Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko]

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 28 Desember 2011

Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko]

PENGARANG : Sin Long
(Rajawali sakti dari langit selatan)
Lanjutan
Sin Tiauw Hiap Lu

Keterangan dari pengarang
Setelah Sia Tiauw Eng Hiong, lalu "Sin Tiauw Hiap Lu"
maka kisah jago-jago luar biasa seperti YoKo dan yang lainlain
tertunda karena pembuatan "Kisah Membunuh Naga".
Walaupun "Kisah Membunuh Naga" masih bisa dianggap
sebagai lanjutan "Sin Tiauw Hiap Lu", namun kisah itu dapat
dibilang berdiri sendiri, karena didalam „Kisah Membunuh
Naga" hanya menyinggung sebagian kecil dari Kak Wan Siansu
(dari Siauw Lim Sie), Kwee Siang (puteri Kwee Ceng - Oey
Yong, yang akhirnya menjadi pendiri partai perguruan silat Go
Bie Pay), dan. Thio Kun Po (pendiri Bu Tong Pay yang
akhirnya mengganti nama menjadi Thio Sam Hong). Kemudian
setelah tertunda pula oleh dibuatnya "Pendekar-Pendekar
Negeri Taily" maka kini kami melanjutkan pula "Sin Tiauw Hiap
Lu" dengan judul "Sin Tiauw Thian Lam".
Sebagai lanjutan "Sin Tiauw Hiap Lu", maka cerita "Sin
Tiauw Thian Lam" menceritakan seluruh kegiatan Yo Ko
bersama-sama dengan semua jago-jago yang pernah
pembaca kenal didalam 'Sin Tiauw Hiap Lu", serta dengan
munculnya jago-jago baru yang luar biasa, disamping yang
akan memegang peran adalah putera Sin Tiauw Taihiap
dengan Siauw Liong Lie, yang akan terlibat oleh persoalan dan
urusan-urusan luar biasa.
Dengan keterangan ini, kami kira pembaca menjadi
maklum hendaknya.
CHIN YUNG
000O000
JILID 1
ANGIN Lamciu (Selatan) mendesir lembut,

Bunga rontok keindahan bumi,
Halimun lembut ringan sejuk,
Mega tersenyum memandang gadis cantik,
Baju merah, ikat pinggang kuning rambut disanggul,
Sepalu rumput tipis membungkus kaki yang kecil mungil,
Tali khim, (Kecapi) tergetar oleh jari-jari lentik,
Suara merdu mengiringi kicau burung,
Senyum gadis cantik mekarnya bunga,
Ciulong menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia,
Dewa-dewi di-selatan.
Bahagia dan abadi . . . . ,
Syair diatas merupakan hasil sastra tulisan pujangga
terkenal diawal pemerintahan dinasti Song, yang namanya
dikagumi oleh rakyat Tionggoan karena keakhliannya untuk
melukiskan suasana dan peristiwa dengan penuh kelembutan.
Disamping terdapat selipan nada-nada yang mengandung
kegagahan dan keabadian. Pujangan itu berasal dari
keturunan keluarga Hoan dan bernama Lie Khie meninggal
tepat dihari ulang tahunnya yang ketujuh puluh empat.
Sejak peristiwa terbunuhnya Kaisar Mangu yang bergelar
Hian Cong oleh timpukan batu besar kepalan tangan oleh Yo
Ko dengan mempergunakan ilmu menimpuk "Tan Gie Sin
Thong” menyebabkan Kublai memimpin mundur tentaranya
kenegerinya. Dengan mundurnya tentara perang Mongolia itu,
bebaslah kota "Hapciu, Cung king dan Siangyang.
Telah tercatat dalam sejarah betapa Kaisar Hian Cong
mengepung kota" Siangyang selama puluhan tahun tanpa

berhasil untuk merebut kota tersebut, walaupun telah terjadi
pertempuran yang hebat sekali dimuka kota siangyang yang
dimulai pengepungannya oleh putera sulung Kaisar Yong Cong
(Tuli) dibulan dua, tahun ke-9, phiacu. Penyerangan dilancarkan keberbagai pintu kota mendaki tembok dan membunuh banyak tentara kerajaan Song Walaupun diserang
berulang-ulang. kota tersebut tidak dapat dirampas. Di tahun
kui-hay, disaat itulah Kaisar Mangu ( Hian Cong ) terbunuh
oleh Yo Ko, dan para menteri maupun Kublai telah membawa
jenasah Mangu pulang keutara, maka kota Siangyang bebas
dari pengepungan pasukan tentara perang Mongolia.
Rakyat menyelenggarakan pesta besar atas kemenangan
tersebut, dengan nama "Yo Ko yang disanjung-sanjung
sebagai Dewa Pembebasan yang maha sakti. Tetapi Yo Ko
menampik segala penghormatan seperti itu, dengan orangorang
gagah akhirnya Yo Ko pamitan kepada Lu Boan Hoan,
dan keberangkatan mereka itu dirahasiakan oleh Lu Boan
Hoan atas permintaan pendekar gagah tersebut, karena
rombongan orang-orang gagah tersebut tidak ingin diganggu
oleh rakyat dan pasukan tentara yang pasti akan menimbulkan
kerewelan oleh sanjungan-sanjungan mereka. Dan dengan
bebasnya kota Siangyang, suasana aman dan tenang kembali,
rakyat bisa hidup layak dan wajar, walaupun
Banyak puing-puing yang berserakan akibat dari
pertempuran yang pernah terjadi selama puluhan tahun itu.
Disaat rakyat berhasil hidup tenteram maka disaat seperti
itulah banyak syair-syair bernada lembut dan jauh dari nadanada
kekerasan maupun peperangan, telah bermunculan. Dan
yang terbanyak syair-syair lembut itu, adalah buah kalam dari
Hoan Lie Khe, pujangga besar itu. Dan seperti yang terdapat
dalam syair yang ditulis oleh pujangga besar itu; "Ciulong
menangis haru, Sunglie tersenyum bahagia. Dewa-dewi di
Selatan, bahagia dan abadi maka rakyat Siangyang pun

menghendaki kemenangan yang telah diperoleh tentara
kerajaan Song itu bahagia tenteram dan kekal-abadi. . .
Entah darimana asalnya, diluar kampung Wucuancung
tampak seorang tojin (imam) yang tengah duduk dibawah sebatang pohon yang tumbuh rindang disebelah kanan dari pintu kampung tersebut. Sebetulnya, tidaklah
luar biasa dengan adanya imam itu ditempat tersebut,
karena memang biasa jika seorang yang tengah
melakukan perjalanan dan beristirahat ditempat-tempat
sejuk. Namun yang agak luar biasa adalah keadaan
imam itu.
Sanggulnya yang digantung merupakan sebuah
sanggul kecil berbentuk bulat itu, tidak teratur rapi,
rambutnyapun tampak agak kusut tidak karuan. Yang
luar biasa adalah wajahnya imam ini tidak memelihara
jenggot, juga tidak memelihara kumis, dari kulit
wajahnya yang sudah keriput itu, mungkin dia berusia
empat puluh tahun lebih, raut wajahnya buruk sekali, karena
imam tersebut memiliki sepasang mata yang bulat dan bibir
yang lebar. Giginya tampak tumbuh tidak rata, disamping itu
agak menarik perhatian orang yang melihatnya adalah kulit
muka imam itu kuning pucat dan dingin tidak memantulkan
perasaan apapun juga. Matanya itu yang menatap lurus
kedepan tidak bersinar, bagaikan mata ikan yang telah mati.
Jubah pendeta itu juga telah buruk sekali, walaupun belum
ada yang robek atau pecah, namun jubah itu tampaknya telah
berusia sekitar tiga atau empat tahun dan jarang sekali dicuci.
Hudtim yang tercekal ditangan kirinya, tampak sudah agak
kusut bulu-bulunya dan sudah banyak yang rontok.
Diantara desir angin yang sejuk, terdengar imam itu
menggumam perlahan sekali; "telah sepuluh jiwa...... telah
sepuluh jiwa...... dan yang kesebelas akan tiba......"
Setiap kali mengucapkan kata-katanya seperti itu bibirnya
gemetar, bagaikan ada sesuatu yang ditakutinya, dan matanya

yang tidak bersinar seperti mata ikan itu bergerak-gerak tanpa
arah,
Dari arah pintu kampung tampak dua orarig anak lelaki
kecil yang tengah main kejar-kejar an, suara mereka lantang
dan nyaring sekali di selingi oleh suara tawa gelak diantara
keduanya. Tetapi imam itu tidak menoleh sedikitpun juga. Dan
ketika kedua anak lelaki yang masing masing berusia diantara
delapan atau sembilan tahun itu melihat imam tersebut,
mereka jadi tertarik, keduanya berhenti berlari dan mengawasi
siimam dengan perasaan heran. Semakin lama, selangkah
demi selangkah, mereka telah mendekati, dan akhirnya jarak
mereka dengan imam itu hanya terpisah kurang lebih satu
tombak.
„Totiang......” panggil salah seorang anak itu. "Apakah
totiang sudah makan?"
Imam itu melirik sejenak, dia menggeleng.
“Apakah totiang mau memakan kuwe keras ini ?” tanya
anak itu lagi sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan
sebungkah kuwe kering, yang diangsurkan kepada Imam
tersebut.
Imam itu tidak menyahuti, dia menyambut pemberian itu,
lalu dimakannya, Dia pun tidak mengucapkan terima kasihnya.
Sekejap mata saja kuwe itu telah dimakannya habis.
Kedua anak lelaki kecil itu saling tatap satu dengan yang
lainnya, dan yang tadi memberi kan kuwe itu kepada si-imam
telah, bertanya lagi. „Kalau totiang masih lapar, kami masih
memiliki satu lagi ..... " kata-kata itu disusul dengan dirogoh
saku kawannya, dan mengeluarkan sebungkah kuwe kering
lainnya. Dan kuwe kering itu telah diberikan kepada imam itu
lagi.
Imam itu telah menyambuti, dan seperti tadi dia telah
memakan kuwe kering itu tanpa mengucapkan sepatah
katapun juga.

Tetapi baru memakan setengah kuwe tiba-tiba mukanya
telah berubah pucat, tubuhnya agak menggigil. Sisa kuwe
yang separuh ditangan nya itu telah dilemparkannya
kesamping.
„Akhh, dia telah datang menyusul...!” menggumam imam
itu.
Kedua anak lelaki itu tidak mengetahui apa yang dimaksud
siimam hanya merasa sayang kuwe yang masih separuh itu
telah dibuang begitu saja.
Si-imam telah berdiri dengan cepat, tetapi sepasang
kakinya agak menggigil gemetar.
„Anak-Anak, engkau baik sekali, kalau memang aku masih
ada umur nanti aku akan mencari kalian untuk menyatakan
terima kasihku. Dan imam itu telah mengibaskan hudtimnya
kejubahnya yang dipenuhi runtuhan kuwe kering, katanya lagi
seperti kepada dirinya sendiri; “Tetapi harapan hidup tipis
sekali mungkin akulah yang kesebelas ..."
Dan suaranya itu belum lagi habis diucapkan maka disaat
itu dari arah t e l a h terdengar suara siulan yang panjang
dan menusuk pendengaran. Suara siulan yang panjang itu
berasal dari luar perkampungan di sebelah barat dari arah
tegalan yang luas.
Kedua anak itu jadi heran bukan main mereka telah
menoleh kearah datangnya suara siulan itu, tetapi mereka
tidak melihat siapapun juga.
Siimam telah berdiri tegak, rupanya dia telah berhasil
menguasai goncangan hatinya. Dengan m-ia yang bersinar
mati itu, dia telah memandang jauh ketengah tegalan.
Suara siulan itu terdengar semakin keras dan dalam
sekejap mata, dari arah. tengah tegalan itu telah berlari-lari
seperti bayangan sesosok tubuh, dan hanya beberapa detik
saja sudah berada dihadapan siimam.

Gerakan orang yang baru datang itu sangat cepat, karena
disaat dia mengeluarkan suara siulan yang panjang tadi.
tubuhnya belum tampak dan hanya diseling oleh sebuah siulan
lagi, dia sudah berada dihadapan siimam.
Dengan sendirinya, hal itu membuktikan orang yang baru
datang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna
sekali.
Kedua anak lelaki kecil penduduk kampung itu melihat,
orang yang baru datang itu seorang gadis yang memiliki raut
wajah sangat cantik memakai baju warna hijau dengan ikat
pinggang merah dan rambut disanggul tinggi. Ditangan. gadis
itu tercekal sepotong kayu panjang, yang ujungnya telah
hitam seperti terbakar.
„Kui Im Cinjin ! Akhirnya engkau berhasil kucari !" kata
gadis itu dengan suara yang nyaring.
Muka imam itu tampak berobah muram, tampaknya
disamping ketakutan, juga gusar dan penasaran, tengah
mengaduk menjadi satu didalam hatinya.
„San Ciam Liehiap Bong Cun Lie !” kata siimam akhirnya
dengar suara berputus asa „Aku memang menyadari tidak
mungkin lolos dari tanganmu. Kau terlalu mendesak, pinto
memang tolol dan tidak memiliki kepandaian apa-apa, tetapi
jika demikian, baiklah, silahkan . . silah kan maju, mari kita
mengadu jiwa !".
Sigadis yang dipanggil dengan sebutan San Ciam Lie Hiap
(Pendekar wanita Penyebar Jarum) itu telah tertawa, merdu
sekali suara tertawanya itu, enak untuk didengar.
„Kui Im Cinjin, " katanya kemudian sambil memperlihatkan
sikap yang bersungguh-sungguh. Memang selama ini kalian
pihak Ngociat-kauw (perkumpulan Lima Penjahat) ingin
membela diri dengan segala macam alasan yang engkau miliki
namun sekarang, walaupun bagaimana engkau seperti yang

lain-lainnya tak mungkin ter-lolos dari tanganku. Kematian
Hoan Lian Taisu harus dipertanggung jawabkan oleh kalian . ."
Muka Kui Im Cinjin jadi berobah ketika mendengar
perkataan tersebut, dia rupanya sudah tidak dapat menahan
kemurkaan yang bergolak dihatinya, mukanya yang memang
telah kuning pucat itu jadi semakin pucat dan kehijau-hijauan.
„Baiklah, pinto ingin mengadu jiwa dengan kau, perempuan
siluman !" bentak imam itu, dan tanpa membuang waktu lagi,
hudtim ditangan kirinya telah bergerak menuju kearah
pinggang sigadis. Hudtim merupakan senjata yang dapat
dipergunakan oleh jago yang telah memiliki lwekang
sempurna, karena bulu-bulu Hudtim itu dapat dibuat keras
seperti godam kalau bulu-bulu itu bergabung menjadi satu,
dan dapat di pergunakan juga untuk menotok, disamping itu
bisa dibuyarkan sehingga bulu-bulu hudtim itu menyambar
sekaligus keperbagai jalan darah di-sekujur tubuh lawan yang
diserang.
Tetapi gadis itu, Bong Cun Lie, rupanya juga memang
hebat, dia melihat datangnya sambaran hudtim siimam kearah
pinggangnya, yang akan menotok jalan darah Sun-kie-hiatnya,
cepat luar biasa dan mudah sekali, dia mengelakkan dengan
menggerakkan pinggulnya sedikit saja, di susul dengan kayu
yang ada ditangannya itu terayun akan menggempur batok
kepala dari imam tersebut.
Kui Im Cinjin jadi mengeluarkan seruan tertahan, cepat
sekali dia membatalkan serangannya dengan menarik pulang
hudtimnya dan memiringkan kepalanya berkelit dari samberan
kayu sigadis. Tetapi serangan yang dilancarkan oleh San Ciam
Liehiap Bong Cun Lie benar-benar luar biasa, karena disaat
siimam berkelit dari serangannya jatuh disasaran yang
kosong, cepat bukan main dia telah memutar tangannya,
sehingga kayu di tangannya ikut berputar, dan berbalik arah
menyambar kearah dada imam itu.

Serangan serupa itu memang merupakan serangan yang
sangat luar biasa, tidak mudah dilakukan oleh orang-orang
yang belum memiliki kepandaian sempurna. Tetapi sigadis
yang rupanya telah memiliki ilmu meringankan tubuh dan
lwekang yang sempurna dapat melakukan serangan seperti itu
dengan baik sekali.
Tentu saja siimam tidak menduga sama sekali bahwa
dirinya akan diserang begitu rupa, maka dia telah merasakan
semangatnya seperti terbang meninggalkan tubuhnya. Mati-
Matian imam itu telah berusaha mengelak serangan tersebut,
karena imam itu menyadarinya jika sampai diri nya terserang,
niscaya iga-iganya akan menjadi patah dan remuk. Dengan
mempergunakan "Tiat Pian Ko „ (Jembatan Besi), dia telah
merubuhkan dirinya kebelakang, dan kedua kakinya tetap
menempel ditanah, tetapi tubuhnya terlentang sampai
punggungnya hampir menyentuh tanah. Kayu sigadis telah
lewat dua dim dari dadanya dan keringat dingin mengucur
deras dari siimam dan dia cepat-cepat melompat berdiri begitu
dirinya berhasil lolos dari serangan dahsyat tersebut.
Tetapi Bong Cun Lie tidak bekerja hanya sampai disitu saja,
ketika melihat lawannya ber hasil mengelakkan serangannya
itu dengan caranya yang manis, maka sigadis telah
mengeluarkan suara dengusan mengejek, dan dia telah
melancarkan kembali dengan mempergunakan kayu ditangan
kanannya itu, disusul Oleh seruan: „Terimalah ini. "
Imam itu baru saja berhasil berdiri tetap, atau serangan
sigadis she Bong telah tiba lagi, sehingga dia mengeluarkan
seruan putus asa. Tidak ada harapan lagi baginya untuk
mengelakkan diri dari segala serangan k a y u sigadis yang
menyambar kearah dada sebelah kirinya berarti jika dia
tergempur oleh serangan yang disertai oleh tenaga dalam
yang kuat seperti itu jika tidak binasa sedikitnya dia akan
bercacad.

Karena terlalu terdesak demikian rupa, akhirnya tojin itu
menjadi nekad. Dia tahu-tahu telah memutar Hudtimnya
dengan gerakan yang cepat kearah atas, maksudnya
mengibas kearah kayu Bong Cun Lie, menyusul mana tangan
kanannya tahu-tahu akan mencengkeram dada sebelah kiri
sigadis, yang akan dicengkeram keras dari kuat jalan darah
Pai sie-hiatnya. Kalau memang jalan darah Pai-sie-hiat didada
kiri sigadis berhasil dicengkeram, walaupun sigadis memiliki
kepandaian sepuluh kali lebih tinggi dari sekarang jelas, gadis
itu akan rubuh binasa.
Sigadis telah mendengus ketika melihat cara menyerang
imam itu, Dia berkelit kesamping kanan dengan gerakan
mundur kebelakang beberapa dim, sehingga berhasil
mengelakan serangan siimam.
„Serangan yang kejam!" dia berseru dengan suara yang
dingin. „Dan, rasakanlah jarum ku ini"
Sigadis telak membarengi suaranya itu dengan
menggerakkan tangan kirinya, maka disaat itulah tampak
empat sinar emas, meluncur kearah empat jalan darah
terpenting ditubuh Kui Im Cinjin, yaitu Bong-su-hiat, Tiang-hehiat,
Kwan lu-hiat dan Tie-pie-hiat. Dua jalan darah yang
pertama terletak dibagian ketiak kanan, sedang kan kedua
jalan darah lainnya terletak masing-masing dipinggang kiri dan
kanan;
Sigadis juga bukan hanya menyerang dengan jarumnya itu,
dia telah membarengi dengan serampangan kayunya kearah
batok kepala imam itu.
„Ahh” berseru imam itu putus asa. Umpama kata dia
memiliki kepandaian lima kali lebih hebat dari sekarang tentu
dia tidak mungkin mengelakkan diri dari serangan Bong Cun
Lie, karena serangan yang dilancarkan oleh sigadis she Bong
itu benar-benar telah menutup jalan mundurnya imam itu.
Untuk menangkis, Kui lm Cinjin juga sudah tidak memiliki
kesempatan.

„tidak kusangka akhirnya aku harus binasa dengan cara
demikian penasaran !" mengeluh imam itu, dan dengan putus
asa dia memejamkan matanya, dia pasrah untuk menerima
kematiannya, disaat mana tongkat kayu tengah meluncur .
akan menghantam batok kepalanya, sedangkan keempat
jarum emas yang dilontarkan San Ciam Liehiap tengah
menyambar kearah empat jalan-darah terpenting ditubuhnya.
Kedua anak lelaki kecil itu yang berdiri dipinggiran hanya
menyaksikan tanpa mengetahui bahwa siimam telah terancam
kematian, keduanya hanya heran, tadi siimam dan sigadis
telah bergerak-gerak cepat sekali bagaikan dua sosok bayangan,
sehingga mereka jadi bengong menyaksikan dengan
mata berkunang-kunang, mau mereka duga bahwa disaat itu
mereka tengah menyaksikan tarian seorang dewa dan dewi
yang turun dari kahyangan.
San Ciam Liehiap Bong Cun Lie melihat seranganya akan
mencapai sasarannya, dia jadi girang bukan main, terlebih lagi
dia melihat imam itu telah memejamkan matanya rapat-rapat.
justru dia telah menambahkan tenaga serangannya.
Sehingga jika kayu ditangannya itu berhasil mencapai
sasaran, tentu kepala imam itu akan hancur lebur...
„Sungguh serangan yang baik sekali...” tiba-tiba terdengar
suara seruan nyaring yang terdengar disaat itu, disusul oleh
suara "tring, tring tring", empat kali, lalu disusul terpentalnya
sesosok tubuh.
Semua peristiwa itu terjadi hanya sekejap mata, sigadis she
Bong itu jadi terkejut bukan main, karena tahu-tahu si imam
telah lenyap dari hadapannya sehingga kayunya jatuh
ditempat kosong. Dan begitu juga keempat batang jarum
emasnya itu telah runtuh diatas tanah.
Dengan gusar sekali, sigadis telah menoleh kesampingnya,
dilihatnya Kui Im Cinjin tengah merayap berdiri, karena tadi
disaat jiwanya tengah terancam bahaya kematian imam itu

merasakan menyambarnya angin serangan yang kuat sekali
sehingga tubuhnya terpental dan terpelanting ditanah, yang
membuat dia terhindar dari sambaran kayu sigadis she Bong
itu, dan terhindar dari keempat batang jarum maut lawannya.
Apa yang terjadi itu benar-benar diluar dugaan Kui Im
Cinjin maupun Beng Cun Lie. Begitu pula kedua anak lelaki
yang sempat menyaksikan pertempuran itu diliputi keheranan
yang mencengangkan mereka, sebab mereka melihat tahutahu
siimam telah terlempar dan jatuh bergulingan ditanah.
Sungguh peristiwa yang membuat anak itu jadi memandang
tertegun tanpa mengerti mengapa siimam telah membuang
diri seperti itu.
Dengan sorot mata yang tajam, gadis itu telah menoleh ke
sampingnya, kini baru dilihat nya seorang pemuda berpakaian
sebagai Siucai ( pelajar ) warna putih, dengan kopiah hitam
dan ditangannya tercekal kipas terbuat dari sutera, tengah
duduk ditanah dengan sikap yang manis, karena selain
wajahnya tampan dan senyumannya manis, matanya bersinar
cemerlang.
„Jangan menurunkan kematian......dosa besar apakah yang
telah dilakukan totiang itu sehingga nona demikian ganas
ingin mengambil jiwanya ?" sapa pemuda itu, manis cara
menegur gadis itu,
Dia bertanya sambil menggerak-gerakkan kipasnya dan
kepalanya kekiri dan kekanan.
Muka Bong Cun Lie berobah merah padam dia lalu
mendengus dengan gusar.
„Mengapa kau begitu usil mencampuri urusan kami ?”
tanyanya dengan suara tak senang, "urusan ini urusan
penasaran, yang tidak ada sangkut paut dan hubungannya
dengan kau ... harap engkau tidak mencampurinya.. .”.
Pemuda pelajar itu telah tersenyum sabar, manis sekali
sikapnya waktu dia bangkit perlahan-lahan.

“Kamu demikian cantik gagah dan perkasa, tidak kusangka
jiwa dan hatimu kejam sekali, dalam urusan itu aku memang
tidak memiliki hubungan apa-apa, kenalpun tidak tetapi
masakan aku harus berpeluk tangan mengawasi sepotong jiwa
manusia yang ingin dibinasakan ? bukankah jiwa harus dibuat
sayang.?
“baik, baik." berseru sigadis dengan murka. “Jika memang
kau merasa sebagai pendekar yang baik hati dan tidak bisa
menyaksikan kematian seorang bangsat, biarlah engkaupun
bersama-sama dia pergi menghadap Giam-Ong!"
Dan sigadis bukan hanya membentak, karena tahu-tahu
kayu yang ditangannya telah melayang, menyambar kearah
dada pelajar itu dengan gerakan yang cepat luar biasa, karena
sigadis telah menimpuk. Begitu pula menyusul lima batang jarum
emas menyambar lima jalan darah ditubuh pelajar itu.
Serangan yang dilancarkan oleh gadis itu luar biasa, karena,
dia mengetahui pelajar itu memiliki kepandaian tinggi, yang
telah disaksikannya tadi, dengan sendirinya dia tidak
tanggung-tanggung dalam melancarkan serangan.
Tetapi pelajar itu berdiri tenang ditempat nya, dia hanya
mengawasi datangnya serangan. Disaat kayu yang meluncur
itu hampir tiba, hanya terpisah beberapa dim lagi dari
dadanya, pelajar itu mengibaskan lengan bajunya, maka seperti
terdorong sebuah tenaga yang kuat, kayu itu telah
terlontar mental kesamping menghantam batang pohon,
sedangkan dengan kipasnya dia mengebut kelima jarum emas
yang menyambar kearahnya.
Kui Im Cinjin mengawasi peristiwa itu dengan mulut yang
terpentang, karena dia kagum bukan main melihat kepandaian
yang diperlihatkan oleh pemuda itu dengan sempurna sekali,
walaupun usia pelajar itu mungkin baru dua puluh tahun,
namun lwekangnya benar-benar sempurna.
Sigadis tidak kurang kagetnya, untuk sejenak dia jadi
memandang tertegun ditempatnya.

Pelajar itu tersenyum, dia menggerak-gerakan kipasnya
seperti juga tengah menikmati sejuknya angin dari kipasnya
tersebut.
„Tidak mudah untuk membinasakan manusia.” Kata pelajar
itu dengan suara yang tetap sabar.
“sayang sekali, sungguh sayang...."
Sigadis she Bong tersadar dengan murka.
„Apanya yang sayang ?" bentaknya dengan, bengis.
“nona demikian cantik, dan yang jelas tentu banyak pria
yang bermimpi untuk mempersunting nona. Tetapi jika adat
nona begitu buruk tentu mereka akan mundur sendiri dan
tidak berani mendekati nona, Nah, jika terjadi begitu.
bukankah harus dibuat sayang?"
Muka Bong Cun Lie jadi merah padam dan tubuhnya
gemetar karena murka, yang tidak kepalang, dia menyadari
pemuda pelajar itu tengah mengejek dia.
„Cisss !" dia telah meludah, dan membarengi dengan itu,
tangannya bergerak lagi disusul oleh suara "serrr, serrr"
berulang kali, kali ini dia melepaskan senjata rahasianya itu
dengan mempergunakan kedua tangannya, belasan sinar
kuning telah menyambar mengurung pelajar itu.
Tetapi pelajar itu membawa sikap yang tenang sekali, dia
menggerak-gerakkan kipasnya berulang kali, maka setiap
jarum yang menyambar kearah dirinya semua berhasil dipukul
runtuh ketanah. Hebat cara pemuda pelajar itu melayani
serangan sigadis,
Semakin lama, sigadis menyerang semakin penasaran, dan
akhirnya dia berdiri diam tidak melancarkan serangan lagi,
mengawasi mendelik lawannya, karena seluruh persediaan
jarumnya telah habis, tidak satupun jarum emasnya berhasil
mengenai sasaran. Wajah sigadis jadi agak lucu, dibilang

tertawa bukan tertawa, disebut menangis juga tidak
menangis.
Waktu tadi dirinya diserang terus menerus oleh sigadis,
pelajar itu sambil berkelit dan mengibas dengan kipasnya tidak
hentinya dia telah memuji dengan ejekannya ; „Serangan
yang bagus, sungguh berbahaya ! Bagus sekali ! Oh, benarbenar
indah serangan ini !" tetapi begitu sigadis berhenti
menyerangnya, sipemuda telah berhenti dengan guraunya itu,
dia telah merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat
kepada sigadis.
„Aku yang rendah memang telah lancang mencampuri
urusan nona, seharusnya memang itu adalah urusan nona
selama tidak menyangkut urusan jiwa. Maafkanlah, Siauwte
(adik) tidak memiliki kepandaian apa-apa dan bodoh, telah
begitu lancang menyambuti serangan nona" yang ternyata
hebat luar biasa. Jika nona tidak berlaku murah hati, tentu
jiwaku telah melayang....” Waktu berkata-kata, pelajar itu
memperlihatkan sikap yang bersungguh-sungguh. „Bolehkah
Siauwte mengetahui she dan nama nona yang harum ?",
Si gadis mendongkol bercampur gusar, tetapi pelajar itu
memiliki kepandaian yang hebat sekali, maka walaupun dia
ingin berlaku nekad, tetapi tentu tidak ada faedahnya apaapa.
Maka akhirnya dia hanya dapat membanting-banting
kakinya.
„Tidak perlu kau mengetahui namaku, tinggalkan namamu,
kelak aku akan mencarimu untuk menyelesaikan urusan ini !"
kata sigadis akhirnya.
„Siauwte she Cu dan bernama Kun Hong," menyahuti
pelajar itu. „Perkataan" kelak akan mencari itu terlalu berat,
Siauwte tidak berani menerimanya, karena pertama Siauwte
dari golongan muda, juga bodoh dan tidak memiliki
kepandaian istimewa."

Dada sigadis seperti ingin meledak mendengar jawaban
pemuda pelajar itu. Karena jelas pelajar itu ingin
mempermainkan dirinya dan mengejeknya, sigadis maksudkan
dengar „Kelak akan mencari" dia maksudkan untuk mencari
pemuda itu guna menuntut balas. Tetapi sipemuda sengaja
pura-pura tidak mengerti maksud perkataan sigadis dengan
„kelak akan mencari" itu seperti juga sigadis dari golongan
muda ingin menyampaikan hormatnya kepada golongan tua.
Tentu saja sigadis jadi murka bukan main. Pemuda pelajar itu
Cu Kun Hong telah tertawa lagi.
„Baiklah, jika nona keberatan menyebutkan she dan
memperkenalkan nama, Siauwte juga tidak memaksa, tetapi
maukah nona memberitahu kan murid siapa ?" tanyanya lagi.
„Apa perdulimu, tunggu saja dalam satu bulan, aku pasti
akan mencarimu . . . ! dan setelah berkata begitu, sigadis
menoleh kepada Kui Im Cinjin yang tengah mengawasi
dengan tertegun, mata sigadis mendelik lebar penuh kebencian,
lalu dia memutar tubuhnya dengan beberapa kali lompatan
dia telah berlalu dan lenyap dari penglihatan
Imam itu cepat-cepat menghampiri penolongnya. „Terima
kasih atas pertolongan Siangkong, budi yang besar ini entah
bagaimana caranya pinto membalas ..." kata Kui Im Cinjin
sambil membungkukan tubuhnya dalam menjura memberi
hormat kepada pemuda pelajar itu. "Pinto Kui Im Cinjin tentu
tidak akan melupakan budi besar itu...."
Sipelajar tersenyum, dia mengelakkan pemberian hormat
dari si-imam.
„Jangan berkata seberat itu, Totiang. Bukan kah sudah
selayaknya jika "kita tolong menolong?" kata pelajar itu.
„Siauwte tidak memiliki kepandaian apa-apa dan bodoh, hanya
mengerti cara mengipas untuk meruntuhkan jarum, itu tidak
berarti apa-apa . . . . "

„Jika tidak ada Siangkong, mungkin pinto sudah tidak jadi
manusia . . . . " kata si imam.
„Sungguh memalukan! Kalau diceritakan memang sungguh
memalukan . . . " kata imam itu. „Mari kita masuk kekampung
ini untuk mencari kedai arak, nanti disana pinto akan
menjelaskan duduknya persoalan."
Pelajar itu mengangguk menyetujui usul dari si imam, dia
telah mengiringi imam itu memasuki perkampungan itu. Dan
kedua anak lelaki yang tadi menyaksikan pertandingan yang
terjadi diantara jago-jago r imb a persilatan itu, telah cepatcepat
memunguti jarum-jarum emas milik Bong Cun Lie yang
banyak berserakan ditanah, yang mereka simpan disaku dan
kemudian melanjutkan permainan petak mereka saling
kejar....
Tojin yang bergelar Kui Im Cinjin telah mengajak pelajar
yang mengaku bernama Cu Kun Hong itu kesebuah kedai arak
yang berada didekat pintu kampung. Imam itu memesan dua
kati arak untuk Sipelajar sedangkan dia sendiri duduk dengan
sikap tenang, sambil sekali-kali melirik ke jendela.
Melihat sikap si-imam, Kun Hong jadi memandang heran,
dia menduga tentu ada sesuatu yang menggelisahkan imam
itu.
„Totiang” panggilnya dengan disertai suara tertawanya.
„Sesungguhnya siapakah gadis yang tadi mengejar-ngejar
Totiang?"
Siimam telah menghela napas dalam tampaknya dia benarbenar
berduka sekali:
„Gadis itu bergelar Sam Ciam Liehiap, namanya Bong Cun
Lie." siimam mulai dengan ceritanya
„Sam Ciam Liehiap Bong Cun Lie?" berseru sipelajar dengan
terkejut. „Itulah seorang pendekar yang cukup terkenal

dengan sepak terjangnya, terlebih lagi untuk bilangan Kwiecu.
Mengapa dia bisa memusuhi totiang ?"
Siimam telah menghela napas panjang lagi, dia mengambil
cawannya dan meneguk araknya perlahan-lahan.
„Sebetulnya, memang peristiwa ini diawali oleh sesuatu
kesalah pahaman saja, sehingga akhirnya keempat saudara
angkatku harus buang jiwa cuma-cuma dan enam sahabat
karib harus menemui kematian dengan penasaran sekali......”
Datar suara siimam waktu berkata-kata, mungkin dia
tengah diliputi oleh kesedihan yang sangat, tetapi cara dia
berkata-kata begitu mengesankan, sehingga menimbulkan
kesan bahwa urusan yang telah menimpanya merupakan
urusan yang agak luar biasa, terlebih lagi dengan disebutsebut
jumlah sepuluh jiwa yang telah meninggal ..!
Cu Kun Hong jadi tertarik, dan dia memasang telinganya
baik-baik. Rupanya yang akan dikisahkan oleh imam itu
merupakan urusan penasaran.
„Seperti diketahui oleh sababat-sababat rimba persilatan,
bahwa pinto berasal dari pintu perguruan Ngo-ciat-kauw, yang
semuanya berjumlah lima orang. Keempat saudara
seperguruan pinto itu, semuanya juga mensucikan diri,
masing-masing bergelar Kui San Cinjin, Kui Lie Cinjin, Kui Liong
Cinjin. Kui Ban Cinjin dan pinto sendiri bergelar Kui Im
Cinjin Kami walaupun menamakan pintu perguruan kami
dengan nama yang kurang sedap didengar, yaitu Ngo-Ciatkauw,
tetapi hati kami berlima tidak buruk dan selalu berusaha
mendirikan pahala dengan memberantas kejahatan dan
membela yang tertindas. "Tetapi, seperti juga urusan didalam
dunia ini, yang selalu ada Im dan ada pula Yang, ada yang
mencinta kami, tetapi ada juga yang tidak menyukai kami."
Sesungguhnya jika saja kami tidak terlalu usil, tentu
kamipun tidak akan terlibat dalam urusan seperti hari ini.
Disaat mana kebetulan kami tengah berada di Kanglam,

maksud kami memang ingin berpelesiran untuk menikmati
keindahan daerah Kanglam. Tetapi ketika tiba di pintu kota
Wai-siang-kwan disebelah barat justru kami menyaksikan
urusan yang tidak adil, yang mengganggu mata kami. Disaat
itu, kami melihat diluar pintu kota terjadi suatu pertempuran
yang janggal bagi pendapat kami, yaitu seorang tosu tua yang
telah lanjut usianya tengah dikepung oleh lima-orang
hweeshio dan dua orang wanita, wanita yang seorangnya
telah lanjut usianya, sedangkan wanita yang seorang lagi
merupakan gadis cantik jelita.
Kami tidak bisa menyaksikan tosu tua, itu dikeroyok
beramai-ramai seperti itu, jika akhirnya kami turun tangan
juga, bukan berarti disebabkan si tosu sama-sama menganut
agama To. dengan kami, melainkan karena keadilan belaka.
Salah, seorang diantara kelima orang hwe-shio itu ada yang
bergelar Hoan Lian Taisu yang memiliki kepandaian tertinggi
diantara kawan-kawannya itu. Dialah yang tergarang dan sulit
diajak bicara. Walaupun kami berusaha untuk mendamaikan
dengan cara baik, namun mereka tidak mau mengerti dan
akhirnya melibatkan kami dalam suatu pertempuran.
Begitu hebat pertempuran yang terjadi tidak bisa dicegah
lagi, sehingga akhirnya terjadi suatu peristiwa yang tidak
diinginkan, kami kesalahan tangan sehingga Hoan Lian Taisu
terbinasa. Sejak saat itulah rombongan hweshio itu melakukan
pengejaran terhadap kami!
Telah berulang kali kami berusaha untuk memberikan
pengertian bahwa kematian Hoan Lian Taisu tidak disengaja,
tetapi mereka itu tidak mau mengerti. Dan setahun yang lalu
itulah rom bongan hweshio itu memperoleh bantuan seorang
gadis yang bergelar Sam Ciam Liehiap, yang ke pandaiannya
luar biasa, sehingga sulit untuk kami tempur keempat
saudaraku telah dibinasakan dengan mudah dan menyedihkan
sekali, dan aku yang berhasil meloloskan diri meminta bantuan
Shantung Liokhiap (Enam Pendekar dari Shantung), namun

keenam sahabat itupun terbinasa ditangan Sam Ciam Liehiap,
dan tadi giliran pinto yang dikejar terus olehnya untung saja
ada Siangkong yang telah menolongi”.
Setelah bercerita imam itu menghela napas sambil
mengambil cawan, lalu menghirup araknya perlahan-lahan
dengan mata yang kosong, karena dia teringat kematian
saudara-saudara seperguruannya dan bagaimana
menderitanya dia yang dikejar-kejar oleh lawan-lawannya,
sehingga tidak sempat merawat dirinya yang menjadi mesum
dan kumal begitu, karena dia selalu dikejar oleh perasaan
ketakutan terus menerus.
„Lalu bagaimana dengan tosu tua yang kalian tolong itu?"
tanya Kun Hong yang tertarik mendengar kisahnya siimam.
„Entahlah waktu kami menghadapi Hoan Lian Taisu dan
kawan-kawannya dia telah mempergunakan kesempatan itu
untuk melarikan diri. Justru sampai saat sekarang ini aku
masih belum mengetahui sesungguhnya tersangkut urusan
apakah antara rombongan Hoan Lian Taisu dengan tosu tua
itu, yang menjadi sesalanku adalah Kematian Hoan Lian Taisu
yang menyebabkan salah paham ini semakin mendalam.
Baru saja Kun Hong ingin bertanya lagi, tiba-tiba dia
mendengar ada orang yang memasuki ruang kedai. Dia
menoleh kearah pintu, dilihatnya seorang wanita setengah
baya tengah melangkah masuk kedalam ruangan kedai
dengan diikuti oleh seorang lelaki setengah baya juga, yang
tubuhnya tegap dan gagah. Wajahnya tampan dan
memancarkan sinar yang gagah disamping sepasang matanya
yang tajam bersinar, memperlihatkan bahwa lelaki setengah
baya itu memiliki lwekang yang sempurna. Disamping itu,
siwanita setengah baya yang berjalan didepannya juga
memperlihatkan sikap yang gagah, rambutnya di sanggul
menjadi satu, walau usianya sudah cukup tinggi, namun
wajahnya masih cantik, di samping itu dia memakai pakaian
polos warna merah muda, dengan angkin putih.

Keduanya mengambil meja disebelah kanan terpisah tiga
meja dengan Kun Hong dan Kui Im Cinjin. Tetapi sama-sama
Kun Hong masih sempat mendengar wanita itu berkata
perlahan waktu ingin duduk dikursinya ; „Engko Ceng, malam
ini biarlah kita beristirahat disini saja dulu, besok baru
melakukan pengejaran lagi ........”.
Lelaki setengan baya yang dipanggil engko itu mengangguk
tanpa bilang apa-apa. kepada pelayan dia memesan arak dan
makanan.
Sejak dua orang memasuki kedai arak ini, hati Kun Hong
terkejut bukan main. Begitu juga saat dia mendengar wanita
setengah baya itu memanggil silelaki setengah baya itu
dengan sebutan ‘engko Ceng', maka yakinlah Kun Hong kedua
orang itu memang merupakan dua orang jago yang
diduganya,
“Totiang, engkau akan tertolong dari kesulitanmu, tidak
perlu kau bersedih terus” kata Kun Hong Kemudian, perlahan
suaranya, “hanya mau atau tidak mereka menolongmu,
totiang....”.
„Si . . . siapa ?" tanya sitojin dengan sikap setengah
percaya dan setengah tidak. Dia menyaksikan kepandaian
pemuda ini yang hebat sekali, yang berhasil merubuhkan Sam
Ciam Liehiap tetapi jika pendekar wanita penyebar jarum itu
datang bersama-sama dengan beberapa orang kawannya
urusan menjadi lain dan belum tentu Kun Hong sanggup
melindunginya.
„Engkau mendengar Kwee Ceng Taihiap?" tanya Kun Hong
dengan suara yang perlahan juga.
„Ihh, pendekar besar itu?" tanya siimam terkejut.
„Ya, rupanya Thian mengetahui kesulitanmu sehingga
orang gagah itu berada disini bersama isterinya," menyahuti
Kun Hong.

„Kau ,kau maksudkan Oey Yong Liehiap?” tanya siimam.
Kun Hong mengangguk, dia bangkit berdiri. „Kau tunggu
dulu disini, biar aku menemui mereka," katanya.
Siimam jadi mengawasi tertegun, dia melihat sipemuda
pelajar menghampiri tamu yang baru datang tadi, seorang pria
setengah baya bersama wanita setengah baya.
„Merekakah Kwee Ceng Taihiap dan isterinya Oey Yong
Liehiap ?" menduga-duga Kui Im Cinjin dengan hati
tergoncang. Dia memang telah mendengar kebesaran nama
Kwee Ceng dan Oey Yong yang seperti menggetarkan jagad
yang merupakah jago tiada tandingan dimasa ini. Tetapi
siimam tidak mengenal kedua pendekar besar itu. Cu Kun
Hong telah menghampiri meja pria dan wanita setengah baya
itu, dia merangkap kedua tangannya dan menjura memberi
hormat.
“Boanpwe (tingkatan yang muda) Cu kun Hong mengunjuk
hormat kepada kepada Kwee Taihiap dan Oey Liehiap."
katanya dengan sikap yang hormat sekali.
Lelaki setengah baya itu cepat bangkit mencegah hormat
pemuda itu.
"Jangan banyak peradatan, jangan banyak peradatan,"
katanya cepat.
„Engko Ceng kulihat engko kecil ini walau pun dari
kalangan Boanpwe tetapi dia agak luar biasa" bilang siwanita
setengah baya sambil tersenyum.
Pria .setengah baya itu memang tidak lain, adalah Kwee
Ceng dan wanita setengah baya yang bersamanya memang
isterinya yaitu Oey Yong. Mereka tengah melakukan
pengejaran terhadap seseorang, dan kebetulan lewat
dikampung ini, sehingga mereka singgah untuk minum dan
mengisi perut.

Waktu itu Kwee Ceng telah mendorong perlahan agar Kun
Hong batal memberi hormat kepadanya, tetapi akhirnya Kwee
Ceng terkejut sendirinya, sebab tubuh Kun Hong tidak
bergeming dan meneruskan gerakannya untuk membungkuk
memberi hormat.
„Benar apa yang dibilang Yongjie, pemuda ini memiliki
lwekang yang lumayan," dan setelah berpikir begitu Kwe Ceng
menambahkan sedikit tenaga mendorongnya, tubuh Kun Hong
seperti terangkat sedikit, dan hampir terhuyung kebelakang.
Hati Kun Hong tambah kagum kepada pendekar besar
tersebut, karena walaupun dia telah mengerahkan
lwekangnya, tetap saja dengan mudah Kwe Ceng
membatalkan pemberian hormatnya.
„Siapa gurumu tanya Kwee Ceng, dia memang polos dan
tidak pandai bicara, maka setelah membatalkan sipemuda
dengan hormatnya itu., dia langsung menanyakan guru
sipemuda.
„Insu Bong Kwei Siansu, dimana dulu Insu sering
menceritakan kegagahan Taihiap dan Liehiap. Sungguh
beruntung hari ini Boanpwe bisa bertemu dengan jiewie
locianpwe." menyahuti Kun Hong dengan sikap menghormat.”
Kwee Ceng tak kenal guru pemuda itu, yang gelarnya baru
didengarnya sekali ini. Tetapi sebagai basa-basi, dia telah
menyatakan bahwa telah lama dia mendengar nama terkenal
Bong Kwei Siansu. Senang hati Kun Hong karenanya.
„Apakah ada sesuatu yang bisa Boanpwe bantu jika Taihiap
ada suatu urusan didaerah ini ?” tanya Kun Hong pula. Kwee
Ceng menggeleng sambil mengucapkan terima kasih. Tetapi
berlainan dengan Oey Yong yang lincah telah menepuk
lututnya sambil katanya dengan suara riang; „Engko Ceng,
mengapa kita tidak menanyakan kepada Cu Siangkong
mengenai tosu Itu ?".

Kwee Ceng mengangguk, kemudian katanya; „Cu
Siangkong, sesungguhnya kami tengah mengejar seseorang,
tetapi kami kehilangan jejak. Kami tengah mengejar seorang
tosu yang memiliki urusan penting dengan kami, dan menurut
penyelidikan yang kami lakukan, tosu tua, itu mengambil arah
keutara, maka pasti diapun lewat dikampung ini. Apakah
Siangkong pernah melihat disekitar daerah ini seorang tosu
tua dengan cacad bekas bacokan dipipi kanannya, dan tandatanda
lainnya yang menyolok adalah punggung nya yang agak
bungkuk ?".
Cu Kun Hong seperti berpikir sejenak, lalu kitanya :
„Sayang sekali boanpwe belum pernah, bertemu dengan tosu
yang taihiap maksudkan itu" Suara sipemuda mengandung
penyesalan.
„Biarlah, kami yakin akan berhasil menemui jejaknya." kata
Kwee Ceng.
Sebetulnya Kun Hong tertarik ingin mengetahui urusan
apakah yang tengah dihadapi pendekar besar ini sehingga
mengejar-ngejar seorang tosu tua yang bercacad mukanya
itu, namun Kun Hong tidak berani terlalu bertanya melit-melit,
„Kwee Taihiap dan Oey Liehiap,” kata Kun Hong kemudian,
„Sesungguhnya boanpwe ingin menyampaikan sesuatu yang
tidak pantas, entah boanpwee boleh terus mengatakannya
atau tidak?" kata sipemuda.
'Kwee Ceng tertawa manis. „Katakanlah apakah kau tengah
menghadapi kesulitan; engko kecil?" tanyanya. „Sebetulnya
bukan urusan boanpwe; tetapi totiang itu....." kata Kun Hong
sambil menunjukkan kearah Kui Im Cinjin, Siimam yang
ditunjuk segera menghampiri hormat kepada Kwee Ceng dan
Oey Yong.
Sedangkan Kun Hong telah menceritakan urusan yang telah
menimpa diri Kui Im Cinjin, sehingga tosu itu selalu dikejarTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kejar oleh lawan-lawannya yang terlalu mendesak, yang menyebabkan
dia jadi tidak berdaya dan selalu ketakutan saja.
„Mungkin satu dua hari lagi Sam Ciam Liehiap akan datang
mencari Kui Im totiang, maki bisakah Taihiap dan Liehiap
mendamaikan urusan mereka ?"
„Sam Ciam Liehiap ? Akh, nama itu baru kudengar," kata
Kwee Ceng.
„Nah engko Ceng, apa kubilang," kata Oey Yong sambil
tertawa. „Bukankah sering sekali kukatakan bahwa angkatan
muda yang sekarang telah bermunculan banyak sekali jagojago
muda yang penuh harapan ?"
Kwee Ceng hanya tersenyum, dia tidak tertarik dengan
gurau istrinya, dengan bersungguh-sungguh dia telah menoleh
kepada Kui Im Cinjin, katanya „Totiang. sungguh menyesal
bahwa justru kami tengah mengejar waktu untuk membekuk
seseorang . . . tetapi kami bukan berarti tidak mau menolong
kesulitan totiang. Begini saja kita atur, aku akan menulis
sepucuk surat meminta kepada Sam Ciam Liehiap dan kawankawannya,
meminta agar mereka mau memandang muka
kami dan untuk mengambil jalan bijaksana dalam urusan
mereka dengan totiang. Kukira jika mereka ingin memberi
muka kepadaku tentu bisa menghabiskan permusuhan dengan
totiang sampai disini saja ".
Tentu saja Kui Im Cinjin girang bukan main. Nama Kwee
Ceng telah menggetarkan seluruh rimba persilatan, siapapun
tentu mengenal dan mengetahuinya. Dengan ditulisnya surat
pengantar oleh Kwee Ceng, jelas Sam Ciam Liehiap dan
kawan-kawannya bersedia menyudahi permusuhannya dengan
Kui Im Cinjin. Itulah suatu pertolongan yang mimpipun sulit
diharapkan. Berulangkali Kui Im Cinjin menyatakan terima
kasihnya.
Kwee Ceng meminta pelayan mempersiapkan kertas dan
pit, lalu menulis sepucuk surat.

Sedangkan Oey Yong yang sejak mudanya memang
terkenal nakal dan periang, telah mengajak Kun Hong
bercakap. Ada saja yang dibicarakannya, masalah-masalah
rimba persilatan dikalangan golongan muda, Kun Hong pun
senang sekali menjawab setiap pertanyaan nyonya yang hebat
sekali kepandaiannya itu.
Selesai menulis suratnya, Kwee Ceng menyerahkannya
kepada Kui Im Cinjin, yang menerimanya sambil mengucapkan
terima kasihnya berulang kali. Surat itu disimpannya baik-baik
disakunya, karena surat itu merupakan surat wasiat yang bisa
membeli jiwanya. Dengan surat inilah Kui Im Cinjin bisa
mengharapkan untuk hidup terus.
Kwee Ceng dan Oey Yong bersantap, selesai itu
merekapun telah melanjutkan perjalanan mereka
Sedangkan Kui Im Cinjin juga telah mengucapkan terima
kasihnya kepada Cu Kun Hong pemuda pelajar itu, karena
lewat pemuda inilah Kui Im Cinjin berhasil memiliki surat
wasiat yang besar faedahnya, kemudian diapun pamitan Kun
Hong telah melanjutkan sendiri meneguk araknya, hatinya
senang sekali bisa menolong kesulitan yang tengah dihadapi
Kui Im Cinjin.
Hari mulai gelap, dan setelah membayar harga makanan
dan arak yang diminumnya, Kun Hong pun berlalu dari kedai
arak itu.
Sambil bersiul-siul perlahan, dia menyusuri lorong yang
akan menuju kerumah penginapan nya yang terletak dipintu
selatan kampung tersebut.
Wu Cuan Cung merupakan perkampungan yang cukup
padat penduduknya, meliputi hampir seribu kepala keluarga,
keadaannya yang ramai dan padat seperti itu memang Wu
Cuan Cung menyerupai sebuah kota kecil. Terlebih lagi letak
Wu Cuan Cung merupakan lintas hidup untuk orang-orang
yang berlalu lintas dari Kang-lam menuju Phangciu maupun

Hangciu, tidak mengheran kan jika perkampungan tersebut
ramai sepanjang hari.
Sedangkan Kun Hong menikmati keramaian jalan yang
dilaluinya, tiba-tiba didengar suara ..Trak, trukk, trukk," tidak
hentinya waktu pemuda she Cu tersebut, mengangkat
kepalanya, dia melihat pemandangan yang benar-benar
mengherankan hatinya karena dari jurusan depan tampak
mendatangi seorang wanita berpakaian compang camping tengah
jalan dengan kaki diseret, dan sepatu rombengnya yang
terseret itu menimbulkan suara „trakk, trukk," tidak hentinya.
Keadaan wanita itu mesum dan kotor sekali, karena takut bertabrakan
dengan wanita mesum itu, Kun Hong telah melompat
ketepi jalan.
Saat itu jarak antara wanita yang berpakaian seperti
pengemis itu, dengan rambut yang diriap turun terurai
dibahunya dan sebagian menutupi mukanya, hanya terpisah
satu tombak lebih dengan tempat dimana Kun Hong berada
tentu saja gerakan pemuda itu dilihatnya dengan jelas.
Setelah berjalan beberapa langkah lagi, disaat berada
dihadapan Kun Hong, wanita berpakaian seperti pengemis itu
menghentikan langkah kakinya berdiri tegak dan
mengeluarkan suara haha hihi.
„Anak yang cakap, anak yang tampan." kata wanita yang
jorok itu sambil mengulurkan tangannya yang kotor penuh
daki dan debu itu ingin mengusap muka Kun Hong.
Pemuda she Cu itu mendongkol bukan main, mana mau dia
membiarkan mukanya diusap oleh tangan yang kotor seperti
itu? Dengan cepat Kun Hong telah memiringkan kepalanya
kekiri dengan gerakan yang gesit sekali.
Tetapi diluar dugaan pemuda she Cu itu. di saat Kun Hong
berkelit dengan gesit, tangan wanita itu lebih gesit lagi, tahutahu
telah berhasil mengusap muka Kun Hong, keruan Kun
Hong menggidik karena tangan wanita itu bukan hanya kotor,
tetapi dingin lengket seperti tangan mayat.

„Kurang ajar . . . !" bentak Kun Hong sambil melompat
mundur kaget. „Jangan kurang ajar . . "
„Hihihi, anak manis, aku tidak akan galak-galak kepadamu "
Dan wanita itu telah maju lagi dua langkah, dia mengulurkan
tangannya untuk mengusap pula.
Kun Hong jadi kelabakan sendiri, dia kewalahan
menghadapi wanita yang seperti sinting ini tanpa berpikir lagi
dia memutar tubuhnya sambil mementang kaki lebar-lebar
untuk berlalu dengan cepat meninggalkan wanita sinting itu.
Tetapi Kun Hong jadi tambah terkejut, karena walaupun
bergerak cepat, tangan wanita itu bergerak lebih cepat lagi,
tahu-tahu ujung baju nya telah berhasil dicekal oleh wanita
sinting itu, dan yang mengejutkan Kun Hong bercampur malu
justru disaat itu wanita sinting tersebut telah menjerit-jerit
sambil menangis. „Jangan tinggalkan aku . . . . ooohh, koko.
cakap, engko yang manis, jangan kau tinggalkan aku
mengapa kau demikian kejam ?”
Muka Kun Hong jadi berobah merah dan panas, darahnya
jadi meluap naik karena dia malu sekali ditonton oleh
beberapa orang penduduk yang kebetulan berada dijalan
tersebut, yang telah berhenti sejenak untuk menyaksikan
peristiwa tersebut. Mereka tertarik karena mendengar
tangisan perempuan sinting itu.
Dengan cepat Kun Hong telah menabas dengan tangan
terbuka, tabasannya walaupun di sertai hanya tiga bagian
tenaga dalamnya, tetapi hebat sekali. Dia yakin jika tangan
wanita itu berhasil ditabas, tentu cekalannya akan
dilepaskannya dan dia akan segera meninggalkannya secepat
mungkin.
Tetapi Kun Hong kembali kaget bukan main, karena justru
disaat tangannya hampir tiba disasaran, tahu-tahu wanita
sinting itu telah melepaskan cekalannya dan dia telah menarik
tangannya, sehingga tabasan Kun Hong mengenai tempat

kosong. Namun membarengi dengan itu, disaat itulah dia telah
mengulurkan tangan pula untuk menjambret dan mencekal
ujung baju Kun Hong, yang dicekalnya lagi dengan kuat dan
tetap menangis.
Tentu saja Kun Hong jadi penasaran sekali dengan cepat
dia menambah tenaganya dan telah menjejakkan kakinya; dia
melompat untuk menarik jubahnya yang tercekal wanita
sinting itu, kemudian jika digentak dengan sentakan. keras,
niscaya cekalan wanita itu akan terlepas.
Tetapi yang membuat Kun Hong jadi lebih kaget lagi, justru
disaat dia melompat, tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia
hanya melompat tetap ditempatnya, karena cekalan tangan
dari wanita sinting itu tidak bergeming sedikit pun juga,
sangat kuat sekali.
Kenyataan seperti ini benar-benar telah mengejut kan hati
Kun Hong. Disaat itulah dia yakin bahwa wanita sinting yang
tengah dihadapinya ini bukan wanita sinting sembarangan,
karena dari cara-cara dia mengelakkan tabasan tangan Kun
Hong dan cekalannya yang kuat itu, dia tentu memiliki
kepandaian yang luar biasa.
Orang-Orang yang menyaksikan peristiwa tersebut jadi
tertawa. Jumlah orang yang menonton semakin lama jadi
semakin banyak, dan Kun Hong merasakan pipinya seperti
terbakar panas sekali.
Tetapi disamping gusar, Kun Hong juga jadi penasaran
sekali. Dia telah mengeluarkan kipasnya, yang tahu-tahu telah
menyambar kearah mata wanita sinting itu, Untuk
menggertaknya, untuk mengancam biji mata dari perempuan
sinting itu, memaksanya agar wanita sinting itu melepaskan
cekalannya.
Kipas dalam keadaan tertutup seperti itu, memang
ujungnya bisa dipergunakan menohok jalan darah, dan Kun
Hong dalam bertindak kali ini tidak tanggung-tanggung,

karena dia tengah gusar sekali, disaat ujung kipas itu
menyambar mengancam biji mata kanan darir wanita sinting
itu maka gagang kipas yang ada didalam cekalannya itu dapat
pula menotok jalan darah ditenggorokkan wanita sinting itu
jika dia berhasil mengelakkan diri dari totokan ujung kipas
tersebut.
Tetapi wanita sinting itu rupanya tidak memperdulikan
serangan pemuda itu, dia masih tetap. mencekal baju
sipemuda she Cu itu dengan, disertai rengekannya „Jangan,
tinggalkan aku anak tampan...jangan kejam begitu...!" dan
disaat ujung kipas hampir sampai disasaran, dengan gerakan
yang wajar, bagaikan tidak disengaja wanita sinting itu
menengadahkan kepalanya, tahu-tahu dia telah menggigit
ujung kipas itu.
Kun Hong jadi terkejut sekali, dia telah mengeluarkan
seruan tertahan. Dan dia berusaha menarik kipasnya itu,
namun sudah terlambat, karena kipas itu telah tergigit dan
tidak bisa di tarik kembali, karena gigitan dari wanita sinting
itu kuat sekali.
Dengan penasaran Kun Hong telah mengerahkan tenaga
dalamnya dilengannya. dia menarik sekali lagi.
Disaat itulah wanita sinting itu melepaskan gigitannya,
maka tidak ampun lagi tubuh Kun Hong terhuyung hampir
terjengkang kebelakang.
Untung saja dia bergerak gesit, dia berusaha menguasai
kuda-kudanya agar tidak tergempur berdiri tidak sampai
rubuh ditanah.
Justru dalam keadaan seperti itu, Kun Hong lebih kaget
lagi, karena tiba-tiba wanita sinting itu telah menubruk
memeluk Kun Hong.
tentu saja, gerakan seperti itu telah membuat Kun Hong
jadi menitikkan keringat dingin, kalau sampai dirinya terpeluk
oleh wanita sinting yang mesum dan kotor itu, alangkah

malunya dia. Dan disamping itu, bau busuk yang keluar dari
tubuh perempuan mesum itu benar-benar membuat dia
hampir muntah, karena jarak mereka memang terpisah tidak
jauh. Mati-Matian Kun Hong menjatuhkan dirinya ditanah
kemudian bergulingan untuk menjauhkan diri dari wanita
sinting itu.
Karena pelukannya gagal, wanita itu tidak mengejarnya
hanya menjatuhkan dirinya duduk sambil menangis terisakisak
seperti seorang anak kecil kehilangan mainannya.
„Kau kejam . . kau kejam . . !” samar terdengar suara
keluhan wanita sinting itu. Kun Hong sudah tak
memperdulikan sesuatu apapun lagi, dia telah mementang
langkah secepat mungkin, dengan mempergunakan ilmu
meringankan tubuh; dia telah berlari sekuat tenaganya.
Setelah sampai di tikungan dengan hati yang masih
tergoncang dia telah melirik dan melihat wanita sinting itu
tidak mengejarnya, hatinya baru lega, dan dia menyusut
keringat dinginnya.
Tetapi walaupun wanita sinting itu tidak mengejarnya, Kun
Hong tidak berani berhenti dia berlari terus dan akhirnya tiba
dirumah penginapannya, langsung masuk kamarnya, dan rebah
dipembaringan dengan hati yang masih tergoncang.
Kun Hong juga tidak habis mengerti, sesungguhnya
siapakah wanita sinting itu, yang telah mengganggunya tanpa
sebab. Jika melihat cara wanita itu mengelakkan serangannya
dan juga telah mencekal bajunya, maka terlihat jelas bahwa
wanita itu bukan wanita sembarangan.
Tetapi jika dia memiliki kepandaian yang lumayan tingginya
seperti itu, mungkinkah dia sinting? Dilihat dari gerakannya
mengelakkan totokan ujung kipas Kun Hong dan digigitnya.
Setidak-tidaknya kepandaian wanita sinting itu berimbang
dengan kepandaian Kun Hong. siapa dia ?.

Disaat Kun Hong tengah rebah dengan pikiran yang
melayang-layang seperti itu, tiba-tiba dia mendengar; "Anak
yang manis . . anak yang tampan, anak cakap, jangan
tinggalkan aku . . jangan kejam begitu, anak . . . !"
Darah Kun Hong seperti berhenti, mendesir jantungnya
berdegup keras sekali, karena dia segera mengenali bahwa
suara itu adalah suara wanita sinting yang telah
mengganggunya beberapa saat yang lalu.
Tentu saja Kun Hong tidak berani untuk keluar dari
kamarnya, setidak-tidaknya bukan disebabkan perasaan takut,
tetapi dia tidak ingin berurusan dengan wanita sinting yang
mesum seperti itu.
Perlahan-lahan Kun Hong turun dari pembaringanny a
tetapi baru kakinya menyentuh lantai justru disaat itu dia telah
mendengar lagi, „Anak manis, ahh, anak manis .........”,
sehingga Kun Hong telah ragu-ragu untuk menuju kepintu,
untuk mengintai. Namun disaat itu Kun Hong mendengar
suara tertawa yang riuh dari orang-orang yang mungkin
tengah menonton tingkah laku wanita sinting itu Kun Hong
perlahan-lahan mendekati pintu kamar nya, dia telah
membukanya dan mengintai keluar dengan membuka sedikit
daun pintu kamarnya.
Dugaan Kun Hong memang tidak meleset, karena
dilihatnya wanita sinting itu tengah meng usap-usap muka
seorang pelayan yang tertawa lucu mempermainkan wanita
sinting itu, diiringi oleh suara ramai dari pelayan-pelayan
lainnya maupun pengunjung rumah penginapan tersebut.
Disaat itu Kun Hong melihat ada seorang pelayan yang
tengah mendatangi kearah kamarnya dengan membawa satu
baskom dan handuk. Dan pelayan itu mengetuk kamar Kun
Hong. Pemuda itu dengan cepat membuka pintu kamarnya.
„Siapa wanita sinting itu tanya Kun Hong setelah pelayan
itu meletakkan tempat air mencuci muka diatas meja.

“Wanita gila anak, Kongcu.” menyahut pelayan itu.
„Nasibnya memang harus dikasihani, karena semula dia
adalah seorang nyonya kaya raya, pandai silat, namun suatu
malam rumahnya didatangi perampok yang telah membunuh
suaminya dan puteranya, sehingga dia menjadi gila, dan justru
selalu gila akan anak yang cakap anak yang manis......"
Kun Hong mengangguk tidak tertarik untuk mendengari
terus cerita pelayan itu. Setelah pelayan itu keluar dari
kamarnya Kun Hong mengunci pintu kamarnya kembali.
Untuk segera mencuci muka dia masih malas, maka dia
telah rebah dipembaringannya tanpa memperdulikan lagi
suara tertawa wanita sinting itu karena wanita itu memang
benar-benar seorang wanita gila. Dengan dia berada dikamar
dan pintu terkunci, bukankah berarti dia aman dari gangguan
wanita sinting dan mesum itu.
Tetapi, tiba-tiba mata Kun Hong jadi terpentang lebar-lebar
dan mengeluarkan seruan tertahan. Ada suatu yang luar biasa
telah dilihatnya.
Seraut wajah yarg menyeringai dengan gigi yang kuning
dan muka yang kotor serta rambut yang riap-riapan, tengah
memandangi dia lewat jendela kamarnya. Wanita sinting itu!
Dengan gusar Kun Hong telah melompat dari
pembaringannya, dia telah mundur akan lari lewat pintu
kamarnya.
„Anak manis, mengapa kau takut bertemu dengan ibumu?"
tegur wanita sinting itu yang memang berdiri diluar jendela
kamar Kun Hong. Munculnya wanita sinting itu yang demikian
tiba-tiba benar-benar membuat Kun Hong jadi kaget dan
ketakutan, takut diusap dan dipeluk lagi.....
Cepat sekali Kun Hong menyambar pintunya tetapi disaat
itu dengan gerakan yang ringan sekali, wanita sinting itu telah
melompat lewat jendela kamarnya. Dalam sekejap mata
dengan, kegesitan yang luar biasa tahu-tahu dia telah berada

didepan Kun Hong. sehingga pemuda she Cu itu
mengeluarkan seruan kaget dan tangan kanannya telah
mendorong sekuat-kuatnya dengan mempergunakan tenaga
lwekangnya.
Namun wanita sinting, itu tidak mengelak, dan tangan Kun
Hong meluncur terus. Tetapi justru, disaat itulah Kun Hong
yang jadi kaget sendirinya, karena jika serangannya itu diterus
kan dan wanita itu tidak berkelit, berarti dada wanita sinting
akan didorong oleh tangannya. Itulah yang tidak dikehendaki
oleh Kun Hong, maka dengan cepat dia telah menarik pulang
tenaga dan tangannya.
Wanita sinting itu justru tidak memperdulikan sikap Kun
Hong, dia telah mengulurkan tangannya mencekal lengan Kun
Hong, katanya „Anak, engkau jangan takut, ibu tidak akan
mengganggumu
Tubuh Kun Hong menggidik. Biasanya, walaupun harus
menghadapi jago yang bagaimana hebat sekalipun
kepandaiannya Kun Hong tidak pernah merasa takut namun
justru terhadap wanita sinting ini, mengingat wanita itu
memang gila, dia jadi takut, ngeri dan gugup disamping jijik
sekali...
“Anak.....tidakkah kau merasakan penderitaan ibu?
Mengapa kau begitu kejam ingin meninggalkan ibu?” tegur
wanita itu lagi, suaranya halus.
Hati Kun Hong jadi luluh dia tidak tega untuk meronta,
akhirnya dia menyahuti; „Tetapi aku bukan anakmu...."
„Jangan berkata begitu anakku.... jangan kau lukai pula
hati ibu," berkata wanita sinting itu cepat.
Dan setelah itu, wanita sinting tersebut besenandung
dengan suara penuh kasih sayang, seperti juga tengah menina
bobokan anaknya, senandungnya itu antara lain :

Kain sutera merah,
Pasangan Wanyoh (walet terbang),
Langit biru tertawa cerah,
Simungil yang menarik hati,
Buah hatiku.
Tumpahan kasih,
Angin membawa bisikan: Tidurlah anakku.
Mengapa kau menangis saja ?
Tidurlah anakku . . .
JILID 2
LEMBUT sekali nyanyian wanita sinting; itu sehingga Kun
Hong jadi terharu. Betapa tidak, wanita ini memang, benar
sinting, tetapi sepotong hati didadanya yang masih dimilikinya
telah hancur, dan terluka oleh per buatan. biadab perampokperampok
yang telah merusak rumah tangganya
membinasakan suaminya dan membunuh anaknya. Betapa
tidak pedih hati wanita ini.
Hati Kun Hong jadi lemah akhirnya, dia membiarkan wanita
itu. memegangi tangannya terus.
„Anak" tiba-tiba wanita itu telah memecahkan kesunyian
yang menghanyutkan. „Engkau kini sudah besar, cakap,
tampan, betapa bahagia hati ibu.”
Tetapi setelah berkata begitu, tiba-tiba kumat lagi gilanya,
dia tahu-tahu telah tertawa haha hihi dan mengulurkan
tangannya mengusap lembut pipi Kun Hong disertai kata-kata
gilanya. „Anak cakap... anak manis, jangan tinggalkan ibu....
hahaha-hihihi....."

