Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 5

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Rabu, 07 Desember 2011

"Lapor Hwecu," kata Yu Hong-hong dengan merdu, "di luar
ada orang mohon berjumpa dengan Hwecu."
Bong Thian-gak terkejut mendengar ucapan itu, tanyanya
dengan kening berkerut, "Siapakah dia?"
"Orang itu sudah berada di ruang tamu, dia telah
menunggu dua jam lamanya."
Dengan cepat Bong Thian-gak membereskan pakaiannya,
lalu membuka pintu, Yu Hong-hong sudah berdiri di luar pintu
dengan senyuman aneh menghias bibirnya.
Begitu Bong Thian-gak muncul, dia berbisik, "Hwecu,
jodohmu memang sangat baik."

593
"He, Hong-hong! Apa maksudmu?" tanya Bong Thian-gak.
Yu Hong-hong tertawa cekikikan. "Ada seorang gadis yang
datang berkunjung, katanya dia tak akan beranjak dari situ
sebelum bertemu dengan Hwecu, bayangkan sendiri,
bukankah jodoh Hwecu memang amat baik?"
"Seorang gadis? Siapakah dia?" pikir Bong Thian-gak.
"Mengapa dia bisa tahu aku berdiam di sini?"
Berpikir demikian, dengan dahi berkerut kencang Bong
Thian-gak bertanya lagi, "Dia berasal dari golongan mana?"
"Aku tidak kenal, dia pun tidak mau menerangkan asal-usul
perguruannya, tapi wajahnya cantik, potongannya tinggi
semampai, pinggangnya langsing lagi."
Mengikut di belakang Yu Hong-hong, Bong Thian-gak
menuju ke ruang tamu, dari kejauhan dia sudah melihat
seorang gadis tinggi semampai berambut panjang sedang
berdiri di depan jendela, ketika mendengar suatu langkah
mendekat, ia segera berpaling.
Bong Thian-gak baru benar-benar tertegun sesudah melihat
jelas paras muka gadis itu, sebab wajah itu sangat asing
baginya dan belum pernah berjumpa sebelumnya.
Gadis cantik itu segera menjura dalam-dalam begitu
bertemu pemuda itu, lalu dengan senyum di kulum katanya,
"Bong-hwecu, rupanya kedatanganku mengganggu?"
"Ah, mana ... mana ...." sahut Bong Thian-gak tersenyum,
"silakan duduk, silakan duduk!"
Sementara mulutnya menjawab, dalam hati kembali dia
berpikir, "Heran, siapa orang ini?"
Sesudah menempati kursinya, gadis cantik itu baru
menundukkan kepala dan berkata agak tersipu-sipu, "Adapun
kedatanganku pada hari ini adalah ingin menyampaikan rasa

594
terima kasihku atas pertolongan yang telah Hwecu berikan
semalam."
"Oh, rupanya kau adalah Pat-hubuncu Hiat-kiam-bun,"
Bong Thian-gak berseru tertahan sesudah mendengar
perkataan itu.
Memang benar gadis ini tak lain adalah Pat-hubuncu yang
lelah diselamatkan Bong Thian-gak tadi malam.
Sesudah berhenti sejenak, sambil tertawa Bong Thian-gak
berkala, "Pat-hubuncu, darimana kau bisa tahu bahwa aku
berdiam di sini?"
"Harap Hwecu sudi memaafkan, sesungguhnya telah
kukuntit Hwecu secara diam-diam semalam?" sahut Pathubuncu
agak tersipu.
Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Pathubuncu
memang betul-betul cerdas, aku orang she Bong
sungguh merasa amat kagum."
Kemudian sambil menunjuk ke arah Yu Hong-hong yang
berdiri di sampingnya, ia memperkenalkan, "Dia adalah
Hiangcu perkumpulan kami, Hwe-im-eng Yu Hong-hong!"
Buru-buru Yu Hong-hong memberi hormat kepada Pathubuncu
sambil menyapa, "Pat-hubuncu, baik-baikkah kau?"
Setelah berhenti sejenak, tanyanya lagi sambil tersenyum,
"Pat-hubuncu, kunjunganmu sepagi ini tentu bukan khusus
menyampaikan rasa terima kasihmu kepada Hwecu kami atas
pertolongannya bukan?"
"Ucapan Yu-hiangcu memang benar," Pat-hubuncu
manggut-manggut, "kedatanganku ini, di samping hendak
menyampaikan rasa terima kasihku atas pertolongan Hwecu,
juga kami mendapat perintah untuk mengundang Hwecu agar
bersedia mengunjungi perkumpulan kami guna suatu
perbincangan."

595
"Pat-hubuncu, bila kau ada persoalan, katakan saja terus
terang," ucap Yu Hong-hong dingin.
Pat-hubuncu segera menunjukkan sikap serba susah,
katanya kemudian, "Aku hanya mendapat perintah untuk
mengundang Bong-hwecu saja."
"Apakah Ji-hubuncu partai kalian yang menyuruh kau
datang kemari?" tukas Bong Thian-gak.
Pat-hubuncu menggeleng. "Bukan Ji-hubuncu, tapi Conghubuncu."
"Oh, jadi Cong-hubuncu pun sudah tiba di Hopak?" Bong
Thian-gak keheranan.
"Benar," Pat-hubuncu manggut-manggut, "dia orang tua
memang telah tiba di Hopak."
"Ada urusan apa Cong-hubuncu mencariku?"
"Entahlah, soal ini aku sendiri pun tak tahu."
"Sekarang dia ada dimana?"
"Aku akan mengajak Bong-hwecu menghadapnya."
"Baiklah," Bong Thian-gak mengangguk, "harap Pathubuncu
suka menjadi petunjuk jalan."
Tiba-tiba Yu Hong-hong menimbrung, "Pat-hubuncu, aku
rasa sebaiknya Cong-hubuncu kalian yang datang ke Hongkong-
si!"
"Sesungguhnya Cong-hubuncu kami mempunyai kesulitan
yang tak bisa diungkapkan, mustahil baginya menempuh
perjalanan jauh," kata Pat-hubuncu serba susah.
Kontan saja Yu Hong-hong tertawa dingin, "Jadi kau
anggap
Hwecu kami bisa menempuh perjalanan jauh semaunya?"

596
"Hong-hong," tiba-tiba Bong Thian-gak menyela, "kau tak
usah kuatir, aku akan menjumpai Cong-hubuncu Hiat-kiambun
itu."
Yu Hong-hong mengangkat kepala dan memandang
sekejap ke arah Bong Thian-gak, lalu katanya, "Bong-hwecu,
pihak Hiat-kiam-bun pernah mempergunakan siasat yang
amat licik hendak mencelakai Hwecu, menurut pendapatku
bisa jadi mereka berniat jelek terhadapmu, apalagi mereka
hanya mengundang Hwecu seorang."
"Hong-hong, kau tak usah kuatir," kata Bong Thian-gak
sambil menggeleng kepala berulang kali, "kau pun boleh ikut
bersamaku."
Pat-hubuncu berkerut kening mendengar perkataan itu,
cepat dia menyela, "Bong-siangkong, Ji-hubuncu telah
berpesan, mereka hanya mengharapkan kehadiran Bongsiangkong
seorang diri."
"Nah, sekarang ketahuan sudah belangnya, bukankah
kalian memang berniat jahat terhadap Hwecu kami?" dengus
Yu Hong-hong dingin.
Agaknya Pat-hubuncu mengerti bahwa hal itu tak mungkin
bisa dipaksakan lagi, maka akhirnya ia menghela napas
panjang, "Ai, kalau begitu baiklah, silakan nona ikut bersama
kami."
Sebagaimana diketahui, Bong Thian-gak sudah mengetahui
jelas asal-usul perguruan Hiat-kiam-bun, dia pun tahu
kedatangan Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun untuk
menjumpainya tanpa disertai niat jahat.
Dalam pada itu Pat-hubuncu telah bangkit dan berkata lagi,
"Siangkong, bila kau tak ada urusan lagi, mari kita segera
berangkat!"
"Silakan Pat-hubuncu!" Bong Thian-gak manggut-manggut.

597
Dengan langkah perlahan Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu
bersama Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong meninggalkan
kuil Hong-kong-si, sepanjang jalan mereka bergerak tanpa
berbicara, arah yang dituju mula-mula adalah kota terlarang,
tapi di tengah jalan tiba-tiba Siau Gwat-ciu berbelok ke arah
tenggara.
"Hei, bukankah kita akan pergi ke kota terlarang?" Yu
Hong-hong segera menegur.
Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu tersenyum.
"Jejak Cong-hubuncu perguruan kami tak menentu,
setibanya di wilayah Hopak, masa dia akan berdiam dalam
rumah penginapan yang begitu gaduh dan bising?"
"Lantas dia berdiam dimana?" tanya Yu Hong-hong dengan
kening berkerut.
"Sebentar kau bakal mengetahui."
Yu Hong-hong memang sama sekali tidak mengetahui asalusul
Hiat-kiam-bun, hal itu semakin menimbulkan kecurigaan
dalam hatinya, segera ia berbisik kepada Bong Thian-gak,
"Hwecu, apakah kita harus mengikutinya?"
"Hong-hong, bukankah kita sudah sampai di sini?" sahut
Bong Thian-gak sambil tersenyum, "kalau tidak mengikutinya,
kita harus ikut siapa?"
"Tapi... Hwecu, aku sangat kuatir."
"Hong-hong, baiklah kuberitahukan satu hal kepadamu,"
tukas Bong Thian-gak, "ketahuilah, Cong-hubuncu Hiat-kiambun
sekarang bisa jadi adalah sahabat karibku di masa
lampau, oleh sebab itulah aku perlu menjumpainya."
"Seandainya Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun bukan sahabat
seperti yang kau duga lantas bagaimana?" tanya Yu Honghong.

598
Tiba-tiba Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu berpaling dan ikut
berbicara, "Perkataan Bong Thian-gak rasanya sudah
menghilangkan kecurigaan yang semula mencekam Siauli,
betul tampaknya Cong-hubuncu kami memang kenal
denganmu."
Kembali Bong Thian-gak tersenyum.
"Aku hanya berbicara menurut dugaanku saja, bisa juga
Cong-hubuncu kalian bukan orang yang kuduga."
Paras muka Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu segera berubah
sesudah mendengar itu, mendadak ia menghentikan langkah
seraya berpaling dan berkata, "Siangkong telah menanam budi
pertolongan kepadaku, tak nanti Siauli membiarkan Siangkong
mendapat ancaman bahaya sekecil apa pun."
"Apa maksud Pat-hubuncu?"
"Andaikata Siangkong adalah sahabat karib Cong-hubuncu
kami, maka perjalanan ini jelas tak ada bahaya apa pun, tapi
seandainya Cong-hubuncu kami bukan orang yang Siangkong
duga, maka bisa jadi Siangkong bakal dicelakai olehnya."
"Mengapa hal ini tidak kau jelaskan sedari tadi?" bentak Yu
Hong-hong dengan wajah berubah.
Siau Gwat-ciu menghela napas sedih, "Ai, aku telah
mengkhianati Hiat-kiam-bun ... sekali pun kuungkap rahasia
itu pada saat ini, rasanya itu pun belum kelewat terlambat,
coba Siangkong pikir kembali dengan seksama, apakah kita
perlu meneruskan perjalanan ini?"
"Pat-hubuncu tak perlu kuatir," Bong Thian-gak tersenyum
manis, "sebelum kuambil keputusan untuk datang kemari,
segala sesuatunya telah kupertimbangkan masak-masak,
andaikata Cong-hubuncu kalian bukan orang yang kuduga,
bisa jadi dia akan berusaha membunuhku sepenuh tenaga
serta berusaha melenyapkan seorang musuh tangguh dari
muka bumi ini."

599
"Lantas Siangkong tetap bertekad akan berangkat ke sana
juga?" tanya Siau Gwat-ciu tertegun.
"Tentu aku harus ke sana," Bong Thian-gak manggutmanggut.
"Bong-hwecu, kita hanya berdua," ujar Yu Hong-hong,
"apakah kita harus menelan kerugian? Menurut pendapatku,
lebih baik kita
"Hong-hong," tukas Bong Thian-gak lantang, "bila Tiongyang-
hwe kita ingin muncul di Bu-lim, kita wajib
menyingkirkan segenap partai atau pun aliran yang memusuhi
kita, cepat atau lambat Hiat-kiam-bun pasti akan bertemu
Tiong-yang-hwe, andaikata Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun
memang bukan orang yang kuduga, maka aku memutuskan
untuk melenyapkan organisasi ini terlebih dulu."
Paras muka Pat-hubuncu Siau Gwat-ciu segera berubah,
serunya cepat, "Jago-jago dalam Hiat-kiam-bun kami sangat
banyak, terutama Cong-hubuncu kami, boleh dibilang
kepandaian silatnya lihai sekali. Kendati Siangkong tangguh
dan hebat, namun kekuatannya sangat sedikit."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Aku merasa berterima kasih sekali atas maksud baik Pathubuncu
yang telah memberi petunjuk dengan bersungguh
hati, Tiong-yang-hwe baru beberapa hari didirikan, kami
memang tidak memiliki banyak anggota, tapi setiap anggota
perkumpulan kami rata-rata memiliki daya tempur kuat dan
tangguh serta semangat juang yang sangat tinggi."
Mendengar perkataan itu, diam-diam Siau Gwat-ciu
mengagumi keberanian Bong Thian-gak, meski demikian ia
masih tetap menaruh perasaan kuatir atas perjalanannya kali
ini, kembali ia berkata, "Siauli sudah pernah melihat sampai
dimana taraf kepandaian silat Siangkong, kau memang boleh
disebut jagoan kelas satu dalam Bu-lim, cuma

600
Bong Thian-gak tak membiarkan perempuan itu
melanjutkan kata-katanya, sesudah tertawa dia berkata, "Mari
kita lanjutkan perjalanan."
Yu Hong-hong cukup mengetahui watak Bong Thian-gak,
setiap persoalan yang telah ditetapkan atau diputuskan,
bagaimana pun juga tidak akan pernah diubah, oleh sebab itu
dia pun tidak berusaha untuk membujuk, meski di hati ia tetap
merasa tidak tenteram.
Sementara itu Siau Gwat-ciu telah melanjutkan perjalanan
tanpa bicara, mereka bertiga berjalan lebih kurang setengah
jam lamanya sebelum di depan sana muncul sebuah hutan
yang mengelilingi sebuah bayangan air beriak.
Yu Hong-hong mengangkat kepala dan memperhatikan
sekejap keadaan di depan sana, kemudian bisiknya, "Di depan
sana adalah telaga Kun-beng-oh!"
"Ya, Cong-hubuncu kami tinggal di dalam sebuah kuil kecil
di tepi telaga itu," Siau Gwat-ciu menyambung.
Selama pembicaraan berlangsung, mereka bertiga telah
berjalan ke tengah hutan, di depan sana tampak sebuah kuil
kecil.
Suasana di tempat itu amat sepi, hening, tak nampak
sesosok bayangan pun, beberapa li di seputar tepi telaga pun
tak nampak rumah lain selain kuil itu, tempat itu benar-benar
sebuah tempat yang tenang, tersendiri dan berpemandangan
alam sangat indah.
Ketika mereka bertiga tiba di depan pintu, tiba-tiba Siau
Gwat-ciu berbisik kepada Bong Thian-gak, "Harap Siangkong
menanti sebentar, biar Siauli masuk dulu untuk memberi
laporan."
"Silakan!" sahutnya Bong Thian-gak manggut-manggut.
Dengan langkah ringan dan cepat, Pat-hubuncu Siau Gwatciu
segera masuk ke dalam kuil.

601
Sepeninggal Siau Gwat-ciu, Bong Thian-gak segera
berpaling dan ujarnya pada Yu Hong-hong, "Hong-hong, saat
bertemu Cong-hubuncu nanti, kuminta kau tetap tenang dan
jangan membuat keonaran secara gegabah."
"Aku akan turut perintah," gadis itu manggut-manggut.
Meski sudah menyahut, tapi nada suaranya tidak gembira.
Baru saja Bong Thian-gak hendak menjelaskan, tampak
Siau Gwat-ciu telah muncul, nona itu berseru, "Siangkong,
silakan masuk!"
Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong bersama-sama masuk
ke dalam halaman kuil Nikoh yang berpintu empat.
Semua halaman dan ruangan nampak bersih, tiada setitik
debu atau pun daun kering yang berceceran di sana, agaknya
memang sering dibersihkan orang, hanya anehnya, tak
nampak sesosok bayangan pun yang berlalu-lalang di sana.
Pintu ruang pertama terbuka lebar, waktu itu dari dalam
ruangan tampak muncul tiga orang, yang berada di tengah
adalah seorang rahib setengah umur berwajah kereng dan
berwibawa, berkulit putih, bersih dan matanya saleh penuh
welas kasih, memancarkan cahaya tajam.
Di samping kanan rahib setengah umur itu berdiri seorang
Nikoh tua kurus kering dan berwajah amat jelek.
Sedang di sebelah kirinya seorang gadis berambut panjang
yang berwajah terlebih jelek daripada rahib tua itu.
Dengan sorot mata Bong Thian-gak yang tajam, dalam
waktu singkat ia telah melihat jelas paras muka ketiga orang
itu, wajahnya tetap tenang dan sama sekali tiada luapan
emosi, sementara dalam hati ia berpikir, "Ah! Ternyata dia
memang Keng-tim Suthay Nyo Li-beng ... sebaiknya tidak
kukenali mereka dulu untuk sementara waktu."

602
Dalam pada itu Cong-hubuncu Hiat-kiam-bun sekalian
bertiga, dengan sorot matanya yang tajam sedang mengawasi
pula wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip, akhirnya paras
muka Keng-tim Suthay Nyo Li-beng memperlihatkan
perubahan serius bercampur bingung.
Siau Gwat-ciu dan Yu Hong-hong yang berada di samping
dapat melihat pula gerak-gerik dan perubahan wajah orang
secara jelas. Perasaan Yu Hong-hong berat sekali, sebab dia
tahu Bong Thian-gak bukanlah orang yang dicari Conghubuncu,
berarti Bong Thian-gak serta Yu Hong-hong akan
sulit lepas dari pembantaian.
Sementara semua orang masih termenung, tiba-tiba Bong
Thian-gak tertawa ringan, suara tawanya segera menyadarkan
semua orang dari lamunan.
Sembari berkata, ia lantas menjura ke arah Keng-tim
Suthay Nyo Li-beng, "Aku Bong Thian-gak merasa bangga
mendapat undangan Cong-hubuncu."
Seperti baru sadar dari lamunan, Keng-tim Suthay
manggut-manggut seraya tertawa, "Tak usah banyak adat,
silakan Siangkong masuk ke dalam untuk minum teh."
Bong Thian-gak dan Yu Hong-hong jalan bersanding,
masuk ke ruang dalam, tempat itu merupakan ruang tamu
yang luas, di bagian tengah ada beberapa kursi, sementara
empat orang gadis berbaju merah berambut panjang siap
melayani mereka di samping.
Dengan sorot mata tajam Yu Hong-hong mengawasi
sekejap setiap orang yang hadir di sini dengan seksama, yang
membuat hatinya agak lega adalah orang-orang itu ternyata
tak membawa senjata, penampilan mereka pun tidak
menunjukkan sesuatu gejala yang mencurigakan.
Dengan wajah serius Keng-tim Suthay Nyo Li-beng
menempati kursinya, sementara empat gadis berbaju merah

603
yang semula berdiri di samping menuangkan secawan air teh
bagi Bong Thian-gak berdua.
Setelah suasana hening beberapa saat, barulah Keng-tim
Suthay berkata, "Belakangan ini saudara telah menggetarkan
dunia persilatan, nama besar Jian-ciat-suseng ibarat guntur
yang memekakkan telinga, beruntung Pinni bisa bertemu
denganmu hari ini."
Bong Thian-gak tersenyum, "Kau kelewat sungkan, selama
Suthay memimpin Hiat-kiam-bun, justru kaulah ibarat naga
sakti yang nampak kepala tak kelihatan ekor, aku yang
merasa sangat beruntung karena hari ini bisa melihat raut
wajah aslimu!"
Keng-tim Suthay tertawa, "Aku rasa Pat-hubuncu
perguruan kami tentu sudah menyampaikan maksud Pinni
mengundangmu bukan!"
"Pat-hubuncu hanya menyampaikan undangan Suthay saja,
soal lain sama sekali tidak disinggungnya, karena itu aku
mohon petunjuk darimu," Bong Thian-gak tersenyum.
Dalam pada itu Siau Gwat-ciu telah berdiri di samping
bersama keempat gadis berbaju merah lainnya, ia berdiri
dengan wajah serius dan dahi bekernyit.
"Ada satu hal ingin Pinni tanyakan," kata Keng-tim Suthay
Nyo Li-beng, "dalam perjumpaan kita pertama kali tadi
bagaimana mungkin kau bisa mengetahui Pinni adalah Conghubuncu
Hiat-kiam-bun."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Seorang pemimpin selamanya mempunyai kewibawaan
sebagai pemimpin, hal itu tidak sulit untuk diketahui."
Tiba-tiba Keng-tim Suthay menghela napas panjang.
"Ai, sebenarnya maksud Pinni mengundangmu tak lain
adalah ingin melihat raut wajah aslimu."

604
"Hanya soal itu?"
"Pinni ingin tahu, apakah Jian-ciat-suseng yang namanya
telah menggetarkan seluruh kolong langit ini memang seorang
yang pernah kukenal dulu."
"Setelah bertemu, bagaimanakah pendapat Suthay?" Bong
Thian-gak bertanya.
Keng-tim Suthay menggeleng kepala, "Rasanya seperti
pernah kenal tapi seperti juga tidak kenal."
"Siapa orang yang Suthay maksudkan?"
"Dia she Ko bernama Hong."
Ketika mendengar nama itu, hati Yu Hong-hong bergetar
keras, hampir saja ia berseru tertahan.
Sepasang mata Keng-tim Suthay memang benar-benar
amat tajam, ia segera mengalihkan sorot matanya ke wajah
Yu Hong-hong, kemudian tanyanya, "Lisicu kenal dengannya?"
"Nama besar Ko Hong Tayhiap sudah menggetarkan
seluruh dunia persilatan pada tiga tahun berselang, sayang
aku hanya pernah mendengar namanya tapi belum pernah
bertemu orangnya," sahut Yu Hong-hong cepat.
"Lapor Suthay," Bong Thian-gak menyambung, "aku kenal
dengan manusia yang bernama Ko Hong itu."
Sekilas rasa gembira menghiasi wajah Keng-tim Suthay,
tanyanya dengan wajah berseri, "Sekarang dia berada
dimana? Bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"
Bong Thian-gak termenung sejenak, lalu jawabnya, "Bila
Suthay ingin kukatakan jejak Ko Hong, sebenarnya hal itu
tidak sulit, tapi pertama-tama ingin kuketahui dulu ada urusan
apa Suthay mencarinya?"
Keng-tim Suthay menghela napas panjang.

605
"Ai, bukankah kau sudah tahu, hingga sekarang perguruan
kami masih belum mempunyai ketua?"
"Ya, aku memang mengetahui hal ini," pemuda
mengangguk.
Sekali lagi Keng-tim Suthay menghela napas, "Sebetulnya
Hiat-kiam-bun mempunyai seorang ketua, tapi nasib ketua
kami ini belum diketahui, sebab itu jabatan itu selalu kami
kosongkan hingga sekarang."
"Bukankah ketua perguruan kalian adalah Si-hun-mo-li?"
tanya Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Keng-tim Suthay mengangguk, "Kemarin malam kau sudah
menyelamatkan jiwa Pat-hubuncu, maka kau pun seharusnya
tahu Si-hun-mo-li, ya, betul! Dia adalah ketua Hiat-kiam-bun
kami, cuma alasan di balik semua ini tak mungkin bisa aku
jelaskan kepadamu."
"Aku mengetahui jelas asal-usul Si-hun-mo-li itu," pelanpelan
Bong Thian-gak, berkata.
Keng-tim Suthay terkejut sekali.
"Kau mengetahui asal-usul Si-hun-mo-li dengan jelas?"
"Ya, bukankah dia adalah Jit-kaucu Put-gwa-cin-kau?"
Dengan nada tidak percaya Keng-tim Suthay bertanya lagi,
"Kalau begitu kau pun tahu dia adalah ketua Hiat-kiam-bun?"
"Oleh karena dia adalah pendiri Hiat-kiam-bun, maka kalian
mengangkatnya sebagai ketua, bukankah begitu?"
"Betul, Si-hun-mo-li adalah pendiri Hiat-kiam-bun, darimana
kau bisa tahu persoalan ini sedemikian jelasnya?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Semua ini aku tahu dari Ko Hong."

606
"Ehm, memang masuk akal, kalau begitu kau memang
benar-benar kenal Ko Hong Tayhiap." Bong Thian-gak
tertawa.
"Suthay, kau belum menjelaskan kepadaku ada urusan apa
kau mencari Ko Hong?"
"Ai ... Pinni mencari Ko Hong Tayhiap karena aku ingin
dialah yang memangku jabatan sebagai ketua Hiat-kiam-bun,"
ucap Keng-tim Suthay setelah menghela napas panjang.
Bergetar perasaan Bong Thian-gak mendengar itu, ujarnya,
"Ketua Hiat-kiam-bun adalah Si-hun-mo-li, mengapa Suthay
mencari Ko Hong untuk diangkat sebagai ketua?"
Untuk kesekian kali Keng-tim Suthay menghela napas
panjang, "Padahal ketua Hiat-kiam-bun yang sebenarnya
adalah Ko Hong, di saat Si-hun-mo-li mendirikan Hiat-kiambun
tempo hari, dia telah menunjuk Ko Hong sebagai ketua
Hiat-kiam-bun."
Bong Thian-gak segera merasakan darah yang mengalir
dalam tubuhnya mendidih, peristiwa yang terjadi pada tiga
tahun berselang pun satu demi satu melintas dalam benaknya.
Ketika ia berhasil menguasai kembali perasaannya, dengan
sedih ia berkata, "Sekarang aku ingin menceritakan sebuah
kisah kepadamu, ini terjadi pada tiga tahun berselang di
sebuah dusun petani di luar kota Kay-hong, dusun petani itu
merupakan kantor cabang Put-gwa-cin-kau untuk kota Kayhong.
Pada saat itu segenap jago lihai Put-gwa-cin-kau telah
terhimpun, konon mereka hendak menyerang perkampungan
Bu-lim Bengcu, padahal bukan gedung Bu-lim Bengcu yang
akan diserang, yang menjadi sasaran utama mereka waktu itu
adalah seorang pengkhianat perkumpulan yakni Jit-kaucu
Thay-kun ....
"Rupanya pentolan barisan pengawal tanpa tanding nomor
dua berhasil mendapat kabar bahwa Jit-kaucu Thay-kun masih
mempunyai hubungan dengan komandan pasukan pengawal

607
tanpa tanding nomor tiga Nyo Li-beng, bahkan secara diamdiam
sedang membentuk organisasi Hiat-kiam-bun yang cara
kerjanya menentang Put-gwa-cin-kau, itulah sebabnya Thaykun
menjadi sasaran pembunuhan.
"Cong-kaucu segera mengutus Ji-kaucu dan sekalian jago
lihai untuk bersiap di dusun petani itu guna menghabisi nyawa
Thay-kun."
Sampai di sini, Bong Thian-gak memandang sekejap ke
arah Keng-tim Suthay, setelah itu sambungnya, "Aku yakin
Suthay juga mengetahui peristiwa ini bukan? Sebab ketika itu
Suthay pernah memberi petunjuk kepada Ko Hong agar
berangkat ke dusun petani itu."
"Ya, cepat kau lanjutkan ceritamu!" seru Keng-tim Suthay
dengan perasaan sedih gembira bercampur aduk.
Setelah menghembuskan napas panjang, Bong Thian-gak
berkata lebih jauh, "Ko Hong serta Jit-kaucu Thay-kun tak bisa
menghindar dari pertarungan darah melawan kawanan iblis
Put-gwa-cin-kau ... dengan dikerubut musuh yang berjumlah
banyak, Thay-kun serta Ko Hong terluka, terutama sesudah
terkena racun Ji-kaucu, tapi mereka masih tetap bertarung
mati-matian untuk meloloskan diri dari kepungan.
"Thay-kun dan Ko Hong dengan membawa luka segera
kabur ke Lok-yang dengan maksud mohon pengobatan tabib
sakti Gi Jian-cau, tapi Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau serta
komandan pasukan kedua pengawal tanpa tanding telah
menunggu kedatangan mereka di kaki bukit Cui-im-hong ...
dalam pertarungan itu Ko Hong kehilangan sebuah lengannya
dan tertusuk dua puluh luka pedang di badannya.
"Dalam keadaan terluka parah, beruntung Ko Hong
mendapat pertolongan dari seorang gadis lemah sehingga
mendapatkan kembali nyawanya, tiga tahun ... ya ... tiga
tahun kemudian, Ko Hong kembali muncul dalam Bu-lim, akan
tetapi situasi dalam Bu-lim telah berubah."

608
Bicara sampai distu, Keng-tim dan sekalian anggota Hiatkiam-
bun menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, semua
orang mendengarkan penuturan Bong Thian-gak itu dengan
air mata bercucuran.
Ketika menyaksikan semua orang berlutut, dengan terkejut
Bong Thian-gak segera menegur, "Suthay, mengapa kalian?"
Dengan kesedihan luar biasa Keng-tim Suthay berkata,
"Buncu, sudah amat lama kami mencarimu! Tiga tahun
belakangan ini, setiap saat kami selalu mencari jejakmu,
ternyata Thian melindungi Hiat-kiam-bun, akhirnya kami
berhasil menemukan kembali ketua kami."
"Ayo bangun, ayo bangun semua, kalau ada urusan, mari
kita rundingkan baik-baik," seru Bong Thian-gak berulang kali.
Sambil berkata, pemuda itu segera membangunkan Kengtim
Suthay sambil berkata, "Memang benar, akulah Ko Hong,
tapi Ko Hong bukan nama asliku, wajah yang kalian jumpai
sebagai Ko Hong dahulu pun bukan wajah asliku."
Ketika Keng-tim Suthay dan semua orang sudah duduk
kembali, si gadis jelek baru berseru merdu, "Ketua, kau benarbenar
telah menipu kami habis-habisan, kita sudah berjumpa
beberapa kali, namun tak pernah kusangka kau adalah ketua
Ko Hong yang sedang kami cari-cari siang dan malam, ai! Aku
merasa gembira sekali."
"Nona," kata Bong Thian-gak sambil tertawa, "andaikata
kau tidak berkerudung hitam, asal-usul Hiat-kiam-bun pasti
sudah dapat kuduga sejak semula."
Si gadis jelek tertawa cekikikan.
"Justru karena Hiat-kiam-bun belum menemukan ketuanya,
maka kami malu berjumpa orang dengan wajah asli, itulah
sebabnya kami selalu menggunakan kain kerudung hitam."

609
Bong Thian-gak menghela napas," Ai, di bawah bimbingan
ibumu, Hiat-kiam-bun sudah cukup menggetarkan dunia
persilatan, hasil yang diperoleh pun sudah bagus sekali."
"Ketua, selanjutnya segala masalah yang menyangkut Hiatkiam-
bun adalah menjadi wewenang ketua, kami semua akan
mengikuti perintah ketua," ucap Keng-tim Suthay dengan
sikap hormat.
Bong Thian-gak termenung sambil berpikir sejenak,
kemudian dia baru berkata, "Ternyata Thay-kun menunjuk aku
untuk menjabat ketua Hiat-kiam-bun, kejadian ini benar-benar
di luar dugaanku, bila tugas dan beban yang amat berat ini
harus kupikul sendiri, sesungguhnya aku akan kepayahan, ai...
kekuatan yang ada di Bu-lim sekarang tercerai-berai dan
masing-masing menempuh jalan sendiri-sendiri, kita kaum
pemegang kebenaran apabila tak dapat bersatu-padu,
memang sulit rasanya untuk menghadapi kenyataan, baiklah!
Kalau begitu akan kuterima jabatan ini."
0oo0
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak ternyata ketua Hiat-kiambun,
kejadian itu benar-benar merupakan suatu kejadian yang
tak pernah disangka sebelumnya.
Tiba-tiba Keng-tim Suthay berkata, "Cho-ji cepat ambil
keluar Pek-hiat-kiam."
"Baik!" si gadis jelek mengiakan.
Dengan cepat ia masuk ke ruang dalam, tak lama kemudian
gadis itu telah muncul kembali sambil membawa sebilah
pedang, sarung pedangnya terbuat dari batu pualam hijau,
cukup dilihat dari sarungnya saja sudah dapat diketahui benda
itu adalah sebilah pedang yang tak ternilai harganya.
Setibanya di depan Keng-tim Suthay, dengan sikap yang
sangat menghormat gadis itu menyerahkan pedang tadi
kepada ibunya.

610
Dengan memegang pedang tadi, Keng-tim Suthay berkata
kepada
Bong Thian-gak, "Pek-hiat-kiam ini merupakan tanda
kepercayaan ketua Hiat-kiam-bun, harap ketua sudi menerima
pedang ini."
Ketika Bong Thian-gak menerima Pek-hiat-kiam itu, sekali
lagi Keng-tim Suthay sekalian menjatuhkan diri berlutut seraya
berkata, "Ketua, Tecu sekalian siap menerima perintah."
Bong Thian-gak tidak mengira semua orang bakal berlutut
di hadapannya, buru-buru dia berkata, "Ayo cepat, semua
bangun, harap kalian tak usah banyak adat."
Sesudah mendengar perkataan itu, Keng-tim Suthay
sekalian baru bangkit.
Dengan suara dalam Bong Thian-gak berkata lagi, "Hari ini,
aku baru pertama kali memangku jabatan yang amat berat ini,
oleh sebab aku kurang jelas terhadap semua orang dan
persoalan yang ada di sini, maka aku perintahkan Keng-tim
Suthay agar tetap memimpin dan memberi petunjuk kepada
segenap anggota partai."
"Terima perintah," Keng-tim Suthay berkata dengan
hormat.
"Tentang jabatan dan sebutan segenap anggota untuk
sementara waktu masih tetap berlaku seperti keadaan
semula," Bong Thian-gak menambahkan.
Tiba-tiba Yu Hong-hong bertanya, "Lapor Bong-hwecu,
bagaimana selanjutnya dengan nasib saudara-saudara kita
dalam Tiong-yang-hwe?" Bong Thian-gak tersenyum.
"Jumlah anggota Tiong-yang-hwe kita baru enam orang,
kecuali aku dan Long Jit-seng, hanya Hui-eng-su-kiam kalian
berempat saja, karena itu bila kalian berempat tidak merasa
keberatan, mari kuajak kalian untuk masuk menjadi anggota
Hiat-kiam-bun saja."

611
Dengan sorot mata mengandung nada cinta, Yu Hong-hong
menyambut lirih, "Hui-eng-su-kiam sudah bertekad akan
mengikuti Bong-hwecu, biar badan hancur, biar harus naik ke
bukit golok atau terjun ke kuali minyak mendidih, kami tak
akan menampik."
"Adikku dari keluarga Yu," tiba-tiba si nona jelek tertawa
cekikikan, "sejak hari ini, kau mesti menyebut ketua kita
sebagai Bong-buncu."
"Ah, betul, Bong-buncu!" Yu Hong-hong tertawa.
Bong Thian-gak bertanya kepada Keng-tim Suthay, "Tolong
tanya Suthay, bagaimana dengan keadaan perguruan kita?
Dapatkah Suthay menerangkan secara ringkas?"
Keng-tim Suthay segera mengeluarkan sejilid kitab kecil
dari dalam sakunya, kemudian berkata, "Kitab kecil ini
mencantumkan semua nama jabatan dan kedudukan anggota
kita, silakan Buncu memeriksanya."
Setelah Bong Thian-gak menerima daftar anggota Hiatkiam-
bun itu, Keng-tim Suthay berkata lebih jauh, "Secara
garis besarnya, susunan perguruan kita terbagi dalam
sembilan wakil ketua setelah ketua sendiri, di bawah setiap
wakil ketua adalah anggota perguruan, semua anggota
berjumlah seratus delapan orang, tapi dengan kematian tiga
puluh orang akhir-akhir ini, mungkin jumlah kita tinggal tiga
puluh orang."
Bong Thian-gak menghela napas sedih.
"Ai, kemarin malam saja kita sudah kehilangan belasan
orang anggota, semoga saja selanjutnya tiada anggota Hiatkiam-
bun yang menjadi korban lagi."
Belum habis perkataan itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan
ngeri yang memilukan hati berkumandang setengah li di luar
gedung.

612
Dengan wajah berubah Keng-tim Suthay berseru, "Di luar
sana telah terjadi peristiwa, Khi Cho (si nona jelek) cepat kau
periksa!"
"Jeritan ngeri tadi suaranya tinggi melengking dan amat
menusuk pendengaran," kata Bong Thian-gak dengan suara
dalam, "jelas jeritan orang menjelang kematian."
Belum habis ia berkata, dari kejauhan sana kembali
berkumandang dua kali jeritan ngeri yang memilukan hati, dari
suaranya, jeritan-jeritan itu berasal dari kaum wanita.
"Biar Pinni pergi melihat keadaan!" buru-buru Keng-tim
Suthay berseru.
Sebelum ia bergerak, sesosok bayangan orang telah
berkelebat masuk dari luar, tahu-tahu Khi Cho sudah
melayang masuk sambil berseru dengan gelisah, "Orang-orang
Kay-pang telah menyerbu sampai di luar hutan Ang-hong-lim."
"Berapa orang yang datang?" tanya Keng-tim Suthay.
"Hanya empat orang, tapi salah seorang di antaranya
berilmu silat sangat hebat, ketika memasuki hutan Ang-honglim,
dalam waktu singkat dia telah membabat habis tujuh
orang penjaga kita yang ditempatkan di atas pohon."
Dengan wajah berubah Bong Thian-gak berseru, "Cepat
turunkan perintah, lepaskan musuh masuk kemari."
"Anggota perguruan kita sama sekali tak bermaksud
menghalangi jalan mereka," kata Khi Cho gelisah, "tapi musuh
berhati kejam dan buas, satu per satu dia telah menghabisi
anggota kita yang bersembunyi di pohon."
Mendengar perkataan ini, secepat sambaran petir Bong
Thian-gak meluncur keluar dari ruang kuil.
Keng-tim Suthay segera menyusul di belakangnya.

613
Gerakan Bong Thian-gak sangat cepat, badan bergerak
seakan-akan melayang di atas dahan pohon, dalam waktu
singkat pemuda itu sudah mencapai puluhan tombak jauhnya.
Pada saat itulah kembali terdengar jeritan ngeri yang
memilukan bergema dari depan sana.
Bong Thian-gak kembali berjumpalitan dan meluncur ke
depan, kebetulan sekali tampak segulung bayangan orang
menggelinding lewat dari tepi pohon, lalu ...."Blak", terkapar
di depannya.
Ternyata bayangan itu adalah perempuan berkerudung
merah.
Gadis itu terkapar lemas di atas tanah, sebilah pisau kecil
yang amat tipis menancap di tenggorokannya, darah masih
meleleh, tapi jiwanya sudah melayang.
Sepasang mata Bong Thian-gak segera berubah menjadi
merah berapi-api karena gusar, pelan-pelan dia bergerak ke
depan sambil melakukan pencarian.
Akhirnya sorot mata itu berhenti di depan sana, terhenti
pada sepasang kaki yang berdiri kaku di atas tanah.
Pelan-pelan pula sorot mata Bong Thian-gak beralih dari
sepasang kaki itu bergerak naik ke atas.
Di depan sana berdiri seorang berbaju hitam yang kurus
kering.
Dia berjubah panjang warna hitam, lengan baju kanannya
berkibar terhembus angin, rupanya seorang berlengan
tunggal.
Paras muka orang berlengan tunggal itu dingin kaku, sama
sekali tidak menunjukkan hawa kehidupan, namun sepasang
matanya yang bulat besar justru memancarkan sinar tajam
yang menggidikkan.

