mereka disusul!” berkata si nona, mencegah.
Segara pun terdengar tertawa lebar dari Auwyang Hong.
“Terima kasih untuk persiapan kamu dari hal getek ini!” katanya mengejek.
Kwee Ceng berjingkrakan, ia melampiaskan kemendongkolannya dengan mendupak sebuah pohon di sampingnya.
Ketika pohon itu bergoyang karena dupakan, tiba-tiba Oey Yong ingat suatu apa.
“Ada jalan!” serunya. Ia pun sudah lantas menjumput sebuah batu besar. Ia bawa itu ke pohon, untuk diselipkan di batangnya. Ia kata pula, “Kau traik pohon itu, kita menjepret menembak padanya!”
Kwee Ceng girang. Ia hampirkan pohon, untuk menjambret batangnya bagian atas untuk ia menariknya hingga melengkung, sesudah mana ia melepaskannya, maka pohon itu mejepret balik, membuatnya batu besar itu terlempar, tepat ke arah getek. Hanya jatuhnya di samping, airnya muncrat, suaranya berdeburan hebat.
“Sayang!” Oey Yong mengeluh. Tapi lekas-lekas ia “mengisikan” pula meriamnya yang istimewa itu.
Serangan yang kedua ini mengenai tepat kepada getek, hanya karena pembuatannya tangguh, getek itu tak rusak karenanya.
Serangan diulangi hingga tiga kali, yang dua gagal.
melihat kegagalannya itu, Oey Yong mendapat pikiran pula.
“Mari, aku yang akan menjadi pelurunya!” ia berseru.
Kwee Ceng melengak, akan sedetik kemudian ia sadar. Bukankah si nona lihay ilmunya ringan tubuh dan pandai berenang? Maka lekas-lekas ia menyerahkan pisau belatinya.
“Hati-hati!” ia memesan. Segera ia menarik pula batang pohon itu. Oey Yong sendiri segera memanjatnya.
“tembak!” berseru si nona setelah ia siap.
Kwee Ceng menurut, ia melepaskan cekalannya. Maka dalam sekejap itu juga tubuh si nona terlempar melesat, di tengah udara ia berjumpalitan. Tetapi getek sudah berlayar terus, ia kecebur di air terpisah jauhnya tiga tombak. Bagus cara jatuhnya itu dan air muncrat bagaikan bunga rontok tersebar.
Auwyang Hong dan keponakannya kagum hingga mereka tercengang.
Oey Yong tidak menjadi putus asa. Segera ia selulup, untuk berenang di dalam air untuk menyusul getek itu. Sebentar saja ia tiba di bawahnya getek.
Auwyang Hong mencoba membela diri, dengan galah kejennya ia menyerang di empat penjurunya, menyerang ke air, tetapi ia tidak berhasil menusuk atau mengemplang si nona.
Di dalam air, Oey Yong sudah lantas bekerja. Mulanya ia membabat dadung itu, untuk meloloskan semua balok pohon itu, atau mendadak ia ingat suatu akal, maka ia batal membabat, ia cuma menggurat perlahan-lahan, di sana-sini. Ia hendak membikin perahu istimewa itu tiba di tengah laut, nanti setelah digempur gelombang pergi datang, dadung itu bakal putus sendirinya.
Habis bekerja, si nona tetap selulup, berdiam di dalam air, setelah sekian lama, baru ia timbul di muka air. Sekarang ia terpisah sepuluh tombak lebih dari getek itu, lalu ia berteriak-teriak bahwa ia tidak dapat menyandak….
Auwyang Hong tertawa berkakakan, ia membiarkan geteknya berlayar terus, maka itu lewat sedikit lama, ia sudah terpisah jauh dari daratan pulau terpencil itu.
Oey Yong berenang ke pinggir, ketika ia mendarat, Cit Kong pun tiba di sana, guru ini bersama Kwee Ceng masih mencaci kalang kabutan kepada See tOk yang jahat dan licik itu. Mereka heran menampak roman si nona bergembira.
“kenapa kau girang?” tanya sang guru.
Kwee Ceng pun turut menanya.
Oey Yong menuturkan perbuatannya barusan.
“Bagus!” berseru Ang Cit Kong dan Kwee Ceng. Mereka pun girang sekali.
“Walaupun kita sudah kirim mereka itu untuk terkubur di tengah lautan, kita sendiri harus bekerja dari baru pula,” berkata si nona kemudian.
“Tidak apa, mari kita bekerja pula!” kata Kwee Ceng.
Mereka balik, untuk sarapan setelah itu dengan semangat penuh, mereka pergi memotong pepohonan, mengumpul balok-balok diikat satu dengan lain dijadikan getek. Mereka membuatnya pula tali.
Berselang beberapa hari rampung sudah getek mereka, Maka sekali lagi mereka membuat persiapan.
Tepat di harian angin tenggar mulai meniup keras, Kwee Ceng memasang layarnya untuk memulai dengan pelayarannya. Tujuan mereka ialah barat.
Oey Yong memandang ke pulau, yang nampak makin lama makin kecil. Di akhirnya ia menghela napas.
“Hampir kita bertiga mengorbankan jiwa kita di pulau kosong itu,” katanya. “Hanya hari ini, dengan kepergian ini, aku merasa berat juga…”
“Lain hari, jikalau tempo kita luang, boleh kita pesiar ke sini!” berkata Kwee Ceng.
“Bagus!” berseru si nona gembira. “Bagus lain kali kita datang pula ke mari! Tapi ingat, jangan kau salah janji! Sekarang mari kita memberi nama dulu pada pulau ini. Suhu, kau pilih nama apa yang bagus?”
“Kau menggunai batu besar, menindih bangsat cilik itu,” menyahut Ang Cit Kong si guru, “Maka itu baiklah diberi nama Ap Kwie To, yaitu pulau menggencet iblis.”
“Nama itu kurang menarik,” kata si nona.
“Kau hendak cari yang menarik? Kalau begitu, tak usah kau tanya aku si pengemis tua bangka!” berkata sang guru. “Tapi si bisa bangkotan itu pernah merasakan air kencingku, lebih baik kita namankan saja Pulau Minum Kencing!”
Oey Yong tertawa tetapi ia menggoyang-goyangkan tangan, lalu ia miringkan kepalanya untuk memikir. Ia melihat sinar layung yang indah, yang menaungi pulau terpencil itu.
“Baiklah diberi nama Beng Hee To,” katanya kemudian. Artinya Pulau Sinar Layang.
Tetapi Cit Kong menggeleng kepala.
“Tak tepat itu,” katanya. “Nama itu terlalu bagus.”
Kwee Ceng membiarkan itu murid dan guru berkutat berdua, ia cuma tersenyum saja.
Mereka berlayar terus, sampai dua hari lamanya, tujuan angin masih belum berubah.
Dimalam kedua, Ang Cit Kong dan Oey Yong tidur, Kwee Ceng memegang kemudi. Mendadak di antara siuran angin, ia mendengar teriakan: “Tolong! Tolong!” Suara itu keras seperti bergeram, seperti cecer pecah dikapruki satu dengan lain.
Ang Cit Kong pun dapat mendengar teriakan itu, maka ia bangun berduduk.
“Itulah suara si tua bangka berbisa!” katanya.
Kembali mereka mendengar jeritan itu.
Oey Yong, yang mendusin, menjambret tangan gurunya.
“Hantu! Hantu!” katanya.
Ketika itu akhir bulan keenam, di langit tidak ada si putri makam, bahkan bintang pun jarang, maka itu sang laut menjadi gelap gulita. Memang juga, dalam suasa seperti itu, jeritan itu menyeramkan.
“Apakah kau si tua bangka berbisa?” kemudian Ang Cit Kong menanya. Tetapi ia telah runtuh tenaga dalamnya, suaranya itu tak terdengar jauh.
Kwee Ceng mengumpul semangatnya, lalu ia pun berseru: “Apakah paman Auwyang di sana?”
“Benar, aku Auwyang Hong!” menjawab orang yang berteriak minta tolong itu. “Tolong!” ia mengulangi jeritannya.
“Tidak peduli dia manusia atau iblis, mari kita jalan terus!” berkata Oey Yong.
“Tolong padanya!” tiba-tiba Cit Kong berkata.
“Jangan, jangan!” mencegah si nona. “Aku takut!”
“Dia bukannya iblis,” kata Cit Kong.
“Biarnya begitu tidak seharusnya dia ditolong!”
“Menolong orang itulah aturan kami kaum Kay Pang,” kata guru itu. “Kita berdua adalah Pangcu Kay Pang dari dua turunan, tidak dapat kita merusak aturan kita yang dihormati itu.”
Oey Yong terpaksa berdiam, ia mengawasi Kwee Ceng menggunai pengayuh menuju ke arah darimana datang jeritan minta tolong itu.
Setelah datang mendekat, daalm suasana gelap itu, dengan remang-remang terlihat dua kepala orang yang lagi terombang-ambing sang gelombang, disampingnya ada sebatang pohon, yang terang adalah lepasan getek. Karena pertolongannya batang pohon itu, Auwyang Hong dan keponakannya tidak sampai kelelap mampus.
Kwee Ceng membungkuk, untuk menyambar lehernya Auwyang Kongcu, untuk diangkat naik ke geteknya.
Cit Kong baik budi, sampai ia melupakan dirinya sendiri. Ia mengulur tangannya, untuk menolongi Auwyang Hong. See Tok mengerahkan tenaganya, dengan meminjam tenaga Pak Kay, ia menggenjot tubuhnya hingga ia mencelat naik. Tapi celaka buat Cit Kong, dia kena tertarik hingga ia kecebur ka air!
Kwee Ceng dan Oey Yong kaget sekali, keduanya segera terjun untuk menolongi.
Gusar si nona, maka ia menegur See Tok: “Guruku baik hati, dialah yang menolongi kamu, kenapa kau justru menarik dia kecebur ke laut?!”
“Aku…aku bukannya sengaja,” menyahut Auwyang Hong perlahan. Ia tahu Cit Kong musnah kepandaiannya, tetapi ia pun sudah sangat lelah saking letih, lapar dan haus, terpaksa ia mesti merendahkan diri. “Saudara Cit, aku menghanturkan maaf kepadamu.”
Pak Kay tertawa tergelak.
“Bagus, bagus katamu!” katanya. “Hanya sayang, rahasia kepandaiannya aku si pengemis tua telah pecah di hadapanmu….!”
Semua orang kuyup basah pakaiannya, tidak ada pakaian lain untuk menukarnya, maka itu mereka membiarkannya.
“Nona yang baik, kau bagilah kami sedikit barang makanan,” Auwyang Hong meminta. “Sudah beberapa hari kami kelaparan dan berdahaga…”
“Persediaan makanan di sini cuma cukup untuk kami bertiga,” menyahut Oey Yong. “Membagi kamu tidaklah sukar. Hanya, habis kita mesti dahar apa?”
“Kalau begitu, nona kau membagi sedikit saja kepada keponakanku,” berkata pula Auwyang Hong. “Dia pun sakit kedua kakinya, dia tak bakalan sanggup bertahan……”
“Jikalau demikian, marilah kita berjual beli,” berkata si nona. “Ularmu yang jahat telah melukai guruku, sampai sekarang guruku masih belum sembuh. Kau keluarkan obatmu pemunah bisa ular.”
Auwyang Hong segera merogoh ke dalam sakunya, mengeluarkan dua peles kecil. Ia mengangsurkan kepada si nona.
“Kau lihat sendiri, nona,” katanya. “Peles ini telah kemasukan air, obatnya lumer dan habis…”
Oey Yong periksa kedua peles ini, yang berisikan air. Ia menggoyang-goyangnya, ia membauinya juga.
“Sekarang kau beritahukan saja resepnya,” kata ia kemudian. “Mari kita mendarat untuk membeli bahan-bahan obatnya.”
“Jikalau aku hendak menipu barang makanan, dapat aku menulis resep ngacobelo,” Auwyang Hong memberi keterangan. “Kau toh tidak ketahui resep itu tulen atau palsu? Apakah kau sangka aku ada demikian hina? Baiklah aku omong terus terang padamu. Ularku ada ular paling luar biasa di kolong langit ini, bisanya bukan main hebatnya, siapa terpagut satu kali saja, biar orang sangat gagah dan kuat, selewatnya delapanpuluh delapan hari, kendati dia tidak mati, dia mestinya bercacad, dan menjadi piansiewie, bercacad seumur hidupnya. Pula tidak ada halangannya untuk memberikan resep pada kamu, tetapi kau mesti mengerti juga, bahan-bahannya sangat sukar dicari, bahkan itu memerluka musim dingin dan musim panas selama tiga tahun berturut-turut, setelah itu barulah dapat dibikin obatnya. Aku telah bicara, andaikata kau menghendaki aku mengganti jiwanya kakak Cit ini, terserah kepada kamu…!”
Oey Yong dan Kwee Ceng mau percaya keterangan orang itu, pun mereka mengagumi ketulusan orang, yang tidak takut mati.
“Yong-jie, dia tidak berdusta,” Cit Kong juga bilang. “Hidup manusia itu telah ditakdirkan, maka itu aku si pengemis tua tidak takut suatu apa. Kau bagilah mereka makanan.”
Oey Yong menjadi sangat berduka, ia mau percaya gurunya tidak bakalan sembuh. Meski begitu, dengan terpaksa ia memberikan sepaha daging kambing kepada itu paman dan keponakannya.
Auwyang Hong membeset beberapa potong untuk keponakannya, baru ia membeset untuknya sendiri. Selagi ia menggayem, Oey Yong berkata padanya: “Paman Auwyang, kau telah lukai guruku, maka diwaktu pertemuan yang kedua kali di gunung Hoa San, kau pasti bakal menjagoi! Maka sekarang aku beri selanat lebih dulu padamu!”
“Itu belum tentu, nona,” berkata See Tok. “Di kolong langit ini masih ada serupa benda yang dapat menyembuhkan sakitnya kakak Cit ini…”
Oey Yong dan Kwee Ceng berjingkrak mendengar perkataan orang ini, sampai getek mereka miring sebelah.
“Benarkah itu?” keduanya menanya, berbareng.
Auwyang Hong menggerogoti paha kambingnya. Ia mengangguk.
“Cuma benda ini sangat sukar didapatkannya,” ia menyahut. “Gurumu pastilah mengetahui benda apa itu.”
Kedua murid itu segera menoleh, mengawasi guru mereka.
Cit Kong tertawa.
“Memang aku tahu, tapi apa gunanya menyebutkannya itu?” katanya.
Oey Yong menarik ujung baju gurunya itu.
“Suhu, bilanglah,” ia memohon. “Biar bagaimana kita akan mencarinya sampai dapat! Aku nanti minta bantuannya ayahku, pasti dia suka membantu kita mencarinya!”
“Hm!” Auwyang Hong bersuara hidung.
“Kenapa hm?!” Oey Yong menegur. Ia mendongkol.
“Dia menertawakan kau yang menganggap ayahmu itu bisa segala apa,” kata Cit Kong. “Kau tahu, benda itu ada di tubuh manusia, sekalipun ayahmu, ia tak dapat mengambilnya.”
Si nona heran tak terkira.
“Orang?” katanya. “Siapakah dia?”
“Jangan kata orang itu lihay ilmu silatnya,” Cit Kong menjelaskan pula, “Meski dia tidak mempunyai tenaga untuk hanya menyembelih ayam, untuk kepentingan diriku tidak nanti aku mencelakai lain orang…”
“Suhu!” berkata si nona, yang bertambah heran. “Ilmu silat yang lihay? Oh, aku mengerti sekarang! Bukankah dia Lam Tee Toan Hong Ya? Suhu bilanglah, barang apakah itu? Kenapa itu dapat merugikan lain orang?”
“Sudahlag, kau tidur saja,” Cit Kong bilang, singkat. “Tak usah kau menanyakan lagi, aku larang kau menanyakan lagi. Kau mengerti tidak?”
Oey Yong menurut. Ia pergi rebahkan diri. Karena ia khawatir Auwyang Hong nanti mencuri barang makanannya, ia ambil tempat di antara tahang air dan perbekalannya.
Besoknya pagi, setelah mendusin dan melihat Auwyang Hong serta keponakannya, nona Oey terkejut. Muka mereka kuning dan bengkak, tubuh mereka juga bagaikan melar. Teranglah itu akibat beberapa hari lamanya mereka merendam di air, tanpa dahar dan minum.
Perahu dilayarkan sambil dibantu sama pengayuh, kira-kira jam tiga atau empat lohor, di kejauhan tertampak garis-garis hitam samar-samar, beroman seperti daratan. Kwee Ceng girang hingga ia berseru.
Sesudah berjalan lagi sekira waktu semakanan nasi, sekarang terlihat tegas garis-garis hitam itu, yang benar daratan adanya.
Ketika itu angin sirap, gelombang tenang, hanya sang surya tengah memperlihatkan pengaruhnya yang dahsyat, sinarnya menyorot panas sekali.
Selagi orang mengawasi ke darat, mendadak Auwyang Hong berlompat bangun dibarengi gerakan kedua tangannya, dengan masing-masing sebelah tangannya, ia mencekuk Kwee Ceng dan Oey Yong, sedang dengan gerakan kakinya ia menotok Ang Cit Kong.
Muda mudi ini kaget sekali. Sungguh mereka tidak menyangka. Lantas mereka merasakan terpencet keras sampai tubuh mereka seperti mati separuh.
“Kau bikin apa?!” keduanya berseru.