Kun Hong menggigil menggidik setidak-tidaknya dia merasa
jijik bukan main. Tetapi mengingat wanita ini gila karena
kematian anak dan suami nya, dan gilanya itu karena
kehancuran rumah tangganya. Kun Hong " jadi tidak tega untuk
melukai hatinya, dia membiarkan wanita itu mengusap
pipinya !
Tetapi melihat pemuda itu tidak berusaha mengelak dari
usapannya, justru wanita sinting itu telah menjatuhkan dirinya
duduk numprah dilantai, dan dia menangis keras sekali,
terisak-isak tidak hentinya
Di muka jendela, tampak telah banyak kepala manusia
yang menyaksikan semua peristiwa itu sambil tertawa
hahaihihihi karena mereka anggap sebagai pertunjukan yang
lucu menggeli kan hati. Tentu saja Kun Hong jadi gusar
muncul sifat ksatrianya „Kalian manusia-manusia tidak
bermartabat dan kejam!. Lihatlah oleh kalian Wanita ini harus
dikasihani dia telah terganggu syarafnya, tetapi bukannya
menghibur dan diobati justru kalian mempermainkannya.
Begitu tegakah kalian?"
Mendengar makian Kun Hong, rupanya orang-orang yang
berkumpul diluar jendela menjadi malu sendirinya dan telah
bubar.
Kun Hong berjongkok disamping wanita sinting itu,
katanya; ,Peebo (bibi) engkau terlalu letih, pergilah
beristirahat. Biarlah aku pergi membelikan pakaian untukmu,
nanti kau salin pakaianmu itu!"
Tetapi wanita sinting itu tiba-tiba mendelik ke arahnya dan
tertawa menyeringai mengerikan.
„Ohhh. kalian manusia-manusia bangsat kalian, pembunuh,
kalian manusia bejat., hahhaai hihi'. Dan wanita itu telah
menerobos membuka pintu dan berlari-lari keluar.

Kun Hong tidak mengejar, dia menghela napas panjang
entah mengapa kini dia merasa kasihan terhadap nasib wanita
itu.
Setelah mencuci muka, Kun Hong sengaja keluar dari
kamarnya untuk mencari wanita sinting itu. Tetapi tidak
melihatnya bayangan wanita sinting itu, begitu pula waktu
dia mencari-cari dijalan raya, wanita sinting itu tidak terlihat
mata hidungnya.
Menjelang tengah malam, Kun Hong baru kembali
kerumah penginapannya.
KEESOKAN paginya. disaat Kun Hong baru terbangun dari
tidurnya, justru disaat itu dia mendengar suara tangisan.
Itulah suara tangisan wanita sinting yang kemarin, yang telah
kematian suami dan putranya. Suara tangisan itu berasal dari
kamarnya, mungkin wanita yang bernasib malang itu tengah
dipermainkan oleh para pelayan rumah penginapan itu lagi.
Kun Hong melompat turun dari pembaringannya dan cepatcepat
mencuci muka. Dia telah bersalin pakaian, dan keluar
dari kamarnya.
Benar saja, dugaan Kun Hong tidak meleset dia melihat
beberapa orang pelayan tengah mengodai wanita sinting itu
yang tengah duduk numprah didekat pintu rumah
penginapan tersebut, sambil memperdengarkan suara
isak tangisnya yang cukup keras.
Kun Hong cepat-cepat menghampiri dan pelayan-pelayan
yang tengah menggodai wanita sinting itu waktu melihat
Kun Hong cepat-cepat menyingkir.
Kun Hong dengan suara yang sabar dan lembut ramah
“Apakah kau sudah makan? Jika belum makanlah! Aku
yang akan membayar semuanya”. Tetapi wanita sinting
itu tidak menyahuti, dia tetap menangis tidak hentinya,
hanya kepalanya digeleng-gelengkan kesana sini, dia
tengah tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa.

Kun Hong berusaha membujuknya beberapa kali,
tetapi wanita sinting itu tetap dengan tangisannya.
disaat itulah, dari arah jalan raya diluar rumah
penginapan terdengar suara derap langkah kaki kuda.
Dan tiga ekor kuda tunggangan berhenti dimuka rumah
penginapan. Tiga orang tua yang bertubuh tinggi tegap
itu, memakai baju ringkas dan wajah yang ditumbuhi brewok
yang tebal kasar menyeramkan karena garang telah
melangkah masuk kedalam ruangan penginapan itu.
Waktu ingin melewati pintu, justru wanita sinting itu
menghalangi jalan mereka, dengan duduknya dia disitu.
Dengan gusar salah seorang diantara ketiga orang itu, yang
ditengah telah menggerakan kaki kanannya menendang keras
sekali disertai dengan makinya: „Perempuan sial......? Anfing
geladak mana yang mengotori tempat ini?”
Tendangan itu hebat sekali dan tubuh wanita yang bernasib
malang tersebut segera saja terpental ambruk dilantai sebelah
dalam. Tangisnya jadi semakin keras juga.
Menyaksikan kekasaran orang yang baru datang itu, tentu
saja Kun Hong jadi gusar bukan main, darahnya jadi meluap.
Cepat sekali permuda itu telah berdiri dengan mata yang
terpentang lebar. Dia juga telah membentak dengan penuh
kemarahan.
„Kalian manusia-manusia tidak tahu malu yang telah
menghina manusia lemah tidak berdaya......!".
Mendengar makian seperti itu, ketiga lelaki bertubuh tegap
berewok itu telah tertegun sejenak, kemudian mereka telah
saling pandang satu dengan yang lainnya diantara mereka
bertiga diakhiri dengan suara tertawa bergelak dari mereka.
„Ohh, pemuda bau kencur, apakah kau tidak mengenal
kami ini bertiga siapa ? Kami adalah Cauwcong (kakek
moyang) mu !" bentak lelaki berewok yang tadi telah
menendang wanita sinting itu.

Kun Hong tertawa dingin dia tidak memandang sebelah
mata ketiga orang itu, sedikitpun dia tidak takut, terlebih lagi
melihat perbuatan ketiga orang itu yang tidak pada
tempatnya.
„Aku tidak perlu mengenal manusia-manusia bejat moral
seperti kalian... !" bentak Kun Hong dengan suara yang dingin.
„Disamping itu, memang kenyataannya kalian hanya pantas
menjadi Cauwcong dari kucing atau anjing"
Hebat ejekan yang dilontarkan oleh Kun Hong. membuat
muka ketiga orang itu jadi berubah merah padam karena
gusar.
„Ohh pemuda tidak tahu diuntung dan tidak mengenal
mampus !" memaki ketiga orang itu hampir serentak. „Kami
Sam Kiam Hun (Arwah tiga pedang) tidak pernah menerima
kata-kata hinaan seperti itu ! Walaupun tubuhmu dirobekrobek,
belum dapat membayar lunas hinaanmu itu !".
Dan membarengi dengan perkataannya itu, lelaki berewok
yang seorang tersebut telah mementang langkahnya dan dia
telah menghampiri Kun Hong, dan kedua tangannya telah
dipentang untuk menyambar mencengkeram lengan pemuda
she Cu tersebut.
Cu Kun Hong yang memang sejak tadi telah bersiap sedia
penuh kewaspadaan, telah memperdengarkan suara tertawa
dingin kemudian dia telah menggeser kakinya sedikit lalu
berkelit ke-samping. loloslah cengkeraman tangan orang
berewok itu.
Tentu saja orang itu. Sam Kiam jadi mengearkan seruan
murka disertai juga oleh serangan berikutnya, Tangan kirinya
menghantam kuat kedepan, sedangkan tangan kanannya
telah mencengkeram. Itulah gerakan "Jie Liong Cut Hay”
Sepasang Naga Keluar dan Lautan, gerakannya gesit dan dia
juga memiliki tenaga latihan gwake yang bukan main
besarnya",

Dengan sendirinya, serangan itu jika mengenai sasarannya
dengan tepat, niscaya tubuh lawannya akan terpental dan
hancur seluruh tulang rusuknya.
Tetapi walaupun demikian, Kun Hong tidak merasa takut
sedikitpun juga. "Dengan mendengus dingin, Kun Hong tidak
berusaha berkelit dengan mempergunakan tenaga dalam yang
telah disalurkan kepada kedua lengannya, dia telah
melancarkan serangannya itu dengan kibasan.
“Trakkk!" tangan mereka telah saling bentur dengan kuat
sekali dan disusul juga oleh suara seruan tertahan dari orang
berewok itu. karena dia merasakan betapa tangannya tergetar
dan kuda-kudanya tergempur. Kalau orang berewok itu tidak
cepat-cepat mengempos semangatnya, niscaya tubuhnya akan
terdorong kebelakang terjengkang kelantai.
Sedangkan Kun Hong juga kaget bukan main karena dia
merasakan tenaga serangan yang dilancarkan oleh lelaki
berewok itu tidak bisa di remehkan, tenaga itu beratnya
hampir tiga ratus kati, dan kalau saja dia tidak menangkisnya
dengan baik tentu bisa menyebabkan Kun Hong terluka dalam.
Kenyataan seperti ini, membuat Kun Hong bersikap jauh
lebih hati-hati lagi. Dan disaat melihat si lelaki berewok itu
bersiap-siap untuk melancarkan serangan pula, Kun Hong
mengawasi dengan penuh waspada
Sedangkan kedua lelaki berewok lainnya, telah menerjang
maju, mereka melihat Kun Hong memiliki kepandaian yang
lumayan dan saudaranya itu tidak bisa merubuhkan dengan
mudah dan cepat, maka karena mereka tidak ingin
membuang-buang waktu, keduanya telah menerjang maju
untuk membantui kawannya itu.
Dengah majunya kedua lelaki berewok itu, memang Kun
Hong kini sekaligus menghadapi tiga lawan yang tidak ringan.
Dia telah bersiap-siap untuk menyambut serangan. Karena dia

gusar sekali melihat tindakan lelaki berewok itu yang telah
main tendang kepada wanita sinting itu.
Tetapi, disamping itu, Kun Hong bukannya tidak menyadari
akan bahaya yang tengah mengancam dirinya. Dan walaupun
bagaimana dengan sekaligus menghadapi ketiga orang
lawannya itu. berarti dia harus lebih hati-hati dan
mencurahkan seluruh perhatiannya. Lengah sedikit saja,
berarti dia akan berurusan dengan eLMAUT.
Ketiga orang lelaki berewok itu telah menerjang
melancarkan serangan dari tiga jurusan, serangan juga
merupakan serangan yang mematikan dan merupakan
serangan yang mengincar bagian-bagian yang sekaligus bisa
membuat lawan menjadi mati atau bercacad seumur hidup, "
Dengan diserang dari tiga bagian, dari depan, pinggir kiri dan
kanan, maka Kun Hon harus memecahkan perhatiannya.
Tetapi dia sedikitpun tidak takut. Dengan mempergunakan
gerakan Tui Hong Soat Ie ( Mengejar Angin Memakai
baju Es ), tangannya telah berputar-putar dengan gerakan
yang cepat sekali.
Pukulan dan tangkisan-tangkisan yang dilancarkan oleh
Kun Hong merupakan gerakan yang tidak ringan dan
juga tidak dapat diremehkan, karena, sekali saja
mengenai sasaran, berarti bisa mendatangkan maut
untuk lawan-lawannya tersebut.
Jurus demi jurus telah berlangsung dengan cepat
sekali, sebentar saja telah belasan jurus. Tetapi
walaupun dikeroyok tiga orang seperti itu, kenyataannya
Kun Hong sama sekali tidak terdesak, dan dia telah
berhasil memberikan perlawanan yang gigih dan tangguh
sekali.
Ketiga lelaki berewok itu semakin lama jadi semakin
penasaran, mereka telah melancarkan serangan semakin
gencar dan hebat sekali disertai oleh maki-makiannya
yang kotor.

Pelayan dan kuasa rumah penginapan itu jadi panik,
berulang kali mereka berteriak-teriak memohon kepada
orang-orang yang tengah bertempur itu agar bertempur
diluar saja, sebab ia mengatakan modalnya kecil, jika
terjadi pertempuran seperti ini didalam ruangan, tentu
akan mendatangkan kerusakan dan berarti amblasnya
usahanya. Tetapi orang-orang yang tengah bertempur
itu mana melayani teriakan kuasa rumah penginapan,
mereka telah bertempur dengan hebat sekali dan
semakin lama gerakan mereka semakin cepat, sehingga
orang-- y-ang menyaksikan jalannya pertempuran itu
jadi kabur dan berkunang-kunang, karena tubuh mereka
itu seperti juga tiga sosok bayangan yang bergerakgerak
mengaburkan pandangan mata.
Saat itu Kun Hong mengeluh juga didalam hatinya
karena dia merasakan tekanan dari serangan ketiga
lawannya semakin berat dan semakin sulit dapat
menangkis serangan lawannya.
Tetapi lawan-lawan Kun Hong juga terkejut karena
walaupun mereka telah melancarkan serangan dengan
ilmu silat simpanan mereka, kenyataannya Kun Hong
berhasil bertahan dengan baik.
Disaat pertempuran itu tengah berlangsung disertai oleh
teriakan yang memekakkan anak telinga, tampak sesosok
bayangan yang berkelebat kearah keempat orang yang tengah
ber tempur itu, lalu disusul oleh suara jerit kesakitan dan
suara gedebag gedebug tidak hentinya.
Tampaklah suatu peristiwa yang mengejutkan, karena
ketiga lawan Kun Hong ternyata telan terlontar keluar dari
rumah penginapan itu, jatuh bergelimpangan dijalan raya.
Dengan cepat ketiga orang itu melompat bangun dan
mengawasi orang yang TELAH melemparkan mereka kejalan
raya.

Kun Hong juga menoleh kearah orang yang telah
menolongnya, dan hatinya jadi kaget bukan main, karena
orang yang telah merubuhkan ketiga lelaki berewok itu
dengan hanya sekali menggerakkan tangan tidak lain dari
wanita sinting... saat itu siwanita sinting tersebut telah tertawa
haha-hehe, dan telah duduk numprah sambil mempermainkan
ujung bajunya yang telah robek-robek.
Itulah ilmu „Kim Na Ciu" ilmu menangkap dan melempar,
yang luar biasa.
Dengan adanya peristiwa seperti itu, ternyata wanita
sinting itu memiliki kepandaian yang tinggi dan lwekang
yang sempurna sekali.
Kun Hong saking takjubnya telah memandang tertegun
ditempatnya.
Sedangkan ketiga lelaki berewok tersebut, yang telah
menerima pengalaman pahit yang tidak menggembirakan
seperti itu, telah mengawasi dengan murka, tetapi untuk maju
lagi mereka jeri.
Tunggulah, kami akan segera datang lagi !
“Sam Kiam Hun tidak pernah membiarkan begitu saja
setiap hinaan !" kata salah seorang diantara ketiga lelaki
berewok tersebut, lalu mereka telah memutar tubuh dan
melompat naik keatas kuda mereka segera dilarikan dengan
cepat sekali.
Sedangkan si wanita sinting itu seperti juga tidak
memperdulikan kepergian ketiga lelaki berewok itu Kun Hong
juga tidak mengejar atau menahannya, dia hanya mengawasi
saja kepergian ketiga lelaki berewok itu dengan hati yang
diliputi oleh berbagai perasaan.
Dengan lesu Kun Hong telah menghampiri wanita sinting
itu dan dia telah menjura,

„Terima kasih atas pertolongan yang diberikan oleh peebo!"
kata Kun Hong sambil membungkukkan tubuhnya. Tetapi
wanita sinting itu tidak melayani dia, hanya terus juga
mempermainkan ujung bajunya, sekali-kali terdengar dia
bersenandung perlahan ;. „Pasangan Wanyoh .... Mega
biru..... Laut bergelombang ..... ikan Leehi berpasangan; ....
Aduhai anak, aduhai anak .....".
Kun Hong telah memilih kata-kata untuk menarik perhatian
Wanita sinting itu, untuk diajak bercakap-cakap, karena Kun
Hong menyadari bahwa wanita tersebut tentunya seorang
wanita yang luar biasa, setidak-tidaknya kini muncul perasaan
kagum dihati Kun Hong, karena dengan hanya sekali
menggerakkan tangannya saja, ternyata wanita sinting itu
telah dapat melempar serentak ketiga lelaki berewok itu.
Namun belum lagi Kun Hong sempat mengucapkan katakatanya,
wanita sinting itu telah mengangkat kepalanya dan
memandang keluar pintu, wajahnya luar biasa sepasang
alisnya berkerut dan bibirnya bergetar.
„Ya.. . ya...., hanya dia yang dapat menolongku"
menggumam wanita itu perlahan sekali tetapi suaranya
mengesankan sekali.
„"Siapa .....?" tanya Kun Hong yang jadi tertarik, walaupun
dia yakin wanita itu memang sinting dan kata-katanya tentu
tidak keruan, namun karena cara bicara dari wanita itu, dia
ingin mengetahui siapakah, orang yang dimaksudkan oleh
wanita sinting itu, yang katanya hanya orang itu yang dapat
menolongnya. Wanita sinting itu tidak menoleh kearah, Kun
Hong hanya mulutnya bergerak-gerak menyebutkan
serangkaian kata-kata yang mengejutkan Kun Hong. „Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko ...! Ya, Sin Tiauw Taihiap Yo Ko ...!
Hanya dia yang dapat menolongi aku ,. . hanya dia yang bisa
membunuh dan membalas sakit hatiku terhadap manusiamanusia
biadab itu. ya hanya Sin Tiauw Taihiap"

Kun Hong menghela napas panjang. karena dia mengetahui
bahwa wanita sinting ini tentu ingin mengartikan jika ada Sin
Tiauw Taihiap Yo Ko yang bersedia membantunya, tentu sakit
hatinya terhadap orang-orang yang telah membunuh suami
dan anaknya itu dapat dibalas.
Tetapi kemana dia harus mencari Sin Tiauw Taihiap, karena
seluruh orang-orang gagah rimba persilatan umumnya
mengetahui setelah membinasakan Kaisar Mangu di
Siangyang, yang akhirnya merupakan kemenangan bagi pihak
tentara Song Yo Ko bersama orang-orang gagah lainnya
menghilang. Bersama-sama dengan Kwee Ceng, Oey Yong,
Oey Yok Su, It Teng Taisu, Ciu Pek Thong dan jago-jago
lainnya Yo Ko memang telah mendatangi gunung Hoa San
untuk menyambangi kuburan See Tok Auwyang Hong dan Pak
Kay Ang Cit Kong.
Dari Hoa San orang-orang gagah itu telah berpisah
mengambil jalannya masing-masing, Yo Ko dan Siauw Liong
Lie tidak terdengar kabarnya lagi, begitu juga Tong Shia Oey
Yok Soe maupun Lam Ceng It Teng Taisu, mendadak
semuanya seperti lenyap hilang dari dunia persilatan dan tidak
pernah terlihat lagi oleh siapapun juga. Peristiwa
berkumpulnya orang-orang gagah di Hoa San yang terakhir itu
telah terjadi tiga tahun yang lalu, dari sebegitu lama Kun Hong
belum pernah bertemu dengan orang-orang gagah itu, dan
hanya Kwee Ceng dan Oey Yong yang kemarin telah berhasil
dijumpainya secara kebetulan,
Kun Hong tidak bisa berpikir lebih lama lagi, karena
dilihatnya wanita sinting itu telah lompat berdiri dan berlari
keluar rumah penginapan sambil tertawa hahahihi. Pemuda
pelajar she Cu tersebut tidak bisa melakukan apa-apa selain
menghela napas panjang. hatinya terharu sekali memikirkan
nasib buruk wanita sinting itu. Jika tidak, tentu wanita itu
merupakan seorang pendekar wanita yang memiliki
kepandaian tinggi dan mengagumkan sekali.

Sambil duduk dikursinya menghadapi araknya Kun Hong
jadi berpikir juga, jika memang wanita sinting itu berhasil
ditunjuki jalan sehingga berhasil bertemu dengan Sin-Tiauw
Taihiap Yo Ko, tentu penyakit sinting wanita itu dapat
disembuhkan jago besar dijaman ini dengan mempergunakan
ilmu tunggal Tan Cie Sin Thong dan lwekang Yo Ko yang
sudah tiada taranya disaat ini,
Kun Hong jadi tidak berselera untuk berdiam lebih lama
diperkampungan tersebut, setelah menyelesaikan pembayaran
sewa kamarnya pemuda itu telah melanjutkan perjalanannya.
Dengan menunggang kudanya perlahan-lahan Kun Hong
mengambil arah barat. Angin dipagi itu sejuk dan matahari
belum naik tinggi, setelah berjalan belasan lie, dia tiba dlmuka
sebuah tegalan dan Kun Hong membiarkan kudanya
memamah rumput, sedang dia menikmati keindahan disekitar
tempat itu. Tetapi dalam kesunyian tempat itu tiba-tiba telinga
Kun Hong yang tajam telah mendengar benturan senjata
disertai oleh suara bentakan-bentakan.
Kun Hong jadi heran entah siapa yang tengah melakukan
pertempuran itu, Cepat-Cepat dia melarikan kudanya menuju
kearah suara benturan senjata tajam itu dan ketika dia tiba
disebuah tikungan dibalik sebungkah batu gunung yang cukup
tinggi, disebuah tanah datar tampak beberapa sosok tubuh
tengah berkelebat dengan gesit dan suara berkontrangan
benda logam yang semakin keras. Kun Hong melompat turun
dari kudanya dan memperhatikan dengan heran.
Terlebih lagi setelah dia memperoleh kenyataan seorang
lelaki tua berjenggot panjang menutupi sampai keperutnya
dan telah putih semuanya itu, tengah melompat kesana
kemari lincah luar biasa menghadapi serangan belasan orang
bertubuh tinggi tegap. Dengan suara jenaka laki-laki tua itu
telah berseru nyaring, „Maju ayoh maju. kalau sekarang kalian
bermaksud melarikan diri itupun sudah tidak bisa akan kujamu

kalian seorangnya dengan secawan air kencing !” Jenaka
sekali cara berkata-kata orang tua berjenggot panjang itu :
Yang luar biasa adalah gerakannya yang selalu dapat
mengelakkan dengan mudah serangan dari lawannya. Tanpa
mempergunakan senjatanya orang tua berjenggot itu
melompat kesana kemari dengan sekali-kali menyentil senjata
lawan lawannya, sehingga senjata itu saling bentur sendirinya
diantara lawan-lawannya. Suara berkontrangan berasal dari
saling benturan senjata belasan orang lawan sikakek tua
berjenggot panjang itu amat berisik sekali.
Kun Hong mengerutkan alisnya, dia berdiri heran bukan
main melihat kepandaian sikakek yang begitu luar biasa.
Walaupun belasan orang lawan sikakek itu seperti dapat
dipermainkan oleh kakek itu dengan mudah, kenyataannya
kepandaian belasan orang itu bukan kepandaian yang rendah,
Kun Hong melihatnya, mungkin jika dirinya menghadapi satu
atau dua orang dari lawan kakek itu, dia tidak akan sanggup.
„Dengan kepandaian seperti ini kalian mau mengadu
kepandaian dengan merundingkannya di Hoa San benar-benar
bukan urusan yang lucu ! Ayo aku Loo Boan Tong akan
memperlihatkan kepada kalian apa yang disebut ilmu kucing !
Dan membarengi dengan perkataannya itu, kakek tua itu
dengan sikap yang luar biasa dengan sepasang tangan
diangkat sebatas bahunya dan mimik muka yang jenaka serta
memperdengarkan suara "meoong", tahu-tahu kedua
tangannya mencakar kesana kemari, dan yang lebih luar biasa
beberapa orang lawannya telah terpental dan senjata mereka
jatuh ketanah tanpa berdaya untuk bertahan, tubuh keempat
orang yang terpental itu bergulingan ditanah dengan
mengeluarkan suara jeritan kaget bercampur kesakitan.
Kakek tua itu telah tertawa bergelak-gelak, sedangkan sisa
lawan-lawannya mengawasinya dengan pancaran mata bengis
mengandung kemurkaan bukan main.

„Loo Boan Tong, tidak perlu kau terlalu sombongkan diri
dengan kepandaianmu itu, karena kami belum tentu akan
menyerah !" bentak salah seorang diantara lawannya yang
memakai pakaian sebagai seorang petani, bahkan telah
melancarkan serangannya dengan mempergunakan garunya
yang akan menggaruk kepala Loo Boan Tong, kakek tua
berjenggot yang jenaka itu.
Dengan disertai tertawanya yang jenaka, Loo Boan Tong
melejit kesamping, tahu-tahu tangan kanannya mencakar dan
mencengkeram garu orang itu. „Takk !" patahlah garu itu
menjadi tiga. Dan disaat orang itu belum lenyap kagetnya,
tahu-tahu kakek tua berjenggot itu telah mengibaskan
tangannya, maka tanpa ampun lagi orang yang berpakaian
seperti petani itu merasakan dadanya seperti, dihantam oleh
tenaga yang ratusan kati, tanpa ampun lagi dia rubuh
terjengkang kebelakang.
Untung saja orang itu memiliki kepandaian yang tinggi,
sebab dia telah berhasil berdiri tetap lagi:
Kun Hong yang menyaksikan semua itu jadi berdiri
bengong, hatinya tergoncang. Dia mendengar disebutsebutnya
"Loo Boan Tong" maka dia jadi teringat seseorang.
Bukankah orang tua berjenggot panjang iti Ciu Pek Thong.
Loo Boan Tong situa jenaka yang kini telah memperoleh
kedudukan sebagai salah seorang jago diantara Ngo Ciat (lima
jago luar biasa) ?
Bukankah kini disamping Oey Yok Su yang duduk sebagai
Tong Shia, It Teng Taisu sebagai Lam Ceng (pendeta Selatan)
sebelum pertemuan terakhir It Teng Taisu duduk sebagai Lam
Tee (Kaisar dari selatan) Yo Ko duduk sebagai See Kong
menggantikan kedudukan See Tok Auwyang Hong „ Kwee
Ceng sebagai Pak Hiap menggantikan Pak Kay Ang Cit Kong,
dan Ciu Pek Thong sebagai Tiong Boan Tong. Tentu saja,
dengan disejajarkan sebagai salah seorang dari kelima jago

luar biasa dljaman itu, bisa dimengerti kepandaian Loo Boan
Tong bukan main hebatnya.!
Disamping itu, karena sikapnya yang usil dan nakal, Ciu Pek
Thong seringkali menemui berbagai kesulitan. Memang
pertemuannya dengan Eng Kauw telah membawa perobahan
sedikit didiri Ciu Pek Thorg, namun jago tua ini tetap saja tidak
bisa melenyapkan sifat ke kanak-kanakannya.
Hari itu, Ciu Pek Thong tengah melakukan perjalanan ke
Hoa San untuk mencari Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Siauw
Liong Lie, yang telah berjanji dengannya untuk bertemu
disana guna menyembayangi kuburan Auwyang Hong dan Ang
Cit Kong, Tetapi ditengah perjalanan justru dia menemui
kejadian yang membuat hatinya jadi mendongkol bukan main,
yang telah meng kilik-kilik hatinya, yang nakal. Disebuah kedai
arak dikota Siang bun kwan secara kebetulan Ciu Pek Thong
mendengar percakapan belasan orang-orang yang tengah
makan minum dengan suara yang berisik sekali.
Semula Ciu Pek Thong tidak mengacuhkan mereka, namun
akhirnya disaat diantara belasan orang itu telah menyebutnyebut
nama Sin Tiauw Taihiap Yo Ko dan Kwee Ceng Taihiap
dengan suara yang lantang, maka Ciu Pek Thong jadi tertarik.
„Hemmm, dulu memang mereka bisa disebut sebagai jagojago
tiada tara di jagat ini namun sekarang...? Yang sudah
pasti gelombang dibelakang mendorong gelombang yang
didepan jelas bukan ?. Maka kini dari angkatan muda telah
muncul jago-jago yang memiliki kepandaian tidak dibawahnya
Yo Ko dan Kwee Ceng.
Kita akan merundingkan ilmu silat di Hoa San, dan kelak
kita akan perlihatkan hasil perundingan itu, siapa
sesungguhnya yang tinggi dan siapa yang rendah" kata salah
seorang diantara belasan orang itu dengan suara yang
nyaring.

Kawan-Kawannya tertawa bahkan salah seorang di antara
mereka telah menimpalinya „Benar! Tepat! Jika kita telah
selesai mengadakan perundingan ilmu di Hoa San kita boleh
menantang Yo Ko dan Kwee Ceng, atau kalau perlu Oey Yok
Su dan It Teng Taisu biarlah mereka melihat siapa
sesungguhnya yang memiliki kepandaian tertinggi dijaman ini.
Kata-Kata itu diakhiri dengan seruan-seruan dan tetaawa
gembira diantara belasan orang itu. Bahkan ada juga yang
terkebur merendah-rendahkan Yo Ko dan orang gagah lainnya
yang dipandang rendah inilah urusan yang luar biasa bagi Loo
Boan Tong karena umumnya orang rimba persilatan telah
mengetahui bahwa kepandaian Yo Ko, It Teng, Oey Loshia,
Kwee Ceng dan para jago lainnya dalam golongan Ngo Ciat
dan semuanya merasa takluk. Tetapi hari ini juga justru Ciu
Pek Thong mendengar belasan orang tersebut seperti tidak
memandang sebelah mata dan meremehkan jago-jago dari
golongan Ngo Ciat itu; bukankah suatu peristiwa yang luar
biasa? Siapakah belasan orang yang tidak mengetahui
tingginya langit dan dalamnya bumi itu? Dan yang terutama
sekali membuat tangan Ciu Pek Thong jadi gatal justru
namanya tidak di sebut-sebut Bukankah kini dia merupakan
salah satu dari Ngo Ciat ? Bukankah dia sebagai Tiong Boan
Tong?
Disaat itulah Ciu Pek Thong telah mengambil keputusan
untuk mempermainkan belasan orang tersebut. Dengan
tenang Ciu Pek Thong telah melanjutkan meneguk araknya
perlahan-lahan Dihitung-hitungnya dia menjanjikan Yo Ko dan
Siauw Liong Lie untuk bertemu di Hoa San di harian Cit Gwe
Ce-Sah ( tanggal tiga bulan tujuh ) dan hari itu baru Lak-Gwe
Cap-Go ( Tanggal Lima belas bulan enam ) maka dia masih
memiliki waktu delapan belas hari. Sedangkan dari kota
Siang-bun kwan untuk mencapai Hoa San hanya
memerlukan sebelas atau dua belas hari, maka berarti
Ciu Pek Thong masih memiliki waktu luang lima enam
hari.

Dia bermaksud untuk main-main dulu, untuk
mempermainkan belasan orang yang seperti ingin
menaklukan langit itu, karena Ciu Pek Thong penasaran
sekali mendengar percakapan mereka itu, ingin sekali ia
melihatnya sesungguhnya berapa tinggi kepandaian yang
dimiliki belasan orang-orang tersebut yang berani
menyatakan bahwa Yo Ko dan jago-jago golongan Ngo
Ciat berada dibawah mereka ?.
Belasan orang itu masih terus makan dan minum
dengan gembira, suara mereka berisik sekali.
Semakin mendengar percakapan mereka hati Ciu Pek
Thong semakin di kilik-kilik. karena selama itu tetap juga
dia tidak pernah mendengar namanya disebut walapun
hanya satu kali.
Hal itu membuat Ciu Pek Thong Sangat penasaran sekali
dan dia menduga mungkin belasan orang itu menganggap Ciu
Pek Thong adalah manusia yang tidak layak dibicarakan
karena kepandaiannya yang rendah.
Karena penasaran, akhirnya muncul sifat jailnya.
Diambilnya tahang arak, yang sebesar tiga kepalan tangan,
lalu dibawa kekolong meja. Perlahan-lahan dia menuangkan
arak kedalam guci itu keatas lantai; sehingga guci arak itu
kering. Dibuka tali celananya dan Ciu Pek Thong kencing
kedalam guci itu, setelah guci itu penuh oleh air kencingnya
dia mengikat kembali tali celananya, dengan tenang Ciu Pek
Thong bangkit dari duduknya menghampiri meja belasan
orang itu.
„Sahabat-Sahabat aku, si tua Sejak muda gemar sekali ilmu
silat. walaupun tidak pernah mempelajarinya, namun senang
untuk mendengarinya.
Tadi lohu (aku si tua) mendengar para enghiong dan hohan
(orang gagah) membicarakan masalah kalangan Kangouw,
betapa kagumnya aku situa, sebab tentunya Enghiong dan

Hohan merupakan jago-jago luar biasa... sebab Yo ko, Kwee
Ceng atau yang lainnya tidak ada dimata kalian. Ingin sekali
aku memberi hormat dengan masing-masing secawan arak."
Tentu saja belasan orang itu girang mendengar pujian Ciu
Pek Thong, mereka meng angguk-angguk dengan sombong.
„Siapa namamu, tua bangka ?" tegur salah seorang
diantara belasan orang itu dengan suara yang sombong sekali,
karena dia menduga Ciu Pek Thong sebagai kakek-kakek tua
yang gila basa untuk urusan ilmu silat, dan tadi orang tua itu
telah memanggil mereka dengan sebutan enghiong dan
hohan, orang-orang gagah, tentu saja mereka semakin
sombong dan karena kesombongan mereka itu telah melewati
takaran, tidak mengherankan jika salah seorang diantaranya
mereka sampai ada yang menyebut Ciu Pek Thong dengan
sebutan ,tua bangka'
Waktu pertama kali mendengar panggilan „tua bangka"
seperti itu, Ciu Pek Thong tertegun, hatinya mendongkol
bukan main tetapi kakek tua ini bukan Loo Boan Tong jika dia
tidak jenaka cepat-cepat dia nyengir sambil manggut-manggut
kan kepalanya.
„Namaku buruk sekali, seperti yang tadi enghiong
sebutkan, yaitu Lauw La ( tua bangka ) kata Ciu Pek Thong.
Keruan saja belasan orang itu jadi tertawa geli. Dengan
mendongkol Ciu Pek Thong berpikir, „Lihat saja nanti setelah
kalian minum arak istimewaku !"
Dengan cepat Ciu Pek Thong mempersiapkan cangkircangkir
itu.
Begitu ,,arak istimewa" Ciu Pek Thong mengisi penuh
cawan-cawan tersebut, seketika itu juga harum semerbak
yang „halus" menerjang disekitar tempat tersebut. Tetapi
karena belasan orang itu, tepatnya keempat belas orang itu,
tengah bergirang oleh pujian situa yang nakal ini, mereka

tidak memperlihatkan ..harum semerBak” dari arak
istimewanya Ciu Pek Thong.
„Silahkan, silahkan" kata Ciu Pek Thong cepat, „Untuk
kegagahan kalian enghiong dan hohan...!”
Dengan serentak keempat belas orang itu telah
mengangkat cawan mereka masing-masing, sekali gus
meneguk isinya. Tetapi begitu arak istimewa itu berpindah
keperut, keempat belas orang "gagah" itu jadi berobah, mata
mereka mendelik, dan „Uahh !" semuanya berusaha
memuntahkan kembali apa yang telah mereka minum tadi.
Ciu Pek Thong tidak tanggung-tanggung mempermainkan
keempat belas orang tersebut, dia tidak tertawa, bahkan
memperlihatkan sikap terkejut.
„Ihh, ada yang tidak beres?" tanyanya memperlihatkan
sikap terheran-heran.
„Arak......... arak apa yang kau berikan kepada kami ?"
tegur, dua orang diantara keempat belas orang itu yang telah
berhasil memuntahkan sebagian arak istimewa yang telah
mereka minum"
„Arak apa ? Tentu saja arak istimewa, arak nomor satu
didunia' menyahuti Ciu PekA Thong.
„Tetapi mengapa arak ini berbau demikian macam ?" tanya
orang itu sambil mengerutkan alisnya dan melirik kearah
beberapa orang kawannya yang tengah muntah-muntah.
„Bau apa Taihiap ?" tanya Ciu Pek Thong. „Se........seperti
bau ......." tetapi orang itu ragu-ragu untuk menyebutkannya.
Seorang kawannya yang baru saja muntah telah berteriak
gusar ; „Seperti bau air kencing?"
Seketika itu juga Ciu Pek Thong tidak bisa menahan
tertawanya lagi, meledaklah tertawa situa yang nakal ini.

„Benar ! Benar ! Aku sudah tua dan pikun ! Memang aku
salah mengambil guci, ternyata guci ini terisi air kencingku.
Maaf, aku tua ternyata telah salah memberikan hormat......”
Keruan saja muka keempat belas orang itu jadi berobah
merah padam karena murka. Dengan bengis dua orang itu
diantara mereka telah menerjang kedepan Ciu Pek Thong
dengan maksud mencengkeram dan menghajar situa.
Tetapi Ciu Pek Thong tetap tertawa dan berdiri
ditempatnya disaat kedua orang itu telah menyambar dekat,
dengan gerakan seenaknya tangannya telah digerakkan dan
tidak ampun lagi kedua orang itu terpental dan bergulingan
ambruk dilantai.
Kedua belas kawan-kawannya jadi terkejut, tetapi
kemudian mereka tersadar dengan murka dengan cepat
beberapa orang diantara mereka telah mencabut senjata
mereka, ada yang mencekal golok dan pedang, dengan bengis
menabas dan membacok Ciu Pek Thong.
Tetapi situa nakal yang memang sengaja hendak
mempermainkan keempat belas orang tersebut, tidak ingin
menimbulkan kegaduhan didalam rumah makan tersebut,
sambil tetap tertawa geli ter pingkal-pingkal, Ciu Pek Thong
telah menjejakan kakinya kelantai, tubuhnya bagaikan seekor
burung telah melompat keluar. Hal ini di lakukan oleh Ciu Pek
Thong disebabkan dua soal. Persoalan pertama untuk
mencegah kerugian pihak rumah makan jika terjadi kerusakan
rumah makan itu oleh pertempuran, kedua memang Ciu Pek
Thong ingin memancing belasan orang itu kesuatu tempat
yang sepi, untuk menghajar mereka sepuas hati.
Kejar....jangan biarkan dia lolos!" berseru belasan orang itu
dengan murka dan mereka telah melompat mengejar
secepatnya.

Ciu Pek Thong sengaja tidak berlari cepat dia sengaja agar
keempat belas orang itu tetap dapat mengikutinya dan tidak
kehilangan jejak.
„Hemmm, dengan memiliki kepandaian cakar kucing
seperti itu ingin menjagoi?" menggumam sikakek sambil
berlari seenaknya. ,Sungguh tidak tahu tingginya langit dan
dalamnya bumi..... !"
Walaupun Ciu Pek Thong berlari seenaknya tetapi keempat
belas orang yang telah dipermainkannya itu tetap saja tidak
berhasil mengejar mendekatinya.
Tentu saja keempat belas orang itu jadi penasaran bukan
main, dengan mengeluarkan seruan-seruan bengis mereka
berusaha untuk mengejar! lebih dekat lagi.
Dalam sekejap mata saja mereka telah berlari belasan lie,
tetapi Ciu Pek Thong tetap tidak menghentikan larinya.
„Tua bangka, jika kau tidak mau berhenti juga, kami jangan
dipersalahkan menurunkan tangan terlalu kejam.,.!" teriak
beberapa orang di antara pengejarnya itu.
Ciu Pek Thong hanya memperdengarkan suara tertawa
mengejek sambil berlari terus kemudian disusul oleh katakatanya.
,,aku Lauw Lo memang sudah hampir mampus jika
memang kalian ingin membuat Lauw Lo ini pergi ke Giam
Lo Ong silahkan, silahkan”
Tentu saja keempat belas orang itu semakin penasaran
saja, karena walaupun bagaimana mereka merasakan
diri mereka sebagai jago-jago yang memiliki Kepandaian
tinggi, dimana mereka merupakan murid-murid pandai
dari beberapa pintu perguruan yang memiliki nama
terkenal dalam kalangan Kangouw. Tetapi kini dengan
demikian mudah mereka telah dipermainkan oleh
seorang tua bangkotan seperti itu, bahkan merekapun
telah terlanjur meneguk ‘arak istimewa’ air kencingnya
Ciu Pek Thong. Malu yang diderita oleh mereka tentu saja

tidak akan terhapus jika tidak oleh kematian si tua yang
nakal itu, Mati-Matian mereka tetap mengejarnya dan
berusaha menangkap Ciu Pek Thong.
Disebuah tanah datar itulah Ciu Pek Thong baru
menghentikan larinya dan melabrak serta
mempermainkan belasan orang tersebut. Dengan mudah
Ciu Pek Thong telah menghajar pulang pergi keempat
belas orang itu, yang tidak berdaya sesuatu apapun juga
untuk melakukan serangan membalas.
Waktu Ciu Pek Thorg me nyebut-nyebut Loo Boan Tong.
muka keempat belas orang itu berubah, Kun Hong melihat
tampaknya lawan-lawan Ciu Pek Thong terkejut bukan main,
bahkan mereka telah melompat mundur dan mengawasi Ciu
Pek Thong dengan mata terpentang lebar-lebar.
„Kau...kau Loo Boan Tong, Ciu Pek Thong” tanya beberapa
orang diantara mereka dengan suara yang agak gugup. Ciu
Pek Thong tertawa nakal.
„Benar, justru akupun situa bangka memang ingin pergi ke
Hoa San untuk menemui sahabatku, Yo Ko dan isterinya, Kami
telah berjanji untuk bertemu disana dan kebetulan sekali
kalian memang ingin berkumpul di Hoa San untuk
merundingkan ilmu silat, mari, mari kita melakukan perjalanan
ber sama-sama aku agar tidak akan kesepian lagi.
Muka keempat belas orang itu jadi berubah pucat mereka
telah mundur beberapa langkah dan salah seorang diantara
mereka yang berpakaian sebagai petani, telah menjura
memberi hormat.
“Ciu Locianpwe, kami benar-benar tidak memiliki
pengetahuan dan walaupun memiliki mata namun kami
buta tidak bisa melihat tingginya gunung Thian San. Biarlah
hari ini kami telah menerima petunjuk locianpwe, kelak kami
akan meminta lagi petunjuk-petunjuk locianpwe...!" dan
setelah berkata begitu, dia telah memberi isyarat kepada

kawan-kawannya, tanpa menantikan jawaban Loo Boan Tong
mereka telah memutar tubuh dan berlari meninggalkan
tempat tersebut.
Loo Boan Tong tertawa bergelak karena puas dan
gembira telah mempermainkan keempat belas orang yang
besar mulut itu.
Tetapi disaat Kun Hong bermaksud untuk menghampiri dan
belajar kenal dengan jago tua yang luar biasa itu, tiba-tiba
ditengah udara terdengar suara berkesiuran yang keras
dicampur oleh dengung yang cukup menyakitkan anak telinga,
sebatang anak panah tampak melayang ke tengah udara
tinggi sekali, lalu disusul dikejauhan tampak seorang
penunggang kuda yang tengah melarikan kuda
tunggangannya itu dengan cepat.
Ciu Pek Thong yang melihat itu, jadi mengerutkan alisnya,
dia men duga-duga entah siapa penunggang kuda yang
tengah menghampirinya itu. Dilihat dan cara orang itu
melepaskan anak panahnya ketengah udara dengan kekuatan
lempar yang demikian kuat tentunya penunggang kuda itu
bukan orang sembarangan.
Dengan cepat penunggang kuda itu telah tiba dihadapan
Ciu Pek Thong, kudanya berhenti ketika tali lesnya digentak
keras.
Kun Hong terkejut ketika melihat betapa penunggang kuda
itu berpakaian agak luar biasa. Begitu juga halnya dengan Ciu
Pek Thong, karena penunggang kuda itu berpakaian sebagai
seorang pendeta, dan jubahnya yang lebar itu memperlihatkan
dia adalah seorang pendeta Mongolia
Inilah yang luar biasa. Sejak kekalahan pasukan perang
tentara Mongolia yang terpukul mundur dari kota Siangyang
sudah memaksa Kublai menarik pasukannya mundur pulang
kenegerinya, tidak pernah ada orang Mongolia yang

berkeliaran diudara Tionggoan. Mungkin pendeta inilah, yang
pertama berani menginjakkan kakinya didaratan Tionggoan.
Pakaiannya sudah luar biasa, muka pendeta Mongolia itu
lebih luar biasa lagi. Sepasang alisnya hitam tebal, raut wajahnya
persegi empat, matanya yang besar tampak bersinar
tajam dan agak licik, hidungnya mancung dan bibirnya tipis.
Pendeta ini memelihara jenggot tipis didagunya dan lengannya
berbulu. Waktu kudanya itu berdiri dihadapan Ciu Pek Thong,
justru pendeta Mongolia itu telah melompat turun dengan
gerakan yang ringan dan GESIT.
Melihat cara pendeta itu melompat turun Ciu Pek Thong
jadi terkejut, karena dia melihat waktu sepasang kaki pendeta
Mongolia itu menyentuh tanah, sedikitpun tidak menimbulkan
suara; Tentu saja hal itu telah membuktikan bahwa ilmu
meringankan tubuh dari pendeta tersebut sempurna sekali.
Dan yang membuat Ciu Pek Thong memandang tertegun
justru pendeta asing tersebut mengingatkan Ciu Pek Thong ke
pada Kim Lun Hoat-ong, pendeta Mongolia yang telah
menemui kematian didasar jurang.
Dengan jubah yang besar longgar dan cupu diatas
kepalanya yang gundul, benar-benar merupakan kesan yang
kuat untuk mengingat Kim Lun Hoat ong.
„Eh monyet", bentak pendeta asing itu dengan suara yang
garang waktu melihat Ciu Pek Thong hanya tertegun
menatapnya. „Hudya ingin bertanya sesuatu kepadamu".
Ciu Pek Thong seperti baru tersadar dari bengongnya, dia
jadi tertawa sendiri mengingat bahwa dia bisa kesima karena
teringat kepada Kim Lun Hoat-ong, Tetapi mendengar dirinya
dipanggil dengan sebutan "monyet" darahnya jadi meluap.
„Boleh, boleh" menyahuti Ciu Pek Thong cepat, "Urusan
apakah yang ingin ditanyakan oleh Hud ong (Budha hidup)?".
„Tiga tahun yang lalu telah terjadi pertempuran antara
pasukan Song dengan tentara perang Mongolia yang besar,

dalam pertempuran itu ikut serta adik seperguruan Hudya,
yang ber gelar Kim Lun Hoat-ong, yang sampai kini belum
kembali ke utara, Apakah kau pernah dengar mengenai adik
seperguruan Hudya itu".
Melihat pendeta itu memiliki kepandaian tinggi dan
sempurna, terlebih lagi kini mengetahui bahwa pendeta itu
adalah kakak seperguruan Kim lun Hoat-ong. yang pasti
kepandaiannya hebat sekali maka Ciu Pek Thong berlaku hatihati.
Tetapi memangnya Loo Boan Tong nakal dia tetap saja
ingin mempermainkan pendeta itu, sama halnya ketika
beberapa tahun yang lalu dia pernah mempermainkan Kim
Lun Hoat-ong.
„Pernah, pernah, aku simonyet memang pernah mendengar
tentang Kim Lun Hoat-org!" kata Ciu Pek Thong kemudian.
Muka pendeta itu tampak berubah terang sambil tersenyum
agak menyeramkan, suara yang agak menurun lunak dia telah
bertanya lagi „Cepat kau katakan, dimana sekarang ini adik
seperguruanku itu berada, Hudya akan memberikan hadiah
kepadamu lima tail emas'
„Tetapi Hud ong, aku simonyet benar-benar takut, untuk
mengatakannya, nanti Hud ong Kim Lun Hoat-ong murka,
kata Ciu Pek Thong Sambil memperlihatkan sikap seperti
ketakutan dan bimbang.
„Katakan aku jamin tidak nantinya adik seperguruanku itu
akan bergusar oleh keterangan mu, bahkan mungkin juga dia
akan gembira dan senang sekali melihat aku menjemputnya
untuk pulang ke-utara dan akan menghadiahkan beberapa tail
emas lagi", kata sipendeta lagi.
„Benar-Benarkah Hud-ong sebagai kakak seperguruan Kim
Lun Hoat ong!" tanya Ciu Pek Thong
Muka pendeta itu jadi berobah.

“Rewel benar kau?" bentaknya. „Mustahil Hudya ingin
mendustai monyet buduk seperti kau ini ? Hudya bergelar Tin
To Hoat Ong cepat kau sebutkan dimana beradanya adik
seperguruan Hudya, jangan membuat Hudya bergusar".
"Mana berani, mana berani aku simonyet buduk
menggusarkan Hudya ? Sesungguhnya sejak tiga tahun yang
lalu Kim Lun Hoat-ong hanya berpelesiran setiap hari
didampingi oleh wanita cantik"
Mendengar Ciu Pek Thong berkata sampai disitu. sipendeta
yang mengaku sebagai kakak seperguruan Kim Lun Hoat-ong
dan bergelar Tjat To atau Golok Besi Hoat-ong, telah meng
geleng-kan kepalanya dengan sikap jengkel.
„Lwekangnya tentu akan mengalami kemunduran yang
hebat jika Kim Lun selalu mendekati wanita . . "
menggumam pendeta itu dengan suara yang perlahan
kemudian dia telah menoleh kepada Ciu Pek Thong dan
telah berkata lagi dengan suara yang agak keras: „Cepat
katakan bagaimana keadaannya!"
“Tentu saja keadaan Hud-ong Kim Lun Hoat Ong
sangat nyaman, dia tidak perlu makan tidak perlu
minum, tidak perlu berpakaian, dan tidak perlu
memikirkan uang atau segalanya."
„Maksudnya adik seperguruanku ini dilayani
sedemikian baiknya oleh wanita-wanita cantik itu" tanya
Tiat To Hoat-ong tidak sabar.
Tepat, Bahkan disamping wanita-wanita cantik yang
melayani Kim Lun Hoat-ong terdapat juga manusiamanusia
berkepala kerbau dan kuda. . . semua nya patuh
sekali melayani.
„Ihhh . berseru pendeta itu heran bukan main. Dia
bicara dengan bahasa Han yang kaku, sekarang dia
tengah kaget, tentu saja suaranya jadi lucu terdengar,
„Manusia berkepala kuda dan berkepala kerbau!"

„Benar, itulah keadaan yang menyenangkan sekali."
„Kau tahu tempatnya? Cepat antarkan aku kesana!" kata
Tiat To Hoat-ong tidak sabar.
„Tunggu dulu, jika Hud-ong yang hendak pergi kesana, aku
tentu saja tidak berani melarang, silahkan...tetapi .....tetapi
jika aku diajak ke sana, tunggu dulu, tidak nantinya aku mau
karena aku simonyet buduk memang masih doyan makan
nasi."
„Memangnya tempat itu tempat apa sehingga kau tidak
mau kesana?" tegur Tiat To Hoat-ong mulai curiga melihat
sikap Ciu Pek Thong.
„Orang-Orang biasanya menyebutnya sebagai tempat
berpulang manusia-manusia yang sudah „bosan makan nasi,
tempat duduk, bersemayamnya Giam-loo-ong" menyahuti Ciu
Pek Thong perlahan, tetapi sikapnya sungguh-sungguh.
„Apa?" teriak Tiat To Hoat-ong gusar, „kau,.... kau
maksudkan neraka?"
„Begitulah kurang lebih artinya..." menyahuti Ciu Pek
Thong dengan sikap yang tenang sekali.
„Jadi .. adik seperguruanku itu telah dibunuh seseorang ?"
Suara Tiat To Hoat ong jadi meninggi.
„Bisa diartikan begitu juga." menyahuti Ciu Pek Thong
jenaka. „Bukankah tadi aku simonyet buduk telah
memberitahukan bahwa Kim Lun Hoat ong kini sudah tidak
perlu sibuk-sibuk makan nasi dan tidak perlu sibuk-sibuk
berpakaian?"
Muka Tiat To Hoat-ong tampak merah padam, rupanya dia
murka bukan main. Dengan menggeluarkan suara seruan
mengguntur yang menyeramkan, dia telah mengangkat
tangan kanannya, akan menghamtam. kepala Ciu Pek Thong
dengan hantaman yang kuat.

Ciu Pek Thong memang telah bersiap sedia dan
berwaspada sejak tadi; karena dia menyadari bahwa pendeta
tersebut memiliki kepandaian yang luar biasa sekali dan tidak
bisa dipermainkan serangannya. Waktu telapak tangan
pendeta dari Mongol itu turun kearah kepalanya, Ciu Pek
Thong merasakan tekanan tenaga serangan meliputi ribuan
kati.
Itulah kekuatan tenaga dalam yang benar-benar terlalu luar
biasa, hati Ciu Pek Thong sendiri tergetar, karena dia
memperoleh kenyataan bahwa kepandaian dan tenaga dalam
Tiat To Hoat Ong jauh lebih sempurna dari adik
seperguruannya.
Ciu Pek Thong mengetahui itu, yang karena dia pernah
bertempur dengan Kim Lun Hoat ong, yang tenaganya telah
dijajakinya; dan kini dia bisa memperbandingkan dengan
kekuatan tenaga dalam Tiat To Hoat-ong, yang tentunya jauh
lebih hebat, sehingga mengejutkannya. Tanpa berani berayal
Ciu Pek Thong, mengempos tenaga dalamnya kepundaknya,
dan dengan tangan kanannya dia menyentil.
Tangan Tiat To Hoat-ong yang berukuran besar dan
bertulang kasar, disamping lebat ditumbuhi bulu dan meluncur
dengan kekuatanya yang luar biasa, tentu saja bukan
merupakan, serangan yang sembarangan. Kun Hong yang
menyaksikan peristiwa tersebut dari kejauhan jadi terkejut
waktu melihat Ciu Pek Thong hanya menyambuti dengan
sentilan jarinya belaka. Tentu akan celakalah Ciu Pek Thong
kalau tidak berhasil mengelakkan serangan dahsyat itu.
Namun Ciu Pek Thong justru tidak takut walaupun dia
melihat lawannya memiliki kepandaian yang hebat seperti itu.
Dia sambil menyentil masih sempat untuk berjenaka mengejek
pendeta itu. ”Eittt, jangan menyentuh tubuh simonyet
budukan, nanti kau ketularan dan menjadi budukan pula."
Tentu saja Tiat To Hoat-ong tambah murka, terlebih lagi
telapak tangannya yang terkena sentilan jari telunjuk Loo

Boan Thong seperti ditusuk oleh semacam tenaga yang halus,
namun menusuk sampai keulu hatinya disamping itu sasaran
telapak tangannya jadi miring dan menghantam tempat
kosong. Ciu Pek Thong masih berdiri tegak ditempatnya.
Keruan Tiat To Hoat ong jadi memandang tertegun. Semula
dia menduga Ciu Pek Thong adalah seorang penduduk biasa
didaerah tersebut tetapi melihat cara Ciu Pek Thong
memusnahkan serangannya itu, dia segera mengetahui bahwa
Ciu Pek Thong memiliki kepandaian yaag tidak berada di
bawahnya.
Bagi jago-jago kelas satu, dalam segebrakan saja
sudah dapat untuk mengukur kekuatan lawan. Maka
begitu juga dengan Tiat To Hoat-ong, yang telah
mengeluarkan suara tertawa mengejeknya dan disertai
dengan bentakan, tahu-tahu tangan kirinya diulurkan
dengan cara mencengkeram yang aneh licin seperti
belut, karena, dia mempergunakan jurus Yoga
sedangkan tangan kanannya telah meluncur akan
menotok jalan darah su-sie-hiat dipinggang Ciu Pek
thong.
Ciu Pek Thong tidak takut sedikitpun juga walaupun
dia mengetahui bahwa lawannya ini sangat hebat sekali
kepandaiannya. Bahkan Loo-BoanTong girang sekali bisa
menemui lawan berat seperti Tiat To Hoat ong. Dia
memang sudah lama tidak pernah menemui tandingan
yang setimpal, sehingga tangannya terasa gatal sekali
dengan berhadapan lawan seperti Tiat To Hoat ong,
terbangkitlah semangatnya.
Melihat Tiat To Hoat Ong melancarkan serangan yang
hebat seperti itu, dengan menggerakkan kedua kakinya
seperti orang menari, tahu-tahu Ciu Pek Thong telah
berada disisi Tiat to Hoat-ong, dan tangan kanannya
disalurkan untuk menjambak jalan darah Tiang-bu-hiat
di punggung sipendeta.

Tentu saja pendeta itu jadi mengeluh murka, karena dia
merasa dirinya dipermainkan oleh lawannya. Dinegerinya, dia
selain sebagai Guru Negara dan diakui sebagai jago nomor
satu, juga sebagai penasehat raja. Kim Lun Hoat-ong sendiri
masih berada dibawahnya beberapa tingkat dan sering
meminta petunjuk-petunjuk ilmu Yoga sebelum adik
seperguruannya itu ikut rombongan Mangu kedaratan
Tionggoan.
Kini seorang kakek tua seperti Ciu Pek Thong ternyata bisa
mempermainkan dirinya demikian rupa, dimana setiap
serangannya telah gagal, tentu saja. membuat pendeta
Mongolia itu jadi murka sekali.,
Selama dua puluh tahun terakhir ini, selama Tiat To Hoatong
berada dinegerinya, jarang sekali dia turun tangan untuk
bertempur dengan jago-jago manapun juga. Tetapi jika
muncul jago yang tidak terkalahkan dan terpaksa dia turun
tangan sendiri, tentu tidak lebih dari tiga jurus dia akan
berhasil merubuhkan jago itu. Maka tidak mengherankan jika
nama Tiat To Hoat-ong sangat dihormati dan disegani oleh
seluruh jago-jago di Mongolia, bahkan Kim Lun Hoat-ong
patuh sekali terhadap kakak seperguruannya ini.
Disamping Tiat To Hoat-ong telah menguasai ilmu
Yoga dengan sempurna benar, diapun te lah mengubah
semacam ilmu golok yang digubahnya dari ilmu golok
asal India, tidak. mengherankan, disamping sombong
dan tidak pernah memandang sebelah mata kepada jago
manapun juga, Tiat To Hoat ong selalu bertindak,
sekehendak hatinya. Rajanya pun tidak berani melarang
sesuatu apapun, bahkan untuk mencegah Tiat To Hoat
ong menimbulkan kerusuhan, sengaja Tiat To Hoat-ong
telah diangkat sebagai Koksu (Guru negara penasehat
raja).
Waktu tiga tahun yang lalu Kublai telah mengajak
pasukan tentara perangnya pulang kenegerinya diutara,

Tiat to Hoat-ong tidak melihat Kim Lun Hoat ong Dia
menanyakan ke Kublai dan memperoleh penjelasan
bahwa Kim Lun Hoat ong waktu itu tengah mengobrak
abrik jago-jago dataran tionggoan. dan mungkin saja dua
tahun lagi Kim Lun Hoat-ong baru kembali kenegerinya
tersebut.
Senang hati Tiat To mendengar itu sehingga lenyap
kekuatirannya terhadap adik seperguruannya itu.
Tetapi setelah di tunggu-tunggu selama tiga tahun sang
adik seperguruan belum juga muncul, maka muncul kembali
kecurigaan dan kekuatirannya dia akhirnya menghadap ke
Kublai untuk meminta ijin, karena dia bermaksud pergi
kedaratan Tionggoan untuk mencari adik seperguruan nya itu.
Mempergunakan kesempatan ini, Kublai yang mengetahui
akan hebatnya kepandaian Tiat To Huat-ong. pendeta yang
menjadi Koksu negara tersebut, dialah diberikan juga perintah
rahasia untuk melakukan sesuatu didataran Tionggoan.
Tetapi disaat Tiat To Hoat ong tiba didaratan Tionggoan,
dia tidak berhasil mencari jejak adik seperguruannya itu,
sehingga dia semakin berkuatir saja. Selama dua bulan dia
berputar kayuh mengelilingi daerah-daerah selatan untuk
mencari Kim Lun Hoat ong, yang ingin diajak pulang keutara
namun tetap saja hasilnya nihil. Dan hari itu, secara kebetulan
dia bertemu dengan Loo Boan Tong yang usil yang bersedia
melayani ketemberangan dan keangkuhan pendeta Mongolia
itu sehingga terjadi pertempuran hebat diantara kedua jago
yang luar biasa tersebut.
Disamping itu, Ciu Pek Thorg juga memiliki maksud
tersendiri dengan melayani pendeta dari Mongolia itu.
Waktu mendengar Tiat To Hoat-ong adalah kakak
seperguruan Kim Lun Hoat-ong; seketika itu juga dia
menduga pasti tiat To Hoat-ong memiliki maksud-maksud
tidak baik Terhadap daratan Tionggoan, dan Ciu Pek Thong

justru kuatir kalau-kalau kedatangan Tiat To Hoat-ong
kedaratan tionggoan ini atas perintah Kublai.
Memang Ciu Pek Thong, walaupun sifatnya angin-anginan
dan sering uring-uringan, otaknya cukup encer dan polos
jujur maka dia segera berkuatir kalau Kublai telah
mempersiapkan tentaranya untuk menerjang masuk
kedaratan Tionggoan lagi Saat itu, Tiat To Hoat ong telah
melancarkan serangannya yang ketiga. Disaat dia berhasil
mengelakkan diri dari cengkeraman Ciu Pek Thong
dipunggungnya, dengan mengerahkan tenaga dalamnya
kepundak, sehingga bahunya licin seperti berminyak dan Ciu
Pek Thong gagal dengan usahanya, tahu-tahu pendeta
Mongolia ini telah memutar kedua tangannya dengan
serentak bersamaan dengan tubuhnya yang berputar juga.
Tidak mengherankan, jika serangkum angin serangan yang
dahsyat telah menggempur Ciu Pek Thong.
Tetapi Ciu Pek Thong juga tidak tinggal diam, dengan
memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, sebagai adik
seperguruan Ong Tiong Yang, yang merupakan pewaris ilmu
„It Yang Cie" tenaga dalam Ciu Pek Thong memang luar biasa
sekali, dengan mengeluarkan seruan yang sangat nyaring
justru Ciu Pek Thong tidak berkelit atau mengelakkan diri dari
serangan itu dia telah menangkisnya dan keras dilawannya
dengan keras.
„Bukk!" terdengar suara yang keras bukan main, yang
dahsyat sekali, bumi seperti bergetar karena kuatnya benturan
yang terjadi antar dua kekuatan raksasa tersebut. Kun Hong
yang berdjri terpisah belasan tombak dari gelanggang
pertempuran, telah terhuyung hampir rubuh terjengkang oleh
getaran benturan tenaga itu, untung pemuda ini cepat-cepat
memegang dinding batu yang terdapat didekatnya.
Kuda pemuda itu juga meringkik nyaring, rupanya
binatang tunggangan itu kaget. Bukan main kagumnya Kun
Hong sehingga dia sekarang menyadari, walaupun dia belajar

dua puiuh tahun lagi, belum tentu dia bisa memiliki kekuatan
tenaga dalam seperti kedua orang jago itu.
Yang disaksikan Kun Hong kali ini adalah sebuah
pertempuran yang benar-benar luar biasa sekali dan lain dari
yang lain. Walaupun kepandaian Kun Hong tidak ada
sepersepuluh dari kepandaian kedua orang itu, namun karena
pemuda pelajar she Cu tersebut memiliki dan mengerti ilmu
silat, dia bisa merasakan dan melihat bahwa pertempuran
diantara kedua jago itu merupakan pertempuran antara mati
dan hidup.
Ciu Pek Thong sendiri semakin lama jadi semakin kaget
melihat kenyataan bahwa lawan nya memiliki kepandaian yang
lebih liehay dari kepandaian Kim Lun Hoat ong. setidaktidaknya
memang Tiat To Hoat ong kakak seperguruan dari
Kim Lun Hoat-ong namun dengan kepandaian seperti itu jelas
dia bisa berbuat sesuka hatinya. Memang benar Ciu Pek
Thong tidak mungkin dapat dirubuhkan oleh Tiat To Hoat-ong
namun jangan harap pula Ciu Pek Thong dapat merubuhkan
lawannya itu.
Jika tadi Ciu Pek Thong masih bisa bergurau dengan
melayani serangan lawannya, tetapi kini mau tidak mau
memang Ciu Pek Thong harus mencurahkan semangat dan
seluruh perhatiannya terhadap lawannya yang liehay.
Mereka bertempur semakin lama jadi semakin berat,
gerakan tangan mereka seperti berat dan lambat sekali
gerakannya. Tetapi bagi ahli silat kelas satu, hal itu
membuktikan bahwa ke dua orang yang tengah bertempur itu
memang sedang mempergunakan tenaga kelas satu. Sedikit
saja mereka salah perhitungan, berarti akan terbinasa
ditangan lawannya. Ciu Pek Thong sendiri heran. karena dia
melihat sipendeta asing memiliki ilmu kebal akibat
sempurnanya latihan ilmu Yoga juga pendeta itu memiliki
tenaga lm dan Yang sangat sempurna sekali, dia dapat
mempergunakan tenaga dalamnya itu sekehendak hatinya

bisa lunak, dan bisa keras dengan tiba-tiba, sehingga dijurus
berikutnya Ciu Pek Thong lebih sering tertipu oleh cara licik
lawannya yang main ulur tenaga dalamnya yang di ganti-ganti
sifat itu,
Sesungguhnya sebagai seorang ahli Yoga yang telah
terlatih pada puncak kesempurnaannya, maka pendeta
tersebut disamping memiliki ilmu kebal (weduk), juga
bisa menguasai dan memberikan perintah sekehendak
hatinya terhadap seluruh otot disekujur tubuhnya.
Walaupun bagaimana kenyataan seperti itu, memang
telah membuat Tiat To Hoat-ong bisa menjagoi
dinegerinya dengan ilmunya tersebut. Belum lagi ilmu
golok yang digubahnya, yang hebat luar biasa.
Ciu Pek Thong melihat kenyataan seperti ini, kalau
memang dia bertempur terus menerus dengan keadaan
tidak berobah, niscaya akhirnya dia yang akan kalah ulet,
berarti dirinya yang bisa celaka.
itulah sebabnya terpaksa dia harus dapat merubah
cara bertempurnya untuk berusaha meuguasai lawannya.
Sulitnya Tiat To Hoat-ong seperti bisa membaca jalan
permikiran Ciu Pek Thong sehingga dia selalu melibatkan
Ciu Pek Thong dengan serangan-serangan yang hebat
sekali, yang tidak memungkinkan Loo Boan Tong
memiliki kesempatan merubah cara bertempurnya itu.
Dengan gusar Ciu Pek Thong mengeluarkan seruan
dan dia menggerakkan tangannya kebawah dengan
gerakan meminta, kemudian dengan cepat sekali tangannya
yang kiri menyusul akan menotok mata sipendeta. Itulah
gerakan "Bin Bu Jin Sek (Dimuka tidak ada cahaya manusia),
yang pernah diperolehnya dari Yo Ko.
Hebat sekali serangan tersebut, Tiat To Hoat ong
mengeluarkan seruan tertahan karena terkejut dan dengan
gerakan yang gesit dia mengelakkan diri. Tetapi Ciu Pek

Thong dalam gusarnya telah melancarkan lima serangan
lainnya secara beruntun pukulan "Bo Beng Kie Miauw" (Tidak
mengetahui apa keindahannya), disusul dengan "Jiak Yu So
Sit" (Seperti Kehilangan sesuatu), lalu dengan hebat Ciu Pek
Thong membarengi dua serangan susulan dengan "Heng Sie
Cauw Jiok" (Mayat Berjalan), dan To Heng Gek Sie" (Jalan
Jungkir Balik).
JILID 3
DIJURUS terakhir itu, yaitu „To Heng Cok Sie" Ciu Pek
Thong telah melancarkan serangan dengan hebat sekali,
tubuhnya seperti ber gerak-gerak sempoyongan seperti
ingin rubuh, lagaknya itu seperti orang pemabokan dan
kedua tangannya melancarkan serangan kesebelas jalan
darah lawannya.
Keruan saja Tiat To Hoat-ong jadi mengeluarkan
seruan kaget dan berusaha untuk menangkis dengan
tabasan tangannya.
Walaupun dia menabas dengan mempergunakan
tangannya tetapi gerakannya itu seperti juga gerakannya
menabas dengan gerakan ilmu golok nya yang tangguh
dan hebat sekali, angin serangannya berkesiuran lambat,
tetapi dahsyat luar biasa.
Ciu Pek Thong mengeluh sendiri, jika dia meneruskan
serangannya, memang. Loo Boan Tong bisa menghantam
telak jalan darah Bian-kie-hiat sipendeta asing itu, tetapi
dirinya sendiri tidak akan lolos dari tabasan yang
mematikan pendeta tersebut.
Dengan mendongkol Ciu Pek Thong telah menarik
pulang serangannya, dia melompat mundur.
Tiat-To Hoat ong yang telah menyaksikan hebatnya
sikakek tua yang dipanggilnya sebagai si-"monyet" itu

tidak mengejarnya, dia berdiri tegak sambil mendelik
mengawasi lawannya itu.
„Katakan, siapa kau sesungguhnya ! Apakah adik
seperguruanku. dibinasakan oleh kau?. Jika bukan siapa
pembunuhnya ?". tegur pendeta asing itu dengan murka.
Ciu Pek Thong memiliki sifat yang kekanakan dan
gemar sekali bergurau, walaupun tengah menghadapi
lawan berat, seperti Tiat To Hoat-ong. Ciu Pek Thong
masih sempat berjenaka.
„Jika aku yang membunuhnya, apa yang kau inginkan
? Kalau bukan, apa yang kau kehendaki ?. tanyanya
sambil nyengir mentertawai sipendeta asing, membuat Tiat
To Hoat-ong merasakan dadanya seperti mau meledak.
„Baiklah, kalau kau tidak, mau membuka mulut itupun
tidak menjadi soal. Biarlah aku kirim kau menemui adik
seperguruanku dulu."
„Mungkin juga engkau sendiri yang akan
menengokinya ke Imkan (neraka) !" mengejek Ciu Pek
Tong, „Bukankah engkau tengah mencarinya"
Tentu saja kemarahan yang bergolak didada pendeta
tidak terkiraan. Dengan murka dia telah melompat dan
melancarkan serangan dengan kedua tangan yang
diputar kekuatan tenaga serangannya itu sama beratnya
seperti runtuhnya gunung.
Tetapi Ciu Pek Thong tidak takut, diapun tidak
mengelakkan diri melihat serangan yang hebat seperti
itu, bahkan dia memusatkan tenaga nya, untuk mencoba
kembali sampai di mana ke kuatan pendeta asing itu.
Tangan mereka saling bentur, tubuh mereka
bergoyang-goyang, tenaga mereka yang saling bentur
itu merupakan tenaga benturan yang luar biasa sekali,

dan keduanya diam bagaikan patung, dengan sepasang
matanya terpentang lebar-lebar.
Ciu Pek Tbong memang nakal, jiwanya jenaka,
sesungguhnya dia ingin mengeluarkan ejekan pula
tetapi disebabkan tenaga menindih dari Tiat To Hoat-ong
luar biasa kuatnya, membuat Ciu Pek Thong tidak bisa
berkata-kata, sebab jika dia bicara berarti pemusatan
tenaganya akan ter pecah dan dirinya bisa tergempur
oleh tenaga lawannya. Karena tidak bisa memaki dan
memperolok-olok pendeta asing itu, hati Ciu Pek Thong
jadi gatal sendirinya, dan akhirnya dia hanya bisa
mengejek, lawannya dengan mendeliki mata
menyipitkan, melirik kekiri dan kekanan dengan
memperlihatkan mimik muka yang membadut.
Keruan Tiat To Hoat-ong tambah murka, dadanya
bergelombang turun naik karena menahan kemurkaan
yang seperti ingin meledakkan dadanya itu. Dengan
bergelombang dia telah menambah tenaga menindihnya
semakin lama semakin kuat.
Ciu Pek Thong juga telah mengerahkan seluruh
kekuatan tenaga dalamnya, dia telah memusatkan
lwekangnya dikedua lengannya, dan berusaha untuk
menolak tenaga menindih dari sipendeta asing. Keduanya
berdiri berhadapan seperti patung dengan kedua tangan
mereka saling menempel satu dengan lainnya. Dari
tubuh dan kepala kedua jago tersebut telah mengepul
semacam uap tipis.
Kun HONG YANG MENYAKSIKAN jalannya pertemPURAN
TERSEBUT JADI tergoncang batinnya. Itulah pertempuran
yang terdasyat yang baru pernah disaksikan seumur
hidupnya.
P U N C A K Siauw-hong yang merupakan rangkaian
gunung-gunung disekitar pegunungan Thian-san : di
mana letak puncak Siauw-hong berada disebelah barat

daya dari pegunungan Thian san. Walaupun tidak
setinggi puncak-puncak Bie hong dan Sian-hong, tetapi
puncak-puncak Bie-hong-pun menembusi mega serta
tinggi sekali, tidak mudah didaki oleh manusia. Disamping
itu, udara disekitar puncak Siauw-hong dingin luar biasa
dengan salju yang tebal membeku menutupi sebagian
puncak itu, yang tidak pernah mencair sepanjang jaman.
Disamping salju yang membeku sepanjang jaman itu,
juga Siauw-hong memiliki lembah dan jurang yang
banyak jumlahnya, disamping keadaan alamnya yang
masih buas dan liar sehingga sangat berbahaya sekali bagi
orang-orang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa.
Bahkan penduduk, kampung Siauw-wie cung yang
terletak dikaki gunung Thian san sebelah utara, yang
umumnya memiliki pencaharian sebagai pemburu dan
pencari kayu bakar, tidak berani mendatangi Siauw Hong
Terlalu dekat, mereka hanya berani mencari kayu bakar
dikaki SiaUW hong, sedangkan pemburunya hanya berani
sampai dilamping gunung itu tidak berani mereka
memburu sampai dipuncak Siauw hong.
Mereka menyadari bahaya dan buasnya alam dipuncak
Siauw hong akan menulikan pendengarannya, disamping
mengeluarkan darah dari telinga, hidung dan mata.
bahkan jika memaksakan diri bisa membawa kematian.
Belum juga perjalanan yang sulit, Untuk mendaki
puncak Siauw-hong diantara dinding-dinding jurang dan
lembah yang curam sekali disamping sangat berbahaya.
ltulah sebabnya boleh dibilang disekitar Siauw hong
tidak pernah terlihat seorang manusiapun juga. Setiap
hari disekitar Siauw-hong sepi dan sunyi sekali;
suasananya begitu tenang dan liar hanya diselingi, oleh
suara binatang-binatang liar yang memang banyak
memenuhi ditempat itu.