614
Sementara itu Keng-tim Suthay sudah memburu ke tempat
itu.
Pada saat bersamaan dari balik pohon di belakang orang
baju hitam berlengan tunggal itu muncul lagi tiga orang lelaki
berpakaian pengemis berwarna hitam, mereka bertiga berdiri
berjajar di belakang orang berlengan tunggal itu.
Dengan seksama Bong Thian-gak mengawasi paras muka
orang berlengan tunggal itu, katanya dalam hati, "Ah, dia! Topit-
coat-to Liu Khi!"
Pada saat itulah orang berbaju hitam berlengan tunggal itu
tertawa terkekeh-kekeh, katanya, "Cepat amat gerakan tubuh
saudara, hehehe, mungkin kau adalah Jian-ciat-suseng!"
Bong Thian-gak tertawa dingin, "Kalau begitu, kau pastilah
To-pit-coat-to Liu Khi!"
Tatkala Liu Khi mendengar Bong Thian-gak menyebut
namanya, dia kelihatan agak tertegun, tapi kemudian
sahutnya sambil tertawa, "Lihai, sungguh amat lihai, tidak
heran Han Siau-liong memujimu setinggi langit."
Dalam pada itu Khi Cho dan Yu Hong-hong serta Siau
Gwat-ciu sekalian telah tiba di sana.
Sejak Keng-tim Suthay tahu musuh adalah jago lihai nomor
dua Kay-pang, si golok sakti berlengan tunggal Liu Khi,
dengan cepat dia perintahkan kepada Khi Cho sekalian agar
mundur.
Sementara itu Bong Thian-gak telah berkata dingin,
"Menurut cerita orang persilatan, Liu Khi adalah manusia
berhati kejam dan gemar membunuh, setiap golok terbangnya
dilepas, tentu akan mematikan lawan, ternyata nama besarmu
memang bukan nama kosong."
Liu Khi tertawa seram, "Mana, mana! Semuanya ini hanya
berkat kasih sayang sobat-sobat persilatan saja."

615
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Sebenarnya aku berusaha menghindari bentrok secara
langsung dengan pihak Kay-pang, tapi anggota Kay-pang
kelewat sombong dan jumawa, oleh sebab itu terpaksa aku
menanggapi secara wajar."
Liu Khi mendengus dingin, "Hm, Liu Khi sudah membunuh
beribu-ribu orang, selama ini tak pernah kukerutkan dahi, tapi
untuk membunuhmu hari ini, aku merasa sedikit rada sayang."
Bong Thian-gak kembali tertawa dingin, "Walaupun engkau
selalu menjadi panglima yang menang perang, tapi aku
percaya hari ini kau akan menghadapi suatu cobaan yang
sangat berat."
"Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau juga pernah berkata seperti apa
yang kau katakan sekarang," kata Liu Khi.
"Tapi kau tak mampu membunuh Ji-kaucu," jengek Bong
Thian-gak.
"Dia adalah satu-satunya orang yang bisa lolos dari ujung
golokku dalam keadaan selamat."
"Tapi hari ini akan ada orang kedua."
Liu Khi menarik muka, kemudian berkata, "Kedatanganku
hari ini sedang mengemban tugas lain, pertarungan di antara
kita lebih baik ditunda sampai hari mendatang."
"Aku ingin tahu, apa tujuanmu datang ke Kun-beng-oh?"
kata Bong Thian-gak.
"Aku datang untuk mencari ketua Hiat-kiam-bun."
"Ada urusan apa kau mencarinya?"
"Akan kutanya dimanakah Long Jit-seng saat ini."
"Kau tahu siapakah ketua Hiat-kiam-bun?"

616
Liu Khi mengalihkan sorot matanya yang tajam dan
menggidikkan ke wajah Keng-tim Suthay yang berdiri di
sebelah kanan, kemudian ujarnya, "Sepanjang hidupku, aku
Liu Khi paling membanggakan daya penciuman, daya
penglihatan, serta daya pendengaran yang kumiliki, dia adalah
ketua Hiat-kiam-bun."
Bong Thian-gak tertawa seram, "Hanya bermaksud mencari
tahu persoalan orang lain saja kau telah pamer kekuatan
dengan membunuh anggota Hiat-kiam-bun, cara keji dan
busuk ini sungguh membuat orang gusar."
"Sejak tiga tahun lalu, pihak Hiat-kiam-bun sering turun
tangan keji terhadap anggota perkumpulan kami," ujar Liu Khi
dengan suara hambar, "kekejaman dan kebuasan mereka
rasanya jauh lebih busuk dari perbuatan yang dilakukan kami."
Ucapan Liu Khi itu kontan membuat paras muka Keng-tim
Suthay serta Khi Cho yang berada di sisinya berubah hebat.
Tiba-tiba Bong Thian-gak teingat akan peristiwa yang
berlangsung tiga tahun berselang, saat itu Khi Cho telah
membunuh anggota Kay-pang secara keji.
Waktu itu pihak Kay-pang telah mengirim orang melakukan
penyelidikan, atas hasil kerja tiga orang Huhoat Kay-pang,
mereka beranggapan Khi Cho merupakan orang yang paling
mencurigakan, sebab itu mereka menyusul sampai ke kuil
Keng-tim-an.
Pada saat Khi Cho melakukan pembantaian atas jago-jago
Kay-pang guna melenyapkan jejak mereka, alhasil ketiga
orang pelindung hukum Kay-pang itu turut terbunuh.
Atas persoalan ini, Bong Thian-gak boleh dibilang
mengetahui dengan amat jelas, oleh sebab itu hatinya menjadi
terperanjat mendengar Liu Khi menyinggung kembali masalah
itu, ia tidak tahu dengan cara apakah pihak Kay-pang berhasil
menyelidiki masalah itu sedemikian jelasnya.

617
Dalam pada itu Liu Khi telah mengalihkan sorot matanya
yang tajam ke wajah Bong Thian-gak, Keng-tim Suthay dan
Khi Cho secara bergantian, lalu katanya, "Kay-pang bisa
membedakan antara budi dan dendam secara jelas, belum
pernah kami melepas orang yang punya dendam dengan
kami, permusuhan antara Hiat-kiam-bun dan Kay-pang pada
hakikatnya makin lama semakin mendalam."
Bong Thian-gak tertawa dingin, katanya, "Bila Hiat-kiambun
ingin merebut nama dan kedudukan dalam Bu-lim, maka
cepat atau lambat pasti akan bermusuhan juga dengan pihak
Kay-pang."
"Kalau memang begitu, mengapa kau menuduh aku
membunuh sembilan orang anggota Hiat-kiam-bun?" tanya Liu
Khi sambil tertawa seram.
"Liu Khi," Bong Thian-gak segera menukas, "percuma kita
banyak bicara, bersiap-siaplah kau menyambut jurus
pedangku!"
Sementara itu Bong Thian-gak dengan Pek-hiat-kiam
terhunus di tangan tunggalnya, selangkah demi selangkah
bergerak maju, siap melancarkan serangan.
"Tunggu dulu!" bentak Liu Khi.
"Hm, ibarat panah yang sudah direntangkan di atas
gendewa, mau tak mau harus kulepaskan juga."
Liu Khi mundur selangkah, kemudian bentaknya, "Bila
burung bangau dan kutilang saling bertarung, nelayanlah yang
bakal beruntung, apakah kau tidak kuatir orang-orang Hiatkiam-
bun bakal merebut keuntungan dari pertarungan kita."
Bong Thian-gak tertawa dingin, "Liu Khi, kau salah besar,
akulah Hiat-kiam-buncu!"
Hati Liu Khi bergetar keras mendengar itu, mimpi pun dia
tak mengira Jian-ciat-suseng bukan lain adalah ketua Hiatkiam-
bun.

618
Tiba-tiba ia lihat sekilas cahaya pedang, seperti terbitnya
sang surya di ufuk timur, memercikkan cahaya kemerahanmerahan
yang amat menyilaukan mata.
Ternyata Bong Thian-gak telah melolos Pek-hiat-kiam
sambil melancarkan sebuah bacokan.
Sejak terjun kembali ke dalam Bu-lim, baru pertama kali ini
Bong Thian-gak melancarkan serangan lebih dulu terhadap
musuhnya.
Latihan tekun selama tiga tahun membuat ilmu pedang
Bong Thian-gak mencapai puncak kesempurnaan, serangan
pedangnya boleh dikata disertai kekuatan yang sangat
mengerikan.
Liu Khi terhitung jagoan lihai kelas satu di Bu-lim saat ini,
sudah barang tentu ia cukup tahu kelihaian serangan itu.
Diiringi jeritan kaget, tubuh Liu Khi melejit ke tengah udara.
Pada saat itulah tiga titik cahaya tajam tiba-tiba meluncur
secara beruntun ke depan.
Daya serangan ketiga titik cahaya putih itu sedemikian
cepatnya, seakan-akan melebihi cahaya pedang berwarna
merah darah itu.
Semua gerakan ini boleh dibilang tidak berselisih banyak,
kalau dibilang berselisih, maka selisih itu hanya beberapa detik
saja.
Di tengah seruan kaget, terdengar jeritan ngeri yang
menyayat hati, bayangan orang segera bergeser.
Tiga batok kepala anggota Kay-pang menggelinding ke atas
tanah, tiga sosok tubuh tanpa kepala sambil menyemburkan
darah segera roboh ke atas tanah.
Di pihak lain, Khi Cho sudah tergeletak di atas tanah. Bahu
sebelah kanan Keng-tim Suthay juga berlumuran darah,

619
dengan langkah sempoyongan ia berjalan menghampiri Khi
Cho.
Bong Thian-gak dengan pedang disilangkan di depan dada,
berdiri dengan wajah penuh gusar, sepasang matanya melotot
besar mengawasi Liu Khi yang berada di hadapannya.
Waktu itu, Liu Khi berdiri dengan wajah sedih dan kecewa,
dia hanya berdiri kaku di tempat tanpa berkutik.
Di saat Liu Khi menghindarkan diri dari serangan Bong
Thian-gak tadi, dia telah melepaskan tiga buah golok terbang
yang masing-masing menyerang Bong Thian-gak, Keng-tim
Suthay serta Khi Cho.
Nama besar Liu Khi sudah menggetarkan dunia persilatan,
ilmu sakti golok terbang boleh dibilang tak pernah meleset
dari sasaran selama ini, tapi kenyataannya pisau terbang itu
tidak memperlihatkan kelihaiannya di depan Bong Thian-gak.
Di saat Bong Thian-gak menghindarkan diri dari serangan
pisau terbang tadi, secara beruntun Pek-hiat-kiam berhasil
pula membinasakan tiga orang anak buah Liu Khi.
Dua pisau terbang Liu Khi yang lain agaknya tidak
menghasilkan apa-apa. Keng-tim Suthay hanya terkena bahu
kanannya, sedang Khi Cho roboh terkena pisau terbang.
Karena serangannya meleset dari sasaran yang dikehendaki
itulah Liu Khi merasa kecewa bercampur terkejut.
Sebaliknya Bong Thian-gak sendiri pun dibuat terperanjat
oleh kelihaian Liu Khi dalam melepaskan pisau terbang.
Dengan kepandaian silat yang begitu lihai seperti Keng-tim
Suthay, ternyata ia berhasil dipecundangi juga, peristiwa ini
benar-benar membuatnya merasa terkesiap.
Mendadak Liu Khi memperdengarkan suara tawa panjang
yang membetot sukma, menyusul tubuhnya segera melejit ke
atas dahan pohon.

620
Bentakan dan hardikan marah bergema di sana sini, para
anggota Hiat-kiam-bun yang bersembunyi di seputar sana
serentak muncul dan menghadang jalan perginya.
Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru, "Segenap anggota Hiatkiam-
bun harap mundur, biarkan musuh pergi dari sini."
Dari kejauhan sana terdengar suara Liu Khi berkumandang,
"Jian-ciat-suseng, di kemudian hari aku pasti akan minta
petunjuk ilmu pedangmu yang sangat lihai itu."
Sementara bicara, bayangan Liu Khi tahu-tahu sudah
lenyap.
Dengan cepat Bong Thian-gak menarik kembali pedangnya,
lalu berjalan ke sisi Khi Cho.
Waktu itu Khi Cho sudah tergeletak dalam pangkuan Kengtim
Suthay tanpa bergerak, sebilah pisau terbang kecil telah
menancap di tenggorokannya, darah mengucur membasahi
sekujur tubuhnya.
Para anggota Hiat-kiam-bun maupun Keng-tim Suthay
sendiri sama-sama berdiri dengan air mata bercucuran.
Bong Thian-gak maju mendekat, kemudian tanyanya,
"Bagaimana keadaan Khi Cho?"
"Jantungnya telah berhenti berdenyut, ia sudah meninggal
dunia," sahut Keng-tim Suthay pedih.
Bong Thian-gak segera memegang urat nadi tangan kiri Khi
Cho, setelah diperhatikan beberapa saat, tiba-tiba katanya,
"Dia belum tewas!"
Sembari berkata, tiba-tiba Bong Thian-gak mengayunkan
telapak tangan kanannya menghantam dada Khi Cho.
Jeritan ngeri yang menyayat hati segera berkumandang
dari mulut Khi Cho.

621
Pisau terbang kecil yang menancap di tenggorokannya itu
segera terpental keluar, menyusul tersembur darah yang amat
deras.
Cepat Bong Thian-gak berseru kembali, "Segera kau totok
jalan darah Keng dan Tiong-mehnya, cegah, jangan sampai
banyak darah mengalir keluar."
Sebenarnya Keng-tim Suthay menyangka putri
kesayangannya telah tewas, mendengar perkataan itu, jari
tangannya segera bergerak menotok dua jalan darah penting
di tubuh Khi Cho itu, darah pun segera berhenti mengalir.
"Sekarang totoklah jalan darah tidurnya, ai, seandainya
pisau terbang itu bergeser sedikit saja lebih ke atas, niscaya
nyawa Khi Cho sudah melayang, sekarang suruh orang
menggotongnya masuk untuk beristirahat."
Keng-tim Suthay menurut dan segera menotok jalan darah
tidur Khi Cho. Siau Gwat-ciu dan Yu Hong-hong segera maju
pula ke depan untuk membopong tubuh si gadis jelek.
Bong Thian-gak berpaling dan memandang sekejap bahu
kanan Keng-tim Suthay yang berdarah, pisau kecil itu masih
menancap di bahunya, maka ia berkata, "Suthay, cepat kau
balut sendiri lukamu."
Saking sedihnya atas luka yang diderita puteri
kesayangannya, Keng-tim Suthay sampai lupa pada luka yang
dideritanya, mendengar perkataan itu ia baru merasa bahunya
sakit perih.
Pada saat itulah seorang Nikoh tua datang membantu
Keng-tim Suthay mencabut pisau kecil itu, kemudian
membalut pula lukanya.
"Beruntung Buncu datang memangku jabatan pada hari
ini," kata Keng-tim Suthay sambil menghela napas sedih,
"kalau tidak, segenap anggota Hiat-kiam-bun pasti akan tewas
di ujung pisau terbang Liu Khi, ai, orang persilatan

622
mengatakan pisau terbang Liu Khi lihai sekali, setelah
menyaksikan sendiri hari ini, terbukti kelihaiannya memang
luar biasa."
Paras muka Bong Thian-gak berubah serius, katanya,
"Padahal Liu Khi tidak lebih hanya jago nomor dua dalam Kaypang."
Ia tidak melanjutkan kata-katanya, tapi Keng-tim Suthay
sudah tahu apa maksudnya.
Pelan-pelan Keng-tim Suthay berkata pula, "Tapi Liu Khi
sendiripun sudah dipecundangi Buncu."
Sekali lagi Bong Thian-gak menghela napas sedih.
"Aku melepaskan sebuah serangan, sedang Liu Khi hanya
melepas tiga pisau terbang, goloknya belum digunakan,
tenaga dalam orang ini rasanya jauh lebih tinggi daripada
siapa pun."
"Ai," Keng-tim Suthay menghela napas, "andaikata keadaan
Thay-kun bisa dipulihkan kembali, maka Hiat-kiam-bun kita
pasti dapat menghadapi perguruan atau perkumpulan mana
pun."
Tiba-tiba hati Bong Thian-gak bergetar, segera ia bertanya,
"Apa kesadaran Thay-kun dapat dipulihkan kembali?"
"Tabib sakti Gi Jian-cau pasti sanggup menyembuhkan
sakitnya itu," pelan-pelan Keng-tim Suthay berkata.
"Ya, tugas utama kita sekarang adalah menyelamatkan jiwa
Thay-kun, bagaimana menurut pendapat Suthay?"
"Asal Buncu menurunkan perintah, segenap anggota
perguruan akan berjuang sekuat tenaga."
Bong Thian-gak termenung sebentar, tiba-tiba tanyanya,
"Apakah Ang Teng-siu juga anggota Hiat-kiam-bun kita?"
Keng-tim Suthay tersenyum.

623
"Agaknya Buncu masih belum cukup memahami asal-usul
serta nama anggota Hiat-kiam-bun kita, silakan Buncu
beristirahat di dalam kuil sekalian memeriksa daftar perguruan
kita."
Bong Thian-gak tertawa geli, "Hahaha, sekarang aku sudah
jadi ketua Hiat-kiam-bun, tapi masih belum tahu anggota
perguruan kita, kejadian semacam ini kalau dipikir sungguh
menggelikan."
Sembari berkata, Bong Thian-gak dan Keng-tim Suthay
bersama-sama memasuki kuil itu.
Keng-tim Suthay mengajak Bong Thian-gak memasuki
sebuah ruangan, kemudian memerintahkan kedua gadis
berbaju merah untuk melayani keperluan pemuda itu,
sementara dia sendiri buru-buru pergi menjenguk Khi Cho.
Bong Thian-gak segera duduk, memandang sekejap kedua
gadis berbaju merah yang berdiri di samping pintu. Melihat
kedisiplinan mereka, akhirnya ia merasa tak tega, sapanya,
"Silakan kalian berdua ikut duduk, tak usah terlalu menuruti
peraturan." "Terima kasih Buncu, kami tidak berani." Bong
Thian-gak tersenyum.
"Siapakah nama kalian berdua?" kembali ia bertanya.
Pemuda ini merasa kedua gadis itu berwajah cantik,
mukanya berbentuk kwaci, putih halus dan berusia di antara
tujuh belas tahun.
Setelah termangu sejenak, sekali lagi Bong Thian-gak
berkata, "Wah, rupanya paras muka kalian berdua mirip satu
sama lain."
"Lapor Buncu," kembali gadis di sebelah kanan berkata
dengan merdu, "budak bernama Cay-hong, sedangkan adikku
bernama Cay-im, kami adalah dua bersaudara kembar."
"Oh, tak heran paras muka kalian begitu mirip, andaikata
tiada perbedaan antara yang tinggi dan pendek, aku benarTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
624
benar tak bisa membedakan mana Cay-hong dan mana Cayim.
Entah apa jabatan kalian berdua dalam Hiat-kiam-bun?"
"Kami berdua adalah anak buah Kau-hubuncu, tapi sejak
Kau-hubuncu terkena musibah, untuk sementara belum ada
jabatan."
Menyinggung soal Kau-hubuncu, Bong Thian-gak segera
teringat gadis muda yang tewas terkena tendangan pada alat
kelaminnya oleh Thia Leng-juan tempo hari, tanpa terasa ia
menghela napas panjang, "Ai, kematian Kau-hubuncu
memang harus disesali, sungguh mengenaskan sekali."
Tiba-tiba sepasang mata Cay-hong berubah menjadLmerah,
segera tanyanya, "Tolong tanya Buncu, sesungguhnya
siapakah pembunuh Kau-hubuncu?"
Bong Thian-gak malah tertegun mendengar pertanyaan itu,
segera ia berbalik bertanya, "Bukankah kalian kakak beradik
pernah berjumpa denganku ketika berada di Hong-tok-ciulau?"
"Benar," Cay-hong mengangguk.
Bong Thian-gak menghela napas panjang.
"Aku telah menjadi ketua Hiat-kiam-bun pada hari ini,
tentunya kalian merasa sedikit di luar dugaan bukan?"
Sekali lagi Cay-hong manggut-manggut, "Tentu saja sama
sekali di luar dugaan, namun kami pun merasa gembira
memiliki seorang ketua yang kepandaiannya sangat tinggi
untuk memimpin perguruan Hiat-kiam-bun."
Pelan-pelan Bong Thian-gak berkata lagi, "Aku tahu
siapakah pembunuh yang sebenarnya Kau-hubuncu, di
kemudian hari aku pasti akan memberitahukan kepada kalian,
ai! Pokoknya aku tak akan membiarkan anggota perguruan
kita berkorban dengan percuma."

625
Selesai berkata, dari dalam sakunya Bong Thian-gak
mengambil daftar anggota Hiat-kiam-bun. Saat ia membuka
lembar pertama, di tengahnya tertulis beberapa huruf.
Bong Thian-gak sangat terharu di samping berterima kasih,
dia sama sekali tidak menyangka Keng-tim Suthay telah
menyerahkan kedudukan itu sejak dulu, dari sini bisa
disimpulkan bahwa dalam tiga tahun ini Keng-tim Suthay tentu
berusaha keras untuk menemukan dirinya.
Bong Thian-gak pun membaca lebih jauh.
Nama Thay-kun juga tercantum dalam daftar anggota, dia
adalah ketua pelindung hukum Hiat-kiam-bun.
Kemudian di antara kedua belas pelindung lainnya, Bong
Thian-gak hanya mengenali dua orang, mereka adalah tabib
sakti Gi Jian-cau serta Ang Teng-siu.
Dengan kening berkerut Bong Thian-gak berpikir,
"Kumpulan tiga belas pelindung hukum Hiat-kiam-bun
mungkin merupakan kekuatan inti perguruan, hanya tidak
diketahui dimanakah rombongan itu kini?"
Belum habis ingatan itu melintas, Keng-tim Suthay serta Yu
Hong-hong dan Siau Gwat-ciu bertiga telah berjalan keluar.
Keng-tim Suthay bertanya, "Apakah Buncu telah memeriksa
daftar nama anggota?"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Ya, sudah kubaca, hanya banyak yang tidak kupahami
serta mohon petunjuk darimu."
"Silakan Buncu bertanya."
"Dari kelompok tiga belas pelindung hukum, apakah setiap
orang di antaranya dapat dihubungi?"
"Kecuali ketua pelindung hukum, asal Buncu menurunkan
perintah, setiap orang dapat dipanggil dengan segera."

626
"Sebagian besar pelindung hukum ini tersebar dimana?"
tanya Bong Thian-gak.
"Kecuali Thay-kun, sembilan orang lainnya
menyelundupkan diri dalam Put-gwa-cin-kau, seorang berada
dalam kantor cabang Kay-pang kota Lok-yang, si tabib sakti
juga berada di kota Lok-yang, masih ada seorang lagi adalah
Hongtiang kuil kami, Keng-koan Suthay."
Diam-diam Bong Thian-gak berpikir, "Yang disebut Kengkoan
Suthay mungkin si Nikoh tua itu."
Berpikir sampai di situ, maka setelah termenung beberapa
saat Bong Thian-gak kembali berkata, "Menurut pendapat
Suthay, apakah kedua belas orang pelindung hukum itu perlu
dipanggil?"
"Masalah ini silakan ketua yang mengambil keputusan."
Kembali Bong Thian-gak bertanya, "Pada halaman terakhir
daftar anggota, tercantum lima nama orang misterius, kelima
orang itu bukankah nama-nama orang yang sudah lama
tiada?"
"Betul, kelima orang itu adalah si Pukulan nomor wahid dari
kolong langit Ma Kong, Pangcu Hek-huo-pang Kwan Bu-peng,
Luihong-khek Gi Peng-san, Tui-hun-pit Cia Liang dan Thikoan-
im Han Nio-cu. Mereka adalah jago-jago lihai dunia
persilatan yang hilang secara misterius ketika sedang bertamu
dalam gedung Bu-lim Bengcu tiga tahun berselang."
"Aku benar-benar tidak mengerti," Bong Thian-gak
menggeleng kepala berulang kali, "Ma Kong berlima bukankah
sudah bertamu dalam gedung Bu-lim Bengcu di kota Kayhong?
Mengapa dalam semalam saja mereka bisa mati secara
misterius, lagi pula jenazah mereka hilang. Tapi seingatku
beberapa hari berselang, Khi Cho pernah memerintahkan
seorang jagoan aneh untuk menyerangku ketika berada dalam
Hong-tok-ciu-lau, waktu itu Khi Cho tampaknya seperti

627
memanggil nama orang itu sebagai Ma Kong, jangan-jangan
...."
Keng-tim Suthay menghela napas panjang.
"Sesungguhnya Ma Kong berlima tidak tewas."
"Jadi mereka benar-benar belum mati?" tanya Bong Thiangak
dengan terkejut.
Kembali Keng-tim Suthay menghela napas panjang.
"Untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya kejadian
ini, kita harus kembali sejenak peristiwa tiga tahun berselang.
Pada waktu itu Thay-kun mendapat perintah Cong-kaucu
untuk menghabisi kelima jago lihai dunia persilatan yang
sedang bertamu dalam gedung Bu-lim Bengcu itu, mereka
adalah Ma Kong berlima."
"Agar bisa menyelamatkan jiwa kelima orang ini, akhirnya
Thay-kun memperoleh sebuah cara, dari tempat kediaman si
tabib sakti Gi Jian-cau dia berhasil memperoleh lima butir pil
Kia-bin-wan."
"Apakah pil Kia-bin-wan (obat pura-pura tidur) itu?" tanya
Bong Thian-gak.
"Pil itu diberi nama begitu oleh Gi Jian-cau sendiri, khasiat
obat itu adalah barang siapa menelan pil itu, maka denyut
jantung serta semua kerja anggota badannya akan terhenti
sementara waktu, keadaan mereka tak ubahnya seperti
mayat, padahal orang-orang itu tidak mati secara sungguhsungguh."
"Kalau begitu, setelah Ma Kong berlima menelan Kia-binwan,
Thay-kun mengangkut tubuh mereka, kemudian keluar
dari gedung Bu-lim Bengcu?" tanya Bong Thian-gak.
Keng-tim Suthay manggut-manggut.
"Benar, tubuh Ma Kong berlima pada waktu itu dipindahkan
ke kuil Keng-tim-an."

628
"Kalau begitu Ma Kong berlima belum meninggal?" sekali
lagi Bong Thian-gak bertanya.
Kembali Keng-tim Suthay manggut-manggut.
"Tentu saja mereka belum mati, cuma keadaan mereka
saat ini menyerupai seorang yang tak bersukma dan
berpikiran lagi."
"Ai, kalau begitu keadaan mereka berlima tak jauh berbeda
seperti keadaan Thay-kun sekarang," ucap Bong Thian-gak
sambil menghela napas sedih.
"Ya, keadaan mereka memang tidak jauh berbeda,"
kembali Keng-tim Suthay mengangguk.
"Apakah Ma Kong berlima masih bisa dipulihkan
kesadarannya?" Keng-tim Suthay mengangguk pelan.
"Asal Gi Jian-cau membuatkan lagi semacam pil Hui-hunwan
(obat pembalik sukma) dan mencekokkan kepada
mereka, niscaya mereka akan memperoleh kembali
kesadarannya."
"Jika begitu Gi Jian-cau belum sempat membuat Hui-hunwan?"
"Soal ini aku kurang mengerti," Keng-tim Suthay
menggeleng, "sejak Thay-kun dicekoki pil Kia-bin-wan oleh
Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau, si tabib sakti Gi Jian-cau sudah
mulai mengumpulkan bahan obat-obatan untuk membuat pil
Hui-hun-wan guna menyelamatkan jiwa Thay-kun, sudah tiga
tahun Gi Jian-cau belum juga menyelesaikan pekerjaannya,
menurut tabib itu, dia masih kekurangan tiga macam obatobatan."
"Ai, rupanya di kolong langit benar-benar terdapat obat
semacam ini," Bong Thian-gak menghela napas panjang
selesai mendengarkan kisah itu. Demi meyelamatkan Thaykun
serta Ma Kong berlima, Gi Jian-cau harus berhasil
membuat pil Hui-hun-wan.

629
"Ai, saat ini Ma Kong berlima tak lain adalah algojo-algojo
andalan Hiat-kiam-bun, tujuan Thay-kun di masa lampau,
sebetulnya dia hendak mempergunakan kekuatan sakti
mereka untuk melawan jago lihai Put-gwa-cin-kau."
"Seandainya Hiat-kiam-bun kita sampai berbuat demikian,
aku rasa ini terlampau kejam, kelewat tidak berperikemanusian,"
ucap Bong Thian-gak sambil menggeleng kepala
berulang kali.
Keng-tim Suthay manggut-manggut, "Buncu penuh welasasih,
berjiwa besar dan berpandangan luas, hanya manusia
semacam inilah yang pantas disebut seorang pahlawan besar,
seorang pendekar sejati."
Bong Thian-gak termangu sebentar, lalu ujarnya lagi, "Bila
kita bicara menurut kekuatan serta jumlah anggota Hiat-kiambun,
rasanya sulit buat kita untuk melawan pihak Kay-pang
maupun Put-gwa-cin-kau, tapi kita pun tak boleh hendak
memperkuat kemampuan lantas kita memperalat Mo Keng
berlima Locianpwe yang sukma, pikiran serta perasaannya
telah terkendali.
"Ketika masih berada di Hong-tok-ciu-lau, aku pernah
bertarung melawan Ma Kong, menurut pendapatku, walaupun
saat ini dia garang seperti harimau dan kuat seperti raksasa,
namun berhubung akal budinya telah hilang, akibatnya gerakgeriknya
menjadi bodoh, kaku dan lucu, bila berjumpa jago
lihai atau mereka yang mempunyai senjata mustika, aku yakin
Ma Kong sekalian masih bisa dipunahkan secara mudah sekali.
"Sebaliknya bila kita bisa memulihkan kesadaran serta akal
budi Ma Kong berlima, dengan dukungan kekuatan dan pikiran
mereka, maka Hiat-kiam-bun kita akan dapat bersaing dengan
perkumpulan mana pun di daratan Tionggoan, serta
memimpin persilatan."
Keng-tim Suthay segera manggut-manggut.

630
"Pendapat Buncu memang benar, itulah sebabnya kami
selalu berharap si tabib sakti membuat pil Hui-hun-wan
secepatnya."
"Saat ini si tabib sakti berada dimana?" tanya Bong Thiangak
setelah termenung sebentar.
"Dia berada di suatu tempat rahasia dalam kota Lok-yang."
"Masih berada di kaki bukit Cui-im-hong?"
"Tidak, selama tiga tahun terakhir ini, Gi Jian-cau sudah
menjadi salah seorang buronan yang dicari pihak Put-gwa-cinkau,
mana mungkin dia bisa tinggal lagi dalam Cui-im-hongsan-
ceng?"
"Yang paling kukuatirkan adalah keselamatan jiwanya,
kalau Suthay telah membuat persiapan yang matang, aku pun
tak usah kuatir lagi."
"Dalam tiga tahun ini, demi melindungi jiwa Gi Jian-cau,
Pinni telah memerintahkan dua orang jago lihai yang telah
kehilangan akal budinya yakni Han Nio-cu serta Cia Liang
untuk melindunginya. Beberapa hari berselang, waktu kau
hendak berangkat ke Hopak, aku pun telah mengutuskan
Sam-hubuncu untuk melindunginya, jadi aku rasa tak ada
persoalan lagi."
"Bagus sekali, sekarang aku telah mengetahui secara garis
besar keadaan perguruan kita," kata Bong Thian-gak.
"Adakah petunjuk Buncu untuk pergerakan perguruan
kita?"
Bong Thian-gak tersenyum, bukan menjawab dia malah
bertanya, "Tolong tanya, ada urusan apa Suthay datang ke
Hopak?"
"Kedatangan Pinni ke Hopak kali ini, pertama, karena
kudengar laporan Khi Cho tentang gerak-gerik Jian-ciatsuseng,
dalam hati aku selalu mempunyai anggapan Jian-ciatTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
631
suseng sedikit mirip ketua Ko Hong, oleh sebab itu aku
sengaja datang ke Hopak untuk membuktikan identitas Jianciat-
suseng, ternyata Thian memang tidak menyia-nyiakan
harapanku, akhirnya Hiat-kiam-bun kami mendapatkan
ketuanya.
"Kedua, adalah untuk melihat operasi Khi Cho memantau
Si-hun-mo-li, apakah pekerjaannya sudah ada
perkembangannya atau tidak."
"Menurut pendapat Suthay, apakah pihak kita perlu turut
campur dalam operasi pencarian harta karun peninggalan raja
muda Mo-lay-cing-ong?"
Keng-tim Suthay segera menggeleng.
"Kekuatan perguruan kami sangat lemah, untuk bisa turut
dalam perebutan harta karun itu, rasanya kita harus
menemukan dulu ketua perguruan. Oleh sebab itu sebelum
bertemu Buncu, kami hanya bisa menunggu perkembangan
perebutan harta karun itu. Dan sekarang bila Buncu
mempunyai suatu pandangan, silakan saja diambil keputusan,
Tecu sekalian pasti akan turut perintah."
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Suthay memang cerdik dan cekatan, terhadap situasi
sendiri maupun keadaan musuh selalu dapat diselidiki jelas,
memang tahu diri. Tahu keadaan musuh, setiap pertarungan
baru dapat dimenangkan. Ucapan Suthay memang benar,
lebih baik perguruan kita bertindak mengikuti perkembangan
selanjutnya, perlu diketahui, tugas utama adalah membantu Gi
Jian-cau mendapatkan tiga macam obat-obatan yang masih
kurang itu hingga Hui-hun-wan dapat dibuat selekasnya."
Keng-tim Suthay tersenyum, "Thian benar-benar
melimpahkan rezeki untuk peguruan Hiat-kiam-bun, perguruan
kami benar-benar berhasil mendapatkan seorang pemimpin
yang arif bijaksana."

632
Bong Thian-gak menghela napas panjang, "Aku
berpengetahuan cetek, selanjutnya masih banyak
membutuhkan kerja sama setiap anggota perguruan untuk
bersama-sama mengangkat nama perguruan kita di mata
masyarakat. Terutama sekali Suthay, selanjutnya bilamana
ada hal-hal yang perlu dikemukakan, harap kau tak segansegan
untuk memberi petunjuk, di antara kita pun aku harap
tidak tersisa garis pemisah antara seorang ketua dengan wakil
ketua, karena sepantasnya Suthay lah yang memangku
jabatan ketua ini."
Keng-tim Suthay tersenyum, "Bong-buncu masih muda
namun gagah dan perkasa, kami tahu kemampuan serta
kecerdasan Buncu berada di atas kami dan tak mungkin
berada di bawah kami, Hiat-kiam-bun di bawah pimpinanmu
pasti akan semakin cemerlang seperti matahari yang makin
menjulang ke angkasa."
"Aku kuatir akan menyia-nyiakan harapan Suthay."
Keng-tim Suthay tersenyum, lalu mengalihkan pokok
pembicaraan ke soal lain, katanya, "Jika Buncu memang tidak
bermaksud mengambil tindakan terhadap harta karun Mo-laycing-
ong, maka anggota perguruan kita pun rasanya tak perlu
dihimpun lagi di wilayah Hopak ini."
"Aku rasa kita pun belum dapat membubarkan mereka dari
wilayah Hopak, terutama pada saat ini, perlu diketahui, Thaykun
masih berada di bawah kekuasaan Put-gwa-cin-kau, tentu
saja Suthay dan aku tak boleh bersama-sama tinggal di
tempat ini."
"Lantas apa petunjuk Buncu?"
"Suthay, silakan kau memberi perintah mewakili aku." "Ah,
hal ini mana boleh?"
"Aku belum lama menerima jabatan ketua, terhadap
organisasi serta orang yang menjadi anggota perguruan pun
belum begitu jelas, bila perintah kuberikan, tak mungkin

633
segenap kekuatan yang kita miliki bisa dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya, apalagi Suthay memang Conghubuncu
perguruan kita, siapa bilang kau tak berhak memberi
perintah?"
"Tapi sebelum memberi perintah, Pinni merasa wajib
mohon petunjuk Buncu terlebih dahulu."
Bong Thian-gak tersenyum, "Bila demikian, silakan Conghubuncu
katakan."
"Pinni harus secepatnya pulang untuk membantu Gi Jiancau
mendapatkan ketiga macam obat-obatan yang masih
kurang itu, maka Pinni rasa untuk wilayah Hopak terpaksa
mesti ditangani oleh Buncu sendiri."
"Pendapat Cong-hubuncu memang mirip dengan pikiranku,"
Bong Thian-gak manggut-manggut, "berapa banyak kekuatan
yang kau butuhkan, silakan saja dibawa."
"Khi Cho, Pat-hubuncu serta Keng-koan Suthay tetap
tinggal di sini membantu Buncu, sedang Su-hubuncu, Gohubuncu,
Liok-hubuncu dan Jit-hubuncu turut aku kembali ke
Lok-yang."
Bong Thian-gak kembali mengangguk.
"Tugas utama perguruan kita saat ini memang melindungi
si tabib sakti, agar secepatnya membuat pil Hui-hun-wan yang
sangat penting artinya buat kita. Bilamana Cong-hubuncu
menjumpai hal-hal gawat selama di Lok-yang, harap
selekasnya kau mengirim berita padaku."
"Bila Buncu tiada persoalan lain, Pinni ingin berangkat ke
Lok-yang sekarang juga."
"Baik, silakan Suthay segera berangkat."
Keng-tim Suthay siap beranjak, mendadak dia membalik
badan, lalu dari sakunya mengeluarkan sepucuk surat,
katanya, "Lapor ketua, dalam surat ini tercantum ketiga

634
macam bahan obat-obatan yang harus kita peroleh
secepatnya, andaikata terjadi sesuatu peristiwa di luar
dugaan, harap masalah pembuatan pil Hui-hun-wan
dilanjutkan oleh Buncu."
Mendengar perkataan itu, hati Bong Thian-gak bergetar,
seolah-olah dia mendapat firasat jelek, tapi surat itu
diterimanya juga.
"Suthay, andaikata di tempatmu terjadi hal-hal yang di luar
dugaan, harap kau selekasnya mengadakan hubungan dengan
kami," pesannya lagi dengan suara dalam.
Agaknya Keng-tim Suthay dapat memahami perasaan Bong
Thiangak, maka ia hanya tersenyum.
"Hui-hun-wan merupakan benda yang amat penting artinya
bagi Hiat-kiam-bun kita, oleh sebab itu semua masalah telah
Pinni atur sedemikian rupa hingga terlihat rapi dan tertata
secara baik, harap Buncu tak usah kuatir, nah, Pinni mohon
diri lebih dahulu."
Maka berangkatlah Keng-tim Suthay dengan membawa
empat orang Hubuncu serta puluhan anggota Hiat-kiam-bun
kembali ke kota Lok-yang.
0oo0
Dalam waktu singkat, kuil Keng-koan sudah berubah
menjadi pusat komando perguruan Hiat-kiam-bun, sekali pun
kekuatan Hiat-kiam-bun untuk wilayah Hopak tidak terlalu
besar, tapi di bawah pimpinan Bong Thian-gak, kuil Keng-koan
telah diubahnya bagaikan sebuah sarang naga gua harimau.
Dalam tujuh hari, nama besar ketua Hiat-kiam-bun, Jianciat-
suseng Bong Thian-gak telah menggetarkan seluruh dunia
persilatan.
Yang paling membuat umat persilatan tercengang dan
sama sekali tidak menyangka adalah Jian-ciat-suseng ternyata

635
tak lain adalah ketua Hiat-kiam-bun, berita itu membuat pihak
Put-gwa-cin-kau dan Kay-pang merasa amat terperanjat.
Pada dasarnya Hiat-kiam-bun memang sudah merupakan
suatu perkumpulan yang sangat misterius dalam Bu-lim, tapi
semenjak Bong Thian-gak menjadi ketuanya, setiap anggota
Hiat-kiam-bun yang berada dalam Bu-lim tidak lagi menutup
wajah mereka dengan kain kerudung merah, mereka semua
muncul dengan raut wajah asli.
Ketika mereka mulai memperlihatkan paras muka aslinya,
pihak Put-gwa-cin-kau serta Kay-pang baru tahu bahwa di
antara para Huhoat Hiat-kiam-bun ternyata terdapat pula
anggota perkumpulan mereka.
0oo0
Kegelapan telah mencekam seluruh jagad.
Daerah tujuh li di sekitar kuil Hong-kong-si merupakan
tempat paling gelap, sepi dan rawan.
Pada saat itulah terlihat ada sesosok bayangan orang
sedang berlari mendekati dari arah barat.
Mendadak suara bentakan keras menggema memecah
keheningan, "Siapa di situ?"
Si pejalan malam yang datang dari arah barat telah
menghentikan langkah dan mengangkat kepala sambil
mengawasi keadaan sekeliling tempat itu dengan seksama.
Di tengah jalan rupanya telah berdiri seseorang, gelak tawa
nyaring tadi berkumandang dari mulut si penghadang itu.
Di tengah gelak tawanya, dia maju beberapa langkah,
katanya lantang, "Sam-kaucu, selamat bersua, baik-baikkah
kau selama berpisah."
Orang yang datang dari barat itu nampak terkejut
mendengar teguran itu, sorot matanya yang tajam untuk
mengawasi tempat itu.