See Tok menyeringai, ia tidak menjawab.
Ang Cit Kong ditotok, hingga ia tak sanggup bergerak, tetapi mulutnya merdeka.
“Oh, tua bangka beracun!” katanya menghela napas. “Seumurnya, tidak pernah dia sudi menerima budi orang. Kita telah berlaku baik hati menolongi dia, beginilah pembalasannya. Mana dia sudi hidup bersama kita di dalam dunia ini? Ah, dasar aku, dalam malam gelap buta rata aku menolongi orang, hingga sekarang aku mencelakai kedua anak ini…”
“Kau sudah tahu, itulah bagus!” berkata Auwyang Hong. “Laginya Kiu Im Cin-keng telah berada di tanganku, mana aku dapat membiarkan bocah itu hidup lebih lama sebab cuma-cuma dia bakal membahayakan diriku…!”
Mendengar orang menyebut Kiu Im Cin-keng, mendadak Ang Cit Kong berkata dengan nyaring: “Nouwjie-cit-liok, hapkwajie, lenghiat-kiatpian, pengtojin…”
Auwyang Hong melengak. Itulah kata-kata dalam Kiu Im Cin-keng sebagaimana ditulis Kwee Ceng. Ia tidak dapat artikan maksudnya itu, sekarang Pak Kay dapat menghapalnya. “Mungkinkah dia mengerti artinya itu?” pikirnya. “Kata-kata itu bisa jadi ada rahasianya Kiu Im Cin-keng, maka kalau sekarang aku binasakan mereka ini bertiga, pastilah di dalam dunia tidak ada orang lain lagi yang mengerti…. Kalau itu benar, percuma saja aku mendapatkan kitabnya.”
“Apakah artinya itu?” ia lantas tanya Pak Kay.
“Kunhoa-catcat, soatkin-hiepattow, biejiebiejie…” lanjut Pak Kay lagi.
Auwyang Hong berpikir keras. Ia mau percaya kata-kata si Pengemis dari Utara itu mesti ada punya arti dalam.
Selagi orang diam menjublak, mendadak Ang Cit Kong berseru: “Ceng-jie, turun tangan!”
Hebat Kwee Ceng, begitu mendengar suara gurunya itu, tangan kirinya menarik, tangan kanannya menyerang, dibarengi sama tendangan kaki kirinya!
Sebenarnya, dengan dipegangi Auwyang Hong, Kwee Ceng dan Oey Yong sudah habis daya, siapa tahu Ang Cit Kong cerdik, ia mengoceh untuk mengganggu pikiran orang. Dan ia berhasil.
Kwee Ceng menendang dengan jurus kedua dari Ie Kin Toan-kut-pian. Ia menendang secara biasa, begitu pun tarikan tangannya untuk membebaskan diri serta serangannya yang membarengi itu.
Auwyang Hong terperanjat. Di getek yang kecil itu, ia tidak dapat bergerak dengan leluasa. Maka itu sambil terus memegangi si nona ia menangkis dan berkelit.
Kwee Ceng tidak berhenti menyerang setelah serangannya yang pertama itu, ia lantas menyerang terus dengan bertubi-tubi. Ia mengerti baik sekali, jikalau Auwyang Hong diberi bernapas, hingga ia sempat menggunai ilmu silatnya yang istimewa, yaitu Kuntauw Kodok, mereka bertiga sukar dapat pertolongan lagi.
Benar-benar See Tok kena terdesak mundur.
Oey Yong juga tidak berdiam saja, walaupun tangannya sebelah tidak merdeka, ia menggeraki tubuhnya akan membentur si Bisa dari Barat itu.
Tubuh See Tok tidak bergeming, bahkan dalam hatinya ia tertawa dan berkata: “Budak cilik ini membentur aku, kalau dia tidak mental ke laut, itulah hebat!”
Sementara itu benturan si nosa sudah mengenai sasarannya. Benar-benar Auwyang Hong tidak berkelit atau menangkis, ia pasang dadanya. Mendadak ia merasakan dadanya sakit. Baru sekarang ia kegt dan ingat orang memakai baju lapis berduri - joan-wie-kah dari Tho Hoa To. Ia berada di tepi getek, setengah tindak ia tidak dapat mundur. Tidak ada jalan lain, maka ia melepaskan cekalannya, ia berkelit, mendorong.
Tidak tempo lagi, tubuh si nona terpelanting ke arah laut, akan tetapi sebelum ia kecebur, Kwee Ceng keburu menyambar, menarik tangannya, sedang dengan tangan kirinya, si anak muda melanjuti serangannya terus-menerus.
Segera setelah itu Oey Yong menghunus pisau belatinya, untuk maju menyerang.
Auwyang Hong memasang kuda-kuda di pinggir getek, air laut muncrat membasahkan kakinya, bagaimana juga muda-mudi ini mendesak padanya, ia tidak bisa dipaksa mundur.
Ang Cit Kong dan Auwyang Kongcu tidak dapat bergerak, menyaksikan pertempuran itu, hati mereka sama-sama bergoncang keras sebab mengkhawatirkan keselamatan orang di pihaknya. Mereka pun menyesal yang mereka tidak dapat memberikan bantuan mereka.
Auwyang Hong lihay melebihkan Kwee Ceng dan Oey Yong akan tetapi sekarang ia terhalang di dalam tiga hal. Pertama-tama, ia sudah kerendam lama, tenaga dan kegesitannya hilang hampir separuh. Kedua meskipun Oey Yong lemah, dia tapinya memakai baju lapis maka tubuhnya tak dapat diserang. Si nona juga memegang pisau yang sangat tajam. Ketiga Kwee Ceng menyerang dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, dengan Kong-beng-kun juga, sedang ia bertubuh kuat berkat sudah minum darah ular. Dia pun mengerti ilmu berkelahi sendiri dengan kedua tangannya kiri dan kanan, ia cukup mahir dengan ilmu Coan Cin Pay. Dan yang paling belakang ini, ia mulai menyakinkan Kiu Im Cin-keng bagian Ie-kin Toan-kut-pian itu, ilmu melatih urat dan tulang.
Demikan mereka itu jadi bertarung seru.
Lama-lama terlihat nyata Auwyang Hong menjadi semakin lihay, sebaliknya Kwee Ceng dan Oey Yong nampak mulai reda rangsakannya. Ang Cit Kong menyaksikan itu, hatinya keder.
Dalam perlawanannya itu, Auwyang Hong memperoleh ketikanya. Dimana ia tidak dapat menghajar tubuh si nona, ia menggant itu dengan tendangan. Lantas si nona terjungkal, kecebur ke laut. Dengan begitu, seorang diri, Kwee Ceng jadi berada di dalam bahaya.
Si nona kecebur di sebelah kiri getek, ia lantas muncul pula si sebelah kanan, di sini ia berlompat naik untuk terus menikam punggungnnya si Bisa dari Barat itu.
Karena diserang dari belakang, Auwyang Hong mesti memutar tubuhnya, karena itu Kwee Ceng di lain bagian, keadaan mereka kembali menjadi seimbang.
Sekarang si nona berkelahi sambil mengasah otaknya. Ia menginsyafinya, karena kalah gagah, dengan berkelahi terus secara begitu, akhirnya pihaknya yang bakal kalah. Maka ia pikir, baiklah ia nyebur ke laut.
Cepat si nona berpikir, sebat ia bekerja. Mendadak ia membabat ke arah dadung layar. Tepat babakannya itu, layar roboh seketika juga. Dengan begitu, getek pun tak maju tak mundur, hanya memain mengikuti gelombang. Si nona sudah lantas mundur, dengan dadunya layar itu ia melibat tubuh Ang Cit Kong beberapa libatan, kemudian ia mengikat lain ujungnya di sepotong balok getek.
Karena ditinggali si nona, Kwee Ceng segera terdesak See Tok. Di jurus ke empat dari musuhnya, terpaksa ia mundur. Ia didesak dengan serangan yang kelima dan keenam. Saking terpaksa, si pemuda menangkis juga serangan yang ketujuh, ia memakai jurus “Ikan lompat meletik”. Di jurus ke delapan ia terpaksa mundur lagi setindak. Tiba-tiba kakinya itu, kaki kiri, menginjak tempat kosong. Tapi ia tidak bingung, berbareng ia menendang dengan kaki kanan, supaya musuh tak dapat mendesak. Karena ini, tampak ampun, ia pun kecebur ke laut!
Karena robohnya si pemuda, getek goncang keras , justru itu, Oey Yong pun turut berlompat, maka lagi sekali terjadi goncangan. Di dalam air, muda-mudi ini tidak berdiam saja. Mereka mendekati getek yang mereka angkat, untuk dibikin terbalik karam.
Auwyang Hong terkejut. Ia dapat membade maksudnya anak-anak muda itu. Ia mengerti, kalau getek terbalik, keponakannya mesti mati kelelap. Ia sendiri, ia pun sulit melawan dua musuh itu. Maka segera ia bertindak. Ia angkat sebelah kakinya, mengancam hendak menendang batok kepala Ang Cit Kong. Ia pun berseru dengan ancamannya: “Bocah-bocah, dengar! Lagi satu kali kamu bergerak, akan aku menendang!”
Gagal akalnya yang pertama itu, Oey Yong tidak putus asa. Segera ia menjalankan akalnya yang kedua, yang ia sudah lantas dapat pikir. Ia menyelam, dengan pisaunya ia memotong dadung yang mengikat semua balok getek itu. Ia tahu, mereka sudah mendekati daratan, maka dapatlah ia berenang ke daratan sambil menyeret balok besar dimana gurunya terikat.
Lekas sekali terdengar suara dadung-daung putus, setelah mana, getek lantas berpisah menjadi dua bagian. Auwyang Kongcu di getek kira, Auwyang Hong dan Ang Cit Kong di getek kanan. Auwyang Hong kaget, ia sambar keponakannya itu. Ia terus mendongko, bersiap menyambar mencekuk si nona apabila nona itu muncul di muka air.
Nona Oey di dalam air dapat membuka matanya. Ia mendapat lihat bayangan si Bisa dari Barat itu. Maka ia tidak mau menimbulkan diri. Ia berdiam terus di dalam air, pikirannya bekerja.
Untuk sementara, suasana sunyi. Pertempuran berhenti sendirinya. Dengan sinarnya matahari, laut menjadi terang sekali.
“Kalau getek itu dipecag dua lagi, gelombang bakal mendamparnya terbalik,” si nona berpikir.
Auwyang Hong sebaliknya terus menjaga, untuk menghajar mampus si nona. Ia percaya, Kwee Ceng seorang tak usah dibuat khawatir.
Disaat tegang itu, mendadak Auwyang Kongcu menunjuk ke kiri dan berseru-seru: “Perahu! Perahu!”
Ang Cit Kong segera berpaling, begitu pun Kwee Ceng. Benarlah, mereka melihat sebuah perahu besar berkepala naga-nagaan yang layarnya dipasang, laju memecah gelombang.
Auwyang Konngcu bermata awas, ia lantas melihat seorang yang berdiri di kepala perahu, yang tubuhnya tertutup jubah suci warna merah. Ia pun segera mengenali Leng Tie Siangjin. Segera ia memberitahukan pamannya.
Auwyang Hong kumpul semangatnya, terus ia berseru: “Di sini kawan! Lekas datang ke mari!”
Oey Yong dai dalam air belum tahu apa-apa, tetapi Kwee Ceng berkhawatir bukan main. Maka ia selulup untuk menarik tangan kekasihnya, buat memberi tanda atas datangnya musuh baru.
Oey Yong memberi tanda untuk pemudanya bersedia menangkis pukulan Auwyang Hong, ia sendiri hendak mencoba mengutungi lagi dadung getek.
Kwee Ceng tahu musuh sanat lihay dan ia terancam bahaya, tetapi keadaan sangat genting, ia terpaksa. Ia lantas menggeraki kedua kakinya untuk timbul, kedua tanganya diangkat ke atas.
Benar-benar Auwyang Hong sudah lantas menyerang dengan kedua tanganyna.
Kedua pihak tangan bentrok di muka air, hingga air muncrat dengan suaranya bergebyar. Berbareng dengan itu, dadung pun putus, sedang perahu besar sudah mendatangi tinggal lagi sepuluh tombak dari getek itu.
Oey Yong beniat muncul, untuk menyerang Auwyang Hong, ketika ia mendapat lihat tubuh Kwee Ceng diam saja, tubuh itu tenggelam turun dengan perlahan. Ia menjadi kaget, ia lantas berenang menghampirkan. Ia menarik tangan orang, untuk diajak berenang hingga terpisah jauh dari getek. Di situ barulah ia muncul di muka air, si anak muda ia angkat. Nyata sekarang, pemuda itu pingsan, kedua matanya meram, mukanya pucat pasi.
Ketika itu perahu besar sudah nempel sama getek, orang di atas lantas menyambuti Auwyang Hong dan keponakannya naik ke perahu. Begitu juga Ang Cit Kong, yang diangkat naik bersama.
“Engko Ceng!” Oey Yong memanggil, hatinya goncang.
Kwee Ceng diam saja, walaupun kemudian ia dipanggil dua kali.
Dalam bingungnya, Oey Yong mengambil keputusan berbahaya.
“Biar perahu ada perahu musuh, aku mesti naik ke sana,” demikian pikirnya. Maka ia berenang pula, ke arah perahu.
Anak buah perahu sudah lantas menyambuti tubuh Kwee Ceng, buat diangkat naik, kemudian ketika mereka hendak menyambuti si nona, mendadak si nona berloncat, melientik bagaikan ikan, naik ke perahu, hingga mereka terkejut.
Kwee Ceng tergempur hebat ketika tadi ia menangkis serangannya Auwyang Hong, ia pingsan seketika. Ketika ia mendusin, ia tampak dirinya dalam rangkulan Oey Yong, dan mereka berada di sebuah perahu kecil. Ia memainkan napasnya, ia merasa tak terluka di dalam, maka itu, ia geraki alisnya, ia tersenyum pada si nona.
Oey Yong juga tersenyum, karena hatinya lega. Sekarang ia bisa mengawasi ke perahu besar, untuk mendapat ketahui siapa penghuninya perahu itu. begitu ia melihat nyata, ia mengeluh di dalam hatinya.
Tujuh atau delapan orang tertampak di kepala perahu dan mereka semuanya adalah jago-jago yang ia telah temui beberapa bulan yang lalu di istana Chao Wang, umpama Cian Ciu Jin-touw Pheng Lian Houw yang matanya tajam, Kwie-bun Liong Ong See Thong yang kepalanya botak lanang, Sam-tauw-kauw Hauw Thong Hay yang jidatnya ditumbuhkan tiga buah kutil, Som Sian Lao Koay Nio Cu Ong yang rambutnya putih tetapi romannya segar seperti bocah, begitupun Leng Tie Siangjin si paderi Tibet yang mengenakan jubah suvi warna merah. Beberapa lagi yang lainnya tak ia kenal.
Oey Yong segera merasakan kesulitan untuk menyingkir dari orang-orang kosen itu. Melihat kemajuannya ilmu silat Kwee Ceng dan ia sendiri, kalau satu lawan satu, tak usah mereka jerikan segala Pheng Lian Houw itu, ia sendiri mungkin tak dapat menang tetapi Kwee Ceng pasti, hanya di situ ada si tua bangka berbisa dan jumlah mereka itu besar sekali…
Di atas perahu itu orang heran mendengar suaranya Auwyang Hong, kemudian keheranan mereka bertambah apabila mereka pun dapat melihat Oey Yong dan Kwee Ceng. Mereka mengawasi Auwyang Hong, yang memondong keponakannya, dan Kwee Ceng serta Oey Yong yang menolongi Ang Cit Kong. Dua rombongan orang itu saling susul naik ke perahu besar.
Segera juga terlihat keluarnya seorang dari dalam perahu, seorang yang memakai jubah sulam yang indah. Kapan matanya itu bentrok sama mata Kwee Ceng, keduanya lantas saja terperanjat agaknya. Sebab orang itu, yang kumisnya sedikit tetapi romannya tampan adalah Chao Wang Wanyen Lieh, putra keenam dari raja bangsa Kim. Setelah kabur dari rumah abu keluarga Lauw di Poo-eng, lantaran khawatir nanti dikejar Kwee Ceng, pangeran ini tak berani kembali ke Utara, kebetulan ia bertemu rombangannya Pheng Lian Houw, lalu bersama-sama mereka menuju ke Selatan untuk mencuri surat wasiat Gak Hui.
Pada ketika itu angkatan perang Mongolia tengah menyerang negara Kim, kotaraja Yan-khia atau Tiong-touw sudah semenjak beberapa bulan kena dikurung rapat. Daerah Yan In yang terdiri dari enambelas (ciu), semuanya sudah terjatuh ke dalam tangan bangsa Mongolia. Maka itu, keadaannya negara Kim menjadi lemah setiap hari. Kejadian itu membuatnya Wanyen Lieh menjadi berduka dan berkhawatir. Tentara Mongolia kosen sekali, walaupun jumlah tentara Kim sepuluh kali lipat lebih banyak, setiap bertempur tentara Kim-lah yang buyar duluan. Keran ini, Wanyen Lieh tumpahkan pengharapannya kepada surat wasiat Gak Hui. Ia percaya surat wasiat itu nanti bisa membantu ia membangun negaranya, kalau berperang tentulah ia menang selalu, seperti Gak Hui sendiri sebelum dia terfitnah dan terbinasa di tangan dorna Cin Kwee.