Pagi itu diantara kelenggangan yang ada, tiba-tiba
terdengar suara kepak-kepak sayap burung yang keras
sekali disertai oleh pekik yang nyaring, disusul terlihat
disebelah selatan puncak Siauw hong me layang-layang
seekor burung rajawali, yang berukuran sangat besar
sekali.
Burung itulah yang telah mengeluarkan suara,
memekik-mekik nyaring dan suara kepak-kepak yang
terdengar adalah suara sayapnya yang lebar yang
hampir selebar dua meter. Ukuran burung rajawali itu
luar biasa tetapi justru bentuk burung rajawali yang
agak luar biasa.
Setiap kali dia terbang, dia menukik, dan kedua
sayapnya digerakkan. justru gerakannya itu dilakukan
seperti juga seorang manusia yang tengah bersilat,
karena kedua kaki burung rajawali itu telah ber gerakgerak
dengan jurus-jurus ilmu silat.
Setelah berputar-putar sekian lama akhirnya burung
rajawali itu menukik dan menyambar cepat sekali
kebawah kearah sesuatu yang berwarna putih.
Ternyata yang diincar oleh burung rajawali itu tidak
lain dari seekor kelinci putih, yang telah berusaha berlari
untuk mencari tempat persembunyian mengelakkan diri
dari sambaran burung rajawali. Namun gerakan yang
dilakukan oleh rajawali itu benar-benar luar biasa, dia
menukik dengan kecepatan seperti kilat dan berbeda
dengan burung rajawali lainnya yang biasanya menyambar
mangsanya dengan secara menuju kesasaran nya,
tetapi burung rajawali tersebut tidak segera menerjang
mangsanya hanya mengikuti dan melewati diatasnya,
dan disaat kelinci itu memutar tubuhnya untuk berlalu,
dengan kecepatan yang seperti kilat, tahu-tahu tubuh
rajawali tersebut telah menerjang dan mencengkeram

mangsa nya itu dan kelinci tersebut tak bisa melolos kan
diri.
Dengan membawa mangsanya itu burung rajawali
tersebut telah terbang menuju keangkasa dan menuju
kepuncak Siauw hong yang tertinggi.
Ketika bagian kanan dari barat daya puncak Siauwhong
burung rajawali tersebut telah mengeluarkan suara
pekikan yang nyaring dan meluncur turun menuju
kesebuah lembah. Rajawali itu terbang semakin rendah
dan akhirnya ber henti dimuka sebuah rumah yang
sederhana namun bersih.
„Ahhh, Tiauw-heng (Saudara Rajawali) telah kembali!"
terdengar suara seorang, wanita yang merdu dan lembut
sekali. Anehnya wanita ia memanggil si rajawali dengan
sebutan Tiauw heng yaitu saudara Rajawali, panggilan
yang agak luar biasa.
Dari dalam rumah itu, siwanita yang ber kata-kata
tadi telah melompat keluar dan dia telah menerima
kelinci yang menjadi mangsa dari rajawali tersebut, dan
sirajawali yang dipanggil dengan sebutan Tiauw-heng
itu, telah terbang ringan dan hinggap di sebuah batu
gunung yang ter letak disebelah kanan.
Pemandangan yang terdapat dilembah itu memang
agak luar biasa. disamping indah, juga keadaannya
tenang sekali. Pohon-Pohon bunga tampak memenuhi
sekitar lembah tersebut, disamping itu rumah yang
dibangun dengan cara sederhana itu terawat dengan
rapi dan bersih sekali.
„Kojie, lihatlah !” berseru wanita yang ke luar dari
dalam rumah itu dengan suara yang riang, wajahnya
cantik luar biasa dengar kulit nya yang halus, sepasang
mata yang indah, di samping itu senyum yang selalu

menghiasi bibir nya itu demikian menawan. Dialah Siauw
Liong Lie !
„Tiauw-heng memang pandai mencari mangsa, kita
setiap hari tentu akan bersantap lezat" menyahuti suara
lelaki dari dalam rumah.
“Liongjie, engkau harus memasakan Tiauw heng sayur
kelinci yang lezat".
Siauw Liong Lie tertawa riang, dia membawa kelinci
itu kebelakang. Dengan cepat dia telah melihat suaminya
Yo Ko, tengah duduk mengasah pedangnya, sehingga
pedang itu berkilauan.
„Lihatlah Kojie" kata Siauw Liong Lie sambil
mengacungkan kelinci yang diperoleh rajawali itu.
„Betapa besarnya kelinci ini".
Yo Ko mengangguk sambil tersenyum. „Untuk Tiauwheng
kau harus memanggangnya yang wangi" katanya
kemudian.
Siauw Liong Lie hanya mengangguk dan telah cepatcepat
menuju kebelakang untuk mempersiapkan
masakannya.
Sedangkan Yo Ko masih terus juga mengasah
pedangnya, hari ini dia mengenakan baju berkembang
yang dibuat oleh Siauw Liong Lie, tampaknya dia
bahagia sekali hidup berdampingan dengan isterinya
yang cantik jelita dan gagah ilmunya.
Yo Ko dan Siauw Liong Lie memang telah menetap
dilembah itu. Semula Yo Ko hendak mengajak Siauw
Liong Lie menetap di Giok Lie Hong yang terletak
dipuncak Hoasan, dimana dipuncak bidadari itu terdapat
sebuah kuil kecil yang kosong, yang ingin dipergunakan
oleh Yo Ko sebagai tempat tinggal mereka.

Tetapi Siauw Liong Lie telah berpikir jauh, dia
berpandangan luas, maka Siauw Liong Lie yang telah
memberikan saran kepada suaminya agar tidak
mengambil tempat Giok Lie Hong sebagai tempat
pengasingan mereka, karena tempat itu sering didatangi
oleh orang-orang yang bermaksud untuk sujud
bersembahyang di kuil.
Belum lagi banyak orang-orang rimba persilatan yang
mengunjungi mereka untuk mengunjuk hormat, yang
berarti bagi mereka tidak akan dapat menikmati hidup
tenang selamanya.
Akhirnya bersama Yo Ko, Siauw Liong Lie menjelajahi
beberapa buah gunung yang terdapat didaratan
Tionggoan bahkan tadinya mereka bermaksud untuk
melihat-melihat puncak Himalaya, yaitu Longmo Cunglo
yang terdapat di Himalaya namun terlalu dingin. Udara
dingin memang tidak menjadi persoalan mereka, tetapi
justru yang mereka pikirkan adalah calon anak mereka
kelak jika mereka memiliki anak.
Dan setelah menjelajahi berbagai tempat sekian
lamanya, akhirnya Yo Ko dan Siauw Liong Lie merasa
cocok untuk menetap dilembah yang terletak dipuncak
Siauw-hong dari pegunungan Thiansan.
Dengan tenang mereka hidup bahagia ditempat
mereka yang baru itu, ditemani oleh Tiauw-heng itu,
yaitu sirajawali sakti, yang biasa disebut oleh orangorang
rimba persilatan dengan nama Sin Tiauw. Sin
Tiauw itulah yang setiap hari mencarikan makanan untuk
suami isteri tersebut dan tidak jarang pula Siauw Liong
Lie bergurau dengan rajawali tersebut, dengan cara
melatih ilmu silat dan Yo Ko hanya menyaksikan sambil
tersenyum.
Tetapi dengan menetapnya mereka ditempat yang
seperti itu. Pasangan suami isteri tersebut dibantu oleh

Sin Tiauw telah melatih diri terus, sehingga tanpa
mereka ketahui kepandaian dan tenaga dalam mereka
telah sempurna sekali.
Telah dua tahun lebih Yoko dan Siauw Liong Lie
menetap dilembah tersebut. Dan mereka selalu melewati
hari-hari dengan gembira dan bahagia.
Sejak berpisah dengan sahabat mereka di gunung
Hoa-san setelah menjengguk makam Ang Cit Kong dan
Auwyang Hong, serta mengambil selamat berpisah dengan
Kwee Siang dimana telah bertemu juga Kak Wan Siansu yang
kehilangan kitab mujijad Kui Im Cin Keng serta Kui Yang Cin
Keng, yang dicuri oleh In Kek See dan Siauw Siang Cu, Yo Ko
telah berhasil mengecap kemesraan berdua dengan isterinya.
Perpisahan selama enam belas tahun yang pernah
terjadi beberapa saat yang lalu, justru telah
menyebabkan Yo Ko maupun Siauw Liong Lie menyadari
bahwa cinta mereka merupakan cinta yang kekal dan
abadi, cinta yang tulus dan sejati.
Usia Yo Ko yang telah duduk sebagai See Kong dalam
urutan Ngo Ciat, telah mencapai hampir tiga puluh tiga
tahun dan Siauw Liong Lie lebih tua beberapa tahun dari
dia. Tetapi karena sejak kecil Siauw Liong Lie memang
telah dididik oleh gurunya didalam kuburan mayat hidup,
maka kecantikannya tetap utuh dan awet muda, terlebih
lagi sekarang, disaat mana lwekangnya telah sempurna.
Sedangkan Yo Ko selama hidupnya, sejak sampai
akhirnya menikah dengan Siauw Liong Lie, selalu
menghadapi urusan-urusan yang mendukakan hatinya,
walaupun tetap tampan luar biasa tetapi tampaknya
telah dewasa sekali.
Jika dilihat selintas mereka tampak berimbang usia
maupun ketampanan dan kecantikan mereka.

Mengenai Wajah Yo Ko yang tampan itu tidak perlu
dikatakan lagi karena Kwee Siang selalu memimpikan Yo
Ko (Telah diceritakan dalam kisah Membunuh Naga, jilid
1, 2 dan 3) dan memang Yo Ko memiliki lwekang yang
telah mencapai puncak kesempurnaannya, sehingga
disamping awet muda, kulit mukanya itu bersih dan
bercahaya gemilang.
Seperti diketahui jika seseorang melatih lwekang
(tenaga dalam) yang berpusat dipusar maka jika hawa
murni di Tantian telah naik sampai keotak, maka baik
umur maupun kesehatan bisa ditentukan dan
diperintahkan oleh orang yang bersangkutan, (Mirip juga
dengan latihan Yoga yang telah sempurna, dapat menentukan
usia dan otot-otot diseluruh tubuh dapat
diperintahkan)
Begitu pula Yo Ko, walaupun usianya telah tiga puluh
tahun lebih, tetapi raut wajahnya sepertl seorang
pemuda yang berusia dua puluh tahun.
Penghidupan yang tenang, jauh dari keramaian yang
m e m u s i n g k a n kepala, dan juga hidup tenteram
babagia disamping isterinya yang cantik, namun Yo Ko
manusia juga. Akhirnya timbul rindunya kepada Kwee
Ceng, Oey Yok Su, Ciu Pek Thong, Oey Yong, Kwee
Siang dan sahabat-sahabat lainnya.
Walaupun bagaimana memang kenyataan-nya Yo Ko
akhirnya tidak bisa menahan keinginannya itu, tidak
berhasil melenyapkan rindunya dia semalam telah
menyampaikan hasratnya kepada Siauw Liong Lie, untuk
turun gunung selama tiga bulan, guna mencari sahabatsahabatnya
itu. Dan Siauw Liong Lie lebih suka
menyendiri, tetapi setelah menikah dengan Yo Ko
dengan sendirinya sifat dan wataknya jadi berobah banyak.

Kini selain periang, Siauw Liong Lie pun lincah
walaupun belum lenyap sifat-sifatnya yang dingin jika
tengah menghadapi urusan yang rumit dan penting.
Mendengar Yo Ko ingin mengunjungi sahabatsahabatnya
itu, Siauw Liong Lie jadi girang sekali.
Dia telah bersyukur bahwa suaminya bermaksud
mengajak dia.
„Tentu aku bisa menyaksikan keramaian lagi" kata
nyonya Yo itu sambil tersenyum,
Dan itulah sebabnya hari itu Yo Ko, sibuk mengasah
pedang, milik Siauw Liong Lie; Sedangkan golok
pusakanya telah diasahnya malam tadi.
Mereka telah ber siap-siap untuk berangkati pagi ini,
tetapi Siauw Liong Lie tiba-tiba sekali telah sakit. Sejak
fajar dia telah muntah-muntah dan perut maupun
pinggangnya sakit Dia memberitahukan Yo Ko, sehingga
suaminya itu membatalkan keberangkatan mereka dan
menganjurkan isterinya untuk beristirahat.
Disaat Siauw Liong Lie tengah rebah dipembaringan,
Sin Tiauw justeru telah pergi memburu mangsa, untuk
santapan sahabat-sahabatnya itu, pasangan suami isteri
tersebut, yang telah memper lakukan mereka sebagai
sahabat.
Disaat Sin Tiauw kembali dengan kelinci buruannya
itu, justeru Siauw Liong Lie telah sembuh dari sakitnya,
pinggangnya sudah TIDAK SAKIT LAGI, DAN dia bisa
mengerjakan masakan UNTUK suaminya DAN Sin Tiauw.
Tetapi, selama didapur, mukanya sebentar-sebentar
berobah merah, karena sebagai seorang ahli lwekhe.
segera dia telah mengetahui bahwa penyakit yang tadi
menyerangnya bukan penyakit sembarangan, melainkan
gejala-gejala bahwa dia telah hamil.

Justeru untuk memberitahukan kepada suami nya dia
merasa malu, walauoun ditempat tersebut hanya mereka
berdua. Dan Siauw Liong Lie bermaksud
memberitahukan suaminya nanti malam,
Tetapi ketika Siauw Liong Lie tengah menyelesaikan
masakannya, tiba-tiba dia mendengar samar-samar
suara siulan yang cukup panjang.
Muka Siauw Liong Lie berobah, saat itu Yo Ko telah
mendatangi dan bertanya kepada isterinya. “Liongjie,
kau dengar siulan itu?" Isteri tersebut mengangguk.
"Dua tahun lebih kita menetap ditempat ini. belum
pernah didatangi orang, tetapi suara orang bersiul itu .....
jelas yang bersiul merupakan orang yang memiliki lwekang
sangat tinggi dan sempurna!”
,Ya..... sapakah dia?" mengumam Siauw Liong Lie.
„Hmmmm .....apakah mungkin salah seorang sahabat
lama ?" menggumam Yo Ko.
“tetapi suara siulan itu aneh dan belum pernah kita
dengar, Kojie kau harus hati-hati nanti tidak mungkin
sahabat lama yang datang...!”
Yo Ko tersenyum, dia mendekati isterinya dan
mencekal tangan Siauw Liong Lie dengan lembut dan
mesra sekali.
Muka Siauw Liong Lie jadi berobah merah, dia telah
menunduk dalam-dalam dengan sikap kemalu-maluan,
tanpa mengucapkan sepatah katapun juga.
Yo Ko jadi heran melihat sikap isterinya seperti itu,
belum pernah Siauw Liong Lie membawakan sikap
seperti itu.
„Liongjie, apakah ada sesuatu... ?" tanya Yo Ko halus
sambil mengusap-usap lembut tangan isterinya.

Siauw Liong Lie mengangkat kepalanya menatap
suaminya mesra sekali.
„Kojie, kau harus dapat menjaga diri dengan baik,
karena karena.. ." suara Siauw Liong Lie semakin lama
semakin perlahan, dan akhirnya tidak terdengar, dan
juga Siauw Liong Lie telah menunduk lagi.
„Karena...apa Liongjie?" Tanya Yo Ko jadi heran
melihat sikap isterinya tersebut.
„Karena...." dan Siauw Liong Lie menubruk memeluk
Yo Ko, kemudian sambil tertawa dengan pipi yang
merah, dia telah meneruskan perkataannya: „Mari
kubisiki."
Yo Ko mendekati telinganya kebibir isteri nya dan
Siauw Liong Lie telah membisikan beberapa patah kata.
Muka Yo Ko berobah menjadi berseri-seri. dia berseru
girang dan melompat-lompat dengan riang. „Hus ! Anak
edan !" bentak Siauw Liong Lie sambil tersenyum.
„Apakah kau tidak malu jika didengar orang ?"
Yo Ko masih melompat-lompat sesaat lamanya lagi,
setelah itu dia lagi menyahuti,
„Malu? Bukankah disini hanya kita berdua? Malu
kepada siapa?"
Muka Siauw Liong Lie telak berobah merah lagi,
diapun baru teringat bahwa mereka memang hanya
berdua. Muka Siauw Liong Lie jadi bertambah merah
karena malu waktu Yo Ko mengawasi saja perutnya.
“Sudahlah kau lihat siapa yang datang itu!" Siauw
Liong Lie memperingati suaminya. Tetapi baru berkata
sampai disitu Siauw Liong Lie jadi kaget sendirinya,
karena tiba-tiba dia mencium kan sesuatu

"Akhh!" berseru Siauw Liong Lie. Daging panggangku
hangus" dan ketika dia menoleh, benar saja daging
kelinci yang tengah dipanggangnya itu telah hangus
separuh.
Disaat itu, waktu Siauw Liong Lie ingin menyesali
suaminya, justru telah terdengar lagi suara siulan itu
yang panjang dan didengar dari kerasnya suara siulan
itu, tentu orang yang bersiul itu telah berada dekat
sekali dengan rumah mereka, setidak-tidaknya telah
berada disekitar daerah tersebut.
"Liongjie kau baik-baik rawat diri, jangan bekerja
terlalu capai, setelah, memanggang daging kelinci itu,
pergilah kau tidur, biarlah aku yang melihat keluar...!"
kata Yo Ko dengan perasaan menyayang sekali.
„Anak sinting mana mungkin siang-siang tidur!”
mengomel Siauw Liong Lie. Tetapi hatinya bahagia
bukan main, sangat bersyukur, karena memang dia
bahagia sekali mempunyai suami seperti Yo Ko.
Justeru Yo Ko sendiri setelah dia mengetahui dia akan
segera menjadi calon ayah dia girang luar biasa.
Dengan, gerakan yang lincah dia telah melompat
keluar. Disaat itu Yo Ko melihat Sin Tiauw sudah tidak
berada ditempatnya. Dikejauhan terdengar suara
pekikan Sin Tiauw.
Bagaikan terbang Yo Ko telah berlari meng hampiri
kearah suara pekikan itu lengan baju kanannya yang
kosong melampaui lambaian tertiup angin.
Seperti diketahui lengan kanan Yo Ko telah tertabas
buntung akibat tingkah dan ulah Kwee Hu, puteri Kwee
Ceng.
Setelah berlari-lari sekian lama, Sin Tiauw Taihiap tiba
dibalik mulut lembah, dia melihat diangkasa Sin Tiauw

tengah terbang melayang tidak hentinya mengeluarkan
suara pekikan. Rupanya tadi Sin Tiauw juga telah
mendengar suara siulan itu, dan segera terbang
ketengah udara untuk melihat siapakah yang telah
datang itu, sitamu yang tidak diundang.
Yo Ko tiba ditempat itu segera dapat melihat jelas
tamunya. Ternyata orang tersebut hanya seorang diri,
memakai pakaian bulu yang tebal untuk mencegah hawa
udara yang dingin, memelihara kumis yang panjang dan
mukanya berbentuk segi tiga, sinar matanya agak licik.
Melihat Yo Ko, orang itu telah cepat-cepat
menghampiri, dia menjatuhkan dirinya ditanah Berlutut
dihadapan Yo Ko.
„Sin Tiauw Taihiap Locianpwe.. boanpwe menghunjuk
hormat ..!" kata orang itu, yang membahasakan Yo Ko
dengan sebutan Locianwe (yang tingkatan tua) dan
membahasakan dirinya sendiri dengan sebutan Boanpwe,
tingkatan muda. Boanpwe Liang Ie Tu membawa titipan
pesan untuk locianpwe".
Yo Ko mengawasi tamu tidak diundang tersebut
dengan sorot mata yang tajam, sepasang alisnya agak
mengkerut, karena tidak senang dia melihat bentuk
muka orang itu yang amat licik.
„Siapa yang telah menitipkan pesan untukku ?
Mengapa kau mengetahui bahwa aku menetap disini ?"
tegur Yo Ko sambil memandang penuh kecurigaan ,
Orang itu telah cepat-cepat mengangguk-anggukkan
kepalanya. Dia juga telah berkata setelah memberi
hormat begitu. „Sesungguhnya Boanpwe memang
lancang telah datang kemari tanpa meminta ijin dari Sin
Tiauw Taihiap Locianpwe, tetapi karena dalam keadaan
terdesak, maka terpaksa Boan pwe harus melakukan
perbuatan lancang seperti ini, yang layak dihukum" dan

setelah berkata begitu, Liang Ie Tu telah merogoh
sakunya mengeluarkan sepucuk surat, yang diberikan
kepada Yo Ko dengan sikap yang menghormat sekali,
disusuli kata-katanya. „lt Teng Taisu Locianpwe telah
perintahkan Boanpwe untuk menyampaikan suratnya ini
kepada Sin Tiauw Taihiap Locianpwe.. ".
Yo Ko menyambuti surat itu, hatinya terkejut sekali
setelah mengetahui bahwa surat tersebut adalah kiriman
It Teng Taisu. Cepat-Cepat dia telah membacanya, bunyi
surat itu lebih mengejutkan Yo Ko, antara lain berbunyi :
Yo Hiante (adik)
Sebetulnya lolap bermaksud datang sendiri untuk
menjumpai kalian suami isteri, namun berhubung
timbulnya urusan yang demikian tiba-tiba, terpaksa lolap
harus memecahkan perhatian dan hanya bisa
mengirimkan berita melalui sepucuk surat ini. Bagaimana
keadaan kalian ? Tentu baik-baik saja bukan?. Maksud
sesungguhnya suatu peristiwa aneh yang akhir-akhir ini
telah terjadi didalam rimba persilatan. Selama tiga tahun
kita telah berpisah, sesungguhnya bukanlah waktu yang
terlalu lama, namun dalam tiga tahun itu justeru didalam
rimba persilatan muncul urusan-urusan yang aneh-aneh
luar biasa. Sedangkan saudara Kwee Ceng dan Kwee Hu
jin (Oey Yong), telah ikut membantu lolap untuk
menyingkap tabir rahasia yang tengah terjadi ini.
Sesungguhnya Lolap mau menceritakan panjang lebar
urusan itu, namun lolap kuatir jika surat ini jatuh
ketangan yang tidak berkepentingan, akan menimbulkan
urusan yang jauh lebih hebat lagi. Biarlah kelak Lolap
akan menceriterakannya langsung kepada Yo Hiante.
Maka jika memang Yo Hiante dan Yo Hujin tidak
keberatan, Lolap menantikan kedatangan Yo Hiante di
Hoasan, dimakam saudara Ang Cit Kong dan Auwyang
Hong, tepat ditanggal Cit Gwee Cesah ( bulan tujuh

tanggal tiga ) dimana sahabat-sahabat lain-lain-nya juga
akan berkumpul. Kami menantikan kedatangan Yo Hiante,
salam kepada Yo-Hujin.
Dan surat tersebut telah ditanda tangani oleh It Teng
Siansu pendekar Lam Ceng, pendekar dari selatan.
YO KO MEMANG mengenali tulisan It Teng Taisu, begitu pula
tanda tangannya, tidak mungkin surat itu surat palsu
Tetapi yang membuat Yo Ko tidak mengerti justeru
mengapa It Teng Taisu menitipkan suratnya tersebut
kepada seorang manusia bermuka licik seperti itu yang
mengaku bernada Liang IE Tu.
Ada hubungan apakah antara Liang Ie Tu dengan It
Teng Taisu ?. Sebelumnya Yo Ko belum pernah bertemu
dengan orang she Liang ter sebut ?
„Masih ada sangkutan apa antara Liang-heng dengan
It Teng Taisu ?" tanya Yo Ko sambil melipat surat itu dan
memasukan kedalam saku
Liang It Tu masih berlutut, cepat sekali dia menyahut :
„It Teng Taisu pernah paman dengan Boanpwe. dan
menurut pesan yang diberikan oleh It Teng Taisu
locianpwe, bahwa urusan yang sekarang muncul ini
merupakan urusan yang luar biasa sekali, urusan yang
membingungkan...”
„Urusan luar biasa dan membingungkan : Urusan
apakah itu ?"
„It Teng Locianpwee tidak menjelaskan, hanya
meminta kepada boanpwe secepatnya menyampaikan
surat tersebut kepada Yo Locianpwe tempat berdiamnya
Yo Locianpwe juga diberitahukan oleh It Teng
Locianpwe."

Yo Ko mengangguk, setidak-tidaknya dia merasa tidak
enak hati jika membiarkan orang bermuka licik itu tetap
berlutut, maka diperintahkannya Liang Ie Tu berdiri.
„Dari sini Liangheng bermaksud pergi kemana lagi ?"
tanya Yo Ko kemudian.
„Boanpwe telah melakukan perjalanan tidak hentinya
selama setengah bulan, maka jika Locianpwe tidak
berkeberatan, disaat tugas yang diberikan It Teng
Locianpwe berhasil boanpwe laksanakan dengan baik,
maka boanpwe meminta ijin Locianpwe untuk bermalam
disini !"
Yo Ko jadi mengerutkan alisnya, tetapi setelah raguragu
sejenak, tidak dapat dia menolak atas keinginannya
Liarg Ie Tu bukankah orang she Liang itu utusan It Teng
Taisu, dan masih pernah keponakan pula dengan Lam
Ceng tersebut ?
„Baiklah, tetapi maafkan tempat kami buruk sekali..."
kata Yo Ko sambil mengangguk.
Liang Ie Tu tampak gembira sekali, dia menyatakan
terima kasihnya, berulang kali
Yo Ko mengajak Liang Ie Tu kerumahnya,
diperkenalkan kepada Siauw Liong Lie. isterinya.
Sama halnya dengan Yo Ko, malam itu ketika berada
dikamar mereka, Siauw Liong Lie menyampaikan
perasaan tidak senangnya melihat lelaki bermuka licik
itu, walaupun bagaimana wajah Liang Ie Tu
memancarkan kelicikan yang tidak menyenangkan sekali.
„Biarlah, hanya malam ini saja, besok kita bisa
memintanya untuk meninggalkan tempat ini, dengan
alasan kitapun akan segera berangkat untuk memenuhi
undangan It Teng Taisu".
Siauw Liong Lie hanya mengangguk saja.

Tetapi diluar dugaan mereka tepat menjelang tengah
malam, Liang Ie Tu yang diberi kamar dibelakang rumah
mereka, telah turun dari pembaringan, dengan hati-hati
dia telah berjingkat kepintu dan memasang
pendengarannya baik-baik. Sunyi dan sepi sekali .
Dengan hati-hati sekali, Liang Ie Tu membuka daun
pintu dan melangkah keluar. Dia berada di pekarangan
belakang rumah Yo Ko, dengan hati-hati Liang Ie Tu
melompat kebalik batu gunung-gunungan yang terdapat
disitu, dia bersembunyi agak lama ditempat tersebut.
sampai akhirnya setelah melihat keadaan aman, orang
she Liang tersebut keluar dari tempat persembunyiannya
itu. Diawasinya keadaan disekitar tempat itu, dan
tampaknya dia tidak memperoleh apa yang
diinginkannya. Maka dia telah melangkah lagi dan terus
menghampiri keruang tengah rumah tersebut, keadaan
sepi, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak dilihatnya. Orang
she Liang itu dengan berhati-hati sekali t e l a h menuju
kepintu ruang tengah. Dia membuka sedikit dan mengintai.
Sunyi dan sepi, tidak ada siapapun diruang dalam.
Dia kemudian memasuki ruang dalam. Dilihatnya
sebatang pedang dan sebatang golok ter gantung
didinding matanya bersinar, Namun dia tidak segera
mengambil kedua benda itu, melainkan telah
mengeluarkan semacam bungkusan kecil dari sakunya,
dia mendekati pintu kamar Yo Ko. berjongkok disitu
dengan hati-hati sekali dia membakar bungkusan kecil
itu asap segera memenuhi ruangan. Itulah dupa tidur
yang bisa membuat seseorang yang menyedotnya akan
tidur dengan nyenyak.
Setelah menanti sekian lama dan yakin bahwa dupa
tidur itu telah memasuki kamar Yo KO maka Liang Ie Tu
baru mendekati golok dan pedang yang tergantung
didinding.

Diulurkan tangannya untuk mengambil kedua benda
itu, dengan wajah yang berseri-seri dan mulut
tersungging senyuman licik.
Namun belum lagi tangannya semua menyentuh kedua
benda itu, justeru tahu-tahu Liang Ie Tu merasakan
punggungnya seperti dijambak keras sekali oleh sesuatu.
Belum lenyap kagetnya dan belum lagi mengetahui
apa yang terjadi, justru disaat itu tubuhnya telah
terangkat keatas dan terbanting di-lantai, sehingga
Liang Ie Tu menjerit kesakitan punggungnya dirasakan
pecah dan matanya berkunang-kunang.
Dengan memaksakan diri dia merayap untuk bangun,
disaat itupun dia melihat seseorang berdiri didekatnya,
seorang lelaki bermuka tampan, dengan mata yang
bersinar tajam penuh kejengkelan dan dengan lengan
baju sebelah kanan berkibar-kibar lemas karena tidak
ada lengannya.
„Sin Tiauw Taihiap........" mengeluh Liang Ie Tu
dengan suara putus asa.
Dan Liang Ie Tu jadi mengeluh lagi waktu melihat
dipintu berdiri seorang wanita cantik, yang tengah menatap
kearahnya dengan wajah yang dingin sekali. Wanita itu
tidak lain dari Yo Hujin Siauw Liong Lie.
Tanpa berpikir lagi. Liang Ie Tu telah ber lutut
menganggukkan kepalanya sampai kening nya
menghantam lantai berulang kali, menimbulkan suara
yang beledak-beleduk. Dan orang she Liang itupun telah
menangis sambil sesambatan karena ketakutan sekali :
„Ampun, ampunilah hamba, Sin Tiauw Taihiap dengan
memandang It Teng Locianpwe suka mengampuni
jiwaku yang tidak berharga ini”
Yo Ko yang sejak tadi hanya mengawasi dengan sorot
mata yang dingin telah mendengus.

„Hmmm, memang sejak semula aku telah mencurigai
kau bukan sebangsa manusia baik-baik" katanya dengan
suara yang tawar.
„Ternyata kedatanganmu hanya untuk mencuri
senjata kami berdua! Kini bicaralah terus terang, sekali
saja kau berdusta, jangan harap bisa lolos dari tangan
kami!"
Liang Ie Tu mengiakan berulang kali, diam-diam dia
mendongkol juga, karena dia telah memasang dupa tidur
di muka pintu kamar tidur Yo Ko dan Siauw Liong Lie
tetapi kenyataannya Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah
keluar dari jendela dan mengambil jalan memutar tahutahu
telah berada dibelakang pintu ruang dalam.
,Siapa yang perintahkan kau datang kemari? Dan
mengapa surat It Teng Taisu bisa jatuh ketanganmu?”
tanya Yo Ko dengan suara yang dingin.
„Boanpwe berani bersumpah surat itu benar surat It
Teng Taisu ...” Kata Liang Ie Tu dengan menganggukkan
kepalanya dalam keadaan berlutut seperti itu.
„Hemmm, akupun mengetahui bahwa surat itu
memang surat It Teng Taisu. Tetapi mengapa bisa
terjatuh ditanganmu ?" tanya Yo Ko lagi.
„Bukankah kemarin sore boanpwe telah menceritakan
bahwa boanpwe pernah paman dengan It Teng
Locianpwe” menyahuti orang she Liang itu.
„Jangan kau bicara dusta, belum pernah aku
mendengar It Teng Taisu menyebut perihal diri mu",
kata Yo Ko bengis.
„Sungguh, memang boanpwe pernah paman dengan It
Teng Taisu dan surat itupun It Teng Locianpwe yang
berikan, meminta agar boanpwe menyampaikannya
kepada Yo Locianpwe......"

Berkeras Liang Ie Tu dengan suara yang perlahan,
tampaknya dia ketakutan sekali.
Yo Ko telah maju akan mengorek terus keterangan
dari orang she Liang itu, karena dia penasaran bukan
main menghadapi urusan hari ini. Tetapi disaat itu,
Siauw Liong Lie, merasakan pinggangnya sakit kembali,
kepalanya pening dan matanya ber kunang-kunang,
perutnya mual seperti ingin muntah dan mukanya pucat
pias, dia telah menyender ditiang pintu sambil
memegangi kepalanya.
„Kojie........usirlah orang itu !" katanya dengan suara
yang agak tergetar.
Yo Ko terkejut melihat keadaan isterinya, dengan
cepat dia telah menjambret dan mencekal punggung
Liang Ie Tu, dengan cepat sekali dia mengangkat tubuh
orang she Liang itu, dan melontarkan kedepan.
Walaupun hanya mempergunakan tangan kirinya, tetapi
tenaga melempar Yo Ko hebat luar biasa. Bukankah
Kaisar Mangu terbinasa akibat timpukan batu oleh Yo Ko
yang mempergunakan tangan kirinya juga, dengan ilmu
"Tan Cie Sin Thong ?" Maka dari itu bisa dibayangkan.
betapa hebat dan kerasnya lemparan Yo Ko terhadap
Liang Ie Tu, lebih-lebih Yo Ko tengah dalam keadaan
kuatir dan gusar melihat isterinya yang mendadak pucat
pias seperti itu.
Tubuh Liang Ie Tu yang terlempar belasan tombak itu,
telah terbanting keras.
Tetapi setelah mengeluarkan suara seruan kesakitan,
tanpa berani menoleh, lagi dia telah pentang kaki untuk
kabur secepatnya.
Tetapi baru berlari belasan langkah, tahu-tahu dari
atas menyambar bayangan hitam yang sangat besar,

tahu-tahu tubuh Liang Ie Tu telah melayang dan
kemudian meluncur jatuh lagi.
Rupanya Sin Tiauw pun mengetahui bahwa Liang Ie
Tu bukan sebangsa rnanusia baik-baik,. tadi dia yang
menyambar dengan, cengkeramannya dan membawa
terbang yang cukup tinggi, lalu melepaskannya kembali.
Semangat Liang Ie Tu seperti terbang meninggalkan
raganya tanpa berani bersuara dia telah melarikan diri
secepat mungkin karena takut tersiksa lagi.
Yo Ko telah cepat-cepat menghampiri Siauw Liong Lie,
menanyakan dengan halus apa yang dirasakan oleh
isterinya tersebut. Setelah mendengar bahwa isterinya
mabuk, dan pinggangnya yang sakit, Yo Ko cepat-cepat
mengangkat, isterinya dan dibawa kekamarnya lalu
merebahkan isteri nya dipembaringan dengan penuh
kasih sayang.
Dengan kuatir sekali Yo Ko duduk menunggui Siauw
Liong Lie. Dilihatnya berangsur-angsur wajah" isterinya
memerah kembali dan Siauw Liong Lie pun telah dapat
tersenyum lagi.
„Itulah gangguan anak kita yang nakal...." kata Siauw
Liong Lie dengan manja.
Yo Ko mengusap-usap kening isterinya dengan tangan
tunggal kirinya, mereka bahagia sekali.
Tetapi ketika Yo Ko rebah dipembaringan dan Siauw
Liong Lie telah tertidur nyenyak, kembali pikiran Yo Ko
jadi melayang-melayang diliputi kekuatiran terhadap It
Teng Taisu.
Sesungguhnya peristiwa hebat apakah yang telah
terjadi ? Dan mengapa surat It Teng Taisu bisa terjatuh
ketangan orang she Liang ini? Siapakah orang she Liang
itu yang mengakui dirinya pernah paman dengan It Teng
Taisu.

Bermacam-macam pertanyaan. meng aduk-aduk, dalam
hati dan otak Yo Ko dan Pendekar berlengan tunggal
yang sakti itu telah memutuskan besok untuk berangkat
ke Hoa San untuk melihat sesungguhnya urusan apakah
yang telah terjadi dan melanda dunia persilatan, Setelah
mengambil keputusan seperti itu, barulah Yo Ko dapat
memejamkan matanya dan tidur.
Keesokan harinya. Setelah mempersiapkan keperluan
dalam perjalanan, Yo Ko dan Siauw Liong Lie turun
gunung, meninggalkan puncak Siauw-hong untuk menuju
Hoa aan memenuhi undangan It Teng Taisu.
Sedangkan Sin Tauw ikut bersama mereka, terbang
ditengah udara, dengan sekali mengeluar kan suara
pekikkan yang nyaring.
Setelah melakukan perjalanan hampir sepuluh hari
lamanya, suatu sore m e r e k a tiba
dimuka perkampungan Lu-yang cung. Waktu itu baru
saja Yo Ko ingin memberitahukan Siauw Liong Lie bahwa
mereka akan bermalam di-kampung tersebut, karena
Siauw Liong Lie tengah berisi, jelas tidak boleh terlalu
letih dan harus Banyak istirahat, Tetapi belum saja Yo-Ko
membuka mulut, justeru Sin Tiauw yang berada diatas
mereka telah memekik dan terbang cepat sekali kearah
depan.
Yo Ko, Siauw Liong Lie beran sekali melihat sikap Sin
Tiauw mereka menduga tentu ada urusan sesuatu yang
luar biasa. Lama juga menanti, akhirnya pasangan suami
isteri itu tidak dapat menahan hati lagi dan mengejar
kearah mana tadi Sin Tiauw terbang.
Disaat mereka tiba didekat tanah datar yang tidak jauh
dari tempat mereka berada tampak dua sosok tubuh yang
tengah berdiri kaku berhadapan saling mengadu
kekuatan tenaga dalam kelas tinggi.

Dan yang membuat mereka lebih terkejut justru salah
seorang diantara kedua orang itu adalah Loo Boan Tong,
sedangkan seorang lainnya, seorang berpakaian pendeta
Mongolia yang mengingatkan suami isteri itu kepada Kim
Lun Hoat Ong.
Disamping gelanggang pertempuran itu tampak
seorang pemuda pelajar tengah menyaksikan jalannya
pertarungan tenaga dalam kelas satu itu dengan mata
terpentang lebar-lebar memancarkan ketakjubannya.
Yoko dan Siauw Liong Lie tidak mengenal pemuda
pelajar itu.
Tetapi tampak Ciu Pek Thong telah mulai kewalahan
menahan tenaga dalam dari lawannya sepasang kakinya
telah melesak kedalam tanah sedalam empat cun karena
terlampau kuatnya dia menahan sanggahan dari tindihan
tenaga dalam pendeta mongolia itu.
„Liongjie, kau tunggu disini, biar kubereskan dulu
urusan Ciu Toako.. !" kata Yo Ko.
Siauw Liang-Lie mengangguk, dan Yo Ko secepat
terbang telah melompat ketengah gelanggang,
sedangkan mulutnya telah berteriak nyaring : „Loo Boan
Thong, jangan takut, aku akan membereskan imam ini !"
Ciu Pek Thong kaget bercampur girang. Kaget karena
sahabatnya yang sakti itu bisa muncul disitu secara
kebetulan, girang karena dengan kedatangan Yo Ko, Tiat
To Hoat ong yang menjadi lawannya itu akan dibereskan
dengan cepat.
Tetapi Ciu Pek Thong tidak bisa menyahuti karena
sekali saja dia membuka suara, berarti pecahlah
perjalanan tenaga dalamnya, yang tengah dikerahkan
mencapai puncaknya. Ciu Pek Thong hanya berdiam diri
saja.

Saat itu Yo Ko secepat kilat telah menggerakkan
lengan kanan jubahnya yang “kosong” dan serangkum
angin yang luar biasa telah menyambar kearah Loo
Boan Tong dan Tiat To Hoat ong, kesudahannya hebat
sekali, karena baik Ciu Pek Thong maupun Tiat To Hoat
ong keduanya telah terdorong mundur terpisah satu
dengan yang lainnya.
Yang paling terkejut adalah Tiat To Hoat-ong. Dia bisa
mengetahui betapa hebat dan luar biasanya tenaga
dalam Yo Ko yang sempurna karena tidak mudah
memisahkan doa tenaga raksasa yang tengah mengukur
kekuatan satu dengan yang lainnya.
Tetapi Yo Ko justru dengan hanya sekali mengibas
saja, dia telah berhasil membuat kedua orang itu terpisah.
Yo Ko mengawasi pendeta Mongolia itu. Kemudian dia
membungkukkan tubuhnya sedikit sambil tanyanya ;
„Jika aku yang bodoh Yo Ko tidak salah mata, Taisu tentu
seorang Lhama dari Mongolia . . . . ?
„Tepat!" berseru Tiat To Hoat ong dengan bengis.
matanya masih mengawasi lengan baju Yo Ko yang
kosong maka dia mengetahui, pemuda dihadapannya
yang tampaknya berusia muda sekali dan memiliki
kepandaian luar biasa disamping sangat tampan itu,
ternyata hanya memiliki tangan tunggal, karena tidak
memiliki tangan kanan, yang ternyata telah buntung.
Melihat cara pendeta itu menatap tangan kanan yang
buntung itu Yo Ko tidak tersinggung hanya dengan
tersenyum sabar dia telah menegur; „Peperangan telah
berakhir, pasukan tentara perang negeri Taisu telah
ditarik pulang oleh Kublai ke-Utara, mengapa Taisu
masih berkeliaran disini? Dilihat dari kepandaian yang
Taisu miliki, jelas Taisu bukan orang sembarangan
dinegerimu, "

Tiat To Hoat-ong yang tengah murka, dan memang
tidak mengenal Yo Ko, telah mendengus, dia telah
mengawasi mendelik dan menunjuk kearah Loo Boan
Thong.
Dia mencari mampus. Hudya telah bertanya secara
baik. apakah dia mengenal atau mengetahui dimana
adanya sute (adik seperguruan) Hudya yang bernama
Kim Lun Hoat-ong namun sungguh tidak tahu mati, dia
telah mempermain kan Hudya dengan olok-olokannya
yang tidak lucu".
Mendengar Loo Boan Tong mempermainkan pendeta
Mongolia itu. dan melihat pendeta itu murka sekali, Yo
Ko tak heran, justeru dia berpikir jika Loo Boan Tong
tidak nakal, tentunya dia bukan Loo Boan Tong.
Tetapi yang membuat Yo Ko jadi terkejut, justru
pendeta Mongolia itu telah menyebut-nyebut Kim Lun
Hoat-ong sebagai adik seperguruannya, disamping itu
juga Yo Ko melihat kepandaian pendeta ini tidak boleh
dibuat main-main. Maka sambil tersenyum Yo Ko telah
berkata. Taisu, sungguh malang nasib Kim Lun Hoat
ong, dia telah binasa karena dosanya yang terlalu melebihi
takaran...!"
Muka Tiat To Hoat ong jadi berobah hebat, „Jadi
memang benar Kim Lun Hoat ong telah meninggal?"
tanyanya serak suaranya. Yo Ko mengangguk.
„Hmm, pendeta tak tahu malu!" memaki Loo Boan
Tong. „aku Loo Boan Tong seumurnya belum pernah
berdusta.... bukankah tadi aku telah bicara benar bahwa
si bangsat gundul Kim Lun telah mampus? Dan juga,
mengapa tak hujan tak angin tahu-tahu engkau
memanggil aku si monyet? Siapa yang tidak membalas
dengan guyon pula. Jika engkau ingin menyusul Kim
Lun si gundul bangsat itu, pergilah ke Im Lau tetapi

jangan mengajak aku, aku sudah bilang tadi, aku masih
mau makan nasi...."
Mendengar dan melihat lagak Ciu Pek Thong maka Yo
Ko mau tidak mau jadi tertawa juga, karena sikap situa
yang kekanak-kanakan memang lucu
Tetapi bagi Tiat To Hoat ong, sikap Ciu Pek Thong
merupakan hinaan yang sangat hebat sekali, dengan
mengeluarkan suara mengerang menyeramkan, dia telah
melompat menubruk Ciu Pek Thong sambil melancarkan
serangan dan gempuran telapak tangan hebat sekali.
Namun Yo Ko telah bergerak cepat, dengan lengan
jubah sebelah kanan yang kosong, Yo Ko mengibas
sehingga kembali serangkum angin yang menerjang Tiat
To Hoat-ong memaksa pendeta Mongolia itu mau tidak
mau harus mundur beberapa langkah.
Tentu saja Tjat To jadi terkejut sekali.
„Bocah busuk, siapa kau sesungguhnya ?' bentak Tiat
To Hoat-ong setelah berhasil menguasai tubuhnya.
“Hm, jika memang benar apa yang Taisu katakan tadi
bahwa kedatangan Taisu untuk mencari adik
seperguruan Taisu, maka setelah Taisu mengetahui dan
mendengar keterangan mengenai diri adik seperguruan
Taisu itu, mengapa Taisu tidak berlalu ?".
Tajam kata-kata Yo Ko, yang sama juga seperti
mengusir pendeta itu.
Tubuh Tiat To Hoat-ong gemetar keras, dia murka
bukan main, jenggotnya itu sampai bergetar ber gerakgerak.
Tetapi, disaat itu hatinya ragu-ragu. Dia melihat
pemuda ini masih berusia muda sekali, tetapi
kepandaiannya luar biasa, lwekangnya pun mungkin
berimbang dengannya.

Maka mau Tiat To Hoat-ong menduga bahwa tidak
jauh dari tempat ini pasti ada guru dari pemuda
berkepandaian hebat itu.
Maka berpikir begitu, akhirnya Tiat To Hoat-ong
mengambil keputusan untuk mengalah saja dulu. Dia
memang bukan hanya memiliki kepandaian yang hebat,
memiliki ilmu golok gubahan yang tangguh sekali, yang
belum digunakan, tetapi otaknya cerdik sekali. Maka
akhirnya dia telah mengangguk !
„Baiklah", katanya. „Kelak Hudya tentu akan
mencarimu untuk melihat berapa tinggikah
sesungguhnya kepandaianmu. Sekarang Hudya tengah
sibuk karena memiliki urusan penting, maka tidak bisa
menemanimu untuk main-main" dan setelah berkata
begitu, ia lalu menoleh dan mendelik satu kali lagi
kepada Ciu Pek Thong, Tiat To Hoat-ong melompat
ringan keatas kudanya yang kemudian dilarikan
ketengah tegalan dengan cepat sekali, dalam sekejap
mata telah lenyap dari pandangan mata Yo Ko, Ciu Pek
Thong, Siauw Liong Lie maupun Cu Kun Hong.
„Ahaa, untung saja kau datang Yo Hiante!" berseru
Ciu Pek Thong memecahkan kesunyian tempat itu.
„Kalau tidak, hu, hu, kalah sih belum tentu, tetapi yang
jelas harus membuang banyak tenaga sia-sia".
Yo Ko dan Siauw Liong Lie tertawa waktu mendengar
perkataan Ciu Pek Thong yang jenaka itu.
Cu Kun Hong cepat-cepat menghampiri mereka, dia
memberi hormat sambil katanya: „Boanpwe Cu Kun Hong
sangat beruntung hari ini dapat bertemu dengan Samwie
Taihiap Locianpwe".
Yo Ko cepat-cepat mencegah pemuda itu lebih hormat
kepada mereka. Sebagaimana lazimnya Yo Ko bertiga Ciu
Pek Thong dan Siauw Liong Lie melayani hasrat Cu Kun

Hong untuk berkenalan, dan setelah basa-basi sejenak,
akhirnya Yo Ko bertiga Siauw Liong Lie dan Ciu Pek
Thong berlalu.
Cu Kun Hong mengawasi kepergian ketiga pendekar
gagah itu dengan sorot mata kosong, hatinya kagum
sekali akan kepandaian ketiga orang gagah itu. Gurunya
sendiri belum tentu dapat menandingi seperlima dari
kepandaian salah seorang ketiga pendekar itu.
Maka dari itu, Kun Hong lama berdiri tertegun
ditempatnya, walaupun bayangan ketiga pendekar itu
sudah tidak terlibat. Dan akhirnya sambil menghela
napas, Kun Hong juga telah melanjutkan perjalanannya.
Hanya satu yang menghibur hatinya, tidak mudah
orang berjumpa dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie,
tetapi hari ini dia telah berhasil sekaligus bertemu muka
dan menghunjuk hormat kepada Yo Ko, Siauw Liong Lie
dan Ciu Pek Thong.
KINI Ciu Pek Thong melakukan perjalanan bersama Yo
Ko dan Siauw Liong Lie, Jarak ke Hoa San dari tempat
mereka berada sudah tidak terpisah terlalu jauh. Setelah
melakukan perjalanan kurang lebih sepuluh hari,
akhirnya mereka tiba dikaki gunung Hoasan sebelah
selatan.
Dari jauh, baik Yo Ko maupun Siauw Liong Lie dan Ciu
Pek Thong telah melihat menjulangnya puncak Giok Lie
Hong yang tinggi dan megah.
Yo Ko menjelaskan kepada Ciu Pek Thong dan Siauw
Liong Lie, dia merasa heran bukan main atas adanya
peristiwa seperti ini karena walaupun bagaimana dia
merasakan bahwa didalam urusan yang tengah terjadi ini
pasti terselip suatu urusan yang mencurigai dan tidak
beres.

It Teng Taisu merupakan salah seorang dari Ngo Ciat,
lima jago luar biasa, dan mungkin diantara kelima jago
dalam urutan Ngo Ciat tersebut, It Teng Taisu yang
memiliki kepandaian yang tertinggi dengan „It Yang
Cie"nya,
Umpama kata memang terjadi suatu urusan yang
hebat bagaimanapun, dengan mengandalkan
kepandaiannya yang telah mencapai puncak
kesempurnaannya, It Teng Taisu tentu akan berhasil
menghadapi dan menyelesaikannya sendiri.
Yang mengherankan justru kini It Teng Taisu telah
mengundang Yo Ko dan Siauw Liong Lie, mengundang
Ciu Pek Thong, ahkan didalam surat It Teng Taisu
kepada Yo Ko telah dijelaskan pendeta dari Selatan
itupun telah mengundang Kwee Ceng dan Oey Yong
yang menurut suratnya telah berangkat dan akan
berkumpul di Hoa San. didekat makam Auwyang Hong
dan Ang Cit Kong.
Entah urusan besar yang bagaimana sehingga seorang
It Teng Taisu perlu mengundang jago-jago Ngo Ciat
untuk bantu menyelesaikan urusannya itu.
Tetapi yang lebih mendatangkan kecurigaan dihati Yo
Ko bertiga, justru surat yang disampaikan untuk Yo Ko
itu diantar oleh seorang yang mencurigakan sekali, yang
mengaku bernama Liang Ie Tu itu, yang akhirnya
berusaha mencuri pedang dan golok Yo Ko.
Waktu Yo Ko menanyakan kepada Ciu Pek Thong,
siapakah orangnya yang telah mengantar kan surat It
Teng, yang ditujukan untuk Loo Boan Thong tersebut,
Ciu Pek Thong menjelaskan diapun menghadapi teka-teki
yang membinggungkan, karena pembawa surat It Teng
Taisu untuknya itu adalah seorang wanita pengemis yang
pakaiannya pecah dan robek-robek mesum sekali,
berusia diantara dua puluh tujuh tahun dan nampaknya

agak sinting. Dengan lagaknya yang edan-edanan seperti
itu, tentu saja Ciu Pek Thong tidak bisa mengorek
keterangan apa-apa dari pembawa surat.
Namun disebabkan pemikiran Ciu Pek Thong memang
sederhana dan polos, setelah membaca isi surat It Teng
Taisu, yang sebagian besar, bunyinya itu mirip dengan
surat yang diterima Yo Ko, Loo Boan Tong hanya berpikir
untuk cepat-cepat melakukan perjalanan ke Hoa san untuk,
memenuhi undangan It Teng Taisu disamping itu
dia juga memang bermaksut untuk bertemu dengan
sabahat-sabahatnya yang telah dirindukan nya. Tetapi
dalam perjalanan justru dia telah dapat bertemu dengan
Yo Ko dan Siauw Liong Lie.
Pertemuan itu memang menggembirakan. Tetapi
dengan munculnya persoalan Tiat To Hoat-ong.
membuat mereka harus berpikir keras, bahwa urusan
yang tengah dihadapi It Teng Taisu justru memiliki
hubungan yang erat dengan pihak orang-orang
Mongolia.
Walaupun bagaimana, memang kenyataannya mereka
belum bisa menjawab sendiri teka-teki yang tengah
mereka hadapi, disamping itu urusan belum pula
menjadi jelas dengan hanya men duga-duga. Dan jika
kelak telah bertemu dengan pendeta dari selatan itulah
baru persoalan menjadi jelas.
Akhirnya Yo ko, Siauw Liong Lie dan Ciu Pek Thong
memutuskan tidak ingin memusing kan pikiran mereka
dengan persoalan tersebut bukankah dalam beberapa
hati lagi mereka segera akan bertemu dengan It Teng
Taisu.
Maka pada waktu-waktu luang yang mereka miliki
telah dipergunakan untuk pesiar menikmati keindahan
yang terdapat di Hoasan, bahkan Siauw Liong Lie dan Yo
Ko tidak lupa mendatangi kuil kecil yang berada

dipuncak Giok Lie Hong, puncak Bidadari i t u , dimana
terdapat patungnya "bidadari" yaNG pahatannya dan
bentuknya mirip dengan Cauwsu (nenek guru) mereka.
Kenyataan seperti itu memang lebih menggembirakan,
karena tanpa memikirkan persoalan-persoalan yang tidaktidak
dan belum pasti mereka dapat menikmati keindahan
yang terdapat di Hoa San. Memang Hoa San terkenal
sekali memiliki banyak tempat-tempat yang indah. dan
keindahan yang terdapat di Hoa San tidak kalah jika
dibandingkan dengan keindahan di Himalaya maupun
Thian san.
JILID 4
CIU Pek Thong memang memiliki sifat berandalan, dia tidak
bisa berdiam lama-lama di-kuil kecil dipuncak Bidadari, dan dia
meminta ijin dari Yo Ko dan Siauw Liong Lie untuk mengelilingi
bagian-bagian lainnya di gunung itu.
Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak mencegahnya, karena
memang mengenal sifat Loo Boan Tong.
Sedangkan Yo Ko dan Siauw Liong Lie menikmati
keindahan dipuncak Giok Lie Hong dengan hati yang bahagia,
terlebih lagi mereka teringat bahwa tidak lama lagi mereka
akan menjadi ayah dan ibu dari seorang bayi yang mungil.
Jika anak kita telah berusia dua tahun, kita harus
mendidiknya baik-baik. disaat itu kita harus mulai menurunkan
pelajaran lweekang sehingga disaat dia berusia lima belas
tahun lweekangnya telah sempurna seperti kita sekarang
ini...!" bisik Yo Ko dengan suara YANG halus.
Siauw Liong Lie mengangguk manja, dia merebahkan
kepalanya dibahu Yo Ko yang KANAN, yang tidak terdapat

lengannya, dia mempermainkan hidung suaminya dengan
usapan yang lembut dan mesra sekali.
„Kojie kau mengharapkan anak LELAKI atau anak
perempuan ?" tanya Siauw Liong Lie.
Jika Thian memberi anak laki-laki, aku sangat bersyukur
tetapi jika Thian menganugerahkan anak perempuan, akupun
bahagia sekali..." menyahuti Yo Ko.
„Kalau aku justru mengharapkan kedua-dua nya sekaligus,
mudah-mudahan kita memperoleh anak kembar", kata Siauw
Liong Lie seperti juga menggumam sendirinya.
„Liongjie, jika memang kita memperoleh anak kembar, kau
tentu terlalu letih.. !" halus sekali suara Yo Ko.
Disamping itu mereka menikmati keindahan disekitar
tempat itu dengan penuh kebahagian, dunia seperti dimiliki
mereka berdua.
Ciu Pek Thong yang meninggalkan Yo Ko dan Siauw Liong
Lie dipuncak Giok Lie Hong, telah putar kayuh tidak ada
tujuan.
Semua pemandangan disekitarnya, walaupun indah namun
dia tidak tertarik. Tidak ada yang luar biasa yang bisa
menyalurkan kenakalannya.
Tanpa disadarinya, akhirnya dia telah tiba disebelah barat
gunung Hoa San, ditempat mana kedua kuburan Auwyang
Hong dan Ang Cit Kong yang letaknya berdampingan itu
berada.
Semula Ciu Pek Thong hanya ingin memaki-maki kuburan
Auwyang Hong, untuk melampiaskan kemendongkolannya
karena tidak memperoleh permainan yang menarik disekitar
Hoa San tidak berhasil menjumpai seseorang yang bisa di
permainkan dan digodanya.

Tetapi waktu tiba dihadapan kuburan Ang Cit Kong dan
Auwyang Hong, Ciu Pek Thong di berdiri tertegun bagaikan
patung, memandang kearah kedua kuburan itu, yang batu
nisannya telah hancur, disamping itu juga gundukan tanah
kuburan itu telah tidak karuan, meninggalkan dua buah lobang
dan kosong tidak ada isinya.
Setelah tersadar dari kagetnya, Ciu Pek Thong berjingkrak
karena gusarnya, dia telah be teriak-teriak sambil memandang
sekelilingnya.
Disaat itu, disekitar tempat tersebut tidak ada seorang
manusiapun. Dan setelah puas me maki-maki kalang kabutan,
Ciu Pek Thong berjongkok dan memeriksa kedua kuburan
Auwyang Hong dan Ang Cit Kong yang telah kosong itu.
Ternyata kedua kuburan dari kedua tokoh rimba persilatan
itu telah kosong. Bekas-Bekas tanah yang berserakan itu
memperlihatkan bahwa tanah digali bukan dengan
mempergunakan pacul melainkan dalam bentuk cakar-cakaran
benda tajam.
Melihat itu Ciu Pek Thong ingin menduga tentu ada
harimau atau macan kelaparan yang menggali kuburan
tersebut. Tetapi kemudian Ciu Pek Thong telah membantah
sendiri pendapatnya itu, karena tidak mungkin harimau
membongkar kuburan.
Disamping itu, Ciu Pek Thong juga telah melihat nya
bongpay hancur berantakan karena di hantam oleh suatu
kekuatan yang pasti disertai oleh lwekang yang sempurna
sekali.
Siapakah orangnya yang telah merusak kuburan Auwyang
Hong dan Ang Cit Kong : sungguh berani selali orang yang
melakukan perbuatan itu ?
Apakah surat undangan yang diberikan oleh It Teng Taisu
memiliki hubungan dan sangkut paut dengan urusan ini ?,

Karena tidak bisa memutuskan sendiri, bagaikan angin Ciu
Pek Thong telah ber lari-lari menuju ke Giok Lie Hong.
Hanya menelan waltu yang tidak terlalu lama, karena Ciu
Pek Thong mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya
sehingga dia bisa berlari secepat angin, Loo Boan Tong telah
tiba dipuncak Giok Lie Hong.
Saat itu, Yo Ko dan Siauw Liong Lie tengah menikmati
keindahan yang terdapat dil muka kuil kecil yang terdapat
disitu, mereka jadi heran bukan main melihat Loo Boan Tong
berlari-lari seperti dikejar setan, muka situa nakal itu juga
pucat disamping napasnya yang memburu keras sekali.
„Yo Hiante....celaka Yo Hiante......!" suara Ciu Pek Thong
memburu keras sekali.
„Loo Boan Tong, seumur hidup kami baru kali ini kami
melihat kau gugup dan ketakutan! seperti dikejar-kejar setan
!" menggoda Sauw Liong Lie sambil tersenyum.
„Benar ! Benar ! Hari ini aku benar bertemu dengan
setan....Justru setan penasaran. Setannya Auwyang Hong dan
Ang Cit Kong yang telah bangkit dari liang kuburnya !”
Masih Loo Thong berusaha berjenaka dalam keadaan
gugupnya seperti itu.
Keruan Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi kaget bukan main.
„Setan penasaran!" tanya mereka hampir serentak.
„Ya...mari kalian ikut bersamaku kuburan Pak Kay dan See
Tok telah kosong. Mengangguk Ciu Pek Thong, Yang
dimaksud dengan Pak Kay adalah Ang Cit Kong sedangkan
See Tok adalah julukan Auwyang Hong semasa masih
menduduki urutan Ngo Ciat.
Keruan saja Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi kaget bukan
main, tanpa banyak bertanya lagi mereka seGERA MENGIKUTI

CIU BOAN Thong untuk melihat keadaan kedua kuburan dari
kedua tokoh rimba persilatan itu.
Waktu mereka tiba dihadapan kedua kuburan yang telah
kosong itu, Yo Ko dan Siauw Liong Lie jadi berdiri menjublek
Bukan main terkejutnya mereka, disamping juga merekapun
murka sekali. „Siapa manusia kurang ajar yang berani mati
melakukan pekerjaan seperti ini ?
menggumam Yo Ko dengan gusar. Tubuhnya, tampak
menggigil menahan kemurkaannya yang bukan main.
Segera juga Yo Ko dan Siauw Liong Lie melakukan
pemeriksaan disekitar bekas kedua kuburan itu, yang telah
kosong dan menyiarkan bau busuk dari mayat manusia...
Seperti juga halnya Ciu Pek Thong, maka pasangan suami
isteri tersebut menemui bekas cakaran-cakaran ditanah yang
berserakan itu.
„Aneh ?” Tiba-Tiba Siauw Liong Lie telah ber seru.
„Apanya yang aneh ?" tanya Ciu Pek Thong cepat, sambil
mengawasi nyonya Yo itu.
Sedangkan Yo Ko hanya mengawasi isteri nya menantikan
keterangan isterinya.
Siauw Liong Lie menghela napas dalam-dalam.
„Kedua orang ini telah meninggal dunia dalam waktu yang
cukup lama, mengapa baru sekarang kuburan mereka
dibongkar orang ? Terlebih lagi, apa gunanya mayat-mayat
yang hanya tinggal rangka belaka ? Apakah ada sesuatu yang
tengah dicari oleh orang yang membongkar kuburan ini ?
Bukankah ini sangat aneh sekali ?". Yo Ko mengangguk.
„Mungkin juga surat undangan It Teng Taisu kepada kita
memiliki hubungannya dengan peristiwa ini......!" Yo Ko coba
mengemukakan pikirannya.

Siauw Liong Lie menggeleng. „Tidak !" katanya tegas.
„Mengapa tidak ?".
„Ya, mengapa tidak ?" ikut bertanya Ciu Pek Tbong, karena
situa jenaka itu memang penasaran sekali.
Siauw Liong Lie kembali menghela napas „Jika memang It
Teng Taisu mengundang kita hanya disebabkan kedua
kuburan ini dibongkar orang, tentu dia tidak akan mengatakan
di dalam suratnya sebagai urusan besar. Juga untuk urusan
seperti ini, pasti It Teng Taisu tidak akan ribut-ribut, dia pasti
dapat menyelidkii sendiri.
Namun, kukira didalam persoalan ini pasti terselip urusan
yang aneh dan seperti yang dibilang oleh It Teng Taisu, yaitu
urusan yang besar...".
Yo Ko mengangguk membenarkan pendapat isterinya,
Tetapi Loo Boan Tong telah menggeleng-gelengkan
kepalanya.
„Tidak tepat......." dia menggumam.
„Bagaimana pendapatmu, Ciu Toako ?" tanya Yo Ko.
„Menurut dugaanku, Lam Ceng sudah tua dan pikun, waktu
secara kebetulan sekali dia mengetahui kedua kuburan ini
dibongkar orang, dia merasakan tenaganya sudah tidak
memadai akibat usianya yang telah lanjut. Maka dia telah
meminta bantuan kepada sahabat-sahabat untuk
menyelidikinya. Tentu saja didalam persoalan ini, yang
disebutnya sebagai urusan besar, tidak lain dari urusan
pendeta gundul dari Mongolia Tiat To Hoat-ong itu .....!".
„Tepat !" berseru Siauw Liong Lie. „Dibongkarnya kedua
kuburan ini oleh seseorang tentu memiliki hubungannya
dengan kedatangan pendeta Mongolia itu kedaratan
Tionggoan ".
“Jika melihat demikian, tentu akan muncul urusan yang
cukup hebat ..." menggumam Yo Ko.

„Hebat atau tidak semuanya memang sudah tulisan takdir,
dan semua kita harus hadapi," kata Loo Boan Tong. „Yang
terpenting adalah justru mencari dulu kedua mayat See Tok
dan Pak Kay. kasihan jika tulang kerangka mereka diberikan
untuk disantap anjing-anjing buduk ".
Dalam keadaan seperti itu, Loo Boan Tong masih bisa
berjenaka dia telah tertawa terkekeh-kekeh.
Sedangkan Yo Ko telah mengerutkan sepasang alisnya,
kerena dia tengah berpikir keras.
Secara beruntun telah bermunculan urusan yang
membuatnya jadi bertanya-tanya. Seperti munculnya Liang Ie
Tu yang mencurigakan, munculnya pengantar surat It Teng
Taisu. Lalu Tiat To Hoat ong, yang kepandaiannya luar biasa
tingginya. Dan kini kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang
Hong telah dibongkar orang sehingga
tulang-tulang mereka lenyap tidak karuan parannya......
Dan juga, siapakah wanita yang berpakaian pecah-pecah
yang mengantarkan surat It Teng Taisu kepada Ciu Pek Thong
? semua itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saling
rangkai tidak hentinya.
Disaat seperti itu, ditengah udara terdengar suara pekik
burung rajawali. Waktu Yo Ko bertiga mengangkat kepala
memandang keatas, mereka melihat Sin Tiauw tengah terbang
melayang-layang akan menerkam mangsanya, yaitu seekor
kelinci berbulu putih. Kelinci itu tampak ketakutan, dia telah
berlari-lari kesana kemari dengan dikejar olah Sin Tiauw dari
tengah udara.
Waktu kelinci itu lewat didekat mereka, Yo Ko maupun
Siauw Liong Lie mengetahui walaupun bagaimana kelinci itu
pasti akan berhasil ditangkap oleh Sin Tiauw yang sakti itu.