636
Lawannya adalah seorang lelaki berperawakan sedang
berjubah merah, dia berwajah lebar dan berlengan besar, raut
mukanya seperti pernah dikenal, tapi tak teringat olehnya
dimanakah mereka pernah bertemu.
Setelah hening sesaat, pejalan malam itu tertawa seram,
"Hehehe, dari dandananmu itu, rupanya kau adalah anggota
Hiat-kiam-bun?"
"Betul," jawab lelaki berjubah merah itu sambil tertawa
tergelak, "aku adalah pelindung hukum Hiat-kiam-bun."
"Aku seperti kenal raut wajahmu," seru si pejalan malam
dingin.
Lelaki berjubah merah turut tertawa.
"Sam-kaucu, mengapa kau mudah lupa? Aku she Ang
bernama Teng-siu!"
Berubah hebat paras muka pejalan malam itu, dia berseru
tertahan dan berkata, "Oh, rupanya kau adalah komandan
pengawal Ji-kaucu, Ang Teng-siu."
"Betul, memang aku Ang Teng-siu."
Tiba-tiba pejalan malam itu menarik muka, kemudian
ujarnya, "Ang Teng-siu, kau pengkhianat, berani amat kau
halangi jalanku."
"Sam-kaucu," kembali Ang Teng-siu tersenyum, "mengapa
kau punya jalan ke surga enggan dilalui, tiada jalan ke neraka
kau terobos."
Sepasang mata pejalan malam yang tajam mendadak
mengawasi sekejap keadaan sekitar situ, kemudian berkata
dingin, "Ang Teng-siu, berapa orang yang kau bawa malam
ini?"
Ang Teng-siu tertawa terbahak-bahak.

637
"Ketua Hiat-kiam-bun serta sepuluh pelindung hukum telah
hadir semua di sini."
Pejalan malam itu terkejut, dia segera bertanya dengan
gelisah, "Dimanakah Jian-ciat-suseng sekarang? Suruh dia
keluar menemuiku."
"Thia Leng-juan, harap tahu diri, malam ini kami memang
sengaja menunggu kedatanganmu, kau tak usah kurangajar."
Agaknya Thia Leng-juan sudah merasa gelagat malam ini
sangat tidak menguntungkan pihaknya, dia masih berusaha
mempertahankan ketenangan, pelan-pelan ujarnya, "Biar naik
ke bukit golok atau terjun ke kuali berminyak mendidih, aku
sudah pernah merasakan semuanya, memangnya kalian masih
mempunyai cara lain yang bisa membuat pecah nyaliku?"
"Sudahlah, kau tidak usah banyak bicara lagi, ketua kami
segera akan berjumpa denganmu, lebih baik turuti kami §a)a,
kalau tidak, terpaksa kami akan berbuat kasar kepadamu."
"Jian-ciat-suseng berada dimana sekarang?"
Sebelum Ang Teng-siu menjawab, dari balik kegelapan
Mudah muncul sesosok bayangan orang menjawab dengan
suara dingin, ierlun dan keren, "Thia Leng-juan, aku berada di
sini."
"Mengapa kau tidak segera kemari?"
"Aku segera akan datang."
Belum habis perkataan itu, sesosok bayangan orang
berkelebat ke hadapan Thia Leng-juan dengan kecepatan
bagaikan sambaran kilat,
Thia Leng-juan cekatan sekali, dengan cepat dia
menggeser badan menghindar ke sisi kiri.
Biarpun dia menghindar dengan gerakan cukup cepat,
namun gerakan tubuh pendatang itu jauh lebih cepat lagi,
tahu-tahu lengannya sudah bergerak dan "Plak!!"

638
Thia Leng-juan mendengus tertahan, kemudian orangnya
sudah roboh tak sadarkan diri.
Sewaktu Thia Leng-juan sadar dari pingsannya, ia
menjumpai dirinya sudah duduk di atas kursi.
Duduk di hadapan seorang pemuda berjubah merah
berlengan tunggal, berwajah pucat dan bermata tajam
bagaikan sembilu.
Di sisi kiri dan kanan pemuda berjubah merah itu masingmasing
berdiri sepuluh orang laki-laki berjubah merah, mereka
semua berwajah kereng, bermata tajam dan kelihatan sangat
gagah.
Bergidik Thia Leng-juan menyaksikan semua itu, dengan
cepat dia teringat akan perbuatannya membunuh Kauhubuncu
Hiat-kiam-bun di kamar tujuh Hong-tok-ciu-lau
tempo hari.
Ia pernah berjumpa dengan Jian-ciat-suseng Bong Thiangak
ketika berada di Hong-tok-ciu-lau, bahkan sewaktu terjadi
peristiwa berdarah itu, Jian-ciat-suseng hadir pula di tempat
kejadian.
Siapa sangka Jian-ciat-suseng tak lain adalah ketua Hiatkiam-
bun, pemuda berjubah merah berlengan tunggal itu.
Terpaksa Thia Leng-juan harus mengeraskan hati menegur,
"Apa maksudmu membawa aku kemari?"
"Demi menyelamatkan jiwamu," jawab Bong Thian-gak
hambar.
Thia Leng-juan tertegun, "Menyelamatkan aku? Apa
maksudmu?"
Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Asal kau bersedia menjawab beberapa pertanyaan dengan
jujur, aku bersedia menyelamatkan jiwamu, kalau tidak,

639
perbuatanmu membunuh Kau-hubuncu perguruan kami itu,
tentu hanya ada jalan kematian bagimu."
Thia Leng-juan mulai berpikir, "Bagaimana pun juga
kepandaian silatku tidak mungkin bisa menandingi Jian-ciatsuseng."
Maka dia pun bertanya, "Jawaban apa yang harus
kuutarakan?"
"Bagaimana caramu memasuki Put-gwa-cin-kau?"
Thia Leng-juan tertegun, lalu berdiri melongo, lama
kemudian baru dia balik bertanya, "Buat apa kau menanyakan
hal itu?"
"Kau cukup menjawab pertanyaanku, hati-hati, salah bicara
bisa berakibat hilangnya nyawamu," ancam Bong Thian-gak
sambil tertawa dingin tiada hentinya.
Thia Leng-juan termenung lama sekali, tak sanggup
mengucapkan sepatah kata pun.
Setelah tertawa dingin, Bong Thian-gak berkata, "Bukankah
kau telah membunuh kawanan jago persilatan golongan putih
untuk merebut kepercayaan Cong-kaucu sehingga kau
diterima menjadi anggota Put-gwa-cin-kau."
Gemetar keras sekujur badan Thia Leng-juan mendengar
itu, bentaknya, "Aku tak pernah membunuh jago mana pun
dari Bu-lim Bengcu, aku sama sekali tidak melakukan
pembunuhan apa pun."
Mencorong sinar tajam dari balik mata Bong Thian-gak, dia
segera mendesak lebih jauh, "Lantas mengapa Cong-kaucu
Put-gwa-cin-kau menaruh kepercayaan padamu? Kau pernah
menjadi musuh bebuyutan Put-gwa-cin-kau, apakah kau
mempunyai sesuatu persyaratan yang dapat membuat
perempuan jalang itu percaya serta tunduk kepadamu?"

640
"Benar, tentu saja aku mempunyai syarat-syarat tertentu,"
kata Thia Leng-juan.
"Apa syaratnya? Cepat katakan!" hardik Bong Thian-gak.
"Tidak sulit bila ingin kukatakan, hanya kau harus
menerangkan dulu kepadaku, apa maksudmu menanyakan
persoalan itu?"
"Thia Leng-juan, coba kau lihat wajahku baik-baik, tahukah
kau siapa aku?"
Thia Leng-juan tertawa dingin, "Hm, siapa lagi? Tentu kau
adalah Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak."
"Kau masih ingat dengan seorang sahabatmu yang
bernama Ko Hong tiga tahun berselang?"
Begitu mendengar nama Ko Hong, gemetar tubuh Thia
Leng-juan dibuatnya, matanya membelalak, kemudian
mengamati wajah Bong Thian-gak dengan seksama, seakanakan
dia sedang berusaha mencari sesuatu.
Tentu saja yang dicari olehnya adalah bekas-bekas yang
telah menghilang.
Mendadak paras muka Thia Leng-juan berubah pucat-pias
seperti mayat, kemudian gumamnya, "Kau adalah Ko Hong,
benarkah kau adalah Ko Hong?"
"Benar, aku adalah Ko Hong," jawab Bong Thian-gak
nyaring, "aku adalah Ko Hong yang bersama-sama kau dan
Pa-ong-kiong Ho Put-ciang bertiga bertarung membunuh Samkaucu
Put-gwa-cin-kau yang telah menyaru sebagai Ku-lo
Hwesio."
Thia Leng-juan tak dapat membendung air matanya lagi, ia
menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
Bong Thian-gak tidak habis mengerti apa sebabnya dia
menangis, padahal seorang Enghiong tak akan melelehkan air
mata dengan mudah bila tidak sedang bersedih hati.

641
"Thia-tayhiap, kau tentunya tahu bukan persoalan apakah
yang hendak kutanyakan kepadamu!" kembali Bong Thian-gak
bertanya dengan suara dingin.
Mendadak Thia Leng-juan mendongakkan kepala,
kemudian teriaknya, "Ko Hong, bunuhlah aku! Biarpun mati,
aku akan mati dengan mata meram!"
Bong Thian-gak berkerut kening, sebab sikap lawan, dia
dapat pula merasakan kesedihan hatinya, dia membentak
kembali, "Thia Leng-juan, bila kau benar-benar seorang
Enghiong, benar-benar seorang leleki sejati, ayolah bicara
lebih jelas!"
Thia Leng-juan tidak menjawab, dia hanya membungkam.
Melihat lawan membungkam, Bong Thian-gak bertanya
kembali, "Thia Leng-juan, dengarkan baik-baik, aku hanya
ingin mengetahui nasib Ho Put-ciang, Yu Heng-sui dan Oh
Cian-giok sekalian."
Thia Leng-juan mendongakkan kepala memandang wajah
Bong Thian-gak dan termangu, air matanya belum mengering
sehingga wajahnya nampak sangat mengenaskan.
Tiba-tiba ia menghela napas, lalu berkata, "Mereka semua
telah meninggal dunia."
Ucapan itu bagaikan guntur yang membelah bumi di siang
hari bolong, gemetar keras sekujur badan Bong Thian-gak
karena menahan emosi, kembali ia membentak, "Apa yang
menyebabkan kematian Toa-suhengku sekalian? Siapa yang
telah membunuh mereka?"
Gemetar keras tubuh Thia Leng-juan, tanyanya, "Kau
menanyakan Toa-suhengmu? Apakah Ho Put-ciang kakak
seperguruanmu?"
"Kau tak usah bertanya lagi," tukas Bong Thian-gak, "cepat
katakan, apa yang menyebabkan kematian Toa-suheng
sekalian?"

642
Pada saat itulah tiba-tiba Thia Leng-juan teringat akan
sesuatu, dia berseru tertahan, "Oh Ciang hu mempunyai
empat orang murid, salah seorang di antaranya bernama Bong
Thian-gak, Ah! Kalau begitu kau adalah murid Oh Ciong-hu
Locianpwe yang bernama Bong Thian-gak."
Sinar tajam penuh napsu membunuh memancar dari balik
mata Bong Thian-gak, bentaknya, "Thia Leng-juan, kau belum
menjawab pertanyaanku, jika kau tidak menjawab dengan
sejujurnya, aku akan membunuhmu sekarang juga."
Sembari berkata, dia mengangkat telapak tangannya pelanpelan.
Kesepuluh orang pelindung hukum Hiat-kiam-bun yang
berdiri mengelilingi arena mengerti, dalam keadaan demikian
asal Thia Lengf-juan salah bicara sepatah kata saja, niscaya
dia akan tewas dihajar oleh ketua mereka.
Dalam waktu singkat seluruh arena telah diliputi oleh
suasana tegang dan mengerikan.
Thia Leng-juan menggetarkan bibirnya seperti ingin
mengucapkan sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang
terucap keluar, jika dilihat dari kerutan wajahnya serta
tubuhnya yang mengejang keras, dia sedang merasakan
kengerian yang luar biasa dalam menghadapi kematian.
Namun akhirnya Thia Leng-juan berhasil menenangkan diri,
ia menjawab pelan, "Akulah yang telah mencelakai mereka
semua."
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Bong Thian-gak
telah berteriak, "Mengapa kau harus mencelakai mereka?"
Telapak tangannya segera diayunkan ke depan melepaskan
sebuah bacokan kilat.
Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang
memecah keheningan, badan Thia Leng-juan mencelat ke

643
udara dan melayang keluar lewat daun jendela, kemudian,
"Bluk", terbanting ke atas lantai.
Secepat sambaran petir Bong Thian-gak melejit ke udara
dan menyusul dari belakang.
Thia Leng-juan telah terkapar di atas tanah, dia berusaha
meronta bangun, namun tak berhasil.
Dengan kasar Bong Thian-gak mencengkeram bajunya, lalu
mengangkatnya ke atas, bentaknya, "Ayo cepat katakan,
mengapa kau membunuh mereka?"
Sementara itu paras muka Thia Leng-juan pucat-pias
seperti mayat, tampangnya kelihatan sangat mengerikan,
darah segar mengalir keluar lewat ujung bibirnya seperti
sumber mata air, membasahi pakaiannya dan menetes pula ke
atas lantai.
Pukulan dahsyat Bong Thian-gak telah mengguncang isi
perutnya, membuat dia sadar kematiannya sudah dekat.
"Bong ... Bong Thian-gak, sempurna amat tenaga
pukulanmu, aku ... aku gembira sekali kau memiliki pukulan
tenaga dalam sedemikian sempurna."
"Apakah kau tidak takut mampus?" seru Bong Thian-gak
agak tertegun mendengar perkataan itu.
Kembali Thia Leng-juan tertawa pedih, "Pukulanmu barusan
telah mengantar aku tak jauh dari kematian, aku ... aku
merasa bersalah terhadap segenap rekan-rekan umat
persilatan, walau mati, aku mati dengan rela, sekarang ...
sekarang aku ingin memberitahukan beberapa hal kepadamu."
Ketika berbicara sampai di situ, secara beruntun dia
muntah darah beberapa kali, dengan matanya yang sayu dia
pun mencoba memandang sekejap sekeliling tempat itu,
kemudian tanyanya bimbang, "Di ... dimanakah aku
sekarang?"

644
Bong Thian-gak agak tercengang dan sama sekali tak
menduga sikap Thia Leng-juan itu, seandainya dia benarbenar
seorang licik yang berakal bulus, mengapa sikapnya
dalam menghadapi kematian begitu wajar?
"Tempat ini adalah ruang depan kuil Hong-kong-si, Hongkong
Hwesio dan muridnya berdiam di ruang belakang,
sayang sekali mereka tak akan mendengar jeritanmu tadi,
sudah barang tentu mereka pun tak akan kemari untuk
menyelamatkan jiwamu."
Ucapan Bong Thian-gak itu diutarakan dengan suara datar
dan hambar.
Thia Leng-juan berseru tertahan, "Ah! Kau ... kau juga tahu
kalau aku tengah bersekongkol dengan Hong-kong Hwesio
beserta muridnya?" Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Beberapa malam berselang, semua pembicaraanmu
dengan Long Jit-seng di ruang belakang telah kudengar
semua."
"Kalau begitu kau ... kau juga sudah mengetahui
pertemuanku dengan Cong-kaucu Put-gwa-cin-kau/' kembali
Thia Leng-juan bertanya dengan sedih.
Kembali Bong Thian-gak tertawa dingin.
"Tentu saja, aku pun sempat melihat kau seperti ular yang
patut dikasihani, tunduk di bawah selangkangannya. Hm, pada
saat itu aku malu melihat perbuatanmu, juga merasa kasihan
untuk nasibmu, sungguh tak kusangka kau adalah seorang
yang tak berguna."
Tiba-tiba dua baris air mata bercucuran membasahi pipi
Thia Leng-juan, bisiknya lirih, "Umpatanmu memang benar,
umpatanmu memang tepat sekali."
Sesudah mengucapkan perkataan ini, tubuh Thia Leng-juan
semakin lama semakin lemah, kerongkongannya mulai
gemerutukan.

645
Dia berbisik lagi dengan suara yang sangat lirih,
"Kemungkinan besar Ho Put-ciang sekalian belum ... belum
mati, kau ... kau harus bekerja sama dengan Hong-kong
Hwesio."
Bergetar keras perasaan Bong Thian-gak mendengar
perkataan itu, tanyanya, "Apa kau bilang? Toa-suhengku
sekalian belum mati? Katakanlah cepat kau, katakan!"
Beberapa kali teriakan beruntun, namun Thia Leng-juan
sudah tak sanggup menjawab.
Thia Leng-juan telah menemui ajalnya, tewas seketika.
Tenaga serangan yang maha dahsyat Bong Thian-gak
agaknya betul-betul sudah mehancurkan isi perutnya.
Kata-kata terakhir Thia Leng-juan justru menenangkan
gejolak perasaan Bong Thian-gak yang sedang dipengaruhi
oleh emosi.
Ia tak habis mengerti apa sebabnya Thia Leng-juan
mengakui Ho Put-ciang sekalian tewas di tangannya, tapi
kemudian dikatakan pula bisa jadi mereka belum tewas.
Bong Thian-gak hanya berdiri termangu sambil mengawasi
jenazah Thia Leng-juan, dia tidak habis mengerti apa
gerangan yang yang telah terjadi.
"Omitohud!" suara pujian sang Buddha tiba-tiba
berkumandang seperti suara lonceng berdentang.
Bong Thian-gak sadar dari lamunannya, ia mengangkat
kepala. Tahu-tahu sudah berdiri empat orang. Mereka adalah
tiga orang
Hwesio dan seorang kakek berbaju hitam yang kurus kecil.
Kakek berbaju hitam itu cukup dikenal Bong Thian-gak,
sebab dia tak lain adalah Long Jit-seng.
Dari ketiga orang Hwesio lainnya, orang yang berada di
tengah adalah seorang Hwesio tua berwajah kuning emas

646
yang memelihara jenggot sepanjang dada, kedua alis matanya
juga memanjang ke telinga.
Yang aneh adalah kulit badan Hwesio tua ini pun berwarna
kuning keemas-emasan, alis mata serta jenggotnya juga
berwarna kuning emas, tak bisa disangkal lagi orang itu
adalah Hong-kong Hwesio, si pedang sinar kuning.
Di sisi kiri dan kanan Hwesio tua itu masing-masing berdiri
seorang Hwesio tua yang jenggotnya hitam sepanjang dada,
Bong Thian-gak tahu kedua orang ini tentu murid Hong-kong
Hwesio, hanya tak pernah disangka kedua muridnya pun
berusia setengah abad lebih.
"Omitohud! Siancay, Siancay ... ternyata Sicu telah
membunuh Thia-tayhiap."
Hong-kong Hwesio berbicara dengan suara rendah dan
berat, sikap yang serius dan setiap patah katanya cukup
menggetarkan perasaan Bong Thian-gak.
Sementara kesepuluh orang pelindung hukum Hiat-kiambun
telah berdatangan secara beruntun, mereka
menempatkan diri di kedua sisi Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak memandang sekejap mayat Thia Leng-juan
yang tergeletak di atas tanah, kemudian ujarnya dingin,
"Apabila Hong-kong Hwesio mengetahui asal-usulnya, tentu
kau akan beranggapan bahwa kematian Thia leng-juan sudah
semestinya dia terima."
"Siancay, Siancay! Sicu telah salah membunuh orang," ucap
Hong-kong Hwesio dengan suara dalam. "Sesungguhnya Thia
Leng-juan adalah seorang Enghiong sejati, dia dapat
direndahkan, dapat pula menyesuaikan diri dengan keadaan.
Pembunuhan yang Sicu lakukan terhadap dirinya sungguh
merupakan suatu kejahatan yang patut disesalkan."
Bong Thian-gak tertawa dingin, "Aku membunuhnya karena
perbuatan jahat yang ia lakukan sudah kelewat batas. Kalau

647
kau menuduh aku salah membunuhnya, apakah perbuatannya
mencelakai sahabat serta saudara-saudaranya bukan suatu
perbuatan yang keji?"
Long Jit-seng yang berdiri di sisi arena mendadak tertawa
seram, lalu menimbrung, "Bong Thian-gak, apakah
kedatanganmu ini bermaksud hendak mengajak aku masuk
Hiat-kiam-bun?"
Bong Thian-gak segera menarik muka.
"Hiat-kiam-bun tak akan membiarkan manusia licik yang
berbicara lain di mulut lain di hati semacam kau untuk tetap
hidup di dunia ini."
"Orang she Bong," Long Jit-seng tertawa dingin. "Kau tidak
seharusnya membunuh Thia Leng-juan di kuil Hong-kong-si."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Sejak beberapa hari lalu, aku sudah tahu kau hendak
memperalat kekuatan Hong-kong Hwesio dan muridnya untuk
melenyapkan aku, itulah sebabnya sudah beberapa hari aku
membuat persiapan di sekitar kuil Hong-kong-si untuk menanti
Thia Leng-juan masuk perangkap, kemudian dengan cara
demikian akan kupancing keluar Hong-kong Hwesio dan
murid-muridnya. Coba kau bayangkan? Apakah rencana
dengan memasang perangkap semacam ini merupakan
perbuatan yang keliru."
Diam-diam Long Jit-seng terkejut, tapi dengan cepat dia
telah tertawa licik kembali, sahutnya, "Betul, memang tak
keliru, aku yang telah memandangmu terlalu rendah."
"Omitohud!" sekali lagi Hong-kong Hwesio memuji
keagungan sang Buddha, "bila Long Jit-seng bermaksud
memancing kemunculan kami guru dan murid membuka
pantangan membunuh, mungkin Hong-kong Hwesio tak akan
memenuhi harapannya, namun Sicu telah membunuh ThiaTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
648
tayhiap, jadi terpaksa kami guru dan murid benar-benar akan
membuka pantangan membunuh."
"Mana ... mana, sebagai seorang pendeta, kau ingin
mencampuri pula urusan pertikaian dunia persilatan, cepat
atau lambat pasti akan kau langgar juga pantangan
membunuh itu."
"Sudah hampir lima puluh tahun lamanya Pinceng menutup
diri hidup mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan,
sungguh tak disangka orang-orang Bu-lim telah berubah
menjadi lebih buas dan ganas."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Kalau hidup mengasingkan diri dalam lingkungan
masyarakat, siapakah yang bisa melepaskan diri dari
keramaian dunia? Tak heran kau mungkin bersembahyang
setiap hari, namun belum bisa melepaskan diri dari pikiran
keduniawian."
Hati Hong-kong Hwesio bergetar mendengar perkataan itu,
mencorong tajam matanya mengawasi wajah Bong Thian-gak
lekat-lekat.
"Siancay, Siancay! Bila kuamati panca-indra Sicu serta
pancaran kegagahan dari wajahmu, sama sekali tidak mirip
seperti manusia buas yang berhati keji, tapi mengapa Sicu
justru membunuh Thia-tayhiap?"
Tiba-tiba Bong Thian-gak menarik muka, kemudian berkata
dengan suara lantang, "Biarpun Thia Leng-juan terhitung anak
murid Siau-lim-pay, tapi perbuatannya justru merusak nama
baik perguruan, dia telah berkhianat serta mengabungkan diri
dengan pihak Put-gwa-cin-kau membantu kaum sesat dan
kaum laknat melakukan berbagai kejahatan mencelakai umat
persilatan dan membunuh kaum pendekar, apakah aku tak
pantas membunuh manusia semacam ini?"

649
"Omitohud, apakah Sicu mempunyai bukti yang
meyakinkan?" tanya Hong-kong Hwesio.
"Tiga tahun berselang, Thia Leng-juan telah berkhianat dan
menjual Ho Put-ciang serta puluhan jago persilatan yang
berada dalam gedung Bu-lim Bencu, apakah bukti ini belum
cukup kuat?"
Hong-kong Hwesio segera menggeleng kepala, katanya,
"Apakah Sicu mengetahui dengan pasti kisah yang sebenarnya
sampai seluruh orang dalam gedung Bu-lim Bengcu di kota
Kay-hong ditumpas orang pada tiga tahun berselang?"
Bong Thian-gak tertegun mendengar pertanyaan itu,
kemudian dengan kening berkerut dia berkata, "Aku memang
tidak mengetahui apa sebabnya gedung Bu-lim Bengcu di kota
Kay-hong sampai tertumpas, namun menurut hasil
penyelidikanku, kecuali Thia Leng-juan, segenap jago dalam
gedung Bu-lim Bengcu pada waktu itu tidak diketahui
nasibnya, sampai sekarang mati hidup mereka pun tetap
merupakan teka teki."
"Oleh karena itu Thia Leng-juan menjadi orang yang paling
dicurigai membunuh kawanan jago itu, apalagi sebelum
ajalnya tiba tadi,
Thia Leng-juan juga mengakui bahwa dialah yang telah
membunuh Ho Put-ciang serta yang lain-lain."
"Ai, Sicu betul-betul telah salah membunuh orang," Hongkong
Hwesio menghela napas sedih, "Thia Leng-juan pernah
menceritakan kisah yang sesungguhnya sampai gedung Bu-lim
Bengcu ditumpas orang, ai, kematian Thia-tayhiap benarbenar
kelewat mengenaskan!"
Helaan napas berulang kali Hong-kong Hwesio membuat
perasaan Bong Thian-gak bergetar keras, diam-diam dia
bertanya pada diri sendiri, "Mungkinkah aku telah salah
membunuh? Mungkinkah Thia Leng-juan adalah seorang
baik?"

650
Dengan cepat Bong Thian-gak membayangkan kembali
setiap gerak-gerik, setiap perkataan yang diucapkan Thia
Leng-juan menjelang ajalnya tiba.
Dia memang merasa banyak hal yang mencurigakan, akan
tetapi Bong Thian-gak tidak habis mengerti, bila Thia Lengjuan
memang bersih dan tidak merasa bersalah, apa sebabnya
dia pasrah kepada nasib dan bersedia menerima kematian?
Mungkin Thia Leng-juan mempunyai kesulitan yang tak
mungkin bisa diutarakan? Tapi bukankah dia sendiri mengakui
telah membunuh Toa-suheng sekalian?
Bong Thian-gak benar-benar merasa amat resah, masgul
dan murung, terutama sekali terhadap kata-kata terakhir Thia
Leng-juan menjelang ajalnya tadi, " ... besar kemungkinan Ho
Put-ciang sekalian belum mati."
Yang membuatnya ragu dan tak menentu sekarang adalah
perkataan Thia Leng-juan itu, benarkah? Atau omong kosong?
Sekarang Bong Thian-gak sedikit menyesal, dia
menyesalkan apa sebabnya tidak membuat duduk persoalan
menjadi jelas lebih dulu sebelum menindak Thia Leng-juan.
Padahal Bong Thian-gak sendiri sama sekali tidak
menyangka Thia Leng-juan bakal tewas di tangannya.
Thia Leng-juan pun terhitung seorang jago persilatan kelas
satu dalam Bu-lim, kendatipun dia tak bisa meloloskan diri dari
serangan Bong Thian-gak, namun mustahil dia bisa tewas
hanya dalam satu gebrakan saja.
Bong Thian-gak menghela napas panjang, kemudian
bertanya, "Hong-kong Locianpwe, benarkah aku telah salah
membunuh Thia Leng-juan?"
Hong-kong Hwesio menghela napas, "Thia-tayhiap tak
seharusnya tewas dalam keadaan demikian, dia harus
mengungkapkan kenyataan sebenarnya peristiwa dunia
persilatan sebelum mati."

651
"Dapatkah Hong-kong Locianpwe menerangkan duduk
persoalan ini lebih jelas lagi?" tanya Bong Thian-gak dengan
kening berkerut kencang.
Tiba-tiba mencorong sinar membunuh yang amat tebal dari
balik mata Hong-kong Hwesio, dia berkata, "Sicu telah
membunuh Thia-tayhiap, apa lagi yang bisa dibicarakan
sekarang?"
Bong Thian-gak dapat pula menangkap sorot mata Hongkong
Hwesio itu, maka dia pun balik bertanya, "Hwesio tua,
apa yang hendak kau lakukan?"
"Nyawa manusia tak ternilai harganya, Sicu telah
membunuh orang, maka kau harus memberi keadilan pula
bagi umat persilatan."
"Bila Lohwesio ingin membalas dendam bagi kematian Thia
Leng-juan, kuanjurkan lebih baik urungkan saja niatmu itu,"
ucap Bong Thian-gak dingin.
"Rupanya Sicu beranggapan Lolap tak sanggup menghabisi
nyawamu?"
"Bila Lohwesio ingin membunuh aku, kemungkinan besar
kau harus mengorbankan tenaga yang amat besar, namun
sebelum aku roboh ke atas tanah, mungkin kau sudah
kehabisan tenaga untuk menghadapi musuh tangguh yang
datang dari luar."
Baru selesai Bong Thian-gak berbicara, mendadak
terdengar suara gelak tawa yang amat keras bergema
memenuhi seluruh ruangan, gelak tawa itu mulanya berasal
dari atas atap rumah, tahu-tahu di tengah halaman telah
berdiri seorang lelaki kekar.
Orang itu bukan lain adalah jago nomor tiga Kay-pang, Han
Siau-liong.
Setelah berdiri tegak, Han Siau-liong berkata dengan
lantang, "Ketajaman mata Jian-ciat-suseng sungguh

652
mengagumkan sekali, hahaha, hari ini aku Han Siau-liong akan
menantang kau berduel."
Bong Thian-gak tersenyum, "Mana ... mana, hari ini berapa
banyak jagoan yang telah Han-heng bawa serta?"
Setelah tertegun, Han Siau-liong menyahut sambil tertawa,
"Kurang lebih seratus orang dan sekarang seluruh kuil Hongkong-
si telah kami kepung."
"Apabila Han-heng bermaksud mencari Long Jit-seng,
orangnya berada di sini sekarang, Han-heng boleh
menangkapnya dengan segera," ucap Bong Thian-gak
tertawa.
Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, Jian-ciatsuseng
betul-betul memahami taktik perang."
"Jangan kelewat sungkan, bila Han-heng tidak turun tangan
dengan segera, bila Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau sampai
menyusul kemari, belum tentu pihakmu mempunyai
kemampuan untuk membekuk Hek-ki-to-cu."
Kembali Han Siau-liong tertawa kering, "Kau anggap pihak
Put-gwa-cin-kau pasti ada orang yang akan muncul ke sini?"
"Telinga umat persilatan saat ini dibentangkan lebar-lebar,
rahasia Hong-kong Hwesio bersama Hek-ki-to-cu mengenai
rahasia harta karun Mo-lay-cing-ong sudah bukan rahasia
pribadi lagi."
"Kalau begitu, aku seharusnya turun tangan terlebih
dahulu," Han Siau-liong tertawa.
"Tampaknya Han-heng kuatir orang she Bong akan menjadi
nelayan yang beruntung?"
"Betul, aku memang menguatirkan hal ini."
Bong Thian-gak tersenyum, "Bila Han-heng tidak turun
tangan lebih dulu, kemungkinan besar kau akan didahului
orang lain."

653
"Siapa yang akan mendahului diriku?" tanya Han Siau-liong.
"Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian."
Selesai perkataan itu, dari tengah ruangan telah
berkumandang suara seorang bernada dingin, "Bocah keparat,
kau betul-betul sangat lihai, sampai-sampai jejakku pun kau
ketahui."
Suara itu hanya melambung di angkasa, tak nampak
sesosok bayangan orang pun yang muncul.
Paras muka Hong-kong Hwesio serta Han Siau-liong yang
berada di tengah arena berubah hebat, nama besar Mo Huithian
cukup termasyhur dalam Bu-lim dewasa ini.
Kembali Bong Thian-gak tertawa terbahak-bahak, suaranya
keras dan memekakkan telinga, kemudian dia berkata,
"Hahaha, semenjak beberapa hari lalu aku sudah tahu Molocianpwe
ada maksud mencari diriku, oleh sebab itu untuk
menghindari usaha Toa-cengcu melancarkan serangan keji,
terpaksa aku pun menguntitmu lebih dulu. Hahaha, Toacengcu
seperti sudah terpikat oleh harta karun Mo-lay-cingong
sehingga lupa menyusahkan diriku."
Hong-kong Hwesio memuji keagungan sang Buddha,
kemudian pelan-pelan berkata, "Mo Hui-thian, sudah puluhan
tahun kita tak bersua, Lohwesio kangen sekali kepadamu."
Dari keheningan udara kembali berkumandang suara Toacengcu
Kim-liong-kiam-san-ceng.
"Hwesio tua sahabat karibku, aku dengar peta harta karun
itu berada di sakumu, entah bersediakah kau meminjamkan
sebentar kepada sahabatmu ini?"
"Omitohud, siapa bilang tak boleh? Kalau sobat karib yang
meminjam, aku yakin tentu akan dikembalikan."

654
Mendadak Han Siau-liong berkata kepada Bong Thian-gak,
"Bong-N buncu, tampaknya untuk sementara waktu kita harus
menyingkirkan semua perselisihan pribadi di antara kita."
Bong Thian-gak tersenyum, "Han-heng, aku lihat watakmu
sudah banyak berubah."
"Ya, keadaan dan suasanalah yang memaksaku berbuat
demikian," ucap Han Siau-liong.
Kembali Bong Thian-gak tersenyum, "Pihak Hiat-kiam-bun
kami sama sekali tidak tertarik pada peta harta karun itu, tapi
... kami pun enggan membiarkan peta harta karun itu terjatuh
ke tangan partai atau perguruan mana pun, oleh karena itu
dia adalah musuh Hiat-kiam-bun kami, jika Han-heng berniat
merebut peta harta karun itu, bukankah kita akan segera
berubah menjadi musuh bebuyutan?"
"Bagus, bagus sekali," Han Siau-liong tertawa lebar,
"pendapat Bong-buncu memang persis seperti pendapatku,
tapi berbicara dari situasi yang kita hadapi sekarang,
tampaknya kita harus menjalin kerja sama."
"Bagaimana cara kita menjalin kerja sama?"
"Pertama-tama kita harus mencegah peta harta karun itu
jangan sampai terjatuh ke tangan siapa pun."
"Tapi peta harta karun itu berada di tangan siapa
sekarang?"
Menghadapi pertanyaan itu Han Siau-liong tertegun, ia
balik bertanya, "Bukankah peta itu berada di tangan Hongkong
Hwesio?"
Mendadak dari tengah udara berkumandang lagi suara
teriakan Mo Hui-thian, "Hwesio tua sahabat karibku, mengapa
kau tidak berhasil menemukan peta harta karun itu?"

655
"Omitohud, Mo-cengcu, sampai sekarang mengapa kau
masih belum juga menampakkan diri?" Hong-kong Hwesio
berkata.
Tiba-tiba Han Siau-liong berpaling ke arah Bong Thian-gak
dan bertanya sambil tertawa, "Bong-buncu, apakah kau tahu
Mo-loji dimana bersembunyi?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Menurut berita dalam Bu-lim, Toa-cengcu ibarat naga sakti
di balik mega yang nampak kepala tak nampak ekor, setelah
berjumpa hari ini terbukti bahwa namanya memang bukan
nama kosong belaka, hingga sekarang aku masih belum
menemukan tempat persembunyiannya, artinya kita berdua
telah menderita kekalahan di tangannya malam ini."
Mendengar ucapan itu, Han Siau-liong tertawa terbahak,
"Hahaha, bila ia tidak juga menampakkan diri, selamanya
jangan harap dia bisa melepaskan serangan pedangnya untuk
melukaiku."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Menurut cerita orang, selama bertarung Mo Hui-thian tidak
pernah melancarkan serangan kedua, sebab saat dia
menampakkan diri, musuh sudah roboh terlebih dahulu karena
tertusuk, konon kecepatan gerak pedangnya tidak berada di
bawah kemampuan Liu Khi."
"Aku dengar Liu Khi sudah bertarung melawan Bonglumen?"
tiba-tiba Han Siau-liong bertanya.
"Aku tak lebih hanya mencoba pisau terbang daun Lilinya
»aja/' kata Bong Thian-gak tertawa.
"Liu Khi dari partai kami memiliki jurus serangan yang
nangat lihai dan kelihaiannya terletak pada permaianan golok
mustika ynnK tersoreng di pinggangnya itu."

656
"Ya, aku pun pernah mendengar orang membicarakan hal
itu," Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Menurut pendapat Bong-buncu, mungkinkah antara Hongkong
Hwesio dengan Mo-loji telah terjalin suatu hubungan
yang sangat akrab dan sehidup semati?"
"Ah, aku rasa mereka hanya saling memanfaatkan
kelebihan lawan, padahal keduanya sama-sama mempunyai
rencana tertentu," jawab Bong Thian-gak sambil sengaja
meninggikan suaranya.
Han Siau-liong tertawa, "Hahaha, kalau begitu di antara
kita tak ada seorang pun yang berani turun tangan."
"Apakah Han-heng masih sanggup menahan diri dan
menunggu lebih lama?"
"Bila Siaute sudah memperoleh persetujuan Bong-buncu,
tentu saja tak akan menunggu lebih lama." Bong Thian-gak
tersenyum.
"Dengan kekuatan kita berdua, rasanya hanya mampu
untuk melawan Hong-kong Hwesio dan muridnya, apakah
Han-heng tidak kuatir Mo Hui-thian akan menjadi si nelayan
yang beruntung?"
"Siaute tidak percaya Hong-kong Hwesio dan muridnya
begitu sukar dilawan."
Bong Thian-gak tertawa ringan.
"Kalau begitu dengan kemampuan Han-heng seorang pun
sudah cukup untuk melawan Hong-kong Hwesio dan
muridnya, buat apa kau mesti mengajak aku bekerja sama?"
"Yang kukuatirkan adalah Mo Hui-thian yang berada di sisi
arena."
"Bukankah dari pihak kalian masih ada Liu Khi?" tegur Bong
Thian-gak sambil tersenyum.

657
Han Siau-liong tertegun mendengar perkataan itu,
kemudian katanya sambil tertawa kering, "Wah, tampaknya
Bong-buncu bukan orang tolol."
"Mana ... mana," Bong Thian-gak mengangguk, "tahu diri,
tahu keadaan lawan, setiap pertarungan baru bisa
dimenangkan dengan sukses dan gemilang."
"Sekali pun Bong-buncu tak bersedia bekerja sama, dengan
kemampuanmu seorang rasanya juga susah menguasai
keadaan." Bong Thian-gak tertawa.
"Seandainya aku bekerja sama dengan Mo Hui-thian atau
Hong-kong Hwesio beserta muridnya untuk melawan kalian,
mungkinkah bagi Han-heng serta Liu Khi meraih keuntungan
besar?"
Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, sayang sekali Bong-buneu telah membunuh Thia
Leng-juan, kalau tidak, aku memang patut menguatirkan kerja
samamu dengan Hong-kong Hwesio."
Sekali lagi Bong Thian-gak tersenyum.
"Biarpun Hong-kong Hwesio ingin membalas dendam bagi
kematian Thia Leng-juan, namun peta harta karun jauh lebih
penting artinya daripada membalas dendam, oleh sebab itulah
hingga sekarang Hong-kong Hwesio masih belum berani
bertindak secara sembarangan, masakah Han-heng tidak
melihat?"
Sesungguhnya Han Siau-liong telah berusaha keras
memeras otak menarik Bong Thian-gak demi kepentingan
pihaknya, selain dipakai juga untuk menghadapi Hong-kong
Hwesio, tapi Bong Thian-gak bukan orang bodoh, ia cukup
memahami maksud dan tujuan Han Siau-liong yang
sebenarnya.
Alhasil usaha Han Siau-liong pun menjadi sia-sia belaka.

