Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 3

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 07 Desember 2011

303
"Ada satu hal mesti kau tahu, dalam gedung Bu-lim Bengcu
terdapat mata-mata yang mendekam di situ, bahkan orangorang
Put-gwa-cin-kau menganggap Pinni sudah meninggal
dunia sejak belasan tahun berselang. Apabila rahasia ini
sampai terbongkar, sudah pasti pihak Put-gwa-cin-kau akan
turun tangan membekuk semua jago, hal ini dapat
mempengaruhi berpuluh-puluh jiwa jago berilmu tinggi."
Bong Thian-gak termenung beberapa saat lamanya, setelah
itu katanya, "Hingga sekarang di dalam gedung Bu-lim Bengcu
masih terdapat seorang mata-mata yang mendekam di situ,
konon adalah Cap-go-kaucu. Apakah Suthay mengetahui asalusul
Cap-go-kaucu ini?"
"Sudah belasan tahun Pinni tak pernah mencampuri urusan
perkumpulan, rahasia semacam itu hanya diketahui majikanku
saja."
"Persoalan ini tak mungkin bisa ditunda-tunda lagi, aku
ingin mohon diri sekarang juga."
"Apakah Siangkong tidak bersantap dulu? Bersantaplah
sebelum pergi!"
"Terima kasih banyak, sampai bertemu lagi di lain
kesempatan." Selesai berkata, dengan cepat pemuda ini
berangkat meninggalkan kuil Nikoh itu.
Setelah keluar dari kuil, Bong Thian-gak menentukan arah
tujuannya, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan
tubuhnya buru-buru berangkat kembali ke gedung Bu-lim
Bengcu.
Sementara Ho Put-ciang sekalian sudah menunggu di
halaman tengah, mereka sedang menanti dengan perasaan
sangat gelisah.
Orang-orang itu menjadi amat gembira setelah
menyaksikan Bong Thian-gak muncul kembali dalam keadaan
selamat.

304
Pendekar sastrawan dari Im-ciu Thia Leng-juan segera
bertanya, "Ko-heng, apakah menemukan sesuatu
perkembangan baru?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Ya, tidak sia-sia perjalananku kali ini."
"Apa yang berhasil Ko-siauhiap temukan? Apakah kau
dapat memberitahukan?"
Dengan cepat Bong Thian-gak menggeleng.
"Aku telah berjanji kepada orang lain untuk tidak
membocorkan rahasia itu, harap saudara sekalian sudi
memaafkan, cuma kalian pun tak akan menanti terlalu lama."
"Sembilan hari lagi segala sesuatunya akan menjadi
terang."
"Sebagai anggota persilatan, janji memang harus ditepati,
kalau begitu Ko-siauhiap tak usah mempersoalkan itu."
"Sembilan hari lagi, dunia persilatan akan mengalami suatu
perubahan yang amat pesat, sekarang aku harus
melaksanakan tugas pertama yang dibebankan Ku-lo Sinceng
sebelum ajal, yaitu melindungi keselamatan Jit-kaucu."
"Apakah kau telah berhasil menemukannya?"
"Ya, aku telah berhasil menemukan jejaknya!"
"Jadi orang-orang Put-gwa-cin-kau belum meninggalkan
kota Kay-yang?" tiba-tiba Thia Leng-juan berkata.
"Oya, hampir saja aku lupa memberi keterangan kepada
kalian, dalam sembilan hari ini, pihak Put-gwa-cin-kau akan
mendatangkan semua jago intinya ke kota Kay-hong, mungkin
pertempuran akan segera berlangsung, kita harus bersiap
menghadapi setiap perubahan."
"Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau pandai dalam ilmu beracun dan
membunuh orang tanpa wujud, kita harus berhati-hati

305
terhadap orang Ini, jangan sampai dia berhasil menyelundup
ke dalam gedung Bu-lim Bengcu dan meracuni kita semua. Ciri
muka Ji-kaucu adalah...:
Secara ringkas Bong Thian-gak melukiskan raut wajah
maupun ciri khas Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau ini kepada para
jago.
Setelah para jago dalam gedung Bu-lim Bengcu mendapat
berita itu dari mulut Bong Thian-gak, mereka mulai melakukan
persiapan menghadapi setiap perubahan yang bakal terjadi.
Sementara itu Bong Thian-gak sendiri sudah meninggalkan
gedung Bu-lim Bengcu berangkat ke tempat tujuan.
0oo0
Sebelah utara kota Kay-hong merupakan sebuah padang
rumput, luasnya mencapai puluhan li, dengan mengerahkan
ilmu meringankan tubuh Bong Thian-gak melesat ke depan
dengan kecepatan luar biasa.
Kurang lebih setengah jam kemudian dia sudah menempuh
perjalanan dua puluh li.
Diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Menurut keterangan
Keng-tim Suthay, perkampungan itu terletak tiga puluh li di
sebelah utara kota ini, berarti aku sudah makin mendekati
sasaran."
Berpikir demikian, dia lantas mempertinggi kewaspadaan
dan melanjutkan perjalanan ke depan.
Padang rumput yang liar kini telah menjadi sawah yang
berpetak-petak, luasnya mencapai puluhan li.
Bong Thian-gak harus berjalan menelusuri jalan yang diapit
ole hektaran sawah yang tiada batasnya, akhirnya dia
menangkap titik-titi cahaya lampu di kejauhan sana.
Rupanya dia telah mendekati sebuah perkampungan deng
bangunan yang berlapis-lapis.

306
Sekeliling perkampungan itu dipagari dinding kayu besar ya
amat tinggi, sepintas keadaan mirip sebuah benteng yang
kokoh.
Bong Thian-gak segera memperlambat gerak tubuhnya,
bebera kali lompatan saja dia sudah mencapai bawah dinding
sebelah barat.
Setelah mendongakkan kepala dan memperhatikan
sekej keadaan sekeliling tempat itu, tanpa menimbulkan
sedikit suara pun menyelinap ke balik pagar yang tingginya
mencapai satu depa lebih.
Mendadak segulung bayangan hitam dengan membawa
bau busuk menerkam datang dengan kecepatan luar biasa,
Bong Thian-gak sangat terkejut, dengan cepat dia memutar
tubuh seperti gangsingan dan menyelinap, menanti dia
membalikkan badan, pemuda itu terperanjat.
Rupanya di hadapannya mendekam seekor serigala yang
besarnya seperti anak kerbau, bulunya yang putih dengan
sepasang mata berwarna hijavi sedang melotot gusarnya ke
arahnya, dilihat dari gayanya, dia sedang bersiap melancarkan
tubrukan kedua.
Selama hidup belum pernah Bong Thian-gak menyaksikan
serigala sebesar itu, hatinya kontan bergidik, cepat dia
memutar otak mencari suatu akal, pikirnya, "Kalau aku
melarikan diri, pasti serigala itu akan menggonggong,
sebaliknya kalau tidak pergi, bisa jadi serigala-serigala lain
akan berdatangan dan semakin memusingkan kepala."
Baru saja ingatan itu melintas, serigala itu sudah
menerjang datang lagi bagai segulung angin puyuh yang
menderu-deru.
Bong Thian-gak menghindar, dia hanya sedikit menggeser
bahu kirinya, lalu tangan kiri disodokkan ke atas, secara telak

307
mencengkeram serigala itu, menyusul telapak tangan kanan
diayunkan ke bawah melancarkan sebuah bacokan maut.
Ilmu silat Bong Thian-gak telah mencapai puncak
kesempurnaan, cengkeraman ini dilakukan setajam bacokan
pedang atau golok.
Seketika itu juga tulang leher serigala itu terbabat putus,
apalagi ditambah bacokan telapak tangan kanannya, tak
sempat bersuara lagi mampuslah serigala besar itu.
Selesai membinasakan serigala itu, Bong Thian-gak segera
membuang bangkai serigala itu ke tengah sawah, kemudian
melompat melewati tembok pekarangan, tanpa berhenti dia
meluncur naik ke atas atap rumah.
Malam itu tak berbulan, hanya bintang bertaburan di
angkasa membiaskan cahaya redup, namun bagi Bong Thiangak
yang bertenaga dalam sempurna, ia dapat menyaksikan
pemandangan yang berada setengah li di sekeliling tempat itu.
Sambil mendekam di atas atap rumah Bong Thian-gak
mencoba mengamati keadaan sekeliling sana.
Rupanya tempat itu merupakan sebuah perkampungan
yang terdiri dari dua ratus orang kepala keluarga, kebanyakan
merupakan rumah petani yang sederhana, hanya di sudut
utara sana berdiri kokoh sebuah gedung yang sangat besar.
Satu-satunya keistimewaan dusun ini adalah setiap
rumahnya teratur rapi dan bersih dengan jalan raya yang
lebar, di tepi jalan tertanam pepohonan yang rindang, betulbetul
sebuah perkampungan yang sangat nyaman.
Mendadak Bong Thian-gak menyaksikan dari jalan raya
dalam perkampungan bermunculan kawanan serigala
melakukan perondaan kian-kemari, tampaknya serigalaserigala
itu memang sengaja disebar di setiap sudut
perkampungan sebagai penjaga.

308
Terkesiap Bong Thian-gak menyaksikan kejadian itu, diamdiam
pikirnya, "Tak heran perkampungan petani ini tanpa
seorang pun, rupanya mereka menggunakan serigala untuk
melakukan perondaan malam."
Hampir saja Bong Thian-gak kehabisan daya setelah
menyaksikan begitu banyak anjing serigala yang berkeliaran di
sana, dia tak tahu dengan cara bagaimana dirinya harus
menyelundup ke perkampungan petani itu.
Waktu itu baru menjelang malam, namun perkampungan
petani yang amat luas itu tak nampak seorang pun yang
berlalu-lalang, dari dua ratus kepala keluarga yang berdiam di
situ, hanya beberapa rumah saja yang memancarkan cahaya.
Kembali Bong Thian-gak berpikir, "Kepala perkampungan
tani ini mungkin berdiam dalam gedung yang megah itu, bila
Jit-kaucu Thay-kun berada dalam perkampungan ini sudah
pasti dia berada di dalam situ."
Berpikir demikian, dengan berhati-hati Bong Thian-gak
melompat ke atas atap rumah dan bergerak menuju ke arah
gedung megah di sebelah timur laut dengan gerakan hati-hati
sekali.
Dia tahu betapa tajam daya penciuman serta pendengaran
serigala-serigala itu, tubuhnya bergerak seperti burung walet
dan secepat sambaran kilat meluncur ke muka tanpa
menimbulkan sedikit suara pun.
Akhirnya dia berhasil melewati pengawasan kawanan
serigala itu dan melayang turun di atas sebatang pohon Pekyang
yang berada di balik bangunan gedung megah itu.
Setibanya di atas pohon Pek-yang yang rimbun itu, sekali
lagi Bong Thian-gak mengamati keadaan sekeliling tempat itu.
Di sekitar halaman bangunan itu tidak nampak seekor
serigala pun, juga tak nampak orang melakukan perondaan,
semua itu membuat Bong Thian-gak lega.

309
Dia hanya takut terhadap serigala, namun tidak takut
kepada para peronda.
Dengan sepasang matanya yang tajam bagaikan burung
hantu Bong Thian-gak memusatkan segenap perhatian
memeriksa keadaan di situ, siapa tahu dia menemukan
sesuatu.
Mendadak dari kejauhan sana terdengar suara langkah kaki
manusia yang berkumandang makin mendekat.
Dengan cepat Bong Thian-gak mendongakkan kepala.
Dari balik sebuah pintu gerbang, tampak dua orang
berjubah hijau muncul dan berjalan ke arah pohon Pek-yang
dimana Bong Thian-gak bersembunyi.
Dengan terkesiap anak muda itu berpikir, "Ah, janganjangan
dia sudah mengetahui jejakku?"
Berpikir demikian, tanpa terasa dia meningkatkan
kewaspadaan untuk menjaga segala kemungkinan yang tak
diinginkan.
Tampak kedua orang berjubah hijau itu berjalan menuju ke
bawah pohon Pek-yang dan tiba-tiba berhenti.
Orang yang agak pendek sebelah kiri berdehem pelan, lalu
dengan suara rendah, berat dan parau ia berkata, "Hay-heng,
bukankah Ji-kaucu akan datang pada malam nanti?"
Mendengar nama Ji-kaucu, Bong Thian-gak berkesiap,
segera pikirnya, "Ah, gembong iblis itu akan datang, betulbetul
suatu kejadian yang sama sekali di luar dugaan,
mungkin keadaan rada kurang beres."
Berpikir sampai di situ, orang she Hay itu menjawab agak
dingin, "Angheng, Ji-kaucu memang seharusnya sampai di sini
sejak kemarin malam."
"Hay-heng, tahukah kau bahwa kehadiran Ji-kaucu di
kantor cabang kota Kay-hong ini menunjukkan duduk

310
persoalan agak sedikit luar biasa?" kembali orang berjubah
hijau she Ang itu bertanya.
"Ya, betul! Duduknya persoalan memang terasa agak luar
biasa, kalau tidak, Ji-kaucu tak akan mengutus kita berdua
untuk datang kemari tiga hari lebih awal!"
Orang she Ang itu tertawa kering, "Kita berdua adalah
utusan pembuka jalan Ji-kaucu, setiap kali Ji-kaucu hendak
berkunjung ke suatu tempat, kita berdualah yang selalu diutus
melakukan penyelidikan terlebih dahulu keadaan di sekitar
daerah kunjungannya, kebanggaan seperti ini sesungguhnya
kita patut gembirakan."
Dari pembicaraan itu Bong Thian-gak segera tahu bahwa
kedua orang ini adalah orang kepercayaan Ji-kaucu,
menyaksikan cara mereka berjalan maupun bertingkah-laku,
bisa diduga ilmu silat yang mereka miliki bukan kepandaian
silat kelas dua.
Kenyataan itu membuat Bong Thian-gak semakin tak berani
bertindak gegabah, bahkan untuk bernapas pun dia telah
menggunakan ilmu Kui-si-hoat (ilmu bernapas kura-kura).
Tiba-tiba terdengar orang she Hay berkata kembali, "Sekali
pun tugas yang dibebankan kepada kita merupakan suatu
kebanggaan tersendiri, namun tanggung-jawabnya besar
sekali, bahkan sedikit kesalahan pun tak boleh terjadi. Ketika
kemari, sebenarnya aku merasa sedikit kurang tenang."
"Mengapa?"
"Mengapa? Tidakkah kau lihat, berapa banyak sudah
pentolan dari tingkat lencana panah emas yang berdatangan
ke gedung ini?"
"Kan baru Jit-kaucu, Liok-kaucu, Kiu-kaucu serta komandan
pasukan pengawal tanpa tanding nomor dua!"
"Dari empat orang pentolan tingkat lencana panah emas
yang telah hadir itu, tiga di antaranya adalah murid CongTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
311
kaucu yang paling disayang, terutama sekali kedudukan Jitkaucu,
mereka sama-sama mempunyai kekuasaan besar."
"Hay-heng, keanehan apa yang terdapat di balik semua
itu?" tanya orang she Ang itu keheranan.
Orang she Hay tertawa dingin, "Ehm, masa kau tak pernah
mendengar pepatah mengatakan, 'Di atas sebuah bukit tak
boleh dihuni sepasang harimau'? Baik Jit-kaucu maupun Jikaucu
boleh dibilang sama-sama punya kekuasaan besar
dalam Put-gwa-cin-kau, menurut pendapatmu, apa sebabnya
Cong-kaucu mengirim mereka berdua ke satu tempat yang
sama? Itulah sebabnya bisa kuduga di sini telah terjadi suatu
peristiwa maha besar."
Orang she Ang termenung beberapa saat, lalu berkata,
"Hay-heng, menurutmu, kekuasaan Jit-kaucu dan Ji-kaucu
sama besarnya, tapi menurut pendapatku, kedudukan Ji-kaucu
jauh lebih tinggi."
"Ah, kau ini tahu apa?" kata orang she Ang dingin.
Setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh, "Ang-heng
baru tiga tahun bergabung dengan perkumpulan kita, tentu
saja kau tidak mengetahui rahasia besar Cong-kaucu kita itu."
"Rahasia besar apa?"
Tiba-tiba orang she Hay itu merendahkan suaranya dan
berkata, "Ang-heng, aku bersedia memberitahu soal ini
kepadamu, tapi jangan beritahukan lagi kepada orang lain."
"Tak usah kuatir Hay-heng, aku merasa amat cocok
denganmu, bahkan kau sudah kuanggap sebagai saudara
sendiri, masa aku bakal mengkhianati dirimu?"
"Kalau begitu kuberitahukan kepadamu, meski Jit-kaucu
adalah anak angkat serta murid Cong-kaucu, padahal yang
benar Jit-kaucu merupakan Suhu Cong-kaucu."

312
Orang she Ang seperti terkejut sekali, segera tanyanya
dengan perasaan tidak habis mengerti, "Hay-heng, kau bilang
Jit-kaucu adalah guru Cong-kaucu? Atas dasar apa kau
berkata demikian?"
"Sebab ilmu silat Cong-kaucu adalah atas ajaran Jit-kaucu,"
bisik mang she Hay. "Beberapa tahun berselang, aku pernah
ditugaskan memikul tanggung-jawab sebagai komandan
pasukan pengawal dari istana bagian dalam, itulah sebabnya
aku mengetahui persoalan ini."
Ketika mendengar perkataan itu, dengan suara heran orang
she Ang berseru, "Jadi kalau begitu ilmu silat Jit-kaucu masih
jauh di atas kepandaian Cong-kaucu?"
Dengan cepat orang she Hay menggeleng kepala berulangkali.
"Soal itu aku kurang tahu," sahutnya. Kemudian setelah
berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Ang-heng, oleh sebab itu
hubungan Jit-kaucu dengan Cong-kaucu sesungguhnya sangat
kacau, kendatipun dibilang kedudukan serta kekuasaan Jitkaucu
masih di bawah Ji-kaucu, namun karena Jit-kaucu
mempunyai hubungan yang amat istimewa dengan Congkaucu
maka atas dasar apa kau mengatakan kedudukan siapa
lebih tinggi dari siapa?"
Mendadak orang she Ang merendahkan suaranya, sambil
berbisik, "Hay-heng, menurut pendapatmu, kejadian apakah
yang mungkin akan terjadi di sini?"
Dengan cepat orang she Hay menggeleng kepala berulangkali.
"Aku kurang jelas dan tak berani memastikan. Pokoknya
kita berdua harus melaksanakan tugas seperti apa yang
diperintahkan Ji-kaucu, setia dan taat pada pekerjaan serta
perintah."

313
Bicara sampai di situ, dia mendongakkan kepala dan
memandang sekejap keadaan cuaca, kemudian melanjutkan,
"Ang-heng, malam ini kau bertugas sampai tengah malam
nanti, sedang tengah malam nanti sampai pagi adalah
giliranku!"
”Ah, tanpa terasa setengah jam sudah kita lewatkan untuk
berbincang-bincang. Hay-heng, silakan pergi beristirahat!"
"Silakan Ang-heng!" seru orang she Hay.
Sembari berkata, orang she Hay membalikkan badan dan
masuk kembali ke dalam gedung.
Kini di bawah pohon Pek-yang tinggal lelaki berjubah hijau
she Ang itu seorang.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benak Bong Thiangak,
segera pikirnya, "Mengapa aku tidak memanfaatkan
kesempatan ini untuk melenyapkan kedua orang ini lebih
dulu."
Tapi ingatan lain segera melintas dalam benaknya, "Bila
mereka dilenyapkan dan Ji-kaucu tiba kemari, bagaimana
jadinya?"
Baru saja dia berpikir sampai di situ, mendadak orang she
Ang itu sudah lenyap tak ketahuan kemana perginya.
Bong Thian-gak berkerut kening, pikirnya, "Ilmu silat orang
ini sangat lihai, tak nyana gerak-geriknya sama sekali tak
menimbulkan suara."
Untuk beberapa saat Bong Thian-gak duduk termangu di
bawah pohon Pek-yang, selang tak lama dia baru
mengeluarkan sebuah botol obat dan mengambil sebutir di
antaranya, lalu dengan kukunya merobek kulit obat tadi,
diletakkan di atas telapak tangan dan digosok-gosok sebentar,
kemudian dioleskan ke wajah sendiri.

314
Paras muka Bong Thian-gak yang semula pucat-pias itu
mendadak berubah merah padam, usianya yang berumur
sekitar dua puluh lima-enam tahun pun sekarang nampak
sepuluh tahun lebih tua.
Ternyata isi botol obat itu adalah Pek-pian-gi-yong-wan (Pil
perubah selaksa wajah) peninggalan Jian-bin-hu-li Ban Li-biau
di masa lampau.
Pil obat semacam ini merupakan obat sangat mujarab,
ketika Ban Li-biau dikejar umat persilatan di masa lampau,
dengan mengandalkan pil penyaru muka inilah dia berhasil
meloloskan diri dari pengejaran sehingga orang persilatan tak
pernah menemukan dirinya.
Selesai mengubah wajah, sementara itu Bong Thian-gak
sudah melompat turun dari atas pohon Pek-yang.
Dia lantas berpikir, "Sekarang aku telah mengubah wajah,
meski berjumpa orang yang kukenal, belum tentu mereka bisa
mengenali diriku dengan gampang."
Karena berpendapat demikian, nyali Bong Thian-gak
semakin besar, pertama-tama dia mengelilingi gedung itu satu
lingkaran lebih dulu, kemudian melakukan penelitian terhadap
setiap sudut halaman gedung itu.
Mendadak dari balik pintu halaman sebelah kiri Bong Thiangak
mendengar suara nyaring, dengan cekatan pemuda itu
menyelinap di balik pepohonan dan menyembunyikan diri.
Tampak sesosok bayangan menerobos keluar dari balik
jendela.
Di bawah cahaya bintang yang redup, dia dapat melihat
orang itu seorang dayang berbaju biru.
Usia dayang itu antara tujuh-delapan belas tahun, dengan
amat seksama dia memeriksa keadaan sekeliling tempat itu,

315
kemudian berjalan menuju ke sebuah kebun bunga kecil di
sebelah utara.
Bong Thian-gak merasa betapa mencurigakan gerak-gerik
dayang itu, didorong perasaan ingin tahu, secara diam-diam
dia menguntitnya.
Dengan ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna,
tentu »a)a gerak-geriknya tidak diketahui pihak lawan.
Setelah masuk ke dalam kebun bunga, mendadak dayang
berbaju bini itu duduk di atas gunung-gunungan sambil
bertopang dagu, sementara sorot matanya dialihkan ke atas
entah sedang memikirkan apa? Atau mungkin juga ia sedang
menantikan seseorang?
Dengan sabar dan tenang Bong Thian-gak menunggu
beberapa saat, ketika tidak menjumpai sesuatu yang
mencurigakan, sebenarnya dia hendak berlalu dari sana.
Siapa tahu pada saat inilah dari balik kebun bunga muncul
sesosok bayangan orang yang bergerak seperti sukma
gentayangan.
Orang itu berjubah panjang berwarna hijau, berperawakan
gemuk tapi kekar.
"Ah! Bukankah dia orang she Ang."
Ya, orang itu memang salah satu di antara dua petugas
yang diutus Ji-kaucu dan tadi sedang berbincang-bincang di
bawah pohon Pek-yang itu.
Orang she Ang itu langsung berjalan menuju ke arah
dayang berbaju biru, ia berkata, "Cong-kaucu telah mengambil
keputusan tak datang ke kota Kay-hong, yang datang adalah
Ji-kaucu."
"Kapan Ji-kaucu sampai di sini?"

316
"Seharusnya kemarin malam, tapi sampai sekarang belum
nampak muncul di sini, mungkin malam nanti atau mungkin
juga besok."
Tanya-jawab dilakukan kedua orang ini secara singkat, tapi
jelas sebelumnya tidak saling menyapa, tampaknya kedua
belah pihak sama-sama didesak oleh waktu.
Selesai mendengar tanya jawab itu, tergerak hati Bong
Thian-gak, ia lantas berpikir, "Oh, rupanya orang she Ang ini
seorang mata-mata! Tapi mata-mata siapa? Mungkinkah
mata-mata yang dikirim oleh Jit-kaucu Thay-kun?"
Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak jadi teringat
perkataan yang pernah disampaikan Keng-tim Suthay
kepadanya, "Di sekeliling Jit-kaucu terdapat banyak jago lihai
yang melindungi keselamatannya."
Belum habis dia berpikir, dayang berbaju biru berkata,
"Majikan bertanya, apakah keadaanmu aman?"
"Aman sekali," jawab orang she Ang, "Tolong sampaikan
kepada majikan, katakan aku sudah dipergunakan oleh Jikaucu."
"Majikan berpesan, bila menjumpai sesuatu yang aneh,
segera meloloskan diri, jangan melakukan pengorbanan siasia."
"Ehm, aku tahu, hubungan kita malam ini sampai di sini
dulu." Dayang berbaju biru tak bicara lagi, mendadak ia
bangkit dan siap berlalu dari situ.
Siapa tahu pada saat itu juga mendadak dari balik kebun
bunga melompat keluar sesosok bayangan orang.
"Ah!" dengan terkejut dayang berbaju biru berteriak.
Dengan cekatan orang she Ang pun membalikkan badan,
tapi segera pula ia tertegun pula.
Bong Thian-gak melihat pula kehadiran orang itu.

317
Orang yang muncul dari balik kebun bunga itu berwajah
dingin menyeramkan, dia adalah orang berjubah hijau she Hay
itu. Dengan terkejut bercampur heran Bong Thian-gak
membatin.
Dia menyadari apa gerangan yang sebenarnya terjadi.
Sementara itu orang she Ang sudah tahu rahasianya
terbongkar, dia tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Hahaha, belum tidur saudara," dengan senyum yang amat
tenang orang she Ang itu menegur pelan.
Orang she Hay tertawa dingin. "Ang Teng-siu, aku sudah
cukup liima menantikan kedatanganmu di sini."
Sembari berkata, selangkah demi selangkah orang she Hay
itu menuju ke kebun dekat gunung-gunungan dan langsung
menghampiri dayang berbaju biru serta orang she Ang itu.
"Hay Tiong-kim, kau terlalu menyiksa diri!" seru Ang Tengsiu
sambil tertawa.
Hay Tiong-kim menarik wajah dan berkata dingin,
"Siapakah dayang ini? Asal kau mau mengaku terus-terang,
aku orang she Hay masih akan mengingat hubungan kita di
masa lampau dengan memohonkan hukuman yang lebih
ringan dari Ji-kaucu, kalau tidak, hm, malam ini kau Ang Tengsiu
sudah ditakdirkan untuk mampus!"
"Siapa yang bakal mampus, saat ini masih sukar untuk
diduga, lebih baik jangan bicara sembarangan," kata Ang
Teng-siu tertawa.
Sambil berkata, seperti sambaran angin puyuh Ang Tengsiu
menerjang ke arah Hay Tiong-kim.
Dengan cekatan Hay Tiong-kim bersiap melancarkan
serangan httlasan.
Siapa tahu, pada saat itulah dari belakang tubuhnya
berhembus datang segulung angin pukulan yang sangat kuat,

318
Hay Tiong-kim segera merasakan isi perutnya hancur
berantakan, tak sempat mendengus lagi tubuhnya mencelat
ke depan dan roboh terjengkang ke atas tanah.
Kebetulan sekali Ang Teng-siu juga sedang melancarkan
serangan ke depan. "Duk!", bagaikan layang-layang putus
benang, tubuh Hay Tiong-kim mencelat.
"Blam", debu dan pasir beterbangan memenuhi angkasa,
setelah Hay Tiong-kim tak pernah merangkak bangun lagi.
Kepandaian silat Ang Teng-siu memang lihai, begitu
serangannya bersarang di tubuh Hay Tiong-kim, dia segera
merasakan tubuh musuh bagaikan sesosok mayat saja,
segulung tenaga perlawanan pun tidak ada.
Maka dengan cekatan dia menyelinap ke depan, kemudian
membangunkan mayat Hay Tiong-kim itu.
Tampak darah kental mengucur dari tujuh lubang indra Hay
Tiong-kim, jantungnya waktu itu sudah berhenti berdenyut.
Sementara itu dayang berbaju biru telah menerjang datang
pula, melihat Hay Tiong-kim sudah tewas, ia berkata sambil
menghela napas panjang, "Kepandaian silat Ang-tayhiap
benar-benar luar biasa, malam ini sepasang mataku benarbenar
terbuka."
Dengan wajah serius Ang Teng-siu bangkit, kemudian
dengan sorot mata tajam bagaikan kilat dia mengawasi
keadaan sekeliling tempat itu. Lama, lama kemudian, dia baru
menghela napas panjang.
"Ai, Hay Tiong-kim bukan mati di tanganku," dia berkata.
"Di dunia dewasa ini mungkin hanya majikan seorang yang
memiliki tenaga pukulan sehebat itu dan mampu
membinasakan musuh dalam sekali pukulan saja."
"Apa? Hay Tiong-kim bukan mati di tanganmu?" seru
dayang berbaju biru itu terkejut.

319
Ang Teng-siu menggeleng kepala berulang kali.
"Dengan kepandaian silat Hay Tiong-kim, tak mungkin aku
orang she Ang sanggup membunuhnya dalam sekali ayunan
tangan saja."
Paras dayang berbaju biru itu segera berubah hebat.
"Tapi majikan...."
"Kenapa dengan majikan?"
"Satu jam berselang majikan telah pergi bersama Kiukaucu!"
Sementara itu Bong Thian-gak yang bersembunyi pelanpelan
telah melangkah keluar dari tempat persembunyiannya
dan maju menghampiri mereka.
Pandangan Ang Teng-siu dan dayang berbaju biru itu
serentak dialihkan ke wajah Bong Thian-gak dan menatapnya
lekat-lekat.
Mendadak Bong Thian-gak berhenti, berhenti di
hadapannya.
"Siapakah kau?" Ang Teng-siu menegur dengan suara
rendah.
Bong Thian-gak mengangkat tangan kirinya, sekilas cahaya
emas memancar keempat penjuru, tahu-tahu tangannya telah
bertambah dengan sebilah anak panah kecil tanpa bulu.
Paras muka Ang Teng-siu berubah hebat, segera serunya
dengan terkejut, "Ai, lencana Put-gwa-kim-ciam-leng!"
Dengan cepat Bong Thian-gak menyimpan kembali lencana
panah emas itu ke dalam sakunya, kemudian berkata pelan,
"Segala sesuatunya telah kusaksikan dengan jelas."
"Apakah kau komandan pasukan ketiga pengawal tanpa
tanding?"

320
Pertanyaan itu diajukan Ang Teng-siu dengan suara agak
gemetar, sudah jelas dia dicekam perasaan takut.
"Ang Teng-siu!" ujar Bong Thian-gak kemudian. "Kalian tak
usah takut, apa yang telah kusaksikan malam ini, tak akan
kuberitahukan kepada orang kedua, tapi kalian pun jangan
memberitahukan pihak ketiga kalau telah berjumpa
denganku."
Selesai berkata, dia membalikkan badan dan siap berlalu
dari situ.
Mendadak seru Ang Teng-siu, "Saudara, harap tunggu
sebentar!"
"Masih ada urusan apa?" tanya Bong Thian-gak seraya
berpaling.
"Tolong tanya, apakah Hay Tiong-kim tewas oleh
pukulanmu?"
"Benar, oleh karena aku muak menyaksikan tingkahlakunya,
maka aku telah membunuhnya."
Ternyata Bong Thian-gak kuatir pertarungan antara Ang
Teng-siu dan Hay Tiong-kim bisa mengejutkan orang lain,
maka dia mengerahkan ilmu Tat-mo-khi-kang yang maha
dahsyat, serangan itu kontan saja membuat isi perut Hay
Tiong-kim hancur.
Ang Teng-siu segera menghembuskan napas lega, sesudah
mengetahui Hay Tiong-kim tewas di tangan Bong Thian-gak,
dia seperti lepas dari tindihan batu cadas seberat seribu kati.
Dengan hormat dia menjura dalam-dalam kepada Bong
Thian-gak, lalu ujarnya, "Terima kasih banyak atas bantuan
yang telah kau berikan kepadaku."
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Bila Ji-kaucu datang nanti, bagaimana caramu
menghadapinya?"