Anehnya Sin Tiauw tidak segera meluncur terbang turun
menukik untuk mencengkeram mangsanya itu, walaupun
kelinci tersebut telah berlari-lari dilapangan terbuka seperti itu.
Karena ketakutan sekali dikejar-kejar terus oleh Sin Tiauw
yang seperti ingin mempermainkan dirinya, kelinci itu akhirnya
berlari kearah lobang bekas kuburan Auwyang Hong.
Disaat itulah, Sin Tiauw telah menukik se cepat kilat,
sayapnya yang lebar terpentang lebar lebar, sehingga
bayangan hitam meliputi sekitar kedua kuburan itu, disaat
itulah Sin Tiauw telah memekik dan walaupun jarak mereka,
yaitu jarak Sin Tiauw dangan kelinci itu masih terpisah empat
tombak dan disaat kelinci itu akan menyelusup masuk
kedalam lobang kuburan itu, sayap kanan dari Sin Tiauw telah
mengibas.
Luar biasa kibasan sayapnya itu, karena tubuh kelinci
tersebut terangkat dari tanah dan terlontarkan ketengah
udara. Disaat tubuh kelinci itu terapung ditengah udara, Sin
Tiauw telah dengan cepat sekali mencengkeram mangsanya
dan membawanya terbang tinggi sekali.
„Bagus ! Bagus " berseru-seru Ciu Pek Thong kagum
melihat cara menangkap yang dilakukan oleh Sin Tiauw, yang
lain dengan cara-cara burung rawajali lainnya jika menangkap
mangsanya yang biasa hanya menukik dan mencengkerem.
Tetapi disebabkan Sin Tiauw memang memiliki ilmu silat kelas
satu, kibasan sayapnya mengandung kekuatan yang luar biasa
sekali . . . !
Dengan hati berduka dan berat Yo Ko menghela napas
dalam-dalam. Siauw Liong Lie dapat menyelami perasaan hati
suaminya tersebut, dan kini kuburannya dibongkar seseorang,
tulang belulangnya lenyap, bukankah hal itu menimbulkan
kedukaan ?
Baru saja Siauw Liong Lie ingin menghibur suaminya, Yo Ko
telah berkata perlahan; „Ternyata sampai matinya dia tidak

bisa beristirahat dengan tenang, tulang-tulangnya masih juga
diganggu orang . . . .
„inilah takdir, semasa hidupnya See Tok beracun sekali,
tidak mengherankan banyak yang membencinya !" kata Ciu
Pek Thong sambil tertawa.
„Tetapi, apakah Pak Kay Ang Cit Kong juga beracun?” tanya
Yo Ko.
Ciu Pek Thong tertegun, dia memandang diam sejenak, lalu
menggeleng-gelengkan kepalanya.
katanya : „Sudahlah, aku tidak tahu apa sesungguhnya
yang terjadi, tetapi yang jelas kita harus membekuk
pembongkar kuburan ini. Yo Ko mengangguk.
„Ya, tetapi kita harus menantikan dulu It Teng Taisu,
walaupun bagaimana urusan ini terlampau berbelit dan
membingungkan sekali. It Teng Taisu tentu dapat memberikan
penjelasan yang membuka tabir rahasia membingungkan ini.
Waktu yang dijanjikannya tinggal dua hari lagi"
„Tetapi Kojie, jika dilihat tanah yang berserakan ini,
tampaknya kuburan dibongkar belum lama. Jika kita hanya
berpeluk tangan menantikan It Teng Taisu selama dua hari
lagi bukankah penjahat itu sudah melarikan diri jauh sekali ?"
tanya Siauw Liong Lie.
Yo Ko diam sejenak, seperti juga tengah berpikir keras.
Akhirnya dia mengangguk
„Baiklah, sambil menantikan kedatangan It Teng Taisu dan
Kwee Peehu dan Peebo, kita mencari penjahat itu. Tiauw-heng
mungkin akan dapat membantu banyak."
Dan setelah berkata begitu, Yo Ko bersiul nyaring sekali,
dan tidak lama kemudian Sin Tiauw terbang mendatangi
dengan cepat, Kelinci buruannya masih dicengkeramnya dan
waktu burung rajawali itu tiba, Siauw Liong Lie telah
mengambil kelinci itu.

„Tiauw-rteng" kata Yo Ko kemudian bersungguh-sungguh.
„kami membutuhkan sekali bantuanmu, mungkin kau bisa
memecahkan teka teki yang tengah kami hadapi ini."
Burung rajawali itu seperti mengerti perkataan Yo Ko
karena dia telah mengangguk-angguk perlahan sambil
mengeluarkan suara pekikan berulangkali.
„Kini kau coba endus dulu bau dari kedua kuburan itu, lalu
Tiauw-heng pergi mencari penjahat yang membongkar kedua
kuburan itu disekitar. tempat ini, mungkin mereka belum pergi
jauh" kata Yo Ko lagi.
” Burung rajawali itu telah mengangguk lagi, lalu
menghampiri kedua lobang kuburan yang telah kosong itu, dia
segera memperhatikan sejenak," lalu dia mengeluarkan suara
pekikan, tubuh nya telah melayang ketengah udara, terbang
tinggi sekali. Sayapnya yang lebar dan besar itu terdengar
berbunyi berkepak-kepak tidak hentinya, semakin lama
semakin menjauh, sehingga akhirnya hanya terlihat titik
belaka dan kemudian lenyap dari pandangan Yo Ko bertiga. Yo
Ko menghela napas. „Jika dilihat perkembangan yang ada
seperti Sekarang ini, tampaknya sulit bagi kita untuk hidup
tenang tenteram, Liongjie" kata Yo Ko.
Siauw Liong Lie mengangguk. „Ya, jika dilihat demikian
memang sulit kita hidup tenang dan tenteram, karena persoalan
yang muncul tentu persoalan yang cukup luar biasa, yang
memaksa kita untuk melibatkan diri . . . ! Sebagai contoh,
dapat kita lihat dibongkarnya kuburan See Tok dan Pak Kay . .
!" Yo Ko mengangguk mengiyakan. „Dan yang terpenting lagi
adalah persoalan munculnya Tiat To Hoat-ong, kakak
seperguruan Kim Lun Hoat-ong, jelas memaksa kita harus ber
siap-siap untuk menghadapinya, karena yang pasti Tiat To
Hoat ong tidak datang seorang diri, sedangkan kepandaian
pendeta itu tampaknya jauh lebih tinggi dari Kim Lun Hoatong"
Yo Ko diam tidak menyahuti, karena nyonya Yo tersebut
tengah berpikir keras. Persoalan yang tengah mereka hadapi

itu memang tidak bisa diremehkan, karena jika sampai
daratan Tionggoan telah diinjak oleh orang-orang atau jagojago
Mongolia, ancaman untuk ketenteraman negara Song
tersebut mulai terlihat lagi. Terlebih pula, dalam tiga tahun
terakhir ini, sejak Kublai mengajak pasukan perangnya
mundur ke Utara pulang kenegeri mereka, ia telah
memperoleh kemajuan yang pesat untuk membentuk pasukan
perang yang kuat dan dahsyat, jauh lebih berhasil dari Kaisar
Mangu, maka hal itu jelas merupakan ancaman yang tidak
kecil dan disadari oleh rakyat tionggoan.
Namun mereka benar-benar tidak berdaya disebabkan raja
dan pembesar Song umumnya telah mabok oleh kemenangan
yang diperoleh, selalu menenggelamkan diri dengan pesta
berfoya-foya lupa daratan, tidak ada perhatian mengurusi
negeri.
Lebih lagi memang banyak menteri-menteri bermuka dua,
yang secara diam-diam telah dihubungi Kublai dan
menyatakan kesediaannya untuk menyambut pasukan perang
negeri asing itu dari dalam. Itulah ancaman yang tidak kecil.
Yo Ko dan Siauw Liong Lie maupun beberapa orang-orang
gagah lainnya memutuskan untuk hidup mengasingkan diri,
karena muak melihat ke tidak sanggupan pembesar-pembesar
Song mengurus negara. Namun sebagai pecinta tanah air,
merekapun tidak bisa berpeluk tangan saja jika melihat negara
mereka terancam bahaya yang tidak kecil itu.
Ciu Pek Thong gelisah sendirinya karena Yo Ko maupun
Siauw Liong Lie seperti tenggelam dalam ke ragu-raguannya.
sedangkan dia juga tidak memiliki kesempatan mengajak
mereka ber cakap-cakap. si kakek tua jenaka itu jadi gatal
kakinya dan berangkat untuk menyusul Sin Tiauw guna ikut
mencari penjahat yang telah membongkar kuburan Auwyang
Hong dan Ang Cit Kong.
Namun, belum lagi dia menyatakan niatnya itu kepada Yo
Ko, tiba-tiba terdengar suara pekik Sin Tiauw dikejauhan dan

disusul kemudian dengan tampaknya burung rajawali itu
terbang mendatangi sambil mengeluarkan suara pekikan tidak
hentinya.
Walaupun bagaimana, sikap yang diperlihatkan oleh
rajawali merupakan kelakuan yang belum pernah terjadi, Yo
Ko dan Siauw Liong Lie jadi terkejut. Mereka segera menduga,
jelas ada sesuatu yang telah terjadi dan tidak dapat dihadapi
oleh burung rajawali tersebut.
Cepat-Cepat Siauw Liong Lie melepaskan kelinci yang sejak
tadi dipeganginya, lalu bersama Yo Ko mereka memapak
burung rajawali mereka, yang telah hinggap disamping
mereka.
Begitu melihat apa yang terjadi didiri Sin Tiauw, Yo Ko dan
Siauw Liong Lie mengeluarkan seruan kaget, dan cepat
memeriksa sayap burung tersebut, yang tampak mengucurkan
darah dan beberapa helai bulunya telah copot. Ternyata
beberapa batang jarum yang halus telah menempel disayap
burung tersebut, dan darah yang mengucur keluar berwarna
gelap kehitam-hitaman.
„Jarum beracun ?" berseru Siauw Liong Lie dengan suara
ditenggorokan, tidak lancar.
Yo Ko mengernyitkan alisnya dia mengambil dua batang
ranting untuk mencabut keluar jarum-jarum yang melukai
burung rajawali kesayangan mereka tersebut, dilihat dari
bentuk jarum yang gagangnya berwarna gelap ke hitamhitaman.
Yo Ko memang yakin jarum itu merupakan jarum
beracun. Dia bekerja cepat sekali setelah selasai mencabuti
jarum-jarum itu Yo Ko menempelkan tangan kanannya di
punggung rajawali sakti tersebut, mengempos semangatnya
menyalurkan lweekang nya ketubuh burung itu.
Rajawali itu seperti mengerti, dia berdiam diri saja, hanya
sekali-kali terdengar suara pekik perlahan bagaikan keluhan.

Tidak berselang lama, tampak dari bekas luka-luka itu
mengucur darah yang berwarna hitam, semakin lama semakin
merah dan akhirnya merah bersih. Terbebaslah rajawali sakti
itu dari keganasan racun jarum-jarum itu.
Siapa yang telah melukaimu, Tiauw heng ? tanya Siauw
Liong Lie.
Rajawali itu memekik sambil menggerakkan sayapnya yang
satu menunjuk dari arah mana tadi dia terbang mendatangi.
„Biar aku melihatnya kesana......!" kata Ciu Pek Thong
sambil menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat pesat
sekali tanpa menanti jawaban Yo Ko maupun Siauw Liong Lie.
Yo Ko juga telah menoleh kepada Siauw Liong Lie sambil
katanya, „Liong-jie, kau lindungi Tiauw-heng, biar aku melihat
siapa yang melukainya ..."
Siauw Liong Lie mengangguk dengan hati gelisah. Nyonya
Yo liehay ilmu silatnya, tetapi melihat cara jarum-jarum yang
tadi melukai Sin Tiauw, yang letak kedudukannya mengambil
bentuk pat-kwa, maka tahulah dia bahwa orang yang
melepaskan jarum-jarum itu tentu memiliki kepandaian yang
tinggi sekali.
Disamping itu, Siauw Liong Lie menguatirkan sekali kapan
kalau racunnya masih mengendap ditubuh rajawali tersebut,
maka dia telah menempelkan lagi tangan kanannya, dia
menyalurkan tenaga lwekangnya berusaha mendorong darah
keluar dari luka-luka di-sayap rajawali tersebut.
Tetapi setelah melihat darah yang mengucur keluar
memang berwarna merah bersih, hati nyonya Yo baru lega
dan agak terhibur. Dengan penuh kasih sayang, dia meng
usap-usap burung ke sayangannya itu.
Sebetulnya, nyonya Yo seringkali duduk di-punggung
rajawali tersebut berkeliling-keliling dilembah Siauw-hong,
namun kini dia tidak tega untuk meminta Tiauw heng nya itu

membawanya terbang untuk menyusul Yo Ko dan Ciu Pek
Thong, maka akhirnya Siauw Liong Lie hanya bisa menanti
didekat kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong bersama
rajawali sakti tersebut, menantikan kembalinya Yo Ko dan Ciu
Pek Thong.
Ciu Pek Thong telah berlari dengan cepat sekali kearah dari
mana Sin Tiauw tadi terbang mendatangi dalam keadaan
terluka, dengan gerakan yang gesit sekali dia telah melompati
dua buah jurang kecil dan kemudian tiba dipermukaan sebuah
rimba. Ditempat itu tidak terlihat seorang manusiapun juga,
sehingga membuat Ciu Pek Thong jadi penasaran.
Kakek tua yang biasanya jenaka ini telah berlari lagi dua lie
lebih, tetapi tetap saja dia tidak berhasil menjumpai seorang
manusiapun disekitar tempat tersebut. Akhirnya karena mendongkol
bercampur gusar, Ciu Pek Thong jadi memaki-maki
kalang kabutan seorang diri.
Yo Ko yang telah datang menyusul tidak lama kemudian,
juga tidak berhasil menemui seorang manusiapun juga.
„Orang itu tentu telah melarikan diri !" kata Ciu Pek Thong
dengan suara mendongkol, „Sungguh-Sungguh seorang
bangsat, berani melukai Tiauw heng, tetapi tidak berani
mempertanggung jawabkan perbuatannya ini"
Yo Ko tidak melayani ocehan Ciu Pek Thong, dia
memandang sekitar tempat dimana mereka berada. Dan
matanya yang awas telah melihat sesuatu yang mencurigakan
dibawah sebatang pohon. Cepat-Cepat Yo Ko menghampiri
pohon itu, dia telah berjongkok dan mengambil sesuatu. Ciu
Pek Thong telah cepat-cepat menghampirinya.
„Apa yang kau ambil. Yo Hiante?" tanyanya tertarik.
Yo Ko mengangsurkan sebuah jepitan rambut, yang terbuat
dari perak.

"Ini tentu milik orang yang telah melukai Tiauw-heng ..
mungkin terjatuh tanpa diketahui nya. Dilihat demikian, yang
melukai Tiauwheng tentu seorang wanita..."
Ciu Pek Thong memegangi jepitan rambut itu dengan
geleng-geleng kepala gusar sekali.
„Jika aku berhnsil menangkapnya, tentu rambutnya akan
kupotong habis agar kepalanya menjadi gundul!" mengomel
sikakek jejaka itu.
Yo Ko berusaha mencari-cari jejak orang itu diatas tanah,
tetapi dia tidak berhasil hanya sekali-sekali dia melihat
beberapa batang rumput yang patah, dan segera juga Yo Ko
Mengetahui orang yang tengah mereka cari itu pasti
seorang yang memiliki Ginkang atau ilmu meringankan tubuh
yang sempurna sekali.
Hal itu dibuktikan karena walaupun berjalan ditanah
pegunungan tersebut orang itu tidak meninggalkan jejak, dan
rumput-rumput yang terinjak olehnya tidak menjadi patah
atau rusak, hanya beberapa batang rumput saja yang rusak.
Tentunya orang itu mempergunakan ilmu berjalan semacam
"Tiu Hong Hoat Su”, ilmu mengejar angin, yang telah
mencapai puncak kesempurnaannya.
Yang membuat Yo Ko jadi heran justru akhir-akhir ini dia
justru bertemu dengan orang-orang yang memiliki kepandaian
yang sempurna sekali.
Seperti Tiat To Hoat-ong kakak seperguruan Kim Lun Hoatong,
yang memiliki kepandaian begitu sempurna, tentu sudah
merupakan lawan yangtangguh. Dan sekarang burung rajawali
yang sangat disayanginya telah dilukai oleh seseorang, bukan
orang itupun tampaknya memiliki kepandaian yang luar biasa
tingginya. Apakah orang telah melukai Tiauw hengnya itu
memiliki hubungan dengan persoalan pembongkaran kuburan
Auwyang Hong maupun Ang Cit Kong?

Yo Hiante, mari kita kejar terus orang itu" kata Ciu Pek
Thong penasaran. „Tentu orang itu belum pergi jauh !"
Yo Ko mengangguk. Dengan mengambil patokan arah dari
patahnya beberapa batang rumput itu Yo Ko telah mengambil
kearah jurusan barat dari gunung Hoa San, yaitu yang menuju
ke Giok Lie Hong. Yo Ko telah mengempos semangatnya dan
telah berlari secepat kilat.
Hanya dalam waktu seminuman teh, dia telah tiba dikuil
kecil dipuncak Bidadari itu, meninggalkan Ciu Pek Thong jauh
dibelakang.
Seperti diketahui, ilmu lari cepat Yo Ko telah mencapai
puncak kesempurnaan, karena beberapa tahun yang telah lalu
saja waktu dia mengejar-ngejar Leng-ho milik sinenek Eng
Kauw, Yo Ko telah memperlihatkan keterampilannya yang luar
biasa, yang dapat berlari dengan kecepatan bagaikan kilat dan
tubuhnya seperti bayangan atau gumpalan warna belaka.
Terlebih lagi kini memang dia telah meyakini ilmunya kian
sempurna selama tiga tahun terakhir, sehingga boleh dibilang
didalam jagat ini sudah tidak ada orang yang bisa menandingi
kehebatan ilmu lari cepat Yo Ko.
Seperti diketahui, untuk kepandaian ilmu silat Ciu Pek
Thong memang sempurna dan jarang sekali ada yang bisa
menandingi kepandaian sikakek tua jenaka itu.
Yo Ko pun tidak bisa merubuhkannya walaupun Ciu Pek
Thongpun tidak bisa berbuat banyak terhadap Yo Ko, Tetapi
kenyataan yang ada, Yo Ko hanya memiliki tangan kiri
tunggal, dengan tangan kanan yang telah tiada karena lengan
kanannya telah buntung ditabas Kwee Hu.
Namun dengan hanya mengandalkan tangan kirinya yang
telah terlatih oleh cara-cara latihan yang aneh, yang
diperolehnya dari Sin Tiauw, yang membuat dia melatih diri
dengan gelombang laut, maka lwekang Yo Ko berada di atas

Ciu Pek Thong. Dan begitu pula ilmu lari cepatnya, telah
berada diatas Ciu Pek Thong.
Dalam mengejar lawan, Yo Ko yang tengah dalam gusar
dan mendongkol akibat terbongkar nya kuburan Auwyang
Hong dan Ang Cit Kong oleh seseorang yang belum diketahui
dan kini Sin Tiauw dilukai orang, maka Sin Tiauw Tai-hiap ini
telah mengerahkan seluruh kesanggupan nya untuk berlari
secepat mungkin dan meninggalkan Loo Boan Thong terpisah
puluhan lie.
Namun waktu tiba dimuka pintu kuil kecil diatas puncak
Giok Lie Hong, Yo Ko jadi mengeluarkan seruan terkejut dan
menatap keundakan tangga pintu kuil dengan muka yang
berobah serta mengawasi tertegun .
Ada sesuatu yang dilihatnya agak luar biasa Seorang wanita
tua, dengan muka yang keriput, dengan pakaiannya yang
berwarna kuning dan rambut yang disanggul tinggipun telah
putih keseluruhannya, tengah duduk seenaknya melintangkan
kaki. dan tengah bernyanyi kecil.
„Akhh..." Tanpa dikehendakainya Yo Ko jadi mengeluarkan
keluhan pendek. Nenek tua itu menoleh, mukanya dingin
namun lebih dingin lagi tatapan matanya yang seperti ingin
menembus keulu hati Yo Ko.
„Letih?" tanyanya dengan teguran suara yang halus dan
perlahan-lahan.
Cepat-Cepat Yo Ko mempergunakan tangan kiri nya yang
didekap kedadanya, dia membungkuk memberi hormat.
„Lotaipo (nenek tua) aku yang rendah Yo Ko menghunjuk
hormat," kata Yo Ko. dia mengambil sikap seperti itu karena
dia menyadari wanita tua tersebut tentu bukan seorang nenek
sembarangan „Lotaipokah yang telah melukai rajawaliku?"
Sinenek tertawa kecil, walaupun telah lanjut usia, namun
suara nenek tua itu masih merdu didengar.

„Melukai rajawalimu ?” Kalau benar bagaimana ? Kalau
tidak benar bagaimana menyahuti sinenek.
Melihat sikap sinenek yang angin-anginan seperti itu, tentu
saja membuat Yo Ko jadi mendongkol.
„Kalau memang tidak benar, tentu aku yang rendah ingin
menyampaikan maaf, tetapi jika memang benar, yang pasti
tentu saja kau harus mempertanggung jawabkan
perbuatanmu itu" kata Yo Ko mendongkol.
„Begitu ?" tanya sinenek sambil, menggeser duduknya dan
dia telah duduk tegak menghadapi Yo Ko. „Engkau sibuntung
ini tentunya yang biasa disebut sebagai Sin Tiauw Taihiap
bukan ?”
Mendengar dirinya disebut sebagai "sibuntung", keruan
darah Yo Ko jadi meluap. Tetapi mengingat yang dihadapinya
adalah seorang nenek, dia menindih kegusaran dihatinya.
„Tidak berani aku menerima gelar yang berat itu, dan itu
hanya gurau sahabat-sahabatku saja...!” kata Yo Ko
merendah.
„Hmmm......." mendengus nenek tua itu dengan suara yang
dingin, „Engkau berani terima atau tidak itu bukan
persoalanku. Tetapi yang ingin kutanyakan, apakah engkau
merasakan diri mu sebagai pendekar nomor satu dijaman ini
?"
Yo Ko jadi tertegun mendengar pertanyaan sinenek tua
yang tidak dikenalnya tersebut.
Cara bertanya sinenek bersungguh-sungguh, wajah dan
matanya yang dingin itu memperlihatkan, sesuatu maksud
yang terkandung. Perlahan suaranya, tetapi pengaruhnya
hebat, seperti juga dia bicara dengan mempergunakan
lwekang yang tinggi.
Tentu saja Yo Ko tambah mendongkol tidak hujan tidak
angin nenek tua ini seperti sengaja ingin mencari-cari urusan

dengannya, „Biarlah aku coba-coba main-main beberapa
jurus", pikir Yo Ko. Setelah berpikir begitu, Yo Ko menggeleng.
“Tingginya langit sulit diukur, dalamnya laut sukar diterka,
gunung yang tinggi ada yang lebih tinggi, mengapa harus
mempergunakan perkataan "jago nomor satu dijaman ini"?
diluar gunung terdapat gunung, diluar manusia terdapat
manusia lainnya, diluar kepandaian tinggi terdapat yang lebih
tinggi, bagaimana seseorang dapat bersikap sombong dan
congkak menepuk dada sendiri memuji diri, seperti juga air
laut yang mengasinkan airnya sendiri..."
Sinenek mengetahui dirinya disindir tetapi dia tidak
memperlihatkan sikap mendongkol atau marah, dia telah
tertawa.
„Justeru aku hendak bertanya, apakah kau asin sendiri atau
memang diasini sahabat-sahabatmu ?” kata sinenek tawar.
Yo Ko habis sabar, dia melangkah maju menghampiri.
„Maaf Lotaipo aku ingin lewat...." dan waktu berkata
begitu, kakinya sudah diangkat untuk lewat disamping
sinenek, Sambil berbuat begitu, Yo Ko mengerahkan tenaga
lwekangnya dikaki kanannya, dan disaat kaki itu diayunkan
muncul gelombang tenaga yang dahsyat sekali, karena kaki itu
digerakkan untuk melangkah, sama halnya seperti juga
menendang, Dan justru disebabkan Yo Ko mengambil arah di
sebelah kanan, maka tidak mengherankan angin yang
menerjang dari kakinya menyambar kepunggung sinenek.
Yo Ko telah memperhitungkan, jika sinenek ternyata hanya
memiliki kepandaian yang rendah. dia akan segera menarik
pulang tenaganya begitu hampir mengenai sasaran dan tetap
hanya merupakan langkah biasa.
Tetapi jika memang sinenek tidak menangkis dan memang
memiliki kepandaian yang tinggi menerima angin yang muncul
dari langkah kaki Yo Ko. pendekar Rajawali Sakti tersebut

akan menggerakkan tenaga dalamnya itu untuk mencoba
kekuatan tenaga dalam nenek tua yang aseran tersebut.
Diluar dugaan Yo Ko, nenek tua itu hanya mendengus
dingin dan sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya, tetap
duduk kaku di tempat nya, bahkan tangan kanannya
digerakkan untuk menggaruk kepalanya yang tampaknya
gatal.
Dengan gerakannya itu, dengan tangannya yang kiri
dibiarkan dipangkuannya dan tangannya diangkat sikut
tangannya itu menyambuti kaki Yo Ko.
Benturan yang dilakukan seperti tidak sengaja itu hebat
luar biasa.
Tubuh si nenek ber goyang-goyang, sedangkan Yo Ko
meresakan kakinya kesemutan. Tetapi Yo Ko telah melangkah
berada didalam.
Sinenek tua itu diam-diam terkejut bukan main, dia sampai
mengeluarkan seruan kecil, tampaknya murka bukan main,
sebab mukanya dan matanya makin dingin saja.
Yo Ko juga terkejut bukan main, karena tadi waktu kakinya
dibentur oleh sikut sinenek tua itu, tenaga benturan yang
terjadi memang hebat bukan main.
Disamping itu, juga Yo Ko merasakan semacam getaran
tajam yang berusaha menerobos masuk kedalam kulit kakinya,
tenaga itu benar-benar merupakan ilmu lwekang yang sejati,
yang bisa meremukkan tulang dengan hanya benturan seperti
itu.
Keruan saja Yo Ko jadi heran juga. Jika dilihat dari cara
sinenek melancarkan lwekang-nya itu, maka tampaknya dia
bukan memperguna kan ilmu silat dari daratan Tionggoan. Se
tidak-tidaknya dia memang menyadari, kepandaian si nenek
walaupun tidak berada diatasnya, tetapi juga sulit untuk
dilayani.

„Bocah, benar-benar memang kau sibuntung yang sudah
asin !" kata sinenek dengan suaranya yang dingin, „Baik, baik,
aku justru ingin melihatnya apakah benar-benar kau asin luar
dalam, atau memang hanya asin bagian luarnya, lalu
dalamnya tawar.
Setelah berkata begitu, tampak sinenek tua tersebut
melompat berdiri, dengan gerakan yang gesit sekali.
Gerakannya itu bukan main cepat nya, dia juga telah
melepaskan ikatan pinggang nya, dengan ikat pinggang yang
berwarna hijau itu, dia mengibas, dan di tengah udara
terdengar suara mengaung.
Itulah hebat sekali, ikat pinggang terbuat dari secarik kain
yang lemas dan tidak memiliki tenaga yang keras, tetapi
dengan dikibas begitu, dan dengan cepat mengeluarkan suara
yang mengaung keras, keruan saja membuktikan lwekang
sinenek luar biasa.
Yo Ko yang dalam keadaan mendongkol yang berulang kali
mendengar dirinya disebut si buntung, telah berlaku lebih
waspada, dan dia telah melancarkan serangan yang
mengincar bagian berbahaya ditubuh sinenek.
Yo Ko melakukan serangan yang cepat seperti itu, karena
dia tidak mau mem buang-buang waktu lagi dia telah
bermaksud untuk merubuhkan si nenek didalam waktu yang
singkat dan mendesaknya agar dia mengaku apakah dia yang
melukai rajawalinya atau memang bukan. Jika memang bukan
sinenek yang melukai rajawalinya, tentu dia bisa mengejar
penjahat yang sesungguhnya.
Sinenek juga telah berteriak „Bagus !" sambil cepat sekali
dia berkelit kesamping, dan membarengi dengan itu dia telah
menggerakkan tangannya yang memegang ikat
pinggangnya.

gerakannya cepat sekali, ujung ikat pinggangnya itu seperti
seekor ular naga, telah menyambar kearah mata kanan Yo Ko
! Benar-Benar luar biasa.
Sinenek telah melancarkan serangan dengan serangan
yang sekaligus memilih bagian yang terlemah dari lawannya,
tentu saja Yo Ko ber tambah yakin bahwa sinenek bukan
seorang nenek tua yang bisa dipandang remeh.
Disamping memang dia bersikap lebih waspada, juga Yo Ko
jadi bertanya-tanya didalam hatinya, entah siapa adanya
nenek tua itu.
Walaupun bagaimana Yo Ko tidak bisa ber pikir terlalu lama
karena sinenek dengan mengeluarkan seruan "awas !" telah
menggerakan ikat pinggangnya lagi, kali ini ikat pinggang itu
menyambar-nyambar dengan gerakan berliku-liku bagaikan
seekor ular yang menuju kearah Yo Ko dan disaat ujungnya
hanya terpisah kurang lebih empat dim, tahu-tahu ikat
pinggang itu telah menjadi lurus dan ujungnya menyambar
tepat keulu hati YoKo.
Keruan Yo Ko terkejut. Semula dia menduga nenek tua itu
ingin mempergunakan tenaga lembek, namun kenyataannya
sinenek telah mempergunakan sekaligus tenaga lunak dan keras
yang digabung menjadi satu dan digerakkan dengan
sekehendak hatinya, karena dia bisa mempergunakan tenaga
lunak untuk melibat lawan, kemudian disaat lawan lengah, dia
membarengi dengan serangan tenaga keras, dimana ikat
pinggangnya berobah sifatnya menjadi keras melebihi
lempengan baja.
Tetapi Yo Ko mana memandang sebelah mata serangan
seperti itu? Dia hanya heran mengapa sinenek tua ini baru
dijumpainya sekarang? Mengapa sebelumnya dia belum
pernah mendengar atau melihatnya? Bukankah sinenek
tangguh sekali? dan sesungguhnya ada permusuhan apakah
diantara dia dengan sinenek tua itu sehingga memusuhinya
demikian rupa ?"

Dengan kegesitan yang luar biasa, Yo Ko telah berkelit dari
ujung ikat pinggang itu,, dan begitu pula sampai ber ulang
kali.
Yo Ko telah mengelakkan serangan yang dilancarkan oleh
sinenek, karena Yo Ko ingin melihat dulu sampai berapa tinggi
sesungguhnya ilmu sinenek dan berasal dari pintu perguruan
silat yang mana.
Tetapi, cara menyerang sinenek ngawur sekali. Walaupun
memang hebat. Sesaat dia mempergunakan ilmu pedang
Siauw Lim Sie, walau pun dengan mempergunakan ikat
pinggangnya, jurus ilmu pedang Siauw Lim Kiam hoat itu
hebat bukan main. Tetapi baru dua tiga jurus dia telah
mempergunakan jurus-jurus dari pintu perguruan Ngo Tek
Kiamhoat, ilmu pedang dari Lima Bintang. Keruan saja Yo Ko
jadi tambah heran dan bingung, tidak bisa dia menerka asal
usul dari nenek tua itu.
Dengan mengeluarkan suara siulan cukup nyaring, tampak
Yo Ko memutar tubuhnya, akhirnya suatu kali ikat pinggang
sinenek menyambar datang, Yo Ko tidak berkelit, dia telah
mengeluarkan tangannya, dia telah mencekal ujung ikat
pinggang itu dengan kuat, sehingga tidak bergeming.
Nenek tua yang luar biasa itu telah berusaha untuk
menariknya, tetapi dia tidak berhasil menariknya terlepas dari
cekalan tangan Yo Ko.
Disamping itu. sinenek tua juga telah berusaha
mengerahkan tenaga dalamnya membuat ikat pinggang itu
menjadi lurus keras kaku, lalu mendorong sekuat tenaganya
untuk menusuk Yo Ko, tetapi usahanya itupun gagal.
„Lotaipo, bisakah aku yang rendah mengetahui nama dan
shemu yang harum ?" tanya Yo Ko kemudian dengan suara
yang nyaring sambil memegangi terus ujung ikat pinggang
sinenek tua tersebut. „Dan ada ganjelan apakah diantara kita
berdua ?".

Sinenek telah berobah mukanya menjadi pucat kehijauhijauan,
dia murka bukan main, karena dia merasakan dirinya
dipermainkan oleh Yo Ko.
„Apa perdulimu untuk mengetahui nama dan sheku ? Ciss,
manusia seperti engkau tidak berharga mendengarnya." dan
membarengi bentakannya itu,dengan cepat sekali tampak si
nenek telah mengibaskan tangan kirinya, dengan
menimbulkan suara srrrr, srrrr tampak tiga jarum kuning telah
menyambar pesat sekali ke arah Yo Ko.
Tangan kiri Yo Ko tengah tengah mencekal ikat pinggang
sinenek, dan diapun terpisah dalam jarak yang tidak begitu
jauh, maka jarum-jarum yang menyambar datang ketiga jalan
darahnya itu merupakan serangan jarak dekat yang sulit
dielakkan jika memang Yo Ko tidak mau melepaskan
cekalannya di ujung ikat pinggang si nenek.
Tetapi Yo Ko memang telah memiliki ilmu yang sempurna
sekali dia tidak menjadi gugup atau terkejut melihat
datangnya serangan seperti itu, dengan mengeluarkan seruan
yang nyaring nampak Yo Ko mengibaskan lengan jubah
kanannya yang kosong itu.
Ujung jubah yang kosong itu menyampok ketiga batang
jarum sinenek, dan membarengi jarum terpental Yo Ko
menghentak keras ujung ikat pinggangnya si nenek sambil
mengerahkan tenaga dalamnya, maka tidak ampun lagi tubuh
sinenek telah terangkat dan melambung ketengah udara,
karena sinenek tidak mau melepaskan ikat pinggangnya.
sambil menghentak begitu. Yo Ko tidak mencekali terus
ujung ikat pinggang sinenek, melainkan dia melepaskan, maka
tubuh sinenek tua yang luar biasa itu seperti dilemparkan saja,
melayang ditengah udara, menuju kedinding batu gunung
yang akan ditubruknya,

Sedangkan Yo Ko begitu melepaskan cekalannya segera
berjongkok, dia telah mengambil tiga batang jarum sinenek
diperhatikannya baik-baik mukanya jadi berobah.
Dikenalnya jarum yang dipergunakan nenek tua itu juga
sama bentuk dan rupanya dengan jarum-jarum yang telah
melukai Sin Tiauw. Disaat itulah muncul murkanya.
Dengan mengeluarkan suara seruan yang keras Yo Ko
menotolkan kakinya ditanah, tubuhnya telah melambung
dengan gerakan yang cepat sekali, dia juga telah mengulurkan
tangankirinya mencekal punggung sinenek tua itu, yang
dicengkeramnya keras sekali. Tubuh si nenek yang semula
melayang menyambar dinding batu itu telah berhasil ditahan
oleh YoKo.
Dengan sengit Yo Ko melontarkan tubuh nenek tua itu
ketanah.
“Apakah kini kau mau mengakui bahwa rajawaliku telah
dilukai oleh kau ?” tegur Yo Ko bengis.
Sinenek walaupun baru saja menghadapi bahaya maut,
tetap memperlihatkan sikap yang aseran dan angin-anginan,
dengan tertawa dingin dia telah menyahuti, “apa pedulimu jika
memang benar-benar aku yang melukai rajawali kurang ajar
itu ?, hmm, engkau memang benar-benar memiliki kepandaian
cukup tinggi, mungkin satu atau dua tingkat lebih tinggi
dariku. Tetapi rubuhnya aku ditanganmu, karena akupun baru
mempelajari delapan bagian ilmuku yang belum kupelajari
rampung.
Jika kau benar mengakui dirimu sebagai seorang lelaki
gagah lepaskan aku, dua tahun lagi nanti aku akan mencarimu
untuk mengadu kepandaian lagi, untuk menentukan siapa
yang tinggi dan siapa yang rendah...!"
Yo Ko berdiam diri sejenak, dia mengawasi sinenek.
Sesungguhnya hatinya saat itu tengah digeluti oleh
kemarahan yang berkobar-kobar. Coba, kalau saja yang

melukai rajawalinya itu seorang lelaki, tentu dia telah
mengayunkan tangannya untuk menghajar mati. Tetapi kini
ternyata yang telah melukai burung rajawalinya itu seorang
wanita tua yang telah ubanan seperti itu, membuat dia jadi
serba salah menentukan langkah.
„Pergilah........!" akhirnya Yo Ko mengusir dengan suara
yang dingin. „Pergilah kau menggelinding dari hadapanku, dua
tahun atau sepuluh tahunpun akan kutunggu !"
Sinenek telah menatap dingin, kemudian menjerit seperti
menangis keras, tubuhnya melompat ketengah udara, lalu
kedua kakinya menotok dinding disampingnya, tubuhnya
melambung sangat tinggi sekali dan kedua kakinya menotok
pula, sehingga berulang kali tubuhnya melambung semakin
tinggi,
Gerakan yang dilakukan itu sangat cepat sekali dalam
waktu yang sangat singkat sekali dia telah lenyap dari
pandangan Yo Ko.
Yo Ko menghela napas, baru saja dia ingin kembali
ketempat dimana Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw tengah
menantinya, dia mendengar suara Ciu Pek Thong yang
menegurnya; „Mengapa dilepaskan . . . ?"
„Sudahlah Ciu Toako . " kata Yo Ko. Nenek tua seperti itu
tidak perlu dilayani.
Tetapi kau belum menanyakan, apakah dia yang telah
merusak kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang Hong......"
kata Ciu Pek Thoag, yang baru tiba itu setelah ber lari-lari
keras cukup lama.
Yo Ko menggeleng: “Kukira bukan dia” katanya.
“Ehhh, mengapa kau bisa menduga begitu ?" tanya Ciu Pek
Thong heran.
„Ada seseorang yang tengah mempermainkan kita... “
jawab Yo Ko.

Ciu Pek Thong masih ingin berutanya lagi, tetapi Yo Ko
telah mengajaknya untuk kembali ketempat Siauw Liong Lie.
„Mungkin Liongjie dan Tiauw-heng menanti kita terlampau
lama...!" kata Yo Ko sambil menjejakkan kakinya melompat
gesit sekali „Mari kita kembali."
Ciu Pek Thong terpaksa harus mengikutinya menuruni
puncak Giok Lie Hong. dan lari berendeng dengan Yo Ko,
karena Yo Ko tidak lari sekuat tadi.
Tetapi Waktu mereka tiba ditempat kedua kuburan Ang Cit
Kong dan Auwyang Hong yang telah dirusak seseorang itu, Yo
Ko maupun Ciu Pek Thong tidak melihat Siauw Liong Lie.
Begitu pula Sin Tiauw, tidak terlihat disekitar tempat itu.
„Liongjie !" memanggil Yo Ko dengan suara yang keras
sekali.
Tetapi tidak ada sahutan.
Yo Ko juga telah bersiul keras dengan hati yang kuatir
bukan main. Suara siulannya itu memanggil Rajawali saktinya.
Namun hanya suara siulan itu saja yang menggema dan
burung rajawali itu tidak terlihat, entah burung rajawali dan
Siauw Liong Lie pergi kemana.
Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi panik, mereka tambah
berkuatir.
Dengan cepat Yo Ko memusatkan tenaga dalamnya di
tantian, lalu dia mengerahkannya sambil berteriak memanggil
; „Siauw Liong Lie”
Suara Yo Ko menggema keras disekitar gunung tersebut,
seperti mengaumnya harimau dan meraungnya naga.
Suaranya itu menggetarkan gunung itu, bagaikan terjadi
gema. karena tenaga dalam yang dipergunakannya
merupakan tenaga dalam yang telah mencapai puncak
kemahiran: Walaupun Siauw Liong Lie berada didalam jarak

yang terpisah puluhan lie, tentu dia akan mendengarnya
suara Yo Ko yang keras luar biasa itu dapat terdengar sampai
lima puluh lie lebih.
Ciu Pek Thong sendiri menggidik mendengar suara
panggilan Yo Ko itu, bulu tengguknya berdiri, karena
telingganya seperti tuli dan jantungnya tergoncang bukan
main kagumnya Ciu Pek Thong, karena sebagai salah seorang
yang duduk dalam urutan Ngo Ciat dia masih menggidik dan
jantungnya tergoncang mendengar suara teriakan Yo K o.
Hal itu telah membuktikan betapa hebat dan sempurnanya
lwekang yang dimiliki To Ko. sedangkan Yo Ko jadi pucat dan
gugup sekali karena dia jadi berkuatir bukan main waktu
melihat teriakannya yang begitu keras dan dapat terdengar
jauh. tidak memperoleh sahutan sama sekali.
Lalu dia berlari-lari kesana kemari dengan panik sambil
memanggil-manggil dengan keras,
Tetapi tetap saja Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw seperti
lenyap kedasar bumi.
Salah satu diantara keduanya, baik Siauw Liong Lie maupun
Sin Tiauw tidak terlihat bayangannya.
Ciu Pek Thong yang ikut gugup, tidak jarang ber jingkrakjingkrak,
karena kakek jenakaitu binggung karena mereka
telah berlari-lari disekitar tempat itu untuk mencari Siauw
Liong Lie dan Sin Tiauw, tetapi usaha mereka tetap tidak
memberikan hasil.
Yo Ko sampai ingin menduga apakah Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw telah dilukai seseorang dan ditawan orang ?, tertapi
mengingat kepandaian Siauw Liong Lie yang tidak berada
dibawahnya, maka Yo Ko tidak yakin ada yang berhasil
melukai atau menawan mereka.
Suara Yo Ko bergema keras disekitar Hoa San sambung
menyambung, sebentar terdengar diutara kemudian dibarat,

lalu diselatan .... karena Yo Ko telah berlari-lari seperti lupa
ingatan sambil me manggil-manggil Siauw Liong Lie dengan
suara nyaring dan keras luar biasa, disertai oleh menyalurkan
tenaga dalam.
Yang membuat Yo Ko berkuatir justru Siauw Liong Lie
tengah berisi, dalam keadaan hamil Siauw Liong Lie sering
merasakan matanya gelap berkunang-kunang dan kepalanya
mabok. Apakah disaat Yo Ko meninggalkannya bersama Sin
Tiauw, Siauw Liong Lie justru dalam keadaan mabok dengan
mata yang berkunang-kunang dan pinggang sakit, dan juga
disaat itu musuh muncul mempergunakan kesempatan baik itu
untuk menawan Siauw Liong Lie ?
Berpikir begitu, Yo Ko jadi semakin panik dalam kekuatiran
yang sangat, dia terus juga menggigil.
„Liongjie ! Liongjie . . . Liongjieee . . .!" suaranya itu
sambung menyambung. Pohon-Pohon terhembus angin
lembut bergerak perlahan, mega memenuhi langit, suara Yo
Ko terdengar terus, tetapi Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw
tetap lenyap tidak meninggalkan jejak . . .
Kemanakah perginya Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw ?
Ternyata ketika Yo Ko dan Ciu Pek Thong berlalu untuk
mengejar orang yang telah melukai Sin Tiauw, Siauw Liong
Lie menantikan dengan tidak sabar dan berkuatir sekali.
Walaupun Siauw Liong Lie mengetahui bahwa Yo Ko memiliki
kepandaian yang sangat tinggi, tetapi entah mengapa sejak
dia mengandung perasaan dan hatinya jadi kecil dan selalu
menguatirkan keselamatan suaminya jika tengah menghadapi
suatu urusan yang tidak mengembirakan.
Disamping itu Siauw Liong Lie merasakan hatinya sering
tergoncang dan lebih lemah dari sebelumnya.
Latihannya selama dikuburan Mayat Hidup, disaat dia
berguru dan melatih diri menindih dan membuyarkan
perasaan, ternyata membawa manfaat terlalu besar disaat

telah menjadi nyonya Yo. Berbagai perasaan, seperti sedih,
senang, gembira dan jengkel seringkali menggoda hatinya.
Dan memang Siauw Liong Lie menyadari, bahwa gejalagejala
yang dirasakannya seperti akhir-akhir ini adalah gejalagejala
yang wajar dari seorang wanita yang tengah hamil,
sebab Siauw Liong Lie sebagai seorang pendekar wanita yang
mungkin nomor satu didalam rimba persilatan dijaman itu,
telah mengetahui letak dan perobahan yang terjadi pada otototot
perutnya maupun munculnya kelenjar-kelenjar baru atas
kehadiran si jabang bayi diperutnya.
Tetapi, Siauw Liong Lie juga tidak menghendaki jika dirinya
terlalu dikuasai oleh emosi dan perasaannya, maka dia selalu
berusaha untuk mengatasi diri. Setiap Kali selesai melatih
lweekang dilembah puncak Siauw Hong, Siauw Liong Lie
memecahkan perhatiannya untuk bergurau dan bermain-main
dengan Sin Tiauw, dengan disaksikan oleh Yo Ko.
Dan penghidupan dilembah puncak Siauw Hong memang
merupakan penghidupan yang bahagia sekali bagi pasangan
suami isteri itu.
Tetapi kini karena mereka memenuhi undangan It Teng
Taisu mereka mulai berurusan dengan beberapa persoalan
yang mungkin akan berakhir dengan peristiwa-peristiwa yang
hebat dan mengerikan. Tetapi sebagai pasangan suami isteri
yang memiliki kepandaian telah mencapai puncaknya sama
halnya seperti Yo Ko; Siauw Liong Lie pun tidak pernah takut
terhadap siapapun juga.
Waktu itu setelah menanti sekian lama Yo Ko dan Ciu Pek
Thong belum juga kembali, Siauw Liong Lie mulai gelisah
bukan main.
Dia duduk disamping Sin Tiauw, mengusap-usap dan
merapikan bulu burung rajawali itu.

Tetapi sejenak kemudian dia telah berdiri dan memandang
jauh. mengharap-harap kalau dia bisa melihat Yo Ko dan Ciu
Pek Thong yang telah kembali.
Tetapi kedua orang itu telah pergi sekian lama tak muncul
lagi. Bahkan dari kejauhan, dari arah puncak Giok Lie Hong
didengarnya memantul suara yang cukup aneh, seperti suara
tangis, seperti suara tawa.
Diam-Diam Siauw Liong Lie jadi terkejut Sekali dia telah
memasang pendengarannya lebih baik dan mengawasi sekitar
tempat itu.
Dan telinganya yang tajam itu seperti mendengar napas
seorang yang tidak jauh disekitar tempat itu. Kembali nyonya
Yo ini terkejut sekali, dia menyadarinya bahwa ada seseorang
yang tengah bersembunyi di dekat tempatnya berada. Tetapi
Siauw Liong Lie membawa sikap yang tenang, dia tidak mau
menimbulkan kecurigaan bagi orang yang tengah tersembunyi
itu karena Siauw Liong Lie bermaksud membekuknya. Dia
telah membungkuk mengambil dua butir batu kecil, sebesar
ukuran kacang tanah. Kemudian tanpa mengeluarkan suara
apa-apa. Siauw Liong Lie menyentil kedua batu kecil itu
kearah suara desah napas itu.
Seketika terdengar suara jerit kesakitan dan kemudian
keadaan ditempat itu sunyi kembali.
Siauw Liong Lie menghampiri segerombolan pohon bunga
dia melibat dibalik dari pohon bunga yang rimbun itu tampak
sesosok tubuh lelaki yang menggeletak tidak bergerak.
Dengan mempergunakan ujung kakinya Siauw Liong Lie
menendang keluar sosok tubuh itu yang rebah terlentang
ditanah.
Ternyata korban timpukan batu kecil yang dilontarkan
Siauw Liong Lie itu seorang pemuda berusia tujuh belas
tahun, wajahnya tidak terlalu cakap, tetapi pakaiannya
perlente sekali. Saat itu, karena jalan darah Tiang-bu-hiat

didekat bahunya tertotok, sekujur tubuh pemuda itu jadi kaku
tidak bisa digerakkan dan hanya bola matanya yang bergerakgerak
memancarkan perasaan takut yang bukan main.
Tadi, waktu dia bersembunyi dibalik pohon bunga yang
rimbun itu, dia merasakan bahunya ngilu dengan tiba-tiba dan
kemudian dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya lagi. Itulah
yang telah membuat dia jadi mengeluarkan suara jeritan.
Semula, dia tidak menyangka Siauw Liong Lie akan
mengetahui tempat persembunyiannya.
Karena disamping jaraknya yang terpisah cukup jauh,
pohon-pohon bunga itupun lebat sekali.
Tetapi dia tidak menyangka bahwa Siauw Liong Lie memiliki
pendengaran yang tajam sekali, walaupun jarak mereka
terpisah cukup jauh, kenyataannya nyonya Yo berhasil mendengar
desah napas sipemuda yang sangat perlahan itu, yang
akhirnya telah membuat nyonya Yo menimpuk dengan batu
kecil untuk menotok jalan darahnya.
„Siapa kau ?" bentak Siauw Liong Lie sambil mengerutkan
alisnya. „Mengapa kau bersembunyi disitu ?".
JILID 5
PEMUDA itu tengah ketakutan setengah mati ditanya
demikian segera juga dia menangis.
„Ampun...ampunilah aku, Liehiap...aku......aku tidak
sengaja bersembunyi disitu. Tadi secara kebetulan aku tiba
ditempat ini dan mendengar suara yang ribut-ribut, kukira ada
serombongan Ouw pak (perampok), maka cepat-cepat aku
bersembunyi"
Siauw Liong Lie tersenyum tawar, dia mengetahui pemuda
itu bicara justa. Tetapi karena nyonya Yo tengah memikirkan
suaminya dan Ciu Pek Thong yang belum juga kembali dan

juga melihat orang itu hanya merupakan seorang muda yang
tidak memiliki kepandaian apa-apa maka dia telah menendang
dengan ujung sepatunya membuka totokan jalan darah
pemuda itu.
„Pergilah kau !" katanya dengan suara yang dingin.
Pemuda itu tanpa sempat mengucapkan terima kasih telah
cepat-cepat pentang langkah lebar untuk berlalu dari tempat
itu.
Siauw Liong Lie menghela napas sambil kembali
menghampiri Sin Tiauw. kemudian duduk disamping rajawali
itu.
Tetapi disaat itu telah terdengar suara seseorang yang
berkata dingin sekali. „Sungguh perbuatan mulia...buaya darat
kejam dilepas begitu saja, sedangkan tikus botak ditangkap !"
Siauw Liong Lie terkejut sekali dia seperti mengenal suara
itu. tetapi nyonya Yo sudah tidak mengingatnya lagi entah
dimana.
„Siapa yang bicara ? Mengapa tidak memperlihatkan diri ?"
dari mana datangnya suara itu.
„Ha, ha, kita sahabat-sahabat lama, mustahil nyonya sudah
lupa kepadaku “ terdengar lagi suara itu, dingin dan seperti
juga mengejek.
Dan membarengi dengan selesainya suara tersebut,
tampak berkelebat keluar sesosok tubuh dari balik sebuah
batu gunung yang cukup besar, yang berada disebelah kanan
dari kuburan Auwyang Hong. Gerakan orang itu ringan sekali
dan dalam sekejap mata saja dia telah berdiri dihadapan
Siauw Liong Lie sambil tertawa tidak sedap didengar. Waktu
kedua kakinya menyentuh tanah, tidak terdengar suara
sedikitpun juga hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut
memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

Siauw Liong Lie mengawasi orang yang baru datang, dia
jadi terkejut sendirinya, karena segera juga dia mengenali,
bahwa orang tersebut tidak lain dari Tiat To Hoat-ong.
Tubuhnya yang besar, dengan jubah kependetaannya dan
kepala yang gundul dengan kuncup emas diatas kepalanya
serta jenggot yang tipis panjang tanpa kumis, merupakan raut
wajah yang sulit di lupakan walaupun baru bertemu satu kali.
Dengan mengeluarkan seruan tertahan Siauw Liong Lie
telah melompat mundur dua langkah.
„Mengapa kaget nyonya ?” sapa Tiat To Hoat-ong
dengan disertai tertawanya yang mengejek. „Bukankah
kita sahabat-sahabat lama ? walaupun kita baru pertama
kali bertemu, tetapi melihat kepandaianmu dan juga
kepandaian suamimu si buntung itu, maka dapat kuduga
kalian adalah manusia-manusia pandai didaratan
Tionggoan ini, maka jelas pula kalianpun mengetahui
siapa adik seperguruanku yang bernama Kim Lun Hoatong.
Bukankah begitu ?”
Siauw Liong Lie mengerutkan alisnya. dia telah
mengetahui dari Ciu Pek Thong yang menceritakan
bahwa Tiat To Hoat-ong tengah men cari-cari Kim Lun
Hoat-ong.
Justru Kim Lun Hoat-ong telah terbinasa diatas
panggung yang dibangunnya sendiri untuk membakar
Kwee Siang guna menekan Kwee Ceng dan Oey Yong
agar menyerah.
Tetapi oleh Yo Ko justru Kim Lun Hoat-ong telah
tertendang jalan darah Tan Tiong Hiat didadanya
sehingga dia memuntahkan darah segar, tubuhnya rubuh
kegumpalan api yang membakar panggung itu, kemudian
oleh Ciu Pek Thong dipeluk dengan keras, sehingga siasia
Kim Lun Hoat ong berusaha untuk meronta, dia telah

dirubuhkan dan hanya disaat itulah Kim Lun Hoat-ong
harus menjerit hebat, sebab tubuhnya telah tertusuk
oleh baju lapis duri yang dikenakan Ciu Pek Thong disaat
itu, sehingga pendeta dari Tibet yang bekerja untuk
Kaisar Mangu telah terbinasa disaat itu, habis nyawanya.
Peristiwa mana diketahui oleh Kaisar Mangu dan Kublai,
hanya disaat itu Kaisar Mangu terbinasa oleh timpukan
batu Yo Ko. Kublai telah menggunakan kecerdikannya,
dan disaat Tiat To Hoat ong menanyakan perihal Kim
Lun Hoat-ong, pada saat itu Kublai yang cerdik tidak
memberikan keterangan yang sesungguhnya. Kublai
hanya mengatakan Kim Lun Hoat-ong masih berkeliaran
didaratan Tionggoan. Tidak menceritakan perihal
kematian Kim Lun Hoat-ong yang mengenaskan itu.
Siauw Liong Lie yang mengetahui bahwa kematian Kim Lun
Hoat-ong menjadi kalap dan murka, telah berwaspada, karena
dia mengetahui pendeta ini memiliki kepandaian yang luar biasa.
Waktu Yo Ko menyatakan Kim Lun Hoat-ong memang
telah mati,.Tiat To Hoat-ong pernah memperlihatkan sikap
yang menakutkan sekali.
Tetapi Siauw Liong Lie tidak takut, bahkan dia telah tertawa
dingin.
„Hemmm, rupanya kau masih penasaran" kata Siauw Liong
Lie. „Bukankah suamiku telah memberitahukan bahwa Kim
Lun Hoat-ong memang benar-benar telah binasa?"
Muka Tiat To Hoat-ong tidak berobah sedikitpun. dia hanya
tertawa mengejek.
„Andaikata memang keterangan suami nyonya itu benar,
maka kalian tentu mengetahui di mana terbunuhnya adik
seperguruanku itu. Dengan matinya adik seperguruanku yang
liehay itu, tentu ada orang yang membunuhnya, maka siapa
pembunuhnya itu?"

Siauw Liong Lie merasa sebal melihat tingkah pendeta itu.
Dia mendongkol sekali, maka dia menyahut sekenanya „Aku
yang telah membinasakannya... "
Mata Tiat To Hoat-ong tampak bersinar sepasang alisnya
berkerut dan keningnya yang meng kilap itu ber gerak-gerak.
„Hemm ... rupanya memang nyonya tidak mau
menghormati sedikitpun kepada seorang tamu jauh ! Kau
telah bicara secara bergurau, maka Hudyamu juga jadi raguragu,
apakah benar adik seperguruanku itu telah
terbunuh......”
Dalam partai Kouw Bok Pay terdapat aturan yang
dipandang dan dianggap sebagai pantangan semuanya ada
dua macam dan masing-masing terdiri dari dua belas macam
intinya adalah "Kurang" dan “Lebih" seperti kurangi pikiran,
kurangi kemauan kurangi urusan, kurangi bicara, kurangi
tertawa, kurangi marah, kurangi kegembiraan, kurangi
perbuatan jahat sebaliknya jangan lebih berpikir, jangan lebih
keinginan, jangan lebin banyak urusan, jangan lebih bicara,
jangan lebih tertawa, jangan lebih berduka, jangan lebih
bergirang, jangan lebih jahat.
Semua pantangan itu, kalau tidak dilawan artinya
disingkirkan, bisa mencelakai diri Sendiri Siauw Liong Lie dapat
mentaati ajaran tersebut, maka dia bebas, tidak bergirang,
tidak berpikir, tidak berduka, bahkan kemurnian yang dimiliki
Siauw Liong Lie tidak bisa ditandingi oleh kakek gurunya, Lim
Tiauw Eng.
Adalah kemudian, kedatangan Yo Ko dikuburan mayat
hidup itu, yang telah membuat mereka bergaul erat, mulai
lowonglah dan tidak se ketat lagi pantangan "Kurang" dan
"Lebih" itu, sedangkan enam belas tahun setelah mereka
menikah, pengalaman dan penderitaan Yo Ko jadi bertambah
banyak, sebaliknya Siau Liong Lie tetap tinggal menyendiri
ditempat sepi, memang dia sering memikirkan Yo Ko tetapi
berkat latihan sebelumnya yang selama dua puluh tahun

lamanya, hatinya jadi lebih mantep dia terpengaruh pula
pantangan itu.
Begitulah sekarang, setelah lewat beberapa tahun lagi,
kenyataannnya Siauw Liong Lie semakin tidak dapat mentaati
sepenuhnya peraturan tersebut. Terlebih sekarang di saat dia
tengah isi, sehingga sering diganggu oleh kekuatiran,
kebahagiaan yang berkelebihan, kekalutan pikiran yang
berkelebihan, kegembiraan yang berkelebihan, membuat
Siauw Liong Lie mulai tersisih latihan selama puluhan tahun
itu.
Namun menghadapi Tiat-To Hoat-ong yang kurang ajar dan
bicara seenaknya, Siauw, Liong Lie bisa mempertahankan hati
dan diri, untuk tidak terlalu berkelebihan marah, tidak terlalu
berkelebihan kuatir. Dia memandang pendeta Mongolia.
tersebut dengan sorot mata yang tajam, dingin, wajahnya
juga dingin tidak berperasaan sehingga Tiat To Hoat-ong jadi
terkejut.
Namun pendeta itu sengaja untuk menutupi keheranannya
itu dengan tertawanya yang keras.
„Sebagai seorang pendeta tentunya kau memegang patuh
peraturan dan bicaramu, apakah kau anggap aku bicara
ngawur dan sembarangan" tegur Siauw Liong Lie dengan
suara yang dingin.
„Baiklah, jika nyonya mengatakan bahwa adik
seperguruanku Kim Lun Hoat-Ong memang telah mati, maka
silahkan nyonya mengantarkan aku untuk menjenguk
kuburannya.. !".
„Kim Lun Hoat-ong tidak memiliki kuburan, dia mati tanpa
diterima bumi......!" dingin luar biasa suara nyonya Yo, dia jadi
muak ter hadap sikap Tiat To Hoat-ong.
„Apa...apa kau bilang ?„ Tiat To Hoat-ong tampaknya
terkejut bukan main. sehingga dia memandang tertegun
kepada Siauw Liong Lie.

„Dengarlah Kim Lun Hoat-ong mati tanpa diterima oleh
bumi..,!" mengulang Siauw Liong Lie, suaranya tetap dingin
tidak mengandung perasaan.
Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah tidak sedap
dipandang, dia telah beringas dan mukanya bengis sekali di
samping sepasang matanya memancarkan sinarnya yang
tajam luar biasa.
„Memang sesungguhnya engkau pembunuh adik
seperguruanku itu...?'' menegasi sipendeta,
„Tidak salah !" mengangguk Siauw Liong Lie tegas. Dia
mengakui begitu, karena suaminya Yo Ko, yang telah
membinasakan Kim Lun Hoat ong, yang dibantu oleh Ciu Pek
Thong. Tetapi karena kedua orang itu tengah pergi, Siauw
Liong Lie menghadapi sendiri sipendeta. Dia memang melihat
kepandaian Tiat To Hoat-ong liehay sekali, namun dia tidak
takut sedikit pun juga,
„Hemmm, jika memang demikian baiklah!" kata Tiat To
Hoat-ong kemudian. „Nah kau harus ikut bersamaku untuk
mempertanggung jawabkan perbuatanmu itu..,."
Dan sipendeta bukan hanya bicara sampai disitu saja,
karena dia telah membarengi dengan mengulurkan tangan
kanannya, yang maksudnya ingin mencengkeram nadi Wuelu-
hiat dipergelangan tangan Siauw Liong Lie.
Jalan, darah Wue lu-hiat merupakan jalan darah yang
cukup penting, merupakan urat utama dipergelangan tangan.
Jika memang jalan darah itu berhasil dicengkeram, atau
ditotok niscaya tubuh korban totokan itu akan lemas tidak
bertenaga.
Siauw Liong Lie mana mau membiarkan pergelangan
tangannya dicengkeram oleh pendeta itu. Maka dengan
miringkan sedikit tubuhnya, pergelangan tangannya telah
bebas dari cengkeraman sipendeta.

Tetapi Tiat-To Hoat-ong yang pernah merasakan hebatnya
Yo Ko, dan juga melihat cara berkata dan sikap sinyonya Yo
itu, siang-siang dia telah mengetahui Siauw Liong Lie memiliki
kepandaian yang tinggi, maka dari itu walaupun serangannya
berhasil dielakkan oleh Siauw Liong Lie, tidak menjadi heran
karenanya. Begitu serangannya berhasil dielakkan, begitu dia
susuli oleh serangan berikutnya, yaitu tangannya dibalik
membarengi mana dia telah mencengkeram kearah bahu
Siauw Liong Lie.
Nyonya Yo Ko telah mengeluarkan suara dengusan dingin
tubuhnya bagaikan seekor kupu-kupu berkelit indah dan
ringan sekali kesamping. Waktu tubuhnya mengelak
kesamping begitu, justru siaat itulah dia melihat punggung
Tiat To Hoat ong maju kedepan, maka tanpa membuangbuang
kesempatan yang ada, dia telah mengayunkan
tangannya untuk menotok, jalan darah Siang kuhiat yang
terletak dipunggung sipendeta, yang berdekatan dengan
tulang piepe pendeta tersebut.
Jalan darah Tiat To Hoat-ong berhasil ditotok dengan
tepat, namun pundak sipendeta seperti juga berminyak jari
tangan Siauw Liong Lie seperti melejit.
Tetapi Siauw Liong Lie penasaran sekali, dengan serentak
dia telah menyusuli totokan lainnya, yang menotok telak sekali
jalan darah Pie-hong-hiat dipinggang sipendeta.
Totokan itu tepat dan jitu sekali, tetapi di saat itulah
sipendeta telah melompat kedepan dua langkah, seperti juga
sedikitpun dia tidak merasakan hasil totokan Siauw Liong Lie.
Nyonya Yo Ko juga mengerutkan sepasang alisnya, dia
kagum atas keliehayan lawannya ini, yang dilihatnya memang
jauh diatas kepandaian Kim Lun Hoat-ong.
Jelas totokannya tadi telah berhasil mengenai sasarannya
dengan jitu, tetapi kenyataannya pendeta itu tidak rubuh dan
tidak kurang suatu apapun juga.

Siauw Liong Lie mau menduga, bahwa Tiat To Hoat-ong
tentunya mempelajari ilmu Yoga sama halnya seperti Kim Lun
Hoat-ong, melatih telah sampai kepuncak kesempurnaan,
sehingga pendeta itu berhasil memindahkan otot dan tulang
sekehendak hatinya.
Tidak mengherankan, walaupun totokan dari Siauw Liong
Lie menghantam dengan jitu sekali, namun tidak ada hasilnya.
Tiat To Hoat-ong tertawa nyaring, sambil memutar
tubuhnya.
„Nyonya, lebih bijaksana jika nyonya secara baik-baik ikut
bersama Hudya, sehingga nyonya tak menemui kesulitan
suatu apapun juga...!" kata Tiat To Hoat-ong pula. Dan dia
bukan hanya berkata-kata, karena dengan cepat sekali kedua
tangannya telah digunakan untuk menangkap tangan Siauw
Liong Lie dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya
akan menotok jalan darah Su Sing Hiat dipinggang sinyonya
Yo.
Siauw Ling Lie jadi gusar, karena pendeta itu benar-benar
terlalu mendesaknya.
"Walaupun bagaimana kepandaian Siauw Liong Lie
berimbang dengan Yo Ko, maka bisa di mengerti bahwa
nyonya itu memang memiliki ke pandaian yang sangat lihay.
Dan mungkin didaratan Tionggoan hanya Kwee Ceng dan Oey
Yok Su yang bisa menghadapinya berimbang.
Tetapi pendeta ini, yang tangannya lancang dan hatinya
bengis kejam, rupanya tidak memandang sebelah mata
kepada nyonya tersebut. Dia telah berulang kali melancarkan
serangan.
Tetapi Siauw Liong Lie juga tidak ingin membuang-buang
waktu, dengan cepat sekali dia telah mengeluarkan seruan
kecil membarengi tangan kirinya mengibas dengan ujung
lengan tangannya menyampok tangan kiri sipendeta, seTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
dangkan tangan kanannya tahu-tahu menyambar akan
menampar kepala botaknya sipendeta.
Tamparan yang dilakukan oleh Siauw Liong Lie bukan
merupakan tamparan biasa, karena sambil menampar dengan
telapak tangannya itu, sinyonya Yo telah mengarahkan tenaga
dalamnya maka bisa dibayangkan hebatnya tamparan itu.
Tiat To Hoat-ong juga mengetahui hebatnya tamparan
yang dilancarkan oleh Siauw Liong Lie. Lebih-Lebih dia
merasakan sampokan ujung lengan baju sinyonya yang
menghantam telak sekali tangannya, sehingga merasakan
tangannya itu kesemutan, maka tamparan yang dilancarkan
oleh, Siauw Liong Lie tidak berani dipandangnya remeh.
Dengan gerakan yang aneh sekali, seperti juga gerakan
seorang pendeta yang tengah bersemedhi, tahu-tahu
tubuhnya jadi pendek kebawah karena sepasang kakinya telah
ditekuknya dalam-dalamdan masih tetap dalam keadaan
seperti itu, disaat dia seperti tengah berjongkok Tiat To Hoatong
mengulurkan kedua tangannya lurus-lurus kedepan, akan
memegang dan merangkul pinggang Siauw Liong Lie.
Serangan yang dilancarkan oleh Tiat To Hoat-ong
sesungguhnya merupakan serangan yang biasa saja, tetapi
bagi Siauw Liong Lie tidak mau tubuhnya disentuh oleh tangan
pendeta itu. Dengan cepat Siauw Liong Lie menjejak tanah,
tubuhnya melompat kebelakang dengan gesit sekali
menjauhkan diri. Dengan sendirinya serangannya terhadap
sipendeta jadi batal.
Tiat To Hoat-ong berdiri sambil tertawa ter gelak-gelak
nyaring sekali.
Siauw Liong Lie jadi mengerutkan sepasang alisnya. Dia
melihat kepandaian Tiat To Hoat-ong memang luar biasa
hebatnya, dan diam-diam Siauw Liong Lie jadi mengharapkan
Yo Ko dan Ciu Pek Thong kembali cepat-cepat, karena jika
bertempur terus menerus dengan cara seperti itu, dan juga

memakan waktu yang panjang. pasti lama kelamaan sinyonya
akan kehabisan napas dan letih. Walaupun dia liehay, tetapi
bukankah Siauw Liong Lie tengah mengandung ?
Itulah sebabnya, Siauw Liong Lie pun tidak berani terlalu
mengerahkan seluruh tenaganya, dan tidak berani bergerak
terlalu gesit, sebab dia kuatir kalau-kalau mengganggu
kesehatan bayinya. Maka dari itu, dengan cepat sekali Siauw
Liong Lie merobah cara bertempurnya itu, tidak bisa dia selalu
mempergunakan kekerasan dan kekuatan tenaganya,
walaupun bagaimana dia harus mengandalkan kegesitannya
belaka dan memancing agar sipendeta tidak menurunkan
tangan keras kepadanya, sampai akhirnya nanti Yo Ko dan Ciu
pek Thong kembali.
Tetapi Tiat To Hoat-ong juga rupanya mengetahui jalan
pemikiran dari Yo Hujin ini. karena dengan cepat sekali, dialah
beruntun melancarkan serangan yang kuat sekali.
dengan disertai oleh kekuatan tenaga lweekang yang
dahsyat bukan main.
Dan didalam waktu yang singkat, Siauw Liong Lie jadi sibuk
sekali untuk mengelakkan diri dari serangan-serangan
lawannya.
Tetapi Siauw Liong Lie sebagai seorang pendekar wanita
yang terhebat dijaman itu. mana bisa dirubuhkan dengan
mudah oleh Tiat To Hoat-ong ?
Disaat itulah, Sin Tiauw yang sejak tadi mengawasi nyonya
majikannya yang tengah bertempur begitu hebat, dan juga
lama kelamaan terdesak karena lawannya liehay sekali, tidak
tinggal diam. Dengan Cepat bukan main, Sin Tiauw telah
mementang sayapnya melayang ditengah udara, dan
menukik-nukik berusaha untuk mencengkeram dan mematuk
kepala Tiat To Hoat-ong.
Tiat To Hoat-ong gusar sekali, suatu kali dengan sengit dia
telah menggerakkan tangan kanannya, dia melancarkan

serangan kearah rajawali itu. Dia menduga, dengan sekali
pukul, dengan pukulan yang disertai oleh tenaga dalam
rajawali itu pasti akan dapat dibinasakannya.
Tetapi diluar dugaannya, mimpipun Juga tidak, bahwa
pukulannya itu ternyata tidak berarti apa-apa bagi Sin
Tiauw, karena disaat tenaga serangan Tiat to Hoat-ong
hampir tiba, disaat itulah Sin Tiauw yang tengah
melayang diatas kepala Tiat To Hoat-ong telah mengibas
dengan sayapnya yang kanan, yang seketika
menyebabkan Tiat To Hoat-ong merasakan tangannya
kesemutan dan telah tersampok kesamping!
Itulah suatu urusan yang benar-benar tidak pernah
dipikirkannya bahwa seekor burung rajawali dapat
menangkis serangan hebat dari seorang pendekar
tangguh seperti dia yang kekuatan tenaga
menyerangnya itu meliputi lima ratus kati lebih.
Di Tibet, Tiat To Hoat-ong dihormati dan disegani
melebihi raja, dan di mongolia diapun disamping
dihormati, juga telah merupakan penasehat raja. Kaisar
Mangu sebelum meninggal juga sangat segan dan
menghormatinya, disamping Kim Lun Hoat-ong.
Begitu pula Kublai yang telah menjadi Khan yang
telah dipilih oleh para menteri
Mongolia untuk menggantikan kedudukan Khan, raja
setelah kakaknya itu terbinasa dalam peperangan, sangat
menghargai Tiat To Hoat ong.
Dengan sendirinya kini seekor burung rajawali dapat
memunahkan pukulannya. Dapat juga melancarkan serangan
kepadannya, membuat Tiat To Hoat ong jadi takjub dan
kagum disamping murka.
Tiat To Hoat ong tidak mengetahui bahwa sesungguhnya
Kim Lun Hoat ong pun sangat takut dan jeri berurusan dengan

Sin Tiauw ini. Karena Kim Lun Hoat ong pernah merasakan
kehebatan sang Rajawali Sakti.
Toat To Hoat ong sangat penasaran sekali dia sampai
melupakan Siauw Liong Lie untuk sejenak lamanya dia telah
melancarkan serangan yang beruntun kearah burung rajawali
itu.
Luar biasa hebatnya serangan-serangan yang dilancarkan
oleh Tiat To Hoat ong karena dia melancarkan serangannya
itu dengan mengerahkan lima bagian tenaga dalamnya. Bisa
dibayangkan hebatnya serangan itu, karena sebagai jago yang
nomor satu dinegerinya, dimana kini dia melancarkan
serangan-serangan dengan mengerahkan lima bagian tenaga
dalamnya, hanya untuk sekedar melayani seekor burung
rajawali. Siauw Liong Lie girang melihat Sin Tiauw telah
membantuinya, dia yakin, dengan dibantu oleh Sin Tiauw dia
tentu bisa mengusir pendeta asing itu.
Bukankah serangan-serangan Sin Tiauw yang dilancarkan
oleh rajawali itu dari tengah udara, telah mempersibuk
pendeta itu, yang perhatian nya jadi terpecah hebat?
Tanpa membuang-buang waktu dan kesempatan yang
ada, tampak Siauw Liong Lie telah melompat ketengah
gelanggang, dan disaat tubuhnya masih melayang di tengah
udara, kedua tangannya telah mendorong dengan keras.
Dari kedua telapak tangannya itu telah meluncur
serangkum angin serangan yang dahsyat sekali, yang
menghantam keras luar biasa ke arah Tiat To Hoat ong.
“Bruaakk” Tiat To Hoat ong telah sempat menangkisnya
sehingga dua kekuatan raksasa dari dua macam tenaga dalam
yang terlatih sempurna telah saling bentur ditengah udara.
Yang hebat adalah tekanan dari tenaga serangan Siauw
Liong Lie yang sudah menyebabkan tubuh Tiat To Hoat-ong
jadi ter huyung2 mundur beberapa langkah kebelakang

dengan muka yang telah berobah pucat sedangkan Siauw
Liong Lie juga tergetar tubuhnya.
Waktu itu Siauw Liong Lie telah mengempos semangatnya
lagi untuk melancarkan serangannya. tetapi tiba2 pandangan
matanya jadi gelap dan ber kunang2 kepalanya pusing dan
pinggangnya sakit seperti ditarik. Serangan seperti itu
datangnya demikian tiba2, sehingga Siauw Liong Lie mengeluh
sendirinya dan membatalkan maksudnya untuk melancarkan
serangan kepada lawannya dan cepat2 menyenderkan tubuh
nya disebuah batang pohon karena dia kuatir rubuh pingsan.
Hal itu disebabkan Siauw Liong Lie tadi telah
mempergunakan tenaga yang melebihi takaran, dia telah
mengempos semangatnya melebihi batas, sehingga
mengalami goncangan pada kandungannya.
Sin Tiauw yang melihat keadaan Siauw Liong Lie, jadi
terkejut bukan main, dia telah mengeluarkan suara pekikan
yang nyaring sekali dan telah mempergencar serangan2nya,
dengan mempergunakan paruh dan kedua cakarnya.
Tiat To Hoat-ong yang tadi telah terkejut bukan main, dan
semula bermaksud untuk, mengundurkan diri meninggalkan
tempat itu saja karena merasa tidak ungkulan, ketika. melihat
keadaan Siauw Liong Lie, dia jadi girang bukan main, dengan
mengeluarkan suara seruan; yang mengguntur, dia telah
melancarkan serangan yang jauh lebih kuat dan hebat
kepada Sin Tiauw, sehingga memaksa Sin Tiauw terbang lebih
tinggi ketengah udara.
Mempergunakan kesempatan yang hanya beberapa detik
itu. Tiat To Hoat-ong yang liehay luar biasa, telah melompat
menubruk ke arah Siauw Liong Lie. Tangan kanannya tahu2
telah melayang menotok kearah jalan darah Su-suan-hiat
didekat iga ketujuh dari tubuh nyonya Yo, jari tangannya itu
meluncur cepat dan ber tenaga sekali.