658
Di pihak lain, Hong-kong Hwesio sendiri pun bukan orang
sembarangan, ia cukup tahu setiap orang yang bersembunyi
di sekitar kuil Hong-kong-si pada malam ini merupakan jagojago
persilatan yang lihai. Bila dia berani menyerang satu di
antaranya, niscaya pihaknya akan menjadi sasaran
pengeroyokan orang lain.
Setelah melalui pengamatan seksama, ia dapat merasakan
bahwa musuh yang paling tangguh saat ini tak lain adalah
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak.
Sementara itu dari tengah udara kembali berkumandang
suara Mo Hui-thian, "Hwesio sahabat karib, sudah hampir
enam puluh tahun kita berkenalan, masa kau tidak bersedia
membagi sebagian harta itu kepadaku? Keadaan sekarang
sudah jelas, dengan kemampuan kalian beberapa orang
rasanya sulit untuk mempertahankan peta harta karun itu,
asal Lohwesio menyetujui, aku pun bersedia mengerahkan
semua kekuatan kami guna bersama-sama menghadapi partai
pengemis, Put-gwa-cin-kau serta Hiat-kiam-bun."
Baru selesai perkataan Mo Hui-thian tadi, dari sisi sebelah
barat wuwungan rumah tiba-tiba melintas cahaya putih
secepat sambaran kilat menyambar ke atas pohon waru tepat
di hadapannya.
Kecepatan cahaya itu sangat luar biasa, sekilas tahu-tahu
sudah lenyap dari pandangan mata.
Mendadak dari atas pohon waru berkelebat kembali
sesosok bayangan orang yang melayang turun ke tengah
halaman.
Baik Bong Thian-gak maupun Han Siau-liong
mendongakkan kepala.
Ternyata orang yang baru saja melayang turun adalah
seorang kakek berbaju abu-abu berbadan bungkuk,
menyoreng sebilah pedang antik serta mengenakan kaca mata
berbentuk antik.

659
Dari potongan badannya, siapa pun akan menduga dia
adalah Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng yang sudah
puluhan tahun termasyhur dalam dunia persilatan dan lebih
dikenal orang sebagai si Naga di balik mega Mo Hui-thian.
Agaknya Mo Hui-thian kena dipaksa menampakkan diri oleh
lintasan cahaya putih tadi, dia nampak marah sekali, dengan
suara dingin menyeramkan dia membentak, "Liu Khi, malam
ini aku telah merasakan kelihaian pisau terbangmu, mengapa
kau tak menampakkan diri mencoba sejurus pedang
terbangku?"
Sementara itu di atas wuwungan rumah sesosok bayangan
orang berbaju hitam berdiri kaku di sana, tidak terlihat
bagaimana dia menekuk lutut, tahu-tahu dia sudah melayang
turun dan hinggap di sisi Han Siau-liong.
Kemudian dengan pandangan dingin dia memandang
sekejap ke arah Mo Hui-thian, setelah itu katanya, "Mo-loji,
kau bisa menghindari pisau terbangku dengan selamat, hal ini
sungguh membuat aku merasa sangat kagum."
Han Siau-liong yang berada di samping segera menimbrung
pula sambil tertawa, "Liu-susiok, aku dengar ilmu silat Mo Huithian
sangat hebat, tapi yang paling menonjol adalah
kemampuannya melukai orang secara diam-diam dengan
pedangnya. Sekarang dia telah dipaksa oleh pisau terbang
Susiok menampakkan diri, aku pikir, inilah kesempatan baik
bagiku untuk mencoba ilmu pedangnya."
Seraya berkata, Han Siau-liong segera melintangkan
pedang baja raksasanya di depan dada, lalu teriaknya, "Motoacengcu,
Han Siau-liong dari partai pengemis ingin mencoba
kepandaian ilmu pedangmu yang konon dianggap orang
sebagai ilmu pedang nomor wahid di kolong langit."
Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian memang
pernah disebut orang sebagai jagoan nomor wahid di dunia,

660
Han Siau-liong ternyata berani menantangnya bertarung,
boleh dibilang tindakan ini sangat berani.
Mo Hui-thian sama sekali tidak menggubris Han Siau-liong,
malah mengawasi Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak dari ujung
kepala hingga kaki, kemudian dengan acuh tak acuh dia
berkata, "Ilmu pedangmu masih belum pantas melawanku,
kau percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri."
Han Siau-liong mendongakkan kepala, lalu tertawa
terbahak-bahak, "Hahaha, kalau aku belum pantas, siapa yang
pantas?"
Mo Hui-thian menuding Bong Thian-gak sambil menjawab,
"Dia masih cukup pantas bertarung beberapa jurus
melawanku."
Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu tersenyum.
"Ah, terlalu sungkan, sungguh tak kusangka Mo-toacengcu
memandang tinggi diriku."
"Sudah semenjak tadi aku tertarik kepadamu, beberapa
puluh hari lalu kau pernah mengalahkan putra sulungku, maka
aku berencana membayar dengan sebuah tusukan pula
kepadamu."
"Aku akan menerima petunjukmu itu dengan senang hati,"
Bong Thian-gak menjawab dingin.
Dalam waktu singkat situasi di tengah arena berubah, kini
Bong Thian-gak sudah menjadi musuh Hong-kong Hwesio
serta Mo Hui-thian.
Han Siau-liong serta Liu Khi dari Kay-pang merupakan
orang-orang yang berakal tajam, mereka tahu situasi yang
mereka hadapi sekarang sudah menguntungkan pihaknya,
maka sambil berpeluk tangan mereka menantikan perubahan
selanjutnya dari sisi arena.

661
Sepuluh pelindung hukum Hiat-kiam-bun masing-masing
telah melolos pedang yang bersinar tajam dari pinggangnya,
serentak mereka bergerak membentuk barisan berbentuk
setengah lingkaran untuk melindungi Bong Thian-gak.
Pada dasarnya kesepuluh orang pelindung hukum Hiatkiam-
bun merupakan jago-jago kelas satu di Bu-lim, apalagi
selama beberapa hari belakangan ini Bong Thian-gak telah
mewariskan serangkaian ilmu pedang yang aneh kepada
mereka, boleh dibilang orang-orang itu sudah terlatih menjadi
seorang pengawal yang sangat tangguh.
Tapi Bong Thian-gak cukup tahu bahwa kesepuluh orang
pelindungnya masih belum cukup mampu untuk melawan
tokoh sakti seperti Mo Hui-thian.
Maka dia segera membentak dengan cepat, "Sepuluh
pelindung hukum, harap mundur!"
Baru saja dia berseru, mendadak Mo Hui-thian telah
berseru lebih dulu sambil tertawa dingin, "Sayang terlalu
lambat!"
Baru selesai dia berkata, tubuh Mo Hui-thian sudah
menerjang kemuka.
Cahaya pedang berkelebat dan ... "Blum".
Jeritan ngeri berkumandang memecah keheningan malam,
seorang pelindung hukum Hiat-kiam-bun sudah tertusuk
perutnya, darah segar segera menyembur keluar seperti
pancuran, setelah tubuhnya gontai beberapa kali, akhirnya dia
roboh tak bernyawa lagi.
Berhasil membacok seorang korban, Mo Hui-thian maju
selangkah ke depan, cahaya tajam kembali berkelebat
menyapu seorang yang lain.
Oleh karena serangan pedang yang dilancarkan Mo Huithian
kelewat cepat, pada hakikatnya Bong Thian-gak serta
para pelindungnya tak sempat lagi memberikan pertolongan.

662
"Blus", lagi-lagi seorang korban roboh bergelimpangan di
tanah dengan perut robek dan usus berhamburan kemanamana,
darah segar berceceran membasahi seluruh permukaan
tanah.
Pelindung hukum kedua telah roboh binasa.
Pada saat korban pertama roboh, korban kedua menyusul
pula roboh terkapar, boleh dibilang peristiwa itu hampir pada
saat yang bersamaan.
Kaki kanan Mo Hui-thian maju setengah langkah,
pedangnya berputar kembali dan kali ini membacok pelindung
hukum ketiga yang berdiri di sebelah kanan.
Tapi Mo Hui-thian kali ini tidak berhasil dengan sasarannya,
sebab baru saja jurus pedangnya dilancarkan, sebuah lengan
seperti cakar burung garuda telah mencengkeram
pergelangan tangan kanannya.
Bagi orang yang belajar ilmu silat, urat nadi adalah bagian
penting yang mematikan di tubuh manusia, di samping dua
jalan darah kematian lainnya, apalagi kelima jari tangan yang
mencengkeramnya membawa desingan angin serangan yang
tajam dan menyayat bagaikan bacokan pedang.
Oleh sebab itu mau tak mau Mo Hui-thian menarik kembali
pedangnya sambil melompat mundur.
Ketika mendongakkan kepala, tampak Jian-ciat-suseng
Bong Thian-gak dengan wajah kereng dan serius sedang
mengawasi dua sosok mayat yang terkapar di tanah,
kemudian terdengar ia bertanya dengan suara pelan, "Ang
Teng-siu, apakah yang menjadi korban adalah Pui Se-hiong
serta Lay Siong-han?"
"Lapor Buncu," segera jawab Ang Teng-siu dengan sedih,
"mereka Pui Se-hiong serta Lay Siong-han."
"Selama Pui Se-hiong dan Lay Siong-han menyusup ke
dalam Put-gwa-cin-kau, entah berapa kali mereka harus

663
menghadapi ancaman bahaya maut dan berada di antara
hidup dan mati, namun setiap kali mereka selalu berhasil
menyelamatkan diri, sungguh tak kusangka baru pertama kali
turut aku terjun ke gelanggang, mereka harus menemui ajal
secara mengenaskan, aku ... aku merasa amat bersalah dan
malu terhadap mereka."
Ketika mengutarakan kata-katanya yang terakhir, suara
Bong Thian-gak terdengar gemetar, dari sini bisa diketahui
betapa sedih dan murungnya dia.
Sepasang mata Ang Teng-siu pun turut berkaca-kaca, tapi
dia sempat berkata dengan suara nyaring, "Harap Buncu
jangan bersedih, kami sepuluh pelindung hukum sudah
bersumpah akan mendampingi Buncu hingga titik darah
penghabisan, setiap saat kami rela berkorban demi Buncu."
Dari balik mata Bong Thian-gak mendadak mencorong sinar
mata tajam yang menggidikkan, ditatapnya wajah Mo Huithian
lekat-lekat, kemudian ujarnya dengan suara dingin, "Mo
Hui-thian, Hiat-kiam-bun sudah bersumpah tak akan hidup
berdampingan denganmu."
Terkesiap Mo Hui-thian menyaksikan sorot mata Bong
Thian-gak yang menggidikkan hati itu, ia berpikir dalam hati,
"Oh, betapa mengerikan sorot mata orang ini!"
Berpikir demikian, dia lantas tertawa dingin dengan suara
yang menyeramkan, kemudian serunya, "Sejak kau berhasil
mengalahkan putraku, aku sudah mempunyai ikatan dendam
sedalam lautan dengan Hiat-kiam-bun."
"Mo Hui-thian, mengapa kau tidak mengangkat pedangmu
untuk membacok kemari?"
"Kau anggap aku tak berani?" jengek Mo Hui-thian sambil
tertawa dingin.
Tubuhnya secepat anak panah menerjang tiba.

664
Cahaya pedang berkelebat, pedang di tangan kanannya
segera membacok ke muka, desingan angin tajam menyapu
tiba dari sisi sebelah kiri.
Pada hakikatnya jurus serangan yang dipergunakan
olehnya itu sangat aneh, sakti dan luar biasa.
Terutama sekali dalam hal kecepatan, boleh dibilang sukar
membuat orang melihat dengan jelas bagaimanakah serangan
itu dilancarkan.
"Sret", bayangan orang tahu-tahu telah melejit dari bawah
cahaya pedang.
Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak sudah melompat mundur,
pakaian bagian dadanya sudah tersambar robek, koyakan
kainnya berkibar ketika terhembus angin.
Mo Hui-thian memandang sekejap mata pedang di tangan
kanannya dengan pandangan tertegun, wajahnya penuh rasa
kaget dan keheranan, setelah itu katanya dengan suara
sedingin salju, "Sastrawan cacat, kau adalah orang pertama
dalam Bu-lim yang berhasil meloloskan diri dari jurus
seranganku."
Mo Hui-thian disebut orang sebagai jago pedang kelas satu
dalam
Bu-lim, sudah barang tentu kematangan dan
kesempurnaannya dalam permainan pedang luar biasa hebat,
tapi setiap jago yang berada dalam arena dapat menyaksikan
bahwa permainan pedangnya ternyata masih jauh lebih lihai
dari apa yang dibayangkan semula.
Mo Hui-thian memang cukup pantas disebut orang sebagai
jago pedang nomor wahid dalam Bu-lim.
Sejak Han Siau-liong, Liu Khi serta Hong-kong Hwesio
sekalian menyaksikan jurus pedang yang dipergunakan Mo
Hui-thian untuk menyerang Bong Thian-gak, boleh dibilang
semua sependapat.

665
Tiba-tiba Han Siau-liong tertawa nyaring.
"Hahaha, ilmu pedang bagus, ilmu pedang bagus, malam
ini aku orang she Han benar-benar telah bertambah
pengalaman."
Setelah berhenti sejenak, dia menyambung, "Motoacengcu,
dapatkah kau memberitahukan kepada kami, jurus
pedang apakah yang kau pergunakan itu?"
Sambil tertawa bangga sahut Mo Hui-thian, "Itulah ilmu
pedang Wi-liong-kiam-hoat (ilmu pedang ekor naga), satu di
antara tiga belas jurus ilmu pedang ekor naga hasil ciptaan
orang she Mo."
"Lihai, benar-benar sangat lihai," seru Han Siau-liong
sambil tertawa, "bila serangan pedang tadi sedikit maju,
niscaya usus Jian-ciat-suseng sudah berhamburan kemanamana."
"Biarpun dia mampu meloloskan diri dari serangan
pertama, kedua dan selanjutnya dari ilmu pedang ekor
nagaku, tapi jangan harap dia bisa lolos dari ketiga belas jurus
ilmu pedang ekor naga yang kuciptakan ini."
Han Siau-liong tertawa lebar.
"Wah, kalau begitu Jian-ciat-suseng sudah dapat dipastikan
akan mampus."
"Asal aku berhasrat membunuhnya, aku rasa dia memang
sulit untuk lolos dalam kematian."
Tiba-tiba Han Siau-liong tertawa dingin, "Mo-toacengcu,
aku pikir kau mesti menyiapkan langkah mundur bagi
perkataanmu itu."
"Mengapa harus begitu?"
Sekali lagi Han Siau-liong tertawa mengejek, "Seandainya
Jian-ciat-suseng terbukti tidak mampus oleh tiga belas jurus
ilmu pedang ekor nagamu, apakah Mo-toacengcu berani

666
mengatakan bahwa engkaulah yang tidak tega
membunuhnya?"
Mo Hui-thian mendengus dingin.
"Han Siau-liong," ia berteriak, "jika kau tidak percaya
dengan ilmu pedangku, mengapa tidak kau coba sendiri turun
ke gelanggang."
"Mo-toacengcu tak usah terburu napsu, cepat atau lambat
pihak Kay-pang pasti akan berhadapan denganmu."
Sementara itu Bong Thian-gak masih berdiri tegak di
tempat semula dengan wajah sedingin es setelah ia menerima
serangan kilat Mo Hui-thian tadi.
Dia seolah-olah sedang memikirkan suatu masalah atau
bisa jadi nyalinya sudah dibuat keder atas kelihaian musuh.
Sementara Han Siau-liong dan Mo Hui-thian masih
berbincang-bincang, dia hanya berdiri tanpa bicara ataupun
melakukan sesuatu perbuatan.
Tiba-tiba sekilas perasaan girang melintas di wajah Bong
Thian-gak, dia seperti orang yang tersesat di tengah gurun
pasir dan secara kebetulan menemukan sumber mata air yang
bening, mukanya berseri-seri dan semangatnya berkobar
kembali.
Mendadak ia berteriak nyaring, "Mo Hui-thian, mengapa
kau tidak lagi melancarkan seranganmu yang kedua?"
Dengan cepat Mo Hui-thian berpaling, hatinya kontan
bergetar keras menyaksikan perubahan mimik Bong Thiangak,
segera pikirnya, "Kalau dilihat dari raut wajahnya yang
berseri-seri dan nampak sangat gembira, jangan-jangan dia
telah berhasil memecahkan perubahan jurus pedangku?"
Berpikir demikian, dengan sikap sangat hati-hati namun
ingin tahu, Mo Hui-thian bertanya lagi, "Apakah kau sudah
menemukan sesuatu rahasia?"

667
"Betul," Bong Thian-gak mengangguk, "aku telah berhasil
tahu rahasia jurus pedang ilmu ekor nagamu itu."
"Hehehe, masakah begitu? Aku kurang percaya," jengek Mo
Hui-thian sambil tertawa seram.
"Ilmu pedang ekor nagamu berdasarkan kecepatan dan
keanehan dalam gerakan, kalau dibilang cepat, kecepatannya
sanggup membuat orang tidak percaya, dibilang aneh,
keanehannya mencapai taraf yang luar biasa sekali. Bagi
seorang yang belajar silat, memang sulit untuk melatih diri
hingga mencapai tingkat kecepatan serta keanehan seperti
apa yang kau miliki sekarang, bahkan berlatih sampai mati
pun belum tentu sanggup mencapainya, kenyataan kau
mampu melakukannya. Kau sungguh pintar, ternyata bisa
menggunakan teknik dan taktik yang tinggi untuk
menggenggam pedangmu secara bergantian antara tangan
kiri dan kanan."
Han Siau-liong yang mendengar perkataan Bong Thian-gak
itu segera manggut-manggut seakan-akan baru memahami
akan sesuatu, dia menyela, "Ya, betul, ilmu pedang ekor naga
milik Mo-toacengcu memang merupakan teknik pertukaran
antara genggaman tangan kiri dan kanan."
Berubah paras muka Mo Hui-thian mendengar perkataan
itu, pelan-pelan dia berkata, "Sungguh tak kusangka kau telah
berhasil memahami teknik permainan pedangku, hehehe,
sayangnya, walaupun kau sudah tahu rahasia pergantian
tangan kiri dan kananku, namun bagaikan sedang bermimpi
bila ingin lolos dari serangan ketiga belas jurus ilmu pedang
ekor nagaku dengan selamat."
"Kalau memang begitu, silakan saja kau lancarkan
seranganmu!" tantang Bong Thian-gak sambil tersenyum.
Mo Hui-thian tertawa dingin.
"Sekali pun kau ingin mampus, buat apa mesti terburuburu?
Tunggu sebentar lagi."

668
"Mo Hui-thian," ujar Bong Thian-gak kemudian dengan
suara sedingin salju, "sebetulnya dengan jurus pedangmu
yang aneh dan hebat, kau masih bisa mengalahkan diriku
dengan suatu serangan mendadak yang tidak terduga, tapi
sekarang kau sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk
mengungguli diriku."
"Kau yakin mampu menghindarkan diri dari ketiga belas
ilmu pedangku?" tanya Mo Hui-thian dengan nada tidak
percaya.
"Aku takkan memberi kesempatan kepadamu untuk
melancarkan ketiga belas jurus serangan, pada saat kau
melepaskan serangan yang pertama, kemungkinan besar
pedangku telah berhasil merenggut nyawamu."
Seolah-olah baru saja mendengar sebuah lelucon yang
sangat menggelikan, Mo Hui-thian tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, selama beberapa puluh tahun aku berkecimpung
dalam bu-lim, tak pernah seorang pun sanggup mengungguli
satu jurus serangan pun dariku, ingin kulihat pada malam ini,
apa yang kau andalkan untuk mengungguliku?"
Baru selesai perkataan itu, jurus pedang Mo Hui-thian telah
dilancarkan.
"Sret", cahaya pedang tahu-tahu sudah terhadang di
tengah jalan oleh kilatan cahaya pedang berwarna merah.
"Cring", desingan nyaring yang memekakkan telinga
bergema, sambil menarik kembali pedangnya, Mo Hui-thian
melompat mundur.
Bong Thian-gak berdiri sambil menghunus pedang darah,
hawa pedang yang menyelimuti senjata itu mengepul seperti
kabut yang menyelimuti pedang itu.
"Mo Hui-thian, baju bagian dadamu sudah kena tertusuk
sebanyak tiga buah oleh mata pedangku."

669
Paras muka Mo Hui-thian pada saat itu benar-benar amat
tak sedap dipandang, ia amat tekejut, ngeri, takut, sedih,
kesal dan berbagai perasaan lainnya.
Mo Hui-thian menundukkan kepala memeriksa, tentu saja
dia tahu baju bagian dadanya telah bertambah dengan tiga
buah lubang pedang, sebab pada saat itu dia merasa kulit
badan dan bagian dadanya terasa perih dan sakit, bahkan ada
cairan pekat yang membasahi tubuhnya, sudah jelas banyak
darah yang bercucuran dari mulut luka itu.
Tapi dari sudut manakah pedang itu menyerang masuk ke
dalam tubuhnya?
Sekarang Mo Hui-thian baru betul-betul bisa merasakan
bahwa Jian-ciat-suseng memang benar-benar seorang musuh
tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, bisa jadi
nama besar yang telah dipupuknya selama ini akan hancur di
ujung pedang Jian-ciat-suseng itu.
Teringat akan hal itu, air muka Mo Hui-thian segera
berubah serius dan amat kereng, pedang disilangkan di depan
dada, semua kekuatan dihimpun dan bersiap menghadapi
segala kemungkinan.
Dengan menggenggam pedang darah di tangan
tunggalnya, Bong Thian-gak berkata lagi dengan hambar, "Mo
Hui-thian, tadi kau telah berhasil menusuk robek pakaian di
bagian perutku dan sekarang aku pun berhasil melubangi baju
bagian dadamu, menang kalah di antara kita pun aku rasa
sudah menjadi seri. Tapi kau mesti ingat, dalam bentrokan
berikut ini, bisa jadi di antara kita berdua bakal menderita
kekalahan total."
"Betul," jawab Mo Hui-thian dengan suara sedingin es,
"dalam bentrokan berikut, bisa jadi seorang di antara kita
bakal menemui ajal."

670
Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu
bertanya dengan suara pelan, "Mo-toacengcu, yakinkah kau
mampu mengalahkan diriku?"
Mo Hui-thian tertawa dingin.
"Paling tidak harus makan banyak tenaga."
"Di saat kau berhasil mengalahkan aku, tentunya kau tak
akan mampu lagi menghadapi Liu Khi serta Han Siau-liong."
Perkataan itu tepat mengenai pikiran dan perasaan Mo Huithian,
sehingga untuk beberapa saat lamanya ia terbungkam.
Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, Bong-buncu memang sangat pandai
menggoyahkan mental dan iman orang lain, perkataanmu
barusan sungguh merupakan pukulan batin yang paling berat
baginya, cuma ... tujuan kita semua pada malam ini adalah
demi peta rahasia harta karun, bisa jadi kita semua harus
mengerahkan seluruh kekuatan untuk pertarungan antara
hidup dan mati."
"Han-heng, tahukah kau peta harta karun itu berada
dimana?" tanya Bong Thian-gak.
Sambil tertawa Han Siau-liong menjawab, "Persoalan ini
cukup kau tanyakan kepada Hong-kong Hwesio, dia pasti
tahu."
"Kalau memang begitu, sudah sepantasnya bila Han-heng
segera turun tangan terhadap Hong-kong Hwesio dan
muridnya."
"Bong-buncu tak perlu kuatir," Han Siau-liong tertawa,
"seratus orang lebih jagoan lihai dari Kay-pang telah
mengepung rapat kuil Hong-kong-si ini, jadi setiap orang yang
berada dalam kuil Hong-kong-si jangan harap bisa
meninggalkan tempat ini dalam keadaan selamat."

671
"Oh, rupanya Han-heng sudah membawa bala bantuan
yang begitu besar, tak heran kau tampak sangat tenang dan
yakin bakal berhasil."
"Ah, mana ... mana," Han Siau-liong tertawa, "Bong-buncu
bakal bekerja sama dengan Hong-kong Hwesio serta Motoacengcu
untuk menghadapi Kay-pang?"
Bong Thian-gak tersenyum.
"Bagi orang yang tahu keadaan dan bisa
mempertimbangkan untung ruginya, dia memang harus
berbuat demikian."
Mendengar perkataan ini, Han Siau-liong tertawa terbahakbahak
dengan nada menyeramkan, "Hahaha, sayang seribu
kali sayang, antara Bong Thian-gak dan Hong-kong Hwesio
maupun Mo-toacengcu sudah terjalin keretakan serta
permusuhan, ibarat api dengan air yang tak mungkin bisa
digabung."
"Hiat-kiam-bun dengan pihak Kay-pang pun ibarat api
dengan air," Bong Thian-gak tertawa.
"Kalau begitu Buncu sudah menjadi musuh besar beramairamai,
• kita bisa bekerja sama lebih dulu untuk
menghilangkan kau dari muka bumi."
"Tapi sayang, kalian tak berani berbuat demikian," Bong
Thian-gak menjengek sambil tertawa. "Mengapa?"
Bong Thian-gak tertawa dingin, lalu katanya, "Sebab siapa
saja di antara kalian bila ada yang berani menyerang diriku
lebih dulu, maka dia bakal terluka paling dulu di ujung
pedangku ini."
Bong Thian-gak telah berdiri pada posisi menguntungkan,
Pek-hiat-kiam disilangkan di depan dada, sementara dari
posisinya secara lamat-lamat memancar hawa membunuh
yang amat mengerikan.

672
Kalau tadi tiada orang yang memperhatikan hal itu, maka
sekarang semua orang telah memperhatikan posisi Bong
Thian-gak dengan seksama, diam-diam mereka terkejut.
Terutama Mo Hui-thian, tanpa terasa ia membatin,
"Sungguh berbahaya, kalau aku melancarkan serangan lagi
tadi, bisa jadi akan kalah total!"
Setiap jago yang hadir dalam arena sekarang rata-rata
merupakan
jagoan kelas satu dalam Bu-lim, siapa saja dapat melihat
Bong Thian-gak yang berdiri dengan pedang melintang,
merupakan posisi ilmu pedang tingkat tinggi yang
mengandung kekuatan luar biasa.
Mendadak Bong Thian-gak menghela napas panjang,
kemudian katanya, "Sejak Hiat-kiam-bun berdiri, kami tak
pernah mengganggu atau menyerang partai dan perguruan
mana pun lebih dahulu, kedatangan kami di kuil Hong-kong-si
malam ini pun sama sekali tidak berniat untuk mengincar atau
memperebutkan peta harta karun Mo-lay-cing-ong, terlebih
kami pun tidak bermaksud memusuhi siapa pun, tentu saja
aku pun tidak bermaksud membantu pihak mana pun.
Sekarang semua keterangan telah kuutarakan secara jelas,
tentunya kalian pun tidak usah merasa waswas terhadap Hiatkiam-
bun kami!"
"Sungguhkah perkataan Bong-buncu itu?" tiba-tiba Han
Siau-liong bertanya.
"Han-heng boleh mencari peta harta karun itu dengan
lega!"
"Bong-buncu, seandainya kau tidak berniat mendapatkan
peta harta karun itu, aku siap menurunkan perintah kepada
anak buahku agar memberi jalan kepada kalian meninggalkan
kuil Hong-kong-si ini."

673
"Untuk meninggalkan kuil Hong-kong-si, bisa segera kami
lakukan, tetapi jiwa dua orang pelindung hukum perguruan
kami tak dapat dikorbankan dengan sia-sia di tangan Mo Huithian."
"Asal Bong-buncu bersedia meninggalkan tempat ini, aku
orang she Han bersedia pula membantu kalian menuntut balas
atas kematian kedua orang pelindung hukummu."
"Terima kasih Han-heng, sayang sekali urusan Hiat-kiambun
harus diselesaikan pula oleh orang-orang Hiat-kiam-bun
sendiri."
"Kalau memang demikian, mengapa Bong-buncu tak
melancarkan serangan terhadap Mo-toacengcu?"
"Sebab aku menguatirkan sesuatu, itulah sebabnya hingga
sekarang masih belum berani turun tangan."
Mendadak Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak,
kemudian katanya, "Apakah Bong-buncu menguatirkan kami?"
"Sedikit kuatir saja, yang terutama aku kuatir penyerbuan
secara besar-besaran dari pihak Put-gwa-cin-kau."
"Bong-buncu benar-benar seorang yang berotak panjang,
cuma saja perhitunganmu malam ini keliru besar, hingga
sekarang orang-orang Put-gwa-cin-kau masih belum
mengetahui peta harta karun itu."
Kontan Bong Thian-gak tertawa dingin, "Pengetahuan Hanheng
juga kelewat sedikit. Bila dugaanku tidak salah, bisa jadi
orang-orang Put-gwa-cin-kau sudah menyerbu masuk ke
dalam kuil Hong-kong-si ini."
"Perkataan Bong-buncu sungguh sukar dipercaya."
"Musuh tangguh sudah di depan mata, biarpun Han-heng
tidak percaya pun sekarang harus mempercayainya juga."
Baru selesai perkataan itu diutarakan, dari ujung gedung
pelan-pelan berjalan keluar seseorang.

674
Gerak-gerik orang ini sama sekali tidak menimbulkan suara,
di tengah kegelapan hanya sepasang matanya yang nampak
mencorong terang seperti bintang timur, dalam sekejap saja
orang itu sudah sampai di tengah halaman.
"Si-hun-mo-li."
Long Jit-seng yang pertama menjerit kaget lebih dahulu.
Betul, orang yang baru menampakkan diri tak lain adalah
gadis berbaju biru berwajah cantik jelita bak bidadari dari
kahyangan.
Tatkala Bong Thian-gak menyaksikan pendatang itu adalah
Si-hun-mo-li, paras mukanya berubah hebat.
Mendadak Han Siau-liong berkata, "Liu-susiok, biar aku
pergi menengok keadaan To Siau-hou."
Belum habis ia berkata, Bong Thian-gak telah menghela
napas panjang, selanya, "Tidak usah ditengok lagi! Aku kira
sebagian besar anak murid kaum pengemis yang bersembunyi
di sekeliling kuil Hong-kong-si telah mengalami musibah."
"Darimana Bong-buncu bisa tahu?"
"Anak murid kaum pengemis yang bersembunyi di seputar
kuil Hong-kong-si dipimpin oleh To Siau-hou, dengan
kecerdasan dan kepandaian silatnya, tak mungkin dia
membiarkan musuh menyerbu ke dalam kuil Hong-kong-si
sedemikian mudahnya, tapi ia telah berjumpa dengan Ji-kaucu
Put-gwa-cin-kau."
Belum habis perkataan Bong Thian-gak, Han Siau-liong
sudah berubah hebat air mukanya, dia berseru tertahan,
kemudian seperti burung bangau terbang di udara, dia
meluncur keluar gedung.
"Han-heng, hati-hati dengan Si-hun-mo-li," mendadak dia
berteriak.

675
Ketika teriakan Bong Thian-gak masih mengalun di tengah
udara, Han Siau-liong sudah menjerit kaget, tubuhnya melejit
ke tengah udara, kemudian setelah berjumpalitan beberapa
kali, dia melayang kembali ke tempat semula.
Rupanya di saat Han Siau-liong sedang berlari keluar, Sihun-
mo-li yang semula berdiri kaku di tengah halaman gedung
sudah menyongsong kedatangannya dengan cepat, bahkan
telapak tangannya yang berwarna merah dihantamkan secara
langsung ke dada Han Siau-liong.
Bagaimana pun juga Han Siau-liong merupakan seorang
jago persilatan berilmu tinggi, sudah barang tentu dia cukup
mengetahui kelihaian pukulan itu, serta-merta dia
menjatuhkan diri dan berguling di atas tanah untuk
menghindarkan diri dari sergapan kilat Si-hun-mo-li itu.
Gagal dengan sergapan mautnya, Si-hun-mo-li segera
melejit ke tengah udara dan berjumpalitan beberapa kali
secara indah dan manis, kemudian dengan lembut dan enteng
dia melayang ke depan menerjang Han Siau-liong.
Seperti guntur membelah bumi Han Siau-liong membentak
keras, pedang bajanya disertai gulungan angin serangan yang
amat dahsyat langsung membacok ke depan.
Si-hun-mo-li berteriak seperti kicauan burung nuri,
tubuhnya yang lembut seperti seekor ular menggeliat,
memutar badan menghindarkan diri dari bacokan pedang
lawan, kemudian begitu melayang turun di hadapan Han Siauliong,
telapak tangannya yang indah menawan itu langsung
dihantamkan ke dada lawan.
Kelihatannya saja serangan itu seperti lemah tidak
betenaga, namun dalam pandangan seorang ahli, kecepatan
gerak serangan itu benar-benar seperti sambaran petir.
Han Siau-liong berseru tertahan, sekujur tubuh berikut
pedangnya dijatuhkan ke sisi sebelah kiri, telapak tangan Sihun-
mo-li itu pun menggelincir lewat di bawah iga kirinya.

676
Han Siau-liong ternyata sanggup menghindar dari sergapan
maut Si-hun-mo-li, hal ini menunjukkan kepandaian silatnya
cukup tangguh.
Akan tetapi perubahan jurus serangan Si-hun-mo-li pun
pada hakikatnya cepat sukar dibayangkan.
Terlihat lengannya yang telah menerobos ke muka itu tibatiba
menekuk terus menggaet, jari-jari tangannya yang lembut
tahu-tahu sudah menghantam pinggang sebelah kanan Han
Siau-liong.
Dalam anggapan para jago yang menonton jalannya
pertarungan dari sisi arena, kali ini Han Siu Liong tak bakal
mampu menghindar lagi dari serangan itu.
"Sret, sret", dua kali desingan tajam mendengung, dua
kilatan cahaya putih telah meluncur dari tangan Liu Khi,
langsung mengarah jalan darah tenggorokan serta urat nadi
tangan Si-hun-mo-li.
Senjata rahasia pisau terbang Liu Khi memang termasyhur
sebagai senjata rahasia yang tiada duanya di kolong langit.
Setiap kali pisau terbangnya dilancarkan, sudah pasti
musuh akan terhajar secara telak hingga tewas atau paling
tidak terluka dan selama ini tidak pernah meleset, Si-hun-mo-li
pun tak dapat menghindarinya.
Tapi situasi dalam sekejap telah berubah.
Pada saat kedua bilah pisau terbang Liu Khi meluncur ke
depan dengan kecepatan luar biasa, tiba-tiba berkelebat pula
serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata
menyongsong sambaran itu.
Di tengah dentingan nyaring dan percikan bunga api yang
memancar kemana-mana, tahu-tahu pisau terbang yang
mengancam tenggorokan Si-hun-mo-li sudah terpental dan
mengenai tempat kosong.

677
Menyusul kemudian terdengar jerit kesakitan tertahan.
Pisau terbang yang lain berhasil menancap di lengan kiri Sihun-
mo-li, darah segar pun segera bercucuran dengan
derasnya.
Di tengah jeritan kagetnya, Si-hun-mo-li segera melompat
mundur beberapa tombak.
Bagaimana pun juga pisau terbang Liu Khi telah berhasil
menyelamatkan jiwa Han Siau-liong dari bencana maha besar.
Sedangkan Bong Thian-gak juga telah menyelamatkan jiwa
Si-hun-mo-li.
Rupanya cahaya bianglala yang berkelebat tadi tak lain
adalah serangan pedang Bong Thian-gak. Dengan serangan
itu dia telah merontokkan pisau terbang yang mangancam
tenggorokan Si-hun-mo-li.
Mimpi pun kawanan jago yang berada dalam halaman itu
tak mengira Bong Thian-gak bakal turun tangan
menyelamatkan jiwa Si-hun-mo-li dari ancaman maut.
Liu Khi tertawa dingin, lalu jengeknya, "Wah, cepat benar
gerakan pedang Bong-buncu!"
Sedangkan Han Siau-liong turut membentak pula dengan
keras, "Bong-buncu apa-apaan kau? Si-hun-mo-li adalah
musuh besar segenap umat persilatan, mengapa kau malah
membgntu dirinya?"
"Biarpun Si-hun-mo-li adalah musuh kita semua," kata Bong
Thian-gak, "akan tetapi aku tidak dapat membiarkan kalian
mencelakai jiwanya."
"Mengapa?" teriak Han Siau-liong setengah menjerit.
"Kesadaran Si-hun-mo-li telah punah," ucap Bong Thiangak
dengan suara dalam, "ia membunuh orang, mencelakai
orang, karena semua perbuatannya itu bukan muncul atas

678
kehendaknya sendiri, dia pribadi sebetulnya hanya seorang
yang mengenaskan dan pantas untuk dikasihani."
Sementara pembicaraan berlangsung, Si-hun-mo-li yang
berada di samping arena tertawa seram, tiba-tiba dia
menerjang ke arah Bong Thian-gak.
Melihat datangnya terjangan itu Bong Thian-gak
menggerakkan Pek-hiat-kiam melepaskan sebuah tusukan ke
samping, tujuannya tidak lain untuk membendung gerakan Sihun-
mo-li yang mendekati tubuhnya, itulah sebabnya tenaga
yang disertakan dalam serangan itu pun tidak terlalu besar.
Siapa tahu Si-hun-mo-li segera menggoyang pinggulnya
dan tiba-tiba saja menerobos masuk melalui bawah pedang,
lalu telapak tangannya dengan kelima jari tangan mirip cakar
maut mencengkeram alat kelamin Bong Thian-gak.
Jurus-serangan semacam ini pada hakikatnya merupakan
sebuah jurus serangan mematikan, kecepatan gerakannya pun
luar biasa.
Dalam terkejutnya Bong Thian-gak segera mengayunkan
kaki kanannya melepaskan tendangan kilat ke arah lengan
perempuan itu.
Sampai kini kesadaran Si-hun-mo-li belum pulih, dia seolaholah
cuma tahu menyerang musuh dan tidak mengira musuh
bakal melancarkan serangan balasan ke arahnya, oleh sebab
itu lengannya segera termakan tendangan kilat Bong Thiangak.
Tendangan itu persis menghajar mulut lukanya, diiringi jerit
kesakitan Si-hun-mo-li memegang tangan kirinya dengan
tangan kanan dan secara beruntun mundur tiga-empat
langkah.
Darah segar segera bercucuran dengan derasnya dari
lengannya, Bong Thian-gak menjadi tidak tega menyaksikan

679
rasa sakit yang memancar dari wajah perempuan itu, tanpa
terasa dia berseru lirih, "Thay-kun, maafkanlah aku!"
Dari balik mata Si-hun-mo-li memancar sinar buas
menggidikkan hati, akan tetapi mendengar panggilan "Thaykun"
dari Bong Thian-gak itu perasaannya seakan-akan
bergetar keras, sepasang matanya yang jeli dan indah segera
mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Dia seakan-akan sedang membayangkan suatu kenangan
yang telah begitu lama dilupakan olehnya.
Agaknya sorot mata maupun suara Bong Thian-gak masih
tersisa setitik bekas dan kesan dalam benak Si-hun-mo-li, oleh
sebab itu untuk beberapa saat lamanya Si-hun-mo-li
menghentikan gerak serangannya.
Setelah menghela napas panjang, Bong Thian-gak berseru
kembali dengan suara mengenaskan, "Thay-kun, masih
ingatkah kau padaku? Aku adalah Ko Hong."
"Ko Hong", begitu dua patah kata itu meluncur, paras muka
Si-hun-mo-li segera berubah hebat.
Kini paras mukanya berubah menjadi sedih, murung dan
amat mengenaskan sekali.
"Oh ... Ko Hong ... wahai Ko Hong, dimanakah kau berada?
dimanakah kau berada? Sungguh mengenaskan kematian itu."
Sejak Si-hun-mo-li terjun kembali ke dalam Bu-lim, selama
ini tak pernah seorang pun yang pernah mendengar
perempuan itu berbicara. Tapi malam ini, dia telah berbicara
seorang diri. Ucapannya amat memilukan, membuat orang
pedih, seakan-akan suara gumaman orang yang sedang
mengigau.
Dengan suara rendah Bong Thian-gak berkata lagi, "Thaykun,
aku adalah Ko Hong, aku belum mati, hanya kehilangan
sebuah lengan saja. Thay-kun, aku pasti akan menyembuhkan
kesadaranmu yang telah punah itu."