321
"Itu soal gampang, asal kubuatkan suatu cerita yang seram
lalu melenyapkan jenazah Hay Tiong-kim, urusan akan
menjadi beres dengan sendirinya."
"Kalau memang begitu, kalian boleh segera bekerja!"
Selesai berkata, dia membalikkan badan dan beranjak pergi
dari situ, namun baru berjalan beberapa langkah, dia sudah
membalikkan badan seraya berkata, "Cengcu berdiam
dimana?"
"Di halaman lapis keempat, ada urusan apa kau
mencarinya?"
"Baru saja aku kemari, sekarang aku membutuhkan suatu
tempat untuk beristirahat."
Tergerak hati Ang Teng-siu mendengar perkataan itu, cepat
dia berkata, "Kini Hay Tiong-kim sudah mati, bila kau tidak
menaruh curiga, silakan menginap semalam di loteng itu."
"Di loteng itu, selain kau dan Hay Tiong-kim, masih ada
siapa?"
"Hanya kami berdua!"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Bagus sekali, kalau begitu aku jalan duluan!"
Dengan sepasang mata terbelalak lebar, Ang Teng-siu dan
dayang berbaju biru itu menyaksikan bayangan punggung
Bong Thian-gak lenyap di ujung kebun sana.
Setelah bayangan pemuda itu hilang dari pandangan,
dayang berbaju biru itu baru berkata lirih, "Ang-tayhiap,
gerak-gerik orang ini amat mencurigakan, sebenarnya siapa
orang ini?"
Ang Teng-siu menggeleng kepala berulang-kali.
"Seandainya orang ini benar-benar merupakan salah satu
pentolan Put-gwa-cin-kau, sudah pasti dia Go-kaucu atau SuTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
322
kaucu, atau bisa jadi komandan pasukan ketiga pengawal
tanpa tanding."
"Kalau dilihat dari tenaga serangannya yang dipakai untuk
membunuh Hay Tiong-kim, sudah jelas dia menggunakan ilmu
pukulan bertenaga dalam dahsyat. Orang ini berwajah biasa
tapi kelihaian ilmu silatnya tak bisa ditandingi oleh kau
maupun aku."
"Jika majikan sudah pulang nanti, cepat laporkan bentuk
wajah orang itu untuk mendapat kepastian. Soal jenazah Hay
Tiong-kim, biar aku saja yang mengurus."
Ang Teng-siu dan dayang berbaju biru itu pun berpisah
untuk melakukan pekerjaannya masing-masing.
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah menuju ke loteng
seorang diri, lentera dalam ruangan belum padam, dalam
ruangan yang besar nampak meja kursi lengkap, segala
sesuatunya diatur sangat rajin dan bagus, kamar tidur berada
di atas loteng dan terbagi dalam empat bilik tersendiri.
Bong Thian-gak memeriksa setiap bagian rumah itu secara
seksama, dua di antaranya nampak bekas dipakai. Sementara
dua ranjang lain masih tetap rapi dan rajin, selimut maupun
seprei masih licin dan rapi.
Bong Thian-gak memilih kamar yang tak berlampu untuk
tinggal di situ, mula-mula dia membuka daun jendela,
kemudian menutup pintu dan duduk bersila sambil mengatur
pernapasan.
Kurang lebih setengah jam kemudian dari atas loteng
terdengar suara langkah kaki dan kemudian terdengar suara
Ang Teng-siu bertanya, "Tuan, kau berdiam di kamar yang
mana?"
"Ruang ketiga."
"Aku ingin berbicara denganmu," kembali Ang Teng-siu
berkata dari luar ruangan.

323
"Pintu kamar hanya dirapatkan, masuklah!"
Ang Teng-siu yang berada di luar pintu nampak agak
sangsi, sesaat kemudian pelan-pelan dia membuka pintu
kamar dan masuk ke dalam dengan sepasang telapak
tangannya disilangkan di depan dada.
"Apakah jenazah Hay Tiong-kim sudah kau bereskan?"
"Seujung rambut pun tak tertinggal."
"Persoalan apakah yang hendak kau sampaikan kepadaku?"
"Hamba ingin mengetahui nama dan kedudukanmu di
dalam jiei kumpulan kita?"
”Tanyakan saja kepada Jit-kaucu, dia pasti tahu."
"Ada satu hal yang tidak hamba ketahui, mengapa kau
membunuh Hay Tiong-kim? Andaikata peristiwa ini sampai
berhasil diselidiki Ji-kaucu ...."
Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak menukas, "Lencana
panah emas mempunyai kekuasaan menentukan hidup mati
seseorang, atas dasar apa Ji-kaucu hendak mengurus tindakan
ini?"
"Walaupun perkataanmu benar, tapi kau telah mengikat tali
permusuhan pribadi dengan Ji-kaucu ...."
Belum habis perkataan itu diucapkan, mendadak Bong
Thian-gak bertanya, "Hei, coba dengar, suara apakah itu?"
Ang Teng-siu agak tertegun mendengar perkataan itu,
katanya, "Ah, suara apa? Aku tidak mendengar suara apa
pun."
Rupanya Bong Thian-gak telah menangkap serentetan
suara irama musik yang berkumandang datang secara lamatlamat
dari kejauhan sana.
Suara musik itu ada tambur, gembrengan serta aneka
macam alat musik lainnya, irama yang dibawakan juga irama

324
yang aneh sekali, sedemikian anehnya hingga siapa pun yang
mendengar seakan-akan tertidur.
Dalam pada itu Ang Teng-siu telah mendengar suara musik
itu. Dengan paras muka berubah hebat ia menjerit kaget, "Ah,
Ji-kaucu telah datang!"
Mendengar nama "Ji-kaucu", hati Bong Thian-gak bergetar
keras, dia berkata, "Kau maksudkan Ji-kaucu telah datang?"
"Irama musik itu merupakan irama Im-siau-biau-hun-lok
(Buaian awan sukma melayang) dari Ji-kaucu."
Bicara sampai di situ mendadak Ang Teng-siu seperti
teringat akan sesuatu, dia segera berpikir, "Aneh, mengapa ia
tidak memahami irama Im-siau-biau-hun-lok dari Ji-kaucu?"
Sementara itu walaupun Bong Thian-gak sudah menduga
secara lamat-lamat Ang Teng-siu adalah komplotan Jit-kaucu
Thay-kun, namun berhubung dia belum berjumpa dengan
Thay-kun, maka ia tak bisa menerangkan identitas sendiri
secara terang-terangan.
Dalam pada itu irama musik makin lama terdengar semakin
jelas, tentu mereka sudah semakin dekat dengan
perkampungan petani itu.
Tiba-tiba Ang Teng-siu bertanya lagi, "Sebenarnya siapa
kau? Sebentar lagi Ji-kaucu akan tiba di sini, kita harus
mencari akal untuk menghadapi keadaan ini."
"Siapakah aku, untuk sementara waktu tak usah kau urus,
pokoknya aku sealiran dan setujuan denganmu."
"Sebentar lagi Ji-kaucu sudah sampai di perkampungan
petani ini, apa yang hendak kau lakukan?"
"Aku telah mempersiapkan segalanya bagi diriku sendiri,
lebih baik kau mengerjakan saja pekerjaanmu."
"Kalau begitu aku harus pergi menyambut kedatangan Jikaucu."

325
"Silakan pergi."
"Kau harus baik-baik menjaga diri."
Selesai berkata Ang Teng-siu membalik badan dan berjalan
keluar ruangan, lalu turun dari loteng.
Bong Thian-gak sendiri masih tetap duduk bersila di atas
pembaringan, sementara benaknya berputar, berusaha
menemukan cara terbaik untuk menghadapi keadaan itu.
Tugasnya sekarang adalah melindungi keselamatan jiwa Jitkaucu
Thay-kun secara diam-diam, tapi sekarang Thay-kun
tidak berada dalam perkampungan, apa yang harus dilakukan?
Pikir punya pikir, bagaikan sambaran angin berpusing Bong
Thian-gak melompat turun dari pembaringan dan menerobos
keluar melalui jendela dan melayang ke atas atap rumah.
Bintang bertaburan di angkasa, udara malam itu amat
bersih, tapi suasana hening mencekam seluruh perkampungan
petani itu.
Waktu itu setiap rumah penduduk telah memasang lentera,
kelihatan bayangan orang bergerak kian kemari.
Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya,
beberapa kali lompatan saja Bong Thian-gak telah sampai di
depan pintu gerbang halaman muka dan membaurkan diri di
antara kerumunan orang banyak.
Sementara itu suara musik yang sangat aneh dan membuai
peiasaan itu sudah semakin mendekati tempat itu.
Akhirnya dari ujung jalan perkampungan muncul
serombongan
Delapan orang pemusik berjubah panjang warna hijau
dengan diiringi sebuah tandu besar yang megah dan mewah
pelan-pelan berjalan mendekat, tandu itu sangat besar dan
digotong oleh delapan orang berjubah panjang warna hijau
pula.

326
Bong Thian-gak berbaur dengan orang banyak dan
menyaksikan gaya jumawa Ji-kaucu, diam-diam menyumpah
dalam hati, "Keparat cucu kura-kura, pandai sekali dia mencari
kenikmatan hidup."
Dalam waktu singkat tandu itu sudah berhenti di depan
pintu gerbang, irama musik pengiring berhenti pula, seorang
lelaki berjubah panjang warna hijau berseru dengan suara
lantang, "Ji-kaucu tiba ...."
Ucapan terakhir sengaja ditarik panjang, suara yang
nyaring berkumandang hingga sejauh sepuluh li lebih di
tengah keheningan malam.
Semua serentak membungkukkan badan memberi hormat
pada tandu besar itu sambil berseru, "Menyambut dengan
hormat kedatangan Ji-kaucu!"
Bong Thian-gak yang mencampurkan diri di antara
kerumunan orang ikut menundukkan kepala, pada
kesempatan itu ia mendongakkan kepala dan menyapu
sekejap ke arah orang-orang yang berada di sekitar sana.
Pada barisan depan dekat pintu gerbang berdiri seorang
aneh berambut awut-awutan, di kiri-kanannya masing-masing
berdiri dua orang berbaju perlente berkerudung.
Kecuali terhadap tiga orang yang dikenal Bong Thian-gak
sebagai Liok-kaucu serta dua orang pengawal tanpa tanding,
yang lain semuanya berwajah asing dan tak seorang pun yang
dikenalnya.
Dalam arena tak nampak Jit-kaucu Thay-kun, Kiu-kaucu Ni
Kiu-yu serta orang berkerudung berjubah hitam yang dikenal
sebagai komandan pasukan kedua pengawal tanpa tanding.
Dari mulut dayang berbaju biru, Bong Thian-gak tahu Jitkaucu
serta Kiu-kaucu telah meninggalkan perkampungan
petani itu dan hingga kini belum pulang, tapi kemana pula
perginya si orang berkerudung hitam?

327
Sementara dia melamun, kain tirai tandu disingkap orang,
lalu pelan-pelan berjalan keluar seorang sastrawan berbaju
hijau.
Dia berwajah keren dengan jenggot sepanjang dada, sorot
matanya tajam bagaikan sembilu, perawakan tubuhnya
jangkung dan berwajah cerah, sekilas pandang siapa pun tak
akan menduga dia seorang kakek berusia lima puluh sembilan
tahun, karena wajahnya seperti jauh lebih muda sepuluh
tahun.
Di bawah petunjuk Keng-tim Suthay, Bong Thian-gak sudah
tahu ciri khas Ji-kaucu ini, betul juga pada ujung alis mata
sebelah kirinya terdapat sebuah tahi lalat hitam, sebilah
pedang antik tersoreng di pinggangnya.
Begitu dia turun dari tandu, Liok-kaucu maju menyambut
kedatangannya sambil berbisik-bisik membicarakan sesuatu
dengan suara amat lirih.
Kemudian Ji-kaucu mendongakkan kepala dan memandang
wajah semua orang sekejap, mendadak dia bertanya, "Mana
Jit-kaucu, Kiu-kaucu dan komandan Siau?"
Sementara itu Ang Teng-siu dan seorang lelaki setengah
umur berdandan petani telah maju menyambut ke depan.
Lelaki setengah umur berdandan petani itu berkata lebih
dulu, ”Lapor Ji-kaucu, komandan Siau masih berbaring di
ranjang untuk merawat luka-lukanya, oleh sebab itu dia tidak
dapat menyambut kedatangan Ji-kaucu. Sedangkan Jit-kaucu
dan Kiu-kaucu telah meninggalkan perkampungan satu jam
yang lalu untuk menyelesaikan suatu persoalan."
Ji-kaucu memandang sekejap petani itu, kemudian
bertanya, "Mungkin kaukah kepala kantor cabang kota Kayhong,
Ki Su-teng?"
"Benar, hamba adalah Ki Su-teng!" jawab lelaki setengah
umur berdandan petani dengan hormat.

328
Ji-kaucu mengulap tangan menitahkan dia mundur,
kemudian rombongan pun meneruskan perjalanannya masuk
ke halaman tengah.
Bong Thian-gak kuatir jejaknya ketahuan lawan, dia tak
berani membuntuti masuk ke dalam, secara diam-diam dia
menyelinap ke halaman belakang.
Sementara dia tak tahu apa yang harus dilakukan.
Mendadak dari balik kegelapan sana muncul sesosok
bayangan kecil mungil, sambil berjalan mendekat katanya
dengan suara merdu,
"Siangkong, payah amat, kucari dirimu kemana-mana."
Bong Thian-gak mendongakkan kepala, ternyata gadis yang
berjalan mendekat itu adalah si dayang berbaju biru yang
dijumpainya dalam kebun tadi.
Waktu itu tubuhnya basah oleh peluh, napasnya tersengalsengal
dan wajahnya nampak tegang.
"Ada urusan apa?" Bong Thian-gak segera bertanya.
Mendadak dayang berbaju biru itu menarik tangan kiri Bong
Thian-gak sambil berujar, "Ayo cepat sedikit, tempat ini bukan
tempat untuk berbincang-bincang."
Ia mengajak Bong Thian-gak berlalu dari situ dengan
langkah amat cepat, dalam waktu singkat mereka sudah
melalui dua lapis halaman yang sangat lebar dan tiba di
sebuah bangunan mungil di sisi kebun bunga.
Dari dalam bangunan mungil itu nampak cahaya lentera
memancar keluar, dua sosok bayangan orang tertera jelas di
balik jendela.
"Siangkong tiba ...." kata dayang berbaju biru.
Sembari berkata dia mendorong pintu, lalu bersama Bong
Thian-gak masuk ke dalam ruangan.

329
Bong Thian-gak tahu satu di antara kedua sosok bayangan
itu adalah Jit-kaucu Thay-kun, maka dia masuk ke kamar baca
dengan langkah cepat.
Betul juga, Jit-kaucu Thay-kun sedang duduk dekat jendela
bersama seorang dayang berbaju biru.
Waktu itu Thay-kun sedang bermuram durja, sepasang alis
matanya bekernyit, sorot matanya memancarkan sinar pedih.
Ketika Thay-kun melihat paras muka Bong Thian-gak, dia
nampak agak tertegun, kemudian katanya, ”Dandananmu
sekarang benar-benar jelek dan amat tak sedap dilihat."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Bagaimana pun aku menyaru, nampaknya tak pernah lolos
dari ketajaman matamu!"
"Tadi He Hong melaporkan kejadian itu kepadaku, sudah
kuduga pasti kau yang datang, ayo cepat duduk!"
Bong Thian-gak tahu, yang dimaksud sebagai He Hong
pastilah si dayang yang membawanya kemari barusan.
Dia mencari sebuah kursi, lalu duduk, katanya pelan, "Jikaucu
lelah datang!"
Thay-kun tertawa getir.
"Duduknya persoalan sudah jelas sekarang, Ji-kaucu
sengaja diutus untuk menghadapi diriku."
"Apa maksudmu berkata demikian?" Jit-kaucu Thay-kun
menghela napas sedih.
"Ai, Cong-kaucu tahu Ji-kaucu merupakan satu-satunya
orang yang bisa menandingi diriku, ai! Aku sama sekali tidak
menduga Ji-kaucu bisa begitu cepat muncul di kota Kayhong."

330
"Aku mendapat pesan terakhir dari Ku-lo untuk
melindungimu, aku bersumpah akan melaksanakan perintah
ini dengan sebaik-baiknya," kata Bong Thian-gak nyaring.
"Sekali pun Ji-kaucu memiliki tiga kepala enam lengan, aku
tetap bertekad untuk bertarung sampai titik darah
penghabisan dengannya."
"Kemampuan Ji-kaucu sedikit sekali yang kau ketahui,
padahal menurut taktik ilmu pertempuran dikatakan, 'Tahu
kekuatan sendiri labu kekuatan lawan, setiap pertarungan
tentu akan menang'. Ai, seandainya malam nanti terjadi
sesuatu yang luar biasa. Keng-tim Suthay dapat
menyampaikan segala sesuatunya kepadamu."
"Barusan aku suruh He Hong mengundangmu kemari,
maksudku lak lain adalah ingin menyuruh kau meninggalkan
perkampungan ini secepatnya, selama hidup aku belum
pernah memohon bantuan kepada orang lain, sekarang aku
ingin memohon kepadamu, bersediakah kau menuruti
perkataanku?"
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak tertawa.
"Aku pun belum pernah memohon kepada orang lain, tapi
sekarang aku sangat berharap kau sudi mengizinkan diriku
untuk mendampingimu, bersediakah kau?"
Tiba-tiba sepasang biji mata Jit-kaucu Thay-kun berkacakaca,
hampir saja titik air mata jatuh berlinang membasahi
pipinya, dengan sedih dia berkata, "Bila demikian, maka hanya
jalan kematian saja yang akan kau peroleh, bila kau dan aku
mati masih tidak menjadi masalah, tapi kalau sampai beriburibu
umat persilatan diperbudak selamanya oleh orang Putgwa-
cin-kau ... Suheng, selama bukit tetap hijau, tak usah
takut kehabisan kayu bakar, pergilah kau!"
"Mengapa kita tidak pergi bersama-sama?" kata Bong
Thian-gak dengan cepat.

331
"Aku ingin melanjutkan cita-cita Ku-lo Sinceng melenyapkan
Ji-kaucu dari muka bumi."
"Bila Ji-kaucu mati bersamamu, lalu siapa yang akan
melenyapkan Cong-kaucu dari muka bumi?"
Jit-kaucu termenung sambil berpikir beberapa saat
lamanya, kemudian ujarnya setelah menghela napas panjang,
"Ai, kalau begitu, aku akan membeberkan segala sesuatu
mengenai Ji-kaucu."
Baru saja berbicara sampai di situ, dia berhenti sejenak
sambil berkata dengan gelisah, "Mereka telah datang."
Sembari berkata telapak tangannya segera diayunkan ke
depan, serentak api lilin dipadamkan.
Bong Thian-gak sudah beberapa kali bertemu Jit-kaucu
Thay-kun, tapi setiap saat dia selalu bersikap tenang bila
menghadapi persoalan, selamanya belum pernah
menunjukkan kepanikan serta ketegangan seperti apa yang
diperlihatkan sekarang, mungkinkah Ji-kaucu benar-benar
lihai?
Belum habis ingatan itu melintas, mendadak terdengar
seseorang berseru dengan suara rendah, "Ji-kaucu tiba!"
"Sumoay, bagaimana dengan diriku?" Bong Thian-gak
berseru dengan cepat.
"Tetap tinggal di sini dan jangan sembarangan bergerak,
mereka masih belum mengetahui kehadiranmu dalam
perkampungan petani ini."
"Andaikata pertempuran sampai berkobar, kehadiranku di
sini pasti di luar dugaan orang."
"Suheng, kau harus ingat, bahwa sekujur tubuh Ji-kaucu
penuh dengan racun keji, dia dapat melukai orang tanpa
wujud."

332
Selesai berkata, dia bersama kedua orang dayangnya
segera beranjak dari tempat duduk.
"Kalian hendak kemana?" Bong Thian-gak bertanya.
"Kami hendak keluar menyambut kedatangan Ji-kaucu."
Begitulah, Jit-kaucu Thay-kun diiringi kedua dayang di kiri
dan kanan pelan-pelan berjalan keluar ruangan itu.
Dengan cepat Bong Thian-gak menyelinap ke bawah
jendela, kemudian mengintip melewati celah-celah jendela.
Bayangan orang nampak bermunculan di luar pintu, dua
puluhan orang mengiringi sebuah tandu yang amat besar.
Jit-kaucu Thay-kun berdiri menanti di depan halaman.
Ketika sampai di depan pintu gerbang, tandu besar itu baru
berhenti, sementara dua puluhan orang yang berada di
sekelilingnya menyebar ke kiri dan kanan membuat setengah
lingkaran.
Kepada tandu besar itu Thay-kun membungkukkan badan
memberi hormat, kemudian katanya, "Jit-kaucu menyambut
kedatangan Ji-kaucu."
Ji-kaucu melangkah keluar dari tandunya, kemudian
dengan suara menyeramkan berkata, "Aku ke kota Kay-hong
untuk melaksanakan perintah Cong-kaucu, dipersilakan Jitkaucu
mengikuti diriku kembali ke markas besar."
Selesai berkata dia merogoh ke dalam sakunya, mengambil
suatu benda dan dilemparkan ke hadapan Jit-kaucu.
Di antara kilauan sinar lentera, ternyata benda itu adalah
sebuah borgol emas.
Jit-kaucu Thay-kun memandang borgol emas itu sekejap,
kemudian dengan wajah tak berubah tanyanya, "Tolong tanya
kesalahan apakah yang telah kulakukan? Mengapa Ji-kaucu
datang menunjukkan borgol emas Put-gwa-cin-kau?"

333
Sesungguhnya segenap anggota Put-gwa-cin-kau yang
berada di sekeliling tempat itu, termasuk Liok-kaucu sendiri
sama sekali tidak mengetahui apa maksud kedatangan Jikaucu
ke tempat ini.
Rupanya borgol ini merupakan alat hukuman tertinggi Putgwa-
cin-kau, benda itu melambangkan kehadiran Cong-kaucu
pribadi, oleh sebab itu siapa yang melihat borgol emas itu
seperti juga mereka menjumpai Cong-kaucu pribadi.
Dosa dan kesalahan apakah yang telah dilakukan Jit-kaucu?
Tak seorang pun tahu.
Sementara itu suasana arena diliputi keseraman dan
ketegangan yang mencekam, setiap orang merasakan
munculnya suatu tenaga tekanan yang amat berat menindih di
atas dada masing-masing.
Ji-kaucu membentak, "Setelah bertemu borgol Put-gwa-cinkau,
mengapa kau tidak berlutut menerima hukuman?
Tampaknya kau hendak membangkang perintah dan
melakukan perlawanan?"
"Sesudah menyaksikan borgol Put-gwa-cin-kau secara tibatiba,
aku merasa seperti disambar geledek di siang bolong,
itulah sebabnya aku harus menanyakan persoalan ini dengan
jelas."
Ji-kaucu tertawa dingin.
"Baiklah, aku beritahukan kepadamu, kau telah melakukan
pengkhianatan terhadap perkumpulan."
"Pengkhianatan? Kapan aku mengkhianati perkumpulan?"
seru Jit-kaucu lantang.
Kembali Ji-kaucu tertawa dingin.
"Hehehe, sejak tiga tahun lalu kau sudah punya niat
melakukan pengkhianatan. Bukti dan saksi semuanya sudah
lengkap, apakah kau hendak membantah?"

334
"Kalian mempunyai bukti dan saksi apa? Mengapa tidak
segera diperlihatkan?"
Mendadak Ji-kaucu berseru, "Undang kemari komandan
Siau!"
Seorang pengikutnya segera beranjak pergi dari situ.
Suasana hening beberapa saat lamanya, kemudian
terdengar Ji-kaucu berkata, "Secara diam-diam perkumpulan
kita telah membentuk suatu organisasi kekuatan yang
dipimpin langsung oleh Cong-kaucu sejak beberapa tahun
berselang, adapun tugas organisasi itu adalah mengawasi
gerak-gerik setiap anggota perkumpulan, komandan Siau
adalah utusan khusus yang ditugaskan organisasi untuk
mengawasi gerak-gerikmu, sebentar kau dapat mendengar
laporannya."
Sementara itu paras muka Jit-kaucu Thay-kun telah
berubah menjadi amat serius, dia tidak nampak sesantai tadi,
bukannya kuatir dia akan dijatuhi suatu tuduhan, melainkan
kuatir semua rahasianya terbongkar.
Mendadak terdengar seorang berseru lantang, "Komandan
Siau tiba!"
Tampak seorang berkerudung berjubah hitam, diiringi dua
orang berbaju perlentee berkerudung pelan-pelan berjalan
mendekat.
Sepasang pedang masih tetap tersoreng di pinggang orang
berkerudung berjubah hitam itu, setelah memberi hormat
kepada Ji-kaucu, ujarnya kepada Jit-kaucu Thay-kun, "Pada
tiga tahun berselang, Pun-tui-tiang (komandan) mendapat
perintah dari Cong-kaucu untuk melakukan suatu tugas di
Kamsiok bersama Jit-kaucu, siapa tahu Jit-kaucu lalai dalam
tugas dan membiarkan musuh meloloskan diri, akibat
kelalaiannya itu, tugas itu tak dapat terlaksana sebagaimana
mestinya."

335
Thay-kun tertawa dingin, "Hehehe, orang yang kulepas
waktu itu adalah seorang perempuan yang bunting tua dan
hampir melahirkan, darimana komandan Siau bisa
membuktikan bahwa dia adalah musuh kita?"
"Hasil dari pemeriksaan yang kemudian dilakukan
membuktikan perempuan bunting tua itu adalah seorang
dayang komandan ketiga pasukan pengawal tanpa tanding
Nyo Li-beng yang berkhianat."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak yang
bersembunyi dalam ruangan terkesiap, segera pikirnya, "Nyo
Li-beng? Bukankah nama asli Suthay Keng-tim adalah Nyo Libeng?"
Sementara itu Jit-kaucu Thay-kun telah berkata lagi,
"Bagaimana caramu membuktikan hal itu setelah
berlangsungnya peristiwa itu?"
Kembali orang berkerudung tertawa dingin.
"Hehehe, setelah peristiwa itu, kami berhasil menangkap
kembali perempuan itu, apa yang diakuinya sangat tidak
menguntungkan kedudukan Jit-kaucu dalam perkumpulan."
"Pengakuan yang diperoleh dengan cara menyiksa orang
secara keji tak bisa dipercayai begitu saja."
"Hm, sejak peristiwa itu, Jit-kaucu telah menunjukkan
gejala pengkhianatan, diam-diam Cong-kaucu telah
memerintahkan kepadaku unluk menyelidiki dan mengamati
terus terang gerak-gerik Jit-kaucu."
"Apa hasil penyelidikanmu itu?"
"Aku berhasil mengetahui bahwa Nyo Li-beng masih hidup,
Jit-kaucu pun mempunyai hubungan dengannya, bahkan
sekarang sedang mempersiapkan suatu tindakan
pengkhianatan."

336
Dengan suara menyeramkan Ji-kaucu berkata pula, "Sejak
kemarin malam aku sudah sampai di kota Kay-hong sambil
secara diam-diam melakukan penyelidikan atas sejumlah
persoalan, kubuktikan bahwa Jit-kaucu punya hubungan pula
dengan pihak gedung Bu-lim Bengcu."
"Beberapa hari berselang, ketika komandan Siau membawa
pasukan menyerang gedung Bu-lim Bengcu, ternyata Jit-kaucu
ada niat menghalangi usaha komandan Siau melakukan
serangan terhadap gedung Bu-lim Bengcu."
Jit-kaucu Thay-kun tertawa dingin.
"Cong-kaucu telah melimpahkan kekuasaan penyerangan
gedung Bu-lim Bengcu kepadaku, komandan Siau berani
melakukan operasi sendiri, hal ini sudah berarti membangkang
perintah. Waktu itu aku telah memperhitungkan kekuatan
lawan dengan cermat, di dalam gedung Bu-lim Bengcu
terhadap dua orang jago lihai yang menunjang kekuatan
mereka, yakni Ku-lo Hwesio serta Ko Hong yang asal-usulnya
tidak jelas. Oleh karena aku merasa bukan tandingan mereka,
maka aku bermaksud mencegah mereka. Kita harus
melakukan tindakan secara tidak gegabah."
"Buktinya komandan Siau menderita luka parah di tangan
Ko Hong sehingga harus menggeletak selama beberapa hari di
atas ranjang, semua ini menunjukkan dugaanku sama sekali
tak salah, mengapa kau malah menuduh aku melakukan suatu
pelanggaran besar?"
"Semenjak satu tahun lalu, Cong-kaucu telah
memerintahkan dirimu menyusun rencana dan melenyapkan
gedung Bu-lim Bengcu itu dari muka bumi, mengapa hingga
kini kau masih belum menyelesaikan tugasmu itu?
Tindakanmu yang sama sekali tidak mengacuhkan tugas dan
tanggung-jawab ini sudah merupakan suatu kesalahan dan
dosa besar."

337
"Hehehe ...." Jit-kaucu Thay-kun tertawa dingin. "Bengcu
gedung Bu-lim Bengcu yang lalu, Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh
Ciong-hu baru mati beberapa hari lalu, kini muncul seorang Ko
Hong, coba kau bayangkan, dengan kekuatan yang kau miliki,
bagaimana mungkin bisa menyelesaikan tugas itu
secepatnya?"
"Sejak delapan tahun berselang, Jit-kaucu telah melaporkan
kematian Ku-lo Hwesio, akibat keteledoran itu Sam-kaucu kita
yang berilmu tinggi harus menjadi korban, untuk keteledoran
ini pun Jit-kaucu pantas menerima hukuman mati. Nah,
apalagi yang hendak kau katakan sekarang? Mengapa tidak
segera kau kenakan borgol emas itu? Apakah kau hendak
menunggu aku turun tangan?"
"Hm!" Jit-kaucu Thay-kun mendengus dingin. "Kecuali
Cong-kaucu datang sendiri, kalau tidak, jangan harap aku sudi
mengenakan borgol emas itu."
"Hehehe, Cong-kaucu telah menduga kau akan melakukan
perlawanan, ternyata dugaannya tepat. Itulah sebabnya Congkaucu
melimpahkan kekuasaan paling tinggi untuk
menentukan mati-hidupmu, jika kau melawan, terpaksa aku
harus menurunkan perintah membinasakan dirimu!"
Beberapa saat lamanya arena diliputi oleh suasana tegang.
Ilmu silat Jit-kaucu Thay-kun bukan biasa-biasa saja,
kecuali sekawanan jago lihai dari tingkat Kaucu, siapa yang
berani mencari penyakit bagi diri sendiri?.oleh karena itu tak
seorang pun dari antara kawanan jago Put-gwa-cin-kau berani
mengambil tindakan secara gegabah.
Mendadak Ji-kaucu menurunkan perintahnya, "Mo-ing-pathiong
(Delapan jago irama iblis) terima perintah!"
Begitu perintah diturunkan, mendadak dari balik kegelapan
muncul delapan orang berjubah hijau yang membawa
berbagai macam alat musik, bagaikan sukma gentayangan

338
mereka muncul dari balik kegelapan dan secepat kilat
melakukan pengepungan dari arah luar.
Mungkin Ji-kaucu sudah menduga kemungkinan
digunakannya kekerasan untuk menangkap Jit-kaucu Thaykun,
maka sejak tadi kedelapan orang berjubah hijau ini sama
sekali tidak menampakkan diri.
Begitu perintah diturunkan, delapan orang berjubah hijau
itu segera muncul dari arah yang berlawanan, dalam waktu
singkat mereka telah mengepung Jit-kaucu serta kedua orang
dayang berbaju biru itu di tengah arena.
Peristiwa ini berlangsung sangat tiba-tiba, untuk beberapa
saat Jit-kaucu Thay-kun tidak mengetahui bagaimana caranya
mengatasi perubahan itu, apalagi gerakan tubuh mereka
dilakukan dengan cepat.
Menanti kedelapan orang berjubah hijau itu mengambil
posisi masing-masing, gadis itu baru sadar dia sudah kalah
posisi, diam-diam pekiknya dalam hati, "Aduh celaka!"
Sementara itu Ji-kaucu segera mengunjuk senyuman licik
penuh kebanggaan setelah menyaksikan kedelapan orang itu
mengambiL-posisi masing-masing, pelan-pelan dia berkata,
"Kini barisan Mo-ing-pat-hiong-tin telah terbentuk, jagoan
yang bagaimana pun lihai jangan harap bisa meloloskan diri
dari kurungan, Jit-kaucu lebih baik kenakan saja borgol emas
itu tanpa melawan, siapa tahu Cong-kaucu masih mengingat
hubungan kalian sebagai guru dan murid, lalu membebaskan
dirimu dari hukuman mati."
"Ji-kaucu," kata Jit-kaucu Thay-kun hambar, "dengan
susah-payah kau menciptakan delapan manusia yang tak mirip
manusia, setan tak mirip setan ini, apakah tujuannya untuk
menandingiku?"
Rupanya kedelapan orang itu semuanya berambut panjang
terurai ke bahu, wajahnya jelek, betul-betul tiga bagian mirip
manusia tujuh bagian mirip setan, ditambah lagi paras muka

339
mereka berdelapan amat menyeramkan dan mengerikan,
semua ini membuat bergidik bagi yang melihatnya.
Sambil tersenyum Jit-kaucu berkata, "Ji-kaucu, kau orang
pintar, tentunya kau tahu seluk-beluk ilmu silatku dengan
jelas, namun aku tak akan membiarkan harapanmu tercapai
begitu saja pada malam ini."
"Hm, semua perkataan halus telah kugunakan, namun kau
masih saja tak mau sadar akan kesalahanmu, baiklah,
terpaksa aku akan membiarkan sepasang matamu terbuka."
Bicara sampai di situ dia berpaling ke arah para jago
lainnya dan menitahkan, "Kecuali Mo-ing-pat-hiong, yang lain
diharap mundur."
Para jago perkumpulan yang berada di sekeliling tempat itu
segera menurut dan bersama-sama mengundurkan diri keluar
arena.
Hanya orang berkerudung berjubah panjang hitam dan
Liok-kaucu berdua masih tetap berdiri di tempat.
Mendadak Ji-kaucu berteriak dengan suara lantang, "Jitkaucu,
dengarkan baik-baik, mengapa Kiu-kaucu bisa lenyap?"
Begitu ucapan itu diutarakan, paras muka Jit-kaucu segera
berubah hebat, kemudian serunya dingin, "Kau apakan Kiukaucu?"
"Hm, main catur ada menang ada kalah, maka aku telah
menjadikannya sebagai sandera."
Jit-kaucu tertawa dingin, "Hehehe, Kiu-kaucu tak pandai
menjaga diri, kalau dia mati, itu kesalahannya sendiri, apa
sangkut-pautnya dengan diriku?"
Jit-kaucu Thay-kun tertawa ringan.
"Cong-kaucu ingin melenyapkan aku seorang, tapi
sudahkah dia pikirkan bahwa Put-gwa-cin-kau bakal menderita
kerugian amat besar?"