Siauw Liong Lie melihat datangnya serangan itu: namun dia
tidak berdaya sama sekali untuk menangkisnya, karena disaat
itu tubuhnya tengah ber-goyang2 seperti akan rubuh pingsan
tenaganya seperti lenyap dan juga sekelilingnya seperti
lenyap. Maka tanpa ampun lagi totokan sipendeta Tiat To
Hoat-ong tidak berhasil di elakkannya dan tubuh Siauw Liong
Lie terjungkel rubuh ditanah.
Sin Tiauw yang menyaksikan itu mengeluar kan pekikan
dan cepat2 menyambar kearah Tiat To Hoat-ong, melancarkan
serangan kepada Tiat To Hoat-ong dengan sayap kanan dan
kirinya mengibasnya, maka kekuatan angin serangan ribuan
kati menerjang sipendeta.
Tentu saja Tiat To Hoat ong terkejut sekali dia telah
menyingkir kesamping. Itulah yang dikehendaki oleh Sin
Tiauw karena dengan menyingkirnya Tiat To Hoat ong, berarti
si pendeta tidak bisa mengganggu Siauw Liong Lie lebih jauh.
Burung rajawali itu telah hinggap turun di tanah, disamping
Siauw-Liong Lie untuk melindunginya.
Si pendeta mendengus tertawa dingin. Dia telah berhasil
menotok rubuh Siauw Liong Lie tetapi disebabkan rajawali itu
maka usahanya terancam gagal, jika sampai Yo Ko dan Ciu
Pek Thong sempat datang, niscaya akan menyebabkan gagal
rencananya.
Disaat Tiat To Hoat-ong berdiri bimbang seperti itu, tiba2
dikejauhan, dari arah puncak Giok Lie Hong terdengar suara
pekik seperti menangis yang menyayatkan hati, yang panjang
dan terdengar samar sekali ........ itulah suara wanita yang
rambutnya telah ubanan, yang telah berhasil di serang sampai
dirubuhkan Yo Ko dan disaat akan berlalu nenek ubanan itu
telah mengeluarkan suara tangisan yang di dengar oleh Tiat
To Hoat ong.

Dengan sendirinya, ketika mendengar suara tangisan yang
panjang seperti itu, Tiat To Hoat ong jadi berkuatir kalau2 Yo
Ko dan Ciu Pek Thong akan segera kembali.
Dia cepat2 merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah
tabung kecil, yang ujungnya terdapat tangkai, sehingga
tampaknya seperti semprotan.
Dengan cepat tabung itu ditujukan kepada Sin Tiauw.
dengan mendorong tangkainya, dari ujung tabung itu muncrat
semacam uap putih yang cukup tebal, menyambar kearah Sin
Tiauw.
Burung rajawali itu menjadi terkejut. karena jika senjata
rahasia atau benda yang bersifat keras, tentu dengan mudah
dia bisa membebaskan diri atau menangkisnya. Tetapi
sekarang justru yang menyambar kearahnya itu adalah
semacam uap yang telah memenuhi sekitar dirinya. Bahkan
Sin Tiauw seketika itu rasakan betapa kepalanya pusing dan
matanya gelap. Seperti akan rubuh. Dengan cepat burung
rajawali itu meng gerak2kan kedua sayapnya kemudian dia
melompat untuk terbang.
Tetapi baru dua tombak lebih dia terbang ketengah udara,
tubuhnya telah rubuh kembali menggeletak ditanah tanpa
bergerak lagi. Ternyata tabung yang dimiliki oleh Tiat To Hoat
ong merupakan tabung uap yang bisa dipergunakan untuk
merubuhkan lawan, karena gas uap terdapat didalam tabung
itu seperti juga gas tidur. Yang sekarang mungkin dikenal
dengan chloroform.
Tentu saja Sin Tiauw tidak sanggup untuk melawannya,
matanya yang tiba2 menjadi berat dan mengantuk begitu juga
tubuhnya lemas tidak bertenaga dan burung itu telah
menggeletak tidur nyenyak. Siauw Long Lie yang dalam
keadaan tertotok tidak pingsan, dia bisa menyaksikan semua
peristiwa itu. Semula atas pertolongan Sin Tiauw, dia
mengharapkan sipendeta Mongolia itu berhasil diusir, namun

kenyataannya Sin Tiauw pun akhirnya telah rubuh, disamping
dirinya sendiri juga tertotok tanpa bisa bergerak lagi.
Habislah harapan Siauw Liong Lie, lebih2 Yo Ko dan Loo
Boan Tong belum juga datang.
Dengan cepat Tiat To Hoat-ong telah melompat
menghampiri untuk menotok lagi beberapa jalan darah
ditubuh Siauw Liong Lie. Kemudian diapun mengeluarkan
seutas tali yang kuat sekali, dia menelingkung kedua sayap
Sin Tiauw keatas, lalu mengikatnya kuat2. Begitu pula kedua
kaki burung dan paruh burung itu, yang diikatnya sama kuat.
Umpama kata Sin Tiauw beberapa saat lagi terlepas dari
pengaruh obat tidur itu, dia tidak bisa menggerakkan kedua
sayapnya untuk terbang, tidak bisa mempergunakan kedua
cakarnya dan tidak bisa mempergunakan paruhnya untuk
mematuki tali yang mengikat kedua kaki dan sayapnya.....
Tiat To Hoat-ong bekerja cepat sekali, dia telah
mengangkat tubuh Siauw Liong Lie
dan kemudian memanggul Sin Tiauw, berlalu dari tempat
itu, Sebelumnya Tiat To Hoat-ong mempergunakan sepatunya
menghapus jejak2 yang terdapat ditanah.
Itulah sebabnya, tidak mengherankan jika Yo Ko dan Loo
Boan Thong akhirnya tidak melihat sedikitpun tanda2 apapun
disekitar tempat itu.
CU KUN HONG menunggangi kudanya yang dilarikan cukup
keras dijalur jalan yang terdapat dibawah kaki gunung Hoasan.
Memang pemuda pelajar she Cu tersebut bermaksud
mendatangi Hoa-san untuk menyaksikan keramaian, karena
dia mendengar bahwa Cu Pek Thong. Yo Ko dan Siauw Liong
Lie ingin pergi ke Hoa San memenuhi undangan It Teng Taisu
yang akan datang kegunung itu juga. Karena memang tidak
memiliki urusan lainnya, maka pemuda she Cu itu telah
menuju ke Hoa San dengan harapan bisa bertemu dan bercakap2
dengan tokoh2 terkenal rimba persilatan itu.

Jago2 silat mana yang tidak akan merasa bangga jika bisa
berjumpa dengan Yo Ko atau Siauw Liong Lie, sepasang
pendekar besar dijaman itu ? Dan terlebih lagi jika bisa
bertemu dengan It Teng Taisu, Oey Yok Su, Kwee Ceng, Oey
Yong dan jago2 lainnya.
Maka dari itu, dengan tidak memikirkan sulitnya perjalanan,
Cu Kun Hong telah melakukan perjalanan ke Hoa San.
Telah belasan hari dia melakukan perjalanannya dengan
kudanya itu, dan selama itu dia telah berusaha untuk
melakukan perjalanan dengan cepat, karena pemuda pelajar
tersebut takut datang terlambat.
Hari masih cukup terang, walaupun senja mulai
menyelimuti daerah pegunungan Hoa San.
Sedang Cu Kun Hong melarikan kudanya, tiba2 dari arah
depannya dia melihat sesuatu yang mengejutkan hatinya. Dia
melihat sesosok tubuh yang tinggi dan besar tengah berlari
menghampiri kearahnya.
Setelah Cu Kim Hong menghentikan kuda nya dan
memperhatikan baik2, dan sosok tubuh yang baru turun dari
atas gunung itu semakin dekat, barulah Kun Hong
mengetahuinya itulah seorang yang tengah memanggul
seorang manusia lainnya dan memanggul juga seekor rajawali
berukuran raksasa, sebesar satu setengah manusia
dewasa. Yang membuat Cu Kun Hong lebih kaget lagi
adalah orang yang tengah ber lari2 itu tidak lain dari Tiat To
Hoat-ong, Sipendeta Mongolia yang liehay luar biasa
kepandaiannya. Sedangkan orang yang dipanggulnya, tidak
lain dari Yo Hujin, yaitu Siauw Liong Lie.
Tentu saja Cu Kun Hong jadi duduk diatas kudanya dengan
sikap tertegun. Dia hanya mengawasi saja.
Saat itu Tiat To Hoat-ong telah ber-lari2 semakin dekat
juga, dan gerakannya yang secepat angin itu menyebabkan

pandangan mata Kun Hong kabur dan tidak bisa melihat jelas.
Belum lagi dia mengetahui sesuatu apa, tiba2 dia melihat
pendeta itu menggerakkan tubuhnya dengan sentakan yang
kuat, membuat ujung lengan jubahnya itu menghantam muka
Kun Hong, disaat sipendeta itu lewat disisinya.
Gerakan sipendeta itu luar biasa sekali, karena ujung
jubahnya itu mengandung tenaga lweekang yang dahsyat
sekali, sehingga waktu ujung jubah itu menghantam muka
Kun Hong, sipemuda seperti dihantam oleh lempengan besi.
Sesungguhnya Kun Hong telah melihat menyambarnya
ujung lengan jubah pendeta itu, dan dia juga bermaksud
mengelakkan diri. Namun rupanya gerakan Tiat To Hoat-ong
memang cepat luar biasa, sehingga sebelum dia mengetahui
sesuatu apapun juga, disaat itulah mukanya telah terhajar jitu
sekali oleh ujung lengan jubah sipendeta.
Tanpa ampun lagi seketika itu juga tubuh Cu Kun Hong
terpental dari atas kudanya, ambruk diatas tanah, dan rebah
pingsan tidak sadarkan diri dengan hidungnya mengucurkan
darah.
Sambil mengeluarkan suara tertawa yang ber-gelak2
menyeramkan, Tiat To Hoat-ong telah melanjutkan larinya
dengan cepat, sambil tetap membawa Siauw Liong Lie dan Sin
Tiauw Sama sekali pendeta Mongolia itu tidak ber maksud
untuk merampas kuda Cu Kun Hong karena dengan
menunggang kuda dibandingkan larinya, memang jauh lebih
cepat dia mempergunakan kedua kakinya sendiri, yang bisa
lari secepat angin.
Lama Kun Hong rebah pingsan tidak sadarkan diri. sampai
akhirnya dia merasakan kepala nya diusap seseorang.
„Akhhhh, lukanya tidak berat, hanya disebabkan hantaman
yang keras, menyebabkan dia pingsan sementara waktu . ..!"
Kun Hong mendengar seseorang berkata dengan suara sabar.

Kun Hong membuka matanya, pandangan matanya masih
kabur dan dia belum bisa melihat jelas, hanya terasa ada dua
bayangan manusia berdiri dihadapannya, segera juga Kun
Hong memejamkan matanya kembali.
Disamping itu, Kun Hong merasakan dirinya tengah rebah
dipembaringan, dan luka dimuka-nya, akibat kebutan ujung
jubah dari Tiat To Hoat-ong, telah menimbulkan perasaan
sakit yang luar biasa.
Setelah berdiam diri sejenak lagi, akhirnya Kun Hong
membuka matanya pula.
Segera juga dia jadi girang, karena orang yang tengah
duduk ditepi pembaringan, yang tadi juga telah mengusap
keningnya tidak lain dari Yo Ko, Sin Tiauw Taihiap !
Sedangkan orang yang satunya lagi, yang berdiri dipinggir
pembaringan dengan berdiam diri, ternyata Ciu Pek Thong,
Loo Boan Tong situa nakal jenaka,
„Kau telah siuman, engko kecil !" kata Loo Boan Tong
dengan gembira. „Ahhh, siapa yang telah melukaimu demikian
macam ?"
„Tiat...Tiat. To Hoat-ong.. yang pernah bertempur dengan
locianpwe ! kata Cu Kun Hong dengan suara yang tak lampias.
„Toat To Hoat-ong, pendeta Mongolia bangsat itu ?” tanya
Ciu Pek Thong dengan sengit. „Be.....nar.... !" menyahuti Cu
Kun Hong
„Dan....,dia juga membawa seorang wanita, kalau tidak
salah Yo.....Ko Hu-jin (nyonya Yo) locianpwe..."
Yo Ko dan Ciu pek Thong telah saling tatap.
Memang dipuncak Hoa San, Yo Ko dan Ciu Pek Thong telah
mengelilingi gunung itu mereka men-cari2 Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw tanpa hasil.

Dan akhirnya ketika mereka tengah mencari dikaki gunung
Hoa San, disitulah justru mereka menemui Cu Kun Hong yang
tengah pingsan.
Dengan sendirinya, hal itu telah membuat mereka terkejut
karena keduanya mengenali pemuda tersebutlah yang pernah
bertemu dengan mereka.
Segera Yo Ko mengangkat tubuh Cu Kun Hong dan
Ciu Pek Thong menuntun kuda pemuda itu. Mereka
membawa Cu Kun Hong kerumah seorang penduduk
minta bermalam disitu. Dengan mempergunakan
lweekangnya dan menotok beberapa jalan darah ditubuh
Cu Kun Hong, Yo Ko telah menyadarkan Cu Kun Hong
dari pingsannya. Dan Yo Ko maupun Ciu Pek Thong tidak
menduga bahwa dari mulut pemuda inilah akhirnya dia
mengetahui Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw telah ditawan
oleh Tiat To Hoat-ong.
Segera juga Yo Ko telah menanyakan persoalannya
kepada Cu Kun Hong, sebetulnya menyadari bahwa Cu
Kun Hong yang baru tersadar dari pingsannya itu masih
lemah, karena darah yang mengucur keluar dari
hidungnya sangat banyak sekali. Tetapi karena urusan
itu menyangkut keselamatan isterinya dan Sin Tiauw. Yo
Ko sudah tidak menantikan waktu terlebih lama lagi dan
menanyakan disaat itu juga.
Cu Kun Hong telah menceritakan semua yang
dialaminya dikaki gunung Hoasan, menceritakan juga apa
yang telah dilihatnya.
Yo Ko jadi mengerutkan sepasang alisnya, Dia tidak
mengerti mengapa Siauw Liong Lie. sampai bisa rubuh dan
ditawan oleh Tiat To Hoat-ong. Sedangkan Siauw Liong Lie
memiliki kepandaian yang sama tinggi dan tidak lebih rendah
darinya, Sedangkan Sin Tiauw pun memiliki kepandaian yang
sangat hebat mengapa dapat dirubuhkan oleh Tiat To Hoatong.
Sedang kan menurut cerita Cun Kun Hong, Sin Tiauw

telah diikat kedua sayap, kedua kaki dan paruh nya. Tentu
saja keadaan Sin Tiauw seperti itu mengherankan dan
membingungkan sekali hati Yo Ko dan Ciu Pek Thong.
„Apakah Tiat To Hoat-ong memang sedemi kian hebat...?"
menggumam Ciu Pek Thong setelah tertegun sejenak.
Yo Ko tambah berkuatir saja, terlebih lagi dia teringat
bahwa isterinya tengah hamil.
„Mari kita susul sikepala gundul itu, ajak Ciu Pek Thong
dengan bersemangat.
Yo Ko mengangguk.
Pergilah locianpwe mengejarnya, aku bisa merawat diriku
sendiri, lebih lagi akupun tidak terluka berat..... yang
terpenting jiwie lociapwe menolongi dulu Yo Hujin dan rajawali
sakti itu ...” bilang Kun Hong ber sungguh2.
Yo Ko mengangguk dan memandang pemuda itu dengan
sorot mata memancarkan perasaan berterima kasih. Saat itu
Ciu Pek Thong sedah tidak sabar, dia menepuk perlahan bahu
pemuda she Cu itu.
“engko kecil terpaksa kami meninggalkanmu, karena kami
harus mengejar sigundul itu dulu... !” kata situa jenaka itu.
Kun Hong mengiakan cepat2 sambil meng ucapkan terima
kasihnya.
Disaat itu, tampak Yo Ko masih ragu2, tetapi karena Ciu
Pek Thong telah melangkah ke luar Yo Ko pun setelah
mengucapkan beberapa kata2 hiburan kepada Kun Hong, lalu
keluar dari kamar itu.
Kepada tuan rumah, Yo Ko memberikan dua tail perak, dan
terpesan agar merawat Kun Hong. Setelah itu, berdua dengan
Ciu Pek Thong, Yo Ko telah berlari pesat sekali mengambil kejurusan
yang diberitahukan oleh Cu Kun Hong...

Tiat To Hoat-ong terus ber-lari2 dengan mempergunakan
ilmu berlari cepatnya yang Sempurna sekali. Walaupun dia
membawa beban yang cukup berat, yaitu Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw, namun kenyataannya sedikitpun tidak mengganggu
atau memperlambat larinya.
Kebetulan sekali disaat itu hari mulai malam, sehingga Tiat
To Hoat-ong yang memanggul Sin Tiauw dan mengempit
Siauw Liong Lie tidak menarik perhatian orang, sebab jalan2
telah sepi dan pendeta itu dapat ber-lari2 lebih leluasa.
Memang luar biasa pendeta itu, diwaktu menjelang tengah
malam, dia telah berhasil ber-lari2 sejauh empat ratus lie
lebih, dan tiba dikota Lung-siu-kwan, diluar perbatasan Kangciu.
Suasana kota saat itu sangat sepi sekali, dan pintu kota
juga telah ditutup. Tetapi Tiat To Hoat ong telah
menjejakkan kakinya ditanah; dengan membawa beban yang
berat seperti itu, tubuhnya melompat setinggi lima tombak,
lalu dengan cepat sekali, disaat tubuhnya tengah terapung di
tengah udara, Tiat To Hoat ong menendang dinding tembok
pintu kota itu, sehingga tubuhnya terpental lebih tinggi lagi,
dan dengan melakukan gerakan seperti itu yang diulanginya,
beberapa kali akhirnya Tiat To Hoat-ong berhasil mencapai
puncak pintu kota. Dengan mudah dia telah masuk kedalam
kota tanpa seorang penjaga kotapun yang melihat
perbuatannya" itu.
Dengan mengelilingi kota, akhirnya dia melihat ada sebuah
rumah penginapan yang masih buka, cepat2 Tiat To Hoat
ong memasukinya dan meminta dua kamar kepada pelayan
yang menyambutnya.
Semula pelayan itu mengawasi bengong kepada pendeta
dihadapannya, ini yang mengepit Seorang wanita cantik dan
menggotong seekor burung rajawali raksasa, Tetapi pelayan
itu segera menduga bahwa pendeta itu seorang manusia luar
biasa, setidaknya seorang manusia setengah dewa.

Lebih2 setelah Tiat To Hoat-ong memberi kan sepotong
goanpo kepadanya, maka pelayan itu tidak berani banyak
tanya dan cepat2 mempersiapkan, dua buah kamar yang
berdampingan, waktu Tiat To Hoat-ong memasuki rumah
makan itu, ada beberapa orang2 yang belum tidur, mereka
semuanya takjub melihat pendeta itu bersama seorang wanita
cantik dan seekor burung rajawali raksasa. Dengan sendirinya,
peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang aneh.
Jika memang Hiat To Hoat-ong hanya membawa Siauw
Liong Lie, mungkin orang hanya menduga bahwa pendeta itu
adalh pendeta cabul. Tetapi dengan membawa juga seekor
burung rajawali raksasa seperti itu, keruan saja telah
menyebabkan tamu2 yang berada didalam penginapan
tersebut ingin menduga si pendeta se tidak2nya telah
mencapai kesempurnaannya dalam mensucikan dirinya, telah
menjadi setengah dewa, karena seekor burung rajawali
berukuran begitu besar, dengan mudah digotongnya dan juga
tidak berdaya ditangannya.
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak memperduli kan tatapan
heran dari orang2 itu, dengan membawa kedua bebannya itu
Tiat To Hoat-ong telah menaiki undakan anak tangga, dia
memasuk kan Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw itu kesebuah
kamar, sedangkan dia sendiri telah tidur dikamar yang
satunya lagi. Sebelum tidur, Tiat-To Hoat ong telah berpesan
kepada pelayan, agar mereka jangan mengganggu
ketenangannya.
Waktu pendeta itu telah masuk tidur, gemparlah orang2
yang berada dirumah penginapan tersebut. Untuk bicara apa
saja dengan berterang mereka tidak berani, akhirnya mereka
telah bisik2 saja, dari mulut yang seorang menjalar keseorang
lainnya sehingga keesokan harinya berita mengenai pendeta
aneh itu telah tersebar diseluruh kota.
Pagi dan siang itu Tiat To Hoat ong tidak keluar dari
kamarnya. Dia hanya meminta pelayan mengantarkan

masakan untuknya dikamarnya. selangkah pun dia tidak
keluar dari kamarnya Tiat To Hoat ong memang bermaksud
melanjutkan perjalanannya dimalam hari agar tidak menarik
perhatian orang banyak dalam perjalanannya.
Sepanjang hari Tiat To Hoat ong mengurung diri dikamar.
Sedang Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw tetap dikurung dikamar
yang satunya lagi yang dikuncinya dari luar dan melarang
siapa saja mengganggunya.
Sepanjang satu hari itu, sejak pagi sampai sore itu
penduduk kota selalu memperbincangkan perihal seorang
pendeta aneh tersebut dengan rajawalinya yang luar biasa itu
dan wanita cantik seperti bidadari.
Banyak penduduk kota yang berdatangan ke rumah
penginapan itu ingin melihat si pendeta luar biasa tersebut,
tetapi kuasa rumah penginapan tersebut telah melarang
mereka menimbulkan suara ribut2.
“Jika Hudya itu marah, hemnm celakalah kita semua. Dia
bukan pendeta biasa, se tidak2nya telah menjadi setengah
dewa. Maka kalian jangan mencari penyakit untuk diri sendiri
!, kata kuasa rumah penginapan itu dengan berkuatir, karena
penduduk kota yang memenuhi dimuka rumah penginapannya
justru menimbulkan suara berisik sekali. Sedangkan disaat itu
tampak seorang pendeta tua yang berpakaian sebagai seorang
hwesio telah melangkah memasuki rumah penginapan
tersebut, karena rumah penginapan tersebut merangkap
sebagai rumah makan. Pendeta tua itu telah lanjut usianya,
memakai jubah khase yang sederhana, dengan kepalanya
yang licin dan janggutnya maupun kumis yang tumbuh
panjang telah putih.
Wajahnya memancarkan sifatnya yang welas asih, dan
ramah sekali. Dia memilih sebuah meja didekat jendela dan
duduk tenang2 disitu. Dipesannya beberapa macam sayur
tanpa daging dan dua kati arak.

Semula pendeta tua itu merasa heran sekali melihat banyak
orang yang bisik2, seperti tengah membicarakan sesuatu yang
luar biasa. Tentu saja hal ini menarik perhatiannya, sehingga
ketika seorang pelayan mengantarkan pesanannya, dia
menarik tangan pelayan itu, memberikan dua tail perak dan
menanyakan sesungguh nya apa yang telah terjadi ditempat
tersebut.
Pelayan itu segera memperlihatkan wajah yang bersungguh2.
„Taisu mungkin baru sampai dikota ini, sehingga belum
mengetahui . . . !" kata pelayan itu. „Benar2 aneh! Benar2
hebat!"
„Apanya yang aneh? Apanya yang hebat?", tanyanya
pendeta itu sabar.
„benar2 luar biasa, Taisu .... seorang pendeta, yang
pakaiannya sangat aneh sekali
yang kepalanya memakai kopiah kecil terbuat dari emas,
bertubuh gemuk dan besar kepalanya .....kepalanya botak
seperti . . . . seperti Taisu . . . dan juga kalau tidak salah
dia berasal dari Mongolia !"
Sipendeta tua tersenyum sabar mendengar itu.
„Itu tidak perlu dibuat heran, bukan ?" tanyanya walaupun
negeri ini telah aman dan tentara Mongolia dipukul mundur
pulang ke-negerinya, dan kini ada seorang pendeta dari
Mongolia yang berkeliaran didaratan Tionggoan hal itu
tidaklah perlu dibuat heran atau aneh. Bukankah kini bukan
jaman perang ? Mengapa kita harus memberikan kesan yang
tidak baik sebagai tamu, pendeta Mongolia itu harus dihormati
!"
„Ohhh. Taisu belum tahu !" berseru pelayan itu sambil
memperlihatkan wajah yang ber-sungguh2. „Jika dia sebagai
pendeta Mongolia saja. hal itu memang tidak perlu dibuat

heran . . tetapi justru yang luar biasa, pendeta itu membawa
seorang Wanita cantik seperti bidadari, yang mukanya merah
sehat, rambutnya dikonde ujungnya terurai memakai baju
merah dan angkin hijau, cantik luar biasa.,."
„Apakah kauingin mengartikan pendeta Mongolia itu adalah
pendeta cabul?" tanya pendeta tua itu sambil mengerutkan
alisnya.
"BUKAN!" menyahut pelayan itu cepat. „Wanita cantik Ini
dikurung disebuah kamar se dangkan pendeta Mongolia itu
tidur di kamar lainnya",
„Apa maksud pendeta itu?" tanya si hweshio , tambah
tidak mengerti „Dan tahukah engkau siapa gelarnya?"
Sipelayan menggelengkan kepalanya. „Tidak, tidak tahu".
jawabnya. Tetapi menurut keterangan tuan kuasa rumah
penginapan ini yang memiliki pengetahuan luas ragam
pergaulannya dengan orang2 rimba persilatan, bahwa pendeta
Mongolia itu adalah seorang pendeta setengah dewa".
Si Hweshio tersenyum mendengar perkataan sipelayan,
yang dianggapnya lucu.
„Lalu, apa yang luar biasa lagi didiri pendeta Mongolia itu ?'
tanya si Hwesio.
"Diapun membawa seekor rajawali yang besar sekali, yang
mulutnya diikat, sepasang kakinya diikat, dan kedua sayapnya
juga diikat. Besar sekali ukuran rajawali itu, lebih besar dari
manusia dewasa !"
Kali ini muka si Hwesbio jadi berobah mendengar
disebutnya soal rajawali itu. Dia jadi teringat kepada seorang
sahabatnya yang juga memiliki seekor rajawali yang besarnya
melebihi ukuran manusia dewasa.
“Mengapa rajawali itu diikat ?” tanya si-Hweshio akhirnya.

„Entahlah kata orang yang mengerti, tentunya pendeta itu
telah menaklukan rajawali itu, sedangkan burung rajawali itu
adalah rajawali siluman " menyahuti si pelayan.
Mendengar pelayan itu mulai bicara tidak karuan persoalan
takhayul, pendeta tersebut sudah tidak berpikir untuk
mendengar keterangannya, dia telah perintahkan
pelayan Itu agar pergi meninggalkannya, dan si hweshio
bersantap menghabiskan makanannya.
Setelah itu dia meminta kepada kuasa rumah penginapan
agar mempersiapkan sebuah kamar, karena diapun akan
bermalam dirumah penginapan tersebut.
Dihatinya si hweshio jadi tertarik untuk menyelidiki
persoalan tersebut, dia ingin mengetahui siapakah pendeta
Mongolia yang disebut sebagai pendeta setengah dewa itu
oleh sipelayan rumah penginapan tersebut.
Tetapi ketika si Hweshio hendak menaiki undakan anak
tangga. disaat itulah dari atas loteng tengah menuruni anak
tangga tersebut seorang pendeta. Waktu itu si Hweshio
melihat pendeta itu seorang pendeta Mongolia, dia tercekat
hatinya, dia sampai memandang tertegun „Kim Lun Hoat-ong”
pikirnya. Namun akhirnya si Hweshio berhasil menindih
goncangan hatinya, dia menundukkan kepalanya agar tidak
menimbulkan kecurigaan pendeta Mongolia itu, yang telah
turun Lewat disampingnya.
„Kim Lun Hoat-ong telah meninggal...pendeta ini bukan dia,
karena wajahnya lain, hanya jubah dan bentuk tubuhnya yang
gemuk itulah yang mirip2 dengan Kim Lun Hoat-ong" berpikir
hweshio itu, sambil terus menaiki undakan anak tangga dan
memasuki kamarnya.
Didalam kamar, sipendeta jadi mengerutkan, alisnya dan
tampaknya tengah berpikir keras.

„Apa maksudnya pendeta Mongolia itu ber keliaran
didaratan Tionggoan lagi...pasti dibalik semua ini terdapat
persoalan yang besar...seperti yang baru beberapa saat yang
lalu ketika ada urusan yang tengah kuhadapi...!" dan si
Hweshio-telah menghela napas lagi, wajahnya jadi murung.
„Dilihat demikian., tampaknya kerajaan song sulit untuk
dilindungi, para pembesarnya gentong nasi semua, sedangkan
pihak Mongolia tetap gigih berusaha mengincar untuk
mencaplok daratan Tionggoan. Terlebih lagi Kublai Khan
tampaknya lebih cerdik dari Kaisar Mangu. Ai, Ai, memang
sudah takdir, sulit mengelak takdir.....!”
Berulang kali hweshio itu menghela napas panjang pendek,
sampai akhirnya dia duduk diam dikursi dalam kamarnya itu,
dia terus memuji sang Budha. Sampai akhirnya si hweshio
mendengar suara langkah kaki yang berat di undakan anak
tangga, dia menduga bahwa pendeta mongolia itu tentu
tengah menaiki pula undakan anak tangga untuk kembali
kekamarnya.
Memang tadi pendeta Mongolia itu Tiat To Hoat-ong telah
turun keruang bawah untuk membereskan sewa kamarnya,
karena dia bermaksud begitu hari mulai gelap dia ingin
melanjutkan perjalanannya.
Si Hweshio cepat2 membuka sedikit daun pintunya, yang
kebetulan berhadapan dengan tikungan anak tangga diloteng
itu. dia mengintai keluar dilihatnya Tiat To Hoat ong
melangkah menuju kearah kamarnya langkah2 lebar, setelah
tiba dimuka kamarnya, pendeta Mongolia itu berhenti sejenak,
tampaknya dia ragu2 untuk segera memasuki kamarnya dia
menoleh memandang kearah kamar disebelahnya yang
pintunya tertutup rapat. Setelah tersenyum sejenak, pendeta
Mongolia itu membuka pintu kamarnya dan melangkah masuk,
lenyap dibalik pintu kamarnya.
Sihweshio yang telah mengintai memperhatikan gerak-gerik
pendeta Mongolia itu, jadi mengerutkan sepasang alisnya yang

telah putih itu. Perlahan sekali, seperti berbisik dia telah
memuji kebesaran sang Budha.
Ditutupnya kembali pintu kamarnya dan duduk dikursinya
semula.
„Hai, jika dilihat tindakan kakinya, matanya dan
keadaannya, pendeta Mongolia itu memiliki kepandaian yang
tidak berada dibawahnya Kim Lun Hoat-ong. Siapakah dia?
Apa maksudnya datang ke Tionggoan? Tadi pelayan
mengatakan bahwa wanita cantik dan burung rajawali yang
diikatnya telah dikurung dikamar sebelahnya yang tadi
diawasinya. Siapakah wanita cantik itu ? apakah mungkin dia ?
dan apakah burung rajawali yang dibawanya itu mungkin Sin
Tiauw milik dia ?, mengapa aku tidak coba2 melihatnya ?”
karena berpikir begitu, dengan cepat si Hweshio membuka
pintu kamar disebelah kamar si pendeta Mongolia itu.
Pintu itu ternyata terkunci dari luar, tetapi hweshio itu telah
mendengarkan dulu sejenak, lalu mengulurkan tangannya
yang ditempelkannya didaun pintu dikerahkan tenaga
lwekangnya. Luar biasa sekali dengan mengeluarkan suara
“takkk” yang perlahan sekali, besi engsel itu telah berhasil
dipatahkannya dengan mudah. Dengan hati2 si Hweshio telah
mendorong daun pintu itu sehingga terpentang.
Sesosok tubuh wanita tampak menggeletak dilantai.
Sedangkan disampingnya mengeletak seekor burung rajawali
berukuran besar, keduanya tampaknya tengah tertidur
nyenyak sekali.
Melihat wanita itu, dan melihat rajawali itu, hampir saja si
hweshio mengeluarkan seruan tertahan karena sangat
terkejut. Dia kenal dengan baik wanita yang menggeletak
dilantai itu, dan mengenali dengan baik pula rajawali
disamping wanita cantik tersebut, karena wanita cantik itu
tidak lain dari Siauw Liong Lie dan rajawali itu tidak lain dari
Sin Tiauw.

Muka si hweshio jadi berobah merah padam, tampaknya
dia murka bukan main.
Namun disaat si hweshio mau melangkah menghampiri
untuk menolongi Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, justru disaat
itulah dia merasa kan dari belakangnya meluncur angin
serangan yang kuat sekali, yang berat luar biasa, mungkin
seribu kati.
Tetapi hweshio itu tidak menjadi gugup, dengan mengucap
„Siancai" berulang kali, dia telah mengempos semangatnya,
mengerahkan tenaga murninya dipunggungnya itu menjadi
kebal untuk menerima serangan dahsyat itu.
"Buuuukkk'" terdengar suara benturan yang keras sekali
waktu punggung si Hweshio itu terhajar oleh serangan dari
belakang. Tubuh hweshio tersebut ber goyang2 tetapi
sepasang kakinya seperti terpantek dilantai. Tidak bergeser
sedikitpun.
Sedangkan orang yang melancarkan serangan gelap itu.
Mengeluarkan seruan tertahan Jangan kan manusia,
sedangkan batu saja jika terhajar oleh serangannya dengan
kekuatan seperti tadi, niscaya batu itu akan remuk hancur
menjadi bubuk. Tetapi hweshio itu justeru dapat diserang nya
dengan jitu, namun tidak mengalami sesuatu kerugian apapun
juga.
Saat itu sihweshio dengan tenang dan gesit sekali telah
memutar tubuhnya. Segera dilihatnya, yang melancarkan
serangan tadi adalah si-imam Mongolia itu.
„Siancai! Siancai" si hweeshio menyebut ke besaran sang
Buddha. „Sungguh hebat sekali ke pandaian yang kau miliki,
Taisu.
Orang yang melancarkan serangan itu memang Tiat To
Hoat ong, dia menduga bahwa dengan sekali serang tentu
dia akan dapat merobohkan hweshio itu.

Tadi waktu dia memasuki kamarnya dan ingin merebahkan
tubuhnya dipembaringan, dia mendengar samar sekali suara
langkah kaki yang ringan. Dia jadi bercuriga, terlebih lagi
suara langkah kaki itu mendekati kamar disebelah kamarnya.
Dengan cepat Tiat To Hoat-ong telah melompat turun dari
pembaringannya, dia menghampiri pintu kamarnya, berdiri
disitu untuk memasang pendengarannya lebih tajam.
Disaat itulah dia mendengar lagi suara "tak" yang halus,
suara patahnya benda logam, menyebabkan pendeta Mongolia
ini tambah gusar, karena dia dapat menduga suara apa itu,
yaitu patahnya engsel pintu.
Dengan hati2 Tiat To Hoat-ong telah membuka pintu
kamarnya dan keluar ber indap2 dengan langkah yang ringan,
dan disaat itu kebetulan dia melihat seorang hweshio tengah
memandang kedalam dengan tubuh mematung.
Sebetulnya, sihweshio pasti mengetahui kedatangan Tiat
To Hoat-ong di belakangnya kalau saja dia tidak tengah
diliputi keterkejutan yang hebat melihat Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw tertawan begitu rupa.
„Apa maksudmu memasuki kamar ini?" bentak Tiat To Hoatong
dengan aseran dan kasar, “Siancai, Siancai, semula waktu
mendengar cerita pelayan, Siauwceng (aku pendeta kecil)
telah menduga bahwa wanita dan rajawali yang berada
bersama Taisu adalah sahabat Siauwceng. Setelah Siauwceng
melihat sendiri, memang Hujin (nyonya) itu bersama rajawali
tersebut ialah sahabat baik Siauwceng. Sesungguhnya ada
persengkataan apakah antara Taisu dengan mereka?..."
Saat itu muka Tiat To Hoat ong sudah berobah tidak sedap
dipandang, dia mendengar bahwa hweshio dihadapannya ini
adatah sahabat Siauw Liong Lie dan rajawali itu. keruan saja
dugaannya bahwa kedatangan hweshio tersebut pasti ingin
menolongi kedua tawanannya itu.

Maka tanpa menanti habisnya perkataan si hweshio,
dengan cepat sekali tangan kanannya telah diulurkan akan
menghajar dada si hweshio, juga tangannya yang kiri teluh
mencengkeram jalan darah Pie-tu-hiat dipangkal lengan si
hweshio.
Namun hweshio tersebut juga memiliki kepandaian yang
luar biasa hebatnya, dengan mengeluarkan suara dengusan
perlahan, dan kemudian memuji kebesaran Sang Buddha
karena melihat serangan pendeta Mongolia itu terlalu kejam,
dia berkelit kesamping, Dengan sendirinya serangan Tiat To
Hoat-ong telah jatuh ditempat kosong.
„Akhhh, sayang, sayang .... !" berkata si hweshio.
JILID 6
TIAT TO HOAT-ONG penasaran bukan main, disamping itu
dia juga kaget melihat Hweshio dihadapannya ini merupakan
seorang hweshio yang memiliki kepandaian hebat, maka dia
bersikap hati2, lebih waspada.
Waktu mendengar sihweshio mengatakan ”Akhh, sayang,
sayang...”, Tiat To Hoat ong telah menangguhkan serangan
susulan yang tadinya akan dilancarkan.
„Sayang apa ?" tegurnya bengis. „Taisu memiliki
kepandaian demikian tinggi, tetapi justru Taisu telah
mempergunakannya untuk melakukan perbuatan salah !
Bukankah itu harus dibuat sayang?".
,,Mengapa kau bisa menyebut aku ini telah melakukan
perbuatan salah?" bentak Tiat To-Hoat-ong dengan murka.
„Hudya telah menangkap wanita berdosa itu, dan rajawali
pembawa malapetaka itu apakah itu suatu perbuatan yang
salah?"

“Wanita berdosa dan rajawali pembawa malapetaka?"
mengulang hweshio itu sambil mengerutkan sepasang alisnya,
wajahnya berobah, Akhh, Siancai! Siancai! Setahu Siauwceng
nyonya itu seorang yang berbudi, dialah seorang pendekar
wanita nomor satu di jaman ini. Bagaimana mungkin Taisu
mengatakannya nyonya itu sebagai wanita berdosa? Dan juga
mengenai rajawali sakti itu merupakan binatang peliharaan
nyonya ini dan suaminya, yang selalu patuh terhadap perintah
majikannya...jika tidak diganggu seseorang, tentu rajawali itu
tidak akan menimbulkan kerusuhan, Bagaimana Taisu bisa
mengatakannya juga bahwa rajawali itu, adalah rajawali
pembawa malapetaka? Mungkin Taisu telah salah menilai..."
Muka Tiat To Hoat-ong telah berobah merah padam, dia
murka bukan main, tetapi pendeta Mongolia ini berusaha
menindih kegusarannya itu karena dia melihat hweshio
dihadapannya ini bukan hweshio sembarangan.
„Siapa kau sesungguhnya?" bentak Tiat To Hoat-ong.
„Sancai! Siancai!" memuji hweshio itu. "Sahabat2
memberikan julukan kepadaku sebagai Lim Ceng, si pendeta
dari Selatan. Siauw Ceng she Toan dan bernama Tie Hin, dan
memiliki gelaran ringan It Teng Taisu..!"
Jika yang mendengar kata2 itu Kim Lun Hoat-ong, mungkin
tubuh Kim Lun Hoat-ong akan gemetar, karena nama itu
bukan sembarangan nama, nama dan gelaran yang telah
menggetarkan jagad dan diakui oleh orang2 rimba persilatan,
dalam kalangan Kangouw!
Memang Hweshio itu tidak lain dari Toan Hongya, bekas
kaisar Taili, yang telah mensucikan diri dan bergelar It Teng
Taisu.
Seperti diketahui, bahwa diantara lima Ngo ciat. Hanya
tinggal dua saja yang
masih hidup yaitu Lam Ceng It Teng Taisu dan Lo shia Oey
Yok Su, sedangkan Ang Cit Kong, Auwyang Hong dan Tiong

Sin Thong telah meninggal dunia. Maka bisa dimengerti,
sesungguhnya dalam urutan angkatan tua, yaitu angkatan
cianpwe, It Teng Taisu dan Oey Yok Su merupakan dua jago
tanpa tanding lagi yang kepandaiannya sudah sulit diukur.
Namun untuk melengkapi kedudukan Ngo-ciat itu, telah
diambil Yoko, yang menggantikan See Tok Auwyang Hong,
tetapi huruf "Tok" (racun) telah diganti dengan Kong, sedangkan
kedudukan Pak Kay Ang Cit Kong telah diisi oleh
Kwee Ceng, dengan huruf "Kay" (pengemis) diganti dengan
huruf "Hiap'" (pendekar). Lalu kedudukan Tiong Sin Thong
yang kosong diisi oleh Ciu Pek Thong, dengan mengganti
huruf "Sin" ditengah dengan huruf "Boan" maka lengkap
kembalilah urutan Ngo-ciat. Ketika orang jago pengganti Sek
Tok, Pak Kay dan Tiong Sin Thong, bukanlah jago2 lemah,
kepandaian merekapun berimbang dengan kepandaian It Teng
Taisu maupun Oey Yok Su.
Tiat To Hoat-ong yang memang belum menginjak daratan
Tionggoan, belum mengetahui hebatnya It Teng Taisu, Waktu
di Tibet, dia telah mendengarnya bahwa didataran Tionggoan
terdapat lima jago yang luar biasa, yaitu See-Tok, Lam Tee
Kaisar dari Selatan, yang akhirnya diganti menjadi Lam Ceng
karena It Teng Taisu tidak menjadi Kaisar lagi, Thong Shia,
Pak Kay dan Tiong Sin Thong.
Tetapi Tiat To Hoat-ong mana bermimpi bahwa kepandaian
kelima jago yang terkenal itu luar biasa sekali? Karena
dinegerinya dia disanjung dan merupakan jago nomor satu di
samping adik seperguruannya, yaitu Kim Lun Hoat-ong, maka
sudah menjadi kebiasaan Tiat To Hoat-ong tidak pernah
memandang sebelah mata kepada si apapun juga.
Dan juga Tiat To Hoat-ong tidak pernah me rasa takut
terhadap siapapun juga, bahkan Kaisarnya yaitu Kaisar Mangu
yang telah wafat, maupun Kaisar Mongolia yang sekarang
pengganti Kaisar Mangu, Yaitu Kublai, tidak dipandang sebelah
mata olehnya.

„Hemm...." mendengus Tiat To Hoat-ong dengan suara
yang tawar. „Memang telah cukup lama kudengar bahwa
didaratan Tionggoan terdapat lima jago yang memiliki
kepandaian lumayan, salah seorang adalah kau ! Tetapi Hudya
ingin menasehatimu, mengingat usiamu yang telah lanjut
seperti itu, lebih baik kau menggelinding pergi sebelum Hudya
marah dan merobah keputusan, dan jangan sekali2
mencampuri urusan Hudya........".
It Teng Taisu memang sabar luar biasa, dia tidak gusar
walaupun Tiat To Hoat-ong mengeluarkan kata2 yang kasar
seperti itu.
„Siancai---siancai---" It Teng Taisu telah memuji kebesaran
sang Budha sambil merangkapkan sepasang tangan nya.
„Rupanya kedatangan Taisu memiliki maksud tertentu. Jika
Siauw Ceng boleh mengetahui, sesungguhnya apakah tujuan
Taisu yang telah melakukan perjalanan jauh datang ke
Tionggoan? Apakah Taisu diperintah oleh Kublai ?".
Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah karena murka
dan mendongkol.
„Kalau benar aku diperintah Kublai kenapa? Dan jika
kedatanganku ini bukan diperintah oleh Kublai, juga kenapa?
Apakah kau memiliki hak untuk mengurusi diri Hudya?"
Disanggapi seperti itu lt Teng Taisu tersenyum ramah dan
sabar, katanya kemudian dengan suara yang sabar serta
perlahan, namun tegas „Dengarlah Taisu, jika kedatangan
Taisu berkunjung kedaratan Tionggoan hanya sekedar jalan2
untuk menikmati keindahan alam yang terdapat disini, tentu
saja kami akan menyambutnya dengan senang hati...kami
akan menghormati Taisu asal Taisu tidak mengandung
maksud2 tertentu, maksud yang buruk....! Tetapi sebaliknya.
jika kedatangan Taisu atas perintah rajamu, hanya sekedar
untuk sengaja mengacau disini, tidak dapat hal itu kami
biarkan...!"

Waktu ber-kata2 seperti itu, wajah It Teng Taisu angker
sekali, se tidak2nya dia adalah bekas seorang Kaisar, yang
pernah memegang tampuk pimpinan sebuah negara,
walaupun sebuah negara kecil di Selatan. Sabar suaranya,
lembut tutur katanya, tetapi angker sekali pengaruhnya.
Diantara wajahnya yang welas asih dan sabar itu tampak
matanya memancarkan sinar yang ber pengaruh sekali.
Tiat To Hoat-ong yang melihat itu, diam2 tergetar hatinya,
karena dia merasakan hatinya tergoncang. Tetapi cepat sekali
dia dapat menguasai dirinya. Dan dengan segera juga dia
menjadi murka.
„Pendeta busuk, ternyata engkau terlalu banyak tingkah
dan cerewet......!" katanya dengan gusar. dan membarengi
perkataamya itu, dengan cepat sekali Tiat To Hoat ong telah
melancarkan serangannya dengan kepalan tangannya yang
besar dan mengandung angin serangan yang kuat sekali, yang
dahsyatnya luar biasa.
Tetapi It Teng Taisu membawa sikap yang tenang sekali,
sedikitpun dia tidak takut menghadapi pendeta Mongolia itu.
Bahkan It Teng Taisu telah melihatnya bahwa Tiat To Hoatong
bukanlah sebangsa manusia baik2.
Maka dari itu, dengan tenang dia mengawasi datangnva
serangan pendeta Mongolia itu. Dengan berani dia
mengulurkan tangan kanannya tahu2 dengan telapak
tangannya dia telah menahan majunya kepalan tangan Tiat To
Hoat-ong.
'Kita bicara dengan mulut, bukan dengan kepalan!" kata It
Teng Taisu dengan suara yang sabar sekali.
Tiat To Hoat-ong kembali kaget setengah mati, karena dia
telah melancarkan serangan dengan mengerahkan enam
bagian tenaga dalamnya, kenyataannya ketika membentur
telapak tangan si pendeta dari Selatan itu, dia merasakan
telapak tangan It Teng Taisu lunak sekali sepert i kapas, dan

tenaga serangan yang dilancarkan jadi lenyap tidak karuan,
Dengan cepat Tiat To Hoat-ong menarik pulang tangannya.
„Taisu, bebaskanlah kedua tawannanmu itu, dan pergilah
dari tempat ini ! Karena Taisu ingin pergi, Taisu dapat pergi
dengan bebas, dan aku situa Lam Ceng tidak akan
mengganggumu .....!" sabar suara It Teng Taisu. Seumurnya
belum pernah It Teng Taisu berlaku demikian tegas, dia selalu
bersikap ramah dan sabar luar biasa, tetapi karena
mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong ber kunjung ke
Tionggoan dengan maksud buruk dan juga karena melihat
Siauw Liong Lie serta Sin Tiauw diperlakukan begitu rupa oleh
sipendeta, maka murkalah bekas Kaisar dari negeri Taili itu.
Tiat To Hoat-ong jadi penasaran Dia telah mengeluarkan
suara tertawa dingin yang menyeramkan, mukanya bengis
sekali.
„Hemmm, enak sekali kau bicara " bentaknya dengan suara
mengandung hawa pembunuhan. „Sedangkan rajaku sendiri
tidak berani mengeluarkan kata2 kasar dan kurang ajar seperti
itu."
„Tepat !" mengangguk It Teng Taisu dengan sabar, tetapi
mukanya angker sekali. “Justru Siauwceng bukan rajamu dan
Taisu bukan sebawahan Siauwceng, masih mau Siauwceng
berlaku murah hati membebaskan Taisu begitu saja asalkan
tidak mengganggu kedua sahabat Siauwceng .....!' pedas dan
tegas sekali kata2 It Teng Taisu, karena dia ingin
mengartikan, jika saja dia kaisarnya dan Tiat To Hoat-ong
bawahannya, mungkin dia telah menghukumnya, dengan
hukuman yang berat...
Tubuh Tiat To Hoat-ong jadi menggigil karena sangat
murka, dia merasakan dadanya seperti ingin meledak oleh
kemarahannya itu.
Dengan mengeluarkan suara teriakan yang mengguntur
dan mengandung kemarahan yang sangat, tampak Tiat To

Hoat-ong telah melompati menubruk kearah It Teng Taisu
dengan serangan yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam kemarahan yang seperti itu, ternyata Tiat To Hoatong
telah melancarkan serangan dengan ilmu Yoganya
ditingkat kesebelas, merupakan jurus yang sangat hebat.
Harus diketahui bahwa ilmu Yoga yang dilatih oleh Tiat To
Hoat-ong berbeda dengan ilmu2 Yoga umumnya, karena
latihan Yoga pendeta itu telah digabung dengan ilmu silat
„Liong Cio Poan Kouw-kang" yang semula berasal dari India.
Maka bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu Yoga yang
dilatih oleh Tiat To Hoat ong. terlebih lagi disaat itu dia telah
mempergunakan sekaligus ditingkat kesebelas.
Tenaga serangan yang dilancarkan oleh Hiat To Hoat-ong
beratnya ribuan kati, memang benar tenaga serangan itu
bukannya tenaga naga atau gajah seperti namanya itu Liong
Cio Poan Kouw Kang, akan tetapi itulah serangan yang
mustahil sekali dilawan oleh tubuh manusia !.
Tetapi menghadapi It Teng Taisu yang memiliki ilmu yang
telah mencapai tingkat puncak kesempurnaan dan sulit diukur,
terutama dia lah jago tertua diantara Ngo Ciat serangan Tiat
To Hiat-ong selalu jatuh di tempat kosong, karena pendeta
Mongolia itu seperti juga selalu memukul tempat kosong dan
It Teng dapat berkelit atau mengelakkannya dengan langkah2
yang ampuh, sehingga kedudukan tubuhnya sulit diterka
oleh Tiat To Hoat-ong sendiri.
sedangkan It Teng Taisu sendiri telah melihatnya dan
mengetahui bahwa tenaga yang dimiliki Tiat To Hoat-ong luar
biasa besarnya, seumurnya dia belum pernah menghadapi
lawan seperti itu. Akan tetapi walaupun demikian It Teng
Taisu tidak gentar menghadapi serangan2 seperti itu, karena
dia telah memiliki kepandaian yang sempurna sekali, dan juga
kepandaiannya sudah mencapai tingkat yang sulit diukur lagi.

Melihat lawannya melancarkan serangan2 yang gencar
sekali, juga serangan itu mengincar bagian2 yang mematikan
ditubuh It Teng Taisu dengan kejamnya, si pendeta dari
selatan itu berulang kali menghela napas sambil memuji
kebesaran sang Buddha.
Akhirnya disaat Tiat To Hoat-ong melancarkan serangan
dengan cara yang serentak mempergunakan kedua
tangannya. yang seperti juga runtuhnya langit atau seperti
sebuah gunung, It Teng Taisu telah menggerakkan kaki
kanannya setengah lingkaran, lalu dengan membarengi seruan
perlahan It Teng Taisu telah memapaki serangan itu dengan
jari telunjuknya.
Luar biasa sekali, tenaga serangan yang hebat dari Tiat To
Hoat-ong jadi musnah sama sekali, dan yang lebih celaka lagi
justru tubuh Tiat To Hoat-ong telah terhuyung kebelakang
dengan muka yang pucat.
Ternyata It Teng Taisu telah mempergunakan It Yang
Cienya, ilmu jari tunggal yang sakti itu.
Karena telah mencapai kesempurnaan yang luar biasa
dalam meyakini ilmu jari saktinya itu, It Teng Taisu
sesungguhnya telah berjanji kepada dirinya sendiri, jika tidak
diperlukan sekali. dan tidak dalam keadaan terdesak yang
sangat, ilmu yang liehay luar biasa itu tidak ingin
dikeluarkannya.
Tetapi disebabkan desakan2 yang gencar dari Tiat To Hoatong,
dengan sendirinya hal itu Lam Ceng mengambil
keputusan untuk merubuh kan pendeta dari Mongolia itu.
karena dia perlu memberikan pertolongan kepada Siauw Liong
Lie dan Sin Tiauw.
Apa lagi mata It Teng Taisu sangat tajam dan awas sekali,
Siauw Liong Lie yang tengah rebah dalam keadaan seperti
tidur atau pingsan itu, sesungguhnya tengah hamil, membuat
It Teng Taisu tambah berkuatir.

Lam Ceng menduga didalam persoalan ini tentu terselip
sesuatu yang agak luar biasa, karena tidak biasanya Siauw
Liong Lie rubuh ditangan seseorang, Walaupun orang yang
menawannya itu selihay Tiat To Hoat-ong. Karena Siauw Liong
Lie memiliki kepandaian yang hebat sekali, yang tidak berada
disebelah bawah dari dia. Dan juga, kemana perginya Yo Ko.
suami dari nyonya itu ? Mengapa tidak terlihat mata hidungnya
? Apakah Yo Ko telah dicelakai seseorang juga ?
Berpikir begitu, tentu saja It Teng Taisu jadi tambah
berkuatir, dan akhirnya terpaksa harus mempergunakan ilmu
saktinya itu yaitu It Yang Cie, ilmu yang semula diterima dari
Tiong Sin Thong Ong Tiong Yang. terlebih lagi selama puluhan
tahun It Teng Taisu telah melatih ilmu itu mencapai puncak
kesempurnaan. ditambah dengan lwekangnya yang
memperoleh kemajuan pesat sekali.
Tiat To Hoat-ong sendiri tadi menjadi terkejut karena disaat
kedua tangannya dihantamkan kearah It Teng Taisu dia yakin
akan dapat mendesak pendeta itu. karena dia telah mengerahkan
delapan bagian tenaga dalamnya yang dipusatkan
dikedua kepalan tangannya.
Menurut keyakinan Tiat To Hoat-ong, jika saja tidak
berhasil memukul rubuh It Teng Taisu se-tidaknya dia bisa
mendesak pendeta itu dengan hebat.
Tetapi siapa duga. hanya mempergunakan jari tangannya
saja, It Teng Taisu justru telah berhasil menyambuti serangan
dari Tiat To-Hoat ong bahkan juga telah membuat tenaga Tiat
To Hoat-ong menjadi lenyap, dan pendeta Mongolia itu
merasakan mengalirnya se macam hawa yang halus
menyelusup kedalam tubuhnya, sehingga seperti seorang
yang kontak oleh aliran listrik, membuat Tiat To Hoat ong jadi
mundur dengan terhuyung.
Itupun masih untung Tiat To Hoat-ong hanya
mempergunakan delapan bagian dari tenaga dalamnya, coba

kalau dia memusatkan seluruh kekuatannya, niscaya pendeta
Mongolia itu akan celaka sendirinya.
Seperti diketahui, It Yang Cie merupakan ilmu jari tunggal
yang sakti, yang bisa dipergunakan sebagai ilmu menotok
yang tiada taranya didalam dunia ini. Tetapi disamping itu,
karena It Teng Taisu telah melatihnya sedemikian sempurna,
membuat ilmu itu benar merupakan ilmu menotok yang tiada
lawannya.
Tadi waktu menyambuti serangan dari Tiat To Hoat-ong,
disaat dia menyambuti serangan itu justru dia menotok
pergelangan tangan pendeta tersebut, sehingga sipendeta
selain tertotok tenaga serangannya juga jadi lenyap. Dan juga
disamping itu, dia telah terkena oleh dorongan tenaga
membalik dari serangannya sendiri. Semakin kuat seorang
menghantam, semakin kuat teraga menolak dari It Yang Cie.
„Kau ... ?" Tiat To Hoat-ong tak bisa mengucapkan sesuatu
apapun juga, karena dia terkejut sekali.
It Teng Taisu telah merangkapkan sepasang tangannya, dia
mengucapkan pujian atas kebesaran Sang Buddha dengan
wajah yang sabar.
„Siancai, siancai." ujarnya. "Maafkan Siauwceng, terpaksa
harus mempergunakan kekerasan menerima serangan
Taisu...!"
Mata Tiat To Hoat ong tampak terpentang lebar2, dia
mengawasi bengis kepada It Teng Taisu.
Setelah berdiam diri sejenak, dia telah berhasil
mengendalikan ancaman dihatinya.
Disaat itulah Tiat To Hoat ong baru menyadarinya bahwa It
Teng Taisu ternyata merupakan jago yang hebat sekali, yang
tidak mungkin dirubuhkan dengan cepat.

Dalam hatinya, Tiat To Hoat ong jadi tergetar juga, karena
dia menyadarinya bahwa di-Tionggoan ternyata terdapat
banyak sekali orang pandai.
Seperti pertama kali dia tiba didataran Tionggoan, dimana
dia telah bertemu dengan Ciu Pek Thong, yang tidak bisa
dirubuhkan, kemudian Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang juga
memiliki kepandaian yang hebat sekali, yang tidak mungkin
dirubuhkan dengan mempergunakan ilmu silatnya,
Hanya Cu Kun Hong yang bisa dipukul rubuh dengan
mempergunakan ujung lengan jubah nya.
„Jika dilihat demikan, Tionggoan merupakan gudangnya
para jago2 silat kelas utama....," berpikir Tiat To Hoat-ong,
dan dia jadi gentar juga.
Tetapi karena disamping memiliki kepandaian yang telah
sempurna, Tiat To Hoat ong juga merupakan seorang jago
yang cerdik sekali, tentu saja dia tidak mau menyerah begitu
saja.
Dilihatnya, sejak tadi It Teng Taisu memperlihatkan sikap
yang sabar dan menurut penglihatannya hweshio itu mudah
untuk diajak bicara.
Maka. sambil merangkapkan tangannya, Tiat To Hoat-ong
telah memberi hormat.
„Ternyata Lam Ceng It Teng Taisu bukan nama kosong
belaka .....!" kata Tiat To Hoat-ong sambil menjura. „Dan,
Hudya cukup kagum melihatnya Tetapi, Hudya harap, Taisu
jangan mencampuri urusan Hudya, bukankah lebih baik jika
diantara kita berdua diikat tali persahabatan?"
Tendengar itu, It Teng Taisu telah tersenyum sabar.
Mencari lawan memang mudah, tetapi justru untuk mencari
sahabat sejati itulah yang sulit . ...!" sahut sihwesio.

Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah merah karena dia
merasa seperti juga disindir oleh It Teng Taisu,
Saat itu Lain Ceng telah melanjutkan per kataannya lagi.
„Dan jikalau Taisu memiliki pikiran bagus seperti itu, mengapa
pula Siauwceng harus menolaknya? Bukankah bersahabat itu
merupakan suatu hal yang menggembirakan?
Dan tentu saja Siauwceng merasa berterima kasih atas
maksud baik Taisu yang sudah bersedia bersahabat dengan
Siauwceng yang masih miskin dan melarat, yang tidak
memiliki kuil dan nama .....!"
„Itulah kata2 yang terlampau merendah” kata Tiat To
Hoat-ong. „sungguhnya, jika memang Taisu menghendaki,
dalam sekejap mata kedudukan dan harta akan datang
kepangkuan Taisu ...! Dan jika Taisu kehendaki, dapat juga
Taisu ikut Hudya ke Utara, bukankah Taisu pun mergetahui,
Khan yang besar cerdik dan hebat sekali, tidak seperti
pemerintahan negeri Song yang tolol dan bodoh ini?"
Mendengar perkataan Tiat To Hoat-ong yang terakhir, yang
terang-terangan begitu muka It Teng Taisu jadi berobah
merah karena gusar.
Dia gusar, justru Tiat To Koat-ong telah mengajaknya
untuk menjadi pengkhianat, mengkhianati negerinya sendiri
dengan tawaran pangkat dan harta...
„Terima kasih atas tawaran Taisu......Siauwceng belum
terpikir untuk mencampuri urusan2 negara, karena kini,
Siauwceng justru hanya, menghendaki kedua sahabat
Siauwceng itu !"
Muka Tiat To Hoat-ong jadi berobah dan baru saja dia
ingin membuka mulut lagi, It Teng Taisu telah berkata lagi :
„Silahkan Taisu meninggalkan kedua sahabat Siauwceng
ini, kelak jika ada umur panjang, Siauwceng It Teng Taisu

tentu akan datang mencari Taisu untuk menyatakan terima
kasih "
Sesungguhnya, didengar dari kata2nya itu yang
diucapkannya dengan sabar It Teng Taisu seperti juga
merendah dan menghormati Tiat To Hoat-ong, namun
sesungguhnya perkataannya yang terakhir itu merupakan
suatu perkataan mengusir untuk Tiat To Hoat-ong.
Melihat demikian, Tiat To Hoat-ong jadi murka bukan main,
tetapi dia tidak memperlihatkan dimukanya, bahkan Tiat To
Hoat-ong telah tersenyum lebar, sambil katanya: „Hudya
datang dari jauh, dan secara kebetulan hari ini beruntung
bertemu dengan salah seorang diantara kelima Ngo Ciat,
maka untuk menyatakan rasa kagum dan mengikat tali
persahabatan, Hudya ingin menghadiahkan sebuah tanda
mata untuk kenang2an... !"
Sambil berkata demikian, Tiat To Hoat-ong telah merogoh
sakunya, dia telah mengeluarkan sebuah tabung yang
berukuran tidak begitu besar, yang ujungnya terdapat
tangkainya.
It Teng Taisu jadi mengawasi heran, dia bercuriga atas
sikap lawannya.
Sedangkan Tiat To Hoat-ong tanpa memperdulikan
perasaan heran It Teng Taisu, telah melanjutkan kata2nya
lagi;
„Tabung kecil ini merupakan hadiah dari Khan yang agung,
yang telah diberikan untuk dipergunakan sebagai tanda
kebesaran. Jika tabung ini diperlihatkan, dimana saja,
diberbagai tempat dimana kekuasaan Khan Agung berada,
maka orang yang memegang tabung ini akan di perlakukan
dengan hormat, sama hormatnya dengan melihat seorang raja
muda !"
Sambil ber-kata2 Tiat To Hoat-ong telah me-megang2
tangkainya, mempermainkannya yang di-putar2nya,

Sedangkan It Teng Taisu hanya mengawasi sambil
tersenyum sabar, bahkan waktu Tiat To Hoat-ong ber-kata2
sampai disitu, it Teng telah menjura membungkukkan
tubuhnya memberi hormat :
„Sayang Siauwceng tidak pernah berhasrat mencampuri
urusan negara dan juga Siauwceng tidak berniat untuk segala
penghormatan yang tidak2 simpanlah barang itu. Taisu..
maafkan Siauwceng tidak dapat menerima hadiah yang besar
itu."
Tetapi Tiat To Hoat-ong tidak menyahuti hanya sambil
melangkah dua tindak, tahu2 „Pssssst !" dia telah
menyemburkan gas dari tabung ditangannya.
It Teng Taisu sesungguhnya telah berwaspada sejak tadi.
Semula dia menduga bahwa tabung yang berisi senjata
rahasia, yang diperlengkapi dengan alat2nya, namun diwaktu
Tiat To Hoat ong menyemburkan gas didalam tabung itu,
itulah diluar dugaannya, karena bukan senjata rahasia yang
menyambar kearahnya, melainkan uap yang harum sekali !
Hati It Teng Taisu terkejut bukan main, dia melompat
kebelakang dua tindak sambil mengibaskan lengan jubahnya,
dan segera juga menutup jalan pernapasannya, tetapi karena
tadi terlambat, dia telah menyedot beberapa kali sedotan gas
itu, sehingga seketika itu juga kepala nya menjadi pening dan
matanya ber-kunang2.
Dalam hal ini, It Teng Taisu merupakan seorang jago tua
yang jujur dan penyayang
terhadap siapa saja, diapun seorang jago tua yang sabar.
Tetapi menghadapi kelicikan Tiat To Hoat ong yang telah
menyemburkan gas tidurnya itu yang dianggap oleh It Teng
merupakan perbuatan rendah, It Teng sudah tidak bisa
menahan diri lagi.

Dengan mengeluarkan seruan yang sangat dahsyat,
tampak It Teng Taisu telah melompat menubruk kearah Tiat
To Hoat-ong, sambil mengulurkan tangan kanannya, dia telah
melancarkan serangan dengan mempergunakan It Yang Cie
nya.
Gerakan yang dilakukannya itu luar biasa sekali, memiliki
tenaga menggempur yang dahsyat.
It Yang Cie sudah merupakan ilmu yang tiada taranya
dalam dunia ini, terlebih lagi di pergunakannya disaat It Teng
Taisu tengah dalam keadaan murka seperti itu, maka bisa
dibayangkan bahaya yang mengancam untuk Tiat To Hoatong.
Tetapi pendeta dari Mongolia itu justru liehay sekali, dia
tidak takut. Bahkan kedatangan It Teng Taisu yang tengah
menubruk kearahnya telah disambut dengan sprotan gas
dalam tabungnya, sebanyak dua kali sehingga uap putih
tampak mengurung It Teng.
Sambil menyemprotkan gas dalam tabungnya itu, Tiat To
Hoat-ong juga telah melompat dengan gesit kepinggir, dia
telah berkelit dari serangan lawannya.
It Teng Taisu mencelos hatinya waktu disemprot dengan
gas tidur itu lagi, walaupun dia telah menutup pernapasannya,
namun disebabkan tadi dia telah terlanjur menyedot dan kini
juga uap dari gas tidur itu sangat ketat mengurung nya,
dengan sendirinya kepalanya jadi pening sekali.
Namun serangan yang dilancarkannya dengan tenaga
sembilan bagian itu tidak berhasil di tarik pulang, karena
waktu yang sangat mendesak itu, tanpa ampun lagi dinding
batulah yang menjadi sasarannya menjadi jebol dan runtuh
dengan mengeluarkan suara yang berisik sekali.
Tiat To Hoat-ong terkejut bukan main, dia jadi
mengucurkan keringat dingin.