Dalam perjalanannya ke Selatan ini, Wanyen Lieh bertindak secara diam-diam. Ia khawatir pihak kerajaan Selatan (Song) nanti dapat ketahui dan berjaga-jaga hingga ia tak bakal berhasil dengan niatnya. Inilah sebabnya kenapa ia menggunakan perahu. Ia ingin secara rahasia mendarat di pesisir Ciatkang dan memasuki kota Lim-an, dimana pencurian bakal dilakukan. Pernah Chao Wang mencari Auwyang Kongcu yang lihay itu, yang ia percaya bisa membantu padanya, tetapi pemuda itu tak dapat ditemukan, maka terpaksa ia berjalan terus. Sungguh diluar dugaan, sekarang ia bertemu sama Kwee Ceng di tengah laut ini. Ia hanya belum tahu apa maksudnya pemuda she Kwee ini.
Menghadapi musuh besar yang telah membunuh ayahnya, Kwee Ceng menjadi sangat gusar, ia mengawasi dengan bengis.
Dilain pihak Oey Yong yang bermata tajam dapat melihat di sebelah dalam perahu ada tubuh yang keluar dan kemudian menyelip masuk, samar-samar ia mengenali Yo Kang.
Auwyang Kongcu lantas membuka mulutnya, untuk mengajar kenal pamannya.
“Paman, inilah pangeran keenam dari negara Kim terbesar yang paling haus dengan orang-orang pintar dan gagah!” demikian sang keponakan. Ia juga perkenalkan pangeran itu kepada pamannya.
Wanyen Lieh tidak ketahui kegagahannya Auwyang Hong akan tetapi karena Auwyang Kongcu yang memperkenalkannya, ia angkat kedua tangannya untuk memberi hormat.
Sebaliknya Pheng Lian Houw dan See Thong Thian serta lainnya, mendengar orang ini See Tok yang termasyhur, maka mereka buru-buru memberi hormat sambil memberikan pujian untuk mengangkat-angkat si Bisa dari Barat itu.
Auwyang Hong menjura separuh membalas pemberian hormat.
Leng Tie Siangjin si orang Tibet tidak pernah mendengar namanya See Tok, ia cuma merangkap kedua tangannya, ia tidak membilang suatu apa.
Wanyen Lieh adalah seorang cerdik, menyaksikan Pheng Lian Houw semua yang beradat tinggi, begitu mengghormati Auwyang Hong tidak peduli See Tok bermuka kuning dan bengkak serta dandannya tidak karuan, mirip orang yang berpenyakitan, ia lantas memperlakukannya dengan hormat, ia mengeluarkan kata-kata memuji.
Di atas perahu itu, pada ketika itu, adalah Som Sian Lao Koay yang perasaannya paling berbeda daripada yang lainnya. Ia tengah menghadapi Kwee Ceng, orang yang telah menghisap darah ularnya, ular yang ia pelihara sekian lama, yang menjadi harapannya. Ia menghadapi musuh besarnya, bagaimana ia tidak menjadi sangat gusar? Tetapi di samping si anak muda ada Ang Cit Kong, yang paling ia malui, mau tidak mau, ia mesti mengendalikan diri, terpaksa ia memperlihatkan wajah berseri-seri, sambil menjura dalam ia memberi hormat dan berkata dengan merendah: “Yang rendah Nio Cu Ong menghadap Ang Pangcu. Adakah Pangcu banyak baik?”
Mendengar suaranya Som Sian Lao Koay, semua orang terperanjat. Dua-dua See Tok dan Pak Kay ada sangat terkenal, tadinya mereka belum pernah melihatnya, siapa tahu sekarang keduanya itu muncul dengan berbareng. Tentu sekali, mereka itu hendak turut memberi hormat pula, ketika terdengar Ang Cit Kong tertawa dan berkata: “Aku si pengemis tua sedang malang, aku telah digigit anjing jahat hingga setengah mati setengah hidup, maka perlu apa kamu memberi hormat padaku? Paling benar kau sediakanlah barang makanan untuk aku dahar!”
Semua orang heran, mereka semua mengawasi Auwyang Hong, akan mencari tahu apa tindakannya See Tok itu.
Auwyang Hong sangat cerdik, ia sudah lantas memikir rencana untuk nanti menurunkan tangan jahatnya. Tentu saja, paling dulu Ang Cit Kong yang mesti disingkirkan. Kwee Ceng adalah yang kedua, sebab Kwee Ceng mesti dipaksa dulu menguraikan rahasianya kitab Kiu Im Cin-keng. Oey Yong pun mesti dibunuh tidak peduli Auwyang Kongcu sangat mencintainya. Selama Oey Yong masih hidup, ia tetap terancam bahaya, hanya karena segan kepada Oey Yok Su, tidak mau ia turun tangan sendiri, hendak ia meminjam tangan orang lain. Terutama di depan mata ini, ia tidak sudi memberi ketika kepada mereka itu bertiga membuka rahasia kejahatannya. Maka berkatalah ia menghadap Wanyen Lieh: “Tiga orang ini sangat licin, mereka juga lihay ilmu silatnya, maka itu aku mohon ongya menjaga baik-baik kepada mereka.”
Mendengar suaranya Auwyang Hong, Nio Cu Ong menjadi sangat girang. Ia maju satu tindak kepada Kwee Ceng, tangannya diangsurkan untuk menarik.
Kwee Ceng memutar balik tangannya yang hendak dicekal itu. “Plak!” maka tangannya itu menghajar bahu orang. Itulah pukulan jurus “Melihat naga di sawah”, cepat dan berat, biarnya Som Sian Lao Koay lihay, ia toh terhajar mundur hingga dua tindak dan tubuhnya terhuyung-huyung. Inilah ia tak sangka sama sekali.
Pheng Lian Houw dan lainnya baik di muka kepada Nio Cu Ong, di dalam hati mereka membenci, maka senanglah mereka menyaksikan Som Sian Lao Koay mendapat hajaran itu. Meski begitu, mereka sudah lantas bertindak, membubarkan diri, untuk mengurung Ang Cit Kong bertiga itu. Mereka sudah memikir akan turun tangan setelah si orang she Nio itu dirobohkan…
Sebenarnya Nio Cu Ong mengulurkan tangan sambil bersiap-siap kalau Kwee Ceng menyerang ia dengan jurus Hang Liong Yoe-hoei, si Naga Menyesal, ia tidak sangka, baru berselang satu bulan, si anak muda sudah mempelajari habis semua jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, maka itu dalam segebrak saja ia kena dihajar tanpa ia sempat menghindarkan diri. Ia menjadi bertambah panas hati. Kwee Ceng tidak saja mengubar dia untuk menyerang lebih jauh, maka ialah yang bertindak. Dengan menjejak dengan kaki kiri, ia berlompat maju, kedua tangannya digeraki berbareng, menyerang dengan pukulannya yang ia paling andalkan, yaitu tipu silat “Liauw-tong Ya-ho Kun-hoat” atau kuntauw “Rase liar dari Liauw-tong”. Dengan serangan ini ia hendak merampas jiwanya si anak muda, untuk membalas malunya barusan sekalian membalas juga sakit hatinya sebab si anak muda menghisap darah ularnya….
Kuntauw Rase Liar itu adalah suatu ilmu silat kesohor untuk wilayah Liauw-tong. Satu kali Som Sian Lao Koay pergi mencari kolesom di gunung Tian Pek San, kebetulan ia menyaksikan pertempuran di antara anjing pemburu dengan seekor rase liar, yang bergulat di atas salju. Rase itu sangat gesit dan licin, dia berlompatan ke segala penjuru menghindari tubrukan-tubrukannya si anjing yang galak. Sampai sekian lama, anjing itu belum berhasil juga. Menyaksikan kegesitan rase itu, Nio Cu Ong mendapat ilham, maka ia lantas menciptkan ilmu silatnya itu. Ia batal mencari kolesom, ia membuat gubuk di gunung itu. Satu bulan lamanya ia mengeram diri hingga berhasillah ia dengan ilmu silatnya yang baru itu. Sejak itu, kecuali roboh di tangan Ang Cit Kong, belum pernah ada orang yang sanggup menandingi padanya, maka heranlah ia sekarang ia kena dihajar Kwee Ceng. Karena ini, ia jadi tidak berani berlaku sembarangan, hendak ia menggunai kegesitannya. Ia berlompat sambil berkelit, meskipun orang tidak serang padanya, lalu ia menjatuhkan diri, habis mana barulah ia menyerang benar-benar.
Kwee Ceng merasa aneh atas ilmu silat orang. Belum pernah ia melihat ilmu semacam itu. Tapi ia cuma heran, ia melawan dengan tabah dan sabar. Ia turut pengajarannya Ang Cit Kong, biar musuh gesit dan hebat, ia tidak kasih dirinya dipermainkan. Dengan tetap ia menggunai Hang Liong Sip-pat Ciang untuk melayaninya.
Setelah lewat beberapa jurus, semua penonton lainnya pada menggeleng kepala. Mereka semua lihay, mereka menjadi heran sekali.
“Bukankah Nio CU Ong lihay, dan ia menjadi kepala dari satu pertai persilatan?” demikian mereka berpikir. “Kenapa sekarang, menghadapi satu bocah, dia selalu main lompat-lompatan saja? Senantiasa berkelit tidak hendak ia menyerang secara sungguh-sungguh?”
Pertandingan berjalan terus. Selama itu Kwee Ceng terus mendesak. Lagi sedikit, maka Som Sian Lao Koay bisa terdesak sampai dia bakal kecebur ke laut…
Nio Cu Ong heran dan gelisah juga mendapatkan kuntauw Rase Liarnya itu tidak berjalan terhadap si anak muda, terpaksa ia memikir untuk menggunai lain tipu silat. Apa celaka, ia tidak bisa mewujudkan pikirannya itu, Kwee Ceng mendesak terus-menerus, ia tidak diberi ketika.
Selagi angin kepalan berderu-deru, terdengarlah seruannya Ang Cit Kong yang sedari tadi nonton sambil berdiam saja, cuma matanya yang dipasang awas: “Turunlah!”
Menyusul seruan itu, Kwee Ceng menyerang dengan jurusan “Menunggang enam naga”, tangan kirinya menyapu hebat sekali.
Nio Cu Ong terkejut, hendak ia berkelit, tetapi tanpa ia berkuasa, tubuhnya terjun ke luar perahu!
Semua orang heran. Kecuali Auwyang Hong, tidak ada yang dapat melihat gerakannya Kwee Ceng itu. Mereka lantas lari ke tepi perahu, ke arah mana tubuh Nio Cu Ong terpelanting, untuk melihat. Tengah mereka berlari, dari arah laut terdengar suara tertawa nyaring dan panjang, yang mana disusul sama meluncurnya tubuh Som Sian Lao Koay itu, yang kembali ke dalam perahu di mana dia roboh di lantai tanpa dapat bergerak pula, cuma jatuhnya itu yang terdengar keras sekali.
Semua orang menjadi terlebih heran lagi. Mungkinkah air laut, sang gelombang, yang membuatnya tubuh orang membal balik? Dari itu, semua lalu melihat ke bawah, ke muka air. Segera mereka mendapatkan seorang tua, yang rambut dan kumisnya telah putih semua, lagi mondar-mandir cepat sekali di laut di dekat perahu. Dengan mengawasi sebentar saja, dapatlah diketahui, orang tua itu tengah menunggang seekor ikan hiu yang besar. Pantas dia dapat bergerak denag cepat dan gesit.
Kwee Ceng pun dapat melihat orang tua itu, ia kaget berbareng girang sekali.
“Ciu Toako!” ia memanggil, keras. “Aku di sini!”
Memangnya juga, orang tua yang menunggang ikan hiu itu adalah Loo Boan Tong Ciu Pek Thong si orang tua berandalan, jenaka dan kocak.
Pek Thong dapat dengar suaranya Kwee Ceng, yang ia kenali, ia pun girang luar biasa. Ia mengetok samping mata kiri dari ikannya, lantas ikan itu mutar ke kiri, berenang mendekati perahu besar.
“Kwee Hiantee di sana?” menanya si jenaka. “Baik-baikah kau? Di depan sana ada seekor ikan lodan yang besar, sudah satu hari satu malam aku mengejarnya, aku gagal, maka sekarang hendak kau mengejar pula! Nah, sampai ketemu lagi!”
“Toako, naik kemari!” berteraik Kwee Ceng. Ia takut saudara tua itu pergi pula. “Lekas toako, di sini ada banyak manusia jahat yang lagi menghina adikmu!”
“Oh, begitu!” berseru Pek Thong, yang lantas saja menjadi gusar. Ia terus mengulur tangannya ke mulut ikannya, terus ia menarik. Entah apa itu yang ditariknya. Sang ikan segera berontak, berlompat tinggi bersama-sama penunggangnya, tiba di atas perahu di mana ia melewati banyak kepala orang.
“Kurang ajar, siapa yang bernyali begitu besar?!” membentak si orang tua ini. “Siapakah yang berani menghina adik angkatku?!”
Di atas perahu itu, semua adalah orang-orang yang luas pandangnya dan pintar, akan tetapi munculnya Ciu Pek Thong dengan caranya ini yang luar biasa membuat mereka tak habis pikir, maka semuanya berdiri tercengang, mata mereka mendelong, mulut mereka di pentang lebar-lebar.
Heran Ciu pek Thong kapan ia melihat Oey Yong ada di situ.
“Ah, adik kecil, mengapa kau pun ada di sini?” ia menanya.
“Memang aku di sini!” menjawab si nona yang lantas tertawa. “Mari lekas kau ajari aku menunggang ikan ini!”
“Sabar, adik kecil!” menyahut si tua berandalanb ini. Ia lantas memandang ke sekitarnya, menyapu kepada semua orang di atas perahu itu, kemudian ia mengawasi See Tok seraya berkata: “Aku tahu lain orang tidak nanti berani berbuat sangat kurang ajar, kiranya benar-benar kau tua bangkat bangkotan!”
Auwyang Hong bersikap tawar ketika ia menyahuti!: “Seorang yang tidak mentaati kata-katanya, walaupun ia mencuri hidup di dalam dunia ini, ia hanya bakal ditertawakan orang-orang gagah!”
“Itulah benar!” berkata Pek Thong. “Aku memang hendak mencarik kau untuk membuat perhitungan! Sekarang kau berada di sini, tidak ada ketika yang terlebih baik daripada ini! Eh, pengemis bangkotan, kaulah saksinya, kau bangunlah untuk memberikan jawaban peradilanmu!”
Ang Cit Kong tetap rebah di lantai, tetapi ia tertawa. Ia tidak menjawab.
Oey Yong yang mewakilkan gurunya itu.
“Si tua bangkotan berbisa ini ada sangat jahat!” berkata nona ini. “Dia mendapat bahaya, sang maut tengah menghampirkan padanya, lantas guruku ini menolongi dia, tetapi dia jahat seperti manusia berhati serigala, berjantung anjing, bukannya dia balas budi, ia justru membalas jahat, ia melukai guruku, dia menotok juga jalan darahnya!”
Pek Thong segera menghampirkan, untuk menotok jalan darah sahabatnya itu kiok-tie-hiat dan yongcoan-hiat.
“Percuma Loo Boan Tong, tidak ada faedahnya,” Cit Kong berkata.
Memang hebat totokannya Auwyang Hong, kecuali dia sendiri atau Oey Yok Su, tidak ada lain orang yang dapat menitok membebaskannya.
Puas Auwyang Hong menyaksikan kegagalan Pek Thong itu.
“Eh, Loo Boan Tong, kalau kau mempunyai kepandaianmu, kau totoklah ia hingga ia bebas!” ia mengejek.
Belum lagi si orang kocak menjawab, Oey Yong sudah mendahulukan dia. Si nona tidak dapat menolong gurunya itu tetapi ia ketahui tentang totokan itu. Ia monyongkan mulutnya dan berkata: “Apakah yang aneh dengan ilmu totokmu ini? Dengan hanya setiupan debu, ayahku dapat membebaskannya! Bukankah ini dia yang dinamakan Touw-kut Ta-hiat-hoat, ilmu totok menembusi tulang?!”
Mendengar itu, Auwyang Hong tercengang, tetapi ia tidak heran yang nona itu mengetahuinya. Ia tidak memperdulikannya, ia memandang kepada Ciu Pek Thong, akan berkata: “Kau telah kalah bertaruh, kenapa kau bicara seperti melepas angin busuk?!”
“Angin busuk?!” Pek Thong menanya. Dan ia menekap hidungnya. “Sungguh bau! Sungguh bau! Sekarang hendak aku menanya kau, kita bertaruh apa?”
“Di sini kecuali si bocah she Kwee dan itu budak cilik, semua adalah orang-orang gagah yang telah kenamaan,” menyahut Auwyang Hong. “Maka itu aku minta tuan-tuan ini memberikan suaranya yang adil!”
“Baik, baik!” menyahut Pheng Lian Houw. “Auwyang Sianseng, silahkan bicara!”
“Tuan ini adalah Ciu Pek Thong dari Coan Cin Kauw,” See Tok lantas berkata, “Dialah yang orang Kangouw menyebutnya Loo Boan Tong si Bocah Tua yang bandel. Dia berderajat bukannya rendah, sebab dialah paman guru dari Khu Cie Kee dan Ong Cie It sekalian anggota Coan Cin Cit Cu.”
Sudah belasan tahun Pek Thong berdiam di pulau Tho Hoa To, lebih dulu daripada itu, namanya memang tidak terlalu terkenal, tetapi sekarang, mendengar ialah pama guru dari Coan Cin Cit Cu, orang menjadi kagum, orang percaya dialah bukan sembarang orang, maka mereka lantas kasak-kusuk. Pheng Lian Houw pun menjadi kecil hatinya. Ia sudah berjanji akan bertempur di lauwteng Yan Ie Lauw di Kee-hin, kalau Cioan Cin Cit Cu dibantu “manusia aneh” ini, sungguhlah orang ada seperti harimau yang tumbuh sayap…
Auwyang Hong meneruskan akata-katanya. “Ini saudara Ciu telah dikurung ikan hiu di tengah laut, aku telah tolongi dia. Aku kata, ikan hiu ikan tak berarti, asal satu kali aku menggeraki tanganku, semua ikan itu bakal mampus semua. Saudara Ciu tidak percaya padaku, maka itu kita berdua lantas bertaruh. Saudara Ciu, benarkah begitu?”
Pek Thong menangguk.
“Sedikit juga tidak salah!” sahutnya. “Hanya apakah pertaruhan itu, kau perlu menyebutkannya kepada orang banyak ini.”
“Akur! Aku telah membilang jikalau kau kalah, apa pun yang kau katakan, akan aku kerjakan, jikalau aku menyangkal, akan aku terjun ke laut, supaya tubuhku digegaras ikan. Dan kalau kau yang kalah, kau pun begitu. Bukankah benar demikian?”
Pek Thong mengangguk pula, bahkan berulang-ulang.
“Sedikit juga tidak salah,” sahutnya pula. “Kemudian bagaimana?”
“Bagaimana? Kemudian kaulah yang kalah!”
Kali ini Pek Thong menggeleng-geleng kepalanya berulang-ulang.
“Salah, salah!” ia berkata. “Yang kalah ialah kau, bukannya aku!”
See Tok menjadi gusar.
“Satu laki-laki, dapatkah ia putar balik omongannya?” dia menegur keras. “Dapatkah orang main menyangkal? Jikalau aku yang kalah, kenapa kau rela membuang dirimu ke laut untuk membunuh diri?”