340
Ji-kaucu menarik napas dalam-dalam, lalu membentak
dengan keras, "Mo-ing-pat-hiong, dengar baik-baik, tangkap
perempuan ini hidup-hidup."
Begitu perintah diturunkan, kedelapan orang berjubah hijau
itu mulai bergerak maju.
Mendadak terdengar Ji-kaucu membentak lagi, "Irama iblis
mulai!"
Perintah menggeledek disambut oleh kedelapan orang itu
dengan memainkan delapan alat musik, dalam waktu singkat
berkumandanglah permainan alat musik yang amat
memekakkan telinga.
Kedelapan alat musik itu adalah tambur, gembrengan,
harpa, seruling dan lain sebagainya.
Permainan irama musik mereka terdengar sangat aneh,
entah irama lagu apakah yang sedang mereka bawakan.
Pada mulanya semua orang masih belum merasakan apaapa,
Thay-kun serta kedua orang dayang berbaju biru masih
berdiri di tempat semula dengan gagah, semerttara mata
mereka mengawasi kedelapan orang itu memainkan irama
musik yang aneh dan tak sedap didengar itu.
Mendadak suara gembreng dibunyikan bertalu-talu,
menyusul kemudian tambur dipukul tiga kali....
Mengikuti suara tambur tadi, jerit kesakitan yang
memilukan bergema memecah keheningan.
Kedua dayang berbaju biru yang berdiri di sisi Thay-kun
segera memegang hulu hati masing-masing sembari
berjongkok di tanah, wajah mereka pucat-pias seperti kertas,
tampaknya mereka sedang merasakan suatu penderitaan yang
luar biasa.

341
"Aduh celaka!" pekik Jit-kaucu Thay-kun setelah
menyaksikan kejadian itu, ia segera membentak, "Cepat tutup
lubang telinga kalian!"
Baru habis berbicara, suara tambur kembali berkumandang.
Bagaikan orang kerasukann setan, kedua dayang berbaju
biru itu bergulingan di tanah sambil menjerit-jerit, tangan
mereka mendekap hulu hati kencang-kencang, sementara
badannya bergulingan ke sana-kemari, jelas kedua orang itu
mengalami penderitaan hebat.
Berada dalam keadaan seperti ini, Thay-kun tidak
berkemampuan lagi untuk mengurusi kedua orang dayangnya,
sebab di saat suara tambur itu berkumandang, dia sendiri pun
merasakan semacam getaran keras yang melanda tubuhnya,
serentetan pukulan keras tambur itu membuat jantungnya
berdebar keras.
Dalam posisi yang amat tidak menguntungkan ini, dia
hanya bisa memusatkan segenap pikiran dan perhatiannya
melawan suara itu, dia harus menenangkan pikiran dari
pengaruh suara itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sudah sempurna, tidak sulit
bagi Thay-kun untuk menghindarkan pengaruh suara iblis itu.
Suasana menjadi tenang kembali, keadaan kini ibarat sebuah
bukit batu karang, seakan-akan lupa segala-galanya.
Tapi berbeda keadaannya dengan kedua dayang berbaju
biru itu. Jeritan ngeri masih terdengar, sepasang tangan
mereka mulai mencakar dada sendiri, sementara tubuhnya
bergulingan ke sana kemari. Dalam waktu singkat pakaian
bagian atas sudah terlepas. Tak selang beberapa saat
kemudian kulit tubuhnya yang putih bersih itu sudah hancur
oleh cakar-cakar mautnya, luka memanjang disertai cucuran
darah memenuhi sekujur tubuh, sungguh mengerikan sekali
keadaan mereka.

342
Mendidih rasanya darah panas yang menggelora dalam
dada Bone, Thian-gak menyaksikan kejadian itu, dia hendak
mendobrak jendela menerobos keluar, namun setelah
menyaksikan keadaan Thay-kun yang tenang dan berdiri
kokoh bagaikan batu karang di tengah arena, tergetar hatinya,
cepat dia berpikir, "Jelas kedua dayang itu sudah tak bisa
tertolong lagi, satu-satunya tindakan yang harus kulakukan
sekarang adalah mencari akal membongkar dan
menghancurkan barisan ini, kemudian berusaha menolong
Thay-kun dari ancaman bahaya."
Sementara kedelapan orang itu menggeser barisan sembari
tetap memainkan aneka alat musik itu.
Akhirnya kedua dayang berbaju biru itu tak mampu
menahan diri, mereka tewas dalam keadaan mengerikan,
tubuh mereka yang telanjang bulat bermandikan darah
terkapar tak berkutik di tengah arena.
Pada saat inilah Bong Thian-gak sudah dapat melihat
pergeseran barisan yang dilakukan kedelapan orang itu,
menggunakan langkah Pat-kwa-tin.
Penemuan yang di luar dugaan ini kontan menggirangkan
hati Bong Thian-gak, diam-diam dia menggeser tubuhnya
melompat keluar melalui jendela belakang, kemudian setelah
melewati kebun ia menyusup ke balik kawanan orang yang
sedang menonton jalannya pertempuran itu.
Sementara itu para anggota Put-gwa-cin-kau yang berada
di sisi arena terpukau oleh kehebatan ilmu barisan yang
sedang berlangsung di tengah arena pertempuran, sudah
barang tentu mereka tidak mengetahui Bong Thian-gak telah
menyelundup di antara mereka.
Bong Thian-gak lihat Thay-kun sedang bersiap melancarkan
serangan. Berarti dia pun harus memanfaatkan kesempatan
itu untuk melancarkan sergapan pula, kerja sama dalam waktu
serta ketepatan tak boleh meleset sedikit pun.

343
Sesungguhnya cara berpikir Bong Thian-gak ini memang
benar, akan tetapi dia telah melupakan sekawanan pembunuh
dari luar barisan, pembunuh yang sebenarnya bukan
kedelapan orang berjubah hijau yang berdiri pada posisi
barisan Pat-kwa, pembunuh yang sesungguhnya bukan lain
daripada Ji-kaucu sendiri yang berada di luar barisan.
Barisan ini bernama Pat-kwa-an-kiu-kiong-tin.
Saat Jit-kaucu Thay-kun membuka mata itulah mendadak
dia saksikan Ji-kaucu yang berada di luar arena sedang
memandang ke arahnya dengan sorot mata setajam sembilu
dan hawa membunuh yang menyala-nyala.
Tergerak hatinya setelah menyaksikan kejadian itu, ia
berseru tertahan dalam hati, "Ah, rupanya Pat-kwa-an-kiukiong-
tin, habis sudah riwayatku kali ini!"
Pat-kwa-an-kiu-kiong-tin merupakan barisan yang luar
biasa, semacam siasat perang yang aneh, luar biasa, di luar
dugaan dan teramat keji.
Belum habis ingatan itu melintas dalam benak Thay-kun,
tiba-tiba terdengar Ji-kaucu berpekik nyaring, kemudian
tubuhnya melejit tinggi dan menerjang ke arah Jit-kaucu.
Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak setelah
menyaksikan kejadian ini, dengan cepat dia melejit pula ke
udara dan menerjang ke tengah arena dari posisi lain.
Dia telah mengambil keputusan untuk melakukan duel
mati-hidup yang menentukan posisi kedua belah pihak.
Arah sasaran Bong Thian-gak kali ini adalah kedelapan
orang yang berada di luar arena, yang diterkam lebih dahulu
adalah seorang berjubah hijau yang membawa seruling.
Jeritan ngeri yang memekakkan segera berkumandang.

344
Termakan oleh pukulan Bong Thian-gak yang maha
dahsyat itu, orang berjubah hijau itu tergetar keras tubuhnya
dan mencelat ke udara.
Dengan berkurangnya salah satu kekuatan pada barisan
Pat-kwa itu, kontan barisan menjadi kacau, namun pembunuh
yang menempati barisan Kiu-kiong sama sekali tidak
merasakan pengaruhnya.
Tampak Ji-kaucu menerobos masuk ke dalam dengan
kecepatan luar biasa.
Diam-diam Thay-kun mengertak gigi, tangan kiri segera
diangkat, cahaya merah memancar keluar dari balik telapak
tangannya, ilmu Soh-li-jian-yang-sin-kang yang merajai kolong
langit telah disiapkan.
Ketiga orang itu masing-masing merupakan jagoan sakti
dunia persilatan, pada saat bersamaan masing-masing
mengeluarkan ilmu andalannya, untuk merobohkan musuh
sebanyak mungkin.
Untuk beberapa saat suasana menjadi kacau.
Jerit kesakitan dan dengusan tertahan bergema, menyusul
tubuh Bong Thian-gak berkelebat, satu demi satu musuh
bergelimpangan.
Munculnya Bong Thian-gak di arena pertarungan sama
sekali di luar dugaan siapa pun, tak heran sergapannya segera
menimbulkan kepanikan yang luar biasa.
Sementara itu Ji-kaucu sudah menerobos masuk ke dalam
arena, tampak ujung bajunya berhembus kian kemari, seperti
segulung asap putih saja.
Dalam waktu singkat tubuh Thay-kun dan Ji-kaucu sudah
terkurung oleh asap tebal itu.

345
Cahaya merah memancar keluar memenuhi angkasa,
serangan Jian-yang-ciang dari Jit-kaucu Thay-kun tidak
mengenai sasaran.
Di tengah lapisan kabut yang sangat tebal, terdengar suara
deru angin pukulan yang memekakkan telinga, jelas Jit-kaucu
Thay-kun sudah terlibat dalam pertarungan yang amat seru.
Mimpi pun Bong Thian-gak tidak mengira Ji-kaucu bakal
mengeluarkan asap semacam itu, tatkala dia menyadari akan
hal itu dan siap menerobos kabut itu, tubuh Thay-kun sudah
mundur dari lapisan kabut dengan sempoyongan.
Cepat Bong Thian-gak melompat maju, kemudian serunya
dengan cemas, "Kau terluka?"
"Aku terkena sergapan mereka, cepat kabur dari sini!" seru
Thay-kun gelisah.
Dalam pada itu kawanan jago Put-gwa-cin-kau yang
menonton jalannya pertarungan dari sisi arena telah melihat
bayangan tubuh Bong Thian-gak, serentak mereka
membentak nyaring, di tengah jeritan keras, dua puluh orang
menerjang datang melakukan pengepungan.
"Kalau harus mati biarlah kita mati bersama, kalau harus
pergi kita pergi bersama,"seru Bong Thian-gak lantang.
Di tengah seruan itu, Bong Thian-gak menyambar
pinggangnya dengan tangan kiri, kemudian membopong
tubuhnya sambil berpekik nyaring, tubuhnya melejit ke tengah
udara.
Serentetan suara tawa aneh bergema, Liok-kaucu
melompat ke muka melakukan penghadangan.
Dalam keadaan gawat dan berbahaya ini, Bong Thian-gak
segera mengerahkan tenaga dalamnya, melihat datangnya
terjangan itu, sebuah pukulan segera dilontarkan ke depan.

346
Serangan pukulan ini sungguh hebat dan mengerikan.
Seketika itu juga tubuh Liok-kaucu terlempar ke belakang
dan jatuh terkapar di tanah.
Begitu berhasil merobohkan Liok-kaucu, cepat Bong Thiangak
membopong tubuh Thay-kun melejit ke atas pohon,
kemudian dengan meminjam tenaga jejakan itu dia melompat
naik ke atas atap rumah.
Gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat, lincah
melebihi monyet.
Diiringi bentakan nyaring para anggota Put-gwa-cin-kau,
mereka melakukan pengejaran serentak.
Tiba-tiba Ji-kaucu muncul dari balik kabut yang tebal, lalu
membentak keras, "Tak usah dikejar lagi, gerakan tubuhnya
kelewat cepat, tak nanti kalian bisa menyusulnya."
Ternyata keadaan waktu itu sungguh mengenaskan, bukan
saja kawanan jago kelas satu Put-gwa-cin-kau telah menderita
luka, Liok-kaucu serta pemimpin pasukan pengawal tanpa
tanding barisan kedua pun terluka pula.
Yang tersisa kini tinggal jago-jago kelas tiga saja,
bagaimana bisa menyusul Bong Thian-gak?
Padahal serangan maha dahsyat Bong Thian-gak sudah
cukup membuat kawanan jago Put-gwa-cin-kau ketakutan
setengah mati.
Memandang bayangan punggung Bong Thian-gak yang
berlalu sambil membopong Thay-kun itu, Ji-kaucu
memperlihatkan sekulum senyuman dingin yang licik dan
penuh kebanggaan, gumamnya, "Jit-kaucu sudah tersingkir,
hehehe, kau si bocah keparat pun sudah terkena seranganku,
paling lambat tiga hari kemudian kau pun akan mampus,
meski kepandaian silat yang kau miliki sangat lihai."

347
Mendengar gumaman itu, orang berkerudung berjubah
hitam yang berdiri di sisinya segera bertanya, "Apakah orang
itu terkena sergapan Ji-kaucu?"
Dengan bangga Ji-kaucu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, komandan Siau, tahukah kau nama asapku itu?"
"Asap itu amat aneh, tebalnya luar biasa dan tidak
menyebar atau membuyar meski terkena hembusan angin,
sudah pasti merupakan asap yang luar biasa."
Ji-kaucu tertawa.
"Asap ini bernama In-ing-tok-wu-im-ciang (Kabut beracun
himpunan hawa langit dan bumi), barang siapa terkena kabut
itu, baik manusia maupun binatang tak nanti lolos dari
ancaman maut."
"Tapi orang itu tak pernah memasuki lingkaran kabut itu?"
"Tapi sekujur tubuh Jit-kaucu telah terkena kabut itu,
sedangkan dia berlari sembari membopong tubuhnya, tanpa
dia sadari sebenarnya ia pun terkena serangan racun itu."
"Kepandaian silat orang itu amat lihai, Liok-kaucu pun
terluka di tangannya, entah siapakah orang ini?"
"Dari raut wajahnya, jelas sudah dipoles obat penyaru,
besar kemungkinan orang ini adalah pemuda yang bernama
Ko Hong itu."
Orang berkerudung berbaju hitam menggeleng kepala
berulangkah.
"Pemuda Ko Hong telah terkena sebuah tusukanku, lukanya
amat dalam dan terluka parah, mana mungkin kesehatan
tubuhnya bisa pulih secepat itu?"
Dalam pada itu Ji-kaucu telah berjalan mendekati Liokkaucu,
kemudian menegur, "Parahkah lukamu, Liok-kaucu?"

348
Liok-kaucu sedang duduk bersila di atas tanah dengan
wajah merah membara, tiba-tiba dia memuntah darah
sebanyak tiga kali.
Darah yang keluar berwarna hitam pekat seperti warna
tinta bak.
Menyaksikan kejadian ini, berubah hebat paras muka Jikaucu,
secepat kilat telapak tangan kirinya menepuk tiga buah
jalan darah penting di punggung Liok-kaucu.
Sebenarnya Liok-kaucu sudah tak mampu berkutik lagi, tapi
setelah ditepuk keras punggungnya, dia baru menghembuskan
napas panjang, katanya dengan suara gemetar, "Ji-kaucu,
lukaku parah sekali, entah ilmu silat apa yang dipergunakan
olehnya."
Ji-kaucu membungkam, dia hanya mendongakkan kepala
sambil berdiri termangu-mangu.
Kemudian dia berpaling dan ujarnya kepada orang
berkerudung itu, "Komandan Siau, harap kau mewakili diriku
mengawasi sebentar keadaan di sini, aku hendak mengejar
mereka."
Belum selesai berkata, Ji-kaucu telah menggerakkan bahu
dan meluncur ke depan, dalam waktu singkat bayangan
tubuhnya sudah lenyap di balik kegelapan.
Tentu saja yang dimaksud "mereka" oleh Ji-kaucu adalah
Bong Thian-gak berdua.
Suasana amat hening, malam mencekam seluruh jagad,
angin berhembus kencang membuat suasana terasa dingin
menggigilkan.
Dengan merangkul pinggang Jit-kaucu Thay-kun dengan
tangan kirinya, Bong Thian-gak melakukan perjalanan tiada
hentinya sejauh dua puluh li lebih.

349
Tiba-tiba terdengar suara rintihan lirih, cepat Bong Thiangak
menghentikan larinya dan menundukkan kepala.
Tampak Thay-kun telah membuka matanya yang indah
menawan sambil memandang wajah Bong Thian-gak dengan
termangu.
Memeluk gadis cantik dalam rangkulan, timbul suatu
perasaan aneh, bau harum semerbak menembus lubang
hidung.
"Kau lelah?" pemuda itu menegur.
Thay-kun manggut-manggut.
"Kau bisa berjalan sendiri?" kembali Bong Thian-gak
bertanya lirih. Thay-kun tertawa, "Mengapa kau tidak
menurunkan aku?" Bong Thian-gak mengiakan dan cepat
menurunkan tubuhnya ke atas tanah.
Sambil menggeliat Thay-kun berkata dengan sedih, "Ai, aku
tak mungkin bisa lolos dari kematian."
"Mengapa?" Bong Thian-gak tertegun. Kembali Thay-kun
menghela napas panjang.
"Ai, karena aku telah terkena sebatang jarum beracun Hukut-
tok-ciam dari Ji-kaucu."
"Jarum beracun pelumat tulang? Terkena di bagian mana?"
Bong Thian-gak semakin terperanjat.
"Pada lengan kananku."
"Tapi bukankah kau masih berada dalam keadaan baik-baik
saja sekarang?"
Sambil tertawa getir Thay-kun menggeleng kepala
berulang-kali. "Kini lengan kananku menjadi kaku."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak segera berpaling
sambil memperhatikan lengan kanannya, betul juga, lengan

350
kanannya itu sudah terkulai lemas ke bawah dan sama sekali
tak bisa digerakkan.
"Memangnya tiada cara untuk mengobati luka itu?"
Thay-kun menggeleng.
"Ji-kaucu adalah tokoh yang amat lihai dalam
menggunakan racun, apalagi dia berniat membinasakan diriku,
sudah dapat dipastikan jarum beracun yang dilepaskan
olehnya menggunakan racun yang nanti tak dapat diobati!"
Bong Thian-gak melihat gadis itu tetap tenang, tidak
gugup, tidak panik, seakan-akan bukan dia yang terkena
jarum beracun dan bakal menemui ajalnya.
Maka dengan nada tak percaya dia bertanya lagi,
"Sungguhkah perkataanmu itu?"
"Apa gunanya kubohongi dirimu?" Thay-kun berkata sedih.
"Semut pun ingin hidup apalagi manusia."
"Tidak mungkin ... tidak mungkin," gumam Bong Thiangak,
"tak mungkin di dunia ini terdapat racun yang mematikan
tanpa bisa terobati lagi."
Sembari berkata Bong Thian-gak mengeluarkan tangan siap
merangkul kembali pinggang Thay-kun.
Mendadak Thay-kun menghindar sambil menyelinap
mundur, tegurnya, "Mau apa kau?"
Bong Thian-gak sendiri pun tertegun.
"Aku hendak mencari orang untuk mengobati racun di
lenganmu itu."
Thay-kun menghela napas panjang.
"Ai, bukankah sudah kukatakan kepadamu, tiada orang di
dunia ini yang bisa menyelamatkan jiwaku! Sekarang aku
harus memanfaatkan kesempatan yang ada untuk

351
mengemukakan suatu rahasia dunia persilatan yang mungkin
tidak diketahui oleh siapa pun."
"Menjelang ajalnya, Ku-lo Hwesio telah berpesan kepadaku
bahwa di Bu-lim hanya kau seorang yang dapat menghadapi
Cong-kaucu, kau tak boleh mati, tak boleh mati begini saja."
Thay-kun tertawa sedih.
"Perhitungan Ku-lo Sinceng sesungguhnya memang tepat,
di Bu-lim memang cuma aku seorang yang bisa
menghadapinya, tapi perhitungan manusia tak mampu
melawan perhitungan takdir, rupanya nasibku memang harus
berakhir sampai di sini."
Mencorong sinar aneh dari balik mata Bong Thian-gak, dia
berkata, "Sumoay, aku telah mempelajari hampir seluruh ilmu
silat yang berhasil Suhu curi sepanjang hidupnya, apakah di
antara sekian banyak kepandaian itu, tak satu pun yang bisa
digunakan untuk mengobati luka beracun itu?"
Thay-kun menghela napas panjang.
"Memang sepanjang hidup Suhu, beliau berhasil mencuri
kitab pusaka berbagai perguruan dan partai mana pun, sayang
di antara sekian banyak kepandaian itu tak sebuah pun yang
merupakan kitab ilmu pertabiban dan ilmu beracun. Itulah
sebabnya dia orang tua pun tewas akibat racun yang
dideritanya."
"Apa? Suhu pun mati akibat keracunan?" Bong Thian-gak
terperanjat.
Thay-kun manggut-manggut.
"Benar, dia orang tua tewas karena keracunan hebat, ai!
Sekarang aku sudah tiada waktu lagi untuk memberitahukan
semua ini padamu, pokoknya pembunuhnya adalah Congkaucu."

352
Bong Thian-gak memang telah menduga Jian-bin-hu-li Ban
Li-biau tewas secara mengenaskan dalam gua akibat
perbuatan Cong-kaucu, ternyata dugaannya memang tepat.
Sebenarnya dia ingin tahu keracunan apakah Ban Li-biau
sampai menemui ajal, namun Thay-kun telah mengalihkan
pokok pembicaraan ke soal lain, katanya, "Ku-lo Hwesio dari
Siau-lim-pay bisa menduga aku bermaksud mengkhianati Putgwa-
cin-kau, hal ini menunjukkan semasa hidupnya dulu, ia
telah berjumpa dengan Nyo Li-beng. Nyo Li-beng telah
memberitahukan rencana busuk Cong-kaucu serta asalusulnya.
Kalau begitu Ku-lo Sinceng pun sudah pasti telah
mempunyai rencana yang matang mengatasi situasi dunia
persilatan di masa mendatang, bila demikian adanya, meski
aku telah memejamkan mata untuk selamanya, aku pun bisa
mati dengan perasaan lega."
Agak bingung juga Bong Thian-gak mendengar perkataan
yang tiada ujung pangkalnya itu, dia tak tahu apa maksud
Thay-kun berkala demikian.
Maka sembari berkerut kening ujarnya kemudian, "Sumoay,
bagaimana kalau kau kuajak menuju ke kuil Keng-tim-an?"
Tergetar perasaan Thay-kun mendengar perkataan itu,
ucapnya cepat, "Kuil Keng-tim-an merupakan pasukan
tersembunyi kita, pasukan tersembunyi itu belum boleh
muncul dalam Bu-lim pada saat ini, sebab kalau tidak, bisa jadi
kekuatan tersembunyi itu bisa ditumpas ludes."
"Mengapa? Bukankah Keng-tim Suthay telah berkata,
'Sembilan hari lagi di Bu-lim akan muncul perkumpulan baru',
berarti sembilan hari lagi mereka sudah bersiap melakukan
gerakan?"
Thay-kun tersenyum.
"Benar, hal ini akan terjadi sembilan hari lagi, bukan
sekarang!"

353
"Mengapa harus menunggu sembilan hari lagi?"
"Sebab sampai waktunya baru akan muncul tokoh yang
mampu menandingi kemampuan Cong-kaucu."
"Aku tidak memahami maksud perkataanmu itu."
"Sewaktu masih berada dalam gedung Bu-lim Bengcu
tempo hari, bukankah pernah kau dengar dalam tiga hari
setelah meninggalnya Oh Ciong-hu Bengcu, lima orang mati
secara misterius, tapi beberapa hari setelah kematiannya,
jenazah mereka lenyap?"
"Ya, aku dengar kelima orang itu adalah si Pukulan nomor
wahid dari kolong langit Ma Kong Loenghiong dari perguruan
Sin-kun-bun, Liong-thau Pangcu dari perkumpulan Hek-huopang
Kwan Bu-peng, Congpiauthau dari tujuh perusahaan
ekspedisi gabungan wilayah Kanglam Lui-hong-khek (Jago
angin guntur) Gi Peng-san, Loapcu dari benteng Jit-seng-po
Tui-hun-pit (Pena pengejar sukma) Cia Liang dan Thi-koan-im
(Koan-im baja) Han Nio-cu, tapi bukankah mereka semua lelah
mati?"
Thay-kun manggut-manggut.
"Benar, mereka telah mati satu kali, tapi kini telah hidup
kembali."
"Masa orang yang sudah mati dapat hidup kembali?" seru
Bong Thian-gak terkejut bercampur keheranan.
"Sembilan hari lagi mereka akan muncul dan hidup kembali
dari kuil Keng-tim-an."
Dengan terperanjat Bong Thian-gak mengawasi wajah
Thay-kun sambil termangu-mangu, sedang di hati kecilnya
berpikir, "Kejernihan otaknya masih tetap meyakinkan, tapi
mengapa perkataannya masih sukar dipercaya."

354
Sambil tersenyum manis kembali Thay-kun berkata,
"Semua teka-leki ini akan terungkap sembilan hari lagi, bila ku
tarakan sekarang kau pun belum tentu mau percaya."
"Baik, baik ...." gumam Bong Thian-gak. "Terpaksa aku
harus menunggu sembilan hari lagi."
Thay-kun menghela napas sedih, kembali dia berkata, "Apa
yang hendak kusampaikan kepadamu, kini telah habis
kuucapkan, nah kau boleh pergi meninggalkan tempat ini!"
"Pergi? Aku harus pergi kemana?"
"Makin jauh semakin baik, pokoknya kau baru boleh
kembali ke kota Kay-hong sembilan hari lagi!"
Bong Thian-gak tertawa bodoh. "Kau pun hendak pergi
bersamaku?"
"Ai, mengapa kau tak pernah menuruti perkataanku?"
keluhnya.
"Aku mendapat perintah melindungi keselamatanmu, tak
nanti aku meninggalkan dirimu begini saja."
Tiba-tiba Thay-kun menarik muka, katanya, "Tahukah kau,
Ji-kaucu akan segera menyusul kemari untuk membinasakan
kita berdua?"
Bong Thian-gak tertawa nyaring.
"Mengapa kau begitu takut kepada Ji-kaucu?" serunya.
"Ai, siapa angkuh dia pasti akan kalah, kau terlalu
memandang remeh kemampuan Ji-kaucu," ucap Thay-kun
menghela napas.
"Padahal Ji-kaucu telah datang kemari!" kata Bong Thiangak
dengan suara pelan.
Berubah hebat paras Thay-kun mendengar perkataan itu, ia
mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling
tempat itu, angin malam berhembus, kabut menyelimuti

355
permukaan tanah, kecuali suara hembusan angin dan suara
binatang kecil, tak sesosok bayangan orang pun yang nampak.
Bong Thian-gak membalikkan tubuh sembari mengayun
tangan kanan ke depan, serentetan cahaya segera menyebar
di tengah udara seperti deru angin.
Semua cahaya tajam itu meluncur ke arah sebatang pohon
yang terletak tak jauh dari situ.
Pohon itu berada delapan depa jauhnya, siapa pun tak
mengira senjata rahasia yang disambitkan Bong Thian-gak
bisa mencapainya.
Mendengar suara desingan senjata rahasia itu, Thay-kun
berseru tertahan, "Ah! Jarum Lui-hong-sin-hong!"
Setelah menyambitkan senjata rahasia, Bong Thian-gak
pun memperhatikan sinar hitam yang menyusup ke dalam
kegelapan itu, namun yang didapat hanya suasana hening
sepi dan tiada terdengar sedikit suara pun.
Dengan paras muka berubah hebat Bong Thian-gak segera
berbisik lirih, "Sumoay, apakah Lui-hong-sin-hong dari Suhu
dapat disambut dengan tangan kosong?"
"Lui-hong-sin-hong mampu menembus bebatuan
menghancurkan karang, keras dan tajamnya luar biasa, tiada
manusia di dunia ini yang mampu menyambut ancaman, cuma
jarak timpukanmu terlampau jauh.," kata Thay-kun dengan
wajah berubah hebat.
Bong Thian-gak tidak bicara lagi, mendadak dia beranjak
dari tempatnya dan menerjang ke muka.
"Berhenti!" Thay-kun berseru.
Mendengar bentakan itu, Bong Thian-gak segera berhenti,
tanyanya dengan cepat, "Ada apa?"
"Seandainya Ji-kaucu bersembunyi di tempat gelap,
mengapa dia tidak segera muncul? Jelas dia bermaksud

356
memancing kedatanganmu ke situ, kemudian menyergap dan
melukaimu."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Ia telah terluka."
"Siapa?"
"Ji-kaucu."
Baru selesai ia berkata, tampak sesosok bayangan orang
seperti setan saja pelan-pelan berjalan keluar dari tempat
kegelapan.
Dia memakai baju model sastrawan berwarna hijau,
berjenggot panjang sedada, menyoreng pedang dan bermata
setajam sembilu, kalau bukan Ji-kaucu siapa lagi dia?
Baik Thay-kun maupun Bong Thian-gak dapat melihat jelas,
lengan kiri Ji-kaucu seakan-akan menggenggam sebuah
benda, namun darah kental bercucuran dari balik sela-sela
telapak tangannya dan membasahi permukaan tanah.
Sepasang mata Bong Thian-gak seolah-olah terkena sihir,
tanpa berkedip dia mengawasi Ji-kaucu maju selangkah demi
selangkah.
Walaupun suasana di sekeliling tempat itu sangat hening
dan tiada suara apa pun, namun suasana penuh diliputi
ketegangan dan keseraman yang menggidikkan.
Walaupun semua orang tahu bahwa serangan yang
dilancarkan Ji-kaucu pasti mengerikan dan dahsyat bukan
kepalang, namun mereka tidak gentar menghadapinya,
apalagi setelah menyaksikan Ji-kaucu terluka.
Sementara itu Thay-kun telah menggeser tubuh ke
samping kiri Bong Thian-gak dan bersiap menghadapi segala
kemungkinan yang tak diinginkan.