Tadi masih untung dia bisa mengelakkan serangan It Teng
Taisu, coba kalau tidak, mana mungkin dia sanggup menerima
serangan yang begitu hebat?
Karena kuatir It Teng Taisu melancarkan serangan lagi,
maka dengan cepat Tiat To Hoat ong menyemprotkan kembali
gas dalam tabung nya itu sebanyak tiga kali.
It Teng Taisu tengah berdiri dengan tubuh yang terhuyung2,
dan kepalanya disamping pening, pandangan
matanya juga gelap sekali.
Tanpa ampun lagi, tubuh It Teng Taisu jatuh numprah
diatas lantai, tetapi berkat lwekangnya yang tinggi, It Teng
Taisu tidak sampai tertidur, dia hanya merasakan betapa
tubuh nya menjadi lemas tidak bertenaga sama sekali. Tanpa
membuang waktu, It teng Taisu telah mengerahkan
lwekangnya dia telah mengerahkan tenaga untuk memulihkan
peredaran darahnya dan mengusir uap beracun itu dari dalam
tubuhnya.
Tiat To Hoat-ong tidak mau membuang2 kesempatan yang
ada, dia telah melompat menyambar tubuh Siauw Liong Lie
dan Sin Tiauw kemudian dengan menggerakkan ilmu
meringankan tubuhnya dia menurunkan undakan tangga dan
keluar dari rumah penginapan itu, terus berlari meninggalkan
rumah penginapan itu,
Karena telah melihat lawannya hebat luar biasa Tiat To
Hoat-ong tidak berlari berlaku ayal, dengan cepat sekali dia
berlari2 terus meninggalkan kota itu, hanya didalam waktu
yang sangat singkat dia sudah melewati puluhan lie,
Tadi waktu dia turun dari undakan tangga diruang bawah,
pelayan maupun kuasa rumah penginapan serta beberapa
orang tamu yang berada disitu, telah tertidur semuanya.
It Teng Taisu yang tengah mengerahkan tenaga dalamnya
untuk mengatur peredaran darahnya dan berusaha mengusir

uap beracun dari dalam tubuhnya itu merasakan kepalanya
sangat pening.
Tetapi pendeta sakti dari Selatan itu menyadari, bahwa gas
yang terlanjur tersedot
oleh pernapasannya, bukanlah semacam racun yang bisa
mematikan, hanya lebih mirip sebagai uap tidur, yang akan
merubuhkan lawannya, sehingga It Teng Taisu agak tenang.
Setelah mengerahkan dan menyalurkan tenaga saktinya
kesekujur tubuhnya selama satu jam, akhirnya It Teng Taisu
pulih kembali ke-segarannya. Dia melompat berdiri dan
mengibas kan lengan jubahnya berulang kali, karena dia ingin
membersihkan udara yang masih diliputi oleh gas tidur itu.
Dilihatnya diruangan bawah beberapa orang pelayan dan
kuasa rumah dengan beberapa orang tamu, telah tertidur
nyenyak. Rupanya mereka telah menyedot uap tidur yang
dilepaskan oleh Tiat To Hoat-ong yang berimbas keruang
bawah dan lewat melalui pernapasan mereka . . . . It Teng
Taisu jadi menghela napas jengkel, karena dia melihat Siauw
Liong Lie dan Sin Tiauw sudah tidak berada ditempatnya
semula.
Sewaktu ingin bersemedhi untuk memulihkan kesegaran
tubuhnya, It Teng Taisu telah berpikir bahwa Tiat To Hoat-ong
pasti akan mempergunakan kesempatan itu untuk melarikan
Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw, namun It Teng benar2 tidak
berdaya, karena tubuhnya dalam keadaan yang lemah sekali,
mengantuk terpergaruh oleh uap racun yang dilepaskan oleh
Tiat To Hoat-ong.
Semula It Teng Taisu bermaksud menotok beberapa orang
yang tidur terpengaruh uap beracun itu, untuk menyadari
mereka. Tetapi karena mengingat akan keselamatan Siauw
Liong Lie dan Sin Tiauw yang jauh lebih penting, maka It Teng
Taisu dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya, telah

mengejar keluar kota untuk merampas dan menolong Siauw
Liong Lie dari tangan Tiat To Hoat-ong,
Untung saja kota tersebut hanya memiliki satu pintu,
sehingga It Teng Taisu dapat segera mengejar dengan
mengambil jurusan yang pasti diambil oleh Tiat To Hoat-ong
juga, yaitu kearah barat.
Tetapi waktu berada diluar pintu kota, disaat itulah It Teng
tertegun sejenak, karena dia tidak mengetahui lagi harus
mengejar kemana. Jika dia mengambil kearah kiri, berarti dia
akan tiba dikota Phiang sie-kwan, tetapi jika dia mengambil
arah kanan, tentu akan tiba dikota Tiang-lu-kwan.
Kedua kota itu masing2 terpisah dari tempat tersebut
ribuan lie jauhnya, dan It Teng Taisu tidak mengetahui, entah
arah mana yang diambil oleh Tiat To Hoat-ong, apakah
sipendeta Mongolia itu akan melarikan diri ke Tiang-lu-kwan
atau mengambil arah kekota Phiang-sie-kwan.
Dalam keadaan terdesak oleh waktu seperti itu, dan
mengingat pula akan keselamatan Siauw Liong Lie, yang
dilihatnya tengah berisi. It-Teng Taisu tidak bisa ragu2,
akhirnya untung2 an dia telah mengambil arah kekota Tianglu-
kwan.
Dengan mempergunakan ilmu larinya yang telah sempurna
sekali, tubuh It Teng Taisu ber-kelebat2 secepat kilat
berusaha mengejar lawan nya. tetapi setelah melalui seratus
lie lebih dia masih tetap tidak melihat bayangan Tiat To Hoat
ong.
„Apakah aku salah mengambil arah mengejarnya?" berpikir
It Teng Taisu ragu2.
Tetapi untuk kembali mengambil arah yang satunya, tentu
telah membuang waktu terlalu banyak dan belum tentu Tiat
To Hoat-ong mengambil arah yang satu itu. Maka karena
merasa terlanjur, It Teng Taisu bermaksud untuk mencapai

dulu kota Tiang lu-kwan, untuk melihatnya apakah Tiat To
Hoat-ong mengambil arah kota tersebut.
Juga It Teng Taisu menyadari, dengan membawa bebannya
seekor barung rajawali dan seorang wanita, jelas keadaan Tiat
To Hoat-ong akan menarik perhatian orang banyak, dan dia
bisa ber-tanya2 kepada penduduk, apakah mereka melihat
pendeta yang membawa rajawali dan seorang wanita.
Dengan mengempos semangatnya, It Teng Taisu telah
meneruskan pengejarannya, tubuhnya cepat sekali ber lari2
bagaikan bayangan yang terlihat hanyalah gumpalan putih
saja......
000O000
Yo Ko dan Ciu Pek Thong penasaran sekali karena
walaupun mereka telah melakukan pengejaran dengan cepat
sekali, tokh Tiat To Hoat-ong tetap saja belum terlihat
bayangannya.
Kekuatiran Yo Ko semakin hebat, dia kuatir kalau2 isterinya
dicelakai oleh pendeta Mongolia itu.
Sesungguhnya Yo Ko telah menduga bahwa Tiat To Hoatong
tentu akan berusaha mencari tempat persembunyian yang
aman, sehingga kelak dapat mempergunakan Siauw Liong Lie
sebagai alat perisainya, untuk keselamatannya. Hanya saja,
yang belum dimengerti oleh Yo Ko sesungguhnya apa maksud
dari To Hoat ong ber keliaran didaratan Tionggoan ?
Setelah ber-lari2 bersama Ciu Pek Thong kurang lebih
sejauh lima ratus lie dan belum melihat sipendeta Mongolia,
Yo Ko jadi putus asa.
„Akhh Liongjie, kita ternyata harus berpisah pula......
dan......dan kau tengah mengandung anak kita----!'

menggumam Yo Ko dengan suara mengandung nada
perasaan, marah, kuatir dar kecewa.
Ciu Pek Thong yang Jenaka, waktu melihat Kesedihan yang
hebat dari Yo Ko, cepat2 tertawa.
„Yo Hiante, kau tidak perlu terlalu kuatir seperti itu, Yo
Hujin memiliki kepandaian yang tinggi dan tidak berada
disebelah bawahmu, tidak mungkin dia dicelakai dengan
mudah oleh pendeta itu . . . !"
Yo Ko mengangguk, wajahnya tetap muram.
„Tetapi Ciu Toako....... menurut keterangan yang diberikan
Cu Kun Hong Siangkong, bahwa pendeta itu telah berhasil
menawan Liongjie dan Tiauwheng ....!
Ciu Pek Thong jadi tertegun, dan dia jadi tidak bisa
mengatakan apa2 lagi.
Bukankah dengan telah tertawannya Siauw Liong Lie dan
Sin Tiauw, berarti keduanya berada dalam ancaman bahaya
besar ditangan Tiat To Hoat-ong ?
Waktu itu mereka telah berada diperbatasan kota Suan
liang-kwan sebuah kota kecil yang penduduknya hanya lima
ratus kepala keluarga,
Yo Ko dan Ciu Pek Thong memasuki kota kecil itu.
kemudian memasuki sebuah rumah makan.
Ciu Pek Thong memesan beberapa macam sayur dan lima
kati arak. Tetapi Yo Ko tidak memiliki selera untuk menikmati
semua itu, dia hanya duduk termenung menguatirkan
keselamatan isterinya dan Sin Tiauw.
Ciu Pek Thong telah dahar dengan lahap nya karena
hampir sehari suntuk dia belum makan dan perutnya lapar
sekali.
„Ciu Toako," kata Yo ko waktu melihat Ciu Pek Thong telah
selesai dengan santapannya „Kita hanya memiliki satu hari lagi

untuk mencari Liong-jie, karena lusa kita sudah harus berada
di Hoa-san, sebab It Teng Taisu dan yang lainnya pasti telah
berkumpul disana!"
Ciu Pek T hong mengangguk cepat.
„Benar, dan kita bisa meminta bantuan mereka untuk ikut
mencari Yo Hujin! katanya. Yo Ko menghela napas.
kini mereka belum berhasil mencari Tiat To Hoat-ong, yang
seperti telah menghilang, lenyap seperti tertelan bumi
bersama Siauw Liong Lie dan Sin Tiauw.
Jelas jika besok lusa, sipendeta sudah semakin jauh
melarikan diri, dengan sendirinya tidak mudah untuk
mencarinya lagi.
Yo Ko yakin bahwa isterinya memiliki kepandaian yang
tinggi. Namun yang mengherankannya, mengapa Siauw Liong
Lie bisa tertawan oleh Tiat To Hoat ong? Dan begitu halnya
dengan Sin Tiauw, mengapa bisa di tawan oleh pendeta dari
Mongolia.
Yo Ko mengetahui bahwa kepandaian Siauw Liong Lie tidak
berada disebelah bawah dari Tiat To Hoat ong karena Yo Ko
telah bergebrak satu dua jurus dengan pendeta itu telah
berhasil menjajagi ilmunya pendeta tersebut.
„Jelas sipendeta mempergunakan akal licik" berseru Yo Ko
tiba2 sambil memukul meja, sehingga menimbulkan suara
yang keras sekali.
Ciu Pek Thong melihat kegusaran dan kedukaan Yo Ko,
telah menghela napas.
„Yo Hiante, mari kita lanjutkan pengejaran kita, mungkin
sipendeta masih belum begitu jauh dari tempat ini!" ajak Ciu
Pek Thong.
Yo Ko menggelengkan kepalanya perlahan, diapun telah
menghela napas.

Walaupun kita mengejar lagi, jelas usaha kita tidak akan
berhasil. Kita telah
ber-tanya2 kepada penduduk disepanjang jalan yang kita
lalui, tetapi tidak seorangpun yang pernah melihat sipendeta
Mongolia. Hal itu membuktikan bahwa sipendeta tidak
mengambil arah tempat ini, karena dengan membawa
Tiauwheng dan Liongjie, se-tidak2nya sipendeta akan
menarik perhatian orang2 yang melihatnya. sangat mustahil
tidak seorangpun melihatnya jika dia benar2 telah mengambil
jalan ini !”
„Benar !" Ciu Pek Thong membenarkan pikiran Yo Ko itu.
„Apakah dia harus mengejar nya kearah lain ?"
„Dengan me raba2 dan men duga2 saja, jelas kita akan
semakin kehilangan jejak....... “ kata Yo Ko. „Dan satu2nya
yang terbaik, kita kembali ke Hoa San, untuk
merundingkannya dengan It Teng Taisu dan yang lain !’’
Ciu Pek Thong menyetujui saran Yo Ko, setelah membayar
harga makanan, mereka segera kembali ke Hoa San....
Hoa san tetap tenang dan sunyi. Ditempat itu belum
terlihat muncul seorang jagopun juga, waktu Yo Ko dan Ciu
Pek Thong tiba dikedua kuburan Auwyang Hong dan Ang Cit
Kong yang telah kosong itu, Kwee Ceng, It Teng Taisu mau
pun yang lainnya belum tampak.
Dengan kedukaan yang menyesakkan dadanya, Yo Ko telah
duduk dibatu yang terdapat disamping kuburan Auwyang
Hong.
Ciu Pek Thong sibuk mengawasi sekitar tempat itu, kakek
jenaka itu, walaupun dalam keadaan seperti itu, ternyata tidak
bisa berdiam diri, dia sibuk sekali jalan kesana kemari, tampaknya
jika tidak bergerak atau berjalan, kaki nya menjadi
gatal.

Ada saja yang diperhatikan oleh Ciu Pek Thong, sampai
akhirnya ketika dia tengah memandang kearah selatan dari
gunung tersebut, yang menghadap kesebuah lembah, muka
Ciu Pek Thong jadi berobah.
„Ada orang datang !" katanya dengan wajah girang, karena
dia melihat sesosok tubuh bayangan berkelebat-kelebat dari
kaki lembah itu menuju keatas, menghampiri kearah tempat di
mana mereka berada.
Yo Ko telah melompat cepat sekali dan memperhatikan
sosok tubuh itu.
Tetapi waktu mereka telah melihat tegas, mereka jadi
kaget dan heran sendirinya.
Orang yang tengah mendatangi itu bukan salah seorang
dari sahabat2 mereka. Orang itu ternyata seorang wanita
setengah baya, bermuka cantik dan tubuhnya ramping,
mengenakan baju berwarna merah mudi. angkin kuning dan
rambutnya disanggul cucup tinggi. Ditangan kanan nya
tampak menggendong seorang anak lelaki berusia empat atau
lima tahun, yang duduk tenang2 walaupun siwanita berlari
cepat dan gesit sekali, “Siapa dia?” tanya Ciu Pek Thong,
"Apa maksudnya datang kemari?" Yo Ko juga heran, dia tidak
bisa menjawab karena Yo Ko pun tidak mengenal orang itu.
Tidak berselang lama, karena Wanita itu berlari dengan
gesit sekali, telah tiba dihadapan Yo Ko dan Ciu Pek Thong
berada.
Namun wanita setengah baya, yang masih terlihat sisa2
kecantikan wajahnya itu. seperti tidak mengacuhkan Yo Ko
dan Ciu Pek Thong yang hanya diliriknya saja. Wanita itu
membawa anak lelaki yang berada dalam rangkulannya itu
menghampiri kedua kuburan Ang Cit Kong dan Auwyang
Hong.
Namun waktu melihat kedua kuburan itu telah kosong
dengan tanah yang berserakan, wanita setengah baya

tersebut mengeluarkan seruan tertahan, mukanya seketika
menjadi pucat dan dia berdiri mematung.
“Ma, apa yang terjadi ?" tanya anak lelaki itu dengan suara
yang nyaring, rupanya dia heran melihat Wanita itu, yang
dipanggilnya Ma (ibu) berdiri mematung begitu.
„Diam Phu-jie ! Ada orang jahat yang mengganggu
ayahmu" menyahuti wanita setengah baya itu dengan suara
yang mengambang.
Yo Ko dan Ciu Pek Thong hanya mengawasi saja kelakuan
Wanita setengah baya itu dengan anak lelaki kecilnya itu.
Yo Ko dan Loo Hoan Tong menjadi heran, karena kini jelas
bahwa wanita itu ingin menyambangi kuburan Auwyang Hong
dan Ang Cit Kong, Siapakah wanita itu ? Masih ada hubungan
apakah antara wanita itu dengan kedua orang yang telah
meninggal itu? Apakah dia kerabatnya Auwyang Hong ? Atau
memang wanita setengah baya itu sanak familinya Ang Cit
Kong ? Yo Ko sama sekali tidak mengetahuinya.
lama juga wanita itu mengawasi kedua kuburan yang telah
kosong itu, dan sianak lelaki kecil dalam gendongannya,
seperti juga mengerti akan perintah ibunya, selanjutnya
diapun hanya berdiam saja tidak bersuara, Selang sejenak
lagi, wanita itu berjongkok memeriksa kuburan Auwyang Hong
yang telah kosong itu tanpa mengacuhkan kuburan Ang Cit
Kong.
Melihat ini, menunjukkan bahwa wanita tersebut memiliki
hubungan dengan Auwyang Hong, tetapi pernah apakah
wanita setengah baya itu dan sianak lelaki kecil itu, dengan
Auwyang Hong.
Tadi wanita setengah baya itu me-nyebut2 ayah, apakah
wanita setengah baya itu maksudkan Auwyang Hong ayah
sianak lelaki kecil itu ? Bukankah Auwyang Hong hanya
memiliki seorang anak, yaitu Auwyang KongCu, yang telah
meninggal ? Dan juga, bukankah Auwyang Hong telah

meninggal banyak tahun? Tidak mungkin anak lelaki kecil yang
baru berusia kurang tebih lima tahun itu adalah puteranya
Auwyang Hong; Lalu siapa mereka itu ?
Belum lagi Yo Ko dan Ciu Pek Thong bisa memecahkan
teka-teki yang membingungkan seperti itu, justru wanita
setengah baya itu telah menoleh dan berdiri menghadapi Yo
Ko dan Ciu Pek Thong.
Tangan kanannya masih menggendong sianak lelaki kecil
itu, tetapi matanya menatap Yo Ko dan Ciu Pek Thong
bergantian dengan memancar kan sinar yang sangat tajam
sekali.
“Hanya kalian berdua yang berada ditempat ini" kata
Wanita setengah baya itu dengan suara yang menyeramkan
sekali, bengis dan mengandung hawa pembunuhan.
„Dan aku, Cek Tian berani memastikan bahwa kalianlah
yang telah merusak kuburan itu..."
Yo Ko cepat2 merangkapkan tangannya menjura. Namun
berbeda dengan Yo Ko justru Ciu Pek Thong jadi gusar bukan
main ditatap begitu rupa oleh nyonya setengah baya tersebut
dan juga kata2nya itu telah membuat Ciu Pek Thong
mendongkol sekali.
„Ehhh, nyonya!" katanya dengan suara nyaring. „Jangan
seenaknya saja engkau menuduh orang! Kamipun bisa saja
menuduhmu yang telah merusak dan membongkar kuburan
itu! Apa kah dengan beradanya kami disini engkau bisa
menuduh yang tidak2? Aku Loo Boan Thong juga bisa
menuduh engkau yang melakukannya, karena bukankah
engkaupun berada disini?"
Muka wanita itu jadi berobah hebat waktu mendengar
sikakek tua berjenggot panjang itu menyebut dirinya sebagai
Loo Boan Thong, bahkan mungkin karena terkejutnya dia
telah mundur dua langkah, memperhatikan Ciu Pek Thong
dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dan juga sering

beralih mengawasi Yo Ko, terutama tangan kanan Yo Ko yang
telah buntung itu, dimana lengan bajunya terjuntai kosong
lemas tidak ada isinya itu ... .
„Hemm, engkau Loo Boan Tong Ciu Pek Thong ? Bagus !
Dengan demikian, semakin kuatlah dugaanku bahwa kuburan
suamiku itu dirusak oleh kalian ! Dan melihat tangan
sibuntung itu, mau kuduga bahwa dialah Sin Tiauw Taihiap Yo
Ko, yang menurut cerita orang dialah pendekar nomor satu
dibawah jagad ini . . - ! Benarkah itu ?"
„Hujin (nyonya). aku yang rendah Yo Ko tidak berani
menerima pujian seberat itu, sedang kan itu hanya gurauan
dari sahabat2ku saja...!" kata Yo Ko dengan suara yang sabar,
sedangkan dihatinya Yo Ko tengah diliputi tanda tanya besar
yang tidak terjawab mengenai diri nyonya Ini. „Jika memang
Hujin tidak keberatan, boleh kah kami mengetahui she dan
nama Hujin yang mulia. Dan . . . masih pernah apakah antara
Hujin dengan Auwyang Yaya ?"
Yo Ko membahasakan Auwyang Hong dengai sebutan
Auwyang Yaya (ayah she Auwyang), karena Yo Ko anak
angkatnya Auwyang Hong di muka orang2 gagah Yo Ko
menyebut Auwyang Hong dengan sebutan Auwyang Peehu
(paman Auwyang), tetapi karena melihat wanita yang
setengah baya ini seperti memiliki hubungan sesuatu dengan
Auwyang Hong, sengaja Yo Ko menyebutnya dengan Auwyang
Yaya. Muka wanita itu berobah.
„Auwyang Yaya ? Jadi kau ingin maksudkan See Tok adalah
kakekmu ?" tegurnya dingin dan bengis. .. “Bukan kakek,
tetapi ayahku ".
„Mengapa kau menyebutnya dengan panggilan Yaya
(engkong) ? Engkau ingin mempermainkan aku ?"
„Mana berani Yo Ko main2 dengan Hujin ?' Aku bicara yang
sesungguhnya, walaupun Kang-thia (ayah angkat) ku itu
senang mengambil aku sebagai anak angkatnya namun

peradatannya tidak disenangi, sehingga dia menganjurkan
agar aku tidak memanggilrya dengan Kang-thia, melainkan
Yaya, Bahkan di-saat2 menjelang tutup usianya, Auwyang
Kang-thia telah meminta kepadaku agar memanggilnya atau
menyebutnya kelak dengan sebutan Peehu (paman) saja,,
karena menurut Kang-thia, bakti atau tidak sama semua
hanya tergantung didalam hati, bukan merupakan bahasa
panggilan yang merupakan topeng belaka..."
Telah diceritakan dalam Sin Tiauw Hiap Lu, disaat Auwyang
Hong dan Ang Cit Kong ber tempur, yang akhirnya
menyebabkan mereka meninggal.
Disaat itu Yo Ko yang mendampingi kedua tokoh persilatan
itu.
Muka wanita itu telah berobah hebat. Dia telah mendengus
dingin.
„Lalu siapa yang telah merusak makamnya" bentaknya
dengan suara yang tetap bengis.
„Justru kamipun belum mengetahuinya..." menyahuti Yo
Ko. "Akupun tengah menyelidiki untuk membekuk penjahat
yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya itu.”
Cek Thian, nyonya itu, telah menghela napas.
„Engko Hong! engko Hong! ternyata sampai didalam
tanahpun engkau tidak bisa beristirahat dengan tenang dan
selalu dimusuhi ......
Akhhh, nasibmu benar2 harus dikasihani!"
Melihat wanita yang mengaku bernama Cek Thian itu ber
kata2 dengan suara yang mengandung kedukaan,
kekecewaan, perasaan mencinta yang luar biasa dalamnya, Yo
Ko tadi teringat lagi kepada isterinya yang baru saja lenyap
tertawan lawan.

Tanpa merasa menitik butir2 air mata kedukaan, seperti
diketahui Yo Ko memiliki perasaan yang lembut sekali,
selembut awan, dan keras sekeras baja.
Tentu saja Ciu Pek Thong pun kelabakan melihat kedua
orang yang tengah berduka itu, sehingga Loo Boan Tong telah
memandang Yo Ko dan Cek Thian ber-ganti2an.
„Hai. hai, mengapa kalian sama2 menangis"! tegurnya,
karena dia melihat Cek Thian, nyonyas itu. menitikkan air
mata juga.
Disaat itulah. Cek Thian telah menyusut air matanya,
kemudian dia telah berkata kepada anak lelaki kecil yang
berada digendongannya. „Phujie (anak Phu), kuburan ayahmu
telah dirusak orang, turunlah, ibu ingin menghajar penjahat
dulu."
Anak lelaki itu seperti mengerti, dia telah mengiyakan dan
melompat turun dari tangan ibunya.
Yang membuat Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi terkejut
adalah gerakan anak lelaki itu.
Usia anak itu baru lima tahun, tetapi tubuhnya telah
melompat turun dari tangan ibunya bagaikan segumpal kapas
yang ringan sekali, ke dua kakinya Waktu menyentuh tanah,
tidak menimbulkan suara sedikitpun. Hal itu tentu saja
membuktikan bahwa anak lelaki itu telah memiliki ilmu
meringankan tubuh yang cukup tinggi, walaupun tentu saja
diimbangi dengan bentuk tubuhnya yang kecil dan berat
tubuhnya yang ringan.
Begitu turun, anak lelaki itu telah jongkok dan men cari2
semut yang ada diatas permukaan tanah, untuk lekas-lekas
dipermainkankannya, seperti juga tidak mengacuhkan
keadaan sekitarnya, tidak mau menperdulikan Yo Ko, Ciu Pek
Thong dan Cek Thian, ibunya itu.

Wanita setengah baya itu telah berdiri tegak dengan wajah
yang muram memandang kearah Yo Ko dan Ciu Pek Thong.
„Hemmm, engkau mengakui secara sembarangan bahwa
Auwyang Hong adalah ayah angkatmu, tetapi aku ingin
mengetahui, apakah kau berani mempertanggung jawabkan
kelancangan mu itu ? Apakah kau menduga bahwa aku tidak
mengetahui semua yang pernah dilakukan Engko Hong
semasa hidupnya ?"
Yo Ko berusaha bersikap tenang dan sabar, walaupun
nyonya itu tidak hentinya me-maki2 dia seperti itu. Tetapi
belum lagi dia menjawab Loo Boan Tong telah melompat
kedepannya menghadapi Cek Thian.
„Wanita busuk seperti kau ini apa gunanya diajak bicara,
karena engkau selalu bicara tidak keruan " bentak Ciu Pek
Thong. „Jika engkau tidak mempercayai perkataan Yo Hiante
lalu siapa lagi yang ingin kau percayai ?"
„Aku hanya percaya mata dan diriku sendiri !" menyahuti
Cek Thian. „Seperti hari ini, aku melihat sendiri kuburan Engko
Hong telah dibongkar seseorang, telah dirusak. Dan membuat
arwah Engko Hong tentunya tidak tenang ! Hemmm, Hemmm,
tetapi walaupun bagaimana tetap saja aku tidak bisa
melepaskan dugaan bahwa kalian yang telah merusak kedua
kuburan itu !"
Dan setelah berkata begita, tahu2 sinyonya berjongkok
dengan gerakan yang sangat gesit sekali, diapun
memperdengarkan suara krokkkk, kroookkk ! lalu mendorong
kedepan kedua tangannya, kearah Yo Ko dan Ciu Pek Thong !
„Ha-mo-kang teriak Yo Ko dan Ciu Pek Thong terkejut
bukan main.
Yo Ko merasakan samberan angin serangan yang dahsyat
luar biasa, walaupun dia terpisah beberapa tombak, tetapi
angin serangan dari Ha mo-kang yang dilancarkan oleh
nyonya itu menyesakan napasnya.

Dengan cepat dia telah melompat tinggi sekali untuk
menghindarkan serangan itu, sedang kan Ciu Pek Thong telah
melompat kesamping.
Karena tidak mengenai sasaran, maka angin serangan
tersebut menghantam sebungkah batu gunung, dengan
mengeluarkan suara benturan keras batu itu hancur remuk
menjadi tumpukan abu.
Yo Ko dan Ciu Pek Thong disamping heran juga jadi
menggidik.
Yo Ko menjadi heran melihat wanita setengah baya itu
menguasai ilmu tunggal Auwyang Hong demikian hebatnya,
mungkin jika ingin di perbandingkan tidak berada disebelah
bawahnya Auwyang Hong sendiri.
Siapakah wanita setengah tua itu ? Tidak mungkin dia isteri
Auwyang Hong, karena Auwyang Hong telah meninggal
puluhan tahun yang lalu.
Saat itu, Cek Thian ketika melihat serangannya gagal
karena berhasil dihindarkan oleh Yo Ko dan Ciu Pek Thong,
jadi semakin gusar.
Dengan gerakan yang aneh, dia menggeser sedikit
kedudukan kakinya, dimana dia masih dalam posisi berjongkok
seperti itu, tahu2 kedua tangannya telah didorong pula kearah
Yo Ko dan, Ciu Pek Thong.
bahkan dari mulutnya telah mengeluarkan suara „Krokkk,
krokkkk!" berulang kali.
Yang mengejutkan lagi, justru kali ini Cek Thian
melancarkan serangan dengan Ha-mo kang nya itu bukan
dengan kedua tangan sekaligus, melainkan tangan kanannya
mendorong kearah Yo Ko. sedangkan tangan kirinya
mendorong ke arah Ciu Pek Thong.
Dengan sendirinya, hal ini telah membuat Yo Ko dan Ciu
Pek Thoag kagum bukan main, karena tenaga serangan itu

sama kuatnya seperti serangan pertama, walaupun sepasang
tangan itu dipisahkan.
Tetapi kali ini, Yo Ko tidak berkelit lagi dia tetap berdiri
ditempatnya. Dengan mempergunakan pukulan Kie An Cie Bie
atau Mengangkat Meja sampai di Alis, tepat sekali Yo Ko
mengibas dengan lengan tangan kanannya yang kosong itu.
Lengan jubah yang lemas itu menimbulkan tenaga kibasan
yang luar biasa kuatnya, karena Yo Ko telah mengerahkan
empat bagian tenaga dalamnya.
Dua kekuatan tenaga raksasa saling bentur lalu dengan
menerbitkan suara benturan keras keadaan disekitar tempat
itu jadi tergetar.
Tetapi Yo Ko kembali terkejut, sebab tubuh Cek Thian sama
sekali tidak bergeming. Dan Yo Ko merasakan tenaga
pertahanan dari Ha mo kang yang dimiliki Cek Thian kuat
sekali.
Sedangkan serangan tangan kiri Cek Thian kepada Ciu Pek
Thong telah dikelit oleh kakek tua jenaka itu. Namun Ciu Pek
Thong pun tidak tinggal diam, dia menganggap nyonya ini
keterlaluan sekali.
Dengan cepat Loo Boan Thong melancarkan serangan
membalas dengan telapak tangannya kearah pundak Cek
Thian.
Tetapi Cek Thian dengan gerakan yang aneh pula, dengan
masih berjongkok pula, tahu2 melejit kesamping, dia telah
berpindah tempat. Dan tahu2 kedua telapak tangannya
mendorong kearah Ciu Pek Thong.
Itulah ilmu Ha-mo-kang tingkat kesembilan serangan yang
sangat hebat sekali. Dan Yo Ko yang pernah memperoleh
pelajaran ilmu Ha mo kang dari Auwyang Hong mengetahui
hebatnya serangan itu.

Dengan cepat dia telah menjejakan kakinya tangannya
mendorong tubuh Ciu Pek Thong sambil meneriakinya: „Ciu
Toako mundur....”
Yo Ko melakukan hal itu karena dia menyadari jika Ciu Pek
Thong menyambuti, tentu se-tidak2nya Loo Boan Tong akan
terluka didalam karena tenaga gempuran Ha-mo-kang tingkat
ke sembilan tersebut memiliki dua macam kekuatan "keras"
dan "lunak". Yang keras untuk menghantam dan menggempur
tenaga lawan yang mengunakan tenaga lawan yang keras.
Dan kini yang luar biasa, justeru Cek Thian telah mempergunakan
sekali gus kedua macam kekuatan itu.
Yo Ko mengenal sifat Ciu Pek Thong yang selalu tidak
pernah mengenal takut penasaran, maka Loo Boan Tong pasti
akan melancarkan tangkisannya. Itulah yang membuat Yo Ko
ber-kuatir, kalau Ciu Pek Thong tidak dapat bertahan dari
gelombang hebat yang memiliki dua macam kekuatan.
Ciu Pek Thong melihat Yo Ko mendorongnya dan meminta
dia menyingkir, jadi tertegun. Tetapi dia tidak mau mengalah
terhadap Cek Thian, sedangkan serangan wanita itu
menyambar datang akan mengenai dirinya, Tetapi Yo Ko yang
mendorongnya dengan disertai lwekang yang telah
diperhitungkan, membuat tubuh Ciu Pek Thong bergoyang
dan terhuyung kesamping, sedangkan lengan kanannya yang
kosong itu telah dikibaskan menghantam kearah tenaga
serangan Ha-mo-kang Cek Thian.
Benturan yang terjadi diantara kekuatan Cek Thian dengan
Yo Ko tidak menimbulkan suara apa2.
Tetapi sesungguhnya benturan kekuatan tenaga itu
menghadang seekor gajah, maka gajah itu akan binasa
dengan tubuh yang hancur.
Dan jika saat itu benturan tersebut tidak mengeluarkan
suara benturan yang keras, hal itu memperlihatkan bahwa

disaat itu Yo Ko berhasil menindih kekuatan Ha-mo-kang
yang dilancarkan oleh Cek Thian.
Kenyataan seperti itu tentu saja membuat Cek Thian gusar
sekali, dia merasakan tenaga-nya seperti tenggelam kedalam
lautan.
Dengan mengeluarkan seruan keras, dia tidak menarik
pulang tenaga serangannya, hanya dengan mengibaskan
kesamping, lalu mendorong lagi, serangan pertama itu telah
dibantu oleh dorongan tenaga kedua. Maka bisa dibayangkan
serangan yang kali ini dilancarkan oleh Cek Thian.
Yo Ko terkejut sekali, dia mengeluarkan seruan tertahan.
Saat itu dia baru saja mendorong Ciu Pek Thong, se-tidak2nya
dia telah memecahkan perhatian dan tenaga dalamnya,
membuat dia tidak sepenuhnya dapat menangkis serangan itu.
Dan kini serangan kedua telah tiba, mendorong tenaga
serangan pertama yang belum lenyap keseluruhannya,
membuat Yo Ko terancam bahaya yang tidak kecil.
Tetapi diwaktu kecil Yo Ko pernah memperoleh didikan
Auwyang Hong, bahkan kini yang tengah dihadapinya adalah
sesuatu ilmu terhebat dari Auwyang Hong sendiri, yang
dilancarkan oleh Cek Thian.
Dalam keadaan yang terdesak begitu maka Yo Ko tidak
menjadi gugup. Dengan cepat sekali dia telah menggerakkan
pinggangnya, tahu2 sepasang kakinya telah terangkat dan
kepalanya langsung menempel ditanah, dia jadi berdiri di atas
kepalanya dan kedua kakinya itu tergantung ditengah udara.
Lalu dengan tubuh yang berputar seperti gasing tahu2
tangan Yo Ko meluncur kedepan kearah Cek Thian, menangkis
serangan yang di lancarkan oleh wanita setengah baya itu.
Bukan main dahsyatnya tangkisan yang dilakukan oleh Yo
Ko, karena disamping Yo Ko juga mempergunakan ilmu HaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
mo-kang, juga dia memiliki lwekang yang sudah mencapai
puncak kesempurnaan, yang sulit untuk diukur lagi.
Angin tangkisan yang dilakukannya begitu halus, tetapi
memiliki tenaga menolak yang dahsyat sekali.
Dengan mengeluarkan seruan kaget, Cek, Thian tahu2
telah terpental, tubuhnya terapung ke tengah udara.
Nyonya setengah baya itu berusaha berjumpalitan ditengah
udara, tetapi usahanya itu gagal.
Hal itu disebabkan tenaga menolak yang ke luar dari
telapak tangan tunggal yang kiri dari Yo Ko telah
menghantamnya kuat sekali, kare na disamping tenaga dalam
Yo Ko sendiri, juga tenaga serangan Cek Thian telah terbalik
meng hantam majikannya. Tanpa ampun, tubuh Cek Thian
rubuh bergulingan diatas tanah.
Yo Ko telah melompat berdiri dengan kedua kakinya pula,
dia telah menghampiri Cek Thian yang duduk bersila ditanah,
karena wanita setengah baya itu tidak bisa cepat2 berdiri,
tubuhnya dirasakan kaku sebagian akibat gempuran yang
diterimanya dari Yo Ko.
„Hujin, maafkan aku terpaksa menurunkan tangan agak
keras. Apakah kau terluka ?" tanyanya halus.
Nyonya setengah baya itu mendelik, tetapi kemudian
menundukkan kepalanya. Beberapa butir air mata telah
menitik turun ketanah, merembes kedalam tanah, lenyap.
Tetapi tidak terdengar suara tangisan nyonya setengah
baya itu, tampaknya dia menitikan air mata dengan kedukaan
yang sangat. Yo Ko melihat nyonya setengah baya menangis,
jadi ikut berduka. Dia bisa membayangkan, betapa penasaran
nyo nya itu, karena justeru disaat dia memperguna kan Hamo-
kang, ilmu yang sangat sakti ini, malah telah dirubuhkan
oleh ilmu serupa itu pula . . .

Yo Ko telah mengulurkan tangannya untuk merabah nadi
ditangan sinyonya setengah baya, tetapi belum lagi berhasil
memegang pergelangan tangan Cek Thian, tangannya telah
dikibaskan sehingga Yo Ko mundur.
„Kurang ajar......kau telah merubuhkan aku sekarang kau
ingin berbuat kurang ajar menghinaku pula, heh ?" bentak
nyonya setengah baya itu dengan suara yang bengis.
JILID 7
Yo Ko jadi terkejut, cepat2 dia menjura memberi hormat.
„Mana berani aku melakukan perbuatan kurang ajar kepada
hujin" katanya cepat. „Tadi... aku hanya bermaksud untuk
memberikan bantuan jikalau hujin terluka didalam".
Nyonya itu telah mendengus dingin, dia kemudian menoleh
kepada kuburan Auwyang Hong yang telah dibongkar
seseorang dan kosong itu. tatapan matanya mendelong dan
nanar seperti tidak mengandung perasaan kasihan kepada
nyonya tersebut, baru saja dia ingin mengeluarkan kata2
hiburan, menyenangkan hati nyonya itu. Cek Thian telah
melompat berdiri.
Namun, tubuhnya masih ber-goyang2 seperti akan rubuh
dan disaat itu Phujie telah menghampiri ibunya.
,.Ma, kenapa kau ?' tanya anak lelaki itu dengan suara
kuatir. „Apakah kau dihina sibuntung itu ?" Kata2 yang
terakhir itu ditujukan untuk Yo Ko, diapun telah mengawasi Yo
Ko dengan mata mendelik.
Tentu saja Yo Ko dan Ciu Pek Thong jadi mendongkol
bukan main, tetapi mereka tidak bisa marah kepada anak kecil
itu.
„Mari kita pergi, Phujie, nanti kita cari penjahat yang telah
menghina ayahmu......!. Urusan ini harus diselesaikan,

penasaran ayahmu harus dibereskan ..!" dan nyonya setengah
umur itu telah berlalu sambil menuntun tangan anak lelaki itu,
memutar tubuhnya dan melangkah dengan tubuh yang bergoyang2
seperti akan rubuh.
Yo Ko jadi mengawasi dengan pandangan mata tertegun,
dia juga menghela napas berulang kali.
Yo Ko pun mengetahui bahwa nyonya itu tentu telah
terluka didalam akibat menerima gempurannya, namun
nyatanya nyonya itu keras hati dan angkuh, tidak mau dia
menerima budi Yo Ko, sehingga dia menolak maksud baik Yo
Ko yang ingin membantunya dengan mempergunakan
lwekang untuk memulihkan kesehatannya...
,,Dia hebat sekali kepandaiannya, dan juga ilmu yang
digunakannya sama dengan yang pernah digunakan Tee Tok
semasa hidupnya---! Siapakah dia sebenarnya ? Bukankah Tee
Tok telah mampus cukup lama ?" Berkata Ciu Pek Thong
sambil geleng2 kepalanya.
„Entah siapa nyonya dan anak itu ! Keadaan mereka luar
biasa sekati ! Menilai kepandaian yang dimilikinya, dia pasti
bukan orang sembarangan, lebih2 dia memiliki kepandaian
turunan dari keluarga Auwyang, jelas dia masih memiliki
hubungan yang rapat dengan ayah angkat ku. Tetapi siapakah
dia ? Mengapa aku belum pernah bertemu ? Dan mengapa
disaat dia mengetahui bahwa aku Yo Ko, segera sikapnya
begitu garang dan melancarkan serangan2nya yang
mematikan tanpa mengenal kasihan?"
Tetapi semua tanda-tanya itu hanya sempat bersarang
dihati Yo Ko dan Ciu Pek Thong, karena mereka berdua tidak
berhasil menjawabnya.
Sedangkan saat itu, udara mulai panas dan terik, karena
cahaya matahari semakin panas dan hari sudah menjelang
lohor.

Yo Ko dan Ciu Pek Thong menantikan kedatangan It Teng
Taisu dan jago2 lainnya yang menjadi sahabat mereka
dikuburan Auwyang Hong dan Ang Cit Kong, yang telah
kosong...!
000O000
IT TENG TAISU yang telah ber-lari2 sekian lama, akhirnya
berhasil mencapai kota Tiang Lu-kwan. Waktu itu hari sudah
mendekati fajar dan sudah banyak penduduk kota yang
terbangun dari tidurnya dan bersiap2 untuk berangkat ke
tempat pekerjaan mereka.
Namun It Teng Taisu tidak berbasil mencari Tiat To Hoat
ong, Bahkan ketika It TengTaisu menanyakannya kepada
beberapa orang penduduk, tidak ada seorangpun yang
mengetahuinya, Akhirnya, dengan putus asa It Teng Taisu
telah memasuki sebuah rumah makan, dia memesan dua kati
air teh, dan menangsal perut dengan bakpauw tanpa isi.
Disaat It Teng Taisu tengah menghirup air tehnya, disaat
itulah dia mendengar suara orang berkata; „Engko ceng, kita
mengasoh disini saja dulu, besok baru kita lanjutkan pula
perjalanan kita. Kukira masih belum terlambat untuk
mencapai Hoa San tepat pada waktunya.."
Tentu saja It Teng Taisu girang luar biasa karena dia
mengenali bahwa suara itu adalah suara sinyonya nakal Oey
Yong. Kwee Hujin. Dan dengan sebutan "Engko Ceng" itu,
jelas Oey Yong tengah ber cakap2 dengan Kwee Ceng.
Benar juga dugaan It Teng Taisu, dari luar melangkah
masuk Oey Yong dan Kwee Ceng.
Kedua orang tersebut juga kaget bercampur girang waktu
melihat It Teng Taisu. Mereka telah cepat2 menghampiri dan
memberi hormat, yang cepat2 dibalas oleh It Teng Taisu.

„Taisu, apakah keadaanmu selama ini baik2 saja?" tanya
Oey Yong sambil tersenyum. "Tampaknya taisu sekarang agak
gemuk sedikit di bandingkan dengan tiga tahun yang lalu....!"
„Siancai ! Itulah berkat berkah Sang Buddha !" kata It Teng
Taisu sambil tersenyum lebar. „Tetapi, ai, ai, sungguh
memang aku si tua It Teng tidak diijinkan untuk hidup tenteram
menganut penghidupan yang tenang damai. Akhir2 ini
telah muncul urusan besar yang memaksa aku harus
mencampurinya pula....!"
Dan setelah berkata begitu, It Teng Taisu menghela napas
sambil mengawasi Kwee Ceng dan Oey Yong bergantian. Lalu
katanya : „Dan kalian berdua, sesungguhnya ingin pergi ke
mana,?"
Kwee Ceng dan Oey Yong memperlihatkan sikap seperti
keheranan, mereka saling pandang, dan Kwee Ceng yang
tidak pandai berkata2, hanya berdiam diri dengan
memandangi It Teng Taisu saja, tetapi Oey Yong telah
menyahuti ; „Bukankah Taisu yang telah mengundang kami
agar segera datang ke Hoa San ?"
It Teng Taisu menatap tertegun mendengar pertanyaan
Oey Yong, kemudian menepuk lututnya perlahan.
„Akhhh, inilah aneh ! Aneh sekali !" kata It Teng Taisu.
Oey Yong cerdik luar biasa segera menyadari bahwa
didalam persoalan ini pasti terdapat sesuatu yaag agak luar
biasa.
„Apakah Taisu tidak merasa pernah mengirim surat kepada
kami ?" tanya Oey Yong tidak bisa menahan sabar.
Hweshio tua dari selatan itu telah meng-geleng2kan
kepalanya,
„Inilah urusan yang aneh sekali !" kata It Teng Taisu.
„Siauwceng belum pernah mengirim surat kepada siapapun
selama tiga tahun terakhir ini, bahkan sebulan yang lalu Lolap

menerima sepucuk surat dari Oey Loshia yang meminta agar
Lolap mau datang ke Hoa San untuk menyelesaikan suatu
urusan yang cukup penting. "
„Akhh ?" Oey Yong mengeluarkan seruan kaget mendengar
nama ayahnya, Oey Yok Su di-sebut2. Jadi . . . surat yang
kami terima itu ditulis oleh siapa . . . ?"
„Maksudmu surat yang diterima oleh kalian itu ditanda
tangani oleh Lolap ?" tanya It Teng Taisu.
Oey Yong mengangguk Kwee Ceng mengiyakan.
„Aneh sekali ! Lolap tidak merasa pernah mengirim surat
kepada kalian ! Jika kalian menerima sepucuk surat Lolap
tentunya kalian bisa mengenali huruf2 itu ditulis oleh lolap
atau bukan?"
„Justru kami telah memperhatikan dengan Cermat huruf2
itu, satu hurufpun surat itu tidak mendatangkan kecurigaan,
bahkan kami mengenali tulisan Taisu----!"
It Teng Taisu menyebut kebesaran Sang" Buddha beberapa
kali, sedangkan Kwee Ceng telah mengeluarkan sepucuk surat
lalu diberikan kepada It Teng Taisu.
Sipendeta tua dari Selatan itu telah menyambuti dan
membaca surat itu, lalu memperhatikan huruf2 yang terdapat
dikertas itu.
It Teng Taisu jadi memandang bengong surat tersebut,
karena justru dia mengenali huruf2 diatas kertas itu adalah
hasil tulisannya, tidak ada perbedaannya.
Tetapi yang lebih aneh lagi justru dia tidak pernah menulis
surat seperti itu. Tanda tangannya pun sama serta tidak ada
bedanya baik garis nya, maupun tekukan2 huruf itu.
„Luar biasa! Siapa yang telah sedemikian liehay
memalsukan surat dengan

memakai nama lolap ?" menggerutu sipendeta dari
Selatan.
„Jadi surat itu memang bukan ditulis Oleh Taisu?" tanya
Oey Yong menegasi.
It Teng Taisu menggeleng perlahan, dan dia memandang
keluar jendela
„Inilah aneh surat ini bukan ditulis Olehku tetapi ada
seseorang yang telah menjual namaku dan memalsukan
huruf2 yang begitu sama dengan tulisanku.. ! Luar biasa
sekali, siapakah orangnya itu?”
Oey Yong dan Kwee Ceng jadi tertegun dan mengawasi
sipendeta dengan tatapan mata mengandung tanda tanya,
„Lolap pun menerima sepucuk surat yang. bunyinya hampir
serupa dengan ini. tetapi ditulis oleh ayahmu, Kwee hujin...”
kata It Teng Taisu.
Dan Lam Ceng telah merogoh sakunya, mengeluarkan
sepucuk surat, yang diangsurkan kepada Kwee Ceng, dan
Oey Yong ikut membacanya.
Bunyi surat itu hampir mirip dengan surat yang diterima
oleh Kwee Ceng dan Oey Yong, hanya saja huruf2 surat itu
ditulis oleh Oey Yok Su.
Oey Yong dan Kwee Ceng kenal dengan baik tulisan Oey
Loshia, maka dari itu tidak mengherankan jika mereka menjadi
kaget dan heran. „Apakah mungkin ayah yang sengaja telah
bergurau ?" berpikir Kwee Hujin.
Tetapi Oey Yong mengetahui benar tabiat ayahnya, Oey
loshia. sisesat tua, tidak mungkin Oey Yok Su bergurai dengan
cara demikian.
Huruf2 surat itu ditulis oleh Oey Loshia bukan ?" tanya It
Teng Tai-su setelah melihat Oey Yong dan Kwee Ceng selesai
membaca surat itu.

„Benar ........tetapi' suara Oey Yong jadi tidak lancar.
Dia sesungguhnya sangat cerdik, (seperti didalam Sia
Tiauw Enghiong, Sin Tiauw Hiap Lu, telah diceritakan
kecerdikan Oey Yong yang selalu berhasil memecahkan
berbagai persoalan yang berat bagaimanapun), tetapi
menghadapi persoalan tersebut, tidak dapat Oey Yong segera
memutuskan karena menyangkut urusan ayahnya.
“Tetapi kenapa?" tanya Kwee Ceng yang melihat isterinya
seperti ragu2.
„Aku yakin surat ini bukan ditulis oleh ayah!" kata Oey Yong
kemudian. ,,Coba kau lihat Engko Ceng , apakah surat ini
sesungguhnya ditulis oleh ayah?"
Kwee Ceng yang polos telah mengangguk.
“Jika dilihat dari huruf2nya memang tulisan ayah..!"
katanya.
“Akhh.....“ Oey Yong mengeluh jengkel. “Justru huruf2
menyerupai tulisan ayah. tetapi aku yakin bahwa surat ini
bukan ditulis oleh ayah! Hanya saja orang yang membuat
surat ini hebat sekali, dia bisa memalsukan huruf2 ayah
dengan baik sekali, tanpa ada sedikitpun yang salah...!"
„Aneh sekali ... apakah kau mau mengartikan bahwa surat
itu surat palsu?"' tanya Kwee Ceng. Oey Yong menganguk.
„Ya, menurut Lolap juga demikian. Setelah melihat surat
kalian, yang merupakan surat palsu, yang menjual nama
Lolap, berarti ada sekelompok orang yang bermaksud untuk
mempermainkan kita !"
„Benar !' mengangguk Oey Yong cepat. “Jika kita
memperbandingkan dengan peristiwa yang kita alami ini,
Taisu, tentunya kedua surat ini ditulis oleh tangan yang sama,
hanya yang satu menjual nama Taisu, sedangkan yang lainnya
menjual nama ayah !”

„Tetapi, apa maksud orang itu dengan perbuatannya ini ?"
tanya It Teng Taisu sambil mengerutkan alisnya. „Dan apa
maksudnya dengan perkataannya bahwa di Hoa-san baru
akan di jelaskan duduk persoalan dari peristiwa yang besar
dan penting itu ?"
Oey Yong tidak bisa menjawab dia tampak seperti berpikir
keras. Sampai akhirnya dia menepuk meja.
"Aku tahu !" kata Oey Yong kemudian.
Tetapi nyonya Kwee itu tidak meneruskan pertanyaannya,
sehingga Kwe Ceng jadi tidak sabar dan bertanya : „Tahu apa
?”
„Tentu ada seseorang yang tengah mempersiapkan suatu
perangkap untuk menjerat golongan kita, yang khususnya
ditujukan kepada Ngo Ciat .. !"
„Hemm", Kwee Ceng telah mendengus. „Tetapi dengan
diundangnya kita ke Hoa-san, walaupun disana telah dipasang
jebakan yang hebat sekali, dengan jala langit dan jala bumi,
apakah Ngo Ciat akan jeri ?"
Benar Ngo Ciat tidak jeri, tetapi orang yang sengaja
memalsukan nama ayah dan It Teng Taisu, jelas telah
memperhitungkan segalanya. Orang itu tentu telah
mengetahui siapa Ngo Ciat dan betapa sempurna
kepandaiannya yang jelas akan diperhitungkannya dengan
masak Tetapi disamping itu, tentunya orang tersebut telah
memiliki kepandaian yang hebat, telah memasang perangkap
dan telah diperhitungkannya dengan masak, sehingga dia
tidak jeri untuk memancing Ngo Ciat. Jika dugaanku ini
benar, tertunya Kojie dan Siauw Liong Lie akan diundang pula.
Entah undangan itu dengan menjual nama siapa . . . ?”
It Teng Taisu mengerutkan sepasang alisnya dan dia
merasakan bahwa urusan yang tengah mereka hadapi itu
bukanlah urusan yang bisa diremehkan.

Untuk sementara, ketiga orang tersebut ber diam diri,
karena masing2 tenggelam dalam pikirannya masing2.
Sedangkan It Teng Taisu sekali2 meneguk tehnya per
lahan2.
Tiba2 Oey Yong telah berkata lagi; „Engko Ceng, apakah
kau sudah bisa menduga siapa yang melakukan ?" Kwee Ceng
menggeleng.
„Dan kau sudah mengetahuinya ?" tanya sisuami sambil
mengawasi Oey Yong dengan penuh tanda tanya. Oey Yong
mengangguk.
„Tetapi aku belum berani memastikan secara
keseluruhannya ---!" menyahuti Oey Yong
„Siapa?" tanya It Teng Taisu dan Kwe Ceng hampir
Serentak.
„Nanti akan kujelaskan sekarang lebih baik kita
memperhatikan dulu kedua surat ini, mencari persamaan
diantara huruf2 itu ........!"
Dan tanpa menantikan persetujuan kedua orang itu. Oey
Yong telah membeber kedua surat tersebut dipermukaan
meja.
Dengan tekun, Oey Yong telah meneliti kedua pucuk surat
itu. It Teng Taisu hanya mengawasi saja, sedangkan Kwee
Ceng ikut memandangi surat itu, tetapi pikirannya yang polos
serta sederhana tidak bekerja seperti yang dikehendakinya;
dia tidak menemui sesuatu persamaan dari kedua surat itu,
yang bisa membuktikan bahwa penulis kedua sarat itu hanya
satu orang;
Tetapi berbeda dengan Oey Yong, sejak kecil nyonya ini
Cerdik luar biasa disamping sangat nakal. Diapun telah
memperhatikan dengan penuh ketekunan sekali, dan akhirnya
setelah memperhatikan selama seperminum teh, tiba2 Oey
Yong menepuk pinggir meja.

„Aku telah menemuinya!" serunya girang.
Kwee Ceng dan It Teng Taisu mengawasinya menunggu
keterangan dari Oey Yong.
Tetapi Oey Yong telah menundukkan kepalanya pula, dia
masih terus meneliti kedua surat tersebut.
Tentu saja Kwee Ceng dan It Teng Taisu jadi tidak sabar,
mereka jadi tegang sendirinya.
Bahkan Kwee Ceng yang sudah tidak berhasil menahan hati
maupun perasasaan ingin tahunya, telah bertanya; „Yong-jie
kau telah menemui apa?"
„Tunggu dulu..." menyahuti Oey Yong tanpa menoleh dan
terus juga mengawasi kedua surat itu. Sampai akhirnya dia
menghela napas dengan lega dan duduk lurus.
„Nah kini coba kalian lihat, setiap huruf "She" (persoalan)
terdapat persamaan yang tidak bisa dilenyapkan, walaupun
huruf "She" yang satu memakai garis coretan huruf It Teng
Taisu, sedangkan "She" lainnya memakai coretan gaya tulisan
ayah.
Kwee Ceng dan It Teng Taisu segera mengawasi. Tetapi
setelah mengawasi sekian lama. mereka tidak bisa melihat
adanya persamaan di antara kedua huruf itu.
It Teng Taisu hanya mengerutkan alisnya sambil berdiam
diri saja. Tetapi tidak demikian dengan Kwee Ceng.
„Dibagian mananya yang bersamaan?" tanyanya kemudian.
Oey Yong tertawa, sambil mengulurkan tangannya untuk
menunjuk.
Ternyata yang ditunjuk oleh Oey Yong adalah garis
lekukkan kedua dari huruf "She" tersebut. Kwee Ceng
memperhatikannya dengan seksama dan akhirnya dapat juga
dilihatnya persamaan yang dimaksud oleh Oey Yong, yaitu seTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
tiap sudutnya membulat dengan ditengahnya terdapat sebuah
titik kecil.
„Akhhh!" Kwee Ceng mengeluarkan seruan perlahan.
„Ternyata kedua surat itu memang di tulis oleh tangan yang
sama."
It Terg Taisu menghela napas.
Persoalan ini yang kita hadapi bukan persoalan yang
mudah, pasti didalam persoalan ini terselip urusan yang luar
biasa," katanya. ,,Untuk memperoleh kepastian. kita harus
cepat2 pergi ke Hoa San untuk melihat apa sesungguh nya
yang terjadi! Dan baru2 ini Lolap baru saja mengalami suatu
peristiwa yang cukup meng herankan ....!"
Dan It Teng Taisu lalu menceritakan pengalamannya yang
telah bertemu dengan Tiat To Hoat ong, telah bertempur
dengannya, dan telah mengetahui pula bahwa tawanan Tiat
To Hoat ong tidak lain dari Siauw Liong Lie, isteri Yo Ko. dan
juga Sin Tiauw. Oey Yong dan Kwee Ceng jadi gusar, kumis
Kwee Ceng seperti berdiri.
„Akhhh. mereka ternyata telah mengirm orangnya untuk
membuat huru hara dan onar lagi di Tionggoan!"
menggumam Kwee Ceng perlahan; yang dimaksudkannya
dengan „meraka," adalah bangsa Mongolia.
Oey Yong seperti berpikir keras, akhirnya dia telah
memukul perlahan ujung meja. Pasti peristiwa penculikan
Siauw Liong Lie dengan surat ini ada hubungannya.
“Mari kita cepat cepat berangkat, mungkin kita bisa
memperoleh jawabannya di Hoa San!"
Kwee Ceng dan It Teng Taisu menyetujui usul Oey Yong,
mereka segera berangkat meninggalkan Tiang-lu-kwan
melakukan perjalanan cepat menuju Hoa San.
Hoa San tidak jauh lagi dari Tiang- lu-kwan, setelah
melakukan perjalanan satu hari satu malam tibalah It Teng

Taisu bertiga dikaki gunung itu. Waktu itu langit mulai gelap
karena malam akan segera menjelang datang. Tetapi ketiga
orang gagah tersebut melakukan perjalanan mereka dengan
cepat mendaki gunung itu.
Ketika mereka tiba didekat kuburan Auwyang Hong dan
Ang Cit Kong, disaat itu It Teng Taisu telah mendengar suara
berkeresek yang perlahan, waktu pendeta tua tersebut
menoleh, tampak dua sosok tubuh berdiri tidak jauh dari
tempatnya berada.
Oey Yong dan Kwee Ceng juga telah melihat kedua sosok
tubuh itu, dan mereka bertiga jadi girang sekali.
„Yo Ko !" berseru Oey Yong girang. „Dan kau Loo Boan
Tong ?"
Memang kedua orang itu tidak lain dari Yo Ko dan Ciu Pek
Thong. Keduanya juga girang bertemu dengan ketiga orang
gagah ini, mereka telah maju memberi salam kepada It Teng
Taisu bertiga.
“Kami memang tengah menantikan Taisu," kata Yo Ko
kemudian. "Hanya sayang, telah terjadi peristiwa yang kurang
menggembirakan didiri kami .... Liongjie telah dicelakai oleh
seseorang !"
Yo Ko segera menceritakan pengalamannya, sehingga
menambah perasaan heran ketiga orang itu. Begitu pula Yo Ko
dan Ciu Pek Thong yang tambah heran waktu It Teng Taisu
menjelaskan bahwa surat undangan yang diterima Yo Ko
bikan ditulis olehnya. Dan Oey Yong juga membantu
membenarkan keterangan It Teng Taisu.
“Lalu siapa yang menulis surat itu” tanya Yo Ko seperti
kepada dirinya sendiri „Apakah dalam persoalan ini terselip
urusan yang luar biasa ?”
„Siancai" It Teng Taisu telah memuji kebesaran Buddha.
„Jika kita men duga2, urusan itu memang masih gelap, tetapi

kita tunggu saja peristiwa apa yang akan muncul, bukankah
besok adalah hari yang dijanjikan.
Yang lainnya setuju. Dan It Teng Taisu, Oey Yong dan
Kwee Ceng jadi gusar sekali waktu melihat betapa kuburan
Auwyang Hong dan Ang Cit Kong telah dibongkar orang.
Kumis It Teng Taisu yang telah memutih itu jadi ber-gerak2,
pendeta tua ini menjadi murka, berulang kali dia menyebut
"Omitohud" perlahan sekali.
Malam itu dilewati orang2 gagah ini dengan hati jengkel
diliputi kegelisahan juga, dan mereka tidak banyak ber
cakap2. Hanya mereka bertekad, jika saja mereka berhasil
mengetahui orang yang membongkar kuburan itu, tentu
mereka akan memberikan hajaran keras kepadanya.
Semuanya memiliki dugaan yang hampir sama, yaitu
dugaan bahwa didalam persoalan ini pasti ada sangkut
pautnya dengan Tiat To Hoat ong.
It Teng Taisu juga telah menceritakan pengalamannya
bertemu dengan Tiat To Hoat ong sehingga Yo Ko gusar
bercampur kuatir. Gusar kepada pendeta yang liehay itu,
berkuatir terhadap keselamatan isteri dan Sin Tiauwnya.
Malam itu lewat dengan cepat, dan keesokan harinya,
mereka diliputi ketegangan, karena hari inilah dimana
persoalan tersebut akan terjawab
Yo Ko dan Ciu Pek Thong sering memandang kebawah
gunung, tetapi semuanya sepi dan tidak terlihat seorang
manusiapun juga. Suasana begitu lenggang. Dan Yo Ko jadi
bertambah ber kuatir, kalau hari ini urusan tidak terjawab, dan
orang yang sengaja mengundang mereka, atau tepatnya
memancing mereka, untuk datang ke-Hoa San itu tidak
memperlihatkan diri, berarti kian terlambat saja dia ditinggal
Tiat To Hoat-ong. ,

Yang dikuatirkan Yo Ko justru kalau Tiat To Hoat-ong
membawa Siauw Liong Lie ke Mongolia ! sin Tiauw Tai Hiap ini
telah bertekad bulat, walaupun
keujung langit sekalipun, dia akan mengejar pendeta
Mongolia itu.. ..
Mendekati lohor masih tidak terjadi sesuatu, dan orang2
gagah tersebut mulai tidak sabar. Terlebih Ciu Pek Thong
yang sudah tidak bisa duduk diam.
sebentar2 dia telah mengawasi kearah lobang kuburan
kosongnya Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.
Semua pengalaman yang telah dialami oleh orang2 gagah
itu diliputi tanda tanya dan belum bisa terjawab, keanehan
dari peristiwa yang mereka alami itu benar2 membuat mereka
tidak mengetahui sesungguhnya urusan apa yang akan terjadi.
Sedangkan Kwee Ceng dan Oey Yong memiliki urusan
tersendiri pula, pengalaman yang cukup mengherankan.
Waktu mereka berada di Kamsiok dalam perjalanan menuju ke
Hoa San untuk memenuhi undangan „surat" yang dikirim It
Teng Taisu itu, justru mereka telah bertemu seorang lelaki tua
kurus seperti gala yang tubuh nya selalu ber-goyang2 jika
tengah berjalan
Orang itu mengenakan pakaian yang sederhana, tetapi
matanya yang seperti mata tikus itu menmancarkan sinar
yang tajam, sehingga menimbulkan kecurigaan Oey Yong.
Dan justeru disaat Oey Yong dan Kwee-Ceng berada
dikamar penginapannya, mereka baru mengetahui bahwa
barang mereka didalam kamar telah lenyap! Keruan saja Oey
Yong dan Kwee Ceng gusar. Mereka segera keluar dari kamar
mereka, dan melihat lelaki kurus jangkung itu, yang mereka
curigai sebagai pencurinya, tengah melangkah akan pergi.
Kwee Ceng dan Oey Yong meneriakinya agar dia
menghentikan langkahnya, tetapi malah orang itu

mempercepat larinya, sehingga pasangan suami isteri itu
cepat2 mengejarnya. Yang luar biasa, ilmu meringankan tubuh
orang itu sempurna sekali, walaupun Kwee Ceng dan Oey
Yong telah mengejarnya terus, namun mereka tidak berhasil
menyandaknya, bahkan akhirnya mereka telah kehilangan
jejak.
Yo Ko dan yang lainnya waktu mendengar cerita
pengalaman Kwee Ceng dan Oey Yong jadi tambah heran,
mereka tidak bisa men duga2 siapa orang yang kurus
jangkung itu, karena waktu Oey Yong menggambarkan bentuk
muka orang itu, dan potongan tubuhnya, mereka merasakan
bahwa orang tersebut bukan orang daratan Tionggoan !.
Disaat mereka tengah ber cakap2 seperti itu, tiba2 dari
kejauhan terdengar suara siulan yang nyaring, melengking
tinggi sekali, kemudian disusul dengan Suara Seruling yang
terdengar dibawa oleh desiran angin.
Muka Yo Ko dan yang lainnya jadi berobah, mereka cepat2
bersiap, bahkan Ciu Pek Thong telah memandang kebawah
gunung:
Suara seruling dan siulan itu hebat sekali! karena
mengandung tenaga dalam yang telah sempurna,
Dan hebat pula ilmu meringankan tubuh dari orang yang
mengeluarkan suara siulan dan suara seruling itu, karena tidak
lama kemudian begitu suara siulan dan seruling itu berhenti,
sudah terlihat orangnya, dan dengan beberapa kali lompatan,
tahu2 telah berdiri diatas reruntuhan bongpai Auwyang Hong
dan Ang Cit Kong, dua orang yang berpakaian yang aneh
sekali! Yang satu memiliki Wajah yang hitam seperti pantat
kuali, tubuhnya gemuk pendek, dengan matanya yang
mencilak memandang sekelilingnya sambil tidak hentinya
memperdengarkan suara tertawa yang tidak sedap didengar.

Dia berpakaian aneh sekali hanya memakai baju bulu Tiauw
yang pendek, sebatas lututnya rambutnya juga digelung
tinggi.
Keadaan orang itu memang sudah agak luar biasa, tetapi
yang lebih luar biasa lagi adalah yang seorangnya lagi, yang
ditangan kanannya meng-gerak2kan seruling pendek bercagak
dua Orang ini bertubuh tinggi, kulitnya putih, matanya sipit
seperti mata elang giginya tonggos dan telinganya lebar.
Pakaiannya sama dengan kawannya terbuat dari bulu
Tiauw yang berwarna putih, diapun tengah mengeluarkan
tertawa sambil menyapu orang gagah dihadapannya dengan
tatapan mata yang tajam sekali.
It Teng Taisu telah maju dua langlah, dan merangkapkan
kedua tangannya,
Ujarnya, „Siancai, Siancai, Siancai, siapakah jiewie berdua?"
Kedua orang itu tidak segera menyahuti, hanya sihitam
pendek itu telah menggerakkan kaki kanannya, dia telah
menghentakkan kesisi batu bongpai yang diinjaknya, tanpa
mengeluarkan suara, sisa batu bongpai itu tahu2 meluruk
menjadi abu. Sedangkan sihitam pendek telah melompat
berdiri diatas tanah datar.
Yo Ko dan yang lainnya terkejut, dengan perbuatannya itu
sipendek hitam telah memperlihatkan bahwa tenaga dalamnya
sempurna sekali.
Sedangkan sijangkung putih telah tertawa terkekeh,
kemudian dengan suara yang sumbang seperti suara
menyalaknya serigala dia telah berkata dengan nada
Tionggoan yang kaku sekali, „Kami biasa disebut Hek Pek
Siangsat (Sepasang Penjahat Hitam dan Putih)"
„Kami datang dari Persia, telah lama kami mendengar dan
tertarik atas nama besar jago2 daratan Tionggoan......!"
setelah berkata begitu,

sambil menatap tajam kearah lengan Yo Ko yang kanan,
yang buntung dan hanya lengan jubahnya yang ber-goyang2
terhembus angin.
Pek Siangsat (Iblis Putih) itu telah melanjutkan
perkataannya yang semakin tidak enak didengar: „Dan,
engkau tentunya Sin Tiauw Taihiap, bukan ?".
Yo Ko tertawa dingin, tidak senang dia melihat sikap orang
itu. Terlebih lagi dia tengah marah melihat Hek Pek ini tadi
berdiri dikedua sisa bongpay dari Auwyang Hong dan Ang Cit
Kong.
„Tepat" menyahuti Yo Ko. ,ada keperluan apakah jiewie
datang kemari ?".
„Untuk mengambil kepalanya Ngo Ciat (lima jago) !"
menyahuti sipendek hitam mewakili si Putih.
„Benar, untuk membawa pulang lima batok kepala Ngo Ciat
!" menambahkan si Putih, menimpali perkataan si Hitam.
Ciu Pek Thong berjingkrak karena gusar sekali.
„Baik ! Baik ! Akulah salah seorang diantara Ngo Ciat itu !
Mari, mari kita coba2 siapa yang tinggi dan siapa yang rendah
!".
Dan sambil berkata begitu, Ciu Pek Thong ber-siap2 untuk
bertempur. Tetapi si Putih dan si Hitam itu membawa sikap
acuh tak acuh.
sedikitpun dia tidak memandang sebelah mata ke pada Ciu
Pek Thong.
„Hemmm, sabar, tidak akan terlambat jika kini kepalamu itu
kami titipkan dulu dilehermu !" kata si Putih dengan suara
dingin. Kemudian dia juga telah menoleh kepada It Teng Taisu
sambil katanya lagi : „Dan kau pendeta, tentunya kau yang
disebut Lam Ceng ( pendeta dari Selatan ) si It Teng kepala
gundul, bukan ?"