Pek Thong menghela napas.
“Benar, sebab memangnya nasibku yang buruk,” ia berkata. “Aku telah kalah itu waktu…Hanya setelah aku masuk ke laut, Thian telah membuatnya aku bertemu sama suatu hal yang kebetulan sekali, setelah mana tahulah aku bahwa kaulah si tua bangka berbisa yang kalah, bahwa Loo Boan Tonglah yang menang!”
“Apakah hal kebetulan itu?!” tanya Auwyang Hong yang menjadi heran sekali.
Juga Ang Cit Kong dan Oey Yong turut menanyakan.
Ciu Pek Thong membungkuk, tangannya dimasuki ke mulut ikan, di mana ada sebatang tongkat pendek, ia mencekal itu dengan apa ia pun mengangkat ikan itu.
“Hal kebetulan itu ialah aku bertemu sama binatang tungganganku ini!” ia menyahut. “Kau lihatlah! Inilah perbuatannya keponakanmu yang kau sayang bagaikan mustika! Benar tidak?!”
Memang itu perbuatannya Auwyang Kongcu, yang mengganjal mullut ikan, supaya ikan tak dapat makan dan menjadi mati sendirinya. Auwyang Hong menyaksikan sendiri perbuatan curang dari keponakannya itu. See Tok pun mengenali ikan ini, yang mulutnya pun luka bekas kena pancing.
“Habis bagaimana?!” ia menanya pula.
Ciu Pek Thong menepuk tangan.
“Itulah artinya kau kalah!” ia memberikan jawabannya. “Pertaruhan kita ialah semua ikan hiu mesti dibikin mati, akan tetapi ia satu ekor, karena ia dapat pertolongan keponakanmu itu, karena dia tak dapat memakai bangkai bangsanya yang keracunan, dia tidak terkena bisa, dia hidup sampai sekarang ini! Kau lihat bukankah Loo Boan Tong yang menang?”
Dan ia pun tertawa terbahak-bahak.
Auwyang Hong sebaliknya melengak. Ia terdiam.
Kwee Ceng girang sekali.
“Toako, selama ini beberapa hari kau di mana saja?” Ia menanya kakak angkatnya itu. “Sungguh sengsara aku memikirkan nasibmu…”
Pek Thong tertawa riang.
“Aku pelesiran dengan puas!” ia menyahut. “Tidak lama setelah aku terjun ke laut, aku bertemu makhluk yang tengah megap-megap di permukaan air, agaknya dia sedang penasaran sekali. Maka aku tanya dia ‘Eh, ikan, ikan hiu, bukankah hari ini kau dan aku sama nasibnya yang harus dikasihani?’ Segera aku lompat ke punggungnya. Atas itu dia segera selulup ke dalam air. Aku menunggang terus, maka aku menahan napas. Dengan kedua tanganku aku memegang erat-erat lehernya. Sebaliknya dengan kedua kakiku, aku mendupak dia tak hentinya. Dia menimbul pula, hanya belum lagi aku bernapas, kembali ia selam. Demikian kita berdua saudara, kita bertemput di tengah laut. Hanya sesudah berselang sekian lama barulah ia menyerah dan menjadi jinak karenanya, suka ia mendengar perkataanku. Aku menghendaki ia pergi ke timur, dia pergi ke timur, aku mengingini ia menghadap utara, ia menghadap ke utara juga. Pendeknya ia menurut sekali….”
Dan ia tepuk-tepuk kepalanya ikan itu, agaknya ia sangat puas.
Selagi lain-lain orang heran, Oey Yong sangat mengagumi ikan itu, ia segera mengiri untuk pengalaman luar biasa dari si tua berandalan. Kedua matanya bersinar ketika ia berkata: “Bertahun-tahun aku main-main di laut, kenapa aku tidak memikirkan kepelesiran semacam ini? Sungguh aku tolol!”
“Lihat mulutnya,” berkata Pek Thong. “Lihat giginya! Tanpa mulutnya ditunjang tongkat ini, beranikah kau menaikinya?”
Oey Yong tidak mengambil mumat, ia hanya menanya: “Apakah selama beberapa hari ini kau terus-terusan naik ikan ini?”
“Kenapa tidak?” Pek Thong membaliki. “Kami berdua bersaudara, dalam hal menangkap ikan, kami pandai sekali. Kapan aku melihat seekor ikan, aku suruh saudaraku ini mengejar, setelah kecandak, aku menghajar dengan kepalanku, aku bikin ikan itu mampus! Belum pernah aku gagal! Dalam sepuluh bagian ikan itu, aku makan cuma satu bagian, yang sembilan bagian ialah yang gegaras habis!”
Si kocak menyebutnya ikan hiu itu sebagai saudaranya…
Oey Yong mengusap-usap perut ikan itu.
“Apakah kau beleseki ikan mati ke dalam perutnya?” si nona menanya pula. “Tanpa menggunai giginya, bisakah ia menelannya?”
“Dia pandai sekali,” menjawab Pek Thong. “Ada satu kali…”
Gembira ini si tua dan si nona, mereka pasang omong seperti juga di situ tidak ada lain orang serta tidak ada bahaya mengancam. Sedang sebenarnya Auwyang Hong tengah memikirkan daya upaya untuk menghadapinya.
“Eh, makhluk berbisa bangkotan, kau menyerah kalah atau tidak?!” tiba-tiba Pek Thong menegur See Tok.
Auwyang Hong tidak gampang-gampang mau menyerah kalah tetapi ia habis daya.
“Kalau aku kalah, bagaimana?!” ia balik menanya.
“Kalau begitu, aku mesti memikir sesuatu untuk kamu melakukannya!” berkata Pek Thong. “Bagus, aku ingat sekarang! Bukankah kau tadi mendamprat aku si tua seperti si angin busuk? Nah, sekarang aku menitahkan kau segera mengeluarkan angin busukmu itu!”
Tidak puas Oey Yong mendengar Pek Thong cuma mewajibkan Auwyang Hong membuang balas. Untuk orang biasa memang sukar tak karuan mengeluarkan angin busuk, perbuatan itu tak dapat dilakukan semua orang, tidak demikian dengan seorang yang ilmu dalamnya sudah mahir. Sebaliknya, sungguh gampang buat orang sebangsa See Tok. Maka ia lantas berteriak mencegah: “Tidak bagus, itu tidak bagus! Lebih dulu dia dimestikan membebaskan totokannya kepada guruku, kemudian baru kita bicarakan pula!”
Ciu Pek Thong tertawa.
“Kau lihat!” katanya kepada See Tok, “Sekalipun nona cilik ini takut pada angin busukmu itu! Baiklah, aku bebaskan kau dari kewajibanmu ini, aku juga tidak hendaki memustikan kau melakukan lainnnya, cukup asal kau mengobati lukanya si pengemis tua. Kepandaiannya si pengemis tua tidak ada dibawahanmu, coba tidak kau menggunai akal busuk, tidak nanti kai dapat melukai dia! Kau tunggu sampai dia sudah sembuh betul, maka kamu berdua boleh bertempur pula secara laki-laki sejati, itu waktu aku Loo Boan Tong suka menjadi saksinya!”
Auwyang Hong ketahui Ang Cit Kong tidak dapat disembuhkan, dia tidak takut si raja pengemis nanti menuntut balas padanya, hanya sekarang ia merasa sulit untuk desakan Ciu Pek Thong ini. Dia pun didesak di muka banyak orang. Menerima baik, sukar dilakukannya, menyangkal, ia malu. Karena itu, tidak bisa lain, ia membungkuk, terus ia totok Ang Cit Kong guna membebaskan dia dari totokannya.
Kwee Ceng bersama Oey Yong segera maju untuk membantui gurunya bangun.
Ciu Pek Thong sendiri segara menyapu dengan sinar matanya yang tajam kepada semua orang di atas perahu itu, kemudian ia berkata; “Aku, Loo Boan Tong paling takut mencium bau amis dari daging kambing yang biasa digegares orang bangsa Kim, oleh karena itu lekas kamu turunkan perahu kecil untuk mengantarkan kami berempat ke darat!”
Auwyang Hong pernah menyaksikan Pek Thong bertempur dengan Oey Yok Su, ia mengetahui baik bahwa orang berilmu tinggi, kalau ia yang menempurnya, belum tentu ia kalah tetapi juga pasti sulit untuk ia memperoleh kemenangan, lantaran itu, ia terpaksa menahan sabar, ia hendak menanti sampai ia sudah paham Kiu Im Cin-keng, baru ia ingin membuat perhitungan. Maka berkatalah ia: “Baiklah, siapa suruh nasibmu bagus hingga kau menang bertaruh!” Kemudian ia berpaling kepada Wanyen Lieh, untuk meneruskan berkata; “Ong-ya, tolong menurunkan sebuah perahu untuk mengantarkan ini empat orang mendarat.”
Wanyen Lieh tidak lantas meluluskan permintaan itu, di dalam hatinya ia berpikir; “Gampang untuk mengantarkan mereka ke darat, hanya rahasia kita yang hendak pergi ke Selatan ini, tidak dapat itu diketahui mereka…”
Sementara itu Leng Tie Siangjin tidak puas terhadap sikapnya Auwyang Hong. Semenjak tadi ia mengawasi saja tanpa membilang suata apa. Ia pikir: “Kalau kau sangat lihay, belum tentu kau dapat mengalahkan kita yang terdiri dari banyak orang pandai..” Maka, melihat si pangeran bersangsi, ia bertindak maju seraya berkata: “Jikalau kejadian di atas getek, Auwyang Sianseng dapat berbuat apa yang ia pikir baik, kami tidak nanti berani banyak mulut. Hanya di sini setelah Sianseng naik di perahu besar, sudah selayaknya kau mendengar segala kata-katanya ong-ya!”
Mendengar itu, hati semua orang menjadi tergerak, semua lantas mengawasi Auwyang Hong.
Auwyang Hong memandang Leng Tie Siangjin dengan sepasang matanya yang tajam, ia melihat ke atas dan ke bawah bergantian. Kemudian ia dongak ke langit.
“Apakah tuan paderi yang mulia ini hendak mempersulit aku si orang tua?” ia menanya, suaranya tawar.
“Itulah aku paderi yang rendah tak berani,” menyahut Leng Tie. “Aku yang tinggal di Tibet, aku hidup menyendiri, sedikit pendengaranku, dari itu barulah ini hari aku mendapat dengar nama sianseng yang termashur, maka itu ada apakah sangkutannya di antara kita berdua..?”
Belum lagi paderi ini menutup mulutnya, Auwyang Hong sudah maju satu tindak, selagi tangan kirinya dikibaskan, tangan kanannya sudah menyambar tubuh Leng Tie yang besar kekar itu, hanya dengan sekali mengerahkan tenaganya saja, ia telah membuatnya tubuh orang jungkir balik, kepala di bawah, kaki di atas!
Orang semua kaget dan heran. Tidak mereka lihat sambaran See Tok, tahu-tahu tubuh besar dari Leng Tie, dengan jubah merahnya yang bergerombongan, sudah seperti berkibar-kibar di udara. Mereka pikir entah ilmu apa yang digunai See Tok ini.
Leng Tie Siangjin tinggi besar melebihkan lain-lain orang tetapi Auwyang Hong dapat mencekuk batang lehernya dan terus diangkat, itulah hebat. Leng Tie sendiri pun heran. Ketika tubuhnya diputar, kepalanya terpisah dari kira tanah empat kaki. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, cuma kedua kakinya menendang udara secara kalang kabutan dan suaranya memperdengarkan kemurkaannya.
Tatkala Leng Tie Siangjin bertempur sama Ong Cie It di istana Chao Wang, semua orang telah menyaksikan kepandaiannya itu yang lihay, maka aneh sekarang, dengan gampang saja ia dipermainkan Auwyang Hong, seperti kedua tangan itu telah patah, sedikit pun kedua tangan itu tidak dapat dipergunakan.
Auwyang Hong sendiri masih tetap dongak ke udara, ia berkata: “Hari ini adalah yang pertama kali kau mendengar namaku, kau lantas tidak memandang mata kepada aku si orang tua, benarkah?”
Leng Tie kaget, heran dan gusar sekali, beberapa kali ia mencoba mengerahkan tenaganya, untuk berontak, saban-saban ia gagal, tak dapat ia meloloskan diri dari cekalan orang.
Pheng Lian Houw semua tidak berani campur tangan, tahulah mereka Auwyang hong tengah memperlihatkan pengaruhnya terhadap Leng Tie dan lainnya juga.
“Kau tidak memandang kepada aku si orang tua, itu masih tidak apa,” berkata pula Auwyang Hong, lagu suaranya tetap tawar, “Sekarang dengan memandang muka ongya, tidak ingin aku berpemandangan sama cupatnya seperti kau. Bukankah kau hendak menahan kepada Loo Boan Tong Ciu Looya-cu serta Kiu Cie Sin Kay Ang Looya-cu? Apakah yang kau andalkan maja kau berniat berbuat demikian? Loo Boan Tong, kau sambutlah!”
Tidak kelihatan gerakan tangan dari See Tok atau tahu-tahu tubuh besar dari Leng Tie sudah terlempar melayang ke arah kanan. Paderi ini merasakan ia telah terlepas dari cekalan, maka ia teruskan menjumpalitkan diri seperti ikan meletik, untuk dapat melempangkan tubuh, untuk dapat berdiri. Justru itu ia merasakan batang lehernya sakit. Ia menjadi kaget sekali, di dalam hatinya ia berseru: “Celaka!” Ia lantas menggeraki tangan kirinya, untuk menyerang. Tapi tangan kiri itu lantas kesemutan dan kaku, hilang tenaganya, hingga ia mesti mengarih turun melonjor di luar keinginannya. Berbareng dengan itu juga tubuhnya sudah terangkat naik kembali seperti tadi. Sebab diluar tahunya, dia sudah dicekuk Ciu Pek Thong, yang bertindak sama seperti Auwyang Hong barusan.
Wanyen Lieh menjadi tidak enak hati menyaksikan paderi itu dibuat permainan seperti itu. Ia mengerti, jangan kata ada Auwyang Hong, melihat kepandaiannya Pek Thong saja, semua orang pasti bukan tandingannya, maka itu, lekas ia bertindak.
“Sudahlah, Ciu Loosianseng, tak usah kau bergurau pual,” katanya. “Nanti siauw-ongya mengirimkan perahu untuk kamu berempat mendarat.”
Sebagaimana biasanya, pangeran ini membasakan diri siauw-ongya, pangeran yang kecil.
“Baiklah!” menyahut Ciu Pek Thong. “Kau juga boleh mencoba-coba! Sambutlah!”
Menelad Auwyang Hong. Loo Boan Tong melemparkan tubuhnya Leng Tie.
Wanyen Lieh mengerti ilmu silat, tetapi itu cuma permainan golok atau tombak dan hanya di atas kuda, tentu sekali ia tidak sanggup menyambuti tubuh si paderi, kalau ia paksa menyambuti juga, ia bisa tertubruk roboh, terluka atau mati. Hal ini diketahui See Thong Thian, maka orang she See ini sudah lantas berlompat maju dengan gerakannya “Menggeser tindakan, menukar wujud”, dengan lantas ia berada di depannya si pangeran. Ia mengerti, kalau ia menyambuti dengan tangan seperti biasa, mungkin si paderi mendapat luka, maka ingin ia berbuat seperti Auwyang Hong atau Ciu Pek Thong.Selagi memikir begini, ia tidak mengukur tenaga kepandaian sendiri. Bukankah ia telah menyaksikannya See Tok dan Loo Boan Tong seperti tidak menggunakan tenaga sama sekali? Maka ia ulur tangan kanannya, untuk menyambar batang lehernya Leng Tie. Ia berhasil, hanya ketika ia dapat memegang batang leher orang, ia kaget dengan mendadak. Ia merasakan hawa yang panas pada tangannya itu. Itulah suatu tangkisan yang dahsyat. Ia insyaf, kalau ia melawan, maka tangannya itu bisa patah karenanya. Maka dalam kagetnya itu, ia menarik tangan kanannya itu sambil tangan kiri ia menyerang, untuk menolak tubuh si paderi.
Leng Tie telah diputar balik Auwyang Hong dan dilemparkannya, lalu ia merasakan pengelaman serupa dari Ciu Pek Thong, ia menjadi bermata kabur dan berkepala pusing, darahnya mengalir dan menjadi panas, pada itu ditambah kemendongkolannya dan kemurkaannya. Ia masih dapat mendengar seruannya Ciu Pek Thong, lantas ia menduga, orang yang bakal menyambutinya tentulah musuh adanya, maka itu selagi tubuhnya melayang, ia mengerahkan tenaganya, begitu See Thong Thian memegang batang lehernya, ia membarengi menyerang dengan pukulannya Tay-ciu-in.
Di dalam halnya tenaga, Leng Tie Siangjin dan See Thong Thian berimbang. See Thong Thian berdiri jejak, ia sudah siap sedia, sebenarnya ia lebih unggul. Tapi juga Leng Tie telah mengerahkan tenaganya, ia dalam gusar dan mendongkol, tenaganya jadi bertambah besar berlipat ganda. Maka itu sebagai kesudahannya, See Thong Thian kena terpukul mundur tiga tindak dan terus jatuh berguling. Berbareng dengan itu, Leng Tie sendiri pun tidak luput. Karena dihajar tangan kiri See Thong Thian, tubuhnya roboh melintang di atas perahu. Hanya paderi itu cuma jatuh sebentar, begitu mengenakan lantai, ia dapat melompat bangun pula.
Begitu lekas ia dapat berdiri, Leng Tie dapat mengetahui orang yang menyambuti dan menyerang padanya adalah See Thong Thian. Ia tidak ketahui maksud orang, menjadi gusar, di dalam hatinya, ia kata: “Celaka betul, kau juga hendak mempermainkan aku!” Terus ia maju, berniat menghajar Thong Thian.
Pheng Lian Houw mengerti paderi itu salah terka, lekas-lekas ia maju menghalang seraya ia berkata nyaring: “Taysu, jangan gusar, jangan salah mengerti! Sebenarnya See Toako bermaksud baik!”
Sementara itu perahu kecil telah dikasih turun.
Ciu Pek Thong memegang tongkat di dalam mulut ikan, ia mengangkat dan mengibat. Atas itu, tubuh ikan yang besar itu terangkat dan terlempar, tercebur di laut. Dengan kibasannya itu, Pek Thong membuatnya tongkat patah. Kapan ikan hiu itu merasakan mulutnya tidak tergalang pula, pasti ia girang bukan main dan terus selulup untuk berenang pergi….
Oey Yong tertawa.
“Engko Ceng,” ia berkata, “Lain kali marilah bersama Ciu Toako kita menaiki masing-masing seekor ikan untuk berlomba main cepat-cepatan!”
“Bagus!” berseru Loan Boan Tong sambil ia bertepuk tangan sebelumnya Kwee Ceng sempat memberi penyahutan.
Sampai di situ, berempat mereka turun ke perahu kecil.
Wanyen Lieh pintar sekali. Melihat lihaynya Auwyang Hong, ia lantas ingat berapa besar faedahnya kalau orang ini suka membantu ia mencari surat wasiatnya Gak Hui. Maka itu ia lantas cekal tangannya Leng Tie Siangjin, untuk ditarik hingga di depan orang kosen itu.