357
Dalam suasana hening seperti ini, Bong Thian-gak serta
Thay-kun seperti mendengar suara nyamuk yang amat ramai,
suara itu seperti ada seperti tiada, sedemikian lembutnya
hingga tak tertangkap oleh telinga.
Seandainya mereka tidak sedang memusatkan perhatian,
sulit rasanya menangkap suara itu.
Mendadak terdengar Thay-kun menjerit kaget, "Hati-hati
dengan nyamuk!"
Thay-kun segera melontarkan telapak tangan kirinya yang
merah membara itu ke depan, kembali dia telah melancarkan
sebuah pukulan dengan ilmu Soh-li-jian-sin-kang.
Pukulan yang maha dahsyat itu dilontarkan tiga kaki di
depan tubuh Bong Thian-gak, dimana angin pukulan itu
berhembus, beberapa ratus ekor nyamuk segera rontok ke
atas tanah.
Tapi gara-gara harus memperhatikan keselamatan Bong
Thian gak, akibatnya Thay-kun sendiri pun kena digigit tiga
ekor nyamuk pada pergelangan tangan kirinya, rasa sakit yang
kemudian timbul boleh dibilang merasuk sampai ke tulang
sumsum.
Thay-kun berseru tertahan, tubuhnya berguncang lebih
keras lagi.
Pada saat inilah mendadak Ji-kaucu mengayunkan tangan
kiri, segulung cahaya berwarna hitam dengan membawa suara
dengungan suara lebah laksana sambaran petir menyambar ke
tubuh Thay-kun.
Mimpi pun Bong Thian-gak tak mengira Ji-kaucu bisa
menyerang Thay-kun, bahkan menggunakan Lui-hong-sinhong.
Dalam gelisahnya, sambil membentak Bong Thian-gak
mengayun telapak tangan kanannya ke depan.

358
Angin serangan yang dahsyat dan kuat secara tepat
menghajar rontok Lui-hong-sin-hong itu.
Namun Lui-hong-sin-hong merupakan senjata andalan Jianbin-
hu-li Ban Li-biau di masa lalu, kedahsyatannya luar biasa
walaupun angin serangan Bong Thian-gak berhasil menghajar
senjata rahasia itu, bukan berarti senjata itu dapat
dirontokkan seluruhnya.
Dengusan tertahan berkumandang memecah keheningan,
tahu-tahu punggung kanan Thay-kun terkena serangan dan
roboh tidak sadarkan diri.
Rupanya serangan yang digunakan Ji-kaucu untuk
melancarkan serangan itu telah menggunakan teknik yang
tinggi, bersamaan dengan babatan telapak tangan kanan Bong
Thian-gak, Ji-kaucu telah melayang maju.
"Cring", berkumandang suara gemerincing, tahu-tahu Jikaucu
telah melolos pedangnya, digunakan untuk melancarkan
serangan.
Kendatipun Bong Thian-gak tahu musuh akan
menggunakan pedang, namun dia tak menyangka terjangan
lawan dilakukan dengan kecepatan luar biasa, bahkan jurus
serangan yang digunakan pun begitu sempurna dan ganas.
Terdengar desingan angin tajam, tahu-tahu lengan kanan
Bong Thian-gak telah mengucurkan darah, sementara
tubuhnya melayang mundur, sedangkan tangan kiri melolos
sebilah pedang emas.
Tapi pedang antik Ji-kaucu seakan sudah puas menjilat
darah dan menyusup kembali ke sarungnya, pedang telah
disarungkan kembali.
Benarkah serangan pedangnya begitu cepat dan dahsyat
sehingga sukar diikuti pandangan mata?
Benar, serangan yang dilancarkan Ji-kaucu memang hanya
sejurus, jarang ada jago lihai dunia persilatan yang berhasil

359
lolos dari ujung pedangnya dalam keadaan selamat, oleh
sebab itulah ia belum pernah melancarkan serangan kedua.
Suara tertawa dingin menyeramkan berkumandang dari
bibir Ji-kaucu
Terdengar dia berkata, "Sudah sepuluh tahun lamanya aku
tak pernah melolos pedang, tak nyana kau telah memaksaku
melanggar kebiasaanku, bahkan tidak menemui ajal dalam
satu gebrakan."
"Selama empat puluh tahun ini, kau merupakan jago lihai
pertama yang kujumpai, kau pun pantas menjadi musuhku,
meski akhirnya kau akan mati juga, kau boleh bangga dan
gembira karena kehormatan ini."
Kata-kata ini diucapkan tidak cepat tidak pula lambat,
seperti lagi menghibur seperti juga lagi memuji, bahkan
membawa keangkuhan.
Darah segar telah membasahi lengan kanan Bong Thiangak,
dalam waktu singkat separoh tubuhnya telah basah
kuyup, walaupun mulut lukanya terasa sangat panas dan
sakit, namun dia tak berani bersikap gegabah teledor, segenap
perhatiannya dipusatkan menantikan datangnya serangan
kedua Ji-kaucu.
Saat inilah Bong Thian-gak baru merasakan betapa
menakutkan Ji-kaucu, hingga kini pemuda itu belum juga
mengerti bagaimana cara ia melancarkan serangannya, dia
pun tak tahu bagaimana dirinya bisa terbabat oleh mata
pedang lawan.
Ketika menghindar tadi, sudah jelas dia lolos dari mata
pedang itu sejauh setengah kaki, tapi mengapa pula mata
pedang musuh bisa memancar setengah kaki dari arah
serangan?
Dengan suara tenang dan lembut kembali Ji-kaucu berkata,
"Ia telah terkena jarum beracun pelumat tulangku, sekarang

360
pun sudah digigit nyamuk bangkai dari wilayah Biau, ditambah
pula terhajar jarum rahasia Sin-hong pada bagian mematikan,
aku rasa meski ada dewa yang turun dari kahyangan pun tidak
bisa menyelamatkan jiwanya. Sedang kau? Tentu saja kau pun
tak bisa hidup lebih lanjut, karena tanpa kau sadari kau pun
telah terkena racun jahat, paling lambat tiga hari kemudian,
racun itu akan bekerja yang mengakibatkan kematian."
"Mengapa kau tak berani melancarkan seranganmu yang
kedua?" jengek Bong Thian-gak sambil tertawa dingin.
Sudah jelas Ji-kaucu hendak melancarkan serangan kedua,
tapi berhubung pertahanan yang dilakukan Bong Thian-gak
sangat ketat, hal itu membuatnya tidak berkesempatan
melakukan penyerangan.
"Kini kau ibarat seorang yang hampir mati," kata Ji-kaucu
dengan lembut. "Mati sekarang atau mati beberapa hari lagi,
apa pula bedanya!"
"Baik, jika kau enggan menyerang, biarlah aku yang
melancarkan serangan lebih dulu."
Begitu selesai berkata, Bong Thian-gak membabatkan
pedangnya bagaikan bianglala, secara beruntun dia
melepaskan tiga buah serangan dahsyat.
Tentu saja ketiga buah serangan itu dilancarkan Bong
Thian-gak dengan jurus serangan yang paling tangguh, begitu
serangan dilepaskan, cahaya tajam segera menyambar.
Di bawah cecaran ketiga jurus serangan itu, dengan enteng
dan cekatan Ji-kaucu menghindarkan diri ke sana kemari.
Sementara itu Bong Thian-gak telah melompat ke sisi Thaykun
setelah melancarkan ketiga buah serangannya itu,
kemudian tangan kanannya menyambar dan memeluk
pinggang Thay-kun, bersamaan itu juga pedang di tangan
kirinya diayunkan ke muka.

361
Sebilah pedang yang lemas tahu-tahu sudah berubah
menjadi tujuh dalam sekali ayunan tangan, seakan-akan tujuh
pisau terbang yang meluncur bersama menyerang Ji-kaucu.
Sedangkan anak muda itu sendiri segera melompat ke
udara dan kabur dari situ.
Dia tak sempat melihat lagi apakah Ji-kaucu berhasil
meloloskan diri dari sergapan mautnya atau tidak, sekarang
dia hanya tahu bagaimana mengerahkan ilmu meringankan
tubuh untuk melarikan diri secepatnya dari situ.
Sudah barang tentu Ji-kaucu dapat melolos diri dari
ancaman ketujuh pisau terbang itu, hanya saja dia tak
melakukan pengejaran.
Sekulum senyuman dingin penuh perasaan bangga
menghiasi wajahnya, kemudian terdengar ia bergumam,
”Tiada seorang pun di dunia ini yang dapat lolos dari ujung
pedangku dalam keadaan selamat, tidak terkecuali dirimu."
Kabut fajar telah menyelimuti angkasa, begitu tebal dan
padat sehingga sulit untuk melihat keadaan di sekitar tempat
itu.
Sambil membopong Thay-kun, Bong Thian-gak melakukan
perjalanan dengan amat cepat.
Tiba-tiba ia merasa kepala pening sekali, tenggorokan
kering seperti mau retak, keempat anggota badannya lemas
tak bertenaga.
Keadaan ini mengejutkan Bong Thian-gak, diam-diam
pikirnya, "Kalau aku benar sudah terkena serangannya, wah
celaka! Apakah kami berdua harus tewas begini saja."
Ia berhenti untuk memperhatikan sekeliling tempat itu,
mendadak ia mendengar suara ombak memecah pantai,
sayang empat penjuru diselimuti kabut tebal sehingga dia
sendiri pun tak tahu sedang berada dimana.

362
"Mungkin kita berada di tepi sungai," pikir Bong Thian-gak.
Berpikir sampai di situ, mendadak perutnya terasa mual
ingin muntah, sayang tak setitik benda pun yang bisa
dimuntahkan.
Mendadak kakinya terasa lemas, Bong Thian-gak bersama
Thay-kun yang berada dalam bopongannya roboh terjengkang
ke atas tanah.
Waktu itu Thay-kun telah pingsan, mata terpejam rapat,
wajahnya pucat-pias seperti mayat, sedangkan di bahu
kanannya masih tertancap jarum Hui-hong yang masuk ke
dalam daging, keadaannya mengerikan sekali.
Waktu itu lengan kanannya sudah terkulai lemas,
sementara tangan kirinya merah bengkak.
Menyaksikan semua ini, Bong Thian-gak menghela napas
panjang, kemudian gumamnya, "Tidak enteng luka yang
diderita olehnya, ai ... sedangkan aku sendiri pun tak jauh dari
kematian."
Terbayang akan kematian, hati pemuda ini merasa pilu.
Dia menundukkan kepala memandang sekejap wajah cantik
dalam pelukannya, tanpa terasa dia merasa terhibur juga,
gumamnya sambil tertawa bodoh, "Thian benar-benar suka
mempermainkan umatnya, siapakah yang akan menduga aku
akan mati sambil memeluk gadis tercantik di dunia saat ini,
ah!"
"Perubahan yang terjadi dalam alam semesta memang
sukar diduga, sebenarnya dia terhitung musuhku yang boleh
diampuni, tapi kini telah berubah menjadi sahabat karibku
dalam perjalanan pulang ke alam baka, hal ini tak pernah
kubayangkan sebelumnya."
"Perhitungan Ku-lo Sinceng pun amat tepat, entah dia telah
memperhitungkan keadaanku dan Thay-kun belum? Sesudah
kami berdua tiada, Put-gwa-cin-kau pasti akan meraja-rela

363
tanpa seorang pun yang bisa membendung mereka.
Mungkinkah dunia persilatan akan dikuasai orang-orang Putgwa-
cin-kau?"
"Mungkinkah berbagai perguruan besar akan musnah di
tangan mereka?"
Menghadapi ajal di depan mata, tak urung berbagai macam
pikiran muncul dalam benaknya, apalagi kesadaran Bong
Thian-gak mulai surut, tak aneh pikirannya tambah kalut.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan lirih yang menghentikan
jalan pikiran Bong Thian-gak, cepat dia berpaling.
Tampak Thay-kun sedang mengerahkan tenaga lalu
mengedipkan mata dan membukanya pelan-pelan.
Ketika menyaksikan wajah Bong Thian-gak berada di
hadapannya, sambil tersenyum lantas dia berkata, "Dalam
impian aku seperti dipeluk olehmu, ternyata kau benar-benar
sedang memelukku."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Aku yakin kau pasti akan sadar, nyatanya kau benar-benar
sadar!"
"Tapi dengan sadarku ini, kemungkinan besar saat
kematianku akan semakin dekat!" ucap Thay-kun sedih. "Aku
sendiri pun tak akan hidup lama."
Thay-kun terkejut oleh perkataan itu, serunya pula, "Kau
pun tak dapat hidup lama?"
"Ya, aku telah terkena serangan Ji-kaucu."
"Kau pun keracunan?"
Sampai di situ si nona telah melihat lengan kanan Bong
Thian-gak lerluka, buru-buru katanya lagi, "Luka pada
lenganmu amat parah, apakah terluka oleh babatan pedang Jikaucu?"

364
Bong Thian-gak tak menjawab, dia hanya manggutmanggut.
Dengan sedih Thay-kun menghela napas panjang, "Pedang
Ji-kaucu amat lihai, konon sudah direndam racun yang amat
jahat, kalau begitu kau benar-benar telah terkena racun."
Bong Thian-gak tertawa getir.
"Memang sepantasnya kita mati bersama!"
"Kau tak boleh mati, kau pasti tak akan mati."
"Jika Thian menyuruh kita berpulang, siapa mampu
menolak?"
"Mari kita pergi mencari seseorang."
"Tapi aku sudah tidak mampu bergerak lagi." Thay-kun
menghela napas sedih.
"Ai, kalau begitu, terpaksa kita berdua harus menunggu
kematian di sini."
"Coba tunggu sebentar, bila aku telah bertenaga lagi
barulah kita lanjutkan perjalanan."
Mendadak Thay-kun memejamkan mata, lalu berkata
lembut, "Hingga sekarang aku belum mengetahui namamu
yang sesungguhnya serta raut wajah aslimu."
"Buat apa kau menanyakan hal ini?"
Thay-kun tertunduk malu, bisiknya manja, "Sejak
dilahirkan, belum pernah aku dipeluk orang seperti ini."
"Ah!" Bong Thian-gak berseru tertahan. "Tapi aku tak
bermaksud mencari keuntungan dengan cara ini."
"Masih ingat malam itu ...." bisik Thay-kun lirih, ia tak
melanjutkan kata-katanya.

365
Walau begitu Bong Thian-gak telah mengetahui apa
gerangan yang dimaksud, buru-buru dia berkata, "Tapi aku
tidak bermaksud mengintipmu."
"Sudahlah! Sekarang aku sudah hampir mati, bersediakah
kau memberitahukan nama aslimu kepadaku?"
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Tentu saja bersedia, aku she Bong bernama Thian-gak."
"Ah! Kalau begitu kau adalah murid keempat Thi-ciang-kankun-
hoan Oh Ciong-hu!"
"Aku telah dikeluarkan dari perguruan," bisik pemuda itu
sedih.
"Aku bisa memahami nasib tragis yang menimpa dirimu,
kau ingin mempertahankan nama baik Oh Ciong-hu dengan
cara begini, aku yakin arwah Oh-bengcu di alam baka tentu
sudah tahu akan hal ini dan bersedia menerimamu kembali
sebagai anggota perguruannya."
"Darimana kau bisa tahu tentang pengalaman tragis yang
menimpa diriku?" tanya Bong Thian-gak terkejut dan
keheranan.
Thay-kun tertawa, "Tahukah kau siapakah Go-kaucu Putgwa-
cin-kau yang menyelinap dalam gedung Bu-lim Bengcu?
Dia tak lain adalah istri Oh Ciong-hu, Pek Yan-ling adanya!"
Bong Thian-gak tidak mengira Go-kaucu adalah ibu
gurunya sendiri, darah yang menggelora dalam dada Bong
Thian-gak serasa mendidih, sambil menggigit bibir, katanya,
"Sampai sekarang wanita cabul itu belum juga menyesal, bila
aku masih dapat hidup, akan kucincang tubuhnya hingga
hancur berkeping-keping."
"Masih ada satu hal perlu aku beritahukan kepadamu, kau
anggap Siau Cu-beng sudah mati?"

366
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak,
serunya dengan cepat, "Siau Cu-beng! Sam-suhengku Siau
Cu-beng?"
"Kalau bukan dia, siapa lagi?"
Mendengar ucapan itu, hati Bong Thian-gak bergetar keras,
dari nada bicara Thay-kun, agaknya ia benar-benar
mengetahui amat jelas kejadian lama yang pernah
menimpanya bersama semua aib yang telah menimpa
perguruannya.
Mungkinkah Sam-suhengnya Siau Cu-beng yang terjatuh ke
dalam jurang benar-benar belum mati? Tapi dimanakah dia
sekarang?
Berpikir sampai di situ, sorot matanya segera dialihkan ke
arah Thay-kun.
"Walaupun Siau Cu-beng telah terhajar hingga tercebur ke
jurang oleh pukulanmu, sesungguhnya dia tak mati," kata
Thay-kun pula.
"Ia benar-benar belum mati?"
"Buat apa aku membohongi dirimu!"
"Lantas dimanakah Siau Cu-beng sekarang?"
"Sewaktu jatuh ke dalam jurang tempo hari, sesungguhnya
Siau Cu-beng sudah sekarat dan tinggal menunggu ajal saja,
pada saat itulah muncul seorang bintang penolong yang telah
menyelamatkan jiwanya."
"Siapakah bintang penolongnya?"
"Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau! Bukan saja ia telah
menyelamatkan jiwanya, bahkan dalam tujuh tahun yang
singkat, ia telah mewariskan ilmu silat yang maha dahsyat
kepadanya."

367
"Ah!" Bong Thian-gak menjerit kaget, "kalau begitu Siau
Cu-beng adalah...."
"Komandan nomor dua pasukan pengawal tanpa tanding
Put-gwa-cin-kau atau tepatnya orang berkerudung jubah
hitam itu."
Mendadak Bong Thian-gak berteriak, "Aku tak boleh mati,
aku harus hidup lebih lanjut, aku tak dapat membiarkan Siau
Cu-beng segar-bugar di dunia ini."
Entah darimana datangnya kekuatan, dengan cepat dia
merangkul kembali tubuh Thay-kun dengan lengan kirinya,
kemudian bertanya, "Kita harus berjalan menuju ke arah
mana?"
"Ke kota Lok-yang!"
"Itu berarti dua perjalanan," seru Bong Thian-gak dengan
tertegun. Thay-kun segera mengangguk.
"Ya, tempat ini adalah Tio-ko, bila menempuh perjalanan
sejauh satu li lagi kita akan sampai di kota, kemudian dari situ
kita dapat menumpang kereta menuju ke kota Lok-yang."
0oo0
Fajar baru saja menyingsing, sang surya memancarkan
cahaya keemas-emasannya dari ufuk timur, di hadapan
mereka terbentang sebuah sungai.
Sambil merangkul Thay-kun, selangkah demi selangkah
pelan-pelan Bong Thian-gak bergerak menuju ke depan sana,
tanyanya, "Ke Lok-yang kita harus mencari siapa?"
"Seorang tabib kenamaan yang mengasingkan diri di bawah
bukit Cui-im-hong, asalkan dia bersedia mengobati luka kita,
betapa pun parahnya luka yang kita derita, sudah pasti dia
bisa menyelamatkan jiwa kita dari ancaman bahaya."
"Seandainya dia menampik?" tanya Bong Thian-gak dengan
rasa kuatir.

368
Thay-kun tersenyum.
"Dia tak akan menampik permintaan kita!"
Dari nadanya, tampaknya gadis itu telah lama mengenal
tabib sakti itu, maka perasaannya menjadi tenang kembali.
Yang dikuatirkan olehnya sekarang adalah seandainya dia
serta Thay-kun tak bisa bertahan sampai kota Lok-yang.
Mendadak Thay-kun berseru tertahan, lalu melanjutkan,
"Bong-suko, di pinggangku terdapat sebuah botol kecil, tolong
ambilkan!"
"Botol? Buat apa botol itu?" Bong Thian-gak tertegun.
"Di dalam botol terdapat lima butir Tok-liong-wan, pil itu
berkhasiat melenyapkan berbagai macam pengaruh racun, bila
orang menelan sebutir, dalam tiga tahun dia tak usah takut
terrhadap serangan hawa racun, bahkan bisa menguatkan isi
perut."
Mendengar ucapannya itu, Bong Thian-gak menurut dan
segera merogoh pinggangnya
Benar juga di sana terdapat sebuah botol kecil berwarna
putih, sambil mengambil keluar benda itu, tanyanya, "Botol
kecil inikah yang kau butuhkan?"
"Benar, bukalah tutup botol itu dan ambillah sebutir,
langsung telan ke dalam mulut."
Pelan-pelan Bong Thian-gak membuka tutup botol itu dan
mengeluarkan sebutir pil sebesar kacang kedelai, terendus
bau harum semerbak.
Tanpa terasa dia membuka mulut dan menelan sebutir,
rasanya memang agak getir namun seketika itu juga
semangatnya terasa segar kembali.
"Ehm, obat bagus, obat bagus, ai, mengapa kau tidak
menelan sebutir?"

369
Thay-kun menghela napas sedih, "Seandainya aku tidak
menelan sebutir Tok-liong-wan lebih dulu, mungkin sejak tadi
nyawaku sudah melayang meninggalkan raga kasarku!"
"Benar, konon ilmu beracun Ji-kaucu tiada taranya di dunia
ini, sedangkan Thay-kun telah terkena beberapa racun jahat
sekaligus, nyatanya dia masih dapat hidup hingga sekarang,
nampaknya kita masih ada kesempatan untuk hidup."
Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ia telah menunjukkan
wajah berseri.
Terdengar Thay-kun berkata lagi, "Tok-liong-wan ini
merupakan hadiah tabib sakti yang hidup mengasingkan diri di
bawah puncak Cui-ini-hong di luar kota Lok-yang, tiga tahun
berselang ia menghadiahkan enam butir pil itu untukku."
"Menurut dia sendiri, pil ini dibuat dengan susah-payah,
bukan saja harus dimasak selama tiga tahun, juga cuma
dibuat delapan belas bulir saja, itulah sebabnya Tok-liong-wan
ini tak ternilai harganya."
"Ai, ternyata ucapan itu memang benar, Tok-liong-wan
telah menyelamatkan jiwa kita."
"Walaupun Tok-liong-wan memiliki khasiat luar biasa,
namun ilmu beracun Ji-kaucu bukan sembarang orang bisa
menandinginya, oleh karena itu lebih baik kita secepatnya
berangkat menuju ke kota Lok-yang."
Sejak menelan Tok-liong-wan, lambat-laun Bong Thian-gak
merasa betapa segar dan nyamannya sekujur tubuhnya, tidak
seperti tadi perutnya selalu mual dan ingin muntah saja,
penderitaannya bukan alang-kepalang.
"Ai! Sesampainya di kota Lok-yang nanti, aku harus
berterima kasih kepada tabib sakti itu!"
"Tabib itu berwatak aneh dan suka menyendiri," Thay-kun
menerangkan. "Sesampainya di sana nanti kau mesti menuruti

370
semua perkataanku, aku kuatir bila dia menampik mengobati
lukamu."
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak tertawa.
"Asal kau dapat sampai di situ dengan selamat, soal matihidupku
bukan masalah yang terlalu penting."
"Kalau harus mati, kita mati bersama," bisik Thay-kun
pelan.
Sekali pun ucapan itu sangat sederhana dan tiada sesuatu
yang luar biasa, namun jauh melebihi beribu-ribu kata lain,
karena dari ucapan itu dia telah mengemukakan seluruh
perasaan hatinya yang sebenarnya.
Rupanya ucapan itu diutarakan ketika Bong Thian-gak
masih berada di dusun petani, ketika mendengar perkataan itu
diutarakan, hatinya tergetar, dia tak tahu haruskah merasa
girang atau sedih ataukah murung?
Sekali pun sedang bermimpi, Bong Thian-gak juga tak
berani menyangka gadis cantik jelita ini menaruh perasaan
kepadanya.
Tapi sekarang sudah jelas kalau dia telah mengutarakan
perasaan hatinya itu.
Dia nampak begitu cantik, siapakah lelaki di dunia ini yang
tak jatuh hati kepadanya, tidak ingin mempersunting dan
menjadikannya istri tercinta?
Justru karena dia kelewat cantik maka Bong Thian-gak
berani mengutarakan perasaannya itu, dia tak tahu haruskah
murung, sedih atau takut.
Akhirnya Bong Thian-gak dan Thay-kun menyewa sebuah
kereta di kota Tio-ko untuk melanjutkan perjalanannya
menuju ke kota Lok-yang.
Sebenarnya Bong Thian-gak ingin duduk bersama kusir di
depan, tapi berhubung Thay-kun takut jejak mereka ketahuan

371
lawan, terpaksa kedua orang itu harus menumpang kereta
bersama-sama.
Dengan demikian benih cinta yang baru ditanam di hati
mereka berdua pun dengan cepat bersemi dan tumbuh
menjadi besar.
Mungkin inilah suratan takdir yang telah menentukan jodoh
mereka.
Sejak Bong Thian-gak menelan Tok-liong-wan, keadaannya
boleh dibilang mirip orang biasa, sama sekali tidak
menunjukkan gejala keracunan, bahkan luka di lengan
kanannya juga tidak menunjukkan gejala merah atau
bengkak.
Thay-kun sendiri pun kelihatan amat jernih pikirannya,
namun sepasang lengannya sudah tidak mau menurut
perintahnya lagi, tak ubahnya seperti orang cacat.
Kereta berlari kencang di atas jalan berbatu, guncangan di
dalam kereta terasa amat kencang dan keras, membuat Thaykun
yang duduk di sebelah kanan hampir saja jatuh
terjengkang.
Untung Bong Thian-gak bergerak cepat dengan menyambar
pinggang kirinya, lalu membiarkan dia bersandar di pinggang
sendiri.
Tiba-tiba Thay-kun berkata sambil tertawa manja, "Suheng,
seandainya sepasang tanganku benar-benar cacat, apakah
kau masih letap mencintai diriku?"
"Sekali pun kau telah berubah menjadi abu pun, aku akan
tetap mencintai dirimu," sahut Bong Thian-gak tanpa pikir
panjang.
"Benarkah itu?"
"Selamanya aku tak pernah berbohong, terutama di
hadapan gadis, aku lebih-lebih tak ingin membohonginya."

372
Tiba-tiba Thay-kun menghela napas panjang seraya
berkata lembut, "Suheng, aku pernah membunuh banyak
orang, dalam agama Buddha dikatakan, 'siapa menanam
kejahatan, dia akan mendapat balasan yang setimpal'.
Sekarang aku benar-benar kuatir, bila suatu ketika aku tewas
dalam keadaan yang mengenaskan."
Bong Thian-gak turut menghela napas pula.
"Tiada manusia di dunia ini yang lolos dari kesalahan, orang
yang tahu salah dan mau bertobat itulah tindakan kebajikan
yang sejati! Bila sejak dulu kau telah memutuskan untuk
meninggalkan Put-gwa-cin-kau, mungkin akan banyak dosa
dan siksaan yang bisa dihindari."
Mata Thay-kun berkaca-kaca menahan linangan air mata.
"Mengapa aku tak dapat melupakan Put-gwa-cin-kau?
Karena perkumpulan ini ada sangkut-pautnya dengan asalusulku."
"Asal-usulmu?"
"Hingga sekarang aku belum dapat membuktikan Congkaucu
Put-gwa-cin-kau adalah ibu kandungku atau bukan."
'Seandainya dia benar-benar adalah ibumu?" tanya Bong
Thian-gak dengan perasaan tergetar.
"Semoga saja dia bukan ibuku, seandainya dia adalah
ibuku, tak nanti dia menurunkan perintah kepada Ji-kaucu
untuk membunuhku."
"Sumoay, karena ingin membuktikan hal itu maka kau
ragu."
"Sejak kecil aku sudah dibesarkan dalam lingkungan
demikian, lagi pula dalam benakku sudah tertanam bahwa
Cong-kaucu adalah ibu kandungku, bayangkan saja,
bagaimana mungkin aku dapat lolos dari samudra penderitaan
begitu saja?"

373
Mendengar perkataan itu, diam-diam Bong Thian-gak
menghela napas panjang, pikirnya, "Aku tak boleh
menyalahkan dia, setiap orang bila sedang dalam keadaan
begini, dia pun akan terperosok lebih jauh, hari ini dia bisa
meloloskan diri dari pengaruh Put-gwa-cin-kau pun sudah
merupakan sesuatu yang luar biasa."
Seseorang bila sedang dalam tekanan dan ancaman, walau
ingin melawan dan meloloskan diri dari keadaan itu, maka
dibutuhkan keberanian yang sangat besar.
Biasanya keberanian semacam ini tak dimiliki setiap orang.
0oo0
Cui-im-hong merupakan nama sebuah bukit yang terletak
di luar kota Lok-yang sebelah utara, di depan bukit itu
terdapat sebuah sungai yang berhubungan dengan sungai
Lok-sui, di balik bukit merupakan rangkaian gunung berlapislapis
dan sambung-menyambung tiada ujungnya.
Menyusuri tepi sungai terbentang sebuah jalan raya yang
amat lebar, semakin ke arah bukit semakin sedikit pula
manusia berlalu lalang di sana.
Di tengah keheningan malam yang mencekam jagad, tibatiba
terdengar suara roda kereta yang bergema di jalan raya,
lalu muncul sebuah kereta mendekati tempat itu. Akhirnya
kereta ini berhenti di sebuah rumah.
Bangunan itu meliputi suatu daerah yang sangat luas,
empat penjuru sekeliling tempat itu penuh ditumbuhi aneka
macam bunga yang beraneka warna, dari kejauhan pun
sudah. dapat terendus bau harum bunga yang semerbak.
Setelah berhenti sejenak, dari balik kereta kemudian
berjalan keluar seorang sastrawan pincang, dalam
bopongannya menggelendot seorang gadis cantik yang
lumpuh sepasang lengannya.

374
Dari sakunya Bong Thian-gak mengeluarkan sekeping uang
perak untuk membayar ongkos kereta, kemudian dia
mengangkat kepala dan memandang sekejap bangunan itu,
katanya pelan, "Tampaknya orang sudah tidur."
Thay-kun ikut mengangkat kepala memandang keadaan
cuaca, kemudian menyahut, "Sekarang tak lebih kentongan
pertama."
Bicara sampai di situ, tiba-tiba firasat jelek melintas di
benaknya.
Ternyata suasana di dalam bangunan besar di kaki bukit ini
gelap gulita, tiada cahaya lentera, tiada suara manusia,
keadaan tak jauh berbeda dengan kota mati.
Sementara itu kereta sudah pergi jauh, di bawah kaki bukit
tinggal mereka berdua saja.
Mendadak paras muka Bong Thian-gak berubah hebat,
bisiknya, "Ada orang datang."
Tampak tiga bayangan orang muncul di situ, mereka bukan
keluar dari balik pintu gerbang, melainkan melompat turun
dari atas atap iimiah, dalam dua kali lompatan saja mereka
sudah melayang turun di hadapan Bong Thian-gak.
Ketiga orang itu terdiri dari dua orang lelaki berperawakan
tinggi besar dan seorang berkerudung berbaju hitam.
Berhadapan dengan orang berkerudung berbaju hitam itu,
kontan mencorong sinar berapi-api dari balik mata Bong
Thian-gak.
Sedangkan paras Thay-kun juga berubah hebat, tanyanya
dengan suara gemetar, "Berapa orang di antara kalian yang
telah datang?"
Orang berkerudung berbaju hitam itu tertawa dingin.

375
"Racun yang dilepaskan Ji-kaucu mungkin saja kehilangan
kehebatannya di tubuh kalian berdua, namun perhitunganku
tak akan pernah meleset."
"Jit-kaucu, apabila kau tahu diri, ikutlah aku pulang, siapa
tahu Cong-kaucu akan meninggalkan sebuah jalan kehidupan
bagimu!"
Sementara itu berbagai pikiran telah berkecamuk dalam
benak Bong Thian-gak, dia lantas berpikir, "Sanggupkah aku
seorang melawan mereka bertiga?"
Seandainya dalam keadaan biasa, Bong Thian-gak percaya
masih sanggup bertarung melawan ketiga orang itu,
seandainya kalah, ia masih sanggup melarikan diri.
Tapi sekarang dia menyadari tak mempunyai kekuatan
seperti itu.
"Gi Jian-cau berada di dalam," sahut orang berkerudung
berbaju hitam hambar.
"Kau telah melukainya?"
"Dia pernah menyelamatkan jiwaku, dia masih terhitung
tuan penolongku sendiri, karenanya aku tak mungkin berbuat
demikian, kau pun tak usah berbuat demikian."
Mendengar ucapan itu, Thay-kun menghela napas panjang,
"Ai, kenapa aku tak pernah berpikir kau pun pernah menjadi
tamu di rumah kediaman tabib sakti Gi Jian-cau."
Orang berkerudung tertawa dingin, "Betul, ilmu pertabiban
G i Jian-cau memang luar biasa, terutama kemampuannya
membuat obat, boleh dibilang tiada duanya di dunia ini dan
hal ini rasanya hanya diketahui oleh Cong-kaucu, kau dan aku
bertiga saja."
"Tapi sekarang telah bertambah banyak orang yang
mengetahui rahasia ini."