680
Ketika mendengar perkataan itu, dengan sepasang
matanya yang jeli dan bening Si-hun-mo-li mengamati wajah
Bong Thian-gak beberapa saat, mendadak dia menggeleng
perlahan, sekulum senyuman genit yang membetot sukma
tahu-tahu tersungging di ujung bibirnya.
Senyuman itu penuh mengandung daya tarik yang luar
biasa, membuat Bong Thian-gak jadi tertegun dibuatnya.
Segenap jago yang berada di halaman gedung itu pun turut
tertegun dan termangu-mangu dibuatnya.
Sementara senyuman yang manis memukau hati orang
masih menghiasi wajah Si-hun-mo-li, pada saat itu pula tibatiba
dia menggerakkan kakinya dan selangkah demi selangkah
berjalan menuju ke hadapan Bong Thian-gak.
Gerak-geriknya itu dilakukan dengan lemah lembut, sama
sekali tiada niat permusuhan, bahkan senyuman yang
tersungging di bibirnya pun nampak begitu damai, lembut dan
nikmat.
Tapi pada saat itulah tiba-tiba Si-hun-mo-li mengangkat
telapak tangan kanannya ke tengah udara dan pelan-pelan
ditekan ke atas dada Bong Thian-gak.
Pada saat bersamaan berkumandang pula suara pujian
kepada sang Buddha yang keras seperti suara genta di fajar
buta. "Omitohud!"
Serta-merta Bong Thian-gak yang berdiri termangu seperti
orang kehilangan ingatan, segera sadar kembali.
Walaupun begitu, suara pujian kepada Buddha itu
berkumandang sedikit rada terlambat.
Di saat Bong Thian-gak mendusin dari rasa kagetnya,
telapak tangan kanan Si-hun-mo-li sudah menghantam dada
Bong Thian-gak secara pelan-pelan.

681
Dengusan tertahan bergema dari bibir Bong Thian-gak,
dadanya serasa dihantam oleh batu raksasa yang beratnya
ribuan kati dan matanya berkunang-kunang, tenggorokan
terasa, anyir dan darah segar tahu-tahu sudah menyembur
dari mulutnya.
Berbareng itu sekujur tubuhnya terlempar beberapa
tombak dari tempat semula.
Si-hun-mo-li tertawa seram, bagaikan anak panah yang
terlepas dari busurnya dia langsung menerkam ke depan anak
muda itu.
"Thay-kun," jerit Bong Thian-gak dengan suara keras, "kau
... kau benar-benar kehilangan kesadaranmu."
Bong Thian-gak melayang mundur lagi.
Sewaktu mendengar jeritan keras itu, sekujur badan Sihun-
mo-li tampak gemetar keras, sekali lagi dia berdiri tak
bergerak di tempat.
"Omitohud, Sicu sudah terkena pukulannya, berarti tiada
obat yang bisa menyembuhkan jiwamu lagi," kata Hong-kong
Hwesio sambil berjalan ke samping Bong Thian-gak.
Melihat Hong-kong Hwesio mendekatinya, Bong Thian-gak
segera menggerakkan pedang di tangan kanannya
menciptakan sebuah gerakan serangan yang ampuh,
kemudian sambil tertawa dingin katanya, "Hwesio tua, aku
tidak bakal mati, bila kau ingin membalas dendam bagi
kematian Thia Leng-juan, kau mesti menyambut beberapa
jurus seranganku lebih dahulu."
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang dan
menggeleng kepala, katanya, "Lolap tak bermaksud bertarung,
berhubung aku mempunyai suatu masalah yang tak kupahami,
maka mumpung Sicu belum mati, aku ingin menanyakan
sampai jelas, harap Sicu bersedia menjawab pertanyaanku
itu."

682
Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak berseru, "Aku tidak
bakal mati, bila kau ingin menanyakan sesuatu cepat
utarakan!"
Pelan-pelan Hong-kong Hwesio bertanya, "Belum pernah
ada seorang pun yang bisa lolos dalam keadaan hidup setelah
terhajar secara telak oleh serangan Si-hun-mo-li, keadaan Sicu
saat ini benar-benar berbahaya sekali, ai! Adapun persoalan
yang ingin Lolap tanyakan adalah sebutan *Ko Hong' yang
Sicu pergunakan tadi, benarkah Sicu adalah orang yang
bernama Ko Hong?"
Bong Thian-gak tidak menjawab pertanyaan itu secara
langsung, dia berkata, "Hwesio tua, aku tidak bakal mati dan
sekali aku bilang tak akan mampus aku tetap tak akan
mampus. Ilmu pukulan paling lihai yang diandalkan Si-hunmo-
li adalah ilmu sakti Soh-li-jian-yang-sinkang, padahal Sihun-
mo-li hanya berhasil melatih ilmu pukulan Soh-li-jianyang-
sin-kang pada tangan kiri. Sedangkan serangan yang
bersarang di tubuhku tadi berasal dari telapak tangan
kanannya, oleh sebab itu aku tidak bakal mati, aku hanya
menderita luka parah isi perutku saja."
Mendengar penjelasan ini, Hong-kong Hwesio berkata,
"Kalau demikian Sicu memang benar-benar adalah Ko Hong,
kalau tidak, mustahil kau bisa mengetahui asal-usul Si-hunmo-
li sedemikian jelas."
Bong Thian-gak tersenyum.
"Ko Hong adalah nama samaranku pada tiga tahun
berselang, Bong Thian-gak barulah namaku yang sebenarnya,
Hwesio tua, ada keperluan apa kau menanyakan tentang hal
ini?"
Setelah menghela napas panjang, Hong-kong Hwesio
berkata, "Pernahkah Bong-sicu mengira, semasa hidupnya
dulu Thia Leng-juan pernah meminta kepada Lolap untuk
mencarikan seseorang yang bernama Ko Hong."

683
"Thia Leng-juan menyuruh kau mencari aku? Apakah dia
meminta kau untuk membunuhku?"
Sekali lagi Hong-kong Hwesio menghela napas panjang,
"Ai, Bong-sicu kau salah besar! Ketika Thia Leng-juan Tayhiap
meminta Lolap mencarimu, dia meminta Lolap membantu
segala sesuatu bagimu, dia berkata kau adalah murid penutup
Ku-lo Sinceng dari Siau-lim-pay, sebelum beliau menutup
mata, kau pun pernah mempelajari ilmu Tat-mo-khi-kang
sehingga kaulah satu-satunya orang yang bisa mematahkan
serangan Soh-li-jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li. Di
samping menyerahkan pesannya itu kepada Lolap, Thia Lengjuan
juga pernah menjelaskan segala sesuatu alasannya
menggabungkan diri dengan pihak Put-gwa-cin-kau."
Tatkala mendengar semua itu, sekujur badan Bong Thiangak
gemetar keras, dengan sedih dia menyela, "Jadi Thia
Leng-juan tidak pernah menyeleweng dari kebenaran?"
Hong-kong Hwesio menghela napas sedih, "Sejak
permulaan sampai akhir Thia Leng-juan tak pernah
menyeleweng dari kebenaran. Untuk menghadapi
cengkeraman iblis yang mulai meluas di seluruh dunia
persilatan, dia tak segan-segannya mengorbankan diri.
Biarpun di luar dia adalah Sam-kaucu Put-gwa-cin-kau,
padahal sebetulnya dia adalah musuh dalam selimut, itu hanya
sebagian saja dari kecerdasan otaknya, ai, dalam keadaan
begini, Lolap tidak ada waktu untuk menerangkan segala
sesuatunya kepadamu secara jelas, Thian sungguh adil, Thiatayhiap
memang benar-benar pahlawan sejati, pendekar
perkasa harus mengorbankan jiwanya secara demikian
mengenaskan."
Dalam pada itu dalam benak Bong Thian-gak seakan-akan
terlintas semua gerak-gerik serta ucapan Thia Leng-juan
menjelang ajalnya tadi.

684
Tiba-tiba sepasang matanya menjadi merah, dengan
terbata-bata dia berbisik, "Aku sangat menyesal, aku telah
bertindak gegabah."
Sambil bergumam, selangkah demi selangkah dia berjalan
menghampiri jenazah Thia Leng-juan, kemudian menjatuhkan
diri berlutut dan berkomat-kamit entah apa yang didoakan.
Dia amat menyesal atas kecerobohan sendiri.
Dia merasa amat sedih, kesal dan murung.
Tiba-tiba dari samping tubuhnya berkumandang suara
pujian syukur kepada sang Buddha, kemudian Hong-kong
Hwesio berkata pelan, "Omitohud! Ai, Sicu tak perlu menyesal,
kematian Thia-tayhiap bukan seluruhnya dikarena
kecerobohan Sicu ... aku masih ingat perkataannya kepadaku
tempo hari, 'Bila Ko Hong masih hidup, maka di saat dia
muncul lagi dalam Bu-lim, Thia Leng-juan merasa tiada
kepentingan lagi untuk tetap hidup di dunia ini'. Dari katakatanya
itu bisa disimpulkan bahwa Thia-tayhiap memang
sudah mempunyai rencana untuk mengakhiri hidupnya setelah
mengetahui bahwa Sicu adalah Ko Hong."
"Mengapa dia berencana mengakhiri hidupnya setelah
berjumpa dengan diriku?" tanya Bong Thian-gak pedih.
"Kesulitan Thia-tayhiap tidak mungkin bisa Lolap terangkan
dengan sepatah dua patah kata saja, lebih baik kita bicarakan
lagi di kemudian hari. Sekarang yang penting Sicu harus
bersiap menghadapi kawanan musuh tangguh!"
Sementara mereka sedang berbincang, di sekeliling
halaman itu telah bermunculan bayangan orang dengan cepat,
rombongan orang berbaju hitam itu mengepung dengan
menggenggam tombak.
Dari kemampuan mereka berjalan tanpa menimbulkan
suara serta gerak-geriknya yang aneh dan misterius,

685
bahwasanya rombongan itu betul-betul merupakan
sekelompok musuh tangguh yang lihai.
Dengan sorot mata tajam Bong Thian-gak memperhatikan
sekejap orang-orang yang berada di sekeliling tempat itu,
kemudian dengan cepat dia melompat bangun sambil bisiknya,
"Ah, mereka adalah orang-orang Put-gwa-cin-kau."
"Betul," Hong-kong Hwesio menghela napas panjang,
"mereka adalah orang-orang Put-gwa-cin-kau, sungguh tak
kusangka dia pun sudah muncul di wilayah Hopak."
"Dia? Siapa yang kau maksud?" tanya Bong Thian-gak
keheranan.
Hong-kong Hwesio memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, kemudian katanya, "Sicu, tahukah kau, manusia
manakah yang merupakan musuh terlihai di dalam Put-gwacin-
kau?"
"Cong-kaucu serta Ji-kaucu?"
Dengan cepat Hong-kong Hwesio menggeleng kepala
berulang kali, katanya cepat, "Biarpun Ji-kaucu serta Congkaucu
sangat lihai, kedua orang itu tidak menakutkan."
Mendengar perkataan itu sekali lagi Bong Thian-gak
mengawasi orang-orang berbaju hitam yang berada di
sekeliling tempat itu, mendadak ia berseru tertahan sambil
serunya, "Ah, tampaknya rombongan orang ini berasal dari
pasukan pengawal tanpa tanding?"
"Ya, betul," Hong-kong Hwesio mengangguk, "mereka
adalah pasukan pengawal tanpa tanding dari Put-gwa-cinkau."
Bong Thian-gak mengerut dahi, kemudian tanyanya,
"Apakah orang paling lihai dari Put-gwa-cin-kau yang kau
maksudkan adalah komandan nomor satu pasukan pengawal
tanpa tanding ini?"

686
"Betul, dialah yang kumaksudkan."
"Apakah dia pun berada di sini?"
"Belum, tapi dia pasti akan muncul di tempat ini, sebab
ketiga belas pengawalnya sudah muncul."
Sementara itu Han Siau-liong yang menyaksikan
kemunculan ketiga belas orang berbaju hitam itu makin
percaya bahwa kawanan jago Kay-pang yang ditugaskan
menjaga di luar kuil Hong-kong-si telah mengalami musibah.
Han Siau-liong berpaling ke arah Liu Khi, lalu katanya,
"Susiok, aku rasa kita harus turun tangan lebih dulu untuk
menguasai keadaan."
Sejak muncul hingga sekarang, Liu Khi jarang berbicara,
pada saat itulah dia menjawab dengan suara dingin, "Siauliong,
kau harus dapat mengendalikan diri, pertarungan yang
bakal berkobar dalam kuil Hong-kong-si hari ini, bisa jadi akan
merupakan pertarungan mati-matian yang jarang terjadi Bulim,
barang siapa bisa mempertahankan hidup dalam
pertarungan nanti, dialah yang mungkin akan mendapat harta
karun peninggalan raja muda Mo-lay-cing-ong."
Beberapa patah kata Liu Khi menggerakkan hati kawanan
jago yang berada di dalam arena, semua orang seolah-olah
dapat merasakan juga bahwa di dalam kuil Hong-kong-si yang
kecil itu bisa jadi akan berkobar pertempuran berdarah yang
belum pernah terjadi sebelumnya.
Bersambung j ilid 2

687
Jilid 2
Tiba-tiba Mo Hui-thian tertawa kering, kemudian berkata,
"Apabila pihak Kay-pang ingin mengangkangi sendiri harta
karun Mo-lay-cing-ong, hanya dengan mengandalkan
kemampuan Liu Khi serta Han Siau-liong saja hal itu jauh tidak
cukup."
"Bagaimana pun juga kemampuan Kay-pang rasanya masih
jauh lebih mengungguli kemampuan perkumpulan Kiam-liongkiam-
san-ceng." Liu Khi balas mengejek.
"Hehehe, perkataan Liu-heng memang tepat," Mo Hui-thian
tertawa kering, "cuma pedang Lohu ini bukanlah pedang yang
bisa dihadapi seenaknya."
"Aku tahu, pedang Mo-loji paling tidak masih mampu
membacok batok kepala beberapa anggota Put-gwa-cin-kau,
kami Kay-pang ingin meminjam pedangmu itu."
"Mana ... mana, mengapa Liu-heng tidak mulai terlebih
dahulu?"
"Atas dasar kemampuan kita bertiga, rasanya masih belum
cukup untuk menghadapi orang-orang Put-gwa-cin-kau,"
jawab Liu Khi dingin.
"Omitohud!" tiba-tiba Hong-kong Hwesio memuji
keagungan Buddha, "perkataan Liu-sicu memang benar,
perubahan situasi yang kita hadapi sekarang membutuhkan
kerja sama untuk menghadapi musuh tangguh Put-gwa-cinkau,
kita wajib menghancurkan dan mematahkan mereka
terlebih dahulu."
Mo Hui-thian tertawa, selanya, "Seandainya beberapa
orang di antara kita bersedia bekerja sama, aku yakin
kekuatan yang kita himpun ini sanggup untuk menghadapi

688
serbuan pihak Put-gwa-cin-kau, sayang, kita semua masih
belum seia-sekata."
Selesai berkata, dia berpaling dan memandang sekejap
Bong Thian-gak.
Tentu saja Bong Thian-gak memahami maksud Mo Huithian
itu, maka ujarnya kemudian dengan suara hambar,
"Biarpun pihak Kay-pang serta perkumpulan Kim-liong-kiamsan-
ceng mempunyai dendam kesumat dengan Hiat-kiam-bun,
tapi permusuhan itu tidak sedalam permusuhan kami dengan
pihak Put-gwa-cin-kau."
"Kalau begitu kita bisa bersatu-padu sekarang," ujar Mo
Hui-thian sambil tertawa. "Nah, kita turun tangan lebih dulu
menggasak habis manusia-manusia cecunguk itu."
"Yang perlu kita musnahkan pertama-tama adalah Si-hunmo-
li," kata Liu Khi tiba-tiba.
Selesai berkata, lengan tunggalnya segera diayunkan ke
depan, dua batang pisau terbang yang telah disiapkan sejak
tadi disambitkan ke muka.
Berubah hebat paras muka Bong Thian-gak mendengar
perkataan itu, serunya dengan cepat, "Tunggu sebentar!"
Mo Hui-thian tertawa dingin, jengeknya, "Beberapa
kelompok di antara kita ini memang selamanya tak mungkin
bisa bersatu."
"Barang siapa di antara kalian berani memukul Si-hun-moli,
Pek-hiat-kiam di tanganku ini tak akan memberi ampun
kepadanya," ancam Bong Thian-gak dengan suara dalam.
Sembari berkata, Pek-hiat-kiam di tangannya segera
disilangkan di depan dada, kemudian dengan wajah serius dan
bersungguh-sungguh dia mengawasi semua orang dengan
seksama.

689
Suasana di halaman gedung itu seketika tercekam dalam
keheningan, rasa tegang dan napsu membunuh yang
menggidikkan menyelimuti benak setiap orang.
Han Siau-liong segera menimbrung, "Bong-buncu, kau
sudah merasakan sendiri betapa lihainya Si-hun-mo-li,
seandainya perempuan itu tidak kita lenyapkan lebih dulu,
kemungkinan besar kita semua akan terluka oleh pukulan Sohli-
jian-yang-sin-kangnya."
"Perkataanku tadi sudah cukup jelas," kata Bong Thian-gak
dengan wajah serius, "aku tak mengizinkan orang melukainya,
bila Liu Khi berani melepas pisau terbangnya, maka Pek-hiatkiam
ini akan segera memenggal pula batok kepalanya."
Liu Khi yang mendengar perkataan itu tertawa dingin,
"Sekali pun pisau terbang Liu Khi sudah dicekal dalam
genggaman, tak pernah berlaku dalam kamusku untuk
menyimpannya kembali.”
"Aku tahu kepandaian silat yang kau miliki sangat hebat,
tapi pada saat kau melepaskan pisau terbangmu itu, mustahil
bisa menghindar dari babatan Pek-hiat-kiam, maka kunasehati
kepadamu, lebih baik jangan menyerempet bahaya."
Mendadak Mo Hui-thian mengangkat pedangnya dan dari
kejauhan diarahkan pada Bong Thian-gak, setelah itu katanya
sambil tertawa kering, "Sebetulnya aku merupakan penengah,
tapi setelah diperhitungkan untung ruginya, aku lebih condong
berpihak ke Liu-heng, dengan posisi demikian apakah Bong
Thian-gak masih tetap bersikeras melindungi Si-hun-mo-li?"
"Omitohud!" tiba-tiba Hong-kong Hwesio berkata memuji
keagungan Buddha, "kuminta Sicu sekalian jangan bertindak
kelewat gegabah, lebih baik kita bersama-sama merundingkan
cara pemecahan yang bijaksana."
Tiba-tiba Bong Thian-gak menghela napas panjang, lalu
berkata, "Kuharap kalian bersedia mendengarkan
perkataanku, sesungguhnya Si-hun-mo-li adalah seorang

690
perempuan yang patut dikasihani, aku Bong Thian-gak pernah
berhutang budi kepadanya, oleh sebab itu bila kalian berharap
bantuanku malam ini untuk menghadapi orang-orang Putgwa-
cin-kau, maka kalian harus memenuhi syaratku lebih
dulu, yakni tidak boleh mencelakai jiwa Si-hun-mo-li."
Baru selesai perkataan itu, mendadak terdengar suara
dingin yang menggidikkan berkumandang dari sudut halaman
gedung, menyusul kemudian seseorang berkata dengan suara
sedingin salju, "Dengan mengandalkan kemampuan kalian,
aku rasa masih belum mampu membunuh Si-hun-mo-li."
Mendengar perkataan itu, para jago segera berpaling, dari
sudut halaman sebelah utara pelan-pelan muncul dua orang.
Orang pertama adalah sastrawan berbaju hijau yang sangat
dikenal Bong Thian-gak, yakni Ji-kaucu.
Sedangkan orang kedua adalah seorang kakek berbaju
panjang berwarna hitam yang pada bagian dadanya tersulam
seekor naga emas yang sedang melingkar.
Orang itu seperti tidak membawa senjata, dia hanya
bertangan kosong, namun Bong Thian-gak yang melihat sorot
mata dan gerak-geriknya yang mantap, kontan keningnya
berkerut kencang.
la merasa kelihaian ilmu silat orang ini mungkin sudah
mencapai tingkat yang tak terhingga, bahkan di antara
kawanan jago persilatan yang pernah dijumpai olehnya, boleh
dibilang kakek baju hitam inilah yang memiliki kepandaian silat
paling hebat.
Perasaan ini hanya Bong Thian-gak yang dapat merasakan.
Mungkinkah dia adalah komandan nomor satu pasukan
pengawal tanpa tanding Put-gwa-cin-kau?
Kakek berbaju hitam itu berjalan bersanding dengan Jikaucu,
sambil melangkah ke arena, dia menyapu pandang
sekejap para jago yang hadir, katanya dengan suara dingin,

691
"Liu Khi, bila kau tidak percaya, silakan kau timpukkan pisau
terbangmu itu, coba kita buktikan apakah Si-hun-mo-li benarbenar
akan mampus di ujung pisau terbangmu itu?"
Dalam keadaan demikian, secara tiba-tiba Liu Khi menarik
kembali kedua pisau terbang yang semula dicekal dalam
genggamannya, kemudian setelah tertawa, katanya, "Kau
ingin menyaksikan aku melepaskan pisau terbang? Boleh saja,
tapi tunggu sampai kita berhadapan nanti, bisa kau buktikan
dengan mata kepalamu sendiri!"
Kakek berbaju hitam tertawa dingin, "Selama ini dalam Bulim
tersiar berita yang mengatakan Liu Khi adalah seorang ahli
senjata rahasia nomor wahid di kolong langit, sayang aku
justru tak mau percaya dengan ucapan itu!"
"Bagaimanakah kemampuan Liu Khi dalam melepaskan
pisau terbang, mengapa tidak kau tanya sendiri kepada Jikaucu?"
Liu Khi berkata sambil berkata.
Ji-kaucu yang berada di sisi kiri lantas tersenyum, "Biarpun
pisau terbangmu lebih cepat setingkat pada tiga tahun
berselang ketika kita beradu di wilayah Sucwan, namun
pertandingan itu sesungguhnya belum dapat menentukan
secara tepat siapa yang unggul."
"Kalau begitu dengan cara apa kita baru dapat mengetahui
secara tepat siapa sesungguhnya yang lebih unggul di antara
kita?"
"Aku pikir, kita harus mengulangi pertarungan penentuan
untuk membuktikan siapa sesungguhnya yang lebih unggul,"
jawab Ji-kaucu dengan wajah membesi dan suara hambar.
"Ya, tentu saja dengan senang hati akan kulayani
pertarungan ulangan itu."
Mendadak terdengar Hong-kong Hwesio berseru dengan
suara keras, "Sim Tiong-kiu, masih ingat dengan aku si Hwesio
tua?"

692
"Biar kau si keledai gundul sudah berubah menjadi abu pun
aku masih mengenali dirimu," jawab kakek baju hitam itu
dengan keras.
"Omitohud, Sim-sicu! Kuanjurkan padamu, lebih baik
lepaskan saja golok pembunuhmu! Biarpun pelajaran Buddha
tak bertepian, namun Hud-co pasti akan mengampuni semua
dosa-dosa Sicu di masa lampau bila kau bersedia bertobat."
Kakek berbaju hitam itu tertawa dingin, "Keledai gundul,
apakah kau sudah menyadari bakal mati pada malam ini,
maka sekarang memohon Lohu untuk memberikan jalan hidup
bagimu?"
"Omitohud," kata Hong-kong Hwesio, "bila Sim-sicu masih
juga tak mau bertobat dan menyesali semua kejahatan yang
pernah kau lakukan, jangan menyesal nanti."
"Hong-kong Hwesio," tukas kakek berbaju hitam ketus,
"sekali pun kau menghadap dinding dan berlatih tekun selama
lima puluh tahun lagi masih bukan tandinganku, siapa
orangnya yang mampu mencabut nyawaku?"
Perkataan kakek berbaju hitam ini sangat takabur dan
sombong bukan alang-kepalang, ia benar-benar tidak
memandang sebelah mata terhadap orang lain, seakan-akan
dialah manusia paling hebat di kolong langit dan tiada orang
kedua yang mampu mengungguli dirinya.
Sudah barang tentu semua jago yang hadir dalam arena
merasa mendongkol.
Mendadak Han Siau-liong tertawa tergelak, kemudian
serunya, "Kesombongan dan kejumawaanmu benar-benar
membuat perasaan orang tidak enak, biarpun aku hanya
seorang yang berkepandaian cetek, namun ingin sekali kucoba
sampai dimanakah kemampuan orang yang menganggap
dirinya paling wahid di kolong langit ini."

693
"Bila kau tidak percaya, silakan saja mencoba," jengek
kakek baju hitam itu hambar.
"Oh, tentu saja aku akan mencoba," Han Siau-liong tertawa
lebar.
Selesai berkata, dengan pedang terhunus selangkah demi
selangkah Han Siau-liong maju ke muka.
Melihat Han Siau-liong tampil, buru-buru Hong-kong
Hwesio berkata, "Han-sicu, harap berhenti dulu."
"Hahaha," Han Siau-liong tertawa terbahak-bahak, "Hwesio
tua, biarpun aku bisa menahan diri dan membiarkan cecunguk
itu pamer kesombongannya, sayang, orang lain tidak memiliki
kesabaran sebesar itu."
Liu Khi sendiri pun dapat merasakan kepandaian silat kakek
berjubah hitam itu lihai sekali dan Han Siau-liong bukan
tandingannya, tapi batinnya, "Tenaga dalam Han Siau-liong
amat sempurna, sekali pun kakek baju hitam itu ingin
mengunggulinya, hal ini tak akan terjadi dalam satu-dua
gebrakan saja ... biar saja dia turun tangan menguji
kemampuannya."
Karena pikiran ini, maka dia pun membiarkan Han Siauliong
meneruskan langkahnya.
Baik Bong Thian-gak maupun Mo Hui-thian sama-sama
ingin mengetahui sampai dimanakah kemampuan kakek
berjubah hitam itu, dengan mata tak berkedip mereka
mengawasi langkah Han Siau-liong menuju ke depan.
Tentu saja Han Siau-liong memiliki kepandaian amat lihai,
sepintas dia nampak seperti pemuda yang tinggi hati dan
jumawa, padahal dia tak berani menganggap enteng setiap
lawannya.
Dengan langkah tegap dan mantap, selangkah demi
selangkah dia maju ke depan, semua jago yang berada di
arena rata-rata mengetahui, secara diam-diam Han Siau-liong

694
telah menghimpun tenaga dalam dan dihimpun ke lengannya,
dari lengan disalurkan ke pedang bajanya.
Selain itu semua orang juga tahu bahwa serangan
pedangnya yang pertama nanti, Han Siau-liong pasti akan
melepaskan sebuah serangan maha dahsyat.
Menghadapi serangan Han Siau-liong itu, si kakek baju
hitam tetap acuh tak acuh, dengan sikap amat tenang dia
menantikan Han Siau-liong menghampirinya selangkah demi
selangkah.
Mendadak suara bentakan keras memecah keheningan,
pedang baja Han Siau-liong disertai deru angin yang amat
hebat langsung menyambar dan membacok tubuh si kakek
berbaju hitam.
Serangan pedang yang dilancarkan olehnya ini boleh
dibilang disertai kecepatan luar biasa dan kekuatan yang
sanggup membelah bukit karang.
Ketika kawanan jago itu melihat datangnya serangan tadi,
semuanya beranggapan sama, kecuali menghindarkan diri,
rasanya sulit bagi Sim Tiong-kiu untuk menyambut datangnya
ancaman itu dengan kekerasan.
Tak disangka, tindakan yang dilakukan Sim Tiong-kiu sama
sekali di luar dugaan semua orang.
Bukannya menghindar atau melompat mundur, tahu-tahu
Sim Tiong-kiu malah melompat ke muka dan melepaskan
sebuah tendangan dengan kaki kirinya mengarah datangnya
ancaman pedang itu.
Sambil mendesak ke muka, kakek baju hitam itu berseru
lantang, "Enyah kau dari sini!"
Tahu-tahu tendangan itu bersarang di dada lawan, Han
Siau-liong mendengus tertahan, tubuhnya terpental ke tengah
udara.

695
Berbareng dengan mencelatnya Han Siau-liong, mendadak
tampak titik-titik cahaya tajam yang menyilaukan mata
menyambar ke tubuh kakek berbaju hitam itu.
Rupanya titik-titik cahaya itu tidak lain adalah pisau terbang
yang disambitkan secara tiba-tiba oleh Liu Khi.
"Hm, kau anggap pisau terbangmu itu mampu melukai
diriku?" jengekan dingin bergema di udara.
Bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Sim Tiong-kiu telah
berdiri kembali di tempat semula, hanya pada jari tangan
kirinya kini telah bertambah dengan dua pisau terbang yang
memancarkan cahaya tajam.
Pisau terbang milik Liu Khi sebenarnya terhitung sangat
hebat, jarang ada orang yang mampu menghindarkan diri dari
sergapannya, tapi kenyataan sekarang pisau terbang itu sama
sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap orang berbaju
hitam itu.
Dalam pada itu Han Siau-liong yang mencelat ke belakang
berikut pedangnya, kini sudah menggeletak di tanah dan tidak
berkutik lagi.
Bong Thian-gak dan Mo Hui-thian serentak maju
mendekatinya.
Tampak oleh mereka, Han Siau-liong sudah tergeletak di
tanah dengan wajah pucat-pias seperti mayat, rupanya dia
sudah dalam keadaan tak sadarkan diri.
Han Siau-liong adalah jagoan lihai nomor tiga dalam Kaypang,
sampai dimana kepandaiannya Bong Thian-gak pernah
menyaksikan sendiri, bahkan pemuda itu terhitung jago lihai
dalam Bu-lim.
Tapi kenyataan sekarang jagoan itu dibikin keok dan tak
sadarkan diri dalam satu gebrakan saja, boleh dibilang
peristiwa semacam ini sungguh menggidikkan.

696
Itu berarti juga Sim Tiong-kiu benar-benar merupakan
seorang jagoan hebat.
Untuk beberapa saat lamanya para jago bergidik dengan
perasaan bergetar keras, mereka hanya bisa saling pandang
dan mulut membisu.
Suara dingin, ketus dan sombong Sim Tiong-kiu kembali
berkumandang di sisi telinga para jago, terdengar ia berkata,
"Apakah masih ada orang lain yang ingin mencoba kepandaian
silatku?"
Tantangan yang begitu sombong dan takabur semacam ini
pada hakikatnya cukup membuat orang tidak tahan.
Toa-cengcu Kim-liong-kiam-san-ceng Mo Hui-thian tertawa
seram, katanya, "Mo Hui-thian ingin sekali mencoba
kepandaian silatmu."
"Mo-cengcu dikenal sebagai pendekar pedang nomor wahid
di kolong langit, aku memang sudah lama ingin mencoba
kepandaian ilmu pedangmu itu," jawab Sim Tiong-kiu hambar.
"Mo-cengcu, harap kau suka menahan diri, jangan kau
lakukan tindakan gegabah," Hong-kong Hwesio berseru
dengan suara dalam.
Mo Hui-thian berpaling dan memandang sekejap ke arah
Hong-kong Hwesio, katanya, "Hwesio tua, apakah dengan
kemampuan yang kumiliki masih belum mampu menyambut
sejurus serangannya?"
"Apakah Mo-cengcu dapat "melihat pukulan yang
menyebabkan Han Siau-liong terluka parah?" tanya Hongkong
Hwesio dengan wajah serius.
Mendengar pertanyaan itu, semua jago serentak
mengangkat kepala dan menengok ke arah Hong-kong
Hwesio.

697
Memang sampai sekarang tak seorang pun di antara yang
hadir mengetahui luka apakah yang diderita Han Siau-liong.
Mo Hui-thian tertawa rikuh, lalu dia balik bertanya, "Apakah
kau tahu, pukulan apa yang menyebabkan Han Siau-liong
terluka?"
Hong-kong Hwesio menggeleng kepala, "Hingga kini Lolap
masih belum tahu ilmu sakti apakah yang telah dilatih Simsicu,
tapi Lolap tahu, dewasa ini sedikit sekali ada yang bisa
menghindarkan diri dari serangannya itu."
Mo Hui-thian tertawa dingin, serunya, "Hei, Hwesio tua, kau
tahu berapa orang di kolong langit ini yang mampu
menghindarkan diri dari serangan pedangku?"
"Sekali pun serangan pedangmu sangat lihai dan luar biasa,
jarang ada orang yang sanggup menghadapinya, akan tetapi
pernahkah Mo-cengcu bayangkan bahwa musuh pada
hakikatnya tak akan memberi kesempatan kepadamu untuk
melancarkan serangan."
Hati Mo Hui-thian bergetar keras, dia segera bertanya,
"Hwesio tua, apakah maksudmu berkata demikian?"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, "Ai, musuh
yang akan menyerang lebih dahulu, bukan kau yang
melancarkan serangan menyergap lawan."
Mo Hui-thian tercekat, dengan cepat ia bertanya, "Barusan
bukankah Han Siau-liong yang telah melancarkan serangan
lebih dahulu terhadap lawan?"
"Tentu saja tidak," seru Hong-kong Hwesio sambil
menggeleng.
Jawaban ini dengan cepat menimbulkan tanda tanya besar
bagi kawanan jago itu.

698
Sudah jelas terlihat tadi bahwa Han Siau-liong melancarkan
serangan lebih dahulu, bagaimana mungkin bisa dikatakan
Sim Tiong-kiu yang menyerang lebih dulu?
Setelah tertawa dingin Mo Hui-thian bertanya, "Hwesio tua,
bisakah kau terangkan bagaimana cara musuh melancarkan
serangan lebih dulu?"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, "Ai, Lolap
bisa menerangkan, tentu saja bisa pula mematahkan jurus
serangan yang mematikan dari Sim Tiong-kiu itu."
"Huh, pada hakikatnya kau hanya ngaco-belo belaka, aku
justru tidak percaya dengan segala takhayul!" jengek Mo Huithian
sambil tertawa kering.
Sembari berkata, pedangnya segera diangkat, kemudian
pelan-pelan diturunkan ke depan dada, setelah itu ia
menggenggam pedangnya dengan kedua tangan dan "Crit",
tubuh berikut pedangnya tahu-tahu meluncur ke depan Sim
Tiong-kiu dan menusuk tubuhnya.
Kawanan jago di arena saat ini boleh dibilang rata-rata
adalah jagoan persilatan yang berilmu tinggi, setelah
menyaksikan jurus pedang yang dipergunakan Mo Hui-thian,
tanpa terasa masing-masing pihak berpekik lirih, “Ah, ilmu
pedang terkendali!"
Yang disebut ilmu pedang terkendali adalah semacam ilmu
pedang tingkat atas yang paling sukar dipelajari, bila
kepandaian itu sudah mencapai puncaknya, maka serangan
pedang bisa dikendalikan dari jarak jauh, bila demikian
keadaannya maka memenggal batok kepala orang dari
kejauhan bukan suatu pekerjaan yang amat sukar.
Tiba-tiba saja Mo Hui-thian memepergunakan kepandaian
maha sakti ini untuk menyerang musush, pada hakikatnya
kejadian itu benar-benar merupakan suatu peristiwa yang luar
biasa.

699
Hawa pedang yang tajam bagaikan sembilu diiringi deru
angin tajam segera melintas dan menusuk ke tubuh Sim
Tiong-kiu.
Tapi bersamaan dilancarkannya serangan itu, jeritan kaget
serta suara bentrokan nyaring bergema memecah keheningan.
Tubuh Mo Hui-thian seperti layang-layang putus benang
terpental di udara dan berjumpalitan sebanyak tiga kali,
kemudian jatuh terbanting ke tanah.
Bong Thian-gak menghampiri orang itu.
Tampak paras muka Mo Hui-thian pucat-pias seperti mayat,
napasnya tersengal-sengal, ia mengangkat kepala
memandang ke arah Bong Thian-gak sambil menggerakkan
bibirnya yang gemetar seperti hendak memberitahukan
sesuatu kepada Bong Thian-gak, namun tak sepatah kata pun
yang terdengar.
Dengan cepat Bong Thian-gak menempelkan telapak
tangan kanannya ke jalan darah Mi-bun-hiat di tubuh Mo Huithian.
Secara beruntun Mo Hui-thian muntah darah sebanyak tiga
kali, tiba-tibanya kulit mukanya mengejang keras, kemudian
roboh dan tidak sadarkan diri.
Hanya dalam sekali gebrakan saja secara beruntun Sim
Tiong-kiu telah berhasil merobohkan dua jago persilatan yang
berilmu tinggi, kehebatannya itu dengan cepat menghebohkan
dan menggidikkan hati setiap orang.
Kembali Bong Thian-gak mengangkat kepala, ia lihat Sim
Tiong-kiu masih tetap tegak berdiri di tempat, wajahnya dingin
bagaikan es, selapis hawa dingin yang menggidikkan seakanakan
menyelimuti tubuhnya.
Waktu itu ujung baju lengan kirinya telah robek separo,
tampaknya terpapas robek oleh sambaran hawa pedang yang
dipancarkan oleh Mo Hui-thian tadi.

700
"Masih ada siapa lagi yang ingin mencoba kepandaianku?"
suara yang dingin dan sombong Sim Tiong-kiu sekali lagi
berkumandang.
Sudah jelas Sim Tiong-kiu hendak mempergunakan
kepandaian rahasianya yang maha sakti, hendak melukai
kawanan jago yang hadir di arena satu demi satu.
Itulah sebabnya ia menantang lagi para jago lain untuk
mencoba kepandaian silatnya.
Sementara itu Bong Thian-gak telah menggeser badan,
kemudian ujarnya, "Kepandaian silat yang kau miliki memang
sangat hebat, aku percaya tak bisa menandingi kehebatanmu
itu, meski demikian aku ingin juga menjajal kepandaianmu
itu."
"Bong-sicu, kau tidak boleh bertindak secara gegabah."
Bong Thian-gak berpaling dan memandang sekejap ke arah
Hong-kong Hwesio, kemudian katanya dengan suara nyaring,
"Hari ini kita sudah berhadapan dengan lawan, cepat atau
lambat pertarungan tak bisa dihindari lagi, kau suruh aku
jangan bertindak sembarangan, apakah kau hendak menyuruh
aku menerima kematian begitu saja?"
Hong-kong Hwesio menghela napas sedih, kemudian
katanya, "Kedua orang murid Lolap mungkin sanggup
menahan serangannya, Bong-sicu, harap kau jangan turun
tangan lebih dulu!"
Dalam pada itu kedua murid Hong-kong Hwesio telah maju
bersama ke depan.
Bong Thian-gak memandang sekejap ke arah kedua anak
buah Hong-kong Hwesio yang berjenggot hitam itu, lalu dia
bertanya, "Apakah Siancu berdua punya keyakinan dapat
menahan serangannya?"

701
Mendengar pertanyaan itu, kedua Hwesio berjenggot hitam
itu menggeleng kepala, namun tidak mengucapkan sepatah
kata pun.
Kembali Bong Thian-gak berkata, "Bila Siancu berdua
memang tidak punya keyakinan, lebih baik mundurlah untuk
sementara waktu."
"Bong-sicu," terdengar Hong-kong Hwesio berkata, "kedua
orang muridku ini selain bisu juga tuli, semua perkataanmu itu
tak mungkin didengarnya."
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak menghela napas
panjang, segera pikirnya, "Oh, rupanya kedua orang ini bisu
tuli, tak heran selama ini tak kudengar ucapan mereka barang
sepatah kata pun."
Berpikir sampai di situ, Bong Thian-gak memandang
sekejap ke arah Hong-kong Hwesio, lalu berkata, "Kalau kedua
murid Hwesio tua bisu tuli, mereka lebih-lebih tidak
seharusnya dikirim ke arena untuk melangsungkan
pertarungan itu!"
Hong-kong Hwesio menghela napas panjang, "Ai, biarpun
kedua muridku ini bisu tuli, namun ketajaman mata serta
kecerdasan otak mereka jauh melebihi orang biasa, bahkan
boleh dikatakan kelewat tajam dan cerdik. Bong-sicu tak perlu
kuatir, siapa tahu kedua muridku itu mampu mematahkan ilmu
rahasia andalan Sim Tiong-kiu."
Pada saat itulah terdengar Sim Tiong-kiu berkata sambil
tertawa dingin, "Keledai gundul, bila kau menginginkan kedua
murid cacatmu bisa mematahkan ilmu maha saktiku, tunggu
saja bila matahari terbit dari langit barat."
"Walaupun kedua orang itu tidak mempunyai keyakinan
untuk membendung kesaktian silat Sicu, tapi pada puluhan
tahun berselang kedua orang itu sudah mulai melatih diri
secara tekun dan berhasil menciptakan sejenis ilmu silat yang
dapat mematahkan jurus sakti Sim-sicu."