“Kita sama-sama sahabat satu dengan lain, aku minta sianseng jangan buta kecil hati,” ia berkata, untuk mengakurkan. “Aku harap Siangjin juga tidak memandang secara sungguh-sungguh. Aku minta, dengan memandang kepadaku, sukalah urusan dipandang sebagai guyon saja.”
Auwyang Hong tertawa, ia mengulurkan tangannya.
Leng Tie Siangjin masih belum puas, pikirnya. “Tak lebih tak kurang kau menggunai ilmu silat menangkap Kim-na-hoat, kau juga menyerang secara tiba-tiba. Ilmu silatku Tay-in-ciu, yang telah aku pahamkan beberapa puluh tahun ini, mustahilkah ilmu itu tak dapat melawanmu?” Karena ini ia angsurkan tangannya dengan tenaganya telah dikerahkan, ia memencetnya dengan keras. Justru itu, mendadak ia merasakan seperti memegang baja yang terbakar marang, panas dan sakitnya bukan buatan, dengan kelabakan ia melepaskan cekalannya untuk menarik pulang tangannya itu.
Auwyang Hong mengerti maksud orang, ia tidak sudi berbuat keterlaluan, maka itu ia mengganda bersenyum saja.
Leng Tie lantas melihat tangannya, ia tidak dapatkan tanda atau bekas apa-apa, sedang barusan ia merasakan seperti terbakar. Ia menjadi heran sekali, hingga ia menduga: “Mestinya orang ini mengenal ilmu gaib…”
Auwyang Hong melihat Nio Cu Ong masih rebah di lantai tanpa bergeming, ia bertindak mendekati. Ia dapat menduga, ketika orang didesak Kwee Ceng hingga kecebur, dia disambuti Ciu Pek Thong sambil ditotok, maka itu setelah melihat sebentar, ia pun menotok jalan darah orang.
Hanya melihat saja, Sam Sian Lao Koay sadar akan dirinya.
Wanyen Lieh girang bukan main. Ia lantas perintah orangnya segera menyajikan barang hidangan, untuk manjamu itu paman dan keponakannya. Karena dengan sendirinya Auwyang Hong dipandang sebagai kepala rombangan orang kosen itu….
Sambil menjamu, Wanyen Lieh menuturkan kepada Auwyang Hong tentang niatnya mencuri surat wasiat Gak Hui di kota Lim-an dan ia minta supaya See Tok suka memberikan bantuannya.
Auwyang Hong memang pernah dengar hal itu dari keponakannya, diminta demikian hatinya tergerak. Ia lantas mandapat suatu pikiran lain. Pikirnya: “Aku Auwyang Hong, kamu kira aku orang macam apa? Mana dapat aku diperintah olehmu? Aku tahu Gak Hui itu tidak saja pandai mengatur tentara tetapi juga lihay ilmu silatnya, maka di dalam surat wasiat itu, kecuali ilmu perang, mungkin ada catatan tentang ilmu silat. Baiklah, aku terima permintaan ini, untuk aku melihat dulu surat wasiat itu. Mustahil aku si makhluk tua yang berbisa tidak dapat mengangkangi surat itu?”
Maka itu ia lantas menyambut baik permintaannya Wanyen Lieh.
Dua orang itu ada masing-masing pikirannya sendiri. Wanyen Lieh membutuhkan surat wasiat Gak Hui, supaya ia dapat mengatur tentaranya, untuk mencapai maksud gerakannya. Tidak pernah ia memikir bahwa lain orang pun sama mengarahnya, bahkan lain orang itu lebih cerdik daripadanya.
Nio Cu Ong membantu menggembirakan perjamuan itu. Cuma Auwyang Kongcu yang tidak dapat memuaskan diri. Ia minum sedikit arak, ia bersantap, habis itu ia mendahului masuk ke dalam perahu untuk beristirahat, karena ia lagi menderita luka dikakinya.
Orang masih sedang berjamu tatkala mendadak saja Auwyang Hong menunda cawan araknya serta wajahnya berubah. Melihat perubahan itu, semua orang terkejut. Mereka tidak tahu, di dalam hal apa mereka berbuat salah kepada ini orang lihay.
Wanyen Lieh baru mau minta keterangan, atau Auwyang Hong telah berkata: “Dengar!”
Orang lantas pada memasang kupingnya. Mereka tidak mendengar suara apa juga kecuali desiran angin laut dan damparannya gelombang. Maka mereka mnejadi heran, semua mata lantas diarahkan kepada orang she Auwyang itu.
Auwyang Hong masih terus memasang kupingnya, sampai sesaat kemudian ia berkata: “Kamu sudah mendengar atau belum? Itulah suara seruling!”
Sekarang benar-benar orang mendengar suara seruling itu, walaupun masih samar-samar, sebab suara itu terganggu angin dan ombak laut. Coba mereka tidak diberikan keterangan oleh Auwyang Hong, masih mereka belum mendengarnya.
Auwyang Hong berbangkit, ia pergi ke kepala perahu. Di sana ia lantas berdongko, dari mulutnya terdengar suara kowak-kowek yang dalam. Maka ia benar-benar sangat mirip dengan seekor kodok besar.
Menyaksikan itu, semua orang heran berbareng merasa lucu, walaupun demikian tidak seorang juga yang berani tertawa. Orang terus mendengarinya. Tidak lama, mereka lantas mendengar nyata suara seruling dan suara seperti kodok itu, bahkan mereka dapat mengetahui juga, seruling dan suara kodok itu saling sahutan, merupakan sebuah lagu. Mereka masih mendengari terus, atau sekarang mereka merasakan hati mereka menjdai tidak tentram, seperti terombang-ambing dalam kebimbangannya.
Leng Tie Siangjin mencoba menentramkan dirinya. Ia kata dalam hatinya: “Benar-benar inilah ilmu sesat! Entah ia hendak memainkan lelakon apa! Aku mesti berhati-hati!”
Anak-anak buah perahu bersama Wanyen Lieh adalah orang yang paling dulu tidak sanggup mempertahankan diri dari tenaga menarik dari seruling dan suara seperti kodok itu. Mereka sudah lantas berjingkrakan.
Menampak demikian, tiba-tiba saja Auwyang Hong menghentikan suaranya yang aneh itu, sebagai gantinya, ia berseru keras sekali. Serentak dengan itu, nerhenti juga suara seruling tadi. Ia lantas saja memandang jauh ke laut.
Sekarang semua orang berani memghampirkan, mereka turut mengawasi ke arah yang dipandang itu, hanya hati mereka kebat-kebit, khawatir nanti menyaksikan pula sesuatu yang mukjizat. Mereka berdiri di belakang See Tok beberapa kaki, untuk bersiap sedia kalau-kalau ada bahaya….
Belum terlalu lama, di kejauhan terlihat tiga lembar layar hijau. Itulah layar dari sebuah perahu enteng, yang lajunya sangat pesat, yang lagi mendatangi ke arah perahu besar mereka.
Semua orang menjadi heran.
“Mungkinkah suara seruling itu datangnya dari dalam perahu ini?” mereka menduga-duga, “Terpisahnya kita begini jauh, bisakah suara itu terdengar sampai di sini?”
Auwyang Hong sendiri sudah lantas menitahkan anak buah perahu memutar haluan kendaraan air itu, untuk menampaki perahu enteng itu. Maka lekas juga kedua perahu mulai datang dekat satu dengan lain.
Di kepala perahu enteng itu berdiri seoarng yang memakai jubah panjang warna hijau, di tangannya benar-benar dia mencekal sebatang seruling kuningan. Ia pun sudah lantas mengasih dengar suaranya yang tinggi muluk: “Saudara Hong, adakah kau melihat anak perempuanku?”
“Putrimu itu sangat temberang, mana berani aku main gila terhadapnya!” See Tok menjawab.
Kedua perahu terpisah hanya lagi beberapa tembok, tak terlihat bergeraknya orang dengan jubah hijau itu, hanya terlihat berkelebatan satu bayangan, tahu-tahu dia sudah berada di perahu besar.
Menyaksikan orang demikian lihay, kumat sifatnya Wanyen Lieh akan mengambil hati orang. Ia lantas menyambut. Katanya: “Sianseng, bolehkah aku mendapat ketahui she mu? Sungguh beruntung yang aku dapat bertemu dengan sianseng!”
Hebat pangeran ini, sebagai seorang bangsawan ia telah berlaku demikian merendah terhadap seseorang yang tidak dikenal.
Akan tetapi orang itu, apabila ia melihat dandan mentereng orang Kim ini, dia cuma melirik, lantas dia tidak memperdulikannya lagi.
Auwyang Hong melihat ongyanya tidak mendapat muka, ia lantas berkata: “Saudara Yok, mari aku perkenalkan! Tuan ini adalah Chao Wang, putra keenam raja dari negara Kim!” Lalu ia berpaling kepada Wanyen Lieh, akan meneruskan: “Inilah Tocu Oey Yok Su dari Pulau Tho Hoa To, yang ilmu silatnya nomor satu di kolong langit ini, yang tak ada tandingannya.”
Mendengar itu, Pheng Lian Houw semua mencelat mundur. Memang mereka telah mengetahui ayahnya Oey Yong adalah orang yang luar biasa, dari itu mereka menjadi jeri sendirinya. Semua berdiam terus.
Semenjak putrinya minggat, Oey Yok Su telah menduga tentulah Kwee Ceng yang disusul. Mulanya ia gusar sekali, ia tidak memperdulikannya, akan tetapi lewat beberapa hari, hatinya menjadi berkhawatir juga. Ia khawatir putrinya itu nanti bertemu sama Kwee Ceng di perahu hiasnya itu. Kalau benar, Oey Yong pasti terancam bahaya besar. Maka diakhirnya ia melayarkan perahu, ia menuju ke tengah laut untuk mencari. Bagaimana sulit untuk mencari perahu hiasnya itu. Suadah beberapa hari ia berada di tengah laut, belum juga ia menemukannya. Maka itu hari ia meniup serulingnya dengan mengharap-harap putrinya nanti mendengarnya. Di luar dugaannya, Auwyang Hong yang menyambutinya dan keduanya jadi bertemu pula.
Oey Yok Su tidak mengenal Pheng Lian Houw sekalian, mendengar orang di depannya itu satu pangeran bangsa Kim, ia semakin tidak menggubrisnya. Melirik lebih jauh pun ia tidak sudi lagi. Hanya, dengan mengangkat tangan terhadap See Tok, untuk memberi hormatnya, ia berkata: “Aku hendak lekas-lekas menyusul anakku, maaf tidak dapat aku menemani lebih lama pula!”
Lalu ia memutar tubuhnya untuk bertindak pergi.
Leng Tie Siangjin baru saja dipermainkan Auwyang Hong dan Ciu Pek Thong, ia merasakan perutnya panas sekali, dadanya mau meledak, sekarang ia menghadapi pula seorang yang sangat jumawa, bahkan Auwyang Hong memperkenalkan si pangeran secara demkian merendah kepada orang itu, ia jadi berpikir: “Mustahilkah di kolong langit ini ada demikian banyak orang kosen? Mungkinkah orang-orang ini cuma mengerti ilmu gaib atau ilmu sesat, cuma untuk menggertak orang saja?! Baiklah aku coba-coba padanya, untuk mengakalinya….” Maka lantaslah ia berkata kepada Oey Yok Su: “Apakah yang kau cari itu satu bocah perempuan umur lima - atau enambelas tahun?”
Oey Yok Su menghentikan tindakannya, wajahnya nampak gembira.
“Benar!” sahutnya. “Adakah taysu dapat melihat dia?”
Leng Tie Siangjin menjawab, tetapi dengan suara dingin; “Melihat aku ada melihat, cuma aku melihat yang sudah mati, bukannya yang masih hidup.”
Mendengar itu, Oey Yok Su terkejut.
“Apakah taysu bilang?” tanyanya lekas, suaranya pun menggetar.
“Pada tiga hari yang lalu, aku pernah melihat mayatnya satu bocah perempuan ngambang di laut,” berkata pula si paderi dari Tibet itu. “Dia mengenakan baju putih dan rambutnya memakai gelang emas, romannya cukup cantik.”
Paderi ini melukiskan pakaian dan romannya Oey Yong.
Hebat Oey Yok Su merasakan gempuran pada hatinya, tubuhnya sampai terhuyung, mukanya menjadi pucat pias.
“Benarkah itu, taysu?” tanyanya pula selang sesaat.
Semua orang mendengar pembicaraannya kedua orang itu, mereka tahu Leng Tie Siangjin tengah mendustakan orang, maka itu dengan sendirinya hati mereka kebat-kebit. Mereka melihat tegas kedukaannya Oey Yok Su tetapi terus mereka membungkam.
Masih Leng Tie Siangjin menambahkan keterangannya pula. Katanya, “Di samping mayat bocah perempuan itu ada mengambang tiga mayat lainnya, yang satu mayat anak muda, yang lain lagi satu pengemis tua, yang lainnya lagi satu tua bangka yang rambut dan kumisnya sudah ubanan.” Ia menyebutnya Kwee Ceng, Ang Cit Kong dan Ciu Pek Thong.
Sampai di situ, Oey Yok Su tak bersangsi lagi. Maka ia lirik Auwyang ong.
“Kau kenal anakku, mengapa kau tidak hendak memberitahukannya siang-siang?” pikirnya.
Auwyang Hong dapat melihat sinar matanya Oey Yok Su, ia pun mengetahui baik kedukaan orang, maka itu ia berkhawatir untuk banyak orang itu. Kalau Tong Shia turun tangan, ia boleh tak usah mengkhawatirkan dirinya sendiri, tetapi yang lainnya, mana mereka sanggup malawan? Maka hebat permainannya Leng Tie Siangjin ini. Tetapi sebagai seorang licin, ia lantas mendapatkan daya untuk meredakan suasana. Maka lekas-lekas ia berkata: “Saudara Yok, aku baru saja naik ini perahu, sedang dengan semua tuan-tuan ini, inilah pertemuan kita yang pertama kali. Mayat yang dilihat taysu itu belum tentu ada mayat putrimu…” Ia menghela napas, ia menambahkan: “Putrimu itu cantik sekali, kalau benar dia berumur pendek, sungguh sayang…”
Auwyang Hong hendak membersihkan diri dari kedua belah pihak, tetapi di kupingnya Oey Yok Su, perkataannya itu terdengarnya lain. Tapi Tong Shia ini bertabiat paling gemar menggumbar hawa amarahnya terhadap lain orang, kalau tidak, ketika dulu hari Hek Hong Siang Sat mencuri kitabnya, tidak nanti dia gusari Liok Seng Hong dan lainnya yang tidak bersalah dosa, yang dia bikin bercacad kemudian diusirnya. Demikian kali ini, ia merasakan tubuhnya menjadi panas dingin mendengar hal kematian putrinya yang ia sangat sayangi itu. Ia berduka hebat sama seperti ketika ia kematian istrinya yang ia sangat cintai. Kedua tangannya bergemetaran keras, mukanya pucat dan merah bergantian.
Semua orang, dengan mulut membungkam, mengawasi saja. Maka itu, sesaat itu, perahu besar itu menjadi sangat sunyi senyap. Cuma suara angin dan gelombang saja yang terdengar.
Tiba-tiba Oey Yok Su mengasih dengar suara tertawanya yang panjang, bagaikan menggeramnya naga seperti tak putusnya.
Suara itu mengejutkan semua orang.
Oey Yok Su tertawa hingga berlenggak, tertawanya itu makin lama makin nyaring. Pada nada suara itu bagaikan ada sifatnya yang dingin, hingga orang menjadi semakin heran. Lalu dilain saat, tertawa itu berubah menjadi tangisan, tangisannya menggerung-gerung, sedihnya bukan kepalang.
Di antara banyak orang itu, cuma Auwyang Hong yang kenal lagak-lagunya Tong Shia, yang suka bernyanyi dan menangis tak ketentuan, dari itu ia menjadi tidak terlalu heran. Hanya, ketika ia mendengar tangisan jadi demikian sedih, ia berpikir juga: “Secara begini, Oey Lao Shia menangis, dia pasti akan terluka tubuhnya. Di jaman dulu Gwan Sek kematian ibunya, ia menangis hingga memuntahkan darah segantang lebih. Kemungkinan ini bisa terjadi dengan si Sesat dari Timur ini. Sayang tiat-cengku tenggelam bersama perahu yang karam, kalau tidak, bolehlah aku menabuhnya untuk meramaikan tangisannya ini.”
Lebih jauh Auwyang Hong berpikir; “Oey Lao Shia bertabiat luar biasa sekali, sekali dia gusar, dia sukar diurusnya. Kalau dia sampai menghadapi sesuatu maka lain kali, dalam pertemua kedua di Hoa San, aku jadi kekurangan seorang lawan yang tangguh. Ah sayang, sayang…”
Habis menangis, Oey Yok Su mengangkat serulingnya, dengan itu ia mengetok pinggiran perahu, setelah mana ia bernyanyi: “Dengan firmannya Tuhan, mengapakah dibikinya dia umurnya demikian pendeka? Atau orang ubanan sampai akhir usianya, atau orang bercelaka karena melahirkan anak? Kenapa belum lagi keduakaan lama lenyap atau sekarang datang bersusun yang baru? Kenapa baru pagi lantas datang sang sore, atau fajar berembun lantas melenyap pula? Yang lenyap itu tak terkejar, atau sekarang mendadak orang hilang akal budinya? Langit demikian tinggi tak ujung pangkalnya, kepada siapa aku mesti mengadukan penasaranku ini…?”
Hanya terdengar suara “Tok!” maka serulingnya Tong Shia terpatah dua. Lalu tanpa berpaling lagi, Oey Yok Su bertindak ke kepala perahu.
Leng Tie Siangjin bertindak maju, dengan kedua tangannya ia menghalang.
“Kau menangis dan tertawa,” katanya dengan dingin, “Kenapa kau mengacau secara edan begini?!”
Wanyen Lieh terperanjat.
“Siangjin hangan….” katanya atau ia tidak dapat meneruskannya.
Belum sempat pangeran ini mengucap habis cegahannya itu, tangannya Oey Yk Su sudah berkelebat ke belakang lehernya si paderi dari Tibet itu, hanya dengan satu kali gerakan tangan, tubuh orang yang besar itu telah terangakat lalu terputar hingga Leng Tie Siangjin menjadi berkepala di bawah, berkaki di atas dan tempo tubuhnya dilemparkan, tidak ampun lagi kepalanya yang besar melesak masuk ke lantai perahu sampai di pundak!
Habis itu Oey Yok Su bernyanyi: “Langit kekal, bumi abadi, berapakah lamanya manusia hidup? Yang sudah, yang mendatang, semuanya tak terasa, semua itu ada batas temponya…” Lalu tubuhnya berkelebat, maka tibalah ia kembali di perahunya sendiri, perahu itu lantas berlayar pergi……..