376
Mencorong sinar tajam dari bilik mata orang berbaju hitam
itu, ujarnya kemudian sambil tertawa, "Apakah malam ini
kalian masih ingin meninggalkan tempat ini dalam keadaan
hidup?"
Mendadak Bong Thian-gak berseru, "Siau Cu-beng, aku
hendak membunuhmu!"
Tergetar keras perasaan orang berbaju hitam itu setelah
namanya disebut Bong Thian-gak, kemudian setelah tertawa
dingin, serunya, "Sungguh tak kusangka Jit-kaucu telah
mengingkari sumpah sendiri dengan membocorkan rahasia
terbesar partai kita, kalau begitu dosa dan kesalahan Jit-kaucu
sudah tak bisa dimaafkan lagi!"
Ternyata rahasia terbesar Put-gwa-cin-kau adalah
menghilangkan nama asli tokoh-tokohnya dengan mengganti
namanya memakai urutan nomor, itulah sebabnya hingga kini
orang-orang yang berkumpul dalam Put-gwa-cin-kau sebagai
pemimpin jarang diketahui asal-usulnya oleh orang lain,
bahkan dianggap misterius sekali.
Perbuatan pertama yang harus dilakukan setiap orang yang
bergabung dengan Put-gwa-cin-kau adalah bersumpah untuk
tidak membocorkan rahasia tokoh-tokoh dalam perkumpulan
itu, barang siapa berani melanggar sumpah itu, maka dosanya
tidak terampuni lagi, malah bisa dijatuhi siksaan yang paling
keji.
Thay-kun sendiri pun terperanjat sekali mendengar Bong
Thian-gak menyebutkan nama Siau Cu-beng, serunya pula,
"Suheng, kau ... kau tidak boleh ...."
Mendengar seruan itu Bong Thian-gak amat terperanjat, ia
tahu gadis itu melarang dirinya mengungkap asal-usulnya
yang sebenarnya.
Akan tetapi gerak-gerik mereka ini semakin mencurigakan
Siau Cu-beng, dia segera berpikir, "Siapakah dia? Bukankah
dia adalah Ko Hong?"

377
Berpikir demikian, orang berkerudung kemudian berkata,
"Pandai amat saudara menyaru, sebenarnya siapakah dirimu?"
"Ko Hong!" jawab Bong Thian-gak hambar.
"Kau bukan Ko Hong!" bentak orang berkerudung. "Hm!
Aku mempunyai cara untuk mengetahui asal-usulmu yang
sebenarnya!"
Begitu selesai berkata, dia lantas mengulap tangan kirinya,
kedua orang yang berdiri di sisinya serentak maju dengan
langkah lebar.
Kepandaian silat pasukan berbaju perlente pengawal tanpa
tanding telah dilihat dan dicoba oleh Bong Thian-gak beberapa
hari lalu, di saat mereka menyerbu ke dalam gedung Bu-lim
Bengcu tempo hari.
Waktu itu Goan-ko Taysu dari Siau-lim-si serta Wan-pitkim-
to (Golok emas berlengan monyet) Ang Thong-lam dari
Tiam-jong-pay melakukan pertarungan sengit melawan
mereka, hal ini menunjukkan betapa hebatnya ilmu mereka.
Pada hari biasa tentu Bong Thian-gak tak takut terhadap
mereka, namun berbeda sekarang ini.
Dia sendiri telah keracunan hebat, walaupun telah menelan
Tok-liong-wan yang bisa mencegah beredarnya racun
menyerang isi perut, hingga pikirannya tetap jernih dan tak
ubahnya seperti keadaan sehat.
Padahal Bong Thian-gak sendiri tahu lengan kanannya yang
terluka bacokan masih terasa linu dan kaku, tenaganya sama
sekali tak mampu dikerahkan ke situ.
Tapi menghadapi musuh yang semakin mendesak, dia pun
sadar, bila musuh tak segera dibinasakan, akibatnya tak bisa
dibayangkan.
Ingatan itu melintas di benaknya, Bong Thian-gak segera
meraung gusar, telapak tangan kiri diayun ke depan dan

378
langkah kakinya bergeser berulang kali, kemudian melepaskan
sebuah bacokan maut ke depan.
Dimana serangannya dilancarkan seakan-akan sama sekali
tak bertenaga, karena tak terdengar sedikit suara pun.
Padahal siapa menduga dalam serangan ini Bong Thian-gak
telah mengerahkan segenap kekuatannya.
Tiba-tiba saja terdengar dua kali jeritan ngeri yang
memilukan hati berkumandang memecah keheningan.
Dua orang pengawal tanpa tanding yang maju ke muka
berhenti di tengah jalan, tiba-tiba badannya berubah seperti
tak bertulang, dengan lemas dan tak bertenaga mereka roboh
terduduk ke tanah.
Namun setelah terduduk, mereka pun tak pernah
merangkak bangun kembali.
Seluruh tulang mereka telah terhajar hancur oleh tenaga
maha dahsyat itu, bagaimana mungkin mereka bisa
merangkak bangun? Mereka tewas seketika, tewas tanpa
penderitaan sedikit pun. Bong Thian-gak sendiri sempoyongan
setelah melancarkan dua buah serangan itu, matanya
berkunang-kunang dan kepala amat pening, hampir saja ia
roboh tak sadarkan diri, dadanya menjadi sesak dan tak
mampu bernapas.
Sungguh suatu penderitaan yang hebat, dia sampai
terbungkuk-bungkuk dibuatnya.
Jit-kaucu Thay-kun menjerit keras, "Ke ... kenapa kau?"
Dengan susah payah dia menggeser tubuh mendekati Bong
Thian-gak, sementara air mata bercucuran membasahi
wajahnya yang cantik.
Kulit Bong Thian-gak mengencang keras, lalu serunya
dengan suara gemetar, "Kau ... kau mundurlah ke sisiku, aku
... aku ... aku sudah tak sanggup mempertahankan diri lagi...."

379
Dalam pada itu orang berkerudung sudah dibuat terpukau
dan terkesiap oleh kedahsyatan serangan Bong Thian-gak
yang berhasil membunuh kedua anak buahnya dalam sekali
pukulan.
Dia berdiri tak berkutik, sementara sepasang matanya
mengawasi kedua sosok mayat yang tergeletak lemas di tanah
tanpa berkedip.
Dia pernah terhajar oleh serangan Bong Thian-gak, dia
pernah menyaksikan pula Liok-kaucu terkena pukulannya
hingga jatuh dari lengah udara dan sekarang dia menyaksikan
pula bagaimana musuh membinasakan kedua pengawal tanpa
tanding yang berilmu tinggi dalam sekali gebrakan saja.
Tenaga pukulan yang begitu dahsyat dan mengerikan
ini membuat hatinya terkesiap.
Mendadak ia menyaksikan penderitaan yang dialami Bong
Thian-gak, segera pikirnya dalam hati, "Mungkin dia pura-pura
kesakitan untuk memancing keteledoranku, lalu secara tibatiba
melancarkan serangan mematikan?"
Oleh karena bersangsi, maka untuk beberapa saat orang itu
tak berani berkutik, dia hanya berdiri diam.
Thay-kun yang berada di sisinya dapat membaca suara hati
orang berkerudung itu, ia memang kuatir orang itu benarbenar
melancarkan serangan pada saat demikian.
Maka sambil tertawa dingin jengeknya, "Siau Cu-beng,
mengapa kau tidak melancarkan seranganmu?"
Orang berkerudung tertawa dingin, "Jit-kaucu, berani amat
kau menyebut namaku secara langsung?"
"Mengapa tidak? Sekarang aku sudah mengundurkan diri
dari Put-gwa-cin-kau, sejak kini semua perbuatan terkutuk dan
memalukan yang dilakukan orang-orang Put-gwa-cin-kau akan
segera terbeber di Bu-lim

380
Belum selesai dia berkata, segulung angin berhembus
membawa segulung bau harum yang aneh, bau harum mirip
bau harum bunga anggrek, tapi seperti juga aroma tertentu.
Bau harum itu datangnya sedikit aneh, seolah-olah
disebarkan dari angkasa hingga permukaan bumi dipenuhi bau
harum itu.
Bong Thian-gak yang sedang duduk bersila di atas tanah
pun ikut menghirup bau itu, hanya saja ia tak menaruh
perhatian.
Berbeda dengan Thay-kun, paras mukanya segera berubah
pucat-pias seperti mayat, sekujur tubuhnya gemetar keras,
sementara dari balik matanya memancar rasa kaget, seluruh
wajahnya diliputi perasaan ngeri.
Siau Cu-beng segera menunjukkan reaksi yang berlawanan,
dari balik sorot matanya segera memancar perasaan girang,
bangga dan lega.
Pada saat itulah dari tengah kebun bunga tabib sakti Gi
Jian-cau telah bertambah dengan sebuah tandu. Tandu yang
luar biasa besarnya.
Di kedua sisi tandu berdiri dua baris orang, ada lelaki ada
pula perempuan, mereka berjumlah dua puluh empat orang,
tapi berhubung jaraknya kelewat jauh, apalagi suasana di
sekitar tempat itu gelap-gulita, sulit baginya untuk melihat
dengan jelas.
Padahal Thay-kun dan Siau Cu-beng tak perlu memeriksa
lagi juga sudah tahu siapa gerangan yang akan muncul.
Bong Thian-gak mendongakkan kepala, dia pun melihat
bayangan tandu besar serta bayangan orang itu.
Dengan perasaan bergetar, keluhnya dalam hati,
"Mungkinkah dia?"
"Siapakah dia?"

381
Tentu saja yang dimaksud adalah Cong-kaucu Put-gwa-cinkau.
Suasana sekeliling tempat itu sunyi-senyap, sedemikian
heningnya sampai-sampai suara Thay-kun yang gemetar keras
dapat terdengar dengan jelas.
Pada saat inilah Thay-kun menyadari nasibnya, betapa
gawai situasi yang sedang dihadapinya sekarang.
Kematian bukan sesuatu yang menakutkan, yang patut
disedihkan adalah Bong Thian-gak bakal mati pula bersama
dia.
Mendadak terdengar suara lembut dan halus
berkumandang memecah keheningan.
"Kun-ji, setelah bertemu diriku, mengapa kau malah
ketakutan setengah mati?"
Suara lembut itu berasal dari balik tandu, besar di hadapan
mereka, bukan saja suaranya lembut bahkan sangat jelas,
seakan-akan sedang berbicara berhadapan.
Thay-kun yang dipanggil menggigit bibir, dengan suara
penuh kebimbangan dia berkata, "Apa yang hendak kau
lakukan, silakan saja dilaksanakan atas diriku, bagiku
kematian bukan sesuatu yang terlalu menakutkan, dua puluh
tahun lagi aku akan muncul kembali sebagai manusia...."
"Murid murtad!" tiba-tiba Siau Cu-beng membentak.
"Berani kau bicara seperti itu terhadap Cong-kaucu."
Sementara itu suara lembut dan merdu kembali
berkumandang, "Kun-ji, kau benar-benar seorang yang lupa
budi, sia-sia aku mendidik dan merawatmu selama dua puluh
tahun, ai ... perbuatanmu membuat hatiku pedih."
Mendadak Thay-kun mendongakkan kepala sambil tertawa
terkekeh-kekeh, suaranya penuh dengan kepedihan dan
penderitaan.

382
Selesai tertawa, dengan suara dingin ucapnya, "Dua puluh
tahun belakangan ini, sudah amat besar pengorbanan yang
Thay-kun perbuat untuk membayar budi kebaikanmu itu.
Thay-kun merasa sudah tidak berhutang budi lagi kepadamu,
sekarang satu-satunya persoalan yang membuatku tak dapat
melupakan adalah asal-usulku ... mungkinkah aku adalah
putrimu?"
Hingga sekarang Thay-kun masih belum tahu nama
marganya, seingatnya dia sudah di sisi Cong-kaucu sejak kecil,
tapi dia tahu bahwa dirinya pasti bukan putri perempuan itu.
Kendati dia tahu, Thay-kun masih tetap bingung dan kuatir.
Tampaknya Cong-kaucu enggan menjelaskan pertanyaan
itu, sampai lama sekali belum terdengar juga jawabannya.
Dalam pada itu Bong Thian-gak telah bangkit, sambil
menepuk bahunya dengan tangan kiri, dia berbisik lirih,
"Sumoay, segala sesuatunya Thian yang menentukan,
kematian bukan sesuatu yang mengerikan, aku gembira sekali
dapat mati bersamamu."
Sekujur badan Thay-kun gemetar keras, bisiknya kemudian,
"Suheng, kau tak boleh mati begitu saja, kau harus membalas
dendam, balas dendam bagiku, kau pun harus membalas
dendam bagi mereka yang telah dibunuh oleh orang-orang
Put-gwa-cin-kau."
Bong Thian-gak tertawa pedih.
"Nasib kita terlalu tragis, terlalu mengenaskan ...."
"Kau kan bisa melarikan diri."
"Dengan kondisi sekarang, mustahil! Aku dapat melarikan
diri cuma sejauh tujuh langkah!"
Tiba-tiba Thay-kun berbisik lirih, "Di dalam sakuku masih
terdapat empat buah butir Tok-liong-wan, pil itu memang
sengaja aku sediakan untukmu. Cepat ambil dari dalam

383
sakuku dan telanlah keempat butir itu sekaligus, siapa tahu
setelah menelan keempat butir pil itu, kau akan mati seketika,
tapi kemungkinan juga akan membangkitkan kekuatan dan
hawa murni dalam tubuhmu."
"Aku tahu, meskipun demikian sungguh berbahaya sekali,
namun kita harus mencobanya."
"Andaikan nasib kita kurang beruntung sehingga setelah
menelan Tok-liong-wan ini kau mati, aku pun akan segera
menggigit lidahku untuk bunuh diri, aku dapat mati di sisimu.
Bila kau beruntung tidak mati, maka kau dapat berusaha
menerjang keluar dari kepungan ini, sedangkan aku akan
berusaha keras melanjutkan hidup, apabila masih ada
harapan, tak nanti kau membiarkan aku begitu saja."
Mendengar ucapan itu, ibarat orang di tengah gurun yang
tiba-tiba menemukan air, walaupun harapan itu sedikit sekali,
namun Bong Thian-gak dapat merasakan betapa besarnya
harapan itu.
Perkataan Thay-kun sudah cukup jelas, seandainya dia
tidak berbuat demikian, berarti dia mempunyai satu jalan
untuk mati. Atau dengan perkataan lain, persoalan sudah
gawat, tiada pilihan lain lagi.
Maka Bong Thian-gak segera menggeser tangan kirinya ke
arah pinggang Thay-kun, kemudian merogoh ke dalam
sakunya dan mengambil keluar botol obat itu.
Dia tidak ragu-ragu lagi, dengan cepat tutup botol dibuka,
lalu hendak menuang seluruh isi botol ke dalam mulutnya.
Belum selesai dia mengerjakan hal itu, tiba-tiba terdengar
Cong-kaucu berseru, "Wakil komandan Siau, bunuh dulu yang
pria, sedangkan Jit-kaucu akan kuhukum sendiri."
Siau Cu-beng bermata jeli, dapat melihat perbuatan Bong
Thian-gak, secepat kilat dia melolos pedang pendeknya,
kemudian secepat sambaran kilat membacok ke depan.

384
Ilmu silat Siau Cu-beng sudah pernah disaksikan Bong
Thian-gak beberapa hari berselang, dia pun tahu jurus
pedangnya sangat aneh, ganas dan cepat.
Bahkan beberapa hari yang lalu, karena bersikap kurang
waspada, Bong Thian-gak telah merasakan tusukan pedang
Siau Cu-beng, apalagi sekarang tangan kirinya sedang meraih
obat untuk ditelan, sedang serangan musuh sudah meluncur
tiba.
Siau Cu-beng memang tak malu disebut seorang berakal
busuk, dalam melancarkan sergapannya ini, pedang yang satu
menyerang Thay-kun, pedang yang lain menyapu tubuh
bagian tengah Bong Thian-gak, sekaligus menutup jalan
mundurnya.
Sebenarnya Bong Thian-gak masih dapat melompat
mundur menghindar, tetapi dengan demikian Thay-kun pasti
akan termakan tusukan pedang itu.
Dalam keadaan gelisah dan cemas, Bong Thian-gak sama
sekali tidak menyadari tusukan musuh terhadap Thay-kun
hanya serangan tipuan saja.
Maka dalam kaget dan cemasnya, Bong Thian-gak
menumbuk tubuh Thay-kun dengan sikut kirinya, bersamaan
itu pula tangan kanannya melayang ke atas menyampuk
pedang musuh yang membabat ke arah urat nadi pergelangan
tangan kirinya.
Waktu itu sepasang tangan Thay-kun telah cacat,
bagaimana mungkin dia dapat menghindarkan diri dari sikutan
anak muda itu.
"Aduh!"
Di tengah teriakan kerasnya, tubuh Thay-kun roboh
terjengkang. Namun dengan mata terbelalak Thay-kun dapat
melihat tusukan pedang Siau Cu-beng yang semula ditujukan

385
ke arahnya itu kini sudah miring ke samping, bahkan secepat
kilat membacok ke arah lengan kanan Bong Thian-gak.
Waktu itu lengan kanan Bong Thian-gak telah menjadi
kaku, untuk bergerak pun tak dapat, apalagi untuk
menghadapi perubahan jurus serangan Siau Cu-beng yang
dilancarkan dengan begitu cepat, ganas dan berbahaya.
Thay-kun menjerit kaget.
Di tengah jeritan itulah, lengan kanan Bong Thian-gak telah
terpapas kutung sebatas bahu.
Darah segera mengucur dengan derasnya, sedang Bong
Thian-gak sendiri pun mundur sejauh tiga langkah dengan
sempoyongan.
Mimpi pun dia tak menyangka setelah dua buah otot kaki
kirinya dikutungi Siau Cu-beng pada tujuh tahun berselang
hingga membuatnya pincang, tujuh tahun kemudian dia harus
kehilangan lengan kanannya di tangan orang yang sama.
Pada hakikatnya keadaannya sekarang tak ubahnya orang
cacat.
Dalam gusar dan sedihnya, cepat dia menelan empat butir
Tok-liong-wan itu ke dalam mulut, kemudian telapak tangan
kiri melepaskan sebuah pukulan dahsyat dari jarak jauh.
Selama ini Siau Cu-beng cukup tahu kelihaian ilmu pukulan
lawan, dia paling jeri menghadapi serangan maut Bong Thiangak.
Begitu angin pukulan lawan dilancarkan ke depan, cepat dia
menenteng pedangnya melompat ke samping untuk
menghindar.
Segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan
membawa debu dan pasir yang beterbangan di angkasa
langsung menyapu ke depan dan menyambar sejauh puluhan
kaki.

386
Angin pukulan yang sangat dahsyat itu benar-benar
mengerikan, membuat setiap orang bergidik.
Gagal dengan serangannya yang maha dahsyat itu, cahaya
sinar pedang Siau Cu-beng segera menyusul tiba, bagaikan
dua ekor naga sakti yang terbang di angkasa hebatnya.
Pertarungan antara jago lihai, yang diutamakan adalah
kelihaian memanfaatkan kesempatan, kali ini terpaksa Bong
Thian-gak mundur dari balik kepungan cahaya pedang itu.
Darah segar masih bercucuran deras dari lengannya yang
kutung itu, kini Bong Thian-gak telah berubah menjadi
manusia darah.
Thay-kun merasa sakit hati menyaksikan kejadian itu,
segera teriaknya keras, "Suheng, kenapa kau tidak melarikan
diri saja?"
Meski lengan kanan Bong Thian-gak baru kutung, darah
masih bercucuran dengan amat derasnya, namun dia sama
sekali tak merasa sakit karena lengannya itu sesungguhnya
sudah kaku dan hilang rasa.
Sambil mengertak gigi, untuk kesekian kalinya dia
melancarkan pukulan menggunakan telapak tangan kiri.
Tentu saja Siau Cu-beng tak berani menyambut serangan
itu dengan kekerasan.
Kali ini Bong Thian-gak bertindak lebih cerdik, baru saja dia
melancarkan pukulan, tubuhnya sudah melompat ke samping
Thay-kun, cepat tangan kirinya menyambar tubuh Thay-kun
dan memeluknya kencang.
Thay-kun tahu pemuda ini hendak mengajaknya kabur, dia
tidak membiarkan anak muda itu mewujudkan keinginannya.
Setelah melepaskan diri dari pelukan Bong Thian-gak,
mendadak gadis itu bergulingan di tanah, teriaknya, "Suheng,

387
bila kau tidak pergi, terpaksa aku menggigit lidah dan bunuh
diri lebih dulu."
Suaranya mengenaskan seperti jeritan monyet di selat Wasia
atau lolongan serigala di tengah malam, keadaannya
sungguh menyeramkan.
Sementara itu Siau Cu-beng telah menerjang maju, kali ini
dia mengubah taktik permainan pedangnya, sepasang
pedangnya bagaikan dua buah pisau belati melepaskan
serangan dengan teknik menggaet, membabat dan menjojoh.
Dalam waktu singkat dia telah melancarkan delapan
serangan dahsyat.
Menghadapi serangan gencar musuh, Bong Thian-gak
terdesak hebat hingga tiada kesempatan untuk melancarkan
serangan balasan.
Berada dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia harus
berkelit sambil mundur berulang-kali.
Tampaknya Cong-kaucu telah mengetahui pemuda ini
memiliki kepandaian silat melebihi orang lain, mustahil bagi
Siau Cu-beng untuk menaklukkan dirinya. Maka dengan cepat
perintahnya, "Dua belas pengawal, cepat bantu wakil
komandan Siau membunuh jahanam itu!"
Thay-kun cukup mengetahui ketangguhan kedua belas
pengawal lelaki-perempuan di samping tandu Cong-kaucu,
kepandaian silat mereka aneh, lihainya bukan kepalang.
Dengan perasan cemas dan gelisah, kembali gadis itu
berteriak, "Suheng, bila kau tidak pergi, kita akan mati
bersama di sini!"
Sementara itu dua belas sosok bayangan orang telah
melompati dinding pendek secara beruntun dan menerjang
tiba dengan kecepatan luar biasa.

388
"Baik!" seru Bong Thian-gak emosi. "Aku akan pergi! Kau
tak boleh mati!"
Tampaknya Bong Thian-gak telah berkeputusan, tubuhnya
segera meloloskan diri dari kepungan cahaya pedang,
kemudian melompat jauh.
Tapi dua belas sosok bayangan orang yang menerjang tiba
itu seperti sudah menduga Bong Thian-gak akan meloloskan
diri dari kepungan, maka enam di antara mereka menghadang
ke arah selatan, sedang enam sisanya mengepung dari arah
utara.
Mereka adalah dua orang perempuan dan seorang laki-laki,
yang perempuan bersenjata pedang pendek, sedang yang
laki-laki bersenjata tombak panjang.
Pengawal bersenjata tombak melancarkan tusukan lebih
dahulu.
Tusukan itu dilancarkan dengan dahsyat.
Waktu itu Bong Thian-gak sudah bertekad menerjang
keluar dari kepungan untuk melarikan diri, tiada ingatan untuk
mundur, diiringi bentakan gusar, telapak tangan kirinya segera
diayunkan ke depan.
Meskipun jurus serangan baru saja dilancarkan, namun
hawa pukulan tak berwujud sudah meluncur ke depan dengan
cepat.
Pengawal bertombak itu sama sekali tak menyangka musuh
bakal melancarkan serangan di saat tombak itu sudah berada
di hadapannya, pertarungan ini untuk mengadu jiwa.
Asalkan gerak serangan Bong Thian-gak selangkah lebih
lambat, sudah pasti dia tak akan lolos dari tusukan tombak itu,
tentu saja serangan pukulan pun ada kemungkinan
membunuh lawannya.

389
Hanya saja pengawal bertombak itu sudah melalaikan
kecepatan angin pukulan yang dilancarkan Bong Thian-gak.
Dengusan tertahan berkumandang, tahu-tahu pengawal itu
sudah terkena pukulan tak berwujud hingga tubuh berikut
tombak mencelat, tak dapat disangsikan lagi isi perutnya
hancur tak keruan.
Baru saja serangan itu dilepaskan, sepasang pedang
pendek kedua pengawal perempuan sudah menyerang tiba
dari kiri dan kanan.
Keadaan Bong Thian-gak kini ibarat binatang buas yang
terluka, di antara putaran telapak tangan kirinya, segulung
angin pukulan telah meluncur ke depan dan menghajar orang
di sebelah kanan, sedangkan kaki kanan menendang orang
yang berada di sebelah kiri.
Jurus serangan yang digunakan merupakan jurus-jurus
tangguh yang jarang ditemui dalam Bu-lim.
Benar juga, kedua orang pengawal itu segera menjerit
tertahan, kemudian roboh terjengkang di atas tanah.
Ilmu silat yang mengerikan itu menggetarkan hati, dalam
waktu singkat beruntun tiga pengawal lelaki perempuan sudah
roboh binasa.
Saat pembantaian agak terhenti inilah sebilah pedang telah
menyusup datang dari arah belakang punggung Bong Thiangak
tanpa menimbulkan sedikit suara pun.
Penyergapnya adalah Siau Cu-beng, hanya dia yang bisa
mencapai sasaran dalam waktu singkat.
Walau Bong Thian-gak merasakan datangnya serangan
pedang itu, sayang tiada kesempatan lagi baginya untuk
menghindar, terpaksa dia harus menerjang ke depan dengan
sepenuh tenaga.

390
Tahu-tahu pinggang kirinya sudah terasa dingin dan panas.
Di atas tubuh Bong Thian-gak telah bertambah dengan sebuah
luka memanjang, untung hanya luka ringan, namun darah
segera bercucuran dengan derasnya.
Karena terhenti, dua orang pengawal bertombak segera
menyerbu, ?..itu dari kiri dan yang lain dari kanan.
Bong Thian-gak benar-benar terdesak hebat, sambil
mengertak gigi, pukulan tanpa tandingannya sekali lagi
dilontarkan ke depan.
Dimana angin pukulannya menyambar, selalu ada yang
roboh lei kapar, namun setiap kali Bong Thian-gak berhasil
membunuh orang, tubuhnya bertambah pula dengan sebuah
tusukan pedang Siau Cu-beng.
Secara beruntun Bong Thian-gak telah membinasakan
delapan orang pengawal lelaki perempuan, namun tubuhnya
pun sudah tidak ada bagian yang utuh.
Keadaannya sekarang sudah tidak berwujud manusia lagi,
dia lebih mirip sesosok manusia darah, iblis berwajah
menyeramkan.
Namun semangatnya untuk mempertahankan hidup
membuat dia tak sampai roboh.
Pertempuran yang mendebarkan hati masih berlangsung
terus, berlangsung dan berkembang dengan hebatnya.
Bayangan mereka pun makin lama semakin tertarik jauh di
bawah sinar rembulan.
Thay-kun yang menyaksikan keberanian serta kenekatan
Bong Thian-gak dalam melakukan perlawanan, segera
bergumam, "Dia pasti dapat menerjang keluar kepungan, dia
pasti dapat hidup lebih jauh ...."
Ucapan itu diulang-ulang, sementara air matanya
bercucuran membuat pandangan matanya menjadi kabur, ia

391
tak dapat menyaksikan jalannya pertarungan lagi, tidak
mendengar pula suara apa pun.
0oo0
Cahaya rembulan menyinari tanah perbukitan. Air mengalir
deras menyusuri sungai yang meliuk-liuk di antara celah bukit.
Di bawah sinar rembulan, tampak sesosok bayangan
sedang merangkak di atas jalanan batu di tepi sungai.
Dia adalah sesosok manusia darah, hampir sekujur
tubuhnya tubuhnya berlepotan darah.
Darah sudah hampir mengering dari sekujur tubuhnya,
mulut luka yang memenuhi sekujur tubuhnya seperti sarang
lebah, sedang mulut luka pada lengan kanannya yang kutung
kini sudah tidak nampak darah meleleh.
Setiap orang yang memandang luka-luka itu pasti tak akan
percaya kalau dia masih bisa hidup.
Benar, dia masih hidup, bahkan sedang merayap di sisi
sungai berusaha mencari air.
Namun keadaan tubuhnya yang begitu lemah, membuatnya
sukar untuk menggerakkan badannya barang sejengkal.
Dia hanya bisa mencengkeram sebuah batu kecil dengan
kelima jari tangan kirinya yang dijulurkan ke depan, bibirnya
ternganga lebar penuh noda darah, sementara sepasang
matanya mengawasi air sungai tanpa berkedip.
Dia sangat haus, luka yang memenuhi seluruh badannya
membuat suhu badannya meningkat, dia membutuhkan air
untuk menghilangkan dahaganya, namun dia telah kehabisan
tenaga untuk maju.

392
Akhirnya dia putus-asa, dia tahu ajalnya sudah berada di
depan mata, segala macam penderitaan tak akan menyiksa
dirinya lagi.
Berada dalam keadaan dan situasi seperti ini, dia tidak
terpengaruh oleh perasaan benci dan dendam, dia pun tak
terpengaruh oleh napsu atau angkara murka.
Dia hanya tahu kelima jari tangan kirinya makin melemas,
matanya semakin kabur dan berat.
Di saat yang kritis inilah mendadak telinganya seperti
menangkap serangkaian irama nyanyian yang merdu lincah
dan penuh gairah.
Bong Thian-gak tahu dirinya sudah hampir mencapai suatu
dunia yang lain, entah neraka, entah surga.
"Ah, mungkin inilah nirwana, kalau tidak, mengapa
terdengar suara nyanyian yang merdu merayu."
Suara nyanyian itu kian lama kian bertambah dekat, namun
suara itu makin lama semakin lemah dan samar-samar.
Kejernihan otaknya makin lama semakin membuyar.
Tak selang lama kemudian, dari ujung sungai sana benarbenar
muncul seorang gadis berjalan mendekat.
Sambil membawakan nyanyian yang merdu dan penuh
gembira, dia berjalan menyusuri sungai dan menuju ke arah
pemuda itu.
Meendadak ia menjerit kaget.
Ternyata dia telah menyaksikan Bong Thian-gak dengan
sekujur tubuhnya yang penuh berlepotan darah, sepanjang
hidupnya belum pernah ia jumpai darah sebanyak ini, maka
saking kaget dan cemasnya, sekujur tubuhnya gemetar keras.
Bila suatu ketika menemukan sesosok tubuh manusia yang
bermandikan darah di tengah hutan belantara yang jauh dari

393
keramaian, siapakah yang tak terperanjat? Jangankan seorang
yang bernyali kecil, betapa pun besarnya nyali seorang, akan
dibikin ketakutan setengah mati, apalagi seorang gadis muda.
Tanpa banyak bicara, gadis itu membalikkan badan dan
segera melarikan diri.
Namun baru berlari empat-lima langkah, dia menghentikan
langkahnya, kemudian pelan-pelan berpaling memandang
tubuh Bong Thian-gak yang tak berkutik.
"Dia kan manusia ...." gumamnya, "mengapa aku harus
takut...."
Setelah merasa yakin yang dihadapinya adalah manusia,
perasaan takutnya sedikit berkurang, bahkan pelan-pelan dia
menghampiri Bong Thian-gak.
Kejernihan pikiran Bong Thian-gak waktu itu sudah mulai
pudar, sekali pun dia tahu ada orang sedang menghampirinya,
namun dia sama sekali tidak punya kekuatan untuk membuka
mata, apalagi kekuatan untuk bicara.
Gadis itu membelalakkan matanya yang jeli, setelah
mengawasi tubuh Bong Thian-gak, ia lihat pemuda itu masih
bernapas.
Maka sambil menghela napas, gumamnya, "Begini parah
luka yang diderita orang ini, apakah dia masih bisa hidup."
Dia lantas berjongkok sambil memegang jidat Bong Thiangak,
namun dengan terperanjat serunya, "Ah, panas sekali
tubuhnya."
Bila panas, air dingin bisa menghilangkan panas itu, inilah
cara kuno untuk menurunkan suhu panas tubuh manusia.
Dengan cepat gadis itu mengambil sapu-tangannya, setelah
direndam air sungai segera ditempelkan ke atas jidat Bong
Thian-gak.