702
"Kalau memang begitu, suruh saja mereka berdua kemari
mengantar kematian!"
Tiba-tiba Bong Thian-gak berseru, "Tunggu sebentar!"
Tubuhnya berkelebat cepat dan menghadang di hadapan
kedua Hwesio berjenggot hitam itu.
"Bong-sicu, masih ada urusan apa lagi?" tanya Hong-kong
Hwesio.
"Ada sebuah persoalan yang ingin kutanyakan kepada kau."
"Bila Sicu ada persoalan, harap diutarakan saja."
"Kau pernah bertarung melawan orang itu?"
"Ya, kami pernah bertarung," Hong-kong Hwesio mengaku.
"Sudah bentrok berapa kali?" kembali Bong Thian-gak
bertanya.
"Tiga kali."
"Taysu, apakah setiap kali kalian bertarung Ji-kaucu selalu
hadir di arena?"
Pertanyaan ini membingungkan Hong-kong Hwesio, dia
menggeleng sambil berkata, "Ji-kaucu tak pernah hadir di
arena. Bong-sicu, apa maksudmu menanyakan hal ini?"
Sebelum Bong Thian-gak menjawab, terdengar Ji-kaucu
tertawa dingin sambil katanya, "Dia curiga kalau aku telah
melepaskan racun dan meracuni orang secara diam-diam."
Rupanya Bong Thian-gak menaruh curiga atas kejadian itu,
hingga kini dia masih belum dapat melihat dengan jelas
bagaimana Sim Tiong-kiu melukai lawannya.
Maka dia pun mulai berpikir, "Mungkinkah Ji-kaucu yang
telah melepaskan racunnya secara diam-diam dari tepi arena
untuk membantu Sim Tiong-kiu sehingga akibatnya orang

703
yang diserang Sim Tiong-kiu selalu menderita luka secara
membingungkan?"
Tapi jalan pikiran itu dengan cepat tersapu lenyap dalam
tanya-jawab dengan Hong-kong Hwesio, sekarang dia yakin
Sim Tiong-kiu benar-benar memiliki sejenis ilmu silat maha
sakti.
Bong Thian-gak termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata
lagi, "Hwesio tua, mungkin aku dapat menyambut sebuah
pukulannya tanpa harus mati. Harap Hwesio tua
memerintahkan kepada kedua muridmu agar segera
mengundurkan diri!"
"Bong-sicu, kau tak usah keras kepala," tampik Hong-kong
Hwesio sambil menggeleng.
Bong Thian-gak kembali tersenyum, "Biarpun aku belum
punya keyakinan untuk bisa mematahkan jurus serangan
lawan, tapi aku percaya tak bakal tewas di bawah telapak
tangannya," kata Bong Thian-gak sambil tersenyum. "Bila
kulangsungkan pertarungan jarak dekat, mungkin bisa
kupatahkan jurus serangannya yang tangguh itu."
Sim Tiong-kiu tertawa seram, "Ji-kaucu, orang inikah yang
bernama Jian-ciat-suseng?" "Ya, dialah orangnya."
"Bukankah Cong-kaucu telah menurunkan perintah agar
kita membekuknya hidup-hidup?"
"Benar, tapi kepandaian silat yang dimiliki orang ini sangat
lihai, tampaknya komandan Sim membutuhkan tenaga yang
cukup besar untuk dapat membekuknya."
Mendadak Bong Thian-gak berkata sambil tertawa dingin,
"Saudara, bersiap-siaplah menerima seranganku!"
"Kalau berniat melancarkan serangan, lancarkan saja
seranganmu itu," kata Sim Tiong-kiu hambar.

704
Bong Thian-gak menggenggam Pek-hiat-kiam dengan
tangan tunggalnya, kemudian maju selangkah demi selangkah
mendekati lawan.
Gerak langkah kakinya lamban sekali, ternyata Bong Thiangak
telah mengerahkan tenaga dalam Tat-mo-khi-kang untuk
melindungi badannya.
Paras muka Bong Thian-gak yang semula pucat penyakitan,
kini telah berubah merah bercahaya.
Sim Tiong-kiu tetap berdiri tegak, matanya bersinar tajam
bagai bintang timur mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa
berkedip.
Tiba-tiba bergema suara gelak tertawa yang menyeramkan,
Sim Tiong-kiu bagaikan sambaran kilat cepatnya langsung
menerjang ke arah Bong Thian-gak.
Sejak tadi Bong Thian-gak sudah mengetahui Sim Tiong-kiu
memiliki ilmu silat yang amat hebat, tapi demi menjaga teknik
'dengan tenang mengatasi gerak', Bong Thian-gak sama sekali
tidak melepaskan serangan pedangnya.
Oleh sebab itu Sim Tiong-kiu segera mendesak lebih ke
depan dan sebuah pukulan yang maha dahsyat dilontarkan ke
dada Bong Thian-gak.
Bong Thian-gak memang telah bersiap menerima serangan
itu, ia tidak menghindar maupun berkelit, dadanya malah
dibusungkan untuk menyambut datangnya ancaman itu.
"Blam", diiringi benturan yang keras sekali, serangan itu
bersarang di dada anak muda itu.
Ilmu Tat-mo-khi-kang yang memancarkan daya
kemampuan dahsyat itu segera menciptakan selapis tenaga
pantulan tanpa wujud yang segera menggetarkan tubuh Sim
Tiong-kiu sehingga tergetar mundur sejauh tiga langkah.

705
Pada detik yang bersamaan itulah Pek-hiat-kiam yang
berada dalam genggaman Bong Thian-gak segera dibabatkan
dan menusuk ke dada Sim Tiong-kiu.
Padahal taktik yang diambil Bong Thian-gak ini telah
berhasil ditebak musuh secara tepat.
Tentu saja serangan yang dilancarkan olehnya itu amat
cepat bagaikan sambaran kilat, hawa sakti Tat-mo-khi-kang
yang melindungi badannya pun tak mampu lagi melindungi
seluruh tubuhnya.
Serangan dahsyat musuh pun dilontarkan lagi.
Bong Thian-gak hanya merasakan jari telunjuk tangan kiri
musuh menyambar pelan ke atas dadanya, serangan jari
tangan tanpa wujud bersarang telak di atas bahu kanannya.
Dengusan tertahan bergema, Bong Thian-gak tidak mampu
lagi melawan serangan jari itu, tubuhnya segera terbanting ke
tanah.
Gelak tawa seram penuh kebanggaan bergema memecah
keheningan malam, tubuh Sim Tiong-kiu bagaikan sukma
gentayangan mendesak maju ke muka, bersamaan itu pula
cakar tangan kanannya mencengkeram urat nadi pada lengan
tunggal Bong Thian-gak.
"Crit, crit", dua kali desingan tajam bergema.
Tahu-tahu Liu Khi telah melepaskan dua bilah pisau
terbangnya ke depan.
Golok terbang Liu Khi memang sangat termasyhur di kolong
langit, khususnya mengancam tenggorokan orang, barang
siapa terserang tak mungkin tertolong lagi.
Itulah sebabnya Sim Tiong-kiu tidak berkesempatan lagi
untuk melanjutkan ancamannya atas urat nadi Bong Thiangak.

706
Tangan kirinya cepat diputar, ternyata kedua pisau terbang
itu sudah terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah.
Pada saat itulah terdengar Liu Khi berseru lagi dengan
suara lantang, "Sekarang silakan kau rasakan bacokan golokku
yang sesungguhnya."
Selesai bicara Liu Khi segera melolos golok panjangnya, Topit-
coat-to yang membuat Liu Khi termasyhur di kolong langit.
Begitu serangan golok dilancarkan, ancaman itu benarbenar
menggetarkan perasaan setiap orang.
Jerit kesakitan segera berkumandang memecah
keheningan.
Darah segar menyembur, telapak tangan kanan Sim Tiongkiu
sebatas pergelangan tangan tahu-tahu sudah terpapas
kutung oleh bacokan golok itu.
Tapi bersamaan dengan terpapas kutungnya pergelangan
tangan kanan Sim Tiong-kiu, tangan kirinya telah melancarkan
serangan pula ke depan.
Liu Khi menjerit kaget, tubuhnya terlempar dan jatuh
terduduk di atas tanah.
Ia sama sekali tidak pingsan, akan tetapi luka yang
dideritanya cukup parah, dia terduduk di atas tanah dengan
sekujur badan gemetar keras, untuk beberapa saat tak
mampu bangkit kembali.
Sorot mata Liu Khi penuh dengan pancaran sinar kaget dan
keheranan, hingga detik ini dia masih belum mengetahui
dengan jelas bagaimana hal ini bisa terjadi hingga ia terluka
oleh jurus serangan lawan.
Beberapa kejadian beruntun itu berlangsung hampir
bersamaan, berhubung gerak tubuh mereka kelewat cepat.

707
Sejak pergelangan tangannya terpapas kutung, Sim Tiongkiu
menaruh perasaan dendam yang amat besar, ia menerkam
lagi ke arah Liu Khi yang masih tergeletak di depan sana.
Dalam pada itu Liu Khi sudah lemas dan tidak berkekuatan
lagi untuk memberikan perlawanan setelah tubuhnya terhajar
oleh serangan jari lawan, kulit mukanya segera mengejang
keras, pikirnya, "Habis sudah riwayatku kali ini, sungguh tak
nyana Liu Khi harus mampus di tangannya."
Belum habis ingatan itu melintas, sekilas cahaya pedang
berwarna merah telah berkelebat di depan mata.
Liu Khi segera memusatkan perhatian dan menengok.
Ternyata Pek-hiat-kiam di tangan kanan Bong Thian-gak
sedang diarahkan ke tubuh Sim Tiong-kiu, dia melancarkan
tiga buah serangan berantai, memaksa Sim Tiong-kiu terdesak
mundur.
Baik Liu Khi maupun Sim Tiong-kiu sama sekali tidak
menyangka Bong Thian-gak masih memiliki kekuatan untuk
melancarkan serangan walaupun sudah terkena pukulan
dahsyat Sim Tiong-kiu secara telak.
Pertarungan cepat akhirnya terhenti dan hening kembali.
Pek-hiat-kiam di tangan Bong Thian-gak terkulai
menghadap tanah, dengan senjata itu dia mempertahankan
keseimbangan tubuhnya.
Sementara itu Ji-kaucu telah menghampiri Sim Tiong-kiu
dan secara beruntun menotok urat nadi pada lengan kanan
Sim Tiong-kiu yang kutung untuk mencegah agar tidak banyak
darah yang mengalir dari mulut lukanya.
Hong-kong Hwesio menghampiri Bong Thian-gak serta Liu
Khi, ia segera bertanya, "Parahkah luka yang kalian derita?"

708
"Hwesio tua, aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk
menangkis ataupun mematahkan jurus serangan musuh," kata
Liu Khi sambil tertawa pedih.
Bong Thian-gak berkata pula sambil menghela napas sedih,
"Hwesio tua, jurus serangan lawan yang hebat itu terletak
pada jari telunjuk tangan kirinya, berhubung serangan itu
tidak memperlihatkan gejala apa-apa, maka hampir tiada
orang yang berhasil mengetahui rahasia itu dengan jelas."
Mendengar penjelasan itu, Hong-kong Hwesio menghela
napas panjang, katanya kemudian, "Lolap memang pernah
menduga, bahwa jurus serangan dahsyat lawan bisa jadi
berasal dari satu di antara sepuluh jari tangannya, namun aku
tak pernah bisa menebak dengan cara bagaimana dia
merobohkan lawan-lawannya, sebab pada saat serangan
dilancarkan, hal ini merupakan suatu masalah yang tak bisa
dipecahkan."
Liu Khi menyesal setengah mati setelah mendapat
penjelasan ini, dia menghela napas dan mengeluh,
"Seandainya serangan golokku tadi membacok pergelangan
tangan kirinya, urusan pasti akan beres dengan sendirinya."
"Seandainya tanpa serangan golokmu tadi, mungkin aku
sudah tewas terhajar serangannya," kata Bong Thian-gak
dengan perasaan amat berterima kasih.
Liu Khi lebih berterima kasih lagi, katanya, "Serangan
pedang Bong-laute yang benar-benar telah menyelamatkan
jiwaku, aku merasa berterima kasih sekali."
Bong Thian-gak menengok sekejap ke arah Hong-kong
Hwesio, kemudian katanya, "Hwesio tua, sekarang tergantung
pada dirimu."
"Sekarang pergelangan tangan Sim Tiong-kiu telah
terpapas kutung, semangat tempurnya sudah luluh, agaknya
Lolap mampu menandinginya."

709
Liu Khi menghela napas sambil berkata, "Keadaan saat ini,
kekuatan pihak Put-gwa-cin-kau sama sekali belum menderita
kerugian apa-apa, agaknya nasib kita malam ini lebih banyak
buruknya daripada untungnya."
Betul, dari pertarungan yang berlangsung barusan, pihak
Put-gwa-cin-kau hanya menderita kerugian Sim Tiong-kiu
seorang yang telah kehilangan pergelangan tangannya,
sedangkan Ji-kaucu beserta Si-hun-mo-li dan ketiga belas
orang berjubah hitam itu pada hakikatnya belum turun
tangan.
Sebaliknya di pihak lain, Han Siau-liong dan Mo Hui-thian
secara beruntun telah terluka oleh serangan jari tangan Sim
Tiong-kiu dan hingga kini belum sadarkan diri, sedangkan Liu
Khi dan Bong Thian-gak telah menderita luka pula.
Pada saat ini mereka yang sanggup melangsungkan
pertarungan dengan musuh tinggal kedelapan pelindung
hukum Hiat-kiam-bun, Hong-kong Hwesio beserta murid serta
Long Jit-seng.
Bila diperbandingkan kemampuan yang dimiliki kedua belah
pihak, tampaknya Hong-kong Hwesio bertiga sulit untuk
menandingi kemampuan Sim Tiong-kiu, Ji-kaucu serta Si-hunmo-
li.
Mendadak Liu Khi memandang sekejap ke arah Bong
Thian-gak, kemudian bertanya, "Bong-buncu, masih
mampukah kau melanjutkan pertarungan?"
"Bahu kananku makin lama semakin kaku, agaknya sudah
tak bisa bertahan lebih lama lagi, mungkin sampai waktunya
aku sudah tak mampu lagi menggenggam pedang," ucap Bong
Thian-gak sambil tersenyum.
Paras muka Liu Khi berubah hebat, katanya kemudian,
"Kalau begitu kita benar-benar akan tewas di tempat ini."

710
Bong Thian-gak kembali tertawa, "Sebelum ajal tiba, aku
rasa masih ada sisa kekuatan untuk membunuh beberapa
orang musuh lagi, apakah Liu-locianpwe sudah tidak
mempunyai kemampuan lagi?"
Hati Liu Khi bergetar keras, ia tertawa terbahak-bahak,
"Apakah Bong-buncu tidak percaya aku sudah tidak memiliki
kekuatan lagi untuk melanjutkan pertarungan?"
"Kalau tadi, mungkin benar-benar sudah tak punya lagi,
tapi sekarang aku lihat Liu-locianpwe seperti telah
menemukan cara untuk mengobati luka yang kau derita."
"Bila Bong-buncu tidak mempercayai diriku lagi, aku pun
tak bisa berkata apa-apa lagi," ucap Liu Khi sambil tertawa.
Sambil menarik muka Bong Thian-gak berkata lagi,
"Sebentar lagi Sim Tiong-kiu dan Ji-kaucu akan melancarkan
serangan terhadap kita, bila Liu-locianpwe tidak segera
mengobati luka yang diderita Han Siau-liong serta Mo Huithian,
bisa jadi kita benar-benar akan tewas hari ini di sini."
Liu Khi kembali menggeleng kepala berulang kali.
"Saat ini aku benar-benar sudah tidak mempunyai kekuatan
lagi sekalipun untuk menyembelih ayam, bila beruntung bisa
memulihkan kembali kekuatanku, mungkin hal ini baru
kualami beberapa jam kemudian. Sekarang terpaksa aku
harus menggantungkan perlindungan terhadap Hong-kong
Hwesio sekalian serta Bong-buncu."
Mendengar perkataan ini, Bong Thian-gak mengerutkan
dahi, kemudian pikirnya, "Barusan tampaknya aku seperti
melihat Han Siau-liong telah membuka mata satu kali setelah
memperoleh pertolongan Liu Khi."
Mendadak terdengar suara dingin yang menggidikkan hati
dari Ji-kaucu bergema memotong jalan pikiran Bong Thiangak,
"Ko Hong, hari ini jangan harap kau bisa meloloskan diri
dari jaringan langit yang diatur oleh Put-gwa-cin-kau." i

711
Pedang di tangan Bong Thian-gak masih tetap tergeletak di
tanah, ketika mendengar perkataan itu dia tertawa dingin, "Ko
Hong adalah nama samaranku pada tiga tahun berselang,
pada saat ini aku adalah ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng
Bong Thian-gak."
Dia tertawa dingin tiada henti, kemudian melanjutkan, "Jikaucu,
bila kalian ingin membunuhku pada hari ini, mungkin
pengorbanan yang sangat besar harus kalian bayar untuk itu,
jika kau tidak percaya, silakan saja bertindak!"
Bong Thian-gak dengan memancarkan sinar mata tajam
yang menggidikkan mengawasi wajah Ji-kaucu dengan penuh
gusar dan perasaan dendam yang membara.
Tak terkira rasa terkesiap Ji-kaucu menyaksikan sorot mata
Bong Thian-gak itu, pikirnya, "Sekarang dia sudah terkena
pukulan Ji-gwat-soh-hun-ci dari Sim Tiong-kiu, namun luka
yang diderita nampaknya tidak begitu parah, oh ... sungguh
mengejutkan tenaga dalam orang ini... bukan hanya Ji-gwatsoh-
hun-ci yang tidak berhasil melukainya, ilmu pukulan Sohli-
jian-yang-sin-kang dari Si-hun-mo-li pun tampaknya tak
dapat melukainya, entah kepandaian silat apakah yang
berhasil dilatih olehnya."
Bukan hanya Ji-kaucu seorang yang berpendapat demikian,
bahkan Hong-kong Hwesio serta sekalian jago pun merasa
curiga di samping kagum atas kelihaian ilmu silat Bong Thiangak.
Tiba-tiba Sim Tiong-kiu melompat bangun dari atas tanah,
kemudian berseru, "Lohu tidak percaya kalau kau masih
mempunyai kemampuan untuk melukai musuh dengan
pedangmu itu."
"Kalau tidak percaya, mengapa tidak datang kemari
mencobanya sendiri?" jengek Bong Thian-gak sambil tertawa
dingin.

712
Waktu itu Sim Tiong-kiu telah kehilangan telapak tangan
kanannya, sehingga dengan demikian dia menjadi manusia
cacat.
Dengan begitu Bong Thian-gak, Sim Tiong-kiu dan Liu Khi
tiga orang berlengan tunggal saling berdiri berhadapan
dengan sikap bermusuhan.
Sorot mata Sim Tiong-kiu memancarkan sinar kebencian
dan perasaan dendam ditujukan ke arah Liu Khi yang duduk
bersila di atas tanah, sebaliknya Bong Thian-gak mengawasi
gerak-gerik Sim Tiong-kiu tanpa berkedip.
Dia tahu tujuan serangan yang mematikan Sim Tiong-kiu
saat ini tak lain adalah Liu Khi.
Di pihak lain, Hong-kong Hwesio telah berseru
memuji keagungan sang Buddha, lalu berkata, "Sim-sicu, di
antara kita berdua masih terjalin dendam dan hutang lama,
apakah Sim-sicu tidak akan menagih hutang itu kepada aku si
Hwesio tua?"
Sim Tiong-kiu memandang sekejap ke arah Hong-kong
Hwesio, kemudian bertanya, "Kau tak usah berharap bisa
meninggalkan kuil Hong-kong-si lagi dalam keadaan hidup,
biar kau punya sayap pun jangan mimpi bisa meninggalkan
tempat ini. Buat apa aku memusingkan diri dengan hutang
lama kita?"
"Sim-sicu, tentunya kau tidak akan memberikan
keuntungan yang amat besar kepada aku si Hwesio tua
bertiga bukan?"
"Biarpun lenganku kutung semua, aku masih mampu
melayani kalian bertiga," jengek Sim Tiong-kiu dengan suara
sedingin es.
"Sim-sicu, tidakkah kau merasa bahwa perkataanmu itu
kelewat takabur?"

713
"Kau si Hwesio tua termasuk juga seekor rase tua yang licik
dan banyak tipu muslihat, siapakah yang tidak tahu kau
memang lebih suka membiarkan orang lain turun ke
gelanggang lebih dulu, sedangkan kalian guru dan murid akan
duduk sebagai si nelayan mujur yang tinggal memungut
hasilnya?"
Ketika mendengar perkataan kedua orang itu, hati Bong
Thian-gak bergetar keras, segera pikirnya, "Ya, sejak awal
hingga sekarang Hong-kong Hwesio bertiga tak pernah
menggerakkan tangan biar satu gebrakan saja, mungkinkah si
Hwesio tua ini seperti apa yang dikatakan Sim Tiong-kiu
barusan. Berakal busuk, banyak tipu muslihat dan mempunyai
tujuan pribadi tertentu? Siapa tahu dia memang sengaja
membiarkan aku serta pihak Kay-pang turun gelanggang
terlebih dulu sebagai panglima pembuka jalan untuk
menghadapi Put-gwa-cin-kau?"
"Omitohud!" Hong-kong Hwesio berkata, "setelah Sim-sicu
berkata demikian, rasanya aku si Hwesio tua bertiga tidak
boleh cuma berpeluk tangan belaka."
"Soal dendam dan permusuhan yang terjalin di antara kita,
sesungguhnya kau harus sudah mulai melancarkan serangan
sejak tadi," jengek Sim Tiong-kiu dingin.
Sembari berkata, Sim Tiong-kiu mengulap tangan kirinya ke
tengah udara.
Tiga belas orang yang selama ini berdiri mengepung arena
itu serentak menyiapkan tombak dan bergerak mempersempit
kepungan mereka.
Biarpun langkah ketiga belas orang berbaju hitam itu
dilakukan sangat lambat, akan tetapi Bong Thian-gak yang
menyaksikan kejadian itu paras mukanya berubah hebat.
Ternyata dia telah mengetahui ketiga belas orang berbaju
hitam yang bersenjata tombak itu rata-rata memiliki

714
kepandaian yang sangat tinggi, bahkan kemampuan mereka
rasanya tidak di bawah kemampuan seorang tokoh Bu-lim.
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong
Thian-gak ... dia tahu dalam pertarungan malam ini, sukar
bagi pihaknya untuk mengungguli lawan, berarti satu-satunya
jalan yang tersedia bagi pihaknya adalah berusaha meloloskan
diri dari kepungan.
Berpikir sampai di sini tiba-tiba Bong Thian-gak berbisik
kepada Ang Teng-siu, "Ang-huhoat, dengarkan, tatkala aku
menyerang Si-hun-mo-li nanti, kalian harus menghimpun
segenap kekuatan untuk melindungi aku agar lolos dari
kepungan."
Baru saja perkataan itu selesai, mendadak tampak Sim
Tiong-kiu dan Ji-kaucu telah mengundurkan diri ke arah timur,
sebagai gantinya ketiga belas orang berbaju hitam bertombak
itu membentuk sebuah barisan yang sangat aneh dan
mengepung para jagoan di tengah gelanggang.
Mendadak Ji-kaucu yang telah berada di luar arena
berteriak aneh, "Mo-li, mengapa kau tak mengundurkan diri?"
Teriakan itu diutarakan dengan suara tinggi melengking
dan menusuk pendengaran, diutarakan dengan sangat
lamban.
Tatkala mendengar suara itu, bagi Si-hun-mo-li seruan itu
seakan-akan mengandung daya iblis yang luar biasa, sekujur
badannya gemetar keras, dengan cepat dia membalikkan
badan dan berjalan menuju ke arah Ji-kaucu.
Pada saat itulah tubuh Bong Thian-gak secepat sambaran
kilat telah berkelebat ke depan dan mendorong tubuh Si-hunmo-
li ke belakang.
Kini Pek-hiat-kiam telah disarungkan kembali. Bong Thiangak
dengan lengan tunggalnya yang lebih cepat daripada kilat
dan lebih tajam daripada pedang telah menyambar ke muka.

715
Sementara itu telapak tangan kanannya sudah menyentuh
tiga buah jalan darah penting di punggung Si-hun-mo-li.
Seruan tertahan bergema, jalan darah Mi-bun-hiat di
punggung Si-hun-mo-li sudah kena terhajar.
Tapi pukulan itu tidak membuatnya tak sadarkan diri,
setelah bergemanya jeritan kaget, Si-hun-mo-li membalikkan
badan sambil melepaskan sebuah pukulan pula ke jalan darah
Ciang-hiat di dada Bong Thian-gak.
Mimpi pun Bong Thian-gak tidak menyangka Si-hun-mo-li
sama sekali tidak terpengaruh oleh serangan Hut-hiat-sengmeh-
jiu-hoat yang dilepaskan olehnya, dalam tertegunnya
lekas dia mengegos ke samping untuk menghindarkan diri.
Tentu saja serangan balasan Si-hun-mo-li mengenai tempat
kosong, tapi dia pun segera melompat ke depan dan melayang
pergi.
Dalam pada itu empat tombak panjang telah menusuk ke
tubuh Bong Thian-gak. Hong-kong Hwesio beserta kedua
muridnya yang gagu dan tuli turut menerima serangan pula,
sudah jelas para jago dikepung dalam pusat barisan tiga belas
orang berbaju hitam.
Bong Thian-gak memang sudah mengetahui kelihaian
ketiga belas orang baju hitam itu, bila mereka sampai
terkurung dalam barisan itu, biarpun dia dan Hong-kong
Hwesio belum tentu terkena musibah, namun para pelindung
hukum perguruannya bakal menemui celaka atau tertumpas
sama sekali.
Itulah sebabnya Bong Thian-gak segera membentak keras,
secepat kilat tangan kanannya melolos Pek-hiat-kiam, lalu
"Trang", percikan bunga api beterbangan ke empat penjuru.
Biarpun keempat tombak itu berhasil ditangkis ke samping,
namun sebatang tombak yang lain meluncur ke punggung

716
Bong Thian-gak dengan kecepatan seperti anak panah
terlepas dari busurnya.
Sedemikian cepatnya tombak itu hingga pada hakikatnya
hampir tiada orang yang bisa menghindarkan diri.
Ang Teng-siu yang berada di sisinya segera berteriak kaget,
"Hati-hati Buncu!"
Padahal teriakan Ang Teng-siu itu tidak ada gunanya,
biarpun Bong Thian-gak bermaksud menghindar, namun
sudah dapat dipastikan ia akan tewas di ujung tombak itu
sejak tadi.
Kepandaian silat Bong Thian-gak benar-benar telah
mencapai puncak kesempurnaan, tanpa berpaling lagi kaki
kirinya maju setengah langkah ke samping, tombak tadi
segera menyambar lewat dari bawah ketiaknya.
Jeritan ngerl yang memilukan hati segera berkumandang
memecah keheningan, sebutir batok kepala orang berbaju
hitam segera terbang ke udara.
Tapi dengan bergemanya suara jeritan itu, secara beruntun
bergema pula empat kali jeritan ngeri dan dengusan tertahan
lainnya.
Bong Thktn-gak memandang ke arena, ternyata empat
orang pelindung hukumnya tertembus oleh empat tombak
tajam pada bagian dadanya, darah segar segera berhamburan
kemana-mana, jiwa mereka pun lenyap seketika.
Tak terlukiskan rasa kaget Bong Thian-gak, ia segera
membentak, "Ang Teng-siu, kalian tak usah bertarung lagi!"
Di tengah bentakan, Bong Thian-gak melompat mundur,
pedang segera diayunkan membabat empat orang berbaju
hitam.
Gerakan keempat orang berbaju hitam itu cepat tak
terlukiskan, baru saja serangan Bong Thian-gak dilancarkan,

717
tombak mereka sudah dicabut dari tubuh mayat, kemudian
serentak diayunkan ke muka untuk menangkis datangnya
ancaman pedang Bong Thian-gak itu.
Di satu pihak Bong Thian-gak terancam mara bahaya, di
pihak lain Hong-kong Hwesio dan murid-muridnya juga
mengalami nasib yang sama, mereka menghadapi serangan
demi serangan dari orang-orang baju hitam dan tombaknya
yang menyerang secara gencar.
Sedemikian bertubi-tubinya ancaman yang datang,
membuat ketiga orang itu hanya bisa menangkis belaka, pada
hakikatnya sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk
melancarkan serangan belasan.
Sesungguhnya kepandaian silat Hong-kong Hwesio dan
murid-muridnya sangat hebat, tenaga dalam yang mereka
miliki pun mengejutkan orang, tapi serangan tombak musuh
amat gencar, ini membuat suasana segera dikuasai lawan.
Jurus-jurus serangan tombak kawanan jago berbaju hitam
memang hebat dan tangguh, serangan-serangan mereka atas
lawan bukan serangan tunggal yang terpotong-potong,
melainkan serangan berantai yang betul-betul hebat.
Setelah tusukan itu lewat, tusukan lain kembali meluncur
datang dengan kecepatan tinggi, gerakan mereka yang
berantai seakan-akan ada seribu batang tombak yang
menyerang tiada hentinya.
Kepandaian silat yang dimiliki Bong Thian-gak termasuk
amat lihai, seandainya dia berniat meloloskan diri dari
kepungan musuh, hal itu dapat dilakukan secara mudah, tapi
dia tak bisa berbuat begitu, dia wajib melindungi keselamatan
jiwa keenam anak buahnya yang saat itu sudah terkepung di
tengah barisan lawan.
Dalam sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung,
tiba-tiba Bong Thian-gak mengendus segulung bau harum
yang aneh sekali.

718
Dengan terkejut dia pun segera berteriak, "Hati-hati
dengan racun jahat!"
Baru saja bentakan itu dikumandangkan, Ang Teng-siu
berenam sudah bertumbangan ke tanah.
Hong-kong Hwesio dan muridnya turut sempoyongan pula
seakan-akan setiap saat bakal roboh.
Dari luar lingkaran pengepungan, dengan cepat bergema
gelak tawa menyeramkan dari Ji-kaucu, kemudian ia berseru
penuh kebanggaan, "Untuk membekuk kalian, merupakan
pekerjaan yang amat mudah. Hahaha, sekarang seluruh
halaman gedung ini telah dipenuhi oleh asap dupa beracun
Khi-hiang-gi-tok, akan kulihat siapa lagi yang mampu
meninggalkan halaman ini barang selangkah pun."
Sementara itu Bong Thian-gak telah menutup
pernapasannya, tapi berhubung dia sudah mengendus
segulung bau racun, benaknya mulai terasa kalut dan rasa
pusing tiba secara bertubi-tubi.
Diiringi pekik nyaring yang menusuk pendengaran, Bong
Thian-gak menghimpun tenaga dalamnya terus melejit ke
udara, lalu dengan cepat dia menerjang keluar lingkaran
pekarangan.
Bayangan orang segera berkelebat di udara, tiga orang
berbaju hitam dengan menyilangkan tiga batang tombak
menghadang jalan pergi anak muda itu.
Hawa napsu membunuh telah menyelimuti benak Bong
Thian-gak sekarang, pedangnya kontan dibacokkan kian
kemari.
Pek-hiat-kiam memancarkan cahaya tajam yang
menyilaukan mata, hujan darah pun berhamburan.
Tiga sosok mayat orang berbaju hitam segera rontok dari
tengah udara, sedangkan Bong Thian-gak sendiri juga ikut
terjatuh.

719
Ternyata serangan pedang yang dilancarkan Bong Thiangak
tadi merupakan serangan hawa pedang tujuh langkah
melukai musuh, merupakan ilmu tingkat paling tinggi dalam
ilmu pedang. Begitu serangan pedang dilancarkan, biarpun
ada seratus orang terkumpul dalam lingkungan tujuh langkah
dari posisinya, semua akan tewas dengan kepala terpenggal
dan darah bercucuran, kelihaiannya luar biasa.
Tapi ilmu pedang semacam ini juga boros dalam
penggunaan tenaga dalam, itulah sebabnya Bong Thian-gak
turut terjatuh.
Dengan mengendorkan hawa murni secara tiba-tiba, Bong
Thian-gak kembali menghirup segulung udara.
Pada saat itulah Liu Khi yang berada di sisi arena berseru
sambil tertawa, "Kebenaran satu depa lebih tinggi, satu
tombak lebih tebal, biarpun racun dupa harum Ji-kaucu sangat
lihai, sayang sekali tidak manjur bagi orang she Liu."
Bong Thian-gak menyaksikan beberapa titik cahaya putih
memancar dari tangan Liu Khi dengan kecepatan tinggi.
Dimana cahaya putih berkelebat, jeritan ngeri bergema
susul-menyusul.
Dalam pada itu tubuh Bong Thian-gak sudah mulai gontai,
namun dia masih dapat menyaksikan sisa kesembilan orang
berbaju hitam itu satu demi satu terhajar golok terbang dan
tergeletak di atas tanah.
Tenaga dalam Liu Khi yang begitu mengejutkan membuat
Bong Thian-gak merasa terperanjat sekali.
"Hahaha, Liu Khi, sekarang tinggal kau seorang. Rasanya
kau tak akan mampu menandingi kami, bukan?"
Liu Khi tertawa dingin, balasnya, "Ji-kaucu, perhitunganmu
salah besar, Toa-cengcu Kim-liong-seng-kiam-ceng Mo Huithian
serta Han Siau-liong dari partai kami telah sehat walafiat

720
kembali, kekuatan kami cukup untuk bertarung melawan
kalian."
Ketika mendengar itu, Bong Thian-gak mendongakkan
kepalanya, benar juga Han Siau-liong serta Mo Hui-thian telah
bangkit semua.
Sambil tertawa dingin Mo Hui-thian berkata, "Sim Tiongkiu,
Ji-gwat-soh-hun-ci (ilmu jari pengunci sukma) tak bisa
membunuh orang. Hehehe, padahal kau terlalu percaya pada
kemampuanmu sendiri, kau anggap Mo Hui-thian itu siapa?
Memangnya bisa dibunuh oleh serangan jarimu itu?"
Sekarang Bong Thian-gak baru sadar bahwa Liu Khi dan Mo
Hui-thian memang benar-benar mempunyai tujuan pribadi,
rupanya dia dan Hong-kong Hwesio sekalian memang sengaja
diatur agar bisa menahan kekuatan Put-gwa-cin-kau paling
dulu, kemudian merekalah yang akan menjadi si nelayan
mujur yang tinggal memungut hasilnya.
Kelicikan dan kemunafikan orang-orang di dunia persilatan
memang sungguh menakutkan.
Secara lamat-lamat Bong Thian-gak menyaksikan pula
bagaimana Liu Khi, Mo Hui-thian serta Han Siau-liong sekalian
melangsungkan pertarungan sengit melawan Ji-kaucu dan Sim
Tiong-kiu sekalian.
Sayang racun dupa sudah semakin menyerang
kesadarannya, lambat-laun Bong Thian-gak mulai pudar
kesadarannya sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Bagaimana hasil pertarungan berdarah antara Liu Khi
sekalian dengan Put-gwa-cin-kau? Tentu saja dia tak dapat
melihat dengan mata kepala sendiri.
0oo0
Angin berhembus kencang, putaran roda kereta bergema
memecah keheningan.

721
Ketika Bong Thian-gak sadar dari pingsannya, dia lihat
keempat anggota badannya sudah dirantai orang, rantai yang
amat besar dan berat. Kini dia sedang berbaring dalam kereta
kuda yang gelap-gulita hingga tak nampak kelima jari
tangannya.
Tatkala baru mendusin dari pingsannya tadi, Bong Thiangak
merasakan sekujur badannya linu dan sakit. Badannya
terasa kaku dan kesemutan, maka itu dia berbaring saja tanpa
bergerak untuk sementara waktu, telinganya menangkap
suara derap kaki dan roda kereta, segera menyadarkan dia
bahwa dirinya sedang berada dalam perjalanan.
Selang beberapa saat, Bong Thian-gak coba untuk
menyalurkan hawa murninya mengelilingi badan, ternyata
semuanya berjalan normal. Semua ini membuat hatinya lega.
Dia mencoba untuk duduk, ternyata rantai yang
membelenggu anggota tubuhnya diikat pada lantai kereta,
karena itu biarpun dia bisa duduk tegap, namun sama sekali
tak sanggup menggeser tubuh barang setengah langkah pun.
Dengan mengerahkan ketajaman matanya, Bong Thian-gak
mencoba memperhatikan rantai yang besarnya seibu jari itu.
Dia tahu, dengan tenaga dalam yang dimilikinya sulit rasanya
untuk mematahkan rantai itu.
Maka setelah menghela napas panjang, terpaksa dia hanya
duduk tenang dalam kereta, pikirnya, "Orang-orang Put-gwacin-
kau berhasil membekukku, hendak dibawa kemanakah
diriku?"
Membayangkan hal itu, tanpa terasa Bong Thian-gak
memicing mata dan mengintip lewat sela-sela lantai kereta.
Yang terlihat olehnya hanya padang rumput yang sangat
luas, tiada sesuatu yang aneh atau luar biasa sehingga timbul
perasaan jemu bagi siapa pun yang melihatnya.

722
Bong Thian-gak segera mengalihkan sorot matanya,
mengintip dari sudut lain.
Kali ini dia berhasil melihat kereta yang ditumpanginya
dihela oleh enam kuda yang tinggi besar dan gagah, tampak
di bagian kusir duduk tiga orang sais.
"Hei, mengapa aku tidak mencoba bertanya kepada
mereka?" satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya.
Belum lenyap ingatan itu, suara bentakan bergema,
menyusul terdengar pula suara ringkik kuda.
Kereta kuda yang sedang dipacu kencang itu seketika
terhenti.
Dengan cepat Bong Thian-gak mengalihkan pandangan
matanya keluar celah-celah dinding kereta.
Mendadak dia saksikan dua titik cahaya putih menyambar
datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.
Menyaksikan kedua titik cahaya itu, Bong Thian-gak
menjadi amat terkejut, diam-diam dia berpekik dalam hati,
"Golok sakti berlengan tunggal!"
Ternyata dia mengenali kedua titik cahaya putih itu sebagai
sambaran pisau terbang milik Liu Khi yang menggetarkan
seluruh jagat.
"Bila pisau terbang Liu Khi sudah disambit keluar, sudah
pasti kedua kusir di atas kereta akan tewas dalam keadaan
mengerikan!" pikir Bong Thian-gak dalam hati.
Kenyataan suasana di sekeliling tempat itu memang amat
sepi dan hening.
Tapi selang beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar
suara Liu Khi, "Kalian berdua bisa menghindarkan diri dari
sambaran pisau terbangku, ini membuktikan ilmu silatmu pasti
luar biasa, ayo cepat sebutkan siapa namamu?"

723
Bong Thian-gak terkejut bercampur keheranan setelah
mendengar ucapan itu, pikirnya, "Aku sudah pernah
menyaksikan kehebatan pisau terbang Liu Khi, kenyataan
sekarang kedua kusir itu mampu menghindar dari sambaran
pisau terbangnya, terbukti ilmu silat mereka memang hebat."
Dalam pada itu satu di antara kedua kusir kereta itu telah
berkata diiringi suara tawanya yang menyeramkan,
"Tampaknya kau adalah Liu Khi."
Bong Thian-gak yang mengintip dari balik celah-celah
kereta dapat melihat dengan jelas bahwa di antara jalan raya,
berdiri tegak seorang jangkung bertubuh ceking dan berjubah
hitam, orang itu jelas Liu Khi adanya.
Cahaya mata yang tajam dan menggidikkan mencorong
dari balik mata Liu Khi, diawasinya kedua orang yang berada
di atas kereta itu, kemudian setelah tertawa seram, katanya,
"Betul, akulah Liu Khi, kau anggap ada orang yang berani
menyaru sebagai diriku?"
Baru selesai perkataan itu, dari atas kereta bergema lagi
gelak tawa panjang, "Sudah lama kudengar pisau terbang Liu
Khi konon akan membawa bencana bila dilepaskan, selamanya
tidak pernah meleset, tapi kenyataannya pada malam ini ...
hahaha ...."
Suara gelak tertawa panjang yang sinis dan mengandung
nada penghinaan segera bergema.
Sementara itu Liu Khi menanti dengan tenang, sampai
gelak tawa mereka reda, dia berkata dengan hambar, "Biarpun
kalian berdua bisa menghindarkan diri dari pisau terbangku,
apakah dapat juga menghindarkan diri dari bacokan golok
yang terselip di pinggangku sekarang?"
"Silakan saja dibuktikan," ucap orang yang berada di atas
kereta itu seram.
"Bagus sekali."

