Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2

Diposkan oleh eysa cerita silat chin yung khu lung on Senin, 26 Desember 2011

Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2

Berpikir demikian ia lantas berseru lantang:
„Tiong loo enghiong, untuk sementara waktu harap
mundur dulu ke belakang! ...”
Terdengar harimau pelarian Tioag Liauw dengan suara
dingin berseru:
„Tiong Liauw belum pernah jadi seorang enghiong
silahkan Kongcu yang menyingkir ke samping untuk
beristirahat, berilah kesempatan kepada kami tiga ekor
harimau dari keluarga Tiong untuk menunjukkan
kebaktian kami .......”
Sedari tadi si harimau ompong Liong Soe Poocu sudab
gatal-gatal tangand, begitu suaminya berbicara ia segera
enjotkan badannya melompat ke depan, dengan jurus
Koen Sioe Ci Tiauw, ia hantam tubuh Poei Che Giok keras
keras.
Tampaklah bayangan tubuh berkelebat lewat si
harimau bisu Tiong Song tahu-tahu menyerang datang
dari sayap kiri. Orang ini bergelar harimau bisukarena
sepanjang tahun jarang sekali mendangar ia buka suara
un tuk berbicara.
Terlihatlah dengan perawakan tubuh yang gagah dan
kuat karena usianya masih muda. Ia mainkan jurus
pukulan itu dengan sangat hebat, angin pukulan
menderu-deru hawa serangan dengan tajamnya
meluncur ke depan mengurung sekujur tubuh lawan.
Poei Che Giok terkejut bercampur gusar menyaksikan
tiga buah telapak kiri secara se-rentak mengerubuti
dirinya dengan lihay, memaksa tubuhnya cepat-cepat
harus menyingkir ke samping untuk meloloskan diri
teriaknya dengan penuh kegusaran:

,,Hey manusia she Hong-po, sebenarnya kalian berasal
dan aliran sesat mana???”
Hong po Seng tertawa ringan, sambil melayang
mundur ke samping sahutnya:
,,Kami adalah sekelompok manusia-manusia
perkumpulan Sin Kee Pang yang tertugas di ruang Thian
Kie Thong ..........”
Berbicara sampai di situ mendadak ia merasa malu
sendiri, pikirnya di dalam hati:
,,Aku mana boleh menyamar jadi manusia-manusia
serigala yang bergabung dalam organisasi kaum bajingan
perkumpulan Sin Kee Pang? meskipun asal-usul
perempuan ini rada tidak beres, tetapi perbuatan kami
yang mengerubuti dirinya dengan andalkan jumlah besar
sudah merupakan suatu tindakan yang kurang terbuka
dan jujur, tidak pantas sebagai tingkah laku seorang
lelaki sejati”
Sementara ia masih membatin, tampaklah keempat
orang itu sudah saling bergebrak beberapa jurus
banyaknya, menghadapi musuh yang demikian
tangguhnya ini ternyata tiga ekor harimau dari keluarga
Tiong menunjukkan sikap yang gagah dan tidak jera
menghadapi kematian, sekeluarga tiga orang bersatu
padu maju mundur dengan teratur bagaikan satu tubuh,
kendati gerakan ilmu pukulannya belum matang dan
tenaga lwekang yang dimiliki masih amat cetek, tetapi
untuk beberapa saat Poei Che Giok tidak sanggup pula
merebut kemenangan, apalagi meneter ketiga orang itu.
Maka ia segera membentak keras :
,,Cuwi sekalian harap segera berhenti bertempur!”

Begitu mendengar suara bentakan dari Hong po Seng,
tiga ekor harimau dari keluarga Tiong segera mengirim
satu babatan secara berbareng dan meloncat mundur ke
belakang, tetapi mereka tidak pergi jauh, dengan berdiri
di tiga penjuru mereka kepung Poei Che Giok di tengah
kalangan.
Terhadap kepungan tersebut Tosi Chee Tong purapura
tidak melihat, sambil mencekal pedangnya ja
mengerling sekejap ke arah Hong po Seng lalu ujarnya
dengan nada menyindir:
,,Sedari tadi aku telah menduga bahwa kedudukanmu
di dalam perkumpulan Sin Kee Pang tidak rendah, ayoh
sebutkan namamu. Hong po apa ???”
Hong po Seng tersenyum diikuti wajahnya berubah
serius, katanya sungguh-sungguh:
„Kami berlima tidak termasuk perkumpulan atau
perkumpulan agama apapun juga!.....” setelah menjura
tambahnya, ,,Tempat ini bukan merupakan suatu tempat
yang aman, keadaan amat kritis dan mara bahaya setiap
saat bisa mengancam tiba, silahkan nona segera berlalu
dari sini”
Dengan biji matanya yang jeli Poei Che Giok menatap
wajah si anak muda itu tajam-tajam, setelah mengetahui
bahwa ucapannya bukan kata-kata yang bohong, dengan
alis berkerut ia segera berseru :
„Sin Kee Pang, Hong Im Hwie serta Thong Thian Kauw
merupakan tiga kekuatan besar yang menguasai dunia
persilatan dewasa ini bila kalian tidak termasuk di dalam
salah satu perkumpulan yang ada dewasa ini, kemanakah
kamu semua hendak menyelamatkan diri?? Menurut
pendapatku, alangkah baiknya kalian mengikuti aku

menuju ke arah Tenggara saja, aku tanggung kalian akan
mendapat jaminan hidup yang baik serta punya nama
serta kedudukan yang terhormat”
„Terima kasih atas maksud baik dari nona” sahut
Hong-po Seng seraya menjura. „Sayang cayhe masih ada
tugas di badan hingga untuk saat ini tak bisa memenuhi
harapanmu itu. Untuk waktu di kemudian hari masih
panjang bila kita sempat berjumpa muka lagi di
kemudian hari tiada halangan nona ajukan lagi tawaran
tersebut”
„Justru aku takut waktu dikemudian hari tidak banyak,
dan kita sukar untuk saling berjumpa kembali” kata Poei
Che Giok setelah termenung sejenak.
Setelah merandek mendadak ia tertawa nyaring dan
berseru:
,,Semoga cuwi sekalian diberkahi nasib yang baik, kita
sampai jumpa lagi di lain kesempatan”
Habis berkata sepasang bahunya segera bergerak dan
tubuhnya dengan enteng melayang ke depan.
Menyaksikan air mukanya yang menunjukkan tandatanda
tidak beres, satu ingatan segera berkelebat di
dalam benak Hong-po Seng, sedikitpun tidak salah ketika
ia menyambar lewat di sisi tubuh Chin Wan Hong
mendadak tangan nya menyambar ke depan, laksana
kilat ia mencengkeram tubuh gadis she Chin tersebut.
Chin Wan Hong sebagai seorarg gadis yang alim dan
lemah lembut sama sekali tidak pernah menyangka kalau
dirinya bakal dibokong, menanti ia menyadari akan mara
bahaya yang mengancam dirinya sang hati baru merasa
terkesiap, seketika itu juga dara ayu ini dibikin gelagapan
dan kalang kabut tidak karuan.

Terdengar Hong-po Seng mendengus dingin sambil
miringkan tubuhnya satu pukulan dahsyat segera
dilontarkan ke depan.
Pukulan ini meluncur ke depan laksana kilat yang
menyambar di tengah angkasa, dalam waktu singkat
telah mencapai pada saarannya. Baru saja jari tangan
Poei Che Giok hendak menyentuh di atas urat nadi
pergelangan tangan Chin Wan Hong, mendadak segulung
tenaga tekanan yang berat laksana sebuah tindihan bukit
telah menerjang punggungnya.
Ia terkesiap dan buru-buru menyusut mundur
beberapa langkah ke belakang, teriaknya:
„Sebuah pukulan yang sangat indah!”
Sambil tertawa terkekeh-kekeh badannya meluncur ke
depan, dalam waktu singkat gelak tertawanya telah
berada kurang lebih ratusan tombak jauhnya dari tempat
semula.
Menyaksikan gerakan tubuhnya yang begitu cepat dan
sebat, semua orang jadi tertegun dan berdiri dengan
mulut melongo, air muka mereka berubah hebat dan
siapapun tidak percaya kalau seorang gadis yang
demikian mudanya ternyata memiliki kepandaian sehebat
itu.
,,Hoog po Kongcu” terdengar Chin Wan Hong buka
suara memecahkan kesunyian yang mencekam seluruh
kalangan: ,,Siapakah gadis itu? mirip benar dengan Pek
Koen Gie!”
„Dia bernama Poei Che Giok dan termasuk anggota
dari sekte agama Thong Thian Kauw”

Setelah merandek sejenak, tambahnya lagi:
,,Sekarang kita berada di daerah yang sangat
berbabaya dan setiap saat kemungkinan besar jiwa kita
terancam, bilamana tidak cepat-cepat melarikan diri
niscaya kita semua bakal mati di sini, ayoh kita segera
berangkat!”
Dengan langkah lebar ia segera mendahului dan
berjalan duluan di paling depan.
Tadi di antara dua orang ilmu meringankan tubuh dari
Hong po Seng tidak bisa melebihi kelihayan Poei Che
Giok tetapi sekarang di antara kelima orang ini boleh
dibilang tenaga lwee kang Hong-po Senglah yang paling
tinggi.
Setelah melakukan perjalanan beberapa saat lamanya,
ia temukan Chin Wan Hong sudah mulai kepayahan,
keringat mulai mengucur keluar membasahi seluruh
tubuhnya, maka ia pun mengulurkan tangannya untuk
menggandeng tangan dara tadi, tanyanya:
,,Nona Chin, secara bagaimana kaupun bisa datang ke
Propinsi Sian-say ……???”
Chin Wan Hong tertawa jengah.
,,Selama ini aku selalu menguntil di belakang Kongcu,
cuma disebabkan karena kereta itu berlari terlalu cepat
ditambah pula aku tidak kenal jalan, maka .......”
Diam diam Heng-po Seng merasa terharu setelah
mendengar ucapan itu, pikirnya di dalam hati:
,,Dari kota Seng Chiu ia membuntuti aku sampai di
sini, ooh ......, aku telah menyulitkan nona ini .........”
Sebenarnya pemuda ini ada maksud hendak
mengutarakan beberapa patah kata yang menyatakan

rasa terima kasihnya, tetapi ia merasakan
tenggorokannya seakan-akan tersumbat, tak sepatah
katapun berhasil dilontarkan keluar.
Dari perubahan air mukanya Chin Wan Hong bisa
memahami maksud hati si anak muda itu, kepalanya
segera tertunduk rendah-rendah dan bisiknya lirih:
,,Demi keluarga Chin, Kongcu harus mengalami
kejadian yang menyusahkan dirimu, membuat jiwamu
selalu terancam bahaya dan mengalami pelbagai siksaan
yang membuat kau menderita, meskipun kami orangorang
dari keluarga Chin harus mengorbankan jiwa dan
tubuh bakal remuk redam, kami bersumpah akan
membalas budi kebaikaamu itu …..”
„Nona kau keliru” kata Hong-po Seng. „Cayhe berbuat
demikianpun tidak lain karena ingin membalas budi
kebaikan yang pernah diberikan Chin Loo Enghiong
kepada keluarga kami di masa yang silam”
Sepanjang perjalanan menuju ke arah Selatan, kelima
orang itu selalu berada dalam keadaan aman tenteram
tanpa mengalami cegatan atau halangan apapun juga,
senja itu tibalah mereka di tepi sebuah sungai, sungguh
tak dinyana tepi pantai sungai Huang-Hoo ternyata
penuh berjubel-jubel manusia yang sedang anteri untuk
menyeberang.
Semua perahu penyeberang berderet-deret merapat di
tepi namun tak sebuah perahupun yang belayar menuju
ke tepi seberang, sebaliknya dari pantai selatanpun tidak
nampak ada perahu yang berlayar datang.
Diam-diam Hong po Seng terperanjat ia segera
mengerlingkan matanya memerintahkan Chin Wan Hong

serta Tiong si Sam Hauw mencampur baurkan diri
dengan khalayak ramai, sedang ia sendiri duduk di atas
tanah sambil bertanya kepada seorang pedagang yang
berada di sisinya:
„Paman, tolong tanya kenapa begitu banyak orang
yang menunggu di tepi pantai tapi tak sebuah perahupun
yang menyeberang ke tepi selatan ??”
Pedagang itu memperhatikan sekejap wajah Hong Po
Seng, kemudian setelah menyapu sejenak ke sekeliling
tempat itu bisiknya:
,,Para yaya dari pihak perkumpulan telah menutup
sungai ini dari semua penyebrangan, mungkin di dalam
tubuh perkumpulan mereka telah terjadi peristiwa besar,
kami sekalian sudah seharian penuh menanti di sini ....
Aai! orang muda kalau bepergian musti sabarkan diri dan
jangan terburu napsu. terutama mulut jangan banyak
bicara sebab salah-salah bisa mengundang datangnya
mara bahaya bagi diri sendiri”
Hong-po Seng mengucapkan banyak terima kasihnya
berulang kali kemudian baru alihkan sinar matanya ke
arah dermaga, tampaklah serombongan jago-jago
bersenjata lengkap menyebarkan diri di sekitar tepi
sungai, wajah mereka semuanya menghadap ke arah
sungai, seakan-akan sedang mengawasi permukaan
su¬ngai itu untuk menghindari ada orang yang
menyusup keluar.
Kurang lebih sepenanak nasi lamanya sudah lewat
namun belum nampak suatu gerak gerik apapun juga,
ratusan orang banyaknya sama-sama menunggu giliran
untuk menyeberang, suasana hiruk-pikuk memenuhi

angkasa namun tak seorangpun bisa meninggalkan
tempat itu.
Sementara sang surya perlahan-lahan mulai condong
ke arah barat, haripun mulai menjadi gelap.
Dalam hati diam-diam Hong-po Seng berpikir:
,,Kalau ditinjau keadaan ini jelas peristiwa berdarah
yang terjadi di perkampungan Liok Soat San-cung sudah
diketahui oleh mereka, sedang Teratai Racun Empedu
Api saat ini berada di dalam sakuku, apa yang harus aku
lakukan dalam keadaan begini???.........”
Si Harimau Pelarian Tiong Liauw tiba-tiba maju
menghampiri sambil bisiknya lirih:
,,Kongcu-ya. Kalau harus menunggu dan menunggu
terus entah sampai kapan kita baru bisa menyebrang,
aku lihat lebih baik kita menyebrang dengan jalan
berenang saja”
,,Setelah tempat ini ditutup bagi penyeberangan aku
pikir di tempat lain pun keadaannya tidak akan jauh
berbedaa, daripada bergerak lebih baik bersikap tenang
daripada memancing perhatian orang terhadap kita”
Si Harimau Pelarian Tiong Liauw melirik sekejap ke
arah sungai sebelah depan, kemudian ia berbisik
kembali:
„Pantai seberang berada di bawah kekuasaan
perkumpulan Sin Kee Pang, asal kita bisa merampas
perahu ……”
Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang
gemuruh keras berkumandang datang, tiga puluhan ekor
kuda yang tinggi besar secara serentak munculkan diri di
tepi sungai, debu mengepul memenuhi angkasa... begitu

tiba di situ dengan sigapnya ketiga puluh orang tadi
segera meloncat turun dari atas punggung
tunggungannya.
Gerak getik serombongan orang ini cekatan dan gesit
semua, gerakan tubuh mereka enteng dan cepat. Sekilas
memandang siapapun tahu kalau mereka memiliki llmu
silat yang sangat lihay.
Hong-po Seng yang dapat melihat pula kehadiran
orang-orang itu, dalam hati segera merasa amat kesal,
pikirnya:
,,Aliran air sungai teramat deras, permukaan sungai ini
pun sangat luas, aku sama sekali buta di dalam
kepandaian memegang kemudi perahu ditambah pula
ilmu berenang di air tak kupahami . . . aaaai ! kalau
suruh aku merampas perahu untuk menyebrangi sungai
ini, jelas di dalam sepuluh ada sembilan bagian akan
mengalami kegagalan total”
Berpikir demikian otaknya lantas berputar kencang
untuk mencari akal yang lain, di samping itu kepada si
Harimau Pelarian Tiong Liauw bisiknya pula:
,,Mari kita jalan secara terpisah, perduli peristiwa apa
yang bakal terjadi dan menimpa diriku, kalian barus
berlagak seolah-olah tidak pernah kenal dengan diriku,
janganlah sekali kali menyapa atau menunjukkan sikap
ingin menolong”
Si Harimau Pelarian Tiong Liauw merasa tertegun
setelah mendengar ucapan itu, tapi ia tidak membantah,
perlahan-lahan badannya meninggalkan tempat itu dan
mengabarkan kepada ketiga orang lainnya.

Kembali beberapa saat telah lewat, dari ujung sungai
mulai terjadi kegaduhan yang sangat berisik, dalam
suasana yang remang-remang karena senja telah
menjelang tiba, berpuluh-puluh batang obor dipasang di
sekitar dermaga tersebut.
Hong po Seng dengan cepat alihkan sinar matanya ke
arah permukaan sungai, ia temukan beberapa buah
perabu sudah mulai bergerak meninggalkan dermaga
rupanya orang-orang yang baru datang dengan
menunggang kuda tadi mulai melakukan pemeriksaan
yang ketat terbadap setiap penyeberang yang melewati
tempat itu.
Dengan seksama si anak muda itu memeriksa lebih
jauh, atau secara mendadak ia jadi amat terperanjat
sebab dilihatnya setiap orang yang mendapat
pemeriksaan bukan saja harus menjawab pertanyaanpertanyaan
yang diajukan kepada mereka bahkan
sekujur badannya harus di geledah dan diraba dengan
teliti prosedurnya amat rumit dan sulit untuk ke atas
perahu penyeberang seseorang harus melewati
pemeriksaan secara berulang kali dengan ketatnya.
Diam-diam ia jadi merasa amat geilsah pikirnya:
,,Teratai Racun Empedu Api berada di dalam sakunya,
seandainya sampai digeledah dan tertangkap sudah pasti
aku tak bisa meloloskan diri dari tempat ini dalam
keadaan selamat, padahal teratai racun ini sangat
mempengaruhi sembuh atau sakitnya ibuku” dengan
susah payah aku berhasil mendapatkannya dan kini
akupun tak boleh membuang dengan begitu saja..!”

Sementara hatinya sedang gelisab dan berusaha
karena mencari akal untuk meloloskan diri dari tempat
itu, mendadak dirasakannya si Hanmau Pelarian Tiong
Liauw telah berjalan menghampiri dirinya lagi, tanpa
terasa sepasang alisnya berkerut kencang, sembari
berpaling serunya:
„Jalan mondar mandir ke sana ke mari gampang
memancing kecurigaan orang ...”
„Keparat cilik, pentang matamu lebar-lebar dan
libatlah siapakah aku! ....” serentetan tertawa riang
berkumandang dari sisi telinganya.
Ternyata orang yang menghampiri dirinya dari
belakaug itu bukanlah si Harimau Pelarian Tiong Liauw
seperti apa yang diduganya semula.
Hong po Seng jadi amat terperanjat, ia merasa amat
kenal dengan suara tersebut, ketika kepalanya hendak
berpaling ke betakang mendadak jalan darah “Leng Sioe
hiat” di atas pinggangnya jadi kaku, disusul urat nadi di
atas pergelangan kirinya dicengkeram orang.
Perubahan yang terjadi secara mendadak ini sama
sekali tidak memberi kesempatan bagi Hong po Seng
untuk berkutik ataupun menunjukkan suatu reaksi,
sebelum ia sempat berbuat sesuatu mendadak di
hadapan wajahnya telah muncul seraut wajah putih yang
halus dan sangat dikenal olehnya, sambil tetawa rendah
terdengar ia menegur:
,,Hey, bangsat cilik! rupanya nasibmu masih mujur
dan umurmu masih panjang, masihkah kau kenali diri
kongcu-ya mu ???”

Hong po Seng mempehatikan wajah orang itu lebih
seksama, dan dengan cepat diapun kenali orang itu
sebagai Kok See Piauw anak murid dari Boe Liang Sin
Koen, mereka berdua pernah saling berjumpa muka di
rumah kediaman keluarga Chin Pek Cuan di kota Keng
Chiu, bahkan pernah melangsungkan pertempuran sengit
pula di sana, setelah berpisah selama beberapa bulan
sungguh tak nyana mereka berjumpa muka lagi di sini.
Hong po Seng pernah termakan pukulan maut Kioe Pit
Sin Ciang-nya sehingga hampir saja selembar jiwa
melayang, kini setelah berjumpa muka lagi dengan
musuh besarnya hawa amarah kontan berkobar, sambil
tertawa dingin jengeknya:
,,Membokong dari belakang, kau terhitung enghiong
hoohan macam apa?? Hmm….!”
Kok See Piaow tersenyum, mendadak dengan wajah
membesi hardiknya lirih terhadap orang di depan yang
kebetulan sedang menoleh ke belakang:
,,Hey kalau kau pingin hidup, lebih baik jangan
mencampuri urusan orang lain !”
Hong po Seng merasa amat gelisah, tiba-tiba ia
teringat babwa tangan lembut halus yang mencengkram
pergelangan kirinya saat ini bukanlah tangan dari Kok
See Piauw, ingin sekali ia menoleh untuk melihat lebih
jelas tetapi apa daya Kok See Piauw telah menotok jalan
darah kakunya sehingga membuat batok kepalanya sama
sekali tak mampu berputar.
Sebaliknya orang itu menyembunyikan diri di
belakangnya, dengan demikian ia tak sanggup untuk
melihat jelas raut wajah orang tadi.
Diam-diam pikirnya di dalam hati:

,,Nona Chin serta tiga Orang harimau ganas dari
keluarga Tiong berada di sekitar sini dan hingga kini tidak
nampak gerak-gerik mereka, jangan-jangan keempat
orang itupun sudah tertangkap oleh pihak lawan?? ….”
Belum habis dia berpikir mendadak terasalah sebuah
tangan yang kecil dan lembut menerobos masuk ke
dalam sakunya lewat bawah iganya, diikuti lubang
hidungnya mencium bau harum semerbak yang
menyegarkan badan.
Hong Po Seng merasa makin gelisah, begitu
dirasakannya sebuah tangan yang lembut halus merogoh
ke dalam sakunya dan meraba Teratai Racun Empedu
Api yang disimpan di sana, ia jadi kaget dan segera
menegur dengan setengah merengek:
,,Siapa kau?? apa gunanya kau ambil teratai racun
itu??”
0000O0000
11
TERDENGAR suara sahutan yang merdu dan enak
didengar menggema masuk ke sisi telinganya :
,,Aku! kalau tahu diri tenang dan janganlah banyak
berkutik!”
Dari nada suara tersebut Hong-po Seng segera kenali
sebagai nada suara Pek Koen Gie yang ketus dan dingin,
terpaksa ia memperendah nada suaranya seraya
menjawab:
,,Teratai racun itu tiada kegunaannya sama sekali
bagimu, harap nona suka mengembalikannya kepadaku!”

„Hmm ! kalau memang tiada kegunaannya sama
sekali, buat apa kau menyimpannya di dalam saku??”
Sembari berkata tangannya kembali menggeledah
saku pemuda itu.
Selama ini Kok See Piauw selalu berada di sisi mereka,
tatkala dilihatnya Pek Koen Gie dengan tangan kiri
mencengkeram pergelangan kiri Hong Po Seng,
sedangkan tangan kanannya sedang melewati di bawah
iga pemuda itu sedang menggeledah saku Hong Po Seng
sehingga tubuh kedua orang itu hampir saja menempel
antara yang satu dengan lainnya, timbul rasa cemburu iri
dan gusar dalam hati kecilnya.
Semenjak perkenalannya dengan diri Pek Koen Gie,
anak murid dari Boe Liang Sin Koen ini selalu berusaha
untuk mendekati dara tersebut, ia berdaya upaya untuk
menarik perhatian gadis itu serta suka membalas
cintanya, apa lacur tabiat Pek Koen Gie memang sangat
kukoay, terhadap cinta kasih muda mudi seakan-akan
tidak menaruh minat sama sekali, oleh sebab itu
hubungan cinta di antara mereka selalu tidak
memperoleh kemajuan seperti apa yang diinginkan, dan
kini setelah dilihatnya sang gadis idamannya saling
berdempetan begitu rapatnya dengan lelaki lain, sudah
tentu hatinya jadi panas.
Tapi ia tidak berani terlalu memperlihatkan rasa
cemburunya, sambil tersenyum katanya lirih.
,,Hian moay, kau tak usah repot-repot musti turun
tangan sendiri biarlah Siauw-heng yang menggeledahkan
saku keparat cilik ini!”

,,Terima kasih atas perhatian Kok heng kau tak usah
turut campur dalam persoalan ini” tukas Pek Koen Gie
ketus sambil berbicara tangan meneruskan
pengeledahannya memeriksa seluruh isi saku pemuda
she Hong po itu tapi dengan cepat ia jadi kecewa, sebab
benda yang diharapkan ternyata tidak berbasil
ditemukan.
Hong Seng sendiri setelah dilihatnya gadis itu sesudah
mengambil teratai racun Empedu Api masih juga
menggeledah sakunya, dalam hati segera memahami
maksud hati lawannya, dalam hati iapun berpikir,
,,Pastilah ia sedang menggeledah sakuku untuk
menemukan pedang Emas tersebut Kalau begitu sudah
jelas sekarang perbuatan Poei Che Giok dengan
kecantikan wajahnya mimikat hati Jien Bong, delapan
bagian ada sangkut pautnya dengan persoalan ini.
Mendadak terdengar Pek Koen Gie membentak
dengan suara lirih:
,,Cepat mengaku sejujurnya barang itu kau
sembunyikan dimana ??”
„Terus terang saja kukatakan, kedatangan cayhe ke
perkampungan Liok Soat San cung adalah bertujuan
untuk mengambil Teratai Racun Empedu Api itu, aku
sama sekali tiada bermaksud hendak mencuri pedang!”
,,Kurangajar!” maki Pek Koen Gie sambil tertawa
dingin, „Kalau hanya mencuri sebatang Teratai Racun
Empedu Api saja, masa keadaan bisa berubah jadi begini
tegang dan pihak mereka sampai mengerahkan kekuatan
intinya untuk melakukan penggeladahan? Perkumpulan
Hong Im Hwie tak nanti unjukkan kerepotan dan
kebingungan semacam ini”

,,Oooh ..... - kiranya kabar berita mengenai
terbunuhnya Jien Bong belum sampai bocor di tempat
luaran....” pikir Hong po Seng, mendadak siatu ingatan
berkelebat di dalam benaknya.
Diam-diam ia berseru:
,,Aduuuh! Andaikata secara diam-diam ia
menghancurkan Teratai Racun Empedu Api itu, apa yang
harus aku lakukan??”
Saking gelisah dan gugupnya, tanpa berpikir panjang
lagi segera serunya:
„Nona! Harap kau buang teratai racun itu ke dalam
sungai, sedang aku akan membantumu untuk
menemukan pedang emas itu kalau tidak, maafkanlah
daku kalau tidak sudi memberitahukan kepadamu !"
Pek Koen Gie sendiripun telah menduga selain
lenyapnya Teratai Racun Empedu Api ini pastilah sudah
terjadi peristiwa lain, karena takut jejaknya ketahuan
sehingga rahasianya terbongkar dia memang ada
maksud hen¬dak melenyapkan teratai racun empedu api
itu dari muka bumi, tetapi setelah saat ini Hong-po Seng
terus terang mengancam bahkan mcnggunakan pedang
emas itu sebagai ancaman, ia jadi serba salah dan untuk
beberapa saat lamanya tidak tahu musti menjawab apa.
Hingga saat itu belum nampak sebuah perahupun
yang membawa penumpang menyeberangi sungai
tersebut, berhubung pemeriksaan dan penggeledahan
dilakukan sangat lambat, sementara orang yang
menunggu di tepi pantai amat banyak, terutama sekali
para jago perkumpulan Hong Im Hwie yang sebagian
besar telah berkumpul semua di tepi dermaga, membuat

suasana di sekitar situ terasa bertambah tegang dan
seram.
Di bawah sorot cahaya api, kilapan senjata
bergemerlapan di tengah kegelapan, deru angin kencang
serta gulungan ombak yang menghantam tepian
menambah seramnya suasana di situ. Dalam ada itu
ketika Kok See Piauw menyaksikan Pek Koen Gie
termenung dan tidak mengucapkan sepatah katapun,
seakan-akan gadis itu merasa serba salah dibuatnya
segera bertindak cepat, jari tangannya berulang kali
berkelebat melancarkan beberapa totokan yang
kesemuanya bersarang di bawah iga Hong-po Seng,
kemudian jengeknya sambil tertawa:
,,Barang itu kau sembunyikan di mana? bangsat cilik!
Kau suka mengaku tidak?"
JILID KE 8: Siapa Pembunuh Jien Bong?
Ilmu totok memisah urat dan penembus ulu hati yang
digunakan anak murid Boe Liang Sin Koen ini benarbenar
merupakan suatu ilmu penyiksaan yang paling keji,
siapapun yang termakan serangan ini tidak akan kuat
menahan diri, Dalam waktu singkat sekujur badan Hong
Po Seng serasa bagaikan digigit oleh berjuta-juta ekor
semut, seluruh urat nadi dalam tubuhnya mengerut
kencang, jantungnya mengembang besar, darah
mengalir keatas semakin deras sementara tubuh bagian
bawahnya mengerut kecil, keringat dingin sebesar
kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya
membasahi seluruh badan, sambil merintih tubuhnya
bergulingan diatas tanah.

Sekali cengkeram Kok See Piauw menarik lengan Hong
Po Seng sehingga tidak sampai roboh diatas tanah,
sedangkan tangan yang lain mendekap mulutnya agar
suara rintihan tidak sampai kedengaran oleh orang lain.
Sembari menyeringai seram bisiknya sinis:
„Bangsat! ayoh cepat mengaku, barang itu kau
sembunyikan dimana?? kalau tidak mau mengaku
lagi...Hmm! Hmm!,.. kongcumu segera akan
memunahkan ilmu silat terlebih dahulu!".
Haruslah diketahui mereka bertiga berada diantara
gerombolan manusia yang terletak dipaling belakang,
jaraknya dari penyebrangan sungai masih terpaut dua
puluh tombak lebih, kendati orang-orang yang berjejeran
dibelakang mereka dapat melihat tingkah laku ketiga
orang itu, tetapi sebagian besar yang terdiri dari kaum
pedagang, kaum pekerja kasar yang sudah sering kali
menjumpai keonaran serta peristiwa2 aneh semacam itu
pada berlagak pilon semua, siapapun tidak berani
mencampuri urusan tersebut sehingga mengakibatkan
dirinyapun terjerumus dalam perisiwa tadi.
Kalau Kok See Piauw masih bersikap tenang saja
menyiksa diri Hong Po Seng, sebaliknya Pek Koen Gie
jadi gelisah dan tidak tenang. Dengan wajah memberat
serunya:
„Kok heng, cara ini tak bisa digunakan”
Melihat gadis itu menunjukkan sikap gusar dan tidak
senang hati, buru buru Kok See Piauw menjulurkan
tangannya dan memijat beberapa kali dibawah iga Hong
po Seng untuk membebaskan ilmu totokan pembuyar

urat nadinya, kemudian setelah menotok jalan darah
kakunya ia berkata sambil tertawa.
"Hian-moay ! harap kau suka menyerahkan Teratai
Racun Empedu Api itu kepada siauw-heng ,sekalipun Jien
Hian datang sendiripun, tanggung ia tak berani
menggeladah saku siauw-heng ".
"Walaupun aku tidak takut kalau sampai ada anggota
perkumpulan Hong Im Hwie yang menggeladah tubuhku"
pikir Pek Koen Gie dalam hati. "Tapi terang-terangan
bohong pun rasanya bukan suatu keadaan yang sedap
dinikmati ".
Karena berpikir demikian, ia lantas angsurkan Teratai
Racun Empedu Api itu ke tangannya sambil pesannya
lirih :
"Benda ini merupakan suatu benda yang sangat
langka didalam dunia persilatan, harap Kok-heng suka
menyimpannya secara baik2, setelah menyebrangi sungai
nanti harap segera serahkan kembali kepada siauwmoay!”
"Hian-moay. harap kau jangan kuatir "sahut Kok-See
Piauw sambil tertawa, ia segera masukkan Teratai Racun
Empedu Api itu kedalam sakunya. "Paling banter aku
bakal bentrok sama orang2 dari perkumpulan Hong Im
Hwie, tak usah bingung, tanggung aku tak akan
membuat kapiran urusan Hian moay!"
Pada saat itulah dari atas permukaan sungai
berkumandang datang suara senandung panjang yang
amat nyaring:
"Thong Thian It Coe Hiang.. Thong Thian It Coe Hiang
".

"Aaah.. dari pihak sekte agama Thong Thian Kauw
pun ada orang yang datang ke mari! "seru Kok See
Piauw tercengang.
Terdengar suara seseorang yang nyaring dan lantang
segera menyahut:
"Hong Im Kie Hwie,... Hong Im Kie Hwie sahabat dari
Thong Thian Kauw silahkan ".
Suaranya keras, nyaring dan lantang. lama sekali baru
membuyar diangkasa.. dari permukaan sungai terdengar
suara dayung yang membentur air berkumandang
datang.
Hong po Seng yang baru saja mendapat siksaan,
waktu itu pikirannya masih bergolak keras, dengan mata
melotot bulat awasi permukaan sungai.
Tampaklah sebuah perahu dengan tiga batang tiang
layar yang terbentang lebar menerjang ombak melaju
datang. puluhan buah lampu 1entera tergantung diujung
perahu itu membuat suasana disekelilngnya jadi terang
benderang.
"Hian-moay, siapakah orang itu ?” mendadak
terdengar Kok See Piauw bertanya.
"Hmmm ! siluman rase dari sekte agama Thong Thian
Kauw, orang kangouw menyebutnya sebagai Giok-Theng
Hujien nyonya hioolo kumala! ".
Hong-po Seng yang ikut mendengar pembicaraan itu
segera alihkan sinar matanya kearah ujung perahu,
tampaklah diatas sebuah kursi kebesaran berlapis emas
duduklah seorang perempuan cantik berbaju hijau,
bersanggul tinggi, bergaun panjang dan berwajah sangat
agung.

Perempuan itu tampak sangat angker dan berwibawa,
terlihatlah pada tangan kanannya mencekal sebuah Huttim
bergagang kumala, ditangan kirinya membopong
seekor makhluk aneh yang menyerupai rase, berbulu
putih salju dan bermata merah tajam, kakinya menginjak
sebuah bangku berlapis kain sutra, disisi bangku terletak
sebuah hioolo kumala yang tingginya mencapai beberapa
depa, asap hijau yang menyiarkan bau harum mengepul
keluar dari hioolo tadi.
Disisi hioloo tadi berdiri seorang dara bergaun ungu,
berwajah cantik dan berusia lima enam belas tahun
sedangkan dibelakangnya berdirilah sebaris toojien
bejubah abu2 bersoren pedang dan usianya diantara tiga
puluhan tahunan.
Dalam pada itu perahu tadi sudah merapat ditepi
pantai, mendadak tampaklah dari rombongan
perkumpulan Hong Im Hwie muncul seorang pria
berwajah putih bersih berjenggot hijau maju
menyongsong kedatangan mereka, sembari menjura
serunya:
"Ooooh ! kiranya Giok Theng Hujien yang telah
datang, apabila kami tidak sempat menyambut
kedatangan hujien dari tempat jauh, harap suka memberi
maaf yang sebesar besarnya"
Per-lahan2 Giok Thing Hujien turun dari tempat
duduknya dan bergerak menuju ke ujung perahu,
sahutnya sambil tertawa.

"Haaah haaah . haaaah . Sam Tang-Kee baik2kah kau
? 0oow . . . sudah terjadi jual beli apa sih sehingga kau
harus turun tangan sendiri untuk mengatasinya ?"
"Tidak aneh kalau Pek Koen Gie bersem bunyi diantara
gerombolan manusia banyak" diam2 Hong-po Seng
membatin. "dan tak berani sembarangan berkutik,
kiranya Sam Tang-Kee dari perkumpulan Hong Im Hwie
pun telah hadir disini ".
Pria berbaju perlente itu she-Cie bernama Kiam
dengan julukan "Pat pit Sioe Loo" malaikat berlengan
delapan, dialah si majikan nomor tiga dari perkumpulan
Hong Im Hwie, salah satu diantara orang2 kepercayaan
Jien Hian.
Pada waktu itu, orang2 yang hendak menyebrang
sungai sama2 mengundurkan diri kebelakang, ada
diantara yang jeri atau takut diam2 telah ngeloyor pergi
dari situ.
Pek Koen Gie mengerti bahwa Hong Po Seng
mempunyai kemampuan untuk melepaskan diri dari
pengaruh totokan, oleh sebab itu cekalannya pada
pergelangan orang sama sekali tidak dikendorkan,
melihat semua orang mundur kebelakang diapun sambil
menarik tangan pemuda itu ikut mundut kebelakang,
meski demikian mereka tetap berada diantara
gerombolan manusia.
Ditengah jalan mendadak Hong Po Seng menemukan
Oh Sam serta seorang pria lainnya masing2
mencengkeram dua orang, mereka bukan lain adalah tiga

ekor harimau dari keluarga Tiong serta Chin Wan Hong
tanpa terasa pemuda kita menghela napas panjang,
dengan pikiran yang kalut pandangan mata segera
dialihkan kembali kearah permukaan sungai.
Terdengar si malaikat berlengan delapan Cie Kim
dengan suara dingin sedang berkata.
"Dalam tubuh perkumpulan kami sedang tertimpa
suatu peristiwa maha besar, hingga kini duduk perkara
yang sebenarnya masih belum jelas. Hujien kalian toh
selama ini berkeliaran didaerah tenggara, kali ini
berkunjung ke-Barat entah karena urusan apa?"
Dengan wajah berseri seri dan senyum di kulum Giok
Theng hujien berdiri diujung perahunya, sehabis
mendengar pembicaraan orang ia lantas menjawab:
"Berhubung ada sedikit persoalan yang harus
diselesaikan dikota Thong Kwan aku telah melakukan
perjalanan datang kemari, dari pada merepotkan sahabat
sahabat dari perkumpulan Hong Im Hwie, maafkan kalau
aku tidak turun kedarat”
Berbicara sampai disini, dengan sepasang biji matanya
yang jeli ia menyapu sekejap kearah gerombolan
manusia yang saling berdesak desakan diatas darat.
Jarak antara Hong po Seng dengan perempuan itu
masih terpaut sangat jauh, tetapi entah apa sebabnya
ketika menyaksikan sinar mata perempuan itu menyapu
datang hatinya mendadak terasa jaii bergidik. Terasalah
lengannya jadi kencang dan ia sudah ditarik Pek Koen
Gie bersembunyi dibelakang punggung orang.

Mendadak dari tepi seberang berkumandang lagi suara
dayung memecah ombak, disusul suara manusia
berteriak keras:
"Sin Kie Hoei yang.... Sin Kie Hoei yang.”
"Hmm! orang2 dari perkumpulan Sin Kie Pang pun
turut berdatangan... "batin Hong po Seng dengan alis
berkerut. "Huuuh kawanan serigala dan harimau
semuanya..: sedikitpun tak berguna bagi aku orang she
Hong po.... ".
Suatu perasaan begidik secara mondadak muncul dari
dasar lubuk hatinya ia merasa suatu peristiwa tragis yang
tidak menguntungkan bakal meninipa dirinya,
pengalaman semacam ini selamanya belum pernah
dirasakan barang satu kalipun, untuk sesaat tangan dan
kakinya jadi dingin saking tegangnya, sekujur badan
terasa seolah-olah gemetar keras.
Pek Koen Gie yang sedang mencengkram
pergelangannya ketika secara tiba tiba merasakan tangan
slanak muda itu berubah jadi dingin, ia nampak tertegun,
kemudian bisiknya lirih.
"Hong Po Seng, katakanlah sipedang emas itu telah
kau sembunyikan dimana! aku tanggung jiwamu tidak
akan mendapat rintangan ataupun terancam
marabahaya, bahkan mulai detik ini aku tidak akan
memusuhi dirimu lagi„
Terhadap diri Hong-po Seng, perempuan ini boleh
dibilang mempunyai suatu pandangan serta perasaan
yang aneh, ia merasa kagum juga merasa mendongkol
dan mangkel.

Ia merasa sianak mucla ini berbeda dengan pemuda
lain, tetapi iapun merasa bahwa kegagahan serta
keangkeran pemuda ini jauh melebihi dirinya, setiap
tingkah lakunya se-olah2 menyinggung gengsi serta
martabat baiknya membuat timbulnya suatu pandangan
yang aneh dalam hati kecil gadis ini.
Dia ingin cepat2 menghukum mati Hong po Seng,
tetapi iapun merasa tidak rela kalau dia mati ditangan
orang lain.
Hong-po Seng sendiri tatkala mendengar gadis itu
bersikeras menuduh dia telah mendapatkan "Pedang
Emas" sadarlah ia bahwa banyak bicara tiada berguna
sinar matanya segera dialihkan kearah permukaan
sungai.
Tampaklah tiga buah perahu besar meluncur datang
dari tepi seberang, pada ujung perahu yang ada diposisi
tengah berdiri seorang lelaki berjubah lebar. dialah koen
su perkumpulan Sin Kie Pang yang julukan Tok Coe kat si
Coe kat beracun Yauw Soet.
“Huaaah—hahh, bagus sekali!" mendadak terdengar
Giok Theng Hujien berseru sambil tertawa nyaring."Coe
kat Cay-siang siperdana menteri Coe kat membawa
tentara hendak menaklukan wilayah Tionggoan utara!".
„Haaah„,haah..„"Coe kat beracun Yauw Soet takut
mendongak dan tertawa terbahak2 "Hujien! selamat
bertemu kembali„ selamat bertemu kembali, ternyata
kecantikanmu kian lama kian bertambah segar. kiong
hie.... kiong hie!".

Sinar mata perlahan-lahan dialihkan kearah Malaikat
berlengan delapan Cie Kim lalu sambungnya sambil
tertawa:
„Sam Tang Kee, sejak berpisah apakah selama ini kau
berada dalam keadaan baik?' Yauw Soet disini memberi
hormat kepadamu".
„0ooh.. Yauw heng, baik-baikah kau” Pat Pit sioe Loo
Gie Kim mendongak dan menjura.
Setelah merandek sejenak, mendadak ia tertawa
dingin dan melanjutkan:
„ Yauw heng! tiada urusan kau tak akan mengunjungi
istana Som Tian, kunjunganmu kewilayah utara entah
disebabkan karena persoalan apa??...".
,.Haah...haah... Sam Tang Kee! terus terang saja
kukatakan bahwa putri kesayangan pangcu kami nona
Koen Gie karena sedang mengejar musuh besarnya kini
telah memasuki wilayah kalian, oleh sebab itulah aku
buru2 tinggalkan kota Lok yang untuk menyusul kemari.
Berhubung aku dengan di pantai utara suasana sedang
tegang dan nampaknya ada tanda2 hendak
menggunakan kekerasan, maka sengaja aku menyebrang
kemari untuk menyambut pulang nona Koen Gie kami.".
„Oooh. kiranya begitul"per lahan2 Pat Pit Sioe Loo Cie
Kim mengangguk.
Ia berpaling kebelakang dan segera serunya lantang:
„Diatas dermaga apakah terdapat nona Pek Koen Gie
dari perkumpulan Sin Kie Pang?".
Ketika Hong Po Seng menyaksikan sepasang matanya
dengan langsung memandang kearah mereka, walaupun

jaraknya jauh tetapi ketajaman matanya menggidikkan
hati, diam2 merasa terkesiap pikirnya:
„Orang ini sendiri tadi tak pernah munculkan diri,
setelah tampil kedepan tak pernah juga menoleh
kebelakang, darimana ia bisa tahu kalau Pek Koen Gie
berada disini??".
Pek Koen Gie sendiripun merasa agak terkejut. kepada
Kok See Piauw segera serunya:
„Kok heng, harap kau suka membawa orang ini!"
sembari berkata ia segera turun kearah tepi sungai.
Kok See Piauw tidak bicara, setelah mengampit tubuh
sianak muda itu dibawah ketiaknya, ia mengancam
sambil tertawa;
„Hey bajingan she Hong Po, bila kau tidak ingin
modar, aku harap kau bisa sedikit tahu diri dan jangan
banyak bertingkah.”
Orang2 yang berkumpul ditepi pantai sama2
menyingkir kesamping membuka jalan, dengan dipimpin
oleh Pek Koen Gie disusul oleh Kok See Piauw sambil
mengepit Hong po Seng dan Oh Sam serta seorang pria
berbaju hijau mengepit Tiong-si Sam-Hauw dan Chin
Wan Hong mereka berjalan menuju ke dermaga.
Coe-kat beracun Yauw Soet yang berdiri diujung
perahu segera menuding kearah Cie Kim dan ujarnya
sambil tertawa :
"Nona Koen Gie, dia adalah Cie Cienpwee majikan
ketiga dari perkumpulan Hong Im Hwie, dalam
pertemuan Pak-Beng-Hwie tempo dulu dengan kedelapan
puluh satu jurus ilmu pukulan Koei-Goan-Cieng-hoat-nya
ia berhasil membinasakan Huang-san It-To, membelah

Hoo-Pak It Sioe, sampai2 si Ciong Kian-Khek jagoan
berambut gondrong yang amat tersohor namanya
dimasa itu pun harus mengorbankan lengannya ditangan
Cie Tang-kee !".
Pek Koen Gie alihkan sinar matanya kearah Pat-Pit
Sioe-Loo Cie Kim, setelah memandang sekejap
kearahnya ia segera menjura.
"Sudah lama aku mengagumi akan kehebatan serta
nama besar dari Sam Tang kee".
Pat Pit Sioe-Loo Cie Kim mendengus dingin,dengan
pandangan tajam ia awasi wajah Pek Koen Gie tanpa
berkedip, lalu katanya:
"Aku telah memperoleh laporan yang mengatakan
bahwa pagi tadi nona Pek telah menyebrangi sungai
memasuki wilayah kekuasaan kami, apakah musuh2 yang
sedang kau kejar telah berhasil ditangkap semua?.”
Berbicara sampai disitu ia melirik sekejap kearah
orang2 yang berada dibelakang.
“Atas berkah dari Sam Tang kee boanpwee telah
berhasil menangkap semua kelima orang itu!".
Setelah merandek sejenak, tanyanya lagi:
"Entah kejadian apakah yang menimpa dalam tubuh
perkumpulan kalian? sehingga Sam Tang kee harus
repot2 turun tangan sendiri datang kemari?".
Sepasang alis malaikat berlengan delapan Cie kim
berkerut kencang, mendadak dengan sorot mata yang
tajam ia tatap wajah Pek Koen Gie tanpa berkedip
kemudian serunya ketus:
"Nona Pek, peristiwa yang terjadi teramat besar
sekali....".

Tatkala dilihatnya orang itu menatap wajahnya
dengan tajam tanpa berkedip, air muka Pek Koen Gie
seketika berubah hebat, dengan penuh kegusaran
tukasnya:
"Kalau memang kejadian itu teramat besar sekali,
harap Sam Tang Kee segera menerangkan sejelas
jelasnya, entah peristiwa itu terjadi dimana dan pada
saat kapan?"
"Hehh...helahl...hehhh...nona Pek, pintar amat
otakmu, hanya didalam sepatah dua patah kata saja
pertanyaanmu kau telah ajukan persis kedalam pokok
persoalan”
"Ayah harimau mana mungkin melahirkan anak anjing
"timbrung Giok Theng Hujien secara tiba2 sambil
tertawa, "Hey Sam Tang Kee, apakah kau sudah lupa
akan kemampuan dari Pek pangcu?".
Pat Pit Sioe Loo simalaikat berlengau delapan Cie Kim
mendengus dingin, ia tidak menanggapi ucapan tersebut.
Sebaliknya si Coe kat beracun Yaw Soet segera
tertawa dan berkata.
"Hujien!. kau bukannya menikmati Sorga hidup
didalam kamar pribadimu yang harum, jauh datang
kemari mau apa atau jangan2 kau memang tersangkut
didalam peristiwa besar yang terjadi didalam tubuh Hong
Im Hwie ini?"
Giok Theng Hujien memutar biji matahya yang jeli lalu
tersenyum.
„Coe kat Cay siang! biasanya dugaan serta
perhitungan sangat tepat tak pernah meleset, tapi kali ini
dugaanmu telah Salah besar, aku hanya secara
kebetulan saja hadir ditempat ini bahkan sampai

sekarang aku masih belum tahu kejadian apakah yang
telah menimpa perkumpulan Hong im Hwie!".
Pat Pit Sin Loo Cie Kim segera mendongak dan
tertawa seram.
„Haaah....haaah!....kalau memang kalian berdua tidak
tahu akan duduknya perkara, dus berarti hanya aku
orang she Cie seorang yang tahu akan peristiwa ini".
Ia merandek sejenak, lalu dengan dua rentetan sorot
mata yang tajam bagaikan pisau ia menyapu sekejap
wajah Pek Koen Gie serta Kok See Piauw sekalian,
sambungnya:
“Dari perkampungan Liok Soat San Chung telah
kehilangan dua macam benda mustika dan selembar jiwa
manusia melayang, saudara berdua harus tahu dunia
persilatan yahg tenang selama sepuluh tahun, mulai
detik ini tidak bakal akan tenang kembali”
Hong-po Seng dikempit dibawah ketiak Kok See Piauw
tak dapat melihat perubahan wajah orang, tapi ketika
mendengar bahwa ada dua macam benda mustika yang
hilang suatu ingatan dengan cepat berkelebat didalam
benaknya. pemuda itu segera berpikir:
"Jangan jangan persoalan itu tersangkut didalam
masalah "Pedang emas" andaikata demikian adanya,
maka pastilah perbuatan itu adalah hasil karya dad Poei
Che Giok! ".
Sehabis perkataan tadi diutarakan keluar Si Coe kat
beracun Yauw Soet sama sekali tidak menunjukkan
reaksi apapun, dengan sikap yang tenang ia
mendengarkan perkataan Cie Kim selanjutnya.

Sebaliknya Giok Theng Hujien segera berseru
tercengang, katanya:
"Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa
perkampungan Liok soat san cung. telah dijadikan
Pesanggrahan oleh Jien Tang kee, entah jiwa siapa yang
telah melayang dan dua macam benda mustika apakah
yang ikut lenyap?".
Air muka Pat Pit Sioe Loo Cie berubah jadi dingin
membesi, dengan ketus sahutnya.
“Dua macam benda mustika itu sih bukan urusan
besar, justru jiwa yang melayang itulah merupakan
peristiwa yang maha hebat"
“Aduuh celaka” diam2 Coat kat beracun Yauw Soet
berpikir dengan hati bergetar keras,' Hong po Seng
betul2 bernyali besar dan tidak tahu lihay, mungkin
orang yang telah dibunuh olehnya adalah sanak keluarga
dari Jien Loo jie!",
Dalam hati berpikir demikian, diluar ia segera
menimbrung:
„Sam Tang kee, entah siapakah yang telah jatuh
korban?".
Pat Pit Sioe Loo si malaikat berlengan delapan Cie Kim
tertawa dingin, dengan suara keras teriaknya:
-Kami sudah kehilangan jiwa putra tunggal
kesayangan _Jien Tang kee kami, Siauw Thian Seng Jien
Bong adanya, coba cuwi sekalian pikir, apakah sejak kini
dunia persilatan bisa aman tenteram lagi"
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, air muka
semua orang yang hadir dikalangan sama2 berubah

hebat, termasuk juga segenap anak buah yang
tergabung didalam
perkumpulan Hong Im Hwie, rata2 mereka
menunjukkan rasa kaget dan tercengang yang tak
terhingga. Jelas sebelum ucapan barusan diutarakan,
mereka sendiripun tidak tahu duduk perkara yang
sebetulnya.....
Diam2 Pek Koen Gie merasa amat terperanjat,
pikirnya:
„Bangsat cilik ini kenapa bertindak begitu goblok??
masa mau bikin onarpun sampai memancing meledaknya
bencana begitu besar?".
Makin dipikir ia semakin gemas sehingga akhirnya
sepasang giginya bargemerutukkan menahan rasa
mangkel yang tak terkirakan, ingin sekali satu kali tabok
ia cabut jiwa pemuda she Hong Po itu.
Dalam pada itu terdengarlah Coe kat beracun Yauw
Soet dengan wajah serius berkata:
„Peristiwa ini memang sangat menyedihkan sekali,
setelah Jien Tang kee mengalami musibah yang tak
terduga ini pasti ia rasa amat sedih hati”
Setelah merandek dan termenung beberapa saat
lamanya., ia berkata kembali:
„Sam Tang kee, perkampungan Liok Soat San Chung
terletak ditengah bukit Im Tiong San yang jaraknya ada
ribuan li dari tempat ini, entah peristiwa tragis itu kapan
terjadinya?"

"Kejadian ini berlangsung pada tiga hari berselang,
Yauw-heng! kau tersohor sebagai seorang Koen-su yang
memiliki banyak akal cerdik, entah apa petunjukmu
mengenai peristiwa ini ?"
Diam2 Si Coe-kat beracun Yauw Soet berpikir dalam
hatinya "Andai kata Pedang Emas itu belum terjatuh
ketangan pihak kami, untuk lolos dari ternpat ini rasanya
tidak terlalu sulit, sebaliknya kalau pedang emas itu
sudah berada didalam saku Koen Gie . waaah ! urusan
jadi radaan repot, entah benda apa yang di maksudkan
sebagai mustika kedua itu? ".
Berpikir sampai disitu, ia segera melayang turun
keatas daratan, kepada Cie Kim ajarnya.
"Kematian dari Jien kongcu pastilah ada hubungannya
dengan kedua macam mustika itu, apabila perkumpulan
kalian ada maksud mencari tahu siapakah pembunuhnya,
maka satu2nya jalan adalah berusaha untuk menemukan
kembali kedua macam benda tersebut.”
Berbicara demikian sinar matanya segera dialihkan
kearah Pek Koe Gie sebagai tanda pertanyaan.
Pek Koen Gie adalah seorang gadis yang cerdik dan
banyak akal, melihat urusan amat kritis dan sangat
tegang buru2 ia memberi hormat kepada Cie Kim,
katanya :
"Kalau memang peristiwa berdarah itu terjadi pada
tiga hari berselang, itu berarti persoalan tersebut sama
sekali tiada sangkut pautnya dengan diriku sebab baru
pagi tadi boanpwee menyebrangi sungai Huang-Hoo. Cie
Cienpwee ! urusan ini mempunyai sangkut paut yang
besar dengan ketenteraman Bu-lim, kami dari pihak
perkumpulan Sin Kie-Pang tidak ingin melibatkan diri

didalam kancah air keruh itu, maaf kalau boanpwee akan
mohon diri terlebih dahulu!”
Habis berkata ia segera putar badan dan berjalan
menuju kearah perahu perkumpulannya.
"Tunggu sebentar " hardik Pat-Pit Sioe Loo Cie Kim
dengan suara keras, tangannya bergerak dan segera
mengirim satu cengkeraman kearah depan.
Sejak tadi si Coe-kat beracun Yauw Soet sudah bersiap
siaga menghadapi serangan orang ini, melihat
dilancarkannya serangan sang badan segera meloncat
kedepan menghadang jalannya serangan tersebut.
Seraya menjura dan tertawa lantang,”Sang Tang kee,
harap didengarkan dulu".
Seraya berkata sepasang tangannya yang sedang
menjura segera didorong kemuka menghantam dada Cie
Kim.
Dalam keadaan begini seandainya Pat Pit Soen Loo Cie
Kim tidak menarik kembali tangannya yang hendak
mengancam tangan Pek Koen Gie, niscaya lengan
kanannya bakal terhajar patah.
Malaikat berlengan delapan Cie Kim bukanlah lampu
lantera yang kekurangan minyak, terdengar ia
mendengus dingin, tangan kanannya segera ditarik
kembali kemudian dengan sikap menjura ia tembus
sepasang tangan Coe kat beracun Yauw Sect yang
sedang meluncur datang.
Diantara bergelombangnya ujung jubah yang lebar,
segulung hawa pukulan berhawa lm yang lunak tanpa

menimbulkan sedikit suarapun segera menerjang kearah
tubuh Pek Koen Gie.
Diam2 Coe kat beracun Yauw Soet merasa
terperanjat, tapi diluaran ia berlagak se-olah2 tak pernah
terjadi sesuatu urusan apapun, dengan langkah yang
enteng dan seenaknya ia mundur setengah langkah
kabelakang, sepasang lengan ditarik kembali dan
menggunakan kesempatan dikala segulung angin
serangan menyapu tiba itulah ia segera menahadang
dibelakang tubuh Pek Koen Gie.
Sementara itu putri kesayangan dari Pek Siauw Thian
pangcu perkumpulan Sin Kie Pang itu sedang berjalan
satu tindak kedepan, dua gulung tenaga pukulan yang
maha dahsyat telah saling bertumbukan dibelakang
tubuhnya.
“Blaaaam” ditengah ledakan keras, desiran angin
tajam menyambar keempat penjuru membuat tubuhnya
bergetar keras dan maju dengan sempoyongan kemuka.
Dalam waktu singkat…. Sreeet ! Sreeet !
Sreeeet ! para anggota perkumpulan Sin Kie Pang
yang berada diatas ketiga buah perahu itu bagaikan
jangkrik2 segera berloncatan naik keatas darat, sekeliling
tubuh Pek Koen Gie dengan cepat telah terlindung
dibawah kurungan jago2 lihaynya.
“Haah . . . haah . . haaah . . . nama besar Coe-kat
Cay-siang ternyata bukan nama kosong belaka"
terdengar Giok Theng Hujien berseru sambil tertawa
riang.