394
Sebenarnya kesadaran Bong Thian-gak sudah mulai
memudar, namun memperoleh rangsangan air dingin itu,
sekujur tubuhnya segera bergetar dan pikirannya pun jernih
kembali.
"Air ... air ...." serunya lirih.
Walaupun dia mencoba berteriak, sesungguhnya tiada
sedikit suara pun yang terdengar.
Gadis itu pun dapat menyaksikan bibir orang bergetar,
namun dia tak tahu apa yang diucapkan olehnya, dia hanya
menunggu hingga sapu-tangan itu menjadi panas dan segera
direndam kembali ke dalam air, lalu setelah sapu-tangan itu
menjadi dingin, dia pun menempelkan pada jidatnya kembali.
Akhirnya Bong Thian-gak dapat berbisik lirih, "Air ... air ...."
Gadis itu berseru tertahan, dengan cepat dia berjalan menuju
ke sungai, digayungnya segenggam air, kemudian dengan
hati-hati sekali mengalirkan air ke mulut si pemuda melalui
celah-celah jari tangannya. "Aku haus ... aku haus sekali... air
... air ...."
Suara teriakan Bong Thian-gak makin lama semakin keras.
Dengan cepat gadis itu menggayung air lagi dengan
telapak tangannya dan mengalirkan ke mulut pemuda itu.
Demikian seterusnya hingga tujuh kali sebelum akhirnya
pelan-pelan Bong Thian-gak membuka matanya.
Waktu itu kentongan kelima sudah lewat, dari ufuk timur
muncul cahaya keemas-emasan, namun suasana dalam
lembah itu masih agak redup dan samar-samar, namun secara
lamat-lamat masih dapat melihat keadaan di sekitarnya.
Pemuda itu tahu gadis muda itulah yang telah
menyelamatkan jiwanya, dia memakai baju tipis berwarna
biru.

395
"Nona ... kau ... kaukah yang telah menyelamatkan
jiwaku."
"Ssst! Jangan bicara dulu, parah sekali lukamu," cepat si
nona menukas dengan suaranya yang merdu.
Sembari berkata, gadis itu kembali mencelupkan saputangannya
ke sungai, kemudian mengompres kembali jidat
anak muda itu.
Lambat-laun hari semakin terang, kini si nona dapat
melihat jelas keadaan luka di sekujur tubuh Bong Thian-gak.
Menyaksikan semua itu, si gadis terbungkam saking
terperanjat, t.mpa terasa dia membatin, "Ah, mana mungkin
dia dapat hidup dalam keadaan semacam ini? Benar-benar
suatu kejadian yang luar biasa?"
Kini kesadaran Bong Thian-gak benar-benar telah jernih,
dengan penuh rasa terima kasih katanya, "Nona, banyak
terima kasih atas pertolonganmu, andai aku dapat hidup lebih
lanjut, budi kebaikanmu ini pasti akan kubalas."
"Kau telah berkelahi dengan orang?" tanya si nona lembut.
"Ai, orang-orang Put-gwa-cin-kau hendak membunuhku,"
sahut
Bong Thian-gak dengan menghela napas panjang.
"Apa itu Put-gwa-cin-kau?" si nona membelalakkan mata.
Segera Bong Thian-gak sadar dia sedang berhadapan
dengan seorang gadis biasa, yang sama sekali tidak mengenal
dunia persilatan.
Maka sembari menghela napas, katanya kemudian, "Bila
lukaku telah sembuh nanti, pasti akan kuceritakan semua
kejadian yang sebenarnya kepadamu."
"Aku berdiam dalam lembah sana dekat air terjun,
bagaimana kalau kau merawat lukanmu di gubukku saja?"

396
"Mungkin hidupku tak akan lama lagi," suara Bong Thiangak
agak pilu.
"Kau pasti dapat hidup terus," hibur si nona dengan suara
lembut. "Aku tahu kau amat kuat dan gagah, kalau tidak,
dengan luka yang begini parah, kau pasti sudah tewas sejak
tadi."
Dengan cepat Bong Thian-gak menggeleng.
"Aku bukan hanya menderita luka bacokan di sekujur
tubuhku, namun juga keracunan."
Begitu mendengar tentang keracunan, gadis itu berseru
pelan, "Ah, orang tuaku pun ajal karena keracunan."
Sampai di situ, mata gadis itu pun memerah, hampir saja
air matanya jatuh bercucuran.
Agak tertegun Bong Thian-gak oleh ucapan itu, cepat dia
bertanya, "Orang tuamu telah meninggal? Lantas kau tinggal
bersama siapa?"
"Sejak tiga tahun lalu, ketika kedua orang tuaku meninggal,
aku tinggal seorang diri di tempat ini."
Bong Thian-gak makin terharu mendengar ucapan itu,
seorang gadis yang lemah ternyata berdiam seorang diri di
tengah lembah yang jauh dari keramaian, sungguh kejadian
ini merupakan suatu peristiwa yang aneh.
Tiga tahun bukan jangka waktu yang pendek, namun dia
dapal hidup menyendiri di sana.
Bong Thian-gak tidak ingin memikirkan hal itu, segera
sahutnya, "Bila nona bersedia menerimaku, untuk sementara
waktu aku akan berteduh di rumahmu."
Gadis itu gembira sekali, dengan cepat dia berseru, "Aku
merasa kesepian hidup seorang diri di sini, bila kau bersedia
menemaniku, hal ini memang jauh lebih baik."

397
Tanpa mengindahkan darah yang mengotori sekujur tubuh
Bong Thian-gak, ia segera memapah tubuh pemuda itu,
kemudian mereka pelan-pelan berjalan menuju ke arah utara.
0oo0
Sebuah air terjun yang mengalir dari sembilan puncak,
pelan-pelan memuntahkan airnya ke dasar lembah yang
dalam.
Air mengalir mengikuti sebuah sungai yang berliku-liku dan
membentang jauh ke depan.
Di tepi sungai di sebelah kiri air terjun, berdiri tiga buah
gubuk.
Dalam gubuk itu, berdiamlah seorang lelaki dan seorang
perempuan.
Yang lelaki adalah pemuda berlengan buntung, berkaki
pincang dan berwajah tampan, hanya sayang wajahnya agak
pucat.
Sedang yang perempuan adalah seorang nona berkulit
putih dan berwajah cantik.
Setiap hari selain menebang kayu mencari kayu bakar,
pemuda berlengan tunggal berkaki pincang itu menghabiskan
sebagian besar waktunya duduk melamun di atas batu karang
di tepi air terjun.
Selama tiga tahun ini siang-malam dia selalu duduk
menyendiri, entah apa saja yang sedang dipikirkan olehnya?
Senja ini pemuda berlengan tunggal itu kembali duduk
bersila di atas batu karang sambil memejamkan mata
memikirkan sesuatu.
Mendadak pemuda cacat itu menggerakkan lengan kirinya
bagaikan kerasukan setan, gerakan itu dilakukan ke arah air
terjun itu.

398
Seandainya di situ hadir jago persilatan, niscaya akan
terperanjat menyaksikan tingkah-laku si anak muda itu.
Ternyata setiap pukulan, setiap bacokan, totokan jari
maupun cengkeraman yang dilancarkan pemuda cacat itu
hampir semuanya mengandung jurus yang tiada-taranya.
Selain jurus serangan maha dahsyat yang dilancarkan
pemuda itu sangat banyak, tenaga dalamnya pun sangat
mengerikan, setiap terkena pukulannya, air terjun yang
sedang muntah ke bawah, selalu arah arusnya berubah dari
posisi semula.
Ada kalanya air yang mengalir terpotong menjadi dua, ada
kalanya muncul ruang di balik air terjun itu. Pukulan tak
berwujud yang dilancarkan olehnya bisa mengendalikan curah
air terjun di hadapannya.
Tenaga dalam semacam ini pada hakikatnya mengerikan.
Tiba-tiba suara pekikan nyaring menggema memecah
keheningan, pemuda itu melompat bangun dari atas batu
karang, tahu-tahu pada genggaman tangan kirinya telah
bertambah dengan sebilah pedang kayu.
Tubuhnya melejit ke udara, kemudian menerjang ke arah
air terjun itu.
Dalam waktu singkat pemuda itu telah melancarkan tujuh
buah bacokan berantai dengan menggunakan pedang
kayunya, memainkan tujuh jurus serangan yang berbeda.
Kemudian dalam waktu singkat dia telah melayang kembali
ke atas batu karang.
Ia dengan cepat mengangkat pedangnya dan memandang
sekejap pedang kayunya itu.
Memang sukar untuk dipercaya, ternyata pedang kayunya
itu sama sekali tidak terkena percikan air.

399
Tadi jelas pemuda cacat itu telah melancarkan tujuh buah
bacokan kilat ke arah air terjun itu, namun kenyataan pedang
kayu itu sama sekali tidak basah oleh butiran air yang
memercik, dari sini dapat diketahui betapa cepatnya serangan
pedang yang dilancarkan pemuda itu.
Sedemikian cepatnya hingga pada hakikatnya
kecepatannya tak bisa dibandingkan dengan apa pun.
Tatkala pemuda cacat itu tidak menemukan bekas air di
atas kayunya, sekulum senyuman segera menghiasi wajahnya
yang tampak pucat-pias.
Itulah senyuman penuh kegembiraan dan kepuasan.
Selama tiga tahun memeras otak, akhirnya dia berhasil
memahami ilmu pukulan yang maha dahsyat.
Kedua macam kepandaian sakti itu berhasil dipahami
olehnya sesudah lengannya kutung dan hidup terpencil di
lembah itu, dengan dasar tenaga Tat-mo-khi-kang dari Siaulim-
pay tingkat sepuluh sebagai dasar kekuatan yang
dikombinasikan dengan ilmu sakti berbagai perguruan, ia
berhasil menciptakan kepandaian sakti itu.
Selama tiga tahun berjuang berlatih dengan rajin dan
tekun, akhirnya dia berhasil, perjuangannya selama ini tidak
sia-sia, ia merasa amat puas.
Tapi saat itulah si gadis berdiri di belakangnya dengan
wajah termangu, dari balik matanya yang jeli nampak dua
baris air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.
Pemuda cacat itu menarik kembali pedang kayunya, lalu
membalikkan badan, tiba-tiba saja dia lihat gadis itu berdiri di
situ.
"Siau-hui, kau menangis?" kata pemuda cacat itu dengan
suara pilu dan menghela napas sedih.

400
Dengan cepat nona baju biru itu menyeka air mata yang
membasahi pipinya, kemudian berkata dengan lembut, "Bongtoako,
aku tidak menangis."
Selama tiga tahun, beratus-ratus kali Bong Thian-gak
menyaksikan gadis itu diam-diam melelehkan air mata, namun
setiap kali dia selalu mengatakan dirinya tidak menangis.
Mengapa dia menangis?
Tentu saja Bong Thian-gak mengetahui perasaan gadis itu,
namun dia hanya bisa menghela napas secara diam-diam, lalu
menghibur dan membujuknya dengan nada seorang kakak
yang mencintai adik perempuannya.
Bong Thian-gak turun dari batu cadas itu, lalu merangkul
bahunya dengan mesra, bisiknya lembut, "Leng-hui, nasinya
sudah matang?"
"Sudah! Aku memang hendak memanggilmu untuk
bersantap," sahut si nona tersenyum manis.
Sambil berpelukan mesra, pelan-pelan mereka berdua
berjalan menuju ke gubuk.
Malam telah menyelimuti seluruh jagad, terutama di dalam
lembah yang terpencil itu.
Di ruang tengah gubuk itu nampak lentera telah disulut, di
atas sebuah meja nampak dihidangkan empat macam sayur,
dua macam ayam dan bakpao.
Kecuali hidangan itu, di atas meja tersedia tiga botol arak
wangi.
Menyaksikan botol arak di meja, Bong Thian-gak nampak
tertegun, lalu sambil berpaling dan memandang sekejap ke
arah si nona, tanyanya, "Leng-hui, darimana datangnya arak?"
Selama tiga tahun ia berdiam di situ, belum pernah
dijumpai ada arak di situ, tentu saja dia pun tak pernah
mengendus bau arak.

401
"Arak itu peninggalan orang tuaku enam tahun lalu," kata
Song Leng-hui. "Ayahku selalu menyimpan arak di gudang
bawah tanah, besok kau hendak pergi meninggalkan aku,
maka malam ini aku hendak mengantar kepergianmu."
Walaupun ucapan itu diutarakan dengan menahan gejolak
perasaan dan emosi, namun ketika sampai pada ucapan yang
terakhir, suaranya terdengar agak gemetar.
Bong Thian-gak menghela napas sedih.
"Aku pasti akan balik kemari, aku tak akan membiarkan kau
hidup sebatang-kara di tengah bukit yang terpencil ini." Song
Leng-hui tersenyum.
"Di saat Toako datang kemari, kau telah menentukan pula
akan pergi meninggalkan tempat ini, tiada perjamuan di dunia
ini yang tak bubar, apalagi hanya perpisahan sementara
waktu?"
Walau hatinya merasa kacau, namun Song Leng-hui
berusaha mengendalikan diri.
Dia tahu, bagaimana pun juga dia tak mungkin bisa
menahan . Bong Thian-gak di sana, lantas buat apa dia mesti
banyak bicara?
Tapi sikapnya yang berbeda itu membuat Bong Thian-gak
merasa lebih sedih dan menderita.
Selama tiga tahun, siang-malam mereka hidup bersama,
dalam hati Bong Thian-gak, Song Leng-hui sudah menempati
posisi yang kuat dan tak bisa diganggu gugat lagi,
sesungguhnya dia bukannya tak mencintainya, tetapi tak
berani untuk mencintai dirinya.
Dalam hatinya, Song Leng-hui adalah bidadari, gadis suci
bersih.
Ia belum dijangkiti kebiasan jelek dari masyarakat, dia
nampak begitu suci, bersih dan menawan hati.

402
Oleh sebab itu Bong Thian-gak selalu menganggapnya
seperti adik kandung sendiri, ia tidak berani mempunyai
pikiran sesat terhadap dirinya.
Sebab dia tahu dirinya tak lebih hanya seorang tukang silat
kasar, dia hanya manusia yang sepanjang hidupnya luntanglantung
dalam Bu-lim, berduel dengan malaikat elmaut, dia
tak pantas untuk mencintai gadis suci itu.
Karena bila dia sampai mencintainya, maka hal ini sama
artinya dengan menyia-nyiakan dirinya, mencelakai dirinya,
maka dia hanya berusaha keras mengendalikan perasaannya
itu dan tidak membiarkan berkembang.
Seandainya Bong Thian-gak boleh memilih di antara tiga
gadis yang pernah dijumpainya selama hidup, yakni Oh Ciangiok,
Thay-kun dan Song Leng-hui, maka orang yang tak
dapat dilupakan olehnya adalah Song Leng-hui.
Dia tak pernah belajar ilmu silat, dia tidak mempunyai
kebiasaan jelek, dia nampak begitu lembut, begitu halus,
tenang, luwes dan cantik.
Bong Thian-gak merasakan darah yang menggelora dalam
dadanya bergolak keras, katanya, "Siau-hui, aku ... aku akan
mengajakmu keluar dari tempat ini!"
Sudah berulang kali dia mengucapkan kata-kata itu, akan
tetapi setiap kali Song Leng-hui selalu menggeleng kepala
sambil berkata, "Aku telah bersumpah tak akan meninggalkan
pusara orang tuaku untuk selamanya, lagi pula kehadiranku di
sisimu hanya akan menyusahkan dirimu saja, aku tahu
sepeninggalmu dari sini, kau akan membunuh banyak orang
jahat. Memang bagi seorang lelaki yang berlatih silat tempat
bergeraknya adalah dunia persilatan, sudah sewajarnya bila
melakukan suatu pekerjaan besar."
"Pergilah, aku akan tetap menantimu hingga kau kembali,"
kata Song Leng-hui sambil memenuhi cawan Bong Thian-gak

403
dengan arak, sedangkan dia sendiri pun memenuhi cawan
sendiri dengan arak.
Setelah itu, sambil mengangkat cawan araknya dia berkata,
”Semoga Toako sehat walafiat selalu."
Selesai berkata, gadis itu segera meneguk habis cawannya.
Bong Thian-gak pun segera meneguk cawannya sendiri.
Arak itu harum baunya, tak salah kalau dikatakan arak
bagus.
Di luar ruangan hanya suara pohon cemara yang
terhembus angin dan suara air terjun.
Cahaya lentera yang redup menyoroti wajah sepasang
muda-mudi yang merah membara itu.
Besar sekali takaran minum Song Leng-hui, cawan demi
cawan dia menemani Bong Thian-gak meneguk habis arak di
hadapannya, hawa arak telah membuat wajahnya menjadi
merah membara, namun justru karena itu dia jauh nampak
lebih cantik dan menarik.
Waktu itu Bong Thian-gak sedang diliputi perasaan murung
dan duka, arak memang merupakan kebutuhan yang penting
dalam suasana seperti ini, dia hendak menggunakan arak
untuk menghilangkan kemurungannya, namun kemurungan
serasa makin bertambah, dia ingin menggunakan arak untuk
membuatnya mabuk, apa mau dikata dia justru tak pernah
menjadi mabuk.
Sementara itu Song Leng-hui telah bergeser duduk di
sampingnya, lalu dengan suara manja bisiknya, "Toako, kau
harus kembali dengan cepat, karena aku ... aku telah menjadi
milikmu untuk selamanya."
Sudah tiga tahun lamanya dia menyimpan ucapan ini dalam
hati, baru hari ini dapat diutarakan.

404
Arak memang racun yang mudah mengacaukan jalan
pikiran orang, apalagi tiga botol arak sekaligus, dengan cepat
arak itu berubah menjadi obat perangsang cinta yang amat
kuat.
Ketika Song Leng-hui bergeser dan duduk di sampingnya,
pemuda itu segera mengendus bau harum khas seorang
gadis.
Akhirnya Bong Thian-gak tak mampu mengendalikan
gejolak hawa panas dalam tubuhnya lagi, tak tahan dia segera
merangkul gadis itu dan memeluknya kencang.
"Ehm!" Song Leng-hui mengerang lirih, seluruh tubuhnya
segera dijatuhkan ke dalam pelukannya.
Ketika rambutnya yang halus menempel di leher Bong
Thian-gak, segera timbul perasaan gatal yang aneh.
Bong Thian-gak semakin tak sanggup mengendalikan
gejolak perasaannya lagi, dengan cepat dia menundukkan
kepala, mencium pipinya yang putih dan halus dengan hangat
penuh kemesraan.
Tampaknya malam ini Song Leng-hui telah mengambil
keputusan untuk....
Dia membalikkan tubuh, kemudian balas memeluk tubuh
Bong Thian-gak dengan hangat, bibirnya yang merah
membalas ciuman pemuda itu dan menghisap lidah Bong
Thian-gak dengan lembutnya.
Perasaan mereka seakan hendak melompat keluar dari
rongga dadanya, sukma mereka seakan-akan membumbung
tinggi ke udara.
Selama tiga tahun terakhir ini, baru pertama kali ini mereka
berdua berpelukan sambil berciuman dengan mesra, dan
ciuman itupun merupakan ciuman pertama, mereka belum
tahu apakah itu mesra, manis, hangat ataukah gembira.

405
Udara serasa berputar, bumi bagaikan berguncang, mereka
lupa apa akibatnya, lebih-lebih tak mengerti apa yang
dinamakan menjaga batas kesopanan.
Napas Bong Thian-gak mulai memburu, dia memeluk tubuh
si gadis dengan semakin bernapsu.
Akhirnya Song Leng-hui berbisik lirih, "Toako, apa yang
ingin kau lakukan, lakukanlah sekehendak hatimu, aku sudah
menjadi milikmu, seluruh tubuhku adalah milikmu."
Arak telah membuat Bong Thian-gak melupakan segalagalanya,
dia mulai melangkah menuju ke tempat tidur.
Di sanalah terletak kamar tidur Song Leng-hui, tampaknya
gadis itu sudah mempersiapkan segalanya, seprei, kasur,
bantal, dan kelambu telah diatur dengan bersih dan
menyenangkan.
Bong Thian-gak membaringkan tubuhnya di atas
pembaringan, sedang Song Leng-hui seakan-akan sudah kaku
pikirannya, dia memeluk lubuh Bong Thian-gak erat-erat dan
menarik pemuda itu sehingga bergulingan di atas
pembaringan.
Kini pakaian yang dikenakan Song Leng-hui sudah terlepas,
kulit badannya yang putih halus bagaikan salju, setengah
terlihat setengah tersembunyi di balik pakaian dalamnya.
Gemetar keras seluruh tubuh Song Leng-hui, mendadak dia
mulai merintih, "Oh, Toako ... kau ... kau cepatlah."
Berada dalam keadaan seperti itu, sekalipun Bong Thiangak
berada dalam keadaan sadar pun, tak nanti bisa
mengendalikan diri.
Apalagi sekarang pengaruh alkohol sudah menguasai
kesadaran "laknya dan lambat-laun mengobarkan api napsu
birahinya yang makin memuncak.

406
Dengan penuh kegarangan dan kebuasan, Bong Thian-gak
menerkam ke depan dan menindih tubuh gadis itu.
Rintihan lirih dan dengusan napas berdesis dari bibir Song
Leng-hui yang mungil.
Tentu saja kegembiraan dan kenikmatan telah
menghilangkan seluruh rasa sakit dan perih yang dirasakan
olehnya.
Hujan badai pun segera datang menderu-deru dan
menyapu seluruh jagat.
Cahaya lentera berkedip dimainkan angin dan memercikkan
setitik cahaya menerangi sebuah pembaringan.
Titik-titik noda merah memercik di atas seprei berwarna
putih dan menciptakan aneka bunga yang sangat indah.
Bong Thian-gak membelalakkan mata mengawasi tubuh
Song Leng-hui yang bugil dan indah itu dengan termangu.
Pengaruh alkohol yang mempengaruhi benaknya telah
hilang sebagian besar, sekarang dia sedang menyesal,
mengapa dia secara keji harus merenggut kesucian tubuh
gadis itu, yang sudah dipertahankan selama dua puluh tahun.
Song Leng-hui tidak menyesal, juga tidak malu, sesudah
menghela napas sedih, ujarnya, "Toako, kau jangan bersedih,
asalkan mencintaiku sesungguh hati, cepat atau lambat kita
akan mengalami juga malam pertama seperti ini, aku takut
kau tak akan kembali lagi untuk selamanya, maka aku telah
bertekad mempersembahkan kesucian tubuhku padamu
malam ini juga. Kau tak usah memikirkan persoalan ini, cukup
kau ingat saja kalau di tengah sebuah lembah yang terpencil
masih ada seorang gadis bernama Song Leng-hui yang setiap
saat mengharapkan kembalinya dirimu, asal kau ingat hal itu,
sudah lebih dari cukup!"
Bong Thian-gak ingin menangis, namun tak bisa
mengeluarkan suara, tiba-tiba dia menubruk ke badan Song

407
Leng-hui dan berkata lirih, "Siau-hui, mengapa kau berbuat
begini? Mengapa kau harus berbuat begini? Aku ... aku
merasa telah berbuat salah kepadamu, cinta kasih yang kau
berikan untukku tak nanti bisa kubalas untuk selamanya."
Song Leng-hui memeluk tubuh Bong Thian-gak dengan
mesra dan membelai lengannya yang kutung dengan penuh
kasih sayang, lalu katanya lembut, "Setelah kepergianmu
besok, kau harus baik-baik menjaga dirimu, kau sudah
menjadi orang cacat, aku tahu kepandaian silatmu tinggi,
namun di Bu-lim masih terdapat banyak persoalan yang tak
dapat diselesaikan dengan mengandalkan kepandaian silat."
Keadaan Song Leng-hui sekarang bagaikan ibu yang penuh
kasih sayang menasehati anaknya yang hendak pergi jauh.
Tiga tahun bukan jangka waktu yang pendek, dunia
persilatan yang luas bagaikan awan di angkasa, berbagai
perubahan sudah terjadi selama tiga tahun ini, bahkan boleh
dibilang perubahan yang amat besar.
Sejak Bong Thian-gak lenyap dari dunia persilatan, Putgwa-
cin-kau, perkumpulan rahasia yang amat besar itu turut
lenyap dari keramaian dunia persilatan.
Menyusul hilangnya perkumpulan itu, nama besar Kay-pang
dan Hiat-kiam-bun pun semakin menanjak dalam Bu-lim.
Kay-pang adalah perkumpulan yang mempunyai sejarah
paling lama di Bu-lim, cara kerja mereka antara jalan lurus
dan sesat, konon ketuanya adalah seorang yang sangat lihai
dan luar biasa.
Siapakah ketua Kay-pang? Tak seorang pun tahu.
Namun pedang milik ketua pengemis pernah menggidikkan
hati setiap jago dunia persilatan.
Menurut kabar, sebab-musabab menghilangnya Put-gwacin-
kau dari dunia persilatan akibat kelihaian pedang ketua
Kay-pang.

408
Hiat-kiam-bun (Perkumpulan pedang darah) adalah
perguruan yang amat rahasia, keji dan buas. Gerak-gerik
mereka di Bu-lim selalu dibarengi dengan pembunuhan
berdarah.
Siapakah ketua Hiat-kiam-bun? Tentu saja lebih-lebih tiada
orang yang tahu dengan jelas.
Para jago dari sembilan partai besar yang berkumpul dalam
gedung Bu-lim Bengcu di kota Kay-hong pun sejak tiga tahun
lalu sudah membubarkan diri.
Bubarnya persekutuan dunia persilatan ini aneh sekali,
konon dalam satu malam saja segenap anggota yang berada
dalam gedung itu lenyap, mati hidupnya sampai kini masih
teka-teki. Peristiwa itu berlangsung tiga tahun berselang. Tiga
bulan terakhir ini di Bu-lim lagi-lagi muncul dua peristiwa yang
menggetarkan sukma.
Kedua peristiwa itu menyangkut seorang laki dan seorang
wanita.
Yang perempuan adalah iblis yang berwajah cantik jelita
bak bidadari dari kahyangan.
Wajahnya yang begitu cantik dan menawan, pada
hakikatnya banyak sudah lelaki yang dipikatnya, bahkan
perempuan itu bersedia digauli semalam suntuk, cuma esok
harinya lelaki itu ditemukan tewas.
Dalam tiga bulan belakangan ini sering tersiar berita
tentang ditemukannya jenazah lelaki yang terkapar dengan
telanjang bulat.
Sebaliknya yang lelaki berilmu sangat tinggi, selama tiga
bulan terakhir ini sudah ada seratus orang lebih yang kalah di
tangannya.
Kelihaian lelaki itu konon melebihi kedahsyatan Mo-kiamsin-
kun To Tian-seng yang pernah menggetarkan dunia
persilatan puluhan tahun lalu.

409
Asalkan pedangnya sudah dilolos dari sarungnya, tak
pernah ada korban yang dibiarkan hidup.
Namun jago pedang yang muncul ini punya sedikit
perbedaan dengan Mo-kiam-sin-kun To Tian-seng, karena
pedang yang tersoreng di pinggangnya bukanlah pedang
mustika, melainkan pedang kayu tumpul, bahkan jago pedang
itu seorang cacat, berlengan tunggal dan pincang.
0oo0
Musim gugur sudah tiba, daun kering berguguran
terhembus angin kencang.
Seekor kuda ras Mongolia yang tinggi besar pelan-pelan
berjalan menelusuri jalan raya ibukota, penunggangnya adalah
seorang pemuda berwajah pucat dan berlengan kanan
kosong, agaknya seorang yang belum lama kehilangan
lengannya.
Lelaki itu menjalankan kudanya ke bawah pohon di tepi
jalan.
Rupanya waktu itu dari depan sana telah muncul empat
ekor kuda yang dilarikan kencang, lelaki cacat itu kuatir
kudanya tertumbuk, dia menyingkir ke samping.
Tatkala empat ekor kuda itu sampai di hadapan lelaki cacat
ilu, mendadak mereka menarik tali kudanya secara serentak.
Penunggangnya adalah tiga orang lelaki dan seorang gadis.
Yang pria adalah Kongcu-kongcu tampan yang menyoreng
pedang di punggungnya.
Sedang yang perempuan berparas cantik genit dan
mengenakan baju merah menyala, dia pun menyoreng
sepasang pedang di punggung.
Dilihat dari cara mereka menunggang kuda, ketiga pria dan
seorang gadis ini memiliki kepandaian silat yang lumayan.

410
Mereka berdiri berjajar di tengah jalan, persis menghadang
jalan lelaki cacat itu.
Salah seorang Kongcu yang berparas kurus dan mempunyai
tahi lalat di wajahnya tertawa terbahak-bahak, kemudian
sembari menjura tegurnya, "Bolehkah aku tahu, apakah kau
Jian-ciat-suseng (Sastrawan cacat)?"
Pria cacat itu tersenyum, "Tidak berani, tidak berani,
tampaknya kalian berempat adalah Hui-eng-su-kiam (Empat
pedang unggas terbang) yang namanya telah menggetarkan
wilayah Kanglam."
Lelaki kurus bertahi lalat itu kembali tertawa tergelak,
"Tajam benar pandangan saudara, hahaha, tiga bulan terakhir
ini dunia persilatan telah dihebohkan oleh nama besarmu, hal
ini membuat kami Hui-eng-su-kiam merasa risau dan tak enak
sendiri, itu sebabnya malam ini aku ingin menantang kau
berduel!"
"Berduel untuk mambuktikan siapa lebih unggul bukanlah
suatu peristiwa luar biasa, cuma sayang malam ini aku tidak
ada waktu, maka seandainya kalian Hui-eng-su-kiam ingin
mencoba kepandaian silatku, tak ada salahnya dicoba
sekarang!" kata Jian-ciat-suseng hambar.
Mendengar perkataan itu, si nona berkerut kening, lalu
bentaknya penuh gusar, "Manusia cacat, besar amat lagakmu,
orang lain boleh takut kepadamu, tapi kami Hui-eng-su-kiam
tak takut menghadapi dirimu." Jian-ciat-suseng tertawa.
"Di antara empat pedang unggas terbang, aku dengar
terdapat seorang yang bernama Hwe-im-eng (Burung api),
wataknya konon serupa dengan julukannya, mungkin nonalah
yang dimaksud?"
Di wilayah Kanglam, nama besar Hui-eng-su-kiam memang
sangat termasyhur, setiap jago dari berbagai perguruan yang
bertemu dengan mereka pasti akan menyebut Siauhiap atau
Lihiap untuk menghormati mereka.

411
Mimpi pun tak menyangka Jian-ciat-suseng tidak
memandang sebelah mata pun kepada mereka, betapa
gusarnya mereka menyaksikan kenyataan itu, terutama
Burung api Yu Hong-hong yang dasarnya memang sombong,
tinggi hati dan berangasan.
"Tutup mulut!" bentaknya nyaring. "Nama besar nonamu
bukan sembarangan orang boleh menyebut, apalagi manusia
cacat seperti kau."
Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menarik muka dan menegur,
"Nona, watak berangasan dan jahatmu harus mulai diubah,
jika kau tak mampu mengubah diri, niscaya usiamu tak akan
panjang."
Yu Hong-hong tertawa dingin.
"Hehehe, aku justru ingin tahu usia siapa yang tak panjang.
Manusia cacat, cepat lolos pedangmu, nona ingin memberi
pelajaran setimpal padamu."
Sementara berbicara, Yu Hong-hong telah melolos
sepasang pedang pendeknya dan siap melancarkan serangan.
Dengan suara hambar Jian-ciat-suseng berkata, "Begitu
pedangku ini terlolos dari sarungnya, kepala manusia tentu
akan menggelinding, aku tahu kalian Hui-eng-su-kiam cuma
manusia berdarah panas yang ingin mencari nama, perbuatan
kalian belum terhitung jahat."
Belum selesai dia berkata, sepasang kaki Yu Hong-hong
sudah menjejak perut kudanya dan secepat kilat menerjang ke
arah Jian-ciat-suseng.
Jian-ciat-suseng masih tetap duduk di atas pelana sekokoh
batu karang, bergerak sedikit pun tidak.
Yu Hong-hong benar-benar merasa gusar sekali, sepasang
pedangnya seperti dua naga yang muncul dari air, langsung
mengancam dua jalan darah mematikan di tubuh Jian-ciatTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
412
suseng, sedemikian cepatnya serangan itu sehingga tak malu
disebut jagoan kelas satu.
Jian-ciat-suseng sama sekali tak berkutik, lengan
I^anannya yang kosong tiba-tiba dikebaskan ke muka dan
memelintir sepasang tangan Yu Hong-hong.
Yu Hong-hong membentak gusar, "Belum tentu kungfumu
sangat hebat!"
Rupanya jurus serangan Siang-liong-jut-cui (Sepasang naga
keluar dari air) yang dipergunakan Yu Hong-hong adalah
serangan tipuan, di tengah bentakan nyaring, sepasang
pergelangan tangannya merendah ke bawah, pedangnya
seperti naga sakti membentuk gerakan setengah lingkaran dan
menciptakan beribu titik bintang di angkasa, seperti tusukan
seperti pula bacokan dia menyerang Jian-ciat-suseng.
Kali ini Jian-ciat-suseng tidak bergerak sama sekali, ujung
lengan baju kanannya yang kosong pun tak berkutik,
sepasang pedang Yu Hong-hong secepat sambaran petir
langsung menerobos masuk.
Tiga orang lainnya yang menyaksikan jalanya pertarungan
dari sisi arena segera berpikir setelah menyaksikan kejadian
itu.
"Seandainya Jian-ciat-suseng tidak jatuh dari kudanya,
kendatipun ilmu silatnya lebih hebat pun tak nanti dia bisa
lolos dari serangan Yu Hong-hong."
Belum habis mereka berpikir, tampak Jian-ciat-suseng
sudah menggerakkan tangan kirinya.
Diiringi jeritan kaget Yu Hong-hong, sepasang pedang
pendeknya tahu-tahu sudah berpindah tangan.
"Pletakk", diiringi suara nyaring, kedua pedang pendek
yang terbuat dari kayu itu sudah digetarkan patah menjadi
empat bagian oleh lengan kiri Jian-ciat-suseng dan terjatuh ke
atas tanah.