„Benar," menyahuti It Teng Taisu dengan sabar, walaupun
hatinya mendongkol sekali melihat sikap kurang ajar dari
kedua orang aneh itu.
„Dan kalian tentunya Kwee Ceng dan Oey Yong, bukan ?"
tanya si Putih sambil memandang tajam kepada Kwee Ceng
dan isterinya. Kwee Ceng hanya mendengus „Hemmm !" saja,
tetapi Oey Yong yang tengah gusar telah menyahuti : „Benar,
memang kami Kwee Ceng dan Oey Yong Hanya sayangnya,
kami tidak memiliki rejeki yang sebaik kalian untuk menjadi
kodok hitam dan bangau putih !"
Si Putih tertawa mengejek, sedikitpun dia tidak melayani
ejekan Oey Yong, hanya dengan matanya yang memancarkan
sinar yang tajam dia telah berkata lagi. „Kami telah banyak
mendengar, bahwa Kaisar Mangu dibinasakan oleh Sin Tiauw
Taihiap, maka kami tertarik sekali untuk melihat berapa tinggi
sesungguhnya kepandaian pendekar besar itu !”
Yo Ko tidak dapat menahan sabar lagi. tahu-tahu dia telah
menjejakkan kakinya, tubuh nya telah melompat dan tangan
kiri tunggalnya tahu2 mengibas dengan cepat sekali.
Gerakannya itu luar biasa cepatnya, dia bermaksud akan
menotok jalan darah Pek-kut-hiat dibahu si Putih.
Tetapi aneh sekali, si Putih sama sekali tidak mengelakkan
serangan itu, dia hanya menanti disaat tangan Yo Ko hampir
tiba disasaran, dia mengulurkan tangan kanannya, tahu2 dia
telah menangkis serangan itu, dan yang luar biasa justru
tubuh Yo Ko terhuyung mundur dua langkah! Kuat sekali
tenaga menangkis dari si Putih.
Yo Ko mengeluarkan seruan tertahan, jago2 yang lainnya
juga mengeluarkan seruan kaget ketika memperoleh
kenyataan bahwa lwekang si Putih itu telah demikian
sempurna.
Serangan yang dilancarkan oleh Yo Ko tadi bukanlah
serangan yang ringan, sebagai pendekar besar, walaupun Yo

Ko tampaknya menggerakkan tangan kirinya dengan ringan,
namun tenaga serangannya itu meliputi ribuan kati. Maka luar
biasa sekali si Putih menangkisnya begitu mudah, bahkan
berhasil mendorong tubuh Yo Ko terhuyung dua langkah.
“Sabar, untuk mengadu kepandaian tidak perlu sekarang,
nanti juga belum terlambat", berkata si Putih, sedangkan si
Hitam pendek itu tertawa terkekeh, menertawai Yo Ko yang
terhuyung mundur dua langkah itu. “Kami berdua telah
menerima perintah untuk mengukur kepandaian dari pendekar
daratan Tionggoan, maka siapa yang akan maju lebih dulu
untuk menghadapi kami ?”
Mata Ciu Pek Thong jadi bersinar tajam, dia murka sekali,
kumis dan jenggotnya Sampai ber-gerak2 menahan
kemarahan yang bergolak di hati nya.
Dengan mengeluarkan teriakan nyaring, tahu-tahu Ciu Pek
Thong telah menerjang maju.
dia memendekkan tubuhnya, kedua tangannya diulurkan,
yang satu akan mencengkeram pergelangan si Putih,
sedangkan tangan kirinya akan menghantam dada sijangkung
itu.
Tetapi memang luar biasa, dengan menggerakkan perlahan
tubuhnya yang dimiringkan kekanan, maka serangan Ciu Pek
Thong telah berhasil dikelit oleh si Putih.
„Engkau tidak sabar, jenggot !" kata si Putih sambil
mengejek.
Tetapi dia tidak bisa meneruskan perkataan nya, karena Ciu
Pek Thong yang telah gusar itu dengan cepat telah
menggerakkan kepalanya, jenggotnya yang panjang itu telah
menyambar kearah dada lawannya. Ciu Pek Thong tadi waktu
melihat serangannya dapat dielakkan lawan-nya, telah
penasaran sekali, dia telah mengerah kan lwekang ke
jenggotnya, dan dengan disertai lwekang yang sempurna,

serangan jenggotnya itu bukanlah serangan yang
sembarangan.
Si Putih juga kaget melihat cara menyerang Ciu Pek Thong,
tidak bisa dia main main lagi.
dengan merangkapkan kedua tangannya, tahu2 dia telah
mengayunkan kedua tangannya yang dirangkapkan itu
menjepit jenggot Ciu Pek Thong.
Memang luar biasa, lwekang yang dimiliki si Putih hebat
sekali, jenggot Ciu Pek Thong tidak berdaya sama sekali.
Bahkan situa nakal itu jadi sibuk sekali jenggotnya dijepit
seperti itu, berarti dia tidak bisa menariknya pula.
Dengan murka dia telah membarengi dengan tangan
kanannya menghajar keleher lawannya sehingga si Putih
terpaksa memiringkan kepala nya, tetapi jepitan kedua
tangannya itu tidak di lepaskan.
Yo Ko melompat untuk menghantam punggung si Putih,
tetapi dia dipapak oleh si Hitam yang melompat sambil
mengibaskan tangan kiri nya.
„Ternyata jago2 Tionggoan hanya pandai mengeroyok saja
! berseru si Hitam.
Atas kibasan tangan si Hitam, serangan Yo Ko jadi
terhalang dan tidak dapat dia melanjutkan serangannya
kepada si Putih, terlebih lagi si Hitam juga telah melancarkan
serangan dengan gencar.
Saat itu, si Hitam sambil melancarkan serangan yang bertubi2
kepada Yo Ko. telah mengeluarkan suara siulan yang
panjang dan tinggi nadanya, dari arah bawah gunung itu telah
terlihat belasan bayangan yang tengah ber-lari2 mendaki
keatas. Dilihat dari gerakan belasan orang itu jelas mereka
terdiri dari orang2 pandai. karena mereka dapat berlari
dengan gesit sekali, didalam waktu yang singkat sekali mereka
telah berada dekat dengan tempat tersebut.

It Teng Taisu dan yang lainnya jadi terkejut, begitu juga
Oey Yong yang jadi mengerutkan alisnya. Mereka melihat,
bahwa orang2 yang tengah mendatangi itu bukanlah lawan
yang ringan.
Sambil tetap melancarkan serangan2 yang hebat kepada Yo
Ko, si Hitam telah mengeluarkan suara tertawa yang nyaring.
„Nanti kita dapat menentukan apakah jago jago dari Persia
yang lebih tinggi atau memang orang2 Tionggoan yang lebih
rendah," katanya kemudian.
Hek Pek Siangsat itu merupakan sepasang pendekar dari
Persia. Dinegerinya mereka merupakan jago nomor satu dan
selalu membawa sikap yang ugal2an.
Mereka memiliki latihan tenaga Yoga yang dicampur
dengan ilmu Barat, yang telah dilatihnya dengan sempurna
sekali. Keduanya memang memiliki adat yang aneh disamping
sikap mereka yang angin2an itu, keduanya tidak boleh
mendengar ada seseorang yang memiliki kepandaian yang
tinggi dan sempurna, sebab mereka pasti akan datang untuk
menguji kepandaiannya.
Dinegerinya mereka sudah tidak ada tandingannya dan
disegani oleh ahli2 silat disana ! Dan disaat seperti itulah,
mereka ternyata telah dimanfaatkan oleh pihak Mongolia,
dimana keduanya telah ditarik berdiri dipihak Mongol,
Kublai Khan memang terkenal sebagai pemimpin Mongolia
yang cerdik sekali.
Kecerdikan Kublai memang melebihi Mangu maupun
Jenghis Khan, kakeknya. Itulah sebab nya, pemimpin besar
Mongol tersebut berhasil menguasai jago2 dari Arab, Persia,
Nepal, India dan beberapa negara lainnya, yang semua
bekerja untuk kepentingannya.
Yo Ko yang penasaran dan dalam keadaan gusar, tahu2
telah menggerakkan tangan kirinya itu dengan gerakan

secepat kilat, dia telah menyentil dengan kuat
mempergunakan Tan Cie Sin Tong, dia menyerang jalan darah
Wie kian hiat nya si Hitam.
Tetapi si Hitam sama sekali tidak berkelit, dia membiarkan
serangan Yo Ko, hanya tangannya yang pendek itu telah
mengincer mata Yo Ko.
Keruan saja Yo Ko jadi kaget, dia kaget karena justru
lawannya tidak berusaha berkelit dari totokannya yang begitu
hebat:
“Tukkkk” terdengar suara yang nyaring, disusul oleh suara
„Bukkkkl" lalu tampak tumbuh Yo Ko terhuyung diiringi suara
tertawa si Hitam.
Ternyata waktu jari tangan kiri Yo Ku menyentuh tepat
jalan darah lawannya, serangan itu tidak memberikan hasil
sedikitpun juga, karena si Hitam pendek itu ternyata memiliki
ilmu kebal, yang tubuhnya tidak bisa dilukai sekalipun oleh
senjata tajam. Sedangkan Yo Ko yang terkejut menyaksikan
serangannya yang gagal, jadi lebih kaget lagi melihat
datangnya serangan si Hitam yang mengincar matanya.
Tentu saja dia jadi mengeluarkan seruan kaget dan cepat2
menggerakkan lengan baju kanan nya yang kosong itu, yang
dikibaskannya me-nyampok tangan si Hitam.
Namun tak urung panggungnya telah kena dihantam telak
oleh si Hitam sehingga tubuh Yo Ko jadi terhuyung.
Saat itu belasan sosok tubuh itu telah tiba ditempat
tersebut. It Teng Taisu dan yang lainnya segera dapat melihat
jelas, mereka tidak lain dari belasan orang pendeta Lhama
yang semua nya memiliki tubuh tegap dan tinggi besar
dengan muka yang garang.
Lhama itu yang memakai jubah merah merupakan
pendeta2 Budha yang berpusat di Lha-sa, dan mereka

merupakan penghuni dari Istana Potala yang dipimpin oleh
seorang Budha Hidup.
Umumnya pendeta2 Lhama dari Lhasa itu terkenal karena
memiliki ilmu yang tinggi dan sempurna serta aneh2
Seperti diketahui, bahwa Tat Mo Couwsu pendiri Siauw Lim
Sie dan pencipta dari Kiu lm Cin Keng dan Kiu Yang Cin Keng
berasal dari India, dan juga Ilmu itu telah diolah dari ilmu
yang berasal dari India, namun setelah tiba didaratan
Tionggoan, lewat ribuan tahun ilmu itu telah diolah dan
menjadi ilmu tenaga dalam yang tersendiri.
Tetapi di Lhasa, di mana pendeta Buddha dari istana Potala
itu, umumnya mempelajari ilmu silat yang sejati dari ilmu silat
India dan mereka umumnya mengkhususkan diri mempelajari
ilmu silat tanpa ingin mencampuri urusan duniawi, tidak
mengherankan jika pendeta2 Buddha di Lhasa itu memiliki
kepandaian yang sempurna sekali. Namun di sebab kan
mereka membatasi diri tidak ingin mencampuri urusan
duniawi, dengan sendirinya mereka menempuh kehidupan dan
penghidupan dengan cara2 seperti setengah dewa.
Inilah yang telah mengherankan It Teng Taisu dan yang
lainnya, karena melihat Lhama itu bisa muncul ditempat ini,
bahkan dalam jumlah yang demikian banyak.
Entah urusan hebat yang bagaimana akan terjadi nanti
sedangkan Oey Yong juga jadi mengerutkan alisnya dengan
berkuatir.
Jika dilihat yang muncul kini merupakan jago2 luar yang
memiliki kepandaian yang tinggi, tentu saja nanti masih ada
jago2 lainnya yang akan menyusul datang. Dan Oey Yong juga
menyadarinya ancaman yang ada itu tidaklah kecil. Nyonya
Kwee jadi berwaspada.
Jumlah Lhama yang datang itu lima belas orang, mereka
tiba untuk kemudian berdiri di dekat kuburan Auwyang Hong
dan Ang Cit Kong.

dengan berbaris rapi, mereka tidak mengeluarkan sepatah
perkataanpun juga.
„Bagus!" berseru si putih sambil melompat mundur
melepaskan jepitan tangannya di jenggot Ciu Pek Thong
Sedangkan si Hitam juga telah malah melompat berdiri
disamping si Putih, si Hitam tidak melayani Yo Ko lagi.
Ber kobar2 amarahnya Ciu Pek Thong dan Yo Ko tetapi
merekapun telah melihat hadir nya kelima belas pendeta
Lhama tersebut yang mereka lihat tidak berkepandaian
rendah.
It Teng Taisu telah merangkapkan tangannya tanyanya
dengan sabar : „Apa maksud kalian datang dinegerinya ini?"
Apakah kalian diutus oleh Buddha Hidup?" Kelima belas
Lhama itu tetap berdiam diri tidak memberikan jawaban atas
pertanyaan It Teng Taisu. Hanya si Putih yang telah
menyahuti dengan suara yang nyaring; „Apakah jika Buddha
Hidup yang perintah mereka datang itu, kalian akan
menjamu?" tegurnya.
Muka It Teng Taisu jadi muram, dia melihat kekurang
ajaran si Putih semakin men jadi2.
"Baiklah, kini jelaskan yang terang, apa sesungguhnya yang
kalian kehendaki?" katanya lagi sabar.
„Kami menghendaki batok kepala Ngo Ciat!" menyahuti si
Putih. „Tadi kami sudah menjelaskan, dan kami kira urusan
telah terang". "Siancai. siancai, sayangnya yang hadir hanya
Sie Ciat (empat jago), sayang seorang diantara Ngo Ciat
belum hadir..." kata It Teng Taisu sambil tetap
memperlihatkan sikap yang sabar.
Si Putih telah tertawa seperti suara menyalaknya serigala,
dia bilang; „Kini yang hadir disini Lam Ceng, Pak Hiap. See
Kong dan Tiong pin Tong Ciu Pek Thong! Dari Ngo Ciat yang
kurangnya itu pasti Tong Shia Oey Yok Su, bukan?"

„Benar!" mengangguk It Teng Taisu.
„Tidak lama lagi, pasti Tong Shia tiba disini." kata si Putih
sambil tetap tertawa. tidak sedap didengar.
Oey Yong dan lainnya setengah percaya setengah tidak.
Tong Shia telah hidup mengasing kan diri dipulau Tho Hoa To,
dan tidak ber maksud untuk meninggalkan pulau itu pula.
Tetapi merekapun berpikir, suatu kemungkinan juga bahwa
Oey Yok Su akan datang, karena seperti juga halnya mereka,
yang telah dipancing dengan sepucuk surat palsu ...!
Sebetulnya, dengan beradanya Ngo Ciat di Hoa San, mereka
tidak perlu takut terhadap siapapun juga. Namun kenyataan
yang ada, Siauw Liong Lie yang kepandaiannya tidak berada
disebelah bawah Yo Ko ternyata telah tertawan oleh Tiat To
Hoat ong itulah kenyataan yang terlampau pahit sekali.
„Apakah Tiat To Hoat-ong termasuk dalam rombongan
kalian?" tanya Yo Ko yang teringgat kepada pendeta Mongolia
yang telah menawan isteri dan Sin tiauwnya.
„Tidak salah! Hanya Hoat ong tengah memiliki urusannya
sendiri, maka untuk mengambil lima batok kepala Ngo Ciat
diserahkan kepada kami!" menyahuti si Putih dengan sikap
yang kurang ajar.
Habislah kesabaran Yo Ko, dengan mengeluarkan seruan
mengguntur, dia telah menjejak kan kakinya, tubuhnya telah
melompat dengan ringan, dan tangan kirinya melancarkan
serangan dengan mempergunakan jurus2 yang luar biasa
dahsyatnya. Salah satu jurus yang dipergunakannya adalah
Giok Lie Kun-hoat ( pukulan Bidadari ).
Seperti diketahui Giok Lie Kiam Hoat merupakan ilmu
pedang yang luar biasa, dan selama mengasingkan diri
dilembah Siauw Hong, Yo Ko maupun Siauw Liong Lie telah
menciptakan ilmu pukulan yang diberi nama Giok Lie Kun
Hoat, yang hebat luar biasa, Setiap kali melatih ilmu tersebut,

Yo Ko ditemani oleh Sin tiauw, burung rajawali yang memiliki
kekuatan luar biasa itu.
Serangan yang dilancarkan Yo Ko dahsyat sekali, hal ini
dapat dirasakan oleh si Putih.
Tetapi Pek-sat tersebut tidak takut, begitu juga sikapnya
tetap tenang, dia telah menyambuti serangan Yo Ko.
Sin Tiauw Taihiap telah mengerahkan enam bagian dari
tenaga dalamnya dan setiap seranngannya selain mengincar
bagian2 yang mematikan ditubuh lawan, juga angin
serangannya menderu keras.
Tetapi setiap Serangan itu berhasil dielakkan oleh si Putih,
bahkan berulang kali seruling pendek bercagak dua yang
tercekal ditangan nya si Putih itu ber gerak2 hebat sekali,
beberapa kali hampir menotok jalan darah penting di tubuh Yo
Ko.
Hek-sat, siiblis Hitam itu, telah mengeluarkan suara siulan
nyaring, kemudian dia berkata mengejek, “Hari ini kita akan
jadi jagal yang menerima upah mahal Hahahaha Ngo Ciat
yang di-bangga2kan itu ternyata hanya memiliki nama kosong.
Kwee Ceng yang memiliki sifat pendiam dan polos, sudah
tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Dengan mengatakan.
„Jaga serangan, Kwee Ceng telah melompat melancarkan
serangan ke arah si hitam.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya tenaga serangan yang
dilancarkan Kwee Ceng, karena sebagai pendekar yang
memiliki nama menggetarkan rimba persilatan dan juga dia
dalam keadaan gusar sekali, maka tenaga serangan yang dipergunakannya
sangat hebat.
Tenaga hantamannya itu terlalu hebat, sehingga si hitam
yang merasakan tenaga serang itu mendatangkan kesiuran
angin yang dahsyat sekali, dia tidak berani menyambuti,
dengan cepat dia berkelit kesamping.

Tetapi Kwee Ceng tidak mau melepaskan musuhnya itu,
dengan lincah sekali dia menyusuli serangan lainnya.
Beberapa kali si hitam mengelakkan serangan tersebut, dan
beruntun Kwee Ceng menyusuli dengan serangan2
berikutnya.
Dalam saat seperti itu, si Putih mengeluarkan teriakan
dengan perkataan yang asing sekali untuk Kwee Ceng, Yo Ko
dan yang lainnya.
Atas teriakannya itu, maka kelima belas Lhama yang sejak
tadi berdiam diri dengan berbaris itu, telah bergerak,
mengambil posisi dengan bentuk lingkaran mengurung Yo Ko,
Kwe Ceng, It Teng Taisu, Oey Yong dan Ciu Pek Thong.
Kelima jago luar biasa dari Tionggoan tersebut telah
dikepung rapat, dan Lhama itu telah maju per-lahan2 dengan
sikap mengancam.
Yo Ko dan yang lainnya berbareng telah mengeluarkan
suara teriakan yang mengguntur dan dengan cepat sekali
mereka juga bergerak untuk menghadapi kepungan itu.
Si Hitam dan si Putih juga telah ikut mengepung jago2 itu.
Mereka rupanya ingin mempergunakan jumlah banyak untuk
memperoleh kemenangan.
Yo Ko mempergunakan waktu disaat mereka belum
dikepung rapat, telah menggerakkan tangan kirinya dibantu
oleh kibasan lengan baju nya yang kosong itu. Berulang kali
dia telah menyerang kearah lawan2nya yang mendekat.
Tetapi kelima belas Lhama itu mengambil cara bertempur
yang aneh sekali, mereka hanya mengepung belaka dengan
rapat, tetapi mereka tidak membalas setiap serangan, yang
selalu hanya dikelit atau dielakkan.
Beberapa kali hantaman tangan kiri Yo Ko mengenai tubuh
beberapa orang Lhama itu, tetapi serangannya itu seperti

mengenai tubuh ber minyak, sehingga pukulan Yo Ko melejit
dan tidak memberikan hasil apa2.
Tentu saja Yo Ko jadi semakin penasaran dan dengan
mengeluarkan seruan yang nyaring, suatu kali Yo Ko telah
melompat ketengah udara, sambil melompat begitu,
tangannya diulurkan untuk menangkap lengan salah seorang
Lhama yang terdekat dengannya.
Namun Lhama itu berhasil berkelit dari cengkeramannya,
dan dia telah melompat mundur, sedang Lhama yang lainnya
tahu2 telah melancarkan serangan kearah punggung Yo Ko,
sehingga memaksa Yo Ko menarik pulang serangannya yang
sedang mendesak Lhama yang satu itu.
Keadaan seperti itu terjadi berulang kali.
It Teng Taisu yang diserang oleh beberapa orang lhama
juga telah mempergunakan It Yang Cie untuk menghadapinya,
dan walaupun ilmu itu hebat luar biasa tetap saja seperti tidak
memberikan hasil apa2, sehingga membuat It Teng Taisu jadi
kaget sekali, sebab Lhama2 itu seperti dapat bergerak secepat
angin dan tubuh mereka seperti kebal atas serangan apapun
juga.
Si Hitam dan si Putih telah berulang kali mengeluarkan
suara ejekannya. dan disaat itu beberapa kali mereka
mengeluarkan kata2 yang tidak dimengerti Oleh jago2
daratan Tionggoan itu,
Kelima belas Lhama itu setiap kali menyahuti dengan
perkataan yang sama seperti yan diucapkan oleh Hek Pek
Siangsat dan yang sangat mengherankan sekali justeru kelima
belas Lhama itu semakin lama melancarkan kepungan mereka
semakin hebat, dan merekapun mulai membalas menyerang.
Yo Ko dan yang lainnya jadi teikejut sekali, karena mereka
merasakan kelima belas Lhama itupun telah memiliki
kepandaian yang tidak rendah, di samping lwekang mereka
yang menakjubkan.

Suatu kali, disaat Yo Ko tengah mendesak seorang Lhama
yang berada terdekat dengannya, dengan mempergunakan
jurus "Mencengkeram Hati" tangan kirinya diulurkan akan
mencengkeram dada Lhama itu, disaat itulah dengan cepat
sekali dua orang Lhama telah menghantam kan telapak
tangannya tanpa menimbulkan suara kearah punggung Yo Ko.
Karena serangan itu datangnya dengan sangat tiba2 sekali,
juga serangan itu tidak menimbulkan suara angin serangan,
tahu2 bahu Yo Ko telah berhasil digempur hebat oleh tangan
kedua Lhama itu.
Yo Ko mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya ter-huyung2
seperti akan rubuh. Dan disaat tubuhnya terhuyung seperti itu
si Putih tampak melompat menubruknya melancarkan
serangan yang hebat sekali kearahr jalan darah dipinggang Yo
Ko.
Kuda2 kedua kaki Yo Ko saat itu tengah tergempur. dia
belum berhasil untuk berdiri tetap, dan membarengi dengan
keadaannya yang berbahaya, serangan si Putih telah
menyambar datang.
Yang diserang si Putih justru jalan dari Tiong-tie-hiat
dipinggang jalan yang merupaki jalan darah yang mematikan.
Yo Ko mengeluarkan seruan tertahan, dia mengibas dengan
lengan baju kanannya itu.
Namun tenaga serangan dari si Putih hebat luar biasa
walaupun lengan baju kanan Yo Ko berhasil melibatnya,
tangan si Putih terus juga meluncur, walaupun tenaga
serangannya jadi agak berkurang.
Tepat sekali jalan darah Tiong-tie-hiat di pinggang Yo Ko
kena dihantam, sehingga tubuh pendekar Rajawali Sakti itu
terhuyung dan kemudian rubuh ditanah. Namun Yo Ko cepat
sekali melompat berdiri.
Namun, It Teng Taisu dan yang lainnya jadi kaget sekali.

Belum pernah terjadi Yo Ko mengalami peristiwa seperti
itu, karena jago2 itu telah mengetahui betapa sempurnanya
kepandaian Yo ko.
Dengan berhasilnya si Putih menghantam tubuh Yo Ko,
walaupun Yo Ko akhirnya dengan cepat dapat berdiri pula
tentu saja hal itu telah memperlihatkan bahwa si Putih telah
memiliki, kepandaian yang sukar diukur tingginya.
Yo Ko berdiri dengan muka yang pucat ke hijau2an, dia
murka sekali.
Dengan tidak memperdulikan lagi suatu apa, dia telah
bergerak cepat sekali, Gerakannya seperti kilat, tahu2
tubuhnya telah menubruk si Putin, dan telapak tangan kiri Yo
Ko telah menghantam dengan tepat sekali dada si Putih.
Tadi waktu si Putih melihat Yo Ko berhasil dirubuhkan, dia
girang sekali, tetapi perasaan girangnya itu hanya sebentar,
karena tahu2 dia telah diserang dengan hebat oleh Yo Ko.
Mati2 an dia berusaha mengelak, namun gagal. Akhir nya dia
terpaksa menangkis.
Belum lagi tangkisannya itu dilancarkan, tahu2 tubuhnya
telah dipukul terpental oleh Yo Ko, dada si Putih berhasil
digempur oleh telapak tangan kiri Yo Ko.
Dengan mengeluarkan suara jeritan menyayatkan, tubuh si
Putih melayang ditengah udara ambruk ditanah dengan keras.
Beberapa orang Lhama berbareng telah melancarkan
serangan kepada Yo Ko, untuk mencegah Yo Ko melancarkan
serangan lebih jauh kepada si Putih.
Dengan adanya serangan2 dari beberapa orang Lhama itu,
telah membuat Yo Ko batal mendesak si Putih lebih jauh.
Sedangkan si Putih telah bangun berdiri dengan muka yang
pucat, tubuhnya masih ber-goyang2 seperti akan rubuh
kembali.

„Uaahh !" tahu2 si Putih telah memuntah kan darah segar,
mukanya semakin pucat.
Si Hitam yang melihat keadaan si Putih jadi kaget sekali.
Dia telah melompat kesamping si Putih. „Toako, kenapa
kau ?" tanyanya dengan mengandung kekuatiran yang sangat.
„Tidak apa apa......Cepat kau bantui mereka......" kata si
Putih. Yang dimaksudnya dengan perkataan 'mereka' oleh si
Putih, adalah ke lima belas Lhama itu.
Si Hitam bimbang sejenak, tetapi kemudian dia
mengangguk. Tangannya tahu2 telah merabah pinggangnya,
dan dia telah mengeluarkan sebatang pisau kecil, seperti
badik, kemudian dengan gerakan tubuh yang cepat sekali, dia
melompat masuk kedalam gelanggang lagi.
Sambil memutar badiknya itu, dia juga mengeluarkan
bentakan2 gusar dan nekad. Serangan badiknya itu dahsyat
luar biasa, dan juga serangan yang dilancarkannya itu
mengandung tenaga serangan yang mematikan.
Yang lebih luar biasa lagi justru badik itu merupakan
barang mustika yang tajam sekali.
Yo Ko melihat lawannya ini berlaku nekad seperti itu, dia
melayaninya dengan cepat., dua orang Lhama yang berada
didekatnya tahu2 telah ditendangnya, sehingga mereka ter
guling ditanah, kemudian dengan cepat sekali tangan kirinya
diulurkan mencengkeram jubah salah seorang Lhama yang
berada dikirinya, dan melemparkannya, sehingga Lhama itu
terbanting ditanah dengan keras.
Tanpa membuang waktu lagi, Yo Ko telah melompat kearah
si Hitam yang tengah melancarkan serangan badiknya kearah
It Teng Taisu.
Lam Ceng sesungguhnya tidak jeri menghadapi serangan2
seperti itu, tetapi dia selalu gagal menyerang Lhama lhama
yang memiliki ilmu yang aneh2 dan luar biasa, yang selalu

membuat serangannya tidak berhasil mengenai sasarannya
dengan tepat, karena selalu melejit.
Dan kini dia pun diserang hebat ber-tubi2 oleh si hitam,
yang mempergunakan badik mustika itu, yang dapat
memotong emas dan baja. Maka walaupun lwekang It Teng
Taisu telah sempurna dan dia tidak takuti lagi senjata tajam,
namun terhadap badik mustika yang tajam luar biasa itu tidak
bisa dipermainkannya. Dengan sendirinya, It Teng Taisu saat
itu agak terdesak oleh serangan badik tersebut.
Namun, untung saja saat itu Yo Ko telah menghantam telak
sekali punggung si Hitam, sehingga si Hitam yang tubuhnya
pendek itu bergulingan ditanah bagaikan sebuah bola dengan
mengeluarkan suara jeritan keras.
Yo Ko terus mengamuk dengan cepat. Serangan2 yang
dilancarkannya juga luar biasa.
Sedangkan Oey Yong telah turun tangan juga dia telah
memotes sebatang cabang pohon yang dipergunakan sebagai
pengganti tongkat Tauw-kauw-pang. Dia mempergunakan
ilmu tongkatnya Ang Cit Kong untuk melabrak Lhama
tersebut.
Kwee Ceng juga tengah melancarkan serangan ber tubi2
kepada lawannya.
Namun seperti halnya It Teng Taisu setiap serangannya
selalu jatuh ditempat kosong jika kepalan tangannya atau
totokannya yang mengandung tenaga serangan yang hebat
itu berhasil mengenai sasarannya, tetapi itupun telah gagal
kembali, disebabkan melejitnya kepalan tangan atau jari
tangannya ter sebut, karena tubuh lhama-lhama itu seperti
mengandung minyak dan licin sekali bagaikan tubuh belut.
Sebagai seorang yang pendiam, dan juga selalu rajin
melatih ilmu silatnya sehingga mencapai puncak
kesempurnaannya, seharusnya Kwee Ceng dapat menghadapi
lhama-lhama itu. Hanya saja, disebabkan dia telah menduga

bahwa lhama-lhama itu memiliki kepandaian yang luar biasa,
sehingga dia melancarkan serangan2nya dengan keras.
Sesungguhnya kepandaian kelima belas orang lhama itu
tidak berada di sebelah atas dari kelima jago Tionggoan itu,
merekapun belum memiliki lwekang yang sempurna, hanya
saja mereka memang meyakinkan semacam ilmu kebal, yang
berasal dari India, yaitu semacam ilmu yang mirip ilmu Yoga.
Maka dari itu, mereka selalu berhasil menghindar dari
serangan dahsyat lawannya.
Si Putih yang berdiri diam saja, merasakan dadanya sakit
dan napasnya sesak.
Waktu dia menarik napas dalam, dia merasakan diulu
hatinya seperti tertusuk jarum. Seketika itu juga dia menyadari
bahwa dirinya telah terluka.
Maka si Putih telah berpikir untuk meninggalkan tempat
tersebut.
„Menyingkir” tiba2 dia berteriak nyaring, disusul dengan
beberapa patah perkataan asing yang tidak dimengerti oleh
jago2 Tionggoan tersebut.
Dengan serentak kelima belas Lhama Itu telah melompat
mundur dalam bentuk barisan pula, begitu pula halnya dengan
si Hitam yang telah menggelinding meninggalkan gelanggang
pertempuran.
Ciu Pek Thong mana mau membiarkan lawan2nya itu
angkat kaki begitu saja.
Sejak tadi Ciu Pek Thong telah bertempur dengan hati yang
panas sekali.
Terlebih lagi setiap serangannya selalu melejit tidak
mengenai sasarannya, membuat dia jadi tambah penasaran.
Melihat lawannya itu melompat mundur, dengan cepat
sekali Ciu Pek Thong telah menghajarnya, sambil mengejar

diapun telah menggerak gerakkan kedua tangannya. Luar
biasa caranya itu, dari kedua telapak tangannya meluncur ke
luar angin serangan yang dahsyat sekali, dan dengan disusul
oleh dua kali suara „buk !" tampak dua sosok tubuh dari dua
orang Lhama itu telah bergulingan ditanah.
Tetapi kedua Lhama itu dengan cepat dapat bangkit berdiri
kembali. Disaat itu kelima belas orang Lhama itu telah
melompat lebih jauh pula dengan diikuti oleh si Hitam dan si
Putih.
Gerakan mereka cepat sekali, dalam waktu yang singkat
mereka telah melompat puluhan tombak.
Yo Ko den Ciu pek Thong bermaksud mengejar tetapi It
Teng Taisu telah meneriakinya „Biarkan mereka pergi !”
Saat itu, Ciu Pek Thong rupanya masih penasaran, dia
berjongkok mengambil sebutir batu, kemudian dia telah
menimpuk kuat sekali kearah salah seorang Lhama yang lari
paling belakang. Batu itu menyambar dan menghantam jitu
punggung Lhama itu, membuatnya terguling.
Tetapi Lhama itu bangkit dengan cepat sambil melarikan
diri menyusul kawan2nya.
Dalam waktu yang singkat, mereka telah turun gunung dan
tidak terlihat bayangannya lagi.
It Teng Taisu telah menghela napas dengan wajah yang
muram. Diapun telah berkata; „Lo lap tidak menyangka bahwa
telah berdatangan banyak sekali jago dari luar. jika dilihat demikian
badai dan topan akan melanda Tionggoan kembali... !"
„Tampaknya Kublai Khan memang bermaksud untuk
menerobos masuk kedaratan Tionggoan pula, kini dia telah
mengumpulkan demikian banyak jago2 dari berbagai bangsa,
tampaknya tidak mudah bagi kita untuk mengatasinya terlebih
lagi pembesar Song umumnya gentong nasi semuanya!"
berkata Oey Yong.

It Teng Taisu mengangguk, kemudian kata nya dengan
sabar. „Persoalan itu bisa kita bicarakan nanti, dan sekarang
yang terpenting kita harus mencari Yo Hujin! Pendeta
Mongolia itu harus kita tangkap dan membebaskan Yo Hujin
dari tangannya!"
Yo Ko juga teringat akan isteri dan Sin-tiauwnya,
mendengar perkataan It Teng Taisu, dia sangat berterima
kasih dan bersyukur.
Sedangkan jago2 yang lainnya telah menyetujuinya.
„Tunggu dulu.....!" kata Ciu Pek Thong tiba2, waktu It
Teng Taisu mengajak mereka berlalu. '
„Ada apa lagi, Loo Boan Tong?" tanya Oey Yong sambil
tertawa; karena nyonya Kwee tersebut teringat beberapa
pengalaman lucunya dengan kakek jenaka ini.
„Bukankah tadi „Sikapur Putih itu mengatakan bahwa Oey
Loshia akan datang kemari juga?" tanyanya.
JILID 8
SEMUANYA jadi tersadar dan menoleh kepada It Teng
untuk meminta pertimbangan pendeta yang bijaksana ini.
„Kita tinggalkan tanda saja" kata It Teng Taisu kemudian.
Begitulah, Oey Yong segera meninggalkan tanda serta
beberapa huruf dibatang pohon sehingga kelak jika Oey Yok
Su benar datang di-tempat tersebut, dia akan mengetahui
dimana mereka ini berada.
Kelima orang gagah tersebut telah turun dari Hoa-san,
mereka selain bermaksud mencari Tiat To Hoat-ong untuk
membebaskan Siauw Liong Lie dan Sintiauw, juga mereka

ingin menyelidiki siapa yang telah membongkar kuburan
Auwyang Hong dan Ang Cit Kong.
Dugaan mereka jatuh kepada Hek Pek Siangsat, karena
kedua iblis dari Persia itu tampaknya tidak berkepandaian
lemah. Tetapi nyatanya kedua iblis dari Persia itu tidak me
nyinggung2 persoalan kuburan itu......!
Yo Ko berlima dengan It Teng Taisu, Ciu Pek Thong, Oey
Yong dan Kwee Ceng telah mengelilingi sekitar daerah
Hoasan, kemudian mengambil jalan kearah Utara, tetapi jejak
Tiat To Hoat ong tetap saja tidak berhasil dijumpai mereka......
Kerena dugaan mereka, bahwa Tiat To Hoat-ong pasti
bersembunyi disuatu tempat karena pendeta Mongolia itu
tidak mungkin pulang ke Mongolia. Kedatangan Tiat To Hoatong
ke Tiong-goan jelas untuk menyelesaikan suatu urusan,
menjalankan perintah Kublai Khan. Itulah sebab nya Yo Ko
dan kawan2nya tidak berpikir untuk menyusul sipendeta ke
Mongolia, hanya berusaha untuk menyelidiki jejak sipendeta
didaratan Tionggoan.. .........
Tetapi diluar tahu dari Yo Ko dan kawan2 nya itu, justeru
Tiat To Hoat-ong telah mengambil jalan kejurusan Gan bun
kwan tembok besar didaerah perbatasan.
pendeta itu sengaja menyingkir ketapal batas untuk
menghindarkan diri dari kejaran It Teng Taisu dan Yo Ko,
Tiat To Hoat-ong telah merasakan betapa tangguhnya Yo
Ko dan It Teng Taisu. Maka dari itu, walaupun bagaimana
tidak mau dia ber keliaran disekitar Hoa San. juga dia tidak
mau sementara waktu itu memperlihatkan diri, karena dari
Kublai Khan justeru sipendeta telah menerima perintah rahasia
yang sangat penting sekali.
Ketika tiba dikakl gunung Kun Lun, Tiat To Hoat-ong
beristirahat sejenak,

Walaupun dia tetap membawa Siauw Liong Lie dan
Sintiauw sebagai tawanannya, tetapi dia dapat bergerak
leluasa. Disekitar tempat dimana dia berada sepi sekali, tidak
terlihat seorang manusiapun juga.
Disaat itupun Tiat To Hoat ong memang sengaja memilih
jalan yang sepi dan mengambil jalan dihutan, sehingga kecil
kemungkinan dia akan bertemu dengan manusia lainnya.
Untuk mencegah Siauw Liong Lie memperoleh
kesadarannya kembali, yang nanti bisa merepotkan dia karena
wanita ini hebat sekali ke pandaiannya, maka telah beberapa
kali Tiat To Hoat-ong menyemprotkan tabung gasnya,
sehingga sinyonya Yo ini tetap berada dalam keadaan tidur.
Dan begitu pula terhadap Sintiauw yang selalu disemprot
dengan tabung gasnya itu.
Gas dalam tabung itu adalah semacam gas yang bisa
menyebabkan orang tertidur nyenyak. Dan Tiat To Hoat ong
memperolehnya dari Kublai-Khan, yang memang sengaja
menghadiahkan kepada sipendeta karena Kublai Khan yang
cerdik itu mengetahui besarnya faedah tabung gas tersebut
untuk Tiat To Hoat-ong dalam menghadapi jago2 daratan
Tionggoan yang umumnya memiliki kepandaian yang
sempurna.
Kublai Khan memperoleh tabung gas itu dari seorang jago
Eropa, seperti diketahui kakek Kublai Khan, yaitu Temuchin
(Jenghis Khan) telah menyebarkan kekuasaannya jauh sampai
kedaratan Eropa, dan telah memiliki beberapa orang pengawal
orang Eropa, yang menjadi jago2 andalannya. Maka tidak
mengherankan jika Kublai Khan memiliki tabung yang hebat
seperti itu.
Karena telah mengetahui dan menyaksikan kematian Kim
Lun Hoat Ong yang akhirnya tertambus dalam kobaran api,
maka Kublai Khan yakin, jika Tiat To Hoat-ong hanya
mengandalkan kepandaian silatnya saja untuk menghadapi

jago2 daratan Tionggoan, niscaya Tiat To Hoat ong akan
menghadapi bahaya yang tidak kecil.
Dengan memiliki tabung gas hebat itu, tentu saja Tiat To
Hoat-Ong telah berhasil mengecap hasilnya, seperti halnya
Siauw Liong Lie dan Sintiauw yang telah berhasil ditangkapnya
itu...
Setelah melakukan perjalanan selama bebarapa hari. dan
juga selalu melakukan perjalanan dimalam hari, Tiat To Hoatong
menjadi letih sekali.
Tetapi kini dengan beradanya dia dikaki gunung Kun Lun
itu, berarti dia bisa mengasoh dengan tenang. Tidak
mungkin It Teng Taisu dan yang lainnya akan menyusul
ketempat tersebut.
Kun Lun merupakan gunung yang cukup tinggi, yang
terletak diperbatasan.
Dan juga Kun Lun merupakan gunung yang memiliki
banyak sekali lembah dan jurang yang dalam, tempat2nya
yang masih liar belum pernah dikunjungi orang.
Walaupun digunung Kun Lun tersebut terdapat sebuah
perguruan yang bernama Kun Lun San dan juga memiliki
murid yang cukup banyak, namun kenyataannya ilmu pedang
Kun Lun Pai tersebut masih kalah terkenal dengan Ngo Cin
Kauw.
Setelah meletakkan Siauw Liong Lie dan Sintiauw, dibawah
sebatang pohon, Tiat To Hoat ong kembali menyemprotkan
gas dari tabungnya kepada Siauw Liong Lie dan Sintiauw,
kemudian dengan hati lapang dia telah merebahkan tubuhnya
ditumpukan rumput, untuk beristirahat.
Siuran angin yang sejuk, akhirnya telah membuat Tiat To
Hoat-ong, tertidur nyenyak.
Siauw Liong Lie yang menggeletak dibawah batang pohon
itu sesungguhnya sudah tidak dalam keadaan tertidur. Karena

diluar tahunya Tiat To Hoat-ong, sejak kemarin siang dia telah
tersadar dari pengaruh gas tersebut, namun Siauw Liong Lie
pura2 tetap tertidur. Waktu si pendeta Mongolia ingin
menyemprotkan gas tabungnya sebelum dia tertidur nyenyak,
Siauw Liong Lie menahan napasnya, mengerahkan
lwekangnya, Sehingga gas tidurnya itu sama sekali sudah
tidak mempengaruhinya lagi.
Kini dia tertawan oleh Tiat To Hoat-ong hal itu bukan
disebabkan karena dia kalah ilmu dengan sipendeta, tetapi
hanya disebabkan sipendeta telah melakukan perbuatan
rendah dengan mengandalkan pengaruh gas tabungnya itu.
Maka kini, setelah dia tersadar dan terlepas dari pengaruh
gas tersebut, Siauw Liong Lie tetap rebah tanpa bergeming,
matanya tetap dipicingkan.
Dan diam2 diapun telah mengintai, melihat Tiat To Hoatong
telah tertidur nyenyak.
Walaupun mengetahui sipendeta telah tertidur, Siauw Liong
Lie tidak berani melakukan gerakan yang ceroboh. Sedikit saja
ada suara berkeresek, tentu bisa membangunkan si pendeta
dari tidurnya.
Diam2 Siauw Liong Lie mengempos semangatnya, dia
mengerahkan tenaga dalamnya dikedua tangannya, kemudian
dengan memusatkan seluruh tenaga dalamnya, dia
menghentak perlahan, maka putuslah tali yang mengikat
tangan nya. Tetapi Siauw Liong Lie belum berani bergerak dari
tempatnya, dia diam sejenak memperhatikan sipendeta.
Tiat To Hoat-ong tetap tertidur nyenyak maka legalah hati
Siauw Liong Lie.
Per-lahan2 Siauw Liong Lie membuka ikatan tali dikakinya.
Setelah itu nyonya Yo menotok beberapa jalan darahnya,
untuk melancarkan peredaran darahnya.

Dengan hati2 sekali Siauw Liong Lie telah berdiri, lalu
menghampiri Sin Tiauw.
Dibukanya ikatan burung itu rajawali sakti tersebut. Tetapi
celakanya, karena walaupun bagaimana cerdiknya, Sintiauw
tetap saja seekor burung, dia tetap saja berada dalam
pengaruh obat tidur dari gas tabung Tiat To Hoat-ong. Tadi
sebelum tidur sipendeta telah menyemprot kan lagi gas
tabungnya itu sehingga Sin Tiauw masih akan tidur nyenyak
selama satu hari satu malam.
Setelah membuka ikatan tali dikedua kaki Sin Tiauw, ikatan
dikedua sayap burung itu dan membuka juga ikatan diparuh
burung tersebut, maka Siauw Liong Lie menghampiri Tiat To
Hoat ong, karena dia bermaksud untuk menotok sipendeta
Mongolia tersebut.
Pengalaman dia sebagai tawanan sipenrteia telah membuat
nyonya Yo jadi gusar sekali bercampur malu, maka kini dia
ingin menghajar pendeta itu.
Dengan hati2 dan perlahan2 Siauw Liong Lie melangkah
mendekati Tiat To Hoat ong.
Tetapi disaaat jarak mereka terpisah tiga tombak lebih,
sipendeta telah menggeliat.
Siauw Liong Lie menghentikan langkah kakinya, dia telah
memperhatikannya. Tetapi sipendeta tidak bangun dari
tidurnya-
Dengan lebih hati2 lagi, Siauw Liong Lie menghampiri lebih
dekat.
Tetapi, disaat nyonya Yo sudah mendekati kurang lebih
satu tombak dan kemudian menggerakan tangan kanannya
siap. untuk menotok jalan darah Tai-hiat-hiat sipendeta itu
dari ke jauhan terdengar suara lengkingan nyaring sekali,
suara itu yang seperti suara erangan binatang buas.

Karena suara lengkingan nyaring itu. yang seperti suara
erangan binatang buas bercampur dengan suara pekik dari
seseorang yang suaranya parau. Tiat To Hoat-ong terbangun
dari tidurnya dengan terkejut.
Dia cepat2 melompat berdiri sambil menggosok matanya.
Yang lebih mengejutkan lagi, dia merasakan sambaran angin
serangan yang dingin sekali kearah ulu hatinya.
Sipendeta telah mengempos semangatnya ke dadanya itu,
yaitu kebagian yang akan terserang. Totokan yang dilancarkan
oleh Siauw Liong Lie jadi melejit.
Dan sipendeta telah membuka matanya, dia jadi tambah
kaget dan heran, karena dihadapan nya berdiri Siauw Liong
Lie.
„Kau---?" sipendeta seperti tidak percaya akan pandangan
matanya,
Siauw Liong Lie tertawa dingin.
„Manusia rendah !" katanya dengan tawar. „Dengan
mempergunakan akal busuk kau bisa memperoleh
kemenangan ! Tetapi hari ini nyonya besarmu tidak akan
melepaskan kau begitu saja!".
Tiat To Hoat-ong telah mengawasi sekelilingnya, dia tidak
melihat siapapun juga selain sinyonya Yo. Hanya samar2 dia
masih mendengar suara lengkingan itu, suara lengkingan yang
aneh.
„Aha" tertawa sipendeta. „Ternyata kau telah berhasil
membebaskan diri dari pengaruh gas tabungku! Baik, baik !
Mari kita bertempur lagi !".
Sambil berkata begitu, sipendeta telah membarengi dengan
mengibaskan lengan jubahnya yang besar itu. Serangkum
angin serangan yang keras luar biasa menerjang kearah Siauw
Liong Lie, Siauw Liong Lie tidak takut, dia telah menyambuti
serangan itu dengan tangkisan tangannya, diapun telah

mengerahkan lwekangnya, maka tenaga serangan si Pendeta
seperti menghantam tumpukan kapas. Tenaga menyerangnya
itu telah lenyap.
Siauw Liong Lie bukan hanya menangkis, karena dengan
cepat sekali dia mengeluarkan suara seruan yang nyaring dan
kemudian melancar kan pukulan pula dengan tangan kirinya,
dengan mempergunakan jurus serangan "Seribu Bunga",
hebat bukan main cara menyerangnya.
Tiat To Hoat-ong mengerutkan alisnya.
Pendeta ini menyadari bahwa nyonya Yo memiliki
kepandaian yang hebat, dan tidak berada disebelah bawah
kepandaiannya sendiri.
Karena itu Tiat To Hoat-ong tidak ingin bertempur lama2,
karena diapun teringat akan suara lengkingan aneh yang telah
didengarnya tadi,
Sipendeta curiga kalau2 suara lengkingan aneh itu adalah
suara dari orang2 yang menjadi sahabatnya si nyonya liehay
ini, jelas kalau memang dugaannya itu benar, sipendeta akan
menghadapi kesulitan yang tidak kecil.
Dengan cepat dia merogoh sakunya untuk mengeluarkan
tabung gasnya.
Namun kali ini Siauw Liong Lie yang telah mengetahui
bahayanya tabung gas sipendeta, dengan cepat sekali
mendesak sipendeta dengan keras dan gencar sekali,
membuat pendeta itu tidak berhasil untuk merogoh sakunya,
karena dia sibuk sekali harus menangkis dan juga
mengelakkan serangan Yo Hujin.
Sedangkan Siauw Liong Lie sambil melancarkan serangan
ber-tubi2 dengan tipu2nya yang liehay sekali, diapun telah
memutar otak untuk mencari jalan guna merubuhkan pendeta
tersebut.

Disaat itulah, dia telah teringat sesuatu maka sengaja
Siauw Liong Lie berteriak : „Kojie, Ciu Toako, lekas kalian
datang kemari !".
Suara Siauw Liong Lie terdengar nyaring dan menggema,
karena dia ber-kata2 dengan suara yang disertai tenaga
lweekangnya.
Semangat Tiat To Hoat-ong terasa terbang meninggalkan
raganya.
Dia mengetahui bahwa yang disebut Kojie itu pasti Yo Ko.
suaminya sinyonya. Dan juga yang dipanggil Ciu Toako,
tentunya Ciu Pek Thong.
Kedua orang itu hebat dan liehay sekali, jika mereka datang
dan bertiga dengan sinyonya! melancarkan serangan
kepadanya, bukankah si-pendeta akan menghadapi bahaya
besar ?
Yang membuat sipendeta jadi kaget dan mempercayai
teriakan Yo Hujin ini karena di saat itu dari tempat yang jauh
kembali terdengar suara lengkingan yang aneh itu lagi.
Maka tanpa berpikir dua kali lagi, Tiat To Hoat ong telah
merangsek melancarkan serangan yang hebat luar biasa
kepada Siauw Liong-Lie, dia sekaligus telah melancarkan tiga
serangan yang saling rangkai merangkai.
Siauw Liong Lie merasakan menyambar-angin yang luar
biasa kuatnya, sehingga nyonya Yo ini jadi kaget sekali, dia
melompat mundur"
dengan sikap agak tergesa. Karena gerakannya itu,
kedudukan perutnya jadi berobah, membuat kandungannya
tergoncang.
Seketika Siauw Liong Lie merasakan perut nya menjadi
sakit karena bayi didalam perutnya bergerak, dan juga disaat
itu pinggangnya dirasakan sakit sekali, menyebabkan Siauw

Liong Lie jadi mengeluh sendirinya dan tubuhnya ter-huyung2
seperti mau jatuh.
Tiat To Hoat-ong melihat keadaan sinyonya dia menjadi
kesenangan.
Cepat2 dia melompat untuk menangkapnya. Tetapi disaat
tubuhnya baru bergerak, disaat itulah dia telah mendengar
suara lengkingan yang aneh, yang terdengarnya nyaring
sekali, menunjukkan bahwa orang yang mengeluarkan suara
lengkingan aneh itu telah berada ditempat tersebut.
Karena sejak semula Tiat To Hoat-ong menduga bahwa
orang yang mengeluarkan suara lengkingan itu adalah Yo Ko
dan Ciu Pek Thong, hal ini telah membuat sipendeta telah
merasa ngeri sendirinya.
Tidak sempat dia berpikir untuk mempergunakan tabung
gasnya, dia telah melompat dan menggerakan tangan
kanannya menghantam Siauw Liong Lie dengan pukulan yang
kuat sekali.
Tanpa ampun lagi tubuh Siauw Liong Lie telah terpental
tiga tombak lebih,, ambruk diatas tanah dengan mengeluarkan
suara rintihan dan dia telah tidak sadarkan diri.
Sedangkan Tiat To Hoat-ong setelah berhasil dengan
pukulannya tersebut, telah cepat2 menjejakkan kakinya,
tubuhnya telah melompat dan telah meninggalkan tempat
tersebut.
Gerakan yang dilakukannya itu sangat gesit sekali, dalam
sekejap mata saja dia telah lenyap dari pandangan mata.
Suara lengkingan aneh itu terdengar semakin dekat,
kemudian dari balik gerombolan pohon muncul yang
melompat keluar, ternyata sosok tubuh itu adalah seekor
macan tutul.
Menyusul dengan melompatnya macan tutul itu, tampak
sesosok tubuh lainnya, yang tinggi besar itu, adalah tubuh

seorang manusia, yang berpakaian compang camping.
Mukanya dipenuhi oleh jenggot dan kumis yang panjang, serta
rambutnya juga terurai dibahunya. Matanya bersinar tajam
mengawasi kearah Siauw Liong Lie yang rebah diam tidak
bergerak. Sedangkan macan tutul itu telah melangkah
mendekati Siauw Liong Lie, mencium dan menjilati dengan
mempergunakan lidahnya yang panjang.
Dia mengeluarkan suara erangan perlahan, sedangkan
manusia bertubuh tinggi besar, yang tampaknya berpotongan
seperti manusia hutan itu, telah mengeluarkan suara
lengkingan yang nyaring.
Suara lengkingan yang nyaring dan parau itulah yang tadi
telah didengar Siauw Liong Lie maupun sipendeta Tiat To Hoat
ong.....
Dengan langkah satu2 manusia bertubuh tinggi besar yang
keadaannya luar biasa itu telah mendekati Siauw Liong Lie dia
memeriksa ke adaan sinyonya.
Tiba2 wajahnya jadi berobah waktu dia memperoleh
kenyataan sinyonya terluka hebat akibat pukulan dahsyat Tiat
To Hoat-ong, dan juga yang lebih mengejutkan justru Siauw
Liong Lie dilihatnya tengah dalam keadaan mengandung.
Dengan tangan kanan di gerak2kan, manusia bertubuh
tinggi besar itu telah memberi isyarat kepada macan tutulnya.
Sedangkan manusia bertubuh tinggi besar yang aneh itu
telah mendekati burung Sintiauw, dia mengangkatnya.
Dengan beberapa kali lompatan, orang itu telah membawa
pergi Sintiauw.
Sedangkan simacan tutul seperti juga mengerti maksud
isyarat dari manusia bertubuh tinggi besar itu, dia telah
menggigit baju Siauw Liong Lie, lalu dengan lompatan yang
lincah macan tutul itu telah ber-lari2 mengambil arah dimana

tadi manusia aneh itu menghilang. Keadaan ditempat tersebut
telah sunyi kembali !
TIAT TO HOAT ONG ber-lari2 dengan cepat sekali dalam
waktu singkat dia telah berlari belasan lie. Tetapi setelah
berlari sejenak lagi akhirnya otaknya bekerja dengan cermat,
pulih kembali ketelitiannya.
„Tidak mungkin suaminya berhasil mengikuti jejakku
sampai ditempat ini !' berpikir sipendeta yang cerdik itu. „Dan
juga......suara lengkingan aneh yang parau itu, yang seperti
suara erangan binatang buas, juga jelas bukan suara
suaminya . . . ! Akhh, mengapa aku jadi demikian pengecut
sehingga bisa diperdayakan-nya ? Jika suaminya itu datang,
belum tentu aku bisa dirubuhkan oleh mereka .... i"
Karena berpikir begitu, kembalilah keangkuhannya, dan dia
telah berhenti berlari.
„Dia juga telah berhasil kuhantam dengan pukulan Tok-kun
(pukulan beracun), jelas dia sudah tidak akan berdaya, apa
lagi dia tengah dalam keadaan hamil ? Mengapa aku harus
jeri?"
Maka Tiat To Hoat ong telah memutar tubuhnya lagi.
Dia telah ber-lari2 ketempat dimana tadi dia telah
meninggalkan Siauw Liong Lie dan Sintiauw.
Tetapi ketika sipendeta tiba ditempat itu, dia jadi berdiri
tertegun.
Karena ditempat itu dia sudah tidak melihat Siauw Liong Lie
maupun Sintiauw lagi.
Hanya samar2 dia masih mendengar suara pekik dan
lengking yang nyaring dikejauhan...
Dengan penasaran Tiat To Hoat ong telah men-cari2nya
disekitar tempat itu, dia berusaha untuk mencari Siauw Liong
Lie dan Sintiauw.

Tetapi tetap saja Tiat To Hoat-ong tidak berhasil menemui
nyonya Yo itu maupun Sin tiauwnya yang sakti, yang tengah
dipengaruhi obat tidurnya itu.
Karena Tiat To Hoat-ong mengetahui Siauw Liong Lie telah
berhasil dilukainya dengan serangannya yang hebat, jelas
nyonya itu tidak bisa melarikan diri dari tempat tersebut. Biar
bagaimana sempurna dan tingginya tenaga dalam si nyonya
Yo, dengan keadaannya yang tengah hamil dan terluka seperti
itu, tentu saja dia tidak bisa melarikan diri jauh2.
Dan dia telah melihat, betapa disekitar tempat itu tidak ada
tanda2 jejak lainnya dia telah berusaha memutari sekitar
tempat tersebut.
Tetapi usaha Tiat To Hoat ong gagal dan nihil, setelah
lewat sesaat lagi, dia jadi mendongkol sekali.
Dengan sangat penasaran, dia masih berusaha untuk
mencarinya. Dan tetap saja usahanya itu tidak berhasil. Lama
sipendeta Mongolia itu men-cari2 kesana kemari, akhirnya
dengan jengkel dia meninggalkan, kaki gunung Kun Lun San
dengan hati kecewa.
Semula dengan tertawannya Siauw Liong lie, tentu saja dia
telah memiliki jaminan yang kuat untuk menundukkan jago2
daratan Tionggoan. Yang sudah pasti, dia jelas akan dapat
menekan Yo Ko dan mencelakai pendekar sakti berlengan
tunggal itu. Seperti perintah yang diterimanya dari Kublai
Khan yaitu menghendaki agar Tiat To Hoat-ong membasmi
habis semua jago2 Tionggoan seperti Kwee Ceng, Oey Yong,
Oey Yok Su, It Teng Taisu, Ciu Pek Thong dan yang lain2nya.
Yang dipentingkan oleh Kublai Khan adalah Ngo Ciat,
kelima jago luar biasa yang diketahui oleh Kaisar Mongol
pengganti Kaisar Mangu itu, bahwa Ngo Ciat membantu pihak
pemerintah Song memukul mundur pasukan perang Mongolia.
Dengan rencananya itu. Kublai Khan ber maksud untuk
membasmi habis dulu jago2 Tionggoan yang memiliki

kepandaian tinggi, agar kelak jika dia menerobos kedalam
daratan Tionggoan pula dengan mudah ia akan dapat
menghancurkan pertahanan pemerintah Song, karena Kaisar
Mongol ini menyadarinya, jika saja pemerintah Song tidak
dibantu dengan orang gagah rimba persilatan, jelas kerajaan
Song itu tidak ada artinya lagi.
Kublai Khan juga menyadari bahwa pembesar kerajaan
Song itu sangat lemah dan tidak memiliki kesanggupan
mengurus negara. Jika orang2 gagah didaratan Tionggoan itu
berhasil dibereskan jelas urusan menundukan kerajaan Song
dan merampas daratan Tionggoan dapat dilakukannya dengan
mudah.
Kepada Tiat To Hoat-ong. Kublai-Khan telah memberikan
perintah agar pendeta tersebut berusaha dengan berbagai
jalan dan tipu apa saja, asalkan dapat membinasakan jago2
daratan Tionggoan.
Jika perlu, Tiat To Hoat-ong harus menghimpun jago2
daratan Tionggoan itu, memecah belahkannya, dan juga jika
perlu menawarkan harta dan pangkat, agar mereka tunduk
dan menghamba kepada kerajaan Mongolia,
Dengan perintah rahasianya itu, maka Tiat To Hoat-ong
sesungguhnya telah menerima ke kuasaan yang tidak kecil.
Disamping dirinya, Khan yang agung itu telah menyertakan
beberapa orang jago luar biasa dari negaranya, agar
membantu Tiat To Hoat-ong.
Sejak kekalahan yang dialami oleh pasukan perang
Mongolia dikota Siangyang, yang memaksa pasukan itu
mundur ke Utara atas kematian Kaisar mereka, yaitu Mangu,
maka Kublai Khan yang menggantikan kakaknya duduk
sebagai Khan yang agung, telah berusaha untuk mencari
jalan, agar kelak dapat merampas daratan Tionggoan.
Namun disebabkan Kublai Khan memang jauh lebih cerdas
dari kakaknya. disamping itu juga Kublai Khan memiliki

perhitungan yang tajam, sengaja dia telah mengirimkan
utusan2 keberbagai negara, antara lain Nepal, India. Persia,
Turkhestan dan beberapa negara lainnya untuk mengundang
jago2nya yang memiliki kepandaian tinggi, dengan
pembayaran yang tinggi, disamping pemberian pangkat dan
harta yang luar biasa banyaknya.
Tidaklah mengherankan jika banyak jago2 dari negara
asing yang ter-duyun2 datang ingin menghamba kepada
Kublai Khan. Umumnya mereka merupakan jago2 yang luar
biasa dinegernya, dan mereka merupakan manusia2 yang
tamak dan kemaruk akan harta dan kedudukan yang tinggi.
Sehingga Kublai Khan bisa memanfaatkan sifat2 mereka
itu, telah berhasil mengendalikan dan menguasai mereka
dengan baik.
Dengan bekerja secara cerdik, Kublai Khan dengan
bertahap telah mengirim jago2 sewaan tersebut ke daratan
Tionggoan, karena dia bermaksud untuk menghancurkan
jago2 Tionggoan agar kelak jika dia menerobos kedaratan
Tionggoan, dia bisa merampas dan merubuhkan kerajaan
Song tanpa rintangan pula. maka secara bergilir jago2 itu
telah diutus kedaratan Tionggoan, termasuk Tiat To Hoat-
Ong...
Maka ketika Tiat To Hoat-ong berhasil menawan Siauw
Liong Lie, tentu saja dia girang sekali karena dia mengetahui
bahwa Siauw Liong Lie merupakan salah seorang pendekar
wanita yang diincar Kublai Khan.
Maka dari itu dia mati2an bertahan agar dapat menguasai
Siauw Liong Lie.
Dan sekarang tawanannya itu telah lenyap, telah terlepas
dari tangannya, bisalah dibayangkan kekecewaan dihati Tiat
To Hoat-ong.

Dengan penasaran dia telah mencari Siauw Liong Lie dan
Sintiauw disekitar tempat itu, tetapi usahanya itu tetap sia2
saja.
Bahkan, suara lengkingan yang tadi masih sering
didengarnya, kini sudah tidak terdengar lagi, keadaan
disekitarnya telah sunyi sekali.
Dengan murka Tiat To Hoat-ong akhirnya menghantam
sebuah batu gunung sebesar pelukan tangan, sampai batu itu
gompal dan sebagian menjadi hancur merupakan bubuk2
halus karena dia kecewa dan marah sekali, maka pukulan itu
disertai oleh tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya......!
KETIKA Siauw Liong Lie tersadar dari pingsannya, per
tama2 yang dirasakannya adalah perutnya yang sakit luar
biasa.
Walaupun kesadaran dirinya belum pulih keseluruhannya
dan matanya masih terpejam, namun Siauw Siong Lie telah
mengeluarkan rintihan.
Perasaan sakitnya itu dirasakan bukannya semakin
berkurang, bahkan telah semakin menjadi hebat sekali,
sehingga Siauw Liong Lie tidak hentinya telah mengeluarkan
suara rintihan karena perasaan sakitnya itu tidak dapat
ditahannya lagi. Anak didalam kandungannya itu seperti me
ronta2 dan me nendang2 ingin keluar,
Sesungguhnya Siauw Liong Lie telah pingsan selama empat
hari lima malam, tetapi disaat dia tersadar dan merasakan
perutnya sakit sekali, dia telah pingsan tidak sadarkan diri lagi
dengan keringat yang mengucur deras dikening nya.
Sebelum lenyap kesadarannya, Siauw Liong Lie masih
merasakan seperti ada jari2 tangan yang mengusap
keningnya, mengusap keringatnya.
Tetapi selanjutnya Siauw Liong Lie sudah tidak mengetahui
apa2, kesadarannya telah lenyap, pandangan matanya

gelap dan pikirannya seperti menerawang . . . dia telah
pingsan lagi....
Entah sudah berapa lama dia dalam keadaan pingsan
seperti itu, akhirnya Siauw Liong Lie telah tersadar kembali..
Perasaan sakit diperutnya tidak sehebat seperti tadi walaupun
perasaan sakit itu belum juga lenyap. Per-lahan2 Siauw Liong
Lie membuka matanya, dan dia hanya bisa melihat bayangan
yang samar2, sebab seluruh pandangan matanya kabur dan
seperti terhalang oleh kabut.
„Akhh, dia telah sada . . !” terdengar suara seorang yang
mengeluh.
Dari nada suaranya, tampaknya orang itu bersyukur sekali
bercampur girang,
Tetapi Siauw Liong Lie sama sekali tidak berhasil melihat
keadaan disekelilingnya.
Nyonya Yo telah memejamkan matanya lagi rapat2,
berselang sesaat lamanya, dia baru membuka matanya itu dan
dia telah dapat melihat lebih jelas.
Dirinya ternyata berada disebuah pembaringan, yang
terbuat dari kayu kasar dan ditumpuki rumput2 kering.
Dia berada disebuah ruangan rumah yang sederhana
sekali, yang terbuat dari kayu2 kasar dimuka sebuah goa batu
yang banyak dikelilingi, oleh batu2 gunung yang tinggi.
Disamping dirinya berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi besar
yang bermuka kasar dengan jenggot, kumis dan rambut yang
terurai panjang.
Siauw Liong Lie Tidak mengenal orang itu, yang tengah
mengawasi kearahnya dengan muka yang kaku. Suara yarg
didengarnya tadi diucapkan oleh orang tersebut, sebagai
orang yang berperasaan halus, Siauw Liong Lie segera
mengetahui bahwa orang tersebut walaupun wajahnya kasar
menyeramkan, namun hatinya tentu baik dan welas asih,

karena dari nada suaranya, yang tadi didengarnya,
mengandung perasaan syukur dan girang atas kesadaran diri
nyonya Yo tersebut.
Sepasang alis Siauw Liong Lie tampak mengerut saling
menyentuh ujungnya.
Dia merasakan perutnya kembali sakit luar biasa.
„Kau jangan banyak bergerak dulu ... harus diam . . .
lukamu parah . . . harus sayang diri . . . " kata orang
berjenggot dan berkumis panjang itu dengan suara yang
tergagap, kasar sekali suaranya, namun halus nadanya, hal itu
memperlihatkan bahwa dia sama sekali tidak bermaksud buruk
kepada Siauw Liong Lie.
“Si... . siapa kau ? Engkaukah yang telah menolong aku ?”
tanya Siauw Liong Lie sambil menahan perasaan sakit
diperutnya.
„Benar . . “ jawab orang itu “Kau panggil saja aku Lo Him !"
Siauw Liong Lie jadi heran. „Lo Him ?" tanyanya. “Ya,
apakah aneh ?"
Lo Him berarti si Biruang Tua. Aneh sekali namanya orang
tersebut.
Tetapi karena orang itu telah menyelamatkan diri dan
jiwanya, maka Siauw Liong Lie juga tidak mau terlalu banyak
bertanya, takut menyinggung perasaan orang yang tampaknya
tidak pandai bicara itu. Terlebih lagi disaat itu perutnya tengah
sakit sekali, janin bayi didalam kandungannya seperti menendang2
perutnya keras2... .
Tiba2 Siauw Liong Lie teringat Sintiauwnya.
„Mana mana dia ?" tanyanya dengan menahan perasaan
sakit diperutnya itu, pinggangnya juga rasanya seperti ditarik
dan kaku.
„Dia ? Siapa dia ?" tanya lelaki bertubuh tinggi besar itu.

„Tiauw-heng" menyahuti Siauw Liong Lie dengan suara
yang bersusah payah.
„Maksudmu rajawali yang pemalas dan hanya kerjanya
tidur itu ?" tanya orang bertubuh tinggi besar tersebut.
,Benar Selamatkah dia ?’.
„Aku telah membawanya kemari juga kini dia tengah
mencari makan.....dia malas sekali.....dia selalu kerjanya tidur
!"
Siauw Liong Lie walaupun tengah menahan perasaan sakit
diperutnya, tidak urung jadi tersenyum juga. Karena Siauw
Liong Lie dapat menduga bahwa Tiauw-heng itu lemas tidak
bertenaga akibat pengaruh obat tidur yang dipergunakan oleh
Tiat To Hoat-ong.
Dan memang sesungguhnya, ketika Sin Tiauw dibawa oleh
lelaki bertubuh tinggi besar itu, dia masih dalam keadaan
tertidur sampai dua hari dua malam. Ketika burung itu tersadar
dari tidurnya, mulai terbebas dari pengaruh obat tidur itu,
tubuhnya masih lemas seperti tidak memiliki tenaga.
Selama dua hari lagi, Sintiauw hanya berdiam saja dengan
tubuh yang lemas.
Orang yang tadi tuan penolongnya menduga Sintiauw
adalah rajawali pemalas, dia setiap hari memberikan daging
kelinci hasil buruannya.
Dihari kelimalah Sin Tiauw baru bisa terbang berkeliling,dia
mulai mencari
mangsa untuk makanannya, mencari kelinci barunya.
Siauw Liong Lie mengeluh perlahan, dia merasakan
perutnya semakin lama semakin sakit.
„Aku telah berikan obat. kau telah makan obat...jiwamu
tertolong tetapi kau harus istirahat satu tahun terlebih lagi
bayimu akan lahir ...kau perlu diobati dengan ilmu sejati..."

Siauw Liong Lie hanya mendengar samar2 suara orang
tersebut, karena tidak lama kemudian dia telah jatuh pingsan
lagi.
Siauw Liong Lie tidak mengetahui berapa lama lagi dia
pingsan, sampai akhirnya dia tersadar lagi. Tetapi kali ini
perutnya sudah tidak sakit lagi.
Apa yang dialami oleh Siauw Liong Lie sebetulnya cukup
bahaya dan parah, karena serangan Tiat To Hoat-ong justeru
telah menghantam kandungannya. Untung saja pukulan itu
tidak menyebabkan gugurnya kandungan isteri Yo Ko
tersebut.
Tetapi walaupun demikian, tetap saja pukulan itu telah
menyebabkan kandungan Siauw Liong Lie mengalami
goncangan yang merubah kedudukan janin bayi tersebut,
disamping itu Siauw Liong Lie pun telah terluka didalam.
Sejak beberapa hari yang lalu orang bertubuh tinggi besar
dan kasar itu telah berusaha untuk mengobati Siauw Liong
Lie.
Dengan mempergunakan beberapa ramuan obat, dia telah
mencekoki nyonya yang dalam keadaan pingsan tersebut, dan
menyalurkan tenaga murni yang sejati melalui telapak tangannya.
Setelah lewat lima hari itulah, disaat si nyonya telah
tersadar, barulah jiwa Siauw Liong Lie terlolos dari bahaya
kematian, dan kesehatannya akan pulih per lahan2.
Tetapi walaupun Siauw Liong Lie berhasil diselamatkan
jiwanya, dan kandungannya itu pun berhasil di lindunginya,
tetapi tetap saja ancaman bahaya yang tidak kecil
mengancamnya, yaitu jika dia tidak berobat secara sungguh2
dan memperoleh pengobatan yang baik, niscaya dia akan
menjadi cacad, yaitu akan lumpuh sepasang kakinya, karena
sebagian isi perutnya, telah ada yang rusak akibat dahsyatnya
serangan yang dilancarkan Tiat To Hoat-ong.

Yang lebih celaka lagi justru serangan itu! diterima Siauw
Liong Lie dalam keadaan mengandung, maka keadaan
tubuhnya menjadi semakin lemah.
Namun orang bertubuh kasar itu ahli meramu obat2an.
Setelah lewat setengah bulan, akhirnya kesehatan Siauw
Liong Lie mulai pulih kembali.
Tetapi atas anjuran dari penolongnya itu, Siauw Liong Lie
belum boleh turun dari pembaringan.
Setiap hari, orang bertubuh tinggi kasar itu telah
menyalurkan tenaga dalam sejatinya lewati telapak
tangannya, dimana telapak tangannya di tempelkan dengan
telapak tangan Siauw Liong Lie.
Dan tenaga dalam itu menyelusup masuk ke dalam,
menembus beberapa jalan darah terpenting ditubuh nyonya
Yo Itu, antara lain jalan darah Su-kiang hiat dipinggul, Bianbo-
hiat dipinggang, Liang hie-hiat diatas lutut, Pian cie-hiat
dipaha kiri dan kanan nyonya itu, dan Lung cie-hiat dileher
Siauw Lioig Lie.
Seharusnya seluruh jalan darah itu mesti di urut dan
ditotok.
Namun karena teringat akan ikatan peraturan adat istiadat,
antara pantangan pria dan wanita yang tidak dapat
bersentuhan, maka penolong Siauw Liong Lie itu tidak berani
menyentuh jalan darah itu.
Dan berhubung tenaga dalam orang bertubuh tinggi besar
itu telah sempurna sekali, dia bisa menyalurkan tenaga
murninya melalui telapak tangan Siauw Liong Lie, sehingga
jiwa nyonya itu masih bisa tertolong.
Lewat lagi setengah bulan, keadaan Siauw Liong Lie telah
pulih sebagian besar.

Nyonya Yo tersebut telah bisa turun dari pembaringannya,
telah bisa berjalan perlahan2, dan sering memandangi
keindahan disekitar tempat dimana dia berada.
Siauw Liong Lie juga telah melihat bahwa dirinya berada
disebuah lembah gunung yang indah sekali.
Disekeliling lembah itu terhalang oleh tebing yang tinggi
sekali, sehingga lembah itu seperti merupakan sebuah lembah
yang letaknya tersembunyi dari dunia luar.
Keindahan yang terdapat dilembah itu memang menarik
sekali, ditambah juga oleh pohon2 bunga yang bermacam
ragam bertumbuhan disitu.
Rumah sederhana yang ditempatinya itu ternyata baru saja
dibangun oleh tuan penolong Siauw Liong Lie, karena disaat
lelaki bertubuh kasar itu menolongi Siauw Liong Lie, dia telah
cepat2 membangun rumah tersebut dengan cabang dan
dahan kayu, dengan mempergunakan rumput kering sebagai
atapnya.
Sebetulnya Lo Him menetap disebuah goa yang cukup luas,
dan goa seperti itu memang banyak terdapat di-tebing2
didalam lembah.
Siauw Liong Lie jadi merasa berterima kasih sekali atas
perawatan Lo Him.
Dia melihat, usia Lo Him mungkin baru empat puluh tahun,
namun karena lelaki tersebut tidak merawat diri dan
tubuhnya, yang membiarkan rambut dan kumis jenggotnya
tumbuh panjang, dengan sendirinya telah menyebabkan dia
menjadi lebih tua dari usianya yang sesungguhnya.
Disamping itu, Lo Him seorang lelaki yan tidak pandai
bicara, dia kasar, namun hatinya sangat baik.
Disamping pendiam, Lo Him juga seperti tengah menderita
tekanan bathin, karena wajahnya selalu murung,
memancarkan kedukaan hatinya.

Pernah Siauw Liong Lie menanyakan mengapa Lo Him bisa
menetap dilembah ini hanya seorang diri, tetapi lelaki aneh itu
tidak mau memberikan keterangannya. Bahkan dari sinar
matanya, tampaknya dia gusar sekali.
Sehingga di-hari2 berikutnya Siauw Liong Lie tidak berani
mengemukakan pertanyaan serupa itu.
Lo Him setiap hari pergi mencari binatang buruan, yang
selalu dimasak dan disajikan kepada Siauw Liong Lie dengan
sikap yang ramah sekali, dia merawat Siauw Liong Lie dengan
sikap yang baik dan sopan, walaupun dia sering
memperlihatkan sikap yang kasar.
Semula Siauw Liong Lie berkuatir juga, Benar dia
berkepandaian tinggi sekali, tetapi kini dia tengah terluka
hebat dan perlu beristirahat dalam waktu yang panjang sekali,
disamping itu kanudungannya telah semakin besar pula.
Maka
Lo Him menolongi dirinya karena mengandung maksud
yang sangat kurang baik, maka dia mana bisa melakukan
perlawanan, apa lagi Siauw Liong Lie telah mengetahui
walaupun Lo Him mirip2 manusia hutan, tetapi dia memiliki
kepandaian yang luar biasa, disamping lwekangnya yang
sempurna sekali.
Tetapi setelah sebulan lebih Siauw Liong Lie berdiam
dilembah itu, maka per-lahan2 dia bisa melihat bahwa lelaki
itu adalah seorang laki2 yang baik.
Lo Him sama sekali belum pernah memperlihatkan sikap2
yang kurang ajar.
Bahkan, sama sekali tidak tertarik kepada Siauw Liong Lie,
hanya dia lebih tertarik kepada kandungan Siauw Liong Lie.
Suatu hari, Siauw Liong Lie tengah duduk dibawah
sebatang pohon siong yang berada dimulut lembah, dia

mengawasi kelangit, dimana awan2 tampak tengah bergeser
per-lahan2 dengan bentuknya yang indah2,
Disaat seperti itu, Siauw Liong Lie teringat kepada
suaminya, dia rindu sekali kepada Yo Ko.
Tetapi kemana dia harus mencari Yo Ko, Sedangkan dia
tengah terluka ? Untuk keluar dari lembah itu, tentu saja
dia tidak berani, karena disamping dia tengah terluka dan kandungannya
lemah, juga dia takut kalau2 nanti bertemu
dengan Tiat To Hoat-ong lagi.
Jika bertemu dengan pendeta busuk itu, maka berarti akan
celakalah dia bersama kandungannya.
Walaupun Siauw Liong Lie berkepandaian tinggi, namun
selama dia tengah mengandung kekuatan tenaga dalamnya
berkurang banyak dan diapun tidak bisa mengempos dan
mempergunakan secara menyeluruh kekuatan lwekangnya,
karena bisa mengganggu kandungannya.
Maka jalan satu2nya yang paling selamat ialah berdiam
dulu dilembah ini, menanti sampai bayinya terlahirkan. Dan
kelak tanpa kandungannya. dia pasti akan dapat memberikan
perlawanan yang keras kepada Tiat To Hoat-ong, sambil
mencari juga suaminya... disaat itu pun lukanya pasti telah
sembuh kembali.
Siauw Liong Lie juga teringat, betapa ketika Yo Ko
mengetahui dia sedang mengandung bayinya itu sangat
girang sekali, hampir setiap malam Yo Ko meng usap2
perutnya dengan penuh kasih sayang.
Tetapi kini mereka terpisah satu dengan yang lainnya, dan
Siauw Liong Lie hanya bisa menghela napas berulang kali.
Sejak dia melihat Yo Ko dikuburan Mayat Hidup, sampai
akhirnya bergaul dan telah terikat sebagai pasangan suami
isteri, beberapa kali mereka selalu berpisahan, terpisah
bercerai berai, bahkan yang terakhir mereka pernah berpisah
untuk jangka waktu selama enam belas tahun !

Dan kini disaat dia tengah mengandung bayi mereka, justru
mereka telah berpisah pula.
„Inilah nasib !" mengeluh Siauw Liong Lie dan tanpa
disadarinya dia telah menitikkan butir butir air mata.
Disaat dia tengah melamun seperti itu, Siauw Liong Lie
mendengar suara langkah kaki mendekati kearahnya.
Cepat2 nyonya Yo ini telah menghapus air matanya,
dilihatnya Lo Him tengah menghampiri dirinya.
Muka Lo Him sore ini agak luar biasa dia menghampiri
kearah Siauw Liong Lie dengan sorot mata yang tajam sekali,
mukanya juga tidak terlihat perasaan apapun juga, disebut
tertawa bukan tertawa, disebut menangis juga bukannya
menangis . . . sehingga hati Siauw Liong Lie jadi tergoncang.
Ketika Lo Him sampai didekat Siauw Liong Lie, matanya
yang bersinar itu telah memandang kearah perut Siauw Liong
Lie.
„Tidak lama lagi dia akan lahir..." katanya dengan suara
yang nadanya aneh dan membuat jantung Siauw Liong Lie
tambah tergoncang.
Yang dimaksudkan dengan perkataan "dia", oleh Lo Him
adalah janin bayi didalam perut Siauw Lioug Lie.
Melihat Siauw Liong Lie berdiam diri saja Lo Him telah
berkata lagi ;
„Akhhh, tentunya dia seorang bayi yang manis sekali !
Diwaktu itu kau akan menjadi seorang ibu yang bahagia dan
terbebas dari kandungan ........!"
Mendengar perkataan Lo Him yang terakhir itu, hati Siauw
Lie Lie jadi tambah tergoncang,
Walaupun bagaimana, dia tetap saja seorang wanita, yang
memiliki perasaan halus.

Lo Him memang telah menolongi jiwanya dan
kandungannya maupun Sin Tiauw. Namun disamping itu,
diapun selalu berwaspada, berjaga kalau2 Lo Him
menolonginya itu mengandung maksud tertentu.
Terlebih lagi kini dia mendengar perkataan Lo Him yang
nadanya seperti juga mengharapkan Siauw Liong Lie
melahirkan anaknya cepat2, agar Siauw Liong Lie cepat2
bebas dari kandungannya, kecurigaan Siauw Liong Lie
semakin keras bahwa Lo Him ada mengandung maksud
tertentu.
Dengan sendirinya, dihati Siauw Liong Lie muncul perasaan
muak dan tidak senang terhadap tuan penolongnya itu.
Sepasang alisnya mengkerut dalam2 dan dia berdiam diri saja.
Lo Him melihat Siauw Liong Lie berdiam diri saja, dengan
suara tergagap dia telah bertanya lagi ;
„Engkau.....mengharapkan lelaki atau perempuan ?"
tanyanya.
Siauw Liong Lie mengerti. Lo Him tentu maksudkan
anaknya itu.
„Yang mana saja, asal Thian melindungi, aku telah
bersyukur !" menyahuti Siauw Liong Lie dengan suara yang
dingin.
„Tetapi aku mengharapkan seorang anak lelaki......!" kata
Lo Him.
„Mengapa begitu ?" tanya Siauw Liong Lie sebal sekali,
tetapi karena ingin mengetahui, dia telah bertanya juga.
„Karena aku ingin mengambilnya menjadi anakku l” kata Lo
Him.
“ Ha ?" berseru Siauw Liong Lie terkejut, wajahnya jadi
pucat pias.

„Aku akan mendidik dia dengan ilmu silat yang tinggi dan
sempurna, agar kelak dia akan muncul sebagai seorang
pendekar yang gagah, sebagai puteranya Lo Him !". Tubuh
Siauw Liong Lie jadi menggigil.
Tiba2 perasaan takut telah menyelusup ke dalam dasar
hatinya. Dengan menginginkan bayinya menjadi anaknya.
bukankah berarti Lo Him ingin mengartikan perkataannya itu
bahwa dia bermaksud mengambil Siauw Liong Lie sebagai
isterinya ?
„Hemm, biarlah !" berpikir Siauw Liong Lie „Sekarang aku
mengalah saja dan bersabar. Yang terpenting, jika aku. telah
melahirkan, jelas aku akan melawan maksud jahatnya itu. Aku
yakin, dengan lukaku telah sembuh dan telah melahirkan,
walaupun belum tentu bisa membinasakannya, tetapi diapun
tidak mungkin bisa mengalahkan aku . !".
Saat itu, Lo Him telah mengangkat kepalanya, dia
menghela napas berulang kali, Mukanya muram sekali,
memancarkan kedukaan yang bergolak didalam hatinya.
Lama Lo Him memandang gumpalan awan itu. Akhirnya dia
menoleh kepada Siauw Liong Lie.
„Kau kini tengah mengandung, sebetulnya! engkau seorang
wanita yang bahagia, karena tidak lama lagi kau akan menjadi
seorang ibu tetapi aku, keluargaku telah hancur, isteriku telah
meninggal dalam keadaan hamil dan beberapa butir air mata
segera mengucur dari pelupuk matanya.
Siauw Liong Lie diam saja, karena dia menduga orang
tersebut bercerita akan kesedihan dan kemalangan dirinya,
hanya ingin menarik( simpatinya belaka.
Dan Siauw Liong Lie telah semakin sebal saja, dia hanya
mendengarkan dengan acuh tak acuh.
„Dan,memang sampai detik ini, seharusnya aku membenci
semua wanita . . . tetapi melihat kau, aku jadi merasa kasihan

terhadap nasib bayi dalam kandunganmu. sehingga aku
menolonginya !"
Siauw Liong Lie mengerutkan alisnya. „Kenapa begitu ?”
“Aku benci ! Bukan hanya wanita, tetap semua manusia !"
kata Lo Him. „Seperti kau lihat, aku bergaul dengan macan
tutul, ular dan binatang buas lainnya, karena tidak ingin
bergaul dengan manusia......!"
„Tetapi, mengapa kau menolongi aku ?" tanya Siauw Liong
Lie ragu2.
„Menolong kau ? Ohhh bukan ! Jangan kau mimpi ! Semua
yang telah kulakukan itu bukan menolongi dirimu ! Mungkin
jika kau bukan tengah mengandung, aku justru akan
menghajar hancur batok kepalamu !"
„Ihhh !" Siauw Liong Lie sampai mengeluarkan suara
seruan tertahan mendengar perkataan Lo Him yang tidak
diduganya. Karena semula dia menyangka bahwa Lo Him
menolongnya karena melihat parasnya yang cantik dan juga
Lo Him mengandung maksud yang buruk kepadanya.
Tetapi mendengar pernyataan Lo Him yang terakhir ini,
tentu saja membuat Siauw Liong Lie jadi tertegun dan
memandangi lelaki ini diam2.
Lo Him telah memandangi gumpalan awan dilangit, untuk
sejenak lamanya dia berdiam diri saja.
Sampai akhirnya seperti orang menggumam dia telah
berkata perlahan2: „Ya, ya memang di dunia ini selalu terjadi
urusan yang tidak di-duga2! Aku pernah bersumpah, bahwa
aku tidak akan meninggalkan lembah ini seumur hidupku, dan
juga aku tidak akan mengijinkan manusia menginjakkan
kakinya dilembah ini. Namun sekarang? Telah ada seorang
manusia dan calon manusia lainnya yang telah menginjakkan
kaki nya dilembah ini Hai! Hai! Aku telah melanggar sumpahku
sendiri."

„Mengapa begitu?" tanya Siauw Liong Lie.
Muka Lo Him tampak berobah merah padam, matanya
bengis sekali memandang Siauw Liong Lie, setelah menatap
begitu, yang membuat Siauw Liong Lie bergidik dan
jantungnya tergoncang, maka dia telah berkata lagi.
„Hemm, justru anak dikandunganmu itu yang telah
menyelamatkan jiwamu !".
Dan sehabis berkata begitu, Lo Him tampaknya menyesal
telah membawakan sikap yang kasar dihadapan Siauw Liong
Lie. dia telah menundukkan kepalanya dan menangis terisak2.
„Maaf kan ...aku tidak sengaja berlaku kasar !" katanya
diantara isak tangisnya.
Siauw Liong Lie yang telah merasakan hebat nya
gelombang kehidupan selama berpacaran dan hidup berumah
tangga dengan Yo Ko, telah bisa menyelami hati seorang
manusia, yang selalu diserang dan digeluti oleh berbagai
peristiwa aneh dan tidak terduga.
Walaupun bagaimana pahitnya, jika peristiwa itu selalu
diakhiri oleh hal2 yang manis, tentu manusia itu akan hidup
bahagia. Seperti dia pernah berpisah dengan Yo Ko selama
enam belas tahun namun akhirnya, mereka berjumpa lagi.
Dan cinta merekapun telah berpadu, walaupun akhirnya
mereka terpisah pula, tetapi Siauw Liong Lie dan Yo Ko dapat
mengecap kebahagiaan yang sangat. Dan Yo Ko pun tidak
jarang menitikkan air mata didalam saat2 tertentu, karena
kedukaan yang dalam, diantara haru dan kegembiraan.
Maka melihat seorang lelaki yang memiliki kepandaian
sehebat Lo Him bisa mengucur kan air mata, Siauw Liong Lie
sudah tidak merasa heran lagi.
"Sesungguhnya apa yang telah terjadi ?" tanyanya
kemudian dengan suara yang sabar dan halus.

Ditegur begitu, Lo Him jadi tambah keras tangisnya.
Akhirnya Siauw Liong Lie telah membiarkan Lo Him
menangis sepuas hatinya, karena jika dalam keadaan seperti
itu, dia membujuki juga percuma saja.
Dan setelah Lo Him puas menangis dan menepas air
matanya, barulah lelaki itu berkata perlahan dan lemah :
„Semua memang dosaku, bukan salahnya takdir !" berkata Lo
Him.
„Namun yang kusesalkan, mengapa Thian justru
menurunkan nasib buruk kepadaku tanpa kepalang
tanggung...........! ibuku, isteriku, adik perempuanku,
semuanya menganggap aku manusia binatang yang berbisa...
semuanya tidak mengetahui bahwa sesungguhnya bukan aku
yang bersalah! Haaaaaaa, sudahlah! Memang aku yang salah
dan terkutuk sekali. Mengapa aku tidak bisa bertindak tegas,
hingga perbuatanku yang malah dituduh busuk?"
Setelah berkata begitu, Lo Him berdiam sejenak, dia
memandang bengong keatas lagi, mengawasi gumpalan awan,
dan bibirnya ber gerak2 seperti tengah mengucapkan
sesuatu. Namun akhirnya dia telah berdiam mematung saja.
Siauw Liong Lie yang tadi mengawasi, jadi bertambah
heran. Dia tidak mengerti jiwa orang ini. Namanya saja. yaitu
Lo Him, si Biruang Tua, sudah aneh. Kini adatnya pun aneh.
Dan kalau ingin diperhatikan, tentu, penghidupan orang ini
diliputi oleh keanehan juga.
Maka dari itu, Siauw Liong Lie jadi tertarik sekali untuk
mengetahuinya.
Didalam hatinya, Siauw Liong Lie telah memaki dirinya
sendiri, yang mana bahwa dia telah menuduh Lo Him sebagai
lelaki yang jahat.
Padahal Lo Him sama sekali tidak mengandung maksud
jahat kepadanya.

Tetapi walaupun bagaimana Siauw Liong Lie akan tetap
berlaku waspada. Dia tetap tidak mau berlaku lengah, karena
justru yang di kuatirkannya adalah Lo Him sengaja „menjual"
cerita dusta kepadanya agar menarik simpatinya belaka.
Siauw Liong Lie melihat Lo Him telah menghela napas
berulang kali.
Apakah kau tidak akan muak mendengar ceritaku?" tanya
Lo Him kemudian sambil menoleh kepada Siauw Liong Lie
yang ditatapnya dengan sinar mata yang tajam. Siauw Liong
Lie menggelengkan kepala Dia tidak menyahuti.
„Hemmmmm. sinar matanya yang terpancar itu. telah
memperlihatkan bahwa engkau juga tidak mempercayai diriku!
Sinar matamu itu sama dengan sinar mata isteriku! Ya,
memang aku manusia terkutuk, yang tidak akan dipercaya
oleh siapapun juga. maka dari itu percumalah jikalau aku mau
menceritakan segalanya kepadamu, karena engkaupun tidak
akan mempercayai ceritaku ini !",
Mendengar perkataan Lo Him, Siauw Liong Lie berusaha
untuk tersenyum.
„Him-heng (saudara Him) .....!" kata Siauw Liong Lie
kemudian dengan suara yang halus. „Kau jangan bercuriga
begitu ! Bukankah kau telah menolongi jiwaku, menolongi
anak dalam kandunganku dan juga jiwa Tiauw-heng ?
Mengapa aku harus mencurigaimu ? Jika sampai nanti kau
tetap memperlakukan kami dengan baik, tanpa maksud2
buruk, tentu budimu yang sedalam lautan itu tidak dapat
kubalas dengan apa pun juga...!".
Mendengar perkataan Siauw Liong Lie, Lo Him telah
tersenyum tawar.
„Akhh, baru kali ini aku mendengar ada orang manusia
berkata begitu !" katanya dengan suara yang tawar.

„Tetapi, jika engkau selalu melakukan perbuatan baik,
tentu akan banyak sekali orang yang berterima kasih
kepadamu, dan juga akan banyak sekali orang yang
menyatakan perasaan syukurnya atas pertolonganmu itu
......!".Lo Him berdiam diri sejenak, lalu dia menggumam lagi.
„Ya. ya, walaupun orang menuduhku buruk, berhati binatang
beracun, tetapi aku tidak usah memperdulikannya. Yang
terpenting didalam dunia ini, bukankah kita harus menolong
seseorang yang tengah dalam kesulitan?"
Karena berkata begitu, dia telah menoleh kepada Siauw
Liong Lie tanyanya ;
„Dan kau, apakah kau bersedia membiarkan anakmu nanti
aku angkat sebagai anakku?" Sambil bertanya begitu, dia,
mengawasi Siauw Liong Lie dengan sorot mata yang tajam
sekali. Siauw Liong Lie tersenyum,.
„Mengapa tidak? Bukankah anakku itu bernasib baik sekali,
sehingga ada seorang yang sebaik engkau bersedia menjadi
ayah angkatnya. Yang jelas, ayah dari anak ini juga akan ber
syukur tidak habisnya, bahwa, tuan penolongnya itu telah
begitu iklas mengambil anak kami sebagai anaknya!”
Semula mendengar perkataan Siauw Ljong lie yakni
meluluskan keinginannya, mata Lo Him telah bersinar tajam
cemerlang, bagaikan dia tengah diliputi kegembiraan yang
sangat.
Namun setelah dia mendengar perkataan Siauw Liong Lie
yang terakhir, dia jadi menunduk dengan wajah yang muram,
dan tidak lama kemudian dia telah mengangkat kepalanya,
menatap Siauw Liong Lie dengan sorot mata yang bengis
sekali.
„Kau wanita jahat !" tiba2 dia telah membentak begitu
dengan suara yang bengis juga. "Kau... kau wanita berhati
busuk. Mengapa kau menduga buruk kepadaku, sehingga kau
merasa perlu untuk mengeluarkan kata2 sekejam itu ? Apakah

kau menduga bahwa aku akan melakukan perbuatan sehingga
engkau perlu merintangi diriku dengan perkataan yang
menyindir seperti itu... ?"
Ternyata Lo Him sangat perasa dan mudah tersinggung.
Perkataan Siauw Liong Lie yang terakhir memang merupakan
kata2 sindiran. Dan LoHim merasa tersinggung. Siauw Liong
Lie tertawa,
“Him-heng . . kau terlalu perasa .. . sesungguhnya
Siauwmoay tidak berani memandang rendah kepadamu,
bukankah engkau adalah tuan penolongku ?”
Tetapi Lo Him telah mengawasi Siauw Liong Lie dengan
sorot mata yang tajam sekali.
„Hemm . , . memang aku manusia celaka !" berseru Lo Him
akhirnya . Dan tiba2 sekali dia menangis, me-raung2 dengan
suara pekikan yang melengking nyaring dan tinggi, diapun
telah meng gerak2kan kedua kaki dan tangannya, dengan
gerakan2 seperti orang tengah bersilat.
Siauw Liong Lie hanya mengawasi tertegun dengan
perasaan tidak mengerti.
Walaupun bagaimana, orang itu sangat baik dan telah
menolong jiwanya, menolong anak dan juga rajawalinya.
Tetapi dia tidak bisa melepaskan diri begitu saja dari
kewaspadaan, karena dia belum dapat menyelami hati
penolongnya tersebut.
Dan sedikitpun juga Siauw Liong Lie tidak menyangkanya
bahwa perkataan dan perbuatan itu, justru telah menyinggung
perasaan Lo Him.
Se-tidak2nya Siauw Liong Lie sebagai seorang wanita
berperasaan halus, jadi merasa kasihan dan iba......dia
bermaksud untuk menghibur Lo Him, agar menghentikan
perbuatan kelakuan yang gila2an itu.

SAAT itu Siauw Liong Lie telah berdiri dari duduknya, dia
berhenti sejenak sambil mengerutkan sepasang alisnya,
karena mendadak sekali dia merasakan pinggangnya sakit
seperti ditarik-tarik.
Tanpa dikehendakinya. Siauw Liong Lie telah mengeluarkan
suara keluhan perlahan, pandagan matanya jadi gelap berkunang2,
wajah pucat dan keringat dingin mengucur deras
dari kening dan tubuhnya.
„Akhh . . , !" akhirnya Siauw Liong Lie batal berdiri, dia
telah terduduk pula sambil memegangi perutnya. Perasaan
sakit dipinggangnya semakin hebat.
Saat itu, kebetulan sekali Lo Him telah melihat keadaan
Siauw Liong Lie.
Tiba2 Lo Him menghentikan gerakan dan kelakuannya yang
tengah ber gerak2 seperti bersilat itu, dengan muka yang
memancarkan kekuatiran yang sangat, dia telah melompat
kesamping Siauw Liong Lie.
„Kau . . . kau kenapa, nyonya ?" tanyanya dergan suara
yang tergetar dan kasar.
Siauw Liong Lie hanya meng geleng2kan kepalanya tanpa
bisa menjawab, karena perutnya itu sakit luar biasa, sepasang
alisnya tetap mengkerut dengan wajah yang pucat dan
keringat dingin yang mengucur deras sekali se-besar2 kacang
kedele membasahi mukanya yang pucat itu.
Kedua tangannya juga telah me-ngusap2 pinggangnya,
yang diurutnya per-lahan2 untuk mengurangi perasaan
sakitnya.
Disaat itu. Lo Kim tampak gugup dan bingung sekali, dia
juga memperlihatkan sikap yang menyesal.
“Akhhh, mungkin aku telah menyebabkan penyakitmu ini
kumat.....aku memang manusia terkutuk, manusia binatang
berhati beracun....."

berulang kali Lo Him telah menyesali dirnya. Tetapi Siauw
Liong Lie tetap berdiam diri saja, hanya suara rintihannya
yang terdengar perlahan sekali.
Lo Him telah ber lari2 kegoanya, tidak lama kemudian dia
telah kembali.
Ditangannya tercekal sebuah mangkok dari tanah liat, yang
didalamnya terdapat ramuan obat.
Dia telah mengangsurkannya kepada Siauw Liong Lie
dengan sikap yang gugup, disertai oleh perkataannya:
„Minumlah obat ini---"
Siauw Liong Lie menyambuti mangkok obat itu, dia telah
meneguknya.
Dan berselang tidak lama, ber-angsur2 rasa sakit
dipinggangnya itu telah lenyap.
Dengan wajah yang memperlihatkan perasaan bingung Lo
Him telah mengawasi Siauw Lioag Lie, katanya dengan suara
yang tergagap “Maafkan.......tadi aku telah membuat kau
jadi kesal ....tentu saja sakitmu itu akibat perkataanku yang
kasar .... dan kau....... kau maafkanlah aku....!".
Siauw Liong Lie tidak sampai hati melihat Lo Him terus
menerus me-nyebut2 perkataan maaf, maka dia telah
mengangguk, katanya dengan suara yang halus „Kau tidak
bersalah apa-apa Him-heng ... justru memang demikianlah
jika seorang wanita tengah hamil, maka dia akan selalu
diganggu oleh calon bayinya ...... ini memang sudah resikonya
......!". Lo Him telah mengangguk.
„Benar, akupun tahu ...tetapi yang pasti, seorang wanita
yang tengah hamil tidak boleh terganggu oleh ketegangan2
syarafnya, tidak boleh marah, tidak boleh kesal dan tidak
boleh bingung ...."
Siauw Liong Lie tersenyum mendengar perkataan Lo Him.

„Akhh, kiranya Him-heng memang telah berpengalaman"
katanya.
„Bukankah tadi aku telah mengatakan bahwa aku pernah
beristeri...dan isteriku itu telah meninggal waktu hamil ?".
Siauw Liong Lie mengangguk.
„Sesungguhnya peristiwa hebat apakah yang telah dialami
oleh keluarga Him-heng ?" tanya nya kemudian.
„Sudahlah, lebih baik kita tidak perlu membicarakannya,
nanti aku salah bicara lagi !" kata Lo Him kemudian dengan
meng-geleng2kan kepalanya.
Saat itu Siauw Liong Lie merasakan sakit dipinggangnya
telah lenyap, dia sudah bisa duduk dengan leluasa.
Disaat itu Lo Him telah berkata lagi ; „Aku menolongimu
karena kandunganmu kau jangan kuatir, aku tidak akan
bermaksud jahat kepadamu...aku hanya ingin anakmu itu
nanti dibiarkan mengangkat aku sebagai ayah angkatnya....
asal kau menyetujui dan mengijinkannya, aku telah
puas ! Kau jangan kuatir, aku tidak pernah bermaksud
mengganggu dirimu, jika kau telah sembuh, kau telah
melahirkan, kau telah sehat kembali, pergilah kau mencari
suamimu, aku tidak akan menghalanginya..............aku puas
asal anak Itu mau mengangkat aku sebagai ayahnya !"
Mendengar keinginan Lo Him yang begitu sederhana,
diam2 Siauw Liong Lie telah memaki dirinya sendiri.
„Akhh, rupanya aku yang terlalu bercuriga” dia berpikir
dihatinya. „Orang sebaik Lo Him, tuan, penolongku yang telah
menyelamatkan jiwa kami ibu dan anak, dan juga menolongi
Sin Tiauw, telah kuduga buruk! Sungguh aku manusia yang
tidak berbudi...!"
Karena telah mengetahui Lo Him tidak bermaksud buruk
kepadanya, dan juga karena tadi dia merasa bersalah telah
menduga buruk kepada tuan penolongnya yang telah

menyelamatkan jiwanya, maka Siauw Liong Lie jadi bersikap
manis dan halus.
„Him-heng, bolehkah aku mengetahui sesungguhnya apa
sebabnya isterimu yang tengah mengandung itu meninggal
dunia?.
„Ya. mengapa? sampai detik ini, justru aku sendiri belum
mengetahui! Waktu peristiwa itu terjadi, sebetulnya aku
bermaksud mencari pembunuhnya, namun akhirnya aku
memutuskan dan bertekad untuk berdiam disini sampai ajal
tiba!".
„Mengapa begitu ?" tanya Siauw Liong Lie tertarik.
Muka Lo Him kembali jadi muram, dia menunduk sejenak.
Tetapi karena dia berkuatir kalau2 nanti Siauw Liong Lie
diliputi ketegangan yang bisa menyebabkan sakit pinggangnya
kumat kembali, Lo Him telah cepat2 berkata : „Orang itu
terlalu liehay, kepandaiannya sulit diukur dan tidak bisa untuk
ditandingi,..benar2 aku suami yang laknat, aku tidak bisa
melindungi isteri dan calon anakku itu, yang telah dicelakai
orang tanpa aku bisa menuntut balas ! Begitu pula ibuku telah
dibinasakan orang itu...! Tetapi, baik ibuku, maupun isteriku,
disaat mereka belum menghembuskan napas yang terakhir,
dan disaat mereka dalam keadaan terluka parah, keduanya
telah menuduh bahwa akulah yang mencelakai mereka...!
Akhh, itulah nasibku yang buruk!"
Berulang kali Lo Him menyesali dirinya dengan suara yang
tidak jelas.
Siauw Liong Lie melihat Lo Him kembali tenggelam dalam
kedukaannya, dia jadi merasa kasihan.
„Siapa nama orang yang mencelakai keluargamu!" tanya
Siauw Liong Lie kemudian.
„Dia orang yang hebat, diapun menjadi pendekar yeng
memiliki nama harum didalam rimba persilatan ......tetapi dia

telah tega menurunkan tangan begitu kejam! Namun
disebabkan kepandaiannya yang tidak bisa dijajaki itu, maka
aku menyadarinya dendam itu tidak mungkin terbalas seumur
hidupku."'
„Siapa dia?" desak Siauw Liong Lie dia percaya jika Lo Him
menyebutkan nama orang yang disebutnya liehay sekali dan
memiliki nama yang terkenal didalam rimba persilatan itu
tentunya se-tidak2nya Siauw Liong Lie pernah mendengar
namanya atau mengenalnya.
JILID 9
LO HIM menghela napas. „Dialah ayahku ...!!" menyahuti
Lo Him akhirnya dengan wajah yang pucat, tubuhnya
menggigil.
„A....ayahmu?" tanya Siauw Liong Lie tertegun Karena
kaget dan heran.
"Yal" mengangguk Lo Him,
„Jika dia ayahmu, mengapa dia membinasakan ibu dan
isterimu" tanya Siauw Liong Lie lagi.
Untuk sejenak Lo Him tidak menjawab, dia seperti tengah
meng-ingat2 pengalamannya yang telah lalu itu.
Akhirnya setelah menghela napas, dia telah menyahuti;
„Ya, inilah kejadian yang benar2 menyayaykan hati dan
mengesankan sekali........!
justru yang menjadi musuh besarku adalah, ayahku sendiri-
- ! Hanya disebabkan dia takut malu, maka dia telah
membinasakan isteri dan ibuku ---dan jika disaat itu aku tidak
keburu lari, jiwaku juga tidak akan lolos dari kematian!"
„Mengapa begitu ?" tanya Siauw Liong Lie semakin tertarik.

„Karena dia gagal memperkosa isteriku !" menyahuti Lo
Him sambil menunduk.
„Ha ?" teriak Siauw Liong Lie kaget, mukanya sampai
berobah pucat.
Lo Him menunduk dalam2. dia tidak berani menatap mata
Siauw Liong Lie yang saat itu tengah terpentang lebar2,
menatap kearahnya dengan sikap tidak mengerti diliputi
perasaan kaget.
„Dia ingin memperkosa isteriku, tetapi usahanya itu gagal,
karena ibuku kebetulan memergokinya ....sehingga ayahku
jadi nekad, dia takut menderita malu, dia merencanakan
pembunuhan yang kejam seperti itu -—".
„Akhh, mungkinkah ada manusia sebejat itu !"
menggumam Siauw Liong Lie.
"Tetapi justeru aku telah mengalami sendiri, yang telah
membuat aku jadi putus asa dan tidak memiliki gairah untuk
menempuh hidup pula .... justru aku yang telah melihat dan
menyaksikan kebiadaban seperti itu......! Tetapi aku memang
manusia terkutuk, hanya disebabkan aku tidak bertindak
tegas, dan memang aku seorang pengecut akhirnya urusan
yang menyedih kan dan mendukakan hati harus terjadi"!
Siauw Liong Lie hanya diam mengawasi saja. dia melihat
butir2 air mata menitik turun dipipi Lo Him.
Hati nyonya Yo jadi ikut terharu, dia bisa merasakan
kedukaan hati Lo Him.
„Dan disaat itu, ayahku juga telah berusaha membinasakan
diriku, dia telah mencariku kesegala penjuru, namun usahanya
itu tidak berhasil ! Aku telah menyembunyikan diri dengan
ketakutan yang hebat, karena aku mengetahui walaupun
bagaimana aku tidak bisa melawan ilmu silatnya yang telah
sempurna itu ! Itulah kepengecutanku . . yang harus kukutuk
!" berkata Lo Him.

Siauw Liong Lie bertambah bingung, karena Lo Him telah
menceritakan bencana yang menimpa keluarganya itu justru
sepotong2 dan tidaK berujung pangkal. Tetapi dilihat demikian
dan perkataan2nya, mungkin juga Lo Him memang mengalami
peristiwa yang hebat dan mengenaskan sekali.........
Siauw Liong Lie jadi mengawasi Lo Him dengan tatapan
mata merasa kasihan.
Tetapi kebetulan sekali disaat itu Lo Him juga memanjang
kearahnya sehingga dia melihat sinar mata Siauw Liong Lie
yang demikian, dia tiba2 telah mendengus dingin, katanya
dengan suara mengandung kegusaran : „Aku tidak perlu
dikasihani, memang nasibku yang terkutuk !"
Dan setelah berkata begitu Lo Him berdiri serta
memandang kearah yang jauh. Wajahnya tidak memantulkan
perasaan apapun juga.
Siauw Liong Lie yang penasaran sekali karena Lo Him tidak
mau menyebut nama ayahnya itu, telah bertanya lagi :
„Siapakah nama ayahmu itu ?” tanya Siauw Liong Lie
kemudian.
Lo Him diam saja, sampai akhirnya dia menghela napas
dan katanya; „Sudahlah itu urusan yang telah lewat tidak
perlu kita membicarakannya lagi.
Dan setelah berkata begitu dia telah melangkah pergi
meninggalkan Siauw Liong Lie yang mengawasi kepergiannya
dengan tatapan mata mengandung tanda tanya dan
keheranan yang sangat.
Sejak hari itu Lo Him tak mau di singgung2 lagi urusannya,
dia hanya lebih mengutamakan memasakan Siauw Liong Lie
obat2an dan juga memanggangkan daging kelinci atau daging
burung untuk nyonya Yo itu makan.
Siauw Liong Lie juga menyadari bahwa Lo Him tidak
gembira jika membicarakan urusan nya itu maka Nyonya Yo

tidak pernah menanyakan lagi walaupun sesungguhnya siauw
Liong Lie masih ingin mengetahui siapakah sesungguhnya
nama ayah dari Lo Him, tetapi nyonya Yo fikir masih ada
waktu dihari mendatang, dia nanti menanyakannya per
lahan2.
Tanpa terasa dua bulan lagi telah lewat, selama itu Siauw
Liong Lie ber-angsur2 mulai sembuh, dan tenaga dalamnya
mulai pulih.
Luka didalam tubuhnya mulai tidak memperlihatkan gejala
apa2 lagi. Hanya yang sering mengganggu adalah sakit
dipinggangnya dengan perut yang semakin membesar itu.
Juga Siauw Liong Lie seringkali merasakan urat2
dipinggangnya seperti ditarik, jika bayi didalam kandungannya
bergerak mengganti kedudukan.....
Selama berada didalam lembah itu, Siauw Liong Lie merasa
kesepian sekali
Jika dulu, dimana dia berdiam didalam kuburan Mayat
Hidup, dia bisa hidup didalam ketenangan karena memang
merupakan intisari dari pelajaran yang diterima dari gurunya.
Dan juga waktu berpisahan dengan Yo Ko selama enam
belas tahun dia masih bisa hidup dengan tenang ditempat
sunyi dibawah jurang, walaupun disaat itu seringkali dia
diliputi kedukaan.
Tetapi sekarang ini disaat dia tengah mengandung, justru
dia membutuhkan sekali Yo Ko berada disampingnya, dengan
sendirinya pula diapun sangat merindukan Yo Ko.
Tetapi untuk menghibur hatinya, Siauw Liong Lie sering
ber-main2 dengan macan tutul peliharaan Lo Him. Siauw
Liong Lie memberikan nama Sin Kim (Emas Sakti) kepada
macan tutul itu yang seringkah mengajaknya ber-putar2
dilembah itu. dengan Siauw Liong Lie duduk di punggungnya.

Begitu pula Sintauw, sering mengajak Siauw Liong Lie
dengan kelakarnya, yaitu dia sering kali terbang me-nyambar2
dengan gerakan seperti menari2 bagaikan rajawali tersebut
mengetahui bahwa nyonya majikannya ini tengah dalam
kesepian yang sangat.
Memang Sintiauw sengaja tidak terbang meninggalkan
lembah itu, sebab dia kuatirkan Siauw Liong Lie akan
mengalami ancaman bahaya yang tidak diduga, maka dia
terus menemaninya jika memang Siauw Liong Lie terancam
sesuatu tentu dia bisa segera memberikan pertolongan
segera.
Hari demi hari telah lewat dengan cepat, dan akhirnya
tanpa terasa kandungan Siauw Liong Lie telah memasuki
bulan yang kesembilan.
Dan nyonya Yo ini hanya tinggal menunggu hari dari
kehadiran anaknya tersebut.
Tetapi akhir2 ini Siauw Liong Lie merasakan napasnya lebih
pendek dari sebelumnya, dia pun lebih cepat lelah. Sedangkan
Lo Him sendiri kini lebih memperhatikan keperluannya, bahkan
memberikan daging kelinci bakar dalam jumlah yang lebih
banyak untuk memupuk tenaga.
Juga Lo Him sering menanyakan kepada Siauw Liong Lie,
apakah dia membutuhkan sesuatu, yang pasti akan dituruti
oleh Lo Him.
Namun Siauw Liong Lie selalu mengatakan dengan
menerima perlayanan yang demikian baik dari Lo Him, dia
sudah berterima kasih sekali dan juga berjanji tidak akan
melupakan budi dan kebaikan penolongnya.
„Jangan kau berpikir yang tidak2, yang terpenting kini kau
harus bersikap tenang dan tabah menghadapi kelahiran
anakmu, agar kalian ibu dan anak selamat ---- !" Kata Lo Him
sambil tersenyum.

Hari yang di-nanti2kan itupun tibalah...,.
Sejak pagi hari, disaat fajar mulai menyingsing Siauw Liong
Lie merasakan perutnya sakit bukan main, dia merintih tidak
hentinya.
Sedangkan Lo Him jadi kebingungan tidak keruan, dia jalan
mundar-mandir diluar rumah kayu yang sederhana itu.
Sedangkan Sin Kim dan Sintiauw masing2 berdiam dimuka
rumah itu, yang satu dipinggir kanan, sedangkan Sintiauw
dipinggir kiri.
Siauw Liong Lie merasakan perutnya bagaikan di-aduk2,
sakitnya luar biasa. Keringat juga membanjir keluar.
Bagaimana hebatnya lwekangnya, tenaga dalamnya, didetik2
seperti itu percuma saja tidak bisa dipergunakannya.
Dan akhirnya Siauw Liong Lie merasakan parutnya seperti
ringan dan mendadak lapang, dia juga merasakan napasnya
agak lapang, disusul dengan suara tangis bayi yang keras dan
lantang.
Sambil bangun duduk per-lahan2 Siauw Liong Lie telah
melihat, betapa didekat kakinya menggeletak seorang bayi
yang putih dan manis yang tengah menangis mengeyak2
nyaring sekali.
sekaliTidak hentinya Siauw Liong Lie mengucap syukur dan
segera dia mengangkat bayi itu, dia menggigit tali pusarnya
dan kemudian merangkul sibayi dengan perasaan bahagia
sekali. Dua butir air mata tanpa dirasakannya telah menitik
turun. Kebahagiaan itu me-luap2 ketika dia mengetahui bahwa
bayi itu seorang bayi lelaki ...... seorang putera...
Lo Him yang menunggu gelisah diluar rumah ketika
mendengar tangis bayi itu, jadi melompat berjingkrakan tidak
hentinya.
Tetapi tiba2 Lo Him teringat sesuatu, dia jadi tertegun.

“akhh. lelaki atau perempuan ?" gumamnya dengan suara
perlahan.
Dan dia jadi tegang sendirinya, sedangkan suara tangis
bayi itu masih terdengar nyaring dan lantang.
Sintiauw juga tampaknya girang sekali waktu mendengar
suara tangis bayi itu, dia telah terbang keudara dan berulang
kali mendengarkan suara pekikannya, tampaknya diapun ikut
girang bahwa sang bayi telah lahir.
Sedangkan Sin Kim berulang kali mengeluarkan suara
mengerang perlahan. menunjukkan kegembiraannya juga.
Lo Him berjingkat mendekati pintu rumah, dia kemudian
bertanya dengan suara serak ; „Perempuan .... atau lelaki ?”
dan waktu bertanya begitu, Lo Him merasakan ketegangan
yang sangat, jantungnya juga berdebar keras.
„Lelaki....!" menyahuti Siauw Liong Lie disertai suara
tertawa bahagianya.
„Ha !” untuk sejenak sepasang mata Lo Him terpentang
lebar2, dan ketika dia telah kembali kesadarannya, tahu2 dia
mengeluarkan suara teriakan yang nyaring melompat ber
guling2 di tanah sambil mengeluarkan teriakan2 gembira.
Tetapi tidak lama kemudian dia telah menangis sambil duduk
dan tubuhnya gemetar.
„Ohhhh Thian rupanya telah memenuhi permitaanku !
Syukur ! Syukur !" teriaknya keras.
Begitulah, kehadiran bayi tersebut dengan kegembiraan
yang sangat oleh semua penghuni lembah tersebut.
Tiba2 Lo Him mendengar Siauw Long Lie memanggilnya,
lelaki kasar ini ragu2 sejenak, dia menghampiri pintu dan
kemudian berdiri tertegun disitu sesaat lamanya.
„Him-heng ?" terdengar Siauw Liong Lie memanggil lagi.
„Aku ada disini !" menyahuti Lo Him.

„Masuklah !" kata Siauw Liong Lie.
„Sudah beres ?" tanya Lo Him canggung.
„Semuanya sudah dibereskan !" menyahuti Siauw Liong Lie
disertai oleh suara tertawanya.
Lo Him mendorong pintu dan melangkah masuk. Dia
melihat Siauw Liong Lie tengah duduk setengah rebah disudut
pembaringan rumput nya dan tengah menggendong bayinya.
„akhh !" berseru Lo Him waktu melihat, raut wajah bayi itu
yang tampan putih. „Anak yang manis ! Anak yang manis !".
„Him-heng, karena kau telah meminta untuk mengangkat
anak ini sebagai putera angkatmu, maka silahkan kau
memilihkan nama yang baik untuknya !".
Lo Him jadi kelabakan, dia berpikir keras. Tetapi akhirnya
d:a bertanya. „Ayahnya she apa?" "she Yo!"
“Bagaimana kalau aku memberi nama Him ?" tanyanya.
"Ihhh, itu tokh namamu sendiri?" tanya Siauw Liong Lie
tertawa. „Apakah kau ingin mempersamakan namanya dengan
namamu?"
„Bukan begitu! Bukan begitu!" kata Lo Him cepat.
„Walaupun dia telah menjadi anak angkatku, tetapi
......tetapi..." dan Lo Him tidak meneruskan perkataannya lagi.
„Kenapa?" tanya Siauw Liong Lie yang heran melihat sikap
Lo Him.
„Bukankah setelah lewat empat puluh hari kau akan
meninggalkan lembah ini, dan berarti anak itu ... anak itu akan
ikut bersama kau ? Nah, nama Him itu kelak akan
mengingatkan-nya kepadaku. Mudah2an saja kelak jika dia
telah dewasa, dia bisa teringat kepada ayah angkat nya dan
datang menjenguk kemari”

„Oohh, itu sudah jelas", kata Siauw Liong Lie tertawa.
„Walaupun tanpa menanti dewasa kami, ayah ibunya, tentu
akan sering2 menjenguk kau, Him Toako !" dan Siauw Liong
Lie telah berobah sebutan "heng" (saudara) dengan perkataan
“Toako" (kakak).
Bukan main girangnya Lo Him, dia sampai berjingkrak.
„Huss ! Jangan ribut Him Toako, nanti si Him kecil ini kaget
oleh tingkahmu itu!,, Siauw Liong Lie memperingati sikap dari
si Biruang Tua yang tengah kegirangan itu.
Lo Him tertegun, namun cepat sekali dia me-nepuk2
kepalanya
„Memang aku tidak tahu diri, nanti si Him kecil kaget
disebabkan aku . . . !"
Dan Lo Him telah pergi keluar, cepat2 dia pergi mencari
buah2an dan kelinci, untuk dibakar dagingnya.
HARl2 lewat dengan cepat sekali, tanpa terasa telah empat
puluh hari.
Siauw Liong Lie menyampaikan kepada Lo Him bahwa
besok dia bersama anaknya akan meninggalkan lembah itu,
untuk mencari Yo Ko, ayah dari anaknya itu.
Lo Him jadi duduk termenung, sampai akhirnya setelah
Siauw Liong Lie menghiburnya bahwa dia bersama suaminya
akan sering2 mengajak si Him kecil itu menjenguki Lo Him,
barulah Lo Him mengangguk sambil katanya dengan sikap
yang tetap lesu. „Biarlah hari ini aku akan menangkap dua
ekor kelinci, aku akan menjamu kau, anggap saja sebagai
pesta perpisahan ---".
Siauw Liong Lie terharu melihat Lo Him, hampir saja Siauw
Liong Lie menitikkan air mata. Namun karena dia menyadari

kalau menangis akan menambah kesedihan Lo Him, sehingga
Siauw Liong Lie tertawa.
Memang Lo Him pergi tidak lama, dia telah berhasil
membawa dua ekor kelinci buruannya yang tadi dijanjikan.
Dibakarnya kedua ekor kelinci itu untuk menjamu Siauw Liong
Lie.
Bukan main perasaan terima kasih dihati Siauw Liong Lie
atas kebaikan tuan penolongnya ini.
Malam itu Siauw Liong Lie tidur dengan nyenyak sekali
disamping bayinya.
Tetapi berbeda dengan Siauw Liong Lie justru Lo Him yang
akan mengalami perpisahan dengan anak angkatnya, dan
nanti juga akan hidup sendiri pula dilembah itu menderita
kesepian, dengan sendirinya dia jadi gelisah dan tidak bisa
tidur, Akhirnya menjelang tengah malam Lo Him telah keluar
dari goanya.
Dengan hati yang berduka, dia telah berjalan perlahan2
mendatangi rembulan yang memancarkan cahayanya yarg
terang tergantung dilangit.
Akhirnya, dia duduk bengong disebuah batu gunung yang
agak menonjol letaknya.
Disaat Lo Him sedang duduk terpekur begitu, tiba2 dia
mendengar suara berkeresek.
Menyusul mana Sin Kim. macan tutul yang menjadi
sahabatnya, yang saat itu tengah rebah tidur digoanya
melompat bangun.
Lo Him dan macan tutul itu telah saling pandang sejenak,
kemudian Lo Him mengangguk, membenarkan bahwa ada
orang yang berkeliaran didalam lembah itu.

Dengan gesit Lo Him melompat Kebalik batu gunung itu
untuk menyembunyikan diri. sedangkan Sin Kim, simacan tutul
itu telah masuk kedalam goa.
Keadaan sunyi sekali, tidak terdengar sesuatu apapun juga
selain angin yang tengah mempermainkan daun2 pohon
dengan hembusannya yang lembut.
Lo Him telah memasang mata dengan sinarnya yang
bengis, karena dia menduga bahwa orang yang tengah
berkeliaran dilembahnya ini adalah orang2 yang tidak
bermaksud baik. Didengar dari suara langkah kakinya, Lo Him
meng hitungnya orang yang tengah mendatangi kemulut
lembah berjumlah empat orang.
„Siapa mereka ?" berpikir Lo Him dengan gelisah, karena
itu dia segera menguatirkan ke selamatan Yo Him, si Him kecil
yang menjadi anak angkatnya.
Dia mendengar suara langkah kaki keempat orang yang
tengah mendatangi itu ringan sekali, hampir tidak terdengar,
suara berkeresek itupun sama halusnya seperti suara angin
yang menghembus daun2 pohon.
Tetapi telinga Lo Him yang terlatih dan tajam bukan main
telah mendengarnya dengan jelas, terlebih lagi Sin Kim yang
memiliki penciuman sangat tajam.
Keduanya seorang manusia dan seekor macan tutul, bersiap2
untuk menyambut kedatangan "tamu" tidak diundang
tersebut.
Menanti tidak lama. dari arah mulut lembah tampak
melangkah mendatangi empat sosok tubuh dengan gerakan
yang ringan sekali.
Keempat tubuh itu, yang semuanya lelaki telah berhenti
dan berbisik2.
Malah Lo Him mendengar antara lain perkataan , „Dia
menghilang disekitar tempat ini... dan kita harus mencarinya

terus! Sejak tadi ku lihat bahwa disekitar tempat ini ada
kehidupan pasti lembah ini memiliki penghuninya..."
Hati Lo Him tergoncang, entah siapa orang yang dicari oleh
keempat "tamu" tidak diundang tersebut?
Tetapi Lo Him tidak mau terlalu lama berpikir, dia telah
mengawasi dengan ber-siap2 kalau saja keempat orang itu
menghampiri lebih jauh dan melihat rumah kayu yang
dibangunnya, yang didiami oleh Siauw Liong Lie dan Yo Him,
maka disaat itulah Lo Him akan segera keluar untuk
melancarkan serangan.
„Apakah kau yakin dia belum meninggalkan tempat ini ?"
tanya salah seorang lainnya.
„Hemm --- dia tengah hamil, dan mungkin bulan ini
perutnya tengah besar2nya. Kita tawan dan usahakan jangan
sampai dia bisa meloloskan diri pula...".
Dan baru saja orang itu berkata demikian tiba2 kawannya
yang lain telah menunjuk.
„Lihat ! Ada rumah !" berseru orang itu dengan suara
gembira.
Hati Lo Him jadi tambah tegang sendirinya. Dia mengawasi
lebih tajam.
Dilihatnya keempat oraug itu telah melangkah menghampiri
rumah kayu dimana didalamnya berada Siauw Liong Lie dan
Yo Him.
Ketika keempat orang itu baru melangkah lima tindak, Lo
Him sudah tidak bisa menahan hatinya lagi, dengan cepat dia
telah mengeluarkan suara seruan keras, tubuhnya tahu2
melompat keluar, menghadang dihadapan keempat orang
itu.
„Berhenti!" bentaknya bengis. „Apa yang ingin kalian
lakvkan ditempatku ini?"

Keempat orang itu jadi terkejut, tetapi setelah melihat
orang yang menegur mereka seperti „orang hutan", mereka
jadi tertawa.
Karena jarak mereka sudah dekat, dibawahi sinarnya
rembulan Lo Him bisa melihat diantara keempat orang itu
terdapat seorang Lhama merah dua orang berpakaian sebagai
guru silat, dan seorang pendeta Mongolia yang bertubuh
tinggi besar bermuka kejam.
Mereka telah membalas memandang Lo Him, dengan suara
mengejek Lhama itu telah menegur „Engkaukah yang menjadi
penghuni lembah ini?"
„Tepat !" menyahuti Lo Him dengan ketus
„Hmmmmm, apakah engkau pernah melihat seorang
wanita cantik yang tengah hamil dan seekor burung rajawali
berukuran besar enam atau tujuh bulan yang lalu?" tanya
Lhama itu lagi.
„Kalau melihat bagaimana dan kali tidak bagaimana ?"
tanya Lo Him dengan mendongkol karena dia melihat keempat
tamu tidak diundang ini angkuh sekali.
„Ihh ?" berseru Lhama itu kaget. Tetapi kemudian dia jadi
marah. „Engkau kurang ajar sekali. Tahukah engkau siapa
kami ?".
“Aku tidak perlu tahu !" berseru Lo Him. Mendengar
jawaban Lo Him, rupanya Lhama itu jadi meluap darahnya.
„Aku Chiluon selamanya belum pernah bertemu dengan
manusia kurang ajar seperti kau rupanya engkau perlu dihajar
agar dilain waktu tahu menghormati orang !" dan setelah
berkata begitu, Lhama tersebut maju selanjutnya dia
mengulurkan tangannya dengan maksud akan mencengkeram
bahu Lo Him, yang niatnya untuk dibanting.
Tetapi Lo Him dengan mudah menggerakkan bahunya,
sehingga cengkeraman Lhama itu lolos.

„Ihh !" Lhama itu, Chiuluon , jadi mengeluarkan seruan
kaget.
Tetapi tidak lama, sebab dengan mengeluarkan seruan
mengguntur, dia mengulangi mengulur tangannya.
Kali ini berbeda dengan tadi. Jika tadi Chiuluon
melancarkan serangan dengan seenaknya saja, karena dia
menduga lawannya tidak memiliki kepandaian apa2. Namun
sekarang setelah dia mencela begitu, dia melancarkan
cengkeraman selain cepat juga disertai oleh kekuatan tenaga
lwekang yang hebat sekali.
Angin cengkeraman itupun telah menyambar datang
sebelum jari2 tangan Chiuluon tiba, sehingga Lo Him juga
terkejut dan tidak berani memandang enteng terhadap
serangan tersebut, maka dari itu dengan cepat dia telah
melompat untuk mengelakkan diri.
Namun Chiuluon yang telah mengetahui bahwa Lo Him
memiliki kepandaian yang tinggi, telah melancarkan serangan
yang tidak main2 lagi setiap serangannya selain cepat juga
mengandung tenaga serangan yang bisa mematikan.
Maka dari itu tidak mengherankan jika serangan itupun
telah mengejutkan Lo Him, yang cepat2 telah bersilat dengan
gerakan2 yang gesit sekali, diapun telah memusatkan tenaga
sakti dikedua telapak tangannya.
Latihan lwekang yang dimiliki Lo Him ini bukan
sembarangan tenaga dalam, angin serangannya men deru2
dengan hebat sekali, sehingga membuat Chiluon terkejut
bukan main dan telah menambah tenaga serangannya.
Begitu pula dengan ketiga orang kawannya, yang
memandang dengan tatapan mata heran, karena mereka tidak
menyangka ditempat seperti ini mereka bisa bertemu dengan
orang yang berkepandaian tinggi seperti Lo Him. Dalam
sekejap mata saja telah dua puluh jurus mereka bertanding.

Pendeta Mongolia itu tidak lain Tiat To Hoat-ong. Dia yang
mengajak ketiga kawannya itu, karena Chiluon memiliki
kepandaian yang tinggi sekali, hanya berada setingkat
dibawah-nya, dan juga kedua orang sahabatnya yang
berpakaian sebagai busu, guru silat itu, merupakan pengawal2
pribadi Kaisar Kublai Khan, adalah pengawal kelas satu dalam
istana. Keduanya masing2 bernama Turkichi dan Talengkie.
Jika Turkichi memiliki kepandaian mencengkeram yang
dahsyat sekali, yang sekali mencengKeram dapat
menghancurkan batu dan baja, karena kesepuluh jari
tangannya itu telah dilatih dengan sempurna sekali. Ilmu
cengkeram yang dimiliki Turkichi mirip2 dengan ilmu
mencengkeram „Kiu Im Pek Kut Jiauw (Cengkeraman Tulang
Putih) yang pernah dilatih Bwee Tiauw Hong. Maka dari itu
bisa dibayangkan betapa hebatnya ilmu cengkeram yang
dimiliki Turkichi.
Sedangkan Talengkie juga memiliki ilmu Siang to (
sepasang golok ) yang luar biasa, sekali tabas dapat
merubuhkan belasan lawan. Di negerinya, Mongol, dia
merupakan pahlawan istana raja kelas satu yang disegani.
Dengan mengajak ketiga orang kawannya itu,
sesungguhnya Tiat To Hoat-ong bermaksud mencari Siauw
Liong Lie, Dia yakin Siauw Liong Lie masih berada disekitar
tempat tersebut, dan terlebih pula memang Siauw Liong Lie
tengah hamil, dengan mudah pasti akan dapat dicarinya.
Umpama kata Siauw Liong Lie telah pergi meninggalkan
tempat tersebut, tentu mereka bisa mengikuti jejaknya.
Tiat To Hoat-ong juga merasa yakin bahwa dia telah
berhasil melukai Siauw Liong Lie dengan pukulannya yang
dahsyat, se-tidak2nya Siauw Liong Lie tentunya telah terluka
berat.

Tetapi begitu jauh, dia masih belum berhasil menemuinya,
bahkan mereka telah memasuki lembah dan bertemu dengan
Lo Him.
Disaat itu, dikala Lo Him tengah didesak hebat sekali oleh si
Lhama Chiuluon, tiba2 dari dalam sebuah goa terdengar suara
mengereng yang menggetarkan lembah itu.
Dengan cepat Tiat To Hoat ong menoleh, dan mereka,
sipendeta dengan kedua kawannya melihat sesosok bayangan
panjang yang menerjang kearah mereka.
Tiat To Hoat ong mengerutkan alisnya, dia mengibaskan
lengan bajunya.
Serangkum angin serangan yang kuat sekali menghantam
keras kearah sosok bayangan tajam yang panjang itu.
Seketika itu juga sosok bayangan tersebut telah terpental
dan bergulingan ditanah sambil mengeluarkan suara meraung
yang keras sekali.
Ternyata sosok bayangan itu tidak lain dari simacan tutul
Sin Kim.
Akibat kibasan lengan baju Tiat To Hoat-ong dia telah
terlempar dan terguling hebat, namun cepat sekali dia telah
melompat bangun dan menerkam lagi kearah sipendeta.
Turkichi melihat itu segera mewakili Tiat To Hoat ong
menyambuti serangan yang dilancarkan oleh macan tutul
tersebut, dia mengulurkan kedua tangannya dan "ceppp"
kesepuluh jari tangannya telah menancap diperut macan itu
dalam2, sehingga Sin Kim meraung dan telah mencakar dan
menggigit kearah depan sekenanya.
Tetapi Turkichi menggeser kedua kakinya, tubuhnya
dimiringkan sehingga dia berhasil mengelakkannya dan tidak
kena dicakar dan digigit oleh macan tutul itu.

Setelah mengeluarkan suara raungan yang keras, akhirnya
tubuh Sin Kim rubuh tidak bergerak lagi. Putus napasnya
Sin Kim telah mati dan mitra kematiannya itu menggema
dilembah tersebut sedangkan Turkichi telah menyusut darah
dikesepuluh jari tangannya sambil memperlihatkan sikap yang
sangat angkuh.
Suara raungan Sin Kim. yang merupakan raung kematian.
telah mengejutkan Lo Him. Dia menoleh dengan muka pucat
dan tubuhnya menggigil melihat nasib macan tutulnya itu,
Disaat itulah walaupun hanya beberapa detik saja, telah
dipergunakan oleh Chiluon dengan sebaik mungkin, dia telah
menghantam kearah dada Lo Him sehingga tubuh Lo Him
terpental akibat serangan yang tepat itu.
Disaat tubuh Lo Him terpental begitu, Sauw Liong Lie baru
keluar dari rumah kayu itu, karena dia mendengar suara
meraung dari Sin Kim yang keras sekali.
Betapa terkejutnya Siauw Liong Lie, dia keluar sambil
menggendong anaknya, Yo Him, dan tangannya gemetar
waktu melihat keadaan Lo Him yang menggeletak ditanah
sambil memuntahkan darah segar dan juga Sin Kim
yang telah binasa dengan keadaan yang mengenaskan,
dengan perutnya yang berlobang berlumuran darah.
Disaat itu juga Siauw Liong Lie telah melihat diantara
empat orang yang tengah berdiri dengan sikap yang angkuh
itu, terdapat Tiat To Hoat-ong
Dengan gusar Siauw Liong Lie membuka ikat pinggangnya,
tubuhnya dengan ringan telah melompat menerjang sambil
memutar ikat pinggangnya.
„Dia orangnya!" berseru Tiat To Hoat ong dengan girang.
„Tangkap, jangan biarkan dia lolos."
Dan Tiat To Hoat ong bukan hanya berteriak belaka, karena
dia telah melompat dan mendahului untuk menyerang. Hebat

sekali terjangannya karena dia telah melancarkan serangan
yang dahsyat.
Siauw Liong Lie tidak jeri terhadap siapa pun juga, dia
hanya merasa kuatir kalau2 sipendeta nanti mempergunakan
tabung gasnya.
Turkichi dan Talengkie juga telah melompat sambil
melancarkan serangan, Talengkie telah mencabut sepasang
senjata goloknya yang bentuknya aneh panjang bergigi, dia
melancarkan serangan dengan hebat sekali.
Chiluon juga telah mengeluarkan suara bentakan, ikut
melancarkan serangan Kepada Siauw Liong Lie.
Nyonya Yo Ko merasakan serangan datang ber tubi2 dan
hebat sekali.
Dia memutar ikat pinggangnya, tetapi tenaganya belum
pulih keseluruhannya, dia baru saja melahirkan dan dengan
sendirinya menghadapi serangan keempat lawannya yang
masing2 memiliki kepandaian yang demikian tinggi Siauw
Liong Lie jadi terdesak juga.
Diam2 Siauw Liong Lie mengeluh dia melihat Lo Him
terluka parah dan tidak bisa berdiri, hanya mengerang2
kesakitan karena luka yang dideritanya bukan main hebat.
Tiat-To-Hoat-Ong girang sekali sebab dia yakin Siauw Liong
Lie akan dapat ditawannya kembali. Sekali2 sipendeta Mongol
itu telah memandang sekelilingnya, dia melihat kalau Sin-tiauw
pun berada disekitar tempat itu, tetapi nyatanya bayangan
burung rajawali itu tidak berada ditempat keadaan tersebut
sehingga sipendeta ber-tanya2, entah kemana perginya
burung rajawali yang sakti itu. Keringat dingin mulai menitik
deras ditubuh Siauw Liong Lie.
Dia hanya bisa bertempur dengan mempergunakan tangan
kanan belaka, karena tangan kirinya tengah menggendong
anaknya. Sehingga kegesitan Siauw Liong Lie juga berkurang

akibat perhatiannya yang terpecah, sebab walaupun
bagaimana dia kuatir kalau2 anaknya nanti terluka.
Tiat To Hoat ong yang licik telah dapat melihat kekuatiran
nyonya Yo itu.
Dengan cepat dia telah merobah cara ber tempurnya. Hoatong
ini telah membiarkan kawan2nya mendesak sinyonya,
sedangkan dia sendiri berulang kali telah melancarkan
serangan yang dahsyat, ditujukan kepada anaknya sinyonya
yang berada dalam gendongan.
Tentu saja hal itu membuat Siauw Liong Lie jadi panik, dia
memang tengah mempergunakan ilmu silat Giok Lie Kiamhoat.
ilmu silat bidadari, dan dia mempergunakan ikat
pinggangnya sebagai pengganti pedang, dengan sendirinya
gerak-geriknya tidak leluasa.
Dan kini disaat Tiat To Hoat ong melancarkan serangan
yang ber-tubi2 kearah anaknya keruan saja membuat dia jadi
tambah sibuk.
Berulang kali Siauw Liong Lie telah berusaha bersiul
nyaring, memanggil Sin Tiauw tetapi burung itu tidak juga
terlihat.
Saat itu desakan keempat lawannya semakin lama jadi
semakin hebat, dan yang menguatirkan Siauw Liong Lie
justeru disaat itu Tiat To Hoat-ong telah beberapa kali
berusaha merogoh sakunya.
Siauw Liong Lie bisa menduga bahwa pendeta Mongol ini
tentu ingin mengambil tabung gas nya.
Mati2an Siauw Liong Lie menghantam kan ikat
pinggangnya, yang sebentar lunak dan sebentar keras dia
melancarkan serangan yang dahsyat sekali. Hal itu agar
mencegah sipendeta mengambil tabung gasnya itu.

Kenyataan seperti itu tentu saja membuat Tiat ToHoat ong
jadi mendongkol.
Dia telah memperhebat serangannya. Suatu kali, terdengar
jeritan Siauw Liong Lie, karena bahu kanannya telah kena
dicengkeram oleh Turkichi, sehingga mengucurkan darah.
Dan golok Talengkie juga telah berhasil melukai lengan
nyonya itu. Setelah lewat empat jurus lagi, lengan kirinya juga
telah dilukai.
Melihat keadaan demikian, seketika itu juga Siauw Liong Lie
menyadari bahwa dia tidak mungkin dapat menghadapi
lawan2nya itu dengan keadaan demikian, karena walaupun
terlambat, tetapi dirinya akan dirubuhkan. Terlebih lagi jika
sipendeta telah mempergunakan tabung gasnya.
Maka dengan cepat dia telah memutar ikat pinggangnya
dengan mengerahkan tenaganya, sehingga memaksa keempat
lawannya melompat mundur.
Disaat itulah Siauw Liong Lie menjejakkan kakinya
tubuhnya telah melambung keudara, dan dengan
mengerahkan seluruh kekuatannya dia lari dengan
mempergunakan ilmu meringankan tubuh untuk meninggalkan
tempat itu.
„Kejar?" teriaknya Tiat To Hoat-ong dengan gusar.
Keempat orang itu segera juga melakukan pengejaran.
Bahkan Talangkie telah menggerakan tangan kanannya.
„Serrr. serrr," dua sinar hijau telah menyambar kearah
Siauw Liong Lie.
Tetapi nyonya itu telah berhasil mengelakan dua serangan
paku beracun yang dilontarkan lawannya.
Karena berkelit begitu, maka Siauw Lion Lie jadi terlambat
dalam gerakannya.

Sehingga keempat lawannya telah menyusul kian dekat
saja.

ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko], cersil terbaru, Cerita Dewasa, cerita mandarin Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko],Cerita Dewasa terbaru Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko],Cerita Dewasa Terbaru Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko], Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko]
Anda sedang membaca artikel tentang Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko] dan anda bisa menemukan artikel Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko] ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-mandarin-new-sin-tiauw-thian-lam.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko] ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko] sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cersil Mandarin New : Sin Tiauw Thian Lam [Lanjutan Pendekar Yo Ko] with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cersil-mandarin-new-sin-tiauw-thian-lam.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

trica jus mengatakan...

bagus sekali saya suka

Poskan Komentar