"Bukan saja ilmu silatnya sangat lihay, bahkan anak
buahnyapun sama2 cekatan semua. inilah yang
dikatakan orang kuno sebagai dibawah asuhan panglima
kenamaan tiada prajurit yang lemah, anggota sekte
agama Thong Thian Kauw tak terdapat anak murid yang
cekatan dan gesit seperti kalian ".
Sementara itu kegusaran yang berkobar dalam dada
Pat-Pit Sioe-Loo Cie Kim belum sirap, sehabis mendengar
ucapan itu bagaikan minyak yang kena api hawa
amarahnya semakin berkobar hebat. mendadak ia
berpaling kearah para anggota perkumpulan Hong Im
Hwie yang berkumpul disitu, lalu bentaknya :
"Sebelum digeladah dengan teliti siapapun dilarang
naik keatas perahu, barang siapa yang berani
membangkang segera bunuh, kalau sampai ada satu
orang saja yang berhasil lobos, kalian semua harus
bunuh diri untuk menebus dosa itu !".
Terdengar seluruh anak buah Hong Im Hwie berseru
mengiakan, kemudian tampaklah bayangan manusia
saling berkelebat, dalam waktu singkat jalan mundur Pek
Koen Gie telah terputus, suasana jadi tegang dan kedua
belah pihak sama2 mempersiapkan diri untuk
melangsungkan suatu pertarungan sengit.
Coe kat beracun Yauw Soet berotak tajam dan banyak
akal. meski ia merasa suasana meruncing dan setiap saat
kemungkinan besar bisa terjadi pertempuran sengit,
tetapi sikapnya masih tetap tenang2 saja seakan2 tidak
pernah terjadi suatu kejadian apapun, pikirnya.
“Siluman rise itu sengaja memancing kobarnya api
pertempuran diantara dua perkumpulan. Hmm! dia

pingin perkumpulan Sin Kie Pang saling bertarung
dengan perkumpulan Hong Im Hwie bagaikan burung
bangau yang berebut makanan, sedangkan sekte agama
Thong Thian Kauw hanya tinggal menanti hasilnya
bagaikan nelayan mujur. dianggapnya urusan bisa
berlangsung begitu gampang?"
Berpikir demikian ia lantas berpaling kearah Pek Koen
Gie sambil tegurnya:
“Tit li. apakah kau terluka?".
Dari lirikan matanya yang tajam Pek Koen Gie dapat
mengetahui bahwa sanya Si Coe Kat beracun Yauw Soet
sedang bertanya kepada dirinya apakah "Pedang emas”
itu berhasil didapatkan, ia pun segeta gelengkan
kepalanya tanda belum mendapatkannya, tetapi
berhubung “Tetatai Racun empedu Api” berada disaku
Kok See Piauw maka sinar matanya melirik sekejap
kearah sianak muda itu. Jawabnya.
“Terima kasih atas perhatian paman, untung Tit li
tidak sampai menderita !”
Si Coe kat beracun Yanw Soet sendiri ketika melihat
dara itu gelengkan kepalanya lalu melirik sekejap kearah
Kok See Piauw, dalam hatinya segera timbul perasaan
ragu dan sangsi, pikirnya.
"Apa artinya sikap itu?? apakah Pedang emas itu
sudah didapatkan tapi telah diambil oleh Kok See
Piauw?”
Karena belum tahu dnduk perkara yang sebetulnya,
untuk beberapa saat lamanya ia tak berani mengambil
keputusan ataupun merencanakun siasat, maka dari itu
sembari tertawa terbahak-bahak katanya:

"Kok hian tit, mari aku perkenalkan dirimu kepada
orang ini",.
Samil menuding kearah Cie Kim sambungnya:
“Saudara ini adalah Sam Tang kee diapun merupakan
salah seorang sahabat karib suhumu. Hian tit, ayoh cepat
maju mengunjuk hormat kepada Sam Tang kee"
Dengan tangan kiri mengempit tubuh Hong Po Seng,
Kok See Piauw maju melangkah kedepan lalu berkata:
“Cayhe Kok See Piauw anak murid perguruan Boe
Liang Bun, menghunjuk hormat buat Sam Tang kee”
Dengan pandangan mata yang tajam "Pat Pit Sioe
Loo" malaikat berlengan delapan Cie Kim menyapu
seluruh tubuh Kok See Piauw dari atas hingga kebawab,
lalu ejeknya:
„Kok See heng, rupanya kau sudah menggabungkan
diri menjadi anggota perkumpulan Sin Kie Pang??".
„Hmm!"dari nada ucapan Cie Kim barusan, Kok See
Piauw rupanya dapat menangkap arti sindiran tersebut,
hawa pitam kontan memuncak keatas kepala, dengan
dingin ia mendengus.
„Cayhe selamanya malang melintang seorang diri,
belum pernah aku menjadi anggota sebuah Kauw atau
sebuah Pang."'
Habis berkata ia putar badan dan berlalu dengan sikap
angkuh.
Selama hidupnya ia selalu bersikap jumawa dan tinggi
hati, kecuali terpikat oleh kecantikan Pek Koen Gie
sehingga rela takluk dibawah gaunnya dan
mendengarkan perintahnya, terhadap orang lain ia tak
pernah bersikap ramah ataupun besikap mengalah

sepatah dua patah kata tidak cocok pertempuran sengit
segera akan terjadi.
Dengan pandangan tajam Pat Pit Sioe loo Cie Kim
mengawasi bayangan punggung pemuda itu sambil
tertawa dingin, belum sampai satu tombak Kok See
Piauw berlalu mendadak dari balik semak meloncat
keluar seseorang sambil membentak keras:
"Kembali ketempat asalmu.”
Sambil membentak orang itu segera melancarkan
sebuah babatan maut kedepan.
Kok See Piauw tentu saja tak mau mengalah dengan
begitu saja, melihat datangnya ancaman ia segera
ayunkan tangannya pula menyambut datangnya
serangan itu dengan keras lawan keras.
“Blamm...! terdengar suara bentrokan nyaring
berkumandang diangkasa, ditengah ledakan keras itu
masing2 pihak sama2 tergetar mundur tiga langkah, hal
ini menunjukkan bahwa kekuatan mereka berdua adalah
seimbang.
Terdengar Pat-Pit Sioe-Loo Cie Kim tertawa dingin
"Kok See Piauw " jengeknya. " Andaikata aku orang
she-Cie harus turun tangan sendiri, maka orang akan
menganggap aku menganiaya orang muda. dan kini kau
tentu bisa sedikit tenang bukan ! ".
Kok See Piauw yang harus mengepit tubuh Hong-po
Seng dibawah ketiak dan menyambut serangan tadi
dengan hanya menggunakan tangan sebelah saja tidak
Sempat mengerahkan segenap tenaga dalam yang
dimiliki, setelah mendengar ucapan tersebut ia segera

mendongak dan memperhatikan orang yang turun
tangan menghalangi dirinya barusan.
Segera terlihatlah orang itu adalah seorang pemuda
berpakaian ringkas yang berusia dua puluh tahunan. bisa
dibayangkan betapa..mangkel dan jengkelnya perasaan
anak murid Boe-Liang Sin-Koen ini, tangannya
segera diayun melemparkan Hong-po Seng kesamping
kemudian dengan langkah lebar berjalan mendekati
pemuda berpakaian ringkas.
Hong Po Seng yang dilemparkan kesisi jalan segera
bergelindingan kesamping, mendadak ia menjejakkan
kakinya keatas tanah dan meloncat bangun.
Orang yang hadir ditengah kalangan dewasa ini
sebagian besar adalah para jago lihay dari dunia
persilatan, mereka semua telah mengetahui bahwa jalan
darah Hong Po Seng adalah tertotok tetapi setelah
menyaksikan sianak muda itu mendadak meloncat
bangun, tanpa terasa semua orang jadi tertegun
dibuatnya.
Kok See Piauw sendiripun segera merasakan keadaan
sedikit tidak beres, dengan cepat ia menghentikan
langkahnya dan berpaling.
Terdengar si Coe kat beracun Yauw Soet tertawa
enteng serunya.
“Bangsat keparat, ternyata kau memiliki banyak ragam
ilmu setan!"
Tanpa diketahui segera tubuh apakah yang telah
digunakan. tahu2 ia sudah menyusup kebelakang

punggung Hong Po Sung dan menempelkan telapak
diatas punggungnya.
Deagan pandangan tajam bagaikan pisau Pat Pit Sioe
Loo Cie Kim menyapu sekejap wajah Hong Po Seng,
mendadak kepada Kok See Piauw serunya:
"Saudara saudara dari Perkumpulan Hong lm Hwie
memang mempunyai hubungan persahabatan yang erat
dengan Boe Liang Sin Koen. seandainya berada di-hari2
biasa aku orang she-Cie tidak nanti akan menyusahkan
dirimu, tetapi situasi pada hari ini jauh berbeda,
berhubung kejadiannya luar biasa maka mau tak mau
terpaksa kita musti menyalahi gurumu”
"Enak betul ucapan dari Sam Tang-kee" jengek Kok
See Piauw ketus. " Pertama cayhe tidak membunuh
orang. kedua, akupun tidak mencuri barang mustika milik
kalian; barang siapa berani menahan ataupun
menghalangi jatan pergiku, cayhe nomor satu yang
merasa tidak puas dan tak mau takluk”
Mendadak terdengar Giok Theng Hujien tertawa
nyaring lalu timbrungnya dari samping.
"Anak murid pergiruan dari Boe-Liang Sin Koen
biasanya bilang satu tidak akan jadi dua, Sam Tang kee
kau sebagai seorang Cian pwee lebih baik berilah satu
jalan keluar baginya”
Entah sedari kapan ia telah kembali ke tempat duduk
kebesarannya, sambil menonton ketegangan yang
mencekam ditepi pantai, senyum masih selalu menghiasi
bibirnya. sikap yang enteng dan ringan menujukkan
betapa senangnya hati perempuan itu.

Pada saat itulah seorang kakek berbaju hijau berjalan
menghampiri Cie Kim lalu membisikkan sesuatu kesisi
telinganya.
Selesai mendengar bisikan dengan sorot mata tajam
Pat Pit Sioe Loo Cie Kim menatap wajah Hong Po Seng
tajam2 tegurnya:
„Yauw hong, apakah pemuda itu adalah anak buah
dari perkumpulan Sin Kie Pang kalian??".
„Haah...haah...orang ini meskipun usianya masih
muda tetapi akal liciknya sangat banyak, ia pernah
masuk menjadi anggota perkumpulan kami kemudian
berkhianat dan melarikan diri. Kegagalan anak murid Boe
Liang Sin Koen didalam melakukan tuntutan balasnya
dikota Keng Chiu pun sebagai besar disebabkan keparat
cilik ini".
„Hmm! beberapa hari berselang, ada orang pernah
menjumpai pemuda itu melakukan perjalanan disekitar
Tay Goan, karena itu siauw te ada suatu pemintaan yang
mungkin tidak pantas diucapkan keluar".
"Haaah.., haaah,.. haaah... Sam Tang kee, kalau ada
perkataan, silahkan diutarakan keluar, masa terhadap
teman karib banyak tahunpun kau besikap sungkan
sungkan"
"Pat Pit Sioe Loo "Malaikat berlengan delapan Cie Kim
tertawa dingin.
"Heeh.. heeeh kalau memang begitu, tolong Yauw
heng suka serahkan orang itu kepada aku orang she Cie,
aku hendak menanyakan beberapa persoalan
kepadanya”

"Rahasia yang diketahui keparat cilik ini terlalu
banyak" diam diam Coe kat beracun Yauw Soet berpikir,
"Membiarkan ia tetap hidup dikolong langit
bagaimanapun juga merupakan suatu bibit bencana yang
sangat berbahaya, lebih baik aku lenyapkan dirinya saja
dari muka bumi, daripada dikemudian hari merepotkan
sendirl"
Ia dijuluki "Si Cioe kat beracun", kekejamn hatinya
sudah amat tersohor dikolong tangit, Kini setelah
menduga bahwa "Padang emas" telah terjatuh ketangan
Kok See Piauw maka timbullah pikiran bahwa Hong po
Seng sudah tak berguna bagi mereka.
Karena tetapak tangannya yang menempel diatas
pinggang sianak muda itu perlahan lantas didorong
kedepan, ujarnya sambil tertawa:
“Sam tong kee ada petanyaan hendak diajukan
kepadamu kesanalah untuk menjawab! Tapi..Sam Tong
Kee! kau musti hati2, takutnya kalau ia tak bisa
menguasai diri sehingga sepatah2 katapun tak sanggup
diutarakan keluar"
Hong Po Seng sama sekali tidak merasakan suatu
perubahan yang dirasakan aneh, sambil melangkah maju
kedepan tindak depan katanya:
„Cie Tong kee, kau ada persoalan apa yang hendak
ditanyakan kepadaku, silahkan diutarakan keluar"
Pat Pit Sine Lon Cie Kim tidak langsung buka suara,
dalam hati pikirnya:
„Kalau dikatakan Jien Bong menemui ajalnya ditangan
keparat cilik yang hitam lagi kurus ini, aku merasa

sedikitpun rada kurang percaya, kalau memang
perempuan yang jejaknya amat misterius itu bukanlah
budak sialan she Pek lalu siapakah dia?"
Berpikir demikian, ia lantas bertanya:
"Apa she-mu? dan siapa namamu?? kau belajar
kepandaian dari siapa ??"
"Cayhe bernama Hong-po…Aduuh ...".
Mendadak ia menjerit kesakitan lalu roboh terjengkang
keatas tanah.
Simalaikat berlengan delapan Cie Kim adalah seorang
jago kawakan, menghadapi perubahan secara mendadak
ini reaksinya cukup cekatan. dengan cepat ia tangkap
pergelangan tangan Hong-po Seng kemudian salurkan
hawa murninya menembusi urat diatas pergelangan.
Kejadian ini berlangsung diluar dugaan siapapun juga,
semua orang yang hadir ditengah kalangan dewasa itu
sama2 terperanjat dibuatnye
Air muka Pek Koen Gie berubah hebat, kepada Coe-kat
berancun Yauw Soet ia melirik sekejap kearahnya,
diantara sorot matanya yang tajam secara lapat2
terkandung hawa amarah yang bergelora.
Sebaliknya Kok See Piauw berdiri tertegun air
mukaaya berubah tidak menentu. Sedang kan Giok
Theng Hujien yang duduk diatas perahu justru malah
amat gembira setelah menyaksikan kejadian itu sebab ia
memang berkeinginan demikan, sambil membelai mahluk
aneh berbulu Salju ia tersenyum dan membungkamkan
diri.

Pat Pit Sioe Loo Cie Kim dengan air muka berubah jadi
hijau membesi menatap wajah Yauw Soet tajam tajam.
„Hmmemm, kalau kau sanggup menolong orang itu
sehingga lolos dari kematin, aku Yauw Soet tidak akan
disebut Coe kat beracun lagi..."pikir Si Coe kat beracun
Yauw Soet didalam hati,
Ia segera tertawa lantang dan berkata:
"Haah..haaah...haaah.,.. Sam Tong kee. kau keliru,
orang itu sudah diberi hadiah jarum sakti Sun Hoen Sin
Ciam oleh pangcu kami, besok pagi daya kerja racun keji
itu akan mulai bereaksi, entah apa sebabnya ternyata
kerja racun itu mulai menunjukkan tanda2-nya mulai
sekarang ...haah...haaah.„ aku orang She Yauw sih tidak
mempunyai kepandaian selihay itu"
Diam diam simalaikat berlengan delapan Cie Kim
dibuat terperanjat juga setelah mendengar ucapan itu,
pikirnya:
"Kalau ia benar2 terkena jarum beracun Soe Hoen Tok
Ciam dari Pek Loo jie, jelas selembar jiwanya sukar
diselamatkan lagi!".
Berpikir sampai disitu dengan sorot mata yang tajam
ia segera berpaling kearah Pek Koen Gie,
„Aku tidak memiiiki obat penawarnya" jawab dara she
Pek itu dengan wajah ketus dan suara hambar.
Mendadak terdengar Giok Theng Hujien tertawa dan
menimbrung kembali dari atas perahunya:
“Pek kongcu betul-betul orang yang lihay.. sampai
waktunyapun bisa dihitung dengan demikian tepatnya"

“Ha..hah…Hujien, bukankah kau sangat lihay dan
memiliki kepandaian ampuh ?" seru si Coe kat beracun
Yauw Soet sambil tertawa nyaring." Apa salahnya kalau
kau unjukkan kesaktianmu untuk menyelamatkan
selembar jiwa dari Hong Po Seng?"
Giok Theng Hujien tersenyurrn.
„Aku sih memang memiliki sebatang Leng ci berusia
seribu tahun; tapi sayang benda mustika itu tidak sempat
kubawa dalam kunjunganku kali ini kalau tidak, untuk
menolong selembar jiwanya aku rasa bukan satu
persoalan yang sulit”
Disaat semua orang sedang saling menimbrung itulah
mendadak terdengar Hong po Seng merintih lalu berbisik
lirih:
„Hie Sim.. Hie Lek.. Hie Pi…”
Mendengar disebutkannya nama2 jalan darah penting
itu semua orang sama-sama dibikin terkesiap.
si Malaikat berlengan delapan Cie Kim karena takut
Yauw Soet turun tangan kembali untuk melenyapkan
sianak muda itu dari muka bumi, badannya segera
bergerak cepat dan membawa tubuh Hong Po Seng
melayang mundur beberapa tombak jauhnya dari tempat
semula, tangan kanannya bergerak berulang kali. dalam
sekejap mata seluruh jalan darah "Tok Meh" yang
disebutkan tadi sudah tertotok semua.
Segulung angin berbau harum menghembus lewat
Giok Theng Hujien sambil membopong makhluk aneh
berbulu saljunya melayang naik keatas daratan, kepada
Coe kat beracun Yauw Soet ia tersenyum dan berseru:

"Betulkah orang itu bernama Hong-Po Seng ?? banyak
amat kepandaian aneh yang ia miliki !"
Kiranya Hoa Hujien terlalu sayang terhadap putranya
ini, karena itu selama sepuluh tahun menyembuyikan diri
dari kejaran musuh2 besarnya ia telah wariskan segenap
kepandaian untuk menjaga serta melindungi dirinya
kepada sang putra.
Tapi sayang jarum beracun Soh Hoen Tok Ciam terlalu
lihay, ditambah pula serangan keji dari Yauw Soet
dilancarkan tanpa bekas dan tanpa terasa oleh karena ia
itu meski Hong-po Seng sudah kerahkan segenap
kemampuan yang dimilikinya ia hanya bisa
memperlambat datangnya kematian belaka, untuk
melanjutkan hidup masih terlalu sulit baginya.
Dalam pada itu suasana ditengah kalangan telah
berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit
suarapun, semua pandangan mata sama2 ditujukan
keatas tubuh Hong Po Seng.
Si Coe-kat beracun Yauw Soet sendiri walaupun ada
maksud hendak mencabut jiwa Hong-po Seng, tapi pada
saat ini diapun berkeinginan agar pemuda itu bisa sadar
kembali hingga dapat dilihat apa yang akan
dilakukannya.
Lama....lama sekali... ditengah kesunyian yang
mencekam seluruh jagat perlahan lahan Hong po Seng
membuka matanya kembali, lengannya ber-gerak2
seperti sedang berusaha untuk melepaskan diri dari
cekalan Cie Kim.
Terhadap pemuda kurus hitam yang berada
dihadapannya ini simalaikat berlengan delapan Cie Kim

mempunyai pandangan yang aneh, ia segera
mengendorkan cekalannya sambil bertanya:
"Hong po Seng apakah kau masih sanggup untuk
mempertahankan diri ??"
Hong po Seng mengangguk.
"Apakah kau ingin mengetahui jejak tentang "Pedang
emas" dan menuntut balas bagi kematian Jien Bong ?"
Ucapan ini begitu diutarakah keluar, sekujur tubuh
simalaikat berlengan delapan Cie Kim bergetar keras,
dengan cepat mengangguk.
"Tentu saja "
"Baik! aku akan memberi petunjuk satu jalan terang
bagimu" ia merandek sejenak, setelah mengatur
napasnya yang tersengkal sambungnya kembali.
„Paling banter aku hanya bisa hidup setengah jam
lagi, apa yang bisa kuucapkan tidak selalu banyak tapi
kau harus membinasakan aku maka dengan sendirinya,
aku tidak ingin menemui ajalku ditangan orang lain".
„Aku orang she Cie menyanggupi permintaanmu itu"
sahut malaikat berlengan delapan Cie Kim dengan
tegas."Barang siapa berani turun tangan melukai dirimu,
aku orang she Cie meskipun harus berjuang hingga
darah berceceran tidak nanti akan membiarkan orang itu
tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat"
„Jien Tong kee dari perkumpulan kalian apakah malam
ini bisa tiba disini?"
Pat Pit Sioe Loo Cie Kim tertegun.
„Lima propinsi yang terletak dalam wilayah Hoo pak
sudah tertutup semua bagi lalu lintas, Tong kee kami

harus melakukan inspeksi disemua daerah, mungkin
besok malam ia baru akan tiba ditempat ini”
Hong Po Deng mengangguk, sambil menjura katanya:
“Sam Tong kee harap tunggu sejenak, cayhe ada
sedikit urusan yang hendak kuselesaikan dahulu”
Suasana ditengah kalangan kembali dicekam dalam
kesunyian, segulung angin malam berhembus lewat
membuat para jago kalangan Hek to yang membunuh
orang tanpa berkedip itu secara tiba2 merasa hatinya
jadi bergidik, banyak diantara mereka yang merinding
dibuatnya.
00000000o
12
PERLAHAN2 Hong Po Seng memutar tubuhnya,
mendadak kepada Pek Koen Gie ia berseru:
“Nona Pek diantara kita bukankah pernah
membicarakan tentang sesuatu ?".
„Membicatakan soal apa??"tanya Pek Keen Gie
tertegun.
Hong Po Sang tertawa hambar.
“Aku berlutut dihadapanmu dan masuk menjadi
anggota perkumpulan Sin Kie Pang kalian. kemudian kau
sekali tabok menggampar mulutku sehingga tiga buah
gigiku copot. apakah kau telah melupakannya?"
Air muka Pek Koen Gie kontan berubah jadi merah
jengah, ia segera berpaling dan serunya kepada Oh Sam
„Lepaskan beberapa orang itu.”
Oh Sam serta pria berbaju hitam itu segera
mengiakan. buru2 mereka melepaskan Tong si Sam

Hauw serta Chin Wan Hong dari cekalan dan
membebaskan jalan darah mereka berempat.
Ketika jalan darahnya masih tertotok tadi, keempat
orang itu merasa banyak persoalan hendak diutarakan,
tapi sekarang setelah berada didekat pemuda itu mereka
semua malah berdiri menjublak tanpa sanggup
mengucapkan sepatah katapun.
Melihat wajah keempat orang itu Hong Po Seng
menghela papas panjang:
,Aaai..! kekuatan kalian berempat terlalu lemah, lebih
baik janganlah berkelana lagi didalam dunia persilatan”
Setelah rnerandek sejenak untuk mengatur napas
ujarnya kembali.
„Setelah aku mati nanti, para enghiong dari Sin Kie
Pang meski tidak punya malu menyusahkan kalian lagi,
lebih baik kalian pulanglah kekampung desa kelahiran
kalian masing2!".
„Kongcu..."terdengar Chin Wan Hong berseru sambil
menahan isak tangis ditenggorokan.
Hong Po Seng tersenyum.
"Aku tidak lebih hanya berangkat satu langkah lebih
duluan. tiada sesuatu yang terlalu luar biasa, nona Chinkau
tak usah bersedih hati"
Bicara sampai disitu ia lantas berpaling dan
menambahkan:
"Sam Tong kee. ilmu silat yang dimiliki empat orang
ini sangat cetek lagi pula mereka tidak tersangkut dalam
peristiwa yang terjadi dalam perkampungan Liok Soat
San cung. cayhe berharap agar Sam Tong kee bisa
berbuat bijaksana terhadap mereka berempat "

Suasana yang penuh diliputi kesedihan serta
kepedihan memenuhi seluruh kalangan saat itu, semua
orang ikut merasa beriba hati menyaksikan kejadian
tersebut.
Simalaikat berlengan delapan Cie Kim segera
anggukkan kepalanya.
"Baiklah!" dia menyanggupi. “Seandainya keempat
orang itu ada maksud untuk berdiam disini, maka orang2
dari perkumpulan Hong Im Hwie tidak akan mengganggu
atau mencelakai mereka ".
“Semoga Sam Tong kee bisa pegang janji, cayhe disini
banyak ucapkan terima kasih terlebih dulu" kata Hong po
Seng, sambil sagera menjura member hormat, sinar
matanya perlahan lahan dialihkan keatas wajah Kok See
Piauw, dan serunya:
“Sahabat Kok, bawa kemari!".
Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua sinar
mata segera dialihkan kearah kok See Piauw.
Mendengar teguran itu anak murid dari Boe Liang Sin
koen ini nampak terperanjat, sinar matanya dengan
cepat melirik sekejap kearah Pek Koen Gie yang berada
dihadapannya. Terdengar si Coe-kat beracun Yauw Soet
tertawa keras, lalu menegur:
„Hey Hong po Seng, apa yang kau inginkan?"
Si Malaikat berlengan delapan Cie kim pun ikut maju
kedepan, sambil melototi wajah Kok See Piauw dengan
sorot mata tajam ia tertawa dingin tiada hentinya.

„Kenapa? apakah kau hendak paksa aku untuk turun
tangan? ".
„Sam Tong kee, harap jangan gusar dulu, cayhe ada
alasan untuk memaksanya agar menyerahkan diri" kata
Hong po song sambil ulapkan tangannya, sinar matapun
segera dialihkan kearah Kok See Piauw ujarnya.
„Sahabat Kok. apabiia kau tidak mau serahkan kembali
Teratai Racun Empedu Api itu kepadaku, maka Jien
Sauw-ya akan kuanggap sebagai mati ditanganmu!"
Malaikat berlengan delapan Cie Kim adalah salah
seorang anggota yang ikut mendirikan perkumpulan
Hong Im Hwie, separuh hidupnya boleh dibilang
berkecimpungan didalam dunia persilatan, tetapi saat ini
ia dibuat keder juga oleh kegagahan Hong Po Seng yang
tidak jeri menghadapi kematian, kebengisan serta
kebuasannya di hari2 biasa saat ini tak sanggup
diperlihatkan.
Ia segera mundur satu langkah kebelakang dan
dengan tenang menyaksikan Hong Po Seng
menyelesaikan masalah tersebut,
Sebaliknya si Coe kat beracun Yauw Soet sendiri,
sehabis mendengar bahwa benda yang digembol Kok See
Piauw bukanlah “Pedang Emas” dia pun tidak ikut banyak
berbicara lagi.
Mendadak terdengar Pek Koen Gie berkata hambar.
“Kok heng.,serahkan Teratai Racun kepadanya!"
Kok See piauw tertawa kering,, ia ambil keluar teratai
racun empedu api itu dari sakunya dan melemparkannya
kedepan.

Setelah menerima kembali teratai racun itu. Hong po
Seng mengatur napasnya yang tersengkal sengkal
sedang dalam hati pikirnya:
"Ibu memerintahkan aku bertukar nama untuk
menghindari marabahaya yang mungkin akan
mengancam diriku setiap saat, siapa tahu Thian telah
berkehendak demikian Aaaai...! ini hari urusan telah
berlangsung jadi begini dan aku telah berada diambang
kematian. kalau memang harus mati, aku harus mati
dalam keadaan yang tenang dan terbuka!”
Sesudah mengambil keputusan didalam hati. ia segera
angkat kepalanya. dengan sorot matanya yang tajam ia
sapu semua wajah orang dan akhirnya berhenti diatas
wajah Cie Kim. ujarnya dengan nada serius:
"Sam Tong Kee, cayhe she Hoa bernama Hoa Thian
Hong. aku tidak bernama Hong po Seng. Perkampungan
Liok Soat san cung adalah harta peninggalan milik
keluargaku, sedang teratai racun empedu api merupakan
mustika milik keluarga Hoa kami. dan ini hari aku Hoa
Thian Hong telah mengambil kembali barang milik
keluargaku, rasanya orang tidak akan menganggap
bahwa aku telah melakukan pencurian didalam
perkampungan Liok-Soat San-cung bukan ?"
Semua orang terkejut dan tercengang sehabis
mendengar ucapan ini. Haruslah diketahui pada sepuluh
tahun berselang nama besar Hoa Goan Sioe amat
tersohor dikolong langit, setiap jago kalangan Pek-to
sama2 menaruh hormat kepadanya, jago2 kalangan Hekto
tunduk kepadanya. ia bagaikan sang surya ditengah
hari.. Dan yang ia tinggalkan dalam dunia adalah

tegaknya kebenaran di dunia serta ilmu silat yang maha
dahsyat.
Sepuluh tahun kemudian, ternyata keturunan dari Hoa
Goan Sioe, telah muncul kembali didalam dunia
persilatan, tentu saja semua orang jadi terkejut dan
tercengang dibuatnya.
Keheningan mencekam seluruh kalangan untuk
beberapa saat tamanya, tiba2 terdengar si Harimau
Pelarian Tiong Liauw berteriak keras.
"Kongcu-ya. kiranya kau adalah Sauw-ya dari Hoa
tayhiap, dimanakah Hoa hujien?”
Dalam hati diam diam Hoa Thian Hong merasa sedih,
tapi diluaran ia paksakan diri untuk tersenyum, sahutnya.
"Ibuku telah mengasingkan diri ditengah pegunungan
yang sunyi, sedari dulu beliau sudah tak berminat untuk
mencamputi urusan keduniawian lagi..”
Sedangkan Chin Wan Hong dengan air mata
bercucuran segera berseru memanggil:
"Hoa. kongcu...".
Hoa Thian Hong tersenyum.
“Aaaaii nona. ayahku almarhum pun bisa mati, kenapa
cayhe tak bisa mati pula??".
Si Coe kat beracun Yauw Soet sendiri diam2 merasa
terperanjat, ia merasa perhitungannya yang selalu jitu
ternyata kali ini meleset sama sekali ia tak pernah
berpikir sampai kesitu. hal ini membuat hatinya jadi
sangsi dan ragu, ia tak tahu tindakan yang telah
dilakukan ini sebenarnya benar atau tidak.

Sedangkan si malaikat berlengan delapan Cie Kim
serta Giok Theng Hujien diam diam merasa girang hati,
mereka meaduga bahwa ibu Hoan Thian Hong pasti akan
munculkan diri kembali didalam dunia parsilatan untuk
membalaskan dendam bagi kematian putranya, dus
berarti perkumpulan Sin Kie Pang telah mengundang
satu bencana besar bagi mereka.
Pek Koen Gie dan Kok See Piauw sekalian kecuali
merasa terkejut bercampur tercengang mereka tidak
sempat berpikir lebih jauh. Mendadak terdengar Hoa
Thian Hong berkata kembali.
„Sam Tong kee aku akan menceritakan kisah yang
sebenarnya mengenai kematian dari Jien Bong. cuma.
saja dibalik kisah tersebut masih tercekam pula oleh
beberapa teka teki. tetapi asal kau sampaikan kepada
Jien Tong kee dan dipikirkan dengan seksama, rasanya
tidak sulit untuk menemukan jawabannya”
„Hoa kongcu, silahkan katakan saja. aku orang she Cie
akan mandengarkannya dengan seksama" sahut malaikat
berlengan delapan Cie Kim dengan wajah serius.
Persoalan ini mempunyai sangkut paut yang amat
besar atas ketenteraman dunia persilatan, penyelesaian
yang tidak benar bisa mengakibatkan terjadinya
pertarungan sengit antara perkumpulan Sin Kie Pang,
Hong Im Hwie serta perkumpulan Thong Thian Kauw.
Mayat yang sudah bergelimpangan dimana2, darah yang
berceceran bagaikan air selokan sudah bisa dibayangkan
pasti akan terjadi.

Oleb sebab itu semua orang yang hadir di tengah
kalangan sama2 pasang telinga dan pusatkan
perhatiannya untuk mendengarkan perkataan pemuda
itu.
Hoa Thian Hong sendiri diam2 pun berpikir dalam
hatinya.
"Seandainya aku menambah-nambahi kisah yang
sebenarnya dengan cerita bohong mungkin pernyataanku
malah akan disangsikan orang dan memancing
ditingkatkannya kewaspadaan mereka terhadap masing2
pihak. Bagaimanapun juga peristiwa berdarah ini kalau
bukan hasil karya dari Thong Thian Kauw pastilah
perbuatan dari Sin Kie Pang, lebih baik aku mengatakan
seadanya saja agar mereka menyesali sendiri persoalan
itu !".
Berpikir demikian, dengan wajah serius ia lantas
berkata.
"Didalam perjalananku pulang kedalam perkampungan
untuk mengambil teratai racun Empedu Api, secara
kebetulan aku telah memergoki pertemuan rahasia yang
ditakukan Jien Bong dengan seorang perempuan
berkerudung hitam, suatu ketika tempat persembunyian
ketahuan maka cayhe dipaksa untuk turun tangan
bergebrak melawan Jien Bong: Tatkala cayhe sedang
bertarung mengadu tenaga lwekang dengan Jien Bong
itulah gadis tadi bukannya membantu dia sebaliknya
malah mencabut pisau belatinya dan menusuk punggung
Jien Bong.”

“Setelah peristiwa itu cayhe sambil melarikan diri
bertempur tiada hentinya dengan gadis tadi, sampai
keesokan harinya kita baru saling berpisah.
Sedangkan mengenai persoalan "Pedang emas" cayhe
sama sekali tidak tahu menahu".
Mendadak terdengar si Coe kat Beracun Yauw Soet
menimbrung:
,,Terang2an kau tahu kalaub "Pedang emas” itu sudah
terjatuh ketangan Jien Tong kee. kenapa pada waktu
itu..”
Mertabat serta kedudukan Hoa Goan Sioe didalam
dunia persilatan sangat tinggi dan terhormat, hal ini tak
dapat memaksa dia untuk menaruh curiga kepada Hoa
Thian Hong bahwa sanya ia sedang berbohong, kata2
yang sudah meluncur keluar dari tenggorokannya segera
ditelan kembali mentah2.... Hoa Thian Hong mengerti
apa yang ingin ia katakan. sambil melirik sekejap kearah
Cie Kim ujarnya hambar:
"Cayhe belum pernah menyaksikan " Pedang emas”
tersebut, percaya atau tidak terserah pada kebijaksanaan
Sam Tong-kee !"
"Aku orang she Cie percaya akan perkataanmu ini" ia
merandek sejenak, lalu tanyanya lagi:
"Hoa Kongcu, dari mana kau tabu kalau "Pedang emas
" itu telah terjatuh ketangan Jien Tong-kee dari
perkumpulan kami ??".
"Oooh, soal ini ?? pemilik dari "Pedang emas" tersebut
dewasa ini masih dipenjarakan didalam perkumpulan Sin
Kie Pang, aku tahu akan persoalan ini karena dia yang
mengatakannya sendiri kepada cayhe!"

"Haaah..haaah.haaah.. bagus ! bagus sekali"
Timbrung Giok Theng Hujien secara tiba2 sambil tertawa.
"Pek Pang cu benar2 lihay dan punya kepandaian luar
biasa. aku masih mengira Cioe It Bong telah berhasil
memecahkan rahasia "Pedang emas' itu dan
bersembunyi ditengah pegunungan yang sunyi untuk
berlatih silat, rupanya ia sudah terjatuh ketangan Pek
pangcu dan sampai sekarang masih menjadi tamu
terhormat didalam penjaranya ! "
Gelak tertawa serta sindirannya benar-benar
mempunyai ciri khas tertentu, begitu buka suara cukup
membuat orang dari perkumpulan Sin Kie Pang jadi
jengah dan riku.
Sajak tadi Pek Koen Gie sudah mangkel dan
mendongkol sekali, tetapi diapun tahu kalau perempuan
tersebut merupakan seorang manusia yang paling
menakutkan, setelah sabar dia harus sabar terus hingga
akhirnya ia tak tahan dan melotot kearahnya dengan
sinar mata berapi-api.
Si Coe kat beracun Yauw Soet cepat mengikuti
perubahan air muka Pek Koen Gie dengan sangat jelas,
melihat ia mulai gusar dan takut dara itu mengambil
tindakan sembrono, buru2 ia tertawa panjang dan
berkata:
“Hujien, kau keliru besar, meskipun Cie It Bong berada
didalam markas besar- perkumpulan kami, tetapi ia kami
layani sebagai tamu agung dan bukannya tawanan
didalam penjara. Ha..hah..kapan saja bila kita berhasil

mengundang kehadiran Hujien, kau akan tahu akan
kelihayan dari pangcu kami"
“Aaahh....rupanya sikakek telaga dingin bernama Cie
It Bong" batin Hoa Thian Hong didalam hati. "Coe-kat
beracun Yauw Soet sungguh seorang manusia licik yang
bermuka tebal, pandai amat ia memutar balikkan
keadaan tanpa merasa jengah, diapun termasuk manusia
yang lihay”
Dalam lamunannya mendadak ia rasakan daya kerja
racun keji yang bersarang didalam nadi " Tok-Meh " nya
per-lahan2 merembes keatas dan kian lama tekanan itu
kian bertambah kencang, agaknya dua buah jalan darah
pentingnya telah tertembus.
Secara lapat2 ia mulai merasa amat sakit dan sukar
ditahan iebih lanjut.
Si Malaikat bertangan delapan Cie Kim yang
menyaksikan air muka sianak muda itu sudah berubah
jadi pucat ke-abu2an, sikapnya lesu dan lemah. ia segera
sadar bahwa kematian pemuda itu sudah hampir tiba.
Buru buru tanyanya :
"Hoa kongcu, siapakah nama dari perempuan
berkerudung hitam itu ?"
"Ia mengaku dirinya she-Poei bernama Che Giok dan
berasal dari Sekte Agama Thong Thian Kauw, benar atau
tidak cayhe tidak berani yakin seratus persen ".
Malaikat berlengan delapan Cie Kim segera berpaling
hardiknya :
"Hujien, apakah didalam perkumpulan agama kalian
terdapat seorang gadis yang bernama Poei Che Giok?"

„Ada!” sahut Giok Theng Hujien sambil tertawa
cekikikan. ia segera berpaling dan menggape kearah
dalam ruang perahunya.
„Giok jie! ayoh cepat kemari" teriaknya." Bagus sekali.
diluar sepengetahuanku kau telah melakukan perbuatan
bagus!".
Semua orang merasa terperanjat dan sama2 berpaling
kearah perahu, terlihatlah sesosok bayangan manusia
berkelebat lewat. gadis yang sendiri tadi berdiri disisi
kursi kebesaran Giok Theng Hujien itu segera melompat
ketengah lapangan, serunya:
„Aku tidak pernah meninggalkan sisi tubuh hujien,
apakah aku pernah membunuh orang dan mencuri benda
mustika?".
„Hong Po Seng..."seru Giok Theng Hujien dengan alis
berkerut." Ooh.... Hoa Thian Hong, dialah Poei Che Giok,
orang yang kenali dirinya diwilayah timur ataupun
selatan tidak sedikit. coba lihatlah apakah dia adalah
gadis yang membunuh orang dan mencuri mustika
itu??".
Meskipun gadis ini mempunyai kecantikan wajah yang
menggiurkan dan pakaian yang dikenakan juga berwarna
ungu tetapi usianya cuma enam belas tahunan, raut
wajahnya sama sekali tidak mirip dengan gadis
pembunuh serta pencuri benda mustika itu.
Setelah dipandangnya beberapa saat Hoa Thian Hong
segera gelengkan kepalanya berulang kali.
"Bukan. bukan nona ini! ".

Ia merandek sejenak, kemudian kepada Cie Kim
sambungnya.
"Sedari permulaan tadi aku sudah menerangkan
bahwa dibalik kejadian ini masih terdapat pula teka teki
yang belum terpecahkan, pergerakan ini jelas sudah
diatur oleh suatu rencana yang amat sempurna, lebih
baik kau selidiki dan bicarakan lagi dengan Tong kee
kemudian baru mengambil keputusan ".
Malaikat berlengan delapan Cie Kim mengerutkan
alisnya rapat2.
"Hoa kongcu. kenapa kau tidak sekalian tuliskan
bagaimanakah potongan serta raut wajah dari gadis yang
mengaku bernama Poei Che Giok tersebut??...
Hoa Thian Hong mengangguk, ia menoleh kesamping
dan katanya:
"Nona Pek, setelah cayhe mengatakannya nanti harap
kau jangan marah ataupun salahkan diriku ".
Pek Koen Gie tertegun tapi ia segara mengangguk.
"Katakantah, salahkan dirimu pun tak berguna ! ".
Hoa Thian Hong tertawa hambar.
"Gadis yang membunuh orang dan mencuri benda
mustika itu mempunyai raut wajah yang hampir mirip
dengan dirimu, ilmu silatnya tidak lemah dan ilmu
meringankan tubuhnya jarang sekali ditemui dalam dunia
persilatan ! ".
"Hong-po Seng kau jangan memfitnah orang
semaunya sendiri ! "teriak Kok See Piauw dengan gusar.

“Aku bernama Hoa Thian Hong dan bukan Hong-po
Seng, apa yang telah aku orang she-Hoa katakan mau
tidak mau kau harus mempercayainya”
Tiba2 sianak muda itu merasakan ulu hatinya teramat
sakit, tubuhnya sempoyongan kebelakang dan hampir
saja jatuh terjenkang keatas permukaan tanah.
Chin Wan Hong serta si Harimau Pelarian Tiong Liauw
buru-buru maju kedepan, satu dari kiri yang lain dari
kanan segera memayang tubuhnya hingga tak sampai
terjatuh ketanah.
Harimau ompong si nenek tua she-Tiong mendadak
mendepakan kakinya ketanah sambil putar badan ia
menangis terisak.
“Hmmm..apanya yang mirip” sementara itu malaikat
berlengan delapan Cie Kim berpikir didalam
hatinya,"Mungkin saja Poei Che Giok adalah Pek Koen
Gie, dan Pek Koen Gie adalah Poei Che Giok! ",
Tiba tiba terdengar Giok Theng Hujien berkata:
"Yauw heng, dalam kolong langit dewasa ini hanya
Hoa Thian Hong seorang yang pernah menjumpai gadis
pembunuh dan pencuri benda mustika itu, memandang
diatas wajah Jien Tong kee aku harap kau sukalah
mempertahankan selembar jiwanya”
"Siluman rase sialan" diam2 Coe kat beracun Yauw
Soet memaki didalam hatinya, "Kau berulang kali
memojokkan posisi aku orang she Yauw, hmmm kalau
aku tidak membiarkan dirimu untuk merasakan

kelihayanku, percuma aku dijuluki orang sebagai si Coe
kat beracun"
Dengan langkah lebar si Malaikat lengan delapan Cie
Kim maju menghampiri diri Yauw Soet, seraya
menjulurkan tangannya kedepan ia berkata dengan
wajah menyeringai:
„Yauw heng, kalau kau punya obat penawar harap
serahkan kepada diri siauw te”
„Haah....haah Sam Tong kee, masa kau suka
mempercayai perkataan dari Giok Theng Hujien??".
Terdengar Giok Theng Hujien tertawa terkekeh-kekeh
sambil goyang pinggul menghampiri kehadapan Yauw
Soet katanya:
„Yauw heng, dihadapanku kau berani menyumpahi
diriku. jangan salahkan kalau aku tidak akan bersikap
hormat terhadap dirimu lagi".
JILID 9 Teratai racun Empedu Api
TATKALA dilihatnya perempuan itu berjalan
menghampiri kehadapannya seakan-akan berhadapan
dengan musuh tangguh si Cukat beracun Yauw Sut
segera mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam telapak
untuk mempersiapkan diri menghadapi segala
kemungkinan, sepasang matanya dengan tajam
mengawasi perempuan itu tanpa berkedip.
“Orang ini adalah lengan kanan dari Pek Siauw-thian,”
pikir malaikat berlengan delapan Cia Kim di dalam hati
“Andaikata aku berhasil melenyapkan dirinya saat ini

juga, itu berarti bahwa aku berhasil menyingkirkan
sabuah tiang tonggak penyanggah dari perkumpulan Sinkie-
pang, kemudian bilamana perkumpulan Hong Im
Hwat serta Thong Thian Kauw biasa bekerja sama,
rasanya tidak sulit untuk melenyapkan segenap kekuatan
dari perkumpulan Sin-kie-pang dan membagi rata
ketujuh daerah propinsi di Selatan menjadi kekuasaan
dua perkumpulan.”
Berpikir demikian, ia lantas berkata dengan nada
ketus, “Yauw-heng andaikata kau tidak suka
menyerahkan obat penawar itu kepadaku untuk
menyelamatkan selembar jiwa Hoa Thian-hong sehingga
pembunuh yang sebetulnya sukar ditemukan, maka itu
berarti Thong Thian Kauw pun tidak akan luput dari
kecurigaan, sekalipun Giok Theng Hujien bisa
mengampuni dirimu, belum tentu siauwte bisa bersikap
sungkan-sungkan terhadap dirimu!”
“Ucapan dari Sam Tang-kee Sedikitpun tidak meleset,”
sambung Giok Theng Hujien sambil tertawa merdu.
“Yauw-heng! apabila kau tidak mau menyerahkan obat
penawar itu lagi, kami segera akan turun tangan!!….”
Perempuan inipun tahu bahwa Yauw Sut tidak bakal
memiliki obat penawar tersebut separti apa yang
dikehendaki Cia Kim, di dalam hati kecil diapun berhasrat
untuk mengajak pihak perkumpulan Hong-im-hwie untuk
bekerja sama melenyapkan si Cukat beracun Yauw Sut
terlebih dahulu.
Si Harimau pelariain Tiong Liauw sedang merasa sedih
karena keadaan dari Hoa Thian-hong, kini setelah

mendengar ada orang menantang Yauw Sut untuk
menyerahkan obat penawarnya, seketika itu juga dengan
langkah lebar ia maju ke depan. Serunya, “Hey orang
she-Yauw, apabila hari ini kau tidak serahkan obat
penawar itu, sekalipun aku Tiong Liauw tidak mampu
menghajar dirimu, paling sedikit aku akan menggigit
badanmu.”
Si Harimau ompong nenek tua shek-Tiong serta
putranya si Harimau Bisu Tiong Long yang melihat
kejadian itu segera ikut mengerubut ke depan, dalam
keadaan gusar dan di liputi emosi ketiga orang itu telah
melupakan kelihayan dari Si Cukat beracun Yauw Sut.
Tiong Luo-tiang! Ayoh Segera kembali terdengar Hoa
Thian-hong berseru. “Apakah kalian sudah lupa akan
perkataanku di saat mewariskan ilmu silat tersebut
kepada kalian?”
Daya kerja racun keji yang bersarang di dalam
badannya mungkin sudah bereaksi hingga sekujur
tubuhnya terasa amat sakit dan tersiksa, di dalam
mengutarakan kata-katanya itu terdengar suara Hoa
Thian-hong sudah berubah jadi serak, lirih dan
gemetar….
Cukat beracun Yauw Sut mendongak dan tertawa
lantang, “Haaah…………… haaah………….. haaa….kalian
benar-benar tidak memahami keadaan yang benar.
Hmm! Kamu anggap Hoa Hujien adalah seorang manusia
yang gampang dilayani? Seandainya ia munculkan diri
lagi di dalam dunia persilatan dan berseru kepada umat
Bulim, maka komplotan-komplotannya di masa silam

pasti akan berduyun-duyun munculkan diri. Coba
bayangkan apakah manusia-manusia lihay itu bukan
merupakan satu ancaman bahaya bagi kekuasaan kita
semua? Kini kami dari pihak perkumpulan Sin-kie-pang
dengan pelbagai akal berusaha hendak menyingkirkan
musuh tangguh ini dari muka bumi, sebaliknya kalian
malah memaksa aku orang she-Yauw untuk
menyerahkan obat penawar guna manyelamatkan jiwa
putranya, bukankah tindakan kilian ini justru malah
terbalik dan tidak mempertimbangkan berat entengnya
persoalan? Aku takut apabila Thian Ie Kauwcu serta Jien
Tang-kee mengetahui urusan ini, dalam hati kecil mereka
akan merasa tidak senang hati!”
Malaikat berlengan delapan Cia Kim terkesiap sehabis
mendengar ucapan itu, pikir nya, “Perkataan bangsat itu
sedikitpun tidak salah, perduli dia mempunyai obat
penawar atau tidak, asal Hoa Thian-hong mati maka hal
ini berarti akan mendapatkan ketidak beruntungan bagi
pihak Sin-kie-pang!”
Karena berpendapat demikian ia segera
mengundurkan diri ke samping dan menanti tiga Hoa
Thian-hong mati karema keracunan.
Giok Theng Hujien memutar biji matanya mendadak ia
tertawa mengejek.
“Tok Cukat benar-benar luar biasa, hanya
mengucapkan dua tiga patah kata saja telah berhasil
melenyapkan ancaman kematian yang bakal menimpa
dirinya. Aaaai ketajaman lidah ternyata memang jauh

lebih hebat daripada kekuatan sepuluh laksa prajurit
bersenjata lengkap.”
Dalam hati Cukat beracun Yauw Sut menaruh
kebencian yang amat sangat, tetapi tidak ia perlihatkan
di luaran, sinar matanya segera dialihkan ke arah Hoa
Thian-hong.
“Sam Tang-kee” terdengar Hoa Thian-Hong berkata
sambil mengangkat Teratai Racun Empedu Api itu ke
atas. “Teratai racun ini kecuali mengandung racun yang
amat keji sama sekali tiada kegunaan lain, aku akan
memintanya kembali.”
“Hmmm! apakah kau hendak membawanya pulang ke
akhirat?” pikir Cia Kim si malaikat berlengan delapan
dalam hati.
Hoa Thian-hong sendiripun tidak menantikan
jawabannya, ia alihkan sinar matanya menyapu sekejap
ke sekeliling tempat itu, tatkala dilihatnya Tiong-si Sam
Houww serta Chin Wan Hong pada menangis terisak, ia
segera menghela napas panjang.
“Aaaai….! cuwi sekalian……………”
Tiba-tiba ia merasa bahwa banyak bicara tiada
kegunaannya, sebelum pemuda itu sempat berbuat
sesuatu badannya terasa tak kuat menahan diri,
mulutnya segera ditutup dan hawa murni diempos keluar
dari pusar untuk melindungi denyutan jantung. Setelah
menentukan arah ia jatuhkan diri berlutut menghadap ke
Barat-laut.

“Hoa kongcu……” terdengar Chin Wan Hong menjerit
sambil menahan isak tangisnya. “Kau………… apakah kau
ada pesan-pesan terakhir yang hendak kau sampaikan?”
Hoa Thian-hong yang berlutut di atas tanah berpikir di
dalam hati.
“Sebetulnya aku hendak titip kabar kepada seseorang
untuk disampaikan kepada ibuku, tapi aku takut
memancing setan masuk pintu hingga rahasia tempat
persembunyian ibuku ketahuan. Aaaai….! setelah aku
mati ibupun tak dapat hidup lebih jauh, lebih baik kita
anak dan ibu berjumpa di alam baka saja!”
Karena berpikir hegitu ia lantas gelengkan kepala dan
mulai kemak-kemik mencoba doa.
Suasana di kalangan pada saat itu hening….. sunyi……
tak kedengaran seorang manusiapun yang buka suara,
Tiong-si Sam Houww serta Chin Wan Hong pun hanya
menangis terisak, seakan-akan semua orang tidak ingin
mengganggu doanya yang terakhir.
Angin malam berhembus lewat menerbitkan bunyi lirih
yang memilukan hati, perasaan sedih dan iba hampir
menyelimuti sebagian orang yang hadir di situ.
Beberapa saat kemudian Hoa Thian-hong telah selesai
berdoa, tampak ia menjalankan penghormatan beberapa
kali kemudian memasukkan Teratai Racun Empedu api
itu ke dalam mulutnya, setelah dikunyah-kunyah segera
di telan ke dalam perut.

Tampaklah si harimau ompong nenek tua she Tiong
mendepak-depakan kakinya ke atas tanah, jeritnya keras,
“Yaaan ampuh.. Oooh Thian, habis sudah.”
Ia duduk mendeprok di atas tanah dan menangis
tersedu-sedu.
Beberapa saat kemudian sekujur badan Hoa Thianhong
mengejang keras, sambil berbaring di atas tanah ia
berguling ke sana ke mari mulutnya merintih kesakitan
dan beberapa gumpal darah kental berwarna hitam
muntah keluar dari mulutnya.
Dalam waktu singkat sernua orang yang hadir dibikin
saling berpandangan dengan wajah muram, si harimau
pelarian Tiong Liauw, si harimau bisu Tiong Long serta
Chin Wan Hong sama sama jatuhkan diri berlutut di atas
tanah dan menangis pilu.
Pemandangan itu benar benar menyedihkan hati
setiap orang, kendati sekawanan orang orang hek-to
yang biasanya membunuh orang tanpa berkedip saat itu
ikut merasa beriba hati.
Pek Kun-gie pertama-tama yang putar badan masuk
ke dalam ruang perahunya dengan kepala tertunduk,
Giok Theng Hujien serta dara berbaju Ungu itu saling
berpandangan sekejap lalu meloncat kembali ke atas
perahunya, sedangkan Cukat beracun Yauw Sut yang
merasa uringin segera menjura ke arah malaikat
berlengan delapan Cia Kim lalu dengan membawa anak
buahnya kembali ke atas perahu.

Malaikat berlengan delapan Cia Kim tahu bahwa Hoa
Thian-hong pasti akan menemui ajalnya, melihat pemuda
itu mengerang kesakitan di atas tanah sambil bergulinggulingan
dalam hati timbul perasaan tidak tega ia segera
maju ke depan sambil mengirim satu pukulan.
Chin Wan Hong yang berlutut di sisinya jadi kaget dan
berseru tertahan ketika menyaksikan kejadian itu, ia
menubruk ke depan menutupi badan Hoa Thian-hong
dengan tubuhnya lalu jeritnya keras-keras, “Jangan lukai
dirinya!”
Si Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertegun,
setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya ia
berkata, “Aku berbuat demikian karena bermaksud baik!”
Setelah merandek ia menghela napas panjang,
tambahnya, “Sayang di sini bukanlah wilayah Biauw,
kalau tidak kita bisa mohon bantuan diri Kioe Tok Sian
Cie ….”
Sikap serta keadaan diri Chin wan Hong sama sekali
berubah, seakan-akan telah berubah jadi seseorang yang
lain, ia mendongak dan bertanya dengan wajah
termangu-mangu.
“Kenapa kalau ada Mioe Tok Sian cie?”
Malaikat berlengan delapan Cia Kim tertawa kering.
“Kioe Tok Sian Cie adalah seorang ahli di dalam
menggunakan racun, tapi kalau ia harus menjumpai

korban karena makan Teratai Racun Empedu Api…. aku
rasa walaupun dewa turun dari kahyanganpun tidak nanti
bisa menyelamatkan jiwanya.”
Lama sekali Chin Wan Hong berdiri termangu-mangu,
mendadak selintas keteguhan hati berkelebat di atas
wajahnya.
“Aku akan coba pergi mencari dirinya!” ia berseru.
Dengan sepasang tangannya ia membopong tubuh
Hoa Thian-hong kemudian berjalan menuju tepi sungai.
Menyaksikan tingkah laku dara ayu itu, di dalam hati
kecilnya si malaikat berlengan delapan lantas berpikir,
“Rupanya si gadis ini menaruh rasa cinta terhadap diri
Hoa Thian-hong, cuma saja merasa pemuda itu masih
dalam keadaan sehat ia tidak sampai perlihatkan
perasaannya itu.”
Melihat sinar matanya kabur dan tidak tenang, dengan
sikap yang limbung dara itu berjalan menuju ketepi
sungai, sepasang alisnya kontan berkerut, teriaknya,
“Nona, jarak dari tempat ini menuju ke wilayah Biauw
amat jauh sekali, kalau aku ingin berjalan menuju ke situ
sampai di tengah hutanpun belum tentu tiba di tempat
tujuan, lebih baik urungkan saja niatmu itu!”
“Aku akan pergi mencobanya!” jawab Chin Wan Hong
singkat. Jelas kesadaran otaknya telah kabur dan
separuh hilang, tanpa memandang atau melirik ia
langsung meloncat naik ke atas perahu besar di mana si
Cukat beracun Yauw Sut berada.

Tiong-si Sam Houww yang semalam ini selalu
dirundung kesedihan dan menangis tiada hentinya kini
baru mendusin dari kepedihan hatinya, mereka
terperanjat dan buru-buru mengejar ke depan ikut
meloncat naik ke atas perahu besar.
Tok-Cukat Yauw Sut serta Pek Kun-gie sekalian melirik
sekejap ke arah Chin Wan Hong kemudian memandang
pula ke arah Hoa Thian-hong yang berada di dalam
bopongannya.
Tampaklah si anak muda itu berada dalam keadaan
meram dan tak berkutik, darah kental berwarna hitam
masih mengucur keluar tiada hentinya, sepintas lalu
kelihatannya ia sudah putus nyawa.
Karena itu setelah melirik sekejap ke arah mereka,
orang-orang itu segera alihkan pandangannya ke arah
lain dan tidak memperdulikan keempat orang itu lagi.
Beberapa saat kemudian perahu mulai bergerak
tinggalkan tepian, sementara perahu besar yang
ditumpangi Giok Theng Hujien berlayar menjauhi tempat
kejadian, ketiga buah perahu dari perkumpulan Sin-kiepang
bergerak menuju ke tepi seberang.
Si harimau pelarian Tiong Liauw yang menjumpai Chin
Wan Hong sambil membopong tubuh Hoa Thian-hong
berdiri di ujung perahu, di mana tubuhnya bergoncang
dan sempoyongan tiada hentinya, seakan akan setiap
saat kemungkinan besar bisa tercebur ke dalam sungai,

hatinya jadi tidak tega, ia segera maju menghampiri
sambil katanya.
“Nona, biarlah aku yang membopong tubuh Hoa sauw
ya!”
“Tidak usah!” sahut Chin Wan Hong sambil
menggeserkan tubuhnya satu langkah ke samping.
Si harimau pelarian Tiong Liauw terperanjat, karena
takut gadis itu tercebur ke dalam sungai terpaksa diamdiam
ia memperhatikan dan mengawasi gerak-geriknya
di samping dara tersebut, mulutnya tetap membungkam
dalam seribu bahasa.
Perahu dengan cepatnya merapat di tepi pantai,
semua orang telah berloncatan naik ke darat tapi Chin
Wan Houg masih berdiri termangu-mangu di ujung
perahu, menanti Tiong-si Sam Houw menegur dirinya ia
baru membopong tubuh Hoa Thian-hong dan melangkah
turun dari atas perahu tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
Tiga ekor harimau dari keluarga Tiong jadi kelabakan
dibuatnya, terpaksa mereka menguntil terus di
belakangnya.
Pemuda yang dahulu bernama Hong-po Seng dan kini
bernama Hoan Thian-hong itu, setelah menelan Teratai
Racun Empedu Api seluruh darah segar di dalam
tubuhnya telah berubah jadi cairan beracun, daya kerja
racun jarum sakti penembus tulang yang dihadiahkan
Pek Siauw-thian di atas bahunya sudah tidak

menunjukkan arti yang dalam lagi, racun tersebut
bagaikan tetesan air di tengah samudra lenyap
kegunaannya.
Meski demikian jantung Hoa Thian-hong masih
berdetak dan badannya masih terasa hangat, seakanakan
Thian tidak tega untuk mencabut kembali jiwanya
dan memberi kesempatan kepada si anak muda ini untuk
meronta dan berjuang untuk menentang maut.
Meskipun Chin Wan Hong hanya sempat bertemu
sebanyak tiga kali dengan si anak muda itu dan saat
berkumpul mereka hanya beberapa hari saja, tetapi
berhubung watak yang sama dan di antara mereka
terasa ada kecocokan, maka dalam hati kecilnya yang
ramah, halus dan penuh welas itu telah tumbuh benih
cinta yang mendalam, cuma saja ia tak herani
mengutarakan rasa cintanya itu di luaran.
Tetapi benih cinta yang telah tumbuh dalam hatinya
kian lama kian bertambah besar, ia merasa tak dapat
membendung perasaan hatinya itu. Hingga akhirnya Hoa
Thian-hong berada di ambang maut, dalam keadaan
begini semua halangan dan rintangan yang mengganjal
hatinya lenyap dan tersingkirkan dengan sendirinya,
tanpa ia sadari rasa cinta yang terpendam selama inipun
terutarakan keluar.
Sepanjang pejalanan Chin Wan Hong serta Tiong-si
Sam Houww berada di depan sedangkan Cukat beracun
Yauw Sut dengan memimpin anak buah perkumpulan
Sin-kie-pangnya membuntut di belakang, memandang
bayangan punggung beberapa orang itu entah

bagaimana secara tiba-tiba Pek Kun-gie merasakan
dirinya seolah-olah telah kehilangan sesuatu.
Sesudah termangu-mangu sesaat lamanya, mendadak
Oh Sam yang mengikuti di belakangnya ia berseru,
“Bawa kereta dan hantar mereka menuju ke tempat
tujuan, setelah mengubur Hong-po………… Hoa Thianhong
nanti, coba kau bereskan dan aturlah diri mereka
sehingga beberapa orang itu terhindar dari pelbagai
kesulitan!”
Oh Sam mengiakan, dengan cepat ia berlalu dari situ.
Tatkala Chin Wan Hong sekalian telah melakukan
perjalanan sejauh beberapa li, Oh Sam dengan keretanya
telah menyusul tiba segera ujarnya, “Nona Chin! kalian
mau pergi kemana? mari cayhe hantar kalian sampai di
tempat tujuan.”
Kegagahan serta kehebatan yang ditinggalkan Hoa
Thian-hong telah membuat orang ini bersikap sangat
hormat terhadap diri Chin Wan Hong.
Terdengar Chin Wan Hong menjawab dengan sikap
bimbang, “Kami akan menuju ke wilayah Biauw,
perjalanan yang amat jauh sekali!”
“Aaaai…..nona ini tentu sudah gila karena rasa sedih
yang kelewat batas” pikir Oh Sam dalam hati Sesudah
tertegun sejenak ia lantas berseru, “Naiklah dulu ke atas
kereta, setibanya di kota Keng-Chiu nanti boleh kau
lanjutkan kembali perjalanan!”