413
Demonstrasi tenaga dalam serta kepandaian silat semacam
ini tentu akan menjerakan hati orang yang melihat.
Namun dasar si Burung api burung Yu Hong-hong, dari
malu dia menjadi gusar, sambil membentak nyaring tubuhnya
melesat ke depan, lalu telapak tangannya dengan
mengerahkan segulung tenaga dahsyat langsung menghantam
ke dada Jian-ciat-suseng itu.
Berkerut kening Jian-ciat-suseng menghadapi ancaman ini,
tangan kirinya segera menyambar ke depan dan
mencengkeram lengan kanan Yu Hong-hong, begitu si nona
kehilangan tenaga, dia lantas mengangkat tubuh gadis itu ke
tengah udara.
"Lepaskan aku, lepaskan aku!" teriak Yu Hong-hong
dengan gusar.
Jian-ciat-suseng memutar lengan kirinya dan
mengayunkannya ke depan.
Tak ampun lagi tubuh Yu Hong-hong terlempar ke udara
dan persis terjatuh kembali ke atas pelana kudanya.
Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah Yu Honghong
menderita kekalahan seperti hari ini, dia segera
menangis tersedu-sedu.
Tiga rekan lainnya dibikin terperanjat oleh kelihaian ilmu
silat Jian-ciat-suseng, untuk beberapa saat mereka hanya bisa
berdiri tertegun.
Mereka baru sadar mendengar isak tangis Yu Hong-hong
yang memilukan.
Tapi apa pula yang dapat mereka lakukan? Kepandaian silat
Jian-ciat-suseng terlampau lihai, sekali pun mereka bertiga
turun tangan bersama pun tak ada gunanya.
Isak tangis Yu Hong-hong sungguh mengenaskan, air
matanya bercucuran dengan amat derasnya.

414
Agaknya si sastrawan paling takut melihat perempuan
menangis, sambil menghela napas, pelan-pelan dia berkata,
"Yang paling penting dalam ilmu silat adalah tenang dan gesit,
tenang harus melebihi perawan, gesit harus melebihi kelinci,
bila saat menyerang perasaan sudah diliputi napsu,
ketenangan akan goyah dan kacau, kegesitan akan berubah
menjadi lembek. Bila menyerang seperti itu, bukan musuh
yang dihajar, salah-salah diri sendiri yang akan terluka."
Selesai mengucapkan perkataan itu, tanpa berpaling lagi
dia menjalankan kudanya pelan-pelan berlalu dari tempat itu.
Yu Hong-hong berhenti menangis. Dalam benaknya
terlintas perkataan terakhir Jian-ciat-suseng, kemudian dia
merenung dan memikirkannya berulang kali.
Tiba-tiba dengan sikap seperti mengerti seperti tidak, dia
bergumam lirih, "Hari ini aku menderita kalah, kekalahan yang
benar-benar memilukan hatiku, ai! Ilmu silatnya terlampau
tinggi, kepandaian silatnya benar-benar tinggi."
0oo0
Hong-tok-ciu-lau di barat daya kota terlarang merupakan
penginapan dan rumah makan terbesar dan termegah di
ibukota.
Di balik pintu gerbang, Hong-tok-ciu-lau tampak berdiri
anggun dan berderet-deret mencapai ratusan ruangan.
Orang yang menginap di Hong-tok-ciu-lau pun meliputi
berbagai lapisan masyarakat.
Waktu itu di sebuah meja yang berada di sudut selatan
rumah makan termegah yang bagaikan keraton itu berduduk
tiga orang perlente dan seorang gadis cantik berbaju merah
menyala.
Mereka sedang bersantap dan minum arak sambil
berbincang-bincang ke utara selatan.

415
Mendadak terdengar si gadis berkata dengan suara merdu,
"Tio-toako, tahukah kau siapa kedua orang tokoh silat yang
paling tersohor di kolong langit dewasa ini?"
Pemuda kurus bertahi lalat yang duduk di sisinya segera
menyahut sambil tertawa, "Yu-sumoay, masa kau tidak tahu?
Kedua orang itu adalah Si-hun-mo-li (Iblis perempuan
pembetot sukma) dan Jian-ciat-suseng."
"Tio-toako," kembali si gadis berbaju merah bertanya
manja. "Konon Jian-ciat-suseng sudah sampai di ibukota, ada
urusan apa orang itu mendatangi kota terlarang?"
"Konon Jian-ciat-suseng mengejar Si-hun-mo-li, karena iblis
perempuan ini berada di ibukota, padahal bukan hanya Jianciat-
suseng saja yang sudah sampai di Hopak, konon segenap
jago lihai secara berbondong-bondong sudah datang ke
wilayah Hopak sini."
"Ada urusan apa para jago Bu-lim berkumpul di ibukota?"
"Apalagi? Tentu saja karena Si-hun-mo-li dan Jian-ciatsuseng,"
sahut pemuda kurus itu tertawa.
"Ah, apa maksudmu?" seru gadis berbaju merah itu
terkejut. Tiba-tiba pemuda kurus itu berpaling dan
memandang sekejap ke arah meja di sudut kiri ruangan, lalu
katanya dengan lantang, "Hanya tiga bulan Jian-ciat-suseng
muncul di Bu-lim, berbagai jago lihai dari berbagai perguruan
besar telah keok di tangannya, orang bilang, pohon tinggi
mengundang datangnya angin, nama termasyhur
mengundang datangnya bencana, maka para jago persilatan
berbondong-bondong datang ke ibukota untuk membalas
dendam atau ingin merobohkannya sehingga sekali gebuk
memperoleh nama besar."
Sampai di sini pemuda kurus itu berdehem pelan, entah
sengaja atau tidak dia kembali mengalihkan sorot matanya ke
meja sebelah kiri.

416
Ternyata di tempat itu duduk pemuda berlengan buntung
dan berbaju hitam, dia berdandan seorang sastrawan, namun
sebilah pedang tersoreng di pinggangnya.
Mendadak gadis berbaju merah itu berkata lagi, "Tio-toako,
menurut pendapatmu dapatkah Jian-ciat-suseng mengalahkan
begitu banyak jago persilatan?"
Pemuda kurus tersenyum.
"Menurut penilaianku, ilmu silat Jian-ciat-suseng sudah
terhitung wahid di kolong langit, mana mungkin kawanan jago
yang mencari gara-gara padanya mampu menyambut sebuah
serangannya?"
Baru saja dia berkata, mendadak dari sisi meja sebelah
kanan terdengar suara orang berseru sambil tertawa dingin
tiada henti.
"Hehehe, boleh saja Hui-eng-su-kiam tak mampu menerima
satu gebrakan Jian-ciat-suseng, namun orang lain tidaklah
demikian."
Ucapan itu seketika membuat paras pemuda perlente dan
gadis berbaju merah itu berubah hebat sehingga mereka
bersama-sama berpaling ke arah meja di samping mereka.
Di situ duduk seorang kakek dan seorang pemuda.
Yang tua berperawakan kurus dan hitam dengan baju
berwarna hitam, jenggot kambingnya panjang dan sepasang
matanya macam mata ikan, berkedip tajam, jelas tenaga
dalamnya telah sempurna.
Sedang yang muda berpakaian perlente dengan sebilah
pedang berwarna kuning emas tersoreng di pinggangnya,
tampan dan gagah, cuma sayang di antara kerutan dahinya
terbayang setitik hawa cabul.
Suara tertawa seram tadi tak lain berasal dari pemuda
berbaju perlente itu.

417
Serentak Hui-eng-su-kiam melompat bangun, hawa amarah
menyelimuti sekujur wajah mereka dalam waktu singkat,
pertarungan sengit bakal berlangsung di tengah ruangan itu.
Pada saat itulah mendadak dari tengah ruangan
berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring,
kemudian dari sudut ruangan sebelah utara pelan-pelan
berjalan keluar sastrawan berbaju biru yang berusia tiga puluh
tahun.
Orang ini memiliki wajah kereng dan lamat-lamat
memancarkan kewibawaan besar.
Ketika sastrawan buntung yang duduk di sudut kiri
menyaksikan kemunculan sastrawan yang mengenakan baju
biru itu, paras mukanya berubah hebat, hampir saja dia
berteriak.
Dengan tergelak nyaring sastrawan berbaju biru itu
mengambil tempat duduk di depan kursi Hui-eng-su-kiam,
kemudian berkata, "Hui-eng-su-kiam, mari! Aku orang she
Thia ingin memperkenalkan kalian, Su-hiap yang duduk di
kursi utama itu tentunya Siaucengcu dari perkampungan Kimliong-
kiam-san-ceng yang berjuluk Kiu-liong-sin-kiam (Pedang
sakti sembilan naga) Mo Siau-pak."
"Sedangkan yang tua adalah Congkoan dari Kim-liongkiam-
san-ceng (perkampungan pedang naga emas) yang
berjuluk Hek-kut-siu (Kakek tulang hitam) Siangkoan-lotoa ...."
Begitu sastrawan berbaju biru itu menyebutkan nama-nama
itu, tak sedikit sorot mata yang dialihkan ke sana.
Setelah diperkenalkan, agaknya Hui-eng-su-kiam
terpengaruh oleh nama besar lawan, paras mereka pelanpelan
berubah agak lembut.
Kim-liong-kiam-san-ceng merupakan keluarga persilatan
yang termasyhur di Bu-lim, nama besar mereka sudah merata
di wilayah utara sungai Kuning.

418
Bahkan boleh dibilang setiap orang tahu di wilayah itu
terdapat Kim-liong-kiam-san-ceng yang dikepalai Im-tiongliong
(Naga di balik mega) Mo Hui-thian.
Begitu lihainya ilmu pedang tokoh sakti ini sehingga orang
menyebutnya sebagai Bu-lim-te-it-kiam (Jago pedang nomor
wahid dunia persilatan).
Pemuda berbaju perlente itu yang bernama Mo Siau-pak
agaknya tak berani menunjukkan sikap angkuh ataupun tinggi
hati terhadap sastrawan berbaju biru itu, dengan cepat dia
melompat bangun dan berkata sambil tertawa terbahakbahak,
"Hahaha, kukira siapa, sungguh tak disangka Im-ciutay-
ji-hiap Thia Leng-juan adanya."
"Mana ... mana ... aku orang she Thia baru saja datang ke
ibukota dan dimana-mana kujumpai teman-teman lama,
nampaknya di sini akan terjadi sebuah pertemuan puncak para
jago."
Mo Siau-pak tertawa dingin.
"Hm, apa sebabnya berbagai jago berdatangan ke kota
terlarang, aku rasa tak usah dibilang pun semua orang sudah
tahu dengan jelas."
Sembari berkata, dia mengangkat kepala dan menengok ke
arah sudut selatan.
Siapa tahu Jian-ciat-suseng yang duduk di tempat itu,
entah sedari kapan sudah pergi meninggalkan tempat itu.
Berubah hebat paras Mo Siau-pak, dengan cepat dia
melompat bangun, kemudian serunya, "Thia-heng, maaf aku
tak bisa menemani lebih lama."
Agak tergopoh-gopoh dia berlalu dari ruangan itu.
Ketika melihat Mo Siau-pak beranjak pergi, kakek berbaju
hitam itu tanpa berbicara sepatah kata pun turut menguntit di
belakangnya meninggalkan ruangan.

419
Hui-eng-su-kiam yang menyaksikan kejadian itu, dalam hati
segera mengerti apa sebabnya Mo Siau-pak pergi
meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa, dengan cepat
mereka berempat saling bertukar pandang sekejap, lalu
katanya kepada Thia Leng-juan, "Kami pun ingin segera
mohon diri."
Hui-eng-su-kiam buru-buru keluar ruangan dan menyusul di
belakang Mo Siau-pak.
Ketika Mo Siau-pak dan Siangkoan-lojin menyusul keluar
dari Hong-tok-ciu-lau, terlihat sesosok bayangan hijau dengan
ujung lengan baju kanan berkibar terhembus angin sedang
bergerak di depan.
Sambil tertawa dingin, Mo Siau-pak mempercepat
langkahnya dan mengejar dari belakang.
Siapa tahu kendati sudah menyusul sampai keluar kota,
namun Mo Siau-pak belum juga berhasil mengejar orang itu.
Sasaran yang sedang mereka kejar masih tetap berjalan
lambat, lebih kurang tiga puluh depa di depan sana.
Mo Siau-pak segera mendengus dingin, dengan
mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, dia mengejar
semakin kencang.
Pada saat itulah, pemuda di depan sana tahu-tahu lenyap
tanpa bekas di sebuah tikungan hutan kecil.
Dengan beberapa kali lompatan saja Mo Siau-pak telah
menyusul sampai di tikungan hutan, lalu sambil memutar
badan dia menghentikan gerakan.
Rupanya di balik hutan terbentang sebuah sungai,
jembatan kayu membentang di tengah sungai, di sana berdiri
tegak seorang sastrawan yang buntung tangannya.

420
Waktu itu dengan sorot matanya yang tajam bagaikan
sembilu, dia sedang mengawasi Mo Siau-pak yang berada di
bawah jembatan.
"Mo-siaucengcu, ada urusan apa kau menyusul diriku?"
Mo Siau-pak tertawa dingin, sahutnya, "Bukankah kau
adalah Jian-ciat-suseng?"
"Benar, lengan kananku buntung, kaki kiriku pincang, orang
persilatan menyebutku Jian-ciat-suseng dan aku pun senang
sekali dengan nama indah ini."
Sementara itu Siangkoan-lotoa telah menyusul tiba dan
segera berdiri di sisi kiri Mo Siau-pak.
Dengan wajah senyum tak senyum Mo Siau-pak berkata,
"Untuk merobohkan seratus jago lihai dunia persilatan, apakah
pedang kayu yang tersoreng di pinggangmu itu yang kau
gunakan?"
"Masih ada di antara mereka yang tidak perlu kuhadapi
dengan pedang kayuku ini."
"Lantas pantaskah aku menghadapimu dengan pedang
kayu itu?"
"Seandainya ayahmu, Mo Hui-thian, hadir di sini, mungkin
dia masih pantas untuk kuhadapi dengan pedang kayu ini."
Ucapan ini sudah jelas artinya, yaitu Mo Siau-pak masih
belum cukup berharga baginya untuk dihadapi dengan pedang
kayu.
Anehnya, ternyata Mo Siau-pak tidak menjadi gusar,
setelah tertawa dingin dia malah bertanya, "Jadi kau
menyuruh aku yang melolos pedang?"
"Bila Siaucengcu melolos pedang, bisa jadi nama besarmu
akan hancur di ujung jembatan ini, aku mengerti kau seorang
pintar, tentunya kau tahu bukan, seharusnya pedang itu harus
dicabut atau tidak?"

421
Mo Siau-pak tidak menjawab, bungkam dalam seribu
bahasa.
Mendadak Siangkoan-lojin berseru lantang, "Majikan muda
harap mundur, biar Lohu yang mencoba beberapa jurus
serangannya."
Sembari berkata, Siangkoan-lojin maju ke ujung jembatan
dan melepaskan sebuah bacokan dahsyat ke dada lawan.
Jangan dilihat Siangkoan-lojin berperawakan kurus kecil,
ternyata angin pukulan yang dilancarkannya sangat dahsyat
dan mengerikan.
Berdiri di ujung jembatan, Jian-ciat-suseng tak bergerak
sedikit pun, dia menunggu sampai telapak tangan kanan
Siangkoan-lojin berada setengah kaki di depan dadanya, saat
itulah telapak tangan kirinya baru secepat kilat membabat urat
nadi tangan musuh.
"Bocah keparat, ternyata kau memiliki kepandaian juga!"
bentak Siangkoan-lojin.
Sembari berkata, sepasang lengannya yang hitam dan
kering-kerontang bagai sambaran petir meluncur ke muka dan
mengembangkan serangkaian serangan berantai.
Serangan yang dilancarkan itu selain cepat bagaikan
sambaran kilat, juga disertai tenaga yang amat dahsyat.
Pukulan demi pukulan dilancarkan bagaikan ombak
menggulung ke tepian dan memecah terkena batu karang,
benar-benar mengerikan.
Dalam waktu singkat Siangkoan-lojin sudah melepaskan
tiga belas pukulan telapak tangan dan delapan jotosan kilat.
Dalam menghadapi kedua puluh satu serangan itu, Jianciat-
suseng masih tetap berdiri tegak tak bergerak, dia hanya
membendung dan menangkis setiap ancaman yang datang
dengan lengan tunggalnya.

422
Kendati demikian, ternyata Siangkoan-lojin tak sanggup
maju barang selangkah pun.
Siangkoan-lojin mestinya tahu diri dan mengundurkan diri,
namun sebagai Congkoan Kim-liong-kiam-san-ceng yang
mempunyai kedudukan tinggi dan sudah lama termasyhur
dalam Bu-lim, sudah barang tentu tak mungkin baginya untuk
mundur begitu saja, apa lagi di hadapan majikan mudanya
sekarang.
Mendadak terdengar Siangkoan-lojin membentak,
mendadak tubuhnya mundur tiga langkah, sementara kepalan
tangan kanannya pelan-pelan dihantamkan ke arah dada
musuh.
Serangan ini tampaknya seperti tidak disertai tenaga,
namun dalam pandangan seorang ahli silat, akan segera
diketahui pukulan itu disertai tenaga yang sangat hebat.
Berubah hebat paras muka Jian-ciat-suseng, mendadak
telapak tangan kirinya diayunkan ke depan.
Dengusan tertahan segera menggema memecah
keheningan.
Dengan sempoyongan Siangkoan-lotoa mundur tujuh
langkah, kemudian darah kental menyembur dari mulutnya.
Paras muka Mo Siau-pak berubah hebat, cepat dia
memburu ke depan untuk membimbing tubuh Siangkoan-lojin,
lalu tegurnya, "Siangkoan-lotoa, kau masih sanggup
bertahan?"
Kulit wajah Siangkoan-lotoa mengejang keras, menahan
derita yang sedang dialaminya, dia berkata, "Majikan muda,
harap kau jangan bertindak gegabah. Ilmu silat orang ini
benar-benar kelewat dahsyat."
Sementara itu Jian-ciat-suseng telah membalikkan badan
dan menuruni jembatan itu ke arah lain.

423
Sambil tertawa dingin Mo Siau-pak berseru, "Hm, aku akan
mencoba sampai dimanakah kelihaiannya."
Sembari berkata, lekas dia mengejar ke ujung jembatan
sana, sementara tangan kanannya meraba gagang pedang
yang tersoreng di pinggangnya.
Pada saat itulah mendadak Jian-ciat-suseng menghentikan
langkah, tanpa berpaling katanya, "Aku tinggal di rumah
penginapan Hong-tok-ciu-lau, kapan saja aku akan
menantikan kedatanganmu. Sekarang Siangkoan-lojin sudah
terluka, terutama pada sekitar urat nadi Liau-lok-keng-meh,
jika kau tidak segera mengurut jalan darahnya dengan
menggunakan tenaga dalam, seperempat jam lagi dia akan
muntah darah tiada hentinya, dalam keadaan seperti itu,
meski ada obat dewa pun jangan harap bisa menyelamatkan
jiwanya."
Dingin perasaan Mo Siau-pak mendengar itu, meski tangan
kanannya sudah meraba gagang pedang, namun senjata itu
tak dicabut.
Dia tertawa dingin, lalu ujarnya, "Baiklah! Aku Mo Siau-pak
pasti akan menyambangimu."
Dalam pada itu Jian-ciat-suseng sudah berada sejauh
tujuh-delapan depa dari tempat semula, dia tidak mungkin
berpaling atau memberikan reaksi, dengan langkah tetap terus
menelusuri sungai.
Dari kejauhan dia nampak begitu menyendiri dan kesepian.
Benar, sejak dia terjun kembali ke dunia persilatan, selama
tiga bulan terakhir ini dia telah mengunjungi gedung Bu-lim
Bengcu di kota Kay-hong. Dia pun telah berkunjung ke kuil
Nikoh Keng-tim-an.
Namun tak seorang ditemukan, pada dasarnya dia sudah
seorang diri, sekarang semakin merana dan menyendiri lagi.

424
Hari ini, sewaktu berada di Hong-tok-ciu-lau, dia telah
bertemu dengan seorang kenalan lama, pendekar sastrawan
dari kota Im-ciu Thia Leng-juan, sebenarnya dia ingin sekali
bercakap dengannya, namun satu ingatan lain membuatnya
harus mengurungkan niatnya itu.
Dia tahu dengan tenaga dalam maupun ilmu silatnya
sekarang, cukup baginya untuk menjagoi dunia persilatan,
namun meski dia berhasil meraih gelar tokoh nomor wahid di
kolong langit, apakah artinya semua itu?
Nama Jian-ciat-suseng sudah cukup menggetarkan sukma
setiap umat persilatan di kolong langit, dia tahu saat guntur
menggelegar dan hujan badai berhembus akan tiba, oleh
sebab itu dia harus secepatnya menyelesaikan masalahmasalah
yang mengganjal hatinya, kemudian secepatnya
mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan
mencicipi kehidupan yang penuh bahagia.
Seseorang yang sangat mencintainya kini hidup
sebatangkara di rumah gubuk di tengah bukit yang terpencil,
dia tak boleh meninggalkan dirinya terlalu lama.
Dalam perjalanannya ke ibukota kali ini, seandainya jejak
orang-orang Put-gwa-cin-kau belum juga ditemukan, terpaksa
dia harus pulang ke gunung secepatnya, sebab perjalanan di
Bu-lim telah membuatnya jemu, bosan dan muak.
Entah sejak kapan Jian-ciat-suseng telah berhenti di tepi
sungai, menundukkan kepala dan memandang arus air dengan
terpesona.
Mendadak dia mengangkat kepala dan menegur dengan
suara sedingin salju, "Mengapa kalian berempat mengikutiku
terus?"
Sewaktu bicara, mata Jian-ciat-suseng masih saja
memandang arus air sungai dengan termangu, berpaling pun
tidak.

425
Rupanya entah sedari kapan, di belakangnya telah muncul
tiga orang pemuda berbaju perlente dan seorang gadis
berbaju merah, mereka berempat bukan lain dari Hui-eng-sukiam.
Pemuda kurus bertahi lalat yang merupakan pimpinan Huieng-
su-kiam yakni Gin-ho-eng (Burung sungai perak) Tio Im
segera menuju ke depan dan menyahut dengan hormat," Huieng-
su-kiam membuntuti. saudara karena kami ada satu
persoalan yang hendak dibicarakan!"
Jian-ciat-suseng belum juga berpaling, hanya tanyanya
dengan suara hambar, "Masalah apa?"
"Kami empat bersaudara memohon padamu untuk
menerima kami sebagai anak buahmu."
Ketika mendengar perkataan itu, pelan-pelan Jian-ciatsuseng
membalik badan dan mengawasi wajah Hui-eng-sukiam
dengan sorot mata tajam bagaikan sembilu, dia
mengawasi orang-orang itu dari atas sampai ke bawah,
namun mulutnya tetap membungkam.
Dengan suara merdu Yu Hong-hong berkata, "Ilmu silat
Tayhiap sudah mencapai tingkatan yang luar biasa, tentu saja
kemampuan kami berempat tak banyak membantu, namun
kami empat bersaudara amat mengagumi sepak terjang
Tayhiap dan ingin sekali membaktikan diri padamu, entah
sebagai pembawa barang atau pesuruh sekali pun, hal ini
akan merupakan suatu kebanggaan bagi kami. Itulah
sebabnya kami memohon kepada Tayhiap sudilah menerima
kami."
Tiba-tiba Jian-ciat-suseng menghela napas panjang,
ujarnya pelan-pelan, "Ai, baiklah aku bersedia menerima
kalian."
"Sungguhkah itu?" Yu Hong-hong tak kuasa menahan rasa
gembiranya, dia segera berteriak, "Kau ... kau tidak
membohongi kami?"

426
Sekali lagi Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, "Ai,
aku tak membohongi kalian, yang kubutuhkan sekarang
adalah melakukan suatu usaha besar yang akan
menggemparkan dunia persilatan."
Dia berhenti sejenak dan mengangkat kepala memandang
sekejap ke arah Hui-eng-su-kiam, kemudian lanjutnya, "Aku
bukan menerima kalian sebagai pesuruhku, melainkan
mengundang kalian berempat untuk menggabungkan diri
dalam perkumpulanku, yakni perkumpulan Tiong-yang-hwe!"
Pelan-pelan Jian-ciat-suseng mengangguk, "Benar, hari ini
adalah bulan sembilan tanggal sembilan dari Tiong-yang,
perkumpulan kami ini merupakan perkumpulan yang didirikan
pada saat ini di kala kalian Hui-eng-su-kiam menggabungkan
diri, oleh sebab itu kunamakan perkumpulan ini sebagai Tiongyang-
hwe."
Kemudian setelah termenung sejenak, dia menyambung
lebih lanjut, "Di balik semua itu, sebetulnya masih
mengandung satu makna lain, yakni aku pernah mati sekali
dan sekarang bangkit kembali ke alam semesta. Entah
bagaimana pendapat kalian tentang nama ini?"
Lo-sam dari Hui-eng-su-kiam yakni Siau-hiang-eng (Burung
harum) The Goan-ho segera bertepuk tangan sambil berseru
lantang, "Bagus, bagus! Nama Tiong-yang-hwe memang
bagus, tidak perlu memakai 'pang' cukup memakai 'hwe',
menunjukkan kesan halus dan berseni, sehingga tidak ada
hawa kekerasan sama sekali."
Dan perkumpulan Tiong-yang-hwe pun secara resmi
didirikan pada saat itu, dunia persilatan pun bertambah lagi
dengan satu organisasi baru.
Ketua Tiong-yang-hwe dijabat oleh Jian-ciat-suseng, kecuali
ketua, untuk sementara waktu tidak diangkat jabatan lain.
Tiba-tiba Jian-ciat-suseng mengunjuk sikap serius, katanya
dengan suara dalam, "Setiap perkumpulan yang didirikan pasti

427
mempunyai peraturan perkumpulan, cita-cita, maksud tujuan,
serta tata-cara, namun sekarang karena belum ada waktu
untuk menyelesaikan hal ini, maka yang kita pegang sebagai
prinsip sekarang adalah kepercayaan, mulai hari ini Hui-engsu-
kiam sudah merupakan bagian dari Tiong-yang-hwe, aku
harap kalian suka memegang prinsip hidup kita, yaitu setia,
berbakti, bajik, cinta kasih, dapat dipercaya, setia-kawan,
kerukunan dan kedamaian. Asalkan kalian melaksanakan
kedelapan prinsip ini, sudah pasti perbuatan kalian benar."
"Orang yang bergabung dengan perkumpulan kita,
bilamana melakukan pelanggaran, sudah tentu akan
memperoleh hukuman yang sangat berat."
"Tugas utama perkumpulan sekarang adalah
mengembangkan pengaruh organisasi serta menerima
anggota baru, tapi perkumpulan kita tidak memandang perlu
mencari anggota sebanyak-banyaknya, yang penting adalah
mereka yang berhati murni dan benar-benar berkemampuan
tinggi, jadi setiap orang yang bergabung harus memiliki ilmu
silat dan watak yang baik, sebelum dilakukan penyelidikan
yang seksama, siapa pun tak akan diterima menjadi anggota."
Dengat sikap hormat dan serius, Hui-eng-su-kiam
mendengar wejangan Jian-ciat-suseng, tak seorang pun yang
bersuara.
Ketika pemuda itu telah menyelesaikan kata-katanya, Yu
Hong-hong baru menghela napas panjang, katanya lirih, "Kami
berempat merasa bangga bisa menjadi anggota Tiong-yanghwe,
namun ada satu hal yang membuat kami malu untuk
menjadi bagian Tiong-yang-hwe."
Dengan sorot mata tajam Jian-ciat-suseng memandang
sekejap ke arah gadis itu, tukasnya, "Apakah kalian merasa
ilmu silat yang kalian miliki terlalu cetek?"