Semua orang tercengang, hanya bentaran, lantas mereka bergerak hendak menolongi Leng Tie Siangjin yang entah hidup entah mati, akan tetapi belum lagi mereka keburu bertindak, mendadak, mereka mendengar suara berisik dari bergeraknya lantai perahu, lalu muncullah satu anak muda yang bibirnya merah dan giginya putih, yang romannya tampan. Dan dialah Yo Kang, putranya Wanyen Lieh.
Semenjak dia bentrok sama Bok Liam Cu, Yo Kang cuma ingat saja kata-katanya Wanyen Lieh, yang ayah, bahwa kebahagiannya tak ada batasnya. Di Hoay Utara ia lantas berhubungan sama pembesar-pembesar Kim, maka kemudina ia dapat mencari ayahnya itu, hingga bersama-sama mereka berangkat ke Selatan. Ia melihat Kwee Ceng dan Oey Yong, ia lantas menyembunyikan diri, tak berani ia keluar. Dari dalam perahu ia hanya mengintai saja, maka segala kejadian ke atas perahu, semuanya ia dapat melihatnya dengan tegas dan nyata. Sampai telah berlalunya Oey Yok Su, baru ia merasa dirinya aman, dari itu ia lantas munculkan diri.
Hebat Leng Tie Siangjin merasakan hajaran itu, tetapi dasar ia tangguh, dia tidak terluka, cuma kepalanya pusing. Begitu ia lekas dapat menetapkan hati, dengan kedua tangannya ia menekan lantai perahu, maka dilain saat tubuhnya sudah mencelat bangun, di lantai itu tertampaklah suatu liang besar dan bundar.
Orang heran dan kagum, diakhirnya mereka merasa lucu, tetapi tak seorang juga yang berani mengasih dengar suara tertawanya. Karena menahankan hati, mereka menjadi pada menyeringai.
“Anak, mari menemui Auwyang Sianseng!” Wanyen Lieh kata kepada putranya. Dengan begitu ia pun memecahkan ketegangan.
Yo Kang sendiri sudah lantas menjura kepada Auwyang Hong, ia berlutut dan mengangguk empat kali. Itulah satu kehormatan besar, sedang ia adalah seorang pangeran, maka orang semua menjadi heran.
Selama di dalam istana, Yo Kang sudah sangat mengaggumi Leng Tie Siangjin, tetapi sekarang ia telah menyaksikan lihaynya Auwyang Hong, Ciu Pek Thong dan Oey Yok Su, kekagumannya pindah kepada ketiga orang itu. Bukankah Leng Tie Siangjin telah dapat dicekuk dan dilempar pergi datang bagaikan dia ada satu bocah cilik? Bukankah itu menandakan suatu kepandaian yang luar biasa? Bukankah ini serupa dengan artinya kata-kata: “Di luar langit ada langit lainnya, di atas orang ada orang lainnya?” Dia sudah lantas ingat peristiwa di Kwie-in-chung di Thay Ouw waktu ia kena dibekuk, selama ketakutannya di rumah abu keluarga Lauw ketika ia menghadapi Kwee Ceng dan Oey Yong. Semua itu disebabkan ilmu silatnya yang tiadk berarti. Sekarang di depannya ada seorang yang berilmu tinggi, jikalau ia tidak mengangkatnya orang menjadi gurunya, pasti sudah ia membikin hilang satu ketika paling baik. Maka itu, dengan kecerdikannya itu ia telah menjalankan itu kehormatan besar. Kemudian ia menoleh kepada Wanyen Lieh sambil berkata: “Ayah, anak ingin mengangkat sianseng ini menjadi guruku.”
Wanyen Lieh senang dengan kelakukan anaknya itu, maka ia pun menjura kepada See Tok seraya berkata: “Putraku ini gemar ilmu silat, hanya ia belum bertemu guru yang pandai, jikalau Sianseng tidak mensia-siakannya dan sudi memberika dia pelajaran, Siauw-ong ayah dan anak sangat berterima kasih untuk budimu yang sangat besar.”
Di matanya lain orang, hebat untuk menjadi guru dari seorang pangeran, untuk memintanya pun sulit, tetapi Auwyang Hong berpikir lain. Ia membalas hormat seraya berkata: “Di dalam partaiku ada suatu aturan yang dihormati, yaitu ilmu silat kami hanya diwariskan kepada satu turunan, tidak kepada lain orang. Sekarang ini kebisaanku telah diturunkan kepada keponakanku, karenanya aku tidak dapat menerima lain murid lagi. Mengenai ini aku mohon ongya sudi memaafkannya.”
Mendengar ini Wanyen Lieh menyesal, tetapi ia tidak memaksa, maka itu ia lantas memerintah orangnya segera menyediakan barang santapan guna menjamu ini orang berilmu.
Yo Kang pun berputus asa.
Kemudian Auwyang Hong berkata sambil tertawa: “Pangeran muda hendak mengambil aku sebagai guru, inilah tidak berani aku menerimanya, tetapi untuk memberikan dia beberapa petunjuk, itulah tidak sukar. Hal ini baiklah diurus perlahan-lahan belakangan.”
Biarnya ia putus asa, mendengar janji Auwyang Hong itu, lega juga hatinya Yo Kang. Ia ketahui baik kegagahannya Auwyang Kongcu, bahkan orang banyak gundiknya, kalau ia mendapat petunjuk dari See Tok, mesti ia mendapat kemajuan pesat, mungkin ia tidak selihay Auwyang Kongcu, toh sedikitnya ia bisa menjagoi juga.
Sembari berjamu, pembicaraan berpokok kepada kemujawaan Oey Yok Su. Orang anggap pantaslah ia dipermainkan Leng Tie Siangjin.
“Suheng, dia menangis dan tertawa, dia pun bernyanyi, kenapa?” Hauw Thong Hay menanya kakak seperguruannya.
See Thong Thian tidak tahu bagaimana harus menjawab, maka ia menyahuti secara sembarangan saja: “Siapa kesudian memperdulikan segala perbuatannya yang edan itu?”
“Yang ia nyanyikan itu ialah syair karangannya Co Cu Kian di jaman Sam Kok,” Yo Kang memberitahu. “Co Cu Kian itu kematian anak perempuannya, dia membuat dua ruas syairnya itu. Dengan itu dia mengatakan, ada orang hidup sampai tua sekali, ada yang berumur sangat pendek, mati muda-muda, maka ia bertanya mengapa Thian demikian tidak adil. Maka ia menyesal, langit tinggi tidak ada tangganya, hingga tak dapat ia naik untuk mengajukan pengaduannya. Akhirnya ia membilang bahwa dia sangat berduka, bahwa tak lama lagi waktunya dia menyusul putrinya itu.”
“Siauw ongya benar-benar terpelajar!” orang banyak memuji si pangeran. “Kita orang-orang kasar, mana kita ketahui itu?”
Wanyen Lieh girang mendengar kepintaran putranya itu.
“Suara serulingnya itu membuat hatiku tidak tentram, apakah sebabnya itu?” ia tanya.
“Itulah disebabkan semacam tenaga dalam yang mahir sekali,” menyahut Nio Cu Ong. “Auwyang Sianseng telah perdengarkan suaranya di kepala perahu, itulah jawaban timpalan untuknya, yang satu memanggil, yang lain bertahan. Benarkah begitu, Auwyang Sianseng?”
Auwyang Hong tersenyum, dan mengangguk..
Lagi sekali orang memberi pujian, sekarang kepada See Tok.
Yo Kang sendiri sementara itu telah berpikir: “Jikalau dihitung-hitung, Oey Yok Su adalah kakek guruku, hanya disebabkan Bwee Suhu telah bersalah terhadapnya, dan ada urusan anaknya yang mencurigai aku, jikalau lain hari aku bertemu pula dengannya, itulah berbahaya untukku. Selama di Kwie-in-chung, aku menduga dia tidak ada lawannya, siapa nyana sekarang ada Auwyang Sianseng ini yang seimbang dengannya. Ah, sayang Auwyang Sianseng tidak dapat menerima murid……..”
Selagi pangeran ini bepikir dan yang lainnya berpesta, Oey Yok Se berlayar sendiri dengan tidak karuan rasa. Ia berduka dan mendongkol. Ia penasaran sekali, ada kalanya ia mengutuk langit dan bumi, dilain saat ia mencaci segala hantu atau iblis. Ia mengatakan Thian tidak adil. Kemudian ia perintahkan anak buahnya mengarahkan perahunya ke pinggiran di mana ia mendarat. Lebih dulu daripada itu, dalam kalapnya, ia telah bunuh anak-anak buahnya itu. Sambil berdongak, ia berteriak-teriak: “Siapakah yang membinasakan anakku Yong-jie? Siapakah membinasakan anakku Yong-jie? Ah, itu bocah she Kwe, tidak salah, mestilah dia! Jikalau tidak karena dia, cara bagaimana Yong-jie pergi ke perahunya itu? Hanya sayang bocah itu menemani Yong-jie terbinasa. Sekarang kepada siapa aku mesti melampiaskan hatiku?!”
Berpikir sampai di situ Tong Shia mendadak ingat keenam gurunya Kwee Ceng.
“Kanglam Liok Koay adalah biang dari kebinasaannya anakku Yong-jie,” ia memikir. “Jikalau mereka tidak mengajari silat kepada bocah she Kwee itu, mana dia dapat berkenalan dengan Yong-jie? Jikalau aku tidak kutungkan tangan dan kaki dari setiap mereka itu, tidak dapat penasaranku ini dilampiaskan!”
Ia lantas pergi ke kota untuk bersantap sembari dia pikirkan jalannya untuk mencari Kanglam Liok Koay.
“Ilmu mereka tidak tinggi tetapi nama mereka besar,” katanya di dalam hatinya. “Mungkin mereka ada punya apa-apa yang melebihkan kebanyakan orang…. Mungkin mereka banyak akal muslihatnya! Jikalau aku datangi mereka secara berterang pasti tidak dapat aku mencarinya, maka itu baiklah aku tunggu sampai malam gelap petang, aku menyerbu ke rumahnya, aku bunuh mereka berikut semua anggota keluarganya, tua dan muda!”
Panas hatinya Tong Shia, maka sehabisnya bersantap, dengan tindakan lebar ia menuju ke Utara, ke Kee-hin.
*
* *
Ang Cit Kong bersama Ciu Pek Thong, Kwee Ceng dan Oey Yong berempat, dengan perahu kecilnya, berlayar ke daratan. Kwee Ceng duduk di belakang memegang kemudi. Oey Yong bicara tak habisnya menanyakan Ciu Pek Thong perihal pesiarnya di laut dengan ikan hiu. Agaknya ia sangat mengaguminya. Pek Thong pun gembira, hingga disaat itu ia ingin menangkap pula ikan hiu untuk pesiar bersama si nona.
Kwee Ceng sementara itu mengawasi gurunya, air muka siapa beda daripada biasanya.
“Suhu, bagaimana kau merasa sekarang?” ia bertanya.
Cit Kong tidak menjawab, hanya napasnya memburu dan keras suaranya. Dia telah tertotok dengan ilmu totok Touw-kut Ta-hiat-hoat dari Auwyang Hong, walaupun dia sudah ditotok bebas, dia telah terluka dalam.
Ciu Pek Thong sedang gembiranya, ia tidak memperhatikan orang lagi menghadapi bahaya maut, Oey Yong tapinya mengetahui keadaan gurunya itu, berulangkali ia mengedipi mata dan memberi tanda dengan tangannya agar si orang tua berandalan itu tak menerbitkan suara ribut yang mengganggu Pak Kay tapi si orang tua itu tetap saja ngoceh.
Oey Yong mengerutkan alis.
“Kau hendak menangkap ikan hiu, tapi kau tidak punya umpannya, buat apa kau omong saja?” kata si nona akhirnya.
Loo Boan Tong tua tetapi seperti tak menghargai dirinya, ditegur orang muda, ia tidak mengambil peduli.
“Ada akalnya!” katanya selang sesaat, “Saudara Kwee, mari! Aku nanti tarik tanganmu, kau rendam separuh tubuhmu di dalam air!”
Kwee Ceng sangat menghormati kakak angkat itu, walaupun ia tidak ketahui maksud orang, hendak ia menurut. Tidak demikian dengan Oey Yong.
“Engko Ceng, jangan ladeni dia!” si nona mencegah. “Dia hendak pakai tubuhmu seperti umpan guna memancing ikan hiu!”
Nona ini dapat menerka maksud orang.
“Benar!” Pek Thong bersorak. “Begitu lekas ikan hiu itu datang, aku nanti sambar dia dan mengangkatnya ke atas. Kau boleh percaya, tidak nanti dia dapat melukakan kau!”
“Tapi perahu kita ini kecil, heranlah kalau perahu tak karam!” berkata Oey Yong.
“Karam itu terlebih baik lagi!” berkata Loo Boan Tong. “Kita boleh sekalian turun ke laut untuk pelesiran!”
“Habis bagaimana dengan guru kami?” menanya si nona. “Apakah kau tidak menghendaki dia hidup terus?”
Pek Thong menggaruk-garuk kepalanya, tak dapat ia menjawab. Hanya kemudian ia persalahkan Auwyang Hong yang melukai Pak Kay.
“Jikalau tetapi kau masih ngoceh tidak karuan, kita bertiga nanti tidak sudi bicara pula denganmu!” mengancam Oey Yong, yang agaknya habis sabar.
Pek Thong mengulur lidahnya, ia tidak berani mementang bacot pula. Ia lantas menyambuti pengayuh dari tangannya Kwee Ceng untuk mengayuh perahu itu.
Daratan tak jauh nampaknya, tetapi untuk tiba di tepian, mereka mesti memakan tempo sampai langit mulai gelap. Karena itu, terpaksa mereka bermalam di pesisir.
Besoknya pagi ternyata penyakitnya Ang Cit Kong jadi bertambah berat. Kwee Ceng berduka dan berkhawatir sangat hingga ia menangis.
Pak Kay sebaliknya tertawa.
“Walaupun aku hidup lagi seratus tahun, di akhirnya toh aku mesti mati,” katanya. “Anak yang baik, aku hanya mempunyai satu keinginan, maka kmu pergilah untuk mendapatkannya!”
Pek Thong memegat: “Si makhluk berbisa bangkotan itu, melihat cecongornya tidaklah senang aku, maka itu, kalau kau mati, kau matilah, kau legakan hatimu, nanti aku balaskan sakit hatimu, akan aku bunuh mampus padanya!”
Ang Cit Kong tertawa pula.
“Membalas sakit hati?” tanyanya. “Itulah bukannya keinginanku! Sebenarnya aku menghendaki dahar masakan Wanyoh Ngo-tin-kwee dari istana kaisar.”
Tadinya tiga kawan itu menyangka kehendak terakhir itu ada urusan yang sangat besar, tidak tahunya urusan gegares, maka legalah hati mereka.
“Itu gampang suhu,” Oey Yong lantas berkata, “Dari sini tak terpisah jauh dengan kota Lim-an, nanti aku pergi ke istana kaisar untuk mencuri beberapa mangkok masakan itu untuk kau dahar sepuasnya.”
“Aku juga ingin dahar!” Pek Thong menyelak.
Oey Yong mendelik pada “Bocah” bangkotan itu.
“Tahu apa kau tentang makanan lezat atau tidak?!” tegurnya.
“Wanyoh Ngo-tin-kwee itu, sekalipun di dalam istana tak gampang-gampang dibikinnya,” Ang Cit Kong mengasih tahu. “Ketika dulu ahti aku bersembunyi selama tiga bulan di dapur istana, cuma satu kali pernah aku merasainya. Lezatnya masakan itu, kapan aku ingat, membikin aku hendak mengeluarkan ilar…”
“Kalau begitu, aku ada punya satu pikiran,” Pek Thong turut bicara. “Kita pergi mencuri koki raja, kita suruh dia masak untuk kita.”
“Pikirannya Loo Boan Tong ini tak buruk,” Oey Yong bilang.
Bukan main girangnya Pek Thong dipuji si nona.
Sebaliknya Ang Cit Kong menggeleng kepala.
“Tak dapat itu dilakukan,” katanya Pengemis dari Utara. “Barang hidangan itu, segala apanya mesti istimewa, sampai baranya, mangkoknya juga, kalau tidak, rasanya tidak lezat, salah sedikit pun tidak boleh. Paling benar kita pergi sendiri ke istana untuk memakannya.”
Tiga orang itu tak takut pergi ke istana.
“Itu memang paling bagus!” kata mereka bareng. “Nah, mari kita berangkat sekarang!”
Kwee Ceng lantas menggendong gurunya, buat dibawa ke dalam desa yang berdekatan. Di situ mereka minta nasi dan arak, untuk mereka menangsal perut. Mereka hendak membayar uang makanan itu ketika mereka mendapat kenyataan kantung mereka kosong.
Orang yang mempunyai rumah itu ada satu nyonya, dia baik budi, bukan saja ia tidak menghendaki uang makan, bahkan ia mengantarkannya ke kota.
Cit Kong berempat menghanturkan terima kasih, lantas mereka pamitan. Ketika melewati sebuah rumah gadai, mendadak Pek Thong gusar dan berseru: “Ini dia usaha membunuh orang tanpa melihat darah!” Lantas ia hendak menyerbu untuk merampas uang dari pengadaian itu.
“Buat apa terburu nafsu?” Oey Yong mencegah. Ia loloskan gelang rambutnya, ia masuk ke dalam rumah gadai itu, untuk menggadaikan itu buat empatbelas tail perak, kemudian mereka mencari hotel dimana mereka beristirahat. Sehabis bersantap, Kwee Ceng bertiga tidak melihat Oey Yong ada bersama.
Berkata Pek Thong kepada adik angkatnya: “Itu istrimu yang lihay, kalau aku Loo Boan Tong melihat padanya, aku takut sekali!”
Kwee Ceng tersenyum.
Tidak lama terlihat Oey Yong muncul dari luar dengan wajahnya berseri-seri.
“Kenapa kau takut padaku?” tanyanya pada si tua berandalan.
Pek Thong mengawasi, ia melihat rambut orang ada gelang emasnya.
“Eh, kenapa kau lantas menebusnya kembali?” ia tanya heran. “Kalau begitu, kita mesti mencari daya untuk membayar uang sewaan kamar dan makanan kita ini…”
Oey Yong tidak segera menjawab, hanya dari sakunya ia tarik keluar empat kantung uang.
“Untuk apa mesti ditebus?” katanya tertawa. “Rumah gadai itu akulah yang usahakan, maka berapa banyak aku menghendaki, berapa banyak aku boleh ambil!”
Pek Thong kagum bukan main orang dapat pergi dan pulang dengan cepat untuk mengambil balik gelangnya berikut uang, maka ia memberikan pujiannya. Katanya: “Ini nona kecil benar-benar dapat mewariskan kepandaian keluarganya, dia pandai sekali!”
“Jikalau aku dibandingkan sama Biauw Ciu Sie-seng yang menjadi guru nomor dua dari engko Ceng, kepandaianku ini sungguh tidak berharga setengah peser juga!” kata si nona tertawa.
“Oh, ada orang yang demikian lihay?” kata Pek Thong. “Aku ingin bertemu dengannya!”
Sementara itu terlihat sakitnya Ang Cit Kong bertambah berat sedang di kota itu tidak ada tabib terkenal, maka Kwee Ceng bertiga menyewa sebuah kereta keledai untuk Pak Kay, dengan itu mereka berangkat menuju ke utara, ke kota Lim-an. Pada suatu hari tibalah mereka di sungai Cian Tong, darimana mereka pergi ke luar kota Lim-an. Mereka tidak keburu masuk ke dalam kota karena cuaca mulai gelap, burung-burung gowak tengah terbang pulang. Karena itu mereka memikir mencari rumah penduduk, buat menumpang bermalam. Mereka melihat sedikit jauh dari situ ada aliran air yang mengitari tujuh atau delapan rumah.