Pikiran Chin Wan Hong pada saat ini telah kalut dan
kacau balau, ia cuma tahu secepatnya pergi ke wilayah
Biauw, oleh sebab itu sehabis mendengar tawaran tadi
tanpa berpikir panjang ia segera menerobos masuk ke
dalam ruang kereta.
Si Harimau pelarian Tiong Liauw yang menyaksikan
kejadian itu, tanpa berpikir panjangpun ikut meloncat
masuk ke dalam ruang kereta. Si nenek tua she-Tiong
serta putranya Tiong Long pun terpaksa ikut masuk ke
dalam kereta.
Perjalanan menuju ke arah Selatan dilakukan dengan
sangat cepat, sepanjang perjalanan Oh Sam selalu
menyediakan makanan dan minuman yang cukup
pelayanannya terhadap beberapa orang ini ternyata baik
dan sangat ramah.
Setelah lewat beberapa hari rasa sedih yang
mencekam Tiong-si Sam Houww mulai berkurang,
kejernihan otak merekapun sudah pulih kembali seperti
sedia kala, hanya Chin Wan Hong seorang yang
pikirannya tetap kabur dan tidak beres, setiap hari baik
siang maupun malam ia selalu mendampingi Hoa Thianhong,
tak sepatah katapun diucapkan dan sikapnya tetap
termangu-mangu terus.
Dalam pikiran Oh Sam semula, setelah ia menghantar
mereka sampai di kota Keng-chiu maka pikiran serta
kejernihan otak Chin Wan Hong telah pulih kembali
seperti sedia kala, sehabis mengubur jenazah Hoa Thianhong
maka tugasnyapun akan selesai.

Siapa tahu setelah melakukan perjalanan selama
beberapa hari, ia temukan bahwasanya Hoa Thian-hong
yang nampaknya sudah mati itu ternyata napasnya
belum putus dan jantungnya masih berdetak meski amat
lemah sekali, ia jadi terkejut bercampur keheranan.
Dalam keragu-raguannya kereta dilarikan semakin cepat
lagi langsung menuju ke dalam wilayah Biauw.
Haruslah diketahui letak wilayah Biauw amat terpencil
sekali dan berada di arah Barat daya, jaraknya dari
Tionggoan kira-kira ada satu dua laksa li, begitulah
dengan tanpa banyak komentar dan banyak bicara
kelima orang itu sambil mengawal Hoa Thian-hong yang
hampir sekarat meneruskan perjalanan siang dan malam,
kurang lebih satu bulan kemudian akhirnya sampailah
mereka di tempat tujuan.
Siang itu kereta memasuki wilayah Hek Hong Tong,
Oh Sam pun segera menghentikan lari kudanya dan
membuka pintu kereta, kepada Chin Wan Hong ujarnya,
“Nona, antara perkumpulan Sin-kie-pang dengan Kioe
Tok Sian Cie pernah mengadakan perjanjian bahwa
orang-orang dari perkumpulan kami tidak diperkenankan
melewati wilayah Hek Hong Tong, karena itu maafkanlah
diri cayhe apabila tak bisa menghindar perjalanan kalian
lebih lanjut!…..”
Mendengar perkataan itu Chin Wan Hong segera
membopong tubuh Hoa Thian-hong dan meloncat keluar
dari dalam kereta.
“Terima kasih atas pertolonganmu!” serunya dengan
sinar mata liar menyapu sekejap sekeliling tempat itu,

kemudian tambah nya, “Di manakah Kioe Tok Sian Cie
itu?”
“Aaai….. penyakit yang diderita nona ini entah bisa
sembuh atau tidak?” batin Oh Sam di dalam hati.
Ia segera mjnuding ke arah gua-gua suku Siauw yang
berada di bagian depan sahutnya, “Setelah melewafi
gua-gua itu berangkatlah menuju ke arah Selatan dan
carilah letak sebuah selat yang disebut selat Hoe-Hiang-
Kok, di situlah Kioe-Tok Stan-Cie berdiam!”
“Terima kasih atas bantuanmu,” Chin Wan Hong
mengangguk. “Setelah penyakit yang diderita Hoa
Kongcu sembuh, aku pasti akan suruh dia mengucapkan
rasa terima kasihnya kepadamu.”
Rupanya gadis ini merasa amat gelisah dan tergesagesa,
sehabis mengucapkan kata-kata itu ia segera
berjalan menuju ke daerah perumahan suku Biauw,
kepala tidak di paling dan ia sama sekali tidak
memperdulikan apakah Tiong-si Sam Houww mengikuti
dibelakangnya atau tidak.
Nenek tua she-Tiong merasa tidak tega, cepat-cepat ia
memburu ke depan dan mengikuti di belakangnya.
Oh Sam menghela napas panjang dan alihkan sinar
mata ke arah si Harimau Pelarian Tiong Liauw.
Seorang tua itu segera menjura dan mengucapkan
rasa terima kasihnya atas jerih payah Oh Sam dalam
menghantar mereka selama ini, kemudian dengan

membawa putranya mengejar sang istri serta Chin Wan
Hong yang telah menjauh,
Pergaulan yang lama di antara mereka berempat
ditambah pula rasa terima kasih serta hutang budi dari
Tiong-si Sam Houw terhadap Hoa Thian-hong, membuat
ketiga orang itu tanpa sudah telah menganggap Chin
Wan Hong sebagai majikan mereka, sepanjang
perjalanan si harimau ompong nenek tua she Tiong itu
tak pernah berpisah sejengkalpun dari gadis tersebut,
pelayanannya amat baik dan teliti.
Setelah mencari keterangan mengenai letak selat Hoe
Hiang Kok, berangkatlah ke-empat orang itu menerobosi
Hek Hong Tong dan menuju ke arah selatan…
Kiranya selat Hoe Hiang Kok letaknya berada di
tengah-tengah wilayah Biauw, sesudah melakukan
perjalanan siang malam selama tiga hari, akhirnya
tempat tujuanpun berada di depan mata.
Tampaklah di hadapan mereka terbentang samudra
bunga yang amat luas, bunga yang beraneka warna
menyiarkan bau harum yang semerbak, di tengah
tumbuhan bunga tampak sebuah jalan kecil
menghubungkan tempat itu dengan selat Hoe Hiang Kok,
selain itu tidak nampak jalan lain lagi.
Tiong-si Sam Houw jadi sangat kegirangan, sebaliknya
Chin Wan Hong tetap bersikap kaku dan murung,
perjalanan siang malam yang dilakukan dengan susah
payah selama ini ditempuhnya dengan gigih tanpa
melepaskan tubuh Hoa Thian-hong barang sekejappun,

ia tidak membiarkan tubuh pemuda itu dibopong oleh
siapapun.
Kini gadis itupun tidak berdiam terlalu lama di sana,
setelah merandek sejenak ia segera lanjutkan
perjalanannya memasuki hutan bunga tersebut.
Siapa tahu belum sampai beberapa ratus tombak
mereka berjalan, mendadak keempat orang itu
merasakan badannya jadi limbung dan tak terhindar lagi
secara beruntun mereka roboh terjengkang ke atas tanah
dan jatuh tak sadarkan diri.
Kiranya sepuluh li di sekitar samudra bunga ini disebut
barisan Hoe-Hiang-Tin, semua jago lihay yang
bagaimana dahsyatpun ilmu silatnya setelah melewati
daerah tersebut pasti akan keracunan dan jatuh tidak
sadarkan diri.
Chin Wan Hong sekalian berada dalam keadaan sedih
dan punya pikiran yang mengganjal di dalam hati,
ditambah pula tenaga lwekangnya amat cetek, hal ini
tentu saja semakin memperlemah keadaan mereka, oleh
sebab itu belum jauh mereka berjalan beberapa orang itu
sudah roboh tak sadarkan diri.
Kurang lebih setengah jam kemudian, dari balik
pepohonan yang lebat muncul beberapa orang gadis
suku Biauw dengan gerakan cepat bagaikan kilat….
Sungguh cepat gerakan tubuh mereka, dalam sekejap
mata mereka sudah berdiri di sisi Chin Wan Hong.
Terdengar ucapan Kukulala-kukulala yang tidak

dimengerti bergema memecahkan kesunyian, diikuti
orang-orang itu membopong mereka berempat dan
bergerak masuk ke dalam selat.
Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki beberapa orang
gadis muda itu sangat lihay, belum sampai seperminum
teh samudra bunga sudah dilewati dan mereka langsung
menuju ke dalam selat yang terkurung bukit.
Di dalam selat terdapat sebuah tanah lapang yang
luas, bagian yang dekat dengan pintu luar penuh
ditanami bunga-bungaan yang aneh dan beraneka
ragam, setelah memasuki sebuah tebing terlihatlah
sebuah lapangan berbentuk lingkaran bulan yang
berdempetan dengan dinding tebing yang terjal, di
bawah dinding terdapat sebuah pintu gua berbentuk
bulat, di sisi pintu besar tadi terdapat pula empat buah
gua bulat yang jauh lebih kecil dan teratur rapi.
Sementara itu sekelompok perempuan-perempuan
berwajah cantik sedang berkumpul di tengah lapangan,
di tengah kebun terdapat pula sekelompok gadis sedang
menyirami bunga, ketika menyaksikan ada orang asing
dibawa masuk mereka segera berseru nyaring dan samasama
meninggalkan pekerjaannya untuk berkerumun,
beberapa saat kemudian mereka membawa Chin Wan
Hong sekalian yang tak sadarkan diri itu masuk ke dalam
gua besar.
Ruangan di dalam gua itu tinggi dan luas, udara terasa
amat dingin, tepat berhadapan dengan pintu masuk
terletak sebuah pembaringan terbuat dari batu pualam
yang luas, di sisi pembaringan batu itu berderet dua

belas buah bantalan bulat yang terbuat dari batu pualam
juga.
Pada saat itu di atas pembaringan duduk seorang
perempuan muda suku Biauw yang berwajah amat
cantik, bertangan telanjang, berdada terbuka sehingga
nampak buah dadanya dan berpakaian sangat minim,
sedang di atas bantalan yang berjumlah dua betas buah
itu duduk beberapa orang gadis.
Begitu tubuh Chin Wan Hong sekalian dibaringkan ke
atas tanah, perempuan muda suku Biauw yang duduk di
atas pembaringan itu segera membuka matanya dan
menatap wajah Hoa Thian-hong tajam-tajam, kemudian
ia loncat turun dari pembaringan dan mengucapkan
sepatah kata bahasa Biauw.
Setelah itu dengan tangannya yang putih mulus dan
halus itu ia membuka kelopak mata Hoa Thian-hong
untuk diperiksa sejenak kemudian memegang pula
denyutan nadi si anak muda itu.
Beberapa saat kemudian seorang gadis dengan
membopong sebuah guci yang penuh berisikan cairan air
obat berwarna merah tawar berjalan masuk ke dalam
gua, dengan menggunakan sebuah cawan kecil dara tadi
menyedu air obat kemudian diguyurkan ke dalam mulut
Chin Wan Hong serta Tiong-si Sam Houw.
Suasana di dalam gua berubah jadi sunyi senyap tak
kedengaran sedikit suarapun, berpasang-pasang biji
mata yang jeli sama-sama diarahkan ke atas wajah
beberapa orang yang belum sadarkan diri itu.

Di antara mereka hanya sepasang mata perempuan
muda itu saja yang ditujukan ke atas wajah Hoa Thianhong,
sambil memeriksa denyutan nadinya air muka
perempuan itu tampak berubah hebat dan menundukkan
rasa terkejut bercampur tercengang.
Lewat seperminum kemudian secara beruntun Chin
Wan Hong serta Tiong-si Sam Houw telah siuman
kembali, Seakan-akan otaknya secara mendadak berubah
jadi tajam dan pandai, begitu membuka matanya gadis
she Chin itu segera menuju sekejap sekeliling tubuhnya
kemudian meloncat bangun dan jatuhnya diri berlutut di
hadapan perempuan muda suku Biauw itu.
Tiong-si Sam Houw yang menyaksikan perbuatan dari
iru tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka juga
meloncat bangun dan jatuhnya dari berlutut di atas
tanah.
Perempuan muda suku Biauw alihkan sinar matanya
menyapu sekejap ke arah empat orang itu, kemudian
melepaskan cekalannya pada nadi Hoa Thian-hong dan
kembali duduk di atas pembaringannya.
Chin Wan Hong segera maju ke depan dan berlutut
kembali di hadapan perempuan itu tak sepatah katapun
yang diucapkan keluar.
Mendadak tampaklah perempuan muda itu
mengerutkan alisnya, lalu menegur, “Hey bocah
perempuan, kenapa kau berlutut dan angguk-anggukkan
kepalamu tiada hentinya?”

Bahasa Han yang digunakan ternyata lancar dan amat
jelas sekali untuk didengar.
Chin Wan Hong tertegun, diikuti dengan air mata
bercucuran dan menahan isak tangis yang makin menjadi
sahutnya, “Siauw-li bernama Chin Wan Hong, kami
datang untuk menyambangi Kioe Tok Sian…… untuk
menyambangi Kioe Tok Sian Nio!”
Perempuan muda suku Biauw itu tersenyum “Akulah
Kioe-Tok Sian-Ci! kedatanganmu kemari apakah
disebabkan karena hendak menolong jiwa bocah itu?”
Sambil berkata ia tuding ke arah tubuh Hoa Thianhong.
Begitu mendengar bahwasanya perempuan yang
berada di hadapannya adalah Kioe-Tok Sian-Cie, gadis
she-Chin itu segera anggukkan kepalanya berulang kali.
“Sian-Nio! tolonglah selembar jiwanya, sekalipun
siauw-li harus menyeberangi samudra api dan mendaki
gunung golok, aku pasti akan membalas budi kebaikan
dari Sian-Nio!”
Tiong-si Sam Houww berlutut di sisinya, si harimau
pelarian Tiong Liauw serta si harimau ompong nenek tua
she-Tiong mengucurkan air mata tiada hentinya, bibir
mereka berkemak-kemik seperti mau ikut berbicara tapi
tak sepatah katapun yang meluncur keluar kegelisahan
serta kecemasan yang tertera di atas wajah mereka sulit
untuk dilukiskan dengan kata-kata.

Air muka Kioe-Tok Stan-Ci berubah jadi amat murung
dan membesi, seolah-olah dia pun telah menjumpai
suatu masalah yang amat menyulitkan dirinya, setelah
tundukan kepala termenung beberapa saat lamanya tibatiba
ia gelengkan kepalanya berulang kali.
“Sian Niol” seru Chin Wan Hong dengan air mata
bercucuran. “Ia sudah terkena ja
rum beracun pengunci sukma milik Sin-kie-pangcu,
kemudian menelan pula Teratai Racun Empedu Api.
Tolonglah selembar jiwanya Sian-Nio! Berbuatlah welas
dan usahakanlah penyembuhan baginya.”
“Aaah! Ternyata benar, disebabkan karena benda itu,”
bisik Kioe-Tok Sian-Cie sambil alihkan sinar matanya dan
melirik sekejap ke arah Hoa Thian-hong yang berbaring
di atas tanah.
Bibirnya kembali bergerak seperti mau mengucapkan
sesuatu, tapi setelah lama sekali termenung akhirnya
dengan wajah serius ia baru berkata, “Terus terang saja
kukatakan kepadamu, dewasa ini pemuda ini masih
berada dalam keadaan hidup atau telah mati, aku sendiri
pun tidak jelas. Aku tak bisa menyelamatkan jiwanya,
darimana bisa kukabulkan permintaanmu itu?”
“Sian-Nio! Kau pasti bisa menyelamatkan jiwanya,
tolonglah……” seru Chin Wan Hong lagi dengan air mata
bercucuran.
Kioe-Tok Sian-Cie segera tersenyum.

“Kau si bocah perempuan benar-benar amat bodoh,
andaikata suku bisa menyelamatkan jiwa rekanmu itu,
maka aku tak akan disebut Kioe Tok Sian Cie si Dewi
cantik sembilan Bisa!”
“Kenapa?” dara she Chin itu dengan mata melotot
bulat.
“Bukankah aku lebih baik disebut Sip Tok Sian Cie si
dewi cantik sepuluh Basa?”
Para gadis muda yang duduk di atas bantalan batu
pualam itu kesemuanya adalah anak murid Kioe Tok Sian
Cie, mereka semua mengerti akan bahasa Han karena itu
sehabis mendengar perkataan gurunya tak tertahan
mereka semua tertawa geli.
Tiba-tiba terdengar gadis yang duduk di atas batubatu
bantalan batu pualam dekat dengan pembaringan
itu berseru, “Hay, Chin Wan Hong, apakah pemuda itu
adalah kekasihmu?”
Gadis suku Biauw biasanya polos dan tidak
pemandang terlalu ketat akan hubungan antara pria dan
wanita, pertanyaan ini musti diutarakan amat terbuka
dan bukan dibuat tapi segera membuat Chin Wan Hong
jadi tersipu, wajahnya berubah jadi merah padam,
kepalanya tertunduk rendah-rendah dan tak sepatah
katapun yang sanggup diutarakan keluar!”

“Lan Hoa! jangan banyak bicara,” tukas Kioe Tok Sian-
Cie dengan cepat. “Aku tak sanggup menyelamatkan
orang, banyak bertanya malah terasa rada tidak enak!”
“Suhu, tecu amat senang dengan Chin Wan Hong ini!”
seru gadis yang bernama Lan Hoa itu sambil tertawa.
“Kita tak sanggup menyelamatkan jiwa orang,
senangpun tak ada gunanya!”
Pembicaraan tersebut dilakukan dengan bahasa Han,
dengan sendirinya Tiong-si Sam Houw dapat menangkap
artinya dengan jelas.
Si nenek tua she Tiong yang berjulukan harimau
ompong adalah seorang yang berjiwa terbuka, apa yang
ia pikirkan selalu diutarakan tanpa dipikir lagi. Kini ia tak
kuasa menahan diri segera serunya, “Sian-Nio! kau toh
belum turun tangan untuk mencoba darimana bisa tahu
kalau jiwa Hoa sauw-ya tak bisa tertolong lagi? bilamana
kau tak sudi untuk menolong jiwanya, kamipun tak bisa
banyak bicara, sebaliknya kalau kau mengatakan tak
sanggup untuk menolong…. julukan Sian-Nio sebagai
Kioe Tok kenapa tidak dikurangi satu menjadi Pat-Tok
Sian-cie saja?…..”
Pat-Tok Sian-Cie adalah dewi cantik delapan bisa.
Pada dasarnya nenek tua ini memang seorang yang
berbuat mengikuti emosi belaka, otaknya sama sekali tak
pernah digunakan. Kini setelah hatinya jadi gelisah
karena jiwa Hoa Thian-hong tak tertolong, ucapan yang

diutarakan keluarpun kedengarannya amat menusuk
perasaan.
Chin Wan Hong jadi gelisah bercampur cemas, ia takut
di dalam gusarnya Kioe-Tok Sian-Cie akan mengusir
mereka keluar dari wilayahnya, karena itu dengan air
mata berlinang kembali menganggukkan kepalanya
berulang kali.
Sebetulnya Kioe-Tok Sian-Cie serta anak muridnya
merasa amat terharu oleh kesedihan hati Chin Wan
Hong, apa daya racun Teratai Empeau Api itu memang
sulit di tolong, maka dalam keadaan serba salahnya
iapun tak mengerti harus berbuat apa.
Mendadak terdengar si Harimau Pelarian Tiong Liauw
berkata, “Sian Nio! kongcu ini bernama Hoa Thian-hong,
dia adalah putra tunggal dari Hoa Goan Sioe yang amat
tersohor namanya di masa lampau, memandang di atas
keluhuran budi serta kegagahan perjuangan ayahnya
ulmarhun sudilah kiranya Sian Nio coba-coba menolong
jiwanya. Andaikata jiwanya benar-benar bisa dihidupkan,
maka dalam Bulim entah ada berapa banyak orang yang
akan berterima kasih kepada Sian Nio!”
Dengan sepasang alis berkerut kencang sekali lagi
Kioe Tok Sian Cie melirik sekejap ke arah Hoa Thianhong
yang menggeletak di atas tanah.
“Hoa Goan Sioe orang ini aku sih tahu,” sahutnya.
“Aku dengar dia adalah seorang enghiong yang bijaksana
dan pemberani!”

Gadis yang bernama Lan Hoa itu adalah murid
pertama dari Kioe Sok Sian Cie pada saat itu ikut
menimbrung, katanya, “Suhu, mari kita coba-coba
berusaha untuk menolong dirinya, sekalipun usaha kita
gagal juga bukan merupakan suatu kejadian yang
memalukan!!…….”
“Suhu! aku juga merasa tidak puas” seorang gadis
cantik yang lain ikut berseru. “Masa Teratai Racun
Empedu Api adalah benda yang begitu kukoay……….”
Dalam sekejap mata suara-suara timbrungan
bersahut-sahutan memenuhi seluruh ruang gua, bahasa
Han bercampur-baur dengan bahasa Biauw membuat
suasana jadi amat riuh.
Kiranya peraturan perguruan dari Kioe Tok Siin-Cie
tidak terlalu ketat, hubungan di antara guru dan murid
tidak dibatasi oleh pelbagai peraturan yang memusingkan
kepala karena itu dalam pembicaraanpun anak muridnya
sudah terbiasa ikut menimbrung.
Demikianlah di bawah desakan serta seruan anak
muridnya, perempuan muda itu mulai tergerak hatinya,
tanpa sadar semangatnya pun ikut berkobar kembali.
Tiba-tiba terdengar Lan Hoa berseru dengan suara
lantang, “Chin Wan Hong, bagaimana kalau kau angkat
suhu jadi gurumu dan masuk menjadi murid perguruan
kami?”
Dalam keadaan seperti ini yang diharap kan oleh Chin
Wan Hong hanyalah berusaha untuk menolong jiwa Hoa

Thian-hong, mengenai persoalan lain ia sama sekali tidak
dipikirkannya di dalam hati.
Mendengar ucapan itu, buru-buru ia jatuhkan diri
berlutut di hadapan Kioe Tok Sian cie dan menyebut
dirinya sebagai Suhu.
Kioe Tok Sian cie tertegun, kemudian serunya, “Cara
ini tak bisa dilaksanakan, aku dengan orang-orang Bulim
di daerah Tionggoan sama sekali tiada hubungan apapun
juga, tiada dendam juga tak pernah menanam budi
menerima seorang murid sih bukan menjadi soal, yang
kutakuti justru terpancingnya banyak kesulitan dan
kerepotan bagi diri kita!”
“Suhu, kau tak usah kuatir,” sela Lan-Hoa dengan
cepat. “Ada baiknya kalau kita terima seorang gadis
bangsa Han sebagai murid dengan begitu kamipun ada
teman untuk diajak bermain. Andaikata dikemudian hari
bakal terjadi kerepotan, biarlah aku yang menghadapi
seorang diri.”
“Chin Wan Hong!” terdengar seorang gadis yang lain
ikut menimbrung dari samping. “Setelah kau masuk jadi
anggota perguruan kami dan diangkat suhu kami sebagai
gurumu, maka kau harus berganti pakaian dengan
dandanan suku Biauw kami.”
Buru-buru Chin Wan Hong anggukkan kepalanya.
“Siauw moay pasti akan berganti pakaian dengan
dandanan suku Biauw, tapi mohonlah suhu serta cici

sekalian suka menyelamatkan selembar jiwa Hoa kongcu
terlebih dulu!”
Menghadapi kejadian seperti ini Kioe Tok Sian Cie
merasa sedih dan serba salah, pikirnya, “Bocah
perempuan ini sangat bagus dan berbakat baik,
menerima dirinya sebagai anak murid memang
merupakan suatu kejadian yang sangat indah, tetapi
Teratai Racun Empedu Api adalah racun keji yang tak
dapat dipunahkan, aku harus menyelamatkan jiwanya
dengan cara apa?”
“Suhu! mari kita gunakan dulu Katak buduk kumala
untuk dicobakan!” teriak Lan Hoa segera tiba-tiba,
sehabis berkata dengan gerakan cepat ia lari masuk ke
dalam gua.
Diam-diam Kioe Tok Sian Cie gelengkan kepalanya
berulang kali, ia belum sempat mengambil sesuatu
keputusan mengenai masalah ini, tetapi kepada seorang
anak muridnya yang ada di sana serunya juga, “Lie Hoa,
keluarkan dahulu secawan darah segar dari bocah itu!”
Dara ayu yang bernama Lie Hoa itu tertawa cekikikan,
setelah mengambil sebuah cawan ia mengangkat tangan
Hoa Thian-hong lalu dengan sebatang tusuk konde
diguratnya urat nadi di tangan si anak muda itu,
segumpal darah kental yang berwarna hitam dan amat
beracun segera mengalir ke dalam cawan tersebut.
Menyaksikan darah kental itu Kioe-Tok Sian-Cie
gelengkan kepalanya berulang kali sambil menghela
napas panjang.

“Aaaai….! sungguh keanehan alam yang sukar diduga
dengan akal manusia….aku si ahli dalam hal ilmu
beracun pun rasanya harus mengundurkan diri………….”
Lan Hoa yang kebetulan berjalan menghampiri
suhunya sambil membawa sebuah kotak pualampun
segera menjulurkan lidahnya setelah menyaksikan darah
kental berwarna hitam yang mengalir keluar dari tubuh
Hoa Thian-hong itu, ujarnya, “Suhu, racun keji telah
menyebar luas ke seluruh tubuh orang ini, tetapi ia tidak
sampai menemui ajalnya dan tetap hidup di dunia,
sebenarnya apa yang telah terjadi?”
“Aku sendiripun tidak mengerti, aaai! bagaimanapun
juga mulai detik ini nada ucapan kalian harus sedikit
diperkecil dari semula.”
Lan Hoa tertawa cekikikan, ia segera membuka kotak
pualam itu dan mengambil keluar sebuah katak buduk
yang terbuat dari batu pualam serta bercahaya terang.
Setelah menerima katak buduk pualam itu Kioe Tok
Sian-Cie mencelupkannya ke dalam cawan dimana
terdapat darah beracun yang mengalir keluar dari tubuh
Hoa Thian-hong kemudian sambil berpaling ke arah Chin
Wan Hong tanyanya, “Kapankah dia menelan Teratai
racun empedu api itu?”
“Empat lima puluh hari berselang, selama ini ia selalu
berada dalam keadaan tidak sadar dan tak pernah pula
makan-makanan apapun juga, entah dia merasa lapar
atau tidak?”

Sementara itu semua orang telah mengerubung di
sekeliling tempat itu, bisikan-bisikan lirih dan seruan
keheranan berkumandang tiada hentinya di sekitar sana,
hal ini membuat Chin Wan Hong serta Tiong-si Sam
Houww merasa hatinya amat tegang dan tidak tenteram.
Lewat beberapa saat kemudian, Kioe-tok Sian-Cie
ambil keluar “Katak buduk pualam” nya dari dalam
cawan.
“Suhu, apakah bisa ditolong?” buru-buru Chin Wan
Hong bertanya.
Kioe-Tok Sian Cie menggeleng.
“Katak buduk kumala ini adalah suatu benda mustika
yang sangat langka dalam dunia, asal di dalam darah
mengandung racun maka ia dapat menghisapnya keluar,
tetapi setelah berjumpa dengan Teratai Racun Empedu
Api ternyata binatang ini sudah kehilangan daya
kemampuannya yang hebat.”
000O000
13
“SUHU! di dalam katak buduk kumala itu terdapat
beberapa buah garis berwarna hitam” mendadak Lie Hoa
berseru. Menurut pandangan tecu, binatang ini masih
ada sedikit kegunaannya!”

Mengikuti pembicaraan tersebut, Chin Wan Hong ikut
mengalihkan sinar matanya ke arah binatang itu.
Tampaklah “Katak buduk pualam” tersebut setelah
direndam beberapa saat di dalam darah bercampur
racun, tubuhnya masih putih bersih dan bercahaya, cuma
di antara tubuhnya bertambah dengan beberapa buah
jalur berwarna hitam, jelas garis itu semula tidak
terdapat disitu.”
“Itulah racun keji dari jarum sakti pengunci sukma
yang dilepaskan oleh Pek Siauw-thian,” terdengar Kioe-
Tok Sian-Cie menerangkan, setelah merandek sejenak
tambahnya, “Perduli bagaimanapun juga. “Katak bu duk
pualam” ini ada kegunaannya dan tidak mencelakai,
baiklah kita coba lebihlan jut!”
Ia segera memerintahkan anak muridnya untuk
memegangi katak buduk pualam itu dan ditempelkan di
atas mulut luka yang terdapat di urat nadi pergelangan
tangan Hoa Thian-Hong.
Lama sekali perempuan muda suku Biauw itu
termenung, kemudian ujarnya lagi, “Chin Wan Hong,
apakah kau bersungguh hati hendak mengangkat diriku
sebagai gurumu? apakah kau tidak merasa menyesal?”
Chin Wan Hong anggukkan kepalanya.
“Tecu sudah mengangkat suhu sebagai guruku,
sampai matipun tecu tidak akan menyesal.”
“Meskipun aku mempunyai sekelompok anak murid”
diam-diam Kioe-Tok Sian-Cie berpikir d idalam hati.

“Tetapi tak seorangpun yang bisa menandingi kebagusan
serta kebolehan dari bocah perempuan ini, menerima
seorang gadis bangsa Han sebagai muridku pun tidak
mengapa, bukan saja menambah jumlah muridku bahkan
kemungkinan besar ia bisa mengangkat nama perguruan
di kemudian hari…. hitung-hitung tindakanku ini berarti
juga sekali tepuk dapat dua lalat.”
Rupanya jago lihay dari wilayah Biauw yang pandai
menggunakan racun ini sudah dibuat tertarik oleh bakat
bagus yang dimiliki Chin Wan Hong, di samping itu
diapun mengagumi akan keteguhan hati serta kebulatan
tekad sang dara itu di dalam usahanya untuk mencarikan
keselamatan bagi rekannya, ditambah pula ia merasa
agak kalang kabut menghadapi teratai racun empedu
api, hingga menimbulkan nafsu ingin menangnya.
Karena disadari oleh pelbagai faktor dan alasan itulah,
Kioe-Tok Sian-cie segera mengerahkan segenap
kemampuannya untuk mengusahakan suatu cara
pertolongan yang sebaik mungkin.
Demikianlah, setelah jago lihay dari wilayah Biauw ini
mengambil keputusan untuk menolong jiwa Hoa Thianhong,
maka ia mulai kuatir apabila si anak muda itu
secara tiba-tiba putus nyawa, segera ujarnya, “Cie Wie!
kau segera kumpulkan semua rumput serta bunga obat
yang ada di kebun sebelah selatan, pilihan menurut
jenis-jenisnya dan atur yang rapi di dalam ruang
membuat obatku, setiap jenis yang ada kubutuhkan
semua, jangan sampai ada yang tertinggal barang
satupun.”

Dara yang bernama Cie Wie itu segera mengiakan,
dengan membawa dua orang rekannya cepat-cepat
mereka berlalu.
Kioe Tok Sian cie pun memerintahkan orang untuk
menyediakan tempat beristirahat bagi Tiong Sie San
Hauw, setelah itu barulah ia berkata kepada Lan Hoa,
“Bukankah kau merasa amat senang dengan Chin Wan
Hong? nah! biarlah dia mengikuti dirimu, Hoa Thian-hong
itupun aku serahkan kepadamu!”
“Suhu, aku bernama Hong jie!” terdengar Chin Wan
Hong berkata.
Kioe Tok Sian cie tersenyum, sambil menuding kea rah
Lan Hoa berkata pula, “Dia bernama Lan Lan, dia adalah
toa si-ci mu!”
“Toasuci!” buru-buru Chin Wan Hong memanggil.
Rupanya Lan Lan merasa amat senang, segera
sahutnya, “Siauw sumoay! boponglah Hoa Thian-hong
dan ikutilah diriku!”
Buru-buru Chin Wan Hong membopong tubuh Hoa
Thian-hong kemudian mengikuti di belakang Lan Lan
berlalu dari ruangan gua.
Gadis yang memegangi katak buduk pualam itu tetap
menempelkan lagi binatang tadi di atas mulut luka yang
ada di urat nadi pergelangan Hoa Thian-hong, sambil
berjalan katanya tertawa, “Aku bernama Lan Sien, alias

Sien Kauw aku adalah Chiet suci mu! Chiet suci adalah
kakak seperguruan yang ketujuh.”
Chin Wan Hong ada maksud untuk menarik simpati
orang dengan nada yang manis dan merdu ia lantas
memanggil, “Chiet suci!!….” setelah merandek sejenak
tanyanya lebih jauh, “Berapa banyak sih anak murid
suhu? apakah mereka she Lan semua?….“
Lan Shie tertawa.
“Suhu semuanya mempunyai dua belas orang murid
dan sekarang ditambah kau seorang jadi tiga belas.
“Lan” adalah She yang paling besar di dalam suku Biauw
kami Toa suci she Lan. Ngo suci, Lak suci she-Lan, aku
she-Kan, Cap-Jie su moay juga she-Lan, semuanya lima
orang yang memakai she-Lan!”
“Aku bernama Beng Chen Chen!” mendadak terdengar
dara ayu yang ada di sisinya menimbrung. “Aku adalah
suci mu yang ke sembilan!”
“Ooooh…………..Kioe suci!” cepat-cepat Chin Wan
Hong memanggil.
“Kau tentu dibikin pusing kepala dan kebingungan
bukan?” ujar Lan Lan Sambil tertawa. “Besok pagi
catatlah dulu nama-nama mereka di atas kertas, lalu
dihapalkan dulu, dengan demikian maka kau akan lebih
gampang untuk mengingatnya.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung mereka
telah memasuki sebuah ruang batu.

Lan Lan segera tertawa dan berkata, “Hong-jie, kemari
ini khusus untukmu, aku akan berdiam di kamar
sebelahmu!…..”
Chin Wan Hong menyapu sekejap ke arah ruangan itu,
ia lihat di dalam kamar terdapat sebuah pembaringan
terbuat batu yang dilapisi kulit binatang, cepat-cepat ia
baringkan tubuh Hoa Thian-hong di situ, kemudian Lan
Lan pun memperkenalkan nama dari beberapa orang
gadis yang lain, ternyata mereka semua adalah kakak
seperguruannya.
Tiba-tiba terdengar Beng Chen Chen berseru, “Hongjie,
apakah kau sudah menikah dengan Hoa Thianhong?”
Merah jengah selembar wajah Chin Wang Hong
mendengar perkataan itu, ia segera gelengkan kepalanya
berulang kali, “Dia adalah tuan penolong dari keluarga
kami!”
“Kalau begitu kau tak usah menikah untuk selamanya,
tenaga dalam suhu merupakan suatu aliran yang
tersendiri, asal kau tidak menikah maka wajahmu akan
tetap awet muda, selamanya tidak akan jadi tua dan raut
wajahmu yang sebenarnya akan dipertahankan untuk
selama-lamanya.”
Sepasang mata Chin Wan Hong jadi terbelalak ia
awasi wajah beberapa orang sucinya dengan seksama,
terasalah olehnya bahwa usia mereka rata-rata di antara
delapan sembilan belas tahunan, kecantikan mereka

masih nampak segar dan menggiurkan, dalam hati
segera pikirnya, “Asal Hoa Kongcu bisa hidup di kolong ia
langit, meskipun selamanya aku tak boleh menikah juga
tidak mengapa….”
Maka diapun bertanya.
“Toa suci, berapakah usiamu tahun ini?” “Aku berusia
tiga puluh enam tihun….”
Tiba-tiba terlihatlah Lie Hoa dengan tangan kiri
membawa mangkok pualam, tangan kanan membawa
sebuah tongkat pualam sambil tertawa cekikikan lari
masuk ke alam ruangan,serunya seraya mengaduk cairan
obat di dalam mangkok, “Di ladang dewi merasakan
seratus rumput, Hoa Thian-hong mungkin harus
mencicipi beratus-ratus jenis rumput obat!”
Lan Lan segera mengintip sekejap ke dalam mangkok
pualam itu, lalu serunya, “Eeei…! bukankah obat ini
adalah campuran rumput Kiem Seng Cau serta rumput
Pok Liong Cau yang khusus untuk memunahkan racun
kabut? apakah campuran obat ini mampu untuk
memunahkan daya kerja racun Teratai racun empedu
api?”
Lie Hoa memperlihatkan muka setan dan tertawa.
“Setiap rumput obat yang bisa digunakan untuk
memunahkan racun rumput, pohon, tumbuhan serta
binatang berbisa, Hoa Thian-hong harus mencicipinya
satu demi satu!”

Lan Sien segera mengambil botol air dan menuangkan
separuh cawan air bersih di dalam mangkok yang berisi
bubuk obat itu, setelah diseduh dan diaduk Lie Hda
segera membuka mulut Hoa Thian Kong dan
menuangkan separuh mangkok obat itu ke dalam
perutnya.
Setelah meletakkan mangkok tadi ke atas meja, ia
ambil keluar segenggaman jarum emas dari sakunya dan
dengan Cekatan segera ditancapkan ke atas jalan darah
penting di atas dada Hoa Thian-hong.
Begitu cepat dan hebat gerakan tangannya, dalam
sekejap mata puluhan batang jarum emas itu sudah
tinggal kepalanya saja yang tertinggal di luar,
panjangnya delapan coen dan sangat teratur.
Menyaksikan batang-batang jarum yang tersampul di
luar badan dan berkilauan memancarkan cahaya keemasemasan,
Chin Wan Hong merasa jantungnya berdebar
keras, sambil menghampiri tubuh Lie Hoa bisiknya lirih,
“Suci, jarum-jarum emas itu apa gunanya?”
“Untuk mengetes reaksi yang ditimbulkan oleh daya
kerja obat rumput itu!” sahut sang suci sambil tertawa,
setelah merandek sejenak tambahnya, “Aku bernama Lie
Hoa, merupakan suci mu yang kedua!”
“Jie suci disebut orang Lie Hoa Siancu!” timbrung Beng
Chen Chen dari samping.
“Orang kangouw menyebut Toa suci, Jie suci serta
Sam suci sebagai Biauw-Nia Sam-Sian tiga dewi dari

wilayah Biauw, mereka bertiga pernah berperang
melawan orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang,
tahukah kau akan perkumpulan Sin-kie-pang?”
Chin Wan Hong mengangguk.
“Tahu dan Sam suci? siapakah dia?”
“Sam sucimu sedang pergi memetik daun obat, dia
bernama Cie Wie sianou, aku serta dia tidak mempunyai
she!”
Chin Wan Hong anggukkan kepalanya berulang kali.
“Kalau begitu toa suci disebut orang sebagai Lan Hoa
Siancu bukan?” katanya.
“Bukan. Aku dipanggil Lan Hoa si nenek peyot!”
“Aaah. Tidak. Kau tentu bernama Lan Hoa Siancu!”
Mendengar ucapan itu semua orang tertawa tergelak,
Chin Wan Hong yang sebenarnya sedang sedih dan
hatinya terasa hancur karena pemuda idaman hatinya
berada dalam keadaan sekarat, setelah bergaul dengan
kakak-kakak seperguruannya yang lincah dan selalu
beriang gembira, tidak terasa pikirannyapun rada sedikit
terbuka.
Lewat beberapa saat kemudian seorang gadis dengan
membawa banyak sekali botol serta guci berjalan masuk
ke dalam diikuti seorang wanita suku Biauw dengan

membawa sekeranjang buah-buahan segarpun ikut ma
uk ke dalam ruangan.
“Coei Kauw, mau apa?” Lan Lan segera menegur.
“Suhu mengutus aku untuk khusus mengurusi
makanan serta minuman dari Siauw-Long!”
“Dia bernama Lan Coei, dan merupakan Suci mu yang
kedua belas!” Lan Lan segera berpaling ke arah Chin
Wan Hong dan memperkenalkan.
Buru-buru gadis dari keluarga Chin ini maju
menyongsong seraya menyapa:
“Suci, apakah dia bisa bersantap?, “Suhu bilang………”
Belum habis Lan Coei berkata, Kioe-Tok Sian-Cie telah
berjalan masuk sambil berkata, “Hong-jie, besok pagi aku
akan menyadarkan Hoa Thian-hong dari pingsannya,
tetapi dengan adanya kejadian ini maka seandainya aku
gagal untuk memunahkan racun teratai empedu api itu,
maka ia segera akan menemui ajalnya.”
Chin Wan Hong tertegun, lama sekali ia berdiri
termangu-mangu kemudian baru sahutnya dengan nada
gemetar, “Tecu terserah pada kebijaksanaan suhu untuk
menyelamatkan jiwanya, tecu sendiri tidak tahu apa yang
harus aku lakukan.”
Kioe-Tok Sian-Cie menghela napas panjang.

“Aai…! aku pasti akan berusaha keras dengan segenap
kemampuan yang kumiliki, pokoknya tidak nanti aku
berbuat sesuatu sehingga membuat hatimu jadi kecewa!”
Diambilnya “Katak buduk pualam” itu untuk diperiksa,
setelah dilihatnya di atas binatang itu secara lapat-lapat
terlintas warna hijau yang tebal, kepada gadis she-Chin
itu ujarnya lagi, “Katak buduk pualam ini merupakan
benda mustika yang sangat langka di kolong langit,
meskipun tidak dapat seratus persen menandingi
kehebatan racun keji Teratai empedu api itu, tapi sedikit
banyak benda ini ada kemampuannya juga untuk
mengurangi sedikit kadar racun tersebut. Demi
kepercayaanmu, serta untuk memperlihatkan
kesungguhan hati suhumu untuk menolong jiwa pemuda
ini, aku akan menggiling Katak buduk Pualam ini hingga
hancur jadi bubuk kemudian dicampurkan ke dalam obat
dan diminumkan kepada Hoa Thian-hong.”
“Suhu! aku percaya bahwa suhu bersungguh-sungguh
hati hendak menolong jiwanya dari kematian!” seru Chin
Wan Hong dengan air mata bercucuran.
Terdengar Lan Lan ada di samping ikut menimbrung,
“Usul dari suhu memang bagus dan tepat sekali, kalau
tidak satu hari akupun bisa mencari katak buduk pualam
ini untuk digiling hingga hancur dan dibuang jauh ke
dalam jurang!”
“Kenapa?” tanya Wan Hong kurang paham.
Kioe Tok Sian cie tersenyum.

“Katak buduk pualam ini bisa memunah kan pelbagai
macam racun keji, seandainya benda ini terjatuh ke
tangan kawanan orang Bulim, maka kegunaannya akan
luar biasa dan nilainya tak terhingga tingginya, tetapi
berada di tanganku bukan saja tidak ada manfaatnya
bahkan malah hanya meadatang kan kejelekan saja”
“Kenapa bisa begitu?”
“Nama besarku tersohor di kolong langit karena
kehebatanku di dalam menggunakan racun serta caraku
memunahkan racun, separuh hidupku telah kucurahkan
di bidang penyelidikan soal sifat-sifat racun, sedang
katak buduk pualam ini bisa memunahkan setiap racun,
yang bisa kupunahkan pula dengan kepandaianku,
karena itu benda tersebut bukan saja sama sekali tak
berguna malah sebaliknya dengan adanya benda mustika
ini maka kepandaianku tak bisa dikembangkan dan tak
ada kehebatannya. Andaikata benda ini lenyap bukankah
itu berarti bahwa di kolong langit hanya aku seorang
yang mengerti akan ilmu beracun? pendapat ini kau bisa
mengerti tidak?”
“Jadi keadaan itu bagaikan dua orang jago lihay yang
berdiri dalam posisi saling bermusuhan begitu?” tanya
Chin Wan Hong setengah mengerti setengah tidak.
“Yaah….! boleh dibilang hampir menyerupai begitu,
masih ada satu hal lagi, dengan adanya Katak buduk
pualam ini maka anak muridku jadi kurang bergairah
untuk berlatih kepandaian, mereka tidak lagi terlalu
memandang serius ilmu racun, coba pikirlah suhu
terkenal di dalam jagad karena kelihayan ilmu bisanya,

masa aku rela melihat anak muridku lupa akan asal
usulnya?”
Berbicara sampai di sini ia lantas menyerahkan Katak
buduk pualam itu ke tangan murid pertamanya Lan Lan.
“Besok pagi cucilah hingga bersih kemudian giling
sampai hancur, setelah itu serahkan kepadaku untuk
dibuat obat.”
Lan Lan menyambuti Katak buduk pualam tadi dan
menyimpannya secara baik-baik, setelah itu katanya,
“Suhu, setelah siauw long terkena racun keji selama
empat lima puluh hari ia tak pernah makan dan minum,
kenapa napasnya tidak putus? apa sebabnya?”
“Teratai racun Empedu api semestinya memiliki dua
belas biji teratai, kalau dibicarakan menurut keadaan
pada umumnya asal seseorang makan separuh dari
jumlah itu saja sudah cukup untuk memecahkan jantung
serta memutuskan usus-ususnya, Hoa Thian-hong bisa
mempertahankan napasnya hingga tidak putus dan isi
perutnya tidak hancur, aku pikir mungkin ia sekalian
menelan pula kulit serta daunnya.”
“Benar, benar, perkataan suhu sedikitpun tidak salah,”
Chin Wan Hong segera anggukkan kepalanya
membenarkan. “Ia memang menelan seluruh teratai
tersebut Kedaun dan akarnya.”
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi?! coba kau
ceritakan kepada suhumu semua peristiwa yang telah
kau alami!”

Chin Wan Hong mengangguk, lalu diapun
menceritakan semua kisah kejadian yang menimpa diri
Hoa Thian-hong sepanjang apa yang diketahui.
Mendengar kisah ini, semua orang jadi ikut merasa
kagum dan tanpa sadar rasa simpatik mereka terhadap
Hoa Thian-hong pun semakin menebal beberapa bagian.
Terdengar Kioe-Tok Sian-Cie berkata, “Setiap benda
yang ada di kolong langit sebagian besar mengandung
daya kekuatan untuk melawan tenaga Im maupun Yang,
daya racun yang terkeji dari Teratai racun empedu api
terletak pada teratainya, termasuk daun dan akar teratai
tadi sebenarnya bukan termasuk bagian yang beracun.
Secara beruntun Hoa Thian-hong telah menghabiskan
dua belas biji teratai tanpa menghembuskan napas yang
terakhir, kejadian ini benar-benar merupakan suatu
peristiwa yang tidak masuk di akal, menurut dugaanku
mungkin daun serta akar teratai itu mempunyai khasiat
untuk melawan daya kerja racun atau kasiat lain yang
luar biasa, yang penting dewasa ini ia belum mati,
sedangkan mengenai bagaimana caranya memunahkan
racun teratai dan bagaimana caranya mengembalikan
sukmanya yang hampir kabur, tunggulah beberapa
waktu aku akan berusaha mencari akal yang baik, sebab
dewasa ini aku sama sekali tidak memiliki keyakinan
apapun.”
Dengan mata berubah jadi merah dan wajah mewek,
buru-buru Chin Wan Hong merengek, “Oooh suhu! Kau
harus carikan akal yang paling baik, kau pasti bisa
menyelamatkan selembar jiwanya!”

Kioe-Tok Sian-Cie menghela napas panjang, setelah
membelai rambutnya yang hitam halus ia putar badan
dan keluar dari kamar.
Malam itu Lie Hoa siancu mencabut keluar jarum-emas
yang menancap di dada Hoa Thian-hong, kemudian
meloloh pula semangkok cairan obat lain ke dalam
perutnya dan menancapkan jarum emas baru di atas
dadanya.
Menanti semua orang sudah berlalu, seorang diri Chin
Wan Hong menjaga di tepi pembaringan Hoa Thianhong,
pikirannya terasa kalut dan semalam suntuk ia tak
dapat memejamkan matanya.
Keesokan harinya ketika fajar baru menyingsing, Lie
Hoa Siancu kembali mencabut keluar jarum emas itu,
lewat satu dua jam kemudian Kioe-Tok Sian-cie muncul
di dalam kamar dan ia turun tangan sendiri melolohkan
obat yang dibuatnya semalam ke mulut Hoa Thian-hong.
Campuran obat itu ternyata mujarab sekali, tidak lama
setelah diminumkan pemuda she Hoa itu mulai mendusin
dan memperdengarkan suara rintihan yang amat lirih
sekali, begitu lirih hingga menyerupai suara dengusan
nyamuk.
Semua orang merubung di sekeliling pembaringan dan
menanti dengan mulut membungkam, sementara air
muka Kioe Tok Sian cie berubah jadi tegang dan serius
sekali.

Beberapa saat kemudian telah berlalu, tokoh sakti di
dalam hal ilmu berbisa itu dengan cepat menancapkan
pula sebaris jarum emas, setelah melolohkan semangkok
cairan obat ke dalam Perut si anak muda itu dia baru
mengundurkan diri.
Sejak itulah setiap hari Kioe Tok Sian Cie berserta
keempat belas orang anak muridnya jadi sibuknya luar
biasa, sedang Hoa Thian-hong sendiri telah mencicipi
beratus-ratus macam jenis obat yang di taman di dalam
lembah Hoe Hiang Kok itu.
Haruslah diketahui, di antara berjenis-jenis
rerumputan yang sangat beracun dan bisa
membinasakan seseorang manusia biasa bila
diminumnya, tetapi bagi Hoa Thiat Hong yang setiap hari
harus minum pelbagai macam obat yang berbeda, walau
pun racun keji dari Teratai Racun Empedu Api belum
punah, namun sisa napasnya yang terakhirpun tidak
sampai putus.
Keadaan itu berlangsung hingga mendekati dua bulan
lamanya, akhirnya suatu ketika Kioe-Tok-Sian Cie
berhasil menemukan sebuah resep obat yang sangat
mujarab.
Itu hari ketika obat yang dimaksudkan telah siap dan
diletakkan di tepi pembaringan. Kioe-Tok- Sian-Cie
berkatalah kepada diri Chin WanHong, “Hong-jie, gurumu
telah berusaha dengan kemampuan yang kumiliki untuk
membuat semangkok cairan obat ini. Setelah cairan obat
ini diminumkan rejeki atau bencana yang terjadi pada
saat ini sulit bagi kita untuk menduganya, andaikata tidak

beruntung dan siauw-Loug harus mengorbankan
selembar jiwanya, janganlah kau salahkan kepada
gurumu yang tak mau berusaha untuk menolong!”
Mendengar perkataan itu Chin Wan Hong segera
mengangguk.
“Sekalipun selembar jiwanya tak berhasil
diselamatkan, budi kebaikan suhu yang berat laksana
gunung Thay-san pasti akan tocu ingat terus di dalam
hati.”
Kioe-Tok Sian-Cie tersenyum.
“Kau adalah anak muridku yang paling buncit, tentu
saja aku berharap agar kau bisa gembira dan bersenang
hati selalu, perkataan yang tak berguna lebih baik tak
usah kau ucapkan lagi.”
Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya, “Nah!
sekarang minumkanlah cairan obat di dalam mangkok itu
kepada Siauw-Long!”
Setelah hidup bersama beberapa waktu, walaupun
secara resmi Chin Wan Hong belum pernah memperoleh
warisan ilmu kepandaian apapun, tetapi hubungan batin
antara guru dan murid itu sudah mendalam sekali,
hingga tanpa sadar baik dalam perkataan maupun di
dalam perbuatan cinta kasih dan perasaan sayang di
antara mereka tercetus ke luar juga.
Selama beberapa bulan ini Chin Wan Hong boleh
dibilang tak pernah meninggalkan sisi pembaringan

barang selangkahpun, ia selalu berada di sisi pemuda
pujaannya untuk menjaga dan menemani dirinya, bila
capai dan mengantuk ia jatuhkan diri berbaring di bawah
kaki Hoa Thian-hong, setiap kali mendengar sedikit
suarapun ia segera tersentak bangun.
Berhubung kekesalan serta kesedihan yang selalu
mencekam hatinya ditambah pula kurang beristirahat
dengan baik, saat itu wajahnya telah berubah jadi kurus
dan pucat pias bagaikan mayat.
Ketika itu dengan tangan gemetar ia mengambil
mangkok berisi cairan obat itu dari atas meja, kemudian
dengan perlahan-lahan melolohkan cairan obat tadi ke
dalam mulut Hoa Thian-hong, tapi ketika teringat
kembali akan perkataan gurunya barusan ia jadi raguragu
dan gelisah, hampir saja cairan obat itu
berhamburan membasahi tangannya.
Setelah minum obat keadaan dari Hoa Thian-hong
masih tetap seperti sedia kala, sedikit tiada perubahan.
Kioe-Tok Sian-Cie sambil mencekal urat nadinya duduk
bersila di sisi pembaringan, sambil pejamkan mata ia
menantikan perubahan selanjutnya.
Siapa tahu cairan obat yang telah masuk ke dalam
perut si anak muda itu hilang bagai kan batu tenggelam
di tengah samudra, sedikitpun tiada reaksi atau pertanda
apapun jua.
Kioe-Tok Sian Cie jadi terkejut bercampur sangsi,
tetapi disebabkan obat itu belum menunjukkan reaksi

apapun, diapun tak berani berlalu tinggalkan tempat itu.
Malam yang panjang terasa berlalu dengan amat lambat
bagaikan siput yang merangkak dengan susah payah
akhirnya fajarpun menyingsing dan sang suryapun
memancarkan cahaya keemas-emasannya keempat
penjuru. Ketika sang surya sudah berada di tengah
awang-awang dan tengah haripun tiba, Hoa Thian-hong
Jang telah jatuh tak sadarkan diri selama beberapa bulan
itu mendadak memperdengarkan jeritan ngeri yang
menyayatkan hati, sambil meronta keras badannya
mencelat ke tengah udara.
JILID 10 : Kecintaan Chin Wan Hong
KIOE-TOK SIAN-CIE yang duduk ditepi pembaringan
dengan cepat bertindak dan menekan tubuhnya balik ke
atas pembaring an, tetapi si anak muda itu meronta terus
dengan hebatnya, rintihan kesakitan berkumandang
memecahkan kesunyian, wajahnya nampak begitu
menderita dan tersiksa.
Chin Wan Hong Iah yang paling kuatir diantara
beberapa orang itu, wajahnya berubah jadi pucat pias
bagaikan mayat, giginya saling beradu gemerutukan, air
mata bagai kan layang-layang putus mengucur keluar tak
terbendung.
Rupanya Hoa Thian-hong merasa amat tersiksa sekali
pada waktu itu, badannya bergulingan kesana kemari
tiada hentinya. rintihan kesakitan berkumandang tiada
putusnya, andaikata Kioe Tok Sian Cie sekalian tidak

berada disitu untuk menahan tubuhnya, beberapa kali ia
tentu sudah menggelinding jatuh ke atas lantai.
Lama kelamaan Chin Wan Hong jadi tidak tega sendiri,
dengan air mata bercucuran ujarnya, “Suhu, totoklah
jalan darahnya.,…”
“Nah, akupun tidak tahu apa yang harus kulakukan
pada saat ini “sahut Kioe Tok Sian-Cie dengan alis
berkerut dan wajah serius. “Aku rasa lebih baik kita
menanti beberapa saat lagi!”
Hoa Thian-hong merintih terus tiada hentinya. seluruh
pakaian yang dikenakan telah basah kuyup oleh air
keringat, keadaannya mengenaskan sekali hingga
menyerupai keadaannya ketika menelan Teratai Racun
Empedu api.
Keadaan seperti itu berlangsung terus hingga
setengah jam lamanya. akhirnya perlahan-lahan
keadaannya telah tenang kembali.
Kioe Tok Sian Cie adalah seorang tokoh sakti dari
suatu aliran perguruan silat walaupun begitu jidatnya
saat itu sudah basah oleh keringat yang mengucur keluar
tiada hentinya, sambil memegang urat nadi Hoa Thianhong
ia melakukan pemeriksaan yang seksama.
Mendadak dirasakannya denyutan jantung pemuda itu
kian lama kian tambah kencang gejala itu mirip sekali
dengan keadaan seseorang yang baru saja sembuh dari
sakit. tanpa terasa ia menghembuskan napas pan-jang
dan ujarnya kepada Lie Hoa Siancu, ”Coba kau periksalah
warna darah dari Siauw Long!”