428
"Benar!" Yu Hong-hong manggut-manggut. "Ilmu silat Huieng-
su-kiam terlalu cetek, sesungguhnya kami masih belum
pantas untuk bergabung dengan Tiong-yang-hwe."
Jian-ciat-suseng tersenyum.
"Ilmu silat yang kalian miliki sekarang sudah boleh dibilang
mencukupi, untuk menjadi seorang jago persilatan yang
berilmu tinggi, maka harus memiliki tiga syarat utama, yakni
guru yang pandai, waktu yang cukup, serta kecerdasan yang
melebihi orang lain. Bilamana ketiga syarat itu kurang satu,
maka sekali pun dia merupakan jago yang berilmu tinggi,
mustahil dapat mencapai tingkatan sempurna."
"Sekarang akan kukatakan asal-usulku kepada kalian agar
kalian tahu kisah perjalananku menempuh pelajaran ilmu silat,
cuma orang persilatan belum mengetahui jelas tentang asalusulku
ini, aku harap setelah kalian tahu nanti, janganlah
disebar-luaskan kepada orang lain. Perlu kalian catat, dalam
menghadapi persoalan, semakin kita dapat merahasiakan
sesuatu, sesungguhnya hal ini semakin baik."
"Petunjuk Hwecu memang sangat tepat, kami pasti akan
menuruti petunjuk Hwecu," kata Gin-ho-eng Tio Im dengan
suara lantang.
Perlahan Jian-ciat-suseng berkata, "Guruku yang pertama
adalah almarhum Thi-ciang-kan-kun-hoan Oh Ciong-hu,
Bengcu persekutuan dunia persilatan."
Mendengar nama itu, dengan terkejut Yu Hong-hong
segera bertanya, "Kalau begitu kau adalah si Toan-jong-hongliu
Yu ...."
Sambil menggeleng kepala, Jian-ciat-suseng menghela
napas panjang, sahutnya, "Toan-jong-hong-liu Yu Heng-sui
adalah Ji-suhengku, aku adalah murid terakhir Bu-lim Bengcu,
mungkin kalian tak mengenal namaku, sebab sebelum aku
terjun dan berkelana di Bu-lim, aku sudah diusir dari
perguruan oleh guruku. Di bawah bimbingan Oh Ciong-hu

429
bengcu almarhum, aku sudah memperoleh pendidikan ilmu
silat selama dua belas tahun, aku mulai belajar ilmu silat sejak
berusia tujuh tahun."
"Setelah dikeluarkan dari perguruan, aku telah berjumpa
dengan seorang tokoh berilmu tinggi dimana aku memperoleh
pelajaran berbagai ilmu silat dari aliran yang ada di dunia ini
selama tujuh tahun, siapakah tokoh ini untuk sementara
waktu namanya aku rahasiakan lebih dulu, tapi dia adalah
guruku yang kedua."
"Guruku yang ketiga adalah Ku-lo Hwesio dari Siau-lim-pay,
dia hanya sempat memberi pelajaran silat semalam kepadaku,
namun kepandaian silat yang diwariskannya kepadaku justru
merupakan rahasia ilmu silat kaum lurus, itulah sebabnya
dalam waktu singkat aku telah berhasil menguasai ilmu
berbagai aliran."
Mendengar sampai di sini, Hui-eng-su-kiam merasa
terperanjat, Oh Ciong-hu dan Ku-lo Hwesio merupakan dua
tokoh yang maha sakti dalam Bu-lim, tak disangka dua tokoh
sakti itu ternyata guru Hwecu mereka, tak heran ilmu silat
ketua mereka lihai sekali.
Tapi siapakah nama yang sebenarnya dari ketua mereka?
Dari balik mata Hui-eng-su-kiam segera terlintas sinar mata
penuh tanda tanya.
Pelan-pelan Jian-ciat-suseng melanjutkan kembali, "Sekali
pun aku telah berjumpa dengan tiga orang guru pandai dan
mempelajari hampir seluruh ilmu silat yang ada di dunia ini,
namun berhubung waktu yang kurang, aku belum dapat
meresapi seluruh intisari kepandaian itu."
"Akibatnya tiga tahun berselang aku telah dibunuh orang."
"Tapi Thian memang maha pengasih, nampaknya ajalku
belum tiba sehingga nyawaku dikembalikan lagi ke alam
semesta ini. Tiga tahun lamanya kuselami dan kupelajari

430
semua kepandaian silat yang pernah kupelajari, akhinya jerihpayahku
tidak sia-sia, aku berhasil menemukan kunci ilmu silat
sesungguhnya."
"Sejak mulai belajar silat hingga mencapai keberhasilan
seperti saat ini, aku membutuhkan waktu dua puluh tiga tahun
lamanya, coba bayangkan sendiri baru berapa tahun kalian
berlatih ilmu silat? Itulah sebabnya seperti apa yang
kukatakan tadi, untuk menjadi seorang jago silat yang berilmu
tinggi, tak mungkin bisa dibina dan dipupuk dalam waktu
singkat."
Tiba -tiba Yu Hong-hong bertanya, "Bolehkah aku bertanya,
bukankah nama Hwecu adalah Ko Hong?"
Jian-ciat-suseng tersenyum.
"Nama Ko Hong adalah nama samaran yang telah
kugunakan tiga tahun lalu, nama itu bukan namaku yang
sesungguhnya."
Mendengar hal ini, Hui-eng-su-kiam bersama-sama menjerit
kaget.
"O, rupanya kau adalah pendekar misterius Ko Hong yang
amat termasyhur namanya tiga tahun lalu, kami benar-benar
merasa gembira, sungguh tak disangka kami telah bertemu
pemimpin tulen yang ampuh dan benar-benar
berkemampuan."
Jian-ciat-suseng menghela napas panjang, katanya
kemudian, '"Dikarenakan berbagai alasan, tiga tahun
berselang bukan saja aku telah berganti nama menjadi Ko
Hong, bahkan telah mengubah pula wajah asliku, maka semua
orang tak mengetahui asal-usul dan nama asliku."
"Sesungguhnya nama asliku adalah Bong Thian-gak. Di
kemudian hari kalian boleh memanggil namaku ini secara
langsung."

431
Rupanya Jian-ciat-suseng ini bukan lain adalah Bong Thiangak.
Rupanya setelah meninggalkan Song Leng-hui, Bong Thiangak
langsung berangkat dari kota Lok-yang menuju ke gedung
Bu-lim Hengcu di kota Kay-hong.
Siapa tahu gedung Bu-lim Bengcu telah berubah menjadi
gedung kosong yang tak berpenghuni.
Dia pun berangkat ke kuil Keng-tim-an untuk mencari
Keng-tim Suthay, siapa tahu kuil pun dalam keadaan kosong
tak berpenghuni.
Hanya dalam tiga tahun, situasi dunia persilatan telah
mengalami perubahan besar.
Padahal cita-cita serta tujuan yang utama kemunculan
Bong Thian-gak kali ini adalah melenyapkan Put-gwa-cin-kau
dari muka bumi.
Siapa tahu gerak-gerik maupun jejak Put-gwa-cin-kau
seakan-akan punah begitu saja dari muka bumi.
Dalam putus asanya dan tiada cara lain yang bisa
diperbuat, akhirnya Bong Thian-gak mulai menantang semua
jago lihai dari berbagai partai dan perguruan untuk
merobohkan mereka satu per satu.
Hanya dalam tiga bulan saja ia telah berhasil merobohkan
ratusan jago persilatan, nama besar Jian-ciat-suseng pun
semakin membekas dalam hati para jago persilatan.
Sesungguhnya dia berbuat demikian karena terpaksa, tak
bisa disangkal lagi dia ingin memancing kemunculan rekanrekan
lamanya yang telah menyembunyikan diri agar tampil
kembali ke dalam Bu-lim.
Di samping itu, tentu saja dia ingin memancing munculnya
orang-orang Put-gwa-cin-kau.

432
Pada saat bersamaan dengan munculnya kembali Bong
Thian-gak, dalam Bu-lim dihebohkan oleh munculnya seorang
iblis perempuan yang amat lihai, Si-hun-mo-li (Iblis wanita
perenggut nyawa).
Berdasar penuturan orang, Bong Thian-gak menduga
perempuan itu adalah Jit-kaucu Thay-kun.
Oleh sebab itu di kala Bong Thian-gak mendengar kabar
bahwa Si-hun-mo-li telah muncul di ibukota, maka dia pun
segera berangkat ke kota terlarang dengan tujuan hendak
membuktikan apakah Si-hun-mo-li itu benar Thay-kun atau
bukan.
Dalam hati Bong Thian-gak, Thay-kun telah menempati
posisi yang amat penting, walau antara mereka belum pernah
mengucapkan kata cinta, namun dalam hati kecil kedua orang
itu sesungguhnya sudah bersemi setitik bunga cinta.
Cuma sayang bibit cinta itu sudah hancur dan musnah
sejak tiga tahun berselang.
Dengan kesetia-kawanan, demi peri-kemanusiaan, Bong
Thian-gak merasa wajib untuk menyelidiki mati-hidup Thaykun.
Apalagi mati hidup Thay-kun menempati pula posisi yang
maha penting dalam Bu-lim.
Bong Thian-gak berkata lagi, "Sejak kini kedudukan kalian
berempat dalam Tiong-yang-hwe menempati posisi yang amat
penting, tentu saja apabila ilmu silat yang kalian miliki tidak
lihai dan melebihi orang lain, sulit untuk menanggung tugas
berat ini."
"Oleh sebab itu aku mengambil keputusan hendak
mewariskan semacam ilmu pedang maha sakti yang bisa
dikuasai dalam waktu singkat untuk kalian berempat."
Tak terlukiskan rasa kaget dan gembiranya Hui-eng-sukiam
mendengar janji itu, pertama-tama Yu Hong-hong yang

433
menjatuhkan diri berlutut lebih dulu, katanya, "Budi kebaikan
yang Hwecu berikan tak pernah kami berempat lupakan."
Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata lagi,
"Seseorang yang berlatih ilmu silat bukanlah bertujuan untuk
mencari nama atau merobohkan orang lain, baik-buruknya
kepandaian silat pun tergantung mental dan watak seseorang,
jika orang itu berangasan atau buas dan kejam, maka
mustahil ilmu silatnya dapat mencapai kesempurnaan, dalam
hal ini kalian belum dapat memahami secara keseluruhan,
namun di kemudian hari bila ilmu silat yang kalian miliki sudah
memperoleh kemajuan pesat, sudah pasti akan kalian sadari
ucapan ini bukan omong kosong belaka."
"Ilmu pedang yang hendak kuwariskan kepada kalian
sekarang sebenarnya hanya terdiri dari satu jurus saja, namun
di balik satu jurus itu sebenarnya mengandung tiga gerakan
yang berbeda."
"Dari ketiga gerakan itu, hanya terdapat satu gerakan yang
merupakan jurus serangan, sedang dua gerakan yang lain
merupakan jurus pertahanan."
"Ilmu pedang satu jurus dengan tiga gerakan ini walaupun
cuma satu gerakan yang merupakan gerak serangan, tapi
serangan itu sangat ganas, dahsyat dan luar biasa, begitu
serangan dilepaskan, korban pasti roboh, oleh sebab itu aku
ingin berpesan kepada kalian, andaikata keadaan tidak
terpaksa, jangan sekali-kali kalian gunakan gerak serangan itu
secara sembarangan."
Serentak Hui-eng-su-kiam berkata, "Kami akan menuruti
perintah Hwecu, bila melanggar, kami bersedia menerima
hukuman."
Bong Thian-gak mendongakkan kepala dan memandang
sekejap sekeliling tempat ini, lalu berkata pula, "Sekarang mari
kita mundur ke balik hutan sebelah sana dan mulai berlatih
ilmu pedang."

434
Selesai berkata, Bong Thian-gak segera mengajak Hui-engsu-
kiam berjalan menuju ke dalam sebuah hutan kecil di
sebelah kanan jalan.
Bong Thian-gak memungut sebatang ranting kering,
kemudian pelan-pelan berkata, "Jurus pedang dinamakan Coatin-
toh (Peta barisan ular), dari namanya tentu kalian sudah
memahami, cara menggunakan jurus serangan ini adalah
sambil bertahan melancarkan serangan."
"Gerakan pertama disebut Coa-tin-in-sian (Barisan ular
mulai tampak), menghadapi jurus serangan macam apa pun,
kaki kiri mundur selangkah sambil memutar badan setengah
lingkaran, pedang bergerak dari ketiak kiri melintang ke
depan."
"Gerakan kedua disebut Siu-heng-gi-wi (Cabut badan
bergeser tempat), merupakan gerak lanjutan, kaki kanan
bergeser selangkah ke kanan, tanpa mengubah posisi pedang,
badan berganti posisi, pedang kanan pun berubah ancaman,
dengan mata pedang menusuk permukaan tanah."
"Sedangkan gerakan ketiga disebut Coa-si-ci-toh (Lidah ular
menjulur keluar), menjatuhkan badan ke arah lawan, namun
pedang yang menusuk ke arah bawah tiba-tiba meletik dan
menusuk ke arah belakang."
"Jurus Coa-tin-toh ini boleh dipergunakan secara beruntun,
boleh juga digunakan tersendiri, tapi daya pengaruh yang
dipancarkan tentu saja jauh lebih besar bila kita
menggunakannya secara beruntun."
"Satu jurus dengan tiga gerakan ini kelihatannya seperti
sederhana sekali, namun untuk memahami intisarinya kalian
harus berlatih puluhan kali, dengan begitu kalian bisa maju
setapak lebih ke depan dan melatihnya hingga mencapai
kesempurnaan, pengaruhnya akan jauh lebih besar lagi."
"Asal satu jurus dengan tiga gerakan ini sudah kalian
kuasai, sekali pun menghadapi seorang jago pedang yang

435
berilmu sangat tinggi, tidak susah untuk menusuk hulu
hatinya."
"Nah, sekarang aku akan pulang dulu ke Hong-tok-ciu-lau,
aku berdiam di kamar nomor tiga puluh enam, selesai berlatih
nanti kembalilah ke sana."
Begitu selesai berkata, Bong Thian-gak membalikkan badan
keluar dari hutan kecil itu dan kembali ke penginapan Hongtok-
ciu-lau.
0oo0
Bulan sembilan di wilayah utara, udara terasa sangat dingin
merasuk tulang.
Rembulan tertutup awan, bintang menyembunyikan diri,
malam itu sangat gelap-gulita.
Dalam kamar nomor tujuh puluh sembilan Hong-tok-ciulau,
nampak cahaya lentera masih bersinar terang, kendati
tengah malam sudah lewat.
Kamar itu ditempati dua orang berbaju putih, wajah kedua
orang itu aneh sekali, yakni berwarna hitam dan putih yang
bercampur aduk, jelek dan aneh bukan kepalang.
Perawakan tubuh mereka kurus kering dan jangkung,
matanya melotot besar dan menyinarkan sinar kebuasan.
Waktu itu kedua orang itu sedang duduk di ruang tamu,
agaknya mereka sedang menantikan seseorang.
Mendadak orang di sebelah kiri berkata, "Kentongan ketiga
sudah lewat, aneh, mengapa mereka belum juga datang?"
Orang yang di sebelah kanan menyahut dengan suara yang
menyeramkan pula, "Menurut keterangan si perantara, tengah
malam nanti dia pasti datang."
Baru selesai dia berkata, cahaya lentera berguncang keras,
lalu terendus bau harum yang menyegarkan.

436
Serentak kedua orang aneh itu mendongakkan kepala.
Kedua orang itu terperanjat dengan mata terbelalak lebar.
Rupanya di ruang tamu itu sudah berdiri seorang gadis
cantik rupawan, sepasang biji matanya yang sangat jeli dan
membetot sukma sedang mengawasi kedua orang berbaju
putih yang jelek dan aneh itu tanpa berkedip.
Tiba-tiba sekulum senyum manis menghiasi wajahnya yang
cantik hingga terlihat sepasang lesung pipinya yang indah.
Pada dasarnya dia memang berwajah cantik bak bidadari
dari kahyangan, ditambah pula dengan senyuman yang
menawan, boleh dibilang siapa pun pasti akan terpikat
olehnya.
Terutama senyumannya itu, begitu indah dan cantik
membuat sukma orang serasa mau terbang rasanya.
Kedua orang aneh berbaju putih itu seakan-akan tak berani
mempercayai apa yang terpampang di depan matanya,
mereka berpaling bersama, kemudian salah seorang di
antaranya segera menegur pelan, "Kau ... kau ... kau ...
adalah Si-hun-mo-li?"
Sesungguhnya pertanyaan orang aneh itu berlebihan,
sebab Si-hun-mo-li tidak akan sembarangan menampakkan
diri, dia memerlukan perantara untuk mencari langganannya.
Si-hun-mo-li baru akan muncul bagai sukma gentayangan
apabila si perantara sudah mengaturkan segalanya.
Kedua orang aneh berbaju putih ini merupakan bajingan
cabul yang termasyhur di kolong langit, mereka memang
gemar main perempuan, tapi setelah berjumpa dengan Sihun-
mo-li hari ini, mereka berdua ketakutan, ngeri dan jeri
menghadapi kecantikannya itu.
Menurut kabar yang tersiar di Bu-lim, barang siapa bermain
cinta dengan Si-hun-mo-li, maka sukmanya akan lenyap.

437
Berita yang tersiar itu menggidikkan siapa pun yang
mendengar.
Tapi sungguhkah itu? Atau cuma isapan jempol belaka?
Oleh karena mereka berdua belum membuktikan sendiri,
maka kedua orang ini pun belum tahu.
Si-hun-mo-li tidak menjawab pertanyaannya, sekulum
senyuman kembali menghiasi wajahnya yang cantik.
Senyuman untuk kedua kalinya ini membuat kedua orang
aneh berbaju putih itu tak dapat menggeser matanya.
Sebab pada saat itulah Si-hun-mo-li telah melepas mantel
luarnya sehingga nampak pakaian dalamnya yang tipis dan
berwarna kuning menerawangkan tubuh bagian dalamnya
yang putih mulus dan membetot sukma itu ....
Ya, gadis itu memang memiliki tubuh yang indah,
memukau hati, merangsang napsu birahi dan membuat hati
orang berdebar keras.
Orang aneh yang bersuara seperti jeritan setan itu berseru
lantang, "Loji, apakah kau sanggup bersabar? Perempuan ini
benar-benar menggairahkan, sekali pun seperti apa yang
dikabarkan orang. Semalam bercinta sukma melayang, kita
patut mencobanya, cuma apakah dia bersedia melayani kita
secara bergilir?"
Orang berbaju putih lainnya segera menyahut, "Lotoa, aku
sudah tak mampu menahan diri, selama hidup belum pernah
kujumpai wanita yang begitu cantik dan menawan hati seperti
dia."
Si-hun-mo-li tersenyum lagi, senyuman untuk ketiga
kalinya.
Menyusul kemudian pakaian tipis pun pelan-pelan terlepas
dari atas badannya.

438
Tampaknya kedua orang berbaju putih itu sudah tak
mampu menahan diri lagi, secepat kilat mereka bertindak,
"Blam", pintu ruangan sudah ditutup rapat-rapat.
Di bawah cahaya lentera, terlihatlah tubuh pfempuan yang
bugil dan indah terpapar di depan mata.
Mata kedua orang berbaju putih itu melotot memancarkan
napsu birahi, tiada hentinya mengawasi tubuh bugil Si-hunmo-
li.
Biar besok harus mati, malam ini mereka merasa wajib
mencari kepuasan.
0oo0
Keesokan harinya, di kamar nomor tujuh puluh sembilan
Hok-tok-ciu-loo telah ditemukan dua sosok mayat.
Mereka tewas dalam keadaan telanjang bulat, tertutup oleh
kain dan baju yang kotor.
Yang lebih menggemparkan masyarakat adalah kedua
orang itu bukan lain adalah Hek-liong-kang-siang-cho
(sepasang manusia jelek dari Hek-liong-kang) yang
termasyhur namanya di Bu-lim.
Kepandaian silat serta kecabulan kedua orang jelek dari
Hek-liong-kang ini sudah cukup membuat orang persilatan
pusing dan bergidik, tapi nyatanya mereka berdua ditemukan
tewas dalam keadaan menyedihkan.
Bahkan tewas di tangan Si-hun-mo-li yang cantik tapi
berhati keji.
Selama tiga bulan ini, belum pernah ada seorang lelaki pun
di Bu-lim yang lolos dalam keadaan hidup setelah bermain
cinta semalam suntuk dengan Si-hun-mo-li.
Tentu saja tiada orang tahu macam apakah Si-hun-mo-li itu
hingga memukau hati orang.

439
Di kolong langit ini sesungguhnya hanya seorang saja yang
pernah melihatnya, baik wajah maupun tubuh bagian
rahasianya sekali pun.
Tapi siapakah dia?
Orang itu tak lain adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak.
Dalam benak Bong Thian-gak, dia hanya berpendapat
bahwa Si-hun-mo-li adalah Thay-kun.
Sebab di kolong langit dewasa ini, tidak mungkin ada
perempuan kedua yang memiliki perawakan badan begitu
memukau perasaan laki-laki dan memiliki kekuatan yang
begitu besar sehingga lelaki mana pun bersedia
mengorbankan jiwanya.
Bong Thian-gak yang berada dalam kamar nomor tiga
enam Hong-tok-ciu-lau sedang duduk di ruang tamunya
dengan wajah serius, sedang di empat kursi lainnya duduklah
Hui-eng-su-kiam.
Lima orang dari Tiong-yang-hwe hanya duduk termenung
saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Tiba-tiba terdengar Bong Thian-gak menghela napas
panjang, lalu berkata, "Benar, aku ingin bertemu dengan Sihun-
mo-li, sebab tujuanku kemari adalah ingin bertemu
dengannya."
"Tentu saja kami tak berani memaksa Hwecu membatalkan
niat itu," kata Yu Hong-hong dengan sedih. "Cuma ... bila
Hwecu ingin bertemu dengannya, jangan berangkat seorang
diri."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Tak usah kuatir," katanya, "Si-hun-mo-li tak bakal
melahapku."
Sewaktu mendengar ucapan ini, merah padam wajah Yu
Hong-hong karena jengah, bibirnya yang sudah bergetar

440
hendak bicara segera diurungkan, sementara kepala pelanpelan
ditundukkan rendah-rendah.
Tio Im berkata, "Kepandaian silat maupun ketenangan
Hwecu memang melebihi siapa pun, cuma aku tidak tahu
dengan cara apakah Hwecu ingin bertemu Si-hun-mo-li?
Konon dia tidak muncul setiap saat."
Bong Thian-gak menyahut, "Ai, sesungguhnya persoalan
inilah yang membuatku kesulitan, tentu aku harus mencari
dulu si perantara."
Siau-hiang-eng The Goan-ho yang selama ini cuma
membungkam tiba-tiba menimbrung, "Menurut pendapatku
baik si perantara maupun Si-hun-mo-li, bisa jadi semuanya
berdiam pula dalam rumah penginapan ini"
"Samte, tersiar di Hong-tok-ciu-lau ini terdapat seratus
delapan buah kamar, dengan cara apa kita bisa memeriksa
semua kamar?" seru Boan-thian-eng (Burung pembalik jagad)
Bu Siau-hong.
"Sekali pun tidak bisa juga harus diperiksa, kita tak boleh
berpeluk tangan membiarkan Si-hun-mo-li mencelakai laki-laki
lain lagi, siapa tahu suatu ketika dia akan mencari kita
semua?"
"Tio Im," tiba-tiba Bong Thian-gak bertanya. "Apakah kau
sudah berhasil memperoleh daftar tamu yang menginap di
tempat ini?"
"Lapor Hwecu," jawab Gin-ho-eng Tio Im dengan hormat,
"daftar nama para tamu sudah kuperoleh, tapi sebagian besar
orang yang punya nama, mencantumkan nama palsu mereka
di buku, misalkan saja Mo Siau-pak dari Kim-liong-kiam-sanceng
serta Siangkoan-lojin, mereka tinggal di sini, namun di
daftar tidak ditemukan namanya."
"Nama asli mereka tentu saja tak akan tercantum dalam
daftar itu," Bong Thian-gak tertawa.

441
Mendengar itu, semua orang lantas tertawa saling
berpandangan penuh pengertian.
Tiba-tiba Yu Hong-hong berseru dengan manja, "Bonghwecu
...."
Karena sorot mata nona itu berkedip dan mengawasi
dirinya tanpa henti, tanpa tetasa Bong Thian-gak bertanya,
"Hong-hong, kau ada urusan apa?"
"Ada satu masalah ingin kutanyakan kepada Hwecu, tapi
apakah Hwecu mengizinkan?"
"Katakan saja terus terang, kita kan sudah orang sendiri."
"Apakah Hwecu kenal dengan ... dengannya?" tanya Yu
Hong-hong agak tergagap.
Tergetar perasaan Bong Thian-gak mendengar pertanyaan
itu, sahutnya, "Aku hanya menduga saja, tidak terlalu pasti,
itulah sebabnya aku harus melihat dengan mata kepala sendiri
sebelum memastikan."
Tanya jawab kedua orang ini mengejutkan Gin-ho-eng Tio
Im bertiga, serentak mereka berpikir, "Yang dimaksud Sumoay
sebagai dia, sudah pasti Si-hun-mo-li."
Sementara mereka masih berpikir, Yu Hong-hong telah
berkata lagi dengan merdu, "Hwecu teliti dan cermat,
kecerdikanmu melebihi siapa pun, aku percaya apa yang kau
duga tak akan meleset, bisa jadi Si-hun-mo-li benar adalah
orang yang diduga oleh Hwecu."
"Hong-hong, apa yang hendak kau ucapkan? Tak usah
ragu-ragu, katakan saja semuanya!"
Setitik air mata tampak menggenang di kelopak mata Yu
Hong-hong, katanya, "Aku kuatir setelah Hwecu bertemu
dengannya, dia akan mencelakai jiwa Hwecu."
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Andaikan Sihun-
mo-li benar-benar orang yang kuduga, dia tak akan

442
mencelakai jiwaku, bahkan siapa tahu dia enggan bertemu
denganku."
"Ai, sebenarnya aku boleh saja mengatakan siapa dia, tapi
meski sudah kusebut namanya pun belum tentu kalian kenal,
lebih baik tak usah dikatakan saja."
Kembali Yu Hong-hong bertanya, "Seandainya Si-hun-mo-li
betul-betul adalah orang yang telah diduga Hwecu, maka
apakah tindakan yang akan Hwecu lakukan?"
Bong Thian-gak mengangkat kepala dan termenung
beberapa saat, lalu gumamnya, "Semoga saja bukan dia."
"Berita yang tersiar di Bu-lim, dia dilukiskan sebagai setan
iblis, perempuan siluman, gadis cabul, tapi aku meragukan
kebenarannya. Itulah sebabnya aku harus bertemu
dengannya, aku perlu membicarakan persoalan ini dengannya,
sebab di saat kami berpisah dulu, dia adalah seorang gadis
pemurung dan mudah putus asa, besar kemungkinan dia
sudah tak bebas lagi."
Seandainya Si-hun-mo-li adalah Thay-kun, Bong Thian-gak
tahu gadis itu patut dikasihani, sebab dia tahu Cong-kaucu tak
menanti akan melepaskan dirinya begitu saja.
Bila Thay-kun masih hidup, sekali pun tubuhnya adalah
tubuh kasar miliknya, namun roh dan jiwanya sudah pasti
bukan miliknya.
Tentu saja segala sesuatunya itu baru dapat menjadi jelas
bila Bong Thian-gak telah bersua dengannya.
Untuk beberapa saat lamanya Hui-eng-su-kiam berdiri
kaget, tertegun dan kebingungan mendengar perkataan Bong
Thian-gak itu, mereka tidak tahu hubungan apakah yang
pernah terjalin antara Hwecunya ini dengan Si-hun-mo-li.
Menyaksikan kesedihan dan kemurungan yang menghiasi
wajah Bong Thian-gak, Yu Hong-hong menghela napas
panjang, katanya, "Harap Hwecu sudi memaafkan

443
kelancanganku menanyakan masalah itu hingga mengungkap
kembali kenangan pahit Hwecu di masa lampau."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Hong-hong, aku tak menyalahkan dirimu, aku hanya
berharap agar kalian berempat mempercayai diriku, Bong
Thian-gak tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan untuk
berbakti kepada Tiong-yang-hwe."
"Kami empat bersaudara sejak tiga tahun lalu membentuk
Huieng-su-kiam, selama ini kami selalu bersama, ada kesulitan
dipikul berbareng, hari ini kami telah menyerahkan diri untuk
berbakti kepada Tiong-yang-hwe, berarti mati-hidup kami
telah diserahkan pada Hwecu, sejak kini bila Hwecu ada
perintah, maka baik mendaki bukit golok maupun terjun dalam
minyak mendidih, kami empat bersaudara tak akan
menampik."
Ucapan Tio Im ini diutarakan dengan tegas dan penuh
kegagahan.
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Aku sangat bangga dapat memperoleh bantuan kalian
berempat, semoga saja Tiong-yang-hwe bisa termasyhur di
Bu-lim."
Setelah berhenti sejenak, dia menyambung lagi, "Sekarang
aku mempunyai suatu tugas yang hendak kuserahkan pada
kalian berempat, sebelum matahari terbenam hari ini, kita
berlima memisahkan diri ke lima arah melakukan pemeriksaan
seksama terhadap setiap umat persilatan yang tinggal dalam
Hong-tok-ciu-lau ini, tapi ingat! Apabila keadaan tidak
memaksa, jangan sampai bentrok secara kekerasan."
"Baik," sahut Hui-eng-su-kiam serentak.
Begitu perintah diturunkan, Hui-eng-su-kiam dan Bong
Thian-gak berlima segera berpencar ke lima penjuru untuk
mulai bertugas.

444
Bong Thian-gak menuju ke arah tengah, dia berjalan lebih
dulu menuju ke kamar nomor tujuh, dia tahu ruangan ini
ditempati oleh Thia Leng-juan.
Kamar itu yang termegah di Hong-tok-ciu-lau, satu di
antara dua belas kamar istimewa, empat penjuru dikelilingi
dinding rendah, pada arah timur dan barat dinding terdapat
dua buah kebun bunga kecil, ada gunung-gunungan, gardu
dan air mengalir.
Bong Thian-gak berdiri di luar dinding di halaman belakang
di sebelah utara.
Rumah itu tertutup rapat, tampaknya Thia Leng-juan
sedang keluar kamar.
Bong Thian-gak berdiri termenung beberapa saat,
mendadak dia melompati dinding rendah itu dan langsung
menuju ke kamar bagian belakang.
Mendadak dari belakang tubuhnya berkumandang suara
teguran dengan suara dingin seperti es, "Thia-tayhiap sedang
keluar, memasuki kamar tanpa permisi, apakah kau tak kuatir
disebut orang kurang adat?"
Suara teguran itu cukup dikenalnya, pelan-pelan Bong
Thian-gak membalik badan.
Terlihat majikan muda Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Siaupak
sedang berdiri di belakang tubuhnya.
"Mo-siaucengcu mencari aku?" tegur Bong Thian-gak
hambar.
Mo Siau-pak tertawa dingin.
"Kau telah melukai Siangkoan-lotoa, karena itu Mo Siau-pak
tak akan melepas dirimu begitu saja."
Bong Thian-gak mengangkat kepala dan memperhatikan
sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya dengan suara

445
hambar, "Di sini tiada orang, bila ingin bertarung, cabutlah
pedangmu dan lancarkan seranganmu!"
"Pedangku tak pernah disarungkan tanpa hasil, kau tidak
melolos pedangmu?"
"Sudah kukatakan, kalau ayahmu Mo Hui-thian mungkin
masih pantas bagiku untuk mempergunakan pedang, bila kau
menganggap tindakanku ini suatu penghinaan, lebih baik kau
jangan turun tangan."
Berubah hebat paras muka Kiu-liong-sin-kiam Mo Siau-pak,
bentaknya, "Baik, kalau kau enggan menggunakan senjata,
terpaksa aku akan mengalah tiga jurus, sekarang lancarkan
dulu seranganmu."
"Hanya cukup dengan satu gebrakan saja kau akan keok,
percaya tidak dengan perkataanku? Makanya aku selalu
memberi kesempatan kepada orang lain untuk melancarkan
serangan lebih dulu."
Mo Siau-pak benar-benar dibikin gusar oleh ucapan itu,
sambil tertawa dingin secepat kilat tubuhnya menerjang ke
muka.
Tatkala tubuhnya berada berhadapan dengan Bong Thiangak,
pedang naga sembilannya dilolos dengan tangan kanan.
Cahaya pedang menyambar bagaikan bianglala lewat di sisi
tubuh Bong Thian-gak.
"Cring", dentingan nyaring berkumandang memecah
keheningan. Akibat bentrokan itu, Mo Siau-pak mencelat.
Sedangkan pedang sembilan naganya rontok ke atas tanah,
meski hawa pedang masih memancar, sayang sudah
kehilangan kemampuan untuk melukai orang.
Jian-ciat-suseng benar-benar hanya menggunakan satu
jurus serangan saja dan Mo Siau-pak telah menderita
kekalahan total.

446
Bukan hanya menderita kekalahan saja, Mo Siau-pak
bahkan tak sempat mengetahui jurus serangan apakah yang
telah dipergunakan lawan untuk merontokan pedang dalam
genggamannya itu.
Dia hanya merasa pergelangan tangannya sakit sekali,
tahu-tahu pedangnya sudah rontok ke atas tanah.
Mo Siau-pak benar-benar tidak percaya dia menderita
kekalahan dalam satu gebrakan saja, tapi kenyataan sudah di
depan mata, Jian-ciat-suseng memang tidak bergeser
selangkah pun.
"Bret", pakaian bagian lengan kanan Jian-ciat-suseng
rontok secara tiba-tiba ke atas tanah dan robek menjadi dua.
Pada saat itulah terdengar Bong Thian-gak berkata,
"Kelihaian ilmu pedangmu sungguh di luar dugaanku,
andaikata lenganku ini masih utuh, niscaya lenganku ini sudah
pasti kau kutungi."
Perkataan Bong Thian-gak ini sama sekali tidak membuat
paras muka Mo Siau-pak berubah, sebab dia tahu serangan
pedangnya bukan menyerang melalui sisi sebelah kanan,
ujung lengan baju kanan lawan tersayat putus oleh karena dia
berhasil merontokkan pedangnya lebih dulu, saat tubuhnya
berputar, ujung lengan baju kanan yang berkibar tak
terkendali dan tersayat putus oleh mata pedangnya.
Beberapa patah kata Jian-ciat-suseng barusan, tidak lebih
hanya sebagai hiburan bagi seorang yang baru menderita
kekalahan.
Mendadak terdengar suara tawa bergema, dengan
perasaan kaget Bong Thian-gak dan Mo Siau-pak berpaling.
Dari balik halaman rumah pelan-pelan berjalan keluar
seorang sastrawan berbaju biru, dia bukan lain adalah
pendekar sastrawan Im-ciu Thia Leng-juan.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 3 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 3 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-3.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 3 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 3 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 3 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-3.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

Anonim mengatakan...

Cersil Beruang Salju lanjutan Sin Tiauw Thian Lam belum terbit ya.

Poskan Komentar