724
Begitu kata terakhir diutarakan, Liu Khi sudah berkelebat ke
depan dengan kecepatan tinggi.
Mendadak dari atas kereta berkumandang suara seruan
kaget serta jerit kesakitan.
"Blam", diiringi suara benturan keras, papan kereta bagian
depan telah jebol sebuah lubang besar, percikan darah segar
segera berhamburan dari dalam kereta, menyusul hancuran
kayu berserakan kemana-mana.
Sekarang Bong Thian-gak bisa menyaksikan wajah Liu Khi
yang berdiri di depan kereta dengan lebih jelas, dua sosok
mayat yang berlumuran darah kelihatan tergeletak di sisi
sebelah kiri.
Tampaknya satu di antara mereka belum menemui ajal,
dengan suara mengerikan ia berseru, "Golok saktimu ...
sungguh cepat, aku ...."
Sebelum selesai perkataan itu, orangnya sudah
menghembuskan napas penghabisan.
Bong Thian-gak duduk dalam ruangan kereta tanpa
bergerak, rupanya dia pun dibuat terperanjat oleh kecepatan
golok Liu Khi.
"Sebenarnya dengan cara bagaimanakah dia menghabisi
nyawa kedua orang itu?" berbagai ingatan menyelimuti benak
Bong Thian-gak.
Pada saat itu Liu Khi masih berdiri tanpa menggenggam
goloknya, ini membuktikan setelah ia mencabut senjatanya
membunuh kedua lawannya tadi, golok itu disarungkan
kembali ke sisi pinggangnya.
Dalam pada itu Liu Khi dengan sorot mata yang
menggidikkan juga sedang mengawasi Bong Thian-gak yang
berada dalam kereta, ujarnya hambar, "Bong-buncu, kalau
kau sudah sadar, mengapa tidak berusaha melepas dirimu
sendiri?"

725
Bong Thian-gak tertawa dingin. "Memangnya kau datang
kemari untuk menolongku?" dia balik bertanya.
"Aku datang untuk membunuhmu."
"Kalau demikian, mengapa belum juga turun tangan?"
"Aku sedang mencari kesempatan."
"Kini anggota tubuhku dirantai, bukankah kesempatan baik
ini sukar dijumpai?"
Ketika mendengar ucapan itu, Liu Khi segera mengawasi
badan Bong Thian-gak dengan lebih seksama, kemudian dia
baru manggut-manggut seraya ujarnya, "Aku tidak melihat
kaki tanganmu dirantai orang, andaikata kulancarkan
serangan dengan membabi-buta tadi, sudah pasti akan
kusesali sepanjang zaman."
"Mengapa menyesal?"
"Kau anggap membunuh orang yang sama sekali tak bisa
berkutik adalah suatu perbuatan yang membanggakan?" Bong
Thian-gak tersenyum.
"Kalau dibicarakan soal untung-ruginya, aku rasa hal itu tak
perlu diperhatikan lagi."
Mendadak Liu Khi menarik wajah dan berkata dengan suara
sedingin es, "Bong Thian-gak dengarkan baik-baik. Selagi
berada dalam kuil Hong-kong-si, kau pernah menyelamatkan
jiwaku satu kali, malam ini aku telah membantumu pula lolos
dari kesulitan dengan menghabisi nyawa mereka, berarti di
antara kita berdua sudah impas, siapa pun tidak berhutang
kepada siapa."
"Tapi kau belum membantuku membuang semua belenggu
yang membebani tubuhku?"
"Betul!" Liu Khi tertawa dingin. "Sekarang juga aku akan
memapas kutung rantai itu."

726
Selesai berkata, cahaya golok kembali berkelebat tiga kali.
Bong Thian-gak merasa kulit badannya tersambar angin
dingin, disusul suara gemerincing nyaring, tahu-tahu rantai
yang membelenggu kaki tangannya sudah rontok ke atas
tanah.
Ketika ia mendongakkan kepala, tampak golok panjang itu
sudah tersoreng kembali di pinggang Liu Khi.
Dengan perasaan kaget dan heran Bong Thian-gak
menghela napas panjang, katanya, "Ilmu golokmu benarbenar
tidak ada tandingannya, lagi pula golok yang tersoreng
di pinggangmu itu sudah pasti senjata mustika yang dulu
diandalkan panglima kenamaan."
Sembari berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak berdiri dari
lantai kereta.
Mendadak Liu Khi berkata dengan suara dalam, "Perhatikan
baik-baik, setiap saat aku akan melolos lagi golokku untuk
mencabut nyawamu."
"Sungguhkah itu?" tanya Bong Thian-gak dengan wajah
tertegun.
"Buat apa aku berbohong?" Liu Khi tertawa dingin.
Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas
panjang, "Ai, sikapmu yang sebentar bersahabat sebentar
bermusuhan, benar-benar membuat aku tidak habis
mengerti."
"Asalkan Bong-buncu bersedia mempersembahkan hartakarun
itu, aku bersedia bekerja sama dengan pihak kalian,"
kembali Liu Khi berkata dengan suara hambar.
"Peta harta-karun?" Bong Thian-gak mengerutkan dahi.
"Kau maksudkan peta harta-karun peninggalan Mo-lay-cinong?"

727
"Betul, peta harta-karun inilah yang kumaksudkan," Liu Khi
berkata sambil tertawa dingin, "Hong-kong Hwesio bilang,
benda itu sudah berada di tangan Bong-buncu."
Sambil tertawa Bong Thian-gak menggeleng kepala.
"Liu-sianseng telah dibohongi Hong-kong Hwesio rupanya,
aku berani bersumpah tak pernah mendapatkan peta hartakarun
itu."
"Bong-buncu adalah orang yang pertama kali datang di kuil
Hong-kong-si, kenyataan sekarang peta harta-karun itu tidak
berada di tangan Hong-kong Hwesio dan muridnya lagi.
Lantas berada di tangan siapa kalau bukan berada di
tanganmu?" kata Liu Khi.
Bong Thian-gak menggeleng kepala lagi.
"Sewaktu berada di kuil Hong-kong-si, bukankah Liusianseng
telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana
aku terkena racun dupa Ji-kaucu Put-gwa-cin-kau dan roboh
tak sadarkan diri, hingga setengah jam berselang aku baru
mendusin dari pingsanku. Ai, apakah Liu-sianseng bersedia
menerangkan bagaimana akhir pertarungan di kuil Hong-kongsi?"
"Hong-kong Hwesio, Mo Hui-thian, Han Siau-liong, dan aku
berempat berhasil menerjang keluar kepungan," ucap Liu Khi
dingin.
"Bagaimana dengan para pelindung hukum perkumpulan
kami?"
"Enam orang pelindung hukum bersama kedua murid
Hong-kong Hwesio telah menemui ajal dalam pertarungan."
Mendengar perkataan itu, Bong Thian-gak menghela napas
panjang dengan sedih, "Ai, kerugian yang diderita partai kami
semalam betul-betul besar sekali!"
Liu Khi tertawa dingin.

728
"Kecuali kau dan aku berdua yang tidak menderita luka
dalam yang parah, Hong-kong Hwesio beserta Han Siau-liong
dan Mo Hui-thian terluka parah."
"Kalau begitu pertolongan yang Liu-sianseng berikan
sekarang adalah demi peta harta-karun itu?"
"Boleh dibilang begitu."
"Kalau begitu aku Bersedia mengajakmu pergi mencari peta
harta-karun itu."
"Kau hendak membawa aku kemana?"
"Soal ini tak perlu kau tanyakan, kini Hong-kong Hwesio
berada dimana?"
"Bong-buncu, bila kau tidak bersedia untuk bekerja sama
denganku, jangan salahkan bila aku orang she Liu turun
tangan keji kepadamu!" ancam Liu Khi sambil tertawa dingin.
Bong Thian-gak kembali menghela napas panjang.
"Seandainya peta harta-karun itu benar-benar berada di
sakuku, dan aku sudah dibekuk orang sekian lama, kau
anggap peta itu masih utuh di sakuku?"
"Betul!" Liu Khi manggut-manggut, "Orang-orang Put-gwacin-
kau mustahil tidak melakukan penggeledahan atas dirimu,
tapi kau pun tak bakal sebodoh ini dengan menyembunyikan
peta harta-karun itu dalam sakumu!"
Bong Thian-gak segera menggeleng kepala.sambil tertawa
getir, "Liu-sianseng benar-benar sudah ditipu habis-habisan
oleh Hong-kong Hwesio. Bila kau tidak percaya, mari kita
bersama-sama berangkat ke tempat tinggalnya untuk
menanyakan persoalan ini kepadanya."
"Tidak usah," tampik Liu Khi sambil tertawa dingin.
Untuk kesekian kalinya Bong Thian-gak menghela napas
panjang.

729
"Ai, benda mustika di kolong langit hanya dimiliki oleh
mereka yang berjodoh, aku sama sekali tidak berniat
mendapatkan harta karun itu."
"Hehehe, siapa yang mau percaya ucapanmu itu?"
"Bila Liu-sianseng tidak percaya, aku pun tak bisa berbuat
apa-apa."
Mendadak Liu Khi menarik wajah, lalu berkata,
"Sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku selalu kuatir
tak mampu menghabisi nyawamu dalam sekali ayunan golok."
"Di antara kita berdua boleh dibilang tiada dendam sakit
hati apa pun, aku rasa kita tak perlu menyelesaikan persoalan
ini dengan mempergunakan kekerasan."
"Tapi bagi umat persilatan pun tidak selalu harus
membunuh orang dikarenakan ada hubungan permusuhan
ataupun dendam."
"Betul," Bong Thian-gak mengangguk, "tapi aku rasa tiada
kepentingan bagi kita berdua melangsungkan duel
menentukan mati-hidup."
"Memang begitulah kenyataannya, maka dari itu aku harus
mohon diri dulu.".
Selesai berkata, Liu Khi segera melejit ke tengah udara dan
berlalu dari sana.
Mimpi pun Bong Thian-gak tak pernah menyangka kalau
Liu Khi bakal angkat kaki begitu selesai mengatakan hendak
pergi, sementara dia masih tertegun, bayangan tubuh Liu Khi
sudah lenyap dari pandangan mata.
Menanti Bong Thian-gak berjalan keluar dari ruang kereta,
mendadak muncul seseorang di hadapannya.
Di bawah cahaya bintang, tampak orang itu mengenakan
pakaian berwarna putih bersih, rambutnya juga berwarna

730
putih, rambut yang panjang itu hampir menyentuh permukaan
tanah.
Melihat kemunculan orang tak diundang ini, Bong Thiangak
merasa amat terperanjat, dia segera menghardik,
"Siapakah kau?"
Bong Thian-gak kuatir lawan itu setan atau sukma
gentayangan.
Padahal kemunculan orang itu amat misterius dan sama
sekali tidak menimbulkan suara, apalagi rambut putihnya yang
terurai hampir menyentuh tanah, membuat bentuk orang itu
mirip bayangan setan yang muncul di tengah kegelapan.
Tanpa mengeluarkan sedikit suara pun, orang berambut
putih itu berdiri di hadapannya, kendati begitu sepasang
matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan,
sinar tajam itu mencorong dari matanya yang tertutup rambut
putih dan mengawasi wajah Bong Thian-gak tanpa berkedip.
Sambil tertawa dingin Bong Thian-gak segera menegur,
"Hei, mengapa kau tidak bersuara?"
Orang berbaju putih itu masih saja membungkam, namun
Bong Thian-gak dapat melihat tubuhnya bergerak seperti
sukma gentayangan, tubuhnya tidak bergoyang, lututnya tidak
menekuk, namun dia bergerak mendekatinya.
Melihat cara lawan menggerakkan tubuh, Bong Thian-gak
terkesiap, dia sadar lawan memiliki ilmu silat yang sangat
dahsyat.
Dalam terkesiapnya, cepat Bong Thian-gak mengerahkan
hawa sakti Tat-mo-khi-kang untuk melindungi seluruh
badannya.
Pada saat itulah tiba-tiba orang itu bergerak maju lagi.

731
Ketika segulung angin berkelebat, rambut putih yang
panjang dan terurai ke bawah itu tiba-tiba bergerak dan
langsung menggulung ke tubuh anak muda itu.
"Blam", bunyi ledakan yang keras bergema.
Rambut panjang yang menggulung datang mengikuti
hembusan dingin tadi segera terhajar oleh segulung hawa
sakti tanpa wujud yang membuatnya terpental balik.
Orang berbaju putih itu segera memutar tubuhnya
sebanyak tiga kali seperti gangsingan, lalu jeritnya. "Siapakah
kau?"
"Ban-lau-loan-sin-kang (tenaga lembut selaksa serat)
milikmu betul-betul pantas disebut ilmu manunggal di kolong
langit," ucap Bong Thian-gak sambil tersenyum. "Seandainya
aku tidak mempersiapkan diri sebelumnya, saat ini tubuhku
pasti sudah penuh lubang berdarah dan tewas sejak tadi."
Ternyata sapuan rambut putih yang menggulung cepat tadi
merupakan sejenis ilmu silat yang sangat hebat dalam
persilatan, ketika lawan melontarkan rambutnya yang lembut
tadi, sesungguhnya ibarat beribu-ribu batang jarum lembut
dan pedang tajam yang menyapu tiba.
Dengan pandangan terkejut bercampur keheranan, orang
itu segera bertanya, "Hawa Sin-kang apakah yang telah kau
pergunakan untuk mematahkan Ban-si-ciam (selaksa jarum
lembut) tadi?"
Sekarang Bong Thian-gak dapat melihat jelas raut wajah
lawan, ternyata orang itu berwajah pucat seperti salju, bentuk
mukanya mirip monyet dan usianya antara enam puluh tahun.
Sambil berkerut kening Bong Thian-gak bertanya,
"Siapakah nama besarmu?"
"Mengapa kau tidak menjawab dulu pertanyaanku?" kata
orang berambut putih.

732
Bong Thian-gak tertawa dingin, "Hm, dilihat dari caramu
melancarkan serangan keji tadi, mungkin kau telah
mengetahui asal-usulku. Mengapa aku mesti memberitahukan
lagi kepadamu?"
Orang berambut putih itu tertawa terkekeh-kekeh,
"Hehehe, betul, kau pasti Jian-ciat-suseng atau si Golok sakti
berlengan tunggal, bukan?'
"Aku adalah Jian-ciat-suseng," jawab Bong Thian-gak.
"Ehm, aku sendiri adalah Pek Kau-kim (siluman monyet
putih) dari gunung Thian-san," orang berambut putih itu
memperkenalkan diri.
"Kau bernama Pek Kau-kim?" tanya Bong Thian-gak sambil
berkerut kening.
"Aku she Pek bernama Kau-kim, kalau tidak bernama Pek
Kau-kim, lantas mesti bernama apa?"
"Rasanya di antara kita tak pernah terikat dendam kusumat
atau sakit hati apa pun, bukan?" tanya Bong Thian-gak.
Sekali lagi Pek Kau-kim tertawa terkekeh, "Kau bukan yang
membunuh kedua orang itu?"
"Bukan, bukan aku pembunuhnya," Bong Thian-gak
menggeleng.
"Kalau bukan kau, lantas siapa yang telah membunuh
mereka?" tiba-tiba Pek Kau-kim membentak.
Bong Thian-gak termenung sebentar, kemudian dia balik
bertanya, "Boleh aku tahu, apa hubungan antara kedua
korban itu dengan dirimu?"
"Mereka adalah muridku."
"Aduh celaka!" keluh Bong Thian-gak dalam hati. "Kalau
kedua orang itu adalah muridnya, bisa celaka!"

733
Berpikir sampai di situ, katanya kemudian sambil menghela
napas panjang, "Locianpwe, murid-muridmu bukan tewas di
tanganku, bila kau tidak percaya, silakan meneliti kembali
bekas-bekas luka mereka."
Pek Kau-kim tertawa seram.
"Kedua orang muridku ini diam-diam kabur turun gunung
ketika aku sedang menutup diri, mereka memang pantas
mampus. Cuma dengan kematian mereka, aku harus mencari
seorang murid yang lain untuk menggantikan mereka berdua.
Hm, Lohu ingin menerima kau sebagai muridku, ayo cepat ikut
aku pulang ke gunung!"
Mendongkol bercampur geli Bong Thian-gak setelah
mendengar perkataan itu, kemudian ujarnya, "Walaupun aku
merasa sangat gembira dapat menjadi muridmu, tapi hatiku
bergidik sendiri melihat sikapmu yang acuh tak acuh dan sama
sekali tidak menaruh perasaan iba mengetahui murid-muridmu
mati terbunuh."
Mendadak Pek Kau-kim melotot, ia mengawasi Bong Thiangak
tanpa berkedip, lalu tanyanya, "Apakah kau menyuruh aku
membalas dendam kematian mereka?"
Bong Thian-gak manggut-manggut.
"Bila murid terbunuh, sebagai guru kau wajib membalas
dendam bagi kematian muridmu."
"Kalau begitu, kau memang benar-benar harus mati."
Di tengah pembicaraan itu, Pek Kau-kim segera
menggetarkan tubuh, rambutnya yang panjang dengan
dahsyat dan kecepatan tinggi langsung menusuk Bong Thiangak
dari atas ke bawah. Mimpi pun Bong Thian-gak tidak
menyangka lawan bakal melancarkan serangan sekali lagi, kali
ini dia belum sempat menghimpun hawa murni Tat-mo-khikang
untuk melindungi seluruh badan, maka ia terpaksa
menghindar.

734
Tiba-tiba Bong Thian-gak merasakan dadanya amat sakit,
dia menjerit kesakitan.
Bong Thian-gak terguling jatuh dari atas kereta dan
tergeletak di atas tanah.
Gelak tertawa yang aneh memanjang dan penuh nada
kebanggaan bergema, Pek Kau-kim mendesak maju dengan
cepat, tangan kanannya secepat kilat menyambar tubuh Bong
Thian-gak sambil bentaknya, "Aku tidak percaya kau masih
bisa meloloskan diri dari serangan jarum serat Pek Kau-kim!"
Baru selesai perkataan itu, Bong Thian-gak yang sudah
tergeletak di atas tanah itu, mendadak melompat sambil
melepaskan sebuah tendangan dengan kaki kanannya.
Jeritan aneh seperti pekikan monyet segera berkumandang,
tubuh Pek Kau-kim mencelat, lalu "blam", roboh terjungkal di
tanah.
Pek Kau-kim tak pernah bisa merangkak bangun kembali
dari tanah.
Sebaliknya Bong Thian-gak sendiri pun tak mampu
merangkak bangun untuk sementara waktu, lengan
tunggalnya digunakan untuk memegangi dada, sedangkan
wajahnya pucat memperlihatkan rasa kesakitan, dia harus
bergerak beberapa kali ke kiri dan kanan sebelum dapat
merintih.
Setelah suara rintihan itu, rasa sakit yang menusuk dada
Bong Thian-gak pun mereda dengan sendirinya. Ia sadar
bahwa dirinya selamat.
Ternyata setelah terkena babatan rambut panjang Pek Kaukim
tadi, ada tujuh-delapan buah jalan darah di dada Bong
Thian-gak yang nyaris tersumbat, ini menyebabkan hawa
darah yang berada dalam dada berhenti untuk sesaat, napas
pun ikut berhenti, membuat anak muda itu nyaris roboh tak
sadarkan diri.

735
Ketika Bong Thian-gak berhasil menghirup udara,
mendadak dari kejauhan sana muncul sesosok bayangan
manusia.
Belum lagi bayangan tubuhnya berjalan mendekat, bau
harum aneh yang amat menusuk penciuman telah berhembus
mengikuti angin gunung.
Tatkala Bong Thian-gak menghirup udara lagi, ia sudah
merasakan bau harum seperti bau bunga anggrek, air
mukanya berubah hebat, dengan cepat ia melompat bangun.
Sorot matanya segera dialihkan ke arah datangnya bau
harum bunga anggrek tadi.
Beberapa tombak di hadapannya kini berdiri seorang
perempuan cantik bertubuh montok.
Ia mengenakan pakaian puth yang halus, rambutnya
disanggul dan di atasnya dilingkari tiga butir mutiara yang
memancarkan sinar gemerlapan.
Wajah perempuan itu tampak begitu angker dan serius,
angkuh dan berwibawa seperti seorang ratu, terutama sorot
matanya yang jeli dan tajam.
Gemetar keras sekujur tubuh Bong Thian-gak menyaksikan
kehadiran perempuan itu, serunya dengan suara gemetar,
"Kau ... kau adalah Cong-kaucu."
Bong Thian-gak sudah pernah bersua dengannya, malah
bagian lubuhnya yang paling rahasia pun pernah dilihatnya
dengan jelas dan nyata, sudah barang tentu dia kenal Congkaucu
Put-gwa-cin-kau yang amat termasyhur.
Perempuan cantik itu tertawa, tertawa amat manis.
Setelah itu ia mulai tertawa cekikikan, suaranya kian lama
kian jalang, seperti suara pelacur yang sedang memperoleh
puncak kenikmatan.

736
"Jian-ciat-suseng, kau masih mengenali aku, mengapa
wajahmu pucat-pias? Hihihi, jangan harap kau dapat
meloloskan diri dari cengkeramanku hari ini."
Dengan lemah-gemulai dan pinggul bergoyang, selangkah
demi langkah ia berjalan mendekati Bong Thian-gak.
Sekarang Bong Thian-gak sadar, biar dia punya sayap pun,
jangan harap bisa lolos dari cengkeramannya.
Dengan sorot mata tajam tanpa berkedip, ia mengawasi
perempuan itu berjalan hingga tiba di hadapannya, mendadak
perempuan itu mengayun tangan kanannya.
Tiga jalan darah penting di tubuhnya seketika tertotok,
kemudian upa yang terjadi tak teringat lagi olehnya.
Dalam lamat-lamatnya suasana, Bong Thian-gak
menangkap suara seorang perempuan yang sedang berkata
dengan lembut, merdu dan manis, "Jian-ciat-suseng, kau telah
menelan sebutir pil Siau-hun-wan. Siau-hun-wan merupakan
pil dewa bagi manusia, khasiatnya boleh dibilang tak
terlukiskan dengan kata-kata."
Dalam keadaan tubuh yang lemah-lunglai dan kesadaran
yang masih samar-samar, Bong Thian-gak membuka mata
lebar-lebar.
Ternyata dia sedang berbaring di atas ranjang yang terletak
dalam sebuah kamar dengan cahaya lentera berwarna merah.
Selembar wajah cantik, tapi memancar senyuman genit dan
jalang terpapar tepat di depan mata.
Bong Thian-gak masih mempunyai kesadaran yang jernih,
dia dapat mengenali raut wajah itu, Cong-kaucu Put-gwa-cinkau.
Tatkala sinar matanya dialihkan ke bawah, hatinya kembali
berdebar, ternyata perempuan itu hanya menutupi tubuhnya
yang telanjang dengan selembar kain sutera berwarna putih
yang amat tipis.

737
Dengan cepat Bong Thian-gak mengalihkan kembali sorot
matanya ke arah lain, tanyanya cepat, "Obat apa yang telah
kau cekokkan kepadaku?"
Cong-kaucu tertawa terkekeh-kekeh dengan suaranya yang
amat jalang, "Hihihi, pil Siau-hun-wan. Satu jam kemudian kau
akan mengetahui dengan sendirinya manfaat obat itu."
Pucat-pias wajah Bong Thian-gak mendengar perkataan itu,
dia menghela napas sedih, lalu katanya, "Kumohon kepadamu,
bunuhlah aku!"
Rupanya Bong Thian-gak tahu Siau-hun-wan merupakan
sejenis obat perangsang yang bisa mengalutkan orang.
Sebagai orang pandai, sudah tentu dia tahu akibat obat itu
bila mulai bekerja, dia bakal menjadi seorang berhati binatang
yang kehilangan akal budi, saat itu dia hanya tahu bagaimana
melampiaskan napsu birahi.
Sambil tertawa merdu Cong-kaucu kembali berkata,
"Membunuh kau? Oh, tak semudah itu. Aku harus
mempermainkan dirimu sampai puas sebelum menghabisi
nyawamu, sebab aku kelewat membenci dirimu, boleh dibilang
kau adalah lelaki yang paling kubenci di kolong langit dewasa
ini."
Dalam keadaan demikian, Bong Thian-gak terbayang
kembali bagaimana dia menghina dan mencemooh perempuan
itu.
Tiba-tiba Bong Thian-gak meronta bangun, tapi entah
mengapa sekujur badannya terasa lemas seolah-olah tak
bertenaga, keempat anggota badannya lemas, tak setitik
tenaga pun yang tersisa dalam tubuhnya.
Merasakan hal itu, Bong Thian-gak baru tahu segala
sesuatunya bakal berakhir.
Diiringi gelak tertawa merdu, Cong-kaucu melanjutkan
kata-katanya, "Tempo hari kau telah membiarkan aku

738
merasakan bagaimana tersiksanya oleh kobaran api birahi,
maka hari ini aku pun menyuruh kau merasakan juga
bagaimana enaknya penderitaan itu."
"Siau-hun-wan adalah pil perangsang yang akan
membuktikan hawa napsu kaum lelaki. Satu jam kemudian
obat itu akan mulai bekerja, saat itu kau akan berubah seperti
binatang yang sedang birahi, kau hanya tahu bagaimana
melampiaskannya, tapi kau tak akan pernah bisa
memadamkan kobaran api birahimu itu, sebab Siau-hun-wan
adalah sejenis obat perangsang yang mengandung racun
jahat, barang siapa berani mengadakan hubungan kelamin
denganmu, maka perempuan itu akan mengisap sari racun
tubuhmu yang akan berakibat kematian baginya. Oleh karena
itu kau harus merasakan penderitaan kobaran api birahi untuk
waktu lama tanpa memperoleh kesempatan melampiaskan.
"Penderitaan akan datang berulang-ulang. Saat kau
menelan Siau-hun-wan ketiga, api birahi akan merusak semua
syarafmu, saat itu kau pun akan berubah menjadi manusia
tanpa sukma, tanpa pikiran, kau hanya akan menuruti
perintahku, selama hidup akan tunduk dan menuruti
perkataanku."
Peluh dingin jatuh bercucuran membasahi badan Bong
Thian-gak srtelah mendengar perkataan itu, dia menghela
napas sedih, lalu kitanya, "Apakah Thay-kun juga menderita
akibat perbuatanmu ini?"
"Benar," Cong-kaucu tertawa cekikikan. "Dia pun pernah
merasakan siksaan itu hingga menyebabkan kejernihan
otaknya punah."
"Aku kuatir obat beracunmu itu bakal ketemu batunya dan
tidak manjur seperti yang kau harapkan," jengek Bong Thiangak
sambil tertawa dingin.
Sekali lagi Cong-kaucu cekikikan.

739
"Siau-hun-wan adalah obat mujarab yang diciptakan Gi
Jian-cau, khasiatnya luar biasa dan selama hidup tidak akan
meleset."
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak menghela napas
panjang, biarpun ia belum pernah bersua Gi Jian-cau, tapi dia
pun termasuk anggota Hiat-kiam-bun. Mengapa orang itu
bersedia menciptakan obat beracun dan membantu Congkaucu
mencelakai umat persilatan?
Tiba-tiba Cong-kaucu bangkit, lalu dengan lemah-gemulai
beranjak keluar dari dalam kamar.
Bong Thian-gak berbaring di atas pembaringan dengan
tenang, sedang benaknya mencari akal bagaimana caranya
melepaskan diri dari cengkeraman iblis itu.
Dia meronta dan berusaha merangkak kabur, akan tetapi
sayang sekali tubuhnya lemas dan sama sekali tidak
bertenaga.
Mendadak terdengar suara derap kaki manusia mendatangi,
Bong Thian-gak segera menoleh.
Dari balik ruangan tiba-tiba muncul tiga orang perempuan,
dua gadis berdandan genit dan seorang lagi perempuan
berusia empat puluh, tubuhnya montok dan bahenol.
Sorot mata Bong Thian-gak seolah-olah tertarik atas
kehadiran perempuan berbaju hijau itu, dia menatap tubuh
perempuan itu tanpa berkedip.
Ketika perempuan setengah umur berbaju hijau itu melihat
jelas wajah Bong Thian-gak yang berbaring di atas ranjang,
dia pun nampak terkejut dan serentak menghentikan
langkahnya.
Dalam pada itu kedua gadis berbaju hijau yang genit tadi
telah tiba di depan pembaringan Bong Thian-gak, keempat
mata mereka melirik sekejap ke wajah anak muda itu dengan
pandangan memikat, kemudian tertawa cekikikan.

740
Setelah itu kedua gadis tadi mulai menari dengan lemahgemulai.
Sambil menari mereka melepas pakaian satu per satu.
Walaupun kedua gadis itu tidak termasuk berwajah cantik,
namun potongan badan mereka betul-betul memukau siapa
saja.
Apalagi kedua wanita itu membawakan tarian erotik yang
sangat menggiurkan, bisa dibayangkan bagaimana menariknya
keadaan itu.
Dihidangi pemandangan yang begitu erotik dan
merangsang napsu birahi, lambat-laun Bong Thian-gak mulai
terpengaruh, suatu perasaan aneh mendadak meliputi dirinya,
dia seperti membutuhkan sesuatu yang amat mendesak.
Mendadak Bong Thian-gak memejamkan mata, lalu
membentak, "Kalian cepat mengenakan pakaian dan
mengundurkan diri dari sini, aku telah menelan Siau-hun-wan,
tak bisa mengadakan hubungan dengan kalian."
"Mereka memang sudah tahu kau telah menelan Siau-hunwan,
tak seorang pun di antara mereka berani mengadakan
hubungan dengan dirimu," ucap perempuan berbaju hijau itu
hambar.
Ketika mendengar perkataan itu, untuk kedua kalinya Bong
Thian-gak membuka mata, kali ini dia dapat melihat raut
wajah perempuan itu dengan jelas, tanpa terasa jeritnya
kaget.
"Kau ... kau adalah Subo."
Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Bong
Thian-gak, perasaan sedih, duka, marah dan benci dengan
cepat menyelimuti perasaannya.
Peristiwa lampau, ketika sepuluh tahun berselang dia
dikeluarkan gurunya dari perguruan ... ketika kaki kirinya

741
berubah menjadi pincang, semua musibah yang menimpa
dirinya itu tak lain berkat hasil karya perempuan berbaju hijau
itu.
Dia tidak lain adalah istri muda gurunya, almarhum Bu-lim
Hengcu, si telapak tangan baja yang menggetarkan jagat Oh
Ciong-hu yang bernama Pek Yan-ling.
Dengan emosi Bong Thian-gak berseru, "Subo, kau masih
kenal diriku?"
"Aku masih ingat kau adalah Bong Thian-gak. Sungguh tak
kusangka Jian-ciat-suseng adalah kau."
"Dendam sakit hati apakah yang terjalin antara kita
berdua? Mengapa kau mencelakai diriku hingga begini rupa?"
teriak Bong Thian-giik sedih.
Sambil berkata, pelan-pelan perempuan itu melepas
pakaian yang dikenakannya satu demi satu.
Tak terlukiskan rasa terkejut Bong Thian-gak setelah
menyaksikan pel Istiwa ini, segera hardiknya, "Apa yang
hendak kau lakukan?"
"Bugil, untuk membawakan tarian erotik agar api birahimu
bangkit."
"Bunuhlah aku, kalian bunuh aku saja!" teriak Bong Thiangak.
Sambil berteriak, Bong Thian-gak segera memejamkan
mata.
Pada saat itulah berkumandang dua kali dengusan, untuk
kedua kalinya Bong Thian-gak membuka matanya kembali.
Ternyata kedua gadis yang bugil tadi sudah tergeletak
lemas di tanah, cairan darah masih nampak meleleh keluar
dari ujung bibir mereka.

742
Sementara Pek Yan-ling sudah menggerakkan tubuhnya
dengan cepat mencengkeram dua sosok mayat itu dan
diletakkan di sudut ruangan, setelah itu dia mendekati Bong
Thian-gak.
Sementara itu Bong Thian-gak merasakan timbulnya
gulungan hawa panas di bawah perutnya, hal itu membuat
peredaran darah dalam tubuhnya mengalir semakin cepat.
Kendatipun demikian, kesadaran otaknya masih tetap
jernih, tiba-tiba ia bertanya, "Kau yang telah menghabisi
nyawa mereka berdua?"
"Betul!" Pek Yan-ling mengangguk pelan. "Akulah yang
telah membunuh mereka berdua."
"Apa yang hendak kau lakukan atas diriku?" tanya Bong
Thian-gak lagi dengan kening berkerut.
Pek Yan-ling menghela napas sedih.
"Ai, aku ingin menyelamatkan jiwamu. Tindakanku sudah
tentu di luar dugaanmu, bukan?"
"Kau hendak menyelamatkan jiwaku?"
Bong Thian-gak membelalakkan mata lebar-lebar
mendengar perkataan itu.
Dengan sedih Pek Yan-ling berkata, "Di masa lalu, aku
sudah banyak melakukan kesalahan dan kejahatan, dosaku
telah berlapis-lapis, biarlah aku mati untuk menolongmu, saat
ini kendati kematianku belum tentu dapat menebus semua
dosa yang pernah kulakukan, namun setidak-tidaknya dengan
menolong jiwamu hari ini, aku bisa mengurangi atau
memperingan dosa yang pernah kuperbuat."
Saat itu kejernihan otak Bong Thian-gak sudah makin
memudar, perasaannya makin kalut, matanya melotot dan
kian memerah, tanyanya, "Dengan cara apa kau akan
menyelamatkan jiwaku?"

743
Tiba-tiba Pek Yan-ling melepas semua pakaian yang
dikenakan hingga telanjang bulat, kemudian katanya pelan,
"Siau-hun-wan adalah sejenis obat perangsang yang aneh dan
luar biasa, kecuali mengorbankan diriku, tiada cara lain untuk
menyelamatkan jiwamu dari bahaya anaman maut."
Gemetar keras sekujur badan Bong Thian-gak menyaksikan
semua Itu, kembali dia berteriak, "Kau tidak boleh berbuat
begitu untuk menolong aku."
Tapi sayang sekali, pil Siau-hun-wan sudah mulai bekerja
dalam tubuh pemuda itu.
Dalam waktu singkat kejernihan otak Bong Thian-gak
sudah terbakar oleh nafsu birahi sehingga tak ampun lagi anak
muda itu jadi kaap dan kehilangan akal budinya lagi.
Biarpun demikian ia tidak seperti lelaki lain, biarpun nafsu
birahi sudah mengusainya, ia belum melakukan sesuatu
gerakan apa pun, hanya matanya melotot memandang tubuh
Pek Yan-ling yang bugil tanpa berkedip.
Sedangkan Pek Yan-ling sendiri hanya ingin
menyelamatkan jiwa Hong Thian-gak, tapi dia melupakan
sesuatu, bagaimana pun juga dia adalah Subo Bong Thiangak,
istri gurunya.
Bagaimana mungkin Bong Thian-gak bisa melakukan
hubungan dengan Subonya sendiri?
Bila takdir telah mengatur nasib manusia, siapa pula yang
bisa menghindar.
Pek Yan-ling adalah seorang yang tidak bersih
perbuatannya dan hari ini kembali dia lakukan kesalahan
besar.
Dosa dan kesalahan yang dilakukan hari ini boleh dibilang
tak terampuni lagi.

744
tapi kobaran api birahi membuat orang melupakan
segalanya. Bong Thian-gak telah melupakan siapa dirinya, dia
hanya tahu bagaimana melampiaskan nafsu birahinya secepat
mungkin. Ketika hujan badai telah berlalu.
Racun jahat Siau-hun-wan telah terhisap oleh tubuh Pek
Yan-ling.
Sekujur tubuh Pek Yan-ling gemetar keras, paras mukanya
segera berubah pucat-pias, ternyata bagian bawah perutnya
mulai terasa sakit seperti diiris pisau, sedemikian sakitnya
membuat dia mulai merintih.
Setelah hujan badai lewat, semua sari racun yang
mengeram dalam tubuh Bong Thian-gak telah tersapu lenyap,
kobaran api birahi yang padam membuat akal budinya jernih
kembali.
Dengan jernihnya pikiran, anggota badannya yang semula
lemas tak bertenaga kini telah pulih seperti sedia kala.
Mendadak dia menperdengarkan jeritan kaget yang keras
dan penuh nada seram.
Sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke tubuh Pek
Yan-ling.
Akibat serangan itu, tubuh Pek Yan-ling yang telanjang
segera menjelat ke udara dan terbanting ke tanah.
Pek Yan-ling yang dihantam pemuda itu menjadi terheranheran,
ia segera meronta bangun, dengan noda darah
membasahi ujung bibirnya dan suara yang gemetar keras,
bisiknya, "Aku ... aku telah menyelamatkan jiwamu, racun keji
Siau-hun-wan telah tersalur ke dalam tubuhku, kau ...
mengapa kau malah menghajar aku?"
Bong Thian-gak menutupi wajah dengan tangan
tunggalnya, mendadak ia menangis tersedu-sedu, katanya,
"Kau ... mengapa kau berbuat demikian? Tahukah kau,
siapakah dirimu, kau ini apaku?"

745
Sekarang Pek Yan-ling baru teringat bahwa Bong Thian-gak
adalah seorang lelaki jujur yang mengutamakan budi-pekerti
dan tata-krama, dia pun mulai berpikir, "Ya benar, aku adalah
Subonya. Biarpun aku berbuat demikian demi menyelamatkan
jiwanya, tapi baginya justru merupakan suatu perbuatan
terkutuk, baginya peristiwa ini sama saja berbuat berzina
dengan Subonya sendiri ... aduh celaka, andaikata dia
memandang serius peristiwa ini, sudah dapat dipastikan dia
akan menghabisi nyawanya sendiri."
Berpikir demikian, sambil tertawa pedih Pek Yan-ling segera
berkata, "Pada waktu itu, kejernihan akal budimu telah hilang.
Apa pun yang telah kau lakukan tidak perlu kau pertanggungjawabkan."
"Kati telah mencelakai aku. Aku ... aku tak punya muka
untuk hidup terus," pekik Bong Thian-gak sedih.
Sambil berteriak, dia segera menyambar pakaiannya dan
dikenakan dengan cepat.
Dalam pada itu paras muka Pek Yan-ling telah berubah
pucat-pias neperti mayat, tubuhnya gemetar keras, sementara
peluh bercucuran «lengan deras. Seakan-akan menahan
penderitaan yang luar biasa, akhirnya dia berkata, "Bong
Thian-gak, kau harus hidup terus, kau harus melanjutkan
hidupmu di dunia ini, racun jahat Siau-hun-wan telah tersalur
ke dalam tubuhku, sekarang aku tak lebih hanya seorang yang
sudah mendekati ajal, perbuatanku ini sama sekali tidak keliru,
sebab hanya kau seorang di dunia ini yang bisa membunuh
iblis perempuan itu, kau harus mempertahankan hidupmu,
kalau tidak, pengorbanan nyawaku ini benar-benar
pengorbanan yang tak ada artinya."
Bong Thian-gak mengawasi wajah Pek Yan-ling dengan
kesedihan yang luar biasa, gumamnya tanpa terasa, "Betul,
kau berbuat demikian karena menolong jiwaku ... bila kau
tidak berbuat demikian, aku pasti akan menjadi boneka Congkaucu,
aku pasti akan melenyapkan gembong iblis perempuan

746
itu dari muka bumi, kau bukan saja telah menolong aku
dengan perbuatanmu tadi, kau pun telah menyelamatkan
beribu-ribu jiwa umat persilatan ... tapi dapatkah aku hidup
lebih lanjut dalam keadaan seperti ini?"
"Kau dapat melupakan kejadian itu," Pek Yan-ling berkata
dengan sedih. "Anggap saja peristiwa ini tidak pernah kau
alami."
"Dapatkah aku melupakannya?" kata Bong Thian-gak amat
pedih. "Sepuluh tahun lalu kau pernah melakukan hubungan
gelap dengan Sam suheng Siau Cu-beng, itu sebabnya
kubunuh Sam-suheng, tapi hari ini siapa pula yang akan
membunuhku demi membalas aib bagi Suhu."
"Bong Thian-gak, kau sudah tahu aku bukan perempuan
baik-baik. Sejak dulu Oh Ciong-hu sudah tidak memiliki istri
macam diriku ini," ucap Pek Yan-ling sedih. "Oleh karena itu
aku bukan istri Oh Ciong-hu, juga bukan Subomu ... selain itu
kau sudah sejak lama dikeluarkan dari perguruan, kau pun
sudah bukan muridnya lagi. Ini berarti di antara kita berdua
sama sekali tiada hubungan sebagai ibu guru dan murid lagi,
kita adalah sahabat biasa ... aku sama sekali bukan ibu guru
seperti apa yang kau sebut, karenanya kau tidak pernah
melanggar susila, aku pun tidak pernah melakukan perbuatan
yang menyalahi peraturan perguruan."
Memang benar, sepuluh tahun lalu Bong Thian-gak diusir
Oh tong hu dari perguruan, jadi Pek Yan-ling sudah bukan
Subonya lagi.
Apalagi selama sepuluh tahun ini dia sendiri pun tak pernah
menganggap perempuan itu sebagai Subonya, karena itu dia
sudah kehilangan haknya untuk dihormati sebagai seorang
Subo.
Kendati demikian, dalam hati Bong Thian-gak tersiksa pula
oleh penderitaan yang luar biasa.