Buru-buru Lie Hoa Siancu mengambil sebatang jarum
emas dan menusuk jari tengah Hoa Thian-hong hingga
berlubang, tampaklah cairan darah yang merah segar
mengalir keluar dari ujung jarinya yang terluka, darah itu
segar dan tidak jauh berbeda dengan darah orang biasa.
Menyaksikan hal itu, dengan hati penuh kegirangan
Lie Hoa segera berteriak keras, “Suhu, usaha kita sukses
besar!”
Siapa tahu di atas wajah Kioe Tok Sian Cie sama sekali
tidak nampak tanda-tanda kegirangan, malahan sambil
tertawa getir ujarnya, “Racun teratai yang terkandung di
dalam tubuhnya belum punah sama sekali sebaliknya
telah menggumpal jadi satu dan tenggelam di dasar Tan-
Thian (Pusar), bagaimanakah akibat selanjutnya sulit
bagiku untuk menerangkannya pada saat ini.”
“Benarkah ada kejadian semacam itu?” seru Lan Lan
dengan alis berkerut dan nada tercengang.
Cepat-cepat ia memayang bangun tubuh Hoa Thianhong
dan mencekal urat nadinya un-tuk diperiksa dengan
lebih seksama!
Kioe Tok Sian cie gelengkan kepalanya dan bangun
berdiri, kepada Lan Coei Siancu pesannya.
“Baik-baik1ah merawat dirinya, bila ada perubahan
cepat memberi laporan kepadaku!”
Selesai berkata ia segera putar badan dan keluar dari
kamar.
Semua orang yang telah berjaga2 selama satu malam
suntuk pada saat itupun merasa lelah dan penat, maka
semua orangpun berpamitan untuk pergi beristirahat

kecuali Lan Koei yang membantu Chin Wan Hong
merawat si anak muda itu.
Penyelidikan Kioe Tok Sian Cie di dalam hal obat2an
memang lihay sekali, terutama bermacam ragamnya
bahan obat2an yang di tanam di sekitar tempat itu,
setelah dirawat dengan seksama pada malam itu juga
Hoa Thian-hong telah dapat membuka matanya.
Chin Wan Hong jadi kegirangan setelah mati,
sementara sekelompok kakek seperguruannya yang telah
berjerih payah selama dua bulan lebih, ketika melihat
Hoa Thian-hong ada harapan untuk sembuh, merekapun
ikut merasa berlega hati.
Tiga ekor harimau dari keluarga Tiong yang mendapat
kabar itu buru-buru masuk ke dalam gua untuk
menengok, setelah itu mere ka berlutut dihadapan Kioe
Tok Sian cie untuk menyatakan rasa terima kasihnya
yang tak terhingga.
Siapa tahu tengah hari keesokan harinya, racun yang
mengeram di dalam tubuh Hoa Thian-hong kambuh
kembali, ia merintih dan bergulingan di atas pembaringan
dengan penuh penderitaan.
Kioe-Tok Sian-cie segera putar otak untuk mengurangi
rasa sakit itu, tetapi usahanya selalu menemui jalan
buntu, terpaksa dengan mata terbelalak ia biarkan
pemuda itu mengerang kesakitan.
Sejak hari itulah setiap tengah hari tiba, perduli hari
terang atau hujan racun Teratai empedu api yang
mengeram di dalam tubuh Hoa Thian-hong pasti kambuh
satu kali, setiap kali racun itu kambuh ia pasti mengerang
erang kesakitan, tetapi kurang lebih setengah jam

kemudian terasalah re a k si racun teratai itu berhenti
sendiri bergolak dan tenggelam ke dasar pusar,
sedikitpun tidak menunjukkan gejala lain lagi.
Begitulah setiap pagi Hoa Thian-hong telah bangun
dari tidurnya, ia tentu menjumpai Chin Wan Hong duduk
di tepi pembaringan seorang diri sambil memandang
keluar pintu dengan termangu-mangu, setelah
kesadarannya mulai pulih dari pembicaraan banyak orang
diapun sudah mengetahui apa yang telah terjadi sejak ia
keracunan.
Mendengar tentang pengorbanan yang diberikan Chin
Wan Hong kepadanya selama ini, dalam hati kecilnya si
anak muda itu merasa amat berterima kasih sekali.
Suatu hari ketika ia merasa semangatnya telah pulih
dan badannya telah segar kembali, tiba-tiba serunya
dengan suara lirih, “Enci Chin…..”
Chin Wan Hong tersentak kaget dan cepat cepat
menoleh, lalu dengan wajah terkejut bercampur girang
tegurnya -
“Apakah kau telah sembuh?”
“Terima kasih atas perbatian cici, siauwte telah
sembuh!”
Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya lagi
dengan suara lirih, “Siauwte bisa hidup hingga kini
kesemuanya ini adalah berkat perhatian serta pemberian
dari cici, Budi kebaikan cici tinggi bukit, siauwte merasa
sulit untuk membalasnya.”
“Sudahlah, kau tak usah membicarakan tentang soal
budi lagi,” sahut Chin Wan Hong sambil tundukkan

kepalanya rendah2. “Kami orang-orang dari keluarga
Chin sudah terlalu banyak berhutang budi kepadamu,
mau bicarakan-pun tak ada selesainya.”
Mendadak Lan Coei berjalan masuk ke dalam kamar,
ketika mendengar si anak muda itu telah berbicara
segera serunya sambil tertawa-
“Siauw Long, kau sudah dapat berbicara?”
Hoa Thian-hong segera alihkan sinar matanya ke
samping.
“Siauwte telah dapat berbicara, selama ini banyak
berterima kasih atas perawatan cici dalam hal makanan
dan minuman!”
Lan Coei tertawa.”Kami berbuat demikian karena
memandang di atas wajah Hong-ji, kau tak usah
berterima kasih lagi.”
Bicara sampai disitu ia ambil keluar dua butir pil dan
dimasukkan ke dalam mulutnya kemudian sambungnya
lebih lanjut, “Menurut suhu, Racun Teratai Empedu api
yang mengeram dalam tubuhmu telah melarut ke dasar
pusar dan selalu terpengaruh oleh sinar matahari, karena
itu setiap kali sang surya berada pada posisi yang sangat
dekat dengan bumi racun dalam tubuhmu akan bekerja
satu kali, waktu itu kau akan merasakan sekujur
tubuhmu panas bagaikan disengat api. Untuk
mengurangi penderitaan dikala kambuh dan dari pada
kau berguling guling di atas tanah kata suhu lebih baik
kau ber-lari2 saja mengelilingi lapangan.”
Hoa Thian-hong mengangguk sambil mengucapkan
terima kasih, mendadak ia jumpai Lan Lan Siancu yang
berjalan masuk ke dalam kamar, mengetahui perempuan

ini adalah murid terbesar dari Kioe-Tok- Sian-Cie buruburu
panggilnya, “Toa suci!”
Lan Lan tertawa dan duduk disisi pembaringan,
ujarnya, “Suhu suruh aku memberitahukan kepadamu,
sebelum racun Teratai itu punah sama sekali dari
tubuhmu kau dilarang berhubungan dengan kaum
wanita, kalau tidak maka perempuan itu akan menemui
ajalnya seketika itu juga, kau harus mengingatnya baikbaik.”
Mula2 Hoa Thian-hong agak tertegun dan tidak
mengerti apa yang dimaksudkan, tetapi setelah dipikir
sebentar diapun mengerti apa yang sedang diartikan,
tanpa terasa wajahnya berubah jadi merah padam saking
jengahnya.,.. lama sekali ia tak sanggup mengucapkan
sepatah katapun.
Terdengar Lan Coei berkata pula dari samping, “Hongjie,
kaupun harus ingat baik-baik sebelum racun Teratai
itu hilang dari tubuhnya kau jangan sekali kali kawin
dengan Siauw-Long!”
Chin Wan Hong adalah seorang gadis perawan dari
keluarga bangsa Han, mendengar perkataan itu
wajahnya seketika berubah jadi merah padam, dengan
tersipu sipu ia bangkit berdiri dan siap lari keluar dari
dalam kamar, tetapi tangannya keburu ditarik oleh Hoa
Thian-hong.
“Siauw-Long!” terdengar Lan Lan berseru lagi.
“Seringkali kau bergerak kesana kemari, apakah
badanmu terasa kurang enak?”

Di atas punggung Siauwte masih menancap tiga
batang jarum beracun. bagian sekitar situ terasa agak
kaku dan gatal”
“Kalau begitu biarlah kubantu dirimu untuk
mencabutnya keluar!” kepada Lan Coei segera
perintahnya, “Pergilah dan pinjamkan besi Semberani
milik Sam suci!’
Buru-buru Lan Coei berlalu, beberapa saat kemudian
dengan membawa Ci-Wie siancu serta Lan Sien ia
muncul kembali di dalam ruangan.
Cie Wie Siancu segera ambil keluar sebuah besi hitam
dari sakunya, setelah Chin Wan Hong melepaskan
pakaian yang dikenakan Hoan Thian-hong maka Lan Lan
segera dekatkan besi hitam tadi di atas mulut luka di atas
punggung si anak muda itu dan menghisap keluar tiga
batang jarum beracun Soh Hoen Tok-Ciam yang
mengeram di punggungnya.
Sedari permulaan dulu semua orang telah tahu bahwa
warna hitam di atas wajah Hoa Thian-hong bukanlah asli
sejak dilahirkan, tetapi berhubung racun teratai yang
mengeram dalam tubuhnya terlalu berat hingga jiwanya
sukar dipertahankan, siapapun tiada kegembiraan untuk
mengurusi persoalan sepele itu.
Tapi kini setelah sakitnya mulai sembuh dan melihat
pula badannya yang berkulit putih bersih, timbullah sifat
kelakar diantara mereka, pertama2 Ci-Wie Siancu yang
berteriak lebih dulu, “Sien-Kauw, Cepat cari daun obat
dan dirmasak kemudian kita cucikan muka dari Siauw-
Long!”

Hoa Thian-hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan
Oleh mereka, mendengar perkataan itu buru-buru
sambungnya, “Samsuci, siauwte bisa cuci muka sendiri
Lan Sien tertawa cekikikan, dalam sekejap mata ia
sudah ngeloyor keluar dari dalam kamar.
Di dalam lembah Hoe-Hiang-Kok memang dipelihara
pelbagai macam rumput obat yang aneh2 dari pelbagai
kolong langit, tidak lama Lan Sien berlalu ia sudah
muncul kembali sambil membawa belasau macam daun
obat, dimana daun obat tadi segera diserahkan kepada
pelayan untuk dimasak.
Dalam pada itu Lan Lan yang ada di dalam kamar
telah berhasil menghisap keluar ketiga batang jarum
beracun yang mengeram di dalam punggung Hoa Thianhong,
jarum itu terbuat dari emas dan waktu itu polesan
racun yang ada di ujung jarum telah larut ke dalam
cairan darah si anak muda itu. hingga jarum yang
terhisap keluar nampak kuning dan keemas-emasan.
Lewat beberapa saat kemudian, seorang perempuan
suku Biauw masuk ke dalam kamar sambil membawa
sebaskom air obat.
Lan Sien segera berteriak keras, “Hong-jie, cucikanlah
muka Siauw-Long!”
Dalam hati kecilnya Chin Wan Hong memang ingin
sekali menyaksikan wajah Hoai Thian-hong yang
sebenarnya, tetapi dengan tabiatnya yang ramah dan
halus serta tindak tanduknya yang sangat hati-hati gadis
ini tak berani turun tangan secara gegabah. tanyanya
lebih dulu, “Siauw-Long, bagaimana kalau kucuci
bersihkan warna hitam yang ada di atas wajahmu?”

Karena semua orang memanggil dirinya sebagai Siauw
Long maka Chin Wan, Hong-pun ikut memanggil dengan
sebutan itu.
Hoa Thian-hong yang teringat akan budi kebaikan
semua orang dimana dengan susah payah telah
berusaha untuk menyelamatkan selembar jiwanya.
merasa tidak tega untuk inenampik keinginan orang,
apalagi setelah lolos dari kematian dan racun teratai
belum punah sama sekali dari tubuhnya, terhadap orangorang
dari perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie
serta Tong-thian-kauw ia merasa amat muak dan benci.
dalam hatinya telah mengambil keputusan untuk muncul
kembali di dunia persilatan dengan wajah yang
sebenarnya. karena itu mendengar pertanyaan orang
sambil tersenyum ia segera mengangguk.
Melihat si anak muda itu telah setuju, Chin wan Hongpun
segera mengambil sebuah handuk kecil, setelah
direndam dengan air obat wajah Hoa Thian-hong yang
hitam mulai dibersihkan.
Berita ini dengan cepat bersiar luas diseluruh lembah
Hoe Hiang Kok. tidak selang beberapa saat seluruh anak
murid Kioe Tok Sian Cie telah berkumpul semua di dalam
ruangan itu, suara pembicaraan dengan logat yang aneh
menggema memenuhi angkasa,” hingga membuat
suasana jadi amat ramai.
Dalam pada itu air obat untuk mencuci muka
sebaskom telah berganti sebanyak delapan sembilan kali,
warna hitam di atas wajah si anak muda she Hoa itu pun
mulai luntur beberapa bagian.
“Ooooh, ia terkena bahan obat Thiat san-Khek!” teriak
Lie Hoa Liancu dengan keras.

Meledaklah teriak teriakan kegirangan dan seruan
memuji berkumandang diseluruh ruangan.
Waktu itu hari sudah mendekati siang, semua orang
pun segera mengundang Hoa Thian-hong untuk
bersantap setelah itu memayang dia keluar dari gua.
Sesuai dengan waktu2 sebelumnya, racun yang
mengeram dalam pusar pemuda itu mulai kambuh. dan
mengikuti petunjuk dari Kioe Tok Sian Cie ia segera
berlari larian jalan kecil dalam lautan bunga itu.
Sungguh aneh sekali, dalam keadaan badan yang
lemah tak bertenaga karena sakit yang dideritanya belum
sembuh setelah racun teratai itu kambuh seketika itu
juga ia rasakan darah panas di dalam rongga dadanya
bergolak keras, tenaga yang bergelora dalam tubuhnya
secara menakjubkan melipat ganda, terutama sekali
setelah berlarian di atas jalan sempit, makin cepat dia
berlari semakin berkurang rasa sakit yang dirasakan di
dalam tubuhnya.
Dalam posisi tidak mempan terhadap segala macam
racun, bau harum beracun yang tersiar dari balik barisan
Hoe-Hiang-Tin bukannya merobohkan malahan sangat
bermanfaat baginya, semakin badannya terasa enak
makin cepat ia berlari.
Beng Chen Chen serta Lan Coei sekalian yang
menyaksikan kejadian itu jadi tertarik, mereka berteriak
keras dan segera mengejar dari belakang tubuhnya.
Bagitulah sesudah berlarian kurang lebih setengah
jam, racun teratai yang bekerja dalam tubuhnya telah
larut kembali ke dasar pusar, sementara Lan Coei
sekalian yang mengikuti di belakangnya telah basah

kuyup oleh keringat, napas mereka tersengal-sengal dan
tidak kuat mempertahankan diri lagi.
Tanpa terasa setengah bulan telah lewat dengan
cepatnya, dari sakitnya Hoa Thian-hong pun berangsur
angsur telah sehat kebali, setiap tengah hari tiba bila
racun dalam tubuhnya mulai bekerja, iapun berlari larian
di jalanan untuk mengurangi penderitaan.
Rupanya daya kerja racun itu makin lama semakin
mendahsyat, terpaksa iapun harus berlari makin lama
semakin cepat, dalam keadaan begitu “Biauw Nia Sam
Sian” tiga dewi dari wilayah Biauw masih sanggup untuk
berlari berendeng dengan dirinya, sedang mereka dari
angkatan yang lebih rendah sudah tak sanggup untuk
menyusul lagi.
Ia merasa tenaga dalamnya memperoleh kemajuan
yang amit pesat, kekuatan angin pukulanpun bertambah
ampuh tiga kali lipat, pemuda itu mengerti bahwa itulah
berkat dari Teratai Racun Empedu Api. hanya saja
semakin sempurna tenaga dalamnya, daya kerja racun
teratai itupun semakin dahsyat hingga secara lapat-lapat
ia merasa agak payah.
Lan Sien yang setiap hari mengumpulkan daun obat
memaksa Chin Wan Hong untuk mencucikan muka Hoa
Thian-hong setiap hari, setelah berpuluh-puluh hari
kemudian warna hitam di atas wajah Hoa Thian-hong
telah hilang lenyap sama sekali, sebagai gantinya
muncullah seraut wajah yang tampan dan menarik hati.

Diam-diam Chin Wan Hong marasa kegirangan
setengah mati, para kakak seperguruannyapun ikut
beriang gembira akan hal tersebut.
Setiap hari seluruh lembah Hoe-Hiang-Kok dipenuhi
dengan panggilan “Siauw Long “di dalam negeri kaum
wanita yang cantik dan supel itu Siauw Long pun menjadi
pujaan sana sini.
Suatu tengah hari, Siauw Long kembali berlarian
ditengah jalan raya,. puluhan gadis cantik suku Biauw
dibawah “Biauw-Nia Sam-Sian “termasuk juga Tiong-si
Sam Houw tiga ekor harimau dari keluarga Tiong berdiri
berjajar di tepi jalan raya.
Selesai berlarian, pemuda itu merasa semangat serta
tenaganya masih segar bugar maka iapun diiringi semua
orang berpindah menuju kelapangan untuk berlatih silat*
Pertama2 ia berlatih lebih dahulu jurus serangan yang
ampuh “Koen-Sioe-Ci-Tauw” kemudian Biauw-Nia Samsian
maju mengerubuti dirinya. latihan berlangsung
dengan seru dan riangnya.
Setengah harian kemudian tiba-tiba ia teringat kembali
akan Tiong-si Sam Houw yang jarang ditemui, ia tak tahu
bagaimanakah hasil latihan ilmu pukulan dari ketiga
orang itu, maka dipaksanya ketiga orang itu untuk
berlatih dihadapannya.
Salama ini Tiong-si Sam Houw selalu melayani Hoa
Thian-hong dengan sikap pelayan terhadap majikan,
Walaupun si anak muda itu tak mau tapi lama kelamaan
tanpa terasa hal itu jadi suatu kebiasaan.
Mendengar pemuda itu menyuruh mereka berlatih,
tanpa banyak bicara ketiga orang itu segera mainkan
ilmu telapaknya dengan sungguh2.

Setelah dilihatnya permainan ilmu telapak mereka
sangat hapal dan tenaga dalamnya bisa diandalkan,
girang sekali pemuda kita.
Mendadak terdengar Chin Wan Hong berseru, “Siauw
Long, suhu telah mewariskan serangkaian ilmu barisan
kepada mereka. barisan itu dinamakan Sam Sing Boe
Khek Tin Hoat’
Barisan Sam Seng Boe Khek Tin?” ujar Hoa Thianhong
terkejut bercampur girang.” Coba mainkanlah agar
aku lihat.”
“Ilmu barisan yang diajarkan Sin Nio kepada kami ini
amat kacau dan rumit” kata si harimau pelarian Tiong
Liauw sambil tertawa jengah. “Sedang kami bertiga amat
bodoh, sekalipun dengan paksa bisa hapal tapi kalau di
mainkan kurang lebih sempurna.”
Selesai bicara ia segera beri kode dan ketiga orang itu
menyebarkan diri menduduki posisinya masing-masing,
ilmu barisan Sam Seng Boe-Khek-Tin pun dengan cepat
sudah dimainkan.
Dengan penuh seksama Hoa Thian-hong
memperhatikan perubahan-perubahan dari barisan itu,
kemudian pikirnya di dalam hati, “Ooh, rupanya sebuah
barisan yang mengutamakan pertahanan bersama serta
penyerangan serentak, bila mereka bertiga berhasil,
menguasainya memang banyak manfaat yang bakal
didapatkan.”
Mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benaknya,
segera ia berseru, “Enci Hong, ini hari bulan apa tanggal
berapa?”

“Udara di dalam lembah Hoe-Hiang-Kok hangat dan
nyaman laksana musim semi, cuaca sama sekali tidak
mengalami perubahan. aku sendiripun sudah melupakan
hari dan tanggal.”
Dengan berdandan sebagai gadis suku Biauw, gerakgeriknya
yang halus disertai wajah yang malu
menimbulkan suatu rangsangan yang aneh bagi kaum
pria.
Terdengar Lie Hoa Siancu yang berdiri disisi mereka
menyahut sambil tertawa, “lni hari bulan sepuluh tanggal
tujuh belas, kenapa sih kau mendadak menanyakan hari
dan tanggal?”
“Aduh celaka!” teriak Hoa Thian-hong dengan hati
terkejut. “Aku telah melupakan hari dan tanggal. aku
harus segera berangkat untuk pulang ke rumah…..!”
Habis bicara ia putar badan dan lari.
Melihat perbuatan si anak muda itu semua orang
segera mengejar dari belakang, Lan-Lan enjotkan
badannya melayang ke tengah udara dan menyusul
kehadapannya, sambil tertawa ia segera menegur, “Coba
lihat tampangmu yang gugup dan tergopoh-gopoh tidak
macam orang, sekalipun sudah melupakan tanggal,
pulang ke rumah terlambat beberapa haripun rasanya
tidak mengapa kan?”
“Tidak bisa jadi! ibu sedang berharap-harap akan
kedatanganku di atas gunung.”
Sementara pembicaraan masih berlangsung tubuhnya
telah menyusup ke dalam gua dan langsung menghadap
Kioe-Tok Sian-Cie, sambil berlutut di atas tanah ujarnya,
“Sian-Nio. aku telah melupakan tanggal dan. hari untuk

pulang ke rumah, sekarang juaku harus mohon diri
kepada Sian-Nio untuk turun gunung!”
Sambil tersenyum Kioe-Tok Sian-Cie membimbingnya
bangun dari atas tanah, lalu berkata, “Anak baik, kau
sudah melupakannya selama berapa hari? kecuali
menyusahkan ibumu yang harus menanggung rindu
apakah kau telah menelantarkan urusan lain?”
“Aku tak boleh menyusahkan ibu hingga beliau harus
menanggung rindu! tecu sekarang juga harus berangkat
untuk pulang ke rumah!”
Kembali Kioe-Tok Sian-Cie tertawa.
“Sekalipun terburu-buru juga tak perlu berangkat
sekarang juga, lebih baik tunggu sampai besok pagi saja,
asal perjalanan dilakukan dengan lebih cepat bukankah
sama saja?”
Ia merandek sejenak lalu melirik sekejap ke arah Chin
Wan Hong yang berada di belakang tubuhnya, lalu
menambahkan, “Hubungan serta cinta kasih para cici
terhadap dirimu tidak jelek, sebelum berangkat berilah
salam perpisahan kepada mereka semua dan tetapkan
juga waktu untuk saling berjumpa dikemudian hari.”
Hoa Thian-hong mengiakan tiada hentinya kemudian
mengundurkan diri, semua orangpun segera berkumpul
di dalam kamarnya Chin Wan Hong.
Sore itu dilewatkan dalam suasana murung dan sedih
karena harus berpisah, malamnya semua orang
menyiapkan sebuah perjamuan untuk menghantar
keberangkatan si anak muda itu.

Selesai bersantap Hoa Thian-hong serta Chin Wan
Hong sambil bergandengan tangan mencari angin di
dalam kebun bunga, mereka saling mengutarakan isi hati
dan melewatkan malam yang panjang dengan
kemesraan dan penuh kasih sayang.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Hoa Thian-hong
telah minta diri kepada Kioe-Tok Sian-Cie, dengan diantar
oleh “Biauw-Nia-Sam-Sian” serta Chin Wan Hong sekalian
berangkatlah pemuda itu keluar lembah, perpisahan itu
dirasakan amat berat sekali terutama setelah bergaul
amat lama dan dihati masing-masing telah timbul
perasaan persahabatan yang kental, diantara beberapa
orang Chin Wan Hong yang merasakan paling berat,
sepanjang perjalanan ia berpesan tiada hentinya sambil
mengucurkan air mata, jelas nampak di atas wajahnya
bahwa ia merasa berat hati untuk berpisah dengan
kekasihnya.
Hoa Thian-hong sangat merindukan keadaan ibunya,
setelah keluar dari barisan Hoa-Hiang-Tin, iapun
keraskan hati untuk berpisah dengan semua orang dan
melakukan perjalanan dengan cepat.
Keinginannya untuk pulang ke rumah amat besar,
sepanjang perjalanan ia berlarian terus baik siang
maupun malam, terutama sekali setiap tengah hari telah
tiba dan racun teratai dalam tubuhnya mulai kambuh, ia
berlari jauh lebih cepat dari kuda jempolan, kendati
badannya terasa agak tersiksa namun perasaannya jauh
lebih gembira dan lega.
Hoa Thian-hong pada saat ini sudah bukan Hong-po
Seng tempo dulu, sekalipun usianya belum mencapai
delapan belas tahun tetapi perawakan tubuhnya sudah

tinggi kekar, wajahnya tampan dengan alis yang tebal.
terutama sepasang matanya yang menyorotkan cahaya
tajam menandakan bahwa tenaga lweekangnya telah
memperoleh kemajuan yang amat pesat.
Ibunya berdiam jauh di daerah utara, dari arah Baratdaya
menuju ke arah Barat-laut ia harus melakukan
perjalanan ber-puluh2 ribu li jauhnya. tetapi dikarenakan
wajahnya telah berubah dan perjalanan dilakukan sangat
cepat, wilayah kekuasaan perkumpulan Sin-kie-pang
serta Hong-im-hwie berhasil dilalui tanpa menimbulkan
sedikit persoalanpun,
Siapa tahu ketika dengan susah payah ia berhasil tiba
di rumah, yang ditemui hanya sebuah bukit yang kosong,
ibunya entah sudah pargi kemana. di dalam rumah
nampak tertinggal secarik kertas yang berbunyi.
“Surat ini ditujukan kepada Hong-jie, “Sudah lama
kunantikan kepulanganmu ke rumah tapi kau tak kunjung
tiba. maka kuambil keputusan untuk mencari jejakmu di
dalam dunia persilatan, setelah membaca surat ini
berangkatlah ke kota Cho-Chiu untuk berjumpa.”
Hoa Thian-hong jadi amat gelisah, dihitung dari
tanggal di atas surat ia mengetahui bahwa ibunya sudah
hampir satu bulan turun gunung, maka tergopoh-gopoh
ia turun gunung dan langsung mengejar ke kota Cho-
Chiu,
Sepanjang perjalanan ia berusaha menemukan jejak
ibunya tetapi hingga tiba di kota Cho-Chiu bayangan
tubuh ibunya belum nampak juga.

Diam-diam iapun mengambil kesimpulan, dengan
keadaan ibunya yang lemah dan tenaga dalamnya yang
sudah musnah kecepatan kakinya tak akan lebih cepat
dari orang yang mengerti ilmu silat, ditambah pula
perjalanan. harus dilakukan dengan tersembunyisembunyi,
tentu saja perjalanannya makin lambat lagi.
Ia sadar seandainya bukan saling bertemu muka
secara kebetulan sulit untuk menemukan kabar
beritanyas maka akhirnya dia mengambil keputusan
untuk berdiam di kota Cho-Chiu untuk menantikan
kedatangan ibunya, daripada kedua belah pihak saling
bersisipan dan tak bisa bertemu.
Kota Cho Ciu nampak amat gerah dari ramai sekali!
Kota ini mempunyai tiga kelebihan yakni banyaknya
perusahaan Piauw-Kiok, banyaknya rumah makan dan
warung Serta banyak nya rumah pelacuran dan
panggung opera.
Berhubung kolong langit dibagi jadi tiga kekuasaan
maka para perusahaan Piauw kiok menjadikan kota Cho
Chiu sebagai titik pertemuan, para pedagang dari empat
penjuru kebanyakan membongkar dan membuat barang2
dagangannya di kota ini, karena itu perusahaan ekspedisi
yang bermunculan disitU banyak bagaikan jamur di
musim hujan. dengan sendirinya rumah makan serta
rumah pelacuranpun ikut bermunculan disana sini
dengan ramainya.
Kota Cho Chiu juga merupakan satu2nya kota bebas
dari kekuasaan tiga golongan kekuasaan Bulim, kota itu
tidak termasuk dalam wilayah perkumpulan Sin-kie-pang,

Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw, tatapi mereka
semua menaikan cabang2 kantornya di tempat itu.
Sebuah bangunan besar di sudut utara kota
merupakan kantor cabang dari perkumpulan Hong-imhwie,
kantor cabang dari perkumpulan Sin-kie-pang
berada di sudut Barat, sedangkan sebuah kuil yang besar
dan megah dikenal dengan nama “It-Goan” di sudut kota
sebelah Tenggara merupakan kantor cabang dari
perkumpulan Tong-thian-kauw. kantor-kantor cabang itu
saling, berhadap hadapan dengan mengambil posisi dari
wilayah kekuasaan mereka masing-masing.
oooOooo-
14
DALAM kota Cho Chiu sering kali memunculkan
manusia-manusia Bulim dengan badan yang kekar, alis
yang tebal dan wajah yang bengis, percekcokan saling
terjadi dan perkelahianpun sudah merupakan suatu
kebiasaan, tetapi di daerah sekitar sana jarang sekali
terjadi pembunuhan, sebab bila ada seseorang terbunuh
maka dari ketiga belas pihak sakti mengirim orang untuk
melakukan penyelidikan, pembunuhnya jarang sekali
dapat meloloskan diri dari pengejaran mereka.
Bila malam telah tiba. kota Cho Chiu bermandikan
cahaya lampu yang terang benderang, rumah makan
penuh sesak dengan manusia, di atas panggung berisik
dengan suara tambur dan gembrengan sedang di rumah
pelacuran penuh lengking seruan lirih dan tertawa
cekikikan, hingga fajar menyingsing suasana ramai itu
baru reda.

Oleh sebab itulah setiap tengah hari suasana di kota
itu amat sunyi dan sepi, disamping itu daerah sekitar
sana seringkali bermunculan banyak orang dengan wajah
yang asing, mereka yang bertemu dengan manusiamanusia
tersebut kebanyakan lenyap tak berbekas dan
tiada kabar beritanya lagi.
Tepat dihadapan kantor cabang perkumpulan Hongim-
hwie berdiri sebuah warung teh yang tidak besar pun
tidak kecil, pagi itu dari pintu luar berjalan masuk
seorang pemuda berwajah tampan dan beralis tebal, dia
adalah Hoa Thian-hong.
Saat itu badannya jauh lebih kekar dan sorot matanya
semakin tajam, gerakan tubuhnya enteng dan ringan,
bagi mereka yang ahli sekilas memandang segera akan
mengetahui bahwa ia merupakan seorang ahli silat yang
memiliki tenaga dalam amat sempurna.
Di dalam kenyataan kehadiran Hoa Thian-hong di kota
Cho Chiu telah diketahui oleh semua pihak yang
berkuasa disana, hanya tak seorangpun yang tahu
siapakah gerangan pemuda itu.
Ketika pelayan menyaksikan kemunculan pemuda itu,
buru-buru lari menyambut kedatangannya sambil
menyapa, “Hoa-ya, selamat pagi!”
Hoa Thian-hong mengangguk dan langsung naik
keloteng, di sudut sebuab jendela ia memilih tempat dan
duduk.
Setiap pagi ia pasti nomor dua tiba disitu, dalam pada
itu sinar matanya telah berkelebat memandang sekejap
ke arah orang yang datang lebih duluan itu.
Orang tersebut adalah seorang pria bercambang yang
kehilangan sebuah lengan kirinya, di atas jidat orang itu

tertera sebuah codet bekas bacokan golok yang amat
panjang sekali, sekilas memandang tampang orang itu
kelihatan mengerikan sekali.
Codet bekas bacokan golok itu telah menutupi usianya
dan menutupi pula raut wajah yang sebenarnya.
Setiap pagi ia pasti datang lebih duluan dan
selamanya pula duduk menyendiri di sudut tembok,
sambil mencekal teko air teh seringkali ia memandang
keluar jendela dengan pandangan mendelong, badannya
jarang bergerak dan wajahnya selalu murung.
Baru saja Hoa Thian-hong ambil tempat duduk
pelayan telah menghidangkan seteko teh wangi serta
senampan bak-pao yang masih mengepulkan asap. si
anak muda itu memenuhi cawannya dengan air teh lalu
perlahan lahan diteguknya, setelah itu mulai menikmati
sarapan paginya.
Terdengar dari arah tangga loteng berkumandang
suara derap kaki manusia, seorang pria berusia
pertengahan yang memakai ikat kepala warna hijau dan
menggoyang goyangkan kipasnya naik ke atas loteng,
sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu
kemudian sambil tertawa terbahak bahak ia menjura ke
arah si anak muda itu.
“Haaaah…. haaah…. haaaah…. Thian-hong-heng, hari
ini siauwte berhasil menyusu di rimu!”
“Selamat Pagi Ma-heng!” sahut Hoa Thian-hong
Sambil mengangguk. “Siauwte pun baru saja tiba!”
Kiranya orang ini she Ma bernama Ching-san dengan
julukan “ Ciauw-Hoen-Si-Ci” atau si utusan pencabut

nyawa, ia bekerja di pihak perkumpulan Tong-thian-kauw
dengan tugas diluar.
Hoa Thian-hong yang telah berdiam selama beberapa
bulan di kota Cho-Chiu, walaupun belum barhasil
menemukan ibunya, tetapi semua kurcaci yang ada di
kota tersebut telah dikenalnya satu per satu.
Sementara itu si Utusan Pencabut nyawa Ma Chingsan
telah duduk disisinya, lalu dengan suara rendah
ujarnya, “Thian-hong heng, mumpung kedua orang si tua
bangka yang tidak modar2 itu belum datang, bagaimana
kalau kita membicarakan sesuatu dengan hati
sejujurnya.”
“Sudahlah. tak usah kau bicarakan lagi,“ tukas Hoa
Thian-hong Sambil teftawa4 “Siauwte sedang menunggu
orang, tiada waktu bagiku untuk berangkat ke kota Leng-
An”
Ia merandek sejenak, kemudian sambil tersenyum
tambahnya, “Siapa yang tidak tahu akan kelihayan dari
Giok-Teng Hujien, usia siauwte masih muda belia, aku
masih tidak pingin mempertaruhkan batok kepalaku
sebagai bahan gurauan….”
Buru-buru si Utusan Pencabut Nyawa Ma Chiang San
goyangkan tangannya berulang kali. “Kau jangan percaya
dengan perkataan kedua orang tua bangka yang ngaco
belo tidak karuan itu. Giok Teng Hujien dari perkumpulan
kami bukanlah manusia sadis seperti apa yang dikatakan
mereka, terus terang saja kukatakan bahwa…!”
Ketika dilihatnya orang itu celingukan kesana kemari
tidak berani bicara secara blak2an, Hoa Thian-hong

segera tertawa nyaring, katanya, “Haaah….haaah….Maheng,
bila kau ada urusan katakanlah terus terang!”
Dengan suara rendah dan setengah berbisik si Utusan
Penyabut Nyawa Ma Ching-san segera berkata, “Hujien
telah meninggalkan markas besar menuju kemari, malam
nanti ia mengajak heng tay untuk berjumpa dikuil It Hoa
Thian-hong segera mengerutkan sepasang alisnya
kemudian tertawa.
“Bila kejadian ini berlangsung pada setengah tahun
berselang, sekalipun telaga naga atau sarang harimau
siauwte berani untuk mengunjunginya….tapi
sekarang,…..”
“Thian-hong heng. kau telah Salah menduga!” buruburu
si Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san goyangkan
tangannya berulang kali.”Hujien adalah bermaksud baik
terhadap dirimu dan sedikitpun tidak Untuk mencelakai
diri heng tay, lagipula kuil It Goan Koan yang begitu kecil
masa sanggup Untuk mengurung Heng tay yang begitu
lihay!”
Mendadak terdengar gelak tertawa yang amat nyaring
berkumandang datang.
“Haaah…. haaah…. Ma-heng, kenapa kau musti
sungkan2, siapa yang tidak tahu kalau si-Utusan
Pencabut Nyawa dari perkumpulan Tong-thian-kauw
selamanya membunuh orang tanpa menggunakan golok,
tapi cukup menggape tangannya saja!”
Dengan cepat si Utusan Pencabut Nyawa Ma Chingsan
putar kepalanya dan menuding ke arah orang itu
dengan kipasnya sambil memaki, “Soen Loo-ko! kau
sebagai petugas terima tamu dari perkumpulan Hong-imTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
hwie, kenapa bersikap begitu kasar dan tidak bersahabat
terhadap diri siauwte?”
Orang she Soen itu adalah seorang kakek tua yang
berperawakan tinggi dan kurus. Sementara itu sambil
tertawa terbahak bahak menyapa diri Hoa Thian-hong
kemudian duduk dihadapan mukanya.
Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba ia menjura ke
arah seorang kakek berwajah merah padam yang tanpa
menimbulkan sedikit surapun menguntil dibelakang
kakek she-Soen tadi serunya, “Tang Loo Hu-hoat,
wajahmu nampak berseri2 dan kegirangan, karena
urusan apa sin?
“Haaah….haaah…….haaah…. “Kakek berwajah merah
she Tang itu tertawa terbahak-bahak, dari sakunya dia
ambil keluar sebuah sampul surat kemudian sambil
diangsurkan ke depan katanya, “Hoa-heng, coba lihat.
dari tempat jauh telah melayang tiba sebuah berita
kegirangan, apakah tidak sepantasnya kalau aku ikut
bergembira bagi diri Hoa-heng?”
Hoa Thian-hong menerima surat tersebut, tiba-tiba si
Utusan pencabut nyawa Ma Cing San yang ada disisinya
menyerobot surat itu dari samping, kemudian sambil
mengeluarkan isi sampul itu dibacanya, “Hari ini aku tiba,
sambutlah kedatanganku di Lan-Hong. tertanda: Pek.”
Hoa Thian-hong miringkan kepalanya ikut melihat isi
surat itu, terlihatlah oleh nya dibawah rentetan huruf
yang sangat indah tadi tertera sebuah cap yang
merupakan rangkaian huruf: Kun-gie dua patah kata.
Si-Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san segera
angsurkan kembali surat itu ke tangan Hoa Thian-hong,

lalu sambil alihkan sinar matanya ke arah kakek berwajah
merah itu tegurnya, “Tang-heng, apakah surat itu benarbenar
ditulis sendiri oleh nona Pek Kun-gie dari
perkumpulanmu?”
“Haah….haah….haah….” sambil mengelus jenggotnya
kakek berwajah merah itu tertawa targelak. “Siapa yang
mempunyai batok kepala cadangan? aku sih tak berani
memalsukan namanya!”
“Tang-heng!” si kakek she-Soen, penerima tamu dari
perkumpulan Hong-im-hwie berseru dengan pura-pura
tertegun. “Bukankah nona Pek mengirim Surat itu kepada
kantor Cabangnya agar semua anak buahnya yang hadir
sama-sama menyambut kedatangannya, mau apa kau
serahkan surat itu kepada diri Hoa-heng?’
Kembali si kakek berwajah merah itu mendongak dan
tertawa terbahak-bahak.
“Nona Pek kami ini adalah seorang perempuan yang
berwatak aneh dan bercita-cita tinggi, semua tindaktanduknya
dilaksanakan dengan andalkan ilmu silat serta
kecerdikannya, belum pernah ia gunakan kedudukannya
sebagai putri kesayangan Pangcu untuk memerintah
kami, apalagi memerintahkan anak buahnya untuk
menyambut kedatangannya, sekalipun dia ada maksud
begitu pun tak nanti akan menulis surat sendiri.”
Habis berbicara ia tertawa terbahak-bahak, kemudian
meneguk secawan air teh dan pejamkan matanya tidur
ayam di atas kursi.
Si Utusan Pencabut nyawa Ma Ching-san yang
menyaksikan akan hal itu, sepasang alisnya kontan
berkerut. kepada Hoa Thian-hong serunya dengan suara

aneh, “Hoa-heng, kau sudah dengar belum? tindaktanduk
nona Pek selamanya diandalkan pada kecerdikan
serta kelihayan ilmu silatnya, lebih baik kau cepat-cepat
berangkat dan perjalananmu dilakukan sedikit lebih
cepat, kalau kedatanganmu terlambat bisa jadi batok
kepalamu akan lenyap dan berpisah dari badanmu!”
Hoa Thian-hong tersenyum, ia merobek surat itu
hingga hancur berkeping-keping, kemudian pikirnya di
dalam hati, “Ini hari sudah bulan Lak-Gwee, sekalipun
perjalanan ibu sangat lambat semestinya ia sudah harus
tiba di kota Cho-Chiu, kenapa bayangan tubuhnya masih
belum juga nampak? Aaaai….. Apakah di tengah jalan ia
telah menemui kesulitan? Aaaah. Tidak mungkin,
pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki orang tua
itu sangat luas, lagipula mengetahui segala macam akal
licik yang sering dipakai oleh orang Bulim, kawanan
kurcaci biasa tidak nanti bisa mengapa-apakan beliau…..”
Memikirkan tentang keselamatan ibunya, pemuda itu
merasa pikirannya amat kalut dan hatinya risau hingga
tanpa terasa di atas wajahnya nampak murung dan
gelap.
Mendadak terdengar si Utusan Pencabut nyawa Ma
Ching-san tertawa terbahak bahak lalu berkata, “Thianhong
Heng, nona Pek suruh kau menyambut
kedatangannya, kejadian ini benar-benar merupakan
suatu kehormatan serta kebanggaan bagimu, bisa
berjumpa dengan kaum enghiong itulah kesenangan bagi
orang kangouw, tapi awas…. kau jangan
berayal terus, malam ini sebelum kentongan ketiga
lebih baik berangkatlah lebih dulu.

Mari…..mari….mari…. mumpung sekarang tak ada
urusan, siauwte ingin menantang dirimu untuk main
catur!” bicara sampai disitu ia segera menoleh dan
berteriak keras, “Pelayan! siapkan papan catur dan biji
catur!”
Petugas penerima tamu dari perkumpulan Hong-imhwie
serta Tang Hu-Hoat dan perkumpulan Sin-kie-pang
sama-sama tidak mengerti akan permainan catur,
mendengar mereka mau bermain catur, sepasang mata
kedua orang itu kontan mendelik besar.
Kakek tua berwajah merah she-Tang itu sambil
busungkan dada segera berseru keras, “Ma-heng, nanti
malam Hoa-heng masih harus melakukan perjalanan.
bagaimana kalau kau biarkan dia pergi beristirahat seben
tar?”
“Betul!” seru kakek she-Soen pula sambil tertawa.
“Lebih baik kita kongkouw disini saja kan lebih enak
daripada main catur. Ee eeei…. Ma-heng kemarin malam
kau menikmati sorga dunia di rumah pelacur mana?
apakah sudah menemukan barang baru? jangan lupa
bagi bagi kepada rekan rekanmu Iho…..”
Sret! Si Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san
merentangkan kipasnya dan digoyangkan beberapa kali,
kemudian dengan nada ogah-ogahan menjawab,
“Tentang soal ini, sebetulnya Siauwte tidak ingin banyak
berbicara….” ia merandek sejenak, lalu tambahnya,
“Tetapi kalau memang Soen-heng mengajukan
pertanyaan itu, siauwte merasa tidak enak untuk
merahasiakannya,”

Orang ini sebetulnya tidak banyak bicara tetapi
akhirnya meluncurlah kata-kata yang amat panjang
mengisahkan petualangannya kemarin malam dengan
pelacur.
Tang Loo Hu-Hoat dengan penuh kenikmatan
mendengarkan kisah cerita rekannya itu badan tegak
lurus dan matanya melotot besar, sedangkan si kakek
she Soen itu sambil mengedipkan matanya melek merem
mendengarkan pula dengan penuh perhatian: se-akan2
diapun tergiur oleh cerita itu.
Hanya Hoa Thian-hong seorang yang tidak ambil
perhatian, sambil duduk di kursi ia menikmati air tehnya.
Sementara sepasang matanya memperhatikan manusia
yang berlalu lalang di atas jalan raya sambil kadang kala
melirik sekejap ke arah si manusia bercodet di sudut
ruang itu.
Mendekati tengah hari, tamu yang berkunjung di hotel
rumah makan itu makin lama semakin banyak. Hoa
Thian-hong-pun segera bangun berdiri, ujarnya sambil
tertawa, “Silahkan kalian bertiga bercerita disini, siauwte
hendak mohon diri terlebih dahulu.”
“Hoa heng, apakah kau hendak peng “Bauw Tok”lari
racun?” tanya Tang Loo Hu hoat dari perkumpulan Sinkie-
pang dengan penuh perhatian
Sambil tersenyum Hoa Thian-hong mengangguk ia
segera menjura ke arah tiga orang itu dan meninggalkan
loteng tersebut.
Tiba-tiba si Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san ikut
bangun berdiri, bisiknya lirih, “Sebelum kentongan nanti,

siauwte akan datang ke rumah penginapan untuk
menjemput dirimu!”
“Ma heng!”terdengar kakek she Soen menyindir
dengan suara keras,” Perbuatan seorang pria sejati tidak
takut diketahui orang lain, kenapa sih kau berbisik
macam orang perempuan Saja?”
Hoa Thian-hong malas untuk mendengarkan
pencekcokan diantara ketiga orang itu, baru saja ia
hendak berlalu mendadak dilihatnya jari tangan si-pria
bercodet di sudut ruangan yang sedang memegang poci
teh itu gemetar keras,
Walaupun gerakan itu sangat lirih tetapi kebetulan
Sekali terjatuh ke dalam pindangan Hoa Thian-hong
membuat si anak muda itu segera menyadari akan
sesuatu, dengan cepat dia alihkan sinar matanya keluar
jendela.
Tampaklah dari depan pintu kantor Cabang
perkumpulan Hong-im-hwie meluncur masuk tujuh
delapan ekor kuda jempolan, orang pertama yang ada di
paling depan adalah seorang pria berwajah putih yang
memakai pakaian perlente
Ketajaman matanya pada saat ini sudah berbeda jauh
dengan keadaan dahulu. hanya sekilas memandang ia
telah berhasil melihat raut Wajah kedelapan orang yang
berada di atas kuda itu, Satu ingatan kembali berkelebat
di dalam benaknya. Pemuda itu masih teringat bahwa
pria berwajah putih berbaju perlente itu bukan lain
adalah “Pat-Pit-Siuw-loo” atau si Malaikat berlengan
delapan Cia Kim dari perkumpulan Hong-im-hwie.

Agaknya kakek tua she-Soen itupun menemukan
bahwa ada orang tiba di kantor cabangnya, buru-buru ia
tinggalkan meja sambil berseru, “Sam Tang-kee dari
perkumpulan kami telah tiba, maaf. Siauwte terpaksa
harus berangkat lebih duluan!”
Setelah menjura, kepada semua Orang, dia pun
berlalu.
Dalam hati kecil Hoa Thian-hong sebetulnya ingin
sekali duduk beberapa saat lagi disitu Sambil mengawasi
gerak-gerik pria bercodet itu, apa daya raCun Teratai
Empedu Api yang bersarang ditubuhnya sudah mulai
kambuh, terpaksa ia tinggalkan Mu dan Tang dua orang
itu dan berlalu lebih dahulu
Setibanya diluar kota, racun teratai telah kambuh, Hoa
Thian-hong pun terpaksa kerahkan tenaga dalamnya
untuk berlarian mengelilingi tembok kota tersebut.
Ia sudah sebulan lamanya berdiam di kota Cho-Chiu,
setiap tengah hari bila racun teratainya kumai ia musti
ber-lari2an mengelilingi tembok kota, orang yang
mengetahui bahwa di dalam tubuhnya mengandung
segera memberikan julukan “Bauw-Tok” atau Lari Racun
kepadanya.
Hoa Thian-hong yang ada maksud memancing
perhatian ibunya tidak menyaru dengan nama lain lagi,
asal usulnya juga tidak dirahasiakan, maka semua orang
di kota itu pada mengetahui bahwa “Hoa Thian-hong Lari
racun mengelilingi kota Cho-Chio
Bukan begitu saja bahkan kabar berita ini tersiar pula
sampai ke dalam telinga Perkumpulan Sin-kie-pang,
Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw, cuma ia sendiri
sama sekali tidak mengetahuinya.

Tenaga dalamnya secara tiba-tiba memperoleh
kemajuan yang amat pesat, daya kerja racun teratai
yang berada di dalam tubuhnya pun kian hari kian
bertambah ganas, setiap kali kambuh sekujur tubuhnya
terasa sakit dan amat menderita sekali.
Dalam keadaan begitu ia berhenti berlatih ilmu
lweekang, tetapi gerakannya berlari-larian kencang tidak
jauh berbeda dengan berlatih tenaga dalam, tenaga
murni yang dimilikinya tetap memperoleh kemajuan yang
pesat, sementara daya kerja racun teratai semakin hari
semakin menggila.
Ketika malam pertama tiba disana, dalam waktu
setengah jam ia hanya bisa mengelilingi tembok kota itu
sebanyak dua kali lingkaran kini gerakan tubuhnya cepat
bagaikan hembusan angin, dalam waktu setengah jam
sudah empatbelas kali dia naengitari tembok kota
tersebut.
Oleh sebab itulah wilaupun orang Cho Chiu tak pernah
menyaksikan si anak muda itu turun tangan tapi
siapapun mengetahui bahwa ilmu silat yang dimiliki
olehnya luar biasa sekali, serangannya tentu dahsyat
bagaikan gulungan ombak di samudra.
Selama ini pihak Sin-kie-pang, Hong-im-hwie dan
Tong-thian-kauw mengawasi gerak-geriknya dengan
ketat, hanya saja hingga detik itu belum pernah ada
salah satu pihak yang menggunakan kekerasan
menghadapi dirinya. sebaliknya si anak muda itu sendiri
juga bertindak sangat hati-hati, ia tak berani bertindak
terlalu gegabah.

Setelah berlarian selama setengah jam, daya kerja
racun teratai telah tenggelam kembali ke dasar pusar,
dengan badan basah kuyup oleh keringat ia pulang ke
rumah penginapan untuk mandi dan tukar pakaian.
selesai bersantap siang pemuda itu berpesiar dijalan raya
sambil menantikan kedatangan ibunya.
Sore itu bayangan tubuh si pria codet berkecamuk di
dalam benaknya, setelah pusing. kepala beberapa saat
akhirnya dia ambil keputusan untuk menyingkirkan
dahulu persoalan tentang Pek Kun-gie serta Giok Teng
Hujien, seorang diri berangkatlah dia untuk menyelidik
keadaan si manusia bercodet itu.
Ketika senja meajelang tiba, seorang diri ia berjalan
keluar dari rumah penginapan keluar dari pintu barat
masuk dan pintu timur setelah berputar kayun
menghilangkan jejak, akhirnya pemuda itu
menyembunyikan diri di sekeliling kantor cabang
perkumpulan Hong-im-hwie.
Suasana di dalam gedung kantor cabang perkumpulan
Hong-im-hwie itu nampak terang benderang
bermandikan cahaya, suara gelak tertawa amat berisik
hingga kedengaran dari luar gedung, di pintu depan
manusia berlalu-lalang dengan ramainya menunjukkan
suasana disitu diliputi kesibukan.
Beberapa saat kemudian tandu demi tandu diterangi
lampu lentera masuk ke dalam gedung di belakang tandu
mengiringi sekelompok muda-mudi yang membunyikan
alat bunyi-bunyian.
“Aah, kentongan kedua sudah lewat” pikir Hoa Thianhong
suatu ketika. “Andai kata si pria berlengan buntung

itu ada maksud menyirepi tempat ini, semestinya ia akan
muncul pada waktu-waktu begin…”
Perhatiannya terhadap persoalan kecil membuat
pengalaman si anak muda ini memperoleh kemajuan
yang pesat, karena takut rahasianya ketahuan maka
selama ini dia hanya berani mengintip dari tempat
kegelapan.
Waktu sedetik demi sedetik telah berlalu, suara
nyanyian dan musik yang berkumandang dari dalam
gedung makin lirih dan sirap, lewat beberapa saat
kemudian para penyanyi dan penari mohon diri berlalu
dari gedung tersebut.
Mendadak…. terdengar suara derap kaki kuda
berkumandang memecahkan kesunyian, empat ekor
kuda jempolan muncul dari balik pintu dan langsung
menuju ke arah pusat kota.
Dari tempat persembunyiannya Hoa-Thian-hong dapat
melihat jelas raut wajah beberapa orang itu. orang
pertama bukan lain adalah “Pat-Pit Siuwloo” si malaikat
berlengan delapan Cia Kim, orang kedua adalah hweesio
berbadan gemuk, berkepala besar dengan mata bulat
dan berwajah penuh diliputi nafsu membunuh,
dibelakang padri itu mengikuti seorang pemuda
berpakaian ringkas warna hitam dan berusia diantara dua
puluh tahunan.
Hoa Thian-hong masih ingat sewaktu berada ditepi
sungai Huang-ho tempo dulu, pemuda ini pernah saling
beradu tenaga dengan Kok See-piauw, alhasil kekuatan
mereka seimbang dan siapapun tidak berhasil merebut
kemenangan.

Orang terakhir she-Ciauw bernama Khong, dia adalah
Touwcu atau ketua kantong cabang perkumpulan Hongim-
hwie di kota Cho Chiu.
Dengan cepatnya keempat orang itu berlalu dari situ,
Hoa Thian-hong tak berani gegabah ia awasi dulu
keadaan di empat penjuru sebelum bertindak, baru saja
hatinya merasa sangsi harus membuntuti atau tidak
mendadak dari sudut jalan berkelebat lewat sesosok
bayangan manusia. dengan meminjam kegelapan yang
mencekam di sekitar sana orang itu membuntuti Cia Kim
berempat dari tempat kejauhan.
Begitu melihat tubuh dari bayangan manusia tadi. Hoa
Thian-hong merasa amat terperanjat, pikirnya, “Sungguh
lihay ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu,
walaupun aku harus berlatih lima tahun lagipula belum
tentu bisa menyusul dirinya!,…”
Terlihatlah bayangan manusia tadi berkelebat
mengikuti tepi jalan raya. gerakan tubuhnya tidak terlalu
cepat tetapi se-bentar2 berpindah tempat dari kiri ke
kanan dan dari kanan ke kiri begitu seterusnya, Hoa
Thian-hong walaupun sudah pentang matanya namun
gagal untuk memperhatikan gerakan tubuh orang itu.
Dalam sekejap mata keempat ekor naga tadi sudah
berhenti di depan sebuah gedung tempat berjudi,
bayangan hitam tadipun segera berkelebat ke samping
dan lenyap dari pandangan,
Buru-buru Hoa Thian-hong menyembunyikan diri di
tempat kegelapan, pikirnya, “Cia Kim bukanlah seorang
manusia biasa, orang itu berani mencabut kumis di wajah
harimau rasanya diapun pasti bukan seorang jago biasa.

Kepandaian silat yang kumiliki terlalu cetek, lebih baik
tindakanku lebih berhati-hati sehingga tidak sampai
menggagalkan rencana orang “
Berpikir sampai disitu ia segera menyembunyikan diri
di tempat kegelapan dan menunggu dengan hati sabar,
sedikitpun tidak berani bergerak secara sembarangan.
Sementara itu “Pat-Pit Siuw-loo” si malaikat berlengan
delapan Cia Kim sekalian yang telah masuk ke dalam
gedung perjudian lama sekali belum juga munculkan diri,
sedang bayangan hitam tadipun tidak menampakkan diri,
Dalam keadaan begitu Hoa Thian-hong harus
menggunakan kesabarannya yang paling besar untuk
menanti terus,
Beberapa jam kemudian keempat orang itu baru
nampak muncul dari gedung perjudian dan berlalu dari
situ
Pintu kota Cho-Chiu tidak pernah ditutup kaum
pelancong dapat berpesiar kemanapun mereka ingin
pergi dengan sebebas2nya, setelah keluar dari gedung
perjudian tadi keempat orang itu berangkat ketepi sungai
di kota sebelah Timur Untuk main pelacur di atas perahu,
kemudian mengunjungi perkampungan Moo-Kee-Cung
Untuk bermain dan bersantap menanti kentongan
keempat telah lewat mereka baru nampak munculkan diri
kembali.
Sepanjang perjalanan Hoa Thian-hong menguntil terus
tiada hentinya, pikirnya didalam. hati
“Kedua belah pihak sama merupakan jago Bulim kelas
satu, walau aku harus menguntil selama tiga hari tiga
malampun akan kuintil terus sampai selesai”

Sewaktu hendak keluar kota, agaknya bayangan
manusia itu menyadari bahwa jejaknya tak bisa
disembunyikan lagi karena daerah diluar tembok kota
adalah tanah datar yang luas, badannya segera
merandek sejenak di belakang pintu kota.
Sedetik saja bayangan tubuh orang itu merandek, Hoa
Thian-hong telah berhasil melihat jelas wajahnya.
Ternyata orang itu bukan lain adalah lelaki bercodet yang
dijumpainya setiap hari di sudut loteng rumah makan.
Tanpa sadar semangat Hoa Thian-hong berkobar
kembali, dia ikut keluar dari pintu kota.
Tiba-tiba….pria bercodet yang ada di depan rupanya
merasakan sesuatu, badannya merandek sejenak dan
berpaling ke belakang.
Hoa Thian-hong yang menyaksikan jejaknya sudah
konangan, terpaksa keraskan kepala untuk mengikuti
lebih jauh.
Baru saja Pat-Pit Siuw-Loo sekalian berada kurang
lebih setengah li diluar kota, si manusia bercodet yang
menguntil terus selama ini tiba-tiba enjotkan badannya
melayang ke depan, sambil menghadang jalan pergi
beberapa orang itu bentaknya dengan suara berat, “Cia
Kim! coba lihat siapakah aku?”
Mendengar bentakan itu “Pat-Pit Siuw-Loo” Cia Kim
segera meloncat turun dari punggung kudanya.
Pria berlengan buntung itu mendengus dingin, sambil
meloloskan sebilah pedang ia langsung menubruk ke
depan.

Cahaya berkilauan memancar keempat penjuru, dalam
waktu singkat kedua orang itu telah saling bergebrak
sebanyak tiga jurus.
Begitu melihat jurus serangan yang dipergunakan
lawannya, si malaikat berlengan delapan Cia Kim segera
berteriak dengan tiada terkejut, “Aah. kau adalah Ciong-
Lian-Khek?”
Sementara pembicaraan masih berlangsung, bagaikan
sambaran kilat kedua orang itu telah saling bergebrak
sebanyak lima enam jurus.
Hoa Thian-hong yang menyaksikan kelihayan ilmu silat
yang dimiliki si jago bercambang itu jadi melongo dan
kesemsem, ia tak menyangka kalau kepandaian silat
orang itu jauh diluar dugaannya. Darah panas dalam
rongga dadanya segera bergolak, saking tertariknya
sampai ia lupa akan keadaan sendiri, selangkah demi
selangkah tubuhnya mendekati kalangan pertarungan itu.
Tiga orang yang datang bersama malaikat berlengan
delapan Cia Kim waktu itupun sudah turun dari kudanya,
ketika menyaksikan kedatangan Hoa Thian-hong secara
mendadak mereka semua nampak tertegun.
Ciauw Khong yang pernah mengintip si anak muda itu
secara diam-diam waktu ia ‘Berlari racun’ begitu melihat
munculnya Hoa Thian-hong disana, segera ujarnya
kepada hweesio gemuk yang berada disisi tubuhnya,
“Lapor Ngo-ya, orang ini bukan lain adalah Hoa Thianhong!”
Dalam perkumpulan Hong-im-hwie padri gemuk ini
menduduki kursi nomor lima, orang kangouw hanya tahu

dia bernama Seng Sam Hauw, siapapun tidak tahu apa
gerakan keagamaannya, karena ia suka minum arak,
suka perempuan dan suka membunuh manusia maka
orang-orang memberi julukan “Seng Sam Hauw” atau
she-Seng yang punya tiga kesukaan pada orang ini.
Setelah mendengar laporan dari Ciauw Khong, padri
yang bernama Seng Sam Hauw itu segera goyangkan
bahunya mendekati si anak muda itu, tegurnya dengan
suara ketus, “Apakah kau adalah keturunan dari Hoa
Goan Sioe?”
Orang ini punya perawakan badan yang gemuk dan
besar, sepintas lalu gerak geriknya nampak lamban dan
tidak lincah, tapi dalam kenyataan begitu cepat hingga
sukar dilukiskan dengan kata-kata.
Mendengar orang itu mengucapkan kata-katanya
dengan nada tidak sopan, Hoa Thian-hong merasa amat
mendongkol, dengan nada yang dingin dan ketus iapun
balik bertanya, “Toa hweesio, kau ada urusan apa?”
Pemuda ini sudah punya pengalaman, ia tahu bercakap2
dengan manusia dari kalangan Perkumpulan Sinkie-
pang, Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw tak
perlu memakai peraturan. karena itu sambil bercakap2
hawa murninya telah dihimpun di telapak kiri siap
melangsungkan pertarungan sengit.
Seng Sam Hauw menyeringai seram, baru saja ia
hendak mengumbar hawa amarahnya mendadak
terdengar Ciong-Lian-Khek si manusia berlengan kutung
itu membentak keras, “Cia Kim! aku si Ciong-Lian-Khek
tidak akan membalas dendam atas lenganku yang
kutung!”

“Kau tidak akan membalas dendam atas kutungnya
lenganmu, lalu apa gunanya beradu jiwa?” pikir Hoa
Thian-hong dengan hati heran dan tidak habis mengerti.
“Kalau kau punya kepandaian keluarkan saja
semuanya “terdengar Si malaikat berlengan delapan Cia
Kim berseru sambil tertawa dingin. “Aku orang she Cia
akan melayani dirimu sampai kemanapun juga!”
“Aku juga tidak membalas atas kekejian hatimu
merebut istriku!” bentak Ciong-Lian Khek kembali.
“Sudah kau tak usah banyak bacot. aku tahu kau
hendak membalas dendam atas terbunuhnya anakmu!”
“Apa dosanya seorang bocah berusia tiga tahun?
mengapa kau membinasakan dirinya?”
Sambil menggertak gigi si malaikat berlengan delapan
Cia Kim bungkam dalam seribu bahasa, pukulannya yang
dahsyat laksana gulungan ombak ditengah samudra
segulung demi segulung maluncur ke depan menandingi
permainan pedang baja dari Ciong-Lian Khek.
Pertempuran tersebut benar-benar merupakan suatu
pertarungan yang amat sengit, Seng Sam Sauw Hauw
segera tertarik perhariannya untuk menyaksikan jalannya
pertempuran yang maha seru itu hingga lupa untuk
bergebrak melawan Hoa Thian-hong.
Ciong lian Khek yang dibebani oleh dendam sakit hati
sedalam lautan memainkan jurus-jurus pedangnya
dengan hebat dan gencar, ia telah melupakan mati
hidupnya. seluruh pikiran dan kekuatannya dikerahkan
untuk berusaha membinasakan lawannya.
Si malaikat berlengan delapan Cia Kim yang
mengandalkan kedelapan puluh satu jurus “Koei-Goan-
Ciang-Hoat” nya Untuk menandingi lawan, meskipun

sudah keluarkan seluruh kekuatan dan kepandaiannya
namun ia selalu keteter dibawah angin, kendati beberapa
kali ia menempuh bahaya untuk merebut posisi namun
keadaannya masih tetap terdesak hebat,
Melihat keadaan sangat tidak menguntungkan bagi
pihaknya, dalam hati Seng Sam Hauw segera berpikir,
“Dalam sakit hati si bajingan berewok ini terhadap Samko
bertumpuk2 bagaikan bukit, kedua belah pihak samasama
tak sudi hidup bersama membiarkan manusia
semacam ini tetap hidup di kolong langit hanya akan
mendatangkan bencana saja bagi diri Sam-ko, lebih baik
kugunakan saja kesempatan yang sangat baik ini untuk
membasminya dari muka bumi.”
Berpikir sampai disitu, niat busuknya segera terlintas
di dalam benak. Sambil menyeringai seram ujarnya,
“Ciong Lian Khek, kau telah merusak kegembiraan diriku
untuk menikmati malam yang begini indah. Hmm! akan
kusuruh kau merasakan kelihayanku…..”
Badannya segera bergerak dan menubruk ke arah
tubuh lawan, telapak tangannya yang besar kontan
disodok kemuka-
Menyaksikan kejadian itu Hoa Thian-hong jadi
gusar,segara bentaknya keras2, “Hay. toa-hweesio!
jangan mencari kemenangan dengan jumlah banyak!”
Setelah mendengar bahwa Cia Kim telah
membinasakan seorang bocah berusia tiga tahun, timbul
rasa benci dan muaknya terhadap orang itu. sifat
kependekarannya muncul dan ia merasa harus
menegakkan keadilan bagi umat Bulim, apalagi setelah
menjumpai Seng Sam Hauw hendak mencari

kemenangan dengan andalannya jumlah banyak, ia
segera munculkan diri untuk menghalangi niatnya itu,
“Hmmm….. kau anggap di tempat ini manusia macam
dirimu punya hak untuk berbicara!” terdengar pemuda
berpakaian ringkas itu berseru dengan suara dingin
Sambil berseru ia maju ke depan dan melancarkan
sebuah pukulan dahsyat ke arah si anak muda itu.
Sejak turun gunung berulang kali Hoa Thian-hong
harus menerima penghinaan dan siksaan hidupnya
hampir saja musnah di tangan orang. hal itu lama
kelamaan menimbulkan rasa gusar dan mangkel dalam
hatinya, apalagi setelah setiap hari disiksa oleh racun
teratai membuat tabiatnya sama sekali berubah, hati
serta tindakannya berubah jadi jauh lebih keji.
Terhadap orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang,
Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw pada dasarnya ia
memang menaruh rasa benci, telapak kirinya segera
dengan menghimpun tenaga dalam sebesar dua belas
bagian bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Laksana kilat pemuda berpakaian ringkas itu meluncur
kemuka, telapak tangannya dengan dahsyat meluncur
datang mengancam tubuhnya.
Menyaksikan hal itu Hoa Thian-hong tertawa dingin,
telapaknya bergerak kemuka dengan jurus “Koen-Sioe Ci-
Tauw” ia papaki datangnya ancaman tersebut.
“Blaaaam…!” terdengar suara ledakan dahsyat
bergeletar memenuhi angkasa, si pemuda berpakaian
ringkas itu menjerit ngeri, badannya secara beruntun
mundur beberapa langkah ke belakang dengan
sempoyongan, dari mulutnya darah segar muntah keluar

sedang di atas tanah tertera nyata telapak kaki sedalam
tiga coen.
Sesudah mundur hingga delapan langkah jauhnya,
akhirnya pemuda itu jatuh mendeprok di atas tanah.
Ciauw Khong jadi amat terperanjat, buru-buru ia
mendekati tubuh pemuda berpakaian ringkas itu dan
memeriksa keadaan lukanya.
Tampaklah sepasang matanya terpejam rapat,
wajahnya pucat pias bagaikan mayat sedang dadanya
bergelombang naik turun tiada hentinya, walaupun ia
menggertak gigi kencang kencang namun darah segar
mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibir.
Ditinjau dari keadaannya itu jelas menunjukkan bahwa
isi perutnya telah terpukul luka parah oleh serangan
lawan.
Sementara itu setelah serangannya berhasil memukul
mundur pemuda berpakaian ketat itu, Hoa Thian-hong
alihkan sinar matanya ke arah kalangan pertempuran,
dilihatnya Seng Sam Hauw bekerja sama dengan Cia Kim
sedang bertempur mengerubuti Ciong-Lian Khek.
Si pria bercodet itu tidak nampak keteter walaupun ia
harus satu melawan dua musuh tangguh, sekalipun
begitu posisinya sudah tidak menguntungkan seperti tadi
lagi, ia lebih banyak melancarkan serangan dari pada
melakukan pertahanan.
Ketiga orang itu sama-sama merupakan jago silat
kelas satu yang sudah lama tersohor di kolong langit,
masing-masing pihak mempunyai kepandaian andalan
yang berbeda, setelah pertempuran berlangsung, jurusjurus
serangan yang aneh saling bermunculan, ada yang

lihay ada yang keji dan ada pula yang aneh, semua
mempunyai keunggulan dan keistimewaannya sendiri2.
Hoa Thian-hong yang menyaksikan jalannya
pertarungan dari sisi kalangan, setelah lewat beberapa
gebrakan kemudian ia mulai merasa hatinya goyah dan
matanya berkunang-kunang.
Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah saling
bergebrak sebanyak lima enam puluh jurus.
Ciong-Lian-Khek, dengan andalkan sebilah pedangnya
yang berkilauan tajam laksana kilat menyambar ke sana
menusuk kemari, tetapi apa daya kedua orang lawannya
adalah jago-jago Bulim yang lihay dan punya nama.
Setelah bertempur lebih jauh akhirnya dari posisi di atas
angin ia berada dalam keadaan seimbang dan dari posisi
seimbang ia keteter dibawah angin.
Kalau si Ciong-Liau Khek harus bertempur dengan cara
keras lawan keras terus-terusan, akhirnya ia pasti akan
menderita kalah,” pikir Hoa Thian-hong dalam hati. “Tapi
kalau dilihat keadaannya yang sudah dipengaruhi emosi,
tak mungkin orang itu suka mengundurkan diri sebelum
maksudnya tercapai…..”
JILID 11 : Giok Teng Hujien
BERPIKIR demikian ia lantas berteriak keras, “Eeeei,
hweesio gede, kau jangan membuat malu Sam Tang-kee
….”
Telapak tangannya disertai angin pukulan yang maha
hebat segera disodokkan ke arah tubuh Sam Sam Hauw.

Jurus serangan “Koen-Sioe-Ci-Tauw” ini merupakan
ilmu pukulan yang sangat diandalkan oleh si kakek
Telaga dingin Cioe It Bong, ditambah pula hawa panas
yang dihasilkan oleh Teratai racun empedu Api yang
rnengeram di dalam tubuhnya, serangan itu begitu
dilepaskan segera tampaklah desiran angin tajam yang
menderu deru bagaikan ambruknya gunung thay-san
laksana kilat menggulung ke depan.
Seng Sam Hauw terdesak hebat,- dalam posisi yang
kepepet terpaksa ia harus tinggal kan Ciong Lian-Khek
untuk putar badan menyambut datangnya ancaman
tersebut.
“Ploook!“ kedua belah pihak telah saling beradu
telapak satu kali, ditengah benturan keras badan mereka
berdua sama-sama bergeser miring dari posisi semula,
Diam-diam Seng Sam Hauw merasa terperanjat juga
menyaksikan kehebatan tenaga dalam lawannya, ia
merasa lengannya jadi kaku dan linu sekali segera
pikirnya, “Tenaga pukulan yang dimiliki keparat cilik ini
benar-benar sangat dahsyat, andai kata Coe Siauw Khek
sampai hilang jiwanya termakan oleh serangan bangsat
ini, aku bakal malu menghadapi ayahnya.,…”
Dalam hati ia berpikir demikian Sepasang tangannya
sama sekali tidak berhenti menyerang tangan kirinya
mendadak menyerang kesana mendadak menyapu
kemari semuanya mengenai dan membendung
datangnya serangan musuh, sementara telapak

kanannya dengan menggunakan ilmu ‘*Tay-Chiu Eng”
sekali demi sekali mengirim pukulan-pukulan berat.
Kiranya si anak muda berbaju ringkas itu bernama Coe
Siauw Khek, dia adalah putra dari Coe Goan Khek
dedengkot di dalam perkumpulan Hong-im-hwie.
Coe Goan Khek sebagai seorang pemimpin yang
menduduki kursi kedua di dalam perkumpulannya
mempunyai kedudukan yang sangat tinggi, sedikit
dibawah kekuasaan Jien Hian itu ketua dari Hong-imhwie,
Jien Hian telah kehilangan putranya yang mati secara
misterius. sekarang apabila Coe Siauw Khek pun mati di
tangan orang lain, orang-orang dari perkumpulan Hongim-
hwie tentu akan merasa malu dan kehilangan muka.
“Hoa Thian-hong!” tiba-tiba terdengar si Malaikat
berlengan delapan Cia Kim merebentak keras. “Besar
amat nyalimu, berani menangkap ikan di air keruh!”
“Hmm! apanya yang luar biasa?” jengek Hoa Thianhong
dengan suara dingin. “Setelah kubabat mati kau Cia
Kim, aku orang she Hoa bisa menggabungkan diri ke
pihak Tong Thian Kau!”
“Huhl pihak Tong-thian-kauw tidak bakal sudi
menerima manusia macam kau!”
Hoa Thian-hong mendengus dingin.

“Omong kosong! setelah perkumpulan Hong-im-hwie
kehilangan Loo-sam serta Loo-ngo nya…..”
“Bajingan cilik! kau lagi bermimpi di siang hari
bolong!” seru Seng Sam Hauw sambil menyeringai
seram.
Secara beruntun ia lancarkan beberapa serangan
berantai yang hebat dan gencar, untuk sementara Hoa
Thian-hong keteter hebat dan tak sanggup
mempertahankan diri, dalam keadaan begitu ia tak
sempat untuk buka mulut lagi.
Dengan demikian dalam kalangan itupun terjadi dua
kelompok pertempuran, disatu pihak si malaikat
berlengan delapan Cia Kim bertempur seru melawan
Ciong-Lian-Khek, di pihak lain Hoa Thian-hong bertempur
melawan Seng Sam Hauw.
Ciong-Lian-Khek meskipun hatinya dibakar oleh rasa
dendam yang menumpuk, ingin sekali ia membabat
tubuh Cia Kim hingga hancur lebur untuk melampiaskan
rasa sakit hatinya, apa daya kekuatan ilmu silat yang
dimiliki pihak musuh tidak berada dibawah dirinya, dalam
keadaan seimbang untuk beberapa waktu siapapun sukar
untuk merebut kemenangan.
Dipihak lain Hoa Thian-hong yang bergebrak melawan
Sang Sam Hauw keadaannya berbeda jauh, kalau sihweesio
gede menang dalam pengalaman menghadapi
musuh maka Si anak muda itu telah ampuh di dalam
jurus serangan yang dipergunakan olehnya, tenaga
lwekangnyapun amat sempurna karena itu keadaan

mereka seimbang untuk sementara juga sulit untuk
menentukan siapa menang siapa kalah,
Makin bertempur semakin seru, makin bergebrak
semakin cepat. Tanpa terasa keempat orang itu sudah
bergebrak hampir melebihi ratusan jurus banyaknya.
Dalam pertempuran hari ini- seandainya Coe Siauw
Khek belum terluka dan ia bekerja sama dengan Seng
Sam Hauw: niscaya Hoa Thian-hong dalam waktu singkat
bakal keok setelah si anak muda itu kalah maka
gabungan tenaga kedua orang itu bisa alihkan perhatian
untuk membantu Cia Kim menghadapi Ciong Lian Khek.
Menghadapi kerubutan tiga orarg jago ampuh,
akhirnya si jago berewok inipun bakal menderita
kekalahan bebat.
Sayang seribu kali sayang Coe Siauw Khek terlalu
pandangan enteng tenaga dalam yang dimiliki Hoa
Thian-hong sehingga terluka parah lebih dahulu, dengan
begitu maka posisipun menjadi dua lawan dua alias
seimbang.
Pertempuran sengit yang berlangsung pada saat itu
sungguh merupakan suatu pertarungan yang jarang
ditemui pada sepuluh tahun terakhir, kendati Ciauw
Khong menjabat sebagai ketua kantor cabang kota Cho-
Chiu namun ilmu silat yang ia miliki masih belum
sanggup untuk digunakan menghadapi manusia-manusia
kosen semacam ini.

Maka setelah memperhatikan jalannya pertempuran
beberapa saat, ia lantas berpaling ke arah Coe Siauw
Khek dan berbisik: Pertempuran yang sedang
berlangsung ini terlalu sengit dan sulit diduga pihak
mana yang bakal menang, bagaimana kalau cayhe
lepaskan tanda bahaya untuk memanggil bala bantuan?”
Coe Siauw Khek termenung dan berpikir sejenak,
kemudian jawabnya, “Mengundang bala bantuan sih
boleh saja cuma kau harus ingat bahwa keparat cilik she-
Hoa itu dewasa ini sudah menjadi suatu barang
dagangan yang aneh, kalau sampai tanda bahayapun
memancing kehadiran orang-orang dari perkumpulan
Sin-kie-pang serta Tong-thian-kauw, Waaah! kita bisa
berabe menghadapi manusia-manusia itu!
“KaIaa begitu biarlah cayhe pergi sendiri ke kantor
untuk cari bala bantuan!”
Selesai bicara ia putar badan dan berlalu dengan cepat
dari satu. Baru saja Ciauw Khoag berlalu, situasi
dikalangan pertempuran hendak mengalami perubahan
besar.
Tampaklah Ciong Liam Khek mainkan lengannya yang
kutung dengan hebat, diikuti pedang panjang berkilauan
mencengkeram cahaya tajam, bayangan pedang
menggunung dan di dalam waktu singkat seluruh tubuh.
Malaikat berlengan delapan Cia Kim sudah terbelenggu di
dalam kepungan musuh.
Terdengar si Malaikat Berlengan delapan Cia Kim
segera membentak dan berteriak berulang kali, angin

pukulan menderu bayangan telapak menyambar silih
berganti, rupanya ia sedang berusaha keras untuk
menerjang keluar dari kepungan musuh.
Dipihak lain Hoa Thian-hong yang menyaksikan Ciong
Lian Khek telah unjukkan keampuhan, tanpa sadar
semangatnya ikut berkobar. Ia segera membentak keras’
satu serangan demi satu serangan dilancarkan semakin
gencar, tiap pukulan disertai deruan angin puyuh yang
cukup merobohkan sebuah bukit, dalam waktu singkat
empat lima belas jurus telah dilewatkan dengan cepat.
Seng Sam Hauw jadi terdesak hebat, ia kelabakan dan
musti silangkan tangannya kesana kemari untuk
berusaha menyelamatkan diri dari ancaman lawan.
Diteter terus menerus semacam ini, akhirnya hawa
gusar yang berkobar dalam dada Seng Sam Hauw
meledak juga, sambit gertak gigi teriaknya, “Manusia
rendah, seandainya Hoed-ya tidak bunuh kau jadi
perkedel, aku bersumpah tak akan jadi manusia!”
Setelah bangkit daya tempurnya, seketika itu juga
sepasang tangannya balas menyerang secepat sambaran
kilat. Tangan kiri melancarkan ilmu Kim-Na-Jiu serta ilmu
totokan sementara tangan kanannya mengeluarkan ilmu
pukulan “Toa-Jiu-Eng” untuk balas menyerang.
Angin pukulan menderu-deru, seluruh kalangan
pertempuran jadi sesak dan penuh dengan bayangan
telapak.

Setelah hweesio gede itu mengambil keputusan untuk
merubah dari posisi bertahan jadi posisi menyerang, Hoa
Thian-hong seketika terdesak hebat dan mundur
berulang kali, kini ia yang dibikin kelabakan oleh teteran
musuh.
Mendadak Ciong Lian Khek memperdengarkan suitan
rendah yang berat tapi tajam, suatu suitan yang aneh
dan tidak dimengerti apa maksudnya.
Suitan tersebut berkumandang di angkasa bagaikan
jeritan setan dan lolongan srigala. begitu pedih dan
menusuk pendengaran membuat siapapun yang
mendengar merasakan hatinya jadi bergidik dan bulu
roma pada bangun berdiri.
Cia Kim si malaikat berlengan delapan jadi terkejut
dan tercekat hatinya, nyalinya pecah dan tanpa berpikir
panjang lagi ia jejakkan sepasang kakinya ke atas tanah
dan kabur dari situ.
Cahaya tajam berkelebat lewat, ditengah jeritan
kesakitan sebuah lengan kiri Cia Kim si-malaikat
berlengan delapan itu terpapas putus dari tubuhnya,
darah segar segera muncrat keempat penjuru dan
menodai seluruh permukaan bumi.
Cia Kim bergelar malaikat berlengan delapan,
kepandaian silatnya justru terletak pada sepasang
telapaknya itu. Sekarang sesudah lengan kirinya terpapas
kutung maka ilmu silat yang dimilikinya boleh dibilang
sudah hilang keampuhannya. Berada dalam keadaan
begini, tentu saja ia tak berani berdiam terlalu lama lagi

disitu, baru saja kutungan lengannya jatuh ke atas tanah
ia sudah kabur jauh dari kalangan, dalam sekejap mata
tubuhnya sudah berada puluhan tombak jauhnya.
Ciong-Lian-Khek tertawa seram, pundaknya bergerak
seakan-akan hendak melakukan pengejan, tiba-tiba ia
urungkan niatnya tersebut dan putar badan menubruk ke
arah Seng Sam Hauw.
Pecah nyali hweesio yang mempunyai tiga kesukaan
ini, sepasang telapaknya dengan segenap tenaga
didorong ke arah depan, kemudian dengan
menggunakan kesempatan yang sangat baik itu ia loncat
keluar dari kalangan dan mundur ke belakang.
Semua peristiwa itu terjadi dalam waktu yang amat
singkat ketika Coe Siauw Khek menjumpai Cia Kim kabur,
ia jadi gugup dan ketakutan setengah mati, tanpa
berpikir panjang ia ikut loncat naik ke atas kudanya dan
melarikan diri dari situ.
Dalam pada itu sambil memegang pedangnya Ciong
Lian Khek berdiri angker ditengah kalangan kedua
matanya yang memancarkan Cahaya tajam menatap di
atas wajah Seng Sam Hauw tanpa berkedip.
Dia adalah seorang manusia yang mengalami patah
hati, kemurungan dan kekesalan sudah menjadi suatu
kebiasaan baginya, sekarang sambil membungkam dalam
seribu bahasa ia menatap terus wajah Seng Sam Hauw
membuat hweesio itu jadi mengkeret, agaknya sebelum
hweesio dengan tiga kegemaran ini buka suara diapun
tak akan berbicara.

Diam-diam Seng Sam Hauw bergidik, ia takut
pembicaraan yang salah mengakibatkan terjadinya
kembali suatu pertempuran yang tidak menguntungkan’
dalam posisi dua lawan satu ia sadar bahwa
kepandaiannja bukan tandingan lawan maka tanpa
mengucapkan sepatah katapun ia loncat naik ke atas
kudanya dan kabur ke dalam kota.
Lama sekali Ciong Lian khek berdiri termangu-mangu
disitu menanti bayangan punggung musuhnya telah
lenyap tak berbekas dari pandangan, ia baru melirik
sekejap ke arah Hoa Thian-hong kemudian berjalan
masuk menuju ke arah kota.
Terhadap orang ini Hoa Thian-hong mempunyai kesan
yang baik, ditengah perjalanan ia segera menegur,
“Sebutan apa yang harus boanpwee gunakan untuk
memanggil dirimu?”
“Tak usah kau sebut apa apa!” Hoa Thian-hong
tersenyum. “Sayang sekali, hari ini kita tak berhasil
membasmi beberapa orang bajingan itu.”
Ciong Lian Khek alihkan sinar matanya memandang
sekejap ke atas wajahnya lalu berkata, “Keadaanku tidak
jauh berbeda antara hidup dan mati, usiamu masih amat
muda, mengikat tali permusuhan dengan mereka hanya.
akan mendatangkan marabahaya bagi dirimu saja, lebih
baik kau tak usah mencampuri persoalan ini …!”
“Terima kasih atas nasehat yang cianpwee berikan
kepadaku,“ sahut Hoa Thian-hong sambil tersenyum.

“Maksud boanpwee hanyalah ingin membasmi kawanan
durjana dari muka bumi agar umat Bulim bisa hidup
dengan aman dan tentram “
“Hmmm! apa yang terjadi sekarang adalah Takdir,
dengan mengandalkan kekuatanmu seorang berapa
banyak durjana yang sanggup kau lenyapkan? percuma
.. akan sia sia belaka usahamu itu?”
“Boanpwee akan berusaha dengan segenap
kemampuan yang kumiliki, sampai mati perjuanganku
baru akan berakhir, sukses atau tidak itu bukan jadi
soal.”
Jawabannya ini tenang dan sederhana tapi penuh
mengandung kepercayaan pada diri sendiri, seakan-akan
apa yang akan dilakukan adalah suatu kewajiban
baginya.
Agaknya Ciong Lian Khek ada maksud membantah,
bibirnya bergerak seperti mau bicara tapi akhirnya dia
batalkan maksudnya itu. Setelah merandek beberapa
saat lamanya ia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain,
ujarnya, “Apa maksudm berdiam di kota Cho-Chiu dan
setiap hari masuk keluar rumah makan sambil
mempopulerkan “Lari Racun” mu itu? Apakah kau ada
suatu tujuan tertentu?”
“Boanpwee sedang mencari jejak ibuku, maka
kulakukan kesemuanya itu agar bisa menarik perhatian
dari dia orang tua.” Air muka Ciong-Lian-Khek rada
tergerak oleh perkataannya itu, ia segera bertanya:
Sekarang ibumu berada dimana?”

Tiba-tiba ia mendongak memandang angkasa dan
menghela napas panjang, sambungnya, “Kekuatan kaum
iblis dan sesat makin berkembang jadi besar, kekuasaan
serta pengaruhnya jauh lebih hebat dari keadaan dulu….
sebaliknya kaum lurus dan kaum pendekar makin hari
makin musnah dari pendengaran, sekalipun ada Hoa
hujien yang turun tangan melakukan pimpinan, belum
tentu masalah besar ini bisa diselesaikan!”
Bibir Hoa Thian-hong bergerak hendak mengatakan
sesuatu. tapi dengan cepat niatnya itu dibatalkan
kembali.
Rupanya ia hendak berkata bahwa tenaga lweekang
yang dimiliki ibunya telah musnah dan, luka lama yang
dideritanya hingga kini belum sembuh, tapi secara tibatiba
hatinya tergerak, pikirnya, “Sekarang kaum iblis
makin cemerlang dan berkuasa sementara kaum
pendekar makin terjepit dan putus asa, satu-satunya
harapan mereka masih tertumpuk pada pundak ibuku,
lebih baik untuk sementara waktu kukelabui dahulu
mereka semua daripada hati mereka semakin kecewa
dan putus asa, sekali semangatnya telah punah maka
sepanjang masa sulit untuk membangun kembali.”
Karena berpikir demikian, maka ia lantas tertawa
paksa dan menyahut, “Ibu memerintahkan aku agar
menunggu di kota Cho-Chiu, apakah cianpwee kenal
dengan ayah ibuku?”
“Di kolong langit siapa yang tak kenal dengan Hoa
Tayhiap serta Hoa Hujien ..?”

Sembari bercakap-cakap kedua orang itu meneruskan
perjalanannya, beberapa waktu kemudian merela telah
masuk ke dalam kota.
Ciong-Lian Khek menyapu sekejap ke arah sekeliling
tempat itu, lalu dengan nada serius ujarnya, “Setelah
Cia-Kim kehilangan sebuah lengannya, kemungkinan
besar rasa gusar dan dendamnya dilampiaskan ke atas
tubuhmu. apa lagi setelah mereka mengetahui akan’ asal
usulmu .keadaan semakin gawat! kau musti tahu
semakin besar sebuah pohon semakin sering dihembus
angin, persoalan ini bukanlah permainan kanak2, aku
harap kau suka berhati-hati dan waspada selalu,
terutama terhadap serangan mereka atas dirimu secara
mendadak.”
“Terima kasih atas petunjuk serta nasehat dari
cianpwee, boanpwee selamanya tak berani bertindak
secara gegabah,” jawab Hoa-Thian-hong sambil
anggukkan kepalanya.
“Nah, hati-hatilah!” sekali lagi Ciong-Lian-Khek
memesan wanti2, kemudian ia putar badan dan berlalu
dari situ.
Memandang bayangan punggungnya yang menjauh,
Hoa Thian-hong merasa hatinya jadi iba dan sedih
terutama setelah mengetahui pengalaman pahit yang
telah dialami orang itu, setelah berdiri tertegun beberapa
saat lamanya, akhirnya iapun berlalu dari situ.

Ketika kembali ke rumah penginapan fajar
menyingsing, teringat akan janjinya yang disampaikan si
utusan pencabut nyawa Ma Ching-san diam-diam ia
merasa geli.
Dengan melewati tembok pekarangan ia loncat masuk
ke dalam rumah penginapan, kemudian membuka
jendela dan menerobos ke dalam kamarnya, mendadak
hidungnya mendengus bau harum yang sangat aneh,
hatinya jadi bergerak dan dengan cepat ia urungkan
niatnya untuk masuk.
Tiba-tiba terdengar serentetan suara teguran yang
lembut dan halus berkumandang datang dari arah
pembaringannya, “Siauw-ya, kau tentu merasa sangat
lelah bukan?”
000O000
MENDENGaR teguran itu sepasang alis Hoa Thianhong
segera berkerut tegurnya dengan suara berat:
,Jago lihay dari mana yang berada disitu?”
“Cici yang ada disini” jawab orang itu sambil
perlihatkan separuh tubuhnya dari balik pembaringan.
“Masuklah dengan hati lega, jangan biarkan bajumu
basah oleh embun pagi!”
Hoa Thian-hong dengan sepasang matanya yang jeli
sempat melihat jelas raut wajah orang itu, dia adalah
seorang perempuan cantik bersanggul tinggi berhidung
mancung berbibir kecil dan rasanya pernah dikenal
olehnya, setelah diingat-ingat kembali ia Segera

terbayang kembali akan pemandangan sewaktu berada
ditepi pantai Sungai Huang-hoo tempo dulu, Kiranya
perempuan Cantik itu bukan lain adalah Giok Teng Hujien
dari perkumpulan Tong-thian-kauw.
Dalam hati segera pikirnya, “Seluruh tubuhku telah
penuh dengan racun, badanku sudah kebal terhadap
racun macam apapun. Kecuali di dalam ilmu silat kita
belum pernah bergebrak untuk mengetahui siapa
menang siapa kalah, rasanya dia pun tak akan sanggup
mengapa-apakan diriku…….”
Karena berpikir begitu la lantas jejakkan kakinya dan
menerobos masuk ke dalam kamarnya lewat jendela.
Terdengar Giok Teng Hujien berkata, “Tutuplah pintu
jendela dan pasanglah lampu lentera!”
“Hmm! maaf cayhe sedang lelah. lebih baik kau turun
tangan sendiri!…:” tampik Hoa Thian-hong dengan nada
ketus, habis bicara ia segera duduk dikursi.
Giok Teng Hujien tertawa riang, “Eeeif bukankah kau
telah masuk jadi anggota perkumpulan Tong-thiankauw…?”
tegurnya. “Bagaimanapun aku toh menjadi
anggota lebih dahulu, kalau dihitung maka aku lebih
punya hak dari pada dirimu bukan begitu?”
“Oooh….. Jadi ia sudah tahu akan pertarunganku
melawan si hweesio gede tadi…“ pikir Hoa Thian-hong di
dalam hati.

Di dalam ia berpikir demikian, diluar ia menjawab
dengan nada hambar, “Pek Kun-gie undang diriku untuk
masuk menjadi anggota Sin-kie-pang, tapi akhirnya dia
menyesal. Aku adalah seorang manusia yang membawa
sial, aku takut perkumpulan Tong-thian-kauw pun tak
akan mengijinkan aku menancap kaki disitu?”
Sambil berbicara ia awasi pihak lawannya lebih
seksama lagi. Tampaklah pada tangan kanannya ia
membawa sebuah Hud-tim sedang di tangan kirinya
membopong makhluk aneh berbulu putih mulus, bermata
merah serta berbentuk mirip rase itu. Sikapnya agung
dan senyuman manis selalu menghiasi ujung bibirnya.
Makhluk aneh berbulu putih itu sebenarnya sedang
tidur, kini ia mendusin. Sepasang matanya yang
berwarna merah memandang kesana kemari dengan
sikap yang aneh, membuat orang yang memandang jadi
tidak tenteram dan berdebar.
Dalam hati si anak muda itu kembali berpikir, “Si
Cukat beracun Yauw Sut adalah manusia licik yang
sangat ditakuti oleh setiap umat Bulim, tetapi setelah ia
berjumpa dengan Giok Teng Hujien sikapnya ternyata
begitu hati-hati dan tak berani bertindak gegabah, dalam
segala hal ia mengalah tiga bagian kepadanya. hal ini
menunjukkan kalau perempuan ini seandainya tidak
memiliki ilmu silat yang sangat lihay. tentulah memiliki
tindakan yang paling ganas dan kejam ….”
Berpikir sampai disitu, tiba-tiba terdengar Giok Teng
Hujien telah berkata kembali, “Duduklah di atas

pembaringan, aku hendak mengajak kau untuk
melakukan pembicaraan yang seksama.”
“Hujien. kalau kau ada persoalan katakanlah, cayhe
akan mendengarkan dengan serius “sahut Hoa Thianhong
dengan sepasang alis berkerut.
Giok Teng Hujien tertawa manis. “Kau adalah seorang
manusia yang terhormat “ujarnya. “baik siang maupun
malam selalu ada saja orang yang melindungi dirimu
secara diam-diam, rahasia yang akan kita bicarakan tak
boleh sampai kedengaran orang lain!”
“Selama cayhe bertindak dan berbuat secara jujur dan
terbuka, entah ada rahasia apa yang hendak hujien
bicarakan dengan diriku?”
“Huuuh! Kau ini memang seorang lelaki yang keras
diluar lunak didalam… “ terang-terangan kau takut
padaku, di mulut saja ngomongnya ketus dan gagah,
apakah kau tidak takut dimalu-malui orang?” seru Giok
Teng Hujien sambil cibirkan bibirnya yang kecil.
“Hujien, tak ada gunanya kau memanasi hatiku!”
Tiba-tiba ia teringat bahwa dirinya memang merasa
agak jeri terhadap dirinya, maka sambil tertawa geli ia
segera bangkit dan berjalan ke sisinya, kemudian duduk
ditepi pembaringan sambil menuding makhluk aneh yang
berada di dalam bopongannya ia bertanya, “Apakah dia
juga pandai menggigit orang?”

Giok Teng Hujien tertawa, “Dia bernama Soat-jia,
menghadapi manusia semacam Cia Kim….Huuhl
Sekalipun ditambah seorang lagipun juga percuma.
dalam waktu singkat mereka bakal keok digigitnya!”
“Aaaah.. .! masa begitu lihay? waaah … waaah….
cayhe tidak berani mendekatinya…..” seru Hoa Thianhong
dengan alis berkerut, sementara dalam hati ia
merasa amat terperanjat.
“Kau ini…..si.setan cilik” maki Giok Teng Hujien sambil
tertawa, ia segera menoleh ke arah “Soat-Jie” dalam
pengakuannya dan memerintahkan, “Soat-jie! tunggulah
diluar jendela Sana, sebelum ada perintahku janganlah
melukai orang!”
Rupanya makhluk aneh itu sangat memahami bahasa
manusia, mendengar perintah dari majikannya tanpa
ragu-ragu lagi ia segera bangkit berdiri.
Tampaklah bayangan putih berkelebat lewat melalui
jendela yang terbentang lebar, dalam sekejap mata telah
lenyap tak berbekas.
“Oooh … sungguh hebat!” seru Hoa Thian-hong tanpa
terasa dengan hati kaget.
“Aaah konyol kau ini!” kembali Giok Teng Hujien
memaki sambil tertawa, tiba-tiba ia merendahkan
suaranya dan berkata lebih jauh, “Kau tentu mengetahui
bukan siapa yang telah membinasakan Jien Bong,
anaknya Jien Han?”

Jantung Hoa Thian-hong terdengar amat keras, tadi
dengan cepat ia berusaha untuk menenteramkan hatinya
kembali, “Menurut apa yang kau ketahui, orang itu
adalah seorang gadis yang mengaku bernama Poei Che
Giok. entah benar entah tidak aku sendiripun kurang
jelas!”
“Persoalan itu sih hanya suatu urusan kecil, tetapi kau
musti tahu setelah dunia aman tenteram untuk beberapa
waktu lamanya, dewasa ini mulai menunjukkan gejala
perubahan yang besar, kau hanya kebetulan saja
menjumpai kejadian itu maka alangkah baiknya kalau
cepat-cepat mengambil keputusan”
“Bukankah kolong langit telah dibagi tiga dan pihak
Tong-thian-kauw telah memperoleh satu bagian?apa sih
gunanya membikin gara-gara lagi?….”tanya si anak muda
itu dengan alis berkerut.
Giok Teng Hujien segera tersenyum.”Bagi suatu
perkumpulan macam Sin-kie-pang ataupun Hong-im-hwie
mungkin saja mereka puas dengan satu daerah tersebut,
tapi bagi partai sekte agama lain keadaannya. cita-cita
mereka adalah mengarungi seluruh jagad. nah. itulah dia
apa sebabnya Tong-thian-kauw tidak bisa hanya
bertahan pada sebagian daerah saja.”
Ia merandek sejenak, biji matannya yang jeli segera
melirik sekejap ke arah wajah Hoa Thian-hong dengan
kerlingan tajam kemudian terusnya, “Pek Siauw-thian
terlalu kemaruk akan harta dan kekuasaan, sedang Jien
Hian adalah seorang manusia licik dengan pikiran yang
panjang, kedua orang itu sama-sama bertahan pada

daerah kekuasaannya sekarang tanpa ada keinginan
untuk meluaskan wilayahnya, waktu berlalu dengan
cepat lama kelamaan apakah Tong-thian-kauwcu tidak
punya keinginan untuk majukan daerah kekuasaannya?
inilah kesempatan yang paling baik untuk bertindak!”
“Kalau begitu Tong-thian-kauwcu seharusnya adalah
seorang manusia dengan ambisi yang amat besar dan
kepandaian memimpin yang hebat?”
“Ambisi yang besar mungkin tak bakal salah,
mengenai hebatnya kepandaian untuk memimpin sih sulit
untuk dikatakan.”
“Hujien entah apa maksud dan tujuanmu
mengucapkan kata-kata seperti ini?” tanya Hoa Thianhong
sambil tertawa hambar.
“Dunia persilatan sedang kacau, dan perhatian orang
tercurahkan ke pihak kami, kenapa kau tidak
memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk
raembangun serta memperjuangkan cita-citamu?”
“Ooooh….! Rupanya ucapanmu mengandung maksud
yang sangat dalam!” teriak Hoa Thian-hong dengan hati
tercengang. ”Hujien, kau toh seorang enghiong dari
pihak Tong-thian-kauw, mengapa kau ucapkan kata-kata
seperti itu kepadaku?”
Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan “Hiiih….
hiiih kau betul-betul seorang manusia yang tak tahu diri!”
Serunya pura-pura marah, setelah merandek sejenak
sambungnya. “Angin berhembus dikala udara tenang,

kematian Jien Bong telah membuat situasi dalam dunia
persilatan jadi kacau dan mulai menunjukkan gejala
keretakan diantara hubungan tiga kekuatan besar,
usiamu pada saat ini masih muda, inilah kesempatan
yang sangat baik bagimu untuk tunjukkan kelihayan dan
angkat nama, apa yang harus dilakukan sepantasnya
kalau kau mulai menyusun rencana sejak kini.”
“Waaah…. kalau begitu lebih baik cayhe
menggabungkan diri ke dalam perkumpulan Hong-imhwie
saja!”
“Kenapa?” tanya Giok Teng Hujien dengan alis
berkerut.
“Tabiat cayhe suka terus terang dan bicara seadanya,
tidak suka menggunakan akal dan membantu kaum yang
kuat dan kosen untuk bekerja, maka setelah kupikir
pulang pergi rasanya lebih enak dan menguntungkan
kalau aku menggabungkan diri dibawah panji dibawah
kekuasaan Jie Hian saja.”
Giok Teng Hujien tahu kalau pemuda itu cuma bicara
ngawur dan sekenanya saja, dalam kenyataan ia tidak
ber-sungguh2 hati. maka sambil tertawa tanyanya,
“Dimanakah ibumu?”
“Dia orang tua sedang melatih semacam kepandaian
sakti yang diberi nama Thong-Mo-Sin-Kang atau ilmu
sakti pembasmi iblis asal ilmu tadi telah berhasil
dilatihnya maka beliau pasti akan segera turun gunung.”

“Aduuuh. rupanya kau lagi menggertak cici yaah?
Hmm! tak usah yaa….!” seru Giok Teng Hujien sambil
tertawa. ia merandek dan alihkan pembicaraan kesoal
lain
“Aku dengar setiap kali kau “Lari Racun” keadaanmu
tambah payah dan serius, betulkah itu?”
“Terima kasih buat perhatian serta pertanyaanmu iiu,
aku rasa dalam dua tiga bulan jiwaku belum sampai mati
konyol!”
Giok Teng Hujien pun gerakkan pergelangannya
mengeluarkan tiga buah jari tangan lalu digeserkan ke
arah urat nadi untuk memeriksa denyutan jantung si
anak muda itu.
Seolah olah menghindari pagutan ular berbisa dengan
cepat Hoa Thian-hong tarik kembali tangannya ke
belakang sambil berseru “Sekujur badan cayhe penuh
dengan racun keji, barang siapa berani menyentuh
tubuhku niscaya telapaknya bakal busuk dan keluar
nanah. kau jangan dekati diriku!”
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, kemudian
katanya, “Coba menurut penglihatanmu seandainya
pihak perkumpulan Tong-thian-kauw ada maksud
meluaskan wilayah kekuasaannya, maka kami akan turun
tangan ke pihak yang mana lebih dulu?”
“Pertanyaan yang hujien ajukan terlalu berat,
darimana cayhe bisa tahu mengenai persoalan yang
maha besar itu?” si anak muda itu berpikir sejenak lalu

terusnya. “Agaknya pihak Hong~Im-Hwie yang paling
lemah, kalau menurut penilaianku maka bila mau
menyerang maka pertama-tama kita musti hancurkan
pihak mereka lebih dahulu.”
Sambil tertawa Giok Teng Hujien segera gelengkan
kepalanya. “Bila dua kekuatan saling bertempur maka
bukan saja kita beradu perajurit, panglimapun kita adu.
Pihak perkumpulan Sin-kie-pang menang karena memiliki
jumlah prajurit yang banyak, sedang pihak perkumpulan
Hong-im-hwie lebih menang dalam hal panglima
perangnya. Seandainya kita serang perkumpulan Hongim-
hwie lebih dulu maka kerugian yang bakal kami derita
akan terlalu berat, pihak Perkumpulan Sin-kie-pang yang
bersembunyi dibelakang akan jauh lebih ampuh
kekuatannya. Sebaliknya kalau kita pukul pihak Sin-kiepang
lebih dulu, walaupun Hong-im-hwie memiliki
beberapa orang lihay, itupun belum mampu untuk
menghadapi pihak Tong-thian-kauw.”
“Sungguh lihay perempuan ini “pikir Hoa Thian-hong
di dalam hati. “Usianya masih begitu muda, tetapi. ia
telah menguasai keadaan serta situasi dunia dengan
begitu jelas, bukan saja otaknya cerdas siasat, yang
dikemukakan pun tepat dan mantap, kedudukannya di
dalam perkumpulan Tong Thiap Kauw pasti tidak kecil….

Dalam bati berpikir demikian, diluar ia menjawab,
“Cara berpikir Hujien serta penganalisaan yang telah kau
berikan sungguh hebat, cayhe merasa amat kagum”

Giok Teng Hujien mendengus ringan, lalu tertawa.
“Apa yang barusan kuutarakan barusan hanyalah siasat
cadangan, bilamana keadaan tidak terlalu memaksa
kamipun tak akan kerahkan segenap kekuatan kita untuk
bertindak demikian, tahukah kau apakah siasatku. yang
sebetulnya?……..”
“Apanya yang susah untuk menebak persoalan itu?”
pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “Paling banter kau
hanya berusaha menghasut dan memancing terjadinya
selisih paham serta bentrokan langsung antara
perkumpulan Sin-kie-pang dengan Hong-In-Hwie, sedang
pihak Tong-thian-kauw duduk berpangku tangan
menonton dua harimau bertarung, dan kemudian
menjadi nelayan yang untung ….”
Sebenarnya apa yang mereka bicarakan hanyalah
suatu kejadian yang sederhana, tapi bila sungguh2
dilaksanakan tidaklah akan segampang seperti waktu
berpikir dan mengucapkannya keluar, meski si anak
muda itu berpikir sampai disini tapi ia tetap berpura pura
tidak tahu, katanya sambil tersenyum, “Pengetahuan
cayhe amat cetek, tidak mengerti akan persoalan yang
begitu besar dan berat, Hujien! apa pendapatmu?
katakanlah agar cayhe bisa mendengarkan dengan
seksama dan menambah pengetahuanku yang masih
picik…….”
“Telur busuk cilik!” maki Giok Teng Hujien dengan
wajah cemberut, tiba-tiba ia tertawa dan menepuk-nepuk
bantal di sisinya sambil berseru, “Ayoh sini, berbaring!
aku hendak ajak kau berbicara.”

Kerlingan mata yang genit serta tingkah lakunya yang
merangsang seketika membuat Hoa Thian-hong jadi ter
sipu2 dengan wajah berubah jadi merah padam ia
gelengkan kepalanya berulang kali.
“Lebih baik cayhe duduk saja disini!”
“Kalau begitu padamkanlah lampu lentera itu!”
Melihat udara sudah terang dan Cahaya sang surya
telah memancar masuk lewat jendela, Hoa Thian-hong
pun segera ayunkan tangannya untuk memadamkan
lampu lentera yang ada di atas meja, angin pukulan
menyambar lewat Cahaya lentera seketika padam.
Siapa tahu dikala pikirannya bercabang itulah, Giok
Teng Hujien bertindak Cepat, ia rangkul pundak si anak
muda itu kemudian ditariknya ke belakang hingga roboh
terjengkang di atas pembaringan dan tidur
berdampingan dengan perempuan itu.
Haruslah diketahui, Giok Teng Hujien adalah seorang
perempuan yang sudah tersohor akan kegenitannya,
nama harumnya tersebar dimana-mana dan dikenal oleh
setiap pria.
Terhadap perempuan ini sebetulnya saja Hoa Thianhong
menaruh rasa jeri dan was-was, Sekarang setelah
badannya dirangkul kencang dan berbaring disisi
tubuhnya yang montok, hatinya jadi kebat-kebit dan
pikirannya terasa kalut. pikirnya di dalam hati

“Di kolong langit hanyalah perempuan dan manusia
rendah yang sulit dihadapi demikian ujar2 kuno,
seandainya aku menyalahi dirinya sehingga membuat
perempuan ini dari malunya jadi gusar, tentu saja ia akan
mendendam diriku. Dalam keadaan serta situasi seperti
ini aku tidak ingin mengikat tali permusuhan dengan
siapapun apalagi musuh tangguh macam dia, sebaliknya
kalau kau harus menuruti kehendaknya untuk berbuat
tidak genah…. waaah entah bagaimana akhirnya?…..”
Setelah dipikir bolak-balik ia belum berhasil juga
menemukan suatu cara yang dirasakan paling bagus,
tanpa terasa hatinya jadi semakin tak tenteram. Bagaikan
duduk di atas jarum bergeser kesini tak enak bergeser
kesanapun sungkan.
Terdengar Giok Teng Hujien tertawa merdu, serunya,
“Aku mengerti bahwa kau bukanlah makhluk ajaib yang
berada di dalam kolam, tidak nanti kau rela masuk jadi
anggota perkumpulan Tong-thian-kauw dengan tulus
Hali, semakin tak masuk diakal lagi kalau kau rela
menggabungkan diri dengan pihak Houg Im Hwie
ataupun Sin-kie-pang, bukan begitu?”
Hoa Thian-hong hanya berharap bisa cepat-cepat
melepaskan diri dari rangkulan mautnya, maka ia lantas
menjawab, “Cayhe hanya sebatang kara dan
kekuatannya terbatas sekali, apalagi sudah kenyang
disiksa kesana kemari. Kalau pihak Tong-thian-kauw suka
menerima diriku jadi anggota, Cayhe lebih balk menyerah
saja!”

“Eeei….Bajingan Cilik, kau jangan lain diluar lain di
hati, mengerti?” maki Giok Teng Hujien sambil tertawa.
“Hmm….. Hmm….. sekalipun Tong-thian-kauw suka
menerima dirimu mereka juga tak ingin mengundang
setan masuk pintu.”
Kalau memang begitu, silahkan hujien segera berlalu!”
Giok Teng Hujien tertawa Cekikikan. “Sudah begini
saja aku akan memberi kedudukan yang terhormat sekali
kepadamu” serunya. “Asal kau suka menjadi anggota
perkumpulan kami maka akan kupersilahkan dirimu
Untuk menduduki jabatan sebagai Kauwcu dan aku jadi
wakilnya, dengan sepenuh hati dan sepenuh tenaga
kubantu dan lindungi dirimu. Bagaimana? Apa kau ada,
minat?
“Loo.. apa Hujien sudah tidak berada dibawah
perintah Tong-thian-kauw lagi, masa di dalam sekte
agama tersebut masih terdapat organisasi lain lagi?”
“Hiih….hiih..,.hiih .. kalau orang tidak serakah langit
dan bumi pasti akan ambruk dan kiamat tentu saja
akupun ingin mendirikan sebuah perkumpulan sendiri”
Diam-diam Hoa Thian-hong terkejut juga setelah
mendengar perkataan itu, pikirnya “Ooh. ternyata di
dalam tubuh perkumpulan Tong-thian-kauw-pun terdapat
orang yang secara diam-diam mengandung maksudmaksud
tertentu…:”
Berpikir sampai disitu, la sengaja berlagak pilon dan
seolah olah tak tahu urusan apapun. katanya, “Cayhe

duga sang Kauwcunya tentulah Hujien sendiri. bukan
tegitu? tapi…. apasih nama perkumpulanmu itu? sudah
ada berapa banyak anggota perkumpulanmu itu?”
“Andaikata kau suka menjabat sebagai kauwcuya
maka aku adalah anggotamu yang pertama, kau dan aku
dua orang bekerja sama bersatu hati memukul rata
seluruh kotoug langit, aku tanggung banyak keuntungan
yang bakal kita peroleh” Giok Teng Hujien sambil
mengerdipkan biji matanya yang jeli, sinar matanya
berputar lalu dengan wajah serius ia menambahkan,
“Bagaimana kalau kita namakan perkumpulan Thian Te
Kauw saja?”
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong.
“0oooh, kiranya hujien sedang mempermainkan diriku,
hampir saja cayhe kira apa yang kau katakan adalah
sungguh2l”
Secara lapat2 iapun dapat menangkap arti serta
makna dari ucapan itu, jelas Giok Teng Hujien telah
mengutarakan perkataan tadi dengan arti rangkap.
secara diam-diam ia sedang memberi kisikan kepadanya
bahwa, Sejak bergaul dengan Chin Wan Hong selama
beberapa waktu, pikirannya boleh dibilang sudah mulai
terbuka terutama sekali mengenai soal cinta asmara,
pikirannya sudah tidak sebodoh dan secupat dahulu lagi
mengenai soal muda-mudi. Sekarang setelah ia berbaring
berdampingan dengan Giok Teng Hujien ditambah pula
dengan bau harum semerbak yang aneh berhembus
masuk ke dalam lubang hidungnya membuat ia jadi
mabok dan seolah olah sedang melayang menuju ke
nirwana yang penuh dengan bidadari.

Giok Teng Hujien meskipun telah disebut nyonya,
namun usianya masih muda belia hanya saja sikapnya
yang jauh lebih dewasa serta tingkah lakunya yang Hot
mendatangkan daya rangsang yang lebih besar dari
sekawanan gadis lain.
Hoa Thian-hong adalah seorang pemuda dengan
darah panas, setelah berbaring dalam jarak yang begini
dekat apalagi kulit harus bergerak dengan kulit, lama
kelamaan terpengaruh juga oleh nafsunya hingga tak
sanggup menguasai diri.
Tetapi… bagaimanapun ia adalah seorang pemuda
luar biasa yang lain daripada yang lain, terutama sekali
pendidikan moral yang tinggi dari ibunya semenjak kecil
membuat dia dengan cepat menyadari akan
ketidakbenarannya.
Dengan cepat pemuda itu bangkit berdiri sambil
berseru, “Hujien, jauh2 datang kemari kau adalah
Seorang tamu, cayhe sampai lupa untuk menghidangkan
air teh”
“Kenapa sih musti bertindak macam segala tetek
bengek itu?” tukas Giok Teng Hujien sambil tertawa, ia
segera rangkul kembali tubuh si anak muda itu sambil
ditarik untuk berbaring kembali. “Terhadap diriku, kau
tak usah sungkan-sungkan!”
Wajah Hoa Thian-hong berubah semakin merah.
“Hujien, racun dari Teratai empedu api masih bersarang
di dalam pusarku…”serunya.

“Hiiih….hiiih….hiiih…”Giok Teng Hujien kontan tertawa
cekikikan, sambil mengerling tajam serunya, “Eeei. setan
cilik! cici hanya ingin berbicara saja, aku tak mau minum
teh juga tak mau ajak kau untuk……”
“Pada saat itulah, tiba-tiba dari halaman luar
berkumandang datang suara nyanyian. nyaring yang
tajam dan lantang. suara itu segera memenuhi seluruh
angkasa dan berdengung tiada hentinya:
“Rambut mega Rambut embun lebih indah dari
kumpulan gagak,
Memperlihatkan kaki yang indah dari balik gaun
berwana merah,
Tapi lebih indah bunga liar di luar dinding jendela,
Kumaki kau bagaikan seorang penghibur lelaki yang
murah,
Setengah bagian susah dilayani setengah
mempermainkan.”
Baik lagu tersebut walaupun banyak orang yang bisa
menyanyikan, tetapi kemunculan yang sangat kebetulan
itu cukup mendatangkan suasana yang aneh bagi kedua
orang muda-mudi itu.
Hoa Thian-hong segera tahu bahwa tingkah lakunya
telah diketahui oleh orang lain yang mangintip dari luar
jendela, air mukanya seketika itu juga berubah jadi

merah padam, dengan tersipu2 ia segera loncat turun
dari atas pembaringan.
Mula2 Giok Teng Hujien nampak tertegun, tapi dengan
cepat ia menjadi tenang kembali. Dengan senyuman
dikulum ia dengarkan nyanyian itu hingga habis
kemudian. Perlahan-lahan turun dari pembaringan dan
menengok keluar jendela, sikapnya aras2an seperti
badannya sama sekali tak bertenaga.
Tampak suasan diluar halaman tetap sunyi senyap tak
nampak sesosok bayangan manusiapun, kecuali Soet jie
si makhluk aneh itu tetap melingkar dibawah jendela,
tiada sesuatu pertanda apapun ada disitu.
Hoa Thian-hong yakin bahwa ketajaman penglihatan
serta pendengarannya masih bisa dipertanggung
jawabkan, maka ketika dilihatnya suasana di halaman
luar sunyi senyap tak nampak sesosok bayangan
manusiapun, ia segera sadar bahwa si penyanyi itu
sudah berlalu. Dalam hati segera pikirnya, “Entah
siapakah orang itu? Kecepatan geraknya benar-benar
mengagumkan sekali, bukan saja menyerupai sukma
gentayangan bahkan sama sekali tidak meninggalkan
sedikit jejakpun!”
Dalam pada itu Giok Teng Hujien telah membopong
Soat-jie makhluk anehnya sambil berbisik, “Siapa sih tadi
yang ada diluar halaman? Ayoh kita kejar dirinya sampai
dapat.”
Sudah dua kali Hoa Thian-hong berjumpa dengan
perempuan yang menamakan dirinya Giok Teng Hujien

ini, tapi baru pertama kali ini ia menjumpai perempuan
itu berbicara dengan wajah kaku, sementara hatinya
masih tertegun terasalah pandangan matanya jadi kabur,
makhluk aneh bernama Soat-Jie itu sudah berkelebat
menuju ke pintu kebun disamping kiri dan lenyap dibalik
kegelapan.
Giok Teng Hujien segera menoleh dan tertawa, ketika
dijumpainya Hoa Thian-hong masih berdiri dengan wajah
terkejut ia lantas berseru, “Eeei .. pemuda tampan, mari
ikutlah cici, aku telah memerintahkan Soat-jie untuk
menangkap bajingan tersebut bagimu!”
Dalam hati Hoa Thian-hong memang berharap begitu,
maka dengan senang hati ia segera menyetujui ajakan
tersebut. Baru saja badannya hendak loncat keluar dari
dalam kamar, tahu-tahu tangannya sudah digenggam
oleh perempuan itu dan diajak melayang keluar dari
kamar.
Baru saja tubuh mereka berdua melayang keluar dari
pintu kebun, mendadak dari tempat kejauhan terdengar
suara ringkikan kuda dan teriakan manusia
berkumandang datang, buru-buru mereka segera
memburu kesitu.
Sebelum tubuh mereka tiba di tempat tujuan, telinga
mereka telah menangkap suara desiran tajam yang
menderu deru, diikuti teriakan gusar seseorang dengan
suara yang serak dan nyaring berkumandang memenuhi
seluruh angkasa, “Rase sialan! kuhajar kau sampai
mampus! Rase terkutuk … kuhancurkan tubuhmu……..”

Sejak tadi Hoa Thian-hong sudah dibikin terkejut dan
diliputi keragu-raguan, sedangkan Giok Teag Hujien
sewaktu mendengar dengusan-dengusan gusar dari
Soat-Jie makhluk aneh itu, di dalam hati iapun merasa
terkejut: cepat-cepat badannya berkelebat ke depan,
dalam waktu singkat bersama Hoa Thian-hong ia sudah
tiba di istal kuda.
Tampaklah beberapa orang pelayan sedang
berjongkok di sudut tembok dengan badan gemetar,
kuda yang berada di istal meloncat loncat dan meringkik
panjang tiada hentinya.
Di sudut sebelah lain tampaklah seorang kakek tua
berbadan kurus tinggi dan berwajah hijau membesi
sedang mainkan sebilah pedang lemas sepanjang empat
depa di tangan kanannya, lima buah roda berwarna
keemas-emasan di tangan kirinya untuk melindungi
seluruh tubuhnya dari sergapan maut si makhluk aneh
tersebut.
Sedangkan Soat-Jie dengan menciptakan diri jadi
sesosok bayangan putih yang samar melancarkan
tubrukan maut tiada hentinya ke arah si kakek tua itu.
Di sudut lain, tampak seorang pria berjubah putih
menggeletak di atas tanah dengan badan penuh luka
berdarah, pakaiannya koyak-koyak dan raut mukanya
susah dikenali lagi karena boleh dibilang sudah hancur
sama sekali.
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa hatinya tercekat
Juga setelah menyaksikan pemandangan yang

terbentang di depan matanya saat ini, bulu kuduk tanpa
terasa pada bangun berdiri. pikirnya: Tidak aneh kalau
perempuan itu berani bicara sesumbar dengan
mengatakan bahwa dua orang jago lihay macam Cia Kim
pun tak akan sanggup menandingi Soat-jie nya kalau
ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki si kakek tua ini jelas
jauh di atas kepandaian Cia Kim, tetapi. Haruslah
diketahui si kakek kurus kering itu sekaligus telah
menggunakan dua macam senjata aneh yang berbeda
satu sama lainnya dimana seluruhnya berjumlah enam
buah Pedang lemas adalah sebuah senjata yang sulit
digunakan sementara Ngo-Heng-Loen di tangan kirinya
terdiri dari lima buah roda yang beratnya rata-rata di
atas enam puluh kati, bilamana seorang tidak memiliki
gerakan tangan yang lincah serta tenaga lwekang yang
amat sempurna
untuk mengimbangi penggunaan senjata pedang yang
enteng dan senjata roda yang berat, jelas tak mungkin
sanggup untuk mempergunakan senjata tersebut.
Atau dengan perkataan lain si kakek tinggi jelas
memiliki kedudukan yang amat tinggi di dalam dunia
persilatan
Tampaklah Giok Teng Hujien tertawa hambar lalu
berseru, “Aku kira siapa yang berani ajak aku untuk
bergurau, kiranya Pelindung Hukum Utama dari
perkumpulan Sin-K-ie Pang yang telah tiba!”
“Giok Teng Hujien” seru si kakek kurus kering itu.
“Dibalik kejadian ini sebenarnya masih terselip persoalan
lain…..”

Sepasang tangannya harus bekerja keras memainkan
pedang serta senjata godanya, sedang sepasang
matapun dengan tajam menatap terus bayangan putih
yang menerjang datang tiada hentinya itu tanpa
berkedip, maka untuk mengucapkan dua patah kata yang
sikap ia membutuhkan waktu yang amat lama sekali,
Giok Teng Hujien tertawa dingin, ia merandek sejenak
kemudian secara tiba-tiba memperdengarkan siulan
nyaring yang panjang.
Begitu mendengar siulan tersebut, Soat-jie si makhluk
aneh itu segera menghentikan tubrukannya dan
mendekam di atas tanah tanpa bergerak barang
sedikitpun jua, sepasang matanya yang berwarna merah
darah menatap terus wajah si kakek kurus kering itu
tanpa berkedip: seakan-akan ia takut kalau mangsanya
itu kabur.
“Traaaak….!” ditengah dentingan nyaring, kelima buah
senjata roda itu menumpuk menjadi satu dan melayang
balik ke tangan kakek tua itu.
Walaupun begitu jelas terlihat bahwa seluruh tubuh
kakek kurus itu sudah basah kuyup oleh keringat,
napasnya tersengal-sengal dan dapat didengar dengan
amat jelas.
“Ciat Tiang Hong!” jengek Giok Teng Hujien dengan
nada ketus. “Bukankah kau mengatakan bahwa dibalik
persoalan ini masih terselip masalah lain? Mengapa tidak
kau ucapkan keluar?”

“Orang yang menyanyikan lagu itu adalah orang lain,
Makhluk aneh milik hujien ini meskipun pandai bertempur
tapi belum mampu untuk membedakan mana yang benar
dan mana yang salah”
Sekalipun baru saja lolos dari bahaya maut, tapi nada
ucapannya tajam dan jumawa sedikitpun tidak ada
maksud untuk mengalah Tidak malu ia duduk sebagai
seorang Pelindung Hukum terutama dari perkumpulan
Sin-kie-pang,
Giok Teng Hujien mendengus dingin sinar matanya
segera dialihkan ke arah pria berbaju putih yang
menggeletak di atas tanah, setelah menarik sekejap ke
arahnya ia lantas menegur:”Siapakah orang ini? apakah
dia yang menyaksikan bait lagu tadi?.,..”
“Saudara ini adalah seorang sahabat dari perkumpulan
Hong-im-hwie, maaf kalau loohu tidak bisa mengatakan
kejelekan orang lain” jawab kakek kurus itu makin ketus.
Terdengarlah pria berbaju putih yang menggeletak di
atas tanah itu merintih dan berkata; “Bait lagu itu bukan
cayhe yang nyanyikan…..”
Rupanya ilmu silat yang dimiliki orang ini agak cetek
maka tubuhnya tercakar oleh Soat-Jie hingga menderita
luka yang amat parah, ketika itu dia sama sekali tak
sanggup untuk bangkit berdiri.
Sepasang alis Giok Teng Hujien segera berkerut
kencang,serunya dengan nada yang dingin, “Sekalipun

bait lagu itu bukan kalian yang menyanyikan, tetapi
seandainya kau tidak mengintip dan mengawasi diriku
dari tempat kegelapan, Soat jie kau juga tak akan
mencari kalian tanpa alasan. Hmm. kau tidak ingin
dicurigai maka lebih baik segera menyingkir dari sini,
jelas kalianlah yang tidak pandang sebelah matapun
terhadap diriku. Soet Jie! terjang dia….!”
Soet Jie benar-benar amat cerdik dan mengerti akan
bahasa manusia, ketika Giok Teng suruh ia berhenti
bertarung ia segera berhenti, sekarang setelah diberi
perintah untuk menyerang iapun segera maju
menyerang.
Begitu perintah terakhir dari perempuan itu meluncur
keluar dari bibirnya, Soet jie segera menjerit aneh dan
menubruk kembali ke depan.
Si-kakek kurus kering itu jadi terkejut bercampur
gusar. Sreeet! Senjata Ngo Hoen-Loen nya segera
direntangkan untuk melindungi tubuhnya dari ancaman
lawan, sementara pedang lemasnya dimainkan dengan
rapat disekeliling tubuhnya, terlihatlah bayangan pedang
menggulung dan mengelilingi seluruh badannya tanpa
meninggalkan sedikit peluangpun bagi lawannya untuk
menyarangkan cakarnya ke atas tubuhnya.
Untung kakek kurus itu cukup cerdik dan berdiri di
sudut tembok, dalam posisi yang begini ia hanya cukup
berjaga jaga terhadap serangan yang datang dari depan,
Meskipun tubrukan dan terjangan Soat-jie cepat laksana
kilat tapi dalam keadaan begini daya kekuatannya

berkurang juga, seandainya ditanah lapang yang luas,
sejak tadi mungkin kakek tua itu sudah kewalahan.
Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia
berkelebat lewat, si Utusan pencabut nyawa Mo Ching
San meloncat masuk dari luar dinding pekarangan,
setelah memberi hormat katanya, “Hujien jangan gusar,
hamba ada urusan hendak memberi laporan!”
Giok Teng Hujien bersiul memanggil kembali makhluk
aneh Soat Jie untuk mundur kesisi tubuhnya, lalu sambil
tertawa dingin makinya, “Heeeh…. heeeh…. heeeeeh,
bagus, kau tentu sudah lari amat .iauh bukan?”
Sekujur badan Ma Ching-san si utusan pencabut
nyawa itu seketika gemetar keras buru-buru sahutnya,
“Hamba tidak berani melalaikan tugas yang telah
dibebankan pada pundak hamba… “ ia menghembuskan
napas panjang dan meneruskan. “Hamba tidak berani
berdiri di tengah halaman ..”
“Bicara sesingkatnya Saja!” tukas Giok Teng Hujien.
“Ketika hamba bertugas diluar dinding tembok
mendadak kudengar ada orang sedang menyanyi di
dalam halaman. karena takut nyanyian itu mengganggu
ketenangan hujien maka aku siap masuk ke dalam untuk
melakukan pemeriksaan, pada saat itulah secara tiba-tiba
dari pintu belakang berjalan keluar seorang kakek tua
dengan langkah yang seenaknya. Karena wajahnya
terasa asing maka hamba segera melakukan pengejaran,
siapa tahu kakek tua itu licik sekali setelah mengitari

halaman ini dua lingkaran mendadak bayangan tubuhnya
lenyap tak berbekas.”
Dalam waktu singkat ia telah berbicara sampai disitu,
mendadak selanjutnya ia jadi gelagapan dan tak sanggup
meneruskan kembali kata-katanya.
Ma Ching-san tahu, ia pasti sudah jatuh kecundang di
tangan maka tak berani meneruskan kembali katakatanya,
ditinjau dari sikapnya yang begitu ketakutan
tanpa terasa pemuda itu segera berpikir, “Aku mengira
Hujien ini cuma kukoay dan genit, ternyata semua
anggota perkumpulan Tong-thian-kauw begitu ketakutan
menghadapi dirinya, ia pastilah seorang yang lihay!”
Sementara itu Giok Teng Hujien telah bertanya,
“Macam apakah si kakek tua itu? apakah kau berhasil
memperhatikan raut wajah serta potongan tubuhnya?”
“Dia adalah seorang kakek yang pendek dan gemuk”
jawab Ma Ching-san dengan amat hormat. “Wajahaya
berwarna merah memancarkan sinar terang, kepalanya
botak dan jenggotnya pendek. pakaian yang dikenakan
terbuat dari kain kasar, sedangkan di tangannya
membawa sebuah kipas bulat yang besar!”
Mendengar laporan itu Giok Teng Hujien tundukkan
kepala dan berpikir sebentar, tiba-tiba ia mendongak dan
melotot sekejap ke arah Hoa Thian-hong dengan
pandangan gemas.
“Beeei…!Kenapa sih Hujien melotot wajahku? apa
salahnya cayhe?” Teriak Hoa Thian-hong dengan cepat.

“Huuuh! orang itu bukan anggota perkumpulan Sinkie-
pang, Hong In Hwie maupun Teng Thian Kauw!”
“Lalu kenapa?”
“Itu berarti bahwa orang itu adalah manusia dari
pihakmu!”
Hoa Thian-hong melengak, tapi dengan cepat ia
berseru, “Kalau memang dia adalah kawan cayhe, biarlah
aku segera pergi mencari dirinya.”
Sesudah menjura ia segera putar badan dan berlalu
dari situ.
Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan, lengannya
diulur ke depan tahu-tahu Soat jie sudah menyusup ke
dalam gendongannya. Tampaklah pinggangnya yang
ramping bergerak dan di dalam waktu singkat ia sudah
mengejar ke sisi si anak muda itu untuk berjalan
berdampingan dengan dirinya sikap tersebut se-akanakan
menganggap di sekitar sana tak ada seorang
manusiapun.
Diam-diam Hoa Thian-hong kesal juga melihat
perempuan itu membuntuti terus jejaknya, dalam hati ia
berpikir, “Waaduuuh….celaka nih! kalau sampai aku
dilengketi terus olehnya, apa yang musti kulakukan?”
Otaknya dengan cepat bekerja keras untuk mencari
akal guna melepaskan diri dari penguntitan perempuan
itu, namun tak sepotong siasatpun yang berhasil

didapatkan, Akhirnya dengan perasaan apa boleb buat
katanya “Waktu sudah tidak dapat pagi2, siauwte siap
akan pergi “Lari Racun” cici bagaimana kalau kau pulang
dulu kekuil It Goan Koan? besok siauwte pasti datang
berkunjung lagi.”
“Iiiiirh.,..masih benar mulutmu itu,” ejek Giok Teng
Hujien sambil tertawa cekikikan. “Cici tak pernah
menduga kalau kau sepandai itu untuk merayu
perempuan!”
Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua
orang itu sudah berjalan keluar dari rumah penginapan
dan menuju ke jalan raya.
Bergaul dengan perempuan seperti ini, Hoa Thianhong
merasakan hatinya selalu kebat-kebit diliputi rasa
takut, ia takut tindakannya yang keliru akan
mengakibatkan munculnya kembali seorang musuh
tangguh, waktu itu baik perkumpulan Sin-kie-pang,
Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw akan menjadi
musuhnya membuat ia sama sekali tiada tempat untuk
berpijak, keadaan seperti itu pastilah mengenaskan
sekali.
Tiba-tiba terdengar Giok Teng Hujien tertawa dan
berkata, “Kau sudah bergadang semalam suntuk, aku
pikir perutmu tentu sudah lapar, ayoh aku undang kau
pergi makan pagi!”
Hoa Thian-hong tidak tahu musti menampik atau
menurut saja terhadap undangan nya itu, terpaksa

dengan mengikuti disisinya mereka berangkat menuju ke
pusat kota.
Sepasang muda-mudi ini berjalan berdampingan
ternyata amat menyolok sekali, yang lelaki adalah
seorang pria tampan berbadan tegap sedang yang
perempuan cantik jelita bagaikan bidadari, sepintas lagi
hubungan mereka bagaikan kakak beradik tapi kalau
dipandang lebih seksama hubungan itu lebih mirip
dengan sepasang kekasih.
Terlihatlah orang-orang dijalan yang bertemu dengan
mereka berdua. ada yang lewat dengan kepala tunduk
ada pula yang buru-buru menoleh ke arah lain pura pura
tidak melihat, tak seorangpun berani menggunakan
pandangan yang gamblang untuk mengawasi kedua
orang itu.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka berdua di
depan sebuah rumah makan yang amat megah, Sambil
menuding hurup “Cie-Eng-Loo” yang tergantung di depan
rumah makan itu Giok Teng Hujien berkata sambil
tertanya, “Dua kali ber-turut2 ayah ibu telah
mengadakan perjamuan para enghiong di atas rumah
makan ini untuk menjumpai pimpinan Hong-im-hwie
serta Tong-thian-kauw dan menyelesaikan beberapa
masalah Bulim yang serius, rumah makan ini semula
bernama “Ka Peng-Cioe-Loo” tapi sekarang mereknya
sudah diganti, itupun gara-gara disebabkan karena
peristiwa itu!…..”
Waktu itu sebenarnya Hoa Thian-hong telah
melangkah masuk ke dalam pintu, mendengar cerita tadi

ia segera alihkan sinar matanya yang diliputi perasaan
tercengang untuk memperhatikan sejenak papan merek
yang luasnya dua tombak itu, kemudian sambil tertawa
paksa sahutnya, “Pengetahuan cici benar-benar amat
luas, waktu diutarakan keluar pun menarik sekali untuk
didengar….”
“Idiiih….malu aah, masa memuji sambil menyindir.,..
Ogah, ogah, aku tak bicara lagi.”
Di tengah gelak tertawa kedut orang itu telah naik ke
atas loteng dan mencari sebuah tempat yang tenang di
dekat jendela. Setelah memesan sayur dan arak, Giok
Teng Hujien berkata lagi sambil tertawa, “Maukah kau
dengarkan kisah mengenai ayah ibumu dimasa yang
silam?.,..,..”
“Mendengarkan saja tentu mau ..” tiba-tiba si anak
muda itu teringat kembali akan pesan ibunya sesaat
sebelum ia turun gunung ia dilarang menyelidiki kisah
ayah ibunya.
Sebagai seorang anak berbakti dan menuruti
perkataan orang tuanya, tentu saja Hoa Thian-hong tak
berani melanggar pesan ibunya itu, dengan cepat ia
berseru, “Seorang lelaki sejati tak akan membicarakan
kejadian yang telah lampau, lebih baik kita tak usah
membicarakan persoalan itu.”
Tertegun dan melongo Giok Teng Hujien setelah
mendengar ucapan itu, sambil tertawa segera tanyanya,
“Makhluk aneh cilik, lalu apa yang hendak kita
bicarakan?”

“Cici pernah berkata bahwa pihak perkumpulan Sinkie-
pang lebih banyak dalam prajurit sedang pihak Hong
lm Hwie lebih luas dalam panglima, mengenai soal ini
siauwte merasa kurang begitu jelas.”
“Bukankah persoalan itu gampang sekali untuk
dijawab? kenapa kau musti suruh aku kasih penjelasan?”
“Malaikat berlengan delapan Cia Kim adalah Sam
Tang-kee dari perkumpulan Hong-im-hwie, aku lihat
meskipun ilmu silatnya lumayan tapi belum sampai
mencapai taraf yang dikatakan betul betul hebat, aku
pikir yang lainnya.”
“Jangan sembarangan menduga, makin menduga
semakin keliru “tukas Giok Teng Hujien cepat, “Itulah
sebabnya Siauwte mohon penjelasan..”
Persoalan ini gampang sekali untuk dijelaskan,
perkumpulan Sin-kie-pang adalah suatu perkumpulan
dengan mengambil struktur organisasinya menyerupai
sebuah pagoda. sang Pangcu duduk jauh di paling atas
sedang sisanya adalah anak buahnya semua.
“Itu memang betul,“ Hoa Thian-hong mengangguk
membenarkan, ”Bila orang lain memiliki ilmu silat jauh di
atas Pek Siauw-thian, tentu saja ia tak akan sudi tunduk
dibawah perintah orang!”
“Sedang perkumpulan Hong-im-hwie sesuai dengan
namanya adalah merupakan suatu kumpulan dari semua
jago dari pelbagai lapisan masyarakat. semua anggota

saling menyebut sebagai saudara. walaupun ada
perbedaan dalam sebutan Loo-Toa, Loo-jie atau Loo-sam
namun kedudukan serta tingkatan mereka adalah
seimbang. Yang disebut sebagai Tang-kee adalah orang
yang mendapat tugas untuk menyelesaikan pelbagai
persoalan. mengenai hal kepandaian, ketajaman
berbicara serta hak dan kewajiban tidak memiliki patokan
yang khusus. pokoknya secara singkatnya saja mereka
tidak membedakan tingkatan, yang ada hanya urutan
dan nomor urutanpun tidak ada hubungannya dengan
tinggi atau tidak ilmu silat yang mereka miliki!”
“Maksudmu para jago dalam perkumpulan Hong In
Hwie, tidak sedikit yang memiliki ilmu silat yang di atas si
Malaikat berlengan delapan Cia Kim? .
“Boleh dibilang banyak sekali,” sahut Giok Teng
Hujien, ia merandek sejenak dan angkat teko untuk
memenuhi cawan mereka- dengan arak, kemudian
sambil tertawa sambungnya
Sebetulnya ilmu silat yang dimiliki Cia-Kim tidak
berada dibawah kepandaian Ciong-Lian-Khek, kekalahan
yang dideritanya kemarin malam sebagian besar
disebabkan karena rasa menyesal yang timbul dalam
hatinya setelah teringat akan kesalahan yang pernah
dibuatnya membuat ia jadi tidak tenang dan pikirannya
jadi kalut. kau janganlah menilai seorang enghiong dari
menang kalahnya, berhubung ia kalah maka kau anggap
ilmu silatnya hanya begitu-begitu saja
Si Hweesio gede yang bernama Seng Hauw itupun
bukan seorang manusia sembarangan “Aku sanggup

menahan dirinya, itu berarti bahwa ia belum termasuk
seorang jago yang sangat lihay” seru Hoa Thian-hong
dengan cepat sambil tertawa geli,
Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba
dari luar rumah makan berkumandang datang suara
derap kaki kuda, diikuti seseorang dengan suara
pembicaraan yang berat dan penuh bertenaga sedang
bercakap-cakap dengan seseorang.
Giok Teng Hujien melongok sekejap keluar jendela, air
mukanya mendadak berubah, serunya sambil tertawa.”
“Waduuuih! Coe Goan Khek telah datang, dia adalah
Jie Tang-kee dari perkumpulan Hong-im-hwie seorang
jago lihay diantara jago lihay yang lain!:..”
Mendengar ucapan itu buru-buru Hoa Thian-hong pun
melongok keluar tampak olehnya seorang kakek tua
berjenggot panjang selambung berwajah model persegi,
berbahu bidang dan sepasang mata memancarkan
cahaya tajam sedang melangkah masuk ke dalam rumah
makan diikuti tiga orang pria lainnya.
Diantara ketiga orang pengikutnya itu, dua orang
mempunyai perawakan kurus kering bagaikan dua
batang tongkat bambu, Sedang orang ketiga adalah
seorang pemuda tampan berbadan kekar
Raut wajah pemuda itu tampan sekali, cuma sorot
matanya sayu dan ke-bodoh2an, wajahnya tidak
memperlihatkan perubahan perasaan dan jalannya tegak

lagi lurus ke muka, keadaan itu bagaikan seseorang yang
ngelindur dan berjalan di dalam impian
Begitu bertatapan muka dengan orang itu sekujur
badan Hoa Thian Hong segera bergetar keras, Dalam
pada itu Giok Teng Hujien telah berkata lagi sambil
tertawa, “Bocah muda berdandan Boe-su yang kemarin
Kau hajar sampai setengah mati itu bersama Coe Siauw
Khek dia adalah putra kesayangan dart Coe Goan Khek
ini….”
Mendadak ia merandek ketika dilihatnya air muka si
anak muda itu berubah hebat dengan cepat ia genggam
tangannya sambil menegur, “Eeeei! kenapa kau? Tengah
hari belum sampai masa racun teratai dalam tubuhmu
sudah kambuh?”
Tingkah lakunya yang lembut dan romantis tanpa
terasa telah menghilangkan rasa permusuhan diantara
Hoa Thian Hong dengan Giok Teng Hujien, seakan-akan
sedang berbicara dengan encinya saja, ia lantas
menjawab, “Pemuda gagah yang berada dipaling
belakang itu adalah sahabatku, kenapa ia bisa melakukan
perjalanan bersama sama Coe Goan khek?”
“Apa? dia adalah kawanmu?” seru Giok Teng Hujien
tercengang. “Apakah tahu dengan asal usulnya?”
“Dia bernama Chin Giok Liong, putranya Chin Pek
Cuan dari kota Keng-Chiu…!”
“Ooooh…! sekarang aku ingat sudah!” seru Giok Teng
Hujien sambil tertawa. “Bukankah kau punya hubungan

yang sangat akrab dengan encinya? dia toh adik
iparmu?”
Hoa Thian-hong ulapkan tangannya dan segera berdiri
menuju ke tempat luar. Giok Teng Hujien tertawa ringan,
ia tarik tangan si anak muda itu sambil serunya, “Eeei,
mau apa kau? marah yaah dengan cici?”
“Cici, aku tidak marah kepadamu!” jawab Hoa Thianhong
dengan alis berkerut. “Harap tunggulah sebentar
disini, aku mau kesana untuk bertanya kepada Toako
dari keluarga Chin itu, kenapa ia melakukan perjalanan
bersama-sama Coe Goan Khek?”
“Tak usah ditanyakan lagi, Chin Toako mu itu sudah
dicekoki dengan sebangsa obat pemabok, kesadarannya
telah punah sama sekali. Keadaannya tidak lebih
bagaikan sesosok mayat hidup.”
“Hoa Thian-hong jadi semakin gelisah. “Aku harus
pergi kesana dan menanyakan, persoalan ini hingga
sejelas-jelasnya!”
Ia meronta dan berusaha melepaskan diri dari
cengkeraman si perempuan itu. Tapi genggaman Giok
Teng Hujien pada tangannya sedikitpun tidak
mengendor, malah sambil tertawa merdu nasehatnya.
“Persengketaanmu dengan pihak perkumpulan Hongim-
hwie tidak kecil, kalau memaksa juga untuk kesitu
maka kemungkinan besar jiwamu akan terancam oleh
bayangan maut.”

Jilid 12 : Thong Thian Kauw vs Hong Im Hwie
CICI, kau tidak tahu bahwa nona Chin dengan
mempertaruhkan jiwanya telah menyelamatkan diriku
dari mara bahaya, namun hal ini masih tidak penting….”
“Lalu apa yang paling penting?”
“Kedatangan siauwte ke dalam dunia persilatan kali ini
tujuannya bukan tain adalah melaksanakan perintah dari
ibuku untuk menyelamatkan jiwa keluarga Chin,” kata
Hoa Thian-hong dengan wajah serius. “Bila menolong
orang tidak menolong sampai pada dasarnya, darimana
siauwte punya maka untuk berjumpa lagi dengan ibuku?”
“Saudaraku, apa yang cici katakan kepadamu adalah
perkataan yang sejujurnya!” seru Giok Teng Hujien
sambil tertawa. “Tenaga gabungan kita berduapun belum
tentu bisa menandingi kekuatan mereka bertiga, kenapa
sih kau musti mencari kerugian yang ada di depan
mata?”
Dengan perasaan berterima kasih Hoa Thian-hong
anggukkan kepalanya. “Siauwte pun mengerti akan
enteng beratnya persoalan, cuma peristiwa ini sudah
berada di depan mata, masalah kita musti mengkeret
dan takut untuk maju? Cici, harap kau duduk sejenak
disini, siauwte akan pergi sebentar saja kesitu dan segera
kembali.”
Giok Teng Hujien tertawa mengikik. “Manusia tolol,
setelah kesitu kau takkan bisa kembali lagi!”

Ia menghela napas panjang, bangkit berdiri dan
berlalu bersama-sama dirinya.
Sambil tertawa ia melanjutkan, “Aaaii…. akupun tak
tahu kenapa bisa begitu menurut dengan dirimu….”
“Kenapa?”
“Kalau tidak mengerti, lebih baik jangan bertanya!”
Rumah makan Cie Eng Loo adalah rumah makan
paling besar pada waktu itu, di tengah rumah makan itu
terdapat sebidang tanah lapang yang diberi nama ‘Yan-
Boe-Peng’ atau lapangan demonstrasi silat, luasnya dua
puluh tombak persegi dengan alas batu hijau yang atos,
sekeliling tempat itu dilapisi oleh dinding tembok terbuat
dari batu granit, disitulah tempat yang biasanya
digunakan untuk beradu silat.
Diluar pagar merupakan sebuah serambi yang berliukliuk,
dimana biasanya para penonton menikmati jalannya
pertarungan sambil minum arak. Di samping serambi tadi
terdapat pula garuda dan bangunan loteng sejumlah dua
puluh buah.
Pemilik dari rumah makan inipun seorang jago silat
dari kalangan Bulim, tapi tidak tergabung dalam
perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie maupun
Thong-thian-kauw.
Dalam rumah makan tadi terdapat satu peraturan
yang unik, yaitu bilamana tidak terdesak oleh keadaan

selamanya tidak memberi kesempatan bagi para jago
dari ketiga perkumpulan itu untuk saling berjumpa muka
di tempat itu, tindakan ini dimaksudkan agar bisa
mengurangi bentrokan phisik yang tidak perlu.
Setibanya di tempat luar, Hoa Thian-hong segera
celingukan kesana kemari namun bayangan tubuh Cu
Goan-khek sekalian tak ditemukan juga.
Melihat tingkah laku si anak muda itu, Giok Teng
Hujien segera tertawa. Kepada pengurus yang bertugas
di serambi bawah tegurnya, “Eeei, Cu Tang-kee berada
dimana?”
“Hamba segera akan membawa jalan!” buru-buru
pengurus itu berseru sambil bongkok bongkokkan
badannya.
oooOcoo
DENGAN mengikuti di belakang pengurus tadi, kedua
orang itu secara beruntun telah melewati beberapa lapis
serambi yang berbelok kesana kemari, akhirnya
sampailah di sebuah beranda tepat berhadapan dengan
lapangan ‘Yan-Boe-Peng’.
Tampaklah sebuah meja perjamuan telah
dipersiapkan, Cu Goan-khek duduk di kursi utara sedang
dua orang kurus kering yang nampaknya menyerupai
sepasang saudara kembar itu duduk di kedua belah
sisinya. sedang Chin Giok-liong dengan badan kaku
bagaikan patung duduk di hadapan mereka.

Tiba-tiba Cu Goan-khek angkat kepalanya, ketika ia
jumpai Giok Teng Hujien mendampingi seorang pemuda
berwajah tampan berjalan menghampiri dirinya, air muka
orang itu seketika berubah hebat diikuti wajahnya yang
berbentuk persegi segera terlapis oleh nafsu membunuh
yang menyeramkan.
Hoa Thian-hong langsung berjalan masuk ke dalam
ruangan, sinar matanya dengan tajam menatap Chin
Giok-liong tanpa berkedip, melihat pemuda itu tetap
duduk dengan wajah yang ketolol-tololan tanpa terasa
diam-diam ia menghela napas panjang.
Sebetulnya pada saat itu wajah Giok Teng Hujien
dihiasi dengan senyum tetapi setelah menjumpai
beberapa orang itu tak seorangpun yang bangkit dari
tempat duduknya, ia segera berhenti berjalan dan
serunya dengan nada dingin, “Saudaraku, kalau kau ada
urusan cepatlah diselesaikan kemudian kita harus pergi
minum arak.”
“Sungguh mengagumkan sekali ‘Nyonya’ ini,
berhadapan muka dengan musuh tangguhpun tak mau
turunkan pamornya,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
Otaknya dengan cepat berputar, setelah mengambil
keputusan untuk mengatasi persoalan itu di ujung
senjata seorang diri ia segera meneruskan langkahnya
berjalan maju ke depan.
Tiba-tiba terdengar Cu Goan-khek tertawa keras,
sepasang telapaknya menekan pinggiran meja dan
segera bangkit dari tempat duduknya.

Tenaga lweekang yang dimiliki orang ini sungguh
amat sempurna, gelak tertawa yang amat perlahan itu
ternyata cukup menggetarkan telinga sehingga gendang
telinganya secara 1apat-lapat terasa sakit.
Setelah Cu Goan-khek bangkit dari tempat duduknya,
kedua orang lelaki kurus kering itupun bangkit berdiri,
hanya Chin Giok-liong seorang tetap duduk di tempat
semula tanpa berkutik, seolah olah terhadap gerak-gerik
beberapa orang itu ia sama sekali tidak melihat.
Giok Teng Hujieu kuattr Cu Gotn Khek secara tiba
melancarkan serangan bokongan yang mematikan, cepat
iapun melangkah maju ke depan dan berdiri disisi Hoa
Thian-hong, wajahnya berubah jadi sinis dan penuh
dihiasi dengan ejekan.
Suasana jadi semakin tegang, rupanya sebelum
pembicaraan dilangsungkan pertempuran bisa segera
meledak.
Tiba-tiba Cu Goan-khek berhenti maju ke depan dan
merangkap tangannya menjura, kemudian sambil
tertawa katanya, “Hujien, Harap kau suka maafkan diri
loohu yang sudah bersikap kurang hormat terhadap
dirimu. Maklumlah, loohu sedang diumbar oleh hawa
amarah yang rasanya susah dikendalikan lagi.”
Air muka Giok Teng Hujien masih tetap dihiasi
senyuman sinis, sambil menyelempitkan senjata Hudtimnya
ke belakang bahu ia berkata dengan nada ketus,

“Soat-jie ku tadi pagi telah melukai seorang anggota
perkumpulan kalian.”
“Jumlah anggota perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-imhwie
serta Thong-thian-kauw amat banyak dan tak
terhitung jumlahnya, sekalipun terjadi sedikit
kesalahpahaman diantara kawanan sealiran, rasanya
juga tak usah dipersoalkan lebih lanjut” tukas Cu Goankhek
sambil goyangkan tangannya.
Ia merandek sejenak, lalu sambil tertawa terbahakbahak
sambungnya lebih lanjut, “Loohu mempunyai
peraturan loohu sendiri, dan Hujien pun mempunyai
peraturan menurut selera serta cara hujien sendiri,
bilamana manusia yang tak tahu diri berani bertindak
kurangajar, sudah sewajarnya kalau kita beri hukuman
yang setimpal.”
Giok Teng Hujien segera tersenyum. “Pantanganku
yang paling berat adalah tidak akan memberi
kesempatan hidup bagi seseorang yang berani mengintip
rahasia pribadiku, entah bagaimana pula dengan
peraturan dari Jie Tang-kee?”
“Putra kesayangan dari Jien toako telah mati dibunuh
oleh seorang manusia berhati keji, Loohu pun hanya
mempunyai seorang putra tunggal, aku tidak ingin
kejadian serupa itu terulang kembali untuk kedua
kalinya!”
Bicara sampai disitu, dengan sorot mata yang tajam
menggidikkan orang she Cu itu segera alihkan sinar

matanya ke atas wajah Hoa Thian-hong, tegurnya, “Putra
kesayangan Loohu apakah menderita luka di tanganmu?”
Giok Teng Hujien gerakkan bibirnya seperti mau
mengucapkan sesuatu, tiba-tiba Hoa Thian-hong
berpaling dan katanya sambil tertawa.”
“Cici, maafkanlah daku, siauwte akan mengatasi
sendiri persoalan ini!!”
Diluar ia berkata demikian, sementara di dalam hati
pikirnya, “Hidup di dalam dunia persilatan memang
penuh diliputi oleh mara bahaya yang setiap saat bisa
mengancam datang, bila aku tak mampu menandingi
kepandaian silatnya aku masih bisa kabur, kalau tak
Sanggup kabur adu bisa bertahan sampai titik darah
penghabisan, minta perlindungan di bawah gaun seorang
perempuan, kejadian ini apakah tidak akan dibuat
sebagai bahan lelucon oleh orang lain? lagipula belum
tentu ia sanggup memberikan perlindungan kepadaku.”
Setelah mengambil keputusan di dalam hati sikapnya
jadi semakin tenang dan kalem, kepada Cu Goan-khek
ujarnya, “Kemarin malam cayhe memang pernah saling
beradu satu pukulan dengan putra kesayanganmu, waktu
itu serangan yang cayhe lancarkan terlalu berat hingga
mungkin sudah melukai putramu, untuk itu harap kau
suka memberi maaf!”
Sepasang mata Cu Goan-khek melotot besar,
sepasang sorot mata yang tajam bagaikan dua batang
pisau menatap wajah si anak muda itu tanpa berkedip,
lama kemudian ia baru menegur, “Apakah kau she Hoa?”

“Cayhe Hoa Thian-hong, majikan lama dari
perkampungan Liok Soat Sanceng,” jawab si anak muda
itu sambil tertawa ewa.
Cu Goan-khek mendengus dingin.
“Hmmmm! peristiwa yang sudah lampau tak usah kita
ungkap kembali. Putraku tak becus dan terima kasih buat
pelajaran yang telah kau berikan kepadanya mewakili
diriku. Loohu sendiripun merupakan seorang manusia
yang tak tahu diri, aku ingin sekali mohon petunjuk pula
mengenai kehebatan ilmu silatmu!”
“Oooh, jadi inikah peraturan dari Jie Tang-kee?”
“Sedikitpun tidak salah, inilah peraturan dari Loohu!
Musuh yang tak sanggup dihadapi putraku maka Loohu
akan turun tangan sendiri untuk menghadapinya.”
“Ooooh, pandai sekali Jie Tang-kee menyayang anak!”
sindir Hoa Thian-hong sambil tertawa, mendadak dengan
wajah serius ujarnya lebih jauh, “Kedatangan cayhe pada
saat ini bukanlah untuk mencari satori atau gara-gara
dengan diri Jie Tang-kee, tapi kalau memang Jie Tangkee
ada keinginan untuk minta petunjuk tentu saja cayhe
akan mengiringi keinginanmu itu.”
“Sebelumnya ada sedikit urusan kecil mohon Jie Tangkee
suka memberi penjelasan terlebih dahulu”
Sebelum orang she-Cu itu sempat menjawab, tiba-tiba
terdengar Giok Teng Hujien telah berteriak, “Jie TangTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
kee, kaupun merupakan seorang enghiong yang memiliki
nama besar yang telah menggemparkan seluruh kolong
langit. masa beginikah caramu untuk menyambut
kedatangan seorang tetamu?”
“Aku dengar perempuan siluman ini lihay sekali,”
diam-diam Cu Goan-khek berpikir di dalam hati. “Jika
ditinjau dari sikapnya yang begitu membelai bajingan
cilik itu, kemungkinan besar kedua orang ini sudah
berkomplot lebih dahulu.
Dalam hati ia berpikir demikian, diluar segera
mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam
ruangan, katanya, “Silakan kalian berdua masuk ke
dalam pertama-tama loohu hendak menghormati
secawan arak lebih dahulu kepada kalian kemudian baru
minta petunjuk dari Hoa kongcu!”
Giok Teng hujien tersenyum, ia segera berjalan masuk
lebih dibulu ke dalam ruangan. Hoa Thian-hong berjalan
ke sisi Chin Giok-liong dan duduk disampingnya, ia
menegur, “Chin-heng, masih ingatkah kau dengan
siauwte Hong-po Seng?”
Mendapat pertanyaan itu, sepasang mata Chin Giokliong
yang pudar tak bercahaya dialihkan ke atas wajah
Hoa Thian-hong, lama sekali ia duduk tertegun lalu
menoleh ke arah Cu Goan-khek.
Orang she-Cu itu segera menunjukkan suatu gerakan
tangan, melihat gerakan itu Chin Giok-liong tundukkan
kepalanya dan tidak memberikan suatu reaksi lagi.

Diam-diam Hoa Thian-hong jadi amat gelisah,
pikirnya, “Gerakan tangannya itu sederhana dan sama
sekali tidak mengandung arti, tapi dalam pandangan Chin
Giok-liong yang nampaknya pudar dan tak bercahaya itu
seolah-olah mengandung suatu arti yang mendalam,
sebetulnya apa yang telah terjadi?”
Pelayan telah menambah cawan dan sumpit bagi tamu
yang baru datang, sedang pria tinggi kurus yang duduk
di kursi utama angkat poci araknya dan memenuhi cawan
dari Giok Teng Hujien serta Hoa Thian-hong.
Menyaksikan kesemuanya itu, Giok Teng hujien
tertawa. sambil menuding ke arah orang itu katanya,
“Saudaraku, dia ada1ah Siang loo-toa, sedang disebelah
sana Siang loo-jie, kedua orang bersaudara ini
menduduki urutan kursi keenam belas dan tujuh belas di
dalam perkumpulan Hong-im-hwie, ilmu cakar Thong
Long-Jiauw yang diyakini kedua orang ini termasyhur
sebagai ilmu silat maha sakti di dalam dunia persilatan!”
“Selamat bertemu!” kata Hoa Thian-hong sambil
menjura, sinar matanya berkelebat menyapu sekejap jari
tangan Siang loo-toa yang mencekal poci arak, ketika
dilihatnya kelima jari tangan orang itu bersih tidak
menyerupai seseorang yang ilmu cakar beracun, dalam
bati ia merasa keheranan sedang rasa was-was pun
semakin menebal.
Tampak Siang loo-toa meletakkan poci arak itu ke atas
meja, lalu sambil balas memberi hormat katanya, “Aku
adalah Siang Kiat dengan adikku Siang Hauw!”

Sementara Siang Hauw dengan suara dingin menegur,
“Hoa-heng, apakah kau telah menggabung diri dengan
pihak sekte agama Thong-thian-kauw?”
Walaupan Siang Kiat serta Siang Hauw adalah saudara
sekandung tetapi watak Loo toa lebih mantap dan
berpikir panjang sedang sang Loo-jie berangasan, tak
dapat menyembunyikan perasaan sendiri.
Mendengar teguran orang tidak senonoh dan
mengandung maksud tak baik, tidak menanti Giok Teng
Hujien buka suara, Hoa Thian-hong segera menjawab
dengan nada ketus .
“Selama aku hidup berkelana Seorang diri, belum
pernah terlintas dalam benakku untuk masuk menjadi
anggota perkumpulan Thong-thian-kauw!”
Giok Teng Hujien yang sedang memberi minum Soatjie
makhluk anehnya dengan arak wangi segera
menyambung pula sambil tertawa, “Sekalipun antara aku
dengan saudara Hoa tiada hubungan tugas, tetapi
hubungan persahabatan kami sangat erat, bila Siang
Loo-jie ada urusan mau cari dia atau aku juga lama saja”
Sepasang alis Siang Hauw kontan berkerut, dengan
wajah berubah hebat serunya, “Sudah lama aku Siang
Loo-jie mendengar orang berkata bahwa ilmu Kie-Sat
Sinkang yang dimiliki Hujien merupakan ilmu ampuh
dalam dunia persilatan, bila kau tidak keberatan ingin
sekali aku mohon beberapa jurus petunjuk dari Hujien.”

“Hiih….Hiih….Hiiiih….bagus sekali!” sahut Giok Teng
Hujien sambil tertawa terkekeh kekeh. “Bila kalian dua
bersaudara punya kegembiraan, aku pasti unjukkan
kejelekanku buat kalian berdua.”
Maksud dari ucapan itu jelas sekali, ia telah masukkan
pula sang Loo-toa Siang Kiat dalam hitungan.
Cu Goan-khek yang merasakan situasi makin lama
tidak menguntungkan, segera tertawa seram, ia menoleh
ke arah Hoa Thian-hong sambil tegurnya hambar, “Apa
kongcu kau ada urusan apa? rasanya sekarang boleh
utarakan keluar”
Hoa Thian-hong mengejek dingin, ia tuding ke arah
Chin Giok-liong dan berkata, “Karena persoalan apa
Saudara Chin ini telah menyatroni diri Jie Tang-kee….?
Kalau dilihat tingkah lakunya yang bodoh dan lamban,
cahaya matanya yang pudar serta sikapnya yang tidak
bicara tidak tertawa, rupanya kau sudah cekoki sebangsa
obat pemabok kepadanya hingga ia hilang ingatan…!”
“Oooh! Rupanya kedatangan Hoa kongcu adalah
disebabkan urusan ini!….”
Ia merandek sejenak, sorot matanya yang tajam
kembali menatap wajah si anak muda itu dalam2.
Kesaktian ilmu silat yang dimiliki Hoa Goan-siu serta
nama besarnya yang telah menggetarkan seluruh sungai
telaga telah membekas sangat dalam di hati kecil setiap
jago dari dunia persilatan, sekalipun Hoa Thian-hong
masih muda, namun Cu Goan-khek tak berani

memandang enteng dirinya sebab ia menganggap
ayahnya lihay sedikit banyak anaknya pasti punya
simpanan yang lumayan.
Setelah merandek sejenak, segera sambungnya
kembali, “Chin Giok-liong ini sih tidak mencari perkara
dengan diriku, tetapi dia sudah menyalahi seorang Ciong
Touw-cu kami hingga ia harus minum obat pemabok
milik Touwcu tersebut, lalu tolong tanya Hoa kongcu ada
rencana apa terhadap urusan ini?”
Diam-diam Hoa Thian-hong merasa amat gusar
jawabnya tegas, “Maaf terpaksa aku orang She Hoa-kee
harus bertindak kurangajar dan minta kembali orang itu
dari tangan Jie Tang-kee, di samping minta pula obat
penawar dari racun pemabok dari Jie Loo Tang-kee!”
“Haaaah…. haaaah….. haaaah….” Cu Goan-khek
mendongak dan tertawa terbahak bahak. “Untuk minta
kembali orang ini sih gampang, cuma untuk
mendapatkan obat penawar itu rasanya terlalu susah!”
Apa kehendak Jie Tang-kee harap segera dikatakan
keluar, aku orang she Hoa pasti akan berusaha
memenuhinya dengan sebaik baiknya!”
Nafsu membunuh berkelebat menghiasi wajah Cu
Goan-khek, ia tertawa dingin.
“Untuk memerintah dirimu sih aku berani, tetapi Hoa
kongcu sebagai keturunan seorang jagoan yang tersohor
namanya di kolong langit tentu memiliki ilmu silat yang
sakti, asal kau sanggup memenangkan satu atau

setengah jurus dariku, maka Chin Giok-liong segera akan
kuserahkan kembali pada diri kongcu”
Giok Teng Hujien yang selama ini selalu
membungkam, tiba-tiba menimbrung dari samping,
“Oooh…! Sungguh tak nyana Jie Tang-kee mempunyai
kegembiraan sebesar itu, akupun sudah lama tak pernah
bergebrak melawan orang, otot-otot di tangan serta
kakiku terasa agak kaku dan linu…… bagus sekali!
Beruntung kita bisa saling bertemu pada hari ini, biarlah
aku yang melayani Jie Tang-kee untuk bermain sebanyak
beberapa jurus!”
Habis berkata ia mengelus bulu makhluk anehnya
kemudian meletakkan binatang tadi di bawah meja.
Baik Cu Goan-khek maupun dua bersaudara she-Siang
sama-sama mengetahui sampai dimanakah kelihayan
dari makhluk aneh itu, melihat binatang tersebut
mendekam di bawah meja ketiga orang itu diam-diam
jadi tegang bercampur gelisah, mereka kuatir kalau
makhluk itu secara tiba-tiba menggigit kaki sendiri.
Oleh sebab itu seluruh perhatian mereka segera
dipusatkan jadi satu untuk bersiap sedia menghadapi
segala kemungkinan yang tidak diinginkan, siapapun
diantara ketiga orang itu tak berani turun tangan secara
gegabah
Giok Teng Hujien tersenyum, ia menoleh ke arah Hoa
Thian-hong dan bertanya lirih, “Sewaktu racun dalam
tubuhmu kambuh, apakah kau masih sanggup untuk
turun tangan bergebrak melawan orang?”

Setiap perkataan dan setiap senyuman dari
perempuan ini terhadap diri Hoa Thian-hong selalu
disertai dengan nada halus, lunak dan hangat yang sukar
dilukiskan dengan kata?, membuat si anak muda itu lama
kelamaan takluk oleh kelembutan serta kemesraannya
itu, perasaan simpatik dan senangpun makin mendekati
perempuan itu.
Terutama sekali berhadapan muka dengan musuh
tangguh pada saat ini bisa mendengar pertanyaan yang
begitu hangat serta penuh perhatian membuat si anak
muda itu jadi amat terharu.
“Terima kasih atas perhatian dari cici,” sahutnya.
“Siauwte sendiripun tidak tahu dikala racun teratai itu
mulai kambuh, sanggupkah aku bergebrak melawan
orang?”
Bicara sampai disini ia putar kepala dan memandang
cuaca, setelah mengetahui bahwa saatnya hingga racun
teratai itu mulai kambuh masih terpaut setengah jam,
dalam hati segera pikirnya, “Ilmu silat yang dimiliki Chin
Pek-cuan ada batasnya, enci Wan-hong sendiri kendati
sudah angkat Kioe-Tok Sian-Ci sebagai guru tetapi ilmu
silatnya sewaktu masuk perguruan ada batas2nya pula,
apalagi air yang jauh sulit menolong kebakaran di depan
mata, Dalam urusan yang terjadi hari ini bila aku tidak
unjukkan diri untuk bantu yang lemah, maka kesatu aku
akan malu menjumpai enci Wan-hong, kedua, aku gagal
menolong orang dan tak bisa memberikan
pertanggungan jawab terhadap ibu …”

Meski yang dipikir banyak tapi semua ingatan tersebut
berkelebat dalam sekejap mata, sesudah mengambil
keputusan di dalam hati ia segera bangkit berdiri dan
turun dari beranda.
Melihat pemuda itu sudah tinggalkan tempat duduknya
Che Goan Khek segera menoleh dan menatap wajah Giok
Teng Hujien tajam-tajam, serunya, “Peristiwa yang
terjadi hari ini merupakan bentrokan antara sahabat
ataukah perebutan antara perkumpulan Hong-im-hwie
dengan Thong-thian-kauw? harap Hujien bisa
memberikan ketegasan!”
“Bagiku kedua duanya sama saja!”
“Perempuan siluman” sumpah Cu Goan-khek di dalam
hati. “Kau tak usah jual lagak dihadapanku suatu hari
loohu pasti akan suruh kau rasakan kelihayanku!”
Dalam hati ia memaki, diluar wajah tetap tenang
seperti sedia kala. dan dalam sakunya dia ambil keluar
sebuah medali Kim Pay dan serahkan kepada pelayan
yang berdiri disisi ruangan, katanya, “Katakan kepada
pengurus, semua saudara yang tergabung dalam
perkumpulan Hong-im-hwie tidak diperkenankan masuk
ke dalam rumah makan ini …”
Giok Teng Hujien tertawa terkekeh, dari sakunya
diapun ambil keluar sebuah benda dan diserahkan
kepada pelayan itu sambil pesannya , “Bilamana di atas
loteng terdapat anak murid dari perkumpulan Thongthian-
kauw, usir mereka semua dari tempat ini”

Pelayan itu mengiyakan berulang kali, sambil
membawa tanda pengenal dari kedua orang itu buruburu
berlalu dari situ.
Menggunakan kesempatan dikala pelayan tadi berjalan
lewat dihadapannya, Hoa Thian-hong melirik sekejap
memperhatikan kedua benda itu.
Tampaklah di atas medali Kim-pay terukir sebuah
lukisan angin dan mega, di bawah lambang dari
perkumpulan Hong-im-hwie atau Angin dan mega itu
terukir pula sebuah huruf ,.,Cu” yakni she dari Cu Goankhek.
Sebaliknya tanda pengenal dari Giok Teng Hujien
merupakan tanda pengenal pribadi yang sama sekali
tiada hubungannya dengan sekte agama Thong-thiankauw,
benda itu adalah sebuah hioloo kumala yang
tingginya cuma beberapa senti,
Selama Soat-jie si makhluk aneh itu tetap mendekam
di bawah meja Cu Goan-khek serta dua bersaudara she
Siang selalu merasa hati mereka tidak tenang suatu
ketika mereka bertiga saling berpandangan sekejap dan
serentak bangkit berdiri
Alis Giok Teng Hujien seketika berkerut tegurnya,
“Apakah kalian bertiga akan turun tangan berbareng?”
Siang Hauw melangkah ke samping sejauh enam depa
dan berdiri jauh dari meja perjamuan, sambil tertawa
dingin jawabnya, “Heeeh…. heeeh…. heeeeh, saudara

dari perkumpulan Hong-im-hwie belum sampai setidak
becus itu.”
“Sahabat Siang! Kau tak usah bersombong hati!”
bentak Hoa Thian-hong secara mendadak dengan suara
gusar. “Akupun sudah pernah menjumpai beberapa
orang Hoohan dari perkumpulan Hong-im-hwie.”
Giok Teng Hujien yang menyaksikan sikap si anak
muda itu secara tiba-tiba berubah Jadi berangasan
hingga kegagahannya tadi sama sekali hilang tak
berbekas, jadi melengak, serunya, “Saudara Hoa, inilah
yang dinamakan tata cara dunia persilatan, sebelum
kirim pasukan harus melakukan upacara lebih dulu.”
Terhadap manusia-manusia yang tergabung dalam
perkumpulan Hong-im-hwie maupun Sin-kie-pang. Hoa
Thian-hong telah mempunyai kesan buruk yang amat
mendalam, ia tahu bila tengah hari sudah tiba maka
racun teratai yang mengeram di dalam tubuhnya akan
kambuh, bila pertempuran tidak diselesaikan dengan
cepat niscaya situasi tidak menguntungkan bagi dirinya.
Oleh sebab itu tidak menanti sampai Giok Teng Hujien
menyelesaikan kata-katanya, dengan nada yang dingin
dan ketus ia berseru kembali ‘
Setelah kita hajar yang kecil, yang tua tentu akan
keluar sendiri. Biar kubereskan dulu si Loo jie ini
kemudian baru meringkus si Loo toa. buat apa kita musti
urusi segala macam tata cara Bulim yang sama sekali tak
ada gunanya itu? dari pada banyak ngebacot lebih baik
kita selesaikan urusan dengan adu tenaga!”.

Bicara sampai disitu ia putar badan dan menghardik
dengan nada gusar, “Cu Goan-khek! Ayoh cepat
unjukkan diri di tengah kalangan!”
Dari mulutnya Cu Goan-khek jadi gusar, ia melayang
turun dari beranda dan berseru, “Ayoh! Kau beleh mulai
turun tangan, asal loohu berhasil kau kalahkan kami Chin
Giok-liong kau boleh bawa pergi.”
“Omong kosong kau anggap tanpa menangkan dirimu
aku akan membiarkan kau membawa pergi Chin-heng
dari sini?”
“Sreeet!” telapak segera berputar dan melancarkan
sebuah pukulan kilat ke depan.
Waktu berlalu dengan cepatnya, jurus ‘Koeo Siu-Ca-
Tauw’ ini tampak terasa sudah setengah dilatihnya
dengan giat, meskipun belum bisa menandingi
kematangan diri kakek telaga dingin Cioe It Bong yang
setiap saat sanggup menciptakan perubahan baru, tetapi
jurus-jurus serangan yang berhasil dikuasainya itu sudah
dilatihnya hingga matang dan amat sempurna.
Dari hebatnya serangan yang mengancam datang,
seketika Cu Goan-khek menyadari akan kelihayannya si
anak muda itu, ia tahu bahwa untuk merobohkan Hoa
Thian-hong tak mungkin bisa dilakukannya dalam tiga
jurus belaka. Telapak kirinya segera diayun membabat
pergelangan lawan, telapak kanan dengan mengeluarkan
ilmu pukulan ‘Mo-Im Jiu’ melancarkan satu pukulan
kemuka.

Dalam sekejap mata terjadilah suatu pertempuran
yang amat seru antara Cu Goan-khek yang sudah
tersohor didunia persilatan melawan Hoa Thian-hong
yang baru saja menunjukkan diri dimuka bumi.
Sementara itu Giok Teng Hujien yang diserobot
beberapa kali oleh ucapan Hoa Thian-hong yang tajam,
membuat hatinya merasa amat mendongkol. Melihat
kedua orang itu sudah mulai bertempur. ia segera
geserkan langkahnya dan berdiri di atas beranda, sedang
Soat-jie si makhluk aneh itu menerobos keluar dari
bawah meja dan lari ke sisinya.
Dua bersaudara she-Siang pun berjalan keluar dari
beranda, pelayan segera menggeserkan kursi bagi
tamunya agar bisa menonton jalannya pertarungan
sambil duduk.
Soat-jie si makluk aneh itu rupanya mengerti akan
ilmu silat, sepasang matanya yang berwarna merah
menatap tajam gerakan Hoa Thian-hong maupun Cu
Goan-khek yang sedang bertarung, cahaya tajam
berkilauan menyorot keluar dari matanya, mungkin
binatang itu sedang bersiap diri untuk menolong Hoa
Thian-hong dimana perlu.
Di tengah pertarungan, tiba-tiba terdengar Hoa Thianhong
membentak keras, jurus demi jurus serangan
dilancarkan makin gencar, tubuhnya pun ikut mendesak
kemuka.

Ilmu pukulan tangan kirinya ini didapatkan dari sikakek
telaga dingin Cioe It Bong, bagi si kakek tersebut
sudah tentu jurus pukulan itu bisa dimainkan dengan
pelbagai perubahan yang diluar dugaan, tetapi setelah
dimainkan pemuda ini gerakannya berubah dan setiap
jurus serangannyapun berubah jadi jurus pukulan yang
jujur dan bersifat keras
Cu Goan-khek belum begitu menguasai menghadapi
serangan tangan kiri lawan yang begitu dahsyat, melihat
datangnya serangan yang bertubi-tubi dan lihay itu
terpaksa ia harus kerahkan segenap kemampuannya
untuk memunahkan setiap ancaman yang tiba, ia
terdesak untuk menggunakan posisi bertahan guna
melindungi dirinya dari ancaman.
Bagaimanapun juga Cu Goan-khek adalah seorang
jagoan yang telah punya nama sejak puluhan tahun
berselang, pengalamannya menghadapi pertempuran
sudah amat matang dan iapun sudah banyak kali
menghadapi musuh tangguh, kini walaupun ia tak
sanggup untuk mengalahkan si anak muda itu dengan
mudah, tetapi untuk melindungi keselamatan sendiri
tentu saja masih jauh lebih mampu.
Setelah melancarkan tujuh belas buah pukulan gencar
tanpa berhasil mendesak mundur Cu Goan-khek dari
tempatnya semula Hoa Thian-hong mulai sadar bahwa
musuh yang dihadapinya saat ini merupakan musuh
paling tangguh yang pernah dijumpainya selama ini,
kecuali muncul keanehan disitu jelas harapannya untuk
merebut kemenangan amat tipis.

Hawa murninya segera dihimpun dengan ketat
diseluruh tubuh, otaknya mulai berputar kencang untuk
mencari jalan guna merebut kemenangan.
Bagi jago lihay yang sedang bertempur semua
gerakan berlalu laksana kilat, karena harus cabangkan
pikiran untuk berpikir itulah serangan Hoa Thian-hong
jadi mengendor.
Cu Goan-khek segera mendengus dingin, telapaknya
berputar kencang dan ia mulai melancarkan serangan
balasan dalam sekejap mata dari posisi bertahan ia
berubah jadi posisi menyerang, sepasang telapaknya
menari di angkasa dengan gencarnya, satu serangan
lebih hebat dari serangan sebelumnya, memaksa Hoa
Thian-hong harus berlarian diseluruh kalangan untuk
melepaskan diri dari bahaya maut.
Beberapa saat kemudian keadaan Hoa Thian-hong jadi
sangat berbahaya, maut setiap saat mengancam jiwanya,
dari keadaan itu bisa terlihat bahwa tidak sampai seratus
jurus lagi ia pasti akan menderita kalah di ujung telapak
Cu Goan-khek.
Giok Teng Hujien menyaksikan keadaan itu, sepasang
alisnya tangsung berkerut kencang. Sepasang mata
dengan tajam memperhatikan gerakan telapak orang she
Cu itu, sementara kakinya perlahan-lahan bergeser maju
ke depan, Soat-jie si makhluk aneh diturunkan di
belakang tubuhnya.
Pertempuran sengit yang sedang berlangsung dewasa
ini penuh diliputi oleh nafsu membunuh yang tebal,

masing-masing pihak bernafsu besar untuk mengalahkan
lawannya, hanya sayang yang satu adalah keturunan
jago kenamaan sedang yang lain adalah jago lihay kelas
satu, meskipun kedua orang itu sama-sama ganas tapi
kecuali membentak dan mendengus tiada kedengaran
suara makian atau ejekan.
Makin bertempur kedua orang itu saling bergebrak
makin sengit, diam-diam Giok Teng Hujien serta dua
saudara she Siang merasa tegang, tampaknya asal Cu
Goan-khek melancarkan beberapa jurus serangan lagi
niscaya Hoa Thian-hong akan menderita kekalahan total.
Siapa tabu pada saat itulah Hoa Thian-hong
membentak keras. telapak tangannya dengan dahsyat
mengirim satu pukulan keras ke depan.
“Blaaaam……!” sepasang telapak saling beradu satu
sama lainnya menimbulkan suara bentrokan nyaring.
Tubuh kedua orang itu sama-sama terjengkang ke
belakang dan mundur beberapa langkah, Cu Goan-khek
dengan pengalamannya yang lebih matang segera
memanfaatkan kesempatan itu sebaik baiknya, dikala
tubuhnya belum bergerak mundur ke belakang tangan
kirinya dituding ke atas dan menyodok iga si anak muda
itu.
Pada saat itu kekuatan tubuh kedua orang itu samasama
telah mengendor, serangan bokongan yang
dilancarkan Cu Goan-khek saat ini betul-betul merupakan
suatu serangan yang luar biasa dan mematikan.

Hoa Thian-hong jadi tercekat hatinya dan berseru
kaget, sebelum ingatan kedua berkelebat di dalam
benaknya. jari musuh telah menempel di atas tubuhnya.
Pada detik terakhir yang kritis itulah, tiba-tiba Hoa
Thian-hong tarik napas dalam2 dengan ilmu ‘Hoei-Si-
Kang’ ia alihkan jalan darahnya setengah coen lebih
kesampings kemudian telapak kanannya berputar
kencang menggunakan gerakan membabat ia bacok
batok kepala Cu Goan-khek yang sedang menjorok
kemuka,
Ketika melihat totokan jarinya mengenai sasaran, Cu
Goan-khek merasa sangat berbangga hati, tiba-tiba
jarinya bergetar keras dan jalan darah yang diancamnya
ternyata meleset dari dugaan semula.
Bagaimanapun dia adalah seorang jago kawakan,
begitu merasakan sesuatu yang aneh pada ujung jarinya.
segera ia menyadari bahwa si anak muda itn memiliki
kepandaian untuk memindahkan jalan darah-
Sementara hatinya masih tertegun dan ingatan kedua
belum muncul dalam benaknya, babatan telapak kanan
dari Hoa Thian-hong telah membacok tiba. Sreet..,!
diiringi desiran tajam bagaikan sabetan senjata tajam,
babatan itu melesat ke bawah.
Cu Goan-khek merasa terkejut bercampur sangsi, ia
tahu ilmu pukulan apa yang telah digunakan lawannya,
dalam gugupnya sepasang kaki segera menjejak tanah
dengan sekuat tenaga, tubuhnya segera menyurut
mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

Dengan gebrakan mundurnya sang lawan, babatan
telapak Hoa Thian-hong gagal melukai musuhnya,
kendati begitu sambaran angin pukulannya yang tajam
sempat menyambar ujung jubah Cu Goan-khek hingga
terkupas kutung sebagian, pada ujung robekan kain
jubah tadi nampak amat rata bagaikan tersobek oleh
babatan pisau.
Semua kejadian ini hanya berlangsung dalam sekejap
mata, setelah peristiwa itu berlalu Hoa Thian-hong berdiri
menjublak dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.
air muka Cu Goan-khek berubah jadi hijau membesi,
wajah Giok Teng Hujien berubah jadi pucat pias bagaikan
mayat, sedangkan dua bersaudara she Siang tergetar
keras hatinya, semua orang dibuat kaget dan tercekat
oleh kejadian yang baru saja berlalu itu.
Totokan dari Cu Goan-khek dilancarkan secara
mendadak itu melanggar kebiasaan Bulim, sekalipun Giok
Teng Hujien mengawasi jalannya pertarungan dari sisi
kalangan dengan siap siaga penuh, namun ia tak sempat
memberikan bantuannya dikala Hoa Thian-hong
terancam banyak maut.
Sebaliknya si anak muda itu sanggup menggeserkan
letak jalan darahnya dari tempat semula disaat yang
kritis. tindakan itu cukup mengejutkan hati orang
terutama sekali babatan telapaknya yang dahsyat lebihlebih
menggetarkan hati musuhnya.
Semua orang belum pernah menyaksikan permainan
ilmu pedangnya, mereka hanya tahu bahwa pemuda ini

memiliki ilmu pukulan tangan kiri yang hebat, siapa tahu
disaat yang paling kritis itulah dengan telapak
menggantikan pedang ternyata pemuda itu berhasil
membabat robek sebagian dari jubah yang dikenakan Cu
Goan-khek, kejadian ini sungguh diluar dugaan siapapun
juga Untuk sesaat suasana berobah jadi hening dan sunyi
tak kedengaran sedikit suarapun yang memecahkan
kesepian yang mencekam seluruh ruangan itu.
Beberapa saat kemudian terdengar Giok Teng Hujien
tertawa dan berkata, “Sebuah totokan ditukar dengan
sebuah babatan, kedua belah pihak sama-sama kuat dan
setali tiga uang. Menurut pendapatku lebih baik
pertarungan yang berlangsung pada hari tni hanya
dihentikan sampai disini saja, Jie Tang-kee! bagaimana
kalau kau jual muka bagiku dan serahkan
Chin Giok-liong agar bisa diajak pergi oleh Hoa
Kongcu? Tentang obat pemunahnya biar kita lanjutkan
pembicaraan ini di kemudian hari.”
Cu Goan-khek adalah seorang jagoan yang tersohor
namanya di dalam dunia persilatan, sedangkan Hoa
Thian-hong hanya seorang pemuda yang baru saja
munculkan diri di dalam Bulim, tentu saja ia tak sudi
mengakui bahwa kekuatan mereka seimbang. Pikirnya di
dalam hati, “Meskipun ilmu silat yang dimiliki perempuan
siluman ini amat lihay, rasanya dengan tenaga gabungan
dari Siang Loo-toa serta Siang Loo-jie untuk sementara
waktu ia bisa ditahan. Ditambah pula dengan binatang
aneh itu paling banter kedua belah pihak berada pada
posisi seimbang biarlah aku lihat dulu bagaimanakah

keadaan dari si bajingan cilik ini disaat racun teratainya
sedang kambuh ….”
Karena berpikir demikian ia segera tertawa dingin.
Katanya, “Perintah dari Hujien sudah sepantasnya kalau
kupenuhi, Cuma sayang bila Chin Giok-liong sampai
terlepas dari tanganku maka aku jadi tak dapat
mempertanggung jawabkan diri dihadapan toako nanti,
maka maaf bila aku tak sanggup memenuhi keinginanmu
itu.”
Sepasang bahunya bergerak maju ke depan, sebuah
pukulan kembali dilancarkan ke arah Hoa Thian-hong.
Dalam bentrokan kekerasan tadi jelas terlihat bahwa
kekuatan tenaga lwekang yang dimiliki kedua belah pihak
sama? Kuat Cu Goan-khek hanya lebih menang dalam
pengalaman, beraneka ragamnya jurus pukulan serta
pengetahuan yang lebih luas. sekalipun begitu untuk
mengalahkan Hoa Thian-hong bukanlah suatu pekerjaan
yang gampang baginya. Kembali kedua orang itu
melangsungkan pertarungannya. Hoa Thian-hong yang
selalu kuatir racun teratai dalam tubuhnya keburu
kambuh, serangan-serangan yang dilancarkan kian lama
kian bertambah gencar, dalam sekejap mata ia sudah
membawa pertarungan itu berubah jadi sengit dan seru.
Giok Teng Hujien yang menonton jalannya
pertarungan dan sisi kalangan. Mengerutkan alisnya,
tiba-tiba ia berseru dengan nada dingin, “Jie Tang-kee
kau terlalu tidak pandang sebelah mata kepada orang
lain …”

Sambil berseru Seat-Jie si makhluk aneh itu dilempar
masuk ke dalam kalangan pertempuran.
Tampak bayangan putih berkelebat lewat, ‘Soat-Jie’ si
makhluk aneh itu bagaikan segulung asap ringan segera
meluncur ke arah kaki Cu Goan-khek yang sedang
bertempur.
“Jie-ko, hati-hati!” teriak dua bersaudara she Siang
hampir berbareng dengan suara kaget.
Cu Goan-khek terkejut bercampur gusar badannya
cepat berputar kencang sambil mengirim satu tendangan
kilat menyongsong datangnya tubrukan dari makhluk
aneh itu.
Tampak bayangan putih kembali berkelebat, dengan
kecepatan yang sukar dilakukan dengan kata-kata Soatjie
berkelebat menuju ke belakang tubuh Cu Goan-khek,
kecepatannya sungguh membuat hati orang tercekat.
Walaupun ilmu silat yang dimiliki Cu Goan-khek masih
lebih tinggi satu tingkat jika dibandingkan dengan Hoa
Thian-hong, tetapi si anak muda itu tetap merupakan
seorang tandingan yang keras dan berat
Kini setelah ikut campurnya si Soat-jie makhluk aneh
itu ke dalam kalangan pertempuran, Cu Goan-khek
kontan merasakan tekanan yang menimpa dirinya
semakin berat, dalam waktu singkat gerakannya sudah
mulai kacau dan kelabakan tidak karuan.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, Hoa Thian-hong
pun lantas berpikir di dalam hati. “Menolong orang
adalah masalah besar. aku tak usah memikirkan masalah
gengsi atau muka lagi!”
Berpikir demikian menggunakan kesempatan dikala
perhatian orang she Cu itu dipusatkan ke bawah kakinya,
ia segera maju ke depan sambil melancarkan serangan
bertubi tubi, bayangan telapak menumpuk laksana bukit
menggulung dan menghajar ke depan tiada hentinya.
Soat-jie si makhluk aneh itu sambil mendekam di
tanah khusus menyerang sepasang kaki Cu Goan-khek,
gerakannya kesana kemari cepat laksanakan kilatan
cahaya, bukan Saja lihay bahkan sukar diduga
sebelumnya.
Ditambah pula dengan serangan gencar dari Hoa
Thian-hong, sesaat kemudian Cu Goan-khek sudah
terdesak hebat hingga keringat dingin mengucur keluar
tiada hentinya membasahi seluruh tubuhnya, ia merasa
amat gelisah bercampur kuatir, sang badan sering kali
meloncat ke tengah udara sambil meraung gusar.
Dua bersaudara she-Siang yang menyaksikan jalannya
pertarungan disisi kalangan berusaha keras untuk
menemukan cara yang baik untuk mengatasi serangan
dari rase putih itu, namun setiap kali jalan pikiran mereka
selalu menemui jalan buntu, kini setelah menyaksikan
keadaan Cu Goan-khek amat terdesak dan jiwanya
terancam bahaya mereka sadar apabila dirinya berdua
tidak segera turun tangan niscaya Jie Tang-kee nya ini
akan keok di tangan musuh.

Dalam keadaan begini mereka berdua tak bisa berpikir
panjang lagi, setelah saling tukar pandangan sekejap
serentak mereka menyerbu ke dalam kalangan
pertempuran.
Terdengar Giok Teng Hujien tertawa merdu tegurnya,
“Siang Loo-jie, katanya kau tak akan berbuat sehina ini,
kenapa sekarang kau tebalkan muka dan ikut terjun ke
dalam gelanggang?”
Sembari berseru senjata Hud-timnya dibabat kemuka
langsung menyerang tubuh Siang Kiat, Siang Hauw
berdua.
Siang Hauw mendengus dingin, tangan kirinya
dikebaskan ke muka melancarkan sebuah babatan
dahsyat hingga menggetarkan senjata Hud-tim di tangan
Giok Teng Hujien. Sementara kelima jari tangan
kanannya bagaikan kaitan tajam langsung menyambar
ketubuh lawan.
Giok Teng Hujien tetap tersenyum, senjata Hud-tim
nya menyerang pinggang Siang Kiat sementara ujung
baju tangan kirinya dikebas menggulung pergelangan
tagan Siauw Hauw.
Beberapa orang itu semuanya merupakan jago-jago
lihay yang memiliki ilmu silat amat tinggi, gerak-gerik
Giok Teng Hujien enteng dan indah bagaikan bidadari
yang sedang menari.

Sebaliknya sepasang bersaudara she-Siang yang
melatih ilmu cakar maut, dengan perawakannya yang
tinggi kurus jauh lebih tinggi dua depa dari perawakan
Giok Teng Hujien, di bawah serangan Thong-Long-Jiauw
mereka yang lihay tampak sepuluh jari berubah jadi
hitam bercahaya dan amar menusuk mata, seranganserangan
yang dilancarkan kedua orang inipun luar biasa
lihaynya.
Di tengah pertarungan Siang Kiat bergerak cepat
melepaskan diri dari ancaman senjata Hud-tim Giok Teng
Hujien, kakinya bergerak cepat dan segera menyapu ke
arah Soat-jie makhluk aneh itu.
Perawakan tubuh rase putih ini cuma beberapa depa
saja ditambah ekornya paling banter cuma tiga depa,
sekalipun badannya kecil tetapi gerak-geriknya Cepat
laksana kilat, cakarnya tajam dan giginya runcing
ditambah pula tenaganya luar biasa, serangannya yang
khusus mengancam kaki orang benar-benar merupakan
suatu ancaman yang sangat berbahaya.
Tendangan yang dilancarkan Siang Kiat nampak
segera akan mengenai sasarannya, tiba-tiba pandangan
mata terasa jadi kabur dan tahu-tahu tendangannya
mengenai Sasaran kosong, buru-buru ia tarik kembali
serangannya sambil ganti melancarkan satu tendangan
dengan kaki kiri,
Dalam waktu singkat situasi di tengah kalanganpun
segera berubah, Siang Kiat seorang diri bertempur
melawan rase putih itu, satu manusia yang lain binasa
bergebrak dalam keadaan seimbang, untuk sesaat si rase

putih itu tak sanggup melukai Siang Kiat sedangkan Si
Siang Kiat jago lihay yang sudah punya nama besar
dalam dunia persilatan pun tak bisa berkutik melawan
seekor makhluk aneh.
Giok Teng Hujien memutar senjata Hud-tim nya
mengurung seluruh tubuh Siang Hauw, jelas ia tidak
menggunakan Segenap kekuatan yang dimilikinya.
Sambil bertempur perhatiannya selalu dicurahkan ke arah
Hoa Thian-hong serta Soat-jie makhluk anehnya itu
untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Agaknya perempuan ini tak mau menimbulkan
bentrokan langsung antara perkumpulan Thong-thiankauwnya
dengan pihak perkumpulan Hong-im-hwie.
karena itu walau sudah bertempur agak lama tetapi ia
tak pernah melancarkan serangan mematikan,
Dipihak lain Hoa Thian-hong yang sedang bertempur
melawan Cu Goan-khek lama kelamaan ia terdesak hebat
dan tak sanggup menahan diri. ditambah pula ancaman
racun teratai yang setiap saat bisa kambuh dalam
tubuhnya membuat pikiran pemuda ini bertambah tidak
senang, dengan sendirinya daya tekanan pada seranganserangan
yang dilancarkanpun bertambah merosot
Cu Goan-khek berhasil menguasai keadaan dan
merebut posisi di atas angin, pukulan2nya dengan
gencar dan mantap meneter musuhnya habis2an,
sedikitpun ia tidak beri kesempatan lagi lawannya untuk
bertukar napas.

Tiba-tiba Hoa Thian-hong merasakan segulung hawa
panas yang amat menyengat badan muncul dan dalam
pusarnya dan menyebar ke seluruh tubuh, Sedarlah si
anak muda ini bahwa tengah hari sudah tiba dan daya
kerja racun teratai empedu api sudah mulai kambuh
Selamanya pada saat seperti ini belum pernah ia
bergebrak melawan orang, ini hari terdesak oleh keadaan
membuat pemuda itu mau tak mau membendung rasa
keadaan, pada pengalaman yang pertama ini ia tak
kuasa membendung rasa tegang yang menguasai
hatinya. begitu hawa panas mulai muncul di dalam pusar
ia jadi tercekat dan serangannya semakin mengendor.
Cu Goan-khek adalah seorang jago lihay yang
pengalaman. begitu mengetahui peluang baik kembali
didapatkan olehnya, ia segera membentak keras.
serangan yang lebih dahsyatpun dilancarkan bartubi-tubi
.
Serangan itu meluncur laksana sambaran kilat,
tampaknya dada Hoa Thian-hong segera akan termakan
oleh pukulan itu. Mendadak terdengar suara bentakan
nyaring berkumandang datang, disusul segulung angin
pukulan yang tajam menyapu tiba.
Cepat-cepat Cu Goan-khek berpaling tampaklah
sebuah telapak putih yang memacarkan cahaya merah
yang membara tiba-tiba menyerang tubuhnya dari arah
belakang, dengan cepat ia geserkan tubuhnya lima depa
dari tempat semula untuk melepaskan diri dari ancaman
tersebut.

Tetapi dengan adanya gerakan ini maka dengan
sendirinya hawa pukulan yang sudah dihimpun dalam
telapakpun jadi buyar, sekalipun bersarang telak di atas
dada Hoa Thian-hong hingga menggetarkan tubuhnya
sejauh beberapa tombak dan jatuh terjengkang. namun
tidak sampai melukai isi perutnya
Cu Goan-khek jadi amat gusar, la membentak dan
melancarkan serangan dahsyat ke arah Giok Teng
Hujien, pertempuran sengitpun segera berlangsung
dengan serunya. dalam waktu singkat mereka telah
saling bergebrak sebanyak delapan sembilan jurus.
Dalam pada itu Siang Hauw yang terlepas dari
belenggu senjata Hud-tim Giok Teng Hujien segera
menerjang ke arah Hoa Thian-hong, kelima jari
tangannya yang hitam berkilat menyambar kian kemari
mengancam batok kepala si anak muda itu
Terdengar Giok Teng Hujien bersuit nyaring, rase
putih yang sedang bertempur melawan Siang Kiat segera
meninggalkan lawannya dan berbalik menubruk ke arah
kaki dari Loo-jie Siang Hauw.
Haruslah diketahui perawakan tubuh sepasang
bersaudara she-Siang ini mencapai ketinggian delapan
depa lebih, mereka yang harus bertempur melawan Rase
putih yang pendek kecil serta khusus menyerang kaki ini
benar-benar terasa amat payah dan tidak leluasa.
Begitu merasakan datangnya ancaman dari belakang
tubuh, Siang Hauw segera lepaskan Hoa Thian-hong
sambil putar badan mengirim sebuah tendangan kilat,

perhatiannya dipusatkan jadi satu dan sedikitpun tak
berani bertindak gegabah.
Hoa Thian-hong bergelinding di atas tanah beberapa
tombak jauhnya lalu meloncat bangun dan berdiri tak
berkutik, sepasang matanya melotot besar
memperhatikan empat orang yang sedang bertempur di
tengah kalangan.
Sepasang matanya telah berubah jadi merah berapi
api, sepasang giginya bergemerutuk kencang, otot dan
daging di atas keningnya bergetar keras. keringat
membasahi seluruh wajahnya, keadaan Hoa Thian-hong
pada saat ini benar-benar mengerikan sekali,
Tiba-tiba. terdengar Giok Teng Hujien membentak
keras, “Jie Tang-kee, harap tahan sebentar!”-
Cu Goan-khek yang bertempur sengit beberapa waktu
lamanya tanpa berhasil menangkan musuhnya, dalam
hati merasa amat mendendam terhadap Giok Teng
Hujien, apa lacur ilmu silat yang dimiliki perempuan itu
terlalu lihay membuat ia kehilangan pegangan untuk
merebut kemenangan begitu mendengar seruan
berhenti, tanpa banyak bicara lagi ia tarik kembali
serangannya dan mengundurkan diri ke belakang.
Dengan cepat Giok Teng Hujien berkelebat ke sisi Hoa
Thian-hong, tanyanya dengan nada penuh perhatian,
“Kenapa kau saudaraku? Aku lihat lebih baik pergilah
dulu keluar kota untuk berlari racun urusan di tempat ini
kita selesaikan di kemudian hari saja.”

Sekujur badan Hoa Thian gemetar keras sepasang
giginya saling berada gemerutukan keringat dingin
mengucur keluar dengan amat deras ingin sekali pemuda
itu untuk berlari kencang.
Ia gelengkan kepalanya lalu mengangguk tiba-tiba
dengan langkah lebar berjalan masuk ke dalam ruangan,
teriaknya lantang, “Giok Liong heng, ayoh kita pergi dari
sini”
Selama beberapa orang itu melangsungkan
pertarungan sengit Chin Giok-liong seorang diri duduk di
depan meja dengan membelakangi pintu, selamanya ia
tak pernah berpaling atau menegok ke belakang. Menanti
dirinya dibentak keras barulah kepalanya perlahan lahan
menoleh ke belakang.
Hoa Thian-hong melangkah maju ke depan. tangan
kanannya bergerak mencengkeram pergelangan
tangannya lalu berseru lagi dengan suara keras,
“Saudara Giok Liong, ayoh kita pergi dari sini!”
Chin Giok-liong merasakan pergelangannya amat sakit,
ia berusaha meronta untuk melepaskan diri dari cekalan
lawan tetapi usahanya gagal, sementara tubuhnya sudah
diseret keluar oleh Hoa Thian-hong.
Dari sikap serta perubahan wajahnya yang menahan
penderitaan besar Giok Teng Hujien mengetahui bahwa
pemuda itu sudah tak kuat menahan diri, ia segera maju
menghampiri sambil berkata, “Saudaraku, pergilah ‘Lari
racun’! persoalan di tempat ini serahkan saja kepada cici
untuk menyelesaikannya.”

Hoa Thian-hong gelengkan kepalanya, dengan ujung
baju ia menyeka keringat yang membasahi keningnya
lalu menyahut, “Terima kasih atas bantuan yang cici
berikan kepadaku, siauwte akan menyelesaikan sendiri
persoalan ini hingga duduknya perkara jadi jelas”
Sambil berkata ia tarik pergelangan tangan Chin Giokliong
dan berjalan menuju keluar dengan langkah lebar.
Cu Goan-khek jadi mendongkol dibuatnya, dengan
sigap ia menghadang jalan pergi pemuda itu. serunya,
“Hoa Thian-hong, kau toh tidak berhasil menahan diriku,
kenapa kau ajak pergi orang itu?”
Hoa Thian-hong berhenti melangkah, wajahnya
berubah jadi merah padam, hardiknya, “Enyah kau dari
sini!” Sambil berseru telapaknya bergerak cepat
melancarkan sebuah babatan ke depan.
Pukulan telapak ini dilancarkan dengan amat
sederhana dan merupakan suatu pandangan hina
terhadap lawannya Cu Goan-khek merasa amat gusar,
telapaknya segera dia ayun menyambut datangnya
serangan tadi dengan keras lawan keras.
“Blaam…,! di tengah suara bentrokan yang amat
nyaring, tubuh kedua orang itu sama’2 tergetar keras
dan mundur selangkah ke belakang
Hoa Thian-hong merasakan tubuhnya jadi lebih
nyaman Setelah terjadi bentrokan itu, daya tekanan yang
mengempit tubuhnya jauh lebih berkurang. segera ia

lepaskan pergelangan Chin Giok-liong dan melangkah
maju ke depan, bentaknya dengan penuh kegusaran, “Cu
Goan-khek. lihat pukulan!”
Jago tua she-Cu itu sudah tentu tak mau unjukkan
kelemahannya, ia ayunkan pula telapaknya untuk
menyambut datangnya serangan.
“Blaaam…! Sekali lagi terjadi bentrokan keras,
sepasang kaki kedua orang itu yang menginjak di atas
lantai batu segera mencetak dalam2 di atas ubin
meninggalkan bekas telapak yang nyata. Dalam tubuh
Hoa Thian-hong merasa amat tersiksa tetapi setelah
menggunakan tenaga dalamnya untuk menyerang ia
merasa rasa sakitnya rada berkurang, karena kejadian ini
timbullah niatnya untuk menyerang lebih gencar lagi agar
rasa sakit dalam badannya lebih berkurang.
Berpikir demikian ia lantas gertak gigi dan maju lagi ke
depan sambil melancarkan satu pukulan. Cu Goan-khek
merasa kaget bercampur gusar, telapaknya segara
diayun menyambut datangnya ancaman itu.
“Braaak…..! Untuk kesekian kalinya terjadi benturan
keras yang menimbulkan suara nyaring, kedua orang itu
mendengus dingin Sambil tergetar mundur dua langkah
ke belakang, ubin batu di atas 1antai segera hancur
berantakan terinjak kaki kedua orang itu.
Pada saat itu baik Giok Teng Hujien, dua bersaudara
she-Siang maupun para jago yang secara diam-diam
mengintip jalannya pertarungan dari tempat
persembunyian sama-sama dibikin melengak oleh cara

bertarung kedua orang itu, Giok Teng Hujien yang berdiri
sangat dekat dengan kalangan pertempuranpun tidak
berhasil menentukan siapa menang siapa kalah dalam
bentrokan2 kekerasan itu, iapun tak tahu bagaimana
caranya untuk mencegah terjadinya peristiwa itu.
Dikala semua orang mencurahkan perhatiannya ke
tengah kalangan itulah, tiba-tiba dari balik ruangan
muncul seorang kakek tua, ia punya perawakan yang
pendek. lagi gemuk, kepalanya botak dan bersinar tajam,
pakaiannya kasar dengan sebuah kipas bulat berada
dalam cekalannya.
Tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia menyusup ke
dalam ruangan itu dan mendekati tubuh Chin Giok-liong.
Air muka si kakek gemuk ini merah bercahaya, pipinya
montok dan mulutnya lebar saat itu dengan wajah
murung bersembunyi di belakang tubuh Chin Giok-liong
sambil menatap tajam wajah Hoa Thian-hong, dari balik
sorot matanya secara lapat memancar keluar rasa
murung, kasihan serta kuatirnya yang amal mendalam.
Terdengar Hoa Thian-hong yang berada di tengah
kalangan membentak keras, “Cu Goan-khek, aku orang
she-Hoa ingin minta petunjuk tiga buah pukulan lagi
darimu!” Tubuhnya merangsek ke depan dan telapak nya
langsung membabat tubuh lawannya.
Sementara itu Cu Goan-khek merasakan isi perutnya
telah bergetar keras, darah panas dalam dadanya
bergolak kencang, dalam keadaan begitu ia tak ingin
bergebrak lebih lanjut. sebab keadaannya sudah payah,

tetapi mengingat nama besarnya yang dipupuk selama
ini dengan susah payah, ia tak mau unjukkan
kelemahannya dihadapan orang.
Ia segera membentak keras, dengan menghimpun
tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian sebuah
pukulan dahsyat segera dilancarkan.
“BRAAAK..! dalam bentrokan kali ini tubuh kedua
orang itu sama-sama tergetar mundur dengan kuda2nya
gempur. jelas kedua belah pihak telah menderita
kerugian semua.
Giok Teng Hujien mengerutkan alisnya ia hendak maju
ke depan melerai pertarungan itu, sedang dua saudara
she Siang-pun telah menemukan pula keadaan Cu Goankhek
yang payah, bila sampai terjadi bentrokan lagi
niscaya ia akan menderita luka parah, kedua orang itu
segera saling bertukar pandangan dan siap maju ke
depan.
Tapi sebelum kedua belah pihak sama-sama turun
tangan untuk membantu jagonya masing-masing, si
kakek cebol gemuk yang berdiri di belakang Chin Giokliong
itu mendadak menyambar pinggang pemuda itu lalu
mengempitnya di bawah ketiak, sambil berteriak
tubuhnya segera lari keluar dari ruangan tersebut …
Lima orang yang berada di dalam kalangan saat itu
rata-rata merupakan jago lihay yang memiliki ilmu silat
tinggi, tetapi berhubung Hoa Thian-hong yang tersiksa
oleh daya kerja racun teratai harus menyerang secara
ganas dan nekad, semua perhatian Giok Teng Hujien

maupun dua bersaudara she-Siang harus dipusatkah ke
tengah kalangan, siapapun tidak memperhatikan
keadaan di belakang mereka.
Menanti beberapa orang itu sadar kembali dan
berpaling, tampaklah kakek cebol dan gemuk itu sudah
mengepit tubuh Chin Giok-liong dan kabur jauh.
Reaksi Giok Teng Hujien paling cepat diantara
beberapa orang itu, sepintas memandang bayangan
punggungnya ia segera kenali orang itu sebagai orang
yang menggoda dirinya sewaktu ada di rumah
penginapan dengan bait lagunya yang konyol, ia segera
tertawa merdu dan berseru, “Saudaraku, Chin Giok-liong
telah dirampas orang. kenapa kau tidak melakukan
pengejaran?”
Walaupun tubuh Hoa Thian-hong terasa amat sakit
dan menderita, namun pikirannya masih terang,
mendengar seruan itu iapun tinggalkan Cu Goan-khek
dan mengejar ke arah kakek tua itu.
Giok Teng Hujien tak berani berayal diapun enjotkan
badannya menyusul disisi pemuda itu, Soat-jie si rase
putih menyusul di belakang mereka dan Cu Goan-khek
serta dua bersaudara Siang berada di paling buncit.
Gerakan tubuh kakek gemuk cebol itu sangat aneh,
dalam waktu singkat ia sudah berada amat jauh dari situ.
Terlihatlah ia membelok ke kiri menikung ke kanan
bergerak menuju ke pintu besar rumah makan.

Walaupun di sekitar situ banyak terdapat manusia
tetapi sebagian besar mereka adalah orang-orang dari
perkumpulan Sin-kie-pang yang tak sudi mencampuri
urusan itu, para anggota perkumpulan Hong-im-hwie
maupun Thong-thian-kauw telah dipersilahkan keluar
dari rumah makan itu sebelum kedua belah pihak saling
bertempur tadi dan kini berjaga jaga diluar pintu sambil
menunggu berita hasil pertarungan itu.
Dengan demikian sewaktu kakek cebol itu raendadak
munculkan diri diluar pintu. tak seorangpun yang turun
tangan menghalangi jalan perginya.
Dengan tangan kiri mengepit tubuh Chin Giok-liong,
tangan kanan menggoyangkan kipas dalam usaha
melarikan dirinya itu mendadak si kakek cebol tadi
bersenandung nyaring,
Arak lama habis, arak baru meluap.
Berdiri di tepi baskom sambil tertawa terbahak- bahak.
Padri gunung kakek liar saling berjumpa muka.
Ia sambang sepasang ayam, aku sumbang seekor
bebek.
Ooh…. hidup di alam ini sungguh berbahagia.
Bait lagu ini sangat populer dan dikenal setiap orang,
walaupun seorang pekerja kasar juga bisa membawakan
lagu ini, tapi dinyanyikan oleh si kakek gemuk itu
ternyata membawa suasana yang lain.

Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan, teriaknya
nyaring, “Hey. kakek tua, pandai amat kau menyanyi?
Bagaimana kalau kau bawakan lagu Soe-Koay-Giok?”
Kakek cebol itu pura-pura tidak mendengar, badannya
dengan cepat berkelebat masuk ke dalam ruang dalam,
terlihatlah manusia berjubal-jubal diluar pintu hingga sulit
bagi siapapun untuk berjalan keluar, disaat ia menemui
jalan buntu itulah mendadak dilihatnya ada dua benda
berada di atas meja pengurus rumah makan, benda itu
yang satu adalah Kim Pay dari Cu Goan-khek sedang
yang lain adalah hioloo kumalu dari Giok Teng Hujien.
Dengan gerakan yang cepat bagaikan hembusan angin
kakek cebol gemuk itu meluncur ke arah meja tersebut,
kipasnya dengan cepat bergerak menyapu kedua benda
tadi.
Suasana diluar pintu kontan jadi kacau dan ribut, si
kakek cebol gemuk itu tidak berhenti sampai disitu saja,
kembali kipasnya bergerak melemparkan kedua macam
benda itu ke tengah rumah orang.
Suasana semakin kacau tak karuan, para anggota
perkumpulan Hong-im-hwie sama-sama menyambar
tanda pengenai Kim Pay itu, sedang para anak buah
perkumpulan Thong-thian-kauw sama-sama merampas
hioloo kumala ttu, suasana jadi hiruk pikuk dan ramai.
Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah si
kakek cebol tadi menyusup diantara gerombolan manusia
dan melayang keluar dari pintu.

Sementara itu Hoa Thian-hong serta Giok Teng Hujien
bersama-sama telah tiba disitu, Soat-jie si makhluk aneh
segera menyusup di antara gerombolan manusia.
Suasana semakin kacau lagi, di tengah jeritan kaget
dan panik para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie
maupun Thong-thian-kauw sama-sama berlompatan ke
samping dan melarikan diri keempat penjuru.
Cu Goan-khek serta dua bersaudara she-Siangpun
sejenak kemudian menyusul tiba disitu, terhadang oleh
orang yang saling berdesak2an dihadapan mereka tanpa
sadar beberapa Orang itu tergencet jadi satu dengan Hoa
Thian-hong.
Pada saat itulah seorang murid perkumpulan Thongthian-
kauw menyerahkan hioloo kecil yang berhasil
didapatkan itu ke tangan Giok Teng, Hujien, sedang
seorang anggota perkumpulan Hong-im-hwie
menyerahkan Kim-Pay itu ke tangan Cu Goan-khek.
Hanya Hoa Thian-hong seorang yang pusatkan seluruh
perhatiannya pada Chin Giok-liong, ditambah pula daya
kerja racun teratai yang bergelora dalam tubuhnya
membuat ia amat tersiksa, sepasang tangannya bekerja
keras mendorong orang-orang yang menghadang
dihadapannya ke samping, sekuat tenaga ia menerjang
maju terus ke depan
Siang Hauw yang berada disisi pemuda itu segera
timbul niat jahatnya ketika melihat ketiak orang terbuka
tanpa perlindungan. Pikirnya, “Usia keparat cilik ini.

belum mencapai dua puluh tahun, tapi ia telah sanggup
beradu tenaga dalam dengan Cu Jie ko, bila ia dibiarkan
hidup terus di kolong langit maka sepuluh tahun
kemudian bukankah akan muncul seorang Hoa Goan-siu
lagi ..”
Berpikir sampai disini hawa murninya segera
disalurkan ke dalam tangan, kelima jarinya dipentang
dan menunggu disaat Hoa Thian-hong sedang
mendorong orang-orang di hadapannya hingga ketiaknya
terbuka, jari tangannya itu segera mencengkeram tubuh
lawan.
Tindakan orang ini betul-betul amat keji, ilmu cakar
‘Thong-Long-Jiauw’ yang diyakininya itu merupakan ilmu
kepandaian beracun yang amat tersohor, begitu bertemu
dengan, darah segera akan bekerja dan mencabut jiwa
korbannya, Hoa Thian-hong berada dalam keadaan tidak
siap tentu saja sulit baginya untuk menghindarkan diri.
Dalam pada itu Hoa Thian-hong.sama sekali tidak
menduga dirinya bakal diserang dari belakang secara
keji. menanti ia menyadari akan datangnya ancaman
tahu-tahu ketiaknya sudah kena dicengkeram oleh Jari
tangan Siang Hauw.
Dalam gugupnya tanpa menunggu jari tangan lawan
menusuk lebih dalam, sikutnya segera disodok ke
belakang menghajar lengan musuh sementara tubuhnya
berputar kencang ke belakang sambil menggerakkan
tangan kanannya mencakar sepasang mata lawan.

Cengkeraman ini sama sekali tidak pakai aturan tetapi
merupakan suatu ancaman yang amat ganas dan keji,
dengan sebat Siang Hauw miringkan, kepalanya
menghindarkan dari ancaman tersebut, siapa tahu
karena terburu nafsu gerakan tangannya jadi terlambat,
sodokan sikut Hoa Thian-hong segera membentuk telak
di atas pergelangannya hingga Jari kelingkingnya terasa
amat sakit kukunya hampir saja patah jadi dua bagian.
Giok Teng Hujien yang menyaksikan kejadian itu jadi
amat gusar, ia gerakan tangannya mencengkeram
pergelangan Siang Hauw. Serunya dengan nada ketus,
“Hey orang she Siang, kau betul-betul tak tahu malu.
Akan kusuruh kau rasakan siksaan yang paling hebat
sebelum ajalmu tiba!”
Sambil berkata hawa sinkang ‘Hiat-Sat-sinkang’ nya
disalurkan ke tangan kiri dan mengurung tubuhnya.
Siang Hauw yang merasa salah karena serangan
bokongannya itu jadi ketakutan, buru-buru ia geserkan
badannya bersembunyi di belakang tubuh Cu Goan-khek,
sementara Siang Kiat serta jago she Cu itu segera
menangkis serangan yang dilancarkan Giok Tang Hujien.
“Orang she-Siang?” bentak Giok Teng Hujien dengan
suara seram. Cepat serahkan obat pemunah kepadaku,
kalau tidak kau akan merasa menyesal untuk
selamanya.”
“Heeeh…. heeeh…..heeh…. bukankah orang she-Hoa
itu masih segar bugar….?” seru Siang Hauw sambil
memuding ke arah pemuda itu. “Toh ia sendiri yang

terburu-buru, kenapa Hujien mesti ikut prihatin karena
porsoalan ini?”
JILID 13 : Pek Kun Gie..aku benci kau
GiOK TENG Hujien jadi amat gusar ia menyeringai
seram. “Rupanya kau benar-benar sudah bosan hidup!”
teriaknya, telapaknya diayun kemuka dan perlahan-lahan
didorong ke depan.
“Siang Lo-jie, cepat mundur!” bentak Cu Goan-khek,
sepasang kakinya disilang ke depan dan menggunakan
sepasang telapaknya diapun melancarkan sebuah
pukulan.
Hiat-Sat Sinkang merupakan ilmu pukulan yang paling
sakti dikalangan kaum sesat, begitu sepasang tenaga
saling bertemu Cu Goan-khek segera merasakan
telapaknya seperti dihantam oleh segulung tenaga yang
berat dan aneh, dadanya jadi sesak dan hidungnya
seperti mencium bau amis darah yang memuakkan,Isi
perutnya goncang keras, hampir saja muntah darah
segar.
Dalam pada itu Hoa Thian-hong pun telah tundukan
kepala memeriksa ketiak sendiri ia lihat di atas
pakaiannya telah bertambah dengan lima buah lubang
kecil yang mengucurkan darah berwarna hitam,
walaupun dalam hati merasa amat gusar tetapi karena
teringat akan keselamatan diri Chin Giok-liong ia
berusaha keras untuk menekan bawa amarahnya itu di
dalam hati.

“Cici, ayo kita pergi!” serunya.
Di dalam tubuhnya masih bersarang racun Teratai
empedu api, semua jalan darah dalam tubuhnya terasa
panas, kaku dan gatal seolah olah diterobosi oleh berjuta
juta ekor semut, penderitaan yang dirasakannya pada
waktu itu benar-benar amat hebat.
Sehabis bicara ia segera putar kepala dan meneruskan
kembali pengejarannya ke arah kakek cebol gemuk itu.
Giok Teng Hujien yang berhadapan dengan keadaan
seperti ini jadi gugup dan tak tahu apa yang musti
dilakukan pada saat ini, hawa pukulan Hiat-Sat
sinkangnya segera ditarik kembali, sambil mengejar
pemuda itu serunya cemas, “Saudaraku, di atas ilmu
cakar Thong-Long Jiauw dari Siang Loo jie mengandung
racun keji.”
Belum habis ia berkata, tiba-tiba dari arah belakang
berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan
hati, cepat ia berpaling ke belakang. terlihatlah sambil
menyemburkan darah hitam dari mulutnya Siang Hauw
roboh terjengkang ke atas tanah, sekujur tubuhnya
mengejang beberapa saat lamanya kemudian matanya
melotot besar dan mati binasa.
Hoa Thian-hong mengerutkan alisnya, ia tetap
meneruskan gerakannya lari ke depan. Giok Teng Hujien
menyusul dari belakangnya sambil berseru kepada Soatjie
makhluk aneh itu, “Soat-jie, cepat kejar kakek tua
tadi.”

Rase putih sangat memahami perkataan manusia,
mendengar perintah dari majikannya ia berteriak
kegirangan, tubuhnya segera meluncur lebih dahulu ke
depan dan membuka jalan bagi kedua orang itu.
Sambil berlari Giok Teng Hujien tertawa dan berkata,
“Ini hari Cu Goan-khek betul-betul keok di tangan kita!”
Hoa Thian-hong menjawab ia menoleh ke belakang
ketika dilihatnya tak ada orang yang mengejar. kakinya
segera bergerak semakin cepat lagi meluncurkan ke arah
depan.
Haruslah diketahui disaat racun teratainya sedang
kambuh, semakin cepat pemuda itu berlari semakin
berkurang penderitaan yang sedang dirasakan olehnya,
cuma sayang mereka masih berada di dalam kota yang
ramai hingga tenaganya tak bisa digunakan sampai pada
puncaknya, sekalipun begitu Giok Teng Hujien yang
harus mendampingi disisinya sudah merasa kepayahan.
Beberapa waktu kemudian mereka sudah keluar dari
kota, tampaklah si kakek cebol gemuk itu sambil
memanggul tubuh Chin Giok-liong di atas bahunya
sedang berlari mengikuti tembok kota, Soat-jie
membuntuti kurang lebih beberapa tombak
dibelakangnya, manusia dan binatang itu saling kejar
mengejar dengan cepatnya, dalam sekejap mata mereka
sudah berada jauh sekali dari pandangan.
Hoa Thian-hong segera berpikir di dalam hati, “Si
kakek tua ini entah sahabat atau musuhku? Kalau.

ditinjau dari ilmu silatnya yang begitu lihay, andaikata dia
adalah musuhku maka amatlah sulit bagiku untuk
menghadapinya.
Sementara otak berputar, sepasang kakinya berlari
semakin kencang lagi, tubuhnya meluncur ke muka
makin tajam hingga badannya berada sepuluh tombak
lebih ke depan dari keadaan semula.
Saat ini posisi Hoa Thian-hong sudah maju lebih ke
depan dari keadaan semula, dari kejauhan ia dapat
saksikan si kakek gemuk cebol itu sedang berlari kencang
dipaling depan, Soat-jie si makhluk aneh itu berlari di
tengah sedang ia bersama Giok Teng Hujien berada
dipaling belakang.
Setelah berlarian beberapa saat lamanya, tanpa terasa
sampailah mereka dipintu selatan kota. mendadak kakek
cebol gemuk itu turunkan Chin Giok-liong ke atas tanah,
lalu seorang diri ngeloyor masuk ke dalam kota dan
lenyap dari pandangan.
Dengan cepat Hoa Thian-hong menyusul sampai
disitu, ia cekal pergelangan Chian Giok Liong sambil
tegurnya, “Giok Liong heng, masih kenalkah kau dengan
diri Siauwte?”
Chian Giok Liong tetap berdiri bodoh di tempat
semula, wajahnya bingung dan terasa pandangan
kosong, walaupun sudah ditegur beberapa kali namun ia
tetap bungkam dalam seribu bahasa

Akhirnya Hoa Thian-hong menghela napas panjang, ia
menoleh ke samping dan berkata, “Cici. pengetahuan
serta pengalaman amat luas, apakah kau punya cara
untuk menolong sahabat Siauwte ini?”
Giok Teng Hujien tersenyum mania, dari sakunya ia
ambil keluar sebuah saputangan dan menyahut, “Aku
cuma sudi mengurusi dirimu seorang urusan orang lain
ogah untuk mencampurinya.”
Ia merandek sejenak dan memeriksa luka pada
ketiaknya, lalu menambahkan, “Darah yang menetes
keluar telah berubah jadi merah segar, apakah racun
teratai yang sedang kambuh telah tenggelam kembali?”
“Kurang lebih begitulah” jawab Hoa Thian-hong sambil
menyeka keringat yang membasahi tubuhnya.”Setiap
hari racun itu kambuh, tentu akan makan waktu
setengah jam lamanya agar bisa tenggelam kembali,
rasanya waktu yang dibutuhkan hari ini jauh lebih
pendek.”
Dari sakunya Giok Teng Hujien sambil keluar sebuah
botol porselen, sambil mengeluarkan sejumlah bubuk
putih untuk dipulaskan ke atas bekas cakar yang
membekas di atas ketiak Hoa Thian-hong, katanya
sambil tertawa.
“Bagaimana sih Siang Hauw bisa mati secara
mendadak? Agaknya kau tidak mempan terhadap racun
macam apapun, racun keji dari ilmu cakar Thon-Long-
Jiauw dari Siang Hauw sama sekali tidak manjur
terhadap dirimu….

Hoa Thian-hong termenung dan berpikir sebentar, lalu
jawabnya, “Aku menggunakan serangan sikut untuk
membentur patah kuku di jari Siang Hauw, mungkin
darah beracun dari tubuhku telah bercampur dengan
darah segarnya hingga menyebabkan selembar jiwanya
melayang.”
“Ei, makhluk racun cilik!” tegur Giok Teng Hujien
sambil tertawa, “Seandainya aku gigit dirimu, bukankah
selembar jiwaku juga akan ikut melayang?”
Hoa Thian-hong tertawa geli, ia gandeng tangan Chin
Giok-liong dan perlahan-lahan masuk ke dalam kota.
ujarnya
“Cici, kau suruh Soat-jie mengejar kakek tua itu,
apakah ia tak akan menimbulkan keonaran?”
“Soat-jie amat jinak dan penurut” sahut Giok Teng
Hujien sambil tertawa merdu, “Sebelum mendapat
perintahku ia tak akan melukai orang secara
sembarangan, si kakek tua tadi adalah sisa dari jagoan
lihai kalangan lurus yang berhasil lolos dari kematian.
aku rasa tindak tanduknya pasti didasarkan oleh rencana
yang matang.”
“Ilmu silat yang dimiliki kakek tua itu sangat lihay,
gerak-geriknya lincah dan otaknya cerdas” pikir Hoa
Thian-hong dalam hati. “Seandainya ia benar-benar
adalah jago lihay dari kalangan lurus, kejadian ini betulbetul
merupakan suatu keberuntungan bagi kami, aku

harus berusaha untuk menjumpai dirinya dan ajak dia
berbicara.”
Tiba-tiba satu ingatan berkelebat di dalam benaknya.
segera ujarnya, “Cici sewaktu berada ditepi sungai
Huang-hoo tempo dulu, kau pernah berkata bahwa
dirimu memiliki sebuah Jinsom berusia seribu tahun……”
Berbicara sampai di tengah jalan mendadak ia teringat
bahwa hubungan diantara mereka hanya kenalan biasa,
sama sekali tiada ikatan yang mendalam, Jinsom berusia
seribu tahun yang merupakan obat majsrab sekalipun
dimiliki olehnya belum tentu perempuan itu rela
menyerahkan padanya.
Karena itu bicara sampai di tengah jalan ia segera
membungkam.
Sinar mata Giok Teng Hujien berkilat tajam dengan
wajah penuh senyum ia menyahut, “Jinsom seribu tahun
sih cici memang mempunyai sebatang, cuma obat
mujarab itu sukar didapat bila digunakan secara
sembarangan amatlah sayang, penyakit yang diderita
Chin Giok-liong tidak sampai mempengaruhi
keselamatannya, lain hari bila aku bertemu dengan Jien
Hian biarlah cici tegur dirinya sekalian mintakan obat
pemunah bagi orang ini.”
Sebenarnya Hoa Thian-hong mengungkap persoalan
ini adalah mengingat luka dalam yang diderita ibunya,
melihat perempuan itu telah salah artikan perkataannya
iapun tersenyum dan tidak memberikan penjelasan lebih
lanjut.

Mendadak tampaklah Soat-jie si rase putih itu lari
kembali, kepalanya celingukan ke kiri ke kanan dengan
pandangan tajam, kalau ditinjau dari keadaan itu jelas ia
sudah kehilangan jejak dari kakek gemuk cebol itu.
Giok Teng Hujien segera ulurkan tangannya
membopong rase putih itu ke dalam pelukannya, sambil
tertawa ia berkata, “Licin amat si kakek tua itu, lain kali
kalau sampai berjumpa lagi dengan diriku, aku harus
coba-coba dulu kelihaiannya!”
“Apakah cici kenal dengan asal usul orang ini?”-
Sambil tertawa Giok Teng Hnjiec menggeleng.
“Pokoknya yang jelas dia adalah salah seorang peserta
dan pertemuan Pek Beng Hwie, waktu itu usia cici masih
muda dan tak sempat ikut menyaksikan keramaian
tersebut, jadi akupun tak tahu siapakah nama kakek rua
itu?….”
Ketika pembicaraan berlangsung sampai disitu,
mereka berdua telah tiba disebuah perempatan jalan,
Hoa Thian-hong segera memberi hormat sambil berkata,
“Sungguh beruntung dalam peristiwa yang terjadi pada
hari ini aku telah mendapat bantuan dari cici, budi ini
pasti akan siauwte ingat terus di dalam hati, dilain waktu
aku pasti akan membalasnya.”
“Siapa sih yang mengharapkan balas budi darimu?”
omel Giok Teng Hujien sambil tertawa. Ia merandek
sejenak lalu tambahnya, “Permusuhanmu dengan pihak
perkumpulan Hong-im-hwie kian lama kian bertambah

dalam, pihak mereka pasti tak akan mengampuni dirimu,
menurut nasehatku lebih baik menyingkirlah dahulu ke
daerah tenggara. berpesiarlah dahulu di sekitar situ
sambil menunggu hingga suasana jadi reda kembali.
Hoa Thian-hong segera menggeleng. “Siauwte masih
ada urusan pribadi lain yang belum selesai,
bagaimanapun juga aku tetap harus tinggal di kota Cho
Chiu!”
“Apakah kau telah mengadakan janji dengan Chin
Wan-hong untuk saling bertemu muka di kota Cho Chiu?”
Merah jengah selembar wajah si anak muda itu,
dengan cepat ia menggeleng. “Nona Chin telah
mendapat guru baru, dalam dua tiga tahun tak mungkin
ia lakukan perjalanan diluar. Siauwte sedang menanti
seorang angkatan tuaku”
“Serangan secara terang-terangan gampang dihindari,
serangan bokongan susah diduga, untuk sementara
waktu pindahlah dulu ke dalam kuil It-goan-koan dan
tinggal bersama cici.”
“Terima kasih atas perhatianmu, siauwte paling takut
segala macam peraturan yang membelenggu kebebasan
orang, lagipula masih ada saudara Chin ini. Aku harus
berusaha keras untuk menyelamatkan dirinya!”
“Hiih….. hiih…. hiih…. sungguh tak nyana kau suka
jual tenaga bagi seorang sahabat.”

Hoa Thian-hong mengerti bahwa dibalik ucapan Giok
Teng Hujien mengartikan lain, diam-diam ia menyindir
pemuda itu sebagai penolong Chin Giok-liong karena
memandang di atas hubungannya dengan Chin Wanhong
adiknya, segera ia tertawa hambar, sambil berpurapura
tidak mengarti perkataan itu ia berpamitan dan
mohon diri,
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, setelah
termenung sejenak ia putar badan dan berlalu. tetapi
baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba ia putar badan
sambil bertanya, “Saudara Hoa tahukah kau cici she
apa?”
“Cici tidak bilang siauwte tak berani banyak bertanya,”
kata Hoa Thian-hong dengan wajah berubah jadi merah
padam.
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan. “Cici tidak punya
she dan tidak bernama aku tak pernah angkat guru dan
ilmu silatku adalah hasil latihan sendiri. percayakah kau?”
Diam-diam Hoa Thian-hong berpikir dalam hati, “Lie
Hoa Siancu serta Ci-wi siancu dari Biauw-Nia-Sam-Sian
adalah anak buangan yang ditemukan gurunya,
merekapun tak bernama. cuma ia bilang tak ada orang
yang menurunkan ilmu silat kepadanya, kepandaian itu
adalah hasil latihan sendiri, perkataan ini benar-benar
sulit membuat orang untuk mempercayainya.”
Dalam hati berpikir demikian, diluar ia menjawab,
“Siauwte tentu saja akan mempercayainya, tolong tanya
siapakah nama Ciehu atau kakak iparku itu?”

“Hiiih…. Hiiih…. Hiiih…. siapa bilang kau sudah punya
kakak ipar? Sebutan Nyonya (Hujien) adalah
pemberianku sendiri, sampai sekarang cicimu belum
pernah kawin!”
“Kurang ajar….” batin Hoa Thian-hong dalam hati, ia
segera memberi hormat dan sambil menggandeng
tangan Chin Giok-liong berlalu dari situ.
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan iapun kembali ke
tempat tinggalnya di kuil It-goan-koan.
Dalam pada itu Hoa Thian-hong setelah kembali ke
dalam rumah penginapan, tiba-tiba ia temukan Ciong
Lian-khek berjalan menghampiri dirinya, si anak muda itu
merasa kedatangannya diluar dugaan, dengan cepat ia
persilahkan tamunya masuk ke dalam.
“Cianpwee, ada urusan apa secara tiba-tiba kau
berkunjung kemari?” sapanya.
“Aku telah pindah ke rumah penginapan ini dan
sekarang berdiam di kamar sebelahmu!”
Mendengar ucapan itu Hoa Thian-hong jadi
kegirangan, iapun lantas menerangkan asal usul dari
Chin Giok-liong serta pertarungannya melawan Cu Goankhek
serta dua bersaudara she-Siang di rumah makan Ci-
Eng Loo.
Dengan tenang Ciong Lian-khek mendengarkan kisah
itu, kemudian katanya, “Dewasa ini situasimu amat kacau

tak karuan, banyak penjahat yang ada maksud
mencelakai jiwamu, biarlah untuk sementara waktu Chin
Giok-liong berdiam bersama aku sehingga bila terjadi
sesuatu hal yang tak diinginkan kau tak usah cabangkan
pikiran untuk memperhatikan dirinya.”
Hoa Thian-hong jadi amat terharu, pikirnya, “Bergaul
dengan para ksatria sejati memang sepantasnya terus
terang dan bicara blak-blakan, kalau sikapku ragu-ragu
dan sangsi malahan rasanya kurang hormat.”
Berpikir demikian iapun mengacapkan rasa terima
kasihnya dan serahkan Chin Giok-liong ke tangan
pendekar itu, sedang ia sendiri sehabis mandi dan tukar
pakaian bersama mereka berdua makan siang dalam
kamar.
Tiba-tiba Ciong Lian-khek bertanya, “Ilmu pukulan
tangan kirimu itu kau dapatkan dari siapa?”
“Orang itu bernama Cioe It Bong, sekarang
terperangkap dalam kurungan perkumpulan Sin-kiepang.”
“Lalu kepandaian silat tangan kananmu?’ “Mendiang
ayahku telah meninggalkan sebilah pedang baja serta
enam belas jurus ilmu pedang sederhana kepadaku,
sayang aku tak becus dan kehilangan pedang baja itu
sewaktu masih ada di dalam markas besar perkumpulan
Sin-kie-pang
“Sungguh aneh,” bisik Ciong Lian-khek dengan alis
berkerut. “Hoa tayhiap adalah seorang jago kosen, tidak

mungkin ia cuma tinggalkan enam belas jurus ilmu
pedang yang amat sederhana, menurut penilaianku ilmu
pedang itu pasti tak akan sesederhana itu cuma kau
belum sampai berhasil menemukan inti sari dari ilmu itu.”
Merah jengah selembar wajah Hoa Thian-hong sehabis
mendengar perkataan itu katanya, “Sayang pedang baja
itu tidak berada disisiku kalau tidak aku pasti akan
mainkan jurus-jurus pedang itu sambil memohon
petunjuk dari cianpwee, aku percaya banyak manfaat
yang bakal kutarik dari diri cianpwee.”
Ciong Lian-khek adalah seorang ahli pedang yang
setiap saat menggembol sebilah pedang baja di atas
punggungnya, saat itu sambil bersantap katanya, “Coba
gunakanlah sumpit itu sebagai ganti pedang dan
mainkan salah satu jurus serangan itu!”
Hoa Thian-hong mengangguk, ia gunakan sumpit
ditangannya mainkan beberapa gerakan, kemudian
sambil gelengkan kepala dan tertawa sahutnya, “Pedang
baja milikku itu besar lagi berat, sedang sumpit ini terlalu
kecil. Sulit bagiku untuk memperlihatkan gerakan jurus
serangan itu.”
Ciong Lian-khek termenung tidak bicara, beberapa
saat kemudian katanya, “Selesai bersantap nanti
gunakanlah pedangku untuk bermain beberapa jurus
serangan itu.”
Tapi Hoa Thian-hong segera menggeleng. “Pedang
macam apapun yang berada dalam genggamanku segera
akan patah jadi dua bagian bila kugunakan, dahulu

sudah begini aku rasa setelah tenaga dalamku
memperoleh kemajuan pesat keadaan itu semakin
bertambah payah.”
Mendengar perkataan itu kembali Ciong Lian-khek
termenung pikirnya sejenak, lalu katanya, “Menurut
dugaanku enam belas jurus ilmu pedang yang diwariskan
Hoa tayhiap kepadamu itu. Pastilah serangkaian ilmu silat
yang maha sakti dan maha dahsyat, mungkin usiamu
masih terlalu muda dan pengalamanmu masih amat
cetek hingga inti sari dibalik kepandaian itu belum
berhasil kau pahami …”
Mula2 Hoa Thian-hong melengak, kemudian pikirnya,
“Perkataan ini sedikitpun tidak salah, sewaktu ayah
mewariskan kepandaian tersebut kepadaku, beliau
pernah berpesan pedang ada manusia hidup, pedang
musnah orang mati!”
Berpikir sampai disini ia merasa amat murung dan
kesal, dalam hati pemuda inipun mengambil keputusan
untuk berangkat ke markas besar perkumpulan Sin-kiepang
guna minta kembali pedang bajanya bila saatnya
telah tiba
Selesai bersantap karena terlalu lelah maka sesudah
bercakap2 sebentar Hoa Thian-hong naik ke atas
pembaringan dan beristirahat sedangkan Ciong Lian-khek
sambil membawa Chin Giok-liong kembali ke kamar
sebelah, selama bercakap2 tadi meski ia tidak tunjukkan
sikap yang hangat tapi jelas terlihat bahwa la amat
menyayangi si anak muda itu,

Tidur Hoa Thian-hong kali ini benar-benar amat
nyenyak, ketika ia mendusin, hari sudah gelap.
tampaklah suasana dalam kamarnya sunyi senyap tak
kedengaran sedikit suarapun, ia segera bangun dan
berpakaian lalu menuju ke kamar sebelah,
Di bawah sorot lampu tampaklah dalam kamar Ciong
Lian-khek terdapat tiga orang tamu, kecuali Chin Giokliong
dua orang tamu yang lain adalah Si utusan
pencabut nyawa Ma Ching-san serta si pelindung hukum
dan perkumpulan Sin-kie-pang, Tang Hiong-sim.
Ketika melihat Hoa Thian-hong melangkah masuk ke
dalam kamar. Ma Ching-san serta Tang Hiong-sim segera
bangkit berdiri dan maju memberi hormat, sapa mereka
sambil tertawa, “Oooh! Kongcu telah mendusin, aku….”
Mendengar sebutan mereka berdua terhadap dirinya
telah berubah. diam-diam Hoa Thian-hong menaruh
curiga, cepat tukasnya, “Aaah, aku tak tahu kalau kalian
berdua akan berkunjung kemari. bilamana kalian harus
menunggu lama harap suka dimaafkan.”
Si utusan pencabut nyawa Ma Ching-san dari
perkumpulan Thong-thian-kauw segera tertawa. katanya,
“Pertempuran yang terjadi antara Hoa kongcu melawan
Cu Goan-khek dari perkumpulan Hong-im-hwie hari ini
telah menggemparkan seluruh kota Cho Chiu, segenap
anggota perkumpulan kami dari atas sampai bawah tak
ada yang tidak merasa kagum, Untuk kehebatan kongcu
sengaja Giok Teng Hujien telah menyiapkan perjamuan

untuk merayakan kemenangan itu, harap Hoa kongcu
sudi untuk menghadirinya.”
“Ngomong terus tiada hentinya, jadi dia ada maksud
mengundang aku pergi makan” pikir Hoa Thian-hong
dalam hati. Sambil tertawa segera tukasnya. “Harap Maheng
tunggu sebentar, aku segera berangkat mengikuti
dirimu!….” bicara sampai disini ia lantas berpaling ke
samping. “Kedatangan Tang-heng kesini apakah
membawa tugas dari perkumpulan?”
Tang Hiong-sim tertawa terbahak-bahak, sekilas
cahaya merah melintas di atas wajahnya, ia melangkah
maju ke depan dan ambil keluar sepucuk surat dari
sakunya lalu diangsurkan ke depan.
“Hoa Thian-hong menerima surat itu dan membaca
isinya, ternyata ditulisan tangan dari Pek Kun-gie.
terbacalah isi surat itu berbunyi demikian, “Aku telah tiba
di kota Cho-Chiu, harap datang untuk berjumpa”
Terdengar Tang Hiong-sim berkata, “Nona kami
mendengar bahwa setiap hari Hoa kongcu harus
melakukan ‘Lari Racun’ dalam hati merasa amat kuatir.
oleh sebab itu ia berharap bisa cepat-cepat berjumpa
muka dengan kongcu.”
Diam-diam Hoa Thian-hong tertawa dingin, pikirnya,
“Hmmm! Seandainya tempo dulu aku mati sekarat ditepi
sungai Huang-hoo, masing-masing pihak tentu tidak akan
saling kuatir dan saling mengagumi….”

Berpikir demikian tanpa terasa ia terkenang kembali
akan Chin Wan-hong, cinta kasihnya yang suci dan murni
terasa amat merasuk ke dalam hatinya, ia berharap bisa
cepat-cepat berjumpa lagi dengan gadis itu.
Terkenang akan adiknya pemuda itu segera teringat
pula akan kakaknya. ia berjalan menghampiri Chin Giokliong
lalu menyapa dengan suara lembut, “Saudara Giok
Liong, masih ingatkah dengan siauwte?”
Chin Giok-liong angkat kepalanya dan menatap wajah
pemuda itu beberapa saat lama tapi ia tetap bimbang
dan kebingungan. jelas terhadap diri Hoa Thian-hong ia
merasa tak pernah kenal.
Ciong Lian-khek yang berada disisinya segera
menimbrung, “Ia sudah dicekoki obat pemabok dari Jien
Hian, kejadian yang lampau sudah terhapus sama sekali
dari benaknya. untung selembar wajahnya masih bisa
dipertahankan. lain kali kita bisa berusaha secara
perlahan-lahan untuk menyembuhkan penyakitnya itu,
aku percaya suatu saat dia akan pulih kembali seperti
sedia kala.”
Hoa Thian-hong menghela napas panjang, kembali ia
berpaling ke arah Tang Hiong-sim dan berkata, “Tang
heng, merepotkan dirimu suka memberi kabar kepada
nona Pek bahwa besok akan menyambut kedatangannya
di rumah makan Kie Eng Leo!”
Mendengar perkataan itu, Tang Hiong-sim melirik
sekejap ke arah Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san
kemudian mohon diri dan berlalu.

Ma Ching-san sendiri berdiri sambil tersenyum
dikulum, rupanya ia merasa amat bangga dengan
keputusan itu.
Sementara itu Hoa Thian-hong telah menoleh ke arah
Ciong Lian-khek sambil berkata, “Aku pikir mumpung tak
ada urusan maka boanpwee ingin pergi mengunjungi kuil
It Goan-Koan, aku ingin lihat manusia macam apa saja
yang tergabung di dalam sekte agama Thong-thiankauw!”
“Pergi berkunjung sih tak mengapa, cuma kau musti
perhatikan permainan setan yang mereka siapkan” ujar si
jago bercambang memperingatkan.
Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san yang
mendengar ucapan itu, sepasang matanya kontan
melotot.
“Sahabat, kalau berbicara aku minta kau sedikitlah
tahu diri…..”
“Siapa yang sudi jadi sahabatmu?” hardik Ciong Liankhek
dengan mata mendelik, Kenapa musti tahu diri
terhadap dirimu?”
Air muka Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san
berubah hebat, tapi dengan cepat pulih kembali seperti
sedia kala, ujarnya hambar, “Memandang di atas wajah
Hoa kongcu aku orang she-Ma tak ingin ribut-ribut
dengan dirimu.” Habis berkata ia putar badan dan berlalu
dari ruang kamar.

Diam-diam Hoa Thian-hong merasa geli setelah
berpamitan dengan jago bercambang ia keluar dari
rumah penginapan, disitu tampaklah Ma Ching-san
dengan menuntun dua ekor kuda jempolan sedang
menunggu diluar pintu, Hoa Thian-hong sambut tali les
dan berangkatlah mereka berdua menuju ke arah kuil Itgoan-
koan.
Kantor cabang dari sekte agama Thong-thian-kauw ini
terletak di sudut kota sebelah timur. banyak sekali
jemaah yang bersembahyang disitu, tapi bagi mereka
hanya boleh mengunjungi batas ruang depan saja, ruang
berikutnya merupakan daerah terlarang bagi kaum
awam.
Mengikuti di belakang Ma Ching-san, secara beruntun
Hoa Thian-hong melewati beberapa buah ruang besar
dan tibalah di depan sebuah bangunan loteng yang
tinggi.
Suasana di depan loteng sunyi senyap. tak
kedengaran sedikit suarapun, delapan orang bocah imam
berbaju hijau dengan pedang pendek tersoren di
punggung berjaga-jaga di depan pintu. Sambil
menggandeng tangan Hoa Thian-hong berjalan masuk ke
dalam loteng itu.
Pikirnya, “Ditinjau dari sikap Ma Ching-san rupanya ia
merasa agak tegang untuk memasuki tempat ini, dari
wajahnya yang serius jelas loteng ini merupakan tempat
penting disini.

Diam-diam ia perhatikan suasana di sekitar sana
tampaklah olehnya pada setiap saat bangunan loteng itu
dijaga ketat oleh para penjaga pada tingkat yang paling
bawah dijaga oleh delapan orang imam kecil berbaju
hijau, pada tingkat kedua dijaga oleh delapan orang
toosu muda sedang pada tingkat ketiga dijaga delapan
orang pria berbaju hitam, berkerudung hitam dan
berbadan kekar.
Menanti ia sudah tiba di loteng tingkat keempat,
tampaklah di bawah cahaya lampu yang berkilauan
sebuah meja perjamuan telah disiapkan, Giok Teng
Hujien dengan sanggul yang tinggi dan dandanan yang
agung duduk di meja utama. Soat-jie si rase salju berada
dalam bokongannya. Seorang gadis berbaju ungu yang
cantik jelita berdiri di belakang tubuhnya, sementara dua
orang toosu tua duduk pada kursi samping, delapan
orang gadis cantik dan beberapa orang imam kecil berdiri
disekeli1ing sana.
Begitu melihat kehadiran Hoa Thian-hong di atas
loteng, Giok Teng Hujien segera bangkit dari tempat
duduknya dan maju menyambut dengan senyum
dikulum.
“Lama benar nih!” serunya, “Aku mengira kau sangat
marahnya dan minta dijemput oleh aku sendiri!”
Hoa Thian-hong tersenyum, sesudah menjura dia
alihkan sorot matanya melirik sekejap ke arah dua orang
toosu tua yang ikut bangkit dan tempat duduknya itu.

“Siapakah sebutan dari tootiang berdua? Cici kau
harus perkenalkan dulu kepadaku!” serunya.
Giok Teng Hujien tersenyum. “Ayoh duduk dulu, soal
itu kita bicarakan nanti saja!” ia tarik tangan pemuda itu
dan membimbingnya menuju ke meja perjamuan.
Setelah ambil tempat duduk, Giok Teng Hujien baru
menoleh ke arah kedua orang toosu tua itu sambil
berkata, “Dialah Hoa kongcu! Kegemilangan serta
kecemerlangan nama keluarganya tak perlu dibicarakan
lagi kalian musti sudah kenal bukan? pemuda gagah
semacam ini harus dihormati harap kalian berdua suka
memberi hormat lebih dahulu.”
Kedua orang toosu tua itu tak berani membantah,
mereka segera bangkit berdiri sambil memberi hormat.
“Selamat bertemu!” serunya hampir berbareng,
Giok Teng Hujien tuding seorang toosu tua di sudut
paling muka, katanya, “Dia adalah Ngo Ing-Cinjin,
sekarang menjabat sebagai ketua dari kuil It-goan-koan
“Selamat berjumpa!” seru Hoa Thian-hong sambil
menjura.
Dia angkat kepala dan perhatikan toosu itu, tampaklah
usia dari Ngo Ing Cinjin kurang lebih lima enam puluh
tahunan, jenggot putih terurai sepanjang dada, jubah
kuningnya yang lebar bersulamkan sebuah lukisan Patkwa
dari benang emas, sebilah pedang berbentuk aneh

tersoren di atas bahunya dilihat gerak-geriknya ia
nampak gagah dan menyeramkan
Sementara itu Giok Teng Hujien telah menuding toosu
kedua, ujarnya kembali, “Yang itu adalah Cing-st-cu,
jabatannya adalah ketua dari ruangan ini,” ia merandek
sejenak lalu sambil tertawa terusnya, “Perkumpulan kami
semuanya dibagi jadi tiga sektor atas, tiga sektor tengah
dan tiga sektor bawah, kekuasaan kesembilan sektor itu
terletak pada sembilan buah kuil, yaitu Sang-goan-koan,
Tiong-goan-koan serta He-goan-koan. Kuil It-goan-koan
langsung dibawahi oleh ketua kami dan terlepas dari
pengawasan sektor2 tersebut. Apabila kau memandang
kedudukan Cing-Si-Cu seimbang dengan kedudukan
ketua kantor cabang seperti pada perkumpulan lain,
maka dugaanmu itu keliru besar”
“Haah…. haaah…… haaaah….. aku mana berani” sahut
Hoa Thian-hong sambil tertawa, “Terhadap orang yang
bisa duduk sederajat dengan cici, tentu saja aku tak
berani bersikap kurang ajar”
Diluaran ia berkata begitu, sementara dalam hati
pikirnya, “Entah selain sang ketua serta sembilan orang
penjabat kuil apakah masih terdapat kekuasaan yang
lain? Apa pula jabatan cici di dalam sekte agama Thongthian-
kauw ini”
Mendadak terdengar Cing Si Cu berkata sambil
tertawa, “Dalam pertempuran yang terjadi hari ini Cu
Goan-khek kehilangan pamor dan namanya jatuh,
pengaruh perkumpulan Hong-im-hwie pun terpukul
hebat. sejak kini pandangan sahabat kangouw dalam

dunia persilatan terhadap diri Hoa Kongcu tentu akan
berubah seratus delapan puluh derajat”
Ia angkat cawan araknya dan menambahkan sambil
tertawa, “Aku sebagai tuan rumah tempat ini, dengan
menyender di atas kecemerlangan hujien ingin
menghormati Hoa kongcu dengan secawan arak, anggap
saja penghormatan ini sebagai pengutaraan rasa kagum
kami terhadap dirimu!….”
Hoa Thian-hong tersenyum, “Tengah hari tadi
kebetulan saja racun keji yang bersarang dalam tubuhku
sedang kumat sehingga aku bertempur dalam keadaan
setengah tak sadar, seandainya kejadian itu berlangsung
di saat2 biasa, aku bukan tandingan dari Cu Goan-khek”
Diapun angkat cawan araknya dan meneguk habis
isinya
Selama ini gadis berbaju hijau itu sambil membawa
sebuah poci arak berdiam di belakang Hoa Thian-hong,
melihat cawannya telah mengering buru-buru ia penuhi
kembali cawan tersebut dengan arak.
Merasa hanya dia seorang yang dilayani Hoa Thianhong
curiga. ia segera angkat kepala dan memandang
sekejap ke arah gadis itu. Rupanya Giok Teng Hujien
mengerti apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, sambil
tertawa segera ujarnya, “Dia bernama Pui Che-giok
seorang dayang kepercayaanku, ketika berada di tepi
sungai Huang-ho malam itu, bukankah kau sudah pernah
bertemu dengan dirinya!”

Hoa Thian-hong mengangguk, sementara dalam hati
pikirnya, “Perempuan yang membunuh mati Jin Bong
juga mengaku bernama Pui Che-giok, entah saat ini
bersembunyi dimana?” Berpikir sampai disitu segera
ujarnya, “Kasus pembunuhan terhadap Jin Bong rupanya
sudah buyar bagaikan awan di udara, apakah Jin Han
telah berhasil menemukan pembunuhnya dan berhasil
membunuh orang itu untuk membalas dendam atas sakit
hatinya?”
“Aaaah masa urusan bisa beres dengan begitu
gampang?” sahut Giok Teng Hujien sambil tertawa,
“Dewasa int memang keadaannya kendor diluar tegang
di dalam sepintas lalu suasana terasa tenang tak
berombak padahal sedari dulu Jin Hian telah
meninggalkan propinsi San-Say dan melakukan
penyelidikan secara diam-diam untuk membekuk gadis
yang mengaku bernama Pui Che-giok itu.”
“Aku lihat nasib perkumpulan Hong-im-hwie di tahun
ini kurang begitu mujur” tiba-tiba Ngo Ing Cinjin
menyela, “Loo-toa kehilangan putra kesayangannya, Loosam
terpenggal lengannya dan ini hari Siang Hauw
modar secara konyol aku pikir makhluk2 ganas yang
selama ini tak pernah mencampuri urusan dunia,
sebentar lagi pasti akan bermunculan kembali”
Hoa Thian-hong kerutkan sepasang alisnya ketika
mendengar perkataan itu pikirnya, “Ngo Ing Cinjin adalah
ketua sektor atas dari sekte agama Thong-thian-kauw, ia
sebut orang-orang itu sebagai makhluk ganas,
kemungkinan besar mereka memang merupakan
manusia yang amat lihay!”

“Aaah….! Itu sih belum tentu benar” ujar Giok Teng
Hujien sambil tertawa, “aku rasa urusan yang
berkembang dewasa ini masih belum sampai
menyangkut pokok kekuatan dari perkumpulan Hong-imhwie
seperti Yan-san It-koay, Liong-bun Siang-Sat
sekalian hingga kini belum pernah munculkan diri, Tetapi,
seandainya Jin Hian temui kesialan lagi maka pada saat
itulah si nenek buta itu mungkin akan muncul kembali di
dalam dunia persilatan”
“Aku benar-benar sangat bodoh” pikir Hoa Thian-hong
dalam hati,” seandainya perkumpulan Hong-im-hwie
tidak memiliki kekuatan besar yang menunjang di
belakang mereka sedari dulu pihak Thong-thian-kauw
serta Sin-kie-pang pasti sudah membagi wilayah utara
jadi dua bagian!”
Terdengar Ngo Ing Cinjin berkata lagi, “Selama tiga
kekuasaan merajai dunia, aku pikir dunia persilatan tak
akan aman dan tenteram. Terutama sekali kaum
pedagang, pelancong serta rakyat jelata, beban hidup
mereka kian lama kian bertambah berat. Hoa kongcu!
Kau adalah seorang pendekar muda yang berjiwa besar,
apa pendapatmu mengenai situasi tersebut?”
“Aaah… Kiranya pihak Thong-thian-kauw memang ada
maksud meluaskan daerah kekuasaannya, entah dengan
cara apa mereka hendak mewujudkan ciia-citanya itu?”
pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.
Berpikir demikian sambil tersenyum ia lantas
menjawab, “Aku masih muda, pengetahuanku amat

cetek dan ilmu silatku amat rendah. Terhadap urusan
dunia persilatan yang begitu meluas, aku tak berani
sembarangan memberi komentar” Habis berkata dia
alihkan sorot matanya ke arah Giok Teng Hujien.
Tampak perempuan itu tertawa manis, kepada Ngo
Ing Cinjin segera ujarnya, “Saudaraku ini memang masih
amat muda, pengetahuannya cetek sekali sedang ilmu
silat yang dimiliki tak bisa dikatakan rendah, namun
kalau dibandingkan dengan puncak kesempurnaan
memang masih terpaut jauh sekali, cuma saja, ia tak
doyan yang keras ataupun yang lunak, perkataan
siapapun tak sudi didengar, siapa berani menyatroni
dirinya maka dia akan hadapi orang itu habis-habisan”
Ngo Ing Cinjin segera tertawa lantang. “Haaah….
Haaah…. Haaah saudara Hoa!” serunya, “Sepanjang
hidupnya Giok Teng Hujien selalu memandang tinggi
dirinya, menurut apa yang kuketahui belum pernah ada
orang yang peroleh perbatian serta kasih sayang dari
dirinya”
“Cinjin, jangan kau teruskan perkataan itu,” tukas Giok
Teng Hujien sambil goyangkan tangannya berulang kali,
“Dia tak sudi menerima kebaikanku, akupun tak mau
terlalu banyak tersiksa olehnya,’
“Cici, kapan sih aku menyiksa diri cici?” ujar Hoa
Thian-hong sambil tertawa. “Ayoh, kau harus dihukum
dengan tiga cawan arak!” Selesai bicara dia angkat
Cawan dan teguk isinya sampai ludas

Mendadak ia merasakan sesuatu yang aneh, ketika
arak tadi mengalir masuk lewat tenggorokannya segera
timbullah rasa kaku dan pedas yang amat tak enak
dirasakan, sepasang alisnya kontan berkerut. Pikirnya,
“Kiu-tok Sianci pernah berkata kepadaku, teratai racun
empedu api adalah raja dari segala macam racun, selama
racun teratai masih mengeram dalam tubuhku maka aku
tak akan mempan terhadap racun keji macam apapun
juga seandainya bertemu dengan obat racun yang tak
berwujud ataupun berwarna, dalam lidahku malah akan
terasa suatu perasaan yang aneh jangan dalam arak
tersebut mengandung racunnya?….”
Dalam pada itu ketika Giok Teng Hujien menyaksikan
air mukanya menunjukkan suatu perubahan yang sangat
aneh, sambil tertawa segera tegurnya, “Kenapa?
wajahmu tampak murung dan tidak senang hati, apakah
kau salahkan perkataan cici yang kurang sedap didengar”
oooOooo
Hoa Thian-hong kontan tertawa dingin. “Ucapan cici
indah didengar, siapa yang bilang kalau kau Sudan salah
bicara? Cuma lambung siauwte rada tidak cocok dengan
arak yang mengandung racun, harap cici suka
memakluminya.”
Air muka Giok Teng seketika berubah jadi pucat pias,
ia rebut cawan arak itu dari hadapan Hoa Thian-hong lalu
diperiksa di bawah sorot cahaya lampu, sesaat kemudian
perempuan itu menoleh ke arah Pui Che-giok dan
melotot bulat-bulat.

Pui Che-giok yang dipelototi jadi ketakutan setengah
mati, ia segera jatuhkan diri berlutut di atas tanah sambil
rengeknya, “Budak…….”
Nafsu membunuh berkelebat memenuhi biji mata Giok
Teng Hujien yang indah, mendadak sambil gertak gigi dia
ayun telapaknya menghajar ubun-ubun orang.
Disaat yang kritis Hoa Thian-hong ayun tangannya
mencengkeram pergelangan Giok Teng Hujien, katanya
sambil tertawa, “Aduuuh…. cuma urusan kecil saja, masa
cici benar-benar akan bunuh orang untuk melenyapkan
bukti?”
Giok Teng Hujien jadi semakin gusar. “Kurang ajar kau
memang manusia yang tak berperasaan!”
Melihat perempuan itu mengucurkan air matanya
dengan badan gemetar keras saking jengkelnya, dalam
hati Hoa Thian-hong segera berpikir, “Kalau dibilang dia
ada maksud mencelakai diriku, kenapa ia menjadi
mendongkol hingga menangis? Kalau dibilang tak
sengaja, kejadian ini amat tak masuk diakal…”
Ngo Ing Cinjin serta Cing Si-cu saling berpandangan
dengan wajah kebingungan dan tak habis mengerti,
agaknya kedua orang toosu itupun tak tahu duduknya
perkara.
Giok Teng Hujien meronta berusaha keras melepaskan
diri dari cekalan orang, namun tak berhasil. Tiba serunya
kepada Pui Che-giok dengan nada gemas, “Tak ada

gunanya membicarakan soal ini kuampuni selembar
jiwamu tapi kau harus kutungi sepasang lenganmu itu”
“Budak tahu salah, terima kasih atas kebaikan nyonya
tidak membinasakan diriku,” sahut Pui Che-giok dengan
air mata berlinang.
Ia letakkan poci arak di atas meja, lalu dari sakunya
cabut keluar sebilah pisau belati yang langsung
ditebaskan ke arah pergelangan tangan kirinya.
Dengan ketajaman mata Hoa Thian-hong sekilas
memandang ia telah mengetahui bahwa pisau belati
dalam cekalan Pui Che-giok adalah sebilah senjata
mustika, bukan begitu saja bahkan senjata itu terasa
sangat dikenal olehnya, seakan-akan ia pernah melihat
benda itu disuatu waktu.
Satu ingatan berkelebat dengan cepat di dalam
benaknya ia segera menghardik, “Tahan!”
Laksana kilat ia ulurkan tangannya merampas pisau
belati itu dari tangan orang.
Oleh peristiwa ini rupanya Giok Teng Hujien merasa
kheki bercampur mendongkol dengan gemas teriaknya,
“Eeei…,sebetulnya apa maumu? Apakah kau ingin
melihat aku mati bunuh diri untuk membuktikan
kesucianku?”
Hoa Thian-hong segera tersenyum. “Aku tak pernah
menyalahkan diri cici? Kenapa cici musti marah2?”

Sorot matanya melirik kembali ke arah pisau belati itu,
mendadak ia teringat kembali akan peristiwa yang terjadi
dalam perkampungan Liok Soat Sanceng, di masa itu
perempuan genit yang mengaku bernama Pui Che-giok
pernah menggunakan pisau semacam ini untuk
membunuh Jin Bong.
Dalam hati segera pikirnya, “Kejadian ini benar-benar
aneh, Pui Che-giok yang berada di depan mata saat ini
jelas bukanlah Pui Che-giok yang telah membunuh Jin
Bong serta mencuri pedang emas, tetapi mengapa pisau
belati tersebut bisa muncul dari sakunya?….”
Ingatan tersebut dengan cepat berkelebat di dalam
benaknya, ia ada maksud menjajal kepandaian silat yang
di miliki Pui Che-giok tetapi berada di hadapan orang
banyak pemuda itu merasa tidak leluasa baginya untuk
turun tangan.
Mendadak terdengar Pui Che-giok merengek, “Nyonya
pernah berkata bahwa kongcu-ya tidak mempan
terhadap obat racun macam apapun, budak tidak
percaya perkataan itu maka dalam sangsinya…..”
“Mau menjajal sih tak jadi soal” sambung Hoa Thianhong
sambil tertawa nyaring. “Cuma rasanya berbeda
jauh, kalau tidak setelah masuk ke dalam perutku bisa
jadi aku akan muntah2”
Berbicara sampai disitu ia kembalikan pisau belati tadi
kepadanya. lalu sambil mengambil poci arak dan
membuka tutupnya ia berkata lagi sambil tertawa, “Aku

akan mohonkan ampun baginya, tentu cici suka
mengabulkan bukan?….”
Agaknya Giok Teng Hujien sangat menurut terhadap
pemuda ini, mendengar ucapan tersebut segera ujarnya
kepada Pui Che-giok dengan suara dingin, “Ayoh cepat
ucapkan banyak terima kasih kepada Kongcu-ya, kalau
sampai menggusarkan hatinya… Hmm! Jangan salahkan
kalau aku bsnar2 akan membinasakan dirimu.”
Buru-buru Pui Che-giok jatuhkan diri berlutut di
hadapan si anak muda itu, sambil angguk2kan kepalanya
ia berseru, “Terima kasih buat kebaikan kongcu-ya!”
“Sudah…sudahlah…” ujar Hoa Thian-hong sambil
tertawa.
Beberapa saat lamanya dia awasi cawan arak sendiri
namun tiada pertanda apapun yang menunjukkan suatu
keanehan. Sementara pelayannya telah hidangkan
kembali arak baru, pemuda itu segera mencicipinya,
terasa arak yang diteguk wangi dan enak dirasakan,
sedikitpun tiada tanda kaku arau pedas lagi. Terdengar
Giok Teng Hujien berseru manja, “Orang bodoh,
penyakitnya tidak terletak di dalam poci arak itu”
“Bagaimana sih caranya melepaskan serbuk racun
tersebut? Apa aku boleh lihat?”
Merah jengah selembar wajah Pui Che-giok, ia tuang
kembali arak dalam poci itu ke dalam cawan Hoa Thianhong
yang awasi terus sepasang tangannya segera

menemukan bahwa jari tangan kiri gadis itu mengetuk di
ujung cawan, tanpa terasa pemuda itu tertawa tergelak.
“Haaah… haaah….haaah…. kiranya penyakit itu
letaknya di ujung jari!”
Sehabis berkata cawan arak tadi disambar dan segera
dituang ke dalam mulutnya.
Giok Teng Hujien yang melihat kejadian itu jadi kaget,
ia rampas cawan itu dari tangan orang lalu ditumpah ke
atas lantai, serunya, “Andaikata aku hendak mencelakai
selembar jiwamu, buat apa kugunakan obat beracun?”
“Yang budak gunakan bukan racun!” sola Pui Chegiok.
Merah jengah selembar wajah gadis she-Pui itu, untuk
sesaat ia jadi tergagap, “Anu….anu….”
Cing Si-cu yang selama ini membungkam segera
tertawa terbahak bahak.
“Haah…. haaah…. haaaah… saudara Hoa tak usah
banyak curiga, hujien sangat menyayangi dirimu
bagaikan menyayangi diri sendiri, masa Che-giok berani
mencelakai jiwamu?”
Hoa Thian-hong segera tersenyum. “Aaaah, kalau
begitu pastilah obat pemabok yang dipakai, eemh aku
memang kepingin tidur pulas…..”

Ia bopong Soat-ji si rase salju itu, tambahnya sambil
tertawa, “Sungguh lihay kepandaian yang dimiliki
makhluk cilik ini, jago kangouw kelas menengah belum
tentu bisa menandingi kelihayannya”
“Sayang kau tak mampu untuk memelihara dirinya,”
kata Giok Teng Hujien sambil tersenyum, “Kalau tidak
binatang tersebut pasti sudah kuhadiahkan kepadamu!”
“Seorang lelaki sejati tak akan sudi merampas barang
kesenangan orang sekalipun aku mampu untuk
memeliharanya juga tak mau kuterima,” sorot matanya
dialihkan kepada Ngo Ing Cinjin, lalu tambahnya. “Cinjin
adalah ketua dari sektor atas, jauh-jauh datang ke kota
Cho Ciu, pasti ada urusan yang hendak diselesaikan
bukan?”
Sambil mengelus jenggot Ngo Ing Cinjin tertawa,
“Dalam kolong langit dewasa ini hanya saudara Hoa
seorang yang pernah menyaksikan sendiri wajah
pembunuh dari Jin Bong, setelah tempo hari Saudara
Hoa dipaksa bunuh diri dengan menelan teratai racun
empedu api, Jin Hian mengira saudara Hoa pasti mati
dan jejaknya akan putus, sekalipun sudah melakukan
penyelidikan selama banyak hari hasilnya tetap nihil. Kini
setelah ia mengetahui kalau saudara Hoa berhasil lolos
dari kematian ia tentu akan datang ke kota Chu Ciu serta
turun tangan terhadap dirimu…..”
Hoa Thian-hong mengangguk.

“Dugaan Cinjin sangat tepat dan perkataanmu masuk
diakat, tetapi numpang tanya, apakah kedatangan Cinjin
kemari memang ada hubungannya dengan kejadian ini?”
“Jin Hian cuma mempunyai seorang putera tunggal,
kematiannya merupakan suatu kejadian yang amat iuar
biasa, seandainya pembunuh Jin Bong bukan termasuk
diantara anggota perkumpulan Sin-kie-pang, atau Thongthian-
kauw mungkin urusannya masih mendingan, tetapi
kalau termasuk sebagai anggota salah satu diantara dua
perkumpulan ini maka jelaslah sudah dunia persilatan
bakal dilanda badai dahsyat yang mengerikan,
pertarungan total antara dua perkumpulan besar atau
mungkin juga melibatkan pertarungan diantara tiga
perkumpulan besar jelas sudah pasti bakal terjadi!”
“Bukan saja sekte agama Thong-thian-kauw telah
menaruh perhatian terhadap kejadian ini, sekalipun
perkumpulan Sin-kie-pang secara diam-diam juga
pusatkan perhatiannya kemari,” kata Giok Teng Hujien
sambil tertawa. “Dewasa ini perhatian semua orang telah
tertuju ke tubuhmu, setiap perkataan serta tindak
tandukmu sangat mempengaruhi perkembangan dari
peristiwa itu. “
“Bicara tanpa bukti apa gunanya? Masa Jin Hian suka
mempercayai setiap patah kata yang kuucapkan?”
“Tentu saja,” sahut Ngo Ing Cinjin. “Meskipun hanya
sepatah kata namun hal itu harus dilihat du!u bagaimana
caranya menyampaikan kata-kata tadi, saudara Hoa
mempunyai peluang yang amat besar untuk memutar
balikkan duduk perkara yang sebenarnya”

“Kalau didengar dari ucapannya barusan, rupanya ia
ingin aku putar balik dan kejadian dan menimpakan
semua kesalahan pada tubuh perkumpulan Sin-kiepang….”
pikir Hoa Thian-hong dalam hati, “Ehmmm…Pui
Che-giok gadungan itu mempunyai raut wajah yang rada
mirip dengan Pek Kun-gie. kejadian ini memang sangat
mencurigakan.”
Sementara itu Cing Si-cu telah berkata, “Saudara Hoa,
betulkah satu jurus ilmu pukulan yang kau miliki itu
adalah warisan dari Ciu It-bong?”
Sambil tertawa Hoa Thian-hong mengangguk. “Betul,
saat ini Ciu It-bong masih terkurung di tengah markas
besar perkumpulan Sin-kie-pang, ilmu pukulan ‘Kun-Su-Ci
Tau’ tersebut memang berhasil kupinjam dari dirinya”
“Pinjam? Bagaimana caranya meminjam?” tanya Giok
Teng Hujien tercengang.
“Dia ingin aku gunakan ilmu pukulan itu
membinasakan Pek Kun-gie bila urusan telah selesai
maka aku harus kutungi lengan kiriku sebagai tanda
mengembalikan jurus pukulan itu kepadanya. Yaaah…..
memang orang itu rada aneh, dalam hati kecilnya dia
ingin sekali meminjam tenagaku untuk membunuh Pek
Kun-gie, tapi ingin pula menggunakan kekuatanku untuk
mencari jejak pedang emas dan membantu dirinya lolos
dari kurungan. aku jadi tak habis mengerti apa yang
musti kukerjakan baginya”

“Heeeh,…. heeeh…. heeeeh…….sungguh gegabah dan
omong kosong!” seru Giok Teng Hujien sambil tertawa
dingin, “membunuh Pek Kun-gie masih boleh saja
dilakukan, kutungi lengan kiri sendiri untuk
mengembalikan ilmu pukulannya peraturan apakah itu?”
“Aku pribadi memang ada maksud membantu
usahanya untuk menemukan pedang emas itu dan
membantu dirinya lolos dari kurungan, akan kuanggap
perbuatan ini sebagai balas jasaku terhadap dirinya,
sedangkan mengenai ilmu silat yang dimiliki Siang Tang
Lay pemilik pedang emas itu aku sama sekali tak ada niat
untuk mempelajarinya
“Oooh… kau sudah mengetahui cerita tentang Siang
Tang Lay?”
“Itupun aku dengar dari mulut Ciu In Bong.”
Ngo In Cinjin angkat cawan araknya dan berkata,
“Saudara Hoa, mari kita teguk secawan arak aku masih
ada beberapa patah perkataan hendak diucapkan
kepadamu.”
Sejak menelan Teratat racun empedu api daya tahan
Hoa Thian-hong jauh melebihi orang lain. Terhadap
makanan ataupun minuman merangsang macam apapun
tiada pengaruhnya sama sekali baginya, semua makanan
itu segera lenyap tak berbekas setelah masuk ke dalam
lambungnya bagaikan batu tenggelam di dasar samudra,
karenanya walaupun sudah bercawan2 arak ia habiskan
namun pemuda itu masih tetap segar.

“Cinjin, apa yang hendak kau tanyakan?” tanyanya
kemudian.
“Selama pengaruh Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie
masih menguasai kolong langit. anggota mereka tutap
melakukan perbuatan-perbuatan bejat yang terkutuk.
Mereka sering kali memeras rakyat, membegal
pedagang, menodai hukum dan mencelakai orang baik,
sungguh jauh berbeda dengan Thong-thian-kauw kami
yang khusus melayani para jemaah yang hendak berdoa,
kehidupan kami tergantung dari sokongan para penganut
agama dan tak pernah melakukan kejahatan di dunia!”
“Pinter amat orang ini berbicara,” batin Hoa Thianhong,
“Sudah terang perkumpulan Thong-thian-kauw
adalah aliran sesat tapi ia berani bicara besar dengan
membanggakan diri sebagai aliran suci!”
Dalam hati berpikir demikian, diluar ia menjawab,
“Perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie adalah
organisasi yang amat besar dengan akar yang sudah
merambat dimana-mana, untuk mengalahkan mereka
mungkin saja masih bisa kita lakukan, kalau ingin
membasmi mereka keakar2nya., aku pikir itu cuma suatu
khayalan kosong belaka!”
“Perkataan dari saudara Hoa memang betul Ngo Ing
Cinjin mengangguk tanda membenarkan, “tetapi kita toh
bisa bertindak dengan gunakan otak? Asal pemimpin2
mereka berhasil dibasmi, apa susahnya untuk
membubarkan antek2 mereka?”

“Itulah yang ku-idam2kan selama ini,” kembali Hoa
Thian-hong membatin, “Sayang ilmu silat yang kumiliki
tak bisa terlalu dipaksakan, aku harus basmi pemimpin
perkumpulan itu dengan cara apa?”
Walaupun belum lama pemuda ini terjunkan diri ke
dalam dunia persilatan, tapi pengalamannya sudah amat
luas, pengetahuannya mengenai kehidupan manusia luas
dan terlatih sekali. Saat itu tanpa ia sadari meluncurkan
kata-kata dari bibirnya.
“Perkumpulan Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie
adalah serang naga harimau yang dipenuhi oleh jagojago
lihay yang maha dahsyat, sebelum anak buah
mereka berhasil dibasmi. mana mungkin kita bisa basmi
para pemimpinnya?”
“Saudara Hoa bisa mengupas setiap masalah dengan
gamblang dan jelas, sungguh membuat aku merasa amat
kagum” ia merandek sejenak, lalu sambil menyapu
sekejap ke sekeliling perjamuan lanjutnya, “Bicara terus
terang saja. selama di kolong langit masih terdapat
perkumpulan Sin-kie-pang atau Hong-im-hwie yang
pegang kekuasaan maka sekte agama Thong-thian-kauw
sulit untuk merentangkan sayapnya memperluas daerah
kekuasaannya di kolong langit.”
“Ooo… jadi kalau begitu kekuatan yang di miliki sekte
agama Thong-thian-kauw saat ini lebih kalau digunakan
untuk menandingi salah satu diantara dua kekuatan itu,
dan lemah bila harus menandingi kedua kedua kekuatan
itu sekaligus?”

Sambil bertepuk tangan Ngo Ing Cinjin tertawa.
“Tepat sekali dugaanmu itu, asalkan diantara Sin-kiepang
serta Hong-im-hwie terjadi perselisihan sehingga
kekuatan mereka saling bentrok satu sama lainnya maka
Thong-thian-kauw akan peroleh kesempatan untuk
berkembang dan menunggu saat yang baik untuk
membasmi lawan-lawannya”
“Tekebur amat ucapan itu!” batin, Hoa Thian-hong
dalam hati, “Jago-jago lihay yang terdapat dalam tubuh
Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie banyak laksana
awan di angkasa, berapa besar sih kekuatan dalam tubuh
Thong-thian-kauw sehingga berani punya angan-angan
yang begitu muluk?”
Tiba-tiba terdengar Cing Si-cu berkata, “Saudara Hoa,
mumpung usiamu masih muda dan tenagamu masih
segar, inilah kesempatan bagimu untuk muncul dalam
dunia persilatan dan menjagoi kolong langit. asal kau
sukses dan luar biasa maka tidak sulit bagimu untuk
menggantikan kedudukan Hoa tayhiap tempo du!u,
namamu tersohor dimana mana dan kehebatanmu
disegani setiap orang”
Hoa Thian-hong tertawa hambar ia tidak menanggapi
perkataan itu sebaliknya alihkan sorot matanya ke arah
Giok Teng Hujien, seolah olah ia menghadapi suatu
persoalan besar yang tak bisa diputusi sendiri dan kini
mohon pendapatnya,
Terdengar Giok Teng Hujien tertawa ringan dan
berkata, “Sering kali aku dengar orang berkata bahwa
Pek Kuan Gie berulang kali menghina serta mencerca

dirimu Pek Siau-thian pun pernah menancapkan jarum
beracun pengunci sukmanya di atas tubuhmu, sebagai
seorang lelaki sejati, pria tulen. kalau sakit hati semacam
Ini tidak dituntut balas, apa gunanya hidup lebih lanjut di
kolong langit?”
Ia merendek sejenak, dengan wajah serius terusnya,
“Manusia-manusia yang tergabung di dalam perkumpulan
Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie. bukanlah termasuk
manusia baik-baik bila kau berhasil memancing
perpecahan diantara mereka sehingga mengakibatkan
terjadinya pertempuran diantara mereka sendiri, itu akan
merupakan pahala besar bagimu Dan seandainya pihak
Thong-thian-kauw hanya berpelukan tangan
menyaksikan hari’mau bertarung kemudian jadi nelayan
mujur yang menantikan hasil, apa pula ruginya terhadap
dirimu?”
Dalam hati kembali Hoa Thian-hong berpikir, “Mereka
mengepung diriku dan selalu menasehati diriku untuk
memusuhi pihak Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie, bila
aku tetap bersikeras menolak kerja sama dengan
mereka, orang-orang itu pasti akan berubah sikap dan
malahan membenci diriku. Waktu itu musuh akan muncul
dari tiga penjuru, sulit bagiku untuk menghadapinya.
Bagaimanapun menyanggupi dulu persoalan ini tak ada
salahnya, asal tindakanku selanjutnya benar dan tidak
keluar dari pikiran sendiri”
Setelah memutuskan demikian, ia pura-pura berlagak
termenung dan berpikir sejenak kemudian sambil tertawa
terbahak-bahak sahutnya, “Haah…. haaah…. haaah….
rupanya sikap cici selama ini terhadap diriku adalah

didasari tujuan ini, kalau siauwte tolak untuk bekerja
sama dengan kalian maka tindakanku ini pasti akan
dianggap sebagai tak tahu diri…..”
Sambil tertawa panjang ia memberi hormat kepada
semua orang lalu putar badan dan berlalu.
“Kau mau apa?” seru Giok Teng Hujien pura-pura
marah, “Malam semakin larut dan perutku sudah
kenyang oleh arak dan hidangan, siauwte ingin mohon
pamit”
“Huuh….tak usah mangkel dulu, persoalan pokok toh
belum selesai dibicarakan”
Hoa Thian-hong tetap menggelengkan kepalanya,
dengan wajah serius ia menjawab, “Pembicaraan lebih
baik diputus sampai disini dulu, toh masalah ini tidak
terlalu penting dan kita tak usah pasang hio, angkat
sumpah dan meneguk arak darah” ia menoleh dan
menambahkan, “Tootiang berdua aku mobon pamit lebih
dulu”
Ngo Ing Cinjin serta Cing Si-cu segera bangkit berdiri
dan coba menahan, tetapi karena melihat keputusan
pemuda itu sudah bulat maka mereka pun mengantar
tetamunya turun dari loteng.
Setelah keluar dari kuil It-goan-koan, Giok Teng
Hujien sambil membopong Soat-ji si rase salju itu jalan
bersanding disisi Hoa Thian-hong, katanya sambil
tertawa, “Bukankah kau sudah berjanji dengan Pek Kungie
untuk berjumpa di rumah makan Kie Ing-Loe? dalam

janjimu itu kau hendak berbicara dari hati kehati,
ataukah hendak merundingkan soal penggunaau
tentara?”
“Semuanya bukan, aku cuma ingin mencari tahu kabar
berita mengenai seseorang”
“Siapa?” tanya Giok Teng Hujien cepat dengan alis
berkerut.
Sebenarnya Hoa Thian-hong sangat merindukan
ibunya, dia hendak selidiki jejaknya dari mulut Pek Kungie,
tetapi setelah didesak lebih jauh terpaksa ia
berbohong, “Kesadaran Chin Giok-liong terganggu dan
tidak waras, aku hendak mencari tahu kabar berita
mengenai ayahnya Chin Pek-cuan”
Dengan sorot matanya yang tajam Giok Teng Hujien
menatap sekejap wajah si anak muda itu, kemudian
sambil tertawa serunya, “Makin lama aku semakin
merasa bahwa wajahmu yang jujur bukanlah watakmu
yang sebenarnya, kau banyak akal dan licik sekali,
mulutnya tajam dan pandai berbicara, kau seorang yang
lihay”
Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba satu ingatan
berkelebat dalam benaknya, segera ia berkata, “Sudah
lama aku tak pernah bertemu dengan Pek Kun-gie, aku
mau menyelinap sejenak ke dalam kantor cabang
perkumpulan Sin-kie-pang di kota Cho-Ciu. Cici, kalau tak
ada urusan bagaimana kalau jagakan keselamatanku
diluar?”

“Aaah, di tengah malam menyirepi kamar pribadi anak
gadis orang, macam apakah perbuatanmu itu?’“
“Apa sih salahnya, aku sendiripun sudah kenyang
menerima penghinaan2 darinya”
“Kalau kau sudah amat rindu kepadanya karena sudah
lama tak bertemu, sehingga mau mengintip dirinya
sejenak, tentu saja boleh tapi kalau suruh aku menjaga
keselamatanmu diluar…… tak usah yaaah!”
Hoa Thian-hong tertawa haha hihi, setengah merayu
serunya lagi, “Baiklah, kalau begitu biar aku pergi
seorang diri, seandainya jejakku ketahuan dan terbunuh,
mengingat pada hubungan kita tolong cici suka balaskan
dendam bagi kematianku itu.”
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan, sambil berbicara
dan melanjutkan perjalanan terasa sampailah mereka di
sekitar bangunan kantor cabang perkumpulan Sin-kiepang.
Hoa Thian-hong segera enjotkan badannya siap
meloncat masuk ke dalam Pekarangan orang, tapi
dengan cepat Giok Teng Hujien menarik tangannya
sambil berseru, “Eeei….kau benar-benar mau cari garagara?”
“Pek Kun-gie adalah gadis yang amat lihay, kalau
berada di tengah siang hari bolong sulit bagiku untuk
mengorek keterangan dari mulutnya, maka dari itu
mumpung ia tak menduga akan kutangkap dulu dirinya,
kalau suka mengaku tentu saja lebih baik, kalau ia

menolak untuk menjawab…. Hmm Hmm…. sampai darah
panasku naik ke otak, sekali tebas kucabut selembar
jiwanya!”
“Hmm! Masa kau tega?”
“Kenapa tidak tega? diantara kami berdua toh tiada
perhubungan persahabatan, malahan aku punya dendam
terhadap dirinya?”
Giok Teng Hujien tertawa cekikikan.
“Baiklab aku akan tetap berjaga diluaran sedang kau
boleh urusi pekerjaanmu. Tapi kau musti ingat, kalau
sikapmu tidak sopan dan menangkap ikan di air keruh
aku segera akan lepaskan api untuk membakar habis
kantor cabang kota Cho-Ciu ini”
Tertegun Hoa Thian-hong mendengar ancaman itu,
dalam keadaan terburu ia tak sempat menangkap
maksud yang lebih dalam dari ucapan itu, setelah
mengepos tenaga tubuhnya segera meloncat masuk ke
dalam pekarangan bangunan itu.
Tenaga dalamnya sudah peroleh kemajuan yang amat
pesat dengan enteng sekali dan tanpa menimbulkan
sedikit suarapun tubuhnya sudah melayang turun dibalik
tembok pekarangan
Hoa Thian-hong sudah agak lama berdiam di kota Cho
Ciu ini sekalipun dia belum pernah memasuki bangunan
rumah ini tetapi garis besarnya ia sudah mengetahui.
Pemuda itu tahu bahwa Pek Kun-gie pasti beristirahat di

ruangan dalam, maka sambil merambat disisi tembok
tubuhnya segera menyusup ke arah belakang,
Penjagaan di dalam kantor Cabang sangat ketat, di
bawah setiap lampu lentera tampaklah jago-jago lihay
dengan senjata terhunus bersiap siaga dimana mana.
Hoa Thian-hong bernyali besar dan berilmu tinggi,
ditambah pula pengalamannya yang kian hari kian
bertambah, dengan amat mudah sekali si anak muda itu
berhasil masuk ke dalam ruang belakang.
Pencarian dilakukan di sekitar kamar2 yang dikelilingi
kedua bunga indah. sesudah menyelidiki dua buah kamar
akhirnya dia berhasil menemukan kamar tidur dari Siau
Leng si dayang cilik itu,
Sesudah mengamati sejenak suasana di sekitar sana,
ia tahu Pek Kun-gie pasti berdiam di dalam kamar
serambi sebelah kanan, tubuhnya segara berkelebat
mendekati pintu kamar disitu ia tak mendengar sedikit
suarapun.
Akhirnya setelah sangsi sejenak, ia dorong pintu
kamar itu lalu menyelinap masuk ke dalam dan menutup
kembali pintu kamar tadi.
Di tengah kegelapan, tiba-tiba rasalah segulung
desiran angin tajam meluncur datang mengancam
pinggangnya.
Ditinjau dari desiran angin yang mengancam tiba, Hoa
Thian-hong segera kenali sebagai. gerakan tangan Pek

Kun-gie, dalam hati ia mengagumi atas kesigapan gadis
itu.
Telapak kirinya segera diputar membentuk gerakan
setengah lingkaran di depan dada, kemudian mengirim
satu pukulan k emuka.
“Aaah….” terdengar Pek Kun-gie menjerit tertahan.
Rupanya dari desiran angin pukulan itu ia berhasil
membedakan serangan itu sebagai pukulan tangan kiri,
daa diapun segera teringat kembali akan diri Hoa Thianhong.
Dalam gugupnya sang telapak segera diayun ke muka
menyambut datangnya serangan tersebut.
“Blaaam…..!” Pek Kun-gie menjerit tertahan tubuhnya
segera terlempar hingga mencelat ke belakang.
Ketika masih berada di kota Seng-Ciu tempo dulu,
sebuah pukulannya telah merompalkan tiga biji gigi Hoa
Thian-hong, peristiwa itu dianggap oleh pemuda tersebut
sebagai penghinaan yang paling memalukan selama
hidupnya. Karena itu walaupun dalam serangannya
barusan ia tiada maksud menghabisi jiwa orang tapi
tenaga murni yang digunakan telah mencapai lima
bagian, rupanya ia sengaja hendak memberi pelajaran
kepadanya.
Seperti layang2 yang putus tali tubuh Pek Kun-gie
mencelat ke arah belakang, bagaikan bayangan Hoa
Thian-hong segera menyusul dari belakangnya, sepasang

lengan digerakkan seketika ia berhasil menangkap
pergelangan orang.
“Bruuuk!” di tengah benturan nyaring tubuh Pek Kungie
terbanting di atas pembaringan. Hoa Thian-hong
yang takut gadis itu melancarkan serangan balasan
segera cekal sepasang lengannya erat?. dan ikut
jatuhkan diri ke atas pembaringan. Dengan begitu tanpa
sadar tubuhnya telah menindih di atas badan gadis itu.
Suara langkah kaki yang ramai segera berkumandang
diluar ruangan, terdengar seseorang membentak nyaring,
“Siauw Leng!”
Hoa Thian-hong semakin tak berani lepas tangan,
sambil menindih tubuh Pek Kun-gie semakin rapat
bisiknya, “Cepat usir pergi orang-orang yang berada
diluar kamar, kalau tidak kupatahkan tengkukmu!”
Pek Kun-gie berbaring di atas ranjang dengan napas
tersengal-sengal, ia marah bercampur mendongkol,
giginya saling beradu gemerutukan, saking gemasnya
ingin sekali gadis itu menggigit tubuh Hoa Thian-hong.
Mendadak…. ia tertegun….
Kiranya ia masih merupakan seorang gadis perawan,
berhubung wataknya yang sombong dan tinggi hati,
belum pernah ada seorang priapun yang mendapatkan
perhatiannya. karena pandangannya yang hambar
terhadap hubungan antara muda-mudi inilah selama,
hidupnya ia tak pernah bergesekan kulit dengan lawan
jenis.

Hari ini adalah permulaan bulan enam, udara panas
ditambah pula ia baru saja bangun dari tidurnya, karena
itu tubuhnya hanya memakai selapis pakaian dalam yang
amat tipis.
Setelah tubuh Hoa Thian-hong menindih di atas
tubuhnya, segulung bau khas lelaki yang amat tebal
segera menyerang ke dalam hidungnya. hal ini membuat
jantungnya berdebar keras dan pikirannya termangumangu.
Dalam pada itu diluar kamar terdengar suara Siauw
Leng menyahut, “Apakah Lie-Ngo? Suara apa barusan
itu?”
“Suara itu berasal dari kamar siocia, cepat kau tengok
ke dalam apa yang telah terjadi,” kata seorang pria
dengan suara berat.
Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya setelah
mendengar perkataan itu, bisiknya kesisi telinga Pek
Kun-gie, “Cepat usir mereka pergi dari sini, kalau tidak
kujagal dirimu terlebih dulu”
Terdengar Siauw Leng berjalan mendekat pintu luar
lalu menegur, “Nona, apakah kau sudah bangun?”
“Usir semua penjaga dan sekitar tempat ini, jangan
berbuat kegaduhan yang membisingkan!” teriak Pek Kungie
gusar.

Siauw Leng mengiakan, suara langkahnya makin
menjauh dan sampaikan pesan nonanya tadi kepada
para peronda.
Sementara itu Pek Kun-gie tidak berbicara lagi, diapun
tidak meronta seolah-olah hatinya sudah pasrah dan
terserah Hoa Thian-hong mau berbuat apa saja terhadap
dirinya.
Siapa sangka si anak muda itu segera menyadari akan
kesilafannya setelah berhasil menenangkan hatinya tibatiba
ia merasa bau harum semerbak tersiar di lubang
hidungnya tubuh di bawah tindihannya terasa lunak dan
halus, begitu kencang tindihannya membuat napas Pek
Kun-gie tersengal, dadanya naik turun bergelombang.
suara detak jantungnya yang berdebar pun secara lapat
lapat kedengaran,
Sebagai seorang pemuda jujur yang berhati suci, ia
segera menyadari akan perbuatannya itu, seketika
cekalan pada tangan kanannya dikendorkan dan jari
tanganpun berkelebat menotok jalan darah di atas bahu
dara tersebut……
Tenaga lweekang yang dimiliki Pek Kun-gie jauh lebih
cetek setingkat kalau dibandingkan dengan Hoa Thianhong,
tetapi ilmu silatnya tidak berada di bawah pemuda
itu. Di tengah kegelapan tangannya bergerak cepat tahutahu
ia malah berhasil mencengkeram pergelangan
kanan si anak muda she Hoa itu.
Dengan begitu kedua belah pihakpun saling mencekal
pergelangan tangan lawannya, diam-diam Hoa ThianTiraikasih
Website http://kangzusi.com/
hong merasa jengah sendiri, bisiknya lirih, “Aku ada
urusan hendak ditanyakan kepadamu, biarkanlah kutotok
sebuah jalan darahmu agar akupun bisa bangun dan
duduk”
“Tiada perkataan lain yang akan kubicarakan dengan
kau, bunuh saja diriku!” teriak Pek Kun-gie dengan
gemas.
Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Untuk membunuh
dirimu sih gampang sekali, Hmm! Sekalipun kau Pek Kungie
telah kubunuh, rasa benci dan dendam yang
berkecamuk dalam dadaku juga belum bisa buyar”
Sambil menggertak gigi Pek Kun-gie membungkam
dalam seribu bahasa, ia tidak mengendorkan
tangannyapun tidak meronta dengan tenang tubuhnya
tetap berbaring di atas pembaringan.
Lama kelamaan Hoa Thian-hong jadi serba salah
sendiri, pikirnya, “Bagaimana jadinya ini? Kalau begini
terus keadaannya hingga diketahui orang lain, bukan
saja Pek Kun-gie akan jadi malu dibuatnya, akupun akan
dianggap orang sebagai pemuda tengik….”
Mendadak dari halaman belakang terdengar seseorang
membentak keras, “Ada pencuri… .tangkap…. tangkap!
Ada orang melepaskan api!”
“Siapa? Berhenti!” seseorang yang lain membentak
dengan suara nyaring.

JILID 14 : Melawan Kok See Piauw lagi
Hoa Thian-hong kenali suara itu sebagai suara dari Oh
Sam, ia tahu pastilah Giok Teng Hujien sudah mengacau
diluar, hatinya jadi amat gelisah. Pikirnya, “Orang itu tak
bisa membedakan yang mana serius yang mana tidak,
seharusnya aku tidak ajak dia datang kemari”
Berpikir sampai disitu tubuhnya segera meloncat
bangun dari atas pembaringan dan sekalian menyeret
tubuh Pek Kun-Gie hingga terbangun pula dari atas
ranjang, tangan kanannya berputar membetot kembali
tangannya, sementara jari tangannya bagaikan tombak
menotok ke atas tubuh lawan. Pek Kun-gie ayunkan
tangan kirinya berulang kali, di tengah kegelapan kedua
orang itu laksana kilat saling menyerang sebanyak tiga
jurus.
Mendadak terdengar Oh Sam lari menghampiri pintu
kamar sambil teriaknya. “Nona, apakah kau berada di
dalam kamar?”
Hoa Thian-hong semakin gugup, tangan kanannya
kembali kena dicengkeram oleh Pek Kun-gie keras-keras.
“Aku tidak apa-apa,” sahut gadis itu dengan napas
tersengal, “Jangan lari kesana kemari bikin berisik saja!”
“Nona ada musuh berhasil menyusup kedalam, orang
itu melepaskan api dan membuat keonaran, hingga kini
orangnya belum tertangkap.”
“Aku sudah tahu!”

Oh Sam mengiakan berulang kali, lewat beberapa saat
kemudian ia baru berlalu dari sana.
Jelas perubahan yang terjadi di dalam kamar telah
diketahui pihak luar, hanya saja sebelum mendapat
perintah dari Pek Kun-gie mereka tak berani
sembarangan masuk ke dalam untuk melakukan
pemeriksaan.
Sementara itu Hoa Thian-hong serta Pek Kun-gie
masih berdiri saling berhadapan dengan masing-masing
pihak mencekat pergelangan lawannya, kedua belah
pihak dapat mendengar detak Jantung masing-masing
dan saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah
katapun.
“Begini terus keadaannya bukanlah suatu tindakan
yang benar” pikir Hoa Thian-hong dalam hati, “Lebih baik
kuajukan pertanyaanku kemudian cepat-cepat tinggalkan
tempat ini.”
Setelah mengambil keputusan, ia segera bertanya
dengan suara mendalam, “Dimanakah Chin Pek-cuan?”
“Kau toh tidak serahkan orang itu kepadaku, darimana
aku bisa tahu?….”
“Setengah tahun terakhir apakah ada orang datang ke
gunung Tay-pa-san untuk mencari diriku?”
“Ada,” sahut Pek Kun-Gie setelah tertegun sejenak.

Hoa Thian-hong jadi terperanjat, dengan berangasan
segera serunya, “Siapa? pria atau perempuan?”
“Heeeh… heeeh… tentu saja perempuan!”
Hoa Thian semakin gelisah. kelima jarinya semakin
kencang mencengkeram pergelangan orang, teriaknya
dengan gusar, “Cepat jawab! Siapa yang telah mencari
aku?”
Seketika Pek Kun-Gie merasakan tulang
pergelangannya jadi sakit seperti mau patah, ia menjerit
tertahan dan tanpa terasa jatuh terkulai dalam pelukan si
anak muda itu, jawabnya lirih, “Chin Wan-hong….”
“Chin Wan-hong kenapa?” tanya Hoa Thian-hong
tertegun.
“Chin Wan-hong datang ke markas mencari dirimu, ia
telah kubunuh!”
“Kalau dia bilang ibuku mungkin aku masih percaya,”
batin pemuda tersebut, “kalau bilang cici Wan-hong,
sudah terang ia cuma ngaco belo belaka!”
Segera tanyanya lebih jauh, “Kecuali dia, apakah
masih ada orang yang datang mencari diriku?” “Masih!
tiga ekor harimau dari keluarga Tiong pun sudah
kubunuh!”
“Fuuh! omongan setan yang tak genah..”

Pergelangannya segera dibalik melepaskan diri dari
dari cekalan orang, kemudian putar badan dan coba
menerjang keluar lewat pintu.
Pek Kun-Gie jadi kebingungan dan tak tahu apa yang
mesti dilakukan, tapi ia tak ingin melepaskan dirinya
dengan begitu saja di tengah kegelapan tubuhnya segera
menerjang ke depan menghadang di depan pintu.
“Kau mau apa?” tegur Hoa Thian-hong.
Pek Kun-Gie agak tertegun, kemudian jawabnya, “Aku
ada perkataan hendak disampaikar, kepadamu!”
“Besok tengah hari aku nantikan kedatanganmu di
rumah makan Kie Ing Loo, kalau ada urusan kita
bicarakan besok saja”
Perasaan hati kaum gadis memang paling sukar
diraba, Pek Kun-Gie sendiripun tak mengerti apa
sebabnya ia jadi begitu, melihat Hoa Thian-hong hendak
pergi ia semakin tak rela melepaskannya begitu saja, tapi
gadis inipun merasa kehabisan daya untuk menahan
dirinya.
Dalam keadaan apa boleh buat, segera teriaknya
lantang, “Siauw Leng, pasang lampu!”
Terdengar dayang cilik itu mengiakan dari luar
ruangan, cahaya lampu segera berkilat menerobos
masuk lewat celah2 pintu.

Dalam pada itu suara pencarian yang berlangsung di
tempat luar belum berhenti, setelah Pek Kun-gie buka
pintu Siauw Leng sambil membawa lampu lentera
berjalan masuk kedalam, sinar matanya berputar
menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, ketika secara
mendadak menjumpai Hoa Thian-hong berada di dalam
kamar, sepasang matanya kontan berbelalak lebar, ia
tatap pemuda itu tak berkedip.
Hoa Thian-hong pada saat ini bukan Hong-po Seng
tempo dulu. bukan saja wajahnya tampan dan tubuhnya
keren, wajahnya tercemin cahaya yang amat gagah.
Kegagahan semacam ini paling gampang melumerkan
hati kaum gadis dan paling muda membuat lawan
jenisnya jatuh hati kepadanya.
Hoa Thian-hong yang diawasi terus, oleh Siauw Leng
maupun Pek Kun-gie, lama kelamaan jadi jengah sendiri.
Sengaja ia kerenkan wajahnya sambil menegur, “Apa sih
yang kau lihat? Aku adalah Hong-po Seng yang tak bakal
mati, diluar dugaan kalian semua bukan?”
“Aduuuh….!” jerit Siauw Leng sambil menepuk dada
sendiri, “Aku kira siapa yang telah bergebrak dengan
nona di dalam kamar, rupanya kau….”
“Ngaco belo! Ayoh enyah dari sini!” bentak Pek Kungie
marah.
Siauw Leng tertawa cekikikan, ia letakkan lampu
lentera itu di atas meja kemudian putar badan dan
mengeloyor pergi. Oh Sam yang ikut menyelinap masuk

ke dalam kamar, saat itu ikut melayang keluar pula dari
ruangan tersebut.
Pek Kun-gie menutup pintu kembali, sambil bersandar
di atas pintu ujarnya ketus, “Malam2 buta kau menyusup
masuk ke dalam kamar tidurku, sebenarnya apa
maksudmu?”
Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Aku senang datang
segera datang, kau mau apa?”
Pek Kun-gie mendengus dingin, bibirnya bergerak
seperti mau mengatakan sesuatu tapi akhirnya
dibatalkan kembali.
Hoa Thian-hong sendiripun merasa tiada perkataan
lain yang bisa dibicarakan lagi, setelah berdiri saling
berhadapan beberapa saat lamanya pemuda itu segera
maju ke depan dengan langkah lebar, katanya, “Aku mau
pergi, bila ada urusan kita bicarakan besok pagi saja!”
“Siapa yang datang bersamamu?” tegur Pek Kun-Gie
sambil tetap menghadang di depan pintu kamar.
“Seandainya sekali hantam kulancarkan sebuah
pukulan dahsyat, rasaaya tidak sulit untuk
membinasakan dirinya, Cuma,” pikir si anak muda itu
ragu-ragu.
Akhirnya ia tak tega dan menjawab dengan suara
hambar, “Seorang sahabatku menunggu diluar ia tak
enak ikut masuk kesini!”

“Hrnmm! Manusia macam apapun kau gauli,” sindir
Pek Kun-Gie sambil mencibirkan bibirnya. “Makin hari kau
semakin cabul, apakah tidak takut menjadi nama baik
keluargamu!”
Hoa Thian-hong tahu yang dimaksud gadis ini pasti
Giok Teng Hujien, dengan alis berkerut ia segera tertawa
dingin.
“Aku lihat ada baiknya kau kurangi sindiranmu
terhadap orang lain, aku orang she Hoa merasa bahwa
setiap tindakanku adalah jujur dan terbuka, siapa cabul
siapa tidak aku punya pandangan sendiri”
“Oooh……! jadi kau anggap aku Pek Kun-Gie adalah
seorang perempuan cabul..?” teriak gadis itu dengan
wajah berubah.
“Aku tak mau perduli perempuan apakah dirimu itu…”
mendadak satu ingatan berkelebat pada benaknya, ia
segera berpikir, “Buat apa aku bicarakan urusan yang tak
berguna dengan dirinya?… Lebih baik membungkam
saja….”
Terdengar Pek Kun-gie berkata lagi dengan suara
dingin, “Jangan kau anggap pihak Thong-thian-kauw
benar-benar mampu untuk melindungi keselamatanmu.
jika sungguh terjadi bentrokan, siapapun akan berusaha
menghabisi jiwamu”
“Haaah… haaah…. haaah…. tentang soal itu kau tak
usah kuatir, nyawa toh milikku sendiri. Aku jauh lebih
jelas menilai diriku sendiri daripada kau! ”

Mendadak terdengar suara bentakan-bentakan keras
berkumandang datang dari tempat kejauhan, sepasang
biji mata Hoa Thian-hong segera berputar, katanya
sambil tertawa, “Aaaah… mereka sudah mulai
bertempur! aku mau tengok kesana!”
Dengan tenaga yang besar dia getarkan lengan kirinya
sehingga membuat tubuh gadis itu terpental sejauh lima
depa, buru-buru pemuda itu membuka pintu kamar dan
kabur keluar.
Pek Kun-gie merasa gusar bercampur mendongkol.
sambil ikut mengejar keluar teriaknya gusar, “Biar
siluman rase itu yang datang cari kemari!”
Hoa Thian-hong pura-pura tidak mendengar, iapun tak
menggubris bagaimana keadaan dari Giok Teng Hujien,
bagaikan bintang yang jatuh dari langit tubuhnya segera
melayang keluar dari pekarangan dan selalu dari situ.
Ketika tiba di pusat kota tiba-tiba dari arah belakang ia
dengar ada orang menyusul datang, dengan cepat
pemuda itu menoleh. tampak Giok Teng Hujien sambil
membopong rase saljunya dengan senyum dikulum
sedang menguntil di belakang tubuhnya.
Hoa Thian-hong tersenyum. “Cici, di dalam sekte
agama Thong-thian-kauw, sebenarnya apa jabatanmu?”
“Pengawas dari sepuluh sektor, tidak kecil bukan?”

“Benar! pengawas dari sepuluh ketua sektor memang
suatu kedudukan yang sangat terhormat, dengan
jabatanmu itu pergi mengacau kantor cabang orang,
apakah kau tidak malu ditertawakan oleh sesama
sahabat kangouw?”

ALWAYS Link cerita silat : Cerita silat Terbaru Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2, cersil terbaru Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2, Cerita Dewasa Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2, cerita mandarin Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2,Cerita Dewasa terbaru,Cerita Dewasa Terbaru Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2, Cerita Dewasa Pemerkosaan Terbaru Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2
Anda sedang membaca artikel tentang Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2 dan anda bisa menemukan artikel Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2 ini dengan url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-seru-dewasa-bara-maharani.html,anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya jika artikel Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2 ini sangat bermanfaat bagi teman-teman anda,namun jangan lupa untuk meletakkan link Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2 sumbernya.

Cerita Silat ~ Cerita Silat Abg Dewasa

Cersil Or Post Cerita Silat Seru Dewasa : Bara Maharani 2 with url http://cerita-eysa.blogspot.com/2011/12/cerita-silat-seru-dewasa-bara-maharani.html. Thanks For All.
Cerita Silat Terbaik...

{ 1 komentar... read them below or add one }

Jasa SEO mengatakan...

wah panjang banget, aku masih bersambung nih bacanya :\

Jasa SEO

Poskan Komentar