“Kampung itu bagus, mari kita singgah di sana?” Oey Yong mengajak.
“Bagus apa?” tanya Pek Thong, matanya mencilak.
“Kau lihat, bukankah pemandangannya indah bagaikan gambar?” si nona bilang.
“Kalau indah bagaikan gambar, habis bagaimana?” tanya Loo Boan Tong.
Si nona heran, hingga ia melengak.
“Jikalau kau bilang jelek, kita jangan singgah di sini,” katanya kemudian. “Tapi kita tidak dapat pergi ke lain tempat…”
“Kalau kamu tidak pergi perlu apa aku pergi sendiri?” berkata si orang tua yang lagi kumat berandalannya.
Sementara itu mereka sudah tiba di kampung itu. Nyata itulah sebuah kampung rudin, sebab di sana sini telihat tembok-tembok runtuh. Di muka kampung sebelah timur terlihat sebuah warung arak, maka mereka menuju ke sana. Di bawah payon ada dua buah meja papan, mejanya tebal debunya.
“Hallo!” Pek Thong lantas memanggil.
Dari dalam lantas muncul satu nona umur tujuh - atau delapanbelas tahun, rambutnya awut-awutan tetapi rambut itu ditancap sebatang tusuk konde. Dia mementang matanya lebar-lebar mengawasi ketiga orang itu.
“Kasihkan aku nasi dan arak,” Oey Yong minta.
Si nona menggeleng kepalanya.
“Kau tidak punya arak dan nasi, habis untuk apa kau membuka rumah makan?” menegur Pek Thong.
“Aku tidak tahu,” sahut si nona, yang kembali menggoyang kepalanya.
“Ah, kau benar-benar nona tolol!” kata Pek Thong.
Si nona tertawa.
“Memang aku si Sa Kouw!” sahut nona itu.
“Sa Kouw” berarti “nona tolol”!
Mendengar jawaban itu Oey Yong bertiga girang. Oey Yong terus masuk ke dalam terus ke dapur untuk melihat-lihat. Ia mendapatkan banyak galagasi. Nasi tinggal nasi dingin. Di atas pembaringan, tikarnya pun tikar butut. Itulah tanda kemelaratan, maka ia terharu.
“Apakah kau bersendirian saja di sini?” ia menanya si nona rumah.
Sa Kouw mengangguk sambil tersenyum.
“Ibumu?” Oey Yong tanya pula.
“Sudah mati,” sahut si nona. Ia mengusap matanya, seperti mau menangis.
“Ayahmu?”
Nona itu menggeleng kepala tanda tak tahu.
Oey Yong melihat tangan dan muka orang kotor, seperti sudah beberapa bulan tidak pernah ketemu air, maka di dalam hatinya ia berkata: “Taruh kata dia masak nasi, tentulah aku tak dapat emndaharnya….” Tapi ia toh menanya: “Ada beras?”
Nona itu mengangguk, kembali ia tersenyum. Ia pergi mengeluarkan paso besar, yang isinya separuh.
Oey Yong lantas turun tangan sendiri, mencuci beras dan memasaknya.
Kwee Ceng lantas pergi ke kampung sebelah barat dimana ia membeli dua ekor ikan serta seekor ayam, terus bersama Oey Yong ia kerjakan itu. Tempo nasi dan barang makanan itu matang dan disajikan, sang malam tiba.
Oey Yong minta minyak, untuk memasang lampu, tapi Sa Kouw menggeleng kepala.
Terpaksa nona Oey mencari sebatang cemara, ia sulut itu. Ia pergi ke dapur, akan mencari mangkok dan sumpit. Ketika ia membuka lemari, ia dapat cium bau busuk. Ia menyuluhi, maka terlihatlah tujuh atau delapan mangkok hijau yang sudah sombeng di sana sini. Di sininya ada belasan bangkai cecurut….
Kwee Ceng membantui mengambil mangkok.
“Pergi kau cuci bersih sekalian ambil beberapa batang cabang pohon untuk dipakai sebagai sumpit,” berkata Oey Yong.
Si anak muda menurut, ia berlalu dengan mangkok kotornya itu.
Oey Yong menjumput mangkok yang terakhir ketika ia merasakan mangkok itu dingin seperti es, beda dari mangkok biasa. Ia mengangkatnya, tapi mangkok itu diam di tempatnya seperti terpaku. Ia menjadi terlebih heran. Ia tidak berani memaksa mengambil, khawatir mangkok itu pecah. Ia hanya mencoba lagi tetapi kembali gagal.
“Mustahilkah karena dibiarkan lama di sini, mangkok ini penuh debu dan jadi nempel lengket karenanya?” ia berpikir. Maka itu ia mengawasi terus, sampai ia lihat mangkok itu karatan, sebab mangkok itu ternyata terbuat dari besi.
Sendirinya nona itu tertawa geli.
“Mangkok emas, mangkok perak, mangkok kumala, semuanya aku pernah lihat,” katanya di dalam hati. “Tetapi belum pernah aku dengar ada mangkok besi.”
Ia mencoba menarik dengan menggunai sedikit tenaga, tetap mangkok itu tak bergeming. Ia heran bukan main. Mestinya mangkok itu dapat terangkat berikut papannya. Maka ia mau menduga papannya itu pun besi. Ia lantas menyentil. Ia mendengar suara nyaring. Benarlah dugaannya.
Oey Yong pegang mangkok itu, ia memutar ke kiri. Mangkok diam saja. Ia mencoba memutar ke kanan, mangkok itu bergerak sedikit. Ia memutar terus. Tiba-tiba ia mendengar suara keras, sebagian tembok memutar ke kanan, mangkok itu bergerak sedikit. Ia memutar terus. Tiba-tiba ia mendengar suara keras, sebagian tembol dapur itu terbelah dua, memperlihatkan suatu lobang yang gelap. Dari situ lantas menghembus bau busuk, sampai si nona mau muntah, lekas-lekas ia lompat ke samping.
Kwee Ceng bersama Ciu Pek Thong mendengar suara si nona, mereka lantas datang melihat.
“Jangan-jangan inilah rumah makan gelap,” berkata Oey Yong, yang menjadi curiga. “Mungkin Sa Kouw berpura-pura tolol.” Tiba-tiba ia berlompat ke samping nona tolol itu, yang berada di ruang dapur itu, kedua tangannya diulur untuk menangkap lengan orang.
Ruang itu gelap tetapi Sa Kouw mendengar suara angin, ia menarik tangannya dengan jurus “Melepas jubah menyerahkan kedudukan,” setelah bebas, ia membalas menyerang, ke arah pundak orang.
Oey Yong menduga orang mungkin tidak bermaksud jahat hanya ia tidak menyangka nona itu demikian gesit dan serangannya pun ganas, ia menjadi kaget. Dengan tangan kiri ia menangkis, terus membangkol dengan tangan kanan ia menyerang dua kali beruntun. Setelah menyakinkan Ie-kin Toan-kut-pian, ia menjadi sebat sekali dan tenaganya bertambah, maka itu Sa Kouw lantas saja menjerit kesakitan karena lengannya kena terpukul, meski begitu, ia melawan terus.
Sungguh Oey Yong tidak menyangka, di dusun sepi itu ada rumah makan gelap, bahkan pelayan seorang nona jorok itu, bahkan dia cukup gagah karena dia dapat bertahan sampai tujuh atau delapan jurus.
Kwee Ceng dan Pek Thong turut menjadi heran.
Kemudian Pek Thong dengar suara anginnya Oey Yong berubah hebat, lanats ia berteriak: “Eh, nona Oey, jangan kau ambil jiwanya!”
Selagi begitu, Kwee Ceng berjaga-jaga di sisinya Ang Cit Kong, ia khawatir ada penghuni jahat lainnya, yang bisa membokong gurunya itu.
Lagi beberapa jurus, Oey Yong menghajar lengan orang hingga lengan itu dikasih turun, tak dapat digeraki lagi. Kalau mau, ia dapat membinasakan, tetapi ia merasa kasihan.
“Berlutut!” ia menitah. “Akan aku beri ampun padamu!”
“Aku tidak sudi!” menjawab nona itu, yang mendadak menyerang pula dengan tangan kanannya, bahkan jurusnya ada jurus “Lok Eng Ciang-hoat” ajarannya Oey Yok Su.
Oey Yong kaget dan heran. Sambil menangkis, ia menanya: “Darimana kau pelajarkan ini jurus Lok Eng Ciang-hoat? Siapakah gurumu?”
Nona tolol itu tertawa.
“Aku tidak suka menjawab. Habis kau mau apa?” ia menantang.
Melihat suara orang tak lagi seperti orang tolol, Oey Yong mengulang serangannya, kedua tangannya bergerak saling susul dua kali, kemudian itu disusul sama serangan yang kelima, untuk menggertak, sebab berbareng dengan itu, kakinya bekerja.
“Bruk!” demikian Sa Kouw roboh terguling.
“Ah, kau memakai akal!” serunya. “Mari kita bertempur pula!” Ia terus merayap bangun.
Oey Yong tidak sudi memberi ketika, ia menubruk dan menindih, lalu ia merobek baju orang untuk dipakai mengikat tangannya dia itu.
“Bukankah Lok Eng Ciang-hoatku lebih baik daripada kepunyaanmu?” ia bilang.
“Kau menggunai akal, aku tidak terima!” nona itu membelar. Dan ia mengulanginya perkataannya itu.
Melihat si tolol sudah kena dibikin tidak berdaya, Kwee Ceng lari keluar, untuk terus melompat naik ke atas wuwungan, untuk mengawasi sekelilingnya. Ia tidak melihat apa juga. Tapi ia turun ke bawah, ia jalan mengitari rumah makan itu. Rumah itu mencil sendirian dan pintunya pun cuma satu. Dengan merasa lega, ia masuk pula ke dalam.
Oey Yong tengah mengancam Sa Kouw dengan pisaunya diarahkan ke mata orang.
“Siapa yang mengajari kau ilmu silat?” demikian tanyanya. “Lekas bilang! Kalau kau tidak suka bicara, aku nanti tikam mampus padamu!”
Sa Kouw tidak menjadi takut, bahkan ia tertawa haha-hihi. Dia seperti tidak kenal bahaya, dia rupanya menyangka nona tetamunya tengah main-main dengannya.
Oey Yong penasaran, ia ulangi pertanyaannya.
“Aku tidak mempunya guru,” sahut si tolol akhirnya. “Siapa yang membilang ada orang yang mengajar aku?”
“Budak ini tidak suka bicara, mari kita masuk ke dalam lobang ini untuk memeriksa,” berkata Oey Yong kemudian. “Ciu Toako, tolong kau lindungi guruku serta menjagai budak ini. Engko Ceng, mari kau bersama aku…”
“Tidak, tidak!” Pek Thong menggoyangi tangannya. “Aku pergi bersama kau!”
Si nona mengkerutkan keningnya.
“Tidak, aku tidak mau pergi bersama kau!” ia menolak.
Pek Thong lihay, usianya pun tinggi, entah kenapa, terhadap si nona tak berani ia membantah, bahkan sebaliknya, ia lantas memohon.
“Nona yang baik, lain kali aku tidak berani pula…” katanya.
Oey Yong lantas saja tertawa untuk kejenakan orang tua itu. Ia mengangguk. Pek Thong jadi sangat girang, lekas ia mencari dua cabang cemara, untuk disulut menyala, untuk dipakai ia menyuluhi ke dalam gua, yang ia asapkan sekian lama.
Oey Yong sendiri malah melemparkan sebatang cemara yang apinya menyala ke dalam lobang itu, setelah itu ia mendengar suara bentroknya batang itu dengan dinding. Maka teranglah tempat rahasia itu tidak dalam.
Dengan memimjam penerangan obor kayu cemara itu orang memandang ke dalam gua. Tidak ada bayangan orang di dalam situ, tidak ada suara apa-apa. Maka itu tanpa bersangsi lagi, Ciu Pek Thong lantas lantas bertindak masuk. Dia disusul oleh Oey Yong.
Setelah memperhatikan seketika, nyata gua itu ada sebuah kamar kecil.
“Kita terjebak, kita terjebak!” Pek Thong berseru-seru. “Tak bagus!”
Oey Yong sebaliknya mengeluarkan suara kaget. Dia melihat ke bawah dan ia menampak tulang belulang seorang manusia, yang rebah celentang. Pakaiannya sudah rusak, hingga tak dapat dikenali, semasa hidupnya dia orang macam apa. Di pojok timur pun ada tulang-belulang serupa, terletak di atas sebuah peti besi. Sebatang golok tajam panjang satu kaki tengah menancap di punggung di atas tutup peti besi itu.
Pek Thong mendapatkan ruang kecil dan kotor dan seram dengan adanya tulang-belulang itu, tidak ada apa-apa yang luar biasa, tetapi karena Oey Yong masih memperhatikan segala apa, ia berlaku sabar untuk menemani, hanya kemudian, ia tak dapat menahan sabar pula.
“Nona yang baik,” katanya, “Hendak aku pergi keluar, bolehkah?”
“Baiklah,” menjawab si nona. “Pergi kau menggantikan engko Ceng, supaya ia datang ke mari.”
Pek Thong girang bukan main, ia keluar seperti burung terbang, akan dilain saat Kwee Ceng datang masuk.
Oey Yong mengangkat obor kayu cemaranya, untuk menyuluhi, supaya Kwee Ceng dapat melihat segala apa terutama itu tulang-belulang manusia, kemudian ia menanya bagaimana atau apa yang menyebabkan kematiannya dua orang itu.
“Dia ini tentu lagi hendak membuka besi itu, lantas ada orang yang hendak membokong dari belakang,” kata Kwee Ceng seraya menunjuk tulang-tulang di atas peti besi. “Yang di tanah itu, karena tulang-tulangnya pada patah, mestinya diserang dengan tangan kosong.”
“Aku juga menduga demikian, hanya duduknya hal-hal disini membuatnya aku tidak mengerti,” menyatakan si nona.
“Apa yang kau maksudkan?”
“Umpama Sa Kouw,” sahut si nona. “Dia mengerti ilmu silat Lok Eng Ciang-hoat, benar ia menyakininya belum sempurna tetapi itu ada pelajaran yang sejati. Darimana ia dapatkan itu? Dua orang ini mati disini, ada hubungan apakah di antara mereka dan Sa Kouw? Sebelum ketahui jelas semua ini, tak tentram hatiku…”
“Baiklah kita tanya pula nona itu,” Kwee Ceng mengusulkan. Ia tidak mau menyebutnya nona itu nona tolol, karena ia sendiri sering dikatakan tolol.
“Menurut penglihatanku, dia memang benar-benar tolol,” kata Oey Yong. “Dia tidak suka bicara, percuma kita menanya pula padanya. Mari kita memeriksa pula dengan seksama, barangkali saja kita mendapati sesuatu.”
Maka ia angkat obornya, menyuluhi pula dua perangkat tulang-belulang manusia itu. Ketika ia menyuluhi ke peti besi, di kaki itu ada suatu benda yang bergemerlap. Ia lanta jumput itu, ialah sebuah pay emas dan di tengahnya ditabur dengan sebutir batu permata sebesar jempot tangan. Ia membalik pay itu, maka ia menampak sebaris ukiran huruf-huruf, bunyinya: “Cio Gan Keng, panglima kota Tiongciu, gelar Bu Kong Tayhu”.
“Pay ini kepunyaannya ini setan mati, pangkatnya bukan kecil,” kata si nona.
“Seorang berpangkat tinggi terbinasa di sini, sungguh aneh,” Kwee Ceng mengutarakan keherannnya.
Oey Yong memeriksa pula tulang-tulang di tanah, ia tidak dapatkan apa, hanya tulang punggung itu rada munjul, maka ia mengoreknya dengan ujung cabang cemara, tempo debunya sudah berkisar, di bawah itu ada selembar besi. Ia kaget hingga ia berseru, cepat sekali ia sambar besi lempangan itu.
Kwee Ceng pun berseru saking heran kapan ia telah melihat benda itu.
“Kau kenal ini?” Oey Yong tanya.
“Ya. Inilah patkwa besi kepunyaannya Liok Chungcu di Kwie-in-chung.”
“Tapi belum tentu kepunyaannya Liok Suheng sendiri.”
“Mungkin. Melihat rusaknya pakaian, mayat ini mestinya sudah berada di sini sepuluh tahun.”
Oey Yong berdiam akan tetapi otaknya bekerja. Habis itu ia sambar golok di atas peti besi itu, ia bawa itu ke depan matanya, untuk melihat dengan teliti. Ia mendapatkan ukiran sebuah huruf “Kiok”. Atas itu dengan kaget ia berseru: “Yang rebah di tanah ini adalah kakak seperguruanku!”
Kembali Kwee Ceng memperdengarkan suara heran.
“Menurut Liok Suheng, Kiok Suheng masih hidup, siapa tahu dia telah terbinasa di sini,” berkata Oey Yong kemudian. “Engko Ceng, coba kau lihat ini tulang kakinya.”
Kwee Ceng berdongko.
“Kedua tulang pahanya patah,” ia berkata. “Ah, ia telah dihajar patah oelh ayahmu…”
Si nona mengangguk.
“Kakak seperguruan ini bernama Liok Leng Hong,” ia memberi keterangan. “Pernah ayah menerangkan, di antara enam muridnya, Kiok Suheng ini paling pandai dan ia pun paling disayangi…”
Belum habis ia berkata, Oey Yong sudah lompat untuk lari ke luar dari ruang rahasia itu. Kwee Ceng, yang merasa heran lari mengikuti.
Oey Yong lari kepada Sa Kouw.
“Kau she Kiok, bukankah?” ia menanya.
Sa Kouw tidak menyahuti, ia hanya tertawa geli.
“Nona, apakah shemu?” Kwee Ceng menanya, sabar.
“Aku tidak tahu,” menyahut nona itu menggeleng kepala.
Selagi dua orang itu hendak menanyakan terlebih jauh, Pek Thong menjerit-jerit; “Aku sudah lapar! Aku sudah lapar! Aku bisa mati kelaparan!”
“Benar,” berkata Oey Yong. “Mari kita bersantap dulu.” Ia membukai ikatannya Sa Kouw, ia ajak nona itu bersantap bersama.
Sa Kouw tidak menampik, ia tertawa, ia angkat mangkoknya dan dahar.
Sembari bersantap Oey Yong tuturkan Cit Kong apa yang ia dapatkan di dalam kamar rahasia itu.
Pak Kay pun heran.
“Rupanya orang she Cio itu menghajar mati suhengmu itu, lantas ia hendak membuka peti besi itu,” katanya, mengutarkan dugaannya. “Tidak tahunya suhengmu itu belum mati dan ia menimpuk dengan golok itu.”
“Melihat keletakannya, mungkin begitu kejadiannya,” Oey Yong membenarkan. Ia lantas memperlihatkan golok lancip itu serta patkwa besi pada si nona tolol. Ia menanya, “Apakah kau tahu siapa punya ini?”
Melihat itu, wajahnya Sa Kouw berubah. Ia berpaling, agaknya ia berpikir, tapi ia tidak dapat mengingat apa-apa. Akhirnya ia menggeleng kepalanya, hanya tangannya memegangi golok itu, tak mau dilepaskan.
“Rupanya pernah ia melihat golok ini, sekarang dia tidak ingat,” bilang Oey Yong.
Habis bersantap, sesudah memernahkan Ang Cit Kong, yang merebahkan diri untuk tidur, Oey Yong ajak Kwee Ceng pergi pula ke kamar gelap itu, untuk memeriksa terlebih jauh. Sekarang perhatian mereka ditujukan kepada peti besi itu, yang entah apa isinya.
Semua tulang di atas tutup peti disingkirkan. Gampang sekali mengangkatnya, sebab peti tidak dikunci. Peti itu menyinarkan cahaya bergemerlapan, sebab isinya adalah pelbagai macam batu permata.
Kwee Ceng hanya merasa aneh, tetapi Oey Yong ketahui itulah harta besar sekali. Ayahnya biasa mengumpulkan permata tetapi tak sebanyak ini.
Nona Oey meraup permata itu, lalu ia melepaskan pula. Batu-batu itu mengasih dengar suara nyaring.
“Semua permata ini mestinya ada riwayatnya,” kata si nona kemudian. “Kalau ayahku ada disini, ia tentu mengetahuinya.”
Lalu ia menjelaskan kepada Kwee Ceng namanya setiap batu permata itu.
Kwee Ceng gelap untuk semua permata itu, belum pernah ia melihatnya, belum pernah ia mendengarnya.
Oey Yong meraup pula, sampai dalam. Tangannya membentur dasarnya peti besi. Ia merasakan lantai yang keras. Ia jadi menduga peti besi itu ada lapisannya. Ia lantas meneliti pinggirannya peti itu. Sekarang ia melihat gelang kecil di kira dan di kanan, yang tadinya kealingan batu-batu permata. Ia menggunai kedua tangannya memegang sepasang gelang itu, lalu ia mengangkat. Untuk herannya, ia mendapatkan di dasar peti itu sejumlah barang kuno dari perunggung dan lainnya dan mestinya pun dari pelbagai jaman yang telah lampau. Jadi inilah benda-benda yang lebih berharga daripada batu-batu permata itu.
Masih ada lagi lain lapisan peti itu. Ketika lapisan ini pun diangkat, di dalam situ terlihat pelbagai gambar lukisan dan tulisan huruf segulung demi segulung.
“Mari bantui aku,” si nona minta pada Kwee Ceng, untuk membeber gambar-gambar itu. Kesudahannya, ia menjadi heran dan kagum. Sebab ia melihat lukisan-lukisan dari Gouw Too Cu, Co Pa, Kie Jian dan Lie Houw-cu kaisar dari dinasti Tong Selatan, dan lainnya lagi, jumlahnya duapuluh lembar lebih. Dan semua itu pun barang-barang yang harganya luar biasa.
Saking kagum, Oey Yong tidak mau melihat lebig lama, semua itu ia masuki ke dalam peti itu, lalu ditutup dengan rapi, kemudian sambil memeluk dengkul, ia duduk bercokol di atasnya. Ia berpikir keras.
“Ayahku pengumpul semua permata dan barang kuno, tetapi apa yang ia peroleh tidak ada satu sepersepuluh dari harta karun ini,” pikirnya. “Kenapa Kiok Suheng ada demikian lihay hingga ia dapat memeproleh semua ini?”
Tidak sempat nona ini berpikir terus, ia mendengar suara nyaring Ciu Pek Thong, “He, keluar kamu semua! Mari kita pergi ke rumahnya kaisar untuk dahar Wanyoh Ngo-tin-kwee!”
“Kita pergi malam ini?” tanya Kwee Ceng.
“Lebih cepat satu hari lebih baik,” berkata Cit Kong. “Kalau kita berlambat, aku khawatir aku tak dapat bertahan lebih lama pula…”
“Suhu,” berkata Oey Yong, “Paling cepat juga baru besok pagi kita dapat masuk ke dalam kota. Suhu jangan dengarkan ocehannya Loo Boan Tong!”
“Ya, sudah, sudahlah!” berkata Ciu Pek Thong. “Memang sagalanya aku yang salah!”
Terus ia menutup mulutnya.
Besoknya pagi, Oey Yong berdua dengan Kwee Ceng mematangi nasi, lalu mereka sarapan bersama-sama Sa Kouw. Oey Yong memikirkan tempat yang aman untuk menyimpan harta karun itu.
“Sudah, mari kita lekas pergi!” Pek Thong mengajaki. “Itu toh bukannya bendamu! Perlu apa kau capaikan hati?”
Si nona memikir, memang tempat itu adalah tempat yang paling aman. Bukankah harta karun itu sudah berdiam di dalam kamar rahasia itu untuk belasan tahun? Maka ia lantas bekerja, menutup rapat pula pintu rahasia dan benahkan segala apa yang seperti bermula mereka datang.
Selama itu Sa Kouw tidak memperdulikan perbuatan orang, ia tidak tahu menahu, ia hanya lebih suka membuat main golok tajam itu.
Ketika mau pergi, Oey Yong memberikan uang perak dua potong.
Sa Kouw menerimanya untuk terus dilempar secara sembarangan ke atas meja.
“Jikalau kau lapar, pakailah uang ini untuk membeli beras dan daging,” pesan Oey Yong.
Nona itu acuh tak acuh, ia cuma tertawa saja.
Oey Yong berduka sangat, ia mengasihi nona tolol itu ini. Ia mau percaya dia ada hubungannya sama Kiok Leng Hong, mungkin sanak atau muridnya suheng itu. Ia pun tidak mengerti, orang tolol semenjak kecil atau hanya baru belakangan saja karena sesuatu serangan otak. Tadinya ia hendak mencari keterangan di kampung itu tetapi Ciu Pek Thong mendesak tak hentinya, terpaksa ia turut juga. Maka berempat mereka pergi menuju ke kota. Cit Kong tetap naik kereta.
Kota Lim-an ialah kota Hangciu yang tersohor indah, kota ini dijadikan kota raja oleh karena pemerintahan Song berpindah ke Selatan. Oey Yong berempat memasuki pintu kota timur, Cit Kong mendesak untuk pergi ke istana kaisar, dari itu mereka menuju ke pintu Lee-ceng-mui.
Pek Thong bertiga memandang istana, yang indah, yang berukir dan bergambar dan juga dicat merah dan air emas. Wuwungannya ditutup dengan genteng kuningan yang berkilauan, yang pun diukir dengan naga-nagaan dan burung hong.
“Bagus!” Pek Thong berseru, kagum. “Mari kita masuk!”
Di muka istana ada serdadu-serdadu pengawal, mereka mendengar suara berisik itu, mereka melihat seorang tua dan sepasang muda-mudi mengiringi kereta keledai, empat diantaranya lantas maju mendekati untuk menangkap. Mereka semua bergenggaman kampak.
Pek Thong si berandalan gembira sekali, tidak perduli orang bertibih kekar dan romannya garang, ia hendak maju melayani mereka itu.
“Jangan!” mencegah Oey Yong. “Mari kita lekas pergi!”
“Takut apa?!” mata Pek Thong mencelik. “Masa mereka dapat gegares aku?”
“Jikalau kau tidak mau dengar aku, lain kali aku tidak mau memperdulikan pula padamu!” kata Oey Yong yang terus mencambuk kedelai hingga keretanya menggelinding cepat ke arah barat.
Kwee Ceng lantas menyusul.
Pek Thong takut juga nanti ditinggal pergi hingga ia tidak dapat turut pesiar, ia turut pula berlalu dengan meninggalkan keempat pengawal pintu itu. Mereka ini tidak mengejar, hanya mereka menertawai. Mereka menduga itulah rombongan orang desa….
Oey Yong larikan keretanya ke tempat sepi di mana tidak ada lain orang, di situ ia berhenti.
“Kenapa tidak menerjang masuk ke istana?” kata Pek Thong. “Itu segala kantung nasi, mana mereka bisa mencegah kita?”
“Menerjang masuk memang tidak sukar,” menyahut Oey Yong. “Tetapi kita datang ke mari untuk bertarung atau untuk pergi ke dapur raja untuk mencari barang makanan? Dengan menerjang masuk, kau membuatnya gaduh, dengan begitu, mana bisa kau mendapatkan Wanyon Ngo-tin-kwee untuk guruku?”
Pek Thong berdiam, tak dapat ia menjawab.
“Baiklah, kembali aku yang salah!” katanya kemudian.
“Dasarnya salah!” kata Oey Yong.
“Ya, sudahlah!” kata pula si tua berandalan itu. Ia terus perbaling kepada Kwee Ceng untuk mengatakan: “Wanita di kolong langit semuanya galak-galak, maka itu juga Loo Boan Tong tidak sudi menikah seumur hidupnya…”
Oey Yong tertawa.
“Engko Ceng orang baik, orang tidak nanti menggalaki dia!” katanya.
“Kalau begitu, apakah aku bukannya orang baik?”
“Habis apa kau sebenarnya orang baik? Coba bilang, kau yang tidak hendak menikah atau si nona yang tak sudi menikah denganmu?”
Pek Thong miringkan kepalanya, ia tidak menjawab.
“Mari kita mencari penginapan dulu,” Kwee Ceng datang sama tengah. “Sebentar malam baru kita memasuki istana.”
“Benar,” kata Oey Yong. “Setelah suhu berdiam di hotel, nanti aku masak unntuk kamu dahar.”
“Bagus, bagus!” Cit Kong memuji. Ia girang sekali.
Mereka lantas menuju ke Jalan Gie-gay, untuk menyewa kamar di penginapan Kim Hoa. Oey Yong benar saja lantas pergi ke dapur itu untuk memasak tiga rupa barang hidangan, yang baunya lantas tersiar, hingga orang-orang di penginapan itu menanyakan pelayan, koki kesohor yang mana yang pandai masak itu.
Diwaktu bersantap, Pek Thong tidak turut. Ia mendongkol dikatakan tak ada wanita yang sudi menikah dengannya. Tapi dia dibiarkan saja ngambek….!
Habis bersantap, Cit Kong masuk untuk tidur, Kwee Ceng mengajak Pek Thong jalan-jalan, Loo boan Tong tetap ngambek.
“Kalau begitu, baik-baiklah kau temani guruku,” kata Oey Yong tertawa. “Sebentar aku belikan kau beberapa rupa barang bagus untuk kau buat main.”
Mendengar itu, bangkit kegembiraan si berandalan tua itu.
“Apakah kau tidak mendustakan aku?” tanyanya.
“Pasti tidak!” si nona memberikan perkataannya.
Ketika Oey Yong berlalu dari rumahnya di musim semi, pernah ia pergi ke kota Hangciu ini, yang letaknya dekat dengan Tho Hoa To, hanya karena khawatir dapat disusul ayahnya, ia tidak berani berdiam lama-lama di situ, sekarang ia luang tempo, dia mengajak Kwee Ceng pesiar ke telaga See Ouw yang tersohor itu.
Biar bagaimana, Kwee Ceng nampak tidak terlalu gembira. Oey Yong melihat itu, ia menduga itulah disebabkan si pemuda memikirkan sakitnya Cit Kong. Maka ia berkata: “Suhu bilang ada serupa barang yang dapat menyembuhkan penyakitnya, hanya itu sangat sukar didapatkannya, bahkan ia melarang kita menanya barang apa itu. Biar bagaimana, aku hendak berdaya untuk mendapatkannya, buat mengobati dia hingga sembuh!”
“Yong-jie, itulah paling bagus!” kata Kwee Ceng girang. “Apakah kau merasa pasti akan bisa mendapatkannya itu?”
“Aku tengah memikirkan jalannya. Tadi sebelum bersantap, pernah aku menanyakan keterangan suhu. Disaat suhu hendak memberitahu, tiba-tiba ia sadar, lantas ia bungkam. Tapi aku akan berdaya mengorek keterangannya.”
Kwee Ceng tahu kekasihnya cerdik, hatinya menjadi lega.
Sembari berbicara, mereka tiba di Toan-kio, jembatan buntung di tepi telaga. Inilah salah satu tempat yang kesohor di See Ouw, dimana orang bisa mendapat lihat sisa salju, cuma karena sekarangt musim panas, yang terlihat ialah pohon-pohon teratai dengan bunganya yang tumbuh di kolong jembatan itu.
“Mari kita minum di sana sambil memandangi bunga teratai,” Oey Yong mengajak. Di tepian itu ia melihat sebuah rumah makan kecil yang nampaknya resik.
Kwee Ceng akur, maka berdua mereka pergi ke rumah makan itu. Mereka meminta arak dan beberapa rupa barang santapan yang rasanya lezat.
Sembari minum, Oey Yong memandang ke sekitarnya. Ia mendapatkan di jendela timur ada sebuah kesokol, yang ditutupi dengan kain indah. Ia lantas mendekati itu. Nyata di bawahnya itu ada tulisan yang berupa syair.
“Syairnya indah juga,” katanya.
“Apakah artinya itu?” tanya Kwee Ceng.
Oey Yong memberi penjelasan, tetapi anak muda itu tak ketarik hatinya. Ia kata; “Di sini kota raja, segala menteri luang temponya, mereka main minum arak dan pesiar saja. Rupanya urusan negara mereka kesampingkan….”
“Benar begitu,” sahut Oey Yong. “Maka itu ayahku paling jemu semua orang semacam mereka. Umpama ayah dapat membaca syair ini, mungkin ia cari penulisnya untuk menebas tubuhnya menjadi dua potong….”
Tiba-tiba di belakang mereka ada orang tertawa dingin yang berkata: “Jiwi tahu apa maka kamu bicara semabarangan di sini?”
Kwee Ceng berdua menoleh dengan cepat. Mereka melihat seorang dengan dandanan sebagai sastrawan, umurnya kurang lebih empatpuluh tahun, yang masih saja tertawa dingin. Kwee Ceng lantas memberi hormat dan berkata: “Aku yang rendah tidak mengerti, tolong tuan menjelaskannya.”
“Kau tahu inilah buah kalam istimewa dari Thayhaksu Jie Kok Po dari tahun Sun-hie,” kata orang itu. “Ketika itu Kaisar Hauw Cong datang ke mari untuk minum arak, dia dapat melihat syair itu, dia puji tinggi, lalu di itu hari juga ia memberikan pangkat kepada Jie Kok Po karena karyanya itu. Itulah untuk bagus dari seorang sastrawan. Maka kenapa jiwi bicara sembarangan saja?”
“Jadi kesokol ini pernah dilihat kaisar maka tuan rumah menutupinya?” tanya Oey Yong.
“Bukan itu saja!” kata orang itu, tetap tertawa dingin. “Coba lihat itu bagian kata-kata ‘Besok datang kembali dengan sisa mabuk’: Bukankah pada itu ada dua tanda hurufnya yang diubah?”
Oey Yong berdua Kwee Ceng mengawasi. Benar mereka mendapatkan dua huruf perubahan itu.
“Sebenarnya Jie Kok Po menulis, ‘Besok datang pula dengan membawa sisa arak,’ tetapi kaisar cela itu, katanya pandangannya cupat, lalu ia mengubahnya yaitu huruf ‘bawa’ ditukar dengan huruf ‘mendukung’ dan huruf ‘ arak’ ditukar dengan huruf ‘mabok’. Sebenarnya Jie Kok Po menulis, ‘Besok datang pula dengan membawa sisa arak’. Kalau kaisar tidak pintar, mana dapat ia mengubah itu?”
Habis berkata orang itu menggeleng kepala dan menghela napas.
“Ha, satu kaisar begitu gila arak!” seru Kwee Ceng dengan gusar, dan ia dupak terbalik kekosol itu, hingga rusak.
Sejak masih kecil Kwee Ceng telah mendengar keterangan ibunya perihal kekejaman bangsa Kim, ia menyangka itu hanya disebabkan kelemahannya kerajaan Song, maka ia mengharap, sepindahnya ke Selatan, raja nanti bergiat memajukan negera, untuk menuntut balas, siapa tahu, raja gila pelesiran. Maka dalam gusarnya, ia hajar sekosol ini, terus ia jambak si sastrawan, untuk dijoroki, hingga ia roboh masuk ke jambangan arak. Kepala di bawah, kaki di atas!
“Bagus!” Oey Yong berseru. Ia sambar kedua kaki meja dan patahkan itu, lalu dengan sepasang kaki meja itu, ia menghajar kalang-kabutan.
Pemilik rumah makan dan tetamu lainnya, yang tidak tahu telah terjadi apa, lari keluar dengan ketakutan.
Kwee Ceng lantas mengamuk seperti Oey Yong, akhirnya ia hajar sebuah tiang hingga tiang itu patah dan rumah makan itu ambruk. Setelah itu keduanya tertawa, sambil berpegangan tangan, mereka ngeloyor ke Utara. Tidak ada orang yang berani menyusul mereka.
“Puas juga sekarang!” kata Kwee Ceng di tengah jalan. Ia tertawa pula.
“Ya, apa yang kita lihat dan tak menyenangi, mari kita hajar!” Oey Yong membenarkan.
“Bagus begitu!”
Jalan lebih jauh di sepanjang jalan itu mereka nampak banyak syair, di batu, di pohon, di tembok. Melihat itu, Kwee Ceng menghela napas.
“Kalau begini, tak bisa kita menghajar semua,” ia bilang. “Kau cerdik, Yong-jie, kau ada punya daya apa?”
“Aku lihat ada syairnya yang baik,” sahut si nona.
“Ah, peduli apa!”
Selagi bicara, mereka tiba di puncak Hui Lay Hong. Di tengah itu ada paseban Cui Bie Teng tulisannya Jenderal Han See Tiong. Girang Kwee Ceng melihat itu, sebab Han See Tong ialah panglima tersohor yang menentang bangsa Kim. Ia bertindak masuk ke dalam paseban itu.
Di dalam itu ada sebuah syair tulisan Han See Tiong.
“Bagus syair ini!” Kwee Ceng memuji.
“Sebenarnya itulah syairnya Bu Bok Ong Gak Hui,” kata Oey Yong.
“Eh, mengapa kau ketahui itu?”
“Ayah pernah menuturkan itu padaku. Tempo tahun Ciauw-hin ke 11 di musim dingin, Gak Bu Bok difitnah dan dihukum mati oleh Cin Kwee, lalu di lain tahunnya di musim semi, Han See Tiong membangun paseban ini sebagai tanda peringatan dan ia menuliskan syairnya Bu Bok itu, yang terus diukir.”
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 10 dan anda bisa menemukan artikel Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 10 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-pendekar-pemanah-rajawali_17.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 10 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 10 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Online : Pendekar Pemanah Rajawali Serial 10 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-online-pendekar-pemanah-rajawali_17.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 10 komentar... read them below or add one }

Agen Jelly Gamat mengatakan...

http://goo.gl/157lyI
Ajip jo infonya bagus,,

Obat Osteoporosis mengatakan...

http://goo.gl/Pi7b7r
selamat pagi,, terimakasih,, ajip dah web kk,

Obat Herbal batu Ginjal mengatakan...

http://goo.gl/DY0weY

waw sangat menarik infonya,,,

Obat Asam Urat mengatakan...

http://goo.gl/qhFv9k
ajip gan,,, semoga menjadi amal ibadah,,

Obat Herbal Step mengatakan...

http://goo.gl/f3SR8z
terimakasih,, semoga berkah pak admin,,

Buah Dan Sayuran untuk Penderita Maag mengatakan...

keren ini ... ane tunggu ni gan,,

Obat Khasiat Herbal Jelly Gamat Gold G mengatakan...

semangat terus jo...

Obat Tradisional Tipes mengatakan...

Salam semangat,, "Terimakasih gan"..

Obat Herbal Nyeri Sendi mengatakan...

Salam Semangat Bro,,

Oba Maag Kronis Tradisional mengatakan...

http://goo.gl/OUvNsN Obat Maag Kronis Tradisional

Poskan Komentar