747
Dalam pada itu kulit badan Pek Yan-ling yang semula
berwarna putih halus, lambat-laun telah berubah menjadi
hitam kemerah-merahan, beberapa kali dia bahkan kejangkejang
dengan penuh penderitaan.
"Bong Thian-gak" kembali dia berkata sambil menahan
derita. "Sekarang isi perutku terasa seperti disayat-sayat,
seperti juga ada beribu ekor binatang yang menggerogoti
badanku ... ooh sangat menderita ... tolong ... tolong
hadiahkan sebuah pukulan kepadaku agar aku cepat mati!"
Rintihan demi rintihan bergema tiada hentinya dari bibir
Pek Yan-ling, sambil memegang dada dengan sepasang
tangannya, dia mulai bergulingan kian-kemari, keadaannya
amat tersiksa dan mengenaskan, membuat siapa pun yang
melihat jadi amat terharu.
Bong Thian-gak tak dapat membendung air matanya lagi,
dengan penuh duka katanya, "Thian telah mengatur segala
sesuatunya? Mengapa Thian selalu memaksa aku melakukan
perbuatan-perbuatan yang tidak kukehendaki?"
"Bong Thian-gak, ayolah cepat turun tangan," pinta Pek
Yan-ling sambil mengangkat wajahnya yang menyeringai
seram. "Dahulu aku telah banyak berbuat dosa kepadamu,
sekarang biar kau cincang tubuhku hingga hancur berkepingkeping
pun belum tentu bisa membalas luka yang pernah
kuberikan kepadamu di masa lalu. Inilah hukum karma bagiku,
aku memang pantas mati di bawah telapak tanganmu."
Bong Thian-gak memejamkan mata, lalu katanya, "Yang
sudah lewat biarlah lewat, aku sama sekali tidak
membencimu, bahkan aku amat berterima kasih kepadamu ...
karena aku telah berhutang budi kepadamu."
Tatkala kata "kepadamu" diucapkan, telapak tangan kanan
Bong Thian-gak diayunkan ke depan melancarkan bacokan.
Dimana angin pukulan berkelebat, tubuh Pek Yan-ling
mencelat ke belakang untuk kemudian tidak berkutik lagi.

748
Air mata sekali lagi jatuh bercucuran membasahi wajah
Bong Thian-gak, diambilnya kain seprei dari atas
pembaringan, lalu dibungkuskan ke atas tubuh Pek Yan-ling
yang telanjang dan pemuda itu pun berdiri termangu-mangu
untuk beberapa saat lamanya.
Mendadak berkumandang suara langkah kaki manusia,
Bong Thian-gak bagaikan baru sadar dari mimpi, dia segera
menyelinap ke belakang pintu dengan cepat.
Dalam pada itu dari luar ruangan sudah terdengar
seseorang berkata, "Cap-go-kaucu, Cong-kaucu
memerintahkan kepadaku untuk mengantar dua pil Siau-hunwan,
dengan pesan dalam dua belas jam mendatang harus
mencekokkan pil ketiga kepada Jian-ciat-suseng."
Bong Thian-gak yang mendengar perkataan itu segera
membuka pintu secara tiba-tiba, tampak seorang berbaju
kuning berjalan masuk ke dalam ruangan dengan langkah
cepat.
Tatkala orang berbaju kuning itu menyaksikan Bong Thiangak
berdiri di hadapannya dalam keadaan segar-bugar, ia
nampak amat terperanjat, mulutnya ternganga dan tak
sempat berteriak, tahu-tahu cakar maut yang kuat seperti
jepitan telah mencekik tenggorokannya.
"Krak", tulang leher orang berbaju kuning itu tahu-tahu
patah, tidak sempat mengeluarkan suara rintihan lagi, orang
itu tewas seketika.
Selesai membunuh orang itu, Bong Thian-gak segera
menyelinap keluar, dengan cepat sorot matanya dialihkan ke
sekeliling tempat itu.
Apa yang kemudian terlihat membuat Bong Thian-gak
merasa sangat terkejut, ternyata dia berada di sebuah
ruangan besar dan kosong, dua puluh empat buah tiang
penyangga berukir naga emas berjajar tiap sudut, atap
ruangan indah dan megah, bangunan itu sangat mentereng.

749
Tempat dimana Bong Thian-gak berdiri sekarang
merupakan panggung di ruangan tengah, permadani berwarna
merah menghiasi lantai, boleh dibilang dimana-mana dihiasi
barang antik yang tak ternilai harganya.
Pot bunga berlapiskan emas di sekeliling panggung,
delapan belas hu.ih hiolo perak bertebaran di bawah
panggung, empat gentong emas, empat pasang kura-kura
tembaga dan bangau tembaga turut menghiasi setiap sudut
ruangan.
Selain itu di tengah ruangan terdapat pula sebuah meja
panjang, di atas meja berjajar berbagai peralatan yang terbuat
dari tembaga, kemala, dan bahan keramik, di samping intan
permata dan mutu manikam yang tak ternilai harganya.
Pada hakikatnya bangunan itu ibarat sebuah gudang hartakarun.
Pada ujung tumpukan harta-karun yang tak ternilai itu
terdapat sebuah kursi yang terbuat dari emas, cahaya
kekuning-kuningan memercik ke empat penjuru membuat
kursi tadi menyerupai singgasana seorang kaisar.
Mata Bong Thian-gak menjadi kabur menyaksikan semua
itu, sesaat lamanya dia hanya bisa berdiri termangu-mangu
seperti orang kehilangan ingatan.
Dia tidak mengetahui tempat apakah itu? Darimana
datangnya harta-karun itu?
Tiada lentera di dalam ruangan itu, tapi bisa terlihat
dengan jelas bahwasanya ruangan itu kosong melompong, tak
nampak sesosok bayangan manusia pun, namun Bong Thiangak
cukup mengerti, di luar istana itu pasti terdapat pasukan
penjaga yang amat ketat dan kuat.
Maka sambil menghimpun tenaga dalam untuk berjagajaga
atas segala kemungkinan, dia berjalan menuju ke pintu
gerbang.

750
Pintu dalam keadaan tertutup rapat, hal ini membuat Bong
Thian-gak tertegun, segera pikirnya, "Kalau dilihat dari pintu
gerbang yang tertutup rapat, berarti tiada penjaga yang
meronda di luar gedung, tempat ini sungguh merupakan
tempat rahasia yang menyeramkan."
Mendadak dari luar terdengar seorang menegur,
"Komandan regukah di situ?"
"Benar!" dengan cepat Bong Thian-gak menyahut.
Suara gemuruh yang amat keras segera berkumandang,
pintu gerbang terbuka lebar dan dua kepala menongol dari
balik pintu.
Secepat sambaran kilat telapak tangan Bong Thian-gak
membacok ke bawah.
Tiada jerit kesakitan, tiada suara lain, tahu-tahu kedua
orang tadi menghembuskan napas penghabisan.
Dengan gerakan tubuh yang gesit, lincah dan ringan, Bong
Thian-gak segera menerobos keluar lewat celah-celah pintu
itu.
Di bawah cahaya rembulan, di bawah undak-undakan batu
depan pintu gerbang nampak berjajar dua puluh pengawal
berbaju kuning, mereka berdiri dengan memegang tombak
panjang.
Kemunculan Bong Thian-gak yang secara tiba-tiba
membuat mereka tidak sempat melihat dengan jelas siapa
pendatang itu.
Dalam sekejap Bong Thian-gak telah sampai di hadapan
pengawal pertama. Tanpa jeritan kaget, tanpa teriakan
kesakitan, tahu-tahu orang Mu sudah roboh binasa.
Di saat pengawal baju kuning yang pertama roboh terkapar
tadi, tubuh Bong Thian-gak sudah berkelebat di hadapan

751
delapan orang pengawal dan muncul di hadapan pengawal
kesembilan.
Di saat para pengawal menyadari datangnya musuh yang
menakutkan itu, Bong Thian-gak telah berhasil menghabisi
nyawa delapan orang pengawal baju kuning dengan
kecepatan dan serangan yang mengerikan.
Serangan yang begitu dahsyat dan cepat ini pada
hakikatnya (arang dijumpai di kolong langit.
Tiga orang pengawal baju kuning lainnya yang masih
tersisa dengan cepat menyadari datangnya ancaman bahaya,
salah seorang di antara mereka segera menghardik, "Siapa di
situ?"
Bong Thian-gak merampas tiga batang tombak dari
korbannya yang tewas dan satu-per satu dilontarkan ke
depan.
Tombak-tombak itupun menembus jantung tiga orang
pengawal yang berada di kejauhan, tanpa penderitaan, tanpa
teriak kesakitan, dua puluh empat orang pengawal berbaju
kuning tahu-tahu sudah tertumpas habis di tangan Bong
Thian-gak.
Kendati Bong Thian-gak telah melakukan pembunuhan
dengan gerakan cepat, tindakan yang kejam dan tak membuat
pengawal-pengawal itu mengeluarkan suara, namun
penjagaan di seputar gedung itu sungguh kelewat ketat.
Dua puluh empat pengawal berbaju kuning yang berada di
pintu gerbang sekarang tak lebih hanya sekelompok kekuatan
lain yang berada di sekeliling gedung itu.
Mendadak serentetan suitan keras yang tinggi dan
melengking dibunyikan orang keras-keras.
Bong Thian-gak segera menyaksikan tiga orang pengawal
baju kuning melompat turun dari atas tiga batang pohon PekTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
752
yang dan menyongsong kedatangan Bong Thian-gak dengan
pedang terhunus.
Bong Thian-gak sadar jejaknya sudah ketahuan, dia
semakin tak ingin membuang waktu lagi, maka tubuhnya
melejit ke muka dan menyambut datangnya para pengawal
yang sedang menerjang datang itu
Begitu bayangan kedua belah pihak saling bertemu,
terdengarlah suara benturan keras yang sangat nyaring.
Tidak banyak waktu yang terbuang, dalam waktu singkat
tiga orang pengawal yang baru muncul itu sudah
bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa
lagi.
Lengan tunggal Bong Thian-gak kini sudah merampas
ketiga batang pedang lawan.
Pada saat itulah dari sisi sebelah kiri ruangan
berkumandang suara tertawa dingin yang menyeramkan.
"Hehehe, serangan yang sangat hebat dan ganas. Hm ...
hm ... selama puluhan tahun terakhir belum pernah kujumpai
seorang jagoan yang sedemikian tangguh!"
Mendengar ucapan itu, Bong Thian-gak segera
mendongakkan kepala.
Di hadapannya kini sudah muncul delapan orang pengawal
berbaju kuning yang mengiringi seorang kakek gemuk pendek,
selangkah demi selangkah berjalan mendekatinya.
Dengan ketajaman mata Bong Thian-gak, ia sudah dapat
melihat kakek gemuk pendek itu memiliki kepandaian silat
yang hebat.
Tiba-tiba saja suara nyaring bergema di angkasa.
Ternyata kedelapan orang berbaju kuning sudah melolos
cambuk panjang dari pinggangnya, lalu dengan gerakan cepat
dan lincah mereka mengepung Bong Thian-gak.

753
Bong Thian-gak cukup mengetahui bahwa ruyung lemas itu
merupakan sejenis senjata yang sangat lihai.
Oleh karena itu Bong Thian-gak tidak membiarkan
kedelapan orang pengawal berbaju kuning itu melancarkan
serangan lebih dahulu, sambil tertawa dingin tubuhnya
berputar seperti angin puyuh dan langsung menggulung ke
sisi sebelah barat. Tatkala Bong Thian-gak berputar dengan
kencang tadi, ketiga pedang yang digenggamnya secepat
sambaran petir sudah menyambar ke depan.
Tahu-tahu dua pedang di antaranya sudah meluncur ke
muka dengan kecepatan tinggi.
Dua kali jerit kesakitan yang memilukan segera bergema.
Empat orang pengawal baju kuning yang menerkam datang
dari arah timur dan utara tahu-tahu sudah kehilangan batok
kepalanya, tersambar oleh luncuran pedang itu.
Sebilah pedang berhasil membacok dua kepala, ilmu
pedang terbang semacam ini benar-benar merupakan suatu
kepandaian yang sangat mengejutkan.
Bong Thian-gak sendiri hanya menyambitkan kedua batang
pedang dan menyisihkan sebatang baginya, pedang itu
mengikuti gerakan tubuhnya berputar ke barat, segera
melancarkan serangan pula, di mana cahaya pedang
berkelebat, darah segar berhamburan kemana-mana dan isi
perut berceceran.
Dua orang pengawal berbaju kuning kena terbabat
pinggangnya hingga putus menjadi dua bagian.
Dalam waktu singkat dari delapan pengawal berbaju kuning
itu sudah ada enam orang di antaranya yang tewas.
Demonstrasi kekejaman yang terjadi ini sungguh
menggidikkan hati siapa pun, kontan saja dua pengawal
berbaju kuning yang tersisa serta kakek gemuk pendek itu
menghentikan langkah.

754
Sementara itu Bong Thian-gak yang dalam sekejap mata
telah membunuh enam orang, kini maju selangkah demi
selangkah menghampiri kakek gemuk pendek itu dengan
pedang terhunus.
Sambil tertawa dingin ia berkata, "Ruyung panjang meski
merupakan senjata untuk menandingi pedang atau golok, tapi
bila bertemu dengan aku, kalian tetap merupakan rombongan
yang bakal berangkat ke akhirat."
"Siapakah kau?" bentak kakek gemuk pendek itu dengan
wajah lei kejut dan ngeri.
"Ketua Hiat-kiam-bun, Jian-ciat-suseng!" sahut Bong Thiangak
sambil tertawa dingin.
Sembari berkata, tiba-tiba saja pemuda itu melompat ke
depan dan pedangnya langsung dibacokkan ke tubuh kakek
gemuk pendek itu.
Serangan pedang itu dilancarkan dengan cepat, akan tetapi
gerakan cambuk kakek gemuk pendek itu pun tidak kalah
cepatnya.
Bong Thian-gak segera merasakan pergelangan tangannya
menjadi kencang, urat nadi pada pergelangan tangannya
sudah kena terbelenggu empat lingkaran oleh cambuk lawan,
otomatis gerak serangan pedangnya pun mengenai tempat
kosong.
Diiringi gelak tawa panjang penuh kebanggaan, kakek
gemuk pendek itu segera berkata, "Cambuk sakti bayangan
aneh sudah puluhan tahun lamanya termasyhur di kolong
langit. Tak ada orang bisa lolos dari cengkeramanku bila
ruyung telah berada dalam genggamanku. Hehehe, Jian-ciatsuseng,
lengan tunggalmu ini agaknya akan kutung pula."
Sementara itu Bong Thian-gak merasa ruyung lemas yang
membelenggu urat nadinya itu makin lama makin kencang,
tulang dan kulitnya terasa sakit seperti remuk.

755
Bong Thian-gak sadar bila lawan sekali lagi menarik ruyung
lemasnya, niscaya lengan tunggalnya itu bakal lenyap tak
berbekas.
Sementara ingatan itu melintas dalam benaknya, tubuh
Bong Thian-gak telah terbetot oleh cambuk lemas tadi
sehingga terbanting ke atas tanah.
Namun ketika Bong Thian-gak bangkit kembali dari atas
tanah, suara dengusan tertahan bergema di udara.
Perut kakek gemuk pendek itu tahu-tahu sudah tersambar
oleh cahaya pedang sehingga mengucurkan darah segar.
Darah mengalir keluar bersama usus dan isi perut lainnya,
meleleh dari balik mulut luka yang lebar dan memanjang itu.
Kulit muka si kakek gemuk pendek itu segera mengejang
keras, katanya dengan suara dipaksakan, "Kau ... kau ...
bagaimana caramu bisa meloloskan diri dari belenggu cambuk
panjangku?"
Dengan wajah dingin Bong Thian-gak berdiri di
hadapannya. Ketika mendengar pertanyaan itu, ia menjawab
dingin, "Permainan ruyungmu memang terhitung cambuk kilat
nomor wahid di kolong langit. Tiga puluh tahun berselang,
dalam dunia rimba hijau pernah termasyhur seorang
pencoleng yang mahir dalam permainan cambuk, konon dia
bernama Ruyung sakti bayangan setan Si-bu, mungkin kaulah
orangnya?"
Penderitaan yang tebal semakin menghiasi wajah kakek
gemuk pendek itu, dia berkata dengan suara gemetar, "Nama
besar Ruyung sakti bayangan setan pada saat ini sudah punah
dan tak ada lagi. Jian-ciat-suseng, meski ... meskipun ilmu
pedangmu tiada tandingannya di kolong langit, tapi jangan
harap kau bisa menandingi kerubutan beratus-ratus pengawal
perkumpulan Put-gwa-cin-kau, akhirnya kau ... kau pun akan
mengalami nasib yang sama seperti aku, roboh ... roboh ke
tanah dan tak akan bangun lagi."

756
Sampai di situ langkah kakek gemuk pendek itu sudah
sempoyongan, akhirnya roboh terjungkal ke atas tanah dan
tak pernah merangkak bangun kembali.
Pencoleng nomor wahid di rimba hijau itu, Si-bu, akhirnya
harus mampus di ujung pedang Bong Thian-gak.
Setelah menyaksikan Si-bu tewas, pelan-pelan Bong Thiangak
mendongakkan kepala dan memandang sekejap sekeliling
tempat itu, tapi perasaannya segera terkesiap.
Ternyata pada saat itu seluruh lapangan yang luas di depan
ruangan utama telah dikelilingi lautan manusia yang
mengepung tempat itu secara berlapis-lapis, begitu rapat
pengepungan di sana, hal ini membuat seramnya suasana di
bawah sinar rembulan.
Agak bergidik juga Bong Thian-gak menyaksikan keadaan
itu, diam-diam pikirnya, "Bila aku harus membantai orang itu
satu demi satu, biar mereka bisa kuhabiskan, akhirnya aku
akan kehabisan tenaga dan mampus di tangan mereka ... hari
ini lebih baik aku kabur saja dari sini atau melangsungkan
pertarungan dan beradu kekuatan dengan pihak Put-gwa-cinkau?"
"Ai, apalagi kawanan pengawal itu hanya diperintah Congkaucu
untuk melakukan perbuatan itu, masa aku harus
membantai mereka habis-habisan."
Berpikir demikian, tiba-tiba Bong Thian-gak berteriak,
"Dengarkan saudara-saudara sekalian. Aku adalah ketua Hiatkiam-
bun saat ini, Jian-ciat-suseng Bong Thian-gak. Pedang di
tanganku sekarang memiliki kekuatan luar biasa, tiga puluh
sosok mayat yang tergeletak di atas tanah merupakan bukti
yang paling jelas.
"Selain Cong-kaucu kalian yang dapat menyambut
beberapa jurus serangan pedangku, kalian boleh dibilang
ibarat telur yang beradu dengan batu atau kunang-kunang

757
yang menentang api, hanya mencari kematian bagi diri
sendiri.
"Thian maha pengasih dan maha penyayang, aku tak ingin
melakukan pembunuhan besar-besaran, karena itu kuanjurkan
kepada kalian lebih baik menyingkirkan diri dari sini dan
berilah jalan lewat kepadaku, aku tak nanti melukai seorang
pun di antara kalian."
Ucapan itu diutarakan dengan suara lantang dan keras, di
tengah kegelapan malam suara itu dapat tersiar sampai jauh.
Baru selesai dia berkata, mendadak dari kerumunan orang
banyak terdengar seorang berseru sambil tertawa dingin, "Aku
tak percaya kau seorang cacat bisa memiliki kepandaian dan
kemampuan sedemikian hebatnya."
Dari kerumunan orang banyak sebelah utara segera terjadi
kegaduhan, lalu nampak dua orang berjubah hitam diiringi
delapan laki-laki yang menyoreng pedang berjalan menuju ke
arahnya.
Tatkala mendengar nada suara orang itu, seketika itu juga
timbul kobaran api dendam dalam dada Bong Thian-gak, dia
segera berteriak, "Siau Cu-beng, kedatanganmu tepat sekali!"
Sepasang mata Bong Thian-gak telah memancarkan cahaya
api yang menggidikkan, dia mengawasi orang berkerudung
yang menyoreng sepasang pedang itu tanpa berkedip.
Sementara itu orang berambut panjang yang berada di
sebelah kanan, yang berdandan bukan lelaki bukan
perempuan itu tertawa seram seraya berkata, "Aku kira
siapakah manusia cacat ini? Hm, ternyata Bong Thian-gak
orangnya."
Bong Thian-gak dapat mengenali orang aneh kurus seperti
mayat hidup ini adalah Liok-kaucu Put-gwa-cin-kau.
Ia tertawa dingin, lalu katanya sambil manggut-manggut,
"Betul, Ko Hong adalah samaranku tiga tahun lalu. Kau sudah

758
merupakan prajurit yang kalah perang di tanganku, hari ini
kau lebih-lebih bukanlah tandinganku, hm, aku orang she
Bong selalu bisa membedakan mana budi dan mana dendam,
kau bukan termasuk orang yang akan kubunuh, asal kau tahu
diri dan segera mengundurkan diri, aku bersedia pula
mengampuni jiwamu."
Liok-kaucu tertawa seram.
"Tiga tahun berselang, sebuah pukulanmu telah membuat
aku berbaring selama tiga bulan. Dendam sakit hati ini tak
pernah kulupakan, sungguh tak gampang bertemu lagi dengan
kau. Hm! Kau anggap aku akan melepaskan kesempatan yang
sangat baik itu begitu saja?"
"Liok-kaucu, panjang amat umurmu," jengek Bong Thiangak
dengan suara hambar.
Liok-kaucu tertawa terbahak, suaranya amat
menyeramkan, telapak tangan raksasanya mendadak
diayunkan ke depan, segulung angin pukulan yang amat
dingin segera menyerang ke arah Bong Thian-gak.
Sejak tadi Bong Thian-gak sudah tahu ilmu pukulan lawan
merupakan ilmu jahat dan beracun, karena itu secara diamdiam
dia telah menyalurkan hawa murni Tat-mo-khi-khang
menyelimuti seluruh jalan darahnya.
Dimana angin pukulan menyambar, Bong Thian-gak
mendengus tertahan dan sepasang bahunya bergoncang
keras.
Pada saat itulah Liok-kaucu tertawa sambil berteriak keras,
"Jian-ciat-suseng, serahkan jiwa anjingmu!"
Dengan suatu gerakan yang amat cepat, dia mendesak ke
muka dan melakukan gempuran.
Siau Cu-beng yang berada di sisinya segera menyadari hal
itu merupakan siasat lawan, dia segera berteriak, "Hati-hati
Liok-kaucu, dia tidak terluka."

759
Sayang sekali sebelum peringatan itu diutarakan, tubuh
Liok-kaucu telah tiba di hadapan Bong Thian-gak, telapak
tangannya dipentang lebar-lebar dan mencengkeram dari kiri
dan kanan.
Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat.
Menyusul kemudian jeritan keras seperti babi disembelih
bergema.
Di tengah sambaran cahaya pedang, sepasang tangan Liokkaucu
terbabat kutung dan rontok ke tanah, menyusul di
tengah semburan darah segar, pedang Bong Thian-gak
menusuk dadanya hingga tembus. "Liok-kaucu, kali ini kau
mati tanpa mengucapkan sepatah katapun?"
Ucapan Bong Thian-gak itu diutarakan dengan nada
hambar. Bersamaan itu pula pedangnya telah dicabut dari atas
dada Liok-kaucu.
Darah segar segera menyembur lewat mulut lukanya, Liokkaucu
memang tidak mengucapkan sepatah kata pun, dia
hanya membentang matanya lebar-lebar mengawasi Bong
Thian-gak tanpa berkedip.
Akhirnya robohlah tubuh Liok-kaucu ke tanah dan tak
pernah bangun lagi. Jiwanya turut melayang ke angkasa dan
kembali ke akhirat.
Dalam satu gebrakan Bong Thian-gak berhasil membunuh
Liok-kaucu, walaupun kemenangan yang dia raih berkat
taktiknya yang jitu, akan tetapi bagaimana pun juga Liokkaucu
mempunyai kepandaian silat sangat tinggi,
kenyataannya dia dibunuh orang secara gampang, peristiwa
ini benar-benar menggetarkan perasaan setiap orang.
"Siau Cu-beng, mengapa tidak kau lepaskan kain
kerudungmu itu?" sambil membawa pedangnya yang
berlumuran darah dan sikap yang menyeramkan, Bong Thiangak
membentak keras.

760
Komandan kedua pasukan pengawal tanpa tanding segera
tertawa dingin sambil sahutnya, "Betul, akulah Siau Cu-beng,
tapi aku tidak pernah menyangka kaulah Bong Thian-gak."
Sementara itu dalam benak Bong Thian-gak melintas
kembali berbagai kejadian tragis yang telah menimpanya
malam ini ... darah bercampur dendam segera mendidih
dalam tubuhnya.
"Siau Cu-beng, gara-gara perbuatanmu yang memalukan
sepuluh tahun lalu, aku telah menjadi cacat, kaki kiriku
pincang, lalu tiga tahun berselang kau pun memotong kutung
sebelah lenganku, maka malam ini aku tak tahu bagaimana
mesti membalas dendam berdarah ini."
Sambil berkata, pelan-pelan Bong Thian-gak mengangkat
pedangnya dan bersiap melancarkan serangan.
Siau Cu-beng segera tertawa ringan, katanya, "Bong Thiangak,
aku hendak mengajukan sebuah pertanyaan kepadamu,
mengapa kau menghajarku sampai jatuh ke dalam jurang
pada sepuluh tahun berselang? Hahaha, apakah hal ini
dikarenakan kau menangkap basah hubungan gelapku dengan
Pek Yan-ling, maka kau lantas hendak membersihkan aib
perguruan?"
"Hm, tapi hari ini ... kau pun telah melakukan hubungan
gelap dengan Pek Yan-ling, nah, giliranku sekarang untuk
bertanya kepadamu, .apakah aku pun harus membunuhmu
untuk membalaskan dendam aib yang menimpa perguruan
kita?"
Gemetar keras tubuh Bong Thian-gak mendengar
perkataan itu, pedang yang sudah disiapkan tanpa sadar
terlepas dan jatuh ke tanah.
"Oh, Thian!" diam-diam Bong Thian-gak mengeluh dengan
perasaan amat tersiksa. "Ternyata Siau Cu-beng telah
menyaksikan peristiwa itu, sepuluh tahun lalu aku telah

761
membunuhnya karena ia telah melakukan hubungan gelap
dengan Pek Yan-ling."
Perasaan sedih dan menyesal membuat pikiran dan otaknya
terganggu.
Pada kesempatan yang sangat baik inilah mendadak Siau
Cu-beng mengayun pedang dan tanpa menimbulkan sedikit
suara pun dengan cepat menusuk dada Bong Thian-gak.
Semua peristiwa itu berlangsung dalam waktu yang amat
singkat.
Cepat tangan kiri Bong Thian-gak diayun ke depan untuk
menghantam mata pedang lawan.
Peristiwa yang sama sekali di luar dugaan segera
berlangsung, ternyata Bong Thian-gak berhasil menggetar
pedang itu hingga terpental dengan tangan kosong.
Seketika itu juga Siau Cu-beng serta ratusan orang
pengawal lainnya tertegun dan berdiri melongo dengan mata
terbelalak lebar.
Setelah berhasil mementalkan pedang dengan tangan
telanjang, Bong Thian-gak sama sekali tidak melancarkan
serangan balasan, dengan cepat dia menengok sekejap ke
arah Siau Cu-beng, kemudian berkata dengan hambar, "Siau
Cu-beng, persoalanku bisa kuselesaikan sendiri. Kini aku
hanya ingin menanyakan satu persoalan kepadamu, Toasuheng
Ho Put-ciang, Ji-suheng Yu Heng-sui dan Sumoay Oh
Cian-giok, apakah masih hidup?"
Siau Cu-beng seperti baru tersadar dari impian setelah
mendengar itu, dia berseru tertahan, lalu balik bertanya
dengan keheranan, "Dengan cara apakah kau telah menepuk
pedangku hingga terpental?"
Bong Thian-gak tidak menjawab, sebaliknya malah
membentak lagi dengan suara lantang, "Aku bertanya
kepadamu, bagaimanakah nasib Ho Put-ciang sekalian?"

762
Tiba-tiba Siau Cu-beng tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, apakah Pek Yan-ling tidak memberitahukan
padamu?"
Hati Bong Thian-gak bergetar keras, dia segera berpikir,
"Bagaimana keadaan mereka? Mengapa dia bilang Pek Yanling
tidak memberitahukan kepadaku? Apa yang semestinya
hendak dikatakan Pek Yan-ling kepadaku?"
Sekali lagi Siau Cu-beng tertawa dingin, suaranya
menyeramkan, "Kalau Pek Yan-ling tidak memberitahukan
kepadamu, baiklah biar aku yang memberitahukan
kepadamu!"
"Bagaimana keadaan mereka? Cepat katakan!" bentak
Bong Thian-gak.
Siau Cu-beng sengaja berdehem, lalu dengan santai dia
berkata, "Ho Put-ciang dan Yu Heng-sui telah mengakhiri
hidupnya sendiri."
"Bunuh diri? Mengapa mereka bunuh diri?" tanya Bong
Thian-gak dengan terkejut.
"Karena tidak punya muka untuk bertemu dengan orang.
Hahaha, biar kuceritakan lebih terperinci kepadamu! Pek Yanling
adalah Subo mereka, Ho Put-ciang serta Yu Heng-sui
pernah pula mempunyai hubungan persahabatan dan
hubungan ibu guru. Akhirnya peristiwa yang sangat
memalukan ini diketahui oleh Oh Cian-giok, kedua orang itu
pun kehilangan muka sehingga akhirnya bunuh diri."
Sekali lagi dada Bong Thian-gak serasa dipukul martil yang
berat, nyaris jatuh tak sadarkan diri.
Mimpi pun dia tak menyangka Toa-suheng dan Jisuhengnya
telah tewas dalam keadaan begitu mengenaskan
dan memedihkan hati.

763
Dia mengerti sekarang, semua ini bisa terjadi tak lain
merupakan siasat membunuh yang paling keji dari
perkumpulan Put-gwa-cin-kau. Mereka tidak membiarkan
seorang Enghiong mati dalam keadaan gagah dan perkasa,
melainkan membiarkan mereka mati dengan sukma tak
tenang dan roh gentayangan.
Perbuatan semacam ini benar-benar merupakan suatu cara
membunuh yang sangat kejam dan mengerikan.
Setelah tertawa ringan, dengan suara yang dingin
menyeramkan, Siau Cu-beng berkata lagi, "Tindakan Ho Putciang
dan Yu Heng-sui bunuh diri benar-benar Enghiong sejati,
mereka adalah pendekar yang berani berbuat berani
bertanggung-jawab sehingga bersedia menggorok leher
sendiri untuk menebus dosa. Tapi sekarang, kau Bong Thiangak
sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mati, aku
betul merasa kasihan untukmu!"
Tiba-tiba Bong Thian-gak mendongakkan kepala berpekik
nyaring, "Siau Cu-beng, serahkan nyawamu!"
Bong Thian-gak memungut pedangnya dari atas tanah dan
seperti seekor banteng yang terluka, dia membacok tubuh
Siau Cu-beng secara ganas.
Siau Cu-beng tidak menyambut datangnya ancaman,
sebaliknya delapan orang lelaki berbaju hitam yang berada di
sisinya segera menggerakkan kedelapan pedangnya
menciptakan selapis kabut pedang serentak mengurung Bong
Thian-gak rapat-rapat.
Ilmu pedang yang dimiliki Bong Thian-gak pada hakikatnya
sudah mencapai kesempurnaan, pedangnya seperti membacok
kayu bakar saja, kawanan orang berbaju hitam itu dibabat
satu demi satu.
Semua serangan yang dilancarkan olehnya terbatas tigaempat
bacokan belaka, namun kedelapan lelaki yang semula
bergerak segesit naga dan seganas harimau itu sudah roboh

764
terkapar di atas tanah, jangan kata melawan, jerit kesakitan
pun tak sempat dikumandangkan.
Siau Cu-beng bergidik menyaksikan peristiwa itu, peluh
dingin bercucuran dengan deras, dia cukup mengetahui
betapa lihainya ilmu pedang yang dimiliki kedelapan lelaki itu,
yang merupakan pengawal andalannya, bahkan kelihaian
mereka mencapai tingkatan seorang tokoh persilatan.
Tetapi setelah berjumpa dengan Bong Thian-gak hari ini,
keadaan mereka seakan-akan tidak memiliki setitik ilmu silat
pun, dengan cara yang begitu mudah mereka terbunuh di
tangan lawan.
Peristiwa ini benar-benar mengejutkan.
"Dengarkan saudara sekalian," Siau Cu-beng segera
berteriak. "Bila kita biarkan orang ini lolos malam ini, aku tak
akan membiarkan kalian hidup terus di dunia ini. Kepung dia
sekuat tenaga, kalian boleh membacok dan mencincangnya
sampai hancur berkeping-keping!"
Begitu bentakan itu lenyap, kawanan pengawal di tempat
itu serentak berteriak dan membentak dengan suara gegap
gempita, kemudian bersama-sama mengepung Bong Thiangak.
Sementara itu Bong Thian-gak selesai membunuh
kedelapan lelaki berbaju hitam dan menyaksikan Siau Cu-beng
hendak mengundurkan diri, dengan suara lantang segera
teriaknya, "Siau Cu-beng, jangan kabur!"
Tubuhnya melejit ke tengah udara dan menerjang ke
muka, sebuah tusukan pedang langsung dilontarkan.
Ilmu pedang yang dimiliki Siau Cu-beng pun bukan
kepandaian sembarangan. Sepasang pedangnya dipergunakan
bersama, dengan suatu gerakan aneh dan cepat bagaikan
sambaran kilat dia tangkis ancaman pedang Bong Thian-gak.

765
Kemudian tanyanya sambil tertawa dingin, "Tunggu saja
sampai nanti, kita pasti akan berduel untuk menentukan
menang kalah!"
Sementara itu serombongan orang telah menggulung
datang bagaikan amukan ombak di tengah samudra. Tombak
panjang, pedang, tongkat serta tujuh-delapan macam senjata
lainnya menyerang tiba.
Bong Thian-gak meraung keras, pedangnya segera diputar,
hawa pedang bagaikan selapis kabut menyelimuti angkasa,
djmana hawa dingin berkelebat, jeritan ngeri segera
memenuhi seluruh gelanggang.
Dalam waktu singkat puluhan orang telah tewas di ujung
pedang Bong Thian-gak yang tajam.
Lambat-laun Bong Thian-gak menjadi tidak tega sendiri, dia
segera membentak, "Yang hendak kubunuh sebenarnya bukan
kalian, lebih baik kalian mundur saja dari sini, asal aku dapat
membunuh Siau Cu-beng, memangnya dia masih dapat
menghukum kalian?"
Sementara itu Siau Cu-beng telah mengundurkan diri dari
gerombolan orang banyak, Bong Thian-gak melompat naik ke
tengah udara, kemudian tubuhnya melayang jauh ke depan
dan langsung menerkam Siau Cu-beng.
Tatkala melayang turun, ia telah berada di tengah
kerumunan orang banyak, bacokan golok dan pedang
serentak ditujukan ke tubuh Bong Thian-gak.
Pada hakikatnya Bong Thian-gak tidak mempunyai cukup
waktu untuk melancarkan serangan ke arah Siau Cu-beng, dia
sudah kena serangan lebih dahulu oleh kawanan pengawal
yang berada di sekeliling tempat itu.
Berada dalam keadaan seperti ini, sekali lagi Bong Thiangak
menggerakkan pedangnya melakukan pembantaian besarbesaran.

766
Ia perkasa seperti Lu Poh, seperti Tio Cu-liong, dimana
pedangnya menyambar, seakan tiada seorang pun yang dapat
membendungnya.
Jeritan ngeri, teriakan kesakitan bergema tiada hentinya.
Bong Thian-gak seperti orang kalap, darah telah
membasahi seluruh pakaiannya.
Dia sendiri tak tahu berapa banyak orang yang telah
terbunuh, dia hanya tahu mengayunkan pedangnya
melancarkan serangan.
Percikan darah menyembur kemana-mana, isi perut
berhamburan di mana-mana, teriakan keras, jeritan ngeri
bergema saling susul.
Akhirnya ketika Bong Thian-gak mengayunkan pedangnya,
tidak terdengar lagi jeritan kesakitan yang terdengar.
Hal itu bukan disebabkan Bong Thian-gak sudah tak
memiliki kekuatan lagi untuk membunuh orang, melainkan
separoh orang-orang di sekelilingnya telah mati terbunuh.
Tapi pedang Bong Thian-gak masih saja melancarkan
bacokan.
Hal ini disebabkan pandangan matanya sudah menjadi
kabur atau berkunang-kunang, ia seperti tidak tahu bahwa di
situ sudah tak terdapat seorang hidup pun.
Bong Thian-gak melancarkan puluhan bacokan lagi secara
beruntun sebelum sadar.
Napasnya tersengal, pedangnya terkulai ke bawah,
dipandangnya sekejap sekeliling tempat itu, darah yang
berceceran di atas tanah telah menganak sungai, mayat
bergelimpangan dimana-mana, mayat-mayat itu mencapai
ratusan sosok banyaknya.

767
Untuk beberapa saat Bong Thian-gak menjadi tertegun,
segera pikirnya, "Mana orang-orang yang lain? Kemana
mereka telah menyembunyikan diri?"
Rupanya ketika Bong Thian-gak tengah melakukan
pembantaian, sebagian besar kawanan pengawal berbaju
kuning telah mengundurkan diri secara diam-diam ke empat
penjuru.
Mendadak Bong Thian-gak seperti teringat akan sesuatu,
dia segera berseru tertahan, "Ah, rupanya mereka telah
mengubah taktik!"
Mendadak di tengah kegelapan malam terdengar suara
anak panah berhamburan datang dengan hebatnya.
"Aduh celaka!" pikir Bong Thian-gak. "Aku tak boleh berdiri
termangu-mangu saja di sini."
Mendadak dia mengerahkan tenaga dalam Tat-mo-khikang,
pedangnya dengan cepat memainkan selapis kabut
pedang, tubuhnya secepat kilat berlari menuju ke arah utara.
Lapangan di situ cukup luas, di sana sini penuh ditumbuhi
pepohonan Siong-pak dan bambu sehingga suasana gelap
gulita.
Untuk menembus hutan semacam itu, bagi Bong Thian-gak
pada hakikatnya lebih sukar daripada naik ke langit.
Kawanan pengawal Put-gwa-cin-kau telah mengundurkan
diri ke dalam pos penjagaan di dalam hutan, dari jarak yang
tak begitu jauh mereka dapat melancarkan serangan dengan
mempergunakan anak panah atau senjata rahasia, sebaliknya
bila musuh mendekat, mereka pun bisa melancarkan sergapan
dengan mempergunakan pedang, golok atau tombak.
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 5 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 5 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-5.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 5 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 5 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Terbaik : Pendekar Cacat 5 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-terbaik-pendekar-cacat-5.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar